Ceritasilat Novel Online

Pendekar Penyebar Maut 13

Eps 13 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono

Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.

Malahan beberapa waktu kemudian ujung-ujung kait pada tombak itu mulai menunjukkan keganasannya pula.

Berkali kali ujung kait baja itu menjepit, menggantol dan memuntir pedang-pedang gergaji mereka, sehingga akhirnya satu persatu pedang itu terlepas dari tangan mereka!

Dan selanjutnya tubuh mereka menjadi bulan-bulanan tangkai tombak tersebut.

"Nah! Apakah kalian menyerah sekarang? Atau...kita lanjutkan pertarungan ini sampai habis-habisan?"

Si Baju Putih mengancam.

"Jangan hiraukan kata-katanya. Twako...! Ji-ko...! Nantikanlah, aku akan masuk ke dalam barisan reyot ini dan bergabung dengan kaIian untuk mengobrak-abrik mereka!"

Sam-mo berteriak-teriak dari luar barisan.

"Tutup mulutmu, Orang Goblog (Bodoh)! Lekas kerjakan! Jangan omong saja...!"

Toa-mo yang sedang kerepotan mempertahankan dirinya itu berseru marah-marah.

Berkata memang mudah, tapi untuk melaksanakannya ternyata sangat sulit.

Dengan bekerja sama dalam satu barisan, kekuatan mereka memang menjadi berlipat ganda dan sukar untuk dikalahkan.

Tapi dengan keadaan yang sudah tercerai-berai seperti sekarang, kemampuan mereka tak lebih dari kekuatan diri mereka masing-masing.

Dan celakanya, yang mereka hadapi sekarang bukanlah lawan perorangan yang masing-masing berdiri sendiri-sendiri, tetapi yang mereka hadapi adalah sebuah kerja sama pula yang terhimpun dalam satu barisan kuat!

Setiap serangan atau pertahanan dari barisan itu merupakan hasil himpunan kekuatan mereka secara berbareng.

Maka bagaimanapun juga Sam-mo itu berusaha dengan segala kemampuannya, ia tetap tidak mampu menerobos barisan tersebut.

Sementara itu di dalam barisan Toa-mo dan Ji-mo semakin kewalahan dan sukar bertahan lagi!

Perubahan yang sangat mendadak itu benar-benar sangat mengejutkan semua orang, termasuk pula Siangkoan Ciangkun dan para perwira yang duduk satu meja dengan Chin Yang Kun.

Perwira-perwira tersebut hampir tak percaya bahwa perimbangan kekuatan yang amat jauh itu tiba-tiba bisa berbalik sedemikian rupa secara mendadak.

Para penonton pun tiba-tiba menjadi diam, mereka hampir tidak mengerti apa yang telah terjadi.

Tapi dengan cepat Siangkoan Ciangkun menyadari suasana yang rawan itu.

Tubuhnya segera melesat ke depan untuk memisahkan mereka.

"Perajurit Mo, Lim dan Pang...! Berhenti! Kalian mundurlah!"

Serunya lantang.

Pertempuran itupun lalu berhenti dengan segera.

Masing masing saling berhadapan dengan sikap tegang.

Apalagi Tung-hai Sam-mo, wajah mereka tampak merah padam menahan marah dan penasaran!

"Ciangkun, kami belum kalah!

Hanya karena keteledoran adikku gadis-gadis itu bisa menang.

Berilah kami kesempatan sekali lagi, niscaya mereka akan kami kalahkan!"

Toa-mo menggeram dengan nada marah.

"Sudahlah! Kalian tak perlu menyesal atau marah-marah lagi! Kalau kalian sampai menderita kekalahan itu karena akibat kelalaian atau kesalahan kalian sendiri. Kalian tak perlu menggerutu atau menyalahkan orang lain,"

Siangkoan Ciangkun membentak.

Sekilas wajah tiga orang itu tampak membara.

Sebagai iblis yang selama ini selalu ditakuti dan disegani orang belum pernah mereka dibentak-bentak sebegitu rupa.

Apalagi kepandaian orang yang membentak itu jauh lebih rendah dari kepandaian mereka.

"Gila! Kita bunuh saja perwira yang sombong ini, Twako...!"

Ji-mo menggeram sambil berbisik kepada Toa-mo.

"Hah? kau yang gila!"

Toa-mo berbisik pula perlahan-lahan.

"Apakah kau ingin dikepung dan dikeroyok oleh ribuan orang perajurit di sini? Jangan gegabah! Kita turuti saja perkataannya..."

"Hei! Kalian tidak mau mundur juga?"

Siangkoan Ciangkun membentak lagi.

"Ah-eh...ya-ya, Ciangkun! Kami akan mundur..."

Toa-mo menjawab dengan suara gemetar karena terlalu menahan perasaan.

Demikianlah, tiga iblis dari Laut Timur itu segera mundur dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Para penontonpun lalu bubar pula dengan wajah kecewa karena jago mereka kalah semua.

Beberapa orang perajurit berusaha menghibur hati Tung-hai Sam-mo, tapi ketiga iblis itu cepat pergi dan tak mau diganggu.

"Awas! Hatiku benar-benar penasaran malam ini! Suatu saat orang-orang itu akan kuberi pelajaran agar tahu rasa...!"

Toa-mo melangkah sambil menggeretakkan giginya.

"Orang-orang itu...? Siapa yang toa-ko maksudkan?"

Ji-mo bertanya.

"Perwira sombong itu! Siapa lagi?"

Toa-mo berteriak kesal.

"Ohhhh...,.!"

Ji-mo dan Sam-mo berdesah perlahan.

Sementara itu sepeninggal Tung-hai Sam-mo, dayang dayang itu bergegas memberi hormat kepada Siangkoan Ciangkun dan kemudian juga menyatakan perasaan terima kasih mereka kepada Chin Yang Kun.

"Eeeee...ada apa pula ini? Mengapa kalian mengucapkan terima kasih kepada Tuan Yang segala?"

Siangkoan Ciangkun yang tidak mengetahui adanya "permainan"

Di dalam pertempuran tadi menjadi salah sangka kepada para dayang itu.

"Aha...tampaknya kalian sudah benar-benar terjerat pada jaring Tuan Yang, hahaha...! Tapi tak apa! Jangan takut! Aku akan mengaturnya nanti..."

Katanya lagi seraya tertawa keras-keras.

Gadis-gadis itu tertunduk dengan muka merah sekali.

Menghadapi orang seperti Siangkoan Ciangkun yang selalu ceplas-ceplos mengatakan apa adanya, tanpa memperdulikan perasaan orang itu, benar-benar membuat mereka menjadi kikuk sekali.

Oleh karena itu untuk menghilangkan rasa malu dan canggung mereka, Si Baju Putih segera melangkah maju ke depan perwira tersebut.

"Ciangkun, lalu...bagaimana dengan pertunjukan kita selanjutnya?"

Tanyanya. Perwira itu tersenyum penuh arti. Sambil menepuk-nepuk pundak gadis itu Siangkoan Ciangkun berbisik.

"Ahh...tak usah diteruskan! Kalian teruskan saja nanti di dalam kamar Tuan Yang Kun, hehehe...!"

"Ciangkun...?"

Gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dadu.

"Ssst! Kalian berempat boleh melayani Tuan Yang malam ini! Awas, jangan sampai dia kecewa! Kalian harus ingat bahwa dia adalah saudara angkat Hongsiang!"

"Aaah...Ciangkun!"

Si Baju Putih berbisik pula dengan sikap agak genit.

"Nah, sekarang kalian boleh mengundurkan diri...!"

Siangkoan Ciangkun berkata dengan suara keras.

Si Baju Putih melirik sekejap ke arah Chin Yang Kun, kemudian berlari masuk diikuti oleh kawan-kawannya.

Sedang Siangkoan Ciangkun segera melangkah pula kembali ke kursinya.

Wajahnya tampak berseri-seri ketika menatap Chin Yang Kun.

"Pertunjukan telah selesai. Sebenarnya kami ingin sekali mengundang Tuan Yang yang selama ini telah sering kami dengar. Tapi tampaknya Tuan Yang sudah lelah dan capai. Maka kami juga tidak ingin mengganggu lebih lanjut. Para dayang yang tadi sudah kami perintahkan untuk menyiapkan sebuah kamar buat Tuan Yang..."

Perwira itu berkata kepada Chin Yang Kun.

"Ah! Tapi saya..."

Chin Yang Kun cepat-cepat memotong.

"Liu-Ciangkun?"

Siangkoan Ciangkun tertawa.

"Jangan khawatir, Tuan Yang! Kami akan segera memberi tahu Tuan Yang apabila beliau datang nanti."

"Ah, terima kasih...Tapi bukan itu yang saya maksudkan! Saya memang sangat berterima kasih sekali atas penghormatan dan kebaikan Siangkoan Ciangkun yang sangat memperhatikan kebutuhan saya di sini. Tapi..."

"Yaaa...?"

Perwira itu mendesak. Chin Yang Kun menghela napas panjang, ia tidak segera mengatakan jawabannya.

"Siangkoan Ciangkun...! Sebetulnya kedatangan saya kemari ini bukan untuk menemui Liu-Twako, tapi untuk menyelesaikan sebuah urusan. Urusan pribadi antara saya dengan seseorang yang tinggal di dalam kota ini."

"Urusan? Urusan apakah itu? Eh, maaf...tentu saja kalau Tuan Yang tidak berkeberatan untuk mengatakannya kepadaku."

Sekali lagi Chin Yang Kun menghela napas panjang sekali.

"Seseorang telah menuduh saya membunuh muridnya. Padahal ketika pembunuhan tersebut dilakukan, saya sedang berada jauh dari tempat pembunuhan itu. Dan saya benar benar mempunyai bukti yang kuat tentang hal itu."

"Oooh...begitu!"

Siangkoan Ciangkun mengangguk-angguk.

"Lalu...apa yang hendak tuan lakukan sekarang?"

"Saya akan menemui orang itu. Dan akan saya jelaskan kepadanya bahwa bukan saya pembunuhnya."

Chin Yang Kun menjawab dengan suara berat dan mantap.

"Tapi...kalau orang itu masih tetap juga tidak percaya pada penjelasan tuan dan tetap juga menuduh tuan sebagai pembunuhnya?"

Siangkoan Ciangkun yang sangat berpengalaman dalam soal-soal seperti itu mendesak. Chin Yang Kun tertawa kecut.

"Kalau memang demikian halnya, hmmm...mereka benar-benar akan menyesal nanti!"

"Ah, kalau begitu biarlah saya dan beberapa orang perajurit menemani Tuan Yang ke sana. Siapa tahu orang itu menjadi sadar melihat kami."

"Jangan, Ciangkun! Tidak usahlah!"

Chin Yang Kun cepat-cepat menolak.

"Saya malah menjadi khawatir urusan ini akan bertambah ruwet kalau Siangkoan Ciangkun turut campur pula. Biarlah saya berangkat sendirian saja ke sana. Ciangkun tetap di sini menunggu kedatangan Hongsiang dan Liu-Twako. Siapa tahu beliau berdua itu segera datang...?"

"Oh, benar!"

Perwira itu mengangguk-angguk.

"Tetapi...kuharap Tuan Yang segera kembali ke sini kalau semuanya sudah beres."

"Tentu saja. Sayapun ingin berjumpa juga dengan Liu-Twako nanti,"

Chin Yang Kun tersenyum, lalu tiba-tiba.

"...eh, Siangkoan Ciangkun? Kapan Ciangkun menerima tiga orang yang bertempur dengan dayang-dayang itu sebagai perajurit di sini?"

"Maksud Tuan Yang...tiga orang perajurit berpedang gergaji itu?"

"Benar!"

"Ah, belum lama. Tapi karena kepandaian mereka sangat tinggi dan selalu menunjukkan kemampuan mereka di dalam setiap pertempuran, mereka cepat dikenal diantara para perajurit lainnya. Eh, ada apakah...?"

Siangkoan Ciangkun menjawab dengan terheran heran melihat sikap Chin Yang Kun yang mendadak berubah serius itu.

"Ah...tidak apa-apa! Tapi saya mohon Siangkoan Ciangkun berhati-hati bila berhadapan dengan mereka."

"Berhati-hati...?"

Perwira itu semakin bingung dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan Chin Yang Kun. Chin Yang Kun mengangguk dan tersenyum.

"Saya tak ingin menjelek-jelekkan orang lain di depan Siangkoan Ciangkun. Siapa tahu orang itu telah menjadi baik dan sadar sekarang? Dan kini mereka benar-benar ingin menjadi perajurit yang baik! Maaf...pada saatnya nanti Ciangkun akan mengerti juga.Sudahlah! Saya mohon diri dahulu!"

Dengan wajah masih dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan perwira itu terpaksa melepaskan Chin Yang Kun pergi.

Seorang perajurit diperintahkannya ke belakang untuk mengambil Si Cahaya Biru.

Begitulah, dengan naik di atas punggung Cahaya Biru Chin Yang Kun keluar dari halaman rumah penginapan itu.Perlahan-lahan pemuda itu mengendarai kudanya di jalan raya.

Suasana masih tampak riuh dan ramai.

Orang-orang yang hilir-mudik berlalu lalang di jalan itu semakin bertambah banyak juga.

"Gwa-mia (Ramal atau Nujum)...! Gwa-mia...!"

Tiba-tiba dari pinggir jalan terdengar Iantang suara seorang Tukang Nujum atau ramal menjajakan kepandaiannya.

Chin Yang Kun terpaksa menoleh juga untuk melihatnya.

Dan seorang kakek tua dengan topi lebar bergegas mendatangi.

Tongkat besinya yang panjang terdengar gemerincing ketika diseret di atas jalan yang berbatu.

Chin Yang Kun menghentikan kudanya.

Sungguh sangat kebetulan bagi pemuda itu, ada yang bisa dia mintai keterangan, di mana letaknya gedung Kim-liong Piauw-kiok itu.

Dan peramal keliling tersebut tentu tahu belaka setiap pojok dan pelosok kota itu.

"Nasib mujur...nasib beruntung, nasib sedih atau...celaka! Berdagang selalu merugi...berdagang selalu bangkrut, semuanya tidak perlu terlalu dimasukkan ke dalam hati! Setiap orang mempunyai peruntungan atau nasib sendiri-sendiri. Semuanya telah digariskan Thian sejak mereka dilahirkan. Oleh karena itu berbahagialah orang yang pagi-pagi telah bersiap-sedia menghadapi kehidupannya, baik itu sedih, gembira, susah ataupun celaka...! Nah, siapa yang ingin meminta tolong untuk melihat nasibnya?"

Peramal itu "berkicau"

Bagai burung yang menyombongkan suara emasnya. Chin Yang Kun tersenyum mendengarnya.

"Kakek, bolehkah aku bertanya...?"

"Tentu saja, tuan muda...Tentang jodoh? Pangkat? Jabatan? Atau hari depan perkawinan tuan muda? Aha, tuan muda tidak usah takut biayanya. Tanggung murah, murah sekali...,"

Orang tua itu berkicau lagi dengan suara bersemangat.

"Oh, bukan itu yang kumaksudkan."

Chin Yang Kun lekas-lekas memotong perkataan kakek itu dengan perasaan tak enak.

"Aku...aku cuma mau bertanya kepada kakek, di manakah letak gedung Kim-liong Piauw-kiok itu?"

"Oouuw...itu! Baiklah, nanti akan kutunjukkan kepada tuan. Tapi...omong-omong, apakah tuan muda tidak ingin tahu nasib tuan muda nanti? Berilah saya sekeping uang tembaga saja, dan saya akan meramal nasib tuan di kelak kemudian hari,"

Kakek itu tetap mendesak Chin Yang Kun.

Tak sampai juga hati Chin Yang Kun untuk menolaknya.

Bukan soal uangnya, tapi tentang...ramalan itu!

Pemuda itu takut apabila isi ramalan-ramalan tersebut justru akan mempengaruhi sikapnya sehari-hari, yaitu tidak bisa bebas dan wajar seperti biasanya.

Padahal ramalan itu belum tentu benar salahnya!

Sambil memberikan tiga keping uang tembaga Chin Yang Kun berkata dari punggung kudanya.

"Maaf, kek...aku sangat tergesa-gesa. Tolong tunjukkan saja tempat yang kutanyakan itu. dan...lain hari aku akan menemuimu untuk meramalkan nasibku..."

"Wah...kenapa begitu? Sungguh tak enak rasanya harus menerima pemberian cuma-cuma."

"Tak apalah, kek. Aku benar-benar tergesa kali ini. Maafkanlah...!"

"Baiklah. Silahkan tuan muda berjalan terus sampai di perempatan jalan itu, lalu berbelok ke kiri. Kira-kira setengah Iie kemudian tuan akan melihat sebuah restoran besar di sebelah kiri jalan. Nah...di belakang rumah makan itulah gedung Kim-liong Piauw kiok berada. Memang selain mengusahakan piauw kiok, pemilik gedung tersebut juga membuka restoran pula."

"Oh, terima kasih...kek!"

"Ya, tuan muda...silakan! Dan kuharap kalau Tuan muda nanti masih punya waktu, datanglah ke tempat ini! Aku akan tetap menunggu, karena tak enak rasanya memperoleh uang secara cuma-cuma."

"Baiklah, kek."

"Dan...berhati-hatilah, tuan muda! Kulihat ada kabut gelap yang menyelimuti tuan malam ini."

Chin Yang Kun mengangkat alisnya.

Beberapa kali mulutnya mau bertanya, tapi tidak jadi.

Akhirnya sambil menghela napas panjang pemuda itu menghentakkan kendali kudanya dan pergi meninggalkan kakek itu.

Sambil berjalan pemuda itu masih juga memikirkan kata-kata kakek tersebut.

Sampai di perempatan jalan Chin Yang Kun berbelok ke kiri seperti yang dikatakan oleh kakek peramal tadi.

Jalan di situ lebih lebar dan lebih ramai.

Di sebelah kanan kiri jalan hanya terdapat toko-toko dan warung-warung saja.

Tampaknya memang itulah jalan utama dari kota Sin-yang!

Benarlah, setengah lie kemudian Chin Yang Kun melihat sebuah rumah makan besar di pinggir jalan.

Hanya saja pintu dan jendela rumah makan itu tampak tertutup dengan rapat.

Dan di atas pintu depannya dipasang kain putih terjulur panjang menyentuh lantai.

Kim liong Piauw-kiok memang sedang dalam suasana berkabung.

Oleh karena itu Chin Yang Kun menjadi ragu-ragu, apa yang harus dia lakukan.

Langsung masuk melalui pintu depan, atau...secara diam-diam lewat pintu belakang dan menemui Kim-liong Lojin!

"Hmm, apapun yang akan terjadi aku harus menunjukkan dadaku lewat pintu depan,"

Pemuda itu akhirnya berkata di dalam hatinya. Di depan pintu halaman Chin Yang Kun dihentikan oleh empat orang penjaga, yang semuanya mengenakan kain pembalut berwarna putih di lengannya.

"Tolong katakan kepada Kim-liong Lojin bahwa di luar ada seorang pemuda bernama Yang Kun mau bertemu...!"

Chin Yang Kun berkata kepada para penjaga tersebut.

"Ooh?!?"

Tiba-tiba para penjaga itu menjadi tegang.

Nama Yang Kun itu tampaknya benar-benar mengejutkan mereka.

Dua orang diantaranya bergegas berlari ke dalam, sementara yang dua lagi dengan gelisah dan gemetaran menyambut Chin Yang Kun.

"Oh, tuan...! Ma-marilah...! Kami...kami memang telah me-menantikan tuan sejak...sejak tadi,"

Penjaga itu mempersilakan Chin Yang Kun masuk.

Yang satu, mengambil kuda Chin Yang Kun, sementara yang seorang lagi mengantar pemuda itu ke dalam.

Di bawah tangga pendapa Chin Yang Kun disambut oleh barisan penjaga yang berdiri di kanan kiri tangga masuk.

Semuanya mengenakan kain putih pada lengan masing-masing, sehingga tergetar juga rasanya hati Chin Yang Kun melihatnya.

Setelah naik ke pendapa Chin Yang Kun dipersilakan duduk di kursi yang tersedia.

Beberapa orang lelaki muda yang tadi sore membawa gerobag gerobag jenazah tampak bergegas keluar menyambutnya.

"Ah. ternyata saudara Yang telah datang kemari. Hari telah malam, kami mengira saudara akan datang besok..."

Lelaki yang dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai lelaki yang tadi sore membawa kawan-kawannya menjemput rombongan pembawa jenazah, tampil ke depan dan menyapa Chin Yang Kun.

"Maaf, karena harus menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh seorang kawan, aku terpaksa terlambat datang kemari."

Chin Yang Kun cepat memberi keterangan.

"Silakan duduk, saudara Yang...!"

"Terima kasih!"

Chin Yang Kun mengangguk, tapi tidak segera duduk seperti yang mereka harapkan. Sebaliknya pemuda itu malah menatap pihak tuan rumah dengan tajamnya.

"Terima kasih sekali lagi atas penyambutan saudara saudara semua kepadaku. Tetapi...terus terang aku tidak ingin berlama-lama disini. Setelah hari menjadi malam, akupun masih mempunyai urusan lain yang harus kukerjakan. Maka dari itu, aku ingin segera bertemu dengan Kim-liong Lojin. Di manakah dia...?"

Terdengar lapat-lapat suara geram dari orang-orang Kim liong Piauw-kiok yang sedang menyambut pemuda itu.

Perlahan-lahan wajah mereka menjadi merah dan tangan mereka kelihatan sudah gemetaran mau meraih senjata yang berada di pinggang masing-masing.

Tampaknya sikap Chin Yang Kun yang kaku dan seenaknya sendiri itu benar-benar telah menyinggung perasaan dan hati mereka.

Sejak sore mereka telah menunggu kedatangan pemuda itu dengan perasaan tegang dan gelisah.

Tetapi orang yang mereka tunggu ternyata malah menghadiri sebuah jamuan makan.

Dan kini setelah mereka sudah mengendorkan syaraf karena mengira pemuda itu akan datang besok, tahu-tahu dia muncul di hadapan mereka.

Meskipun demikian mereka berusaha menyambutnya dengan baik.

Eeee...tidak mereka sangka pemuda itu malah bersikap demikian kaku dan meremehkan sekali kepada mereka.

Malah datang-datang pemuda itu lalu mendesak agar Sucouw mereka yang sakit dan sudah terlanjur kembali beristirahat di dalam kamarnya itu cepat-cepat keluar menemuinya.

Siapa yang tidak tersinggung?

"Saudara Yang!

Sekali lagi...Silakan duduk!

Ketahuilah, sudah sejak sore tadi Sucouw duduk di sini menantikan saudara.

Sekarang beliau berada di belakang untuk menemui sahabat akrabnya yang telah bertahun-tahun tidak berjumpa.

Oleh karena itu kami diperintahkan untuk sementara menemani saudara di sini..."

Orang yang mewakili pihak tuan rumah tadi berkata dengan nada kaku pula.

"Hmm...bukankah pihak kalian yang membutuhkan aku? Cepatlah! Kalau tidak, aku akan pergi dari sini!"

Chin Yang Kun berkata lagi dengan nada tak sabar. Sedikitpun pemuda itu tidak mempedulikan sikap tuan rumah yang gondok dan mendongkol itu.

"Kurang ajar! saudara Yang, kau benar-benar tidak menghargai kami sebagai tuan rumah di sini!"

Wakil tuan rumah itu membentak penasaran.

"Benar. Dikiranya kita takut dan gemetar mendengar namanya,"

Yang lain ikut menggeram dengan marah.

"Hantam saja! Apa gunanya kita bersikap baik kepada pembunuh seperti dia? Mari kita membalaskan dendam Thio suhu!"

Demikianlah, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu lalu mengeluarkan cambuk mereka!

Kemudian semuanya menyebar mengelilingi Yang Kun.

Mereka berjumlah kira-kira empat belas atau lima belas orang, sehingga ruang pendapa itu menjadi penuh dengan mereka.

Tapi orang yang berada di dalam kepungan mereka itu ternyata tidak takut atau gemetar sama sekali.

Pemuda itu malah memandang mereka acuh tak acuh.

"Lekas katakan kepada Sucouw kalian agar datang kemari! Dan jangan coba-coba membuat aku marah!"

Pemuda itu mulai kehilangan kesabarannya.

"Persetaaaan...!! Bunuh dia!"

Wakil pihak tuan rumah tadi menjerit.

Dan...orang-orang itu segera menyerang Chin Yang Kun dengan cambuknya.

Taaar!

Taaar!

Taaar!

Terdengar letupan cambuk mereka berkali-kali.

Dan sebentar kemudian mereka telah bertempur seru di dalam ruangan yang sempit tersebut.

Meja dan kursi segera terbalik dan terlempar ke mana-mana.

Chin Yang Kun mengerahkan sebagian dari tenaga saktinya, lalu dengan Hok-te Ciang-hoat ia melayani para pengeroyoknya.

Tubuhnya yang ringan dan gesit itu meloncat dan melejit ke sana kemari menghindari cambuk yang berseliweran di sekitar tubuhnya.

Beberapa kali tangannya menangkis ujung cambuk yang tak sempat dia hindarkan, lalu ganti menyerang pemegangnya dengan tebasan tangan yang kuat dan tajam bagai golok!

Dan satu atau dua orang dari para pengeroyoknya segera menjadi korban dari telapak tangannya yang ampuh!

Tapi keributan tersebut segera menarik perhatian orang orang Kim-liong Piauw-kiok yang lain.

Mereka segera berdatangan ke tempat itu dan ikut mengeroyok Chin Yang Kun.

Demikianlah, pertempuran semakin berkobar dan melibatkan seluruh anak murid Kim-liong Piauw-kiok yang ada di dalam gedung itu.

Sampai-sampai orang yang bertugas menjaga mayat Thio Lung di ruang tengahpun ikut-ikutan pula mengeroyok Chin Yang Kun!

Dan karena pendapa tersebut sudah tidak muat lagi, maka pertempuran itu lalu bergeser ke luar, yaitu ke halaman depan.Semula Chin Yang Kun memang tidak ingin memperuncing urusan pembunuhan itu dengan pembunuhan pula.

Tapi menghadapi sedemikian banyak orang, mana mampu ia mengontrol gerakannya lagi?

Satu dua orang mulai roboh dengan luka yang cukup parah terkena pukulannya.

Mereka cepat digotong keluar arena oleh teman-temannya, takut terkena senjata nyasar atau terinjak-injak.

"Berhentiiiii...! Mengapa kalian tidak mau berhenti juga? Apakah kalian semua menginginkan pertumpahan darah di halaman ini?"

Di dalam kesibukannya Chin Yang Kun masih dapat berteriak memperingatkan lawan-lawannya.

"Persetan! kau lah tadi yang memulainya! Mengapa sekarang kau pura-pura tidak menginginkan pertumpahan darah ini? Bukankah keributan seperti ini yang kau idam-idamkan di dalam hatimu? Sebab dengan kericuhan seperti ini kau dapat melampiaskan nafsu membunuhmu sepuas-puasnya! Tidak...! Kami tidak akan berhenti melawanmu! Kami tidak takut mati!"

Lelaki yang menyambut kedatangan Chin Yang Kun tadi berteriak pula untuk menjawab tantangan Chin Yang Kun itu.

"Kalianlah yang memulainya! Bukan aku! Mengapa kalian tidak lekas-lekas mengeluarkan Kim-liong Lojin tadi?"

"Bangsat! Sungguh hanya mau menangnya sendiri saja! Bukankah tadi sudah kukatakan sebab-sebabnya?"

"Aaah...itu cuma alasan kalian saja!"

"Keparaaaaaat!"

Lawan Chin Yang Kun mengumpat kasar sekali, suatu tanda bahwa hatinya benar-benar marah dan mendongkol sekali.

Dan pertempuranpun berlangsung lagi dengan sengitnya.

Orang-orang Kim-Liong Piauw-kiok itu menyerang semakin beringas dan dengan kemarahan yang meluap-luap.

Begitu ramai dan riuhnya pertempuran mereka sehingga mengagetkan para tetangga dan orang-orang yang lewat di jalan raya.

Maka sebentar saja suasana menjadi ribut.

"Tahaaaan!"

Tiba-tiba dari atas pendapa terdengar suara lantang yang memekakkan telinga!

Begitu kuatnya pengaruh suara tesebut, sehingga orang-orang yang berada di halaman itu seperti mendengar suara geledek di telinganya.

Beberapa orang tampak terhuyung-huyung mau jatuh.

Sekarang Chin Yang Kun benar-benar terkejut!

Ulu hatinya terasa seperti digempur oleh getaran tenaga yang tak kelihatan ujudnya.

Dan hal ini berarti bahwa di dalam arena telah muncul lawan baru yang menyerang dia dengan ilmu semacam Sai-cu Ho-kang (Auman Singa) yang maha dahsyat!

Otomatis Chin Yang Kun menoleh ke atas pendapa.

Seorang kakek tinggi kurus dengan kumis dan jenggot putih, tampak berdiri tegak memandang ke arahnya.

Mata kakek itu luar biasa tajamnya dan menatap dirinya tanpa berkedip.

Dan semua orang yang mengeroyoknya tadi tampak memberi hormat kepada kakek tersebut.

"Hmmm, inikah Kim-liong Lojin itu?"

Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya.

"Tapi...kenapa tidak kelihatan sedikitpun kalau ia sedang sakit?"

Perlahan-lahan kakek itu menuruni tangga pendapa.

Dan orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu segera menyibak begitu kaki kakek jangkung tersebut menginjak halaman.

Otomatis Chin Yang Kun dan kakek itu lalu saling berhadapan dalam jarak enam atau tujuh tombak.

Keduanya saling menatap seperti ayam jago di dalam kalangan.

"Ada apa di sini? Mengapa kalian ribut-ribut dalam suasana berkabung begini!"

Kakek itu tiba-tiba memalingkan mukanya dan bertanya ke arah orang-orang Kim-liong Piauw-kiok itu. Lelaki yang bertindak sebagai tuan rumah tadi bergegas keluar dari barisan.

"Pemuda itu adalah pembunuh Thio-suhu, Lo-enghiong...!"

Lapornya seraya membungkuk.

"Kurang ajar! Apa katamu...?"

Chin Yang Kun berteriak marah. Tubuhnya tiba-tiba melesat ke arah laki-laki itu dan dari telapak tangannya menghembus udara yang kuat luar biasa. Dan sekejap kemudian...

"Bhlaaaar!"

Gerakan pemuda itu mendadak tertahan di udara, lalu tubuhnya tertolak ke belakang dan...terbanting ke atas tanah!

Semua kejadian itu, yaitu dari serangan Chin Yang Kun yang dilakukan sambil melompat tadi, kemudian adanya sebuah tenaga yang menahan gerakan tersebut, dan akhirnya yang membuat pemuda itu terbanting ke atas tanah, semuanya hanya berlangsung dalam waktu yang sangat pendek!

Chin Yang Kun bangkit kembali dengan cepat, dan dari mulutnya tampak menetes darah segar.

Matanya mencorong dingin menakutkan.

Setapak demi setapak pemuda itu melangkah mendekati kakek jangkung tersebut.

Dan langkahnya baru berhenti ketika jarak di antara mereka tinggal satu setengah tombak saja.

"Kau...? kau siapakah? Mengapa kau ikut campur dan membokong aku?"

Dengan suara bergetar karena menahan kemarahannya Chin Yang Kun menuding muka kakek itu.

Kakek itu menanggapi kemarahan Chin Yang Kun tersebut dengan sikap acuh tak acuh.

Dengan tenang kedua lengannya justru dilipat di depan dadanya.

"Siapakah yang membokongmu, anak muda? Jangan menuduh orang sembarangan saja. Aku tadi hanya mencoba memapaki seranganmu dengan pukulan jarak jauh pula. Dan aku melakukannya dari depan, bukan dari arah belakang..."

"Tapi kau melakukannya tanpa memberi tahu aku lebih dahulu. Padahal di antara kita tidak ada perselisihan."

Kakek itu mengelus jenggotnya.

"Hmmm, anak muda...kau jangan hanya mau menang sendiri saja! Bukankah kedatanganmu kemari sehingga terjadi pertempuran itu sudah menunjukkan perselisihan di antara kita? Dan...apakah kau tadi juga memperingatkan lebih dulu ketika menyerang lelaki itu?"

Chin Yang Kun diam tak bisa menjawab.

Tapi sejalan dengan itu di dalam tubuhnya telah bergolak kemarahan yang membuat seluruh tenaga sakti Liong cu-i-kangnya bangkit dari tan-tian dan...tak bisa dibendung lagi!

Kulit tubuhnya berubah menjadi gelap kekuning-kuningan dan udara atau hawa yang sangat dingin terasa menghembus melalui jalan pernapasannya.

Begitu tajam dan kuatnya pengaruh hawa dingin tersebut sehingga kakek jangkung itu merasakannya juga.

"Hah?!"

Kakek itu mengangkat wajahnya dengan kaget.

"Baiklah, orang tua...Agaknya semua orang di tempat ini telah menuduh aku sebagai pembunuh Thio Lung. Dan kelihatannya semua sanggahan atau kata-kataku sudah tidak akan dipercaya lagi. Kini semua orang hanya mempunyai satu niat, yaitu...membunuh aku! Kalau demikian halnya...apa boleh buat, aku akan mempertahankan nyawaku sedapat dapatnya! Marilah...!!"

Chin Yang Kun merendahkan tubuhnya dan dari mulutnya terdengar suara mendesis yang amat keras.

Kemudian kedua tangannya yang terkepal di samping pinggangnya itu tiba-tiba meluncur ke depan dengan kekuatan penuh, menghantam ke arah dada kakek jangkung tersebut.

"Whuuuuussss...!"

Kakek itu cepat memasang kuda-kuda pula.

Sepasang lengannya terulur pula dengan cepat ke depan, menyongsong pukulan Chin Yang Kun!

Melihat tenaga yang dikeluarkan oleh pemuda tersebut terasa hebat luar biasa, maka kakek itupun juga tidak berani bermain-main lagi.

Meskipun demikian kakek itu yang merasa kepandaian dan ilmunya lebih tinggi dari pada ilmu dan kepandaian lawannya, hanya mengerahkan tiga perempat bagian saja dari seluruh tenaga saktinya.

Tapi biarpun cuma tiga perempat bagian saja, ternyata perbawanya sungguh telah menggiriskan hati para penonton di sekitarnya.

Semuanya segera menyingkir ketika tiba-tiba muncul pusaran angin yang bergemuruh dari tubuh kakek itu!

"Bhlaaaaar...!!!"

Dua pasang lengan berbenturan di udara, menimbulkan suara nyaring di telinga para pendengarnya!

Tapi benturan antara dua tenaga sakti itu menimbulkan perbawa lain di hati para penonton di halaman tersebut!

Benturan itu seolah-olah menimbulkan getaran keras yang menghantam rongga dada mereka, sehingga mereka merasa seperti ada suara menggelegar di dalam jantung mereka!

belasan orang menjadi sempoyongan karena tergoncang keseimbangannya!

Dan...akibat dari benturan tersebut ternyata juga mengejutkan para pelakunya sendiri!

Keduanya ternyata juga tidak menyangka bahwa lawan yang mereka hadapi mempunyai kesaktian demikian hebatnya!

Terutama bagi kakek jangkung itu!

Kakek jangkung itu yang dengan mengerahkan tiga perempat bagian sinkangnya merasa sudah terlalu cukup untuk menggempur lawannya, ternyata terkejut sekali ketika kuda-kudanya terguncang dan kemudian malah...Terbanting jatuh ke atas tanah seperti yang dialami oleh lawannya tadi!

Darah menetes pula dari sudut bibirnya, membasahi kumis dan jenggotnya yang putih!

Kakek itu bangun kembali dengan cepat.

Mukanya pucat karena malu, sementara matanya melotot seolah-olah tak percaya apa yang telah dialaminya.

"Bo-bocah kurang ajar...!"

Kakek itu mengumpat dengan suara tertahan di dalam kerongkongannya. Kemudian dengan kemarahan yang meluap ia mengerahkan seluruh kekuatannya.

"Terimalah pukulanku...!"

Geramnya.

Dan sekejap kemudian tubuh Chin Yang Kun bagai hendak dihempas oleh pusaran angin ribut yang lebih dahsyat dari pada tadi.

Gemuruh suaranya!

Tetapi Chin Yang Kun cepat merendahkan tubuhnya.Badannya yang penuh terisi tenaga sakti Liong-cu I-kang itu menerjang pusaran angin selangkah demi selangkah ke depan, seperti seekor naga yang merayap dalam derasnya gelombang Sungai Huang-ho.

Dan begitu sudah berhadapan langsung dengan lawan, pemuda itu segera menyerang dengan jurus Kai-chuang-kan-seng (Membuka Jendela Melihat Bintang) ke arah lutut kakek itu.

Di dalam kekagetannya, karena Chin Yang Kun ternyata mampu menerjang hembusan angin pukulannya, kakek jangkung itu meloncat ke samping menghindari cengkeraman tangan Chin Yang Kun yang mengarah ke lututnya.

Lalu dari arah samping kakek itu membalas pula dengan pukulan lurus dari atas ke bawah ke arah ubun-ubun Chin Yang Kun.

Gerakan tersebut disebut jurus Menancap Tiang di Puncak Gunung!

Chin Yang Kun melangkah mundur kembali, sehingga pukulan kakek itu lewat di depan mukanya.

Kemudian pemuda itu menerjang ke depan Iagi dengan dua buah kepalannya.

Tapi dengan mudah kakek itu juga dapat mengelakkannya.

Selanjutnya kedua orang itu lalu bertarung dengan dahsyatnya.

Masing-masing mencoba dengan segala kemampuannya untuk mengalahkan lawannya.

Para penonton semakin lama semakin menjauhi arena, sebab perbawa yang dikeluarkan oleh kedua orang itu semakin lama juga semakin membahayakan orang-orang di dekat mereka.

Angin pukulan mereka saja ternyata mampu meledakkan dan menghancurkan benda-benda yang berada jauh dari tempat mereka bertempur!

Semakin hebat dan seru mereka bertempur kakek jangkung itu semakin heran dan penasaran menyaksikan kedahsyatan ilmu Chin Yang Kun!

Pemuda belasan tahun yang patut menjadi cucu atau anaknya dapat mengimbangi seluruh kemampuan dan pengalamannya selama berpuluh-puluh tahun!

Dan yang benar-benar sangat mentakjubkan dan mengherankan hati kakek itu adalah kesempurnaan Iweekang pemuda remaja tersebut.

Lweekang pemuda itu demikian sempurna dan hebatnya, sehingga Iweekang tersebut seakan akan telah dihimpun dan dipelajari oleh pemuda itu selama berpuluh-puluh atau bahkan lebih dari seratus tahun.

Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga tidak kalah takjub dan herannya menyaksikan kehebatan dan kedahsyatan ilmu kepandaian orang tua itu.

Rasa-rasanya pemuda itu belum pernah melihat ilmu silat yang bisa menimbulkan badai angin yang bergemuruh seperti itu.

Dan pemuda itu semakin takjub lagi apabila kakek tua itu kadang-kadang mengeluarkan pukulan jarak jauhnya yang meledak-ledak bagai petir menyambar!

Maka di dalam hatinya pemuda itu lantas bertanya-tanya, siapakah sebenarnya kakek tua itu?

Yang jelas baginya adalah kakek tersebut tentu bukan Kim Liong Lojin, karena selain Kim liong Lojin sedang menderita sakit, orang-orang Kim-liong Piauw-kiok tadi tidak menyebutnya Sucouw tetapi Lo-enghiong!

"Kalau begitu...orang tua ini tentulah yang mereka katakan sebagai kawan akrab Kim-liong Lojin tadi."

Pemuda itu berkata di dalam hatinya.

Demikianlah, seratus jurus telah lewat dan pertempuran mereka belum juga bisa menunjukkan siapa yang kalah dan siapa yang menang.

Padahal keduanya benar-benar telah berusaha dengan sekuat tenaga mereka, biarpun keduanya memang belum merasa perlu untuk mengeluarkan ilmu simpanan mereka masing-masing.

Tapi sejenak kemudian merekapun lantas menjadi sadar bahwa yang mereka hadapi kali ini memang bukanlah lawan sembarangan.

Masing-masing lalu berpikir untuk mempergunakan ilmu simpanan mereka.

Kakek itulah yang mula-mula meloncat mundur menjauhi lawannya.

Dengan kedua kaki terpentang lebar kakek itu memasang kuda-kuda rendah sekali.

Kedua telapak tangannya bertemu di depan dada seperti orang yang hendak bersemedhi, sementara punggung dan kepalanya tampak tegak ke depan ke arah Chin Yang kun.

Chin Yang Kun diam pula tak bergerak.

Pemuda itu juga tidak mengejar ketika lawannya meloncat mundur, karena pemuda itupun sudah memutuskan untuk mengeluarkan Kimcoa-ih-hoatnya.

Maka begitu lawannya tadi meloncat mundur, pemuda itu buru-buru mempersiapkan dirinya pula.

Terdengar suara berkerotokan di dalam tubuh Chin Yang Kun, seolah-olah semua tulang-tulangnya saling berbenah diri, agar tidak mengecewakan dalam memainkan ilmu Kim-coa ih-hoat nanti.

Kemudian tenaga sakti Liong-cu I-kangnya ia kumpulkan sepenuhnya di tan-tian, agar setiap saat bisa ia kerahkan ke seluruh tubuh!

Kakek itu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya satu sama Iain, lalu sekejap kemudian telapak tangan kanannya tiba-tiba meluncur ke depan dengan disertai suara yang bergemuruh.

Dan hawa yang sangat panas mendadak menyengat kulit dada Chin Yang Kun!

Chin Yang Kun cepat menggeser kakinya ke samping, lalu tangan kirinya menepis ke depan dalam jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan, yaitu jurus ke tujuh belas dari ilmu silat keluarganya.

Hanya bedanya tepisan tangan itu sekarang dilandasi dengan Liong-cu I-kang, bukan Iweekang ajaran paman bungsunya!

"Thanggg!"

Kedua telapak tangan yang masing-masing penuh dengan tenaga dalam itu saling berbenturan di udara!

Suaranya mengiang nyaring seperti suara dua batang tongkat besi yang diadu satu sama lain!

Chin Yang Kun kaget bukan main!

Biarpun lengan lawan yang keras bagai besi baja itu dapat ia tepiskan, tapi sengatan hawa panas itu ternyata masih tetap menerjangnya juga.

Tiba-tiba tubuh bagian kirinya terasa pedih sekali!

Dan...bukan main terkejutnya pemuda itu ketika menyaksikan lengan bajunya sebelah kiri hancur berserpihan ditiup angin!

Dan matanya semakin melotot tatkala melihat kulit di bawah baju itu tampak terbakar kemerah-merahan seperti bekas kulit yang tersiram air panas!

Dari kaget pemuda itu menjadi marah bukan kepalang!

Dan kemarahan itu tidak cuma karena kulitnya yang terbakar, tapi sebagian besar disebabkan karena rusaknya baju buatan Souw Lian Cu yang kini dipakainya itu!

Dengan suara desisnya yang khas pemuda itu menggeliat ke depan bagai ular naga yang sedang marah.

Lalu tangan kanannya secara mendadak menyambar ke arah pinggang kakek jangkung itu dalam jurus Merentang Tali Meniti Jembatan, yaitu salah sebuah jurus dari Kim-coa ih-hoat!

Kaki kanan dan kiri berdiri sejajar dalam satu garis, dengan tubuh atas mendoyong ke depan, sementara kedua lengannya juga terpentang lurus ke muka dan ke belakang!

Hembusan angin yang luar biasa dinginnya mendahului sambaran tangan Chin Yang Kun, sehingga kakek itu cepat menyadari bahaya yang hendak menerkamnya.

Otomatis kakek itu bergeser menjauh seraya menghantamkan sikunya ke bawah untuk mematahkan pergelangan tangan Chin Yang Kun.

Dan sesudah itu kakek jangkung tersebut bermaksud menghajar kepala lawannya dengan pukulannya yang bersifat panas itu lagi.

Tapi maksudnya itu ternyata tidak dapat ia laksanakan!

Malahan sebaliknya kakek itu sendirilah yang jatuh bangun dikocok serangan Chin Yang Kun sebelum dapat melaksanakan niatnya tersebut.

Ternyata sambaran tangan Chin Yang Kun tadi tidak berhenti begitu saja ketika berhasil dielakkan oleh kakek jangkung itu.

Lengan pemuda itu segera memanjang lagi ketika korbannya bergeser dan berusaha menjauhkan diri, sehingga pinggang kakek itu tetap terancam juga oleh cengkeraman jari-jari Chin Yang Kun!

Dengan secara otomatis pula lagi kakek itu semakin menjauhkan dirinya.

Tapi bagaikan seutas tali saja, lengan itu juga terentang semakin panjang pula.

Kakek itu mulai panik!

Siku tangannya yang sedianya akan menghantam pergelangan tangan Chin Yang Kun menjadi gagal pula.

Bagaimana mungkin ia meneruskan hantaman sikunya itu kalau jari-jari tangan Chin Yang Kun akan datang lebih dulu di pinggangnya?

Tubuhnya akan menjadi lumpuh dan hantaman tersebut sudah tidak ada gunanya lagi!

Kakek itu secara mati-matian menjejakkan kakinya ke samping seraya memutar tubuh sebisa-bisanya dan ternyata gerakannya itu untuk sesaat bisa membebaskan dirinya dari kejaran lengan Chin Yang Kun!

Kemudian dengan terburu buru kakek itu mengirimkan pukulan tangan kirinya yang sejak tadi tergantung bebas di sisi tubuhnya!

Kembali terdengar suara gemuruh melanda Chin Yang Kun!

Dan hawa panaspun lalu tersebar ke segala penjuru!

Tapi dengan tangkas Chin Yang Kun menjatuhkan dirinya ke tanah.

Tiba-tiba tubuhnya mengkerut dengan cepat, sehingga pukulan kakek itu tidak mengenai sasarannya.

Akibatnya tanah di samping Chin Yang Kun meledak dengan dahsyatnya!

Tanah dan debu berhamburan kemana-mana!

Demikianlah Chin Yang Kun dan kakek jangkung itu lalu bertempur kembali.

Dan pertempuran mereka kali ini benar benar lebih dahsyat dari pada pertempuran mereka tadi.

Kesaktian mereka yang tidak lumrah manusia itu sungguh membuat takjub para penonton yang berada di halaman tersebut.

Kakek jangkung itu meskipun sudah tua ternyata kemampuan dan kekuatannya justru semakin menjadi-jadi malah!

Seluruh gerakan kaki dan tangannya selalu menimbulkan badai atau pusaran angin yang maha hebat, sementara pukulan tangannya selalu meledak-ledak laksana petir menyambar.

Sebaliknya, meskipun masih muda belia, ternyata ilmu kesaktian Chin Yang Kun juga tidak kalah dahsyatnya.

Tubuhnya yang juga tinggi jangkung itu bagaikan sebuah boneka karet, yang bisa memanjang-memendek, dan bisa ditekuk kesana kemari sesuka hatinya!

Sepintas lalu tubuhnya yang panjang jangkung itu seperti tubuh ular yang berlenggak-lenggok lemas dalam setiap gerakannya.

Tetapi meskipun gerakannya lemas dan halus, ternyata tenaga yang ia keluarkan benar-benar hebat luar biasa.

Pukulan petir si kakek yang berhawa panas itu ternyata menjadi hilang pengaruhnya bila membentur pertahanannya.

Malah beberapa saat kemudian kakek itulah yang menjadi bingung dan repot karena terkecoh dan tertipu oleh ilmu silatnya yang aneh!

Sehingga akhirnya kakek itu tidak berani bertempur terlalu dekat dengannya.

Lima puluh jurus telah berlalu pula.

Meskipun demikian pertempuran itu belum juga menunjukan tanda-tanda akan selesai.

Sepintas lalu kakek itu memang tampak lebih repot dibandingkan Chin Yang Kun, tapi hal itu juga belum dapat dijadikan ukuran bahwa Chin Yang Kun akan bisa menundukkan lawannya nanti.

Kenyataannya, biarpun repot ternyata kakek itu selalu bisa melayani ilmu silat Chin Yang Kun yang aneh dan menggiriskan itu.

Padahal sejak keluar dari gua di dalam tanah itu Chin Yang Kun belum pernah menjumpai lawan yang bisa bertahan menghadapi Kim-coa-ih hoat!

Malahan kalau dilihat dengan teliti, bukan Kim-coa ih hoat itu yang membuat repot si kakek jangkung, melainkan tenaga sakti Liong-cu I-kang itulah!

Dan para penontonpun semakin takjub melihat pertempuran tingkat tinggi itu.

Rasa-rasanya pertempuran yang mereka saksikan itu bukan lagi dilakukan oleh dua orang manusia biasa, tetapi dilakukan oleh dua malaikat atau dewa yang sedang turun di dunia.

Begitu hebatnya, sehingga para penonton itu terpaku diam di tempat masing-masing!

Sementara itu selagi semua orang sedang dicekam oleh rasa takjub melihat pertempuran tersebut, dari ruang dalam gedung itu muncul seorang kakek tua lagi, berjalan keluar pendapa dipapah oleh dua anak murid Kim-liong piauw-kiok.

"Ohhh...hentikan! Oooh...! Yap beng-yu (Sahabat Yap), kau...kau berhentilah bertempur!"

Begitu menginjak halaman kakek tua itu berteriak dengan suaranya yang serak. Dan suara kakek itu ternyata sangat mengejutkan kakek jangkung yang sedang bertempur dengan Chin Yang Kun itu.

"Hei...Lojin! Mengapa kau keluar juga? Bagaimana dengan sakitmu?"

Kakek jangkung yang tidak lain adalah Yap Cu Kiat itu cepat melompat keluar dari arena pertempuran. Bergegas orang tua itu mendekati Kim-liong Lojin, sahabatnya.

"Yap-Loheng, kau berkelahi dengan siapa...? Mengapa ramai dan ribut benar?"

Kim-liong Lojin bertanya. Yap Cu Kiat menghela napas panjang.

"Lojin, kau tak perlu turun tangan sendiri! Biarlah Lohu (aku) membantu menangkap orang yang telah membunuh muridmu itu."

"Siapa? Pembunuh Thio Lung? Mana dia...?"

Kim-liong Lojin berteriak, lalu dengan tergesa-gesa kakinya melangkah sehingga dua orang yang memapahnya terpaksa menyangganya kuat-kuat agar tidak terjatuh.

"Mana dia...?"

Kim-liong Lojin berteriak lagi sambil mencengkeram lengan Yap Cu Kiat.

"Itu dia...!"

Yap Cu Kiat menunjuk ke arah Chin Yang Kun yang menatap buas kepadanya.

"Dia...?"

Kim-liong Lojin berdesah perlahan.

Matanya menatap wajah Chin Yang Kun tajam-tajam.

Beberapa kali keningnya berkerut, seolah-olah ia tak percaya atau ragu ragu.

Sementara itu melihat kedatangan Kim-liong Lojin yang dicarinya Chin Yang Kun segera melangkah maju.

"Hmm, Kim-liong Lojin...akhirnya kau keluar juga. Nah, sekarang lihatlah baik-baik rupa dan wajahku! Benarkah orang yang membunuh Thio Lung itu wajahnya seperti aku?"

Kim-liong Lojin tampak kaget sekali. Dilepaskannya lengan Yap Cu Kiat seraya melangkah mundur. Matanya menatap wajah Chin Yang Kun seperti orang yang sangat kecewa.

"Bukan...! bukan dia! Yap-Loheng...kalian telah salah menuduh orang!"

Gumamnya perlahan.

"Apa? Bukan dia...? lalu...eh, bagaimana ini?"

Yap Cu Kiat berseru seraya berpaling ke arah penonton, mencari anak murid Kim-liong Piauw-kiok yang melapor kepadanya tadi.

Dan lelaki yang melapor tadi cepat keluar pula dari kerumunan para penonton.

Dengan air muka ketakutan laki-laki itu segera berlutut di depan Kim-liong Lojin dan Yap Cu Kiat.

"Su-Sucouw, maafkanlah Siauwte...tadi...tapi memang dia...dialah yang bernama Yang Kun, pemuda yang dahulu pernah menolong orang-orang kita di tempat pengungsian! siauwte tidak...tidak berbohong..."

Lelaki itu berkata dengan suara gagap karena takut.

"Benarkah...?"

Kim-liong Lojin menegaskan dengan muka tak percaya. Lalu dengan rasa ingin tahu ketua Kim-liong Piauw-kiok itu berpaling kepada Chin Yang Kun.

"Saudara, benarkah namamu Yang Kun?"

"Benar! Aku memang Yang Kun, orang yang dahulu pernah menolong murid-muridmu ketika bentrok dengan para pengemis dari Tiat-tung Kai-pang! Ada apa? Apakah kau masih menuduh aku yang membunuh muridmu?"

Chin Yang Kun menjawab keras, sedikitpun tidak merasa takut dikepung dan dikelilingi sedemikian banyak orang. Ketua Kim-liong Piauw-kiok itu tampak kebingungan.

"Anu...eh, begini saudara...kau...kau memang bukan si pembunuh itu! Tapi...tapi pembunuh itu juga mengaku bernama Yang Kun,"

Katanya terputus-putus. Chin Yang Kun dan Yap Cu Kiat mengerutkan dahi.

"Pembunuh itu mengaku bernama Yang Kun?"

Chin Yang Kun berseru tak percaya.

"Eh, Lojin...bagaimanakah bentuk wajah dan potongan si pembunuh itu?"

Yap Cu Kiat ikut bertanya pula kepada sahabatnya.

"Ah...kalau tak salah orang itu berusia kira-kira empat puluh atau lebih sedikit. Memakai kumis tipis dan bersenjata pedang. Dan kedatangannya kemari membawa dua orang teman, lelaki dan perempuan..."

"Hei! Apakah pedang yang dibawanya itu dihiasi dengan batu-batu permata yang gemerlapan? Dan...apakah teman lelaki yang dibawanya itu berwajah tampan serta necis dandanannya?"

Tiba-tiba Chin Yang Kun memotong perkataan Kim-liong Lojin.

"Ya-ya, benar! Pedang itu memang tampak gemerlapan kena sorot lampu! Dan teman laki-lakinya itu memang tampan dan kelihatannya juga necis dan suka berdandan,..."

Dengan bersemangat Kim liong Lojin menjawab seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bangsat kurang ajar! Jadi...bangsat-bangsat pengecut itu telah mendahului datang kemari untuk melenyapkan saksi yang masih hidup,"

Chin Yang Kun menggeram dan mengumpat-umpat. Yap Cu Kiat, Kim-liong Lojin dan semua orang yang berada di halaman itu memandang Chin Yang Kun dengan wajah bingung dan tak mengerti.

"Hmmm, tampaknya saudara mencurigai seseorang..."

Yap Cu Kiat bertanya kepada Chin Yang Kun.

Kakek ini sudah tidak menunjukkan rasa permusuhannya lagi kepada Chin Yang Kun.

Malah dari nada suaranya, kakek jangkung itu kelihatan menyesal telah ikut-ikutan menuduh Chin Yang Kun tadi.

Chin Yang Kun menatap bekas lawannya yang lihai luar biasa itu beberapa saat lamanya.

Lalu dengan tenang namun tegas pemuda itu mengangguk.

"Ya! Aku memang mencurigai Pendekar Li dan kawan-kawannya, yaitu Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi! Orang-orang itu mempunyai sebuah urusan pribadi dengan aku. Dan tidak seorangpun di dunia ini yang mengetahui urusan pribadi itu selain kami dan...Thio Lung!"

"Ahh! Jadi...?"

Yap Cu Kiat mendesak sambil mengerutkan keningnya.

"Yaah...tampaknya orang-orang itu memang membunuh Thio Lung untuk melenyapkan saksi dari urusan pribadi kami itu!"

Chin Yang Kun menggeram dengan wajah mendongkol.

"Sungguh keji...!"

Kim-liong Lojin menggeram pula dengan suara serak.

Sekejap orang-orang di halaman itu menjadi ribut.

Mereka berteriak-teriak serta mengumpat-umpat Pendekar Li dan kawan-kawannya.

Sementara itu, selagi orang-orang Kim-liong Piauw-kiok pada ribut dan berteriak-teriak, sebuah kereta barang tampak memasuki halaman tersebut.

Kereta itu lalu berhenti di dekat kerumunan mereka membuat orang-orang itu menjadi Kaget melihatnya.

Kemudian tampak dua orang lelaki turun dari kereta, memapah seseorang yang kelihatannya sedang menderita sakit.

"Eh...Tuan Hua!"

Orang-orang Kim-Iiong Piauw-kiok itu berdesah hampir berbareng, dan keributan itu pun lalu berhenti dengan tiba-tiba.

Semuanya memandang Tuan Hua, satu-satunya kawan mereka yang hidup ketika rombongannya dihadang perampok di dekat kota Poh-yang itu.

Tuan Hua mengangguk ke arah kawan-kawannya, kemudian dengan dibantu dua orang kawannya tadi ia melangkah ke tempat Kim-liong Lojin berdiri.

Lelaki itu bermaksud memberi penjelasan dan laporan mengenai bencana yang ia terima di luar kota Poh-yang kemarin siang.

Tapi baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba matanya melihat Chin Yang Kun yang berdiri tegak di tengah-tengah halaman.

Sekejap Tuan Hua tak percaya.

Tapi serentak yakin bahwa pemuda itu memang benar-benar Chin Yang Kun, penolongnya, Tuan Hua bergegas menghampirinya.

"Saudara Yang Kun,...! kau sudah sampai di sini? Kapan kau datang?"

Tuan Hua menyapa Chin Yang Kun dengan hangat. Meskipun lukanya belum sembuh tapi wajahnya tampak gembira berseri-seri melihat pemuda itu.

"Suhu...! Inilah saudara Yang Kun, pemuda yang pernah kuceritakan itu!"

Sambil berpaling ke arah Kim-liong Lojin laki-laki itu menjelaskan.

Orang-orang yang berada di halaman itu semakin yakin bahwa Chin Yang Kun memang bukan pembunuh Thio Lung.

Oleh karena itu mereka lantas meminta maaf kepada pemuda itu, termasuk pula kakek jangkung Yap Cu Kiat.

Malah selain meminta maaf kakek tersebut juga memuji dan mengagumi ilmu silat Chin Yang Kun yang hebat luar biasa itu.

"Sudahlah! Marilah kita sekarang masuk dan berbicara di dalam! Nanti kita usut dan kita bicarakan urusan ini sambil duduk! Dan...ayoh, kalian semua kembali ke tempat tugas masing-masing!"

Akhirnya Kim-liong Lojin mengajak teman-temannya ke pendapa, serta sekalian memerintahkan pada anak muridnya agar kembali ke tugasnya masing-masing. api dengan cepat Chin Yang Kun menolaknya.

"Maaf, Lojin...Sebetulnya aku bergembira sekali dapat berkenalan dengan semua tokoh di sini. Sejak bertemu dan berkenalan dengan murid-murid Lojin di tempat penampungan para pengungsi itu, aku sudah berniat untuk berkunjung kemari. Tetapi sayang sekali aku tak dapat mewujudkan niatku itu sekarang, karena malam ini aku masih harus menyelesaikan beberapa urusan lagi. Aku sungguh menyesal sekali..."

Pemuda itu menjura sambil meminta diri.

"Ohhh..."

Kim-liong Lojin dan murid-muridnya tampak kecewa sekali. Tapi mereka tak bisa mencegah maksud pemuda itu.

"Baiklah! Bagaimanapun juga kami memang tak bisa menahanmu kalau kau ingin pergi. Hanya sekali lagi kami mengucapkan terima kasih atas keteranganmu tentang para pembunuh Thio Lung itu,"

Kim-liong Lojin berkata seraya membalas penghormatan Chin Yang Kun.

"Memang sayang sekali. Sebenarnya lohu juga ingin sekali mengenal lebih banyak tentang saudara Yang Kun ini."

Yap Cu Kiat ikut menyatakan kekecewaannya pula.

"Eh, sebenarnya...siapakah saudara Yang ini? Maksudku...maksudku, saudara Yang ini dari perguruan mana dan siapakah gurunya?"

Chin Yang Kun yang sudah terlanjur membalikkan tubuhnya itu menoleh. Otomatis langkahnya terhenti.

"Ah...Lo-Cianpwe, apa perlunya kita mengetahui asal-usul kita masing-masing? Akupun juga tak tahu asal-usul dan nama Lo-Cianpwe. Yang penting bagi kita sekarang adalah bahwa kita sudah saling mengenal dan bersahabat. Kukira hal itu sudah cukup banyak bagi kita,...!"

Pemuda itu berkata sambil meneruskan langkahnya.

"Eh! Tapi..., nama juga perlu buat orang yang bersahabat. Bagaimana kau akan menyebut nama sahabatmu kalau kau tak tahu namanya? Hmm, tapi...baiklah kalau memang itu yang kau inginkan."

Yap Cu Kiat saling memandang dengan Kim-Iiong Lojin. Sambil menghela napas kakek jangkung itu berkata.

"Sungguh aneh sekali wataknya! Tampaknya ia mempunyai sejarah yang suram tentang hidupnya. Tapi lepas dari semua itu...kepandaiannya benar-benar hebat luar biasa! Setua ini umurku, belum pernah rasanya aku bertemu dengan anak muda sehebat dia...!"

"Loheng benar...! Akupun tadi juga merasa heran melihat anak itu mampu bertempur denganmu,"

Kim-Iiong Lojin mengangguk-angguk.

"Tidak hanya mampu malah! Justru akulah yang menjadi repot!"

Yap Cu Kiat mengakui tanpa malu-malu.

"Tapi zaman memang sudah berubah, dan kita orang tua ini benar-benar sudah ketinggalan dengan yang muda-muda."

"Katamu memang betul, Loheng. Anak sekarang memang hebat-hebat. Lihat! Tak usah jauh-jauh! Puteramu si Kiong Lee itu juga hebat bukan main! Mungkin kau sendiri juga tidak bisa mengalahkannya lagi sekarang..."

Diingatkan kepada puteranya kakek jangkung itu justru menjadi muram malah. Wajahnya tertunduk.

"Anak itu memang anak yang baik..."

Desahnya pelan.

"Ah, maafkan aku...Yap-Loheng! Aku tak bermaksud membuatmu sedih..."

Kim-liong Lojin menyesali kata katanya.

"Sudahlah! Marilah kita ke dalam!"

Kedua kakek yang bersahabat erat itu lalu masuk ke dalam, diikuti oleh Tuan Hua dan dua pengawalnya.

Mereka tidak jadi duduk di ruang depan yang sedang dibersihkan dan dirapihkan kembali oleh para anggota Kim-liong Piauw-kiok, tapi mereka terus langsung saja ke belakang, yaitu ke kamar Kim-liong Lojin.

Sambil minum teh panas, karena kesehatan Kim-liong Lojin tidak memungkinkan untuk meminum minuman keras, mereka saling berbicara tentang keadaan mereka masing masing.

Mula-mula Tuan Hua dulu yang bercerita tentang tugasnya yang kandas di tengah jalan akibat dirampok orang.

Bagaimana dia dan rombongannya melawan si perampok muda yang lihai luar biasa yang hanya dengan bersenjatakan busur dan anak panah, bisa membunuh seluruh anggota rombongannya, termasuk murid-murid langsung Kim-liong Lojin sendiri, yang pada waktu itu juga ikut mengawal barang hantaran tersebut, kecuali dia!

Lalu Tuan Hua juga bercerita tentang bagaimana Yang Kun memberi pertolongan kepada dirinya, sehingga pemuda itu dapat membunuh perampok lihai tersebut.

Kemudian Tuan Hua juga menyinggung tentang keterlibatan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dalam peristiwa itu, yaitu sebagai pengawal si perampok muda sehingga hampir saja pendekar yang terkenal itu berhadapan dengan Yang Kun.

Cerita Tuan Hua itu ternyata sangat mengejutkan Yap Cu Kiat!

"Jadi...jadi Pangeran Muda itu sudah mati di tangan Yang Kun?

Oooooh...!"

Kakek sakti itu berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tentu saja Tuan Hua dan Kim-liong Lojin yang tidak mengerti persoalannya menjadi heran mendengar kata-kata Yap Cu Kiat tersebut.

Apalagi orang tua itu menyebut Pangeran Muda segala.

"Tenanglah, Loheng...! kau kenapa? Mengapa kau kelihatan begitu kaget?"

Kim-liong Lojin cepat memegang lengan sahabatnya itu. Muka Yap Cu Kiat semakin tampak tua. Beberapa kali tangannya mengelus-elus jenggotnya yang putih.

"Sungguh nelangsa sekali hidupnya. Seorang pangeran pewaris mahkota...mati sebagai perampok?"

Kemudian agar sahabatnya itu tidak menjadi bingung menyaksikan sikapnya tadi, Yap Cu Kiat lalu bercerita pula serba sedikit tentang Putera Mahkota Chin yang berusaha untuk merampas kembali singgasana yang direbut oleh Liu Pang, tapi gagal.

Dan bagaimana dia dan isterinya sampai berselisih paham dengan kedua orang puteranya, karena mereka berempat saling berselisih paham.

Kedua orang puteranya itu memihak Liu Pang, sementara dia dan isterinya tetap membantu keturunan mendiang Kaisar Chin Si.

"Dan kalau benar apa yang diceritakan oleh Tuan Hua tadi, maka tak salah lagi perampok tersebut adalah Pangeran Muda, putera dari Putera Mahkota. Oooh...bila demikian halnya akupun juga ikut bersalah kepada kalian semua, karena...aku juga pernah ikut pula memberi pelajaran silat kepadanya barang sedikit."

Kakek Yap itu menutup perkataannya.

"Yap-Loheng..."

Kim-liong Lojin yang telah kehilangan semua muridnya itu berdesah pula dengan sedihnya. Meskipun demikian kakek itu tetap juga menghibur sahabatnya.

"Sudahlah, Loheng...kita berdua orang tua ini tampaknya memang bernasib sama, sama-sama menderita di hari tua. kau berselisih jalan dengan anakmu, sedangkan aku kehilangan semua murid dan perusahaanku."

"Aku tidak cuma berselisih jalan dengan kedua anakku saja, ibunyapun sekarang telah berselisih jalan denganku..."

"Kau...berselisih jalan dengan isterimu? Eh, bagaimana ini? Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kalian berdua ikut membantu perjuangan Putera Mahkota?"

Kim-liong Lojin bertanya dengan wajah bingung. Yap Cu Kiat bangkit berdiri sambil menghela napas panjang. Matanya memandang redup ke depan.

"Lojin...! Semula aku memang membantu Putera Mahkota. Tidak hanya aku malah. Beng Tian Goanswe yang terkenal itupun ikut membantu pula. Tapi setelah semuanya kupikirkan benar-benar, aku menjadi sadar bahwa tindakanku itu salah. Kedua anakku itulah yang benar. Seperti juga kita semua ini, zamanpun juga telah berubah. Yang dulu benar dan betul, belum tentu sekarang juga benar dan betul pula. Tiada sesuatupun yang abadi di dunia ini. Dahulu Dinasti Chin memang memerintah dengan baik dan dicintai rakyatnya. Tapi sejak Kaisar Chin Si bertakhta di Singgasana suasana menjadi berubah. Biarpun negeri tampak lebih besar dan ternama, tapi rakyat sudah tak senang lagi kepada Kaisarnya. Apalagi dengan tindakan Kaisar Chin Si yang sewenang-wenang dalam mendirikan Tembok Besar serta perlakuannya yang lain, yaitu memusuhi kaum beragama! Maka aku kira rakyat yang dipimpin oleh Liu Pang itu juga tidak salah! Agaknya memang sudah saatnya negeri ini berubah. Dan kita tidak boleh tetap bermimpi tentang masa lampau, apalagi sampai menghalang-halangi jalannya perubahan itu..."

Semuanya berdiam mendengarkan perkataan Yap Cu Kiat yang panjang lebar itu. Mereka mengangguk-angguk seakan akan membenarkan semua ucapan Yap Cu Kiat itu.

"Maka...akupun lalu pergi meninggalkan Putera Mahkota. Ternyata Beng Tian Goanswe juga sependapat dengan aku, sehingga diapun ikut pula meninggalkan Putera Mahkota. Tinggal isteriku saja yang kini masih tetap bertahan untuk membantu Putera Mahkota. Tapi itupun bisa kumaklumi, karena isteriku itu memang masih kerabat dari Keluarga Chin..."

Yap Cu Kiat mengakhiri kata-katanya seraya duduk kembali.

Mereka lalu berdiam diri kembali.

Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.

Baru beberapa saat kemudian Kim-liong Lojin sebagai tuan rumah membuka percakapan itu kembali, yaitu dengan cerita tentang kematian Thio Lung kemarin malam.

"Semula aku tak menyangka bahwa ketiga orang yang masuk ke kamar Thio Lung itu hendak berbual jahat. Dari kamarku kudengar mereka bercakap-cakap seperti halnya kawan lama yang baru saja berjumpa. Maka akupun tak bercuriga terhadap mereka. Baru setelah kudengar teriakan Thio Lung aku menjadi sadar bahwa tentu telah terjadi apa apa dengan murid sulungku itu. Dalam keadaan lemah dan sakit aku terpaksa keluar kamar. Tapi hanya dengan sekali sabet saja pedang orang itu telah melukaiku. Mereka Iantas berlari keluar, dan sebelum hilang di balik tembok mereka menyebutkan nama...Yang Kun!"

"Hei! Jadi...Thio suheng juga dibunuh orang?"

Tiba-tiba Tuan Hua menjerit, lalu bergegas keluar kamar dibantu oleh dua orang pengawalnya.

Memang sejak tadi lelaki itu tak mengetahui bahwa di antara mayat-mayat yang tergeletak di ruang dalam tersebut terdapat pula mayat Thio Lung, tokoh nomer dua dari Kim-liong Piauw-kiok.

Kamar itu lalu menjadi sunyi kembali.

Dua orang kakek itu tampak merenung diam di atas kursi masing-masing.

"Lojin...aku sudah memutuskan untuk kembali saja ke tempat pertapaanku di tengah tengah telaga itu. Aku bermaksud mengasingkan diri selama hidupku di sana. Aku masih meninggalkan seorang murid yang menjaga tempat itu. Biarlah dia yang merawatku nanti..."

Tiba-tiba Yap Cu Kiat memecahkan kesunyian mereka dengan mengatakan rencananya untuk masa depan. Kim-liong Lojin menundukkan kepalanya.

"Kau lebih beruntung dari pada aku, Loheng. Meskipun telah berselisih jalan, tapi kau masih tetap mempunyai sebuah keluarga dan murid yang akan merawatmu apabila kau membutuhkan nanti. Lain halnya dengan aku ini. Perusahaan jatuh, kini kedelapan orang muridkupun telah mati semua. Padahal aku sakit-sakitan begini. Lalu apa yang hendak kuharapkan lagi? Memang masih ada Tuan Hua di sini. Tapi dia hanya pembantuku dalam urusan piauw-kiok, bukan muridku, biarpun selama ini kami membiarkan dia ikut berlatih bila aku mengajar silat kepada murid-muridku..."

Jilid 35 Yap Cu Kiat menatap sahabatnya itu dengan perasaan kasihan. Apalagi jika ia mengingat sahabatnya itu tidak mempunyai keluarga sama sekali.

"Lojin, kalau kau suka, marilah kita pergi bersama-sama ke pertapaanku itu! Maukah kau...?"

Akhirnya kakek jangkung itu berkata.

"Sungguhkah ajakanmu ini, Loheng?"

Wajah yang pucat itu mendadak menjadi merah berseri-seri kembali.

"Tentu saja, kenapa tidak? Bukankah aku menjadi tidak kesepian lagi dalam masa-masa yang suram itu?"

Kedua kakek itu lalu berpelukan.

"Tapi biarlah kita tunggu kesembuhanmu dahulu. Selain kita harus menyelesaikan semua urusan di sini, perjalanan itu juga amat jauh..."

Yap Cu Kiat menggenggam tangan sahabatnya.

Demikianlah, ternyata ada juga secuil perasaan manis dalam kepahitan yang mereka reguk di hari tua mereka itu.

Dan perasaan itu sungguh sangat membahagiakan hati mereka, sehingga segala macam kesuraman yang menyelimuti hati dan pikiran mereka menjadi hilang, tersapu bersih oleh kegembiraan dan kegairahan mereka dalam menghadapi masa depan.

Sementara itu begitu keluar dari halaman gedung Kim-liong Piauw-kiok, Chin Yang Kun segera dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang tak disangka-sangkanya.

Orang itu muncul begitu saja dari kerumunan orang yang bubaran dari menonton peristiwa di halaman gedung Kim-liong Piauw-kiok tadi.

Topi bambunya yang lebar dan menutupi hampir seluruh kepalanya itu cepat mengingatkan pemuda tersebut kepada si pemakainya.

Apalagi caranya membawa tongkat besi yang hanya diseret begitu saja di atas jalan itu!

"Ah...Kakek peramal!

Mengapa kau juga telah sampai di sini pula?"

Chin Yang Kun menyapa lebih dahulu.

"Oh...cuma kebetulan saja. Saya memang selalu berputar-putar untuk mencari Iangganan. Dan saya segera tertarik ketika terjadi ribut-ribut di sini tadi. Wah...saya benar-benar tak mengira kalau tuan muda mempunyai kesaktian demikian hebatnya! Padahal lawan tuan muda tadi adaIah Yap Cu Kiat, jago tua keturunan Sin-kun Bu-tek yang hidup pada zaman seratus tahun lalu..."

"Yap Cu Kiat...? Maksudmu Yap Lo-Cianpwe...ayah dari Hong-lui-kun Yap Kiong Lee itu?"

Chin Yang Kun berseru dengan kagetnya.

"Benar! Eh, apakah tuan muda tidak mengetahuinya?"

Pemuda itu cepat menggelengkan kepalanya.

"Tidak! Aku sama sekali tidak peduli dengan siapa aku berkelahi tadi, sehingga aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya mengagumi ilmu silatnya yang hebat luar biasa."

Mereka bercakap-cakap sambil berjalan ketika tiba-tiba...

"Hei, kek...kudaku! Aku lupa membawanya kembali!"

Chin Yang Kun berseru. Tapi ketika pemuda itu hendak berbalik kembali, tangannya segera ditahan oleh kakek peramal itu.

"Tak usah repot-repot! Sebentar juga kuda itu akan datang sendiri...!"

Kakek itu berkata sambil tersenyum.

"Ahh, kakek ini...Masakan kuda itu bisa lepas dari kandang dan mencari aku ke sini?"

Chin Yang Kun membantah sambil membalikkan tubuhnya, untuk mengambil kudanya kembali.

"Eee...tuan muda tidak percaya kepadaku?"

"Sudahlah, kek. kau tunggu saja aku di sini, sebentar aku akan kembali mengambiI kudaku dahulu! Kuda itu dimasukkan ke dalam kandang dan penjaganya tidak tahu kalau aku pulang, padahal semua orang yang berada di dalam gedung itu sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Tak seorang pun yang akan memperhatikan kudaku itu!"

Tapi baru selangkah pemuda itu berjalan, dari arah gedung Kim-liong Piauw-kiok berderap seekor kuda mendatangi.

Bulunya yang hitam legam itu tampak mengkilap kebiru-biruan terkena sorot Iampu jalanan.

Dan kuda itu segera meringkik panjang ketika melihat Chin Yang Kun.

Kaki kakinya yang ramping panjang itu cepat berhenti begitu tiba di samping pemuda itu.

Seorang Iaki-laki yang dikenal oleh Chin Yang Kun sebagai penjaga yang tadi mengurus kudanya segera turun dari punggung kuda itu.

"Tuan Yang...! Tuan lupa membawa kuda ini kembali.Hampir saja dia mengamuk di kandang kuda tadi..."

Penjaga itu melapor seraya menyerahkan kendali kuda itu kepada Chin Yang Kun.

"Terima kasih! Aku memang lupa dan bermaksud kembali kesana tadi,"

Pemuda itu menyatakan perasaan terima kasihnya.

Setelah penjaga itu kembali, Chin Yang Kun memeriksa buntalan yang ia taruh di atas pelananya.

Semuanya masih utuh, baik pakaian maupun uang pemberian Liu-Twakonya.

Dan pemuda itu lalu mengeluarkan baju luarnya yang panjang dan lebar, kemudian dikenakannya di atas bajunya yang sobek agar tidak kelihatan dari luar.

"Mengapa tidak tuan lepaskan saja baju yang robek itu, tuan muda?"

Kakek Peramal itu bertanya. Chin Yang Kun kaget. Wajahnya mendadak menjadi merah. Pertanyaan itu sungguh tak terduga, tapi benar-benar membuat pemuda itu tersipu-sipu malu.

"Ah...ini...ini...aku cuma tak enak hati untuk berganti pakaian di jalan raya begini,"

Jawab pemuda itu terbata-bata.

"Ohh...benar. Bodoh benar aku!"

Kakek itu berkata sambil mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.

Belum juga mereka berjalan, dari gang kecil di dekat mereka berderap dua ekor kuda dengan kencangnya, keluar menuju jalan raya.

Begitu mendadak kedatangan mereka sehingga mengagetkan Si Cahaya Biru.

Kuda mustika itu meloncat mundur kemudian menyepakkan kaki belakangnya keras-keras ke samping, persis ke arah para pejalan kaki yang kebetulan lewat di dekatnya.

Tentu saja peristiwa yang sangat mendadak itu benar benar mengejutkan Chin Yang Kun dan Kakek Peramal itu.

Dengan sekuat tenaga mereka mencoba menghentikan ulah Si Cahaya Biru, terutama Chin Yang Kun yang merasa menjadi pemilik kuda tersebut.

Pemuda itu melesat cepat menyambar kendali kuda itu, sementara Kakek Peramal melesat ke tengah jaIan untuk menjaga segala sesuatunya.

Tapi sebelum kudanya berhasil melaksanakan niatnya atau rencananya itu, tiba-tiba kuda tersebut melambung tinggi ke udara bagai dihempaskan oleh badai atau topan secara mendadak!

Dan kuda itu kemudian jatuh ke arah...dua orang penunggang kuda yang baru keluar dari gang kecil tadi!

Semua orang yang kebetulan menyaksikan kejadian itu menjerit kaget, tidak terkecuali Chin Yang Kun dan Kakek Peramal!

Mereka tidak tahu apa yang menyebabkan kuda itu tiba-tiba terlempar ke udara.

Sekilas mereka hanya melihat seorang kakek tua mengibas ngibaskan lengan bajunya, persis di tempat dimana kuda itu tadi menyepak dan terlempar ke udara!

Beberapa orang pejalan kaki tampak menggeletak kaget di sekitar tempat kakek tersebut berdiri!

Chin Yang Kun melongo, begitu pula halnya dengan si Kakek Peramal!

Kejadian tersebut berlangsung demikian mendadak dan mengagetkan sekali, sehingga tak ada kesempatan sama sekali bagi mereka untuk menyelamatkan kuda itu atau si Penunggang Kuda itu.

Sekilas mereka mendengar ringkik ketakutan Si Cahaya Biru!

Tetapi selagi semua orang berputus-asa melihat kejadian itu, kedua orang penunggang kuda yang hendak tertimpa bencana tersebut tiba-tiba membuat sebuah kejutan besar yang mengundang kekaguman semua orang!

Secara serentak mereka melejit dari punggung kuda masing-masing, menyongsong kedatangan si Cahaya Biru dengan keempat tangan mereka, lalu membawanya turun ke tanah perlahan-lahan.

Begitu indahnya gerakan mereka dan begitu hebatnya kekuatan tenaga mereka, sehingga semua kejadian itu bagaikan sebuah pertunjukan akrobat yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Semua kejadian yang diceritakan secara panjang lebar itu sebenarnya hanya berlangsung dalam sekejap mata atau beberapa detik saja!

Dan ketika semuanya telah selesai, orang-orang yang melihatpun masih termangu-mangu bagai patung di tempat masing-masing...!

Barulah semuanya menjadi sadar tatkala terdengar umpat dan caci-maki kakek tua yang sedang mengebut-ngebutkan lengan bajunya itu.

"Bangsat! Binatang goblok tak tahu aturan! Masakan seenaknya saja mau menaruh kaki di dahiku! Huh, keparat! Apa kiranya aku ini bininya? Kurang ajar...!"

Semuanya memandang orang tua yang sedang marah marah itu.

"Put-ceng-li Lojin...!"

Tiba-tiba kedua orang penunggang kuda itu menyapa orang tua tersebut dengan suara kaget.

Dan orang tua yang baru saja melemparkan si Cahaya Biru ke udara itu mengerutkan keningnya.

Badannya yang agak bungkuk itu sedikit mendoyong ke depan, sementara kepalanya yang berambut putih itu sedikit miring ke samping karena melirik ke arah dua orang penunggang kuda itu.

Matanya yang sudah berkeriput dan sangat sipit itu tampak berkedip-kedip, seakan-akan sedang berpikir dengan keras.

Tiba-tiba orang tua yang tidak lain adalah Put-ceng-li Lojin itu tersenyum geli.

"Bangsat, kukira siapa...hehehe! Tak tahunya Siang kau Tai Shih (Dua utusan Agama) dari Aliran Mo-kauw."

Orang tua itu menjawab seenaknya.

"Benar, Lojin...kamilah yang datang."

Kedua orang penunggang kuda itu mengangguk. Lalu keduanya menoleh ke arah Kakek Peramal yang kini telah berdiri di dekat Chin Yang Kun.

"Dan...selamat bertemu lagi, Toat-beng-jin!"

Chin Yang Kun terperanjat.

Sedetik pemuda itu menjadi bingung, serta mengira dua orang itu sedang berkelakar atau memperolok-olokkannya.

Tapi sekejap kemudian wajahnya menjadi merah ketika Kakek Peramal itu membuka topi lebarnya.

"Selamat bertemu dan selamat datang Bhong Tai-shih, Leng Tai-shih dan...Put-ceng-li Lojin!"

Kakek Peramal yang tidak lain adalah Toat-beng-jin dari Aliran Im-yang-kauw itu menyapa orang-orang itu.

"Hei...Toat-beng-jin!"

Chin Yang Kun tertegun pula.

"Hahah...benar, Yang-hiante. Maaf...aku telah membuatmu bingung untuk beberapa saat lamanya."

Chin Yang Kun tersenyum kecut, teringat akan perjumpaannya yang pertama kali dengan kakek itu.

Dahulu kakek itu juga menyamar sebagai kakek pikun yang bodoh dan menangis kalau dibentak-bentak.

Dan kakek itu kemudian membungkukkan tubuhnya.

"Marilah cuwi semua...! Saya memang mendapat tugas untuk melihat-lihat kedatangan cuwi. Sekarang marilah saya antar ke gedung kami, Taisi-ong sudah menantikannya sejak tadi sore..."

"Ahh...jadi surat yang kami kirimkan itu sudah sampai di Gedung Pusat Im-yang-kauw?"

Bhong Kim Cu melangkah ke depan Toat-beng-jin dengan air muka berseri-seri. Orang tua yang pintar meramal itu tersenyum.

"Tentu saja. Kalau belum...masakan saya diberi tugas menyongsong kedatangan saudara Bhong di sini?"

"Tapi...tak enak juga rasanya hati kami mengirimkan surat itu. Kami takut sahabatsahabat kami dari Im-yang-kauw tidak setuju dengan maksud kami itu,...padahal kami juga sudah telanjur mengundang Put-ceng-li Lojin segala."

"Hahah...kenapa mesti sungkan-sungkan pula?"

Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin tertawa dan menyahut perkataan Bhong Kim Cu.

"Asal semuanya itu cocok dengan hati kita...hmm, peduli amat dengan pendapat orang! Seperti juga dengan aku sekarang ini. Karena kurasakan maksud Bhong Loheng untuk mempertemukan kita itu sangat baik, maka akupun lantas datang. Habis perkara!"

Semuanya tersenyum memandang ketua Aliran Bing-kauw yang terkenal karena tidak mengindahkan tata cara itu.

Tapi tak seorangpun menyahut ucapan Put-ceng-li Lojin tersebut.

Bagaimanapun kurang sopannya orang tua itu dalam setiap penampilannya, semuanya sudah maklum dan mengerti, sehingga seperti yang selalu terjadi merekapun cuma tertawa dan tak mempedulikannya lagi.

"Betul sekali ucapan Bing-Kauwcu itu. Seluruh warga Im-yang-kauw benar-benar amat gembira dan menghargai sekali maksud Bhong Loheng itu. Malah kami merasa bangga dan berterima kasih karena Bhong LoHeng-telah menunjuk tempat kami sebagai ajang dari pertemuan itu. Nah...apalagi yang perlu diragukan?"

Toat-beng-jin memberi keterangan. Kemudian katanya lagi.

"Malah sekarang akan saya perkenalkan kepada saudara-saudara sekalian, seorang sahabatku kami, yang.memang sengaja kami undang untuk menyaksikan jalannya pertemuan kita nanti. Nah, perkenalkanlah...Saudara Yang Kun! Seorang pendekar muda yang kelak atau sebentar lagi tentu akan menggeser ketenaran orang-orang tua tidak berguna seperti kita ini!"

Bhong Kim Cu, Leng Siau dan Put-ceng-li Lojin menatap Chin Yang Kun dengan dahi berkerut.

Mereka melihat pemuda tinggi jangkung berparas tampan itu dengan perasaan ragu dan kurang percaya pada kata-kata Toat-beng-jin.

Beberapa saat lamanya mereka tidak menjawab ucapan tokoh lm-yang-kauw tersebut.

Mereka masih sangsi, apakah orang tua itu berkata sebenarnya ataukah hanya ingin berolok-olok saja dengan mereka?

Sementara itu kata-kata yang diucapkan oleh Toat-beng-jin tadi benar-benar sangat mengejutkan Chin Yang Kun.

Belum juga hatinya yang baru saja didera oleh "kejutan"

Bertubi-tubi itu menjadi tenang kembali, kini sudah dihantam lagi dengan kejutan lain yang dibuat oleh Toat-beng-jin, yaitu undangan untuk menyaksikan atau menjadi saksi pertemuan besar tiga golongan aliran kepercayaan ternama di saat itu.

"Lo-Cianpwe, kau...kau jangan bergurau! siauwte masih banyak urusan, masakan siauwte dapat...eh...berani menjadi saksi pertemuan antara tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi seperti...seperti Lo-Cianpwe semua ini? Masakan siauwte sudah demikian tak tahu diri dan demikian gilanya...?"

Pemuda itu berseru dengan suara gagap dan penasaran.

Kerut-merut di dahi Bhong Kim Cu dan Leng Siau semakin rapat dan banyak, berkali-kali kedua tokoh Mo-kauw itu menatap Toat-beng-jin dan Chin Yang Kun berganti-ganti.

Di dalam hatinya kedua tokoh Mo-kauw itu semakin bingung dan tak mengerti apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh Toat-beng-jin tersebut.

Dan Toat-beng-jin sendiri memang mempunyai keperluan atau rencana khusus terhadap Chin Yang Kun.

Tokoh lm-yang-kauw ini tak mungkin melepaskan kesempatan bagus tersebut.

Yaitu kesempatan untuk membawa Chin Yang Kun ke Gedung Pusat Aliran Im-yang-kauw.

Seperti telah diketahui bahwa beberapa orang tokoh Im-yang-kauw telah mendapatkan semacam "wangsit"

Atau isyarat tentang masa depan dari aliran kepercayaan mereka.

lm-yang-kauw diramalkan akan menjadi besar dan ternama bila dapat menarik seorang pemuda yang mempunyai ciri-ciri tertentu.

Dan orang yang memperoleh tugas untuk mencari pemuda tersebut adalah Toat-beng-jin.

Kemudian ternyata pemuda yang mempunyai ciri-ciri tertentu itu mereka temukan dalam diri Chin Yang Kun.

Tapi ternyata tidak mudah untuk membawa Chin Yang Kun ke Gedung Pusat mereka.

Maka setelah kini secara kebetulan Toat-beng-jin dapat menemukan Chin Yang Kun di kota itu tak mungkin rasanya dia menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

Dengan segala macam cara pemuda itu harus dapat dibawa ke Gedung Pusat Im-yang-kauw.

Oleh karena itu dengan tutur kata yang halus dan menarik Toat-beng-jin berusaha membujuk Chin Yang Kun.

"Yang-hiante, kau jangan buru-buru marah dahulu...! Sama sekali aku tak bermaksud untuk bergurau denganmu, apalagi mencoba menghalang-halangi urusan dan kesibukanmu. Aku orang tua ini benar-benar tidak berani. Sungguh! Aku bermaksud baik kepadamu. Mumpung kau berada disini, aku ingin mengundangmu ke tempatku, itu saja!"

"Tapi...mana aku berani menjadi saksi segala?"

Chin Yang Kun masih berusaha untuk mengelak.

"Hei...?!? Apa salahnya untuk menjadi saksi? Bukankah saksi itu merupakan jabatan yang baik? Kalau Toat-beng-jin tadi ingin mengangkatmu sebagai saksi dalam pertemuan kita ini, hal itu karena dia sangat menghormatimu. Maka kau tak usah berbelit-belit. Mau tidak kau dihormati Toat-beng-jin? Kalau tidak mau...ya, silahkan pergi! Habis perkara!"

Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin menyahut dengan suara agak penasaran. Orang tua ini memang paling tidak suka sesuatu yang berbau sungkan-sungkan.

"Wah...ini...ini..."

Pemuda itu tak bisa menjawab atau berdalih lagi.

"Sudahlah, kita tak usah berdebat lebih lanjut. Marilah kita sekarang berangkat saja ke gedung pertemuan itu...! Silahkan, Yang-hiante...!"

Toat-beng-jin cepat menengahi.

Demikianlah, Chin Yang Kun terpaksa tidak dapat menolak lagi.

Dengan perasaan yang kurang enak dia mengikuti langkah jago-jago silat dari ketiga aliran kepercayaan itu.

Meskipun merasa kepandaiannya tidak akan kalah oleh mereka, tapi sebagai seorang pemuda yang belum mempunyai banyak pengalaman, yang secara tiba-tiba harus berkumpul dengan tokoh-tokoh angkatan tua yang sakti dan ternama, apalagi mereka sangat dihormati serta mempunyai kedudukan tinggi di dunia persilatan, Chin Yang Kun merasa kecil juga di hadapan mereka.

Maka pemuda itu tak bersuara sedikitpun ketika mengikuti tokoh-tokoh sakti tersebut.

Seperti halnya Bhong Kim Cu dan Leng Siau yang menuntun kudanya, pemuda itu juga berjalan saja sambil memegang kendali si Cahaya Biru.

Cuma kalau kedua tokoh Mo-kauw tersebut berjalan sambil asyik bercakap-cakap, Chin Yang Kun hanya diam saja di belakang sendiri.

Semuanya tidak mempedulikan orang-orang yang menoleh atau memperhatikan kedatangan mereka.

Setelah berbelok-belok beberapa kali mereka sampai di sebuah gedung besar berhalaman luas.

Gedung itu didirikan agak jauh menjorok ke dalam, sehingga halaman depannya yang sangat luas itu bagaikan sebuah lapangan untuk bermain kuda.

Meskipun malam halaman tersebut kelihatan terang benderang karena setiap tiga tombak dipasangi lampu minyak berukuran besar-besar.

Maka dari itu kedatangan mereka segera diketahui oleh para penjaga yang berada di dalam pendapa.

Para penjaga itu bergegas turun menyambut kedatangan mereka.

"Lojin-ong...!"

Orang-orang itu menyapa seraya membungkukkan tubuh mereka.

Toat-beng-jin mengangguk, lalu memberi perintah agarmelaporkan kedatangan para tamu yang dibawanya itu kepada Tai-si-ong dan para pimpinan Im-yang-kauw lainnya.

Tapi belum juga orang yang diperintah tersebut beranjak dari tempatnya, Tai-si-ong telah lebih dahulu muncul di atas pendapa.

Kepala Kuil Agung itu diiringkan oleh Pangcu-si Song Kang dan kau Cu-si Tong Ciak, sementara di belakang mereka tampak beberapa orang tokoh Im-yang-kauw yang lain.

"Hmm...selamat datang! Selamat bertemu kembali Bing kau cu dan Siang kau Tai-shih dari Mo-kauw!"

Dari atas pendapa Tai-si-ong cepat menjura untuk menyambut kedatangan tamu-tamunya itu.

"Mari...silahkan duduk!"

Chin Yang Kun memberikan kudanya kepada seorang penjaga, lalu ikut pula naik ke atas pendapa.

Dengan perasaan kagum matanya memandang bangunan yang luas, anggun dan sangat indah itu.

Di mana-mana dipasang gambar-gambar dan hiasan yang sangat indah dan menarik, sementara di tengah-tengah ruangan berdiri sebuah patung besar dari batu pualam yang dikelilingi oleh patung-patung kecil dalam sikap menyembah.

Dan dari lantai pendapa, kumpulan patung tersebut dibatasi oleh kolam kecil dengan air yang sangat jernih.

puluhan ikan emas tampak berenang kian ke mari di dalamnya.

"Hei! Yang-hiante rupanya...! Selamat bertemu kembali!"

Kau Cu-si Tong Ciak berseru nyaring begitu melihat Chin Yang Kun.

"Hahaha...kau tidak menyangkanya, bukan?"

Toat-beng-jin tertawa gembira melihat kekagetan kau Cu-si Tong Ciak.

Kemudian setelah semua tamu disambut dan dipersilakan duduk oleh Tai-si-ong dengan baik, Toat-beng-jin bergegas memperkenalkan Chin Yang Kun kepada teman-temannya.

Dengan bangga orang tua itu menunjukkan kepada Tai-si-ong dan Pangcu-si Song Kang, siapakah sebenarnya pemuda yang kini ikut bersamanya itu.

"Ah...Saudara Yang, sungguh gembira sekali kami semua dapat berkenalan denganmu! Sudah lama Lojin-ong bercerita tentang engkau. Hahaha...silahkan duduk! Maafkanlah kalau penyambutan kami kurang berkenan di hatimu."

Tai-si-ong cepat berdiri kembali untuk memberi penghormatan kepada Chin Yang Kun.

Tentu saja sambutan Kepala Kuil Agung yang tak disangka sangkanya itu semakin tidak mengenakkan hati Chin Yang Kun.

Pemuda itu benar-benar tidak mengira kalau dirinya yang kecil dan tak punya nama itu akan memperoleh perhatian dan sambutan yang ramah dari tokoh-tokoh ternama dan terhormat seperti Tai-si-ong dan yang lain-lainnya.

"Terima kasih! Terima kasih...!"

Pemuda itu berkata seraya menjura dalam-dalam.

Saking canggungnya pemuda itu malah tak bisa berkata apa-apa selain menyatakan rasa terima kasihnya.

Sebaliknya penghormatan dan perhatian yang terlalu berlebih-lebihan itu benar-benar sangat mengherankan para tamu yang lain.

Bhong Kim Cu saling memandang dengan kawannya, Leng Siau, sementara Put-ceng-li Lojin yang selalu acuh tak acuh itu hanya melongo menyaksikan kejadian itu.

"Hei...hei! Tai-si-ong...! Bagaimana? Jadi berlangsung atau tidak pertemuan kita ini?"

Put-ceng-li Lojin tiba-tiba berteriak.

"Kalau tidak jadi...aku mau pulang saja!"

"Ohh, Bing-Kauwcu...maafkanlah kami! Hahaha...Silahkan duduk! Silahkan duduk!"

Toat-beng-jin cepat menahan orang tua ini.

Semuanya tersenyum melihat adegan itu.

Tidak terkecuali Bhong Kim Cu dan Leng Siau.

Kedua tokoh Mo-kauw itu pura pura mengelus kumis dan jenggotnya untuk menutupi senyum mereka.

Sebagai sesama tokoh angkatan tua mereka takut dianggap bersikap kurang sopan terhadap Put-ceng-li Lojin.

Tetapi orang yang bersangkutan ternyata tidak ambil pusing kepada orang-orang di sekitarnya.

Sambil duduk kembali di kursinya orang tua itu masih mengomel juga.

"Habis, sedari tadi cuma omong saja. Minumanpun juga tak kunjung keluar. Bagaimana tamu menjadi kerasan di sini?"

"Wah...Kauwcu benar! Sungguh pikun benar aku ini, hahaha...! Hei, penjaga! Suruh pelayan cepat-cepat menghidangkan minuman dan makanan! Cepat...!"

Pangcu-si Song Kang menoleh dan berteriak ke arah penjaga yang berdiri di belakang kursinya.

Penjaga itu berlari masuk dan sekejap kemudian beberapa orang pelayan telah keluar membawa nampan berisi makanan dan minuman.

Dengan cekatan mereka menaruh isi nampan mereka tersebut di atas meja.

Dan tanpa malu-malu atau sungkan-sungkan lagi Put-ceng-li Lojin segera menyambar poci arak yang ada di depannya, terus meminumnya sampai habis.

"Hahaha...beginilah seharusnya tuan yang baik."

Kata orang tua itu gembira.

Lalu tanpa mempedulikan tanggapan atau komentar dari orang-orang yang berada di sekelilingnya orang tua itu menyambar lagi poci arak yang berada di depan Leng Siau.

Yang lain hanya tersenyum maklum memandang ulah Ketua Bing-kauw yang urakan dan ugal-ugalan itu.

Mereka tak bisa marah atau merasa tersinggung, karena memang demikianlah watak dan sifat Put-ceng-li Lojin.

"Bhong Tai-shih! Leng Tai-shih dan...Yang-sicu! Silahkan minum...!"

Untuk menyingkirkan rasa kikuk mereka Tai-siong segera mempersilahkan tamu-tamunya yang lain untuk menikmati sajian di atas meja.

Di depan Leng Siau segera diletakkan sebuah poci arak yang baru.

Demikianlah, mereka makan dan minum dengan gembira dan meriah.

Semuanya seperti sudah melupakan pertikaian yang terjadi diantara para anggota aliran mereka.

Mereka saling berbicara satu sama lain baik tentang hal-hal yang terjadi di dunia kang-ouw maupun tentang perselisihan perselisihan diantara mereka secara bebas dan terbuka.

"Keparat...perutku sudah penuh sekarang. Dan sebentar lagi mataku tentu akan segera mengantuk pula. Hei, Tai-siong...! Lekaslah kau buka saja pertemuan ini! Aku takut mataku ini takkan bisa bertahun lagi nanti..."

Mendadak Put-ceng-li Lojin membuat ulah lagi.

"Ah, benar...Hari memang semakin bertambah malam. Kita memang harus segera menyelesaikan pokok persoalan kita."

Pangcu-si Song Kang dan kau Cu-si Tong Ciak menyambut perkataan Put-ceng-li Lojin itu hampir berbareng.

"Ya!"

Toat-beng-jin juga mengangguk.

"Tai-si-ong, silahkan kau buka saja pembicaraan kita ini sekarang...!"

Katanya lagi seraya menoleh ke arah Kepala Kuil Agung yang duduk di sisinya.

Ta-si-ong mengangguk, lalu berdiri.

Dengan merangkapkan kedua belah telapak tangannya di depan dada, Tai-si-ong membungkuk kepada Bhong Kim Cu dan Leng Siau.

"Bhong Tai-shih! Lheng Tai-shih! Kalian berdualah sebenarnya yang mempunyai maksud mengadakan pertemuan ini. Kalianlah yang telah mengirim surat undangan itu. Kami cuma menyediakan tempat saja di sini..."

"Ucapan Tai-si-ong itu benar. Nah, Loheng...cepatlah! kau lah yang mengirim surat kepadaku. Dan...dalam surat itu kau mengatakan bahwa kau telah menemukan sumber pertikaian diantara ketiga aliran kita. Di dalam surat itu kau malah menyebutkan pula bahwa perselisihan itu memang sengaja dibuat oIeh seseorang untuk mengeruhkan suasana di dunia kang-ouw. Nah, kata kata yang kau tulis itu sungguh membuatku penasaran. Hatiku lantas tergelitik untuk membuktikan kata-katamu itu. Dan...itulah sebabnya sekarang aku berada di sini! Bhong Loheng, ayo...lekaslah engkau memulainya! Aku sudah tidak sabar lagi!"

Put-ceng-li Lojin bangkit pula dari tempat duduknya.

Hening sejenak.

Semua mata tertuju ke arah Bhong Kim Cu dan Leng Siau.

Dengan perasaan tegang mereka menunggu reaksi dua tokoh Mo-kauw tersebut.

Dan sementara itu diam diam Chin Yang Kun ikut menjadi tegang pula di tempat duduknya.

Apalagi pemuda itu serba sedikit juga mengetahui masalah yang mereka perbincangkan.Akhirnya Bhong Kim Cu bangkit pula dari kursinya.

"Terima kasih! Terima kasih, Tai-si-ong...! Lohu sendiri sebenarnya juga ingin lekas lekas memulainya, tapi tak enak rasanya kalau harus menghentikan perjamuan yang meriah ini begitu saja..."

"Hei! Lihat...! Semuanya sudah selesai sekarang! Tak ada yang makan atau minum lagi! Ayoh, lekaslah...!"

Put-ceng-li Lojin memotong dengan suara keras. Bhong Kim Cu tersenyum.

"Baiklah! Tapi...lebih dulu kami mohon maaf karena ketua kami tidak dapat datang di dalam pertemuan penting ini. Beliau tidak sempat kami undang atau kami beritahu tentang rencana pertemuan kita ini. Kukira semuanya sudah tahu kalau pertemuan ini kita adakan dengan sangat tergesa-gesa sekali. Coba kalau pagi tadi secara kebetulan kami tidak melihat Put-ceng-li Lojin di kota ini, kukira pertemuan ini takkan bisa terlaksana."

Tokoh Mo-kauw itu membuka pembicaraannya. Tai-si-ong dan Put-ceng-li Lojin tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya mendengarkan dengan sungguh-sungguh semua perkataan Bhong Kim Cu tadi.

"Sudah berbulan-bulan aku dan Leng Tai-shih mendapat tugas dari Mo-cu (Ketua Aliran Mo) untuk menyelidiki perselisihan yang timbul diantara ketiga aliran kepercayaan kita. Kami berdua telah mencoba dengan segala cara untuk mencari sebab musabab dari semua pertengkaran pertengkaran yang timbul diantara anak buah kita. Kami berdua juga sudah menemui atau menghubungi beberapa orang tokoh yang kira-kira bisa kami ajak berdamai untuk menyelesaikan perkara ini. Diantaranya kami berdua juga telah menjumpai Toat-beng-jin dan kau Cu-si Tong Ciak dari Im-yang-kauw, lalu kami menemui pula Put-chien-kang Cin-jin dan Put-sim-sian dari Bing-kauw..."

"Hei? Kalian sudah menemui suhengku pula?"

Put-ceng-li Lojin berseru. Bhong Kim Cu mengangguk sambil tersenyum.

"Habis, rasanya sulit benar mencari Bing-Kauwcu..."

Leng Siau menjawab.

"Wah...akupun juga selalu berkeliling untuk menyelidiki peristiwa ini seperti kalian..."

Put-ceng-li Lojin menjelaskan.

"Nah...dari pembicaraan-pembicaraan kami itu serta dari penyelidikan-penyelidikan yang telah kami lakukan, kami dapat menyimpulkan bahwa memang ada seseorang yang bermaksud untuk mengadu domba ketiga aliran kita. Orang itu bermaksud untuk menciptakan kerusuhan, keributan dan kekeruhan di dunia persilatan, agar dengan mudah ia melaksanakan niatnya..."

Bhong Kim Cu melanjutkan keterangannya.

"Melaksanakan niatnya...? Niat apa itu...?"

Tai-si-ong menyela.

"Memberontak kepada pemerintah yang dipimpin oleh Kaisar Han! Dengan berlindung pada kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di dunia kang-ouw, mereka bebas dari perhatian Kaisar Han, sehingga dengan mudah mereka menyusun kekuatan."

"Ohh...bangsat! Keparat! Licik besar!"

Put-ceng-li Lojin mengumpat-umpat.

"Lalu...apakah Bhong Tai-shih sudah bisa mengetahui sekarang, siapa orang yang licik dan kurang ajar itu?"

Song Kang yang sedari tadi hanya diam saja itu tiba-tiba ikut bertanya pula. Lagi-lagi Bhong Kim Cu mengangguk sambil tersenyum.

"Tentu saja. Kalau aku belum yakin benar akan kebenaran berita itu, masakan kami berdua berani meminjam tempat untuk keperluan pertemuan ini? Dan kalau kami belum benar benar siap, masakan kami berani mengundang Put-ceng-li Lojin pula? Hahaha...Song Cu-si, ternyata jerih payah kami berdua selama berbulan bulan itu memperoleh hasil juga..."

Bhong Kim Cu menghentikan keterangannya sebentar untuk mengambil napas. Lalu.

"Nah, setelah kami memperoleh data-data tentang siapa orangnya yang mengadu domba kita, kami lalu mencarinya ke mana-mana. Dan...beruntunglah kami ketika tanpa sengaja melihat orang itu di kota Ko-tien kemarin sore. Malahan secara kebetulan kami melihat juga Put-ceng-li Lojin di sana."

"He? Kalian melihat aku di Ko-tien kemarin? Eh, mengapa aku tak melihat juga pada kalian dan orang itu?"

Put-ceng li Lojin memotong cerita Bhong Kim Cu dengan suara kaget.

"Ahhh...selama ini Lojin tak pernah mempedulikan orang ataupun diri sendiri. Jangankan dengan orang yang jarang sekali berjumpa atau bahkan malah belum pernah mengenal seperti kami atau orang itu, sedangkan dengan keluarga atau kerabat sendiri saja Lojin hampir tak pernah peduli. Mana Lojin dapat melihat kami...?"

Leng Siau tertawa sambil menjawab pertanyaan ketua Bing-kauw tersebut.

"Yaaa...itulah sifatku yang paling kubenci setengah mati! Tapi rasanya sulit benar untuk mengubahnya! Bangsat...!"

Dengan enaknya orang tua itu memaki-maki dirinya sendiri.

Tak terasa semuanya tertawa melihat kelakuan Put-ceng-li Lojin yang konyol dan menggelikan itu.

Tapi yang ditertawakan tetap saja acuh tak acuh.

"Kami berdua secara diam-diam lalu mengikuti orang itu..."

Bhong Kim Cu meneruskan ceritanya.

"Eh...ternyata orang itu memasuki rumah seorang pembesar tinggi dari kota Ko-tien. Di dalam ruangan yang tersembunyi orang itu mengadakan pembicaraan dengan seorang Iaki-laki yang dipanggil dengan nama Liok Cian-bu. Semua pembicaraan mereka dapat kami dengarkan semuanya, sehingga kami berdua semakin menjadi yakin bahwa memang orang itulah yang kami cari!"

"Eh...Bhong Loheng! Boleh...bolehkah kami turut mengetahui juga...isi dari pembicaraan orang itu? Terus terang kami juga menjadi penasaran. Kami ingin mengetahui,apa saja yang direncanakan orang itu untuk mengadu domba kita...?"

Tai-si-ong menyela.

"Yaa...ya! Akupun ingin tahu juga, apa saja yang dikatakan oleh bedebah licik itu?"

Put-ceng-li Lojin menggeram pula.

Bhong Kim Cu tampak berdiam diri sebentar.

Agaknya tokoh Mo-kauw itu sedang berpikir atau sedang mengingat ingat kembali semua pembicaraan yang didengarnya dari mulut orang yang dicurigainya itu.

"Baiklah...!"

Akhirnya tokoh Mo-kauw itu berkata.

"Mula-mula orang itu bertanya tentang pasukan yang mereka pusatkan di sekitar kota Tie-kwan di lembah Sungai Huang-ho kepada orang yang bernama Liok Cian-bu itu. Dan Liok Cianbu itu menjawab, bahwa semua pasukan yang berada di bawah pengawasannya dalam keadaan baik, hanya saja mereka sudah tak sabar lagi untuk menunggu terlalu lama. Mereka ingin lekas-lekas bergerak ke Kotaraja..."

"Hmm...sungguh gawat! Masakan Hongsiang belum mencium gerakan mereka?"

Tai-si-ong berdesah dengan keadaan khawatir.

"Saya dengar Hongsiang sudah mencium pula gerakan mereka."

Toat-beng-jin menjawab.

"Kabarnya Hongsiang malah sudah mengirim beberapa orang kepercayaannya untuk menyelidiki hal ini, termasuk pula Hong-lui-kun Yap Kiong Lee."

"Ohh...sukurlah!"

Tai-si-ong bernapas lega.

"Lalu...bagaimana kelanjutannya, Bhong Loheng...?"

Katanya kemudian sambil menoleh ke arah tamunya. Bhong Kim Cu mengambil napas panjang.

"Tai-si-ong...sejak semula kami berdua menyangka bahwa orang itu adalah otak dan biang-keladi dari semua peristiwa ini. Tapi dugaan kami tersebut ternyata keliru! Kedua orang itu ternyata masih mempunyai seseorang pemimpin lagi."

"Pemimpin...?"

Put-ceng-Ii Lojin menyela.

"Benar. Dalam perundingan mereka itu mereka membagi tugas. Orang itu mau menghubungi semua pasukan yang sudah dapat mereka bentuk dan orang yang dipanggil Liok Cian-bu itu pergi ke pantai Laut Timur untuk menghubungi pemimpin mereka. Tampaknya mereka sudah siap untuk menyelesaikan niat mereka."

"Wah...gawat! Sungguh gawat!"

Put-ceng li Lojin menggeram dengan suara gelisah.

Bagaimanapun konyolnya orang tua ini adalah pemimpin dari sebuah aliran yang besar, sehingga sedikit banyak ia juga memikirkan para anggotanya bila terjadi peperangan.

"Demikianlah, aku dan Leng Tai-shih lalu memutuskan untuk menangkap saja orang itu, sementara kawannya akan kami biarkan lolos..."

Bhong Kim Cu melanjutkan lagi.

"Hei! Mengapa dibiarkan lolos? Mengapa tak hendak ditangkap sekalian?"

Lagi-lagi Put-ceng-li Lojin memotong cerita Bhong Kim Cu.

"Wah...Liok Cian-bu itu berseragam perajurit, bagaimana mungkin kami dapat menangkapnya? Salah-salah kita akan mendapat kesukaran malah!"

Leng Siau menjawab pertanyaan Put-ceng-li Lojin.

"Hmh! Peduli amat! Biar perajurit kalau musuh...sikat saja!"

Semuanya memandang Put-ceng-li Lojin dengan tersenyum kecut. Tak ada gunanya berdebat dengan orang tua konyol itu.

"Eeee...Bhong Tai-shih! Masakan hal yang diperbincangkan oleh kedua orang itu cuma urusan pemberontakan dan pembagian tugas saja? Ayo...ceritakanlah semuanya!! Biarlah kami tahu, apa saja yang dikatakan orang licik itu tentang kita..."

Tiba-tiba kau Cu-si Tong Ciak berseru.

"Ya, benar. Bhong Loheng, ceritakanlah semuanya! Jangan dipotong-potong begitu...!"

Toat-beng-jin ikut pula mendesak.

"Lhoh! Aku tidak memotong-motongnya! Memang demikianlah ceritanya...! Masakanku aku harus menceritakannya sampai yang sekecil-kecilnya?"

Bhong Kim Cu membantah sambil tersenyum.

"Yaa...tapi kami memang ingin mengetahui pula semua hal yang dikatakan oleh orang itu,"

Tong Ciak tetap juga mendesak.

"Hmmm...!"

Bhong Kim Cu menunduk sambil mengerutkan keningnya.

"Baiklah...akan kucoba. Hanya saja aku mungkin sudah tidak dapat mengingat semuanya. Hmmm...kalau tak salah orang yang kami curigai itu juga bercerita tentang...pertemuan di bukit sebelah timur kota Poh-yang."

"Pertemuan di bukit sebelah timur kota Poh-yang?"

Tak terasa Chin Yang Kun bergumam perlahan.

"Hmmmm...siapa dia?"

"Yang-hiante, kau bilang apa?"

Toat-beng-jin yang duduk di dekatnya menegaskan.

"Oh, tidak apa-apa..."

Pemuda itu menjawab tersipu sipu. Toat-beng-jin mengerutkan keningnya, tapi ia tak bertanya lebih lanjut. Orang tua itu segera memandang ke arah Bhong Kim Cu yang sudah meneruskan lagi ceritanya.

"Orang itu...berkata kepada Liok Cian-bu, bahwa pertemua yang mereka adakan di puncak bukit di luar kota Poh-yang mengalami kegagalan. Bahkan kekuatan yang ada di tempat itu hancur bercerai-berai karena serangan bajak laut Tung-hai-tiau. Malahan katanya orang itu hampir saja mati di tangan Tung-hai-tiau dan anak buahnya. Untunglah dia dapat meloloskan diri melalui jalan rahasia..."

"Jalan rahasia...?"

Chin Yang Kun bertanya di dalam hatinya.

"Kalau begitu...orang yang dimaksudkan Bhong Taishih ini tentu Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, sebab Cuma dia yang tahu jalan rahasia di bawah tanah itu."

Tapi pemuda itu tetap berdiam diri dan tak berkata apa apa. Dibiarkannya saja tokoh Mo-kauw itu melanjutkan ceriteranya.

"Setelah bisa meloloskan diri dari kepungan para bajak laut, orang itu melarikan diri ke kota Yu-tai. Tapi di tengah jalan dia bertemu dengan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan mereka segera terlibat dalam pertempuran yang sangat seru. Ternyata orang itu kalah sehingga ia terpaksa melarikan diri lagi. Hong-lui-kun tak mau melepaskannya, sehingga terjadilah kejarmengejar yang seru. Saking bingung dan putus-asa karena tak bisa melepaskan diri dari libatan Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, orang itu nekad menerjunkan diri ke dalam jurang yang dalam."

"Hei? Terjun ke dalam jurang?"

Tong Ciak bertanya kaget.

"Ya, begitulah orang itu bercerita kepada Liok Cian-bu..."

Bhong Kim Cu mengangguk.

"Tapi...Orang itu ternyata masih bernasib baik. Dengan kepandaiannya yang tinggi orang itu dapat bergantung pada sebuah akar pohon sehingga selamat. Kemudian perlahan-lahan orang itu naik ke atas kembali dan pergi ke kota Ko-tien. Di sana ia menemui Liok Cian-bu dan...terlihat oleh kami berdua,"

Bhong Kim Cu mengakhiri ceritanya. Diam sesaat. Semuanya masih menantikan kelanjutan cerita itu. Tapi tampaknya Bhong Kim Cu memang telah menyelesaikan ceritanya.

"Demikianlah..."

"Hei! Nanti dulu! Manakah kata-kata orang licik itu yang menyinggung tentang kita? Ayolah Bhong Loheng...jangan membikin penasaran hati orang! Itu dosa!"

Tong Ciak cepat cepat menyela dengan mulut meringis karena mendongkol.

"Benar. Manakah cerita itu? Wah, Bhong Loheng ini memang pintar menggoda hati orang!"

Toat-beng-jin ikut menuntut pula.

"Bhong Tai-shih...! Saya kira tuntutan rekan-rekan kita ini memang benar,"

Tai-si-ong berkata pula dengan suara halus untuk menengahi mereka.

"Ceritakan saja semua pembicaraan kedua orang itu kepada kami. Terutama yang menyangkut tentang aliran kita masing-masing. Jangan hanya disingkat dengan mengatakan bahwa...Bhong Tai-shih semakin yakin akan keterlibatan mereka, setelah mendengar pembicaraan kedua orang itu...! Tolonglah ceritakan juga pada kami, apa saja yang mereka katakan, sehingga kami juga bisa mengambil kesimpulan seperti Bhong Tai-shih berdua!"

"Waduh...baiklah! Begini..."

Bhong Kim Cu terpaksa mengalah mendengar tuntutan tuan rumah itu.

"...dalam pembicaraan mereka orang itu juga menegaskan bahwa gerakan mereka harus cepat-cepat dimulai sebab kalau tidak lekas-lekas dimulai, gerakan yang telah mereka persiapkan dengan matang itu tentu akan kandas di tengah jalan. Kemudian orang itu bercerita tentang usaha-usaha yang telah ditempuhnya selama ini. Mulai dari pembentukan-pembentukan pasukan di beberapa daerah, sampai dengan menghubungi pejabat-pejabat kerajaan yang sekiranya setuju dengan gerakan mereka. Termasuk diantaranya adalah Liok Cian-bu sendiri. Kemudian orang itu juga menyebutkan beberapa usaha lainnya, yaitu antara lain mencari Cap Kerajaan yang hilang, mencari harta karun mendiang Perdana Menteri Li Su di pantai Laut Timur dan yang terakhir adalah...mengadu domba ketiga aliran kita! Mereka ingin menciptakan ketegangan, keributan dan kekeruhan di dunia persilatan, sehingga mereka dapat dengan leluasa menjalankan rencana mereka..."

"Nah...hal itulah yang ingin kami dengarkan, Bhong Taishih,"

Tong Ciak menyela dengan suara gembira.

Sementara itu Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya mendengar tokoh Mo-kauw tersebut menyebut pusaka keIuarganya, yaitu Cap Kerajaan!

Hampir saja dia bertanya tentang peranan orang yang diceritakan oleh Bhong Kim Cu tersebut dalam peristiwa pembantaian keluarganya.

Tapi karena ragu-ragu pemuda itu tak jadi mengatakannya.

Dan sementara pemuda itu menjadi ragu-ragu, Bhong Kim Cu telah meneruskan ceritanya.

"Yang mendapatkan giliran pertama diadu domba oleh orang itu adalah Aliran Bing-kauw dan...Mo-kauw. Dengan menyamar sebagai anggota aliran kami, orang itu bersama dengan kawannya yang bernama Wan It, menyelinap ke Rumah Suci Aliran Bing-kauw. Mereka berusaha menculik isteri Put-ceng-li Lojin..."

"Hei...benarkah? Bangsat! Keparat! lblis busuk tak tahu malu...! Huh...jadi orang itulah yang masuk ke Rumah Suci dan mau menculik isteriku? Sungguh licik sekali! Di depan murid-muridku mereka mengaku sebagai anggota dari Aliran Mo-kauw...! Kurang ajaaar...!"

Put-ceng-li Lojin mengumpat tiada habis-habisnya. Dan sekali lagi Chin Yang Kan dibuat kaget oleh nama yang disebutkan Bhong Kim Cu.

"Wan It...? Jadi...jadi paman Hek-mou-sai Wan It itu memang benar-benar berkomplot dengan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek? Oooooh...!"

Pemuda itu berdesah lemas, wajahnya pun menjadi pucat.

Perubahan wajah Chin Yang Kun ternyata dapat dilihat oleh Toat-beng-jin.

Dengan berbisik orang tua itu mendekatkan mulutnya ke arah Chin Yang Kun.

"Yang-hiante...kau kenapakah? Mengapa wajahmu tiba-tiba memucat?"

Tapi Chin Yang Kun cepat-cepat menggeleng.

"Ah...aku tidak apa-apa! Sungguh, aku tidak apa-apa! Aku cuma lelah sekali..."

Katanya membohong.

Toat-beng-jin menatap tajam-tajam, hatinya sedikit curiga.

Tetapi karena tamunya tak mau berterus terang, maka dia tak bisa berkata apa-apa lagi.

Sementara itu Bhong Kim Cu masih terdengar meneruskan ceritanya.

"Setelah berhasil mengadu domba Aliran Mo-kauw dan Bing-kauw, orang itu lalu ganti mengadu domba Aliran Mo-kauw dan Im-yang-kauw...! Dengan menyamar sebagai Han Su Sing, yaitu kepala kuil Im-yang-kauw di Bukit Delapan Dewa, orang itu datang ke gedung kami dan membunuh beberapa orang anggota Mo-kauw..."

"Dan...masalah itu menjadi semakin meruncing dengan terbunuhnya Han Su Sing di tangan Put-gi-ho dan Put-chih-to,"

Toat-beng-jin menambahkan seraya menoleh ke arah Putceng-li Lojin.

"Ya...dengan demikian komplitlah sudah rencana orang itu. Mula-mula Mo-kauw dengan Bing-kauw, kemudian Mo-kauw dengan Im-yang-kauw, lalu yang terakhir Bing-kauw dengan Im-yang-kauw...!"

Bhong Kim Cu mengangguk.

Dan ruangan itu kemudian menjadi sunyi untuk beberapa saat lamanya.

Semuanya duduk terpekur di tempat masing masing.

Sinar kelegaan tampak membersit di wajah mereka.

Udara persahabatan terasa menghembus kembali di hati mereka.

"Hmmm...beruntunglah kita karena Bhong Tai-shih dapat segera membongkar niat licik itu, sehingga suasana menjadi jernih kembali. Tapi...bagaimana dengan kelanjutan cerita itu tadi, Bhong Loheng? Dapatkah Bhong Loheng menangkap orang itu?"

Tai-si-ong atau Kepala Kuil Agung Aliran Im-yang-kauw tiba-tiba memecahkan kesunyian mereka.

"Hei, benar...! Bagaimana kelanjutannya, Bhong Taishih? Cepatlah...!"

Put-ceng-li Lojin berseru pula. Bhong Kim Cu membetulkan letak duduknya.

"Setelah orang itu keluar dari rumah pejabat itu, kami berdua lantas mengikutinya. Dan tampaknya orang itu tahu kalau kami ikuti. Dia berlari secepat kilat keluar kota. Terpaksa kami mengejarnya..."

Bhong Kim Cu melanjutkan ceritanya.

"Dan...dengan mudah Bhong Loheng menangkapnya! Hahaha! Siapa yang berani melawan ginkang Bhong Loheng berdua?"

Toat-beng-jin memotong dengan tertawa.

"Ah...siapa bilang kami dapat menangkap dia dengan mudahnya? Kami berdua justru hampir kewalahan menghadapinya!"

Leng Siau menjawab cepat.

"Benar! Hampir saja kami berdua tak kuasa membendung Ilmu Silat Mayat Mabuknya!"

Bhong Kim Cu menegaskan ucapan rekannya.

"Hei? Apaaa...? Bangsat! Keparat! Bhong Taishih...sudah sekian lamanya kau bercerita, ternyata kau belum sekalipun menyebutnya nama orang itu! Kurang ajar...siapakah orang yang mahir Ilmu Silat Mayat Mabuk itu? Kwa Eng Ki...?"

Put-ceng-li Lojin tiba-tiba bangkit berdiri seraya mencengkeram pinggiran meja.

Disebutnya Ilmu Silat Mayat Mabuk oleh Bhong Kim Cu itu benar-benar mengejutkan semua orang!

Pikiran mereka lantas tertuju kepada pemilik ilmu yang maha dahsyat tersebut, yaitu kaum Tai-bong-pai yang diketuai oleh Kwa Eng Ki.

Otomatis semuanya menjadi gelisah dan berdebar-debar.

Tai-bong-pai bukanlah sebuah perkumpulan sembarangan.

Perkumpulan itu menyimpan banyak tokoh sakti yang mempunyai ilmu menggiriskan hati.

Dan apabila untuk menebus perdamaian mereka ini, mereka harus bermusuhan dengan Tai-bong-pai, hal itu memang sungguh berat.

Bhong Kim Cu menundukkan kepalanya.

"Maafkanlah aku, karena aku sengaja menyimpan nama orang yang mengadu domba kita itu. Hal ini memang kusengaja agar cuwi tidak lekas-lekas terbakar dan menanggapi ceritaku tadi. Aku ingin agar cuwi mendengarkan dan menanggapi ceritaku tadi secara wajar, tanpa dibayang-bayangi perasaan segan, marah ataupun...takut!"

Jago Aliran Mo-kauw itu menjelaskan. Lalu lanjutnya lagi.

"Sekarang akan saya katakan, siapa sebenarnya orang yang saya ceritakan tadi. Orang itu memang datang dari Tai-bong-pai..."

"Hah...?!?"

"Yaa...tapi dia bukanlah Kwa Eng Ki! Dia adalah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, putera Kwa Eng Ki yang telah diusir oleh perguruannya..."

"Ohh...lalu bagaimana dengan kelanjutan dari pertempuran Bhong Loheng berdua itu? Dapatkah Bhong Loheng berdua mengatasinya?"

Tai-si-ong bertanya dengan suara tegang.

Bhong Kim Cu dan Leng Siau tersenyum melihat ketegangan rekan-rekannya itu.

Keduanya tidak segera menjawab pertanyaan itu.

Tampaknya mereka memang sengaja menggoda orang-orang itu.

"Bagaimana menurut pendapat Tai-si-ong dan rekan-rekan semua? Mungkinkah kami bisa mengatasi Song-bun-kwi yang berkepandaian tinggi itu?"

Tanya mereka malah.

"Lhoh...mana kami tahu? Bangsat...Bhong Tai-shih, kau jangan menggoda kami, ya...? Salah-salah bisa berkelahi kita nanti!"

Put-ceng-li Lojin melotot penasaran.

"Wah...kami Cuma ingin tahu pendapat cuwi saja, tidak ada maksud-maksud yang lain! Bukankah pertemuan ini bertujuan untuk kedamaian kita? Ayoh, jangan marah, Bing-Kauwcu! Tebak saja dulu teka-teki tadi...!"

Bhong Kim Cu tertawa. Diam-diam ternyata tokoh Mo-kauw ini suka berkelakar pula.

"Wah...ini..."

Put-ceng-li Lojin menggerutu dengan wajah merah padam.

"Hmm...bagaimana, ya?"

Tai-si-ong ikut-ikutan menggaruk-garuk kepalanya.

"A-nu...eh!"

Song Kang tiba-tiba berdesah sambil menoleh ke arah Toat-beng-jin yang mahir Lin-cui-sui-hoat itu.

Tapi orang tua yang pandai meramal itu pura-pura tidak tahu.

Justru pemuda yang duduk di samping orang tua itulah yang mendadak membuka suara malah!

"Tentu saja Bhong Tai-shih dan Leng Tai-shih dapat menundukkan orang itu!

Malahan tidak Cuma menundukkan saja, tapi...membunuhnya malah!"

"Ehhh!"

"Oh...!"

Semuanya memandang Chin Yang Kun dengan dahi berkerut. Tidak terkecuali Bhong Kim Cu dan Leng Siau sendiri. Kedua tokoh Mo-kauw itu menatap Chin Yang Kun dengan pandang mata kaget.

"Eh...saudara Yang! Apakah kau menyaksikan sendiri pertempuran kami kemarin itu?"

Bhong Kim Cu bertanya dengan pandang mata menyelidik.

"Tidak!"

Pemuda itu menjawab tegas.

"Lalu...bagaimana saudara Yang tahu?"

Leng Siau mengejar.

Chin Yang Kun menatap Leng Siau dan Bhong Kim Cu beberapa saat lamanya, membuat kedua tokoh Aliran Mo-kauw berkepandaian tinggi itu sedikit bergetar hatinya.

Mata itu mencorong menyilaukan seperti mata seekor naga dalam kegelapan!

"Siauwte hanya menebak saja..."

Akhirnya pemuda itu memberikan jawabannya.

Sementara itu semuanya menjadi kaget mendengar pengakuan Bhong Kim Cu tentang terbunuhnya tokoh Taibong-pai tersebut.

Semuanya mengawasi Bhong Kim Cu, Leng Siau dan Chin Yang Kun berganti-ganti.

"Jadi...orang itu telah terbunuh di tangan Bhong Tai-shih berdua?"

Tai-si-ong bertanya.

"Benar! Tapi...sebentar!"

Bhong Kim Cu menjawab.

"Eh, saudara Yang! Coba tebak lagi! Bagaimana kira-kira orang itu dapat kami tundukkan?"

Chin Yang Kun melirik ke arah Toat-beng-jin, lalu menundukkan mukanya. Sambil menghela napas ia menjawab.

"Bhong Tai-shih, siauwte sudah beberapa kali bertemu dengan Song-bun-kwi itu. Malahan yang terakhir siauwte melihat pertempurannya melawan Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin di bukit sebelah timur Poh-yang itu..."

"Ohh...jadi saudara Yang juga berada di bukit yang diceritakannya itu?"

Leng Siau memotong. Chin Yang Kun mengangguk.

"Benar. Oleh sebab itu siauwte benar-benar tahu sampai di mana kesaktian iblis Tai-bong-pai itu. Ilmunya bermacam-macam dan hebat-hebat, sampai tokoh-tokoh ternama seperti Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin itupun tak kuasa berbuat apa-apa terhadapnya, padahal mereka mengeroyoknya."

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Semuanya mengakui kebenaran kata-kata yang diucapkan oleh pemuda itu.

Meskipun beberapa orang di antara mereka belum pernah bertemu dengan orang itu, tapi nama dan gelar Song-bun-kwi Kwa Sun Tek telah lama mereka dengar.

"Kalau demikian halnya, mengapa saudara Yang masih juga menebak bahwa kami berdua dapat membunuhnya? Apakah saudara Yang beranggapan bahwa kepandaian kami ini jauh lebih tinggi dari pada kepandaian Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin?"

Leng Siau bertanya sedikit penasaran.

"Ahh...itu cuma karena kebetulan saja. Pagi tadi siauwte melihat dua orang anak buah Song-bun-kwi di rumah makan. Dari pembicaraan mereka siauwte mendengar berita bahwa Song-bun-kwi telah mati. Hanya sayang mereka tidak menyebutkan, bagaimana orang itu mati dan siapakah pembunuhnya. Semula siauwte menyangka Tung-hai-tiau dan Tung-hai Nung-jin itulah yang membunuhnya. Tapi mendengar cerita Bhong Tai-shih tadi, bahwa Song-bun-kwi dapat meloloskan diri melalui pintu rahasia, siauwte segera menyadari bahwa dugaan tersebut ternyata salah. Maka begitu Bhong Tai-shih mengatakan mau menangkap Song-bun-kwi Kwa Sun Tek, siauwte segera menduga-duga bahwa Bhong Tai-shih berdualah yang telah membunuh orang itu..."

"Eh, kenapa begitu...?"

Bhong Kim Cu mendesak.

"Sulit sekali kalau orang mau menangkap Song-bun-kwi, karena selain berilmu silat tinggi orang itu mengenakan...Kim-pouw-san! Satu-satunya jalan cuma membunuhnya!"

"Hei...saudara Yang tahu tentang baju mustika itu?"

Bhong Kim Cu dan Leng Siau kini benar-benar terperanjat.

Tampaknya kedua tokoh Mo-kauw itu memang bermaksud untuk merahasiakan penemuan mereka itu.

Itulah sebabnya mereka selalu mendesak sambil menyelidiki, sampai di mana pengetahuan Chin Yang Kun perihal kematian Song-bun-kwi.

Tak mereka sangka pemuda itu tahu belaka tentang baju mustika tersebut.

"Ah...baju itu sebenarnya adalah kepunyaan Tung-hai-tiau yang diberikan kepada puterinya, Tiau Li Ing. Tapi dengan segala kelicikannya Song-bun-kwi berhasil merampasnya..."

Chin Yang Kun menerangkan.

"Ya...ya, be-benar...! Baju itu sekarang memang kami simpan. Akan kami serahkan nanti kepada Mo-cu kami."

Akhirnya Bhong Kim Cu berdesah perlahan.

Put-ceng-li Lojin, Tai-si-ong dan yang lain-lain terdiam saja bagai patung di tempat masing-masing.

Mereka menatap Bhong Kim Cu, Leng Siau dan Chin Yang Kun berganti-ganti sambil mendengarkan percakapan tokoh Mo-kauw tersebut dengan Chin Yang Kun.

Mereka baru sadar akan ketermanguan mereka tatkala melihat percakapan itu berhenti.

Tong Ciak yang duduk di sebelah Bhong Kim Cu terdengar menghela napas.

"Lalu apa yang kau perbuat dengan mayat Song-bun-kwi itu, Bhong Loheng?"

Tanyanya perlahan.

"Kami menguburkannya di pinggir hutan."

Bhong Kim Cu menjawab. Lalu katanya Iagi.

"Setelah itu kami berdua kembali ke Ko-tien. Kami bermaksud menemui Put-ceng-li Lojin untuk cepat-cepat membicarakan persoalan ini, tapi sayang sekali Put-ceng-li Lojin telah pergi meninggalkan kota itu.Kami lalu bergegas mencarinya ke kota Yu-tai. Tapi kami juga tak menjumpainya di sana..."

"Aku memang langsung ke kota ini dan tak singgah kemana-mana..."

Put-ceng-li Lojin menyahut.

"Yaa...dan hal itu justru sangat kebetulan bagi kami. Kota Sin-yang merupakan pusat Aliran lm-yang-kauw sehingga dengan demikian kami malahan bisa mengadakan pertemuan diantara ketiga aliran sekaligus. Demikianlah, kami lalu menghubungi Tai-si-ong dan Put-ceng-li Lojin melalui surat. Kami paparkan semua maksud dan rencana kami untuk mengadakan pertemuan di antara ketiga aliran kita, agar perselisihan yang terjadi cepat-cepat dapat diselamatkan dan tidak berlarut-larut..."

"Dan maksud Bhong Loheng ini ternyata benar-benar berhasil. Malam ini semua telah berkumpul dalam kedamaian. Perselisihan telah terhapus dengan terbongkarnya siasat adu domba Song-bun-kwi Kwa Sun Tek itu..."

Tai-si-ong cepat-cepat memberi komentar.

"Hanya saja, kita masing-masing harus lekas-lekas memberi tahu kepada anggota kita tentang hal ini, agar pertumpahan darah segera dihentikan."

Pangcu-si Song Kang menambahkan.

"Benar, hahaha...Tapi sebelum kita berpisah, marilah kita berpesta lagi menghabiskan hidangan ini! Kita rayakan persahabatan kita...!"

Put-ceng-li Lojin berseru pula dengan suara gembira.

"Baik! Tapi hidangan ini harus ditambah lagi! Hei, penjaga! Panggil pelayan, supaya menambah lagi hidangan sebanyakbanyaknya...!"

Toat-beng-jin berteriak ke arah penjaga.

"Baik, Lojin-ong...!"

Penjaga itu mengangguk lalu berlari ke dalam.

Demikianlah, sebentar kemudian ruangan itu menjadi riuh oleh gelak tertawa mereka.

Mereka benar benar merayakan perdamaian mereka kembali.

Semuanya mengacungkan jempol dan menyatakan perasaan kagum mereka terhadap usaha Bhong Kim Cu dan Leng Siau demi terciptanya perdamaian di antara mereka.

Sementara semuanya bergembira dengan makan dan minum, tiba-tiba penjaga yang diperintah oleh Toat-beng-jin tadi berbisik kepada orang tua itu.

"Lojin-ong...! Tampaknya ada suatu kejadian yang menggegerkan para prajurit pendatang dari Kotaraja itu. Mereka kelihatan sibuk sekali. Semuanya berlarian dan berkumpul di Rumah Penginapan itu dengan persenjataan lengkap..."

"Apa...? Para perajurit itu...eh, kau tahu apa sebabnya?"

Toat-beng-jin menjadi kaget juga. Orang tua itu khawatir pemberontak telah memasuki kota.

"Katanya...katanya pemimpin mereka telah tertangkap oleh pasukan pemberontak yang bersembunyi di bukit sebelah utara kota ini."

"Hah...?!? Apa...?"

Tiba-tiba Chin Yang Kun yang berada di sebelah Toat-beng-jin melompat kaget. Otomatis tangan pemuda itu menyambar leher baju penjaga tersebut dan mencengkeramnya.

"Hhkkh...!"

Penjaga itu tercekik.

"Apa yang kau katakan tadi? Liu-Ciangkun tertangkap pemberontak?"

"Hkk! Sa...saya tak tahu. Yang ku...kudengar...hek...Cuma pemimpinnya. Saya tak...tak tahu namanya..."

Penjaga itu menjawab ketakutan.

"Itu sama saja! Pemimpin mereka memang Liu-Ciangkun!"

Chin Yang Kun berteriak sambil melepaskan pegangannya, sehingga penjaga itu hampir jatuh.

Tentu saja semuanya menjadi kaget melihat peristiwa yang sangat mendadak itu.

Dengan pandang mata penuh pertanyaan mereka menatap Chin Yang Kun yang mukanya putih pucat itu.

"Yang-hiante, kau tenanglah...! kenapa kau ini sebenarnya?"

Toat-beng-jin cepat merangkul pundak Chin Yang Kun dan berkata halus. Dengan gelisah pemuda itu melepaskan diri dari pelukan Toat-beng-jin.

"Maaf, Lo-Cianpwe...Siauwte harus cepat-cepat kembali! Tolong perintahkan kepada penjaga agar supaya mengambilkan kudaku, sebab siauwte ingin segera membuktikan kebenaran berita ini,"

Pemuda itu berkata terengah-engah.

Toat-beng-jin mengangguk dan memberi isyarat kepada penjaga yang dicengkeram lehernya oleh Chin Yang Kun tadi agar melaksanakan perintah pemuda tersebut.

Lalu dengan hati-hati orang tua itu bertanya kepada Chin Yang Kun.

"Yang-hiante...! sementara penjaga itu mengeluarkan kudamu, bolehkah aku bertanya sedikit padamu?"

Chin Yang Kun menatap Toat-beng-jin dengan sikap ragu ragu, lalu mengangguk.

"Silahkan...!"

Katanya seret.

"Begini, Yang-hiante...mengapa kau lantas kelihatan gelisah dan khawatir begitu mendengar berita tertangkapnya pemimpin para perajurit pendatang dari Kotaraja itu? Apakah engkau mempunyai hubungan keluarga atau persahabatan dengan orang itu?"

Orang tua itu bertanya dengan hati-hati.

"Benar, Lo-Cianpwe..."

Chin Yang Kun cepat-cepat mengiyakan.

"Pemimpin para perajurit yang datang dari Kotaraja itu adalah Liu-Ciangkun atau Liu-Twako, kakak angkatku..."

"Ohoo...begitu. Nah, itu dia kudamu!"

Toat-beng-jin menunjuk ke arah halaman.

"Silahkanlah! Kami tak bisa menahan lagi kalau begini. Sebenarnya kami ingin berbicara panjang lebar denganmu, tapi...tak apalah. Besok masih banyak kesempatan lagi."

"Terima kasih! Sekali lagi terima kasih atas perjamuan ini, siauwte mohon diri."

Setelah berpamitan kepada semua orang, Chin Yang Kun melompat ke atas punggung si Cahaya Biru dan selanjutnya berlari keluar dari Gedung Pusat Aliran Im-yang-kauw itu.

Di jalan-jalan ia masih melihat adanya kesibukan luar biasa dari para perajurit itu.

Banyak diantaranya yang masih berjalan atau berlari-lari dengan tergesa-gesa menuju ke rumah makan itu.

Dan dari jauh juga masih terdengar suara terompet sayup-sayup ditiup orang.

Chin Yang Kun terperanjat ketika melihat jalan besar di depan rumah makan itu telah penuh dengan perajurit.

Mereka telah berbaris rapi dan siap untuk berangkat ke medan laga.

belasan orang perajurit tampak membawa obor-obor besar untuk menerangi tempat itu.

Sementara itu para perwiranya juga telah siap siaga di atas punggung kuda mereka masing masing.

Chin Yang Kun cepat menerobos kumpulan perajurit itu dan mencari Siangkoan Ciangkun di halaman Rumah Penginapan.

Dan begitu melihat perwira itu turun dari tangga depan, Chin Yang Kun segera menyongsongnya.

"Siangkoan Ciangkun...!"

Teriaknya memanggil. Perwira itu terkejut.

"Hai! saudara Yang...!"

Sambutnya dengan keras pula. Chin Yang Kun bergegas melompat turun, lalu berlari menghampiri perwira itu.

"Siangkoan Ciangkun, apakah yang terjadi?"

Pemuda itu segera mendesak dengan pertanyaannya, sehingga Siangkoan Ciangkun menjadi gugup pula jadinya.

"Saudara Yang...anu...Hongsiang tertangkap, eh...maksudku Liu...Liu-Ciangkun, ahh!"

Perwira itu menjadi gagap.

"Hei? Siangkoan Ciangkun, katakan yang benar...Hongsiang atau Liu-Twako?"

Chin Yang Kun berteriak tegang seraya memegangi tangan Siangkoan Ciangkun erat-erat.

"Anu...eh...keduanya! Ya...ya, keduanya tertangkap pasukan pemberontak!"

Saking gugupnya perwira itu menjawab saja sekenanya.

"Ooooh...,"

Pemuda itu menjadi lemas tubuhnya.

"Siangkoan Ciangkun, seluruh pasukan telah siap untuk diberangkatkan!"

Tiba-tiba seorang perwira muda melapor kepada Siangkoan Ciangkun.

"Bagus! Matikan obor-obor itu! Kita berjalan tanpa penerangan lampu..."

Siangkoan Ciangkun menjawab sambil melambaikan tangannya.

"Ciangkun, kau...kau mau berangkat ke mana?"

Chin Yang Kun mengangkat kepalanya dengan kaget.

"Menolong Hongsiang!"

Siangkoan Ciangkun menjawab seraya melompat ke punggung kudanya.

"Ayoh, kita berangkat...!"

"Hei! Siangkoan Ciangkun...saya ikut. Akupun juga harus menolong Liu-Twako!"

Chin Yang Kun berteriak, kemudian melompat pula ke punggung Cahaya Biru.

Beberapa orang perajurit pengawal berusaha menghalang halangi ketika pemuda dengan kudanya hendak mendekati Siangkoan Ciangkun.

Tapi perwira tinggi itu segera melarang mereka.

"Biarkan pemuda itu berada bersamaku...!"

Bentaknya.

Demikianlah, hanya dengan penerangan sinar bintang bintang di langit, pasukan itu merayap perlahan meninggalkan kota Sin-yang.

Derap langkah mereka gemuruh mengecutkan hati para penduduk yang mereka Iewati.

Pasukan itu keluar dari pintu kota sebelah utara, kemudian menerobos kegelapan malam, menuju ke perbukitan yang menjulang tinggi di utara.

"Ciangkun, bagaimanakah peristiwanya sehingga Hongsiang dan Liu-Twako sampai tertangkap oleh pasukan pemberontak itu? Bukankah Hongsiang dan Liu-Twako itu membawa pasukan yang sangat kuat?"

Chin Yang Kun mendekatkan kudanya ke arah Siangkoan Ciangkun, lalu bertanya perlahan.

"Entahlah, saudara Yang...!"

Perwira itu menggelengkan kepalanya.

"Tiba-tiba saja tadi ada seorang perwira yang pulang ke kota sendirian dan melapor kepadaku perihal keadaan Hongsiang. Katanya Hongsiang dan seluruh pasukannya terjebak di sebuah jurang paling dalam sehingga Hongsiang...Hongsiang tertangkap!"

"Ohh...lalu...Ialu bagaimana dengan Liu-Twako?"

"Entah! Kukira...kukira dia juga tertangkap pula seperti Hongsiang."

"Hmmmh!"

Chin Yang Kun menggeram.

Dua telapak tangannya terkepal erat-erat.

Sementara itu malam semakin larut juga.

Dinginnya bukan kepalang.

Tapi biarpun begitu keringat masih juga mengalir di setiap tubuh para perajurit itu.

Dengan semangat meluap mereka terus berjalan, mendaki daerah perbukitan yang jarang diinjak oleh manusia itu.

Mereka berderap menuju ke jurang, di mana Hongsiang dan seluruh pasukannya terperangkap.

Dan para perajurit itu semakin menjadi tidak sabar pula ketika sayup-sayup mulai terdengar suara pertempuran di kejauhan.

Selangkah demi selangkah mereka mulai berlari-lari kecil menuruni lereng lereng bukit yang berliku-liku itu.

Dari kejauhan mereka seperti barisan semut yang melingkar-lingkar menuju ke liangnya.

"Awaaaas! Jangan keluar dari barisan...!"

Para perwira berteriak mengatur anak buah mereka sendiri-sendiri.

Chin Yang Kun menjadi tegang pula hatinya.

Tak terasa makin lama kudanya berlari semakin cepat sehingga meninggalkan kuda Siangkoan Ciangkun.

"Saudara Yang, hati-hati...! kau jangan keluar dari iring-iringan ini! Salah-salah kau dikira musuh nanti!"

Siangkoan Ciangkun berteriak. Tapi pemuda itu sudah tidak mempedulikan seruan tersebut. Kekhawatirannya terhadap Liu-Twakonya membuat pemuda itu sudah tidak sabar lagi untuk segera tiba di jurang itu.

"Siangkoan Ciangkun...! maaf, aku pergi mendahului...!"

Begitulah, pemuda itu segera memaCu-si Cahaya Biru.

Beberapa orang perwira menoleh dan mengerutkan keningnya ketika pemuda itu berderap melewati mereka.

Meskipun demikian mereka tak berbicara apa-apa, karena mereka tahu bahwa pemuda itu adalah sahabat Siangkoan Ciangkun, komandan mereka.

Dengan pedoman suara pertempuran yang sayup-sayup terdengar oleh telinganya, Chin Yang Kun menuju ke jurang yang dimaksudkan itu.

Beberapa kali kudanya hampir terperosok ke dalam lobang atau jurang-jurang kecil yang tertutup oleh semak-semak perdu di atasnya.

Untunglah si Cahaya Biru itu benar-benar kuda mustika yang jarang terdapat di dunia.

Selain mempunyai firasat dan perasaan yang sangat peka, kuda itu juga mempunyai mata yang tajam dan awas luar biasa.

Hampir seperti tidak pernah diperintah lagi, kuda itu mencari jalan sendiri menuju ke tempat pertempuran itu.

"Cahaya Biru, kau benar-benar kuda yang sangat hebat! Aku sungguh bangga sekali kepadamu...!"

Chin Yang Kun merangkul leher kuda itu sambil memuji dengan suara manis.

Cahaya Biru mendongakkan kepalanya tinggi-tinggi ke udara dan meringkik gembira.

Kuda itu lalu bergerak semakin lincah dan gesit.

Ia seperti tahu akan pujian yang diterimanya, sehingga celah-celah parit yang lebarpun dilompatinya pula.

"Hei! Hei! Tenanglah...Cahaya Biru! Berhati-hatilah! Kita tak perlu terlalu tergesa-gesa!"

Akhirnya malah Chin Yang Kun yang menjadi ketakutan karena keberanian kuda itu.

Suara pertempuran itu semakin riuh dan nyaring terdengar oleh telinga Chin Yang Kun.

Dan beberapa saat kemudian debu tampak mengepul di kejauhan, dan hal itu berarti bahwa medan pertempuran telah berada di depan mata.

Chin Yang Kun segera mencari tempat yang baik dan terlindung untuk melihat pertempuran itu.

Dipanjatnya sebuah dataran yang agak tinggi untuk mendekati tempat tersebut.

Dan selanjutnya, apa yang dilihat kemudian oleh pemuda itu benar-benar sangat menggetarkan hatinya.

Di bawah tebing yang diinjaknya itu ternyata menganga sebuah jurang yang kira-kira ada dua puluhan tombak dalamnya.

Sebuah jurang buntu, dimana seluruh sisi-sisinya adalah tebing terjal yang sangat tinggi dan tak mungkin didaki oleh manusia biasa.

Hanya ada satu jalan keluar, yaitu sebuah celah sempit selebar dua atau tiga tombak.

Tapi bukan jurang buntu itu yang menggetarkan hati Chin Yang Kun, melainkan pertempuran seru yang terjadi di dalamnyalah yang membuatnya tegang bukan main.

Tampak dengan jelas oleh pemuda itu sebuah pertempuran brutal dan kasar dalam jumlah yang sangat besar.

Kedua belah pihak sudah berbaur menjadi satu, sehingga dalam keremangan malam sungguh sukar membedakan lawan dan kawan.

Meskipun demikian, dari tempatnya berdiri Chin Yang Kun dapat dengan jelas melihat mereka.

Dengan mudah pemuda itu membedakan antara pasukan kerajaan dan pasukan pemberontak.

Pasukan kerajaan yang tadi sore dilihatnya menyeberang jalan raya, kini kelihatan tinggal separuhnya saja.

Meskipun begitu mereka tetap bertempur dengan semangat tinggi.

Mereka tetap mempertahankan bendera dan panji-panji yang mereka bawa.

Desakan musuh yang tiga kali lipat jumlahnya itu benar benar tidak mempengaruhi keberanian mereka.

Mereka tetap bertahan biarpun korban semakin banyak berjatuhan di pihaknya.

Sebaliknya, pasukan pemberontak yang ternyata terdiri dari suku-suku liar itu bertempur dengan kasar dan kejam.

Mereka bertempur dan berkelahi seperti orang gila yang mengamuk di tengah-tengah pasar.

Ganas, keji dan sadis luar biasa!

Pasukan kerajaan itu benar-benar dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan.

Tampaknya saat kehancuran mereka hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sementara itu bala bantuan yang dibawa oleh Siangkoan Ciangkun belum juga terdengar kedatangannya!

Chin Yang Kun menjadi gelisah dan tegang bukan main.

Dengan gugup pemuda itu mencari-cari Liu-Twakonya di antara ribuan orang yang bertempur mengadu jiwa tersebut.

Tapi pekerjaan itu sungguh sulit bukan kepalang, rasa-rasanya seperti mencari sebatang jarum di antara tumpukan jerami yang berserakan.

"Bagaimana ini? Adakah yang harus kulakukan? Apakah...apakah aku harus terjun pula ke dalam peperangan itu? Tapi...rasanya akan Iebih sulit lagi mencari seseorang di dalam suasana yang ribut seperti itu! Hmm...Eh, apakah itu?"

Tiba-tiba Chin Yang Kun melihat sesuatu yang aneh akan sesuatu yang lebih dalam arena pertempuran itu.

Di bagian belakang dari arena pertempuran itu, yaitu persis di bawah tebing yang diinjaknya, pemuda itu melihat bendera Hongthian-Iiong-cu berkibar di atas kereta perang.

Dan kereta itu sudah tidak ada kudanya lagi.

Meskipun demikian kereta itu tampak dijaga dan dipertahankan oleh tiga puluh atau empat puluh perajurit pengawal secara mati-matian.

Mereka membentuk semacam perisai bersap-sap di sekeliling kereta itu.

"Ouh...kalau tak salah itu adalah kereta Hongsiang. Tampaknya Kaisar itu belum tertangkap seperti yang dikabarkan oleh perwira yang dapat meloloskan diri dari kepungan itu. Hmm, kalau begitu Liu-Twako tentu juga masih selamat pula. Sebagai seorang perwira tinggi yang bertanggung jawab dia tentu tak pernah lepas dari sisi Baginda..."

Berpikir tentang kemungkinan dan harapan seperti itu, Chin Yang Kun menjadi semakin tegang dan gelisah sekali. Sekali lagi dijenguknya tebing curam di bawahnya.

"Wah...tebing ini luar biasa terjal dan tingginya! Sayang aku tak mempunyai ilmu Cecak Merayap, sehingga aku tak bisa merayap seperti cecak ke bawah. Dengan Liong-cu-Ikang, jari-jariku memang bisa melubangi dinding-dinding batu keras itu, tapi kalau harus menggendong Liu-Twako ke atas nanti...rasa-rasanya aku takkan sanggup lagi!...bagaimana ini?"

Di dalam kebingungannya tiba-tiba pemuda itu teringat bahwa sebagai kuda perang Si Cahaya Biru itu juga diperlengkapi dengan gulungan tali pula di peIananya.

"Ah...benar! Mengapa aku tak ingat lagi?"

Desahnya gembira.

Lalu dengan cekatan pemuda itu mengambilnya.

Dicarinya sebatang pohon yang sekiranya kuat menahan berat badannya nanti, kemudian tali itu diikatkannya ke sana.

Setelah itu tanpa membuang-buang waktu lagi Chin Yang Kun melorot turun dengan cepat.

Sesekali pemuda itu mencengkeram dinding batu dengan Liong-cu I-kangnya, untuk menahan agar tubuhnya yang bergantung itu tidak berputar-putar dan terayun-ayun kesana kemari.

Saking gelisah dan tegangnya melihat keadaan yang semakin memburuk di pihak para perajurit yang melindungi kereta itu, Chin Yang Kun meluncur turun bagai anak panah cepatnya!

Pemuda itu tidak menyadari kalau ujung tali yang dipegangnya itu ternyata tidak cukup untuk mencapai dasar jurang!

Dan pemuda itu baru menyadari kecerobohannya ketika secara mendadak tubuhnya melayang turun tanpa pegangan lagi!

Chin Yang Kun menjadi gugup!

Otomatis tubuhnya bersiap siaga dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Dan untung juga bagi pemuda itu, karena dasar jurang itu hanya tinggal beberapa tombak saja lagi.

Meskipun demikian, ketika kaki pemuda itu meluncur menghantam atap kereta, kereta itu berderak hancur berkeping-keping!

"Brraaaaak!"

Untuk sekejap pertempuran di sekitar kereta itu berhenti dengan mendadak!

Terjunnya Chin Yang Kun dari atas, yang kemudian menyebabkan hancurnya kereta perang yang dipertahankan secara mati-matian oleh para perajurit itu sungguh sangat mengagetkan dan mengejutkan semua orang!

Jilid 36 Tapi Chin Yang Kun sendiri ternyata juga tidak kalah kagetnya dibandingkan dengan orang-orang itu.

Begitu atap kereta itu hancur tertimpa tubuhnya, sekilas pemuda itu melihat tubuh Liu-Twakonya terbujur kesakitan di dalam kereta tersebut!

"Liu-Twako...!"

Pemuda itu menjerit keras sekali.

Lalu seperti kilat cepatnya pemuda itu menyambar tubuh yang terbaring diam di dalam kereta tersebut.

Dan hanya sekejap saja, selagi semua orang terpaku diam menyaksikan kejadian yang mendadak itu, Chin Yang Kun telah melesat tinggi ke udara, membawa tubuh Liu-Twakonya ke atas dinding, untuk mencapai tali yang tergantung itu.

Barulah orang-orang itu, baik dari pasukan kerajaan maupun pasukan pemberontak, menjadi sadar kembali dari kekagetan mereka, ketika Chin Yang Kun telah mencapai tali yang tergantung dari atas itu.

"Hai! Orang itu telah menculik Hongsiang...!"

"Hongsiang diculik orang...!"

"Lepaskan panahhh...!"

"Hah! Jangan...! Nanti mengenai tubuh Hongsiang! Goblog!"

"Bangsat! Kaisar itu lepas dari kepungan kita!"

Tempat itu lalu menjadi riuh oleh teriakan dan umpatan.

Para perajurit berteriak-teriak khawatir atas keselamatan Hongsiang, sementara para pemberontak mengumpat-umpat marah karena korban yang telah berada di depan mulut itu kini dirampas orang.

Sementara itu Chin Yang Kun telah dapat menggapai talinya kembali.

Dan selagi orang-orang yang berada di bawahnya itu masih kebingungan dan tak tahu apa yang mesti mereka lakukan, pemuda itu telah bergerak naik dengan cepatnya.

Tali kecil dari urat kerbau itu bergetar hebat karena harus menahan beban berat dua orang sekaligus!

Dan sesaat kemudian orang-orang yang berada di bawah tebing itu bertempur pula kembali dengan hebatnya ketika para perajurit kerajaan berusaha menghalang-halangi para pemberontak melepaskan anak panah mereka.

Begitu dahsyatnya pertempuran mereka sehingga mereka tak ada waktu lagi untuk mengurus Chin Yang Kun.

Dan kesempatan tersebut benar-benar dipergunakan oleh Chin Yang Kun.

Dengan mengerahkan segala kemampuannya pemuda itu merangkak naik bagaikan seekor monyet yang menggendong anaknya.

"Liu-Twako...bertahanlah! Kita akan selamat! Percayalah...!"

Chin Yang Kun menghibur ketika terdengar suara desah kesakitan Liu-Twakonya.

"Kau...kau kah itu, adik Yang?"

Hongsiang mengerang.

"Benar, Twako...! Adikmu datang menolongmu! Jangan khawatir, kita akan selamat! Mereka tak mungkin bisa mengejar kita...!"

"Hahahaha...siapa bilang kalian akan selamat? Sekali kuputuskan tali ini, kalian berdua akan segera menghadap Giam-lo-ong (Raja Akhirat), hahahaha...!"

Tiba-tiba tali tempat Chin Yang Kun dan Liu-Twakonya bergantung itu bergoyang-goyang dengan hebat!

Dan ketika dengan perasaan kaget pemuda itu menengadahkan kepalanya, wajahnya menjadi pucat seketika!

Di atas tebing, yaitu di tempat mana ia menambatkan tali itu, tampak berdiri beberapa orang lelaki dan seorang perempuan tua menantikan kedatangannya!

"Gila...!"

Chin Yang Kun mengumpat.

Pemuda itu berusaha berpegangan atau mencengkeram dinding tebing, tapi tak bisa.

Tali itu bergoyang dan berputar-putar dengan hebat sehingga otomatis Chin Yang Kun juga terayun dan berputar-putar pula dengan cepatnya.

"Hayo, anak muda kau lepaskan tidak Kaisar busuk itu? Hahaha"! Lepaskanlah saja, nanti kami akan mempertimbangkan, apakah kau juga akan kami bunuh atau tidak, hahaha...!"

Terdengar lagi suara tawa orang yang berada di atas tebing itu.

"Benar! Kami akan menghitung sampai Sepuluh! Pikirkanlah baik-baik! kau ingin mati bersama Kaisar busuk itu atau mau mendapatkan kesempatan untuk hidup?"

Yang Iain ikut mengancam pula.

"Nah, kami akan mulai menghitung...! Satu!"

Terdengar suara wanita melanjutkan kata-kata itu.

Peluh bercucuran di tubuh Chin Yang Kun dan kekhawatirannya semakin memuncak!

Ada sedikit perasaan takut menyelinap ke dalam hati pemuda itu.

Tapi bukan khawatir terhadap keselamatannya sendiri, melainkan khawatir terhadap keselamatan Liu-Twakonya!

Selain itu, pemuda itu dibuat bingung dengan teriakan-teriakan atau ancaman-ancaman lawannya, tentang "Kaisar busuk"

Yang dibawanya.

Beberapa kali orang yang berada di atas tebing itu selalu menyebut Liu-Twako sebagai...Kaisar Busuk!

Apakah orang-orang itu telah salah melihat?

Jangan-jangan orang-orang itu menyangka Liu-Twakonya sebagai Kaisar Han, karena Liu-Twakonya itu berada di kereta Hongsiang?

Tiba-tiba pemuda itu seperti melihat secercah harapan di hadapannya.

Bukankah orang-orang itu tampaknya hanya menginginkan jiwa Kaisar Han?

Nah, kalau ia bisa menunjukkan kepada mereka, bahwa Liu-Twakonya itu sama sekali bukan Kaisar Han, bukankah ia dan Liu-Twakonya akan dilepaskan oleh mereka?

"Hei...!

Siapa yang berteriak-teriak tentang Kaisar Busuk?

Jangan ngawur!

Lihatlah baik-baik!

Orang yang kugendong ini adalah Liu-Ciangkun, seorang perwira kepercayaan Kaisar Han!

Dia bukan...Kaisar Han!

Tahu?"

Chin Yang Kun berseru kuat-kuat untuk meyakinkan orang-orang itu.

"Hah...? Apa? Huuah-hah-hah-hahahaha...! Bocah goblog! Bocah sinting! kau mau mengelabuhi kami, yaa...? Hahahaha...tidak bisa! kau kira kami belum pernah mengenal dan melihat Kaisar Han atau Kaisar Busuk itu, hah? kau lah yang ngawur! Kami semua ini telah mengenal Kaisar Busuk itu seperti kami mengenal orang tua kami sendiri, hahahah...! Ayoh, cepat lepaskan!"

"Benar! Kami tidak bisa kau tipu dengan akal bulusmu, anak muda! Nah...dua! Tiga"! Empat...,! Lima...!"

Suara wanita tadi menyahut pula, lalu meneruskan hitungannya.

"Kurang ajar! kau...eh, kalian tidak percaya kepadaku? Kubunuh..."

Chin Yang Kun berteriak marah-marah.

Tapi tiba-tiba lengannya dicengkeram oleh Liu-Twakonya...!

"Adik Yang...!

kau tak perlu berteriak-teriak lagi!

Mereka takkan bisa kau kelabuhi lagi!

Mereka benar-benar telah mengenal aku..."

Hongsiang berbisik perlahan di telinga Chin Yang Kun.

"Liu-Twako, mereka ingin membunuh Kaisar Han! Bukan kau...!"

Hongsiang mencengkeram lengan Chin Yang Kun lebih erat lagi dan mulutnya tersenyum pahit.

"Adik Yang, maafkanlah aku...! Selama ini kakakmu telah membohongimu...Mereka memang benar. Aku adalah...Kaisar Han! Adik, maafkanlah...!"

"Ohh!"

Pukulan itu benar-benar mengejutkan Chin Yang Kun! Saking kagetnya hampir saja pegangan tangan pemuda itu lepas dari tali yang digantunginya.

"Liu...Liu-Twako, mengapa kau berbuat itu? Padahal...padahal aku sudah terlanjur menyayangimu...menghormatimu, karena kau telah menolong jiwaku."

"Itulah pula yang menjadi sebabnya, adikku. Entah mengapa akupun lantas merasa tertarik pula kepadamu, seolah-olah aku ini...bertemu dengan adik atau keluargaku sendiri. Itulah pula yang menyebabkan aku lalu berbohong kepadamu. Aku ingin bersahabat atau mengangkat saudara denganmu. Dan hal itu hanya dapat aku lakukan dengan wajar bila kau tahu bahwa aku bukan seorang raja atau Kaisar..."

"Twako..."

Sementara itu wanita tua yang berada di atas tebing itu telah menghitung sampai hitungan ke Sepuluh! "Anak bandel! Kalian tampaknya memang ingin mati bersama. Baik. Silahkan...!"

Terdengar suara keras dan kasar dari lelaki yang pertama tadi. Tiba-tiba tali tersebut putus! Otomatis tubuh Chin Yang Kun dan Kaisar Han tersentak jatuh ke bawah.

"Adik Yang, ternyata kita berdua akan mati bersama...!"

Sambil berteriak Kaisar Han merangkul Chin Yang Kun lebih erat.

"Tidaaaak...! Aku belum mau mati!"

Pemuda itu menjerit.

Mendadak dengan kekuatan penuh, kedua tangan Chin Yang Kun mencengkeram ke arah dinding tebing!

Dalam keputus-asaannya, tenaga sakti Liong-cu I-kang pemuda itu ternyata menjadi berlipat ganda besarnya!

"Krrrrrrr...!"

Secara tiba-tiba kedua lengan pemuda itu bertambah panjang dua atau tiga kali lipat panjangnya, sehingga jari-jarinya dapat mencapai dinding tebing dengan kerasnya! "Crrrept! Crept!"

Dinding batu yang keras bukan kepalang itu ternyata dengan mudah dicengkeram oleh jari-jari tangan Chin Yang Kun!

Begitu mudahnya seolah-olah dinding batu itu Cuma terbuat dari tepung atau agar-agar saja!

Dan jari-jari itu kemudian mencengkeram dengan kuatnya untuk menahan agar tubuh itu tidak terus meluncur ke dalam jurang!

Sekejap kedua lengan Chin Yang Kun, yang menahan beban berat itu, memanjang lagi seperti karet, lalu setelah daya luncur itu habis, secara pelan-pelan kemudian kembali lagi ke ukuran semula.

Dan...pemuda itu bersama Liu-Twakonya, selamat dari kehancuran di dasar jurang.

Dan semua yang dilakukan oleh pemuda itu diikuti dengan mata terbelalak oleh Kaisar Han!

"Sungguh mentakjubkan!

Adik Yang...apa yang telah kau kerjakan tadi?"

Kaisar Han berseru hampir tak percaya.

Saking kagum dan takjubnya, Kaisar itu sampai melupakan rasa takut yang mencekam hatinya ketika terjatuh tadi.

Tapi Chin Yang Kun tidak menjawab pertanyaan Kaisar Han tersebut.

Dengan cekatan pemuda itu justru mengambil tali yang masih membelit tubuhnya.

Dan hanya dengan satu tangan bergantung di dinding tebing pemuda itu mengikat tubuh Kaisar Han.

"Twako, maaf...kau terpaksa kuikat dulu pada lubang yang kubuat ini. Nanti setelah aku membereskan orang-orang yang berada di atas itu, akan menarikmu ke atas tebing."

Pemuda itu berkata kepada Kaisar Han atau Liu-Twakonya. Kaisar Han mengangguk-anggukkan kepalanya serta menatap Chin Yang Kun dengan sinar mata penuh kepercayaan.

"Baik, adik Yang...kau berhati-hatilah! Terutama kau harus berhati-hati dengan wanita tua itu. Dialah yang pertama kali melukai aku. Yang lain tidak perlu kau khawatirkan. Mereka cuma kepala-kepala suku liar yang hanya mengandalkan otot belaka. Diantara mereka cuma satu yang harus sedikit kau awasi, yaitu lelaki yang berteriak dengan suara kasar tadi. Dia mahir pukulan beracun!"

Chin Yang Kun mendengarkan pesan itu sambil menyelesaikan ikatan Hongsiang sebaik-baiknya, agar supaya tidak terjatuh atau merasa sakit bila terlalu lama ia tinggalkan nanti.

Setelah itu Chin Yang Kun menggerakkan segala kemampuannya kembali untuk merayap ke atas tebing.

Jari jarinya yang penuh tenaga sakti Liong-cu I-kang itu melubangi dinding batu bagaikan melobangi tanah yang lunak saja, sehingga beberapa saat kemudian dia telah berada di bibir tebing tanpa kesuIitan.

Dan kemunculan Chin Yang Kun yang tak terduga itu sungguh sangat mengejutkan orang-orang tadi.

Mereka benar kaget karena mereka sedang membujuk dan mengagumi kuda yang ditinggalkan oleh Chin Yang Kun.

Dan kuda itu tampak melawan!

"Awas...!

Anak muda itu datang memanjat tebing!"

Lelaki bersuara kasar itu berteriak sambil menunjuk ke arah Chin Yang Kun.

Orang-orang itu yang ternyata terdiri dari tiga orang lelaki dan satu orang wanita tua, segera bersiap-siaga menghadapi Chin Yang Kun.

Dan pemuda itu sendiri juga kaget sekali ketika mengenali wanita tua itu.

"Huh...Siang-houw Nio-nio!"

Pemuda itu menggeram begitu ingat kepada wanita tua yang dulu pernah bertempur dan menenggelamkan dirinya di telaga belakang istana itu.

Sebaliknya wanita tua yang tidak lain adalah Siang houw Nio-nio itu ternyata sudah tidak mengenal Chin Yang Kun Iagi.

"Benar, akulah yang datang...!"

Teriaknya seraya menyerang Chin Yang Kun.

Kedua tangan wanita itu berputar ke depan, seperti orang mau menyerahkan nampan berisi makanan, setelah itu lalu menyodok lagi ke depan seraya melangkahkan kaki kanan ke muka.

Dan tiba-tiba saja ujung jari kiri itu telah mengancam ulu hati Chin Yang Kun!

Tampaknya gerakan itu sangat sederhana, tetapi ternyata pengaruhnya bukan main hebatnya!

Dari ujung jari-jari itu seolah-olah meluncur hawa tajam yang mampu mengiris atau membelah benda-benda yang dilaluinya.

"Ssrrrt...!"

"Terimalah jurus menyusupkan Benang ke Lobang Jarum ini...!"

Siang-houw Nio-nio membentak keras. Chin Yang Kun cepat memiringkan tubuhnya lalu dengan ujung lengan bajunya pemuda itu menangkis telapak tangan itu.

"Taas...!"

Telapak tangan wanita tua itu terpental ke samping dengan kuatnya, sehingga tubuh wanita tua itu sampai terhuyung huyung mau jatuh.

Tapi sebaliknya pemuda itu sendiri juga terperanjat sekali begitu melihat ujung lengan bajunya terpotong, bagai kena gunting atau pisau cukur yang tajam!

"Jahanam!

Ternyata kau memiliki ilmu juga kiranya..."

Dalam kemarahannya Siang-houw Nio-nio mengumpat-umpat.

"Ah, kau pun semakin tua ternyata juga semakin berbahaya..."

Chin Yang Kun menjawab pula.

"Hei...Nio-nio! Mari kita cincang saja anak ini bersama-sama, biar menghemat waktu!"

Lelaki bersuara kasar itu datang memasuki arena pula.

"Benar juga apa yang telah dikatakan oleh saudara Kosang itu, Nio-nio...! Mari kita lumpuhkan saja anak ini bersama-sama, agar lebih cepat selesai!"

Seorang kepala suku yang lain ikut menyetujui pendapat lelaki bersuara kasar itu.

"Betul! Akupun sepakat pula denganmu. saudara Wei! Mari kita sikat dia!"

Lelaki ketiga, yang berkulit hitam dan mengenakan pakaian model Bangsa Uighur, berteriak pula sambil menyerang Chin Yang Kun dengan pedang bengkoknya.

Demikianlah, Siang-houw Nio-nio terpaksa tidak bisa menolak bala bantuan para kepala Suku Bangsa Mongol, Wei dan Uighur itu.

Mereka adalah orang-orang kasar yang sangat besar sekali rasa setia kawannya.

Dan mereka justru akan tersinggung dan menjadi marah apabila maksud baiknya itu ditentang.

Kepala Suku Mongol yang bernama Kosang itu bersenjatakan sebuah penggada besar, sementara kedua kawannya memegang pedang.

Cuma bedanya pedang yang dipegang oleh orang Uighur itu badannya bengkok, seperti pedang bangsa Parsi atau Persia.

Mereka bertiga membantu Siang-houw Nio-nio, menyerang Chin Yang Kun!

Sebenarnya kepandaian ketiga kepala suku bangsa liar itu tidaklah berbahaya.

Tapi oleh karena yang dihadapi Chin Yang Kun tersebut adalah Siang houw Nio-nio, maka kehadiran mereka itu cukup mengganggu pula.

Malahan beberapa kali serangan mereka itu membuat pemuda itu salah langkah, sehingga serangan-serangan Siang-houw Nio-nio yang berbahaya itu hampir-hampir mencelakakan pemuda itu.

Akhirnya Chin Yang Kun menjadi marah pula.

Apalagi jika pemuda itu mengingat bahwa Liu-Twakonya masih tergantung di bawah tebing, dan lekas-lekas memerlukan bantuannya.

Maka tidak boleh tidak pemuda itu lalu mengerahkan Kim-coa ih-hoatnya!

Mulutnya berdesis, sementara kulitnya secara perlahan-lahan berubah kekuning-kuningan.

Dan Siang-houw Nio-nio segera mencium bahaya itu.

"Awaaaas! Hati-hati...!"

Wanita tua itu memperingatkan kawan-kawannya.

Tapi orang-orang yang memperoleh peringatan itu tidak mempedulikannya.

Orang-orang yang di dalam suku bangsanya merupakan orang terkuat dan tidak terkalahkan itu terlalu percaya kepada kehebatannya sendiri, sehingga mereka tidak percaya atau mengabaikan peringatan itu.

Sama sekali mereka tidak percaya kalau pemuda kurus itu akan bisa membahayakan jagoan-jagoan terkenal dari suku bangsa liar seperti mereka.

Apalagi kini mereka bertiga!

Maka pertempuran satu lawan empat itu Ialu berlangsung kembali dengan serunya.

Masing-masing berusaha dengan sekuat tenaga mereka untuk cepat-cepat membereskan Iawan mereka.

Cuma sekarang keempat lawan Chin Yang Kun ini menjadi tercengang dan sibuk menyaksikan perubahan ilmu silat pemuda itu.

Sebuah ilmu silat yang menakutkan serta mengerikan!

Dengan ilmu silat yang sedang dimainkannya itu Chin Yang Kun seperti berubah menjadi seorang manusia tak berbentuk!

Enak saja pemuda itu memutar lehernya sehingga kepalanya menghadap ke belakang, atau kadang-kadang pemuda itu melangkah ke belakang dengan gesit dan tangkasnya seperti orang yang sedang bergerak ke depan saja!

Maka tidaklah heran kalau lawan-lawannya itu semakin lama semakin bingung menghadapi pemuda itu!

Lambat laun orang-orang itu tidak bisa membedakan mana bagian muka dan mana bagian belakang dari Chin Yang Kun!

Mulailah kepala-kepala suku yang semula tak mempunyai perasaan takut itu menjadi ketakutan dan merasa ngeri!

Dan ketakutan mereka semakin menjadi-jadi ketika menyaksikan lengan dan kaki pemuda itu dapat memanjang dan memendek sesuka hatinya!

"Ini...ini...ooh, gila!

Masakan ju...jurang ini ada hantunya?"

Kosang yang kasar dan berangasan itu meloncat mundur dengan mata terbelalak.

Dan kawan-kawannya pun ikut berloncatan mundur pula.

Semuanya tampak menggeletar tubuhnya.

Apalagi angin malam tiba-tiba meniup dengan kencangnya!

"Bukan!

Dia bukan hantu!

Dia seorang manusia biasa!

Dia memang mempunyai ilmu seperti hantu, tapi bukan hantu...!"

Siang-houw Nio-nio berteriak.

"Tetapi..."

Kosang membantah dengan suara ragu.

"Sudahlah, hilangkan saja ketakutan kalian itu! Yang penting kita harus lekas-lekas membereskan dia! Bukankah kalian tadi...?"

Siang-houw Nio-nio yang sedang berusaha meyakinkan teman-temannya itu tiba-tiba menghentikan perkataannya.

Dengan wajah pucat wanita tua itu memasang telinganya.Sayup-sayup terdengar sorak-sorai yang bergemuruh di bawah jurang itu, yang makin lama makin jelas dan keras.

Wanita tua itu cepat meninggalkan Chin Yang Kun dan pergi ke bibir tebing.

Dengan hati berdebar wanita itu menjenguk ke bawah.

Dan tiba-tiba wajahnya berubah menjadi gembira dan berseri-seri.

"Hihihi...bagus! Semua berjalan sesuai dengan rencana, hihihi...!"

Wanita itu tertawa terkekeh-kekeh.

"Nio-nio, apa yang telah terjadi di bawah sana?"

Kosang bertanya tanpa berani memalingkan mukanya dari Chin Yang Kun.

"Ya! Apa yang terjadi?"

Kepala suku Wei turut pula mendesak.

"Sudah! Tinggalkan saja bocah itu! Bi arlah ia tetap hidup! Semuanya telah selesai..."

"Jadi...?"

Kosang yang berwatak kasar itu tetap belum mengerti juga.

"Pasukan Siangkoan Ciangkun telah tiba!"

Siang-houw Nio-nio menjelaskan dengan suara gembira.

"Marilah kita ke sana...!"

"Baiklah, mari...!"

Serempak kawan-kawannya menjawab.

"Anak muda...kau benar-benar beruntung hari ini,"

Sebelum meninggalkan tempat tersebut Siang houw Nio-nio berkata kepada Chin Yang Kun.

Chin Yang Kun membiarkan saja mereka pergi.

Bagi pemuda itu semakin cepat mereka pergi semakin baik, karena ia dapat lekas-lekas menolong Liu-Twakonya pula.

Maka begitu keempat orang itu sudah tidak kelihatan lagi, ia bergegas menjenguk ke bawah.

Dilihatnya tali itu masih terikat baik seperti ketika ia tinggalkan tadi.

Kemudian dengan sangat hati-hati sekali Chin Yang Kun turun.

Perasaan pemuda itu menjadi lega sekali begitu melihat Liu-Twakonya tidak kurang suatu apa.

Perlahan-lahan pemuda itu membawa Liu-Twakonya ke atas, kemudian membaringkannya di atas rumput.

"Twako, engkau selamat sekarang. Marilah kubawa kau ke kota, agar lukamu cepat mendapatkan pengobatan!"

Kaisar Han membuka matanya. Perlahan-lahan kepalanya menggeleng.

"Adik Yang, bawalah aku sejauh-jauhnya dari tempat ini! Sukurlah kalau kau mau membawaku ke muara Sungai Huangho..."

"Twako...kau gila! Tempat itu sangat jauh dari sini, dan kau sedang menderita luka dalam...Mengapa kau tidak ke Kotaraja? Di sana ada Siangkoan Ciangkun dan pasukannya yang akan melindungimu."

"Apa? Bangsat bermuka dua itu? Hmmh!"

Kaisar Han mendengus marah.

"Hei! Twako...ada apa dengan perwiramu itu?"

"Sudahlah! Panjang ceritanya. Nanti kuceritakan kepadamu. Sekarang bawalah aku cepat-cepat pergi dari sini!"

"Baik! Baiklah...!"

Meskipun masih bingung Chin Yang Kun cepat mengiyakan.

Sebentar kemudian keduanya telah menerobos kegelapan malam, meninggalkan tempat itu.

Karena tidak mengenal jalan, maka sekali lagi Chin Yang Kun mempercayakan jiwanya kepada Si Cahaya Biru.

"Sebaiknya kita kembali saja ke kota. Bagaimana, Twako?"

Yang Kun mencoba bertanya kepada Kaisar Han.

"Hah? Jangan...!"

Hongsiang menjawab cepat.

"Lhoh...kenapa? Bukankah pasukanmu kau pusatkan di sana?"

Pemuda itu bertanya tak mengerti.

"Kita mengambil jalan ke selatan saja, lalu berbelok ke timur. Kita menuju ke muara Sungai Huang-ho malam ini. Besok pagi kita akan bisa menemui Yap Tai-Ciangkun dan pasukannya di sana. Itu lebih aman..."

Hongsiang menjawab sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya, baiklah...! Tapi...tolong katakan kepadaku, mengapa Twako tak ingin kembali ke Sin-yang?"

Chin Yang Kun mendesak Kaisar Han. Kaisar Han termenung sebentar. Wajahnya yang pucat itu tampak sedih dan penasaran. Lalu jawabnya seraya menghela napas panjang.

"Pasukan yang berada di Sin-yang itu ternyata tidak bisa kuharapkan Iagi. Pasukan itu telah banyak kemasukan penghianat yang ingin menumbangkan kekuasaanku..."

"Ohh...! Siangkoan Ciangkun...?"

"Dialah dalang atau biangkeladinya! Dia telah bersekongkol dengan bekas Putera Mahkota Wangsa Chin, yang beberapa bulan lalu menyerang Kotaraja. Siangkoan Ciangkun itulah yang merencanakan perangkap di jurang itu. Dia dan bekas Putera Mahkota itu ingin menjebak dan membunuhku di tempat tersebut."

"Hmm...tapi tampaknya dia..."

Chin Yang Kun mencoba mengingat sikap dan tingkah laku perwira berkumis lebat itu ketika menjamunya.

"Tampaknya rapi sekali, bukan? Memang benar, akupun telah terkecoh dan terpedaya pula olehnya. Padahal orang itu telah menjadi pengawalku sejak aku naik tahta."

"Ahhh..."

Chin Yang Kun berdesah.

Pemuda itu lalu teringat kepada Tung-hai Sam-mo.

Semula dia memang heran sekali melihat penjahat itu dapat menjadi perajurit Kerajaan.

Padahal selain bekas penjahat yang terkenal, iblis-iblis itu pernah dilihatnya sebagai pengawal Siau Ongya, di dusun Hok cung beberapa pekan yang lalu.

Kini semuanya menjadi terang sudah baginya, bahwa antara Tunghai Sam-mo dan para perwira itu memang sudah terjalin semacam persekutuan yang tersembunyi.

"Makanya Siangkoan Ciangkun itu enak saja melihat Hongsiang tidak pulang-pulang sampai larut malam. Tak tahunya semuanya memang telah direncanakan..."

Pemuda itu menghela napas dan bergumam di dalam hatinya.

Hening sejenak.

Mereka berdua berkuda menyusuri perbukitan itu ke arah selatan.

Chin Yang Kun duduk di depan mengendarai Si Cahaya Biru, sementara Kaisar Han yang sedang sakit itu berada di belakang berpegangan Chin Yang Kun.

"Adik Yang..."

Tiba-tiba Kaisar Han memanggil.

"Ya, Twako...?"

"Aku tadi benar-benar khawatir dan ketakutan setelah mengatakan kepadamu siapa aku ini sebenarnya...,..."

"Takut? Kenapa...?"

"Aku takut kau lantas berubah sikap begitu mendengar aku ini adalah Kaisar Han. Tapi ketakutanku itu ternyata tak beralasan sama sekali. kau tetap bersikap biasa dan masih menganggapku sebagai kakak..."

"Hmm..."

"Eh, mengapa kau diam saja? Adik Yang, bagaimana pendapatmu?"

Chin Yang Kun tertunduk diam dan tidak lekas-lekas menjawab. Baru beberapa saat kemudian pemuda itu menyahut.

"Untunglah Twako mengatakannya sekarang. Coba kalau hal itu kau katakan kemarin atau kemarin dulu, di mana hatiku belum dingin dan mengendap seperti sekarang, kukira tanggapanku akan lain sama sekali. Mungkin akupun juga akan marah serta memusuhimu pula seperti orang-orang itu tadi. Malahan kemungkinan juga aku akan membunuhmu. Tapi sekarang semuanya sudah berubah. Api yang berkobar di dalam dadaku telah padam. Tumpukan dendam yang mengganjal di dalam jantungku telah larut sementara nafsuku untuk berkuasa telah lama sirna pula..."

"Adik Yang, kau...!"

Kaisar Han mencengkeram lengan Chin Yang Kun dengan tubuh bergetar.

"Ketahuilah, Twako...aku ini sebenarnya cucu Kaisar Chin Si. Namaku Yang Kun, lengkapnya Chin Yang Kun! Ayahku adalah Chin Yang, putera ketiga dari Kaisar Chin Si Hong-te. Lihatlah...!"

Chin Yang Kun menjelaskan seraya menunjukkan guratan huruf "CHIN"

Di atas pundaknya.

"Chin Yang...?"

Tiba-tiba Kaisar Han menjerit dengan suara tertahan.

"Oh, Tuhan...terjawablah sudah teka-teki yang selama ini selalu mengganggu hatiku? Kiranya...kiranya anak ini adalah puteranya. Ahh...Makanya begitu melihatnya aku lantas menyukainya..."

Kaisar Han mendongakkan kepalanya ke langit. Tampak keharuan membelit hatinya, sehingga beberapa tetes air mata kelihatan menitik di sudut matanya.

"Twako? Apa katamu? Haah? kau sudah kenal ayahku?"

Sekarang ganti Chin Yang Kun yang terkejut melihat sikap Kaisar Han. Diguncangnya tubuh Kaisar itu kuat-kuat sehingga Kaisar itu meringis kesakitan.

"Tidak! Oh, tidak...! Aku tidak mengenalnya, aku hanya pernah mendengar namanya saja..."

Kaisar Han berbohong agar supaya pemuda itu tidak mendesak terus dengan pertanyaannya.

Chin Yang Kun merasakan Liu-Twakonya itu menyembunyikan sesuatu hal kepadanya.

Tapi karena Liu-Twakonya itu tak mau mengatakannya, maka diapun juga tak bisa memaksa untuk mengatakannya.

Mereka Ialu berdiam diri lagi.

Dibiarkannya saja Si Cahaya Biru memilih sendiri jalannya.

Pokoknya mereka menuju ke arah selatan.

Dan jalan mulai melintasi hutan-hutan yang besar-besar, suatu tanda bahwa mereka sudah mendekati daerah perairan Sungai Huang-ho.

"Twako...! Omong-omong, bagaimana kau bisa mengetahui kalau Siangkoan Ciangkun itu telah mengkhianatimu?"

Chin Yang Kun bertanya. Kaisar Han menggeram perlahan.

"Sama sekali aku tak mengetahuinya. Aku baru sadar kalau orang itu mengkhianati aku setelah dia dan komplotannya berhasil menjebak aku di jurang tadi. Coba tadi kau tak datang menolong aku, kesadaranku itu sudah tidak ada gunanya lagi. Aku tentu sudah menjadi mayat di bawah jurang tadi."

"Ohh...?"

"Seharusnya aku sudah mencurigainya ketika dalambeberapa hari terakhir ini ia selalu menambah jumlah perajuritnya dengan mengambil siapa saja yang mau menjadi perajurit. Dan seharusnya aku juga sudah mencurigainya ketika dia memilih sendiri para perwira yang akan turut dalam perjalananku ini. Tapi...ternyata aku tidak mencurigainya. Malah ketika dia menyarankan agar aku pergi sendiri ke jurang itu, akupun tidak mencurigainya pula. Aku baru sadar tatkala pasukan pemberontak yang terdiri dan suku suku liar menyerbu rombonganku. Dan aku semakin sadar akan terjadinya pengkhianatan itu ketika separuh dari pasukan yang kubawa berbalik menyerangku."

"Lalu...siapakah yang telah melukaimu, Twako?"

"Aku dikeroyok banyak orang, diantaranya adalah Sianghouw Nio-nio dan kepala-kepala suku liar itu. Sebenarnya aku dapat melumpuhkan beberapa orang diantara mereka, tapi karena jumlah mereka sangat banyak, maka akhirnya aku tak bisa bertahan pula. Aku terluka dan hampir saja dapat mereka bunuh. Untunglah para pengawal yang masih setia kepadaku cepat menyelamatkan aku. Mereka berusaha mati-matian membawa tubuhku ke kereta, kemudian mempertahankan kereta tersebut..., sampai kau datang menolongku!"

"Hmmm!"

Keduanya lalu berdiam diri lagi.

Masing-masing sibuk dengan jalan pikiran mereka sendiri-sendiri.

Dan sementara itu kabut pagi mulai turun dengan pekatnya, sehingga udara menjadi semakin dingin menusuk tulang.

Apa lagi mereka telah mulai memasuki daerah perairan Sungai Huang-ho yang lembab dan basah.

Mereka berbelok ke timur menyusuri aliran Sungai Huangho, dan semakin ke timur udara laut semakin terasa tajam menghembus tubuh mereka.

Dan tanah yang mereka lalui juga bertambah sukar karena di tepi sungai itu hutannya semakin rapat dan lebat.

Si Cahaya Biru terpaksa berputar dan menerobos ke sana ke mari untuk mencari jalan yang dapat dilalui.

Beberapa saat kemudian sinar fajar mulai membayang di ufuk timur, dan hutan belukar yang mereka lalui juga semakin menjadi jarang, malahan akhirnya hanya semak-semak perdu saja yang mereka temukan.

Tapi semak-semak itu begitu lebatnya sehingga mereka terpaksa harus menjauhi aliran sungai.

Bersamaan dengan terbitnya matahari di langit, mereka tiba pula di dusun dekat muara Sungai Huang-ho itu.

Dan dengan petunjuk dari Kaisar Han, Chin Yang Kun membawa kudanya ke desa tempat pasukan Yap Tai-Ciangkun itu berkumpul.

Dan di sana mereka segera disongsong oleh para perajurit yang dengan cepat mengenal wajah junjungannya.

Malahan sesaat kemudian dengan tergopoh-gopoh Yap Tai-Ciangkun dan Gui-goanswe ke luar pula menjemput mereka.

Kaisar Han yang mengalami luka itu segera dibawa ke dalam kamar untuk diperiksa.

"Haa! Kalian tidak perlu khawatir! Aku tidak apa-apa, cuma luka ringan saja. Sebentar juga akan sembuh dengan sendirinya...Hei, Yap Tai-Ciangkun...bagaimana dengan tugasmu?"

Semuanya sangat mengkhawatirkan luka sri Baginda, tapi Baginda sendiri ternyata malah tidak mempedulikannya. Yang ditanyakan justru tugas yang dia berikan kepada Yap Tai-Ciangkun.

"Sebagian besar dari para pemimpinnya dapat kami binasakan, Hongsiang. Cuma ada beberapa orang yang dapat lolos, termasuk pemimpin utama dan pembantunya."

Yap Tai-Ciangkun menjawab.

"Sukurlah...!"

Demikianlah, setelah mengurus tempat dan keadaan Baginda, Yap Tai-Ciangkun segera keluar untuk menemui kakaknya, Hong-lui-kun Yap Kiong Lee.

Bersama-sama dengan kakaknya itu Yap Tai-Ciangkun pergi ke kamar Chu Seng Kun untuk minta tolong, agar pemuda ahli pengobatan itu mau mengobati Baginda.

Dan Chu Seng Kun yang baru saja mengobati dan mendengarkan kisah adiknya itu segera bergegas ke tempat Kaisar Han.

Sebenarnya belum hilang rasa rindu pemuda itu kepada adik perempuannya, tapi karena tenaganya sedang dibutuhkan orang, maka terpaksa perasaannya itu ia pendam dulu dalam hati.

Selesai memeriksa dan mengobati luka Kaisar Han, Chu Seng Kun lalu mengajak Yap Kiong Lee dan Chin Yang Kun ke kamarnya untuk meramu obat yang dia janjikan kepada Baginda.

Setelah obat itu siap, obat itu lalu dibawa Yap Kiong Lee keluar.

"Awas...jangan sampai keliru! Obat itu cuma digosokkan saja di tempat yang terluka..."

Sambil tersenyum Chu Seng Kun berseru di belakang pintu. Yap Kiong Lee menoleh dan tersenyum pula, tapi ia tak menjawab sepatah katapun. Chu Seng Kun menutup pintu, lalu menemui Chin Yang Kun kembali.

"Adik Yang Kun, bagaimana khabarmu selama ini? Ke mana saja kau sejak di desa Hok-cung itu? Aku tak bisa mengejarmu ketika itu."

Chu Seng Kun segera memberondong Chin Yang Kun dengan pertanyaannya begitu mereka hanya tinggal berdua saja. Chin Yang Kun berdesah.

"Wah, panjang kalau diceritakan..."

Pemuda itu menjawab, lalu serba sedikit diceritakannya juga apa yang telah dialaminya.

"Ah...jadi kau belum juga menemukan pembunuh keluargamu? Lalu bagaimana dengan pembantu ayahmu yang bernama Hek-mou-sai Wan It itu? Apakah kau belum menemukannya pula?"

Sekali lagi Chin Yang Kun berdesah dan menghela napas panjang. Tentu saja Chu Seng kun menjadi heran atas sikap kawannya itu.

"Eh, apakah yang telah terjadi? Mengapa kau diam saja, adik Yang...?"

Tanyanya mendesak.

"Aku memang sudah menemukan pembantu ayahku itu, tapi..."

"Tapi...apa?"

"Tapi aku menjadi kecewa melihatnya."

"Kecewa...? Ayoh! Cepatlah kau bercerita, jangan disimpan saja!"

Chin Yang Kun menundukkan kepalanya.

"Begini, Chu-Twako...Kelihatannya apa yang kukhawatirkan selama ini memang benar juga. Dulu, ketika Chu-Twako bercerita tentang Hek-eng-cu, yang mempunyai seorang pembantu tinggi besar berbulu lebat itu, aku sudah curiga di dalam hati. Jangan-jangan orang yang Chu-Twako lihat itu adalah paman Hek-mou-sai Wan It, orang yang kucari itu. Hmm...ternyata dua hari yang lalu aku benar-benar melihat dia bersama Song-bun-kwi Kwa Sun Tek! Dan...mereka berdua kelihatan akrab sekali. Ohhhh...!"

"Hei...?? Benarkah...?"

"Wah! Padahal tadi malam dia baru saja di sini bersama Hek-eng-cu..."

Chu Seng Kun berkata. Kemudian secara singkat tabib muda itu bercerita tentang pertempuran yang terjadi di Pantai Karang tadi malam.

"Ah, kalau begitu aku telah terlambat datang..."

Chin Yang Kun bergumam dengan kecewa. Keduanya lalu diam.

"Kalau begitu Chu-Twako juga sudah bertemu dengan adik Chu-Twako yang hilang itu?"

Tiba-tiba Chin Yang Kun menengadahkan kepalanya dan bertanya kepada Chu Seng Kun.

"Yah...!"

Dengan lesu tabib muda itu menjawab dan menganggukkan kepalanya.

Sekarang giliran Chin Yang Kun yang menjadi heran melihat perubahan sikap kawannya itu.

Tampaknya tabib muda itu juga tidak bergembira setelah bisa menemukan adiknya.

"Lhoh! Twako, apa yang terjadi? Mengapa engkau malah kelihatan bersedih? Bukankah Twako seharusnya bergembira karena adikmu telah kembali?"

Chu Seng Kun tidak menjawab, tapi secara perlahan-lahan diceritakannya tentang keadaan adiknya sekarang.

Bagaimana adiknya itu telah terpaksa kawin dengan Put-ceng-li Lojin untuk menutupi aibnya.

Dengan terus terang pemuda itu juga menceritakan kebiadaban iblis yang bernama Hek-eng-cu terhadap adiknya.

Bagaimana dua tahun yang lalu iblis itu menculik adiknya, lalu membawanya ke kediaman Hong-gihiap Souw Thian Hai untuk memeras peti pusaka warisan Bit -bo-ong asli yang disimpan oleh pendekar sakti itu.

"Kurang ajar! Orang itu memang benar-benar iblis, bukan manusia!"

Chin Yang Kun menggeram mendengar kelicikan dan kekejian orang berkerudung itu.

"Benar! Dan kini kepandaiannya benar-benar hebat bukan main. Dulu, kalau tidak dengan akalnya yang licik, tak mungkin dia bisa menculik adikku. Tetapi sekarang, setelah mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bit-bo-ong, akupun bukan lawannya lagi! Hmm...sungguh penasaran sekali!"

Chu Seng Kun juga menggeram dengan wajah merah padam. Matanya menatap ke depan dengan sinar kebencian dan penuh rasa dendam kesumat.

"Jangan khawatir, Chu-Twako. Aku akan membantu menghadapi iblis itu. Biarkanlah aku dengan ilmu yang tidak seberapa tinggi ini ikut membantu orang yang pernah menyelamatkan jiwaku..."

Chin Yang Kun berkata dengan tegas.

"Terima kasih, adik Yang Kun..."

Chu Seng Kun menyahut dengan terharu. Mereka lalu berdiam diri kembali.

"LaIu...dimanakah adikmu itu sekarang? Apakah dia telah kembali ke Bing-kauw lagi?"

Chin Yang Kun membuka mulutnya.

"Belum. Dia masih di sini sekarang. Dia pergi ke halaman belakang untuk menemui Put-ceng-li Lojin,"

Chu Seng Kun menjawab lirih hampir tak terdengar.

"Eh...orang tua itu juga sudah sampai di sini pula? Tadi malam aku masih melihat dia di Gedung Pusat Im-yang-kauw di kota Sin-yang. Hmmm...cepat benar! Kalau begitu dia segera bertolak kemari seusai pertemuan itu..."

Chu Seng Kun menatap Chin Yang Kun dengan tajamnya. Dahinya yang lebar itu kelihatan berkerut-kerut.

"Jadi...adik Yang Kun sudah kenal dengan ketua Aliran Bing-kauw itu? Apakah...eh...apakah kedatangannya pagi tadi juga bersamamu?"

Tanya tabib muda itu sedikit curiga.

"Ah, tidak...! Aku dan orang tua itu cuma bertemu dan berkenalan di sebuah pertemuan yang diadakan di Gedung Pusat Aliran Im-yang-kauw di kota Sin-yang tadi malam..."

Chin Yang Kun lekas-lekas menjawab.

Lalu untuk menghilangkan kecurigaan temannya, pemuda ini bercerita serba sedikit tentang pertemuannya dengan tokoh-tokoh ketiga aliran kepercayaan itu di kota Sin-yang.

Lalu serba sedikit pemuda ini juga bercerita tentang bagaimana dirinya menolong Kaisar Han dari pengkhianatan para perwiranya.

"Ooo...begitukah? Hmm...jadi adik Yang Kun sekarang sudah tahu kalau Liu-Twakomu itu tidak lain adalah Kaisar Han juga?"

Chin Yang Kun mengangguk.

"Ya. Kalian semua memang pandai bersandiwara..."

"Maafkanlah! Akupun tidak berani membocorkan rahasia Hongsiang itu seperti yang lain pula."

Chu Seng Kun cepat-cepat membela diri.

"Eee...Twako, omong-omong...apa rencanamu selanjutnya, setelah kau dapat menemukan kembali adikmu yang hilang itu?"

Chin Yang Kun segera membelokkan pembicaraan yang tak mengenakkan hatinya itu.

"Tentu saja aku akan tetap mencari Hek-eng-cu! Dia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Dan...bagaimana dengan kau, adik Yang Kun? Apakah kau juga akan terus mencari para pembunuh keluargamu itu?"

"Tentu saja! Bagaimanapun juga aku akan mengusutnya sampai selesai!"

Chin Yang Kun lalu berdiri. Perlahan-lahan pemuda itu melangkah ke pintu dan membukanya. Seraya melangkahkan kakinya ke luar pemuda itu menoleh.

"Chu-Twako, aku akan beristirahat dulu. Sudah tiga malam ini aku tak tidur barang sekejabpun. Nanti kita omong-omong Iagi..."

Katanya sambil tersenyum.

"Beristirahatlah saja di sini! Mau ke mana kau..."

"Terima kasih. Aku akan beristirahat di luar saja, udaranya segar. Maaf, Chu-Twako...aku pergi dulu,"

Chin Yang Kun menjawab seraya menutup pintu.

"Hmmm...pemuda aneh,"

Chu Seng Kun, menghela napas panjang sekali, kemudian merebahkan badannya di atas pembaringan.

Tiba-tiba pintu itu terbuka kembali dan kepala Chin Yang Kun tersembul diantara kedua daun pintunya.

Pemuda itu seperti mau mengatakan sesuatu, tapi melihat Chu Seng Kun telah berbaring di tempat tidurnya, pemuda itu tak jadi mengeluarkannya.

"Ahhh...kau sudah tid...tidur, Chu-Twako?"

Katanya sedikit gugup sambil menutup pintu itu kembali. Chu Seng Kun cepat meloncat ke pintu dan membukanya. Dilihatnya kawannya yang aneh itu telah melangkah pergi.

"Eeee...adik Yang Kun! Aku belum tidur. Ada keperluan apa...?"

Tabib muda itu berseru dengan kening berkerut.

Heran.

Chin Yang Kun menoleh sekejap, tapi tidak berhenti.

Sekilas tampak oleh Chu Seng Kun wajah kawannya itu menjadi merah sekali seperti udang direbus.

"Ah...tidak apa-apa! permisi dulu, Chu-Twako..."

Chin Yang Kun menjawab singkat.

lalu menghilang di balik pintu ruang tengah.

Chu Seng Kun menundukkan kepalanya dengan amat heran sekali.

Dahinya berkerut-kerut memikirkan sikap temannya yang sangat aneh itu.

Tiba-tiba berkelebat dalam pikiran tabib muda itu sesuatu yang sangat mengkhawatirkannya.

"Hei! Pemuda itu seperti sedang menderita...menderita keracunan. Tapi...tapi seingatku tubuhnya sudah kebal terhadap racun, sebab ia sendiri adalah seorang manusia beracun. Hanya saja...kenapa mukanya...eh!"

Karena khawatir Chu Seng Kun bergegas mengejar Chin Yang Kun.

Tapi ketika tabib muda itu keluar dari rumah itu, bayangan Chin Yang Kun sudah tidak kelihatan lagi.

Yang terlihat di halaman depan hanya perajurit-perajurit penjaga yang sedang menunaikan tugasnya.

Seorang penjaga yang berada di dekat Chu Seng Kun segera mendekati pemuda yang sedang kebingungan mencari kawannya tersebut.

"Tuan mencari Yang-Siauwya (Tuan Muda Yang)...?"

Tanyanya.

"Benar, kau melihatnya?"

"Yang-Siauwya berlari ke arah sungai dengan cepat sekali. Mungkin...eh...mungkin...hehe...hendak buang anu...habis mukanya merah sekali!"

Perajurit itu menjawab sambil menahan rasa geli.

Tapi Chu Seng Kun tidak mempedulikan sikap perajurit itu.

Bagai kilat cepatnya pemuda itu berlari ke arah sungai.

Saking cepatnya, perajurit itu sampai tidak bisa melihat, ke mana Chu Seng Kun pergi.

Pemuda itu seperti lenyap begitu saja dari depan perajurit tersebut.

"Eh...ada setan!"

Perajurit itu berteriak.

Sementara itu dengan cepat Chu Seng Kun telah berada di pinggir sungai.

Mata pemuda itu dengan nyalang mencari bayangan Chin Yang Kun diantara perahu dan sampan yang banyak tertambat di sana.

Tapi pemuda yang dikejarnya itu sudah tidak kelihatan pula di tempat itu.

Yang tampak di sana hanya para nelayan, yang berdiri bergerombol-gerombol di tepian, dengan mata menatap jauh ke seberang, seolah-olah ada sesuatu yang aneh dan menarik di sana.

Otomatis Chu Seng Kun mengikuti arah pandangan mata orang-orang itu dan...tiba-tiba jantungnya terasa berdegup lebih kencang!

Jauh di tengah-tengah sungai atau muara yang amat lebar itu terlihat sebuah pemandangan yang sangat mentakjubkan dan mendebarkan hati!

Entah dengan maksud apa, Chin Yang Kun yang sedang dicari oleh Chu Seng Kun itu sedang berloncatan di atas permukaan air dengan cara yang sangat mentakjubkan!

Tanpa alas kaki atau landasan berpijak pemuda sakti itu berloncatan di atas gelombang air bagaikan seekor capung atau burung camar yang sedang mandi atau bermain-main dalam kehangatan sinar mentari pagi!

Setiap tubuh pemuda itu meluncur turun ke permukaan air, kedua belah telapak tangannya yang terbuka itu menghantam ke bawah dengan kekuatan Iweekang sepenuhnya, sehingga permukaan air itu berdebur dengan dahsyatnya, seolah-olah di bawah air tersebut ada sebuah gunung yang sedang meletus.

Dan di lain saat tubuh pemuda itu melenting ke atas kembali, bagaikan sebongkah batu kecil yang dilontarkan oleh dahsyatnya letusan gunung di bawah air tersebut!

"Bukan main!

Sungguh sebuah pertunjukan tentang kekuatan Iweekang yang susah diukur karena kesempurnaannya!

Tapi...apa maksudnya adik Yang mengobral tenaga seperti itu?

Perbuatan itu hanya akan membuatnya lemas dan kelelahan saja!"

Chu Seng Kun bergumam perlahan.

Benar juga perkataan Chu Seng Kun itu.

Makin lama, yaitu semakin mendekati tanah seberang, ledakan air yang diakibatkan oleh pukulan tenaga sakti Chin Yang Kun semakin mengecil pula, sehingga daya lontar yang diperoleh pemuda itu juga semakin lemah.

Maka tak heran kalau pemuda itu harus lebih sering mengerahkan tenaganya, agar supaya tubuhnya tidak terjun ke dalam air.

Malah pada pukulan yang terakhir, permukaan air itu Cuma bergelombang sedikit saja, sehingga daya lontarnya juga tak ada sama sekali.

Akibatnya tubuh Chin Yang Kun tidak bisa melenting ke atas lagi dan langsung ke dalam air.

Untunglah tepian sungai tinggal dua atau tiga meter lagi, sehingga dengan sisa-sisa tenaganya pemuda itu dapat berenang ke pinggir.

Dengan tubuh lemas dan hampir tidak bertenaga lagi, pemuda itu melangkah terseok-seok menjauhi pinggiran sungai.

Rasanya seluruh tenaga pemuda itu sudah diperas habis, sehingga semua otot-otot tubuhnya bagai tak punya kekuatan lagi.

Maka tidaklah mengherankan kalau beberapa saat kemudian pemuda itu rubuh ke tanah dan tak bisa bangun kembali.

Dan secara kebetulan sekali pemuda itu jatuh tersungkur di dekat sebuah perapian darurat, di mana seseorang sedang asyik membakar kelinci.

"Hei...Saudara Yang! kau kah itu? Kenapa kau...?"

Orang itu berseru kaget dan bergegas menolong Chin Yang Kun.

"Aku...aku lelah...lelah sekali..."

Chin Yang Kun berbisik.

"Eh! Bajumu basah semua. Apakah kau tadi tenggelam di dalam muara itu?"

"Ooouughhh..."

Chin Yang Kun membuka mulutnya, tetapi cuma suara keluhan saja yang keluar dari sana.

"Baiklah! Mari kutolong kau lebih dahulu,"

Orang itu berkata, lalu membuka baju dan celana Chin Yang Kun yang basah.

Melihat goresan luka pada tubuh Chin Yang Kun, yaitu luka yang diperoleh pemuda itu ketika bertempur dengan Yap Cu Kiat tadi malam, orang yang menolong Chin Yang Kun itu mengerutkan dahinya.

"Hmmm, tampaknya dia baru saja berkelahi dengan lawan yang berkepandaian tinggi. Dan kelihatannya pemuda ini telah kehabisan tenaga karenanya. Baiklah, aku akan menyelamatkannya. Tapi...hari ini aku tak ingin berselisih atau berurusan dengan orang lain, oleh karena itu aku akan membawanya ke tempat lain saja..."

Orang itu berkata kepada dirinya sendiri.

Kemudian setelah selesai mengganti pakaian pemuda itu dengan pakaian yang dibawanya, orang itu menggendong tubuh Chin Yang Kun dan membawanya pergi dari tempat itu.

Itulah sebabnya ketika Chu Seng Kun datang dengan perahunya, tabib muda itu sudah tidak bisa menemukan Chin Yang Kun lagi.

Ketika Chin Yang Kun telah menjadi sadar kembali, maka yang mula-mula terdengar dalam telinganya adalah suara debur ombak yang bergemuruh di dekatnya.

Tapi ketika pemuda itu membuka matanya, yang mula-mula tampak di depannya adalah langit-langit gua yang lembab dan basah.

Pemuda itu lalu bangkit dengan cepat.

Tubuhnya sudah terasa segar kembali.

"Saudara Yang..."

Sebuah suara tiba-tiba mengagetkan pemuda itu.

"Hah? Souw-Taihiap?"

Chin Yang Kun menoleh dengan cepat, dan berdesah kaget begitu melihat Hong-gi-hiap Souw Thian Hai berada tak jauh darinya.

"Ya! Aku membawamu kemari, karena aku sedang tak ingin berurusan dengan orang lain. Eh, apakah engkau sudah menjadi segar kembali?"

"Eh-uh...sudah. Terima kasih."

Chin Yang Kun mengangguk dengan agak malu.

"Saudara Yang, apakah kau baru saja berkelahi dengan seseorang? Kulihat ada goresan luka pada tubuhmu..."

Chin Yang Kun tersentak kaget.

"Tidak! Aku tidak berkelahi dengan siapa-siapa. Aku...eh, maksudku...aku tidak berkelahi dengan siapapun hari ini,"

Kilahnya.

"Tapi...luka itu?"

Souw Thian Hai mendesak.

"Ah, luka itu kudapatkan ketika bertempur dengan Yap Lo-Cianpwe tadi malam,"

Chin Yang Kun menjawab cepat.

"Yap Lo-Cianpwe? Maksudmu...ayah dari saudara Yap Kiong Lee?"

Chin Yang Kun mengangguk.

"Hmm...kau memang hebat dan aneh! Lalu kenapa kau kehabisan tenaga tadi?"

"Anu...oh...eh!"

Secara mengherankan tiba-tiba wajah Chin Yang Kun berubah menjadi merah kemalu-maluan.

Sikap pemuda itupun mendadak juga berubah kikuk dan canggung.

Tentu saja perubahan yang sangat mendadak itu benar-benar amat mengherankan Souw Thian Hai!

"Saudara Yang, kau kenapa...?

Apakah pertanyaanku tadi salah?"

Pendekar sakti itu berseru keheranan.

"Ah...tidak! Tidak! Aku...eh...aku tidak apa-apa..."

Chin Yang Kun lekas-lekas menjawab dengan gugup.

Sikap pemuda itu semakin kacau dan canggung.

Souw Thian Hai menghela napas panjang dan tidak mendesak lagi.

Pendekar itu merasakan sesuatu yang tidak beres pada sikap pemuda di hadapannya itu.

Tapi karena pemuda itu tampaknya tak mau mengatakan hal yang tidak beres itu kepadanya, maka pendekar itu juga tak mau mendesak pula lagi.

Pendekar sakti itu justru bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar gua.

Angin senja menerpa tubuhnya yang tinggi tegap di mulut gua, sehingga rambutnya yang hitam panjang itu berkibaran ke belakang.

Di dalam keremangan cahaya matahari pendekar sakti itu kelihatan gagah perkasa, sehingga diam-diam Chin Yang Kun mengaguminya di dalam hati.

"Aku akan menyeberang ke Pulau Mimpi besok pagi,"

Pendekar sakti itu berkata seperti kepada dirinya sendiri. Mendengar kata-kata itu Chin Yang Kun cepat berdiri, lalu bergegas melangkah mendekati Souw Thian Hai.

"Taihiap, kau belum berjumpa dengan puterimu?"

Tanyanya. Souw Thian Hai menoleh.

"Aku datang di pantai ini baru kemarin sore. Sebenarnya pagi tadi aku bermaksud mencari perahu untuk menyeberang ke Meng-to, tapi...aku tak tega meninggaIkanmu sendirian di sini. Sekarang matahari sudah mau tenggelam pula lagi. Tak berani aku berlayar ke tengah lautan..."

"Heh? Matahari sudah mau tenggelam?"

Chin Yang Kun berseru kaget.

Cekatan pemuda itu melompat ke mulut gua.

Tapi...hampir saja pemuda itu terjerumus ke bawah!

Di depannya atau di bawahnya, ternyata terbentang laut luas yang bergelombang ganas!

Ombak berdebur memecah tebing di mana mulut gua itu berada.

Chin Yang Kun melihat sinar lembayung menyelubungi gumpalan-gumpalan awan yang berarak di atas langit.

Dan haI itu berarti bahwa senja memang telah datang dan malampun segera menjelang.

"Kalau begitu...kalau begitu saya tadi tertidur hampir seharian penuh? Mengapa Taihiap tidak membangunkan aku?"

Chin Yang Kun bertanya hampir tak percaya.

"Benar, kau betul-betul kehabisan tenaga pagi tadi. Maka begitu kau dapat kesempatan untuk mengendorkan urat-uratmu kau pun Iantas jatuh tertidur sampai sehari penuh. Dan aku tak tega untuk meninggalkanmu..."

"Dan hal itu sungguh kebetulan sekali malah!"

Yang Kun cepat-cepat menyahut. Souw Thian Hai mengerutkan keningnya. Matanya yang tajam menatap Chin Yang Kun dengan pandangan bingung dan tak mengerti.

"Kebetulan? Apa maksudmu?"

Tukasnya. Chin Yang Kun tersenyum. Entah mengapa pemuda itu merasa bergembira sekali bisa mempertemukan pendekar yang dikaguminya itu dengan puterinya.

"Nona Souw Lian Cu...tidak berada di Meng-to sekarang. Dia kini sedang berkumpul dengan kawan-kawannya di desa di tepi muara itu."

Katanya bersemangat.

Untuk pertama kalinya Chin Yang Kun melihat pendekar yang selalu bersikap tenang dan berwibawa itu gemetaran tubuhnya.

Wajah yang biasanya selalu menampilkan sikap yang tenang dan percaya diri itu kini tampak pucat seperti orang yang sedang kehilangan pengamatan diri.

Ternyata, bagaimanapun hebat dan tinggi ilmunya, pendekar itu masih seorang manusia yang mempunyai jiwa dan perasaan juga seperti yang lain.

Kenyataan bahwa anak yang disayanginya itu sudah berada di ujung hidungnya, perasaan rindu yang ditahan-tahannya selama bertahun-tahun itu hampir tak bisa dikuasainya lagi.

"A-apa...? Dia a-ada di desa yang penuh dengan perajurit itu? Ohh, jadi...kau juga datang dari sana pula? Bagaimana de-dengan puteriku? Dia"

Dia sehat-sehat saja, bukan?"

Pendekar sakti itu memberondong Chin Yang Kun dengan pertanyaan-pertanyaannya.

"Tenanglah, Souw-Taihiap...Puterimu tidak apa-apa. Dia sehat."

"Bagus! Kalau begitu...tunggulah di sini! Aku akan menjemputnya."

Souw Thian Hai berseru kegirangan, lalu meloncat keluar gua dan memanjat dinding tebing itu dengan tangkasnya.

"Heh? Taihiap, aku ikut...!"

Chin Yang Kun berteriak pula.

Lalu pemuda itu melompat keluar juga dari dalam gua itu.

Lagi-lagi pemuda itu lupa bahwa mulut gua itu berada di dinding tebing laut yang tinggi, sehingga pemuda itu nyaris terjun ke laut yang bergelora.

Untunglah pada saat-saat terakhir pemuda itu dapat menghentikan langkahnya.

Ketika pemuda itu menengadahkan mukanya, ia melihat Souw Thian Hai memanjat tebing terjal itu seperti seekor kera.

Melompat kesana kemari dengan tangkasnya dan hanya berpegangan pada batu batu karang yang menonjol.

Sedikitpun tak kelihatan kalau pendekar itu takut, padahal jauh di bawahnya terbentang laut ganas yang siap menerkamnya, bila ia lengah.

Sekejap Chin Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya.

"Gila! Bagaimana dia bisa membawaku ke sini tadi pagi?"

Tapi pemuda itu tak punya banyak waktu untuk memikirkannya.

Souw Thian Hai sudah hampir mencapai puncak tebing.

Maka pemuda itu lalu mengerahkan seluruh ginkang dan lweekangnya, kemudian memanjat tebing itu pula seperti Souw Thian Hai tadi.

Sampai di atas pemuda itu sudah tidak melihat Souw Thian Hai lagi.

"Bukan main! Cepat benar...!"

Bisiknya kagum.

Pemuda itu lalu berlari menyusuri muara sungai, dengan harapan bahwa ia masih akan mampu mengejar Souw Thian Hai.

Tapi ketika pemuda itu sampai di tempat di mana ia menyeberang pagi tadi, ia melihat Souw Thian Hai telah berada di tengah sungai naik sebatang pohon yang telah diambil cabang dan ranting-rantingnya.

Chin Yang Kun berhenti melangkah.

Mulutnya melongo memandang ke tengah-tengah sungai.

Matanya memancarkan sinar kekaguman yang tiada tara.

"Hanya beberapa detik saja ia di depanku tapi langkahnya tetap tak bisa kukejar juga. Padahal ia harus merobohkan sebatang pohon pula untuk menyeberang. Sungguh gila kepandaiannya...!"

Terpaksa Chin Yang Kun berbuat serupa pula dengan Souw Thian Hai.

Dirobohkannya sebuah pohon yang cukup besar kemudian dipatahkannya dahan dan ranting-rantingnya.

Dan ketika pohon itu sudah siap dan ia ceburkan ke dalam air, udara telah menjadi gelap.

Malam telah benar-benar turun menyelimuti bumi.

Chin Yang Kun sudah tidak bisa melihat Souw Thian Hai lagi.

Pendekar sakti itu seolah-olah sudah hilang tertutup kabut di tengah-tengah sungai.

Maka Chin Yang Kun lalu mengayuh batang pohon itu sekuat tenaganya.

Sementara itu Souw Thian Hai ternyata tak mudah menyeberangi muara sungai yang lebar dan luas itu.

Batang pohon itu ternyata sangat berat untuk memotong atau melawan arus sungai yang ganas.

Di tengah-tengah muara itu arus ternyata tidak setenang dan sejinak di tepian.

Di tengah-tengah, gelombang air ternyata sangat liar dan ganas.

Arus air berputar-putar dan melaju dengan cepatnya.

Begitu batang pohon itu terseret ke dalamnya maka Souw Thian Hai sudah tak bisa menguasainya Iagi.

Kayu yang besar dan berat itu segera timbul tenggelam terbawa oleh ganasnya pusaran air.

Souw Thian Hai berpegangan pada batang pohon itu kuat kuat.

Pendekar sakti itu berusaha agar dirinya tidak terlempar ke dalam arus sungai yang hitam kelam itu.

Dengan mengerahkan seluruh kesaktiannya, pendekar ternama ituberusaha membawa batang kayu itu ke pinggir atau ke seberang.

Sedikit demi sedikit pendekar sakti itu dapat melepaskan diri dari libatan arus yang berputar-putar di tengah-tengah muara sungai itu.

Namun demikian belum berarti bahwa pendekar itu sudah terbebas dari bahaya arus sungai tersebut.

Arus air yang ganas berputar-putar itu memang hanya terdapat di tengah muara saja, tapi hal itu bukan berarti bahwa arus yang mengalir di daerah pinggiran tidak berbahaya pula.

Justru arus yang tampaknya tenang dan jinak itulah yang kadang-kadang membawa korban di antara para nelayan yang sering mencari ikan di sana.

Arus itu memang tidak seganas dan seberbahaya arus air yang mengalir di tengah-tengah sungai tetapi kekuatan yang ditimbulkannya sebenarnya juga tidak kalah dahsyatnya dengan arus air yang berputar-putar itu.

Arus yang tampaknya tenang itu kadang-kadang mampu menyeret sebuah perahu besar ke tengah, untuk kemudian menghempaskan ke arus berputar di tengah sungai yang sangat ganas itu.

Tetapi dengan tenaga dalamnya yang sudah mencapai kesempurnaan itu, Souw Thian Hai dapat juga melewati daerah yang cukup berbahaya tersebut.

Dengan pakaian basah kuyup pendekar itu dapat mencapai seberang dengan selamat.

Hanya saja tempat pendaratannya ternyata tidak di desa yang ia maksudkan tetapi karena terseret arus air, pendekar itu mendarat jauh di mulut muara.

Souw Thian Hai meloncat ke daratan.

Di tempat itu hanya ada batu-batu karang besar yang berserakan di mana-mana.

Di dalam keremangan malam, batu-batu besar itu seperti sebuah perkampungan manusia-manusia raksasa yang sangat menyeramkan.

Apalagi angin laut bertiup dengan sangat kencangnya sehingga menimbulkan suara-suara aneh yang mendirikan bulu roma.

Tapi Souw Thian Hai tak mempedulikan semua itu.

Ketegangan hatinya yang ingin Iekas-Iekas melihat wajah anaknya itu membuat pendekar sakti tersebut tidak sempat memikirkan yang lain-lain.

Dengan perasaan tak sabar lagi pendekar itu melangkah cepat melintasi hutan batu karang tersebut.

Pikirannya hanya penuh dengan bayangan dan angan-angan tentang puterinya, Souw Lian Cu saja!

Tiba-tiba Souw Thian Hai tersentak dari lamunannya.

Di dalam ketergesaannya pendekar itu seperti melihat bayangan berkelebat di depannya.

Bayangan itu seperti melesat dari balik batu karang yang berada tiga meter di depannya, menuju ke batu karang hitam di sebelah kirinya.

Untuk menjaga segala kemungkinan, Souw Thian Hai cepat berlindung di bawah bayang-bayang batu karang.

Untunglah pendekar itu mengenakan pakaian berwarna gelap, sehingga tubuhnya seakan-akan lenyap ditelan kegelapan bayang bayang batu karang tersebut.

Kemudian perlahan-lahan pendekar itu bergeser ke kiri untuk mencari bayangan yang dilihatnya tadi.

Sambil selalu berlindung di dalam kegelapan Souw Thian Hai mengelilingi batu karang yang ia perkirakan sebagai tempat persembunyian "bayangan"

Tadi. Tapi tempat itu benar-benar kosong. Tak seorangpun bersembunyi di sana.

"Heh? Mengapa tidak ada? Masakan mataku telah salah lihat tadi? Rasa-rasanya aku melihat bayangan seorang wanita melintas beberapa tombak di hadapanku..."

Souw Thian Hai berkata di dalam hatinya.

Pendekar itu merasa penasaran.

Dipanjatnya sebongkah batu karang besar yang ada di dekatnya.

Lalu dari atas matanya memandang berkeliling.

Dicarinya dengan teliti, kalau-kalau ada sesuatu yang bergerak atau mencurigakan di sekitar tempat tersebut.

Tiba-tiba mata Souw Thian Hai terbelaIak lagi.

Kira-kira lima atau enam tombak jauhnya dari tempatnya mengintai, pendekar itu melihat seorang kakek melangkah terbungkuk bungkuk di antara rimbunnya batu-batu karang yang menonjol.

Bayangan kakek itu sebentar kelihatan sebentar lenyap, tertutup oleh bayangan batu karang.

"Hmm, ada orang lagi...Heran, kenapa tempat yang sunyi menyeramkan ini mendadak dikunjungi oleh banyak orang?"

Souw Thian Hai bertanya-tanya di dalam hatinya.

Perlahan-lahan Souw Thian Hai turun, lalu dengan hati-hati melangkah menuju ke tempat kakek tadi berada.

Tapi sekali lagi, meskipun sudah berputar-putar mencarinya, kakek tadi ternyata tak kunjung diketemukannya juga.

Bayangan kakek itu seolah-olah lenyap dihisap bumi.

Akhirnya Souw Thian Hai menjadi jengkel juga.

"Kurang ajar! Goblog benar aku! Mengapa aku mesti payah-payah mengurusi hantu-hantu itu? Bukankah aku mempunyai urusan sendiri? Hah!"

Geramnya penasaran.

Pendekar itu lalu bergegas meninggalkan tempatnya berdiri.

Dengan langkah lebar ia menelusup kesana kemari agar bisa cepat keluar dari rimba batu itu.

la sama sekali tidak peduli lagi pada sekelilingnya.

Tetapi sekali Iagi pendekar itu tersentak kaget sekali ketika tubuhnya hampir bertabrakan dengan seseorang!

Otomatis pendekar itu mengelak ke samping sehingga tubuhnya menghantam batu karang besar di sampingnya.

Dhuuug!

Batu besar itu bergetar hebat saking kuatnya pendekar itu menabrak.

Debu dan kerikil berhamburan ke bawah!

Dalam keadaan gelap, karena tempat tersebut penuh dengan batu-batu raksasa yang rebah silang-menyilang, sekilas Souw Thian Hai melihat bayangan kecil langsing melesat menjauh dengan gesitnya.

Tampak dengan jelas oleh Souw Thian Hai, lengan baju sebelah kiri orang itu melambai-lambai tertiup angin!

"Kurang ajar...!"

Dengan suaranya yang nyaring orang itu mengumpat.

Setelah itu seperti orang yang sedang dikejar waktu, orang itu melesat pergi dengan tergesa-gesa.

Sekejap Souw Thian Hai berdiri mematung!

Air mukanya berubah hebat!

Mulutnya ternganga, seakan-akan mau meneriakkan sesuatu tapi tak bisa.

"Lian Cuuu..."

Akhirnya keluar juga suara dari mulutnya.

Tapi suara itu ternyata begitu lemahnya sehingga telinganya sendiri tak dapat mendengarnya.

Seperti orang kesurupan Souw Thian Hai lalu berkelebat cepat mengejar bayangan wanita itu.

Pendekar itu merasa yakin betul bahwa matanya tadi tidak salah lihat.

Dan pendekar itu juga yakin benar, bahwa telinganya tadi juga tidak akan salah dengar.

Suara itu tadi adalah suara Souw Lian Cu, puterinya.

Dan perawakan orang itu tadi juga perawakan Souw Lian Cu!

Apalagi dengan jelas dilihatnya lengan baju bagian kiri tadi kosong melambai-lambai!

"GiIa!

Di manakah dia...?

Mengapa tidak bisa kuketemukan?"

Souw Thian Hai menggeram seperti orang gila.

Pendekar itu menerobos dan berputar-putar di dalam rimba batu tersebut, tapi bayangan Souw Lian Cu tetap juga tak dijumpainya.

Saking tegang, penasaran dan kesalnya, pendekar itu lalu mengerahkan seluruh Iweekangnya, dan kemudian berteriak kuat-kuat!

"Liaaan Cuuuuuuuu...!"

Demikian dahsyatnya suara teriakan itu sehingga tempat itu seolah-olah bergetar karenanya.

Dan suara itu bergema pantul-memantul di dalam rimba batu itu untuk beberapa saat lamanya, membuat binatang binatang malam terdiam ketakutan di tempat mereka masing-masing.

Binatang binatang melata segera berlarian ke liangnya, sementara burung-burung malam beterbangan pergi menjauhi tempat itu.

Souw Thian Hai menantikan akibat dari teriakannya.

Dipanjatnya lagi sebuah batu karang tinggi untuk mengintai daerah di sekitarnya.

Tapi tempat itu tetap sunyi dan sepi.

Jangankan Lian Cu, kedua bayangan yang dijumpainya pertama kali tadipun juga tidak menampakkan batang hidungnya.

Padahal menurut aturan, kedua orang itupun tentu mendengar teriakannya pula.

Angin laut meniup dengan kencangnya.

Meskipun demikian keringat mengalir dengan derasnya di badan Souw Thian Hai.

Perasaan takut akan kehilangan lagi jejak puterinya membuat pendekar itu menjadi tegang dan gelisah luar biasa.

Pikiran serasa menjadi kacau dan bingung sekali.

Tiba-tiba pendekar itu melihat lagi sesosok bayangan berkelebat di kejauhan.

Sekejap bayangan itu berkelebat di tempat terbuka kemudian hilang lagi di kegelapan.

Tapi yang terang bayangan itu berlari ke arah pantai.

Souw Thian Hai tersentak, lalu dengan cepat mengejar bayangan itu.

Karena tak ingin kehilangan arah, maka pendekar itu lalu mengerahkan ginkangnya dan kemudian melesat berloncatan di atas batu-batu raksasa itu.

Pendekar itu tak sabar lagi kalau harus berlari-lari, berputar-putar dan menerobos kesana kemari diantara rimba batu itu.

Meskipun demikian, ketika rimba batu itu telah habis terlewati, bayangan tersebut tetap juga tak kelihatan.

Bayangan itu menghilang lagi entah ke mana.

Padahal di depan pendekar itu kini terbentang dataran pasir yang sangat luas, dimana di seberang sana sudah terlihat buih-buih ombak yang memecah pantai.

Tak sebuah bayanganpun yang tampak melintas di tempat terbuka itu.

"Ough, di manakah dia? Masakan begitu cepatnya dia menghilang? Apakah...apakah aku telah salah lihat tadi? Oooh...mungkin...mungkin aku memang telah salah lihat tadi. Kukira hanya hantu saja yang mampu meloloskan diri dari kejaranku tadi. Ohhh...jangan-jangan selama ini aku memang hanya tertipu oleh bayangan atau angan-anganku sendiri saja. Begitu hebat rasa rinduku kepada Lian Cu, sehingga aku...aku seperti telah melihat bayangannya, padahal...padahal sebenarnya dia tidak ada! Ohhh...Tuhan!"

Souw Thian Hai menjatuhkan dirinya di atas pasir.

Dengan bertumpu pada lututnya pendekar itu menengadahkan kepalanya.

Kedua lengannya tergantung lemas di sisi tubuhnya.

Tak ada bintang, tak ada bulan.

Seluruhnya gelap, segelap hati Souw Thian Hai saat itu.

"Oh, Tuhan...berilah aku semangat dan kekuatan agar bisa bertemu kembali dengan anakku,"

Pendekar sakti itu akhirnya berdoa.

Tiba-tiba angin bertiup dengan kuatnya, seakan-akan menjawab doa itu.

Awan tebal di atas pantai itu mendadak juga bergerak perlahan-lahan.

Dan kemudian...satu persatu bintangpun mulai bermunculan di atas Iangit.

Alampun seolah-olah mulai tersenyum pula.

Dan beberapa saat kemudian langitpun menjadi terang benderang.

Ternyata bulan yang masih muda itupun telah terbebas juga dari kurungan awan gelap tadi.

Souw Thian Hai kemudian menundukkan kepalanya.

Dipandangnya buih ombak yang kini tampak jelas berkejaran di tepi pantai itu.

Lalu dikaguminya percikan-percikan air yang muncrat ke atas ketika ombak tersebut menghantam karang.

Dari jauh butiran-butiran air itu bagaikan taburan permata dalam terangnya sinar rembulan.

"Hah...?!?"

Mendadak pendekar itu tersedak karena kaget!

Diantara percikan-percikan air itu tiba-tiba tersembul bayangan seorang wanita!

Tampaknya wanita itu tadi berjongkok di tepi air, sehingga tidak kelihatan dari kejauhan.

Maka begitu wanita itu bangkit berdiri, tubuhnya seakan-akan lalu muncul begitu saja diantara buih-buih ombak.

"Lian Cu...!"

Souw Thian Hai berseru perlahan.

Beberapa kali pendekar itu mengejap-ngejapkan matanya, takut kalau-kalau ia tergoda lagi oleh angan-angannya sendiri.

Tapi sampai lelah ia berkejap, bayangan wanita tersebut masih tetap juga kelihatan.

"Ah...!"

Souw Thian Hai berdesah tegang lagi.

Kemudian dengan tubuh yang semakin basah oleh keringat, Souw Thian Hai merangkak, mendekati bayangan puterinya itu.

Seperti seorang pemburu yang takut kalau-kalau binatang buruannya akan kaget dan melarikan diri, Souw Thian Hai merunduk dengan hati-hati sekali.

Demikian takutnya pendekar itu, sehingga bernapaspun rasa-rasanya dia tidak berani lagi.

Ketika secara mendadak bayangan itu mengangkat kedua Iengannya ke atas, Souw Thian Hai bergegas menghentikan langkahnya pula.

Jarak mereka tinggal belasan meter saja.

Dan dari tempat itu telah dapat dilihat dengan jelas perawakan dan dandanan wanita itu.

Tetapi karena wanita itu menghadap ke arah laut, maka Souw Thian Hai tidak bisa melihat wajah puterinya.

Mendadak wanita itu meloncat dan berlari ke arah ombak yang datang!

"Lian Cuuu...!"

Souw Thian Hai berteriak keras sekali.

"Ciciii...!"

Tiba-tiba terdengar pula suara teriakan lain.

Bagai terbang cepatnya Souw Thian Hai melompat dari tempatnya.

Dan hanya dengan tiga kali lompatan saja pendekar itu sudah sampai di tempat wanita itu berusaha mengakhiri hidupnya.

Benar-benar suatu pekerjaan yang dalam keadaan normal tak mungkin bisa dilakukan oleh pendekar itu.

Apalagi pada lompatan yang terakhir pendekar itu harus pula menyambar tubuh wanita itu, kemudian dengan pukulan udara kosongnya harus menghantam deburan ombak untuk dapat melenting balik kembali.

"Ahh...bukan main!"

Seorang kakek yang sudah bersiap sedia pula untuk menolong wanita itu berseru tertahan.

Tubuhnya yang sudah terlanjur keluar dari balik karang itu bergegas menyelinap ke dalam persembunyiannya lagi.

Jarak persembunyiannya dengan wanita itu sebenarnya cuma ada beberapa meter saja, tapi gerakannya tadi ternyata masih kalah cepat dengan gerakan Souw Thian Hai.

Sementara itu dengan meminjam daya tolak dari ombak yang dipukulnya, Souw Thian Hai membawa tubuh wanita itu melenting balik ke daratan kembali.

Dengan beberapa kali berjumpalitan di udara, pendekar itu lalu turun di atas pasir yang basah.

Tapi kedua kaki pendekar sakti itu hampir saja menghantam sesosok bayangan yang secara tiba-tiba menyongsong kedatangannya.

"Ciciiii...!"

Bayangan yang datang itu menjerit seraya mengelakkan diri.

"Heh...???"

Souw Thian Hai terpekik pula dengan kagetnya.

Pendekar itu berdiri terbelalak mengawasi bayangan yang hampir saja terinjak oleh kakinya itu.

Lutut pendekar itu terasa gemetaran, sehingga tubuh wanita yang berada di dalam pondongannya itu hampir saja melorot jatuh.

"Lian Cu...anakku!"

Dengan wajah pucat, bibir Souw Thian Hai bergetar menyebut nama bayangan yang dating, yang tadi hampir saja terinjak oleh kakinya.

Lalu dengan cepat pendekar itu menunduk mengawasi wajah wanita yang berada didalam pelukannya, yang sejak semula ia kira sebagai Souw Lian Cu, puterinya.

"Uhh...Hong-moi! kau...?"

Bisik pendekar itu terbata-bata. Ternyata, tubuh wanita yang berada di dalam pondongan pendekar itu adalah Chu Bwee Hong, kekasihnya sendiri yang kini telah menjadi isteri Put-ceng-li Lojin!

Jilid 37 Souw Thian Hai cepat menatap Souw Lian Cu kembali, yang kini berdiri di depannya dengan mata yang juga terbuka lebar serta wajah yang pucat pasi pula seperti dirinya.

Dan Souw Thian Hai yang sangat takut bila ia harus kehilangan puteri yang amat disayanginya itu cepat-cepat menurunkan tubuh Chu Bwee Hong ke atas pasir.

Bagaikan seorang anak kecil yang menjadi ketakutan di hadapan ibunya karena ketahuan telah berbuat suatu kesalahan, pendekar itu memandang Souw Lian Cu.

"Anak-ku...kaukah itu?"

Pendekar yang mempunyai nama besar itu berdesah dengan suara haru.

"Ayaaaaah...!"

Souw Lian Cu memekik, kemudian menghambur ke dalam pelukan Souw Thian Hai.

Dan dua orang ayah dan anak itupun lalu saling berpelukan dengan kencangnya.

Lian Cu yang di dalam hatinya telah lama timbul rasa sesal dan berdosa terhadap ayahnya itu tampak menangis tersedu-sedu.

Sebaliknya pendekar yang selama ini juga tidak pernah menangis meski derita selalu datang bertubi itu, kini ternyata juga tidak bisa menahan air matanya.

"Ayah, maafkanlah anakmu yang tidak berbakti ini. Karena sifatku yang cengeng, kekanak kanakan dan mau menang sendiri...telah membuat ayah menderita selama bertahun tahun. Ternyata selama ini aku telah salah sangka terhadap ayah. Ternyata ayah sangat mulia dan rela menderita demi aku. Padahal antara ayah dan Cici Bwee Hong...Oh, ayah...!"

"Terima kasih, anakku...! kau...ah, aku sungguh gembira sekali kau telah mengerti sekarang. Sudahlah, kau jangan menangis..."

Souw Thian Hai membujuk dan menenangkan hati anaknya, tapi dia sendiri juga menyeka air matanya.

Mendadak Souw Lian Cu merenggutkan diri dari pelukan Souw Thian Hai.

Bergegas gadis itu menghampiri tubuh Chu Bwee Hong yang tergeletak pingsan di atas pasir, sehingga Souw Thian Hai menjadi berdebar-debar lagi hatinya.

Pendekar itu tahu kalau anaknya sangat membenci Chu Bwee Hong.

"Ayah...???"

Souw Lian Cu berdesah khawatir seraya menatap ayahnya.

"Aku...eh, aku dan dia...baru sekali ini berjumpa. Dia tadi...hendak bunuh diri. Dia...dia tadi kukira engkau. Sungguh!"

Souw Thian Hai cepat-cepat memberi penjelasan dengan suara gelagapan karena mengira Souw Lian Cu telah salah sangka lagi terhadapnya.

Souw Lian Cu mengerutkan keningnya.

Tapi begitu dapat menduga apa yang sedang berkecamuk di dalam hati ayahnya, gadis itu memandang wajah ayahnya dengan perasaan kasihan.

"Ayah, kau jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku tidak apa-apa. Anakmu sudah dewasa sekarang. Aku tadi hanya ingin mengatakan bahwa Cici Bwee Hong pingsan dan apa yang harus kita lakukan terhadapnya...?"

"lni...ini...eh, ini...sebaiknya kita bawa saja dia ke dusun itu, agar...agar bisa cepat-cepat memperoleh perawatan."

Souw Thian Hai yang belum juga merasa yakin akan sikap Souw Lian Cu itu masih berusaha untuk mengambil jarak antara dirinya dengan Chu Bwee Hong, agar supaya tidak membuat marah anaknya.

Tetapi Souw Lian Cu yang memang sengaja ingin menjodohkan Chu Bwee Hong dengan ayahnya itu menjadi penasaran mendengar jawaban ayahnya itu.

"Membawanya ke dusun? Mengapa mesti harus dibawa ke sana? Kenapa tidak ayah saja yang merawatnya?"

Gadis itu bertanya tak senang. Souw Thian Hai menghela napas murung.

"Ah, anakku...Ternyata kau belum benar-benar mengerti sikap ayahmu. Sebenarnyalah bahwa ayahmu tak ingin merusak dan melukai hati dan perasaanmu, Chu Bwee Hong, maupun...Put-ceng-li Lojin!"

"Eh! Mengapa ayah berkata demikian?"

Souw Lian Cu bertanya tak mengerti. Sekali lagi pendekar itu menghela napas. Dan kali ini semakin terasa sedih.

"Lian Cu...Aku tahu kau tidak menyukai Chu Bwee Hong. Maka demi kau, aku tak akan mendekati Chu Bwee Hong lagi. Sementara itu aku juga tak ingin membuka luka lama di dalam hati Chu Bwee Hong dengan kehadiranku kembali. Dia telah membina sebuah keluarga yang berbahagia sekarang. Maka aku tak ingin mengganggunya lagi. Selain dari pada itu, sebagai seorang laki-laki sejati, aku tak ingin menghina atau menginjak-injak kehormatan dan harga diri suaminya...Bukannya aku takut! Tapi sebagai seorang jantan aku tak ingin disebut sebagai pengganggu isteri orang! Mengertikah kau...?"

Dengan panjang lebar Souw Thian Hai menjelaskan sikapnya itu kepada anaknya.

"Tapi...ayah, dia...?"

Dengan nada getir Souw Lian Cu berusaha menjelaskan juga sikap yang telah diambilnya, serta sikap Chu Bwee Hong sendiri terhadap ayahnya selama ini.

"Sudahlah! Keputusanku telah bulat. Marilah sekarang kita bawa saja dia ke dusun itu, lalu kita tinggalkan dia di sana...!"

Souw Thian Hai berkata pula dengan tidak kalah getirnya.

Mulutnya berkata demikian, tetapi di dalam hati bukan main pedihnya!

"Tidak...!

Aku tidak mau pergi!

Aku akan tinggal bersama-sama dengan Cici Bwee Hong.

Silakan ayah pergi sendiri!

Oohh..."

Tiba-tiba Souw Lian Cu menjerit, lalu menangis kembali dengan sedihnya.

Tentu saja perkembangan yang sangat mendadak itu benar-benar sangat mengagetkan Souw Thian Hai.

Dengan suara khawatir pendekar itu menyentuh lengan anaknya.

"Lian Cu, kau...kau kenapa?"

Dengan cepat Souw Lian Cu menghindar dari sentuhan tangan ayahnya. Matanya masih bercucuran ketika menatap wajah ayahnya.

"Ayah sungguh kejam terhadap Cici Bwee Hong. Dia sangat menderita dan selalu mendambakan kehadiran ayah, tapi ayah sendiri ternyata Iebih mementingkan kehormatan dan harga diri ayah sendiri. Ayah tak mau tahu perasaan dan penderitaan orang lain, padahal Cici Bwee Hong demikian baik dan mulianya. Aku sekarang sudah sadar, betapa kelirunya aku dulu menilai dia..."

Dengan berani dan dengan suara serak Souw Lian Cu berkata kepada ayahnya.

"Lian Cu, kau...? Mengapa kau bersikap demikian? Marilah...! Kita jangan berselisih lagi!"

Souw Thian Hai memandang sedih kepada anaknya.

"Tidak! Ayah boleh pergi! Aku akan ikut Cici Bwee Hong saja..."

"Oh, Tuhan...! Apakah yang harus aku lakukan?"

Souw Thian Hai berbisik dengan hati yang tak keruan rasanya.

Tak heran kalau Souw Thian Hai menjadi sangat bingung dan sedih.

Bertahun-tahun pendekar itu hidup di dalam kesedihan dan penderitaan.

Dengan rela ia menerima semuanya itu demi Souw Lian Cu, puterinya.

Ia tekan semua keinginan dan kepentingan dirinya sendiri, serta ia buang semua angan-angan tentang kebahagiaan yang telah ia rencanakan bersama Chu Bwee Hong, demi anaknya, Souw Lian Cu!

Tapi setelah semuanya itu sudah ia pertaruhkan, kini secara mendadak anak itu berbalik haluan.

Puterinya itu kini justru malah menghendaki ia kembali dengan Chu Bwee Hong.

Padahal, seperti yang telah lama ia dengar, Chu Bwee Hong telah menjadi isteri ketua Bing-kauw sekarang.

Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 18

Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert