Eps 11 Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Baca online Petualang Asmara - Kho Ping Hoo
Cersil Petualang Asmara - Kho Ping Hoo.
Perjalanan itu menjadi lama dan sukar sekali namun anehnya bagi kedua orang muda itu, keanehan yang tidak terasa lagi oleh mereka bahwa perjalanan yang jauh, lama, sukar, dan berbahaya itu sama sekali tidak terasa berat oleh mereka!
Ada pula keanehan pada sikap Kun Liong dan hal ini pun sama sekali tidak dirasakan dan diketahui oleh pemuda itu sendiri, yaitu bahwa terhadap Hong Ing dia tidak pernah memperlihatkan sikapnya seperti yang sudah-sudah kalau menghadapi wanita.
Dia tidak pernah menggoda!
Bahkan sebaliknya, dia bersikap sopan dan bersungguh-sungguh.
Dengan wajah berseri-seri Giok Keng berlari memasuki hutan itu.
Hatinya riang gembira biarpun kadang-kadang alisnya berkerut kalau dia teringat akan ayahnya.
Kun Liong telah dengan suka rela membatalkan ikatan jodoh itu!
Betapa baiknya pemuda gundul itu!
Dan betapa tampan dan gagahnya Liong Bu Kong!
Dia harus cepat pulang dan harus berterus terang.
Jantungnya berdebar penuh rasa takut kalau dia membayangkan bagaimana ayahnya tentu akan marah sekali.
Tidak, dia tidak akan bicara dengan ayahnya.
Dia akan memberi tahu kepada ibunya bahwa dia tidak mencinta Kun Liong dan bahwa dia hanya mau menikah dengan pemuda yang menjadi pilihan hatinya, yaitu Liong Bu Kong!
Membayangkan wajah pemuda itu yang tampan dan gagah, pemuda yang tidak mentah seperti Kun Liong, melainkan seorang laki-laki yang bersikap jantan, yang jelas menunjukkan cintanya dengan membiarkan dirinya diserang, menghadapi kematian di tangannya dengan senyum di bibir, jantungnya berdebar penuh kemesraan.
Tetapi, ayah dan ibunya tentu akan menolak pemuda itu.
Putera Kwi-eng Niocu, datuk golongan hitam!
Giok Keng menahan langkah kakinya dan mengerutkan alisnya.
Tidak, biar ibunya jahat, belum tentu puteranya jahat.
Buktinya, Liong Bu Kong amat baik!
"Nona Cia tunggu..."
Giok Keng cepat menoleh dan jantungnya berdenyut keras.
Tentu saja dia segera dapat mengenal bentuk tubuh tinggi tegap itu.
Orang yang selama ini dibayangkannya.
Liong Bu Kong!
Pemuda itu dengan berlari cepat seperti terbang menghampiri dan segera menjura di depan Giok Keng.
"Aihh, susah payah aku mencarimu, Nona, mengapa kau meninggalkan aku sebelum kita bicara?"
Giok Keng memandang wajah yang kusut itu, dan memandang pundak yang terluka.
Saputangannya masih membalut pundak itu.
"Kau... bagaimana lukamu...?"
Tanyanya dengan suara gemetar. Bu Kong melirik ke arah pundaknya.
"Ah, urusan kecil. Aku sudah lupa sama sekali akan pundakku sungguhpun saputangan itu selalu menjadi pelipur laraku. Aku lupa makan, lupa tidur dan lupa segala, Nona, bingung mengejar dan mencari-carimu. Sungguh aku berterima kasih kepada Thian bahwa aku dituntun memasuki hutan ini dan dapat berjumpa denganmu."
Jantung Giok Keng makin berdebar kencang dan mukanya menjadi merah sekali.
Sejenak dia menundukkan muka, lalu memaksa diri mengangkat muka memandang.
Mereka saling berpandangan dan seolah-olah ada getaran luar biasa lewat mata itu memasuki dada Giok Keng, membuat dara itu menggigil dan memaksa mulutnya bertanya.
"Mengapa kau mencari aku? Ada urusan apa?"
Tiba-tiba Liong Bu Kong menjatuhkan dirinya berlutut.
Melihat ini, Giok Keng lalu membalikkan tubuh, membelakangi pemuda yang berlutut itu sambil berkata lagi.
"Bicaralah! Tidak perlu berlutut!"
"Kau berjanjilah takkan marah kepadaku, Nona. Baru aku mau berdiri!"
Kata Bu Kong yang masih terus berlutut.
"Hemm, baiklah. Berdirilah, aku tidak mau bicara kalau kau berlutut seperti itu."
Bu Kong bangkit berdiri dan meloncat ke depan dara itu sambil menjura.
"Terima kasih. Aku tahu di dunia ini tidak ada seorang pun wanita yang sehebat dan semulia hatinya seperti engkau, Nona. Ketika kau pergi meninggalkan aku dan mengatakan bahwa engkau telah bertunangan dengan orang lain, hampir aku membunuh diri. Akan tetapi aku tidak puas sebelum bertemu denganmu. Aku minta kepadamu, Nona. Aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, semenjak kita saling bertemu di Cin-ling-san dahulu itu. Dan aku yakin... maafkan aku, aku yakin bahwa nona pun setidaknya merasa kasihan kepadaku. Karena itu, sebelum aku mengambil keputusan membunuh diri... aku mohon kepadamu, Nona, jangan bersikap kepalang tanggung. Aku cinta kepadamu dan... kasihanilah aku, Nona. Melihat sikap Nona kemarin... aku percaya bahwa hati Nona masih bebas, sungguhpun nona telah ditunangkan dengan orang lain. Kasihanilah aku dan sudikah engkau membalas cintaku yang murni...?"
Muka Giok Keng menjadi makin merah.
Dia adalah seorang dara yang selamanya belum pernah mengenal cinta seorang pria, apalagi mendengar bujuk rayu yang demikian indah.
Dia merasa seolah-olah dirinya diangkat sampai ke angkasa!
"Tapi...
tapi aku sudah bertunangan..."
Dia berusaha menjawab.
"Nona Cia Giok Keng... pertunangan bisa saja dibatalkan... ah, mengapa engkau akan menyiksa diri dengan berjodoh dengan seorang laki-laki yang tidak kau cinta? Engkau akan hidup merana dan aku akan membunuh diri sekarang juga di depan kakimu..."
Bu Kong mencabut pedangnya.
"Jangan...!"
Giok Keng berteriak kaget dan merampas pedang itu, melempar pedang itu dengan sikap jijik ke atas tanah.
Bu Kong kini memegang kedua tangan Giok Keng.
Dara ini membuang muka dan menahan keluarnya air matanya, namun tetap saja ada dua butir air mata bertitik turun.
"Giok Keng... Moi-moi... engkau kasihanilah aku. Marilah kita hidup berdua, penuh bahagia... aku cinta padamu dan aku bersumpah bahwa sampai mati aku akan tetap cinta padamu..."
"Tapi... tapi..."
"Aku siap berkorban nyawa demi cintaku, Moi-moi..."
Giok Keng menarik kedua tangannya dan memandang tajam.
"Benarkah?"
"Tentu saja! Bukankah aku telah suka mati daripada gagal menghadapi cintaku kepadamu."
"Bukan itu maksudku, akan tetapi... ah, bagaimana aku berani menghadapi ayahku?"
Giok Keng memandang wajah pemuda itu, memandang tajam seperti hendak menjenguk isi hatinya, kemudian berkata.
"Liong Bu Kong, benarkah engkau cinta padaku?"
Dara yang memiliki keberanian luar biasa itu kini sudah dapat menguasai ketegangan hatinya dan bertanya dengan sejujurnya.
"Tentu saja, aku bersumpah...!"
"Aku tidak membutuhkan sumpah. Aku membutuhkan bukti dan kenyataan. Kalau engkau benar mencinta, tentu kau akan berani membelaku sampai mati. Beranikah kau?"
Giok Keng teringat akan cerita tentang Souw Li Hwa dan Yuan de Gama, yang dipuji-puji oleh ayahnya, teringat akan cinta kasih di antara mereka yang begitu mendalam sehingga keduanya rela menghadapi maut sambil saling berpelukan di atas kapal yang terbakar dan hampir tenggelam!
Cerita ini berkesan dalam sekali di hatinya, membuatnya romantis dan dia ingin melihat bahwa cinta kasih di hati pemuda ini terhadapnya tidak kalah besarnya!
"Tentu saja aku berani, Moi-moi!"
Jawab Liong Bu Kong dengen wajah berseri karena merasa bahwa dara ini agaknya akan suka membalas cintanya.
"Nah, kalau begitu mari kau ikut bersamaku menghadap kepada ayah ibuku dan kau menceritakan kepada mereka terus terang tentang cintamu dan tentang pembatalan ikatan jodohku dengan tunanganku."
Wajah yang berseri itu menjadi pucat.
Bu Kong menjilat-jilat bibirnya yang mendadak menjadi kering itu.
"Wah, ini... ini... mana aku berani?"
Giok Keng melompat mundur dan sikapnya menjadi marah sekali.
"Huh! Dan kaubilang mencintaku, berani membelaku sampai mati? Baru sebegitu saja sudah takut dan mundur!"
Bu Kong meloncat mendekati.
"Aku berani! Maafkan, Moi-moi, aku tadi meragu bukan karena takut mati, melainkan aku merasa ragu-ragu untuk bersikap seperti itu dan membikin marah serta duka hati ayah bundamu. Tentu saja, sebagai ayah bundamu, mereka itu kujunjung tinggi dan kuhormati seperti orang tua sendiri. Baiklah, aku menerima permintaanmu ini!"
Giok Keng tersenyum manis sekali, matanya mengerling tajam dan hatinya penuh kegembiraan.
Biarpun dia dan Bu Kong akan dibunuh ayahnya, dia rela karena bukankah ini membuktikan bahwa cinta kasih mereka amat murni dan besar, tidak kalah besar oleh cinta kasih yang dibuktikan oleh Souw Li Hwa dan Yuan de Gama yang amat dikagumi ayah bundanya itu?
"Kalau begitu, aku baru percaya.
Marilah kita berangkat sekarang juga ke Cin-ling-san...
Koko...!"
Hampir saja Bu Kong bersorak girang mendengar dara yang membuatnya tergila-gila itu menyebutnya koko (kakanda), maka dia lalu merangkul dan mencium bibir dara itu dengan mulutnya.
Giok Keng terkejut, hampir menjerit sehingga mulutnya setengah terbuka, lalu dia memejamkan matanya dan sejenak dia menyerah sepenuh hatinya.
Akan tetapi tidak lama dia tenggelam dalam nikmat birahi ini, dia sudah meronta dan melepaskan diri dari pagutan ketat pemuda itu, melepaskan diri dari peluk cium yang membuatnya hampir pingsan karena nikmat.
Dengan dada turun naik, terengah-engah, wajah sebentar pucat sebentar merah, tubuh terasa panas dingin, dara itu yang sudah melompat mundur memandang kekasihnya.
"Moi-moi... maafkan aku... aku..."
Bu Kong berkata dengan suara terputus-putus karena dia khawatir sekali bahwa perbuatannya yang terdorong kegembiraan hati itu akan membikin marah dara yang dicintanya.
Giok Keng menggelengkan kepalanya dan berkata halus.
"Aku tidak marah, Koko, hanya... kuminta dengan sangat, janganlah engkau menyentuhku lagi... kita harus dapat menjaga diri, menekan hati, kelak kalau aku sudah menjadi milikmu secara resmi, sudah menikah..."
Giok Keng menunduk dan tersenyum malu-malu.
Bu Kong hampir saja tidak kuat lagi untuk tidak memeluk tubuh itu sekuatnya dan menciumi bibir itu.
Akan tetapi dia maklum bahwa perbuatannya itu tentu akan menimbulkan kemarahan kekasihnya, maka dia melangkah maju dan hanya memegang tangan Giok Keng.
Sepuluh jari tangan yang semua mengeluarkan getaran dari lubuk hati masing-masing itu saling mencengkeram dan saling membelai.
Tidak ada kata-kata keluar dari mulut mereka sampai beberapa lama, karena getaran jari-jari tangan itu sudah mengandung seribu satu kata-kata indah.
Akhirnya Bu Kong berkata.
"Aku mengerti, Moi-moi. Maafkan aku. Akan tetapi jangan kita langsung pergi ke Cin-ling-san. Mari kau ikut aku pergi mengambil pusaka Siauw-lim-pai."
"Aku dulu mendengar bahwa... engkau mencuri pusaka-pusaka itu dari Siauw-lim-pai. Benarkah, Koko?"
Wajah pemuda itu menjadi merah sekali. Dia menghela napas dan berkata.
"Tak perlu aku membohongimu, Moi-moi. Memang benar demikian. Aku dahulu mencuri pusaka-pusaka itu dari Siaw-lim-pai karena perintah mendiang ibuku. Aku masih amat muda dan berdarah panas. Aku ingin memperlihatkan kepandaian, karena kabarnya Siauw-lim-si dijaga keras sekali dan amat ketat sehingga kalau aku berhasil mengambil beberapa buah pusakanya, tentu akan menggemparkan dunia kang-ouw. Akan tetapi yang menghendaki pusaka itu adalah ibuku. Sekarang Ibu telah meninggal dunia, dan biarpun aku merupakan keturunan seorang datuk kaum sesat, namun aku ingin hidup baru, Moi-moi. Apalagi setelah bertemu denganmu, keputusanku sudah bulat bahwa aku tidak mau lagi berkecimpung di dalam golongan kaum sesat. Bahkan aku akan menentang mereka. Untuk membuktikan ini, pertama yang kukerjakan adalah mengembalikan pusaka-pusaka itu ke Siauw-lim-pai."
Hati Giok Keng girang sekali.
Dia menarik tangannya yang masih dipegang pemuda itu dan berkata, (Lanjut ke
Jilid 34) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34
"Bagus sekali kalau begitu, Koko. Marilah kita mengambil pusaka-pusaka itu dan mengembalikannya ke Siauw-lim-si."
Hatinya lega karena perbuatan ini tentu akan menyenangkan hati ayah bundanya.
Biarpun kekasihnya adalah putera Si Bayangan Hantu, Ketua Kwi-eng-pai, akan tetapi dengan perbuatannya itu Bu Kong sudah membuktikan bahwa dia hendak merobah hidupnya, melalui jalan benar dan menjadi pendekar budiman.
Mereka lalu pergi ke sebuah pegunungan dekat Telaga Kwi-ouw yang kini sudah menjadi tempat sunyi sekali semenjak Kwi-eng-pang diserbu oleh tentara pemerintah dan dibasmi habis.
Banyak yang tewas, ada yang tertawan dan ada pula beberapa orang yang lolos dari penyerbuan itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tewas membunuh diri karena tidak mau terbunuh lawan, sedangkan kakek tinggi besar brewok, Thian-ong Lo-mo yang memiliki kepandaian tinggi, dapat berhasil meloloskan diri.
Akan tetapi Bu Kong tidak tahu akan lolosnya kakek lihai ini, karena dia hanya mendengar bahwa Kwi-eng-pang telah dibasmi habis dan ibunya telah tewas.
Maka dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati pemuda ini ketika dia bersama dengan Giok Keng, tiba di depan sebuah guha di mana dia menyimpan pusaka-pusaka itu, tiba-tiba muncul Thian-ong Lo-mo bersama lima orang anggauta Kwi-eng-pang yang berhasil meloloskan diri!
Dia merasa terheran-heran.
Tentu saja bukan hal mengherankan jika kakek itu berada di guha tempat penyimpanan pusaka karena memang yang mengetahui akan tempat itu hanya dia, ibunya, dan kakek sekutu ibunya ini.
Yang mengherankan hatinya adalah melihat kakek ini dapat lolos dan masih hidup!
Melihat sikap kakek brewok itu seperti orang marah, demikian pula lima orang bekas anak buah ibunya itu bersikap memusuhinya, Bu Kong segera berkata sambil tertawa.
"Aihhh, kiranya Locianpwe masih dapat menyelamatkan diri."
"Bocah durhaka! Pengkhianat pengecut!"
Thian-ong Lo-mo yang sudah marah sekali itu menerjang maju, menyerang Liong Bu Kong dengan senjatanya yang dahsyat, yaitu sabuk rantai yang bergigi seperti gergaji.
"Cringgg! Trangggg...!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika senjata itu tertangkis oleh dua batang pedang di tangan Bu Kong dan Giok Keng.
Kakek itu terkejut bukan main karena tangannya tergetar hebat.
Maklumlah dia bahwa dara cantik jelita itu memiliki tenaga dan kepandaian yang hebat pula, maka dia lalu memutar senjatanya dengan ganas sambil mengeluarkan seluruh tenaga dan kepandaiannya.
Memang tanpa disangka-sangkanya kakek ini bertemu dengan dua orang muda yang amat tangguh.
Kalau hanya Bu Kong seorang diri yang melawannya, biarpun pemuda ini juga memiliki kepandaian tinggi dan tidaklah mudah untuk merobohkannya, namun agaknya pemuda ini tidak akan mampu menang melawan kakek yang lihai itu.
Demikian pula, biarpun sebagai puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan telah memiliki tingkat ilmu kepandaian tinggi, agaknya Giok Keng juga tidak akan mudah dapat mengalahkan Thian-ong Lo-mo.
Akan tetapi kini kedua orang muda yang saling mencinta itu maju berdua!
Selain kelihaian ilmu silat mereka, juga keduanya memegang pedang pusaka yang ampuh.
Giok Keng bersenjata Gin-hwa-kiam (Pedang Banga Perak) yang berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung, sedangkan Liong Bu Kong memegang pedang Lui-kong-kiam yang mengeluarkan sinar berkilat-kilat.
Baiknya Thian-ong Lo-mo dibantu oleh lima orang anak buah Kwi-eng-pang maka pertandingan berlangsung dengan amat serunya.
Sabuk rantai gergaji di tangan Thian-ong Lo-mo menyambar-nyambar dahsyat, bagaikan seekor ular hitam bermain-main di antara dua gulungan sinar pedang dan berkali-kali terdengar suara nyaring ketika tiga senjata bertemu dan tampak bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata.
Lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang hanya membantu dari luar dengan senjata mereka.
Pertandingan antara tiga orang itu terlatu hebat dan berbahaya bagi mereka sehingga mereka itu hanya membantu untuk mengacaukan perhatian kedua orang muda itu.
"Cringg... trekkk!"
Ujung senjata rantai itu membelit pedang Giok Keng yang menjadi kaget bukan main.
Selagi dia bersitegang hendak membetot pedangnya, Bu Kong berteriak nyaring dan pedangnya menyerang kakek itu dengan tusukan ke arah lehernya.
Namun Thian-ong Lo-mo benar-benar hebat.
Tangan kirinya bergerak dan ujung lengan baju kirinya yang lebar panjang itu merupakan senjata istimewa menangkis tusukan pedang Bu Kong.
"Plakk! Bretttt... dess!"
Bu Kong mengeluh dan terhuyung ke belakang.
Pedangnya telah tertangkis ujung lengan baju dan biarpun pedangnya berhasil merobek ujung lengan baju lawan, namun tangan kakek itu masih dilanjutkan dengan tamparan keras yang mengenai pundaknya dan membuat tubuhnya terhuyung ke balakang dan tergetar hebat.
"Ha-ha-ha..."
Kakek itu tertawa dan kini menggunakan tangan kirinya yang ampuh itu mencengkeram ke depan, ke arah kepala Giok Keng!
"Wuuuttt..
plak-plak-plak!"
"Aughhh...!"
Thian-ong Lo-mo terhuyung ke belakang dan hampir roboh.
Rantai gergaji yang tadi membelit pedang terlepas karena tubuhnya tergetar oleh tiga kali tamparan sabuk merah muda yang dipegang oleh tangan kiri Giok Keng.
Dara ini ketika tadi melihat pedangnya terbelit dan Bu Kong tertampar, cepat melolos sabuk sutera merah muda yang merupakan senjata ke dua yang ampuh, dengan cepat dia menggunakan sabuk itu mendahului tangan lawan yang mencengkeram kepalanya.
Tepat sekali ujung sabuknya menotok tiga jalan darah di tubuh lawan, jalan darah yang mematikan.
Akan tetapi betapa kaget dan herannya ketika ia melihat bahwa lawan yang tertotok tepat itu hanya terhuyung saja dan tidak mati!
Kiranya kakek brewok itu selain lihai ilmu silatnya dan amat kuat tenaga sin-kangnya, juga merupakan ahli I-kiong-hoan-hiat (Ilmu Memindahkan Jalan Darah) sehingga biarpun kelihatan dia tertotok tepat, namun sesungguhnya totokan itu tidak mengenai jalan darah kematian dan hanya membuat dia menggigil dan terhuyung saja.
Sama sekali dia tidak mati, bahkan sebaliknya, dengan kemarahan meluap-luap karena penasaran dan malu, dia sudah menubruk ke arah Giok Keng sambil mengeluarkan lengking dahsyat dari tenaga khi-kangnya.
Matanya yang lebar itu terbelalak merah, lengking suaranya membuat lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang terhuyung ke belakang dengan muka pucat.
Melihat lawan yang menyerang dahsyat dengan rantai gergaji dan tangan kiri dibentuk seperti cakar garuda, Giok Keng cepat menggerakkan pedang dan sabuk suteranya.
"Cringgg... plakkk!"
Pedang dan rantai bertemu di udara, sabuk sutera melibat lengan kiri kakek lihai itu, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Giok Keng ketika lengan kiri lawan itu masih mampu bergerak terus ke depan melanjutkan serangannya, menyambar ke arah lehernya seolah-olah cakar setan yang hendak mencekiknya.
Dia cepat miringkan tubuhnya dan mengangkat kakinya menendang.
"Brettt... plakkk!"
Baju di pundak Giok Keng terobek oleh cakar itu dan kulit pundaknya lecet berdarah.
Akan tetapi tendangannya membuat lawan terpental ke belakang.
Ketika dara ini bersiap kembali setelah mendapat kenyataan bahwa luka di pundaknya tidak berbahaya, ternyata kakek itu telah diserang hebat oleh Bu Kong.
Maka dengan marah Giok Keng lalu menyerbu pula membantu pemuda itu dan kembali terjadi pertandingan dahsyat antara tiga orang itu.
Tubuh mereka tidak kelihatan lagi, terbungkus oleh gulungan sinar senjata mereka.
Karena cepatnya gerakan mereka bertiga, lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang tidak ada yang berani mendekat apalagi membantu.
Suara khi-kang hebat dari kakek itu tadi masih membuat jantung mereka terguncang.
Setelah Giok Keng menambah pedangnya dengan sabuk sutera merah muda, dan kedua orang muda itu melakukan pengeroyokan dengan pengerahan seluruh limu kepandaian dan tenaga mereka, lambat laun kakek itu merasa terdesak juga.
Seratus jurus telah lewat dan dia sama sekali tidak mampu menjatuhkan seorang pun di antara dua orang pengeroyoknya yang masih muda!
Napasnya mulai memburu dan biarpun merasa amat penasaran, Thian-ong Lo-mo harus mengakui bahwa kalau dilanjutkannya juga pertempuran itu, akhirnya dia akan terancam bahaya maut.
Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan pekik dahsyat sekali, senjata rantainya menyambar ke depan menjadi sinar memanjang.
Dua orang muda itu terkejut dan cepat menangkis.
"Tranggg... cringgg...!"
Akan tetapi tangan kiri kakek itu mendorong ke depan dan angin dahsyat menyerang kedua orang lawannya.
Ternyata dia telah menggunakan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sin-kang sekuat-kuatnya.
Inilah serangan terakhir kakek itu yang sudah menguras habis ilmu kepandaiannya.
"Wuuuutttt...!"
Giok Keng dan Bu Kong makin kaget, cepat mereka melempar ke belakang, dan bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu.
Ketika keduanya telah meloncat bangun, ternyata lawan mereka telah lenyap dari situ.
Kiranya Thian-ong Lo-mo yang melihat serangan terakhir tadi tidak berhasil, lalu melarikan diri dengan cepat sekali!
"Berhenti...!"
Bu Kong menghardik dan lima orang bekas anggauta Kwi-eng-pang yang mencoba untuk melarikan diri itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuh dengan muka pucat.
"Ke sini kalian!"
Bu Kong membentak lagi dan seperti lima ekor anjing yang ketakutan, lima orang itu menghampiri Bu Kong, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu.
"Ampun... Kongcu...!"
Mereka mengeluh ketakutan. Bu Kong tersenyum mengejek.
"Di mana pusaka-pusaka itu?"
Bentaknya.
"Di... di dalam, Kongcu..."
"Hayo kalian ambil dan keluarkan semua!"
Seperti dikomando lima orang itu tergesa-gesa lari memasuki guha dan tak lama kemudian mereka keluar membawa sebuah buntalan besar.
Bu Kong menerima buntalan itu, memeriksa isinya.
Ternyata masib lengkap.
Dua buah pusaka, yaitu sebatang pedang dan sebuah hiolouw (tempat abu hio) dari Siauw-lim-pai, dan banyak barang perhiasan emas permata yang mahal, juga potongan emas dan perak!
Tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, tampak sinar berkilat menyambar lima kali dan...
tubuh lima orang itu tergelimpang roboh dengan leher hampir putus.
Tubuh mereka berkelojotan sebentar dan tewas seketika!
"Ahh, mengapa membunuh mereka?"
Giok Keng bergidik ngeri.
Dia adalah seorang pendekar wanita muda yang sudah biasa menyaksikan pembunuhan, akan tetapi hal itu terjadi dalam pertempuran.
Belum pernah dia menyaksikan pembunuhan yang dilakukan dengan tangan dingin sehingga mengerikan hatinya.
"Mereka adalah orang-orang jahat, dan aku sudah bersumpah untuk menentang orang jahat, bukan? Moi-moi..."
Bu Kong berkata melihat kekasihnya mengerutkan alisnya.
"Kalau tidak dibunuh, tentu mereka itu akan mendatangkan keributan saja di kemudian hari, dan dengan membunuh mereka berarti kita telah membebaskan rakyat dari ancaman kejahatan mereka, bukan?"
Giok Keng mengangguk-angguk.
Tak dapat dibantah ucapan pemuda itu, maka dengan menarik napas panjang dibenarkannya ucapan itu dengan anggukan kepala, mengambil kesimpulan bahwa hatinya sendirilah yang lemah.
Dari tempat itu, kedua orang muda ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si untuk mengembalikan dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Bu Kong kurang lebih enam tahun yang lalu.
Di sepanjang perjalanan, kedua orang ini tampak rukun sekali, penuh kasih sayang, penuh kegembiraan dan seperti sepasang pengantin baru saja.
Namun Giok Keng tetap bersikeras tidak membolehkan kekasihnya menjamahnya, dan dengan hati kecewa sekali Bu Kong terpaksa menahan nafsunya, tidak berani merayu kekasihnya sebelum mereka menikah karena dia maklum betapa kerasnya hati dara itu sehingga besar kemungkinannya cinta kasih dara itu akan berubah menjadi kebencian hebat, kalau dia melanggar janji dan larangan.
Betapapun juga, hatinya sudah merasa puas dan lega menyaksikan sikap Giok Keng yang mencintanya, cinta yang juga bersifat keras seperti watak dara itu, cinta yang akan dibelanya dengan nyawa!
Kita tinggalkan dulu Giok Keng dan Bu Kong yang melakukan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si itu, dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Yap Kun Liong dan Pek Hong Ing, nikouw muda itu.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kun Liong dan Hong Ing yang terpaksa menentang kehendak Pangeran Han Wi Ong, dicap sebagai pemberontak dan orang-orang buruan.
Gambar mereka ditempel di mana-mana sehingga mereka terpaksa melakukan perjalanan dengan sembunyi-sembunyi, melalui jalan-jalan sunyi, keluar masuk hutan dan naik turun gunung dalam perjalanan yang amat sukar.
Karena dia bertekat menolong Hong Ing agar tidak sampai tertangkap oleh orang-orang yang menghendaki dara itu menjadi istri Pangeran Han Wi Ong, maka Kun Liong mengajak nikouw muda itu menuju ke timur, ke arah Teluk Pohai.
Dahulu ketika dia membantu supeknya, Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan menyusul Cia Giok Keng ke Pulau Ular, dia lewat hutan di dekat Pantai Pohai yang sunyi dan melihat sebuah kuil di sana.
Kuil Kwan-im-bio!
Kuil itulah yang kini menjadi tujuan perjalanan mereka, Hong Ing harus bersembunyi dan menjadi nikouw di sebuah kuil yang sunyi, baru akan selamat dara itu!
Mereka melakukan perjalanan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho.
Sebenarnya, kalau mereka bukan menjadi orang-orang buruan pemerintah, perjalanan itu akan dapat dipermudah dengan menggunakan perahu mengikuti aliran air sungai.
Akan tetapi mereka tidak berani mengambil jalan air, dan menyusuri tepi sungai sambil bersembunyi-sembunyi, memilih bagian-bagian yang sunyi.
Pada suatu pagi mereka beristirahat di tepi sungai yang merupakan hutan sunyi senyap.
Semalam suntuk mereka melakukan perjalanan karena mereka melalui daerah ramai.
Dan pagi hari ini, setelah tiba di hutan yang sepi, mereka duduk di bawah pohong beristirahat.
Hong Ing memanggang daging ikan yang mereka tangkap di sungai, kemudian mereka berdua makan daging ikan panggang dan minum air dari sumber yang cukup jernih.
Sambil duduk bersandar pohon memberi kesempatan kepada tubuh yang lelah untuk beristirahat, Hong Ing berkata.
"Kun Liong, kau tentu lelah sekali..."
Kun Liong duduk di atas rumput dan bersandar pada sebongkah batu besar.
Dia menoleh dan memandang wajah nikouw muda yang manis itu, lalu tersenyum.
"Tidak lebih lelah daripadamu, Hong Ing."
"Lain lagi dengan aku, Kun Liong. Aku memang perlu untuk pergi mencari tempat persembunyian. Akan tetapi engkau melakukan semua ini demi aku."
"Hemm..."
Kun Liong tidak menjawab dan kini dia menundukkan kepalanya.
"Mengapa, Kun Liong? Mengapa kau melakukan semua jerih payah ini untukku?"
Kun Liong mengangkat mukanya.
"Hong Ing, entah sudah berapa kali engkau menanyakan hal ini kepadaku? Mengapa? Mengapa aku melakukan semua ini? Tentu saja kulakukan karena engkau adalah seorang sahabatku yang baik, bukan? Andaikata tidak demikian sekalipun, andaikata engkau seorang lain, dan bukan sahabat baikku, tentu akan kulakukan juga. Menolong orang yang membutuhkan pertolongan merupakan perbuatan yang lumrah dan sudah semestinya, bukan?"
"Karena engkau seorang yang berbudi mulia, Kun Liong."
"Hemmm..."
Hening sejenak.
Kemudian terdengar lagi suara Hong Ing dan betapa heran rasa hati Kun Liong mendengar suara yang sumbang dan berada kecewa itu.
"Jadi engkau menolongku bukan karena akulah orang itu?"
Karena tidak mengerti, Kun Liong mengangkat muka memandang.
"Apa maksudmu?"
Hong Ing menjadi merah mukanya dan menggeleng kepala.
"Sudahlah, aku hanya bermaksud menagih janjimu tempo hari bahwa engkau akan menceritakan riwayat hidupmu. Aku ingin sekali mengetahui setelah mendengar bahwa Pendekar Sakti Cia Keng Hong adalah supekmu. Ceritakanlah, Kun Liong."
"Apa yang patut kuceritakan? Riwayatku amat buruk, Lebih buruk daripada riwayatmu, Hong Ing. Aku telah pergi meninggalkan rumahku sejak aku berusia sepuluh tahun. Aku merantau dan setelah aku pulang, ternyata ayah bundaku telah tidak berada di rumah kami."
Dia menceritakan dengan singkat pengalaman hidupnya ketika dia meninggalkan rumah sampai dia menjadi murid Bun Hwat Tosu selama lima tahun kemudian menjadi murid Tiang Pek Hosiang selama lima tahun pula.
"Aihhh, kiranya engkau murid dua orang kakek sakti itu. Pantas kau hebat sekali! Dan ke mana perginya ayah bundamu itu?"
Hong Ing yang mendengar penuh kekaguman itu bertanya. Kun Liong menarik napas panjang dan menunduk.
"Mereka telah tewas..."
"Heii!...."
"Mereka tewas terbunuh oleh lima orang datuk sesat!"
Kun Liong menuturkan betapa kematian ayah bundanya itu dia ketahui dari Cia Keng Hong.
"Aku meninggalkan rumah ketika berusia sepuluh tahun dan tidak pernah berjumpa dengan ayah ibuku! Mereka terbunuh oleh lima datuk itu..."
Hong Ing merasa terharu sekali melihat Kun Liong menggunakan punggung tangan mengusap dua butir air matanya.
"Keparat mereka! Kau harus balas mereka, Kun Liong. Biar kubantu engkau! Mari kita cari mereka!"
Kun Liog mengangkat mukanya, memandang dan mencoba tersenyum.
"Mereka berlima telah tewas, Hong Ing. Lima orang pembunuh orang tuaku telah tewas semua dan sekarang aku hanya ingin sekali menemukan adikku yang tak pernah kulihat semenjak dia lahir."
"Adikmu...?"
Kun Liong mengangguk.
"Ketika aku pergi, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Yap In Hong. Ketika Ayah dan Ibu terbunuh, adikku itu berhasil diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa pergi entah ke mana. Karena itu, setelah engkau mendapatkan tempat yang aman, aku akan pergi mencari adikku itu, Hong Ing."
Dara itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul.
"Kasihan sekali kau, Kun Liong. Memang kau harus mencari adikmu itu. Akan tetapi setelah sekarang engkau menjadi orang buruan karena aku, bagaimana engkau dapat melakukan perjalanan dengan leluasa? Engkau akan ditangkap!"
"Tidak, Hong Ing. Aku sudah memikirkan hal itu dan sudah memperoleh jalan terbaik. Aku akan minta bantuan Supek Cia Keng Hong yang mempunyai hubungan baik sekali dengan para pejabat tinggi di kota raja dan dengan bantuannya tentu aku akan dapat dibebaskan dan tidak menjadi orang buruan lagi. Juga aku akan memintakan pengampunan bagimu. Selain itu, aku akan menanyakan tentang pusaka-pusaka milik Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh pihak Kwi-eng-pang, apakah pusaka itu sudah dikembalikan."
"Kau tidak usah repot-repot memikirkan nasibku, Kun Liong. Aku sudah akan merasa lega dan gembira sekali kalau kau dapat terbebas dari himpitan ini yang menimpa dirimu karena kau membela aku."
"Marilah kita lupakan kepahitan yang kita hadapi, Hong Ing. Kita berdua maklum bahwa kita tidak mempunyai kesalahan dan semua ini adalah gara-gara Pangeran Han Wi Ong yang tak tahu diri. Sekarang aku ingin sekali mendengar riwayatmu. Hong Ing, Siapakah keluargamu? Dan bagaimana engkau bisa menjadi murid Go-bi Sin-kouw yang lihai dan galak itu?"
Nikouw muda itu menghela napas dan mengerutkan alisnya, Kun Liong memandang wajahnya dan pemuda itu kini diam-diam merasa makin kagum dan juga heran kepada diri sendiri.
Mengapa setiap kali memandang wajah dara gundul ini hatinya merasa seperti dicengkeram sesuatu yang amat kuat, yang membuat dia merasa terharu sekali dan ingin mencucurkan air mata?
"Aku sudah tidak ingat lagi, Kun Liong.
Ketika itu aku baru berusia lima tahun dan seingatku, di sampingku hanya ada ibuku yang cantik dan gagah perkasa.
Kami berdua berada di tanah pegunungan, kalau tidak salah dugaanku di Tibet.
Entah apa yang terjadi, aku sendiri tidak tahu sama sekali.
Tiba-tiba Ibu dikeroyok banyak pendeta berjubah merah, pendeta-pendeta Lama.
Ibu menggendongku sambil melawan mati-matian.
Ibu berhasil melarikan diri akan tetapi terluka parah.
Setelah bertahan sampai belasan hari dan berada jauh sekali dari Tibet, Ibu roboh dan meninggal dunia..."
Hampir saja Kun Liong merangkul dan memeluk tubuh yang berguncang-guncang karena tangisnya itu.
Hong Ing menangis terisak-isak.
Siapa takkah menangis kalau membayangkan pengalamannya di waktu itu?
Ibunya menggeletak dengan muka pucat, dan dia, seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya menangis dan memanggil-manggil nama ibunya.
"Ah, kasihan engkau, Hong Ing. Sudahlah, lupakan yang sudah dan jangan teruskan ceritamu,"
Kun Liong menghibur. Hong Ing menyuruti air matanya dengan ujung lengan baju.
"Aku harus menceritakan semua kepadamu, Kun Liong. Pada saat aku menangis menghadapi Ibu yang sudah dalam sekarat, tiba-tiba muncul Go-bi Sin-kouw dan Lauw Kim In, Subo dan suciku itu. Go-bi Sin-kouw berusaha menolong ibuku, namun sia-sia dan Ibu hanya dapat menceritakan dengan napas terputus-putus kepada Go-bi Sin-kouw sebelum menghembuskan napas terakhir. Begitulah, aku lalu dibawa pergi oleh Subo dan Suci."
"Apakah Go-bi Sin-kouw tidak menceritakan kepadamu tentang nama ibu dan ayahmu?"
"Tidak pernah. Subo tidak pernah mau mengaku, dan kalau aku bertanya, dia hanya bilang bahwa Subo yang kini menjadi pengganti ayah bundaku. Aku tidak pernah mengenal ayahku, dan tidak tahu pula mengapa Ibu dikeroyok oleh para pendeta Lama."
"Ssstt...!"
Tiba-tiba tubuh Kun Liong mencelat ke belakang.
Dia menyusup ke dalam semak-semak, Ialu meloncat ke atas pohon tinggi, matanya memandang ke kanan kiri mencari-cari.
Kemudian dia melayang turun lagi ke depan Hong Ing yang sudah meloncat berdiri dan memandangnya dengan heran.
"Ada apakah, Kun Liong?"
Tanyanya, kagum menyaksikan gerakan Kun Liong yang ringan seperti burung terbang tadi.
Kun Liong mengerutkan alisnya.
"Entahlah, aku tadi seperti mendengar suara orang menarik napas panjang dan terdengar suara kaki menginjak daun kering. Akan tetapi kucari kemana-mana tidak ada bayangan seorang pun manusia."
"Ah, agaknya suara binatang kecil di semak-semak,"
Kata Honj Ing yang duduk kembali. Kun Liong juga duduk di depannya.
"Hong Ing, riwayat kita sama-sama menyedihkan. Kita berdua adalah Orang-orang muda yang menderita sengsara sejak kecil."
"Menang begitulah agaknya, Kun Liong. Aku tidak pernah tahu apa itu yang disebut bahagia. Tahukah engkau Kun Liong? Apakah bahagia itu?"
Kun Liong merenung, sepasang matanya memandang jauh, alisnya berkerut, kepala gundulnya mengkilap tertimpa matahari pagi, lalu terdengar dia berkata lirih, seperti kepada dirinya.
"Bahagia? Apakah itu bahagia? Adakah keadaan yang disebut bahagia? Ataukah itu hanya merupakan sebutan saja, merupakan bentukan khayal yang timbul karena keinginan manusia terlepas dari kesengsaraan? Siapakah yang membayangkan bahwa ada keadaan bahagia di dalam hidup? Tentu hanya Orang-orang yang sengsara! Orang-orang yang sengsara dan menderita menciptakan khayal yang berlawanan dan berlainan daripada keadaan hidupnya sendiri, menciptakan khayalan keadaah hidup yang sebaliknya dan yang disebutnya bahagia! Maka hanya Orang-orang yang sengsara sajalah, yang merasa bahwa dia tidak bahagia, yang merindukan kebahagiaan! Orang yang tidak merasa menderita sengsara, apakah dia merasa adanya bahagia itu? Tentu tidak, karena sekali dia bahagia, itu bukaniah kebahagiaan lagi namanya! Kebahagiaan yang dirasakan berarti "kesenangan"
Dan sekali kesenangan dirasakan, maka kesenangan akan membuatnya menjadi pecandu dan setiap kali dia akan selalu mengejar kesenangan serupa untuk diulang kembali!"
Hong Ing memandang dengan mata terbelalak.
Tak disangkanya pemuda gundul ini dapat bicara seperti itu.
Kata-katanya biasa saja, akan tetapi inti sarinya meresap ke dalam sanubarinya, membuat dia seolah-olah dibangunkan dari mimpi dan melihat kenyataan.
"Kalau begitu, apakah bahagia itu, Kun Liong?"
Tanyanya lirih seolah-olah ada rasa hormat tersembunyi dalam hatinya terhadap pemuda itu.
"Entahlah, mungkin itu hanya sebutan saja dan sebutan atau nama sebuah keadaan atau benda bukanlah si keadaan atau si benda itu sendiri. Kalau dapat dituturkan dan digambarkan, itu jelas bukanlah kebahagiaan namanya, melainkan kesenangan. Kebahagiaan bukanlah benda mati, bukankah keadaan yang mati tak berubah lagi, karena itu tidak mungkin digambarkan, tidak mungkin dicari dan dikejar. Maka itu, kiranya tidak akan meleset jauh kalau kukatakan bahwa KEBAHAGIAAN HANYA MENJENGUK ISI HATI MEREKA YANG TIDAK MEMBUTUHKAN KEBAHAGIAAN!"
Hong Ing melongo, tiba-tiba menangkap kedua tangannya dan berkata penuh hikmat.
"Omitohud...!"
Kun Liong baru sadar dan dia seperti ditarik kembali ke dunia lama.
"Heiii! Apa-apaan kau ini, seperti seorang nikouw tulen saja, pakai omitohud segala?"
Hong Ing menurunkan kedua tangannya, masih memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan agaknya dia pun baru saja sadar akan keadaan yang berbeda dengan biasanya tadi.
"Ah, Kun Liong, ketika kau bicara tadi... kau menjadi... lain! Wajahmu penuh wibawa, tapi penuh kehalusan... membuat aku menjadi hormat dan takut. Kau... kau aneh sekali. Dari mana kau memperoleh semua pelajaran tentang hidup itu? Pelajaran yang begitu terbuka dan aneh, namun yang mau tak mau harus kuakui kebenarannya itu?"
Sejenak Kun Liong tidak mampu menjawab, kemudian katanya ragu-ragu.
"Entahlah, Hong Ing. Mungkin juga dari kitab, tapi entah kitab apa yang pernah menyebutkan semua itu tentang bahagia. Terlalu banyak aku membaca kitab yang hampir kesemuanya menjanjikan kebahagiaan-kebahagiaan kosong. Lamunan khayal yang membuat orang seperti boneka atau seperti dalam mimpi, tak pernah dapat melihat kenyataan hidup seperti apa adanya."
"Hemm, kutu buku! Mempelajari segala hal dari buku, apa sih artinya? Hanya merupakan pendapat orang lain belaka, pendapat para penulisnya, pengarangnya! Kalau si pengarang bijaksana dan pandai, belum tentu kita ketularan kebijaksanaan dan kepandaiannya, akan tetapi kalau si pengarang dungu, kita terseret ke dalam kedunguannya!"
Kun Liong mengangguk-angguk.
"Kau betul, ucapanmu tepat sekali, Hong Ing."
"Kau yang pandai bicara tentang kebahagiaan, apakah engkau pernah merasa bahagia, Kun Liong?"
Kepala yang gundul itu tak bergerak sampai lama, kemudian dia menggeleng ragu.
"Kalau kuingat-ingat, aku hanya terlalu sering merindukan kebahagiaan. Kalau aku sedang sakit terbayang olehku betapa bahagianya kalau sehat, padahal kalau sehat tidak terasa lagi kebahagiaan dari kesehatan itu. Bagi orang lapar, kebahagiaan adalah kalau memperoleh makanan. Pendeknya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sebagai harapan dan keinginan yang dikejar-kejar, namun setelah terpegang tangan, kebahagiaan itu sendiri terbang lenyap, dan tampak di depan lagi, seperti seekor burung merpati, kelihatan jinak namun tak pernah dapat ditangkap! Entahlah, kurasa aku belum pernah menangkapnya."
"Bagaimana saat sekarang ini? Apakah kau berbahagia?"
Hong Ing bertanya sambil menatap wajah tampan itu.
"Sekarang ini? Ah, pertanyaanmu sungguh aneh, Hong Ing. Bagaimana aku bisa berbahagia dalam keadaan begini? Tidak, aku malah merasa susah dan sengsara karena kita berdua harus saling berpisah dalam keadaan seperti ini, menjadi orang-orang buruan pemerintah! Kita akan saling berpisah dan entah bagaimana jadinya kelak dengan nasib kita masing-masing. Tidak, Hong Ing, saat ini aku tidak hahagia."
"Tapi aku berbahagia, Kun Liong!"
"Haiii...? Kau...?"
"Hemm, agaknya pengetahuan dari kitab-kitabmu tidak ada gunanya, Kun Liong. Tahu dari kitab saja percuma, yang penting harus menghayatinya sendiri."
"Tapi, kau... kau berbahagia? Mana bisa? Mana mungkin?"
"Mengapa tidak mungkin? Aku merasa berbahagia, mengapa tidak mungkin?"
"Sebabnya?"
"Apa sebabnya? Hanya berbahagia, titik, tidak ada sebabnya lagi."
"Tapi... haii!!! Siapa itu...?"
Kun Liong berseru keras karena pada saat itu terdengar suara tertawa, suara ketawa yang luar biasa nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh hutan, kemudian bergema di semua penjuru hutan itu.
Kun Liong meloncat lagi, mengejar ke sana-sini karena sukar mencari dari mana asal suara ketawa itu.
Namun ternyata sia-sia belaka.
Seperti juga tadi, biarpun dia sudah menyelidiki dari atas pohon, tidak tampak bayangan seorang pun manusia.
Dia melayang turun lagi, mencari ke sana-sini di balik semak-semak dan, kini Hong Ing juga ikut mencari.
Akhirnya mereka berdua saling pandang dan Hong Ing bergidik.
"Bu... bukan manusia...!"
Katanya berbisik dan wajahya yang cantik itu jelas kelihatan ngeri dan takut.
Dia memang seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi menghadapi suara ketawa menyeramkan yang tidak ada orangnya itu, benar-benar membuat nyalinya menyempit.
"Ahhh, tidak mungkin. Tentu manusla! Biar kucari lagi dari atas pohon tertinggi itu!"
Kun Liong meloncat lagi ke atas pohon dan memanjat dari cabang ke cabang sampai dia berada di puncak pohon.
Dia mengintai ke empat penjuru dan tiba-tiba dia melihat debu mengebul, tinggi dari arah barat.
Pasukan berkuda!
Melihat bendera dan pakaian seragam, tahulah dia bahwa tentu pasukan itu pasukan pemerintah yang mengejar dia dan Hong Ing!
Maka cepat dia melayang turun lagi.
"Ada pasukan berkuda dari barat, tentu mengejar kita!"
Katanya.
"Ahhh... bagaimana baiknya?"
Hong Ing berkata, memandang wajah Kun Liong dengan bingung.
"Kita lari saja. Di antara mereka tentu terdapat orang pandai..., mungkin yang tadi tertawa adalah orang mereka. Hayo kita lari ke timur!"
Maka larilah kedua orang muda itu menuju ke timur.
Mereka lari secepatnya, menyusuri sepanjang pantai Sungai Huang-ho terus ke timur.
Beberapa hari kemudian kedua orang muda yang melarikan diri itu sudah tiba di lembah muara Sungai Huang-ho, dekat dengan pantai Teluk Pohai.
Cepat keduanya memasuki hutan dan akhirnya Kun Liong menemukan kuil Kwan-im-bio yang berada di dalam hutan itu.
Sebuah kuil kecil yang terpencil sendiri di dalam hutan.
Kuil kosong dan biarpun di situ masih terdapat meja sembahyang dan beberapa buah bangku, namun semua bangku itu kotor dan bahkan arca Kwan Im Pouwsat juga tidak ada di situ.
Akan tetapi Kun Liong memang sudah mempersiapkan diri ketika lari dalam beberapa hari ini.
Dia sudah membeli lilin dan hio, maka cepat-cepat bersama Hong Ing dia membersihkan kuil itu kemudian menutupi tempat arca dengan saputangan sutera milik Hong Ing agar tidak kelihatan dari luar tempat arca yang kosong, mengatur lilin di atas meja.
Pendeknya keduanya berusaha keras agar kuil itu kelihatan sebagai kuil yang masih bekerja.
Tiga hari mereka bersembunyi di kuil itu.
Pada hari ke empatnya, dari jauh sudah terdengar derap kaki kuda.
Mengertilah kedua orang muda itu bahwa para pengejar mereka telah tiba di dalam hutan itu!
Maka sibuklah mereka berdua.
Kun Liong menyalakan lilin, memasang belasan batang hio dan menancapkannya di atas meja sehingga asap hio yang harum semerbak keluar dari kuil itu.
Tak lama kemudian terdengarlah suara jernih dari Hong Ing yang sudah berliam-keng (membaca ayat suci) sambil mengatur iramanya dengan memukul alat yang khusus dibuat untuk itu dan yang masih ada di dalam kuil!
Kun Liong sendiri juga sudah menutupi kepalanya dengan kain putih meniru gaya Hong Ing, dan sambil berlutut dan mulut kemak-kemik dia pun tekun memukuli alat untuk liam-keng itu dengan gencar.
Maka ramailah di kuil itu, suara Hong Ing berliam-keng diiringi suara tak-tok tak-tok nyaring!
Suara ini ditambah asap hio mengepul harum memang cukup mendatangkan suasana kuil.
Dengan hati berdebar tegang kedua orang itu berlutut dan sengaja memilih ruangan dalam yang gelap, menghadapi meja sembahyang dan menundukkan muka sehingga penutup kepala itu menutupi muka mereka dari samping.
Dilihat sepintas lalu, tentu saja mereka merupakan dua orang nikouw yang sedang tekun membaca doa dan suara Hong Ing tidak dapat disangsikan lagi sebagai suara seorang wanita, seorang nikouw.
Derap kaki kuda makin jelas terdengar dan akhirnya terdengar teriakan dan rombongan itu berhenti di kuil.
Tepat seperti yang dikhawatirkan oleh Kun Liong, beberapa orang meloncat turun dari kuda dan memasuki kuil!
Langkah kaki yang kasar memeriksa ke dalam kuil dan akhirnya memasuki ruangan di mana dia dan Hong Ing berlutut.
Hong Ing makin gencar membaca doa, demikian cepatnya sehingga menyelimuti suaranya yang agak gemetar saking tegangnya.
"Tidak ada nikouw lain, hanya ada dua orang ini,"
Terdengar suara orang laki-laki.
"Tentu tidak berada di sini. Kalau ada, tak mungkin mereka dapat bersembunyi."
Kata suara laki-laki ke dua.
"Nanti dulu!"
Suara wanita ini membuat Kun Liong terperanjat bukan main.
Itulah suara Si Gendut Kim Seng Siocia dan diam-diam dia bergidik!
Wanita gendut ini amat cerdik dan ternyata Kim Seng Siocia sudah memandang ke arah sepatu yang dipakai Kun Liong dan Hong Ing.
"Heh, Nikouw! Berhentilah dahulu berliam-keng!"
Kim Seng Siocia membentak.
"Apakah kalian melihat seorang pemuda gundul dan seorang nikouw muda lewat di tempat ini?"
Hong Ing terus berliam-keng dengan suara nyaring, sedangkan Kun Liong cepat menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab, mulutnya terus kemak-kemik dan tangannya memukuli alat itu makin gencar.
"Ah, dua orang nikouw ini mana melihat hal lain kecuali berliam-keng? Mereka akan berliam-keng sampai mati, memesan tempat di sorga, ha-ha-ha!"
Terdengar suara laki-laki pertama.
Langkah kaki mereka meninggalkan tempat itu dan hati Kun Liong sudah mulai lega ketika tiba-tiba suara Kim Seng Siocia membuatnya terkejut setengah mati.
"Nikouw! Kenapa sepatu kalian kotor berdebu?"
Pertanyaan itu diucapkan dengan bentakan yang begitu tiba-tiba sehingga Kun Liong yang terkejut itu menjawab gagap.
"Ohhh... ehhh... belum kami bersihkan...!"
Dia terbeialak dan melongo ketika melihat kesalahannya sendiri.
Dalam gugupnya dia telah membuka mulut memperdengarkan suaranya yang tentu saja tidak pantas menjadi suara seorang wanita, bahkan dengan mengatakan bahwa mereka berdua belum membersihkan sepatu berarti dia telah membuka rahasia.
"Tangkap mereka!"
Kim Seng Siocia berseru keras dan terdengar cambuk hitam di tangannya bersuitan.
Kun Liong dan Hong Ing sudah meloncat bangun dan sambil mendorong tubuh Hong Ing agar mundur, Kun Liong sudah menggerakkan ranting yang berada di tangannya menangkis cambuk.
Memang dia sudah menyembunyikan dua batang ranting itu di dalam jubahnya tadi, menjaga segala kemungkinan.
Kim Seng Siocia dan dua orang kang-ouw yang tadi melakukan pemeriksaan, setelah melihat bahwa dua orang itu adalah Orang-orang yang mereka kejar, cepat melompat keluar karena mereka bertiga maklum betapa lihainya dua orang itu.
Kun Liong berbisik.
"Hati-hati, Hong Ing. Kita harus mencari jalan keluar dan melarikan diri."
Hong Ing hanya mengangguk, akan tetapi sedikit pun hati dara ini tidak kuatir.
Dia berada di samping Kun Liong dan kenyataan ini mendatangkan keberanian luar biasa.
Dia mengikuti Kun Liong berloncatan keluar dan setelah tiba di luar kuil, tampaklah oleh mereka musuh-musuh mereka dengan lengkap!
Pangeran Han Wi Ong, Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw, para panglima pengawal dan masih tampak belasan orang yang melihat pakaian mereka tentulah orang-orang kang-ouw.
Kun Liong merasa heran melihat orang-orang kang-ouw membantu pemerintah untuk menangkap orang buruan.
Dia tidak tahu bahwa orang-orang ini bukan semata-mata membantu pemerintah, Akan tetapi lebih condong untuk mencari bokor emas karena mereka menganggap bahwa Kun Liong satu-satunya orang yang agaknya tahu di mana adanya bokor emas yang tulen.
Di samping mereka ini, masih ada seregu pasukan terdiri dari lima puluh orang perajurit!
Maklumlah Kun Liong bahwa melawan orang sebanyak itu amat berbabaya.
Apalagi kalau mengingat akan kepandaian orang aneh yang tadi mentertawakannya, yang dia tidak tahu siapakah orangnya di antara para orang kang-ouw itu.
Kalau melawan tentu akan membahayakan keselamatan Hong Ing.
Maka tanpa banyak cakap lagi, tiba-tiba dia merangkul pinggang Hong Ing, mengempitnya dan membawanya meloncat sambil mengerahkan gin-kangnya.
Tubuhnya mencelat ke kiri, ke arah orang-orang kang-ouw karena dia sudah tahu akan kelihaian Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw yang berada di depannya.
"Kejar!"
"Tangkap!"
Empat orang kang-ouw yang kebetulan berada di sebelah kiri sudah menyambit Kun Liong, akan tetapi tangan pemuda ini menggerakkan rantingnya dan berturut-turut robohlah empat orang kang-ouw itu sebelum mereka tahu bagaimana mereka dapat dirobohkan.
Gerakan ranting itu hebat bukan main dan memang Kun Liong telah mainkan Ilmu Tongkat Siang-liong-pang yang amat luar biasa.
Setelah berhasil merobohkan empat orang itu, cepat Kun Liong melarikan diri dan setelah agak jauh barulah dia melepaskan tubuh Hong Ing, memegang tangan dara itu dan mengajaknya berlari terus menuju ke timur.
Di belakang mereka terdengar teriakan-teriakan orang dan derap kaki kuda.
Mereka dikejar terus oleh rombongan itu!
Sehari semalam mereka terus melarikan diri dan pada sore harinya, mereka tiba di pantai Teluk Pohai!
Jalan buntu!
Di depan mereka membentang luas air laut dan di belakang mereka rombongan itu masih mengejar terus!
Melihat keadaan ini, Hong Ing memegang lengan Kun Liong dan berkata.
"Kun Liong, kau larilah selagi masih ada kesempatan! Tak ada gunanya lagi kau mati-matian melindungiku, Kun Liong, sampai mati aku akan berterima kasih kepadamu, akan tetapi jangan kau mengorbankan diri untukku. Pergilah dan tinggalkan aku di sini. Aku dapat menghadapi mereka."
Kun Liong mengerutkan alisnya.
"Kau dapat menghadapi mereka? Bagaimana? Kau tentu akan ditangkap oleh gurumu dan akan dipaksa menikah dengan pangeran itu kalau tidak dibunuh."
"Aku tidak takut! Aku akan melawan dan kalau aku kalah sebelum ditawan aku dapat membunuh diri."
"Tidak!"
Kun Liong mencengkeram lengan dara itu sampai Hong Ing merintih, baru dia teringat dan melepaskannya.
"Aku tidak akan pergi meninggalkanmu selama aku masih hidup. Aku tidak bisa membiarkan engkau ditawan atau membunuh diri. Hong Ing, jangan bicara yang bukan-bukan, mari kita lawan mereka. Kita bukanlah orang-orang lemah dan lebih baik mati sebagai harimau daripada mati seperti babi, mati konyol!"
Hong Ing menggigit bibir dan dua titik air matanya jatuh, dia tidak mampu menjawab, hanya mengangguk-angguk.
Sementara itu, dari jauh sudah tampak debu mengebul dan tak lama kemudian kelihatan rombongan pengejar itu mendekati pantai.
"Hong Ing, jangan kau bergerak dulu, kau berdiri sajalah di belakangku."
Sambil berkata demikian, Kun Liong memegang tangan dara itu dan meloncat ke atas sebuah batu karang besar yang berada di pinggir laut itu.
Dengan sikap gagah dia berdiri tegak.
Hong Ing di bebelakangnya seolah-olah dia hendak melindungi dara itu dari segala mara bahaya.
Rombangan pengejar itu berhenti di depannya.
Mereka turun dari atas kuda dan memandang pemuda itu, tidak berani sembarangan turun tangan melihat sikap pemuda itu yang sama sekali tidak kelihatan gentar.
Kemudian terdengar suara Kun Liong lantang bergema.
"Pangeran Han Wi Ong sebagai seorang pembesar tinggi, seorang bangsawan agung, ternyata tingkah lakumu sama sekali tidak patut menjadi tauladan rakyat! Engkau hendak mempergunakan pengaruh kedudukan dan kekuasanmu untuk memaksa seorang dara menjadi isterimu! Engkau tidak bercermin. Lihatlah mukamu sendiri dalam cermin. Engkau juga hanya seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan aku atau Hong Ing, mengapa engkau hendak memaksa dia menjadi isterimu? Kalau seorang pembesar sebejat engkau wataknya, bagaimana pula dengan bawahanmu yang akan mencontoh perbuatanmu?"
Muka pangeran itu sebentar merah sebentar pucat mendengar ini.
Dia marah sekali, karena menganggap pemuda itu terlalu kurang ajar, tidak tahu apa yang dideritanya selama ini, dia benar-benar cinta kepada Pek Hong Ing, dara perkasa yang dikaguminya.
Dia mengajukan lamaran dengan baik-baik dan sudah diterima oleh Go-bi Sin-kouw sebagai wali dara itu!
Bagaimana dia dimaki-maki seperti itu?
Adalah pemuda itu yang kurang ajar dan tidak patut, melarikan calon isteri orang!
"Kim Seng Siocia, engkau juga seorang wanita yang berakhlak bejat!
Tidak malukah engkau hendak memaksa seorang pria seperti aku menjadi suamimu?
Engkau ini sepatutnya berjodoh dengan Pangeran Han Wi Ong, karena sama-sama hendak memaksa orang menjadi jodohnya!"
Kim Seng Siocia tertawa lebar.
"Bocah lucu, kalau sudah tertawan, aku akan menjewer telingamu biar kau bertaubat, hi-hik!"
"Dan engkau, Go-bi Sin-kouw. Guru macam engkau ini pun bukan merupakan seorang guru yang baik! Mana ada guru yang katanya mencinta muridnya hendak menjerumuskan murid sendiri? Jelas bahwa muridmu, Pek Hong Ing, tidak suka menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong, akan tetapi kau hendak memaksanya. Aku tahu hal ini adalah karena kau ingin mendapatkan kehormatan dan harta. Engkau tidak patut menjadi guru, pantasnya sikapmu itu sikap seorang biang pelacur!"
"Dan kalian orang-orang kang-ouw dan para perajurit! Percuma saja hidup seperti kalian ini, mencari uang dan kedudukan dengan jalan membunuh orang lain, kalian adalah boneka-boneka sial yang mau saja ditipu dan diperalat oleh segelintir manusia macam Pangeran Han Wi Ong yang mengejar kedudukan! Betapa murah harga diri dan nyawa kalian!"
"Serbu! Bunuh saja keparat itu!"
Tiba-tiba terdengar perintah yang keluar dari mulut Pangeran Han Wi Ong.
"Dan tangkap nona itu!"
"Tidak! Jangan bunuh calon suamiku!"
Kim Seng Siocia membantah.
Menyerbulah semua orang itu ke batu karang dan terpaksa Kun Liong meloncat turun lalu mengamuk dengan sepasang ranting di tangannya.
Dia mainkan Siang-liong-pang dan berturut-turut robohlah beberapa orang perajurit yang terdekat.
Akan tetapi betapapun juga, Kun Liong tetap tidak mau membunuh orang dan selalu mengatur gerakan kedua ranting di tangannya sehingga yang roboh olehnya hanya menderita tertotok, luka ringan atau patah tulang saja.
Dalam waktu singkat Kun Liong sudah dikeroyok seperti seekor jangkerik dikeroyok banyak sekali semut yang nekat.
Melihat betapa Kun Liong dengan nekat menghadapi pengeroyokan dan semua itu dilakukan demi melindunginya, Hong Ing segera meloncat turun pula dan mengamuk.
Dia ingin mati di samping pemuda ini!
Seru dan hebat sekali pertandingan yang berat sebelah itu berlangsung di tepi pantai yang berhutan.
Hong Ing sudah berhasil merampas sebatang pedang milik seorang pengeroyok dan kini dia mengamuk seperti seekor singa betina.
Hanya subonya saja yang diseganinya dan dia sama sekali tidak mau melawan subonya, maka setiap kali gurunya ini menerjang, dia selalu lari ke lain bagian untuk mengamuk di antara para pengeroyoknya.
Melihat ini Kun Liong mengerti bahwa kalau Go-bi Sian-kouw mendesak dan memaksa Hong Ing melayaninya, dara itu tentu akan mengalah dan mudah tertawan.
Maka dia menggerakkan sepasang rantingnya selalu menghadang dan mendesak Go-bi Sin-kouw sehingga nenek ini tidak sempat lagi mengejar Hong Ing.
Biarpun dia sudah memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi sekali, namun menghadapi pengeroyokan orang-orang pandai itu, Kun Liong merasa kewalahan juga.
Apalagi dia tidak mau membunuh orang!
Kim Seng Siocia dengan cambuk hitamnya, Go-bi Sin-kouw dengan tongkat bututnya, dan tujuh orang kang-ouw yang memegang bermacam senjata dan rata-rata memiliki kepandaian tinggi, membuat Kun Liong repot sekali.
Namun dia terheran-heran mengapa di antara mereka ini tidak terdapat orang sakti yang telah mengganggunya dengan suara ketawa itu dan hal ini melegakan hatinya.
Kalau ada orang itu, agaknya dia tidak akan dapat lama bertahan.
Namun sekarang dia makin terdesak juga karena untuk menggunakan Thi-khi-i-beng yang diandalkannya, tidak ada kesempatan baginya.
Berulang kali Kim Seng Siocia memperingatkan kawan-kawannya dengan teriakan agar jangan sampai menjadi korban Thi-khi-i-beng.
"Awas!"
Teriaknya.
"Dia pandai Ilmu Mujijat Thi-khi-i-beng! Jangan biarkan tubuhmu menyentuhnya, gunakan saja ujung senjata untuk mendesak! Tangkap dia!"
Memang dengan peringatan ini, para pengeroyok hanya mengurung saja, tidak berani terlalu mendesak sehingga dia tidak terancam bahaya senjata lawan, namun dengan dikurung ketat seperti itu, dia takkan dapat meloloskan diri dan pula dia tentu akan kehabisan tenaga.
Di samping ini, yang menggelisahkan hatinya adalah bahwa dia tidak dapat menolong Hong Ing dan hanya melihat dengan hati gelisah betapa dara itu pun dikeroyok oleh banyak sekali panglima dan perajurit.
Selagi Kun Liong merasa bingung sekali, tiba-tiba dia melihat bayangan seorang gadis yang membuatnya girang dan jantungnya berdebar.
Akan tetapi hatinya yang girang itu segera berubah heran dan bingung, juga kecewa ketika melihat bahwa gadis itu yang bukan lain adalah Cia Giok Keng, datang bersama dengan Liong Bu Kong, putera dari Ketua Kwi-eng-pang!
Saking herannya, dia tidak jadi berteriak memanggil dan dia melihat betapa dara itu bercakap-cakap dengan Pangeran Han Wi Ong.
Tak lama kemudian terjadilah hal yang sama sekali tidak diduganya akan tetapi yang segera dapat dimengertinya.
Cia Giok Keng dan Liong Bu Kong sudah menyerbu ke medan pertandingan dan ikut pula mengeroyoknya!
Tanpa menegur pun tahulah dia mengapa Giok Keng membantu Pangeran Han Wi Ong.
Ayah dara itu, supeknya Si Pendekar Sakti Cia Keng Hong, adalah seorang yang terkenal sering membantu pemerintah.
Maka kini puterinya tentu saja membantu pasukan pemerintah, apalagi karena agaknya pangeran itu sudah memutarbalikkan kenyataan ketika bicara dengan Giok Keng tadi.
Benar saja dugaannya, sambil menudingkan pedangnya Giok Keng memaki.
"Yap Kun Liong! Mengapa kau menjadi begini tersesat? Lebih baik kau menyerah agar mendapatkan pengadilan yang resmi! Kau telah melarikan isteri orang? Sungguh terlalu kau!"
"Jangan dengarkan obrolan pangeran konyol itu, Giok Keng!"
Teriak Kun Liong penasaran.
"Gadis ini mau dipaksanya menjadi isterinya, aku hanya menolong...!"
"Aku tahu watak mata keranjangmu!".
Giok Keng membentak dan kini pedangnya ikut bicara.
Juga Liong Bu Kong yang diam-diam tersenyum girang ikut pula menerjang maju.
Tentu saja Kun Liong menjadi makin kewalahan.
Baru menghadapi pengeroyokan tadi saja dia sudah repot, kini ditambah dua orang yang memiliki kepandaian begini tinggi, tentu saja dia menjadi makin sibuk.
Seperti diceritakan di bagian depan, Giok Keng dan Bu Kong sedang meninggalkan Pantai Pohai, baru saja mereka mengambil pusaka-pusaka yang disembunyikan pemuda itu dan hendak berangkat ke Siauw-lim-si.
Di tepi pantai ini, dekat muara karena mereka bermaksud menggunakan perahu, mereka melihat ramai-ramai dan ternyata Yap Kun Liong si pemuda gundul yang dikeroyok oleh pasukan tentara.
Tepat seperti diduga oleh Kun Liong, Giok Keng yang bicara dengan Pangeran Han Wi Ong menanyakan peristiwa itu mendengar bahwa Kun Liong melarikan gadis yang menjadi isteri pangeran itu.
Tentu saja Giok Keng menjadi marah dan terus menyerbu bersama Bu Kong.
Tubuh Kun Liong sudah basah semua oleh peluh, seperti juga tubuh Hong Ing yang membela diri mati-matian.
Hanya bedanya, kalau orang-orang yang dirobohkan oleh Kun Liong hanya menderita tulang patah atau tertotok lumpuh, mereka yang roboh oleh pedang Hong Ing tak dapat bangkit lagi, bahkan banyak yang tewas seketika!
Namun Hong Ing sendiri juga sudah menderita beberapa luka-luka ringan di lengan dan pahanya.
Betapapun juga, dara ini mengamuk terus, mengambil keputusan untuk mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!
Diam-diam Cia Giok Keng heran bukan main, juga kagum.
Baru sekarang dia menyaksikan dengan matanya sendiri betapa lihainya pemuda gundul itu.
Ilmu tongkatnya yang dimainkan oleh kedua tenaga Kun Liong yang menggunakan sepasang ranting benar-benar amat luar biasa, aneh dan juga tangguh sekali.
Belum pernah Giok Keng menyaksikan ilmu tongkat sehebat itu.
Kemana pun tongkat berkelebat, tentu ada pengeroyok yang terdesak hebat, dan dari manapun datangnya hujan senjata tentu dapat ditangkis oleh sebatang di antara dua ranting itu!
Dan kekebalan tubuh Kun Liong juga mengagumkan sekali.
Beberapa kali tubuh pemuda itu terkena bacokan, namun hanya bajunya saja yang robek sedangkan kulit tubuhnya sama sekali tidak terluka.
Tentu saja bacokan dan gebukan itu hanya dilakukan dengan senjata biasa.
Buktinya, pemuda itu sama sekali tidak pernah berani menerima sambaran pedangnya, Gim-hwa-kiam, dan pedang Lui-kong-kiam di tangan Bu Kong dengan tubuhnya.
Jelas bahwa kekebalan tubuh Kun Liong masih belum dapat menahan pedang pusaka!
Dan sekali ini Giok Keng yang cerdik ternyata salah duga.
Ketika tubuh Kun Liong terkena hantaman golok, pedang atau tombak, bukan sekali-kali dia menerima senjata itu dengan sengaja, melainkan karena terlalu banyaknya senjata yang datang menyerangnya membuat dia tidak sempat mengelak atau menangkis lagi.
Maka terpaksa dia mengerahkan sin-kang melindungi tubuhnya sehingga kulitnya menjadi kebal.
Dan kalau dia menghendaki, belum tentu pedang pusaka itu dapat pula melukainya!
Tentu saja Kun Liong tidak mau mencoba-coba, karena selain berbahaya, juga dia tidak menghendaki kalau puteri supeknya ini merasa terhina.
Maklumlah Kun Liong bahwa dia dan Hong Ing tidak akan tertolong lagi.
Pihak pengeroyok terlampau kuat.
Karena dia tahu bahwa tidak mungkin bagi Hong Ing untuk menyerah yang berarti dia harus mau menjadi isteri pangeran itu, maka tidak akan ada gunanya untuk membujuk dara itu menyudahi perlawanan.
Dia lalu memekik nyaring, pekik dahsyat yang mengejutkan para pengerayoknya, Apalagi ketika dari tangan kiri Kun Liong menyambar pukulan yang mengeluarkan uap putih dan yang menyambar dengan kekuatan dahsyat, bahkan Giok Keng sendiri sampai meloncat mundur.
Kim Seng Siocia yang memandang rendah, terkena hantaman hawa pukulan ini dan dia menjerit sambil terhuyung mundur, mulutnya mengeluarkan darah segar tanda bahwa isi dadanya terguncang oleh Pukulan Pek-in-ciang yang dilakukan Kun Liong tadi.
Memperoleh kesempatan selagi para lawannya mundur, cepat seperti kilat menyambar tubuhnya telah mencelat ke dekat Hong Ing yang sudah payah.
Datangnya pemuda ini tentu saja merubah keadaan Hong Ing yang timbul kembali semangatnya melihat betapa enam orang pengeroyok terlempar ke sana-sini oleh kaki tangan Kun Liong yang marah menyaksikan dara itu terdesak dan terancam.
"Kun Liong, mari kita mati bersama..."
Hong Ing berbisik.
"Tidak, kita harus hidup! Kita lawan mereka!"
Teriak Kun Liong penasaran.
Kini para pengeroyok itu menerjang maju dan mengurung Kun Liong dan Hong Ing yang berdiri saling membelakangi, dengan punggung hampir mepet beradu, dan dengan sikap gagah, siap menanti setiap terjangan lawan dari manapun juga datangnya.
Tiba-tiba terdengar suara ketawa yang luar biasa.
Ketawa itu sambung-menyambung seperti halilintar di musim hujan, bergema di seluruh penjuru dan membawa kekuatan yang menggetarkan jantung setiap orang yang berada di situ.
Bahkan ada belasan orang perajurit yang kurang kuat, merasa kakinya lumpuh dan mereka ini menggigil hampir roboh mendengar suara ketawa penuh dengan tenaga khi-kang itu.
"Ha-ha-ha-ha! Bermacam-macam orang mengeroyok seorang hwesio muda dan seorang nikouw muda! Dunia ini akan menjadi apa kalau orang-orang sudah mengeroyok dua orang alim? Ha-ha!"
Semua orang, termasuk Kun Liong dan Hong Ing, mengangkat muka memandang.
Dari dalam hutan itu muncullah seorang yang tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, berkepala gundul dan berpakaian seperti pendeta Lama dengan jubah lebar berwarna merah!
Lama jubah merah!
Sudah terkenal bahwa pendeta Lama jubah merah merupakan segolongan pendeta yang berilmu tinggi dan berpengaruh di Tibet!
Anehnya, pendeta Lama tinggi besar ini memanggul sebuah peti mati!
Peti mati yang sederhana sekali, hanya sebuah peti lonjong bertutup, terbuat dari kayu yang hitam mengkilap.
"Ha-ha-ha-ha, mengeroyok nikouw dan hwesio sama artinya dengan menantang aku! Mundurlah kalian semua, kalau tidak, terpaksa pinceng (aku) melakukan pelanggaran pantangan membunuh hari ini, ha-ha-ha! Sayang peti matiku hanya sebuah, sedangkan kalian begitu banyak, mana cukup?"
"Hwesio gila...!"
Lima orang kango-uw dan belasan orang perajurit yang tadi berada di bagian luar pengepungan dan kini paling dekat dengan hwesio raksasa itu, menyerbu dengan senjata mereka yang bermacam-macam.
Pendeta Lama itu hanya tertawa tanpa menurunkan peti mati yang dipanggul di pundak kanannya.
Ketika belasan orang itu mendekat, pendeta Lama ini menggerakkan lengan kirinya yang berjubah lebar.
Angin yang dahsyat menyambar seperti badai dan...
lima orang kang-ouw bersama belasan orang perajurit itu roboh dan tidak dapat bangun kembali!
"Ha-ha-ha, segala macam tikus busuk hendak melawan pinceng?
Tidak ada gunanya!
Pinceng baru mau bertanding sungguh-sungguh kalau lawan pinceng yang seimbang maju.
Hayo, mana dia yang berjuluk Go-bi Thai-houw?
Mana dia Bun Hwat Tosu dan Tiang Pek Hosiang?
Suruh mereka maju, atau Sin-jiu Kiam-ong dan Panglima The Hoo!
Ha-ha-ha, apakah mereka itu tidak ada yang berani melawan Kok Beng Lama?"
Semua orang, terutama sekali Kun Liong dan Giok Keng, terkejut bukan main mendengar ucapan itu.
Lama ini menantang-nantang semua orang sakti yang amat terkenal, bahkan yang sebagian besar sudah meninggal dunia!
Bahkan guru dari Cia Keng Hong yang bernama Sin-jiu Kiam-ong (baca cerita Pedang Kayu Harum) juga ditantangnya, termasuk Panglima The Hoo yang sakti luar biasa!
Mendengar bekas majikannya yang dipuja-puja, yaitu Go-bi Thai-houw disebut-sebut, marahlah Kim Seng Siocia.
Dia berteriak keras dan melompat ke depan.
Tubuh yang gendut itu ternyata dapat bergerak gesit sekali dan terdengarlah bunyi ledakan keeil berturut-turut ketika cambuk hitamnya melecut-lecut di udara kemudian meluncur ke arah kakek pendeta Lama itu.
"Ha-ha-ha, bagus juga Si Gendut ini!"
Kakek itu menerima lecutan cambuk hitam dengan mengangkat tangan kirinya dan...
seperti besi disedot semberani, ujung cambuk hitam itu melayang ke arah tangan Si Kakek lihai lalu ditangkapnya.
"Lepaskan cambukku! Aihhh...!"
Kim Seng Siocia mengerahkan tenaganya membetot, namun cambuknya seperti telah berakar ditangan kakek itu yang masih tertawa-tawa, kemudian tiba-tiba dilepaskanlah cambuk itu sehingga tubuh yang gendut dari Kim Seng Siocia itu terjengkang dan terguling-guling, diikuti suara ketawa kakek itu!
Kim Seng Siocia sudah berdiri lagi, memutar-mutar cambuknya mengikuti sepasang matanya yang juga terputar-putar.
Kemudian dia menerjang maju, bersama dengan yang lain.
Melihat permainan senjata bukan saja dari Kim seng Siocia, akan tetapi juga Go-bi Sin-kouw dan terutama sekali gerakan pedang di tangan Giok Keng dan Bu Kong, diam-diam kakek itu merasa kagum.
Dia tertawa panjang dan tubuhnya sudah meluncur ke dekat Kun Liong dan Hong Ing.
"Kallan tidak lekas masuk ke dalam peti mati selagi masih hidup, apakah menunggu sampai mampus baru dimasukkan? Ha-ha-ha!"
Kun Liong dan Hong Ing maklum bahwa kakek inilah agaknya yang tertawa di dalam hutan kemarin, dan dapat menduga bahwa kakek ini datang untuk menolong mereka, maka Kun Liong lalu menyambar tangan Hong Ing dan ketika melihat peti itu yang dipanggul oleh Si Kakek tahu-tahu sudah terbuka sendiri tutupnya, dia lalu membawa Hong Ing meloncat ke dalam peti mati yang segera tertutup kembali!
Biarpun para lawannya sudah menerjang maju, pendeta Lama itu tidak melepaskan peti mati, bahkan dia lalu tertawa dan kini lengking ketawanya mengandung tenaga yang sedemikian dahsyatnya sehingga Giok Keng, Bu Kong, Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw dan beberapa orang kang-ouw, cepat meloncat mundur, mengerahkan sin-kang untuk menahan pengaruh suara yang menggetarkan jantung mereka itu.
Pangeran Han Wi Kong sendiri yang berdiri agak jauh, sudah terjungkal roboh dan pingsan, sedangkan banyak perajurit roboh dan tewas seketika, telinga mereka mengeluarkan darah segar!
Keadaan menjadi sunyi sekali setelah kakek itu menghentikan suara lengkingannya yang hebat itu, dan kesempatan ini dipergunakan oleh kakek yang mengaku bernama Kok Beng Lama itu untuk berbisik ke dalam peti.
"Kalian adalah orang-orang buruan pemerintah. Berbahaya sekali. Lebih baik kalian untuk sementara waktu pergi bersembunyi ke sebuah pulau kosong dan jangan mendarat dulu. Nah, pergilah!"
Tiba-tiba kakek itu menggunakan kedua lengannya yang berbulu untuk melontarkan peti mati itu.
Peti melayang dan meluncur jauh menuju lautan.
"Byuuurrr...!"
Peti mati itu terbanting ke atas air, Kun Liong dan Hong Ing sampai bertumpang (Lanjut ke
Jilid 35) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 tinding di dalam peti namun Kun Liong masih teringat untuk merangkul Hong Ing dan melindunginya sehingga ketika peti terbanting, kepala dara itu tidak sampai terbentur peti.
Juga pemuda ini sudah menarik tubuh Hong Ing ke atas tubuhnya ketika peti melayang sehingga dialah yang berada di bawah ketika peti terbanting.
Setelah peti yang terbanting tidak melayang lagi, Kun Liong menggunakan tangan kirinya membuka peti dari dalam.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka berdua mendapat kenyataan bahwa peti mati itu telah berada di atas permukaan air laut yang bergelombang!
Ketika mereka memandang ke daratan yang agak jauh, mereka melihat para pengejar mereka berdiri di pantai.
Untung di situ tidak tersedia perahu sehingga mereka tidak mampu melakukan pengejaran.
Adapun pendeta Lama bernama Kok Beng Lama itu sudah tidak tampak mata hidungnya di pantai.
Memang pendeta itu segera melangkah lebar pergi meninggalkan pantai setelah melemparkan peti mati ke lautan dan tidak ada yang berani mengejarnya karena semua orang maklum betapa lihainya pendeta Lama itu.
Kun Liong terus membuka peti.
Tutup peti yang berengsel itu dapat terbuka sampai telentang sehingga peti itu merupakan dua perahu kecil berjajar.
Di sudut dia menemukan sehelai layar tergulung, terbuat dari kain tipis akan tetapi kuat sekali, lengkap berikut tali-temali dan bambu sebagai tiang.
Kiranya peti mati itu bukanlah peti mati biasa, melainkan peti mati yang dapat dipergunakan sebagai perahu dan agaknya memang menjadi kendaraan kakek itu!
Dibantu oleh Hong Ing, Kun Liong lalu memasang layar dan meluncurlah "perahu"
Mereka, menerjang ombak menuju ke timur, ke tengah samudera yang luas!
Setelah pantai hanya kelihatan sebagai garis yang tidak jelas dan para pengejar tak tampak lagi, legalah hati kedua orang muda itu.
"Ke mana kita pergi?"
Tiba-tiba terdengar suara Hong Ing, suara yang lemah penuh kekhawatiran.
Kun Liong menarik napas panjang.
Sebegitu jauh, nasib mereka masih mujur, ada saja bintang penolong yang datang membebaskan mereka dari bahaya.
Akan tetapi dia sendiri pun tidak tahu harus pergi ke mana!
"Sebaiknya kita mentaati nasihat Kok Beng Lama tadi.
Kalau berada di darat, tentu kita akan menjadi orang buruan terus sebelum aku berhasil bertemu dan mendapat pertolongan Supek.
Akan tetapi melihat sikap Giok Keng tadi...
ah, tipis harapanku..."
"Giok Keng? Apakah kau maksudkan dara cantik jelita yang amat gagah perkasa tadi? Yang menyerangmu dengan pedang bersinar perak?"
"Benar."
"Engkau sudah mengenalnya, mengapa dia menyerangmu? Siapakah dia?"
"Dia itu... tunanganku..."
"Ihhh...!"
Hong Ing membuang muka, tidak memandang lagi kepada Kun Liong dan tidak bicara lagi.
Sampai lama keduanya berdiam saja dan suasana menjadi amat hening, hening menggelisahkan hati.
"Dia adalah puteri Supek Keng Hong..."
Akhirnya Kun Liong berkata, tidak tahu mengapa Hong Ing menjadi pendiam, mengira tentu dara itu tenggelam ke dalam kegelisahan karena keadaan mereka.
Hong Ing kelihatan tercengang dan menengok.
"Ehhhh...?"
"Tapi pertunangan kami itu telah putus..."
"Hemm..."
Hong Ing berusaha untuk duduk sejauh mungkin dari Kun Liong, akan tetapi mana bisa kalau tempat itu hanya sedemikian sempitnya?
Apalagi Kun Liong duduknya di tengah karena pemuda itu harus memegang tali layar dan mengatur arah perahu yang melaju didorong angin itu.
Betapa pun dia menggeser tubuhnya, tetap saja mereka duduk berdekatan!
"Kenapa...?"
Kun Liong yang termenung, agaknya ikut kecewa dan berduka menyaksikan keadaan Hong Ing yang seperti orang bingung dan bersedih itu, terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba ini.
"Kenapa apanya...?"
"Kenapa pertunangan itu putus?"
"Dia yang menghendaki demikian, karena dia tidak cinta kepadaku."
Hong Ing mengangguk-angguk dan kini wajahnya kembali agak merah, matanya bersinar dan mulutnya tersenyum mengejek.
"Aku sudah melihat itu. Kalau cinta tidak mungkin dia ikut mengeroyokmu. Kulihat dia datang bersama pemuda tampan itu, tentu pemuda itulah yang menggagalkan pertunanganmu."
"Tidak! Mudah-mudahan tidak. Pemuda itu adalah putera datuk sesat, putera Kwi-eng Niocu, tak mungkin Giok Keng jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti itu."
"Mengapa tidak mungkin? Pemuda itu tampan dan menarik, dan seorang yang mencinta tidak mungkin dapat melihat keburukan orang yang dicinta."
"Tapi Giok Keng seorang dara perkasa yang cerdik dan bijaksana."
"Tidak! Dia gadis tolol!"
Tiba-tiba Hong Ing berkata dengan nada suara keras. Kun Liong memandang tajam, agak panas perutnya.
"Hong Ing, dia bukan gadis tolol, dia puteri Supek..."
"Puteri dewa sekalipun, tetap saja dia tolol!"
Hong Ing juga memandang tajam menantang, seolah-olah sengaja hendak memanaskan hati pemuda gundul itu.
Kun Liong hendak membantah, akan tetapi melihat sinar mata dara itu, dia menunduk dan menghela napas.
Perlu apa bertengkar karena urusan tetek-bengek?
Mereka masih terancam bahaya, berada di perahu yang aneh dan di tengah samudera, tak tentu arah tujuan.
Lama mereka tenggelam dalam keheningan, hanya beberapa kali Kun Liong menarik napas panjang karena suasana hening yang mencekam itu amat tidak mengenakkan hatinya.
Mau bicara, bicara apa lagi?
Pula, Hong Ing tentu masih marah.
Mengapa dara ini marah?
Dia benar-benar tidak mengerti.
Apakah karena kedukaannya dan kegelisahannya?
"Kun Liong..."
"Hemm...?"
Dia mengangkat muka dan hatinya menjadi lega melihat wajah dara itu sudah berseri kembali, sama sekali tidak ada tanda-tanda kemarahan atau kedukaan.
"Benarkah Giok Keng tidak mencintamu?"
Sebenarnya di dalam hatinya Kun Liong merasa tidak senang sekali diajak bicara urusan ini, akan tetapi karena dia tidak ingin melihat dara itu marah-marah lagi, dia terpaksa menjawab.
"Tentu saja dia tidak cinta padaku, dia sendiri yang menyatakan ini dan memutuskan tali perjodohan kami."
"Mengapa tidak cinta padamu?"
"Eh, apa anehnya itu, Hong Ing? Mana mungkin seorang seperti dia mencinta seorang gundul seperti aku? Mana ada di dunia ini seorang dara cantik yang bisa jatuh cinta kepada seorang laki-laki gundul tak berharga seperti aku ini? Paling-paling yang jatuh cinta kepadaku hanyalah orang-orang macam Kim Seng Siocia..."
Kun Liong mencoba berkelakar akan tetapi terdengar masam dan hambar.
"Kasihan kau, Kun Liong..."
"Tak perlu kaukasihani, aku sudah menyadari keadaanku yang buruk,"
Kata Kun Liong sambil cemberut.
Kau tidak tahu, katanya dalam hati, betapa banyaknya gadis yang jatuh cinta kepadanya!
Terbayanglah wajah Bi Kiok, Li Hwa, dan terutama sekali wajah Hwi Sian!
Biarpun dia tak berani memastikan bahwa Bi Kiok dan Li Hwa mencintanya, akan tetapi yang jelas, Hwi Sian benar-benar mencintanya sehingga dara itu rela menyerahkan kehormatan dan tubuhnya kepadanya!
"Benar-benarkah tidak ada wanita yang mencintamu?"
Kun Liong menggeleng kepalanya.
"Yang jelas hanya seorang..."
"Siapa?"
Hong Ing kelihatan bernafsu dan ingin tahu sekali ketika mengajukan pertanyaan ini.
"Mendiang ibuku..."
"Hemmm... kasihan engkau. Giok Keng memutuskan perjodohan karena tidak mencintamu, padahal engkau tentu cinta sekali padanya..."
"Tidak sama sekali."
"Heiii?"
"Aku tidak cinta padanya! Dan aku tidak mencinta siapa pun! Aku tidak percaya kepada cinta!"
"Ehhh...?"
"Cinta adalah palsu belaka! Cinta hanyalah dipergunakan untuk memenuhi keinginan hati sendiri, untuk memuaskan hati sendiri. Betapa tololnya pria yang jatuh cinta! Semua wanita sama saja, mereka itu mempesolek diri, membuat dirinya cantik menarik seperti kembang yang memancing datangnya kumbang, dengan pernyataan cinta palsunya wanita hanya ingin agar pria tunduk kepadanya, menuruti segala kehendaknya, menyenangkan hatinya! Pria pun berlumba menarik perhatian wanita dengan segala cinta palsu di mulut, hanya untuk menjadikan wanita sebagai pemuas nafsu birahinya! Aku muak! Aku tidak cinta siapapun dan tidak akan mencinta siapapun!"
Mata Hong Ing terbelalak, napasnya terengah, dan sukar sekali kata-kata yang keluar dari mulutnya.
"Jadi kau... tidak suka kepada wanita?"
"Aku suka! Tapi aku tidak cinta! Aku suka kepada wanita cantik seperti aku suka kepada bunga yang indah dan harum, suka membelai dan menciumnya, akan tetapi untuk jatuh cinta, nanti dulu! Cinta adalah perasaan yang palsu, hanya indah dalam lamunan... seperti mimpi... tapi kenyataannya, tahu-tahu diri terikat dan tak bergerak lagi, kehilangan kebebasan, dan selama hidupnya menjadi hamba dari ikatan cinta yang menjadi pernikahan, suka atau tidak. Betapa bodohnya pria yang jatuh cinta!"
"Dan engkau tentu tidak sebodoh itu, bukan?"
"Tidak!"
"Dan semua pengetahuanmu tentang cinta ini kaupelajari dari kitab?"
"Hemmm... mungkin! Banyak kitab lama menceritakan tentang kejatuhan kaisar dan orang-orang besar hanya karena cinta kepada wanita. Pertapa-pertapa gagal juga karena cinta kepada wanita. Wanita seperti kembang..."
"Seperti syair kata-katamu... teruskan..."
"Wanita seperti kembang, hanya boleh dipandang, boleh dijamah dan dicium, akan tetapi sekali dipetik, akan menjadi layu dan menjemukan... harumnya hilang berubah menjadi bau yang tidak enak, keindahannya mengeriput dan melayu sehingga berubah buruk..."
Kun Liong menghentikan kata-katanya karena pandang matanya bertemu dengan pandang mata Hong Ing yang membuatnya terkejut setengah mati.
Pandang mata Hong Ing seperti ujung pedang runcing yang menusuk matanya!
Teringatlah dia sekarang betapa tadi dia bicara mengeluarkan isi hatinya seperti bicara kepada diri sendiri, membicarakan dan mencela wanita di depan Hong Ing, seorang wanita pula, bahkan seorang wanita remaja yang amat cantik jelita!
Baru dia teringat betapa dia telah kelepasan bicara, telah melepaskan kata-kata keras yang terdorong oleh rasa penasaran di hatinya terhadap Giok Keng puteri supeknya yang selain telah bersama-sama Liong Bu Kong, juga telah mengeroyoknya tadi.
"Yap Kun Liong..."
Panggilan nama lengkapnya ini membuat hati Kun Liong berdebar, namanya disebut lengkap dengan suara yang begitu dingin!
Dari dada Hong Ing keluar isak tertahan dan tiba-tiba dara itu membuang muka, mengalihkan pandang matanya ke air di luar perahu, kemudian kedua tangannya menyapu-nyapu air laut seolah-olah dia bicara dengan lautan.
"Yap Kun Liong pemuda yang gagah perkasa dan terpelajar itu bicara seperti seorang kakek tua renta tentang wanita... padahal segala ilmu silatnya dia dapat dari guru-gurunya, segala ilmu sastranya dia dapat dari kitab-kitab, semua itu dia hanya menjiplak saja dan sekarang... dengan kesombongan yang melebihi halilintar dia mengutuk wanita, seolah-olah wanita disamakannya dengan isi keranjang sampah!"
"Hong Ing..."
Kun Liong mengeluh, menyesali kata-katanya tadi.
"Seolah-olah dialah satu-satunya pria yang paling hebat... yang terlampau tinggi bagi mahluk wanita yang lemah dan hina..."
"Hong Ing... aku tidak bermaksud begitu..."
"Yap Kun Liong pemuda pongah, pemuda sombong itu... pantasnya berada di kahyangan tanpa wanita... dan baginya, agaknya hanya neraka sajalah tempat tinggal wanita... begitu hebat dia memandang rendah wanita sampai dia lupa bahwa neneknya dan ibunya pun seorang wanita..."
"Hong Ing...!"
Kun Liong membentak, mukanya menjadi pucat.
Mengapa dara itu begitu berlebih-lebihan menambah-nambah ucapannya tadi?
Akan tetapi Hong Ing sudah memalingkan muka, membelakanginya dan dara itu merapikan kain putih penutup kepalanya yang terbuka oleh angin, kemudian gadis ini bersenandung!
Kun Liong tenganga bengong.
Suara Hong Ing amat merdunya, jernih melebihi air di luar perahu peti mati dan halus mengimbangi hembusan angin, nyanyiannya lirih namun kata-katanya terdengar jelas, diiringi suara air laut memercik pada peti yang mendatangkan irama kacau namun pada saat itu merupakan latar belakang nyanyian yang menambah keindahan nyanyiannya itu.
Mula-mula Kun Liong terpesona oleh suara yang merdu sekali itu, menjadi istimewa karena dinyanyikan di tempat seperti itu, di saat seperti itu pula.
Akan tetapi, alisnya berkerut dan matanya terbelalak ketika dia mulai memperhatikan kata-kata yang diucapkan dalam nyanyian itu.
Hong Ing bernyanyi tentang...
cinta!
Dan setelah dia mengikuti isi nyanyian, teringatlah dia bahwa yang dinyanyikan itu merupakan sajak kuno yang ditulis oleh seorang sastrawan di jaman Kerajaan Han, ratusan tahun yang lalu.
Dia merasa kagum sekali, kagum dan heran.
Kagum karena tidak disangkanya dara ini selain memiliki suara merdu juga mengenal sajak itu, dan heran mengapa dara murid Go-bi Sin-kouw yang sejak kecil berada di puncak gunung ini demikian pandai bernyanyi.
"Cinta adalah Kehidupan tanpa cinta hidup sama dengan mati Cinta adalah Cahaya tanpa cinta hidup gelap gulita Cinta adalah Suci tanpa cinta hidup bergelimang dosa Hanya orang bijaksana saja mengenal Cinta si dungu hanya mengejar nafsu!"
"Suaramu indah sekali!"
Akan tetapi Hong Ing tidak menjawab, menoleh pun tidak, hanya mengulang lagi nyanyiannya.
Kun Liong merasa seolah-olah disindir hebat oleh nyanyian itu, terutama sekali baris terakhir yang mengatakan bahwa si dungu hanya mengejar nafsu, maka dia menjadi mendongkol juga.
Karena pujiannya tidak dipedulikan, dia lalu mencari bahan untuk menggoda dara itu.
Akhirnya dia memperoleh akal dan berteriak keras melawan angin, agar mengatasi suara nyanyian dara itu.
"Hai lucunya! Ada nikouw kok menyanyi!"
Pancingannya berhasil. Hong Ing menoleh dan dengan mata berkilat penuh penasaran dia menjawab.
"Nikouw juga manusia yang mempunyai mulut dan suara! Apa salahnya nikouw menyanyi?"
Girang hati Kun Liong melihat bahwa dia telah berhasil memancing kemarahan Hong Ing itu sehingga membantahnya.
Lebih baik melihat dara ini marah-marah dan memaki-makinya sekali daripada melihat dia didiamkan dan tidak diacuhkan seperti patung.
Kun Liong tertawa.
"Tentu saja semua nikouw boleh bernyanyi, akan tetapi biasanya nikouw hanya menyanyikan lagu doa untuk liam-keng, bukan menyanyikan lagu tentang cinta!"
Sepasang mata yang bening itu makin mendelik marah.
"Aku bukan nikouw! Aku bukan nikouw aseli, melainkan nikouw palsu, nikouw terpaksa! Sekarang aku bukan nikouw lagi!"
Berkata demikian, Hong Ing lalu merenggut lepas kain putih penutup kepalanya sehingga tampaklah kepalanya yang gundul dan licin mengkilap, bersih dan bentuknya bulat.
Melihat kepala ini, tak dapat ditahan lagi Kun Liong tersenyum lebar dan matanya memandang kepala itu.
Melihat betapa mata pemuda itu ditujukan kepada kepalanya, baru Hong Ing teringat bahwa kepalanya gundul pelontos.
Mukanya menjadi merah sekali, dia merasa seolah-olah kepalanya berada dalam keadaan "telanjang", maka dengan tergesa-gesa ditutupkannya kembali kain putih ke atas kepalanya.
Tentu saja gerakan dan sikap dara ini membuat Kun Liong menjadi makin geli dan dia mencela.
"Heii, mengapa ditutup kembali?"
In Hong tentu saja tidak mau mengatakan malu karena kepalanya "telanjang", dan dengan cemberut dia berkata.
"Siapa melarang aku menutupi kepalaku? Matahari amat teriknya, kepalaku menjadi panas terkena sinar matahari."
Kun Liong tidak mau menggoda lebih jauh lagi.
Dia sudah merasa girang bahwa Hong Ing sudah mau bicara dengan dia.
Maka dia berkata.
"Hong Ing, kaumaafkanlah semua kata-kataku yang tidak karuan. Harap kau tidak marah lagi kepadaku."
Hong Ing menjawab tidak acuh.
"Siapa marah? Aku tidak marah."
"Ahh, kau tadi mengatakan aku pongah dan sombong..."
"Kau juga mengatakan bahwa wanita amat buruk dan hinanya...!"
Kun Liong makin tidak mengerti akan sikap wanita pada umumnya dan dara ini pada khususnya.
Akan tetapi karena dia tidak mau bermusuhan dengan satu-satunya kawan seperahu yang senasib sependeritaan dengannya di saat itu, dia diam saja.
Dia murung dan betapapun dia menekan perasaannya, tetap saja mulutnya cemberut.
Sampai lama mereka berdiam diri.
Kun Liong mengatur arah perahu, terus ke timur dan kemudian membelok ke utara.
Dia sengaja tidak mau bicara dan tidak memandang kepada Hong Ing, khawatir kalau-kalau mendatangkan keributan lagi.
Heran dia mengapa setelah terlepas dari bencana dan menghadapi bencana baru yang tidak berketentuan ini, dia dan Hong Ing selalu berbantahan.
Tiba-tiba terdengat suara dara itu.
"Kun Liong..."
Suaranya begitu merdu dan ketika dia menengok, dia melihat wajah dara itu berseri.
Bukan main manisnya!
"Hemmm...?"
Kun Liong juga tersenyum, terseret oleh senyum dara itu.
"Lihat ini..."
Tangan kanan dara itu memegang seekor ikan sebesar betis, ikan segar yang masih menggelepar dan berusaha meronta terlepas dari pegangan tangan kecil yang amat kuat itu.
"Aku menyambarnya ketika dia berenang dekat perahu. Kupanggang dia, ya?"
"Wah, tentu enak sekali!"
Kata Kun Liong dan mereka tertawa-tawa gembira, lupa akan percekcokan mereka tadi.
Karena di situ tidak terdapat bahan bakar, terpaksa Hong Ing menggunakan tenaganya untuk mematahkan sedikit ujung tiang layar dan mengambil sedikit kayu dengan menghancurkan pinggir tutup peti, kemudian dengan menggosok-gosokkan kayu kering dia berhasil membuat api dan memanggang ikan itu.
Akan tetapi setelah mereka makan daging ikan yang lezat itu, mereka bingung karena mereka tidak dapat minum.
Mereka merasa haus sekali dan memandang sedih ke arah air laut.
Demikian banyaknya air di sekeliling mereka, terlampau banyak, namun mereka tidak dapat minum sama sekali!
Air laut berlimpah tinggal ambil namun tiada gunanya, yang mereka butuhkan hanyalah seteguk air tawar!
Setelah mengalami hal ini, barulah dengan amat terkejut keduanya sadar bahwa mereka terancam bahaya maut yang mengerikan di tengah laut!
Dan mereka tadi sempat bercekcok!
"Hong Ing, kita harus segera dapat mendarat di sebuah pulau yang ada airnya.
Kalau tidak, celakalah kita."
Hong Ing mengangguk dan dara ini lalu membantu Kun Liong memegang tali-temali layar.
Angin bertiup kencang dan keduanya melihat-lihat ke empat jurusan, mencari-cari dengan pandang mata disertai penuh harapan akan melihat bayangan sebuah pulau dari jauh.
Akan tetapi, di empat penjuru yang tampak hanya air dan air sampai ke kaki langit, air yang tiada tepinya!
Menjelang senja, perahu peti itu sudah berlayar jauh sekali.
Angin makin kencang dan tiba-tiba dari langit yang tertutup awan hitam itu turunlah air bertitik-titik besar.
Kedua orang muda itu dengan girang dan lega memuaskan dahaga mereka dengan air hujan.
Akan tetapi hujan segera turun dengan lebatnya, angin bertiup amat kencangnya sehingga mereka cepat-cepat menurunkan layar.
Angin badai mengamuk!
"Celaka...!
Kita tutup peti ini...!"
Kun Liong berkata dan dengan cepat mereka berdua menutupkan peti setelah membuang air keluar dari peti.
Peti itu mulai diombang-ambingkan gelombang yang dahsyat dan tak lama kemudian, Kun Liong dan Hong Ing terbanting-banting dan saling berpelukan di dalam peti yang kini tidak hanya diombang-ambingkan, melainkan dilempar ke atas dan diguling-gulingkan!
Di dalam peti yang gelap itu, Kun Liong mendengar suara dahsyat dari badai dan di antara suara dahsyat ini, terdengar tangis Hong Ing yang lemah, tangis ketakutan.
Dia memeluk tubuh dara itu, mendekapnya dan dengan seluruh jiwa raganya dia berniat melindunginya.
Akan tetapi apa dayanya?
Mereka berada di dalam sebuah peti mati tertutup, Peti yang kecil sehingga mereka tidak mampu bergerak, peti yang dipermainkan oleh badai dan setiap saat dapat saja peti itu ditenggelamkan atau dihempaskan hancur lebur di batu karang sehingga riwayat mereka akan habis sampai di situ saja.
Hong Ing menangis dan merintih-rintih saking takutnya, sedangkan Kun Liong sendiri yang selama ini tidak pernah mengenal takut, kini merasa ngeri juga sehingga tanpa disadarinya, timbul kembali pengalaman di waktu dia masih kanak-kanak dan tak terasa lagi dia meneriakkan panggilan kepada ayah bundanya seperti seorang anak kecil yang menderita ketakutan.
Tiba-tiba Kun Liong merasa terguncang hebat dan berbareng dengan suara keras sekali tubuhnya terlempar dan keadaan menjadi gelap.
Ketika terlempar itu dia seperti mendengar suara wanita memanggil namanya.
"Kun Liong...!"
Akan tetapi dia tidak tahu pasti apakah itu suara ibunya, ataukah suara Hong Ing karena dia sudah tidak ingat apa-apa lagi.
Ketika Kun Liong membuka kedua matanya, dia mendapatkan dirinya sudah rebah menggeletak di atas pasir.
Seluruh tubuhnya terasa nyeri, setiap gerakan kaki atau tangan mendatangkan rasa nyeri sekali.
Dia mengeluh, akan tetapi begitu teringat akan Hong Ing, dia cepat bangkit dan duduk, sama sekali tidak lagi merasakan rasa nyeri-nyeri tubuhnya.
Malam masih gelap dan suara badai masib menggelora.
Akan tetapi dia selamat!
Dia telah berada di daratan.
Dengan tangan kaki meraba-raba dia bangkit berdiri, melangkah maju.
Kiranya dia berada di pantai yang penuh dengan batu-batu karang dan pasir.
Untung dia terhempas di pasir, kalau terhempas di batu-batu, tentu tubuhnya sudah hancur lebur.
Kembali dia teringat kepada Hong Ing!
"Hong Ing...!"
Dia memanggil dengan pengerahan khi-kangnya.
Suaranya dihembus pergi oleh angin badai, akan tetapi dia terus memanggil-manggil sambil meraba ke kanan kiri dalam kegelapan.
Tidak ada yang menjawabnya!
Dia berteriak lagi, melangkah maju tersaruk-saruk, kadang-kadang jatuh, bangkit lagi dan memanggil lagi.
Akhirnya, setelah suaranya habis dan serak, setelah untuk berjam-jam dia memanggil tanpa ada jawaban, dia menjatuhkan diri berlutut di atas pasir, berpegang kepada batu karang dan menangis!
Baru sekali ini Kun Liong menangis seperti itu, menangis sesenggukan karena terbayang di depan matanya betapa tubuh dara itu tentu hancur lebur dihempaskan di atas batu-batu karang.
Baru sekali ini dia merasakan kedukaan yang amat hebat.
Merasakan kebimbangan yang membuat hidupnya sekaligus terasa sunyi dan hampa.
Sambil menangis dia akhirnya duduk bersandarkan batu karang.
Hatinya mengutuk badai, mengutuk batu karang, mengutuk lautan, mengutuk Kok Beng Lama yang melontarkan mereka ke laut, mengutuk semua orang yang mengeroyok mereka, mengutuk dunia dan mengutuk alam!
Dia tidak merasakan lagi tubuhnya yang sakit-sakit.
Namun dia masih belum hilang harapan.
Sekali-kali dia memekik memanggil nama Hong Ing tanpa ada jawaban.
Dia terus duduk di situ, menanti sampai pagi.
Dia menanti sampai cuaca menjadi terang agar dia dapat mencari Hong Ing, hidup atau mati.
Sambil menanti, telinganya dibuka lebar-lebar, mendengarkan kalau-kalau ada suara Hong Ing memanggilnya.
Akan tetapi yang terdengar hanyalah lengking panjang suara badai yang mengiuk-ngiuk, diseling suara air berdeburan dan adakalanya air meledak bergemuruh ketika menghantam batu karang, didasari suara air laut yang mendidih dan mengerikan hati.
Di dalam semua keributan suara badai, seolah-olah terdengar suara segala macam hantu dan setan yang muncrat dari dalam lautan, suara mereka yang tertawa-tawa dan menangis melolong-lolong bercampur aduk menjadi satu.
Menjelang pagi, badai berhenti, akan tetapi cuaca masih gelap.
Betapapun juga, Kun Liong sudah merangkak-rangkak di antara batu karang, telinganya dibuka lebar dan matanya terbelalak dalam usahanya menembus kegelapan malam, mencari-cari Hong Ing.
Mulutnya mulai lagi memekikkan nama dara ini dengan pengerahan khi-kang sekuatnya.
"Hong Ing...!"
Sampai matahari terbit, Kun Liong berkeliaran di pantai, merangkak-rangkak melalui pasir dan batu karang yang tajam, mencari-cari.
Akhirnya, di bawah batu karang yang menonjol, dia melihat peti mati yang menjadi perahu mereka itu.
Sudah hancur dan pecah berantakan!
Cepat dia merangkak mendekati, menuruni batu karang, tidak merasa lagi betapa tangan kakinya yang telanjang itu pecah-pecah kulitnya tertusuk batu karang.
Akan tetapi setelah dekat, yang ada hanya pecahan-pecahan peti mati itu saja, berikut layar yang sudah robek-robek.
Tidak ada Hong Ing di sekitar tempat itu.
Bekasnya pun tidak ada!
Kun Liong lemas dan kembali air matanya bercucuran.
Tentu Hong Ing telah dimakan ikan!
Betapa ngerinya!
"Hong Ing...!"
Dia mengeluh dan seperti orang gila, kembali dia merangkak ke sana-sini, memanggil-manggil.
Tiba-tiba matanya terbelalak memandang ke depan.
Ada sebuah benda putih terapung di air!
Cepat dia menghampiri dan lari ke pantai yang sedalam lutut.
Dia menyambar benda itu dan memandang dengan mata terbelalak.
Kain penutup kepala Hong Ing!
"Hong Ing...!"
Kun Liong menjerit, kain itu dipeluknya, ditangisi dan diciuminya, terhuyung-huyung dia kembali ke darat sambil menangis, kemudian dia terguling roboh di atas pasir dan pingsan!
Kain itu masih dicengkeramnya!
Kita tinggalkan dulu Kun Liong yang pingsan dan marilah kita menengok keadaan di Cin-ling-san.
Di pegunungan ini, Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, dengan hidup tenteram, aman dan penuh kebahagiaan di samping kedua orang anak mereka, yaitu Cia Giok Keng dan Cia Bun Houw.
Sebagai seorang ketua perkumpulan Cin-ling-pai yang sudah mulai terkenal itu, tentu saja pendekar ini hidup serba cukup dan terjamin, dilayani para anggauta yang juga menjadi murid-muridnya.
Giok Keng telah menjadi seorang dara remaja yang sudah mereka tunangkan dengan Yap Kun Liong, dan Bun Houw sudah berusia hampir lima tahun, merupakan seorang anak laki-laki yang tampan dan bertubuh sehat.
Apalagi yang dikehendaki?
Cia Keng Hong adalah seorang pendekar besar yang dihormati dan disegani orang, bahkan namanya dihormati sampai ke kota raja, dianggap sebagai orang yang berjasa terhadap pemerintah, hidup serba cukup, dan keluarganya sehat sejahtera.
Tentu akan dianggap sebagai seorang yang berbahagia hidupnya.
Akan tetapi benarkah demikian?
Benarkah Cia Keng Hong merasa dirinya berbahagia?
Biasanya hanya orang lain sajalah yang menganggap seseorang itu bahagia.
Orang yang tidak mempunyai uang akan menganggap bahwa si pemilik uang berbahagia.
Orang yang sedang sakit menganggap bahwa si sehat itu berbahagia.
Orang yang sedang cekcok dengan isterinya menganggap bahwa suami isteri yang rukun itu berbahagia.
Dan demikian selanjutnya.
Akan tetapi benarkah bahwa semua itu dapat dijadikan ukuran seseorang apakah dia hidup bahagia atau tidak?
Selama orang masih memiliki keinginan untuk mendapatkan sesuatu, mungkinkah dia berbahagia?
Selama orang masih melakukan perbandingan, tentu akan timbul iri dan kecewa yang melahirkan pertentangan-pertentangan dalam batin yang kemudian meledak keluar.
Mungkinkah orang berbahagia kalau masih ada pertentangan, baik lahir maupun batin?
Bahagia tidak terletak pada harta, kedudukan, kewarasan, kesenangan, kehormatan.
Bahagia haruslah lengkap dan bulat, tidak terpecah-pecah.
Bahagia tidak mungkin dapat dikejar dan dijangkau, tidak mungkin dapat dicari dan dipaksakan untuk memiliki!
Bahagia adalah suatu keadaan yang datang sendiri tanpa dipanggil, tanpa dikehendaki, tanpa dirasakan!
Bahagia tidak mengenal susah senang, suka duka, puas kecewa dan segala macam keadaan berkebalikan yang memenuhi kehidupan manusia dan karenanya mendatangkan segala pertentangan itu.
Kebahagiaan berada di atas segala itu.
Demikianlah, maka hanya menjadi harapan dan mimpi setiap orang saja jika kita bicara tentang bahagia yang seolah-olah ada dan nampak namun selalu hampa kalau diraih.
Semua orang mencari jalan menuju kebahagiaan, seolah-olah kebahagiaan merupakan suatu tujuan yang tertentu dan mati sehingga kita tersesat tanpa obor, seperti orang yang mencari sumbernya angin, mencari ujungnya piring!
Kehidupan Cia Keng Hong bersama keluarganya di Cin-ling-san juga hanya kelihatannya saja hidup bahagia dalam pandang mata orang-orang tertentu.
Untuk melihat apakah benar-benar mereka berbahagia, mari kita mengikuti pengalaman mereka selanjutnya dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan mereka.
Bukankah hidup ini merupakan perubahan setiap saat, merupakan pergerakan yang terus-menerus dan tidak pernah sama?
Pada pagi hari itu, setelah melakukan latihan pagi, Cia Keng Hong dan isterinya, Sie Biauw Eng, duduk bercakap-cakap menghadapi sarapan pagi di dalam taman bunga mereka yang cukup indah dan luas di sebelah belakang rumah.
Bun Houw yang berusia empat tahun lebih dan tak pernah mau diam itu berada di taman pula, mengejar-ngejar kupu-kupu yang banyak beterbangan di sekeliling bunga-bunga yang sedang mekar mengharum.
"Giok Keng sudah cukup dewasa,"
Terdengar Pendekar Cia Keng Hong berkata kepada isterinya.
"Bahkan sudah agak terlambat untuk menikah, maka sekembalinya nanti, kita harus cepat-cepat membuat persiapan untuk merayakan pernikahannya dengan Kun Liong. Karena puteri kita hanya seorang itu, maka kita harus mengundang semua dan biarlah perayaan itu diadakan sebesarnya sesuai dengan kemampuan kita."
Berkata demikian, wajah pendekar itu berseri dan hatinya gembira membayangkan betapa dia akan menjadi ayah mertua yang berbahagia, menerima ucapan selamat dari sahabat-sahabatnya, para tokoh besar di kota raja dan di dunia kang-ouw.
Sie Biauw Eng mengerutkan alisnya.
Biarpun usianya sendiri sudah empat puluh tahun lebih, nyonya ini masih kelihatan muda dan cantik sekali.
"Aku pun gembira dapat memperoleh mantu putera mendiang Yap Cong San dan Gui Yan Cu yang bernasib malang itu. Akan tetapi... apakah keputusan ini sudah kaupikir dengan matang? Apakah sudah cukup bijaksana? Kita tahu bahwa pernikahan baru akan berhasil apabila dua orang yang bersangkutan sudah menyetujuinya. Mengapa kau tidak menanyakan dulu kepada Keng-ji untuk mengetahui isi hatinya?"
"Ahhh, kurasa tidak perlu, dan Keng-ji sendiri juga sudah tahu siapa dan orang macam apa adanya Kun Liong! Adakah pemuda lain yang lebih hebat dan lebih memuaskan daripada dia? Dia keturunan orang baik-baik, bahkan masih sahabat baik kita sendiri, ibunya masih sumoiku sendiri. Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan Thi-khi-i-beng hanya diberikan kepada dia seorang. Juga melihat sepak terjangnya, dia memiliki watak yang gagah perkasa dan budiman, biarpun agak lemah dan terlalu mudah memaafkan orang, terlalu mengalah. Pula kalau dipikir secara mendalam, perjodohan atas pilihan orang tua belum tentu selamanya buruk."
"Hemmm, mengapa kau tidak ingat akan keadaan kita sendiri? Perjodohan harus didasari cinta kasih kedua pihak yang bersangkutan. Hanya kasih sayang kedua pihaklah yang penting, selebihnya tidak ada artinya lagi. Orang tua hanyalah melaksanakan saja."
"Hemm, ucapanmu memang benar. Akan tetapi kupikir, bagi orang muda yang belum berpengalaman, pilihan jodoh mereka bisa saja meleset dan gagal! Orang muda yang masih hijau hanyalah melihat keindahan muka dan mendengar kemanisan kata-kata! Banyak terjadi ketika saling mengenal, mereka bersumpah saling menyatakan cinta, akan tetapi setelah menikah, timbul perpecahan karena tidak cocok watak mereka. Bagaikan membeli barang, orang muda hanya memperhatikan keindahan lahirnya saja, sama sekali tidak memperhatikan mutu dalamnya, hanya melihat kulit tidak mempedulikan isi. Maka setelah menikah, baru menyesal..."
"Belum tentu! Buktinya kita yang berjodoh karena saling mencinta sampai sekarang berjalan baik. Juga Cong San dan Yan Cui. Orang tua mana bisa disamakan orang muda? Apa yang dianggap baik oleh pandang mata orang tua, belum tentu baik bagi mata orang muda. Pula, yang hendak menikah bukan orang tuanya, melainkan orang mudanya! Merekalah yang akan menanggung akibatnya selama hidup, maka mereka pula yang berhak memilih."
"Siapa bilang orang tua tidak ikut menanggung akibatnya? Kalau anaknya hidup bahagia dengan mantunya, orang tua hanya ikut bersyukur, akan tetapi kalau melihat kehidupan rumah tangga anaknya hancur, orang tua lebih berduka daripada si anak sendiri. Karena itu, kita harus berhati-hati dan menurut pandanganku, pilihanku terhadap Kun Liong sudah tepat."
"Aku tidak mengatakan bahwa pilihanmu tidak tepat, dan aku pun suka kepada pemuda itu. Hanya aku katakan bahwa kita belum bertanya kepada Keng-ji. Kalau memang dia juga mencinta Kun Liong, tentu saja hatiku akan merasa puas dan lega..."
Perdebatan antara suami isteri ini, perdebatan yang merupakan lagu lama antara suami isteri dan antara orang tua dan orang muda, tentu akan berkepanjangan kalau saja pada saat itu tidak tampak datang pembantu utama atau murid kepala mereka yang bernama Kwee Kin Ta.
Mereka menghentikan perdebatan itu dan memandang kepada Kin Ta yang berdiri dengan sikap hormat kepada suhu dan subonya.
"Harap Suhu dan Subo memaafkan teecu yang datang menghadap tanpa dipanggil. Teecu hendak melaporkan bahwa teecu melihat Sumoi pulang bersama..."
Sampai di sini murid itu berhenti bicara.
Cia Keng Hong dan isterinya yang menjadi gembira mendengar kedatangan puteri mereka itu memandang dengan heran.
"Bersama siapa?"
Keng Hong mendesak karena tidak biasanya murid kepala yang biasa bersikap tenang itu kelihatan bingung dan ragu-ragu.
"Bersama... pemuda yang dahulu pernah datang ke sini dan membikin kacau beberapa waktu yang lalu..."
"Siapa...?"
Biauw Eng membentak marah.
"Putera... putera Kwi-eng Niocu Ketua Kwi-eng-pang..."
"Apa...?"
Keng Hong meloncat bangun, mukanya berubah, akan tetapi dia saling pandang dengan isterinya, menekan perasaannya dan berkata.
"Kin Ta, kau ajak Bun Houw bermain-main di luar dan kalau Keng-ji datang, suruh mereka berdua menghadap kami di taman ini."
Kwee Kin Ta mengangguk, lalu mengajak Bun Houw pergi dari situ dengan menjanjikan permainan bagus kepada anak itu.
Setelah murid kepala ini membawa putera mereka pergi, Keng Hong dan Biauw Eng duduk kembali saling pandang dan alis mereka berkerut, tidak mengeluarkan kata-kata karena hati mereka penuh dengan dugaan yang tidak-tidak.
"Tenanglah, kita belum tahu apa yang terjadi,"
Akhirnya Biauw Eng berkata kepada suaminya, khawatir kalau-kalau suaminya tidak dapat menahan kesabarannya dan marah kepada puteri mereka.
Keng Hong mengangguk.
"Tentu terjadi sesuatu yang aneh dan hebat...."
Katanya, menarik napas panjang.
"Apa pun yang terjadi, agaknya tidak mungkin Keng-ji mau berbaik dengan putera seorang datuk sesat."
"Harap tenang dan bersabar, tentu ada alasannya,"
Isterinya membela puteri mereka.
Percakapan terputus karena pada saat itu tampak Giok Keng dan Liong Bu Kong sudah muncul dari pintu dan langsung kedua orang muda itu memasuki taman dan melangkah cepat tanpa ragu-ragu menghampiri mereka.
Memang sebelumnya Giok Keng yang cerdik itu telah mengaturnya bersama kekasihnya, bagaimana kalau mereka bertemu dengan ayah bundanya.
Maka kini keduanya langsung menghadap dan menjatuhkan diri berlutut di depan pendekar sakti dan isterinya itu.
Dengan sikap hormat sekali Bu Kong berlutut dan tidak berani mengangkat muka, sedangkan Giok Keng setelah menyebut "ayah dan ibu"
Lalu mencabut keluar pedangnya dan berkata kepada ayahnya dengan suara penuh ketegangan.
"Ayah, harap Ayah periksa pedangku ini."
Benar saja perhatian Keng Hong dan Biauw Eng segera tertarik.
Kalau tadinya mereka berdua ini menatap wajah Bu Kong dengan pandang mata heran dan penuh pertanyaan, kini sekaligus mereka mengalihkan pandang dan melihat pedang yang diberikan oleh Giok Keng kepada ayahnya itu.
Pedang itu adalah pedang Gin-hwa-kiam pemberian Cia Keng Hong kepada puterinya, sebatang pedang pusaka yang ampuh.
Akan tetapi begitu melihat pedang yang terhunus itu, Keng Hong dan Biauw Eng terkejut bukan main.
Di badan pedang itu tampak jelas bekas jari tangan orang, seolah-olah pedang itu terbuat dari tanah liat yang basah saja sehingga garis-garis jari tangan itu terlukis di batang pedang!
Hal itu menandakan bahwa ada orang memiliki tenaga sin-kang mujijat yang telah berani menangkis atau melawan Gin-hwa-kiam dengan jari tangannya!
Seorang yang memiliki kepandaian sehebat itu benar-benar belum pernah mereka temukan.
"Siapa yang melakukan ini?"
Sebagai seorang pendekar sakti yang sukar dicari tandingannya, tentu saja Cia Keng Hong tertarik sekali untuk mengetahui siapa orangnya yang mampu menangkis pedang Gin-hwa-kiam dengan tangan kosong itu.
Memang inilah yang dikehendaki Giok Keng dengan mencabut dan memperlihatkan Gin-hwa-kiam kepada ayahnya.
Dia ingin mengalihkan perhatian ayah bundanya sehingga urusannya dengan Bu Kong dapat diceritakan melalui jalan terputar dan tidak secara langsung.
"Orangnya aneh dan amat sakti, Ayah. Namanya Kok Beng Lama, seorang pendeta Lama berjubah merah. Dia datang dan menantang-nantang Bun Hwat Tosu, Tiang Pek Hosiang, Go-bi Thai-houw, dan juga menantang Sucouw (Kakek Guru) Sin-jiu Kiam-ong!"
Dengan panjang lebar Giok Keng menceritakan tentang munculnya kakek itu yang telah membunuh banyak perajurit pemerintah hanya dengan suara ketawanya saja, dan betapa kakek Lama itu dengan jari tangan kosong telah menangkis pedangnya ketika dia ikut mengeroyok dan membuat cap jari tangan pada Gin-hwa-kiam.
"Kok Beng Lama...?"
Cia Keng Hong dan isterinya saling pandang, mengerutkan alis dan mengingat-ingat.
"Seingatku, belum pernah aku mendengar nama ini di dunia kang-kouw...! Mengapa dia menentang perajurit pemerintah?"
"Semua ini gara-gara Yap Kun Liong! Pemuda itu telah melakukan penyelewengan besar, Ayah. Dia telah menjadi seorang buronan dan kini dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah. Pendeta Lama itu muncul menolong Kun Liong pada saat dia sudah dikepung dan hampir dapat tertawan."
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Keng Hong dan isterinya mendengar berita ini.
"Mengapa? Apa yang telah dilakukannya?"
Biauw Eng bertanya dengan mata terbelalak penasaran.
"Dia telah menentang Pangeran Han Wi Ong, melarikan calon isteri pangeran itu."
Cepat-cepat Giok Keng menceritakan pula keadaan Yap Kun Liong bersama seorang gadis cantik jelita yang telah menjadi nikouw, calon isteri pangeran yang agaknya dilarikan oleh Kun Liong.
Dalam penuturan ini, beberapa kali dia dibantu oleh Liong Bu Kong yang menuturkan betapa mereka berdua melihat pasukan pemerintah yang dipimpin oleh Pangeran Han Wi Ong dan dibantu oleh beberapa orang perwira dan orang-orang kang-ouw sedang mengeroyok Yap Kun Liong.
Setelah mereka berdua mendengar bahwa Kun Liong melarikan calon isteri Pangeran Han Wi Ong, mereka segera membantu pasukan.
Akan tetapi ketika Kun Liong sudah hampir tertangkap, muncullah kakek Lama yang amat sakti itu, yang membantu Kun Liong bersama dara yang dilarikannya itu sehingga mereka berdua dapat melarikan diri, dan kakek itu sendiri pun lalu pergi setelah membunuh banyak perajurit.
Mendengar penuturan mereka, Keng Hong dan Biauw Eng terkejut bukan main sampai mereka berdua tidak mampu berkata-kata.
Hampir mereka tidak dapat percaya bahwa Yap Kun Liong telah melakukan perbuatan demikian rendahnya, melarikan calon isteri orang sehingga menjadi orang buruan pemerintah!
Kalau bukan puteri mereka yang bercerita, tentu mereka tidak mau percaya.
Namun, hati Keng Hong menjadi tak senang mengingat bahwa puterinya ikut pula mengeroyok Kun Liong.
Bukankah pemuda itu menjadi calon suaminya?
"Giok Keng!"
Tiba-tiba pendekar ini membentak dan suaranya terdengar dingin menyeramkan.
"Boleh jadi saja Kun Liong melakukan penyelewengan, akan tetapi mengapa engkau ikut pula mengeroyoknya? Hal itu menunjukkan kelancanganmu. Lebih mengherankan hati kami lagi, mau apa engkau mengajak dia ini ke Cin-ling-san? Bukankah dia ini anak Kwi-eng Niocu?"
Pertanyaan seperti ini, bahkan yang lebih lagi, sudah diduga oleh Giok Keng dan dia sudah siap menghadapinya.
Maka begitu mendengar percakapan beralih mengenai diri Bu Kong, dia lalu menjawab.
"Ayah, memang benar dia adalah Liong Bu Kong, akan tetapi dia hanyalah putera angkat dari mendiang Kwi-eng Niocu. Biarpun Kwi-eng Niocu terkenal sebagai seorang satuk sesat, akan tetapi dia ini tidak seperti ibu angkatnya, ayah. Diam-diam dia menentang ibu angkatnya, karena itu ketika sarang ibu angkatnya diserbu, dia cepat pergi menyelamatkan pusaka-pusaka..."
"Harap Ji-wi Locianpwe sudi mengampunkan teecu yang berani datang menghadap,"
Terdengar Bu Kong berkata dengan suara halus dan penuh penghormatan.
"Memang tidak teecu sangkal bahwa ibu angkat teecu adalah Ketua Kwi-eng-pang yang selalu melakukan pelanggaran. Teecu sendiri sebagai anak angkat tentu saja terpaksa dan tidak berani membantah kehendak ibu angkat teecu. Akan tetapi setelah kini ibu angkat teecu tewas, teecu bersumpah ingin mulai hidup baru yang bersih, dan untuk membuktikannya, teecu sudah membawa dua buah pusaka Siauw-lim-pai yang akan teecu kembalikan."
"Harap Ayah dan Ibu tidak ragu-ragu lagi. Aku sudah menyaksikan sendiri betapa dia melawan Thian-ong Lo-mo ketika hendak mengambil pusaka, bahkan dia telah menewaskan lima orang anggauta Kwi-eng-pang. Dia tidaklah jahat seperti ibu angkatnya."
"Giok Keng...!"
Cia Keng Hong membentak, suaranya berwibawa sekali sehingga Giok Keng dan Bu Kong terkejut setengah mati, wajah mereka berubah pucat.
"Apa kehendakmu maka engkau menceritakan ini semua kepadaku? Mengapa kau bicara seperti seorang hendak menjual sebuah benda dan membujuk kami menyukai benda itu? Mengapa engkau membela bocah ini?"
Wajah Giok Keng pucat.
Dia memang sudah memperhitungkan bahwa dia akan terpaksa untuk mengaku, akan tetapi tidak disangkanya bahwa ketika tiba saatnya, ia merasa begitu gugup.
Dengan suara lirih dia lalu menjawab.
"Ayah... aku sudah bicara dengan Kun Liong... tentang perjodohan... kami berdua sudah saling setuju untuk membatalkan ikatan jodoh itu karena antara dia dan aku tidak ada rasa cinta... dan... dan aku hanya mau dijodohkan dengan orang yang kucinta, Ayah. Harap Ayah dan Ibu ampunkan..."
Wajah pendekar Cia Keng Hong menjadi merah sekali.
Seperti pandang mata seekor burung rajawali hendak menyambar korbannya, dia memandang puterinya itu dan hanya dengan pengerahan tenaga hatinya yang kuat saja maka dia masih mampu mengeluarkan suara bertanya.
"Siapa itu orang yang kaucinta?"
Giok Keng yang memang sudah "nekat"
Ini tidak menjawab, hanya melirik kepada Liong Bu Kong.
Isyarat ini diterima oleh Bu Kong dan sambil berlutut dan menyembah-nyembah dia berkata.
"Mohon Locianpwe sudi mengampunkan kelancangan teecu. Sesungguhnya, di antara puteri Locianpwe, Cia Giok Keng dan teecu, kami berdua telah... salin mencinta..."
Teriakan yang melengking nyaring keluar dari kerongkongan Keng Hong dan tubuhnya sudah berkelebat ke depan.
Dalam kemarahannya yang meluap-luap, ucapan pemuda itu dianggapnya merupakan penghinaan besar maka dia sudah menerjang ke depan dan memukul pemuda yang berlutut di depannya.
Pukulan maut!
"Dess...!"
Tubuh Giok Keng terpental dan terguling-guling, lengan tangannya terasa nyeri sampai menusuk jantung ketika dia tadi menangkis pukulan ayahnya yang ditujukan kepada kekasihnya.
Akan tetapi dia lupa akan rasa nyeri dan kekerasan hatinya bangkit.
Dengan mata bernyala-nyala dan wajah merah dia meloncat bangun, sekali meloncat berada di depan ayahnya dan dengan suara menentang dan nyaring dia berkata.
"Ayah keterlaluan! Mengapa hendak membunuh Liong Bu Kong yang tidak berdosa? Dia cinta kepadaku, dan aku cinta kepadanya! Apakah salahnya dengan ini? Kalau Ayah hendak membunuh, bunuhlah aku!"
Mata Cia Keng Hong terbelalak.
Hampir dia tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Puterinya telah menantangnya untuk dibunuh!
"Kau...
kau...!
Memang lebih baik melihat kau mati...!"
"Tahan...!"
Biauw Eng sudah melompat seperti seekor singa betina ke depan suaminya, kepalanya dikedikkan, matanya seperti sepasang bintang, mukanya merah seperti mengeluarkan bara api, dadanya diangkat penuh tantangan.
"Mungkinkah kau ini suamiku yang begitu kuat dan tahan segala derita? Kau hendak membunuh anak sendiri? Benarkah ini?"
Suara ini bercampur dengan isak dan Biauw Eng sudah menangis sambil berdiri menantang suaminya.
Mendengar ucapan isterinya dan menyaksikan sikap Biauw Eng, Keng Hong merasa seolah-olah disiram air dingin kepalanya.
Hampir dia tadi mata gelap.
Dengan sedu sedan naik dari dadanya, dia memeluk isterinya, memejamkan mata sebentar, kemudian membuka matanya dan tangan kanannya dengan telunjuk menuding keluar digerakkan tiba-tiba, mulutnya berkata lantang.
"Pergi...! Engkau bukan anakku lagi! Aku tidak peduli lagi apa yang akan kau lakukan. Pergi...!"
Dapat dibayangkan betapa hancur hati Giok Keng.
Tadinya dia menentang dan menantang ayahnya.
Akan tetapi menyaksikan kedukaan dan kehancuran hati ayah bundanya, kini melihat sikap ayahnya, mendapat kenyataan bahwa dia diusir, tidak diaku anak lagi, hal ini lebih menyakitkan hati daripada dibunuh!
"Ayah...!"
Dia menjerit dan menjatuhkan diri berlutut di dekat Bu Kong yang hanya memandang dengan wajah pucat.
"Jangan menyebut aku ayah! Pergilah dan bawalah semua barangmu, bawa semua harta kami secukupmu. Pergi dan jangan kembali!"
Keng Hong berkata lagi, kini suaranya dingin dan sikapnya tidak keras, namun hal ini malah makin menusuk perasaan karena selamanya Giok Keng belum pernah melihat sikap dan mendengar suara ayahnya sedingin itu.
"Ibu...!"
Dia tersedu memanggil ibunya.
Biauw Eng masih menangis dalam pelukan suaminya.
Dia maklum betapa hancur hati suaminya menghadapi peristiwa ini.
Dia cinta kepada puterinya, tentu saja, akan tetapi dia lebih cinta kepada suaminya.
Biarpun dia merasa kasihan kepada Giok Keng, akan tetapi dia lebih kasihan kepada suaminya.
Giok Keng sudah ada yang punya, sedangkan suaminya hanya mempunyai dia!
"Giok Keng, pergilah dulu...
pergilah...
jangan bicara apa-apa lagi..."
Katanya terisak.
Bu Kong mengerti akan isyarat dari calon ibu mertuanya ini.
Memang dalam keadaan seperti itu, selagi pendekar sakti itu dibakar kemarahan, tidak mungkin dapat bicara lagi.
Dia lalu membimbing kekasihnya bangun, menjura sebagai tanda penghormatan lalu menuntun Giok Keng yang menangis tersedu-sedu itu keluar dari dalam taman, diikuti pandang mata Keng Hong yang terbelalak marah dan pandang mata sayu dari Biauw Eng.
Setelah bayangan kedua orang muda itu lenyap barulah Keng Hong merasa betapa lemas tubuhnya.
Dia menjatuhkan diri terduduk di atas bangku, duduk diam seperti arca, matanya tak pernah berkedip akan tetapi dua butir air mata keluar dari pelupuk matanya, perlahan-lahan dua butir air mata ini mengalir turun melalui kedua pipinya.
Melihat suaminya seperti itu, Biauw Eng menubruknya dan menangis sesenggukan di atas dada suaminya.
Tanpa diduga-duga, seperti datangnya hujan tanpa mendung, kedukaan hebat melanda suami isteri ini.
Mereka dilanda duka dan kecewa hebat sekali sehingga hampir terjadi peristiwa hebat, hampir terjadi malapetaka ketika ayah ini hampir membunuh puterinya sendiri!
Memang demikianlah hidup!
Manusia, hampir tidak disadarinya lagi karena telah menjadi tradisi dan kebiasaan, hidup dalam suasana kepalsuan.
Mata manusia seolah-olah buta akan kenyataan, dibutakan oleh nafsu keinginan mementingkan diri pribadi.
Kita hidup tanpa membuka mata, dituntun oleh nafsu keinginan kita yang membentuk si aku sehingga setiap gerak, setiap perbuatan, dan setiap sikap selalu mencerminkan kekuasaan si aku yang hendak menang sendiri.
Bahkan dalam cinta, si aku berkuasa sehingga cinta menjadi sebutan hampa, menjadi kepalsuan yang diselubungi kata-kata mutiara yang serba indah!
Seorang pendekar besar seperti Cia Keng Hong, kini merasa berduka.
Karena apa?
Kalau dia ditanya, tentu dia mengatakan bahwa dia berduka karena puterinya!
Tentu dia akan menjawab bahwa karena puterinya memilih anak datuk sesat sebagai kekasih dan calon suami, maka dia berduka!
Benarkah demikian?
Benarkah dia berduka demi Giok Keng?
Tidakkah sesungguhnya dia berduka demi dirinya sendiri?
Berduka karena keinginan hatinya sendiri tidak terpenuhi.
Karena puterinya memilih seorang pria yang tidak berkenan di hatinya?
Benarkah dia sebagai seorang bapak mencinta anaknya kalau dia ingin memaksakan kehendak hatinya agar ditaati anaknya!
Cintakah itu kalau tadi dia sampai hampir membunuh anaknya?
Dan kini dia berduka, menangis, kecewa!
Bukankah kecewa dan berduka karena nafsu keinginan di hatinya tidak tercapai?
Sebenarnya bukan menangisi Giok Keng, melainkan menangisi dirinya sendiri?
Semua ini dapat kita lihat dengan mata dan hati terbuka sebagai suatu kenyataan.
Akan tetapi, betapa kita hidup bergelimang kepalsuan sehingga kenyataan ini pun sukar diterima!
Betapa pandainya si aku ini bersandiwara sehingga setiap perbuatan yang sesungguhnya demi si aku dapat disulap seolah-olah bukan demikian.
Betapa kita telah dicengkeram sepenuhnya oleh si lapuk tua "aku"
Yang bukan lain adalah pikiran kita, pikiran gudang pengalaman masa lalu, sehingga mata kita tertutup oleh bayangan masa lalu, tidak dapat lagi menikmati kenyataan yang baru karena segala sesuatu diukur dengan perbandingan masa lalu, enak tidak enak, senang tidak senang bagi si aku!
Demikian menebalnya pemupukan si aku ini sehingga setiap sesuatu yang nampak maupun yang tidak nampak, segala apa di dunia ini, dari debu sampai kepada sebutan Tuhan, ditujukan semata-mata demi si aku, demi kepentingan aku.
Demikian pula cinta, juga demi aku!
"Kau sungguh terlalu, masa begitu tega terhadap Keng-ji..."
Biauw Eng menangis.
"Sekarang kau telah mengusirnya... ah, bagaimana akan jadinya dengan dia?"
"Hemmm, anak itu terlalu manja!"
Keng Hong berkata dengan kemarahan yang masih membakar hati, mengatasi kedukaan dan kekecewaannya.
"Terlalu memandang rendah orang tua. Mana boleh dia membatalkan ikatan jodoh begitu saja? Mana boleh dia membutakan mata memilih pemuda golongan sesat menjadi calon suaminya? Selain dia akan menghancurkan hidupnya sendiri, juga dia akan menyeret nama baik orang tua ke lubang pecomberan!"
Biauw Eng mengangkat muka, matanya bersinar-sinar.
"Lupakah engkau? Ingatlah baik-baik, pergunakan pikiranmu dengan adil dan jujur! Siapakah aku ini? Bukankah aku pun puteri Lam-hai Sin-ni, seorang datuk kaum sesat. Apakah Lam-hai Sin-ni kalah tersohor dengan Kwi-eng Niocu? Ingat, aku pun seorang puteri datuk sesat, aku pun seorang dari golongan hitam! Dan engkau toh sudah memperisteri aku!"
"Aihhh... engkau lain lagi..."
"Apanya yang lain? Aku tidak hendak mengatakan bahwa aku suka mempunyai mantu seperti pemuda putera Kwi-eng Niocu itu!"
"Akan tetapi kalau penolakanmu itu engkau dasarkan bahwa kau merasa derajat puterimu terlalu tinggi dan kau merendahkan seorang dari golongan sesat, kau benar-benar tidak adil! Urusan semestinya ditangani dengan halus. Giok Keng masih hijau dan bodoh, semestinya diberi nasihat dan dibujuk dengan halus, tidak dengan kekerasan seperti itu! Sekarang kau telah mengusirnya, sama saja dengan kau makin melekatkan dia dengan pemuda itu!"
Kembali Biauw Eng menangis terisak-isak.
Hati Keng Hong menjadi bingung sekali.
Sekarang terbukalah matanya dan dia mau tidak mau harus membenarkan ucapan isterinya.
Isterinya juga puteri seorang datuk kaum sesat yang lebih tersohor dan lebih tinggi tingkatnya daripada Kwi-eng Niocu, namun buktinya, puterinya tidaklah sesat seperti ibunya (baca cerita Pedang Kayu Harum).
Kalau sekarang dia membenci Liong Bu Kong hanya karena ibunya adalah datuk kaum sesat, sungguh tidak adil.
Apalagi Kwi-eng Niocu bukanlah ibu kandung pemuda itu, melainkan ibu angkat.
Siapa tahu kalau puterinya itu lebih benar daripada dia!
Akan tetapi puterinya telah ditunangkan dengan Yap Kun Liongg bantah hatinya!
Yap Kun Liong adalah putera sumoinya yang tewas secara mengenaskan.
Masa sekarang tali ikatan jodoh yang djusulkan itu boleh diputuskan begitu saja?
"Aku mau pergi mencari Kun Liong!"
Tiba-tiba dia berkata. Biauw Eng mengangkat mukanya yang basah dan merah.
"Mau apa mencari dia?"
"Dia harus mencari penjelasan! Kalau benar dia membatalkan ikatan jodoh, berarti dia tidak menghargai kita! Kalau benar dia melarikan calon isteri Pangeran Han Wi Ong, dia patut kuberi hajaran!"
"Akan tetapi kita tahu bahwa Han Wi Ong adalah seorang pangeran tua yang terkenal mata keranjang!"
"Mata keranjang atau tidak, sama sekali tidak ada hubungannya! Kalau Kun Liong melarikan calon isteri orang, berarti dia itu melakukan perbuatan sesat dan aku sebagai supeknya wajib menghajarnya! Pula, aku akan menyelidiki tentang Kok Beng Lama!"
Melihat sikap suaminya yang terbenam dalam kemarahan dan kedukaan, Biauw Eng tidak kuasa membantah.
Pula, dia maklum bahwa biarpun suaminya itu tidak mengatakannya, tentu suaminya itu akan menyusul dan mencari Giok Keng.
Dia tahu betapa suaminya mencinta puteri mereka itu dan suaminya yang telah mengusir puterinya itu hanya terdorong oleh kemarahan, akan tetapi sama sekali tidak akan membencinya.
Setelah Pendekar Sakti Cia Keng Hong pergi, Biauw Eng menanti di Cin-ling-san dengan hati gelisah sekali memikirkan puterinya dan suaminya.
Juga para anggauta Cin-ling-pai yang tentu saja mendengar akan peristiwa hebat yang menimpa keluarga guru atau ketua mereka menjadi prihatin, membuat suasana di Cin-ling-san nampak sunyi.
"Go-bi Thai-houw...! Keluarlah dan mari tandingi pinceng! Mari bertanding sampai selaksa jurus! Hendak kulihat sampai di mana kepandaian Go-bi Thai-houw yang kabarnya sama dengan dewi, ha-ha-ha!"
Kakek raksasa gundul berjubah merah itu menantang-nantang sambil berdiri di atas batu gunung (Lanjut ke
Jilid 36) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36 yang sebesar rumah.
Suaranya bergelora dan bergema di empat penjuru, terdengar dari permukaan Pegunungan Go-bi-san.
Beberapa kali dia mengulangi tantangannya itu dengan suara yang mengandung khi-kang kuat bukan main!
Karena tidak ada yang menjawab pertanyaannya, kakek ini sambil tertawa-tawa melayang turun dari atas batu besar, kemudian melangkah lebar menuju ke puncak Pegunungan Go-bi-san.
Tak lama kemudian tibalah dia di depan sarang tempat tinggal Kim Seng Siocia dan para anak buahnya!
Sambil bertolak pinggang dia berdiri memandangi bangunan megah itu dan tertawa.
"Ha-ha-ha-ha, tidak salah lagi! Di sinilah tentu tempat tinggal Go-bi Thai-houw yang disohorkan orang itu! Haii, Go-bi Thai-houw, mengapa engkau begitu pengecut dan tidak berani keluar melayani tantanganku?"
"Kakek berotak miring!"
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan keluarlah Kim Seng Siocia, wanita gendut yang lihai itu diiringi semua anak buahnya yang berjumlah lima puluh orang, dipimpin oleh Acui dan Amoi, dua orang pembantunya yang setia dan yang paling lihai, merupakan murid-murid kepala yang menjadi tangan kanannya.
Melihat munculnya barisan wanita ini, mengenal Kim Seng Siocia yang pernah mengeroyoknya ketika dia menyelamatkan Kun Liong dan Hong Ing, kakek itu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, tentu ini barisan dari Ratu Go-bi! Hayo, suruh keluar ratumu Go-bi Thai-houw!"
Kim Seng Siocia meloncat ke depan dan menudingkan senjata cambuk hitamnya sambil membentak.
"Kakek gila, mau apa engkau mencari mendiang Thai-houw?"
"Hah...? Dia sudah mampus?"
"Thai-bouw sudah meninggal dunia belasan tahun yang lalu dan aku, Kim Seng Siocia adalah pewarisnya. Mengapa engkau menantang-nantang Thai-houw?"
Kakek itu menarik napas panjang, kelihatannya menyesal sekali.
"Ahhhh, aku terlambat! Sialan benar kalau mereka semua sudah mampus! Lama sudah pinceng (aku) mendengar bahwa di dunia ini, orang-orang yang paling pandai hanyalah Sin-jiu Kiam-ong, Go-bi Thai-houw, Bun Hwat Tosu, dan Tiang Pek Hosiang! Jangan-jangan yang lain itu pun sudah mampus. Lalu siapa lawanku di dunia ini?"
Kim Seng Siocia sudah maklum akan kelihaian kakek pendeta Lama yang seperti gila ini, akan tetapi karena dia dibantu oleh semua anak buahnya, dan karena dia menganggap junjungannya, Go-bi Thai-houw dipandang rendah dan dihina maka dia menjadi marah sekali.
"Kok Beng Lama! Engkau terlalu sombong! Biarpun Thai-houw sudah meninggal dunia, akan tetapi aku, pewaris satu-satunya, tidak gentar melawanmu!"
Setelah berkata demikian, Kim Seng Siocia menggerakkan cambuknya dan terdengar suara ledakan-ledakan kecil di udara.
"Jadi engkau murid satu-satunya? Ha-ha-ha, tidak ada gurunya, melihat tingkat muridnya pun sudah dapat menilai sampai di mana kepandaian gurunya!"
Kok Beng Lama melangkah maju memapaki gulungan sinar hitam dari cambuk itu!
"Tar-tar-tar...
wuuuutttt...!"
Gulungan sinar hitam itu meledak-ledak dan menyambar-nyambar.
Bukan main lihainya senjata ini, karena selain panjang dan terbuat dari bahan yang aneh dan kuat sekali, juga ujung cambuk ini mengikat sebatang piauw yang runcing tajam dan beracun.
"Ha-ha-ha, bagus, bagus! Keluarkan semua kepandaianmu, Gendut!"
Pendeta Lama itu berkata dengan gembira.
Pertandingan ini segera membuktikan betapa keadaan mereka berat sebelah.
Kim Seng Siocia mengeluarkan semua kepandaiannya yang dia dapatkan dari kitab-kitab peninggalan Go-bi Thai-houw, Tidak hanya cambuknya yang menyambar-nyambar juga tangan kirinya yang mengandung tenaga sin-kang amat kuat itu menyelingi serangan cambuknya.
Namun, pendeta Lama itu hanya tertawa-tawa saja, menggerakkan kedua lengannya dan ujung lengan bajunya melayang-layang menangkis semua serangan lawan.
Hebatnya, setiap kali cambuk bertemu ujung lengan baju, ujung cambuk itu terpental keras, dan setiap kali tangan kiri wanita gendut itu dicium ujung lengan baju, Kim Seng Siocia meringis kesakitan dan seluruh lengan kirinya tergetar hebat!
Tiba-tiba dengan gerakan yang tidak terduga-duga, Kim Seng Siocia menggerakkan cambuknya berputaran dan ujung cambuk yang ada piauwnya itu menyambar ke arah perutnya sendiri!
Berbareng dengan itu, tangan kirinya juga mencengkeram ke arah kepalanya sendiri.
"Heiii..., gilakah...?"
Baru saja Kok Beng Lama berseru dan tubuhnya melayang ke depan untuk mencegah wanita gendut itu "membunuh diri"
Secara aneh tiba-tiba cambuk membalik dan ujung cambuk itu melepaskan piauw yang terikat.
Piauw beracun meluncur secepat kilat menyambar ke arah leher Kok Beng Lama, sedangkan tangan kiri wanita lihai itu sudah membalik pula, mengirim pukulan yang ganas ke arah pusar lawan yang kaget setengah mati itu!
"Plakkk...
desss...!"
Piauw bertemu dengan telapak tangan Kok Beng Lama dan pukulan tangan kiri Kim Seng Siocia tepat mengenal pusar pendeta Lama itu.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya wanita gendut itu melihat bahwa selain piauwnya tidak melukai tangan lawan, juga pukulannya mengenai bagian tubuh lunak dan yang sekaligus membuat sin-kang yang terkandung di tangan kirinya itu "tenggelam"
Dan tak berbekas. Selagi dia terheran dan terkejut, terdengar kakek itu berseru.
"Ilmu siluman...!"
Dan wanita gendut itu tidak keburu mengelak lagi ketika ada sinar hitam menyambar dan terdengarlah jeritan melengking mengerikan ketika piauwnya sendiri itu menghunjam dan menembus pelipis kepalanya.
Kim Seng Siocia masih berusaha untuk menendangkan kaki kanannya, akan tetapi dengan mudah Kok Beng Lama menangkis tendangan ini, bahkan sekaligus dia menangkap kaki itu dan mendorong tubuh lawannya sampai terlempar beberapa meter jauhnya!
Kim Seng Siocia tewas seketika!
Anak buahnya memandang dengan mata terbelalak kaget.
Tak mereka sangka sama sekali bahwa ketua mereka, juga majikan atau guru mereka, yang mereka anggap memiliki ilmu kepandaian luar biasa dan tiada bandingannya itu, kini tewas sedemikian mudahnya di tangan kakek pendeta Lama itu!
Acui dan Amoi yang amat mencinta majikan mereka, melihat Kim Seng Siocia tewas, menjadi marah dan berduka sekali.
Mereka sudah mencabut pedang masing-masing dan dengan teriakan marah kedua orang wanita muda yang cantik ini sudah menerjang maju mengeroyok Kok Beng Lama, dibantu oleh empat orang teman mereka yang terdekat.
Melihat dia dikeroyok enam orang wanita muda, pendeta Lama itu kelihatan jemu dan dengan marah dia menggerakkan kedua lengannya ke kanan kiri sambil membentak.
"Pergilah kalian!"
Terdengar suara "plak-plak!"
Susul-menyusul dan dengan jerit tertahan enam orang itu, termasuk Acui dan Amoi yang lihai, roboh dan tak mungkin dapat bangun kembali karena kepala mereka retak-retak disambar ujung lengan baju kakek yang luar biasa lihainya itu!
"Mundur kalian!
Apakah kalian sudah bosan hidup?"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan halus dan muncullah seorang nenek bertongkat butut hitam, berpakaian hitam pula dan berwajah bengis.
Dia ini bukan lain Go-bi Sin-kouw!
Seperti diketahui nenek ini adalah guru Pek Hong Ing dan Lauw Kim In, dan tinggal di atas sebuah di antara puncak-puncak Go-bi-san.
Seperti juga Kim Seng Siocia, dia mendengar teriakan yang merupakan tantangan dari Kok Beng Lama, akan tetapi dia tidak melayani karena bukan dia yang ditantang, pula dia maklum betapa lihainya kakek itu.
Betapapun juga, dia ingin tahu dan karena merasa bahwa dia dapat menanggulangi kakek sakti itu, mengikuti dan menyaksikan kakek itu membunuh Kim Seng Siocia, Acui, Amoi dan empat orang murid lainnya.
Melihat bahwa masih ada puluhan orang bekas anak buah Kim Seng Siocia hendak maju mengeroyok, dia cepat mencegat mereka karena dia mempunyai niat yang dianggapnya baik sekali melihat kematian Kim Seng Siocia dan para pembantu utamanya.
Dua orang muridnya telah pergi.
Pek Hong Ing telah murtad, melawan kehendaknya, tidak mau menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong, bahkan telah menjadi nikouw dan melarikan diri dengan pemuda gundul itu.
Sedangkan murid pertamanya, Lauw Kim In, juga minggat entah ke mana.
Cita-citanya untuk menjadi mertua seorang pangeran gagal, maka kini dia melihat kesempatan yang baik sekali.
Dia akan memperoleh kedudukan tinggi dan mewarisi harta benda yang banyak jika dia menggantikan Kim Seng Siocia yang sudah mati!
Karena inilah dia mencegah sisa anak buah Kim Seng Siocia yang diharapkan kelak menjadi anak buahnya, untuk tidak nekat melawan pendeta Lama yang lihai itu.
Kok Beng Lama memutar tubuhnya menghadapi Go-bi Sin-kouw.
Dia mengenal pula nenek ini yang pernah mengeroyoknya di tepi Pantai Pohai.
"Ha-ha-ha, apakah engkau hendak mewakili Go-bi Thai-houw pula melawan pinceng?"
Go-bi Sin-kouw menggerakkan tangan kirinya menyangkal.
"Aku Go-bi Sin-kouw tidak pernah bermusuhan dengan Kok Beng Lama. Kita adalah dua orang tua yang sudah kenyang mengalami pertandingan, mengapa seperti anak kecil saja hendak mengadu kepandaian?"
"Ha-ha-ha-ha! Omitohud... wanita memang pandai menyelimuti perasaannya sendiri...!"
Dengan ucapan ini Kok Beng Lama hendak menyindir bahwa nenek itu pandai menyembunyikan rasa jerihnya untuk bertanding dengannya.
"Habis, mau apa engkau datang menemuiku?"
"Kok Beng Lama, aku tadi mendengar suaramu, dan aku mengenal namamu ketika untuk pertama kali kau muncul di tepi Pohai. Aku hanya hendak memperlihatkan sebuah benda. Lihat ini baik-baik, apakah engkau mengenal benda ini?"
Sambil berkata demikian, Go-bi Sin-kouw menggunakan tangan kanan mengambil sebuah benda yang mengkilap dari dalam saku bajunya, dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi agar dapat terlihat oleh Kok Beng Lama.
Benda itu adalah sehelai kalung emas terukir indah dan mainannya mcrupakan sebuah ukir-ukiran arca Buddha kecil bermata indah terbuat dari mutiara biru!
Ketika Kok Beng Lama melihat benda ini, dia mengeluarkan seruan tertahan, mukanya berubah pucat dan tiba-tiba dia menerjang ke depan dengan kedua lengan terpentang dan kedua tangannya membentuk cakar setan!
Go-bi Sin-kouw terkejut sekali, cepat nenek ini menggerakkan tongkat bututnya menyambut dengan tusukan dahsyat ke arah dada kakek pendeta berjubah merah itu.
"Plak! Plak!"
Tangan kanan Kok Beng Lama sudah menangkap ujung tongkat, sedangkan tangan kirinya telah mencengkeram tangan kanan nenek yang menggenggam kalung itu.
"Katakan, dari mana kau mendapatkan benda ini?"
Bentak Kok Beng Lama.
Namun dengan senyum menyelimuti rasa nyeri yang membuat seluruh lengan kanannya seperti lumpuh oleh cengkeraman kakek pendeta itu, Go-bi Sin-kouw berkata lirih.
"Kau bunuhlah, akan tetapi akulah satu-satunya orang yang akan dapat bercerita tentang Pek Cu Sian...!"
Ucapan ini membuat Kok Beng Lama mencelat mundur seolah-olah ditampar oleh benda keras.
"Pek... Cu... Sian...? Di... di mana dia...?"
Dia terbelalak memandang nenek itu dengan sinar mata penuh permohonan, tubuhnya gemetar karena hatinya tegang bukan main.
"Dia kudapati terluka parah, tubuhnya penuh luka-luka dan sebelum meninggal dunia, dia meninggalkan benda ini dan puterinya..."
"Ouhhh...!"
Kok Beng Lama jatuh terduduk, mukanya pucat sekali dan matanya terpejam, alisnya berkerut, wajahnya kelihatan berduka sekali.
Terbayang di dalam ingatannya semua peristiwa yang terjadi belasan tahun, hampir dua puluh tahun yang lalu di Tibet!
Ketika itu, dia merupakan seorang di antara tokoh-tokoh golongan Lama Jubah Merah yang terdapat di Tibet.
Golongan Lama Jubah Merah ini adalah segolongan pendeta yang menganut Agama Buddha yang dicampur dengan Agama Hindu, maka di samping memuja pelajaran Buddha, juga mereka masih memuja para dewa Agama Hindu.
Golongan Lama Jubah Merah terutama sekali memuja Dewa Syiwa yang dipujanya sebagai dewa pembasmi dan penghancur, Karena itu amat ditakuti dan telah menjadi tradisi di golongan mereka untuk setiap tahun, pada hari ulang tahun dewa itu, mereka menyerahkan korban-korban, diantaranya korban seorang dara cantik yang masih perawan.
Golongan yang fanatik ini menanam banyak permusuhan dengan golongan lain, bahkan perbuatan mereka memaksa gadis menjadi korban tiap tahun mendatangkan permusuhan pula dengan banyak orang yang terdiri dari rakyat jelata.
Namun karena golongan Lama Jubah Merah ini memiliki banyak tokoh yang berilmu tinggi sekali, tidak ada golongan lain yang berani berterang menentang mereka.
Ada beberapa orang gagah, diantaranya ada yang datang dari Tiongkok, yang mencoba untuk menentang pengorbanan anak perawan tiap tahun, namun mereka ini seorang demi seorang dikalahkan dan ditewaskan oleh para tokoh Lama Jubah Merah.
Diantara tokoh kang-ouw yang terbunuh dalam usaha ini adalah seorang pendekar bernama Pek Jwan Ki yang gagah perkasa.
Setelah pendekar ini tewas, puterinya yang baru berusia delapan belas tahun, bernama Pek Cu Sian, menyerbu markas Lama Jubah Merah untuk membalas dendam.
Akan tetapi, betapa pun lihainya dara ini tertawan dan kemudian melihat bahwa dia amat cantik dan masih perawan, dia dipilih untuk menjadi calon korban, hendak dipersembahkan kepada Dewa dalam pesta pemujaan tahun depan!
Pemujaan itu dilakukan dengan membakar anak perawan itu dalam keadaan telanjang bulat, dengan demikian jiwa raganya akan diterima oleh Dewa pujaan mereka!
Ketika Pek Cu Sian yang cantik menjadi tawanan inilah terjadi peristiwa hebat yang menggegerkan Tibet, terutama di lingkungan kaum Lama Jubah Merah.
Kok Beng Lama, seorang diantara para tokoh Lama Jubah Merah yang bertingkat dua, sebagai orang ke dua yang terlihai di antara mereka, seorang pendeta yang baru berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, tampan dan gagah perkasa, tergila-gila dan jatuh cinta ketika melihat Pek Cu Sian!
Maka dengan kecerdikan dan kelihaiannya, diam-diam Kok Beng Lama menolong perawan itu, mengeluarkannya dari dalam tempat tahanan, kemudian menyembunyikannya di dalam kamar rahasia.
Pek Cu Sian yang telah berada di ambang maut yang mengerikan itu, merasa berhutang budi dan timbul pula kagum dan sukanya kepada penolong yang gagah perkasa ini, biarpun penolong itu usianya sudah setengah tua dan pantas menjadi ayahnya.
Kalau dua orang insan, pria dan wanita sudah saling suka, Maka terjadilah hal yang lumrah, yaitu keduanya saling mendekati dan karena Pek Cu Sian tidak mempunyai orang lain yang dapat dipercaya, maka kepercayaannya tercurah kepada Kok Beng Lama.
Keduanya melakukannya hubungan rahasia di dalam kamar di mana perawan itu di sembunyikan.
Semua berjalan rapi tanpa ada yang mengetahuinya, dan dara itu oleh para tokoh Lama Jubah Merah dianggap hilang atau berhasil melarikan diri.
Akan tetapi sebetulnya, Pek Cu Sian hidup sebagai suami isteri dengan Kok Beng Lama, bahkan setahun kemudian Pek Cu Sian melahirkan seorang anak perempuan di dalam kamar rahasianya.
Wanita tua yang membantu berlangsungnya kelahiran ini, setelah tenaganya tidak dibutuhkan lagi, dibunuh oleh Kok Beng Lama agar rahasia mereka tidak membocor keluar!
Akan tetapi, betapa pun rapatnya mereka menyimpan rahasia, akhirnya terbuka juga.
Anak perempuan itu mereka beri nama Pek Hong Ing, dan pada suatu hari, seorang pendeta Lama melihat anak berusia lima tahun itu keluar dari kamar rahasia.
Dan terbukalah rahasia yang selama hampir enam tahun itu disimpan oleh Kok Beng Lama dan Pek Cu Sian!
Akibatnya, Kok Beng Lama ditangkap dan Pek Cu Sian melarikan diri bersama puterinya, dikejar-kejar oleh para Lama Jubah Merah.
Selama enam tahun, Pek Cu Sian telah mempelajari ilmu silat tinggi dari kekasihnya, maka dia melakukan perlawanan gigih dan berhasil membunuh beberapa orang pendeta Lama Jubah Merah.
Namun dia sendiri terluka parah dan biarpun akhirnya dia berhasil melarikan diri meninggalkan Tibet, ketika tiba di Go-bi-san, dia roboh dan tewas.
Baiknya pada waktu peristiwa pengejaran itu terjadi, Kok Beng Lama tidak tahu karena dia sedang "diadili", maka tidak terjadi hal yang lebih hebat lagi.
Kok Beng Lama dijatuhi hukuman sepuluh tahun lamanya oleh ketua golongan Lama Jubah Merah.
Selama sepuluh tahun di dalam kamar tahanan ini, Kok Beng Lama memperdalam ilmu kepandaiannya sehingga ketika hukumannya sudah habis, dia memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat.
Bahkan dia telah mempunyai khi-kang yang luar biasa kuatnya, juga sin-kangnya membuat kedua tangannya kebal dan berani melawan senjata pusaka yang bagaimanapun juga ampuhnya!
Akan tetapi, ketika dia keluar dari hukuman dan mendengar bahwa kekasihnya dan puterinya pergi melarikan diri, dia menjadi marah sekali.
Didatanginya ketua golongan dan dimintanya pertanggungan jawabnya.
"Pinceng telah menerima dosa dan telah menanggung semua kesalahan dengan menerima hukuman sepuluh tahun tanpa membantah. Mengapa Pek Cu Sian dan puteri kami yang tidak berdosa dikejar-kejar? Tentu mereka telah kalian bunuh!"
Teriaknya marah.
Dengan kepandaiannya, dia menangkap seorang Lama dan menyiksanya sampai Lama itu mengaku betapa Pek Cu Sian dan puterinya melarikan diri dan dikejar, dikeroyok sampai luka-luka parah dan biarpun dapat melarikan diri, akan tetapi luka-luka yang amat hebat yang dideritanya tentu tidak akan dapat ditahannya.
Mendengar ini, Kok Beng Lama mengamuk dan ketua golongan Lama Jubah Merah tewas di tangannya!
Masih banyak lagi Lama Jubah Merah yang tewas oleh Kok Beng Lama yang mengamuk itu, kemudian dia melarikan diri dari Tibet dengan niat untuk mencari tahu perihal kekasih dan puterinya.
Kedukaan hatinya mendengar akan nasib kekasihnya membuat dia seperti gila, dan karena dia sudah lama mendengar nama-nama besar dari Sin-jiu Kiam-ong, Bun Hwat Tosu, Tiang Pek Hosiang, Dan yang terdekat adalah Go-bi Thai-houw, maka di sepanjang jalan dia menantang empat orang ini.
Dia percaya bahwa dengan tingkat kepandaiannya sekarang, dia akan mampu mengalahkan empat orang tokoh besar itu!
Demikianlah riwayat singkat dari Kok Beng Lama.
Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika tanpa disangka-sangkanya, dia mendengar tentang kekasihnya itu dari Go-bi Sin-kouw!
Apalagi ketika dia mendengar bahwa kekasihnya, Pek Cu Sian, seperti yang dikhawatirkannya selama ini, telah meninggal dunia akibat luka-lukanya, dia menjadi demikian berduka sampai hampir pingsan.
Sampai lama dia duduk bersila, memejamkan kedua matanya dan ketika kedua matanya itu akhirnya dibukanya kembali, sinar matanya menjadi suram dan layu.
"Bagaimana matinya?"
Ucapan apa yang menjadi pesan terakhirnya? Bagaimana dengan Puteri Pinceng?"
Suara pendeta Lama yang biasanya gembira dan tenang itu kini terdengar parau dan tidak jelas.
"Kok Beng Lama! Pertama-tama yang disebut adalah namamu, maka begitu mendengar kau menyebutkan namamu di Pantai Pohai aku segera mengenalmu. Akan tetapi, sebelum aku melanjutkan ceritaku, kau harus berjanji dulu bahwa selanjutnya engkau tidak akan memusuhi atau mengganggu lagi kepada Go-bi Sin-kouw."
Kakek itu dengan tidak sabar mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku Kok Beng Lama berjanji takkan mengganggu Go-bi Sin-kouw."
"Dan kau harus menyetujui aku menggantikan kedudukan Kim Seng Siocia di sini memimpin semua wanita ini."
"Baik, baik. Memang sudah selayaknya, engkau yang telah menemukan Cu Sian."
Berseri wajah Go-bi Sin-kouw.
Yang lain-lain dia tidak takut, apalagi anak buah Kim Seng Siocia tentu akan tunduk kepadanya.
Dia hanya jerih menghadapi pendeta Lama ini karena dia maklum bahwa pendeta ini hebat bukan main, sama sekali bukan tandingannya!
"Kalau begitu, sebagai majikan dari markas ini, aku mempersilakan kau masuk ke istanaku di mana kita dapat bicara dengan tenang, Kok Beng Lama."
Pendeta yang sudah ingin sekali mendengar cerita tentang kekasihnya dan puterinya itu, mengangguk dan mereka berdua lalu memasuki rumah besar yang megah bekas tempat tinggal Kim Seng Siocia setelah Go-bi Sin-kouw dengan suara lantang memerintahkan "anak buahnya"
Untuk mengurus jenazah Kim Seng Siocia, Acui, Amoi dan empat orang gadis yang menjadi korban kelihaian Kok Beng Lama.
Setelah duduk berhadapan dan minum arak yang disuguhkan oleb anak buah yang kini memperoleh majikan baru itu, Go-bi Sin-kouw talu bercerita.
"Aku sedang melakukan perjalanan bersama muridku yang bernama Lauw Kim In ketika aku bertemu dengan Pek Cu Sian. Dia menggeletak tak berdaya, kehabisan darah yang keluar dari luka-lukanya, sedangkan seorang anak perempuan berusia lima tahun nenangis di sampingnya. Aku berusaha mengobatinya, namun percuma karena dia telah kehabisan darah. Sebelum dia meninggal dunia, dia menyerahkan kalung ini dan mengatakan bahwa kalau aku bertemu dengan seorang bernama Kok Beng Lama, agar supaya aku menyerahkan benda ini dan anak perempuan yang bernama Pek Hong Ing."
Kok Beng Lama menciumi kalung itu dan dua titik air mata membasahi pipinya, kemudian dia bertanya penuh gairah.
"Budi pertolonganmu amat besar, Go-bi Sin-kouw. Aku berterima kasih sekali. Dan di mana sekarang adanya anakku itu? Di mana puteriku Pek Hong Ing...?"
Go-bi Sin-kouw menarik napas panjang.
"Itulah yang menyusahkan hatiku. Anak itu kupelihara dan kudidik sampai menjadi dewasa. Kemudian hendak kujodohkan dengan seorang pangeran. Dengar baik-baik! Dengan seorang pangeran putera Kaisar! Akan tetapi, dia malah melarikan diri, agaknya terbujuk oleh seorang pemuda berkepala gundul yang lihai! Engkau malah sudah bertemu dengan puterimu itu, Kok Beng Lama."
"Hehhh...?"
Mata yang lebar itu terbelalak makin lebar.
"Di mana? Yang mana?"
"Ingatkah engkau ketika engkau muncul di Pantai Pohai? Ada seorang pemuda gundul dan seorang nikouw muda yang kami keroyok untuk kami tangkap, bahkan kau telah membantu mereka melarikan diri."
"Yaaaa, dan mana puteriku?"
"Nikouw muda itulah!"
"Aihhh...!"
Pendeta Lama itu mencelat ke atas dan matanya menjadi liar dan ganas sekali memandang kepada Go-bi Sin-kouw sehingga nenek ini menjadi terkejut, bersiap sedia dan dengan cepat dia berkata.
"Ingat, kau tidak akan memusuhi aku, Kok Beng Lama."
Kakek itu mengepal kedua tinju tangannya yang besar kemudian menghardik.
"Go-bi Sin-kouw, kenapa kau memusuhi puteriku yang katanya menjadi muridmu?"
"Ahhh, duduklah baik-baik dan dengarkan dengan tenang,"
Go-bi Sin-kouw membujuk dan kakek itu duduk kembali dengan sikap kasar karena hatinya masih marah.
"Sudah kukatakan bahwa Pek Hong Ing, puterimu atau muridku itu, hendak kujodohkan dengan Pangeran Han Wi Ong yang mencintanya. Bukankah aku bermaksud baik dan mengangkat derajatnya setinggi mungkin? Bayangkan, kau akan menjadi ayah mertua seorang pangeran, putera Kaisar! Akan tetapi apa yang terjadi kemudian? Hong Ing kena dibujuk oleh seorang pemuda, Si Gundul itu sehingga Hong Ing melarikan diri mencukur rambutnya seperti nikouw, bahkan kemudian bersama pemuda itu melawan kami dan tidak mau menyerah ketika hendak ditangkap. Maksudku hanya menangkap mereka dan menyerahkan kepada pengadilan, dan membujuk Hong Ing agar suka menjadi isteri pangeran. Sayang, sebelum mereka tertangkap, engkau muncul dan membikin kacau, engkau malah membantu pemuda yang hendak mencelakakan puterimu itu."
"Brakkkk!"
Meja itu terbuat daripada batu putih yang amat keras, akan tetapi tidak kuat menahan kepalan tangan Kok Beng Lama, retak-retak dan nyaris hancur lebur!
"Siapa pemuda gundul itu?"
"Namanya Yap Kun Liong dan dia lihai sekali!"
"Tak peduli betapa lihainya, dia akan kuhancurkan kepalanya seperti meja ini!"
"Tapi dia kabarnya memiliki Ilmu Thi-khi-i-beng, dan menurut kabar orang-orang kang-ouw, dia murid keponakan Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan dia pula yang tahu di mana adanya pusaka bokor emas milik Panglima The Hoo."
Berkerut alis Kok Beng Lama.
"Apa itu Thi-khi-i-beng?"
"Ahh, seorang selihai engkau masih belum mengenal Thi-khi-i-beng? Ilmu yang amat dahsyat dan mujijat, sin-kang yang dapat menyedot tenaga dalam lawan, yang tadinya hanya dimiliki oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong!"
"Huh, siapa itu Cia Keng Hong?"
"Dialah murid tunggal orang yang kau cari-cari, Sin-jiu Kiam-ong."
"Bagus! Di mana dia?"
"Dia menjadi Ketua Cin-ling-pai di Gunung Cin-ling-san. Dan bokor emas milik Panglima The Hoo yang dijadikan rebutan seluruh orang dunia kang-ouw, kabarnya juga hanya diketahui tempatnya oleh pemuda itu. Dan sekarang, puterimu dibawa olehnya, entah ke mana."
"Keparat! Akan kucari mereka semua!"
Tiba-tiba kakek itu meloncat dan sekali berkelebat dia lenyap dari dalam gedung itu, membuat Go-bi Sin-kouw menahan napas saking kagumnya.
Akan tetapi dia tidak mempedulikan lagi kepada pendeta Lama yang amat lihai itu, karena dia sudah sibuk mengatur tempat tinggalnya yang baru!
Dia mengumpulkan semua anak buahnya yang empat puluh orang lebih jumlahnya, dan mulai saat itu, Go-bi Sin-kouw menjadi majikan tempat itu, tinggal di dalam gedung yang mewah dan megah, dan diterima sebagai ketua oleh bekas anak buah Kim Seng Siocia.
Tentu saja dia merasa girang sekali.
Biarpun dia kehilangan dua orang muridnya, akan tetapi sebagai gantinya dia memperoleh empat puluh orang murid lebih, Dan memperoleh tempat tinggal yang indah.
Hanya sedikit kecewa hatinya mendengar bahwa bekas kekasih Kim Seng Siocia, pemuda asing bermata biru yang bernama Marcus, telah melarikan diri sambil membawa kitab-kitab pusaka peninggalan Go-bi Thai-houw berikut banyak harta berupa emas dan perak!
Akan tetapi karena yang masih berada di situ jauh lebih banyak, maka nenek ini tidak ambil peduli.
Pula, dia tidak menginginkan kitab pusaka karena merasa bahwa ilmu kepandaiannya tidak kalah oleh Kim Seng Siocia.
Kun Liong sadar dari pingsannya.
Sejenak dia nanar dan matanya silau oleh sinar matahari yang langsung menimpa kepala dan mukanya.
Akan tetapi ketika dia bangkit duduk dan melihat kain putih di tangannya, dia teringat dan mengeluh, lalu mendekap kain itu dan diciuminya.
"Hong Ing.... ahhh, Hong Ing...!"
Demikian keluh hatinya.
Dia hampir merasa yakin bahwa dara itu tentu telah tewas, menjadi korban badai yang mengamuk ganas semalam.
Akan tetapi karena yang ditemukannya hanya kain penutup kepala gadis itu, hatinya masih penasaran dan sehari penuh tiada hentinya dia berkeliaran di sepanjang pantai mengelilingi pulau kecil itu untuk mencari kalau-kalau jenazah dara itu terdampar di pantai.
Namun hasilnya sia-sia.
Akhirnya dengan tubuh lemas dan sakit-sakit, dengan hati kosong dan tertekan hebat, Kun Liong terpaksa harus melihat kenyataan bahwa dara yang dicari-carinya itu memang tidak ada.
Tentu sudah ditelan lautan yang mengganas semalam, atau ditelan ikan besar.
Dia berdiri tegak memandang ke arah lautan, giginya berkerot, kedua tangan dikepal dan matanya menyinarkan penasaran dan kebencian ke arah lautan.
Kalau lautan merupakan makhluk, tentu akan diserangnya pada saat itu!
Kemudian dia sadar bahwa tidak baik menenggelamkan dirinya ke dalam kedukaan yang tidak ada gunanya.
Jelaslah kenyataannya bahwa Pek Hong Ing telah lenyap!
Dan dia masih hidup!
Teringat akan dirinya sendiri, masih terasalah nyeri di seluruh tubuhnya dan ketika dia melihat keadaannya, baru dia sadar bahwa pakaiannya sudah koyak-koyak tidak karuan, juga sepasang sepatu yang dipakainya.
Dan terasa pula betapa perutnya amat lapar.
Maka dia lalu meninggalkan pantai yang kosong sunyi itu, sekosong dan sesunyi hatinya, dan dia menuju ke tengah pulau untuk melakukan penyelidikan dan mencari pengisi perutnya yang juga kosong dan terasa amat lapar itu.
Sedapat mungkin dia mengusir bayangan Hong Ing yang selalu mengganggu pikirannya, dan kadang-kadang dia harus menyusut air mata yang meloncat keluar setiap kali dia teringat kepada dara itu.
Jelas ternyata setelah diselidikinya bahwa pulau itu adalah sebuah pulau kecil yang kosong.
Di tengah pulau terdapat sebuah bukit kecil yang penuh dengan pepohonan.
Akan tetapi, kecuali belasan ekor jenis burung laut yang beterbangan di atas pulau, tidak ada seekor pun binatang di pulau itu.
Dan tetumbuhan yang berada di bukit itu pun terdiri dari jenis tetumbuhan yang tidak dapat dimakan.
Diantaranya terdapat pohon-pohon besar yang sudah amat tua, dengan batang yang besar-besar.
Hutan kecil itu liar dan gelap, dan di situ terdapat banyak batu-batu karang yang merupakan guha-guha besar.
Namun dia tidak ingin menyelidiki tempat yang buruk dan sukar didatangi karena banyaknya semak-semak belukar itu.
Terpaksa, untuk mengisi perutnya yang kelaparan, Kun Liong menangkap seekor burung besar dengan jalan menyambitnya dengan pecahan batu karang.
Dipanggangnya daging burung itu dan biarpun rasanya tidak terlalu sedap, lumayan untuk mengatasi kelaparan.
Akan tetapi, makan daging burung panggang ini mengingatkan dia kepada Pek Hong Ing ketika mereka berdua makan ikan panggang di dalam perahu peti mati!
Teringat akan ini, teringat pula akan kemungkinan besar kematian dara itu secara menyedihkan, leher Kun Liong seperti dicekik rasanya.
Daging yang dimakannya berhenti di kerongkongan dan dia tidak dapat melanjutkan makannya.
Sambil minum air tawar yang didapatnya di dekat rimba di tengah pulau, dia membuang sisa daging burung panggang ke laut, kemudian menghela napas dan dengan tubuh lemas dia mencari tempat teduh di belakang sebuah batu karang besar, menjatuhkan diri di atas pasir dan tak lama kemudian dia sudah jatuh pulas.
Matahari sudah naik tinggi dan beberapa jam kemudian sinar matahari telah melewati batu karang itu dan menimpa tubuh Kun Liong.
Namun pemuda yang telah mengalami kelelahan lahir batin yang amat hebat itu seperti sudah mati, tidak merasakan lagi sengatan sinar matahari, tidur dengan nyenyaknya, sedikit pun tidak pernah bergerak.
Akan tetapi sesungguhnya hanya tubuhnya saja yang tidur dan tidak bergerak, karena pemuda yang dihimpit oleh penderitaan batin ini, Yang dengan kekuatan batinnya menahan kedukaan hebat, setelah tertidur diterbangkan ke alam mimpi oleh perasaan bawah sadarnya yang kini setelah dia tidur memperoleh kesempatan untuk timbul.
Mimpi hanya datang mengganggu seseorang yang di waktu siangnya diamuk oleh pikirannya sendiri, pikiran yang mendatangkan pertentangan di dalam batin.
Orang yang pikirannya terbebas dari segala macam ingatan masa lalu, yang tidak terpengaruh oleh suatu peristiwa, tidak menyimpan dalam pikirannya suatu pengalaman, tentu akan tidur nyenyak tanpa mimpi!
Di alam mimpinya, Kun Liong melihat beberapa orang dara cantik melayang-layang mendekatinya dan mereka menari-nari, seperti dewi-dewi kahyangan di sekelilingnya, tersenyum simpul dan mengerling tajam kepadanya, seolah-olah mereka itu berlumba untuk memikat hatinya.
Dan dia mengenal dara-dara itu karena mereka itu bukan lain adalah wanita-wanita yang selama ini telah dijumpainya dalam hidupnya.
Yo Bi Kiok dengan sepasang matanya yang amat indah seperti mata bintang kejora itu, Souw Li Hwa dengan lehernya yang panjang putih dan dagunya yang meruncing amat manisnya, Cia Giok Keng dengan hidungnya yang amat indah bentuknya, Lim Hwi Sian dengan mulutnya yang menggairahkan, Yuanita de Gama dengan matanya yang biru dan rambutnya yang seperti benang sutera emas, Nina Selado yang cantik genit dan panas, Lauw Kim In yang cantik pendiam dan dingin namun memikat hati, Kim Seng Siocia yang gendut dan lucu, dan akhirnya tampak juga Pek Hong Ing yang baginya tidak mempunyai keistimewaan tertentu karena segala sesuatu yang ada pada Hong Ing amat menarik hatinya!
Para wanita ini menari-nari dan Hong Ing berada di belakang sendiri, kadang-kadang nampak kadang-kadang tidak.
Akan tetapi dia hanya memandang mereka itu sepintas lalu saja, akhirnya dia mencari-cari dengan matanya ke arah Hong Ing.
Ingin sekali dia agar dara yang berkepala gundul itu mendekat namun apa daya, dia sendiri tidak dapat menggerakkan kaki tangannya.
Tiba-tiba datang angin besar bertiup dan dara-dara jelita yang menari-nari itu terhembus angin melayang-layang pergi sambil melambaikan tangan kepadanya, dan tersenyum manis.
Akan tetapi hanya Hong Ing seorang yang melawan hembusan angin, gadis itu tidak seperti yang lain terbang melayang menunggang angin.
Hong Ing meronta dan melawan.
menjulurkan kedua lengan ke arahnya, seperti minta bantuan dan terdengar jeritnya.
"Kun Liong...!"
"Kun Liong...!"
Kun Liong tersadar tanpa membuka matanya.
Hemm, dia tertidur enak sekali, dan semua itu ternyata hanya mimpi.
Hanya mimpi kosong.
Dia menarik napas panjang tanpa membuka mata, menikmati tubuh yang mengaso.
Tidak perlu memikirkan mimpi, demikian suara berbisik di kepalanya yang berbantal gundukan pasir.
"Mengapa tidak perlu?"
Bantah suara di dadanya.
"Mimpi ada artinya, apalagi yang muncul adalah wanita-wanita yang selama ini mendatangkan kesan mendalam di hatinya. Pasti ada artinya mimpi tadi!"
"Aahhh, celoteh nenek bawel!"
Bantah suara di kepalanya.
"Mimpi hanya kembangnya orang tidur! Tidak ada artinya, kalau pun ada, maka artinya itu direka-reka dan dicari-cari, dibuat dan dipaksakan."
"Sombong! Si dungu berlagak pintar!"
Hatinya memaki.
"Pasti ada artinya. Bukankah para wanita itu pergi dengan senyum dan sebaliknya Hong Ing meronta dan minta pertolongannya? Itu tandanya cinta?"
"Cinta hidungmu!"
Bantah pula suara di kepala.
"Tidak ada cinta yang murni, semua cinta palsu! Betapa banyaknya orang menderita karena cinta. Hanya orang tolol saja yang membiarkan dirinya terjerat cinta! Hanya orang totol yang akhirnya akan nenderita karena cinta. Dia suka kepada wanita, kepada semua wanita yang cantik dalam mimpi tadi, dia suka kepada mereka seperti suka akan bunga yang indah dan harum, seperti suka akan makanan yang lezat, suka akan pemandangan alam yang permai. Akan tetapi cinta...? Huhhhh!"
"Sombong! Kalau tidak cinta, mengapa kau menderita setengah mampus karena kehilangan Hong Ing? Itu tandanya cinta, tahukah kau, sombong?"
Hatinya menjerit marah.
"Hemm, apa sih artinya, cinta? Aku memang kasihan kepadanya, aku berduka teringat akan nasibnya yang buruk. Apa salahnya itu?"
Suara di kepalanya melemah, namun masih membantah dan meragu.
"Kun Liong...!"
Terkejutlah dia.
Suara itu demikian jelas sekarang, diantara suara angin ribut.
Angin ribut?
Mimpikah dia tadi?
Kun Liong membuka matanya dan cepat menutupkannya kembali karena ada debu pasir menyerangnya.
Maklumlah dia bahwa sekali ini dia tidak mimpi.
Memang benar ada angin ribut mengamuk!
Dia cepat meloncat bangun, dengan kedua tangannya meraba batu karang lalu berjalan setengah merangkak memutari batu karang, berlindung di balik batu sehingga tidak terserang debu pasir lagi.
Dia membuka mata.
Gelap!
Kun Liong termangu-mangu.
Sudah malam?
Dia mengingat-ingat.
Tadi dia makan daging burung panggang ketika matahari telah naik tinggi, dan dia mulai merebahkan diri berlindung di balik batu karang setelah matahari mulai condong ke barat.
Dan sekarang sudah gelap!
Demikian lamakah dia tertidur?
Sampai setengah hari lebih!
Dan semua itu tadi hanya mimpi.
Termasuk suara orang memanggil namanya.
Seperti suara Hong Ing!
Hemm, tak mungkin suara Hong Ing yang sesungguhnya, kecuali hanya dalam mimpi.
Hong Ing sudah tewas.
Hal ini sudah jelas, karena dia sudah mencari di sekeliling pulau.
"Kun Liong...!"
Kun Liong terperanjat dan meloncat ke atas.
Itu suara Hong Ing!
Mungkinkah?
Bulu tengkuknya meremang.
Suara Hong Ing?
Tentu suara arwahnya!
Aduh kasihan Hong Ing...!
Kun Liong memandang ke kanan kiri, jantungnya berdegup aneh, tengkuknya terasa tebal.
Dia sudah siap untuk melihat roh dara itu memperlihatkan diri, seperti asap, seperti yang pernah didengarnya dalam cerita dongeng.
Apakah yang menjumpainya dalam mimpi tadi juga roh para gadis itu?
Dan memang Li Hwa sudah mati, juga Hong Ing, akan tetapi yang lain-lain bukankah masih hidup?
"Kun Liong...!
Ahh...
Kun Liong...!"
Suara itu merupakan jerit melengking, disusul rintihan dan isak tangis, lapat-lapat terdengar lalu lenyap lagi.
Datang terbawa angin!
Dari tengah pulau!
"Hong Ing...!"
Kun Liong meloncat.
Tidak peduli lagi akan kegelapan, dia berlari terus ke depan, ke arah suara tadi, ke arah tengah pulau, tidak peduli dia tersaruk-saruk, jatuh bangun beberapa kali.
Tidak peduli lagi apakah yang menjerit itu setan ataukah iblis.
Yang jelas, itu adalah suara Hong Ing!
Dan Hong Ing menangis!
Dia harus menolong Hong Ing, baik Hong Ing yang masih hidup atau Hong Ing yang sudah menjadi roh.
Jelas bahwa Hong Ing memanggilnya, membutuhkan pertolongannya.
"Hong Ing...!"
Dia berteriak-teriak memanggil ketika dia sudah berada di atas bukit, di dalam hutan yang kecil namun lebat itu, menghadapi guha-guha di batu karang yang membukit.
"Kun Liong...!"
Biarpun hatinya girang bukan main mengenal suara dara itu, namun meremang juga bulu tengkuk Kun Liong.
Suara setankah yang menirukan suara Hong Ing?
Atau roh gadis itu yang menjadi penasaran berkeliaran di pulau dan menemukan tempat tinggal di dalam guha itu?
"Hong Ing...!"
Dia memanggil lagi sambil melangkah mendekati guha.
"Kun Liong...!"
Kun Liong meloncat masuk.
Tidak peduli suara setan atau iblis, suara roh atau arwah, yang jelas itu adalah suara Hong Ing memanggilnya.
Dia masuk dan kakinya tersandung batu.
Dia terjatuh dan tangannya menyentuh benda lunak dan hangat, dan tiba-tiba dua buah lengan merangkulnya mendekap kepalanya dan di antara suara terengah-engah dan isak tangis, jelas terdengar suara Hong Ing.
"Kun Liong... ahhh, Kun Liong...!"
"Hong Ing...!"
Mereka saling berdekapan, lupa akan segala, yang ada hanya keharuan, kegembiraan.
"Hong Ing... kau... kau masih hidup...! Ya Tuhan, syukurlah...!"
"Kun Liong... ahhh, alangkah lamanya menantimu di sini. Sampai serak suaraku memanggil-manggilmu... kukira kau sudah mati... aku tidak mempunyai harapan lagi... kakiku terkilir, tak dapat berjalan, tubuhku nyeri semua, perutku lapar bukan main...!"
"Ya Tuhan...!"
Kun Liong kembali berseru dan air matanya turun bercucuran.
Untung di dalam gelap, kalau tidak tentu dia akan merasa malu kepada Hong Ing.
Dan teringat betapa dia memeluki tubuh itu, bahkan kalau tidak salah ingat dia tadi menciumi muka itu, mengecupi air mata yang asin itu, dia merasa malu dan cepat dia melepaskan rangkulannya.
"Hong Ing, kau suka... makan... daging burung laut?"
Biarpun keadaan gelap di situ, namun terasa oleh Kun Liong betapa Hong Ing terbelalak heran, dan dia girang sekali.
"Daging burung laut?"
Gadis itu bertanya, suaranya ragu-ragu seolah-olah dia sangsi apakah pemuda itu waras pikirannya.
"Ya, daging burung laut dipanggang! Aku telah makan daging itu siang tadi. Kalau kau suka, aku akan menangkap seekor untukmu."
Hong Ing menghela napas panjang, jelas terdengar oleh Kun Liong, mengingatkannya bahwa di luar guha angin ribut mengamuk.
Mengingatkannya betapa canggung dan lucu penawarannya tadi.
Malam gelap begitu, angin ribut pula, bagaimana mungkin menangkap seekor burung untuk Hong Ing?
Mengapa orang yang berada dalam kegirangan besar, seperti dalam kedukaan besar, bicaranya lalu menjadi kacau tidak karuan?
"Besok sajalah, Kun Liong.
Aku belum mati kelaparan, hanya kakiku...
aughh...!"
"Kakimu kenapa..."
Otomatis Kun Liong mengulurkan tangan meraba, akan tapi cepat ditariknya kembali karena di dalam gelap itu dia tidak dapat melihat dan tanpa disengaja, tangannya yang diulurkan tadi meraba daging yang gempal, meraba...
paha dara itu yang tidak tertutup pakaian!
"Maaf...
ah, Hong Ing.
Bagaimana kau dapat sampai di sini?
Dan bagaimana kakimu?
Bagaimana keadaanmu...?
Aihhh, terkutuk tempat begini gelap sehingga aku tidak dapat melihatmu!"
Tubuh dara itu menggigil.
"Mengapa tidak kau buat api unggun? Dingin benar malam ini..."
Kun Liong ingin menampar kepalanya sendiri yang gundul.
"Bodohnya aku!"
Makinya dan dia cepat merangkak keluar, mencari kayu dan daun kering.
Untung angin ribut tidak membawa hujan sehingga daun dan ranting kering yang banyak terdapat di depan guha tidak menjadi basah.
Dengan pengerahan tenaga, mudah saja dia membuat api dengan batu karang, dan tak lama kemudian, di dalam guha itu menyala seonggok api unggun yang terang dan indah.
Mereka kini dapat saling melihat.
Mereka duduk berhadapan dan saling pandang.
Sepasang mata dara itu bercucuran air mata, dan Kun Liong berusaha sekuat tenaganya untuk mencegah, air matanya turun dari pelupuk mata yang panas, bahkan dia berusaha untuk tersenyum, lalu berkata.
"Kita masih hidup..."
"Ahhh, Kun Liong... pakaianmu koyak-koyak..."
Suara Hong Ing lirih seperti orang merintih.
Kun Liong melihat kepada pakaiannya dan tersenyum, lalu memandang pakaian dara itu, menuding dan berkata.
"Pakaianmu sendiri pun tidak utuh, Hong Ing."
Biarpun pakaian dara itu tidak sehebat pakaiannya mengalami kerusakan, namun tak dapat dikatakan utuh, banyak bagian yang terobek lebar sampai paha dan pundaknya kelihatan.
"Dan tubuhmu... ahhh, babak belur dan lecet-lecet... Lihat dahimu itu, berdarah... dan lengan kirimu, ahhh... paha kananmu juga mengeluarkan darah sampai celanamu merah semua... Kun Liong...!"
Suara dara itu makin gemetar, pandang matanya penuh iba ditimpakan ke seluruh tubuh Kun Liong.
Kun Liong merasa betapa bulu tengkuknya berdiri, akan tetapi bukan meremang karena ngeri seperti tadi, melainkan karena terharu menyaksikan sikap Hong Ing dan mendengar suara dara itu.
"Hong Ing... kau sendiri pun babak bundas... ujung bibir kirimu pecah-pecah... pundakmu dan lenganmu... dan... dan bagaimanakah dengan kakimu?"
"Uhhh... kaki kiriku... agaknya terkilir di belakang mata kaki, tak dapat dipakai berjalan, digerakkan sedikit pun sakit."
"Coba kuperiksa... maaf..."
Kun Liong memegang kaki itu dan Hong Ing menggigit bibirnya menahan rasa nyeri.
Memang terkilir.
Agak hebat.
Membengkak di bagian mata kaki itu, dan biru kehitaman oleh darah yang terkumpul di dalamnya.
"Hong Ing, maukah engkau menahan sakit sedikit? Tulang kaki ini keseleo, tergeser dan harus segera dibetulkan kembali letaknya. Kalau tidak, akan lama sembuhnya dan mungkin menjadi cacat."
Hong Ing mengangguk dan memandang kepada Kun Liong yang kini menggunakan kedua tangannya memegang kaki itu.
Tangan kanan memegang bagian atas dan tangan kiri memegang bagian bawah.
"Siaplah, Hong Ing, sakit akan tetapi hanya sebentar."
Tiba-tiba dia membuat gerakan menarik dan terdengar suara "krekk..."
Dan teriakan Hong Ing yang merasa nyeri bukan main.
Perasaan nyeri yang sampai menusuk ke ulu hati rasanya, membuat seluruh tubuhnya menggigil dan keringat dingin membasahi dahinya, matanya terbelalak dan di atas pipinya yang pucat nampak air mata.
"Sudah baik letaknya sekarang. Harus dibalut erat-erat."
Kun Liong lalu merobek bajunya yang memang sudah koyak-koyak lalu membalut mata kaki itu dengen ketat.
Ketika dia selesai dan mengangkat muka, dia melihat betapa dara itu tadi menderita nyeri yang hebat, napasnya masih naik turun, bibirnya berdarah sedikit karena pecah digigitnya sendiri.
"Kasihan kau... Hong Ing..."
Kun Liong mendekat dan menggunakan tangannya menyapu keringat dari dahi yang halus itu.
"Terima kasih, Kun Liong... kau memang baik sekali."
"Hemm, dalam keadaan seperti ini tidak perlu memuji, Hong Ing. Yang ingin sekali kudengar adalah ceritamu bagaimana engkau bisa sampai di tempat ini. Kukira tadinya kau..."
"Mati? Memang aku lebih baik mati daripada hidup, bahkan sebelum bertemu dengan engkau aku mengharapkan kematian saja, Kun Liong."
"Mengapa?"
"Mengapa? Hemm... kau tidak tahu betapa ngeri rasa hatiku, betapa tidak berdaya sama sekali, seolah-olah menanti datangnya maut tanpa daya sedikit pun juga. Ketika kita diamuk badai dan agaknya perahu kita dihempaskan pada batu karang, aku tidak tahu apa-apa lagi..."
Hong Ing mulai bercerita, dan Kun Liong tentu saja maklum akan keadaan ini karena dia sendiri pun tidak ingat apa-apa lagi setelah itu, tahu-tahu dia berada di atas pasir pantai.
"Ketika aku siuman, aku berada di pantai, untung bahwa kepalaku berada di luar jangkauan air sehingga aku tidak mati tenggelam. Aku memanggil-manggilmu, keadaan gelap sekali malam itu, akan tetapi suaraku lenyap ditelan angin dan kau tidak menjawab. Aku menyeret kaki kiriku yang nyeri sekali ke darat, dan karena aku takut akan diserang binatang buas, aku terus merangkak sekuat tenaga sambil memanggil-manggilmu. Akhirnya aku berhasil masuk ke guha ini dan kembali aku tidak ingat apa-apa lagi. Setelah siuman untuk kedua kalinya, matahari telah naik tinggi. Kakiku tak dapat digerakkan, seluruh tubuh sakit, perut lapar sekali dan... dan... pada saat itu aku ingin mati saja, Kun Liong. Aku mengira bahwa engkau tentu telah mati! Aku sendiri tidak mampu bergerak. Tentu aku akan mati kelaparan. Betapa ngerinya. Maka aku lalu menangis sampai habis air mataku. Aku menjerit-jerit memanggil namamu, percuma saja. Malam tiba dan aku masih tetap menjerit dan menangis dan akhirnya... akhirnya... kau datang juga..."
Mata itu terbuka lebar, kembali dua titik air mata turun, gigi yang rapi dan putih itu menggigit bagian dalam dari bibir bawah, cuping hidungnya bergerak-gerak membayangkan keharuan hati.
"Aduh kasihan sekali kau, Hong Ing. Tahukah engkau betapa aku pun sudah putus harapan, mengira engkau tentu telah tewas ketika aku menemukan kain penutup kepalamu? Dan tahukah engkau betapa suara panggilanmu tadi terbawa dalam mimpi sehingga aku mengira bahwa rohmu yang memanggilku?"
Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya dan tentu saja dia tidak menyebut-nyebut tentang mimpinya dan tentang perbantahan antara pikiran dan hatinya.
Berkat rawatan Kun Liong yang penuh ketelitian, belasan hari kemudian sembuhlah kaki kiri Hong Ing yang terkilir.
Dia sudah dapat berjalan biarpun masih agak terpincang-pincang.
Mereka berdua kini berusaha untuk menyesuaikan diri di pulau kosong itu.
"Kalau pulau ini tidak memenuhi syarat untuk dijadikan tempat tinggal selama kita bersembunyi, kita mencari pulau lain,"
Demikian kata Kun Liong.
"Bagaimana cara mencarinya? Perahu peti mati itu sudah lenyap, pula aku merasa ngeri kalau harus masuk ke dalam perahu peti mati itu lagi."
Kun Liong tersenyum.
"Aku dapat membuat perahu dari batang pohon besar di rimba itu. Akan tetapi kalau ada bahan makanan lain di pulau ini, tidak perlu mencari pulau lain. Pulau ini cukup indah dan hawanya pun nyaman."
"Dan kita hidup di sini seperti orang-orang hutan? Seperti orang liar tak beradab?"
Kun Liong tersenyum memandang. Mereka saling berpandangan dan akhirnya keduanya tertawa geli.
"Engkau memang pantas menjadi seorang puteri hutan. Pakaianmu tidak karuan dan ringkas akan tetapi... pantas dan manis sekali. Kakimu tak bersepatu, dan rambutmu... hemmm.... rambutmu mulai tumbuh dengan suburnya, Hong Ing."
"Dan kau... kau memang seperti seorang manusia di jaman batu! Hanya memakai celana yang pantasnya disebut cawat, badan tanpa baju, kulit terbakar sinar matahari. Wah, kau kelihatan kuat dan sehat, Kun Liong. Dan kepalamu... hi-hik, bersih sekali sampai mengkilap!"
Kun Liong tersenyum lebar.
"Baru saja aku mandi dan kugosok dengan bunga karang. Segar sejuk rasanya."
Dia mengelus-elus kepala gundulnya.
Mereka duduk berteduh di dekat batu karang besar, berlindung dari sinar matahari yang sudah mulai naik tinggi.
Hong Ing memanggang daging ikan yang baru saja ditangkap oleh Kun Liong.
Selama belasan hari ini, mereka hanya makan daging ikan atau burung laut, dan mereka mulai rindu akan makanan sayuran.
Mereka hanya makan karena lapar saja.
Makan untuk perut, bukan untuk mulut.
Di tempat seperti itu, terasing dari dunia ramai, mereka tidak mungkin dapat memilih makanan yang enak.
Sehabis makan dan minum air tawar, mereka duduk dan memandang ke laut.
Dari pulau itu, tidak kelihatan pulau lain, apalagi daratan besar.
"Enak juga di sini, kita dapat makan setiap hari dan tidak khawatir akan pengejaran Pangeran Han Wi Ong."
Hong Ing menarik napas panjang.
"Sayang tidak ada pondok. Setiap malam aku merasa ngeri tidur di guha itu, takut kalau-kalau ada kalajengking atau kelabang, lebih-lebih ular... hiiih...!"
"Aku akan membuatkan pondok untukmu, Di mana baiknya?"
Wajah manis itu berseri.
"Benarkah, Kun Liong? Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu."
"Tidak sama sekali. Memang kita berdua membutuhkan pondok..."
"Dengan dua kamar..."
"Cukup satu saja, untukmu. Aku bisa tidur di mana saja..."
"Ah, kalau begitu aku tidak mau! Masa yang membuatnya tidur di mana saja? Kalau kau tidak membuat pondok dengan dua kamar, aku juga tidak mau tidur di situ."
Kun Liong tersenyum dan merasa geli hatinya.
"Lucunya kita ini. Pondok belum jadi, dimulai pembangunannya pun belum, kita sudah cekcok tentang jumlah kamarnya!"
Hong Ing teringat akan ini dan dia pun tertawa.
Ketawanya bebas dan diam-diam Kun Liong kagum dan terheran-heran.
Mengapa gadis yang pakaiannya tidak karuan, hanya sedikit kain menutupi dari atas buah dada sampai ke paha, tanpa sepatu, dengan rambut mulai tumbuh masih awut-awutan, mengapa gadis seperti ini kelihatan begini menarik?
Padahal, kalau dalam keadaan seperti itu Hong Ing berada di dalam kota yang ramai, tentu dia akan diikuti dan digoda oleh banyak anak kecil, dianggap seorang gila!
Akan tetapi baginya, pada saat itu tidak ada bidadari di kahyangan yang lebih cantik, lebih manis, lebih menarik dan lebih menggairahkan daripada Pek Hong Ing!
Mulailah Kun Liong membuat alat-alat untuk membangun pondok.
Alat-alat sederhana sekali dan tidak salah kalau Hong Ing membandingkan dia dengan seorang manusia dari jaman batu karena Kun Liong terpaksa membuat alat-alat dari batu karang!
Kapak, pisau, semua dari batu karang tajam!
Biarpun dengan sukar, namun akhirnya jadi juga sebuah pondok berdiri di belakang batu karang besar di tepi laut itu.
Sebuah pondok yang modelnya menurut kehendak Hong Ing.
Agak tinggi dari tanah, sebuah pondok panggung karena Hong Ing takut kalau-kalau ada ular memasuki pondok dan kamarnya.
Di depannya dipasangi anak tangga, atapnya dari daun, dindingnya dari bambu.
Pintunya dua, di depan dan belakang, kamar Hong Ing di depan, ada jendelanya yang menghadap ke laut!
Kamar Kun Liong di belakang.
Selain pondok itu, juga Kun Liong membuat perabot rumahnya.
Sebuah dipan kayu untuk Hong Ing, berikut sebuah bangku kayu, dan sebuah dipan bambu untuknya sendiri.
Sebuah meja dan dua bangkunya di depan kamar.
Tong-tong tempat air tawar.
Pada malam pertama mereka pindah ke pondok, kebetulan malam terang bulan.
Hampir dua bulan Kun Liong membuat pondok itu, dibantu oleh Hong Ing yang menganyam dinding dan atap.
Mereka berdua setelah makan malam, duduk di luar pondok, di atas pasir yang bersih dan putih tertimpa sinar bulan purnama.
Hong Ing menarik napas panjang, menggunakan sebuah sisir bambu buatan Kun Liong menyisiri rambutnya yang sudah ada sejari panjangnya.
"Hemm, alangkah senangnya. Kita sudah punya rumah! Baru aku merasa sebagai manusia, bukan seperti binatang yang bersarang di dalam guha kotor!"
Kun Liong menoleh dan memandang wajah dara itu.
Kebetulan sinar bulan menimpa wajah itu sepenuhnya, membuat wajah dara itu kelihatan seperti disepuh emas, cemerlang dan indah sekali.
Senyum di bibir yang manis itu kelihatan amat indahnya, indah dan halus seperti sajak sasterawan di jaman dahulu.
Kun Liong terpesona!
Ketika Hong Ing melirik, pandang mata mereka bertemu dan dara itu memperlebar senyumnya.
Kun Liong gelagapan karena senyum dan pandang mata dara itu membuat dia merasa seperti seorang maling tertangkap basah!
Cepat dia menutupi kecanggungannya dengan pertanyaan.
"Benar-benarkah kau merasa senang, Hong Ing?"
Dara itu menunda sisirnya dan memandang wajah Kun Liong, senyumnya masih cerah dan dia mengangguk.
"Senang sekali. Engkau pandai sekali, Kun Liong. Apakah tidak ada yang tak dapat kau lakukan? Apa saja engkau bisa! Ilmu silatmu tinggi, kau pandai kesusastraan. Bahkan pandai berfilsafat. Bisa mengobati kakiku, pandai menghibur dan sekarang kau malah menjadi tukang kayu, tukang batu, pembuat sisir, penangkap ikan dan burung, pemasak daging... wah, apa yang kau tidak bisa?"
Merah wajah Kun Liong saking senangnya dengan pujian ini.
Dia menunduk dan sambil tersenyum dia berkata.
"Aahh, kau melebih-lebihkannya saja. Sebuah pondok butut seperti ini..."
"Tapi kokoh kuat... bukan, Kun Liong?"
"Ya, cukup kuat. Tak usah kau khawatir. Ular dan segala binatang takkan dapat masuk. Pula, di sini tidak ada binatang buasnya."
"Kau memang pandai dan rendah hati..."
Kun Liong senang sekali, kepalanya menunduk.
Hong Ing tidak bicara lagi, dan ketika diam-diam dia mengerling, dara itu tidak memandangnya, melainkan sedang sibuk menyisir rambutnya dan memandang ke arah bulan purnama.
Betapa indahnya gerakan itu menyisir rambut!
Kepalanya agak dimiringkan sehingga separuh mukanya tertimpa cahaya bulan.
Sepasang matanya kelihatan berkilauan dan memantulkan sinar bulan yang redup dan sejuk.
Bibirnya bergerak-gerak, kadang-kadang mulut yang manis itu agak terbuka menahan rasa perih ketika sisirnya macet pada rambut yang lengket.
Rambut itu biarpun baru sejari panjangnya, sudah kelihatan berombak, maka seringkali sisirnya macet.
Dengan tangan kanan memegang sisir dan tangan kiri menata rambut, dara itu mengangkat kedua lengannya sehingga tampaklah sedikit bulu halus di ketiaknya yang tidak tertutup.
Kun Liong terpesona.
Betapa hebatnya daya tarik seorang wanita kalau sedang bersolek!
Dan Hong Ing adalah seorang wanita yang luar biasa, memiliki kecantikan yang khas dan aneh.
Apalagi kini hanya mengenakan pakaian yang tidak lengkap itu.
Aku cinta padanya!
Kun Liong terkejut sendiri.
Bodoh, bantah suara lain di kepalanya yang gundul.
Kau hanya menganggap saja ini cinta, padahal tak lain tak bukan hanya perasaan tertarik oleh keindahan bentuk tubuh yang bulat itu, kecantikan wajah yang sudah dipercantik lagi oleh cahaya bulan purnama, dan suasana yang sunyi di mana hanya ada mereka berdua!
Bukan!
Bukan cinta!
Dia tidak akan dapat mencinta seorang yang bagaimana pun, karena dia tahu bahwa cintanya itu dikotori oleh keinginan memiliki, keinginan membelai dan merayu, keinginan yang terdorong nafsu birahi!
Tidak!
Dia tidak mencinta, hanya memang dia suka, bahkan tergila-gila oleh kecantikan Hong Ing.
Sama saja dengan rasa sukanya kepada dara-dara yang lain, termasuk Lim Hwi Sian yang bahkan sudah menyerahkan badannya kepadanya.
Hwi Sian telah menyerahkan tubuhnya kepadanya karena mencintanya, kata data itu!
Dan bagaimana dengan Hong Ing?
Hong Ing telah merasa berhutang budi kepadanya, dan mereka hanya tinggal menyendiri di pulau kosong ini, dengan pakaian yang begitu minim!
Bagaimana kalau mereka berdua terseret oleh godaan nafsu birahi?
"Tidak boleh!"
Hong Ing terkejut sekali, sisirnya hampir terlepas ketika tiba-tiba Kun Liong menampar kepala gundulnya sendiri!
Kun Liong sendiri terkejut dan baru sadar bahwa dia tadi menjadi begitu gemas kepada dirinya sendiri sampai dia menampar kepalanya!
"Eh, ada apakah?"
Tentu saja wajah pemuda itu menjadi merah sekali, merah sampai ke kepalanya bukan hanya merah karena tamparannya.
"Ehh... ohh... tidak apa-apa, aku hanya termenung..." (Lanjut ke
Jilid 37) Petualang Asmara (Seri ke 02 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37
"Mengapa termenung sambil menampar kepala sendiri?"
"Eh... anu... tadi ada seekor nyamuk menggigit kepalaku..."
Kun Liong menggosok-gosok telapak tangannya seolah-olah ada nyamuk mati mengotori tangan itu.
"Hi-hik, kau memang aneh. Mengapa ada nyamuk diajak bicara dan kau membentak tidak boleh? Lucu sekali!"
"Aku tidak ingat lagi mungkin karena termenung tadi..."
Kembali terdengar dara itu terkekeh geli.
Hemm, dia mulai menertawakan aku.
Aku Si Kepala Gundul ini, pemuda miskin, yatim piatu, mana ada harganya bagi seorang dara seperti Hong Ing?
Bayangkan saja!
Seorang pangeran gagah tampan, putera seorang Kaisar yang tentu saja kaya raya masih ditolak Hong Ing!
Apalagi dia!
Seperti seekor anjing merindukan kelinci di bulan!
"Kun Liong, kau jangan suka melamun seperti itu.
Orang melamun, bicara sendiri, memukul kepala sendiri hemmm, seperti orang tidak waras saja..."
Ah, dia mulai mengatakan aku tidak waras, sama dengan memaki gila!
"Memang, kadang-kadang aku seperti gila, Hong Ing."
Hong Ing memandang wajah Kun Liong cepat-cepat, agaknya dapat menangkap nada marah dalam ucapan pemuda itu, alisnya diangkat tinggi-tinggi dan matanya menyapu penuh selidik.
Akan tetapi Kun Liong sudah menunduk dan tidak bicara lagi.
Dia tidak melihat betapa dara itu tersenyum geli melihat dia menunduk dengan wajah bersungut-sungut, mulut cemberut.
Hening sampai agak lama.
Kadang-kadang kalau Kun Liong mencuri pandang dengan kerling sekilat, dia melihat dara itu masih bersila dan menengadah, memandang ke bulan.
Rasa mendongkol di hati Kun Liong tak dapat bertahan lama.
Mana mungkin dia dapat marah lama-lama kepada seorang dara yang kelihatan begitu tidak berdaya, yang mengalami penderitaan seperi itu dan amat membutuhkan perlindungan?
Tidak mungkin dia bisa sekejam itu.
Heran dia.
Mengapa Hong Ing memilih menjadi nikouw, bahkan kini memilih menjadi seorang buruan yang terlunta-lunta, daripada menjadi isteri seorang pangeran yang kaya raya dan berkuasa?
Mengapa memilih hidup sengsara kalau kehidupan mulia terbentang di depan kakinya?
Tiba-tiba dia teringat.
Sebetulnya dia belumlah mengenal gadis ini sungguh-sungguh, dan dia mengerti dan mengenalnya hanya menurut cerita gadis itu sendiri.
Hong Ing adalah murid Go-bi Sin-kouw, seorang tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.
Siapa tahu isi hati gadis itu?
Kakak seperguruan gadis ini, nona Lauw Kim In, menurut cerita Hong Ing, juga mau diambil kekasih oleh seorang pemuda iblis macam Ouwyang Bouw!
Siapa tahu, gadis ini mendekatinya karena memang ada pamrih sesuatu.
Bokor itu!
Semua tokoh kang-ouw agaknya menduga keras bahwa dialah yang menyembunyikan bokor emas asli, pusaka Panglima The Hoo yang diperebutkan itu!
Dia mengerling lagi, dan melihat bahwa Hong Ing sudah berhenti menyisir rambutnya.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 9
Baca Juga: Mutiara Hitam 7