Eps 9 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Dari tempat itu mereka memperhatikan orang orang yang hilir-mudik di sekitar mereka.
"Apakah yang Lo-Cianpwe cari?"
Souw Lian Cu bertanya.
"Lebih baik kita berhati-hati di sini. Kulihat banyak orang yang mencurigakan berkeliaran di tempat yang sepi ini. Siapa tahu ada orang yang telah mengenal kita?"
"Apakah kita tidak langsung saja menuju ke Pantai Karang sekarang?"
Souw Lian Cu bertanya.
"Tentu! Tapi kita mesti melalui orang-orang itu pula, bukan? Tiada jalan lain selain menerobos dusun ini bila kita mau menuju ke Pantai Karang itu. Sebelah timur dusun ini adalah rawa-rawa, sementara sebelah barat adalah bukit-bukit terjal yang sukar dilalui. Jika kita mengambil jalan dengan cara mengendap-endap di pinggiran dusun, kita justru akan dicurigai orang. Siapa tahu kita malahan berjumpa dengan seorang tokoh sakti di sana?"
"Jadi...?"
"Kita menyeberangi jalan dusun ini...!"
Pek-i Liong-ong menjawab tegas.
Kemudian mereka bertiga keluar dari tempat gelap itu dan berjalan perlahan ke Jalan besar yang membelah dusun kecil itu.
Dengan sikap yang wajar, seolah-olah mereka bertiga adalah rombongan pedagang yang sedang kemalaman di jalan dan kini bermaksud singgah untuk mencari penginapan di dusun itu.
Mereka melangkah di antara orang-orang yang hilir mudik di jalan tersebut.
Mereka sengaja melewati tempat-tempat yang agak gelap dan tidak mendapatkan sinar secara langsung dari pintu dan jendela warung yang terbuka.Sementara itu secara diam-diam mereka mengawasi orang orang yang sedang makan minum di dalam warung serta orang-orang yang hilir mudik dan berpapasan dengan mereka di jalan.
Meskipun diantara orang-orang yang mereka jumpai itu tidak ada yang terasa aneh atau mencurigakan tapi Pek-i Liong-ong percaya bahwa tentu ada seorang atau dua orang diantara orang-orang itu yang mempunyai tujuan yang sama dengan mereka, yaitu pergi ke Pantai Karang.
"Kelihatannya seperti tidak ada apa-apa tapi bila kita rasakan dengan sungguh-sungguh, kita akan merasakan sesuatu yang aneh dan menegangkan menyelubungi dusun ini...Lihatlah orang-orang yang duduk makan minum di dalam warung itu!"
Pek-i Iiong-ong menunjuk ke sebuah warung di pinggir jalan.
"Kelihatannya mereka makan dan minum dengan wajar. Tapi bila kita perhatikan benar benar, kalian akan menemukan seorang atau dua orang yang selalu melirik ke sana ke mari, seolah-olah sedang mencari sesuatu. Misalkan orang yang berbaju kuning dan biru itu..."
Chu Seng Kun dan Souw Lian Cu cepat memperhatikan dengan seksama dua orang yang ditunjuk oleh Pek-i Liongong itu.
Dua orang itu tampak tegap dan gagah, gerak geriknya juga sangat tenang dan berwibawa.
Mereka duduk terpisah agak jauh, meskipun begitu mereka sering tampak memberi isyarat atau saling berkedip satu sama lain.
"Ah! Lo-Cianpwe, aku mengenal dua orang itu!"
Tiba-tiba Chu Seng Kun berseru tertahan.
"Siapakah mereka?"
Ketua Aliran Mo-kauw itu tertegun.
"Mereka adalah anggota barisan Sha-cap-si-wi (Tiga puluh Pengawal Rahasia Kerajaan)!"
"Anggota Sha-cap-si-wi yang amat terkenal dan sangat dibangga-banggakan oleh Kaisar Han itu?"
"Benar. Aku pernah mengenal dua orang itu ketika pada suatu hari aku berjumpa dengan Kaisar Han. Kedua orang itu malah pernah diperbantukan padaku ketika Kaisar Han berusaha membantu aku untuk mencari adikku."
"Hmmmm...Ialu apa maksudnya kedua orang itu di sini? Apakah Kaisar Han juga telah mencium berita tentang harta karun itu? Rasanya mustahil..."
Pek-i Liong-ong mengerutkan keningnya.
"Mungkin Kaisar Han memang telah mendengar juga tentang hal itu. Tetapi mungkin juga belum!"
Chu Seng Kun menyatakan pendapatnya.
"Setahun yang lalu Kaisar Han telah menyebar tiga puluh orang pengikut pilihan itu ke seluruh negeri untuk mencari Cap Kerajaan yang hilang...Hanya persoalannya sekarang adalah...apakah kedatangan dua orang ini kemari dalam rangka mencari Cap Kerajaan itu atau bukan?"
Mereka berbincang sambil berjalan.
Tapi kini mereka harus semakin berhati-hati, karena di dusun itu ternyata berkumpul jago-jago silat dari kerajaan pula.
Mereka berjalan dengan hati-hati di tempat-tempat yang gelap yang jauh dari sinar lampu.
Tiba-tiba Souw Lian Cu menggamit lengan Pek-i Liong-ong dan Chu Seng Kun.
Gadis itu lalu mengangkat jari telunjuknya ke arah bangunan yang mirip dengan kandang kuda di dekat warung yang paling ujung.
"Lo-Cianpwe, lihat...! Bukankah dia orang yang bernama Liok Cwan tadi?"
"Mana? Oh, benar...! Sedang berbicara dengan siapa dia?"
Sambil memperlambat langkah kaki mereka melirik ke arah Liok Cwan.
Tampak oleh mereka Liok Cwan sedang berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki berbadan tinggi gemuk di emper sebuah kandang kuda yang tak jauh letaknya dari jalan.
Sebuah lampu teng yang tergantung di depan pintu kandang menerangi wajah kedua orang itu.
Keduanya tampak asyik berbicara dengan serius, kelihatannya sedang membicarakan persoalan yang amat penting.
"Hei, bukankah orang itu...?"
Pek-i Liong-ong dan Chu Seng Kun berdesah berbareng sehingga mereka saling memandang satu sama lain dan tidak meneruskan perkataannya.
"Hah? Siapa...?"
Souw Lian Cu memandang kedua orang temannya itu berganti-ganti.
"Dia adalah salah seorang dari dua orang mencurigakan yang telah kuikuti jejaknya itu."
"Hei?! Jadi orang itu adalah kawan dari Hek-eng-cu? Hmm, kalau begitu Liok Cwan itu juga salah seorang kawan dari Hek-eng-cu pula...Wah, kita tadi terkecoh jadinya! Setengah harian dia berperahu dengan kita, kita sampai tidak menyadarinya. Padahal kita tadi membicarakan persoalan Hek-eng-cu seenak kita sendiri..."
Souw Lian Cu menggerutu.
"Benar! Kita memang kurang berhati-hati tadi. Kita terlalu meremehkan orang yang sebenarnya wajib kita curigai. Awal pertemuan kita yang sangat aneh itu seharusnya telah membuat kita berwaspada terhadap dia. Tapi...sudahlah! Semuanya telah terlanjur. Hanya kini kita tidak bisa enak enakan lagi, karena orang yang akan kita jumpai tentu telah tahu akan kedatangan kita. Mungkin mereka akan menyambut kita secara meriah atau mungkin juga malah tidak menyambut sama sekali! Mungkin mereka tidak akan menampakkan diri karena tidak ingin rahasia mereka diketahui orang lain."
Pek-i Liong-ong bergegas menyelinap meneruskan langkahnya, diikuti oleh Chu Seng Kun dan Souw Lian Cu. Mereka melangkah dengan cepat, sehingga sebentar kemudian mereka telah keluar dari dusun itu.
"Marilah kita mengerahkan ginkang kita, agar kita lekas-lekas meninggalkan tempat ini! Kawan-kawan Hek-eng-cu yang berada disini tentu akan berusaha mencari kita."
Pek-l Liong-ong menjejakkan kakinya ke tanah dan sekejap kemudian tubuhnya telah melesat ke depan dengan cepat sekali!
Chu Seng Kun mengikuti pula tidak kalah gesitnya.
Tubuhnya yang jangkung itu 'terbang"
Di belakang Pek-i Liongong seperti bayang-bayang saja.
Sebagai ahli waris ilmu Pek-in Ginkang, mereka berdua dapat bergerak cepat seperti kilat.
Hanya tingkatan ilmu mereka saja yang berbeda, Pek-i Liongong sebagai ahli waris langsung dan Bu-eng Sin-yok-ong tampak lebih matang dan lebih sempurna dari pada Chu Seng Kun.
Kedua orang itu melesat pergi meninggalkan Souw Lian Cu begitu saja, karena agaknya mereka telah yakin bahwa gadis itu akan dapat berlari cepat pula seperti mereka.
Sebagai keturunan keluarga Souw, Souw Lian Cu tentulah mempunyai ginkang yang hebat juga, meskipun belum sehebat dan setinggi ayahnya tentunya.
Memang benar juga.
Karena dua orang kawannya telah melesat meninggalkan dirinya, Souw Lian Cu terpaksa mengerahkan pula ilmu meringankan tubuhnya agar dapat mengejar mereka.
Bagaikan seekor kijang berlari kaki gadis itu menjejak tanah dan berloncatan cepat sekali menerobos semak belukar meninggalkan dusun kecil tersebut.
Biarpun tidak bisa mengejar Pek-i Liong-ong dan Chu Seng Kun, tetapi setidaknya dia juga tidak akan tertinggal jauh.
Demikianlah, mereka bertiga berlari cepat sekali menuju ke Pantai Karang yang letaknya sudah tidak begitu jauh lagi dari tempat itu.
Mereka berlari di antara semak-semak belukar, rumput-rumput ilalang dan batu-batu karang yang bertonjolan di tepi pantai.
"Lihat, kita sudah hampir tiba di Pantai Karang! Pukul berapa sekarang?"
Pek-i Liongong menoleh sambil memperlambat langkah kakinya.
"Sudah hampir tengah malam. Kita masih mempunyai sedikit waktu lagi untuk melihat-lihat suasana di tempat itu""
Chu Seng Kun menjawab.
"Dimanakah Souw Lian Cu?"
"Dia masih berada di belakang!"
Chu Seng Kun mengarahkan ibu jari tangannya ke belakang melalui pundaknya. Pek-i Liong ong menghentikan larinya, kemudian menoleh ke belakang.
"Hebat juga ginkang gadis itu...!"
"Tentu saja, seekor singa tak mungkin beranakkan kambing! Souw Thian Hai demikian saktinya, masakan anaknya tidak bisa apa-apa?"
Chu Seng Kun berhenti berlari pula dan berdiri di depan Pek-i Liong-ong.
"Kau benar, Seng kun..."
Sebentar kemudian Souw Lian Cu telah datang, napasnya terengah-engah.
"Wah, kalian ini sungguh kejam! Masakan aku ditinggalkan begitu saja..."
Gadis itu menggerutu dengan bibir cemberut. Pek-i Liong-ong datang menghampiri Souw Lian Cu dan menepuk-nepuk pundak gadis itu.
"Sudahlah, kau jangan marah! Bukankah kita sedang mengejar waktu tadi? Sekarang kita dapat berjalan bersama-sama lagi"
Lihat, kita telah sampai di Pantai Karang!"
Orang tua itu menunjuk ke bawah lereng, di mana air laut menjilat pantai.
"Oh? Tapi"
Tapi dimanakah adanya batu-batu karang yang berbentuk aneh itu?"
Tiba-tiba Souw Lian Cu berseru perlahan.
"Hah? Hei, Lian Cu...kau benar! Di manakah batu-batu itu?"
Pek-i Liong-ong tersentak kaget pula seperti orang yang baru dibangunkan dari tidurnya.
"Oh, iya! Kemana larinya batu-batu itu? Dan...Eh, kenapa pula angin laut ini bertiup demikian kuatnya?"
Chu Seng Kun ikut berseru heran juga.
Seperti diketahui bahwa pantai tempat penyeberangan ke Pulau Meng-to itu disebut orang dengan nama Pantai Karang, karena di pantai itu berserakan batu-batu karang besar yang mempunyai bentuk aneh-aneh.
Ada yang seperti seekor naga sedang mengangakan mulutnya, ada yang menyerupai manusia sedang berkelahi, dan ada juga yang mirip seekor binatang ki-lin, yaitu seekor binatang yang sangat disenangi dan dipuja oleh sebagian penduduk negeri itu.
Tapi sekarang batu-batu tersebut tidak ada di sana, semuanya hilang lenyap tak berbekas.
Kini yang terlihat justeru gelombang air yang bergulung-gulung menggelora menghajar pantai.
Buih air yang berwarna putih tampak pula memenuhi pinggiran pantai yang menjorok ke tengah laut itu.
Sementara hembusan angin laut yang amat kuat tampak menerbangkan butiran-butiran air yang memercik ketika gulungan ombak menghempas tebing karang!
"Seng Kun, kau lihatlah!
Agaknya sekarang memang sedang terjadi air pasang di sini"!"
Pek-i Liong ong berkata sedikit lebih keras, karena tiupan angin mulai bergemuruh menulikan telinga mereka.
"Hmm, kelihatannya malah akan terjadi badai laut di sini."
Chu Seng Kun berseru pula sambil mengusap mukanya yang mulai basah pula oleh hembusan angin yang mengandung air.
Pek-i Liong-ong menengadahkan kepalanya dan menatap awan hitam yang bergumpal-gumpal menutupi bintang.
Kemudian sambil menghela napas dalam-dalam orang tua itu mengawasi pantai yang sunyi sepi itu.
"Dugaanmu agaknya memang benar. Sebentar lagi mungkin akan terjadi badai laut yang dahsyat. Hmmm, lalu...bagaimana dengan pertemuan itu, ya...?"
Pek-i Liongong berkata.
"Entahlah! Tempat ini kelihatannya sepi benar..."
Chu Seng Kun menoleh kesana kemari.
"Yaa"
Kelihatannya memang sepi, tapi keadaan yang sebenarnya kukira tidak demikian halnya.
Aku berani bertaruh di sini tentu telah banyak orang yang bersembunyi dan menantikan saat keluarnya atau saat diketemukannya harta karun itu.
Aku yakin diantara semak-semak dan batu-batu karang itu tentu ada orangnya."
Pek-i Liong-ong bergumam pula sambil menebarkan pandangannya, ke lereng tebing yang berada di bawah mereka.
Chu Seng Kun menatap ketua Aliran Mo-kauw itu sebentar kemudian mengangguk-angguk.
Dalam hatinya pemuda itu membenarkan kata-kata orang tua tersebut.
"Lalu...apa yang mesti kita perbuat, Lo-Cianpwe?"
Tanyanya perlahan, sehingga hampir saja suaranya hilang tersapu angin laut yang bertiup amat kencang itu.
"Ya...tentu saja kita harus menunggu keluarnya orang yang akan kita cari itu."
Orang tua itu menjawab.
"Marilah kita mencari tempat persembunyian yang enak!"
"Mari. Eh, nona Souw...marilah kita beristirahat dahulu!"
Chu Seng Kun mengajak Souw Lian Cu yang sedari tadi cuma diam saja tak berkata-kata. Gadis itu kelihatan terkejut.
"Apa? Oh, anu...ya,...ya...marilah!"
Katanya tergagap, sehingga Chu Seng Kun yang melihatnya menjadi tersenyum.
"Ah, engkau melamun...nona,"
Pemuda itu berkata sambil melangkah mengikuti ketua Mo-kauw.
"Oh! Tidak...tidak!"
Gadis itu tersipu-sipu malu.
Pek-i Liong-ong berjalan ke samping kiri di mana terdapat banyak batu-batu karang besar yang berserakan diantara semak-semak perdu yang lebat.
Ternyata orang tua itu tidak menuruni lereng tebing yang luas itu.
"Kita tak usah turun mendekati pantai. Biarlah kita di atas sini saja. Dengan berada di atas kita bisa melihat dengan bebas ke lereng dan ke pantai. Setiap orang yang muncul di tempat itu akan segera kita ketahui."
Akhirnya ketiga orang itu memilih duduk berdesakan di celah sebuah batu karang besar yang berlobang besar di tengah-tengahnya.
Pek-i Liong-ong duduk bersila di tengah, sementara Chu Seng Kun dan Souw Lian Cu duduk di kanan kirinya.
Mereka duduk diam tanpa mengeluarkan ucapan sepatah katapun, mereka menatap lereng tebing di depan mereka dengan sikap tegang.
Rasanya waktu berjalan dengan lambat sekali.
Rasanya kaki Souw Lian Cu sudah mulai kesemutan, tapi suasana di tempat itu masih tetap sepi dan sunyi.
Mereka tak melihat sesosok bayangan pun yang muncul atau melintasi lereng di depan mereka.
Sejak tadi mereka cuma melihat bayang bayang hitam dari semak-semak kecil atau batu-batu karang yang bertebaran di lereng nun luas itu.
"Jam berapa sekarang...?"
Pek-i Liong-ong yang sudah mulai tidak sabar itu menoleh kepada Chu Seng Kun.
"Sudah lewat tengah malam,..."
"Heran! Apakah orang-orang itu tidak jadi kemari? Kakiku rasanya sudah kesemutan..."
Orang tua itu mengeluh sambil melirik Souw Lian Cu.
"Bagaimana, nona...?"
Souw Lian Cu seperti tak mendengar pertanyaan itu.
Gadis itu sudah mulai melamun lagi.
Wajahnya yang ayu itu tampak menatap dengan tegang dan gelisah ke tengah-tengah lautan.
Hati dan pikirannya telah dipenuhi lagi dengan bayangan Kehsim Siauwhiap, seorang lelaki pemurung yang mengasingkan diri di Meng-to karena cintanya yang gagal.
"Nona Souw..."
Chu Seng Kun memanggil pula dengan suara perlahan.
Souw Lian Cu tetap tak bereaksi sedikitpun.
Wajah itu malah tampak semakin sendu sehingga Pek-i Liong-ong dan Chu Seng Kun saling memandang dengan heran.
Apalagi ketika wajah yang semula sendu itu tiba-tiba berubah menjadi berseri-seri gembira.
Mata yang bening indah itu menatap dengan suka-cita ke tengah-tengah lautan, seolah-olah gadis itu menemukan kekasihnya di sana.
"Dia...dia datang...! Oh, dia benar-benar datang..."
Gadis itu mendadak berbisik dengan gembira.
Pek-i Liong-ong menoleh kepada Chu Seng Kun dengan kening berkerut, begitu pula dengan pemuda itu!
Chu Seng Kun menatap ketua Aliran Mo-kauw tersebut dengan wajah tak mengerti!
Tapi keduanya secara otomatis lalu menoleh ke atas ke tengah laut, mengikuti arah pandangan Souw Lian Cu.
Dan...tiba-tiba mata mereka menjadi terbelalak!
"Hah?!?
Lo-Cianpwe"
Lihat! Ada orang datang dengan meluncur di atas ombak...!"
Chu Seng Kun berseru perlahan, jarinya menunjuk ke tengah laut, ke arah bayangan hitam yang meluncur di atas permukaan air.
Pek-i Liong-ong mengangguk-angguk.
Orang tua itu juga melihat sesosok bayangan hitam yang berjalan cepat di atas permukaan air yang bergelombang besar.
Bayangan yang tidak begitu jelas dalam keremangan malam itu tampak timbul tenggelam dipermainkan ombak.
Mantel lebar yang membelit pundaknya berkibar ke belakang ditiup angin, sehingga sepintas lalu seperti sebuah perahu yang sedang memasang layer.
"Hek-eng-cu"!"
Ketua Aliran Mo-kauw itu berbisik.
"Keh-sim Siauwhiap...!"
Souw Lian Cu berbisik pula di dalam hatinya.
Ternyata jalan pikiran mereka berbeda.
Souw Lian Cu yang sedang terbelenggu oleh bayangan pendekar Pulau Meng-to itu menganggap bayangan yang meluncur di atas permukaan air laut tersebut adalah Keh-sim Siauwhiap.
Sedangkan Pek-i Liong ong dan Chu Seng Kun yang sejak semula memang ingin menemui Hek-eng-cu di situ, segera mengira bahwa bayangan tersebut tentulah orang yang mereka cari-cari itu.
Bayangan itu meluncur datang semakin dekat, sehingga caranya meluncur di atas permukaan air itu terlihat dengan jelas.
Di bawah sepasang sepatunya tampak terikat sepotong bambu sepanjang satu setengah atau dua meter.
Sekali sekali potongan bambu itu tampak mencuat di atas permukaan air.
Orang itu memakai pakaian hitam-hitam dan mantel berwarna hitam pula.
Kepalanya tertutup sebuah topi lebar terbuat dari bambu hitam yang halus anyamannya.
Dan dari jauh wajahnya tidak begitu jelas terlihat, apalagi dari pinggiran topinya terjuntai lembaran sutera tipis yang menutupi seluruh wajah orang itu.
Bayangan hitam yang tidak lain memang Hek-eng-cu itu mulai memasuki perairan Pantai Karang.
Dan sebelum tubuhnya yang ringan bagai kapas itu meloncat ke daratan, dari dalam mulutnya terdengar suara siulan nyaring yang melengking mengatasi gemuruhnya ombak dan angin yang berkecamuk di tempat itu.
"Suuuiiiiiitt...!"
Tiba-tiba suasana lereng tebing yang semula amat sepi dan sunyi itu kini seperti berubah menjadi hidup.
Siulan-siulan kecil terdengar bersahut sahutan di antara semak-semak belukar yang tumbuh pada lereng yang landai itu meskipun suara itu terdengar amat perlahan sekali.
Sementara suara-suara binatang-binatang kecil, seperti cengkerik, belalang dan serangga-serangga malam lainnya, mendadak juga terdengar bersahut-sahutan pula.
"Dengarlah, suara-suara itu sangat mencurigakan sekali, bukan? Lohu berani bertaruh suara-suara itu bukanlah suara-suara binatang yang sesungguhnya..."
Pek-i Liong-ong berbisik kepada Chu Seng Kun.
"Maksud Lo-Cianpwe...?"
"ini adalah suara-suara orang yang sejak tadi telah menunggu di tempat ini. Mereka memberi isyarat kepada teman-temannya..."
Hek-eng-cu meloncat tinggi ke atas untuk melepaskan diri dari permukaan air yang mulai mengusap bibir pantai.
Orang itu lalu berjumpalitan di udara untuk mematahkan daya lontar dari arus ombak, sekalian melepaskan potongan bambu yang terikat di bawah sepatunya.
Kemudian dengan ringan sekali tubuhnya mendarat di atas sebongkah batu karang yang tersembul dari dalam tanah.
Gerakan-gerakannya ketika meloncat, kemudian berjumpalitan sambil melepas potongan bambu, lalu mendaratkan kaki di batu karang, benar-benar sangat cepat, tangkas dan lincah!
Begitu hebatnya ilmu meringankan tubuh orang itu sehingga jago-jago ginkang seperti Pek-i Liong-ong dan Chu Seng kun itupun masih tetap ternganga kagum melihatnya.
"Bu-eng Hwe-teng...ilmu warisan mendiang Si Raja Kelelawar!"
Pek-i Liong-ong menghela napas.
"Ya! Sungguh mengherankan sekali, dari mana orang itu memperoleh ilmu sakti tersebut? Mungkinkah orang itu memang keturunan dari mendiang Bit-bo-ong?"
Chu Seng Kun termangu-mangu pula.
Sebenarnya, melihat musuhnya telah muncul, rasanya Chu Seng Kun sudah tidak dapat menahan lagi kemarahannya.
Tetapi oleh karena pemuda itu tahu bahwa Hek-eng-cu sebentar lagi akan dikelilingi oleh para pembantunya, maka kemarahannya itu terpaksa dipadamnya untuk sementara.
Apalagi pemuda itu menyadari bahwa kepandaiannya masih belum bisa disejajarkan dengan lawannya itu.
Kali ini ia hanya dapat mengandalkan pada bantuan Pek-i Liong-ong, yang sebenarnya masih terhitung susiok-couwnya sendiri.
"Bagaimanakah Lo-Cianpwe...? Apakah kita akan menemui orang itu sekarang?"
Chu Seng Kun menatap ke arah Pek-i Liong-ong.
"Marilah...!"
Orang tua itu mengangguk. Tapi sebelum mereka beranjak dari tempat persembunyian itu, tiba-tiba dari arah selatan berkelebat sesosok bayangan yang berlari menuju ke tempat di mana Hek-eng-cu berada.
"Eit, sebentar...! Ada orang datang..."
Pek-i Liong-ong menahan lengan Chu Seng Kun.
"Ah, bukankah dia pembantu Hek-eng-cu yang tadi kasak kusuk dengan Liok Cwan?"
Chu Seng Kun berbisik dengan dahi berkerut.
Bayangan bertubuh tinggi besar dan berbulu lebat itu memang tidak lain adalah Wan lt, tangan kanan Hek-eng-cu yang terpercaya.
Orang yang berkepandaian sangat tinggi itu melesat datang di bawah batu karang tempat di mana Hek-eng-cu berpijak, dan memberi hormat kepada orang berkerudung hitam tersebut dengan tergesa-gesa.
"Ongya..."
"Wan-heng, kenapa yang lain belum tiba? Apakah...?"
"Entahlah, hamba tidak tahu...Tapi kedatangan hamba kemari justru membawa..."
"Hah? Apa? Lekas katakan!"
Hek-eng-cu memotong perkataan Wan It, ketika orang yang menjadi pembantu utamanya itu tampak gugup dan tergesa-gesa.
"Maaf, Ongya..., Hamba membawa berita yang mungkin akan mengejutkan hati Ongya nanti. Anu...pertemuan kita ini ternyata telah tercium oleh Kaisar Han!"
Orang yang bernama Wan It itu memberi laporan.
"Apa...? Kaisar Han telah mengetahuinya?"
Hek-eng-cu tersentak.
"Benar, Ongya..., Baginda malah sudah mengutus Yap Tai-Ciangkun dan belasan anggota pasukan Sha-cap mi-wi kemari. Mungkin sekarang mereka sudah berada di sekitar tempat ini pula..."
Wan It mengangguk, lalu menebarkan pandangannya ke segala penjuru.
"Lalu...?"
Hek-eng-cu ikut pula mengedarkan pandangannya ke sekitarnya.
"Lebih baik kita menunda saja pertemuan kita hari ini. Kita harus cepat-cepat meloloskan diri dari sini, siapa tahu Yap Tai-Ciangkun mengerahkan pula pasukannya? Tadi Liok Ciang kun datang menemui hamba dan memberi tahu kepada hamba tentang keadaan di Kotaraja. Katanya Kaisar Han telah mencium pula maksud kita untuk memberontak..."
"Hah! Kurang ajar...! Siapa yang berani membocorkan rahasia kita?"
Hek-eng-cu menggeram, sambil menghentakkan kakinya, sehingga batu karang besar yang diinjakkan itu bergetar seperti mau roboh.
"Kalau begitu mari kita pergi! Kita kesampingkan dulu harta karun ini. Sekarang yang lebih penting adalah urusan kita sendiri..."
"Bagaimana dengan kawan-kawan kita yang lain?"
Wan It bertanya.
"Nanti kita urus belakangan pula! Marilah...!"
Hek-eng-cu meloncat turun dari atas batu besar tersebut dan mengambil potongan bambu yang tadi dilepaskannya.
Tapi tiba-tiba dari balik semak-semak yang berada di depan mereka muncul tiga sosok bayangan mencegat langkah mereka.
Seorang wanita yang cantik luar biasa dan dua orang lelaki bertubuh sedang!
"Berhenti!"
Wanita cantik yang tidak lain adalah Chu Bwee Hong itu berteriak.
Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai Wan It tertegun, mereka segera bersiap-siap.
Tapi setelah mengetahui siapa yang datang, mereka segera tersenyum dan mengendorkan urat-uratnya.
Hek-mou-sai Wan It malahan tertawa gembira sekali.
"Hahaha...sungguh kebetulan sekali! Dulu kita mendapatkan kesukaran untuk menculiknya, sekarang tanpa dicari malah sudah datang sendiri untuk menyerahkan diri...!"
Orang berbadan gemuk besar itu berkata sambil menoleh ke arah Hek-eng-cu.
"Ongya, gadis yang tuan inginkan dahulu itu kini justru telah berada di depan kita. Apakah kita perlu menangkapnya lagi?"
Muka yang tertutup kain itu menatap kepada pembantunya, lalu mengangguk.
"Jangan banyak membuang waktu! Lekas kerjakanlah...!"
Ia memberi perintah.
"Baik!"
Hek-mou-sai menyahut lalu tubuhnya yang besar itu melesat maju. Tapi dua orang lelaki yang datang bersama Chu Bwee Hong itu segera menyongsongnya.
"Hihihaha...selamat bertemu kembali, Tukang Culik yang gagal! Di mana Si Kurus temanmu itu?"
Lelaki yang lebih tua, yang berwajah putih pucat, menyapa Hek mou sai Wan It dengan mulut pringas-pringis.
"Hahaha...Put-swi-kui! Hantu Tak Berdosa! Marilah kita lanjutkan pertempuran kita dahulu! kau jangan terlalu berbesar hati karena bisa mengusir aku tempo hari. Sekarang kulihat suhengmu Put-sim sian yang lihai itu tidak datang bersamaan,"
Hek-mou-sai menjawab perkataan Put-swi-kui dengan tidak kalah ramahnya.
"Hei, kenapa mesti harus Twa-suheng yang melawanmu? Kami berdua kukira juga sudah cukup untuk mengusirmu...!"
Lelaki di samping Put-swi-kui, yang tidak lain adalah Put-ming-mo, Si Setan Tak Bernyawa, berteriak sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Begitulah pendapatmu? Mari kita buktikan saja...!"
Hek-mo-sai berkata seraya menerjang ke depan.
Otomatis Put-swi-kui dan Put-ming-mo berpencar untuk menghadapinya.Sementara itu di tempat persembunyian, Pek-i Liong-ong terjadi sedikit ketegangan ketika Chu Seng Kun secara mendadak melihat adiknya yang telah bertahun-tahun menghilang itu kini tiba-tiba muncul di depannya!
Hampir saja pemuda itu tak bisa mengendalikan hatinya dan melompat keluar dari persembunyiannya.
Untunglah Pek-i Liong-ong cepat bertindak menahan lengannya.
"Seng kun, sabarkanlah hatimu...! Jangan gegabah! Lihatlah di balik semak-semak di depan kita itu...! Bukankah orang-orang itu adalah orang-orang dari Ban-kwito?"
"Tapi...tapi...wanita itu a...adikku!"
Hampir saja Chu Seng Kun berteriak karena tidak bisa mengendalikan perasaannya.
"Ya...ya, Lohu tahu. Tapi apa gunanya kau keluar dari tempat ini kalau di depan itu kau sudah dicegat oleh mereka? Hmm, pakailah otakmu! Jangan terburu-buru...!"
"Oooh...!"
Chu Seng Kun berdesah lemas, karena menyadari ketergesaannya.
"Lo-Cianpwe, lalu...apa yang harus kita kerjakan?"
"Nah, begitu! Sekarang marilah kita berputar, mencari jalan yang lebih aman untuk bisa mencapai ke tempat adikmu!"
Begitulah, mereka bertiga lalu keluar dengan hati-hati dari lobang batu karang tersebut.
Mereka berjalan mengendap-endap di antara semak-semak yang mengelilingi lereng yang Iuas itu.
Pek-i Liong-ong berjalan paling depan, sedangkan Chu Seng Kun berada di belakang sendiri.
Adapun Souw Lian Cu yang hatinya sebenarnya tidak begitu merasa gembira karena harus menemui wanita yang telah merebut kasih sayang ayahnya, tampak berjalan dengan lesu di tengah tengah kedua orang laki-laki tersebut.
Sementara itu hanya beberapa tombak saja jauhnya dari tempat persembunyian mereka tadi, dua orang gadis cantik kelihatan kaget dan tegang pula seperti mereka.
Salah seorang diantaranya yang berkulit sangat putih kepucat pucatan tampak menudingkan jarinya ke arah Chu Bwee Hong.
"Adik Lian, lihatlah...! Bukankah dia Chu Bwee Hong..?"
Serunya tertahan.
"Ah, benar! Wanita itu memang Cici Bwee Hong..."
Gadis yang lain yang bersanggul tinggi dan berwajah cerah, menyahut dengan suara tegang pula.
"Marilah kita pergi ke sana"!"
"Ayoh, Cici Siok Eng..."
Keduanya lalu meloncat keluar dan berlari menuruni lereng.
"Eeee, bukankah itu gadis yang bertengkar dengan kita di tepi sungai kemarin?"
Tiba-tiba terdengar suara serak dari semak-semak di sebelah kiri mereka, dan sekejap kemudian muncullah seorang laki-laki gemuk berkepala gundul menghadang kedua orang gadis itu.
"Berhenti, kelinci kelinci manis! Mau ke mana kalian? Heheh, agaknya dunia ini memang sempit benar, ke manapun juga kita pergi ternyata selalu bertemu pula."
Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian menghentikan langkah mereka dan berdiri berdampingan mengawasi tubuh Ceng ya kang yang gemuk kehijau-hijauan itu.
"Awas, Cici Siok Eng! Iblis gundul ini tentu tidak sendirian..."
"Benar, anak manis, kita memang selalu pergi bersama-sama. Aih, tampaknya kalian dapat melepaskan diri dari pengaruh Bedak Seribu Wajahku. Huh, siapakah yang mengobati kalian?"
Mendadak dari balik batu karang di depan mereka muncul pula Jeng bin Siang-kwi sambil bertolak pinggang.
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng saling memandang, kemudian mereka tersenyum bersama-sama, sedikit pun tidak kelihatan takut melihat lawan yang lebih banyak jumlahnya itu.
"Apakah hebatnya bedak murahan seperti kepunyaan kalian itu? Paling-paling hanya untuk permainan anak-anak di desa."
"Kurang ajar!"
Sepasang iblis kembar itu naik pitam. Keduanya lalu menerjang Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng! Dan kedua gadis cantik itupun segera melayani mereka dengan hangat pula.
"Adik Lian, berhati-hatilah dengan tipu muslihat dan racun mereka! Jangan sampai engkau terperdaya...!"
Kwa Siok Eng memberi peringatan kepada Ho Pek Lian sambil mengelak dari sambaran kuku-kuku Jeng-bin Sam-ni.
Sebentar kemudian mereka berempat telah terlibat dalam pertempuran yang seru dan ramai.
Melihat kedua orang gadis itu telah bertempur dengan sucinya, Ceng-ya-kang lalu meninggalkan tempat itu.
Dengan cepat tubuh yang gemuk tersebut berlari menuruni lereng menuju ke tempat Hek-eng-cu berada.
Tapi belum juga sampai di sana, Hek-eng-cu telah menoleh ke atas dan berteriak memperingatkan.
"Ceng-ya-kang...! Di manakah saudara-saudaramu yang lain? Lekas ajak mereka meninggalkan tempat ini! Cepat! Kita nanti bertemu di tempat biasanya! Tempat ini telah dikepung oleh pasukan Yap Tai-Ciangkun"!"
"Ongya...? Bagaimana?"
Ceng-ya-kang menjadi gugup. Otomatis langkahnya berhenti.
"Jangan membantah! Nanti kita bicarakan persoalannya setelah kita lolos dari pantai ini...Pergilah! Cepat!"
Hek-eng-cu berteriak lagi. Ceng-ya-kang terpaksa menurut. Dengan sigap tubuhnya berbalik dan berteriak ke arah Jeng-bin Siang kwi.
"Cici...lekas pergi! Tinggalkan saja kelinci-kelinci itu! Tempat ini telah dikepung oleh..."
"Hahahaha...kalian sudah terlambat! Menyerahlah saja!"
Tiba-tiba di atas tebing muncul sesosok bayangan yang berdiri dengan kaki terpentang lebar dan bertolak pinggang.
Pakaiannya yang lebar model pakaian sasterawan itu berkibar dihembus angin.
Kemunculannya segera diikuti oleh berpuluh-puluh sosok bayangan lain yang tersebar di lereng itu, seolah-olah mereka memang telah dipersiapkan untuk mengepung Pantai Karang tersebut.
Dalam keremangan malam, senjata mereka tampak gemerlapan ditimpa sinar rembulan dan bintang.
Sementara di sekeliling pemuda yang berpakaian model sastrawan itu sendiri, juga terlihat beberapa sosok bayangan yang berdiri kaku seolah-olah sekawanan anjing yang sedang menjaga keselamatan tuannya.
"Yap Kim...??"
Ceng-ya-kang berbisik seakan tak percaya.
Tokoh berkepala gundul itu tampak tertegun melihat pemuda tampan berpakaian model sastrawan tersebut, karena wajah itu benar-benar sangat dikenalnya.
Sementara itu pertempuran antara Jeng bin Siang-kwi melawan Ho Pek Lian yang dibantu oleh Kwa Siok Eng, otomatis juga berhenti pula.
Semuanya memandang ke atas tebing dengan perasaan kaget.
Mereka melihat belasan, bahkan puluhan sosok bayangan hitam yang berdiri kaku berjejer-jejer, seperti jajaran pagar bambu di halaman rumah.
"Cici Siok Eng, lihat...! Bukankah orang yang berpakaian seperti sastrawan itu adalah Yap Tai-Ciangkun?"
Ho Pek Lian berseru sambil menunjuk ke atas tebing.
"Eh, benar...! Yap Tai-Ciangkun...! Mengapa pula dia berada di sini? Apakah sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini?"
Kwa Siok Eng menatap Ho Pek Lian dengan dahi berkerut.
"Entahlah, aku juga tidak tahu,...Kemarin Yap Toa-ko juga tidak mengatakan apa-apa kepada kita..."
Ho Pek Lian menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi...sudahlah, kita tak usah berpusing-pusing memikirkannya! Yang perlu sekarang adalah urusan kita sendiri Marilah kita menemui Cici Chu Bwee Hong dahulu! Kelihatannya dia sedang menemui kesulitan dengan orang berkerudung itu..."
"Menurut kata Chu Seng Kun, orang itu adalah penculiknya..."
"Kalau begitu, marilah kita lekas-lekas kesana...!"
Kedua orang gadis itu lalu melesat turun menuruni lereng, meninggalkan Ceng-ya-kang dan Jeng-bin Siang-kwi yang masih terpaku melihat pasukan Yap Tai-Ciangkun di atas tebing.
Rasa-rasanya Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng sudah tidak tahan lagi untuk segera memeluk dan mencium pipi Chu Bwee Hong yang selama ini telah membuat mereka kelabakan dan tak bisa makan enak dan tak enak tidur.
"Oh, alangkah gembiranya hati Chu Seng Kun nanti, bila melihat aku telah dapat membawa pulang kembali adiknya...Kwa Siok Eng bersorak di dalam hati. Perkembangan yang sangat mendadak yang terjadi di Pantai Karang itu ternyata juga sangat mengejutkan hati Hek-eng-cu pula! Hampir-hampir orang itu tidak mempercayai penglihatannya sendiri. Tempat yang semula tampak lengang dan sepi itu tiba-tiba saja berubah menjadi ramai dan penuh orang! Keadaan ini benar benar tak disangkanya dan sejak semula memang tak pernah masuk dalam perhitungannya. Keputusan untuk berkumpul di Pantai Karang itu baru ditetapkan dua hari yang lalu! Itupun hanya diketahui oleh orang-orang kepercayaannya saja! Bagaimana hal itu sampai diketahui oleh Kaisar Han? Masakan khabar itu bisa bocor? Mungkinkah ada yang membocorkannya? Tapi rasa-rasanya tidak ada di antara para pembantunya yang berani berkhianat! Dia telah percaya penuh kepada para pembantu utamanya itu! "Persetan! Yang penting sekarang adalah...bagaimana meloloskan diri dari kepungan ini!"
Hek-eng-cu menggeram.
Hek-eng-cu menebarkan pandangannya.
Dilihatnya Hekmo-sai Wan It masih tampak bertempur dengan seru melawan pengeroyoknya.
Sedangkan di atas lereng tampak Jeng-bin Siang-kwi dan Ceng-ya-kang telah bersiap-siap dengan racun-racunnya, sementara tidak jauh dari tempat itu Tee-tok-ci juga tampak berdiri tenang di atas sebongkah batu karang.
Meskipun di sekitar mereka telah dikepung oleh pasukan Yap Tai-Ciangkun, keempat saudara seperguruan dari Ban-kwi-to itu kelihatan tenang sekali.
Sedikitpun tidak ada perasaan takut yang membayang di wajah mereka.
Tampaknya mereka sudah amat percaya kepada kemampuan diri mereka masing masing.
Hek-eng-cu kemudian mempertajam daya pendengarannya.
Ternyata telinganya juga mendengar suara ribut-ribut di atas tebing dan kalau tidak salah adalah suara suami-isteri lm-kan Siang-mo!
Dugaan Hek-eng-cu itu memang benar.
Suara ribut di atas tebing itu memang suara lm-kan Siang-mo yang sedang dikeroyok oleh pasukan Yap Tai-Ciangkun.
Sepasang iblis termuda dari Ban-kwi-to itu begitu datang langsung dikepung dan dikeroyok oleh anak buah Yap Tai-Ciangkun.
Tentu saja suami-isteri sinting itu menjadi marah bukan main.
Sambil meneriakkan sumpah serapah yang kotor dan kasar mereka mengamuk.
"Hmmm, di manakah Song-bun-kwi kwa Sun Tek...? Apakah dia belum datang? Kalau begitu justru sangat kebetulan sekali malah! Lebih mudah bagiku untuk menyelamatkan para pembantuku ini..."
Sekali lagi Hek-eng-cu mengedarkan pandangannya, kali ini untuk menilai keadaan.
Orang berkerudung yang sangat misterius itu sedang berpikir keras, jalan apa yang mesti mereka tempuh untuk dapat meloloskan diri dari tempat itu.
Mengerahkan para pembantunya untuk naik ke atas tebing serta membobol kepungan Yap Tai-Ciangkun terang tidak mungkin.
Selain kekuatan mereka kalah kuat, posisi mereka juga tidak menguntungkan.
Dengan mudah mereka akan dihantam dari atas dan dicerai-beraikan!
Meluncur di atas permukaan air seperti dirinya tadi, juga tidak mungkin!
Di antara para pembantunya itu tak seorangpun yang mempunyai ginkang sesempurna dirinya.
Jangankan harus berdiri di atas sepotong bambu, sedang disuruh berada di atas selembar papan saja belum tentu mereka bisa!
Satu-satunya jalan cuma menerobos kepungan lawan yang berada di lereng, lalu berlari dan berloncatan menyusuri hutan karang berduri yang banyak terdapat di sepanjang pantai!
Jalan itu memang jalan yang sangat berbahaya dan tak mudah dilalui orang.
Mungkin hanya binatang-binatang yang mempunyai sayap saja yang mampu melewatinya.
Tapi justru keadaan yang seperti itulah yang sangat menguntungkan bagi mereka.
Tak mungkin rasanya semua anak buah Yap Tai-Ciangkun itu dapat melewati hutan Karang yang tajam berduri itu.
Paling-paling hanya akan ada beberapa orang lagi selain Yap Tai-Ciangkun yang bisa melewati tempat tersebut.
Dan itu berarti bahwa orang yang akan mengejar mereka hanya terdiri dari beberapa orang saja.
Dengan demikian sangat mudah bagi mereka untuk membereskannya.
Jilid 23 Setelah memperoleh keputusan demikian, Hek-eng-cu segera berteriak memberi aba-aba.
"Semuanya menerjang ke arah utara. Teroboslah kepungan mereka, Ialu kerahkanlah seluruh kepandaian kalian untuk berloncatan di atas batu-batu karang di sepanjang pantai!"
Teriakan Hek-eng-cu itu berkumandang memenuhi lereng yang luas tersebut, mengalahkan suara debur ombak dan gemuruhnya angin laut.
Untuk sesaat Yap Tai-Ciangkun menjadi kaget dan tertegun.
Di dalam hati, panglima muda itu menjadi kagum menyaksikan kecerdikan lawannya.
Memang.
Hutan batu karang yang sangat tajam dan berbahaya yang berserakan memenuhi tepian pantai utara Tiongkok itu tidak mungkin bisa dilewati oleh manusia biasa.
Tempat itu sangat terkenal seram dan mengerikan!
Hanya kawanan burung laut saja yang dapat menginjakkan kakinya di sana.
Selesai memberi perintah, Hek-eng-cu lantas melenting ke depan dengan cepat sekali.
"Wan-Loheng, mari kita pergi! Jangan membuang-buang waktu! Tinggalkan saja orang orang itu!"
Serunya keras ketika lewat di samping Hek-mou sai Wan It.
Tetapi mana Chu Bwee Hong mau melepaskan Hek-eng-cu?
Gadis itu benar-benar telah mengalami suatu penderitaan lahir batin karena ulah laki-laki berkerudung tersebut.
Maka setelah kini mereka dapat bertemu muka, tak mungkin rasanya gadis itu melepaskan musuh besarnya tersebut begitu saja.
Dengan tangkas gadis itu menghadangnya.
"Iblis pengecut...! Mau lari ke mana kau?"
Teriaknya lantang.
Kedua belah tangannya segera menghantam ke depan, menyongsong gerakan Hek-eng-cu yang cepat bagai kilat itu.
Hek-eng-cu tak mau kehilangan banyak waktu hanya karena harus melayani Chu Bwee Hong dan kawan-kawannya.
Oleh karena itu sambil mengelak ke samping, tangannya menyambar lengan Hek-mou sai Wan It serta menariknya untuk diajak berlari bersama-sama.
Hampir saja mereka dapat meloloskan diri kalau dari balik sebuah batu karang secara mendadak tidak meluncur belasan jarum rahasia yang tertuju ke arah mereka.
Jarum-jarum itu menebar dalam bentuk bunga bwee dan kecepatannya benar-benar sangat menggiriskan!
"Terimalah jarum rahasiaku...!"
Terdengar suara yang melengking tinggi dari belakang batu karang itu dan sekejap kemudian muncullah Put-sin Niocu di hadapan mereka.
"Bagus, Siau Put-sia...! Marilah kita bunuh laki-laki berwatak iblis ini bersama-sama!"
Chu Bwee Hong berseru lega begitu melihat taburan jarum rahasia tadi mampu menahan langkah kaki Hek-eng-cu dan Hek mou sai, sehingga kedua orang itu gagal meloloskan diri.
Hek-eng-cu menjadi marah bukan main!
Sebenarnya dengan mantel pusakanya yang kebal senjata itu dia tidak takut menerjang hujan senjata yang bagaimana deras sekalipun.
Tapi berhubung dia sedang menggandeng Hek-mo sai Wan It, maka ia terpaksa ikut mengelak pula seperti pembantunya itu.
Akibatnya, langkah mereka menjadi tertunda, sehingga di lain saat lawan-lawan mereka telah mengepung pula kembali.
"Bangsat kurang ajar...! Kalian memang orang-orang yang telah bosan hidup!"
Hek-eng-cu menggeram marah.
Tangannya yang menggandeng Hek-mou-sai itu dilepaskannya, lalu bersiap-siap untuk menggempur gadis yang baru saja memberondong dirinya dengan jarum rahasia tadi.
Tapi wajah di balik kerudung itu kelihatan tertegun, agaknya orang itu mengenali wajah Siau Put-sia yang bundar bagai bulan purnama itu.
Wajah dari gadis yang pernah digelutinya di pinggir sungai itu!
Hek-eng-cu menjadi tegang.
Otomatis tenaga dalamnya bangkit dan siap untuk dipergunakan.
Tokoh sakti itu mengawasi Chu Bwee Hong dan Put-sia Niocu berganti-ganti.
"Seraaaang...!"
Tiba-tiba Chu Bwee Hong berteriak memberi aba-aba.
Put-swi-kui, Put-ming mo dan Put-sia Niocu serentak menerjang Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai.
Masing-masing mengerahkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya, karena mereka semua tahu bahwa lawan yang mereka hadapi kali ini bukanlah lawan yang sembarangan.
Baru lawan mereka yang berbulu lebat itu saja amat sukar dihadapi, apalagi orang berkerudung itu.
Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai berpencar, masing-masing menghadapi dua orang lawan.
Sambil berpencar mereka menangkis serangan lawan.
Hek-eng-cu menangkis pukulan Chu Bwee Hong dan Put-sia Niocu, sedangkan Hek-mou-sai menangkis serangan Put-swi-kui dan Put-ming-mo!
"Deeessss!"
"Dhuuukh!"
Chu Bwee Hong dan Put-sia Niocu yang secara bersama-sama membentur tangkisan Hek-eng-cu tampak terpental dan hampir jatuh.
Tapi sebaliknya Hek-mou-sai Wan lt yang menahan pukulan bersama dari Put-swi-kui dan Put-ming-mo, tampak terdorong mundur dan hampir terjengkang!
Jadi apabila diperhitungkan, kekuatan mereka secara keseluruhan adalah seimbang.
Tetapi keadaan seperti itu sungguh tidak dikehendaki oleh Hek-eng-cu!
Sebab pertempuran seperti ini tentu akan berlangsung lama dan membuang-buang waktu saja.
Padahal waktu mereka sangat mendesak sekali.
Mereka harus lekas lekas meloloskan diri dari tempat itu, sebelum Yap Tai-Ciangkun dan pasukan pilihannya turun dari atas tebing dan mengepung mereka!
Maka Hek-eng-cu segera mengerahkan seluruh kesaktiannya untuk cepat-cepat membereskan Iawannya.
Tulang-tulang dan urat-urat di dalam tubuhnya terdengar gemeratak berkerotokan, seolah-olah tulang dan urat itu saling beradu dan berpatahan.
Mantel pusaka yang sedari tadi selalu tersibak ke belakang, cepat ditariknya ke depan sehingga menyelimuti seluruh badannya.
Mata yang tertutup oleh tirai tipis itu seakan-akan mencorong di dalam kegelapan.
Dan pada saat Hek-eng-cu telah siap untuk melontarkan seluruh kekuatannya itulah Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng tiba di tempat itu.
"Cici Bwee Hong, awaaaas...!!"
Ho Pek Lian berteriak memberi peringatan kepada Chu Bwee Hong.
"Adik Lian...eh, Cici Siok Eng...?!?"
Chu Bwee Hong yang tidak menyangka akan bertemu dengan dua orang sahabat akrabnya itu menoleh dengan kaget.
Sejenak gadis itu lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan Hek-eng-cu yang lihai bagai iblis.
Dan...kesempatan ini benar-benar tak disia-siakan oleh Hek-eng-cu!
Melihat pihak lawan kelihatannya hendak bertambah bala bantuan lagi, Hek-eng-cu menjadi semakin beringas!
Tokoh hitam itu semakin tidak memikirkan apa-apa lagi!
Dalam ketegangan dan kekhawatirannya, Hek-eng-cu sudah tidak mengingat lagi bahwa dia pernah menyukai Chu Bwee Hong, dan pada suatu saat justru bermaksud memilikinya.
Sekarang yang memenuhi hati dan pikirannya hanyalah nafsu untuk membunuh orang-orang yang merintanginya.
Itu saja!
Maka melihat ada kesempatan bagus untuk membokong lawannya, Hek-eng-cu segera menghantam dengan kekuatan penuh!
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng menjerit!
Put swi kui, Put ming-mo dan Put-sia Niocu terpekik pula saking kagetnya!
Dan dalam keadaan yang sangat mengejutkan serta sangat tiba-tiba pula itu mereka serentak berusaha untuk menolong Chu Bwee Hong.
Secara otomatis Put-sia Niocu menaburkan kembali jarum-jarum rahasianya, sementara dua orang kakak seperguruannya juga tampak melontarkan pisau-pisau terbangnya.
Sedangkan Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng yang baru saja datang, secara serentak juga melemparkan senjata yang dipegangnya.
Semuanya mengarah ke tubuh Hek-eng-cu, dengan harapan dapat menahan serangan orang itu.
Tapi semuanya itu ternyata tidak diacuhkan oleh Hek-eng-cu!
Tokoh berkerudung hitam itu tetap meneruskan serangannya kepada Chu Bwee Hong, sedikitpun tidak memperdulikan hujan senjata yang bertaburan ke arah badannya.
Maka sejenak kemudian terjadilah suatu peristiwa yang benar-benar merontokkan hati orang-orang yang berusaha menolong Chu Bwee Hong tadi!
Mendengar jeritan kawan-kawannya, Chu Bwee Hong segera menyadari bahaya yang akan menimpanya.
Di dalam keterkejutannnya gadis itu berusaha melindungi dirinya dengan Pai-hud Sinkangnya yang hebat.
Tapi tenaga dalam warisan Bu-eng Sin-yok-ong tersebut ternyata tidak dapat melindungi tubuhnya dari keganasan Pat-hong Sin-ciang lawan!
Tubuh yang tinggi semampai itu terpental tinggi ke udara, lalu jatuh terbanting ke atas pasir.
Sesaat tubuh yang molek itu meronta tapi sekejap kemudian lalu diam tak bergerak.
Kwa Siok Eng berdiri tertegun di tempatnya, hatinya serasa copot dan jantungnya seperti berhenti berdenyut.
Begitu pula dengan Ho Pek lian dan yang lain!
Semuanya bagaikan terpesona oleh suasana yang amat mengejutkan itu.
Sementara itu rombongan Pek-i Liong-ong telah tiba di tempat ini pula!
"Bwee Hongggg...!?!?"
Tiba-tiba Chu Seng Kun berteriak memilukan. Pemuda itu langsung menubruk adiknya yang terkapar tidak bergerak tersebut.
"Cici...!!!"
Souw Lian Cu menjerit pula.
Begitu datang gadis remaja ini langsung menyerang Hek-eng-cu!
sekejap terlihat gumpalan asap tipis, yang terdiri dari dua warna di atas ubun-ubunnya.
Merah dan putih.
Yang berwarna merah segera lenyap begitu tangan kanan Souw Lian Cu memukul ke arah Hek-eng-cu.
Sebagai gantinya, tiba-tiba Hek-eng-cu merasa seperti ada badai angin panas yang secara mendadak menerjang ke arah dirinya!
Tentu saja Hek-eng-cu terperanjat bukan kepalang!
tokoh berkerudung itu segera teringat kepada seorang musuh besarnya yang juga mahir mempergunakan Ang-pek Sinkang seperti itu.
Tapi perasaan terkejut itu segera berubah menjadi kemarahan yang menyala nyala.
"Bocah buntung! apa hubunganmu dengan Souw Thian Hai?"
Bentaknya seraya mengelakkan serangan Souw Lian Cu yang sangat berbahaya itu.
"Aku adalah anaknya! kau mau apa? Takut...? jangan khawatir, ayahku tidak ada disini sekarang...!"
Souw Lian Cu menjawab tanpa takut sedikitpun.
Kaki kirinya segera melayang ke depan, begitu pukulannya dapat dielakkan oleh lawan.
Lagi-lagi Hek-eng-cu terkejut!
badai panas yang tadi menerjang kearah tubuhnya kini tiba-tiba berubah menjadi dingin.
Begitu dinginnya sehingga rasa-rasanya malam yang gelap itu mendadak bertiup badai salju yang menggigilkan!
Souw Lian Cu di dalam kemarahannya memang mengerahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya.
Selama empat tahun dia bersama ayahnya, membuat lweekangnya semakin tinggi dan hebat tidak terkira!
Tapi kenyataan ini tentu saja membuat Hek-eng-cu semakin bertambah lagi berangnya!
Dengan nafsu membunuh orang berkerudung itu segera mengerahkan Pat-hong Sin-ciang sepenuh-penuhnya, lalu dengan siku tangan kanannya ia menyongsong tendangan Souw Lian Cu tersebut.
"Buuuuum!"
Benturan tidak bisa dielakkan lagi!
akibatnya Souw Lian Cu terlempar tinggi dan jatuh menimpa Chu Seng Kun yang sedang meratapi adiknya.
Mereka bertiga terbanting tunggang-langgang di atas pasir yang basah!
Bagaimanapun tingginya Ang-pek-Sinkang Souw Lian Cu ternyata masih belum bisa menandingi lweekang Hek-eng-cu yang maha hebat.
Sekali lagi gadis itu mengalami luka dalam yang amat parah.
Biarpun tulang-tulangnya serasa berpatahan semuanya, tapi Souw Lian Cu berusaha untuk bangkit kembali.
Tapi lawannya ternyata tidak membiarkannya begitu saja!
Melihat gadis itu masih dapat bergerak, tangannya yang masih penuh dengan tenaga Pat-hong Sinkang itu segera diayun kembali ke arah korbannya!
Kali ini Souw Lian Cu tak mungkin lagi untuk melawan ataupun mengelak!
Satu-satunya jalan cuma menanti datangnya maut yang akan mencabut nyawanya saja, karena semua peristiwa itu berlangsung dengan amat cepat dan dalam tempo yang sangat singkat, sehingga tidak seorangpun di tempat itu yang mempunyai kesempatan untuk menolongnya.
Tapi apa yang terjadi kemudian benar-benar di luar dugaan atau anggapan tersebut!
Orang yang paling dekat tempatnya dengan Souw Lian Cu, yang tadi telah dianggap mati oleh semua orang, yaitu Chu Bwee Hong, mendadak bergerak dan membuka matanya!
Melihat Souw Lian Cu dalam bahaya, tiba-tiba tubuhnya yang sangat lemah itu bangkit berdiri dan menubruk ke arah Souw Lian Cu untuk melindunginya.
"Dhieeeees!"
Sekali lagi Chu Bwee Hong bagaikan dilemparkan oleh sebuah tenaga raksasa begitu terkena hantaman Hek-eng-cu!
Darah segar tampak menyembur dari mulutnya, membasahi pasir yang basah, lalu tubuhnya terbanting di atas gundukan pasir yang agak lebih kering!
Chu Seng Kun yang tadi ikut tergeletak karena terlanggar oleh tubuh Souw Lian Cu segera melenting bangun dan menghambur kembali ke arah adiknya!
"Bwee Hong!
Bwee Hong...!"
Teriaknya.
Tubuh yang pucat bagai mayat itu diguncangnya dengan keras, tapi tubuh tersebut tetap diam tak bergerak.
Bibirnya yang berlepotan darah juga tertutup rapat, sementara pelupuk matanya yang berbulu panjang itu juga terkatup rapat, seolah-olah gadis ayu itu memang telah tidak bernyawa lagi!
Sementara itu Souw Lian Cu yang baru saja lolos dari lobang kematian itu telah dipeluk dan dipapah ke tempat yang aman oleh Ho Pek Lian serta Kwa Siok Eng.
Dan perhatian dari orang-orang yang saat itu ada di sana seolah olah tercurah semuanya kepada nasib Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu, sehingga mereka seakan sudah melupakan Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai!
Tak heran kalau kesempatan yang bagus ini lantas dipergunakan sebaik-baiknya oleh iblis berkerudung tersebut.
Sambil menyambar lengan pembantunya Hek-eng-cu meloncat keluar arena, kemudian melesat ke arah utara, menerjang orang-orang Yap Tai-Ciangkun yang ada disana.
Put-swi-kui dan Put-ming-mo yang dilewatinya, hanya berdiri diam saja seolah-olah telah kehilangan akal.
Pasukan pengepung yang berada di bagian utara hanya terdiri dari pasukan biasa saja, biarpun mereka juga orang-orang pilihan, yang dipilih oleh Yap Tai-Ciangkun sendiri untuk ikut dalam tugas berbahaya ini.
Tetapi kepandaian mereka tentu saja tidak sehebat para anggota Sha-cap mi-wi, sehingga tidaklah heran bila mereka menjadi kocar-kacir ketika diterjang oleh Hek-eng-cu!
Menghadapi kekuatan Hek-eng-cu yang maha dahsyat, mereka bagaikan sekelompok semut yang diterjang dan diinjak-injak oleh seekor gajah besar, sehingga sekejap kemudian korbanpun berjatuhan banyak sekali.
