Eps 12 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Tanpa mempedulikan para perajurit yang berada di sekitarnya Chin Yang Kun tiba-tiba melompat ke samping Tiau Li Ing.
"Nona, apakah engkau sudah menemui ayahmu?"
Tanyanya kepada gadis itu.
Tiau Li Ing menggeleng lemah.
Kepalanya tetap tertunduk dan mukanya semakin bertambah merah.
Sedikitpun ia tidak berani menoleh, apa lagi menatap wajah Chin Yang Kun.
Bagaimanapun juga bebas dan bengalnya watak gadis itu ternyata ia masih tetap seorang perempuan juga.
Perempuan muda yang sedang tertarik kepada lawan jenisnya.
Apa pula lawan jenisnya itu pernah melihat pula seluruh miliknya yang terahasia, yang tidak sembarang orang boleh melihatnya.
"Hei, nona...bagaimana kau ini sebenarnya? Ayahmu dengan susah payah telah mencarimu. Jauh-jauh dia datang ke bukit itu hanya untuk membebaskan puteri kesayangannya. Tapi kini kau malah lari meninggalkannya. Bagaimanakah kau ini? Apakah kau tidak merasa kasihan kepada ayahmu itu?"
Chin Yang Kun mendesak lagi.
Tapi yang didesak lagi, semakin merapatkan mulutnya.
Dan sementara itu delapan orang pengawal Kim Cian-bu telah berloncatan ke depan untuk mengepung Chin Yang Kun dan Tiau Li Ing.
Dengan garang mereka mengacungkan senjata mereka.
"Diam! Ayoh, beri hormat kepada Kim Cian-bu! Kalian sekarang ini sedang berada di depan pemimpin dari seluruh perajurit di perkemahan ini! Tahu...? Jangan bersikap seenakmu sendiri!"
Salah seorang dari para pengawal itu membentak.
Chin Yang Kun cepat memalingkan mukanya dan menatap pengawal itu Iekat-lekat.
Untuk sesaat mata pemuda itu tampak berkilat-kilat menyeramkan seperti mata harimau marah.
Tetapi beberapa waktu kemudian mata itu kembali meredup seperti sedia kala, dan lalu untuk selanjutnya terdengarlah suara tarikan napasnya yang dalam dan panjang.
Ternyata dalam waktu yang sekejap itu telah terjadi pula pergolakan di dalam dada Chin Yang Kun, yaitu perasaan tersinggung dan marah karena dibentak oleh pengawal tersebut.
Tapi seperti yang telah terjadi di tengah jalan tadi, kinipun pemuda itu dapat pula mendinginkan hatinya Iagi.
"Ohh...maafkanlah aku! Karena melihat kawanku di tempat ini aku lantas lupa bahwa aku sekarang sedang berada di tempat orang."
Pemuda itu meminta maaf.
"Hmmmh! Berada di tempat orang katamu? Kurang ajar! kau kini memang ditangkap dan dijadikan pesakitan, tahu...?"
Pengawal yang tidak tahu diri itu masih tetap juga mengumbar kemarahannya, sehingga A Kuang yang masih tetap berdiri di dalam ruangan itu menjadi gemetaran badannya, takut kalau tawanan yang dibawanya itu menjadi marah seperti tadi.
Memang.
Mendengar bentakan yang menyakitkan hati itu Chin Yang Kun hampir saja tidak dapat mengendalikan kemarahannya.
Tapi dengan mati-matian pemuda itu dapat juga menahannya.
"Aku tadi telah mengalah, dan ternyata sikapku itu benar-benar membuahkan keuntungan buatku. Aku dapat berjumpa dengan Tiau Li Ing. Coba aku tadi terus saja menyikat para perajurit yang menghadang itu, aku tentu tidak akan bisa bertemu dengan gadis itu di sini...nah! Apa salahnya aku mengalah sekali lagi sekarang?"
Chin Yang Kun menimang-nimang di dalam hati. Demikianlah, pemuda itu tidak melayani bentakan-bentakan lawannya. Dengan tenang dia menghadap ke arah kursi Kim Cian-bu dan menjura dengan hormat.
"Siauwte mohon maaf sebesar-besarnya kepada Kim Cian-bu. Karena tidak menyangka bertemu teman di tempat ini, maka siauwte menjadi lupa diri tadi. Maaf..."
Katanya halus.
Sebagai seorang perwira tinggi kepandaian Kim Cian-bu juga tidak rendah.
Maka sejak melihat Chin Yang Kun masuk tadi perwira itu telah menduga bahwa pemuda itu bukan orang sembarangan.
Hal itu dapat ia lihat dari sinar mata Chin Yang Kun yang mencorong dingin menyeramkan itu.
Maka berbeda dengan para pengawalnya yang kasar itu, Kim Cian-bu dengan cepat dapat menilai suasana dan keadaan.
Dengan bermodalkan pengalaman dan kematangan berpikirnya sebagai seorang pemimpin, perwira itu segera dapat mencium sesuatu yang aneh pada diri pemuda yang baru datang itu.
Begitu melihat Chin Yang Kun, Kim Cian-bu segera dapat menerka dan memastikan bahwa pemuda itu tentulah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi.
Dan menurut pendapatnya kepandaian pemuda itu paling tidak tentu lebih tinggi dari pada kepandaiannya sendiri.
Hal itu dapat dilihat dari sorot matanya yang mencorong tajam itu.
"Cuma yang sangat mengherankan ialah...mengapa pemuda itu tidak melawan ketika ditangkap oleh perajurit perajurit peronda itu? Apa sebabnya pemuda itu menurut saja ketika dibawa ke tempat itu? Padahal kalau pemuda itu mau melawan, jangankan cuma perajurit-perajurit peronda itu, seluruh perajurit yang ada di perkemahan inipun belum tentu bisa menangkapnya. Kukira hanya ada dua macam alasan mengapa pemuda itu sengaja membiarkan dirinya ditangkap dan dibawa oleh perajurit peronda itu ke sini..."
Kim Cian-bu berpikir di dalam hati.
"...Yaitu dia ingin berhadapan langsung dengan aku. Suatu hal yang tak mungkin bisa ia peroleh bila ia melakukannya dengan membuka jalan darah! Dan alasan yang kedua...yang sebetulnya bukan alasan, yaitu pemuda ini memang sungguh-sungguh seorang pengembara biasa yang secara kebetulan lewat di tempat rawan ini."
Tetapi untuk menjaga segala kemungkinan Kim Cian-bu yang selalu berhati-hati itu segera memerintahkan seorang pengawalnya, agar menghubungi wakilnya untuk mensiap siagakan seluruh perajurit di dalam perkemahan tersebut.
Setelah itu barulah Kim Cian-bu bangkit dari kursinya dan menghadapi Chin Yang Kun.
"Siapakah engkau sebenarnya? Apakah kedatanganmu ke tempat ini memang sengaja ingin menjumpai aku? Jawablah!"
Perwira itu berkata lantang dan berwibawa.
Pertanyaannya langsung saja ke tujuannya, tanpa harus berputar-putar lebih dahulu.
Agaknya perwira itu ingin menyelesaikan urusan tersebut dengan cepat dan tegas.
Kalau memang ingin berjumpa, apa tujuannya...tapi kalau tidak...akan terus dilepaskan!
"Menjumpai Kim Cian-bu...?
Mengapa siauwte harus menjumpai Kim Cian-bu?
Untuk keperluan apa...?"
Chin Yang Kun bertanya keheranan.
"Para perajurit itulah yang mengajak siauwte kemari..."
Kim Cian-bu mengerutkan keningnya.
Sikap dan suara Chin Yang Kun itu tampak wajar dan tak dibuat-buat.
Kim Cian-bu dapat merasakan napas kejujuran pada jawaban pemuda itu.
Dan hal itu berarti bahwa pemuda yang dihadapkan kepadanya itu memang benar-benar seorang pengembara biasa, yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kelompok kelompok perusuh itu.
"Jadi kau memang bukan anggota kelompok perusuh itu?"
Sekali lagi Kim Cian-bu menegaskan. Wajah Chin Yang Kun tampak sedikit memerah.
"Maaf! Meskipun selama ini siauwte selalu bersikap kurang baik terhadap negara, tetapi bayangan untuk menjadi perusuh sama sekali belum pernah terlintas di dalam otak saya!"
Chin Yang Kun menjawab dengan nada yang agak keras. Kim Cian-bu mengangguk-angguk puas. Dengan wajah berseri-seri ia kembali duduk di kursinya. Sambil melambaikan tangannya perwira itu berkata.
"Aku percaya kata-katamu...! kau pergilah!"
"Kim Cian-bu...!"
Para pengawal yang sudah gatal tangan itu memandang wajah komandannya dengan bingung.
"Sudahlah, biarkanlah dia pergi! Kalian telah salah tangkap kali ini."
Para pengawal itu terpaksa mundur untuk memberi jalan kepada Chin Yang Kun.
Tapi pemuda itu sendiri ternyata tidak beranjak dari tempatnya.
Pemuda itu masih tetap berdiri mengawasi Tiau Li Ing yang berada di dekatnya.
"Nona...! Marilah kita meninggalkan tempat ini!"
Ajak pemuda itu kepada Tiau Li Ing.
"Tapi..."
Akhirnya bibir yang mungil itu merekah juga.
"Sudahlah! Kim Cian-bu sudah memberikan ijinnya. Ayoh!"
Chin Yang Kun memotong seraya menarik lengan gadis itu. Untuk sekejap pipi itu semakin tampak memerah.
"Hai! Berhenti...!"
Para pengawal yang tadi mundur itu tiba-tiba maju kembali.
"Oh, kenapa...? Bukankah kami telah diijinkan pergi oleh Kim Cian-bu?"
Chin Yang Kun pura-pura bertanya.
"Kau saja yang diijinkan pergi oleh Kim Cian-bu! Gadis ini tidak!"
Chin Yang Kun mengerutkan alisnya, hatinya mulai panas. Dipandangnya sekali lagi gadis cantik yang diikat kaki tangannya itu, lalu pandangannya beralih kembali ke tempat di mana Kim Cian-bu duduk.
"Anak muda, silakan kau meninggalkan tempat ini! Tapi gadis itu biarlah tinggal di sini dahulu. Dia adalah tawanan kami, karena dia telah berani membunuh dan melukai beberapa orang perajuritku,"
Kim Cian-bu berkata tegas.
"Kalianlah yang muIai lebih dahulu! Perajurit-perajuritmu yang menghadang perjalananku! Lalu perajurit-perajuritmu hendak kurang ajar kepadaku! Nah, mengapa aku tak boleh menghajar mereka? Masakan aku sebagai wanita harus diam saja diperlakukan begitu?"
Tiba-tiba wajah Tiau Li ing yang tertunduk itu terangkat ke atas dengan berangnya.
Rasa dongkol dan penasaran akibat perlakuan para perajurit di dalam perkelahian itu membuat gadis tersebut untuk sesaat melupakan kecanggungannya.
Kim Cian-bu meremas tangkai kursi yang didudukinya.
"Tapi kau pun juga terlalu kasar dan kejam terhadap mereka!"
Geramnya.
"Mereka itu hanya perajurit-perajurit yang sedang menjalankan tugasnya. kau seharusnya tahu itu!"
"Ya...tapi sebagai seorang perajurit merekapun juga harus tahu tata cara dan kesopanan, bukan? Mereka adalah perajurit-perajurit negara, bukannya anggauta perampok yang sedang membekuk korbannya!"
Tiau Li Ing berteriak menjawab, sedikitpun tidak mau mengalah.
"Diaaam!"
Pengawal Kim Cian-bu yang berangasan tadi membentak seraya meloncat ke depan, lalu diikuti oleh kawan-kawannya pula.
"Perempuan tak tahu diri! kau berani bersikap kasar di depan Kim Cian-bu?"
"Mengapa aku tidak berani? Mau menantang berkelahi? Ayoh, lepaskan ikatan ini...kemudian kita bertempur sepuas-puasnya!"
Tantang gadis itu dengan lantangnya.
"Nona..."
Chin Yang Kun menyentuh lengan Tiau Li Ing. Tapi gadis pemberang itu sudah tidak bisa dilunakkan lagi hatinya. Dengan mata melotot gadis itu meludah ke arah pengawal tersebut.
"Pengecut! Ayoh! Berani tidak? Aha...tidak berani, bukan? Kalian tentu takut, karena kalian tahu bahwa aku mampu membunuh kalian semua dalam waktu singkat!"
"Bangsat kuntilanak...!"
Kedelapan orang pengawal Kim Cian-bu itu berteriak marah. Tanpa meminta ijin lagi kepada Kim Cian-bu mereka menyerang Tiau Li Ing.
"Kurang ajar...!"
Chin Yang Kun terpaksa tidak bisa berdiam diri.
Dengan tangkas tangan kanannya menyambar pinggang gadis itu, lalu meloncat menghindar.
Tangan kirinya yang bebas tampak menyapu ke arah lawan-lawannya, sehingga dua di antara pengawal itu terbanting tunggang langgang di atas tanah.
"Nona kita harus lekas-lekas keluar dari tempat ini!"
Bisiknya kepada Tiau Li Ing.
"Tapi...lepaskan dulu ikatanku ini!"
"Tak ada kesempatan lagi! Maaf, aku terpaksa menggendongmu..."
Sambil berkata Chin Yang Kun melejit ke pintu, lalu menerobos keluar. Kim Cian-bu dan para pengawalnya segera berbondong-bondong mengejar di belakangnya.
"Awaaaas...! Tawanan lolos! Tangkaaap!"
Beramai-ramai mereka berteriak.
Chin Yang Kun mengumpat tiada habisnya.
Di luar kemah telah berbaris rapi para perajurit dalam kesiap-siagaan penuh.
Mereka berdiri berbaris bersap-sap mengepung tempat tersebut.
"Kurang ajar...! Nona Tiau, kita terpaksa harus membuka jalan darah untuk dapat keluar dari tempat ini,"
Chin Yang Kun berkata seraya meletakkan tubuh Tiau Li Ing di atas pundaknya agar ia dapat lebih leluasa bergerak nanti.
"Bersiap-siaplah! Bertahanlah sebisamu...!"
"Kau menyerahlah! Tidak ada gunanya kau melawan ribuan orang perajurit pilihan seperti ini,"
Kim Cian-bu berseru dari depan pintu kemahnya. belasan perajurit berperisai kelihatan menjaga ketat di sekelilingnya.
"Maaf, Kim Cian-bu...lebih baik Iepaskanlah saja kami berdua! Gadis ini memang telah bersalah terhadap Kim Cian-bu, tapi dia bukanlah anggota kaum perusuh itu! Hanya saja untuk membuktikannya dia tak bisa..."
Chin Yang Kun masih juga berusaha mengelakkan pertumpahan darah. Tapi Kim Cian-bu yang sudah terlanjur tersinggung dan marah karena merasa dipermainkan oleh Yang Kun itu membentak marah.
"Diam! Aku telah berbaik hati melepaskanmu! Tapi apa yang kau lakukan sekarang? Melarikan tawanan penting di depan hidungku! Apa yang lebih gila dari perbuatanmu itu? Kurang ajar! Aku takkan melepasmu untuk yang kedua kalinya...hmm, perajurit! Tangkap dia!!!"
Tanpa menanti perintah yang kedua kalinya pasukan perajurit yang mengepung tempat itu segera menerjang ke depan dengan gegap gempita.
"Serbuuu...!"
Teriak mereka.
Kilatan sinar pedang, golok dan ujung tombak tampak berkelebatan di udara.
Untuk beberapa saat warna mereka yang putih mengkilat itu kelihatan gemerlapan ditimpa sinar obor yang menyala.
Tapi beberapa waktu kemudian kilatan-kilatan senjata tersebut lalu pudar dan lenyap tertutup kepulan debu yang bergulung-gulung memenuhi arena pertempuran itu.
Dan untuk selanjutnya hanya terdengar suara dentangnya yang hiruk-pikuk bercampur dengan suara umpatan dan teriakan pemegangnya yang hingar bingar.
Demikianlah untuk yang kedua kalinya dalam sehari itu Chin Yang Kun dikeroyok dan dikepung oleh ribuan orang bersenjata.
Kesemuanya hanya karena gara-gara gadis bengal yang kini berada di atas pundaknya itu.
Hanya bedanya pagi tadi ia bertempur sendirian, melawan para perusuh yang memang wajib dimusnahkan.
Sementara sekarang ia harus menggendong Tiau Li Ing, melawan tentara pemerintah yang seharusnya ia hindari.
Sesungguhnyalah, pertempuran kali ini memang sungguh berat bagi Chin Yang Kun.
Selain harus menanggung beban Tiau Li Ing yang berat, ia diharuskan juga berkelahi melawan pasukan pemerintah yang sebenarnya tidak ia inginkan.
Oleh karena itu perlawanannya kali ini menjadi canggung dan ragu-ragu!
Seringkali serangannya yang dahsyat dan berbahaya itu ia tarik kembali.
Padahal para perajurit itu menyerangnya dengan sungguh sungguh.
Oleh karena itu tidaklah heran kalau beberapa saat kemudian pemuda itu menjadi repot dan terdesak hebat.
Otomatis Tiau Li Ing menjadi ketakutan dan menjerit-jerit.
Apalagi ketika gadis itu melihat dua-tiga senjata lawan mulai menggores kulit dan daging Chin Yang Kun!
"Toat-beng-jin...!
Lepaskanlah saja aku!
Biarlah aku yang dicincang oleh mereka!"
Gadis itu berteriak-teriak di atas pundaknya.
"Manusia Penyabut Nyawa (Toat-beng-jin)? Mentereng benar sebutanmu, hehehe..."
Pengawal Kim Cian-bu yang berangasan itu mendengus hina begitu mendengar nama sebutan Chin Yang Kun tersebut.
"Nyawa binatang apa saja yang pernah menjadi korban cabutanmu...? Hohoho...?"
Chin Yang Kun memang bukanlah Toat-beng-jin, karena sebutan tersebut tercipta akibat kesalah-sangkaan belaka.
Meskipun demikian mendengar olok-olok tersebut tak urung Chin Yang Kun menjadi marah juga.
Dan kemarahan itu semakin cepat menggelegak akibat jeritan-jeritan Tiau Li Ing dan goresan-goresan luka yang dideritanya!
"Bangsat!
kau ingin melihat aku mencabut nyawa seekor monyet?
Nah, kau bukalah matamu lebar-lebar!
Aku akan melakukannya sekarang..."
Pemuda itu berteriak lantang mengagetkan para pengepungnya.
Dan tiba-tiba saja tubuh pemuda itu melesat tinggi-tinggi ke atas melewati kepala para perajurit yang mengepungnya seraya meninggalkan hembusan udara dingin yang luar biasa hebatnya.
Udara dingin yang dihembuskan oleh pengaruh tenaga sakti Liong-cu I-kang.
Begitu dahsyatnya hembusan hawa dingin tersebut sehingga untuk sekejap darah mereka bagaikan membeku, sehingga untuk sekejap pula gerakan mereka menjadi terhenti dengan mendadak.
Akibatnya seluruh gerakan mereka menjadi kacau dan tidak tentu arahnya, terayun kesana kemari mengenai kawan sendiri.
Di dalam suasana yang demikian itulah tiba-tiba Chin Yang Kun menunjukkan giginya!
Sambil mengeluarkan suara desis mengerikan dari mulutnya pemuda itu menukik dengan dahsyatnya ke arah pengawal yang lancang mulut itu.
Jarak diantara mereka ada tiga atau empat tombak jauhnya, meskipun begitu tidak ada setengah detik tubuh Chin Yang Kun telah berada di depan pengawal tersebut.
Dan sebelum kaki pemuda itu mendarat di atas tanah, lengannya lebih dulu memanjang beberapa jengkal panjangnya, sehingga bersamaan dengan jatuhnya kaki di atas tanah pemuda itu telah berhasil mencekik leher si pengawal!
Semua kejadian yang diceritakan dengan panjang lebar itu berlangsung hanya sekejap atau sedetik saja!
Oleh karena itu tidaklah heran jikalau setiap perajurit hampir tidak mengerti apa yang telah terjadi dengan lawan mereka itu!
Tahu-tahu mereka melihat pengawal Kim Cian-bu itu telah dicekik lehernya dan kini sedang menjerit-jerit ketakutan!
"Tolong...!
Tolong!
Jangan bunuh aku!
Ampunilah aku!"
Pengawal itu melengking-lengking seperti babi mau disembelih.
Chin Yang Kun berdiri gagah dengan kaki terpentang lebar.
Tangan kanannya tetap tidak mau melepaskan leher lawannya, sementara dengan buas matanya menatap para perajurit yang telah mengepungnya kembali.
"Kim-coa ih-hoat!"
Tiau Li Ing berbisik kagum di atas pundaknya.
"Bagaimana? Apakah engkau masih ingin melihat aku mencabut nyawa seekor monyet?"
Chin Yang Kun menggeram dengan suara berat. Matanya mencorong mengawasi korbannya.
"Tidak! Tidak! Jangan bunuh aku...! Jangan bunuh aku!"
Pengawal itu meratap-ratap. Chin Yang Kun tersenyum menghina sambil mendenguskan angin melalui lobang hidungnya.
"Nah, sekarang kau tentu baru percaya kalau aku bisa mencabut nyawamu, bukan? Lihatlah! Padahal kau berada di tengah-tengah ribuan kawanmu..."
Chin Yang Kun berkata sambil menunjuk ke sekelilingnya.
"Ya...ya, aku percaya..."
Pengawal itu mengangguk-angguk dengan wajah pucat.
"Jangankan cuma engkau, kalau aku mau...Kim Cian-bu itupun dapat aku bunuh dengan mudah!"
Chin Yang Kun mengancam lagi.
Matanya berkilat ke arah Kim Cian-bu yang berdiri dalam penjagaan yang ketat tidak jauh dari tempat tersebut.
Sungguh mengherankan sekali!
Ribuan orang perajurit yang sudah terbiasa melihat keanehan-keanehan dan kadangkala malah kengerian-kengerian di medan laga itu, kini seperti terhenyak semuanya melihat apa yang telah dilakukan Chin Yang Kun.
Untuk beberapa waktu lamanya mereka cuma diam saja di tempatnya, mengawasi seorang pemuda yang menurut pandangan mereka mempunyai kesaktian seperti malaikat itu.
Sampai-sampai seorang perwira berpengalaman seperti Kim Cian-bu itupun dibuat tergetar hatinya dan ikut-ikutan ngeri menyaksikan kemampuan Chin Yang Kun!
Padahal sebagai seorang perwira yang sudah puluhan tahun bergelut dengan maut di medan perang, Kim Cian-bu telah sering pula melihat kesaktian-kesaktian yang dahsyat seperti itu.
Tetapi entah mengapa, apa yang dilakukan oleh Chin Yang Kun itu memang mempunyai perbawa dan pengaruh yang amat hebat!
Meskipun akhirnya perbawa tersebut juga tidak dapat bertahan lama pula.
Setelah kekaguman mereka mereda, mereka pun lantas menyadari pula keadaan diri mereka yang aneh itu.
Bagaikan orang yang baru saja bangun dari tidurnya mereka gelagapan sambil memaki-maki!
"Keparat!
Mengapa kita diam saja menyaksikan kawan kita dalam bahaya?"
"Ayoh...! Tangkap orang berbahaya itu!"
"Masakan dia bisa melawan kita semua? Serbuuuuu...!"
Bagaikan luapan air bah perajurit-perajurit itu menyerang Chin Yang Kun!
Derap suara langkah mereka berdebam bergemuruh mengepulkan debu tinggi ke udara, membuat hati Tiau Li Ing yang biasanya garang dan ganas itu menjadi ciut ketakutan.
"Toat-beng-jin...apa...eh, bagaimana ini? A-apa yang harus kita lakukan?"
"Hmh, tenang sajalah...! Paling juga kita mati. Apa yang mesti ditakutkan lagi? Bukankah kau juga tidak takut mati?"
Chin Yang Kun menjawab sambil mengerahkan seluruh kekuatan sinkangnya. siap untuk mengadu jiwa.
"Yaa...ya! Tapi...aku sekarang tidak ingin mati! Bersamamu aku jadi takut mati! Aku kepingin hidup terus kalau ada engkau..."
Dalam keadaan bingung, tegang dan ketakutan, dimana kemungkinan untuk hidup sudah tidak ada lagi, tanpa terasa gadis itu telah mengeluarkan isi hatinya yang paling dalam.
"Apa? kau...bilang apa tadi?"
Chin Yang Kun kaget.
"Toat-beng-jin", oh, aku cinta kepadamu..."
"Hah?!??!"
Chin Yang Kun terlonjak kaget.
Hampir saja Tiau Li Ing terlempar dari atas pundaknya.
Dan bersamaan dengan itu para perajurit telah datang menyerang mereka.
belasan batang senjata tajam melayang, menyabet dan menghunjam ke arah tubuh mereka, terutama tertuju kepada Chin Yang Kun!
Pemuda itu cepat melemparkan tubuh pengawal yang hampir mati ia cekik itu ke arah para penyerangnya.
Lalu dengan nekad maju menerjang kepungan tersebut.
"Nih, terimalah kawanmu...!"
Serunya lantang.
Kemudian selagi para penyerangnya ribut menghindari tubuh pengawal Kim Cian-bu tersebut, Chin Yang Kun menerjangnya dengan kekuatan penuh!
Badai atau arus angin dingin yang luar biasa kuatnya terasa menyertai gerakan pemuda tersebut, menggempur lawan-lawannya bagaikan angin puting-beliung yang menyapu semua penghalangnya!
"Whuuuuss!
Dhiess!
Traaang!"
Beberapa buah senjata tampak terlempar berpatahan ketika membentur lengan Chin Yang Kun, sementara para pemegangnya juga tampak terlempar menimpa kawan-kawannya yang lain.
Suasana pertempuran menjadi kacau balau.
Dan kesempatan itu dipergunakan oleh Chin Yang Kun untuk membobol kepungan yang mendesak dirinya itu.
Sambil berloncatan di udara, kadang-kadang di atas pundak atau kepala lawannya.
Pemuda itu berusaha keluar dari kepungan.
Berkali-kali kakinya menjejak, menendang, menangkis dan menyapu senjata lawan yang bercuatan ke arah dirinya.
Dan apabila ia tidak mempunyai kesempatan lagi karena gencarnya serangan lawan, maka pemuda itu segera menggempur mereka dengan kekuatan Liong-cu I-kangnya yang maha dahsyat!
Korban mulai berjatuhan.
Sejak semula Chin Yang Kun memang tidak ingin bentrok, apalagi sampai membunuh perajurit-perajurit itu, tapi karena ia sendiri mulai terdesak sehingga jiwanya sendiri dalam keadaan bahaya maka tidak boleh tidak pemuda itu terpaksa juga membunuh lawanlawannya.
Meskipun begitu pemuda itu juga tidak asal bunuh seperti ketika melawan kelompok perusuh di puncak bukit pagi tadi.
Pemuda itu baru membunuh bila sudah tidak ada jalan lain lagi buat memecahkan kepungan lawannya.
Bagaimana pun juga pemuda itu masih ingat kepada Liu-Twakonya.
Tapi yang dihadapi Chin Yang Kun kali ini bukanlah gerombolan perusuh yang hanya mengandalkan kekuatan jasmani dan lahiriah saja.
Yang dihadapi pemuda itu sekarang adalah sepasukan perajurit yang berpengalaman dan terlatih baik dalam setiap pertempuran.
Oleh sebab itu ketika beberapa orang perwiranya mulai memberi aba-aba dan mengatur kelompok masing-masing, maka gerakan Chin Yang Kun mulai terasa sulit untuk membobol kepungan tersebut.
Setiap kali pemuda itu selalu membentur tembok pertahanan yang terdiri dari sekelompok pasukan yang luar biasa kuatnya.
Memang, korban dari pihak perajurit itu juga semakin bertambah banyak pula, tapi kekuatan manusia toh ada batasnya juga.
"Ah, tampaknya aku akan kehabisan napas lagi di tempat ini! Kurang ajar...!"
Pemuda itu menggeram dengan penasaran.
"Toat-beng-jin...bagaimana ini? Apakah lebih baik kita menyerah saja?"
Tiau Li Ing patah semangat.
"Tidak! Kita tidak boleh putus-asa! Kita harus berusaha sekuat tenaga! Biarlah nasib yang menentukannya nanti...kau berpeganglah yang lebih kuat, aku akan menerjang mereka sekali lagi!"
Chin Yang Kun lalu mengumpulkan seluruh kekuatan Liongcu-i-kangnya, kemudian menyalurkannya ke lengannya. Lantas dengan kedahsyatan seekor gajah ia menerjang ke arah kepungan! "Breeesss...!"
Kepungan tersebut jebol!
sepuluh atau lima belas orang perajurit yang menahannya terlempar jatuh tunggang langgang!
Mati!
Tapi dengan cepat pasukan yang berada di belakangnya maju ke depan menggantikannya.
Dan kepungan tersebut telah terkatup kembali!
Dengan marah Chin Yang Kun mengerahkan tenaga saktinya lagi.
Tapi sebelum dia menerjang ke depan, tiba-tiba terdengar suara terompet mengalun panjang.
Dan...sungguh aneh!
Pasukan yang mengepungnya itu segera mundur dengan tertib.
Mereka mundur sambil membawa kawan-kawan mereka yang mati atau terluka.
Tampak para perajurit itu mundur dengan wajah kecewa dan penasaran!
Kemudian pasukan pengepung itu menyibak, dan dari belakang kepungan muncul enam orang lelaki gagah diiringi Kim Cian-bu.
Mereka melangkah perlahan-lahan mendekati Chin Yang Kun.
Wajah mereka tidak kelihatan karena tertutup bayangan topi mereka yang lebar.
"Saudara Yang..."
Tiba-tiba enam lelaki itu menyapa Chin Yang Kun.
"Heh? saudara siapa?"
Chin Yang Kun terkejut.
"Kelihatannya saudara Yang telah lupa kepada kami. Hmm, kami adalah para pengawal rahasia yang tergabung dalam Sha-cap mi-wi. Dan kami pernah bertemu dengan saudara di kota Tie-kwan..."
"Oh, kalian..."
Chin Yang Kun tersenyum.
"Maaf, aku benar-benar sudah pikun sehingga lupa kepada tuan-tuan semua. Akh, bagaimana khabarnya Liu-Twako? Apakah tuan semua ikut menyertai dia pula? Kulihat Liu-Twako di dekat kota Poh-yang tadi pagi..."
"Ah...eh, tidak...! Tidak...! Kami tidak menyertai...menyertai...menyertai tuan Liu,"
Anggota Sha-cap mi-wi itu menjawab dengan gugup.
Seperti telah diceritakan di bagian muka, pertemuan antara Chin Yang Kun dan Kaisar Han yang menyamar sebagai seorang perwira she Liu, membuat keduanya saling cocok satu sama lain.
Chin Yang Kun sama sekali tidak tahu bahwa Liu-Twakonya yang baik hati itu adalah Kaisar Han sendiri, musuh dari keluarganya.
Dan Kaisar Han yang amat menyukai Chin Yang Kun juga tidak ingin dikenal oleh pemuda itu.
Kepada semua orang yang pada waktu itu juga mengetahui persoalannya, Kaisar Han berpesan agar ikut pula membantu merahasiakannya.
Dan di antara orang-orang yang menerima pesan Baginda itu termasuk pula enam orang anggota Sha-cap mi-wi ini.
Maka tidaklah heran kalau mereka menjadi gugup ketika Chin Yang Kun bertanya tentang Kaisar Han tadi.
Sementara itu Tiau Li Ing, yang berada di atas pundak Chin Yang Kun, tampak menggeretakkan giginya ketika melihat kedatangan enam orang anggota Sha-cap mi-wi itu.
Tetapi melihat orang-orang yang pernah meringkusnya itu sudah kenal dengan Chin Yang Kun maka ia tidak jadi memaki mereka.
Disimpannya saja kemarahannya itu di dalam hati.
"Saudara Yang, maafkanlah kami datang terlambat menemuimu, sehingga perajurit-perajurit Kim Cian-bu ini terlanjur mengeroyokmu...bukankah begitu, Kim Cian-bu?"
"Benar! Benar...! maafkanlah anak buahku tadi, saudara Yang. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau adalah saudara angkat...eh, saudara angkat Liu-Ciangkun!"
Kim Cian-bu menjura pula dihadapan Chin Yang Kun dengan hormatnya.
"Jadi...jadi kalian ini benar-benar anak buah...eh...kawan dari Liu-Twako? Ahh, kalau begitu aku sungguh berdosa sekali telah berani melukai dan membunuh para perajurit tadi,"
Chin Yang Kun berkata dengan penuh penyesalan.
"Ah, saudara Yang tidak perlu menyesali diri. Kamilah yang kurang teliti dan hati-hati sehingga keadaan menjadi begini. Biarlah musibah ini menjadi contoh dan peringatan bagi kami,"
Kim Cian-bu cepat-cepat menukas kata-kata Chin Yang Kun.
Tapi Chin Yang Kun tetap merasa tidak enak hati.
Perubahan sikap yang mendadak ini tentu disebabkan oleh karena pengaruh nama Liu-Twakonya itu.
Para anggota Sha-cap mi-wi yang mengenali wajahnya itu tentu memberi tahu Kim Cian-bu siapa sebenarnya dirinya.
"Bukan! Bukan! Kim Cian-bu tidak bersalah...apa yang telah dilakukan oleh Kim Cian-bu tadi sudah benar. Semua orang tentu akan bertindak begitu pula bila menjadi Kim Cianbu tadi...akulah yang bersalah! Dan aku akan mempertanggungjawabkannya nanti di hadapan Liu-Twako. Terima kasih atas kelonggaran dan kemurahan hati Kim Cianbu dan saudara-saudara sekalian malam ini..."
"Eh, saudara Yang mau kemana? Apakah tidak bermalam saja disini malam ini?"
Salah seorang dari anggota Sha-cap mi-wi itu cepat-cepat menahan Chin Yang Kun yang akan segera meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih! Lain kali saja. Saya masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Besok aku sudah harus berada di Ko-tien, dan selanjutnya pergi lagi ke Sin-yang..."
"Ah...!"
Anggota Sha-cap mi-wi itu berdesah lalu menoleh ke arah Kim Cian-bu. Matanya berkedip memberi isyarat agar Kim Cian-bu dapat menyediakan kuda tunggangan buat adik angkat Kaisar Han itu.
"Eh...ah, kalau begitu biarlah perajuritku menyediakan kuda untuk saudara Yang,"
Kim Cian-bu cepat mengangguk.
"Ah, tak usahlah..."
Tapi Kim Cian-bu tetap bertepuk tangan memanggil petugasnya dan sekejap saja seorang perajurit telah datang menuntun kuda.
Seekor kuda yang tegar dan gagah, lengkap dengan pelana dan perhiasannya.
Bulunya yang hitam legam itu tampak mengkilat kebiru-biruan dalam cahaya obor.
"Kuda ini adalah kuda pilihan. Namanya Cahaya Biru. Aku memperolehnya lima tahun yang lalu, ketika aku ditugaskan Baginda memadamkan kerusuhan di daerah selatan. Kumohon agar engkau merawatnya baik-baik, sebab dia adalah kuda yang hebat dan tahu membalas budi kepada tuannya. Nah...silahkanlah, saudara Yang,"
Kim Cian-bu lekas-lekas memberikan kuda itu kepada Chin Yang Kun tanpa memberi kesempatan sedikitpun pada pemuda itu untuk berbicara atau menyatakan pendapatnya.
Sesudah itu Kim Cian-bu segera berdiri di pinggir dan memerintahkan seluruh perajuritnya agar menyibak dan memberi jalan kepada Chin Yang Kun.
"Selamat jalan, saudara Yang...! berhati-hatilah di jalan! Daerah ini menjadi sangat berbahaya dengan adanya para perusuh itu..."
Enam orang anggota Sha-cap mi-wi itu menjura. Chin Yang Kun tidak bisa menolak lagi. Ia telah dipojokkan sedemikian rupa sehingga tiada jalan lain selain menerima pemberian tersebut.
"Baiklah! Terima kasih atas pemberian yang amat berharga ini, meskipun hatiku sebenarnya merasa tidak enak untuk menerimanya. Maaf..."
Setelah memberi hormat Chin Yang Kun lantas melompat ke punggung kuda dan pergi meninggalkan tempat itu bersama-sama dengan Tiau Li Ing.
Para perajurit yang dilewatinya tampak menatapnya dengan pandang mata bingung dan tak mengerti.
Agaknya mereka sungguh-sungguh tak mengerti apa sebabnya Chin Yang Kun dibiarkan lepas oleh Kim Cian-bu.
Setelah keluar dari perkemahan Chin Yang Kun membalapkan kudanya menuju ke jalan besar kembali.
Kuda itu benar-benar kuda pilihan seperti yang dikatakan oleh Kim Cian-bu.
Selain kuat dan cerdik kuda itu tampaknya sudah terlatih sekali.
Dengan tangkas kakinya yang panjang-panjang itu menuruni lereng bukit yang terjal dan tidak rata itu dengan cepat sekali.
Sedikitpun tidak kelihatan merasa berat meskipun harus menanggung beban dua orang di punggungnya.
Chin Yang Kun menepuk-nepuk leher binatang itu sebagai tanda kekagumannya.
"Hmm, nona Li Ing...kuda ini sungguh hebat sekali!"
Pujinya gembira.
"Benar! Engkau sungguh beruntung bisa memilikinya. Ehh...Toat-beng-jin! Siapakah namamu sebenarnya? Mengapa orang-orang itu tadi memanggilmu saudara Yang?"
Tiau Li Ing yang masih tetap berada di atas pundak Chin Yang Kun itu tiba-tiba membelokkan pembicaraan mereka dengan bertanya tentang nama Chin Yang Kun yang sebenarnya.
"Akhhh...!"
Chin Yang Kun berdesah lalu diam.
"Mengapa engkau tidak menjawab pertanyaanku?"
Tiau Li Ing mendesak.
Chin Yang Kun masih tetap berdiam diri.
Pemuda itu memang bermaksud akan menjernihkan kesalah-sangkaan ini, tapi selama ini ia selalu mendapatkan kesulitan untuk memulainya.
Maka sungguh kebetulan sekali baginya gadis itu telah membukakan jalan untuk mengungkapkannya sekarang.
Tapi meskipun demikian ia juga harus berhati-hati dalam memulainya.
Demikianlah, pemuda itu tidak segera menjawab pertanyaan Tiau Li Ing, sebaliknya pemuda itu malah menghentakkan tali kendali kudanya, sehingga kuda itu melonjak dan berlari lebih cepat lagi.
"Nona, lebih baik kita pergi mencari tempat untuk beristirahat dulu, baru nanti bercerita tentang segala macam soal, setuju...?"
Chin Yang Kun membujuk.
Gadis itu mendongakkan kepalanya ke langit.
Tampak olehnya bintang-bintang mulai bergeser ke arah barat, suatu tanda bahwa tengah malam telah lewat dan fajar pagi mulai merangkak mendekati cakrawala.
"Yah, malam memang telah larut...Kita memang juga harus beristirahat barang sebentar, agar tenaga kita menjadi pulih kembali. Tapi cobalah kau turunkan aku lebih dahulu untuk melepaskan ikatanku ini, agar orang takkan bercuriga melihat keadaan kita nanti."
Akhirnya gadis cantik itu menjawab dengan suara gemetar. Entah mengapa gadis itu tiba-tiba merasa rikuh dan malu menghadapi pemuda yang membelanya mati-matian itu.
"Oh, ya...ya benar!"
Heran!
Perasaan itu seperti menular juga kepada Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu mendadak menjadi gugup pula.
Entah mengapa pemuda itu merasa seperti mendapatkan teguran halus dari si gadis.
Memang secara tidak sadar pemuda itu seperti merasakan sesuatu yang asyik dan nikmat bersentuhan dengan tubuh yang mulus dan lembut itu.
Begitu nikmatnya sehingga tidak terlintas sama sekali di dalam otaknya untuk menurunkan tubuh molek itu dari atas pundaknya.
Barulah ia menjadi sadar ketika gadis itu menegurnya!
Maka dengan amat tergesa-gesa sekali pemuda itu lalu menghentikan kudanya.
Mukanya tetap tertunduk ketika menurunkan tubuh Tiau Li Ing dan membuka ikatannya.
Wajahnya yang putih tampan itu tampak kemerah-merahan.
Begitu gugup hatinya sehingga jari-jarinya tampak gemetar ketika memegang tali.
Ternyata keadaan Tiau Li Ing juga sama saja.
Gadis itu juga tertunduk saja mengawasi tangan Chin Yang Kun yang melepas tali ikatannya.
Sekejappun gadis itu tak berani menatap wajah pemuda yang begitu dekat dengannya itu.
"Terima kasih, Yang-Twako..."
Ucapnya hampir berbisik ketika ikatan itu telah terurai semua.
Suara Tiau Li Ing terdengar mesra.
Dan entah apa sebabnya gadis itu tiba-tiba saja juga mengubah panggilannya dengan Yang-Twako, suatu panggilan yang lebih indah dari pada Toat-beng-jin.
"Eh, oh...marilah! Jangan sungkan-sungkan!"
Mereka Ialu diam tak berkata-kata untuk beberapa saat lamanya. Masing-masing tampaknya sedang berusaha untuk menenangkan perasaannya sendiri-sendiri.
"Oh, ya...mengapa kita hanya berdiam diri saja disini? Hari telah larut malam dan kita belum memperoleh tempat untuk melepaskan lelah,"
Akhirnya Chin Yang Kun yang lebih dulu dapat menenteramkan hatinya membuka suara.
"Be-benar! Kita berangkat sekarang..."
Tiau Li Ing berkata pula.
"Ayoh...!"
Lalu keduanya bangkit berdiri. Chin Yang Kun segera menuntun kudanya.
"Kau naiklah...! Aku akan berjalan kaki mengiringimu."
Pemuda itu berkata.
"Ah, mana bisa begitu? Kuda ini milikmu. Tidak enak kalau aku yang menaikinya, sementara engkau malah berjalan kaki..."
Tiau Li Ing cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Tapi engkau seorang wanita, sudah seharusnya aku mengalah."
"Eh, mana ada aturan begitu? Itu peraturan kuno! Wanita dan lelaki sekarang sama saja, apalagi untuk kaum persilatan seperti kita ini."
Chin Yang Kun tersenyum sambil mengangkat pundaknya. Pemuda itu tak ingin berdebat dengan Tiau Li Ing, apalagi yang diperdebatkan cuma persoalan seperti itu.
"Yah...bagi kaum persilatan seperti kita ini memang tidak begitu mempersoalkan lagi masalah seperti itu, tapi...dalam hal etika pergaulan dan adat kesopanan umum kukira peraturan-peraturan seperti itu masih juga berlaku."
"Siapa bilang?"
Tiau Li Ing tetap ngotot.
"Lelaki dan perempuan sama saja!"
"Hmm, kalau begitu...nona setuju, misalkan pada suatu saat mandi bersama atau tidur berdua dengan pemuda lain?"
Chin Yang Kun menggoda.
"Hah?!? Gila apa...?"
Tiau Li Ing menjerit dengan muka merah padam.
"Nah, tidak mau bukan? Itulah yang kumaksudkan tadi. Bagaimanapun juga lelaki dan perempuan tetap berbeda. Dan karena adanya perbedaan itu maka lalu timbul etika dan aturannya,"
Chin Yang Kun menghentikan kata-katanya sebentar, lalu.
"...Aku percaya nona mempunyai kesaktian yang sangat hebat, sehingga kalau diperbandingkan dengan pemuda-pemuda biasa, meski dengan pemuda yang paling berotot sekalipun, kekuatan nona masih berada jauh diatas mereka. Tetapi meskipun demikian nona toh masih tetap seorang wanita juga..."
"Tapi aku tetap tidak mau kalau disuruh naik kuda ini..."
Tiau Li Ing masih tetap tidak mau mengalah juga.
"Lalu bagaimana...?"
Chin Yang Kun bertanya bingung.
"Engkaulah yang lebih berhak untuk menaikinya, karena kuda ini adalah kudamu."
"Dan...kau akan berjalan kaki?"
"Ya!"
"Wah, kalau begitu aku juga akan berjalan kaki saja. Tidak enak rasanya dilihat orang di jalan nanti. Lebih baik kita tuntun saja kuda ini."
"Hei! Jangan...! orang akan bercuriga kepada kita kalau engkau menuntun kuda itu. Kita malah akan disangka sebagai pencuri kuda nanti..."
Tiau Li Ing buru-buru mencegah.
"Wah...! repot benar, sih? Begini salah begitu juga salah. Lalu harus bagaimana kita? Kita lepaskan saja kuda ini biar kembali ke tempat para perajurit itu,"
Chin Yang Kun menghentakkan kakinya dengan perasaan jengkel.
"Hei...jangan dilepaskan! Kim Cian-bu akan menjadi curiga terhadap kita. Dia tentu akan mengerahkan para perajuritnya untuk mencari kita nanti."
Sekali lagi Tiau Li Ing mencegah maksud Chin Yang Kun untuk melepaskan kuda tersebut.
"Lalu harus bagaimana...?"
Chin Yang Kun habis akal.
"Kaulah yang naik!"
Tiau Li Ing berkata tegas. Chin Yang Kun terdiam tak menjawab. Dipandangnya wajah cantik di depannya itu untuk beberapa saat lamanya dengan kening berkerut.
"Kalau begitu kita naik kuda lagi saja bersama-sama seperti tadi atau...semuanya berjalan kaki!"
Akhirnya pemuda itu memutuskan.
"...Bagaimana?"
Tiau Li Ing terdiam juga untuk sementara. Kemudian.
"Baiklah! Terserah kepadamu!"
Jawabnya dengan kepala tertunduk.
Warna merah membersit di atas pipinya yang ranum.
Demikianlah kedua muda-mudi itu akhirnya menaiki Si Cahaya Biru bersama-sama.
Chin Yang Kun duduk di depan memegang kendali dan Tiau Li Ing duduk rapat di belakangnya.
Mereka mengendarai kuda dengan mulut tertutup, masing-masing sibuk dengan angan-angan mereka sendiri.
Kabut turun semakin deras membasahi tubuh mereka dan jalan yang mereka lalui.
Kabut itu membasahi tanah sehingga menyebabkan jalan itu menjadi licin dan becek.
Meskipun demikian Cahaya Biru tetap berlari dengan gagahnya.
Tampaknya jalan yang licin tersebut bukanlah rintangan yang berat baginya.
Kota Ko-tien mereka capai berbareng dengan suara kokok ayam pertama kali.
Kota ini masih gelap dan belum adaseorangpun yang telah membuka pintu rumahnya.
Jalan-jalan juga masih sunyi senyap, sehingga langkah kaki kuda mereka terdengar nyaring ketika menimpa batu-batu di jalan tersebut.
"Ah, meremang bulu kudukku. Rasa-rasanya kita sedang memasuki sebuah kota mati saja."
Tiau Li Ing mendekatkan bibirnya ke telinga Chin Yang Kun dan berbisik pelan.
"Ya, akupun merasakannya juga. Rasanya kesunyian ini memang tidak wajar, seperti suasana di dalam kuburan saja."
Chin Yang Kun mengangguk dengan hati berdegup kencang.
Napas gadis itu terasa hangat menghembus kulit pipi dan telinganya.
Chin Yang Kun lalu berusaha menghilangkan perasaan yang menggangu tersebut dengan mempercepat langkah kaki kudanya.
Dan si Cahaya Biru memang seekor kuda yang garang!
Begitu terasa kendali yang menempel mulutnya itu disentakkan tuannya, ia segera melesat bagai anak panah yang terlepas dari busurnya!
Suara telapak kakinya yang dilapisi tapal besi itu terdengar berdentangan menimpa batu.
Chin Yang Kun lalu membelokkan kudanya ke jalan utama yang membentang di tengah-tengah kota itu.
Di sana jalan lebih lebar dan bangunan rumahpun tampak lebih rapat dan lebih bagus.
Warung dan toko berceceran hampir memenuhi seluruh bangunan yang ada di sepanjang jalan tersebut.
Dan bangunan-bangunan itu juga tampak lebih meriah pula, sebab mereka tentu memasang papan nama atau gambar yang besar dan menyolok mata, lampu teng besar kecil juga tergantung dimana-mana, menerangi dan menyemarakkan suasana malam.
Meskipun demikian mereka tetap tak melihat sesosok bayangan manusiapun di sana.
Jalan besar itu juga sepi dan lengang pula.
Tak sebuah makhlukpun yang tampak, sampai-sampai para gelandangan atau pengemis yang biasa tampak di setiap kota itu pun tak kelihatan pula di sana.
Kota itu betul-betul Iengang, sepi, bagaikan kota mati!
"Eh, Yang Twako...bagaimana ini?"
Tiau Li Ing berbisik lagi. dan...tubuhnya yang molek itu lagi-lagi mendesak ke depan sehingga buah dadanya yang mulai tumbuh itu "mendorong"
Punggung Chin Yang Kun!
Keruan saja pemuda itu menjadi panas dingin badannya!
Pikirannya menjadi kacau sehingga otaknya menjadi rusuh pula!
Segala macam angan-angan yang tidak-tidak menggoda batinnya dengan hebat!
Dan entah mengapa tiba-tiba timbul keinginannya untuk memeluk tubuh yang menempel ketat di belakangnya itu.
"Eh, Yang Twako...mengapa kita berhenti di sini? Apakah kita akan beristirahat di penginapan ini?"
Tiau Li Ing yang tidak tahu bahaya itu tiba-tiba bertanya.
"Eh...eh, eh...apa?"
Chin Yang Kun tersentak kaget. Kaget sekali, sehingga buyar semua lamunannya! "Hai...kau kenapa? Mengapa matamu merah sekali?"
Tiau Li Ing mengerutkan keningnya. Chin Yang Kun cepat-cepat meloncat turun dan membawa kudanya ke pinggir.
"Ah, tidak apa-apa! Cuma kena debu tadi..."
Pemuda itu membohong.
"Marilah kita beristirahat saja di sini!"
Ternyata tanpa kemauan Chin Yang Kun kudanya telah berhenti di depan sebuah rumah penginapan.
Mungkin di dalam ketegangannya tadi Chin Yang Kun telah menarik kendali kudanya tanpa sengaja, sehingga kuda itupun lalu berhenti pula dengan mendadak.
Tiau Li Ing turun juga dari kuda, lalu setelah Chin Yang Kun menempatkan kuda tersebut di tempat yang tersedia, mereka bersama-sama melangkah memasuki penginapan itu.
Kemudian mereka mengetuk pintu tiga kali.
Tidak ada jawaban.
Chin Yang Kun penasaran.
Ia mengetuk sekali lagi, sekarang lebih keras.
Tapi tetap tidak ada orang yang menjawab.
Keduanya saling memandang dan Tiau Li Ing mengangkat pundaknya sambil memonyongkan mulutnya.
"Heran! Penginapan ini dipasangi lampu, dan semua perabotannya juga teratur rapi. Tapi...ke mana pemiliknya? Masakan tiada yang menjaganya sama sekali?"
Chin Yang Kun bersungut-sungut seraya mengguncang pintu penginapan tersebut keras-keras.
"Blug!"
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh sesosok tubuh yang jatuh dari atap rumah ke samping mereka.
Dan begitu jatuh orang itu langsung melenting berdiri kembali.
Dari mulutnya lantas terdengar sumpah-serapah dan caci-makinya, sementara kedua tangannya sibuk membersihkan pasir dan tanah yang melekat di atas rambutnya yang amat jarang.
"Bangsat! Binatang! Monyet busuk...Uhh...sedang enak-enak tidur di atas atap, rumahnya digoyang gempa! Makanya aku bermimpi bisa terbang...eh, tahunya jatuh dari peraduan, hehehe...! Huh, keparat! Keparaaaat...!"
Chin Yang Kun memegang lengan Tiau Li Ing, kemudian menariknya beberapa langkah ke belakang, menjauhi orang gila itu.
Dan gerakan mereka itu ternyata sangat mengagetkan orang tersebut.
Kelihatannya orang itu sama sekali tidak tahu kalau di depan pintu itu ada orang lain.
"Hei, gempa bumi...! Eh, kok gempa lagi, hehehe!"
Teriak orang gila itu latah.
Matanya yang kocak dipicingkan, mengawasi wajah Chin Yang Kun dan Tiau Li Ing, sementara mulutnya yang lebar itu pringas-pringis menjijikkan.
Tapi tiba-tiba muka yang kocak itu berubah menjadi tegang dan bersungguh-sungguh!
"Oh!
kau lagi...!"
Serunya dingin. Lalu.
"...Mau apa kau kemari? Ingin membunuh banyak orang lagi? Cek! Cek! Cek..! Usiamu belum seberapa, tetapi tanganmu ternyata sangat telengas dan ganas bukan main! Dalam sehari ini saja kau telah membunuh lebih dari limaratus orang! Dan tanganmu benar-benar tidak mau memilih korbannya. Siapa pun jadilah. Sampai-sampai para perajurit kerajaanpun tidak terkecuali pula. Sungguh-sungguh edan...!"
Chin Yang Kun mengerutkan dahinya, Ialu melirik ke arah Tiau Li Ing, seolah-olah ingin bertanya tentang orang gila itu.
Apa sebabnya orang itu tahu tentang sepak-terjangnya hari itu?
Apakah gadis itu sudah mengenalnya?
Tapi gadis itu menggelengkan kepalanya, suatu tanda bahwa gadis itu juga tidak tahu pula.
Oleh karena itu dengan hati-hati Chin Yang Kun menghadapi orang yang tingkah lakunya seperti orang gila itu.
"Siapakah Lo-Cianpwe ini...? Dari mana Lo-Cianpwe tahu aku telah membunuh banyak orang?"
Tanyanya halus.
"Hah? Huahaha...hahaha! Engkau menanyakan namaku? Apakah aku juga akan engkau jadikan korbanmu pula? Eit, jangan harap...hohoho!"
Orang itu tiba-tiba tertawa terpingkal-pingkal sampai kedua buah matanya mengeluarkan air mata.
Kemudian sambil menyeka air matanya orang itu mengambil buli-buli arak yang tergantung di pinggangnya dan meminum isinya.
"Hwaduh, segarnya! Arak putih memang pedas rasanya...Minum seteguk sebulan bermimpi, hahaha...! Tapi..."
"Lo-Cianpwe..."
Chin Yang Kun berusaha memotong celoteh orang itu.
"Tapi...Arak Merah manis rasanya...Minum segentongpun orang takkan merasa hehehe...!"
Orang itu meneruskan nyanyiannya.
"Lo-Cianpwe...!"
"Sebentar! kau diamlah dulu...!"
Orang itu mengangkat tangannya dengan cepat.
Keningnya tampak berkerut-kerut, agaknya sedang memikirkan rangkaian pantun yang akan dinyanyikannya lagi.
Tapi Chin Yang Kun sudah tidak mau menunggunya.
Dengan suara geram pemuda itu membentak.
"Orang tua! Aku tidak butuh suaramu yang sumbang itu! Aku hanya ingin mengetahui gelar dan namamu, karena aku ingin bertanya tentang sesuatu hal kepadamu!"
Mata yang kocak itu terbelalak lebar. MuIutnya melongo seakan tak percaya bahwa ia baru saja dibentak orang.
"Ahhh...!"
Orang itu lalu menghela napas panjang. Wajahnya yang lucu itu berubah menjadi serius.
"Anak muda, keberanianmu sungguh mengagumkan. Engkau telah berani membentakku, padahal selama ini aku belum pernah dibentak orang. Dan kalaupun ada, orang itu tentu takkan bisa hidup lama..."
Orang itu berkata lagi dengan nada marah. Tapi kesombongan itu justru semakin menaikkan darah Chin Yang Kun.
"Begitukah? Hmm, kalau begitu engkau sama saja dengan aku. Selama ini aku pun belum pernah dipandang rendah oleh siapapun juga. Dan...kalaupun ada, orang itu tentu sudah tidak bernyawa pula!"
Geramnya keras.
"Apa katamu? Kurang ajar...! Kubunuh kau!"
Orang gila itu menjerit marah. Tapi Chin Yang Kun segera mengangkat tangannya.
"Nanti dulu...!"
Serunya.
"Monyet buruk! Ada pesan apa lagi?"
"Oh, jangan buru-buru marah dulu! Tak ada gunanya bagiku berkelahi denganmu kalau tidak ada taruhannya."
"Taruhan? Apa maksudmu? Bukankah taruhannya sudah ada, yaitu...nyawa?"
Chin Yang Kun lebih dahulu menyuruh Tiau Li Ing menyingkir, baru setelah itu ia menjawab.
"...nyawa itu bukan taruhan namanya, sebab kehilangan nyawa sudah merupakan resiko dari setiap pertempuran. Yang kumaksud dengan taruhan adalah imbalan yang telah kita sepakati bersama bagi yang menang dalam pertempuran ini. Bagaimana? Berani bertaruh tidak?"
"Bangsat! kau benar-benar sombong sekali dan kau akan menyesal nanti! Ayoh, lekas katakan apa taruhannya? Kurang ajarrr...!"
Chin Yang Kun melangkah ke depan, lalu tangannya bertolak pinggang.
"Kalau kau kalah, kau harus menyebutkan namamu. Setelah itu kau juga harus bercerita kepadaku mengenai semua yang kau ketahui tentang kota ini, itu saja!"
"Begitukah? Lalu...bagaimana kalau kau yang mampus di tanganku?"
Orang itu bertanya dengan suara tinggi.
"Wah, kau ini bagaimana...? kalau aku mampus di tanganmu, tentu saja kau boleh berbuat sesukamu. Mau kau kubur kek...atau mau kau buang ke sungai kek...itu terserah kepadamu!"
Chin Yang Kun menjawab tenang. Hampir-hampir orang itu tak dapat mengendalikan hatinya, ulah Chin Yang Kun itu betul-betul telah membakar dadanya.
"Baik! Ayoh bersiaplah untuk mampus!"
"Nanti dulu...!"
"Babi! Tikus! Monyet! Apa lagi...?"
"Pertandingan ini harus dibatasi, yaitu dua puluh jurus saja. Kalau dalam dua puluh jurus ternyata belum ada yang kalah atau menang, nanti kita tambah lagi...bagaimana...?"
"Dua puluh jurus? Hah! Terlalu banyak! Lima juruspun sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawamu!"
Orang itu berteriak sambil menubruk ke depan.
"Ayoh, kita mulai...! Kau boleh merasa menang jika dalam dua puluh jurus tidak mampus!"
Tampaknya saja otaknya tidak waras, tapi ketika bergerak ternyata cepatnya bukan main!
Belum juga kata-katanya selesai, sepuluh buah jari tangannya telah berada di ubun ubun Chin Yang Kun!
Padahal jarak mereka berdiri lebih dari tiga tombak jauhnya!
Tentu saja Chin Yang Kun terkejut setengah mati!
Sejak semula pemuda itu memang sudah menduga bahwa lawannya tentu berkepandaian tinggi, tapi ia tidak membayangkan bahwa lawannya itu akan mampu bergerak sedemikian cepatnya!
Untunglah pemuda itu sejak semula juga telah bersiap siaga sepenuhnya.
Maka dalam keadaan yang sulit seperti itu ilmunya segera bergerak dengan sendirinya.
Tiba-tiba saja kepalanya melesak ke bawah, mendorong masuk tulang tulang lehernya yang panjang ke dalam rongga dada, sehingga leher itu menjadi lenyap dan kepalanya kini seolah-olah menempel begitu saja tanpa tangkai di atas pundak.
Tapi gerakan langka yang hanya dapat dilakukan oleh orang yang mahir Kim-coa ih-hoat itu ternyata mampu membebaskan pemuda itu dari sambaran jari-jari lawannya.
Tentu saja cara Chin Yang Kun yang aneh dalam menghindari serangan itu membuat tercengang lawannya.
Dengan mata mendelik orang itu menatap Chin Yang Kun, seolah-olah tidak percaya bahwa di dunia ini ada seseorang manusia yang mampu berbuat seperti itu.
Saking kagumnya orang itu sampai terpaksa diam untuk beberapa saat lamanya, lupa bahwa dirinya sedang marah dan bertempur dengan musuh.
"Mengapa berhenti menyerang? kau sudan mengaku kalah?"
Chin Yang Kun bertanya. Orang itu tersentak dari lamunannya.
"Setan kuburan...!"
Umpatnya.
"...Kiranya engkau punya modal juga. Makanya sikapmu demikian sombong dan takabur..."
"Engkau mengaku kalah?"
"Mengaku kalah? Huh! Terlalu pagi...Kau memang hebat, tapi kau jangan lekas-lekas menepuk dada dan menganggap bahwa kepandaianmu sudah tidak ada yang menandingi! Sekarang kau bersiaplah, akan kutunjukkan kepadamu bahwa di luar langit masih ada langit...!"
Seperti tadi tiba-tiba orang itu menyerang lagi tanpa memberi peringatan lebih dahulu.
Hanya cara menyerangnya kali ini juga aneh bukan main, sama sekali berbeda dengan cara-cara yang umum dipakai oleh ilmu-ilmu silat kebanyakan.
Tampaknya orang itu tidak mau kalah dengan Chin Yang Kun, dan kini mau memamerkan bahwa ilmunya juga tidak kalah uniknya dengan ilmu silat Chin Yang Kun!
Orang itu meloncat ke atas, kemudian meluncur ke arah Chin Yang Kun dengan kedua kaki lebih dahulu.
Meskipun gerakan itu amat aneh dalam ilmu silat, tetapi gayanya sungguh enak dipandang dan cepat bukan main!
Apalagi lapat-lapat terdengar pula suara deru angin yang diakibatkan oleh gerakan itu.
"Wuuuuussssss...!"
"Dua jurus!"
Chin Yang Kun berteriak sambil meloncat ke samping untuk mengelakkan serangan tersebut.
Lalu dari arah samping pemuda itu membalasnya dengan tendangan pula.
Tapi melihat sasarannya telah pergi orang itu cepat-cepat mengubah serangannya pula.
Kedua buah kakinya yang terjulur ke depan itu segera ia tekuk ke belakang, sehingga gaya berat tubuhnya berubah pula.
Otomatis kepala orang itu terlempar ke depan sementara kaki dan pantatnya terayun ke belakang.
Dan selanjutnya tubuh orang itu tampak berputar (berjumpalitan) dengan kencangnya.
Sepintas lalu orang tentu akan mengira bahwa gerakan tersebut hanya dilakukan untuk mengurangi kecepatan daya luncurnya, sehingga tubuh itu tidak jatuh berdebam begitu saja di atas tanah.
Dan ternyata demikian pula yang dipikirkan oleh Chin Yang Kun!
Tapi dugaan itu ternyata keliru sekali!
Dengan perasaan kaget Chin Yang Kun merasakan tubuhnya tiba-tiba tersedot ke arah lawan, sehingga kuda-kudanya lepas dan tubuhnya terbanting ke depan.
Otomatis tendangan kakinya melenceng dan ikut tersedot pula ke depan.
Orang gila itu tertawa gembira.
"Rasakan jurusku ini! Baling-baling mengisap kaki...eh, keliru! Maksudku...baling-baling mengisap madu! Wah, bukan...bukan madu, anu...baling-baling mengisap...mengisap...mengisap...bangsat! kurang ajar! kenapa aku sampai lupa pada ilmu silatku sendiri?"
Celotehnya.
Tampaknya seperti main-main saja, tetapi pengaruhnya ternyata hebat bukan kepalang!
Buktinya Chin Yang Kun yang berkepandaian tinggi itupun sampai terkecoh dan termakan oleh jurus baling-baling tersebut!
Tubuh dan kakinya tersedot ke arah lawan tanpa dapat dicegah lagi!
Untunglah pemuda itu segera menyadari keadaannya.
Pada saat-saat terakhir, dimana kakinya tinggal sejengkal saja dari lawannya, pemuda itu cepat mengerahkan Liong-cu I-kang ke kakinya, lalu dengan ilmu Kim-coa ih-hoatnya yang ampuh ia melepaskan sambungan dari semua persendian tulang-tulangnya, sehingga ketika ia mengerahkan otot-ototnya kaki itu tertarik mengkerut ke belakang dan jauh lebih pendek dari pada ukurannya yang normal!
Oleh karena itu kaki yang nyaris masuk ke dalam putaran baling-baling itu selamat dari guntingan lawan.
"Tiga jurus!"
Begitu lolos dari lubang jarum pemuda itu berteriak.
"Tiga jurus!"
Orang gila itu mengulangi perkataan Chin Yang Kun.
Demikianlah, semakin lama mereka bertanding semakin dahsyat di halaman rumah penginapan itu.
Karena pertandingan itu hanya dibatasi dalam dua puluh jurus, maka masing-masing segera mengeluarkan ilmu andalan mereka.
Keduanya sama-sama tidak ingin kehilangan waktu mereka.
Waktu sedetikpun sangat berharga bagi mereka.
Tiau Li Ing berdiri di bawah pohon, menonton pertempuran itu dengan wajah tegang.
Matanya hampir tidak pernah berkedip mengawasi Chin Yang Kun.
Hatinya merasa khawatir sekali.
Dilihatnya lawan pemuda itu benar-benar lihai bukan main.
Ilmu silatnya amat aneh dan konyol, meskipun begitu dahsyatnya tiada terkira.
Sampai-sampai Chin Yang Kun yang belum pernah menemukan tanding itupun dibuat kewalahan pula sekarang.
Jilid 32 Dan yang sangat menjengkelkan tapi juga menggelikan adalah ulah tingkah orang yang kini bertempur dengan Chin Yang Kun itu.
Orang itu bertempur sambil berceloteh tidak karuan.
Ada-ada saja yang dikatakan, dari yang biasa-biasa saja sampai yang kotor kotorpun keluar dari mulutnya.
Ilmu silatnyapun sangat konyol dan menggelikan, meskipun begitu Chin Yang Kun dibuat kewalahan karenanya.
Untunglah Chin Yang Kun mempunyai Kim-coa ih-hoat yang maha hebat.
Biarpun kadang-kadang dibuat bingung oleh gerakan lawannya yang aneh-aneh, tapi dengan Kim-coa-ih hoat nya yang lemas bagai ular itu ia selalu bisa meloloskan diri dari serangan lawannya.
Malahan kadang kala ilmu silatnya yang sangat mengerikan itu mampu mengecoh dan mengelabuhi musuhnya sehingga orang itu ganti dibuatnya jungkir-balik kebingungan pula.
Begitu dahsyatnya mereka berkelahi sehigga mereka sudah lupa menghitung jumlah jurus yang telah mereka keluarkan.
Masing-masing sudah lupa pada taruhan yang mereka sepakati bersama.
Yang ada di dalam hati mereka sekarang adalah mengadu iImu silat mereka sampai tuntas, sampai salah satu dari mereka mengaku kalah!
"Hei!
Hai...Yang Twako!
Berhenti!
Pertempuran sudah lebih dari dua puluh jurus!
Sekarang malah telah menginjak pada jurus yang ke dua puluh lima!
Berhenti!
Yang Twako, kau jangan terpancing oleh orang itu!
kau sudah menang...!"
Tiba-tiba Tiau Li Ing berteriak-teriak.
"Jangan hiraukan gadis itu! Mari kita selesaikan dulu pertempuran ini!"
Orang gila itu menggeram.
Mendadak Chin Yang Kun menjadi sadar.
Memang tidak ada gunanya ia bermusuhan dengan orang ini, hanya menambah-nambah kesulitan saja.
Yang perlu baginya adalah keterangan mengenai kota ini, bukan bermusuhan dengan para penghuninya.
"Hai, berhenti...! kau sudah kalah! Kita bertempur lebih dari dua puluh jurus! Ingat kata-katamu tadi! Jangan menjilat ludah sendiri!"
Chin Yang Kun melompat keluar dari arena pertempuran sambil berteriak memperingatkan lawannya.
"Menjilat ludah sendiri? Ah, masakan pertempuran kita tadi telah ada dua puluh jurus?"
Orang itu terpaksa menghentikan serangannya pula.
Mulutnya yang lebar itu melongo dan meringis berganti-ganti.
Hatinya tampak bimbang, penasaran dan menyesal telah menyetujui taruhan dalam dua puluh jurus itu.
"Benar. Malahan sudah lebih dari dua puluh jurus. Jadi kau sudah kalah...dan akulah yang jadi pemenangnya dalam taruhan ini."
Chin Yang Kun menjelaskan dengan bibir tersenyum.
"Wah, ini...ini tidak adil! Aku toh belum kalah. Malahan engkaulah yang repot mempertahankan diri tadi. Betul tidak...?"
Orang itu berteriak penasaran.
"Ya...tapi kau tadi sudah setuju bertarung dalam dua puluh jurus, bukan? Malah engkau sendiri yang bilang, kalau dalam dua puluh jurus aku tidak mampus...aku sudah dapat dianggap sebagai pemenangnya, ingat tidak?"
Orang itu membanting-bantingkan kakinya di atas tanah tanda penasaran sekali.
"Babi busuk! Monyet gila...!"
Umpatnya sambil menggaruk-garuk rambutnya yang jarang.
"Baik! Aku kalah dalam pertaruhan ini! Lekas katakan kehendakmu, bangsat!"
Chin Yang Kun tidak marah dicaci-maki begitu.
Ia tahu orang itu tidak bermaksud untuk menghina atau meremehkannya.
Orang itu memaki dan mengumpat asal bicara saja dan hanya merupakan logat kebiasaan setiap harinya.
"Nah, pertama-tama katakan dulu nama dan gelarmu...!"
Pintanya.
"Ha!"
Orang itu menggeram.
"...Aku sudah lupa pada nama pemberian orang tuaku. Tapi aku biasa disebut Hong-Jin (orang gila) oleh orang-orang yang mengenalku. Dan di dalam perkumpulanku aku diberi nama...Put-pai-siu (Tak Punya Malu)! Nah, puas...? Sekarang katakan keinginanmu yang ke dua!"
Chin Yang Kun hampir tak kuasa menahan tawanya. Nama itu benar-benar kocak dan sangat sesuai dengan orangnya.
"Put-pai-siu...!"
Tegasnya sambil melirik Tiau Li Ing. Kedua remaja itu saling pandang dengan mulut tersenyum.
"Ya! Memangnya kenapa...? Apakah kau ingin berkelahi lagi? Ayoh!"
Orang itu bersiap-siap kembali.
"Nanti dulu...! Aku toh belum mengatakan pertanyaanku yang kedua."
"Kalau begitu...lekaslah kau katakan, jangan cerewet saja!"
Chin Yang Kun melangkah maju.
"Begini...! Kedatangan kami ini sebenarnya hanya mau mencari penginapan. Cuma yang sangat mengherankan hati kami adalah keadaan di dalam kota ini. Kenapa kota yang cukup besar ini mendadak menjadi sepi seolah tak ada penghuninya sama sekali? Ke mana mereka itu?"
"0hh...itu!"
Put-pai-siu Hong-jin mendengus dingin.
"Mereka semua adalah pengecut-pengecut yang takut mati. Mereka semua bersembunyi di dalam rumah masing-masing dan memalang pintu mereka kuat-kuat dari dalam."
"Bersembunyi...? Mengapa mereka bersembunyi?"
Chin Yang Kun dan Tiau Li Ing bertanya hampir berbareng.
"Itulah...! Kata mereka gerombolan perusuh yang mau memberontak kepada Kaisar Han akan lewat di sini malam ini. Maka penduduk lantas menjadi panik dan bingung. Anak-anak dan perempuan segera diungsikan oleh keluarganya, sementara yang laki-laki tetap berada di rumah menjaga harta bendanya."
"Para perusuh...?"
Sekali lagi Chin Yang Kun dan Tiau Li Ing saling memandang. Keduanya segera teringat pada gerombolan yang sangat mencurigakan di puncak bukit itu.
"Tapi...bukankah Kaisar Han telah mengirimkan tentaranya ke daerah ini?"
Pemuda itu mengerutkan keningnya.
"Benar! Itulah sebabnya kukatakan mereka pengecut. Meskipun di dalam kota ini tidak ada pasukan Kaisar, tapi di sekeliling daerah ini toh sudah dijaga dengan ketat oleh pasukan itu. Masakan mereka masih berani lewat di kota ini juga?"
"Ooo...jadi mereka itu masih berada di dalam rumah masing-masing? Dan mereka itu takut keluar karena khabar tentang kaum perusuh itu? Wah, jika demikian...jangan jangan aku ini disangka sebagai anggauta kaum perusuh pula oleh mereka..."
Chin Yang Kun tertawa kecut.
"Mungkin juga..."
Put-pai-siu Hong-jin mengangguk-angguk.
"Mungkin juga? Eh, kalau begitu engkaupun mempunyai anggapan demikian?"
Chin Yang Kun tersentak kaget. Lalu katanya.
"Nah, sekarang aku baru mengerti...mengapa engkau berpura-pura marah dan menyerang aku tadi. Sebenarnya engkau mencurigai aku dan bermaksud untuk menangkapku. Ya atau tidak...?"
"Berpura-pura marah dan bermaksud menangkapmu? Hei...apa yang kau maksudkan? kenapa aku mesti harus menangkapmu? Dan...mengapa aku mesti berpura-pura pula? Apa hubunganku denganmu? Kurang ajar...! Setan busuk! Bukankah engkau yang mula-mula membuatku marah?"
Put-pai-siu Hong-jin berjingkrak-jingkrak marah.
"Ah, tidak usah kau tutup-tutupi lagi! Bukankah kau salah seorang dari penghuni kota ini? Dan melihat kepandaianmu aku berani bertaruh bahwa kau tentu orang penting di sini. Paling tidak sebagai pejabat keamanan atau..."
"Bocah gila...! kau benar-benar ngawur! Siapa bilang aku penduduk kota ini? Siapa bilang aku pejabat keamanan? Huh...masakan rupa seperti ini patut menjadi pembesar? Nekad saja!"
"Lantas siapakah sebenarnya engkau ini? Mengapa berada di tempat ini?"
Chin Yang Kun yang telah salah terka itu tersipu-sipu.
"Nah, begitu baru pertanyaan yang benar..."
Put pai-siu Hong-jin tersenyum dengan wajah kocak. Perlahan-lahan ia membuka tutup buli-buli araknya, lalu meminumnya beberapa teguk sebelum menjawab pertanyaan Chin Yang Kun.
"...Akupun orang asing di kota ini. Aku juga baru saja datang tadi malam, beberapa jam lebih awal dari pada kalian. Aku terus berjalan kemari ketika kau ditangkap oleh pasukan Kaisar itu..."
"Hah?!? Jadi...Jadi Lo-Cianpwe tahu ketika aku ditangkap oleh anak buah Kim Cian-bu itu?"
Chin Yang Kun terkejut.
"Hahaha...tentu saja. Kenapa tidak? Aku telah membayang-bayangi kau sejak dari kota Poh-yang, sejak kau dikelabuhi gadis ini untuk membawakan pedati kecilnya...sampai kau membakar daging di hutan bersama-sama Honggi-hiap Souw Thian Hai dan diberi baju yang kau pakai sekarang ini, hehehe...Semuanya telah kulihat, sampai yang sekecil-kecilnya."
Putpai-siu Hong-jin berkata sambil melirik Tiau Li Ing. Sekejap muka Chin Yang Kun menjadi merah.
"Jadi...Lo-Cianpwe melihat juga ketika aku bertempur dengan mayat-mayat di dalam kuil itu?"
"Tentu saja. Akupun berada di sana pada waktu itu. Kulihat kau sampai menjadi ketakutan melihat mayat-mayat hidup itu. heee...Padahal apa sih hebatnya ilmu hitam seperti itu? Asalkan kau musnakan sumbernya mereka takkan berguna lagi."
"...Dan ketika aku terjerumus ke dalam sumur tua itu?"
"Nah, saat itu aku beranggapan bahwa kau telah mampus. Maka akupun lalu melihat-lihat ke dalam gedung besar itu. Hehehe...hampir saja aku diketahui Tung-hai-tiau dan kawan-kawannya..."
"Ah...!"
Chin Yang Kun berdesah kikuk.
"Eh...tak tahunya ketika pertempuran di atas bukit itu sedang berlangsung dengan sengitnya...kau tiba-tiba keIuar dari dalam gedung mengejar-ngejar gadis itu."
Put-pai-siu Hong-jin meneruskan keterangannya sambil menunjuk ke arah Tiau Li Ing.
"...Maka akupun lalu membuntutimu lagi..."
"Eh...ahh..."
Chin Yang Kun berdesah berulang-ulang, hatinya terasa semakin kikuk.
"...Tapi...tapi mengapa aku sama sekali tidak mengetahui kalau Lo-Cianpwe selalu mengikutiku? Bukankah Souw-Taihiap (pendekar besar Souw) saat itu juga bersamaku? Apakah dia juga tidak tahu pula?"
"Tentu saja kau tidak melihatku, karena ginkangku jauh lebih tinggi dari pada ginkangmu, hehehe...Eit, nanti dulu! kau jangan lekas-lekas merasa tersinggung pada perkataanku ini!"
Put-pai-siu Hong-jin cepat-cepat menggoyangkan tangannya begitu melihat mata Chin Yang Kun menyala mendengar kelakarnya.
"Dengarlah...! kau memang hebat! Kepandaianmu luar biasa tingginya! Sebagai seorang tua yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia persilatan, aku benar-benar kagum melihat kesaktianmu. Selama ini aku belum pernah menjumpai anak muda mempunyai ilmu sedahsyat ilmumu itu. Tetapi...meskipun demikian kau juga harus mengakui bahwa ginkangmu tidaklah sedahsyat ilmumu yang lain. Kalau boleh kumisalkan, kau adalah seperti seekor naga yang kokoh kuat dan bertenaga besar. Kulitmu liat dan keras, tenagamu luar biasa kuat dan dahsyat, tapi...sayang gerakanmu lamban!"
Chin Yang Kun tidak jadi marah.
Memang, secara diam diam iapun harus mengakui bahwa ginkangnya tidak sehebat ilmu-ilmunya yang lain.
Hal ini pernah disinggung pula oleh Keh-sim Siauwhiap di haIaman rumah Pendekar Li beberapa hari yang lalu.
"Ya...ya, misalkan aku tak melihat Lo-Cianpwe, tapi...masakan Souw-Taihiap juga tidak melihat pula?"
Sambil menghela napas pemuda itu bertanya.
"Ahh, kalau dia memang lain...Di depan matanya tak seorangpun bisa menyembunyikan dirinya. Akupun sempat dilihatnya, beberapa kali malah! Tapi meskipun demikian ia tak bisa menangkapku, biarpun dia juga telah mengerahkan seluruh kepandaiannya."
Setelah sedikit membanggakan dirinya Put-pai-siu Hong-jin diam.
Begitu pula dengan Chin Yang Kun dan Tiau Li Ing.
Masing-masing sibuk dengan jalan pikiran mereka sendiri sendiri.
Sepi.
Sementara itu di ufuk timur telah mulai bersinar kemerah merahan.
Alam pun mulai tampak terjaga dari tidurnya.
Daun-daun pohon yang semula tampak diam tak bergerak itu mulai terayun-ayun ditiup angin pagi.
Embun-embun yang berada diatasnya tampak bercucuran ke bawah, menimpa semak semak dan rumput sehingga pohon-pohon kecil itu ikut bergoyang-goyang pula.
Tiba-tiba keheningan di halaman itu disentakkan oleh kicau burung di pojok rumah.
Burung itu menggelepar terbang meninggalkan sarangnya menuju ke pohon pek yang tinggi di samping rumah.
Dan suara kicau yang nyaring itu seolah-olah merupakan lonceng pembukaan bagi burung-burung yang lain, karena sebentar kemudian ramailah suasana pagi itu dengan suara nyanyian mereka.
Dan satu persatu pintu rumah di pinggir jalan besar itu mulai terbuka.
Beberapa buah kepala tampak menjenguk ke luar dengan wajah pucat dan sinar mata ketakutan.
Dan wajah itu perlahan-lahan menjadi lega begitu melihat suasana tampak aman.
Satu persatu penghuni kota itu mulai ke luar dari rumahnya.
Mereka saling menyapa dengan tetangga mereka, lalu berbincang-bincang berkelompok-kelompok, membicarakan keadaan kota mereka.
Begitu pula dengan pemilik rumah penginapan itu.
Bersama-sama dengan para pembantunya orang itu mulai berani membuka pintu dan jendelanya.
Setelah itu mereka keluar untuk melihat-lihat keadaan.
"Heh? Sia-siapa...?"
Pemilik rumah penginapan itu terpekik kaget begitu matanya tiba-tiba bentrok dengan mata Put-pai-siu Hong-jin yang nakal.
"Nah, lihatlah...! Mereka telah keluar dari persembunyiannya. kau ingin bertemu dengan mereka?"
Put pai-siu Hong-jin tersenyum ke arah Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun tidak segera menjawab.
Lebih dahulu pemuda itu menatap Tiau Li Ing untuk menanyakan pendapatnya, lalu setelah gadis itu menyerahkan semua keputusan mereka kepadanya, barulah pemuda itu mengangguk kepada Put-pai-siu Hong-jin.
"Yah, kami memang bermaksud beristirahat di penginapan ini meskipun hanya sebentar sebab kami hari ini juga harus lekas-lekas pergi melanjutkan perjalanan kami ke kota Sian-yang,"
Pemuda itu menjawab pertanyaan Put-pai-siu Hong-jin.
"Kalau begitu silakan menemui orang-orang ini..."
Put-pai-siu Hong-jin menunjuk pemilik rumah penginapan dan para pembantunya, lalu perlahan-lahan dia sendiri melangkah meninggalkan tempat itu.
"Eh...Lo-Cianpwe mau pergi ke mana?"
Chin Yang Kun buru-buru bertanya. Orang sinting itu menoleh sebentar, lalu sambiI tetap melangkahkan kakinya dia menjawab.
"Akupun harus cepat-cepat pergi dari tempat ini, sebab kalau tidak...aku bisa ditangkap suhuku nanti. Dan kalau aku tertangkap, hehehe...paling tidak aku harus menghadap tembok selama tiga bulan sebagai hukumannya."
"Ditangkap suhu Lo-Cianpwe...?"
Chin Yang Kun tercengang, tapi tak berani menanyakan lagi sebab-sebabnya, takut dikatakan terlalu cerewet dan mau tahu urusan orang.
"Orang tua itu masih mempunyai guru? Lalu macam apa gurunya itu? Kenapa dia dikejar-kejar gurunya sendiri?"
Tiau Li Ing yang sedari tadi diam saja itu tiba-tiba bergumam bingung.
"Entahlah! Orang itu memang sungguh aneh dan penuh rahasia. Coba saja kau pikirkan, namanya saja Put pai-siu, yang berarti Tak Punya Malu! Lalu kepandaiannya yang sangat konyol dan aneh gerakannya namun ternyata hebat bukan main itu. Bukankah semuanya itu sangat aneh? Kemudian sikapnya yang ketakutan karena dikejar gurunya. Bukankah itu juga sangat membingungkan? Hmmm...dunia persilatan memang penuh rahasia, apapun bisa terjadi...Hei! Put-pai siu...?"
Tiba-tiba pemuda itu terhenyak, pikirannya segera melayang kepada Toat-beng-jin dari Im-yang-kauw, orang tua yang pernah menolong dan menggendongnya keluar dari dusun Hok-cung itu.
Ketika berada di Bukit Delapan Dewa orang itu bercerita tentang Aliran Bing-kauw, yang para anggotanya selalu memakai huruf "PUT"
Sebagai namanya. Kalau begitu, apakah orang sinting itu tokoh dari Aliran Bing-kauw? "Twako, apakah yang sedang kau pikirkan?"
Tiau Li Ing memegang lengan Chin Yang Kun.
"Ah, sudahlah...nanti kuceritakan. Sekarang marilah kita menemui pemilik rumah penginapan ini dahulu!"
Keduanya lalu mendekati pemilik rumah penginapan yang keluar bersama-sama para pembantunya tersebut. Dengan singkat mereka mengatakan maksud mereka untuk menyewa kamar pada hari itu.
"Masih ada kamar kosong, bukan?"
Tiau Li Ing bertanya.
Mula-mula pemilik penginapan itu masih curiga juga kepada kedua muda-mudi itu, tapi setelah Chin Yang Kun memberi keterangan siapa sebenarnya mereka pemilik penginapan itu mau juga menerima mereka.
"Baiklah, tuan...akan kami sediakan kamar tuan. Hei, A Sun...kau antarkanlah tuan-tuan ini ke kamar paling ujung itu!"
Pemilik rumah penginapan itu menjura, lalu memerintahkan pembantunya untuk melayani Chin Yang Kun berdua. Tapi Tiau Li Ing segera menjadi marah ketika mereka dibawa ke kamar yang disediakan itu.
"Lhoh, kenapa hanya satu kamar? Aku minta dua kamar, tahu...?"
Bentaknya kepada pelayan yang mengantarkannya.
"Tapi...tapi bu...bukankah nyonya tadi tidak...tidak...?"
Pelayan itu ketakutan.
"Kau panggil apa aku, he? Nyonya...? Siapa bilang aku sudah menjadi nyonya? Kurang ajar! Kugampar mulutmu!"
Tiau Li Ing semakin menjadi marah.
"Ini...ini...?!?"
Pelayan itu semakin gemetar sambil menoleh ke arah Chin Yang Kun.
"Sudahlah! Sudahlah...! Kita tadi memang salah, belum mengatakan bahwa yang kita butuhkan adalah dua kamar. Pelayan ini tidak bersalah, kau jangan marah...!"
Pemuda itu membujuk Tiau Li Ing. LaIu pemuda itu menoleh ke arah pelayan yang ketakutan itu.
"...Nah, tolong sediakan kami dua kamar!"
Perintahnya.
"Tapi...tapi kami memang hanya tinggal mempunyai satu kamar ini, tuan. Sungguh!"
Jawab pelayan itu terbata-bata.
"Hanya tinggal satu kamar ini saja? Bagaimana dengan kamar-kamar yang lain itu? Apakah kamar-kamar itu isi semua?"
Tiau Li Ing membentak lagi.
"Yaa...ya, benar! Kamar-kamar itu ada penghuninya semua. Oleh karena takut kepada kaum perusuh yang akan menyerbu kota ini, maka banyak para hartawan yang bertempat tinggal di luar kota masuk ke sini untuk tidur di penginapan. Mereka lebih aman dari pada tinggal di rumah mereka sendiri."
Chin Yang Kun memandang wajah Tiau Li Ing sambil menggeIeng-gelengkan kepalanya agar supaya gadis itu mau menghentikan kemarahannya.
"Sudahlah, nona...kau tidak perlu memarahi pelayan ini. Biarlah, satu kamarpun tak apa. kau pakailah kamar ini! Aku akan duduk-duduk di pendapa sana..."
Katanya sambil tersenyum.
"Hah? Tidak...! Aku tidak mau!" '"Lhoh? Kenapa?"
Chin Yang Kun yang sudah mau beranjak ke pendapa itu membatalkan niatnya.
"Aku tidak mau! kau saja yang tinggal di kamar ini! Aku yang pergi ke luar sana."
"Lhoh? Kenapa sih...? kau seorang gadis, jadi lebih leluasa kalau beristirahat di dalam kamar ini. Bagiku sih mudah, tidur di kursi pun jadi...Ataukah nona takut berada di kamar sendirian?"
"Siapa takut sendirian?"
Tiau Li Ing menyangkal dengan suara tinggi, tapi tidak segera mengatakan alasannya.
"Lalu kenapa...?"
Chin Yang Kun mendesak.
Gadis itu diam saja tak menjawab.
Pipinya tiba-tiba berubah merah bagai buah tomat masak.
Bagaimana ia dapat mengatakan keberatannya itu kalau alasannya hanya karena dia takut ditinggal pergi oleh pemuda yang mulai menarik hatinya tersebut?
"Pokoknya aku tidak mau!
kau saja yang tinggal di kamar ini!"
Gadis itu menjawab seraya melangkah pergi ke pendapa.
"Eeee...nanti dulu!"
Chin Yang Kun cepat-cepat menahannya.
"Wah, nona...repot benar kita ini. Masakan sejak tadi cuma bertengkar saja soal begini. Sekeluar kita dari perkemahan Kim Cian-bu tadi kita bertengkar soal siapa-siapa yang harus naik kuda kini di sini kita bertengkar lagi tentang siapa yang harus tinggal di dalam ini. Bagaimana sih sebenarnya kita ini? Baiklah, sekarang begini saja...! Perbedaan pendapat ini kita putuskan pula seperti tadi. Kita bersama-sama tinggal di dalam kamar ini! Atau...kalau nona keberatan, lebih baik kita berpisah di sini saja dari pada selamanya kita selalu berselisih pendapat. Bagaimana...?"
Sambil berkata pemuda itu menggandeng lengan Tiau Li Ing masuk ke dalam kamar, lalu menutupnya dari dalam.
Dan pelayan yang melongo melihat pertengkaran yang sangat aneh itu juga pergi meninggalkan tempat tersebut.
Beberapa kali pelayan itu menoleh, seolah-olah tak mempercayai apa yang dilihatnya tadi.
Sementara itu di dalam kamar Tiau Li Ing tidak berani menatap muka Chin Yang Kun.
Mukanya masih tampak merah sekali seperti kepiting direbus.
Dan mereka duduk berhadapan di atas kursi rotan, dipisahkan oleh meja kayu tebal yang amat kuat.
Sambil beberapa kali mempermainkan ujung taplak meja gadis itu berusaha mencuri pandang ke arah Chin Yang Kun yang juga duduk diam saja mengawasi langit-langit kamar.
Akhirnya kedua orang muda-mudi itu merasakan juga kecanggungan tersebut.
Bagai disentakkan dari dunia lamunan mereka masing-masing keduanya lalu menoleh secara berbareng sehingga sepasang mata mereka bertatapan satu sama lain, Tiau Li Ing tersipu-sipu malu, sementara Chin Yang Kun justru malah terlongong-longong bingung mengawasi wajah cantik yang kemerah-merahan seperti sekuntum bunga bwee yang sedang mekar itu.
Tiba-tiba darah Chin Yang Kun bergolak dengan hebat.
Matanya terasa berkunang-kunang sementara kepalanya terasa pening pula dengan mendadak.
Dan sesuatu yang aneh yang selama ini belum pernah ia rasakan tiba-tiba bergolak di dalam tubuhnya.
Mendadak saja ia ingin menerkam gadis itu dan menciuminya sepuas-puasnya.
Entah mengapa bibir yang merekah itu seperti menantang kejantanannya!
Pemuda itu bergegas bangkit dari kursinya.
Tangannya menyambar lengan Tiau Li Ing, kemudian...
"Twako! Eh, Twako! kau...kau kenapa? Ja-jangan menakut-nakuti aku...!"
Tiau Li Ing menjerit sekuatnya sehingga Chin Yang Kun tersentak kaget dan urung menerkam gadis itu.
"Ohhh...!"
Pemuda itu sadar kembali. Wajahnya berubah pucat dan merah berganti-ganti. Kedua belah tangannya meremas-remas rambutnya sendiri.
"Maaf...maafkan aku! Aku tak tahu apa yang telah kuperbuat..."
Katanya penuh rasa sesal dan malu.
"Twako! kau kenapa? Mengapa mukamu merah sekali? kau...? Mengapa sikapmu tiba-tiba berubah menjadi sangat menakutkan?"
Tiau Li Ing cepat memeluk pundak Chin Yang Kun dengan perasaan khawatir. Tapi pemuda itu cepat meronta sehingga Tiau Li Ing terdorong ke belakang dengan kuatnya dan hampir menabrak pintu keluar.
"Pergi...! Nona, kau pergilah dahulu dari kamar ini! Lekas!"
Pemuda itu berteriak.
"Twako...!"
Tiau Li Ing menjerit seraya berlari kembali menghampiri Chin Yang Kun. Gadis yang "belum mengenal bahaya"
Ini cepat merangkul Chin Yang Kun kembali.
Wajahnya tampak cemas bukan main!
Tapi sekali lagi Chin Yang Kun mengibaskan tangannya, dan...gadis itu kembali terhuyung-huyung ke belakang, kini tubuhnya malah menabrak pintu sehingga pintu tersebut terbuka lebar.
Seorang wanita muda dengan dandanan menyolok cepat menangkap lengan Tiau Li Ing sehingga gadis itu tidak jadi terjatuh di Iuar pintu.
Wanita itu tidak cantik, tapi karena pandai berdandan maka wajahnya tampak menarik juga.
Sayang sikapnya terlalu bebas dan binal.
Dan hal ini bisa dilihat ketika dia mulai berbicara.
Suaranya yang centil dan gerakan tubuhnya yang dibuat-buat!
"Auu...ramai benar, nih!
Ada apa sebenarnya?
iiiiiih...!"
Wanita itu menutupi mulutnya dengan saputangan. Matanya yang nakal ini tiba-tiba "menyala"
Melihat ketampanan Chin Yang Kun.
Dan selanjutnya mata itu tampak berkedip-kedip seperti orang mengantuk.
Sekejap saja wanita itu ternyata telah tahu apa yang sedang bergejolak di dalam tubuh Chin Yang Kun.
"Dia...dia...?"
Tiau Li Ing menunjuk ke arah Chin Yang Kun yang sedang menjambaki rambutnya sendiri.
"Dia kenapa? Ahh, dia tidak apa-apa! Kenapa kau takut? Apakah kalian baru saja menikah?"
Wanita itu tertawa terkekeh-kekeh malah.
Tetapi gadis yang sedang bingung dan gelisah hatinya itu seperti tak mendengar seloroh wanita pesolek tersebut.
Dan seluruh perhatian gadis itu memang sedang tertumpah pada Chin Yang Kun, sehingga dia sama sekali tidak menaruh perhatian kepada wanita yang tiba-tiba muncul di dekatnya itu, apalagi kepada orang-orang yang berdatangan ke tempat tersebut.
"Twako...!"
Gadis itu memanggil kembali dengan suara khawatir.
"Sudahlah, kau tak usah cemas! Dia tidak apa-apa, biarkanlah dia sendirian, sebentar juga dia akan kembali normal lagi, hihihihi...! Dia cuma kecewa..."
Wanita pesolek itu membujuk Tiau Li Ing sambil sebentar-sebentar tertawa geli melihat "kebodohan"
Gadis yang dikiranya pengantin baru itu.
"Ah, Twako..."
"Pergiiiii...! Semua pergilah dahulu!"
Mendadak Chin Yang Kun berteriak seperti orang gila, kemudian meloncat menutup pintu kamarnya.
"Twako...?"
Tiau Li Ing menjerit dan mau menerjang pintu tersebut, tapi dengan tangkas wanita pesolek itu menahannya.
"Hei, adik...jangan kau ganggu dia! Dalam keadaan demikian laki-laki sungguh berbahaya sekali. Sekarang marilah kau beristirahat dahulu di kamarku! Nanti setelah panas yang "membakar"
Tubuh kawanmu itu lenyap, dia akan kembali normal lagi. Dan pada saat itulah kau boleh menemuinya kembali..."
Wanita itu cepat-cepat menggandeng lengan Tiau Li Ing, lalu membawanya ke ruangan belakang, di mana kamarnya berada.
Orang-orang yang datang ke tempat itu ingin melihat ramai-ramai tersebut segera menyingkir begitu mereka Iewat.
Para pelayan yang mendapat laporan tentang keributan itu juga datang dengan tergopoh-gopoh.
Tapi sambil berjalan wanita pesolek itu memberi keterangan kepada mereka bahwa semuanya sudah beres, sehingga merekapun lalu kembali lagi ke tempat masing-masing.
"Adik, agaknya cara kau melayani dia tadi kurang memuaskan sehingga dia tidak puas dan marah-marah kepadamu. Tapi tak apa, jangan takut! Lama-lama kau nanti juga akan bisa melayaninya pula, hihihihi..."
Sambil melangkah wanita itu mencoba mencari tahu tentang keributan tersebut dari mulut Tiau Li Ing.
Tapi karena masih dicekam oleh kegelisahan dan kerisauan hatinya Tiau Li Ing tetap belum bisa "menangkap"
Maksud dari kata-kata wanita yang agak jorok itu.
Malahan gadis itu seolah-olah baru sadar dari mimpi buruknya ketika memasuki kamar wanita tersebut.
Kamar itu diatur dengan rapi dan luar biasa bagusnya.
Hiasan gambar-gambar dan sulaman-sulaman benang sutera tampak dipasang di mana-mana, sementara pot-pot bunga dengan segala macam isinya juga tampak menyegarkan seluruh isi ruangan tersebut.
Dan bau yang harum dari bunga bunga inilah yang menyadarkan Tiau Li Ing.
"Ah, di mana aku...? Dan kau...kau siapakah?"
Gadis itu bertanya bingung. Matanya yang lebar dan bagus itu terbelalak mengawasi ruangan itu. Wanita itu tersenyum genit.
"Adik, kau duduklah dulu...! Nanti kubuatkan teh biar hatimu sedikit tenang kembali."
Katanya seraya mendudukkan Tiau Li Ing di kursi rotan yang sangat bagus.
Lalu sebelum gadis itu membantah lebih lanjut, wanita pesolek tersebut telah menghilang ke pintu samping.
Dan beberapa saat kemudian terdengar suara cangkir yang sedang dituangi air.
Hati Tiau Li Ing semakin gelisah.
Untunglah wanita pemilik kamar itu lekas kembali.
Kalau tidak, gadis itu mungkin telah lari kembali ke kamarnya sendiri.
"Nah, kau minumlah dulu agar hatimu sedikit tenang! Setelah itu baru kita pergi menengok kembali suamimu..."
"Suami...? Dia...dia bukan suamiku! Eh, maksudku...maksudku kami belum menjadi suami-isteri..."
Dengan kaget Tiau Li Ing memotong perkataan wanita itu.
"Aihh...jadi baru calon pengantin, ya...? Wah...wah, kalau begitu gawat juga kekasihmu itu!"
Wanita genit itu seolah seperti anak kecil yang mendapatkan barang mainan baru.
Matanya yang binal itu tampak bergetar liar.
Tiau Li Ing menunduk saja tak menjawab.
Entah mengapa gadis berwatak keras dan ganas itu kini seperti telah kehilangan kegarangannya.
Tampaknya pengaruh panah asmara itu benar-benar telah menggoyahkan jiwanya dan melupakan kepribadiannya, sehingga gadis itu untuk sementara seperti gadis kebanyakan yang lemah tak berdaya.
"Ayolah! Mengapa tidak kau minum cangkir itu? Marilah...! Nanti kita segera kembali ke kamarmu."
Wanita itu tersenyum dan mempersilakan tamunya minum.
Bagaikan seorang yang sedang bingung dan kehilangan akal Tiau Li Ing mengangguk, meskipun demikian ia tak segera mengangkat cangkirnya.
Biarpun sedang bingung gadis itu masih juga tidak lupa untuk berhati-hati.
Baru setelah wanita genit itu mendahuluinya minum, Tiau Li Ing berani meminum tehnya pula.
Rasa segar dan bau harum teh itu membuat gadis itu mulai mendapatkan kembali ketenangannya.
Tapi perasaan segar itu tiba-tiba lenyap dan diganti dengan perasaan mengantuk yang luar biasa kuatnya.
Bukan main terkejutnya Tiau Li Ing!
Dengan cekatan gadis itu bangkit dari kursinya, tapi tubuhnya segera terhuyung-huyung mau jatuh.
Kepalanya terasa berat sekali, sehingga kedua tangannya terpaksa bertelekan pada meja di depannya.
"Kau...kau?!"
Jeritnya sebelum tubuhnya jatuh berdebam di lantai. Wanita genit itu tertawa melihatnya.
"Hihihi...bagaimanapun hebat kepandaianmu kau takkan menang melawan tipu muslihatku, hihi-hi...! Nah, sekarang kau tidurlah barang sebentar, gadis bodoh! Akan kulihat dulu kekasihmu yang tampan itu, apakah dia memang seekor kuda jantan yang sangat hebat? Hihihi...!"
Wanita itu segera keluar dan menutup kamarnya.
Dengan gairah nafsu yang berkobar-kobar wanita itu bergegas pergi ke kamar Chin Yang Kun.
Belum-belum sudah terbayang dalam angan-angannya suara kegembiraan yang tidak terkira memperoleh kuda jantan yang masih muda belia seperti itu.
Sementara itu sepeninggal Tiau Li Ing tadi Chin Yang Kun cepat merebahkan dirinya di atas pembaringan.
Dengan sekuat tenaga pemuda itu melawan keinginan aneh yang mendadak timbul di dalam tubuhnya.
Keringat mengalir deras dari seluruh badannya, sehingga baju dan celananya basah kuyup bagai direndam di dalam air.
"Gila! Kenapa aku in...ini?"
Pemuda itu berdesah dengan gelisah di atas pembaringannya.
Badannya berguling kesana kemari, sehingga alas tempat tidurnya tersebut menjadi berantakan.
Pemuda itu lalu mencoba mengerahkan tenaga sakti Liongcu-i-kangnya untuk menekan pengaruh aneh itu, tapi tak berhasil.
Semakin ditentang nafsu iblis itu justru semakin berkobar tak terkendalikan!
"Keadaan ini be-belum pernah kuderita se...sebelumnya.
Mengapa tiba-tiba pengaruh aneh me-menyerangku?"Chin Yang Kun menjerit di dalam hatinya.
"Mula-mula nafsu Iblis ini menyerang untuk yang pertama kalinya ketika aku naik kuda bersama-sama dengan nona Tiau itu. Tapi serangan itu cepat berhenti dan tak sehebat sekarang ini. ohhhh...! Ough...apa...apakah aku kini sedang keracunan? Tapi kalau keracunan...lalu keracunan apa ini? Mengapa aku masih bisa keracunan juga?"
Lama-kelamaan pengaruh nafsu iblis itu mereda juga, sehingga akhirnya pemuda itu dapat bernapas lega kembali.
Tapi meskipun demikian pengaruh itu juga belum lenyap sama sekali.
Badan rasanya masih terasa panas bukan main.
"Tok! Tok! Tok!"
Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk dari luar.
Chin Yang Kun terkejut.
Wajahnya berubah pucat.
Jangan-jangan Tiau Li Ing kembali lagi, pemuda itu berpikir di dalam hati.
Sungguh gawat!
Selama nafsu iblis itu belum hilang sepenuhnya dari badannya, kedatangan gadis itu sungguh berbahaya sekali.
"Sia...pa?"
Pemuda itu menyapa dengan suara seret.
"Aku pemilik rumah penginapan ini...Bolehkah aku masuk?"
Terdengar suara genit di luar pintu.
Dan sebelum pemuda itu sempat menjawab, pintu kamarnya telah dibuka dari luar dan bau wangi segera menyebar ke dalam ruangan itu.
Seorang wanita muda dengan pakaian sangat sembrono memasuki kamarnya.
Chin Yang Kun terperangah!
Nafsu iblisnya tiba-tiba bangkit kembali!
Entah disengaja atau tidak kancing baju sebelah atas dari wanita itu tidak tertutup sebagaimana mestinya.
Lebih gila lagi di bawah baju tersebut sama sekali tidak ada Iapisan penutupnya lagi, sehingga ketika wanita itu membungkuk untuk memberi hormat kepada Chin Yang Kun, buah dadanya yang montok itu seolah-olah mau meloncat keluar dari kandangnya!
Tidak hanya itu!
Kain celana yang dikenakan oleh wanita itu sedemikian tipisnya sehingga bayangan lekuk-liku tubuhnya menerawang dengan jelas ketika berdiri di depan pintu.
Itupun masih ditambahi pula dengan lagak dan gayanya yang merangsang serta mengundang berahi.
Maka tak heran kalau nafsu iblis yang sudah hampir bisa dijinakkan oleh Chin Yang Kun itu tiba-tiba kambuh kembali!
Dan karena yang jadi penyebabnya juga lebih merangsang dari pada tadi, maka akibat yang ditimbulkannya sekarang juga Iebih hebat dan bergelora pula!
Mata pemuda itu tampak melotot merah mengerikan!
Semua urat-urat di dalam tubuhnya kelihatan menegang pula!
Dan sekejap kemudian, bagaikan singa yang lepas dari kurungannya Chin Yang Kun menerkam wanita genit itu dengan buasnya.
Dan kali ini mangsanya tidak mengelak atau menjerit seperti Tiau Li Ing tadi.
Korbannya kali ini justru menyongsongnya dengan semangat yang meluap-luap pula.
Maka di pagi hari yang mulai cerah itu terjadilah suatu pergumulan penuh nafsu antara seorang pemuda yang entah karena apa telah menderita kelainan pada tubuhnya, dengan seorang wanita binal isteri pemilik rumah penginapan!
Dan gilanya, perbuatan itu mereka lakukan begitu saja di atas lantai kamar yang terbuka pintunya!
Semula wanita binal itu memang tak menyangka bahwa lawannya akan sebuas itu terhadapnya, tapi serentak ia merasakan pula kenikmatan yang selama ini belum pernah ia dapatkan dari lelaki lain, maka iapun lalu menjadi lupa segala-galanya!
Untunglah tak seorangpun diantara para pelayan dan penghuni kamar-kamar itu yang berani melongok ke kamar tersebut.
Dan untung juga kamar itu berada di ujung lorong yang tak mungkin dilewati oleh penghuni-penghuni kamar lainnya, sehingga perbuatan terkutuk itu dapat mereka lakukan dengan aman pula.
Hanya suara rintihan wanita binal itu saja yang terdengar oleh penghuni kamar sebelahnya.
Suara rintihan yang menyerupai suara kucing betina yang sedang mabuk berahi.
Tapi penghuni kamar sebelah itu tiba-tiba menjadi pucat ketika suara rintihan tersebut tiba-tiba berubah menjadi jerit kesakitan yang mendirikan bulu roma.
Dan jerit kesakitan itu semakin lama semakin keras dan mengerikan.
Malahan sebentar kemudian terdengar suara gedubrakan di dalam kamar tersebut, seolah-olah ada perkelahian seru di sana.
Penghuni kamar sebelah itu menjadi ketakutan.
Meskipun demikian ia tetap tak berani keluar dari kamarnya.
Ketakutannya terhadap kaum perusuh itu membuatnya selalu curiga kepada siapa pun.
Tapi seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekat kamar itu mendengar pula jeritan tersebut.
Dan suara jeritan yang diikuti oleh suara gedubrakan itu sungguh menakutkan hatinya, sehingga ia segera berlari menemui majikannya.
Lalu bersama-sama dengan si pemilik penginapan dan beberapa orang pelayan yang lain ia mendatangi kamar di ujung lorong tersebut.
Dan apa yang mereka lihat di dalam kamar itu benar-benar menggoncangkan jiwa mereka!
"Ohhhh...!"
Pemilik rumah penginapan itu ternganga.
Di dalam kamar yang telah berantakan isinya itu tampak mayat seorang wanita dengan keadaan yang sangat menyedihkan!
Dan mayat itu ternyata adalah mayat si wanita genit atau isteri si pemilik rumah penginapan itu sendiri.
Dan suami yang malang itu bergegas melompat ke dalam kamar menghampiri mayat isterinya.
Isteri yang baru dikawinnya dua bulan yang lalu, yaitu seorang wanita bekas kupu-kupu malam yang sangat terkenal di kota tersebut.
Pemilik rumah penginapan itu meneteskan air mata melihat keadaan mayat isterinya.
Tubuh yang biasanya sangat menggairahkan itu kini tampak kaku dan penuh bekas-bekas cakaran pada bagian bawah perutnya, sementara wajah dan bibirnya yang biasanya amat menarik itu kini tampak pucat kebiru-biruan.
Dan kelihatannya kematian isterinya itu didahului oleh penderitaan atau kesakitan yang amat hebat.
Hal itu dapat dilihat dari pakaiannya yang sobek dan compang-camping, serta bekas-bekas cakaran kukunya sendiri pada bagian bawah perutnya.
Isterinya itu seperti menderita keracunan hebat sebelum kematiannya!
"Dia...dia mati karena racun!"
Pemilik penginapan itu menggeram penasaran. Lalu bentaknya kepada para pembantunya.
"Cari di mana tamu yang menyewa kamar ini tadi! Tentu dia yang membunuhnya...!"
Para pelayan itu lalu mencari Chin Yang Kun, orang yang baru saja masuk ke kamar itu.
Mereka mengobrak-abrik seluruh isi kamar yang sudah porak-poranda itu, tapi mereka tidak menemukannya.
Mereka lalu mencarinya di seluruh penginapan itu, tapi pemuda itu tetap tidak mereka ketemukan juga.
Pemuda itu telah menghilang entah kemana.
"Masakan kalian tak bisa menemukannya? Bukankah dia baru saja di sini? Dia tentu masih berada di sekitar tempat ini!"
Pemilik rumah penginapan itu marah-marah.
"Tapi...dia memang benar-benar tidak ada lagi, tuan..."
Pelayan-pelayan itu menjawab ketakutan.
"Kurang ajar...!"
"Tapi...teman puterinya ma-masih di sini tuan?!"
Tiba-tiba pelayan yang melihat Tiau Li Ing tadi melapor.
"Hah? Di mana dia...?"
"Di kamar nyonya..."
Pelayan itu menjawab agak takut-takut.
"Hah? Benarkah? Mari kita lihat...!"
Pemilik rumah penginapan itu bersemangat kembali.
"...Tapi marilah mayat itu kita taruh di atas pembaringan dulu!"
Demikianlah, setelah mayat isterinya ditidurkan di atas tempat tidur dan kemudian menutupinya dengan kain, pemilik penginapan tersebut lalu bergegas pergi ke kamar isterinya.
Pintu kamar itu ditendangnya dengan kasar sehingga menimbulkan suara hiruk-pikuk ketika terbuka.
Kebetulan Tiau Li Ing juga sedang siuman dari pengaruh obat yang diberikan oleh wanita genit itu.
Gadis itu terkejut bukan main mendengar suara gaduh tersebut.
Otomatis tubuhnya melompat tinggi dan bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan.
Kecurangan yang ia dapatkan dari wanita yang berpura-pura berbaik hati kepadanya itu membuatnya marah dan membangunkan kembali sifat kejam dan ganasnya!
Sementara itu Si pemilik rumah penginapan yang baru saja kehilangan isteri mudanya itu ternyata tidak melihat sama sekali "bahaya"
Yang memancar dari mata Tiau Li Ing. Dengan suara serak orang itu memberi perintah kepada para pembantunya untuk meringkus Tiau Li Ing! "Tangkap gadis itu...!"
Teriaknya lantang.
Pelayan-pelayan itu cepat menyerbu ke dalam kamar.
Mereka berebut dahulu mendekati Tiau Li Ing seperti sekawanan serigala buas yang hendak memperebutkan mangsa.
Celakanya korban mereka kali ini ternyata jauh lebih kuat dari pada yang mereka sangka.
Bukan saja korban itu sangat garang, tapi korban itu justru berani menyonsong serangan mereka pula.
"Aduhh!"
"Hegh! Ohh!"
"Mati aku...!"
Para pelayan itu berjatuhan ke lantai seperti buah kelapa yang jatuh ke atas pasir. Mereka tampak berkelojotan sebentar lalu mati. Darah mengalir dari seluruh lobang-lobang tubuhnya.
"Hah? kau...?!?"
Pemilik rumah penginapan itu terbelalak tak bisa mengeluarkan suara.
Tubuhnya gemetaran saking takutnya!
Dia sungguh-sungguh tak menyangka kalau gadis itu pandai silat, sehingga para pembantunya yang hanya mengandalkan otot itu tersapu habis dalam sekejap mata.
Perlahan-lahan kakinya melangkah mundur, kemudian setelah dekat dengan pintu ia meloncat melarikan diri.
Tiau Li Tng yang telah kembali pada sifat aslinya itu tak membiarkannya.
Gadis ganas itu mengayunkan tangannya dan sebuah kipas kecil yang terbuat dari besi baja tampak meluncur dengan cepatnya ke arah batok kepala lawan.
"Prak!"
Kepala itu pecah berantakan, sehingga darah berhamburan memercik ke mana-mana!
Gadis itu lalu membalikkan tubuh yang jatuh berdebam di atas lantai itu, mengambil kembali kipasnya, lalu keluar dari kamar tersebut.
Kakinya segera berlari-lari kecil menuju ke kamarnya sendiri.
Wajahnya yang pucat itu tampak gelisah karena memikirkan keadaan Chin Yang Kun.
Bukan main kagetnya gadis itu ketika dilihatnya pintu kamar itu masih tetap terbuka lebar seperti ketika ia tinggalkan tadi.
Dan hatinya semakin bertambah kecut ketika dilongoknya kamar itu dalam keadaan kalang-kabut seluruh isinya.
Dengan tergesa-gesa Tiau Li Ing masuk ke dalam kamar dan serasa terbang semangatnya melihat sesosok mayat tertutup kain di atas pembaringan!
"Toat-beng-jiiiiiiiin...!"
Jeritnya.
Tergopoh-gopoh gadis itu menghambur ke arah pembaringan.
Kain penutup mayat itu disentakkannya begitu saja sehingga isinya ikut tertarik pula ke pinggir dan hampir saja jatuh ke lantai.
Kepala mayat itu tergantung dengan muka tengadah di bibir pembaringan.
"Ouhhh...eh...!?!"
Tiau Li Ing terpekik melihat wajah wanita genit itu.
Gadis itu menghela napas berulang-ulang.
Dia memang kaget, tapi kekagetannya itu segera berganti dengan kelegaan, karena mayat tersebut ternyata bukan mayat kawannya.
Tapi dengan demikian hatinya lantas menjadi bingung, apa sebenarnya yang terjadi di rumah penginapan ini?
Mengapa tiba-tiba kawannya bersikap sangat aneh begitu memasuki kamar ini?
Dan siapa sebenarnya wanita genit itu?
Mengapa mendadak ia mati di tempat ini pula?
Dan ke mana pula temannya itu sekarang?
Sesungguhnyalah, ke mana sebenarnya Chin Yang Kun itu?
Setelah melakukan perbuatan terkutuk dengan wanita yang belum pernah dikenalnya yang akhirnya ternyata mengakibatkan kematian wanita itu, Chin Yang Kun lantas lari meninggaIkan tempat itu seperti orang dikejar dosa.
Beberapa kali pemuda itu hampir menabrak para pejalan kaki yang mulai berani keluar dari rumah masing-masing.
Tentu saja tingkah lakunya itu sangat menarik perhatian orang-orang yang berada di jalan tersebut.
Tapi Chin Yang Kun tidak mempedulikan semua itu.
Rasa berdosa, malu dan menyesal karena peristiwa yang baru saja dilakukannya itu membuat dia seperti selalu dikejar-kejar oleh perasaan bersalah.
Maka ia segera berlari.
Berlari sejauh-jauhnya dari tempat terkutuk itu!
Hanya yang sangat mengherankan adalah Si Cahaya Biru!
Kuda itu seperti mempunyai pikiran dan perasaan saja.
Melihat majikannya berlari keluar dari rumah penginapan ia segera membetot pula dari tali ikatannya, lalu berlari juga mengikuti tuannya.
Demikianlah, Chin Yang Kun berlari terus bagai dikejar setan.
Mula-mula pemuda itu berlari menyusuri jalan besar di kota itu, sehingga akhirnya ia keluar dari kota dan berlari melewati ladang dan sawah penduduk.
Dan beberapa waktu kemudian ladang dan sawah itu telah berganti dengan padang alang-alang dan hutan pula.
Chin Yang Kun tetap berlari terus dan makin lama makin jauh, sementara Si Cahaya Biru juga selalu berderap beberapa langkah di belakangnya.
Keduanya berlari cepat seperti berkejaran di jalan yang semakin lama semakin sukar dan jelek di daerah perbukitan dan lembah yang berhutan lebat.
Akhirnya langkah pemuda itu makin lama makin lambat juga, dan ketika mendaki sebuah perbukitan lagi pemuda itu sudah tidak berusaha untuk berlari seperti semula.
Sambil menyeka aliran keringat yang membasahi muka dan lehernya pemuda itu berjalan dengan langkah biasa.
Demikian juga yang dilakukan oleh Si Cahaya Biru.
Kuda itu segera menghentikan pula larinya, kemudian dengan langkah yang tegap berjalan di samping tuannya.
Chin Yang Kun tetap berjalan terus, sama sekali tak mengacuhkan kehadiran kudanya itu.
Hatinya masih tetap resah dan gelisah meskipun telah jauh meninggalkan tempat terkutuk itu.
Kekacauan dan kerisauan hatinya akibat peristiwa yang tidak dimengertinya itu tetap belum mereda juga sampai sekarang.
Diam-diam peristiwa yang sangat memalukan itu terbayang kembali di depan matanya.
Mula-mula perasaan aneh yang timbul di dalam hatinya ketika naik kuda berhimpitan dengan Tiau Li Ing.
Saat itu ia sendiri menjadi heran, mengapa tiba-tiba seperti ada suatu aliran aneh di dalam darahnya yang menyebabkan nafsu berahinya memuncak dan bergelora!
Lalu yang kedua adalah ketika ia dan Tiau Li Ing duduk berduaan saja di dalam kamar di rumah penginapan itu.
Melihat kecantikan Tiau Li Ing yang mempesonakan itu darahnya serasa bergolak kembali.
Getaran-getaran iblis itu rasanya seperti mengalir kembali di dalam darahnya.
Dan kali ini serangannya terasa lebih kuat sehingga ia bagaikan mau menjadi gila karenanya.
Untunglah Tiau Li Ing segera dibawa pergi oleh wanita genit itu!
Tapi pada serangan yang ketiga ternyata dia tak bisa mengelakkannya lagi.
Ketika ia belum sepenuhnya bisa menguasai serangan yang kedua, mendadak wanita genit itu datang lagi ke kamarnya.
Akibatnya nafsu iblis itu menjadi bergolak kembali dan ternyata kali ini ia tak bisa mengekangnya lagi.
Dan selanjutnya terjadilah peristiwa terkutuk yang sangat memalukan itu!
Celakanya, setelah semuanya selesai dan ia baru menyesali perbuatannya itu, tiba-tiba wanita genit yang menjadi lawannya bermain cinta itu menjerit-jerit dan menggaruk-garuk bagian bawah perutnya.
Tampaknya wanita itu merasa kesakitan dan gatal yang amat sangat di tempat tersebut.
Dan tampaknya rasa sakit dan gatal itu semakin lama semakin menghebat serta tak tertahankan lagi, sehingga akhirnya wanita itu seperti orang gila yang menggaruk-garuk kulitnya sendiri secara ganas.
Sambil menggaruk wanita itu bergulung-gulung menabrak ke sana ke mari sampai seluruh isi kamar itu menjadi kalang-kabut berantakan!
Kemudian setelah menderita siksaan beberapa saat lamanya wanita tersebut mati!
Tentu saja kematian wanita itu sangat mengejutkan!
Tiba-tiba terlintas dalam benaknya keterangan Chu Seng Kun tentang dirinya setahun yang lalu.
Pada waktu itu Chu Seng Kun mengatakan kepadanya bahwa di dalam darahnya kini tersimpan kadar racun yang tak mungkin bisa dihilangkan lagi.
Racun itu telah menyatu dengan sel-sel darahnya sendiri, sehingga kadar racun tersebut semakin berkembang seperti halnya darah yang mengalir di dalam tubuhnya itu.
Dan hal ini mengakibatkan dirinya menjadi seorang manusia beracun yang sangat berbahaya!
Darah beracun yang mengalir di setiap pembuluh darahnya itu membuat semua kelenjar di dalam tubuhnya menjadi beracun pula.
"Kalau...kalau begitu wanita itu tampaknya juga keracunan pula oleh darahku...Ahhh...!"
Chin Yang Kun mengeluh panjang pendek sambil kakinya tetap melangkah di atas jalan yang jelek itu.
Tiba-tiba saja Chin Yang Kun menjadi sedih dan hampa luar biasa.
Kalau dugaannya itu betul, hal itu berarti bahwa dirinya tak mungkin dapat hidup bersama dengan orang lain.
Dia harus hidup menyendiri di tempat yang sunyi, jauh dari kehidupan manusia dan binatang, karena semua yang ada pada tubuhnya bisa membahayakan kehidupan orang lain.
Darahnya, keringatnya, ludahnya, air kencingnya dan semua saja yang keluar dari tubuhnya dapat menjadi alat pembunuh untuk orang lain.
"...Dan hal itu juga berarti bahwa selama hidup aku tak boleh kawin pula, sebab siapa saja yang kawin denganku akan mengalami juga nasib seperti wanita genit itu."
Kenyataan tersebut sungguh-sungguh merupakan pukulan batin yang amat berat bagi Chin Yang Kun.
Seketika itu juga wajah Souw Lian Cu kembali terbayang di dalam angan-angannya.
Wajah yang cantik itu seolah-olah sedang melambai-lambaikan tangannya yang cuma satu itu sambil pergi meninggalkan dirinya.
"Ooooooh...!"
Bibir Chin Yang Kun berdesah tak terasa. Hatinya bagai teriris sembilu. Pemuda itu berhenti melangkah, kemudian dipandangnya matahari yang sudah hampir berada di atas kepalanya itu.
"Aaaah, ternyata sudah hampir setengah hari aku berlari. Sampai di mana aku sekarang? Semoga aku tidak semakin menjauhi kota Sin-yang saja."
Desahnya sambil menoleh ke arah kudanya yang ikut berhenti dan mencari rumput di dekatnya. Ditepuk-tepuknya leher kuda itu, lalu perlahan-lahan pemuda itu naik ke atas punggungnya.
"Maafkan aku, Cahaya Biru. Tadi aku sampai lupa mengajakmu...Sekarang marilah kita meneruskan perjalanankita lagi. Kita cari dusun yang terdekat untuk mencari tahu di mana kita sekarang ini sebenarnya."
Kuda itu meringkik kecil seolah tahu apa yang dikatakan tuannya, kemudian melompat ke depan dengan garangnya.
Jalan yang jelek dan mendaki terus itu seperti tak dirasakannya.
Dengan gagah ia mencongklang bagai tidak membawa muatan berat saja.
Sampai di pinggang bukit jalan yang terus menanjak itu lalu habis, diganti dengan jalan yang melingkar-lingkar turun seperti mau turun ke Iembah yang dalam.
Dan jalan itu memang menuju lembah, di mana dari atas telah terlihat sebuah kota yang cukup lumayan besarnya.
Biarpun tidak sebesar Ko-tien maupun Poh-yang, tapi kota yang tampak dari atas bukit itu cukup Iebar dan padat penduduknya.
Hal itu dapat dilihat dari bangunan rumahnya, yang rapat dan berjajar di sepanjang lembah.
"Lihatlah kota di bawah itu, Cahaya Biru! Tampaknya kali ini kita masih beruntung juga, tidak tersesat atau salah jalan. Marilah kita ke sana untuk menanyakan kepada penduduknya, apa nama kotanya itu...!"
Chin Yang Kun berusaha menghibur hatinya sendiri dengan bayangan kegembiraan di kota yang tampak dari atas bukit tersebut.
Sambil meringkik kuda itu mengangkat kedua kaki depannya ke atas, lalu berlari menuruni bukit dengan tegarnya.
Tampaknya kuda itu juga sangat bergembira melihat kota itu.
Kakinya yang panjang-panjang itu melangkah dengan cepat, seolah-olah ingin lekas-lekas sampai di sana dan beristirahat sepuas-puasnya.
Dan tidak lama kemudian mereka telah tiba di pintu gerbang kota itu.
Berbeda sekali dengan penduduk Ko-tien yang selalu merasa ketakutan kepada kaum perusuh, penduduk kota ini tampaknya sangat tenang sekali.
Sama sekali tak tampak pada wajah dan sikap mereka yang mencerminkan rasa takut mereka kepada kaum perusuh yang berkeliaran di daerah mereka.
Tapi rasa heran Chin Yang Kun itu segera hilang begitu melihat sepasukan pemerintah yang terdiri dari belasan orang perajurit keluar dari pintu gerbang tersebut untuk melakukan tugas perondaan.
Dan ketika pemuda itu telah memasuki kota, dia juga banyak melihat beberapa orang anggota pasukan kerajaan berlalu-lalang hilir-mudik diantara penduduk.
"Ah, tampaknya kota ini lebih beruntung mendapatkan perlindungan dari pada Ko-tien, Cahaya Biru."
Chin Yang Kun menepuk-nepuk leher kudanya seraya mengedarkan pandangnya ke sekeliling mereka.
"Nah, di sana ada sebuah rumah makan besar, Cahaya Biru! Marilah kita ke sana! kau boleh beristirahat sambil makan sepuas-puasmu..."
Chin Yang Kun membawa kudanya ke rumah makan yang dilihatnya itu.
Seorang anak kecil berusia sekitar sepuluh tahunan datang menyongsongnya.
Tampaknya anak itu biasa mencari upah dengan membantu para tamu yang akan masuk ke dalam restoran tersebut.
"Marilah, tuan...! Cobalah menCicipi masakan restoran yang paling terkenal di daerah ini! Kalau tuan juga merasa lelah, di sinipun disediakan pula kamar-kamar yang paling nyaman di seluruh dunia..."
Katanya dengan gerak yang lucu. Chin Yang Kun menjadi tersenyum juga mendengar kata kata anak itu.
"Adik kecil, apakah tempat ini juga menyediakan tempat penitipan kuda yang paling baik seluruh dunia?"
Tanyanya kepada anak itu. Anak itu tersenyum kemalu-maluan. Tapi melihat tamunya sekedar berkelakar saja kepadanya, iapun lalu mengangguk pula dengan berani.
"Terbaik sih tidak! Tapi kalau tuan bandingkan dengan yang lain-lain, tempat ini kukira masih yang paling baik juga..."
Katanya sambil mengacungkan jempolnya.
"Baik, aku akan mencobanya! Nah, tolong urus kudaku ini baik-baik! Nih, uangnya...! Sisanya boleh kau ambil,"
Chin Yang Kun merogoh kantung pemberian Liu-Twakonya dan mengeluarkan sekeping uang perak.
"Eh...ini...ini terlalu banyak."
Anak itu terbelalak menerimanya.
"Sudahlah, kau ambil saja! Bukankah sudah sewajarnya, kalau tempat yang baik itu sewanya juga mahal?"
Chin Yang Kun tersenyum lagi.
"Baik! Baik! Terima kasih...! Tuan benar-benar akan mendapatkan pelayanan yang istimewa hari ini."
Anak itu mengangguk-angguk sambil mengambil tali kendali Si Cahaya Biru.
"Eh, tunggu...!"
Chin Yang Kun berseru perlahan ketika anak itu mau menuntun kudanya ke belakang.
"Apakah nama kota ini?"
Tanyanya.
"Lho, masakan tuan belum tahu? Ini adalah...kota Yu-tai! Apakah tuan belum pernah ke kota ini? Dari mana tuan ini sebenarnya?"
Anak kecil itu menjawab dengan wajah heran. Chin Yang Kun bertepuk tangan.
"Bagus! Ternyata aku tidak salah jalan! Sungguh beruntung sekali aku bisa sampai di kota Yu-tai. Nah, kau pergilah! Urus baik-baik kuda itu, karena aku akan memakainya setelah makan siang nanti...!"
"Jadi tuan hanya akan beristirahat sebentar saja di Yu-tai?"
"Ya!"
Chin Yang Kun mengangguk seraya melangkah memasuki restoran.
"Aku akan meneruskan perjalanan ke Sin-yang. Di sana aku akan menginap..."
"Ohh!"
Anak kecil itu tampak kecewa. Dipandanginya punggung tamunya yang royal dan dermawan itu dari belakang.
"Sayang..."
Gumamnya.
Rumah makan itu ternyata penuh dengan orang-orang yang ingin makan siang, sehingga ruangan ini menjadi riuh luar biasa.
Chin Yang Kun segera diantar ke meja yang paling bagus setelah memberi uang hadiah kepada pelayan yang menyongsongnya.
"Silahkan, tuan muda...! Silakan! Tuan muda mau memesan apa?"
Pelayan itu bertanya sambil membersihkan meja yang telah bersih itu.
"Masakan apa yang paling mahal dan paling terkenal di rumah makan ini?"
Chin Yang Kun baIik bertanya. Pelayan itu mengerutkan keningnya sebentar lalu tertawa.
"Wah, semua masakan dari restoran kami mahal-mahal dan amat terkenal, terutama masakan telur burung daranya. Banyak orang dari luar daerah yang datang kemari hanya khusus untuk menikmati masakan telur burung dara kami""
"Baik! Aku memesan masakan itu...dan ehh...apakah restoran juga menyediakan arak merah dari Kang-lam?"
"Wah, tentu saja kami menyediakannya pula. Jangankan hanya arak merah dari Kang-Iam, semua arak-arak pilihan yang sukar didapatkan orangpun kami menyediakannya juga. Tuan muda ingin Arak Tetesan Madu dari Hong-ciu? Ataukah tuan menginginkan arak Harimau Kelabu dari Tibet? Dan masih banyak lagi yang lain kalau tuan muda ingin menCicipinya, seperti Arak Air Mata Perawan, Arak Embun Salju, Arak Pengantin dari Tiang-An dan lain sebagainya..."
Pelayan itu menyebutkan nama-nama arak pilihan dengan bersemangat.
Chin Yang Kun melongo, matanya hampir tak berkedip mengawasi bibir si pelayan yang berkicau tentang segala macam nama arak yang aneh-aneh itu.
Tak satupun dari sederetan nama itu yang pernah dikenal ataupun didengarnya.
"Tuan muda ingin yang mana...?"
Pelayan itu bertanya. Chin Yang Kun cuma meringis.
"Wah, bisa gila kalau aku meminum minuman yang aneh-aneh itu. Beri saja aku Arak Merah dari Kang-lam...!"
Akhirnya pemuda itu berkata.
"Ohh, baik...baik!"
Pelayan itu mengangguk-angguk seperti ayam makan padi.
Begitu pelayan itu pergi Chin Yang Kun segera mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
Diperhatikannya semua orang yang kini sedang makan-minum di dalam ruangan itu.
Dilihatnya seorang hartawan kaya sedang menjamu tamu-tamunya di meja tengah.
Rata-rata tamunya juga dari kalangan orang berada.
Mereka makan minum, bergurau dan tertawa seakan-akan tidak menghiraukan sama sekali kekacauan yang diletuskan oleh para perusuh di daerah mereka.
Agaknya mereka benar-benar telah merasa aman dengan adanya pasukan kerajaan di kota mereka.
Dan Chin Yang Kun memang melihat belasan orang perajurit yang sedang makan-minum pula di restoran itu.
Mereka ada yang duduk di meja depan, di meja dekat jendela dan malahan ada pula yang duduk di dekatnya.
Mereka dilayani secara khusus dan istimewa oleh para pelayan karena mereka dianggap sebagai dewi pelindung kota mereka.
Selain hartawan dan tamu-tamunya, serta para perajurit itu, Chin Yang Kun masih melihat banyak orang lagi yang makan minum di ruangan itu.
Diantara mereka adalah para pedagang dan pelancong yang kebetulan sedang singgah di kota itu.
Mata Chin Yang Kun tiba-tiba terbelalak mengawasi dua orang Ielaki yang keluar dari ruang dalam.
Kedua orang itu berpakaian ringkas dan membawa senjata di tangannya.
Salah seorang diantaranya segera dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai penjaga yang kemarin ikut memergoki dirinya di atas bukit yang digunakan oleh para perusuh itu.
Chin Yang Kun cepat-cepat menutupi wajahnya supaya tidak terlihat oleh mereka.
Tapi dua orang anggota kaum perusuh itu malah berjalan ke arahnya kemudian duduk di meja kosong yang ada di belakangnya.
Begitu duduk kedua orang itu Ialu memanggil pelayan dan memesan makanan.
Chin Yang Kun tidak bisa menebak, apakah kedua orang itu sudah melihat dia atau belum tapi yang terang dengan kehadiran orang itu di dekatnya ia harus hati-hati.
"Apakah yang harus kita kerjakan sekarang, Twako?"
Salah seorang dari kedua orang perusuh itu berbisik.
"Ssst, jangan terlalu keras! Lihat, di sini banyak sekali telinga!"
Perusuh yang lain, yang dikenal oleh Yang Kun sebagai penjaga itu berbisik pula memperingatkan temannya. Sambil berbisik orang itu menggerakkan ibu jarinya ke arah perajurit-perajurit itu.
"Ah, mereka takkan peduli kepada kita...Bagaimana, Twako? kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Apakah yang harus kita lakukan sekarang? Memberitahukan musibah ini ke daerah-daerah dahulu, atau kita langsung mencari Wan Lo-Cianpwe untuk melaporkan kematian Song-bun-kwi itu?"
Temannya tidak segera menjawab.
Beberapa saat lamanya orang ini berpikir, apa yang sebaiknya mereka lakukan berkenaan dengan musibah atau bencana yang telah menimpa kawan-kawan mereka itu.
Chin Yang Kun mendengarkan bisikan-bisikan itu dan hatinya merasa kaget juga mendengar kematian Song-bun-kwi Kwa Sun Tek.
"Heh! Iblis itu meninggal dunia? Siapakah yang membunuhnya? Apakah Tunghai-tiau dan kawan-kawannya?"
Pemuda itu menduga-duga di dalam hati.
"...Tampaknya memang demikian. Siapa lagi yang mampu membunuh Iblis itu selain Tung-hai-tiau? Dan musibah atau bencana yang mereka katakan itu tentulah peristiwa hancurnya kekuatan mereka di puncak bukit itu."
"Sebaiknya kita membagi tugas,"
Tiba-tiba Chin Yang Kun mendengar lagi suara bisikan mereka, sehingga pemuda itu buru-buru menghentikan lamunannya.
"Kau pergi ke daerah-daerah mengabarkan berita musibah ini, dan...aku akan ke Laut Timur menyusul Wan Lo-Cianpwe untuk melaporkan hal itu pula. Sukur aku bisa menghadap Ongya sendiri. Bagaimana? Ataukah kau yang ke Laut Timur?"
Terdengar suara perusuh, yang dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai penjaga itu membagi tugas yang harus mereka lakukan.
"Ah, aku tak biasa berhadapan dengan Wan Lo-Cianpwe, apalagi dengan Ongya sendiri. Twako, kau sajalah yang ke sana, biarlah aku yang ke daerah-daerah mengabarkan hal ini."
Kawannya lekas-lekas menyahut.
"Baiklah kalau begitu. Kita makan dahulu, setelah itu kita berpisah, untuk menunaikan tugas masing-masing. Moga-moga saja Wan Lo-Cianpwe dan Ongya tidak terkejut mendengar laporanku nanti."
Kedua orang perusuh itu lalu makan makanan yang telah dihidangkan oleh pelayan, sementara Chin Yang Kun malahan menjadi hilang nafsu makannya.
Mendengar percakapan itu pikirannya lantas menjadi sibuk sendiri malah!
Beberapa kali telinganya mendengar sebutan Wan Lo-Cianpwee dan Ongya.
Siapakah sebenarnya tokoh-tokoh itu?
Tampaknya kedua tokoh itu adalah tokoh puncak atau pimpinan mereka, yang memimpin dan menghimpun kaum perusuh di seluruh daerah.
Dan tokoh yang mereka sebut "Ongya"
Itu tentulah orang berkerudung hitam dan bergelar Hek-eng-cu itu, yaitu orang yang pernah menyekap dia di rumah Si Ciangkun setahun yang lalu.
Persoalannya sekarang adalah, siapa sebenarnya tokoh yang mereka sebut dengan panggilan Wan Lo-Cianpwe itu?
Jangan-jangan orang itu adalah Wan It atau Hek-mou-sai Wan It, bekas pembantu atau bekas kepercayaan mendiang ayahnya.
Demikianlah, sementara dua orang anggota kaum perusuh yang ada di belakangnya itu sibuk dengan makanan mereka, Chin Yang Kun juga sibuk dengan angan-angan dan pikirannya sendiri pula.
"Tampaknya yang mereka sebut Wan Lo-Cianpwe itu memang paman Wan it adanya."
Pemuda itu meneruskan renungannya.
"Buktinya aku telah melihat sendiri kemarin paman Wan It bersama-sama dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek di puncak bukit itu. Dan..."
Tiba-tiba wajah pemuda itu menjadi pucat, hatinya terasa dingin.
Lapat-lapat ia teringat akan penuturan Chu Seng Kun beberapa waktu yang lalu.
Pemuda ahli obat itu pernah bercerita kepadanya tentang seorang lelaki tinggi gemuk berbulu lebat, yang kemana-mana selalu bersama-sama dengan Hek-eng-cu.
"Yaa, tampaknya orang itu memang paman Wan It dan tak dapat dipungkiri lagi. Tapi lalu apa maksudnya ia berkawan atau menjadi pembantu Hek-eng-cu, padahal ia pernah ditangkap dan disakiti oleh iblis berkerudung itu? Mungkinkah paman Wan It telah mencurigai Hek-eng-cu sebagai pembunuh keluarga Chin sehingga ia menyelidikinya dengan cara mendekati iblis itu? Tapi rasanya juga tidak mungkin pula kalau ia berbuat demikian. Sebab kalau paman Wan lt memang bermaksud menyelidiki keterlibatan Hek-eng-cu dalam masalah pembunuhan keluargaku, tak mungkin rasanya sampai memakan waktu yang sedemikian lamanya. Dua atau tiga bulan rasanya sudah cukup, tidak perlu sampai berbulan-bulan atau setahun lebih seperti sekarang ini. Ah, jangan jangan...jangan-jangan paman Wan It...paman Wan It..."
Pemuda itu tak berani meneruskan dugaannnya. Rasanya sungguh ngeri kalau membayangkan bekas tangan kanan ayahnya itu berkhianat terhadap keluarganya.
"Hatiku benar-benar penasaran sekali. Aku harus menyelidikinya sampai jelas."
Setelah memperoleh keputusan apa yang seharusnya ia Iakukan pemuda itu lalu menghela napas lega kembali.
Matanya melirik sekilas ke belakang, melihat kalau-kalau dua orang itu telah selesai dengan makan siangnya.
Tapi betapa terperanjatnya dia!
Dua orang itu sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Meja itu sudah bersih.
Tempat itu telah diduduki orang Iain lagi sekarang, yaitu seorang kakek tua yang membawa-bawa sepasang tongkat penyangga tubuh, yang kini disandarkan pada kursinya.
Dan kakek itu tampak sedang menatap Chin Yang Kun pula dengan tajamnya!
"Ah!"
Chin Yang Kun berdesah, lalu bangkit dengan tergesa-gesa untuk memanggil pelayan.
"Sabarlah, anak muda...! Kenapa kau lantas terburu-buru pergi? Marilah kita bercakap-cakap sebentar! Aku ingin bertanya sepatah dua patah kepadamu..."
Tiba-tiba telinga Chin Yang Kun berdengung perlahan tapi jelas sekali.
Dan ketika pemuda itu menoleh, dilihatnya kakek tua itu masih tetap mengawasinya.
Bibirnya yang berkeriput itu tampak bergerak-gerak, tetapi tak sebuah suarapun yang terdengar keluar.
"Kakek ini sengaja berbicara dengan aku memakai Ilmu Coan im-jib bit. Apa maksudnya? Baiklah kululuskan saja permintaannya barang sebentar...setelah itu aku akan mengikuti orang yang hendak menemui paman Wan It itu. Biarlah, terlambat satu dua hari ke Sin-yang tidak apa. Toh semuanya juga untuk menyelidiki persoalan keluargaku pula..."
Oleh karena itu Chin Yang Kun lantas mengangguk, kemudian kakinya segera melangkah menghampiri kakek tersebut.
"Apakah Lo-Cianpwe memanggil saya?"
Tanyanya pelan seraya menarik kursi yang tersedia di meja kakek itu.
Dan tanpa sengaja pemuda itu melirik ke bawah sehingga kedua buah kaki kakek yang lumpuh itu terlihat jelas olehnya.
Kakek itu meringis sambil memutar-mutarkan biji matanya ke atas dan ke bawah seperti orang yang tak waras.
Setelah berhenti, mata yang kocak itu lalu menatap Chin Yang Kun dengan tajamnya.
Dan mata itu menatap terus hampir tak pernah berkedip seolah-olah mata kucing yang sedang mengincar korbannya.
Tentu saja Chin Yang Kun menjadi risih dan hilang kesabarannya.
"Kakek, apakah yang kau kehendaki sebenarnya? Katakanlah cepat atau...aku akan pergi dari tempat ini! Aku harus lekas-lekas mengejar dua orang lelaki yang duduk di sini tadi..."
Bisiknya sedikit keras.
"Ahh!"
Kakek itu tergagap seperti orang yang baru dibangunkan dari tidurnya.
Matanya kembali berputar-putar dengan kocaknya, sementara bibirnya terbuka lebar memperlihatkan mulutnya yang ompong tak bergigi sama sekali.
"Ah-uh, kau maafkanlah aku...anak muda! Begitu asyiknya aku menaksir-naksir dirimu, sehingga aku sampai melupakan segalanya..."
"Menaksir-naksir diriku? Apa maksudmu?"
Chin Yang Kun bertanya bingung.
"Begini, anak muda! Kulihat usiamu masih sangat muda. Gerak-gerikmu juga amat halus...Tapi kata orang kau telah mengalahkan...Put-pat-siu Hong jin tadi pagi! Benarkah itu? Kalau benar, lalu...di manakah orang sinting yang telah kau kalahkan itu sekarang?"
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya. Matanya yang mencorong tajam itu balas menatap kakek tersebut dengan berani. Nada suaranya terdengar kaku ketika menjawab pertanyaan itu.
"Hmm, aku tidak tahu ke mana orang sinting itu selanjutnya! Dia segera pergi begitu kalah bertaruh denganku. Nah...puas? Atau masih ada lagi pertanyaanmu yang lain? Kalau tidak...akulah yang akan ganti bertanya kepadamu. Dengarlah...! Siapakah kau ini sebenarnya? Mengapa kau menahan aku di sini?"
Kakek itu menutupi mulutnya agar suara tawanya tidak terdengar oleh orang di sekitar mereka.
"Anak muda, kau bersabarlah...! Pertanyaanku belum habis. Coba katakan! Apakah orang sinting itu tidak mengatakan apa-apa kepadamu ketika akan pergi? Maksudku, apakah dia tidak mengatakan kepadamu...mengapa dia terburu-buru pergi dari rumah penginapan itu?"
Chin Yang Kun tertegun, matanya sedikit memerah.
"Yang dikatakannya kepadaku? Ya, orang sinting itu memang ada mengatakan sesuatu kepadaku. Katanya dia sedang dikejar-kejar dan dicari-cari oleh gurunya. Nah, memangnya kenapa? Mengapa kau tanyakan itu kepadaku? Apakah kau kenal dengan gurunya?"
"Tentu saja! Akulah...gurunya orang sinting itu!"
Chin Yang Kun terbelalak.
"Kau...eh, Lo-Cianpwe gurunya?"
"Tidak salah! Akulah Put-chien-kang Cin-jin..."
"Put-chien-kang Cin-jin?"
Tiba-tiba pemuda itu teringat lagi akan dugaannya tentang tokoh-tokoh bernama "PUT"
Itu.
"Eh, apakah...Lo-Cianpwe ini tokoh dari Aliran Bingkauw?"
Kakek itu tidak segera menjawab.
Perlahan-lahan dia berdiri, lalu meletakkan sekeping uang tembaga di atas mejanya.
Tangannya meraih tongkat yang tersandar pada meja, kemudian melangkah tertatih-tatih meninggalkan tempat itu.
Dan sebelum kakinya yang lumpuh itu melangkah keluar pintu, dia menoleh.
"Benar! Aku memang seorang tokoh dari Aliran Bing-kauw. Bekas ketuanya malah..."
Gumamnya dengan Ilmu Coan-im-jib-bit.
"Ohhh...!"
Chin Yang Kun yang sedianya mau mengejar itu terhenyak di atas kursinya dan dibiarkannya kakek tua itu lenyap di balik pintu.
Chin Yang Kun lalu bergegas memanggil pelayan dan membayar makanannya.
Kemudian tanpa menunggu uang kembaliannya lagi pemuda itu cepat-cepat keluar.
Digapainya anak kecil yang tadi ia serahi tugas mengurus kudanya.
"Tuan muda sudah selesai makan?"
Anak itu bertanya.
"Ya! Aku akan berangkat sekarang...eh, adik kecil...apakah kau tadi melihat dua orang lelaki berpakaian ringkas dan bersenjata pedang yang keluar dari rumah makan itu?"
"Dua orang lelaki berpakaian ringkas?"
Anak itu berpikir.
"Maksud tuan muda...dua orang Ielaki berkuda yang berpisah ketika tiba di jalan raya itu?"
"Ya...ya! Kemana mereka?"
Anak kecil itu menunduk sebentar sambil memegang dahinya.
"Oh, ya...aku ingat sekarang...Orang yang lebih tua mengendarai kudanya ke pintu gerbang kota sebelah timur, sedangkan orang yang lebih muda kalau tidak salah terus memacu kudanya ke selatan."
"Terima kasih! Nah, sekarang kau bawalah kemari kudaku itu! Aku akan segera berangkat..."
"Baik tuan muda."
Anak kecil itu mengangguk, lalu berlari ke belakang mengambil kuda Chin Yang Kun.
Kuda yang kini sudah bersih dan tampak segar itu dituntunnya ke depan.
Kendali dan pelananya sudah terpasang pula dengan rapi.
"Nih, ambillah lagi untuk membeli makan dan minummu nanti!"
Chin Yang Kun melemparkan sekeping uang perak kepada anak kecil itu, Ialu meloncat ke punggung Cahaya Biru.
"Terima kasih, tuan muda..."
Anak kecil itu menangkap uang tersebut dengan wajah gembira.
Chin Yang Kun lalu memacu kudanya ke pintu kota sebeIah timur.
Dari sana pemuda itu lalu memacu kudanya kembali melalui jalan yang keras dan berdebu.
Panas matahari yang menyengat punggung tidak dirasakannya.
Kuda itu terus dipacunya melewati sawah, ladang dan lereng-lereng bukit yang gersang.
Cahaya Biru berderap terus tanpa mengenal lelah.
Kuda itu hanya mengendurkan langkahnya bila memasuki perkampungan penduduk.
Meskipun demikian orang yang dikejarnya itu belum tampak juga batang hidungnya.
"Gila! Kenapa orang itu belum kelihatan juga? Masakan kuda yang ditungganginya juga kuda pilihan yang dapat berlari cepat seperti angin?"
Chin Yang Kun bersungut-sungut di dalam hati.
Jilid 33 Chin Yang Kun berpacu terus.
Semakin dekat dengan kota Sin-yang semakin sering pula mereka melewati perkampungan penduduk.
Meskipun demikian orang yang mereka kejar itu tetap tidak mereka ketemukan juga.
Sementara itu hari telah menjadi sore.
Matahari telah hampir mencapai cakrawala barat, sehingga sinarnyapun menjadi semakin redup.
Tetapi keredupan ini justru membuat suasana menjadi segar dan nyaman.
Angin timur yang membawa air itu bertiup lembut, menghalau udara sore yang sudah tidak begitu panas lagi.
Tapi udara yang sejuk dan nyaman itu ternyata tidak dapat mengobati hati Chin Yang Kun yang penasaran.
Pemuda itu tetap saja merasa jengkel karena tak bisa menemukan buruannya.
"Baiklah, agaknya aku memang takkan bisa menemukan orang itu. Lebih baik aku pergi saja sekarang ke Sin-yang meneruskan rencanaku semula, menemui Thio Lung di Gedung Kim-liong Piauw-kiok,"
Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan.
Demikianlah, Chin Yang Kun Ialu memacu kudanya kembali.
Semakin dekat dengan kota Sin-yang, tanah ladang dan persawahan semakin berkurang jumlahnya.
Di kanan kiri jalan yang dilaluinya sekarang mulai banyak didirikan bangunan dan perkampungan penduduk.
Dan makin dekat dengan Sin-yang, bangunan dan perkampungan itu semakin tumbuh rapat.
Tiba-tiba pemuda itu menarik tali kendali kudanya.
Sekejap pemuda itu berdebar-debar hatinya ketika mendadak dilihatnya sebuah iring-iringan gerobag berjalan perlahan di depannya.
Iring-iringan itu terdiri dari lima buah gerobag besar, yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kudan beban yang kuat-kuat.
Beberapa orang penunggang kuda tampak berjaga-jaga di depan dan di belakang barisan.
"Kim-liong Piauw-kiok..."
Chin Yang Kun bergumam perlahan ketika dilihatnya sebuah bendera besar bersulamkan gambar naga di tengah tengahnya.
"Sungguh kebetulan sekali aku bersua dengan mereka disini. Aku tak usah bersusah-susah mencari mereka di Sin-yang nanti..."
Dengan hati gembira Chin Yang Kun memacu kudanya mengejar iring-iringan gerobag tersebut.
Di dalam hati pemuda itu sudah merencanakan, bagaimana dia akan menegur orang-orang itu nanti.
Siapa tahu diantara mereka ada yang telah mengenal dirinya.
Tapi kegembiraan itu segera musnah ketika Chin Yang Kun melihat kain-kain putih yang melilit di kepala mereka.
Orang-orang itu sedang berkabung!
Wajah mereka tampak sedih, pucat dan lelah!
Chin Yang Kun cepat menahan kendali kudanya.
Tapi karena jarak mereka sudah dekat dan suara kaki Cahaya Biru sangat nyaring, maka kedatangan pemuda itu segera didengar oleh orang-orang Kim-liong Piauw-kiok tersebut.
Dengan tangkas dan sigap orang-orang itu menoleh dan bersiap-siaga.
Terpaksa Chin Yang Kun tak dapat menghindarkan diri lagi.
Dengan perasaan tegang pemuda itu mengendarai kudanya melewati mereka.
Mulut yang sedianya mau menyapa tadi mendadak bungkam, sebab diantara orang-orang itu ternyata tak seorangpun yang pernah dikenalnya.
Orang-orang yang sedang berkabung itu menatap dirinya dengan pandangan asing dan curiga.
Angin bertiup sedikit kencang dan tiba-tiba Chin Yang Kun mencium bau yang tidak sedap.
Pemuda itu menjadi curiga.
Diliriknya gerobag-gerobag yang ditutup rapat dengan kain tebal itu.
Apakah gerangan isi gerobag itu sebenarnya?
Chin Yang Kun menjadi bimbang, apa yang sebaiknya harus ia lakukan!
Menyapa mereka dan mengatakan maksudnya untuk menemui Thio Lung, sehingga mereka bisa berjalan bersama-sama ke kota Sin-yang?
Ataukah lebih baik ia diam saja meninggalkan mereka dan langsung menemui Thio Lung disana?
Pemuda itu tidak dapat segera mengambil keputusan.
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda yang bergemuruh di kejauhan.
Semuanya terperanjat, tak terkecuali Chin Yang Kun!
Untuk sesaat mereka melupakan kecurigaan masing masing, karena seluruh perhatian mereka sedang tertuju kepada suara gemuruh tersebut.
"Suara apa itu...?"
Salah seorang dari anggota Kim-liong Piauw-kiok itu bertanya kepada temannya.
"Tampaknya seperti suara barisan berkuda berjumlah besar. Hah!! Lihatlah itu...! Debu di depan itu!"
Semuanya berdiri di atas punggung kuda masing-masing.
"Oh...pasukan kerajaan kiranya!"
Orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu bernapas lega begitu melihat bendera dan panji-panji yang dibawa oleh barisan itu.
"Ya! Hampir terbang semangatku! Kukira kaum perusuh itu..."
Yang lain mengangguk sambil menyeka keringatnya.
Tanpa terasa semuanya mempercepat langkah kaki kuda mereka, sehingga roda-roda gerobag itu berdentangan pula semakin riuh.
Chin Yang Kun dan kudanya ikut terseret pula dalam iring-iringan mereka.
"Hei...pasukan itu ternyata tidak sedang menuju ke arah kita!"
Anggota Kim-liong Piauw-kiok yang berada di depan sendiri berteriak memberi tahu kawan-kawannya yang berada di antara iring-iringan gerobag itu.
"Apa...?"
Orang yang berada di belakang iring-iringan itu berseru menegaskan.
"Mereka tidak melintasi jalan ini! Mereka cuma memotong jalan ini menuju ke bukit-bukit itu!"
Orang yang di depan itu berteriak lagi seraya menuding ke arah perbukitan di sebelah utara.
"Yaa...tampaknya pasukan itu sedang mencari tempat berkumpulnya gerombolan-gerombolan perusuh itu. Kata orang Baginda Kaisar secara diam-diam telah mengerahkan tentaranya untuk menggempur tempat-tempat pemusatan mereka di seluruh negeri,"
Yang lain memberi keterangan pula.
"Hei! Mengapa bendera Hong-thian-liong-cu (Burung Hong Langit Mustika Naga) itu ada diantara panji-panji mereka?"
Dengan kaget salah seorang diantara orang Kim-liong Piauw kiok itu berseru.
"Apa? Bendera Hong-thian-liong-cu? Hei...benar juga penglihatanmu! Itu memang bendera Hong-thian-liongcu...Panji KeKaisaran! Apakah Baginda berada diantara mereka?"
Chin Yang Kun mengernyitkan alis matanya.
Dilihatnya diantara bendera-bendera dan panji-panji itu memang ada sebuah panji besar berwarna merah bergambarkan seekor burung Hong dan naga sedang bercengkeraman.
Dan menurut apa yang telah didengarnya, panji tersebut memang bendera pertanda keKaisaran Tiongkok.
Barisan itu berderap seperti tiada habis-habisnya.
Selain pasukan berkuda, di dalam barisan itu ternyata ada pula pasukan panah dan perbekalan.
Mereka berjejal di atas pedati-pedati yang mereka bawa, bercampur dengan makanan dan perbekalan yang mereka angkut.
Dan di ekor barisan tampak gerobag-gerobag pengangkut peralatan perang, seperti jaring, alat-alat perangkap, senjata dan alat pelempar batu dan api.
"Wah, biarpun bukan sebuah laskar yang besar, tetapi kekuatan itu benar-benar merupakan pasukan penggempur yang komplit,"
Terdengar salah seorang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu berkata.
"Dan tampaknya dipimpin oleh Baginda Kaisar..."
Yang lain menambahkan.
Begitulah, pasukan yang kurang lebih berjumlah lima ratus orang perajurit lengkap itu memotong jalan di depan mereka, menuju ke perbukitan yang memanjang di sebelah utara jalan.
Yaitu sebuah perbukitan yang mempunyai banyak lembah lembah subur.
Dan derap langkah pasukan itu meninggalkan kepulan debu yang bergulung-gulung tinggi di udara.
Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun dan orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu tetap berdiam diri saja di tempat masing-masing, menanti hilangnya atau habisnya kepulan debu yang menggelapkan jalan di depan mereka.
Dan sambil menanti itu tanpa sadar mereka saling berpandangan lagi.
Dan Chin Yang Kun kembali bimbang dan ragu-ragu pula.
"Keteprak...! Keteprak...! Keteprak...!"
Tiba-tiba mereka dikejutkan lagi dengan suara derap kaki kuda yang datang ke arah mereka.
Dan sebelum semuanya bisa menduga siapa yang telah datang, dari balik kepulan debu muncul bayangan lima orang penunggang kuda berpacu ke arah mereka.
Saking kencangnya lima orang berkuda itu hampir saja menabrak iring-iringan gerobag mereka.
Untunglah orang orang Kim-liong Piauw-kiok itu sudah berwaspada sebelumnya.
Dengan tangkas mereka mengelak dan menyabetkan cambuknya.
"Taar! Taar! Taaaaar!"
Ujung cambuk mereka menyengat kuda-kuda yang hampir melanggar mereka itu. Kontan saja kuda-kuda yang terkena sabetan itu melonjak tinggi ke atas, seolah mau melemparkan penunggangnya ke udara.
"Kurang ajar! Siapa berani mengganggu jalannya kuda-kuda kami?"
Salah seorang dari lima penunggang kuda itu menjerit marah.
Tubuhnya yang terlempar ke atas itu berjumpalitan di udara dengan manisnya, lalu mendarat di atas tanah tidak jauh dari penyerangnya!
"Kalianlah yang tidak punya mata...!"
Orang Kim-liong Piauw-kiok yang baru saja mengayunkan cambuknya itu memaki pula tidak kalah berangnya.
"Bangsat! kalian...hei! sute, kau...?"
Penunggang kuda yang marah-marah itu tiba-tiba berteriak kaget serentak mengenali siapa yang mencambuk kudanya tadi.
Ternyata orang yang menghadang jalan dan mencambuk kudanya itu adalah adik seperguruannya sendiri.
Yang lain-lainpun segera menjadi kaget pula.
Ternyata mereka segolongan, sama-sama anggota Kim-liong Piauw-kiok juga.
Maka beberapa saat kemudian merekapun lantas saling berpelukan dengan hangatnya.
Tapi sekejap kemudian kegembiraan itu segera beralih menjadi tersendat-sendat lagi manakala mereka teringat akan keadaan mereka yang sedang dalam keadaan berkabung itu.
Dan kesedihan mereka itu ternyata masih berlanjut dan...belum selesai!
"Suheng, kenapa kau membawa kemari saudara-saudara kita ini?
Apakah Thio suhu mengkhawatirkan keadaan kami sehingga kalian mengutus suheng kemari untuk menyongsong rombongan ini?"
Orang yang memimpin iring iringan gerobag itu bertanya kepada penunggang kuda yang baru tiba.
Orang yang dipanggil suheng itu tiba-tiba merangkul lagi dengan sedihnya.
Sesaat lamanya dia tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Sute..."
Rintihnya.
Tentu saja sikap itu membuat cemas dan gelisah orang orang yang membawa iring-iringan itu.
Apalagi ketika mereka melihat saudara-saudara mereka yang baru datang itu tiba-tiba meruntuhkan air mata semuanya.
Dan entah apa kabarnya, melihat keributan kecil itu Chin Yang Kun menjadi tertarik.
Tanpa terasa pemuda itu ikut berhenti pula diantara mereka.
Matanya hampir tak pernah berkedip memandang orang-orang itu.
"Suheng, ada apa pula ini? Mengapa semuanya lantas menangis? Bukankah kita semua sudah menangis kemarin?"
Orang yang disebut sute itu menggoyang-goyangkan tubuh suhengnya.
"Sudahlah! Suheng dan kawan-kawan jangan menangis lagi! Kita selesaikan dulu tugas kita. Jenazah para susiok itu telah kubawa pulang semua...lihatlah gerobag-gerobag itu! Marilah kita segera membawanya ke hadapan Thio Lung suhu!"
"Sute, kau belum mengetahui semuanya..."
Orang yang dipanggil suheng itu meratap semakin sedih.
"Ketahuilah! Thio...Thio suhu juga mati dibunuh orang!"
"Huh...? apa...??"
Orang-orang yang membawa iring iringan gerobag itu menjerit kaget. Berita itu seperti petir di siang bolong.
"Thio suhu dibunuh orang?"
"Be-benar...! malam tadi..."
"Lalu...siapa yang membunuhnya?"
Orang yang dipanggil suheng itu menatap sutenya dengan air mata berlinang.
"Sute, kau jangan kaget...! kau pun pernah pula mendengar nama si pembunuh itu sebelumnya, karena namanya pernah kita sanjung-sanjung sebagai "dewa penolong"
Kim-liong Piauw-kiok beberapa waktu yang lalu..."
"Maksud suheng...yang membunuh Thio suhu itu adalah si pemuda aneh yang menolong Kim-liong Piauw-kiok ketika berhadapan dengan Tiat-tung Kai-pang di tempat para pengungsi dahulu itu?"
"Tepat! Pemuda itulah pembunuhnya! Entah mengapa...pemuda itu tiba-tiba berbalik memusuhi Kim-liong Piauw-kiok dan...membunuh suhu Thio Lung malam tadi!"
"Ah, benarkah itu? Tapi Tuan Hua dan pembantunya itu bilang..."
"Eh, benar! Dimanakah Tuan Hua itu sekarang?"
Orang yang disebut suheng itu cepat-cepat memotong perkataan sutenya yang menyebut-nyebut nama Tuan Hua. Orang yang memimpin iring-iringan gerobag itu menghela napas sedih.
"Luka yang diderita oleh Tuan Hua itu benar benar sangat parah, sehingga ia tak dapat mengikuti rombongan gerobag pengambil jenazah ini. Dia dan pembantunya terpaksa kutinggalkan di Ko-tien untuk berobat dulu...eh! Suheng, benarkah kata-katamu tadi? Benarkah pemuda yang menolong kita itu yang membunuh Thio suhu? Apakah suheng tidak salah?"
"Apa katamu? kau kira aku membohongimu? sute, kenapa kau ini...!"
Orang yang disebut suheng itu melangkah mundur dengan mata terbelalak.
"Ah, suheng! kau jangan terburu-buru marah dulu! Aku tidak bermaksud demikian,"
Adik seperguruannya cepat-cepat berkata.
"Lalu...mengapa kau berkata begitu tadi?"
"Ahh...!"
Adik seperguruannya berdesah. Wajahnya tampak kebingungan dan serba salah. Berkali-kali kepalanya menoleh ke belakang ke arah para pembantunya.
"Wah, pusing aku...!"
Akhirnya ia berkata.
"Suheng, sebenarnya keterangan siapa yang benar dalam masalah ini? Keterangan yang suheng berikan tadi atau...atau keterangan yang diberikan oleh Tuan Hua?"
"Maksudmu?"
"Suheng tadi mengatakan bahwa orang yang membunuh Thio suhu itu adalah pemuda yang dulu pernah menolong kita. Tapi...Tuan Hua tadi pagi juga berkata kepadaku bahwa orang yang telah menolong dia menghadapi para perampok kemarin siang juga pemuda itu pula. Eh, bagaimana ini...? jarak antara Poh-yang dan Sin-yang yang luar biasa jauhnya, tak mungkin ditempuh hanya dalam beberapa jam saja. Masakan pemuda itu sedemikian saktinya sehingga dia bisa "terbang"
Secepat burung walet? Maksudku, masakan hanya dalam beberapa jam saja setelah pemuda itu membantu Tuan Hua, dia sudah berada di Sin-yang untuk membunuh Thio suhu?"
"Tidak! Apa yang dikatakan oleh Tuan Hua itu tentu salah! Dia pasti telah salah lihat kemarin..."
Orang yang disebut suheng itu berteriak keras sekali.
"Suheng, kau..."
"Sute, percayalah kepadaku. Apa yang kukatakan tadi adalah benar, karena orang yang melihat si pembunuh itu adalah Sucouw Kim-liong Lojin sendiri. Beliaulah yang memergoki pembunuh itu ketika keluar dari kamar Thio suhu..."
"Sucouw Kim-liong Lojin? Bukankah Sucouw itu...?"
"Sucouw itu sakit keras maksudmu?"
Orang yang dipanggil suheng itu memotong.
"Benar! Sucouw memang masih selalu berbaring di tempat tidurnya. Tapi justru karena tidak pernah pergi kemana-mana itulah beliau dapat melihat keterangan si pembunuh itu. Sayang Sucouw sedang sakit parah..."
"Jadi...jadi...?"
"Nah, sute...kini kau lebih percaya kepadaku dari pada keterangan Tuan Hua itu bukan?"
"Ohhh..."
Pemimpin iring-iringan gerobag yang dipanggil sute itu menundukkan kepalanya seraya menghela napas panjang. Dan orang yang disebut suheng itu segera menghampiri sutenya serta menepuk-nepuk bahunya.
"Sute, marilah...! Kedatanganku ini memang atas perintah Sucouw untuk menolongmu membawa jenazah-jenazah itu pulang..."
Sementara itu debu tebal yang menutupi jalan itu sudah hilang, sehingga semuanya bisa saling melihat wajah masing-masing dengan jelas.
Dan orang yang disebut suheng itu tiba-tiba tertegun tatkala pandang matanya terbentur pada seraut wajah asing yang belum pernah dilihatnya.
Wajah yang tampan namun bermata tajam mengerikan!
Dan orang itu berada di atas punggung kuda tunggangannya yang tegar dan gagah di tepi jalan.
"Sute! Siapakah dia...?"
Orang yang disebut suheng itu berbisik.
"Siapa yang suheng maksudkan? Dia? Ohhhh...entahlah! Entahlah! Aku juga belum mengenalnya..."
Pemimpin rombongan gerobag pembawa jenazah itu menggelengkan kepalanya.
"Tapi...kulihat dia disitu sejak tadi. Kukira ia memang ikut dalam rombonganmu ini."
"Tidak! Orang itu baru saja muncul beberapa saat yang lalu. Semula aku juga mencurigainya karena matanya selalu mengawasi kami dan gerobag-gerobag itu."
"Sute, kalau begitu bersiaplah! Aturlah semua anak buahmu! Kita harus berhati-hati terhadap orang ini. Meskipun demikian kita tak perlu merisaukannya. Yang penting kita harus menyelesaikan tugas kita dahulu. Marilah...!"
Demikianlah, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu lalu bersiap-siap kembali untuk membawa gerobag-gerobag pembawa jenazah itu ke Sin-yang.
Mereka berharap, sebelum matahari benar-benar tenggelam dan hari menjadi gelap, mereka telah memasuki kota Sin-yang.
Segala sesuatupun akan lebih mudah diselesaikan disana dari pada di tempat lain.
Nama Kim-liong Piauw-kiok merupakan jaminan yang tak tergoyahkan bagi setiap orang di kota besar itu.
Sementara itu pemuda yang mereka percakapkan dan mereka curigai, yaitu Chin Yang Kun, tiba-tiba maju ke depan rombongan mereka dan melintangkan kudanya di tengah jalan!
Wajah pemuda itu tampak kaku dan pucat, sementara tatapan matanya terasa dingin menyeramkan, sehingga penampilannya yang tiba-tiba di tengah jalan itu bagaikan malaikat elmaut yang mendirikan bulu roma di setiap hati anggota rombongan Kim-liong Piauw-kiok tersebut.
"Dia...dia merintangi jalan yang akan kita lalui, suheng! Heran! Mengapa perbawanya demikian besarnya? Dia cuma sendirian, tapi...tapi kenapa hatiku menjadi ketakutan begini?"
Pemimpin iring iringan gerobag yang dipanggil sute itu berdesah kepada suhengnya.
"Kau benar, sute...aku merasa seperti yang kau rasakan juga. Aku yang tidak pernah merasa takut selama hidupku ini tiba-tiba juga seperti seorang yang sedang dirayapi perasaan ngeri dan gelisah. Pemuda ini mempunyai perbawa yang luar biasa..."
"A-apa yang...harus kita lakukan, suheng?"
"Eng...entahlah!"
Matahari sudah tidak kelihatan lagi.
Yang kini tertinggal hanyalah sisa-sisa sinarnya yang kemerah-merahan di langit sebelah barat.
Suasana di jalan tersebut sudah tidak begitu terang lagi.
Yang masih tampak jelas tinggallah pucuk pepohonan tinggi di sekitarnya.
"Semuanya berhenti!"
Chin Yang Kun menggertak. Suaranya terdengar nyaring dan bergema seolah-olah suara guruh yang menggelegar di atas awan.
"Dengarlah...! Sucouw (kakek guru) kalian itulah yang telah salah mengenali pembunuh suhumu! Pemuda yang pernah menolong kalian itu tak pernah memusuhi Kim-liong Piauw-kiok, apa lagi sampai membunuh Thio Lung! Mengerti...?"
Belasan orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu terdiam tak berkutik.
Semangat mereka seperti tiada lagi dalam tubuh mereka.
Keberanian yang selama ini selalu menjadi ciri khas para anggota Kim-liong Piauw-kiok kini seolah-olah menjadi melempem.
Seluruh jiwa dan semangat mereka menjadi hancur tertindih perbawa Chin Yang Kun!
"Dan...kau!"
Tiba-tiba pemuda itu menuding ke arah si pemimpin iring-iringan gerobag pembawa jenasah.
"Apa yang dikatakan oleh Tuan Hua itu...Benar! Memang pemuda itulah yang membantu dia menghadapi para perampok di lereng bukit itu!"
"Kau...kau, eh...bagaimana kau bisa memastikan hal itu?"
Orang yang dipanggil suheng itu akhirnya memperoleh keberaniannya kembali.
"Dan...dan siapakah kau ini? Mengapa tiba-tiba ikut mencampuri urusan kami?"
"Yaa...ya, siapakah tuan ini?"
Sutenya ikut mendesak. Chin Yang Kun menyibakkan rambut yang menutupi pipi dan pelipisnya.
"Lihatlah baik-baik! Akulah pemuda itu!"
"Hah?"
"Ohh?!"
"Eh...!??"
Tiba-tiba belasan orang anggota Kim-liong Piauw-kiok itu mencabut senjata masing-masing. Mereka menyebar ke segala penjuru dengan perasaan was-was.
"Apa yang hendak kalian lakukan? Mengeroyokku? Hmmm...jangan gegabah. Meskipun jumlah kalian banyak, tapi kalian masih tetap bukan lawanku. Masih ingat bentrokan antar kaum kalian melawan Tiat-tung Kai-pang di tempat para pengungsi itu? Hmm, tujuh orang susiok kalian yang lihai-lihai itu tak mampu melawan tiga orang pengemis Tiat-tung Kaipang. Coba, kalau aku tak tampil di arena itu dan membunuh tiga orang pengemis itu, apa jadinya nasib tujuh orang susiok kalian itu? Nah, sekarang pikirkanlah baik-baik! Apakah kepandaian kalian ini sudah lebih hebat dari tujuh orang susiok atau tiga orang pengemis itu?"
"Tapi..."
Kedua orang suheng dan sute itu mencoba membela diri.
"Tidak ada tetapi...! kalian harus percaya bahwa bukan aku pembunuhnya. Aku akan membuktikannya nanti."
Chin Yang Kun memotong dengan suara tegas.
"Bagaimana tuan membuktikannya...?"
Suheng dan sute itu masih belum percaya juga.
"Dan kalau memang bukan tuan, lalu siapakah...pembunuhnya?"
"Bodoh! Kalau aku kalian pertemukan dengan Tuan Hua atau Sucouw kalian itu, bukankah semuanya akan menjadi beres? Masakan mereka tidak bisa menimbang dan membedakan antara aku dan si pembunuh itu? Dan...tentang pembunuh itu, aku tidak tahu-menahu! Itu urusan kalian sendiri! Aku tidak mau mencampurinya."
"Baik! Kalau begitu tuan kami undang ke gedung kami. Tuan akan kami pertemukan dengan Sucouw Kim-liong Lojin,"
Orang yang dipanggil suheng itu menyetujui pendapat Chin Yang Kun. Chin Yang Kun menghela napas, laIu membalikkan kudanya dan melangkah mendahului rombongan itu.
"Aku akan berangkat lebih dahulu. Aku akan menanti kalian di sana."
"Eh, bagaimana kami menghubungi tuan nanti?"
"Jangan terlalu repot! Akulah yang akan menghubungi kalian nanti. Bukan kalian!"
Chin Yang Kun berseru sambil melarikan kudanya. Demikianlah, dengan perasaan dongkol dan geram Chin Yang Kun memaCu-si Cahaya Biru ke kota Sin-yang.
"Kurang ajar...aku telah kehilangan jejak! Orang yang kucari-cari dan ingin kudengar keterangannya telah mati dibunuh orang. Dan kau justru didakwa sebagai pembunuhnya, sungguh penasaran!"
Hari semakin gelap dan semuanya tampak remang-remang.
Bulan belum muncul, sementara bintang-bintangnya juga baru beberapa buah saja yang kelihatan.
Namun demikian si Cahaya Biru tetap saja berderap dengan kencangnya.
Kuda jantan yang berwarna hitam legam itu menerobos kegelapan tanpa kesukaran.
Sepasang matanya yang terlatih itu menembus kepekatan malam seperti mata kucing dalam kegelapan.
Beberapa saat kemudian kota Sin-yangpun telah kelihatan di depan mereka.
Kota besar yang dilingkari parit dan tembok tinggi yang tampak kehitam-hitaman dari kejauhan, sepintas lalu seperti raksasa tidur dalam kegelapan.
Satu-satunya petunjuk atau tanda bahwa tempat itu adalah kota yang dihuni manusia hanyalah sinar-sinar lampunya yang gemerlapan di balik tembok tinggi berwarna hitam tersebut.
"Lihatlah, Cahaya Biru! Kita telah sampai di Sin-yang. Sebentar lagi kita akan mencari penginapan yang baik dan kau boleh beristirahat lagi sepuas-puasmu."
Chin Yang Kun mengelus-elus rambut kudanya yang berkibaran tertiup angin.
Kuda itu meringkik, lalu melesat ke depan lebih cepat lagi, seakan-akan ikut bergembira dan ingin lekas-lekas pula sampai di sana.
Pintu gerbang kota itu masih terbuka lebar dan jembatan gantungnyapun masih terpasang di atas paritnya yang lebar.
Masih banyak orang yang hilir mudik melewati jembatan tersebut sehingga kedatangan Chin Yang Kun diantara orang orang itu benar-benar tidak menarik perhatian sama sekali.
Banyak juga diantara orang itu yang naik kuda, keledai atau pedati yang ditarik kuda beban.
Di dalam tembok suasana sungguh ramai dan meriah.
Sinyang memang sebuah kota yang amat besar.
Penduduknyapun sangat banyak, berjejal di dalam kampung kampungnya yang rapat.
Maka tak heran kalau kehidupan kota itu setiap harinya amat sibuk dan hiruk-pikuk luar biasa.
Toko-toko, warung-warung buka di jalan-jalan setiap saat selalu ramai dengan orang.
Apalagi di jalan besar, para penjaja makanan dan minuman, penjual obat dan pedagang pedagang lainnya selalu ribut bersaing menawarkan dagangan mereka.
Chin Yang Kun mengendarai kudanya perlahan-lahan.
Sambil menikmati kehidupan malam yang riuh dan semarak itu ia akan mencari sebuah rumah penginapan yang baik dan bersih.
Malahan kalau bisa ia akan mencari yang mewah, agar istirahatnya nanti dapat lebih nikmat dan tidak terganggu.
Soal uang ia tidak perlu khawatir, uang pemberian LiuTwakonya itu masih lebih dari cukup untuk membeli hotel dan seluruh isinya.
Pemuda itu tidak menjadi heran tatkala beberapa kali harus berpapasan dengan perajurit kerajaan yang bersenjata lengkap.
Sebagaimana layaknya sebuah kota besar kota itu tentu juga diperlengkapi dan dijaga oleh pasukan kerajaan yang cukup besar pula, sehingga kehadiran perajurit-perajurit itu di jalan tidak perlu diherankan lagi.
Tapi ketika pemuda itu melihat kereta-kereta perang dan persenjataan-persenjataannya yang lengkap diparkir di depan sebuah penginapan besar dan mewah, hatinya menjadi terkejut juga.
Keadaan itu benar-benar aneh.
Tak biasanya alat-alat perang seperti itu ditaruh di depan rumah penginapan.
Lain halnya kalau alat-alat itu ditaruh di tangsi atau barak-barak para perajurit!
Apalagi ketika pemuda itu melihat puluhan atau belasan orang perajurit memenuhi ruangan depan rumah penginapan itu, hatinya semakin bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi di dalam rumah penginapan mewah itu?
Saking tertariknya, tanpa terasa Chin Yang Kun membawa kudanya berbelok ke tempat itu.
Dan ketika pemuda itu menyadari apa yang telah dilakukannya, ia sudah terlanjur memasuki halaman rumah penginapan tersebut, sehingga ia tak enak hati untuk berbalik keluar lagi tanpa alasan.
Apalagi ketika dilihatnya beberapa orang perajurit berkuda juga ikut pula memasuki halaman itu, rasa sungkan itu menjadi semakin besar.
Maka untuk menghilangkan rasa canggungnya pemuda itu lalu berpura-pura sebagai pelancong biasa yang tak tahu apa-apa.
Dengan tenang ia menuju tempat penambatan kuda untuk menitipkan kudanya.
Tapi baru beberapa langkah kudanya berjalan, empat atau lima orang perajurit pengawal yang berjaga-jaga di halaman itu telah mencegatnya.
Dengan sopan namun tegas para perajurit pengawal itu menyuruhnya turun.
"Saudara mau kemana?"
Salah seorang dari para pengawal itu bertanya.
"Ohh...? Ada apa ini?"
Chin Yang Kun berpura-pura kaget.
"Saya sedang mencari tempat penginapan. Mengapa tempat ini dijaga para perajurit...?"
"Maaf, saudara...kau cari saja di tempat lain. Penginapan ini telah penuh, karena semua kamar telah kami sewa sejak kemarin."
Pengawal itu menjawab sambil tersenyum sabar.
"Sudah tuan sewa semuanya? Eh, mengapa begitu? Apakah asrama atau barak-barak perajurit yang ada di kota ini telah penuh sesak sehingga sudah tidak bisa memuat tuan-tuan lagi? Waduh, celaka...! Aku terus menginap dimana sekarang? Aku sudah terbiasa menginap di penginapan ini kalau singgah kemari sehingga aku tak mempunyai langganan yang lain. Ahhhhh...!"
Chin Yang Kun berpura-pura bingung.
"Ah, saudara tak usah merasa bingung. Kota ini adalah kota yang sangat besar, dimana-mana banyak penginapan. saudara bisa memilih salah satu diantaranya..."
"Yaa...tapi tentu tidak akan sebaik rumah penginapan ini. Dan...suasananya serta pelayanannyapun tentu juga tidak sebagus suasana dan pelayanan di sini. Apalagi aku mempunyai kesenangan-kesenangan dan selera khusus yang telah dikenal baik oleh para pelayan di rumah penginapan ini. Aku tidak perlu meminta ini dan itu, atau harus memberi perintah ini dan itu kepada para pelayan, karena para pelayan di sini sudah mengenal baik semua adat kebiasaan saya. Oleh karena itu..."
"Yaa...ya, kami tahu semua itu,"
Perajurit pengawal itu cepat-cepat memotong perkataan Chin Yang Kun yang panjang lebar itu.
"Tapi bagaimana lagi kalau tempat ini sudah terlanjur kami sewa semuanya? Masakan saudara mau mengusir kami yang datang lebih dahulu?"
"Ah...tidak begitu maksudku. Masakan aku berani mengganggu para petugas negara? Yang hendak kuminta kepada tuan-tuan cuma pengertian dan sedikit belas kasihan, yaitu berikanlah padaku sebuah kamar saja untuk tidur malam ini. Biarlah yang paling kotor dan paling jelekpun tidak apa..."
Chin Yang Kun yang semakin tergelitik hatinya untuk mengetahui rahasia para perajurit itu mencoba berbohong untuk mendapatkan tempat di penginapan itu.
"Maaf, kami tetap tak bisa meluluskan permintaan saudara. Kami cuma pengawal-pengawal yang diberi tugas utuk menjaga tempat ini. Dan tugas yang diberikan kepada kami itu diantaranya ialah...menjaga jangan sampai orang luar memasuki rumah penginapan ini! Oleh karena itu kami terpaksa dengan berat hati mengusir saudara dari halaman ini...!"
Pengawal itu menjawab sedikit kaku. Tampaknya sikap Chin Yang Kun yang agak kepala batu itu mulai menjengkelkannya.
"Kalau begitu tolong tuan katakan kepada pimpinan tuan, siapa tahu beliau mengijinkannya? Soalnya..."
Chin Yang Kun tetap saja tak mau beranjak dari tempat itu.
Dalam hati pemuda itu berharap semoga ada salah seorang pengawal atau anak buah Liu-Twakonya di tempat itu, sehingga suara ribut-ribut itu terdengar oleh mereka.
"Maaf, saudara...! Sekali lagi kami minta kau meninggalkan tempat ini dengan segera! Kuharap kau jangan menyusahkan dan menjengkelkan hati kami!"
Perajurit itu akhirnya membentak karena sudah hilang kesabarannya.
Perajurit-perajurit pengawal itu lalu menodongkan tombak tombak mereka ke arah Chin Yang Kun sehingga Si Cahaya Biru menjadi kaget dan melonjak-lonjak.
Dan keributan itu segera dilihat oleh pengawal-pengawal yang lain.
Mereka bergegas mendatangi tempat itu dan sebentar saja Chin Yang Kun telah dikepung oleh belasan orang perajurit.
Tapi keributan itu juga telah menarik perhatian para perwira yang tadi berkuda di belakang Chin Yang Kun ketika memasuki halaman rumah penginapan tersebut.
Para perwira itu cepat membelokkan kudanya ke tempat Chin Yang Kun dikepung.
"Ada apa ribut-ribut di sini?"
Salah seorang perwira itu yang bertubuh tegap dan berkumis Iebat membentak.
Kepungan itu segera menyibak untuk memberi jalan masuk perwira berkumis lebat itu.
Dan perajurit pengawal yang mula-mula mencegat Chin Yang Kun tadi segera maju ke depan dengan tergopoh-gopoh menyongsongnya.
Lalu dengan singkat namun jelas ia melaporkan semua kejadian yang telah terjadi di tempat itu.
Perwira berkumis lebat itu lalu turun dari punggung kudanya.
Diambilnya sebuah obor dari tangan perajurit di dekatnya, kemudian berjalan mendekati Chin Yang Kun.
"Kau sia...eh, Tuan Yang Kun rupanya!"
Perwira berkumis lebat yang sudah siap untuk marah itu tiba-tiba terbelalak kaget.
"Wah, maaf...maaf. Kami sungguh tidak tahu kalau tuan yang akan datang berkunjung kemari..."
Katanya meminta maaf.
Lalu dengan garang perwira itu membubarkan kepungan tersebut.
Sesaat lamanya Chin Yang Kun hanya terIongong-longong bingung mengawasi lawannya.
Baru beberapa saat yang lalu dia berharap agar supaya ia dapat bertemu dengan salah seorang pengawal atau anak buah Liu-Twakonya, tapi setelah harapan itu kini benar-benar terkabul ternyata dia telah melupakannya malah.
Tampaknya perwira berkumis lebat itu tahu kalau Chin Yang Kun sudah lupa kepadanya.
"Tuan, marilah kita masuk dulu ke dalam! Kami akan menyediakan sebuah kamar yang bagus kepada Tuan Yang, setelah itu kita dapat saling berbicara tentang diri kita masing-masing. Bagaimana...?"
Chin Yang Kun tetap belum bisa mengingat nama perwira berkumis lebat itu.
Tapi melihat kesungguhan orang itu, ia tak bisa berdiam diri terus menerus.
Akhirnya ia mengangguk ketika perwira itu mempersilahkannya sekali lagi.
"Baiklah...Terima kasih! Maaf, aku benar-benar sudah tak ingat lagi kepada tuan. Ehm...bolehkah aku mengetahui nama tuan?"
Sambil melangkah Chin Yang Kun bertanya kepada perwira tegap berkumis lebat tersebut. Sementara itu dengan cekatan seorang pengawal sudah mengambil si Cahaya Biru dan membawanya ke belakang.
"Ahaa...baru kemarin kita berjumpa, Tuan Yang sudah lupa lagi. Eh, aku adalah pengawal Hong...Hong...uh, bukan. Aku adalah pengawal Tuan Liu...Liu-Ciangkun, yang kemarin berjumpa dengan tuan di jalan dekat kota Poh-yang itu."
Perwira itu menjawab dengan gagap dan hampir saja dia melupakan pesan junjungannya, yaitu menyebutkan sebutan "Hongsiang"
Atau Baginda di depan Chin Yang Kun. Untunglah pemuda itu tidak bercuriga.
"Ohh...jadi tuankah pengawal yang hampir saja marah karena aku telah menghentikan kereta Liu-Twako itu?"
Pemuda itu bertanya dengan suara gembira.
"Benar! Setelah itu...setelah itu Tuan Liu, eh...Liu-Ciangkun bercerita tentang Tuan Yang. Dan beliau juga berpesan kepada kami semua agar menghormati tuan Yang seperti kami menghormati beliau sendiri."
"Wah...Liu-Twako itu ada-ada saja."
Chin Yang Kun pura pura tidak senang.
Mereka melangkah naik ke atas pendapa, melewati beberapa orang penjaga yang berdiri tegak memegang tombak.
Dan diatas pendapa itu terang benderang dengan lampu-lampu yang tergantung disana-sini, menerangi semua perabotan mewah yang diletakkan dan dipajang di dalam ruangan itu.
Beberapa orang perwira berpakaian indah gemerlapan kelihatan sedang duduk-duduk disana, dilayani oleh pelayan-pelayan cantik berpakaian bersih menarik.
belasan orang perajurit pengawal juga tampak berdiri dimana-mana.
Mereka bersikap biasa dan santai, berjalan hilir mudik kian kemari, sambil kadangkala mengambil minuman dan makanan yang telah tersedia dan memakannya bersama para penjaga yang berdiri tegak di depan pintu tersebut.
Meskipun begitu tampak benar bahwa mereka selalu waspada dan siap siaga menjaga segala kemungkinan.
Sekejap Chin Yang Kun menjadi silau dengan sinar lampu yang tiba-tiba menimpanya.
Dan tiba-tiba pula dia menjadi risih dan sungkan dengan keadaannya yang kotor dan berdebu itu.
Apalagi ketika beberapa orang pelayan cantik cantik dan berpakaian bersih-bersih itu datang menyongsongnya!
Rasa-rasanya kaki yang bersepatu kotor berlepotan lumpur itu menjadi berat untuk melangkah di atas lantai pendapa yang licin mengkilap seperti kaca.
"Ohh...Siangkoan Ciangkun telah pulang. Selamat datang, Ciangkun! Mari, silahkan...!"
Pelayan-pelayan cantik itu menyapa dan memberi hormat kepada perwira kumis lebat yang datang bersama Chin Yang Kun itu.
Lalu mereka tertawa cekikikan melihat tampang Chin Yang Kun yang merah padam dan kemalu-maluan itu.
Mereka saling mencubit satu sama lain.
"Hai, kalian mentertawakan siapa? Jangan kurang ajar! Ayoh, panggil teman-teman kalian yang lain! Siapkan sebuah kamar yang baik untuk tuan Yang ini! Awas, jangan sembrono...!"
Siangkoan Ciangkun pura-pura membentak mereka.
"Baik, Ciangkun!"
"Baik, Ciangkun...! Akan kami laksanakan!"
"Baik, Siangkoan Ciangkun...akan hamba kerjakan!"
Para pelayan itu menjawab seperti anak ayam yang menciap-ciap di hadapan induknya.
Mereka saling berebut di depan untuk mendapatkan perhatian Siangkoan Ciangkun yang tegap dan gagah itu.
Dan sebelum Chin Yang Kun menyadari keadaannya, pelayan-pelayan cantik itu telah menariknya ke ruangan yang lain.
"Ciangkun! Ciangkun! Ini...ini...bagaimana ini?"
Chin Yang Kun berteriak-teriak kebingungan.
Pemuda itu meronta-ronta, tapi karena ia tak ingin melukai gadis-gadis itu maka diapun tak bisa melepaskan pegangan mereka pula.
Malahan sebentar kemudian ada suatu perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar dari jari-jari halus dan lembut yang berpegangan pada tubuhnya tersebut.
Dan makin lama perasaan aneh itu berkembang semakin mengasyikkan bagi Chin Yang Kun sehingga akhirnya pemuda itu menjadi keenakan dan tak mau meronta lagi!
Gadis-gadis itu lalu menyiapkan air hangat dan pakaian bersih untuk Chin Yang Kun.
Setelah itu mereka mempersilakan pemuda itu mandi.
"Tuan Yang, silakan kau mandi dulu! Biarlah kami semua ke pendapa untuk menyiapkan makan malam."
"Terima kasih...!"
Dengan dada berdebar-debar pemuda itu mengawasi kepergian gadis-gadis cantik tersebut.
"Ah, gila...! Kenapa aku ini? Mengapa watakku menjadi jorok dan mudah terangsang paras cantik sekarang? Heran aku...!"
Pemuda itu lalu menghela napas sedih.
Perlahan-lahan direbahkannya tubuhnya diatas pembaringan, kemudian dipandangnya langit-langit kamarnya yang berwarna kelabu tua itu.
Warna sedih yang selama ini selalu merundung dirinya.
Pemuda itu lalu memejamkan matanya.
Bau harum yang keluar dari pembaringan itu membuat pikirannya lantas melayang jauh menyelusuri bayang-bayang hidupnya.
Mula-mula terlintas di dalam pikiran pemuda itu nasib seluruh keluarga dan kerabatnya yang amat buruk.
Satu persatu keluarga dan kerabatnya meninggal dunia dengan cara yang sangat menyedihkan.
Mereka dibunuh dan dibantai oleh lawan yang tak pernah menampakkan dirinya, sehingga akhirnya tinggal dia sendirilah yang masih hidup di dunia ini.
Pemuda itu menghela napas sekali lagi.
Setelah itu berkelebat pula di dalam pikirannya bayangan-bayangan dendam kesumat yang dibawanya akibat peristiwa yang sangat menyedihkan itu.
Dendam kesumat itu menuntun dirinya menjadi pemburu manusia yang sekiranya dapat ia curigai dan ia sangka sebagai pembunuh keluarganya.
Berbagai macam cobaan dan pengalaman telah melanda dirinya, dari yang kecil sampai yang besar, dari yang biasa sampai yang aneh-aneh, sehingga semua itu membuat dirinya menjadi seorang manusia aneh seperti keadaannya sekarang ini.
Chin Yang Kun berdesah sedih seperti mau menyesali hidupnya yang kurang berbahagia itu.
Bagaimana dia bisa berbahagia kalau kini hanya tinggal sebatangkara di dunia?
Bagaimana dia bisa berbahagia kalau sanak keluarganya dibantai orang tanpa ia tahu siapa yang melakukannya?
Bagaimana dia bisa berbahagia kalau dalam tubuhnya mengalir racun aneh yang sangat menyusahkan kehidupannya kelak?
Dan...sekarang ada satu gejala lagi di dalam tubuhnya yang sangat mencemaskan hatinya.
Beberapa hari terakhir ini nafsu berahinya terasa mudah sekali bergolak.
Dan apabila sudah terlanjur bergolak, rasa-rasanya otak dan akal sehatnya sudah tidak bisa mengendalikannya lagi.
Rasa-rasanya seperti ada suatu dorongan aneh di dalam tubuhnya sendiri yang sulit dijinakkan ataupun dielakkan.
Dan dorongan nafsu iblis itu belum akan hilang kalau belum terlampiaskan!
Chin Yang Kun lalu teringat akan pengalamannya bersama Tiau Li Ing.
Kemudian pemuda itu teringat pula pengalamannya yang mengerikan dan menjijikkan bersama wanita muda isteri pemilik rumah penginapan itu.
Wanita itu mati keracunan karena telah berhubungan dengannya!
"Ohhh...!"
Chin Yang Kun menutup mukanya dengan telapak tangannya.
Batinnya benar-benar merasa terpukul oleh peristiwa itu.
Ia sungguh menyesal bukan main.
Kejadian itu benar-benar membuat dirinya merasa kotor dan berdosa!
"Ada apa sebenarnya di dalam tubuhku ini?
Mengapa selalu ada-ada saja cobaan yang harus kuterima?
Semakin lama rasanya aku menjadi semakin asing terhadap diriku sendiri..."
Chin Yang Kun meratapi nasibnya.
"Tok! Tok! Tok!"
Tiba-tiba pintu kamar itu diketuk orang dari luar.
Dan sebelum Chin Yang Kun bangkit untuk membukanya, dari luar sudah menerobos masuk pelayan-pelayan cantik tadi.
Begitu masuk mereka langsung mengepungnya.
"Tuan Yang Kun sudah selesai mandi? Kalau sudah...hei!? mengapa tuan belum mandi juga?"
"sebentar...ini...ini..."
Chin Yang Kun mencoba menerangkan sambil tersenyum.
Tapi gadis-gadis cantik itu ternyata sudah tidak sabar lagi.
Sambil tertawa cekikikan mereka menyergap Chin Yang Kun dan...melucuti pakaiannya!
Sedetik lamanya Chin Yang Kun melongo saking kagetnya.
Serentak sadar ia langsung meronta sebisa-bisanya.
Dipertahankannya habis-habisan selapis celana dalam yang masih tersisa!
"Ini...ini...jangan!
Ja-jangan...!"
Teriaknya ketakutan. Gadis-gadis itu melangkah mundur dengan tertawa cekikikan.
"Nah! Tuan Yang Kun ingin kami mandikan sekalian...atau mandi sendiri?"
Mereka bertanya dengan nada menggoda.
"Aaaaa...tidak! Jangan! Aku akan mandi sendiri...!"
Chin Yang Kun menjerit seraya berlari tunggang-langgang ke kamar mandi.
Ditutupnya pintu kamar mandi itu keras-keras, sehingga gedung itu rasanya mau runtuh.
Sekali lagi gadis-gadis itu tertawa gembira menyaksikan tingkah laku Chin Yang Kun yang konyol dan menggelikan itu.
"Cepat sedikit Tuan Yang! kau telah dinantikan oleh Siangkoan Ciangkun di pendapa depan!"
Mereka berteriak dengan suara genit.
Lalu dengan tertawa riang mereka kembali ke ruang depan.
Sama sekali mereka tidak mengira atau menyadari bahwa perbuatan mereka tadi sungguh sangat berbahaya sekali.
Hampir saja Chin Yang Kun tadi tidak bisa mengekang nafsu iblisnya yang mulai merambat naik ke otaknya.
Sementara itu di dalam kamar mandi Chin Yang Kun langsung saja terjun ke dalam bak air dan membenamkan diri untuk beberapa saat lamanya.
Dikibas-kibaskannya kepalanya di dalam air agar supaya menjadi dingin kembali.
Setelah itu barulah ia keluar dari bak air itu dan mandi seperti biasanya.
Dan beberapa waktu kemudian ketika gadis-gadis itu kembali lagi Chin Yang Kun telah siap berdandan.
Sepatu dan celananya sudah berganti dengan yang baru, sementara rambutnya yang hitam panjang itu digelung ke atas dan diikat dengan kain sutera kuning gemerlapan.
Hanya baju pemberian Hong-gi-hiap Souw Thian Hai itu saja yang tidak berganti.
Meskipun demikian karena baju tersebut juga masih baru, maka pemuda itu benar-benar tampak rapih dan tampan sekali.
Sesaat lamanya gadis-gadis itu hanya berdiri saja mengawasi di depan pintu.
Tampak benar bahwa mereka terkejut melihat Chin Yang Kun yang tampan itu.
Kelihatannya mereka tidak menyangka sama sekali bahwa pemuda desa yang dekil dan kotor itu ternyata demikian tampan dan menariknya!
"Oh, Tuan Yang..."
Mereka menyapa, dan kini mereka benar-benar tidak berani atau sungkan mengolok-olok lagi.
Kini merekalah yang menjadi canggung dan salah tingkah!
Tapi Chin Yang Kun tidak mempedulikan sikap mereka itu.
Dengan tenang pemuda itu melangkah keluar menuju ke pendapa.
Di tempat itu Siangkoan Ciangkun telah menunggu di pojok ruangan, menghadapi sebuah meja besar yang telah siap dengan segala macam masakan untuk makan malam.
Beberapa orang perwira tampak berada di meja itu pula menemani Siangkoan Ciangkun.
Bagaikan sedang menghadapi tamu besar saja Siangkoan Ciangkun dan para perwira itu berdiri menyambut kedatangan Chin Yang Kun.
Akibatnya Chin Yang Kun menjadi malu dan sungkan ketika diperkenalkan kepada para perwira itu.
Sikap para perwira yang sangat menghormat itu sungguh membuat pemuda itu menjadi kikuk dan tidak enak hati.
"Tuan Yang, perkenalkanlah...! Tuan-tuan yang sekarang duduk bersama kita ini adalah para pembantu dekat Liu...Liu-Ciangkun! Atas perintah Hongsiang mereka membawa pasukan mereka masing-masing kemari untuk membantu LiuCiangkun..."
Perwira berkumis lebat itu berkat. Dan kepada para perwira itu Siangkoan Ciangkun juga berkata.
"Dan...seperti yang telah saya katakan tadi, inilah Tuan Yang...saudara angkat Liu-Ciangkun."
Mereka lalu saling memberi hormat.
Dan sekali lagi sikap para perwira yang sangat menghormat dirinya itu membuat Chin Yang Kun menjadi sungkan sekali.
Sementara di dalam hatinya Chin Yang Kun semakin heran sekaligus kagum terhadap Liu-Twakonya.
Ternyata Liu-Twakonya itu sedemikian tinggi kedudukannya, sehingga perwira-perwira itupun cuma merupakan pembantu-pembantunya saja.
"Ah, bodoh benar aku ini! Jangankan cuma perwira-perwira ini, sedang Yap Tai-Ciangkun yang berkedudukan sangat tinggi itu masih menjadi bawahannya juga."
Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya.
"Kalau begitu tidak heran kalau mereka juga sangat menghormati aku..."
Lima orang pelayan cantik yang mengantar Chin Yang Kun tadi datang membawa cangkir dan minuman.
Mereka meletakkan cangkir-cangkir itu di depan Chin Yang Kun dan para perwira tadi dan mengisinya dengan arak putih yang sedap dan harum.
Setelah itu mereka membuka tutup makanan yang mereka sediakan di atas meja itu dan mempersilakan semuanya untuk memulainya.
"Terima kasih!"
Siangkoan Ciangkun mengangguk, kemudian merogoh saku dan mengeluarkan beberapa keping uang perak untuk hadiah mereka.
"Nih, kalian bagi yang rata!"
"Terima kasih, Siangkoan Ciangkun..."
Gadis-gadis itu tersenyum dengan gembira.
"Nah, Tuan Yang...marilah kita makan dulu seadanya!"
Setelah para pelayan itu pergi Siangkoan Ciangkun mempersilakan Chin Yang Kun dan yang lain untuk makan.
Chin Yang Kun terpaksa menurut juga.
Sambil makan mereka berbicara tentang apa saja, sehingga akhirnya mereka berbicara tentang tugas yang sedang mereka lakukan di daerah itu.
"Jadi...peralatan-peralatan perang yang berada di jalan itu memang sengaja Ciangkun bawa untuk menghadapi gerombolan-gerombolan perusuh itu?"
Chin Yang Kun bertanya kepada Siangkoan Ciangkun.
"Benar! Menurut laporan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee kepada Hongsiang, kekuatan mereka yang terbesar berada di daerah ini. Oleh sebab itu Hongsiang sengaja mengirimkan pasukan-pasukan terbaiknya ke sini, dan dipimpin langsung oleh...eh, oleh Liu-Ciangkun sendiri!"
Chin Yang Kun mengangguk-angguk karena diapun beberapa kali melihat pasukan-pasukan tersebut tersebar di beberapa tempat, termasuk pula diantaranya adalah pasukan yang dipimpin oleh Kim Cian-bu itu!
"Jadi...jadi Baginda telah mencium adanya rencana pemberontakan itu dari Hong-lui-kun Yap Kiong Lee?
Tapi mengapa...malahan tak kulihat pendekar sakti dan Yap Tai-Ciangkun itu disini...?"
Sambil lalu Chin Yang Kun menanyakan kakak beradik yang sangat terkenal itu.
"Ah, mereka berdua telah mendapat tugas sendiri dari Hongsiang, dan tugas mereka justru lebih berat dari pada tugas kami disini. Mereka harus melacak dan menangkap para pimpinan gerombolan perusuh itu, yang tempatnya telah diketahui pula oleh Hong-lui-kun Yap Kiong Lee. Dan karena dikhabarkan bahwa pimpinan gerombolan tersebut dan para pembantu utamanya berkepandaian sangat tinggi, maka Hongsiang mengikutsertakan juga pasukan Sha-cap mi-wi untuk membantu gerakan mereka."
Sekali lagi Chin Yang Kun hanya mengangguk-angguk, karena dia juga telah tahu siapa pemimpin gerombolan itu dan para pembantunya.
Memang kalau cuma pasukan biasa saja tidak mungkin dapat menangkap Hek-eng-cu dan para pembantunya yang lihai-lihai itu.
Pembicaraan itu lalu berhenti untuk beberapa saat lamanya.
Masing-masing tampak sedang sibuk menghabiskan bagian-bagian terakhir dari makan malamnya.
Hidangan makan malam tersebut benar-benar lezat sehingga Chin Yang Kun dan para perwira itu merasa puas sekali.
Seluruh masakan yang berada di atas meja itu betul-betul istimewa sehingga rasa-rasanya mereka segan untuk menghentikan makan malam mereka.
Tetapi perut mereka ternyata tidak bisa memuatnya lagi.
Sambil mengisi cangkirnya lagi Siangkoan Ciangkun menatap Chin Yang Kun.
"Nah, Tuan Yang...puas bukan? Sekarang marilah kita nikmati sebuah hiburan lagi! Ayoh, kalian mulailah...!"
Perwira berkumis lebat itu bertepuk tangan dan tiba-tiba Chin Yang Kun dikejutkan oleh suara kecapi yang mendadak berdenting nyaring memenuhi ruangan pendapa yang luas tersebut.
Dan seperti juga datangnya suara kecapi yang sangat mengejutkan itu, tiba-tiba dari pintu dalam muncul pula dengan mendadak belasan orang penari cantik, berlari berurutan ke tengah-tengah pendapa tersebut.
Sambil berlari mereka mengibas-ngibaskan kipas yang mereka bawa ke kanan dan ke kiri bersama-sama, sementara pakaian mereka yang berwarna-warni itu berkibaran seperti bunga mekar yang bergetar tertiup angin.
Kemudian mulailah gadis-gadis itu menggerak-gerakkan tubuh mereka dengan indahnya.
Berbareng dengan denting suara kecapi yang semakin panas tubuh merekapun bergerak semakin cepat dan menggairahkan.
Mereka melangkah, meliuk dan berputar bersama-sama dengan lemah gemulai, membikin semua orang terpaksa menahan napas tanpa berkedip!
"Ahhh...!"
Chin Yang Kun berdesah tanpa terasa. Siangkoan Ciangkun menoleh dan...tersenyum melihat air muka Chin Yang Kun yang mulai terbakar itu.
"Tuan Yang, coba kau lihat mereka itu! Cantik-cantik, bukan?"
Perwira itu mencoba untuk menjajagi hati Chin Yang Kun.
"Eeh, manakah yang tercantik menurut pendapat Tuan Yang?"
Chin Yang Kun tersentak kaget.
Mukanya menjadi merah seketika.
Tapi sebaliknya gairah yang mulai menyala di dalam tubuh itu menjadi padam malah!
"Ah...eh...oh, Ci...Ciangkun ini ada-ada saja!
Aku...aku tidak sedang memikirkan para penari itu.
Aku sedang berpikir tentang..."
"Oooh, aku tahu! Tuan Yang telah terlanjur jatuh hati kepada para pelayan tadi, bukan? Hehehe...jangan khawatir! Mereka akan kusuruh menemani Tuan Yang nanti."
Siangkoan Ciangkun cepat-cepat memotong perkataan Chin Yang Kun.
"Ahhhh!"
Chin Yang Kun berdesah lagi dengan hati berdebar-debar.
Satu persatu wajah para pelayan itu berkelebat di depan matanya.
Namun dengan menggeretakkan giginya pemuda itu berusaha menghapus bayangan-bayangan tersebut.
"Terima kasih, Siangkoan Ciangkun. Aku benar-benar tidak sedang memikirkan siapa-siapa. Aku hanya ingin lekas-lekas bertemu dengan Liu-Twako. Dan...sejak tadi Siangkoan Ciangkun belum mengatakan kepadaku, dimana Liu-Twako sekarang berada..."
"Hah? Ooo...benar...benar! mengapa aku menjadi orang linglung begini? Sejak semula seharusnya aku sudah tahu bahwa kedatangan Tuan Yang kemari ini tentu hendak bertemu dengan Liu-Ciangkun, hahaha..."
Perwira berkumis lebat itu tertawa.
"Maafkanlah aku, Siangkoan Ciangkun..."
Chin Yang Kun tersenyum pula.
"Hahaha...akulah yang seharusnya meminta maaf kepada Tuan Yang. Tapi...sudahlah, sebentar juga Liu...Liu-Ciangkun akan datang. Sejak siang tadi beliau ikut Hongsiang pergi berburu."
"Hongsiang...? Berburu...?"
Chin Yang Kun terbelalak matanya.
Tiba-tiba pemuda itu teringat pada pasukan besar yang melintasi jalan raya sore tadi.
Tapi Siangkoan Ciangkun menyangka bahwa kekagetan tamunya itu disebabkan karena hadirnya Hongsiang di kota Sin-yang.
Oleh karena itu diam-diam Siangkoan Ciangkun tertawa di dalam hati.
Perwira yang telah diberitahu oleh Baginda tentang sandiwara "Liu-Twako"
Atau Liu-Ciangkun"
Itu benar-benar tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan pemuda itu kalau nanti akhirnya tahu bahwa orang yang selama ini ia anggap sebagai "Liu-Twako"
Itu ternyata adalah Kaisar Han sendiri.
"Maaf...aku tadi belum mengatakan pula kepada Tuan Yang tentang kedatangan Hongsiang kemari."
Perwira itu cepat-cepat berkata.
"Pagi tadi seluruh pasukan kamipun juga terkejut melihat kedatangan Hongsiang di kota ini! Apalagi Hongsiang hanya dikawal oleh empat orang perwira kepercayaannya..."
"Oooh! Tapi...tapi sore tadi kulihat sebuah pasukan besar dan lengkap menuju ke bukit di sebelah utara kota ini. Dan...aku melihat juga bendera Hong-thian-liong-cu diantara mereka. Masakan untuk berburu saja Hongsiang membawa Liu-Twako dan pasukan sebesar itu?"
"Hei...jadi Tuan Yang telah berjumpa dengan pasukan Hongsiang tadi? Ah, kalau begitu mereka cuma berada di sekitar kota ini saja sekarang,"
Perwira berkumis lebat itu menatap Chin Yang Kun dengan perasaan lega.
"Lhoh...memangnya kemana Hongsiang pergi berburu?"
Chin Yang Kun bertanya dengan wajah sedikit curiga.
Masakan perwira-perwira itu tak tahu dimana Hongsiang sedang berburu?
"Eh-oh, maaf...Tuan Yang!
Berburu itu cuma istilah yang kami pakai untuk gerakan kami dalam menumpas gerombolan perusuh itu.
Maaf..."
Siangkoan Ciangkun cepat-cepat memberi keterangan.
"Ohh...!"
Keduanya lalu menatap ke depan lagi, melihat ke arah para penari yang ternyata telah mulai menutup bagian terakhir dari tari-tarian mereka.
Para penari itu tampak berdiri berjajar sambil meletakkan kipas di dada masing-masing, lalu secara berbareng mereka membungkuk ke arah Chin Yang Kun dan para perwira itu.
Setelah satu persatu mereka berlari mengundurkan diri ke ruangan dalam lagi.
Sekejap kemudian tempat itu menjadi riuh dengan tepuk tangan para perajurit dan pengawal yang ternyata telah memadati pintu pendapa.
Mereka berdiri berdesakan di belakang para penjaga yang membatasinya dengan tombak mereka yang panjang.
"Lagi! Lagi! Lagi...!"
Mereka berteriak. Siangkoan Ciangkun tersenyum memandang Chin Yang Kun.
"Lihat, Tuan Yang...! para perajurit kami itu benar benar haus akan hiburan. Mereka merasa bosan juga tampaknya kalau setiap hari harus bertempur dan berkelahi."
Chin Yang Kun tersenyum pula.
"Yaaa...dan tampaknya Siangkoan Ciangkun memang bermaksud untuk menghibur mereka pula."
"Benar. Pertunjukan malam ini selain untuk menyambut Tuan Yang memang kami maksudkan untuk sekalian menghibur mereka juga."
"Pertunjukan malam ini...? Apakah masih ada yang lain lagi?"
Chin Yang Kun bertanya dengan kening berkerut.
"Ya! Dan pertunjukan berikutnya malah akan lebih menarik lagi, karena kami akan meminta kepada Tuan Yang untuk ikut memeriahkannya pula nanti..."
"Apa...? Pertunjukan apakah itu?"
Chin Yang Kun bertanya pula semakin tidak mengerti. Lagi-lagi Siangkoan Ciangkun hanya tersenyum sambil menuding ke pintu ruangan dalam.
"Tuan lihat saja nanti...!"
Katanya menggoda.
Chin Yang Kun menjadi penasaran.
Dengan hati gelisah dan tak sabar ia menatap ke arah pintu yang ditunjuk oleh Siangkoan Ciangkun.
Terbeliak mata Chin Yang Kun ketika dari dalam pintu tersebut tiba-tiba muncul empat orang gadis cantik membawa tombak berkait pada masing masing tangannya.
Tetapi bukanlah tombak berukuran pendek dan terbuat dari perak itu yang mengejutkan hati Chin Yang Kun, melainkan gadis-gadis itulah yang membuatnya kaget.
Dan perubahan wajah Chin Yang Kun ini tak luput dari pandangan mata Siangkoan Ciangkun yang sedari tadi selalu memperhatikan pemuda tersebut.
"Hahaha, Tuan Yang kali ini benar-benar tak menyangka bukan? Pelayan-pelayan cantik yang telah mampu menarik hati Tuan Yang ini memang bukan pelayan-pelayan biasa. Mereka adalah dayang-dayang istana yang selalu mengikuti kemanapun Hongsiang pergi. Dan mereka adalah dayang dayang yang sangat terlatih dalam memainkan senjata, meskipun tentu saja tidak semahir para pengawal khusus Hongsiang yang lain..."
Siangkoan Ciangkun menerangkan dengan suara gembira.
"Aaah...!"
Chin Yang Kun tersipu-sipu.
"Lihat...!"
Gadis-gadis yang tadi tampak lemah lembut dan halus gerak-geriknya, kini kelihatan tangkas dan garang ketika menarikan tombak pendeknya.
Mereka memainkan jurus demi jurus secara mantap, indah dan serempak!
Tombak berkait yang seluruhnya terbuat dari besi berselaputkan perak itu kelihatan ringan tanpa bobot di tangan gadis-gadis itu.
Setelah mereka memainkan kira-kira sepuluh jurus secara mengagumkan, gadis-gadis itu lalu menyebar.
Masing-masing berhadapan dengan pasangannya, sehingga mereka lalu berpisah menjadi dua kalangan.
Dan sebentar kemudian masing-masing lantas terlibat dalam pertempuran sengit dengan pasangannya!
Masing-masing bertempur seperti dua ekor ayam aduan.
Makin lama makin cepat, sehingga banyak dari para penonton yang merasa gelisah dan khawatir terhadap keselamatan mereka.
Tiba-tiba...
"Traaaaang! Traaang!"
Pertempuran berhenti dengan mendadak.
Keempat orang gadis itu tahu-tahu telah berdiri berjajar sambil menjura ke arah meja Chin Yang Kun.
Dan empat buah tombak mereka tampak menancap di atas lantai di depan mereka.
Ujung ujung tombak itu masih kelihatan bergetar, suatu tanda bahwa tenaga yang mereka keluarkan benar-benar tidak ringan.
Sekejap ruangan itu malah menjadi sepi seperti kuburan, semua penonton bagai dicengkam oleh permainan tombak yang sangat mengagumkan itu.
Tapi di lain saat merekapun lalu bertepuk tangan dengan gegap-gempita seperti pasukan perajurit yang memperoleh kemenangan di medan perang.
"Terima kasih! Terima kasih...!"
Gadis-gadis itu menjura pula ke arah penonton.
Wajah mereka tampak segar berseri, sedikitpun tidak terlihat keringat yang mengalir di dahi mereka.
Sambil menikmati tepuk tangan kekaguman dari penonton gadis-gadis itu berkali-kali melirik ke arah Chin Yang Kun, seolah-olah permainan mereka itu tadi memang mereka peruntukkan bagi pemuda itu.
Tentu saja pemuda yang sejak semula memang telah tertarik kepada gadis-gadis itu menjadi semakin sukar mengendalikan nafsu aneh yang bergejolak di dalam dirinya.
Tetapi dengan segera kekuatan jiwa dan batinnya pemuda itu berusaha menindasnya!
Tiba-tiba Siangkoan Ciangkun berdiri sambil mengangkat kedua tangannya ke atas, sehingga tepuk tangan dan sorak sorai yang gegap gempita itupun berhenti dengan mendadak.
Lalu dengan tersenyum lebar perwira berkumis lebat itu berseru.
"Nah! Siapakah yang ingin bermain-main sebentar dengan mereka? Ayoh...siapa yang berani silakan maju ke depan! Hitung-hitung kalian ikut memeriahkan pertunjukan mereka malam ini...!"
Hening sesaat.
Semuanya tampak saling menantikan siapa yang hendak maju ke arena untuk menguji kepandaian para dayang istana itu.
Sebetulnya banyak juga diantara para perajurit pengawal yang ingin mencobanya, tapi mereka tampaknya masih sungkan dan malu untuk mendahului maju ke depan.
"Ayoh...mengapa ragu-ragu? Heh, Teng Bo...kau ingin maju tidak?"
Siangkoan Ciangkun menuding seorang perajurit berperawakan tinggi besar, yang sejak tadi selalu memilin-milin kumisnya.
"Baik, Siangkoan Ciangkun...Siauwte akan mencobanya!"
Perajurit itu segera melangkah ke depan.
Sebuah goIok besar kelihatan tergantung di pinggangnya.
Setelah memberi hormat lebih dahulu ke arah para perwira yang duduk satu meja dengan Chin Yang Kun, Teng Bo meloloskan golok besarnya.
Dengan rasa percaya diri yang besar Teng Bo menyilangkan golok itu di depan dadanya.
"Marilah, nona...kita bermain-main sebentar! Aku yang rendah ingin berkenalan dengan ilmu tombak berkait nona yang hebat itu."
Perajurit itu berkata merendah.
Keempat dayang itu tersenyum sambil mencabut tombak masing-masing, kemudian salah seorang diantara mereka, yang berbaju putih-putih, maju ke depan membalas penghormatan Teng Bo.
"Maaf, Tuan Teng...kami berempat ini selalu maju bersama. Maka dari itu agar pertempuran kita nanti menjadi adil, kami harap Tuan Teng mencari kawan lagi untuk melawan kami,"
Katanya.
"Terima kasih, nona...kukira tak usahlah! Akupun sudah biasa bertempur sendiri dalam setiap peperangan."
"Kalau begitu maafkanlah kami terpaksa mengeroyok Tuan Teng..."
"Tak apa! Marilah...!"
Sambil berkata Teng Bo memutar golok besarnya, lalu dengan mengandalkan kekuatan tubuhnya yang hebat ia menyabetkan golok tersebut ke depan, ke arah lengan dayang berbaju putih yang memegang tombak itu.
Dalam sorotan lampu pendapa yang terang benderang golok yang putih mengkilap itu berkelebat cepat bagai kilatan petir menyambar!
Semua penonton menahan napas, mereka khawatir terhadap keselamatan gadis itu!
Mereka melihat Teng Bo yang biasa berlaku ganas di setiap pertempuran itu benar benar menyerang lawannya dengan sungguh-sungguh!
Tapi dayang berbaju putih itu meloncat ke belakang dengan cepat, sementara ketiga orang temannya yang berbaju merah, kuning dan hijau tampak melesat ke depan melindunginya.
Ketiga batang tombak mereka merunduk ke depan, memapaki ayunan golok Teng Bo!
"Traaaang!"
Terdengar suara nyaring yang memekakkan telinga ketika golok tersebut menghantam tiga ujung tombak lawannya.
Begitu hebat tenaga yang dikeluarkan Teng Bo sehingga ketiga buah tombak itu terpental menghantam lantai.
Perajurit bertenaga raksasa itu memang sangat terkenal di dalam kesatuannya.
Dia langsung berada di bawah pimpinan Siangkoan Ciangkun dan mendapat kepercayaan memimpin enam puluh orang perajurit pengawal yang lain.
Selain mempunyai tenaga gwakang yang hebat Teng Bo juga mahir mempergunakan golok, sebab dia adaIah murid Kim-to-pai (Perguruan Golok Emas) yang terkenal di daerah Shoa-tang beberapa puluh tahun yang lalu.
Empat orang dayang istana itu lalu menyebar ke segala penjuru.
Mereka menempatkan diri mereka pada titik mata angin, yaitu Utara, Timur, Selatan dan Barat, sementara Teng Bo mereka tempatkan di tengah-tengah mata angin tersebut.
Sambil memutar-mutarkan goloknya di depan dada Teng Bo membiarkan dirinya dikepung oleh lawannya.
Kenyataan bahwa tenaganya masih jauh lebih besar dari pada tenaga perempuan-perempuan cantik itu membuat Teng Bo sangat yakin dapat menundukkan mereka dalam waktu singkat.
Oleh karena itu dengan jurus Kai san siu-yi (Membuka Payung Menerobos Hujan), Teng Bo mendahului menerjang!
Sekali lagi yang dia serang adalah dayang berbaju putih yang berdiri di titik Utara.
Mendadak mata angin itu berputar ke arah kanan seperti jarum jam, dan gadis yang berdiri di titik utara itu tiba-tiba telah berganti dengan gadis berbaju hijau, yaitu gadis yang semula berada di titik barat.
Begitu datang gadis berbaju hijau itu lantas menyodokkan ujung tombaknya ke arah putaran golok Teng Bo yang cepat seperti baling-baling itu, sementara teman-temannya yang lain cepat pula membantunya dari arah kanan kiri dan belakang Teng Bo.
Pada waktu yang bersamaan ternyata serangan Teng Bo itu dipapaki dengan serangan pula oleh keempat orang lawannya.Tentu saja keadaan itu sangat merepotkan Teng Bo, karena tidak mungkin kedua tangannya bisa melayani delapan buah tangan sekaligus.
Dan apabila dia nekat menyerang si Baju Hijau, maka tubuhnyapun akan menjadi bulan-bulanan serangan tombak tiga orang lawannya yang Iain pula.
Maka Teng Bo segera menarik serangannya.
Dengan sigap tubuhnya mendoyong ke arah kiri seraya menepiskan mata tombak dayang berbaju kuning yang menusuk ke arah bahunya.
Kemudian berbareng dengan gerakannya itu Teng Bo mengibaskan golok besarnya ke arah tombak Si Baju Putih dan Si Baju Merah.
Gerakannya itu dilakukan dengan sangat cepat dan kuat, suatu tanda bahwa ilmu goloknya itu memang telah ditekuninya selama bertahun-tahun.
Malahan sekejap kemudian golok itu telah menyerang kembali dengan ganasnya dan kali ini memakai jurus Sao-chiao-teng-toa atau Menyapu Kaki Menara Api.
Tujuan Teng Bo adalah membabat kaki lawan-lawannya!
Tapi dengan cepat empat orang dayang istana itu menancapkan tombaknya ke lantai.
Braaak!
Dan tubuh mereka melenting ke atas dengan manisnya, seperti para pemain akrobat yang bertumpu pada sebilah bambu.
Malah tidak hanya itu yang diperbuat oleh dayang-dayang istana tersebut.
Sambil melenting ke atas kaki mereka segera berputar menghantam kepala Teng Bo!
Dan perajurit bertenaga raksasa itupun terpaksa jatuh bangun untuk mengelakkannya!
Demikianlah, pertempuran satu lawan empat itu makin lama makin seru.
Teng Bo yang semula menyangka tenaga terlalu berlebihan untuk menghadapi gadis-gadis itu, kini terpaksa harus mengakui bahwa anggapannya tersebut adalah keliru sama sekali.
Tenaga luarnya yang hebat itu ternyata tidak berguna dan mati kutu menghadapi kerja sama lawannya yang kompak dan rapi.
Malahan beberapa jurus kemudian dialah yang menjadi kewalahan dan tidak bisa mengembangkan ilmu goloknya dengan sempurna.
Tombak tombak lawannya yang berkait pada setiap sisinya itu benar-benar cocok untuk menahan atau membatasi gerakan goloknya.
Beberapa kali golok besarnya hampir terlepas dari tangannya akibat terjepit oleh kaitan tersebut.
Kaitan-kaitan itu sungguh-sungguh seperti catut (jepitan) yang sangat berbahaya dan selalu mengejar goloknya!
"Traaaaang...!"
Dan akhirnya golok itu benar-benar terlepas karena tak dapat mengelak lagi dari jepitan tombak Si Baju Putih dan Si Baju Hijau.
Dan begitu golok tersebut lepas, tombak-tombak lawannya telah teracung di depan hidungnya.
"Baiklah! Baiklah! Aku mengaku kalah..."
Teng Bo berdesah kecewa seraya menyambar goloknya kembali.
"Bagus! Bagus! Nah, siapa lagi yang mau mencobanya?"
Siangkoan Ciangkun bertepuk tangan sambil berteriak ke arah penonton yang semakin berjubal di tangga pendapa.
"Siangkoan Ciangkun, kamipun ingin mencoba juga..."
Dari tengah-tengah penonton yang berdesakan itu tiba-tiba terdengar suara jawaban.
Penonton yang berjejal di depan pintu itu segera menyibak untuk memberi jalan kepada tiga orang perajurit, yang mendesak maju dan kemudian meloncat naik ke atas pendapa.
Sebelum pergi ke tengah pendapa untuk menghadapi dayang-dayang istana itu mereka memberi hormat ke arah Siangkoan Ciangkun lebih dahulu.
Setelah itu ketiga-tiganya lantas berlompatan ke arena.
Begitu mengetahui siapa yang masuk ke dalam arena, para penonton segera bersorak-sorai dengan bersemangat.
Setiap perajurit yang bertugas di tempat itu tahu belaka, siapa tiga orang perajurit yang kini hendak mencoba kekuatan dayang-dayang istana itu.
Meskipun baru beberapa hari masuk menjadi perajurit, ketiga orang itu telah sering kali menunjukkan kehebatan dan kelebihan-kelebihan mereka di muka perajurit-perajurit yang lain.
Malahan di setiap pertempuran yang terjadi antara pasukan kerajaan melawan gerombolan kaum perusuh, ketiga orang perajurit baru itu selalu membuat kagum kawan-kawan mereka.
Mereka bertiga selalu berdiri di baris terdepan sebagai ujung tombak pasukan mereka.
Dan apa yang mereka lakukan di dalam menghadapi musuh itu benar-benar sangat menggiriskan dan tak mungkin bisa dilakukan oleh para perajurit yang lain, bahkan tak mungkin bisa dilakukan oleh pemimpin mereka sendiri.
Sepak terjang mereka yang hebat itu hanya pantas dilakukan oleh para perwira atau pangIima mereka yang mempunyai kesaktian dan kepandaian tinggi.
Oleh karena itu meskipun baru beberapa hari menjadi perajurit, mereka bertiga sudah dikenal oleh para perwira dan semua perajurit yang ditugaskan ke daerah tersebut.
"Nah...sekarang baru sebuah pertandingan benar-benar!"
Siangkoan Ciangkun berbisik kepada Chin Yang Kun yang menatap ke arena dengan wajah tegang pula. Dan perwira itu segera tersenyum melihat kegelisahan tamunya.
"Aha, Tuan Yang...kau tak perlu mengkhawatirkan keselamatan gadis-gadis manis itu. Mereka berempat akan tetap melayanimu malam ini. Percayalah...!"
Bisiknya lagi.
"Siangkoan Ciangkun...?"
Chin Yang Kun memotong perkataan perwira itu dengan nada tak senang.
"Sudahlah, Tuan Yang...kau tak perlu khawatir! Meskipun Mo, Lim dan Pang itu sangat lihai tapi mereka takkan berani melukai dayang Hongsiang."
Siangkoan Ciangkun menegaskan lagi kata-katanya.
Perwira itu tetap salah terka terhadap sikap Chin Yang Kun tersebut.
Pemuda itu menghela napas panjang.
Dia tak mau berdebat lebih lanjut.
Matanya menatap ke arena kembali dan dilihatnya orang-orang itu sudah berhadapan dengan dayang-dayang istana.
"Aku tak mungkin lupa kepada orang-orang itu, karena ulah merekalah yang menyebabkan tubuhku menjadi beracun begini. Hmmm..., Tung-hai Sam-mo! Mengapa mereka bisa berbalik menjadi perajurit kerajaan? Masakan orang seperti Siangkoan Ciangkun ini tidak tahu kalau mereka adalah bekas pemberontak yang dulu pernah menyerang ibu kota (Kotaraja)?"
Pemuda itu membatin.
Sementara itu pertempuran antara empat gadis melawan tiga lelaki di tengah ruangan pendapa ini sudah berlangsung dengan hebatnya.
Tiga orang lelaki yang dikenal Chin Yang Kun sebagai Tung-hai Sam-mo itu bertempur dengan pedang gergajinya yang mengerikan.
Mula-mula mereka bertempur dengan serabutan dan tidak memilih lawan.
Mereka menyerang siapa saja yang dekat dengan mereka masing masing.
Tapi setelah dayang-dayang itu mulai membuka jurus mata angin mereka, Tung-hai Sam-mo juga tidak bisa tinggal diam pula.
Ketiga Iblis Laut Timur itu segera mengeluarkan Ang-cio hi-tin pula.
Demikianlah, kedua macam barisan itu segera bertarung satu sama lain!
"Ah!
Biarpun Barisan Mata Angin dari dayang-dayang itu sangat kuat, tapi gerakan mereka masih terlampau lamban bisa menjaring atau mengepung Tung-hai Sam-mo."
Chin Yang Kun menilai pertempuran itu.
Memang benar apa yang dikatakan oleh pemuda itu.
Barisan Mata Angin itu memang kokoh kuat dan sukar ditembus lawan.
Laksana sebuah benteng istana keempat orang dayang tersebut merupakan pintu-pintu gerbangnya, di mana lawan tak mungkin dapat masuk ke dalam tanpa melewati bangkai penjaganya terlebih dahulu.
Padahal pintu gerbang itu selalu berpindah-pindah tempat dan para penjaganyapun juga selalu berganti-ganti setiap saat.
Meskipun demikian benteng tersebut ada juga kelemahannya.
Sebelum kemampuan dari setiap penjaganya belum bisa diandalkan, gerakan merekapun masih terasa lamban dalam berpindah atau berganti tempat.
Oleh karena itu tidaklah heran kalau Barisan Cucut Merah yang licin dan gesit itu akhirnya bisa menerobos dan menggempur benteng Barisan Mata Angin tersebut.
Dan Barisan Mata Angin itu menjadi kalang kabut ketika Cucut Merah itu mulai "berkubang"
Di dalamnya!
Para perajurit yang berdesakan itu semakin riuh bersorak sorak menjagoi Tung-hai Sam-mo yang mulai dapat mendesak lawan mereka.
Perasaan mereka yang kecewa akibat kekalahan Teng Bo tadi menjadi terobati sekarang.
Jilid 34 Ternyata tidak semua penonton gembira melihat kemenangan Tung-hai Sam-mo itu.
Chin Yang Kun yang sejak semula memang tidak menyukai iblis-iblis itu segera penasaran dan bermaksud untuk membantu dayang-dayang itu.
Tapi tentu saja pemuda itu tidak bisa turun ke arena begitu saja.
"Aku harus mencari jalan untuk menghentikan pertempuran mereka selama beberapa saat. Setelah itu aku akan membisiki gadis-gadis itu bagaimana caranya menghadapi Barisan Cucut Merah tersebut..."
Pemuda itu berpikir di dalam hati.
Demikianlah, Chin Yang Kun lalu mengambil dua buah biji lengkeng yang tersedia di atas meja.
Kemudian setelah yakin bahwa tidak seorangpun yang memperhatikan perbuatannya, pemuda itu lalu mengerahkan Liong-cu I-kangnya.
Untunglah suasana di tempat itu sangat riuh dan ramai, sehingga suara gemeretak tulang-tulangnya akibat mengalirnya tenaga sakti dari tan-tian ke seluruh tubuh itu tidak terdengar oleh siapapun.
Kemudian bersamaan dengan suara denting senjata di arena, Chin Yang Kun membidikkan biji lengkeng tersebut ke arah tali yang digunakan untuk menggantungkan lampu besar di tengah-tengah ruangan.
Srrrt!
Srrrrt!
Dua buah biji Iengkeng itu melesat seperti kilat ke arah sasaran dan...
"Taaas! Pyaaar...!"
Tali tersebut putus dan lampunya jatuh berantakan ke bawah!
Semua orang terperanjat sekali.
Apalagi ketika pecahan lampu tersebut hampir menimpa orang-orang yang sedang bertempur.
Sorak-sorai penonton berganti dengan jerit dan teriakan khawatir!
Otomatis orang-orang yang sedang bertempur itu berloncatan mundur menyelamatkan diri.
Dan waktu yang sekejap itu dipergunakan oleh Chin Yang Kun untuk melaksanakan niatnya membantu dayang-dayang istana itu.
Dibisikkannya kepada Si Dayang Berbaju Putih dengan Coan im-jib-bit, tentang rahasia Ang-cio hi-tin dan cara bagaimana menghadapinya.
"Ohhh!"
Dayang Berbaju Putih itu terkejut.
Bola matanya melirik ke sana kemari, mencari siapa yang telah berbisik kepadanya.
Dan ketika pandangannya sampai kepada Chin Yang Kun, gadis itu segera tahu siapa yang telah memberikan rahasia itu kepadanya.
Tapi sebelum gadis itu menjawab isyarat yang diberikan Chin Yang Kun, Tung-hai Sam-mo telah menyerang mereka berempat kembali.
"Aha...cuma sebuah lampu tua yang rontok akibat getaran permainan kita tadi, hahaha! Ayoh...sekarang kita lanjutkan lagi pertempuran kita!"
Orang she Mo, yaitu iblis pertama dari Tung-hai Sam-mo berteriak seraya menyabetkan pedang gergajinya.
Si Dayang berbaju Putih cepat mengelak, Ialu bergegas mengajak kawan-kawannya membentuk Barisan Mata Angin kembali.
Sebetulnya dayang-dayang yang lain sudah merasa ragu-ragu melihat kehebatan lawan mereka, tapi menyaksikan Si Baju Putih sudah diserang oleh lawan, terpaksa mereka datang membantunya juga.
"Ah, sudahlah! Kalian tak perlu melanjutkan lagi pertandingan ini! Kita semua sudah dapat meraba siapa yang lebih unggul diantara kalian..."
Siangkoan Ciangkun tiba-tiba melompat ke arena dan mencoba melerai mereka.
Tapi maksud baik Siangkoan Ciangkun itu disambut dengan keluhan kecewa dari kalangan penonton.
Mereka menggerutu dan mengeluh panjang-pendek menyatakan ketidakpuasan mereka bila pertandingan yang belum selesai itu dihentikan.
Dengan tangkas Tung-hai Sam-mo melangkah mundur, lalu memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun dengan khidmat.
Wajah mereka tampak berseri-seri gembira karena dapat menundukkan dayang-dayang cantik itu.
"Terima kasih atas pujian Siangkoan Ciangkun..."
Toa-mo berkata mewakili kawankawannya. Tapi Si Dayang Berbaju Putih cepat maju ke depan. Mukanya kelihatan kecewa dan penasaran ketika memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun.
"Ciangkun, mengapa Ciangkun menghentikan pertandingan yang belum selesai ini? Kami belum merasa kalah, kami justru baru akan mulai malah!"
"Bagus! Bagus...!"
Penonton berteriak-teriak gembira.
"Eh...tapi..."
Siangkoan Ciangkun terkejut.
Ternyata tidak hanya Siangkoan Ciangkun saja yang kaget mendengar pernyataan Si Baju Putih tersebut, Tung-hai Sam mo dan...kawan-kawan Si Baju Putih sendiripun juga terperanjat mendengar perkataan itu.
Tapi kekagetan kawan-kawan Si Baju Putih itu segera pudar dan hilang ketika secara bergilir mereka mendengar pesan Chin Yang Kun melalui Coan-im-jib-bit.
Seperti juga tadi, pemuda itu memanfaatkan waktu luang tersebut untuk memberi tahu cara-cara menghadapi Ang-cio hi-tin kepada dayang-dayang yang lain.
"Maksud kalian...mau meneruskan pertarungan ini?"
Dengan ragu-ragu Siangkoan Ciangkun menatap ke arah dayang-dayang istana itu.
"Benar, Ciangkun...!"
Tiba-tiba gadis-gadis itu menjawab serentak.
"Tapi...pertarungan tadi cuma sebuah pertunjukan, bukan? Kalian tidak bermusuhan dan..."
"Kami memang tidak bermusuhan dengan mereka, Ciangkun. Oleh karena itu kami juga tidak akan melukai, apalagi membunuh mereka dalam pertarungan ini. Malam ini adalah malam pertunjukan kami, karena itu kami akan menyuguhkan permainan terbaik kami kepada para penonton"
Si Baju Putih berkata mantap.
"Hore...bagus! Bagus!"
Penonton berteriak-teriak lagi. Tung-hai Sam-mo bergegas maju ke arena kembali.
"Siangkoan Ciangkun, biarlah kami menghadapi nona-nona ini lagi agar supaya semuanya merasa puas,"
Toa-mo menjura.
"Tapi...kalian jangan melukai mereka! Mereka adalah dayang-dayang Hongsiang..."
Dengan terpaksa Siangkoan Ciangkun mengangguk, lalu kembali ke tempat duduknya lagi.
"Wah, repot...repot!"
Siangkoan Ciangkun berdesah sambil mengawasi Chin Yang Kun yang duduk di sebelahnya.
"Siangkoan Ciangkun tak perlu merasa khawatir. Mereka bukan anak-anak kecil lagi. Mereka tentu masih bisa berpikir bahwa mereka itu masih sama-sama menghamba kepada Baginda Kaisar, sehingga mereka itu tidak mungkin berbuat hal-hal yang akan menyulitkan diri mereka sendiri. Kukira mereka hanya akan mempertunjukkan kebolehan mereka saja kepada kita,"
Chin Yang Kun berusaha menenangkan hati perwira itu.
Sementara itu Tung-hai Sam-mo dan dayang-dayang itu sudah saling berhadapan lagi di dalam arena.
Masing-masing juga telah membentuk barisan mereka.
Dayang-dayang itu berdiri dalam posisi segi-empat, sedangkan Tung-hai Sam-mo berdiri berjajar dalam jarak satu setengah langkah.
Demikianlah, beberapa saat kemudian merekapun Ialu terlibat ke dalam pertempuran yang seru kembali.
Tung-hai Sam-mo yang merasa lebih unggul dari pada lawannya itu sangat meremehkan sekali keampuhan barisan lawan.
Beberapa kali mereka sengaja mencegat gerakan gadis-gadis itu, lalu menerobos masuk dan kemudian...keluar lagi!
Tampaknya para iblis dari Laut Timur itu memang sengaja mau mentertawakan ilmu kepandaian lawan mereka yang masih jauh di bawah kepandaian mereka itu.
"Biarlah mereka semakin lengah dahulu, setelah itu baru salah seorang dari kalian menempel di samping orang yang berada di tengah barisan itu. Berusahalah dan jangan sampai gagal! Sekali kalian gagal mereka akan tahu bahwa kalian telah menemukan rahasia barisan mereka, selanjutnya mereka akan sangat berhati-hati sekali!"
Sekali lagi Chin Yang Kun berbisik kepada Si Baju Putih.
Benar juga, semakin lama Tung-hai Sam-mo semakin lengah juga.
Apalagi ketika mereka semakin menyadari bahwa kepandaian mereka masing masing masih jauh lebih tinggi bila diperbandingkan dengan kepandaian gadis-gadis itu.
Tampaknya tanpa mempergunakan sengajapun mereka masih dapat mengalahkan gadis-gadis itu dengan mudah.
Sampai pada suatu saat Sam-mo (iblis ketiga) sambil tertawa berpura-pura ketinggalan langkah dari saudara saudaranya yang lain.
Kelihatannya iblis tersebut bermaksud berkelakar sambil menunjukkan bahwa mereka memang lebih hebat.
Tapi tidak mereka sangka kesempatan itu dipergunakan dengan cepat oleh Si Baju Putih.
Bagai kilat gadis itu melesat ke belakang Ji-mo (iblis kedua), menggantikan kedudukan Sam-mo.
Dan dayang-dayang yang lainpun segera menyesuaikan diri.
Dengan cepat mereka bergerak membentuk Barisan Mata Angin kembali dan menempatkan Toa-mo dan Ji-mo di dalam barisan, sementara Sam-mo mereka pisahkan di luar barisan.
Demikianlah, akibat kesombongan dan kepongahan mereka sendiri Tung-hai Sam-mo terjatuh dalam kesulitan.
Merekalah kini yang kena tempur habis-habisan dari kanan kiri, muka dan belakang!
Gadis-gadis itu tak memberi kesempatan sama sekali kepada mereka untuk bergabung kembali.
Yang paling susah dan menderita adalah Toa-mo dan Jimo!
Oleh karena mereka berada di dalam barisan lawan, maka mereka terus menerus mendapat gempuran dari penjuru.
Beberapa kali mereka hampir tak dapat lagi mengelakkan ujung-ujung tombak yang berseliweran di sekitar tubuh mereka.
Baca Juga: Pendekar Super Sakti 2
Baca Juga: Jaka Lola 3