Ceritasilat Novel Online

Petualang Asmara 9

Eps 9 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo

Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.

Mereka lalu duduk di atas bangku dekat Kun Liong, keduanya siap dengan senjata karena menurut penuturan pemuda asing itu, Kun Liong memiliki kepandaian tinggi.

"Tuan Muda Markus, sudah jelaskah bahwa bokor itu palsu?"

"Tentu saja! Aku mendengar dari seorang perajurit pengawal Panglima The Hoo sendiri setelah kusogok dengan sepuluh potong uang emas. Dia melihat Panglima The Hoo dan Pendekar Cia Keng Hong bicara ketika keduanya meneliti bokor emas yang dirampas dari Pulau Ular itu."

"Pendekar Cia Keng Hong katamu...?"

Kakek itu nampak kaget.

"Dia... dia meninggalkan Cin-ling-san dan mencampuri urusan bokor?"

"Dia memang pembantu Panglima The Hoo, akan tetapi sekarang telah kembali ke Cin-ling-san setelah dipanggil menghadap ke istana Panglima The Hoo. Tak salah lagi, pemuda cerdik inilah yang memalsukan bokor, karena menurut cerita yang kudengar, dialah orang pertama yang menemukan bokor."

"Hemmm... hemmm... guruku tentu akan senang sekali mendengarnya. Benarkah bahwa pemuda ini adalah murid keponakan Cia Keng Hong?"

"Tak salah lagi, semua orang mendengar dia menyebut Cia Keng Hong supek."

"Heh-heh-heh, bagus sekali. Betapa besar untungku hari ini. Sekali tepuk mendapat dua ekor lalat! Pertama tentang bokor..."

"Pengembaliannya kepada Panglima tentu akan menguntungkan kami para pedagang asing dan kami tentu akan menghadiahkan seratus tail emas yang telah kami janjikan kepadamu. Lo-mo."

"Heh-heh-heh!"

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Selain itu, dia adalah murid keponakan Cia Keng Hong, tentu akan menyenangkan hati guruku. Aku tahu betapa bencinya guruku terhadap Cia Keng Hong yang pemah membunuh tiga orang susiokku, adik-adik seperguruan guruku."

Biarpun tidak begitu tertarik karena pemuda asing bernama Markus (Marcus) itu hanya mementingkan urusannya sendiri, namun untuk menanti datangnya pasukan yang diberi laporan, Marcus bertanya.

"Siapakah gurumu, Lo-mo? Tentu dia lihai bukan main."

"Seperti dewa! Guruku itu, biarpun sampai kini tidak atau belum mau meninggalkan guha pertapaannya karena sedang mencipta ilmu untuk melawan Thi-khi-i-beng ilmu tertinggi Cia Keng Hong, namun jelas guruku adalah orang yang paling sakti di dunia ini pada saat sekarang. Namanya pun harus kurahasiakan sampai guruku itu keluar dari guha dan turun ke dunia ramai."

Marcus mengangguk-angguk.

"Dan, tiga orang susiokmu itu siapakah, mengapa pula sampai terbunuh oleh Cia Keng Hong?"

"Mereka dahulu terkenal sekali sebagai Thian-te Sam-lomo (Tiga Iblis Tua Langit dan Bumi) yang masing-masing bernama julukan Kai-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Pengemis), Bun-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Sastra), Thian-to Lo-mo, yang menjadi seorang pendeta agama To. Kepandaian mereka hebat sebagai adik-adik seperguruan guruku, dan tentu dengan secara licik, dengan Thi-khi-i-beng maka Cia Keng Hong dapat membunuh mereka. Karena itulah maka selama belasan tahun guruku bersamadhi mencipta ilmu untuk menandingi Thi-khi-i-beng."

Mengenai kematian Thian-te Sam-lo-mo di tangan Cia Keng Hong ini terjadi dalam cerita Pedang Kayu Harum.

Akan tetapi Kun Liong yang tak pernah mendengar cerita ini, terkejut bukan main.

Dua kali dia terkejut, pertama mendengar bahwa bokor emas yang dirampasnya di Pulau Ular itu ternyata palsu dan ke dua adalah urusan dendam terhadap supeknya itu.

Namun dia tetap diam, pura-pura pingsan.

Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda dan muncullah pasukan pemerintah yang sedikitnya ada lima puluh orang banyaknya.

Beberapa orang perajurit segera memasuki warung itu dan menodongkan tombaknya kepada Kun Liong yang masih terkulai lemas bersandar pada tiang.

"Heh-heh-heh, tak perlu menggunakan kekerasan. Selama setengah hari dia tidak akan dapat bergerak. Belenggu saja dia kuat-kuat,"

Kata kakek yang disebut Lo-mo tadi, kemudian bersama Marcus ia menemui komandan pasukan.

Komandan pasukan memang tahu akan bokor emas yang palsu, maka mendengar laporan dua orang asing baginya ini bahwa tentu pemuda ini sebagai penemu pertama bokor emas yang telah memalsukannya, menjadi percaya dan girang.

"Kita tangkap dia dan bawa kepada The-ciangkun. Kalian berdua tentu menerima hadiah banyak kalau bokor yang aseli dapat ditemukan melalui pemuda gundul ini."

"Kami tidak mengharapkan hadiah, Ciangkun, karena kami, para pedagang di Teluk Pohai, selalu dengan senang hati akan membantu pemerintah."

Jawab Marcus dan hati komandan itu makin senang, apalagi setelah Marcus membagi-bagikan dinar emas kepada para anggauta pasukan, seorang satu dan lima buah untuk Sang Komandan.

Kun Liong dibelenggu kaki tangannya, dan digusur keluar, Kemudian dinaikkan ke atas punggung kuda, menelungkup dan melintang, sedangkan Marcus dan Lo-mo itu pun memperoleh seekor kuda masing-masing.

Marcus membebaskan suami isteri pemilik warung dan memberi hadiah pula.

Berangkatlah rombongan itu dan Kun Liong masih pura-pura menelungkup pingsan.

Dia tertarik sekali dan ingin dihadapkan Panglima The Hoo untuk mendapatkan keterangan sebenarnya apa yang telah terjadi dengan bokor itu.

Dia tidak percaya bahwa seorang sakti bijaksana seperti panglima itu akan menuduhnya sembarangan saja seperti yang dilakukan orang-orang ambisius yang gila uang ini.

Setelah setengah hari lamanya, Kun Liong pura-pura sadar dan mengeluh.

Pura-pura meronta akan tetapi punggungnya ditodong cakar di ujung tongkat kakek itu, dan beberapa ujung tombak runcing para perajurit juga menodongnya.

"Kenapa aku dibelenggu? Ke mana aku dibawa pergi?"

Kun Liong pura-pura bertanya untuk menyempurnakan sandiwara.

"Heh-heh-heh, engkau Yap Kun Liong, murid keponakan Cia Keng Hong, bukan? Engkau penipu busuk yang menyembunyikan bokor emas pusaka Panglima The Hoo dan menggantinya dengan yang palsu. Katakan di mana kau menyimpan yang aseli, kalau tidak, engkau akan dihukum penggal kepala, heh-heh-heh!"

Dengan susah payah Kun Liong menggerakkan lehernya menengadah, memandang kakek itu dan bertanya.

"Kakek yang botak, jauhkan cakar bebek itu dari kepalaku! Kau ini siapakah? Bukankah kau pemilik warung tadi?"

"Heh-heh-heh, bocah gundul tolol. Mau tahu siapa aku? Heh-heh, di dunia kang-ouw orang menyebutku Tok-jiauw Lo-mo (Iblis Tua Cakat Beracun)!"

"Hemm, aku tidak mengenalmu."

"Orang macam engkau mana mengenal? Lebih baik katakan di mana bokor itu."

"Aku tidak tahu, yang kutahu hanyalah bokor yang telah diserahkan kepada The-ciangkun."

"Bohong!"

"Terserah penilaianmu. Hadapkan aku kepada The-ciangkun dan biarlah beliau yang menentukan apakah aku bohong atau tidak."

Mendengar ucapan ini, Tok-jiauw Lo-mo tidak berani turun tangan.

Di situ terdapat banyak perajurit dan juga terdapat Marcus yang tentu saja tidak suka kalau dia menyiksa pemuda ini untuk kepentingannya sendiri.

Dia harus berlaku cerdik, dan tentu saja tidak ada selembar rambut pun di hatinya seperti kepala botaknya, untuk menyerahkan bokor emas yang aseli kepada Panglima The Hoo!

Kalau sampai dia berhasil, tentu akan dibawanya kepada gurunya dan dinikmatinya bersama.

Ujung tongkatnya yang sebelah belakang, yang tumpul, bergerak cepat sekali dan tahu-tahu dia telah menotok punggung dan pinggul Kun Liong.

Seketika pemuda ini merasa betapa kedua tangannya dan kedua kakinya menjadi lumpuh dan diam-diam dia mengutuk kakek ini yang amat cerdik.

Kalau tidak ditotok seperti itu, betapa mudahnya mematahkan belenggu dan membebaskan diri.

Sekarang dia benar-benar tidak berdaya dan terpaksa dia melemaskan tubuhnya untuk dibawa pergi oleh pasukan itu.

Malam itu, rombongan pasukan berhenti beristirahat di sebuah hutan.

Mereka semua telah melakukan perjalanan jauh sehari suntuk dan semua merasa lelah.

Setelah menghabiskan ransum yang dibagi-bagi, dan Kun Liong juga kebagian karena biarpun dia dibelenggu kaki tangan dan tubuhnya pada sebatang pohon namun di waktu makan tali yang membelenggu tangannya diperpanjang, maka para perajurit itu pergi tidur di bawah pohon-pohon.

Adapun Tok-jiauw Lo-mo dan Marcus, yang merasa bahwa Kun Liong takkan mampu berkutik lagi karena selain kedua tangannya tergantung dengan belenggu di batang pohon, kedua kakinya dan tubuhnya diikat erat dengan sebatang pohon, ditambah lagi totokan baru yang dilakukan oleh Lo-mo untuk melumpuhkan kedua kaki tangannya, Mereka lalu tidur juga bersama komandan pasukan, di dalam sebuah tenda yang didirian secara darurat.

Seperti biasa, para atasan tidur di dalam tenda sedangkan para perajurit menggeletak begitu saja di atas tanah.

Hal ini sudah lajim terjadi di manapun juga, yang tinggi selalu enak dan bekerja ringan, yang rendah selalu kekurangan dan bekerja paling berat!

Yang menjaga tawanan dilakukan secara bergilir.

Dua belas orang sekali menjaga dan mereka ini mengambil tempat duduk mengelilingi pohon di mana Kun Liong diikat.

Karena mereka merasa bahwa tawanan itu pun tidak akan mampu lolos, maka mereka itu banyak yang duduk sambil melenggut-lenggut diserang kentuk, bahkan ada pula yang tidak tahan terus terguling rebah dan tidur mengorok!

Hawa amat dingin di malam itu dan api unggun dibuat di beberapa tempat untuk memperoleh penerangan juga untuk sekedar menghangatkan tubuh.

Menjelang tengah malam, Kun Liong melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menyelinap di antara pepohonan, makin lama makin dekat, kemudian dengan gerakan yang amat mengagumkan hatinya karena cepatnya, bayangan itu berloncatan dan setiap kali loncat dekat seseorang tentu terus menotoknya dengan tepat dan membuat mereka pingsan seorang demi seorang dalam keadaan masih seperti semula.

Yang jongkok tetap berjongkok, yang bersandar pohon dan yang rebahan tetap begitu pula.

Kemudian bayangan itu berkelebat dan berada di depan Kun Liong.

Kun Liong memandang dengan takjub dan sejenak dia terpesona.

Orang ini jelas seorang wanita yang pakaiannya seperti nikouw, memakai kerudung kepala, semua pakaian berwarna putih.

Akan tetapi yang mempesonakannya adalah waiah orang itu.

Wajah seorang dara masih amat muda dan luar biasa cantik jelitanya!

Alisnya melengkung seperti digambar, matanya seperti sepasang bintang pagi terlindung bulu mata yang lentik panjang, hidungnya mancung kecil dan mulutnya sama kecilnya dengan hidung, akan tetapi bibirnya penuh kemerahan, tubuhnya ramping dan biarpun pakaiannya kebesaran akan tetapi belum dapat menyembunyikan secara sempurna bentuk tubuh yang penuh lekuk-lengkung indah sekali.

Seorang dara yang benar-benar cantik jelita, akan tetapi anehnya menjadi nikouw dan kepalanya tentu gundul pelontos seperti kepalanya sendiri, sungguhpun kepala gundul dara ini tertutup kerudung putih!

"Engkau siapakah, Nikouw muda yang lihai...?"

Tanya Kun Liong.

"Sssttt...!"

Desis halus ini keluar dari mulut nikouw itu dan telunjuk tangan kirinya yang panjang meruncing itu menyentuh bibirnya sendiri.

Dengan langkah ringan sekali dia meloncat ke depan pemuda itu dan dengan gerakan cekatan, jari-jari tangan yang halus lunak dan meruncing, yang agaknya hanya pantas untuk dipakai menulis sajak, melukis, menyulam atau mengobati orang terluka itu sekali renggut saja telah mematahkan semua tali yang mengikat kedua lengan, dan kaki Kun Liong!

Kembali hal ini merupakan demonstrasi sin-kang yang amat kuat di samping gin-kangnya tadi yang membuat dia bergerak seperti seekor burung dan totokan-totokannya yang lihai.

Begitu tali-tali itu tidak mengikatnya, Kun Liong merosot dengan lemasnya karena dia telah tertotok lumpuh.

"Aihhh... kau kenapa...?"

Dengan lemas Kun Liong memandang penuh perhatian.

"Aku... agaknya aku pernah mendengar suaramu yang halus merdu itu... akan tetapi di mana, ya? Wajahmu yang cantik jelita seperti bidadari itu belum pernah aku melihatnya, mungkin hanya dalam mimpi naik ke sorga..."

"Hushhh!"

Muka yang berkulit putih halus itu menjadi merah sekali.

"Kau kenapa?"

"Tertotok pusat jalan darah ke lengan dan kaki terhenti, membuat lumpuh kaki tanganku."

Tanpa banyak cakap lagi, jari-jari tangan yang halus itu menotok beberapa kali di kedua pundak di kedua pinggang kanan kiri dan seketika Kun Liong dapat bergerak lagi.

Dia meloncat berdiri, menghadapi nikouw itu dan berkata.

"Kau hebat! Kau luar biasa sekali, Nona... eh, Suthai!"

"Dan kau tolol sekali membiarkan dirimu ditawan oleh mereka, Tuan... eh, Hwesio!"

"Wah, aku bukan hwesio!"

"Kau pun mengatakan aku nikouw!"

"Kan pakaianmu pakaian nikouw dan aku berani bertaruh bahwa kepalamu itu tentu gundul halus dan bersih sekali."

"Kau juga gundul."

"Tapi aku bukan hwesio, aku Yap Kun Liong orang biasa, orang sialan dangkalan yang selalu bernasib malang, akan tetapi juga orang berbintang terang karena selalu tertolong wanita-wanita cantik!"

"Engkaii gundul tetapi bukan hwesio, apa kaukira kalau aku berpakaian nikouw dan gundul aku lalu seorang nikouw aseli?"

"Eh, eh! Apa ada nikouw palsu?"

"Tentu saja ada!"

"Mana?"

"Ini, yang berdiri di depanmu!"

Keduanya saling pandang dan perbantahan itu serasa lucu bagi mereka sehingga mereka tertawa kecil.

Kun Liong masih celangap tertawa tapi segera suara ketawanya terhenti dan dia masih celangap memandang wajah dara itu.

Dara itu tersenyum simpul, cukup untuk memperlihatkan sedikit kilatan gigi dan cukup untuk menciptakan dua lesung pipit di kanan kiri pipinya.

Manis sekali!

Manis dan jelita membuat Kun Liong terpesona dan bengong terlongong karena dia harus mengakui bahwa selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan seorang dara secantik ini, belum pernah melihat wajah seperti itu, tiada cacatnya baginya, sempurna dan...

dan...

sukar dia mengatakan, pendeknya, tidak ada keduanya di dunia ini!

"Kenapa kita berbantahan tidak karuan?

Hayo cepat ikut denganku.

Kita harus cepat pergi dari sini."

"Kenapa? Aku tidak takut! Dan terus terang saja, aku memang sengaja membiarkan diriku ditangkap agar dibawa ke depan Panglima The Hoo yang sudah kukenal baik. Aku tentu akan dibebaskan dan..."

"Bodoh! Kau kira aku tidak tahu itu semua? Sudah semenjak kau ditangkap aku mengintai dan membayangimu. Akan tetapi jangan mengira kau akan dibawa ke sana, kau akan disiksa dan dipaksa mengaku di mana adanya bokor, kemudian setelah bokor di dapat, kau akan dibunuh."

"Tak mungkin, pasukan itu adalah pasukan pemerintah..."

"Tapi kau tidak kenal siapa itu, Tok-jiauw Lo-mo. Gurunya... hemmm, lihai bukan main. Dan pemuda asing itu agaknya sekutunya. Mari kita pergi..."

Kun Liong terkejut.

"Tidak, aku akan menemui mereka. Akan kutanya secara terang-terangan mengapa mereka hendak mengkhianati Panglima The Hoo. Mereka harus dihajar dan kalau begitu, harus ditangkap dan dihukum!"

Setelah berkata demikian, Kun Liong malah lari ke tenda dan berteriak-teriak.

"Lo-mo setan tua, hayo ke sini kau bersama Marcus itu! Kalian mau berkhianat, ya?"

Tanpa mempedulikan lagi kepada nikouw muda itu yang membanting kaki gemas dan meloncat pergi ke dalam gelap, Kun Liong terus berteriak-teriak dengan penuh kemarahan.

Segera terjadi geger di tempat itu.

Para perajurit terbangun, kecuali dua belas orang yang tertotok, dan komandan pasukan bersama Marcus dan Tok-jiauw Lo-mo juga berlari mendatangi.

Melihat pemuda gundul itu telah bebas, belenggunya terputus semua dan dua belas orang penjaganya tertotok semua tak mampu bergerak, mereka menjadi terkejut dan semua orang sudah mengeluarkan senjata, siap untuk mengeroyok.

"Hai, komandan pasukan. Jangan kau percaya kepada dua orang ini!"

Kun Liong menudingkan telunjunya ke arah Lo-mo dan Marcus.

"Mereka ini hendak berkhianat. Mereka tidak akan membawaku kepada Panglima The Hoo, melainkan hendak menculikku dan mungkin membunuh kalian semua. Hayo tangkap mereka dan kita bersama pergi menghadap Panglima The Hoo, untuk minta keadilan!"

"Heh-heh-heh, bocah gundul kalau kau tidak tolol tentu kepalamu terisi otak yang miring!"

Tok-jiauw Lo-mo berkata nyaring.

"Aku yang telah menangkapmu, kalau aku hendak berkhianat apa aku memberi kabar kepada komandan? Hayo Ciangkun, kerahkan orang-orangmu menangkap kembali tawanan gila yang berbahaya ini!"

Sang Komandan tentu saja lebih percaya kepada Lo-mo, apalagi kepada Marcus yang sudah membagi-bagi uang emas, maka dia memberi aba-aba dan serentak Kun Liong diterjang dari seluruh penjuru!

"Heiii, orang-orang bodoh...!

Kalian ditipu setaan tua itu...

wah, celaka ini!"

Kun Liong terpaksa mengelak ke sana sini dan mendorong-dorong dengan kedua tangannya.

Robohlah belasan orang oleh angin dorongan kedua tangan, akan tetapi mereka bangkit lagi dan lebih banyak yang mengeroyoknya karena ketika mereka terbanting, mereka tidak mengalami luka apa-apa.

Marcus sudah mengeluarkan pistolnya, akan tetapi tidak sempat menembak karena Kun Liong "terlindung"

Oleh demikian banyak pengeroyoknya.

Tok-jiauw Lo-mo sudah menggerakkan tongkat pendeknya yang berujung cakar setan, lalu maju menerjang pula.

Kun Liong memang tidak suka berkelahi, akan tetapi dikeroyok seperti itu tentu saja dia harus mempertahankan diri dan menghalau lawan tanpa melukainya.

Akan tetapi ketika Lo-mo maju, dia terkejut dan hampir saja lehernya kena dicengkeram oleh cakar setan kalau dia tidak cepat-cepat menggulingkan diri dan bergulingan sambil menarik banyak kaki sehingga lima orang perajurit pengeroyoknya jatuh tumpang tindih!

"Tolol!

Tolol!"

Tiba-tiba terdengar bentakan halus dan Marcus roboh tak bangkit lagi karena kena hantam kepalanya oleh tamparan tangan halus nikouw muda.

Beberapa orang terpelanting dan ada yang terlempar ke atas pohon dilontarkan oleh tangan kecil itu, nikouw itu mengamuk menghampiri Kun Liong dan di tangannya terdapat sebuah saputangan putih yang digerakkan secara istimewa lihainya.

"Siuttt...!"

Ujung saputangan putih itu menangkap cakar setan sehingga serangannya terhadap Kun Liong terhalang.

Kakek tinggi kurus itu terkejut sekali, membentak.

"Siapa kau!"

Akan tetapi nikouw muda itu tidak peduli, cepat melepaskan libatan saputangannya dan menyerang kakek itu dengan tamparan tangan kirinya.

Pukulannya seperti pukulan biasa saja, seperti seorang wanita menampar muka seorang pria yang hendak berkurang ajar kepadanya, namun tamparan itu cepat dan mendatangkan angin tenaga sin-kang yang kuat, juga datangnya tidak langsung melainkan membentuk lingkaran.

"Aihhh...!"

Lo-mo terkejut dan meloncat ke belakang lalu membalas dengan gerakan tongkat cakar setannya, mengarah muka nikouw itu.

"Hemm, manusia ganas!"

Nikouw itu berseru, dengan mudah mengelak dan ujung saputangannya meledak mengenai pundak kakek itu.

"Nikouw keparat!"

Kakek itu marah ketika melihat pakaian di pundaknya robek dan kulit pundaknya terasa panas.

Sebaliknya Si Nikouw Muda maklum bahwa tubuh kakek itu kebal.

Hantaman ujung saputangannya tadi dapat menghancurkan batu karang, akan tetapi pundak kakek itu lecet pun tidak!

Maka dia lalu menangkap lengan Kun Liong.

"Hayo pergi!"

Kalau Kun Liong menghendaki, tentu saja dia dapat merenggutkan tangannya terlepas dari pegangan dan dapat menahan tarikan nikouw itu.

Akan tetapi karena nikouw itu telah menjadi penolongnya dan dia pun sudah bosan harus melayani pengeroyokan sekian banyaknya perajurit, dia pun membiarkan dirinya diseret dan dia lari cepat sekali diseret oleh nikouw muda yang ternyata memiliki gin-kang istimewa, Tentu saja Kun Liong tidak tega membiarkan nikouw itu kelelahan, maka diam-diam dia pun mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya ringan dan biarpun kelihatan dia diseret, namun sebenarnya dia berlari sendiri!

Setelah lari jauh dan para pengejarnya sudah tidak tampak atau terdengar lagi, Kun Liong sengaja terengah-engah dan berkata.

"Aduhhh... berhenti... aduhh... napasku... senin kamis... huh-huh-huhhh..."

Nikouw itu melepaskan pegangannya dan mereka menjatuhkan diri duduk di bawah pohon.

Nikouw itu memandang kepada Kun Liong sambil tersenyum melihat betapa pemuda itu ngos-ngosan napasnya.

"Aih, kiranya engkau hanya pandai dalam hal ilmu pengobatan saja, akan tetapi ilmu silatmu tidak berapa tinggi."

"Huuh-hahhh... kau sih lari seperti kuda saja!"

Nikouw itu cemberut dan heranlah Kun Liong.

Mana ada orang cemberut kok malah makin manis?

"Kau samakan aku dengan kuda?"

"Ibarat kuda, engkau tentulah kuda ajaib yang disebut Han-hiat-po-ma (Kuda Ajaib Berkeringat Darah) yang kabarnya sehari dapat lari seribu li."

"Tidak sudi! Biarpun disamakan dengan kuda dewa sekalipun aku tidak sudi. Kuda nasibnya hanya ditunggangi orang! Aku bukan kuda!"

Kun Liong bengong, tidak hanya terheran-heran melihat sikap wanita, watak wanita yang selalu berbeda dan dianggapnya edan-edanan dan kekanak-kanakan ini, akan tetapi juga heran karena setelah marah malah lebih manis daripada ketika cemberut tadi.

Agaknya dalam setiap gerak-geriknya, nikouw muda jelita ini memiliki daya tarik yang berbeda, yang satu lebih menarik dan manis daripada yang lain!

"Sabar...

sabar...

aku hanya mengatakan larimu seperti kuda saking cepatnya."

"Itu pun menghina namanya!"

"Elhoooh! Bukankah kuda itu paling cepat larinya? Bukan menghina melainkan memuji."

"Siapa bilang. Larinya kuda saja berapa cepatnya sih? Aku sanggup berlari lebih cepat dari kuda!"

"Wah-wah, kalau begitu engkau tentu seorang bidadari dari kahyangan, bukan seorang manusia."

"Ngawur, aku hanya seorang nikouw."

"Nikouw palsu."

"Nikouw benar-benar, tetapi nikouw terpaksa, hatiku bukan nikouw akan tetapi terpaksa aku menjadi nikouw..."

Dan tiba-tiba nikouw itu menangis sesenggukan! "Aihhh... Nona yang baik, kaumaafkan aku..."

Kun Liong berlutut di depan nikouw itu.

"Heii, apa kau gila? Apa yang kau lakukan ini?"

Nikouw itu lupa kesedihannya dan membentak menegur Kun Liong yang sudah duduk kembali.

"Kau kira engkau menangis karena kata-kataku yang tidak sopan atau yang menyinggung."

"Tidak sama sekali. Aku hanya ingat akan nasibku. Sudahlah, tak perlu bicara tentang diriku."

"Aku seperti pernah mendengar suaramu, bukan menjadi kebiasaanku melupakan suara yang amat merdu dan halus. Selama hidupku tentu akan teringat, akan tetapi entah di mana karena kita tidak pernah saling bertemu. Mungkin dalam mimpi aku mendengar suaramu..."

"Bodoh, biarpun dalam mimpi, mana bisa mendengar suara orang yang belum dijumpainya. Engkau memang pernah mendengar suaraku."

"Benar-benarkah? Di mana? Kapan?"

"Ketika engkau mengobati seorang nikouw di dalam joli yang terluka... anunya..."

Agaknya nikouw muda itu tidak sampai hatinya untuk menyebut sebuah pinggulnya yang terluka dahulu itu.

Menceritakannya kembali saja membuat dia teringat dan seolah-olah dia merasakan kembali betapa jari tangan pemuda ini telah menyentuh kulit pinggulnya, membuat bulu tengkuknya berdiri!

"Apa...?"

Kun Liong bengong memandang wajah nikouw itu dan aneh!

Yang tampak olehnya adalah sebukit pinggul berkulit putih kuning halus dan yang terluka oleh jarum merah.

"Pinggul... eh pinggul..."

Dia mau bicara akan tetapi karena matanya membayangkan pinggul otomatis dari mulutnya keluar kata-kata itu membuat Si Nikouw muda makin merah mukanya.

"Maaf, iihh, kenapa mulut ini? Aku sekarang ingat. Pantas saja aku mengenal suaramu. Jadi engkaukah nikouw yang terluka oleh jarum merah itu? Siapakah engkau dan mengapa pula engkau sampai bisa terluka oleh Ouwyang Bouw?"

Kini nikouw itu memandang wajah Kun Liong dengan penuh keheranan.

"Kau mengenal senjata rahasia Ouwyang Bouw?"

Kun Liong mengusap-usap kepalanya.

"Karena jarumnya itulah maka kepalaku sekarang menjadi gundul pelontos seperti ini. Tentu saja aku pernah berjumpa dengan Ouwyang Bouw dan bapaknya Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok."

Nikouw muda itu bergidik, ngeri mendengar nama-nama itu.

"Anaknya jahat, ayahnya lebih kejam dan lihai luar biasa. Yap Kun Liong, aku telah mendengar namamu disebut banyak orang karena urusan bokor emas, dan memang engkau orang luar biasa sekali. Semua tokoh kang-ouw memperebutkan bokor, engkau yang sama sekali tidak tahu apa-apa malah yang menemukan bokor itu! Aku... aku adalah Pek Hong Ing dan terus terang saja, aku... aku hanya terpaksa menjadi nikouw, maka jangan engkau menyebutku seperti nikouw. Lain orang tidak apa-apa, akan tetapi aku merasa canggung dan tidak enak kalau kau menyebutku sebagai nikouw."

"Eihh, kalau aku yang menyebutnya mengapa sih? Apa bedanya aku dengan orang lain?"

Hong Ing cemberut dan kembali Kun Liong menelan ludah.

Manisnya!

"Kau boleh menyebut aku nikouw, akan tetapi aku pun akan menyebutmu hwesio karena kepalamu juga gundul seperti kepalaku.

Bagiku, menjadi pendeta bukanlah lahirnya melainkan batinnya, dan di dalam batinku, aku sama sekali tidak ingin menjadi nikouw."

Mendengar dara itu bicara dengan serius, Kun Liong tidak mau menggoda lagi.

"Ya sudahlah, Hong Ing, aku menganggap saja engkau seorang dara yang berkepala gundul seperti aku. Tapi kau belum menceritakan bagaimana sampai anumu itu terluka jarum merah milik Ouwyang Bouw."

"Sebut saja pinggulku, mengapa anumu-anumu? Tidak enak sekali mendengarnya."

"Eh, bukankah kau sendiri yang menyebut begitu tadi? Aku hanya menirumu."

"Apa engkau ini selalu hanya pandai meniru orang lain? Meniru sih baik asal yang benar, kalau yang salah masa harus ditiru?"

Kun Liong tertawa. Mengelus gundulnya dan berkata.

"Memang aku tolol... ha-ha, mungkin karena gundul..."

"Ingat, aku pun gundul..."

Kata Hong Ing dan keduanya tertawa geli.

Tiba-tiba wajah Hong Ing pucat sekali dan Kun Liong cepat membalikkan tubuh karena mendengar gerakan perlahan.

Tahu-tahu di depan mereka telah berdiri seorang dara lain yang wajahnya cantik jelita pula namun dingin dan pada saat itu wajah cantik ini kelihatan marah, sepasang matanya menyinarkan api dan bergantian mata itu menatap wajah Kun Liong dan Hong Ing.

Dengan tubuh lemas Hong Ing bangkit berdiri, sedangkan Kun Liong tetap saja duduk enak-enak karena dia tidak mengenal wanita gagah dan cantik yang datang itu dan tidak merasa bersalah apa-apa, hanya terheran mengapa wanita muda secantik itu kelihatan marah sekali dan mengapa pula Hong Ing kelihatan pucat ketakutan.

"Engkau... Pek Hong Ing! Hemm, biarpun menyamar sebagai nikouw, aku tetap dapat mengenalmu. Sungguh tak tahu malu engkau, Sumoi! Menghindarkan diri dari pernikahan dengan cara menjadi nikouw, akan tetapi apa yang kutemukan di sini? Kau bermain gila dengan seorang hwesio muda! Betapa memalukan dan kau mencemarkan orang yang menjadi gurumu dan sucimu!"

"Suci! Jangan menuduh sembarangan!"

Hong Ing berseru, suaranya mengandung isak karena ucapan sucinya itu benar-benar menusuk perasaannya yang halus.

"Tak perlu memutar lidah membela diri karena jelas kalian tertangkap basah! Apa perlunya kalau tidak main gila duduk di dalam hutan sunyi berduaan saja dan bersendau-gurau tertawa-tawa? Ah, sungguh percuma saja kepala kalian yang gundul itu. Sumoi, hayo kau ikut bersamaku menghadap Subo (Ibu Guru)."

Hong Ing dengan mata terbelalak dan muka pucat menggeleng-geleng kepalanya.

"Tidak... tidak... aku tidak mau kembali ke sana... aku lebih baik mati daripada dipaksa menikah..."

"Keparat! Berbulan-bulan aku mencarimu dengan susah-payah, setelah bertemu kau kudapatkan main gila dengan hwesio ini, dan aku masih sabar, masih mau melupakan itu semua asal engkau suka turut bersamaku menghadap Subo. Aku tidak ingin bicara tentang kelakuanmu di pagi hari ini, dan kau menolak, bahkan memilih mati?"

"Memang lebih baik aku mati!"

Kata Hong Ing, suaranya kini mantap.

"Singgg...!"

Tampak sinar berkilat ketika wanita cantik yang galak itu mencabut pedangnya yang berkilauan saking tajamnya.

"Kau memilih mati? Nah, biarlah aku memenuhi permintaanmu, sesuai pula dengan perintah Subo, kalau kau masih membangkang supaya aku membunuhmu."

Selesai ucapan ini, pedang itu berkelebat dan dia telah menyerang Hong Ing dengan gerakan yang dahsyat sekali.

Kun Liong terkejut melihat gerakan itu yang benar-benar amat cepat dan mengandung tenaga kuat sekali.

Akan tetapi, Hong Ing masih sempat mengelak dengan gerakannya yang lincah dan ringan seperti burung.

Namun sucinya terus menyerangnya bertubi-tubi, membuat Hong Ing terdesak hebat dan terpaksa harus berloncatan ke kanan kiri dan belakang untuk menghindarkan diri dart ujung senjata yang membawa maut itu.

"Suci, begini tegakah engkau...? Kita sudah semenjak kecil seperti kakak beradik..."

"Wuuuuttt!"

Hong Ing cepat menjatuhkan dirinya untuk menghindarkan diri dart sambaran pedang itu.

Biarpun Kun Liong dapat melihat bahwa gerakan Hong Ing tidak kalah ringan daripada gerakan sucinya, namun karena dara ini tidak memegang senjata dan juga sama sekali tidak melakukan serangan balasan, hanya mengelak ke sana-sini saja, maka hatinya gelisah sekali dan tak terasa lagi tangannya meraba sebatang ranting kering yang menggeletak di dekatnya.

Kegelisahannya terbukti ketika Hong Ing menjerit terkena tendangan sucinya.

Tubuhnya terbanting dan dengan kecepatan kilat sucinya sudah datang menerjang dengan tusukan maut yang agaknya tak mungkin dapat dihindarkan lagi oleh Hong Ing yang sudah rebah miring itu.

"Trangggg...!"

Kun Liong sengaja mengerahkan sin-kangnya yang mendatangkan getaran hebat sehingga ketika rantingnya bertemu dengan pedang yang ditangkisnya pedang itu terpental, terlepas dari tangan pemiliknya!

Dara itu terbelalak memandang, bukan main rasa heran dan penasarannya dan merasa seperti dalam mimpi.

Siapa orangnya yang mampu menangkis pedangnya dengan sebuah ranting dan sekali tangkis membuat pedangnya terlepas dari tangannya?

Benar-benar aneh dan luar biasa sekali!

Ataukah dia yang lengah dan tidak memegang pedangnya erat-erat karena sudah memastikannya bahwa sumoinya tentu tewas di tangannya?

Kun Liong tidak mempedulikannya lagi.

Dia membuang ranting itu dan menghampiri Hong Ing yang masih rebah.

"Hong Ing, kau... terluka...?"

Hong Ing bangkit duduk dan menggeleng kepala.

"Tidak apa-apa, Kun Liong, biarkanlah aku... heiiii... hati-hati...!"

Namun terlambat.

Hui-to (pisau terbang) yang disambitkan oleh sucinya itu hebat sekali meluncur dengan kecepatan melebihi anak panah menuju ke sasarannya, yaitu punggung Kun Liong.

Pemuda ini sama sekali tidak menyangka bahwa ada dara demikian cantiknya akan sudi menyerang orang dengan menggelap, maka seruan Hong Ing itu terlambat.

Pula, kalau dia mengelak, bukankah Hong Ing yang terancam oleh senjata rahasia itu?

Dia lalu mengerahkan sin-kangnya dan hui-to itu menancap di punggungnya, tidak terus, melainkan menancap paling banyak sepanjang jari telunjuk dan menempel di situ.

Darah muncrat dan Hong Ing menjerit.

"Kun Liong...!"

Sebelum Kun Liong sempat melakukan sesuatu, Hong Ing telah menggendongnya dan dara ini lalu meloncat jauh dan terus melarikan diri setepat kilat sambil menggendong tubuh Kun Liong!

"Hemm, Sumoi Pek Hong Ing...!

Begitu tak tahu malukah engkau?

Berhenti!"

Ia mengejar dari belakang setelah menyambar pedangnya dan menyarungkannya.

Akan tetapi Hong Ing tidak peduli, terus menggendong Kun Liong dan mengerahkan seluruh gin-kangnya untuk melarikan diri.

Ketika dia menengok dan melihat sucinva mengejar, dia berlari makin cepat lagi.

Kun Liong diam-diam merasa geli, juga terharu.

Tak disangkanya bahwa sang suci seganas dan segalak itu sedang sang sumoi begini halus budinya.

Sebenarnya luka di punggungnya itu tidak seberapa dan kalau dia mau, tentu saja dia dapat melawan suci itu, atau andaikata melarikan diri sekalipun, Tak perlu digendong karena dia dapat lari lebih cepat dari Hong Ing.

Akan tetapi, sekali merasa digendong belakang, dia merasa kenikmatan yang luar biasa.

Tubuhnya mendekap ketat punggung Hong Ing, terasa kelembutan yang hangat dan hidungnya mencium keharuman memabukkan, maka dia merangkulkan kedua lengan di atas pundak Hong Ing sedangkan kedua kakinya yang panjang dia kempitkan di pinggang dara itu.

Dia pura-pura setengah pingsan!

Akan tetapi karena maklum bahwa mereka berdua dikejar, diam-diam Kun Liong mengerahkan gin-kangnya sehingga tubuhnya ringan sekali dan tidak menjadi penghalang bagi Hong Ing untuk mengerahkan seluruh ilmunya berlari cepat.

Dan ternyata dalam hal ilmu berlari cepat, Hong Ing lebih menang dibandingkan dengan sucinya.

Dia memasuki hutan, menyelinap di antara pohon-pohon dan makin lama jarak antara dia dan pengejarnya makin jauh dan akhirnya Hong Ing tiba di tempat yang ditujunya yaitu sebuah kuil kuno di tengah hutan.

Dia segera menyelinap di balik pohon dan memasuki semak-semak, menurunkan tubuh Kun Liong yang pura-pura pingsan, mencabut hui-to itu dan memeriksa lukanya.

Betapa heran rasa hati Hong Ing ketika memeriksa luka itu.

Ketika mencabut hui-to tadi, dia pun sudah heran melihat hulto yang panjang itu hanya masuk sedikit saja, padahal ia tahu benar bahwa sucinya adalah seorang ahli penyambit pisau terbang yang amat lihai dan yang telah mewarisi kepandaian guru mereka sepenuhnya.

Tidak saja hui-to itu amat cepat jika dilontarkan sucinya, juga pasti mengenai sasarannya dan biasanya tentu akan menancap sampai ke gagangnya!

Akan tetapi dia tidak memusingkan hal itu, merasa bersyukur dan selagi dia hendak mengambil obat dari dalam saku jubahnya, tiba-tiba dia merangkul Kun Liong dan mendekap mulut pemuda itu dengan tangannya, khawatir kalau-kalau pemuda itu setelah siuman mengeluarkan suara.

Matanya memandang ke depan di mana terdapat sebuah lorong kecil dan di atas lorong ini tampak tujuh orang nikouw berjalan beriringan sambil membaca doa!

Kun Liong melirik dan melihat pula iring-iringan itu.

Dia senang sekali didekap dan kepalanya berbantal lengan halus itu, apalagi mulutnya didekap.

Dengan halus dia memegang lengan yang mendekap mulutnya dan menariknya sehingga mulutnya tidak tertutup lagi.

Dia mengeluarkan rintihan perlahan, pura-pura merasa kesakitan hebat!

"Sssttt...!"

Dalam kekhawatirannya akan terlihat oleh para saudaranya dari kuil itu, Tanpa disadarinya lagi Hong Ing mendekap kepala Kun Liong ke dadanya dan kebetulan sekali Kun Liong miringkan mukanya sehingga kini mukanya terdekap ke dada.

Kun Liong meram melek dan dia sekali ini benar-benar hampir pingsan ketika merasa betapa hidung dan pipinya merapat pada dada yang membusung itu dan tercium olehnya keharuman yang aneh.

Aduh, mau rasanya aku selamanya begini, pikirnya dan tak terasa lagi mulutnya tersenyum penuh kesenangan hati!

Setelah rombongan nikouw yang berdoa itu lewat dan sudah jauh, barulah Hong Ing bernapas lega dan ketika dia menunduk, matanya terbelalak melihat betapa tanpa disadarinya dia mendekap muka Kun Liong ke dadanya!

Hampir dia menjerit dan dia cepat melepaskan kepala itu sehingga kepala gundul itu jatuh ke tanah mengeluarkan suara berdebuk.

"Aduhhhh...!"

Kun Liong mengeluh.

"Kusangka kau masih pingsan!"

"Aku tidak pernah pingsan!"

"Kalau begitu, mengapa kau diam saja?"

"Habis disuruh apa?"

"Hemmm, kau aneh dan kadang-kadang timbul sangkaanku bahwa kau seorang yang kurang ajar! Nah, miringlah, biar kuobati lukamu!"

Kun Liong tidak bicara lagi, takut kalau benar-benar dia dibenci karena dianggap kurang ajar, maka dia miring dan membiarkan lukanya diobati olch Hong Ing.

Sekali ini Kun Liong merasakan sesuatu yang aneh di hatinya.

Dia merasa amat kasihan kepada dara ini dan sama sekali tidak ada niat di hatinya untuk menggoda, sungguhpun kehadiran dan kecantikan dara ini jauh lebih hebat pengaruhnya terhadap dirinya dibandingkan dengan gadis-gadis cantik lain yang pernah dijumpainya dan digodanya.

Setelah selesai mengobati luka di punggung Kun Liong, Hong Ing berkata.

"Aku girang sekali dapat membalas kebaikanmu dahulu ketika mengobati aku dengan sekarang merawat lukamu, Kun Liong. Sekarang, harap kau suka cepat pergi sebelum Suci datang lagi dan sebelum para nikouw di Kwan-im-bio tahu bahwa kau berada di sini."

Kun Liong sudah duduk. Mereka duduk berhadapan dan Kun Liong menggeleng kepalanya.

"Nanti dulu, Hong Ing. Sudah terlalu banyak kita mengalami bahaya bersama, dan sudah terlalu banyak aku berhutang budi kepadamu. Aku ingin sekali mengenalmu lebih dekat dan lebih baik lagi. Sudikah kau menceritakan kepadaku semua hal ihwalmu, barangkali saja aku dapat membantumu, baik dengan nasihat maupun dengan perbuatan?"

Hong Ing meragu, sejenak mereka berpandangan. Kemudian Hong Ing menghela napas dan berkata.

"Baiklah. Kita memang masih harus bersembunyi sampai keadaan aman benar."

Mulailah dara cantik jelita dan terpaksa menjadi nikouw ini menceritakan riwayatnya kepada Kun Liong dengan suara bisik-bisik dan yang didengarkan penuh perhatian oleh Kun Liong.

Pek Hong Ing yang pada waktu itu baru berusia tujuh belas tahun adalah murid tersayang dari seorang pertapa wanita di Pegunungan Go-bi-san yang berjuluk Go-bi Sin-kouw (Wanita Sakti dari Go-bi).

Nenek sakti ini hanya mempunyai dua orang murid, yang pertama adalah Lauw Kim In, yaitu dara jelita galak yang menyerang Hong Ing itu.

Hong Ing adalah seorang anak yatim piatu, demikian pula sucinya, Kim In.

Semenjak berusia lima tahun, dia telah digembleng bersama sucinya oleh Go-bi Sin-kouw, dan kedua orang anak perempuan yang sama-sama yatim piatu ini hidup seperti kakak beradik, Kim In lebih tua tiga tahun dari Hong Ing, dan sekarang telah berusia dua puluh tahun.

Sukar dikatakan siapa di antara dua orang dara ini yang lebih berhasil mewarisi ilmu kepandaian Go-bi Sin-kouw.

Kim In kelihatan lihai sekali dengan ilmu pedangnya dan terutama sekali senjata rahasia hui-to (pisau terbang) yang membuat dara ini sukar dicari tandingannya.

Sedangkan Hong Ing telah mewarisi ilmu cambuk dari gurunya yang dapat dia mainkan hanya dengan sehelai saputangan sutera!

Di samping ini, juga dalam hal ilmu meringankan tubuh (gin-kang), si sumoi ini agaknya jauh melampaui sucinya.

Ketika Kim In berusia delapan belas tahun, oleh gurunya yang terkenal galak dan berhati baja itu ditunangkan dengan seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Akan tetapi, ketika pada suatu hari pemuda tunangannya ini oleh Go-bi Sin-kouw disuruh berkunjung kepada seorang sahabatnya di kaki Pegunungan Go-bi-san, terjadilah hal yang amat hebat.

Sahabat dari Go-bi Sin-kouw itu adalah seorang tokoh yang amat sakti, terkenal sekali namun seperti juga Go-bi Sin-kouw, tidak pernah turun gunung.

Julukannya adalah Thian-ong Lo-mo (Iblis Tua Raja Langit) dan sudah lama menjadi sahabat baik Go-bi Sin-kouw karena memang masih ada pertalian (Lanjut ke

Jilid 28) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28 perguruan di antara mereka.

Ketika pemuda tunangan Kim In itu tiba di tempat pertapaan Thian-ong Lo-mo dia diterima baik, suratnya dari Go-bi Sin-kouw juga diterima dan karena hari sudah malam, pemuda itu disuruh bermalam di pondok si kakek pertapa.

Dan di malam hari itulah terjadinya malapetaka.

Kakek Thian-ong Lo-mo di samping kesaktiannya juga terkenal sebagai seorang kakek yang tak pernah hidup sendiri, selalu tentu ditemani seorang isteri yang cantik dan muda dan yang hampir setiap tahun berganti orang!

Isteri atau selir cantiknya pada waktu itu, yang biasanya hanya tidur dan dipeluk seorang kakek yang usianya sudah hampir seratus tahun, tentu saja menjadi terpesona dan tergila-gila kepada pemuda tampan yang menjadi tamu suaminya.

Hal yang lumrah pun terjadilah.

Si pemuda tidak kuat menahan bujuk rayu si cantik jelita dan terjadilah perjinahan diantara mereka.

Dan celakanya, mereka tertangkap basah oleh Thian-ong Lo-mo sendiri!

Kedua orang kekasih itu dibunuh oleh Thian-ong Lo-mo dan kepala mereka dikirimnya kepada Go-bi Sin-kouw yang dapat mengerti apa yang telah terjadi, maka karena kesalahan berada di pihak calon mantunya itu, Go-bi Sin-kouw juga tidak bisa berbuat apa-apa kecuali minta maaf.

Dapat dibayangkan betapa hancur hati Lauw Kim In melihat peristiwa ini.

Bukan hanya hancur karena ia urung menikah, namun terutama sekali hancur karena sakit hati mendengar betapa tunangannya itu berjina dengan isteri Kakek Thian-ong Lo-mo.

Dengan demikian baginya dianggap bahwa dia dihina dan diremehkan oleh tunangannya, dan mulai saat itu tumbuhlah bibit kebencian yang amat mendalam di hatinya terhadap kaum pria!

Semenjak itu, dia bersumpah di depan gurunya untuk tidak menikah dan gurunya pun tidak dapat berbuat apa-apa karena maklum apa yang diderita oleh murid pertama ini.

Kim In dan sumoinya yang ketika itu baru berusia lima belas tahun, makin giat berlatih silat sampai dua tahun lamanya.

"Dan pada suatu hari, pagi-pagi sekali, kurang lebih tiga bulan yang lalu, malapetaka menimpa diriku..."

Kata Hong Ing menyambung ceritanya yang didengarkan penuh perhatian oleh Kun Liong.

Cerita tentang suci dara ini memang menarik namun dia tidak begitu mempedulikan, akan tetapi kini setelah Hong Ing mulai menceritakan riwayatnya sendiri, dia benar-benar menaruh perhatian sehingga pandang matanya seakan-akan tergantung kepada bibir yang merah kecil mungil itu.

Hong Ing melanjutkan ceritanya.

Pada pagi hari itu, dia seorang diri seperti biasa berjalan-jalan di dalam hutan di lereng puncak Go-bi-san.

Semenjak kecilnya, tidak seperti sucinya, dara ini memang suka sekali akan keindahan alam, suka menyendiri di dalam hutan-hutan besar, apalagi di waktu pagi hari ketika matahari baru saja muncul menyinarkan cahaya keemasan dan burung-burung berkicau menyambut datangnya sinar surya yang cemerlang indah itu, butir-butiran embun menghias setiap ujung daun dan membuat rumput dan kembang berseri-seri pepuh kesegaran.

Kalau sudah berjalan seorang diri di dalam hutan seperti itu, Hong Ing merasa hidup di dunia lain, dunia yang tidak ada lagi kesunyian baginya karena semua di sekelilingnya seperti telah menjadi satu dengan dirinya, membuat dia tidak lagi kehilangan orang tuanya yang telah tiada.

Ketika pagi hari itu dia dengan wajahnya yang cantik segar kemerahan berseri-seri, seperti peri jelita penjaga hutan itu sendiri, berlari-larian kecil mengejutkan burung-burung dan kelinci-kelinci, membuatnya tertawa terkekeh karena tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara auman keras dan suara jerit orang minta tolong.

Cepat laksana seekor kijang meloncat, Hong Ing melarikan diri menuju ke arah suara itu dan apa yang dilihatnya membuat dia terkejut sekali.

Seekor harimau yang sebesar anak kerbau telah merobohkan seekor kuda dan penunggang kuda itu, seorang laki-laki berpakaian indah, ikut pula roboh dengan sebelah kaki tertindih tubuh kudanya.

Kini harimau itu siap untuk menerkam orang laki-laki itu yang tadi menjerit minta tolong.

Dengan tiga loncatan saja Hong Ing telah tiba di tempat itu, berdiri di antara laki-laki dengan harimau.

Binatang ini menggereng, memperlihatkan taringnya, dan matanya seolah-olah hendak menyihir Hong Ing.

Di dalam hatinya, dara itu merasa gentar juga karena selamanya belum pernah dia melawan harimau.

Akan tetapi karena maklum bahwa kalau dia tidak turun tangan tentu laki-laki itu akan menjadi korban harimau, dia sudah siap dan meloloskan saputangan yang biasanya diselipkan diantara kancing bajunya.

Dengan gerakan hati-hati Hong Ing memutar-mutar saputangannya sehingga ujungnya menjadi sebuah cambuk, matanya tak pernah berkedip menentang pandang mata harimau itu.

Adapun laki-laki yang masih rebah itu hampir tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, bahkan dia kini berhasil menarik kakinya dari tubuh kudanya yang sekarat, lalu bekata.

"Awas Nona.... harap lekas menyingkir...!"

Ucapan ini memperkuat keputusan Hong Ing untuk menolong laki-laki itu.

Seorang yang terancam bahaya maut seperti laki-laki itu akan tetapi masih ingat untuk mengkhawatirkan keselamatan orang lain, tentulah seorang yang baik budi dan patut ditolong.

Akan tetapi ucapan laki-laki itu seolah-olah menjadi aba-aba bagi sang harimau yang sudah menggereng keras dan meloncat tinggi menubruk ke arah Hong Ing dengan mulut terbuka lebar dan kedua kaki depan siap mencakar dan merobek-robek kulit daging lunak halus dari dara itu!

"Celaka...!"

Laki-laki itu berseru dan kini dia sudah mencabut pedangnya, akan tetapi baru saja melangkah setindak, dia hampir jatuh karena ternyata kakinya yang terhimpit kuda tadi terkilir.

Akan tetapi, laki-laki itu terbelalak dan memandang dengan mata penuh kagum melihat betapa dengan ringan dan cepat dara itu sudah meloncat ke kiri dan ketika tubuh harimau besar itu lewat, dia melihat dara itu mengebutkan sehelai saputangan sutera putih yang mengeluarkan bunyi meledak nyaring dan harimau itu terjungkal dan menggereng-gereng, akan tetapi matanya tinggal yang sebelah kiri saja karena mata kanannya sudah hancur dan bercucuran darah!

Karena nyeri dan marah, harimau itu mengaum dan sekali lagi meloncat dengan dahsyat sekali menubruk si dara muda dan sekarang laki-laki itu lebih bengong lagi melihat betapa dara itu pun meloncat menyambut terkaman si harimau, saputangannya kembali meledak, kakinya di udara menendang dan tubuh harimau itu terlempar sampai tiga meter, jatuh terbanting dan mata kirinya juga sudah hancur.

Harimau itu menggereng-gereng, Lalu seperti gila menubruk sana-sini, lari sana-sini akhirnya kepalanya menumbuk sebuah batu karang besar, pecah dan roboh berkelojotan, kemudian tak bergerak lagi!

Laki-laki itu sejenak tak dapat berkata-kata, memandang ke arah bangkai harimau, kemudian menghampiri Hong Ing yang menyeka keringatnya dengan seputangannya.