Maka dalam waktu yang singkat Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai Wan It telah dapat membobol kepungan dan lolos ke dalam hutan batu karang yang sukar ditembus oleh manusia biasa.
Dengan kepandaian mereka yang tinggi Hek-eng-cu dan Hek-mou-sai berloncatan di atas ujung-ujung dari batu karang yang tajam dan berbahaya.
Sedikit saja kaki mereka terpeleset, alamat tubuh mereka akan hancur tersayat oleh tajamnya permukaan padas dan batu-batu karang yang tajam bagai pisau.
Dan sebentar saja mereka telah jauh meninggalkan Pantai Karang.
Akhirnya mereka berhenti untuk melepaskan lelah setelah mereka yakin bahwa pasukan Yap Tai-Ciangkun tidak mungkin dapat mengejar mereka lagi.
"Huah! Heran benar...! Bagaimana bangsat-bangsat kerajaan itu dapat mengetahui rencana kita yang amat rahasia itu?"
Hek-eng-cu menghembuskan napasnya kuat-kuat untuk memuntahkan perasaan kesalnya.
"Entahlah! Hamba juga heran...Untunglah Ongya dapat melihat jalan keluar yang baik dari kepungan itu. Hmm, bagaimana dengan keadaan Tee-tok-ci dan adik-adik seperguruannya? Adakah mereka bisa meloloskan diri seperti kita?"
Dengan terengah engah Hek-mou-sai menyahut.
"Kita nantikan mereka di tempat ini! Kalau mereka bisa lolos, mereka tentu akan datang sebentar lagi...Eh, Wan-Loheng...kenapa dengan pakaianmu?"
Tergesa-gesa Hek-mou-sai Wan It melihat baju dan celana yang dikenakannya.
Tampak oleh matanya pakaian itu telah compang-camping, seperti baru saja diiris-iris dengan pisau yang amat tajam.
Bukan itu saja.
Sepatu yang dipakainyapun ternyata terobek dan tampak bolong di sana-sini.
"Eh...ini...ini tentu akibat tergores ujung-ujung batu karang yang sangat runcing itu!"
Serunya hampir tak percaya.
"Saking tajamnya sampai hamba tidak mengetahuinya..."
Sambungnya dengan wajah pucat karena ngeri.
Hek-mou-sai Wan It mengawasi pakaian dan mantel yang dikenakan oleh pemimpinnya.
Tapi dilihatnya pakaian tersebut masih tetap utuh dan tidak kurang suatu apa.
Dengan sangat kagum Hek-mou-sai menatap ke arah Hek-eng-cu.
Tapi sebelum mulutnya mengucapkan kata-kata pujian, tiba-tiba dari arah Pantai Karang tampak berkelebat sesosok bayangan yang mendatangi.
"Wan-loheng, awas...ada orang datang! mungkin dia adalah Yap tai-Ciangkun atau salah seorang anak buahnya,"
Hek-eng-cu berkata.
Bayangan itu cepat sekali datangnya.
Seperti juga yang telah mereka lakukan tadi, bayangan tersebut berloncatan pula diatas ujung-ujung batu karang yang runcing tajam bagai pisau itu.
Hanya yang membuat sedikit bergetar di hati Hek-mou-sai Wan It adalah kenyataan bahwa pakaian dan jubah putih yang dipakai orang itu sedikitpun tidak tergores oleh tajamnya batu karang!
Padahal orang itu telah berumur lebih daripada delapan puluh tahun.
"Sahabat, kalian berhentilah dahulu barang sebentar...!"
Begitu datang orang tua itu menjura dengan hormat.
"Lohu adalah ketua aliran Mo-kauw ingin berbicara sedikit dengan tuan..."
Hek-eng-cu menoleh ke arah pembantunya, seolah-olah ingin mengatakan bahwa dia belum pernah mengenal ataupun berhubungan dengan orang yang mengaku sebagai ketua Aliran Mo-kauw tersebut.
Dengan dahi berkerut Hek-mou-sai Wan It juga mengangkat pundaknya, sebagai tanda bahwa diapun juga belum pernah mengenalnya.
Orang tua yang tidak lain adalah Pek-i Liong-ong itu agaknya mengetahui keheranan lawannya.
Oleh karenanya orang tua itu lekas-lekas memberi keterangan.
"Tuan berdua tentu sangat bingung dan heran melihat lohu mengejar tuan berdua di tempat ini. Mungkin di dalam hati tuan menyangka bahwa lohu adalah kawan atau pengikut dari pasukan yang mengepung Pantai Karang itu tadi..."
"Hmm, kalau begitu siapa tuan sebenarnya?"
Hek-eng-cu bertanya dengan hati-hati. Ginkang orang tua itu tinggi sekali, mereka harus berhati-hati menghadapinya.
"Mengapa tuan juga berada di pantai itu, kalau bukan kawan atau anak buah Yap Tai-Ciangkun?"
"Ah, mengapa harus orang-orang Yap Tai-Ciangkun saja yang mesti di tempat itu? Kukira rahasia tentang harta karun itu bukan rahasia lagi. Sekarang setiap orang telah tahu belaka tentang hal itu. Coba lihat...! Apakah gadis bertangan buntung itu tadi juga anak buah Yap-Ciangkun? Apakah orang-orang Bing-kauw tadi juga anak buah Yap Tai-Ciangkun?"
"Hah? Jadi kalian telah tahu pula tentang harta karun mendiang Perdana Menteri Li itu? Bagaimana hal itu bisa terjadi?"
Hek-eng-cu berseru kaget. Pek-I Liong-ong tersenyum dengan tenang.
"Haha...itu disebabkan oleh karena kurang cermatnya anak buahmu itu menjaga dirinya, sehingga dengan mudah diikuti oleh petugas kerajaan,"
Katanya sambil menatap ke arah Hek-mou-sai Wan It.
"Pembantuku kurang cermat?"
Hek-eng-cu berseru sambil mengawasi Hek-mou-sai yang berada disampingnya.
"Benar! Coba dia kau suruh mengingat-ingat ketika pergi ke Kuil Delapan Dewa bersama dengan pembantumu yang lain, yang kurus berpakaian putih-putih itu...! Apakah ia merasa kalau pada saat itu telah diikuti oleh Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, salah seorang kepercayaan dari Kaisar Han?"
"Ohhh...jadi Hong-lui-kun telah mengikuti aku sejak dari Kuil Delapan Dewa itu?"
Hek-mou-sai menegaskan dengan suara gemetar.
"Mengapa aku tidak mengetahuinya?"
"Hahaha...jangankan engkau, sedang pemimpinmu yang lihai itupun tak tahu kalau perahunya telah kemasukan pencuri."
"Apa? Perahuku kemasukan pencuri?"
Hek-eng-cu berteriak. Pek-i Liong ong menghela napas panjang.
"Eh, maksudku...tuanpun tidak tahu puIa bahwa Hong-lui-kun juga telah ikut masuk ke dalam perahu yang tuan pakai untuk mengadakan perundingan itu."
"Ooooh, jadi itulah yang menyebabkan rahasia tentang harta karun ini telah bocor. Lalu mengapa tuanpun ikut mengetahuinya pula? Apakah Hong-Iui-kun telah mengatakannya juga kepada tuan?"
Hek-eng-cu menggeram.
"Ah, itu tidak perlu karena aku juga telah mendengarnya sendiri dari mulut tuan."
"Oh, jadi tuan juga telah ikut masuk pula ke dalam perahuku?"
"Tidak! Lohu cuma mengikuti perahu tuan dari tepian sungai saja. Tapi hal itu sudah cukup bagi lohu untuk ikut mendengarkan pembicaraan tuan."
"Kalau begitu kedatangan tuan ke Pantai Karang ini juga ingin memperebutkan harta karun itu? Tapi, mengapa tuan mengejar kami? Tuan telah melihat sendiri bahwa kami belum sempat mengambilnya."
Hek-eng-cu berkata dengan kaku. Sekali lagi Pek-i Liong ong tersenyum.
"Tuan telah salah terka! Lohu tidak mempunyai minat sedikitpun untuk memiliki harta karun tersebut."
"Lalu...apa maksud tuan mengejar kami?"
Hek-mou-sai yang sejak tadi hanya diam saja ikut berbicara saking herannya.
Pek-i Liong ong tidak lekas-lekas menjawab pertanyaan itu.
Dengan tenang orang tua itu menengadahkan kepalanya yang berambut putih ke arah Iangit yang bertaburan bintang.
"Hal inilah yang hendak kubicarakan dengan tuan tadi..."
Akhirnya orang tua itu membuka mulutnya.
"Lekaslah tuan katakan! Kami tidak mempunyai banyak waktu lagi,"
Hek-mou-sai membentak. Orang tua itu menunduk kembali, matanya yang mencorong itu menyambar ke arah Hek-mou-sai, sehingga yang belakangan ini menjadi terkejut hatinya.
"Baiklah, akan lohu katakan...Apakah sebabnya tuan mengadu-domba Aliran Mo-kauw, Bing-kauw dan lm yang kauw? Tuan tidak usah mungkir, karena lohu telah mengetahui semuanya..."
Pek-i Liong-ong langsung mengatakan maksudnya.
Hek-eng-cu saling memandang dengan Hek-mou-sai, seolah-olah ingin saling mencari pertimbangan, apa yang mesti mereka katakan kepada orang tua itu.
Hek-mou-sai tampak menganggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa dia menyerahkan semuanya kepada Hek-eng-cu.
Orang berkerudung itu menghela napas panjang sekali, seakan-akan mau mencari kekuatan agar dirinya dapat lebih tenang menghadapi orang tua yang amat lihai tersebut.
"Baiklah. Karena tuan juga telah berterus terang kepada kami, maka kami pun juga akan berkata terus terang pula kepada tuan,"
Akhirnya Hek-eng-cu berkata tegas dan keras.
"Memang kamilah biang keladi pertumpahan darah antara ketiga aliran itu! Akulah yang memerintahkannya! Aku bermaksud membuat keadaan di negara ini menjadi kacau dan ribut, sehingga aku dapat leluasa melaksanakan rencana dan cita-citaku. Nah, tuan mau apa sekarang? Mau menuntut balas? Marilah kulayani sekarang juga..."
Pek-i Liong-ong menatap kedua orang lawannya dengan tajam, tangannya mengelus jenggotnya yang melambai-lambai di depan dadanya.
Suaranya masih halus dan lembut ketika menjawab tantangan Hek-eng-cu tersebut.
"Baiklah, agaknya maksudku untuk membawa tuan ke tempat kami dengan baik-baik tidak akan tuan penuhi. Sebenarnya kami hanya ingin agar tuan mau menjernihkan kemelut itu di hadapan kami semua..."
"Hmh!!"
Hek-eng-cu mendengus.
"Agaknya tulangku yang tua ini terpaksa harus bekerja keras malam ini..."
Pek-i Liong-ong menyingsingkan lengan bajunya, lalu bersiap-siap untuk bertempur mati-matian dengan Hek-eng-cu.
Sementara itu pertempuran di Pantai Karang sendiri sepeninggal mereka masih berlangsung dengan hebatnya.
Tee-tok-ci dan saudara-saudara seperguruannya berusaha untuk membobol kepungan Yap Tai-Ciangkun.
Tapi menghadapi demikian banyak pasukan, apalagi belasan di antaranya adalah anggota pasukan Sha-cap mi-wi, benar benar sangat berat bagi mereka.
Racun racun yang mereka pergunakan memang membuat banyak korban, tapi pasukan yang datang mengeroyok merekapun seperti tiada habis habisnya pula.
Mati satu datang empat, mati empat datang pula yang Sepuluh, sehingga akhirnya racun mereka telah habis mereka pergunakan.
Lalu mulailah Tee-tok-ci dan saudara-saudaranya mengalami kesukaran dalam menghadapi para pengepungnya.
Dan yang pertama-tama mendapatkan kesulitan adalah pasangan suami-isteri Im-kan Siang mo yang bertempur di atas tebing.
Di dalam kesulitan mereka, sepasang iblis dari neraka itu masih saja meneruskan adat kebiasaannya, mereka selalu bertengkar dan saling memukul setiap ada kesempatan.
Tidak lupa mulut mereka selalu mengoceh tidak karuan.
"Nah, apa daya kita sekarang? Semua senjata dan racun milik kita telah hilang bersama pedati kita itu. Sekarang kita tidak punya apa-apa lagi untuk melawan anjing-anjing kerajaan ini,"
Hoan Mo-li si Iblis Wanita bersungut-sungut kesal, seolah-olah menyalahkan suaminya.
Biarpun teramat gemuk dan agak kurang waras, tapi sepak-terjangnya di dalam pertempuran ternyata sangat menggiriskan lawan lawannya.
Lengannya yang pendek-pendek itu ternyata sanggup meringkus dua atau tiga orang sekaligus, lalu membantingnya atau melemparkannya ke bawah tebing.
Tak seorangpun yang masih hidup apabila telah kena ringkus olehnya, mereka tentu putus napasnya atau berpatahan tulang-tulangnya.
Tapi yang mereka hadapi bukan cuma satu atau dua orang saja, melainkan sepasukan besar tentara kerajaan.
Maka kehebatan yang mereka perlihatkan itu tidak berlangsung lama.
Begitu dua atau tiga orang anggota Sha-cap mi-wi ikut mengeroyok mereka, mereka berdua tidak bisa berkutik lagi.
Merekalah yang kini harus mati-matian mempertahankan hidup mereka.
"Mengapa kau menyalahkan aku? Bukankah kau sendiri yang memulai dengan perselisihan pada waktu itu? Mengapa sekarang kau menjatuhkan kesalahan itu kepadaku?"
Bouw Mo-ko, suami perempuan itu berteriak menjawab keluh-kesah isterinya.
"Siapa menyalahkan engkau? Aku Cuma menyesali nasib kita...aduhh!"
Tiba-tiba sebuah tendangan dari salah seorang anggota Sha-cap mi-wi mengenai pantat wanita gemuk itu, sehingga kata-katanya terputus di tengah jalan.
Tubuh yang besar seperti gajah itu terpental ke depan dan menabrak sebuah pohon.
Tentu saja wanita itu menjadi marah sekali.
Kedua belah telapak tangannya digosok-gosokkannya satu sama lain, lalu memukul ke arah para pengeroyoknya yang mau memanfaatkan keadaannya yang runyam tadi.
"Bussss!"
"Aduuuuh...!"
Dua orang pengeroyoknya jatuh terkapar di atas tanah.
Mereka berkelojotan seperti orang kepanasan, tapi sebentar kemudian mereka menggigil kedinginan, lalu selanjutnya meninggal dunia seperti udang kering.
Para pengeroyok yang lain mundur ketakutan.
Dua orang anggota Sha-cap mi-wi maju dengan sigap dan tangkas.
Keduanya memegang pedang yang panjang.
"Awas! Serang saja dengan senjata kalian yang panjang! Jangan terlalu dekat dan jangan sekali-kali menangkis pukulan mereka! Mereka mempunyai pukulan Im-yang Tok-ciang yang sangat beracun..."
Salah seorang dari anggota Sha-cap mi-wi itu berteriak memperingatkan kawan-kawannya.
Sebagai seorang jago silat kelas satu di dunia kang-ouw, para anggota Sha-cap mi-wi tahu belaka segala ilmu yang aneh-aneh di dunia persilatan.
Biarpun mereka belum pernah melihat atau mengenal ilmu pukulan yang dilancarkan oleh wanita iblis tersebut, tapi guru mereka telah menceritakan serba sedikit tentang segala macam pukulan beracun di dunia ini, termasuk pula ilmu pukulan Im-yang Tok-ciang dari Im-kan Siang-mo tadi.
Demikianlah, Im-yang Tok-ciang yang dikeluarkan oleh sepasang iblis itu akhirnya tidak berarti pula lagi.
Hujan senjata yang dilancarkan oleh para pengepung itu benar-benar sangat menyulitkan Im-kang Siang-mo.
Berkali-kali ujung senjata lawan menggores dan melukai badan suami-isteri itu, sehingga tubuh kedua iblis itu lambat laun seperti binatang buruan yang terluka mandi darah oleh senjata para pemburunya.
Kalau sekali-kali sepasang suami-isteri itu mau membalas menyerang, dua orang anggota Sha-cap mi-wi itu segera mencegat dan memotongnya, sehingga otomatis serangannya menjadi gagal.
"Gila! Sungguh gila! Moi-moi, tampaknya kita memang akan mati hari ini..."
Bouw Mo-ko merintih seperti orang yang sudah berputus-asa. Badannya yang kurus itu tampak seperti bukan manusia lagi saking banyaknya darah yang berlepotan di sekujur tubuhnya.
"Koko...aku juga takut! Orang-orang ini kelihatannya seperti roh-roh haus darah dari orang-orang yang pernah kita bunuh. Kini mereka datang semua menyusup ke dalam tubuh para pengeroyok kita ini untuk membalas dendam kepada kita, hiiiii..."
Hoan Mo-li merintih pula ketakutan.
Iblis wanita ini keadaannya juga tidak lebih baik dari pada suaminya.
Badannya yang gemuk tambun itu telah tersayat-sayat mengerikan.
Beberapa buah Iobang luka yang mengucurkan darah, tampak terbuka di beberapa tempat.
"Jangan mengulur-ulur waktu! Cepat bunuh kedua iblis ini!"
Tiba-tiba seorang berpakaian perwira muncul dan memberi perintah.
Dua orang anggota Sha-cap mi-wi datang lagi memberi bantuan.
Maka sebentar kemudian sepasang Iblis yang telah terdesak hebat itu makin tak bisa berbuat apa-apa.
Sabetan golok dari salah seorang anggota Sha-cap mi-wi yang baru datang itu tidak dapat dielakkan lagi oleh Hoan Mo-li.
Akibatnya sebelah kaki iblis wanita itu putus dan melayang ke udara.
Tak ayal lagi badan yang gemuk itu jatuh ke tanah dan selanjutnya iblis tersebut tak kuat lagi menangkis hujan senjata yang mencacah-cacah tubuhnya!
Tubuh itu hancur bagaikan cacahan daging bakso!
"Tolong...!"
Dalam ketakutan dan kengeriannya Bouw Mo-ko meloncat pergi mau meloloskan diri.
Tapi sebuah tombak panjang menyongsong perutnya.
Bouw Mo-ko berusaha mengelak dengan menghantam ujung tombak tersebut.
Usahanya berhasil, tapi di lain saat beberapa buah senjata pedang dan golok telah membabat ke arah kaki dan perutnya.
Terpaksa dengan wajah pucat dan napas memburu, Bouw Mo-ko meIenting lagi ke atas...Tapi sungguh celaka!
Sebatang tombak berkait dari salah seorang pengeroyoknya berhasil menggantol celananya, sehingga maksudnya untuk meloncat ke udara itu menjadi kandas di tengah jalan.
Maka tak ampun lagi beberapa buah senjata yang menyerang tubuhnya tadi dengan telak mengenai sasarannya!
"Ibliiiis laknat keparaaat...aduuuh!!!"
Disertai teriakannya yang menyayat hati tubuh Iblis Bankwi-to itu rebah ke atas tanah.
Beberapa saat lamanya tubuh tersebut meregang seperti ayam disembelih, dari mulutnya masih terdengar sumpah-serapahnya, untuk kemudian terkapar mati!
Sejenak orang-orang yang mengeroyok Im-kan Siang-mo tadi termangu-mangu di tempat masing-masing.
Mereka seolah-olah baru sadar bahwa mereka tadi telah membunuh sepasang iblis dengan cara yang amat mengerikan.
Di dalam hati rasa-rasanya mereka baru saja membunuh binatang buruan yang sangat berbahaya.
"Ayoh! jangan terus berdiri mematung disitu! Lihat kawan-kawan kita masih bertempur di bawah sana...!"
Perwira yang memberi perintah tadi berteriak kembali menyadarkan mereka.
Bagaikan dibangunkan dari tidur mereka orang-orang itu lantas berlari menuruni Iereng membantu kawan-kawan mereka yang sedang mengepung Tee-tok-ci, Ceng-ya-kang dan Jeng bin Siang-kwi!
Dan kedatangan mereka itu memang sangat membantu para pengepung iblis-iblis dari Ban-kwi-to tersebut.
Sebaliknya bagi Tee-tok-ci yang sudah terdesak hebat itu, bala bantuan tersebut semakin menyulitkan kedudukannya.
Tubuhnya yang kecil itu mulai menerima tusukan dan sabetan senjata para pengepungnya, sehingga pakaiannya menjadi compang-camping dan penuh noda darah.
"Anjing-anjing busuk keparaaaat...! ayo, jangan main keroyokan kalau memang kalian berani! Marilah beradu dada satu lawan satu!"
Di dalam kerepotannya Tee-tok-ci memaki dan mengumpat saking marahnya.
Tentu saja umpatan dan tantangan itu tak dipedulikan oleh lawan-lawannya.
Mereka justru semakin gencar mendesak iblis itu agar pertempuran tersebut lekas selesai.
Tiga orang anggota Sha-cap mi-wi yang baru saja turun dari atas tebing tadi segera menyerang Teetok-ci dari tiga jurusan, sementara dua orang anggota Sha-cap mi-wi lainnya, yang sejak semula telah mengepung iblis tersebut, mendesak dari depan dan belakang.
Mereka berlima menyerang berbareng dari segala jurusan, sehingga rasa-rasanya Tee-tok-ci takkan mungkin bisa menyelamatkan diri lagi.
Apalagi jika diingat bahwa kepandaian dari masing-masing anggota Sha-cap mi-wi tersebut tidak berselisih banyak dengan Tee-tok-ci sendiri.
Ternyata apa yang terjadi selanjutnya adalah benar-benar di luar dugaan para anggota Sha-cap mi-wi tersebut.
Dalam keadaan terpojok itu, tiba-tiba Tee-tok-ci menarik sebuah cambuk panjang dari pinggangnya.
Lalu dengan cepat bagai kilat cambuk itu diputar untuk menyongsong hujan senjata yang tertuju ke arah dirinya.
Cambuk itu mengeluarkan suara mengaung saking hebatnya tenaga dalam yang mendorongnya.
Terdengar suara berdencing berkali-kali ketika sabetan cambuk itu mampu mementalkan laju senjata yang bertaburan ke arah badannya.
Otomatis lima orang anggota Sha-cap mi-wi itu berloncatan mundur.
Semuanya meneliti senjata masing-masing, kalau-kalau senjata mereka mengalami kerusakan terbentur cambuk lawan.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Tee-tok-ci untuk mengambil peluit pemanggil tikusnya, kemudian berbareng dengan serangan para pengeroyoknya kembali, dia meniup peluit tersebut dengan kerasnya.
Suaranya melengking tinggi, mengalahkan suara ombak dan angin laut yang gemuruh tiada henti-hentinya.
Tapi sudah sekian lamanya menanti, Tee-tok-ci belum juga melihat binatang-binatang yang diharapkannya itu.
Padahal ledakan-ledakan cambuknya sudah tidak dapat melindungi dirinya lagi dari sengatan-sengatan senjata lawannya.
Beberapa sobek luka telah menganga pula di beberapa bagian tubuhnya sehingga darah yang keluarpun semakin banyak pula.
Akibatnya kekuatan tubuhnyapun juga semakin berkurang.
"Demi demit setan dan iblisss...apakah tempat ini tak ada tikus sama sekali?"
Tokoh pertama dari Ban-kwi-to itu menyumpah-nyumpah.
"He?! Mengapa kau berteriak-teriak mencari tikus? Bukankah engkau sendiri seekor tikus...?"
Salah seorang anggota Sha-cap mi-wi mengejek.
Sambil mengejek tak lupa tombaknya yang panjang itu ditusukkan ke arah leher Teetok-ci dengan ganas.
Tee-tok-ci yang sedang mengelak dari serangan pedang dan golok lainnya, tak ada kesempatan lagi untuk menangkisnya.
Cambuknya yang baru saja digunakan untuk menangkis serangan, masih terjulur di sebelah belakang punggungnya.
Harus membutuhkan waktu untuk menariknya ke depan.
Padahal hanya dalam waktu sedetik, ujung tombak tersebut telah berada di depan tenggorokannya!
Dalam keadaan terpepet, Tee-tok-ci terpaksa menyambut serangan itu dengan gerakan yang sangat berbahaya bagi dirinya.
Kepalanya menunduk dengan cepat dan giginya menyongsong ujung tombak serta menggigitnya dengan kuat!
Lehernya memang selamat, sehingga nyawanya tidak jadi melayang ke alam baka.
Tapi sodokan tombak anggota Shacap-mi-wi itu juga bukan sodokan anak kecil yang tidak punya kekuatan sama sekali, sodokan tersebut dilakukan dengan sandaran Iweekang yang amat kuat!
Maka tidaklah heran, meskipun selamat tubuh Tee-tok-ci sendiri akhirnya terjengkang dan giginya rontok separuh!
Celakanya, para pengeroyoknya tidak lagi memberi kesempatan kepada iblis itu untuk berdiri dan bersiap-sedia kembali.
Begitu Tee-tok-ci terlentang di atas tanah, anggota anggota Sha-cap mi-wi yang mengeroyoknyapun segera menghujaninya dengan tusukan dan sabetan senjata mereka secara bertubi-tubi!
Tiga buah senjata dapat dielakkan oleh Tee-tok-ci, dan sebuah lagi bisa dia tahan dengan cambuknya.
Tetapi...sabetan golok yang melintang ke arah perutnya tak mampu lagi dia hindari!
Maka sekejap kemudian perut itu telah terbelah dari kanan ke kiri dan ususnya...terburai keluar!
"Demit iblis tak berjantung...adaoooouh?!?!"
Sambil mengumpat Tee-tok-ci melenting berdiri.
MeIihat ususnya berhamburan keluar, iblis yang sudah terbiasa membunuh dan menyiksa orang itu terbelalak, mulutnya menjerit dan ternganga!
"Ouh, de...demi setan...ke-kenapa pe...perutku ini?
Keparaat...!"
Dengan tangan menggigil karena ngeri dan ketakutan, Tee-tok-ci meraup ususnya yang bergantungan itu, lalu bergegas menjejalkannya kembali ke dalam perutnya yang menganga!
Para pengepung Tee-tok-ci justru tertegun melihat pemandangan yang mengerikan itu.
Sekejap mereka seperti sekelompok orang yang kehilangan akal malah!
"Lekaslah bunuh dia...!
Mengapa kalian malah terbengong saja di situ?"
Tiba-tiba perwira yang turun dari atas tebing tadi berteriak menyadarkan mereka.
Bagaikan mendapat komando, orang-orang itu segera meloncat menyerang berbareng.
Lima buah senjata dari para anggota Sha-cap mi-wi dengan ditambah beberapa pucuk senjata lagi dari para perajurit yang lain tampak meluncur menuju ke arah tubuh Teetok-ci.
Iblis itu masih berusaha untuk mengelakkannya, tetapi mana mampu badan yang sudah sangat lemah itu melawan sedemikian banyaknya senjata yang tertuju kepadanya?
Maka disertai dengan teriakannya yang menyayat hati, Tee-tok-ci rebah dengan tubuh yang sudah tidak karuan macamnya.
belasan senjata yang menerjang ke arah dirinya tadi membuat tubuhnya tercerai-berai kemana-mana!
Para perajurit yang mengepung tempat tersebut lantas bersorak-sorai menyambut kematian Tee-tok-ci yang telah membawa banyak korban jiwa itu.
Dan sorak-sorai ini benar benar membuat Jeng-bin Siang-kwi yang bertempur tidak jauh dari tempat itu, menjadi semakin tergetar ketakutan hatinya.
Sepasang wanita kembar itu dikepung oleh enam orang anggota Sha-cap mi-wi yang mempergunakan berbagai macam senjata.
Seperti juga saudara-saudara mereka yang lain, sepasang wanita kembar tersebut juga mengalami tekanan yang berat dari para pengepungnya.
Banyak mayat para perajurit yang berserakan di sekitar pertempuran mereka, yaitu mayat para perajurit yang tadi termakan oleh racun-racun yang disebarkan oleh kedua iblis wanita itu.
Tapi sekarang racun-racun yang dibawa oleh Jeng-bin Siangkwi telah habis, padahal musuh-musuh utama mereka justru belum mati.
Kini anggota-anggota Barisan Sha-cap mi-wi yang lihai-lihai itu malah mendesak mereka tanpa ampun, dan benar-benar tidak mudah untuk menghadapi jago-jago dari Sha-cap mi-wi tersebut.
Kepandaian mereka rata-rata sangat tinggi, mungkin tidak berselisih banyak dengan kepandaian kedua wanita itu sendiri.
Memang, untuk beberapa saat lamanya Jeng-bin Siang-kwi dapat bertahan, tapi sejalan dengan berjalannya waktu, kekuatan merekapun menjadi semakin susut juga.
Dan apa yang mereka takutkan sejak semula terjadilah...!
Sekali dua kali senjata para anggota Sha-cap mi-wi itu mulai menyentuh dan melukai kulit Jeng-bin Siang-kwi!
Dan semakin lama sentuhan-sentuhan tersebut semakin sering terjadi, sehingga beberapa saat kemudian darah mulai membasahi tubuh dan pakaian kedua orang wanita tersebut.
Dan sejalan dengan semakin seringnya senjata lawan melukai kulit mereka, hati merekapun semakin dicekam oleh rasa ketakutan yang hebat.
Kedua iblis wanita itu telah sering kali mempermainkan orang sebelum mereka membunuhnya.
Kini mengalami sendiri bagaimana rasanya hendak mati dibunuh orang, hati mereka menjadi ketakutan setengah mati.
"Cici...apa...apakah yang mesti kita lakukan?"
Jeng-bin Su-nio dengan suara gemetar berseru ke arah kakaknya.
"Apakah"
Kita me-menyerah saja kepada mereka?"
"Menyerah? Ti-tidak mungkin...! Lihatlah toa-suheng itu! Mereka telah menyiksanya sampai mati. Mungkinkah mere...mereka...akan...akan memberi ampun kepada kita?"
Jeng-bin Sam-ni menjawab gagap antara kerepotannya.
"La...lalu...?"
Adiknya mendesak lagi.
"Kita melawan sampai mati!"
"Hahahah...kalian tak perlu ketakutan begitu! Sudah selayaknya kalian menerima pembalasan kami. Lihatlah, berapa orang kawan kami yang telah mati karena racun tadi? Berapa puluh manusia yang telah menjadi korban kebiadaban kalian selama ini?"
Salah seorang anggota Barisan Sha-cap mi-wi yang mengeroyoknya mengejek.
Demikianlah, sepasang iblis kembar menghadapi pengepung mereka dengan beradu panggung.
Tapi karena tenaga mereka telah susut jauh maka daya perlawanan merekapun sudah tidak berarti lagi buat lawan-lawannya.
Selagi mereka sibuk menangkis dan mengelakkan beberapa buah serangan yang melanda mereka, sebatang tombak besar telah menerobos pertahanan mereka dan merobek celana serta melukai pantat Jeng-bin Sam-ni!
Kaitan yang terpasang pada tombak tersebut menggaet dan membawa sebagian kain celana Jeng-bin Siang-kwi, sehingga pantat yang masih mulus dan merangsang itu tampak dengan nyata.
Kontan yang melihatnya menjadi tertegun!
Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Jeng-bin Sam-ni.
Melihat orang bertombak tadi menjadi terlongong-longong melihat pantatnya, ia segera menghadiahi dengan sebuah tendangan, yang dengan telak mengenai dada orang itu.
"Bressss!"
"Aduuuuh!?"
Memperoleh hasil demikian, iblis wanita itu segera memperoleh akal.
"Sumoi...! Marilah kita tanggalkan semua pakaian kita! Lekas! Kita bertempur dengan tidak usah pakai baju saja...!"
"Cici...! Apakah kau sudah gila?"
"Jangan membantah! Lekaslah...!"
Jeng-bin Sam-ni sendiri segera merobek-robek pakaian yang dikenakannya, sehingga sebentar kemudian iblis yang cantik itu telah telanjang bulat.
Tubuhnya yang putih itu dan selalu terawat baik itu memang benar-benar mempesonakan.
Apalagi dalam keremangan malam yang hanya bersinarkan ribuan bintang tersebut, rasa-rasanya wanita itu bagaikan seorang peri yang turun ke bumi.
Tipu daya itu ternyata memang benar-benar menggoncangkan iman para pengeroyoknya.
Kepungan mereka menjadi kendor, dan serangan mereka yang semula amat gencar itu menjadi kalang-kabut tak teratur lagi!
Maka tidaklah heran ketika Jeng-bin Sam-ni membalas menyerang mereka, beberapa orang tidak sempat mengelak lagi.
Dua dari enam orang pengeroyoknya terluka parah kena cakarannya.
Melihat tipu muslihat Cicinya membawa hasil, Jeng-bin Sunio lekas-lekas membuka pakaiannya pula.
Bagi wanita-wanita cabul seperti mereka, soal buka-membuka baju bukan menjadi persoalan lagi.
Enak saja baginya menyobeki pakaiannya sampai bugil.
Begitulah, kini dengan adanya dua tubuh mulus di hadapan mereka, orang-orang itu menjadi semakin terpecah-belah perhatiannya.
Masing-masing menjadi salah tingkah dalam gerakannya, sehingga beberapa orang lagi menjadi korban pembalasan Jeng-bin Siang-kwi!
"Kurang ajar...!
Kalian ini benar-benar kerbau bodoh yang mudah terbujuk oleh keindahan-keindahan semu seperti itu!"
Tiba-tiba perwira yang berwibawa tadi membentak dengan suara menggeledek.
"Maafkan kami, Gui-Goanswe (Jendral Gui)..."
Salah seorang dari anggota Sha-cap mi-wi yang terluka itu menunduk di depan perwira tersebut.
Gui-Goanswe adalah salah seorang panglima kerajaan yang amat disegani oleh anak buahnya.
Dia adalah pembantu utama dari Yap Tai-Ciangkun, dan bertugas sebagai panglima pasukan bertombak dan pasukan berkuda.
Usianya kira-kira enam puluh tahun, dua kali lipat usia Yap Tai-Ciangkun, tapi meskipun begitu gerakannya masih tetap tangkas dan gesit.
Dalam gerakan mereka ke Pantai Karang itu Gui-Goanswe mendapat tugas untuk membawa pasukan bertombaknya untuk mengepung pantai tersebut, sementara Yap Tai-Ciangkun sendiri memimpin para anggota Sha-cap mi-wi yang dibawanya.
Gui-Goanswe memberi tanda kepada para anggota Sha-cap mi-wi yang tadi telah berhasil membunuh Im-kan Siang mo dan Tee-tok-ci agar terjun ke dalam arena, membantu teman mereka yang terdesak itu.
"Bunuhlah dua orang wanita cabul itu! Awas, jangan terpengaruh oleh kecantikan mereka seperti kawan-kawanmu tadi. Berpikirlah yang jernih! Dalam pertempuran ini, siapa yang lengah akan mati...! Maka kita memilih mati atau memilih...membunuh mereka!"
"Akan kami kerjakan Goanswe..."
Lima orang itu menjawab tegas.
Lima orang berkepandaian tinggi itu segera terjun ke dalam pertempuran membantu kawan-kawan mereka, mengepung Jeng-bin Siang-kwi!
Sesaat mereka memang agak kikuk melawan dua orang wanita cantik yang bertelanjang bulat seperti itu.
Mereka sering menjadi ragu-ragu bila harus memukul ke arah dada yang ranum atau ke arah bagian bawah yang menggairahkan itu.
Tapi setelah beberapa kali mereka justru hampir mati karena keragu-raguan mereka sendiri itu, mereka lantas benar-benar menjadi sadar.
Mereka sendirilah yang akan menjadi korban apabila mereka tidak bersungguh-sungguh!
Maka dalam pertempuran selanjutnya kelima orang anggota Sha-cap mi-wi tersebut lalu bertempur dengan sungguh-sungguh.
Mereka membuang jauh-jauh pikiran yang mengganggu perasaan mereka itu dan melabrak dua orang wanita cabul tersebut tanpa ampun!
Keadaan itu tentu saja membuat Jeng-bin Siang-kwi menjadi mati kutu.
Mereka kembali terdesak dengan hebat.
Beberapa kali mereka mencoba menggoda lawan-lawan mereka dengan gerakan gerakan yang berani dan sangat cabul, tapi kali ini siasat mereka sudah tidak mempan lagi.
Orang orang itu lebih takut kepada Gui-Goanswe dari pada melayani cumbuan mereka.
Begitulah, beberapa saat kemudian tubuh mereka yang halus mulus itu mulai dikoyak oleh senjata lawan lagi.
Semakin lama semakin sering, sehingga keduanya menjadi ketakutan dan menjerit-jerit lagi.
Mereka mencoba bertahan mati-matian, tapi para anggota Sha-cap mi-wi tersebut sudah tidak mengenal ampun.
Serangan orang-orang itu justru semakin ganas dan kejam, sehingga beberapa jurus kemudian tubuh kedua wanita cabul itu sudah kehilangan daya rangsangnya.
Tubuh itu kini telah berubah menjadi merah bersimbah darah!
Sebuah tombak menusuk dari belakang secara tak terduga, sehingga Jeng-bin Su-nio tak kuasa lagi mengelakkannya.
Otomatis iblis itu mengayunkan lengannya menangkis, tapi ujung tombak yang tajam tersebut sudah terlanjur menancap di pahanya.
Biarpun batang tombak itu akhirnya menjadi patah terkena pukulannya, tapi ujung besinya yang tajam tetap tertanam di dalam pahanya.
Sakitnya bukan kepalang!
Jeng-bin Su-nio jatuh terduduk, tapi segera bangkit kembali dengan terpincang-pincang.
Kakaknya bermaksud menolong, tapi sebilah golok justru membuatnya terjungkal ke tanah.
Tanpa ia duga salah seorang lawan mereka telah membabat ke arah kakinya, sehingga kaki kanannya terbacok hampir putus.
"Ciciiii...! aku tak mau dibunuh oleh mereka...!"
Jeng-bin Su-nio menubruk kakaknya.
"Sumoi, akupun tak mau pula...!"
Jeng-bin Sam-ni berteriak pula menyayat hati.
Dua orang iblis kembar itu saling berangkulan.
Dan seperti sudah berunding sebelumnya, sambil berpelukan mereka saling mencengkeram pelipis saudaranya, sehingga di lain saat jiwa mereka telah melayang bersama-sama!
Tubuh mereka lalu jatuh berdebam di atas tanah.
Peristiwa itu sungguh amat mengejutkan para anggota Sha-cap mi-wi yang mengepungnya.
Serangan bersama yang telah mereka siapkan terpaksa mereka urungkan dengan mendadak.
Dengan senjata teracung dan siap menerjang, mereka tercenung bagai patung di tempat masing-masing.
Mereka benar-benar tidak mengira kalau iblis cabul tersebut hendak bunuh diri.
"Nah, sekarang tinggal seorang saja lawan kita..."
Gui-Goanswe berteriak lagi, tangannya menunjuk ke arah Ceng-ya-kang yang berlari-lari main kucing-kucingan dengan para pengeroyoknya.
Ceng-ya-kang memang sangat cerdik, mungkin lebih cerdik dari pada saudara-sandaranya.
Sebelum pertempuran dimulai, dia telah menilai lebih dulu kekuatan lawan yang tampak di sekitarnya.
Begitu tahu perajurit yang dikerahkan oleh Yap Tai-Ciangkun sangat banyak sekali, maka dia telah mengambil keputusan untuk tidak melawannya.
Bagaimanapun sakti dan hebat senjata racun mereka, takkan mungkin dapat membunuh sekian banyak orang.
Maka sebelum kekuatannya menurun dan racun yang dibawanya habis, dia sudah dapat keluar dari kepungan itu.
Dan cara yang dipilihnya adalah...berlari-lari di antara semak dan batu karang, sambil bermain kucing-kucingan dengan jago-jago mereka!
Hal ini memang telah dilakukannya"
Ceng-ya-kang selalu menghindar apabila bertemu dengan lawan-lawan tangguh seperti para anggota Sha-cap mi-wi, tapi segera membunuh apabila berhadapan dengan perajurit-prajurit biasa.
Suasana yang gaduh dan medan yang sangat lebat dengan semak-semak perdu itu memang amat enak dan cocok untuk main kucing-kucingan.
Sebentar keluar dan bertempur untuk membunuh para perajurit kemudian begitu ada jago kuat melayaninya, ia lantas menyusup lenyap ke dalam semak-semak.
Selanjutnya muncul lagi di tempat lain untuk berbuat yang serupa pula!
Itulah sebabnya, meskipun pertempuran sudah sekian lamanya berkecamuk, Ceng-ya-kang masih tetap segar bugar dan genit.
Ludahnya yang sangat beracun itu selalu saja memperoleh korban perajurit-perajurit yang berani menghadang langkahnya.
Tapi oleh karena Yap Tai-Ciangkun memang sengaja menyebar para anggota Sha-cap mi-wi di segala tempat, maka kemana pun Ceng-ya-kang berlari, dia akan selalu bertemu dengan jagoan istana tersebut.
Oleh karena itu beberapa saat kemudian, tanpa terasa Ceng-ya-kang tergiring ke arah pantai dengan sendirinya.
Baru setelah kakinya menginjak hamparan pasir, iblis gundul itu sadar akan kesalahan langkahnya.
Tapi kesadaran tersebut sudah terlambat!
Begitu tubuhnya yang gemuk itu melenting ke atas batu karang besar di depannya, matanya segera melihat gelombang air di bawahnya.
Dan ketika iblis itu membalikkan tubuhnya, dibawah batu karang tersebut telah berderet-deret anggota Sha-cap mi-wi yang mengepungnya.
Semuanya telah siap mengejar ke atas batu karang!
Sekejap seperti hilang semangat Ceng-ya-kang!
Wajahnya yang kehijau-hijauan itu seakan kehilangan semua darahnya.
Tubuhnya yang berlemak itu sedikit gemetar.
Rasa-rasanya malaikat elmaut telah datang untuk menjemputnya.
"Celaka, agaknya hanya sampai sekian saja hidupku di dunia ini...!"
Iblis itu membatin ketika beberapa orang perajurit tampak melemparkan tombak mereka ke arah dirinya.
Ceng-ya-kang menunduk dan lewatlah belasan batang tombak tersebut di atas kepalanya.
Tapi hatinya segera berdebar-debar ketika beberapa orang anggota Sha-cap mi-wi berloncatan ke atas batu karang yang diinjaknya.
Dan kekhawatirannya semakin menjadi-jadi begitu serangan yang mereka lakukan kemudian, benar-benar sukar sekali dielakkan.
Satu atau dua serangan mereka masih dapat ditanggulangi, tetapi serangan-serangan mereka yang lain sungguh-sungguh tak bisa dihindarinya lagi!
Maka tanpa ampun pula beberapa buah pukulan dan sayatan senjata lawan telah mulai melukai badannya.
Sakitnya bukan main.
"Berdoalah, karena sebentar lagi nyawamu akan segera melayang ke alam baka, mengikuti arwah saudarasaudaramu...!"
Salah seorang dari para pengepungnya mencemooh.
"Cuh! Cuh! Cuh...!"
Iblis gundul itu menjawab dengan ludahnya ke arah orang yang memperolokkannya tersebut.
Tetapi dengan mudah orang yang bukan lain adalah anggota Sha-cap mi-wi itu mengelakkannya.
Dengan memutar badannya setengah lingkaran ke sebelah kiri, orang itu justru membalas serangan Cengya-kang tersebut dengan sabetan goloknya.
Suaranya mendesing ketika golok itu berkelebat ke arah leher Ceng-ya-kang!
Sebenarnya sabetan golok itupun takkan menyulitkan bagi Ceng-ya-kang!
Dengan mudah iblis berkepala gundul itu akan dapat menghindarinya.
Tetapi yang amat menyulitkan iblis tersebut adalah serangan-serangan lain yang membarengi sabetan golok itu.
Karena bersamaan dengan sabetan golok yang tertuju ke lehernya tersebut, beberapa orang pengeroyoknya yang lain juga telah menyerangnya dengan senjata mereka masing-masing.
Ada yang menyerang pinggangnya, ada yang menyerang dadanya dan ada pula yang membabat ke arah kakinya.
Tak mungkin rasanya Ceng-ya-kang melayani semua serangan tersebut.
Dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan diri dari semua serangan itu hanyalah meloncat ke belakang!
Tapi kalau dia melakukan hal itu...berarti dia harus terjun ke laut yang ganas bergelora di belakangnya!
Sedetik iblis itu menjadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang mesti diperbuatnya!
Tapi dalam sedetik itu pula semua serangan lawannya telah datang dan hampir menyentuh kulitnya!
Tak ada pilihan lain lagi!
Dalam kesempatan yang terakhir Ceng-ya-kang melompat ke belakang!
Golok itu telah menyerempet lehernya dan menyobek kulitnya sehingga darahnya segera keluar membasahi bajunya.
Untunglah ujung golok tersebut tidak mengores tenggorokan ataupun urat nadinya.
Iblis gundul itu terbebas dari serangan pengepungnya, tapi di lain saat tubuhnya tidak bisa membebaskan diri dari cengkeraman laut di bawahnya!
Sebentar saja tubuhnya telah lenyap tergulung oleh gelombang air laut yang bergelora!
Para pengepungnya bergegas menjenguk ke bawah dengan perasaan kesal dan marah, mereka sebenarnya ingin mencincang tubuh Ceng-ya-kang sampai lumat!
Iblis gundul itu banyak membunuh kawan-kawan mereka.
Tapi apa daya, ternyata iblis itu lebih suka mati ditelan air Iaut dari pada mati di tangan mereka.
Sementara itu di tempat lain, tidak jauh dari tempat itu, Yap Tai-Ciangkun kelihatan marah-marah karena buronannya ternyata telah lolos dari kepungan anak buahnya.
Orang berkerudung itu sudah pergi dengan banyak meninggalkan korban pada para perajurit.
"Kurang ajar..."
Panglima muda itu menggeram marah lalu menggapai empat orang Sha-cap mi-wi yang selalu mengawalnya.
"Ayoh, kalian ikut aku mengejar orang itu...!"
Perintahnya.
Tanpa mempedulikan bahaya yang terhampar di depan mereka, Yap Tai-Ciangkun serta empat orang anak buahnya melesat mengejar Hek-eng-cu.
Mereka berlari dan berloncatan di atas ujung-ujung batu karang yang tajam dan amat licin.
Mereka tidak memikirkan lagi bahwa sedikit saja kaki mereka terpeleset, mungkin tubuh mereka sudah tidak akan tertolong lagi.Mereka berlima memang dapat mengejar Hek-eng-cu, sebab seperti telah diceritakan di bagian depan bahwa iblis berkerudung itu terpaksa melayani tantangan Pek-i Liong-ong.
Dan kedatangan mereka di tempat pertempuran antara Hek-eng-cu dan Pek-i Liong-ong itu ternyata bagaikan malaikat penolong yang menyelamatkan nyawa dan kehormatan ketua aliran Mo-kauw tersebut.
Hek-eng-cu maupun Pek-i Liong-ong merupakan tokoh tokoh sakti yang kesaktiannya benar-benar tidak lumrah manusia.
Kepandaian silat mereka boleh dikatakan sudah mencapai kesempurnaan, sehingga sepak terjang mereka sangat menakjubkan, bagaikan dewa-dewa di dalam dongeng saja!
Mereka berdua dapat bergerak secepat angin, karena keduanya sama-sama jago ginkang yang tiada taranva.
Ilmu silat merekapun luar biasa tingginya, karena keduanya juga sama-sama keturunan datuk ilmu silat yang amat sangat ternama pada zaman seratus tahun yang lalu.
Maka kalau sekarang kedua jago itu bertempur satu sama lain, dapat dibayangkan betapa hebat dan dahsyatnya pertempuran tersebut.
Apalagi pertempuran mereka itu mengambil tempat yang luar biasa berbahayanya, yang bagi jago-jago silat biasa tak mungkin bisa menginjaknya.
Meskipun begitu, setelah seratus jurus lebih mereka bertempur, mulailah kelihatan kelebihan-kelebihan Hek-eng-cu atas Iawannya.
Meskipun ilmu mereka setanding, tetapi kekuatan tubuh Pek-i Liong-ong yang telah amat tua itu ternyata lambat-laun tidak kuat mengimbangi kekuatan dan daya tahan dari tubuh Hek-eng-cu yang masih muda.
Apalagi semuanya tadi masih ditambah lagi dengan mantel pusaka yang dikenakan oleh Hek-eng-cu!
Mantel pusaka itu ternyata benar-benar sangat bermanfaat dan sangat menolong pemakainya di dalam pertempuran tersebut!
Dalam hal ilmu mereka yang seimbang, mantel pusaka tersebut ternyata sungguh-sungguh berguna sekali!
Maka tidaklah heran apabila seratus jurus kemudian Pek-i Liong-ong mulai tampak mengalami kerepotan.
Lambat-laun tapi pasti, ketua Aliran Mo-kauw itu semakin terdesak dan mulai tampak mengkhawatirkan!
Untunglah sebelum orang tua itu menjadi korban Hek-eng-cu, Yap Tai-Ciangkun dan empat orang anak buahnya telah tiba di tempat tersebut.
Dan kedatangan panglima muda itu ternyata sangat mengejutkan iblis berkerudung tersebut.
Tanpa diduga iblis itu cepat-cepat meloncat pergi meninggalkan Pek-i Liong-ong!
Dengan potongan bambu yang tadi ia pakai untuk meluncur di atas permukaan air, iblis tersebut terjun ke dalam air dan...melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Kurang ajar...!"
Yap Tai-Ciangkun mengumpat. Dengan mata melotot panglima yang masih sangat muda itu menatap bayangan Hek-eng-cu yang semakin lama menjadi semakin kecil.
"Ahh...kedatangan Yap Tai-Ciangkun ternyata telah menyelamatkan nyawaku dari keganasan orang itu,"
Pek-i Liong-ong menjura dan menyatakan rasa terima kasihnya. YapTai-Ciangkun membalikkan badannya...dan menjadi kaget begitu menyadari siapa yang telah menjadi lawan Hek-eng-cu tadi.
"Oh, Lo-Cianpwe kiranya...!"
Tegur panglima itu dengan terbata-bata.
"Pikiranku hanya tertuju kepada Hek-eng-cu saja hingga tak tahu kalau Lo-Cianpwe-lah yang menjadi lawannya tadi..."
Pek-i Liong-ong tersenyum sambil menyeka keringat yang mengalir di muka dan di lehernya. Pertempurannya tadi ternyata telah banyak menguras tenaga dan kemampuannya.
"Benar, Tai-Ciangkun...Iohu-lah yang tadi hampir saja mati di tangan iblis lihai itu,"
Orang tua itu mengangguk-angguk.
Yap Tai-Ciangkun memandang ke tengah laut kembali, seolah mau mencari bayangan Hek-eng-cu diantara gulungan ombak yang tinggi bergelora itu.
Yang lain menjadi ikut-ikutan memandang ke arah laut, dan untuk beberapa saat lamanya mereka berdiam diri bagaikan sekelompok patung yang dipasang di atas batu karang.
"Eh! Mengapa tidak kulihat pembantu Hek-eng-cu yang tadi ikut melarikan diri itu?"
Tiba-tiba Yap Tai-Ciangkun mengerutkan keningnya.
"Ohhh...orang itu telah disuruh pergi oleh Hek-eng-cu sebelum kami bertempur tadi..."
Pek-i Liong-ong memberi keterangan.
"Hemm..."
Yap Tai-Ciangkun menghela napas panjang.
"Tapi...hal ini sungguh amat kebetulan sekali bagi lohu. Coba kalau orang itu belum disuruh pergi oleh Hek-eng-cu, lohu kira Yap Tai-Ciangkun hanya tinggal menemukan mayatku saja di sini."
"Ahhh! Lo-Cianpwe sungguh pandai merendahkan diri..."
Panglima muda itu menundukkan kepalanya dengan lesu, hatinya terasa kecewa bukan main karena orang yang hendak ditangkapnya itu telah meloloskan diri dengan cara yang tak mungkin dikejar olehnya.
Beberapa saat lamanya mereka berdiam diri kembali.
"Kalau begitu kita kembali saja ke Pantai karang! Kita..."
Akhirnya panglima yang amat tersohor itu berkata. Tapi kata-katanya segera terputus, ketika tiba-tiba dilihatnya anak buahnya tampak termangu-mangu dengan wajah pucat.
"Ka...kalian kenapa...?"
Serentak empat orang anggota Sha-cap mi-wi itu memandangi ujung pakaian masing-masing yang compang camping tidak karuan, lalu mereka bersama-sama memandangi pula pakaian panglima mereka yang tersayat sayat juga seperti kepunyaan mereka.
Tentu saja gerak-gerik anak buahnya itu sangat membingungkan Yap Tai-Ciangkun!
Otomatis panglima muda itu menundukkan mukanya pula, mengamati pakaian yang dikenakannya, dan...tiba-tiba matanya menjadi terbelalak!
"Oh?!"
Serunya tertahan, lalu memandang pakaian anak buahnya yang keadaannya hampir sama dengan pakaian yang dikenakannya!
Setelah itu tanpa terasa ia memandang jubah lebar yang dipakai oleh Pek-i Liong-ong!
Jubah itu tampak utuh sama sekali, meskipun tadi dipakai untuk bertempur mati-matian dengan Hek-eng-cu!
Sekali lagi panglima muda kepercayaan Kaisar Han itu menghela napas, diam-diam hatinya sedikit bergetar juga melihat kenyataan tersebut.
Rasanya dia menjadi kecil sekali bila diperbandingkan dengan orang tua itu.
Tiba-tiba hatinya menjadi kecut.
Pikirannya segera membayangkan, apa jadinya kalau dia mesti berhadapan sendiri dengan Hek-eng-cu yang kesaktiannya ternyata justru lebih hebat dari orang tua itu?
"Ah, ternyata aku terlalu berani dan terlalu gegabah kali ini.
Untunglah iblis itu tidak bermaksud melayani aku dan anak buahku.
Lain kali aku harus lebih berhati-hati bila bertemu dengannya..."
Yap Tai-Ciangkun berkata di dalam hatinya. Lalu perlahan-Iahan kakinya melangkah kembali ke Pantai Karang.
"Lo-Cianpwe, marilah kita ke Pantai Karang kembali...!"
Katanya dengan sopan.
Demikianlah, Yap Tai-Ciangkun dengan Pek-i Liong-ong berloncatan lagi di atas karang-karang tajam tersebut, diikuti oleh empat orang anggota Sha-cap mi-wi, menuju ke Pantai Karang kembali.
Panglima muda itu bersama para pengawalnya terpaksa lebih berhati-hati lagi dalam menjejakkan kaki mereka di ujung-ujung karang yang tajam itu.
Kini mereka menjadi takut...jangan-jangan tidak hanya pakaian mereka saja yang tersayat koyak oleh batu-batu karang tersebut, tapi termasuk juga kulit dan daging mereka!
Mereka tiba kembali di Pantai Karang tak lama kemudian.
Malam telah menjelang pagi.
Embun pagi telah membasahi rumput dan batu-batu yang mereka injak.
Udara terasa dingin bukan main.
Apalagi ketika angin laut tampak semakin kencang meniupkan percikan-percikan air Iaut yang semakin gemuruh menggelora!
Rasa-rasanya percikan-percikan air tersebut seperti gerimis yang tercurah dari langit saja layaknya.
Mereka menyaksikan pertempuran telah selesai.
Tak seorangpun iblis-iblis dari Ban-kwi-to tadi yang masih hidup.
Semuanya telah mati dan mayat-mayat mereka telah dikumpulkan oleh perajurit, kecuali mayat dari Ceng-ya-kang.
Mayat Ceng-ya-kang tidak dapat mereka ketemukan, karena mayat itu telah hilang digulung ombak.Gui-Goanswe bergegas menyongsong Yap Tai-Ciangkun, serta melaporkan semua tugas yang telah dikerjakannya.
Pihak lawan telah dapat mereka tumpas semuanya, meski korban dari para perajurit yang mereka bawa juga tidak sedikit jumlahnya.
Sayang Hek-eng-cu dan seorang pembantunya dapat meloloskan diri dari kepungan para perajurit.
"Aku sudah mengetahuinya, karena aku dan empat orang anggota Sha-cap mi-wi telah berusaha mengejar mereka, tapi...gagal."
Yap Tai-Ciangkun mengangguk-angguk dengan wajah tidak bergembira, karena maksud dan gerakan mereka ke pantai itu tidak dapat berhasil seluruhnya.
Biarpun pentolan-pentolan orang orang yang bermaksud untuk meletuskan pemberontakan itu telah mereka basmi semuanya, tetapi pemimpin utamanya ternyata belum dapat mereka musnahkan.
Oleh karena itu bahaya timbulnya pemberontakan masih belum hilang, sewaktu-waktu masih dapat timbul kembali.
Panglima muda itu memandang mayat-mayat para perajuritnya yang bergelimpangan di atas tanah.
Mayat-mayat itu telah dikumpulkan bersama-sama dengan mayat-mayat para Iblis dari Ban-kwi-to.
"'Mengapa belum kulihat Kiong Lee suheng di sini? Apakah dia belum tiba?"
Yap Tai-Ciangkun menanyakan kakaknya.
"Entahlah, hamba juga belum melihat kehadiran Yap Taihiap tadi..."
Gui-Goanswe menjawab perlahan.
"Kalau kakak paduka sudah ada di sini, hamba kira korban kita tidak akan sebanyak ini..."
Sementara itu Pek-i Liong-ong begitu datang langsung menghampiri pemuda pemudi yang sedang mengerumuni tubuh Chu Bwee Hong.
Dari jauh orang tua itu telah mendengar ratap tangis Siok Eng, Pek Lian maupun Lian Cu.
Ketiga orang gadis itu seperti sedang bersaingan dalam meratapi tubuh Chu Bwee Hong, sementara Seng Kun malah hanya berjongkok diam di samping mereka, seperti orang yang sedang kehilangan akal.
"Hei, kenapa dia...?"
Pek-I Liong-ong terkejut begitu melihat tubuh Chu Bwee Hong yang tergolek diam di atas pasir.
Mulut dan dada gadis ayu itu masih tampak berlepotan darah.
Dengan tergesa-gesa ketua Aliran Mo-kauw itu menyibakkan gadis-gadis yang sedang mengerumuni Chu Bwee Hong, kemudian memeriksa nadi dan pernapasan gadis ayu tersebut.
Tapi betapa terperanjatnya orang tua itu begitu dirasakannya detak jantung dan pernapasan gadis itu sudahtidak ada lagi.
Gadis ayu yang masih terhitung cucu muridnya sendiri itu ternyata telah mati!
Pek-i Liong-ong lalu berdiri perlahan-lahan diikuti oleh beberapa pasang mata yang berurai air mata di dekatnya.
Orang tua itu menatap tubuh Chu Bwee Hong dengan tak kalah sedihnya.
Sungguh malang benar gadis ini, dia membatin.
"Bagaimana...Lo...Lo-Cianpwe?"
Souw Lian Cu menyentuh lengan Pek-I Liong-ong dan bertanya dengan suara sendu.
Gadis remaja ini merasa sangat sedih dan pilu.
Hatinya seperti ditimbuni oleh perasaan bersalah terhadap wanita itu, yang semula sangat membencinya tetapi ternyata sangat baik kepadanya itu.
Wanita itu ternyata mengorbankan nyawanya demi dia!
"Ooooh...!"
Souw Lian Cu mengguncang lengan Pek-i Liong-ong dengan keras ketika orang tua itu tidak segera menjawab pertanyaannya.
"Lo-Cianpwe...me...mengapa diam saja? Lekas katakan...bagaimana dengan Hong Cici? Apakah dia masih bisa diselamatkan? Lo-Cianpwe...Lo-Cianpwe..."
"Dia telah...mati!"
Orang tua itu akhirnya menjawab singkat.
"Ciciiii...!"
Souw Lian Cu menjerit keras sekali.
Dengan mata bercucuran gadis itu mengedarkan pandangannya ke arah Siok Eng, Pek Lian dan Seng Kun.
Tapi gadis itu segera mendekap mukanya ketika dilihatnya orang-orang itu memandang kaku kepadanya, seolah-olah semuanya mempersalahkan dirinya.
"Oh, tidak...tidak! Cici kau tidak boleh mati! kau boleh kawin dengan ayah sekarang. Aku tidak akan menghalang halanginya lagi. Aku telah menyadari bahwa hatiku selama ini memang buta, tidak dapat melihat ketulusan dan kebaikan budimu kepadaku...huhuhu...!"
Souw Lian Cu menangis sejadi-jadinya, tampak benar betapa menyesalnya dia!
Tentu saja pernyataan yang diucapkan oleh gadia itu benar-benar sangat mengejutkan para pendengarnya, terutama Siok Eng dan Pek Lian!
Tapi dengan demikian mereka lantas bisa meraba-raba, apa yang sebenarnya telah terjadi antara Chu Bwee Hong dan keluarga Souw.
Chu Seng Kun yang duduk berjongkok di samping mereka masih kelihatan termangu-mangu bagaikan patung batu yang tak bernyawa.
Pemuda itu seperti tidak melihat dan mendengar ribut-ribut yang terjadi di dekatnya, matanya memandang kosong ke depan, mulut terkatup rapat, dan tangannya yang terkulai di samping tubuhnya itu tampak mencengkeram pasir di bawahnya!
Kelihatan benar bahwa pemuda itu bertahan untuk tidak menangis, tetapi dari pelupuk matanya yang terbuka lebar itu tampak dengan jelas air matanya turun tak ada habisnya.
Sekali-sekali wajahnya menunduk sebentar, menatap wajah adiknya yang terkulai diam di depannya.
Walaupun wajah itu kotor dan berlepotan darah, tapi kecantikannya tetap tampak cemerlang.
Seng Kun semakin tidak bisa membendung deras air matanya.
Terbayang dalam pikirannya semua kenangan tentang adik satu-satunya itu.
Dari kecil mereka berdua selalu menderita bersama.
Sejak ayahnya pergi meninggalkan mereka dan ibunya, karena ayahnya ditangkap oleh tentara mendiang Kaisar Chin sampai mereka berdua diambil anak angkat oleh kakaknya sendiri karena ibunya juga meninggal, mereka berdua selalu bersama-sama.
Mereka selalu merasakan susah dan gembira bersama, sehingga pada suatu hari mereka berdua juga terpaksa pergi dari rumah kakeknya karena kakek dan neneknya telah dibunuh orang pula.
Makin dipikirkan Seng Kun semakin merasa kasihan terhadap adiknya.
Adiknya hampir tak pernah merasakan kebahagiaan.
Semenjak kecil hingga dewasa dia selalu menderita.
Sampai ketika ia mulai jatuh cinta kepada seorang pria-pun ia mengalami kekecewaan.
Pria tersebut ternyata telah beristeri dan punya anak.
"Bwee Hong..."
Seng Kun mengeluh dengan bibir gemetar.
"Sungguh kasihan benar nasibmu, adikku..."
Hampir saja Seng Kun tak bisa menahan sedu-sedannya.
Untunglah dengan kekerasan hatinya ia mampu menindasnya.Untuk yang kesekian kalinya pemuda itu menatap wajah adiknya kembali.
Wajah itu masih tetap tak berubah, masih tampak ayu dan cantik bukan main, seolah-oIah kulit itu tidak menjadi beku dan pucat.
Sayang wajah yang sangat ayu itu ternyata tidak membawakan keberuntungan dan kebahagiaan kepada pemiliknya, tetapi justru mengundang bahaya dan malapetaka terhadap adiknya.
Seorang lelaki dengan akal busuknya telah menipu dan menjebak adiknya, sehingga pada suatu hari Chu Bwee Hong hilang lenyap tak tentu rimbanya.
Dua tahun lamanya dia mencari, naik gunung mendaki bukit, menyusup hutan dan desa tanpa mengenal lelah.
Dia tak memikirkan lagi keadaan dirinya, sampai-sampai tunangannya sendiripun telah dilupakannya, sehingga banyak orang yang menganggap dirinya telah menjadi gila.
Tiba-tiba Seng Kun mengeretakkan giginya.
Setelah dua tahun dia mengalami penderitaan yang tidak ringan, dan kini bisa bertemu dengan adiknya...ternyata dia cuma bisa memeluk mayatnya!
Di depan matanya Chu Bwee Hong dibunuh orang, dibunuh oleh...lelaki buruk yang menipu adiknya itu!
"Bangsaaaaat...!"
Tiba-tiba pemuda itu berteriak keras sekali, sehingga mengagetkan yang lain-lain.
"Demi Tuhan...aku tidak akan berhenti memburu engkau untuk mencincang dan membunuhmu!"
Geramnya lagi. Hampir saja dia meloncat untuk memburu Hek-eng-cu, untunglah Pek-iLiong-ong mendekapnya dari belakang.
Jilid 24
"Seng Kun...mau kemana kau?"
Orang tua itu menghardik.
"Aku akan mengejar Hek-eng-cu!"
"Huh!"
Pek-i Liong-ong mendengus, lalu melepaskan dekapannya.
"Kemana engkau hendak mengejar dia?"
Chu Seng Kun tergagap.
"Entahlah...!"
Pek-i Liong-ong tersenyum kecut. Tangannya menyentuh pundak Chu Seng Kun dan menyuruhnya duduk.
"Kalau begitu jangan gegabah...! Pikirkanlah dahulu apa yang hendak engkau kerjakan, baru bertindak lebih lanjut! Marilah kau duduk dahulu, lohu hendak berbicara sedikit denganmu...!"
"Koko, apa yang dikatakan oleh Lo-Cianpwe itu memang benar. kau tenangkanlah dahulu hatimu"!"
Tiba-tiba Kwa Siok Eng ikut membujuk dengan suara halus.
Chu Seng Kun terperanjat.
Suara merdu yang hampir satu tahun tak pernah didengarnya itu benar-benar bagaikan tetesan embun yang menyejukkan hatinya.
"Eng-moi, kau...?"
Sapanya lirih hampir tak terdengar suaranya.
Segala macam perasaan, kaget, gembira, rindu, sedih bergolak memenuhi rongga dadanya.
Chu Seng Kun hampir hampir pemuda itu tak mempercayai pandang matanya sendiri.
Tapi karena hatinya baru menderita kesedihan akibat kematian adiknya, semua perasaan tersebut hanya tertahan saja di hatinya.
Pemuda itu hanya menatap tunangannya, kekasihnya dari tempatnya berdiri seakan tak percaya.
Tapi semua orang tahu belaka apa yang terkandung di dalam hati pemuda itu terhadap tunangannya.
Sinar mata pemuda itu ketika menatap kekasihnya seakan telah mengungkapkan semuanya!
"Baiklah...!"
Akhirnya Chu Seng Kun menundukkan kepalanya, lalu duduk di atas pasir seperti yang diperintahkan oleh Pek-i Liong-ong.
"Lo-Cianpwe, silahkan berbicara...!"
Angguknya kepada ketua Aliran Mo-kauw tersebut. Pek-i Liong-ong memegang lengan Chu Seng Kun, kemudian dengan pandang mata bersungguh-sungguh orang tua itu berkata.
"Seng Kun, di antara kita semua yang menyebut dirinya ahli waris dari ilmu-ilmu mendiang Bu-eng-sin Yok-ong, banyak yang telah mampu mempelajari ilmu silat ciptaan beliau dengan sempurna. Tapi yang amat menyedihkan...hanya seorang saja selama ini yang mampu mewarisi ilmu pengobatannya yaitu Bu Kek Siang, kakekmu atau ayah angkatmu! Sayang karena kesalahpahaman yang berlarut-larut dia telah terbunuh oleh muridku.."
Orang tua itu menghentikan kata katanya sejenak untuk mengambil napas, lalu dengan nada sedih ia melanjutkannya lagi.
"Coba kakekmu itu masih hidup...kukira adikmu justru bisa diselamatkan jiwanya."
"Hah...?!?"
Chu Seng Kun melompat saking kagetnya.
"Adikku dapat diselamatkan? Me...mengapa Lo-Cianpwe berkata begitu? Bu...bukankah Chu"
Chu Bwe Hong telah"
Telah...telah tiada?"
Dengan suara tinggi tapi seret sekali pemuda itu berseru.
Tentu saja gerakan Chu Seng Kun yang amat mendadak, selagi semuanya telah kembali tenang itu juga mengagetkan pula orang-orang di sekitarnya.
Otomatis Pek-i Liong-ong, Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian serta yang lain-lainnya, bangkit pula dengan segera!
Kwa Siok Eng dengan cepat memeluk lengan pemuda itu, suaranya bergetar ketika berusaha membujuk tunangannya.
"Koko, tenanglah...! Pek-i Liong-ong Lo-Cianpwe belum selesai berbicara..."
"Benar, Twako...biarlah Pek-i Liong-ong Lo-Cianpwe menyelesaikan dahulu kata-katanya!"
Ho Pek Lian ikut menenangkannya.
Yang paling runyam menghadapi semua kejadian itu adalah orang-orang Bing-kauw yang tadi datang bersama dengan Chu Bwee Hong!
Rasanya mereka menjadi salah tingkah untuk berbuat sesuatu!
Sebenarnya, melihat keadaan isteri suhu mereka itu, mereka sudah gatal tangan untuk berbuat sesuatu.
Rasa rasanya Put-sia Niocu dan kedua orang kakak seperguruannya.
Put swi-kui dan Put ming-mo.
sudah tidak tahan lagi untuk membiarkan tubuh Chu Bwee Hong menggeletak di sana.
Sebetulnya mereka ingin segera mengangkat mayat itu pulang ke tempat mereka, dan mereka ingin lekas-lekas mengantarkannya kepada guru atau ketua mereka!
Tetapi melihat tubuh tersebut dipeluk dan diratapi oleh beberapa orang muda yang tampaknya adalah keluarga atau sahabat dari Chu Bwee Hong sendiri, malah agaknya salah seorang diantaranya justru saudara kandung dari isteri suhu mereka itu, maka mereka menjadi ragu-ragu dan tak berani mengganggu.
Mereka bertiga hanya saling pandang dengan bingung serta tak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan.
Wajah mereka kelihatan tegang dan pucat.
Sementara itu Chu Seng Kun telah menjadi tenang kembali.
Perlahan-lahan Pek-i Liong-ong lalu mengajaknya duduk di atas pasir seperti tadi.
Ho Pek Lian dan yang lain-lain segera ikut duduk pula mengitari mereka, seolah-olah mereka takut tidak bisa mendengarkan apa yang hendak dikatakan oleh ketua Aliran Mo-kauw tersebut.
Yap Tai-Ciangkun yang telah selesai pula mengatur para perajuritnya, perlahan-lahan juga datang menghampiri tempat itu.
Tetapi melihat wajah wajah mereka yang tegang, panglima muda tersebut segera menghentikan langkahnya.
Panglima itu tampaknya tak ingin mengganggu mereka, apalagi di sana ada Ho Pek Lian, murid kesayangan Kaisar junjungannya.
Maka wajahnya yang tampan itu segera berpaling, kemudian mendongak ke atas.
memandang ke arah bintang-bintang yang mulai pudar karena langit telah mulai terang disentuh sinar matahari fajar.
Beberapa saat kemudian kepalanya tertunduk kembali, mengawasi barisan para perajuritnya yang berbaris pergi meninggalkan tempat itu.
Beramai-ramai mereka menggotong kawan-kawan mereka yang terluka atau yang mati, naik ke atas tebing dipimpin oleh Gui-Goanswe.
"Lo-Cianpwe, apakah...apakah maksud perkataan Lo-Cianpwe tadi?"
Chu Seng Kun yang telah menjadi tenang kembali itu menatap ke arah Pek-i Liong-ong dengan pandang mata penuh harap.
Sebaliknya orang tua itu tampak menghela napas dengan hati-hati sebelum menjawab pertanyaan tersebut.
Baru setelah beberapa saat kemudian ketua aliran Mo-kauw yang amat terkenal itu membuka mulut untuk memberi keterangan.
Mula-mula dia berceritera tentang hal Bu-eng Sin-yok-ong dan Datuk-datuk Besar Persilatan yang hidup pada zamannya.
Kemudian dia juga bercerita tentang kehebatan dan kedahsyatan ilmu orang-orang tua tersebut.
Begitu dahsyatnya ilmu mereka sehingga sepintas lalu mereka seperti dapat menciptakan sebuah mujijat!
"Seng Kun, engkau tentu pernah diberi tahu oleh Bu Kek Siang tentang tingkah maupun adat kebiasaan yang aneh-aneh dari mendiang Empat Datuk Besar Persilatan tersebut, bukan?
Misalnya, mereka berempat selalu saja berlomba lomba meningkatkan kepandaian mereka masing-masing, untuk kemudian setiap lima tahun sekali mereka mengadakan suatu pertemuan guna memperlihatkan kehebatan ilmu masing-masing!"
"Ya...yaa!"
Chu Seng Kun mengangguk-angguk.
"...Dan kau tentu telah mendengar pula bahwa pada pertemuan mereka yang terakhir di Gunung Hoa-san yaitu sebelum mereka ditaklukkan satu-persatu oleh kakek Souw, masing-masing telah sempat mengeluarkan kehebatan dan kedahsyatan ilmu mereka..."
"Ya...yaa, benar!"
"Nah, di dalam pertemuan itulah Bu-eng sin-yok-ong telah membuat suatu mukjijat di depan lawan-lawannya, sehingga mereka menjadi takluk dan menjunjungnya sebagai orang yang terlihai diantara mereka berempat..."
"Ehmmm...ya?"
"Seng Kun, tahukah kau mukjijat apakah yang telah dipertunjukkan oleh mendiang cikal bakal perguruan kita itu?"
"Aku...aku..."
Seng Kun tidak bisa segera menjawab. Pek-i Liong-ong tersenyum.
"Mendiang suhu waktu itu...menghidupkan kembali seekor kelinci yang sengaja telah dibunuh lebih dahulu oleh mereka!"
Katanya penuh rasa kagum dan bangga. Di dalam mengucapkan kata-kata "menghidupkan kembali"
Tadi Pek-i Liong-ong sengaja mengejanya dengan perlahan tapi nadanya jelas dan keras, sehingga Chu Seng Kun bagai diketuk hati dan perasaannya.
"Ouhhh...??!"
Pemuda itu berdesah dengan termangu mangu. Matanya menjadi kosong ke depan, sementara bibirnya yang pucat itu bergetar dengan tegang.
"...Menghidupkan kembali...ya, menghidupkan kembali seekor kelinci yang telah mati! Ahh..."
Tiba-tiba pemuda itu melesat ke depan melewati kepala Souw Lian Cu yang duduk di mukanya!
Dengan amat tangkas lengannya menyambar mayat Chu Bwee Hong,...dan membawanya ke tempat yang bersih dan terlindung diantara batu-batu karang yang berserakan di pantai itu.
Tentu saja yang lain-lain menjadi terkejut sekali, kecuali Pek-i Liong-ong.
Orang tua itu segera mencegah Kwa Siok Eng dan kawan-kawannya yang hendak mengejar pemuda tersebut.
"Jangan khawatir! Biarlah dia mengerahkan segala kemampuannya untuk menghidupkan kembali adiknya, moga moga berhasil dan belum terlambat! Marilah kita ikut berdoa...!"
"Menghidupkan kembali...? Bagaimana mungkin?"
Put ming-mo dan Put-swi kui berdesah tak percaya.
Begitu pula dengan Souw Lian Cu dan Put-sia Niocu.
Sementara Yap Tai-Ciangkun yang juga mendengar apa yang dikatakan oleh ketua Aliran Mo-kauw tadi ikut menjadi terheran-heran pula.
Tapi panglima muda yang juga seorang keturunan dari salah seorang Datuk Besar Persilatan itu, pernah pula mendengar cerita tentang kelinci tersebut dari ayahnya.
"Sudahlah, kalian tak usah heran! Mendiang Bu-eng Sinyok-ong memang mempunyai ilmu pengobatan yang susah diukur tingginya. Dan diantara seluruh anak cucu muridnya mungkin hanya pemuda itulah yang dapat mewarisi ilmu kepandaiannya tersebut..."
Pek-i Liong-ong memberi keterangan lagi.
Demikianlah, dengan perasaan tegang dan hati berdebar mereka menantikan hasil pengobatan itu.
Yap Tai-Ciangkun tampak menghampiri Pek-i Liong-ong dan berbicara satu sama lain dengan suara lirih.
Sedangkan Souw Lian Cu paling tampak gelisah dan tegang diantara semuanya, kelihatan mondar-mandir dengan air mata tetap bercucuran.
Sementara Kwa Siok Eng, Ho Pek Lian dan tiga orang murid Bing-kauw itu juga tampak gelisah bukan main.
Cuma mereka bisa sedikit menahan diri sehingga tidak mondar-mandir seperti Souw Lian Cu.
Mereka hanya berdiri diam dengan mata tak berkedip, memandang ke arah mana Chu Seng Kun tadi membawa adiknya.
Chu Seng Kun sendiri setelah selesai membaringkan tubuh Chu Bwee Hong di tempat yang bersih dan terlindung, segera membuka semua pakaian yang melekat di badan gadis itu.
Sejenak pemuda itu menatap wajah adiknya yang tetap gilang-gemilang meskipun wajah itu dikotori oleh pasir dan bercak-bercak darah roti yang membeku.
Sedikitpun kulit itu tidak menjadi pucat membiru ataupun menjadi kaku membeku.
Malah ketika tangannya meraba pipi dan dahi adiknya, kulit tersebut juga tidak terasa dingin seperti layaknya seorang yang sudah mati.
"Benar! Benar...dia belum mati! Dia belum mati! Aku harus mencobanya...aku harus mencobanya! Ya, Tuhan"
Aku harus mencoba menggunakan ilmu Mengikat Nyawa Menyambung Jalan Darah itu, mulutnya berkemak-kemik seperti orang yang sedang berdoa.
Beberapa saat lamanya Chu Seng Kun termenung, mengingat-ingat catatan yang pernah dibacanya dalam buku ilmu pengobatan peninggalan Bu-eng Sin-yok-ong.
Di bagian akhir dari buku tersebut ada tertulis sebuah catatan tentang batas "mati-hidup"
Manusia atau binatang di mata seorang tabib atau seorang ahli pengobatan!
Menurut Bu-eng Sin-yok-ong mati itu ada dua macam, yaitu yang ia namakan mati sempurna dan mati belum sempurna!
Kadang-kadang di dalam masyarakat umum, seseorang telah dianggap mati hanya karena detak nadinya sudah tidak ada lagi atau pernapasannya telah berhenti berjalan.
Padahal anggapan seperti itu belum tentu benar.
Mungkin orang itu memang sudah tidak bernapas lagi dan urat nadinya juga sudah tidak berdenyut pula, tetapi apabila alat-alat tubuh penting lainnya, seperti jantung atau yang lain, masih tetap tetap berfungsi, meskipun lemah sekali, bagi Bu-eng sin-yok-ong keadaan seperti itu belum dapat disebut mati.
Bagi seorang tabib seperti dia kematian yang demikian ini ia sebut sebagai kematian belum sempurna.
Dan kematian seperti ini masih dapat ditolong bila pertolongan lekas-lekas diberikan kepadanya.
Biasanya kematian belum sempurna itu terjadi pada kematian-kematian mendadak, seperti disambar petir,jatuh, terkena benda keras atau terkena pukulan yang mengandung tenaga dalam seperti halnya Chu Bwee Hong tadi.
Di dalam buku tersebut juga disebutkan oleh Bu-eng Sin yok ong, bahwa tindakan pertama yang harus dikerjakan untuk menolong kematian yang belum sempurna itu adalah lekas-lekas membantunya untuk mengaktifkan kembali denyut jantung dan jalan pernafasannya.
Adapun cara-caranya juga diuraikan dengan jelas dan terperinci oleh Bu-eng sin-yok-ong.
Setelah yakin apa yang harus ia kerjakan menurut petunjuk-petunjuk di dalam buku pengobatan itu, Seng Kun segera mengeluarkan semua alat-alat pengobatan yang selalu dibawanya.
Diambilnya beberapa buah jarum emas yang mempunyai bentuk yang beraneka-warna lalu dengan lincah jari-jarinya menari-nari mengurut dan menusukkan belasan jarum tersebut ke dalam daging dan urat di seluruh badan adiknya.
Kemudian jari telunjuknya berkelebatan dengan gesit sekali menotok berbagai jalan darah di tubuh Chu Bwee Hong.
Lalu yang terakhir telapak tangan kanannya menekan dada adiknya, persis pada jantungnya!
Bersamaan dengan hentakan-hentakan tangannya pada dada itu, Chu Seng Kun meniupkan udara bersih melalui mulut adiknya.
Berulang-ulang hal itu dilakukan oleh Chu Seng Kun sehingga peluhnya mulai bercucuran membasahi pakaiannya.
Sebenarnya apa yang dia kerjakan itu bukanlah suatu pekerjaan yang berat, bahkan pemuda itu tak pernah meninggalkan tempatnya.
Yang tampak sibuk bekerja keras hanyalah sepasang lengannya saja.
Tapi yang amat melelahkan bagi Chu Seng Kun adalah caranya berkonsentrasi untuk mengerahkan tenaga sakti, kemudian mengaturnya sesuai dengan petunjuk di dalam buku, dan selanjutnya membagi tenaga sakti tersebut sesuai dengan aturannya dalam menotok, mengurut serta dalam membenamkan ujung jarum emasnya!
Semuanya harus tepat, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, karena semuanya telah mempunyai takarannya sendiri-sendiri!
Kesalahan sedikit saja akan bisa menggagalkan usahanya!
Perlahan-lahan wajah yang pucat itu berubah menjadi kemerah-merahan dan sedikit demi sedikit jantung yang bergetaran lemah itu mulai berdenyut kembali.
Gelembung paru-paru yang semula juga sudah berhenti bekerja itu kini tampak berfungsi kembali.
Dan akhirnya api yang telah padam itu kini mulai tampak menyala kembali!
Bukan main suka-citanya Chu Seng Kun!
Teori ilmu pengobatan yang ia dapatkan dari buku peninggalan Bu-eng Sin-yok-ong dan baru kali ini ia mencobanya, ternyata berhasil dengan sukses.
Adiknya yang oleh semua orang telah dianggap mati itu kini ternyata telah berhasil ia hidupkan kembali!
"Ya, Tuhan...terima kasih atas karuniaMu!"
Pemuda itu berbisik, dan saking tidak kuat menahan luapan gembiranya...tubuhnya justru menjadi lemas, kemudian tergeletak pingsan!
Pingsan di samping tubuh adiknya yang justru semakin menjadi sadar...Sementara itu Souw Lian Cu yang tidak lagi mengendalikan ketegangan hatinya, mulai bermaksud mendatangi tempat di mana Chu Seng Kun mengobati adiknya.
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng cepat-cepat mencegahnya.
"Lian Cu...kau jangan mengganggunya. Itu sangat berbahaya bagi mereka. Goyahnya konsentrasi Chu-Twako akan bisa menggagalkan semua usahanya. Biarlah Chu-Twako mengerahkan kemampuannya dengan tenang..."
Ho Pek Lian membujuk. Souw Lian Cu menghentikan langkahnya. Matanya menatap wajah Ho Pek Lian yang cantik itu dengan bimbang.
"Kau...kau siapa?"
Cetusnya dengan dahi berkerut.
Ho Pek Lian saling pandang dengan Kwa Siok Eng, lalu keduanya mencoba untuk tersenyum meskipun tidak berhasil.
Kegelisahan dan ketegangan hati mereka tentang nasib Chu Bwee Hong membuat mereka tak bisa tersenyum dengan baik biar sekilaspun!
"Lian Cu, apakah kau sudah lupa kepada kami?"
Akhirnya Ho Pek Lian berkata.
"Memang, kalau kau tadi tidak memperkenalkan dirimu di hadapan Hek-eng-cu, kamipun tidak mengenalmu lagi...kau sudah begitu besar dan cantik sekarang."
Souw Lian Cu semakin menjadi bingung.
Rasa-rasanya dia memang pernah bertemu dengan kedua orang gadis cantik di depannya itu, tapi ia sudah lupa di mana ia pernah melihatnya.
Agaknya Ho Pek Lian merasakan pula kebingungan Souw Lian Cu tersebut, buktinya dia segera menerangkan siapa adanya mereka.
"Agaknya ketegangan dan kegelisahanmu itu telah membuat kau sukar mengingat-ingat siapa kami ini...Lian Cu, kalau kau masih ingat kepada Chu Bwee Hong tentunya kau juga masih ingat kepada Cici Siok Eng ini, karena gadis ini adalah tunangan Chu Seng Kun, kakak dari Chu Bwee Hong itu. Dan aku adalah Ho Pek Lian, sahabatnya..."
Ho Pek Lian menghentikan kata-katanya sebentar untuk melihat kesan di wajah Souw Lian Cu lalu dengan perlahan tapi jelas gadis itu melanjutkan keterangannya.
"Dan kami semua ini adalah...sahabat-sahabat erat ayahmu!"
"Ooooh...!"
Souw Lian Cu menjerit, kini dia telah mengingat kembali gadis-gadis yang dulu pernah melepas budi kepadanya itu.
Dengan cepat gadis remaja itu menubruk dan menangis di dada Ho Pek Lian!
"Ciciiii...aku telah berdosa!
Aku telah berdosa!"
Ratapnya menyedihkan.
"Berdosa? Berdosa kepada siapa? Ah, kau jangan berpikir yang bukan-bukan...! Lian Cu, marilah...tenangkanlah hatimu!"
"Tidak! Tidak! Oooh...aku benar-benar orang yang berdosa!"
Souw Lian Cu tetap menjerit-jerit di dada Ho Pek Lian.
"Lihatlah, Cici...tangan kiriku ini! Dahulu Cici Bwee Hong yang mengobati ketika putus akibat senjata San-hek-houw. Mungkin aku sudah mati kehabisan darah kalau Cici Bwee Hong tidak ada! Dia sungguh baik sekali kepadaku. Sebaliknya akulah orang yang rendah budi dan tak tahu kebaikan orang. Aku pernah menjadi marah dan tak mau menemui Cici Bwee Hong ketika dia datang mengunjungi ayahku. Aku malah minggat dari rumahku, karena tak ingin melihat dia bertemu dengan ayahku. Uhhhuu...betapa jahatnya aku."
"Sudahlah, Lian Cu...kau tak perlu menyesalinya! semuanya telah berlalu, kau tak usah memikirkannya lagi!"
Ho Pek Lian membujuk.
"Aku tak usah memikirkannya lagi? Uhh-huuu...tidak mungkin! Cici Bwee Hong begitu baiknya, tak mungkin aku dapat melupakannya...! Cici Pek Lian dapat melihat sendiri tadi, dalam keadaan terluka parah dia tetap mengorbankan dirinya untukku, uhh-huuu...!"
Ho Pek Lian tak kuasa lagi membujuk gadis itu, begitu pula dengan Kwa Siok Eng, sehingga kedua gadis itu terpaksa membiarkannya menangis terus.
Menghadapi keadaan seperti itu Pek-i Liong-ong juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Orang tua itu hanya dapat bersedakap memeluk dada sambil mengelus-elus jenggotnya.
Sedangkan Put-sia Niocu dan kedua orang suhengnya, yang sejak semula memang belum mengenal Souw Lian Cu juga diam saja menyaksikannya.
Sebentar-sebentar mereka malah menoleh ke tempat di mana Subo mereka tadi hilang dibawa Chu Seng Kun.
Sementara itu di tempatnya berbaring Chu Bwee Hong lambat laun mulai menemukan kesadarannya kembali.
Perlahan-lahan matanya terbuka dan beberapa saat lamanya mata itu dikejap-kejapkan karena tak tahan menatap sinar matahari yang mulai menerangi langit.
Lengan yang putih mulus itupun mulai bergerak pula, demikian juga kakinya, dan tidak lama kemudian tubuh yang molek tanpa penutup badan barang sesobekpun itu, mulai bergerak untuk duduk.
Angin laut yang dingin menggigilkan itu membuat Chu Bwee Hong menjadi terkejut dan sadar bahwa tubuhnya dalam keadaan telanjang sama sekali.
Sekejap matanya terbelalak, bayangan Hek-eng-cu yang pernah memperkosanya berkelebat dalam benaknya!
Apalagi ketika ia menoleh, dilihatnya seorang pemuda menggeletak di sampingnya!
Mata yang semula redup itu mendadak menjadi beringas!
Dengan tangkas gadis itu bangkit berdiri, tapi tiba-tiba tubuhnya terjatuh kembali, dari mulutnya mengalir darah segar.
Ternyata luka dalamnya yang amat parah tadi menghalangi gerakannya.
Otomatis Chu Bwee Hong mendekap dadanya dan untuk kedua kalinya gadis itu...terperanjat bukan kepalang!
Cuma rasa kagetnya kali ini diikuti oleh perasaan gembira.
Begitu mendekap dadanya gadis itu segera menyentuh belasan jarum emas yang tadi dibenamkan di sekujur badannya oleh Chu Seng Kun.
Jarum-jarum tersebut mencuat di berbagai tempat diatas dada, perut dan lehernya, bagaikan anak-anak panah kecil yang menancap ke dalam dagingnya.
Dan begitu melihat jarum-jarum emas itu Chu Bwee Hong segera mengenal jarum-jarum yang sering dipergunakan oleh keluarganya dalam pengobatan.
Maka gadis itu segera menoleh serta memperhatikan pemuda yang terlentang di sampingnya itu.
"Koko...?!?"
Chu Bwee Hong segera mengenali wajah kakaknya.
Ditubruknya tubuh Chu Seng Kun dan dibenamkannya kepalanya ke dada kakaknya yang telah dua tahun Iebih ditinggalkannya itu.
Meskipun tubuh itu diam saja tak bereaksi, Chu Bwee Hong tetap saja memeluknya dengan perasaan rindu.
Terdengar sedu-sedan dari dalam dada gadis yang cantik bagai bidadari tersebut.
Perlahan-lahan Chu Seng Kun siuman pula dari pingsannya, dan begitu sadar pemuda itu segera terkejut melihat ada orang yang memeluknya.
Dia segera bangkit sehingga tubuh Chu Bwee Hong yang menindihnya ikut terbawa pula.
Tapi serentak tahu siapa yang sedang memeluk dirinya, Chu Seng Kun segera membalas memeluk pula.
Air matanya tak dapat ia bendung pula, sehingga mengalir turun membasahi rambut adiknya.
"Koko...kau kurus sekali..."
Chu Bwee Hong melepaskan diri dari pelukan kakaknya, kemudian mengawasi mata kakaknya yang cekung seperti tengkorak itu.
Chu Seng Kun tersenyum dan di dalam senyuman itu tampak benar perasaan bahagianya.
"Tentu saja badanku kurus sekali, karena dua tahun lamanya aku berjalan tanpa mengenal lelah mencarimu..."
"Aku sungguh berdosa kepadamu, Koko..."
"Sudahlah, jangan pikirkan itu! Kita telah dipertemukan kembali oleh Tuhan, sungguh betapa bahagianya hatiku. Nanti kita bercerita yang banyak. Sekarang marilah kita menemui teman-teman lama kita...! Eh, pakaianmu!"
"Ohh!"
"Sudahlah, tadi dalam keadaan panik tergesa-gesa semua pakaianmu telah kurobek-robek. Tidak sabar rasanya menunggu untuk melepaskannya. Nih, kau pakai sajalah pakaianku! Biarlah aku memakai bekas-bekas kain sobekanmu. Nanti aku meminjam kepunyaan orang."
Kedua orang kakak beradik itu lalu keluar dari tempat tersebut dan berjalan ke arah dimana Pek-i Liong-ong dan yang lain-lain telah menunggu.
"Hei, Lian Cu...lihatlah! Cici Bwee Hong telah hidup kembali...!!"
Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng berteriak sekali begitu melihat Chu Bwee Hong dan Chu Seng Kun muncul di hadapan mereka.
"Hah? Mana...? Oh, Ciciii...!"
Souw Lian Cu menjerit sekuat-kuatnya serentak melihat Chu Bwee Hong benar-benar datang menghampiri mereka.
Gadis itu bergegas melepaskan diri dari pelukan Ho Pek Lian, lalu bagaikan seekor anak kijang yang menyongsong kedatangan induknya dia meloncat ke arah Chu Bwee Hong.
Tapi belum juga sampai, tiba-tiba tubuhnya terjerembab ke depan dan tersungkur di atas pasir.
"Lian Cu...!"
Ho Pek Lian dan Chu Bwee Hong berteriak berbareng, dan keduanya segera melesat ke depan untuk menolong. Tapi Chu Seng Kun cepat-cepat menahan adiknya.
"Sabar...! kau jangan terlalu banyak mengeluarkan tenaga, tubuhmu masih lemah dan luka dalammu belum sempat kuobati. Biarlah aku saja yang menengok gadis itu, kelihatannya diapun sedang menderita luka dalam pula seperti engkau."
Chu Seng Kun melangkah dengan cepat menghampiri Souw Lian Cu yang sudah dipeluk oleh Ho Pek Lian.
Sementara itu Put-sia Niocu dan kedua orang suhengnya bergegas menyongsong Chu Bwee Hong.
Dengan perasaan gembira yang meluap-luap Put-sia Niocu merangkul pinggang Chu Bwee Hong.
Sedangkan Pek-I Liong-ong dan Yap Tai-Ciangkun hanya saling pandang saja dengan takjub.
"Bukan main...bukan main! Anak itu benar-benar berhasil menandingi kehebatan Bu-eng Sin-yok-ong!"
Pek-I Liong-ong berdesah kagum.
"Ya...yaa, sungguh tidak masuk diakal...orang mati dapat dihidupkan kembali."
Yap Tai-Ciangkun menggeleng-gelengkan kepalanya pula.
Keduanya, Pek-i Liong-ong dan Yap Tai-Ciangkun, lalu melangkah pula mendekati Souw Lian Cu.
Mereka melihat gadis itu pucat-pasi wajahnya.
Chu Seng Kun dengan cekatan mengurut dan menotok di beberapa bagian tubuhnya, kemudian sambil menekan di bagian perut Souw Lian Cu, Chu Seng Kun memasukkan hawa hangat dari dalam tubuhnya.
Dan perlahan-lahan kulit muka Souw Lian Cu berubah menjadi kemerah-merahan kembali.
"Nah, selesailah sudah..."
Chu Seng Kun berkata sambil tersenyum.
"Ini ada lima butir pil, harap nona minum satu persatu setiap hari, niscaya luka itu akan sembuh dengan segera!"
"Terima kasih, Twako..."
Souw Lian Cu mengangguk.
Gadis itu lalu bangkit berdiri, matanya menatap kesana kemari mencari Chu Bwee Hong.
Dan begitu melihat orang yang dicarinya berdiri tak jauh darinya, ia segera melesat menghampiri.
"Ciciiiii...!"
Serunya lantang.
"Lian Cu!"
Chu Bwee Hong meninggalkan murid-murid suaminya, kemudian menyongsong kedatangan Souw Lian Cu.
Mereka saling berpelukan seperti halnya seorang ibu dan anak yang telah lama tidak berjumpa.
Rasa-rasanya semua kerinduan mereka telah mereka curahkan pada saat itu juga.
"Cici...kau maafkanlah aku, aku telah berdosa besar terhadapmu. Aku sekarang benar benar sudah menyadari, betapa rendahnya budiku...kau memang seorang yang sangat baik dan berbudi luhur..."
"Hei, anak manis...kau ini omong apa? Siapa yang berdosa dan siapakah yang rendah budi itu? kau jangan berkata yang bukan-bukan...!"
"Sudahlah, Cici...kau jangan menggoda aku! Aku telah benar-benar bertobat dan takkan mau mengulanginya lagi. Sekarang marilah kita bersama-sama pulang menemui ayah...! Kita hidup bersama menjadi satu...dan akan menjadi satu keluarga yang berbahagia. Ohhh, alangkah senangnya...! Eh, Cici...tahukah kau? Setiap saat ayah selalu memikirkanmu. Setiap hari dia selalu melamun, tapi oleh karena takut ketahuan aku, maka ayah selalu menyembunyikannya..."
"Oh, Tuhan...!"
Chu Bwee Hong berdesah dengan hati tak keruan rasa.
Untuk beberapa saat lamanya wanita ayu itu tak bisa berkata-kata, apalagi untuk menjawab ajakan Souw Lian Cu tadi.
Wajahnya mendongak ke arah awan yang berarak melintasi udara di atas pantai itu.
Tampak benar betapa sedihnya sinar mata tersebut.
Memang tak bisa disalahkan.
Sejak dahulu, sejak dia masih gadis Chu Bwee Hong hanya mempunyai satu keinginan, satu cita-cita, seperti juga gadis-gadis yang lain, yaitu menikah dan hidup bersama dengan orang yang amat dicintainya.
Dan orang itu tidak lain adalah...Souw Thian Hai, ayah Souw Lian Cu!
Tapi itu...dahulu!
Ternyata Tuhan telah menentukan lain.
Seseorang telah menjebak dirinya dengan sebuah akal yang licik dan kotor, sehingga ia terjatuh dalam jebakan dan menjadi korban kebiadaban orang itu.
Chu Bwee Hong menderita aib dan malu, sehingga akhirnya menjadi putus-asa!
Dan dalam keadaan tak ingin hidup itulah Put-ceng-li Lojin datang menolongnya.
Meskipun dengan tingkah dan gaya yang sangat urakan, tapi ketua Aliran Bing-kauw itu ternyata dapat menyadarkan hatinya.
Akhirnya Chu Bwee Hong dibawa oleh orang tua itu ke gedung pusat Aliran Bing-kauw.
Dan ketika ia melahirkan anak haram itu, sekali lagi Put-ceng-li Lojin menolong aib yang telah mencoreng mukanya.
Orang tua itu dengan mengorbankan nama baiknya sebagai ketua sebuah Aliran ternama, segera menikahinya dan mengakui bahwa anak yang dilahirkan itu adalah anaknya.
Dan selanjutnya orang tua yang sangat baik hati ini merawat mereka seperti layaknya seorang ayah yang merawat keluarga yang amat dicintainya.
Demikianlah, maka tak heran kalau wanita ayu itu menjadi serba salah dan tak tahu apa yang mesti ia lakukan menghadapi peristiwa seperti itu.
Saking bingung dan pepatnya, Chu Bwee Hong malah hanya berdiri saja terlongong-longong di tempatnya.
Hanya air matanya saja yang keluar tak henti-hentinya, sebagai tanda bahwa hati dan perasaannya benar-benar hancur berserakan!
"Cici, kenapa kau diam saja?
Apa yang masih kau ragukan Iagi?
Bukankah...?"
"Kurang ajar...!"
Tiba-tiba Put-sia Niocu berseru.
Murid bungsu Put-ceng-li Lojin itu melesat mendekati Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Dengan perasaan tidak senang gadis itu menuding ke arah Souw Lian Cu, suaranya keras ketika berkata.
"Hmm, bukankah kau gadis buntung yang menghadang aku di KuiI Delapan Dewa beberapa hari yang lalu? kau sungguh gadis yang kurang ajar dan tak tahu kesopanan...! Mengapa kau memaksa-maksa suboku untuk pergi menemui ayahmu? kau anggap suboku itu wanita macam apa? Huh, kau sungguh kurang ajar sekali terhadap istri suhuku!"
Telinga Souw Lian Cu menjadi merah seketika! Dengan cepat gadis itu melepaskan diri dari pelukan Chu Bwee Hong. Dengan tidak kalah garangnya Souw Lian Cu berteriak lantang.
"Apa katamu...? Aku gadis yang tidak tahu kesopanan? Huh, jaga mulutmu! kau tahu siapa Cici Bwee Hong ini? Dia adalah..."
"...Isteri suhuku!"
Put-sia Niocu memotong dengan cepat.
"Perempuan gila...! Kuhajar mulutmu!"
Souw Lian Cu tak dapat mengekang lagi kemarahannya.
Tangannya bergetar, tenaga saktinya berpencar dari tantian (pusar) menyebar ke seluruh tubuh.
Tapi ketika melewati tempat di mana Souw Lian Cu tadi menerima pukulan Hek-eng-cu, gadis itu menjerit keras dan tersungkur ke depan.
"Aduuuuh...!?!"
"Lian Cuuuu...!"
Chu Bwee Hong tiba-tiba tersadar dari lamunannya.
Dengan cekatan wanita ayu itu menubruk Souw Lian Cu dan memeluknya kembali.
Meskipun dadanya masih terasa sakit bukan main, Souw Lian Cu meronta di dalam pelukan Chu Bwee Hong.
Gadis itu menatap Put-sia Niocu dengan beringas dan kalau Chu Bwee Hong tidak memegangnya dengan kuat, mungkin dia sudah menerjang murid bungsu Put-ceng-Ii Lojin tersebut.
"Lepaskan aku, Cici...! Akan kugampar mulut kuntilanak yang menghina engkau itu! Masa Cici dikatakan sebagai isteri tua bangka yang tak tahu aturan itu...!"
Serunya marah.
Sungguh dapat dibayangkan bagaimana perasaan Chu Bwee Hong pada saat itu.
Begitu hebat pukulan tersebut sehingga rasa-rasanya hatinya tidak kuat lagi menanggungnya.
Maju salah, mundur salah, tapi...diampun rasa-rasanya juga salah!
Meski demikian wanita ayu itu tak hendak melepaskan lengan Souw Lian Cu, jari jarinya dengan kuat mencengkeram lengan gadis remaja itu.
"Dia memang isteri suhuku! Mengapa engkau menjadi marah? Apakah aku tidak boleh mengatakan yang sebenarnya? Kurang ajar...! Seharusnya engkaulah yang harus kugampar mulutmu!"
Put-sia Niocu berteriak pula tak mau kalah.
"Perempuan gilaaaa...!"
Souw Lian Cu tak kuat lagi menahan kemarahannya.
Tapi Chu Bwee Hong semakin bertambah kuat memegangnya, sehingga gadis yang mau meluapkan kemarahannya itu menjadi heran dan tak tahu maksud wanita ayu tersebut.
"Cici, mengapa kau...kau...cegah aku?"
Chu Bwee Hong tak bisa menjawab.
Kaku benar rasanya lidahnya, sehingga tak sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Sebaliknya air matanya tampak membanjir keluar seolah sebagai pengganti dari jawaban yang seharusnya ia berikan.
Tentu saja keadaan itu semakin membingungkan hati Souw Lian Cu.
Gadis yang memang tidak mengetahui masalahnya itu segera mengguncang-guncangkan lengan Chu Bwee Hong yang memegangnya.
Dengan hati penasaran gadis remaja itu mendesak terus, sehingga akhirnya keluar juga jawaban dari mulut Chu Bwee Hong, meskipun seret dan hampir tak terdengar sama sekali!
"Lian Cu, tolonglah...kalian...kalian jangan berkelahi satu sama lain!
kalian...kalian berdua adalah orang-orang yang ku...kusayangi."
"Hah?!? Jadi...jadi benar apa yang tadi dikatakan oleh...oleh perempuan gila itu? Cici...memang sungguh sungguh isteri dari...dari Tua Bangka Tak Tahu Aturan itu...?"
Souw Lian Cu cepat memotongnya, suaranya bergetar seakan-akan gadis itu telah menjadi ketakutan akan kebenaran dari pertanyaannya itu.
Chu Bwee Hong melepaskan pegangannya, kemudian menutup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya.
Suaranya sendat ketika menjawab.
"Be...benar, Lian Cu...ohhh!"
Dan wanita ayu itu tersedu-sedu menyesali nasibnya! "Oh!"
Souw Lian Cu terpekik, lalu jatuh terduduk di atas pasir dengan tubuh lemas.
Hilang sudah semua angan angannya tentang keluarga yang berbahagia itu!
Chu Seng Kun yang sejak tadi memang sengaja membiarkan adiknya menyelesaikan urusannya sendiri itu, tak kalah pula kagetnya mendengar pernyataan tersebut.
Adiknya menjadi isteri Put-ceng-li Lojin yang urakan itu?
Benar-benar tidak masuk akal?
Tapi...adiknya telah mengakuinya, sehingga hal itu memang benar-benar terjadi dan bukan sandiwara!
Perlahan-lahan pemuda yang amat ahli dalam pengobatan itu mendekati adiknya, lalu memegang pundak yang bergoyang-goyang karena menahan sedu-sedan tersebut.
Dengan rasa penuh kepahitan pemuda itu membujuk Chu Bwee Hong.
"Bwee Hong...! Sudahlah, jangan terlalu kau pikirkan semua itu! Kita dua bersaudara ini agaknya memang bernasib jelek. Tapi biarlah...kita tak perlu terkecil hati, apalagi menyesalinya. Siapa tahu semuanya itu hanyalah merupakan jalan untuk menuju ke arah kebahagiaan yang lebih sempurna?"
"Koko...oh, Koko!"
Chu Bwee Hong menubruk dada Chu Seng Kun dan menangis seperti anak kecil. Chu Seng Kun menghela napas panjang sekali.
"Sudahlah, Bwee Hong...! Marilah kita pergi dahulu dari tempat ini! Lihatlah, kita sudah dinantikan oleh banyak orang...!"
Chu Bwee Hong mengusap air matanya dengan ujung lengan bajunya, kemudian dengan perasaan perih wanita ayu itu melirik ke arah Souw Lian Cu dan Put-sia Niocu, yang sedang menatap pula kepadanya dengan wajah pucat.
"Lian Cu...Siau Put-sia, ikutilah aku! Kita selesaikan semuanya ini nanti dengan baik-baik. Marilah..."
Ajak Chu Bwee Hong tersendat-sendat.
Sernuanya lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Yap Tai-Ciangkun bersama-sama dengan Pek-I Liong-ong berjalan lebih dahulu, menaiki lereng tebing yang luas tersebut.
Di belakang mereka, Chu Seng Kun menggandeng lengan adiknya.
Dan paling belakang adalah rombongan Putsia Niocu ditambah dengan Souw Lian Cu, Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng.
Semuanya berjalan dengan mulut terkatup, tak seorangpun yang membuka suara.
Mereka berjalan melintasi rumpun rumpun perdu yang rusak berpatahan akibat pertempuran malam tadi.
Yap Tai-Ciangkun dan Pek-i Liong-ong yang berada di depan cepat mencapai ujung tebing.
Di sana Yap Tai-Ciangkun telah dinantikan oleh empat orang pengawalnya dan seorang pemuda tegap gagah, yang tidak lain adalah...Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, kakak Yap Tai-Ciangkun sendiri!
"Twako...!"
Panglima muda itu menyapa kaget.
"Kim-sute...! Pek-i Liong-ong Lo-Cianpwe...!"
Yap Kiong Lee menyambut kedatangan adiknya, lalu menjura kepada ketua Aliran Mo-kauw tersebut.
"Ah, tak kukira putera Yap-Lote (adik Yap) sudah demikian besar-besar dan hebat-hebat sekarang..."
Pek-i Liong-ong menyambut penghormatan Yap Kiong Lee itu dengan tersenyum.
"Bagaimana dengan ayah dan ibumu? Baik-baik saja, bukan? Sudah, lama sekali lohu tidak berjumpa dengan mereka..."
Yap Kiong Lee saling pandang dengan adiknya, lalu dengan gagap dan kikuk pemuda itu mengangguk-angguk.
"Yaa...yaa...!"
Sahutnya terbata-bata.
Tentu saja orang tua itu menjadi heran tapi melihat kedua orang kakak beradik itu tampaknya memang sedang berusaha menyembunyikan sesuatu, maka orang tua itu tidak mendesaknya lebih lanjut.
"Twako, kenapa kedatanganmu terlambat benar? Pertempuran telah selesai..."
Yap Tai-Ciangkun segera mengalihkan pembicaraan mereka. Yap Kiong Lee mengambil napas lega.
"Panjang ceritanya...Di tengah jalan aku berjumpa dengan Song-bun kwi Kwa Sun Tek. Dia ternyata telah mencium gerakan pasukan sehingga dia bergegas mau pergi ke tempat ini untuk memberi peringatan kepada kawan-kawannya. Oleh karena itu dengan segala daya-upaya aku mencoba menghalang halanginya. Kami bertempur sambil berkejar-kejaran. Dia selalu berusaha meloloskan diri dari hambatanku, tapi aku juga tak mau melepaskannya. Hampir semalaman aku bertempur dengannya. Akhirnya karena tak kuasa melepaskan diri dari aku, orang itu nekad terjun ke dalam jurang, sehingga aku tak bisa mengejarnya lagi..."
"Oh, makanya Hek-eng-cu tadi cuma didampingi oleh orang yang Twako katakan tinggi besar itu saja..."
Sementara itu Chu Seng Kun dan Chu Bwee Hong tiba pula di atas tebing.
Oleh Yap Tai-Ciangkun kedua kakak beradik itu dibawa ke hadapan kakaknya.
Mereka adalah sahabat-sahabat lama.
Dahulu, sekitar tujuh atau delapan tahun yang lalu, mereka pernah berjuang bersama-sama membantu pasukan Kaisar Han.
Maka pertemuan antara Chu Seng Kun dan Yap Kiong Lee itu benar-benar sangat menggembirakan kedua belah pihak.
Matahari mulai muncul di ufuk timur dan pantai karang yang indah itupun mulai bermandikan cahaya terang kemerahmerahan.
Semua benda yang tersentuh oleh sinar itu rasa rasanya menjadi semakin bertambah cantik dan mempesonakan.
Burung-burung camar mulai tampak keluar pula dari sarangnya.
Mereka berkicau dan beterbangan di atas pantai, berputar-putar melawan angin, seolah-olah sedang bermain-main dengan sinar pagi yang hangat.
Sementara itu di daratan, batu-batu karang, tumbuh-tumbuhan perdu dan rumput-rumput yang mulai dijilat oleh hangatnya sinar mentari pagi, tampak seperti mengepulkan asap tipis berwarna-warni, semakin lama semakin tebal, sehingga dari kejauhan pantai tersebut lalu bagaikan dibungkus oleh kabut yang mentakjubkan!
Setelah saling menyapa dengan Chu Seng Kun, Yap Kiong Lee lalu mengangguk ke arah Chu Bwee Hong yang sejak naik ke atas tebing itu selalu menunduk saja dengan sedih.
Mula-mula Yap Kiong Lee menjadi kaget begitu tahu siapa wanita ayu itu, tapi karena sudah terlanjur mengangguk ia terpaksa menyapanya juga.
Hanya kali ini suara Yap Kiong Lee agak bergetar karena teringat peristiwa di tepi sungai dua hari yang lalu.
Dan agaknya kekhawatiran Yap Kiong Lee itu menjadi kenyataan juga.
Begitu mendengar suara Yap Kiong Lee, Chu Bwee Hong segera mendongak menatap pemuda tersebut.
Tiba-tiba wajahnya menjadi beringas.
Bayangan orang berkerudung yang memperkosa dirinya dan Put-sia Niocu kembali membakar hatinya.
"Bangsat keji! meskipun engkau telah melucuti kedok dan pakaianmu aku tetap takkan lupa kepadamu...!"
Wanita ayu itu menjerit seraya meloncat menerkam Yap Kiong Lee.
Pemuda itu segera melejit ke samping menghindarkan diri.Dengan suara parau dia mencoba menjelaskan tentang kesalahpahaman mereka pada malam yang naas itu.
Tapi mana mau Chu Bwee Hong menerima keterangan pemuda itu?
Wanita itu dengan ganas tetap menyerang Yap Kiong Lee, begitu bernafsunya sehingga dia tak mengingat lagi pada luka dalamnya yang parah!
Maka tidaklah heran jika beberapa saat kemudian dia sendirilah yang menjadi korban dari kemarahannya itu.
Belum ada tiga jurus Chu Bwee Hong telah terhuyung-huyung mau roboh!
Meskipun begitu wanita itu dengan semangat tinggi tetap nekad menyerang Yap Kiong Lee.
Tentu saja Chu Seng Kun sangat bingung menyaksikan perbuatan adiknya itu.
Pemuda yang benar-benar tidak mengetahui persoalannya itu segera melesat ke depan memegangi lengan adiknya.
"Bwee Hong, sabarlah...! Mengapa kau menyerang Yap-Twako? Apa kesalahannya? Dia teman baik kita sendiri, bukan dari rombongan musuh..."
Katanya memberi keterangan.
"Apa? Teman baik? Huh! Koko, kau telah dikelabuhinya...! Ketahuilah, dialah...iblis itu! Dialah yang sering mengenakan kerudung hitam dan mantel hitam itu!"
Chu Bwee Hong berteriak dalam pegangan kakaknya. Dengan wajah tetap beringas wanita ayu itu menuding ke arah Yap Kiong Lce.
"Orang berkerudung hitam...? Maksudmu Yap-Twako ini adalah penyamaran dari Hek-eng-cu? Eh, maksudku...Hek-eng-cu itu adalah penyamaran dari...Yap-Twako?"
Chu Seng Kun mengerutkan keningnya tak percaya.
"Betul!"
Jawab Chu Bwee Hong mantap.
"Aaah, nona...sabarlah dahulu...!"
Yap Tai-Ciangkun cepat menengahi.
Tapi belum juga panglima muda itu bertindak lebih lanjut, tiba-tiba dari bawah tebing seorang gadis cantik melompat ke atas, kemudian menerjang Yap Kiong Lee dengan membabi-buta.
Sesaat kemudian dua orang laki-laki tampak meloncat pula dari bawah tebing dan turut mengeroyok Yap Kiong Lee.
"Iblis biadab...rasakan pembalasanku!"
Gadis cantik yang tidak lain adalah Putsia Niocu menjerit bagaikan orang gila.
Tangannya terayun ke depan dan puluhan jarum berbisa tampak melesat ke arah Yap Kiong Lee seperti hujan gerimis.
Yap Kiong Lee terkejut bukan main!
Otomatis tenaga saktinya bergolak, sehingga ketika kedua telapak tangannya menyongsong kedatangan jarum jarum berbisa tersebut, otomatis pula lweekangnya membanjir keluar!
Maka tidaklah heran jika dari telapak tangan itu mendadak menghembus angin kencang yang mampu membuyarkan jarum-jarum berbisa tersebut.
Malah tidak hanya itu saja pengaruhnya!
Hembusan angin itu ternyata juga mengguncangkan tubuh Put-sia Niocu serta mendorongnya selangkah ke belakang!
"Thian-lui-gong-ciang!"
Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian yang baru saja tiba di atas tebing itu berdesah berbareng begitu menyaksikan pengaruh pukulan Yap Kiong Lee itu.
"Thian-lui gong-ciang...!"
Pek-i Liong-ong berbisik pula.
Sementara itu Put-sia Niocu dan kedua orang suhengnya tidak pula kalah kagetnya.
Sejak semula mereka memang telah mengetahui bahwa kepandaian pemuda itu memang tidak boleh dipandang ringan.
Pertempuran mereka di pinggir sungai dua hari yang lalu telah menjadikan pengalaman bagi mereka.
Tapi dalam keadaan mendadak pemuda tersebut mampu mengerahkan tenaga sakti demikian hebatnya, sungguh di luar dugaan mereka.
Apalagi mampu mendorong Put-sia Niocu yang kepandaiannya juga tidak rendah!
Oleh karena itu mereka bertiga juga tidak mau bertele-tele pula, mereka langsung saja mengerahkan ilmu puncak masing masing!
Maka sekejap kemudian terjadilah pertempuran dahsyat, satu lawan tiga, antara jago jago silat kelas satu di atas tebing itu.
Yap Tai-Ciangkun yang sedianya mau menengahi perselisihan antara Chu Bwee Hong dan kakaknya, menjadi bingung juga melihat perkembangan itu.
Panglima muda itu sungguh tidak mengerti, mengapa semua orang agaknya sangat membenci kakaknya?
Kedua orang wanita itu menuduh dan memaki kakaknya sebagai iblis keji dan iblis biadab.
Apa sebenarnya yang telah dilakukan oleh kakaknya terhadap mereka?
Tadi ia mendengar Chu Bwee Hong menuduh kakaknya sebagai Hek-eng-cu.
Apakah sebabnya?
Benarkah kakaknya itu menyamar sebagai pemimpin pemberontak itu?
Rasanya tidak mungkin!
Yap Kiong Lee sendirilah yang memberitahukan kepadanya dan kepada Kaisar Han juga tentang rencana pemberontakan Hek-eng-cu tersebut.
Dan kakaknya sendiri juga yang merencanakan penggerebegan di Pantai Karang itu.
Tetapi mengapa kedua wanita itu kelihatannya sangat yakin atas tuduhannya?
Dan mengapa secara kebetulan kakaknya juga baru muncul setelah Hek-eng-cu pergi?
Dan ketika dia mengejar Hek-eng-cu tadi malam, mengapa pula iblis itu segera meninggalkan pertempurannya dengan Pek-i Liong ong, begitu ia datang menghampiri mereka?
Apakah...apakah...ahh!
Yap Tai-Ciangkun tak berani melanjutkan pikirannya.
Bagaimanapun juga panglima muda itu tak ingin mencurigai kakaknya.
Baginya, kakaknya itu adalah orang yang sangat dihormatinya.
Jalan pikiran Pek-i Liong-ong ternyata juga tidak berbeda dengan jalan pikiran Yap Tai-Ciangkun tersebut.
Ketua Aliran Mo-kauw itu juga menjadi bingung dan ragu-ragu.
Jangan-jangan tuduhan Chu Bwee Hong terhadap Yap Kiong Lee itu memang benar.
Orang tua itu lantas teringat juga ketika dia mengikuti secara diam-diam di belakang Yap Kiong Lee sewaktu pemuda itu membuntuti Wan It dan Kwa Sun Tek dari Kuil Delapan Dewa tempo hari.
Waktu itu ketika sampai di pinggir sungai Yap Kiong Lee juga lantas menghilang, dan sebagai gantinya ia melihat Hek-eng-cu datang dengan perahunya.
"Ah!"
Pek-i Liong-ong tidak berani melanjutkan angan-angannya pula.
"...Tapi masakan bocah itu demikian lihainya, sehingga aku-pun dikalahkannya? Rasa-rasanya juga mustahil. Tapi siapa tahu bocah itu sudah dapat mempelajari ilmu-ilmu Bit-bo-ong almarhum? Nyatanya orang yang bertempur denganku malam tadi memang telah mahir dengan Pat-hong sin-ciang, Kim-hong-kun serta Bu-eng-hwe-teng..."
Di antara semua orang itu hanya Souw Lian Cu saja yang bersikap netral.
Begitu naik ke atas tebing dan melihat pertem uran itu, Souw Lian Cu lantas berlari mendekati Chu Bwee Hong yang berada di dalam pegangan kakaknya.
Gadis remaja itu menyentuh lengan Chu Bwee Hong dan menatap dengan sinar mata yang mengandung pertanyaan.
"Cici, mengapa mereka berkelahi dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee?"
Dengan tatapan mata yang masih beringas, Chu Bwee Hong menuding ke arah Yap Kiong Lee,"Mereka tidak berkelahi dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, tapi mereka hendak menangkap orang yang sering mengenakan kedok kerudung hitam itu."
"Hek-eng-cu...?"
Souw Lian Cu menegaskan.
"Ya!"
"Ahhh! Tidak mungkin...! Mereka keliru!"
Souw Lian Cu berteriak.
"Apanya yang keliru?"
Chu Bwee Hong membentak dengan dahi berkerut, sehingga Souw Lian Cu tersentak kaget mendengarnya. Baru sekali ini gadis itu melihat Chu Bwee Hong bersikap demikian garangnya.
"Maksudku Yap-Siauwhiap itu tidak mungkin orang yang sering mengenakan kerudung hitam itu. Yap-Siauwhiap pernah bercerita..."
"Omong kosong! Pemuda itu telah membohongimu, sebab kami mempunyai bukti tentang penyamarannya tersebut."
Chu Bwee Hong memotong dengan cepat, suaranya masih tetap kaku.
"Bukti...?"
"Sudahlah, Lian Cu..., kau tak perlu ikut campur! Biarlah kami yang menyelesaikannya..."
Nada suara Chu Bwee Hong mulai menurun begitu melihat bayang bayang kecemasan di wajah Souw Lian Cu.
"Tapi...?"
Gadis itu menoleh kepada Chu Seng Kun yang masih tetap memegangi pundak adiknya.
Pemuda itu menundukkan matanya, tak berani beradu pandang dengan sinar mata Souw Lian Cu.
Pemuda itu sendiri juga ikut terpengaruh oleh pandangan adiknya yang menuduh Yap Kiong Lee sebagai Hek-eng-cu!
Hanya hatinya masih ragu-ragu dan belum mantap.
"Oooh...!"
Souw Lian Cu menutup mulutnya dengan telapak tangannya dan tak berani berkata-kata lagi.
Dengan muka pucat dia menatap lagi ke arah pertempuran.
Pertempuran satu lawan tiga itu tampak semakin seru dan ramai.
Tiga orang murid Put-ceng-li Lojin itu benar-benar telah mewarisi sebagian besar dari ilmu kepandaian gurunya.
Ketika Souw Lian Cu memandang ke arah mereka, Put-swi-kui dan Put-ming-mo baru saja melancarkan ilmu Chuo-mo-ciang mereka yang gila-gilaan itu.
Dan seperti juga yang dulu pernah disaksikan oleh gadis itu, mereka memainkan jurus jurus tersebut dengan berceloteh tidak keruan pula.
Tapi tingkat kepandaian Hong-lui-kun Yap Kiong Lee memang sudah boleh dikatakan mendekati kesempurnaan.
Dalam hal ilmu silat mungkin kepandaiannya telah menyamai ayahnya, dan apabila diperbandingkan dengan tingkat ilmu Pek-i Liong-ong, mungkin selisihnya pun hanya tipis sekali.
Hanya dalam hal Iweekang pemuda itu memang masih harus mengakui kehebatan jago-jago dari angkatan tua tersebut.
Maka pertempuran itu sungguh ramai sekali.
Jika hendak diperbandingkan kekuatan mereka, mungkin gabungan kekuatan ketiga orang murid Bing-kauw tersebut masih terlampau kuat bagi Yap Kiong Lee.
Tetapi karena kekuatan itu setiap saat dapat dipecah-belah persatuannya, apalagi jika diingat kemampuan perorangannya semuanya tak ada yang menang dengan Yap Kiong Lee, ditambah lagi pemuda itu selain cerdas juga menang pengalaman, maka pertempuran itu benar-benar menjadi sebuah pertempuran yang dahsyat bukan main.
Kalau toh akhirnya Yap Kiong Lee lalu kelihatan terdesak, hal itu bukan disebabkan oleh karena kepandaian pemuda itu yang kalah tetapi karena masih adanya keragu-raguan di dalam hati pemuda tersebut untuk meneruskan pertempuran itu.
Sebab dasar dari pada berlangsungnya pertempuran itu oleh masing-masing pihak sungguh amat berbeda sekali.
Ketiga orang murid Bing-kauw itu bertempur untuk membunuh Yap Kiong Lee, sebab Yap Kiong Lee adalah musuh besar Subo mereka.
Sementara bagi Yap Kiong Lee pertempuran tersebut lebih bersifat terpaksa karena hanya untuk membela diri.
Apalagi pemuda itu tahu bahwa sebenarnya lawan-lawannya tersebut hanya salah paham dan keliru menduga saja.
Tetapi perkembangan itu benar-benar sangat mencemaskan hati YapTai-Ciangkun.
Betapapun hatinya telah menjadi ragu-ragu, tapi ia tetap tidak rela kalau kakaknya mendapatkan kesukaran.
Maka sekejap kemudian panglima itu telah melesat ke tengah-tengah pertempuran dan menghentikannya.
"Semuanya berhenti! Siapa yang tidak mau mengindahkan akan berhadapan dengan pasukan kerajaan!"
Teriaknya lantang sambil berdiri dengan kaki terpentang lebar. Keempat orang anggota Sha-cap-miwi yang selalu mengawalnya segera mengambil posisi mengurung tempat tersebut.
"Gila...!"
Put-swi-kui mengumpat dan terpaksa menghentikan serangannya, demikian juga dengan dua orang adik seperguruannya.
Bagaimanapun juga dia tak ingin berselisih dengan pasukan kerajaan yang amat kuat itu.
Dengan napas lega Yap Kiong Lee meloncat pula surut ke belakang.
Wajahnya tampak kemerah-merahan karena baru saja mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaganya.
"Dengarlah Kim-sute...! Demi Tuhan...aku bukanlah orang berkerudung seperti yang mereka tuduhkan itu. Mereka telah salah menduga..."
Pemuda itu membela diri.
"Bohong! Aku telah melihatnya sendiri dia mengenakan kedok itu. Malah aku juga pernah merebut dan membuka kerudungnya...Lihat, inilah benda itu!"
Put-sia Niocu menjerit sambil mengeluarkan selembar kain hitam dan membantingnya di depan Yap Kiong Lee.
Semua orang terperangah!
Kain itu memang mereka kenal sebagai kain tipis yang sering dipakai oleh Hek-eng-cu!
Wajah Yap Tai-Ciangkun menjadi pucat.
Hatinya semakin menjadi cemas.
Dengan air muka tegang panglima muda itu memandang kakaknya, seolah-olah menuntut agar kakaknya yang sangat ia hormati itu segera membantah kenyataan tersebut.
Pek-i Liong-ong yang biasanya bersikap sangat tenang itu kini juga tampak gelisah dan tegang.
Begitu pula halnya dengan Chu Seng Kun.
Pemuda itu dengan mata terbelalak lebar mengawasi Yap Kiong Lee dan kain hitam itu berganti ganti.
Keraguan di hati kedua orang itu semakin bertambah besar sekarang.
Sementara Souw Lian Cu yang tadi masih memihak Yap Kiong Lee, kini juga tampak mulai ragu-ragu pula.
Yap Kiong Lee sendiri juga kelihatan tertegun melihat semua orang memandang tajam kepadanya.
Meskipun tidak takut tetapi perasaannya menjadi tergetar pula karenanya.
Sebab ada kesalahan sedikit saja dalam ia memberi keterangan, mungkin jiwanya takkan tertolong lagi.
Oleh karena itu pemuda tersebut tidak tergesa-gesa dalam menjawab tuduhan Siau Put-sia tadi.
Pertama-tama Yap Kiong Lee balas menatap satu persatu orang-orang yang mengawasinya untuk menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dia katakan itu tidaklah bohong.
Lalu setelah mengambil napas pemuda itu perlahan-lahan, namun jelas, memberi keterangan.
"Nona, kukira aku tak perlu bercerita tentang kejadian di tepi sungai pada malam itu..."
"Manusia kejam...!"
Lagi-lagi Put-sia Niocu menjerit keras sekali dan bersiap mau menerjang Yap Kiong Lee, tapi dengan cekatan Put ming-mo menahannya, sebab begitu gadis itu tadi menjerit dua orang pengawal Yap Tai-Ciangkun segera bergerak hendak turun tangan.
Yap Kiong Lee mengedarkan pandangannya sekali lagi.
Melihat semua orang tetap berdiam diri menunggu keterangannya, ia segera melanjutkannya lagi.
"...Karena apa yang kuketahui juga tidak banyak. Pada saat perahu itu pecah bertabrakan...dan kita semua tercebur ke dalam sungai, sebenarnya tubuhku telah terluka dalam. Dan...apabila nona mau mengingat-ingat kembali dengan lebih baik, nona tentu akan teringat bahwa lukaku itu adalah akibat pukulan Hek-eng-cu!"
"Bohong!"
Put-sia Niocu berteriak setinggi langit.
"Kau sendirilah Hek-eng-cu itu!"
Yap Kiong Lee tersenyum kecut.
"Nona, cobalah kau ingat ingat kembali saat-saat menjelang tabrakan itu terjadi...! Ingatkah nona ketika dari luar perahu mendadak ada seorang pemuda yang meloncat ke samping nona untuk melepaskan ikatan nona, tapi keburu diketahui oleh orang yang mengikat nona? Mungkin nona tidak sempat melihat wajah pemuda itu, tapi...nona tentu masih ingat pula ketika pemuda tersebut saling mengadu pukulan dengan orang berkerudung itu, bukan...? Mungkin nona juga tidak begitu memperhatikan, betapa keras dan hebatnya pukulan tersebut, sebab...beradunya pukulan mereka bersamaan waktunya dengan pecahnya kapal yang nona tumpangi!"
"Oogh...!?!"
Tiba-tiba tubuh Put-sia Niocu menjadi lemas, sehingga gadis itu jatuh terduduk di atas tanah.
Mukanya ia tutup dengan kedua belah telapak tangannya dan tangisnya mulai meledak.
Chu Bwee Hong segera berlari menubruknya.
"Put-sia...! Put-sia...! Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba menangis? Apakah...apakah...ceritanya itu benar?"
Tanpa membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya Put-sia Niocu mengangguk-angguk.
"Be...benar, Cici...! Ooooh...!"
Gadis itu menangis semakin keras, seakan-akan kenyataan itu justru semakin menambah rasa penyesalannya.
Rasa-rasanya lebih senang diperkosa oleh pemuda gagah itu dari pada oleh orang yang tidak dia ketahui macam apa rupanya!
"Oh, jadi...?"
Chu Bwee Hong mendesak.
"Ciciii...uh-huuu...!"
Put-sia Niocu menyembunyikan mukanya di dada Chu Bwee Hong.
"Bagaimana Put-sia...? Jadi dia itu...dia itu...bukan..."
Wanita ayu itu mengguncang pundak Put-sia Niocu. Sekali lagi gadis itu mengangguk-angguk di dada Chu Bwee Hong.
"Tampaknya...dia...dia memang bukan Hek-eng-cu! Uh-huuuu...!"
Plong!
Hilang rasanya semua ganjalan yang menindih hati dan perasaan Yap Tai-Ciangkun!
Dengan perasaan lega panglima muda itu mendekati kakaknya, lalu mengajaknya menemui Pek-i Liong-ong dan Chu Seng Kun, dan disambut oleh kedua orang tersebut dengan ramah.
"Ah, hampir saja aku juga menyangka Yap-Siauwhiap adalah...Hek-eng-cu."
Pek-I Liong-ong tertawa.
"Lo-Cianpwe ini ada-ada saja. Mana dapat kepandaianku disejajarkan dengan orang itu?"
Yap Kiong Lee menunduk lalu melirik ke arah Put-sia Niocu yang masih terisak-isak di dada Chu Bwee Hong.
Tampak benar bahwa pemuda itu sangat menaruh kasihan terhadap penderitaan gadis cantik tersebut.
Akhirnya Put-sia Niocu dapat juga dibujuk.
Perlahan-lahan Chu Bwee Hong mengajaknya meninggalkan tempat tersebut.
Chu Seng Kun begitu melihat adiknya melangkah pergi, segera mengikuti pula bersama-sama dengan Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian.
Yang Iain-lain bergegas pula berjalan di belakang mereka.
"Heran aku! Kenapa sih siau-sumoi itu? Asal berjumpa dengan pemuda itu tentu menangis keras seperti anak kecil yang kehilangan mainannya..."
Put-ming-mo yang berjalan di baris yang paling belakang bersama suhengnya, bersungut-sungut dengan kesal.
"Kau diam sajalah!"
Put swi-kui membentak.
"Akupun juga bingung..."
Matahari telah melewati garis cakrawala, sehingga sinarnya yang cerah kemerah-merahan itu memantul menyilaukan mata di atas permukaan air laut.
Rombongan yang terdiri dari lima belas orang itu berjalan beriringan ke arah selatan, menuju ke muara Sungai Huang-ho kembali.
Mereka melangkah naik turun tebing dan batu karang di sepanjang Teluk Po-hai.
Pagi itu desa di tepian muara Sungai Huang-ho tersebut benar-benar menjadi sibuk dan ramai bukan kepalang.
Pasukan Yap Tai-Ciangkun yang terdiri dari dua ratus orang lebih itu tampak tersebar di tempat tersebut setelah semalam suntuk mereka berjaga dan bertempur.
Mereka berusaha mengendorkan otot-otot mereka dan melepaskan lelah di mana saja, di emper-emper rumah penduduk, di bawah pohon-pohon yang rindang, ataupun yang kebetulan ada sedikit uang tampak duduk-duduk di dalam warung sambil minum-minum bersama kawan-kawannya.
belasan orang anggota Sha-cap mi-wi yang dibawa oleh Yap Tai-Ciangkun untuk membantu pasukan tersebut tampak hilir-mudik dan bersenda-gurau dengan para perajurit yang rata-rata bersikap sangat hormat dan segan terhadap mereka.
Apalagi semuanya menyadari bahwa tanpa bantuan mereka yang rata-rata sangat lihai, lebih lihai dari pada perwira-perwira atasan mereka sendiri, pertempuran tadi malam tak mungkin dapat mereka selesaikan dengan begitu memuaskan.
Yap Tai-Ciangkun, Gui-Goanswe, Yap Kiong Lee dan Pek-i Liong-ong tampak duduk-duduk beristirahat di rumah kepala kampung, sementara di kamar belakang Chu Seng Kun dengan ditunggui oleh tunangannya dan Ho Pek Lian, mengobati luka-luka Souw Lian Cu dan Chu Bwee Hong.
Sedangkan Put-sia Niocu dan dua orang suhengnya melepaskan lelah di kamar yang lain.
Dengan keahliannya yang amat hebat itu Chu Seng Kun sebentar saja telah dapat menyembuhkan luka dalam yang diderita oleh Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Mereka tinggal beristirahat saja selama beberapa hari untuk memulihkan kembali tenaga mereka.
"Kalian berdua jangan terlalu banyak mengerahkan tenaga untuk dua atau tiga hari ini agar kemampuan kalian bisa cepat pulih kembali seperti sedia kala! Dan khusus untuk Bwee Hong..."
Chu Seng Kun menghentikan kata-katanya sebentar sambil mengawasi wajah adiknya yang masih pucat itu.
"...Kau terpaksa harus berlatih Iweekang dari permulaan kembali. Sebagian besar dari himpunan sinkangmu telah merembes keluar sewaktu kau mati tadi."
"Jadi aku tak bisa bersilat lagi?"
Chu Bwee Hong bertanya sambil mengerutkan keningnya.
"Ooo...masih...masih! Jangan khawatir, kau masih tetap bisa memainkan Kimhong-kun-hoat dan Pek-in Ginkang. Cuma sekarang semua gerakan dari ilmu tersebut hanya mengandalkan tenaga luar (gwakang) dari tubuhmu saja. Lweekangmu sudah tak bisa kau andalkan lagi..."
Chu Seng Kun tertawa untuk membesarkan hati adiknya.
"Oooh...!"
Chu Bwee Hong tertunduk lemas di tempatnya, ada juga perasaan menyesal di hatinya.
Bagaimanapun juga ia telah menghimpun sinkangnya selama belasan tahun dengan susah-payah.
Tapi sekali lagi kakaknya menghibur.
"Sudahlah, kau tak usah menyesalinya...! yang penting engkau telah selamat dan sehat kembali. Perkara kepandaian seperti itu engkau bisa mempelajarinya kembali. Siapa tahu dengan adanya peristiwa seperti itu kau justeru dapat mempelajari lweekang kita dengan lebih baik dan hebat?"
"Ah, koko...kau ini pandai benar menghibur hati orang! Ibarat sebuah tabungan, tenaga sakti itu kita peroleh dengan menambahnya sedikit demi sedikit setiap hari, sehingga dalam waktu yang lama himpunan sinkang tersebut menjadi besar dan kuat! Nah, kalau sekarang tabungan kita itu hilang...bukankah kita harus memulainya lagi dari awal? Dan...bukankah itu berarti kita telah kehilangan waktu yang tidak sedikit? Bukankah dengan demikian kita akan ketinggalan dari yang lain, meskipun kita dapat mempelajarinya kembali?"
Chu Bwee Hong menatap wajah kakaknya dengan menyeringai kecut.Chu Seng Kun mendekati adiknya dan menepuk-nepuk pundaknya.
"Bwee Hong, engkau jangan cepat berputus-asa! Engkau jangan mempunyai pikiran seperti itu, karena pikiranmu itu belum tentu betul...kau tahu, dunia ini penuh kemungkinan kemungkinan yang kadang-kadang tidak dapat kita ramalkan ataupun kita perhitungkan dengan akal manusia! Banyak sekali hal-hal yang sangat asing dan gelap di luar jangkauan akal budi kita semua...! oleh karena itu kita jangan lekas menjadi putus-asa,"
Katanya halus. Chu Bwee Hong menghela napas panjang sekali seraya menatap wajah kakaknya dengan pandang mata mengerti.
"Koko, maafkan aku...Aku tak bersungguh-sungguh di dalam ucapanku tadi. Sebenarnya aku sama sekali juga tidak menyesali kehilangan sinkangku itu, apalagi sampai berputus-asa karenanya,"
Katanya dengan perlahan pula.
"...Aku bahkan sudah tidak peduli lagi seandai tadi aku benar-benar mati karena pukulan Hek-eng-cu!"
Lanjutnya seperti orang yang tidak punya pengharapan atau semangat untuk hidup.
"Oh?! Jadi...eh, lalu mengapa engkau tampaknya menjadi demikian sedihnya?"
Chu Seng Kun tersentak dan termangu-mangu memandang wajah adiknya.
Chu Bwee Hong mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu perlahan-lahan berdiri dan melangkah ke jendela.
Dipandangnya awan putih yang berarak di atas langit yang cerah biru itu.
Matanya berkaca-kaca dan raut mukanya yang cantik ayu tersebut kelihatan berduka.
"Aku hanya sedih bila teringat pada nasibku...! mengapa hidupku ini selalu dirundung malang dan penderitaan? Mengapa kebahagiaan itu selalu dijauhkan dari aku sejak aku dilahirkan di dunia ini...? mengapa...?"
"Bwee Hong..."
Chu Seng Kun bangkit pula dari tempat duduknya.
"Dosa apakah sebenarnya yang telah kuperbuat sehingga aku mengalami nasib seperti ini...? Ohh...!"
Chu Bwee Hong menutup mukanya dan menangis tersedu-sedu.
"Hong-moi..."
Kwa Siok Eng bergegas menghampiri calon adik iparnya dan merangkulnya.
"Cici Bwee Hong...!"
Ho Pek Lian berdesah pula dengan sedihnya.
Chu Seng Kun jatuh terduduk kembali di kursinya.
Mukanya tertunduk dalam-dalam demikian mengawasi lantai, sehingga beberapa saat lamanya ruangan itu menjadi sunyi.
Yang terdengar sekarang hanyalah isak tertahan dari Chu Bwee Hong saja.
Souw Lian Cu dan Ho Pek Lian yang biasanya banyak omong itupun tampak termangu-mangu pula seperti Chu Seng Kun.
Akhirnya Chu Seng Kun bergerak menggeser tempat duduknya dan otomatis semuanya bagaikan terjaga dari kesunyiannya.
Perlahan-lahan pemuda itu mendekati adiknya dan menyentuh punggungnya.
"Bwee Hong, janganlah kau bersedih...anggap saja semuanya itu sebagai cobaan Tuhan yang sedang diberikan kepadamu. Siapa tahu semuanya itu memang korban yang harus kau berikan sebelum engkau memperoleh kebahagiaan yang lebih sempurna? Marilah, adikku...! kau duduklah lagi yang baik, buanglah kesedihanmu itu jauh-jauh, lalu...marilah kita berbicara tentang pengalamanmu selama ini dengan baik-baik! Lihatlah, Cicimu Siok Eng dan nona Pek Lian telah berada disini semua...! Mereka berdua juga tidak mengenal lelah selama berbulan-bulan untuk mencarimu."
"Benar, Hong-moi...marilah, kita duduk dan berbicara baik-baik!"
Kwa Siok Eng merangkul dan menuntunnya kembali ke kursi. Semuanya duduk kembali di kursinya.
"Bwee Hong, ketahuilah..."
Chu Seng Kun membuka percakapan.
"...Dua tahun lamanya kami bertiga, aku...Cicimu dan nona Pek Lian, berkelana tanpa mengenal lelah menjelajah ke seluruh pelosok negeri untuk mencarimu. Kami bertiga bagaikan orang buta yang bersusah payah mencari sebatang jarum dalam tumpukan erami! Bagaimana tidak? Engkau hilang lenyap tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Bagaimana kami harus mencarimu? Satu-satunya petunjuk hanyalah sebuah topi yang dibalut oleh kerudung tipis berwarna hitam..."
"Benar, Cici...kemanakah sebenarnya engkau selama ini? Apakah sebenarnya yang elah terjadi sehingga engkau menghilang sedemikian lamanya?"
Ho Pek Lian menyambung kata-kata Chu Seng Kun.
Sementara itu Kwa Siok Eng dengan lembut merangkul pundak Chu Bwee Hong dan mengusap air mata yang mengalir di pipi adik iparnya tersebut dengan saputangannya.
"Hong-moi, lekaslah kau bercerita...! aku juga sudah tak sabar lagi untuk mendengarnya,"
Gadis itu membujuk pula.
Kepala yang tertunduk itu perlahan-lahan diangkat, kemudian sisa-sisa air mata yang masih menempel pada pipinya ia keringkan dengan saputangan.
Setelah itu mata yang berbulu lentik tersebut mengawasi orang-orang yang berada di sekitarnya.
Melihat semuanya menatap kepadanya dengan sinar mata mengharap, Chu Bwee Hong menjadi tidak tega pula untuk berdiam diri terus-menerus.
"Baiklah, akan kuceritakan semua kemalangan dan...semua penderitaan yang kualami itu kepada kalian...tapi sebelumnya aku minta maaf karena telah membuat kalian ikut menderita pula karenanya, dan aku sungguh sangat berTerima kasih sekali atas perhatian kalian kepadaku."
Wanita cantik itu akhirnya berkata.
"Cici..."
Tiba-tiba Souw Lian Cu berseru lirih dan beranjak dari tempatnya untuk keluar dari ruangan tersebut.
Gadis remaja itu merasa tidak enak hati untuk ikut mendengarkan cerita Chu Bwee Hong tersebut.
Tapi Chu Bwee Hong segera menahannya.
"Lian Cu, mau pergi kemanakah kau...? Jangan pergi dulu, kau dengarlah dulu ceritaku...!"
"Ah, Cici...aku..."
Souw Lian Cu tetap merasa kikuk. Chu Bwee Hong menghela napas.
"Lian Cu, kau tak usah pergi! Engkau harus mendengarkannya malah, karena justru engkaulah yang paling berhak untuk mengetahuinya."
"Aku...?"
Souw Lian Cu ternganga.
"Benar! Kemarilah...!"
Dengan ragu-ragu gadis itu melangkah mendekati Chu Bwee Hong, lalu duduk di samping wanita ayu tersebut.
Chu Seng Kun, Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian saling pandang dengan sinar mata bingung.
Mereka bertiga benar-benar tidak tahu apa maksud Chu Bwee Hong dengan mengatakan bahwa justru Souw Lian Cu itulah orang yang paling berhak mendengarkan ceritanya tersebut.
Dua tahun yang lalu...
Chu Bwee Hong tinggal bersama dengan kakaknya, Chu Seng Kun, di rumah bekas tempat tinggal ayah angkat mereka.
Rumah itu memang jauh dari perkampungan penduduk, karena rumah itu dibangun oleh ayah angkat mereka di tengah-tengah hutan.
Tetapi biarpun rumah tersebut berada jauh terpencil di tengah-tengah hutan, ternyata setiap harinya banyak orang yang datang untuk meminta obat kepada mereka.
Ternyata kepandaian Chu Seng Kun dalam hal pengobatan telah tersebar ke mana-mana, bahkan telah sampai di luar daerah mereka sendiri.
Meskipun tidak kaya tapi mereka hidup berkecukupan dengan cara menjual obat-obatan serta menolong orang orang yang membutuhkan pertolongan mereka.
Kadang kadang begitu banyaknya orang yang datang untuk meminta pertolongan Chu Seng Kun, sehingga pemuda itu hampir hampir tidak pernah mempunyai waktu untuk beristirahat.
Untunglah selain mahir dalam ilmu pengobatan Chu Seng Kun juga seorang jago silat yang berkepandaian sangat tinggi, sehingga kerja keras seperti itu tidak pernah mempengaruhi kesehatannya.
Sementara itu selain membantu kakaknya bila sedang memberi pengobatan kepada orang yang datang membutuhkan pertolongan mereka, Chu Bwee Hong juga mengerjakan semua pekerjaan di dalam rumah mereka.
Dua atau tiga hari sekali gadis itu pergi ke kota untuk membeli segala keperluan mereka sehari-hari.
Oleh karena gadis itu juga bukan gadis sembarangan, apalagi sejak kecil telah belajar ilmu silat tinggi, Chu Seng Kun juga tidak mengkhawatirkan keselamatan adiknya tersebut bila pergi ke kota sendirian.
Demikianlah, pada suatu hari Chu Bwee Hong juga berangkat ke kota untuk berbelanja seperti biasanya.
Hanya kali ini keberangkatan gadis itu sungguh sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Kali ini gadis itu kelihatan amat lesu dan tak bergairah sama sekali.
Wajahnya selalu tertunduk sedih dan sekali-kali tampak berhenti untuk menghela napas berat.
Langkahnya gontai, kadang-kadang seperti tak melihat jalan yang sedang dilaluinya, sehingga gadis yang berkepandaian silat tinggi itu kadang-kadang hampir terjerembab ke depan karena kakinya terantuk batu.
Di dalam kotapun gadis itu banyak membuat orang-orang yang telah mengenalnya menjadi terheran-heran ketika mereka berpapasan.
Gadis itu berjalan bagaikan sebuah boneka yang tidak bernyawa dan seringkali tidak menjawab tegur sapa yang mereka berikan.
Padahal biasanya gadis itu sangat ramah dan baik sekali kepada siapapun juga, apalagi kepada orang-orang yang telah dikenalnya.
Sebenarnya keadaan Chu Bwee Hong yang aneh tersebut sudah lama dicium oleh kakaknya.
Jadi keanehan tersebut telah berlangsung lama.
Cuma karena Chu Seng Kun belum tega untuk menanyakannya, apalagi Chu Bwee Hong sendiri tampaknya juga selalu mengelak apabila diajak bicara, maka selama itu pula keanehan tersebut masih belum terungkapkan juga.
Dan keanehan yang terjadi pada diri Chu Bwee Hong hari itu adalah puncak dari keanehan sikapnya selama ini.
Kalau pada hari-hari sebelumnya gadis itu masih mampu mengendalikan perasaan dan sikapnya, kali ini agaknya sudah tidak bisa lagi.
Mungkin beban batin yang selama ini masih dapat ia tahan dengan sekuat tenaga, kini sudah tidak dapat mempertahankan pula lagi.
Itulah sebabnya gadis tersebut berjalan bagaikan sebuah boneka yang tidak bernyawa.
Apakah sebenarnya latar belakang dari sikap Chu Bwee Hong yang sangat aneh itu?
Sebenarnya orang tidak akan menganggap aneh lagi apabila sudah mengetahui latar belakang dari sikap gadis yang telah menjadi dewasa tersebut.
Malahan orang akan menganggapnya wajar dan biasa bila hal seperti itu menimpa pada gadis secantik Chu Bwee Hong!
Sebab hal-hal yang aneh seperti itu tentu akan dialami pula oleh remaja-remaja yang lain.
Memang tak ada sesuatu kekuatan pun yang bisa merubah sikap atau watak seseorang selain...cinta kasih!
Cinta kasih yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada ummatNya, termasuk juga semua manusia yang hidup di dunia ini!
Seorang pendiam mendadak bisa pandai bicara, atau sebaliknya seorang yang sangat cerewet tiba-tiba berubah menjadi pendiam bagaikan seorang bisu!
Seorang kasar kadang-kadang berubah menjadi lembut dan suka berkhayal seperti seorang penyair, tapi sebaliknya seorang pujangga tersohor kadang-kadang malah lalu berubah menjadi dungu dan tolol...!
Jilid 25 Memang, semuanya bisa terjadi apabila cinta kasih mulai menyentuh di relung hati manusia!
Dan...demikian pula halnya dengan Chu Bwee Hong pada saat itu.
Perasaan cinta terhadap pria yang selama ini selalu dipendam dan disimpan di dalam hatinya, kini tak kuasa ia kekang lagi.
Sejalan dengan usianya yang semakin bertambah banyak, gadis ayu itu seperti semakin diburu oleh kebutuhan dirinya akan kasih sayang seorang pria yang amat dicintainya.
Dan pria itu sebenarnya sudah ada!
Malah pada pertemuan mereka yang terakhir, pria itu telah berjanji untuk lekas-lekas mengunjungi tempat tinggal Chu Bwee Hong dan membicarakan hubungan mereka.
Tapi...
Setahun telah berlalu.
Dua tahun juga telah lewat, dan tiga tahunpun telah terlampaui pula.
Tapi...pria itu tak kunjung datang juga.
Bermacam-macam bayangan dan dugaan yang tidak-tidak berkecamuk di dalam pikiran Chu Bwee Hong, sehingga gadis itu mulai kelihatan sedih dan murung.
Dan perubahan inilah yang sebenarnya telah dicium oleh Chu Seng Kun!
Tapi oleh karena tidak lekas-lekas diurus dan dipecahkan masalahnya, maka hal tersebut lalu menjadi berlarut-larut.
Dan beberapa bulan kemudian keadaan Chu Bwee Hong tampak semakin parah.
Tampaknya saja gadis itu selalu bersikap biasa dan sehari-harinya juga bekerja seperti biasa, tapi sebenarnya jiwa dan perasaannya telah mulai berpatahan.
Gadis yang cantik bagai bidadari itu mulai kehilangan semangat dan gairahnya.
Wajah itu mulai sering merenung dan bersedih, apalagi jika melihat kerukunan dan kebahagiaan kakaknya dengan Kwa Siok Eng, calon iparnya yang sering berkunjung dan tinggal beberapa hari di tempat mereka.
Maka tidaklah heran apabila gadis itu menjadi gembira bukan main dan hilang seluruh kewaspadaannya ketika seorang laki-laki berkerudung hitam datang menemuinya di kota itu"
Dan bercerita tentang pria idamannya!
Rasa gembira dan bahagianya yang meluap-luap itu ternyata membuat Chu Bwee Hong lupa akan keselamatannya sendiri.
Gadis itu tidak segera merasakan keanehan dari orang yang datang menjumpainya tersebut, padahal seharusnya dia mesti curiga dengan kedatangan orang yang mendadak dan berpakaian sangat aneh itu!
Tapi berita tentang Souw Thian Hai, pria idamannya itu telah membuat Chu Bwee Hong seakan-akan mengesampingkan semua kecurigaannya.
Apalagi berita yang dia terima dari orang itu adalah berita duka dari pria yang selalu memenuhi benaknya tersebut.
Chu Bwee Hong semakin tidak perduli akan dirinya sendiri.
Seluruh perhatiannya hanya tercurah kepada kekasihnya saja!
"Selamat pagi, nona...!"
Tiba-tiba Chu Bwee Hong dikagetkan oleh suara seorang laki-laki ketika dia baru saja keluar dari sebuah toko langganannya.
Chu Bwee Hong menengadahkan kepalanya yang selalu tertunduk itu dan dilihatnya seorang lelaki jangkung berpakaian serba hitam berdiri di depannya.
Beberapa orang yang berjalan di dekat mereka tampak memandang dengan kening berkerut ke arah lelaki tersebut.
Chu Bwee Hong sendiri juga tampak menatap dengan perasaan curiga kepada lelaki itu.
Selain gadis itu merasa belum pernah bertemu dengan orang tersebut, dia juga tampak curiga melihat ke arah kepala orang yang tertutup oleh kain tipis berwarna hitam itu.
"Selamat pagi...!"
Lelaki itu mengulangi tegurannya yang belum mendapatkan jawaban tersebut. Suaranya halus dan ramah, sehingga Chu Bwee Hong menjadi tidak enak hati untuk berdiam diri terus.
"Selamat pagi...!"
Dengan ragu-ragu Chu Bwee Hong membalas teguran itu.
"Maafkanlah saya...mengganggu nona. Tapi...benarkah saya berhadapan dengan nona Chu Bwee Hong sekarang?"
Lelaki itu kembali menundukkan kepalanya dengan sangat hormat di hadapan Chu Bwee Hong.
"Be...benar! Siapakah tuan...? Mengapa tuan sudah mengetahui namaku?"
"Ah, mudah saja untuk mengenal nona di kota yang kecil begini. Apalagi aku telah mendapat petunjuk dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai..."
"Hah???"
Chu Bwee Hong hampir menjerit saking kaget dan gembiranya mendengar nama yang disebutkan oleh orang itu. Tak terasa tangannya menyambar lengan lelaki tersebut.
"Di...dimanakah dia sekarang? Mengapa...mengapa...oh!"
Tiba-tiba Chu Bwee Hong sadar akan dirinya dan buru-buru melepaskan pegangannya.
"Ooh, maafkan kekasaranku..."
Katanya tersipu-sipu.
"Ah, nona tak perlu merasa sungkan. Kita semua adalah sahabat-sahabat sendiri..."
Lelaki berkerudung itu berkata halus. Chu Bwee Hong menatap wajah yang tertutup kain tipis tersebut dengan ragu.
"Jadi...jadi tuan adalah sahabatnya? Lalu...apa maksud tuan menjumpai aku? Adakah tuan membawa khabar dari...dari dia?"
Perlahan-lahan lelaki itu mengangguk dan Chu Bwee Hong sama sekali tidak dapat melihat, betapa wajah di balik kerudung itu tersenyum puas karena tipu daya dan perangkap yang hendak ia lakukan tampaknya berjalan dengan lancar dan mudah.
"Saya memang disuruh oleh Souw-Taihiap kemari untuk menemui nona Chu. Tapi..."
Lelaki berkerudung itu menghentikan kata-katanya dengan menghela napas berat, seolah-olah apa yang hendak ia katakan itu adalah suatu khabar buruk yang tidak menggembirakan.
Tentu saja perasaan Chu Bwee Hong menjadi gelisah pula dengan tiba-tiba.
Perubahan sikap lelaki itu benar-benar mengagetkannya dan menghapus seluruh seri di wajahnya.
"Tapi...apa? Mengapa tuan tidak melanjutkannya?"
Dengan tegang Chu Bwee Hong menatap wajah di balik kerudung tersebut. Dengan gelisah lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu katanya perlahan.
"Maaf, tidak enak rasanya kita berbicara di pinggir jalan begini. Maukah nona ke tempat yang sepi di luar kota sebentar saja? Kita dapat berbicara panjang lebar tanpa dicurigai orang. Dan...aku akan mengatakan semua pesan Souw-Taihiap kepada nona."
Lalu tanpa menantikan reaksi dari Chu Bwee Hong, lelaki berkerudung ini membalikkan badannya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Terpaksa dengan gelisah dan tegang Chu Bwee Hong mengikutinya.
Kekhawatiran gadis itu terhadap nasib kekasihnya membuat dia tidak mempeduikan lagi bahaya-bahaya yang mungkin akan menimpa dirinya.
Mereka berjalan menuju ke luar kota lewat jalan besar yang menuju ke arah pintu kota sebelah timur.
Mereka tidak mempedulikan orang-orang yang lalu-lalang dan berpapasan dengan mereka.
Saking gugup dan tegangnya, Chu Bwee Hong juga tidak menoleh ke kiri ataupun ke kanan, sehingga banyak orang-orang yang telah mengenalnya menjadi heran.
Dan keadaan inilah yang dilihat oleh pemilik warung minum she Ciu itu dan kemudian diceritakan kepada Chu Seng Kun ketika mencari Chu Bwee Hong.
Lelaki berkerudung itu berhenti di tepi hutan yang melingkari kota kecil tersebut.
Suasana di tempat itu benar benar amat sunyi dan sepi.
Orang itu segera mencari tempat duduk di atas sebongkah batu besar yang tersembul dari permukaan tanah dan mempersilahkan kepada Chu Bwee Hong untuk mencari tempat duduk sendiri.
Ada perasaan sedikit tidak enak di dalam hati Chu Bwee Hong melihat sikap lelaki yang mengaku sahabat dari Souw Thian Hai tersebut.
Tampaknya orang itu biasa dihormati dan dilayani oleh orang-orang sekelilingnya.
Meskipun tingkahnya halus, tapi gaya dan sikapnya kelihatan benar keangkuhannya.
"Nah, lekaslah tuan mengatakan pesan dari Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu...!"
Untuk menutupi kecanggungannya Chu Bwee Hong segera mendesak kepada lelaki itu agar segera mengatakan pesan Souw Thian Hai.
Gadis itu tetap berdiri saja di tempatnya dan tidak mau mencari tempat duduk seperti yang diperintahkan oleh lelaki tersebut.
Ternyata lelaki itu juga tidak mengacuhkannya.
Dengan suara yang dalam ia mulai mengatakan maksud kedatangannya.
"Maaf, nona...Misalnya ada sesuatu hal yang nanti membuat engkau kurang berkenan di hati, aku harap nona mau memaafkanku. Kedatanganku kemari memang membawa khabar buruk tentang keadaan Hong-gihiap Souw Thian Hai..."
"Ohhh!"
Belum juga lelaki itu menyelesaikan kata-katanya, Chu Bwee Hong telah menjerit.
"Lekas katakan!"
Teriaknya gelisah.
Wajah di balik kerudung itu menyeringai gembira.
Namun kegembiraan itu selalu ditahannya agar supaya Chu Bwee Hong tidak mengetahui dan menjadi curiga karenanya.
Bahkan untuk memberi kesan bahwa ia juga ikut bersedih atas khabar buruk yang dibawanya, orang tersebut menarik napas panjang berulang-ulang sebelum melanjutkan ceritanya.
"Nona, sebenarnya Souw-Taihiap telah menderita sakit beberapa bulan lamanya. Sakitnya cukup parah sehingga ia tidak dapat bangun dari tempat tidurnya..."
"Oh, Tuhan...!"
Chu Bwee Hong berdesah dengan wajah pucat.
"Meskipun demikian, Souw-Taihiap tak ingin sakitnya itu diketahui oleh orang lain, terutama sahabat-sahabatnya dan...nona Chu, orang yang amat dicintainya!"
"Oouhh...!?l"
Chu Bwee Hong menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya dan merintih, seolah-olah ia ikut merasakan pula rasa sakit yang diderita oleh kekasihnya.
Lelaki itu menghentikan ceritanya sebentar, seakan-akan juga ikut merasakan kesedihan itu.
Padahal di balik kain tipis yang menutupi mukanya itu ia tersenyum lebar karena rencana yang telah disusunnya berjalan dengan lancar.
"Lalu...bagaimana keadaannya sekarang? Apakah kesehatannya...menjadi bertambah...bertambah buruk lagi? Itu...itukah yang hendak...hendak tuan khabarkan kepadaku...?"
Beberapa saat kemudian barulah Chu Bwee Hong bisa mengendalikan perasaannya, tapi ucapan yang keluar dari mulutnya ternyata telah bercampur dengan isak tertahan.
Lelaki yang mengaku sahabat dari Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu berbuat seolah-olah tidak tega untuk menjawabnya, sehingga Chu Bwee Hong menjadi semakin gelisah dan tidak karuan pikirannya.
"Le...lekas katakan, tuan...! Benarkah dugaanku itu?"
Gadis itu mendesak Iagi dengan suara tinggi.
Lelaki itu sungguh pandai sekali bersandiwara.
Melihat korbannya sudah tak bisa lagi mengekang dirinya, dia mulai membuka perangkap dan tipu daya yang telah dipersiapkannya.
Seolah masih enggan dan berat untuk mengatakannya dia menghela napas sambil berkata.
"Tetapi...kuharap nona tidak mengatakannya kepada siapapun juga..., sebab Souw-Taihiap sudah memesan dengan sangat kepadaku agar tidak mengatakannya kepada siapapun juga selain nona. Souw-Taihiap tidak ingin kematiannya membikin repot sahabat-sahabatnya...!"
"Apa?!? Mati...? Siapakah yang akan mati?"
Chu Bwee Hong terlonjak saking kagetnya.
Jari-jarinya yang lentik itu menyambar baju Ielaki itu dan mencengkeramnya dengan erat!
Wajahnya yang ayu dan cantik bagaikan dewi asmara itu berubah menjadi pucat seperti mayat!
"Maaf, nona...seharusnya aku tidak mengatakannya..."
Lelaki itu tidak berani menatap mata Chu Bwee Hong, seolah-olah menyesal telah terlanjur mengatakan khabar yang buruk tersebut. Tapi diam-diam orang itu bersorak di dalam hatinya.
"Oooh!"
Chu Bwee Hong terhenyak, lalu dengan agak menghiba gadis itu memohon kepada lelaki yang mengaku sahabat dari kekasihnya tersebut.
"...Tuan, sakit apakah sebenarnya dia? Apakah sakit lamanya itu kambuh kembali? Tuan, tolonglah, antarkan aku kepadanya...!"
"Nona Chu, aku takut..."
Lelaki itu pura-pura menolak dengan cepat, padahal hatinya bersorak setinggi langit. Seluruh rencananya berjalan dengan lancar sekali.
"Tuan, kuminta dengan sangat...kasihanilah diriku. Bawalah aku untuk menemuinya..."
Gadis itu tetap mendesak.
"Maaf, aku benar-benar tidak berani...Nah, aku akan meminta diri sekarang."
Lelaki itu melepaskan bajunya dari pegangan Chu Bwee Hong dan melompat pergi. Tentu saja Chu Bwee Hong tidak mau melepaskan begitu saja.
"Tunggu...!"
Gadis itu berteriak, kemudian berlari mengejarnya.
Mereka berkejaran menyusup hutan dan melintasi padang ilalang.
Ilmu meringankan tubuh lelaki berkerudung tersebut ternyata cukup tinggi sehingga Chu Bwee Hong yang mahir ginkang itu tidak dapat segera mengejarnya.
Baru setelah mereka tiba di tanah perbukitan yang sulit dan terjal lelaki itu harus mengakui kehebatan Pek-in ginkang Chu Bwee Hong.
Lelaki itu terpaksa berhenti menghadapi Chu Bwee Hong kembali.
"Nona, mengapa engkau terus mengejar aku?"
Katanya terengah-engah.
Chu Bwee Hong mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangannya.
Matanya yang kemerahan dan masih berkaca-kaca itu menatap dengan tajam, tapi sedikitpun suaranya tidak terengah engah ketika berkata.
"Sekali lagi kumohon...antarkanlah aku menemui dia..."
Lelaki itu menundukkan kepalanya yang terbungkus kerudung hitam, kemudian...seolah-olah karena terpaksa dan tiada jalan lain lagi, orang itu menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, nona. Kemanapun juga aku berlari, engkau tentu dapat mengejar aku. Aku tak mungkin dapat melarikan diri dari seorang ahli waris Bu-eng Sin-yok-ong. Cuma kuminta dengan sangat kepadamu...berhati-hatilah kalau menemui Souw-Taihiap nanti. kau jangan sampai mengagetkannya, karena amat berbahaya buat kesehatannya..."
Chu Bwee Hong mengangguk.
Demikianlah, karena sangat mengkhawatirkan nasib Souw Thian Hai yang amat dicintainya, Chu Bwee Hong sampai lupa untuk memberitahukan kepergiannya tersebut kepada kakaknya.
Juga tidak terbayangkan oleh gadis itu bahwa sepeninggalnya kakaknya menjadi kalang-kabut mencarinya.
Tiga hari lamanya Chu Bwee Hong berjalan bersama lelaki berkerudung itu.
Mereka berjalan tidak mengenal lelah, menerobos hutan, mendaki bukit, menuruni jurang.
Mereka hanya beristirahat apabila merasa lelah, di mana saja, kadang-kadang di atas pohonpun jadilah.
Hanya apabila mereka memasuki sebuah kota mereka dapat beristirahat di tempat penginapan dengan sedikit leluasa.
Itupun tidak lama, karena Chu Bwee Hong yang selalu merasa gelisah itu tentu segera mengajak untuk meneruskan perjalanan mereka.
Mereka berdua jarang sekali berbicara satu sama lain.
Kalau dalam tiga hari perjalanan tersebut mereka kadang kala berbicara, ucapan mereka hanyalah berkisar tentang arah dan tujuan perjalanan mereka saja, pikiran Chu Bwee Hong hanya dipenuhi dengan bayangan Souw Thian Hai seorang dan tak ada minatnya sama sekali untuk memikirkan yang lain.
Sampai-sampai dirinya sendiri tak terpikirkan pula keadaannya.
Tak ada minatnya sama sekali untuk berdandan atau merawat badannya, meskipun pakaian yang dia kenakan itu telah kotor dan berdebu.
Lain halnya dengan lelaki berkerudung hitam itu.
Semakin lama berjalan bersama-sama dengan Chu Bwee Hong yang cantik jelita itu, semakin besar pula perasaan tertariknya kepada gadis tersebut.
Tapi tentu saja orang itu tidak berani berterus terang, apalagi sampai memperlihatkannya kepada gadis tersebut.
Orang itu menyadari, betapa tinggi ilmu silat anak keturunan mendiang Bu-eng Sin-yok-ong.
Salah langkah sedikit saja akan bisa menghancurkan seluruh rencananya malah!
Oleh karena itu, meskipun hatinya mulai terbakar oleh kecantikan Chu Bwee Hong yang amat mempesonakan itu, orang tersebut masih tetap berusaha menahan dirinya.
Demikianlah pada hari ke empat mereka telah sampai di Sungai Ular, yaitu sebuah dari puluhan sungai kecil yang menjadi anak dari Sungai Huang-ho yang besar.
Sungai itu adalah sungai yang tidak begitu lebar dan dalam tetapi berbeda dengan anak-anak Sungai Huang-ho yang lain yang sering mengalami kekeringan di musim kemarau, air Sungai Ular benar-benar tidak pernah berhenti mengalir di sepanjang tahun.
Hal itu disebabkan oleh karena Sungai Ular mempunyai sumber yang tak pernah habis di Pegunungan Kun-lun, yaitu barisan pegunungan luas di daerah propinsi bagian barat dari Tiongkok.
Pegunungan tersebut mempunyai banyak puncak-puncak yang tinggi dan jurang-jurang yang sangat dalam, sementara di atas lereng-lerengnya yang curam dan terjal itu hampir seluruhnya diselimuti oleh hutan belantara yang amat lebat.
Untuk memintas jalan, Chu Bwee Hong dan lelaki berkerudung itu menyusuri sungai tersebut ke arah hulu.
Tetapi dengan jalan demikian terkadang mereka berdua terpaksa harus mendaki tebing dan merayapi jurang yang amat terjal.
Untunglah mereka berdua mempunyai ilmu yang tinggi, sehingga medan yang sangat sukar itu tidak menyulitkan mereka.
"Sebentar lagi kita akan sampai di tempat tujuan. Rumah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai sudah tidak begitu jauh lagi...Hanya aku khawatir kedatangan kita ini sudah terlambat..."
Lelaki berkerudung itu mulai memanaskan suasana kembali.
"Ah!"
Chu Bwee Hong berdesah, matanya tampak mulai berkaca-kaca lagi.
"...Begitu burukkah keadaannya?"
"Dia cuma ditunggui oleh puterinya, dan ketika kutinggalkan beberapa hari yang lalu...dia sudah tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya."
"Lalu...penyakit apakah sebenarnya yang ia derita?"
"Entahlah, nona...Yang terang penyakit tersebut datang menyerang dengan tiba-tiba...! Sore hari Souw-Taihiap belum merasakan apa-apa, tapi bangun tidur keesokan harinya dia sudah tidak bisa turun dari pembaringannya!"
"Oh"
Mungkinkah ini disebabkan oleh penyakit lamanya itu?"
Chu Bwee Hong berkata serak dan hampir menangis.
"Sebenarnya setiap tahun sekali dia harus datang untuk kami obati, tapi"
Sudah tiga tahun ini dia tak datang!"
"Kukira memang betul dugaan nona. Apalagi yang mampu menjatuhkan Souw-Taihiap yang maha sakti itu selain penyakit Iupa ingatannya dulu?"
"Ohhhh!"
Sungai itu mulai melewati daerah yang datar dan berhutan jarang.
Malahan beberapa saat kemudian kedua orang itu telah sampai di sebuah ngarai yang luas, di mana pohonpohonnya sangat rindang dan mulai berbunga.
Bunganya berwarna-warni, sehingga dari jauh ngarai itu tampak bagaikan lautan bunga yang mengalun dihembus angin.
"Nona, kita telah sampai di tempat Souw-Taihiap, sungai ini mulai dangkal dan kelihatan batu-batunya...! Di tempat inilah biasanya Souw-Taihiap dan puterinya mandi serta membersihkan badan mereka."
"Di manakah rumahnya?"
"Kita masih harus berjalan satu lie lagi. Di sana ada sebuah air terjun yang amat indah dan menawan, di mana sekelilingnya hanya tumbuh pohon-pohon bunga yang beraneka warna."
"Oh?"
Tiba-tiba Chu Bwee Hong terpekik.
"Ada orang datang...!"
"Mana...? Oh, benar! Jangan khawatir mungkin dia adalah salah seorang pelayan dari Souw-Taihiap..."
Lelaki berkerudung itu tersenyum aneh.
Seorang laki-laki tinggi besar dengan kumis dan jenggot lebat tampak berlari melintas di depan mereka.
Tapi begitu mengetahui kedatangan mereka, laki-laki tersebut segera menghentikan langkahnya.
Dengan pandang mata curiga laki-laki brewok yang saking kelewat subur rambutnya sampai sampai lengannya juga penuh ditutupi rambut itu menghampiri mereka!
"Berhenti!"
Hardiknya.
Lelaki berkerudung itu melangkah ke depan Chu Bwee Hong untuk menghadapi laki-laki brewok tersebut.
Tapi sebelum dia sempat berkata laki-laki brewok tersebut telah merubah suaranya, yaitu tidak lagi sekaku atau segarang tadi.
"Oh...apakah jiwi (tuan berdua) juga sahabat-sahabat dari mendiang Souw-Taihiap pula? Dan kedatangan jiwi ini...apakah juga bermaksud untuk menengok jenazahnya?"
"Apa? Ohh, jadi...jadi Souw-Taihiap sudah meninggal?"
Lelaki berkerudung itu berseru seolah-olah kaget sekali. Kaki kanannya menghentak tanah dan di lain saat tubuhnya melayang ke depan orang itu. Tapi dengan gesit orang brewok itu juga melangkah mundur.
"Hmm, jadi tuan berdua ini bukan sahabat dari Souw-Taihiap?"
Laki-laki brewok tersebut mengerutkan keningnya seakan-akan curiga.
"Kalau begitu apa maksud kedatangan jiwi ini...?"
Sementara itu mendengar bahwa kekasihnya telah meninggal dunia Bwee Hong tak kuasa lagi menahan tangisnya.
Dengan lemas tubuhnya bersandar pada pohon dan menangis tersedu-sedu.
Semakin lama tangisnya semakin memilukan, apalagi kalau teringat akan kebaikan budi Souw Thian Hai di masa lalu.
Orang brewok dan lelaki berkerudung itu saling pandang untuk beberapa saat lamanya lalu keduanya bersama-sama menoleh ke arah Chu Bwee Hong yang tertunduk dan terisak isak.
Kemudian sambil seolah-olah menyesali kecurigaannya yang tidak beralasan, orang brewok itu menjura berkali-kali.
"Ah, maaf...maaf. Aku ternyata telah terlalu mencurigai jiwi. Hmm, marilah kuantar ke rumah Souw-Taihiap kalau begitu...!"
Desahnya penuh rasa sesal.
Lelaki berkerudung itu mengangguk, lalu menghampiri Chu Bwee Hong.
Mendengar langkah kaki seseorang datang mendekatinya Chu Bwee Hong segera menengadahkan kepala.
Otomatis dia bersiap-siaga.
Bagaimanapun juga kedua orang itu belum begitu dikenalnya.
Lelaki berkerudung itu segera menghentikan langkahnya melihat kesiapsiagaan Chu Bwee Hong.
Sambil menunjuk ke arah laki-laki brewok tadi ia berkata.
"Nona, marilah kita menengok jenazah Souw-Taihiap...!"
Chu Bwee Hong mengangguk, lalu berjalan mengikuti orang-orang itu.
Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka bertiga, Souw Lian Cu yang sejak pagi mencuci pakaian di sungai itu, selalu mengawasi gerak-gerik mereka.
Sayang, karena berada agak jauh dari tempat mereka, gadis remaja itu tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.
Gadis itu hanya bisa mengawasi saja tingkah laku mereka bertiga.
Tapi gadis remaja itu segera menjadi kaget, ketika mengenali wajah Chu Bwee Hong yang cantik itu.
Wajahnya segera berubah menjadi kelam dan beberapa saat kemudian lalu berubah lagi menjadi kemerah-merahan.
Ternyata hatinya yang dalam beberapa hari ini sedang pepat dan marah terhadap ayahnya, semakin menjadi berang dan kusut!
Dan saking tidak kuat hatinya menahan semuanya itu, Souw Lian Cu lalu membanting tempat cuciannya dan kabur dari tempat tersebut.
Gadis itu pergi entah ke mana.
Laki-laki brewok itu membawa Chu Bwee Hong berdua ke sebuah pondok kecil yang dibangun di tepi sungai.
Dari jauh telah tercium bau dupa wangi yang menandakan bahwa di dalam pondok tersebut sedang ada upacara berkabung.
Hanya yang agak mengherankan adalah keadaan di sekitar rumah itu.
Tempat itu sangat sepi.
Tak terlihat seorang manusia pun di sana, seolah-olah pondok itu bukanlah tempat tinggal, tetapi kuburan!
Tapi Chu Bwee Hong yang sedang bersedih itu tidak merasakan itu semua.
Dengan langkah gontai gadis ayu itu berjalan memasuki pondok dan segera bersimpuh di depan peti mayat yang terbujur di sana.
Air matanya turun tiada henti-hentinya.
Lelaki berkerudung itu mendekati Chu Bwee Hong dan sekali ini gadis itu tidak bersiap-siaga seperti biasanya.
Dibiarkannya saja lelaki berkerudung itu berdiri di sampingnya.
Sekilas tampak lelaki berkerudung tersebut mengangguk ke arah laki-laki brewok dan laki-laki tinggi besar itu segera membuka peti mati di hadapan mereka.
Chu Bwee Hong terbelalak.Terlihat olehnya di dalam peti itu tubuh Souw Thian Hai telah terbujur kaku!
Wajahnya yang tampan itu tampak putih dan pucat kebiru-biruan!
"Hai-ko...!"
Chu Bwee Hong menjerit kemudian...pingsan.
Cepat bagaikan kilat lelaki berkerudung itu menotok urat-urat penting di badan Chu Bwee Hong, sehingga yang belakangan ini takkan mungkin bisa bergerak meskipun sudah siuman nanti.
Dan sekejap kemudian dua orang laki-laki itu saling memandang dan tertawa gembira bersama-sama.
"Huaha-ha-ha-ha...!"
"Heheh-hehe-he...! Wan-heng, kau sungguh cerdik sekali...!"
Lelaki berkerudung itu mengangkat ibu jarinya ke arah laki-laki brewok tersebut.
"Kalau tidak dengan tipu daya begini,...sungguh sulit untuk menundukkannya. Kepandaianku saja tak mungkin bisa mengatasinya. Ginkangnya hebat bukan main...!"
"Lalu apa yang mesti kita kerjakan selanjutnya, Ongya...?"
Laki-laki brewok itu bertanya sambil mengangkat peti mati itu dan kemudian membuangnya ke Iuar pondok.
Peti tersebut pecah berantakan ketika membentur batu, dan...sebuah orang-orangan yang terbuat dari jerami terpental keluar.
Sementara kepalanya yang terbuat dari Lilin itu pecah bertaburan di atas tanah.
"Wan-heng, tugasmu telah selesai. Sekarang kau kembalilah ke lembah...! Jangan sampai keluarga Chin mencari-cari engkau. Mereka akan menjadi curiga kepadamu bila engkau terlalu lama meninggalkan mereka..."
"Lalu...bagaimanakah dengan Souw Thian Hai? Orang itu sungguh sangat berbahaya sekali, Ongya..."
Laki-laki brewok yang tidak lain adalah Hek-mou-sai Wan It itu bertanya ragu-ragu. Lelaki berkerudung itu menyentuh lengan Hek-mou-sai.
"Kau jangan khawatir, Wan-heng. Dengan adanya gadis cantik ini di tanganku, keparat Souw Thian Hai itu takkan berani menyentuh aku..., Sudahlah, kau pulang sajalah! Biarkan aku menyelesaikan rencana yang tinggal sedikit ini. Besok bila semuanya berjalan lancar, aku tentu akan segera datang menemuimu."
"Baik! Baiklah kalau begitu...hamba mohon diri."
"Berangkatlah...!"
Hek-mou-sai Wan lt yang tinggi besar itu menjura, kemudian bergegas keluar dan pergi dari tempat itu.
Lelaki berkerudung itu memandangnya sampai pembantunya yang setia tersebut hilang dari pandangannya, kemudian dengan menyeringai iblis dia mendekati tubuh Chu Bwee Hong yang pingsan itu.
"Ohh, betapa cantiknya...! Belum pernah rasanya aku melihat seorang gadis demikian moleknya!"
Gumam orang itu seraya membawa tubuh Chu Bwee Hong ke dalam kamar.
Matahari yang telah sampai di atas kepala itu seolah mematahkan seluruh kekuatannya, sehingga lembab yang semula terasa sejuk menyenangkan itu seakan-akan lalu berubah menjadi sebuah tungku yang menggelegak kepanasan.
Angin yang semula bertiup perlahan itu kini rasanya juga menjadi bertambah kencang, sehingga debu debu panas tampak berhamburan ke angkasa.
Untuk sesaat lembah itu seperti berubah menjadi tempat di mana para iblis sedang berpesta-pora.
Akhirnya Chu Bwee Hong siuman juga dari pingsannya.
Perlahan-lahan matanya terbuka, lalu mulutnya menyeringai kesakitan.
Terasa oleh gadis itu tulang-tulangnya menjadi linu semuanya.
Gadis itu berusaha duduk, tetapi betapa terperanjatnya ketika kaki dan tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali.
Dan gadis itu menjadi semakin kaget ketika menyadari bahwa tubuhnya terbaring tanpa kain penutup sama sekali!
Perasaan takut tiba-tiba mencekam benak Chu Bwee Hong!
Ketakutan akan sesuatu yang sangat mengerikan!
Otomatis gadis itu mencari-cari kelainan yang mungkin ada pada tubuhnya, dan...hatinya mendadak menjadi pedih bukan main!
Pangkal pahanya terasa sakit dan perih sekali!
"Oh, Tuhan...!"
Chu Bwee Hong merintih dan otomatis air matanya mengalir dengan derasnya.
Gadis itu lalu menangis dengan sedihnya.
Kini hancur sudah semuanya...!
Terasa gelap dunianya dan...sudah tidak ada gunanya lagi ia hidup di dunia.
Musnah sudah seluruh harapannya selama ini!
"Geriiiiit!"
Terdengar pintu dibuka, kemudian muncullah lelaki berkerudung itu di muka pintu kamar.
Seraya tertawa perlahan lelaki itu menghampiri pembaringan Chu Bwee Hong.
Nada suaranya kurang ajar sekali, lain benar dengan suaranya kemarin.
"Ha haha,...engkau sudah siuman, bidadariku yang cantik?"
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 7
Baca Juga: Pendekar Sakti 1