Eps 10 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.
Kemudian terjadi peristiwa pertemuan dengan Ouwyang Bouw itu.
Agaknya dalam waktu singkat, sucinya telah dapat mempertimbangkan dan mengambil keputusan yang bulat.
Kalau dia menolak, tentu Ouwyang Bouw akan membunuh Hong Ing dan kemudian akan memperkosanya, mungkin kemudian membunuhnya pula.
Dan selain bahaya ini, juga sucinya menghadapi keadaan yang amat tidak enak dengan memaksa Hong Ing kembali menghadapi subo mereka.
Kalau dia menerima, tidak saja Hong Ing akan terbebas, juga dia mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam kepada Thian-ong Lo-mo dan memperoleh ilmu-ilmu yang hebat!
Keuntungannya jauh lebih besar kalau dia menerima dan kerugiannya amat hebat kalau dia menolak.
Itulah sebabnya!
Hong In menarik napas panjang.
"Terima kasih atas pengorbananmu, Suci... semoga engkau berbahagia..."
Dan sambil menghapus air matanya, nikouw muda ini meninggalkan hutan, meninggalkan kaki Pegunungan Go-bi-san, menjauhkan diri dari tempat tinggal subonya di sebuah di antara puncak-puncak Pegunungan Go-bi-san.
Akan tetapi karena pikirannya masih terpengaruh oleh peristiwa tadi dan dia merasa berduka mengenangkan nasib sucinya, Hong Ing salah jalan.
Benar dia menjauhi puncak tempat tinggal subonya, akan tetapi dia memasuki daerah lain dari Pegunungan Go-bi-san yang tak dikenalnya, daerah selatan yang penuh dengan hutan besar dan kabarnya merupakan daerah yang sukar dan amat berbahaya sehingga subonya sendiri seringkali mengatakan agar kedua orang muridnya itu jangan memasuki daerah ini.
Hong Ing sadar bahwa dia salah jalan setelah malam tiba dan dia terseret dalam sebuah hutan yang amat lebat.
Karena tidak mungkin mencari jalan keluar dalam cuaca gelap itu, terpaksa Hong Ing bermalam di hutan itu setelah mendapatkan sebuah guha yang cukup besar.
Dia membuat api unggun dan dapat pulas sejenak, cukup untuk menghilangkan lelahnya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hong Ing sudah keluar dari guha dengan niat mencari buah yang dapat dimakan.
Perutnya terasa lapar sekali.
Setelah makan, baru dia akan mencari jalan keluar dari hutan itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara berkeredepan disusul berkelebatnya bayangan banyak orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri tiga belas orang wanita muda yang cantik-cantik mengurungnya!
Melihat sikap mereka yang galak dan seperti arca hidup itu, Hong Ing terheran dan teringat bahwa dia adalah seorang nikouw, maka cepat dia merangkap kedua telapak tangannya dan berkata.
"Omitohud, Cuwi (Anda Sekalian) mau apakah mengurung pinni (aku) yang sedang mencari buah untuk menghilangkan rasa lapar?"
Seorang di antara mereka melangkah maju.
Mereka itu adalah gadis-gadis berusia antara lima belas sampai dua puluh lima tahun, ada yang membawa pedang, golok atau tombak, sikap mereka membuktikan bahwa mereka itu rata-rata pandai limu silat akan tetapi ada sesuatu yang aneh pada pandang mata mereka yang seperti pandang mata sebuah boneka!
"Nikouw (Nona pendeta) siapakah dan tidak tahukah bahwa engkau telah melanggar wilayah kami tanpa ijin?"
Tanya wanita yang melangkah maju.
Seperti semua temannya, pakaiannya indah akan tetapi berwarna kuning semua, dan rambutnya digelung dua di kanan kiri dan dibungkus sutera merah merupakan sepasang bunga mawar.
"Pinni adalah Pek Nikouw dan maafkan kalau pinni melanggar wilayah Cuwi karena sesungguhnya pinni tidah sengaja."
Wanita yeng memimpin pasukan aneh ini bermain mata dengan teman-temannya, kemudian berkata.
"Kalau engkau bukan seorang nikouw, tentu sudah kami tangkap dan kami seret ke depan Siocia. Akan tetapi, karena engkau seorang nikouw, maka kami harap Sukouw suka ikut bersama kami menghadap Siocia (Nona) agar Siocia sendiri yang memutuskan."
Hong Ing adalah seorang dara perkasa, yang tentu saja memiliki keberanian besar dan memiliki watak tidak mau dihina atau ditundukkan orang begitu saja.
Biarpun dia berpakalan nikouw dan kepalanya gundul, akan tetapi dia menjadi nikouw karena terpaksa, maka wataknya sebagai seorang, dara perkasa masih tetap ada.
Dia mengerutkan alisnya dan berdiri dengan tegak, memandang mereka dan berkata.
"Aturan apakah ini? Andaikata benar ini wilayah kalian, mana tanda-tandanya? Dan aku masuk kesini bukan sengaja, mengapa hendak ditangkap? Kalau aku tidak mau ditangkap, kalian mau apa?"
Mendengar ini, tiga belas orang gadis itu berseru marah dan pemimpin mereka segera membentak.
"Tangkap dia!"
Dua orang menubruk, akan tetapi dengan mudah Hong Ing mengelak sambil menggerakkan kaki tangannya menendang dan memukul.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika melihat bahwa dua orang itu dapat pula mengelak dan menangkis serangan balasannya dan mulailah dia dikeroyok!
Dengan marah Hong Ing mencabut pedang pemberian sucinya dan membentak.
"Mundur semua, kalau tidak ingin mati di ujung pedangku!"
"Phuihh, perempuan sombong!"
Bentak mereka dan tiga belas orang wanita itu menggunakan senjata masing-masing untuk mengeroyok Hong Ing.
Hong Ing cepat memutar pedangnya dan diam-diam dia terkejut karena ternyata olehnya bahwa biarpm kepandaiannya masih lebih tinggi dibandingkan dengan mereka ini, namun sebagai anak buah, tingkat mereka itu sudah hebat dan jumlah mereka yang banyak membuat dia repot juga.
Apalagi karena senjata yang mereka pergunakan ada tiga macam, ada yang menggunakan pedang, ada yang mainkan golok dan ada pula yang bersenjata tombak gagang panjangdan mereka semua adalah ahil-ahli dalam mainkan senjata mereka.
Dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan mainkan jurus-jurus yang terpilih dari ilmu pedangnya agar dapat melindungi diri dengan baik dan balas menyerang.
Akan tetapi, setelah lewat seratus jurus lebih, dia hanya baru dapat melukai pundak dua orang pengeroyok dan ini bukan berarti dia menjadi ringan karena dua orang itu biarpun sudah terluka, masih terus ikut mengeroyoknya!
Mulailah Hong Ing merasa khawatir dan menyesal mengapa dia tidak menyerah saja tadi.
Kalau sekarang, dia pantang menyerah sebelum kalah karena sudah terlanjur bertanding.
Siapa tahu, mereka itu biarpun aneh bukanlah golongan jahat dan orang yang mereka sebut siocia itu kiranya seorang wanita sakti yang baik-baik!
Dengan demikian, dialah yang kelihatan buruk, sebagai seorang melanggar "wilayah"
Yang melawan dengan kekerasan ketika ditegur dan hendak dihadapkan kepada yang berkuasa di daerah itu!
"Hi-hi-hi, bodoh kalian, mengeroyok seekor anjing gundul saja tidak mampu mengalahkannya.
Mundurlah!"
Seruan ini disusul berkelebatnya bayangan merah dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis berpakaian merah yang lebih cantik daripada tiga belas orang tadi, seorang gadis berusia dua puluhan tahun yang memegang sebatang golok yang berkilauan saking tajamnya.
Tiga belas orang yang mengeroyok Hong Ing tadi sudah mundur semua dan membentuk lingkaran lebar, berdiri sambil menonton.
Hong Ing memandang dara baju merah itu penuh perhatian, kemudian merangkapkan kedua tangan sambil berkata.
"Omitohud... agaknya Nona yang disebut Siocia oleh mereka tadi."
Gadis itu tertawa terkekeh dan kagetlah hati Hong Ing melihat betapa gigi yang bentuknya bagus berderet rapi itu semua berwarna hitam, hitam mengkilap!
Betapa sayang, pikirnya, gadis secantik itu giginya hitam semua.
Dia tidak tahu bahwa warna giginya itulah yang menjadi kebanggaan gadis itu.
"Hi-hi-hik, bukan, Sukouw. Aku hanyalah Amoi, pelayan ke due dari Siocia. Pelayan pertama adalah Cici Acui. Mengapa engkau berkelahi dengan pasukan peronda kami?"
Hanya pasukan peronda!
Dan hanya tiga belas orang dan dia tidak mampu menangkan mereka!
Benar-benar hal ini membuat Hong Ing penasaran sekali.
Dia sudah kepalang melawan, kalau sekarang berhadapan hanya dengan seorang pelayan saja dia bersikap mengalah, benar-benar amat memalukan.
Lain lagi kalau umpamanya yang datang adalah Si Suocia yang menjadi kuasa daerah itu, kiranya lebih baik dia mengalah karena tentu Siocia itu lihai bukan main melihat betapa pasukan perondanya saja sudah begitu lihai.
"Aku hendak ditangkap, tentu saja aku tidak mau karena tidak merasa bersalah."
Jawabnya.
"Hi-hi-hik, ada nikouw bersikap kasar dan suka mainkan pedang. Sungguh lucu! Siocia tentu akan suka melihatmu. Sukouw, siapa pun yang lewat di sini tanpa ijin harus ditangkap, maka tidak ada kecualinya, biarpun engkau seorang nikouw muda berkepala gundul, tetap saja harus menghadap Siocia."
"Aku tidak mau, kecuali kalau Siocia kalian itu datang sendiri ke sini, jika hendak bicara dengan pinni,"
Kata Hong Ing dengan sikap angkuh.
"Bagus, ingin kulihat sampai di mana sih kepandaianmu! Sambut golokku ini!"
Wanita baju merah itu sudah menerjang dengan goloknya.
Gerakannya cepat dan mantap, maka Hong Ing tidak berani memandang rendah, cepat dia melangkah mundur sambil menangkis dengan pedangnya.
"Cringgg!!"
Bunga api berpijar dan keduanya terpental mundur, membuat Hong Ing makin terkejut karena ternyata tenaga sin-kang yang dikerahkannya tadi hanya seimbang saja dengan lawannya.
"Hi-hik, bagus sekali! Tenagamu lumayan! Mari kita main-main sebentar!"
Gadis baju merah itu menyerang lagi setelah tertawa-tawa dan Hong Ing kini cepat mainkan ilmu pedangnya, memutar pedangnya secepat kitiran, menjaga diri sambil balas menyerang dengan dahsyat.
Karena dia maklum bahwa biarpun hanya seorang pelayan, kepandaian Amoi ini benar-benar hebat dan amatlah memalukan kalau dia sampai kalah oleh seorang pelayan saja!
Dia mainkan limu Pedang Pek-eng-kiam-hoat (Ilmu Pedang Garuda Putih) yang merupakan ilmu pedang kebanggaan subonya.
Benar saja, begitu dia mainkan ilmu pedang yang bersumber pada ilmu pedang Go-bi-pai ini, wanita baju merah menjadi kaget dan mengeluarkan seruan nyaring, kemudian goloknya dimainkan sedemikian rupa yang membuat Hong Ing terheran-heran dan kagum.
Ilmu golok itu amatlah aneh dan lucunya, kelihatannya kacau-balau akan tetapi justru kekacaubalauan gerakan ini yang membuat lawan menjadi bingung!
Di balik kekacauan ini terdapat gerakan inti yang amat kuat, membuat gadis itu dapat menangkis semua serangan pedang Hong Ing, bahkan membalas dengan tiba-tiba, tak terduga-duga dan tidak kalah dahsyatnya!
Semua ini dilakukan oleh gadis baju merah itu sambil terkekeh-kekeh genit!
Dengan penasaran sekali Hong Ing lalu mengeluarkan suara melengking nyaring, menerjang maju dan mainkan jurus yong paling berbahaya dari Pek-eng-kiam-hoat.
Pedang itu mula-mula menangkis golok lawan yang menyambar, lalu dari tenaga lawan yang dipinjamnya, pedangnya meluncur ke atas, berputaran dan berubah menjadi sinar bergulung-gulung, kemudian sinar ini meluncur ke bawah dengan gerakan masih membentuk lingkaran akan tetapi dari lingkaran itu menyambar sinar kilat ke arah dua tempat secara bertubi dan susul-menyusul sedemikian cepatnya sehingga hampir berbareng, yaitu ke arah ubun-ubun kepala lawan dengan tusukan yang disambung dengan babatan ke arah leher.
Inilah jurus yang dinamakan Pek-eng-to-coa (Garuda Putih Mematuk Ular), sebuah jurus pilihan yang amat sukar dihindarkan lawan saking cepatnya dua serangan susul-menyusul itu.
"Hi-hik... haiii...! Cringgg... trangg...!"
Gadis baju merah yang tadinya terkekeh itu menjerit kaget, cepat menggunakan goloknya menangkis dua kali, Namun karena agak terlambat, goloknya terlepas dari pegangannya dan pada saat itu juga, sambil terkekeh lagi gadis itu sudah menubruk maju hendak memeluk pinggang Hong Ing!
Hong Ing masih merasa betapa lengan kanannya tergetar ketika pedengnya ditangkis tadi, maka terkejut melihat lawan meraih pinggangnya.
Dia meloncat ke belakang dan menjerit karena ternyata bahwa gerakan gadis baju merah itu hanya merupakan tipuan belaka dan sebenarnya, pada saat itu gadis baju merah yang lihai ini sudah melakukan tendangan tersembunyi dari bawah yong tepat mengenai pergelangan tangan kanan Hong Ing yang memegang pedang.
Karena lengannya masih tergetar maka tendangan itu tepat sekali, membuat pedangnya juga terlepas dan terlempar!
"Hi-hi-hik, sekarang kita sama-sama, tidak bersenjata!"
Kata gadis beju merah yang mengaku bermma Amoi itu.
Hong ing menjadi marah dan penasaran sekali.
Masa dia harus kalah menghadapi seorang pelayan saja?
Dia memiliki ilmu silat tangan kosong yang lihai, maka tentu saja dia tidak gentar untuk bertanding dengan tangan kosong.
Sambil berseru marah dia menerjang maju.
"Bagus! Mari kita berlatih sebentar!"
Amoi berseru dan cepat mengelak ke belakang menghindarkcn diri dari tendangan Hong Ing, Kemudian tendangan berantai itu hendak digagalkannya dengan sambaran tangannya yang hampir saja berhasil menangkap sepatu kiri Hong Ing.
Dara ini terkejut, cepat menarik kembali kakinya dan pada saat itu Amoi sudah membalas menyerang dengan cengkeraman ke arah leher kanannya yang juga dapat dihindarkan dengan baik oleh Hong Ing.
Terjadilah pertandingan yang amat seru.
Keduanya sama gesit dan sama lincah sehingga setiap gerakan lawan kalau tidak dapat dielakkan tentu dapat ditangkis dengan baik.
Terdengarlah berkali-kali suara beradunya kedua lengan yang berkulit putih dan kelihatan halus lemah namun yang sebenarnya mengandung tenaga sin-kang kuat itu menyelingi suara gerakan mereka yang menimbulkan angin.
Tadinya kedua orang gadis itu mengandalkan kelincahan mereka untuk saling mengalahkan lawan, Akan tetapi setelah lewat lima puluh jurus, bukan main kagetnya hati Hong Ing, kaget dan terheran-heran melihat perubahan aneh dalam permainan silat gadis baju merah itu.
Lawannya kini mulai terkekeh-kekeh lagi dan ilmu silatnya amat luar biasa, kadang-kadang lawannya itu bergerak dengan halus dan lemah gemulai seperti bukan sedang bertanding melainkan sedang menari-nari bersamanya, akan tetapi tiba-tiba saja tarian indah itu berubah menjadi gerakan kaku dan buruk sekali seperti gerakan seekor monyet pincang!
Bahkan lebih aneh lagi, kadang-kadang Amoi menjatuhkan diri ke atas tanah, bergulingan sambil menangis, menjambak-jambak rambutnya sampai awut-awut, akan tetapi dalam keadaan seperti itu, selagi Hong Ing terbelalak kaget, dia mencelat ke atas dan menyerang dengan hebat!
"Aihhhh...!"
Hong Ing menjerit kaget dan untung masih dapat melempar tubuh ke belakang terhindar dari hantaman yang amat dahsyat ke arah dadanya.
Mulailah Hong Ing bersikap hati-hati.
Kini dia tahu bahwa ilmu silat aneh seperti gila itu bukan semata-mata ilmu yang dimainkan oleh seorang gila, melainkan ilmu silat yang terselubung sikap gila-gilaan yang bukan tidak ada gunanya, karena sikap gila-gilaan itu justeru untuk memancing lawan dan mengacaukan perhatian lawan!
Kini dia bersikap hati-hati sekali kalau Amoi menjambak-jambak rambutnya atau jatuh terduduk dan menangis seperti seorang anak kecil yang merengek minta makanan, tidak peduli lagi kalau Amoi membanting-banting kaki atau bahkan merangkak-rangkak seperti anak kecil belajar merangkak!
Dan memang dia benar karena di tengah-tengah gerakan aneh ini tiba-tiba sekali Amoi mencelat ke atas dan menyerangnya dengan dahsyat.
Karena dia tidak mempedulikan gerakan-gerakan aneh dari lawan, maka kini dia dapat menghadapi serangan mendadak itu dengan baik sehingga semua serangan Amoi dapat digagalkannya.
"Robohlah!"
Tiba-tiba Hong Ing membentak dan dia menerjang maju dengan tendangan berantai, tendangan yang hanya dilakukan untuk mengacaukan posisi lawan, dan selagi Amoi sibuk mengelak dan menangkis, Hong Ing melihat lowongan baik lalu "memasukinya", tangan kirinya dengan jari terbuka menampar ke arah leher kanan lawan.
"Hayaaaa...!"
Amoi menjerit dan berusaha mengelak, namun tetap saja pundaknya kena ditampar sehingga dia terpelanting dan jatuh miring.
Akan tetapi, sambil menangis tersedu-sedu dia sudah meloncat lagi ke atas dan kedua tangannya membentuk cakar.
Melihat ini, Hong Ing bersiap-siap karena maklum bahwa lawan hendak menggunakan ilmu silat semacam Eng-jiauw-kang atau Houw-jiauw-kang (Ilmu Silat Cakar Harimau) yang berbahaya.
Dia melihat Amoi menerjang maju, menggerakkan kedua tangannya untuk mencakar mukanya.
"Heiiii!"
Hong Ing berteriak kaget dan maju untuk mencegahnya.
Dia merasa kasihan kepada Amoi yang dikalahkannya dan menangis itu, sikap seperti seorang anak kecil saja dan kini Amoi agaknya merasa kesal dan jengkel, hendak mencakar muka sendiri.
Perhuatan ini tentu saja berbahaya, bisa merobek hidung atau mencokel mata sendiri!
"Hi-hik...!
Dukkk!"
"Kau curang...!"
Hong Ing berteriak akan tetapi karena sambungan lututnya kena disentuh ujung sepatu Amoi, tentu saja dia jatuh berlutut dan pada saat itu terdengar suara bersiutan dan tahu-tahu tali-tali hitam telah menyambar dan membelenggu tubuhnya.
Kiranya belasan orang gadis lain telah menggunakan tali hitam yang berbentuk lasso dan melempar lasso itu dengan baik sekali sehingga semua lemparan tepat mengenai dirinya.
Lingkaran-lingkaran lasso itu semua tepat menelikung tubuhnya.
Dia kaget sekali akan tetapi diam-diam tersenyum mengejek ketika merasakan dengan lengannya betapa tali-tali itu tidaklah kuat.
Dia akan menanti sampai rasa kesemutan di lututnya lenyap, baru akan memutuskan semua tali yang mengikatnya.
Dengan pura-pura tak berdaya Hong Ing masih berlutut, ditertawakan oleh semua gadig itu.
Kemudian, setelah lututnya tidak kesemutan, dia bangkit berdiri dengan tubuh terbelenggu seperti seekor domba hendak disembelih dan memandang kepada Amoi dan tiga belas orang gadis yang tertawa dengan mulut terbuka lebar, bebas lepas ketawa mereka, seperti segerombolan laki-laki kasar saja.
Hemmm, tunggu saja kalian, pikir Hong Ing dengan gemas.
Diam-diam dia mengerahkan sin-kangnya dan tiba-tiba dia menggerakkan kaki tangannya sambil menjerit dengan suara melengking nyaring "Haaaiiittt!"
"Hi-hi-hik!"
"Heh-heh-hi-hik!"
Belasan orang gadis itu cekikikan tertawa dan merahlah muka Hong Ing.
Beberapa kali dia mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya dan mencoba lagi, namun sia-sia saja dan akhirnya dia maklum, bahwa tidak akan mungkin baginya untuk membebaskan diri dari ikatan tali-tali yang ujungnya masih dipegangi oleh para gadis yang mengurungnya itu.
Betapa mungkin memutuskan tali yang sifatnya seperti karet, dapat mulur ketika dia mengerahkan sin-kang akan tetapi segera mengkeret dengan ketat lagi setelah itu?
Tenaga hanya dapat menghancurkan atau mematahkan benda keras, betapa mungkin dapat melawan benda lunak yang sifatnya mulur akan tetapi yang mempunyai keuletan luar biasa?
Seperti menerima komando tak bersuara, tiba-tiba tiga belas orang gadis itu menyendal ujung tali dan tubuh Hong Ing melayang ke atas!
Ketika tubuhnya yang sudah tak dapat bergerak itu meluncur turun, beberapa buah lengan menyambutnya dan sambil tertawa-tawa para gadis itu menggotong tubuh Hong Ing yang sudah ditelikung seperti ayam itu.
Hong Ing bergidik melihat wajah muda-muda dan cantik-cantik yang tertawa-tawa seperti siluman-siluman ini.
Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya di tangan orang-orang seperti ini.
Segala bisa terjadi dengan dirinya di tangan mereka.
Apakah dia akan dipanggang seperti seekor anak babi (babi guling?) sampai kulitnya menjadi kering kemerahan untuk kemudian mereka makan bersama arak wangi dan dagingnya dikerat-kerat dan dicocolkan kecap?
Hong Ing membelalakkan matanya penuh kengerian, apalagi ketika Amoi Si Gadis Baju Merah yang lihai itu di tengah perjalanan mengelus kepalanya yang gundul sambil tertawa dan berkata.
"Hi-hik, kepalanya gundul pelontos. Haluuuusss... hi-hi-hik!"
Hong Ing bergidik.
Celaka.
Mereka ini adalah orang-orang yang gila atau setidaknya adalah orang-orang yang sudah terasing dari dunia ramai sehingga menjadi seperti orang-orang biadab.
Tiba-tiba dia teringat.
Gila?
Subonya, Go-bi Sin-kouw, pernah menceritakan bahwa dahulu, dua tiga puluh tahun lalu, di Go-bi-san terdapat seorang nenek yang saktinya seperti siluman.
Kalau dia tidak salah ingat, julukan nenek yang disebut-sebut oleh gurunya itu adalah Go-bi Thai-houw (Ratu Pegunungan Go-bi-san).
Ketika Go-bi Thai-houw masih berada di daerah Pegunungan Go-bi, tidak ada tokoh lain yang berani tinggal di situ, bahkan gurunya sendiri dahulu tidak berani mendekati Go-bi-san.
Akan tetapi menurut gurunya, Go-bi Thai-houw dikabarkan sudan tewas di tangan Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang amat terkenal pula sebagai ketua Cin-ling-pai.
Jangan-jangan nenek sakti yang menurut gurunya adalah seorang gila itu belum mati dan yang menangkapnya ini anak buahnya!
Dia bergidik lagi.
Akan tetapi matanya terbelalak kaget ketika rombongan itu tiba di sebuah puncak yang dikelilingi hutan gelap, Karena dari tempat dia digotong tergantung dengan kepala di bawah itu dia melihat sebuah bangunan besar dan megah di tempat sunyi itu!
Pantas kalau dinamakan sebuah istana dan dugaannya makin tebal bahwa nenek siluman Go-bi Thai-houw agaknya benar-benar belum mati seperti yang diceritakan gurunya.
Dia digotong masuk, melalui lorong yang panjang dan dengan dinding yang terhias lukisan-lukisan indah dan kain sutra bergantungan di mana-mana.
Akhirnya, Amoi mengempit tubuh Hong Ing dan meninggalkan tiga belas orang anak buah yang agaknya tidak diperbolehkan memasuki sebuah ruangan besar di tengah rumah itu.
Amoi mengempitnya dengan ringan dan masuklah gadis berbaju merah itu ke dalam ruangan yang amat mewahnya.
Begitu masuk, hidung Hong Ing mencium bau dupa wangi yang dibakar orang di dalam raungan itu.
"Brukkk!"
Tubuhnya dilempar ke atas lantai yang terbuat dari batu marmer putih, begitu bersih sampai mengkilap.
Mata Hong Ing memandang ke sekeliling dangan menggerakkan lehernya.
Dia melihat Amoi berlari menghampiri seorang wanita gemuk yang duduk setengah rebah setengah terlentang di atas kursi yang lebih patut disebut pembaringan saking lebarnya, kemudian Amoi berlutut dan mencium kaki yang tertutup sepatu kain sutera itu.
"Siocia..."
"Hemm, Amoi. Kau baru datang? Agaknya engkau membawa seorang tawanan."
Kata wanita gemuk itu.
Hampir saja Hong Ing tertawa.
Itukah yang menjadi nona majikan istana ini dan yang disebut Siocia?
Ataukah Si Gendut ini puteri dari Go-bi Thai?houw?
Dia memperhatikan wanita itu.
Usianya kurang lebih tiga puluh tahun.
Tubuhnya amat subur, gemuk dan sehat sehingga wajahnya menjadi seperti buah masak, kemerahan.
Perutnya yang gendut tak dapat disembunyikan di balik jubah yang indah dan mewah, demikian pula buah dadanya yang amat besar.
Wajahnya biasa saja, cantik tidak akan tetapi juga tidak terlalu buruk, bahkan kulit mukanya putih bersih dan halus.
Ketika tertawa, mulutnya yang lebar terbuka memperlihatkan gigi besar-besar akan tetapi putih bersih dan ketika tertawa kepalanya agak diangkat sehingga tampak jelas gerakan lehernya dan dagunya yang bersusun empat!
Telinganya dihias anting-anting besar dan memang pantas dan sesuai dangan dirinya.
Wajahnya kelihatan ramah, tersenyum selalu akan tetapi dari matanya yang lebar itu keluar wibawa yang kuat.
Seorang gadis lain yang juga berpakaian merah seperti Amoi, yang lebih cantik malah dari Amoi dan lebih tinggi tubuhnya, segera menyusul pertanyaan Siocia itu.
"Moi-moi, siapakah tawanan itu? Kelihatannya seperti seorang nikouw?"
Amoi tersenyum dan duduk di dekat majikannya, bersanding dangan gadis yang menegurnya.
Hong Ing dapat menduga bahwa tentu gadis itu yang disebut oleh Amoi sebagai Acui.
"Siocia, dia adalah seorang nikouw yang bernama Pek Nikouw. Dia melanggar wilayah kita dan ketika hendak ditangkap, dia melawan. Ilmu kepandaiannya boleh juga, Siocia. Hampir saya kalah olehnya,"
Kata Amoi.
"Ahhh, begitukah? Sungguh kebetulan sekali kalau begitu! Nikouw muda bangunlah!"
Wanita gendut itu berkata dan suaranya ramah sekali, tangannya dangan telapak terbuka bergerak ke depan.
Angin pukulan yang dahsyat menyambar, mendorong sebuah tusuk sanggul emas yang menyambar seperti kilat, menembus putus tali pengikat tubuh Hong Ing dan seperti hidup, tusuk sanggul emas itu (Lanjut ke
Jilid 31) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 31 melayang kembali ke tangan wanita gendut itu yang mengenakannya kembali ke atas sanggulnya sambil tersenyum.
Menyaksikan kepandaian yang seperti sulapan Hong Ing menelan ludah.
Bukan main!
Maklumlah dia bahwa dia tidak akan mampu menandingi wanita gendut itu maka begitu dia meloloskan tali yang telah putus itu dari tubuhnya, dia lalu berdiri dan menjura dangan sikap penghormatan seorang pendeta, kedua tangannya dirangkap di depan dada.
"Harap maafkan pinni karena pinni telah tanpa sengaja melanggar wilayah Siocia,"
Katanya.
"Tidak apa, Pek Nikouw. Engkau datang dari kuil apakah, Pek Nikouw?"
Tanya wanita gendut itu dengan suara ramah.
"Pinni datang dari kuil Kwan-im-bio."
"Aihhh... sungguh kebetulan sekali. Agaknya Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan In) sendiri yang mengutusmu untuk menolongku! Di sini aku telah mempunyai segala sesuatu dengan lengkap, kecuali satu, seorang yang berhati suci, seorang nikouw seperti engkau inilah. Apalagi kalau memiliki kepandaian yang baik, tidak akan memalukan istanaku. Hi-hi-hik! Lihat, setiap saat aku berdoa, setiap saat aku membakar dupa untuk menyenangkan para dewa, akan tetapi agaknya para dewa tidak berhasil menyampaikan doaku kepada Thian! Maka aku membutuhkan seorang nikouw untuk berdoa dan kebetulan engkau datang, dan engkau adalah murid Kwan Im Pouwsat, Dewi Welas Asih yang agaknya menaruh iba kepadaku. Pek Nikouw, demi Dewi Kwan Im yang welas asih, engkau tentu mau berdoa untukku, tentu mau menolongku agar Thian mengabulkan permintaanku, bukan?"
Diam-diam Hong Ing bergidik.
Wanita ini dengan begitu saja menyebut-nyebut nama segala dewa.
Kwan Im Pouwsat, bahkan Thian, seolah-olah semua itu diadakan hanya untuk memenuhi kebutuhan dan keperluan wanita gendut ini!
Biarpun kata-katanya terdangar ramah dan lembut, namun di balik itu terdapat sesuatu yang tidak normal dan membuat Hong Ing menduga bahwa juga Siocia ini tidak bisa dibilang waras otaknya!
"Siocia, sebagai seorang nikouw, tentu saja pinni bertugas untuk berdoa bagi kesejahteraan manusia dan sedapat mungkin menolong manusia terhindar dari kesengsaraan.
Doa apakah yang harus pinni lakukan untuk Siocia?"
"Ada dua hal yang bertahun-tahun mengganggu hatiku, Pek Nikouw, dan setiap hari aku berdoa kepada Thian agar mengabulkan permohonanku ini, pertama-tama adalah agar aku dapat menemukan jodohku..."
Suara wanita gendut itu menjadi gemetar oleh keharuan sehingga diam-diam Hong Ing harus menahan geli hatinya mendengar ini.
Wanita gendut itu berhenti bicara dan menggunakan lengan bajunya yang lebar untuk mengusap air matanya!
Kemudian dia melanjutkan.
"Adapun hal yang ke dua adalah agar supaya aku dapat segera membalas dandam kepada musuh besarku."
"Maaf , Siocia. Untuk berdoa, pinni harus mengetahui siapakah musuh besar Siocia, dan mengapa orang itu menjadi musuh besarmu."
Kata Hong Ing memancing karena dia ingin sekali mendangar riwayat wanita aneh ini.
"Siapa lagi kalau bukan Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai! Dia telah membunuh majikanku. Kematian Go-bi Thai-houw harus dibalas dan siapa lagi kalau bukan aku sebagai ahli warisnya yang dapat membalaskan kematiannya?"
Diam-diam Hong Ing terkejut sekali.
Tak salah dugaamya, atau setidaknya tidak meleset terlalu jauh.
Wanita ini, tempat ini, pasukan wanita gila itu, ada hubungannya dengan Go-bi Thai-hou seperti yang diberitakan subonya.
Pantas saja mereka begitu lihai.
Kiranya wanita ini adalah keturunan nenek iblis itu.
"Namaku Kim Seng Siocia (Nona Bintang Emas),"
Wanita gendut itu menerangkan.
"dahulu ketika Thai-houw masih hidup, aku adalah seorang pelayannya yang paling kecil. Aku baru berusia delapan tahun. Akan tetapi sebelum beliau pergi, beliau meninggalkan semua pusaka dan kitab-kitabnya kepadaku, maka akulah yang berhak mewarisi semua peninggalannya, termasuk ilmu kepandaiannya dan juga istananya ini yang sudah kuubah menurut seleraku. Nah, kau sudah mendengar, Pek Nikouw, sekarang kau harus tinggal di sini untuk berdoa sampai terkabul kedua permintaanku itu. Aku harus menemukan jodohku, seorang laki-laki yang memiliki ilmu kepandaian tinggi agar dapat membantuku membunuh Cia Keng Hong. Kalau kau menolak, kau akan kubunuh dan kalau kau menerima, kau akan menjadi tamu kehormatan kami, dan hidup terhormat dan mulia di istana ini."
Hong Ing tidak dapat menjawab, mukanya agak berubah.
Bagaimana mungkin dia berani menolak?
Sekali menolak dan wanita itu turun tangan, tentu dia akan tewas.
Akan tetapi bagaimana pula dia dapat menerima diharuskan tinggal di tempat ini bercampur dengan orang-orang yang miring otaknya?
"Baiklah, Siocia.
Pinni akan berdoa untukmu don tinggal sementara di sini.
Semoga saja segera terkabul permohonanmu itu."
Wanita itu tertawa dan mukanya berseri gembira.
"Yahuuuu...! Sediakan hidangan yang paling lezat untuk Pek Nikouw!"
Hong Ing memang bukan seorang nikouw tulen, maka tentu saja dia tidak keberatan makan daging dan minum arak yang disuguhkan.
Sambil makan minum, Kim Seng Siocia lalu memerintahkan anak buahnya menabuh musik dan menari-nari.
Hong Ing makin mengenal keadaan di situ dan tahulah dia bahwa Kim Seng Siocia memang merupakan seorang "ratu"
Di tempat ini, dangan anak buahnya yang berjumlah lima puluh orang lebih, rata-rata pandai ilmu silat seperti pasukan yang menawannya.
Adapun dua orang pembantunya yang paling dipercaya dan yang paling lihai pula adalah Acui dan Amoi itulah, yang bukan hanya merupakan pelayan pribadinya, akan tetapi juga wakil-wakilnya dan murid-muridnya!
Benar saja seperti yang dijanjikan Kim Seng Siocia, Hong Ing diperlakukan dangan penuh hormat oleh semua orang, mendapatkan sebuah kamar yang bersih dan indah di dalam istana, diberi pakaian pendeta yang serba indah dan makanan yang lezat.
Pekerjaan Hong Ing sehari-hari hanyalah membaca Jiam-keng (doa) dan tentu saja doa yang keluar dari hatinya bukanlah untuk Si Gendut itu, melainkan dia berdoa untuk keselamatan sucinya, Lauw Kim In yang mengorbankan dirinya menjadi isteri pemuda iblis Ouwyang Bouw, kemudian doa untuk keselamatan dirinya sendiri agar dia dapat segera membebaskan diri dari tempat yang mengerikan ini, dan kadang-kadang kalau dia terbayang wajah Kun Liong yang sukar untuk dapat dilupakannya itu, dia berdoa agar mendapat kesempatan lagi bertemu dangan pemuda gundul itu!
Sedikit pun tidak ada doa di dalam hatinya untuk permintaan Kim Seng Siocia!
Setelah tinggal sebagai tamu terhormat, atau lebih tepat tahanan terhormat di istana itu belasan hari lamanya, Hong Ing mendapat kenyataan bahwa Kim Seng Siocia benar-benar merupakan seorang wanita aneh yang memiliki banyak ilmu kepandaian tinggi.
Bukan hanya memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa, juga wanita ini memiliki kekebalan dan pandai mainkan segala macam senjata, termasuk ahli pula dalam hal menggunakan anak panah.
Dia pernah dibuat kagum bukan main ketika pada suatu sore nona gendut itu mendemonstrasikan kepandaiannya memanah burung.
Sekelompok burung sedang terbang di udara, tinggi sekali sampai hanya kelihatan sebagai titik-titik hitam kecil.
Burung-burung itu sedang terbang berkelompok kembali ke sarang mereka arah selatan.
"Aku ingin makan panggang burung dada hijau!"
Kata nona gendut itu dan Amoi segera memberikan gendewa dan tempat anak panah yang terisi belasan batang anak panah.
Biarpun tubuhnya gendut, ternyata Kim Seng Siocia dapat bergerak cepat sekali, tahu-tahu gendewa telah dipentangnya dan berturut-turut dilepasaya tiga belas batang anak panah ke udara.
Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandang mata dan anak-anak panah itu meluncur beriringan seperti bersambung.
Tak lama kemudian, anak panah yang tiga belas batang jumlahnya berjatuhan dan..
setiap batang membawa dua ekor burung yang tertembus dadanya!
Hampir saja Hong Ing tak dapat percaya akan apa yang disaksikannya dan diam-diam dia merasa ngeri.
Demikian hebatnya ilmu memanah nona gendut ini!
Menyaksikan kelihaian Kim Seng Siocia, makin berhati-hatilah Hong Ing, tidak berani sembarangan melarikan diri karena dia maklum akan keanehan watak nona gendut itu yang tentu tidak akan segan-segan membunuhnya kalau dia melarikan diri dan tertangkap.
Maka dia harus menanti saat yang paling tepat dan baik, dan dia hanya akan melarikan diri kalau sudah yakin takkan tertangkap kembali.
Pula, kalau dia berdiam di tempat itu tentu tidak akan dapat dicari oleh subonya!
Andaikata subonya dapat mencarinya di tempat ini, agaknya subonya akan menghadapi lawan berat sekali dalam diri Kim Seng Siocia dan anak buahnya!
Lebih baik di sini daripada bersembunyi di dalam kuil, karena sesungguhnya dia pun tidak suka untuk menjadi nikouw.
Akan tetapi, karena dia berada di istana itu dalam tugasnya sebagai nikouw, terpaksa dia selalu membersihkan rambut dari kepalanya kalau ada rambut mulai tumbuh.
Dia tidak boleh memancing kecurigaan Kim Seng Siocia dan harus bersikap seperti seorang nikouw tulen yang saleh!
Pada suatu senja, dia melihat Acui dan Amoi berlari-larian dan mengumpulkan anak buahnya.
Karena tertarik dia keluar dari kamarnya dan bertanya kepada Amoi yang bersikap bersahabat dangannya.
"Amoi, apakah yang terjadi?"
Amoi tertawa terkekeh-kekeh.
"Hi-hi?hik, pesta besar, Sukouw. Banyak lalat jantan terjebak dalam sarang laba-laba, dan diantaranya adalah seekor lalat bule (putih) yang tentu menarik perhatian Siocia. Siocia menyuruh kami menangkap mereka hidup-hidup!"
Setelah berkata demikian, dua orang pelayan yang berpakaian merah itu berlari-lari diikuti anak buah mereka.
Hong Ing menjadi penasaran dan dia bertanya kepada serombongan pasukan yang agaknya hendak membantu pula.
"Apakah yang terjadi? Banyak lalat terjebak dalam sarang laba-laba? Apa artinya itu?"
Karena Kim Seng Siocia menganggap Hong Ing sebagai tamu agung maka sudah menjadi kebiasaan para anak buah di situ menghormati nikouw muda ini, maka seorang diantaranya menjawab singkat.
"Lalat berarti manusia dan lalat jantan adalah laki-laki. Hi-hik, mudah-mudahan aku mendapat bagian!"
"Cuihh, laki-laki!"
Kata wanita ke dua sambil membuang ludah, entah mengapa agaknya wanita ini pernah mengalami hal yang tidak enak yang ada hubungannya dangan pria sehingga dia membenci pria.
"Hayo kita berangkat!"
Kata orang ke tiga sambil menanya kepada Hong Ing.
"Apakah Sukouw hendak menonton?"
Hong Ing mengangguk dan dia ikut pula berlarian dengan rombongan itu memasuki hutan yang gelap.
Belum pernah dia masuk hutan ini dan ternyata rombongan ini membawanya ke sebuah daerah yang penuh dengan guha-guha di dalam hutan itu dan Acui serta Amoi bersama anak buahnya sudah pula berada di situ, menyalakan obor dan mereka bicara sambil tertawa-tawa dan menuding-nuding ke dalam guha-guha itu.
Hong Ing melangkah maju dan memandang.
Bukan main herannya ketika dia melihat enam orang laki-laki di dalam dua buah guha itu dan mereka ini benar-benar terjebak dalam sarang laba-laba!
Sarang laba-laba yang besar dan yang melekat di tubuh enam orang itu.
Betapa pun enam orang itu meronta-ronta, mereka tidak dapat melepaskan diri dari lekatan benang yang sebesar tali itu, benang sarang yang memiliki daya melekat dan membelit!
"Iihhh, apakah itu sarang laba-laba tulen?"
Tanya Hong Ing mendekati Acui.
"Lihat saja di sana, kami sudah membunuh laba-labanya,"
Dia menuding ke kiri dan hampir saja Hong Ing menjerit.
Benar saja, di situ terdapat dua bangkai binatang yang mengerikan sekali.
Jelas dua bangkai itu adalah tubuh binatang laba-laba hitam akan tetapi bentuknya luar biasa!
Sebesar kucing atau anjing kecil!
Pantas saja sarangnya demikian besar dan sangat kuat, sanggup menangkap manusia!
Akan tetapi dia segera tertarik ketika melihat seorang di antara enam pria itu.
Dia mengenal orang yang berkulit putih itu.
Itulah orang kulit putih yang bersama Tok-jiauw Lo-mo pernah menggunakan pasukan pemerintah menangkap Kun Liong dan menawan pemuda itu!
Kalau dia tidak salah ingat, Kun Liong pernah menyebutkan namanya, Marcus!
Ya, Marcus!
Marcus dan lima orang laki-laki lain yang sama sekali tidak berdaya itu segera ditangkap, dibelenggu kedua tangannya dan digiring keluar dari guha.
Marcus berkata-kata dalam bahasa asing, kelihatannya marah, dan seorang di antara lima anak buahnya itu berkata dengan penasaran.
"Kami ini mau dibawa ke mana? Kami tidak bersalah apa-apa terhadap kalian!"
Para gadis yang menggiring mereka itu tertawa-tawa saja, dan Amoi yang genit membentak.
"Hushhh, diamlah! Kalian berenam seharusnya berterima kasih kepada kami. Kalau kami tidak membunuh dua ekor laba-laba hitam raksasa itu, agaknya sekarang semua darah dan sumsum kalian telah disedot habis!"
Hong Ing menyelinap ke belakang ketika melihat Marcus.
Dia khawatir kalau pemuda asing itu mengenalnya.
Akan tetapi diam-diam dia mengikuti perkembangan dan ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Kim Seng Siocia dan anak buahnya terhadap enam orang tawanan itu.
Maka dia mendahului rombongan yang sambil tertawa-tawa menggiring enam orang laki-laki itu, berlari dan memasuki istana bertemu dangan Kim Seng Siocia, disambut oleh wanita gendut itu dangan senyum ramah.
"Ha-ha, aku mendengar ada enam orang pria menjadi tawanan. Hi-hik, Pek Nikouw, apakah ini hasil doamu? Mudah-mudahan saja jodohku berada di antara mereka."
"Omitohud, mudah-mudahan begitu, Siocia. Pinni telah melihat mereka dan harap Siocia yang menentukan sendiri. Akan telapi sebagai seorang pendeta, pinni tidak boleh berhadapan dengan kaum pria, maka pinni hanya akan menonton dari belakang tirai saja."
Kim Seng Siocia tertawa.
"Hi-hi-hik, kasihan sekali engkau. Masih begitu muda sudah harus menjauhkan diri dari pria. Tentu saja boleh, Pek Nikouw, dan kalau benar di antara mereka terdapat jodohku, berarti doamu manjur sekali dan aku tentu akan memberi hadiah besar kepadamu."
Sesuai dengan perintah nona gendut itu, enam orang tawanan itu dihadapkan seorang demi seorang.
Betapa kecewa hati Kim Seng Siocia melihat laki-laki yang usianya sudah empat puluh tahun lebih dan yang hanya terdiri dari orang-orang kasar.
Ketika dia menyuruh buka belenggu mereka seorang demi seorang dan memerintahkan Acui dan Amoi untuk menguji kepandaian mereka, tidak ada seorang pun di antara lima orang anak buah Marcus yang dapat bertahan melawan seorang di antara dua pelayan manis itu lebih dari sepuluh jurus!
Dengan hati kecewa dan juga penasaran, Kim Seng Siocia menghadiahkan lima orang itu kepada anak buahnya dan terdangarlah sorak-sorai dan tawa ketika lima orang itu diseret-seret dan dijadikan perebutan di luar istana.
Dari tempat sembunyinya di belakang tirai, Hong Ing hanya dapat mendangar lima orang itu berteriak-teriak di antara sorak-sorai itu dan dia bergidik.
Kemudian dia melihat Marcus dihadapkan nona gendut.
"Siapa namamu?"
Tanya Kim Seng Siocia.
"Marcus,"
Jawab pemuda asing itu dengan suara aneh karena memang dia belum begitu pandai berbahasa pribumi.
Kim Seng Siocia kelihatan tertarik dan dia menyuruh Amoi menguji kepandaian pemuda yang berkulit putih itu.
Amoi maju dan tersenyum genit.
"Apa kau pandai main silat?"
Tanya Amoi. Marcus mengangguk.
"Sedikit-sedikit aku sudah mempelajari ilmu silat ketika aku menjadi anak buah tuan Legaspi Selado yang berilmu tinggi. Akan tetapi di negeriku aku terkenal sebagai seorang ahli tinju."
"Tinju?"
Amoi bertanya heran dan tidak mengerti. Marcus mengepal kedua tangannya.
"Ahli menggunakan ini untuk merobohkan lawan."
"Aha! Ilmu silat bangsamu? Bagus, coba kaurobohkan aku dengan itu!"
Marcus menjerutkan alisnya dan menggeleng kepala.
"Tidak pernah aku merobohkan wanita dangan tinju!"
Dia tertawa.
"Biasanya aku merobohkan wanita dengan cinta!"
Acui, Amoi dan para penjaga di situ tertawa dan Kim Seng Siocia sudah bangkit berdiri dari kursinya, melangkah maju dan mengamat-amati Marcus dari kepala sampai ke kaki.
"Marcus, jadi engkau ini ahli mencinta wanita?"
Tanyanya.
Didekati oleh wanita gendut yang agaknya menjadi ketua gerombolan wanita itu, Marcus kelihatan gelisah.
Kalau disuruh merayu Acui atau Amoi, atau beberapa orang di antara para anak buah yang muda dan cantik, tentu saja dia akan merasa suka sekali.
Akan tetapi wanita ini sungguh berbeda dangan yang lain.
Tubuhnya tinggi besar dan sikapnya begitu penuh wibawa.
Dia tidek menjawab, hanya mengangguk.
"Heh-heh, kau menarik juga. Tentu saja aku tidak akan suka menjadi isteri orang asing yang berkulit putih bermata biru. Akan tetapi, kalau kau memenuhi seleraku, kalau kau menyenangkan dan mencocoki hatiku, kau akan menjadi selirku. Hi-hik!"
Marcus membelalakkan matanya.
"Apa? Selir? Selir bagaimana?"
Dia sudah pernah mendangar bahwa selir adalah seorang peliharaan, seorang isteri di luar pernikahan resmi.
Akan tetapi biasanya adalah wanita yang menjadi selir pria, dan sekarang wanita gundul ini hendak mengambilnya sebagai selir!
"Bodoh!"
Amoi berkata tertawa.
"menjadi selir berarti menjadi kekasih Siocia."
Marcus mengerutkan alisnya dan memandang wanita gendut itu.
Memang bukan seorang wanita tua dan wajahnya pun tidak terlalu buruk, hanya terlalu gendut.
Dia adalah seorang laki-laki, seorang petualang, mana mungkin dia tunduk saja dijadikan "selir"
Seorang wanita?
Biarpun wanita ini agaknya menjadi kepala di sini, namun menjadi selir amatlah rendah!
"Kalau aku menolak?"
Tantangnya.
"Bagaimana caramu untuk menolak?"
Kim Seng Siocia bertanya, matanya bersinar agak gembira, melihat bahwa pemuda asing ini lumayan juga, memiliki kejantanan.
"Dengan ini!"
Marcus memperlihatkan kepalan tinjunya yang besar.
"Biarpun aku tidak pernah menggunakan ini untuk menghadapi wanita, akan tetapi kalau aku dipaksa..."
"Heh-heh, bagus! Eh, Marcus, apakah kau lebih suka kuberikan kepada laba-laba?"
Marcus membelalakkan matanya yang biru.
"Laba-laba?"
Amoi tertawa.
"Hi-hik, laba-laba kecil yang banyak sekali lebih berbahaya dari laba-laba besar. Teman-temanmu yang lima orang kini sedang dikeroyok banyak laba-laba kecil!"
Marcus mendengarkan dan sayup-sayup dia masih mendengar suara cekikikan ketawa banyak wanita.
Dia menjadi bingung dan kembali dia kelihatan gelisah.
"Begini saja,"
Kata Kim Seng Siocia.
"Kalau dalam waktu lima jurus aku belum dapat mengalahkan engkau, biarlah kau akan kuberi kebebasan. Akan tetapi kalau dalam waktu lima jurus kau roboh, bagaimana?"
"Tidak mungkin!!"
"Siocia bertanya, kau jawablah!"
Acui membentak, kelihatan marah sekali sehingga suaranya ketus dan nyaring.
Marcus terkejut dan dia memandang wanita gendut itu penuh perhatian.
Benarkah cerita teman-temannya yang lebih dahulu merantau ke tanah ini, bahwa di sini terdapat banyak orang sakti yang aneh, diantaranya ada pula wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?
"Nona,"
Katanya sambil menjura.
"Aku akan menerima segala perintahmu, bahkan akan mengangkatmu sebagai guruku kalau benar-benar kau dapat mengalahkan aku dalam lima jurus!"
Kim Seng Siocia tertawa, kemudian berkata.
"Bersiaplah kau. Akan kuserang kau sampai lima jurus dan hendak kulihat apakah kau benar-benar dapat bertahan."
Marcus mulai menduga bahwa agaknya nona gendut ini memang memiliki kepandaian karena kalau tidak, tak mungkin berani bicara sesombong itu.
Maka dia pun lalu memasang kuda-kuda, kedua tangan dikepal dan dia siap untuk menangkis segala serangan lawan.
Dia masih merasa ragu untuk memukul wanita ini, maka dia mengambil keputusan asal dia dapat bertahan selama lima jurus cukuplah.
Dan dia akan menangkis dengan pengerahan tenaga agar lengan wanita itu terasa nyeri!
"Jurus pertama!"
Kim Seng Siocia berkata, tangan kirinya menyambar dengan sebuah tamparan ke arah kepala Marcus.
Gerakannya cepat dan mendatangkan sambaran angin dahsyat sehingga Marcus terkejut sekali.
Cepat dia mengangkat lengan kanan ke atas dan mengerahkan tenaga agar lengan wanita itu terasa nyeri terkena tangkisannya.
Akan tetapi lengannya hanya menangkis angin kosong belaka dan tahu-tahu tangan wanita itu menyambar, turun melalui bawah tangannya yang menangkis dan sudah "menowel"
Jalan darah di ketiaknya sehingga tiba-tiba lengannya lumpuh dan tubuhnya terhuyung!
Selagi Marcus terheran-heran, nona gendut itu sudah tertawa dan berkata lagi.
"Jurus ke dua!"
Marcus cepat mempersiapkan diri lebih hati-hati daripada tadi.
Kini kelihatan wanita itu menggerakkan kedua tangannya dari kanan kiri seperti hendak menyerangnya dangan dua tamparan, satu ke arah kepala dan yang ke dua ke arah pinggangnya.
Marcus cepat mengikuti tangan itu dan begitu melihat berkelebatnya dua tangan dia cepat menyambar untuk menangkap.
Girang hatinya ketika dia berhasil menangkap pergelangan kedua tangan Kinn Seng Siocia, akan tetapi tiba-tiba kedua kakinya dibabat oleh kaki lawan dan tubuhnya menjadi terguling roboh karena nona itu telah merenggutkan kedua lengannya terlepas.
"Bukkk!"
Marcus merayap bangun dan meringis karena pantatnya terasa nyeri ketika dia terbanting tadi.
Mulai marahlah dia, juga malu sekali.
Jelas bahwa dalam dua jurus tadi, dia sudah dua kali jatuh!
Melihat laki-laki ini sudah memasang kuda-kuda lagi dengan mata menjadi agak kemerahan tanda marah, Kim Seng Siocia tertawa dan berkata.
"Kau keras kepala juga, ha-ha. Jaga ini jurus ke tiga!"
Kembali Kim Seng Siocia yang hanya ingin main-main, secara sembarangan menggerakkan tangan kirinya menampar, bahkan yang menampar bukan tangan melainkan ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar.
Sekali ini Marcus sudah tahu bahwa lawannya benar-benar lihai, maka dia menangkis dengan tangan kanan akan tetapi mendahului dengan tangan kirinya menghantam ke arah dagu wanita itu dangan sebuah pukulan "uppercut".
"Plak-plak... desss...!"
Cepat sekali gerak tangan wanita itu sehingga tidak terlihat oleh Marcus yang menjadi keheranan akan tetapi segera dia mengaduh-aduh karena tahu-tahu dia telah terbanting lebih keras daripada tadi!
Dia hanya merasa betapa lengannya yang memukul tadi disambar bagian sikunya dari samping, kemudian tubuhnya terbanting tanpa dapat ditahannya lagi.
Dia merasa penasaran bukan main.
Benarkah dia, Marcus si jago tinju, sama sekali tidak berdaya menghadapi seorang wanita yang begini gendut?
Benar-benar memalukan sekali!
Dia mendengus, meloncat bangun dan memandang dengan mata merah, kedua tangannya terkepal dan dia sudah siap lagi menghadapi serangan.
"Hi-hi-hik, kau masih berani? Baik, masih ada dua jurus lagi dan awas, aku akan menggunakan dua jurus itu. Siap!"
Tubuh yang gendut itu bergerak maju.
Marcus sudah siap.
Dia tidek mau membiarkan wanita itu mendahuluinya karena kini dia mengerti bahwa betapa pun gendutpya wanita itu dapat menggerakkan kedua kaki tangan dangan cepat sekali.
Maka dia tidak menanti sampai diserang, melainkan mendahuluinya menyerang dangan pukulan dahsyat ke arah perut yang gendut itu.
Dapat dibayangkan betapa herannya melihat wanita itu sama sekali tidak menangkis, bahkan tidak mengelak.
"Crotttt!"
Marcus merasa betapa kepalannya bertemu dangan benda lunak dan kepalannya itu menancap sampai ke pergelangan tangannya.
Celaka, pikirnya, aku telah membunuhnya ketika melihat kepalan tangannya "masuk"
Ke dalam perut gendut itu.
Akan tetapi, Kim Seng Siocia tertawa dan Marcus yang kaget itu menarik kembali kepalannya.
Namun sia-sia, kepalan tangannya yang menancap di perut itu tidak bisa dicabutnya kembali!
Dia menjadi bingung, malu, marah, juga penasaran sekali.
Tangan kirinya mencengkeram ke depan, ke arah muka wanita itu.
Akan tetapi Kim Seng Siocia menangkap tangan kiri itu, kemudian berseru.
"Naiklah!"
Dan...
tubuh Marcus telah dilontarkan ke atas.
Markus memekik ngeri ketika tubuhnya meluncur seperti sebutir peluru pistol ke atas dan cepat dia merangkul balok melintang ketika tabuhnya menabrak itu.
Dengan tubuh gemetar dia memandang ke bawah, melihat betapa Kim Seng Siocia tertawa dan berkata.
"Hayo turunlah! Apakah kau masih belum mengaku kalah?"
Kini maklumlah Marcus bahwa wanita itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya.
Kiranya belum tentu kalah oleh Legaspi Selado sendiri.
Betapa bodohnya telah melawan wanita sepandai itu.
"Aku... aku mengaku kalah..."
Katanya dangan ngeri melihat betapa tingginya tempat dia berada.
"Dan kau mau menjadi selirku?"
"Ya... ya, aku mau..."
"Dan mau juga menjadi muridku?"
"Aku mau, aku suka sekali..."
"Kalau begitu lekaslah meloncat turun. Mau apa lama-lama di situ?"
Tubuh Marcus gemetar.
"Lon... loncat...? Kakiku bisa patah..."
"Haiii, manusia tolo!"
Amoi memaki sambil menudingkan telunjuknya ke atas.
"Kau bilang mau menjadi selir dan murid mengapa tidak mentaati perintah? Kalau Siocia bilang turun, turunlah!"
Marcus maklum akan kekeliruannya.
Wanita gendut yang lihai hendak mengambilnya menjadi kekasih dan murid, tentu saja kalau dapat melontarkannya ke atas, dapat pula melindunginya kalau dia meloncat turun.
Maka sambil memejamkan matanya, dengan nekat dia meloncat ke bawah!
Ketika merasa bahwa tidak ada orang menyambutnya, Marcus membuka matanya dan dia berteriak ngeri melihat tubuhnya meluncur ke arah lantai marmer dangan kepala lebih dulu!
Akan tetapi, ketika hidungnya yang panjang itu hampir menyentuh lantai, tiba-tiba tubuhnya terhenti dan, ternyata bahwa tangan kiri yang kuat dari Kim Seng Siocia telah mencengkeram baju di punggungnya, kemudian mendorongnya berdiri.
"Berlututlah, Marcus."
Mendengar perintah ini Marcus lalu menjatuhkan diri berlutut di depan wanita gendut itu.
Kim Seng Siocia tersenyum lebar dan memberi isyarat dengan tangannya kepada para penjaga untuk mengundurkan diri, kemudian berkata kepada Amoi dan Acui.
"Sediakan air pencuci kaki lalu pergilah kalian keluar."
Amoi dan Acui mengangguk, cepat menyediakan sebuah bokor emas berisi air hangat berikut kain bulu yang halus, menaruhnya di dekat kursi yang seperti pembaringan itu, lalu sambil tersenyum-senyum dan melirik ke arah Marcus yang masih berlutut itu mereka keluar dari kamar, menutupkan daun pintu ruangan itu dari luar.
"Marcus, kaucucilah kakiku,"
Kata Kim Seng Siocia sambil merebahkan diri di atas kursi yang panjang dan lebar itu.
Marcus tidak merasa terhina lagi.
Apa pun yang diperintahkan wanita ini, tidak ada orang lain yang menyaksikannya.
Pula, dia sudah yakin bahwa wanita ini, betapapun anehnya, adalah seorang yang memiliki kesaktian hebat, menjadi kekasihnya dan juga muridnya merupakan hal yang amat menguntungkan baginya.
Maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mengambil bokor air hangat, menghampiri nona gendut itu, menggunakan kain bulu yang dicelup di air untuk membersihkan kaki nona ini.
Bukan itu saja, bahkan pemuda yang cerdik ini mulai menggunakan "kepandaiannya"
Merayu wanita, sambil membersihkan dia memijati dan membelai kaki itu yang biarpun bentuknya besar namun cukup bersih, padat dan menggairahkan sehingga Kim Seng Siocia merasa nikmat dan merem melek di atas kursinya.
"Aih, Marcus... kau menyenangkan hatiku. Mari... marilah kau layani aku baik-baik, kau akan kuajari ilmu yang akan membuat kau benar-benar menjadi seorang jantan."
Wanita itu turun dari kursinya, menggandeng tangan Marcus diajak memasuki kamarnya yang mewah dan indah.
Diam-diam Hong Ing yang mukanya menjadi merah saking jengah menyaksikan pemandangan tadi, menjadi lega hatinya melihat mereka memasuki kamar dan cepat keluar dari balik tirai dan pergi dari tempat itu.
Makin ngeri dia memikirkan keadaan Kim Seng Siocia dan anak buahhya, apalagi ketika mendengar betapa lima orang pria anak buah Marcus itu dikeroyok dan dipaksa bermain cinta oleh puluhan orang wanita yang sudah seperti gila itu!
Dia bergidik, akan tetapi betapa pun muak hatinya, dia masih belum berani melarikan diri karena di situ terdapat Acui dan Amoi yang amat lihai.
Hong Ing memasuki ruangan tempat duduk Kim Seng Siocia dangan hati berdebar.
Entah mengapa hatinya merasa tidak enak ketika malam hari itu Kim Seng Siocia memanggilnya dan yang disuruh memanggil adalah Acui dan Amoi yang kini mengikutinya dari belakang.
Ketika dia masuk ruangan dan melihat Marcus duduk di samping wanita gendut itu, Hong Ing menghentikan langkahnya.
Akan tetapi Acui dan Amoi mendorongnya dari belakang.
Hong Ing cepat menarik turun penutup kepalanya sehingga mukanya terlindung.
"Siocia memanggil pinni?"
Tanyanya sambil berdiri di depan wanita itu.
"Bukalah kerudungmu, perlihatkan mukamu"
Kata Kim Seng Siocia, suaranya berbeda dari biasanya, keren dan penuh wibawa.
"Tapi... tapi Siocia, ada seorang pria di sini,"
Hong Ing membantah.
"Marcus? Hi-hik, dia adalah orang sendiri, bukan orang luar. Hayo bukalah!"
Karena maklum bahwa menolak amat berbahaya, Hong Ing terpaksa membuka kerudungnya dengan harapan agar Marcus sudah lupa kepadanya.
Akan tetapi begitu kerudung dibuka, terdangar suara Marcus.
"Benar dia! Nikouw cantik yang menolong Yap Kun Liong! Dia mata-mata!"
Tentu saja Hong Ing terkejut bukan main.
Andaikata Marcus tidak menjadi kekasih Kim Seng Siocia, hal itu masih mending karena tidak ada hubungannya dangan wanita gendut itu.
"Siocia, cocok sekali ceritaku. Dialah sekutu Yap Kun Liong dan kalau dia berada di sini, tentu dia tahu di mana adanya Kun Liong. Kita harus dapat menangkapnya,"
Kata pula Marcus.
"Hemm, aku tidak begitu tertarik oleh ceritamu tentang bokor emas yang dapat menunjukkan tempat harta pusaka. Aku sudah mempunyai cukup harta,"
Kim Seng Siocia membantah.
"Tetapi, di samping harta, masih ada pusaka yang mengandung ilmu yang mujijat, begitu dikatakan orang, bahkan belum lama Tok-jiauw Lo-mo bersamaku berusaha menyelidiki."
"Siapa? Tok-jiauw Lo-mo murid Thian-ong Lo-mo?"
Wanita itu kelihatan kaget.
"Aihh, jadi Siocia mengenalnya?"
"Tidak, akan tetapi aku sudah mendengar akan nama Thian-ong Lo-mo di kaki pegunungan ini. Kalau kakek seperti dia juga memperebutkan bokor, agaknya memang patut diperhatikan."
"Tentu saja dia juga ikut memperebutkan. Bahkan dia telah bersekutu dangan Kwi-eng Niocu yang telah tewas di tangan Yap Kun Liong itu..."
"Apa? Demikian lihai Yap Kun Liong itu?"
"Lihai sekali, Siocia. Dia bahkan kabarnya mengalahkan banyak tokoh, biarpun dia tidak pernah bersungguh-sungguh. Bocah itu aneh dan kami sudah berhasil menangkapnya dengan jalan meracuninya, akan tetapi dia diselamatkan oleh nikouw cantik ini!"
Kim Seng Siocia kini memandang Hong Ing penuh perhatian.
"Benarkah ceritanya itu, Pek Nikouw?"
Hong Ing tak dapat membohong, maka dangan tenang dia menjawab.
"Pinni tidak tahu-menahu tentang bokor dan sebagainya, yang pinni ketahui hanyalah bahwa pinni memang telah menolong seorang pemuda yang menjadi tawanan, pemuda yang terkena racun..."
"Di mana dia Yap Kun Liong itu?"
Marcus membentak.
Tiba-tiba terdangar suara laki-laki yang nyaring sekali di luar istana, suara yang menggetar dan menggema di seluruh puncak.
"Apakah di sini tempat tinggal Go-bi Sin-kouw? Aku minta agar Sin-kouw suka keluar dan kita bicara tentang Pek Hong Ing..."
Semua orang terkejut.
Orang yang bicara itu telah berada di depan istana!
Mana mungkin ada orang datang tanpa diketahui oleh para penjaga?
Akan tetapi yang paling terkejut adalah Hong Ing.
Terkejut dan juga girang mendangar suara itu, suara Kun Liong!
"Kun Liong...!"
Dia berseru dan meloncat hendak keluar.
Akan tetapi, Acui dan Amoi sudah menghadangnya dan dua orang pelayan yang lihai itu telah menggerakkan tangan untuk menangkapnya.
Hong Ing sudah siap, ketika hendak meloncat tadi, dan karena maklum akan kelihaian dua orang itu, maka dia sudah mendahului, mengirim tendangan kilat dan menotok.
Tendangan mengarah pusar Amoi sedangkan totokannya ditujukan ke arah pundak Acui.
Gerakannya sungguh tidak terduga dan cepat sekali, maka Amoi hahya dapat miringkan tubuh dan pahanya masih kena tendangan, sedangkan jari tangan Hong Ing dapat menotok tepat di pundak Acui.
"Buukkk! Cuussss!"
Tubuh Amoi yang terkena tendangan itu hanya terhuyung sedikit, sedangkan Acui juga hanya melangkah mundur dan sama sekali tidak terpengaruh totokan yang hanya membuat tubuhnya tergetar.
Namun detik ini sudah cukup bagi Hong Ing untuk meloncat dari tempat itu menuju keluar.
"Wuuuiiiit... brusss!"
Tubuh Hong Ing tergelimpang kena disambar oleh angin pukulan dahsyat dari samping yang dilancarkan oleh tangan Kim Seng Siocia!
Hong Ing terkejut sekali, akan tetapi pada saat itu, Acui dan Amoi sudah menubruk dan menangkapnya.
"Ikat dia!"
Kim Seng Siocia membentak dan Amoi segera mengikat kedua tangan Hong Ing ke belakang, menggunakan tali yang ulet itu, tali yang dapat mulur seperti karet.
"Kun Liong...!"
Hong Ing berseru nyaring, akan tetapi hanya satu kali itu karena lehernya sudah ditotok oleh jari tangan Acui yang lihai sehingga dia menjadi gagu!
"Hong Ing...!
Di mana kau...?"
Kun Liong berteriak girang ketika mendangar suara dara yang dikhawatirkannya itu.
Akan tetapi tiba-tiba tampak berkelebatnya bayangan banyak orang dan tahu-tahu dia sudah dikurung oleh puluhan orang gadis yang memegang bermacam-macam senjata!
Kun Liong mencari akal, akan tetapi semua gadis itu tidak dikenalnya, bahkan Lauw Kim In yang disangkanya tentu akan muncul malah tidak nampak juga.
Melihat sikap mereka yang penuh ancaman, dan mereka makin mengurung rapat, Kun Liong berseru.
"Haiiii! Kalian ini mau apa? Aku ingin berjumpa dengan Go-bi Sin-kouw untuk bicara tentang muridnya! Mundurlah kalian!"
Akan tetapi, para gadis itu tidak mundur bahkan kini makin banyak yang datang dan ada yang membawa obor sehingga keadaan di situ menjadi terang sekali.
Acui dan Amoi muncul pula, diikuti oleh Marcus.
"Di sini tidak ada Go-bi Sin-kouw, yang ada hanya Siocia kami yang menantimu di dalam."
Kata Amoi sambil tersenyum manis.
"Hwesio muda yang tampan, kau menyerahlah untuk kami hadapkan kepada Siocia!"
"Amoi, hati-hati! Dia bukan hwesio dan dia lihai sekali!"
Kata Marcus. Ketika Kun Liong mengangkat muka memandang, dia mengenal Marcus dan dia tertawa.
"Ah, kiranya Tuan Marcus yang berdiri di balik ini semua. Dahulu engkau menggunakan tentara pemerintah, sekarang engkau menggunakan tentara wanita. Sungguh kau licik sekali, Marcus. Lebih baik kalian lekas bebaskan nona Pek Hong Ing yang suaranya kudengar tadi, dan kami berdua akan pergi dari sini dangan aman karena memang tidak ada permusuhan diantara kita."
"Tangkap dia! Tetapi jangan membunuhnya!"
Marcus berseru dan wanita-wanita itu yang maklum bahwa tentu perintah Marcus ini telah disetujui oleh Siocia, lalu mulai menyerbu ke depan.
Apalagi yang disuruh tangkap adalah seorang pemuda tampan biarpun kepalanya gundul, maka mereka itu sudah menyarungkan senjata masing-masing, kemudian sambil terkekeh genit mereka menyerbu seperti berebut.
Melihat tangan yang berjari halus runcing itu, lengan yang bulat dan padat demikian banyaknya hendak meraihnya, Kun Liong bergidik.
Betapa pun bagusnya tangan dan lengan itu, kalau terlalu banyak menimbulkan jijik dan ngeri juga!
Dia lalu meloneat ke sana-sini untuk menghindar sambil berteriak-teriak.
"Aku tidak sudi berkelahi dangan kalian! Aku tidak sudi berkelahi dangan wanita!"
Namun tentu saja teriakan-teriakannya tidak dihiraukan, bahkan kini para wanita itu makin penuh gairah mengejarnya ke manapun juga.
Ditubruk sana sini, dirangkul dan dicengkeram sampai akhirnya ada beberapa jari tangan yang berhasil mengait bajunya dan baju itu robek di sana-sini.
"Kalian menjemukan! Pergilah!"
Kun Liong berseru dan mengisi kedua lengannya dangan tenaga sin-kang lalu mendorong ke kanan kiri, dan...
robohlah enam orang wanita, terpelanting seperti dilanda angin badai yang kuat.
Mereka menjerit kaget dan kini Acui dan Amoi baru percaya akan ucapan Marcus tadi bahwa pemuda gundul ini lihai.
"Aihh, kiranya kau mempunyai juga sedikit kepandaian!"
Kata Acui dan dara ini meloncat maju, tubuhnya melambung tinggi dan dari atas tubuhnya menukik ke bawah, kedua tangan dibentuk seperti cakar setan, yang kiri mencengkeram ubun-ubun kepala gundul itu, yang kanan menotok jalan darah di pundak.
"Hemmm, ganas kau!"
Kun Liong mencela dan cepat dia memutar lengannya ke atas sambil mengerahkan tenaga.
"Bruuukkk...!"
Tubuh Acui terlempar dan hanya berkat keringanan tubuhnya yang lihai saja membuat Acui tidak sampai terbanting.
Tentu saja dara ini terkejut bukan main, lalu dia menerjang lagi dibantu oleh Amoi.
Melihat dua orang ini maju, maka para anak buah mereka hanya mengurung dangan ketat sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa karena mereka semua kagum dan suka kepada pemuda gundul yang lihai ini.
Kun Liong menjadi bingung dan gemas juga.
Sebetulnya dia tidak senang harus menggunakan kekerasan, apalagi kalau disuruh berkelahi dangan wanita-wanita muda itu!
Akan tetapi, melihat betapa pukulan dan cengkeraman dua orang gadis itu bukanlah serangan yang boleh dipandang ringan dan benar-benar berbahaya sekali, maka dia terpaksa mengelak dan kadang-kadang menangkis, bahkan di waktu menangkis, Dia menggunakan tenaga sin-kang sehingga dua orang gadis itu berkali-kali terdorong mundur dan menjerit kesakitan ketika beradu lengan.
Mereka makin kagum dan juga terkejut.
Acui memberi isyarat dan keduanya mencelat ke belakang, Amoi di belakang dan Acui di depan pemuda itu.
Keduanya sudah mengeluarkan tali hitam yang ulet dan paniang, dan di ujung tali-tali itu terdapat lingkaran lasso.
Begitu kedua gadis itu menggerakkan tangan, terdangar bunyi bercuitan dan dua batang lasso itu meluncur seperti ular hidup menuju ke arah kepala Kun Liong!
Kun Liong maklum bahwa dia hendak ditangkap dangan lasso, maka kedua tangannya siap.
Ketika merasa betapa angin telah meniup kepalanya, tanda bahwa dua tali itu sudah menyambar turun, secepat kilat kedua tangannya menangkap lasso dan dangan gerakan tiba-tiba dia menarik sambil mengerahkan tenaga.
"Aiihhh...!"
Acui dan Amoi menjerit berbareng karena tubuh mereka sudah terbawa oleh tali yang mereka pegang erat-erat, terbawa oleh tarikan Kun Liong sehingga mereka melayang ke atas dan saling bertubrukan di atas.
Baiknya keduanya lihai sekali, sambil melepaskan tali, mereka saling berpegang tangan, kemudian meminjam tenaga masing-masing, keduanya sudah melayang turun ke depan Kun Liong.
Wajah mereka agak pucat dan Kun Liong tersenyum tenang menghadapi mereka, lalu berkata.
"Nona-nona harap sabar. Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan untuk minta kepada siapa pun yang menahan Nona Pek Hong Ing agar supaya membebaskannya."
"Pergunakan senjata!"
Acui yang merasa marah dan penasaran membentak.
"Sing-sing-sing! Wuuuttt!"
Di antara sinar obor, tampak kilatan banyak senjata yang tercabut.
"Jangan...! Jangan bunuh dia... tangkap saja...!"
Marcus berseru, akan tetapi agaknya seruannya tidak dihiraukan oleh Acui, Amoi, dan anak buah mereka.
Selagi para pengurung itu bergerak dangan senjata di tangan, mengelilingi Kun Liong yang makin bingung dan siap untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba pintu depan istana terbuka dan terdengar seruan halus.
"Tahan dan mundur semua!"
Suara ini berpengaruh sekali karena semua wanita itu serentak mundur dan membiarkan Kun Liong menghadapi orang yang baru datang, seorang wanita gemuk yang bermuka ramah dan tersenyum.
Melihat wajah orang, Kun Liong menjadi lega dan cepat dia menjura.
"Aku Yap Kun Liong mohon agar dapat bertemu dangan Nona Pek Hong Ing..."
Akan tetapi wanita gemuk itu, yang bukan lain adalah Kim Seng Siocia, tidak menjawab, melainkan tetap tersenyum-senyum, matanya bersinar-sinar dan pandang matanya menjelajahi seluruh tubuh Kun Liong, dari sepatunya yang berdebu sampai kepalanya yang gundul kelimis dan berkeringat.
Dipandang seperti itu, Kun Liong merasa malu dan hanya menunduk, akan tetapi matanya diangkat untuk melihat dan mengawasi setiap gerak-gerik orang ini.
"Engkau bukan hwesio?"
Tiba-tiba Kim Seng Siocia bertanya.
Pertanyaan macam ini sudah terbiasa oleh Kun Liong, maka dia tidak banyak rewel dan menggelengkan kepalanya yang gundul mengkilap terkena sinar obor yang banyak itu.
"Mengapa kepalamu gundul?"
Kembali Kim Seng Siocia bertanya.
"Terkena penyakit!"
Jawab Kun Liong tak acuh dan jelas dia mulai kelihatan mendongkol karena kembali kepalanya yang dijadikan persoalan dan bahan percakapan pada saat yang genting itu.
Kim Seng Siocia agaknya merasa bahwa pemuda itu marah, maka dia memperlebar senyumnya.
"Aku suka kepala gundul, bersih dan lain daripada yang lain!"
Biarpun ucapan ini dikeluarkan dangan kesungguhan hati, namun tetap saja menambah kemengkalan hati Kun Liong.
Apakah tidak ada lain "acara"
Lagi selain bicara tentang kepalanya? "Toanio siapakah?"
Dia bertanya untuk mengalihkan percakapan.
"Hishhh, jangan menyebutku Toanio (Nyonya Besar). Aku masih perawan..., eh, aku belum menikah, aku masih Siocia (Nona), hi-hik!"
Kun Liong mengkirik.
Bulu tengkuknya meremang karena dia melihat sesuatu yang tidak wajar dan aneh dalam sikap dan kata-kata "nona"
Gemuk itu.
"Baiklah. Siapakah Siocia?"
"Aku? Aku disebut Kim Seng Siocia, dan kalau aku sudah kawin kelak, tentu saja sebutan nona harus diganti dangan nyonya besar."
"Sekali lagi aku mengharap agar Siocia tidak salah menduga tentang kedatanganku ke sini, sama sekali bukan untuk berkelahi apalagi mencari musuh. Aku datang untuk bertemu dangan Nona Pek Hohg Ing."
"Tidak ada Nona Pek Hong Ing di sini, yang ada hanya Pek Nikouw."
Berseri wajah Kun Liong.
Kalau begitu tidak salah lagi.
Hong Ing berada di sini!
"Benar, dialah yang kumaksudkan!"
Jawabnya penuh gairah dan penuh harapan.
Akan tetapi dia terkejut melihat betapa wajah gemuk yang tadinya berseri dan ramah itu kini cemberut, mata yang lebar itu melotot dan suaranya nyaring mengandung kemarahan.
"Apamukah dia itu?"
"Bukan apa-apa, hanya sahabat biasa..."
"Apa dia kekasihmu?"
Kun Liong terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba yang seperti serangan mendadak ini.
"Tidak... tidak, dia seorang nikouw, tidakkah Siocia sudah tahu?"
"Hemm, dia nikouw atau tidak, apa bedanya? Dia tetap wanita dan kau laki-laki!"
Alis Kun Liong berkerut tak senang.
Nona gendut ini sama saja danga Lauw Kim In, suci dari Hong Ing, pikirannya kotor penuh prasangka buruk!
"Sekali lagi aku menyatakan bahwa Nona Pek Hong Ing atau Pek Nikouw adalah sahabat baikku dan aku ingin bertemu dangannya.
Terserah prasangka Siocia, yang penting aku minta bertemu dengan dia."
Kun Liong lalu memandang ke arah dalam istana dan berteriak nyaring.
"Hong Ing, keluarlah kau menemuiku! Aku Yap Kun Liong, sengaja datang mencarimu!"
Namun tidak ada jawaban dari dalam dan Kim Seng Siocia tertawa.
"Dia tidak akan menjawab sebelum aku menghendakinya. Eh, Kun Liong, apakah kau tidak mempunyai kekasih atau tunangan?"
Kun Liong terkejut dan memandang dangan bengong, mukanya berubah merah.
Pertanyaan apakah ini?
Akan tetapi melihat betapa pertanyaan itu diajukan dengan sikap sungguh-sungguh, dia menjawab juga.
"Tidak!"
Sambil menggelengkan kepalanya yang gundul.
"Jadi engkau belum kawin?"
Kun Liong makin bingung.
Mengapa Siocia gendut ini demikian ugal-ugalan?
Kembali dia menggelengkan kepala dan berkata.
"Belum!"
Setelah itu, dia melangkah maju dan berkata.
"Kim Seng Siocia, kalau kau tidak membolehkan Nona Pek Hong Ing keluar menemuiku, biarlah aku mencari sendiri ke dalam!"
Dia lalu meloncat ke depan.
"Bresss! Dukkk!"
Tubuh Kun Liong terguling karena kakinya dijegal (dikait) oleh kaki Kim Seng Siocia dan nona itu tertawa bergelak.
"Hi-hik, heh-heh-heh, tidak boleh. Kau harus melayaniku lebih dulu, hendak kuuji sampai di mana tingkat kepandaianmu. Melihat kau dikeroyok tadi, agaknya kau memiliki kepandaian lumayan. Siapa tahu engkaulah orangnya yang kutunggu-tunggu dan kini datang atas kekuatan doa Pek Nikouw. Hi-hik! Sambutlah ini!"
Kim Seng Siocia sudah menyerang Kun Liong dangan dahsyat sekali!
Kun Liong tadi terguling karena dia sama sekali tidak mengira bahwa nona gendut itu mau menjegalnya.
Maka dengan penasaran dia sudah meloncat bangun dan kini menghadapi serangan nona itu, dia benar-benar merasa kaget.
Nona gendut itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, dan dari kedua lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin pukulan yang amat kuat!
"Plak-plak-plak!"
Tiga kali Kun Liong menangkis dan terpaksa dia mengerahkan tenaga sin-kangnya agar tidak terluka oleh hawa pukulan yang dahsyat itu.
"Aihhh... hik-hik, benar saja, kau hebat!"
Kim Sim Siocia tertawa ketika tangkisan itu berhasil menggempur kuda kudanya dan membuat tubuhnya condong ke belakang, tanda bahwa dia masih tidak mampu menandingi kekuatan sin-kang pemuda itu!
Akan tetapi dia menyerang terus, kini menggunakan ujung kedua lengan bajunya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah di seluruh tubuh Kun Liong dan gerakannya cepat bukan main, ilmu silatnya aneh, kadang-kadang malah kelihatan lamban dan lambat sekali seperti seekor gajah mencoba untuk mencari-nari!
Namun Kun Liong kaget bukan main.
Di luar persangkaannya, nona gemuk ini adalah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa dan memiliki tenaga sin-kang amat kuat, serta gerakannya terlalu cepat dibanding dengan tubuhnya yang begitu gendut.
Tentu saja Hong Ing bukanlah lawan wanita ini dan dia mulai khawatir karena mengira bahwa tentu Hong Ing menjadi seorang tawanan di tempat ini.
Pula dia kini mulai mengerti bahwa dia telah tersesat, bukan berada di tempat tinggal Go-bi Sin-kouw melainkan di tempat tinggal golongan lain yang dipimpin oleh nona gendut yang lihai ini, sungguhpun kesalahannya ini malah kebetulan karena ternyata Hong Ing berada di tempat asing ini!
Dia tentu saja tidak ada niat untuk memukul atau melukai wanita gemuk ini, karena sama sekali tidak ada urusan dan tidak ada permusuhan dengannya, akan tetapi karena serangan-serangan wanita itu benar-benar luar biasa sekali dan amat berbahaya, terpaksa dia harus melindungi dirinya, maka dia lalu mainkan Im-yang Sin-kun dan menggunakan pukulan Pek-in-ciang untuk menghadapi serangan dahsyat lawannya.
Melihat cara bersilat pemuda ini dan merasakan betapa lengannya beberapa kali tergetar hebat apabila bertemu dengan lengan lawan, Kim Seng Siocia berkali-kali mengeluarkan seruan kaget, heran, dan juga gembira sekali!
"Kau hebat...
ah, kau hebat...!"
Dia berseru memuji dangan pandang mata penuh kagum dan girang.
Agaknya nona gendut itu masih belum puas dan dia mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan semua ilmu sitatnya yang aneh-aneh.
Hampir Kun Liong kena diakali seperti Hong Ing melawan Amoi dan roboh oleh ilmu silat Amoi yang aneh.
Apalagi Kim Seng Siocia yang menjadi "guru"
Amoi, bukan main aneh dan hebatnya ilmu silatnya.
Ada kalanya Kim Seng Siocia mencekik leher sendiri sampai matanya mendelik dan lidahnya keluar, hal ini dilakukan di tengah pertandingan itu.
Tentu saja Kun Liong terkejut dan cepat menubruk maju untuk mencegah nona yang kelihatannya seperti hendak membunuh diri itu!
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba dua tangan nona itu bergerak menotoknya, menotok dua jalan darahnya yang dapat membuat dia lumpuh!
Namun, dangan hawa sakti yang timbul karena ilmunya Thi-khi-i-beng, totokan-totokan yang tepat mengenai jalan darah itu "hanyut"
Dan tidak membekas sehingga Kim Seng Siocia terkejut sekali.
"Hong Ing...!"
Kun Liong memanggil lagi sambil meninggalkan lawan meloncat ke dalam.
"Aduh mati aku...!"
Tiba-tiba nona gendut itu berteriak dan terguling!
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Kun Liong melihat tubuh gendut itu terguling dan dari mulut nona itu menyembur darah segar.
Dia tidak merasa memukul, akan tetapi jelas nona itu muntah darah.
"Eiihh, kenapa kau, Siocia?"
Hatinya yang penuh kelembutan itu tidak tega dan dia meloncat kembali menghampiri Kim Seng Siocia.
Tiba-tiba terdengar nona itu terkekeh dan tubuhnya sudah meloncat dangan sigapnya, mendahului Kun Liong memasuki istananya!
"Ihhh...
penipu!"
Kun Liong berseru marah dan mengejar dangan khawatir.
Tahulah dia bahwa nona gendut itu tadi sengaja menipunya dan entah bagaimana dapat muntahkan darah seperti itu, untuk mencegahnya memasuki istana lebih dulu.
Kekhawatirannya terbukti ketika dia memasuki ruangan yang besar itu.
Hong Ing dalam keadaan terikat kedua lengannya ke belakang, berdiri di dekat kursi besar sedangkan Kim Seng Siocia memegangi tali panjang sisa pengikatnya dan memegang tengkuk Hong Ing sambil tersenyum manis memandang Kun Liong yang melangkah masuk.
"Kun Liong...!"
Hong Ing berkata lemah setelah melihat pemuda itu.
Totokan yang membuatnya gagu telah dibebaskan akan tetapi dia hanya dapat mengeluarkan suara lemah setelah sekian lamanya gagu.
"Hong Ing...!"
Kun Liong berseru penuh kemarahan.
Akan tetapi hatinya lega melihat bahwa Hong Ing masih hidup.
Dia berpaling kepada Kim Seng Siocia, dan berkata.
"Kim Seng Siocia, mengapa kau menawan Pek Hong Ing? Apakah kesalahannya maka engkau menawannya?"
"HI-hik, kesalahannya banyak, tapi tidak perlu dibicarakan. Yang penting sekarang adalah membicarakan urusan antara kita! Sahabatmu, Pek Nikouw ini telah berdoa agar aku lekas dapat jodoh dan ternyata doanya terkabul hari ini! Engkau datang dan engkau memenuhi semua syarat untuk menjadi suamiku."
Kun Liong melongo, matanya terbelalak dan mulutnya ternganga.
"A... apa...?"
"Hi-hik! Aku hanya mau menjadi isteri seorang pemuda tampan dan gagah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dan kau ganteng, biar kepalamu gundul tapi kau tampan dan aku suka padamu, aku cinta padamu. Kau adalah calon suamiku!"
"Tidak!"
Kun Liong berseru marah, mukanya menjadi merah sekali.
"Aku tidak akan menjadi suami siapapun juga! Lebih baik kaulepaskan Hong Ing!"
Katanya pula mengancam.
"Eiiit-eiiittt... jangan bergerak! Kalau kau bergerak, aku akan lebih dulu membunuh Pek Nikouw!"
Jari-jari tangan wanita itu mengancam tengkuk Hong Ing dan lemaslah tubuh Kun Liong karena dia maklum bahwa sekali jari tangan itu bergerak, tentu akan tewaslah Hong Ing!
"Kim Seng Siocia, apakah kehendakmu?"
"Engkau harus menyerah dan menjadi suamiku. Kalau kau menyerah, barulah aku akan membebaskan Pek Nikouw. Betapapun juga, kalau kau menjadi suamiku, dia telah berjasa. Aku tidak akan mengganggunya, hi-hik. Tapi kalau kau melawan, dia akan mati lebih dulu!"
Kun Liong memutar otaknya.
Betapa pun cepat dia bergerak, tak mungkin bisa mendahului tangan yang sudah menempel di tengkuk Hong Ing itu, maka dia sama sekali tidak berdaya.
"Baiklah, aku menyerah. Akan tetapi kau berjanjilah dulu tidak akan mengganggu dia dan akan membebaskannya."
"Tentu saja, aku berjanji. Acui dan Amoi, ikat dia dulu!"
Sambil tersenyum-senyum dua orang pelayan yang cantik dan lihai itu lalu menghampiri Kun Liong dan mengikat kedua lengan Kun Liong ke belakang tubuhnya.
"Kun Liong! Jangan mau tertipu...!"
Tiba-tiba Hong Ing berteriak, akan tetapi karena Kun Liong sudah dibelenggu, pemuda itu tidak dapat berbuat sesuatu, apalagi karena dia memang tidak berani bergerak, takut kalau Hong Ing dibunuh oleh Kim Seng Siocia yang aneh itu.
"Hi-hi-hik, nikouw lancang. Siapa mau menipunya? Aku mau mengambilnya sebagai suami, dan engkau adalah pendetanya yang akan memberkati dan berdoa untuk kami suami isteri, sepasang pengantin baru. Hi-hi-hik!"
Kim Seng Siocia tertawa-tawa dan sudah tidak "menodong"
Hong Ing lagi karena melihat bahwa Kun Liong sudah terbelenggu erat-erat.
"Kun Liong...!"
Hong Ing yang merasa tidak diancam lagi, melihat Kun Liong dibelenggu, lalu berlari menghampiri pemuda itu.
"Kun Liong, selagi masih ada kesempatan, larilah. Jangan kau hiraukan aku. Kau terjebak, di sini ada Marcus..."
Tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak dan Marcus muncul dari pintu samping.
Kim Seng Siocia sudah mencelat dari tempat duduknya, dengan cepatnya dia menggunakan sisa tali pengikat Hong Ing yang masih panjang untuk dilibat-libatkan pada tubuh Kun Liong dan Hong Ing sehingga kedua orang ini sekarang diikat menjadi satu, saling membelakangi.
Keadaan ini membuat mereka tak dapat berkutik lagi!
Kun Liong terkejut ketika melihat Marcus, akan tetapi dia bersikap tenang saja karena betapapun juga, dia harus mengalah untuk menyelamatkan Hong Ing yang tadi sudah terancam.
Sekarang, dia berusaha melepaskan diri dari belenggu secara diam-diam, namun terkejutlah dia ketika mendapat kenyataan bahwa tali yang mengikat mereka itu tak mungkin dapat dipatahkan karena mulur dan ulet seperti karet.
Maka dia tenang kembali dan ingin melihat perkembangan keadaan sambil menanti terbukanya kesempatan untuk menolong Hong Ing.
Maka dia lalu berkata lirih dan jari tangannya menyentuh dan memberi isyarat kepada lengan dara itu yang menempel dengan lengannya sendiri.
"Tenanglah, Hong Ing. Aku yakin bahwa Kim Seng Siocia tidak berniat buruk terhadap kita berdua." (Lanjut ke
Jilid 32) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 32
"Tentu saja tidak, Kun Liong. Aku akan mengangkatmu menjadi suamiku, apakah itu niat buruk?"
Nona gendut itu berteriak.
"Bagus sekali! Aku mengucapkan selamat, Siocia. Memang dia pantas menjadi suamimu, tampan, gagah dan... berharga sekali! Dan Pek Nikouw itu hanya scorang nikouw palsu, dia gadis cantik dan... biarlah dia untuk aku saja."
Kata Marcus.
"Marcus, kubunuh kau kalau..."
Kun Liong membentak, kemudian menoleh kepada Kim Seng Siocia yang sudah duduk lagi di atas kursi besar itu.
"Siocia, kau sudah berjanji akan membebaskan Hong Ing! Kalau kau melanggar janji dan berani menyerahkan Nona Pek Hong Ing kepada babi putih itu, aku pun sampai mati tidak akan sudi menyerah kepadamu."
"Bocah gundul, kau masih banyak lagak, ya?"
Marcus melangkah maju, hendak memukul kepala Kun Liong.
"Marcus, apa kau sudah bosan hidup, berani hendak memukul calon suamiku? Hayo keluar kau dari sini!"
Kim Seng Siocia membentak dan pemuda berkulit putih itu segera meninggalkan ruangan sambil bersungut-sungut tidak puas.
Setelah Marcus pergi, Kim Seng Siocia dengan muka ramah menuding kepada Kun Liong sambil berkata.
"Yap Kun Liong, apakah engkau benar-benar telah menyerah kepadaku?"
"Kim Seng Siocia, buktinya aku tidak melakukan perlawanan."
"Bagus, kalau begitu, akan kupersiapkan pesta untuk upacara pernikahan kita dan..."
"Apa?"
Kun Liong bergerak-gerak sehingga Hong Ing ikut terbawa.
Keduanya terhuyung karena diikat menjadi satu seperti itu membuat kaki mereka sukar bergerak dan sedikit gerakan saja membuat mereka kehilangan keseimbangan tubuh.
"Kau bilang... pernikahan?"
"Hemm, Yap Kun Liong, seorang laki-laki sejati tidak akan menjilat kembali ludah yang sudah dikeluarkannya. Engkau bilang menyerah, tapi..."
"Siocia! Menyerah dan menikah tidaklah sama! Aku hanya menyerah dan tidak melawan seperti kukatakan tadi, dan aku berjanji akan membebaskan Hong Ing."
"Kalau begitu, kau tidak mau menjadi suamiku?"
Mulut lebar yang tadinya tersenyum ramah itu, kini mewek seperti mau menangis.
"Siocia, maafkan aku. Aku tidak ingin menikah, tidak ingin menjadi suami siapapun juga."
Sepasang mata wanita itu menyinarkan api kemarahan.
"Begitukah? Kalau begitu, Pek Nikouw akan kusiksa sampai mati di depan matamu!"
Dia meloncat dekat, menggunakan tali lain lagi untuk membelenggu kedua kaki Kun Liong, bahkan juga leher pemuda itu dikalungi tali dan tubuhnya dibelenggu erat-erat seperti seekor kerbau hendak disembelih, kemudian dibantu oleh Acui dan Amoi mereka bertiga memisahkan Hong Ing dan Kun Liong.
"Ambil cambukku!"
Bentaknya dengan marah dan Amoi segera berlari masuk, tak lama lagi keluar membawa sebatang cambuk hitam yang panjang.
Cambuk itu kecil panjang mengerikan karena ujungnya dipasangi benda-benda kecil tajam meruncing!
"Tar-tar-tar!!"
Cambuk itu meledak-ledak ketika diayun di atas kepala Kim Seng Siocia.
Hong Ing sudah memejamkan matanya, berdiri tegak dan siap menerima siksaan, siap pula menerima kematian.
Dia tidak mau mendengar Kun Liong menerima menjadi suami wanita gendut itu.
Lebih baik dia mati daripada Kun Liong berkorban seperti itu!
"Siocia, tahan dulu...!"
Kun Liong berteriak dengan mata terbelalak penuh kengerian membayangkan betapa kulit Hong Ing yang halus akan cabik-cabik digigit ujung cambuk mengerikan itu.
Cambuk yang sudah diputar-putar itu turun dan Kim Seng Siocia memandang Kun Liong dengan senyum simpul.
"Kun Liong, tadi ketika aku bertanding denganmu, aku sengaja mengalah. Kalau aku menggunakan cambukku ini, senjata maut yang kuandalkan, kau takkan mampu menang. Akan tetapi mana aku tega melukaimu, kau calon suamiku?"
"Kim Seng Siocia, kaubebaskan Hong Ing dan aku menerima permintaanmu."
"Kun Liong, jangan!"
Hong Ing menjerit dan mukanya merah sekali, terasa panas karena kemarahannya.
"Biar aku dia bunuh, jangan kau penuhi permintaannya yang gila itu!"
Setelah mengeluarkan ucapan keras ini, diam-diam Hong Ing menjadi terheran-heran sendiri.
Mengapa dia peduli amat apakah Kun Liong akan menjadi suami wanita itu atau tidak?
Mengapa dia tidak rela melihat Kun Liong menjadi suami Kim Seng Siocia, bahkan dia lebih suka mati?
"Hong Ing, diamlah!"
Kun Liong berkata, hatinya gelisah sekali sehingga dia sendiri pun tidak ingat lagi akan keanehan sikap Hong Ing.
Satu-satunya yang penting bagi Kun Liong hanya menyelamatkan Hong Ing, dengan tebusan apapun juga!
"Kau...
kau mau menurut?
Kau mau menjadi suamiku?"
Kun Liong menganggukkan kepalanya yang gundul ditambah kata-kata lirih.
"Asal engkau membebaskan Hong Ing."
"Horeee...! Kau mau menjadi suamiku? Ha-ha, yahuuu...!"
Kim Seng Siocia meloncat turun, menari-nari mengelilingi Kun Liong, lalu berhenti di depan pemuda itu, memegangi kepala Kun Liong, menariknya ke depan lalu...
"cuuuppp...!"
Kepala pemuda itu diciumnya sedemikian rupa sehingga Kun Liong merasa seolah-olah kepalanya dicap dengan besi panas!
"Terima kasih, calon suamiku!
Acui, Amoi, persiapkan perta untuk..."
"Siocia, aku menerima hanya dengan satu syarat, kalau tidak, biar kau membunuh kami berdua, aku tidak peduli lagi!"
"Wah-wah, laki-laki kalau muda dan tampan, ada juga rewelnya, minta syarat segala macam. Anak bagus, syaratmu apakah? Tentu akan kupenuhi, jangan khawatir, Kim Seng Siocia adalah ratu di sini. Kau mau selir? Tinggal pilih! Acui ini yang cantik tenang, atau Amoi yang manis panas, atau kalau kau kehendaki, kau boleh ambil nikouw ini sebagai selirmu, seperti juga aku akan mengambil selir-selir yang kusukai. Mau harta benda? Sebut saja apa yang kauinginkan, tentu akan kupenuhi! Atau kau punya musuh? Akan kubantu kau sampai musuhmu hancur binasa. Kita suami isteri harus saling membantu, bukan?"
Kun Liong menjadi muak mendengar ini, akan tetapi dia bersikap tenang dan berkata sungguh-sungguh.
"Bukan itu semua. Syaratku yang terutama, nona Pek Hong Ing harus dibebaskan, dan ke dua, tidak perlu diadakan pesta dan pernikahan."
Kim Seng Siocia membelalakkan matanya.
"Waaah, lha ini... ini bagaimana?"
"Pendeknya, kau terima atau tidak, aku tidak mau tawar-menawar lagi."
Kim Seng Siocia memutar biji matanya, kemudian menarik napas panjang dan menggerakkan kedua pundaknya yang besar dan lebar.
"Apa boleh buat, asal engkau suka menjadi suamiku. Aku pun punya syarat dan kalau engkau adil, engkau harus menerima syarat ini."
"Apa itu?"
Kun Liong bertanya, hatinya tidak enak karena dia menduga bahwa di dalam sikapnya yang ketolol-tololan itu, wanita gendut ini agaknya cerdik sekali.
"Engkau harus membuktikan dulu kesanggupanmu menjadi suamiku, malam ini. Sementara itu, Pek Nikouw akan dijaga ketat oleh Acui dan Amoi. Kalau sedikit saja engkau bergerak melawan, sekali aku berteriak, mereka akan membunuh Pek Nikouw dan aku akan menempurmu mati-matian dengan cambukku. Akan tetapi kalau kau sudah benar-benar membuktikan kemauanmu menjadi suamiku yang baik dan yang tercinta, barulah pada besok pagi dia kubebaskan!"
Kun Liong mengerutkan alisnya.
Benar saja dugaannya.
Perempuan ini cerdik sekali dan agaknya sudah mencurigainya.
Memang dia tadi mengandung niatan hati bahwa sekali Hong Ing sudah bebas, sampai mati pun dia tidak mau "diperkosa"
Atau dipaksa menjadi suami wanita ini diluar kehendak hatinya!
Sekarang wanita itu telah menggunakan Hong Ing sebagai sandera!
Terpaksa dia mengangguk dan berbisik.
"Baiklah, akan tetapi kau harus bersumpah tidak akan membohong besok pagi untuk membebaskan Hong Ing."
Sepasang mata itu melotot.
"Yap Kun Liong, kaukira aku orang macam apa? Aku adalah pewaris dari Go-bi Thai-houw sekali bicara tentu takkan kulanggar sendiri!"
"Kun Liong, jangan percaya kepadanya!"
Kembali Hong Ing berseru, hatinya panas sekali.
"Aku tidak takut mati, jangan kau korbankan diri untukku!"
"Cusss!"
Tangan Acui bergerak dan Hong Ing sudah menjadi gagu karena tertotok jalan darahnya di leher.
"Hi-hik, bagus, Acui. Nah, Kun Liong, kalau kau banyak rewel, akan kusuruh Acui turun tangan membunuh Pek Nikouw. Aku berjanji akan membebaskannya besok pagi kalau malam ini kew benar-benar dengan sukarela suka menjadi suamiku!"
Pucat wajah Kun Liong.
Di dalam hatinya, tentu saja dia tidak sudi menjadi suami orang dengan paksaan seperti itu.
Dia tidak sudi diperkosa wanita!
Akan tetapi dia melihat jelas bahwa kalau dia menolak, tentu wanita gemuk yang aneh dan lihai ini tidak segan-segan untuk melaksanakan ancamannya, yaitu membunuh Hong Ing.
Maka dengan muka muram dan tubuh lesu dia mengangguk.
"Baik, aku menyerah."
"Bawalah dia pergi dan siaplah kalian membunuhnya kalau Kun Liong main gila hendak melawan."
Acui dan Amoi mengangguk, kemudian membawa Hong Ing yang terikat kuat itu pergi meninggalkan ruangan, diikuti oleh suara ketawa Kim Sim Siocia yang kemudian turun dari kursinya, langsung dia melepaskan tali yang mengikat tubuh dan kedua lengan Kun Liong.
Pemuda ini sudah tidak berdaya, tidak tahu harus bertindak bagaimana.
Dia sudah dibebaskan dari belenggu, namun ada belenggu yang jauh lebih kuat daripada tali-tali itu, yaitu Hong Ing yang dijadikan sandera dan dia tidak tahu ke mana dara itu dibawa.
Tentu saja dia dapat memberontak dan melawan setelah tali itu terlepas dari kedua lengannya, akan tetapi hal itu sama artinya dengan membunuh Hong Ing!
"Suamiku yang baik, marilah kita bicara di dalam kamarku, agar kita dapat saling mengenal lebih baik lagi."
Kim Seng Siocia tersenyum, menggandeng tangan Kun Liong dengan sikap mesra dan setengah menarik pemuda itu memasuki kamarnya yang megah dan mewah serta berbau harum.
Kun Liong tidak berani membantah dan kedua kakinya menggigil karena dia merasa seolah-olah dia telah menjadi seekor domba yang digiring memasuki tempat jagal di mana dia akan disembelih!
"Duduklah, Koko..."
Kim Seng Siocia mempersilakan dengan suara merdu dan mengandung kemanjaan yang membuat Kun Liong merasa bulu tengkuknya meremang.
Begitu mesranya wanita ini menyebutnya koko (kakanda)!
Dia tidak menjawab, hanya mengangguk dan duduk di atas sebuah bangku menghadapi meja yang terukir indah.
Kim Seng Siocia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi pintu kamarnya, bertepuk tangan tiga kali.
Muncullah dua orang wanita muda yang cantik, dua orang pelayan yang menggantikan Acui dan Amoi karena kedua orang pelayan kepala itu sedang membawa pergi Hong Ing.
"Sediakan makan minum yang paling istimewa untuk kami berdua. Cepat!"
Dua orang pelayan itu memberi hormat, meninggalkan kamar dan menutupkan daun pintu kamar perlahan-lahan dari luar.
"He-he-he, hatiku riang gembira bukan main, Koko. Inilah saat yang kunanti-nanti selama hidupku. Aku benar-benar bahagia sekali."
Dia menjatuhkan dirinya duduk di atas sebuah bangku dekat Kun Liong dan pemuda ini dengan hati ngeri mendengar suara bangku itu menjerit saking beratnya beban yang menghimpitnya.
"Koko yang baik, engkau dari manakah dan siapa orang tuamu? Kelak aku tentu ingin sekali bertemu dan menyampaikan hormatku kepada ayah dan ibu mertua."
Kun Liong bergidik.
Aih, bagaimana akan sikap ayah bundanya andaikata mereka masih hidup dan melihat "anak mantunya"
Ini? Mukanya menjadi merah sekali dan dia berkata.
"Aku tidak mempunyai tempat tinggal dan ayah bundaku sudah meninggal dunia, Siocia."
"Emmm...!"
Kim Seng Siocia membanting-banting kedua kaki di lantai dan menggoyang-goyang tubuhnya dengan sikap kemanjaan seorang anak kecil yang "ngambek".
"Tidak mau ah kalau begitu! Aku sudah menyebutmu Koko, mengapa kau masih menyebutku Siocia? Suami isteri harus lebih mesra sebutannya!"
Aduh manjanya!
Kun Liong bengong dan ingin menampar kepala gundulnya sendiri mengapa dia terpaksa harus melayani wanita seperti ini.
Sudah tubuhnya seperti gajah, usianya tentu sudah tiga puluhan tahun, masih manja seperti seorang kanak-kanak, atau seperti seorang wanita cantik yang dipuja-puja seorang pria yang tergila-gila kepadanya!
Bukan main!
Akan tetapi karena khawatir kalau-kalau wanita ini menjadi marah benar-benar, dia cepat berkata.
"Baiklah, aku akan menurut, akan tetapi aku tidak tahu sebutan apa yang harus kupakai."
"Ihhh... hi-hik, suamiku masih bodoh! Eh, kau tentu masih perjaka tulen, ya? Hi-hik, kau sebut aku Moi-moi!"
Ampun!
Demikian jerit hati Kun Liong.
Pantas menjadi bibinya dan dia disuruh menyebut moi-moi (adinda)!
"Baiklah, Moi-moi!"
Kun Liong mengucapkan sebutan ini dengan suara sumbang karena baru pertama kali itulah dia menyebut wanita dengan sebutan adinda!
Tiba-tiba Kim Seng Siocia menangis!
Menangis terisak-isak dan memegang kedua tangan Kun Liong.
Pemuda ini makin kaget dan heran, mengira bahwa dia tentu telah melakukan kesalahan lagi diluar pengetahuannya.
"Hu-huu-hukkk... sungguh kasihan engkau, Koko... hu-huuk, dan sungguh sial sekali aku... belum apa-apa sudah kematian ayah dan ibu mertuaku..."
Disinggung tentang kematian ayah bundanya, kalau dalam keadaan biasa tentu sedikitnya hati Kun Liong akan merasa terharu juga.
Akan tetapi sikap wanita ini keterlaluan, pakai menangis segala!
Hanya anehnya, wanita ini menangis sungguh-sungguh, air matanya bercucuran, bukan dibuat-buat.
Diam-diam Kun Liong merasa makin ngeri karena menduga bahwa tentu ada gejala-gejala tidak beres pada otak wanita ini.
Karena Kun Liong memang tidak mau banyak bicara, akhirnya Kim Seng Siocia menceritakan semua riwayatnya sendiri kepada Kun Liong yang didengarkan oleh pemuda ini penuh perhatian.
Penuturan wanita itu begitu menarik hatinya sehingga dia tidak mempedulikan dan tidak merasa lagi betapa tangan Kim Seng Siocia yang besar itu kadang-kadang membelai tangannya dengan mesra, bahkan kadang-kadang tangan yang berjari besar itu merayap naik dan mengelus kepalanya yang gundul!
Memang cerita wanita itu menarik hatinya.
Dia sudah pernah mendengar penuturan ibunya tentang seorang datuk wanita yang berjuluk Go-bi Thai-houw, yang menurut ibunya memiliki ilmu kepandaian yang amat luar biasa, akan tetapi datuk ini adalah seorang yang miring otaknya.
Ibunya bercerita betapa datuk wanita gila itu telah menimbulkan kekacauan besar, bahkan hampir saja berhasil merusak penghidupan ayah bundanya sendiri dan penghidupan Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, yaitu Sie Biauw Eng.
Betapa kemudian, berkat kesaktian Cia Keng Hong, akhirnya datuk wanita yang merupakan nenek iblis itu telah dapat dibinasakan oleh Cia Keng Hong.
Dan sekarang Kim Seng Siocia mengaku bahwa dia adalah bekas pelayan kecil dari Go-bi Thai-houw yang tersayang dan yang dijadikan ahli waris oleh nenek iblis itu!
"Thai-houw amat sayang kepadaku, Koko.
Semua pusaka warisannya disimpan di tempat rahasia dan hanya aku yang diberi tahu.
Oleh karena itu, hanya akulah yang dapat mewarisi kepandaiannya dan aku menjadi pemimpin di bekas istananya ini.
Akan tetapi...
u-hu-huuu...
dia dibunuh mati orang, Koko!"
Kembali Kim Seng Siocia menangis. Kun Liong makin tertarik.
"Jadi... apa yang kau kehendaki, Sio... eh, Moi-moi?"
"Apalagi? Tentu membalas dendam kematian Thai-houw! Aku mendapatkan semua ini dari Thai-houw dan dia dibunuh orang!"
"Kalau begitu, dengan kepandaianmu yang tinggi, mengapa kau tidak sejak dahulu membalas dendam, Moi-moi"
"Aku... aku takut..."
"Eh...?"
Kun Liong benar-benar terheran mengapa wanita aneh ini mempunyai rasa takut juga, maka dia melanjutkan pancingannya.
"Begitu lihaikah musuhmu yang telah membunuh Go-bi Thai-houw?"
"Aku tidak takut kepadanya! Hemm, biar dia memiliki Thi-khi-i-beng sekalipun! Dahulunya memang aku tidak berani mengingat akan ilmunya itu, akan tetapi setelah aku mempelajari kitab peninggalan Thai-houw, dengan menggunakan cambuk ini, aku dapat membuat Thi-khi-i-beng tidak ada artinya! Kaulihatlah, Koko!"
Setelah berkata demikian, wanita ini meloncat dari bangkunya, menyambar cambuknya dan menuding ke atas, ke arah dinding di mana terdapat dua ekor cecak yang sedang bercumbuan dan saling berkejaran.
"Lihat dua ekor cecak itu!"
Katanya pula dan tiba-tiba terdengar suara meledak-ledak beberapa kali bersama sinar hitam menyambar-nyambar dan ketika Kun Liong memandang, ternyata dua ekor cecak itu telah terpotong-potong tubuhnya menjadi empat dan jatuh ke atas meja, sedangkan di dinding itu tidak nampak sedikit pun darah!
Diam-diam Kun Liong terkejut.
Ternyata wanita ini tidak menyombong kosong tadi ketika mengatakan babwa dengan cambuknya dia amat lihai.
Kalau dalam pertempuran tadi Kim Seng Siocia menggunakan cambuk seperti itu, dia tentu akan repot menghadapinya!
Dan dia harus mengakui bahwa dengan senjata cambuk seperti itu, Thi-khi-i-beng tidak akan dapat dipergunakan karena tidak mungkin untuk menempel ujung cambuk dan menyedot sin-kang lawan melalui cambuk lemas yang panjang itu!
"Wah, kau hebat sekali, Moi-moi..."
Kun Liong menekan hatinya karena dia bergidik melihat bangkai dua ekor cecak yang telah menjadi masing-masing empat potong itu di atas meja.
"Dengan kepandaianmu itu, tentu engkau akan dapat menang melawan musuhmu, akan tetapi mengapa tidak juga kau lakukan?"
"Sudah kukatakan tadi, aku takut, aku takut gagal. Aku mau yakin akan kemenanganku, oleh karena itu... bertahun-tahun aku berdoa kepada Thian untuk mendapatkan jodoh seorang yang lihai dan yang akan dapat membantuku menghadapi musuhku yang sakti. Dan... hari ini aku telah mendapatkan jodoh yang kutunggu-tunggu itu, Koko yang tampan!"
Wanita itu hendak merangkulnya. Cepat-cepat Kun Liong mundur dan berkata.
"Moi-moi, belum kau katakan siapakah musuhmu itu, dia yang sanggup membunuh seorang lihai seperti Go-bi Thai-houw?"
"Dia? Dia adalah si keparat Cia Keng Hong, yang kabarnya sekarang menjadi Ketua Cin-ling-pai di Cin-ling-san! Kau tunggulah, si keparat Cia Keng Hong! Tunggulah saat kematianmu kalau Kim Seng Siocia dan suaminya Yap Kun Liong datang membalas dendam! Koko, dengan bantuanmu, aku yakin bahwa kita akan dapat membunuh Cia Keng Hong. Aku melihat gerakan-gerakanmu tadi hebat sekali. Orang seperti engkau inilah yang kutunggu-tunggu!"
Kembali Kim Seng Siocia hendak merangkul dan Kun Liong sudah bingung.
Tiba-tiba datang pertolongan ketika pintu kamar terbuka dan dua orang pelayan tadi datang membawa hidangan yang masih panas dan serba mewah dan lezat.
Dengan senyum manis dua orang pelayan itu menurunkan piring mangkok dan manci ke atas meja, juga seguci arak wangi.
"Harap singkirkan bangkai cecak ini..."
Kata Kun Liong kepada dua orang pelayan itu.
"Eihhh, mengapa? Dua ekor cecak itu merupakan lalap yang sedaaap!"
Kata Kim Seng Siocia yang mengusir kedua orang pelayannya dengan gerakan tangan.
Mereka pergi dan kembali menutupkan pintu kamar.
Kun Liong hampir muntah.
Bangkai cecak dipakai lalap?
Biasanya orang lalap dengan sayur segar dan mentah!
Akan tetapi dia tidak mencela karena dia mulai bersikap hati-hati sekali terhadap wanita ini setelah diketahuinya bahwa wanita ini adalah musuh besar Cia Keng Hong dan berniat menggunakan dia sebagai teman untuk membunuh pendekar sakti yang masih terhitung supeknya sendiri bahkan yang telah mengajarkan Thi-khi-i-beng kepadanya itu!
Dengan menekan perasaannya, dia menemani wanita itu makan minum.
Hanya dengan kekuatan luar biasa saja dia dapat bertahan ketika Kim Seng Siocia menggunakan sumpit menjepit bangkai cecak dan melalapnya dengan bunyi "kriuk!
kriuk!"
Ketika giginya yang kuat mengunyah bangkai itu berikut tulang-tulangnya.
Yang lebih menjijikkan lagi ketika Kim Seng Siocia menyumpit ekor cecak yang masih bergerak-gerak menggeliat itu, memasukkan benda yang masih hidup itu ke dalam mulut lalu mengunyahnya!
Tahulah dia bahwa wanita ini benar-benar tidak waras otaknya!
Namun Kun Liong makan sampai kenyang tanpa bicara, hanya diam-diam dia mengasah otaknya mencari jalan keluar dari bahaya ini, Terutama sekali bagaimana dia akan dapat menolong Hong Ing yang keselamatannya terancam bahaya maut.
Bukan hanya dari Kim Seng Siocia datangnya bahaya mengancam yang sewaktu-waktu dapat membunuh Hong Ing, melainkan juga dari Marcus yang jelas adalah seorang laki-laki yang tidak baik.
Setelah selesai makan minum yang bagi Kim Seng Siocia amat menggembirakan itu, wanita ini bertepuk tangan dan dua orang pelayan itu cepat muncul.
Mereka disuruh membersihkan meja dan pada waktu itu, hari telah mulai menjadi petang.
Seorang di antara mereka menyalakan lampu untuk menerangi kamar yang sudah mulai gelap.
Setelah dua orang pelayan itu selesai membersihkan meja, menyalakan lampu dan membereskan pembaringan, menyapu lantai kamar, Kim Seng Siocia sambil tersenyum-senyum berkata kepada mereka.
"Sekarang panggil Acui dan Amoi ke sini, sementara itu, Pek Nikouw harus dijaga oleh selosin orang penjaga yang siap turun tangan membunuhnya begitu ada tanda rahasia dariku."
Dua orang pelayan itu mengangguk, mengundurkan diri setelah mengerling dan tersenyum geli ke arah Kun Liong yang duduk seperti arca di atas bangunan.
Kim Seng Siocia duduk kembali.
"Koko, hanya Acui dan Amoi itulah pelayan-pelayanku yang paling boleh kuandalkan dan kupercaya. Juga mereka yang menjadi pembantu, juga muridku. Mereka yang memandikan aku, menggantikan pakaian, pendeknya, hanya mereka yang kupercaya. Karena itu, pada malam pengantin ini... hi-hi-hik, aku pun hanya mau dilayani oleh mereka..."
Kun Liong hanya mengangguk-angguk, padahal dia tidak mengerti apa yang dikehendaki dan dimaksudkan oleh "isterinya"
Itu, isteri paksaan.
Sementara itu, di bagian lain dari istana itu, Marcus sedang membujuk-bujuk kepada Acui dan Amoi.
"Kenapa kalian melindunginya? Serahkan dia kepadaku, sebentar saja dan aku akan bersikap manis kepadamu, Acui dan Amoi."
"Hushh! Pergilah! Kalau ketahuan Siocia, apakah kau masih dapat menyelamatkan kepalamu yang berambut kuning itu?"
Acui membentak sedangkan Amoi tersenyum-senyum genit kepada pemuda asing yang tampan itu.
"Eh, Marcus, apakah kau lupa kepada lima orang teman-temanmu? Apakah kau ingin pula dilempar kepada anak buah yang merupakan serigala-serigala kelaparan itu,"
Kata Amoi mengejek, akan tetapi di balik ejekannya itu, sinar matanya memandang ke arah tubuh yang tegap dan kuat itu dengan penuh gairah.
Marcus merasa ngeri kalau mengingat kepada lima orang itu.
Mereka telah mati konyol, mati dengan tubuh mengering kehabisan darah, seperti matinya lima ekor lalat yang sudah dihisap habis semua darahnya oleh laba-laba yang banyak itu!
Akan tetapi dia cerdik dan tidak memperlihatkan kengeriannya, bahkan dia tertawa.
"Ahhh, seperti kalian tidak tahu saja! Siocia suka kepadaku dan memang kemarin aku tidak berani main gila dengan wanita lain, betapa pun rindu dan inginku kepada kalian berdua yang cantik jelita ini! Akan tetapi sekarang, Siocia telah mendapatkan seorang kekasih baru, tentu aku menjadi bebas pula untuk bermain cinta dengan siapa juga. Acui dan Amoi, nikouw ini tidak urung akan dibunuh juga, maka apa salahnya kalau membiarkan aku mempermainkannya sebentar?"
Amoi melangkah ke depan.
"Hemm, apa sih menariknya perempuan gundul ini? Eh Marcus, apakah kami berdua kalah cantik oleh nikouw gundul ini?"
Marcus tersenyum lebar.
"Tentu saja tidak, dan aku berjanji, kalau kalian suka memberikan nikouw itu kepadaku sebentar, setelah aku selesai dengan dia, aku akan menemui kalian berdua bersenang-senang. Bagaimana?"
"Huh! Kau temani kami dulu, baru kami berikan dia kepadamu."
"Baiklah, aku memang sudah lama rindu kepada kalian. Mari!"
"Enci Acui, kau bersenanglah dulu, biar aku yang menjaganya,"
Kata Amoi.
Acui yang masih khawatir kalau-kalau Siocia akan marah, mengerutkan alisnya akan tetapi hatinya pun tertarik sekali.
Sudah terlalu lama bagi dia dan Amoi tak pernah dirayu oleh seorang pria, apalagi pria semuda dan setampan Marcus yang memiliki ketampanan khas pula sebagai seorang berkulit putih.
"Engkau saja dulu, Amoi, biar aku yang menjaganya."
Amoi tersenyum genit dan mengangguk kepada Marcus yang tertawa-tawa dan merangkulnya dan hendak menariknya pergi dari tempat penjagaan rahasia itu.
Akan tetapi pada saat itu, muncullah dua belas orang penjaga yang bersenjata lengkap, dipimpin oleh dua orang pelayan yang diperintah oleh Kim Seng Siocia tadi.
Mereka berkata dengan suara nyaring bahwa Acui dan Amoi dipanggil oleh Kim Seng Siocia dan bahwa dua belas orang itu ditunjuk untuk menggantikan dua orang pelayan kepercayaan itu untuk menjaga tawanan.
Amoi kelihatan kecewa, akan tetapi dia melepaskan Marcus sambil berkata.
"Kau tidak boleh di sini. Keluarlah dulu dan menunggu kami. Awas, sebelum kami kembali, kau tidak boleh menyentuhnya. Hai, para penjaga! Selama kami berdua pergi, jaga tawanan baik-baik dan jangan membolehkan siapapun juga, termasuk dia ini, menyentuh tawanan. Mengerti?"
Para penjaga itu menyatakan taat kepada Amoi yang menjadi kepercayaan majikan mereka dan Marcus yang kecewa juga tidak berani membantah lalu pergi keluar.
Dia akan sabar menanti.
Acui dan Amoi memasuki kamar majikan mereka dan keduanya terkekeh genit ketika melihat Kun Liong duduk seperti arca di atas bangkunya, sedangkan Siocia kelihatan begitu gembira, mukanya kemerahan tanda bahwa dia sudah banyak minum arak wangi.
"Acui... Amoi..., aihhh, aku menjadi gugup di malam pengantin ini. Kalian bantulah aku..."
Kata Kim Seng Siocia sambil tersenyum.
"Bagaimana sih baiknya? Sin-liang (pengantin pria) kelihatan malu-malu... ihhh, dia memang masih perjaka tulen..."
Acui dan Amoi cekikikan.
"Benarkah, Siocia? Ah, kalau begitu kau bahagia sekali, Siocia. Kionghi (selamat)!"
Kata Amoi. Keduanya lalu menghampiri Kun Liong dan berkata.
"Kongcu (Tuan Muda), mengapa Kongcu belum juga menanggalkan pakaian luar? Sudah waktunya sepasang pengantin tidur, maka harap Kongcu tidak malu-malu lagi, karena hal itu bisa mendatangkan kesalahpahaman bagi pengantin wanita, dapat dianggap bahwa pengantin pria menolak dan ini merupakan penghinaan besar,"
Kata Acui.
"Benar itu, Kongcu. Mari kami membantumu menanggalkan pakaian..."
Kata Amoi genit dan keduanya lalu menyerbu, menanggalkan pakaian luar Kun Liong sehingga pemuda ini menjadi bingung dan malu.
Untuk melawan tentu saja dia dapat, akan tetapi teringat akan keselamatan Hong Ing, dia diam saja.
Akhirnya semua pakaian luarnya termasuk sepatu nya telah ditanggalkan dan dia dituntun setengah paksa duduk di tepi tempat tidur yang lebar panjang dan berbau harum itu.
Kaki dan tubuh atasnya menjadi segundul kepalanya, dan hanya sebuah celana dalam panjang yang tipis saja yang masih menutup tubuhnya.
Kini matanya terbelalak memandang ke depan di mana Kim Seng Siocia sedang dibantu oleh dua orang pelayannya itu menanggalkan pakaian luar.
Agak sukar juga bagi wanita gendut itu untuk menanggalkan pakaian luarnya dan pekerjaan ini mereka lakukan bertiga sambil tertawa cekikikan.
Setelah banyak sekali kancing yang ketat itu dilepaskan, mulailah pakaian luar itu diperosotkan dari atas dan mulailah tampak tubuh yang kini hanya dibungkus pakaian dalam yang tipis sekali itu.
Dengan pakaian luar menutupi tubuhnya, bentuk tubuh Kim Seng Siocia masih tertolong, masih terlindung oleh pakaian luar yang lebar, akan tetapi setelah kini pakaian luar itu merosot dari atas sedikit demi sedikit, mata Kun Liong juga menjadi makin lebar dan makin lebar, tubuhnya menggigil seperti orang diserang demam malaria, sampai kedua bibirnya pun ikut bergerak-gerak seperti orang kedinginan.
Mulailah tampak tubuh Kim Seng Siocia, mula-mula lehernya, lalu pundaknya yang tampak di balik pakaian dalam yang amat tipis sehingga tembus pandangan itu, kemudian mulai tampak tonjolan dadanya yang...
aduhai!
Dua onggok daging yang bergumpal besar sekali, sebuah saja sudah sebesar dua kali kepala Kun Liong!
Makin merosot ke bawah pakaian luar itu, makin ngerilah hati Kun Liong, matanya terbelalak, mulutnya celangap dan jari tangannya menahan bibirnya yang gemetaran keras.
Sambil cekikikan, akhirnya atas isyarat majikan mereka, Acui dan Amoi meninggalkan kamar dan menutupkan pintu kamar rapat-rapat.
Kini sambil tersenyum Kim Seng Siocia melangkah perlahan menghampiri pembaringan dan setiap langkah terasa oleh Kun Liong seolah-olah seluruh kamar itu tergetar dan terjadi gempa bumi!
Setelah kini tampak kedua buah kaki wanita itu, Kun Liong merasa serem bukan main.
Kaki gajah!
Kaki yang besarnya ada empat kali kakinya sendiri!
Apalagi ketika kaki itu melangkah, selurub tubuh yang merupakan gumpalan-gumpalan daging yang bertumpuk menjadi satu itu bergoyang-goyang semua!
Kun Liong hampir pingsan ketika wanita' itu akhirnya berdiri dekat sekali di depannya, dan hidungnya mencium bau minyak wangi yang terlalu keras sehingga membuat dia sukar bernapas.
"Hi-hik, Koko... jangan malu-malu, suamiku... aku cinta padamu..."
Cepat luar biasa, tidak sesuai dengan bentuk tubuhnya, Kim Seng Siocia sudah menubruk sehingga Kun Liong terjengkang dan terlentang di atas pembaringan, lenyap tertindih bukit daging itu!
Kun Liong megap-megap tak dapat bernapas, hanya kedua kakinya yang kelihatan bergerak-gerak dan kedua lengannya yang terpentang.
"Eh... ohh... nanti dulu... eh, Siocia... eh, Moi-moi..."
Dia gelagapan ketika Kim Seng Siocia menutupi mukanya dengan ciuman-ciuman kasar sehingga hampir seluruh muka Kun Liong basah oleh ciumannya.
Ketika merasa betapa wanita itu menjadi makin ganas dan mulutnya yang besar itu menutupi separuh mukanya, Kun Liong cepat menggerakkan jari tangannya menotok pundak wanita itu, menotok jalan darah hong-hu-hiat-to untuk membuat wanita itu lemas.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika merasakan jari tangannya menotok daging yang demikian tebalnya sehingga jari tangan itu tidak dapat mencapai jalan darah!
Mengertilah dia bahwa wanita ini menjadi kebal bukan main karena jalan darah di tubuhnya terlindung oleh ketebalan dagingnya!
Dia kaget, akan tetapi Kim Seng Siocia juga terkejut.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong, dia menggigit bibir wanita itu untuk mencegahnya berteriak, dan mengerahkan Thi-khi-i-beng ketika wanita itu menggunakan kedua tangan mencengkeram pundaknya.
"Iiihhh... oooohhh...!"
Hanya keluhan ini yang keluar dari mulut Kim Seng Siocia yang bibirnya masih tergigit oleh Kun Liong ketika dia merasa betapa sin-kangnya memberobot keluar, membanjir melalui kedua telapak tangan, tersedot oleh hawa mujijat dari dalam tubuh pemuda itu.
Memang kesempatan inilah yang dinanti-nanti Kun Liong, yang sejak tadi diasah dalam benaknya.
Dia maklum akan kelihaian wanita ini, dan kalau wanita itu berada dalam keadaan siap siaga, apalagi dengan cambuk sakti yang ditaruh di atas meja itu, dia tidak akan mampu menolong Hong Ing.
Tidak akan mampu mengalahkan wanita ini dan membuatnya tak berdaya tanpa mampu berteriak.
Tadinya, menurut rencana, dia akan menotoknya begitu wanita itu menerkamnya di tempat tidur.
Akan tetapi ternyata totokannya gagal, maka terpaksa dia menggunakan Thi-khi-i-beng sambil "menahan"
Mulut Kim Seng Siocia agar jangan berteriak, dengan jalan mengigigit bibirnya!
Makin lama makin pengap rasanya Kun Liong karena onggokan daging membukit itu makin menghimpitnya, makin panas rasa tubuhnya karena kemasukan sin-kang dan makin lemah pula tubuh Kim Seng Siocia!
Kun Liong tidak bermaksud membunuhnya, maka begitu melihat bahwa wanita itu sudah tidak mampu meronta lagi karena sin-kangnya sudah hilang setengahnya lebih, Dia lalu menggunakan ujung bantal untuk menyumpali mulut yang lebar itu, kemudian menggunakan alas tempat tidur untuk mengikat kaki tangannya.
Dia maklum bahwa kalau wanita itu bertenaga sepenuhnya, tentu ikatan itu tidak ada artinya.
Akan tetapi dalam keadaan sin-kangnya tersedot terlampau banyak, membuat wanita itu seperti tidur, atau setengah pingsan dan mendengkur keras seperti seekor babi, Kun Liong sudah merasa cukup.
Dia lalu meloncat dari tempat tidur.
Maksudnya hendak meloncat dan berpakaian, akan tetapi hampir dia menjerit ketika loncatannya itu membuat tubuhnya melayang ke atas!
Dia lupa bahwa penambahan tenaga sin-kang di tubuhnya membuat tenaganya menjadi berlebihan dan tubuhnya terasa seperti bola karet yang penuh hawa, merasa seolah-olah tubuhnya menjadi sebesar tubuh Kim Seng Siocia!
"Dukkkk!"
Kepalanya yang gundul terbentur pada langit-langit kamar itu sehingga langit-langit itu ambrol dan pecah!
Dia terkejut, baru teringat maka cepat dia mengatur tenaga yang liar menjelajahi seluruh tubuh itu sesuai dengan petunjuk Cia Keng Hong.
Biarpun terasa masih sesak dadanya dan panas tubuhnya, namun dapat juga dia mengenakan pakaiannya.
Dia maklum bahwa tenpa mengurangi hawa yang disedotnya dari Kim Seng Siocia itu, dia seperti orang mabuk dan sukar menguasai tenaga yang berlebihan, maka dia lalu meloncat, menerobos melalui langit-langit yang jebol tadi, menggunakan gin-kangnya yang menjadi berlipat ganda itu berkelebat keluar dari istana.
Dia memasuki hutan yang gelap dan setelah merasa yakin di situ tidak terdapat orang lain, mulailah dia menghamburkan tenaga kelebihan dari tubuhnya itu untuk memukul batu dan pohon besar.
Dalam waktu singkat, lima buah batu besar hancur dan tujuh batang pohon besar tumbang!
Barulah terasa enak tubuhnya, ringan dan tidak mabuk seperti tadi.
Dia lalu melesat kembali menuju ke istana hendak menolong Hong Ing sebelum Kim Seng Siocia dapat melepaskan diri atau sebelum para pembantu wanita itu ada yang tahu.
Kalau dia mengenangkan pengalamannya dalam kamar Kim Seng Siocia tadi dia bergidik ngeri.
Memang dia bukanlah perjaka lagi, dan dia sudah berenang di lautan cinta dengan Hwi Sian, akan tetapi hal itu dilakukan oleh keduanya atas dasar suka rela.
Akan tetapi tadi?
Bukan main ngerinya!
Dan dia tidak dapat membayangkan apa akan jadinya dengan dirinya kalau saja dia tidak memiliki Thi-khi-i-beng!
Dengan tergesa-gesa namun hati-hati sekali Kun Liong memeriksa seluruh bagian istana dan akhirnya dia dapat menemukan tempat rahasia di mana Hong Ing ditahan.
Tempat itu merupakan bagian belakang istana, rapat terkurung dinding baja dan di bagian depan terjaga oleh belasan orang wanita.
Dengan sigap dan cepat sekali Kun Liong meloncat tanpa diketahui mereka ke atas genteng tempat tahanan itu, kemudian membuka atap dan mengintai ke bawah.
Dilihatnya pemandangan yang mengherankan.
Hong Ing masih seperti tadi, dibelenggu kaki tangannya dengan tali hitam, yang dapat mulur dan sukar dipatahkan itu, dijaga oleh Acui yang memegang pedang dan menodongkan pedang itu ke tubuh Hong Ing, siap sewaktu-waktu untuk menusuk tubuh tawanan itu apabila majikannya memberi tanda!
Benar-benar amat berbahaya keadaan Hong Ing karena andaikata tadi Kim Seng Siocia sempat mengeluarkan jeritan mencurigakan sedikit saja tentu pedang di tangan Acui itu sudah menembus jantungnya!
Selagi dia yang bersikap hati-hati itu mencari-cari di mana adanva Amoi, dia mendengar suara tertawa pelayan genit itu dan muncullah Amoi bersama Marcus bergandeng tangan dari sebuah kamar di samping tempat tahanan itu.
Wajah Amoi berseri kemerahan dan rambutnya kusut "Enci Acui, sekarang giliranmu.
Biarlah aku menjaganya!"
Acui tersenyum, memberikan pedangnya kepada Amoi dan dia sendiri lalu dirangkul oleh Marcus dan keduanya memasuki kamar sebelah.
Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Kun Liong.
Cepat dia menyambar turun sebelum Amoi yang nampak kelelahan itu sempat menodongkan pedangnya kepada Hong Ing.
Amoi terkejut mendengar suara angin bertiup dari atas.
Dia membalik namun terlambat karena tubuh Kun Liong yang menukik turun sudah menyambar, sekali tangannya bergerak pedang itu telah terampas olehnya dan sebuah tamparan perlahan ke pundak Amoi membuat gadis ini menjerit dan terguling.
Mendengar jeritan ini, Acui bertanya dari dalam kamar.
"Amol, ada apakah?"
"Enci Acui, tolong...!"
Acui dan Marcus berloncatan kcluar dari kamar dalam keadaan setengah telanjang.
Melihat betapa Kun Liong telah menyambar dan memondong tubuh Hong Ing, Acui cepat menubruk dan memukul.
Akan tetapi sekali ini Kun Liong tidak menaruh sungkan atau kasihan lagi karena keadaan Hong Ing terancam.
Dia mendahului gadis itu dengan sebuah tendangan yang mencium lutut kiri gadis ini sehingga Acui terkejut, berteriak dan terjungkal.
Kun Liong tidak mempedulikan lagi, lebih-lebih karena Acui dan Amoi sudah mulai berteriak-teriak memanggil kawan-kawannya.
Dia memondong tubuh Hong Ing dan meloncat melalui atas atap.
Baru saja tubuhnya muncul ke atas genteng, dia telah disambut oleh lima orang gadis penjaga yang bersenjata tombak.
Lima buah mata tombak menusuknya dari lima penjuru.
Namun tubuh Kun Liong sudah mencelat ke atas, menukik cepat sekali ke kiri dan menyambar sebatang tombak sebelum pemiliknya sempat melihat jelas apa yang terjadi.
"Krekkk!"
Ujung tombak yang runcing dipatahkan oleh Kun Liong, kemudian dengan jurus Ilmu Tongkat Siang-liong-pang, akan tetapi hanya mainkan sebatang tongkat saja karena lengan kirinya mengempit tubuh Hong Ing, dia menyerang.
Terdengar empat kali suara nyaring dan empat batang tombak pengeroyoknya patah semua.
Kun Liong membuang tongkatnya dan meloncat turun, bukan ke atas tanah di bawah di mana telah menanti puluhan orang gadis bersenjata lengkap, Melainkan meloncat ke sebuah pohon dan dari situ, menggunakan gin-kangnya yang bertambah karena penyedotan sin-kang dari Kim Seng Siocia tadi, dia meloncat lagi ke atas pohon di depan, kemudian menghilang ke dalam gelap.
Sampai lama sekali Kun Liong melarikan diri dengan hati-hati karena malam itu gelap sekali dan hanya diterangi oleh bintang-bintang di langit.
Dia menuruni puncak dengan hati-hati, kadang-kadang harus meraba-raba dulu dengan kakinya, sampai dia jauh meninggalkan istana Kim Seng Siocia.
Akan tetapi dia maklum bahwa anak buah Kim Seng Siocia terus melakukan pengejaran, maka dia tidak mau berhenti berjalan dan mulai menuruni puncak dengan hati-hati.
Di tengah jalan dia melepaskan ikatan kaki tangan Hong Ing dan tiba-tiba dara itu berkata.
"Lepaskan aku! Aku bukan bayi yang harus dipondong. Aku bisa jalan sendiri!"
Kun Liong terkejut dan heran.
Susah payah dia menolong gadis ini, bahkan melalui pengalaman yang mengerikan ketika dia dihimpit oleh gumpalan daging menggunung, dan sekarang begitu bisa bicara, Hong Ing mengeluarkan kata-kata yang keras!
Akan tetapi dia menurunkan gadis itu dan mereka lalu bergerak perlahan melanjutkan perjalanan mereka menjauhi istana Kim Seng Siocia.
Makin bertambah keheranan hati Kun Liong ketika dia melihat betapa Hong Ing melakukan perjalanan dengan sikap diam, tak pernah bicara, dan kadang-kadang kalau dia dapat memandang wajah itu di bawah sinar bintang yang remang-remang, dia melihat wajah itu cemberut.
Ingin sekali dia bertanya mengapa gadis itu menjadi tak senang hati, bahkan seperti orang marah, akan tetapi karena mereka sedang melarikan diri dari kejaran anak buah Kim Seng Siocia, dia pun tidak banyak bertanya.
Ketika mereka dipaksa berhenti oleh keadaan jalan yang amat berbahaya, selain cuaca makin gelap karena halimun menutupi cahaya bintang yang hanya sedikit itu, dan banyak jurang melintang di depan menghadang perjalanan mereka, dan mereka telah berlindung di bawah sebuah bukit batu yang berlubang merupakan guha kecil dengan api unggun menghangatkan badan mereka, barulah Kun Liong bertanya.
"Hong Ing, kenapa kau kelihatan seperti orang berduka dan tidak senang hati?"
Sambil duduk membelakangi Kun Liong, kemudian malah merebahkan diri miring, Hong Ing menjawab dengan sikap acuh tak acuh dan suara yang datar.
"Mengapa aku harus tidak senang hati? Aku telah ditolong, bukan? Tidak, aku tidak apa-apa, hanya ingin tidur karena lelah."
Jawaban ini tentu saja tidak memuaskan hati Kun Liong, akan tetapi dia pun mengeraskan hatinya.
Kalau tidak mau mengaku, sudahlah, bukan urusannya.
Maka dia pun menjawab datar.
"Kalau begitu, kau tidurlah, biar aku yang menjaga di sini sampai pagi."
Mendongkol juga hati Kun Liong karena dara itu tidak menjawab, melainkan menggeser tubuhnya lebih dekat dengan api unggun agar hawa dingin tidak terlalu mengganggunya.
Hemm, sikapnya begitu tidak acuh, begitu sombong!
Sombongkah Hong Ing?
Seingatnya tidak, tetapi mengapa sekarang...?
Hemm, dan mengapa pula dia menjadi tidak enak hati, tidak senang melihat sikap dara itu tidak pedulian kepadanya?
Kun Liong duduk termenung.
Malam telah tua.
Sunyi sekali sekeliling itu, sesunyi hati Kun Liong.
Akan tetapi pikirannya mulal mengaduk kesunyian dan dia mengingat-ingat semua pengalaman yang telah dialaminya.
Terutama sekali hal-hal yang baru saja terjadi, yang amat berkesan di hatinya.
Kematian ayah bundanya yang telah impas karena lima orang datuk kaum sesat yang membunuh mereka itu telah terbunuh semua.
Usul ikatan jodoh antara dia dan Cia Giok Keng yang tidak disetujui oleh dara itu.
Kematian Souw Li Hwa dan Yuan yang amat mengharukan hatinya dan yang mulai merubah pandangannya tentang cinta kasih antara pria dan wanita.
Kemudian pengalamannya bersama Lim Hwi Sian yang tak mungkin dapat dia lupakan selama hidupnya.
Dan yang terakhir pengalaman mengerikan dengan Kim Seng Siocia sampai saat ini.
Mengapa jalan hidupnya selalu melintasi persoalan cinta?
Mengapa banyak benar gadis yang dijumpainya dan dikenalnya, dan yang menimbulkan rasa suka di hatinya?
Akan tetapi, cintakah semua itu?
Tidak, dia yakin itu bukan cinta seperti yang disebut-sebut orang!
Dia suka kepada Yo Bi Kiok, kepada Souw Li Hwa, Cia Giok Keng, Lim Hwi Sian, Yuanita, karena mereka adalah dara-dara yang cantik jelita dan memiliki daya tarik masing-masing yang khas sehingga dia merasa suka dan tertarik.
Akan tetapi itu bukan cinta!
Bahkan apa yang dilakukannya bersama Hwi Sian malam itu, sama sekali bukan karena dorongan cinta bagi dia, melainkan karena rangsangan dan dorongan nafsu birahi.
Entah bagi Hwi Sian.
Cintakah itu?
Dan apa yang dilakukan Kim Seng Siocia terhadapnya itu, jelas bukan cinta karena Kim Seng Siocia memaksanya menjadi suami dengan tujuan untuk mengajaknya membantu dalam usahanya membalas dendam kepada Cia Keng Hong.
Dan bagaimana perasaannya terhadap Hong Ing?
Dia menundukkan muka memandang tubuh yang meringkuk membelakanginya itu.
Cintakah dia kepada Hong Ing?
Ah, tentu saja tidak.
Kalau kepada yang lain dia tidak pernah mencinta, mengapa kepada Hong Ing ada kecualinya?
Dia hanya suka kepada Hong Ing, suka dan merasa kasihan mendengar riwayat dara yang terpaksa menjadi nikouw untuk menghindarkan diri dari pernikahan paksaan ini.
Mengapa benar dia harus jatuh cinta kepada Hong Ing?
Kemudian terbayanglah peristiwa di atas kapal yang terbakar.
Terbayanglah dua orang mahluk muda yang dengan rela suka mati bersama.
Yuan dan Li Hwa!
Mereka saling berpelukan sampai pada saat terakhir, sampai kapal yang terbakar itu membawa mereka tenggelam.
Itukah cinta?
Agaknya itulah!
Saling membela, siap untuk berkorban diri sampai mati!
Itukah cinta?
Kalau perlu membasmi siapa saja dengan kekerasan, membasmi mereka yang hendak menghalangi hasrat mereka untuk hidup bersama.
Inikah cinta antara pria dan wanita?
Membawa kekerasan, pertentangan, bahkan kematian yang begitu mengerikan?
Agaknya itulah cinta yang disanjung-sanjung manusia, cinta antara pria dan wanita dan segala sesuatu yang tercakup di dalamnya.
Cemburu, iri hati, nafsu birahi, kesenangan, kekecewaan, kepuasan, kemarahan, kedukaan dan kebencian.
Semua ini tercakup di dalam perasaan yang disebut cinta!
"Hemmm, kalau begitu aku tidak mau jatuh cinta!"
Kun Liong mengepal tinjunya dan kembali pandang matanya menimpa punggung Hong Ing.
Kalau bukan cinta, lalu apakah itu yang mendorong dia melakukan segala pengorbanan demi untuk menyelamatkan Hong Ing?
Hanya karena kasihan begitu saja?
Ataukah ada udang di balik batu, ada sesuatu di balik semua itu?
Mengapa dia bersusah payah menyusul Hong Ing ke Go-bi-san sampai dia kesasar ke istana Kim Seng Siocia akan tetapi yang malah merupakan suatu kebetulan karena ternyata orang yang dicarinya, Pek Hong Ing, memang berada di situ?
Bukankah itu cinta namanya?
"Tidak!
Aku tidak mau jatuh...!"
Tiba-tiba dia menghentikan kata-katanya ini.
Ternyata diluar kesadarannya, dia telah meneriakkan suara hatinya ini sehingga dia melihat Hong Ing bergerak, agaknya terbangun oleh kata-katanya tadi.
Betapa tololnya dia!
Dan dara ini kelihatan begini angkuh!
Kalau dia memperlihatkan bahwa dia agaknya hampir jatuh cinta, tentu dara ini akan menjadi makin angkuh saja!
Tidak, dia tidak akan merendahkan diri sedemikian rupa, hanya karena dia suka dan kasihan kepada dara ini!
Karena merasa mengkal hatinya terhadap dirinya sendiri, Kun Liong melempar tubuhnya ke belakang, untuk rebah di dekat api unggun dan agar dia tidak dapat melihat lagi kepada Hong Ing.
"Dukkk!"
Hampir dia berteriak namun ditahannya, hanya jari-jari tangannya saja yang mengusap-usap kepala gundulnya yang tadi membentur batu ketika dia merebahkan diri terlentang.
Kulit kepala itu berdenyut-denyut.
Lumayan juga nyerinya!
Kun Liong membuka matanya, akan tetapi cepat menutupkannya kembali dan melindungi mata dengan tangan kiri dari sinar matahari yang amat menyilaukan dan menggunakan tangan kanan untuk menggaruki kepalanya yang terasa gatal-gatal.
Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinar matahari yang tepat sekali menimpa kepalanya itu menggigiti kulit kepalanya dan menyilaukan matanya.
Setelah dia bangkit duduk dan terbebas dari sinar matahari yang tadi langsung menimpanya, dia baru berani membuka mata dan melihat Hong Ing sudah duduk di depannya dengan muka segar dan mulut tersenyum!
Manisnya!
Sepagi itu telah kelihatan segar dan jelas sekali bahwa dara ini tentu telah mandi, entah di mana!
"Tidurmu enak sekali, aku tidak tega membangunkanmu."
"Kau..."
Kun Liong menahan kata-katanya dan menelan kembali pujiannya ketika teringat betapa semalam gadis ini kelihatan marah-marah dan kini dia tidak ingin melihat wajah yang berseri itu kembali marah.
"kau... kelihatan segar sekali, Hong Ing."
Senyum itu melebar dan untuk kedua kalinya Kun Liong menjadi silau.
Hanya bedanya, kalau yang pertama dia silau oleh sinar matahari yang menyakitkan mata, kini dia silau akan kemanisan wajah dengan deretan gigi seputih mutiara yang menyedapkan mata, membuat dia bengong sejenak dan baru sadar kembali ketika dara itu berkata dengan wajah berseri gembira.
"Aku sudah mandi. Segar dan sejuk sekali, Kun Liong. Di sana..."
Dia menuding ke timur.
"hanya setengah li dari sini terdapat mata air yang jernih. Aku sudah mandi dan ketika kembali ke sini, aku menangkap seekor kelinci gemuk."
"Kelinci...?"
Tiba-tiba cuping hidung Kun Liong bergerak-gerak seperti hidung kelinci karena dia mencium bau yang gurih dan sedap.
"Mana kelincinya?"
Melihat betapa lubang hidung pemuda itu presis hidung kelinci yang tadi ditangkapnya, Hong Ing terkekeh dan menutupi mulut dengan punggung tangan kirinya, gerakan kebebasan yang terselimut kesopanan tradisionil yang menjadi perpaduan harmonis sekali.
Manis sekali.
"Hi-hik, kelincinya sudah tidak ada lagi, yang ada hanya daging kelinci panggang..."
"Sedaaap...!"
Kun Liong memuji dan tiba-tiba perutnya terasa lapar sekali.
"Mandi dulu, baru aku mau menghidangkan daging panggang. Hayo, pemalas benar kau!"
Hong Ing mengebut-ngebutkan seranting daun-daun basah sehingga airnya bepercikan ke muka Kun Liong, sambil tertawa-tawa.
Senang benar rasa hati Kun Liong pagi itu.
Semua perasaan pahit di hatinya terusir pergi oleh senyum di bibir dan seri di wajah dara itu.
Dia berloncatan sambil berteriak-teriak.
"Ihhh... dingin... dingin!"
Lalu dia lari menuju ke timur seperti yang tadi ditunjuk oleh Hong Ing.
Benar saja, dia mendapatkan sebuah mata air yang mengeluarkan air jernih sekali dan di bawah sumber air itu air telah tergenang, merupakan sebuah kolam air penuh dengan air kebiruan saking jernihnya.
Rumput-rumput yang tumbuh di pinggir kolam itu kacau-balau, meninggalkan bekas Hong Ing mandi tadi.
Dengan hati penuh kegembiraan, kegembiraan luar biasa yang belum pernah terasa olehnya sepanjang ingatannya, Kun Liong lalu menanggalkan semua pakaiannya.
Ketika hanya tinggal celana dalamnya yang tinggal menempel di tubuhnya, tiba-tiba dia berhenti dan bergidik karena teringatlah dia akan pengalamannya di dalam kamar tidur Kim Seng Siocia.
Terbayanglah betapa dia menggigil penuh kengerian dan tiba-tiba dia tertawa dan membuka celana itu lalu melempar tubuhnya yang telanjang bulat ke dalam air.
Daging kelinci panggang itu memang sedap sekali, gurih manis dan lunak, amat lezat terutama sekali bagi perut mereka yang lapar.
Seolah-olah terasa oleh Kun Liong betapa sari makanan itu setelah memasuki perutnya memulihkan tenaganya yang diserap habis oleh kelelahan dan kelaparan.
Setelah menyiram daging panggang dalam perut itu dengan air jernih sebagai minuman, Kun Liong mengelus perutnya, memandang kepada Hong Ing dan berkata.
"Kau pandai benar memanggang daging kelinci. Selama hidupku baru sekali makan daging panggang begitu lezatnya!"
"Kau masih ingin lagi? Nih, kau makan bagianku!"
Hong Ing mengulurkan tangan yang memegang daging paha kelinci ke depan mulut Kun Liong.
"Eih, mengapa engkau begini baik hati kepadaku, Hong Ing?"
Tanpa disengaja, tangan kanan Kun Liong menangkap lengan yang kecil itu dan sejenak mereka berpandangan.
Hong Ing cepat menundukkan mukanya dan Kun Liong melepaskan pegangan tangannya.
"Kaumakanlah sendiri, aku sudah kenyang! Ah, enak sekali masakanmu!"
Sepasang pipi itu menjadi merah dan mata itu jernih sekali ketika diangkat memandang.
Sejenak mereka saling pandang dan akhirnya Hong Ing menundukkan mukanya.
Kun Liong terheran-heran.
Mengapa pula ini?
Hatinya menjadi berdebar dan terharu!
Biasanya, melihat wajah cantik seorang dara, dia ingin mengusapnya, ingin mendekat, ingin memeluk menciumnya, ingin menggodanya.
Akan tetapi mengapa sekarang lain lagi?
Hatinya seperti tersentuh sesuatu yang halus yang membuat dia memandang Hong Ing dengan perasaan penuh hormat, penuh iba, penuh haru.
Keadaan sunyi itu amat mengusik hati dan akhirnya Hong Ing tanpa mengangkat mukanya bertanya.
"Bagaimana engkau dapat muncul begitu tiba-tiba di istana Kim Seng Siocia?"
Lega hati Kun Liong mendengar suara ini.
Inilah suara Hong Ing seperti biasanya, seperti sebelum peristiwa itu terjadi di istana, sebelum mereka saling berpisah dahulu itu dan suara ini mengusir semua suasana tegang dan aneh tadi.
"Tadinya aku hendak menyusulmu. Hatiku merasa tidak enak ketika aku melihat engkau pergi bersama sucimu itu, aku lalu menuju ke Go-bi-san dan bertanya-tanya. Akan tetapi tidak ada penduduk dusun yang dapat memberi tahu di mana tempat tinggal Go-bi Sin-kouw. Akhirnya aku tiba di lereng puncak tempat tinggal Kim Seng Siocia tanpa kusengaja. Karena mengira bahwa itu adalah tempat tinggal gurumu, maka aku menyelundup masuk dan..."
"Kau berteriak memanggil nama Subo (Ibu Guru). Hemm, mengapa kau jauh-jauh dan bersusah payah datang ke Go-bi-san untuk mencariku?"
"Aku tidak rela melihat kau dipaksa orang untuk menikah dengan pangeran yang tidak kau suka. Aku kasihan melihat engkau yang sudah mengorbankan diri menjadi nikouw untuk menghindar dari paksaan itu, tidak berdaya dan terpaksa ikut dengan sucimu, seolah-olah engkau seekor domba yang dituntun ke tempat penjagalan. Karena itu maka aku segera mencarimu."
"Kau baik sekali, Kun Liong."
"Ah, tidak. Aku melakukan itu bukan karena ingin baik, melainkan karena aku kasihan kepadamu, penasaran melihat urusanmu. Tidak kusengaja."
Keduanya terdiam sampai agak lama.
"Dan demi keselamatanku, kau mengorbankan dirimu, kau membiarkan dirimu ditawan oleh Kim Seng Siocia,"
Kata pula Hong Ing tanpa mengangkat muka dan jari-jari tangan yang kecil putih halus itu memainkan ujung rumput di depan kakinya.
"Tentu saja, Hong Ing! Masa setelah jauh-jauh mencarimu dan bertemu di situ, aku bisa membiarkan saja engkau dibunuhnya? Aku tidak berdaya, jalan satu-satunya hanya menyerah."
"Dan kau membiarkan dirimu menjadi... suaminya?"
"Hemm, permintaannya yang gila!"
Kun Liong kembali bergidik terbayang akan pengalamannya di kamar itu.
"Akan tetapi, melihat betapa ancamannya untuk membunuhmu amat bersungguh-sungguh, terpaksa pula aku menyerah. Keselamatanmu lebih penting pada waktu itu..."
Tiba-tiba Hong Ing mengangkat mukanya dan terkejutlah hati Kun Liong ketika dia melihat sepasang mata itu bersinar-sinar penuh kemarahan!
"Jadi kau anggap bahwa nyawaku lebih penting daripada kehormatanmu?"
"Kehormatan? Apa maksudmu?"
"Kau menyerahkan diri sebagai suami paksaan, bukankah itu berarti menginjak-injak kehormatan sendiri?"
Kun Liong menjadi bengong dan sejenak hanya dapat memandang dara itu.
"Begitu rendahkah kau? Mau saja menuruti nafsu menjijikkan seorang wanita gila seperti dia?"
Kun Liong menggeleng kepala.
"Jangan salah mengerti, Hong Ing. Aku tidak berdaya, kita tidak berdaya. Itu hanya satu-satunya jalan, bukan berarti bahwa aku menyerah betul-betul. Buktinya, akhirnya aku berhasil membebaskan diri dan membebaskan kau."
"Aku tidak minta kaubebaskan! Aku tidak minta kau merendahkan diri seperti itu hanya untuk menolongku! Atau kau memang senang melayaninya agaknya!"
"Apa maksudmu?"
"Kau memang mempunyai watak mata keranjang, maka penawaran Kim Seng Siocia itu malah menyenangkan hatimu."
"Aihh, bukan begitu!"
Kun Liong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya yang gundul.
"Dia... dia... ihhh, menjijikkan dan mengerikan."
"Bagaimana kau dapat membebaskan diri? Dengan bujuk rayu?"
Kun Liong menggaruk-garuk kepalanya.
Bagaimana dia harus menceritakan pengalamannya itu?
Masih terasa betapa separuh mukanya basah oleh ciuman mulut lebar yang rakus itu!
"Aku...
aku memang pura-pura menyerah, kemudian...
ketika dia lengah...
aku...
eh, aku berhasil membuatnya tidak berdaya.
Aku lalu lari dari kamarnya dan mencarimu.
Untung belum terlambat...
dan hatiku girang sekali melihat engkau selamat, Hong Ing."
Sepasang mata yang tadinya bersinar-sinar penuh kemarahan itu kini berubah menjadi sayu, agak terpejam memandang Kun Liong, kemudian kepala itu menunduk dan terdengar suaranya lirih.
"Aku... aku selalu menyusahkanmu... telah berkali-kali engkau menolong dan menyelamatkan aku, Kun Liong. Kenapa?"
Hong Ing mengangkat mukanya dengan tiba-tiba dan sepasang mata itu kini begitu tajam pandangnya, tajam penuh selidik seolah-olah hendak menjenguk isi hatinya.
(Lanjut ke
Jilid 33) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33
"Kenapa? Tentu saja aku menolongmu Hong Ing, menolong sedapatku dan hal itu sudah lumrah, bukan? Siapa pun tentu akan menolong setiap orang yang menderita dan terancam bahaya."
"Jadi bukan karena aku..."
"Maksudmu?"
Muka yang cantik itu kembali menunduk dan terdengar helaan napas panjang-panjang sebelum Hong Ing bersuara lagi.
"Jadi bagimu, siapa saja yang terancam bahaya, tentu akan kau tolong?"
"Tentu saja, sedapat mungkin. Mengapa kau bertanya demikian?"
Hong Ing kembah mengangkat wajahnya dan kini wajah itu kelihatan lesu, seperti orang kecewa.
Kun Liong menjadi bingung dan terheran-heran.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya... dan kau memang seorang pendekar budiman. Hal ini seharusnya kuketahui sejak dahulu."
"Aihh, jangan memuji, Hong Ing. Aku hanya orang biasa saja."
"Mungkin ilmu kepandaianmu tidak terlalu tinggi, akan tetapi keberanianmu menolong orang lain amat besar."
"Sudahlah, Hong Ing. Kepalaku bisa menjadi lebih besar lagi kalau kau melanjutkan pujian kosong itu. Lebih baik kau ceritakan bagaimana kau yang dibawa oleh sucimu itu bisa menjadi orang tawanan Kim Seng Siocia."
Hong Ing menghela napas lagi dan kini alisnya berkerut tanda bahwa hatinya benar-benar merasa tertekan dan berduka.
Teringat akan sucinya, dia melupakan keadaan dirinya sendiri.
Urusan sucinya sebenarnya merupakan urusan yang memalukan sekali dan seyogianya dirahasiakan dari siapapun juga.
Akan tetapi entah mengapa, terhadap Kun Liong, semenjak pertemuan pertama, dia tidak bisa menyimpan rahasia, seolah-olah Kun Liong adalah seorang yang sudah dipercayanya benar-benar, seorang yang lebih dari sahabat biasa, lebih dari saudara!
"Suci...
dia...
dia seperti juga engkau, demi menolongku dia rela mengorbankan dirinya menjadi isteri manusia iblis Ouwyang Bow..."
"Hah...??"
Berita ini benar-benar mengejutkan hati Kun Liong.
Lauw Kim In, dara yang manis dan dingin itu, menjadi isteri seorang manusia seganas Ouwyang Bouw yang berotak miring?
"Bagaimana...
bagaimana hal itu bisa terjadi?"
Hong Ing lalu menceritakan kesemuanya.
Mula-mula dia menceritakan tentang sucinya yang patah hati karena tunangannya menyeleweng, berjina dengan isteri muda Thian-ong Lo-mo sehingga tunangan itu terbunuh oleh kakek ini.
Hal itulah yang membuat sucinya menjadi dingin dan membenci atau memandang rendah pria.
Kemudian diceritakannya betapa mereka berdua bertemu dengan Ouwyang Bouw yang amat lihai sehingga mereka berdua tertawan.
Barulah mereka dibebaskan setelah sucinya menerima pinangan Ouwyang Bouw yang tergila-gila kepadanya.
"Aku tahu mengapa suci mengorbankan diri sedemikian rupa. Bukan semata-mata untuk menyelamatkan aku, juga untuk kepentingannya sendiri. Dia akan dapat mewarisi ilmu-ilmu tinggi dari Ouwyang Bouw sehingga terbuka kemungkinan baginya untuk membalas dendam, di samping menyelamatkan dirinya sendiri yang tentu akan ternoda dan mungkin tewas apabila menolak pinangan itu. Kasihan sekali Suci..."
Kun Liong menghela napas panjang.
"Seorang yang keadaan hidupnya sendiri amat sengsara namun melupakan keadaan sendiri dan mengingat serta menaruh kasihan kepada orang lain merupakan ciri seorang yang mempunyai hati mulia penuh welas asih. Aku kagum kepadamu, Hong Ing."
"Tidak perlu kau memuji, Kun Liong."
Jawab Hong Ing cepat-cepat sambil menekan debar jantungnya yang menjadi gembira mendengar pujian itu.
"Memang aku sudah melupakan diriku sendiri. Apa sih yang kuharapkan lagi?"
"Aahh, mengapa dilanda putus asa selagi hidup? Teruskan ceritamu, bagaimana kau sampai terjatuh ke tangan Kim Seng Siocia yang gila itu."
"Aku tersesat jalan karena mengambil jalan lain agar jangan sampai ketahuan oleh guruku. Tanpa kusengaja aku memasuki daerah kekuasaan Kim Seng Siocia dan aku ditawan. Kemudian wanita gila itu menyuruh aku bekerja di sana, yaitu berdoa untuknya, berdoa agar dia cepat membalas dendamnya kepada Pendekar Sakti Cia Keng Hong."
"Hemmm..."
"Tentu saja aku tidak berdoa apa-apa untuknya, akan tetapi aku pun tidak berani membantah karena hal itu berarti kematian. Dia amat lihai... dan untung sekali kau dapat lolos, Kun Liong. Aku masih heran bagaimana kau dapat lolos dari orang selihal itu. Tentu kau menggunakan akal bujuk rayu, bukan?"
Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul.
Dia tahu bahwa dara ini mengira bahwa ilmu kepandaiannya "biasa"
Saja dan dia pun tidak ingin membuka rahasianya.
"Memang aku telah menggunakan akal menyerah karena tidak berdaya, akan tetapi aku tidak biasa membujuk rayu siapapun juga, apalagi orang seperti dia. Aku berhasil membuatnya tidak berdaya. Eh, soal itu tidak penting, Hong Ing. Sekarang bagaimana? Hari telah terang, mari kita lekas melanjutkan perjalanan. Tentu Kim Seng Siocia akan melakukan pengejaran dan belum lagi bahayanya kalau sampai subomu ikut pula mencari."
Pucat wajah Hong Ing dan dia meloncat berdiri. Mendengar tentang subonya, dia menjadi takut sekali.
"Aihh, sampai lupa aku keenakan bicara di sini. Mari kita pergi cepat, kita masih berada di wilayah Go-bi-san."
"Sebaiknya kita pergi ke timur. Di tempat ramai seperti di timur, di mana banyak terdapat kota?kota besar, tentu lebih mudah bagi kita untuk melarikan diri."
Hong Ing mengangguk.
"Dan di sana banyak terdapat kuil?kuil Kwan-im-bio yang besar di mana aku dapat minta tolong dan bersembunyi."
Berangkatlah dua orang ini dengan tergesa-gesa, melanjutkan pelarian mereka menuju ke timur.
Berhari-hari mereka melakukan perjalanan cepat, keluar masuk hutan di Pegunungan Go-bi-san, kemudian melintasi padang pasir.
Mereka melakukan perjalanan dengan cepat, hanya berhenti kalau mau makan atau tidur saja dan beberapa hari kemudian mereka telah keluar dari daerah Go-bi-san dan tiba di tepi Sungai Huang-ho.
Biarpun air Sungai Huang-ho tidak dapat dikatakan jernih, namun setelah melakukan perjalanan berhari-hari melintasi padang pasir yang panas, kedua orang itu dengan girang dan lega menuruni tepi sungai dan menggunakan air sungai itu untuk membasahi muka, leher, kedua tangan dan kaki mereka.
"Tangkap mereka!"
Kun Liong dan Hong Ing yang sedang bergembira karena bertemu dengan air yang dingin sejuk sehingga melupakan segala urusan mereka, terkejut bukan main dan keduanya cepat melompat ke darat.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Hong Ing ketika melihat subonya, Go-bi Sin-kouw bersama Pangeran Han Wi Ong dengan sepasukan tentara yang jumlahnya ada lima puluhan orang!
"Nona Pek Hong Ing, mengapa engkau menjadi begini...?
Dan dengan mati-matian kami telah mencarimu..."
Pangeran itu berkata dengan nada suara berduka sekali ketika melihat dara yang dicintanya itu telah menjadi seorang nikouw seperti itu.
"Pangeran Han Wi Ong, pinni sudah menjadi seorang nikouw, perlu apa dicari lagi?"
Hong Ing berkata.
"Hong Ing, murid durhaka!"
Tiba-tiba Go-bi Sin-kouw membentak dan mendengar bentakan gurunya ini, Hong Ing yang sejak kecil diasuh dan dididik nenek itu cepat menjatuhkan diri berlutut dan menangis terisak-isak.
Kun Liong memandang penuh perhatian.
Harus diakuinya bahwa Pangeran Han Wi Ong, sungguhpun sudah berusia empat puluh tahun, namun masih tampak muda dan tampan gagah, sesungguhnya tidak mengecewakan menjadi suami Hong Ing, apalagi mengingat bahwa Pangeran itu memiliki kedudukan tinggi.
Dicinta oleh seorang seperti itu dan menjadi isterinya, sebetulnya merupakan nasib baik bagi diri Hong Ing.
Adapun nenek itu mendatangkan rasa gentar juga di hati Kun Liong.
Nenek itu usianya tentu sudah enam puluhan tahun, punggungnya bungkuk, pakaiannya serba hitam, rambutnya digelung keatas dan muka penuh keriput itu membayangkan kehidupan yang sengsara dan membuat wajah itu nampak bengis.
Tangan kiri nenek itu memegang sebatang tongkat butut berwarna hitam pula.
Kelihatannya saja seorang nenek yang ringkih dan lemah, akan tetapi Kun Liong dapat menduga bahwa nenek ini tentulah memiliki kepandaian tinggi, maka dia bersikap waspada.
Dia dan Hong Ing selain berhadapan dengan nenek dan Pangeran itu, juga telah dikurung rapat oleh lima puluh orang tentara anak buah pasukan yang mengawal Pangeran Han Wi Ong.
"Subo..."
Hong Ing berkata.
"Hong Ing, di mana sucimu?"
"Dia telah ikut dengan Ouwyang Bouw, Subo..."
Dengan suara berat Hong Ing menceritakan perihal sucinya.
Sepasang mata nenek itu, yang sipit sekali mengeluarkan sinar kemarahan, mulutnya cemberut dan mukanya menjadi makin bengis.
"Setan! Semua gara-gara engkau yang murtad! Dan siapa laki-laki gundul ini?"
"Dia... dia sahabat teecu (murid), dia telah menolong teecu berkali-kali dari bahaya kematian..."
"Bohong! Dia tentu yang membujukmu melarikan diri dan menjadi nikouw. Hong Ing, sekarang juga engkau harus ikut denganku, membatalkan keadaanmu sebagai nikouw dan siap menghadapi pemikahanmu dengan Pangeran Han Wi Ong!"
"Subo..."
"Diam! Kau mau melawan gurumu?"
Hong Ing hanya menangis. Melihat ini, Kun Liong melangkah maju dan berkata dengan suara nyaring.
"Apakah saya berhadapan dengan Go-bi Sin-kouw?"
Nenek itu mendengus.
"Mau apa kau? Karena kau telah berani membujuk muridku, kau harus mampus!"
"Nanti dulu, Go-bi Sin-kouw. Mampus ya mampus, akan tetapi ingatlah bahwa perbuatanmu ini sungguh amat tidak patut! Memaksa murid sendiri untuk melakukan pernikahan yang tidak disukainya. Memaksa murid sendiri yang sudah menjadi nikouw untuk menikah. Mana ada guru ingin melihat murid sendiri menderita sengsara?"
"Heii, kau! Siapa kau berani mencampuri urusan kami?"
Tiba-tiba Pangeran Han Wi Ong melangkah maju.
"Tidak tahukah kau dengan siapa kau berhadapan? Aku Pangeran Han Wi Ong, putera Kaisar! Tahu engkau? Apakah kau hendak menjadi pemberontak yang dapat dihukum mati? Kau pergilah dan jangan mencampuri urusan Nona Pek Hong Ing dengan kami, maka aku masih akan mengampunimu. Kalau tidak, kau kuanggap pemberontak dan akan kutangkap."
Mendongkol juga hati Kun Liong.
Dia dianggap begitu pengecut untuk mudah ditakut-takuti dan disuruh meninggalkan Hong Ing yang dihadapi orang-orang seperti harimau kelaparan itu!
"Maaf, Pangeran.
Sebagai seorang berkedudukan tinggi dan terpelajar, tentu Pangeran juga maklum betapa tidak baiknya memaksa seorang gadis seperti Nona Pek Hong Ing yang sudah menjadi nikouw untuk menikah.
Betapa rendahnya perbuatan seperti itu."
"Keparat! Pemberontak laknat! Hayo tangkap dia!"
Pangeran itu memerintahkan anak buahnya dan pasukan yang sudah siap itu lalu maju mengurung Kun Liong yang sudah bersiap pula untuk membela diri.
"Tahan dulu senjata!"
Bentakan ini demikian nyaring dan mengandung khi-kang amat kuat sehingga mengejutkan semua orang, bahkan pasukan yang sudah siap menyerbu dan mengeroyok Kun Liong menjadi ragu-ragu.
Mereka membuka pengurungan dan membiarkan wanita gemuk yang baru berteriak tadi memasuki lapangan itu dan berhadapan dengan Go-bi Sin-kouw dan Pangeran Han Wi Ong.
Kun Liong dan Hong Ing menjadi makin kaget.
Celaka sekali!
Kim Seng Siocia sudah muncul pula dan mereka maklum bahwa di belakang wanita gendut ini tentu terdapat pula banyak anak buahnya.
Dugaan mereka benar karena kini bermunculan puluhan orang wanita anak buah Kim Seng Siocia, mereka sudah siap dengan senjata lengkap pula.
Pasukan pemerintah pengawal Pangeran Han Wi Ong menjadi bingung melihat "pasukan"
Wanita yang cantik-cantik itu! "Go-bi Sin-kouw, engkau orang tua harap tidak bertindak sembarangan!"
Kim Seng Siocia menegur sambil memandang nenek itu. Go-bi Sin-kouw mendengus marah.
"Siapa engkau?"
Bentaknya.
"Aku? Aku adalah Kim Seng Siocia, pewaris dari Go-bi Thai-houw."
Tentu saja Go-bi Sin-kouw terkejut mendengar nama ini dan dia memandang dengan penuh perhatian dan juga keheranan.
Perempuan gendut ini pewaris Go-bi Thai-houw, yang kabarnya amat lihai itu?
Betapapun juga, dia tidak berani sembarangan dan balas menegur "Mengapa kau menuduh aku bertindak sembarangan?"
"Mengapa kau hendak membunuh orang ini?"
Kim Seng Siocia menudingkan telunjuknya yang besar ke arah Kun Liong.
"Hemm, dia telah membujuk muridku melarikan diri. Karena itu, dia harus mampus!"
"Enak saja bicara! Apakah muridmu dia itu?"
Dia menuding ke arah Hong Ing.
"Benar."
"Kalau begitu, kau ngawur! Laki-laki ini adalah suamiku dan dia lari karena terbujuk oleh Pek Hong Ing muridmu itu. Jadi sebetulnya, Pek Hong Ing itulah yang harus kubunuh dan aku datang untuk mengambil pulang suamiku."
Go-bi Sin-kouw makin bingung.
Dia hendak mendapatkan kembali muridnya, memaksanya menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong yang merupakan jalan baginya untuk memperoleh kemuliaan, dan membunuh pemuda gundul yang hanya menjadi penghalang itu.
Sekarang Kim Seng Siocia muncul dengan niat yang berlawanan.
Yaitu mengambil kembali pemuda gundul itu dan membunuh Pek Hong Ing!
"Mau membunuh muridku?
Akan kulihat dulu sampai di mana kemampuan!"
Go-bi Sin-kouw membentak dan tongkatnya sudah meluncur ke depan merupakan sinar hitam yang berkelebat cepat sekali.
"Wuuuutttt... taarrr!"
Tongkat itu tertangkis oleh cambuk di tangan Kim Seng Siocia dan kedua orang itu mencelat mundur dengan kaget, maklum akan kehebatan tenaga lawan masing-masing.
Mereka saling pandang dan sudah siap untuk bertanding mati-matian memperebutkan kebenaran.
"Harap. Ji-wi (Anda Berdua) bersabar dulu!"
Tiba-tiba Han Wi Ong berkata dengan suara penuh wibawa.
Dua orang wanita itu melangkah mundur dan memandang kepada Han Wi Ong, Betapapun juga, laki-laki ini adalah seorang pangeran, baru pakaiannya saja sudah menimbulkan segan di hati orang.
"Mengapa Ji-wi harus saling serang? Ada jalan yang amat mudah dan baik. Nona ini datang untuk minta kembali suaminya, pemuda gundul itu, dan Sin-kouw juga menuntut agar muridnya, Nona Pek Hong Ing kembali bersama dia. Nah, ada urusan apa lagi? Biarlah pemuda gundul itu pergi bersama Kim Seng Siocia, sebaliknya Nona Pek Hong Ing ikut bersama gurunya, bukankah beres sudah dan tidak perlu timbul pertandingan yang tiada gunanya?"
Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw saling pandang kemudian keduanya mengangguk-angguk.
Memang tidak ada perlunya mereka harus bertanding, pula memang di dalam hati masing-masing telah timbul perasaan jerih.
Go-bi Sin-kouw maklum akan kelihaian wanita gendut itu, dan sebaliknya, Kim Seng Siocia juga maklum bahwa agaknya Go-bi Sin-kouw dibantu oleh Pangeran dan tentara kerajaan sehingga amatlah berbahaya kalau sampai dia bentrok dengan mereka.
"Hi-hi-hik, memang tepat sekali! Go-bi Sin-kouw, kita adalah tetangga, perlu apa mesti saling bermusuhan? Aku tidak membutuhkan muridmu, hanya menginginkan kembalinya suamiku."
"Memang apa yang diucapkan Pangeran Han Wi Ong benar sekali, Kim Seng Siocia. Aku pun hanya membutuhkan kembalinya muridku. Nah, kaubawalah suamimu dan kuharap kau tidak lupa untuk mengirim undangan, sedangkan aku pun pasti akan mengharapkan kedatanganmu untuk mencicipi arak merah jika muridku melangsungkan pernikahannya dengan Pangeran Han Wi Ong."
Kim Seng Siocia terkekeh girang.
"Kalian sungguh tidak tahu aturanya!"
Tiba-tiba Kun Liong menegur dengan suara lantang dan pemuda ini sudah bergerak maju beberapa langkah sedangkan Hong Ing mengikuti di belakangnya dengan muka pucat.
Dara ini sudah merasa putus harapan karena maklum bahwa mana mungkin dia dan Kun Liong mampu menghadapi subonya dan Kim Seng Siocia ditambah lagi dengan pasukan Pangeran dan anak buah wanita gemuk itu?
"Kun Liong, sudahlah, kau pergilah, lekas lari tinggalkan aku..."
Hong Ing memegang lengannya.
"Engkau diamlah, Hong Ing dan serahkan urusan ini kepadaku,"
Kata Kun Liong yang kemudian memandang kepada Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw, dan Pangeran Han Wi Ong bergantian dengan mata bersinar-sinar penuh penasaran.
"Kalian bertiga membicarakan kami berdua seolah-olah kami bukan manusia! Kami berdua bukanlah binatang-binatang peliharaan yang boleh kalian atur sesuka hati kalian! Kami berdua adalah manusia-manusia yang mempunyai pendirian sendiri dan sudah sepatutnya kalian bertanya kepada kami, mendapatkan persetujuan kami sebelum mengambil keputusan sesuatu mengenal diri kami."
"Coba lihat, bukankah gagah perkasa suamiku ini? Hi-hik, Koko yang baik, kau mau bicara apakah? Nanti saja kita bicarakan di dalam kamar, lebih enak bukan?"
"Kim Seng Siocia, tidak perlu kau melanjutkan sikap gila itu! Aku bukan suamimu, belum pernah menjadi suamimu dan takkan menjadi suamimu. Karena aku tahu bahwa engkau tidak waras pikiran, maka kemarin aku masih mengampunimu dan menaruh kasihan kepadamu. Mengapa kau melanjutkan kegilaanmu? Dan kau Go-bi Sin-kouw. Sekarang Hong Ing bukanlah muridmu lagi, tidak boleh kau hendak memaksanya melakukan sesuatu di luar kehendaknya."
Baru saja Kun Liong berhenti bicara, Kim Seng Siocia mengeluarkan suara melengking keras dan nyaring sekali, seperti suara seekor burung garuda marah dan suara ini disusul oleh meledak-ledaknya cambuk panjang di tangannya yang sudah menyambar-nyambar turun ke arah kepala Kun Liong.
Wanita gendut ini marah sekali.
Ketika dia disedot sin-kangnya di atas pembaringan malam tadi, dia sudah terkejut sekali dan dapat menduga bahwa itulah Ilmu Thi-khi-i-beng yang kabarnya hanya dimiliki oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong.
Maka timbullah dugaannya, bahwa tentu ada hubungan di antara pemuda gundul itu dengan Cia Keng Hong, musuh besarnya.
Dia merasa betapa tenaganya tinggal setengahnya dan biarpun dia sudah melakukan siu-lian dan mengumpulkan hawa sakti, ketika pada keesokan harinya dia melakukan pengejaran dengan seluruh anak buahnya, tenaganya masih belum pulih seluruhnya.
Inilah sebabnya mengapa ketika dia mengadu tenaga dengan Go-bi Sin-kouw, dia hanya seimbang dengan nenek itu, padahal dalam keadaan biasa, dia tentu jauh lebih kuat.
Kemarahannya memuncak dan mengandalkan bantuan Go-bi Sin-kouw, anak buahnya dan pasukan Pangeran Han Wi Ong, dia kini menerjang Kun Liong dengan maksud, kalau mungkin menawannya, kalau tidak membunuhnya!
Tentu saja dia senang sekali kalau berhasil menawan pemuda gundul ini karena selain dia ingin memperoleh tubuhnya, juga dia ingin mempelajari Thi-khi-i-beng dan ingin pula bertanya tentang bokor emas seperti yang diceritakan oleh Marcus kepadanya.
Kun Liong cepat menghindarkan diri dan berusaha menangkap ujung cambuk, namun Kim Seng Siocia sudah menarik kembali cambuknya.
Dia berteriak kaget ketika tubuh Kun Liong dengan kecepatan kilat telah meloncat ke arahnya pada saat cambuk ditarik kembali, dan tahu-tahu tangan pemuda itu sudah menyambar hendak merampas gagang cambuk.
"Aihhh... duuukkk!"
Terpaksa Kin Seng Siocia menangkis dengan tangan kirinya, tangkisan yang dilanjutkan dengan dorongan ke arah pundak Kun Liong.
Gerakannya tak tersangka-sangka sehingga pundak pemuda itu dapat didorongnya akan tetapi akibatnya, dia sendiri yang terlengkang sehingga dia cepat melempar tubuhnya ke atas tanah lalu bergulingan.
"Murid murtad!"
Pada saat itu kedua lengan Go-bi Sin-kouw sudah mencengkeram ke arah Hong Ing untuk menangkap muridnya itu.
Betapa pun marahnya kepada Hong Ing, dia tidak mau memukul hanya ingin menangkap karena dia masih mengharapkan muridnya menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong karena hal ini akan mengangkat derajatnya sebagai guru atau mertua seorang pangeran!
"Plak!
Plak!"
Nenek itu menjerit dan terhuyung ke belakang ketika lengannya tertangkis oleh lengan Kun Liong.
Pemuda ini setelah membuat Kim Song Siocia terjengkang telah menyambar cepat ke arah Hong Ing ketika dia melihat dara itu diserang oleh gurunya dan sama sekali tidak bergerak untuk menghindarkan diri.
Hong Ing terbelalak.
Hampir dia tidak dapat percaya.
Yang dilihatnya tadi terlalu aneh.
Gurunya dan Kim Seng Siocia, kedua orang yang sakti itu, terguling oleh gempuran Kun Liong hanya dalam segebrakan saja?
"Hong Ing, kau larilah...!"
Kun Liong cepat berkata, sambil menyambar lengan dara itu dan ditariknya Hong Ing yang tadi berlutut itu sehingga berdiri.
Hong Ing masih bengong memandang kepadanya, lalu dara itu menggeleng kepala.
"Aku pergi dan kau...?"
"Wuuutt... tar-tarr...!"
Kun Liong mendorong tubuh Hong Ing sehingga dara ini terguling, sedangkan dia sendiri cepat meloncat ke samping menghindarkan diri dari sambaran cambuk di tangan Kim Seng Siocia.
Namun ujung cambuk itu terus membalik dan mengejarnya ke manapun juga dia bergerak.
Kun Liong menjadi repot juga dan tiba-tiba dia mengelak sambil melempar tubuh ke atas tanah ketika cambuk itu kembali menyambar.
Sambil berguling dia genggam tanah bercampur pasir di tangannya, kemudian terus bergulingan mendekati Kim Seng Siocia.
Ketika dia melirik dan melihat Go-bi Sin-kouw kembali sudah menghampiri Hong Ing yang kelihatan gentar dan tidak berani melawan, tiba-tiba Kun Liong memekik keras sekali, mengejutkan hati semua orang, kedua tangannya bergerak ketika tubuhnya mencelat ke atas dan...
batu bercampur pasir meluncur ke arah Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw!
"Hayaaa...!"
Kim Seng Siocia berseru dan cepat memutar cambuk memukul sinar itu.
Juga Go-bi Sin-kouw terkejut menarik kembali tangannya yang tadi hendak memegang lengan muridnya dan dia dapat meloncat dan berjungkir balik menghindarkan diri dari sambaran sinar kehitaman itu.
Mereka telah dapat menghindarkan diri dari sambaran tanah, akan tetapi debu masih mengebul, membuat mereka cepat mundur karena mengira babwa Kun Liong telah melepaskan benda mengandung racun.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Kun Liong untuk mendekati Hong Ing dan dia berbisik.
"Pergilah. Aku dapat melawan mereka."
"Mana mungkin?"
Hong Ing berbisik dengan wajah penuh putus asa.
"Kita sudah terkepung oleh tentara dan anak buah Kim Seng Siocia..."
"Pakai akal! Menyelinap di antara pasukan... yang lihai hanya mereka berdua..."
"Siuuuttt... tar-tar-tar...!"
Kun Liong terkejut karena dia sedang mendorong tubuh Hong Ing ke arah pasukan tentara yang mengepung sehingga kurang cepat dia mengelak dan sambaran ke tiga dari cambuk itu telah mengenai pundaknya.
Bajunya di bagian pundak itu robek dan sedikit kulit pundaknya tergigit robek oleh piauw yang diikat di ujung cambuk sehingga berdarah.
"Wirrr...!"
Tongkat di tangan Go-bi Sin-kouw menyambar dan Kun Liong cepat meloncat ke kanan, mengelak.
Di lain saat dia telah dikeroyok oleh dua orang wanita lihai itu sehingga dia harus berloncatan ke sana-sini untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi hatinya lega karena Hong Ing telah menurut permintaannya.
Dara itu telah lenyap dan menyelinap di antara pasukan sehingga terjadilah kekacauan di antara pasukan yang berusaha menangkap dara itu.
Namun bagi Hong Ing, mereka itu adalah makanan lunak sehingga dia dapat bergerak leluasa meloncat ke sana-sini dan keributan yang terjadi di sekelilingnya membuat gurunya dan juga Kim Seng Siocia tidak mungkin menghampirinya, apalagi karena dua orang wanita lihai itu sedang sibuk mengeroyok Kun Liong yang terlalu gesit bagi mereka.
Pangeran Han Wi Ong yang khawatir kehilangan calon isterinya yang dicintainya, cepat lari dan mengejar Hong Ing sambil mengerahkan para pengawalnya dan berkali-kali dia berteriak agar anak buahnya jangan melukai dara itu.
Sementara itu, anak buah Kim Seng Siocia yang dipimpin oleh Acui dan Amoi, juga Marcus, sudah mengurung tempat itu dan melihat betapa Kim Seng Siocia sudah bertanding melawan Kun Liong, tanpa diperintah lagi mercka sudah maju, terutama sekali Acui dan Amoi yang merupakan bantuan berharga bagi Kim Seng Siocia.
Kun Liong merasa sibuk bukan main, menghadapi cambuk Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw saja dia sudah merasa terancam, apalagi kini muncul Acui dan Amoi, sedangkan puluhan orang dara anak buah Kim Seng Siocia sudah mengepung dengan senjata di tangan.
Kalau saja Kun Liong tidak berpendirian bahwa dia tidak akan melukai apalagi membunuh orang, kiranya dia akan dapat lolos dengan mudah sambil merobohkan beberapa orang di antara pengeroyok-pengeroyoknya.
Akan tetapi karena dia hanya membela diri dan menyelamatkan diri, maka dia menjadi repot sekali dan beberapa kali dia sudah terkena gebukan tongkat Go-bi Sin-kouw yang membuat nenek itu berteriak kaget dan terbelalak karena setiap gebukannya tidak membuat pemuda gundul itu roboh, bahkan telapak tangannya sendiri terasa nyeri!
Kadang-kadang Kun Liong menoleh ke arah Hong Ing yang tadi menyelinap di antara pasukan pemerintah.
Ketika melihat betapa di situ masih kacau tanda bahwa Hong Ing masih berada di antara pasukan pemerintah dan dikeroyok oleh pasukan, Kun Liong menjadi makin khawatir.
Mengapa dara itu tidak lekas-lekas melarikan diri?
Dia tidak mempedulikan keadaannya sendiri karena dia akan dapat dengah mudah membebaskan diri, akan tetapi dia amat khawatir kalau-kalau Hong Ing tertawan lagi dan dia amat sukar menyelamatkannya, mengingat betapa banyaknya lawan yang dihadapinya.
Maka dia lalu mengambil keputusan untuk mengeluarkan kepandaian dan membuat lawan tidak berdaya lebih dulu agar dia dapat melarikan Hong Ing.
Ketika cambuk yang amat berbahaya dari Kim Seng Siocia menyambar lagi, disusul oleh hantaman tongkat oleh Go-bi Sin-kouw dan serangan kilat dengan pedang yang dilakukan oleh Acui dan Amoi, Kun Liong cepat menendang tongkat nenek itu dengan pengerahan tenaganya setelah berhasil mengelak dari sambaran cambuk, memukul jatuh pedang di tangan Acui dan menangkap pergelangan tangan Amoi yang memegang pedang.
"Lepaskan!"
Amoi membentak dan menghantamkan tangan kirinya ke arah leher Kun Liong.
"Plak! Plak! Aihhh, lepaskan aku...!"
Amoi menjerit-jerit ketika telapak tangan kirinya yang tepat menghantam leher itu melekat tak dapat ditarik kembali, bahkan kini lengan kiri Kun Liong sudah merangkul pinggangnya yang ramping dengan ketat dan gadis itu merasa betapa tenaga sin-kangnya menerobos keluar dihisap oleh tenaga mujijat yang keluar dari leher dan lengan pemuda itu.
Melihat keadaan Amoi, Acui cepat maju dan memukul punggung Kun Liong.
"Bukk! Aihhh...!"
Juga Acui menjerit-jerit dan meronta-ronta untuk membebaskan tangannya yang menempel di punggung Kun Liong.
Namun, karena dia telah menjadi korban penghisapan Thi-khi-i-beng, makin hebat dia meronta, makin kuat dia mengerahkan sin-kang, makin kuat pula telapak tangannya melekat dan sin-kangnya terbetot dan terhisap makin banyak pula.
Dua orang gadis itu menjerit-jerit dan mereka berdua meronta-ronta, berusaha memukul, menendang, bahkan menggigiti Kun Liong merasa kegelian juga sehingga beberapa kali dia melepaskan sin-kangnya dan akhirnya dua orang gadis itu kelihatan seperti sedang membelainya, yang seorang merangkul lehernya dari belakang dan yang ke dua memeluk pinggang dari depan.
Melihat ini, Go-bi Sin-kouw lalu maju dan memegang lengan Amoi, menariknya dengan pengerahan sin-kang untuk membantu gadis itu terlepas.
Biarpun dia tidak mengenal Amoi dan tidak peduli akan apa yang menimpa diri gadis ini, namun dia tahu bahwa kedua orang gadis itu adalah anak buah Kim Seng Siocia dan yang telah membantunya menghadapi pemuda gundul lihai itu, maka dianggapnya sebagai kawan juga, maka dia mencoba untuk menolongnya agar pihaknya kuat lagi.
Akan tetapi dia pun terpekik penuh kekagetan ketika merasa betapa tangannya yang memegang lengan Amoi itu melekat dan ada daya sedot luar biasa yang menghisap tenaga sin-kangnya melalui lengan gadis yang dipegangnya itu!
Dia berteriak dan mengerahkan sin-kangnya membetot, namun dapat dibayangkan betapa heran dan kagetnya ketika sin-kang yang dikerahkannya itu seolah-olah membanjir memasuki lengan Amoi yang dipegangnya!
Memang hebat bukan main Thi-khi-i-beng.
Sekali dikerahkan, daya sedotnya sedemikian kuatnya sehingga dapat menembus tubuh orang lain seolah-olah aliran listrik!
Maka terjadilah hal yang amat lucu.
Betot-membetot ini tidak hanya terjadi antara tiga orang itu, melainkan makin bertambah ketika anak buah Kim Seng Siocia ikut pula mengeroyok Kun Liong untuk membantu kedua orang pelayan kepala yang melekat kepada pemuda gundul itu.
Namun, setiap orang gadis sekali bergerak memegang tubuh Acui, Amoi, Go-bi Sin-kouw atau tubuh Kun Liong sendiri, kontan melekat dan terhisap sin-kangnya!
Hal ini malah membuat Kun Liong menjadi payah!
Terlalu banyak tenaga sin-kang yang membanjiri tubuhnya.
Biarpun dia sudah dapat menguasai Thi-khi-i-beng dan dapat menghentikan daya hisap itu sewaktu-waktu yang dikehendakinya, namun karena dia masih belum berpengalaman dalam menguasai ilmu mujijat ini, sekarang kebanjiran tenaga membuat dia seperti mabok, merasa tubuhnya seperti sebuah balon karet yang terus ditiup sampai sebesar-besarnya, merasa seolah-olah tubuhnya akan pecah meledak setiap saat, pemuda itu pun hanya dapat mengeluh.
"Lepaskan aku..., lepaskan aku... jangan pegang...!"
Dan dia pun roboh telentang dan tujuh orang wanita yang melekat kepadanya itu ikut pula terbawa, roboh menindih tubuhnya!
Memang lucu pemandangan ini, seolah-olah tujuh orang wanita, yang seorang nenek-nenek, sedang mengeroyok dan menggulat Kun Liong!
Kim Seng Siocia sudah mengerti apa yang terjadi.
"Celaka, kalian menjadi korban Thi-khi-i-beng!"
Teriaknya dan dia memutar-mutar cambuknya akan tetapi tidak berani sembarangan mempergunakannya karena tubuh Kun Liong seolah-olah terlindung oleh tubuh tujuh orang itu.
Lebih sulit lagi, kini Acui dan Amoi yang merasa betapa hawa sin-kang mereka tersedot oleh Kun Liong dan betapa tubuh mereka menindih, merasakan kemesraan aneh seolah-olah mereka akan dibawa mati bersama-sama pemuda itu dan keduanya kini tidak mengeluh lagi, melainkan merintih perlahan dan menciumi muka pemuda gundul itu dengan mesra!
Hal ini membuat Kun Liong makin gelagapan lagi, maka dia lalu mengerahkan seluruh tenaga dari pusarnya, mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menarik kembali tenaga hisap.
Hal ini amat sukar dilakukan karena tubuhnya seperti membengkak, membuat dia sukar bergerak.
Namun akhirnya dia berhasil.
Dia tidak ingin membunuh tujuh orang wanita itu dan dia maklum bahwa kalau dia tidak cepat-cepat dapat menarik kembali daya hisap dari Thi-khi-i-beng, tentu mereka akan mati dalam keadaan lemas kehabisan tenaga.
"Aughhh...!"
Berturut-turut tujuh orang wanita itu mengeluh ketika tiba-tiba daya hisap itu lenyap dan mereka dapat melepaskan diri dari pemuda itu.
Go-bi Sin-kouw meloncat ke belakang dan terhuyung-huyung, mukanya pucat dan tangannya yang memegang tongkat menggigil, matanya memandang terbelalak penuh kengerian kepada Kun Liong dan bibirnya yang kebiruan itu berkata perlahan.
"Thi-khi-i-beng...!"
"Tar-tar-tar...!"
Kini ujung cambuk di tangan Kim Seng Siocia meledak-ledak di atas tubuh Kun Liong.
Pemuda ini terkejut sekali dan menggulingkan tubuhnya ke kanan kiri untuk menghindar dari sambaran ujung cambuk itu.
"Hi-hi-hik! Aku tahu bahwa engkau telah menggunakan Thi-khi-i-beng semalam, akan tetapi aku sudah siap untuk ilmu itu! Cambukku inilah yang akan melumpuhkan Ilmu Thi-khi-i-beng dan akan mencabut nyawamu!"
Kun Liong merasa betapa tubuhnya digigit ujung cambuk yang dipasangi piauw tajam meruncing itu.
Dia tahu pula bahwa ujung piauw itu beracun, akan tetapi untuk ini dia tidak khawatir karena tubuhnya sudah kebal akan racun.
Akan tetapi rasa nyeri membuat dia harus melanjutkan satu-satunya jalan untuk membela diri, yaitu bergulingan di atas tanah.
Gerakannya gesit sekali akan tetapi celakanya tubuh yang penuh hawa sin-kang kelebihan itu sukar sekali dikendalikan sehingga gerakannya bergulingan menjadi kacau, kadang-kadang terlampau cepat sampai dia menjadi pening sendiri!
"Tahan senjata!
Bebaskan dia, kalau tidak, aku akan membunuh pangeran ini"
Kim Seng Siocia menengok, demikian pula Go-bi Sin-kouw dan yang lain-lain.
Ternyata yang berseru itu adalah Pek Hong Ing dan dara ini telah merampas sebatang pedang lawan dan kini dia telah menempelkan pedangnya di leher Pangeran Han Wi Ong, sedangkan tangan kirinya mencengkeram tengkuk pangeran itu.
Wajah Pangeran Han Wi Ong menjadi pucat dan dia berkata dengan suara parau.
"Lepaskan dia... lepaskan...!"
Kim Seng Siocia memandang ragu.
Bagaimana dia mau melepaskan Kun Liong yang amat dibutuhkan itu hanya untuk menolong pangeran itu?
Cambuknya sudah meledak-ledak lagi, akan tetapi Go-bi Sin-kouw dan para pasukan pemerintah sudah bergerak maju menghadangnya dengan sikap bermusuh!
"Kim Seng Siocia, yang terpenting adalah keselamatan Pangeran!"
Bentak Go-bi Sin-kouw garang.
Biarpun nenek ini masih belum pulih, tubuhnya terasa lemah kepalanya pening karena terlampau banyak sin-kangnya terhisap oleh Kun Liong, namun dia siap untuk menyerang wanita gemuk itu demi keselamatan pangeran yang amat diharapkannya akan mengangkat tinggi derajatnya itu.
Selagi Kim Seng Siocia meragu, tiba-tiba tampak tubuh Kun Liong yang rebah di atas tanah itu mencelat tinggi sekali ke atas, seperti sebatang anak panah dan pemuda itu sendiri berseru kaget.
Betapa dia tidak akan kaget karena ketika melihat kesempatan baik ini, dia bermaksud mencelat ke tempat Hong Ing menawan Sang Pangeran, akan tetapi dia lupa bahwa tubuhnya berada dalam keadaan yang tidak sewajarnya, maka begitu dia mengerahkan tenaganya meloncat, tubuhnya itu bukan melayang ke arah Hong Ing, melainkan mencelat ke atas seperti dilontarkan.
Maka dia memekik kaget, akan tetapi tentu saja mereka yang menonton dari bawah, termasuk Kim Seng Siocia, tidak tahu bahwa teriakannya itu karena kaget.
Mereka semua memandang dengan mata terbelalak penuh kagum dan gentar karena belum pernah mereka selama hidup mereka menyaksikan ada orang dapat meloncat seperti itu!
Kun Liong dapat menguasai tubuhnya, tidak sampai melayang turun seperti sebuah batu, melainkan dapat mengatur keseimbangan tubuhnya dan membiarkan tubuhnya melayang turun ke dekat Hong Ing.
Dara ini memandang kepadanya dengan mata penuh kekaguman pula.
Tadi Hong Ing telah menyaksikan semua dan dia seperti dalam mimpi.
Sama sekali tidak pernah diduganya bahwa pemuda gundul itu ternyata memiliki ilmu kepandaian sehebat itu!
Bukan saja lebih lihai dari gurunya sendiri, juga lebih lihai dari Kim Seng Siocia dan bahkan dia merasa yakin bahwa kalau pemuda itu menghendaki biarpun dikeroyok oleh semua orang itu tidak akan kalah!
"Hong Ing, terima kasih atas pertolonganmu."
Hong Ing merasa jantungnya seperti ditusuk.
Bukan main pemuda ini!
Sudah jelas pemuda ini yang berusaha menolongnya mati-matian, sekarang untuk bantuannya menawan Pangeran Han Wi Ong, bantuan yang tidak banyak artinya ini, Kun Liong serta merta menghaturkan terima kasih!
"Sekarang bagaimana, Kun Liong?"
Dia bertanya sambil menempelkan pedang di leher Pangeran Liong, tentu saja dia tidak berani lagi memimpin dan membiarkan Kun Liong yang mengambil keputusan.
"Mari kita lari dari tempat ini."
"Tapi... kita harus membawa pangeran ini sebagai sandera..."
"Jangan, Hong Ing. Kasihan dia. Sudah luput mendapatkan dirimu, masih dijadikan sandera lagi. Sekarang pun kita sudah terlalu banyak membuat dosa terhadap pemerintah. Marilah!"
Dia menggandeng tangan Hong Ing, kemudian meloncat dan dara itu menjerit penuh kengerian.
Siapa yang tidak merasa ngeri kalau melihat betapa tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas seperti diterbangkan seekor burung saja?
Kun Liong sendiri terkejut.
Dia lupa lagi!
Akan tetapi dia tidak menjadi gugup, sambil memeluk pinggang Hong Ing dia mengatur tubuhnya sehingga mereka dapat meluncur turun jauh dari situ lalu keduanya melarikan diri secepatnya.
Suara derap kaki banyak orang di belakang membuat mereka mengerti bahwa mereka berdua dikejar!
Maka keduanya harus berlari.
Kun Liong mengerahkan gin-kangnya dan karena Hong Ing kalah jauh, Maka dara ini yang sudah mengerahkan gin-kangnya masih saja terseret dan seolah-olah kedua kakinya tidak menyentuh bumi karena dia seperti bergantung kepada lengan Kun Liong.
Beberapa hari kemudian Kun Liong dan Hong Ing tiba di luar tembok kota Guan-tin, tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat kota raja.
Mereka telah melarikan diri hampir dua pekan lamanya dan merasa lega bahwa mereka telah berhasil meninggalkan para pengejar mereka.
Memang mereka telah berhasil menghindarkan diri dari kejaran pasukan pengawal Pangeran Han Wi Ong dan anak buah Kim Seng Slocia.
Hal ini terutama sekali karena pengejaran pasukan itu mengalami kelambatan dengan adanya kerja sama dengan anak buah dari Go-bi-san yang sebagian besar terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik-cantik dan genit itu.
Tidak dapat dicegah pula terjadinya permainan di antara mereka, yaitu antara para gadis anak buah Kim Seng Siocia dan para anggauta pasukan pengawal pangeran!
Melihat hal ini, baik Kim Seng Siocia maupun Pangeran Han Wi Ong tidak dapat mencegah dan membiarkannya saja, bahkan peristiwa itu menambah erat perhubungan di antara mereka.
Pangeran Han Wi Ong menghendaki bantuan wanita gemuk yang lihai ini dan sebaliknya, Kim Seng Siocia tentu saja merasa senang dapat bekerja sama dengan seorang pangeran yang mempunyai kedudukan tinggi di istana kaisar.
Akan tetapi Pangeran Han Wi Ong tentu saja tidak menghentikan usahanya melakukan pengejaran.
Biarpun dia sendiri tidak melakukan pengejaran, namun dia tidak pernah dapat melupakan Hong Ing dan karenanya, selain minta kepada Go-bi Sin-kouw dan Kim Seng Siocia untuk terus mengejar, Juga dia telah mengirim utusan-utusan berkuda ke kota raja dan di sepanjang jalan para utusan itu menyebar berita bahwa dua orang yang bernama Yap Kun Liong dan Pek Hong Ing menjadi orang buruan pemerintah!
Bahkan pangeran yang pandai melukis ini telah melukiskan wajah kedua orang itu, dan tentu saja baik Kun Liong maupun Hong Ing dilukis sebagai seorang pemuda dan seorang gadis yang gundul kepalanya.
Kun Liong dan Hong Ing berjalan perlahan menuruni lereng pegunungan terakhir dari mana sudah tampak kota Guan-tin.
Tiba-tiba mereka mendengar derap kuda dan keduanya cepat menyelinap dan bersembunyi.
Serombongan tentara berkuda melewat cepat dan setelah rombongan tujuh orang itu pergi jauh menuju ke kota Guan-tin, barulah mereka keluar dari balik semak-semak.
"Ahh, betapa tidak enaknya hidup dikejar-kejar seperti ini..."
Hong Ing mengeluh.
"Seperti binatang buruan saja, atau... aku merasa seperti menjadi seorang penjahat besar yang takut melihat alat pemerintah!"
"Kita harus bersikap hati-hati. Belum tentu mereka itu mengejar kita. Sabarlah, Hong Ing. Setelah kita masuk kota di depan itu, dan di sana terdapat sebuah kuil Kwan-im-bio, engkau tentu akan memperoleh tempat yang aman dan tenteram."
Keduanya berjalan lagi dan sampai lama tidak mengeluarkan suara, namun kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Kun Liong itulah yang membuat mereka berdua diam dengan alis berkerut dan wajah keruh tanpa mereka sendiri sadari.
Akhirnya Kun Liong menarik napas panjang seolah-olah menghibur diri sendiri dan terdengar dia berkata dengan suara datar.
"Engkau memang memerlukan tempat yang tenang di mana engkau dapat hidup tanpa gangguan lagi. Subomu juga pangeran itu, tentu takkan tinggal diam dan akan terus mencarimu. Memang tidak enak hidup menjadi orang yang dikejar-kejar."
"Dan engkau...?"
Hong Ing bertanya, menghentikan langkahnya dan memandang pemuda itu.
Kun Liong juga menghentikan langkahnya, menoleh.
Mereka saling berpandangan.
"Aku? Aku kenapa?"
"Engkau akan menjadi orang buruan, akan dikejar terus."
Kun Liong tersenyum.
"Jangan khawatir, Hong Ing. Pangeran itu tidak membutuhkan aku, sedangkan kalau Kim Seng Siocia mengejarku, hemm... lain kali aku akan memberi pengajaran kepadanya agar tidak dilanjutkan cara hidupnya yang busuk itu."
"Kun Liong, karena aku berkali-kali engkau mengalami kesengsaraan dan terancam bahaya."
"Ah, jangan berkata demikian. Dalam keadaan seperti kita sekarang ini, kita berdua sama saja entah aku yang menyeretmu ataukah engkau yang menyeretku. Betapapun juga, kita berdua masih dapat mengatasinya dan masih selamat sampai saat ini. Mari kita melanjutkan perjalanan kita. Mudah-mudahan sampai di kota depan itu saja."
Dan tiba-tiba wajah Kun Liong menjadi muram lagi.
Kini dia merasa heran sekali dan tiba-tiba dia sadar bahwa dia sama sekali tidak menghendaki perjalanan bersama Hong Ing ini berakhir!
Dia menginginkan agar mereka berdua terus melakukan perjalanan bersama.
Biarpun menjadi orang-orang buronan, atau orang buruan, betapapun sengsaranya, kalau mereka berdua berdampingan, agaknya dia tidak akan merasa sengsara!
Membayangkan betapa dia akan berpisah, meninggalkan Hong Ing di dalam kuil Kwan-im-bio dan dia seorang diri melanjutkan perjalanan, benar-benar amat memberatkan hatinya.
Ada apakah dengan perasaan hatinya?
Dia mengerling ke kiri dan melihat betapa wajah yang cantik itu pun muram seperti orang bersusah hati.
Tentu saja, pikirnya.
Betapa tidak akan susah hati dara ini yang dikejar-kejar oleh gurunya sendiri?
Bagi Hong Ing, hidupnya sudah tidak ada harapan lagi.
Tadinya hanya ada dua orang yang penting baginya, yaitu sucinya dan subonya.
Kini subonya seperti memusuhinya, dan sucinya telah pergi jauh entah ke mana.
Tentu saja Hong Ing bersusah hati, dan kesusahan hati dara itu sama sekali berbeda dengan kesusahan hatinya.
Jauh sekali bedanya.
Tentu saja Hong Ing tidak pernah menyusahkan perpisahan mereka.
Kun Liong memaki diri sendiri.
Seorang dara seperti Hong Ing, cantik jelita tanpa cacat, seorang dara yang menolak pinangan seorang pangeran yang tampan dan gagah serta berkedudukan tinggi seperti Pangeran Han Wi Ong, seorang dara berwatak bersih seperti Hong Ing yang rela menjadi seorang nikouw daripada dipaksa menjadi isteri pangeran, sungguh tak mungkin sama sekali ingin berdampingan dengan orang macam dia!
Seorang pemuda yang menderita penyakit kepala gundul, bodoh, miskin sehingga sebuah rambut pun tidak punya, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, siapa sudi kepadanya?
"Tolol!"
Kun Liong memaki diri sendiri.
Mengapa dia menjadi makin berduka mengenangkan semua ini?
Biasanya, dia tidak begini.
Biasanya dia tidak menyusahkan sesuatu, tidak memikirkan kemiskinan dan kebodohannya.
Untung mereka telah tiba di kota Guan-tin.
Keramaian kota menghibur dan membuat Kun Liong 1upa akah kedukaannya.
"Mari kita mencari warung nasi, perutku lapar sekali dan aku masih mempunyai bekal uang,"
Kata Kun Liong.
"Setelah makan, baru kita mencari Kuil Kwan-im-bio. Kota ini cukup ramai, kurasa tentu ada Kwan-im-bio di sini."
Hong Ing hanya mengangguk dan mereka mencari-cari sebuah warung nasi.
Dari jauh sudah kelihatan sebuah warung nasi yang cukup ramai dan ke sanalah mereka menuju.
Akan tetapi tiba-tiba Hong Ing menuding ke kiri.
Kun Liong menoleh dan tertarik melihat sekelompok orang berkumpul di situ memandangi sesuatu yang ditempelkan di dinding.
"Apakah itu? Mari kita menengok sebentar,"
Kun Liong berkata.
Keduanya lalu menghampiri dan begitu melihat, mereka menjadi terkejut sekali.
Kiranya yang menempel di atas dinding adalah gambar mereka berdua!
Di atas gambar itu tertulis nama mereka yang disebut sebagai orang pelarian dan penjahat besar!
"Heiii, inilah mereka...!"
Tiba-tiba seorang di antara mereka yang memandangi gambar itu berteriak.
Kun Liong mendongkol sekali.
Orang itu bermata juling.
Mengapa justeru orang yang matanya juling malah yang pertama-tama mempergoki mereka?
Karena maklum bahwa tentu akan terjadi keributan dan mercka tentu akan dikeroyok, Kun Liong cepat memegang tangan Hong Ing dan ditariknya dara itu untuk melarikan diri meninggalkan kota Guan-tin.
"Kejar...!"
"Tangkap...!"
Orang-orang yang mengharapkan hadiah dari pembesar setempat itu segera melakukan pengejaran, namun tentu saja tidak ada yang mampu menyusul larinya kedua orang yang memiliki kepandaian tinggi itu.
Setelah jauh meninggalkan kota itu dan tidak ada lagi yang mengejar, barulah Kun Liong dan Hong Ing berhenti di tepi jalan yang sunyi.
"Gila benar pangeran itu,"
Kun Liong bersungut-sungut.
"Kiranya rombongan tentara berkuda itu adalah utusannya untuk menyebar gambar kita. Dengan begini kita secara resmi telah menjadi pemberontak dan orang buruan pemerintah. Amat berbahaya memasuki kota-kota besar, terutama kota raja!"
"Habis bagaimana kita dapat mencari sebuah kuil Kwan-im-bio?"
Hong Ing bertanya.
"Tak mungkin mencari di kota. Andaikata bisa mendapatkan di kota, kiranya ketua kuil tidak akan berani menerimamu, Hong Ing. Tidak ada jalan lain, kita harus mencari sebuah kuil yang berada jauh dari kota ramai. Akan tetapi di mana ada kuil seperti itu, aku sendiri tidak tahu. Biarlah kita mencari perlahan-lahan, akhirnya kita tentu akan mendapatkannya juga."
Hong Ing menarik napas panjang.
"Sudahlah, Kun Liong. Mengapa kau repot-repot karena aku? Kaulanjutkanlah perjalananmu, biar aku sendiri yang akan mencari kuil..."
"Hemmm, ke mana kau hendak mencari? Di mana-mana tertempel gambarmu..."
"Dan juga gambarmu. Karena itu, sebaiknya kalau kau meninggalkan aku sehingga andaikata tertangkap, hanya aku yang tertangkap, akan tetapi engkau tidak."
"Hong Ing, kaukira aku orang macam apa?"
"Engkau adalah seorang yang berilmu tinggi, Kun Liong. Maafkan aku, baru sekarang aku mengetahui. Sungguh aku bodoh sekali. Kiranya engkau amat lihai, bahkan memiliki Thi-khi-i-beng!"
"Bukan begitu maksudku. Kaukira aku orang yang begitu pengecut untuk meninggalkan engkau begitu saja? Tidak, sebelum engkau mendapatkan tempat yang baik, sebelum aku yakin benar bahwa engkau telah aman, aku tidak akan meninggalkan kau."
Hong Ing menunduk.
"Sudah terlalu banyak aku menyusahkanmu, Kun Liong. Engkau membikin aku tidak enak hati saja. Sudah cukup aku berhutang budi kepadamu, biarlah aku mencari sendiri kuil Kwan-im-bio."
Kun Liong memandang dengan sinar mata tajam, akan tetapi gadis itu tetap menunduk.
"Hong Ing, ingin benarkah kau kutinggalkan? Apakah aku sudah terlalu memuakkan hatimu?"
Hong Ing mengangkat mukanya, muka yang berubah pucat dan kepalanya digelengkan cepat-cepat.
"Bukan begitu, Kun Liong..."
"Kalau tidak begitu, sudahlah. Hal itu tidak perlu kita persoalkan lagi. Mari kita melanjutkan perjalanan. Kita harus berhati-hati, tidak boleh melalui jalan besar, tidak boleh memasuki kota dan terutama sekali jangan mendekati kota raja."
"Habis, ke mana kita harus pergi?"
"Ketika aku membantu Cia Keng Hong Supek..."
"Aihh, jadi pendekar sakti itu supekmu? Kau tidak pernah menceritakan riwayatmu kepadaku. Pantas saja engkau lihai bukan main. Aku seperti buta..."
"Hushhh, jangan terlalu memuji. Biar lain kali aku menceritakan riwayatku yang tidak lebih baik daripada riwayatmu, Hong Ing. Ketika aku membantu Supek menyelidiki tentang bokor pusaka yang diperebutKan, aku lewat pantai Teluk Pohai dan di tempat sunyi itu, dalam sebuah hutan, aku melihat sebuah kuil tua Kwan-im-bio. Marilah kita pergi ke sana, Hong Ing."
Akan tetapi wajah nikouw muda itu tidak membayangkan kegembiraan hati mendengar ini, bahkan dia hanya berkata lesu.
"Terserah kepadamu, Kun Liong. Marilah!"
Maka berangkatlah kedua orang itu melanjutkan perjalanan menuju ke pantai Teluk Pohai.
Mereka memilih jalan yang sunyi, bahkan kadang-kadang terpaksa bersembunyi di siang hari kalau melalui jalan yang ramai dan melanjutkan perjalanan di waktu malam.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 5
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 7