Betapapun juga, tadi dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya untuk mengalahkan binatang yang kuat dan galak itu.

Laki-laki itu seperti merasa berada dalam mimpi.

Hampir dia tidak dapat percaya, apalagi setelah kini berhadapan dekat dengan dara itu.

Seorang dara yang usianya baru belasan tahun, tujuh belas tahun, dapat membunuh harimau dengan cara demikian aneh dan mudah, hanya bersenjata sehelai saputangan yang kini dipakai menghapus keringat yang membasahi leher!

Bukan main!

"Nona..."

Laki-laki itu menjura.

"Nona telah menolong nyawaku dan aku tidak mungkin diam saja. Nona, ketahuilah bahwa aku adalah Pangeran Han Wi Ong dari kota raja. Aku sedang berburu, akan tetapi tersesat dan terpisah dari para pengawal sampai di tempat ini. Ketika tadi harimau muncul, kudaku terpeleset dan diterkam, kemudian... ah, aku tentu telah menjadi makanan harimau kalau Nona tidak datang menolong."

Diam-diam Hong Ing terkejut, sama sekali tidak mengira bahwa orang yang ditolongnya adalah seorang pangeran dari kota raja!

Putera Kaisar!

Akan tetapi karena dia selamanya tinggal di gunung dan tidak mengenal tata susila cara bangsawan, dia hanya membalas penghormatan dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu menjawab.

"Harap Pangeran tidak bersikap berlebihan. Sudah menjadi kebiasaan manusia untuk saling menolong apabila melihat orang terancam bahaya. Nah, bahaya sudah lewat, saya mohon diri, Pangeran."

Hong Ing sudah membalikkan tubuhnya, akan tetapi laki-laki yang gagah tampan, dan usianya kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian indah sekali itu berseru.

"Tahan dulu, Nona. Setidaknya harap Nona sudi memperkenalkan nama dan di mana tempat tinggal Nona. Kalau tidak, selamanya aku akan merasa menyesal dan merasa berdosa tidak mengenal nama penolongku yang telah menyelamatkan nyawaku."

Karena sikap pangeran itu sopan dan tutur sapanya halus, Hong Ing menjawab terus terang.

"Namaku Pek Hong Ing, dan aku tinggal bersama guruku, Go-bi Sin-kouw, dan suciku di puncak sana itu."

Setelah berkata demikian, dara itu berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Han Wi Ong.

Pangeran itu makin kagum, sejenak dia terpesona dan kemudian dia menarik napas panjang dan berkata seorang diri.

"Dialah yang patut mendampingi aku selama hidupku. Cantik jelita, muda, jujur, dan memiliki ilmu kepandaian yang dapat menjadi pelindungku selamanya! Go-bi Sin-kouw...? Hemm, harus kupinang dia!"

Demikianlah, pada keesokan harinya, Pengeran itu telah bersama dengan rombongan pasukan pengawalnya mendatangi pondok Go-bi Sin-kouw dan dengan jujur dan langsung karena dia pun terkenal jujur dan terang-terangan, mengajukan pinangan kepada Hong Ing untuk dijadikan isterinya!

"Hendaknya Sin-kouw yakin bahwa saya ingin mengambil Nona Pek Hong Ing sebagai isteri sah, bukan sebagai selir dan pernikahan antara kami akan dirayakan besar-besaran di istanaku.

Andaikata kelak saya mempunyai keberuntungan menjadi kaisar, dia pasti menjadi permaisuriku!"

Tentu saja hati nenek itu menjadi bangga bukan main.

Serta-merta dia menerima pinangan itu, karena bukankah dia yang berhak penuh atas diri murid-muridnya?

Hong Ing sudah yatim piatu dan sejak kecil dididiknya, maka dengan berani dia menerima pinangan, bahkan menerima tanda ikatan jodoh berupa pedang bergagang mutiara dan emas dan menerima ketentuan bahwa sebulan lagi Sang Pangeran akan mengirim pasukan menjemput isterinya!

"Demikianlah, Kun Liong,"

Kata Hong Ing melanjutkan ceritanya dan suaranya kini tergetar penuh kedukaan hati yang ditahan-tahan.

"kau dapat membayangkan betapa hancurnya hatiku. Aku oleh Subo dianggap seperti seekor binatang saja, begitu mudah dijodohkan, atau sebuah benda yang mudah saja dihadiahkan kepada seorang pria. Memang harus kuakui bahwa Pangeran Han Wi Ong seorang laki-laki yang gagah, baik dan juga berkedudukan tinggi. Akan tetapi usianya sudah empat puluhan tahun, sepantasnya menjadi ayahku, mana aku dapat suka menjadi isterinya? Aku menangis dan menolak, akan tetapi Subo adalah seorang yang berkemauan baja dan dia lebih baik melihat aku mati di depan kakinya daripada melihat aku menolak dan dia harus membatalkan perjanjiannya dengan seorang pangeran. Apalagi karena sudah belasan kali aku menolak pinangan orang, maka Subo menjadi marah dan memaksa aku dengen ancaman mati. Aku sudah putus harapan dan malam itu aku sudah menggantung diri, hendak membunuh diri..."

"Hong Ing...!"

Kun Liong terkejut sekali dan tak terasa lagi dia memegang lengan dara itu, mukanya menjadi pucat.

Hong Ing tersenyum pahit menyaksikan sikap pemuda gundul itu.

"Agaknya baru sekaranglah aku bertemu dengan orang sebaik engkau, Kun Liong, yang begitu memperhatikan nasib diriku. Aku ditolong oleh Suci yang menurunkan aku dari gantungan, menangisi aku dan menghiburku. Dia mengingatkan aku bahwa kami telah berhutang budi kepada Subo dan sudah sepatutnyalah kalau aku membalas budi Subo dengan mentaati perintahnya. Pula, demikian kata Suci, bukankah aku menjadi istri seorang pangeran dan bahkan besar kemungkinan menjadi permaisuri? Kalau aku membunuh diri, berarti aku menghina Subo dan Subo tentu akan tercemar terhadap keluarga kaisar, mungkin akan dianggap sebagai pemberontak."

"Hemm, nasibmu sungguh buruk, Hong Ing. Lalu bagaimana engkau sampai menjadi nikouw?"

"Akhirnya aku mengambil keputusan untuk melarikan diri dari puncak Go-bi-san. Aku lari pada malam hari dan terus melarikan diri sampai akhirnya aku tiba di Kuil Kwan-im-bio itu, di mana tinggal belasan orang nikouw dikepalai oleh seorang nikouw tua yang saleh. Aku menghadap kepada Biauw Kwi Nikouw, ketua kuil itu, dan minta supaya diterima menjadi nikouw. Kupikir bahwa ke mana pun aku pergi, tentu Subo dan Suci akan dapat mencari dan memaksaku. Akan tetapi setelah aku menjadi nikouw, kiranya mereka takkan berani mengganggu seorang yang sudah memilih hidup suci. Untuk membebaskan diri dari pernikahan yang tidak kusuka itu, aku rela mengorbankan hidupku menjadi nikouw, biarpun di dalam hatiku sungguh mati aku tidak berniat menjadi seorang pendeta."

Kun Liong mengangguk-angguk dan hanya di dalam hatinya dia berkata bahwa memang amat tidak patut dan terlalu amat sayang sekali seorang dara berusia tujuh belas secantik Hong Ing ini harus menjadi nikouw gundul yang selama hidup tidak berurusan denen dunia!

"Mula-mula Biauw Kwi Nikouw menolak dan aku sudah hampir putus harapan..."

"Aih, mengapa menolak orang hendak menjadi nikouw dengan suka rela?"

Tanya Kun Liong terheran.

Hong Ing melanjutkan penuturan pengalamannya.

Ketika dia menghadep Biauw Kwi Nikouw untuk diperkenankan menjadi nikouw, nikouw tua itu berkata.

"Nona, engkau masih muda dan cantik sekali. Kalau engkau menjadi nikouw di sini, berarti engkau akan mencari malapetaka dan kami pun terkena getahnya. Tidak, kami tidak berani menerimamu menjadi nikouw di sini, Nona."

"Mengapa, Subo? Apa yang telah terjadi?"

"Sudah ada tiga orang muridku, nikouw-nikouw muda, mati menggantung diri dalam waktu sepekan ini."

Hong Ing terkejut.

"Mati menggantung diri? Mengapa?"

"Karena mereka tidak sudi lagi hidup di dunia setelah mereka tercemar."

"Tercemar?"

"Ya, diperkosa seorang laki-laki, omitohud..."

Hong Ing meloncat bangun.

"Laki-laki mana yang berani memperkosa nikouw?"

"Ah, kami tidak tahu bagaimana terjadinya, akan tetapi selama sepekan, berturut-turut tiga orang nikouw muda diculik dari kamarnya, dibawa ke hutan dan diperkosa. Pada keesokan harinya, mereka itu satu-satu menggantung diri sampai mati. Nah, dengan adanya peristiwa ini, apakah Nona masih ingin menjadi nikouw di sini dan terancam bahaya?"

"Aku tetap ingin menjadi nikouw, dan harap Subo tidak khawatir. Aku akan menangkap dan menghajar binatang busuk itu!"

Demikianlah, karena desakan Hong Ing, akhirnya dara ini digunduli rambutnya, diberi pakaian nikouw dan menjalanken upacara sembahyang menjadi nikouw, disaksikan oleh belasan orang nikouw yang menjadi murid Biauw Kwi Nikouw.

Hong Ing menangis tersedu-sedu, akan tetapi betapapun juga, kepalanya sudah menjadi gundul licin dan ditutupi dengan penutup kepala berwarna putih.

Malam hari itu, sengaja Hong Ing keluar seorang diri dan berjalan-jalan di sekeliling kuil untuk menjadikan dirinya sebagai "umpan"

Memancing datangnya laki-laki terkutuk yang sudah memperkosa tiga nikouw dan menyebabkan mereka membunuh diri.

Para nikouw lain yang maklum akan usaha nikouw baru ini, mengintai dari tempat aman dengan hati berdebar tegang.

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan orang yang tinggi besar dan begitu tiba di depan Hong Ing, dara ini terkejut dan jijik sekali.

Laki-laki itu tinggi besar, usianya sudah lima puluh tahunan, rambut dan jenggot serta kumisnya riap-riapan menakutkan, kotor sekali, matanya lebar dan dia terkekeh memandang kepada Hong Ing sambil berkata.

"Ha-ha-heh-heh, nikouw muda baru ya? Wah, cantiknya, wah, malam ini aku benar-benar untung besar! Orang secantik engkau ini sedikitnya harus kupeluk selama sebulan, ha-ha-ha!"

Hong Ing sudah meloncat dan sekali tangannya menampar, terdengar suara "plak-plak-plak!"

Keras sekali dan tubuh laki-laki itu terpelanting.

Akan tetapi ternyata dia kuat juga, karena sudah dapat bangun kembali, matanya makin terbelalak lebar.

"Ho-ho, jadi kau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, lebih menarik lagi!"

Terjadilah pertandingan, namun sebentar saja laki-laki itu terdesak hebat dan beberapa kali terkena pukulan tangan Hong Ing.

Biarpun tubuhnya kebal, namun pukulan Hong Ing bukan tidak keras dan mendatangkan rasa yang cukup nyeri, maka akhirnya laki-laki itu melarikan diri.

"Binatang terkutuk, hendak lari ke mana kau?"

Hong Ing mengejar dan para nikouw lain yang menyaksikan betapa nikouw muda baru itu benar-benar lihai dan berhasil mengalahkan laki-laki cabul yang seperti orang gila itu, segera ikut pula mengejar!

Mereka masih sempat melihat betapa Hong Ing telah dapat menyusul laki-laki itu, menghajar laki-laki itu sampai jatuh bangun.

Laki-laki itu marah, tiba-tiba menggereng dan dengan kedua lengannya laki-laki itu mengangkat sebuah batu besar sekali dan hendak menimpakan batu itu kepada Hong Ing.

"Aihhh...!"

Dua orang nikouw lain yang lebih dulu datang di tempat itu menjerit ngeri.

Akan tetapi Hong Ing cepat meloncat ke depan, menerima batu itu dan mengerahkan sin-kangnya mendorong sehingga kini laki-laki itulah yang tertindih batu dan tergencet oleh batu besar itu.

Terdengar suara orang berteriak mengerikan dan ketika Hong Ing melepaskan batu itu, ternyata laki-laki itu telah hancur dan gepeng terhimpit batu dan bersandar pada batu gunung.

Dada dan kepalanya pecah dan darah muncrat-muncrat membasahi tempat di sekelilingnya!

"Omitohud...!"

Para nikouw berseru ketika menyaksikan ini.

Biauw Kwi Nikouw lalu memerintahkan murid-muridnya untuk mengubur mayat yang mengerikan itu, dan semenjak saat itu, Hong Ing dianggap sebagai seorang nikouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, bahkan Biauw Kwi Nikouw sendiri berikap manis dan kagum kepadanya.

"Demikianlah, Kun Liong."

Hong Ing menutup penuturannya.

"semenjak hari itu aku menjadi nikouw di Kwan-im-bio dan aku melatih mereka ilmu silat. Tentu saja aku tidak mau diangkat menjadi guru mereka, maka mereka semua, kecuali ketua kuil, menyebutku Toa-suci (Kakak Seperguruan Tertua)."

Kun Liong makin terharu.

Sungguh malang sekali nasib dara ini.

Patut dikasihani dan dia sendiri merasa menyesal bahwa dia pernah menggoda dara yang sepatutnya dilindungi dan dibela ini.

"Ahh, kasihan sekali engkau, Hong Ing. Tak kusangka orang seperti engkau ini dapat dilanda kesengsaraan hidup seperti itu. Dan dahulu, mengapa engkau sampai dapat terluka oleh jarum merah milik Ouwyang Bouw?"

"Ah, sebetulnya soalnya sepele saja, akan tetapi dasar kami yang tak mengenal orang pandai. Pada hari itu, di kuil kedatangan seorang kakek aneh dan seorang pemuda. Karena hari telah malam dan mereka minta menginap, tentu saja Subo tidak dapat menerima mereka, mengatakan bahwa Kuil Kwan-im-bio adalah kuil para nikouw maka merupakan pantangan besar untuk menerima pria sebagai tamu bermalam di kuil."

"Hemm, orang-orang macam Ban-tok Coa-ong dan anaknya yang gila itu mana mau mengerti"

Kata Kun Liong.

"Memang demikianlah. Ban-tok Coa-ong memaki Biauw Kwi Nikouw sebagai nenek gila cerewet yang bosan hidup dan sekali tangannya menampar, Biauw Kwi Nikouw terguling roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika! Para nikouw menjadi marah dan menyerbu, karena mereka itu sedikit banyak telah belajar silat kepadaku. Akan tetapi, hanya dengan dorongan-dorongan jarak jauh, semua nikouw terpelanting dan tak dapat bangkit kembali karena telah mengalami luka dalam. Aku sendiri menubruk Biauw Kwi Nikouw dan pada saat itu dari belakang Ouwyang Bouw menyerangku dengan jarum merah. Aku tak dapat mengelaknya dan aku roboh pingsan. Mereka ayah dan anak iblis itu pergi sambil tertawa-tawa dan selebihnya kau mengetahui sendiri. Aku minta supaya dibawa ke seorang ahli obat di kota, dan ketika berada di joli kebetulan sekali berjumpa denganmu dan engkau telah menyelamatkan nyawaku."

"Aihhh... sungguh kau telah mengalami banyak hal yang amat sengsara, Hong Ing. Hanya aku menyesal sekali mengapa engkau mengambil jalan pendek menjadi nikouw."

"Tidak ada jalan lain. Untuk membunuh diri aku... aku tidak berani..."

"Jangan!"

Kun Liong setengah berteriak.

"Perbuatan itu adalah perbuatan paling rendah dan pengecut di dunia ini. Sekarang engkau tidak perlu takut lagi. Setelah engkau menjadi nikouw, apa yang dapat dilakukan oleh sucimu dan gurumu? Apakah mereka bisa memaksamu? Pula, kalau pangeran tua mata keranjang itu melihat kau sudah menjadi nikouw, apakah dia hendak memaksa memperisteri seorang nikouw?"

Melihat sikap Kun Liong yang marah-marah ini, terharulah hati Hong Ing karena hal ini membuktikan betapa besar perhatian pemuda ini kepada nasib dirinya.

"Ah, kau tidak mengenal guruku, Kun Liong. Dia adalah seorang yang berhati keras seperti baja dan semua kehendaknya harus terlaksana. Apa sukarnya memaksa aku memelihara rambut lagi dan memaksaku menikah? Sudahlah, serahkan hal itu kepadaku. Kau tidak perlu ikut berduka dan bingung, Kun Liong. Engkau sudah terlampau baik kepadaku dan percayalah, sampai mati aku tidak akan dapat melupakan kebaikanmu. Lihat, itu Suci mendatangi kuil, kalau aku tidak lekas menemuinya, tentu para nikouw akan terancam bahaya. Kalau sudah marah, Suci seperti Subo saja, keras dan ganas. Kau pergilah, Kun Liong, pergilah, selamat berpisah, sahabat dan penolongku yang baik!"

Hong Ing menyentuh lengan Kun Liong, kemudian terisak dia meloncat dan lari ke arah kuil di mana tadi bayangan Kim In telah masuk lebih dahulu.

Hati Kun Liong seperti diremas-remas rasanya.

Entah mengapa, dia merasa kasihan sekali kepada Hong Ing dan mengambil keputusan untuk membela dara itu dari segala bahaya.

Dengan pikiran ini, dia lalu melompat dan menyelinap, menghampiri kuil itu dari samping dan melakukan pengintaian.

Dengan jantung berdebar Kun Liong melihat Hong Ing berdiri dengan kepala tunduk berhadapan dengan sucinya, Lauw Kim In yang galak itu.

Kim In sudah memegang pedangnya dan dengan suara keren berkata.

"Pek Hong Ing, aku mewakili Subo Go-bi Sin-kouw memerintahkan engkau untuk berlutut!"

Hong Ing menarik napas panjang dan dia benar-benar menjatuhkan diri berlutut di depan sucinya yang galak itu.

"Pek Hong Ing, sebagai murid engkau telah murtad, melanggar perintah guru dan pergi tanpa pamit. Untuk semua itu, Subo masih dapat mempertimbangkannya asal saja engkau ikut bersamaku ke puncak Go-bi-san. Kalau tidak, sekarang juga akan kupenggal kepalamu dan akan kubawa kepalamu kepada Subo seperti yang diperintahkan Subo!"

Mendengar ucapan itu, belasan orang nikouw yang berada di situ dan yang menonton dengan muka marah itu menjadi makin marah.

"Dari mana datangnya perempuan jahat yang menghina Toa-suci?"

Mereka itu lalu menyerbu dan mengeroyok Kim In.

"Para sumoi... jangan...!"

Hong Ing berteriak, namun cegahannya terlambat, tubuh Kim In melesat ke sana-sini dan dalam segebrakan saja belasan orang nikouw itu sudah roboh semua dan mengaduh-aduh terkena pukulan dan tendangan kaki Kim In.

"Hemm, kalau tidak ingat kalian semua adalah pendeta, apakah kalian dapat mengharapkan untuk dapat hidup?"

Kim In berkata, sikapnya dingin sekali.

Para nikouw yang hendak membela Hong Ing itu sudah bangun lagi dan mereka mulai mencari senjata.

Akan tetapi Hong Ing melompat dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Para sumoi kuperintahkan agar jangan melawan! Biarkan aku pergi bersama dia, dia ini adalah suciku!"

Kemudian dia menoleh kepada Kim In sambil berkata.

"Saya menurut kehendak Suci dan ikut bersamamu menghadap Subo, akan tetapi baik engkau maupun Subo jangan mengharap akan dapat memaksaku menikah setelah aku sekarang menjadi nikouw."

"Sumoi, kau tahu betapa sejak dahulu aku menganggapmu sebagai adik sendiri. Akan tetapi, betapapun juga kita tidak bisa menentang Subo."

Kata-kata ini membuat Hong Ing terharu.

Dia teringat dahulu sucinya ini yang mencegahnya membunuh diri dan tahu pula bahwa andaikata sucinya itu membantunya lari, tetap saja mereka berdua tidak akan dapat terlepas dari pengejaran subo mereka yang memiliki kepandaian seperti dewi!

Maka berangkatlah kedua orang sumoi dan suci ini meninggalkan Kuil Kwan-im-bio, diiringi tangis para nikouw yang dapat menduga bahwa toa-suci mereka yang juga guru mereka yang mereka sayang itu tentu menghadapi malapetaka yang besar dan mereka sama sekali tidak berdaya untuk menolongnya.

Kim In dan Hong Ing melakukan perjalanan cepat sekali karena keduanya menggunakan ilmu berlari cepat.

Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan besar yang amat sunyi.

Tiba-tiba keduanya berhenti karena tahu-tahu ada bayangan orang meloncat turun dari atas pohon besar di depan mereka.

Ketika keduanya memandang ternyata orang itu bukan lain adalah Yap Kun Liong yang berdiri dengan tenang namun dengan kedua alis dikerutkan dan wajah serius sekali, berbeda dari biasanya yang selalu berseri gembira.

"Kun Liong...! Apa yang akan kau lakukan di sini?"

Hong Ing berseru kaget sekali.

"Hemmm, hwesio cabul apakah kau berani menghadang kami?"

Kim In memaki dan sudah mencabut lagi pedangnya. Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Nona Ing, betapa lemahnya engkau, menurut saja kepada kehendak orang lain yang hendak mencelakakan. Dan engkau, Nona. Apakah engkau demikian kejam hendak mencelakakan sumoi sendiri? Kemana perikemanusiaanmu?"

"Jangan mencampuri urusan kami!"

Kim In membentak.

"Kun Liong... aku tahu maksudmu baik, tapi... tapi ahhh, pergilah, jangan membikin aku lebih susah dan bingung...!"

Hong Ing memohon.

"Tidak! Sebelum aku bicara, aku tidak akan membiarkan kau dipaksa pergi oleh siapapun juga!"

Dia memandang kepada Kim in, pandang matanya berkilat sehingga gadis itu terkejut juga.

"Nona, kau salah sangka, aku bukan hwesio bukan pula melakukan perbuatan busuk dengan sumoimu. Kami adalah dua orang sahabat yang kebetulan saja saling bertemu dan saling menolong dari bahaya, hanya orang yang kotor pikirannya saja yang akan menyangka yang bukan-bukan! Sumoimu ini sudah menjadi nikouw, berarti menjadi seorang suci yang tidak mau lagi berhubungan dengan dunia ramai. Mengapa sekarang dipaksa hendak dibawa dan dikawinkan? Aturan mana ini? Pula, andaikata dia tidak menjadi nikouw, juga amat tidak patut kalau memaksa seorang dara seperti dia menikah di luar kehendaknya. Apakah dia itu seekor kucing atau anjing yang boleh dikawinkan begitu saja menurut selera dan pilihan orang lain? Apakah dia itu sebuah benda yang diperjualbelikan, dan karena yang membeli seorang pangeran kaya lalu diserahkan begitu saja biarpun dia tidak sudi menjadi isteri seorang tua bangka? Kau dan gurumu yang berjuluk Go-bi Sin-kouw itu sungguh tidak berperikemanusiaan dan kejam, sungguh kejam!"

"Keparat, jahanam, tutup mulutmu!"

Kim in sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya sudah berkelbat menyerang dengan serbuan ganas dan dahsyat sekali.

Akan tetapi dengan mudah Kun Liong sudah mengelak dan pemuda ini sudah siap untuk melawan.

Dia akan merobohkan gadis ini tanpa melukainya agar mendapat kesempatan untuk mengajak lari Hong Ing.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat Hong Ing menggerakkan saputangannya menyambar dan menyerangnya.

"Tar...!"

Ujung saputangan menghantam kepala gundulnya dan dia sengaja tidak menangkis karena dia merasa heran sekali.

Seperti disengat lebah, tampak bagian kepala yang dihantam ujung saputangan tadi menjendol dan berwarna merah.

Hal ini karena Kun Liong sengaja membiarkan kepalanya dihantam, hanya gerakan otomatis dari sin-kangnya saja yang melindungi sebelah dalam kepala, akan tetapi kulitnya tidak kebal dan kepala di bagian itu menjendol sebesar telur ayam.

"Hong Ing..."

Dia mengeluh. Hong Ing berdiri dengan wajah pucat.

"Sudah kukatakan, pergilah... jangan membikin aku lebih susah lagi, Kun Liong. Engkau takkan menang melawan dan kalau sampai Suci membunuhmu, aku... lebih berat lagi untuk mentaatinya. Pergilah, aku tahu niatmu baik dan maafkan seranganku tadi, Kun Liong."

"Bagaimana... kalau... kalau mereka memaksamu menikah?"

Kun Liong masih bertanya ketika kedua orang gadis itu sudah berjalan pergi lagi.

Tanpa menengok Hong Ing menjawab.

"Mudah saja membebaskan diri dari segala keruwetan dunia ini!"

Kun Liong masih berdiri pucat setelah bayangan dua orang gadis itu tidak tampak lagi.

Ucapan Hong Ing itu hanya mempunyai satu arti saja, yaitu bunuh diri!

Kematian memang menjadi jalan yang paling mudah untuk membebaskan diri dari segala macam keruwetan dunia.

"Nona Ing...!"

Dia mengeluh dan menghapus dua bintik air matanya dan dia kaget sendiri.

Apa artinya ini?

Mengapa dia merasa begini sengsara, merasa begini kesepian setelah Hong Ing pergi?

Ah, apakah aku telah gila, pikirnya dan dia membalikkan tubuh, lalu berlari-lari cepat sekali menuju ke Kwi-eng-pang herusaha untuk mengusir bayangan Hong Ing yang selalu mengganggu otaknya.

Betapapun juga, masih saja wajah cantik jelita penuh kelembutan, mata yang bening dan sedalam lautan, Sikap halus penuh pengertian itu selalu terbayang di depan matanya sampai kadang-kadang Kun Liong berhenti berlari, mengusap mukanya, mengeluh, kemudian berlari lagi secepatnya.

Dengan bantuan peta yang dahulu dibuatkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong untuknya, Kun Liong dapat menyeberangi Telaga Setan.

Dia menemukan sebuah perahu kecil di semak-semak di tepi telaga, kemudian dengan mengambil cara memutar sesuai dengan petunjuk di peta, dia mendayung dan menyeberangi Kwi-ouw menuju ke pulau di tengah telaga itu.

Sesuai dengan petunjuk di dalam peta itu, dia menyeberangi Kwi-ouw di waktu malam terang bulan dan mengemudikan perahunya melalui bagian-bagian tertentu, menyelusup alang-alang, melintasi bawah sebuah jembatan yang menjulur ke telaga, Kemudian melalui semacam pintu dari dinding batu karang dan akhirnya dia dapat mendarat di tepi pulau sebelah timur, bagian yang tebingnya amat terjal dan terdiri dari batu karang yang amat kuat berwarna hitam kemerahan.

Dia menggunakan tali yang berada di perahu untuk mencancang perahunya pada batu karang, kemudian dia mengaso dan tidur di atas perahu kecil, dibuai ombak sehingga tidurnya enak sekali.

Dalam tidur itu dia bermimpi dia bertemu dengan Hong Ing, melihat Hong Ing menjadi pengantin dan diarak dengan joli, akan tetapi di tengah jalan dara itu menangis dan dia lalu mengobatinya seperti dahulu, hanya melihat sebagian pinggul gadis itu saja!

Dia terbangun dan di ufuk timur sudah tampak sinar kemerahan yang belum muncul.

Tertawa sendiri dia mengingat akan mimpinya.

Mengapa pinggul itu tak pernah dapat dia lupakan?

Mulailah Kun Liong mendaki batu karang, dibantu dengan alat yang telah disediakannya sebelumnya sesuai dengan petunjuk Cia Keng Hong, yaitu dua betang besi kaitan.

Biarpun dia seorang ahli sin-kang yang kuat dan dapat merayap ke atas dinding seperti seekor cecak, namun mendaki tebing itu merupakan perbuatan berbahaya sekali dan bermain-main dengan maut tanpa dibantu dua buah kaitan itu, karena tebing itu selain curam, juga licinnya bukan main penuh dengan lumut yang tercipta dari air yang tersinar panasnya matahari.

Akhirnya dengan perasaan lega dia dapat mencapai puncak tebing, lalu melemper kedua kaitannya di atas batu dan mulailah dia berloncatan menuju ke tengah pulau, ini pun dia lakukan dengan hati-hati, dengan perhitungan ke kanan kiri mengatur langkahnya dan menghitung langkah karena tempat ini pun tidak terluput penuh dengan jebakan-jebakan yang amat berbahaya.

Dia sudah menghafalkan lebih dulu petunjuk dalam peta, maka dengan enaknya dia dapat berloncatan dengan selamat sampai akhirnya dia tiba di depan pondok terbesar yang menjadi tempat tinggal Kwi-eng Niocu, Ketua Kwi-eng-pang.

Dia masih ingat tempat ini dan tersenyum ketika teringat betapa dia pernah ditangkap oleh para pelayan seperti orang-orang menangkap ikan saja.

Peta itu dia butuhkan hanya untuk menunjukkan jalan kepadanya.

Setelah sampai di depan pondok musuhnya ini dia tidak perlu lagi bersikap sembunyi-sembunyi.

Dia menggunakan peta hanya agar dapat bertemu dengan Kwi-eng Niocu.

Dia datang bukan sebagai pencuri, perlu apa sembunyi-sembunyi?

Maka Kun Liong berdiri dengan tegak di depan pondok itu, mengangkat dada dan mengerahkan khi-kangnya berteriak nyaring sekali.

"Kwi-eng Niocu...! Keluarlah, ini aku Yap Kun Liong ingin bertemu denganmu untuk bicara...!"

Gegerlah pulau itu karena suara Kun Liong bergema dahsyat sampai ke seluruh permukaan pulau.

Para petugas yang menjaga di sekitar pondok, yang tadinya tertidur karena memang tidak menyangka akan ada sesuatu, serentak bangun, menyambar senjata dan berlari-larian datang mengurung Kun Liong.

Akan tetapi pemuda ini tenang-tenang saja dan ketika seorang di antara mereka, seorang komandan penjaga menodongkan tombaknya di depan dadanya sambil membentak agar dia menyerah, Kun Liong menggerakkan tangan dan tombak itu sudah pindah ke tangannya, kemudian dipatah-patahkannya tombak itu seperti mematah-matahkan sebatang biting (lidi) saja!

Semua penjaga menjadi bengong dan Kun Liong berkata.

"Aku tidak berurusan dengan kalian. Aku mau hicara dengan ketua kalian Kwi-eng Niocu!"

Karena melihat pemuda itu sedemikian lihainya dan benar saja tidak bergerak apa-apa, mereka lalu mundur dan mengurung dengan membuat lingkaran lebar sambil menanti datangnya ketua mereka untuk menerima perintah.

Tak lama kemudian, dari dalam pondok itu terdengar suara, pintu pondok terbuka dan muncullah tiga orang dengan sikap garang.

Seorang wanita setengah tua yang sikapnya agung berdiri di tengah.

Wanita ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi pantasnya dan kelihatannya baru kurang dari empat puluh tahun, tubuhnya masih ramping dan gerakannya masih lemah gemelai ketika melangkah menuruni anak tangga depan pondoknya.

Di sebelah kirinya tampak seorang pemuda tampan tinggi besar yang selain tampan juga gagah sikapnya, pakaiannya indah dan mewah.

Tentu itulah putera angkat Kwi-eng Niocu yang kabarnya bernama Liong Bu Kong, tinggi kepandaiannya dan yang diduga oleh Kun Liong sebagai pemimpin para pencuri di Siauw-lim-pai.

Dan di sebelah kanan wanita itu berjalan seorang kakek yang hebat sekali keadaannya.

Kakek ini sekepala lebih tinggi dari Liong Bu Kong yang sudah tinggi besar itu, tubuhnya seperti raksasa dan jelas tampak kuat seperti gajah!

Usianya tentu amat tinggi, namun sukar ditaksir berapa!

Brewoknya menutupi sebagian besar mukanya dan brewok itu, seperti rambutnya, sudah putih semua berikut alis dan bulu matanya!

Namun langkahnya masih gagah seperti langkah seekor harimau, kedua lengannya diayun agak jauh dari tubuhnya dan kakinya menginjak bumi dengan mantap seperti kaki gajah berjalan!

Matanya lebar dan sinar matanya tajam luar biasa, menandakan bahwa kakek aneh ini cerdik dan tentunya amat lihai, melihat sikap ibu dan anak itu yang menghormatinya sebagai tamu yang berjalan paling kanan.

Melihat pemuda gundul ini, seketika wajah cantik nenek itu berseri-seri dan seperti berbisik dia berkata kepada kakek raksasa di sebelah kanannya.

"Inilah dia yang bernama Yap Kun Liong!"

Kakek itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian tertawa bergelak, suara ketawa yang keluar dari perut dan mengejutkan Kun Liong karena suara ini mengandung khi-kang yang kuat sekali!

"Hua-ha-hah-ho-hoh!

Ini namanya ular mencari penggebuk, ikan menghampiri sujen!"

"Aku yakin dia ini yang menyembunyikan bokor emas yang aseli. Hai, orang muda, bukankah engkau yang memalsukan bokor emas? Bocah tampan, katakanlah di mana adanya bokor yang aseli dan engkau akan kujadikan muridku, hidup mewah dan mulia di pulau ini!"

Kun Liong cemberut, menyembunyikan kepanasan hatinya mengingat bahwa mereka ini adalah seorang diantara mereka yang membunuh ayah bundanya, satu-satunya orang yang masib hidup dan yang akan dibunuhnya untuk membalas kemaitian ayah bundanya.

Namun dia dapat bersikap tenang karena dia ingin mendapatkan lebih dulu pusaka Siauw-lim-si, maka dia berkata.

"Kwi-eng Niocu, dahulu aku telah melemparkan bokor emas kepadamu, aku tidak tahu-menahu tentang bokor palsu atau tulen dan aku juga tidak peduli. Yang penting aku datang menagih janjimu karena bukankah dahulu kau berjanji akan mengembalikan dua buah pusaka Siauw-lim-si yang dicuri oleh orang-orangmu kalau aku memberikan bokor kepadamu? Nah, aku datang untuk menerima sebatang pedang pusaka dan sebuah hiolouw, keduanya merupakan benda lama yang menjadi pusaka Siauw-lim-si. Harap engkau sebagai seorang yang terkenal, sebagai seorang Pangcu (Ketua) dari Kwi-eng-pang, suka memegang janji dan menyerahkan kedua benda pusaka itu kepadaku untuk kukembalikan ke Siauw-lim-si."

"Yap Kun Liong, seorang Ketua Kwi-eng-pang tidak akan melanggar janjinya. Dahulu memang aku berjanji akan mengembalikan dua buah benda Siauw-lim-si kalau ditukar dengan bokor emas pusaka The Hoo. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa pusaka yang terlepas kembali dari tanganku itu adalah pusaka palsu! Oleh karena itu, tidak mungkin aku menukarkan dua buah pusaka itu dengan sebuah benda palsu."

"Hemmm, tentang bokor emas aku tidak tahu-menahu, akan tetapi pedang dan hiolouw itu jelas adalah milik Siauw-lim-si yang kalian curi. Maka sekarang aku datang mewakili Siauw-lim-pai untuk minta kembali dua buah benda itu, apa pun yang terjadi!"

Kun Liong sengaja bicara dengan nada marah dan bersikap menantang.

"Gundul sombong!"

Tiba-tiba Liong Bu Kong, pemuda tampan gagah putera angkat Ketua Kwi-eng-pang itu sudah meloncat maju ke depan.

"Ketahuilah dahulu aku yang mencuri dua buah pusaka itu dan semua orang di dunia tahu bahwa untuk mengambil pusaka dari gudang pusaka Siauw-lim-si membutuhkan kepandaian dan harus menempuh kesukaran, yang mengandalkan kepandaian. Kalau engkau ada kepandaian, boleh kaucoba merampasnya kembali dari tanganku!"

Liong Bu Kong bertepuk tangan tiga kali dan muncullah tiga orang pelayan cantik manis akan tetapi yang seorang lagi mukanya bopeng biarpun potongon mukanya paling cantik di antara mereka bertiga.

Totol-totol hitam di muka pelayan ketiga ini benar-benar amat menyayangkan, pikir Kun Liong dan diam-diam merasa heran mengapa dia seperti pernah melihat pelayan bopeng yang cantik ini!

Akan tetapi dia segera tertarik kepada dua buah benda yang dibawa oleh seorang diantara tiga pelayan itu, yaitu yang tertua dan yang matanya bergerak genit.

Perempuan ini membawa sebuah baki dan di atas baki terdapat benda yang ditutup sutera kuning.

Setelah mereka bertiga datang dekat dan berlutut di pinggiran, Liong Bu Kong merenggut lepas kain kuning dan tampaklah dua benda yang dicari-cari Kun Liong, yaitu sebatang pedang kuno dan sebuah hiolouw kuno, dua buah benda pusaka Siauw-lim-si yang dahulu dicuri oleh pemuda putera angkat Kwi-eng Niocu ini!

Kun Liong memandang Bu Kong dan berkata.

"Aku menerima tantanganmu! Kalau aku dapat menangkan engkau, berarti dua buah benda pusaka itu dikembalikan kepadaku?"

Liong Bu Kong tertawa mengejek.

"Kita lihat saja nanti, tapi coba lebih dulu kau lawan aku, Gundul!"

Sambil berkata demikian, Liong Bu Kong sudah mencabut sebatang pedang yang membuat mata Kun Liong silau karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang amat terang.

Itulah pedang pusaka Lui-kong-kiem (Pedang Kilat) yang ampuh!

"Bu Kong jangan bunuh dia, aku masih membutuhkannya!"

Kwi-eng Niocu berseru khawatir melihat putera angkatnya itu menghunus Lui-kong-kiam.

"Ha-ha, jangan khawatir, Ibu. Aku hanya ingin menggurat beberapa garis di atas kepalanya yang gundul pelontos itu. Yap Kun Liong bocah gundul, sambutlah ini!"

Tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menggunakan suatu senjata, Bu Kong sudah menyerang dengan pedangnya.

Pedang itu berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyambar ke arah leher Kun Liong.

Kun Liong mengenal pedang ampuh, akan tetapi dia pun mengenal gerakan yang tidak begitu berbahaya seperti yang mula-mula dikhawatirkannya.

Boleh jadi bagi umum, ilmu kepandaian Liong Bu Kong ini sudah hebat sekali, Akan tetapi bagi dia, pemuda itu bukan merupakan lawan yang terlalu berbahaya sungguhpun dibantu oleh sebatang pedang seampuh itu.

Dengan mudah dia lalu mengelak dan meloncat ke sana-sini dikejar bayangan pedang.

Setelah belasan jurus menyerang tanpa dapat mengenai sasarannya, Liong Bu Kong menjadi penasaran, malu dan marah.

Jangankan menggurat-gurat kepala lawan, sedangkan ujung baju lawan saja sekian lamanya belum juga dia mampu menyentuh dengan ujung pedangnya.

Maka dikeluarkanlah semua jurus-jurus maut dan dia mengurung tubuh Kun Liong dengan lingkaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Biarpun Kun Liong tidak memegang senjata apa-apa, namun karena dia telah mengeluarkan ilmu silatnya yang sakti, yaitu Pat-hong-sin-kun, andaikata dia harus menjaga diri dengan elakan dan tangkisan saja, Kiranya dia akan dapat bertahan sampai ratusan jurus tanpa membalas.

Namun, yang menjadi pokok perhatiannya bukanlah mengalahkan pemuda ini.

Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan dengan Bu Kong, maka perlu apa mengalahkannya, apalagi melukainya?

Yang penting baginya adalah merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai, kemudian baru dia akan menandingi Kwi-eng Niocu menuntut balas atas kematian ayah bundanya.

Oleh karena pikiran ini, sambil mengelak ke sana-sini sehingga dia kelihatan repot terdesak hebat, dia melirik ke arah pelayan yang membawa baki terisi dua benda pusaka.

Dia sengaja mpngelak dan membiarkan dirinya terdesak mundur-mundur mendekati pelayan dan tiba-tiba, bagaikan gerakan seekor burung walet, tangannya menyambar dan di lain detik dua buah benda pusaka itu telah dapat dirampasnya!

"Eeiiihhh...!"

Pelayan itu menjerit dan terjengkang pingsan, buru-buru ditolong oleh pelayan bopeng dan temannya yang seorang lagi, kemudian digotong masuk ke dalam.

Liong Bu Kong marah bukan main.

"Kurang ajar! Kembalikan benda itu!"

Teriaknya dan pedangnya menusuk dada Kun Liong.

Pemuda gundul ini membiarkan pedang meluncur, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga pedang itu menusuk tempat kosong di bawah lengannya dan sekali lengannya dirapatkan, pedang terjepit dan kakinya menendang perlahan ke arah lutut Bu Kong.

"Auhhh...!"

Seketika kaki Bu Kong lumpuh dan pemuda ini jatuh berlutut, pedangnya masih dikempit oleh Kun Liong.

Setelah menyimpan dua benda itu dengan mengikatkan kain kuning yang membungkusnya ke belakang pundak, Kun Liong lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam, melempar pedang itu ke bawah dan pedang menancap di depan kaki Bu Kong, amblas sampai hampir ke gagangnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Kwi-eng Niocu menyaksikan kekalahan puteranya yang memalukan itu.

Melawan pemuda gundul bertangan kosong yang sama sekali tidak balas menyerang saja, sampai puluhan jurus puteranya tak mampu menang, bahkan akhirnya dua benda pusaka dapat dirampas, juga pedang Lui-kong-kiam dan puteranya roboh berlutut!

Betapa memalukan hal ini!

Betapapun juga, sebagai seorang Ketua Kwi-eng-pang yang berkuasa, dia harus malu kalau harus menarik kembali janjinya, maka dia membentak.

"Serahkan dulu bokor emas yang tulen, baru boleh pergi!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakannya yang amat dahsyat Kwi-eng Niocu sudah menyerang Kun Liong dengan cengkeraman kuku tangannya yang panjang.

"Wussss... brettt!"

Kun Liong terpekik kaget.

Dia sudah mengelak cepat namun tetap saja kuku itu masih merobek pinggir bajunya dekat pundak.

Padahal tadi pedang di tangan Liong Bu Kong sampai puluhan jurus tak pernah mampu menyentuhnya, dan sekarang ibu pemuda ini, begitu menyerang telah merobek bajunya!

Dari bukti ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya Ketua Kwi-eng-pang ini.

Tidaklah percuma nenek ini mendapat julukan Si Bayangan Hantu karena memang ilmu kepandaiannya hebat.

Kun Liong mengenal pedang ampuh, akan tetapi dia pun mengenal gerakan yang tidak begitu berbahaya seperti yang mula-mula dikhawatirkannya.

Boleh jadi bagi umum, ilmu kepandaian Liong Bu Kong ini sudah hebat sekali, Akan tetapi bagi dia, pemuda itu bukan merupakan lawan yang terlalu berbahaya sungguhpun dibantu oleh sebatang pedang seampuh itu.

Dengan mudah dia lalu mengelak dan meloncat ke sana-sini dikejar bayangan pedang.

Setelah belasan jurus menyerang tanpa dapat mengenai sasarannya, Liong Bu Kong menjadi penasaran, malu dan marah.

Jangankan menggurat-gurat kepala lawan, sedangkan ujung baju lawan saja sekian lamanya belum juga dia mampu menyentuh dengan ujung pedangnya.

Maka dikeluarkanlah semua jurus-jurus maut dan dia mengurung tubuh Kun Liong dengan lingkaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Biarpun Kun Liong tidak memegang senjata apa-apa, namun karena dia telah mengeluarkan ilmu silatnya yang sakti, yaitu Pat-hong-sin-kun, andaikata dia harus menjaga diri dengan elakan dan tangkisan saja, Kiranya dia akan dapat bertahan sampai ratusan jurus tanpa membalas.

Namun, yang menjadi pokok perhatiannya bukanlah mengalahkan pemuda ini.

Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan dengan Bu Kong, maka perlu apa mengalahkannya, apalagi melukainya?

Yang penting baginya adalah merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai, kemudian baru dia akan menandingi Kwi-eng Niocu menuntut balas atas kematian ayah bundanya.

Oleh karena pikiran ini, sambil mengelak ke sana-sini sehingga dia kelihatan repot terdesak hebat, dia melirik ke arah pelayan yang membawa baki terisi dua benda pusaka.

Dia sengaja mpngelak dan membiarkan dirinya terdesak mundur-mundur mendekati pelayan dan tiba-tiba, bagaikan gerakan seekor burung walet, tangannya menyambar dan di lain detik dua buah benda pusaka itu telah dapat dirampasnya!

"Eeiiihhh...!"

Pelayan itu menjerit dan terjengkang pingsan, buru-buru ditolong oleh pelayan bopeng dan temannya yang seorang lagi, kemudian digotong masuk ke dalam.

Liong Bu Kong marah bukan main.

"Kurang ajar! Kembalikan benda itu!"

Teriaknya dan pedangnya menusuk dada Kun Liong.

Pemuda gundul ini membiarkan pedang meluncur, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga pedang itu menusuk tempat kosong di bawah lengannya dan sekali lengannya dirapatkan, pedang terjepit dan kakinya menendang perlahan ke arah lutut Bu Kong.

"Auhhh...!"

Seketika kaki Bu Kong lumpuh dan pemuda ini jatuh berlutut, pedangnya masih dikempit oleh Kun Liong.

Setelah menyimpan dua benda itu dengan mengikatkan kain kuning yang membungkusnya ke belakang pundak, Kun Liong lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam, melempar pedang itu ke bawah dan pedang menancap di depan kaki Bu Kong, amblas sampai hampir ke gagangnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Kwi-eng Niocu menyaksikan kekalahan puteranya yang memalukan itu.

Melawan pemuda gundul bertangan kosong yang sama sekali tidak balas menyerang saja, sampai puluhan jurus puteranya tak mampu menang, bahkan akhirnya dua benda pusaka dapat dirampas, juga pedang Lui-kong-kiam dan puteranya roboh berlutut!

Betapa memalukan hal ini!

Betapapun juga, sebagai seorang Ketua Kwi-eng-pang yang berkuasa, dia harus malu kalau harus menarik kembali janjinya, maka dia membentak.

"Serahkan dulu bokor emas yang tulen, baru boleh pergi!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakannya yang amat dahsyat Kwi-eng Niocu sudah menyerang Kun Liong dengan cengkeraman kuku tangannya yang panjang.

"Wussss... brettt!"

Kun Liong terpekik kaget.

Dia sudah mengelak cepat namun tetap saja kuku itu masih merobek pinggir bajunya dekat pundak.

Padahal tadi pedang di tangan Liong Bu Kong sampai puluhan jurus tak pernah mampu menyentuhnya, dan sekarang ibu pemuda ini, begitu menyerang telah merobek bajunya!

Dari bukti ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya Ketua Kwi-eng-pang ini.

Tidaklah percuma nenek ini mendapat julukan Si Bayangan Hantu karena memang ilmu kepandaiannya hebat.

Kun Liong kini siap siaga dan melawan mati-matian.

Berbeda dengan tadi ketika menghadapi Bu Kong, dia tadi tidak mau melukai berat apalagi membunuh pemuda itu, akan tetapi sekarang, maklum bahwa nenek ini merupakan orang terakhir yang membunuh ayah bundanya, dia tidak hanya mengelak dan menangkis, namun juga balas menyerang!

"Siuuuuttt...!"

Kedua lengan Kwi-eng Niocu bergerak, yang kanan mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Kun Liong, yang kiri mencengkeram ke arah bawah pusar.

Dua serangan sekaligus yang merupakan cengkeraman maut dan yang datangnya amat cepat.

Kun Liong menggerakkan kedua lengannya ke atas dan ke bawah menangkis.

"Duk! Dukkk!"

Tangkisan yang amat kuat sehingga kedua lengan lawan terpental, namun dengan amat cepatnya Kwi-eng Niocu sudah menyerang lagi dengan cakar ke arah mata dan dada.

"Plak! Dukkk...! Haittt...!"

Kun Liong menangkis dua kali dan melanjutkan dalam detik berikutnya dengan hantaman tangan kiri dengan tangan terbuka, tangan kirinya mengeluarkan uap putih dan itulah pukulan Pek-in-ciang yang amat ampuh, yang dia pelajari dari manusia sakti Tiang Pek Hosiang.

Kwi-eng Niocu cepat menangkis dengan kedua tangan sambil melempar tubuh ke kiri, namun tetap saja hawa pukulan membuat dia terjengkang dan bergulingan.

Dia tidak terluka parah, namun mengalami kekagetan hebat sekali.

Tak disangkanya bahwa pemuda itu benar-benar amat lihai!

Dia sudah meloncat bangun lagi, dan berseru.

"Lo-mo, kenapa kau diam saja? Bantulah aku!"

Kakek raksasa itu tertawa bergelak.

"Huah-ha-ha, Niocu. Menghadapi seorang bocah gundul saja mengapa harus minta bantuanku? Kau sendiri tidak mau memenuhi permintaanku, bagaimana aku bisa memenuhi permintaanmu sekali ini?"

Kwi-eng Niocu sudah menyambut lagi serangan Kun Liong.

Sekali ini, Kun Liong yang menyerang dan serangannya itu adalah pukulan dari jurus Im-yang Sin-kun dan masih menggunakan tenaga Pek-in-ciang.

Dia mengambil keputusan untuk menggunakan ilmu yang didapatnya dari Tiang Pek Hosiang tokoh besar Siauw-lim-pai itu untuk mempertahankan dan merampas kembali benda pusaka Siauw-lim-pai.

"Plak-plak...!!"

Kwi-eng Niocu masih dapat menangkis, akan tetapi kembali dia terhuyung.

Dia masih sempat mengirim cakar mautnya dan melihat kuku-kuku meruncing itu menyambar dekat mukanya, dengan gemas Kun Liong menyentil dengan jari telunjuknya.

"Krakkk!"

Dan patahlah sebuah kuku runcing dari ibu jari tangan kiri Kwi-eng Niocu.

"Aihhhh... Lo-mo, bantulah aku, dan aku akan melayanimu semalam nanti. Keparat!"

"Ha-ha-ha-ha! Begitu baru sepadan, namanya!"

Kini raksasa itu sudah bergerak maju, kedua lengannya yang sebesar paha orang dan panjang berbulu itu sudah menyambar dari kanan kiri dengan membawa angin pukulan yang dahsyat.

"Aihh!"

Kun Liong kaget bukan main.

Cepat dia mengelak ke belakang, kemudian tangannya menampar ke arah leher lawan.

Raksasa itu tidak mengelak, hanya mengangkat bahunya ke atas menerima tamparan itu.

"Desss!"

Tamparan yang amat hebat yang dilakukan oleh Kun Liong itu akibatnya membuat pemuda ini terpelanting sendiri seolah-olah dia tadi menampar sehuah gunung baja!

"Huah-ha-ha-hah!"

Kakek itu tertawa dan dengan cepatnya menubruk seperti sikap seekor harimau menubruk seekor domba.

Dengan menggunakan kedua tangan menekan bumi, Kun Liong mencelat ke atas untuk menghindarkan, namun lengan kakek raksasa itu terlalu panjang sehingga tetap saja dia dapat dirangkul dan dipeluk erat-erat.

Dua lengan panjang besar itu seperti dua ekor ular membelit tubuhnya, melingkari leher dan pinggangnya dengan kekuatan belalai seekor gajah!

Terpaksa Kun Liong menggunakan Thi-khi-i-beng karena kalau tidak, dia tentu takkan dapat bernapas dan jangan-jangan tulang-tulang iganya akan remuk!

"Aduhhh...

auuuggghhh...!"

Raksasa itu berteriak-teriak dengan mata melotot ketika merasa betapa tenaganya memberobot keluar disedot oleh tubuh pemuda yang dipeluknya itu.

Melihat ini, Kwi-eng Niocu cepat melolos saputangannya dan sekali dia menggerakkan tangan, saputangan itu meluncur ke arah leher Kun Liong.

"Prattt!"

Tubuh Kun Liong menjadi lemas karena jalan darahnya telah tertotok secara tepat sekali.

Andaikata Kwi-eng Niocu menggunakan tangannya, tentu nenek ini pun akan ikut tersedot tenaga sin-kangnya oleh Thi-khi-i-beng.

Akan tetapi sebagai Ketua Kwi-eng-pang dan sebagai seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang sudah luas pengetahuannya, melihat halnya raksasa tadi dia sudah dapat menduga, sungguhpun penuh keheranan, maka dia menggunakan saputangannya, sebagai pengganti jari tangan.

Raksasa itu adalah Thia-ong Lo-mo.

Dia ini bukan lain adalah guru dari Tok-jiauw Lo-mo, dan dia adalah suheng dari mendiang Thian-te Sam-lo-mo (baca cerita Pedang Kayu Harum).

Tempat tinggalnya adalah di kaki Pegunungan Go-bi-san dan pada hari itu dia menjadi tamu Kwi-eng Niocu yang merasa kehilangan teman-teman, sengaja mendekati kakek raksasa yang lihai ini untuk diajak bersekutu mencari bokor emas yang tulen, juga untuk membalas dendamnya kepada Panglima The Hoo.

Thian-ong Lo-mo melepaskan pelukannya dan mengusap keringatnya dari dahi.

"Hebat benar... ilmu apa itu tadi? Seperti setan, tahu-tahu tenagaku disedotnya tanpa dapat kutahan."

"Hemm, ilmu itu kalau bukan Thi-khi-i-beng apalagi?"

Kata Kwi-eng Niocu.

"Thi-khi-i-beng?"

Liong Bu Kong menghampiri dan bertanya kaget.

Dia pun terheran-heran menyaksikan kelihaian Kun Liong sehingga setelah dikeroyok dua oleh ibunya dan Thian-ong Lo-mo, baru dapat ditangkap.

"Thi-khi-i-beng? Bukankah katanya hanya Pendekar Cia Keng Hong yang memilikinya?"

Tanya pula Thian-ong Lo-mo.

"Hemm, siapa tahu bocah ini telah mewarisinya. Bocah ini amat penting..."

"Bunuh saja dia, Ibu! Dia berbahaya!"

Kata Bu Kong.

"Hush! Bodoh kau. Dia penting sekali. Pertama, dialah yang agaknya tahu di mana letaknya bokor yang tulen. Ke dua, kalau dia mengerti Thi-khi-i-beng, hemm, kita bisa siksa dan paksa dia untuk mengajarkannya kepada kami."

"Ha-ha-ha! Pikiran bagus sekali! Dia harus ditahan dan dibelenggu kuat-kuat. Jangan khawatir, pergunakan ini untuk mengikatnya, dia tidak akan mampu lolos!"

Kakek raksasa itu melepaskan "kolor"

Celananya yang berwarna hitam.

Benda ini terbuat dari otot binatang ajaib di Go-bi, dan uletnya tidak ada yang dapat menandinginya.

Kaki tangan Kun Liong lalu dibelenggu dengan tali otot itu, dan dia dilempar ke dalam kamar tahanan, dijaga ketat oleh selosin orang penjaga.

Malam itu sunyi sekali.

Tiap dua jam sekali selosin penjaga yang menjaga di luar kamar tahanan Kun Liong diganti dan diantara mereka itu dipilih para anak murid yang sudah tinggi tingkat kepandaiannya.

Sementara itu, di kamar para pelayan, tak jauh dari kamar Kwi-eng Niocu, tiga orang pelayan wanita muda saling berbisik-bisik.

"Niocu tidak mau diganggu malam ini, kita menganggur..."

Kata seorang yang paling genit.

"Hemm, mengapa Niocu suka melayani kakek seperti itu? Idihhh, menjijikkan sekali, raksasa seperti itu... bisa mati aku kalau harus melayaninya!"

Kata yang ke dua sambil terkekeh genit.

"Kalian jangan main-main, kalau terdengar Niocu kalian bisa dibunuh,"

Kata pelayan ke tiga yang mukanya bopeng.

"Sebaiknya kita pergi saja ke kamar Kongcu, dia tentu membutuhkan kita. Lebih senang melayani dia, biar hanya untuk memijati tubuhnya yang kuat dan gagah..."

Kata orang pertama.

"Cocok! Mari kita menghadap Kongcu. Sudah lebih sepekan dia tidak mengundang kita."

"Pergilah kalian. Aku sih tidak dibutuhkan Kongcu,"

Kata yang bopeng.

"Aihh, A-hwi, kau sebenarnya cantik sekali, lebih manis daripada kami berdua, sayang mukamu banyak totol-totol hitam. Kau sih tidak mau menurut, kalau kau berobat dan totol-totolmu itu bersih, tentu Kongcu akan tergila-gila kepadamu."

"Huh, aku tidak memikirkan soal itu. Pergilah kalian kepadanya, aku sendiri akan menjaga di kamar ini, kalau-kalau Niocu membutuhkan sesuatu. Kalau dia memanggil dan kita bertiga tidak ada semua, bukankah celaka?"

"Kau mau menjaga di sini untuk kami? Ah, A-hwi kau baik sekali."

"Pergi dan bersenanglah,"

Kata A-hwi yang bopeng.

Dua orang pelayan cepat berdandan, menambah bedak dan gincu di muka dan bibir, memakai beberapa tetes minyak wangi, membereskan rambut dan pakaian, kemudian sambil tersenyum-senyum dan tertawa-tawa genit mereka menuju ke kamar Liong Bu Kong yang memang sudah menjadikan mereka berdua sebagai kekasihnya dan kadang-kadang memanggil mereka ke kamarnya untuk melayaninya bersenang-senang.

Setelah dua orang pelayan itu pergi, A-hwi yang mukanya bopeng itu cepat meloncat keluar dari kamar, tangannya mengusap mukanya dan...

selaput tipis terlepas atau terkupas dari kulit mukanya yang halus dan sedikit pun tidak ada totol hitamnya.

Dara ini sama sekali bukan bopeng, melainkan memiliki wajah yang cantik jelita dan tidak ada cacat bopengnya sebuah pun!

Gerakannya berubah lincah sekali ketika dia berkelebat lenyap dalam gelap.

Siapakah dara jelita ini?

Dia bukan lain adalah Lim Hwi Sian, dara cantik murid Gak Liong di Secuan, atau masih terhitung cucu keponakan murid dari Panglima The Hoo karena Gak Liong adalah murid keponakan panglima besar itu.

Telah sebulan lebih Hwi Sian menyelundup ke Kwi-ouw dan diterima sebagai pelayan.

(Lanjut ke

Jilid 29) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 Dia dapat melindungi dirinya dari Bu Kong yang mata keranjang itu dengan jalam menyelaputi mukanya dengan selaput tipis sehingga mukanya yang cantik jelita itu menjadi bopeng.

Dan semua ini dikerjakan memenuhi rencana dan siasat Cia Giok Keng, puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong!

Setelah menyelinap di tempat gelap agak jauh dari kelompok bangunan, terdengar suara burung malam.

Hwi Sian cepat menghampiri dan ternyata Giok Keng telah berada di situ, tepat seperti telah mereka janjikan.

Giok Keng telah mendengar dari ayahnya tentang ayah bunda Kun Liong yang dibunuh oleh lima datuk, juga tentang bokor yang dipalsukan dan yang diduga dilakukan oleh Kwi-eng Niocu.

Karena merasa marah mendengar kematian bibi gurunya Gui Yan Cu dan suaminya, Giok Keng lalu minggat untuk menyelidiki Kwi-ouw dan di jalan dia bertemu dengan Hwi Sian yang tentu saja sudah dikenalnya.

"Bagaimana, Hwi Sian? Sudah dapatkah kau menyelidiki tentang bokor..."

"Sssttt... Cia-lihiap,"

Hwi Sian menyebut lihiap kepada Giok Keng mengingat bahwa nona ini adalah puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan yang ia tahu memiliki tingkat ilmu kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada tingkatnya sendiri.

"Ada berita hebat sekali..."

Dengan suara bisik-bisik Hwi Sian lalu menuturkan tentang munculnya Yap Kun Liong yang hendak merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai.

"Dia sudah berhasil mengalahkan Liong Bu Kong dan merampas pusaka, akan tetapi dia dikeroyok oleh Kwi-eng Niocu dan Thian-ong Lo-mo, tertawan dan dijebloskan di dalam kamar tahanan bawah tanah."

Giok Keng membanting-banting kakinya dengan gemas.

"Si tolol itu! Sungguh tak tahu diri, berani mendatangi guha harimau. Biar dirasakan kelancangannya sendiri itu!"

"Tapi... Li-hiap... dia itu orang baik. Kita harus menolongnya. Dengan adanya dia membantu kita, agaknya pekerjaan kita akan lebih ringan. Pula, bukankah dia pun berhak untuk membalas kematian orang tuanya?"

Karena suara ini dilakukan dalam bisik-bisik, maka Giok Keng tidak dapat menangkap getaran aneh dalam suara Hwi Sian ini.

Akhirnya, mengingat bahwa betapapun juga dia harus menolong Kun Liong, dia mengangguk dan keduanya lalu berindap mendekati kelompok bangunan.

Tidak percuma Hwi Sian menjadi pelayan di situ selama sebulan.

Selama itu dia telah menyelidiki semua tempat rahasia, dan tahu di mana Kun Liong disekap.

Dengan hati-hati dua orang dara perkasa ini mmyelinap, Hwi Sian di depan dan Giok Keng di belakang.

Giok Keng telah menyerahkan sebatang pedang kepada Hwi Sian, sedang dia sendiri memegang pedang Gin-hwa-kiam yang berkilauan, sebatang pedang pusaka perak yang ampuh.

Ketika kedua orang dara itu menuruni anak tangga menuju ke kamar tahanan di bawah tanah, mereka bengong melihat betapa pintu menembus ke anak tangga itu telah terbuka dan dua orang pmjaga pintu telah menggeletak dan "tidur"

Alias pingsan tanpa luka.

Lebih besar lagi keheranan mereka ketika mereka melihat dua belas orang penjaga di luar kamar tahanan sudah rebah malang-melintang, kesemuanya pingsan dan kamar tahanan itu sendiri sudah kosong!

Tampak "kolor"

Hitam terbuat dari otot yang dibanggakan oleh Thian-ong Lo-mo itu menggeletak di kamar tahanan akan tetapi Kun Liong si Pemuda Gundul sudah tidak berada di tempat itu!

"Ke mana dia?"

Giok Keng bertanya heran.

"Entah, tapi itu tadi tali pengikatnya..., tentu dia telah dapat mololoskan diri, atau mungkin ada yang menolongnya. Mari kita cepat keluar sebelum ada penjaga yang melihatnya."

Dua orang dara itu bergegas keluar dari kamar tahanan bawah tanah.

Ke manakah perginya Kun Liong?

Dugaan Hwi Sian memang benar.

Pemuda itu dapat meloloskan diri, akan tetapi bukan karena pertolongan orang lain.

Thian-ong Lo-mo terlalu memandang rendah pemuda ini, tidak tahu bahwa pemuda ini adalah murid gemblengan dari tokoh sakti Siauw-lim-pai Tiang Pek Hosiang dan tentu saja sebagai murid Siauw-lim-pai, dia telah mempelajari Ilmu Jiu-kut-kang, yaitu ilmu melemaskan tulang dan tubuh dari Siauw-lim-pai, Bahkan dia telah mempelajari ilmu ini bagian tingkat tinggi karena digembleng oleh Tiang Pek Hosiang sendiri.

Oleh karena itu, ketika dia dimasukkan ke dalam kamar tahanan, sebentar saja dia sudah dapat meloloskan kaki tangannya dari belenggu otot hitam itu tanpa mematahkan belenggu karena untuk mematahkan belenggu yang ulet dan mulur itu memang tidak mungkin.

Ketika melihat malam tiba dan para penjaga sudah mengantuk, dengan gerakan secepat kilat Kun Liong lalu mematahkan pintu besi kamar tahanan dan sebelum dua belas orang penjaga yang sebagian besar sudah setengah pulas itu dapat berteriak, tubuhnya menyambar ke sana-sini dan totokan-totokannya membuat selosin orang penjaga itu malang melintang dan tumpang tindih dalam keadaan "ngorok"

Akan tetapi bukan tertidur pulas melainkan pingsan!

Cepat dia lari ke pintu di atas anak tangga yang menuju ke jalan keluar.

Di sini terdapat pula dua orang penjaga, mereka ini pun dibikin "pulas"

Sebelum sempat berteriak.

Kun Liong kini mengerti bahwa kalau dia hanya menggunakan "cengli" (aturan) saja terhadap Ketua Kwi-eng-pang akan percuma.

Terpaksa dia harus menggunakan kekerasan, yaitu dengan paksa dia akan berusaha mencuri kembali pusaka-pusaka Siauw-lim-pai itu, kemudian dia akan berusaha membunuh orang terakhir yang menjadi pembunuh ayah bundanya.

Gerakannya ringan dan cepat sekali dan tak lama kemudian dia telah mengintai di luar jendela sebuah kamar.

Kamar Kwi-eng Niocu!

Kun Liong tidak dapat melihat ke dalam, namun telinganya yang berpendengaran tajam dapat menangkap suara Kwi-eng Niocu dan Kakek Thian-ong Lo-mo yang bercakap-cakap di dalam kamar itu.

"Ahhh, Ang Hwi Nio, sungguh aku tidak menyangka bahwa engkau yang terkenal sebagai seorang gadis itu ternyata hanya kabar kosong belaka!"

Suara kakek itu penuh kecewa dan penyesalan.

"Cih, tua bangka tak tahu malu! Bagimu apa sih bedanya? Engkau tergila-gila kepadaku dan karena engkau sudah membantu dan aku sudah berjanji, aku menyerahkan diriku kepadamu dan kau masih berani mengomel!"

"Aku tidak mengomel. Engkau hebat dan aku cinta kepadamu, Niocu, akan tetapi aku hanya heran bahwa kenyataannya..."

"Bodoh! Aku terkenal sebagai seorang perawan karena aku tidak pernah menikah, bukan berarti bahwa aku tidak pernah berhubungan dengan pria. Bahkan aku telah menjadi seorang ibu..."

"Hehhh...?"

"Engkau kuanggap sebagai seorang sahabat baik, Lo-mo, dan kuharap selanjutnya kita dapat bekerja sama untuk memperoleh bokor pusaka itu. Maka biarlah kubuka rahasiaku kepadamu seorang. Ketahuilah bahwa dulu, aku berhubungan dengan seorang pemuda she Liong. Hubungan kami akrab dan karena bujuk rayunya aku tidak dapat mempertahankan diri sampai aku mengandung. Akan tetapi apa yang dilakukan pemuda keparat itu? Dia tidak mau mengakui kandunganku karena dia merasa malu menjadi suami seorang anggauta kaum sesat, katanya. Nah, aku membunuhnya dan setelah anak itu terlahir, kuangkat dia menjadi anakku. Padahal dia anakku sendiri, dari hubunganku dengan pemuda she Liong itu, anak terlahir tidak sah..."

"Liong Bu Kong...?"

"Benar. Nah, kau sudah mendengar dan kuharap saja engkau menyimpan rahasia ini baik-baik."

"Tentu saja selama engkau suka melayaniku, manis."

"Aku akan melayanimu sepuasmu asal engkau selalu suka membantuku."

Kun Liong yang mendengarkan penuturan wanita itu menjadi bengong dan tanpa disadarinya timbul rasa kasihan di dalam hatinya terhadap Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio!

Kembali ada seorang manusia menjadi korban apa yang tadinya dianggapnya "cinta"!

Benarkah cinta itu selalu mendatangkan malapeta?

Betapa banyaknya peristiwa yang disaksikannya sendiri, peristiwa menyedihkan akibat perasaan yang terkenal dinamakan cinta.

Hwi Sian mencintanya dan karena dia tidak dapat membalasnya, dara itu merana.

Demikian pula Yuanita.

Dan Li Hwa, demi cintanya dengan Yuan, keduanya menjadi korban dan binasa.

Sekarang, ternyata Kwi-eng Niocu, seorang di antara datuk kaum sesat yang namanya terkenal di seluruh dunia kang-ouw dan ditakuti, yang terkenal sebagai seorang gadis tua, kiranya hanyalah seorang wanita korban cinta sehingga melahirkan seorang anak yang terpaksa dianggap sebagai anak angkat!

Tiba-tiba terdengar bentakan keras di sebelah belakangnya.

"Keparat, jadi engkau dapat meloloskan diri? Kalau begitu engkau memang layak mampus!"

Ucapan ini disusul menyambarnya sebatang pedang kilat yang mengejutkan Kun Liong.

Namun pemuda gundul ini sudah dapat menghindarkan diri dan mengelak dengan loncatan kiri dan dia berhadapan dengan Liong Bu Kong yang sudah memegang pedang Lui-cong-kiam.

Terdengar bentakan-bentakan dan sebentar saja Kun Liong telah dikurung, bahkan kini Kwi-eng Niocu sendiri dengan rambut masih kusut dan muka masih kemerahan, telah datang pula bersama Thian-ong Lo-mo, kakek raksasa yang mulai malam itu telah menjadi kekasihnya itu!

"Kepung!

Tangkap dia!

Jangan biarkan dia lolos!"

Teriak Kwi-eng Niocu yang merasa terkejut sekali melihat tawanan penting itu telah dapat lolos.

Akan tetapi karena semua anggauta Kwi-eng-pang maklum betapa lihainya pemuda gundul ini, mereka hanya mengepung dari jarak jauh dengan membentuk lingkaran dan memegang obor sehingga tempat itu menjadi terang sekali, sedangkan yang maju menyerang Kun Liong tentu saja adalah Kwi-eng Niocu sendiri yang kini menggunakan sebuah kebutan bulu panjang berwarna kuning di samping cengkeraman kukunya yang beracun, adapun Thian-ong Lo-mo sudah pula mengeluarkan senjatanya yang luar biasa dan mengerikan, yaitu sehelai sabuk terbuat dari baja lemas berbentuk runcing tajam penuh dengan gigi seperti gergaji.

Sebuah senjata yang mengerikan, apalagi dimainkan oleh seorang yang bertenaga gajah seperti kakek itu, Senjata aneh ini lenyap bentuknya dan hanya terdengar suara mengaung dan tampak sinar bergulung-gulung seperti seekor naga bermain di angkasa!

Selain kedua orang tokoh sakti ini, Liong Bu Kong juga ikut pula mengeroyok dengan pedang pusakanya yang ampuh.

Karena maklum bahwa dia menghadapi orang-orang pandai dan nyawanya terancam bahaya, maka sekali ini Kun Liong tidaklah hanya menjaga diri seperti pertama kali dia dikeroyok, melainkan tubuhnya mencelat ke sana ke mari mengerahkan gin-kangnya dan dia sudah membalas dengan pukulan-pukulan tak kalah berbahayanya pula kepada tiga orang pengeroyoknya.

Namun, karena tiga orang itu masing-masing menggunakan senjata ampuh dan hebat, tentu saja Kun Liong tidak mendapatkan kesempatan untuk mempergunakan Thi-khi-i-beng, Hanya terpaksa mengerahkan dan mengandalkan kecepatan gerakannya.

Tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet yang beterbangan di antara sinar-sinar senjata lawan yang bergulung-gulung.

Tiba-tiba timbul kekacauan di bagian kiri para pengepung karena beberapa orang anggauta Kwi-eng-pang roboh dan berkelebatlah bayangan dua orang gadis yang keduanya memegang sebatang pedang dan yang gerakannya gesit sekali, terutama sekali gadis yang pedangnya mengeluarkan sinar perak.

Mereka ini bukan lain adalah Cia Giok Keng dengan pedang Gin-hwa-kiam dan Lim Hwi Sian yang memegang sebatang pedang yang baik pula.

Keduanya sudah menerjang memasuki kepungan dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerbu ke medan pertandingan membantu Kun Liong!

"Kun Liong, mari kita basmi ibils-iblis ini!"

Kata Hwi Sian sambil memutar pedangnya menyerang Thian-ong Lo-mo.

"Hwi Sian!"

Kun Liong berseru kaget dan girang, kemudian dia melihat pula Giok Keng dan berseru.

"Nona Cia...!"

Akan tetapi Giok Keng tidak menjawab.

Hatinya malah mendongkol.

Mengapa Kun Liong menyebut Hwi Sian dengan namanya begitu saja, dengan suara mesra, Sedangkan kepadanya menyebut Nona Cia segala macam?

Dia tidak mengerti bahwa sengaja Kun Liong menyebutnya nona untuk mengangkatnya, untuk menghormatinya sebagai puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong, apalagi mereka berada di depan banyak orang.

Cia Giok Keng cepat melepaskan anak panah berapi.

Anak panah itu meluncur ke udara, tinggi sekali dan tampak api kehijauan menyala-nyala.

Itulah tanda rahasia yang diberikan kepada pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Tio Hok Gwan dan yang sudah siap menanti di pantai untuk menyerbu begitu ada tanda dari Cia Giok Keng!

Setelah itu, Giok Keng membantu Hwi Sian yang segera terdesak oleh senjata berbentuk gergaji di tangan Thian-ong Lo-mo.

Adapun Kun Liong kini menghadapi Kwi-eng Nioeu seorang diri, cepat dia mendesaknya dan berkata.

"Kwi-eng Niocu, sekarang tiba saatnya aku membalaskan kematian ayah bundaku! Kaulah seorang di antara mereka yang membunuh ayah bundaku!"

Wajah Kwi-eng Niocu menjadi pucat.

"Kau... sudah tahu? Hi-hi-hik!"

Dia memaksa diri tertawa untuk menutupi rasa gentarnya melihat betapa lihainya pemuda gundul ini.

"Kalau begitu biar kau kukirim menyusul ayah bundamu!"

Sementara itu, begitu Liong Bu Kong melihat munculnya Cia Glok Keng, seketika kumat gilanya.

Dia tergila-gila kepada nona ini dan kini melihat wajah cantik itu di bawah sinar penerangan obor yang kemerahan, dia terpesona sehingga sampai lama dia diam saja berdiri tegak dengan pedang di tangan.

"Bu Kong, bantulah aku!"

Kwi-eng Niocu berseru minta bantuan puteranya karena sebagian bulu kebutannya kena ditampar tangan Kun Liong sehingga membodol dan berhamburan!

Demikian kuatnya jari tangan pemuda itu sehingga kebutannya yang biasanya dapat menghancurkan batu karang itu kini membodol kena tamparan jari tangan Kun Liong.

Akan tetapi seperti orang mabuk, Bu Kong sama sekali tidak mempedulikan ibunya, bahkan dia lalu meloncat ke depan Giok Keng dan berkata.

"Nona Cia Giok Keng, selamat datang di tempatku yang buruk. Nona, mengapa Nona datang sebagai penyerbu? Bukankah kita sahabat baik dan bukankah aku mempunyai niat baik terhadap dirimu. Nona, aku masih cinta kepadamu, selamanya aku cinta kepadamu...!"

"Keparat!"

Giok Keng menjadi merah sekali mukanya.

Harus dia akui bahwa dia dahulu tertarik kepada pemuda tampan ini, dan andaikata Bu Kong tidak bersikap semanis itu di depan banyak orang, agaknya dia pun akan lebih merasa bangga daripada marah.

Akan tetapi, di depan banyak orang, apalagi di depan Kun Liong dan Hwi Sian, pemuda ini berani menyatakan cintanya.

Maka sambil membentak pedangnya berkelebat menyerang dengan tusukan kilat.

"Cringgg!"

Bu Kong menangkis dan Giok Keng menjadi makin marah.

Kepandaiannya kini tentu saja tidak dapat disamakan dengan dahulu, ketika Liong Bu Kong datang ke Cin-ling-san.

Dia sudah memperoleh kemajuan hebat dan begitu dia memutar pedang mendesak, Bu Kong menjadi terkejut dan hanya dapat menangkis sambil mundur.

Betapapun juga, pemuda ini bukan orang sembarangan dan dia sudah mewarisi kepandaian ibunya.

Hanya dia benar-benar jatuh hati kepada Giok Keng dan tidak mau melukainya, maka dalam pertandingan itu, dia terus main mundur didesak oleh Giok Keng sehingga makin lama keduanya makin menjauh dari medan pertandingan.

Setelah ditinggalkan Giok Keng, tentu saja Hwi San menjadi repot sekali.

Biarpun dia juga seorang dara yang berilmu tinggi, namun ilmunya kalau dibandingkan dengan Giok Keng kalah jauh, apalagi dibandingkan dengan kepandaian Thian-ong Lo-mo!

Dia terdesak hebat sekali dan beberapa kali hampir saja dia menjadi korban senjata gergaji di tangan lawannya yang tertawa-tawa mengejek.

"Huah-ha-ha, mukamu yang halus akan kugurat-gurat malang melintang, tubuhmu yang montok akan kurobek dengan senjataku, huah-ha-ha!"

Kakek itu agaknya girang sekali dapat mendesak Hwi Sian yang merupakan makanan empuk baginya.

Namun Hwi Sian menggigit bibir dan tak pernah mau menyerah, bahkan memutar pedangnya dengan gerakan nekat.

"Wirrrr...!"

Senjata gergaji itu menyambar dengan gerakan berputar. Hwi Sian menangkis.

"Plak... krekkk!"

Hwi Sian mengeluh karena hampir saja telapak tangannya terkupas kulitnya ketika dia hendak mempertahankan pedangnya yang kena dikait dan diputar oleh senjata lawan sehingga akhirnya patah-patah.

Tangan kiri kakek itu menyambar ke arah kepala Hwi Sian, ketika dara itu mengelak, tiba-tiba saja tangan itu menghantam ke bawah.

"Plakkk!"

Telapak tangan kiri kakek itu telah menampar paha kanan Hwi Sian dengan sikap kurang ajar sekali, akan tetapi karena tamparan itu mengandung hawa sin-kang yang beracun, akibatnya Hwi Sian terpelanting.

"Huah-ha-ha!"

Kakek itu maju dengan senjatanya digerakkan ke arah muka Hwi Sian.

"Plak! Bukkk...! Aadouuuhhh...!"

Kakek raksasa itu terhuyung mundur.

Tadi lengannya yang memegang senjata kena ditampar tangan Kun Liong kemudian pinggangnya dihantam pemuda itu.

Untung bahwa Hwi Sian terancam maut, Kun Liong melihatnya maka pemuda ini cepat meninggalkan Kwi-eng Niocu yang sebetulnya sudah terdesak untuk menolong nyawa Hwi Sian dan dia berhasil.

"Kun Liong, aku... terluka... ahhh..."

Hwi Sian mengeluh tak dapat bangkit kembali, pahanya terasa panas dan kakinya lumpuh.

"Jangan khawatir, aku melindungimu!"

Kini Kun Liong menyambar pedang buntung bekas milik Hwi Sian dan dengan senjata ini, dia mainkan ilmu Silat Siang-liong-pang, diimbangi tangan kirinya yang dipergunakan sebagai tongkat.

Hebat bukan main permainan ini sehingga biarpun kakek raksasa dan Kwi-eng Niocu mengeroyoknya, dia tetap dapat mempertahankan diri dan sekaligus juga melindungi tubuh Hwi Sian yang rebah miring.

Tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan muncullah pasukan yang dipimpin oleh Tio Hok Gwan!

Jumlah mereka banyak sekali dan terjadilah perang campuh yang seru dan kacau balau di mana anak buah Kwi-eng-pang mengalami himpitan yang luar biasa sehingga mereka menjadi panik.

Adapun Tio Hok Gwan ketika melihat Kun Liong dikeroyok dan Hwi Sian menggeletak dilindungi oleh Kun Liong, segera menerjang maju.

Di tangannya terpegang sabuk pecut, yaitu senjata joan-pian (ruyung lemas) yang amat lihai.

Ketika dia menggerakkan pecutnya, terdengar bunyi ledakan-ledakan keras dan terdengar dia berseru.

"Tua bangka Thian-ong Lo-mo, tak tahu malu melakukan pengeroyokan, Akulah lawanmu!"

Jelas nampak betapa kakek raksasa ini jerih ketika melihat kakek tinggi kurus yang seperti orang pengantuk itu.

Dia sudah mengenal Tio Hok Gwan, mengenal pengawal nomor satu dari Panglima The Hoo yang berjuluk Ban-kin-kwi (Iblis Bertenaga Selaksa Kati) dan amat lihai ini.

Namun dia juga menggereng keras, dan senjatanya juga berupa sabuk akan tetapi berbentuk gergaji, digerakkan dengan cepat.

Terjadilah pertandingan antara dua orang sakti ini.

Kini Kun Liong kembali menyerang Kwi-eng Niocu yang menjadi makin panik.

"Kun Liong... kuserahkan pusaka Siauw-lim-pai... tetapi engkau bebaskan aku dari sini..."

Nenek itu memohon, akan tetapi Kun Liong tidak menjawab, melainkan mendesak terus dengan pedang buntungnya.

"Cring-trak-trakkk... aihhh...!"

Kwi-eng Niocu memekik ngeri ketika kuku jari tangan kanannya semua buntung terbabat pedang buntung!

Dengan nekat dia lalu menghantamkan kebutannya ke arah kepala Kun Liong.

Pemuda ini menggerakkan pedang buntungnya dan segera bulu kebutan melibat pedangnya sehingga tak dapat ditarik kembali, sedangkan tangan kiri nenek itu sudah mencengkeram ke arah ubun-ubun kepalanya.

Kun Liong juga menggerakkan tangan kiri, menyambut.

Dia merasa sakit sekali ketika kuku-kuku runcing mencengkeram telapak tangannya, namun segera nenek itu menjerit dan jatuh berlutut, ketika tenaga sin-kangnya membanjir keluar disedot melalui telapak tangan pemuda yang dicengkeramnya.

"Auuughhh... celaka...!"

Dia berseru dan berusaha untuk menarik kembali tangannya.

Celakanya kebutannya melibat pedang buntung dan tak dapet digerakkan pula dan ketika dia mengerahkan seluruh tenaga sin-kang untuk menarik tangannya yang melekat, makin banyak sin-kangnya memberobot keluar.

Makin dia mengerahkan sin-kang, makin banyak pula tenaga saktinya keluar.

"Oughhh... lepaskan aku... ampunkan aku..."

Tanpa malu-malu lagi nenek itu memohon.

Kun Liong mengeraskan hatinya dan tidak mau menghentikan Thi-khi-i-beng sambil membayangkan kematian ayah dan ibunya di tangan nenek ini dan datuk-datuk hitam lain yang telah tewas.

Wajah nenek itu menjadi pucat sekali dan dia merasa betapa tenaga sin-kangnya makin lama makin habis membanjir keluar melalui tangannya yang melekat pada telapak tangan pemuda itu.

Tahulah dia apa artinya ini.

Dia maklum pula bahwa pemuda ini tak mungkin mau mengampuninya, Karena sudah tahu bahwa ayah bundanya dibunuh oleh dia dan teman-temannya ketika itu.

Maka sebagai seorang yang berkedudukan tinggi, sebagai Ketua Kwi-eng-pang, sebagai seorang di antara para datuk kaum sesat, Kwi-eng Niocu tidak mau terbunuh oleh lawan seorang pemuda seperti ini.

Lebih baik bunuh diri!

Dilepasnya gagang kebutannya dan secepat kilat dia mengerahkan seluruh tenaga yang masih ada, menggunakan tangan kanan yang sudah tidak ada kukunya itu mencengkeram ke arah kepalanya sendiri.

Pada saat itu, Kun Liong sudah melepaskan Ilmu Thi-khi-i-beng karena di dalam hatinya timbul perasaan tidak tega untuk membunuh nenek itu.

Tepat pada saat dia melepaskan tangan nenek yang menempel pada telapak tangannya, nenek itu telah mencengkeram ubun-ubun kepalanya sendiri dengan tangan kanan.

"Crottt.. aughhh...!"

Nenek itu roboh, kepalanya pecah dan otak serta darahnya berhamburan, matanya melotot memandang ke arah Kun Liong!

Kun Liong berdiri seperti arca, matanya terbelalak memandang mayat Kwi-eng Niocu, hatinya merasa ngeri dan menyesal sekali.

Dia tahu bahwa nenek itu membunuh diri sendiri, akan tetapi dia merasa bahwa dialah yang membunuh nenek ini.

Dia membunuh karena nenek ini telah membunuh ayah bundanya.

Kalau dia menganggap nenek ini jahat karena membunuh ayah bundanya, lalu apa bedanya dengan dia sendiri kalau dia sekarang membunuh nenek itu?

Baik nenek itu, maupun dia, apa pun alasannya, keduanya adalah sama-sama pembunuh!

Kun Liong menutupi muka dengan kedua tangannya.

"Kun Liong... aduh... kakiku...!"

Keluhan suara Hwi Sian ini menyadarkan Kun Liong.

Dia menurunkan kedua tangannya, membalik dan tidak melihat lagi kepada mayat Kwi-eng Niocu.

Ketika melihat betapa Tio Hok Gwan mendesak hebat kakek brewok tinggi besar yang lihai itu dan para perajurit kerajaan juga mendesak anak buah Kwi-eng-pang, dia lalu membungkuk dan membangunkan Hwi Sian.

Dilihatnya paha kanan dara itu terluka parah dan matang biru, tahulan dia bahwa Hwi Sian telah menderita pukulan beracun, maka dipondongnya tubuh dara itu.

"Ke mana Nona Cia Giok Keng?"

Tanyanya sambil menoleh ke kanan kiri karena dia tidak melihat gadis itu.

"Dia... tadi kulihat dia mengejar Liong Bu Kong ke sana... aduh..."

Hwi Sian merintih dan merangkul leher Kun Liong.

"Hemmm, jangan-jangan dia terjebak musuh. Mari kita kejar!"

Kun Liong berlari cepat menuju ke arah yang ditunjuk Hwi Sian sambil memondong tubuh dara ini.

Akan tetapi sampai di pantai pulau, mereka tidak melihat bayangan Giok Keng dan Bu Kong yang dikejar gadis itu.

"Mereka tentu telah menyeberang ke darat, sebaiknya kita kejar mereka!"

Kun Liong merebahkan tubuh Hwi Sian ke dalam sebuah perahu kecil, kemudian mendayung perahu itu dengan cepat dengan harapan akan dapat menyusul Cia Giok Keng yang dikhawatirkannya.

Melihat kegelisahan Kun Liong, Hwi Sian yang merasa makin lemah, tubuhnya panas semua itu berkata.

"Kun Liong... jangan takut... dia... dia memiliki ilmu kepandaian tinggi... takkan kalah oleh Liong Bu Kong... aku... aku... ahhh..."

Dara ini tak dapat bertahan lagi dan pingsan.

Barulah Kun Liong terkejut.

Cepat dia memeriksa dan diam-diam dia memaki kakek raksasa yang memukul gadis ini.

Paha itu matang biru dan menghitam, dan seluruh tubuh Hwi Sian panas sekali.

Kalau dia tidak cepat mendapatkan obat pemunah tentu akan berbahaya sekali keadaannya.

Maka dia menghentikan usahanya mencari Giok Keng dan mendayung perahunya menuju ke sebuah hutan di seberang.

Kemudian setelah perahunya mendarat, dia memondong tubuh Hwi Sian dan meloncat ke darat, terus membawa dara itu memasuki hutan karena dia harus cepat-cepat berusaha mengobatinya sebelum terlambat.

Hwi Sian merintih lirih, membuka matanya.

Pertama-tama yang menarik pandang matanya adalah nyala api unggun di sebelah kanannya, Api unggun yang bukan hanya mendatangkan hawa hangat nyaman, akan tetapi juga mendatangkan penerangan sehingga dia dapat melihat bahwa dia berada di dalam sebuah kamar kuil tua, di atas lantai yang agaknya baru saja disapu bersih.

Dan Kun Liong duduk di atas lantai, dekat dia, memeriksa dan mengobati paha kanannya dengan cara menempelkan telapak tangannya ke atas paha.

Hwi Sian merasa heran sekali.

Dia dapat merasakan betapa dari telapak tangan pemuda itu keluar hawa yang menyedot pahanya, dan dia merasa betapa panas yang tadi menyerangnya telah menurun, kepalanya tidak pening lagi, rasa nyeri pada pahanya sudah mengurang.

Ketika Kun Liong menghentikan pengobatannya menyedot hawa beracun dari paha dara itu, dia lalu memandang Hwi Sian, tersenyum dan berkata.

"Tenanglah, Hwi Sian. Hawa beracun telah lenyap dan untung tidak ada tulang dan urat yang rusak oleh pukulan keji itu."

Sejenak Hwi Sian tidak menjawab, hanya memandang wajah pemuda berkepala gundul itu, bibirnya tersenyum akan tetapi dari matanya keluar dua titik air mata.

Mula-mula Kun Liong juga hanya memandang.

Mereka saling pandang di bawah cahaya nyala api unggun yang kemerahan dan yang membuat wajah mereka nampak indah dan aneh.

Kemudian pemuda itu melihat keluarnya dua titik air mata, maka dia berseru.

"Heiii! Ada apa lagi ini? Mengapa kau sekarang berubah menjadi cengeng (mudah menangis)?"

Ditanya dengan suara sendau gurau ini, makin bertambah air mata mengalir di atas sepasang pipi yang halus itu, bahkan kini Hwi Sian terisak.

"Eh-eh...! Kau kenapakah?"

Kun Liong mengangkat bangun dara itu sehingga terduduk, dan menggunakan tangannya menghapus air mata yang membasahi pipi.

Tak disangkanya bahwa perbuatannya ini bahkan membuat Hwi Sian tersedu-sedu dan dara itu menjatuhkan mukanya di atas dada Kun Liong.

Kun Liong bingung dan bengong, tak tahu dia apa yang berada di dalam hati dara ini dan tak tahu pula apa yang harus dilakukannya.

Maka dia diam saja, hanya mengelus rambut yang halus dan harum itu.

"Kun Liong..."

Akhirnya Hwi Sian dapat juga bicara setelah tangisnya mereda.

"Hemmm...?"

Kun Liong tidak berani bicara banyak, khawatir kalau kata-katanya akan mendatangkan lebih banyak air mata lagi.

"Kau terlampau baik kepadaku..."

"Ehh...? Masa...?"

Dia masih belum berani bicara banyak, karena belum tahu kata-kata bagaimana yang harus dia keluarkan agar tidak mendatangkan tangis lagi.

"Berkali-kali kau menolongku, menyelamatkan aku dari malapetaka, seolah-olah memberikan kembali nyawaku yang sudah terancam maut, dan aku... aku hanya menghinamu..."

Kun Liong tersenyum di balik rambut-rambut yang harum itu.

Kini lega hatinya.

Kiranya itu yang membuat Hwi Sian menangis.

Dara ini diserang perasaan terharu!

Untuk membuyarkan perasaan haru, satu?satunya jalan adalah sendau-gurau.

"Ah? Masa? Kan engkau sudah memberi upah berkali-kali kepadaku! Engkau pernah memberi upah cium, ingatkah?"

Seketika Kun Liong merasa betapa tubuh yang merapat di dadanya itu menggigil, kemudian terdengar suara Hwi Sian dari dadanya.

"Itulah... dan aku menganggapmu... ahhh..."

Kembali dara itu menangis!

Celaka, pikir Kun Liong.

Dibawa sendau gurau, malah menangis lagi.

Apa akalnya?

Bagaimana kalau dipancing biar dara ini marah saja?

Kemarahan dapat menghilangkan haru dan duka, biasanya begitu.

"Eh, Hwi Sian! Kau menangis lagi?"

"Aku... berhutang budi terlalu banyak kepadamu..."

"Budi apa? Sudah lunas? Dan sekarang juga akan lunas kalau kau mau memberi upah cium kepadaku!"

Ucapan ini sengaja dikeluarkan oleh Kun Liong, bukan hanya karena setiap kali melihat Hwi Sian, melihat mulut dara ini yang luar biasa manisnya membuat dia ingin menciumnya, akan tetapi juga dia keluarkan dengan maksud agar dara itu menjadi marah kepadanya.

Benar saja.

Tubuh itu meregang dalam pelukannya, akan tetapi Kun Liong yang sudah mengharapkan gadis itu marah dan menampar atau memakinya, merasa betapa tubuh itu lemah kembali dan terdengar suara halus menggetar.

"Kalau begitu... kau... kau ciumlah aku, Kun Liong..."

Kun Liong terkejut dan menunduk.

Inilah salahnya.

Begitu menunduk, dia melihat wajah gadis itu yang diangkat sehingga dia melihat mulut yang bibirnya merah membasah, terbuka sedikit dan seperti menantang itu.

Tidak kuat dia bertahan lagi, apalagi ciuman ini disetujui dan diminta oleh Hwi Sian!

Dan dia memang suka menciumnya.

Apa salahnya?

Tanpa bicara lagi, dia menunduk dan bertemulah dua buah mulut itu dalam ciuman yang mesra dan lama.

Kun Liong merasa betapa mulut dara itu menggetar, kemudian mengeluarkan rintihan dan kedua lengan Hwi Sian merangkulnya ketat sehingga ciuman mereka makin melekat.

Setelah mereka menghentikan ciuman dengan napas terengah-engah, Hwi Sian merangkul Kun Liong dan berkata dengan suara merintih, dengan tubuh panas dan mata terpejam.

"Kun Liong... Kun Liong... aku cinta padamu..."

"Aih, Hwi Sian, jangan bicara tentang cinta. Kau sudah tahu..."

"Memang, aku sudah tahu. Kau tidak cinta padaku. Kau hanya suka menciumku. Bukankah begitu?"

"Maafkan aku..."

"Kun Liong, aku... aku akan membunuh diri saja..."

"Heiii! Gila kau...!"

"Ketahuilah, aku... telah ditunangkan dengan Ji?suheng (Kakak Seperguruan ke dua)..."

"Ah, dengan Tan Swi Bu? Bagus sekali! Tan-enghiong itu seorang laki-laki yang gagah perkasa!"

Ucepan ini keluar dengan setulus hatinya.

"Tidak, setelah ini, aku tidak mungkin dapat menjadi isterinya atau isteri siapagun juga. Aku... aku akan membunuh diri saja!"

"Hushh, jangan bicara ugal-ugalan kau!"

Kun Liong menegur setengah menggoda.

"Aku takkan membiarkan engkau membunuh diri."

"Dengan kepandaianmu, kau tentu bisa mencegahku, akan tetapi apakah selamanya engkau akan menjagaku? Tidak, Kun Liong. Engkau takkan dapat mencegahku, dan aku bukan bicara main-main, aku benar-benar akan membunuh diri. Aku cinta kepadamu, aku diam-diam telah menyerahkan jiwa ragaku kepadamu, akan tetapi kalau aku terpaksa harus berpisah darimu dan menjadi isteri orang lain yang tidak kucinta, biarlah aku membunuh diri saja daripada membikin susah hati orang lain."

"Wah-wah, kaubikin aku bingung, Hwi Sian. Kau tahu aku tidak mencintamu, tidak mencinta siapa-siapa dan aku jujur dalam hal ini. Aku suka kepadamu, akan tetapi tidak mencinta seperti yang kaumaksudkan, cinta yang membawa pernikahan antara pria dan wanita. Aku... aku... wah, aku jadi bingung karena khawatir. Jangan kau bunuh diri, Hwi Sian. Berjanjilah, bersumpahlah bahwa kau tidak akan membunuh diri. Kalau tidak, selamanya aku takkan dapat nyenyak tidur dan enak makan!"

"Kun Liong, keputusanku sudah bulat. Aku akan membunuh diri begitu kita saling berpisah, kecuali... kecuali kalau kau menaruh kasihan kepadaku."

"Lho! Kau ini benar-benar aneh! Ataukah iblis penjaga hutan dan kuil tua ini yang sudah menggoda pikiranmu? Tentu saja aku menaruh kasihan kepadamu, Sayang."

"Benarkah? Kau kasihan kepadaku dan mau melakukan apa saja untuk menolong diriku dari kenekatan membunuh diri?"

Hwi Sian memandang wajah itu.

Kun Liong juga memandang tajam penuh selidik, hendak menjenguk isi hati yang tersembunyi di balik wajah yang basah oleh air mata itu.

Dia tahu bahwa Hwi Sian tidak main-main bahkan belum pernah dia melihat dara yang berwatak jenaka dan periang itu bersikap serius seperti saat ini.

Akan tetapi dia harus cerdik, tidak boleh membiarkan diri diakali.

"Aku memang kasihan kepadamu, suka kepadamu, dan tentu saja aku suka melakukan apa saja untuk menolongmu dari kenekatan gila itu, asal saja bukan untuk... untuk menikah denganmu!"

Bangga hati Kun Liong karena dia sudah dapat mendahului gadis itu sehingga menutup jalan bagi Hwi Sian untuk mengakalinya.

Akan tetapi dia kecele ketika mendengar dara itu berkata.

"Tidak, aku pun tahu bahwa tak mungkin aku menikah denganmu, karena selain engkau tidak mencintaku, juga aku sudah ditunangkan dengan orang lain. Aku hanya minta tolong kepadamu agar engkau suka menjadikan aku sebagai isterimu..."

"Heiii! Gila kau! Tidak ingin menikah denganku tapi ingin menjadi isteriku, apa artinya ini?"

"Kun Liqng, hanya... hanya untuk malam ini... kau penuhilah hasrat hatiku, aku hanya dapat menyerahkan hati dan tubuhku kepadamu. Kalau kau sudi memenuhi permintaanku, aku... aku bersumpah tidak akan membunuh diri... bahkan aku akan rela menjadi isteri Ji-suheng..."

"Wah, apa-apaan ini? Aku..."

Hwi Sian sudah merangkulnya lagi.

"Kau suka kepadaku, bukan? Kau suka menciumku, bukan? Kun Liong..."

Dara itu mendekap dan menciuminya.

Gairah yang membuat Hwi Slan seperti berkobar-kobar itu akhirnya membakar Kun Liong juga.

Pemuda yang pada dasarnya memang romantis ini, tak dapat menahan gelombang dahsyat yang menyerangnya, yang datang dari dara yang mencintanya lahir batin itu.

Tak mampu dia menahan diri dan sebentar saja keduanya sudah dikuasai oleh birahi yang amat kuat dan tidak ada seorang pun manusia yang kuat bertahan apabila sudah diamuk birahi.

Sekali nafsu mencengkeram manusia, akan mendatangkan keadaan yang tidak mengenal puas.

Diberi sejengkal ingin sedepa.

Belaian dan dekapan, ciuman mesra sudah tidak memuaskan lagi, ingin lebih, ingin yang terakhir, bagaikan mabuk, dan memang sudah mabuk oleh nafsu yang membuatnya buta akan segala hal, lupa akan segala hal, dengan mata seolah-olah terselubung, Kun Liong menciumi seluruh tubuh Hwi Sian, dari ubun-ubun kepala sampai ke telapak kakinya bahkan mereka berdua sudah tidak merasa atau melihat lagi betapa api unggun menjadi padam, keadaan di dalam kuil menjadi gelap sama sekali, seolah-olah sang api sengaja melarikan diri karena tidak tahan menyaksikan peristiwa yang amat mengharukan itu, peristiwa di mana dua insan hanyut oleh dorongan hasrat dan nafsu, yang membuat mereka lupa akan diri...

lupa akan segala sehingga lenyaplah sang aku, lenyaplah segala pikiran, segala ingatan, segala keruwetan dan lenyap pula batas antara suka dan duka.

Di dalam kegelapan kuil dalam hutan itu, tidak tampak apa-apa.

Hutan itu pun sunyi tidak disentuh angin.

Namun terdengar suara-suara di dalam hutan.

Suara malam yang penuh rahasia, suara mahluk-mahluk kecil yang tak tampak, kutu-kutu belalang dan jengkerik, burung malam dan segala macam binatang.

Suara yang bersatu padu tanpa diatur, yang menciptakan suara yang aneh penuh rahasia, kadang-kadang terdengar seperti rintihan lirih dan desah napas manusia dalam derita dan siksa, kadang-kadang terdengar seperti jerit kemenangan, jerit kesukaan dan penuh kegembiraan.

Sukar menentukan garis pemisah antara kecewa dan kepuasan, antara derita dan nikmat kesenangan!

Pada keesokan harinya, setelah cahaya matahari pertama memasuki kuil, tampak Kun Liong duduk bersandar dinding, dan Hwi Sian rebah terlentang di atas lantai.

Keduanya tidak mengeluarkan kata-kata, dan Kun Liong membelai rambut Hwi Sian yang kusut masai itu.

Wajah keduanya agak pucat, namun di balik kepucatan wajah Hwi Sian, terbayang kepuasan dan kebahagiaan yang membuat bibirnya tersenyum, mata yang masih kelihatan mengantuk itu mengeluarkan cahaya berseri, biarpun ada air mata di pipinya.

Kun Liong kelihatan tidak sebahagia Hwi Sian, biarpun dia kelihatan masib terpesona oleh pengalaman luar biasa yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, namun terbayang kekhawatiran dan keraguan pada wajahnya yang agak pucat.

Baru teringat olehnya sekarang betapa mereka berdua telah menjadi seperti orang mabuk, tidak ingat akan sesuatu kecuali pencurahan gairah hati, menuruti nafsu birahi tak kunjung berhenti sampai semalam suntuk.

Barulah dia meragukan apakah yang diperbuatnya bersama Hwi Sian itu bukan merupakan suatu perbuatan yang amat kotor dan jahat?

Dengan keras dia menggeleng kepalanya!

Dia tidak melakukan sesuatu paksaan!

Dan bahkan lebih dari itu, dia terpaksa oleh Hwi Sian yang mengancam akan membunuh dirl!

Dan bagi Hwi Sion sendiri?

Berdosakah dia?

Kotorkah perbuatannya itu?

Hinakah wanita ini yang ingin menyerahkan tubuhnya dengan suka rela kepada pria yang dikasihinya sebelum dia terpaksa menyerahkan diri kepada pria lain yang tak dicintanya akan tetapi yang harus menjadi suaminya?

Entahlah, Kun Liong tak mampu menjawabnya.

"Kun Liong..."

Suara Hwi Sian lirih dan serak, suara orang yang kurang tidur dan kelelahan.

"Hemm..."

"Aku... aku tidak bisa berpisah darimu lagi...!"

"Heiii!"

Kun Liong melepaskan pelukannya, menjauhkan diri dan membereskan pakaiannya.

"Jangan begitu kau, Hwi Sian! Betapapun aku masih percaya bahwa kau adalah seorang wanita gagah yang takkan melanggar janji!"

Hwi Sian tersenyum masam, membereskan pakaiannya dan duduk berhadapan dengan Kun Liong mengangkat kedua tangan membereskan rambutnya.

Melihat gadis itu mengangkat kedua lengan membereskan rambut, melihat wajah kusut yang agak pucat, melihat mulut yang membayangkan kepahitan, merupakan penglihatan yang amat mesra dan hampir meluluhkan hati Kun Liong.

Ingin dia mendekap Hwi Sian, menciuminya dan menghiburnya, mengatakan bahwa dia selamanya takkan meninggalkannya.

Akan tetapi dia tahu bahwa hal ini hanyalah seretan perasaan sejenak saja, maka dia tidak membuka mulut.

"Kun Liong,"

Kata Hwi Sian setelah selesai menyanggul rambutnya sehingga kelihatan manis sekali.

"Aku tadinya mengharap, setelah peristiwa semalam, kalau-kalau engkau akan jatun cinta kepadaku. Akan tetapi aku lupa bahwa engkau adalah seorang pria yang luar biasa, yang jujur dan tidak pernah mengingkari kata-kata sendiri. Akan tetapi aku.... ahhh, betapa makin mendalamnya perasaan cintaku mengukir di dalam hatiku. Betapa mungkin aku dapat berpisah darimu, Kun Liong?"

"Hwi Sian!"

Kun Liong berkata agak keras.

"Ingatlah bahwa engkau yang minta sehingga terjadi peristiwa semalam. Engkau tahu bahwa aku melakukannya, bukan semata-mata karena aku memang suka kepadamu, bahwa aku memang suka melakukannya, akan tetapi terutama sekali karena hendak menolongmu terhindar dari kenekatanmu. Sekarang, berjanjilah bahwa engkau takkan membunuh diri dan akan baik-baik menjadi isteri Tan-enghion."

Mata itu terpejam dan air matanya tertumpah keluar seperti diperas oleh bulu-bulu mata yang panjang itu.

Kepalanya mengangguk dan bibirnya berbisik.

"Aku berjanji."

"Kau bersumpah?"

"Aku bersumpah."

"Nah, begitulah baru Hwi Sian seperti yang kukenal dan kupercaya! Kau yakinlah bahwa selamanya aku tidak akan lupa kepadamu, Hwi Sian dan dengan sepenuh hatiku aku doakan semoga kau dapat menemukan bahagia bersama Tan-enghiong. Percayalah bahwa cinta yang kaukira terukir dalam hatimu terhadap aku itu akan mudah terhapus oleh ukiran cinta lain yang mungkin kautemukan bersama Tan-enghiong..."

"Tidak mungkin!"

Hwi Sian berseru dengan suara merintih dan dia menangis!

"Jangan bilang tidak mungkin.

Cinta seperti ini, yaitu mencintai sesuatu akan tertutup oleh cinta kepada sesuatu yang lain lagi.

Cinta seperti yang kaurasakan terhadap diriku hanyalah nafsu birahi yang didorong oleh rasa suka dan kecocokan, yang kita sebut cinta dan cinta seperti itu takkan kekal.

Hari ini cinta, besok bisa berubah menjadi benci.

Aku tidak cinta kepadamu, aku hanya suka dan kasihan kepadamu, karena itu apa pun yang terjadi, aku tidak akan bisa benci kepadamu.

Cinta yang bersifat memiliki bukanlah cinta, karena memiliki berarti kehilangan, memiliki berarti kecewa dan sengsara apalagi menjadi benci.

Nah, lebih baik kita berpisah di sini, Hwi Sian.

Selamat tinggal."

"Kun Liong...!"

Kun Liong yang sudah melangkah itu terhenti di pintu bekas kamar kuil itu dan menoleh sambil tersenyum.

"Sudahlah, Hwi Sian. Ingat, engkau akan jauh lebih bahagia hidup di samping Tan-enghiong daripada di sampingku. Mencinta tanpa balasan merupakan siksaan jauh lebih berat daripada dicinta tanpa membalas. Selamat tinggal!"

Kun Liong meloncat jauh dan cepat lari meninggalkan tempat itu.

"Kun Liong...!"

Hwi Sian mengeluh dan menangis.

Tak lama kemudian dia sudah terjun ke dalam sungai tak jauh dari kuil itu, merendam tuhuhnya sebatas dada dan masih terus menangis sampai matanya menjadi merah.

Setelah berlari cepat keluar masuk beberapa buah hutan, baru legalah hati Kun Liong, tidak khawatir kalau-kalau Hwi Siap mengejarnya.

Dia lalu berjalan seenaknya dalam hutan yang sunyi itu.

Pikirannya melayang, mengenangkan peristiwa semalam.

Peristiwa luar biasa yang merupakan pengalaman pertamanya, demikian pula bagi Hwi Sian dan seribu satu macam pikiran mengaduk diotaknya.

Berdosakah dia dengan perbuatannya itu?

Bagaimana kalau kelak Tan-enghiong, calon suami Hwi Sian, mengetahuinya?

Bagaimana kalau sampai peristiwa semalam bersama Hwi Sian itu berbuah menjadi anak?

Bagaimana kalau...

kalau...

kalau...

makin dibayangkan, makin khawatirlah hati Kun Liong dan mulailah dia menyesali kelemahannya sehingga dia membiarkan dirinya terseret.

Itu bukan cinta!

Itu hanyalah nafsu birahi yang menyeret dia dan Hwi Sian.

Berdosakah kalau dia menikmati akibat dorongan nafsu birahi?

Dengan suka rela Hwi Sian mengajaknya, menyerahkan dirinya.

Kalau dia menolak dan gadis itu benar-benar membunuh diri, apakah penolakannya itu bukan merupakan dosa pula?

Kalau diterima dosa, ditolak dosa, lalu bagaimana?

Dia bergidik.

Bergidik dan merasa ngeri membayangkan kembali perbuatan dia dan Hwi Sian semalam.

Celaka dia dan Hwi Sian telah seperti gila semalam, menikmati bujukan nafsu birahi tak kenal puas.

Akan dapatkah dia menahan diri kalau kelak berhadapan dengan wanita cantik?

Jangan-jangan dia memang mata keranjang, menjadi hamba nafsu birahi, jangan-jangan dia kelak akan menjadi jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa)!

Memperkosa wanita?

Tidak sudi!

"Dessss!

Kraaaakkkk!"

Suara hatinya "tidak sudi"

Tadi disuarakan melalui mulutnya dan diikuti dengan meninju sebatang pohon di dekatnya sehingga pohon itu patah dan tumbang!

"Aku sudah gila!"

Katanya sambil menjatuhkan diri duduk di atas rumput.

Mengangkat kedua lutut ke atas dan menunjang dagunya dengan telapak tangan kanan, termenung seperti patung.

Harus diakuinya, sejak dulu dia suka berdekatan dengan wanita, suka menyentuh, mendekap dan mencium wanita.

Sekarang, setelah dia mengalaminya semalam, dia harus mengakui pula bahwa dia suka bermain cinta dengan wanita!

Akan tetapi semua itu harus terjadi dengan suka rela dan dia tidak akan sudi memaksa siapapun juga, betapa pun cantiknya, betapa pun menariknya!

Salahkah ini?

Inikah yang dikatakan mata keranjang?

Gila wanita?

Salahkah dia kalau dia suka memandang yang indah-indah diantaranya wajah dara yang cantik dan bentuk tubuhnya yang menggairahkan?

Salahkah dia kalau dia suka mencium yang harum-harum dan sedap, diantaranya mencium bunga dan mencium bibir seorang dara?

Salahkah dia kalau dia suka mendengar yang merdu-merdu, diantaranya suara seorang gadis manis?

Salahkah kalau dia merasakan yang lezat-lezat, salahkah kalau dia menikmati hidup?

Salah siapa?

Semua itu sudah ada padanya, dan dia sama sekali tidak mengada-ada, tidak mencari-cari!

Rasa suka akan semua itu memang sudah ada padanya!

Kalau tidak ada dara yang suka kepadanya, tentu semua itu tidak akan terjadi.

Semua pengalamamya dengan Yuanita, dengan Nina, dengan Li Hwa, Giok Keng, Hwi Sian dan Bi Kiok, sungguhpun semua itu tidaklah sejauh dengan Yuanita, atau terutama sekali dengan Hwi Sian.

Kalau dara-dara itu tidak suka kepadanya, tentu dia pun tidak akan berani mendekati mereka!

Betapa pun cantik menariknya, kalau tidak suka kepadanya dia tidak akan memaksa!

Memperkosa?

"Tidak sudi!

Desss...

pyuuuurr...!"

Sebuah batu besar yang berada di sampingnya pecah berantakan terkena hantaman kepalan tangannya!

Dan setelah debu yang mengepul tebal karena pecahan batu itu menghilang, muncul seorang dara jelita yang langsung menegur.

"Apakah engkau sudah menjadi gila? Pohon dan batu dipukuli sampai tumbang dan pecah!"

Tadinya Kun Liong terkejut sekali, mengira bahwa Hwi Sian yang menyusulnya.

Dia tidak ingin berkepanjangan dengan dara itu, setelah apa yang mereka perbuat bersama semalam.

Akan tetapi setelah melihat bahwa yang muncul adalah Cia Giok Keng, dia menjadi gugup dan wajahnya berubah merah!

"Ah, tidak...

Nona.

Saya...

sudah latihan...

dan...

eh, bagaimana Nona dapat tiba di sini?

Saya sudah mengkhawatirkan dirimu..."

Giok Keng meragu untuk menjawab.

Bagairnana dia dapat menjawab setelah apa yang terjadi kemarin?

Seperti diketahui, dara perkasa ini mengejar Liong Bu Kong yang melarikan diri.

Bu Kong sengaja melarikan diri menjauh, akhirnya berhasil memancing Giok Keng mengejarnya dengan perahu meninggalkan pulau di Telaga Kwi-ouw dan mendarat memasuki hutan.

Giok Keng terus mengejarnya.

Hati gadis ini merasa penasaran sekali kalau dia tidak dapat merobohkan atau menawan pemuda putera Ketua Kwi-eng-pang itu.

Hari telah menjadi senja ketika akhirnya Giok Keng dapat menyusul Liong Bu Kong di dalam sebuah hutan lebat.

Pemuda itu sengaja menantinya dan begitu Giok Keng muncul, pemuda itu menjura dan berkata.

"Nona Cia Giok Keng, mengapa Nona mengejarku terus? Apakah Nona begitu benci kepadaku? Padahal, aku cinta padamu, Nona. Sampai kini pun belum pernah lenyap harapan hatiku untuk dapat berjodoh dengan seorang dara jelita dan perkasa seperti Nona. Aku cinta kepadamu dengan sepenuh jiwa ragaku, apakah Nona tega untuk mengejarku dan hendak membunuhku?"

Wajah Giok Keng menjadi merah sekali.

Entah mengapa, semenjak pemuda ini datang ke Cin-ling-san dahulu itu untuk meminangnya, dia tidak pernah dapat melupakan pemuda ini yang sekarang kelihatan lebih matang dan lebih gagah daripada dahulu!

Dia sendiri heran mengapa segala gerak-gerik pemuda itu, gerak mulutnya, gerak matanya, dan suaranya, semua amat menyenangkan hatinya.

Apalagi pengakuan cinta pemuda itu, membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan diam-diam hatinya telah terpikat!

Akan tetapi, sebagai puteri pendekar sakti ketua dari Cin-ling-pai, tentu saja dia tidak sudi tunduk begitu saja, maka dia pura-pura marah dan membentak.

"Manusia jahat! Siapa sudi bicara denganmu? Engkau adalah anak dari datuk sesat Kwi-eng Niocu, dan aku adalah puteri dari Ketua Cin-ling-pai yang selalu bertugas membasmi kaum sesat. Antara engkau dan aku terdapat jurang yang amat dalam, dan kita hanya dapat berhadapan sebagai musuh!"

"Aku memusuhimu? Demi Tuhan, tidak! Aku cinta padamu, bagaimana aku tega untuk mengangkat senjata melawanmu? Jangankan kepandaianku tidak mungkin menandingi ilmu kepandaian puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong, andaikata kepandaianku lebih tinggi sekalipun, aku tidak akan tega untuk melawanmu, Nona."

"Singggg...!"

Giok Keng sudah mencabut pedangnya dan tampak sinar putih berkilau ketika Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak) terhunus.

"Hayo cabut pedangmu, tak perlu banyak bicara!"

Dara itu membentak.

"Srettt...!"

Liong Bu Kong mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat, akan tetapi dia melemparkan pedang Lui-kong-kiam yang ampuh itu ke atas tanah.

"Lihat, aku telah membuang pedangku, Nona. Aku tidak akan melawan seorang dara yang kucintai sepenuh jiwa ragaku."

Giok Keng terkejut bukan main.

Tadinya dia masih meragukan ketulusan hati pemuda putera datuk sesat ini, maka dia masih mempertahankan hatinya dan menekan perasaan.

Kini melihat pemuda itu benar-benar tidak mau melawannya dan membuang pedang, hatinya terguncang.

Namun dia bukanlah seorang dara yang bodoh dan mudah dibujuk orang.

Biarpun hatinya terguncang, dia masih membentak.

"Ambil pedangmu dan lawanlah, kalau tidak... hemmm, aku akan membunuhmu!"

Liong Bu Kong tersenyum dan memang pemuda ini tampan dan gagah sehingga senyumnya menambah ketampanan wajahnya.

"Silakan serang dan bunuh aku, Nona. Mati di tangan seorang dara yang kucinta merupakan kematian yang amat bahagia."

"Siapa percaya bujukanmu? Mampuslah!"

Giok Keng sudah menerjang maju, menggerakkan pedangnya menyerang dahsyat dengan tusukan ke arah leher pemuda itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Giok Keng melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mengelak, hanya memandang kepadanya dengan senyum di bibir.

"Aihhh...!"

Giok Keng yang terkejut itu berusaha menyelewengkan tusukannya karena tentu saja dia sebagai seorang dara perkasa tidak mau membunuh orang yang tidak melawan, namun usahanya itu tidak berhasil sepenuhnya dan pedangnya sudah menembus pundak kiri Bu Kong!

Ketika Gin-hwa-kiam dicabutnya dan ditariknya kembali, darah mengucur dari pundak pemuda itu yang berdiri dengan tubuh bergoyang menahan rasa nyeri yang hebat akan tetapi yang masih memandang Giok Keng dengan pandang mata mesra penuh cinta dan mulut tetap tersenyum.

"Ahhh... apa yang kau lakukan...? Mengapa kau tidak mengelak? Mengapa tidak menangkis? Mengapa...?"

Giok Keng terbelalak, melepaskan pedangnya jatuh ke atas tanah dan bagaikan dalam mimpi dia menghampiri pemuda itu, merobek baju di bagian pundak yang terluka dan ternyata pedangnya telah mengakibatkan luka yang cukup hebat karena pedang yang runcing tajam itu telah menembus pundak kiri pemuda itu!

"Celaka...

kau...

kau membiarkan aku melukai seorang yang tidak melawan...

darahnya mengucur deras, kalau tidak dihentikan, bisa berbahaya..."

"Hemm, biarlah, Nona. Kalau kau memang benci kepadaku, apa artinya luka ini? Kaubunuh pun aku akan rela, karena biarpun kau benci, aku tetap cinta padamu..."

Giok Keng sudah mengeluarkan saputangannya.

"Bodoh! Siapa benci padamu?"

Katanya dan tanpa bicara lagi dia membalut luka di pundak itu dengan saputangannya.

Mula-mula ditaruhnya obat luka yang dibawanya ke atas luka di depan dan belakang pundak, kemudian dia menggunakan saputangannya yang bersih menutupi luka itu, dan membalutnya dengan robekan baju pemuda itu sendiri sampai erat sekali sehingga darahnya berhenti mengucur.

"Nona... nona... Giok Keng... benarkah itu? Benarkah kau tidak membenciku?"

Kedua tangan Bu Kong menekan kedua pundak dara itu dengan gemetar semua jari tangannya, suaranya juga menggetar penuh perasaan.

"Kalau begitu... kalau begitu engkau pun... cinta kepadaku seperti aku cinta padamu...?"

Wajah Giok Keng menjadi pucat, kemudian merah sekali.

Dia telah selesai membalut dan menghadapi pertanyaan itu, dia menundukkan mukanya.

"Entahlah..."

Jari-jari tangan yang gemetar itu memegang muka dara itu, dipaksanya dengan halus muka itu tengadah.

"Giok Keng... Moi-moi... kaupandanglah aku... kau... kau... kau juga cinta padaku? Benarkah ini? Demi Tuhan... kau juga cinta padaku seperti aku cinta padamu...?"

Sejenak mereka berpandangan, dan Giok Keng lalu memejamkan matanya, dan dua butir air mata bertitik turun.

"Moi-moi...!"

Bu Kong mengecup kedua pipi, mengecup air mata itu, kemudian dia mencium bibir Giok Keng.

Kalau hati sudah tertarik memang membuat orang atau tepatnya seorang dara muda gampang sekali jatuh!

Giok Keng menggigil, seluruh tubuhnya menggigil ketika mula-mula merasa betapa air mata di pipinya dikecup pemuda itu, kemudian bumi serasa goyah seperti ada gempa bumi hebat, dunia seperti berputar ketika dia merasa betapa mulutnya dicium oleh pemuda itu, dicium dengan mesra sekali.

Hampir dia pingsan dan sejenak dia menyerah, menyerah bulat-bulat dengan setulusnya hati, dengan hati yang penuh kebahagiaan, merasa dicinta dan mencinta.

Akan tetapi dia segera teringat, meronta dan melangkah mundur.

Dengan muka pucat dipandangnya pemuda itu yang kini menunduk, dengan kedua lengan tergantung lepas di kanan kiri tubuh, lalu berkata dengan suara penuh penyerahan.

"Ampunkan aku, Giok Keng. Aku... aku cinta padamu... dan kalau kau anggap perbuatanku tadi terlalu kurang ajar, ambillah pedangmu, jangan berlaku kepalang. Kalau kau tidak membalas cintaku, bunuhlah aku. Tusuklah tembus dada ini agar berakhir penderitaanku...!"

Wajah yang pucat itu menjadi merah lagi.

Giok Keng cepat menyambar pedang Gin-hwa-kiam, disarungkannya dan dia memaksa hatinya untuk dapat bicara, suaranya gemetar.

"Aku... aku tidak benci padamu... aku tidak tahu apakah cinta... akan tetapi aku sudah ditunangkan dengan orang lain. Selamat tinggal...!"

Giok Keng lalu melarikan diri secepatnya.

Dia mendengar suara pemuda itu memanggilnya, dan hampir saja dia berlari kembali, akan tetapi ditahannya hatinya dan ditulikannya telinganya.

Air matanya bercucuran dan dia mempercepat larinya sehingga tak lama kemudian panggilan pemuda itu lenyap, tak terdengar lagi olehnya.

Semalam suntuk dia melanjutkan perjalanannya dan pada keesokan harinya dia mendengar suara tangis di dalam sungai dekat kuil tua.

Ketika dia menghampiri sungai itu, dilihatnya Hwi Sian sedang merendam tubuh di dalam air yang jernih sambil menangis!

"Hwi Sian...!

Mengapa kau?

Mengapa pula menangis?"

Giok Keng menegur penuh keheranan, dan seketika dia lupa akan urusannya sendiri yang selama semalam telah mengganggu pikirannya.

Hwi Sian terkejut, menengok dan melihat Giok Keng, dia merasa makin berduka sehingga tangisnya mengguguk, dari mulutnya hanya terdengar suara tangis dan kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh Giok Keng.

"Hwi Sian, ada apakah?"

Kembali dara ini mendesak penuh keheranan.

"...Aku cinta padanya... hu-hu-huuh, Aku cinta padanya..."

Akhirnya Hwi Sian dapat menjawab, akan tetapi jawabannya hanya "Aku cinta padanya"

Yang dikatakan berkali-kali.

Ucapan ini merupakan ujung pedang yang menusuk hati Giok Keng karena seolah-olah merupakan sindiran akan cintanya kepada Liong Bu Kong!

Akan tetapi melihat bahwa Hwi Sian menangis benar-benar, dia lalu memutar otak dan menduga-duga siapakah gerangan yang dicinta oleh gadis itu!

"Siapa?

Siapa yang kau cinta itu?"

"Aku cinta padanya... aaahhh, Aku cinta padanya!"

Hwi Sian berkata lagi. Giok Keng menjadi tidak sabar.

"Ke mana dia sekarang?"

"Dia pergi... meninggalkan aku... huhuuhhh, aku cinta padanya tapi dia pergi..."

"Ke mana?"

Hwi Sian seperti seorang anak kecil, hanya menudingkan telunjuknya ke depan dan Giok Keng segera meloncat dan berlari cepat, menuju ke arah yang ditunjuk oleh gadis itu.

Tak lama kemudian, di dalam sebuah hutan, dia mendengar suara keras disusul robohnya sebatang pohon.

Dia cepat menghampiri dan melihat Kun Liong yang merobohkan dengan pukulannya tadi.

Kemudian dia melihat pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah, termenung-menung, kemudian berteriak.

(Lanjut ke

Jilid 30) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30

"Tidak sudi!"

Dan memukul hancur sebuah batu besar di dekatnya.

Maka muncullah Giok Keng sambil menegur karena perbuatan Kun Liong itu amat mengherankan hatinya.

Demikianlah, Kun Liong yang ditegur menjadi gugup dan menjawab bahwa dia memukul pohon dan batu untuk latihan!

Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar dara itu berkata dengan suara bernada penuh teguran.

"Yap Kun Liong, engkau sungguh seorang yang berhati kejam!"

"Cia Giok Keng, apa maksudmu?"

Kun Liong bertanya dan memandang heran.

"Mengapa engkau begitu kejam terhadap Hwi Sian!"

Seketika pucat wajah Kun Liong mendengar ini.

Celaka, pikirnya.

Temyata Hwi Sian seorang yang tidak bisa dipercaya!

Betapa mudahnya Hwi Sian menceritakan peristiwa itu kepada orang lain begitu saja!

Saking kaget dan bingungnya, dia tidak mampu menjawab, hanya memandang dengan mata terbelalak.

"Mengapa engkau pergi meninggalkan Hwi Sian begitu saja, padahal dia sanget mencintamu? Aku melihat dia menangis dan seperti orang kehilangan ingatan, hanya bilang bahwa dia mencintaimu berkali-kali dan bahwa engkau pergi meninggalkan dia. Apakah itu tidak kejam?"

Lega hati Kun Liong dan dia merasa kasihan sekali kepada Hwi Sian.

Kiranya dara itu tidak menceritakan peristiwa semalam, hanya mengatakan cinta kepadanya dan ditinggal pergi karena ketahuan menangis oleh Giok Keng.

Dia menarik napas panjang lalu berkata.

"Giok Keng, betapa cinta kasih dapat dipaksakan? Betapa mungkin cinta kasih dapat memilih orangnya? Memang Hwi Sian menyatakan cinta kepadaku, akan tetapi kalau tidak ada perasaan seperti itu di dalam hatiku kepadanya, salahkah aku?"

"Kun Liong, Hwi Sian adalah seorang dara yang cantik dan gagah, seorang wanita yang baik. Bagaimana mungkin engkau tak dapat membalas cintanya?"

"Dia sudah bertunangan dengan Ji-suhengnya..."

"Pertunangan bisa saja diputuskan! Ikatan jodoh haruslah diadakan oleh dua orang yang bersangkutan, oleh pria dan wanita itu sendiri karena hal itu menyangkut kehidupan mereka selamanya! Mereka berdualah yang akan menghadapinya, yang akan berdampingan selama hidupnya, bukan orang tua atau guru yang menjodohkan!"

Ucapan ini dikeluarkan dengan penuh semangat oleh Giok Keng sehingga mengherankan hati Kun Liong.

"Apalagi, engkau sendiri pun sudah bertunangan. Sebaliknya engkau dan dia, kalau memang saling mencinta, membatalkan pertunangan masing-masing dan..."

"Giok Keng, apa maksudnya ucapan ini? Aku bertunangan? Bagaimana ini, aku tidak mengerti."

Giok Keng menarik napas panjang.

"Tentu saja kau tidak mengerti. Nah, kau bacalah ini dulu."

Dia mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya, menyerahkannya kepada Kun Liong kemudian meninggalkan pemuda itu, duduk di atas sebuah batu besar tak jauh dari situ, termenung dan membelakangi Kun Liong.

Pemuda gundul ini menjadi makin heran.

Dengan hati berdebar dan merasa tidak heran.

Dengan hati berdebar dan merasa tidak enak dia membuka sampul dan membaca surat yang ditulis dengan gaya coretan yang indah dan gagah.

Tulisan Pendekar Sakti Cia Keng Hong, ditujukan kepadanya!

Membaca kalimat-kalimat terakhir, mukanya berubah menjadi merah sekali, dan matanya terbelalak.

"Karena ayah ibumu telah meniggal dunia, sebagai supekmu boleh dibilang aku adalah walimu. Karena itulah, maka kuharap kau datang ke Cin-ling-san bersama Giok Keng, dan kita dapat membicarakan tentang perjodohan antara kau dan Giok Keng."

Dia dijodohkan dengan Giok Keng!

Otomatis dia memandang ke arah punggung dara yang duduk termenung di atas batu besar itu.

Sepatutnya dia bersyukur!

Sepatutnya dia menerima berita ini dengan girang.

Cia Giok Keng adalah seorang dara yang cantik jelita, berkepandaian tinggi, dan puteri pendekar sakti yang terkenal.

Dan dia harus mengakui bahwa dia suka kepada Giok Keng, terutama sekali kepada hidung dara itu yang bentuknya amat manis!

Tapi, membayangkan betapa selamanya dia akan hidup berdampingan dengan Giok Keng sebagai suami isteri, tidak bebas lagi, terikat dan diancam bahaya pertengkaran karena cemburu dan kesalahpahaman yang lain, dia merasa ngeri juga!

Kemudian teringatlah dia akan bujukan Giok Keng agar supaya dia membatalkan perjodohan ini dan membalas cinta Hwi Sian!

Apa artinya ini?

Hanya satu, ialah bahwa Giok Keng sendiri di dalam hatinya menentang perjodohan ini!

Cepat dia menghampiri Giok Keng dan duduk pula di atas batu, di depan dara itu, setelah menyimpan surat di sakunya.

Mereka saling berhadapan, saling berpandangan sejenak, kemudian Kun Liong bertanya.

"Engkau sudah tahu tentang ini?"

Dia menepuk saku bajunya. Giok Keng mengangguk.

"Dan bagaimana pendapatmu?"

Giok Keng menggeleng kepala.

"Aku tidak tahu."

"Engkau agaknya tidak setuju."

"Memang, mana bisa hal perjodohan diatur orang lain? Pula, engkau dicinta oleh Hwi Sian yang mengaku sendiri kepadaku. Mana mungkin aku merampas orang yang sudah dicinta oleh dara lain?"

"Giok Keng, aku sudah menjawab bahwa aku tidak membalas cinta Hwi Sian."

"Dan kau... kau... eh, bagaimana pendapatmu dengan surat ayah?"

"Tidak tahulah. Aku menjadi bingung, urusan ini dikemukakan begini tiba-tiba."

Sepasang mata dara itu yang amat jernih dan tajam kini memandang penuh selidik seolah-olah hendak menembus dan menjenguk isi hati Kun Liong, kemudian terdengar pertanyaannya yang terang-terangan.

"Kun Liong, apakah engkau cinta kepadaku?"

Kun Liong cepat menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Aku tidak mencinta siapa-siapa, Giok Keng. Hati dan pikiranku jauh daripada cinta seperti yang kumaksudkan itu. Tidak, aku rasa aku tidak cinta padamu, sungguhpun hal ini bukan berarti bahwa aku tidak suka kepadamu, terutama kalau aku memandang... hidungmu. Aku suka padamu, akan tetapi cinta? Entahlah, kukira tidak!"

Sepasang mata itu makin tajam pandangnya ketika Giok Keng bertanya lagi.

"Kalau begitu, mengapa dahulu itu di Siauw-lim-si engkau... menciumku?"

Bukan main kaget hati Kun Liong mendengar ini.

"Kau... bagaimana kau bisa tahu? Kau pingsan dan..."

"Aku telah siuman ketika engkau menciumku, karena terlampau kaget melihat perbuatanmu dan melihat pula Ayah datang, aku diam saja, pura-pura masih pingsan. Kenapa engkau dahulu menciumku seperti itu dan sekarang kau bilang tidak cinta padaku?"

"Aihh, harap jangan salah paham, Giok Keng. Kau pingsan dan aku melihat bahwa pernapasanmu terhenti oleh serangan asap, maka jalan satu-satunya pada saat itu adalah pernapasan bantuan. Aku tidak menciummu, melainkan meniupkan hawa melalui mulutmu untuk jalankan kembali paru-parumu yang berbenti bekerja. Mengertikah kau?"

Giok Keng mengangguk, di dalam hatinya timbul dua macam perasaa.

Lega dan kecewa!

Dia merasa lega karena ternyata bahwa Kun Liong tidak mencintanya sehingga perjodohan itu dapat dibatalkan, karena dia harus mengaku bahwa dia jatuh cinta kepada Liong Bu Kong.

Akan tetapi pada saat itu pula dia kecewa karena ternyata Kun Liong yang disangkanya menciumnya karena cinta kepadanya, ternyata tidak!

Wanita memang ingin sekali digilai dan dicinta oleh semua pria di dunia ini, walaupun dia hanya akan menjatuhkan hatinya kepada seorang saja di antara mereka!

"Kun Liong, aku ingin sekali tahu.

Apakah engkau suka menciumku?"

Mata Kun Liong terbelalak.

Betapa anehnya dara ini!

Begitu terus terang, maka dia pun harus bersikap jujur dan dia mengangguk.

"Tentu saja aku suka!"

Mata Giok Keng mengeluarkan sinar marah.

"Kau bilang tidak cinta kepadaku akan tetapi mengapa kau suka menciumku?"

"Mengapa tidak?"

Kun Liong menjawab dengan terus terang pula.

"Aku suka sekali melihat bunga yang indah, aku suka mencium bunga yang harum sungguhpun aku tidak berniat memiliki bunga itu. Aku suka mencium dara yang cantik menarik, apalagi seperti engkau, Giok Keng, akan tetapi kesukaanku itu bukan berarti bahwa aku ingin memilikimu sebagai jodohku. Aku akan bohong kalau aku bilang bahwa aku cinta kepadamu."

Diam-diam Giok Keng menjadi heran sekali dan juga kagum akan kejujuran Kun Liong.

Agaknya, semua pemuda di dunia ini takkan segan-segan mengaku cinta dengan sumpah seribu macam untuk memancing dan mendapatkan sekedar ciuman seorang dara, apalagi kalau untuk mendapatkan tubuhnya!

Akan tetapi Kun Liong dengan terang-terangan pula menyatakan tidak cinta!

Dia pun mulai bingung dan menduga-duga apakah rasa sukanya kepada Liong Bu Kong itu benar-benar cinta seperti yang diduganya?

"Kun Liong, bagaimanakah cinta itu?

Tadinya kukira bahwa kalau storang pria suka kepada seorang wanita atau sebaliknya adalah cinta.

Bagaimanakah sebenarnya dan apakah cinta itu?"

Kembali kepala yang gundul itu bergerak digelengkan.

"Aku sendiri pun tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kalau orang ingin selamanya bersanding dengan seorang dara, berarti dia mengundang datangnya penderitaan karena sudah pasti akan timbul kebosanan, pertentangan, cemburu, kemarahan dan mungkin kebencian. Kalau perasaan suka itu cinta, maka aku tidak berani jatuh cinta seperti itu! Tidak, aku tidak akan jatuh cinta. Aku tidak mau mengikatkan diriku kepada seorang wanita. Apalagi menikah. Setahuku, wanita adalah mahluk lemah akan tetapi aneh dan luar biasa sekali. Satu kali aku menikah dan mengikatkan diri, tentu aku akan sengsara, tidak bebas lagi, setiap hari menghadapi kerewelannya, cemburunya, kemanjaannya, dan celakalah aku. Tidak, aku tidak akan mencinta wanita, sungguhpun aku suka sekali kepada mereka, terutama yang cantik seperti kau, Giok Keng."

Alis Giok Keng berkerut.

Betapa tidak menyenangkan ucapan Kun Liong!

Betapa meremehkan dan merendahkan wanita.

Betapa bedanya dengan ucapan Bu Kong!

"Kun Liong...!"

Tegurnya dengan kemarahan ditahan.

"Hemm..."

"Kurasa engkau ini seorang yang..."

"Ya...?"

"Seorang pemuda yang sombong, memandang rendah wanita, terlalu tinggi hati, merasa suci dan bersih sendiri, dan kepala angin!"

Makin lebar mata Kun Liong, apalagi mendengar makian terakhir itu.

"Kepala angin?"

"Ya! Kepalamu hanya terisi angin kosong belaka! Kau bilang tidak pernah mencinta seorang wanita, akan tetapi kau pandai berceramah tentang cinta, ceramah tolol dan ngawur. Betapa bodohnya Hwi Sian yang menangisi dan jatuh cinta kepada seorang tolol macam engkau. Engkau memualkan perutku! Betapa benci aku kepadamu!"

"Eh? Benci? Sayang sekali, Giok Keng. Itulah yang tak kusukai tentang cinta. Kalau tidak cinta, lalu benci. Apakah hanya ada dua macam peraaaan itu dalam hati wanita? Kalau tidak cinta, benci? Apakah tidak ada perasaan di antara cinta dan benci? Tidak cinta akan tetapi juga tidak benci?"

Giok Keng makin bingung dan marah.

"Sudahlah, dari mana kau mendapatkan kepandaian hebat dan pengertian tentang cinta kalau kau sendiri tidak pernah jatuh cinta?"

"Eh, dari... dari kitab-kitab dan dari kesadaran..."

"Huh, kitab! Mempelajari cinta dari kitab! Aku muak dan benci kepadamu!"

"Benarkah? Sayang sekali."

"Akan tetapi aku pun berterima kasih kepadamu bahwa kau tidak cinta padaku, Kun Liong."

"Eh, apa pula ini? Muak dan benci akan tetapi berterima kasih?"

"Setelah kau menyatakan dengan jujur bahwa kau tidak cinta kepadaku, tentu kita tidak setuju dengan ikatan jodoh di antara kita yang diadakan oleh ayah ibuku."

"Ya, begitulah."

"Dan kau tentu suka untuk menyatakan secara terus terang pula kepada ayahku bahwa kau tidak bisa menerima ikatan jodoh ini karena kau tidak cinta padaku, dan aku pun tidak cinta padamu."

Kun Liong mengangguk-angguk.

"Sudah sepantasnya begitu. Aku akan menghadap ayahmu dan aku akan minta agar ikatan jodoh kita ini dibatalkan."

Giok Keng bersorak girang, meloncat dan merangkul Kun Liong, lalu...

mencium kepala gundulnya!

"Terima kasih, Kun Liong.

Terima kasih!"

Dia meloncat pergi dan lari dari tempat itu, sehingga Kun Liong yang termangu-mangu, bengong meringis bingung dan mengusap-usap kepala gundulnya yang dicium tadi.

Makin tidak mengertilah dia akan perangai wanita, terutama Giok Keng!

Dua orang wanita muda itu beristirahat di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu.

Mereka telah tiba di kaki Pegunungan Go-bi-san yang amat luas, penuh dengan hutan lebat dan amat sunyi itu.

Mereka adalah Pek Hong Ing dan sucinya, Lauw Kim In.

Keduanya berwajah muram dan Pek Hong Ing masih mengenakan pakaian seorang nikouw.

Juga wajah Kim In yang cantik manis itu kelihatan muram sekali dan dia selalu menghindarkan pandang matanya kepada sumoinya.

Mereka berdua telah semenjak kecil menjadi murid Go-bi Sin-kouw, tinggal di pegunungan sunyi berdua, rukun dan saling mencinta seperti kakak beradik.

Maka dapat dibayangkan betapa duka hati Kim In bahwa dia terpaksa harus menangkap sumoinya dan memaksanya menghadap subo mereka, padahal dia tahu benar bahwa sumoinya itu tidak suka dinikahkan dengan Pangeran Han Wi Ong yang usianya sudah lima puluh tahun itu.

Sedih hatinya memikirkan nasib sumoinya.

Akan tetaph dia pun marah dan penasaran sekali melihat sumoinya yang sudah menjadi nikouw itu bersendau-gurau dengan seorang pemuda tampan berkepala gundul!

Andaikata dia tidak melihat mereka dan hatinya yakin bahwa mereka bermain gila, agaknya dia tetap tidak akan tega menangkap sumoinya dan dia akan pulang dengan tangan kosong, nekat membohongi gurunya bahwa dia gagal mencari sumoinya!

Akan tetapi, perbuatan sumoinya bermain cinta dengan pemuda gundul aneh yang luar biasa itu membuat hatinya penasaran dan marah sekali.

"Suci, sudah berkali-kaii kukatakan kepadamu bahwa Kun Liong bukanlah seorang hwesio..."

Terdengar suara Hong Ing penuh kedukaan.

Sucinya tidak menoleh, hanya menghela napas dan diam saja.

Hening sekali keadaan di situ dan akhirnya Kim In berkata lirih.

"Mungkin dia bukan hwesio, mungkin hanya seorang pemuda ugal-ugalan yang sengaja menggunduli kepalanya. Akan tetapi apa bedanya? Tetap saja engkau bermain dengan dia, padahal engkau sudah menjadi nikouw. Betapa memalukan ini, Sumoi. Sebagai encimu, tentu saja hal ini merupakan tamparan hebat dan aku malu sekali. Kalau aku tidak sayang kepadamu, bukankah perbuatan itu cukup bagiku untuk menjadi alasan membunuhmu? Akan tetapi aku tidak tega, dan aku hanya akan membawamu kembali kepada Subo. Selanjutnya terserah kepada Subo, dan aku pun tidak akan menceritakan tentang peristiwa di balik semak-semak itu."

"Suci, engkau benar kejam sekali! Pernahkah aku membohong kepadamu semenjak kita menjadi saudara di Go-bi-san! Kami tidak bermain gila seperti yang Suci sangka. Memang aku tidak dapat menahan ketawa, dan ketawa kami berdua tertawa itu sema sekali bukan sedang main gila, bermain cinta atau bersendau-gurau seperti yang kau duga. Dia memang lucu sekali..."

"Ya, lucu dan tampan!"

"Aihh Suci. Bukan demikian maksudku. Kalau engkau sendiri mendengar kata-katanya, sikap dan pandangan hidupnya, tentu engkau akan tertawa juga. Kun Liong seorang yang baik, Suci. Pertama-tama aku bertemu dengannya adalah ketika aku terluka parah oleh jarum beracun dari Ouwyang Bouw putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan dia yang telah mengobatiku secara luar biasa! Dan tahukah engkau bagaimana aneh dan lucunya? Katanya, kepalanya menjadi gundul juga karena jarum beracun Ouwyang Bomw itu! Aku telah berhutang budi kepadanya, maka ketika aku melihat dia tertawan pasukan, aku lalu menolongnya. Dan kau melihat sendiri betapa dia kembali mengorbankan diri menolongku ketika hui-tomu menyambar."

Kim In membalikkan tubuhnya, duduk menghadapi sumoinya dan menatap wajah sumoinya dengan tajam penuh selidik, kemudian bertanya lantang.

"Sumoi, apakah kau jatuh cinta kepada pemuda gundui itu?"

Seluruh wajah yang cantik dan kepala yang gundul kelimis itu menjadi merah sekali.

Dengan suara gemetar Hong Ing menjawab.

"Mengapa Suci bertanya demikian? Aku baru saja bertemu dengan dia. Aku kagum kepadanya, aku suka... akan tetapi, aku tidak tahu... tentang cinta... hemmm, entahlah."

"Itu tandanya kau mulai jatuh cinta. Hemm, laki-laki semua penipu, tak dapat dipercaya! Jangan kau mudah menjatuhkan hati kepada seorang pria, Sumoi. Kau akan kecewa!"

Hong Ing memandang sucinya dengan sinar mata penuh iba.

"Aku tahu, Suci. Kau sakit hati karena kau pernah tertipu. Akan tetapi aku yakin bahwa sampai detik ini pun kau mas1h... masih mencintanya."

Berubah wajah Kim In dan cepat dia menghapus dua titik air mata yang membasahi bulu matanya.

"Memang, tapi dia sudah mati. Andaikata dia masih hidup, belum tentu aku dapat memaafkan perbuatannya yang terkutuk! Berjina dengan isteri muda Thian-ong Lo-mo! Cihh! Akan tetapi dia sudah mati dan bagaimana pun juga aku akan membalaskan kematiannya kepada Thian-ong Lo-mo."

"Tapi kabarnya kakek itu lihai sekali, Suci. Bahkan kabarnya tingkatnya seimbang dengan Subo."

"Akan tiba masanya aku dapat membalaskan kematian tunanganku kepada kakek itu!"

Kata Kim In berkeras.

Tiba-tiba dua orang dara yang cantik itu meloncat berdiri dan memutar tubuh.

Mereka mendengar suara langkah kaki orang, akan tetapi ketika mereka meloncat dan memutar tubuh, tidak ada bayangan orangnya!

Selagi mereka terheran-heran dan saling pandang, di sebelah belakang mereka terdengar suara orang tertawa, suara tertawa seorang laki-laki!

Cepat mereka kembali memutar tubuh dan...

tidak melihat apa-apa di situ kecuali pohon-pohon yang lebat dan sunyi.

Padahal gema suara ketawa itu masih terdengar oleh mereka.

Kim In dan Hong Ing saling pandang dan merasa ngeri.

Mereka tidak percaya akan adanya setan.

Telah belasan tahun mereka tinggal di Pegunungan Go-bi-san, telah belasan tahun mereka mengenal hutan-hutan lebat namun belum pernah mereka bertemu setan.

Mereka sebagai murid-murid orang pandai, tahu bahwa mereka kini berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

"Harap Locianpwe suka memperlihatkan diri kalau ada keperluan dengan kami berdua murid Subo Go-bi Sin-kouw!"

Kim In berkata dengan sikap hormat akan tetapi dengan suara berwibawa mengandalkan nama besar subonya.

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak lagi di belakang mereka.

Ketika mereka memutar tubuh mereka berdua menjadi bengong keheranan karena yang disebut locianpwe (orang tua gagah) oleh Kim In itu temyata adalah seorang laki-laki muda, berusia paling banyak dua puluh lima tahun, berwajah tampan, bertubuh tegap, dan pakaiannya mewah!

"Ha-ha-ha-ha, kukira tadi dua orang bidadari penunggu hutan yang berada di sini, kiranya dua orang wanita yang cantiknya melebihi bidadari.

Hemm, biarpun yang seorang menjadi nikouw, namun cantik juga."

Melihat pemuda itu, segera muka Hong Ing berubah dan dengan desis marah dia berkata.

"Engkau... Ouwyang Bouw!"

Pemuda itu memang Ouwyang Bouw.

Terkejut juga dia mendengar namanya disebut oleh nikouw muda itu, akan tetapi dia tersenyum dan berkata.

"Engkau sudah mengenal namaku, Nikouw muda? Bagus sekali. Aku memang Ouwyang Bouw."

Kim In sudah mencabut pedangnya, bahkan dia melemparkan pedang ke dua kepada sumoinya.

Mendengar bahwa pemuda ini yang pernah melukai sumoinya, apalagi bahwa pemuda ini adalah putera datuk sesat Ban-tok Coa-ong, dia sudah menjadi marah sekali walaupun diam-diam dia kagum bukan main menyaksikan kepandaian pemuda ini yang dapat muncul tanpa mereka ketahui.

"Kiranya anak datuk kaum sesat yang pernah melukaimu, Sumoi. Mari kita hajar dia!"

Sambil berkata demikian, tubuh Kim In sudah berkelebat ke depan dan dia sudah menyerang dengan pedangnya, mengirim tusukan kilat ke arah tenggorokan Ouwyang Bow.

Namun sambil terkekeh, dengan mudahnya Ouwyang Bouw mengelak dan memang pemuda ini memiliki gin-kang yang amat tinggi.

Ketika Hong Ing juga menerjang maju, pemuda itu masih enak-enak melayani kakak beradik sperguruan itu dengan mengandalkan kegesitannya, mengelak dan berloncatan ke sana-sini sambil tertawa-tawa.

"Eh, tahan dulu! Aku mau bicara!"

Tiba-tiba dia meloncat ke belakang sedemikian cepatnya sehingga dua orang dara itu mendadak kehilangan lawan, dan baru tahu setelah Ouwyang Bouw berdiri belasan meter jauhnya di depan mereka.

"Hemm, bicara apalagi?"

Bentak Kim In, dan dia melintangkan pedangnya di depan dada, sikapnya gagah sekali.

"Aku baru datang, tidak merasa mengganggu kalian, mengapa kalian memusuhiku?"

"Tidak mengganggu, ya?"

Hong Ing menudingkan telunjuknya ke arah muka pemuda itu.

"Lupakah kau ketika bersama ayahmu kau datang ke Kuil Kwan-im-bio, membunuh Biauw Kui Nikouw ke kuil, kemudian secara menggelap menyerangku dengan jarum merah beracun?"

Berkerut alis Ouwyang Bouw dan matanya yang liar itu sejenak menghentiken gerakannya, seolah-olah dia mengingat-ingat.

Kemudian dia mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata.

"Aihh, kiranya engkaukah itu? Aku tidak tahu, kalau aku tahu bahwa dia itu engkau yang cantik ini, tentu aku tidak akan menyerangmu dengan jarum! Wah, kau lihai juga dapat menyelamatkan diri dari jarumku. Dengar, jangan menyerang dulu. Kalian takkan menang. Dengar dulu kata-kataku. Aku sekarang hidup sebatang kara. Teringat aku betapa Ayah dahulu seringkali membujukku untuk memilih seorang gadis yang baik dan menikah. Tadi aku melihatmu, Nona, dan mendengar engkau menaruh dendam kepada Thian-ong Lo-mo."

Dia memandang Kim In dengan sinar mata kagum.

"Ha-ha, tua bangka itu hampir saja mampus di Telaga Kwi-ouw, tapi kakek licin itu masih berhasil menyelamatkan diri dari kepungan pasukan pemerintah dan sekarang bersembunyi. Hanya aku yang tahu tempatnya. Nona, begitu melihatmu, aku tertarik sekali kepadamu. Kau gagah dan cantik, terbayang kekerasan hati di balik kelembutan dan kehalusan kulitmu. Hebat! Aku sudah jatuh cinta kepadamu, Nona, dan aku tahu, hanya engkaulah yang pantas menjadi isteriku!"

"Tutup mulutmu, keparat!"

Kim In sudah menerjang dengan dahsyat, dan sumoinya juga cepat membantu sucinya mengeroyok pemuda yang lancang mulut dan kurang ajar itu.

"Trang-cringgg...!"

Dua orang dara itu meloncat mundur ke belakang dengan kaget ketika merasa betapa telapak tangan mereka panas setelah pedang mereka tertangkis oleh sebatang pedang yang bentuknya seperti ular.

"Ha-ha-ha, percuma saja kalian melawan. Biar subo kalian takkan menang bertanding melawanku!"

Ouwyang Bouw mengejek.

Kim In yang sudah marah sekali, kembali menerjang dibantu oleh Hong Ing.

Terjadi pertandingan yang hebat, namun Ouwyang Bouw hanya menggunakan pedangnya untuk melindungi tubuh, sama sekali tidak membalas.

Bahkan dia masih dapat bicara seenaknya.

"Nona, sampai mati kau takkan mampu melawan Thian-ong Lo-mo. Jadilah isteriku dan aku akan menyeret tua bangka itu ke depan kakimu!"

"Keparat!"

Kim In berteriak lagi dengan marah dan menggunakan jurusnya yang paling ampuh untuk menyerang lawan yang tangguh ini.

Juga Hong Ing menjadi marah dan membantu sucinya, menyerang sekuat tenaga.

"Cring! Cringgg... aughhh...!"

Dua orang dara itu roboh tak dapat bergerak lagi karena telah terkena totokan jari tangan kiri Ouwyang Bouw yang lihai bukan main itu.

Dua orang dara itu memandang dengan mata melotot, setengah ngeri ketika Omyang Bouw berlutut di dekat mereka sambil tertawa-tawa.

Dengan tangan kirinya, Ouwyang Bouw mengelus dagu Kim In, memandang penuh kagum dan dia berkata.

"Bagaimana, Nona? Apakah kurang lihai dan kurang berharga aku untuk menjadi suamimu? Maukah kau menjadi isteriku, isteri tercinta dan aku bersumpah untuk menjadi seorang suami yang setia, yang baik, yang akan menuruti segala kehendakmu, manis?"

"Tidak sudi!"

Kim In yang memang sudah merasa sakit hati terhadap pria setelah tunangannya menyeleweng itu, membentak.

Dia dapat bicara akan tetapi tidak mampu menggerakkan kaki tangannya lagi.

"Hemm, begitukah? Aku jatuh cinta padamu, tidak seperti kepada wanita lain. Aku tidak suka memaksamu, tidak tega memperkosamu. Akan tetapi kalau kau tidak menerima lamaranku secara baik-baik, apa boleh buat! Kalau kau berkeras tidak mau, akan kubunuh sumoimu ini, aku ngeri untuk memperkosa seorang nikouw, takut kelak di neraka mengalami hukuman yang terlampau berat! Setelah membunuh sumoimu, aku akan memperkosamu, walaupun dengan hati terluka, dan hendak kulihat apakah kau akan terus berkeras hati menolakku."

Setelah berkata demikian, Ouwyang Bouw menghampiri Hong Ing.

Dara ini sama sekali tidak takut menghadapi kematian, namun mati secara konyol demikian sungguh mengerikan dan membuat dia penasaran.

Kalau dia mati dalam pertandingan, hal itu bukan apa-apa.

Akan tetapi untuk mati dalam keadaan tertotok seperti itu, benar-benar mengerikan juga, maka dia memandang pemuda yang menghampirinya itu dengan mata terbelalak dan muka pucat.

"Ha-ha-ha, kau dulu dapat menyelamatkan diri dari jarum-jarumku, bukan? Mungkin hanya mengenai bagian yang tidak berbahaya. Sekarang hendak kulihat, apakah goresan jarum-jarumku di dadamu akan dapat kaupertahankan. Ha-ha-ha-ha!"

Sambil tertawa-tawa, Ouwyang Bouw mengeluarkan dua batang jarum kecil merah.

Jari tangan kirinya bergerak cepat dan...

jubah pendeta yang menutupi dada Hong Ing telah terbuka, memperlihatkan pakaian dalamnya berikut belahan dadanya yang membusung keluar.

Ketika pemuda itu sudah mengangkat jarum ke atas hendak diguratkan pada kulit dada yang membusung dart halus itu, tiba-tiba Kim In menjerit.

"Tahan dulu!"

"Ha-ha-ha, kau kasihan kepada sumoimu, Manis? Baik benar hatimu, dan aku menjadi makin cinta kepadamu."

Kim In mengerutkan alisnya dan memutar otaknya yang sejak tadi sudah menimbang-nimbang.

Jelas bahwa pemuda ini amat lihai, mungkin tidak kalah oleh subonya dan tidak kalah oleh Thian-ong Lo-mo!

Keadean dia dan sumoinya sudah tidak berdaya sama sekali.

Sumoinya tentu akan tewas dalam keadaan tersiksa dan mengerikan, dan bagaimana dia akan dapat menghindarkan dirinya dari perkosaan dan penghinaan?

Hanya ada satu jalan, yaitu menerima lamaran pemuda itu yang betapapun juga merupekan seorang pemuda yang tampan, tegap dan gagah.

"Aku mau menerima pinanganmu, akan tetapi dengan tiga syarat!"

Katanya.

Sekali meloncat, Ouwyang Bouw sudah menghampiri Kim-In, tangannya bergerak dan dara itu telah terbebas dari totokan.

Kim In bangkit berdiri, dibantu oleh Ouwyang Bouw dengan gerakan lemah lembut dan mesra, kelihatannya gembira bukan main mendengar kesanggupan Kim In.

"Apakah syaratnya, Manis!"

"Pertama, kau harus membebaskan sumoi."

"Suci! Jangan korbankan diri untukku!"

Hong Ing berseru ngeri.

"Tidak, Sumoi. Hanya inilah jalan terbaik, untukmu dan juga untukku. Kau bebas dan asal kau menjadi nikouw dan bersembunyi di dalam bio yang terasing, kiranya Subo takkan dapat menemukanmu,"

Kata Kim In sambil menarik napas panjang.

"Dan... kau...?"

Hong Ing berbisik dengan mata terbelalak.

"Aku...? Tak perlu kau memikirkan aku. Aku akan menjadi isterinya dan aku akan membalas dendam kepada musuh-musuhku."

"Apa syaratnya yang ke dua dan ke tiga? Syarat pertama tentu saja kulaksanakan sekarang juga!"

Ouwyang Bouw yang kegirangan itu sudah meloncat ke dekat Hong Ing dan berkata.

"Adikku yang baik, sumoiku. Maafkan cihumu (kakak iparmu), ya?"

Dia membebaskan totokan Hong Ing dan dengan sopan menutupkan kembali jubah Hong Ing yang terbuka!

Hong Ing bangkit berdiri, menalikan lagi ikat pinggangnya dan memandang sucinya dengan muka pucat.

Benarkah sucinya hendak mengorbankan diri seperti itu, menjadi isteri pemuda gila putera datuk sesat itu?

"Syarat ke dua, mulai saat ini engkau harus tunduk kepada semua keinginanku."

"Baik, baik, tentu aku akan tunduk kepada keinginan isteriku yang tercinta."

"Dan syarat ke tiga, engkau harus menurunkan seluruh kepandaianmu kepadaku."

"Ha-ha-ha, isteriku yang manis. Tentu saja! Aku menerima semua syarat itu!"

"Bersumpahlah!"

Ouwyang Bouw lalu berlutut dan bersumpah.

"Disaksikan Langit dan Bumi, aku Ouwyang Bouw bersumpah untuk memenuhi semua keinginan isteriku yang bernama... eh, siapa namamu?"

Mau tak mau Kim In merasa geli hatinya sedangkan Hong Ing memandang ngeri.

"Namaku Lauw Kim In,"

"Wah, namanya seindah orangnya!"

"Teruskan sumpahmu."

"O ya... aku bersumpah untuk memenuhi semua keinginan isteriku yang bernama Lauw Kim In dan mengajarkan semua ilmuku kepadanya. Kalau aku melanggar sumpah, biar aku tidak akan lama menjadi suaminya!"

Dia meloncat bangun dan langsung merangkul dan mencium pipi Kim In!

Gadis ini menjadi merah sekali mukanya, berpaling kepada sumoinya dan berkata.

"Nah, Sumoi. Kau pergilah, dan semoga kau berbahagia dengan... Kun Liong..."

Dia mengusap air matanya dan berkata kepada Owyang Bouw.

"Mari kita pergi!"

"Isteriku yang tercinta!"

Owyang Bouw bersorak, lagsung memondong tubuh Kim In, berjingkrak seperti anak kecil.

"Isteri yang manis, Kim In... Moi-moi..., mari kita berbulan madu di puncak gunung... di tepi telaga... ha-ha-ha...!"

Cepat seperti terbang pemuda yang memondong tubuh Kim In itu lari dan lenyap dari depan Hong Ing yang masih bengong dengan air mata mengalir turun membasahi kedua pipinya.

Peristiwa itu seperti mimpi saja bagi Hong Ing.

Sungguh merupakan hal yang sama sekali tidak terduga-duga.

Begitu saja pemuda itu datang, dan begitu saja terjadi perubahan hebat dalam hidup Kim In dan dia sendiri!

Dalam beberapa menit saja keadaen hidup mereka telah berubah sama sekali, dan sedikit pun hal itu tidak pernah mereka sangka.

Betapa anehnya hidup!

Begitu saja kini sucinya menjadi isteri Ouwyang Bouw, dan dia yang sudah putus asa kini bebas sama sekali!

Dengan jantung berdebar-debar Hong Ing menjatuhkan diri duduk di atas rumput.

Dia memikirkan keadaan sucinya.

Mengapa sucinya demikian mudahnya menerima pinangan Ouwyang Bouw, pemuda yang biarpun tampan dan lihai sekali namun seperti berotak miring itu?

Dia mengenangkan lagi apa yang baru saja terjadi, dan dia merasa terharu setelah dia mengerti akan keputusan yang diambil sucinya.

Sucinya adalah seorang yang telah patah dan hancur hatinya, patah oleh penyelewengan tunangan yang dicintanya, kemudian hancur oleh kematiannya.

Hatinya dirundung dendam terhadap Thian-ong Lo-mo yang sukar untuk dibalas dan dia selalu menantikan kesempatan untuk membalasnya.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 12

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert