Eps 11 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Baunya jangan ditanya lagi!
Chin Yang Kun meloncat ke depan dengan cepat, lalu membalikkan tubuhnya.
Dan...pemuda itu tersedak mau muntah!
Di hadapannya tampak sesosok mayat dengan perut dan dada hancur bersandar pada tiang!
Tak ada perubahan pada muka yang telah menjadi kaku dan beku itu.
Malah sesaat kemudian mayat itu melangkahkan kakinya, terseok seok menyeret gulungan-gulungan usus yang tercecer di atas lantai.
"Gila! Dunia benar-benar sudah gila!"
Chin Yang Kun mengumpat-umpat dengan perasaan jijik.
Baju yang berlepotan darah busuk itu segera dilepaskan, kemudian dibuang jauh-jauh.
Mulutnya meludah tak henti-hentinya.
Peristiwa itu sungguh amat mencengkam hati Chin Yang Kun sehingga untuk sesaat pemuda itu sampai lupa kepadamusuhnya.
Tentu saja Song-bun-kwi yang selalu mengintai dari balik asap itu tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Dengan sebat kedua tangan tokoh Tai-bong-pai itu berkelebat melemparkan senjata rahasianya.
Setelah itu dengan telapak tangan terbuka iblis tersebut melancarkan pukulan jarak jauhnya.
Senjata rahasia yang terdiri dari batang-batang hio itu benar-benar sangat mengejutkan Chin Yang Kun!
Pemuda itu jungkir balik menghindarinya, sehingga waktu pukulan jarak jauh itu datang, ia tak mempunyai kesempatan untuk mengelak lagi.
"Dheees!"
Dengan telak pukulan tersebut mengenai punggung Chin Yang Kun.
Pemuda itu terhuyung-huyung menahan sakit.
Kemudian sambil bersandar di atas pecahan meja pemuda itu mengawasi sekitarnya.
Dicarinya iblis Tai-bong-pai yang licik itu, tapi tidak ketemu.
Gumpalan asap hio yang masih amat tebal itu menghalangi pandangannya.
Tiba-tiba pemuda itu mengumpat lagi dengan keras.
Sambil mengumpat pemuda itu bergegas meloncat tinggi ke atas.
Kakinya terayun keras ke arah dinding dan...sesosok mayat yang menggigit kakinya melayang membentur tembok!
Terdengar suara gemeretak ketika kepala mayat-mayat itu hancur berantakan.
"Bangsat menjijikkan! Song-bun-kwi, dimana kau? Ayoh, keluarlah! Jangan bersembunyi kau...!"
Chin Yang Kun berteriak marah.
Sambil berteriak pemuda itu mengawasi dengan waspada ke sekelilingnya, jangan-jangan ada mayat lagi di dekatnya.
Tapi ternyata Song-bun-kwi sudah kapok untuk meneruskan pertempuran itu.
Kenyataan yang dilihatnya membuat tokoh itu sangat yakin bahwa ia tak mungkin bisa mengalahkan Chin Yang Kun.
Oleh karena itu saat asap yang menguntungkan dirinya itu terlanjur habis dan ia tak bisa menyembunyikan diri lagi, maka dia lekas-lekas keluar dan meloloskan diri.
Sepeninggalnya tentu saja mayat-mayat yang berada di ruangan itu kembali tergeletak tak berdaya seperti keadaannya semula.
Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun mencari lawannya di antara asap dan puing-puing yang berserakan di tempat itu.
Tetapi sampai seluruh asap yang memenuhi ruangan itu hilang ditiup angin Song-bun-kwi tetap tidak diketemukannya.
Iblis mengerikan itu telah pergi meninggalkan ruangan itu.
Yang sekarang tertinggal di tempat itu hanyalah mayat-mayat yang tadi mengeroyok dia.
Dan dalam keadaan terang kini dapat dilihat bahwa mayat-mayat tersebut adalah mayat para pendeta yang tinggal di kuil itu.
Hal itu kuat diduga melalui pakaian yang mereka kenakan.
Semua mayat itu mengenakan pakaian pendeta yang amat sederhana dan dibuat dari kain kasar.
"Uhh...! Uhhhh! Uhh!"
Tiba-tiba telinga Chin Yang Kun dikejutkan oleh suara keluhan orang di atas kepalanya.
Ketika pemuda itu mendongak ke atas, matanya terbelalak kaget.
Di atas penglari ruangan itu terlihat empat orang pendeta meringkuk dengan tubuh diikat erat-erat menjadi satu.
"Saudara, tolonglah kami..."
Salah seorang dari pendeta itu merintih.
"Hah? Mengapa kalian berada disitu? Dan...mengapa pula dengan pendeta-pendeta itu?"
Chin Yang Kun menunjuk mayat-mayat pendeta yang bergelimpangan itu.
"Mereka...mereka dibunuh oleh pemuda berbaju putih itu! Saudara, tolonglah...nanti kuceritakan semua yang telah terjadi di kuil ini..."
Pendeta itu merintih lagi.
Chin Yang Kun mengerahkan ginkangnya.
Tubuhnya yang jangkung itu melenting tinggi kemudian hinggap di atas kayu penglari dimana empat orang pendeta itu diikat.
Dan dengan cekatan jari-jarinya melepaskan ikatan mereka.
"Apakah kalian bisa ilmu silat?"
Chin Yang Kun bertanya. Empat orang pendeta itu saling pandang kemudian dengan ragu-ragu mereka mengangguk.
"Ya, sedikit..."
Bisik mereka perlahan.
"Kalau begitu marilah kita turun dan berbicara di bawah!"
Chin Yang Kun berkata.
Mereka lalu turun bersama-sama.
Seorang pendeta itu dengan sedih melihat mayat-mayat yang berserakan.
Mayat-mayat kawan mereka yang secara tidak sengaja dihancur-leburkan oleh Chin Yang Kun.
"Nah, kalian tunggu disini sebentar, aku akan mencari iblis keji itu dahulu..."
Chin Yang Kun berseru kepada para pendeta itu.
"Iblis berbaju putih itu? Ah, saudara sudah terlambat...Iblis itu telah meloloskan diri dari pintu belakang sejak tadi. Dari tadi kami melihatnya..."
Salah seorang dari pendeta itu memberi tahu kepada Chin Yang Kun.
"Meloloskan diri melalui pintu belakang?"
Chin Yang Kun berteriak, lalu meloncat dan berlari ke arah pintu belakang.
Pintu itu memang telah terbuka.
Chin Yang Kun menerobos keluar, kemudian berlari-lari ke halaman belakang, mencari iblis itu di antara bangunan-bangunan yang banyak terdapat di sana.
Tapi iblis itu benar-benar telah menghilang.
Semua bangunan yang ada di halaman belakang itu sunyi sepi.
Tak seorangpun kelihatan, apalagi Song-bun-kwi yang dicari oleh pemuda itu.
Yang terdapat di tempat tersebut hanyalah binatang piaraan seperti ayam dan kambing.
Tiba-tiba Chin Yang Kun teringat kepada kawannya, si Pemuda Tampan yang berada di halaman depan.
Hati Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar, telinganya seperti tidak mendengar sama sekali suara pertempuran mereka.
Jangan jangan telah terjadi sesuatu dengan temannya itu.
Jangan jangan musuhnya yang lihai itu telah datang selagi ia berada di dalam kuil.
Chin Yang Kun cepat berlari ke depan melalui halaman samping.
Dan kekhawatirannya benar juga!
Tempat itu telah sepi.
Kawannya sudah tidak ada di tempat itu, begitu pula dengan musuh-musuhnya.
Hanya bekas-bekas pertempuran mereka saja yang kelihatan di sana.
"Kemana bocah bengal itu? Dan...kemana pula orang orang itu bersama dengannya?"
Chin Yang Kun bertanya dengan gelisah.
"Mungkinkah mereka memasuki kuil selagi aku berada di halaman belakang?"
Chin Yang Kun bergegas meloncati tangga, lalu berlari cepat melintasi lantai pendapa.
Untuk kedua kalinya pemuda itu memasuki ruangan sembahyang dari pintu depan.
Matanya nanar mengawasi ruangan yang kini telah terang benderang itu.
Lagi-lagi ia tak menemukan kawannya disana.
Pemuda itu hanya menjumpai keempat pendeta yang tadi ditolongnya itu.
Para pendeta itu telah mengumpulkan mayat kawan-kawan mereka dan berdiri menyambut kedatangannya.
Wajah mereka tampak lesu dan pucat.
"Saudara bisa menemukan iblis itu?"
Chin Yang Kun tidak menjawab, kepalanya menggeleng, sementara mulutnya balik bertanya kepada mereka.
"Apakah kalian melihat seorang pemuda tampan memasuki ruangan ini sepeninggalku tadi?"
"Pemuda tampan...?"
Empat orang pendeta itu berdesah hampir berbareng.
"Tidak! kami tidak melihat pemuda itu. Tak seorangpun memasuki ruang sembahyang ini sepeninggal saudara tadi..."
Entah mengapa tiba-tiba Chin Yang Kun amat mengkhawatirkan nasib kawannya itu.
Jangan-jangan pemuda bengal yang berwatak polos dan usianya masih sangat muda itu telah terperangkap oleh jebakan atau tipu muslihat para penunggang kuda tadi.
"Ohh...!"
Chin Yang Kun mengeluh dengan hati gelisah.
Perasaannya seperti telah mencium bahaya yang mengancam kawannya.
Bagaikan orang yang sedang bingung Chin Yang Kun membalikkan tubuhnya, lalu melesat ke luar ruangan lagi.
Dari atas pendapa kuil pemuda itu sekali lagi mengawasi halaman depan yang sepi.
Tak ada petunjuk sama sekali kemana perginya kawannya itu.
Tiba-tiba wajah yang kusut itu tampak bersinar-sinar penuh harapan kembali.
Mata yang sayu itu tampak bergairah dan bersemangat lagi.
"Ah, roda pedati itu...!"
Bisiknya penuh harapan.
Sekali berkelebat Chin Yang Kun telah berada di halaman.
Dengan mata nanar pemuda itu meneliti bekas roda pedati yang ditarik menuju ke jalan raya.
Alas dari roda pedati itu terbuat dari besi baja, oleh karena itu bekas yang ditinggalkan di atas tanah sungguh jelas sekali.
Tanpa berpamitan lebih dahulu kepada empat orang pendeta yang menantinya di dalam kuil Chin Yang Kun pergi meninggalkan tempat itu.
Kakinya melangkah dengan cepat mengikuti jejak roda pedati.
Untunglah hari belum terlalu siang sehingga jalan itu belum banyak dilalui orang, dan bekas pedati itu masih tetap jelas serta belum terganggu dengan jejak kaki yang lain.
Ternyata jejak itu berbelok ke arah jalan menuju ke luar kota.
Tapi di jalan besar menuju pintu gerbang kota sebelah timur Chin Yang Kun kehilangan jejak roda itu.
Di tempat itu lalu lintas sangat ramai sehingga Chin Yang Kun tak bisa membedakan lagi dengan bekas-bekas jejak roda yang lain.
Pemuda itu melangkah lebih cepat dengan harapan bisa menyusul dan melihat yang diburunya.
Tapi sampai di pos penjaga pintu gerbang kota, pedati itu tetap tak ditemukannya juga.
Pedati itu seolah olah lenyap begitu saja dari jalan raya.
"Hmm, jangan-jangan pedati itu menuju ke jalan kecil..."
Pemuda itu berpikir dalam hati.
Seraya melihat ke sekelilingnya Chin Yang Kun berjalan perlahan-lahan ke pintu gerbang.
Dari jauh pemuda itu melihat dua orang perajurit penjaga berdiri di bawah pintu gerbang.
Kedua orang perajurit tersebut tampak bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas mereka.
Dengan tombak panjang di tangan masing-masing mereka mengawasi orang orang yang lewat di depan mereka.
"Baiklah aku bertanya kepada perajurit itu,"
Akhirnya Chin Yang Kun memutuskan di dalam hati. Kemudian pemuda itu bergegas mendekati kedua orang penjaga tersebut. Lalu dengan hati-hati dia bertanya.
"Maaf, saya sedang mencari sebuah pedati dengan muatan sebuah kotak persegi besar dari kayu...Eh, apakah tuan melihatnya?"
"Pedati...?"
Salah seorang dari penjaga itu mengerutkan dahinya, kemudian lanjutnya.
"Saudara maksudkan sebuah pedati kecil yang dibawa oleh sepuluh atau sebelas orang berkuda?"
"Sepuluh atau sebelas orang berkuda? Eh, banyak benar...!"
Chin Yang Kun ragu.
"Ya, sebelas orang berkuda...! Kalau pedati itu yang saudara maksudkan, mereka membawanya ke luar kota,"
Penjaga pintu ini memberi keterangan sambil menatap wajah Chin Yang Kun lekat-Iekat.
"Ehm...apakah engkau kehilangan pedati itu?"
"Oh, tidak! Tidak!"
Chin Yang Kun cepat-cepat menjawab.
"Mengapa tuan bisa berprasangka demikian...?"
Kedua orang perajurit itu saling memandang dengan muka cemberut. Nada suaranya terdengar penasaran ketika memberi jawaban.
"Kesebelas orang berkuda itu tampaknya bukan orang baik-baik. Tingkah laku mereka seperti perampok. Huh, mereka sampai berani pula mempermainkan petugas negara..."
"Mempermainkan seorang petugas Negara? Apakah maksud tuan...?"
Chin Yang Kun bertanya tak mengerti.
"Hmh, lihat...!"
Penjaga itu menggerutu seraya memperlihatkan pakaian seragam yang kotor kepada Chin Yang Kun.
"Secara licik orang-orang itu memperdayakan kami, sehingga aku terjatuh ditertawakan orang padahal aku hanya bertanya tentang pedati yang mereka bawa..."
"Hei? Seorang pemuda tampan yang kelihatan masih amat muda? Pakaiannya bagus, mulutnya ceriwis?"
Chin Yang Kun tersentak kaget.
Kaget bercampur gembira karena merasa bahwa pemuda yang dimaksudkan penjaga itu tentulah kawannya yang Bengal itu.
Begitu gembiranya pemuda itu sehingga ia lupa bahwa ia sedang berada di jalan raya.
Tentu saja tingkah laku pemuda itu tak luput dari perhatian kedua penjaga tersebut.
Dengan pandang mata bingung mereka mengawasi Chin Yang Kun.
"Apakah saudara mengenal pemuda tampan yang dibawa oleh para penunggang kuda itu? Siapakah mereka?"
Penjaga itu balik bertanya kepada Chin Yang Kun. Chin Yang Kun tergagap.
"Anu...eh, yaa...ya! pemuda itu memang saudaraku. Dia...dia telah diculik dan dibawa pergi oleh orang-orang jahat itu,"
Chin Yang Kun terpaksa berbohong.
"Oh?! Jadi...saudara ini sedang mengejar mereka?"
Penjaga itu menegaskan.
"Benar!"
"Hmm, kalau begitu...lekaslah! mereka baru saja lewat. Mungkin belum ada lima lie dari sini. Tapi...hati-hatilah! Tampaknya orang-orang jahat itu mempunyai kepandaian yang tinggi."
"Yaa...ya, terima kasih...! Kalau begitu saya akan berangkat saja sekarang."
Chin Yang Kun menganggukkan kepalanya lalu melesat keluar pintu gerbang, menuju ke jembatan gantung yang melintang di atas parit kota, yaitu parit dalam dan lebar yang mengelilingi tembok kota.
Gerakannya lincah dan cepat bukan main, membuat dua orang penjaga pintu tersebut terlongong-longong kagum.
Dan kekaguman mereka semakin bertambah lagi ketika menyaksikan Yang Kun mendemonstrasikan ginkangnya di atas kereta, gerobak dan pedati, yang pada saat itu secara kebetulan berjejal di atas jembatan.
Tanpa mempedulikan keheranan atau kekaguman orang orang yang melihatnya Chin Yang Kun berlari bagai dikejar setan.
Kedua buah kakinya yang melangkah dengan cepat sekali itu seperti tidak menyentuh tanah saking cepatnya.
Sepintas lalu pemuda itu seperti seekor burung besar yang terbang rendah di atas tanah.
Satu lie...dua lie...akhirnya lima lie telah dilalui oleh Chin Yang Kun!
Tapipemuda itu tetap tidak menjumpai iring-iringan para penunggang kuda yang menyandera kawannya itu.
Chin Yang Kun telah mulai gelisah kembali, meskipundemikian pemuda itu tetap berlari terus mencari orang-orang itu.
Dan ketika akhirnya pemuda itu telah mencapai jarak kira-kira sepuluh lie dari kota Sin-yang hatinya mulai ragu.
Bagaimanapun cepatnya mengendarai kuda, tak mungkin rasanya dalam waktu singkat bisa mencapai jarak sedemikian jauhnya.
Apalagi tidak mungkin berjalan dengan cepat karena harus menyeret pedati pula.
"Mungkin mereka telah meninggalkan pedati itu di suatu tempat dan kemudian meneruskan perjalanan mereka melalui jalan kecil yang tak biasa dilewati umum,"
Pemuda itu membatin.
Chin Yang Kun menghentikan langkahnya.
Hari telah siang, tapi oleh karena langit mendung maka suasana masih tetap redup dan lembab.
Dan tampaknya hari itu hujan akan turun.
Beberapa orang petani kelihatan pulang membawa pacuInya.
Mereka melangkah dengan tergesa-gesa seakan akan takut hujan akan segera turun.
Ketika lewat di dekat Chin Yang Kun para petani itu menoleh dan mengerutkan keningnya.
Keadaan tubuh Chin Yang Kun yang sangat aneh itu sungguh amat menarik perhatian mereka.
Mereka menyangka Chin Yang Kun yang hanya memakai celana compang-camping dan sepatu sebelah itu adalah seorang pemuda kampung yang tidak waras otaknya.
"Ah, agaknya perang besar beberapa tahun yang lalu telah memusnahkan seluruh keluarganya, sehingga anak itu menjadi sinting dan menderita hidupnya..."
Salah seorang dari petani itu berbisik kepada rekannya.
"Kasihan...Padahal wajahnya demikian tampan dan bersih."
Yang Iain menyahut.
Para petani itu berjalan terus, meninggalkan Chin Yang Kun yang merah padam mendengar kata-kata mereka.
Tetapi kata-kata petani itu sekaligus juga menyadarkan Chin Yang Kun, bahwa pakaian yang melekat di badannya memang sungguh tidak pantas.
Masa di tempat umum begini tidak memakai baju.
Dan celana yang ia kenakan lebih tidak pantas lagi.
Pipa celananya tinggal sebelah karena yang sebelah telah hancur dipukul Song-bun-kwi.
Sementara sepatu yang melekat di kakinyapun juga tinggal sebelah saja.
"Hmm, pakaianku memang tidak pantas. Wajar kalau orang-orang menganggapku gila atau sinting. Aku harus lekas-lekas mencari pakaian yang baik...tapi kemana lagi, aku toh tidak mempunyai uang sama sekali, sungguh repot...!"
Pemuda itu bergumam dengan hati yang bingung.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda mendatangi tempat itu dari arah kota.
Chin Yang Kun buru-buru menepi.
Hatinya berdebar-debar.
Kedua tangannya terkepal erat-erat, siap untuk menghajar apabila yang datang ini benar-benar para penunggang kuda yang menyandera kawannya.
Debu mengepul tinggi ke udara ketika sebuah kereta penumpang datang berpacu ke tempat itu.
Di antara kepulan debu yang beterbangan di belakang kereta itu tampak empat orang penunggang kuda membuntuti.
Mereka berpacu seolah saling berkejaran atau takut akan turunnya hujan di tengah jalan.
Chin Yang Kun tidak dapat segera mengenali kusir kereta ataupun para penunggang kuda yang mengikutinya.
Sukar benar rasanya mengenali orang yang bergoncang di atas kereta atau kuda yang sedang berpacu dengan cepat.
Apalagi debu selalu berhamburan menutupi sebagian besar dari tubuh mereka.
Yang mampu ditangkap oleh mata Chin Yang Kun hanyalah perawakan dan dandanan mereka saja.
Chin Yang Kun tak ingin kehilangan orang yang dicarinya,maka dengan tangkas tubuhnya melesat ke tengah-tengah jalan dan berteriak menghentikannya.
Pemuda itu berpikir, lebih baik dia nanti meminta maaf bila perlu dari pada harus kehilangan buruannya .
"Berhenti!!!"
Kuda itu meringkik dengan kuatnya dan tarikan kendalinya membuat kuda itu melonjak ke atas bagaikan mau berdiri di atas kaki belakangnya.
Otomatis kereta itu berhenti dengan suara derit yang gaduh.
Dan suara itu makin bertambah ribut ketika empat orang penunggang kuda lainnya ikut menghentakkan kendali kudanya.
"Hei! Ada apa ini...? Mengapa saudara berdiri di tengah jalan menghentikan kereta kami?"
Empat orang penunggang kuda itu maju mengepung Chin Yang Kun.
Salah seorang di antaranya yang berbadan tinggi tegap dan berkumis tebal berteriak ke arah Chin Yang Kun.
Suaranya Iantang dan keras, suatu tanda bahwa tenaga dalamnya sangat tinggi.
Chin Yang Kun tidak segera menjawab pertanyaan itu.
Lebih dahulu pemuda itu menatap para penunggang kuda itu satu-persatu, kalau-kalau dia bisa mengenali salah seorang di antaranya.
Tapi tak seorangpun dari ke-empat orang itu yang wajahnya mirip dengan penunggang kuda yang menyandera kawannya itu.
Sementara itu sejak menghentikan keretanya, si kusir yang bertubuh besar dan berjenggot lebat itu tampak menatap wajah Chin Yang Kun dengan mata terbelalak.
Beberapa kali orang itu mengusap-usap matanya seolah-olah tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Baru setelah Chin Yang Kun menoleh ke kereta dan mereka saling berpandangan sejenak, pengendara kereta itu tiba-tiba berteriak dan meloncat turun!
"Yang-hiante...!
kau kah ini?"
"Hah? Liu-Twako...?"
Chin Yang Kun berteriak pula dengan kagetnya.
Pemuda itu menghambur ke arah pengendara kereta yang tidak lain adalah penyamaran dari Baginda Kaisar Han itu!
Mereka berpelukan dengan erat, seakan-akan mereka betul betul saudara kandung yang telah lama tak berjumpa.
Tentu saja peristiwa yang tak disangka-sangka ini sangat mengejutkan para pengawal Kaisar Han!
Empat orang penunggang kuda dan seorang lagi yang duduk di dalam kereta, turun dari kendaraan mereka dengan mulut terlongong-longong.
Semuanya sibuk menduga-duga, siapakah sebenarnya pemuda yang berpakaian seperti gelandangan itu?
Mengapa junjungan mereka yang kini sedang menyaru sebagai kusir kereta itu tiba-tiba berpelukan dengan pemuda tersebut?
"Ah, Yang-hiante...aku sungguh tak percaya bisa bertemu lagi denganmu.
Ternyata kau masih hidup.
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Kata para perajurit istana itu kau jatuh ke dalam telaga di belakang istana dan kemudian tenggelam tak timbul lagi.
Lalu...lalu apa sebenarnya yang terjadi padamu?"
Dengan nada ingin tahu Kaisar Han bertanya kepada Chin Yang Kun.
Kedua sahabat itu saling melepaskan pelukan mereka masing-masing.
Kaisar Han meletakkan tangan kanannya di pundak Chin Yang Kun, sementara pemuda itu sendiri tampak malu-malu mengawasi pakaiannya yang compang-camping.
"Wah, kalau diceritakan...sungguh panjang sekali. Bisa sehari semalam kita berdiri di sini..."
Chin Yang Kun menjawab.
"Ahaa...kau benar, Yang-hiante. Kalau begitu, marilah sekarang kau ikut aku saja! Pengalamanmu tentu hebat sekali. Lihat, kau sampai berpakaian begini rupa...! Hahahaa...kakakmu ini sungguh ingin sekali mendengar ceritamu."
Chin Yang Kun terpaksa tertawa juga meskipun agak malu malu. Tapi sekejap kemudian wajah pemuda itu berubah menjadi lesu kembali.
"Ah, sungguh sayang sekali Twako. Kali ini adikmu belum bisa memenuhi undanganmu. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan."
"Ahhh...!"
Kaisar Han tiba-tiba berdesah dengan kecewa sekali.
"Sungguh sayang sekali...Tapi apa sebenarnya urusanmu itu? Bolehkah Twakomu ini membantu menyelesaikannya?"
"Terima kasih, Twako...! Tidak usah! Aku bisa menyelesaikannya sendiri. Percayalah...Dan begitu urusan itu selesai...aku tentu akan lekas-lekas mengunjungimu. Bukankah Twako masih tinggal di istana Kaisar Han?"
Kaisar Han tergagap. Wajahnya tampak kikuk, apalagi ketika beradu pandang dengan para pengawalnya yang semakin tampak bingung mendengarkan percakapan mereka.
"Yaa...yaa, tentu saja. Aku masih tinggal...tinggal di komplek istana seperti dulu. Cuma...cuma, kalau engkau hendak mengunjungi aku...ha...harap kau memberi tahu aku lebih dahulu."
Sukar benar rasanya bagi Kaisar Han untuk berbicara tentang dirinya kepada Chin Yang Kun karena sejak semula Baginda telah terlanjur berbohong kepada pemuda itu.
Chin Yang Kun menatap Kaisar Han sesaat, kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dengan pandang mata mengerti.
"Tentu saja, Twako. Aku tahu kau sangat sibuk dan jarang sekali berada di rumah, karena kau adalah perwira kepercayaan Baginda Kaisar Han yang sering diutus ke luar daerah."
"Ya...ya...ya!"
Kaisar Han mengangguk-angguk pula dengan mulut meringis.
"Lalu hari ini kau mendapat tugas ke mana, Twako? Menyelidiki pemberontak-pemberontak itu?"
"Pemberontak-pemberontak? Eh, kau tahu pula tentang para pemberontak itu?"
Kaisar Han berseru kaget. Otomatis jari-jari Baginda yang berada di atas pundak Chin Yang Kun itu mencengkeram dengan kuatnya. Pemuda itu meringis sehingga Kaisar Han menjadi sadar.
"Eh-oh, maafkan...!"
Baginda meminta maaf. Chin Yang Kun tersenyum maklum.
"Twako, sebenarnya akupun tidak tahu menahu pula tentang para pemberontak itu. Aku hanya mendengar berita itu dari Chu-Twako dan dari Yap-Siauwhiap..."
"Dari Chu Seng Kun dan Yap Kiong Lee maksudmu?"
"Ya!"
"Ohh!"
Kaisar Han menghembuskan napasnya kuat-kuat. Lalu.
"Begini, adikku, perjalananku ini selain untuk keperluan pribadiku sendiri, aku memang bermaksud untuk membuktikan sendiri kebenaran laporan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee tentang para pemberontak itu."
"Laporan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee? Eh, Twako..., apakah kedudukanmu itu lebih"
Lebih tinggi dari pada pendekar ternama itu di istana?"
Dengan sinar mata polos Chin Yang Kun memandang kagum ke arah Liu-Twakonya.
"Ehh-ooh-eeh...yaa...ya!"
Kaisar Han yang hampir saja kelepasan omong itu tergagap hampir tersedak.
"Ohh, lalu urusan pribadi apakah yang hendak kau selesaikan selain urusan para pemberontak itu?"
Chin Yang Kun bertanya lagi.
"Ah, cuma urusan kecil saja. Aku ingin mengunjungi desaku lagi. Telah lama aku meninggalkannya, yaitu sejak aku berangkat ke Kotaraja dan menjadi perwira di istana. Aku kepingin melihat desaku dan mengenangkan kembali masa masa kecilku di sana..."
"Desa yang pernah kau ceritakan kepadaku itu, Twako? Ah, kau bohong...! Aku tahu kau bukannya mau melihat desamu kembali, tapi kau sebenarnya hanya mau meIihat bekas anak kepala desa itu, bukan? Twako masih penasaran karena lamaranmu dahulu ditolak oleh ayahnya. Kini setelah Twako memperoleh jabatan tinggi, Twako mau kembali ke desa itu untuk membalas dendam kepada orang-orang yang pernah menggagalkan pernikahanmu itu. Bukankah begitu, Twako?"
Dengan tersenyum Chin Yang Kun menggoda Kaisar Han.
"Wah, mana aku berani..."
Kaisar Han tersipu-sipu malu, apalagi di hadapan para pengawalnya yang tak tahu menahu tentang cerita itu.
"Hahaha...Twako, kalau begitu...silahkan! Adikmu tidak berani menahanmu lebih lama lagi. Twako tentu sudah tidak tahan lagi untuk lekas-lekas...melihat desa itu. Hahahah...!"
Chin Yang Kun meneruskan godaannya seraya meloncat minggir.
"Ah, kau...!"
Kaisar Han terpaksa mengumpat. Chin Yang Kun tertawa lepas.
"Sudahlah, Twako...aku pergi dulu. Besok saja kalau aku berkunjung ke tempatmu, kau harus bercerita tentang perjalananmu ini kepadaku! Aku benar-benar ingin mendengarnya..."
"Hei, nanti dulu! Dimanakah pakaianmu? Apakah engkau memang tidak mempunyai pakaian yang lain lagi?"
Kaisar Han buru-buru berteriak ketika Chin Yang Kun mulai beranjak untuk meninggalkan tempat itu.
Chin Yang Kun tidak jadi melangkahkan kakinya.
Tiba-tiba pemuda itu menjadi ingat akan keadaannya.
Sesaat kemudian hatinya menjadi ragu-ragu.
Ingin benar mulutnya berkata tentang kantongnya yang kosong, perutnya yang lapar dan lain sebagainya.
Tapi ketika matanya memandang para pengawal Twakonya, keinginan itu segera menjadi surut kembali.
Tapi keragu-raguan Chin Yang Kun itu tampaknya dapat dirasakan juga oleh Kaisar Han.
Orang tua itu seperti tahu akan keseganan hati sahabat mudanya.
"Yang-hiante, terimalah ini untukmu! Dan jangan lupa janjimu untuk mengunjungi aku besok...Awas kalau kau lupa!"
Kaisar Han berteriak sambil melemparkan sebuah pundi-pundi uang kepada Chin Yang Kun.
Dan sekejap kemudian Kaisar Han telah meloncat ke atas keretanya dan mengajak para pengawalnya pergi.
Chin Yang Kun justru menjadi termangu-mangu malah.
Beberapa saat lamanya pemuda itu hanya bisa mengawasi kepergian Liu-Twakonya.
Baru beberapa saat kemudian pemuda itu tersadar.
Segera dibukanya pundi-pundi pemberian Twakonya tadi.
"Hai...??"
Pemuda itu berseru tanpa terasa.
"Banyak benar? Untuk apa uang sebanyak ini bagiku? Masakan aku harus memborong semua pakaian yang ada di dalam toko?"
Pemuda itu ingin berteriak lagi untuk memanggil LiuTwakonya, tapi mereka telah jauh meninggalkan jalan itu.
"Ah, biarlah...! Besok juga uang kelebihannya akan kukembalikan..."
Akhirnya pemuda itu berkata di dalam hati.
Chin Yang Kun berjalan kembali ke kota Poh-yang.
la tetap berniat untuk mencari kawannya yang hilang itu.
Di tengah jalan banyak orang yang memperhatikan dirinya, sehingga lama-lama hatinya menjadi risih juga.
Maka dari itu ia mempercepat langkahnya, dengan harapan dapat lekas-lekas mencapai kota Poh-yang kembali.
Dan di sana ia akan segera membeli pakaian yang bagus.
Ketika sampai di sebuah tikungan Chin Yang Kun melihat beberapa orang petani yang tadi menyangka dia sebagai gelandangan yang sinting.
Mereka berjalan perlahan-lahan beberapa puluh langkah di depannya.
Tiba-tiba Chin Yang Kun ingin menggoda mereka.
Tapi niat tersebut segera diurungkannya ketika dilihatnya salah seorang diantaranya tidak berjalan seperti biasanya.
Orang itu berjalan terpincang-pincang dan dibantu oleh dua orang temannya.
Tampaknya orang itu baru saja mendapatkan kecelakaan.
Tapi oleh karena langkah pemuda itu sudah terlanjur mendekati mereka, maka pemuda itu terpaksa melanjutkan langkahnya yang cepat, sehingga beberapa saat kemudian petani itu telah dilaluinya.
Petani-petani itu menoleh, dan mengawasi Chin Yang Kun.
Dan begitu mereka tahu siapa yang lewat, mereka menggerundel.
"Ah, lagi-lagi si Sinting yang datang. Sungguh menyebalkan dan membuat sial orang saja...!"
Salah seorang diantaranya berkata sedikit keras sehingga didengar oleh Chin Yang Kun.
Gatal juga telinga Chin Yang Kun mendengarnya.
Pemuda itu berhenti dengan tiba-tiba, kemudian membalikkan tubuhnya.
Matanya yang mencorong bagaikan mata harimau itu menatap para petani itu.
"Siapakah yang berbicara tadi? Majulah...!"
Gertaknya.
Ternyata petani yang pincang itulah yang maju.
Sambil menepiskan lengan kedua orang kawan yang membantunya petani itu bertolak pinggang di depan Chin Yang Kun.
Kawan-kawannya berusaha untuk menyabarkannya, tapi si Pincang itu tetap tak mau mendengarkan nasehat mereka.
"A Yung, sudahlah...tak perlu dilayani! Tidak ada gunanya! Dengarlah, apa kata orang nanti terhadapmu?"
"Persetan! Karena berjumpa dengan bocah sinting ini nasib kita menjadi sial. Karena nasib sial yang menempel pada kita itu kita lalu memperoleh nasib yang jelek. Coba kalau kita tidak ketularan nasib siaInya, masakan kita sampai dihajar oleh para penunggang kuda itu?"
Si Pincang itu tetap ngotot mau melayani Chin Yang Kun.
"Tapi...apa hubungannya bocab ini dengan mereka? Bukankah kita sendiri yang bersikap kurang sopan terhadap mereka tadi? Jadi..."
Salah seorang kawan si Pincang masih tetap berusaha menyadarkannya.
"Diam! Menyingkirlah kalau kau takut! Ingatlah! Kesialan itu akan selalu membuntuti kita kalau kita tidak berusaha menyingkirkan sumbernya...!"
Si Pincang berteriak.
Tetapi teriakan itu tiba-tiba terputus dan berubah menjadi jeritan ketakutan ketika mendadak tubuh yang pincang tersebut diangkat oleh Chin Yang Kun dan diputar-putar di atas kepala.
Gerakan Chin Yang Kun demikian cepatnya sehingga tak seorangpun dari para petani itu yang mampu melihat bagaimana hal itu bisa terjadi.
Tahu-tahu pemuda sinting itu telah berada di depan mereka dan...Si Pincang telah berputar cepat seperti baling-baling!
Kawau-kawan dari Si Pincang itu mundur ketakutan.
Tubuh mereka gemetar dan tak tahu apa yang harus mereka kerjakan untuk menolong Si Pincang.
"Lekas katakan! Apakah penunggang kuda yang bertemu dengan kalian itu membawa seorang pemuda tampan? Kemanakah mereka sekarang pergi?"
Chin Yang Kun membentak keras sekali, sehingga para petani itu semakin ketakutan.Saking kaget dan takut, tak seorangpun yang bisa menjawab malah!
"Lekas katakan!
Atau...kalian ingin melihat kawanmu ini kubanting hancur?"
"Ja...jangan! Kasihanilah dia!"
"Kalau begitu cepat jawab pertanyaanku tadi!"
"Ba...baik! Ka...kami memang bertemu dengan para penunggang kuda itu. Mereka...mereka kami lihat memang membawa se...seorang pemuda tampan. Pemuda itu diikat kedua tangannya..."
"Cepat! Kemana mereka itu sekarang?"
Chin Yang Kun membentak tak sabar.
"Anu...anu...mereka pergi ke arah bukit itu!"
Petani itu berkata seraya menunjuk ke arah bukit di sebelah kiri mereka, yaitu sebuah bukit kecil yang diselimuti oleh hutan lebat, jauhnya sekitar lima lie dari tempat itu.
"Ah! Makanya aku tak bisa menemukan mereka, tak tahunya mereka benar-benar membelok ke arah bukit itu,"
Chin Yang Kun berdesah sambil menurunkan korbannya.
Lalu bergegas meloncat pergi meninggalkan para petani itu.
Sebentar saja bayangannya telah hilang ditelan hutan yang masih banyak terdapat di sekitar tempat tersebut.
Sepeninggal Chin Yang Kun para petani itu segera tersadar dari keterkejutan mereka.
Bergegas mereka menghampiri Si Pincang dan menolongnya berdiri.
"Nah, apa kataku...? Sudah kukatakan agar kau tidak terburu nafsu tadi..."
Petani yang tadi berusaha menyabarkan hati Si Pincang menegur kawannya yang sial itu.
"Yaaa, sungguh tidak kusangka kepandaiannya hebat bukan main. Agaknya justeru lebih hebat dari pada para penunggang kuda tadi,"
Yang lain berkata pula.
"Untunglah A Yung tidak dibunuhnya..."
Yang lain lagi ikut menyahut.
Sementara itu Chin Yang Kun dengan cepat telah menerobos hutan tipis yang tumbuh di sekitar tempat itu.
Dan sebentar kemudian pemuda itu telah tiba di kaki bukit yang tadi dikatakan oleh kawan Si Pincang.
Chin Yang Kun berdiri sejenak di bawah sebuah pohon besar.
Matanya memandang ke puncak bukit yang tertutup oleh hutan lebat.
Puncak itu sebenarnya tidak begitu tinggi, tapi oleh karena dari atas sampai ke bawah bukit tersebut dipenuhi dengan pohon-pohon besar, maka bukit itu tampak angker dan menakutkan.
Tiba-tiba pemuda itu tersentak dari lamunannya.
Lapat lapat telinganya mendengar denting suara senjata beradu.
Menilik suaranya Chin Yang Kun bisa memastikan bahwa suara itu tentu berasal dari sebuah pertempuran yang berlangsung tidak jauh dari tempat itu.
Oleh karena itu Chin Yang Kun cepat-cepat berlari mendekati.
Pemuda itu sudah tidak tahan lagi untuk segera mengetahui nasib kawannya yang dibawa oleh para penunggang kuda itu.
Di sebuah tempat yang lapang di lereng bukit itu Chin Yang Kun melihat belasan orang lelaki bersenjata bertempur dengan seru.
Tidak jauh dari arena pertempuran tampak empat buah kereta sorong yang biasa digunakan untuk mengangkat barang.
Dan diatas salah satu kereta itu tertancap sebuah bendera besar, lambang dari sebuah perusahaan pengangkutan barang atau piauw-kiok, yaitu seekor naga berwarna kuning keemas-emasan di atas dasar kain merah menyala.
"Kim-liong Piauw-kiok..."
Chin Yang Kun berdesah di dalam hati.
"Agaknya perusahaan angkutan barang itu sedang bertemu dengan perampok. Biarlah aku tak usah mencampuri urusan mereka...Eh? Siapa itu?"
Chin Yang Kun mengerutkan dahinya.
Setelah mendekati pertempuran pemuda itu segera mengenal siapa yang sedang berkelahi.
Di antara belasan orang anggota Kim-Iiong Piauw kiok itu Chin Yang Kun segera mengenal empat orang di antaranya.
Mereka adalah murid-murid ketua Kim-liong Piauwkiok sendiri yang dahulu pernah ditolongnya ketika mereka berselisih dengan anak buah Keh-sim Siauwhiap.
Sedangkan lima orang lelaki yang bertempur dengan mereka itu segera dikenal pula oleh Chin Yang Kun.
Orang-orang itu tidak lain adalah Siauw-ongya dan anak buahnya, yang dahulu juga pernah bertempur dengan Chin Yang Kun di desa Hok-cung, yaitu ketika Siauw-ongya itu bersama ribuan anak buahnya menyerang dan menduduki desa Hok-cung!
"Huh, pangeran palsu itu sekarang berada di sini pula.
Apa hubungannya dengan para penunggang kuda itu?
Kenapa dia bertempur dengan rombongan Kim-liong Piauw kiok?
Di manakah pengikutnya yang ribuan jumlahnya itu?
Dan...di mana pula Si Pendekar Gila Souw Thian Hai?"
Chin Yang Kun yang segera mengenali orang itu cepat-cepat menyembunyikan dirinya.
Siapa tahu rombongan Siauw-ongya itu berada di sekitar tempat ini juga sekarang.
Dari tempat persembunyiannya pemuda itu dapat menyaksikan dengan jelas pertempuran mereka.
Orang yang disebut Siauw-ongya itu dikeroyok oleh empat orang murid ketua Kim-liong Piauw-kiok, sementara empat orang anak buah Siauw-ongya tersebut bertempur beramai-ramai melawan sepuluh atau sebelas orang anggota Kim-liong Piauw kiok.
Semuanya bertempur mati-matian dengan mempergunakan senjata andalan mereka masing-masing, kecuali orang yang disebut Siauw-ongya oleh anak buahnya tersebut.
Meskipun dikeroyok empat orang, Siauw-ongya itu tidak memegang senjata gendewa andalannya.
Gendewa atau busur panah itu masih tergantung di pinggangnya, lengkap dengan anak panahnya.
Biarpun demikian kedua belah lengannya yang telanjang ini ternyata tidak kalah berbahayanya dengan cambuk-cambuk empat orang pengeroyoknya.
Sabetan sisi tangannya ternyata juga sama tajamnya dengan sabetan cambuk lawannya.
Dan yang semakin membuat lawan-lawannya gemetar ketakutan adalah kemampuan Siauw-ongya itu membakar udara sekeliling mereka.
Kadang-kadang begitu panasnya udara yang keluar dari tubuh Siauw-ongya itu sehingga para pengeroyoknyamerasa seperti sedang berada di dalam tungku yang mendidih!
Dari tempat persembunyiannya Chin Yung Kun segera dapat menebak apa yang telah terjadi karena pemuda itu juga sudah pernah bertempur dengan Siauw-ongya tersebut.
"Tampaknya keempat orang jago muda Kim-liong Piauwkiok itu takkan bisa bertahan lebih lama lagi. Kepandaian mereka memang belum bisa disejajarkan dengan kepandaian Siauw-ongya itu..."
Sebaliknya belasan anak buah Kim-liong Piauw-kiok yang jauh lebih banyak jumlahnya itu ternyata dengan mudah dapat menindih dan menguasai empat orang lawan mereka.
Keempat orang pengikut Siauw-ongya itu benar-benar tak berdaya melawan keroyokan orang-orang Kim-liong Piauwkiok, sehingga beberapa saat kemudian mereka telah sungguh-sungguh berada dalam kesulitan yang hebat.
Keempat orang itu sudah tidak dapat lagi berdiri berdekatan satu sama lain, sehingga otomatis mereka sudah tidak bisa lagi saling tolong menolong atau membentuk pertahanan bersama.
Kini mereka berempat telah tercerai-berai, berjauhan dan harus bertempur sendiri-sendiri melawan beberapa orang musuh mereka.
Tentu saja akibatnya sungguh berat bagi mereka.
Satu lawan satu saja belum tentu menang, apalagi harus menghadapi banyak orang.
Ketika salah seorang dari pengikut Siauw-ongya itu terjengkang ke belakang karena kakinya terperosok ke dalam lobang, maka tiga orang pengeroyoknya segera memanfaatkannya.
Tiga bilah pedang secara bersamaan segera menghunjam ke dalam tubuh pengikut Siauw-ongya yang sial itu.
Darah memercik berbareng dengan hilangnya nyawa orang itu!
Dan kematian orang itu ternyata bagaikan sebuah sumbu kematian yang telah disulut untuk mengawali kematian kematian lainnya.
Secara berurutan ketiga orang kawannya menyusul pula dengan kematian yang tidak kalah ngerinya.
Mendengar jerit-jerit kematian para pengikutnya Siauw-ongya itu segera menyadari kecerobohannya.
Tak seharusnya ia membiarkan pengikutnya yang hanya berjumlah empat orang itu menghadapi sekian banyak musuh.
la lupa bahwa pengawal setianya, Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, sedang ia suruh pergi ke kota Poh-yang.
Tapi rasa penyesalannya itu telah terlambat, sehingga sisa-sisa pengikutnya yang tinggal empat orang saja itu kini juga telah meninggalkan dirinya.
Dan dengan tidak beradanya Hong-gi-hiap Souw Thian Hai di sisinya, berarti ia sekarang menjadi sebatang kara.
"Kurang ajar! Kalian memang sudah bosan hidup! Lihat senjata...!"
Siauw-ongya itu berteriak marah.
Ternyata rasa sesal itu mengakibatkan atau menimbulkan kemarahan yang meluap-luap di hati pangeran tersebut.
Sambil menjerit marah orang itu mencabut busur dan panah yang terselip di atas pinggangnya.
Kemudian dengan menghentakkan seluruh kekuatannya pangeran yang kini sudah tak mempunyai pengikut lagi itu menyerbu ke arah musuh-musuhnya.
Mula-mula empat orang pengeroyoknya itu yang menjadi korban amukannya.
Begitu busur panahnya menyapu ke depan dengan jurus Melihat Sasaran di Balik Lautan, anak anak panah yang tergenggam di dalam tangan kanannya tiba-tiba melesat cepat ke arah para pengeroyoknya.
Semua itu dilakukannya dengan sangat cepat dan dengan kekuatan yang amat dahsyat.
Empat orang murid Ketua Kim-liong Piauw-kiok itu masih berusaha untuk mengelakkan sapuan busur lawannya.
Tapi hawa panas yang bertiup dari tubuh Siauw-ongya itu sungguh amat menyesakkan napas mereka, sehingga sangat mengganggu juga gerakan mereka.
Akibatnya salah seorang diantaranya terpaksa terlambat menggerakkan badannya, sehingga busur panah tersebut sempat menghantam remuk kepalanya.
Tapi nasib ketiga orang lainnyapun ternyata juga tidak jauh bedanya dengan kawan mereka itu.
Mereka bertiga dengan susah payah bisa meloloskan diri dari serangan tersebut, tetapi melesatnya anak-anak panah itu benar-benar di luar perhitungan mereka.
Apalagi kematian saudara seperguruan mereka masih sangat mencekam kesadaran mereka.
"Crep! Crep! Crep!"
"Aduh...!"
"Aaaarrgh!"
"Ouwghh...!"
Ketiga orang itu menggeliat kemudian jatuh terkapar di tanah dengan anak-anak panah yang hampir menembus tubuh mereka.
Beberapa saat mereka masih tampak bergerak gerak meregang nyawa.
Tapi sebentar kemudian lalu diam.
Mati.
Tapi mata Chin Yang Kun yang amat tajam segera melihat bahwa salah seorang di antaranya, yang tertancap anak panah di perutnya, sebenarnya belum mati.
Orang itu berpura-pura mati agar tidak dibunuh oleh musuh mereka yang lihai itu.
Siauw-ongya itu tertawa dengan sombongnya.
Tangannya bertolak pinggang, matanya melotot, sehingga belasan orang Kim-liong Piauw-kiok yang kini telah kehilangan para pimpinan mereka itu menjadi gemetar ketakutan.
Orang-orang yang sebenarnya telah terbiasa hidup dalam dunia kekerasan itu kini terpaksa harus menyaksikan kematian para pimpinan Kim-liong Piauw kiok.
Hati belasan orang itu menjadi kecut dan takut, karena selama ini mereka selalu mengandalkan kegagahan dan kehebatan para pimpinan mereka itu.
Selama ini mereka selalu melihat para pimpinan mereka itu tak pernah dikalahkan orang, sehingga kenyataan yang mereka hadapi sekarang ini benar-benar sangat meruntuhkan keberanian dan semangat mereka.
Delapan orang itu benar-benar telah menjadi ketakutan sebelum mereka maju bertempur.
Keadaan orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu bukannya menyentuh hati atau perasaan kasihan dari Siauw Ong ya, tapi sebaliknya justeru semakin membakar kemarahannya.
Dengan ganas dan kejam pangeran yang telah kehilangan seluruh pengikutnya itu menyerang dan membunuh kesebelas anggota Kim liong Piauw-kiok yang masih tertinggal itu.
Busur dan anak-anak panahnya berkelebatan kesana kemari mencari mangsa.
Sebentar saja semua musuhnya tidak ada yang tersiksa.
Semuanya mati dengan tubuh yang mengerikan.
Chin Yang Kun meloncat dari tempat persembunyiannya tanpa terasa.
Kekejaman pangeran itu sungguh amat mengejutkannya.
Maksud hatinya untuk tidak mencampuri urusan mereka menjadi buyar seketika.
Kekejaman pangeran itu ternyata telah membakar hati mudanya.
Munculnya Chin Yang Kun dari dalam hutan itu ternyata juga membakar hati Siauw-ongya pula.
Siauw Ong ya itu mengira bahwa Chin Yang Kun adalah orang Kim liong Piauwkiok pula.
"Hai! Berhenti...! Jangan lari!"
Pangeran itu berteriak mengguntur.
Dengan ginkangnya yang tinggi pangeran itu melesat mengejar Chin Yang Kun.
Tangan kanannya yang menggenggam anak panah itu tampak terayun keras ke depan, dan sekejap kemudian tiga batang anak panah kelihatan melesat dengan derasnya ke tubuh Chin Yang Kun!
Dalam kemarahannya Chin Yang Kun tidak mau mengelakkan serangan itu.
Dengan mengerahkan Liong-cu-ikangnya yang tinggi pemuda itu menangkis dan menghantam runtuh ketiga anak panah tersebut.
Begitu kuatnya pemuda itu mengerahkan tenaga saktinya sehingga anak-anak panah itu menjadi hancur berpatahan ketika tersentuh jarinya.
Dan yang benar-benar amat mengejutkan adalah potongan-potongan anak panah itu masih mampu menghancurkan batu dan amblas ke dalam tanah!
Tentu saja pangeran itu menjadi kaget sekali!
Langkahnya berhenti dengan tiba-tiba.
Wajahnya yang tampan itu menjadi pucat seketika.
Apalagi begitu mengenal siapa yang ada di hadapannya!
"Kau...?"
Pangeran itu berseru. Suaranya terdengar sedikit gemetar. Sinar kekejaman yang tadi tampak pada air mukanya kini mendadak hilang.
"Ya! Tak kusangka kita bisa bertemu lagi di sini. Hmm, di mana pengawalmu yang lihai itu? Seharusnya kau jangan terlalu jauh darinya, sebab tanpa dia jiwamu akan lekas melayang ke akherat..."
Chin Yang Kun menyahut dengan kata-kata yang mengandung ancaman.
Pangeran yang garang itu semakin tampak ketakutan.
Berkali-kali matanya melirik kalau-kalau pengawalnya yang sakti itu telah datang.
Tapi ternyata Souw Thian Hai belum juga kelihatan, sehingga pangeran itu tampak semakin gelisah.
Hilang seluruh keberanian dan kegarangannya tadi.
Agaknya kedahsyatan ilmu Chin Yang Kun, yang di waktu yang lalu hampir saja merenggut nyawanya, masih amat membekas dalam ingatannya.
Sementara itu Chin Yang Kun tampaknya dapat membaca pula semua kegelisahan lawannya itu.
Dengan suara dingin pemuda itu mendengus.
"Bersiaplah! Aku akan mulai...!"
Pangeran itu melangkah mundur. Wajahnya semakin pucat.
"Tahan dulu...!"
Serunya gemetar.
"Aha, ada apa lagi?"
Chin Yang Kun tetap bersiap-siap untuk mengejar lawannya.
"Kau mau mengulur-ulur waktu? kau ingin menantikan kedatangan pengawalmu itu? Hmm, jangan harap! Aku akan membunuhmu terlebih dahulu. Aku tidak perduIi kepadanya. Kalau dia datang...akupun akan membunuhnya juga!"
"Aku..."
Pangeran itu masih mencoba untuk mengulur waktu.
"Tutup mulutmu! Lihat serangan..."
Chin Yang Kun bergeser dengan cepat ke depan.
Kedua belah telapak tangannya terayun secara menyilang ke arah kepala lawan, sementara lutut kanannya menghantam ke arah dagu!
Ternyata dalam kemarahannya pemuda itu telah langsung mengeluarkan ilmu silat andalan keluarganya, yaitu Hok-te Ciang-hoat!
Dan gerakannya itu adalah gerakan dari jurus Raja Chin Miu Mematahkan Kim-pai.
Dahulu, sebelum ilmu pemuda itu disempurnakan oleh nenek buyutnya saja telah mampu menggoyahkan pertahanan ilmu silat Souw Thian Hai, apalagi sekarang!
Jurus Raja Chin Miu Mematahkan Kim-pai itu perbawanya benar-benar hebat bukan kepalang!
Angin pukulan menyilang yang keluar dari kedua belah telapak tangan pemuda itu bagaikan tiupan badai berpusing, yang dapat meremukkan segala benda yang digilasnya!
Tidak bisa tidak pangeran itu terpaksa harus melawan juga.
Bagaimanapun juga dia tak ingin kepalanya dipuntir hancur oleh serangan lawannya.
Oleh karena itu dengan ginkangnya yang tinggi ia melejit lagi ke belakang, lalu bergeser ke samping tiga langkah.
Busur panahnya yang terbuat dari baja lentur itu tampak berputar di atas kepalanya, lalu dengan tiba-tiba mencokel ke bawah ke arah selangkangan Chin Yang Kun.
Jurus ini disebut Menyibak Air Mendayung Perahu, salah sebuah jurus kebanggaan Beng Tian yang diturunkan kepada pangeran itu.
Sebenarnya jurus ini harus digunakan dengan senjata tombak.
Tapi karena pangeran itu telah terbiasa dengan senjata busur, maka Beng Tian sengaja mengubahnya sedikit agar bisa dipelajari oleh pangeran tersebut.
Meskipun begitu oleh karena ilmu silat itu memang bukan ilmu sembarangan, maka perbawanyapun tetap sama saja dengan aslinya.
"Gila...!"
Chin Yang Kun mengumpat ketika serangkum hawa panas menjilat ke arah tubuhnya.
Meskipun segera menghindar pemuda itu merasakan tubuhnya seperti disengat oleh panasnya api.
Melihat kehebatan ilmu silat lawan, Chin Yang Kun tak mau mengulur-ulur waktu lagi.
Pemuda itu tak mau kehilangan banyak waktu, sehingga pengawal dari pangeran itu keburu datang mengeroyok dirinya.
Maka pemuda itu segera mengerahkan ilmu pamungkasnya, Kim coa-ih-hoat dan Liongcu-i-kang!
Begitu jurus Menyibak Air Mendayung Perahunya dapat dielakkan lawannya, pangeran itu cepat menyusulnya dengan jurus Meraih Bintang Menyodok Bulan.
Kali ini adalah jurus yang diwarisinya dari Sianghouw Nio-nio.
Tangan kiri mencengkeram ke arah ubun-ubun, sementara busur panah yang berada di tangan kanan menusuk ke arah dada!
Chin Yang Kun berputar ke kiri, lalu menjatuhkan kedua telapak tangannya ke tanah dalam posisi jurus Menatap Lantai Menyembah Raja, jurus ke sebelas dari Hok-te Ciang-hoat.
Kemudian masih dengan posisi berlutut pemuda itu cepatmengulurkan sepasang lengannya ke muka, ke arah kedua kaki lawannya.
Kini pemuda itu menyerang dengan iImu Kimcoa-ih hoatnya yang dahsyat, sehingga tubuhnya yang jangkung itu tiba-tiba bagaikan seekor ular sanca menggeliat semakin panjang melebihi ukuran biasa!
Melihat sodokannya ke arah dada dapat dielakkan oleh Chin Yang Kun, sebenarnya pangeran itu bermaksud memburu lawannya dengan jurus-jurus berikutnya.
Tapi gerakan Chin Yang Kun ternyata lebih cepat dari yang ia duga.
Belum juga ia menyelesaikan jurus Meraih Bintang Menyodok Bulannya, lawannya sudah lebih dulu memasukkan serangan ke arah dua kakinya.
Terpaksa pangeran muda itu melangkah surut ke belakang untuk menghindari serangan tersebut.
Tapi untuk kesekian kalinya pangeran itu menjadi pucat wajahnya.
Meskipun telah melangkah mundur ternyata serangan itu masih tetap saja mengejarnya.
Tubuh dan lengan lawannya bagaikan seekor ular berbisa yang terus memanjang tak henti-hentinya!
"Ilmu setan...!"
Pangeran muda itu menjerit.
Karena bingungnya pangeran muda itu meloncat tinggi ke atas, kemudian dengan gugup melemparkan semua anak panah yang dipegangnya ke bawah, ke arah lawan yang mempunyai ilmu silat mengerikan itu.
Karena gugup dan takut maka kekuatan yang ia gunakan untuk melemparkan anak panah itu menjadi berlipat ganda besarnya.
Terdengar suara mengaung bagaikan ribuan lebah terbang ketika belasan anak panah itu meluncur ke bawah, menghujam badan Chin Yang Kun!
Kaget juga Chin Yang Kun melihat kegesitan dan kehebatan ilmu lawannya.
Untuk menangkis atau menepiskan anak-anak panah itu seperti yang ia lakukan tadi rasanya tidak mungkin.
Selain anak panah itu sangat banyak serta diIemparkan dari atas, kedudukan tubuhnya saat itu tak memungkinkan bagi dirinya untuk mengerahkan seluruh kekuatan tenaga saktinya!
Apabila ia tetap memaksakannya juga, maka kemungkinan untuk terluka sungguh sangat banyak.
Oleh karena itu Chin Yang Kun bergegas mengkerutkan kembali tubuhnya, kemudian cepat-cepat berguling ke arah kanan.
Gerakan ini dilakukan oleh Chin Yang Kun dengan cepat sekali, lebih cepat dari pada laju anak panah yang menyerangnya, sehingga tubuhnya lolos dari rejaman anak panah tersebut.
Jilid 29 Keduanya lalu berdiri berhadapan kembali.
Masing-masing saling mengagumi kegesitan dan kehebatan ilmu silat lawannya.
Chin Yang Kun benar-benar sangat kagum dan tidak menduga lawannya yang masih muda itu mempunyai demikian banyak macam ilmu silat pilihan.
Sementara lawannya, si pangeran itu juga tidak menduga bahwa dirinya ternyata mampu melayani ilmu Chin Yang Kun yang mengerikan itu.
Demikianlah, setelah mendapatkan kembali kepercayaan dirinya, pangeran muda itu bertempur semakin mantap dan garang.
Dan keadaan ini tentu saja membuat lawannya, Chin Yang Kun, semakin sukar untuk segera menghentikan perlawanannya.
Tiba-tiba terdengar suara siulan nyaring dari atas puncak bukit tersebut.
Wajah Siauw-ongya berubah menjadi gembira sekali, sementara Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya.
"Kau dengar suara itu? Hahaha, pengawalku itu telah datang...! Kini kau jangan mengharapkan bisa lolos dari tempat ini!"
Siauw-ongya itu tertawa senang.
"Persetan! Aku tidak peduli siapapun juga...Panggillah dia! Ajaklah ia mengeroyokku! Aku tidak takut! Aku akan membunuh kalian berdua...!"
Chin Yang Kun berteriak marah sekali.
Mendadak Chin Yang Kun melenting tinggi ke atas melampaui kepala lawannya.
Mulutnya yang terkatup rapat itu mengeluarkan suara mendesis bagai ular marah.
Kemudian sebelum kedua buah kakinya meluncur turun, keSepuluh jari jari tangannya mencengkeram ke bawah ke arah punggung lawan yang tepat berada di bawahnya.
Jurus ini adalah jurus ke lima dari Kim coa-lh hoat yang disebut Membelit Udara Membentuk Huruf Goat.
Sebuah jurus atau gerakan yang amat indah untuk dilihat, yaitu badan membungkuk di udara dan kedua tangan dengan jari-jari terbuka menerobos di antara paha sendiri untuk mencengkeram punggung lawan yang berada di bawahnya!
Siauw-ongya yang tak pernah mengendurkan kesiapsiagaannya ini cepat bereaksi.
Sambil berputar tubuhnya membungkuk, lalu kedua telapak tangannya secara berbareng menyabet ke samping untuk memotong cengkeraman lawannya.
Tangkisan ini ia lakukan karena ia sudah jera untuk mengelakkan lagi serangan-serangan tangan Chin Yang Kun yang selalu bertambah panjang dan berubah-ubah arah setiap kali dielakkan itu.
Langkah yang diambil oleh Siauw-ongya itu sesungguhnya sudah betul.
Dengan seIaIu menahan dan memapaki setiap pukulan atau serangan Chin Yang Kun itu sudah berarti mengurangi kedahsyatan Ilmu Kim-coa ih-hoat yang mengerikan tersebut.
Dan cara yang diambil untuk membentur serangan itupun juga sudah benar pula, yaitu tidak langsung beradu dada untuk menentukan kalah menangnya, tapi dengan cara mematahkan kekuatan lawan dari samping!
Hal ini dilakukan oleh pangeran itu karena menyadari bahwa Iweekangnya masih jauh di bawah Chin Yang Kun.
Tetapi ternyata masih ada beberapa hal yang dilupakan oleh Siauw-ongya itu.
Meskipun apa yang dia lakukan itu sudah betul, tapi dia lupa bahwa selain bisa memanjang dan memendek Kim-coa ih-hoat itu masih mempunyai satu keanehan lagi, yaitu sendi-sendi tulang yang bisa bergerak bebas ke mana saja.
Selain itu masih ada satu lagi yang dilupakan atau tidak diperhitungkan oleh pangeran itu, yaitu hawa beracun yang keluar dari tubuh Chin Yang Kun.
Maka benturan selanjutnya benar-benar hebat bukan kepalang!
"Plakk!
Plukk!
Thaas...!"
"Croooot!"
"Aauuugh...!"
Tampak tubuh Chin Yang Kun yang jangkung itu terpelanting ke kanan.
Tapi bersamaan dengan itu tubuh Siauw-ongya juga tampak terhempas ke tanah dengan kerasnya.
Untuk beberapa saat tubuh pangeran itu berguling guling kesana kemari, kedua tangannya menggaruk-garuk perut seolah-olah perut itu menjadi gatal bukan main.
Tapi sekejap kemudian tubuh itu lalu meregang dan...mati!
Baju di bagian perutnya tampak terbuka dan penuh darah!
Chin Yang Kun berdiri tenang mengawasi mayat lawannya.
Kedua belah tangannya masih berlepotan darah.
Darah pangeran yang malang itu!
Apa sebenarnya yang terjadi?
Bagaimana Siauw-ongya yang sakti itu sampai dapat menemui ajalnya seperti itu?
Semuanya memang berjalan dengan amat cepat, sehingga seluruh gerakan mereka hampir-hampir tidak dapat diikuti oleh mata.
Keduanya tadi mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka.
Oleh karena itu benturan yang tadipun sungguh hebat bukan kepalang.
Ketika dengan kekuatan penuh kedua lengan Chin Yang Kun dibentur oleh Siauw Ong ya, tepat pada siku tangan, tiba-tiba tangan pemuda itu menekuk keluar.
Suatu hal yang tak mungkin bisa dilakukan oleh orang lain.
Dan lengan yang tertekuk secara mustahil itu mendadak bertambah panjang sejengkal jauhnya sehingga dengan mudah dapat mencapai perut Siauw-ongya.
Tentu saja hal itu benar-benar tidak diduga oleh pangeran muda tersebut.
Dengan air muka yang tiba-tiba menjadi pucat pangeran itu berusaha menghindar.
Tapi karena serangan tersebut sungguh-sungguh amat sangat mendadak serta dalam jarak yang begitu pendek, maka usaha pangeran itu sia-sia saja.
Sehingga tanpa ampun lagi jari-jari tangan Chin Yang Kun itu mencengkeram dengan telak ulu hati pangeran yang malang tersebut.
Begitu dahsyatnya kekuatan Liong-cu-ikang yang tersalur pada jari-jari itu sehingga jari-jari tersebut mampu menembus kulit dan menghancurkan isi perut!
Demikianlah, Siauw-ongya itu terhempas ke tanah, dan kematiannya semakin dipercepat oleh hawa beracun yang keluar menyertai cengkeraman Chin Yang Kun tadi...Chin Yang Kun itu membersihkan kedua tangannya yang terkena darah lawannya.
Setelah itu dengan tergesa-gesa dia menghampiri jago Kim liong Piauw-kiok yang dilihatnya masih hidup tadi.
Dengan hati-hati Chin Yang Kun memeriksa jago Kim-Liong Piauw-kiok itu.
Dan dugaan pemuda itu memang benar juga, orang itu memang belum mati.
Sambil mengerang orang itu membuka matanya.
"Terima...terima kasih! saudara telah...telah menolong kami..."
Orang itu berbisik menyatakan rasa terima kasihnya.
"Saudara, boleh...bolehkah aku mengetahui nama...nama besarmu?"
Sambil memeriksa anak panah yang terhunjam pada perut orang itu, Chin Yang Kun menjawab.
"Tampaknya saudara telah lupa kepadaku...Tapi tak mengapa. Yang perlu sekarang adalah mengobati luka ini. Cobalah saudara bertahan sedikit, aku akan mencabutnya!"
"Saudara...kau? kau...oh, benar...aku ingat sekarang. saudara benar-benar merupakan malaikat penolong bagi Kim-liong Piauw-kiok kami. Sudah dua kali ini saudara menyelamatkan kami...Ohh, bagaimana dengan saudara-saudaraku yang lain?"
Orang itu berdesah dengan gembira begitu mengenali wajah Chin Yang Kun kembali.
"Maaf, kedatanganku tadi telah terlambat sehingga tak bisa menolong yang lain-lainnya. Tapi...sudahlah, kau jangan memikirkan yang lain dulu! Sekarang bersiaplah! Aku akan mencabut anak panah ini..."
"Ahhh...!"
Dengan mudah Chin Yang Kun mencabut anak panah itu, lalu membalutnya.
"Untuk sementara darah yang keluar telah dapat kita hentikan. Tapi untuk selanjutnya saudara harus lekas-lekas pergi ke kota untuk berobat. Apakah saudara sudah kuat untuk berjalan?"
Orang itu mencoba bangkit, tapi rasa sakit membuat dia mengurungkan niatnya tersebut.
"Ah, perutku masih terasa sakit. BiarIah aku berbaring saja dahulu di sini. Sebentar juga dua orang temanku akan kembali ke sini. Mereka sekarang sedang pergi ke Poh-yang."
Orang itu berkata.
"Eh, apakah saudara hendak cepat-cepat meninggalkan tempat ini?"
"Ya! Temanku diculik orang dan dibawa ke puncak bukit itu."
Chin Yang Kun mengiyakan.
"Syukurlah kalau saudara masih mempunyai kawan yang dapat membawa saudara ke kota...tak enak hatiku sebenarnya untuk meninggalkan saudara. Tapi urusanku itu juga tidak bisa ditunda-tunda lagi. Ehm, masih lama benarkah kedatangan teman saudara itu?"
"Tidak! Sebentar lagi kukira mereka akan datang. Mereka hanya kusuruh mencari berita di kuil dekat pintu kota itu..."
"Kuil dekat pintu kota? Maksud saudara kuil yang berada di dekat pintu gerbang kota sebelah timur itu?"
Chin Yang Kun terkejut. Orang Kim-liong Piauw-kiok itu mengkerutkan keningnya.
"Benar! Mengapa saudara kelihatan sangat kaget mendengar aku menyebutkan tempat itu?"
Tanyanya dengan heran pula. Chin Yang Kun menjadi tegang.
"Maaf, bolehkah aku bertanya...apakah kepentingan saudara di sana...eh, maksudku...kepentingan saudara di kuil itu?"
Orang itu semakin menjadi bingung atas pertanyaan Chin Yang Kun tersebut.
"Kami mendapatkan pekerjaan dari seseorang untuk mengirimkan barang ke kuil itu pada hari ini. Tapi sebelum barang itu kami serah-terimakan kami harus menghubungi seseorang lebih dahulu di kuil tersebut. Itulah sebabnya kedua kawan kami itu kami kirimkan ke Poh-yang."
Katanya memberi keterangan. Lalu lanjutnya.
"Mengapa? Apakah saudara melihat sesuatu yang tidak beres dalam hal ini?"
Chin Yang Kun tidak mempedulikan pertanyaan itu. Dengan air muka tetap tegang pemuda itu mencengkeram tangan orang yang terluka itu.
"Apakah orang yang harus kalian hubungi itu, adalah penunggang-penunggang kuda yang datang dari jauh?"
"Penunggang-penunggang kuda? Ah, entahlah...! Tapi kukira bukan. Sebab yang harus kami hubungi itu Cuma seorang saja."
"Cuma seorang...? Eh, apakah orang itu mengenakan pakaian serba putih dan rambutnya yang panjang dibiarkan terjurai di atas punggungnya?"
Chin Yang Kun dengan suara keras menyebutkan ciri-ciri Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.
"Hei! Ya...ya...benar! Apakah saudara mengenalnya?"
Orang yang terluka itu bertanya dengan hati yang berdebar-debar. Tapi jawaban yang dia peroleh sungguh di luar dugaan! "Ya! Orang itu hampir saja membunuhku dengan ilmunya yang mengerikan!"
"Ahhh!"
Orang Kim-liong Piauw-kiok itu berdesah.
"Sejak semula kami memang telah bercuriga. Tapi karena orang orang yang memberikan titipan itu berani membayar banyak maka kami terpaksa menyanggupi juga..."
Keduanya lalu diam. Masing-masing berjalan dengan pikirannya sendiri-sendiri. Beberapa saat kemudian barulah Chin Yang Kun membuka suara kembali.
"Apakah sebenarnya isi kiriman itu?"
Tanya Chin Yang Kun sambil menoleh ke arah gerobag-gerobag pengangkut barang itu.
"Itulah...! Selain memperoleh imbalan banyak, kami mendapat pesan...tidak boleh membuka kotak-kotak kiriman tersebut. Maka sungguh menyesal aku juga tidak mengetahui isinya,"
Orang yang terluka itu menghela napas sedih. Chin Yang Kun terdiam kembali. Dahinya tampak berkerut merut. Kemudian perlahan-lahan dia berdiri.
"Saudara, bolehkah aku melihatnya?"
Orang itu tampaknya sangat berat untuk menjawab.
Kelihatannya dia masih berpegang teguh pada tugas dan tanggung jawabnya.
Tapi serentak melihat keadaan dirinya yang payah orang itu menjadi lemas kembali.
"Terserah! biarpun masih hidup, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Dimisalkan ada seorang anak kecil yang ingin membukanya, akupun sudah tidak bisa mencegahnya juga..."
Chin Yang Kun mengangguk, laIu melangkah mendekati gerobag-gerobag tersebut.
Dengan tenaga saktinya yang ampuh pemuda itu mencengkeram hancur pinggiran kotak yang terbuat dari kayu pilihan tersebut, lalu membukanya dengan paksa.
Dan isinya membuat pemuda itu menjadi tercengang.
"Tumpukan senjata!"
Gumamnya heran.
Pemuda itu cepat membuka kotak kotak yang lain.
Tapi seperti pada kotak yang pertama, isinya juga tumpukan tumpukan senjata tajam pula.
Ada yang berisi tumpukan senjata golok, ada pula yang berisi tumpukan senjata pedang.
Semuanya berjumlah lebih dari dua ribu batang.
"Gila! Orang itu benar-benar mau mempersenjatai orang untuk memberontak..."
Chin Yang Kun menggeram di dalam hati dan tiba-tiba pikirannya melayang ke kotak yang dibawa oleh si Pemuda Tampan itu.
"Apakah kotak itu berisi senjata pula?"
"Saudara..."
Jago Kim liong Piauw-kiok yang terluka itu tiba-tiba memanggil. Chin Yang Kun tersentak kaget.
"Yaa...?"
Pemuda itu dengan tergesa-gesa menjawab.
"Saudara memanggil sa...?!"
Tapi pemuda itu menghentikan ucapannya dengan cepat.
Mukanya menjadi pucat dan matanya tertegun ketika mendadak ia melihat seorang laki-laki duduk berjongkok di samping mayat Siauw-ongya.
Mayat itu terletak tidak jauh dari tempat di mana orang Kim-liong Piauw-kiok itu berbaring, dan tempat tersebut hanya sepuluh langkah saja dari tempat ia berdiri.
Meskipun demikian ternyata ia tak mendengar sama sekali suara langkah orang itu.
"Siapa kau?"
Chin Yang Kun menggeram.
Orang itu menghela napas panjang, lalu perlahan-lahan berdiri.
Tubuhnya yang tegap dan tinggi perlahan-lahan berbalik menghadap ke arah Chin Yang Kun.
Meskipun demikian kepalanya tetap tertunduk ketika menjawab Chin Yang Kun.
"Aku terlambat datang...tapi ini bukan salahku. Dia sendiri yang menyuruh aku pergi ke kota Poh-yang."
"Kau...?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget.
Otomatis kakinya melangkah mundur setindak ke belakang sehingga punggungnya menempel pada gerobag, ketika orang itu mengangkat wajahnya!
Chin Yang Kun tidak akan lupa pada wajah yang amat sangat diingatnya itu!
wajah seorang lelaki yang pada saat-saat pertama telah mendapatkan kecurigaannya sebagai pembunuh keluarganya!
"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai!"
Pemuda itu menggeram lagi.
Seluruh otot-ototnya menegang, siap untuk bertempur mati-matian dengan jago pengawal Siauw-ongya itu.
Tapi Souw Thian Hai ternyata tidak meladeni sikap Chin Yang Kun tersebut.
Dengan tenang pendekar sakti itu mengangkat tubuh Siauw-ongya, kemudian membawanya ke pinggir hutan.
Dibuatnya sebuah lobang dan dikuburkannya mayat orang yang selama ini harus dilindunginya itu disana.
Sementara itu dari dalam hutan tampak dua orang lelaki berlari keluar dengan tergesa-gesa.
Dengan wajah kaget dan pucat mereka bergegas menghampiri mayat-mayat anggauta perkumpulan Kim-liong Piauw-kiok.
Melihat semuanya mati mereka menjadi bingung dan tak tahu apa yang harus mereka kerjakan.
Tiba-tiba mereka memandang kea rah Chin Yang Kun dengan mata melotot.
Mereka mengira bahwa pemuda itulah yang bertanggung jawab atas kematian mereka.
Tapi anggota Kim-liong Piauw-kiok yang terluka itu segera memanggil kedua orang itu.
"Kiu Pok...! Kiu Jiang...! Kemarilah!"
"Ohh?"
Kedua orang itu terkejut melihat temannya masih ada yang hidup. Mereka bergegas menghampiri teman mereka yang terluka itu.
"Tuan Hua, kau masih hidup? Apa yang telah terjadi dengan kawan-kawan kita di sini? Siapakah yang membunuh mereka?"
Orang yang terluka, yang dipanggil dengan nama Tuan Hua itu bangkit dan kemudian duduk dibantu oleh dua orang yang baru datang itu.
"Kita dirampok orang..."
Ia menjelaskan.
"Sepeninggal kalian rombongan kita telah didatangi lima orang lelaki yang ingin merampas barang bawaan kita. Kita dapat membunuh empat orang diantara mereka, tapi yang seorang ternyata lihai bukan main. Satu persatu kawan kita dibunuhnya, termasuk pula aku. Untunglah malaikat penolong kita datang..."
"Malaikat penolong?"
Kedua orang itu menegaskan.
"Ya! Kalian ingat kepada malaikat penolong kita yang dahulu pernah menolong rombongan kita ketika bentrok dengan para pengemis Tiat-tung Kai-pang itu?"
Tuan Hua itu bertanya kepada dua orang temannya tersebut.
"Oh, ya...ya! tentu saja kami ingat! Jadi pemuda ini..."
Kedua orang itu menoleh ke arah Chin Yang Kun dengan takut-takut. Mereka sekarang teringat kepada cerita teman teman mereka tentang seorang pemuda sakti yang pernah menolong mereka.
"Ya! Tuan penolong kita itu sekarang telah menolong kita kembali. Perampok yang sangat lihai itu dapat dibunuhnya,"
Tuan Hua mengangguk.
"Oh, syukurlah..."
Kedua orang itu berdesah lega.
"Tapi kita belum benar-benar terlepas dari kesulitan ini. Kalian jangan terburu-buru bergembira dahulu!"
"Hah? Maksudmu...?"
"Lihatlah di pinggir hutan itu!"
Tuan Hua berbisik sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
"Kalian tahu siapa dia...?"
"Orang yang sedang mengubur mayat itu? Siapakah dia?"
Dua orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu memandang ke arah Souw Thian Hai, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Tuan Hua menghela napas panjang.
"Orang itu adalah teman para perampok itu pula. Dan kalau tak salah tuan penolong kita tadi menyebut dia sebagai Hong-gi-hiap Souw Thian Hai...!"
"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai?"
Dua orang Kim-liong Piauw-kiok ini terpekik kaget.
"Benarkah...benarkah i-itu...? Tapi...tapi...tapi...bukankah pendekar sakti itu terkenal akan kebaikan budinya? Memengapa...??"
"Entalah! Aku sendiri juga belum pernah melihat wajah pendekar yang sangat terkenal itu. Tapi yang terang...tuan penolong kita itu tentu tidak salah omong. Apa yang dia katakan tentulah benar."
Tuan Hua itu berbisik lagi sambil melirik ke arah Chin Yang Kun yang masih berdiri tegang di dekat gerobag.
Melihat Souw Thian Hai telah selesai menguburkan mayatnya, Chin Yang Kun perlahan-lahan melangkah maju.
Dihampirinya orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu sebelum ia melayani Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
"Pergilah kalian dari tempat ini! Bawalah teman kalian yang terluka ini ke kota agar lekas-lekas mendapatkan pengobatan. Biarlah aku melayani yang seorang ini..."
Pemuda itu berkata kepada mereka.
"Eh, mana bisa begitu? Apa kata orang nanti kepada Kim-liong Piauw-kiok kami? Masakan kami malah meninggalkan orang yang sedang berusaha menolong kami? Di mana kami akan menyembunyikan muka kami nanti? Tidak...! Kami tidak akan meninggalkan saudara!"
Tuan Hua menolak anjuran Chin Yang Kun tersebut dengan bersemangat.
"...Selain itu, apakah gunanya kami selamat kalau barang yang dititipkan kepada kami itu lolos dari tangan kami? Bagaimana pertanggungan jawab kami terhadap guru kami nanti?"
"Kalian jangan khawatir tentang barang kalian yang berada di dalam gerobag itu. Tak akan ada seorangpun yang mau mencurinya. Kalian sudah tahu...apa isinya?"
Dengan cepat ketiga orang Kim-liong Piauw-kiok itu menggeleng.
"Belum..."
Jawab mereka serentak.
"Ketahuilah! Kotak-kotak kalian itu hanya berisi senjata senjata saja, bukan benda-benda berharga seperti yang kalian bayangkan."
"Benarkah...?"
Dua orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu tak percaya.
Bergegas mereka berlari ke gerobag untuk membuktikannya.
Tapi yang mereka lihat di dalam setiap kotak itu memang hanya senjata saja.
Biarpun mereka membolak-balik isi kotak itu, isinya tetap senjata.
Tak ada yang lain!
Oleh karena itu dengan wajah penasaran mereka menatap Tuan Hua.
"Apa maksud pengirim itu mengirimkan benda-benda seperti ini? Mengapa dia membungkus barang-barang ini demikian rapinya, seolah-olah benda ini sedemikian berharganya?"
Mereka berteriak.
"Hah? Entahlah...! Aku juga tidak tahu. Yang terang orang itu telah membayar banyak kepada kita untuk ongkos pengiriman..."
Tuan Hua itu juga terkejut begitu tahu apa isi barang bawaan mereka.
"Sudahlah, kalian cepat-cepatlah pergi ke kota! Setelah kalian berobat, kalian dapat mencari orang untuk mengambil gerobag-gerobag ini. Lekaslah, sebelum kalian terlambat...! soalnya, terus terang saja...aku masih sangsi! Apakah aku bisa menang melawan orang itu,"
Chin Yang Kun mendesak lagi.
"Tapi...saudara bagaimana?"
Dengan terbata-bata Tuan Hua mencoba untuk mengelak pula.
"Jangan pikirkan aku! Kalau aku tidak bisa mengatasi dia, aku masih dapat melarikan diri. Lain halnya dengan kalian. Bagaimana kalian akan lari kalau salah seorang dari kalian ada yang terluka? Bukankah keadaan kalian justru akan lebih buruk? Nah, jangan membuang-buang waktu! Pergilah...!"
"Ba-baiklah kalau begitu! Terima kasih atas pengorbanan tuan...!"
Dua orang Kim-liong Piauw-kiok yang tidak terluka itu buru-buru menyahut, kemudian menyambar Tuan Hua dan membawanya pergi meninggalkan tempat itu.
Tapi sebelum mereka pergi jauh, Tuan Hua berteriak ke arah Chin Yang Kun.
"Saudara, bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia? Katakanlah...agar kami dapat mencatatnya di dalam hati!"
Chin Yang Kun menoleh. Melihat langkah mereka yang sedikit tertegun dan tidak segera pergi meninggalkan tempat itu, Chin Yang Kun menjadi serba salah juga.
"Baiklah! Sebut saja aku Yang Kun! Nah, sekarang pergilah! Eh, nanti dulu...! Aku lupa mengatakan...ehm, apakah saudara Thio Lung ada di rumah sekarang?"
Kedua orang Kim-liong Piauw-kiok itu berhenti dengan tiba-tiba. Sambil tetap menggendong Tuan Hua mereka menghadap ke arah Chin Yang Kun.
"Thio Lung suheng? Ada, dia ada di rumah sekarang. Dia sedang menunggui guru kami yang baru menderita sakit. Apakah...apakah saudara Yang sudah mengenal Thio suheng?"
"Ya! Katakan kalau aku ingin berjumpa dengan dia!"
"Baik! Kami akan memberitahukan hal itu kepadanya...Nah, kami akan berangkat sekarang."
Kedua orang itu segera meloncat pergi menerobos hutan, meninggalkan Chin Yang Kun dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai sendirian.
Matahari telah mendaki hampir ke puncaknya, sehingga udara menjadi bukan main panasnya.
Meskipun demikian karena angin berhembus sedikit kencang, maka udara di sekitar hutan itu masih terasa segar dan nyaman.
Sementara itu Souw Thian Hai tampak berdoa sebentar di depan makam yang baru saja ditimbunya.
Setelah itu perlahan-lahan tubuhnya berbalik dan menghadap ke arah Chin Yang Kun.
"Aku sangat berterima kasih sekali kepadamu, karena kau telah melepaskan belenggu yang mengikat kebebasan dan kemerdekaanku..."
Katanya perlahan.
"Melepaskan belenggu? Huh! Apa maksudmu?"
Chin Yang Kun mendengus sambil melangkah maju.
Kini keduanya saling berhadapan dalam jarak dua setengah tombak.
Mereka saling bertatap mata bagaikan dua ekor ayam jago yang hendak berlaga.
Hanya bedanya, Chin Yang Kun kelihatan seperti jago yang gelisah dan tegang, sementara Souw Thian Hai tampak tenang serta acuh tak acuh saja.
"Karena kelalaianku sendiri aku telah terkena pisau Hek-eng-cu yang beracun. Tak ada yang mempunyai obat pemunah racun tersebut selain pangeran itu tadi. Dan secara kebetulan tubuhku yang keracunan itu diketemukan oleh pangeran tersebut bersama ayahnya, yaitu bekas Pangeran Mahkota Wangsa Chin. Kedua orang pangeran ayah dan anak itu bersedia menyembuhkan lukaku asal aku mau berjanji untuk mengabdi kepada mereka selamanya..."
Pendekar sakti itu menghentikan sejenak keterangannya, kemudian setelah menghela napas panjang berulang-ulang ia meneruskan kata-katanya.
"...Sebenarnya berat sekali bagiku untuk meluluskan permintaan atau syarat mereka itu, tapi...akhirnya terpaksa kusetujui juga syarat tersebut. Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan. Aku akan mati dengan penasaran kalau aku belum dapat menyelesaikan semua urusan tersebut. Oleh sebab itulah aku terpaksa menerima juga syarat mereka. Meskipun demikian syarat itu tidak kuterima semuanya begitu saja...Aku juga mengajukan syarat kepada mereka bahwa aku mau mengabdi seperti yang mereka kehendaki, tetapi...hanya kepada salah seorang dari mereka! Sungguh tidak adil kalau selembar jiwaku ini harus ditukar dengan melindungi dua lembar jiwa mereka. Aku menghendaki satu jiwa ditukar dengan satu jiwa pula...! Dan ternyata mereka setuju. Aku diharuskan mengabdi kepada pangeran muda yang usianya jauh lebih muda dari umurku. Dengan demikian mereka berharap dapat mengikat aku sepanjang hidupku. Tapi nasib manusia ternyata tidak dapat diduga, pangeran muda itu ternyata justru telah pergi mendahului aku..."
Pendekar sakti itu mengakhiri keterangannya yang panjang lebar dengan menundukkan mukanya.
Meskipun telah terbebas dari belenggu yang mengikat dirinya, pendekar itu tampaknya tidak merasa bergembira pula.
Wajahnya yang tampan dan ganteng itu tetap kelihatan pucat dan lesu.
Dahinya yang lebar selalu berkerut-merut, sementara matanya kadang-kadang menatap jauh ke depan, seolah-olah banyak sekali beban pikiran yang masih ditanggungnya.
Tetapi keadaan Souw Thian Hai tersebut tidak diacuhkan sama sekali oleh Chin Yang Kun, bagaimanapun juga pemuda itu masih menganggap bahwa Souw Thian Hai tentu mempunyai hubungan dengan para pembunuh keluarganya.
Munculnya Souw Thian Hai di gubug kosong di tepi sungai Huang-ho setahun yang lalu takkan pernah dilupakan oleh Chin Yang Kun.
Meskipun dalam penyelidikan selanjutnya pemuda itu tidak pernah menemukan atau mencium keterlibatan tokoh sakti tersebut, tapi sampai sekarang kecurigaannya tetap belum hilang juga.
"Huh! Tidak usah bercerita yang bukan-bukan di hadapanku! Engkau tidak mungkin lagi bisa melunakkan sikapku terhadapmu. Aku akan tetap menuntut balas kepadamu..."
Pemuda itu menggeram dengan keras.
Souw Thian Hai seperti dihentakkan dari lamunannya.
Keningnya semakin tampak berkerut, sementara matanya dengan terbelalak menatap ke arah Chin Yang Kun.
Sekejap pendekar sakti itu seperti akan menjadi marah, tapi di lain saat ternyata sikapnya kembali mengendur.
Dengan menghela napas dalam pendekar itu berdesah.
"Ahhhh...ternyata engkau masih mendendam juga kepadaku, padahal aku sungguh-sungguh tak bermaksud melukaimu di desa Hok cung dulu itu. Aku cuma bermaksud menyelamatkan jiwa Siauw-ongya yang terancam pukulan mautmu..."
"Bukan hal itu yang akan kupersoalkan sekarang!"
Chin Yang Kun berteriak marah karena merasa tersinggung telah diingatkan luka-lukanya yang parah akibat pukulan pendekar sakti itu.
"...Dan kau jangan terlalu berbangga karena dapat melukaiku! Engkau pun telah menderita luka pula pada saat itu!"
"Ah!"
Kaget juga Souw Thian Hai mendengar kata-kata Chin Yang Kun tersebut.
Lalu persoalan apa sebenarnya yang membuat pemuda itu mendendam kepadanya?
"Lalu persoalan apa lagi?
Kukira kita tak pernah berhubungan sebelumnya..."
Akhirnya Souw Thian Hai bertanya dengan wajah bingung.
"Belum pernah berhubungan sebelumnya katamu? Kurang ajar...! kau sudah tidak ingat lagi pada pertemuan kita yang pertama kali itu? Pertemuan di gubug kosong di tepi sungai Huang-ho itu? Engkau tidak ingat lagi...?"
Chin Yang Kun berteriak semakin keras.
"Ohhh...itu! Jadi engkau masih menuduh aku yang membunuh keluargamu?"
"Tentu saja! Siapa lagi kalau tidak kau...? kau telah membunuh ibu, adik-adik, dan para pengawal, kemudian menyelipkan secarik kertas di tangan ibuku. Di atas kertas kecil itu engkau menulis agar ayah dan pamanku pergi ke gubug kosong di pinggir Sungai Huang-ho untuk menemuimu. Engkau menginginkan agar ayah menyerahkan Cap Kerajaan yang dibawanya kepadamu di sana...nah, bagaimana? Masih mau mungkir juga?"
Souw Thian Hai mendengarkan semua tuduhan itu dengan air muka bingung. Sebentar-sebentar ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jadi..., jadi itukah sebabnya kau dahulu lantas menyerang aku dengan membabi-buta di gubug kosong itu?"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Nah, sudah teringat lagi kau sekarang?"
Chin Yang Kun mengejek.
"Wah, kalau begitu engkau benar-benar salah sangka dalam persoalan ini!"
Souw Thian Hai cepat-cepat menukas.
"...Aku sama sekali tidak membunuh ibu dan adikmu, apalagi meninggalkan surat seperti yang kau katakan itu. Aku..."
"Bohong! Pengecut! Engkau mau mengingkari perbuatanmu sendiri...?"
"Kurang ajar! Anak muda, kau jangan menuduh orang sembarangan saja! Dengar dulu keteranganku, setelah itu baru kau boleh marah sesuka hatimu! Jangan main tuduh dan main bunuh tanpa alasan atau bukti yang kuat. Bagaimana kalau engkau sendiri yang dituduh orang seperti itu padahal engkau sendiri merasa tidak melakukannya?"
Lambat laun pendekar sakti itu marah juga. Chin Yang Kun merasa pula bahwa perkataan lawannya itu benar juga.
"Kalau begitu...lekaslah kau berbicara!"
Bentaknya. Souw Thian Hai berusaha menyabarkan hatinya, lalu dengan hati-hati ia memberi keterangan.
"Terus terang...kedatanganku di gubug kosong itu memang bukan secara kebetulan. Seperti telah kuceriterakan...aku terpaksa menjadi pengawal pribadi dari Siauw-ongya semenjak dia bisa menyembuhkan lukaku. Dan pada waktu itu kedatanganku disana memang dalam rangka mengawal pangeran muda tersebut. Aku tidak tahu apa yang hendak dikerjakan oleh pangeran itu bersama-sama anak buahnya di daerah itu, tapi dari pembicaraan mereka aku dapat mengetahui bahwa mereka sedang memburu buronan yang membawa sebuah pusaka kerajaan. Karena aku tidak mau campur tangan dengan urusan mereka selain menjaga keselamatan pangeran itu, maka orang-orang itu juga tidak pernah mempedulikan aku. Mereka membiarkan saja aku berbuat semauku..."
Pendekar sakti itu berdiam diri sebentar untuk mengambil napas.
Matanya yang tajam itu mengerling sekejap untuk mencari kesan di wajah Chin Yang Kun.
Begitu melihat pemuda tersebut mendengarkan ceritanya dengan serius hatinya menjadi gembira.
"Karena bosan semalaman hanya melihat orang-orang yang saling mengintai saja, aku lalu pergi ke tepi Sungai Huang-ho. Tapi tak kusangka di tepi sungai itu aku bertemu dengan musuh besarku, Hek-eng-cu! Dan tampaknya orang itu juga ikut mengincar benda pusaka tersebut. Dan kelihatannya orang itu juga telah lebih dahulu datang di daerah tersebut, serta telah melihat pula rombonganku. Buktinya iblis itu bersama-sama dengan seorang kawannya telah mempersiapkan sebuah perangkap untukku, agar aku tidak bisa menolong rombonganku apabila sewaktu-waktu terjadi benturan di antara mereka."
Pendekar itu menghentikan lagi ceritanya. Wajahnya tampak sangat menyesal karena ternyata dia tak bisa menghindari perangkap yang dipasang oleh Hek-eng-cu.
"Ketika sedang enak-enaknya aku berjalan di tepi sungai Huang-ho itu, tiba-tiba mataku melihat sebuah perahu kecil melintas di atas sungai tersebut. Perahu itu hanya dinaiki oleh seorang nenek yang telah lanjut usianya, dan entah bagaimana asal mulanya mendadak perahu tersebut terbalik sehingga nenek tua itu tercebur ke dalam air yang ganas. Sekejap aku mendengar nenek itu berteriak minta tolong kepadaku. Maka tanpa pikir panjang lagi aku meloncat ke dalam air dan berenang melawan arus sungai yang besar untuk menolongnya. Untunglah aku belum terlambat sehingga nenek itu dapat kuselamatkan. Dengan menggendong tubuhnya yang berat aku kembali bergulat melawan arus untuk mencapai tepian sungai..."
Pendekar itu kembali menundukkan kepalanya, lalu sambil menghembuskan napas panjang dia meneruskan ceritanya.
"Tapi aku benar-benar tidak menyangka sama sekali...selagi aku lengah karena sedang bergulat dengan arus air itu, tiba-tiba nenek yang berada di atas punggungku menyerang leher dan ubun-ubunku secara ganas! Tangan kirinya mencengkeram leherku, sementara tangan kanannya yang secara tiba-tiba telah memegang pisau itu menusuk ke arah ubun-ubunku! Sekilas aku mendengar suara ketawanya yang seperti iblis, dan aku segera mengenalnya sebagai suara ketawa Hek-eng-cu!"
Pendekar itu mengambil napas lagi, matanya menerawang ke depan seolah-olah ingin mengumpulkan kembali ingatannya tentang peristiwa yang sangat mendebarkan itu.
"Dalam keadaan yang sangat berbahaya itu tubuhku secara otomatis bergerak untuk menyelamatkan diri. Cepat bagai kilat aku menyelam sehingga ayunan tangan yang memegang pisau itu tertahan dengan kuat oleh permukaan air. Dan waktu yang hanya sekejap itu kupergunakan untuk melepaskan leherku dari cengkeraman tangan kiri Hek-eng-cu. Tapi cengkeraman itu ternyata amat kuat dan sukar sekali kulepaskan. Memang selain mengerahkan seluruh tenaga saktinya, Hek-eng-cu ternyata telah menggunakan Ilmu Sam ci thiam-hwe-touw untuk mencengkeram urat-urat penting di leherku. Tanpa kusadari jari-jarinya yang kuat itu telah menekan urat gagu dan urat kelumpuhan yang menghubungkan tan-tian dengan otak sehingga tak ampun lagi tubuhku menjadi lemas dan tak bisa berbicara. Tapi sebelum kelumpuhan itu benar-benar menyerang seluruh urat-urat di dalam tubuhku, aku secara mati-matian mengerahkan Khong-sinkang untuk menjaga diri..."
"Khong-sinkang? Apakah itu?"
Untuk pertama kalinya Chin Yang Kun menukas cerita lawannya.
"Ah, cuma ilmu kosong yang tiada artinya sesuai dengan namanya...Khong sinkang berarti Ilmu Sakti Tenaga Kosong!"
Souw Thian Hai menjelaskan dengan sedikit jengah takut dikatakan menyombongkan dirinya.
"Hmmh! Lalu bagaimana seterusnya...?"
"Begitulah...dalam saat-saat terakhir ilmu yang kukerahkan itu ternyata dapat menyelamatkanku. Badanku yang lumpuh akhirnya hanyut terbawa gelombang sungai dan tersangkut di dekat gubug kecil itu. Beberapa saat lamanya aku tergolek saja di tepian sungai. Baru beberapa waktu kemudian, setelah kelumpuhan itu berangsur-angsur hilang dari tubuhku, aku bangkit dan pergi menghampiri gubug kecil itu. Aku harus segera mencari tempat berlindung untuk memulihkan kembali tenagaku. Sebab meskipun aku sudah tidak lumpuh lagi tapi aku ternyata belum bisa mengerahkan lweekang seperti sedia kala. Beberapa buah jalan darahku masih terpengaruh oleh Sam-ci Tiam-hwe-louw Hek-eng-cu. Malah urat gaguku juga belum lepas pula dari pengaruh cengkeramannya. Nah, pada saat demikian itulah kau datang...!"
Chin Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tahulah ia sekarang kenapa ilmu silat Souw Thian Hai yang dahsyat itu dahulu seperti tidak punya tenaga sama sekali ketika bertempur dengannya.
Itulah juga sebabnya kenapa pendekar sakti itu tidak mengeluarkan suara sama sekali ketika mereka bertempur!
Hati Chin Yang Kun mulai ragu-ragu.
Pemuda ini mulai percaya pada kebenaran penuturan lawannya.
Agaknya pendekar sakti yang mempunyai nama harum di dunia kang ouw itu memang sungguh-sungguh tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa pembunuhan keluarganya itu.
Kelihatannya memang tak ada alasan yang kuat bagi pendekar sakti itu untuk memusuhi apa lagi sampai berbuat begitu keji kepada keluarganya.
Lalu, siapa sebenarnya yang menulis surat itu?
Mengapa orang itu tidak muncul di gubug kosong itu?
Apakah orang itu menjadi ketakutan dan tidak berani mendekati gubug tersebut karena di sana ada Souw Thian Hai?
"Eh, mengapa peristiwa kecil di gubug kosong itu kelihatannya amat mengganggu pikiran saudara?
Apakah aku telah berbuat suatu kesalahan besar di tempat itu sehingga engkau demikian mendendam kepadaku?"
Tiba-tiba Souw Thian Hai mengajukan pertanyaan, sehingga Chin Yang Kun yang sedang melamun itu menjadi kaget.
"Hmmh!"
Pemuda itu mendengus.
"Kau tahu...siapa yang kau katakan sebagai buronan itu? Mereka adalah keluargaku! Seluruh keluargaku! Mereka diburu, dikejar-kejar, disiksa...kemudian dibunuh!"
"Haah?"
Souw Thian Hai tersentak kaget. Lalu.
"Sungguh tak kusangka bila demikian halnya. Sekarang aku tahu...kenapa sikapmu demikian kerasnya! Tapi...percayalah engkau kepadaku, aku sungguh-sungguh tidak tahu menahu tentang keluargamu!"
"Kalau begitu...siapakah menurut pendapatmu?"
Souw Thian Hai bernapas dengan lega melihat gelagatnya pemuda itu sudah tidak mencurigainya lagi. Tampaknya pemuda itu dapat menerima seluruh keterangannya tadi.
"Kalau memang keluargamu itulah yang dicari dan dikejar kejar oleh orang-orang itu aku hampir berani memastikan bahwa mereka jugalah yang telah membunuhnya! Siapa lagi kalau tidak orang-orang itu? Bukankah masalahnya hanya pada Cap Kerajaan itu?"
"Kau maksudkan Siauw-ongya dan anak buahnya?"
"Ah...bukan! Bukan! Bukan mereka. Aku tahu dengan pasti bahwa bukan mereka pelaku pembunuhan itu, karena kalau mereka yang melakukan aku pasti mengetahuinya pula."
"Lalu siapa kalau bukan mereka? Apakah rombongan Hek-eng-cu yang kau jumpai di sungai Huang-ho itu?"
"Entahlah...!"
Souw Thian Hai menggeleng dengan ragu ragu.
"Kemungkinan juga memang merekalah pelakunya...tetapi kemungkinan juga bukan. Sebab selain rombongan Siauw-ongya dan Hek-eng-cu, aku mencium pula jejak-jejak yang lain, yang kalau tak salah adalah jejak para iblis Ban-kwi-to dan jejak para petugas kerajaan."
"Hek-eng-cu dan para iblis Ban-kwi-to itu adalah satu rombongan..."
Chin Yang Kun cepat menukas karena ia teringat waktu ditawan oleh rombongan itu di gedung Si Ciangkun setahun yang lalu.
"Begitukah? Jikalau demikian tinggal dua rombongan saja yang pantas dicurigai, yaitu rombongan Hek-eng-cu dan para petugas kerajaan!"
Souw Thian Hai berkata tegas.
"Rombongan petugas kerajaan...?"
Chin Yang Kun menegaskan.
"Ya, para petugas kerajaan! Mereka dipimpin sendiri oleh Yap Tai-Ciangkun dan kakaknya Hong-lui-kun Yap Kiong Lee."
"Ahhhh!"
Chin Yang Kun berseru kaget.
"...Tapi...tapi tak mungkin rasanya kalau mereka itu yang berbuat keji. Kedua orang kakak beradik itu selain mempunyai kedudukan tinggi di Kotaraja, mereka juga merupakan pendekar pendekar persilatan yang bernama harum dan berjiwa kesatria. Tak mungkin rasanya mereka berbuat sekeji itu!"
"Engkau benar!"
Souw Thian Hai mengiyakan perkataan Chin Yang Kun tersebut.
"Akupun telah mengenal dengan baik kedua orang kakak beradik itu. Mereka tak mungkin membunuh orang dengan cara yang begitu pengecut! Kepandaian mereka sangat tinggi dan kekuasaannya sangat besar..."
"Kalau begitu satu-satunya kecurigaan hanya tinggal kepada rombongan Hek-eng-cu,"
Chin Yang Kun menggeram.
"Ya! Akupun lebih mencurigai mereka dari pada yang lainnya. Mereka terdiri dari penjahat-penjahat yang sudah terbiasa berbuat kejam, curang dan licik!"
Souw Thian Hai mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Meskipun demikian kita juga tidak boleh menuduhnya begitu saja tanpa bukti-bukti yang jelas. kau harus menyelidikinya terlebih dahulu..."
"Tapi aku hampir yakin bahwa memang kelompok itulah yang membunuh ibu, adik-adik dan para pengawalku. Hanya para iblis Ban-kwi-to itu saja yang selalu membunuh orang dengan racun..."
"Agaknya memang benar demikian..."
Sekali lagi Souw Thian Hai mengiyakan perkataan Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun menghela napas lega, hatinya terasa lapang, seakan-akan tirai kegelapan yang menutupi peristiwa yang mengerikan itu kini telah terbuka, sehingga ia bisa melihat dengan jelas siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan ibu dan adik-adiknya itu.
Dia tinggal mencari saja, siapakah diantara iblis-iblis Ban-kwi-to itu yang sering mempergunakan racun hijau.
Racun yang mengakibatkan korbannya mati dengan perasaan nikmat dan tenang, tapi dengan warna kulit yang berubah menjadi kehijau-hijauan.
"Semuanya telah menjadi terang. Pembunuh-pembunuh itu sebentar lagi akan dapat kubekuk. Aku tinggal pergi saja ke Ban-kwi-to untuk mencari pembunuh ibu, sementara pembunuh ayah dan paman juga tinggal menanyakan saja kepada Thio Lung!"
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
"Maaf, kalau tidak salah ketika berada di desa Hok-cung itu saudara bersama-sama dengan Chu Seng Kun...dimanakah pemuda itu sekarang?"
Tiba-tiba Souw Thian Hai bertanya kepada Chin Yang Kun.
"Eh, anu...entahlah! Kami telah bersimpang jalan ketika secara mendadak desa itu diserang oleh tentara kerajaan,"
Chin Yang Kun yang sedang melamun itu menjawab dengan suara gagap.
"Ohhh...!"
Pendekar sakti itu berdesah dengan kecewa.
"Ada apa? Mengapa engkau bertanya tentang Chu Seng Kun? Apakah engkau sudah mengenalnya?"
Chin Yang Kun yang merasa heran atas sikap Souw Thian Hai itu segera mendesak dengan pertanyaannya.
"Aku dan dia tidak hanya saling mengenal tetapi lebih dari pada itu. Kami saling bersahabat. Malahan aku..."
Tiba-tiba pendekar sakti itu menutup mulutnya.
Hampir saja ia berkata tentang hubungannya dengan Chu Bwee Hong, adik Chu Seng Kun.
Sekejap pendekar yang kesaktiannya sangat dikagumi orang itu menjadi kikuk, tapi di lain saat sikapnya segera berubah lesu dan sedih begitu mengingat hubungannya yang kandas di tengah jalan.
"Ahhhh, sudahlah...!"
Akhirnya pendekar itu berdesah getir.
"Sebaiknya aku sekarang pergi saja. Mumpung aku sudah bebas akan kuselesaikan semua urusan yang terbengkalai itu. Terima kasih atas pengertianmu..."
Pendekar itu mengangguk ke arah Chin Yang Kun, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Jalannya perlahan dan gontai seolah sedang menyangga beban yang berat sekali di pundaknya.
Chin Yang Kun termangu-mangu di tempatnya.
Bagaikan seorang yang tiba-tiba kehilangan sahabat atau kawan seperjalanannya, pemuda itu memandang punggung Souw Thian Hai yang bidang.
Entah bagaimana sikap dan kepribadian pendekar sakti tersebut benar-benar amat menarik perhatiannya.
Tiba-tiba saja hatinya terasa dekat dan menyukainya.
"Kau...kau mau pergi ke mana?"
Tak terasa mulut pemuda itu berteriak. Pendekar sakti itu menoleh dan bibirnya tampak tersenyum pedih.
"Entahlah, aku tak tahu...Tapi yang terang aku hendak mencari dulu puteriku yang hilang,"
Jawabnya.
"Puterimu yang hilang?"
Chin Yang Kun yang tidak menyangka bahwa pendekar sakti itu telah mempunyai anak, bertanya seolah tak percaya.
"Di mana dia hilang? Bagaimana itu bisa terjadi? Siapa yang telah mencurinya?"
Souw Thian Hai menghentikan langkahnya. Wajahnya yang pucat itu mendadak tersenyum, meskipun senyumnya tampak kaku dan tak bergairah.
"Yang mencurinya...? Ahh, kau sangka umur berapa puteriku itu?"
Tanyanya sedikit geli.
"...Puteriku itu bukan lagi seorang bayi atau anak-anak yang mudah dibawa orang. Usianya mungkin hampir sebanyak umurmu..."
Chin Yang Kun tersentak kaget tak percaya.
Tapi sebelum pemuda itu bertanya lebih lanjut, Souw Thian Hai telah melangkah pergi meninggalkannya.
Pendekar sakti itu telah lenyap menerobos hutan.
Sambil berdesah Chin Yang Kun juga pergi meninggalkan tempat itu.
Sesekali pemuda itu menoleh, mengawasi mayat-mayat yang berserakan di tempat tersebut.
Tetapi karena telah yakin bahwa orang-orang Kim liong Piauw kiok itu pasti akan datang kembali untuk mengurus mayat-mayat tersebut, maka ia tetap meneruskan langkahnya.
"Ah, tak kusangka pendekar Souw Thian Hai yang ternama itu telah mempunyai anak sebesar aku, padahal umurnya tidak lebih tua dari pada Chu Seng Kun ataupun Hong-Iui kun Yap Kiong Lee...Kalau begitu usia puteri Souw Thian Hai tersebut tentu sama dengan Tiau Li Ing atau Souw Lian Cu...eh!"
Tiba-tiba pemuda itu berhenti melangkah, wajahnya menjadi pucat seketika.
"Souw Thian Hai"
Souw Lian Cu! Souw Lian Cu...Souw Thian Hai! Hah! Apakah...apakah me-mereka...?"
Bagai kilat cepatnya Chin Yang Kun melesat memburu Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Saking tegangnya pemuda itu mengerahkan seluruh kekuatan ginkangnya!
Oleh karena itu dapat dibayangkan bagaimana cepatnya pemuda itu berlari.
Tapi pemuda itu segera menjadi heran sekali.
Sampai ia keluar dari hutan itu kembali pendekar tersebut tidak dapat ia ketemukan!
Pendekar sakti itu seperti dapat menghilang saja saking cepatnya.
"Bukan main! Pendekar ternama itu memang tidak bernama kosong! Rasa-rasanya memang cocok bila menjadi ayah dari Souw Lian Cu..."
Chin Yang Kun bergumam tiada habisnya.
Pemuda itu melangkah kembali ke tempat semula.
Tiba-tiba terdengar lagi suara siulan dari atas bukit, membuat pemuda itu ingat pada maksud kedatangannya semula, yaitu mencari kawannya yang diculik oleh orang-orang berkuda.
"Ah, jangan-jangan anak bengal itu mendapatkan kesulitan di sana,"
Geramnya.
Chin Yang Kun mengerahkan ginkangnya kembali untuk mendaki bukit tersebut.
Pemuda itu sengaja mengambil jalan lintas agar tidak terlihat oleh para penjaga, yang mungkin sudah dipasang untuk menjebaknya.
Meskipun medannya menjadi lebih sukar, tetapi dengan kepandaiannya yang tinggi semuanya dapat ia lalui dengan mudah dan cepat.
Beberapa menit saja puncak itu telah kelihatan di depan mukanya.
Mula-mula Chin Yang Kun menjadi kaget sekali ketika matanya melihat banyak sekali orang-orang yang duduk duduk menggerombol di bawah pohon-pohon rindang.
"Heran! Ada apa sebenarnya di tempat ini? Orang-orang ini berjumlah ribuan, tetapi mengapa mereka tidak menjadi ramai dan hingar-bingar suaranya? Apakah mereka ini merupakan pengikut sebuah aliran kepercayaan yang sedang mengadakan upacara keagamaan?"
Pemuda itu termangu-mangu di tempatnya.
Sebenarnya bisa saja dia menerobos kumpulan orang-orang yang duduk bergerombol di segala tempat itu.
Tapi orang-orang itu tentu akan melihatnya kemudian menahannya.
Dan selanjutnya tentu akan terjadi pertempuran yang sangat berat bagi dirinya.
Dia harus melawan ribuan orang bersenjata!
"Ahhh...!"
Chin Yang Kun berdesah.
Selagi pemuda itu kebingungan untuk mencari jalan yang aman ke atas puncak, mendadak dari kaki bukit terdengar suara roda gerobag yang berdentangan melindas bebatuan.
Suara itu makin lama makin dekat, sehingga akhirnya gerobag itu tampak oleh Chin Yang Kun muncul dari balik pohon-pohon lebat di bawahnya.
Gerobag itu didorong dengan susah payah oleh enam tujuh orang ke atas bukit.
Sekejap mata Chin Yang Kun terbelalak mengawasi gerobag itu, tapi kemudian cepat-cepat bersembunyi ketika tiba-tiba di belakang gerobag tersebut muncul beberapa orang lelaki yang tidak lain adalah para penunggang kuda yang dicarinya itu.
Orang-orang itu berjalan tanpa mengeluarkan suara seolah-olah mereka itu adalah sekelompok iring-iringan orang yang sedang mengantar jenazah ke liang kubur.
Chin Yang Kun membiarkan iring-iringan itu melintas di depan persembunyiannya.
Matanya nyalang mencari-cari kalau-kalau temannya yang bengal itu berada diantara mereka, tapi pemuda tampan itu ternyata tidak ada diantara mereka.
Sambil menghela napas Chin Yang Kun beranjak dari tempat persembunyiannya.
Pemuda itu bertekad untuk menerobos tempat itu dengan nekad.
Tapi belum juga ia melaksanakan maksudnya tiba-tiba dari bawah terdengar suara gerobag lagi.
Kali ini malah lebih keras dan lebih gaduh daripada tadi.
Chin Yang Kun kembali mendekam di tempat persembunyiannya dan beberapa saat kemudian dia melihat iring-iringan gerobag dan pedati kecil muncul dari balik pepohonan.
puluhan orang lelaki tampak mendorong gerobag gerobag itu bersama-sama.
Tubuh mereka yang kekar-kekar itu tampak basah oleh keringat.
"Hah? Pedati kecil itu adalah pedati yang pagi tadi kubawa ke kuil...! Dan gerobag tersebut juga gerobag-gerobag orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu!"
Chin Yang Kun berseru di dalam hati.
Hampir saja Chin Yang Kun melompat keluar untuk menghentikan iring-iringan itu.
Tapi niat tersebut segera diurungkannya ketika di belakang iring-iringan itu tiba-tiba muncul...Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, hantu yang mahir menghidupkan orang-orang yang sudah mati!
"Gila!
Orang-orang berkuda itu ternyata adalah teman Song-bun-kwi!
Nah, tahulah aku sekarang, kenapa pemuda tampan itu membawaku ke kuil setan itu.
Agaknya anak bengal itu telah bermusuhan dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.
Oleh karena kepandaian iblis itu amat tinggi, maka pemuda itu lalu menjebakku untuk menghadapinya.
Hmm, kurang ajar...!"
Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati.
Beberapa saat kemudian tempat itu telah menjadi sepi kembali.
Chin Yang Kun lalu bangkit berdiri.
Rambutnya menyentuh dahan perdu tempat dimana dia bersembunyi, sehingga semak-semak itu bergoyang-goyang.
Tiba-tiba pemuda itu terbelalak!
Dilihatnya secarik kertas melayang jatuh dari atas pohon.
Pemuda itu cepat-cepat menangkapnya, kemudian merentangkannya di depan matanya.
Matanya dengan cepat membaca beberapa huruf yang tertulis di atas kertas itu.
Sebentar lagi seorang penjaga akan lewat disini.
Tangkaplah dia!
Lucuti pakaiannya, lalu pergunakanlah untuk menyusup ke atas bukit!
"Hah?
Siapakah yang menulis surat ini?
Mengapa dia tahu aku bersembunyi disini?"
Chin Yang Kun berdesah kaget.
Tak heran jikalau pemuda itu merasa terkejut.
Dia hampir tak pernah mengendorkan kewaspadaannya, meskipun demikian ternyata ia tak tahu sama sekali kapan kertas itu diletakkan orang di depan hidungnya.
Melihat kenyataan itu, terang kalau kedatangannya di tempat tersebut telah diketahui orang lain.
Untung baginya orang itu kelihatannya bukan dari pihak lawan.
"Sungguh lihai sekali! Siapakah orang itu...? Aku harus lebih berhati-hati lagi,"
Chin Yang Kun berkata di dalam hati.
Benar juga apa yang ditulis orang itu!
Dari jauh Chin Yang Kun telah mendengar langkah seseorang.
Mungkin karena mengira bahwa tidak mungkin ada orang yang berani datang ke tempat itu, maka orang itu berjalan seenaknya.
Sedikitpun tidak mempergunakan ginkangnya!
Suara sepatunya sungguh berisik sekali ketika menginjak daun-daun kering yang berserakan di atas tanah.
Chin Yang Kun bersiap-siaga.
Pemuda itu telah melihat seorang lelaki tinggi besar mendekati tempat persembunyiannya.
Orang itu berjalan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, sikapnya amat tenang dan penuh kewaspadaan, bagaikan seorang peronda malam yang sedang melakukan tugasnya.
Topinya yang lebar itu tampak berkilat-kilat ditimpa sinar matahari.
Chin Yang Kun mengerahkan Liong-cu I-kangnya!
Pemuda itu tidak ingin gagal dalam sekali terkam!
Tapi...tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang lain!
Suara itu datang dari arah sebelah kirinya!
Tentu saja keadaan itu sangat membingungkan Chin Yang Kun!
Ternyata secara berbareng ada dua orang penjaga yang datang, dan mereka mendekati tempat itu dari arah yang berlawanan.
Kalau dia meringkus salah seorang dari mereka, yang lain tentu akan segera mengetahuinya.
Dan hal itu sungguh berbahaya sekali!
Sekali mereka berteriak, ribuan orang di atas puncak itu tentu akan segera turun mengeroyoknya.
Dengan urat-urat yang tegang Chin Yang Kun menatap ke arah penjaga yang pertama, tapi wajahnya tiba-tiba menjadi pucat!
Penjaga itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Orang itu lenyap tanpa dia ketahui kemana perginya, padahal dia tadi cuma menoleh sekejap saja!
Otomatis Chin Yang Kun menoleh lagi ke sebelah kirinya yaitu ke tempat dimana suara orang yang kedua tadi terdengar.
Dan...pemuda itu terperanjat!
Mendadak saja di tempat itu telah muncul seorang penjaga lain yang dengan sinar mata dingin menatap ke arah dirinya.
"Wuuuuuut!"
Orang itu menyerang dengan pedangnya membuat Chin Yang Kun meloncat keluar dari persembunyiannya.
Pedang itu bergetar dengan hebat sehingga ujungnya bagaikan terpecah menjadi tiga bagian.
Bagian pertama menusuk ke arah kepala, sementara bagian kedua dan ketiga menyambar ke arah leher dan ulu hati!
Sungguh sulit untuk ditebak, serangan mana yang akan lebih dahulu tiba pada sasarannya.
Serangan tersebut memang benar-benar hebat sekali!
Tapi apa yang dilakukan oleh Chin Yang Kun untuk menghadapi serangan tersebut ternyata lebih dahsyat lagi!
Ternyata pemuda itu tidak mau berpayah-payah atau berpusing-pusing menantikan datangnya serangan tersebut.
Begitu melihat lawannya menyerang dengan pedangnya, diapun segera menyongsong dengan kebutan lengan bajunya.Lengan bajunya yang lebar itu menyabet ke depan dengan suara bergemuruh!
Orang itu terkejut sekali!
Dengan susah payah dia menarik pedangnya, tapi terlambat.
Lengan baju yang penuh lweekang itu menghantam ujung pedang, kemudian membelitnya dengan kuat.
"Pletaaak...!"
Pedang tersebut patah menjadi tiga bagian!
Dan sebelum penjaga itu menyadari dengan sepenuhnya apa yang telah terjadi, tiba-tiba lengan Chin Yang Kun bertambah panjang dua jengkal jauhnya, sehingga lengan tersebut menerobos lobang lengan baju dan menyambar ke arah pinggangnya.
Serangan ini sungguh-sungguh dahsyat dan diluar dugaan penjaga itu!
Maka tiada ampun lagi serangan itu mengenai dengan telak pinggang penjaga tersebut.
"Dhiessss!!!"
Penjaga itu terlempar ke belakang dengan hebatnya, lalu terhempas ke tanah dengan mata mendelik.
Mati.
Sambaran tangan Chin Yang Kun tadi telah mematahkan tulang pinggang dan meremukkan isi perutnya!
Bergegas Chin Yang Kun melucuti pakaian orang itu dan mengenakannya pada tubuhnya.
Sarung pedang beserta pedangnya yang telah patah itu dipungut pula oleh Chin Yang Kun.
Lalu dengan tergesa gesa mayat penjaga itu diseretnya ke dalam semak-semak.
Demikianlah hanya dalam waktu singkat pemuda itu telah berubah menjadi seorang penjaga, lengkap dengan topi bambunya yang lebar.
"Hmmm, tanganmu sungguh cepat dan...ganas sekali!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun mendengar desah napas di belakangnya.
Bagai kilat cepatnya pemuda itu membalikkan tubuhnya, dan wajahnya berubah dengan hebat!
Di depannya telah berdiri...penjaga yang tadi menghilang!
Chin Yang Kun mengerahkan seluruh kekuatannya kembali.
Tapi sebelum pemuda itu bertindak lebih lanjut, penjaga itu segera melepas topi lebarnya...
"Hei? kau...!"
Chin Yang Kun berseru.
"Ya!"
Penjaga yang tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu mengangguk.
"Maaf, aku telah mengagetkanmu..."
Chin Yang Kun bernapas lega.
"Ah, kau sungguh amat mengejutkan aku. Kenapa kau mengenakan seragam penjaga juga? Apakah kau telah menjadi anggauta dari orang-orang yang berada di atas puncak itu?"
Souw Thian Hai menggeleng.
"Tidak! Seperti engkau pula, aku menyamar menjadi penjaga agar aku dapat naik ke puncak dengan mudah,"
Katanya menjelaskan.
Keduanya berdiam diri kembali.
Souw Thian Hai memandang ke atas bukit, ke arah orang-orang yang sedang ramai berebutan mengambil senjata dari dalam gerobag.
Sedang Chin Yang Kun dengan perasaan sedih dan gelisah mengawasi Souw Thian Hai.
Dugaan pemuda itu tentang hubungan Souw Thian Hai dengan Souw Lian Cu membuat pemuda itu merasa gelisah dan kikuk.
"Ada apa sebenarnya diatas puncak itu? Tadi ketika aku akan pergi dari bukit ini, aku melihat beberapa orang penunggang kuda datang mengiringkan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek ke bukit ini. Karena aku merasa curiga maka aku lantas mengikuti saja langkah mereka. Dan di kaki bukit tadi aku menangkap seorang penjaga agar supaya aku dapat lebih leluasa mengikuti mereka,"
Souw Thian Hai berkata perlahan, kemudian kepalanya berpaling mengawasi Chin Yang Kun. Chin Yang Kun cepat-cepat memalingkan mukanya pula.
"Entahlah! Aku...aku juga tidak tahu. Kedatanganku kemari hanya untuk mencari dan membebaskan kawan yang diculik oleh gerombolan ini..."
Katanya memberi penjelasan. Dan ketika terpandang oleh pemuda itu kertas surat yang dibacanya tadi, ia segera bertanya.
"Eh, apakah engkau yang meletakkan secarik kertas disini tadi?"
Pendekar sakti itu tiba-tiba mengerutkan keningnya.
"Secarik kertas? Kertas apa itu?"
Tanyanya tak mengerti.
"Hei, jadi...bukan kau yang mengirimnya? Lalu...siapakah kalau begitu?"
"Hmmmm!"
Souw Thian Hai tersenyum.
"...lekas kau katakan kepadaku! kau jangan membingungkan aku...!"
"Lihatlah!"
Chin Yang Kun mengambil kertas itu dan memberikannya kepada Souw Thian Hai.
Tak lupa pemuda itu menceritakan juga bagaimana surat itu sampai ke tangannya.
Selesai membaca Souw Thian Hai tidak lekas-lekas memberikan komentarnya.
Pendekar itu justru memalingkan mukanya ke atas, menghadap ke arah kelompok orang-orang yang sedang berkumpul di atas puncak tersebut.
"Agaknya tidak hanya kita sendiri yang ingin pergi ke puncak itu. Hmmmm, aku menjadi semakin ingin sekali kesana..."
Akhirnya pendekar itu berkata seperti kepada dirinya sendiri.
"Jadi kau juga tidak tahu siapa yang menulis pesan itu?"
Chin Yang Kun menegaskan. Souw Thian Hai menggelengkan kepalanya.
"Tidak...! tapi engkau tak usah memusingkannya! Kita berangkat saja sekarang kesana untuk mencari orang itu!"
"Baik! Marilah...!"
Kedua orang yang menyamar sebagai penjaga itu lalu melangkah ke atas.
Sambil berjalan mereka meneliti setiap tempat, seolah-olah mereka memang dua orang penjaga yang sedang bertugas.
Dengan sangat hati-hati mereka melangkah diantara orang-orang yang sedang bergerombol di segala tempat itu.
Untunglah perhatian orang-orang tersebut sedang disibukkan oleh pembagian senjata dari gerobag tadi, sehingga mereka dengan aman bisa melewati orang-orang itu.
Sampai di atas kedua orang itu menghentikan langkah mereka.
Gedung itu telah berada di depan mereka, tapi untuk mencapainya mereka masih harus menyebrangi halaman yang luas dan terbuka.
Dan di tempat itu tidak ada lagi orang-orang yang berkumpul-kumpul seperti tadi.
Di tempat tersebut penjagaan sangat ketat, dan penjaganyapun mempunyai seragam yang lain dari pada seragam yang mereka kenakan.
Souw Thian Hai memandang Chin Yang Kun seraya mengangkat pundaknya.
"Wah, bagaimana ini? Apakah kita harus melumpuhkan dua orang penjaga lagi?"
"Tapi...bagaimana kita dapat meringkus dua orang penjaga tanpa diketahui oleh penjaga yang lain di tempat yang terbuka seperti ini? Eh, awas...! Ada dua, eh...empat orang penjaga datang kemari!"
Chin Yang Kun memperingatkan temannya. Mereka bermaksud menghindar, tetapi ke empat orang penjaga itu terlanjur melihat mereka.
"Hai, berhenti dulu! Penjaga dari mana kalian ini? Mengapa sampai ke tempat ini? Siapakah pemimpin kalian?"
Salah seorang diantaranya menghardik. Souw Thian Hai mengerahkan tenaganya dan bersiap-siap untuk turun tangan. Tetapi dalam keadaan terdesak, tiba-tiba Chin Yang Kun memperoleh akal.
"Kami datang dari kota Lok-yang...kami berdua adalah tangan kanan Keng Si Yu. Kami datang kemari untuk mencari pemimpin kami tersebut, sebab ada sesuatu hal penting yang harus kami laporkan,"
Pemuda itu menjawab lancar, seakan-akan telah dipersiapkan sebelumnya.
"Oh...anak buah Keng Bengcu (pemimpin Keng) rupanya! Silahkanlah kalau begitu! Kebetulan Keng Bengcu baru saja datang dari menjemput Song-bun-kwi di kota Poh-yang. Ia berada di halaman belakang sekarang..."
"Ah, terima kasih. Kalau begitu...kami akan segera kesana untuk menemuinya."
Chin Yang Kun menjura dengan hormat, kemudian menarik lengan Souw Thian Hai pergi.
Souw Thian Hai menurut saja ditarik Chin Yang Kun.
Pendekar sakti itu tak habis pikir, dari mana pemuda aneh itu tahu nama-nama tersebut?
Siapa sebenarnya anak muda yang amat lihai ini?
Mereka menyeberangi halaman luas itu dengan tergesa gesa.
Beberapa orang penjaga diam saja melihat mereka, karena penjaga-penjaga tersebut menyangka bahwa mereka itu telah diijinkan masuk oleh empat orang penjaga di depan tadi.
Tapi ketika mereka akan masuk ke dalam gedung, beberapa orang yang berdiri di depan pintu segera menahan mereka.
"Kami...kami datang dari kota Lok-yang. Kami ingin bertemu dengan Keng Si Yu, pemimpin kami!"
Sekali lagi Chin Yang Kun berusaha membohongi para penjaga pintu tersebut.
"Keng Bengcu tidak berada di ruang depan ini. Beliau ada di halaman belakang bersama-sama dengan para pemimpin yang lain. Pergilah lewat pintu samping itu...!"
Seseorang dari penjaga itu berkata sambil menunjuk ke pintu samping.
"Baik! Terima kasih..."
Chin Yang Kun lalu mengajak Souw Thian Hai ke halaman samping.
Mereka berjalan diantara pohon-pohon cemara yang menaungi kolam ikan.
Di setiap tempat mereka dipaksa untuk berbohong lagi di depan para penjaga yang lain.
Dan untungnya orang-orang itu masih tetap percaya dan belum mencurigai dandanan mereka.
Tapi mana mungkin mereka terus-terusan membohongi orang-orang itu?
Suatu saat mereka tentu akan benar-benar bertemu dengan anak buah Keng Si Yu.
Dan apabila hal itu benar-benar terjadi maka penyamaran mereka akan berakhirlah sudah.
Oleh karena itu sebelum semuanya sungguh-sungguh terjadi, Souw Thian Hai segera mengatakan hal itu kepada Chin Yang Kun.
"Kita tidak mungkin membohongi mereka terus menerus. Kita harus mencari akal lain untuk dapat memasuki gedung ini..."
Pendekar sakti itu berkata.
"Benar! Aku juga telah berpikir demikian. Tapi jalan mana yang harus kita tempuh? Apakah engkau telah menemukan akal yang lain?"
Dengan tersenyum kecut Souw Thian Hai menggeleng.
"Tidak...! Aku...eh!"
Pendekar sakti itu tiba-tiba menarik lengan Chin Yang Kun dan membawanya meloncat ke atas dahan pohon cemara di dekat mereka.
Kemudian dari atas pohon pendekar sakti itu menudingkan jari telunjuknya ke bawah, kearah dua orang lelaki yang baru saja keluar dari pintu samping.
"Ssst, lihatlah! Itu dia Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!"
Pendekar sakti itu berbisik.
Chin Yang Kun terbelalak, pandangannya tertuju ke arah dua orang lelaki yang ditunjuk oleh Souw Thian Hai itu.
Tapi bukan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek yang membuatnya terkejut sehingga terbelalak matanya, tapi teman Song-bun-kwi yang bertubuh tinggi besar itulah yang teramat sangat mengejutkan hatinya.
"Paman Hek-mou-sai Wan It...!"
Pemuda itu berdesah tak percaya.
Memang benar.
Dua orang lelaki yang baru saja keluar dari pintu samping itu memang benar Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dan Hek-mou-sai Wan It!
Sesaat Chin Yang Kun merasa girang sekali melihat bekas pembantu ayahnya itu.
Tapi di lain saat tiba-tiba hatinya menjadi kecut melihat keakraban antara pembantu ayahnya itu dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!
"Paman Wan It...!
apakah yang telah terjadi dengan dia?
Mengapa sekarang ia malah menjadi akrab dengan orang yang telah pernah menyiksanya?
Apakah dia telah melupakan dendamnya?"
Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hatinya. Sekejap pemuda itu menjadi bimbang dan bingung,sehingga ia diam saja ketika dua orang itu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Ayoh kita ikuti kedua orang itu!"
Mendadak Souw Thian Hai berbisik, lalu meloncat turun dari atas pohon dan berlari mengejar bayangan kedua orang itu.
"Hei, tunggu...!"
Chin Yang Kun tersentak, kemudian meloncat turun pula ke atas tanah.
Tapi Chin Yang Kun telah kehilangan jejak mereka.
Souw Thian Hai maupun Song-bun-kwi seakan-akan telah lenyap ditelan oleh gerumbul-gerumbul perdu yang tumbuh lebat di samping gedung itu.
"Huh! Kemana dia? Cepat benar...!"
Pemuda itu menggerutu.
Sekali lagi Chin Yang Kun mencari kesana kemari, kadang kadang menyibak dan menyeruak diantara semak belukar tersebut, tetapi bayangan Souw Thian Hai dan orang-orang itu tetap tidak diketemukannya.
"Bangsat...!"
Akhirnya pemuda itu merutuk di dalam hati.
Chin Yang Kun membalikkan badannya, lalu melesat kembali keluar dari hutan perdu tersebut.
Pemuda itu bertekad untuk masuk ke sarang harimau itu seorang diri.
Sejak semula ia memang telah bermaksud membebaskan kawannya itu seorang diri saja.
Tiba-tiba pemuda itu tertegun.
Di luar hutan ia telah dihadang oleh empat orang penjaga yang tadi telah dibohonginya.
Wajah empat orang penjaga itu tampak merah padam, suatu tanda bahwa mereka telah mengetahui penyamaran Chin Yang Kun dan kini mereka sangat marah sekali.
"Hmmh! Mau kemana lagi kau...penyelundup?"
Salah seorang diantaranya membentak dengan suara menggeledek.
Chin Yang Kun sadar bahwa penyamarannya telah diketahui oleh lawan, maka ia tak mau sungkan-sungkan lagi.
Dikerahkannya tenaga sakti Liong-cu I-kangnya, lalu bersiap-siap untuk menghajar mereka.
Tapi empat orang penjaga itu juga telah bersiap-siaga sejak tadi.
Mereka tak mau didahului oleh Chin Yang Kun.
Begitu melihat lawannya yang masih muda tersebut mengerahkan tenaganya, mereka segera mendahului menerjang bersama-sama.
Dengan senjata masing-masing empat orang itu menyerang Chin Yang Kun dari segala jurusan.
Chin Yang Kun berlaku hati-hati.
Dia belum mengenal ilmu lawan-lawannya, apakah mereka mempergunakan senjata yang berbeda-beda.
Ada yang memegang golok, ada yang membawa tombak, dan ada pula yang memakai senjata cambuk dan pedang!
Tampaknya mereka juga bukan orang orang sembarangan di dunia kang-ouw, terbukti dalam serangan itu permainan senjata mereka benar-benar dahsyat dan berbahaya.
Chin Yang Kun tidak ingin keras lawan keras.
Ia tahu bahwa selama ini Liong-cu I-kangnya jarang yang mampu melawan.
Tapi sebuah pertempuran tidak hanya tergantung pada kekuatan lweekang saja.
Kecerdikan, tipu muslihat dan macam senjatapun dapat mempengaruhi jalannya pertempuran.
Seseorang yang kalah dalam tenaga dan ilmu silat, mungkin masih bisa memperoleh kemenangan dengan tipu muslihat!
Maka Chin Yang Kun segera menghindar, dengan gesit kakinya...meloncat ke dalam hutan perdu kembali.
Senjata lawan yang tidak sempat ia elakkan ia tepiskan dengan kebutan ujung lengan bajunya.
Kemudian sambil main petak petakan di gerumbul-gerumbul perdu ia melayani empat orang lawannya.
Sesekali ia menyerang, kemudian menyelinap ke dalam semak, untuk selanjutnya menerjang lagi lawan yang lainnya!
Dengan begitu ia dapat memperoleh kesempatan menilai kemampuan musuh-musuhnya.
Baru setelah ia dapat menjajagi ilmu mereka, ia mulai menyusun serangan-serangan yang mematikan.
Mula-mula pemuda itu mencegat salah seorang diantaranya, kemudian dengan gencar mendesak orang itu dengan pukulan-pukulan dahsyat.
Dan sebelum yang lain-lain datang menolong, Chin Yang Kun segera membereskan orang itu dengan pukulannya yang mematikan!
Lalu siasat tersebut diulang kembali terhadap lawan-lawannya yang lain, sehingga akhirnya tinggal seorang saja yang masih hidup.
Tapi sebelum yang seorang itu dapat diselesaikan pula oleh Chin Yang Kun, tiba-tiba dari luar hutan tampak berlarian beberapa orang penjaga lain ke tempat itu.
Begitu tahu apa yang telah terjadi di tempat tersebut, para penjaga itu segera maju mengepung Chin Yang Kun.
Seorang diantaranya malah cepat-cepat meniup tanda bahaya yang dipegangnya, sehingga sebentar kemudian orang-orang yang berkumpul di atas bukit itu berlarian pula ke tempat tersebut.
Chin Yang Kun menjadi tegang.
Bagaikan air bah ribuan orang yang berada di atas bukit itu tampak menyerbu ke arah dirinya.
Maka tidak ada pilihan lagi bagi pemuda itu selain bertempur dengan sekuat tenaga.
Dan hal itu benar benar dikeluarkan sampai tuntas.
Maka dapat dibayangkan betapa dahsyatnya sepak terjang Chin Yang Kun!
Setiap pukulan dan terjangan kakinya tentu membawa korban di antara para pengeroyoknya.
Kim-coa-ih hoat dan Liong-cu I-kangnya yang ampuh itu sungguh amat mengerikan dan menggiriskan lawan-lawannya.
Sekali terjang tentu ada tiga-empat orang yang terbanting mampus di hadapannya.
Dilihat dari jauh pemuda itu bagaikan malaikat elmaut yang sengaja turun ke bumi untuk menyebar kematian di atas puncak bukit tersebut.
Darah berceceran, memercik membasahi semak-semak belukar yang juga telah porak-poranda diterjang oleh kaki-kaki mereka.
Tempat yang semula sepi dan lengang itu tiba-tiba saja berubah menjadi neraka yang mengerikan.
Jilid 30 Meskipun demikian karena jumlah para pengepungnya selalu saja bertambah seperti tiada habis-habisnya, maka akhirnya Chin Yang Kun menjadi kewalahan juga.
Bagaimanapun juga tinggi ilmunya, kalau harus melawan musuh sedemikian banyaknya, lambat laun akan kerepotan pula.
Kemampuan dan kekuatan manusia tetap ada batasnya.
Demikianlah, beberapa ratus jurus kemudian, sejalan dengan semakin susutnya tenaga dan kekuatan tubuh Chin Yang Kun, maka tenaga sakti yang melindungi tubuh pemuda itupun semakin menjadi lemah pula, sehingga senjata lawan yang semula tak bisa melukai badannya kini mulai tampak menggores kulit dagingnya!
Darah mulai mengalir membasahi tubuh dan pakaian Chin Yang Kun!
Untunglah medan pertempuran yang terdiri dari semak semak belukar itu masih dapat membantu perlawanan Chin Yang Kun.
Dengan modal kegesitan, kelincahan dan kekuatan lweekangnya pemuda itu masih dapat bermain petak-petakan di hutan perdu yang lebat tersebut.
Tapi keadaan yang menguntungkan tersebut tampaknya juga tidak dapat berlangsung lama pula.
Dengan hancurnya semak-semak perdu yang melindunginya, terpaksa Chin Yang Kun harus bertempur lagi beradu dada.
Kini tinggal suasana hiruk-pikuk dan gumpalan debu yang mengepul tinggi saja yang sedikit agak membantu perlawanannya.
Sambil berlindung di antara gelapnya debu yang berhamburan Chin Yang Kun menyerang para pengepungnya.
Korban sudah tidak bisa dihitung lagi.
Mayat-mayat korban amukan Chin Yang Kun bertumpuk dan berserakan di sanasana.
Meskipun demikian keadaan pemuda itu sendiri juga semakin mengkhawatirkan.
Beberapa gores luka telah tampakdi tubuhnya, kekuatannya pun sudah jauh berkurang, sehingga kadang-kadang pemuda itu tampak sempoyongan sehabis mengerahkan tenaganya.
Padahal kepungan semakin rapat, lawan yang datang seperti tiada habis-habisnya.
Maka tak heran kalau beberapa saat kemudian pemuda itu benar-benar jatuh dalam kesulitan.
Ribuan orang yang sudah kalap itu mendesaknya ke sumur tua yang berada di lereng puncak sebelah barat.
Khabarnya sumur itu digali oleh orang yang mendirikangedung tua tersebut berpuluh-puluh tahun yang lalu untuk mendapatkan air.
Tetapi oleh karena air yang dicari-cari itu tidak kunjung keluar pula meskipun telah digali sampai puluhan meter dalamnya, maka sumur tersebut lalu tidak jadi digunakan lagi.
Dibiarkannya saja sumur yang bergaris tengah empat atau lima meter itu ditumbuhi semak dan alang-alang, sementara dasarnya yang gelap dan pengap khabarnya menjadi sarang ular-ular berbisa.
Demikianlah, Chin Yang Kun didesak sampai tidak bisa berkutik lagi di sumur tua tersebut.
Tumit sepatunya telah menginjak bibir sumur, sementara lawan-lawannya tetap maju terus bagaikan kawanan semut yang mengerumuni mangsanya.
"Hmmmm...agaknya aku benar-benar akan mati di tempat ini."
Pemuda itu berdesah dengan perasaan getir.
"Tapi kematianku nanti rasa-rasanya juga tidak sia-sia pula. Aku telah membunuh ratusan...bahkan mungkin malah lebih dari seribu nyawa mereka!"
Chin Yang Kun menoleh sekejap ke belakang.
Dilihatnya sumur itu benar-benar terlalu lebar untuk tenaganya yang telah terkuras habis.
Tak mungkin ia dapat meloncatinya lagi.
Jangan lagi untuk meloncatinya, sedangkan untuk berdiri saja kakinya telah mulai gemetaran.
Dengan pandang matanya yang telah mulai mengabur Chin Yang Kun melihat para pengepungnya melepaskan anak panah.
Terpaksa pemuda itu mengerahkan pula lagi seluruh sisa-sisa tenaganya.
Kemudian dengan kaki yang telah goyah pemuda itu berusaha mengelak, menangkis dan meruntuhkan anak-anak panah tersebut.
Meski telah kehabisan tenaga, ternyata perbawa tenaga sakti Liong-cu I-kang pemuda itu masih tetap menunjukkan keampuhannya.
Beberapa batang anak panah tampak berpatahan ketika melanggar lengan Chin Yang Kun, sementara beberapa buah yang lain malah membalik, meluncur kembali menghantam para pelepasnya.
Tetapi beberapa buah diantaranya ternyata juga tidak bisa dihindari oleh pemuda itu.
Anak-anak panah tersebut lepas dari pertahanan Chin Yang Kun, sehingga menancap dan melukai badannya.
Tampak tubuh pemuda itu bergoyang-goyang mau jatuh.
Darah semakin tampak membanjir dari luka-lukanya.
Biarpun beberapa orang kawannya kembali menjadi korban dari perlawanan Chin Yang Kun, orang-orang itu berteriakteriak dan bersorak-sorak melihat Chin Yang Kun yang telah parah.
Mereka tampak amat bergembira sekali melihat lawan mereka yang berilmu sangat dahsyat itu bergoyang-goyang karena lukanya.
"Hantam lagi dengan luncuran tombak...!"
Seseorang terdengar berseru.
Berpuluh-puluh batang tombak meloncat ke arah Chin Yang Kun disertai sorak-sorai para pelemparnya.
Kali ini orang orang itu amat yakin bahwa serangan mereka tentu akan berhasil membunuh pemuda itu.
Tak mungkin rasanya pemuda yang telah sempoyongan itu mampu menangkis hujan tombak yang meluncur ke arah tubuhnya!
Pemuda itu merasa bahwa ajalnya telah tiba.
Tak mungkin dia bisa menghindari hujan tombak tersebut.
"Gila!"
Pemuda itu mengumpat sambil mengerahkan sisa sisa tenaganya, lalu meloncat ke belakang.
Dalam keadaan terpepet dan terpojok, dimana ia tak mungkin lagi menghindari hujan tombak tersebut, ternyata pemuda itu memilih atau mencoba untuk meloncati lobang sumur itu.
Tapi karena tenaga saktinya memang sudah benar-benar habis, maka loncatannya gagal.
Belum ada separuh jalan tubuhnya telah meluncur turun bagaikan disedot ke dalam lobang yang gelap penuh alang-alang itu.
Tubuh Chin Yang Kun meluncur turun dengan cepatnya.
Hawa panas dan pengap menerpa hidung dan menyesakkan napasnya, sehingga untuk beberapa saat lamanya pemuda itu seperti orang yang kehilangan akal dan tak tahu apa yang mesti dikerjakannya.
Tapi sekejap kemudian pemuda itu segera menyadari keadaan serta bahaya yang sedang dihadapinya.
Apalagi ketika ribuan orang pengepungnya yang berada di atas sumur itu beramai-ramai melemparkan batu dan segala macam benda lainnya ke dalam sumur.
Bukan main gemuruh suaranya!
Laksana bukit runtuh yang hendak menimpa dirinya!
Sekali lagi Chin Yang Kun berusaha mengumpulkan kembali sisa-sisa tenaganya, lalu dengan membelalakkan matanya pemuda itu berusaha mencari "sesuatu"
Yang sekiranya dapat ia gunakan untuk menahan laju tubuhnya.
Dan...tiba-tiba mata yang semakin mengabur itu tampak berkilat gembira!
Sebatang balok panjang tampak melintang di bawahnya!
Chin Yang Kun mengerahkan ginkangnya lalu mendaratkan kakinya diatas balok kayu tersebut.
Tapi karena kekuatannya telah jauh berkurang, maka pekerjaan yang dalam keadaan biasa tentu akan dapat ia kerjakan dengan mudah itu kini hampir saja gagal ia lakukan.
Kedua buah lututnya seperti tak kuat menahan berat tubuhnya, sehingga telapak kakinya gagal bertahan di atas balok kayu tersebut dan terpeleset ke bawah.
Otomatis tubuh pemuda itu terpelanting.
Untunglah dengan gerak refleksnya pemuda itu cepat-cepat menyambar balok kayu tersebut dengan sepasang lengannya, kemudian bergegas meluncur ke dinding sumur untuk menghindari hujan batu dari atas.
Terdengar balok kayu itu berderak dengan keras ketika beberapa buah batu besar menimpanya.
Chin Yang Kun melekatkan punggungnya ke dinding sumur sambil mencari jalan untuk keluar dari lobang maut tersebut.
Tetapi ketika balok kayu tempat ia berpijak itu semakin sering digoncang batu, akhirnya Chin Yang Kun menjadi khawatir, jangan-jangan balok kayu tersebut akan patah juga nantinya.
"Aku harus mencari tempat berpijak yang lain..."
Pemuda itu berpikir sambil menepiskan reruntuhan dan debu-debu yang bertaburan ke arahnya.
Untunglah dinding sumur dimana ia berada itu sedikit terlindung oleh tonjolan batu diatasnya sehingga tak sebuahpun batu yang langsung menimpa kepalanya.
Dalam kegelapan Chin Yang Kun meraba-raba dinding sumur untuk mencari tempat yang sekiranya dapat ia pakai untuk mengamankan dirinya.
Sementara itu para pengeroyoknya yang berada di atas sumur semakin gencar menimbuni sumur tua tersebut dengan batu dan tanah.
Mereka bermaksud mengubur lawan mereka yang lihai luar biasa itu hidup-hidup.
Tiba-tiba Chin Yang Kun terperanjat.
Tangannya yang meraba-raba dinding sumur itu mendadak menyentuh tempat kosong.
Dan ketika ia berusaha meyakinkannya sekali lagi, maka wajah pemuda itu segera berubah menjadi gembira sekali, seolah-olah ada setitik sinar terang yang mampu menerangi kegelapan di dalam hatinya yang hampir putus-asa.
"Dinding sumur ini berlubang..."
Desahnya penuh harapan.
Pemuda itu melompat ke dalam lubang tersebut, bersamaan waktunya dengan datangnya sebongkah batu besar yang menghantam balok kayu yang dipijaknya.
Brrraaaak!
Balok kayu itu patah menjadi beberapa bagian dan runtuh pula ke dalam sumur bersama dengan batu-batu tersebut.
"Kurang ajar! Hampir saja...!"
Pemuda itu meleletkan lidahnya, sambil masuk ke dalam lubang lebih ke dalam lagi.
"Eh?!...Lubang ini dalam benar...!"
Chin Yang Kun merogoh sakunya, lalu mengeluarkan batu api untuk membuat obor.
Bajunya yang kotor dan compang camping itu dibuatnya sebuah obor besar guna menerangi tempat yang gelap tersebut.
Dan pemuda itu semakin terkejut ketika sudah bisa melihat tempat yang dikiranya hanya sebuah lubang kecil itu.
Lubang itu ternyata merupakan sebuah lorong panjang yang dibuat dengan rapih dan teratur.
Nyata sekali kalau lubang itu memang sengaja dibuat untuk sesuatu keperluan.
"Lorong ini menuju ke atas. Kelihatannya menuju ke permukaan tanah kembali! Baiklah aku akan mencoba melewatinya..."
Dengan obor di tangan Chin Yang Kun merangkak menyelusuri terowongan sempit tersebut.
Beberapa kali pemuda itu harus menghindari tikus-tikus tanah yang berseliweran di dekatnya.
Dalam tempat yang becek, pengap dan lembab seperti itu rasanya jijik juga kalau harus bersinggungan dengan binatang yang kotor tersebut.
Terowongan sempit itu ternyata amat panjang sekali.
Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun merangkak, kadang kadang mendaki, kadang-kadang mendatar dan berbelakbelok, sehingga lambat-laun was-was juga hatinya, jangan jangan dia tak bisa kembali dan terkubur hidup-hidup di tempat itu.
Tetapi bertepatan dengan perasaan ragu-ragu itu tiba-tiba Chin Yang Kun meligat secercah sinar terang di kejauhan.
Semangat pemuda itu timbul kembali.
"Ah, tampaknya terowongan ini telah mencapai permukaan tanah..."
Desah pemuda itu gembira.
Kini terowongan itu semakin membesar, sehingga Chin Yang Kun tak perlu harus merangkak lagi.
Sinar terang itu tinggal belasan langkah saja dari tempatnya, dan lantai terowongan itu tidak lagi basah dan becek.
Di atas lantai tersebut telah dipasang lempengan-lempengan bata kapur yang telah digosok mengkilat.
Sinar terang itu ternyata keluar dan sela-sela daun pintu yang tertutup rapat.
Dengan wajah yang sangat girang Chin Yang Kun berjalan mendekati pintu tersebut.
"Tolonggg...! Tolonggg...! Oh, jangan...! Jangan...! Jangan! Jangan lakukan itu! Bunuh saja aku...manusia keji!"
Tiba-tiba terdengar suara wanita melengking tinggi di balik pintu tersebut.
Chin Yang Kun tergagap kaget.
Rasa-rasanya pemuda itu mengenal suara wanita itu, tapi tidak segera bisa menduga, suara siapakah itu!
"Hehe...gadis malang!
Salahmu sendiri, kenapa tidak pamanmu atau ayahmu sendiri yang datang untuk menebus kakakmu!"
Terdengar suara lelaki di balik pintu itu pula.
"Ahh!"
Chin Yang Kun cepat-cepat membungkam mulutnya sendiri yang hampir saja berteriak. Kemudian dengan hati tegang pemuda itu bergegas mengintip melalui lubang kunci.
"Ah, makanya aku tidak bisa menemukannya, kiranya ia telah berada di sini!"
Gumamnya begitu mengenali suara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, lelaki yang baru saja berbicara itu.
Chin Yang Kun melihat sebuah kamar besar yang disusun dengan rapi.
Di tengah-tengah ruangan terlihat sebuah tempat tidur besar pula, di mana di atasnya tampak tergolek tubuh seorang wanita dalam keadaan telanjang.
Chin Yang Kun tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang sedang menangis itu.
"Lepaskan aku! Di mana kakakku? Bukankah aku telah memberikan uang tebusan itu? Mengapa engkau mengingkari janjimu?"
Wanita yang berada di atas tempat tidur itu menjerit-jerit lagi.
Chin Yang Kun yang sedari tadi belum melihat wajah Song-bun-kwi tiba-tiba dikejutkan oleh suara iblis itu di balik pintu yang diintipnya.
"Kakakmu ada di ruangan sebelah! Sebentar kalau engkau sudah selesai melayani aku tentu akan kulepaskan juga dia, heheheh..."
Iblis dari Tai bong-pai itu tertawa.
Dan sesaat kemudian Chin Yang Kun melihat iblis itu melintas di depan lobang kunci, menuju ke arah si wanita.
Hampir saja Chin Yang Kun mengumpat ketika melihat iblis yang mengerikan itu tanpa mengenakan pakaian selembarpun di tubuhnya.
Wanita yang tergolek di atas pembaringan itu menjerit-jerit semakin keras.
"Jangan! Oh! Jangan...!"
Suaranya tinggi melengking menyayat hati.
"Kurang ajar! Iblis itu mau memperkosa orang rupanya...!"
Chin Yang Kun menggerutu. Hampir saja pemuda itu menerjang pintu tersebut, tapi serentak ingat akan keadaannya sendiri yang sudah kehabisan tenaga, maksudnya itu segera diurungkannya.
"Kalau aku masuk menolong wanita itu...itu sama saja aku sengaja membunuh diri! Dalam keadaan seperti ini aku tak mungkin bisa melawan iblis itu, apa lagi kalau kawan-kawannya nanti datang mengeroyokku...Eh, di mana gerangan paman Wan It dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Kenapa aku tidak melihat mereka?"
Chin Yang Kun membalikkan badannya membelakangi pintu.
Kepalanya tertunduk.
Ada sedikit perasaan sesal dan berdosa karena tak bisa menolong gadis yang hendak tertimpa bencana tersebut.
Tanpa terasa kedua belah telapak tangannya berusaha menutupi lobang telinganya, tapi...jeritan wanita itu tetap saja menggedor hati nuraninya.
"Bangsat!"
Pemuda itu akhirnya mengumpat, lalu dengan tergesa-gesa matanya mengintip kembali ke dalam lobang kunci.
Dilihatnya iblis itu telah naik ke tempat tidur dan mulai menindih tubuh wanita malang tersebut.
Terdengar suara tertawanya yang memuakkan.
Tapi sebelum Chin Yang Kun mendobrak pintu tersebut, tiba-tiba pintu kamar itu diketuk orang dari luar.
"Huh! Siapa...?"
Dengan marah Song-bun-kwi membentak.
"Kwa Taihiap, maaf kami mengganggu. Kami telah berputar-putar mencari Kwa Taihiap dan Wan Taihiap ke mana-mana tanpa membawa hasil. Untung ada seorang pengawal yang memberitahukan tempat ini..."
Terdengar suara dari luar pintu.
"Lekas katakan apa keperluanmu? Awas kalau kau membuat aku marah, kubunuh kau!"
Kwa Sun Tek menggeram sambil meloncat dari tempat tidur, urung memperkosa wanita korbannya.
Hening sejenak.
Agaknya orang yang berada di luar pintu itu merasa ketakutan juga mendengar suara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek yang keras.
"Maaf, Taihiap...pun...puncak bukit ini telah ke...kedatangan musuh! Mereka menyusup di antara orang-orang kita sendiri. Kini telah terjadi perang besar di luar sana!"
Dengan suara gemetar orang itu melaporkan.
"Braaakk!"
Daun pintu itu jebol diterjang Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Sambil menutupi tubuh sekenanya dengan kain yang berhasil disambarnya, iblis Tai-bong-pai itu mencengkeram leher baju orang yang melapor tadi.
"Apa katamu? Katakan sekali lagi!"
Bentaknya kuat-kuat. Orang itu semakin pucat ketakutan.
"Bukit i-ini...telah diserang musuh! Mereka...mereka menyusup di antara orang-orang kita sendiri sehingga kami tidak segera bisa mengetahuinya. Mula-mula kami dapat menyergap seorang penyelundup yang mencoba hendak memasuki gedung ini. Tapi orang itu ternyata lihai bukan main. Kami lalu mengepungnya..."
"Nah! Cuma seorang penyelundup, bukan? Mengapa kau katakan bahwa di luar telah terjadi perang besar?"
Song-bun-kwi cepat memotong dengan amat berangnya. Orang itu, yang tidak lain adalah salah seorang dari empat penjaga yang tadi lolos dari keganasan Chin Yang Kun, menjadi semakin ketakutan.
"Be-benar! Mulanya...memang...memang hanya seorang, tapi...tapi beberapa saat kemudian...sebagian dari orang-orang kita tiba-tiba berontak dan menyerang teman-temannya sendiri,"
Katanya terengah-engah.
"Gila!"
Song-bun-kwi mengumpat kasar, lalu melepaskan penjaga tersebut dan berkelebat pergi keluar.
Setelah menenangkan hatinya kembali penjaga itu cepat-cepat mengikutinya, sehingga tempat itu menjadi sepi.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Chin Yang Kun segera masuk menolong wanita yang hampir saja menjadi korban kebiadaban Song-bun-kwi tersebut.
Bergegas pemuda itu mengambil pakaian yang tertumpah di atas tanah lalu memberikannya kepada wanita itu.
"Nih, pakailah bajumu! Mari...?!??"
Chin Yang Kun tidak bisa meneruskan kata-katanya. Matanya terbelalak lebar mengawasi gadis cantik molek yang terlentang telanjang di atas pembaringan itu.
"Kau...!"
Desahnya seraya memalingkan mukanya.
Ternyata bukan hanya Chin Yang Kun yang terkejut atas pertemuan itu!
Gadis itu ternyata tidak kalah kagetnya dari pada dia!
Bibir indah yang semula hendak menjerit dan memaki karena mengira Chin Yang Kun adalah teman Song-bun-kwi pula itu tiba-tiba ternganga gemetar!
Wajahnya yang pucat ketakutan itu mendadak berubah menjadi kemerah-merahan!
"Toat...Toat-beng-jin...!"
Bisiknya hampir tak kedengaran.
Gadis itu ternyata adalah Tiau Li Ing, puteri Tung-hai-tiau Si Raja Perompak dari Laut Timur.
Pada awal pertemuan mereka dahulu secara tidak sengaja Chin Yang Kun memang telah berbohong kepada gadis itu.
Chin Yang Kun mengaku sebagai Toat-beng-jin, tokoh lm-yang-kauw yang terkenal itu.
Dan kelihatannya sampai sekarang gadis itu tetap menganggapnya sebagai Toat-beng-jin juga.
Mendengar gadis itu membisikkan nama Toat-beng-jin, tiba-tiba pikiran Chin Yang Kun seperti terbuka.
"Hei...?! Jadi kau kah yang menyaru sebagai pemuda bengal itu?"
Teriaknya gemas.
"Makanya kau seperti sudah mengenal aku. Kurang ajar...! Ayoh, pakailah baju ini! Kita harus lekas-lekas meninggalkan tempat ini selagi mereka sibuk bertempur satu sama lain..."
"A...aku terto...tertotok lumpuh."
Tiau Li Ing menjawab dengan suara seret dan serak hampir menangis.
"Ah, bodoh benar aku ini...!"Chin Yang Kun menepuk-nepuk dahinya sendiri, kemudian bergegas membebaskan totokan Tiau Li Ing. Tangannya sedikit gemetar ketika harus meraba dan mengurut pinggang dan paha yang mulus itu. Begitu terbebaskan gadis itu segera menyambar pakaiannya dan cepat mengenakannya. Setelah itu badannya membalik dan tiba-tiba secara tak terduga tangannya menampar pipi Chin Yang Kun! "Plak! Plak! Plak!"
Tamparan pertama tidak sempat dielakkan oleh Chin Yang Kun, tapi tamparan selanjutnya dengan mudah dapat dihindarinya.
"Hai! Hai! Hentikan...! Apakah kau sudah gila?"
Pemuda itu berseru kaget.
"Kau yang gila! Pemuda tak tahu aturan! Tak tahu malu! Menggerayangi tubuh orang seenaknya...!"
Tiau Li Ing menjerit-jerit dengan muka merah menahan malu.
"Hahh?!"
Chin Yang Kun berdiri terlongong-longong seperti orang bodoh.
"Ini...ini...mana aku berani? A...aku kan hanya bermaksud menolongmu?"
"Bohong! Kalau mau menolong...mengapa yang mengurut dan meraba-raba lama benar?"
Gadis itu berteriak penasaran, lalu dengan gemas mencoba menampar lagi. Tapi dengan mudah Chin Yang Kun menelikungnya.
"Lepaskan! Lepaskan! Oh, kau jangan memperkosaku!"
Gadis itu meronta-ronta.
"Gila!"
Chin Yang Kun cepat melepaskan pegangannya dengan muka merah padam.
"Siapa mau memperkosamu?"
Tiau Li Ing cepat membalikkan tubuhnya dan melesat keluar meninggalkan kamar itu.
"Hei! Tunggu...!"
Chin Yang Kun berteriak dan mengejarnya.
Mereka berkejaran melalui lorong-lorong dan kamar-kamar.
Ternyata mereka masih berada di dalam bangunan di bawah tanah.
Tak seorangpun penjaga yang mereka temui.
Agaknya semua orang telah pergi ke luar untuk bertempur melawan musuh.
Heran, semakin lama Chin Yang Kun merasakan tubuhnya semakin segar dan pulih kembali!
Luka-luka di kulitnya seperti mengatup dan merapat dengan sendirinya, sehingga rasa-rasanya kekuatan dan tenaganya mulai pulih pula.
Rasa lelah dan lemah akibat pengerahan tenaga yang berlebihan tadi sekarang rasa-rasanya sudah hilang dari tubuhnya.
Kini badannya mulai terasa ringan seperti sedia kala.
Pemuda itu sama sekali tidak menyadari bahwa semuanya itu disebabkan oleh keampuhan tenaga sakti Liong-cu-ikangnya sendiri.
Tanpa disengaja pemuda itu masuk ke dalam sumur gelap di dalam tanah, kemudian merangkak dan berputar-putar di dalam lorong-lorong sempit di dalam gua.
Semuanya itu persis dengan apa yang dilakukannya ketika berlatih Liong-cu I-kang dan Kim coa-ih-hoat di tempat nenek buyutnya dahulu.
Maka tanpa setahu Chin Yang Kun sendiri tenaga saktinya itu bergolak sesuai dengan gerakan-gerakan tubuh pemuda itu ketika merangkak dan menyelusuri terowongan-terowongan sempit tersebut.
Secara otomatis tenaga sakti itu bergerak dan berputar ke seluruh tubuh dengan hebatnya apalagi keadaan dan suasana tempatnya benar-benar sangat cocok dan sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan oleh Liong-cu I-kang!
Bagaikan seekor ular naga yang baru saja selesai berganti kulit pemuda ini tampak kuat dan segar kembali.
Semakin lama langkah kakinya dalam mengejar Tiau Li Ing semakin tampak gesit dan lincah!
"Nonaaa...tunggu!
Jangan tergesa-gesa ke luar!
Di luar sudah penuh dengan anak buah Song-bun-kwi!
kau akan tertangkap kembali di tangan mereka nanti...!"
Pemuda itu berteriak di belakang Tiau Li Ing.
Tapi terlambat sudah!
Tiau Li Ing sudah terlanjur mendaki tangga dan keluar dari ruang bawah tanah tersebut.
Terpaksa Chin Yang Kun meloncat mengejarnya.
Bagaimanapun juga pemuda itu tidak tega untuk membiarkannya begitu saja.
Pemuda itu seperti sudah terikat kontrak untuk melindunginya sejak ia bersedia membawa pedati kecil itu.
Tempat mereka ke luar ternyata di sebuah pendapa yang amat Iuas.
Di sana sudah hiruk-pikuk dengan orang-orang yang bertempur di segala tempat.
Mayat tampak bergelimpangan di mana-mana.
Darah tampak berceceran membasahi lantai pendapa yang bersih mengkilap itu.
"Koko...!"
Tiba-tiba Tiau Li Ing menjerit dan menghambur ke arah pemuda tampan yang sedang melawan tiga orang penjaga.
"Kau sudah bebas...?"
"Hei, Ing-moi...kau datang juga? Hahaha...lengkap sudah kita sekarang! Lihatlah...ayah dan Phang-susiok ada di luar pendapa memimpin orang-orang kita untuk menumpas gerombolan yang menculikku ini..!"
Pemuda yang tidak lain adalah Tiau Kiat Su itu berseru gembira.
"Benarkah?"
Tiau Li Ing bertanya dengan wajah yang gembira pula.
Lalu sambil sesekali membantu anak buah ayahnya yang bertempur dengan lawannya gadis itu berlari keluar pendapa untuk menemui ayahnya.
Chin Yang Kun tidak mengejarnya lagi.
Kini pemuda itu benar-benar merasa lega karena gadis itu telah berada kembali diantara keluarganya.
Apalagi tampaknya keluarga gadis itu datang dengan segala kekuatannya.
Perlahan-lahan Chin Yang Kun menyelinap diantara orang orangyang sedang bertarung menyabung nyawa tersebut.
Kakinya melangkah ke luar pendapa dan mencari jalan ke luar dari tempat itu.
Di luar pendapa Chin Yang Kun melihat pertempuran masih berlangsung dengan sengit.
Kelihatannya kekuatan kedua belah pihak masih sama kuatnya.
Di halaman samping pemuda itu melihat sebuah pertempuran menegangkan antara Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dengan seorang lelaki tua berpakaian indah gemerlapan.
Di tempat itu terlihat banyak sekali mayat-mayat bergelimpangan, korban keganasan tangan kedua orang itu.
Tidak jauh dari pertempuran itu tampak pula seorang lelaki tua bertubuh kecil kurus mengamuk dengan pacul di tangannya.
Tak seorangpun lawannya yang mampu mendekatinya.
Beberapa orang tokoh seperti Keng Si Yu dan kawan-kawannya kelihatannya tak mampu pula menahan orang tua kurus itu.
"Hai-ong (Raja Lautan), iblis itu pulalah yang dahulu telah merampas potongan emas yang berisi peta harta karun itu! Bersama dengan seorang temannya dia mencegat aku di lereng Bukit Delapan Dewa..."
Orang tua kurus yang tidak lain adalah Tung-hai Nungjin itu berseru ke arah orang tua berpakaian gemerlapan.
"Begitukah...?"
Lawan Song-bun-kwi yang ternyata adalah Tung-hai-tiau sendiri itu menegaskan. Lalu sambil memperkuat desakannya kepada Song-bun-kwi, raja perompak dari Lautan Timur itu membentak.
"Kalau begitu...lekas serahkan potongan emas itu kepadaku!"
Tapi jago muda dari Tai bong-pai itu segera tertawa.
"Hahaha...kau jangan salahkan aku kalau benda tersebut sampai jatuh ke tanganku! Anak buahmu itulah yang seharusnya kau hukum karena keteledorannya...!"
"Jangan cerewet! Lekas kembalikan benda itu kepadaku!"
Tung-hai-tiau menggeram.
"Hahaha...kau sendirilah yang banyak omong! Mengapa kau tidak lekas-lekas merampasnya dari tanganku kalau kau memang menginginkannya?"
"Kurang ajar! Lihat pukulan...!"
Tung-hai-tiau menghantam dan disambut pula oleh Song-bun-kwi sehingga kedua buah kepalan mereka bertemu di udara.
"Dhiess...!"
Keduanya sama-sama tergetar mundur! Agaknya tenaga dalam mereka tidak berselisih banyak.
"Ayaahh...! Bunuhlah iblis menjijikkan itu! Dia telah menyekap aku di ruang bawah tanah dan hampir saja memperkosaku...!"
Tiba-tiba Tiau Li Ing yang telah tiba di tempat itu berteriak.
"Li Inggg...!"
Raja perompak itu berdesah gembira. Lalu sambil mengerahkan kembali kekuatannya orang tua itu melompat saja.
"Awas, serangan...!"
Kali ini Song-bun kwi mengelak ke samping, kemudian balas menyerang dengan kedua kakinya.
Secara bergantian sepasang kakinya menendang ke arah pinggang dan dada Tung-hai-tiau!
Demikianlah, mereka bertempur kembali dengan serunya.
Masing-masing mengeluarkan kesaktiannya yang hebat, sehingga arena pertempuran mereka menjadi dahsyat bukan main.
Debu dan pasir berhamburan ke udara, sementara pertemuan antara kaki dan tangan mereka bagaikan suara letupan cambuk yang memekakkan telinga!
Dan orang-orang yang berada di tepi arenapun terpaksa melangkah mundur ketika angin pukulan kedua orang itu menyambar-nyambar menyakiti kulit mereka.
"Plak! Plak! Plak!"
Kedua orang itu tergetar mundur lagi.
Tampaknya pertemuan kedua tangan mereka kali ini agak menggetarkan tubuh mereka, karena masing-masing benar-benar telah mengerahkan seluruh Iweekang mereka.
Tung-hai-tiau memeriksa tangannya, dan hatinya segera berdebar-debar serentak melihat beberapa tetes darah tampak merembes keluar dari dalam pori-pori kulit lengannya!
Tapi sebaliknya Song-bun-kwi juga tidak kalah kagetnya dari pada dia!
Dalam beberapa kali beradu tangan jago dari Tai-bong-pai itu merasakan tangannya semakin terasa kesemutan, sehingga lengan itu semakin sukar digerakkan!
"Gila!
Lweekang Si Raja Lautan ini semakin lama semakin menggencet dada dan jalan pernapasanku, sehingga sangat mengganggu kelancaran jalan darahku!"
Jago Tai-bong-pai itu berkata di dalam hati.
Demikianlah, setelah masing-masing menyadari betapa berbahayanya ilmu lawan yang mereka hadapi, mereka segera mempersiapkan ilmu andalan masing-masing.
Song-bun-kwi mengerahkan Hio-yan Sinkang serta Ilmu Silat Mayat Mabuknya, sementara Tung-hai-tiau mengeluarkan golok di tangan kanan dan mempersiapkan Tiau-jiau-kang (Ilmu Cengkeraman Elang) di tangan kiri.
Sesaat kemudian tempat itu segera disesakkan oleh bau dupa hio tanpa seorangpun di antara orang-orang di tempat tersebut yang tahu mana asalnya.
Bau dupa itu tiba-tiba muncul begitu saja di antara mereka.
Seolah-olah bau tersebut keluar dari dalam tubuh mereka sendiri.
Dan bau yang amat tajam dan menyengat hidung itu benar-benar mengejutkan semua orang dan membuat hati mereka menjadi kecut seperti dicengkam oleh kengerian yang tak mereka ketahui sebabnya.
Tung-hai-tiau yang langsung berhadapan dengan Song-bun-kwi, merasakan pula hal yang sangat aneh itu.
Tapi sebagai seorang datuk persilatan yang telah kenyang dengan pengalaman ia segera tahu apa yang sedang terjadi.
Oleh karena itu hatinya semakin mantap untuk cepat-cepat mengeluarkan ilmu simpanannya.
Dia tak ingin terlambat, sehingga merasa menyesal nantinya.
Demikianlah, beberapa saat kemudian keduanya terlibat dalam pertempuran sengit lagi.
Dan kali ini sungguh-sungguh sebuah pertempuran yang sangat memukau dan mencekam hati.
Keduanya merupakan tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan.
Apalagi mereka sekarang mengeluarkan ilmu simpanan masing-masing!
Kedua-duanya bergerak dalam kecepatan yang sukar diikuti oleh mata, dan jurus-jurus yang mereka keluarkanpun sangat aneh-aneh dan jarang terlihat di dunia kang-ouw.
Apalagi Ilmu Silat Mayat Mabuk yang kini sedang dikeluarkan oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!
Selain gerakan-gerakannya amat aneh, perbawa yang dikeluarkanpun ternyata sangat mengerikan.
Orang yang melihat lambat-laun seperti terbius dan ikut terhanyut dalam suasana magis yang menyeramkan.
Tapi permainan golok Tung-hai-tiau juga bukan main hebatnya.
Selain cepat dan kuat, jurus-jurusnyapun amat kasar dan ganas luar biasa.
Apa lagi permainan golok itu ditunjang pula dengan Ilmu Cengkeraman Elang yang dahsyat.
Kedua buah ilmu ini menjadikan Tung-hai-tiau tersohor dan tak terkalahkan selama ini!
Maka dari itu tidaklah heran kalau Song-bunkwi kali ini benar-benar menemui kesulitan.
Pertempuran antara dua tokoh berkepandaian tinggi itu berlangsung dengan ketat dan dalam tempo yang amat cepat, sehingga sebentar saja seratus jurus telah berlalu tanpa terasa.
Golok dan jari-jari Tung-hai-tiau itu ternyata mampu membendung dan mengimbangi kesaktian Song-bun-kwi yang mengerikan itu.
Malahan beberapa waktu kemudian ayunan goloknya mampu membatasi gerak Iangkah iblis Tai-bong-pai tersebut, sehingga lambat laun Ilmu Silat Mayat Mabuk yang terkenal menggiriskan hati itu menjadi mati Iangkah dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Bangsat!"
Song-bun-kwi mengumpat-umpat.
"Hahahaha...! Jangan menangis! Ayoh,,. Keluarkanlah seluruh kepandaianmu yang aneh-aneh itu! Aku Tung-hai-tiau takkan mundur sejengkalpun, hahahaha!"
Tung-hai-tiau tertawa puas.
"Keparat! kau jangan buru-buru bergembira dulu! Sebenarnya ilmu golokmu itu tidak seberapa. Begitu pula dengan cengkeraman jari-jarimu...yang seperti cakar ayam itu! Engkau menang angin hanya karena...golok pusakamu! Coba kau lepaskan golok itu...hmm, kutanggung nyawamu takkan kuat bertahan dalam sepuluh jurus!"
Song-bun-kwi yang terdesak itu mencoba memanasi pada lawannya. Tapi Tung-hai-tiau yang telah terbiasa memimpin orang orang kasar, yang tidak pernah menghiraukan perasaan orang itu hanya tertawa saja.
"Jangan merengek-rengek seperti anak kecil, heheh...Dan...kenapa aku harus melepaskan golokku? Bagi seorang ahli silat, senjata dapat diibaratkan sebagai pakaian. Mengapa mesti harus dilupakan?"
Sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh Song-bun-kwi itu.
Yaitu bukan karena Ilmu Silat Mayat Mabuk lebih rendah dari pada ilmu golok dan ilmu cengkeraman Tung-hai-tiau.
Golok pusaka yang tajam luar biasa itulah yang menyebabkan Song-bun-kwi jatuh di bawah angin.
Sebab bagaimanapun hebat dan dahsyatnya ilmu iblis muda dari Tai-bong pai itu, dia tetap belum berani mengambil resiko melawan tajamnya golok pusaka tersebut.
Sehingga setiap ayunan dan tabasan golok tersebut Song-bun-kwi dengan mati-matian terpaksa harus menghindarinya.
Sedikitpun iblis itu tak berani menepiskan atau menyentuhnya, meski hanya pada punggung goloknya!
Dan hal ini tentu saja sangat merepotkannya!
Akibatnya Song-bun-kwi terdesak dan makin tak bisa mengembangkan ilmunya yang hebat!
Ketakutan iblis itu terhadap keampuhan golok lawannya membuat dia tak dapat bergerak dengan leluasa, sehingga otomatis kedahsyatan Ilmu Silat Mayat Mabuknya menjadi berkurang pula karenanya.
Selain dari pada itu ilmu golok dan ilmu cengkeraman elang Tung-hai-tiau sendiri memang bukan main hebatnya!
Kedahsyatan ilmu tersebut kiranya juga tidak kalah dengan ilmu yang dimiliki Song-bun-kwi.
Tanpa golok pusaka itupun Tung-hai-tiau tak mungkin kalah dengan Song-bun-kwi.
Maka dengan adanya golok pusaka yang ampuh itu di tangannya, sudah sewajarnyalah raja perompak tersebut menang di atas angin.
Sementara itu di dalam arena yang lain Tung-hai Nung-jin semakin merajalela dengan paculnya.
Korban semakin bertumpuk di dalam arena tersebut sehingga akhirnya mereka terpaksa harus bertempur di atas tumpukan mayat yang berserakan.
Keng Si Yu dan beberapa pemimpin kelompok yang lain yang merupakan orang-orang penting setelah Song-bun-kwi ternyata juga tak mampu menjinakkan petani dari laut timur tersebut.
Sebagian dari mereka malah telah ikut menjadi kurban pula seperti yang lain.
Karena tidak ada yang bisa menahannya, maka Tung-hai Nung-jin dengan mudah dapat mendekati arena pertempuran Tung-hai-tiau dan Song-bun-kwi.
Begitu datang orang itu segera mengayunkan paculnya ke punggung Song-bun-kwi yang sedang mengalami kesulitan.
"Hai-ong, marilah kita habisi dia...!"
Teriaknya.
"Ayoh!"
Tung-hai-tiau menjawab bersemangat.
Bajak laut seperti mereka memang tidak pernah mempedulikan atau menghiraukan tata tertib maupun adat kesopanan umum.
Mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa mempedulikan kepentingan atau perasaan orang lain.
Begitu pula yang mereka lakukan kali ini.
Enak saja mereka mengeroyok Song-bun-kwi yang sudah terdesak hebat itu.
Padahal mereka tokoh-tokoh besar yang sudah sangat ternama di dunia persilatan.
Tentu saja jago muda dari Tai-bong-pai itu semakin tidak berkutik.
Melawan seorang Tung-hai-tiau saja tidak mampu, apalagi harus ditambah dengan Tung-hai Nung-jin yang tidak kalah saktinya pula.
Maka ayunan cangkul itu dengan telak mengenai punggung Song-bun-kwi!
"Bressss!"
Iblis itu terlempar ke samping dengan kuatnya, kemudian jatuh terguling-guling di atas tanah.
"Mampus kau! Hahahaha...!"
Tung-hai Nung-jin dan Tung-hai-tiau tertawa terbahak bahak.
Keduanya bertolak pinggang sambil memandang ke arah Song-bun-kwi yang terkapar di depan mereka.
Tapi suara tertawa itu berhenti dengan tiba-tiba.
Dengan mata melotot kedua orang tokoh bajak laut itu memandang tubuh Song-bun-kwi.
Korban cangkul Tung-hai Nung-jin itu tiba-tiba menggeliat, lalu meloncat bangun kembali dengan tangkas!
Dan di lain saat iblis itu telah berdiri kembali di depan mereka seperti tak pernah terjadi apa-apa!
"Gila!
Setan mana yang telah masuk ke dalam tubuhnya?"
Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin saling memandang dengan mulut mengumpat-umpat.
Sementara itu Song-bun-kwi melepaskan bajunya yang robek lebar di bahagian punggungnya.
Dan sekali lagi Tunghai-tiau terbelalak mengawasinya.
Di bawah baju yang robek terkena cangkul itu tampak selapis lagi baju pendek berwarna kuning keemasan.
Itulah Kim pouw-san (Baju Mustika Emas), baju yang tidak mempan senjata!
"Kim-pouw-san...?"
Bibir Tung-hai-tiau berdesah gemetar begitu mengenali benda pusaka miliknya sendiri itu. Dengan mata beringas Tung-hai-tiau menoleh mencari puterinya, Tiau Li Ing, yang telah membawa baju tersebut.
"Ayah, dia mengambil baju itu ketika aku ditangkapnya..."
Tiau Li Ing yang berada di tepi arena lekas-lekas berteriak dengan suara ketakutan. Bagaimanapun manjanya gadis itu ternyata sangat takut kepada ayahnya.
"Bangsat! kau sungguh berani sekali merampas barang milik keluarga Tung-hai-tiau!"
Raja perompak itu kembali menggeram ke arah lawannya. Lalu.
"Nung-jin...! Kita bunuh saja orang ini!"
Serunya kepada Tung-hai Nung-jin.
"Marilah, Hai-ong!"
Petani dari lautan timur itu menjawab seraya mengayunkan cangkulnya ke muka Song-bun-kwi.
"Bagus!"
Tung-hai-tiau berteriak ke arah pembantunya tersebut.
"Hantam saja kepala atau kaki tangannya! Jangan sekali-kali menghantam badannya! Marilah kita lihat, apakah ia mampu melindungi kepala dan kaki tangannya terus-menerus?"
Sementara itu yang kaget karena Baju Mustika Emas itu ternyata bukan hanya Tung-hai-tiau dan pembantunya saja!
Song-bun-kwi sendiri ternyata juga merasa terkejut bukan main!
Iblis itu sejak semula sudah lupa dan tak ingat lagi kalau ia mengenakan Kim-pouw-san yang dirampasnya dari Tiau Li Ing.
Coba kalau sejak tadi ia mengingatnya, tak mungkin ia ketakutan menghadapi golok pusaka Tung-hai-tiau itu.
Dan ayunan cangkul yang nyaris merenggut nyawanya itu kini justru telah menyadarkannya kembali.
Maka dari kaget iblis itu menjadi gembira bukan kepalang.
Wajahnya tampak berseri-seri dan hatinya besar kembali!
"Baju pusaka begini setiap orang boleh memakainya, hehehe...!
Siapa yang kuat dan lihai, dialah yang berhak mengenakannya.
Mengapa mesti engkau sendiri yang harus memilikinya?
Memangnya nenek moyangmu yang membuat dia?
Huh!"
Song-bun-kwi meludah sambil mengelakkan serangan Tung-hai Nung-jin.
"Bangsaatt!"
Tung-hai-tiau naik pitam.
Golok pusaka raja perampok itu menyambar kaki, lalu berputar ke atas menuju leher.
Semua gerakan itu dilakukan sambil melompat ke depan dalam jurus Melepas Kail Menarik Pelampung!
Dan serangan itu dibarengi oleh Tung-hai Nungjin dengan sodokan gagang paculnya ke arah selangkangan.
Song-bun-kwi buru-buru mengangkat kakinya ke atas sambil menggeliatkan tubuh atasnya ke belakang, sehingga serangan Tung-hai-tiau tidak mengenai sasarannya.
Sementara itu sodokan gagang pacul Tung-hai Nung-jin cepat dijepitnya dengan kedua belah pahanya, sehingga tubuh petani lautan itu ikut tertarik ke depan.
Dan sebelum bajak laut ini mampu melepaskan ujung gagang paculnya, kaki Song-bun-kwi telah menjejak ke arah dadanya.
Tentu saja Tung-hai Nung-jin itu tak ingin kehilangan cangkulnya.
Cepat dia melepaskan salah sebuah tangannya yang memegang cangkul dan memapaki tumit itu dengan tenaga penuh.
"Bressssss!"
Tung-hai Nung-jin terjengkang ke belakang, tapi Song-bunkwi terpaksa melepaskan jepitannya pula.
Dengan demikian masing-masing dapat melepaskan diri dari kesukarannya.
Cuma kalau hendak diperbandingkan, terang kalau kekuatan lweekang Song-bun-kwi masih sedikit lebih kuat dari pada Tung-hai Nung-jin.
Demikianlah, Song-bun-kwi yang menjadi berbesar hati kembali karena merasa terlindung oleh Baju Mustika Emas, kini dikeroyok oleh Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin.
Sungguh berat memang bagi Song-bun-kwi, tapi dengan mengenakan Kim-pouw-san di badannya iblis itu menjadi lebih sulit lagi untuk dikalahkan.
Setidak-tidaknya Tung-hai-tiau dan pembantunya harus membutuhkan waktu untuk dapat membunuhnya.
Sementara itu pertempuran antara sisa-sisa pasukan Song-bun-kwi melawan para bajak laut anak buah Tung-hai-tiau sudah sampai pada saat-saat akhir pula.
Pasukan Song-bunkwi yang sudah tidak begitu banyak lagi itu memang bukan lawan yang seimbang bagi bajak-bajak laut yang setiap harinya selalu bergelut dengan kekerasan.
Apalagi serangan mendadak dari para bajak laut yang semula mereka kira merupakan teman sendiri itu benar-benar sangat mengagetkan mereka, sehingga mereka yang tidak menyangka dan menduga sebelumnya itu menjadi bingung dan mudah dicerai-beraikan.
Matahari telah jauh condong ke barat.
Sinar matahari yang semula tajam menyengat itu mulai meredup, dan angin selatanpun mulai bertiup pula dengan sedikit kencang.
Daun-daun kering yang semula masih menempel pada gagangnya, kini tampak bertanggalan dan meIayang-layang tertiup angin.
Mereka bertebaran ke bawah bagaikan taburan bunga di atas sosok-sosok mayat yang terbaring di bawahnya.
"Ah! Aku telah banyak kehilangan waktu karena mengurusi pemuda tam...eh, gadis bengal itu, sehingga urusanku sendiri menjadi terbengkalai karenanya..."
Tiba-tiba Chin Yang Kun yang menonton di pinggir arena itu berdesah perlahan.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, Ialu melangkah pergi meninggaIkan tempat itu.
Sambil menghindar dari tempat tempat pertempuran yang masih berlangsung dia menuruni puncak bukit yang kini berubah menjadi neraka pembantaian tersebut.
"Toat-beng-jin...!"
Tiau Li Ing yang mendadak melihat bayangan Chin Yang Kun itu berteriak memanggil, dan kemudian tubuhnya yang mungil itu cepat berkelebat mengejar.
"Hei! Li Ing...! Mau pergi kemana lagi kau? Ayoh, kembali...!"
Tung-haitiau yang sibuk bertempur itu ternyata tak pernah melepaskan perhatiannya kepada puteri kesayangannya.
"Ayah! Aku ingin menangkap seorang pemuda yang telah berani kurang ajar kepadaku!"
"Apa?? Kurang ajar...!"
Tung-hai-tiau berteriak.
Tiba-tiba tubuh Tung-hai-tiau melesat pergi meninggalkan pertempuran.
Badannya yang tegap kekar itu melayang turun cepat sekali melewati Tiau Li Ing, dan di lain saat dia telah berada di hadapan Chin Yang Kun.
"Pemuda inilah yang berani kurang ajar kepada...eh, kau rupanya!"
Tung-hai-tiau yang siap untuk marah itu tiba-tiba tertegun begitu melihat wajah Chin Yang Kun.
Sebaliknya Chin Yang Kun yang telah bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan itu untuk sesaat juga bingung melihat sikap Tung-hai-tiau yang baru kali ini dilihatnya.
Raja bajak laut yang amat ternama itu kelihatannya sudah mengenalnya, padahal dia sendiri merasa belum pernah bertemu dan berkenalan.
"Oh, rupanya kau pemuda yang tadi mengendap-endap di lereng bukit ini..."
Raja perampok itu menghela napas.
"Ohhh...jadi kau rupanya yang menulis pada secarik kertas itu,"
Chin Yang Kun tiba-tiba juga teringat pada orang misterius yang meninggalkan surat di atas gerumbul perdu itu.
"Ayah, mengapa kau tidak lekas-lekas meringkusnya? Dia telah berani kurang ajar kepadaku..."
Tiau Li Ing yang sudah sampai di tempat itu cepat memegang lengan ayahnya.
"Kurang ujar...? Apa maksudmu? Apa yang telah dilakukannya terhadapmu?"
Tung-hai-tiau menatap puterinya dengan kening berkerut.
"Ahh, ayah...!"
Tiba-tiba Tiau Li lng merengek manja sambil bergantung di lengan ayahnya. Wajahnya yang cantik itu berubah menjadi merah sekali.
"Apa yang dia lakukan terhadapmu? Lekas katakan!"
Tung-hai-tiau menjadi tegang. Tiau Li Ing tersentak kaget dan ketakutan.
"Anu...anu, yah...dia...dia telah melihat, eh...meraba-raba badanku. Padahal...padahal...padahal aku...ahh, ayah ini!"
Tiau Li Ing meremas dan mengguncang-guncang lengan ayahnya dengan mulut bergetar hampir menangis.
"Apaaa...?? Katakan yang jelas! Jangan berbelit-belit begitu!"
Tung-hai-tiau membentak.
Dibentak-bentak begitu Tiau Li lng semakin menjadi gugup dan tak bisa bicara.
SeIain takut gadis itu juga malu untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
Dan oleh karena tak tahan selalu didesak terus, akhirnya Tiau Li Ing berlari pergi sambil menutupi mukanya.
"Tidak! Tidak mau...! Aku tidak akan mengatakannya! Ayah...sih!"
Jeritnya dengan suara gemas.
"Hei! Berhenti! Mau ke mana kau...?"
Tung-hai-tiau yang merasa bingung melihat tingkah laku anaknya itu membentak lagi. Kakinya melangkah mau mengejar Tiau Li Ing. Tapi Chin Yang Kun cepat menahannya.
"Biarkanlah saja dia, Lo-Cianpwe...Aku yang akan memberi keterangan."
Tung-hai-tiau cepat membalik, dipandangnya Chin Yang Kun lekat-lekat.
"Lekas katakan!"
Katanya geram.
"Ada apa ini sebenarnya?"
Sementara itu sepeninggal Tung-hai-tiau keadaan Tung-hai Nung-jin menjadi kalang kabut.
Kalau semula Petani Lautan itu bersama ketuanya mampu mendesak Song-bun-kwi, kini setelah dia sendirian keadaan berubah menjadi sebaliknya.
Cangkulnya yang ia bangga-banggakan itu kini seperti menjadi tidak berguna lagi, karena setiap kali mengenakan sasaran, lawannya seperti tidak pernah merasakannya.
Song-bunkwi yang mengenakan Baju Mustika Emas itu bagaikan manusia besi yang tak mempan segala macam senjata.
"Licik! Pencuri! Maling...!"
Tung-hai Nung-jin bertempur sambil mengumpat tiada habisnya.
"Hehehe...kau jangan meratap tidak keruan begitu! Sendirian kau takkan mampu melawanku. kau bukan tandinganku,"
Dalam kegembiraannya Song-bun-kwi mengejek.
"Bangsat! Anjing busuk kau!"
"Hihihi...ayoh! Merataplah sepuas-puasnya sebelum putus nyawamu!"
Ternyata Tung-hai-tiau mendengar pula umpat dan cacian pembantunya tersebut. Raja bajak Laut itu segera menyadari bahwa pembantunya dalam bahaya, maka bentaknya dengan tegang kepada Chin Yang Kun.
"Ayoh, katakan cepat! Apa yang kau lakukan terhadap puteriku?"
Chin Yang Kun menghela napas.
"Lo-Cianpwe...! Seperti kau ketahui, aku menyelundup ke puncak bukit ini memang untuk menolong puterimu itu. Kami telah berkenalan sebelumnya..."
Pemuda itu memberi keterangan.
"Sayang aku terlihat oleh para penjaga, sehingga aku dikepung dan dikeroyok beramai-ramai. Ketika aku terdesak aku terjeblos ke dalam sumur tua. Tak tahunya sumur itu mempunyai jalan tembus ke ruang bawah tanah tempat iblis Song-bun-kwi itu menyekap puterimu. Di sana aku melihat Song-bun-kwi akan memperkosa puterimu. Untunglah sebelum itu terjadi seorang penjaga datang memberitahukan tentang pertempuran besar ini kepada Song-bun-kwi, sehingga iblis itu cepat-cepat pergi meninggaIkan tempat itu. Nah, pada saat itulah aku masuk ke ruangan itu untuk menolong nona Li Ing. Tapi tampaknya dia merasa malu mengingat keadaannya pada saat itu. Dan dari malu ia menjadi marah, apalagi ketika aku berani menotok dan menyentuh tubuhnya yang lumpuh. Aku dianggapnya kurang ajar karena berani menyentuh tubuhnya yang...yang telanjang. Padahal aku hanya bermaksud membebaskan dia dari pengaruh totokan Song-bun-kwi..."
"Hmm, begitu kiranya..."
Bajak Iaut itu bernapas lega. Tapi ketika sekali lagi terdengar jerit umpatan Tung-hai Nungjin, raja perompak itu menjadi tegang kembali. Dipandangnya wajah Chin Yang Kun dengan tegang pula.
"Anak muda...Aku minta tolong sekali lagi kepadamu. Tolong kau bawa kembali puteriku yang nakal itu kemari! Aku tak punya waktu untuk mengejarnya sendiri, karena aku harus menolong anak buahku."
Selesai berkata demikian Tung-hai-tiau segera melesat kembali ke arena pertempuran.
Dan kedatangannya di sana sungguh tepat pada waktunya.
Hampir saja pembantunya yang sakti itu mati dicekik Song-bun-kwi.
"Gila!"
Raja perompak itu memaki sambil mengayunkan goloknya ke arah lengan Song-bun-kwi.
Golok pusakanya berkelebat ke depan setengah lingkaran, lalu berubah arah ke samping untuk menebas Ieher.
Semuanya menuju ke bagian-bagian yang tidak terlindung oleh Baju Mustika Emas.
Jari-jari Song-bun-kwi yang sudah berhasiI mencengkeram leher Tung-hai Nung-jin itu terpaksa dilepaskan.
Iblis itu dengan lincah berjumpalitan ke belakang menghindarkan diri.
Setelah menyelamatkan Tung-hai Nung-jin, Tung-hai-tiau cepat maju menghadapi Song-bun-kwi kembali.
Keduanya lantas bertempur dengan dahsyatnya seperti tadi.
Hanya bedanya setelah kini Song-bun-kwi menyadari kegunaan baju Kim pouw san, mereka bertempur dengan seimbang.
Memang ilmu golok Tung-hai-tiau yang hebat itu mampu mendesak Song-bun-kwi, apalagi permainan golok itu diselingi dengan Tiau jiau kang yang maha ganas pula.
Tapi dengan selalu berlindung pada kesaktian baju Mustika Emas itu Song-bunkwi juga selaIu bisa menyelamatkan dirinya pula.
Apa pula Tung-hai-tiau tampaknya tidak sampai hati membenturkan golok pusakanya pada baju Kim-pouw-san.
Bajak laut itu kelihatannya masih merasa sangsi, jangan-jangan baju pusaka keluarganya itu akan rusak dibentur golok pusaka yang sangat tajam luar biasa itu.
Tung-hai-tiau menjadi penasaran sekali.
Dan rasa penasaran itu semakin memuncak ketika goIok pusakanya yang ampuh itu ternyata juga tidak mampu merusakkan Baju Mustika Emas!
"Gila!
Tak kusangka baju itu mampu menahan sabetan golok pusaka yang bisa mematahkan besi baja ini!
Sungguh gila!"
Bajak laut itu marah-marah.
"Hihihi...ayoh, kuraslah semua ilmu kepandaianmu!"
Song-bun-kwi tertawa mengejek.
"Keparat! Jangan buru-buru tertawa dulu!"
Tung-hai-tiau membentak. Lalu teriaknya ke arah Tung-hai Nung-jin.
"Nungjin! Ambil cangkulmu, mari kita cincang orang ini!"
"Baik, Hai-ong...!"
Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya Petani Lautan itu cepat menyerbu ke dalam arena lagi.
Paculnya yang mengerikan itu diayun berputar-putar di atas kepala, lalu menukik menuju ke kepala Song-bun-kwi.
Suaranya mengaung menyakitkan telinga saking cepatnya.
Bagaimanapun juga kepandaian Tung-hai Nung-Jin itu sebenarnya tidak berselisih banyak dengan lawannya.
Hanya karena Kim pouw san itulah yang menyebabkan jago cangkul itu cepat berada di bawah angin.
Demikianlah ketiga orang itu kembali bertempur dengan sengitnya.
Meskipun dikeroyok dua, Iblis dari Tai-bong-pai itu ternyata masih dapat bergerak leluasa.
Dibiarkannya saja semua serangan lawan yang tertuju ke arah badannya, iblis itu baru bergerak menghindar bila cangkul dan golok itu menyerang ke arah tubuhnya yang lain.
Sementara itu Chin Yang Kun meneruskan langkahnya menuruni puncak bukit tersebut.
Pemuda itu sama sekali tidak ambil pusing terhadap permintaan Tung-hai-tiau tadi.
"Peduli amat gadis bengal itu! Urusanku sendiri menjadi terlantar karena mengurus dia. Kalau hal ini masih juga kulanjutkan, hmm...lama-lama aku akan menjadi pelayan gadis manja itu nanti,"
Gumam pemuda itu penasaran.
Maka tanpa menoleh lagi pemuda ini lantas berlari turun dengan cepatnya.
Dengan lompatan-lompatan panjang dia meluncur turun seperti seekor kijang sedang berpacu.
Sebentar saja telah tiba di kaki bukit.
Pemuda itu berhenti sejenak di sini.
Sambil menghela napas pemuda itu melayangkan pandangannya kembali ke atas bukit.
Kepulan debu yang diakibatkan oleh pertempuran itu kelihatan semakin menipis, suatu tanda bahwa pertempuran besar itu sudah hampir berakhir.
"Sebentar lagi pasukan Song-bun-kwi itu tentu menyerah kalah. Demikian pula dengan iblis itu sendiri. Tak mungkin dia bisa menyelamatkan diri dari keganasan Tung-hai-tiau dan pembantunya..."
Chin Yang Kun lalu berjalan lagi meninggalkan tempat itu.
Dia berjalan menuju ke arah kota Poh-yang kembali.
Sambil melangkah pikirannya masih terbayang pada pertempuran besar di puncak bukit tersebut.
"Huh, tampaknya iblis Tai-bong-pai itu memang bermaksud melawan kekuasaan pemerintah Kaisar Han. Tapi sayang pasukan itu sudah terlanjur musnah sebelum dipergunakan."
Matahari semakin jauh condong ke barat.
Sinarnya yang tidak begitu panas lagi itu mulai berwarna kemerah-merahan.
Udarapun terasa semakin sejuk, apalagi langit tampak bersih dan cerah, seolah-oIah gumpalan-gumpalan awan yang siang tadi bergulung berdesakan, kini telah kembali pulang ke tempat masing-masing.
Chin Yang Kun melangkah di jalan besar yang menghubungkan kota Poh-yang dan Ko-tien.
Sambil melangkah pemuda itu menimang-nimang pundi-pundi uang pemberian Liu-Twakonya.
Dengan uang tersebut Chin Yang Kun bermaksud membeli kuda dan pakaian yang bersih.
Setelah itu dia akan berpacu ke kota Sin-yang.
Orang-orang yang lewat di jalan itu selalu memandang keadaan Chin Yang Kun dengan kening berkerut.
Tampaknya mereka menganggap pemuda yang bercelana compang camping dan tidak berbaju itu sebagai orang gila.
Apalagi tangan dan kaki pemuda itu kotor oleh bercak-bercak darah yang mengering.
"Teretet...tet! Tet! Teretet-tet...!"
Sore hari yang cerah itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara terompet panjang berkali-kali.
Dan tak lama kemudian dari dusun sekitar jalan itu tampak berlarian anak-anak disertai kakak dan orang tua mereka.
Mereka berlarian melalui pematang-pematang sawah dan tegalan sambil bersorak-sorak dan berteriak-teriak gembira menuju ke jalan raya.
Sambil mengacungkan kedua tangannya yang memegang apa saja, anak-anak itu berloncatan dan bersorak-sorak di jalan raya.
Sementara di belakang mereka para kakak dan orang tua mereka melihat dengan bibir tersenyum.
"Hidup pasukan Kaisar...!"
"Hidup pasukan pelindung rakyat!"
"Hidup pasukan Kaisar...!"
"Horeee...!"
Chin Yang Kun berhenti, lalu dengan wajah bingung ditatapnya anak-anak kecil yang bergembira ria itu. Semuanya memandang ke arah timur, seolah-olah mereka menantikan sesuatu dari balik bukit.
"Tet-tet tet-tet! Teretet-tet...!"
"Ah, tampaknya orang ini mau menyongsong kedatangan para perajurit..."
Chin Yang Kun berkata di dalam hati.
"Tapi...dari manakah prajurit-prajurit itu? Mengapa mereka dielu-elukan rakyat sedemikian rupa?"
Suara terompet itu semakin dekat dan beberapa waktu kemudian dari kelokan jalan muncul pasukan perajurit berkuda berbaris rapi memasuki jalan.
LaIu di belakang mereka tampak pula pasukan perajurit berjalan kaki, lengkap dengan segala macam senjata mereka.
Barisan mereka luar biasa panjangnya sehingga dari jauh seperti ular yang berkelok kelok di atas jalan raya.
Chin Yang Kun ikut terseret pula diantara para penonton.
Dan karena tak ingin menjadi perhatian orang, pemuda itu mengikuti saja ke mana didesak orang.
Beberapa orang perajurit berkuda tampak mendahului barisan untuk menertibkan penduduk yang berdesak-desakan di pinggir jalan itu.
Dengan senyum ramah para perajurit itu mempersilakan para penonton agar berdiri tertib di tepi jalan.
Mereka melarang anak-anak berlarian di tengah jalan.
"Eh, Lo-pek...mau ke manakah para perajurit ini? Kelihatannya mereka baru saja berjalan jauh."
Chin Yang Kun bertanya kepada seorang petani tua yang ada di sampingnya. Sejenak petani tua itu mengawasi Chin Yang Kun, lalu jawabnya perlahan.
"Mereka memang datang dari Kotaraja. Mereka didatangkan kemari oleh Kaisar Han untuk menumpas pasukan pemberontak yang diperkirakan berada di sekitar daerah ini. Khabarnya Baginda telah mendengar adanya pemusatan-pemusatan pasukan perusuh di beberapa daerah, sehingga Baginda cepat-cepat mengirimkan pasukannya untuk menumpas perusuh-perusuh itu."
"Oh, begitu..."
Chin Yang Kun mengangguk-angguk dan pikirannya segera melayang ke puncak bukit yang baru saja ditinggalkannya itu.
Demikianlah, beberapa saat kemudian barisan itu telah lewat di depan mereka.
Meskipun tampak lelah para perajurit itu tetap berjalan tetap dan teratur.
Wajah merekapun kelihatan gembira dan bersemangat, sedikitpun tidak tersimpul dalam sikap mereka bahwa kedatangan mereka untuk berperang mengadu nyawa.
Beberapa lamanya Chin Yang Kun ikut menonton diantara penduduk itu.
Tapi setelah sekian lamanya pemuda itu menonton tidak seorangpun dari para prajurit itu yang dikenalnya, maka perlahan-lahan ia keluar dari kerumunan para penonton dan berjalan kembali ke arah yang berlawanan.Pemuda itu tidak meneruskan langkahnya ke kota Poh-yang seperti maksudnya semula, tetapi langsung pergi ke kota Ko-tien yang masih seratus lie jauhnya dari tempat tersebut.
"Percuma aku pergi ke kota itu. Poh-yang akan menjadi luar biasa ributnya dengan kedatangan pasukan dari Kotaraja itu. Lebih baik aku langsung pergi ke Ko-tien saja. Meskipun lebih jauh aku akan lebih mudah mendapatkan apa yang kuperlukan di sana."
Begitulah, dengan langkah pasti pemuda itu berjalan cepat ke arah Ko-tien.
Mula-mula pemuda itu terpaksa harus berjalan di atas pematang sawah dan tegalan karena jalan masih dipenuhi oleh jejalan penduduk yang menonton barisan itu.
Tapi setelah barisan itu habis jalan menjadi lapang kembali, sehingga ia bisa melangkah kembali dengan leluasa di sana.
Hari semakin kelam dan lambat laun menjadi gelap juga.
Chin Yang Kun terpaksa harus mengendurkan langkahnya karena suasana jalan itu tidak bisa dilihatnya dengan jelas lagi.
Baru setelah bintang bintang mulai muncul di atas langit keadaan menjadi bertambah terang.Sambil berjalan Chin Yang Kun mencoba untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi kepadanya sejak pagi tadi.
Mula-mula pertemuannya dengan Tiau Li Ing yang menyamar sebagai pemuda tampan itu, lalu perjumpaannya kembali dengan Song-bun-kwi yang pernah memenjarakannya di gedung Si Ciangkun itu.
Kemudian pertemuannya yang tak tersangka-sangka dengan pendekar Souw Thian Hai dan...bekas pengawal ayahnya, Hek-mou-sai Wan It, Ialu pertempuran dahsyat antara pasukan Song-bun-kwi dan Tung-hai tiau.
"Hmmm, heran benar aku. Mengapa tiba-tiba paman Wan It menjadi begitu baik dengan bangsat Song-bun-kwi itu? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Dan...ke mana paman Wan It sekarang pergi? Mengapa tiba-tiba saja ia lenyap bersama dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Apakah mereka tidak bersama-sama dengan Song-bun kwi di ruang bawah tanah itu? Tapi di mana? Mengapa mereka tidak keluar?"
Chin Yang Kun melangkah sambil merenungkan kejadian-kejadian yang baru saja dialaminya.
Sementara itu di atas langit tampak semakin banyak bintang-bintang yang bermunculan.
Mereka berkelap-kelip di kejauhan, seakan-akan ribuan lampu minyak yang bergantungan di angkasa raya.
Sesekali ada yang melesat dengan cepat untuk berpindah tempat.
Begitu cepat gerakannya sehingga bintang itu seperti meninggalkan ekor yang amat panjang.
Dan bila sekali waktu ada beberapa buah yang beralih tempat secara bersamaan, maka pemandangan menjadi bukan main indahnya!
Chin Yang Kun menghela napas berulang-ulang.
Sambil merenungi pengalamannya, dan sambil menikmati juga keindahan alam yang tergelar di sekitarnya, pemuda itu terus menjejakkan kakinya di atas jalan yang berkelok-kelok panjang itu.
Selain melingkar-lingkar jalan itu juga naik-turun di antara tebing dan lereng-lereng gunung yang membatasi kota Poh-yang dan Ko-tien.
Di kanan kiri jalan hanya hutan saja yang tampak.
Yaitu hutan yang tidak begitu rapat, tetapi pohonnya tinggi-tinggi dan besar-besar, sehingga tanah di bawahnya selalu tampak kering dan tidak basah.
Meskipun begitu tiupan angin malam yang menerobos di tempat itu ternyata amat dingin sehingga Chin Yang Kun yang tak berbaju itu terpaksa harus melipat lengannya di atas dada.
"Wah, dingin-dingin begini seharusnya duduk-duduk di dekat perapian sambil minum minuman penghangat badan..."
Pemuda itu menyesali dirinya yang tak jadi pergi ke kota Poh-yang.
Dan begitu mengingat makanan, pemuda itu lantas ingat juga bahwa perutnya belum terisi sejak pagi tadi.
Tiba-tiba angin bertiup sedikit kencang dan tiba-tiba pula hidung Chin Yang Kun mencium bau daging bakar yang bukan main sedapnya.
Kontan saja perutnya yang lapar itu segera berkeruyuk bagai ayam jago memperoleh tantangan lawan.
"Kurang ajar! Siapa malam-malam begini membakar daging di dalam hutan?"
Pemuda itu menggerutu di dalam hati.
Tapi seperti tersedot magnit Chin Yang Kun melangkah memasuki hutan mencari tempat di mana asal mula bau sedap itu berkembang.
Dan tempat itu cepat sekali ia temukan karena tempat itu ternyata tidak terlalu jauh dari jalan raya.
Seorang laki-laki bertubuh besar tampak duduk santai menghadapi api unggun.
Chin Yang Kun melangkah mendekati orang itu, kemudian berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Sambil membungkukkan badan Chin Yang Kun bermaksud menyapanya, tapi...
"Duduklah, saudara...! Aku mempunyai banyak daging di sini. Marilah kita menikmatinya bersama-sama!"
Tiba-tiba orang yang sedang membakar daging itu menegur terlebih dahulu.
"Ah! Ba"baik...! Terima kasih!"
Chin Yang Kun tergagap kaget karena tidak menyangka orang itu akan menegur terlebih dulu.
Terpaksa dengan agak sedikit curiga Chin Yang Kun mendekat dan duduk di dekat orang itu.
Sambil meletakkan pantatnya di atas sebuah batu Chin Yang Kun berusaha melihat wajah orang itu.
Tapi yang dilihat justru menoleh dengan tiba-tiba sehingga Chin Yang Kun tersipu karenanya.
"Hmm, ada apa...?"
Orang itu bertanya dengan mulut tersenyum.
"Oh, kau...!"
Chin Yang Kun berdesah lega.
"Ya! Bagaimana khabarnya? Tampaknya kau ikut terseret juga dalam kancah pertempuran itu,"
Orang yang tidak lain adalah Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu tersenyum geli melihat keadaan Chin Yang Kun yang seperti gelandangan itu.
"Benar!"
Akhirnya pemuda itu ikut tersenyum pula membayangkan keadaannya yang konyoI itu.
"Aku tidak hanya ikut terseret, tapi malah terjun menjadi pemeran utamanya..."
"Hahaha..., dan akibatnya kau terserang penyakit kelaparan sekarang!"
"Be-betul!"
Chin Yang Kun menunduk dengan wajah yang semakin memerah.
"Nah...kalau begitu kau jangan malu-malu lagi! Marilah kita makan bersama-sama! Aku toh takkan bisa menghabiskan semua daging ini sendirian..."
Souw Thian Hai mempersilahkan sekali lagi.
"Baik!"
Chin Yang Kun mengiyakan karena tak enak menolak maksud baik orang.
Chin Yang Kun lalu mengambil segumpal daging dan ikut membakarnya di dalam api unggun itu.
Sambil membakar sesekali pemuda itu melirik ke arah Souw Thian Hai.
Di dalam hati pemuda itu mulai tidak tentram lagi bila teringat akan persamaan she (marga) pendekar sakti itu dengan gadis yang selalu dikenangnya.
Sebenarnya ada maksud di hati pemuda itu untuk menanyakannya, tapi setiap saat mulutnya selalu batal mengatakannya.
"Bagaimana dengan kawanmu? Apakah kau sudah menemukannya?"
Justru Souw Thian Hailah yang tiba-tiba memecahkan kebisuan tersebut.
"Sudah...sudah...!"
Dalam kekagetannya Chin Yang Kun menjawab.
Dan mendadak saja keringat dingin bermunculan di keningnya.
Tentu saja perubahan sikap Chin Yang Kun itu sangat mengherankan hati Souw Thian Hai.
Tapi melihat pemuda itu bersikap seperti seorang gadis yang tak ingin diketahui rahasianya, maka Souw Thian Hai juga diam saja dan tak ingin menanyakannya.
"Lalu...di mana dia sekarang?"
"Entahlah! Setelah dapat kubebaskan kami berdua lalu berpisah kembali. Mungkin dia pergi ke Poh yang..."
"Ooh!"
Pendekar sakti itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Hening lagi sejenak.
"Dan...kau? Kemana saja kau mengejar bayangan Song-bun-kwi dan Hek-mou-sai Wan It itu? Kenapa aku tak bisa mengejar kalian?"
Chin Yang Kun ganti melontarkan pertanyaannya.
"Wah! Akupun telah kehilangan jejak mereka pula. Entahlah! Mula-mula bayangan Song-bun kwi hilang di dekat sebuah sumur tua. Lalu sebentar kemudian ganti bayangan...eh, siapa tadi?"
"Hek-mou-sai Wan lt!"
"Ya...sebentar kemudian ganti bayangan Hek...Hek-mou-sai Wan It yang hilang di antara kerumunan orang di lereng bukit itu. Aku telah berusaha mencarinya kemana-mana tapi tak berhasil. Aku lalu kembali ke tempat kita semula bersembunyi, tapi kau tak kuketemukan lagi di sana. Sebaliknya aku malah melihat sebuah pertempuran yang tak kumengerti sebab-sebabnya...Oleh karena engkau tetap tak kujumpai maka aku lantas meninggalkan puncak tersebut."
"Oooo...?!"
"Dan bagaimana dengan engkau sendiri? Apa yang telah terjadi padamu?"
Chin Yang Kun tersenyum getir, Ialu diceritakannya semua yang telah terjadi sepeninggal Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Bagaimana ia dikeroyok ribuan orang, dan bagaimana ia terjeblos ke dalam sumur tua itu.
Lalu pertemuannya dengan Song-bun-kwi dan kawan yang dicurinya itu di dalam ruangan di bawah tanah.
Dan akhirnya diceritakannya juga tentang pertempuran hebat di luar gedung itu.
"Kalau begitu Song-bun-kwi itu memang kembali lagi ke gedung melalui sumur tua itu...Makanya kucari kemana-mana tidak ada."
Souw Thian Hai berkata perlahan.
Sambil bercakap-cakap mereka menikmati daging bakar yang amat lezat itu.
Chin Yang Kun yang seharian penuh tidak makan itu tampak lahap sekali.
Beberapa kali pemuda itu mengambil irisan daging yang telah tersedia dan membakarnya di dalam api.
Begitu getolnya sehingga diam diam Souw Thian Hai tersenyum melihatnya.
"Ah...aku sampai lupa! Kenapa aku sampai hati benar membiarkanmu telanjang dada begitu,"
Tiba-tiba Souw Thian Hai berhenti mengunyah dan menepuk-nepuk dahinya sendiri dengan wajah menyesal.
Lalu dengan tergesa-gesa pendekar sakti mengambil buntannya dan mengeluarkan sepotong baju bersih yang tampaknya masih baru.
"Nih! kau pakailah untuk sementara, agar kau tidak dikira orang sebagai gelandangan...!"
"Wah, tidak usahlah...! aku...aku..."
Chin Yang Kun menolak.
"Sudahlah! Pakailah saja! kau tak usah berasa sungkan kepadaku. Baju itu belum pernah kupakai, sebab ukurannya terlalu sempit buatku..."
Chin Yang Kun ingin membantah lagi. Tapi keinginan itu batal ia utarakan ketika terpandang oleh pemuda itu wajah Souw Thian Hai yang ikhlas dan berwibawa.
"Ini...ini...eh, mengapa kau membawa juga baju yang sudah terlalu sempit buat dirimu?"
Akhirnya diterima juga baju itu oleh Chin Yang Kun, meski dengan hati berat.
Souw Thian Hai bangkit seraya menghela napas panjang sekali.
Sisa daging yang berada di tangannya dibuangnya ke dalam api.
Kemudian sambil menyilangkan lengannya di depan dada pendekar sakti itu berjalan menjauhi api unggun.
Di tempat yang agak Iapang pendekar itu menengadahkan mukanya ke langit yang biru.
"Baju itu dibuat sendiri oleh puteriku ketika dia berumur lima belas tahun. Katanya dia sudah dewasa, maka ia ingin membuat sendiri baju-baju ayahnya dan pakaian-pakaiannya sendiri. Tapi karena baru mulai belajar maka baju yang pertama kali dibuatnya itu terlalu kecil buatku. Tapi agar supaya puteriku itu tidak kecewa, maka aku tetap menyimpannya juga."
"Ah!"
Chin Yang Kun tersentak kaget.
"Kalau begitu baju ini mempunyai arti tersendiri buatmu. Mengapa sekarang malah kau berikan kepadaku?"
Souw Thian Hai membalikkan tubuhnya, lalu berjalan kembali ke tempatnya semula.
"Tidak apa. Biarlah kuberikan saja baju itu kepada kau yang membutuhkan dari pada aku selalu bersedih bila melihatnya. Dan...sejak semula aku memang sudah bermaksud untuk membuangnya atau memberikannya kepada orang lain. Hampir empat tahun aku berkelana mencari puteriku itu tanpa hasil. Kini aku sudah mulai putus-asa..."
Chin Yang Kun mendengarkan penuturan pendekar sakti itu dengan kepala tunduk. Hatinya seperti ikut merasakan kesedihan pendekar tersebut.
"Hei??"
Tiba-tiba mata Chin Yang Kun terbelalak. Ditatapnya dua buah huruf yang terlukis di pojok baju itu. Huruf "Lian"
Dan "Cu"! "Ada apa?"
Souw Thian Hai mengerutkan keningnya.
"Ini...! ini...! Hei...apakah puterimu itu bernama Souw Lian Cu?"
Chin Yang Kun berseru tegang.
"Betul! Ada apa...?"
"Apakah puterimu itu...lengannya...lengannya..."
"Yaaa! Lengannya memang cacat sebelah! Ada apa? Apakah kau pernah berjumpa dengan dia?"
Souw Thian Hai berseru pula dengan tidak kalah tegangnya.
Tanpa terasa tubuhnya yang tinggi besar itu telah melesat ke depan Chin Yang Kun.
Sementara itu Chin Yang Kun sungguh-sungguh menjadi kelabakan sekarang.
Setelah kini dia benar-benar yakin bahwa Souw Lian Cu itu memang sungguh-sungguh puteri Souw Thian Hai, tiba-tiba hatinya menjadi tegang dan bingung.
Dengan gelisah pemuda itu menundukkan kepalanya, sementara bibirnya yang pucat itu tampak bergetar dan tak bisa berkata-kata malah!
Tentu saja melihat sikap pemuda itu Souw Thian Hai ikut menjadi kelabakan pula.
Segala macam pikiran buruk segera menghantui hati pendekar sakti itu.
jangan-jangan sesuatu yang jelek telah menimpa diri anaknya.
Maka saking tegangnya pendekar sakti itu mencengkeram pundak Chin Yang Kun tanpa terasa.
Dan tanpa terasa pula tenaga sakti Ang-pek Sinkang meluncur ke luar dan...menerjang tubuh Chin Yang Kun!
Sekejap tampak asap tipis mengumpul di atas ubun-ubun pendekar sakti tersebut.
Ternyata dalam ketegangannya segala macam ilmu yang melekat di dalam tubuh Souw Thian Hai telah keluar dengan sendirinya.
Dan kini yang menjadi korbannya adalah Chin Yang Kun.
Tanpa disadari oleh Souw Thian Hai sendiri ilmunya telah menyerang Chin Yang Kun!
Ilmu yang amat dahsyat, yang jarang ada tandingannya di muka bumi ini!
Tapi satu keajaiban benar-benar telah terjadi!
Chin Yang Kun yang berdiri diam seperti orang yang sedang kehilangan akal itu, yang secara tak sengaja kini dihantam tenaga Ang-pek Sinkang itu sama sekali tak bergeser dari tempatnya!
Jangankan bergeser, kalau dilihat dari tampangnya yang masih terlongong-longong itu tampaknya merasapun dia tidak!
PadahaI akibat dan pengaruh dari ilmu itu sendiri bukan main hebatnya!
Dalam sekejap pundak yang dicengkeram oleh jari-jari Souw Thian Hai itu tampak bergetar hebat seperti sedang menahan beban yang sangat berat.
Dan bersama dengan itu semacam kabut tipis berwarna putih tampak menyelubungi lengan Souw Thian Hai dan pundak Chin Yang Kun yang saling bersentuhan itu.
Kabut tipis yang luar biasa dinginnya, yang pengaruhnya dapat dirasakan sampai beberapa tombak jauhnya.
Begitu luar biasa hawa dingin itu sehingga dalam sekejap rambut dan pundak Chin Yang Kun seperti dilapisi dengan salju.
Meskipun demikian Chin Yang Kun sendiri kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali oleh keadaan itu.
Pemuda itu tetap saja berdiri termangu-mangu di tempatnya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Malahan Souw Thian Hai itulah yang kemudian tersentak kaget dan tersadar dari keadaan mereka yang aneh tersebut.
"Hai? Apa yang telah kulakukan?"
Pendekar sakti itu memekik seraya meloncat mundur dengan wajah pucat.
Lalu dengan tergesa-gesa melompat maju lagi untuk memeriksa keadaan Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu malah menjadi kaget karenanya.
Tapi pendekar sakti itu segera mengernyitkan alisnya dengan wajah keheranan.
Jangankan pemuda itu merasa sakit, merasa diserangpun ternyata tidak!
Pemuda itu justru kaget dan bingung ketika tubuhnya diperiksa oleh Souw Thian Hai.
"Eh...ada apa ini?"
Chin Yang Kun berseru dengan wajah bingung, apalagi ketika dilihatnya pundak dan rambutnya diselimuti salju tipis berwarna putih.
Souw Thian Hai menatap Chin Yang Kun seolah tak percaya, lalu sambil menghela napas berat ia duduk kembali di tempatnya.
"Kau dudukIah...!"
Katanya kepada Chin Yang Kun perlahan.
Chin Yang Kun duduk pula kembali.
Matanya tetap menatap Souw Thian Hai dengan tajamnya, seolah-olah mau menuntut kepada pendekar itu agar mengatakan apa yang telah terjadi.
"Anak muda, tenaga dalammu sungguh hebat sekali...! Benar-benar tak kusangka! Meskipun sejak semula telah kuketahui bahwa lweekangmu sangat tinggi, tapi aku benar benar tidak menyangka bahwa engkau akan mampu mengimbangi Ang-pek sinkangku. Padahal Ang-pek sinkangku selama ini belum pernah ada yang bisa menahannya..."
Souw Thian Hai memberi keterangan.
"Ang-pek sinkang...? Lweekangku...? Apa maksudmu?"
"Ketahuilah! Saking tegangnya aku tadi telah mencengkeram pundakmu tanpa terasa. Dan celakanya...tanpa kusadari pula tenaga saktiku membanjir keluar, menghantam tubuhmu melalui jari-jariku itu. Tapi tak kusangka sinkangmu secara otomatis juga keluar untuk melindungi pundakmu..."
"Ah...mana aku berbuat demikian? Ini...ini..."
"Sudahlah! Marilah kita duduk kembali yang baik! Kita berbicara dengan tenang!"
Keduanya lalu duduk kembali di tempat masing-masing.
Souw Thian Hai mengambil kayu-kayu kering agar api unggun itu dapat menyala lebih besar lagi, sementara Chin Yang Kun yang masih juga memegang baju pemberian Souw Thian Hai itu belum juga bisa menenangkan perasaannya yang tergoncang.
Jilid 31
"Saudara Yang...eh, kalau tak salah namamu Yang Kun, bukan? saudara Yang, coba ceritakan yang jelas...benarkah engkau pernah melihat puteriku?"
Untuk sesaat Chin Yang Kun masih belum juga dapat menenangkan hatinya. Baru beberapa waktu kemudian dengan kekerasan hatinya pemuda itu dapat mengatasi ketegangannya.
"Aku memang pernah bertemu dengan nona Souw Lian Cu beberapa hari yang lalu. Bersama-sama dengan Toat-beng-jin dan Pangcu-si Tong Ciak dari Im-yang-kauw, kami berjalan dari Kuil Delapan Dewa...ke desa Ho-ma-cun""
Akhirnya Chin Yang Kun dapat juga bercerita.
Bercerita dari awal pertemuan mereka di Kuil Delapan Dewa sampai dengan saat perpisahan mereka di rumah kediaman Kakek Kam.
Hanya dalam ceritanya itu Chin Yang Kun tidak menyinggung sama sekali tentang perselisihannya dengan gadis tersebut.
Souw Thian Hai mendengarkan ceritera itu sambil mengangguk-angguk.
"Begitukah...? Lalu ke mana kira-kira anak itu sekarang?"
Tanya pendekar itu.
"Katanya dia mau pulang ke Pulau Mimpi, yaitu tempat tinggal Keh-sim Siauwhiap."
"Pulau Mimpi...?"
Pendekar sakti itu menegaskan. Wajahnya tampak gembira dan penuh harapan.
"Ya...benar!"
"Wah, terima kasih! Kalau begitu aku akan pergi ke sana sekarang."
Souw Thian Hai berkata dan cepat-cepat bangkit dari tempatnya. Lalu seraya menyambar buntalannya pendekar sakti itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
"Maaf...aku sudah tidak sabar lagi untuk mencari puteriku, maka biarlah aku pergi lebih dahulu. Terima kasih atas petunjukmu."
Kemudian dengan hanya sekali berkelebat pendekar itu telah lenyap dari pandangan Chin Yang Kun.
Dan kini tinggallah pemuda itu sendirian di sana, merenungi nyala api yang semakin tinggi menjilat udara.
Angin malam terasa berhembus kembali dengan tajamnya, sehingga nyala api unggun itu tampak bergoyang-goyang.
Chin Yang Kun cepat-cepat mengenakan baju pemberian Souw Thian Hai tadi untuk mengurangi resapan hawa dingin yang menggigit tubuhnya.
Lalu dengan tenang pemuda itu melangkah pula meninggalkan tempat tersebut.
Sambil berjalan pikiran Chin Yang Kun masih dipenuhi dengan bayangan Souw Lian Cu yang cantik itu.
Kecantikan yang menurut pandangan Chin Yang Kun amat agung dan menumbuhkan perasaan hormat, tapi sekaligus juga perasaan kasihan yang sangat mendalam.
Dan diam-diam...entah mengapa pemuda itu merasa amat berbahagia bisa mengenakan baju buatan gadis itu.
Demikianlah, Chin Yang Kun keluar lagi dari dalam hutan itu dan melangkah pula kembali di jalan raya.
Wajahnya kelihatan gembira dan berseri-seri.
Pertanyaannya dengan Souw Thian Hai, ayah dari gadis yang dikaguminya, sungguh saat membahagiakan hatinya.
Apalagi di dalam pertemuan yang amat sangat singkat itu ayah Souw Lian Cu kelihatan sangat bergembira sekali dan amat menyukai dirinya, sampaisampai baju yang mengandung sejarah itu diberikan pula kepadanya.
"Berhenti!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari dalam hutan, sehingga buyarlah semua lamunan dan khayalan Chin Yang Kun!
Kemudian dari balik pohon-pohon berloncatan keluar belasan orang perajurit yang seragamnya sama dengan seragam para perajurit yang berbaris di jalan itu sore tadi.
Perajurit-perajurit itu segera mengepung Chin Yang Kun dengan tombak-tombak mereka yang panjang.
"Maaf...kami adalah perajurit-perajurit kerajaan yang ditugaskan oleh Baginda Kaisar di daerah ini,"
Salah seorang perajurit yang tampaknya adalah pimpinan mereka melangkah maju ke depan Chin Yang Kun. Lalu.
"Saudara siapa...? Apakah keperluan saudara sehingga malam-malam begini masih bepergian juga?"
Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati.
Tapi mengingat yang dihadapinya sekarang adalah para perajurit kerajaan yang sedang dalam tugas, apabila kalau diingat mungkin mereka adalah anak buah Liu-Twakonya sendiri, maka pemuda itu segera menekan kedongkolan hatinya.
Teringat akan Liu-Twakonya Chin Yang Kun lantas teringat pundi-pundi uangnya pula.
"Hmm...baiklah! Aku seorang pengembara, namaku...Yang Kun. Aku memang tidak mempunyai tujuan yang pasti, dan aku sudah biasa berjalan...di malam hari! Tapi selama ini aku tak pernah mendapat kesukaran dengan kebiasaanku itu. Mengapa sekarang tuan-tuan malah menghentikan aku?"
Pemimpin perajurit itu mengangguk-angguk.
"Saudara, ketahuilah...! Keadaan dalam negeri akhir-akhir ini sedang gawat. Benar-benar gawat! Kelompok-kelompok perusuh kini sedang dipersiapkan oleh orang-orang yang ingin menumbangkan kekuasaan Baginda di seluruh negeri. Untunglah Baginda segera dapat mencium gerakan mereka, sehingga Baginda cepat-cepat mengirimkan kami untuk menumpasnya."
"Oh...itulah sebabnya tuan-tuan sekarang berada di daerah ini?"
Chin Yang Kun menegaskan.
"Benar! Dan...oleh sebab itu pulalah kami semua mencurigai saudara pula. saudara berjalan sendirian...di tempat sunyi...malam-malam begini...dan di daerah yang rawan pula! Maka kami terpaksa harus memeriksa saudara. Sekarang marilah kita menghadap kepada Kim Cian-bu (Kapten Kim)! Biarlah komandan kami itu yang memeriksa saudara kami..."
Perajurit itu memberi keterangan dengan suara halus namun sangat tegas.
Untuk sesaat perasaan Chin Yang Kun bergolak.
Ada terselip perasaan tersinggung dan terhina mendapatkan perintah seperti itu.
Dia yang cucu Kaisar Chin Si, yang sesungguhnya berhak atas negeri ini, sekarang justru malah dicurigai sebagai perusuh dan ditangkap oleh anak buah musuhnya, yaitu Kaisar Han!
Sungguh penasaran!
Chin Yang Kun perlahan-lahan mengangkat tangannya.
Terdengar suara berkerotok di dalam tubuhnya, seakan-akan semua tulang-tulangnya saling beradu satu sama lain.
Kulitnya yang putih itu tiba-tiba berubah mengkilat kekuning-kuningan, sementara hawa yang luar biasa dingin terasa menghembus keluar dalam tubuhnya.
Tentu saja para perajurit itu menjadi kaget sekali.
Mereka segera menyadari bahaya yang sedang mengancam jiwa mereka.
Tapi pancaran udara dingin itu telah mencengkeram seluruh urat-urat tubuh mereka sehingga darah mereka seolah membeku dan tak bisa bergerak sama sekali.
Jangankan untuk bergerak menyelamatkan diri, untuk berteriakpun lidah mereka rasanya sudah menjadi kaku sehingga tak mungkin bisa mengeluarkan suara Iagi!
Maka dengan air muka ketakutan mereka terpaksa hanya menanti maut yang akan mencabut nyawa mereka!
Tetapi...Chin Yang Kun tiba-tiba menghela napas dalam sekali.
Otot-ototnya yang telah menegang itu mengendur kembali.
Dalam saat-saat terakhir ternyata pemuda itu seperti diingatkan kembali pada keadaan dan kedudukannya sekarang.
Betapa selama ini dengan kesadarannya sendiri ia telah merelakan haknya tersebut, dan ia lebih suka menjadi orang biasa seperti halnya penduduk yang tinggal di dusun atau di pegunungan.
Dan ia telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia takkan ikut campur lagi dalam urusan pemerintahan.
"Hmmmh! Marilah...! Jikalau tuan memang ingin memeriksa saya, sayapun juga tidak berkeberatan,"
Katanya perlahan. Dan pengaruh hawa dingin itu tiba-tiba juga lenyap seperti tertiup angin lalu, sehingga patung-patung hidup itu dapat bergerak pula seperti semula.
"Ah...eh anu...ya...ya, marilah!"
Perajurit yang baru saja terbebas dari serangan udara dingin itu tergagap-gagap kaget.
Suaranya terdengar sumbang dan gemetar, suatu tanda bahwa hatinya masih tercekam oleh kengerian.
Perajurit itu lalu berjalan mendahului, kemudian diikuti Chin Yang Kun dan para perajurit yang lain.
Chin Yang Kun melangkah dengan tenang, sementara para penangkapnya malah tampak tegang, gelisah dan takut-takut, seolah-olah mereka sedang mengiringkan seekor singa yang setiap saat bisa menerkam mereka.
Chin Yang Kun dibawa ke sebuah tanah lapang di pinggang bukit, di mana di tempat tersebut didirikan kemah-kemah darurat ratusan jumlahnya.
Meskipun malam hari dan udara sangat dingin pula, banyak sekali perajurit-perajurit yang berada di luar kemahnya.
Ada yang main kartu dengan kawan-kawannya, ada pula yang hanya duduk-duduk mengelilingi perapian sambil mengobrol.
Sementara yang sedang bertugas jaga tampak hilir mudik dengan senjata selalu siap di tangan.
Sikap mereka tampak garang-garang dan angker-angker seperti layaknya para perajurit yang biasa mengadu jiwa di medan laga.
Sekejap tergetar juga hati Chin Yang Kun melihat bala tentara sedemikian banyaknya!
Sungguh kekuatan yang sukar dihadapi bilamana terjadi perselisihan nanti.
Maka untuk sesaat pemuda itu menjadi ragu-ragu, jangan-jangan ia nanti justru terjebak seperti ikan di dalam jaring.
Tapi sungguh janggal dan tidak enak hatinya bila secara tiba-tiba dia lalu membatalkan niatnya untuk pergi memasuki kemah tersebut.
Apa kata para perajurit yang membawanya itu nanti kalau ia sungguh-sungguh berbuat demikian?
Mereka tentu akan mencap dirinya sebagai pengecut!
Dan ini benar-benar tidak diingininya.
"Ah, peduli amat! Kalau toh mereka ingin membunuhku juga...hmm, kurasa juga bukan hal yang mudah bagi mereka. Paling tidak mereka juga akan kehilangan sepertiga atau separuh dari kekuatan mereka!"
Geramnya di dalam hati.
Dan keputusan ini membuatnya tenang kembali.
Dengan langkah tegap ia mengikuti orang-orang yang membawanya.
Sebaliknya para perajurit itu menghela napas lega.
Setelah berada kembali di antara kawan-kawannya yang banyak, para perajurit itu seperti terbebas dari bencana yang selalu mengincarnya.
Di depan pintu gerbang perkemahan mereka dihentikan oleh empat orang penjaga.
"A Kuang! Apa yang terjadi? Siapakah pemuda yang kau bawa ini?"
Salah seorang penjaga yang berjanggut lebat segera maju ke depan menyongsong iring-iringan itu.
"Kami...kami akan menghadap Kim Cian-bu. Kami menangkap...eh, anu...kami membawa seorang yang sangat mencuriga...eh, maksudku seseorang yang patut kita curigai."
Perajurit yang membawa Chin Yang Kun yang dipanggil dengan nama A Kuang itu melapor.
Suaranya gemetar sambil beberapa kali matanya memberi isyarat kepada penjaga itu.
Isyarat yang maksudnya memberitahukan bahwa orang yang dibawanya itu mempunyai kepandaian yang menggiriskan hati.
Tapi penjaga itu sedikitpun tidak bisa menangkap isyarat tersebut.
Penjaga itu justru merasa terheran-heran melihat sikap kawannya yang amat aneh tersebut.
"Hei? kau ini ada apa? Sakit gigi? Kalau begitu lekas kau bawa tangkapanmu itu ke hadapan Kim Cian-bu. Kebetulan beliau juga belum tidur. Baru saja seorang gadis cantik membuat onar di tepi jalan sana. Gadis itu sempat melukai beberapa orang kita. Untunglah beberapa orang anggota Sha-cap mi-wi kebetulan berada di sini malam ini, sehingga gadis itu dapat kita tangkap pula. Kim Cian-bu sedang memeriksa gadis itu sekarang."
Berdebar hati Chin Yang Kun mendengar kata-kata penjaga itu. Entah mengapa bayangan Li Ing tiba-tiba berkelebat di depan matanya. Jangan-jangan gadis itu yang ditangkap oleh para perajurit ini.
"Tuan, marilah kita lekas-Iekas menghadap Kim Cian-bu itu!"
Desaknya kepada perajurit yang menangkapnya.
"Malam telah larut. Padahal aku harus berada di Ko-tien besok pagi..."
"Baik...baiklah! Kami memang akan pergi ke sana."
A Kuang itu menjawab gagap.
Mereka berjalan diantara kemah-kemah itu.
Melewati para perajurit yang sedang santai menurut kegemaran mereka sendiri-sendiri, atau melewati pos-pos penjagaan yang penuh dengan perajurit-perajurit yang sedang bertugas.
Semuanya tentu menegur atau menanyakan apa yang telah terjadi kepada perajurit yang membawa Chin Yang Kun itu.
Setelah melewati beberapa penjagaan barulah kemah Kim Cian-bu yang besar dan megah itu kelihatan di depan mereka.
belasan orang perajurit bertombak tampak berdiri berjaga jaga mengelilingi tenda tersebut.
"Kami ingin menghadap Kim Cian-bu,"
A Kuang melapor kepada penjaga yang berdiri di depan pintu.
"Kami membawa seseorang untuk diperiksa."
Penjaga itu mengawasi Chin Yang Kun dengan seksama, lalu.
"Baiklah! Aku akan melapor dulu kedalam. Kalian nantikan saja dulu di sini!"
"Terima kasih!"
A Kuang mengangguk lalu mengajak kawan-kawannya duduk di atas tanah di depan pintu tenda tersebut.
Chin Yang Kun tetap saja berdiri sambil melihat kesana kemari, sikapnya tenang luar biasa, membuat orang-orang yang menangkapnya semakin kagum dan segan.
"Nah, kalian masuklah...!"
Tiba-tiba penjaga pintu tadi telah keluar lagi menemui mereka.
"Kebetulan Kim Cian-bu sedang memeriksa seorang pesakitan pula."
Orang-orang yang menangkap Chin Yang Kun itu bergegas bangkit berdiri dan menyatakan terima kasihnya, kemudian salah seorang diantaranya, yaitu A Kuang mengajak Chin Yang Kun masuk.
Chin Yang Kun melihat seorang lelaki gagah berusia sekitar empat puluhan tahun, duduk dengan garang diatas kursi kayu.
Pakaian perangnya yang indah itu tampak gemerlapan kena sorot lampu minyak.
Di sekitarnya berdiri delapan orang pengawalnya yang bertubuh tegap-tegap.
Sedangkan di depan lelaki gagah yang tidak lain adalah Kim Cian-bu sendiri itu tampak berdiri seorang gadis cantik yang diikat kaki tangannya.
"Li Ing...!"
Teriak Chin Yang Kun begitu mengenal siapa sebenarnya gadis cantik tersebut.
"Toat-beng-jin!"
Si gadis menjerit pula.
Wajah yang cantik itu mendadak berubah menjadi merah jengah, lalu tertunduk dengan tiba-tiba.
Baca Juga: Pedang Pusaka Naga Putih 2
Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 7