Ceritasilat Novel Online

Pendekar Penyebar Maut 10

Eps 10 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

"Keparat! Iblis biadab! Apa yang telah...telah kau perbuat terhadap diriku?"

Chu Bwee Hong memaki dan menjerit seperti orang gila.

"Hei, mengapa berteriak-teriak begitu, anak manis...? kau belum puas, yaa...?"

Lelaki itu berusaha membujuk dengan lagaknya yang menjijikkan.

"Ayuh, kita ulangi lagi kalau begitu...hahaha!"

Chu Bwee Hong terbelalak dengan air muka pucat pasi.

Bibirnya yang putih pucat ketakutan itu gemetar dan tak bisa mengeluarkan suara sekarang.

Dilihatnya iblis yang tak kelihatan wajahnya karena tertutup oleh kerudung hitam itu datang mendekati pembaringannya.

Dan gadis itu hampir pingsan tatkala laki-laki yang akhirnya berdiri di tepi pembaringannya tersebut membuka baju dan celana di hadapannya.

Kemudian dunia ini seakan-akan diguncang gempa hebat ketika tubuh lelaki yang telah bertelanjang bulat itu meloncat ke atas pembaringan!

"O-oh...k-kau mau a-apa...?"

Chu Bwee Hong menjerit, tapi yang keluar dari dalam mulutnya hanya suara yang serak dan tak jelas.

Tenggorokannya terasa tercekik!

"Tenanglah, manis...!

Semuanya akan berjalan dengan menyenangkan.

Akan kuajak engkau ke sorga yang luar biasa indahnya..."

Lelaki itu tertawa perlahan, lalu dengan ganas menerkam Chu Bwee Hong dan menotok urat gagunya, agar gadis tersebut tidak bisa berteriak-teriak lagi!

Rasa-rasanya dunia mendadak menjadi gelap dan...Chu Bwee Hong lalu pingsan!

Lelaki berkerudung hitam itu tidak peduli meskipun korbannya menjadi pingsan.

Bagi seorang iblis kejam seperti dia, apalagi pengaruh setan telah menguasai hatinya, keadaan seperti itu bukanlah merupakan suatu penghalang baginya!

Dengan sangat kasar ia menerkam tubuh Chu Bwee Hong dan memperkosanya untuk yang kedua kalinya...!

Memang sungguh malang nasib gadis ayu tersebut.

Sepintas lalu dunia ini rasanya memang tidak adil.

Seorang gadis cantik yang baik budi seperti Chu Bwee Hong yang sejak kecil selalu menderita dan hampir tidak pernah mengenyam kebahagiaan seperti halnya gadis-gadis lain, harus pula menerima kekejaman dan kebiadaban seperti itu.

Tapi semuanya telah terjadi!

Nasib memang telah menentukan demikian, dan tak seorangpun yang bisa mengelakkannya.

Semua itu adalah rahasia alam, yang tak mungkin seorang manusia dapat menjenguk dan menguraikannya!

Hari telah menjadi sore dan tempat itu telah mulai terasa gelap.

Lelaki berkerudung tersebut turun dari atas pembaringan dan mengenakan pakaiannya kembali.

Kemudian dengan perasaan lega karena nafsu binatangnya telah terpuaskan, lelaki berkerudung tersebut berjalan ke arah pintu dan melongok ke luar pondok.

Tiba-tiba lelaki itu menutup pintu pondoknya kembali.

Lapat-lapat terdengar suara langkah kaki seseorang mendatangi tempat tersebut.

"Lian-ji (anak Lian)...! Lian-ji...!"

Orang yang sedang menuju ke tempat itu memanggil anaknya.

Lelaki berkerudung itu cepat kembali ke kamar dan bergegas mengenakan kembali pakaian Chu Bwee Hong yang berceceran di atas lantai.

Gadis itu masih belum siuman dari pingsannya, maka dengan mudah lelaki berkerudung tersebut mengenakan dan memasangkan kembali pakaiannya.

Lalu dengan tergesa-gesa gadis itu diseretnya ke depan pintu.

"Hmm, anak ini kemana sih...? Semua cuciannya ditinggalkannya begitu saja...dan sudah petang begini belum juga pulang. Tidur di pondok ini barangkali. Hmm, Lian Cu...! Lian Cu...!"

Suara dari orang yang baru saja datang itu telah berada di luar pondok. Tiba-tiba orang yang baru datang yang tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu mengernyitkan hidungnya.

"Huh, aneh benar...!"

Gerutunya perlahan.

"...Kenapa ada bau dupa wangi disini? Apakah bocah itu sedang bermain-main di sini? Sungguh anak bengal, sudah kukatakan jangan bermain-main di pondok mendiang kakek Souw ini...eh, masih juga nekad! Hei, Lian Cu...hayo keluar!"

Tapi tak seorangpun menjawab teriakannya sehingga Souw Thian Hai menjadi tidak sabar.

"Hah, kau mau mempermainkan ayah, ya...? awas, kugebuk kalau kuketemukan nanti...!"

Souw Thian Hai yang sudah biasa bergurau dengan anaknya itu pura-pura marah, lalu dicarinya sebatang ranting untuk alat penggebuknya.

Mendadak mata pendekar itu terbelalak!

Di bawah pohon besar yang tumbang di samping pondok itu tergolek sebuah peti mati yang telah pecah dan terbuka tutupnya.

Dan di dekatnya tergeletak sebuah orang-orangan dari jerami yang diberi pakaian seperti halnya manusia hidup.

Hanya kepalanya yang terbuat dari lilin itu telah hancur berkeping-keping, sehingga Souw Thian Hai tidak dapat melihat wajahnya.

"Hmmh, kelihatannya tempat ini telah dikunjungi orang Iuar...,"

Souw Thian Hai bergumam perlahan.

"...Tapi, siapakah orang itu? Mungkinkah bangsat itu kembali lagi ke sini untuk meneruskan niatnya...meminta peti pusaka mendiang Bit-bo-ong itu? Hmh...tapi apa maksudnya membuat peti mati tiruan seperti itu?"

Hati Souw Thian Hai menjadi tegang.

Dugaannya tentang seorang musuh besarnya yang datang kembali untuk meminta peti pusaka mendiang Bit-bo-ong, membuat perasaannya menjadi gelisah!

Jangan-jangan setelah orang itu selalu gagal untuk mendapatkan benda tersebut lalu mempergunakan akal liciknya, yaitu mencelakai Souw Lian Cu, puterinya!

Maka Souw Thian Hai segera bersiap-siap, dia tak ingin terjebak oleh perangkap lawan apabila dugaannya tersebut benar.

Sambil mengerahkan tenaga dalamnya yang dahsyat dia berseru ke dalam pondok.

Suaranya berat dan berwibawa.

"Siapa pun yang berada di dalam pondok ini...keluarlah! Kalau tidak...hmh, jangan harap bisa menyelamatkan diri dari reruntuhan rumah ini..."

Hening sejenak.

Tak seorangpun menjawab seruannya.

Souw Thian Hai mulai ragu-ragu, jangan-jangan dugaannya keliru.

Mungkinkah orang itu telah pergi dari tempat ini?

Hampir saja Souw Thian Hai meloncat ke depan untuk menerjang pintu yang tertutup itu.

tapi,...tidak jadi!

Terlalu berbahaya baginya.

Siapa tahu dugaannya benar dan orang itu belum beranjak dari pondok tersebut?

Siapa tahu orang itu menanti di dalam pondok dengan perangkapnya?

"Kau tetap tidak mau keluar juga?

Baik!

kau lihatlah baik-baik, akan kurobohkan pondok kecil ini hanya dengan tiga kali pukulan...!"

Souw Thian Hai mencoba mengancam lagi untuk yang terakhir kalinya.

Sebenarnya pendekar sakti itu sudah menjadi ragu pula akan dugaannya, tapi sebelum dia benar-benar memasuki pondok tersebut ia ingin meyakinkan diri terlebih dahulu bahwa di dalam rumah itu memang tidak ada siapapun juga.

Oleh karena itu sambil memberikan ancaman pendekar sakti itu segera melangkah ke depan pintu pondok.

Tetapi hal itu ternyata telah diartikan lain oleh lelaki berkerudung yang menantinya di belakang pintu.

Lelaki tersebut mengira bahwa Souw Thian Hai memang benar benar telah melihat dirinya, dan sekarang pendekar sakti itu sungguh-sungguh akan meledakkan rumah kecil tersebut dengan pukulan Tai-lek Pek-khong-ciangnya yang amat terkenal di dunia persilatan itu.

Maka sebelum Souw Thian Hai melangkah lebih dekat lagi, lelaki berkerudung itu cepat membuka pintu pondok dan berteriak keras sekali.

"Berhenti...!!!"

Sekarang justru Souw Thian Hai sendirilah yang menjadi kaget!

Sejak semula pendekar itu memang hanya menduga duga saja kalau di pondok tersebut ada orangnya.

Kalau dia tadi berteriak-teriak mengancam, hal itu hanya untuk meyakinkan dirinya saja bahwa tempat tersebut memang kosong!

Tapi tidak dia sangka dugaannya ternyata benar, pondok itu...betul-betul ada orangnya!

Dan orang itu juga benar-benar orang yang selalu mengganggu dirinya, yaitu orang yang menginginkan peti pusaka mendiang Bit-bo-ong itu!

"Souw Thian Hai...!

Kebetulan engkau telah datang sendiri ke sini, sehingga aku tak perlu mencari engkau ke rumahmu.

Lihatlah siapa yang kubawa ini...!"

Lelaki berkerudung itu berteriak lagi seraya menyeret tubuh Chu Bwee Hong ke depan pintu.

Sekali lagi Souw Thian Hai terkejut!

Malahan kali ini rasa kagetnya itu demikian hebatnya, sehingga kalau pada saat itu ada petir menyambar mungkin ia takkan bisa mendengarnya lagi!

Mata pendekar sakti yang biasanya bersinar tajam dan dalam itu kini tampak terbelalak lebar ke arah Chu Bwee Hong yang lemas tak bertenaga itu.

Hampir-hampir pendekar itu tak mempercayai pandangannya sendiri.

Beberapa kali matanya dikejap-kejapkannya dengan harapan barangkali semuanya itu hanyalah bayangan atau impiannya saja.

Tapi wajah gadis itu tetap tidak hilang dari pandangan matanya, begitu pula dengan lelaki yang menyanderanya itu.

Kenyataan itu membuat Souw Thian Hai menjadi sadar bahwa semua yang ia hadapi sekarang bukanlah sebuah impian atau bayangannya saja, tetapi benar-benar suatu kenyataan!

Suatu kenyataan bahwa lelaki yang telah beberapa kali gagal memperoleh peti pusaka dari dia itu kini datang lagi dengan membawa Chu Bwee Hong sebagai sanderanya.

Dan lelaki itu tentu hendak menukarkan keselamatan gadis yang amat dicintainya itu dengan peti pusaka kepunyaan mendiang Bitbo-ong tersebut!

Sementara itu Chu Bwee Hong sendiri, yang kini telah siuman dari pingsannya, tampak menatap Souw Thian Hai dengan tidak kalah kagetnya.

Gadis ayu itu memandang kekasihnya dengan air mata bercucuran dan apabila urat gagunya tidak ditotok mungkin dia sudah berteriak dan menangis menjerit-jerit!

"Hong...Hong-moi...!"

Souw Thian Hai akhirnya bisa bersuara, meskipun suaranya juga tidak jelas.

"Kau...kau..."

Pendekar sakti yang sangat disegani dan ditakuti orang itu kini tertatih-tatih dengan hati tak keruan rasa.

Hatinya yang selama hampir empat tahun ini selalu ia tekan dan ia paksa untuk melupakan gadis itu kini tak kuasa ia kendalikan lagi!

Apalagi begitu bertemu dengan Chu Bwee Hong, kekasihnya itu dalam cengkeraman iblis yang selalu memusuhinya!

"Berhenti!

Jangan dekat-dekat...!"

Lelaki berkerudung itu membentak lagi.

Tangan kanannya yang semula mencengkeram pundak Chu Bwee Hong itu tiba-tiba telah memegang golok kecil dan menempelkannya di atas leher gadis tersebut.

Souw Thian Hai cepat menghentikan langkahnya.

Dengan air muka tegang dan gelisah matanya menatap ke arah lawannya.

"A-apa maumu...?"

Geramnya.

"Hahah...kau tidak perlu berpura-pura tak mengetahui maksudku..."

Lelaki berkerudung itu tertawa menyeringai.

"Nah, lekaslah kau berikan peti itu kepadaku! Ataukah engkau ingin melihat dulu aku menggorok leher yang indah ini?"

Lelaki berkerudung itu menekan sedikit mata goloknya, sehingga Chu Bwee Hong meringis kesakitan!

Mata golok yang putih mengkilap itu mulai bersemu merah oleh tetesan darah Chu Bwee Hong, suatu tanda bahwa lelaki tersebut tidak main-main dengan ancamannya!

"Jangan!"

Souw Thian Hai berteriak.

"Hmm, bagaimana...? kau menyetujui permintaanku?"

Lelaki berkerudung itu mengangkat alisnya dan mengendurkan tekanan goloknya.

Sejenak Souw Thian Hai menjadi bimbang kembali.

Peti pusaka itu berisi benda-benda peninggalan mendiang Bit boong yang sakti, termasuk pula buku-buku ilmu silatnya yang dahulu pernah menggegerkan dunia persilatan.

Peti pusaka tersebut ia dapatkan setelah dia bisa membunuh duplikat Bit-bo-ong yang mengaku masih keturunan Bit-bo-ong asli beberapa tahun yang lalu.

Dan peti pusaka itu memang sengaja ia simpan karena ia tak ingin benda tersebut dikuasai oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.

Ternyata sekarang ada orang yang ingin memiliki benda pusaka itu kembali.

Sudah beberapa kali orang yang menyembunyikan wajahnya di balik kerudung itu mencoba memintanya dengan berbagai macam cara, baik dengan cara halus maupun kasar, tapi semuanya tidak berhasil.

Dan kini orang berkerudung itu datang kembali dengan caranya yang licik dan pengecut.

Entah bagaimana caranya hingga orang licik itu mengetahui hubungannya dengan Chu Bwee Hong, sehingga dengan cara yang kotor gadis tersebut dipakai untuk memerasnya.

"Bagaimana?"

Lelaki berkerudung itu membentak lagi.

"Baiklah. Tapi kau harus melepaskan gadis itu dahulu...!"

Akhirnya Souw Thian Hai terpaksa mengabulkan permintaan lawannya. Bagaimanapun juga jiwa kekasihnya lebih berharga dari pada yang lain-lainnya. Lelaki berkerudung itu mendengus.

"Kau jangan mencoba mengelabuhi aku. Kalau aku melepaskan gadis ini kau tentu akan menerjang aku. Huh, tidak...! Gadis ini tidak akan kulepaskan sebelum engkau memberikan peti pusaka itu kepadaku dan berjanji tidak akan mengganggu langkahku ketika keluar dari lembah ini. Bagaimana...?"

"Pengecut!"

Souw Thian Hai menggeram lagi.

"Apa katamu?"

Lelaki itu berteriak sambil menekankan kembali golok itu ke leher Chu Bwee Hong sehingga yang terakhir ini meringis menahan sakit.

"Bangsat! Baik...baiklah, aku berjanji!"

Souw Thian Hai menjerit saking tegangnya.

"Nah, begitu...Sekarang bawa kemari benda itu! Lekas! Sebelum aku mengubah keputusanku...,"

Lelaki berkerudung itu bernapas lega. Otomatis goloknya mengendor kembali.

"Ohhh...!"

Souw Thian Hai menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan melangkah mendekati pondok.

"Kurang ajar! Apakah kau ingin membunuh kekasihmu ini?"

Lelaki itu naik pitam.

"Berhenti...atau kubunuh gadis ini!"

"Kau sendirilah yang kurang ajar!"

Souw Thian Hai membentak pula dengan marahnya.

"Katamu aku kau suruh mengambil peti pusaka itu! Mengapa kini kau malah menghalanginya?"

"Ambil peti itu! Mengapa kau malah hendak memasuki pondok ini?"

Lelaki itu menjawab dengan berang pula.

"Bagaimana aku tak hendak memasuki pondok ini kalau benda yang kau cari itu memang kusimpan di dalam pondok ini?"

Souw Thian Hai masih berteriak dalam nada tinggi.

"Kalau engkau memang tidak mempercayai janjiku dan masih ketakutan bila berdekatan denganku, kau menyingkirlah dahulu dari pintu itu...karena peti pusaka itu kebetulan juga kutanam di bawah pintu tersebut!!!"

"Apa...? Di bawah pintu pondok ini? Gila! Padahal telah berpuluh-puluh kali aku tidur di dalam pondok celaka ini!"

"Kau tak menyangkanya, bukan? Hal itu memang kusengaja agar semua orang tidak menyangkanya. Selain itu aku memang bermaksud untuk menempatkan semua benda benda pusaka keluargaku sesuai pada tempatnya yang benar. Hmm, kau tahu siapa sebenarnya Bit-bo-ong asli yang hidup pada zaman keemasan Empat Datuk Besar Persilatan itu?"

Lelaki berkerudung itu menggeleng lemah. Souw Thian Hai mendengus melalui hidungnya.

"Hmmhh! Katamu dulu kau masih mempunyai hubungan keluarga dengan mendiang Bit-bo-ong, mengapa engkau tak tahu siapa sebenarnya dia...?"

"Jangan banyak bicara! Lekas kau ambil peti itu!"

Lelaki berkerudung itu menjadi marah.

Lalu dengan tergesa-gesa ia menyeret Chu Bwee Hong keluar dari pintu pondok untuk memberi jalan kepada Souw Thian Hai.

Sebaliknya dengan tenang pendekar sakti itu tersenyum dan melangkah ke dalam pondok.

"Awas...! Hati-hati kau memperlakukan gadis itu. Sedikit saja kau mengganggunya...kau akan merasakan kehebatan tanganku!"

Ancamnya.

Souw Thian Hai berdiri diam di belakang pintu.

Matanya tampak terpejam sebentar, lalu di atas ubun-ubun kepalanya terlihat asap tipis mengepul ke atas, suatu tanda bahwa ia sedang mengerahkan Ang-pek Sinkangnya (Tenaga Sakti Merah dan Putih).

Dengan perasaan tegang lelaki berkerudung itu mengawasi Souw Thian Hai dan diam-diam ia juga mengerahkan tenaga dalamnya, untuk berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan.

Siapa tahu lawannya tiba-tiba berubah pikiran lagi?

Apalagi ketika dilihatnya Souw Thian Hai mengerahkan Ang-pek Sinkang, sebuah tenaga sakti yang tiada duanya di dunia persilatan!

Mendadak Souw Thian Hai yang berada di belakang pintu pondok tersebut menghantamkan kepalan tangannya ke atas lantai!

"Dhuuuuughrr...!"

Debu tipis tampak berhamburan kemana mana, dan tangan Souw Thian Hai tampak terbenam ke dalam lantai hampir sampai ke sikunya!

Lalu bagaikan sebuah cangkul lengan itu mencongkel ke atas, sehingga lantai yang amat keras itu seperti dibongkar oleh sebuah tenaga raksasa.

"Broool...!"

Lantai itu tampak menganga dan terlihatlah sebuah lobang kecil di mana di dalamnya tergolek sebuah peti kayu kecil berwarna hitam mengkilat!

Souw Thian Hai bergegas mengambil peti kayu tersebut dan membawanya keluar pondok.

"Nih, kau terimalah peti pusaka itu!"

Pendekar itu berkata pendek kepada lawannya.

"Sekarang kau lepaskan gadis itu...!"

Lelaki berkerudung itu tampak termangu-mangu sebentar, agaknya belum percaya seratus persen bahwa benda itu adalah peti pusaka yang selama ini ia idam-idamkan.

"Nanti dulu...! kau menyingkirlah dahulu, aku akan memeriksanya! Siapa tahu kau hanya mau menipuku?"

Teriaknya lantang.

"Bangsat! Jangan kau samakan aku dengan dirimu...!"

Souw Thian Hai berseru dengan perasaan mendongkol.

"Menyingkirlah...!"

Lelaki berkerudung itu tetap bersitegang.

"Baik! Tapi...awasss!! Jangan coba-coba berbuat curang terhadapku. Begitu engkau mencobanya...hmm, akan kucerai-beraikan tubuhmu yang kotor itu!"

Pendekar sakti itu mengancam sambil menyingkir dari peti pusaka itu.

Sambil tetap membawa Chu Bwee Hong lelaki berkerudung itu melangkah mendekati peti pusaka.

Dengan goloknya ia mencongkel tutup peti tersebut dan menjenguk isinya.

Dua bilah pisau panjang dengan hiasan permata pada pangkalnya tampak berkilauan di dalam peti itu.

Kemudian di sebelahnya tampak sebuah buku tua yang sangat tebal bertuliskan tiga baris kalimat yang berbunyi Bu-eng Hwe-teng, Kim-liong Sin-kun dan Pat-hong Sin-ciang!

Wajah di balik kerudung itu tersenyum puas.

Dibukanya lembar demi lembar halaman buku itu dengan ujung goloknya.

Lalu dengan ujung goloknya pula lelaki tersebut mengeluarkan sebuah mantel hitam dari dalam peti itu, kemudian membeberkannya di atas tanah.

Tiba-tiba goloknya berkelebat ke bawah, menabas kain mantel tersebut!

"Dhuuug!"

Debu dan tanah memercik kemana-mana, tetapi mantel itu sedikitpun tidak terkoyakkan! lelaki berkerudung itu tertawa puas dan memasukkan kembali mantel itu ke dalam peti.

"Bagaimana...?"

Souw Thian Hai bertanya gelisah, hatinya sudah tidak tahan lagi melihat wajah kekasihnya.

"Baiklah! Nih, kau terimalah kekasihmu...!"

Lelaki berkerudung itu berseru gembira.

Kakinya mencongkel tubuh Chu Bwee Hong, sehingga tubuh gadis itu melayang ke arah Souw Thian Hai.

Sementara itu kedua lengannya bergegas menyambar peti pusaka tersebut dan membawanya pergi dari tempat itu.

Tubuhnya berkelebat dan sekejap saja telah hilang dari pandang mata Souw Thian Hai.

Souw Thian Hai segera menyambut tubuh Chu bwee Hong dan membawanya ke dalam pondok dengan terburu-buru.

Setelah meletakkannya di atas pembaringan kayu, yaitu satu-satunya tempat tidur yang ada di dalam pondok tersebut.

Souw Thian Hai lalu bergegas membebaskan totokan-totokan yang melumpuhkan gadis itu.

Begitu terbebas dari totokan, Chu Bwee Hong langsung menjerit dan merangkul kekasihnya.

Tangisnya meledak tak terbendungkan lagi.

Seluruh kerinduannya selama ini seolah-olah termuntahkan semuanya.

Segala macam persoalan yang terkandung di dalamnya selama empat tahun ini seakan saling berebutan untuk dikatakannya, sehingga mulutnya yang sedang terisak-isak itu justru tak bisa berkata apa-apa!

"Hong-moi...!

Hong-moi, sudahlah...!"

Souw Thian Hai yang merasa bersalah karena telah mengingkari janjinya kepada gadis itu berusaha membujuk Chu Bwee Hong.

la tidak menyangka sama sekali bahwa gadis itu masih mengingatnya meski waktu telah berlalu sedemikian lamanya.

"Hai-ko...Hai-ko! Sudah empat tahun lamanya...mengapa engkau tidak juga mengunjungi aku? Apa...apakah engkau sudah berubah pikiran dan sudah lupa padaku?"

Akhirnya Chu Bwee Hong bisa juga berkata di antara tangisnya.

Souw Thian Hai menghela napas, mulutnya tak dapat menjawab.

Tapi perlahan-lahan pendekar sakti tersebut melepaskan lengan Chu Bwee Hong yang memeluknya, kemudian mendudukkan gadis ayu itu di pinggir pembaringan, sementara dia sendiri juga duduk di sampingnya.

Beberapa saat lamanya mereka hanya berdiam diri dan hanya saling berpegangan tangan saja.

Kepala Chu Bwee Hong tertunduk, sedangkan dengan perasaan bersalah Souw Thian Hai memeluk pundaknya.

"Hong-moi, maafkanlah aku...karena aku telah membuatmu merana dan sengsara sekian lamanya. Aku memang orang yang tak mempunyai perasaan dan hati sama sekali. Aku ini benar-benar seorang lelaki yang tak bertanggung-jawab dan sungguh tidak seimbang untuk disejajarkan dengan engkau yang cantik bagai bidadari ini...engkau terlalu mulia untuk lelaki rendah budi dan sudah tua seperti aku ini..."

Tiba-tiba Chu Bwee Hong menghentikan tangisnya. Bagaikan mendapatkan sebuah kekuatan baru gadis itu menengadahkan kepalanya. Matanya yang merah karena banyak menangis itu menatap penasaran.

"Hai-ko, engkau belum tua...engkau belum tua! Siapa bilang engkau sudah tua...? Engkau hanya beberapa tahun saja lebih tua dari pada aku, sehingga kita..."

Sergapnya dengan suara keras dan serak. Tapi Souw Thian Hai cepat menutup mulut yang bergetar mempesonakan itu dengan jari-jarinya.

"Sssssst!"

Pendekar itu berdesah lirih.

"...Kau ini ada-ada saja. Siapa mengatakan bahwa umur kita cuma terpaut beberapa tahun saja? kau ini sungguh membuat aku merasa malu saja, Hong-moi...Apakah engkau sudah lupa kepada Lian Cu? Puteriku...? Haaa, kalau yang kau maksudkan itu selisih antara engkau dan dia...itu baru benar!"

"Tidak! Tidak! Hai-ko, bagiku engkau belum tua...! Sungguh! Engkau masih sangat muda! Kita sungguh sepadan sekali bila..."

Chu Bwee Hong menyahut dengan cepat.

Air mukanya pucat ketakutan, bagaikan seekor induk ayam yang amat khawatir akan kehilangan anaknya!

Souw Thian Hai tersenyum sedih, hatinya menjadi perih.

Bagaimanapun juga dia tidak bisa membutakan diri terus menerus melihat kasih sayang Chu Bwee Hong yang amat besar dan tulus itu.

Ahhh, andaikata puterinya itu bisa mengerti, desahnya di dalam hati.

Pendekar sakti itu teringat kembali kepada puterinya yang belum pulang sejak tadi pagi.

Kemana sebenarnya anak itu?

Siang tadi puterinya berkata bahwa dia akan ke sungai untuk mencuci pakaian, tapi kenapa cuciannya ia tinggalkan dan ia sendiri pergi tak tentu rimbanya?

Tiba-tiba berkelebat di dalam benak pendekar sakti itu suatu yang amat mengkhawatirkan hatinya.

Jangan-jangan puterinya yang memang tidak menyukai hubungannya dengan Chu Bwee Hong itu telah melihat kedatangan Chu Bwee Hong, sehingga ia menjadi marah dan pergi meninggalkan rumah mereka.

"Aah!"

Souw Thian Hai berdesah sedih.

"Hai-ko! Hai-ko! Mengapa engkau bersedih? Apakah engkau...engkau tidak bergembira dengan pertemuan kita ini? Apakah engkau tidak menyukai...menyukai kedatanganku? Ouhhh...!?!"

Chu Bwee Hong yang mendengar dan melihat kesedihan kekasihnya itu menjadi salah terima.

Gadis itu lalu melepaskan diri dari pelukan Souw Thian Hai dan menangis tersedu-sedu kembali.

Souw Thian Hai menjadi kelabakan.

"Hong-moi...kau jajangan berpikiran begitu,"

Bujuknya dengan tergesa-gesa.

"bukannya aku...bukannya aku tidak menyukai kedatanganmu, tapi...tetapi aku...eh, sebenarnya kita..."

Sukar sekali rasanya bagi Souw Thian Hai untuk mengutarakan kesukarannya, karena hal itu berarti dia harus mengatakan tentang kebencian anaknya kepada gadis itu dan rasa ketidaksukaan anaknya terhadap hubungan mereka.

Maka untuk beberapa waktu lamanya pemuda itu hanya gagap-gugup tidak bisa berkata, sementara wajahnya tampak sedih dan serba salah!

Celakanya, sikap Souw Thian Hai ini diterima salah oleh Chu Bwee Hong!

sikap Souw Thian Hai yang sedih, ragu-ragu dan tidak mau berterus terang itu membuat Chu Bwee Hong semakin yakin akan dugaannya, bahwa Souw Thian Hai memang telah melupakannya dan bermaksud untuk memutuskan hubungan mereka.

Buktinya pemuda itu tidak bergembira sama sekali melihat kedatangannya, malah tampaknya kekasihnya itu sangat tertekan batinnya dan agaknya selalu berusaha untuk mencari-cari alasan buat berpisah dengannya!

Tiba-tiba Chu Bwee Hong menjadi sangat bersedih sekali!

Impian yang selama ini selalu membuai pikirannya mendadak seperti hilang lenyap tertiup angin.

Api semangatnya yang semula masih menyala, meskipun hanya kecil, kini bagaikan ikut hilang pula terbawa pergi.

Tiba-tiba dunia ini seakan-akan berubah menjadi sunyi senyap dalam pandangannya.

Gadis itu lantas teringat kembali pada keadaan dirinya yang kotor, yang memang sudah tidak berharga lagi untuk duduk bersanding dengan Souw Thian Hai yang terkenal dan dikagumi oleh banyak orang.

"Ohh, Tuhan...!"

Chu Bwee Hong menjerit lirih, kemudian berkelebat pergi meninggalkan Souw Thian Hai.

"Hong-moi...?"

Souw Thian Hai berseru kaget.

Pendekar sakti itu bergegas melompat untuk mengejar Chu Bwee Hong.

Tapi belum juga setindak ia melangkah, tiba-tiba dari arah sungai terdengar suara jeritan wanita memecahkan kesunyian petang itu.

Sekejap Souw Thian Hai menjadi bimbang.

Dalam benaknya segera berkelebat bayangan Souw Lian Cu, puterinya!

Jangan-jangan anak itu dalam bahaya!

Souw Thian Hai tidak jadi mengejar Chu Bwee Hong, sebaliknya ia berputar ke arah sungai dengan cepatnya.

Sekejap saja tubuhnya yang tinggi besar itu telah berada di tepi sungai.

Tetapi wajahnya yang amat tegang itu segera berubah menjadi mendongkol dan marah begitu melihat apa yang terjadi di tengah-tengah sungai itu!

Sesosok mayat perempuan dalam keadaan telanjang bulat tergeletak di atas batu besar di tengah sungai dengan kepala pecah!

Dan Souw Thian Hai segera mengenalnya sebagai pelayannya yang selama ini selalu membantu mengerjakan pekerjaan rumah Souw Lian Cu.

Perempuan yang masih muda itu agaknya baru saja diperkosa oleh seseorang diatas batu tersebut.

"Kurang ajar! Siapa pula yang berani memasuki lembah ini selain bangsat berkerudung itu?"

Souw Thian Hai mengumpat di dalam hati.

Dengan hati geram pendekar itu berlari kesana kemari, menerobos hutan kecil dan menyusuri jurang dan sungai di dalam lembah tersebut, tapi tak seberkaspun jejak si pengacau yang ia ketemukan.

Seperti halnya dengan lelaki berkerudung itu, yang sudah lenyap tidak kelihatan batang hidungnya, pengacau itupun telah hilang tak tentu rimbanya.

Sampai-sampai Chu Bwee Hong yang baru saja pergi dari pondok itupun juga tidak bisa dia dapatkan lagi!

Gadis itu juga telah meninggalkan lembah tersebut entah kemana.

Akhirnya Souw Thian Hai pulang ke rumah dengan lemah dan lesu!

Begitu pepatnya pikirannya sehingga ia sampai melupakan mayat pelayannya yang masih berada di atas sungai.

Benaknya Cuma dipenuhi dengan masalah Souw Lian Cu, Chu Bwee Hong dan peti pusaka itu saja!

"Lengkap sudah sekarang kehancuranku...!"

Rintihnya.

Rumah yang biasanya tampak terang dan cerah itu kini kelihatan murung dan gelap.

Tidak ada suara riang dan gembira dari Souw Lian Cu lagi.

Tiada suara bening dan manja yang biasa menyambut kedatangannya.

Semuanya sunyi dan gelap, bahkan lampupun belum dinyalakan.

Bagaikan sedang bermimpi Souw Thian Hai membuka pintu rumahnya.

Tapi...

"Duuaaar!"

Tiba-tiba daun pintu itu meledak di dalam tangannya.

Begitu dahsyatnya sehingga bangunan bagian depan dari rumahnya runtuh ke bawah dengan hebatnya.

Tanah yang dipijaknya seolah bergetar bagai digoyang gempa, sementara serpihan-serpihan kayu dan bagian bangunan lainnya tampak berhamburan dan bertebaran kemana-mana!

Sekejap tempat itu menjadi gelap gulita oleh asap dan debu yang bergulung-gulung!

Souw Thian Hai ikut terlempar tinggi ke udara, kemudian jatuh di atas dahan pohon siong yang tumbuh tak jauh dari tempat tersebut.

Tapi oleh karena dahan itu tidak begitu besar dan kuat maka sebentar kemudian Ialu patah dan perlahan-lahan jatuh ke atas tanah.

Sesaat Souw Thian Hai hanya tergeletak berdiam diri saja di antara ranting-ranting pohon yang patah itu.

Seluruh anggota tubuhnya terasa kaku dan ngilu, seolah-olah tak bisa digerakkan sama sekali.

Luka-luka kecil tampak bergoresan di seluruh badannya yang telanjang, sementara pakaian yang tadi ia kenakan telah hancur berserpihan di sekelilingnya.

Untunglah, ilmu Souw Thian Hai yang boleh dikatakan telah mencapai tingkat kesempurnaan itu segera bekerja secara otomatis melindungi tubuhnya, sehingga pendekar sakti itu terhindar dari maut.

Tetapi oleh karena Iedakan itu terjadi dengan sangat mendadak maka reaksi dari ilmunya itu juga tidak dapat seratus persen melindungi badannya.

"Bangsat pengecut...!"

Souw Thian Hai makin memaki sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.

Dengan waspada matanya mencari-cari sesuatu di kegelapan yang melingkupi tempat tersebut, siapa tahu orang yang memasang alat peledak itu muncul dengan tiba-tiba.

Perlahan-lahan Souw Thian Hai bangkit dengan berpegangan pada ranting-ranting pohon itu, tetapi oleh karena tubuhnya masih terlalu lemah maka badannya yang besar tersebut terjatuh kembali ke atas tanah.

"Kurang ajar...!"

Geramnya.

Sementara itu tidak jauh dari tempat itu sepasang mata iblis memandang ke arah Souw Thian Hai dengan takjub bercampur marah dan penasaran!

Orang itu, yang tidak lain adalah lelaki berkerudung tadi, sungguh merasa heran sekali!

Bahan peledak yang sudah mampu merobohkan bangunan rumah tersebut ternyata tidak mampu membunuh Souw Thian Hai!

Orang yang sangat dibencinya itu ternyata cuma lecet-lecet saja, padahal bahan peledak yang dia pasang itu telah melemparkannya tinggi-tinggi ke udara.

"Kalau aku benar-benar ingin membunuhnya, inilah saatnya yang paling tepat! Sebelum ia mampu mengerahkan tenaganya aku harus lekas-lekas menghabisinya..."

Tiba-tiba bagai kilat cepatnya lelaki berkerudung itu meloncat keluar dari persembunyiannya, lalu menerjang ke arah Souw Thian Hai!

Kedua belah lengannya yang telah terisi tenaga dalam penuh itu berkelebat menuju ke arah kepala Souw Thian Hai!

Saking cepatnya pukulan tersebut sampai mengeluarkan suara menCicit tajam.

Meskipun telah bercuriga dan berwaspada sebelumnya, tapi kemunculan lawannya yang amat tiba-tiba itu tetap mengejutkan Souw Thian Hai!

Dan rasa kaget itu disertai pula perasaan khawatir, karena begitu muncul orang itu langsung menyerangnya, padahal tubuhnya belum bisa digerakkan sama sekali.

Dengan segala sisa kekuatan yang masih dipunyainya Souw Thian Hai berusaha mengelak!

"Buuuuk!"

Tanah di bawah tubuh Souw Thian Hai berhamburan kemana-mana ketika pukulan lelaki berkerudung itu dapat dielakkan oleh pendekar tersebut.

Souw Thian Hai berguling ke kanan dan pukulan lelaki itu lewat hanya beberapa dim saja dari pelipisnya.

Lalu pendekar itu mengerahkan lagi kekuatannya untuk merangkak menjauhkan diri.

Tapi lawannya tak mau melepaskannya begitu saja.

Begitu pukulannya luput, kakinya segera melayang ke samping mengejar korbannya.

Dan kali ini Souw Thian Hai tak bisa mengelak lagi!

Untunglah sasaran dari tendangan itu hanya pada paha saja, sehingga akibat yang ditimbuIkannya tidak begitu membahayakan jiwa Souw Thian Hai.

Meskipun demikian tubuh Souw Thian Hai yang besar itu terlempar jauh dan kemudian menggelinding ke pinggir sungai.

"Dug!"

Souw Thian Hai meringis kesakitan karena punggungnya menabrak belahan batu besar yang runcing.

Tetapi dengan demikian tubuhnya yang besar itu justru menjadi selamat dari gelombang air sungai di bawahnya, karena batu tersebut ternyata dapat menahan tubuhnya.

Tetapi sekali lagi lawannya tak mau kehilangan kesempatan itu.

Waktunya tidak banyak, karena sedikit saja Souw Thian Hai itu dapat mengerahkan tenaganya, dia tidak mungkin bisa membunuhnya lagi.

Sebaliknya, dia sendiri mungkin yang akan mendapatkan kesukaran.

Maka tanpa membuang waktu lagi orang berkerudung itu segera melesat memburu tubuh Souw Thian Hai!

Kedua belah tangannya telah memegang sepasang pisau panjang milik Bit -bo-ong yang bersinar dingin kemilau itu, sepasang pisau yang telah terendam dalam getah racun katak api!

Di dalam kegelapan malam pisau itu semakin tampak berkilauan bagaikan api yang membara.

Souw Thian Hai segera menyadari bahwa dirinya dalam bahaya.

Sekali saja pisau itu menggores kulitnya, jiwanya tak mungkin dapat ditolong lagi.

Kecuali ada orang yang bisa memberikan obat penawarnya, yaitu darah ular saIju.

Tapi siapakah yang mempunyai darah ular salju di dunia ini?

Kalau ada, mungkin juga sudah tidak keburu lagi, karena siapa saja yang terkena racun katak api itu, nyawanya tak mungkin dapat bertahan lebih dari sepeminuman teh.

Rasa takut terhadap racun katak api itu membuat Souw Thian Hai menjadi nekad.

Tanpa memikirkan lagi akibatnya pendekar sakti itu memaksakan diri untuk mengerahkan Ang-pek sinkangnya!

Sekejap tubuhnya bergetar suatu tanda bahwa urat-urat darahnya yang masih lemah itu belum mampu menampung aliran lweekangnya, dan sesaat kemudian darahnya seolah-olah bergolak dengan hebat.

Lalu bersamaan dengan kesadarannya yang semakin hilang, kakinya menjejak tanah dibawahnya!

Hup!

seolah-olah masih ada kekuatan tersembunyi yang belum sempat dikeluarkan, tubuh Souw Thian Hai tiba-tiba melesat ke samping dengan cepatnya.

Tapi oleh karena gerakan tersebut hanyalah gerakan asal mengelak saja dan tidak diperhitungkan arah dan tujuannya, maka tubuh itu meluncur ke arah sungai yang deras.

Ternyata gerakan Souw Thian Hai yang mendadak itu benar-benar tidak terduga oleh lelaki berkerudung.

Ayunan pisau yang mengarah jantung dan leher itu tak satu pun yang mengenai sasarannya.

Kedua duanya menghantam batu runcing yang tadi menahan punggung Souw Thian Hai!

"Traaang!"

Batu besar itu terbelah menjadi tiga bagian.

"Keparat busuuk...!"

Lelaki berkerudung itu mengumpat.

Melihat tubuh Souw Thian Hai itu mengapung di atas sungai dan hampir tenggelam, lelaki berkerudung itu cepat melepaskan sisa-sisa kesempatannya dengan melemparkan salah satu dari pisau yang dipegangnya!

Dan sekali ini serangannya berhasil mengenai tubuh Souw Thian Hai yang telah pingsan, tepat pada pundaknya!

"Cuuuus!"

Begitu kuatnya lemparan pisau tersebut sehingga menembus kulit dan daging, lalu jatuh ke dalam sungai bersamaan dengan tubuh korbannya!

Sebentar saja tubuh Souw Thian Hai lenyap tergulung oleh derasnya arus sungai itu.

Lelaki berkerudung itu tertawa puas, kemudian bergegas mencebur ke dalam sungai untuk mengambil pisaunya.

Setelah pisau tersebut ia dapatkan, lelaki berkerudung itu keluar dari dalam sungai, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut sambil tertawa panjang.

"Kini akulah orang paling kuat dan paling sakti di dunia persilatan, ha hahaha!"

Malam semakin kelam dan burung-burung malam telah mulai keluar dari sarangnya.

Suaranya yang serak terasa menghentak-hentak kesunyian malam, sehingga malam yang naas bagi lembah itu semakin terasa mengerikan.

Angin malam yang dingin itu bertiup keras menerobos daun-daun, menimbulkan suara gemerisik yang mencekam jantung.

Langitpun tampak hitam kelam karena tertutup oleh awan yang tebal, sehingga bulan muda yang seharusnya sudah muncul di atas langit tidak tampak pula karenanya.

Sementara itu agak jauh dari lembah itu, seorang gadis cantik berjalan tertatih-tatih antara gelapnya bayang-bayang pohon dan semak-semak lebat yang memenuhi tempat tersebut.

Bayangan tubuhnya yang sebentar kelihatan dan sebentar hilang itu bagaikan hantu wanita atau kuntilanak, yang sedang keluar untuk mencari mangsa di antara gelapnya bayang-bayang pohon besar yang hitam-hitam menakutkan itu.

Bayangan yang tidak Iain adalah Chu Bwee Hong itu sebentar-sebentar berhenti dan bersandar pada pohon, untuk mencari kekuatan dan menyeka air matanya yang tak pernah berhenti mengalir.

Kadang-kadang kakinya terantuk batu atau akar pohon yang melintang di depannya, sehingga tubuhnya yang bergoyang-goyang mau roboh itu terjerembab ke atas tanah untuk beberapa saat lamanya.

Beberapa ekor serigala hutan mulai tampak mendekati dan mengikutinya.

Matanya yang merah itu tampak mencorong di dalam kegelapan, bagaikan mata iblis yang sedang mengintai mangsanya.

Sesekali terdengar suara lolongannya yang panjang menguak kesunyian malam, seolah-olah suara hantu yang merintih dalam kepedihan.

Dan ketika Chu Bwee Hong yang terlatih-tatih itu terjerembab karena kakinya tersangkut akar pohon, serigala-serigala itu bergegas mendekati dan berputar-putar di sekitarnya.

Taringnya yang runcing seolah-olah meneteskan air liur saking laparnya, sementara lidahnya yang panjang itu terjulur keluar dan bergetaran.

Tapi Chu Bwee Hong yang sedang berduka dan hatinya diliputi oleh kesedihan itu tidak memperdulikan sama sekali pada bahaya yang sedang mengintainya.

Begitu hancurnya perasaannya sehingga ia tidak bisa melihat dan memikirkan lagi selain kepedihan dan kesengsaraannya.

Bahkan gadis itu sudah tidak memperduIikan lagi keadaan dirinya.

Tidak peduli lagi pada jiwanya, mati hidupnya!

Dalam hati gadis itu malah lebih suka mati dari pada hidup dalam kekecewaan dan penderitaan-penderitaan seperti itu.

Rasanya tiada Iagi artinya hidup ini bagi Chu Bwee Hong, hingga gadis itu seakan-akan justru mempersiapkan diri agar dimakan oleh kawanan srigala buas tersebut!

Sementara itu dari arah lembah, muncul pula sesosok bayangan yang berlari menerobos hutan lebat tersebut dengan langkah cepat.

Sambil berjalan sesekali terdengar suara tertawanya yang panjang.

"Kini terlaksana sudah semua rencanaku hahahaha. Selanjutnya aku tinggal mempelajari ilmu warisan Bit-bo-ong ini dengan sungguh-sungguh. Setelah itu aku akan menjadi jago silat nomor satu di dunia dan tak seorangpun yang akan mampu lagi mengalahkan aku..."

Orang yang tidak lain adalah lelaki berkerudung itu bergumam sendirian sambil tertawa puas.

"...Dan rencana selanjutnya adalah merebut Cap Kerajaan yang disimpan oleh keluarga Chin (ayah Chin Yang Kun)! Setelah itu aku akan merebut singgasana yang diduduki oleh Liu Pang itu, hahahaha..."

Orang itu berjalan sambil membayangkan rencana rencananya yang besar, yang ia yakin akan terlaksana dengan mudah setelah dia bisa mempelajari ilmu sakti warisan Bit-bo-ong itu!

Dan tanpa terasa dan disengaja orang itu melangkah mendekati tempat di mana Chu Bwee Hong berbaring dalam kepungan serigala-serigala buas itu.

Lelaki berkerudung itu menjadi kaget ketika tiba-tiba banyak serigala hutan yang melintas di depannya!

Apalagi ketika lapat-lapat ia mendengar suara lolongan serigala di kejauhan yang seolah-olah sedang memanggil kawan-kawannya.

"Hah, banyak benar serigala di hutan ini..."

Lelaki berkerudung itu berbisik seraya mengawasi kawanan serigala yang berlari ke satu arah tanpa mempedulikan dirinya itu.

"Hmm...agaknya kawan-kawan mereka ada yang menemukan mangsa, dan kini serigala-serigala ini dipanggil untuk ikut berpesta pora..."

Tapi lelaki itu tiba-tiba tersentak dan tertegun.

Seekor dari kawanan serigala itu, yaitu yang berlari di belakang sendiri, bentuk dan macamnya sedikit berbeda dengan kawan-kawannya yang lain.

Meskipun moncong mulut dan ekornya sama dengan serigala lainnya, tetapi bentuk badannya tampak jauh lebih besar serta tidak berbulu lebat seperti kawan-kawannya.

Bulunyapun tidak kemerah-merahan seperti serigala-serigala lainnya, tetapi berwarna putih bersih seperti anjing kampung.

Dan serigala putih ini tampak berhenti sebentar ketika melihat lelaki berkerudung tersebut, moncongnya yang hitam berkilat itu menyalak beberapa kali sebelum kemudian berlari kembali mengikuti kawan-kawannya.

"Heran! Itu anjing atau serigala? Mengapa suaranya juga berbeda dengan yang lain?"

Lelaki berkerudung itu bergumam dengan kening berkerut.

"Jangan-jangan serigala-serigala ini ada yang..."

Belum juga orang itu menyelesaikan perkataannya tiba-tiba sesosok bayangan melesat dari balik semak-semak dan berdiri di depannya.

Gerakannya gesit dan ringan bukan main, kakinya hampir-hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali ketika mendarat di atas tanah.

Lelaki berkerudung itu segera bersiap-siaga.

Dicengkeramnya peti pusaka itu erat-erat.

Melihat ginkangnya, orang yang baru saja tiba itu tentulah seorang tokoh silat berkepandaian amat tinggi.

Jangan-jangan orang itu adalah kawan dari Souw Thian Hai yang ingin merebut kembali peti yang dibawanya.

Sementara itu orang yang baru saja datang tersebut tampak terheran-heran pula begitu melihat lelaki berkerudung itu.

Untuk beberapa saat lamanya dia hanya mengawasi topi dan kerudung yang dipakai oleh lelaki berkerudung itu.

Alis matanya yang telah bercampur uban itu berkerut, seakan-akan ingin menjajagi, siapa sebenarnya lelaki bertopeng di depannya ini.

Mulutnya yang hampir tidak kelihatan karena tertutup oleh kumis dan jenggot yang lebat itu juga terkatup rapat, sementara badannya yang gendut itu tampak bergetaran seperti sedang menggigil kedinginan.

"Hmm, siapakah tuan? Mengapa menghadang langkahku?"

Akhirnya lelaki berkerudung itu mendahului bertanya.

"Eh...ohhh!"

Orang tua berbadan gemuk itu tergagap, kemudian bernapas lega sekali.

"Maaf...maaf, maafkanlah Lohu kalau kedatanganku ini mengagetkan sicu. Sebenarnya...sebenarnya lohu sendiri juga kaget melihat pakaian yang sicu kenakan. Hampir terbang semangat lohu tadi...Ah, sungguh memalukan sekali, setua ini masih juga takut akan hantu."

Orang tua itu melanjutkan keterangannya. Lelaki berkerudung itu tersenyum di balik kain kerudungnya.

"Ah...tuan ini ada-ada saja. siauwte cuma seorang manusia juga seperti tuan, hanya siauwte harus menutup mukaku ini karena...karena muka ini lebih menakutkan dari pada hantu!"

"Hah?!?"

Lelaki berkerudung itu tertawa perlahan.

"Sudahlah, tuan...Siauwte hendak meneruskan perjalanan."

"Hee...anu...sebentar dulu!"

Orang tua berbadan gemuk itu mencegah. Suara tertawa itu hilang dengan tiba-tiba.

"A-apa maksud tuan...?"

Lelaki berkerudung itu bertanya dengan kaku.

"Ah, tidak apa-apa...Sicu jangan salah paham! Lohu hanya ingin menanyakan sesuatu kepada sicu..."

"Tuan ingin bertanya tentang apa?"

"Ah, kedatangan lohu kemari ini cuma ingin mencari anjingku yang hilang. Yaitu seekor anjing besar berbulu putih. Apakah sicu pernah melihat dia?"

"Anjing putih yang moncong dan ekornya seperti moncong dan ekor serigala hutan?"

"Benar! Benar! Adakah sicu melihatnya?"

Orang tua itu memekik gembira.

"Hmm, kulihat tadi ia bersama-sama dengan kawanan serigala buas ke arah sana!"

Ielaki berkerudung itu menunjuk ke kanan.

Jilid 26

"Terima kasih...terima kasih!"

Orang tua itu mengangguk-angguk, lalu mukanya mendongak ke atas dan bersiul nyaring.

"Tai-si-ong...!"

Serunya tak begitu keras.

"Apakah Song Cu-si (Pengurus Perkumpulan she Song) telah menemukan anjing itu?"

Tiba-tiba terdengar suara halus di belakang mereka.

Lelaki berkerudung itu membalikkan badannya dengan cepat, dan hatinya segera menjadi berdebar-debar!

Hanya setombak jauhnya dari tempat ia berdiri tampak seorang kakek tinggi tegap mengenakan kain lebar berwarna kuning seperti pendeta.

Tapi bukannya wajah kakek yang berwibawa itu yang membuat hati Ielaki berkerudung tersebut menjadi berdebar-debar, tetapi kedatangannya yang sangat mendadak dan tanpa menimbulkan suara itulah yang amat mengejutkannya.

Kakek itu seperti hantu yang muncul begitu saja dari dalam tanah!

Lelaki berkerudung itu mulai mengkhawatirkan peti pusakanya.

Dua orang asing yang berada didepannya ini tampaknya mempunyai kesaktian di atas dirinya, sehingga kalau kedua orang itu memang berniat untuk merebut peti pusakanya, dia takkan mungkin bisa mempertahankannya.

Jangankan harus melawan mereka semuanya, untuk melawan seorang saja di antara mereka dia mungkin takkan mampu melakukannya.

Seperti halnya orang tua berbadan gemuk tadi, kakek yang baru saja muncul itu juga tertegun melihat topi dan kain yang menutupi wajah Ielaki berkerudung tersebut.

Hanya perasaan kagetnya itu bukan disebabkan oleh ketakutan hatinya terhadap hantu tetapi justru disebabkan oleh perasaan aneh dan curiganya yang besar.

Apalagi kedatangannya ke tempat ini juga bukan atas prakarsanya sendiri tetapi atas undangan seseorang yang menamakan dirinya Sang Putera Mahkota.

Oleh karena kakek itu belum pernah mengenal Sang Putera Mahkota tersebut, maka hatinya segera menjadi curiga terhadap lelaki berkerudung di depannya itu.

Jangan-jangan orang itulah yang mengundang dirinya dan menyebut nama Sang Putera Mahkota sebagai nama samarannya.

Sementara itu orang tua berbadan gemuk itu segera memberi hormat kepada kakek gagah tersebut.

"Tai-si-ong (Kepala Kuil Agung), saudara ini memberitahukan kepada kita bahwa anjing putih itu menuju ke arah sana. Katanya anjing itu sedang mengikuti kawanan serigala..."

Kakek gagah itu menatap Ielaki berkerudung itu sekali lagi, lalu mengangguk memberi hormat.

"Terima kasih atas bantuan sicu..."

Katanya dengan suara berat.

"...Hem, bolehkah lohu mengenal nama sicu yang mulia?"

Lelaki berkerudung itu tidak bisa menjawab dengan segera.Sejak ia menutupi wajahnya dengan topi dan kain hitam itu ia memang bermaksud merahasiakan siapa dirinya.

la tak ingin seorangpun mengenal namanya.

Oleh karena itu sekarangpun ia tak ingin menyebutkan namanya.

Cuma ia harus berhati-hati mengatakannya agar kedua orang lihai itu tidak menjadi tersinggung hatinya.

Apalagi dua orang itu tampaknya tokoh-tokoh dari sebuah perkumpulan atau aliran yang besar.

"Maaf, jiwi Lo-Cianpwe...Siauwte belum bisa memperkenalkan diri di hadapan jiwi sekarang, karena siauwte kini harus mengemban sebuah tugas penting dan rahasia..."

"Rahasia? Apakah sicu ini utusan dari orang yang menyebut dirinya Sang Putera Mahkota?"

Kakek gagah yang dipanggil Tai-si-ong itu mendesak.

"Sang Putera Mahkota...? Siapa dia? Apa maksud Lo-Cianpwe...?"

Lelaki berkerudung itu berseru tak mengerti.

Benar-benar tak mengerti!

Kakek gagah itu mengerutkan keningnya, hatinya menjadi bingung.

Tampaknya orang berkerudung itu benar-benar tak ada hubungannya dengan orang yang mengundangnya itu.

Lalu siapakah orang ini?

Mengapa gerak-geriknya mencurigakan benar?

"Ah, tidak...tidak!

Lohu cuma bertanya sambil lalu saja..."

Akhirnya kakek itu tergagap.

Lelaki berkerudung itu termangu-mangu beberapa saat lamanya, agaknya juga berpikir tentang Sang Putera Mahkota itu.

Tapi sejenak kemudian orang itu segera menjadi sadar, sehingga dengan tergesa-gesa dia meminta diri kepada orang tua gagah tersebut.

"Kalau...kalau begitu siauwte minta diri dahulu untuk meneruskan perjalanan."

"Baiklah, silahkan...! Sekali lagi Terima kasih atas petunjuk sicu..."

Kakek gagah yang tidak lain adalah ketua Im-yang-kauw itu terpaksa melepaskan.

Sekejap matanya yang mencorong dalam kegelapan itu melirik ke arah peti pusaka yang dibawa oleh orang berkerudung itu dengan perasaan curiga.

Tapi oleh karena tidak ada masalah yang mesti dipersoalkan lagi maka kakek gagah itu juga tak ingin berurusan lebih lanjut.

Lelaki berkerudung itu menghela napas lega, kemudian cepat-cepat meninggalkan tempat itu.

"Wah, sungguh amat berbahaya..."

Desahnya di dalam hati. Sepeninggal orang itu Tai-si-ong dan Pangcu-si Song Kang (Pengurus Perkumpulan) saling memandang dengan dahi berkerut.

"Apa pendapat Tai-si-ong tentang orang aneh itu?"

Song Cu-si bertanya kepada ketuanya.

"Agaknya dia baru saja melakukan sesuatu urusan yang sangat penting dan rahasia. Tetapi urusan apakah itu, lohu tak bisa menerkanya. Tadi lohu malah mencurigai dia sebagai orang yang telah mengirimkan undangan kepada aliran kita, tapi setelah kutanyakan ternyata bukan. Dia malah seperti tidak tahu menahu tentang Sang Putera Mahkota itu. Hmmm, tapi entahlah kalau dia berbohong."

Ketua aliran Im-yang-kauw itu memberikan pendapatnya.

"Gerak-geriknya mencurigakan benar...memakai penutup kepala, membawa peti besar...hmm, seperti pencuri saja!"

Song Kang juga memberikan pendapatnya.

"Apa sih isi peti itu?"

Tai-si-ong tersenyum geli.

"Ah, Song Cu-si ini sungguh aneh. Mana dapat kita mengetahui isinya? Bukankah peti itu selalu didekapnya dan tidak pernah dibuka di depan kita? Hahaha...kalau Lojin-ong ada di sini kita bisa meminta tolong kepadanya untuk menerka isi peti itu dengan ilmu Lin-cui Sui-hoatnya."

"Ah!"

Song Kang Cu-si tersenyum pula dengan tersipu-sipu.

"Sudahlah, mari kita mengejar anjing putih itu! Jangan sampai kita kehilangan arah lagi."

Mereka lalu melesat pergi ke arah kanan seperti yang ditunjukkan oleh orang berkerudung itu.

Mereka berkelebat dengan cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka agar supaya tidak kehilangan jejak anjing putih itu lagi.

Tanpa anjing putih tersebut mereka tak mungkin bisa menemukan tempat tinggal Sang Putera Mahkota, sebab dalam surat undangan yang mereka peroleh telah disebutkan bahwa mereka harus mengikuti seekor anjing berbulu putih apabila telah berada di dalam hutan itu.

Kedua orang tokoh puncak aliran Im-yang-kauw itu benar benar tidak mengetahui bahwa bersamaan dengan langkah mereka itu si anjing putih telah tiba di tempat Chu Bwee Hong berbaring, dan kini anjing putih itu bersama kawan-kawannya sedang bertempur dengan seru melawan kawanan serigala yang mengganggu gadis tersebut.

Melihat Chu Bwee Hong jatuh dan tidak bangkit atau bergerak lagi, kawanan serigala yang sejak tadi telah mengincarnya segera menjadi buas!

Mereka saling berdesakan dan rebut dahulu untuk segera menghunjamkan taring mereka masing-masing.

Seekor serigala yang bertubuh lebih besar dari pada kawan-kawannya tampak meloncat mendahului, kemudian menggigit kain yang dikenakan oleh Chu Bwee Hong dan menarik-nariknya.

Serigala yang lain segera menyerbu pula mengikuti serigala tersebut.

apalagi ketika tampak oleh mereka mangsa itu diam saja tak bergerak ataupun mempertahankan diri.

Mereka mencakar, menggigit, mencabik dan menarik-narik, sehingga tubuh Chu Bwee Hong yang halus lembut itu kini mulai terluka dan mengeluarkan darah!

Meskipun begitu gadis itu tetap berdiam diri dan tidak berusaha melawan atau mempertahankan diri sama sekali.

Gadis itu seperti telah mematikan perasaannya!

Sebentar saja gadis itu tentu akan mengalami peristiwa yang sangat mengerikan apabila tiba-tiba tidak datang sekawanan serigala lain yang dipimpin oleh anjing besar berbulu putih!

Anjing besar berbulu putih yang tadi dilihat oleh orang berkerudung itu begitu datang langsung mengajak kawan-kawannya untuk menyerang serigala-serigala yang mengeroyok Chu Bwee Hong tersebut!

Mereka segera terlibat dalam pertempuran yang dahsyat dan menggiriskan.

Mereka bertempur dengan kasar dan tak beraturan, asal menyerang dan menggigit saja lawan yang berada di dekatnya.

Dan semakin banyak darah yang menetes semakin buaslah mereka!

Mereka bertempur dengan hiruk-pikuk!

Mereka menyalak, menguik, menggonggong dan melolong!

Suaranya keras menggetarkan hutan!

Dan hiruk-pikuk itu ternyata sampai juga ke telinga dua orang lelaki yang pada saat itu sedang menerobos hutan itu pula dari arah timur.

Kedua orang lelaki itu terdiri dari seorang kakek tua berusia enam puluhan tahun dan seorang lelaki muda berumur tiga puluhan tahun lebih sedikit.

Mereka berdua melesat dengan cepat menerobos lebatnya daun dan pepohonan yang tumbuh dengan rapat di dalam hutan itu, bagaikan dua ekor belalang malam yang terbang berlompatan di antara dahan.

Dan dilihat dari cara mereka bergerak yang enteng dan gesit Iuar biasa itu dapat diduga kalau mereka adalah dua orang jago silat berkepandaian tinggi pula, seperti halnya kedua tokoh lm-yang-kauw tadi.

Sebenarnyalah, kedua orang lelaki itu memang bukan tokoh sembarangan di dunia persilatan!

Si kakek yang rambut kepalanya sudah penuh uban itu tidak lain adalah Put-ceng-li Lojin, ketua Aliran Bing-kauw yang amat terkenal.

Sama terkenalnya dengan ketua lm-yang-kauw maupun Mo-kauw!

Sedangkan lelaki muda yang berjalan di belakangnya itu tidak lain adalah muridnya sendiri, Put-sim-sian Si Dewa Tak Berperasaan!

Lelaki muda ini juga tidak kalah terkenalnya dan pada Put-ceng-li Lojin,karena sebagai murid pertama dari ketua Aliran Bing-kauw dia sudah menyerap seluruh ilmu kepandaian gurunya yang hebat.

Seperti halnya kedua orang tokoh Im-yang-kauw tadi, kedatangan mereka berdua di hutan itu juga bermaksud untuk memenuhi undangan Sang Putera Mahkota yang sangat misterius itu.

Sama juga dengan Tai-si-ong dari Im-yang-kauw.

Put-ceng-li Lojin juga menerima sepucuk surat undangan dari orang yang menyebut dirinya Sang Putera Mahkota beberapa hari yang lalu!

"Hah, itu dia...!

Keparat benar anjing itu!

Baru sekarang dia muncul."

Put-ceng Ii Lojin bersorak gembira sambil memasang telinganya.

"Tapi banyak benar suaranya, jangan-jangan itu bukan suara anjing yang kita cari tapi suara...kawanan serigala!"

Put-sim-sian menyahut dengan suara ragu.

"Alaaa...apa bedanya serigala dan anjing dalam urusan kita ini? Asalkan dia berbulu putih...itulah yang kita ikuti!"

Put-ceng-li Lojin berkata keras.

"Ayoh...!"

Put-sim-sian mengangguk, kemudian meloncat ke depan mendahului gurunya.

Put-ceng-li Lojin segera mengejarnya pula, sehingga kedua orang guru dan murid itu seperti mau berlomba agar bisa tiba lebih dahulu di tempat hiruk-pikuk tersebut.

Sekejap saja mereka telah sampai.

Dan kedatangan mereka itu benar-benar tepat pada waktunya!

Mereka melihat dua kelompok serigala sedang bertempur dengan seru.

Tapi kelompok pertama, yang dipimpin oleh seekor serigala berbulu putih, kelihatan terdesak dengan hebat!

Jumlah mereka yang tampak lebih sedikit dari pada lawan mereka itu semakin lama semakin berkurang juga.

Satu persatu tewas dikeroyok oleh Iawan-lawannya.

Sehingga ketika Put-ceng-li Lojin dan muridnya datang, anjing atau serigala putih itu terpaksa harus melayani keroyokan delapan atau sepuluh ekor lawannya.

"Suhu. lihat...Ada dua kelompok serigala sedang berkelahi!"

Begitu datang Putsim-sian berseru.

"...Dan seekor diantaranya berbulu putih!"

"Hei, benar...! lblis laknat, agaknya memang serigala itulah yang dimaksudkan oleh orang yang menamakan dirinya Sang Putera Mahkota itu!"

Put-ceng-li Lojin ternganga.

"Suhu!"

Tiba-tiba Put-Sim-sian berteriak keras sekali.

"Di sana ada sesosok mayat!"

"Heh? Apa katamu...? Ohhh...benar!"

Sekali lagi dua orang guru dan murid itu seakan berlomba menghampiri "mayat"

Chu Bwee Hong! Dan mereka segera menjadi terbelalak begitu melihat tubuh seorang gadis cantik, tergolek dengan kelopak mata terbuka, serta kulit dan pakaian terkoyak-koyak oleh taring serigala.

"Suhu, dia masih hidup..."

Put-sim-sian berbisik.

"Ya! Kelihatannya dia tertotok lumpuh sehingga tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Untunglah serigala-serigala itu belum sempat menghancur-luluhkan kulit dan dagingnya."

Put-ceng Ii Lojin berjongkok, kemudian memeriksa denyut nadi dan pernapasan Chu Bwee Hong. Tapi ketua Aliran Bingkauw itu cepat melepaskan lengan Chu Bwee Hong kembali! "Ada apa, suhu?"

Put-sim-sian bertanya kaget.

Put-ceng li Lojin tidak segera menjawab.

Keningnya yang lebar itu berkerut-kerut, sementara kedua telapak tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Beberapa kali orang tua itu mengawasi wajah Chu Bwee Hong yang pucat, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sungguh aneh...!"

Gumamnya tak jelas. Tentu saja Put-sim-sian semakin bingung dan tak mengerti.

"Suhu...?"

Tiba-tiba ketua Aliran Bing-kauw itu tersentak bagaikan disengat lebah, sehingga Put-sim-sian yang berada di belakangnya ikut-ikutan melompat ke samping dengan sigapnya.

Murid yang telah mendapatkan hampir semua dari ilmu gurunya itu tampak berdiri dengan siap-siaga, seolah-olah sedang menghadapi situasi yang amat gawat!

Tanpa mempedulikan sikap muridnya Put-ceng-Ii Lojin berkata gagap, seakan-akan baru saja menyaksikan suatu hal yang sangat menggoncangkan batinnya.

"Put-sim-sian! Gadis...gadis ini agaknya memang berniat untuk bunuh diri!"

"Hah? Maksud suhu?"

"Gadis ini tidak mengalami cedera sama sekali! Maksudku...dia tidak tertotok atau pun terluka dalam seperti dugaan kita. Dia sebenarnya bisa bergerak dan melawan serigala-serigala itu kalau mau..."

"Jadi...?!?"

"Gadis ini tampaknya baru saja mengalami pukulan batin yang amat hebat, sehingga ia menjadi putus-asa dan berniat...bunuh diri!"

Put-ceng li Lojin menerangkan hasil pemeriksaannya.

"Maksud suhu gadis itu telah mematikan seluruh perasaannya dan membiarkan dirinya digigit serta dicabik-cabik oleh serigala-serigala buas itu?"

"Benar! Sebenarnya ia mampu membunuh semua serigala itu kalau mau, sebab hanya orang yang mempunyai kepandaian tinggi bisa benar-benar mematikan perasaannya seperti ini. Lihatlah, sekarangpun dia tak melihat kedatangan kita...padahal matanya terbuka!"

Put-sim-sian mengerahkan Iweekangnya, agar dapat melihat lebih jelas di dalam kegelapan malam.

Tampak olehnya gadis itu bernapas dengan teratur, sementara bola matanya yang bulat lebar itu menatap kosong ke depan tanpa bergoyah sama sekali.

"Lalu apa yang mesti kita kerjakan?"

Put-Sim-sian bertanya seraya mendekat.

"Kita membagi tugas. kau selamatkanlah serigala putih itu dan bunuh saja yang lain-lainnya bila mereka tak mau melarikan diri! Aku akan mengobati gadis ini..."

"Baik!"

Put-sim-sian menggeram, lalu dikerahkannya seluruh tenaga dalamnya.

Jago muda dari Aliran Bing-kauw itu tak ingin bertele-tele dalam melakukan tugasnya.

Ia ingin membereskan kawanan serigala itu dalam sekali gebrak.

Mula-mula tokoh muda itu menghantam ke arah serigala serigala yang mengeroyok anjing putih tersebut.

Serangkum angin yang amat kuat terasa menghembus ke depan dan menerjang ke arah kawanan serigala yang mengeroyok anjing putih itu.

Sekejap saja ke delapan ekor serigala itu terlempar dari arena.

Mereka jatuh tunggang langgang, lalu melarikan diri.

Hanya anjing putih itu saja yang tetap tinggal berdiam diri di tempatnya.

Melihat kawan-kawannya melarikan diri, kawanan serigala yang lain segera mengikuti pula.

Kini di dalam arena itu hanya tinggal si anjing putih saja, karena semua lawan dan kawannya telah pergi meninggalkan tempat itu.

Mereka kaget dan ketakutan melihat kehebatan pukulan Put-sim-sian!

"Aku telah mengusir mereka, suhu.

Bagaimana dengan gadis itu?"

Put-ceng-li Lojin menghela napas dan menggeleng gelengkan kepalanya. Wajahnya sedikit murung karena belum bisa menyadarkan Chu Bwee Hong yang telah mematikan seluruh perasaannya itu.

"Gadis ini benar-benar telah bersiap untuk mati. Seluruh panca-inderanya telah ditutupnya, sehingga lohu mendapatkan kesukaran untuk menyadarkannya kembali.Untuk membukanya lagi, kita harus sabar dan telaten. Lebih dahulu kita harus membangunkan hati dan perasaannya, agar supaya semangat hidupnya kembali berada di dalam getaran darahnya. Untuk itu kita harus selalu menjaga kelancaran peredaran darahnya, agar supaya jiwanya benar-benar tidak padam."

"Lalu...apa yang hendak suhu lakukan?"

Put-ceng-li Lojin terdiam untuk beberapa saat lamanya. Kelihatannya orang tua itu berpikir sebentar sebelum mengatakan keputusannya.

"Gadis ini akan lohu bawa pulang,"

Akhirnya orang tua itu berkata.

"Lohu menjadi sangat tertarik untuk mengetahui sebab musababnya, kenapa dia sampai menjadi begini..."

"Oh...?"

Put-sim sian berdesah.

"...Tetapi bagaimana dengan maksud kita untuk menghadiri undangan itu? Apakah suhu hendak membawanya juga ke sana?"

"Memangnya kenapa? Apakah itu tidak boleh?"

Put-ceng li Lojin menoleh ke arah muridnya.

"Huh! Iblis laknat...! Apa pedulimu jika lohu ingin membawa kucing, monyet atau kerbau ke tempat mereka? Lohu mau datang itu sudah untung bagi mereka. Setiap saatpun suhumu ini bisa saja membatalkan niatnya untuk menemui mereka bila badut yang menyebut dirinya Sang Putera Mahkota itu bertingkah..."

Put-sim-sian tertunduk, ia tidak berani menatap wajah gurunya.

Lelaki muda ini sungguh menyesal sekali telah menyinggung perasaan gurunya.

Ia benar-benar telah lupa bahwa gurunya itu adalah orang yang paling tidak suka pada segala macam aturan atau kebiasaan yang mengikat kebebasannya.

"Maafkan aku, suhu..."

Put-sim-sian meminta maaf.

"Hei? Mengapakah kau ini?"

Put-ceng li Lojin tersentak, wajahnya semakin tampak gelap, sehingga sekali lagi Put-sim-sian menyadari kesalahannya.

Tak seharusnya ia bersikap demikian canggung di hadapan gurunya.

Gurunya itu paling tidak suka disanjung mau pun dihormati seperti guru-guru lain di dunia ini.

Di dalam aliran mereka Put-ceng-li Lojin selalu bersikap bebas dan tak pernah menuntut perlakuan istimewa dari anggota perkumpulannya.

Dari para muridnyapun tidak!

Mereka biasa bersikap seperti teman akrab dari pada sebagai guru dan murid!

"Baiklah!

Kalau begitu...marilah kita berangkat sekarang!"

Akhirnya Put-sim-sian menemukan kembali adat kebiasaannya. Sekali menghentak tanah tubuhnya telah melayang ke depan mendahului suhunya. Anjing putih itu menyalak dan mengikutinya dari belakang.

"Hai, bangsaaaat! kau bawalah gadis ini! Masakan suhumu yang harus menggendongnya?"

Put-ceng-li Lojin berteriak.

"Nanti sajalah bergantian, suhu! Sekarang suhu saja dahulu yang membawanya! Aku masih lelah karena baru saja bertempur melawan serigala-serigala tadi...!"

Dari jauh Put sim-sian berteriak menjawab.

"Keparat! Iblis laknat...! Murid goblog!"

Put-ceng-li Lojin menggerutu, dan mengumpat-umpat. Terpaksa dengan perasaan enggan orang tua itu mengangkat tubuh Chu Bwee Hong dan kemudian menaruhnya di atas pundaknya.

"Bangsat, berat nian...!"

Keluhnya lagi.

Dengan beban yang berat di atas pundaknya ketua Aliran Bing-kauw itu melangkah dengan cepat mengejar muridnya.

Meski pun beberapa kali terdengar mulutnya mengumpat dan menggerutu, tapi langkah kakinya ternyata cepat bukan main.

Dilihat dari kejauhan tubuhnya yang agak bungkuk itu seperti seekor burung yang terbang rendah di atas tanah, cepat dan gesit.

Tetapi belum juga seratus langkah orang tua itu berlari, tiba-tiba langkahnya berhenti.

Sambil membetulkan letak tubuh Chu Bwee Hong orang tua itu melirik ke kanan dan ke kiri.

Sepasang matanya yang tajam mencorong itu seolah-olah dapat menembus rimbunnya semak-perdu di sekelilingnya.

"Siapakah di situ...?"

Sapanya tiba-tiba.

Terdengar desir langkah kaki seseorang di balik semak semak sebelah kiri orang tua itu.

Kemudian seorang kakek tua berbadan tegap dan seorang kakek gemuk berkepala besar tampak keluar dari kegelapan.

Kedua orang yang tidak lain adalah Tai-si-ong dan Pangcu-si Song Kang itu segera memberi hormat kepada Put-ceng-li Lojin.

"Selamat berjumpa, Bing-Kauwcu (Ketua Aliran Bingkauw)! Sungguh tak terduga kita bisa saling berjumpa di tempat ini. Angin apakah yang meniup Bing-Kauwcu hingga malam-malam begini sampai datang ke hutan ini?"

Tai-si-ong dari Im-yang-kauw itu menyapa lebih dulu untuk menghilangkan kekagetan hatinya melihat ketajaman panca indera Put-ceng-li Lojin.

"Hei! Tai si-ong dan Pangcu-si Song Kang rupanya...!Selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Put-ceng-li Lojin yang tidak menyangka akan berjumpa dengan ketua Aliran Im-yang-kauw itu membalas pula dengan hangatnya.

"Bagaimana khabarnya? Baik bukan?"

"Terima kasih! Kami semua sehat-sehat saja selama ini..."

Pangcu-si lekas-lekas menjawab.

"Hahaha...Tai-si ong...Song Cu-si, hampir saja lohu tidak mengenal kalian Iagi. Habis sudah lama benar kita tak saling bertemu...eh, sejak pibu besar itu, bukan...?"

Put-ceng-li Lojin yang tak pernah peduli akan perasaan orang lain itu tertawa gembira.

Padahal kata-katanya yang ceplas-ceplos tentang pibu besar itu membuat kedua tokoh Im-yang-kauw tersebut menjadi kikuk dan tak enak hati.

Mereka seperti diingatkan kembali pada masa-masa kacau dan pertempuran besar di antara kedua aliran mereka beberapa tahun yang lalu.

Sebuah pertempuran yang melibatkan pula diri mereka masing-masing!

"Benar...benar!"

Pangcu-si Song Kang terpaksa menjawab pula dengan mulut meringis.

"...Malah...malah pada perjumpaan kita yang terakhir, Bing-Kauwcu hampir saja bertempur dengan aku..."

"Bertempur? Eh, benar...benar, Song Cu-si benar.Sayang pada saat itu suhengku Put-chien-kang Cin-jin mencegahnya. Buset. Kalau tidak...heheh, salah satu dari kita tentu tidak akan bisa menikmati hidup sampai hari ini, hahahaha..."

Song Kang mengerutkan keningnya.

Ditatapnya wajah ketua Bing-kauw yang sedang tertawa gembira itu lekat-lekat.

Diperhatikannya dengan seksama kalau-kalau ketua Bingkauw bermaksud menyinggung perasaannya.

Tapi serentak dilihatnya orang tua itu tertawa lepas tanpa bermaksud apa apa, iapun segera tertawa pula mengikutinya.

"Ah, misalkan pertempuran itu tetap berlangsung juga...bisa dipastikan akulah yang tidak akan bisa hidup sampai hari ini,"

Katanya merendah.

"Hei, belum tentu! belum tentu!"

Put-ceng li Lojin cepat-cepat menukas.

"Di dalam Aliran Bing-kauw kepandaianku memang tak ada yang bisa melawan. Tapi kesaktian Song Cusi sendiri tentu juga luar biasa hebatnya! Bila tidak demikian, masakan Song Cu-si dipilih menjadi Pangcu-si Im-yang-kauw segala..."

"Ya...tapi semuanya itu bila dibandingkan dengan kesaktian Bing-Kauwcu akan tidak ada artinya lagi."

Song Kang tetap merendahkan diri.

"Wah, siapa bilang? Kita masing-masing mempunyai keistimewaan dan kelebihan sendiri-sendiri dalam ilmu silat.Kita tidak bisa mengatakan, siapa yang lebih baik dan siapa yang lebih jelek, sebelum keduanya diadu satu sama lain..."

"Ya, tapi..."

"Wah, Song Cu-si ini sungguh menjengkelkan benar!Masakan ilmu silat milik diri sendiri malah dipandang rendah dan diremehkan begitu.Sungguh tidak baik! Bukankah demikian, Tai-si-ong...?"

Put-ceng-Ii Lojin penasaran.

"Memang!"

Ketua Aliran lm yang-kauw itu terpaksa mengangguk mengiyakan.

"Nah, itu lihat...! Apa kataku? Tapi kalau Song Cu-si masih tetap juga tak percaya, boleh kita mengadunya saja sekarang..."

Put-ceng li Lojin yang selalu berbicara ceplas-ceplos itu menantang dengan enaknya, seolah-olah pertempuran mengadu nyawa itu hanya merupakan sebuah permainan ringan yang tak membahayakan jiwanya.

Tantangan halus itu sungguh sangat mengagetkan dan tidak diduga sama sekali oleh kedua tokoh lm-yang-kauw tersebut.

Terutama Pangcu-si Song Kang yang langsung menerima tantangan itu!

Tapi kekagetan mereka itu bukanlah disebabkan karena mereka takut dan segan terhadap ilmu kepandaian Put-ceng-li Lojin.

Bukan!

Mereka sama sekali tidak takut atau gentar menghadapi ketua Aliran Bing-kauw tersebut.

Yang mereka takutkan adalah akibat dari pertempuran itu!

Siapapun pihak yang kalah dalam perkelahian nanti tentu akan membawa dendam di dalam hatinya.

Dan hal itu sungguh berbahaya sekali!

Baik Put-ceng-li Lojin maupun Tai-si-ong adalah ketua dari sebuah aliran yang amat besar dan ternama.

Dendam di dalam hati mereka tentu akan berakibat buruk pada kedamaian dan ketenteraman masyarakat umum seperti juga yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu.

Oleh karena itu tantangan tersebut sungguh amat mengagetkan kedua tokoh Im-yang-kauw tersebut.

Kaget, karena tantangan itu justru keluar dari mulut Put ceng li Lojin, ketua Aliran Bing-kauw yang besar itu.

Pangcu-si Song Kang dan Tai-si-ong saIing pandang dengan wajah tegang.

Mereka menjadi serba salah.

Melayani tantangan itu berarti mereka menyulut api pertentangan yang selama ini telah dapat didamaikan dengan susah payah oleh bekas-bekas pimpinan mereka.

Tapi kalau mereka tidak mau melayani tantangan tersebut, mereka akan kehilangan harga diri mereka di mata orang lain.

Mereka akan dicap sebagai penakut dan pengecut!

"Ahh, Bing-Kauwcu ini suka benar berkelakar..."

Tai-siong masih juga tersenyum untuk mendinginkan suasana yang sangat berbahaya itu.

Tapi Put-ceng-li Lojin seperti tak melihatnya.

Tokoh yang selalu menurutkan selera hatinya sendiri itu malah meletakkan tubuh Chu Bwee Hong di tempat yang bersih dan aman, lalu berdiri mempersiapkan diri untuk bertarung.

"Lohu tidak berkelakar..."

Katanya meyakinkan.

"Lohu malah ingin membuktikan kepada Song Cu-si, bahwa ilmu silat itu harus diadu lebih dahulu untuk membuktikan kalah menangnya."

Tiada pilihan lagi bagi Song Kang selain melayani tantangan itu.

"Baiklah..."

Akhirnya pengurus perkumpulan dari aliran Im-yang-kauw itu mengangguk.

"Bing-Kauwcu akan kulayani. Marilah...!"

Tai-si-ong terpaksa tak bisa mencegahnya lagi.

Dengan perasaan berdebar-debar dia melangkah mundur, serta membiarkan kedua jago silat berkepandaian tinggi itu saling berhadapan.

Dilihatnya Song Kang membuka pakaian luarnya yang lebar, sementara Put-ceng li Lojin menantinya di tengah-tengah arena.

"Bing-Kauwcu, maafkan...!"

Tiba-tiba Pangcu-si Song Kang mendahului menyerang. Pakaian luarnya yang lebar itu diayunkan depan, tertebar bagaikan selembar jala ke arah kepala Put-ceng li Lojin.

"Thian-kuan-pi-tee (Langit Menutupi Bumi)..."

Tai-si-ong berdesah melihat jurus yang dipergunakan oleh pembantunya itu.

Thian-kuan-pi-tee adalah jurus pembuka dari Im-hongciang, sebuah dari ilmu silat andalan Im-yang-kauw.

Ilmu silat ini sangat mengandalkan Iweekang yang tinggi dan dapat dimainkan dengan senjata apa saja, terutama dengan benda benda yang sifatnya lentur atau lemas.

Dan seperti halnya ilmu silat Aliran Im-yang-kauw lainnya, ilmu silat Im-hong-ciang ini juga mempunyai ciri khas yang sama yaitu gerakan-gerakannya amat halus dan rumit serta kaya akan gerak-gerak tipuan.

Maka untuk mempelajarinya dengan sempurna tiap anggota Im-yang-kauw terpaksa menekuninya selama bertahun-tahun.

"Setan belang! Hei, Song Cu-si...! Lohu berani bertaruh, ilmu silat yang kau pergunakan ini tentu ilmu Silat Im-hong-ciang yang sangat terkenal itu! Betul tidak?"

Sambil mengelak Put-ceng-li Lojin berteriak.

Kakek tua ini mengelak dengan cara yang sangat unik.

Mula-mula orang tua ini berjongkok dengan cepat, setelah itu meloncat ke samping seperti seekor katak melompat.

Gagal menjaring tubuh lawannya Song Kang tidak meneruskan serangannya.

Orang tua yang lihai itu berdiri diam saja di tempatnya seraya menggulung "jaringnya."

Diam-diam hatinya memuji ketajaman mata Put-ceng-li Lojin, bisa mengenal ilmu silat yang ia keluarkan, meskipun baru melihat satu jurus saja.

Dan hal itu berarti dia harus lebih berhati-hati lagi menghadapi ketua Bing-kauw itu.

"Dan aku juga berani bertaruh pula bahwa lompatan yang Kauwcu lakukan tadi tentu bahagian dari ilmu Chuo-mo-ciang itu, bukan?"

Katanya pula agar tidak kalah gertak,padahal ia cuma menduga-duga saja.

"Hahaha-hehe...!?"

Put-ceng-li Lojin yang memang telah mempersiapkan Chuo-mo-ciang itu mulai kumat sintingnya.

Tubuhnya yang agak bungkuk itu masih tetap berjongkok, sementara matanya yang kecil itu mulai kocak melirik kesana kemari.

"Hehehe...setan belang! Setan Laut! Setan Neraka! Setan...heh, pokoknya segala setan bau busuk,hehehehe...! Ternyata Song Cu-si sudah mengenal pula ilmu setanku (Chuo-mo-ciang berarti Ilmu Menangkap Setan)..."

Selesai berbicara Put-ceng li Lojin meloncat ke atas, menubruk ke arah lawannya!

Gayanya meloncat masih tetap seperti tadi, yaitu dengan punggung membungkuk dan lutut ditekuk menempel perut.

Cuma sekarang, sambil meloncat tubuh itu berputar-putar di udara.

Persis seperti seorang pemain akrobat yang berjungkir-balik di udara.

Dan sambil meloncat orang tua itu mulai berceloteh tidak karuan.

"Song Cu-si, coba kau tebak nama dari jurusku ini..."

Katanya dengan nada bergurau.

"Tidak tahu, bukan? Nah, dengarlah ceritaku...!"

Tapi sebelum cerita itu sempat keluar dari mulutnya,serangannya ternyata telah lebih dulu sampai di tempat Song Kang.

Sepasang kaki dan tangannya tampak mencuat keluar bergantian, mencakar dan menendang bagian dada dan kepala Pangcu-si Song Kang.

Suara pukulannya terdengar gemuruh menderu seperti suara pohon besar yang tumbang terkena angin ribut!

Song Kang terkejut.

Tokoh kedua dari Im-yang-kauw setelah Tai-si-ong dan Lojin-ong ini benar-benar terperanjat melihat perubahan dari serangan tersebut.

Serangan yang semula tampak ringan dan tidak membahayakan itu tiba-tiba berubah ganas dan mematikan setelah sampai di sasaran!

Kekuatan lawan yang semula dia perkirakan biasa-biasa saja itu mendadak seperti bertambah menjadi berlipat ganda jumlahnya.

Karena belum bisa menjajagi ilmu lawannya yang aneh dan amat membahayakan itu, maka Song Kang terpaksa tidak berani menyambut atau memapaki serangan tersebut.

Tokoh Im-yang-kauw itu memilih jalan menghindari serangan tersebut daripada harus menyongsongnya.

Sambil melangkah mundur tiga tindak dia menyabetkan pakaian luarnya ke arah Put-ceng li Lojin!

Kali ini tokoh Im-yang-kauw itu tidak mau bersikap segan-segan lagi.

Dikerahkannya seluruh kekuatannya sehingga kain baju yang dipegangnya itu berubah menjadi keras dan kaku seperti besi baja.

Melihat lawannya melangkah mundur dan tidak berani dengan langsung menyongsong serangannya, Put-ceng-li Lojin segera mempersiapkan serangan berikutnya.

Kedua belah kakinya cepat-cepat dilipat kembali di depan perutnya, sementara sepasang lengannya juga segera dikembangkan di samping tubuhnya.

Semua gerakannya itu dilakukan dalam keadaan masih melayang di udara!

"Jurus katak melompat ini terdiri dari delapan belas gerakan.

Diciptakan oleh suhengku Put-chien-kang Cin-jin tatkala dia bertapa di Telaga Hijau..."

Sambil menghindari sabetan Song Kang, ketua Aliran Bing-kauw itu memulai ceritanya.

"Saat itu suheng sedang pepat pikirannya karena sudah hampir setahun penuh dia belum dapat juga menyelesaikan bahagian terakhir dari ilmu Chuo-mo-kang ciptaannya. Padahal perselisihan antara aliran kami dan aliran kalian sudah semakin meruncing, dimana setiap waktu dapat saja meletus menjadi perang terbuka. Dan apabila semua itu benar-benar terjadi, kaum kami tentu akan repot menghadapi Ilmu Sakti Kulit Domba (Im-yang-kun) kalian..."

Sambil tetap mendengarkan cerita lawannya Song Kang melongo menyaksikan cara Put-ceng li Lojin mengelakkan sabetan kain bajunya.

Dengan sangat enteng dan gesit ketua Bing-kauw itu tampak menahan daya luncurnya lalu menggeliat di udara beberapa kali, setelah itu melayang ke samping dengan manisnya.

Semua itu dilakukan orang tua tersebut tanpa harus menginjakkan kakinya di atas tanah lebih dahulu, sehingga dilihat dari bawah seperti seekor burung yang sedang terbang zig-zag di udara.

"Orang tua ini memang tidak boleh dianggap enteng.Salah-salah aku malah bisa kehilangan waktu kalau tak lekas-lekas menandinginya dengan ilmu pamungkasku (ilmu andalan). Toh dia juga telah mengeluarkan Chuo-mociangnya..."

Song Kang berdesah di dalam hati.

Maka jago Im-yang-kauw itupun lekas-lekas membuang baju yang dipegangnya, kemudian mengerahkan Im-yang Sinkang sebelum ia menyerbu dengan Im-yang-kun atau Ilmu Silat Kulit Dombanya yang terkenal itu.

Sementara itu Put-ceng-li Lojin terus saja melanjutkan ceritanya.

Orang tua itu sama sekali tidak mengambil pusing pada semua perubahan sikap lawannya.

"Saking pepatnya suhengku pergi bertapa menyendiri di Ceng-ouw (Telaga Hijau). Berbulan-bulan dia hidup di sana bersama dengan ribuan katak yang memenuhi telaga yang luas dan dalam itu. Tanpa disengaja suhengku selalu melihat dan memperhatikan segala gerak-gerik ribuan katak itu setiap hari, sehingga lambat-laun suheng bisa melihat keanehan dan kehebatan gerakan mereka. Suheng seperti memperoleh ilham untuk menyelesaikan ilmu ciptaannya itu. Maka dengan semangat yang meluap-luap dia menyaring semua yang dilihatnya itu dan mengambil inti-sarinya, lalu menuangkannya dalam gerakan-gerakan ilmu silat yang hebat..."

"Jadi...pada saat dilangsungkannya pibu besar itu Put-chien-kang Cin-jin baru saja dapat menyelesaikan Chuo-mokangnya?"

Song Kang bertanya dengan kening berkerut. Put-ceng li Lojin tertawa.

"Benar!"

Katanya.

"Untunglah pada waktu itu suhengku dengan akal muslihatnya dapat menyeret Tai-si-ong kalian yang lama ke dalam arena pibu satu lawan satu. Kalau tidak, wah..., kami tentu akan dapat kalian gulung dengan mudahnya. Soalnya baru suhengku saja yang dapat memainkan Chuo-mo-kang itu. Lainnya belum berkesempatan untuk mempelajarinya."

Selesai berbicara tiba-tiba Put-ceng li Lojin menjauhkan tubuhnya ke depan.

Tapi sebelum tubuh itu menyentuh tanah, mendadak tubuhnya tampak mental ke atas kembali dengan cepat seperti sebuah bola yang membentur benda yang tak kelihatan.

"Awas serangan...!"

Teriaknya memperingatkan.

Sepasang kakinya meluncur lebih dahulu ke depan, menuju ke arah kepala Song Kang.

Tapi Song Kang juga telah bersiap-siaga pula dengan iImu Sakti Kulit Dombanya.

Begitulah sepasang kaki lawannya meluncur datang dengan maksud menggunting lehernya dia segera meliukkan badan seraya merendahkan tubuhnya ke depan, sehingga kedua belah kaki Put-ceng-li Lojin lewat di atas kepalanya.

Kemudian dengan badan yang masih dalam keadaan meliuk itu Song Kang mencengkeram ke atas, ke arah lutut Put-ceng-li Lojin.

Dan jurus yang dia keluarkan ini adalah jurus Meniti Pelangi Meraih Awan, yaitu baris ke dua bait pertama dari pantun yang tertulis pada lembar ke tujuh kulit domba itu.

Di dalam mempelajari Ilmu Sakti Kulit Domba Song Kang telah mencapai tingkatan yang tidak rendah.

Bersama dengan Tai-si-ong, dia telah mencapai lembar yang ke sepuluh.

Maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya.

Kelihatannya saja keSepuluh jari-jarinya itu hanya mengancam ke arah lutut lawan, tapi di mata seorang ahli akan segera terlihat bahwa setiap jari-jari itu ternyata telah mengancam semua titik jalan darah mematikan di badan Put-ceng-li Lojin!

Ternyata Put-ceng-li Lojin melihat bahaya itu pula.

Buktinya tubuhnya yang meluncur dengan kaki di depan itu segera melengkung ke atas seperti batang bambu yang meliuk tertiup angin, lalu sekejap kemudian melejit lagi ke atas bagaikan seekor ulat daun!

Lagi-lagi semua gerakan itu dilakukan oleh Put-ceng-li Lojin tanpa harus menyentuh tanah lebih dahulu.

Seolah ketua Bing-kauw itu bukanlah manusia tetapi seekor burung yang mampu bergerak seenaknya di udara!

Memang, semua gerakan yang dilakukan oleh Put-ceng-li Lojin itu tampaknya sangat tidak masuk akal dan mustahil dilakukan.

Tapi memang justru itulah yang menjadi keistimewaan Chuo-mo-kang!

Semua gerakan-gerakan Chuomo-kang memang terdiri dari gerakan-gerakan aneh yang kadang-kadang tidak masuk akal!

Demikianlah, akhirnya kedua orang itu terlibat dalam pertempuran yang amat dahsyat!

Masing-masing mengeluarkan ilmu puncak dari aliran mereka, Chuo-mo-kang melawan Im-yang sin-kun atau Ilmu Sakti Kulit Domba!

Begitu dahsyatnya pertempuran itu sehingga rasanya tidak kalah seru dengan pertempuran put-chien-kang Cin-jin melawan Tai-si-ong pada beberapa tahun berselang.

Pertempuran itu mengakibatkan beberapa batang pohon tumbang dan beberapa rumpun semak perdu jebol dari tempatnya.

Angin pukulan mereka yang penuh Iweekang itu menyambar-nyambar, membawa tiupan angin besar, sehingga debu dan kerikil beterbangan menggelapkan arena pertempuran itu.

Dua puluh lima jurus telah berlalu.

Beberapa saat kemudian tiga puluh juruspun telah terlampaui pula.

Song Kang mulai bergetar hatinya.

Im-yang Sin-kun sudah hampir habis ia mainkan, tapi lawannya masih tetap garang dan berbahaya.

Sedikitpun Put-ceng-li Lojin tidak kelihatan kendor ataupun menjadi berkurang kekuatannya.

Orang tua itu masih tampak gesit dan berbahaya.

Tampaknya setiap saat kekuatannya malah semakin bertambah besar saja!

Dan yang semakin membuat dongkol dan gemas Song Kang, ketua Bing-kauw itu bertempur sambil berceloteh tidak keruan artinya.

"Setan alas! Setan laut! Setan laut mandi di sungai.Sungainya kering karena kepanasan...! Hahahaha...!"

Song Kang mengerahkan kekuatannya, lalu menyerang semakin cepat dan ganas.

Kedua belah telapak tangannya bergantian menyerbu ke depan, berusaha membungkam mulut yang ceriwis itu.

Tapi Put-ceng-li Lojin ternyata juga meningkatkan kemampuannya.

Orang tua itu bergerak semakin aneh dan gila!

Meloncat, tiarap, berjongkok, terlentang dan lain sebagainya.

Pakaiannya yang semula bersih dan rapih itu sudah tidak keruan lagi macamnya.

Kotor, sobek dan tak teratur lagi letaknya.

Rambutnya yang tadi tersisir halus kini telah menjadi acak acakan dan berlepotan tanah serta pasir.

Sungguh orang takkan mengira lagi kalau orang tua itu adalah seorang ketua aliran yang amat terkenal.

Put-ceng li Lojin sekarang tak ubahnya seorang gila yang sedang kumat penyakitnya.

Oleh karena itu meskipun Song Kang menambah kekuatannya dan meningkatkan kecepatan geraknya, keadaan tetap tidak berubah juga.

Kedahsyatan ilmu lawannya yang konyol serta gila-gilaan itu semakin terasa menggencet ilmunya, sehingga lambat-laun Im-yang Sin-kun yang dia mainkan menjadi seret dan tak bisa berkembang sebagaimana biasanya.

Jangankan mau membungkam mulut Put-ceng-li Lojin yang ceriwis itu, untuk melindungi dirinya sendiri saja tokoh Im-yang-kauw itu sudah mulai kewalahan!

Tentu saja Tai-si-ong yang melihatnya menjadi tegang dan gelisah.

Tanpa terasa peluhnya ikut bercucuran.

Beberapa saat lamanya pemimpin Aliran Im yang kauw itu berdiri gelisah tak tahu apa yang mesti ia lakukan.

Menolong salah, tidak membantupun salah.

Sebenarnya bisa saja ketua lm-yang-kauw itu menolong muka pembantunya dengan cara menggantikannya melawan Put-ceng-li Lojin.

Tapi celakanya kepandaian silat yang dipunyainya juga tak berbeda jauh dengan tingkat kepandaian Pangcu-si Song Kang.

Jadi apabila dia yang maju menghadapi Put-ceng-li Lojin, keadaannya akan tetap sama saja.

Sama-sama celakanya.

Malahan jika dia yang maju, kekalahan itu justru akan membawa pengaruh dan akibat yang lebih parah malah!

Karena sebagai seorang pemimpin aliran, kekalahan yang dideritanya tentu akan menyangkut pamor dan kehormatan perkumpulannya.

Sementara itu Put-ceng-li Lojin semakin mendesak Pangcu-si Song Kang.

Gerakannya semakin meraja-lela menguasai arena.

Ilmu Sakti Kulit Domba yang dimainkan oleh Song Kang sudah habis dikeluarkan semua.

Meskipun begitu tetap saja tidak bisa membendung amukan Chuo-mo-ciangnya.

Bagaimanapun juga ketua Aliran Bing-kauw itu ternyata masih lebih kuat dan lebih matang ilmunya.

Tiba-tiba terdengar suara anjing melolong keras sekali di kejauhan.

Suaranya mengalun tinggi menggetarkan hutan itu.

Begitu kuat dan kerasnya lolongan tersebut sehingga mampu memecahkan perhatian kedua orang yang sedang adu tenaga itu.

"Haaauuunnngg...!!!"

"Bangsat! Keparat! Anjing berkudis tak tahu diuntung...! Hampir saja lohu melupakan sesuatu! Huh! Iblis...! Setannn..."

Ketua Aliran Bing-kauw yang telah berada di atas angin itu mendadak mengumpat-umpat sambil meloncat mundur.

Kemudian dengan cekatan melesat ke tempat Chu Bwee Hong dan membawanya pergi dan tempat tersebut.

"Tai-si-ong...Pangcu-si! Maaf lohu masih ada urusan penting sehingga tak bisa menemani kalian lebih lama lagi!Lain waktu saja kalau ada kesempatan permainan ini kita lanjutkan kembali...!"

Teriaknya dari kejauhan.

Sesaat kemudian tempat itu telah menjadi sunyi kembali.

Tinggallah kini kedua tokoh aliran Im-yang-kauw itu memandang kegelapan dengan wajah lesu.

Mereka baru saja dikalahkan oleh lawan bebuyutan mereka.

Diam-diam mereka menjadi sakit hati dan berjanji bahwa suatu saat mereka harus bisa membalas kekalahan mereka ini.

Demi kehormatan aliran mereka, mereka harus belajar lebih keras lagi menekuni Ilmu Sakti Kulit Domba.

Sukur dapat menyelesaikannya sampai pada lembar yang ke tiga belas.

Demikianlah, kedua orang tokoh pimpinan Im-yang-kauw itu lalu melanjutkan perjalanan mereka kembali dengan perasaan lesu.

Dalam hati mereka sedikit menyesal, mengapa Toat-beng-jin atau Kauwcusi Tong Ciak tidak pergi bersama mereka.

Apabila seorang saja di antara kedua orang itu berada bersama mereka, mereka percaya kekalahan itu takkan mungkin terjadi.

Hanya kedua orang kawan mereka itulah kiranya yang akan mampu menundukkan ketua Bing-kauw yang sakti tersebut.

Begitu keluar dari hutan itu Put-ceng-li Lojin sudah ditunggu oleh muridnya.

"Apakah yang terjadi, suhu? Kenapa lama sekali?"

Put-simsian bertanya dengan nada khawatir. Dipandangnya tubuh gurunya yang kotor tidak keruan itu.

"Ahaa...sepeninggalmu tadi lohu bermain-main sebentar dengan orang-orang Im-yang-kauw,"

Put-ceng-li Lojin menjawab acuh tak acuh.

"Orang-orang Im-yang-kauw?"

Put-sim-sian terkejut.

"Siapakah mereka, suhu...?"

"Tai-si-ong dan Pangcu-si Song Kang!"

"Ya! memangnya kenapa? kau kira mereka dapat mengalahkan gurumu?"

"Jadi...?"

"Sudahlah, mari kita berangkat! Lihatlah puncak bukit itu! Ada api unggun di sana...mungkin disanalah tempat pertemuan kita dengan Sang Putera Mahkota itu."

Baru saja ketua Bing-kauw itu menutup mulutnya, dari puncak bukit tiba-tiba terdengar lagi suara lolongan anjing itu.

Nadanya tinggi melengking dan mengalun panjang sekali, bagaikan suara hantu yang memanggil-manggil mangsanya.

Sungguh seram dan mendirikan bulu roma.

"Itu dia suara anjing itu..."

Put-ceng-li Lojin berdesah, kemudian mempercepat langkahnya.

Bukit itu sangat terjal dan tak ada jalan setapak untuk naik ke atas.

Oleh karena itu Put-ceng li Lojin dan Put-sim-sian terpaksa berloncatan di atas ujung-ujung batu yang bertonjolan di sana-sini.

"Suhu, berikanlah gadis itu kepadaku. Biarlah aku kini yang membawanya..."

Put-simsian menoleh ke arah gurunya yang berloncatan sambil memanggul Chu Bwee Hong di sampingnya.

"Tak usah! Biarlah kubawanya sendiri!"

"Hei, suhu marah kepadaku?"

"Keparat! Siapa yang marah kepadamu?"

Put-ceng-li Lojin melotot.

"Awas, jangan berkata yang bukan-bukan! Kubunuh kau nanti...!"

"Tapi kenapa sejak tadi suhu diam saja?"

Tiba-tiba Put-ceng li Lojin menghentikan langkahnya, lalu dengan kasar meletakkan tubuh Chu Bwee Hong di atas tanah. Mereka telah berada di atas bukit.

"Bangsat keparat! Setan tetekan! Kenapa sekarang kau jadi mengurusi aku? Ingin berkelahi, yaa? Ayoh...kulayani kau!"

Put-ceng-li Lojin yang tidak pernah menghiraukan peradatan itu berteriak-teriak dan menantang muridnya sendiri, sementara Put-sim-sian yang tidak menyangka gurunya akan menjadi marah begitu cuma berdiri saja ketakutan.

"Hahahahaha...apakah yang datang ini Put-ceng-li Lojin dari Bing-kauw? Selamat datang! Selamat datang!Terima kasih atas kesediaan Lojin memenuhi undangan kami..."

Tiba-tiba seorang kakek tinggi tegap datang menyongsong kedatangan mereka.

Beberapa orang pengawal tampak mengiringi kakek gagah itu dengan obor di tangan masing-masing.

Put-ceng li Lojin menoleh, keningnya berkerut.

Otomatis tangannya menyambar tubuh Chu Bwee Hong kembali dan menaruh lagi di pundaknya.

"Eh? Oh? Beng Goanswe...?"

Ketua Aliran Bing-kauw itu tergagap kaget.

Orang tua ini benar-benar tak mengira kalau bekas jenderal besar itu menyambutnya di tempat ini.

Siapakah yang tak pernah mengenal dan mendengar nama bekas jenderal besar Dinasti Chin yang sangat dihormati rakyat itu?

"Ah, aku sudah bukan seorang jenderal lagi, Lojin!

Sekarang aku sudah menjadi orang biasa seperti kalian.

Marilah...!"

Tapi Put-ceng-li Lojin masih tetap termangu-mangu dan tidak beranjak dari tempatnya.

Hatinya masih diliputi perasaan tidak percaya, bahwa bekas jendral yang amat dikagumi orang itu kini berada di tempat ini dan sekarang malah sedang menyambut kedatangannya.

Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam hatinya, jangan-jangan orang yang mengirimkan surat undangan itu adalah bekas Jenderal Beng Tian ini.

Tapi apakah maksud dan tujuannya sehingga bekas jenderal Dinasti Chin ini mengundang dia?

Apakah bekas jenderal ini bermaksud merebut takhta kembali?

"Lojin, marilah...!

Kenapa termangu-mangu saja?

Mari kuperkenalkan dengan beberapa orang kawan!"

Beng Tian menjura.

"Eh! Oh! Bangsat! Setan! Keparat! Mengapa pula Lohu ini?"

Put-ceng-li Lojin tersentak dari lamunannya, kemudian mengumpat-umpat seperti biasanya.

"Sungguh pikun..."

Beng Tian tertawa.

"Ahaha, Lojin benar-benar tidak berubah. Sejak dahulu selalu santai dan senang berkelakar."

Tapi Put-ceng-li Lojin tak mengacuhkan lagi komentar Beng Tian itu.

Ketua Aliran Bing-kauw yang aneh itu sudah kembali ke sifatnya yang asli, tidak pedulian dan seenaknya sendiri.

Sambil menggandeng lengan muridnya orang tua itu melangkah ke tempat yang telah ditunjukkan oleh Beng Tian tadi.

"Goanswe keliru. Lohu tidak berkelakar. Lohu kini memang sudah pikun karena sakit gigi, hehehe..."

Katanya sambil tertawa.

Di atas puncak bukit tersebut ada sebuah lapangan atau dataran yang agak luas.

Di tempat itu telah dipasang beberapa buah obor sehingga tempat tersebut menjadi terang benderang.

belasan orang lelaki dan wanita telah kelihatan berkumpul di sana.

Mereka duduk-duduk mengelilingi api unggun yang dibakar di tengah-tengah lapangan itu.

Semuanya segera berdiri dan memberi salam kepada Putceng-li Lojin yang baru saja datang.

Seorang kakek dan nenek yang berwajah keras dan serius mcmpersilahkan ketua Bing-kauw itu duduk di antara mereka.

Sekejap hati Put-ceng-li Lojin menjadi tergetar kembali.

Ia mengenal beberapa orang yang duduk di tempat itu, termasuk pula kakek dan nenek yang mcmpersilahkan dia duduk tadi.

Orang-orang itu bukanlah orang-orang sembarangan, karena mereka adalah ketua-ketua persilatan yang terkenal.

Kakek dan nenek itu adaIah jago-jago tua di dalam dunia persilatan.

Mereka adalah suami-isteri Yap Cu Kiat dan Siang-houw Nio-nio, ayah-ibu dari Hong-Iui-kun dan Yap Tai-Ciangkun!

Yap Cu Kiat adalah keturunan langsung dari Sinkun Bu-tek, sementara Siang-houw Nio-nio adalah bekas pengawal pribadi Kaisar Chin Si.

Di dekat mereka duduk pula sepasang lelaki dan wanita tua yang wajahnya dingin menyeramkan.

Seperti halnya Yap Cu Kiat, kedua orang itu juga merupakan sepasang suami-isteri yang amat sangat terkenal di dunia kang ouw.

Mungkin justru lebih dikenal orang dari pada suami-isteri Yap Cu Kiat tersebut, karena mereka adalah suami-isteri Kwa Eng Ki, ketua Tai-bong-pai!

Selanjutnya Put-ceng li Lojin melihat pula Pek-i Liong-ong dan dua orang pembantu utamanya, Bhong Kim Cu dan Leng Siau.

Mereka bertiga duduk diam di tempat masing-masing.

Kemudian agak jauh dari tempat mereka tampak berkumpul beberapa orang kepala suku dari daerah barat beserta para pengawalnya.

Mereka tampak kasar dan ganas, apalagi dengan pakaian mereka yang terbuat dari kulit binatang itu.

"Hati-hatilah...!"

Put-ceng-li Lojin berbisik kepada muridnya. Untuk pertama kalinya Put-sim-sian melihat gurunya demikian serius.

"Hmm, mengapa tuan rumah belum juga menampakkan diri? Lohu tidak mempunyai banyak waktu, karena lohu mempunyai urusan yang lain,"

Tiba-tiba Kwa Eng Ki berdiri. Yap Cu Kiat cepat berdiri dari tempat duduknya.

"Maaf, saudara Kwa. Sang Putera Mahkota sedang sibuk mengobati luka seseorang, sehingga agak terlambat menemui cuwi semua..."

Katanya menerangkan.

"Luka? Siapakah yang terluka?"

Ketua Tai bong-pai itu bertanya dengan kening berkerut.

"Salah seorang dari tokoh yang kita undang pula yaitu Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"

"Dia? Siapakah yang melukai pendekar muda itu?"

Kwa Eng Ki kaget.

Semuanya juga kaget.

Rata-rata semua tokoh yang berada di tempat itu telah mengenal nama besar Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.

Meskipun masih muda tetapi kepandaian pendekar itu telah diakui kehebatannya oleh hampir setiap tokoh kang ouw.

Oleh karena itu semuanya menjadi heran, siapakah orangnya yang mampu melukai pendekar muda itu?

"Entahlah.

Yang terang anak muda itu terkena racun katak api.

Untunglah Sang Pangeran menyimpan obat pemunahnya, yaitu darah ular salju."

"Ohhh...!"

Tiba-tiba di bawah terdengar lagi suara Beng Tian mempersilahkan tamunya.

"Ah! Itu mungkin Sang Pangeran sudah datang..."

Yap Cu Kiat berdesah.

Semuanya berdiri kembali, lalu bersama-sama mereka melongok ke bawah.

Demikian juga dengan Put-ceng li Lojin.

Begitu inginnya orang tua itu melihat wajah Sang Pangeran Mahkota sehingga ia ikut-ikutan pula berdiri diantara mereka.Tetapi apa yang dilihatnya justru membuat hatinya menjadi tegang malah!

Tampak Beng Tian naik ke atas mengiringkan Tai-si-ong dan Pangcu-si Song Kang dari Aliran Im-yang-kauw!

Sesaat para tamu yang berada di atas puncak itu berdesah kecewa.

Tapi oleh karena yang datang kali ini juga bukan tokoh sembarangan di dunia persilatan, maka merekapun terpaksa memberi salam pula.

Hanya saja ketika semuanya kembali ke tempai duduk masing-masing, Kwa Eng Ki tetap berdiri di tempatnya.

Ketua Tai-bong-pai yang amat sakti itu menjura ke arah tuan rumah, kepada suami-isteri Yap Cu Kiat dan Beng Tian.

"Maaf, saudara Yap...saudara Beng, aku yang rendah terpaksa harus mengundur..."

"Sang Pangeran telah tiba!"

Mendadak terdengar suara teriakan pengawal yang berjaga di bawah, sehingga perkataan yang diucapkan oleh Kwa Eng Ki terhenti di tengah jalan dan menjadi urung untuk meminta diri.

Dua orang kakek berkepala gundul dengan kain kuning dilampirkan di atas pundaknya memimpin para pengawal yang mengiringkan seorang lelaki berpakaian mewah gemerlapan.

Para pengawal itu kemudian menyebar di pinggir arena pertemuan, sementara dua orang berkepala gundul itu segera mendekati lelaki berpakaian mewah tersebut dan mengiringkannya ke kursi yang telah tersedia.

Kemudian seperti sepasang anjing penjaga yang setia, keduanya berdiri di samping kursi itu.

"Pangeran..."

Yap Cu Kiat dan isterinya memberi hormat kepada lelaki itu, yang kemudian diikuti pula oleh tamu-tamu lainnya.

Pangeran Mahkota itu berdiri menyambut penghormatan mereka, lalu mempersilahkan semuanya untuk duduk kembali.

Lalu dengan suara yang halus dan berwibawa pangeran itu berkata kepada tamu-tamu yang diundangnya.

Kata-katanya lancar dan tegas, seolah-olah memang telah dipersiapkan sebelumnya.

"Cuwi sekalian...! Maafkanlah keterlambatan saya. Salah seorang dari tamu yang kami undang telah dilukai orang, sehingga saya terpaksa turun tangan mengurusnya. Untunglah luka itu belum terlambat. Tapi pendekar muda itu terpaksa harus beristirahat beberapa lamanya..."

Para tamu menghela napas.

"Mungkin ada beberapa orang dari tamu undangan kami yang tidak menyukai berlangsungnya pertemuan ini, sehingga mereka berusaha mengacaukannya."

Pangeran itu berkata lagi.

"Tapi tak apalah...Kami akan tetap meneruskan pertemuan ini! Apalagi kami menyadari, betapa sulit dan sukarnya mempertemukan tokoh-tokoh persilatan seperti tuan-tuan ini. Apabila hanya karena persoalan kecil seperti itu kita lalu menjadi gagal, niscaya kita takkan mampu berbuat yang besar lagi. Nah...oleh karena itu marilah kita buka saja pertemuan kita kali ini!"

"Hahahah...bagus...bagus! Itulah yang lohu inginkan. Pegal rasanya kalau disuruh menunggu terus menerus."

Put-ceng-li Lojin yang tidak sabaran itu berseru pula.

Semua yang hadir di tempat itu menoleh ke tempat Putceng-li Lojin, tidak terkecuali Tai-si-ong dan Song Kang yang baru datang.

Kedua tokoh Aliran Im-yang-kauw itu tampak kaget dan tegang melihat lawan mereka telah berada di tempat itu pula.

"Sayangnya lohu benar-benar tak mengerti dan merasa belum pernah mengenal dengan tuan yang menamakan diri Sang Putera Mahkota ini. Bangsat...! Sejak dari rumah otakku cuma dipenuhi dengan teka teki tentang nama itu! Sungguh penasaran!"

Ketua Bing-kauw itu berteriak lagi.

Mendengar umpatan Put-ceng-li Lojin, kedua orang pengawal berkepala gundul itu menjadi marah.

Keduanya beranjak dari tempatnya untuk melabrak mulut ketua Aliran Bing-kauw tersebut.

Tapi Sang Pangeran itu cepat-cepat mencegahnya.

"Jangan berkelahi! Biarlah Yap Lo-enghiong saja yang mengurusnya...!"

Katanya. Yap Cu Kiat berdiri dari tempat duduknya, setelah menerima isyarat Sang Pangeran. Dengan suara kaku tokoh dari Utara itu mengangguk ke arah Put-ceng-li Lojin.

"Kauwcu memang benar. Belum banyak orang yang mengenal putera mahkota dari mendiang Kaisar Chin Si ini! Hal itu disebabkan karena pangeran ini jarang sekali pergi keluar dari Kotaraja..."

Tiba-tiba Siang-houw Nio-nio yang berangasan itu ikut pula berseru dari tempat duduknya.

"Tapi bagi orang yang pernah ikut berjuang melawan pemberontak Chu Siang Yu di daerah perbatasan utara beberapa tahun yang lalu, tentu sudah mengenal beliau beserta sepak-terjangnya di dalam melawan pasukan asing! Meskipun keberangkatan beliau ke perbatasan itu adalah hasil tipu daya mendiang Perdana Menteri Li Su, tapi perjuangan beliau bersama Beng Tian Goanswe di sana takkan dapat dilupakan oleh rakyat banyak!Beliaulah sebenarnya yang benar-benar berhak menduduki singgasana kerajaan pada saat ini, karena beliaulah putera mahkota satu-satunya dari mendiang Sri Baginda Kaisar Chin Si. Beliaulah yang paling berhak mewarisi tahta ayahandanya, bukan Lui Pang bekas penyamun itu!"

Tempat itu menjadi hening untuk beberapa saat lamanya. Semuanya termangu-mangu memandang ke arah Pangeran Mahkota yang kehilangan kedudukannya itu. Beng Tian tampak bergeser maju pula.

"Sungguh betul apa yang baru saja diucapkan oleh Siang-houw Nio-nio itu. Cuwi semua tentu telah mengenalku. Aku yang rendah ini adalah bekas Panglima tentara Kerajaan Chin..."

Semua hadirin masih tampak berdiam diri. Sang Pangeran bangkit dari tempat duduknya. Tangan kanannya diangkat ke atas.

"Cuwi semua...! Cuwi telah mendengarkan kata-kata para pembantuku tadi. Oleh karena itu sekarang cuwi tentu sudah meraba di dalam hati, apa maksud kami mengundang cuwi semua ke sini..."

"Pangeran bermaksud...mengajak kami melawan Kaisar Han?"

Kwa Eng Ki bertanya lantang.

"Betul!"

Sang Putera Mahkota menjawab tegas.

"Ah, maafkan kami kalau begitu...!"

Kwa Eng Ki cepat-cepat menjura.

"Seperti yang telah diketahui oleh orang banyak, selama ini Tai-bong-pai tak pernah melibatkan diri ataupun ikut campur dalam urusan pemerintahan. Sejak nenek moyang kami mendirikan perguruan Tai bong-pai sampai sekarang, tak seorangpun ahli warisnya yang pernah terlibat dalam urusan negara. Maka sungguh sangat menyesal sekarangpun kami tak berani melanggar adat yang telah digariskan oleh leluhur kami itu"

Tai-si-ong dari Im-yang-kauw tiba-tiba berdiri pula dari tempat duduknya.

"Yap Eng-hiong (Pendekar Yap)...!"

Sapa ketua Aliran Im-yang-kauw itu halus.

"Bukannya kami mau mengekor atau ikut-ikutan menolak ajakan yang sangat bersahabat ini, tapi seperti juga halnya dengan Ketua Tai-bong pai tadi, kamipun tak ingin merusak anggapan masyarakat terhadap kami selama ini. Perkumpulan kami adalah sebuah perkumpulan yang bertumpu pada aliran kepercayaan, dimana maksud dan tujuan utamanya, adalah demi perdamaian dan kebahagiaan hidup manusia. Oleh karena itu apapun alasannya peperangan merupakan sebuah pantangan bagi aliran kami. Sebab peperangan itu hanya akan merusak kehidupan dan kedamaian manusia..."

"Hahaha! saudara Kwa, Tai-si-ong...kalian benar! Lohu juga sangat benci peperangan! Karena perang anak-isteriku mati! Karena perang aku jadi begini...hehehe...! Bangsat! Keparat!"

Put-ceng li Lojin tiba-tiba berteriak pula dengan kerasnya.

Semuanya menjadi tegang.

Orang-orang yang berada di pihak Sang Pangeran itu telah menjadi merah mukanya.

Para kepala suku yang liar dan kasar itu mulai mencengkeram senjata masing-masing.

Dan salah seorang dari kepala suku itu, bangkit dari tempat duduknya.

Tubuhnya yang tinggi besar tampak gemetaran menahan marah.

Orang itu melangkah ke depan sambil menyeret ruyungnya (penggadanya) yang besar sekali,sebesar paha orang itu.

"Picik! Pikiran kalian sungguh picik sekali!"

Orang itu juga berteriak tak kalah lantangnya dengan Put-ceng-li Lojin.

"Kalian hanya berpikir dari sudut kepentingan kalian sendiri saja, tanpa mempedulikan nasib orang lain yang menderita.Kalian saling berlomba-lomba menyebarkan ajaran aliran kepercayaan kalian yang cinta damai itu, sementara para penyamun yang berkuda menindas dan merampok di sekeliling kalian. Benarkah perbuatan kalian itu? Begitukah caranya engkau mendamaikan dan membahagiakan umat manusia di dunia ini?"

Orang itu melanjutkan kata-katanya dengan berapi-api.

Tai-si-ong dan Kwa Eng Ki terperangah.

Begitu pula dengan Put-ceng-li Lojin.

Cuma karena pembawaan watak mereka yang berlainan, maka cara mereka menanggapi dampratan itupun juga berbeda pula.

Ketua Tai-bong-pai yang berwatak kaku dingin dan tak kenal ampun itu tampak semakin pucat wajahnya.

Matanya yang bersinar dingin itu berkilat-kilat menyeramkan, mengandung hawa pembunuhan.

Mulutnya tetap terkatup rapat, tapi setiap orang sudah merasakan bahwa setiap saat tangannya bisa membunuh orang!

Berbeda dengan ketua Aliran Im-yang-kauw!

Sebagai seorang ketua dari sebuah aliran kepercayaan, yang setiap harinya bergelut dengan ajaran-ajaran agama, maka sikapnyapun kelihatan lebih lapang dan terkendali.

Meskipun perasaan dan hatinya juga sama-sama terbakar oleh ucapan kepala suku liar tersebut, tapi dia lebih dapat menahan dan menguasai kemarahannya.

Hanya sesaat wajahnya menjadi merah, tapi sebentar kemudian kembali biasa lagi.

Cuma mulutnya tampak meringis kikuk.

Lain pula dengan Put-ceng-li Lojin!

Orang tua itu hanya mengerutkan keningnya sebentar, kemudian menoleh dan tertawa kepada muridnya.

"Sim-sian, ke sini! kau, bangsat!"

"Ada apa, suhu?"

Tergopoh-gopoh Put-sim sian menghadap gurunya.

"Dengarlah, anak goblog! Ternyata ada juga orang yang mau berbantah dengan gurumu di sini. kau heran tidak?"

Put-sim-sian menggeleng.

"Apa yang mesti diherankan? Toh, hampir setiap hari kulihat suhu selalu bertengkar dan berkelahi dengan orang? Apanya yang aneh?"

"Hei? Apa yang kau katakan? Anak setan! Gila kau...! Berani kau...?"

Suara Put-ceng-li Lojin meninggi. Tapi sesaat kemudian, bagaikan orang yang baru sadar dari mimpinya, suaranya kembali menurun.

"Ahh...mungkin kau memang benar juga. Kenyataannya memang demikian. Kalau dihitung-hitung setiap harinya, lohu memang lebih banyak berkelahinya dari pada tidaknya. Apalagi musim-musim panas begini, mulut dan tangan ini rasanya selalu gatal dan ingin berkelahi saja..."

"Tapi sekarang suhu berada di tempat orang, suhu tak boleh berkelahi dan membunuh orang seenaknya sendiri,"

Put-sim-sian memperingatkan gurunya.

"Yaa...tapi tolong kau beritahukan kepadanya agar mau menahan diri dan tidak mencari gara-gara kepadaku!"

Enak saja kedua orang guru dan murid itu membicarakan kepala suku liar tersebut, seolah-olah keduanya tidak memandang sebelah mata sama sekali.

Tidak heran kalau ulah mereka itu membuat kepala suku liar tersebut menjadi tersinggung dan marah bukan buatan.

Sambil memutarmutarkan senjatanya di atas kepalanya orang itu menyerbu ke tempat Put-ceng-li Lojin.

Langkah kakinya yang besar-besar itu berdebam di atas tanah bagaikan gajah berlari.

"Tahan!"

Tiba-tiba Yap Cu Kiat berseru.

Tubuh orang tua itu melesat dari tempat duduknya dan menghadang di depan Put-ceng-li Lojin.

Kedua belah lengannya tampak merentang ke kanan dan ke kiri untuk mencegah agar kedua orang itu tidak jadi berkelahi.

Dan telapak tangannya menghembus angin yang Iuar biasa kuatnya, sehingga kedua orang yang dilerainya bagaikan tertahan oleh tenaga yang luar biasa kuatnya.

Kepala suku liar itu tampak berhenti dengan tiba-tiba bagaikan menabrak sebuah tembok baja, sementara Put-ceng li Lojin yang hendak bangkit berdiri itu tampak terduduk kembali dengan paksa bagai didorong oleh tenaga raksasa.

Untuk sesaat wajah ketua Bing-kauw itu menjadi pucat,matanya terbelalak!

Tapi sebentar kemudian wajahnya berubah menjadi merah kembali.

Bagaikan seorang yang menemukan benda kesayangannya orang tua itu berteriak kegirangan.

"Ha! Ini baru sebuah kepandaian benar-benar...!"

Tapi sebelum orang tua itu berbuat onar lebih Ianjut, muridnya telah lebih dahulu memperingatkan.

"Suhu, ingat! Kita sedang menjadi tamu di sini..."

Put-ceng-li Lojin yang telah bersiap untuk berdiri kembali itu menghela napas kecewa. Dengan lesu dia duduk kembali di tempatnya. Sepasang matanya yang kecil berkilat sekejap ke arah muridnya.

"Bangsat! Setan kecil! Jaga mulutmu...!"

Bentaknya gemas.

"Tahu begini tak kuajak kau ke tempat ini! Hmm, awas kau! Akan kuhajar sendiri kau nanti untuk melemaskan otot-ototku apabila malam ini tak ada orang yang mengajakku berkelahi."

"Suhu, kau gila...!"

Put-sim-sian tersenyum.

Tentu saja adegan itu membuat orang-orang yang hadir di dalam pertemuan itu menjadi heran.

Belum pernah rasanya selama ini mereka melihat watak-watak yang aneh dan sinting seperti ketua Bing-kauw dan muridnya itu.

Masakan ada seorang murid dan guru saling memaki demikian enaknya seperti kawan mainnya saja.

Padahal mereka adalah tokoh tokoh puncak dari sebuah aliran terkenal yang amat disegani orang!

"Sudahlah!

Sudahlah!"

Beng Tian yang semula hanya berdiri di pinggir arena itu ikut pula meloncat ke dalam kalangan.

"Marilah kita duduk kembali yang baik...! Kita berunding lagi secara baik-baik! Siapapun berhak untuk mengemukakan pendapatnya. Pertemuan kita ini adalah pertemuan yang bebas. Kita tidak akan memaksakan kehendak kita kalau saudara-saudara yang lain tidak menyetujuinya. Marilah...!"

"Bagus! Demikianlah seharusnya. Lohu setuju pendapat Beng Goanswe ini..."

Pek-i Liong-ong dari Aliran Mo-kauw, yang sejak tadi belum pernah membuka suara, ikut pula menyatakan pendapatnya.

Akhirnya suasana yang panas itu dapat didinginkan kembali.

Semuanya duduk lagi di tempat masing-masing.

Kepala suku liar itu terpaksa diam saja ketika bekas jendral Beng Tian itu menuntunnya kembali ke tempat duduknya.

"Sudahlah, saudara Kosang...! Tak perlu saudara layani kedua orang sinting itu. Demi Sang Putra Mahkota yang kita junjung tinggi, biarlah kita mengalah sekali ini."

Salah seorang kepala suku yang lain turut membujuk kepala suku yang marah tersebut.

"Hmm, orang tua itu memang sinting dan patut dikasihani. Mungkin dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sehingga dia lupa dengan siapa dia sedang berhadapan. Apa gunanya kepandaiannya itu bila berhadapan dengan anak buah kita yang beribu-ribu jumlahnya? Mungkin ia bisa membunuh sepuluh atau dua puluh orang kita, tapi selanjutnya...? Dia akan dicacah menjadi bakso!"

Seorang kepala suku yang lain lagi terdengar bergumam pula dengan geram.

Sang Putra Mahkota berdiri dari tempat duduknya.

Tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi untuk meminta perhatian para tamu yang hadir di dalam pertemuan tersebut.

Kemudian dengan suara jelas dan mantap ia berkata.

"Cuwi sekalian...! Seperti yang telah dikatakan oleh Beng Lo-Cianpwe tadi, pertemuan kita malam ini memang sebuah pertemuan yang bebas. Tidak ada paksaan ataupun keharusan untuk berbuat sesuatu yang tidak diinginkan oleh pihak-pihak yang tidak menyetujuinya. Semuanya bebas untuk menyatakan pendapatnya atau pergi dari sini apabila dia tidak menyukainya. Sekali lagi,saudara-saudara bebas untuk menentukan sikap!"

Hening.

Semuanya diam mendengarkan.

Hanya Put-ceng-li Lojin yang menoleh kesana kemari dengan meringis.

Ketua Aliran Bing-kauw itu hampir saja tertawa melihat wajah-wajah yang tegang di sekelilingnya.

Yap Cu Kiat berdiri pula dari tempat duduknya.

"...Dan maksud Pangeran mengadakan pertemuan ini adalah untuk memberi keterangan kepada saudara-saudara tentang duduk persoalan sebenarnya dari kemelut negeri kita sekarang ini. Siapakah sebenarnya Sang Pangeran yang kini berada di hadapan kita ini, dan siapakah sebenarnya Kaisar Han yang bertahta itu? Dengan keterangan itu kita akan dapat mengambil kesimpulan, siapakah sebenarnya yang berhak duduk di atas singgasana kerajaan...!"

"Dan apabila cuwi telah mengetahui duduk persoalannya, maka kami percaya cuwi tentu takkan segan-segan lagi membantu Sang Pangeran...!"

Siang-houw Nio-nio menyambung perkataan suaminya dengan penuh keyakinan. Semuanya tetap terdiam mendengarkan. Tak seorangpun yang berbicara ataupun menanggapi ajakan tersebut.

"Bagaimanakah pendapat saudara-saudara?"

Beng Tian bertanya sambil mengedarkan pandangannya.

"Aku dan seluruh rakyatku berdiri di belakang Sang Putera Mahkota!"

Kepala suku yang bernama Kosang itu berteriak sambil berdiri.

"Seluruh bala tentara suku Wei yang aku pimpin juga siap di belakang Sang Putera Mahkota!"

Kepala suku yang ikut menenteramkan hati Kosang juga berdiri.

"Bangsa Uighur juga siap untuk mengenyahkan Liu Pang!"kepala suku yang menggeram ketika melihat kesintingan Putceng-li Lojin tadi juga ikut berteriak pula.

"Kami juga!"

"Kami juga!"

Semua kepala suku yang berada di tempat itu akhirnya berdiri menyatakan kesediaan mereka untuk membantu perjuangan Putera Mahkota dalam merebut kembali haknya.

Bersama-sama dengan anak buah yang mereka bawa para kepala suku liar itu bersorak-sorak menyatakan dukungan mereka.

Sang Putera Mahkota mengangkat tangannya ke atas dan meminta kepada orang-orang itu agar tenang kembali.

Setelah itu Sang Pangeran dengan wajah gembira menyatakan perasaan terima kasihnya.

Tapi suasana gembira itu ternyata tidak dapat mereka nikmati dengan sepenuhnya.

Mereka segera menyadari bahwa beberapa orang di antara tamu-tamu itu hanya berdiri diam dan tidak bergembira seperti mereka.

Tamu-tamu tersebut, yang tidak lain adalah suami-isteri Kwa Eng Ki, Pek-i Liongong, Put-ceng-li Lojin, Tai-si-ong dan yang lain lagi cuma mengawasi kegembiraan mereka dengan kening berkerut.

Yap Cu Kiat cepat-cepat maju ke depan.

Dengan suara halus namun tegas orang tua itu bertanya kepada Pek-i Liongong, sahabatnya sejak masih muda dulu.

"Ouwyang Loheng (nama Pek-i Liong-ong adalah Ouwyang Kwan Ek), kita masih selalu bersahabat bukan? Bagaimanakah pendapat Loheng dalam hal ini?"

Ketua Aliran Mo-kauw itu berdesah dan tidak segera menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Sekilas matanya menatap Yap Cu Kiat, kemudian menunduk ke tanah.

"Saudara Yap, kukira persoalan ini bukanlah persoalan teman atau pribadi antara kau dan aku. Yang kalian sodorkan kepadaku ini adalah persoalan negara. Dan persoalan itu bukanlah persoalan kecil, tapi sebuah persoalan yang amat besar! Dan...sesungguhnyalah aku tak berani turut campur dalam urusan besar ini...!"

"Jadi...?"

Yap Cu Kiat mendesak.

"Kukira sudah jelas keteranganku. Apapun yang terjadi aku masih tetap sahabatmu. Tapi...persoalan ini bukan masalah sahabat atau bukan sahabat! Persoalan ini adalah persoalan negara, dan dalam hal ini aku tak bisa membantumu. Maafkan aku...!"

"Nah...apa kataku?"

Tiba-tiba Siang-houw Nio-nio menjerit.

"Sejak dulu sudah kukatakan kepadamu! Jangan bersahabat dengan perantau yang tak punya guna itu! Tidak ada manfaatnya! Nah, bagaimana sekarang...? Begitukah yang kau katakan sahabat sejati itu?"

Nenek yang berwatak keras dan berangasan itu berdiri marah-marah di depan Yap Cu Kiat, suaminya.

Kedua belah tangannya berkacak pinggang dan menuding-nuding ke arah Pek-i Liong-ong secara bergantian.

Tidak enak rasanya Pek-i Liong-ong melihat sahabatnya itu berbantah dengan isterinya hanya karena persoalan dirinya.Oleh karena itu dia segera mengajak kedua muridnya untuk meninggalkan tempat itu.

"Maafkan aku, saudara Yap..."

Ketua Aliran Mo-kauw itu menjura ke arah Yap Cu Kiat. Setelah itu lalu mengangguk ke arah Putera Mahkota, Beng Tian dan yang lain-lain.

"Berhenti...! Huh, enaknya! Jangan harap kau bisa pergi dari tempat ini dengan selamat!"

Tiba-tiba Siang-houw Nio-nio berteriak.

Suasana segera berubah menjadi tegang sekali.

Mata Pek-i Liong-ong dan kedua orang muridnya tampak berkilat-kilat,suatu tanda bahwa mereka telah mempersiapkan seluruh kesaktiannya.

"Hujin (isteriku), biarkan mereka pergi!"

Mendadak terdengar suara Yap Cu Kiat membentak keras sekali, sehingga puncak bukit itu seolah-olah bergetar.

Siang-houw Nio-nio terkejut sekali, sehingga kakinya meloncat surut dengan tergesa-gesa.

Mukanya yang berkeriput itu tampak pucat ketika memandang suaminya.

Bibirnya gemetar melihat kemarahan suaminya.

"Apa...apa maksudmu?"

Tanyanya gagap.

"Mengapa Hujin masih belum tahu juga? Biarkanlah saudara Ouwyang melakukan apa yang diinginkannya! Bukankah di muka telah kita katakan bahwa setiap orang bebas menyatakan pendapat menentukan sikapnya?"

"Tetapi..."

"Tak ada tetapi lagi! Segala sesuatunya tetap berjalan seperti yang telah ditetapkan!"

"Benar! Aku juga sependapat dengan Yap Eng-hiong..."

Bekas Jendral Beng Tian mengangguk-anggukkan kepalanya, menyetujui ucapan Yap Cu Kiat.

"Kita harus menghormati ketentuan yang telah kita sepakati sendiri."

Siang-houw Nio-nio tampak kecewa sekali.

Tapi dia sudah tidak bisa berkutik lagi.

Selain para kepala suku itu, semua kawan-kawannya tampaknya juga setuju pada ucapan suaminya tersebut.

Oleh karena itu dengan lesu wanita tua itu duduk kembali di tempatnya.

Hampir bersamaan Tai-si-ong, Put-ceng li Lojin dan Kwa Eng Ki juga berdiri dari tempat duduknya dan menjura ke arah Yap Cu Kiat dan Putera Mahkota.

Satu persatu mereka meminta diri dan menyatakan pendapatnya, bahwa mereka tetap tidak ingin mencampuri urusan tersebut.

Jilid 27 Yang terakhir, Pek-i Liong-ong juga berdiri dari tempatnya, diikuti oleh kedua orang pembantunya. Sambil menghela napas sesal orang tua itu berkata kepada Yap Cu Kiat, sahabatnya.

"Saudara Yap, maafkanlah aku...! Kali ini sahabatmu terpaksa mengecewakanmu. Tapi aku selalu tetap mengharapkan pengertianmu, bahwa urusan seperti ini benar benar di luar jangkauanku. Percayalah, di luar urusan seperti ini, aku tetap seorang sahabatmu yang siap berkorban apa saja demi persahabatan kita...!"

Yap Cu Kiat mengangguk.

"Silahkan pergi, saudara Ouwyang...! Terima kasih atas kesediaanmu mendatangi pertemuan ini."

Demikianlah satu-persatu tokoh-tokoh persilatan itu meninggalkan tempat tersebut, sehingga akhirnya tinggal para kepala suku liar itu saja yang berada di sana.

Mereka segera mengelilingi Sang Putera Mahkota dan berusaha membesarkan hatinya.

"Sungguh membuang-buang waktu saja. Dari mula aku sudah tidak setuju Pangeran mengundang orang-orang itu."

Kosang bersungut-sungut dengan suara keras.

"Benar. Orang-orang itu cuma hebat dalam pertempuran seorang lawan seorang! Dalam pertempuran besar di medan laga, kesaktian mereka takkan begitu berarti lagi!"

Kepala suku Wei yang berbadan pendek namun kekar itu ikut memberi komentar.

"Yaaa! Tapi maksud Pangeran, kalau kita dapat menarik mereka ke pihak kita, hal itu benar-benar sangat menguntungkan kita. Bagaimanapun juga kita harus mengakui bahwa orang-orang itu mempunyai kesaktian yang maha hebat. Satu orang saja dari mereka sama dengan seratus orang dari pasukan pilihan kita,"

Beng Tian menyahut.

"Sudahlah! Sejak semula Iohu memang telah merasakan bahwa pertemuan ini takkan membawa hasil seperti yang kita harapkan."

Yap Cu Kiat menghentikan gerutu mereka.

"Tapi karena Sang Pangeran masih tetap ingin mencobanya juga, maka terpaksa kita laksanakan pula."

Siang-houw Nio-nio bergegas bangkit dari tempat duduknya.

"Tetapi hal itu tak berarti kita akan mengurungkan rencana perjuangan kita, bukan?"

Sergapnya. Sang Pangeran cepat-cepat berdiri pula sambil melambaikan kedua tangannya.

"Ah, tentu saja tidak! Mengapa pula kita harus mengurungkan rencana kita? Tanpa merekapun kekuatan kita sungguh bukan main besarnya. Tak kalah bila dibandingkan dengan kekuatan Liu Pang dahulu. Betul tidak?"

"Benar! Sang Pangeran memang benar!"

Para kepala suku itu berteriak berbareng.

"Nah, sudahlah! Kita tak perlu memikirkan lagi pertemuan yang gagal ini! Aku memang hanya mencoba saja, kalau-kalau mereka itu dapat kita tarik ke pihak kita. Kalau tidak dapat...juga tidak menjadi soal! Toh kita telah mendapatkan gantinya yang lebih hebat dari pada mereka!"

"Mendapatkan orang yang lebih hebat dari pada mereka? Apakah maksud Pangeran...?"tukas Siang-houw Nio-nio tak mengerti. Sang Putera Mahkota itu tersenyum gembira. Suaranya penuh keyakinan akan keberuntungan yang didapatnya ketika ia menjawab pertanyaan pembantunya itu.

"Ah! Apakah Lo-Cianpwe sudah lupa kepada Honggi-hiap Souw Thian Hai itu? Dia telah berada di dalam cengkeramanku sekarang!"

"Di dalam cengkeraman Pangeran...? Bagaimanakah maksud Pangeran?"

Sekarang giliran Beng Tian yang bertanya dengan bingung.

"Maksud Pangeran pendekar muda itu telah bersedia membantu kita? Begitukah?"

Yap Cu Kiat ikut menegaskan. Pangeran itu mengangguk.

"Di muka telah kukatakan bahwa pendekar itu kutemukan terapung-apung di sungai dalam keadaan terluka dan keracunan. Setelah saya periksa ternyata pundaknya bengkak dan bernanah akibat terkena senjata beracun. Dan racun itu bukanlah racun sembarangan, sebab racun yang masuk ke dalam tubuhnya adalah racun katak api yang..."

"Racun katak api?"

Para kepala suku liar itu berteriak berbareng dengan wajah ngeri.

"Benar. untunglah aku menyimpan obat pemunahnya..."

"Darah ular salju?"

Yap Cu Kiat bertanya.

"Ya! Tapi sebagai imbalan atau balas jasa dari pengobatan itu Hong-gi-hiap harus bersedia mengabdi kepada keluargaku."

Pangeran itu tersenyum sambil membelai-belai kumisnya yang telah mulai ditumbuhi uban.

"Ohh!"

Yap Cu Kiat dan Beng Tian menghela napas.

Untuk pertama kalinya kedua orang itu kelihatan kecewa dan tidak senang hatinya.

Bagaimanapun juga mereka adalah tokoh-tokoh besar yang berjiwa ksatria, yang tidak menyukai hal-hal yang bersifat licik, pengecut dan rendah budi.

Apalagi memeras orang yang lagi berada di dalam kesukaran!

Demikianlah, pertemuan itu akhirnya bubar.

Pangeran itu minta kepada para pembantu-pembantunya agar mereka segera bersiap siap untuk mengerahkan kekuatan mereka.

Pangeran itu menginginkan agar perjuangan mereka lekas-lekas dimulai.

Begitulah seluruh kejadian sebenarnya yang terjadi pada diri Chu Bwee Hong, Souw Thian Hai dan yang lain-lain pada dua tahun lalu.

Tentu saja yang dituturkan oleh Chu Bwee Hong kepada kakak dan teman-temannya tidaklah selengkap dan sejelas itu.

Yang ia ceritakan hanyalah sebagian kecil saja dari seluruh cerita itu.

Yaitu mulai saat dia masuk perangkap orang berkerudung itu, sampai pada saat pertemuannya yang amat pendek dan mengecewakan dengan Souw Thian Hai, dan kemudian tahu-tahu telah berada di Pusat Aliran Bingkauw di daerah Kosan.

"Ketua Aliran Bing-kauw yang telah tua itu katanya telah menyelamatkan diriku dari kebuasan serigala yang hendak memangsaku. Dibawanya aku ke pusat perkumpulannya dan kemudian dirawatnya aku selama berbulan-bulan di sana. Sebenarnya aku sudah tak ingin hidup lagi. Apalagi ketika kusadari bahwa aku...aku berbadan dua! Tak tahan rasanya aku menanggung beban seberat itu!"

Chu Bwee Hong dengan suara lemah dan tersendat-sendat meneruskan ceritanya.

Semua orang yang mendengarkan cerita itu ikut bersedih dan meneteskan air matanya.

Souw Lian Cu yang masih merasa bersalah itu bahkan sudah tidak kuat lagi menahan kesedihannya.

Gadis itu langsung saja menubruk pangkuan Chu Bwee Hong dan menangis tersedu-sedu.

"Ciciii"

Kasihan sekali kau!"

Ratapnya.

Chu Bwee Hong menunduk, lalu membelai rambut yang hitam itu untuk beberapa saat lamanya.

Pikirannya segera tertuju kepada ayah dari gadis cantik berlengan buntung sebelah itu.

Tiba-tiba hatinya juga menjadi pilu bukan main!

"Thian Hai...!"

Desahnya hampir tak terdengar.

"Cici...?"

Ho Pek Lian menyentuh lengan Chu Bwee Hong perlahan, sehingga wanita ayu itu segera menyadari bahwa dia sedang bercerita tentang dirinya.

"Oh?! Maafkan aku...!"

Katanya kemudian dengan kikuk. Lalu perlahan-lahan dilanjutkannya ceritanya.

"Aku hampir tak pernah mau makan dan minum. Yang kuinginkan setiap saat hanyalah kedatangan Giam-lo-ong untuk menjemput nyawaku. Beberapa kali aku mencoba mengakhiri hidupku, tapi Put-ceng-li Lojin selalu mencegahnya. Bagaikan seekor anjing penjaga yang setia orang tua itu tak pernah lekang dari sampingku..."

Chu Bwee Hong menghentikan sebentar ceritanya. Wajahnya semakin menunduk.

"Sambil menjaga segala gerak-gerik dan keselamatanku, Put-ceng-li Lojin selalu membesarkan dan menasehati-hatiku. Dapat saja orang tua itu mengalihkan perhatianku, baik dengan tingkah lakunya yang konyol maupun dengan cerita ceritanya yang mengasyikkan. Kadang-kadang ia bercerita tentang kejadian-kejadian di dunia kang-ouw, kadang-kadang juga bercerita tentang keluarganya yang telah mati meninggalkan dirinya. Setiap hari ada saja yang diperbuatnya untuk menghibur kemurunganku. Malahan ia sempat pula menciptakan sebuah ilmu silat yang aneh dan menggelikan untukku..."

"Ilmu silat?"

Kwa Siok Eng menyela dengan heran. Chu Bwee Hong melirik ke arah calon iparnya itu, lalu mengangguk.

"Ya! Ilmu silat itu ia namakan Bidadari Bersedih.Aneh sekali, bukan? Tapi justru ilmu silat itulah yang dapat menggugah hatiku. Timbul semangatku untuk mempelajarinya. Maka ketika Put-ceng-li Lojin mengajakku untuk mempelajarinya, aku tidak menolaknya. Begitu bersemangatnya aku sehingga aku bisa melupakan kesedihanku..."

Chu Bwee Hong menghentikan lagi ceritanya. Dihelanya napasnya dalam-dalam sambil memandang kawan-kawannya. Lalu wajahnya kembali menunduk lagi dengan sedihnya.

"Kemudian tibalah saatnya aku harus melahirkan bayi terkutuk itu. Ingin rasanya aku mencekik anak itu! Ohh...! Ternyata aku tak tega melakukannya. Anak itu begitu mungilnya! Begitu tampan dan menyenangkan sehingga Putceng-li Lojin sendiri sampai jatuh hati terhadapnya. Anak itu digendongnya, disayangnya bagai cucu atau anaknya sendiri..."

Chu Bwee Hong terdiam kembali. Matanya yang bulat bening itu tampak berkaca-kaca.

"Tapi di mana aku harus menyembunyikan mukaku? Masakan seorang gadis yang belum kawin seperti aku telah mempunyai anak? Bagaimana kalau aku berjumpa dengan keluarga, sahabat atau handai-taulan nanti? Apa kata mereka terhadapku?"

Chu Bwee Hong melanjutkan kisahnya lagi.

"Maka ketika Put-ceng-li Lojin menyarankan agar aku kawin saja dengan dia untuk menolong muka dan nasib anak haram itu, aku segera menyetujuinya. Apalagi di dalam hati aku telah bertekad untuk tidak kembali lagi ke dunia ramai. Aku ingin hidup mengasingkan diri di tempat sunyi itu."

"Cici..."

Souw Lian Cu menengadahkan mukanya dengan sedih. Sedih sekali. Chu Bwee Hong segera menunduk. Diraihnya kepala gadis itu dan dibelainya bagai anaknya sendiri.

"Begitulah. Semuanya telah terjadi. Aku kini telah menjadi isteri ketua Aliran Bing-kauw..."

Wanita ayu itu mengakhiri kisahnya.

Kamar itu menjadi sunyi.

Tak seorangpun mengeluarkan suara.

Semuanya bagaikan terbius oleh kisah pengalaman Chu Bwee Hong dan ikut menjadi sedih dan pilu pula karenanya.

Ho Pek Lian dan Kwa Siok Eng beberapa kali tampak mengusap air matanya yang mengalir di atas pipi mereka masing-masing.

Sementara Chu Seng Kun tampak menatap wajah adiknya dengan hati tak karuan pula.

Beberapa kali pemuda itu tampak menghela napas panjang.

Wajahnyapun juga selalu tampak berubah-ubah.Sesaat tampak seperti orang yang amat menyesal dan sedih, tapi di lain saat berubah seperti orang yang sedang pepat, marah dan penasaran!

"Hek-eng-cu...Hek-eng-cu!

Iblis terkutuk kau!"

Akhirnya pemuda itu menggeram penuh dendam.Semuanya tersentak dari lamunan masing-masing. Mereka menoleh ke arah Chu Seng Kun dengan hati berdebar. Wajah pemuda itu tampak gelap dan kelam.

"Moi-moi, sudahlah...! Sekarang kita telah bersatu kembali, maka kau tak perlu terlalu bersedih lagi."

Kwa Siok Eng cepat-cepat menghampiri Chu Bwee Hong dan membujuk untuk mengalihkan suasana yang kaku itu.

"Benar, Hong-Cici...Marilah kau kami antar pulang kembali ke rumah. Nanti kita merundingkan bersama-sama, cara bagaimana mencari manusia keparat itu!"

Ho Pek Lian ikut membujuk pula. Chu Seng Kun bangkit dari tempat duduknya.

"Ya! Bwee Hong, sebaiknya kita memang pulang saja dahulu. Nanti kita pikirkan bersama cara yang lebih baik untuk membalas dendam kepada iblis itu,"

Katanya berat. Tapi Chu Bwee Hong cepat-cepat menggelengkan kepalanya. Wajahnya yang ayu itu tampak sedih luar biasa. Air matanya turun membasahi pipinya yang pucat.

"Maaf, Cici...Koko. Sekarang adikmu terpaksa tidak dapat mengikutimu lagi..."

Bisiknya pilu dengan kepala tertunduk.

"Huh? Kenapa...?"

Chu Seng Kun dan Kwa Siok Eng berseru kaget. Wajah yang pucat itu tertunduk semakin dalam. Suaranya hampir tak terdengar ketika menjawab.

"Maafkan aku, koko...aku kini sudah bukan seorang gadis yang masih merdeka lagi. Aku kini telah menjadi isteri orang. Oleh karena itu aku harus kembali ke tempat suamiku..."

"Kau gila! Jangan...! kau tidak boleh kembali ke tempat Put-ceng-li Lojin! Perkawinan itu tidak sah! Bukankah engkau tidak mempunyai perasaan cinta sama sekali terhadap orang tua itu? Bukankah perkawinan itu terjadi karena terpaksa oleh keadaan saja? Bukankah perkawinan kalian itu Cuma untuk menolongmu dari kecemaran saja?"

Chu Seng Kun melompat dan berteriak keras sekali.

Sepuluh jari-jarinya mencengkeram lengan adiknya dengan sangat penasaran.

Pemuda itu benar-benar tidak rela adiknya kawin dengan ketua Aliran Bing-kauw yang telah tua itu.Hampir saja Chu Bwee Hong terjengkang.

Wanita ayu itu tidak bisa menjawab.

Sekejap dia menatap kakaknya lalu tertunduk kembali.

Diraihnya kepala Souw Lian Cu yang berada diatas pangkuannya.

Air matanya semakin deras mengalir di atas pipinya yang putih pucat.

"Cici...!"

Gadis remaja itu ikut pula menangis, sehingga kedua-duanya lalu bertangis tangisan dengan sedihnya.

Chu Seng Kun sadar.

Saking kaget, bingung dan tegangnya ia sampai berteriak-teriak demikian kerasnya.

Tentu saja gadis yang sedang dirundung malang itu malah semakin bertambah kacau pikirannya.

Seharusnya ia bertindak lebih tenang meskipun hatinya sedang gelisah sehingga adiknya itu tidak menjadi semakin kaget dan bingung!

Maka Chu Seng Kun segera melepaskan tangannya dan perlahan-lahan duduk di samping adiknya.

"Maafkan aku, Bwee Hong...Tapi aku benar-benar tidak rela kalau kau kawin dengan orang tua itu..."

Bisiknya dengan sedih dan penasaran. Chu Bwee Hong semakin terisak-isak.

"Sekarang...sekarang persoalannya bukan tentang soal rela atau...atau tidak rela,"

Gadis itu berkata di antara sedu-sedannya.

"...Dan juga bukan tentang cinta atau tidak cinta. Persoalan yang kuhadapi adalah soal nasib dan membalas budi! Agaknya nasib telah menggariskan demikian, sebab tanpa kehadiran orang tua itu, aku tak mungkin bisa hidup sampai sekarang. Oleh karena jasa orang tua itu saja kini adikmu bisa bertemu dengan Koko dan sahabat-sahabat semua..."

"Yah...orang tua itu memang besar sekali jasanya. Tapi hal itu bukan berarti engkau harus berkorban sebesar itu."

Chu Seng Kun cepat-cepat menukas perkataan adiknya.

"Kau jangan lekas-lekas terjebak dalam persoalan nasib dan membalas budi itu! Coba kau pikirkan dengan seksama lebih dahulu...! Benarkah Thian telah menggariskan nasibmu seperti itu? Dan apakah pertolongan yang diberikan oleh orang tua itu mesti harus dianggap sebagai sebuah budi yang harus dibayar? Hmm...semuanya itu belum tentu, adikku. Kita harus mengkajinya terlebih dahulu sebelum kita menganggapnya demikian..."

Kwa Siok Eng memegang lengan calon iparnya.

"Apa yang dikatakan oleh kakakmu itu memang betul, Hong-moi...Pikirkanlah lagi dengan baik! Jangan gegabah dan sembarangan...!"

Chu Seng Kun melanjutkan perkataannya.

"Bagi kita orang Han, perkawinan itu benar-benar suci dan agung. Perkawinan bukan hal yang remeh dan sepele, sehingga dapat dilakukan begitu saja tanpa dipikirkan masak-masak terlebih dahulu. Perkawinan adalah hal yang sangat besar, yang akan kau jalani hampir sepanjang hidupmu. Di dalam perkawinan itu pula engkau akan mempertaruhkan seluruh kebahagiaanmu nanti. Oleh karena itu perkawinan itu harus dipikirkan dengan matang sebelumnya. Masing-masing harus dilandasi cinta kasih yang benar-benar tulus dan suci! Bukan hanya sekedar karena terpaksa atau membalas budi saja! Jikalau dasar dari perkawinan itu tidak kokoh, hemm...apakah gunanya hidup itu? Kelihatannya saja kau selamat dari kematian, tapi jiwa dan perasaanmu sebenarnya tak bedanya dengan orang mati. Apa gunanya itu? Semakin menambah penderitaan dan kesengsaraan, bukan?"

Chu Bwee Hong semakin tenggelam dalam kesedihannya.

Kini gadis itu tidak bisa menahan tangisnya.

Sambil memeluk kepala Souw Lian Cu dia menangis tersedu-sedu.

Terlihat benar betapa pilu dan sengsara hatinya.

"Koko...kau...kau belum mengetahui se...seluruhnya, uh-huuu...kau salah sangka terhadap...terhadap Put-ceng-li Lojin. kau tidak...tidak akan berkata demikian bila telah mengetahui yang...yang sebenarnya. Put-ceng-li Lojin benar-benar orang yang mulia. Sungguh mulia. Dia tidak sejelek yang kau sangka. Dia hanya betul-betul ingin menolongku. Dia hanya ingin menganggap anak haram itu sebagai anaknya. Sebenarnya tidak ada niatnya untuk mengawini aku...uh-huuuu!"

"Lalu...apa sebabnya kau ingin pulang kepadanya?"

Chu Seng Kun berseru tak mengerti.

"Ooooh...!"

Chu Bwee Hong berdesah tak bisa menjawab. Tiba-tiba terdengar suara langkah tergesa-gesa di luar pintu, kemudian terdengar pintu kamar tersebut diketok orang.

"Cici...Hong Cici!"

Terdengar suara Put-sia Niocu di luar pintu.

Chu Bwee Hong terkejut.

Cepat-cepat dia berdiri dan membersihkan air mata yang membasahi pipinya.

Otomatis semuanya kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.

"Cici...! Cepat bukakan pintunya! Suhu datang...!"

Semua yang berada di dalam kamar itu tersentak kaget.

Wajah mereka menjadi tegang, terutama Chu Seng Kun!

Pemuda itu bagaikan seekor jago yang hendak dipertemukan dengan lawannya!

Setelah berhasil membenahi dirinya Chu Bwee Hong bergegas melangkah untuk membuka pintu.

"Siau Put-sia, bersabarlah...!"

Katanya seraya membuka pintu.

Murid bungsu Put-ceng-li Lojin itu memandang Chu Bwee Hong dan orang-orang yang berada di dalam kamar dengan pandangan aneh.

Gadis itu seperti melihat sesuatu yang aneh pada wajah dan sinar mata mereka, sehingga gadis yang berpembawaan lincah dan gesit itu mendadak terdiam tak bisa berkata-kata.

"Put-sia, apa katamu? Suhumu datang kemari? Dimana dia?"

Chu Bwee Hong menepuk pundak gadis itu.

"Anu...eh, anu...suhu berada di belakang rumah, sedang bertengkar dengan Put...Put-ming-mo suheng!"

Put-sia Niocu menjawab dengan gagap.

"Hei, apa-apaan itu? Ayoh kita lerai mereka!"

Chu Bwee Hong mengangguk ke arah kakak dan sahabat-sahabatnya, lalu bergegas pergi mengikuti Put-sia Niocu.

Chu Seng Kun dan kawan-kawannya menghela napas dan tak bisa berbuat apa-apa.

Apa mau dikata, gadis itu telah memilih jalan hidupnya sendiri!

Belum juga hilang suatu langkah kaki Chu Bwee Hong di belakang, tiba-tiba dari kamar depan terdengar pula suara langkah kaki seseorang menuju kamar itu.

Chu Seng Kun cepat melangkah keluar, tapi di depan pintu hampir saja ia bertabrakan dengan Hong-luikun dan adiknya Yap Tai-Ciangkun.

"Ah, saudara Yap...ada apa?"

Chu Seng Kun menyapa lebih dahulu.

"Saudara Chu, marilah cepat,...! Hongsiang terluka!"

Yap Kiong Lee berseru seraya menarik lengan Chu Seng Kun.

"Heh? Hongsiang terluka? Di..., di mana...?"

"Benar! Sekarang ada di kamar depan ditunggui Pek-i Liong-ong dan saudara Yang Kun."

"Yang Kun...?"

"Ya! saudara Yang Kun tadi datang dengan membawa tubuh Hongsiang yang terluka."

"Ohhh!"

Seng Kun bergegas mengikuti kedua orang bersaudara itu, meninggalkan Kwa Siok Eng, Ho Pek Lian dan Souw Lian Cu di dalam kamar.

Mereka melangkah dengan tergesa-gesa bagaikan dikejar setan.

Peristiwa itu benar-benar amat mengejutkan mereka.

Hongsiang terluka di tempat yang begini terpencil, tanpa sepengetahuan pengawal maupun pasukannya.

Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Didepan pintu telah berderet-deret para perwira dan para anggota Sha-cap mi-wi, Chin Yang Kun yang telah dikenal oleh Chu Seng Kun itu telah berdiri pula diantara mereka.

Pemuda sakti itu tampak kurus badannya, tapi sinar matanya tampak semakin mencorong menakutkan.

Chu Seng Kun mengangguk kepada Chin Yang Kun.

"Selamat bertemu kembali, saudara Yang Kun..."

Sapanya ketika melewati pemuda sakti tersebut.

Kaisar Han duduk bersandar di kursi panjang dikelilingi oleh beberapa orang anggota Sha-cap mi-wi dan Gui-Goanswe.

Mukanya yang penuh cambang dan jenggot iiu tampak pucat.

Meskipun begitu ketika melihat kedatangan Chu Seng Kun mulutnya tertawa gembira seperti tidak ada terjadi apa-apa pada dirinya.

"Hahaha...selamat berjumpa lagi, saudara Chu! Apa khabar?"

"Baik sekali, Hongsiang. Terima kasih...! Dan...bagaimana dengan kesehatan Hongsiang?"

"Hahah...jangan khawatir! Aku tidak apa-apa. Cuma luka sedikit saja, hahaha..."

"Eh...bolehkah hamba memeriksanya sebentar?"

Dengan hati-hati Chu Seng Kun menghampiri Kaisar Han.

"Hah...?"

Kaisar Han mengerutkan keningnya, lalu katanya.

"...Ah, kalian ini memang suka sekali merepotkan diri. Aku benar-benar tidak apa-apa. Tapi kalau saudara Chu ingin memeriksa juga...silahkan!"

Chu Seng Kun membungkuk dan menyatakan terima kasihnya, lalu bergegas menyingsingkan lengan baju Kaisar Han dan memeriksa urat nadinya.

Setelah itu dibukanya baju di bagian dada untuk memeriksa denyut jantung dan pernapasan Baginda.

Setelah itu dengan sangat teliti Chu Seng Kun memeriksa seluruh bagian tubuh lainnya.

"Bagaimana saudara Chu? Ada sesuatu yang tidak beres di dalam tubuhku?"

Kaisar Han bertanya dengan mulut tersenyum. Chu Seng Kun tersenyum pula seraya membenahi kembali pakaian Kaisar Han.

"Yah, memang Cuma luka kecil saja di dalam dada akibat pukulan Iweekang tinggi,"

Jawab pemuda itu memberi keterangan.

"Dalam beberapa hari luka itu akan sembuh dengan sendirinya."

"Nah! Apa kataku...? Tidak apa-apa, bukan? Kalian semua ini memang terlalu berprasangka saja...!"

Kaisar Han menggerutu sambil memandang ke arah para perwira dan para pengawal yang mengelilinginya.

"Maaf, Hongsiang...luka itu memang tidak akan berbahaya bagi kesehatan Hongsiang karena dengan kekuatan Iweekang Hongsiang sendiri luka itu akan segera sembuh. Tapi untuk menyingkat waktu, sebaiknya Hongsiang minum obat yang akan hamba buat nanti..."

Chu Seng Kun cepat-cepat memotong perkataan Kaisar Han.

"Apa...? hahaha...baiklah! Baiklah! Ternyata engkaupun masih mengkhawatirkan luka kecil itu pula."

Chu Seng Kun tersenyum dengan muka tertunduk, lalu bergegas meminta diri untuk membuat obat yang ia janjikan itu.

Di luar pintu pemuda itu telah dinantikan oleh Chin Yang Kun, Yap Kiong Lee dan para perwira lainnya.

Dengan tergesa-gesa mereka menanyakan keadaan kesehatan Baginda.

Tentu saja Chu Seng Kun menjawab pula seperti apa yang telah ia ucapkan di depan Kaisar Han tadi.

Tetapi ketika ia tinggal bertiga saja dengan Chin Yang Kun dan Yap Kiong Lee, Chu Seng Kun mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.

"Kelihatannya luka itu memang tidak berbahaya. Tapi kalau kita tidak lekas-lekas mengobatinya, luka itu setiap saat akan dapat membunuhnya...!"

Pemuda itu berkata serius.

"Hah?"

Yap Kiong Lee dan Chin Yang Kun tersentak kaget.

"Ya! Agaknya Hongsiang telah berkelahi dengan seseorang yang amat lihai dan terkena pukulan pada dadanya. Pukulan yang mengandung lweekang tinggi itu memang seperti tidak berakibat apa-apa. Apalagi bekas pukulan itu juga tidak tampak pada dada Baginda. Tetapi luka itu sebenarnya sangat berbahaya. Sewaktu-waktu dapat membunuh Baginda. Sebab jaringan daging di bawah kulit, yaitu di dekat jantung Baginda, telah rusak dan membusuk!"

Yap Kiong Lee meloncat dan menerkam lengan Chu Seng Kun.

"Jadi...?"

Bisiknya dengan suara gemetar.

"Jangan khawatir! Masih belum terlambat! Aku akan berusaha menyembuhkannya..."

"Oh, terima kasih. saudara Chu...Untunglah kau berada di sini, kalau tidak...apa jadinya dengan Hongsiang itu."

Yap Kiong Lee bernapas lega.

Bagaimana Chin Yang Kun tiba-tiba berada di tempat yang terpencil itu bersama Kaisar Han?

Apakah sebenarnya yang terjadi?

Siapakah yang melukai Kaisar Han?

Dan bagaimana mereka berdua bisa bertemu dan sampai di tempat tersebut?

Untuk mengetahui kisahnya, marilah kita mundur kembali mengikuti perjalanan Chin Yang Kun setelah pertemuannya dengan Keh-sim Siauwhiap di rumah Pendekar Li beberapa hari yang lalu.

Seperti telah kita ketahui, malam itu Chin Yang Kun bergegas pergi ke kota Sin-yang untuk mencari Thio Lung.

Pemuda itu ingin bertanya kepada orang itu tentang kejadian sebenarnya yang terjadi di rumah bergenting merah pada malam naas itu.

Kota Sin-yang kira-kira ada limaratus li jauhnya dari Ho-ma-cun.

Untuk mencapai tempat itu Chin Yang Kun harus mendaki pinggiran bukit Tai-hang-san dan melalui kota-kota kecil seperti Poh-yang, Ko-tien dan Yu-tai.

Kalau malam ini Chin Yang Kun bisa melintasi bukit Tai-hang-san itu, pagi hari besok dia dapat makan pagi di kota Poh-yang.

Dan apabila di kota kecil itu ia bisa mendapatkan seekor kuda, maka sore harinya ia akan bisa mencapai kota Sin-yang.

Tapi kalau dia tidak bisa memperoleh kuda di kota Poh-yang, ia harus berjalan kaki lagi sejauh seratus lie untuk mencapai kota berikutnya, Ko-tien.

Kota ini agak lebih besar dari pada kota Poh-yang, sehingga kesempatan untuk mendapatkan kuda juga akan lebih besar pula.

Cuma dengan begitu kedatangannya di Sin-yang akan terlambat pula.

Karena ingin lekas-lekas sampai di tempat tujuannya, maka Chin Yang Kun sengaja tidak beristirahat malam itu.

Dia ingin segera berada di kota Poh-yang keesokan harinya.

Lebih baik ia mengaso dan beristirahat di kota tersebut sambil mencari kuda tunggangan di sana.

Tetapi tiba-tiba Chin Yang Kun teringat bahwa ia tak membawa uang sepeserpun.

Jangankan untuk membeli kuda, untuk membeli semangkuk bubur buat sarapan pagi besokpun ia tak punya.

Chin Yang Kun mengendorkan langkahnya lalu berjalan seenaknya.

Mulutnya tersenyum kecut memikirkan keadaannya.

Sungguh celaka benar nasibnya, seorang cucu bekas Kaisar Chin yang kaya-raya sampai jatuh miskin demikian sengsaranya.

Masakan membeli buburpun sudah tak bisa lagi!

Embun malam semakin pekat menyelimuti bumi, membuat Chin Yang Kun sebentar-sebentar harus membetulkan letak bajunya.

Dinginnya bukan kepalang!

Ketika memandang ke arah timur Chin Yang Kun melihat Bintang Pagi telah memancarkan sinarnya yang gilang gemilang.

Beberapa saat lagi fajar akan segera tiba.

"Ah, hari telah menjelang pagi...dan aku masih berada disini. Padahal aku masih harus mendaki punggung bukit Tai-hang-san."

Pemuda itu berkata di dalam hati.

Lalu dengan sedikit berat pemuda itu berlari kembali.

Bukit yang merupakan bagian dari Pegunungan Tai-hang-san yang amat panjang dan luas itu telah tampak di depan matanya.

Untunglah tempat yang dilalui oleh Chin Yang Kun itu merupakan sebuah tanah tinggi yang hanya terdiri dari tanah berbatu dan rumput-rumput ilalang di sana-sini, sehingga dengan mudah ia bisa mencari jalan lintas yang lebih dekat.

Beberapa kali tampak pemuda itu melompati jurang dan tebing bagaikan seekor burung garuda mementang sayap.

Maka tidak heran kalau dalam waktu sekejap saja pemuda itu telah berada di kaki bukit yang dituju.

Bukit itu juga tidak begitu terjal dan sukar, sehingga dengan mudah Chin Yang Kun dapat mendakinya sambil berlari-lari kecil.

Meskipun demikian ketika pemuda itu sampai di atas, langit telah mulai memerah oleh sinar matahari yang akan muncul.

Sungguh suatu pemandangan yang amat menakjubkan!

Chin Yang Kun berhenti beberapa saat lamanya di puncak bukit.

Dinikmatinya pemandangan indah yang terhampar di bawah kakinya.

Lembah yang dalam dikelilingi bukit-bukit, dengan tebing-tebing tinggi yang ujungnya tampak memerah.

Jurang-jurang kecil yang berkelok-kelok kegelapan, sementara lereng-lerengnya tampak berkilauan menerima pantulan sinar mentari pagi.

Jauh di bawah, di tengah-tengah lembah tampak bangunan-bangunan kecil yang berkelompok di tanah datar yang luas.

Itulah kota Poh-yang.

Kota kecil yang berpenduduk padat.

Selain beternak, penduduk kota Poh-yang rata-rata mencari penghasilan dengan berdagang.

Itulah sebabnya meskipun masih pagi sekali, Chin Yang Kun telah melihat kesibukan yang luar biasa di dalam kota itu.

Beberapa orang tampak telah mengeluarkan domba-domba mereka dari kandangnya, dan membawa binatang-binatang itu ke padang-padang rumput di kaki bukit.

Pedagang-pedagang sayur juga telah keluar membawa dagangannya.

Mereka mengangkat dagangannya di atas pedati-pedati kecil atau di atas punggung-punggung keledai mereka.

Lalu tiba-tiba Chin Yang Kun teringat pada sebuah lembah pula, tempat di mana dia dan seluruh keluarganya menyembunyikan diri selama ini.

Lembah itu juga sangat indah pula seperti ini.

Setiap pagi ia juga naik ke atas bukit bersama paman bungsunya untuk berlatih silat dan melihat panorama pagi.

Kadang-kadang sampai siang dia dan paman bungsunya baru pulang.

Kalau mereka pulang tidak terlalu siang, sering kali ia dan paman bungsunya ikut membantu ayahnya, memberi latihan silat kepada para pelayan keluarga mereka.

Atau kadang-kadang ia biarkan saja paman bungsunya membantu ayahnya sendirian, sementara ia sendiri pergi ke belakang menolong ibunya menyiapkan makan mereka.

Chin Yang Kun tiba-tiba menundukkan kepalanya dengan sedih.

Kini semua orang yang dicintainya itu telah tiada.

Satu-persatu mereka meninggalkan dirinya sehingga kini ia menjadi sebatangkara di dunia ini.

Tiba-tiba rindu sekali rasanya hati Chin Yang Kun pada lembah yang menjadi tempat tinggalnya itu.

Ingin sekali rasanya dia melihat kembali dan mengenangkan masa-masa bahagianya bersama keluarga dan paman bungsunya.

"Baiklah, setelah menyelesaikan semua urusan di Sin-yang, aku akan singgah sebentar di lembah itu. Toh aku juga akan melewatinya pula kalau aku pergi ke pantai timur nanti..."

Pemuda itu berdesah perlahan tatkala dia teringat pula akan janjinya kepada Souw Lian Cu untuk datang ke Pulau Meng-to pada tanggal lima nanti.

Teringat akan gadis itu Chin Yang Kun segera menjadi bersemangat kembali.

Entah mengapa wajah gadis cantik berlengan buntung itu selalu melekat di pelupuk matanya.

Wajahnya yang selalu tampak sedih dan pilu itu rasa-rasanya selalu mengundang perasaan simpatinya saja, seolah-olah dia dan gadis itu memang telah ditakdirkan untuk sama-sama menderita di dunia ini.

Sekali lagi Chin Yang Kun berdesah perlahan, lalu selangkah demi selangkah kakinya mulai menuruni bukit yang terjal itu ke kota Poh-yang.

Di kaki bukit dia berpapasan dengan beberapa orang penggembala yang berangkat menuju ke padang rumput bersama-sama dengan ternak mereka.

Orang-orang itu menatap Chin Yang Kun dengan pandang mata asing dan curiga.

Tapi Chin Yang Kun tidak mempedulikannya.

Perlahan-lahan pemuda itu tetap melangkahkan kakinya menuju kota Poh-yang.

Semakin dekat dengan kota Poh-yang semakin banyak pula orang yang dijumpainya.

Malahan ketika ia telah menginjakkan kakinya di jalan besar yang menuju ke arah kota, disana telah banyak para pejalan kaki yang lalu lalang keluar masuk kota.

Mereka melangkah dengan tergesa-gesa membawa dagangan atau hendak mengurus keperluan mereka masing-masing.

Chin Yang Kun segera membaurkan diri di antara orang orang itu.

Ia berjalan di belakang dua orang penunggang kuda yang menuju ke arah kota.

Kedua orang itu membiarkan kudanya berjalan perlahan-lahan di antara para pejalan kaki yang banyak itu.

Sebentar sebentar mereka membunyikan cambuk mereka untuk mencari jalan.

Matahari pagi tampak mulai memancarkan sinar sepenuh penuhnya, sehingga dari belakang Chin Yang Kun bisa lebih jelas melihat potongan kedua orang penunggang kuda tersebut.

Mereka menutupi badan mereka dengan mantel lebar untuk menahan hawa dingin.

Agaknya mereka baru saja datang dari perjalanan yang jauh.

"Semalam suntuk kita berada di punggung kuda. Hampir patah rasanya pinggangku ini,"

Tiba-tiba salah seorang di antara kedua penunggang kuda itu berkata sambil meliukkan badannya ke kiri dan ke kanan.

"Yah, kalau tidak karena panggilan burung merpati itu akupun enggan datang pula ke kota ini. Hmm, ada apa rupanya...? mungkinkah waktunya telah tiba?"

Yang lain menyahut dengan suara bersungguh-sungguh.

"Entahlah. Kelihatannya memang demikian. Rasanya bosan juga kalau mesti menunggu terus-menerus. Bisa rusak semangat anak buah kita nanti..."

Mereka tiba di sebuah perempatan jalan.

Tiba-tiba dari arah kanan meluncur tiga orang penunggang kuda pula, yang dengan tergesa-gesa membelokkan kuda mereka ke arah kota.

Debu mengepul tinggi, membuat para pejalan kaki lainnya buru-buru menyingkir dengan mulut mengumpat umpat!

"Hei...bukankah orang itu...Keng Si Yu?"

Penunggang kuda yang berada di depan Chin Yang Kun itu berdesah agak keras.

"Kelihatannya memang Keng Si Yu dari kota Lok-yang dan anak buahnya,"

Kawannya mengangguk-angguk mengiyakan.

"Ah, tampaknya semua pimpinan memang dipanggil kemari."

Chin Yang Kun berjalan dengan kening berkerut.

Perasaannya membisikkan bahwa pasti ada sesuatu yang akan terjadi di kota Poh-yang.

Tetapi dia tak bisa menebaknya, apakah sesuatu yang akan terjadi itu...Mendadak mereka dikagetkan lagi oleh suara telapak kaki kuda di belakang mereka.

Lima orang penunggang kuda berbondong-bondong mendahului mereka.

Rata-rata wajah mereka tampak kusut dan lelah pula.

Mereka tidak tampak tergesa-gesa seperti ketiga penunggang kuda tadi, tapi karena kuda mereka melangkah dengan cepat maka sebentar saja telah jauh meninggalkan tempat itu pula.

"Bukankah orang yang berpakaian biru tadi adalah pemimpin dari Kang-lam? Masih ingatkah kau padanya?"

Sekali lagi Chin Yang Kun mendengar orang yang berada di depannya itu berbisik ke arah kawannya.

"Ya, aku masih ingat. Dan yang berada di sebelahnya tadi kalau tak salah adalah pemimpin dari daerah Nam-keng."

Chin Yang Kun semakin berdebar-debar hatinya.

Pasti ada pertemuan besar di kota Poh-yang.

Pertemuan yang melibatkan orang-orang penting dari seluruh pelosok negeri.

Mungkin pertemuan yang diadakan oleh orang-orang persilatan, menilik yang datang itu adalah orang-orang yang menyandang senjata semua.

Memperoleh dugaan demikian Chin Yang Kun menjadi sangat tertarik.

Sebagai orang yang sangat menyukai ilmu silat dia ingin juga mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh orang-orang itu.

Maka dengan hati-hati ia mengikuti terus kedua penunggang kuda di depannya.

Mereka masuk kota Poh-yang.

Sebuah kota kecil yang bukan main ramainya.

Sepagi ini di jalan raya telah sibuk dengan pedagang dan orang-orang yang lalu-lalang di atasnya.

Para pedagang itu menawarkan dagangannya dengan suaranya yang keras, kadang-kadang disertai bunyi bunyian untuk menarik para pembeli sehingga suara-suara mereka terdengar ribut sekali.

Kedua orang penunggang kuda itu meminggirkan kuda mereka, kemudian berhenti di muka sebuah warung atau restoran kecil sehingga Chin Yang Kun buru-buru menepi pula sambil berpura-pura membetulkan letak tali sepatunya.

Ketika pemuda itu melirik dilihatnya dua orang penunggang kuda itu menambatkan kudanya dan masuk ke dalam restoran.

Sebentar kemudian tercium bau masakan yang sedap ke dalam hidung Chin Yang Kun, membuat pemuda itu merasa lapar dengan mendadak.

"Busyet! Aku tak mempunyai uang sama sekali. Bagaimana aku bisa makan di restoran?"

Sungutnya dengan mulut meringis.

"Hmm, engkau tak mempunyai uang untuk makan hari ini? Mengapa engkau tak mau bekerja keras untuk mendapatkannya?"

Tiba-tiba Chin Yang Kun dikejutkan oleh suara orang di belakangnya.

Chin Yang Kun menoleh dengan cepat.

Dilihatnya seorang pemuda tampan dan halus berdiri tak jauh di belakangnya.Pemuda tampan ini berdiri di samping sebuah pedati kecil yang bermuatkan sebuah kotak kayu besar persegi empat.

Begitu tergesa-gesanya ia tadi sehingga ia tidak begitu memperhatikan kalau ia berada di dekat pedati tersebut.

Tentu saja si pemuda tampan yang sejak semula memang telah berada di tempat tersebut tahu belaka semua gerak gerik yang dilakukannya.

"Maksud... eh, apakah maksud saudara?"

Chin Yang Kun tersipu-sipu seperti seorang gadis yang ketahuan rahasianya. Apalagi dilihatnya pemuda tampan di depannya itu berpakaian indah gemerlapan.

"Hmm, kudengar saudara tadi berkata bahwa tidak mempunyai uang untuk membeli makanan di restoran. Maka kukatakan kepada saudara, mengapa tidak mau bekerja keras untuk mendapatkannya? Mengapa saudara cuma berpangku tangan saja di tempat ini? Mana mungkin uang akan datang sendiri?"

Pemuda tampan itu berkata lagi.

Chin Yang Kun terdiam dengan mulut tersenyum kecut.

Malu sebenarnya hatinya kepada pemuda itu.

Masakan cucu bekas Kaisar bepergian tanpa mengantongi uang sepeserpun?

"Lalu...

apa yang mesti kuperbuat?

akhirnya Chin Yang Kun bertanya untuk mengurangi rasa kikuknya.

"Kalau kau mau, bantulah aku membawa pedati ini... Nanti kalau telah selesai aku akan memberimu uang sebagai imbalannya. Bagaimana?"

"Mau dibawa ke mana pedati ini...?"

Chin Yang Kun bertanya hambar.

Berat nian rasanya kalau harus mengerjakan pekerjaan itu.

Masakan dia harus menjadi tukang penarik pedati hanya untuk membeli makan pagi saja?

"Tidak jauh.

Cuma ke kuil yang berada di pinggir kota itu.

Bagairnana?"

"Sebegitu dekatnya? Mengapa tidak saudara bawa sendiri saja?"

Chin Yang Kun mengernyitkan dahinya. Pemuda tampan itu tersenyum.

"Aku hendak memberikan hadiah kepada seseorang. Masakan aku harus mernbawanya sendiri?"

Chin Yang Kun menatap pemuda itu beberapa saat lamanya, lalu akhirnya mengangguk.

"Baiklah! Akan kubawakan pedatimu..."

Pemuda tampan itu kelihatan gembira.

"Terima kasih. Marilah...!"

Chin Yang Kun mengambil topi bambu yang berada di atas pedati, lalu dengan hati berat memakainya di atas kepala.

Perlahan-lahan dihelanya pedati tersebut ke jalan raya, sementara pemiliknya yang tampan itu mengikutinya dari belakang.

Bersama-sama mereka menyuruk dan menerobos keramaian lalu-lintas, menuju ke pinggiran kota ke arah kuil.

Chin Yang Kun membenamkan topinya lebih dalam lagi, sehingga matanya hampir-hampir tertutup sama sekali.

Beberapa saat lagi kuil itu akan kelihatan dan ia akan segera mendapatkan upahnya.

Setelah itu ia akan segera kembali ke restoran untuk mengikuti ke dua orang penunggang kuda itu lagi.

"Hmm. Berapa ya upahnya nanti...?"

Pemuda itu tersenyum kecut di dalam hati.

"Eh, namamu siapa...?"

Tiba-tiba pemuda tampan itu bertanya, sehingga mengagetkan Chin Yang Kun.

"Eh aku? Ehm, namaku... Yang Kun!"

Chin Yang Kun menjawab gagap.

"Yang Kun?"

Pemuda tampan itu mengulang.

"Kau tentu bukan orang sembarangan sebenarnya... kulihat sinar matamu sangat tajam, sikapmu juga halus... Kau seperti seorang pendekar dari dunia persilatan. Mengapa kau mau menarik pedatiku?"

Chin Yang Kun tersentak kaget. Hampir saja kakinya terantuk batu. Otomatis ia menghentikan langkahnya, lalu dengan wajah bingung ia menoleh.

"Aa... apa maksudmu? Mengapa... bertanya seaneh ini?"

"Ohh, maaf... maaf! jangan melotot begitu!"

Pemuda tampan itu buru-buru mengangkat tangannya ke depan.

"Aku... aku hanya menduga-duga saja. kau jangan marah...!"

"Hmmh...!"

Chin Yang Kun berdesah dan mengendorkan otot-ototnya kembali. Lalu diambilnya tangkai pedatinya dan ditariknya lagi. Sambil berjalan ia bertanya.

"Mengapa saudara berprasangka begitu?"

Pemuda tampan itu mempercepat langkahnya dan berjalan di samping Chin Yang Kun.

"Maafkanlah aku, saudara Yang..."

Bisiknya perlahan.

"Jelek-jelek aku ini pernah juga... mendalami ilmu silat. Oleh karena itu sedikit-sedikit aku dapat juga melihat dan membedakan kepandaian orang. Menurut aku... kau demikian tenang dan percaya pada diri sendiri. Gerak-gerikmu juga amat lemas dan tangkas, apalagi sinar matamu demikian terang dan tajam. Maka aku lantas menduga bahwa kau tentu bukan orang sembarangan. Paling tidak kepandaian silatmu tentu tinggi sekali..."

Chin Yang Kun tertawa perlahan. Pemuda ini demikian polos dan menyenangkan, membuat hatinya yang kaku itu sedikit mencair.

"Kau ini ada-ada saja, saudara... ah, siapakah nama saudara ini?"

Tanyanya kepada pemuda tampan itu.

Pemuda tampan itu tidak segera menjawab, sambil menghela napas panjang pemuda itu mendongakkan kepalanya ke langit.

Dipandangnya burung-burung yang beterbangan di udara.

"Ahh... apalah artinya sebuah nama. Sudah lama aku tak mengingatnya lagi,"

Katanya seperti berpantun.

"Yang kuingat sekarang hanyalah nama pemberian orang-orang kang-ouw kepadaku, yaitu... Toat-beng-jin!!"

"Grobyaaaag!"

Kali ini kaki Chin Yang Kun benar-benar terantuk batu saking kagetnya. Pegangannya lepas sehingga ia hampir terjatuh dan pedatinya hampir terjungkal.

"Hah? Kau kenapa...?"

Pemuda tampan yang mengaku bernama Toat-beng-jin itu berseru seraya memegangi lengan Chin Yang Kun.

Tapi sekilas tampak senyumnya yang aneh dan mencuricakan, walaupun cepat-cepat ditutupinya ketika Chin Yang Kun yang kaget itu menatapnya.

"Apa katamu? Toat-beng-jin? Apa apakah kau bergurau? Kau mau muu mempermainkan aku?"

Sukar sekali rasanya Chin Yang Kun mengeluarkan kata-katanya. Matanya melotot menatap pemuda tampan itu.

"Hei, tenang! Jangan menatap aku seperti itu! Lihat! Orang-orang pada melihat ke arah kita...!"

Pemuda tampan itu berbisik sambil melirik ke sekitar mereka. Chin Yang Kun menoleh. Dilihatnya orang-orang pada memperhatikan dirinya. Malah beberapa orang tampak berhenti mengawasi mereka.

"Hmmh!"

Geramnya sambil mengambil tangkai pedatinya kembali. Lalu dengan kasar ditariknya kereta barang tersebut ke depan, untuk meneruskan perjalanan mereka.

"Hai, mengapa kelihatannya engkau marah kepadaku? Apa salahku?"

Pemuda tampan itu mengejar dan berjalan kembali di samping Chin Yang Kun.

Air mukanya tampak bingung, seolah-olah tak mengerti apa yang terjadi, Chin Yang Kun rnenoleh, ditatapnya wajah yang tampan itu Iekat-lekat, sehingga wajah itu menjadi merah dan tersipu-sipu.

"Ahh, saudara Yang kau ini kenapa, sih? Mengapa kau mengawasi aku demikian rupa? Malu, aku! Seperti melihat gadis cantik saja!"

Chin Yang Kun tergagap. Wajahnya ikut-ikutan menjadi merah pula.

"Bangsat! Anak ini sungguh handel! Enak saja berbicara..."

Geramnya di dalam hati. Tapi tak sepatahpun kata-kata yang keluar dari muiutnya. Ditariknya pedati itu lebih kuat, sehingga jalannya menjadi lebih kencang.

"Siapa yang marah kepadamu?"

Akhirnya Chin Yang Kun menjawab.

"Setiap orang memang bebas dan merdeka untuk mencari nama buat dirinya sendiri... Apa peduliku?"

"Eee, ada apa ini sebenarnya? Mengapa saudara Yang kelihatannya tidak menyukai nama yang kuperoleh itu? Apakah menurut saudara Yang nama itu tidak cocok buatku Ataukah... ataukah nama itu mungkin mempunyai arti tersendiri buat saudara Yang, se hingga saudara Yang merasa tidak senang dan tidak setuju bila nama itu diberikan kepadaku? Begitukah, saudara Yang?"

Pemuda tampan itu bertanya hati-hati, Chin Yang Kun menghembuskan napasnya kuat-kuat, seakan-akan ingin memuntahkan seluruh kekesalan hatinya seketika itu juga.

"Sudahlah! Kita tak usah berdebat tentang hal ini! Aku ini cuma seorang pengembara yang sedang mencari upah karena kehabisan bekal. Jadi tak ada gunanya kau bersitegang denganku, membuang-buang waktu saja..."

"Tapi..."

Pemuda tampan itu masih penasaran.

"Aah, sudahlah! Lihatlah itu kuilnya telah kelihatan...!"

Chin Yang Kun cepat-cepat memotong.

"Wah!"

Pemuda tampan itu bersungut-sungut.

"Lhoh...Kenapa jadi kau kini yang marah?"

Chin Yang Kun menegur.

"Habis, engkau sih...!"

Bagaikan seorang perawan yang sedang merajuk pemuda tampan itu berjalan mendahului Chin Yang Kun. Mulutnya masih mengoceh meskipun tak jelas.

"Pemuda ini sungguh aneh dan mencurigakan. Aku harus berhati-hati menghadapinya."

Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya.

"Pemuda ini tampaknya telah mengenal aku dan kini sedang berusaha memancing-mancing sesuatu dariku..."

Chin Yang Kun membelokkan pedatinya ke halaman kuil.

Tempat itu sangat sepi, seperti tiada penghuninya sama sekali.

Halamannya tampak kotor dan kurang terawat.

Pohon pohonnya yang rindang menyebarkan daun-daunnya yang kering kemana-mana, memenuhi halaman, genting dan pendapa yang terbuka itu.

"Nah, sudah sampai..."

Chin Yang Kun berdesah sambil menaruh pedatinya di depan pendapa.

Dikebut-kebutkannya lengan bajunya sambil menanti upahnya.

Rasa kikuk dan malu kembali menggoda hatinya, tapi ditahan-tahannya juga.

Celakanya, pemuda tampan itu tidak segera membayar upah yang telah dijanjikannya, tapi malah naik ke atas pendapa dan duduk di kursi yang tersedia di sana.

Tentu saja Chin Yang Kun menjadi kelabakan.

Mau menagih malu, tapi kalau diam saja, berapa lama ia harus menanti lagi?

Padahal ia tak ingin kehilangan jejak kedua orang penunggang kuda itu.

Chin Yang Kun menjadi serba salah.

Hatinya mendongkol.

Ketika sekali lagi diliriknya pemuda itu tetap belum beranjak dari kursinya, maka ia segera berbalik dan berjalan meninggalkan tempat itu.

Dibuangnya jauh-jauh bayangan tentang upah itu dari benaknya!

Harga dirinya tersinggung dan ia menjadi sangat menyesal sekali telah menerima tawaran pekerjaan itu.

Hanya karena ingin membeli makan saja ia harus merendahkan dirinya sampai begitu rupa!

"Eeeee...mau kemana kau?

Tunggu sebentar...!"

Pemuda tampan yang mengaku sebagai Toat-beng-jin itu berteriak dan meloncat turun dari atas pendapa.

Tergesa-gesa pemuda itu mengejar Chin Yang Kun.

Tapi hati Yang Kun sudah terlanjur panas sehingga teriakan itu tak diacuhkan sama sekali olehnya.

Dan ketika pemuda tampan itu mendahului dan menghadang jalannya, barulah Chin Yang Kun menghentikan langkahnya.

"Apakah yang kau kehendaki lagi dariku?"

Chin Yang Kun bertanya ketus. Wajah pemuda tampan itu tiba-tiba tampak gelisah dan ketakutan.

"Maaf, saudara Yang...! kau bersabarlah dahulu...! kau jangan cepat-cepat marah! Dengarkanlah dahulu perkataanku! Aku..."

"Sudahlah! Aku telah menolongmu menarik pedati sampai di sini. Sekarang..."

Tiba-tiba Chin Yang Kun menghentikan kata-katanya.

Matanya dengan tajam mengawasi tiga orang penunggang kuda yang datang memasuki halaman kuil itu.

Tiga orang penunggang kuda yang tadi dilihatnya mengendarai kuda mereka di perempatan jalan dengan kecepatan tinggi.

"Keng Si Yu dari kota Lok-yang..."

Chin Yang Kun bergumam di dalam hati, ingat pada nama yang disebutkan oleh dua orang penunggang kuda di luar kota tadi.

Sementara itu si pemuda tampan ternyata mendengar pula suara telapak kaki kuda mereka.

Pemuda itu cepat berbalik dan bergeser mundur ke samping Chin Yang Kun.

Matanya menatap orang-orang itu dengan tajamnya, seolah-olah ia mau mengenali salah seorang dari mereka.

Tapi setelah ternyata tak seorangpun yang dikenalnya, ia berseru.

"Siapakah kalian?"

Ketiga orang penunggang kuda itu saling pandang satu sama lain, kemudian menghentikan kuda mereka di depan anak-anak muda itu.

Tak seorangpun dari mereka yang mau turun dari punggung kudanya.

Mereka mengawasi Chin Yang Kun dan si pemuda tampan dengan seksama.

Beberapa waktu lamanya mereka berdiam diri saja.

"Kurang ajar! Siapakah kalian? Apakah kalian tuli?"

Pemuda tampan yang mengaku sebagai Toat-beng-jin itu berteriak mendongkol.

"Akulah yang seharusnya bertanya kepadamu, anak muda...Siapakah kalian ini? Dan apakah keperluan kalian di tempat ini?"

Salah seorang diantara orang-orang itu menjawab dengan sebuah pertanyaan pula.

"Bangsat! Jawab dulu pertanyaanku, baru nanti aku jawab pertanyaanmu...!"

Orang itu terperangah, perasaannya tersinggung. Selama hidupnya yang empat puluh tahun ini rasa-rasanya belum pernah dia dibentak-bentak orang begitu rupa.

"Gila! Tampaknya anak ini belum pernah dihajar orang selama ini...!"

Orang itu menggeram sambil menoleh ke arah kawan-kawannya. Teman-temannya mengangguk.

"Apakah Twako ingin melihat kami menghajarnya?"

Kedua orang itu bertanya.

"Apa? Kalian mau menghajar aku? Kurang ajar...! Kubunuh kalian!"

Pekik pemuda tampan itu marah sekali.

Tangan kanannya mencabut sesuatu dari balik bajunya, kemudian...wuuuut!

dua buah benda mengkilat yang mirip dengan pisau, melesat bagai kilat menghantam dada binatang tunggangan mereka.

Serangan mendadak itu benar-benar di luar dugaan kedua orang itu.

Begitu terkejutnya mereka sehingga hampir-hampir keduanya tak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan kuda tunggangan mereka.

Dengan sekuat tenaga mereka menyepak perut kuda masing-masing seraya mengayunkan ujung cambuk mereka untuk menangkis pisau terbang itu.

Tapi...tetap sia-sia!

Senjata rahasia yang mirip pisau itu tetap saja menghunjam ke dada binatang tunggangan mereka.

Tepat pada jantung binatang itu!

Dengan meringkik keras dua ekor kuda itu mengangkat kaki depannya tinggi tinggi ke atas, lalu terbanting keras ke tanah.

Mati!

Kedua orang penunggang kuda itu cepat-cepat melompat menyelamatkan diri sebelum tubuh mereka tergencet oleh binatang tersebut.

Dengan air muka merah padam kedua orang itu mencabut golok mereka, sementara kawan mereka yang mereka panggil Twako tadi juga cepat-cepat turun dari atas kudanya dan bersiap siap pula.

Ketiga-tiganya berputar mengepung Chin Yang Kun dan si pemuda tampan.

Tapi sebelum mereka menyerang, tiba-tiba dari luar masuk lima orang penunggang kuda lagi ke halaman kuil itu.

Dan Chin Yang Kun segera mengenal juga siapakah mereka itu, karena orang-orang itu tidak lain adalah lima orang penunggang kuda yang mendahului dia di luar kota tadi.

"Hai...Keng sicu, kalian sudah tiba lebih dahulu? Ada apa ini...?"

Begitu datang salah seorang yang berjenggot lebat menegur orang yang dipanggil Twako tadi. Keng Si Yu meloncat mundur, lalu menyalami orang berjenggot lebat itu.

"Hai, selamat bertemu Pouw-heng (Saudara Pouw)...ini dia, ada pengacau yang hendak merusak pertemuan kita!"

"Anak-anak muda ini? Mau mengacau pertemuan kita?"

Orang she Pouw yang berjenggot lebat itu menegaskan.

Matanya yang bulat besar itu melotot mengawasi Chin Yang Kun dan si pemuda tampan dan bangkai-bangkai kuda itu berganti-ganti.

Sementara itu Chin Yang Kun telah mulai menyadari keadaannya.

Ternyata dia telah masuk ke dalam perangkap pemuda tampan itu untuk membantu menghadapi musuh-musuhnya, yaitu para penunggang kuda itu.

Dan sekarang ia tak mungkin bisa mundur lagi sebab orang-orang itu telah men-cap dia sebagai kawan si pemuda tampan itu dan dianggap sebagai perusuh yang hendak mengacaukan pertemuan mereka.

Alasan apapun yang dia berikan tentu tidak akan mereka terima.

Dengan perasaan gemas dan mendongkol Chin Yang Kun melirik ke arah kawannya itu.

Tampak olehnya pemuda itu juga mengawasi dirinya dengan mulut tersenyum seolah-olah tak bersalah.

Ingin sekali rasanya Chin Yang Kun menghajar mulut yang pringas-pringis itu.

"Kurang ajar! Awas kau nanti...!"

Ancamnya di dalam hati.

Kelima orang penunggang kuda yang baru datang itu telah turun pula dari punggung kuda masing-masing.

Bersama-sama dengan rombongan Keng Si Yu mereka mengepung Chin Yang Kun dan si pemuda tampan di tengah-tengah.

"Nah! Lekaslah kalian memilih! Menyerah untuk kami ikat atau...melawan untuk kami bunuh! Cepat!"

Orang she Pouw itu membentak.

"Ah, repot-repot amat! Bunuh saja! Habis perkara...!"

Salah seorang dari kelima pendatang baru itu, yaitu yang mengenakan baju biru, berteriak pula dengan kerasnya.

"Benar! Bunuh saja! Sangat berbahaya bagi kita kalau kita lepaskan...!"

Lainnya ikut berseru pula.

Chin Yang Kun menjadi tegang, demikian pula dengan pemuda tampan itu!

Tanpa disadari pemuda tampan itu semakin merapat pada Chin Yang Kun, sehingga lengan mereka saling bersinggungan.

Pemuda itu menoleh, lalu meringis kecut, sehingga Chin Yang Kun rasanya ingin mengumpat-umpat saja!

"Nah, bagaimana kalau sudah begini?

Apa yang hendak kau lakukan?

Mengupah seseorang untuk melindungimu?"

Chin Yang Kun berkata dongkol. Pemuda tampan itu meringis lagi.

"Maafkanlah aku, saudara Yang...! aku memang jahat...tapi...tapi, apakah engkau tidak kasihan kepadaku? Aku...eh, aku memang bermaksud meminta pertolonganmu tadi, tapi bukan untuk melawan mereka."

"Lalu...melawan siapa?"

Chin Yang Kun mengeryitkan keningnya.

"Orang yang jauh lebih lihai daripada orang-orang ini! Kalau cecunguk-cecunguk ini sih...mudah! aku tak perlu harus mengundangmu. Aku sendiri bisa membabat mereka."

"Hah? kau jangan takabur...!"

Chin Yang Kun tertegun.

"Sungguh! Aku tidak main-main!"

Pemuda tampan itu menjawab mantap.

Dapat dibayangkan bagaimana marahnya orang-orang itu.

Saking marah dan bencinya mereka, melihat kecongkakan anak muda itu mereka sampai lupa untuk lekas-lekas melabraknya!

Baru setelah pemuda itu mengeluarkan pisau pisaunya, Keng Si Yu berteriak menggeledek.

"Awas senjata pisau terbangnya!!!"

Seperti mendapatkan sebuah komando, delapan orang penunggang kuda itu maju menyerang si pemuda tampan.

Masing-masing mempergunakan senjata andalan mereka.

Ada yang menggunakan pedang, golok, ruyung, tombak dan lain lain.

Mereka bersama-sama saling berebut untuk menghajar pemuda itu!

Sambil menghindar pemuda tampan itu masih bisa menyombongkan dirinya lagi.

"Saudara Yang, kau minggirlah dulu! Lihatlah sepak-terjangku...! nanti pada saatnya ganti aku yang akan menonton sepak-terjangmu..."

Karena ingin membuktikan sendiri kehebatan pemuda congkak itu, maka Chin Yang Kun menurut saja ketika disuruh minggir.

Dan hal itu mudah saja dilakukan oleh ahli waris keluarga Chin itu.

Hanya dengan melangkah ke samping ketika orang yang berada di belakangnya menyerang, kemudian dengan sebat menikam perut orang itu dengan sikunya selagi dia kebingungan, maka Chin Yang Kun sudah bisa meloloskan diri dari kepungan mereka!

"Huaaaak!"

Orang yang tersodok siku perutnya itu muntah-muntah.

Untunglah Chin Yang Kun tidak bermaksud membunuhnya.

Coba kalau pemuda itu mengerahkan sedikit saja tenaga dalamnya, niscaya orang itu takkan bisa hidup lagi.

Paling tidak isi perutnya tentu akan hancur berantakan!

"Tapi...siapakah lawanku nanti?"

Dari luar arena Chin Yang Kun masih sempat berteriak.

"Tunggulah! Sebentar juga ia akan datang karena aku dan dia telah berjanji untuk bertemu di tempat ini!"

Dengan enaknya si pemuda tampan itu menjawab di antara hujan senjata yang menimpanya.

Ternyata pemuda tampan itu memang tidak hanya membual.

Sepak terjangnya memang hebat bukan main.

Gerakannya cepat dan tangkas, sementara ilmu silatnya yang bersifat kasar dan ganas itu benar-benar mengerikan.

Beberapa buah pisau kecil yang ada di tangannya itu kadang-kadang dilontarkan, tapi kadang-kadang juga untuk senjata menangkis dan menyerang lawan-lawannya.

Hebatnya lagi, pemuda itu kadang-kadang sengaja membiarkan dirinya ditabas atau dihujam senjata lawan apabila tidak ada kesempatan untuk mengelakkannya lagi.

Dan semuanya itu seperti tak dirasakannya sama sekali!

Tentu saja lawan-lawannya menjadi heran dan mulai gemetar di dalam hati.

"Ah, sungguh hebat juga lweekang anak ini! Sudah berani menangkis senjata tajam tanpa terluka..."

Chin Yang Kun berdesah kagum.

"Tak heran dia berani omong besar. Tapi apa sebabnya ia masih ketakutan melawan orang yang dijanjikannya itu? Hmm, jangan-jangan orang yang akan diadu denganku itu...benar-benar hebat bukan kepalang."

Sebenarnya bisa saja Chin Yang Kun meninggalkan tempat itu sekarang.

Tak ada orang yang akan menghalang-halangi jalannya.

Semuanya telah terlibat dalam pertempuran yang seru dan dahsyat.

Tapi Chin Yang Kun tidak bermaksud untuk meninggalkan tempat itu lagi.

Selain ia tak ingin dianggap penakut oleh pemuda tampan itu, ternyata tanpa sengaja dia telah menemukan tempat pertemuan para penunggang kuda itu, sehingga ia tak usah lagi memata-matai dua orang penunggang kuda yang ada di restoran itu.

Kedua orang itupun nanti akan datang pula ke tempat ini.

Pikiran Chin Yang Kun menjadi tenang.

Ketika sekali lagi dilihatnya pemuda tampan itu terus berada di atas angin dan selalu mencecar lawanlawannya, maka ia segera berjalan menjauhi mereka.

Dicobanya untuk menyelidiki tempat itu, tempat yang suasananya sangat aneh menurut penilaiannya.

Masakan kuil yang masih tampak terpelihara, meskipun agak kotor itu tak ada penghuninya sama sekali?

Chin Yang Kun naik ke atas pendapa yang ada itu.

Dilihatnya semua perabot ruangan masih tampak utuh.

Sampai pada hiasan-hiasan dan gambar-gambarpun masih terletak ditempatnya masing-masing.

Beberapa buah kursi malah kelihatan bekas diduduki orang.

Chin Yang Kun semakin merasa aneh hatinya.

Bergegas dia menuju ke pintu tengah yang menghubungkan pendapa tersebut dengan ruangan dalam.

Pintu itu tidak terkunci.

Perlahan-lahan Chin Yang Kun mendorongnya!

Gumpalan asap berbau wangi menerjang keluar bersamaan dengan terbukanya pintu itu.

Begitu banyaknya asap tersebut sehingga seolah-olah ada kebakaran hebat di dalam ruangan itu.

Untunglah Chin Yang Kun cepat-cepat meloncat surut, sehingga hembusan asap yang berbau wangi itu tidak sampai menerjangnya.

Meskipun demikian tak urung ia tersedak juga hingga terbatuk-batuk.

Chin Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya, hatinya semakin bertambah yakin bahwa tentu ada sesuatu yang tidak beres di dalam kuil itu.

Tak mungkin rasanya kuil yang besar dan terpelihara itu kosong tiada penghuninya.

Mereka tentu ada di dalam.

Hanya masalahnya sekarang adalah mengapa mereka tidak keluar mendengar suara-suara ribut di depan pendapa mereka?

Apakah telinga mereka tuli semuanya?

Rasanya tentu tidak.

Kalau demikian kemana saja mereka itu?

Hati Chin Yang Kun semakin tergelitik untuk menyelidiki semua itu.

Apalagi sekarang pemuda itu menemui sesuatu yang aneh dan mencurigakan di ruang tengah kuil itu.

Ruangan itu penuh asap yang amat mencurigakan.

Menilik dari baunya, asap tersebut tentulah asap hio atau dupa wangi yang biasa digunakan untuk sembahyang.

Hanya anehnya mengapa asap itu sedemikian banyaknya sehingga bergulung gulung memadati kamar atau ruangan itu?

Apakah memang benar-benar ada kebakaran di dalam?

Rasanya juga tidak!

Tidak terlihat sama sekali sinar api atau nyala api di dalam ruangan itu.

Misalkan terjadi kebakaran di dalam ruangan itu, hawa panasnya tentu telah menjalar kemana-mana pula.

Padahal Chin Yang Kun tidak merasakannya sama sekali.

Chin Yang Kun menjadi ragu-ragu.

Terus masuk ke dalam ruangan yang penuh asap itu atau menunggu sampai asap tersebut habis tertiup angin?

Sekejap pemuda itu menjadi bingung juga.

Kalau dia masuk sekarang dan di dalam ternyata ada orang jahat, hal itu sungguh sangat berbahaya.

Tapi kalau harus menunggu habisnya asap itu, sampai kapan dia harus menantinya?

Sungguh serba merepotkan!

Sekali lagi Chin Yang Kun menatap ruangan yang pengap dan gelap itu.

Tiba-tiba wajahnya tampak bersinar gembira.

Sekilas pemuda itu teringat pada kamar gelap di rumah Liu-Twakonya dulu, yaitu ketika dia dirawat selama sebulan lebih akibat racun yang mengeram di tubuhnya.

Tanpa sengaja di rumah itu ia mampu mengembangkan daya konsentrasinya secara mentakjubkan, sehingga dia bisa membaca seluruh keadaan di sekelilingnya tanpa harus mempergunakan matanya.

Atau dengan perkataan lain, dia bisa melihat dan mengetahui apa yang ada di sekelilingnya hanya dengan perasaan hatinya saja.

Oleh Liu-Twakonya kemampuannya itu disebut-sebut sebagai ilmu yang mirip dengan Lin-cui Sui-hoat, yaitu semacam ilmu meramal yang biasa dipelajari oleh para pertapa tingkat tinggi, untuk mengetahui hal-hal yang tak bisa dijangkau oleh pandang matanya atau hal-hal yang belum terjadi di dunia.

Kini mendadak saja Chin Yang Kun ingin mengulangi atau mencoba lagi kemampuannya tersebut.

Sebelum dia masuk ke dalam ruangan yang gelap penuh asap itu dia ingin mengetahui atau menduga-duga lebih dahulu apa yang ada di dalamnya, sehingga selanjutnya dia bisa bersiap-siap terlebih dahulu.

Chin Yang Kun segera berkonsentrasi seperti yang pernah dia lakukan di tempat Twakonya dulu itu.

Perlahan-lahan sinar matanya yang mencorong seperti mata harimau atau mata naga itu meredup.

Dan sekejap kemudian pemuda itu sudah tidak bisa melihat apa-apa, meskipun matanya tetap terbelalak.

Telinganya yang sangat terlatih, yang telah mampu membedakan suara desing senjata pun perlahan-lahan juga tak bisa mendengarkan apa-apa lagi.

Tapi sebaliknya sejalan dengan itu hati dan perasaannya tumbuh dan berkembang semakin hidup, sehingga rasa rasanya semua kegelapan dan kesunyian yang melingkupi dirinya itu perlahan-lahan berubah kembali menjadi terang benderang.

Begitu terangnya sehingga rasa-rasanya tiada batasan yang mampu mencegah atau menutupi jangkauan mata batinnya.

Semuanya tampak terang dan jelas dari tempatnya berdiri.

Begitu pula keadaan di dalam ruangan yang gelap oleh asap itu.

Ruangan itu rasa-rasanya menjadi terang benderang pula seperti keadaan di luar, sehingga dia bisa melihatnya dengan jelas.

Yang mula-mula tampak terbayang di matanya adalah sesosok mayat yang tergeletak di dekat pintu.

Mayat itu tergeletak di lantai dengan mulut terbuka, lehernya terdapat bekas luka melintang yang amat lebar.

Darah berceceran di sekitarnya.

Kemudian agak ke dalam lagi dilihatnya tiga sosok mayat bersandar pada tiang penyangga langit-langit.

Mayat-mayat itu bersandar dalam posisi berdesak-desakan, sementara pada leher masing-masing juga terdapat luka pula seperti pada mayat pertama.

Disinipun darah yang telah mengental tampak berceceran dimana-mana.

Gambaran-gambaran yang diperoleh Chin Yang Kun itu benar-benar amat mengejutkan pemuda itu sendiri.

Konsentrasinya buyar sehingga bayangan-bayangan itu menjadi lenyap dan ruangan tersebut tampak gelap kembali seperti sediakala.

Chin Yang Kun berdesah dengan air muka berubah pucat.

Benarkah apa yang dia lihat dalam bayangan tadi?

Jangan jangan semuanya itu hanya bayangan yang tersembul dari dalam alam bawah sadarnya saja.

Jangan-jangan semua gambaran tadi hanya timbul dari hatinya yang penuh dendam akibat kematian ayah, ibu dan seluruh keluarganya saja, sehingga otak yang penuh dendam itu selalu menciptakan bayangan kengerian atau mayat-mayat yang berserakan.

Chin Yang Kun termangu-mangu.

"Ah, aku akan masuk dan membuktikannya...!"

Akhirnya pemuda itu menggeram.

Chin Yang Kun melangkah masuk.

Tapi sebelumnya ia menoleh ke arah pertempuran lebih dahulu.

Ketika dilihatnya pemuda tampan itu terus mendesak para pengeroyoknya, hatinya menjadi semakin tenteram.

Dia segera masuk ke ruangan gelap itu dengan hati-hati.

Dan...hampir saja Chin Yang Kun meloncat keluar kembali ketika tiba-tiba kakinya menyentuh mayat!

Apalagi ketika dia memperhatikannya terlebih teliti lagi ternyata keadaan mayat tersebut persis sekali dengan bayangan yang ia dapatkan tadi.

Lehernya koyak dan darah kental berceceran di sekitarnya.

"Gila! Masakan bayangan yang kudapatkan itu memang betul adanya?"

Hatinya berseru.

"Baik! Akan kulihat...!"

Chin Yang Kun mengerahkan Iweekangnya, sehingga matanya semakin bersinar, seolah-olah dapat menembus gelapnya asap yang menyelubungi ruangan itu.

Kakinya melangkah lagi ke depan, ke tengah-tengah ruangan.

Napasnya yang sesak oleh asap itu tak dihiraukannya.

Ketika dilihatnya sebuah tiang di mukanya Chin Yang Kun berhenti.

Perlahan-lahan matanya menatap ke bawah dan...benarlah!

Di sana tampak tiga buah mayat bersandar saling berdesakan.

Darah menggenang di bawah mereka!

"Oohh...!"

Chin Yang Kun berseru sambil menutupi mukanya.

Bayangan ayah, ibu dan paman-pamannya tiba-tiba kembali menghantui jiwanya.

Chin Yang Kun bergegas membalikkan tubuhnya dan bermaksud meloncat keluar kembali.

Tetapi sebelum ia sempat menjejakkan kakinya, tiba-tiba terdengar suara dingin menyeramkan di dekat telinganya.

Nada suara itu terasa asing dan mengerikan, seakan-akan suara hantu yang sedang bangkit dari kuburnya.

Meremang bulu kuduk Chin Yang Kun suara itu seolah-olah mengandung daya magis yang menakutkan!

"Bangkitlah...!

Bangkitlah kalian dari...dari kematian!

Basahilah dirimu dengan darah...darah yang masih hangat!"

Hampir pingsan rasanya Chin Yang Kun ketika mayat yang berada di dekat pintu itu tiba-tiba bangkit dan melangkah tertatih-tatih ke arahnya.

Luka yang sangat lebar dan dalam pada leher mayat itu menyebabkan mayat itu tidak bisa mengangkat kepalanya.

Kepala itu tergolek di atas pundaknya seperti buah kelapa yang patah tangkainya.

Otomatis Chin Yang Kun melangkah mundur dengan tergesa-gesa.

Air mukanya tidak kalah pucatnya dengan wajah mayat itu.

Tapi langkahnya segera terhenti pula dengan mendadak ketika di belakangnya juga terdengar suara desis yang mendirikan bulu roma.

Tubuhnya yang jangkung itu segera melesat ke samping, lalu menoleh.

Dan kembali di depannya telah berdiri pula tiga sosok mayat yang tadi bersandar di tiang rumah.

Ketiga sosok mayat itu melangkah terseok-seok dan terhuyung huyung mendekatinya.

Gumpalan-gumpalan darah beku yang menempel pada pakaian mereka tampak berjatuhan di atas lantai yang dilewati oleh mereka.

Pemandangan itu benar-benar menggoncangkan batin Chin Yang Kun.

Pemuda pemberani dan berkepandaian tinggi itu kini terpaksa gemetar juga melihat kejadian yang aneh dan mengerikan itu.

Belum pernah selama hidupnya Chin Yang Kun mendengar dan melihat kejadian yang menyeramkan seperti ini.

Mayat yang sudah kaku dan rusak bisa bangkit dan bergerak lagi, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi?

Apakah dunia ini sudah mau kiamat?

Chin Yang Kun mundur terus karena selalu didesak oleh empat sosok mayat itu, sehingga akhirnya punggungnya menempel pada dinding ruangan dan tak bisa mundur lagi.

Pemuda itu menjadi ketakutan setengah mati, matanya melirik kekiri dan kekanan, mencari jalan untuk melarikan diri.

Pemuda itu melihat sebuah pintu tertutup di sebelah kirinya.

Tampaknya pintu itu adalah pintu masuk ke sebuah kamar.

Chin Yang Kun cepat berlari ke sana.

Lalu dengan tergesa-gesa membuka pintu itu.

Tapi untuk yang kedua kalinya Chin Yang Kun tersentak mundur dengan wajah ngeri!

Ternyata di balik pintu tersebut telah menanti delapan atau sepuluh sosok mayat pula!

Dengan keadaan tubuh yang sangat mengerikan mayat-mayat itu berdesakan dan menggapai-gapaikan tangannya ke arah Chin Yang Kun!

Saking kagetnya pemuda itu seolah-olah telah menjadi lumpuh.

Tubuhnya seakan-akan menjadi dingin dan kaku sehingga berat sekali untuk digerakkan.

Maka ketika empat sosok mayat yang mengejar di belakangnya itu datang, Chin Yang Kun tak bisa menghindar lagi.

Empat pasang lengan dengan kuat meringkusnya dari belakang.

Baunya jangan ditanya lagi!

Busuk dan amis bukan main!

Rasa takut dan ngeri membuat Chin Yang Kun berontak untuk meloloskan diri.

Otomatis tenaga dalamnya bergerak keluar!

"Hhuah!"

Empat sosok mayat yang memeluk Chin Yang Kun terpelanting kekanan dan kekiri, saking keras dan kuatnya tenaga yang dikeluarkan oleh Chin Yang Kun, mengakibatkan beberapa buah lengan mayat itu copot dan beterbangan kemana-mana.

Meskipun begitu ketika pemuda itu telah berdiri tegak kembali, dilihatnya mayat-mayat itu juga telah bangkit berdiri pula lagi.

Seperti tidak merasakan kesakitan sedikitpun mayat-mayat yang kehilangan lengan itu berjalan tertatih-tatih ke arahnya.

Sebenarnya hati Chin Yang Kun masih merasa ngeri bukan main.

Tapi melihat kenyataan yang baru saja terjadi, dimana mayat-mayat tersebut tidak kebal dan berbahaya seperti layaknya hantu atau setan, maka keberaniannya mulai timbul kembali.

Toh kenyataannya mayat-mayat yang sangat mengerikan itu dapat ia hancurkan dengan ilmu pukulannya.

Maka ketika mayat-mayat itu kembali mendekatinya, Chin Yang Kun segera mempersiapkan Liong-cu I-kangnya.

"Ayoh! Jangan takut...! Bunuh pemuda itu! Makan dagingnya...isaplah darahnya! Kalian akan memperoleh kenikmatan yang luar biasa..."

Tiba-tiba suara yang mempunyai daya magis itu terdengar lagi.

Jilid 28 Chin Yang Kun menoleh.

Di antara remang-remang gumpalan asap, dilihatnya seorang lelaki muda duduk di atas meja sembahyang.

Pemuda itu mengenakan kain serba putih.

Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai lepas menutupi bahu dan punggungnya.

Belasan atau bahkan puluhan ikat dupa wangi tampak memenuhi meja yang didudukinya, sehingga kepulan asapnya hampir menyelimuti seluruh tubuhnya.

Lelaki itu duduk dalam sikap bersamadhi.

Kedua kakinya ditekuk dalam posisi bersila, sedang tangannya disilangkan di depan dada.

Matanya tampak berkilat-kilat mengerikan, sementara bibirnya selalu berkomat-kamit seperti sedang mengucapkan mantra.

Tetapi bukanlah keadaan orang itu yang menggoncangkan hati Chin Yang Kun, sebab bagi seorang pemuda seperti dia pemandangan seperti itu telah terbiasa untuknya.

Hal-hal yang lebih seram dan menakutkan telah sering ia jumpai dalam pengembaraannya.

Yang sangat menggetarkan hati dan perasaan Chin Yang Kun adalah pengaruh aneh orang itu terhadap mayat-mayat yang kini berada di sekelilingnya.

Kata-kata yang keluar dari mulut orang itu seolah olah merupakan aba-aba atau perintah yang akan diturut dan diikuti oleh mayat-mayat tersebut.

Mendengar suara aba-aba dari lelaki itu mayat-mayat yang mengepung Chin Yang Kun tersebut semakin tampak beringas!

Tubuh yang telah rusak itu tampak bergetaran bagai terkena aliran listrik.

Semuanya tampak bergegas mendekati Chin Yang Kun.

Kali ini Chin Yang Kun tak memberi ampun lagi.

Dalam kengeriannya pemuda itu mengerahkan segala kemampuannya dengan tidak tanggung-tanggung lagi.

Sambil mengeluarkan suara desis dari sela-sela bibirnya, tangannya terayun ke depan ke arah empat sosok mayat yang mendekati dirinya.

"Bhuumm!!"

Empat sosok mayat itu terlempar beterbangan bagaikan dihempas badai, lalu hancur berantakan ketika menghantam dinding ruangan.

Terdengar suara gemuruh ketika sebuah dari dinding runtuh akibat terlalu keras pukulan Chin Yang Kun.

Tapi Chin Yang Kun menjadi terkejut sekali ketika dari lobang dinding yang runtuh itu tiba-tiba menerobos belasan sosok mayat lagi ke dalam ruangan tersebut!

Kiranya dibalik dinding itu adalah kamar untuk menyimpan mayat pula!

Rasa ngeri membuat Chin Yang Kun tidak bisa berpikir panjang lagi.

Keinginannya hanya satu, yaitu lekas-lekas memusnahkan mayat-mayat yang mengerikan itu.

Maka serangan yang dilontarkannyapun benar-benar dahsyat bukan main!

Sepasang tangan dan kakinya dengan dilandasi tenaga sakti Liong-cu I-kang tampak berserabutan menghantam kesana kemari.

Terdengar suara gaduh dan hiruk-pikuk ketika puluhan sosok mayat itu terlempar berjatuhan ke segala penjuru.

Mayat-mayat itu jatuh menimpa apa saja peralatan yang berada di dalam ruangan sembahyang itu!

Semuanya hancur porak-poranda dengan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga.

"Hihihihi...mayat yang telah mati takkan mungkin bisa mati untuk kedua kalinya. Sekali mereka bangkit dari tidurnya, mereka takkan berhenti bergerak meskipun tinggal sepotong kepalanya saja...! hihihi...ayoh, bangkitlah! Bangkitlah lagi!"

Lelaki baju putih itu berseru menyeramkan.

Benar juga.

Mayat-mayat yang telah lintang-pukang dan sebagian malah telah hancur terpotong-potong badannya itu telah perlahan-lahan tampak bangkit lagi dari puing-puing reruntuhan itu.

Ada yang terseok-seok jalannya karena kakinya tinggal sebelah.

Ada yang merangkak karena kedua kakinya telah hilang.

Malah ada pula yang bergulung-gulung di atas lantai karena seluruh anggota tubuhnya telah tiada lagi!

Mereka semua beringsut dan tertatih-tatih ke arah Chin Yang Kun!

Chin Yang Kun mengobral kekuatannya sehingga ruangan itu semakin hancur terkena tubuh-tubuh mayat yang beterbangan kesana kemari.

Segala kotoran, debu dan pasir berhamburan kemana-mana, bercampur dengan asap, membuat ruangan itu bertambah gelap dan menyesakkan napas.

Selesai mengenyahkan semua mayat-mayat yang mengancam dirinya Chin Yang Kun lantas mundur ke arah dinding, menghindari kepulan asap, debu dan pasir yang beterbangan.

Dengan wajah yang masih diliputi kengerian pemuda itu mengawasi seluruh ruangan.

Diantara kegelapan yang masih menyelimuti tempat itu tampak potongan potongan mayat yang sangat menyedihkan berceceran dengan reruntuhan-reruntuhan yang porak-poranda.

Chin Yang Kun menghela napas lega.

Sedikit demi sedikit hatinya menjadi tenang kembali.

Tapi ketika matanya menatap ke tengah-tengah ruangan, tiba-tiba matanya terbelalak kaget!

Meja sembahyang itu ternyata masih tetap berdiri di tempatnya!

Potongan-potongan mayat yang bercampur dengan segala macam reruntuhan tampak menggunung di sekeliling meja itu, tapi meja itu sendiri ternyata masih tampak bersih dan teratur.

puluhan ikat dupa wangi yang memenuhi meja itu masih tetap berdiri di tempatnya.

Ujung ujungnya yang terbakar itu masih tetap mengepulkan asapnya pula.

Dan ditengah-tengah meja tersebut juga masih terlihat lelaki muda yang bisa mengendalikan puluhan mayat itu.

Sekejap Chin Yang Kun mengawasi orang yang sedang duduk bersamadhi itu.

Ketika kemudian orang itu membuka matanya dan menatap kepadanya, tiba-tiba Chin Yang Kun segera mengenalnya.

"Kurang ajar! Bukankah orang ini adalah pembantu Hek-eng-cu yang bergelar Song-bun-kwi (Hantu Berkabung) itu...?"

Desahnya di dalam hati.

Dendam yang tersekap di dalam hati Chin Yang Kun bagaikan terbakar kembali.

Bayangan siksaan yang pernah dilakukan oleh orang itu kepadanya di gedung Si Ciangkun beberapa tahun yang lalu kembali terbayang di depan matanya.

Apalagi ketika diingat orang itu juga termasuk dalam daftar orang-orang yang ia curigai membunuh keluarganya.

"Hihihi...kau hebat juga, anak muda! Tetapi meskipun demikian kau jangan lekas lekas berbesar hati karenanya. Seperti telah kujelaskan tadi, orang...eh, mayat-mayat itu takkan bisa mati untuk yang kedua kalinya. Mereka tetap akan hidup meski hanya dengan tubuh atau kepalanya saja. Lihatlah...!"

"Hah???"

Hampir saja Chin Yang Kun terlonjak dan menjerit.

Sebuah kepala mayat yang telah terpisah dari tubuhnya, yang sejak tadi berada di dekat kakinya, tanpa disangka-sangka menggelundung mendekati dia dan tiba-tiba menggigit celananya!

Saking kaget dan ngerinya Chin Yang Kun otomatis meloncat ke atas, lalu dengan perasaan jijik ia mengayunkan kakinya ke arah dinding.

Praaak!

Potongan kepala itu pecah berantakan!

Tapi bersamaan dengan itu Chin Yang Kun melihat mayat-mayat yang lain bangkit dari tempatnya.

Mereka bangkit dari reruntuhan-reruntuhan dengan keadaan tidak kalah seramnya.

Ada yang sudah hancur tubuhnya.

Ada pula yang sudah terbuka perutnya, sehingga ususnya berceceran keluar!

Baunya jangan ditanya lagi.

"Gila! Ilmu macam apa pula ini...?"

Chin Yang Kun berdesah dengan wajah pucat.

Ingin benar rasanya dia melarikan diri dari tempat yang menyeramkan itu.

Tapi sebelum tubuhnya bergerak, lelaki berbaju putih yang tidak lain adalah Song-bun-kwi itu berteriak.

Tampaknya Ielaki itu dapat meraba maksud hati Chin Yang Kun tersebut.

"Jangan pergi! Tidak ada gunanya! Apakah engkau ingin agar mayat itu mengejar-ngejarmu di tengah-tengah kota? Bagaimanakah jadinya kota ini kalau mayat-mayat itu berkeliaran di dalamnya? Hihihihi..."

"Ohh!"

Tiba-tiba Chin Yang Kun seperti diingatkan tentang sesuatu hal.

Mayat-mayat itu bangkit karena mendapatkan perintah dari orang itu.

Nah, selama orang itu masih hidup, ia mampu memberi perintah kepada mayat-mayat itu, maka mayat-mayat tersebut tetap takkan bisa mati.

Satu-satunya cara untuk menghentikan mayat-mayat tersebut hanyalah dengan membungkam mulut orang yang menghidupkannya.

Setelah mendapatkan keputusan demikian maka Chin Yang Kun lalu mempersiapkan dirinya.

Mayat-mayat yang semula sangat merisaukan hatinya itu kini tak dihiraukannya lagi.

Hatinya sudah bulat untuk menghancurkan pusat penggeraknya, yaitu Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!

Dengan berteriak nyaring Chin Yang Kun meloncat tinggi ke atas, melampaui kepala-kepala mayat yang tersaruk-saruk mendekati dirinya lalu meluncur ke arah Song-bun-kwi yang duduk bersamadhi di meja sembahyang itu.

Kedua belah telapak tangan pemuda itu terjulur ke depan, mengarah ke atas kepala dan dada lawannya.

Sementara itu kedua kakinya ditekuk ke belakang untuk sewaktu-waktu dapat digunakan sebagai senjata menyapu lawan.

Melihat serangan tersebut Song-bun-kwi tertawamenyeramkan.

"Hihihahaha...ternyata engkau mempunyai otak juga, anak muda...! Marilah...kita bermain-main sejenak!"

Mendadak tokoh dari Tai-bong-pai berdiri di atas mejanya, lalu dengan tergesa meloncat turun untuk menghindari serangan Chin Yang Kun.

Ternyata tokoh Tai-bong-pai yang mahir ilmu hitam itu tidak berani mengadu tenaga dengan Chin Yang Kun.

Kehebatan tenaga dalam yang telah diperlihatkan oleh Chin Yang Kun ketika melawan mayat-mayat tadi benar-benar menggetarkan hati tokoh hitam itu.

"Dhuaaar!"

Meja sembahyang yang penuh dengan saji-sajian dan dupa wangi itu hancur berantakan.

Ratusan batang hio yang menyala itu bertaburan di dalam gelap, sehingga dari jauh kelihatan seperti kembang api yang memercik kemana-mana.

Meja yang kokoh kuat itu pecah berkeping-keping dihajar Chin Yang Kun!

Song-bun-kwi menepiskan beberapa potong kayu yang melayang ke arahnya, kemudian melesat mendekati Chin Yang Kun.

Dan selagi pemuda itu sibuk dengan batang-batang hio yang bertebaran di sekelilingnya Song-bun-kwi menyergapnya dari belakang.

"Wusss! Plak! Plak! Wuuus!"

Dengan jari-jari renggang dan ditekuk seperti kuku harimau Song-bun-kwi menyerang pusar dan pinggang Chin Yang Kun.

Geraknya tampak kaku dan canggung, namun pengaruhnya ternyata bukan main hebatnya, dalam juga serangan itu menyentuh kulit Chin Yang Kun.

Chin Yang Kun telah merasakan sengatnya yang menyakitkan!

Kulit yang menjadi sasaran serangan tersebut seolah-olah telah mengelupas sebelum disentuh jari lawan!

Otomatis Chin Yang Kun mengelak dan menangkis, sehingga dua tiga kali telapak tangan kedua orang itu berbenturan di udara.

Masing-masing mengerahkan seluruh tenaganya.

Akibatnya Song-bun-kwi tergetar mundur beberapa langkah, sementara Chin Yang Kun yang berada dalam posisi bertahan juga terdorong mundur dan hampir terjatuh.

Dua-duanya terperanjat.

Chin Yang Kun tidak menyangka sama sekali bahwa lawannya yang mahir ilmu hitam itu ternyata juga mempunyai tenaga dalam yang sangat tinggi.

Rasa-rasanya tenaga dalam orang itu tidak kalah hebatnya dengan lweekang Kehsim Siauwhiap.

Untunglah sejak semula dia telah mengerahkan Liong-cu I-kangnya.

Coba ayal sedikit saja jiwanya mungkin sudah tak tertolong lagi.

Sebaliknya Song-bun-kwi juga tidak kalah kagetnya.

Sejak semula, begitu iblis itu mengenali siapa yang berada di hadapannya, ia pun langsung mengerahkan ilmu puncak pula.

Meskipun dahulu ia pernah merasakan betapa hebatnya ilmu pemuda itu, tapi sekarang setelah dia sendiri juga telah menyempurnakan ilmunya, ia percaya bahwa pemuda itu takkan sanggup mengelakkan serangan beruntunnya tadi.

Tapi kenyataannya malah lain.

Pemuda itu ternyata tangkas bukan main.

Kecepatan geraknya ternyata sangat menakjubkan.

Tangkisan tangannya malah mampu menggoyahkan kuda-kudanya.

Keduanya segera bersiap-siap kembali.

Mereka berdiri berhadapan dalam jarak dua tombak, berselimutkan asap hio yang masih pekat menyelubungi ruangan itu.

Kini mereka benar-benar mempersiapkan seluruh kesaktian mereka.

Beberapa gebrakan yang mereka lakukan tadi sudah cukup bagi mereka masing-masing untuk menilai kekuatan lawannya.

Sampai bergetar rasanya tubuh Song-bun-kwi ketika mengerahkan Hio-yen Sinkangnya yang ampuh.

Hawa dingin menyesakkan terasa menebar ke sekeliling tubuhnya sejalan dengan hembusan napas yang keluar dari hidungnya.

Asap hio yang menyelimuti tubuh tokoh Tai-bong-pai itu seolah-olah juga tampak semakin menebal, sementara bau wangi yang tersebar di dalam ruangan itu juga terasa semakin menyengat hidung.

Secara keseluruhanjago muda dari perguruan Tai-bong-pai itu telah mempersiapkan ilmu andalannya, yaitu ilmu silat Mayat Mabuk!

Sementara itu Ilmu Memanggil Roh yang ia gunakan untuk menguasai mayat-mayat itu juga belum ia lepaskan pula!

Di pihak lain Chin Yang Kun juga tidak ingin berlaku sungkan-sungkan lagi.

Pemuda itu tidak mau mengambil resiko termakan oleh keganjilan ilmu lawan sebelum dia nanti sempat mengembangkan ilmu puncaknya sendiri.

Oleh karena itu begitu melihat musuhnya mempersiapkan diri, iapun segera bersiap-siap pula dengan ilmu pamungkasnya, Liongcu-i-kang dan Kim-coa i-hoat!

"Hiyaaaat!!!"

Tiba-tiba Song-bun-kwi menerjang ke arah Chin Yang Kun!

Tubuhnya yang lurus kaku seperti mayat itu meluncur ke depan bagaikan sebatang tongkat yang melesat di udara, kepalanya yang berambut riap-riapan itu meluncur lebih dahulu bagaikan anak panah ke arah dada Chin Yang Kun!

Cepatnya bukan kepalang!

Jurus yang dipergunakan oleh Song-bun-kwi tersebut adalah jurus ke sembilan dari Ilmu Silat Mayat Mabuk, yang dinamakan jurus Membentur Bong-pai Menanyakan Jalan!

Sepintas lalu jurus itu seperti tidak ada keistimewaannya.

Begitu kaku, canggung dan sangat sederhana!

Padahal jurus itu selain amat sulit sebenarnya sangat kaya akan variasi dan kejutan!

Kedua lengan yang terlipat diatas dada itu setiap saat dapat bergerak mencari kelemahan lawan, sementara kedua belah kaki yang terbujur kaku itu setiap saat juga bisa merenggut nyawa!

Untunglah Chin Yang Kun pernah melihat kedahsyatan ilmu tersebut ketika tokoh Tai-bong-pai itu bertempur dengan Chu Seng Kun tempo hari.

Maka dari itu untuk menghadapinya Chin Yang Kun bertempur dengan sangat hati-hati sekali.

Pemuda itu tidak ingin hanya karena kesalahan atau keteledoran kecil membuat dirinya terjeblos ke dalam lobang kesukaran.

Oleh sebab itu serangan yang tertuju ke arah dadanya itu tidak dilayani oleh Chin Yang Kun.

Dengan jurus Ular Emas Meninggalkan Sarang pemuda itu menggeliat ke samping lalu melangkah tiga tindak ke depan.

Dengan gerakannya ini Chin Yang Kun menghindari serbuan lawannya.

Otomatis serangan Song-bun-kwi menemui tempat kosong, sementara Chin Yang Kun sekarang justru berada di belakangnya malah.

Tapi telah dikatakan tadi bahwa jurus-jurus ilmu Silat Mayat Mabuk itu sebenarnya tidak sesederhana dan secanggung penampilannya.

Tampaknya saja amat kaku dan jelek gerakannya, tapi sesungguhnya mengandung berbagai macam tipuan dan serangan yang berbahaya.

Itulah sebabnya ilmu ini sangat disegani kawan dan ditakuti lawan!

Buktinya gerakan Chin Yang Kun itu ternyata juga telah diperhitungkan pula oleh Song-bun-kwi.

Begitu lawannya mengelak kesamping dan kini justru berada di belakangnya, jago muda dari Tai-bong-pai itu segera mengurai tangan dan kakinya.

Gerakannya membuat tubuhnya jungkir balik dan kehilangan daya luncurnya.

Dan bersamaan dengan jatuhnya kaki di atas lantai tokoh muda yang mahir ilmu hitam tersebut cepat-cepat berbalik dan menghantam Chin Yang Kun dengan kedua belah telapak tangannya.

Gerakannya ini dia lakukan sambil menjatuhkan tubuhnya ke lantai, seakan-akan seperti sesosok mayat yang terhuyung-huyung jatuh karena tak tahan berdiri terlalu lama.

Dalam Ilmu Silat Mayat Mabuk jurus ini dinamakan Mendorong Giam-lo-ong Memasuki Peti Mati.

Sementara itu Chin Yang Kun juga segera melepaskan serangannya.

Sambil membalikkan badannya pemuda itu mengayunkan kaki kanannya ke belakang, ke arah kepala lawan.

Dari bawah kakinya berputar setengah lingkaran ke atas dalam jurus Ular Emas Menyabetkan Ekornya.

Suaranya berdesing saking kuatnya dan batang kaki itu seperti bertambah sejengkal panjangnya!

Maka tak dapat dicegah lagi kedua telapak tangan Song-bun-kwi berbenturan dengan kaki kanan Chin Yang Kun!

Oleh karena masing-masing telah melandasi serangannya dengan kekuatan penuh maka benturan tersebut menimbulkan getaran yang maha hebat dan mengeluarkan suara berdentam bagai petir menyambar!

Dan akibatnya sungguh hebat!

Sepatu dan kain celana Chin Yang Kun sebelah kanan hancur bertebaran ditiup angin, sementara pemuda itu sendiri tetap bertahan untuk tidak terdorong jatuh.

Meskipun demikian karena kedudukan kakinya memang tidak begitu kokoh, apalagi hanya bertumpu pada satu kaki, maka tubuh pemuda itu terpaksa terhuyung huyung juga menabrak tiang!

Sedangkan di pihak lain, akibat dari benturan tenaga itu benar-benar hebat bagi Song-bun-kwi!

Tokoh Tai-bong-paiyang sejak semula begitu mengagungkan kehebatan ilmunya sendiri itu kini terpaksa harus melihat bahwa di dunia ini ternyata masih ada ilmu lain yang lebih dahsyat dari pada ilmunya.

Meskipun telah mengerahkan segala kemampuannya ternyata benturan tenaga itu membuat tokoh ilmu hitam tersebut terlempar dan berguling-guling menabrak dinding.

Dari mulutnya menetes darah segar, sementara kedua belah lengannya serasa berpatahan tulang-belulangnya!

Menyadari bahwa ilmunya tak mungkin bisa mengatasi lawannya, Song-bun-kwi segera mencari jalan untuk meninggalkan ruangan itu.

Mula-mula dia beringsut kembali ke tengah ruangan untuk berlindung di tengah-tengah gumpalan asap hio yang masih sangat tebal di sana.

Kemudian dari tempat itu ia berusaha mencegah kejaran Chin Yang Kun dengan ilmu hitamnya.

Chin Yang Kun bersandar pada tiang yang ditabraknya.

Dengan mata sedikit nanar dicarinya Song-bun-kwi yang terlempar oleh pukulannya tadi.

Tetapi kepulan asap hio yang amat tebal itu benar-benar sangat mengganggu pandangannya.

Tiba-tiba sepasang lengan yang licin dan dingin menyergap pemuda itu dari belakang.

Begitu licinnya kulit itu sehingga rasa-rasanya ada lendir yang mengucur dari pori-porinya.

Malah sesaat kemudian bagian punggung pemuda itu terasa basah oleh lendir atau keringat orang yang menyergapnya.

Baunya jangan dikata lagi!

Busuk dan amis!

Tetapi bukan lendir ataupun bau busuk yang mengejutkan Chin Yang Kun!

Yang sangat mengagetkan pemuda itu adalah gerakan yang dilakukan oleh penyergapnya tersebut.

Dengan Liong-cu I-kangnya yang sangat hebat ternyata dia tidak bisa menangkap gerak atau langkah kaki penyergapnya itu, tahu-tahu orang itu telah memeluknya dari belakang.

Chin Yang Kun meronta.

Tumitnya menghantam ke belakang, ke arah lutut penyergapnya kemudian kedua sikunya bergantian menghajar perut dan dada lawan!

Gerakan pemuda itu dilakukan dengan amat cepat dan penuh tenaga, dengan maksud agar pelukan itu segera dilepaskan.

Tapi penyergapnya yang Iihai itu tampaknya tidak mau mengelak ataupun melepaskan pelukannya.

Dengan nekad penyergap itu menerima hantaman dan hajaran tumit dan siku Chin Yang Kun.

Terdengar suara gedebas gedebus seperti batang pisang busuk ketika siku Chin Yang Kun mengenai perut dan dada lawannya.

Saking kuatnya pukulan itu membuat perut serta dada itu hancur bertaburan isinya!

Cairan hijau dan kuning muncrat membasahi pakaian Chin Yang Kun.

Baca Juga: Rajawali Hitam 7

Baca Juga: Pedang Ular Merah 5

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert