Eps 14 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Lalu, apa kata orang nanti, kalau Hong-gi-hiap atau Pendekar Gila Yang Berbudi itu ternyata suka merebut isteri orang?
"Uhhh...Lian Cu!
kau...kau tidak boleh membantah perkataan ayahmu..."
Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara Chu Bwee Hong yang "pingsan"
Itu.
"Ciciii..."
Souw Lian Cu menjerit lirih.
"Hong-moi...kau...?"
Souw Thian Hai berdesah pula dengan kagetnya.
Lalu seperti berlomba ayah dan anak itu bergegas menghampiri Chu Bwee Hong yang telah siuman dari pingsannya itu.
Dengan wajah tegang dan gelisah keduanya duduk berjongkok di dekat Chu Bwee Hong.
Tapi sekejap kemudian Souw Thian Hai bangkit berdiri kembali.
Pendekar sakti itu seperti tak tahan atau merasa ketakutan melihat sepasang mata indah namun penuh air mata itu menatap pilu kepadanya.
Serasa ada semacam tuntutan dalam pandangan tersebut.
Selain dari pada itu Souw Thian Hai sendiri juga hampir tidak bisa menguasai perasaannya pula.
Oleh karena itu dia cepat-cepat berdiri dan menjauhkan diri, dengan maksud agar Chu Bwee Hong atau Souw Lian Cu tidak tahu, betapa gemetar tubuhnya, betapa perih hatinya dan betapa deras darah yang mengalir di dalam jantungnya.
Dan semuanya itu membuat dirinya seolah melayang ke alam yang lain.
"Oh, Tuhan...dia...dia ternyata tidak berubah sama sekaIi! Hatinya masih tetap seperti dulu juga. Aku...tak tahan melihatnya! Oh, Tuhan...betapa berat cobaan yang kau berikan kepada kami!"
Pendekar itu merintih di dalam hatinya.
Tetapi sikap Souw Thian Hai tersebut ternyata diartikan lain oleh Souw Lian Cu.
Di mata Souw Lian Cu, sikap ayahnya itu hanya menunjukkan bahwa ayahnya masih mementingkan kepentingan sendiri saja.
Ayahnya masih saja bertahan pada kehormatan dan harga dirinya yang berlebih-lebihan.
Sama sekali ayahnya tidak menaruh rasa kasihan kepada orang lain, meskipun orang lain itu adalah kekasihnya sendiri.
Dan yang membuat hati Souw Lian Cu semakin penasaran terhadap ayahnya adalah kenyataan bahwa korban dari sikap ayahnya yang sangat menjengkelkan tersebut adalah Chu Bwee Hong, seorang wanita yang dia ketahui sangat mulia dan baik budi perilakunya.
Dengan tajam gadis itu menatap ayahnya.
Mulutnya tidak berkata sepatahpun.
Tapi melihat sikap yang dia perlihatkan, orang akan segera dapat menduga bahwa gadis itu siap untuk melawan perintah ayahnya.
Ternyata sikap Souw Lian Cu itu dilihat pula oleh Chu Bwee Hong.
"Lian Cu...kau tidak boleh memandang ayahmu seperti itu. Apa yang dikatakan ayahmu tadi memang benar sekali. Meskipun kami saling mencinta, dan kukira sampai kapanpun hal itu takkan berubah, tapi keadaan kami sekarang sudah tidak sama lagi dengan dahulu. Ayahmu seorang lelaki sejati, oleh karena itu ia takkan mau mengganggu isteri orang, meskipun orang itu adalah bekas kekasihnya. Begitu pula dengan aku. Biarpun aku tak mencintai suamiku, tapi aku telah bersedia menjadi isterinya. Maka dalam hal ini akupun tak ingin mengkhianati kata-kataku sendiri. Apalagi suamiku itu seorang yang sangat baik dan telah banyak melepas budi kepadaku. Oleh karena itu, apapun yang akan terjadi aku takkan meninggalkan suamiku. Kecuali bila suamiku itu sudah tidak membutuhkan aku lagi..."
Sambil masih bertiduran di atas pasir, Chu Bwee Hong berbicara panjang lebar.
"Cici, kau sungguh mulia sekali. kau tak pernah mau menyalahkan ayahku, dan kau pun juga tak pernah menyalahkan aku pula. kau selalu menerima cobaan dan penderitaan seorang diri..."
Souw Lian Cu menubruk Chu Bwee Hong dan menangis di atas dadanya! "Lian Cu, janganlah menangis...! Pergilah! Ikutilah ayahmu! Tinggalkan saja aku...! Tempatmu adalah di dekat ayahmu."
"Tidak! Aku tidak mau! Lalu bagaimana dengan kau nanti?"
Souw Lian Cu menjerit. Chu Bwee Hong mengusap rambut Souw Lian Cu.
"Tentu saja aku akan kembali ke suamiku Iagi. Bukankah aku mempunyai seorang suami?"
Wanita ayu itu membujuk perlahan.
"Cici, aku ikut denganmu. Aku akan menebus dosa-dosaku dengan mengabdi kepadamu. Aku akan melayani engkau seperti seharusnya aku melayani ibuku yang tak pernah kulihat dan kukenal. Biarlah ayahku pulang sendiri..."
Souw Lian Cu tetap membandel.
"Lian Cu! Ohhh...!"
Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong berdesah kaget.
Kedua orang itu, Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong, sungguh tidak menyangka bahwa Souw Lian Cu akan berkata seperti itu.
Dan perkataan itu diucapkan dengan suara tegas dan kaku oleh gadis tersebut, suatu tanda bahwa kemauan atau keinginannya sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Apalagi bagi Souw Thian Hai, ayahnya, yang sudah sangat mengenal akan sifat dan watak anaknya!
Diam-diam suasana menjadi tegang!
Dan anginpun bertiup pula dengan kuatnya, sehingga menerbangkan pasir-pasir halus itu ke udara.
Untuk sesaat udara di atas pantai tersebut menjadi gelap, dan yang terdengar hanya suara debur ombak yang semakin kuat menghantam pantai.
Tiba-tiba...
"Huah-haha-hahaha...! Kagum...sungguh-sungguh kagum benar aku! Baru sekali ini aku Si Put-ceng-li Lojin dibuat kagum oleh sikap pribadi seseorang! Huahhaha...babi, monyet, keparat...!"
Tiba-tiba deru angin dan debur ombak yang bergemuruh keras itu tertindih oleh suara tertawa Put-ceng-li Lojin yang lantang bagaikan suara genta berkumandang!
Dan sekejap kemudian orang tua itu lalu muncul dari balik sebuah batu karang besar yang hanya berjarak tiga atau empat meter dari tempat mereka berada.
Tentu saja kedatangan Ketua Aliran Bing-kauw yang amat mendadak itu benar-benar sangat mengagetkan mereka bertiga!
"Put-ceng-li Lojin...!"
Souw Thian Hai berdesah dengan suara serak.
"Lojin...!"
Chu Bwee Hong menyebut pula nama suaminya.
Bergegas wanita ayu itu bangkit duduk, kemudian berdiri, seolah-olah mau menjemput atau menyongsong kedatangan suaminya.
Wajahnya yang pucat dan murung tadi dengan cepat dihapusnya.
Ia menatap wajah suaminya dengan senyum yang dipaksakan.
"Bwee Hong..."
Ketua Bing-kauw itu memanggil dan menghampiri isterinya, tapi matanya dengan liar mengawasi Souw Thian Hai dan Souw Lian Cu.
Chu Bwee Hong yang merasa khawatir melihat sinar mata suaminya itu segera melangkah ke depan menyambut kedatangan Put-ceng-li Lojin.
Jari-jarinya yang lentik dan halus itu cepat-cepat menangkap Iengan kakek tua itu.
"Lojin, apakah kau mencari aku?"
Sapanya dengan suara bergetar.
Selama ini, kedua suami-isteri itu memang tidak pernah saling memanggil seperti kebanyakan suami-isteri lainnya.
Sejak mereka kawin Chu Bwee Hong selalu menyebut Lojin terhadap suaminya, sementara Put-ceng-li Lojin juga hanya menyebut nama isterinya begitu saja.
"Benar!"
Put-ceng-li Lojin mengangguk, tetapi matanya tetap tak lepas dari wajah Souw Thian Hai yang pucat itu.
"Bukankah aku tadi sudah meminta ijin kepadamu untuk keluar sebentar? Aku mau menenteramkan hatiku di pantai ini barang sejenak, karena pertemuanku dengan kakakku itu membuatku bersedih. Apakah engkau mencurigai aku?"
Chu Bwee Hong yang semakin merasa gelisah dengan sikap suaminya terhadap Souw Thian Hai itu, berusaha mengalihkan perhatian suaminya tersebut. Put-ceng-li Lojin memandang wajah Chu Bwee Hong.
"Ya...aku curiga kepadamu. Dan kecurigaanku itu ternyata benar. Bukankah kau hendak mengakhiri hidupmu sendiri tadi?"
"Aku...aku..."
Chu Bwee Hong tak bisa menjawab. Kepalanya tertunduk.
"Aku tahu. pertemuanmu dengan kakakmu itu membuatmu sedih, pepat dan bingung. Luka hatimu yang selama ini telah dapat kau atasi, sekarang menjadi terbuka kembali. Dan aku langsung dapat melihatnya. Keadaanmu sekarang tidak jauh bedanya dengan keadaanmu ketika kau kutemukan dahulu. Maka aku lantas menjadi curiga ketika kau meminta ijin tadi. kau lalu kuikuti. Tapi ternyata aku kalah cepat dengan saudara ini. Ehh...hmm!"
Put-ceng-li Lojin menghentikan kata-katanya seraya menoleh kembali ke arah Souw Thian Hai.
Matanya tampak meliar kembali.
Chu Bwee Hong menjadi ketakutan.
Hati yang semula merasa tenang mendengar ucapan suaminya yang panjang lebar itu, suatu hal yang belum pernah ia lihat sebelumnya mendadak kini menjadi gelisah kembali melihat pandang mata suaminya yang liar dan ganas itu.
"Lojin..."
Cegahnya.
"Sebentar! Ehm...jadi inikah pemuda yang selalu kau ceritakan itu?"
Put-ceng-li Lojin tak memperdulikan kekhawatiran serta cegahan isterinya.
Meskipun tangan Chu Bwee Hong selalu bergantung pada lengannya, kakek itu tetap melangkah mendekati Souw Thian Hai.
Souw Lian Cu dengan wajah tegang terpaksa menyingkir.
Setelah berada empat langkah di depan Souw Thian Hai, orang tua itu berhenti.
"Anak muda! Benarkah engkau yang bernama Souw Thian Hai dan bergelar Hong-gi-hiap itu?"
Kakek itu bertanya.
Ternyata Souw Thian Hai juga telah bisa menenangkan kemelut yang melanda hati dan perasaannya tadi.
Dengan tenang pendekar sakti itu menghela napas panjang.
Matanya yang tajam luar biasa itu balas menatap Put-ceng-li Lojin.
"Ya...Siauwte adalah Souw Thian Hai."
Jawabnya perlahan namun tegas.
"Hmm...aku telah melihat dan mendengar semua yang terjadi di sini tadi. Sebenarnya aku sangat kagum sekali kepadamu. kau benar-benar seorang pendekar tulen dan seorang ksatria sejati pula. Tak heran kalau orang persilatan memberi julukan Hong-gihiap kepadamu. Tetapi...meskipun demikian aku tetap merasa kecewa kepadamu!"
Setelah mengatakan apa yang terkandung di dalam hatinya, ketua aliran Bing-kauw itu berdiam diri.
Orang tua itu sengaja memberi tekanan pada kalimatnya yang terakhir, untuk memancing kemarahan Souw Thian Hai.
Orang tua yang sangat suka berkelahi itu bermaksud menjajagi kalau bisa sedikit memberi pelajaran kepada Souw Thian Hai, bila pancingan itu berhasil nanti.
Ternyata selain merasa gatal tangannya karena berjumpa dengan lawan berat, Put-ceng-li Lojin juga ingin membalaskan sakit hati isterinya pula.
Menurut pendapat Put-ceng-li Lojin, sumber dari semua penderitaan Chu Bwee Hong itu adalah akibat tidak bertanggungjawabnya Souw Thian Hai.
Coba pendekar muda itu menepati janjinya, semua peristiwa yang menyedihkan itu tentu tidak akan terjadi.
Tetapi pancingan tersebut ternyata gagal.
Souw Thian Hai yang sejak semula memang telah menyadari kesalahannya itu, ternyata tidak menjadi marah atau tersinggung oleh sindiran Put-ceng-li Lojin tadi.
Sebaliknya dengan menghela napas dalam-dalam pendekar muda itu malah merendahkan dirinya.
"Memang tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku sendiripun kadang-kadang juga merasa kecewa kepada diriku sendiri. Tentang gelar Hong-gi-hiap yang diberikan orang kepadaku itu...hmm, akupun kadang-kadang juga merasa risih pula. Aku merasa bahwa orang-orang itu selama ini juga telah menilai salah terhadapku. Mereka demikian menyanjung dan menghormati aku, padahal kenyataannya aku bukanlah manusia istimewa seperti yang mereka bayangkan itu. Akupun hanya seorang manusia biasa pula, yang bisa juga berbuat salah dan dosa seperti yang lain..."
Hening sejenak.
Put-ceng-li Lojin terdiam.
Ternyata jawaban Souw Thian Hai itu benar-benar sangat mengena di hati Put-ceng-li Lojin.
Kakek sederhana yang juga tidak pernah merasa tinggi ataupun hebat, meski ia seorang ketua aliran yang besar dan ternama itu semakin merasa cocok dan kagum dengan pribadi Souw Thian Hai itu.
Dan di dalam hatinya, kakek itu semakin membenarkan pilihan hati Chu Bwee Hong.
Pemuda itu demikian tampan, gagah, ternama dan baik pula budi pekertinya.
Maka gadis atau wanita mana yang takkan jatuh hati kepada pemuda itu?
Oleh karena itu, tidak dapat dipersalahkan juga kiranya, kalau Chu Bwee Hong sampai rela menanggung derita dan sengsara sedemikian hebatnya demi pemuda itu.
Put-ceng-li Lojin menghela napas.
Mendadak timbul perasaan kasihan di dalam hati orang tua itu kepada sepasang kekasih yang gagal tersebut.
Demikian mendalamnya cinta kasih mereka, dan demikian hebatnya pula cobaan yang mereka terima, namun demikian semuanya itu ternyata tak bisa menggoyahkan iman, kepribadian, maupun kemuliaan hati mereka berdua.
Dengan sangat rela mereka mengesampingkan kepentingan diri mereka sendiri, demi menghormati hak dan kehormatan orang lain.
Keduanya rela berpisah dan menanggung derita di dalam hati masing masing, karena salah seorang diantara mereka ternyata telah menjadi milik orang lain.
Adakah manusia di dunia ini yang mampu berbuat seperti mereka berdua?
Timbul maksud di hati Put-ceng-li Lojin untuk mempersatukan mereka kembali.
"Sejak pertama kali aku menemukan gadis itu, aku telah berjanji di dalam hatiku, bahwa aku akan mengembalikan kegembiraan dan kebahagiaan gadis itu sekuat kemampuanku. Dan untuk mewujudkan janjiku itu aku telah berbuat apa saja, dan demi gadis itu aku telah berani menghadapi ejekan dan caci-maki masyarakat di sekelilingku.Namun demikian selama ini aku tetap tak bisa mengembalikan kegembiraannya. Hmmmm...mengapa pada saat yang amat baik ini aku tak hendak mempersatukan saja mereka?"
Put-ceng-li Lojin berkata di dalam hatinya.
Setelah memperoleh keputusan seperti itu Put-ceng-li Lojin menjadi lapang hatinya.
Kakek itu lalu bersiap-siap untuk melaksanakan keputusannya tersebut.
Meskipun demikian, sebagai seorang jantan dan lelaki sejati, ketua Bing-kauw itu hendak menyelesaikannya dengan cara seorang ksatria pula.
Kakek itu akan menantang Souw Thian Hai untuk berperang tanding, dan yang menang akan mendapatkan Chu Bwee Hong!
Maka kakek itu lalu menatap Souw Thian Hai dengan tajamnya.
"Saudara Souw...! telah kukatakan tadi, bahwa sebenarnya aku amat kagum kepadamu. Tetapi kekagumanku itu ternyata juga bercampur dengan sedikit kekecewaan pula. kau memang seorang ksatria dan pendekar sejati. Hanya saja sebagai seorang lelaki kau terlalu lemah dan kurang bijaksana. kau terlalu tinggi hati dan tidak bertanggung jawab...!"
Put-ceng-li Lojin membuka mulutnya. Dan kali ini ternyata api yang disulutkan oleh Put-ceng-li Lojin telah mengenai sasarannya. Sekilas tampak mata Souw Thian Hai berkilat-kilat dalam kegelapan.
"Apa maksudmu...?"
Pendekar sakti itu menggeram perlahan. Put-ceng-li Lojin tersenyum.
"Bangsat! Belum tahu maksudku? Hehehe...maksudku, sebagai laki-laki engkau berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab. Engkau telah berani memikat hati Chu Bwee Hong, tapi setelah kena kau lantas melarikan diri..."
"Apa...?"
Souw Thian Hai memotong dengan suara gemetar. Tapi Put-ceng-li Lojin tak peduli dan tetap meneruskan perkataannya.
"Nah, apakah perbuatan seperti itu perbuatan yang bijaksana? Hmmh! Dan kini, setelah sekian lamanya kau melarikan diri, serta melihat korbanmu telah ada yang menolong, kau lalu datang kembali. kau pura-pura masih bersedih, padahal di dalam hati kau bergembira bukan main. kau sangat bergembira karena Chu Bwee Hong tidak membunuh diri, tapi malah mendapatkan seorang suami yang bisa melindunginya. Kini kau merasa seolah-olah sudah terbebas dari beban dosa yang berat. Malah untuk menyempurnakan sandiwaramu, kau lalu datang seperti seorang ksatria yang bersedih, tapi tak ingin mengusik kebahagiaan bekas kekasihmu. kau berpura-pura menjadi ksatria sejati yang tak ingin mengusik atau mengganggu isteri orang..."
Wajah Souw Thian Hai yang pucat itu perlahan-lahan berubah menjadi merah padam. Sinar kemarahan tampak semakin menyala dalam bola matanya.
"Omongan seorang gila! Hmm, Put-ceng-li Lojin! kau jangan berbelit-belit! Lekas katakan, apa sebenarnya maksudmu...?"
Souw Thian Hai menggeram marah. Put-ceng-li Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Hohoho...kau ingin tahu maksudku? Baik! Dengarlah! Aku ingin agar kau berbuat sesuatu untuk menghapus rasa kecewa yang mengotori perasaan kagumku kepadamu tadi. Nah, kau sanggup tidak?"
Souw Thian Hai mengerutkan dahinya, tetapi ia tetap bingung dan tak tahu apa yang dimaksudkan oleh ketua Aliran Bing-kauw tersebut.
"Kurang ajar! Sudah kuminta agar kau jangan berbelit-belit, tetapi kau tetap membandel! Apakah kau ingin aku marah?"
Untuk pertama kalinya Souw Lian Cu melihat ayahnya berteriak marah-marah.
"Bodoh! Goblok! Otak udang...!"
Put-ceng-li Lojin memaki-maki, seperti orang yang tak mengenal bahaya pula.
"Mengapa kau tidak dapat juga menafsirkan perkataanku itu? Dengarlah baik-baik! Aku ingin kau menghapus rasa kecewaku itu, agar supaya perasaan kagumku itu menjadi sempurna. Aku ingin agar kau benar-benar menjadi seorang lelaki sejati. Jantan tulen. Sesuai dengan gelar Hong-gi-hiap yang kau terima itu. kau adalah seorang pendekar ternama, karena itu...hilangkan kelemahan hatimu!"
"Menghilangkan kelemahan hatiku? Apa...apa maksudmu?"
"Bangsat! Keparat! kau ini benar-benar tidak tahu atau pura-pura tolol? Apakah kau tidak pernah membaca dan mendengar, bagaimana seorang ksatria mengambil jodohnya?"
Put-ceng-li Lojin berteriak jengkel.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksudkan! Kakek gila, mengapa kau masih tetap berteka-teki juga? Lekaslah kau jelaskan, atau...kita berkelahi saja!"
Souw Thian Hai membentak pula tidak kalah kerasnya.
"Babi kotor! Dengar! Rebutlah Chu Bwee Hong dari tanganku! Nah, sudahkah kau dengar kata-kataku ini? Rebutlah Chu Bwee Hong! Dimanapun juga para ksatria mengambil jodohnya dengan perisai dan pedang!"
Saking jengkelnya Put-ceng-li Lojin berteriak setinggi langit.
"Lojin...!"
Chu Bwee Hong menjerit dan menubruk Put-ceng-li Lojin.
"Kau...mengapa kau berkata begitu? Apakah...apakah aku telah bersalah kepadamu? Mengapa aku hendak kau berikan kepada orang lain? Apakah kau telah tidak mau lagi kuikuti...?"
Chu Bwee Hong menangis di dada kakek tua itu. Tapi Put-ceng-li Lojin cepat membujuknya.
"Bwee Hong, anak yang baik...! kita tak perlu lagi meneruskan semua sandiwara kita ini. Sudah tiba saatnya semuanya itu kita buka sekarang. Di tempat ini. Bukankah kau masih ingat rencanaku dulu?"
"Tapi...Lojin?"
Chu Bwee Hong menengadahkan mukanya dan memandang wajah suaminya dengan air mata bercucuran.
"Anak baik, sudahlah...! kita memang tak pernah menjadi suami-isteri dalam arti yang sesungguhnya. Semuanya itu hanya demi kau saja, anakku...lain tidak! kau masih ingat semua rencana kita dahulu, bukan?"
Chu Bwee Hong mengangguk-angguk dengan air mata yang masih bercucuran pula.
"Bagus! Sandiwara kita ini berakhir karena pemuda yang kau impi-impikan itu telah berada di depan mata kita. Sekarang tinggal caranya saja untuk menyelesaikannya."
"Tapi, Lojin...aku telah...oh! mana dia mau lagi denganku?"
Chu Bwee Hong melirik Souw Thian Hai dan menangis lagi tersedu-sedu, ingat akan keadaannya. Put-ceng-li Lojin menghela napas panjang. Dibelainya rambut Chu Bwee Hong perlahan-lahan.
"Anakku, hal itulah yang akan kuujikan kepadanya. Kalau dia memang lelaki baik dan bijaksana seperti yang selalu kau ceritakan, dia tentu masih akan tetap menerimamu. Apapun yang telah terjadi! Tapi kalau ia menolakmu karena kau dianggapnya telah kotor, maka dia adalah seorang yang picik dan kerdil! Nah, apa gunanya kamu memikirkan pemuda seperti itu?"
"Tapi mengapa kau menyuruh dia merebut aku dari tanganmu? Bukankah dengan demikian suasana akan menjadi bertambah kalut?"
Chu Bwee Hong berkata di antara isak tangisnya.
"Sssst! Diamlah! kau tak perlu khawatir! Percayalah saja kepadaku! Justru inilah jalan yang terbaik bagi kita..."
Put-ceng-li Lojin berbisik.
"Jalan yang terbaik?"
Chu Bwee Hong berdesah tak mengerti.
"Ya! Kalau dia memang masih mengharapkanmu serta mencintaimu, dia tentu menerima tantanganku itu. Sebab tantangan ini merupakan kesempatan bagi seorang jantan untuk memperoleh haknya secara terhormat. Tapi kalau dia memang tidak...mencintaimu lagi, hmm...dia tentu akan mencari berbagai macam alasan untuk menghindarinya! Nah, bukankah ini merupakan jalan yang terbaik untuk menguji hatinya kepadamu? Dan yang kedua, aku ingin mendudukkan dirimu di tempat yang semestinya."
Put-ceng-li Lojin berhenti sebentar untuk mengambil napas, lalu dengan wajah bersungguh-sungguh ia meneruskan lagi keterangannya.
"Kau adalah anak yang baik. Sangat baik sekali malah! Hanya karena nasib saja kau bertemu dengan iblis berkerudung yang sangat keji itu. Tapi lepas dari semua itu, kau benar-benar seorang gadis pilihan. Wajahmu ayu, hatimu bersih, budimu luhur dan mulia. Nah, adakah wanita lain yang seperti engkau ini?"
Sekali lagi Put-ceng-li Lojin menghentikan kata-katanya. Dipandangnya wajah yang berurai air mata itu dengan tersenyum, senyum seorang kakek atau ayah kepada cucu atau anaknya sendiri.
"Nah, oleh karena itu pemuda yang hendak mempersunting dirimu harus berjuang. Berjuang dengan seluruh keringat dan darahnya! kau bukanlah wanita murahan yang dengan mudah diperoleh oleh setiap orang! kau adalah seorang puteri pilihan yang pantas direbut dengan cucuran darah dan nyawa oleh para ksatria...!"
Chu Bwee Hong memandang kakek itu dengan wajah terharu, lalu tanpa terasa lengannya kembali memeluk tubuh bongkok yang baik budi itu.
"Lojin..."
Mulutnya merintih, menyebut nama penolongnya, yang oleh sebagian orang dianggap urakan dan tak mengenal aturan itu.
"Hmm, anak baik, sekarang kau sudah tahu maksudku, bukan?"
Chu Bwee Hong mengangguk.
"Bagus! Sekarang kau minggirlah, biar aku menyelesaikannya...!"
Put-ceng-li Lojin berkata seraya melepaskan pelukan Chu Bwee Hong.
"Tapi...bagaimana dengan kau nanti? Bagaimana kalau kau tak bisa melayaninya? Oh, Lojin...dia...dia lihai sekali!"
Chu Bwee Hong memandang Put-ceng-li Lojin dengan perasaan khawatir.
"Eh, anak bodoh! Bagaimana kau ini? Bukankah itu lebih baik? Bagaimana jadinya...kalau aku yang menang nanti? Malah menjadi repot, bukan?"
Put-ceng-li Lojin berbisik, lalu tertawa. Chu Bwee Hong tersipu-sipu diantara air matanya yang mulai mengering.
"Tapi aku tak ingin kau terluka atau sakit karena pertempuran itu..."
Chu Bwee Hong berbisik pula.
"Bangsat! Aku adalah ketua Aliran Bing-kauw. Masakan begitu mudahnya aku dilukai orang?"
Kakek itu berseloroh.
"Sudah, minggirlah sana...!"
Chu Bwee Hong melirik sekali lagi ke arah Souw Thian Hai yang mukanya merah padam itu, lalu melangkah minggir mendekati Souw Lian Cu.
Dan gadis itupun lalu menyongsong Chu Bwee Hong dengan pelukan haru.
Sementara itu Put-ceng-li Lojin telah berhadapan dengan Souw Thian Hai kembali!
"Nah!
kau tentu sudah mendengar pula barang sedikit percakapanku dengan Chu Bwee Hong tadi, bukan?
Aku dan dia bukanlah suami-isteri dalam arti yang sebenarnya.Meskipun begitu, aku tak hendak menyerahkannya begitu saja kepada orang lain.
Orang itu harus menyabung nyawa terlebih dahulu denganku untuk bisa memilikinya.
Hmmh...bagaimana?
kau terima tantanganku?"
Kakek itu berteriak menggeledek, mengalahkan deru angin yang bertiup di atas pantai tersebut.
Souw Thian Hai tidak segera menjawab.
Wajahnya tampak pucat dan merah berganti-ganti.
Kadang-kadang tampak pula sinar gembira dan kelegaan di matanya mendengar Chu Bwee Hong bukan isteri Put-ceng-li Lojin.
Tapi perkembangan yang sangat mendadak itu masih juga membingungkannya.
"kalian...kalian bukan suami-isteri dalam arti yang sesungguhnya? Tapi...tapi kudengar kalian mempunyai seorang...eh...seorang bayi..."
Akhirnya pendekar itu berkata.
Suaranya gemetar dan matanya beberapa kali memandang ke arah Chu Bwee Hong.
Put-ceng-li Lojin menggeram dengan mata menyala.
Tangan kirinya bertolak pinggang, sedangkan tangan kanannya menuding ke arah Souw Thian Hai.
"Huh! Jadi kau belum tahu tentang anak itu? Bangsat! Dengarlah...! anak itu lahir di dunia ini akibat dari kelalaianmu, kelemahanmu dan keragu-raguanmu! Tahu? Masih ingatkah kau peristiwa di rumahmu, ketika orang berkerudung hitam yang kini terkenal dengan nama Hek-eng-cu itu, membawa Chu Bwee Hong untuk memeras peti pusakamu?"
Kakek itu berteriak marah.
"Ya...ya, aku ingat! Lalu...lalu mengapa aku yang salah?"
Souw Thian Hai memandang Put-ceng-li Lojin dengan penasaran. Sementara itu Chu Bwee Hong mulai menangis lagi. Wanita ayu itu teringat akan penderitaannya kembali.
"Sudah kuduga, kau tentu tidak merasa bahwa kau punya andil juga dalam kemelut ini. Benar-benar lelaki bangsat! Huh! Apakah kau tidak merasa, bahwa karena kelalaianmu dan keragu-raguanmu itu membuat sengsara hati Chu Bwee Hong? Dan karena ulahmu itu pula yang membuat Chu Bwee Hong dengan mudah dijebak oleh iblis Hek-eng-cu itu. Nah, siapa yang salah kalau akhirnya Chu Bwee Hong menjadi korban iblis keparat itu?"
"Ooooh...!"
Chu Bwee Hong menjerit dan menangis terisak-isak kembali di dalam pelukan Souw Lian Cu. Bukan main terkejutnya Souw Thian Hai.
"Apa...???"
Pendekar itu berteriak. Otomatis jari-jari pendekar itu menyambar lengan Put-ceng-li Lojin. Tapi dengan cepat ketua Bing-kauw itu mengelak, lalu dengan cepat pula membalas serangan itu.
"Dhieees...!"
Tubuh Souw Thian Hai terpental dan jatuh terguling-guling di atas pasir.
Pendekar yang sejak semula memang tidak berjaga-jaga karena memang tidak bermaksud untuk menyerang Put-ceng-li Lojin itu, segera bangkit kembali dengan tangkasnya.
Matanya terbelalak memandang Putceng-li Lojin dan Chu Bwee Hong berganti-ganti.
"Jadi? Jadi anak itu adalah hasil kebiadaban Hek-eng-cu? Kurang ajar...! Iblis keji!"
Pendekar sakti itu mengumpat dengan gigi berkerot.
Jari-jarinya mengepal dengan eratnya.
Tampak benar, betapa marahnya pendekar itu kali ini.
Kemarahan yang ditunjang oleh rasa penyesalan yang dalam!
Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin tertawa.
"Hahaha...terlambat sudah! Tak ada gunanya lagi kemarahan dan penyesalan itu sekarang! Apalagi kemarahan dan penyesalan tersebut datangnya dari seorang lelaki pengecut dan tak bertanggung jawab! Semua itu Cuma sandiwara belaka...!"
"Gila! Tutup mulutmu...!!"
Souw Thian Hai menjerit saking marahnya.
Mendadak tangan kanan Souw Thian Hai terayun ke depan, ke arah dada Put-ceng-li Lojin!
Dan...selarik sinar kemerahan tiba-tiba melesat dari telapak tangan itu.
Dengan tergesa-gesa Put-ceng-li Lojin menghindarinya.
"Dhuaaaar...!!!"
Gundukan pasir yang berada di belakang Put-ceng-li Lojin tiba-tiba meledak dengan dahsyatnya!
Debu pasir berhamburan bagai hujan!
Terpaksa semuanya menyingkir dari tempat itu, termasuk juga Souw Lian Cu yang menggandeng tangan Chu Bwee Hong!
Put-ceng-li Lojin mendaratkan kakinya tidak jauh dari tempat tersebut.
Sambil bertolak pinggang, kakek itu menggeleng-gelengkan kepalanya, hatinya kagum sekali.
"Hei! Apakah kau menerima tantanganku tadi? kau bersedia merebut Chu Bwee Hong dari tanganku?"
Dengan enaknya dan tanpa merasa takut sedikitpun melihat pameran kekuatan Souw Thian Hai tadi, Put-ceng-li Lojin berteriak-teriak kembali.
"Jangan membuka mulut saja! Lihat seranganku...!"
Souw Thian Hai menggeram dan kembali menyerang dengan kedua belah tangannya.
Sekali lagi seleret sinar kemerahan meluncur dari telapak tangan Souw Thian Hai, menerangi gundukan pasir yang berada diantara mereka.
Dan sedetik kemudian kilatan sinar merah itu menjilat ke arah dada Put-ceng-li Lojin, bagaikan jilatan api yang menyengat udara sekelilingnya.
"Gila!"
Put-ceng-li Lojin mengumpat seraya melenting ke atas cepat sekali.
Kemudian dari atas kakek itu meluncur ke samping kiri seperti kilat cepatnya.
Sambil meluncur kakek itu menyabetkan lututnya ke kepala Souw Thian Hai.
Begitu cepatnya gerakan kakek itu, sehingga Souw Thian Hai tidak mempunyai kesempatan untuk mengelak lagi.
Tapi senyum yang sudah mulai merekah di bibir ketua Bing-kauw itu cepat menghilang lagi.
Souw Thian Hai itu memang tidak bisa mengelak lagi, tapi secara mendadak pendekar itu memalingkan mukanya, dan tiba-tiba dari mulutnya berembus kabut putih yang menerpa atau menyongsong datangnya lutut itu.
Dan sekejap kemudian hembusan udara dingin terasa menghantam lutut Put-ceng-li Lojin, sehingga tiba-tiba saja kaki ketua Bing-kauw itu terasa kaku dan lututnya membeku!
Maka sambil memaki dan mengumpat tiada habisnya, kakek tersebut berusaha melemparkan kakinya yang tidak bisa digerakkan itu ke atas.
Lalu dengan meminjam daya lemparannya tersebut, Put-ceng-li Lojin melesat pergi menjauhkan diri.
"Monyet! Anjing! Babi...! Hei...ilmu apa ini?"
Ketua Bing-kauw itu berseru dengan kaki terpincang-pincang.
Segores luka tampak menganga di atas lututnya.
Luka seperti sayatan pedang yang tidak ia ketahui dari mana datangnya.
Dan anehnya, untuk beberapa saat luka itu tidak mengeluarkan darah.
Baru setelah kakek itu mengerahkan lweekang untuk menghilangkan kebekuan tersebut, luka itu lalu mengalirkan darah.
Chu Bwee Hong yang berpegangan tangan dengan Souw Lian Cu itu, tampak menatap Put-ceng-li Lojin dengan pandang mata khawatir.
"Ilmu apakah yang telah dikeluarkan ayahmu itu?"
Wanita ayu itu bertanya kepada Souw Lian Cu.
"Kulihat ia tak membawa apa-apa, tapi mengapa bisa melukai orang?"
"Tai-lek Pek-khong-ciang dan Tai-kek Sin-ciang!"
Souw Lian Cu menjawab bangga.
"Ohh...? Tai-lek Pek-khong-ciang dan Tai-kek Sinciang?"
Chu Bwee Hong menegas dengan suara kaget.
"Ya! Kedua buah ilmu itu adalah andalan keluarga Souw, dan ayahku telah mempelajarinya dengan sempurna sekali. Dan yang melukai Put-ceng-li Lojin itu adalah pukulan Tai-lek Pek-khong-ciang, semacam ilmu totokan (tiam-hoat) dari jauh. Hawa pukulan dari tiam-hoat itu dapat melukai sasaran seperti layaknya ujung pedang atau ujung tongkat, tergantung oleh besar kecilnya tenaga sakti yang dipergunakan..."
"Ah, kalau begitu kau juga bisa, Lian Cu...?"
Gadis itu mengangguk.
"Tapi baru permulaan, karena aku lantas pergi dari rumah..."
Katanya menyesal.
"...jadi belum dapat dipakai untuk melukai sasaran dari jarak jauh. Paling-paling hanya untuk menotok atau melumpuhkan orang dari jarak satu tombak saja..."
"Tapi...itupun sudah hebat, dan kau masih bisa belajar lagi nanti."
Chu Bwee Hong membujuk. Tiba-tiba Souw Lian Cu meremas jari-jari tangan Chu Bwee Hong dengan wajah gembira.
"Jadi...jadi Cici bersedia ikut ayahku pulang? Ooooh...ibu, aku senang sekali!"
Souw Lian Cu memeluk wanita ayu itu.
"Eh! Eh...nanti dulu! Siapa bilang aku akan mengikuti ayahmu?"
Souw Lian Cu cepat melepaskan pelukannya. Bibirnya tidak tersenyum lagi. Matanya yang bulat besar itu menatap Chu Bwee Hong lekat-lekat.
"Hei, Lian Cu...ada apa?"
Dengan cepat Chu Bwee Hong memegang lengan gadis itu. Tapi dengan cepat pula Souw Lian Cu mengelak.
"Tidak apa-apa! Kalau begitu, lupakan saja ilmu Tai-lek Pek-khong-ciang itu!"
"Lhoh...mengapa demikian?"
Chu Bwee Hong berseru kaget. Souw Lian Cu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dipandangnya pertempuran seru antara ayahnya melawan Put-ceng-li Lojin itu.
"Aku juga tak mau ikut dengan ayah!"
Gadis itu berkata kaku.
"Ahhh...Lian Cu!"
Chu Bwee Hong berdesah, lalu memeluk gadis itu dari belakang.
Matanya berkaca-kaca kembali.
Sementara itu pertempuran antara Souw Thian Hai dengan Put-ceng-li Lojin berlangsung semakin dahsyat!
Kini, setelah menyadari betapa tingginya ilmu kepandaian lawannya, Put-ceng-li Lojin tak mau berlaku sembrono lagi.
Ketua Bing-kauw itu benar-benar mengerahkan seluruh kepandaiannya, agar supaya tidak terjebak dalam perangkap ilmu Souw Thian Hai yang menggiriskan hati itu.
Kilatan-kilatan sinar berwarna merah dan putih, yang keluar dari telapak tangan Souw Thian Hai itu semakin sering menyambar tubuh Put-ceng-li Lojin, sehingga udara di sekitar merekapun menjadi berubah-ubah pula karena terpengaruh oleh ilmu yang mendebarkan hati tersebut.
Bila sinar merah yang meluncur, maka udara di sekitar tubuh ketua Bing-kauw itupun lantas bagaikan dibakar oleh lidah api yang bersumber dari tangan Souw Thian Hai.
Sebaliknya kalau yang berpijar dari tapak tangan itu berwarna putih terang, maka Put-ceng-li Lojin seolah-olah telah dicampakkan pula ke dalam lautan es yang dingin bukan kepalang!
Dan dilihat sepintas lalu, pertempuran itu tampaknya memang dirasakan terlalu berat bagi Put-ceng-li Lojin.
Meskipun dengan Cap-sha-cui-min (Tiga belas Pintu Masuk), yaitu bagian pertama dari Chu-mo-ciang, ketua Bing-kauw itu selalu dapat mengelak dan menghindar, tapi perubahan hawa yang setiap detik selalu berganti itu sungguh sangat melelahkan kekuatan tubuhnya yang telah tua tersebut.
Sebab untuk menyesuaikan diri atau bertahan terhadap perubahan-perubahan hawa itu Put-ceng-li Lojin terpaksa harus mengerahkan seluruh kekuatan lweekangnya.
Maka akibatnya, orang tua itu lalu cepat sekali menjadi lelah, sehingga otomatis tidak bisa mengembangkan daya perlawanannya.
Jangankan untuk menyerang lawan dengan Koai-jin-kun (Seribu Gerakan Aneh)-nya yang konyol dan mengerikan itu, kini untuk tetap bisa bertahan memainkan Cap-sha-cui-min saja ia semakin merasa kesulitan pula.
"Bangsat! Keparat! Setan busuk bau kotoran...! Aduuh! Baru sekali ini aku dibuat jatuh bangun oleh...anjing, monyet...! Oh, babi kau!"
Ketua Bing-kauw yang gemar mengumpat-umpat itu berteriak-teriak.
Tapi Souw Thian Hai tidak mempedulikan cacian dan umpatan orang tua itu.
Semakin lama pendekar itu semakin menambah kekuatan ilmunya, sehingga arena pertempuran itu semakin tercekam pula oleh kedahsyatan ilmu tersebut.
Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu terpaksa menyingkir semakin jauh pula dari arena pertempuran itu.
Percikan atau taburan pasir yang telah menjadi panas atau dingin itu benar-benar dapat membahayakan kulit mereka.
"Lian Cu, kelihatannya Put-ceng-li Lojin sedang berada di dalam keadaan yang sulit sekarang..."
Chu Bwee Hong berkata dengan nada khawatir. Souw Lian Cu menghela napas, tapi tak menjawab.
"Lian Cu, mengapa kau diam saja?"
Chu Bwee Hong bertanya.
"Apa yang mesti kukatakan lagi? Siapapun yang menang diantara mereka tiada bedanya bagiku. Paling-paling hanya kesedihan saja yang kuperoleh..."
Souw Lian Cu menjawab datar tanpa perasaan.
"Ah, mengapa demikian...?"
"Habis, Cici tidak mau kawin dengan ayahku! Lalu, apa gunanya mereka itu bertanding?"
Chu Bwee Hong tersenyum pahit, lalu dengan penuh kasih sayang dibelainya gadis itu perlahan.
"Lian Cu...kau jangan berkata begitu!"
Bisiknya lembut.
"Ohh, Cici...!"
Souw Lian Cu menjerit kecil, lalu menyembunyikan mukanya di dada Chu Bwee Hong.
"Cici, mengapa kau tak mau menjadi isteri ayahku?"
"Ahh...bocah manja! kau ini ada-ada saja. Sebenarnya akulah yang harus bertanya kepadamu. Adakah ayahmu itu masih mau mengawini seorang wanita kotor seperti aku ini?"
Chu Bwee Hong balik bertanya.
"Apa? Siapa yang berani mengatakan Cici seorang wanita kotor? Huh! Aku tidak terima. Akan kutantang orang itu! Dan...apabila ayahku yang mengatakannya...hmmh, aku tidak akan menganggapnya sebagai ayah lagi!"
Souw Lian Cu melepaskan diri dari pelukan Chu Bwee Hong dan berseru marah.
"Hei...kau jangan berkata seperti itu. Itu berdosa..."
Dengan halus Chu Bwee Hong menarik lengan gadis itu kembali.
"Tapi ayahpun juga berdosa pula jika mengatakan seperti itu!"
"Aaa...sudahlah! Mengapa mesti marah-marah terus begitu?"
"Tapi bagaimana dengan Cici? Mau tidak dengan ayahku?"
Souw Lian Cu masih terus mendesak dengan penasaran.
Chu Bwee Hong memalingkan mukanya seraya menghela napas dalam-dalam.
Berat juga rasanya bagi wanita ayu itu untuk mengatakan apa yang tersembunyi di dalam hatinya, meskipun hanya kepada Souw Lian Cu yang telah dianggapnya sebagai anaknya pula.
"Bagaimana, Cici?"
Souw Lian Cu yang masih tetap penasaran itu mendesak lagi. Chu Bwee Hong menatap Souw Lian Cu kembali.
"Baiklah! Semuanya terserah kepada ayahmu..."
Akhirnya wanita ayu itu mengalah.
"Horeee...!"
Seperti anak kecil Souw Lian Cu menghambur ke dalam pelukan Chu Bwee Hong.
"Lian Cu, lihatlah! kau jangan buru-buru bergembira dulu! Sekarang ayahmu yang dalam kesulitan!"
Chu Bwee Hong tiba-tiba menunjuk ke arah pertempuran.
"Ohhh!"
"Hei! Put-ceng-li Lojin memainkan ilmu Bidadari Bersedih..."
Chu Bwee Hong berteriak lagi.
Ternyata keadaan di dalam pertempuran itu memang telah berubah.
Souw Thian Hai yang semula mendesak Put-ceng-li Lojin dengan pukulan-pukulan merah-putihnya, kini tampak mundur terus menghadapi ilmu silat Put-ceng-li Lojin!
Ternyata ketua Aliran Bing-kauw itu kini mengubah cara bersilatnya.
Kalau tadi kakek itu bergerak dengan cepat, kasar dan aneh, sekarang kakek itu bergerak dengan halus dan lemah lembut bagaikan seorang bidadari menari.
Tentu saja gerakannya itu membuat dirinya menjadi lucu dan menggelikan.
Meskipun demikian jurus-jurus yang ia keluarkan ternyata sangat mengejutkan Souw Thian Hai!
Bagaikan seorang bidadari yang benar-benar lagi bersedih, Put-ceng-li Lojin membuat gerakan-gerakan yang mencerminkan kesedihan dan kepiluan hatinya.
Demikian sempurnanya kakek itu menghayati ilmu itu sehingga dari mulut dan hidungnyapun kadang-kadang terdengar suara isak dan sedu-sedan perlahan.
Malahan seringkali secara tak terduga kakek tersebut menangis menjerit-jerit.
Pada suatu saat Put-ceng-li Lojin menyerang Souw Thian Hai dengan jurusnya Mengusap Air Mata Membanting Cermin.
Tapi tak terduga Souw Thian Hai yang telah terpaksa itu justru menyongsong serangan itu dengan pukulan gandanya.
Maka gerakan membanting cermin itu menjadi urung dilakukan, dan sebaliknya seperti seorang bidadari yang sungguh-sungguh sedang bersedih, Put-ceng-li Lojin membuat gerakan seorang wanita yang sedang berputus-asa.
Dengan gerakan yang tak terduga pula kakek itu menubruk ke arah pukulan Souw Thian Hai malah!
Tentu saja Souw Thian Hai menjadi kaget, bingung dan sekaligus bercuriga pula!
Jangan-jangan semua itu Cuma gertakan atau jebakan untuknya.
Oleh karena itu secara tidak sadar Souw Thian Hai lalu menahan pukulannya.
Tapi waktu yang hanya sedetik itu ternyata benar-benar dimanfaatkan oleh Put-ceng-li Lojin, atau memang inilah keistimewaan Ilmu Silat Bidadari Bersedih itu.
Secara tak terduga dan dalam tempo yang sangat mendadak, tiba-tiba kakek yang hendak bunuh diri itu menggeliatkan badannya, tahu-tahu pergelangan tangan Souw Thian Hai telah dipegangnya.
Dan sebelum Souw Thian Hai menyadari keadaannya, tahu-tahu tubuhnya yang tinggi besar itu telah jatuh berdebam di atas pasir.
Cepat pendekar sakti itu mengerahkan lweekang ke lengannya, berjaga-jaga untuk menangkis serangan berikutnya.
Tapi lagi-lagi pendekar itu terkecoh.
Lawannya yang seharusnya memanfaatkan keadaannya yang sulit, karena tak punya kesempatan untuk mengelak itu justru membalikkan tubuh dan bersiap untuk pergi malah!
Sekali lagi Souw Thian Hai menjadi bingung.
Sedetik ia ternganga.
Tapi waktu yang sedetik itu lagi-lagi dimanfaatkan oleh Put-ceng-li Lojin dengan telak!
Secara tak terduga ketua Bing-kauw itu menjatuhkan diri dan tumitnya mengait ke belakang!
"Bressss!"
Souw Thian Hai terlempar ke belakang dengan lengan kanan lumpuh! "Gila! Ilmu apa ini...?"
Pendekar itu berdesah menahan sakit. Put-ceng-li Lojin tertawa.
"Nah, kedua lenganmu yang berbahaya itu telah lumpuh salah satu, hahaha...! Ketahuilah! Ilmu ini adalah Ilmu Silat Bidadari Bersedih! Dan...jurus yang baru kulakukan itu adalah jurus Selir Kui Hui Bermain Sandiwara. Bagus tidak...?"
Kakek itu berkata genit seperti wanita. Sementara itu dengan hati berdebar-debar Souw Lian Cu mencengkeram pergelangan tangan Chu Bwee Hong.
"Cici, aku takut kalau ayahku kalah...semuanya bisa hancur nanti! Ahh, ternyata aku telah salah menduga orang. Ketua Bing-kauw itu ternyata lihai sekali."
"Aaaah...!"
Chu Bwee Hong berdesah puIa tak kaIah tegangnya.
Karena sama-sama gelisah dan tegangnya, maka kedua perempuan itu saling beremas tangan tanpa terasa.
Sekali lagi terdengar Put-ceng-li Lojin tertawa gembira.
Kakek yang suka sekali berkelahi itu seperti mendapatkan hiburan dan kegembiraan dari pertempurannya tersebut.
Suatu kenyataan, dimana dari kalah lalu menang itu benar benar sangat memuaskannya.
Rasa-rasanya kalau nanti menjadi kalah lagipun ia takkan merasa kecewa.
"Ayoh...Souw Thian Hai! Kerahkan semua kepandaianmu! Kalahkan ketua Bing-kauw ini! Rebutlah calon isterimu ini dari tanganku, hehehe...!"
"Hmmh!"
Souw Thian Hai menggeram. Tangan kirinya sibuk membersihkan pasir yang melekat pada bajunya, sementara tangan kanannya tergantung lumpuh di sisi badannya.
"Hmm, kau jangan buru-buru bergirang hati dahulu! Meskipun untuk sementara tangan kananku lumpuh, tapi itu tidak berarti aku akan kalah denganmu. Lihatlah...!"
Pendekar itu membentak.
Beberapa saat kemudian mata Put-ceng-li Lojin terbelalak.
Dengan sangat heran kakek itu melihat lawannya mulai bersilat hanya dengan separuh badan saja.
Dengan sangat gesit dan lincah Souw Thian Hai menggerakkan tubuh bagian kirinya seperti orang kidal saja.
Tangan kanan dan kaki kanannya ia biarkan saja terayun kesana kemari mengikuti gerakannya.
Dan pendekar sakti itu sedikitpun tidak merasa terganggu oleh kaki tangan itu.
Dan Put-ceng-li Lojin buru-buru meloncat mundur ketika secara tiba-tiba tangan Souw Thian Hai tersebut menyambar ke arah mukanya.
Dan hembusan udara panas terasa menyengat kulit, sehingga kakek itu merasa seperti ada bau rambutnya yang terbakar.
"Bangsat! kau memang hebat! Tapi, bagaimanapun juga kau takkan menang melawan aku. Sebab dengan anggauta badan lengkap saja kau tak mampu, apalagi sekarang kau hanya melawan dengan separuh badan. Oh-ho-ho...sungguh malang benar nasibmu!"
Ketua Bing-kauw itu mengejek.
Tapi Souw Thian Hai tak mengacuhkannya.
Pendekar itu justru bergerak semakin lincah dan cepat.
Kaki kirinya bergerak, bergeser dan berloncatan dengan tangkasnya, seolah-olah sejak lahir pendekar itu memang hanya berkaki satu.
Sedangkan tangan kirinya tampak berkelebatan pula tak kalah gesitnya.
Menotok, memukul, menabas dan mencengkeram ke tempat-tempat yang berbahaya dengan ganasnya.
Sementara dari dalam tangan itu keluar hawa panas dan dingin silih berganti.
"Demit! Setan! Iblissss...!"
Put-ceng-li Lojin mengumpat tiada habisnya, begitu mendapat kenyataan bahwa lawannya tidak bertambah lemah, tapi justru menjadi berlipat ganda kekuatannya.
Tampaknya, dengan hanya mempergunakan separuh badan, pendekar sakti itu malah bisa memusatkan seluruh kemampuannya ke satu arah saja, sehingga kekuatan yang dia hasilkan juga bertambah besar pula.
Oleh karena itu pertempuran merekapun tidak menjadi susut, tapi 'semakin berkembang menjadi dahsyat malah!
Souw Thian Hai dengan ilmu silat separuh badannya justru semakin bertambah hebat dan mendebarkan hati, sementara lawannya, dengan Ilmu Silat Bidadari Bersedihnya ternyata juga mampu mengecoh dan membingungkan Souw Thian Hai pula.
Sehingga alhasil untuk sementara waktu belum dapat dipastikan, siapa yang kalah atau menang nantinya.
Apalagi setelah mempunyai kesempatan, ketua aliran Bing-kauw itu dapat pula menyisipkan Koai-jing-kun dalam setiap serangannya.
Sementara itu, di tepi muara Sungai Huang-ho, Chin Yang Kun telah dapat mendarat pula dengan selamat.
Meskipun tempat pendaratannya jauh lebih ke hilir dari tempat pendaratan Souw Thian Hai tadi.
Dengan pakaian basah kuyup pemuda itu mencari jalan menuju ke dusun tempat bermukim para perajurit itu.
Tapi ketika sampai di rimba batu raksasa itu, tiba-tiba Chin Yang Kun mendengar suara Souw Thian Hai memanggil puterinya.
Suara itu keras sekali dan datang dari arah pantai!
Chin Yang Kun membalikkan badannya lalu dengan tergesa-gesa berlari ke arah suara itu.
Tapi ketika tiba di dataran pasir luas itu, tiba-tiba Chin Yang Kun melihat berkelebatnya beberapa sosok bayangan, melintas di tempat terbuka itu pula.
Di dalam kegelapan, beberapa sosok bayangan itu tampak menyelinap di antara batu-batu karang hitam, untuk kemudian tak kelihatan Iagi.
"Eh...siapakah mereka itu tadi? Ilmu meringankan tubuh mereka rata-rata sangat tinggi. Mereka tentu bukan tokoh-tokoh sembarangan."
Karena belum mengetahui siapa mereka itu, maka Chin Yang Kun juga tak ingin diketahui pula oleh mereka.
Dengan jalan mengendap-endap pemuda itu merangkak di antara batu-batu karang yang bertonjolan di atas hamparan pasir hitam tersebut.
Di antara gemuruhnya angin dan deburan ombak, pemuda itu mendengar suara orang bercakap-cakap di tepi pantai.
"Suara siapakah itu? Mungkinkah suara itu suara Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Tapi dengan siapa ia bercakap-cakap? Apakah dengan salah seorang dari bayangan yang kulihat tadi?"
Tiba-tiba suara percakapan itu berhenti. Tapi sekejap kemudian terdengar suara yang lain. Suara pertempuran.
"Suara pertempuran? Siapa...?"
Chin Yang Kun terkejut.
Sambil menundukkan tubuhnya, Chin Yang Kun berlari diantara batu-batu karang itu.
Pemuda itu sengaja mengambil jalan memutar yang lebih aman, dari pada lewat di atas hamparan pasir yang terbuka itu.
Makin dekat ke bibir laut, suara itu semakin jelas dan keras.
Malahan sayup-sayup telah terdengar suara makian dan umpatan pula.
"Ah, rasa-rasanya aku pernah mendengar suara seperti itu..."
Chin Yang Kun berdesah dan berlari semakin tak sabar.
Karena tegangnya pemuda itu melompat begitu saja ketika di depannya menghalang sebuah batu karang besar.
Tapi pemuda itu terkejut bukan kepalang ketika kakinya hampir saja menginjak sesosok tubuh manusia yang sedang bersembunyi di balik batu karang tersebut.
Dan pemuda itu semakin menjadi kelabakan tatkala orang yang mau diinjaknya itu menyerangnya!
Sebilah pisau pendek tampak berkelebat ke arah perutnya.
"Heit...!"
Terdengar suara nyaring seorang wanita.
Chin Yang Kun menarik kakinya, kemudian memutar badannya ke samping, setelah itu baru menjatuhkan tubuhnya ke pasir.
Tapi dengan meminjam daya tolaknya, tubuh pemuda itu dapat melenting ke atas kembali.
Lalu dengan manis, kakinya hinggap di atas batu karang besar tersebut.
"Bagus!"
Wanita itu berseru kagum dan siap untuk menyerang lagi.
"Hah? kau lagi...!"
Chin Yang Kun yang lolos dari maut itu berseru perlahan begitu mengenali orang yang baru saja menyerangnya itu.
"Huh, kau juga!"
Wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Siau Put-sia atau Put-sia Niocu itu cemberut.
Dan keduanya tak jadi meneruskan perkelahian mereka.
Chin Yang Kun melompat turun sambil menghela napas lega.
Matanya yang tajam luar biasa itu menatap wajah Siau Put-sia yang cantik bagaikan bulan purnama itu.
Wajah yang cantik itu tampak kemerah-merahan karena marah.
"Hmm...kau ini suka benar main sembunyi-sembunyian. Apa yang hendak kau lakukan di tempat ini?"
Chin Yang Kun bertanya dengan bibir tersenyum, ingat akan pertemuannya dengan gadis itu di Kuil Delapan Dewa dulu.
Tapi mulut yang indah itu semakin cemberut.
Matanya yang lebar tampak berkilat-kilat di dalam kegelapan.
"Aku bersembunyi di sini atau di mana saja, apa pedulimu? kau pun juga ada di sini, lalu apa pula yang hendak kau kerjakan? Mau mengintip aku? kau kira malam-malam begini aku mau mandi di Iaut, ya...?"
Siau Put-sia menjawab dengan kata-katanya yang pedas. Kulit muka Chin Yang Kun merah seketika! Lidahnyapun menjadi kaku pula dengan mendadak. Kata-kata gadis itu memang keterlaluan sekali.
"Kurang ajar, lidahmu tajam benar! Tak seharusnya kata-kata atau ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang gadis sopan..."
Chin Yang Kun yang merasa tersinggung itu menggeram.
Tapi melihat lawannya menjadi marah, gadis itu justru tertawa sekarang.
Dan ketika tertawa gadis itu sama sekali tak berusaha untuk menutup mulutnya.
Mulutnya terbuka lepas, sehingga suaranyapun sampai terdengar nyaring dan keras.
"Hihihi-haha...gadis sopan? Apa itu? Hihi-haha...! kau tahu siapa aku ini? Namaku Put-sia Niocu, yang artinya adalah Gadis Yang Tak Tahu Adat! Dan guruku adalah Put-ceng-li Lojin atau Orang Tua Yang Tahu Aturan! Nah...apa artinya sebutan gadis sopan itu bagiku?"
Chin Yang Kun terdiam, mulutnya meringis.
Pemuda itu menjadi salah tingkah.
Tersenyum salah, tidak tersenyumpun juga salah.
Menghadapi Siau Put-sia ternyata Chin Yang Kun selalu dibuat tak berdaya.
Oleh karena itu Chin Yang Kun lalu beranjak dari tempatnya dan tak mau berdebat lagi.Tapi dengan cepat Siau Put-sia melompat menghalanghalanginya.
Sambil bertolak pinggang gadis itu menudingkan jari telunjuknya.
"Hei! Enak saja mau pergi setelah tiba-tiba mau membunuh orang..."
Gadis itu membentak.
"Mau membunuh orang? Siapa yang mau membunuh orang? Kurang ajar! kau jangan bicara sembarangan!"
Chin Yang Kun berseru marah.
"Huh...kau lah yang bicara sembarangan! Lelaki macam apa itu? Berani berbuat tidak berani bertanggung jawab! Coba, siapakah yang mau menginjak punggungku tadi? Ayo jawab!"
"Ya, benar...memang aku! Tapi...bukankah aku tidak sengaja?"
"Sengaja atau tidak sengaja...mana aku tahu? Yang terang, kalau kakimu tadi benar benar menginjak punggungku, bukankah tulang punggungku bisa patah? Nah, kalau tulang itu patah, masakan aku bisa hidup lagi? Bukankah dengan demikian sama saja engkau membunuh aku?"
"Tapi...ah, sudahlah! Aku tak mau berdebat lagi denganmu! Membuang-buang waktu saja. Aku akan pergi sekarang..."
Chin Yang Kun menggeram lalu membalikkan tubuhnya, terus melompat pergi. Pemuda itu sengaja mengerahkan ginkangnya, sehingga sekejap kemudian tubuhnya telah lenyap ditelan oleh kegelapan malam.
"Huh! Awas kau...! Akan kucincang sampai lumat kalau kuketemukan nanti!"
Siau Put-sia yang telah kehilangan jejak Chin Yang Kun itu mengancam.
Lega hati Chin Yang Kun setelah dapat melepaskan diri dari libatan gadis liar itu.
Dengan sangat hati-hati pemuda itu lalu meneruskan langkahnya.
Suara pertempuran itu semakin jelas terdengar ke telinganya.
Dan suara-suara ucapan itu juga semakin jelas nada dan kata-katanya.
"Ahh...suara Put-ceng-li Lojin?"
Pemuda itu bergumam di dalam hatinya.
Benarlah.
Begitu tiba di tepi laut, Chin Yang Kun melihat ketua Bing-kauw itu sedang bertempur dengan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai.
Dan tidak jauh dari arena pertempuran itu, tampak dua orang wanita sambil berpelukan, menonton dengan wajah tegang dan gelisah.
Chin Yang Kun cepat bersembunyi di balik batu karang lagi.
Hatinya berdebar.
Salah seorang dari wanita itu adalah Souw Lian Cu, gadis yang selama ini selalu menggoda dan menggelisahkan hatinya.
"Oh...jadi ayah dan anak itu telah saling bertemu. Tapi...siapakah wanita di samping Souw Lian Cu itu? Dan...kenapa Souw-Taihiap sampai bertempur dengan Put-ceng-li Lojin?"
Pemuda itu membatin. Otak Chin Yang Kun cepat berputar. Pemuda itu segera menghubung-hubungkan semua hal yang pernah didengarnya selama ini. Tiba-tiba pemuda itu ikut menjadi tegang pula.
"Hei! Wanita yang berada di samping Souw Lian Cu itu tentu adik Chu-Twako yang menjadi isteri Put-ceng-li Lojin itu! Ah...benar. Kalau begitu, aku tahu sekarang, kenapa ketua Bing-kauw itu bertempur dengan Souw-Taihiap."
Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya.
Karena merasa terlalu jauh dan kurang jelas, maka pemuda itu lalu berusaha mencari tempat yang lebih dekat lagi.
Dengan sangat hati-hati ia merangkak dan merayap kedepan, menuju ke sebuah tumpukan batu-batu karang besar, tidak jauh dari arena pertempuran.
Tapi kedatangan Chin Yang Kun di sana segera disambut oleh sesosok bayangan lain, yang ternyata telah lebih dahulu berada di tempat tersebut.
Mula-mula pemuda itu menyangka bahwa orang itu adalah Put-sia Niocu, karena bayangan itu juga bertubuh kecil langsing seperti layaknya seorang perempuan pula.
Tapi setelah orang itu berbalik dan menyerang dengan pedang panjangnya, maka Chin Yang Kun segera melihat perbedaannya.
Wanita ini agak lebih tinggi, lebih masak dan lebih dewasa bentuk tubuhnya.
Ditambah lagi gerak-gerik dan cara bersilatnyapun ternyata juga berbeda sekali.
Pedang panjang itu meliuk dari bawah ke atas, menuju ke arah ulu hati Chin Yang Kun, dengan cepat sekali dan seolah-olah tidak mengeluarkan suara atau angin sama sekali.
Tahutahu ujung pedang panjang itu sudah tinggal sejengkal saja lagi dari dada Chin Yang Kun.
Sedetik lamanya pemuda itu terhenyak di tempatnya.
Lagi lagi seorang yang berkepandaian tinggi telah menyerangnya!
Dan...Iagi-Iagi ia tak mempunyai kesempatan untuk mengelakkannya.
Rasa-rasanya semua kegesitan dan kelincahan geraknya selama ini selalu terasa lamban bila berhadapan dengan jago silat kelas satu.
Untunglah Iweekangnya sangat tinggi, sehingga setiap kali dipaksa untuk adu tenaga, ia selalu menang.
"Ah, benar juga ucapan Put-pai siu Hong-jin itu. Aku ini diumpamakan seekor naga yang kuat dan bertenaga besar, tapi sangat lamban gerakannya..."
Chin Yang Kun berkata seraya menabas ujung pedang itu dengan sisi tangannya.
Sebenarnya tangkisan seperti itu sangat berbahaya bagi Chin Yang Kun.
Jika tenaga dalam yang ia salurkan ke tangannya itu tidak jauh lebih besar dari tenaga dalam lawannya, maka pedang itu dengan mudah akan melukai atau bahkan bisa memotong tangannya sendiri malah.
Tapi memang cuma itulah satu-satunya jalan yang dapat dilakukan oleh Chin Yang Kun.
Selain sudah tidak bisa mengelak lagi, pemuda itu juga tidak membawa senjata pula!
Maka sebuah benturan yang hebatpun tak bisa dielakkan lagi, yaitu antara sisi tangan Chin Yang Kun melawan ujung pedang lawannya!
Untunglah, sisi tangan itu dengan tepat menghantam badan pedang, tidak pada sisi tajamnya!
"Taaaaas!"
Ujung pedang itu berdencing patah dan terlempar jauh entah kemana.
Meski begitu Chin Yang Kun tidak seratus persen lolos dari serangan tersebut.
Ujung pedang yang telah patah itu ternyata masih juga menggores ke arah pundaknya!
"Aaah...!"
Chin Yang Kun terpekik.
"Ahhh...!"
Wanita itu terpekik pula melihat ujung pedangnya yang patah. Keduanya lalu berdiri berhadapan dan...
"Oh...Nona Ho Pek Lian!"
Chin Yang Kun berseru perlahan.
"...Saudara Yang Kun...!"
Ho Pek Lian menjerit kecil pula.
Mereka lalu terdiam seperti orang-orang yang kehilangan akal.
Tapi serentak terdengar suara umpatan Put-ceng-li Lojin, keduanya lalu menjadi sadar kembali bahwa mereka sekarang sedang mengintip pertempuran antara Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan Put-ceng-li Lojin!
"Eit...tampak pertempuran mereka telah sampai pada saat-saat penentuan!"
Ho Pek Lian berseru, kemudian membalikkan tubuh dan kembali ke tempatnya semula.
Otomatis Chin Yang Kun turut mengintai juga di samping gadis itu.
Sekarang dengan jelas pemuda itu dapat melihat pertempuran dahsyat itu.
Sungguh sebuah pertempuran yang sangat luar biasa dan belum pernah disaksikan sebelumnya oleh pemuda itu.
"Sudah lama mereka berkelahi?"
Chin Yang Kun membuka percakapan. Ho Pek Lian mengangguk.
"Sudah..."
Jawabnya perlahan.
"Bukan main! Kepandaian mereka benar-benar hebat sekali...!"
Chin Yang Kun berdesah kagum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ho Pek Lian menoleh.
"Saudara Yang, kau pun hebat sekali! Tadi hampir saja aku tak percaya bahwa kau dapat mematahkan ujung pedangku hanya dengan sisi tanganmu saja..."
"Ah...itu cuma kebetulan saja!"
Chin Yang Kun berkata dengan malu-malu.
"Tidak! Itu tadi bukan kebetulan! kau tadi memang tak punya pilihan lain selain menepiskan pedangku. kau sudah tak ada kesempatan untuk mengelak lagi..."
"Wah...!"
"Eh, saudara Yang...Kudengar kau membawa Hongsiang pagi tadi. Terima kasih. Untunglah ada kau, kalau tidak, wah...kita bisa kehilangan Hongsiang kemarin malam,"
Ho Pek Lian tiba-tiba berkata sambil menjura kepada Chin Yang Kun.
"Ah...jangan terlalu dibesar-besarkan! Aku malah menjadi malu. Bukankah aku dulu juga pernah ditolong oleh Liu...eh, Kaisar Han?"
Chin Yang Kun cepat-cepat memotong sambil menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
"Tapi..."
Tapi percakapan kedua orang itu terhenti dengan mendadak, tatkala dari arena pertempuran terdengar suara jeritan Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Otomatis mata Ho Pek Lian dan Chin Yang Kun memandang ke arah pertempuran.
Dan keduanya segera terbelalak.
Tampak jelas oleh kedua orang itu, tubuh Souw Thian Hai dan Put-ceng-li Lojin tergeletak di atas pasir.
Dan masing-masing dengan segera telah ditolong dan dirubung oleh orang banyak, yang secara mendadak telah memenuhi tempat itu!
"Eh...bagaimana ini?
Apa yang telah terjadi?"
Ho Pek Lian berseru kaget, lalu meloncat keluar pula dari persembunyiannya.
Chin Yang Kun cepat keluar pula.
Pemuda itu masih tampak bingung melihat demikian banyaknya orang yang tiba-tiba muncul di tempat itu.
Dan pemuda itu semakin merasa heran melihat beberapa orang diantaranya ternyata adalah orang orang yang telah dikenalnya dengan baik.
Orang-orang itu antara lain adalah Hong-lui-kun Yap Kiong Lee, Yap Tai-Ciangkun, Chu Seng Kun, Kwa Siok Eng dan Put-sia Niocu.
Sedangkan beberapa orang lainnya, seperti seorang tua berjenggot putih dan berambut putih, serta dua orang lelaki yang sedang menolong Put ceng li Lojin belum dikenalnya sama sekali.
Sementara itu Souw Thian Hai yang tergeletak di atas pasir itu telah ditolong oleh Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Pendekar sakti itu tampak pucat sekali, meskipun demikian ia telah dapat bangkit dan duduk di atas pasir.
Beberapa kali jari telunjuknya menotok di sana-sini untuk mengobati luka dalamnya, sementara Chu Bwee Hong yang lebih pandai dalam hal pengobatan itu malah cuma terlongong-longong saja saking bingungnya.
Di pihak lain, Put-ceng-li Lojin juga telah ditolong oleh murid-muridnya, yaitu Put swi-kui, Put-ming-mo dan Put-sia Niocu.
Malah sebentar kemudian orang tua berambut dan berjenggot putih itupun ikut juga berjongkok di samping tubuh Put-ceng-li Lojin.
Tangannya dengan cekatan ikut pula mengurut dan menotok dada ketua Bing-kauw itu.
Apakah yang telah terjadi sebenarnya?
Bagaimana halnya sampai mereka berdua dapat terluka dalam bersama-sama?
Souw Thian Hai dan Put-ceng-li Lojin adalah dua orang tokoh persilatan yang sangat terkenal dan berkepandaian tinggi.
Put-ceng-li Lojin adalah ketua sebuah aliran kepercayaan yang besar dan ternama, sementara Souw Thian Hai yang masih muda itu juga bukan tokoh baru di dalam dunia persilatan.
Pendekar muda itu mulai menanjak namanya ketika dalam keadaan "hilang ingatan"
Dia terjun ke dunia kang-ouw, yang pada waktu itu sedang bergolak karena sedang berkecamuknya pemberontakan Liu Pang dan Chu Siang Yu melawan kekuasaan Kaisar Chin Si.
Dan nama pendekar muda itu semakin membubung tinggi tatkala bisa membunuh duplikat Bit-bo-ong yang maha sakti itu.
Maka sungguh tidak mengherankan kalau pertempuran atau pertandingan di antara keduanya benar-benar dahsyat tiada terkira.
Masing-masing hampir telah mencapai kesempurnaan di dalam mendalami ilmu perguruannya, sehingga benturan di antara ilmu-ilmu mereka benar-benar merupakan sebuah peristiwa yang jarang terjadi di dunia persilatan.
Ilmu-ilmu kesaktian mereka hampir-hampir tak dapat dipercaya oleh mata orang-orang yang belum matang dalam dunia persilatan.
Meskipun demikian, makin lama mereka bertempur, orang makin dapat melihat bahwa Tai-kek Sin-ciang dan Tai-lek Pek-khong-ciang dari pendekar muda Souw Thian Hai itu semakin dapat menguasai keadaan.
Secara perlahan-lahan Ilmu Silat Bidadari Bersedih dan Chuo-mo-ciang dari Put-ceng-li Lojin itu dapat ditindih dan dibuat tak berdaya oleh kekuatan dan kehalusan ilmu Souw Thian Hai yang hebat itu.
Tetapi beberapa saat kemudian, orang-orang yang secara sembunyi-sembunyi menonton pertandingan itupun lantas menjadi terheran-heran Souw Thian Hai yang secara pasti dan meyakinkan dapat menguasai lawannya itu tiba-tiba seperti menjadi kehilangan arah kembali.
Gerakan-gerakannya selalu macet dan tampak ragu-ragu bila hendak mengenai sasarannya.
Dan sebelum semua orang mengetahui sebab-sebabnya, tiba-tiba terjadilah peristiwa itu.
Souw Thian Hai dan Put-cengli Lojin saling bertukar pukulan dan tendangan, sehingga keduanya terlempar jatuh bergulingan di atas pasir!
Kedua duanya sama-sama mendapat luka di dalam tubuhnya!
Demikianlah, akhir dari pertandingan tersebut ternyata malah membingungkan dan membuat penasaran orang yang melihatnya.
Dan orang yang paling penasaran dan tidak mau menerima kenyataan itu adalah murid-murid Put-ceng-li Lojin sendiri, yang secara diam diam ternyata juga turut menonton pertandingan itu pula.
Dengan kemarahan yang meluap-luap, karena melihat gurunya terluka parah, Put-swi-kui dan Put-ming-mo cepat meninggalkan gurunya yang telah ditolong oleh Pek-i Liong ong atau orang tua berambut putih itu.
Keduanya meloncat ke depan Souw Thian Hai yang sekarang sudah dapat berdiri kembali di atas kedua kakinya.
"Binatang menjijikkan! Senang hatimu karena bisa melukai guruku, ya...? Ha, tapi nanti dulu...! kau jangan buru-buru bergembira dulu karena bisa merebut subo-ku itu! kau harus dapat mengalahkan kami pula..."
Put-swi-kui atau Hantu Tak Berdosa itu menggeram.
"Benar! kau harus mengalahkan kami lebih dahulu...!"
Put-ming mo atau Setan Tak Bernyawa itu ikut pula membentak.
"Put-swi kui, kau ja...jangan..."
Chu Bwee Hong berusaha mencegah kemarahan murid Put-ceng-li Lojin itu.
"Subo, kau tak perlu ikut campur! Kami berdua akan menghukumnya, karena dia telah berani melukai suhu,"
Put swi-kui yang marah itu cepat memotong perkataan Chu Bwee Hong, yang selama ini selalu dihormatinya.
Melihat ketegangan itu, Souw Lian Cu segera melesat pula ke depan ayahnya.
Dengan muka merah gadis itu siap untuk melindungi keselamatan ayahnya.
Tapi sebelum gadis itu bertindak lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara bentakan Put-ceng-li Lojin yang keras menggeledek.
"Siau Kui (Hantu Kecil)! Siau Mo (Setan Kecil)...! Jangan sembrono! Ayo, kembali! Bangsat! Keparat...!"
Dengan wajah takut namun juga penasaran, kedua orang itu membalikkan badannya. Langkahnya tampak ragu-ragu ketika mendekat ke arah gurunya.
"Suhu...? Mengapa...?"
Put-swi kui mencoba membantah kata-kata gurunya.
"Diam! Ini adalah perang tanding antara dua orang lelaki! Tahu...? Dan semua ini sudah kami atur dan kami sepakati bersama. Oleh karena itu tidak ada dendam atau balas-membalas."
"Suhu..."
Put-sia Niocu yang sedari tadi selalu berada di dekat gurunya mencoba untuk mendinginkan kemarahan orang tua tersebut.
Jilid 38 Dan orang tua yang masih tergeletak, karena terlalu parah lukanya itu, melirik kepada murid perempuannya.
Namun hanya sekejap.
Sesaat kemudian orang tua itu sudah menatap kedua orang murid laki-lakinya lagi.
"Dan...apakah mata kalian tidak melihat tadi? Betapa besar jiwa Hong-gi-hiap Souw Thian Hai di dalam perang tanding ini tadi? Hmm, seharusnya gurumu ini sudah kalah dan mati sejak tadi, tahu? Tapi demi menjaga nama dan kehormatanku, dia berbuat seolah-olah kami berimbang dan sama-sama terluka parah! padahal kalau dia mau..."
"Lojin..."
Tiba-tiba Souw Thian Hai menghentikan perkataan ketua Bing-kauw itu.
"...Siapa yang mengatakan aku menang? Aku juga terluka oleh pukulanmu. Lukaku juga tidak ringan. Lihatlah...!"
Put-ceng-li Lojin tertawa.
"Bangsat! Hahaha...! Aku benar-benar puas dapat menyerahkan Chu Bwee Hong kepadamu, saudara Souw...Kau tak perlu merendahkan dirimu lagi! Aku telah kalah! Oleh karena itu Chu Bwee Hong kuserahkan kepadamu sekarang. Terimalah!"
"Lojin...!"
Chu Bwee Hong menjerit dan berlari menubruk dada ketua Bing-kauw itu.
"Suhu...!"
Put-sia Niocu yang sudah terlanjur suka dan sayang pada Chu Bwee Hong itu juga menangis disamping gurunya.
"Lojin...ini...ini..."
Souw Thian Hai yang mendengar pernyataan atau ucapan bekas "suami"
Chu Bwee Hong itu menjadi gagap dan bingung malah. Melihat sikap Souw Thian Hai itu Put-ceng-li Lojin mengerutkan dahinya. Sambil merangkul kepala Chu Bwee Hong, orang tua itu bertanya.
"Ada apa, saudara Souw?"
Beberapa saat lamanya pendekar itu tidak bisa menjawab.Beberapa kali dia hanya bisa menghela napas.
"Apakah kau mempunyai kesulitan, saudara Souw? Lekaslah katakan!"
Put-ceng-li Lojin mendesak. Dengan ragu-ragu Souw Thian Hai memandang wajah "lawannya", lalu menoleh ke sekitarnya, yaitu ke arah orang-orang yang secara mendadak bermunculan di tempat itu.
"Bing-Kauwcu..."
Akhirnya pendekar itu bisa juga mengeluarkan isi hatinya.
"Aku sungguh sangat berterima kasih sekali kepadamu. Aku memaklumi semua maksud baikmu yang kau tujukan kepadaku atau kepada...Chu Bwee Hong ini. kau sungguh mulia dan baik sekali. Aku dan Chu Bwee Hong benar-benar berhutang budi kepadamu. Sebenarnya aku amat gembira sekali menerima penyerahan Chu Bwee Hong ini. Tapi..."
Souw Thian Hai tidak meneruskan kata-katanya. Sebaliknya pendekar itu menghela napas lagi dalam-dalam. Tampaknya ada sesuatu yang masih memberatkan hatinya.
"Saudara Souw! Kenapa tidak kau lanjutkan kata-katamu? Ayoh! Lekaslah kau keluarkan isi hatimu! Jangan kau pendam saja di dalam dada, sehingga kami ikut menjadi penasaran melihatnya...!"
Put-ceng-li Lojin berseru tak sabar.
"Begini, Bing-Kauwcu...Rasa-rasanya masih ada sedikit ganjalan atau keberatan di dalam hatiku dalam menerima kembali Chu Bwee Hong itu. Soalnya, selama ini orang-orang sudah mengetahui bahwa Chu Bwee Hong adalah isterimu, Lalu...kalau sekarang secara tiba-tiba isterimu itu ikut aku dan menjadi isteriku, apa kata orang-orang itu nanti? Bukankah mereka akan berprasangka jelek kepadaku atau kepada Chu Bwee Hong?"
Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin tertawa terbahak-bahak.
"Bangsaaaat! Hahaha...! Kukira kau tadi hendak berbicara tentang apa, ehh...ternyata cuma soal itu! Hahahah...monyet!"
"Bing-Kauwcu, apa...apa yang kau tertawakan?"
Souw Thian Hai bertanya penasaran.
"Hah...kau ini seorang pendekar besar, tapi sikapmu canggung benar. Mengapa kau masih juga memikirkan pendapat-pendapat yang tak benar seperti itu? Yang penting adalah kenyataannya. Jika apa yang kita lakukan itu memang benar-benar baik dan bersih akhirnya orang-orang itupun akan tahu juga. Mengapa mesti takut dan khawatir terhadap prasangka-prasangka demikian? Biarkan saja kalau ada orang yang berprasangka jelek kepada kalian berdua. Kalian tak perlu menanggapi atau mengacuhkannya. Sebaliknya, kau tunjukkanlah saja kepada mereka dengan sikap dan perbuatan kalian, bahwa kalian berdua bukanlah orang-orang jelek seperti yang mereka sangka."
"Ahh...Bing-Kauwcu benar."
Souw Thian Hai mengangguk-angguk.
Lega hatinya sekarang.
Kata-kata Put-ceng-li Lojin yang panjang lebar itu sungguh-sungguh telah membuka hatinya, bahwa kekhawatirannya itu benar-benar tak beralasan sama sekali.
Yang penting memang kenyataannya.
Kalau sekarang memang masih ada juga yang belum mengerti akan keadaan mereka, hal itu tak perlu menjadi penghalang yang akan menggagalkan maksud baiknya.
Suatu saat mereka akan mengerti juga akhirnya.
"Apalagi perang tanding dan penyerahan ini telah disaksikan dari mula sampai akhir oleh beberapa tokoh persilatan ternama. Masakan kau masih takut dengan gunjingan orang? Lihatlah, di lain waktu kau tak mungkin memperoleh saksi-saksi sedemikian lengkapnya!"
Put-ceng-li Lojin melanjutkan perkataannya seraya menoleh ke sekelilingnya. Tiba-tiba Pek-i Liong-ong berdiri. Kakek ketua Aliran Mo-kauw itu menjura kepada Souw Thian Hai.
"Lohu bersedia menjadi saksi..."
Katanya halus. Lalu sambil menoleh ke arah Put-ceng-li Lojin, kakek itu berdesah.
"Lojin, tak kusangka hatimu demikian luhur dan mulianya. Lohu sungguh malu ikut-ikutan menyebutmu Put-ceng-li (Tidak Tahu Aturan) selama ini. Ternyata dibalik sikapmu yang aneh, urakan, dan kadang-kadang sangat ugal-ugalan itu, sebenarnya tersembunyi hati yang suci dan luhur. Dan selama bertahun tahun ini, ternyata kami semua telah salah menilai terhadapmu..."
"Hahaha...Monyet Tua! Apakah yang kau katakan itu?"
Put-ceng-li Lojin berteriak-teriak dan memaki-maki malah.
"Dan...akupun bersedia juga untuk menjadi saksi."
Hong-lui-kun dengan air muka berseri-seri, tiba-tiba maju pula ke samping Pek-i Liongong.
"Saudara Souw, terimalah ucapan selamatku!"
Katanya mantap.
"Aku juga, saudara Souw, selamat berbahagia...!"
Yap Tai-Ciangkun menyahut pula lalu dengan cepat kakinya melangkah ke samping Pek-i Liong-ong.
Kemudian berturut-turut Ho Pek Lian, Kwa Siok Eng, Chin Yang Kun dan...Chu Seng Kun, maju pula ke depan untuk menyatakan kesanggupan mereka menjadi saksi.
Malahan Chu Seng Kun, sebagai kakak Chu Bwee Hong, hampir tidak bisa membendung keharuan hatinya.
Sambil merangkul pundak Souw Thian Hai yang bidang, tabib muda itu tidak kuasa menahan air matanya.
"Saudara Thian Hai, hatiku benar-benar lega sekarang. Sudah lama aku menunggu saat-saat seperti ini. Aku sungguh sangat gembira sekali..."
Katanya tersendat-sendat. Chu Seng Kun lalu melepaskan pelukannya. Dan kemudian dengan senyum bahagia matanya melirik ke arah adiknya, yang masih terisak-isak di dada Put-ceng-li Lojin.
"Bwee Hong, kemarilah kau...!"
Panggilnya dengan suara gembira.
Tapi Chu Bwee Hong seperti tak mendengar suara panggilan tersebut.
Wanita ayu itu masih dicekam oleh keharuan hatinya yang sangat mendalam.
Mulutnya masih terisak-isak diatas dada Put-ceng-Ii Lojin, sehingga orang tua itu terpaksa menepuk nepuk pundaknya.
"Anak baik, diamlah...! Mengapa kau masih menangis juga? Bukankah semuanya telah berlangsung seperti yang kita harapkan? Nah, dengarlah...! Seseorang telah memanggilmu. Agaknya dia adalah kakakmu. Pergilah ke sana! Ayoh!"
Ketua Aliran Bing-kauw itu berkata dengan suara halus.
Untuk sesaat hilang kesan kasar dan ugal-ugalan pada wajah orang tua itu.
Wajah itu kini tampak lembut dan welas asih, bagaikan wajah seorang ayah yang sedang membujuk anak kesayangannya.
Chu Bwee Hong mengangkat mukanya.
Matanya merah dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Lojin, kau...kau sungguh baik sekali kepadaku..."
"Ah, sudahlah...! Ayoh, pergilah cepat ke sana!"
Put-ceng-li Lojin berseru sedikit keras untuk mengusir keharuan yang tiba-tiba juga membelit di hatinya.
Tapi tak urung sebutir air mata tetap juga menetes di sudut matanya.
Chu Bwee Hong melepaskan rangkulannya, kemudian menghapus air matanya, lalu perlahan-lahan mundur dan berlutut di samping Put-ceng-li Lojin yang tergolek di atas pasir itu.
Sambil menahan sedu sedannya wanita ayu itu menyatakan rasa terima kasihnya.
"Lojin, kutitipkan anak haram itu kepadamu. Aku tak berani membawanya. Aku takut menjadi mata gelap dan membunuhnya karena aku masih sangat benci kepada ayahnya..."
"Hahaha...tentu saja. Anak itu sudah kuanggap sebagai anakku sendiri. Dia akan kudidik dengan baik. Dan aku percaya dia akan menjadi anak yang baik kelak."
"Terima kasih."
Lalu perlahan-lahan Chu Bwee Hong melangkah menuju ke tempat kakaknya.
Mukanya tertunduk.
Rambutnya kusut.
Mata dan pipinya masih tampak kotor dan merah pula.
Namun demikian semuanya itu ternyata tidak bisa menyembunyikan kecantikannya yang gilang-gemilang.
"Koko..."
Jeritnya lirih seraya menubruk dada kakaknya. Chu Seng Kun memeluk pula dengan mata berkaca-kaca.
"Bwee Hong...Apa kataku kemarin? Semuanya benar, bukan? kau tak perlu berputus-asa dan terlalu menyalahkan nasib yang selalu merundung dirimu. Itu semua hanyalah cobaan belaka. Wah...bagaimana sekarang? Kebahagiaan telah datang kepadamu, bukan? Dan percayalah, kebahagiaan yang kau reguk ini akan berkali-kali lebih nikmat kau rasakan, sebab kebahagiaanmu ini kau peroleh setelah kau habiskan semua kepahitannya..."
"Koko..."
"Ayoh! Sekarang marilah kau temui kekasihmu itu! Sebagai pengganti orang tua, secara resmi aku akan menyerahkan engkau kepadanya. Marilah!"
Chu Seng Kun lalu menuntun adiknya ke depan Souw Thian Hai.
Kemudian dengan suara terputus-putus tabib muda itu menyerahkan Chu Bwee Hong kepada Souw Thian Hai, yang diterima oleh pendekar sakti itu dengan perasaan terharu pula.
"Nah, semoga kalian berdua bisa mengambil pelajaran dari pengalaman buruk yang kalian alami selama ini, sehingga kalian bisa lebih berhati-hati di kemudian hari. Adapun tentang hari perkawinan kalian, dapat kita rundingkan lagi di lain hari,"
Tabib muda itu menutup kata-katanya.
Setelah menyerahkan adiknya, Chu Seng Kun lalu berbalik menghampiri Put-ceng-li Lojin.
Begitu berada di depan orang tua itu, Chu Seng Kun segera berlutut, sampai dahinya menyentuh pasir di bawahnya.
"Bing-Kauwcu...Siauwte adalah Chu Seng Kun, kakak dari Chu Bwee Hong. siauwte mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Kauwcu, karena Kauwcu telah sudi menyelamatkan dan menolong adikku. Kami berdua benar-benar berhutang budi dan nyawa kepada Kauwcu..."
"Hahahaha...anak muda, aku sudah sering mendengar cerita tentang dirimu dari Chu Bwee Hong. Katanya, kau adalah seorang tabib muda yang tiada duanya di dunia ini. Dan aku percaya saja selama ini. Tapi...setelah aku kini melihatmu, hmm...aku malah menjadi ragu-ragu sekarang. Masakan dalam usiamu yang masih sangat muda ini, kau sudah benar-benar dapat menghisap seluruh ilmu pengobatan mendiang Bu-eng Sin yok-ong itu?"
Put-ceng-li Lojin tidak menanggapi kata kata Chu Seng Kun, tetapi ketua Aliran Bing-kauw itu justru berbicara tentang ilmu pengobatan Chu Seng Kun malah. Chu Seng Kun tersenyum.
"Ah, Bing-Kauwcu...kau memang benar. Adikku itulah yang terlalu membesar-besarkan kemampuanku. Maklumlah, siauwte ini adalah kakaknya, sekaligus satu-satunya keluarga yang masih dipunyainya."
Tabib muda itu merendahkan diri.
"Tapi...meskipun demikian aku juga ingin membuktikannya..."
Ketua Aliran Bing-kauw itu tetap melanjutkan perkataannya, seolah-olah tak mendengar bantahan atau sanggahan Chu Seng Kun tadi.
"Maksud Bing-Kauwcu?"
"Coba, kau tolong mengobati luka-lukaku ini. Kalau engkau bisa menyembuhkannya, aku baru percaya pada kehebatanmu. Bagaimana? Bersediakah kau?"
Senyum kelihatan mengembang di bibir Chu Seng Kun.
"Ahh, tentu saja siauwte bersedia, Bing-Kauwcu. Cuma siauwte minta, Bing-Kauwcu jangan terlalu mengharapkan, bahwa siauwte mesti bisa menyembuhkannya. siauwte ini hanya manusia biasa dan bukan malaikat yang bisa menghidupkan orang. siauwte ini hanya beruntung bisa memperoleh kesempatan mempelajari ilmu peninggalan kakek guruku..."
"Wah...kau sungguh pandai sekali merendahkan dirimu. Ayoh, lekaslah! Aku buru-buru ingin menyaksikan caramu mengobati lukaku yang parah ini. Nah!"
Put-ceng-li Lojin yang tidak sabaran itu cepat mendesak.
"Baiklah..."
Chu Seng Kun menjawab, lalu bergegas maju selangkah.
Put-swi-kui, Put-ming-mo dan Put-sia Niocu mundur untuk memberi tempat kepada Chu Seng Kun.
Sebaliknya tabib muda itu juga balas mengangguk kepada mereka, sebelum mulai dengan pengobatannya.
Lebih dahulu Chu Seng Kun memeriksa urat nadi dan denyut jantung Put-ceng-li Lojin, setelah itu baru jalan pernapasannya.
Kemudian setelah merasa yakin apa yang harus dilakukannya, maka Chu Seng Kun lalu menotok dan mengurut beberapa buah jalan darah di sana sini.
Sebentar saja peluh mulai menetes di atas dahi Chu Seng Kun yang lebar.
Perlahan-lahan wajah ketua Aliran Bing-kauw itu menjadi kemerah-merahan kembali.
Jalan pernapasannyapun secara berangsur-angsur juga semakin teratur pula.
Dan kemudian keadaan yang sangat menggembirakan itu semakin bertambah baik lagi tatkala Chu Seng Kun sudah mulai pula mempergunakan jarum-jarum ajaibnya.
Semuanya memandang kagum kepada Chu Seng Kun.
Di dalam hati mereka sekarang benar-benar sudah mengakui, betapa tingginya ilmu kepandaian pemuda itu di dalam ilmu pengobatan.
"Nah! Sekarang Bing-Kauwcu sudah sembuh dan baik kembali. Untuk selanjutnya Bing-Kauwcu tinggal beristirahat saja sebanyak-banyaknya, agar tenaga Bing-Kauwcu lekas pulih kembali seperti sedia-kala. Marilah! Bing-Kauwcu sudah bisa bangkit lagi sekarang..."
Chu Seng Kun berkata seraya mengusap peluh yang mengalir di atas dahi dan lehernya.
"Hei? Aku sudah bisa berdiri? Masa begitu cepatnya?"
Put-ceng-li Lojin berseru tak percaya.
Lebih dulu orang tua itu menggerak-gerakan lengan dan kakinya.
Setelah semuanya benar-benar bisa ia gerakkan dengan baik dan tidak terasa kaku atau sakit lagi, orang tua itu kemudian mencoba duduk, lalu bangkit berdiri perlahan-lahan.
Dan ketika dengan mudahnya ia dapat berdiri, ketua Aliran Bing-kauw itu justeru berteriak-teriak dan mengumpat-umpat saking kagumnya.
"Bangsaaat! Keparaaat! Wah! Wah! Monyet busuk! kau betul-betul hebat sekali! Huahahahaha...heran dan takjub benar aku! Bangsaaat...!"
Orang tua itu lalu melompat-lompat saking senangnya, lalu menghampiri Chu Seng Kun dan menyalaminya dengan hangat.
"Hahaha...aku sekarang benar-benar percaya kepadamu, anak muda! kau sungguh-sungguh hebat, lebih hebat dari tabib manapun di dunia ini!"
Tapi Chu Seng Kun cepat memegang lengan Put-ceng-li Lojin dan menahannya agar tidak bergerak lagi.
"Eh, perlahan Bing-Kauwcu. kau jangan terlalu banyak bergerak dahulu! Nanti luka dalammu terbuka lagi,"
Cegah Chu Seng Kun.
Demikianlah, semua yang melihat adegan itu tersenyum gembira, sehingga suasana yang semula sangat tegang menggelisahkan itu, kini berubah menjadi semarak menggembirakan.
Semua orang tersenyum dan menghela napas lega.
"Hei! Lihat! Malam telah semakin larut. Dan embun pagi pun telah mulai menetes membasahi pakaian kita. Mengapa kita masih saja bercakap-cakap enak-enakan di sini?"
Tiba-tiba terdengar seruan Pek-i Liong-ong, memecahkan keheningan di antara mereka.
"Ah, benar juga. Monyet! Kalau begitu, marilah kita kembali ke dusun itu, untuk menemukan kegembiraan ini! Setuju tidak, Liong-ong?"
Put-ceng-li Lojin berseru pula ke arah ketua Aliran Mo-kauw itu.
"Setuju...!"
Hampir semuanya menjawab, kecuali Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Ketiga orang itu kelihatan berunding satu sama lain.
Dan beberapa saat kemudian tampak Souw Thian Hai melangkah maju mewakili yang lain.
"Maaf, cuwi semua...! Kami bertiga terpaksa tidak bisa pergi bersama cuwi ke dusun itu. Salah seorang di antara kami, yaitu puteriku, ternyata masih punya urusan penting yang harus diselesaikan. Dia harus berada di Pulau Meng-to besok pagi, untuk membantu Keh-sim Siauwhiap dalam penyambutan tamu-tamunya yang telah mulai berdatangan ke pulaunya."
"Hah...benar juga. Tiga hari lagi adalah tanggal lima, saat Keh-sim Siauwhiap biasa mengundang lawan-lawannya di dunia kang-ouw,"
Put-ceng-li Lojin berseru kaget.
"Oh? Lalu...?"
Chu Seng Kun buru-buru bertanya kepada Souw Thian Hai.
"Begini, Chu-Twako. Karena salah seorang dari kami harus pergi, maka aku dan Bwee Hong memutuskan untuk pergi pula kesana menyertainya..."
Souw Thian Hai menjawab.
"Ahhh...!"
Semuanya berdesah kecewa.
Sebenarnya semuanya ingin menahan ketiga orang itu.
Namun merekapun maklum, bahwa sepasang kekasih yang baru saja bertemu itu lebih senang berduaan saja dari pada bersama-sama dengan mereka.
Oleh karena itu semuanya juga lantas membiarkan saja ketiga orang itu pergi.
Chu Bwee Hong lalu berpeluk-pelukan dengan Ho Pek Lian, Kwa Siok Eng dan Put-sia Niocu.
Malah dengan murid bekas suaminya ini Chu Bwee Hong sempat pula bertangis-tangisan.
Keduanya telah terlanjur akrab selama ini.
Terpaksa Put-cengli Lojin turun tangan memisahkannya.
"Ah...mengapa harus saling bersedih? Besok kita akan berjumpa pula,"
Ketua Aliran Bing-kauw itu menenangkan hati mereka.
"Maksud suhu?"
Put-sia Niocu bertanya sambil menghapus air matanya.
"Akupun besok akan pergi juga ke sana. Aku ingin menyaksikan bagaimana wajah pendekar yang sangat terkenal itu."
"Benarkah? Oh, suhu...aku ikut."
Put-sia Niocu berjingkrak kegirangan, lupa kalau ia baru saja menangis. Ho Pek Lian menarik lengan Kwa Siok Eng.
"Kami berdua juga akan pergi ke sana pula besok pagi. Bukankah begitu, Cici Siok Eng?"
Ho Pek Lian berkata.
"Ya! Kami juga akan pergi ke pulau itu. Kami berdua telah berhutang nyawa kepada pendekar ternama itu. Kami akan menyatakan rasa terima kasih kami kepadanya. Sekalian membantu apabila tenaga kami diperlukan nanti,"
Siok Eng memberi keterangan.
"Ahh!"
Chu Seng Kun yang masih merasa berat untuk berpisah dengan adiknya itu tiba-tiba berdesah lega.
Sementara itu Chin Yang Kun yang sedari tadi hanya diam saja di pinggir, tampak tersentak kaget mendengar ucapan ucapan mereka.
Pemuda itu seperti diingatkan kembali pada janjinya, untuk pergi ke Pulau Meng-to pada tanggal lima ini.
Oleh karena itu secara otomatis pemuda itu melirik ke arah Souw Lian Cu, gadis yang dahulu telah melemparkan undangan atau tantangan kepadanya.
Ternyata pada saat yang bersamaan, Souw Lian Cu juga sedang memandang ke arah Chin Yang Kun pula, sehingga tak bisa dielakkan lagi kedua pasang mata mereka saling bertaut atau berpapasan satu sama lain.
Dan sekilas seperti ada sinar kegembiraan di dalam pandangan itu tapi entah apa sebabnya, tiba-tiba masing-masing segera membuang muka dengan wajah merah padam.
Tapi sekejap kemudian Chin Yang Kun segera berpaling kembali.
Pemuda itu kelihatan penasaran melihat sikap Souw Lian Cu tadi.
Matanya menatap kembali ke arah Souw Lian Cu dengan tajamnya.
Gadis itu masih memalingkan mukanya, sehingga Chin Yang Kun hanya bisa memandangnya dari arah samping.
Tetapi dengan demikian pemuda itu justru dapat melihat jelas garis-garis kecantikannya.Raut muka yang oleh pemuda itu dianggap sangat serasi serta sempurna ukurannya.
Chin Yang Kun malahan terpaku seperti orang yang kehilangan akal melihatnya.
Hati yang semula penasaran itu mendadak larut hilang tak berbekas.
Kini sorot matanya justru menampilkan sinar kekaguman yang tiada taranya.
Gadis itu memang cantik bukan main.
"Ahhhh...!"
Chin Yang Kun berdesah sambil menundukkan kepalanya.
Pemuda itu merasa sedih dengan tiba-tiba.
Entah mengapa, kebencian gadis itu kepada dirinya, membuat pemuda itu merasa sedih dan kecewa.
Dunia ini rasanya menjadi sepi dan membosankan.
"Saudara Yang...!"
Tiba-tiba terdengar sebuah suara di depannya.
Chin Yang Kun tersentak kaget.
Dengan gugup pemuda itu menengadahkan kepalanya.
Dan detak jantung pemuda itu semakin keras menghentak dinding dadanya, ketika dilihatnya gadis yang sedang memenuhi benaknya tersebut telah berdiri tegak di depannya.
Gadis itu tampak digandeng oleh ayahnya.
"Ah-uh...ah-uh..."
Chin Yang Kun berusaha menjawab panggilan pendekar Souw Thian Hai itu, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah suara ah-uh ah-uh yang tak jelas.
Tentu saja Souw Thian Hai merasa heran, apalagi ketika melihat wajah Chin Yang Kun itu sangat pucat.
Tapi keheranan pendekar itu ternyata belum seberapa bila dibandingkan dengan kenyataan lain yang dilihatnya.
Ternyata tidak hanya Chin Yang Kun yang keadaannya seperti itu.
Ternyata puterinya sendiri, Souw Lian Cu.
juga bersikap demikian pula.
Gadis itu juga tampak gelisah dan tegang di hadapan Chin Yang Kun.
"Hmmh...ada apa dengan kedua anak ini? Apakah mereka bermusuhan? Ataukah ada 'apa-apa' di antara mereka?"
Pendekar sakti itu berkata di dalam hatinya.
Tetapi Souw Thian Hai tak mau atau tidak tega untuk menanyakan kepada mereka.
Pendekar sakti itu takut pertanyaannya nanti akan menyinggung perasaan mereka, meskipun salah seorang diantaranya adalah puterinya sendiri.
Oleh karena itu Souw Thian Hai justru pura-pura tidak tahu malah!
"Lian Cu, lihatlah...!
Inilah saudara Yang yang telah berjasa kepada kita itu.
Karena dia kita bisa berkumpul kembali..."
Pendekar itu berkata kepada puterinya.
"A-ayah..."
Souw Lian Cu memotong perkataan ayahnya. Souw Thian Hai mengerutkan keningnya.
"Kenapa? Bukankah kalian sudah saling mengenal? Ayoh, ucapkanlah terima kasih kepadanya...!"
"Tapi..."
Gadis itu mau membantah, tapi tak jadi.
Kemudian dengan mengeraskan hatinya gadis itu tampak melangkah ke depan.
Dengan pandang mata tajam serta gigi terkatup rapat, gadis itu membungkukkan tubuhnya di depan Chin Yang Kun.
"Terima kasih,"
Ucapnya singkat, lalu kembali lagi ke tempat semula.
"Lian Cu!"
Souw Thian Hai menegur puterinya. Kemudian.
"Saudara Yang, maafkanlah puteriku. Dia..."
"Ah...tidak apa-apa, Souw-Taihiap. Dari mula siauwte memang tidak ada niat untuk membantu ataupun membuat jasa di dalam pertemuan ini. Maka ucapan terima kasih Souw-Taihiap dan puterimu tadi, sebenarnya sudah terlalu berlebihan buatku..."
Chin Yang Kun menjawab tawar.
Entah mengapa perasaan Chin Yang Kun tiba-tiba menjadi hampa dan getir.
Sikap yang diperlihatkan oleh Souw Lian Cu setiap kali bertemu dengan dirinya itu kini seolah olah telah membukakan mata dan hatinya bahwa gadis itu memang sungguh-sungguh membencinya.
Dan kenyataan itu benar benar membuat hati pemuda itu hampa luar biasa.
Chin Yang Kun mendongakkan kepalanya.
Dipandangnya bintang-bintang yang gemerlapan di atas langit yang biru gelap.
Lalu dipandangnya pula laut luas yang tak bertepi itu.Semuanya tampak sunyi-sepi.
"Ahhh..."
Pemuda itu menghela napas, lalu membalikkan tubuhnya, kemudian meninggalkan tempat itu perlahan-lahan, mendahului yang lain-lain.
Tentu saja semua orang menjadi heran, lebih-lebih Souw Thian Hai.
Pendekar sakti itu seperti merasakan sesuatu yang aneh antara puterinya dan pemuda perkasa itu.
Tapi oleh karena sebentar kemudian puterinya juga mulai melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut, maka iapun segera mengajak Chu Bwee Hong untuk mengikuti puterinya itu pula.
Dan semua orangpun segera beranjak pula dari tempatnya.
"Hmm...ada apa dengan anak itu?"
Pek-i Liong-ong seolah-olah bergumam kepada dirinya sendiri.
Hong-lui-kun Yap Kiong Lee dan Yap Tai-Ciangkun, yang berada di dekat orang tua itu menoleh, tapi tak mengeluarkan perkataan sepatahpun.
Mereka hanya mengernyitkan alisnya, tanda bahwa mereka berdua juga merasa heran serta tak mengerti pula.
Cuma Chu Seng Kun saja yang agaknya bisa "membaca"
Atau menangkap keganjilan tersebut.
Hubungan yang sudah sedikit akrab dengan Chin Yang Kun, membuat tabib muda itu sedikit banyak mengetahui masalah-masalah yang pernah dihadapi pemuda itu, sehingga sedikit banyak dia juga bisa menduga apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam dada pemuda perkasa itu.
Oleh karena itu secara diam-diam Chu Seng Kun menyelinap ke dalam kegelapan untuk mencari atau menemui pemuda itu.
"Saudara Yang..."
Panggilnya ketika ia dapat menemukan pemuda itu di antara reruntuhan batu-batu karang.
"Hah???"
Chin Yang Kun yang baru saja meletakkan pantatnya itu tersentak kaget dan berdiri kembali.
Tapi begitu mengetahui siapa yang datang, pemuda itu segera tersenyum.
Meskipun senyumnya kelihatan hampa dan getir.
"Ah...Chu-Twako benar-benar mengagetkan aku. Kukira siapa tadi?"
Pemuda itu membuka mulutnya.
"Hmm...apakah kau kira aku nona Souw Lian Cu?"
Chu Seng Kun dengan berani mencoba "memancing"
Reaksi atau tanggapan Chin Yang Kun. Benar juga. Tiba-tiba muka Chin Yang Kun yang pucat itu tampak merah padam. Matanya tampak berkilat-kilat menatap Chu Seng Kun.
"A-apa...maksud Chu-Twako?"
Tanya pemuda itu dengan suara gemetar. Dan Chu Seng Kun pura-pura terkejut pula.
"Apa? Aku...? Eh, aku tak bermaksud apa-apa. Memang ada apa sebenarnya?"
Tabib muda itu balik bertanya dengan kening dikerutkan, seolah-olah dia memang benar-benar tak tahu masalahnya.
"Ooh!"
Chin Yang Kun berdesah dan mengendorkan ketegangannya.
"Hmm...aku tahu sekarang."
Chu Seng Kun yang sedang bersandiwara itu tersenyum seraya mendekati Chin Yang Kun, kemudian memegang lengannya.
"Tampaknya ada sesuatu yang tidak enak antara saudara Yang dengan nona Souw itu, sehingga kalian berdua seperti orang yang sedang bermusuhan. Benarkah...?"
Chin Yang Kun tersentak. Matanya menatap Chu Seng Kun untuk beberapa saat lamanya. Tapi sebentar kemudian pemuda itupun lalu menundukkan kepalanya lagi dengan wajah bersemu merah.
"Chu-Twako tidak salah,"
Jawab pemuda itu kemudian.
"Gadis itu sangat membenci aku. Cuma apa yang menyebabkannya sehingga dia sangat membenci aku itu, aku sama sekali tidak tahu..."
"Hah? Aneh benar! Masakan kau tidak tahu sebab sebabnya?"
Chu Seng Kun benar-benar kaget sekarang. Chin Yang Kun menghela napas, lalu katanya seperti kepada dirinya sendiri.
"Mula-mula aku dan dia secara kebetulan hanya berdiri berseberangan dalam perselisihan kaum Tiat-tung Kai-pang melawan Kim-liong Piauw-kiok. Kemudian pada pertemuan kami yang kedua, yaitu di Kuil Delapan Dewa, kami tidur bersebelahan kamar. Dan karena keteledoranku, pada suatu malam aku telah salah memasuki kamarnya. Gadis itu menjadi marah bukan main. Mungkin...mungkin inilah yang menyebabkan kemarahannya..."
"Hmmm..."
Chu Seng Kun mengangguk-angguk. Lalu.
"Mungkin juga. Tapi mungkin juga bukan. Hati wanita memang sukar diduga. Sikap yang diperlihatkan itu kadang-kadang bukanlah cermin dari hati dan perasaannya. Tidak jarang sikap dan perbuatannya justru malah bertolak belakang dengan yang ada di dalam hati dan perasaannya..."
"Heh? Maksud Chu-Twako...?"
Chu Seng Kun tersenyum.
"Ah...ini hanya pikiran atau dugaanku saja. Dan semuanya itu belum tentu benar. Hmm...kadang-kadang wanita itu berpura-pura benci, padahal sebenarnya hatinya kagum dan senang sekali kepada seorang lelaki!"
Chin Yang Kun tersentak.
Matanya menatap tabib muda itu dengan tajamnya.
Tetapi sekejap kemudian mukanya tertunduk kembali dengan tiba-tiba.
Wajahnya yang tampan itu perlahan-lahan menjadi merah.
Entah mengapa, kata-kata Chu Seng Kun tadi amat mengena, sehingga hatinya menjadi gembira dan sedikit terhibur.
Siapa tahu perkataan tabib muda tersebut benar adanya?
"Ahh...Chu-Twako ini ada-ada saja!"
Bisiknya kemalu-maluan seraya meletakkan pantatnya kembali di atas batu karang di sampingnya.
"Ah...itu hanya dugaanku saja. Siapa tahu memang demikian halnya?"
Chu Seng Kun tersenyum sambil duduk pula di samping Chin Yang Kun.
Diam-diam tabib muda ini semakin dapat membaca masalah yang sedang melibat kedua remaja itu.
Untuk beberapa saat lamanya mereka berdiam diri.
Masing masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya, mengawasi pasir hitam yang terhampar di bawah telapak kakinya, sementara Chu Seng Kun mengedarkan pandangannya ke sekeliIingnya, melihat gugusan batu karang yang terdampar berserakan di tepi pantai itu.
Tiba-tiba tabib muda itu membelalakkan matanya.
Rasa rasanya seperti melihat sesosok bayangan hitam muncul dari dalam air dan melangkah terhuyung-huyung ke daratan.
Tapi ketika sekali lagi ia ingin memastikan, apa yang dilihatnya itu, benda atau bayangan tersebut telah lenyap digulung buih ombak yang datang memecah pantai.
Dan kekagetan Chu Seng Kun itu dilihat pula oleh Chin Yang Kun.
"Ada apa Twako?"
"Anu...ah, tidak apa-apa...! Kesunyian dan kegelapan pantai ini telah menimbulkan bermacam-macam pikiran kepadaku rupanya. Baru saja aku seperti melihat sesosok bayangan muncul dari dalam air. Tapi...ah...itu tentu hanya sebongkah batu karang yang tersiram ombak saja."
Dengan tersipu-sipu Chu Seng Kun menjawab.
Chin Yang Kun mengernyitkan alisnya, lalu menatap ke arah pantai.
Tapi ia juga tidak melihat apa-apa selain batu-batu karang yang tersembul diantara buih-buih ombak yang datang.
Oleh karena itu Chin Yang Kun lalu menundukkan kepalanya lagi, sehingga mereka saling berdiam diri kembali.
"Saudara Yang, sudahlah...! kau tak perlu terlalu memikirkan gadis itu. Kalau kalian berdua memang berjodoh kelak, tentu akan jernih juga persoalannya. Percayalah!"
Chu Seng Kun yang sudah dapat meraba atau menebak gejolak hati Chin Yang Kun itu tiba-tiba membuka mulutnya. Dan kata-katanya itu tentu saja semakin membuat Chin Yang Kun lebih tersipu-sipu lagi.
"Ahh...mana aku berani...memikirkan hal itu? Aku...aku...!"
Dengan suara gemetar Chin Yang Kun menjawab.
Mendadak pemuda itu teringat akan wanita genit isteri pemilik penginapan itu, sehingga harapan yang semula muncul di dalam hatinya menjadi punah kembali.
Bagaimana dirinya bisa kawin, kalau setiap wanita yang dinikahi akan mati seperti halnya wanita genit itu?
Chin Yang Kun merasa hampa di dalam hatinya.
Semangatnya patah.
Wajahnya tampak lesu dan sedih.
Dan perubahan sikapnya ini dengan cepat dilihat oleh Chu Seng Kun.
"Saudara Yang, ada apa...? Mengapa kau tiba-tiba menjadi sedih? Apakah ada sesuatu hal yang mengganggu hatimu?"
Chin Yang Kun tidak segera menjawab.
Pemuda itu menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Terjadi perang batin di dalam hati pemuda itu, yaitu antara perasaan malu dan keinginannya untuk berterus terang kepada tabib muda itu.
Akhirnya Chin Yang Kun merasa bahwa hanya tabib yang pernah menolong jiwanya itu sajalah yang kiranya bisa membantu penderitaannya.
Oleh karena itu dengan mengesampingkan perasaan malunya pemuda itu menceritakan seluruh persoalannya, yaitu dari mula ia merasa tertarik kepada Souw Lian Cu sampai ke perubahan aneh yang timbul di dalam tubuhnya.
Dan dengan suara yang terputus-putus pemuda itu juga menceritakan tentang musibah memalukan akibat perubahan aneh yang terjadi di dalam tubuhnya tersebut.
"Wanita genit itu mati keracunan setelah...setelah berhubungan dengan...denganku. Ohhhhhh...dosa apa sebenarnya yang kuderita ini?"
Chin Yang Kun mengakhiri kata-katanya dengan menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Lalu...dengan keadaanku yang begitu itu apakah aku masih bisa mengharapkan seorang gadis untuk kujadikan sebagai isteriku?"
Pemuda itu melanjutkan dengan setengah berteriak.
Chu Seng Kun terpaku diam di tempatnya.
Tabib muda itu benar-benar tidak menduga atau menyangka bahwa keadaan Chin Yang Kun akan menjadi demikian halnya.
"Oh...jadi kau berlari-lari seperti dikejar setan dan menyeberangi muara dengan cara yang mentakjubkan itu disebabkan karena kau ingin menghilangkan pengaruh aneh yang menyerang di dalam tubuhmu?"
Akhirnya Chu Seng Kun bertanya.
"Be-benar, Chu-Twako...!"
"Dan pengaruh aneh itu benar-benar dapat hilang setelah kau kehabisan tenaga?"
"Ya-ya...!"
Chin Yang Kun menjawab dengan bersemangat, seakan-akan memperoleh harapan akan bisa sembuh kembali seperti sedia kala.
"Ohhh!"
Chu Seng Kun bernapas lega seperti sudah dapat menentukan jawaban dari penyakit yang diderita oleh Chin Yang Kun tersebut.
"Bagaimana, Chu-Twako...?"
Chin Yang Kun yang melihat kawannya itu diam saja lalu mendesak.
"Apa...apakah pengaruh aneh itu disebabkan oleh racun yang mengalir di dalam darahku? Kalau benar, lalu bagaimana cara menghilangkannya?"
"Sebentar, kupikirnya lebih dulu...!"
Chu Seng Kun menjawab seraya berdiri.
Tabib muda itu lalu melangkah perlahan-lahan mengitari batu tempat mereka duduk.
Lengan kirinya berada di belakang tubuhnya sementara tangan kanannya memegang dagunya sendiri.
Wajahnya tengadah, memandang bintang-bintang di langit.
Sebentar-sebentar ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ternyata ia sedang mengerahkan segala ingatannya untuk mengorek kembali semua pengetahuan yang pernah didapatnya dari buku ilmu pengobatan yang pernah dipelajarinya selama ini.
"Ba-bagaimana, Chu...Chu-Twako?"
Chin Yang Kun bertanya tak sabar.
"Sebentar...!"
Sekali lagi tabib muda itu menjawab tanpa menoleh maupun menghentikan langkahnya.
Tiba-tiba tabib muda itu malahan merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah buku tebal berwarna kekuning kuningan saking tuanya.
Lalu dengan ketajaman matanya tabib muda tersebut membalik-balikkan halaman buku itu di dalam keremangan malam.
"Hei...!"
Mendadak tabib muda itu berseru, lalu meloncat menghampiri Chin Yang Kun.
Dengan cekatan pula tabib muda itu lalu memeriksa tubuh Chin Yang Kun, jari-jarinya memencet dan mengurut di berbagai jalan darah di seluruh tubuh Chin Yang Kun.
Dan karena sudah percaya seratus persen kepada tabib muda itu Chin Yang Kun menurut saja segala perintahnya.
"Saudara Yang, kau berbaringlah di atas pasir! Cepat...!"
Chu Seng Kun memberi perintah.
Chin Yang Kun menurut pula.
Lalu dengan tergesa-gesa Chu Seng Kun mengeluarkan jarum-jarumnya.
Berkali-kali tabib muda itu menusukkan jarumnya di bawah pusar dan pelipis Chin Yang Kun, sehingga di bagian itu tampak mencuat berpuluh-puluh jarum besar-kecil seperti bulu landak.
Dan yang terakhir tabib muda itu lalu menggoreskan sebuah jarum besar di atas tengkuk Chin Yang Kun, sehingga darah merah segera mengalir dari luka tersebut.
"Saudara Yang, sekarang coba kau kerahkan sinkangmu! Aku akan melihat pengaruhnya..."
Dengan tegang Chu Seng Kun memberi perintah lagi. Chin Yang Kun mengangguk, lalu bangkit berdiri. Setelah mengambil napas pemuda itu lalu mengerahkan Liong-cu-ikangnya.
"Aduuuh!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berteriak kesakitan.
Otomatis kedua tangan pemuda itu mencengkeram kepalanya yang berdenyut-denyut seperti mau pecah.
Dan sejalan dengan itu mendadak pemuda itu merasa sebuah pengaruh aneh menyusup ke dalam pikirannya.
Rasa-rasanya nafsu berahinya seperti bergolak secara perlahan-lahan di dalam badannya.Dan semakin lama api berbahaya itu semakin bergejolak memenuhi otaknya, sehingga pemuda itu tak kuat bertahan lagi.
"Chu-Twako, ini...ini...oh, aku tak ta-tahan lagi! heh-heh-heh...tolonglah!"
Desah pemuda itu terengah-engah.
Sekilas tampak senyum gembira di bibir Chu Seng Kun, tapi di lain saat dengan sangat cekatan tabib muda itu segera mencabut jarum-jarum yang ia benamkan di dalam daging Chin Yang Kun tadi.
Lalu dengan cekatan pula jarum-jarum tersebut ia masukkan ke dalam cupu kecil (seperti tempat bedak) berwarna hijau, yang terbuat dari batu giok.
Cupu itu berisi cairan kuning, yang segera berasap begitu jarum-jarum tersebut terbenam di dalamnya.
Sementara itu napas Chin Yang Kun semakin tersengal sengal.
Matanya liar dan berwarna merah darah.
Malah dari sudut mata itu telah mengalir air mata, bagaikan mata binatang buas yang sedang menderita kelaparan.
Sedang tubuh pemuda itu kelihatan gemetar hebat, seolah-olah tubuh itu sedang membawa beban yang amat berat.
"Chu-Twako, tolonglah aku! Cepat! Aku...aku sedang...eh, anu...pengaruh aneh itu kini sedang menyerang aku lagi!"
Chin Yang Kun mengertakkan giginya dan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Kau...kau jangan bingung! Aku akan mengobatimu! Lekaslah kau berbaring kembali...!"
Chu Seng Kun menjawab dengan tak kalah tegangnya.
Kemudian Chu Seng Kun mengeluarkan sebilah pisau kecil dari perak.
Dengan ujungnya yang runcing tabib muda itu menyayat beberapa kali pada kulit leher, dahi dan pelipis Chin Yang Kun.
Darah yang kehitaman merembes keluar.
"Kau jangan tegang! Lemaskanlah semua otot-ototmu, lalu tengkuraplah!"
Tabib muda itu memberi perintah lagi. Setelah perintahnya dituruti oleh Chin Yang Kun, Chu Seng Kun segera berseru lagi.
"Awas! Sekarang bersiap-siaplah! Aku akan melakukan gerakan pengobatan yang terakhir! Kali ini agak sakit, karena aku akan menusuk bagian pinggangmu di bawah punggung..."
Selesai berkata Chu Seng Kun lalu mengarahkan ujung pisaunya ke jalan darah siang-pie-kut-hiat di atas pinggang Chin Yang Kun, yaitu di sebelah-menyebelah tulang punggungnya.
Lalu dengan pengerahan tenaga yang telah diperhitungkan, pisau tersebut dihunjamkan secara bergantian.
Tidak terlalu dalam.
Mungkin cuma sebagian kecil saja dari ujungnya yang runcing, tapi sakitnya ternyata hebat bukan main, sehingga Chin Yang Kun yang sudah berjaga-jaga itupun masih berteriak kesakitan juga.
"Arrghhh...!"
Dari luka bekas tusukan pisau itu mengalir darah kehitaman, yaitu ciri khas darah Chin Yang Kun yang beracun.
Dan bersamaan dengan itu, keringat dingin bagaikan disemburkan dari setiap pori-pori kulit Chin Yang Kun.
Begitu banyaknya sehingga baju dan celana pemuda itu menjadi basah, bagaikan tersiram air saja.
Dan juga bersamaan dengan itu pula seluruh otot-otot pemuda itu menjadi lemas bagaikan lumpuh mendadak.
"Ohhhh...!"
Chin Yang Kun berdesah panjang.
Perlahan-lahan wajah yang merah tadi berubah menjadi normal kembali.
Napas yang semula terengah-engah dan tersengal-sengal juga kembali normal pula Iagi.
Dan perubahan tersebut sungguh amat menggembirakan hati Chu Seng Kun, si tabib muda itu.
Hanya tinggal rasa lemas itu saja yang masih diderita oleh Chin Yang Kun.
Dan tabib muda itu segera menghapus keringat yang membasahi lehernya.
Gerakan-gerakan yang dilakukannya tadi ternyata juga hampir menghabiskan seluruh tenaganya.
"Ahh...sungguh berbahaya sekali!"
Desah tabib muda itu seraya duduk melepaskan Ielah.
"Oooooh...!?!"
Chin Yang Kun menggeliat, lalu bangkit perlahan-lahan. Badannya tampak lemas, sehingga beberapa kali hampir gagal untuk mengangkat tubuhnya.
"Chu-Twako, tubuhku lemas sekali, rasa-rasanya aku seperti tak kuasa lagi untuk bergerak...ooh! A...apa sebenarnya yang telah terjadi?"
Chu Seng Kun tersenyum mengawasi Chin Yang Kun, tapi ia tak beranjak dari tempat duduknya. Badannya juga tampak lemas dan lelah sekali.
"Aku tadi telah berusaha mencari tahu jenis penyakit yang bersarang di dalam tubuhmu. Dan sungguh beruntung sekali, aku bisa berhasil menemukannya..."
Tabib muda itu menjawab dengan suara bersyukur.
"Oh...jadi?"
Desah Chin Yang Kun dengan nada gembira.
Tapi kegembiraan pemuda itu segera terhenti tatkala melihat wajah penolongnya menjadi murung secara mendadak.
Pikirnya lantas menjadi kacau, apa lagi ketika menyaksikan tabib muda itu memandangnya dengan sinar mata sedih.
"Chu-Twako...kenapa? Apa...apakah ada sesuatu yang salah? Kakatakanlah...!"
Chin Yang Kun berbisik. Chu Seng Kun menggeleng.
"Tidak, saudara Yang...tidak ada salah. Aku cuma merasa bersyukur, tapi sebaliknya aku juga merasa bersedih melihat sinar kegembiraan di dalam wajahmu tadi. Karena..."
"Twako, lekas katakan! Apakah penyakitku itu tak bisa disembuhkan lagi?"
Chu Seng Kun tidak segera menjawab. Sebaliknya tabib muda itu lalu menghela napas dan menghampiri Chin Yang Kun.
"Saudara Yang...! Setelah kuperiksa serta kuadakan percobaan tadi, aku dapat menemukan sebab-sebab atau jenis dari penyakit aneh yang sering mengganggumu itu. Sebenarnya itu bukan penyakit, tetapi hanya merupakan akibat sampingan dari racun dahsyat yang mengalir di dalam darahmu saja. Kadar racun itu ternyata telah merembes ke dalam susunan otakmu dan mempengaruhi simpul syarafmu terlemah, yaitu simpul syaraf yang berhubungan dengan nafsu berahimu. Gangguan racun itu mengakibatkan simpul syarat tersebut tidak bekerja secara normal lagi. Sentuhan atau rangsangan terhadap jaringan-jaringan syaraf tersebut akan mengakibatkan simpul syaraf itu cepat menegang dan bekerja dengan kekuatan penuh, sehingga simpul-simpul syaraf yang lain tak mampu lagi menahan atau mengendalikannya. Akibatnya, setiap syaraf tersebut terangsang, kau tak bisa menguasainya lagi..."
"Twako...lalu...oh, lalu bagaimana cara menyembuhkannya? Bukanlah hal itu sangat membahayakan orang lain? Terutama...terutama terhadap gadis-gadis atau wanita-wanita yang kujumpai?"
Chu Seng Kun menghela napas. Dengan sedih ia memandang pemuda sakti yang bernasib malang itu.
"Memang benar. kau memang menjadi sangat berbahaya sekali bagi orang lain, terutama bagi wanita. Kepandaianmu luar biasa tingginya, sehingga kalau penyakit itu datang, jarang yang bisa menahanmu, apalagi mengalahkanmu. Padahal penyakit itu semakin hari semakin berat dan ganas mempengaruhi susunan otakmu. Saat sekarang dengan kesadaranmu kau masih bisa mengalihkan keganasan pengaruh aneh itu dengan mengobral seluruh tenaga dalammu, sehingga kau kehabisan tenaga dan tak bisa berbuat apa-apa lagi. Tapi dalam beberapa waktu lagi engkau sudah tidak bisa berbuat demikian. Pengaruh racun itu sudah demikian besarnya sehingga kau tak ada kesempatan untuk mengendalikannya lagi..."
"Twako...???"
Chin Yang Kun berdesah serak. Tabib muda itu memandang Chin Yang Kun dengan perasaan menyesal dan sedih.
"Satu-satunya jalan hanyalah berusaha menghilangkan racun yang mengalir di dalam darahmu. Tapi aku belum dapat menemukan jalan atau caranya. Racun itu sudah menyatu dan bersenyawa dengan darahmu. Rasanya sulit untuk memisahkannya lagi."
"Jadi...jadi aku tak...tak bisa ditolong lagi?"
Chin Yang Kun bertanya gugup. Chu Seng Kun menundukkan kepalanya. Perlahan-lahan kepala itu menggeleng.
"Entahlah...! Tapi kau jangan putus-asa. Aku akan berusaha keras untuk mencari obatnya."
"Ooh...Ialu...lalu apa yang mesti kulakukan sebelum obat itu diketemukan?"
"Tentu saja kau harus berhati-hati dalam menjaga diri. Jangan sampai kau terangsang oleh wanita. Syukur kalau kau mau pergi mengasingkan diri di tempat sepi, sehingga kau tidak bertemu dengan perempuan."
"Tapi...tapi masih banyak urusan keluargaku yang harus kuselesaikan. Bagaimana aku bisa meninggalkannya untuk mengasingkan diri?"
"Itulah repotnya! Dalam keadaan normal kau adalah seorang pemuda atau pendekar yang baik. Tapi jikalau penyakit itu datang menyerang, kau akan berubah menjadi seorang iblis penyebar maut yang menakutkan. Terutama untuk para wanita atau orang-orang yang berusaha menghalangi niatmu. Maka kalau kau masih berpetualang di dunia ramai, kau harus menjaga dirimu sebaik-baiknya."
"Ooooh!"
Chin Yang Kun lemas tak berdaya.
Keduanya lalu terdiam lesu di tempat masing-masing.
Chu Seng Kun yang masih lelah kehabisan tenaga itu sibuk berpikir tentang penyakit Chin Yang Kun yang aneh itu.
Sementara Chin Yang Kun sendiri juga sedang meratapi nasibnya yang malang.
Begitu asyiknya mereka dengan lamunan mereka masing masing, sehingga mereka berdua tidak menyadari kalau sepasang mata bersinar hijau yang sangat mengerikan sedang mengawasi mereka.
Mereka menjadi kaget setengah mati ketika tiba-tiba saja makhluk mengerikan itu meloncat ke hadapan mereka!
"Bhrrrrh...!"
Makhluk itu menggeram.
Chu Seng Kun segera meloncat berdiri, tapi segera terhuyung-huyung mau jatuh.
Tubuhnya yang masih lelah karena baru saja menguras tenaga secara berlebihan itu ternyata belum pulih kembali seperti sedia kala.
Sedangkan Chin Yang Kun yang juga telah kehabisan tenaga itu lebih parah lagi keadaannya.
Beberapa kali pemuda itu berusaha bangkit, tapi selalu gagal.
Badan yang lemas tak bertenaga itu tetap saja tergeletak di atas pasir.
Sementara itu sebuah makhluk mengerikan telah berdiri di depan mereka.
Bentuknya seperti manusia, gemuk bulat berkepala gundul.
Kulitnya berwarna hijau gemerlapan ditimpa sinar bintang.
Yang sangat mengerikan dan menjijikkan adalah lendir kental yang menempel pada kulit yang berwarna hijau tersebut.
Begitu banyaknya lendir tersebut sehingga makhluk itu bagaikan dibungkus oleh larutan bubur perekat di sekujur tubuhnya.
Malahan saking banyaknya, lendir kental itu tampak meleleh dan berjatuhan ketika makhluk itu berjalan.
Baunya jangan ditanya lagi.
Busuk bukan main!
Busuk dan amis!
Saking kagetnya Chu Seng Kun dan Chin Yang Kun justru terdiam tak bisa berkata sepatahpun.
Keduanya menatap makhluk mengerikan itu dengan mulut ternganga dan mata terbelalak!
Beberapa kali makhluk itu berusaha mengusap atau membuang lendir kental yang menutupi mulut dan hidungnya.
Tapi lendir yang meleleh demikian banyaknya sehingga tempat itu segera tertutup kembali seperti semula.
"Bhhrrrr...sungguh bhrr...beruntung sekali aku bhrr...b-b-bisa bhertemu dengan tabbhhrrr...dengan tabib pandai seperti kau ini, hahahaha...bhrr!"
Tiba-tiba makhluk mengerikan itu berkata.
"Hah...?"
Chu Seng Kun berseru seraya melangkah mundur setindak.
"Kau siapa?"
"Hahaha...bbrrrr...aku sudah lama mengintaimu di sini, yaitu sejak kau mmbhrr berusaha mengobati anak muda ini. Sekarang kalian berdua sama-sama tak bhherrr...hhrrr...tak berdaya dan kehabisan tenaga. Maka dari itu ka...ka...bherrr...kalian tak perlu melawan..."
Makhluk itu berkata lagi, sama sekali tak mengacuhkan pertanyaan Chu Seng Kun. Sebentar-sebentar tangannya mengusap lendir yang menghalangi gerak mulut dan bibirnya.
"Apa...maksudmu?"
Chu Seng Kun bertanya lagi.
Tabib muda itu mundur selangkah lagi.
Tetapi bukan karena takut, sebab sebagai seorang yang telah biasa berpetualang ia telah bisa menenteramkan dan menenangkan hatinya kembali.
Apalagi setelah ia perhatikan benar-benar, makhluk tersebut ternyata bukanlah hantu atau iblis yang patut ditakutkan.
Makhluk mengerikan itu tak lain adalah manusia juga seperti dirinya.
Cuma yang membuat orang itu menjadi sangat mengerikan adalah kulit dan lendirnya yang aneh dan menjijikkan itu.
"Bbhrrrrr...! Terus terang aku minta tol...tolhong...bhrrrr. SembuhkanIah aku dari penyakitku yang...yang aneh ini!"
"Penyakit? Ada apa dengan tubuhmu itu?"
Orang yang berselimutkan lendir itu menundukkan kepala dan tampak ragu-ragu untuk berterus terang.
Tapi beberapa saat kemudian kepala itu kembali tengadah.
Tangannya lalu sibuk membuang lendir yang menutupi mulutnya.
"Bbhhrrr...baiklah, aku akan berterus terang kepadamu. Aku...aku sesungguhnya tidak menderita penyakit apa-apa. Dan aku juga tidak merasa sakit atau disakiti orang. Aku hanya menjadi...menjadi korban dari ilmuku sendiri!"
"Menjadi korban dari ilmumu sendiri?"
Chu Seng Kun menegaskan.
"Bhhrrrr...benar! Aku sejak muda selalu bergulat dengan racun, terutama racun kelabang hijau! Racun yang amat ganas dan berbahaya itu berhasil aku taklukkan dan aku kuasai, sehingga dapat kupakai sebagai senjata dan dasar dari ilmu yang kupelajari. Sedikit demi sedikit setiap hari racun itu kumasukkan dan kuresapkan ke dalam tubuhku, sehingga racun itu akhirnya dapat merasuk dan menyatu dengan darah dagingku. Dan untuk tetap dapat mmm...mbbrrrr...menguasai serta mmm...mbbbrrrr...mengendalikannya, setiap hari atau setiap waktu tertentu aku meminum ramuan yang telah kubuat sendiri. Tapi karena sesuatu hal dalam dua hari ini aku tak melakukannya. Dan celakanya lagi, bhrrrr...dalam dua hari dua malam itu tubuhku terendam di dalam air asin, air yang selama ini selalu kujauhi dan menjadi pantangan dari ilmu yang kupelajari. Maka akibatnya...oh, bhrrrr...tubuhku menjadi seperti ini."
Selesai berkata orang itu lalu mengawasi Chu Seng Kun.
Di dalam tatapan matanya, terkandung permohonan dan harapan agar tabib muda itu mau mengobatinya.
Hanya saja di dalam permohonannya itu ada tersirat juga nada paksaan, bahkan ancaman, apabila permintaannya tersebut tidak dikabulkan oleh Chu Seng Kun.
Chu Seng Kun tidak segera memberi jawaban.
Sejak orang itu menyebutkan jenis racun yang dipelajarinya, serta apa yang telah terjadi selama dua hari ini, ia segera menjadi curiga.
Apalagi setelah ia perhatikan lebih teliti lagi, ternyata ia segera mengenal orang itu.
Orang itu tak lain adalah Si Kelabang Hijau Ceng-ya-kang, yang mencebur ke laut dua hari yang lalu!
Otomatis Chu Seng Kun menoleh ke arah kawannya, seolah-olah ingin memberitahukan bahwa orang yang dicarinya selama ini ada di depannya.
Tapi betapa terkejutnya dia ketika melihat Chin Yang Kun masih saja terbaring di tempatnya.
Pemuda itu belum dapat bangun karena belum pulih kembali kekuatannya.
"Wah...gawat nih! saudara Yang masih lumpuh, sedangkan aku juga masih lemas pula. Kalau iblis berbahaya ini memaksakan kehendaknya dan mengamuk, aku dan saudara Yang terang belum bisa menghadapinya. Padahal aku belum tentu bisa mengobatinya pula. Bagaimana kalau iblis yang licik dan keji ini nanti marah?"
Tabib muda itu berpikir di dalam hati.
"Hmmm, satu-satunya jalan hanyalah mengulur waktu. Siapa tahu saudara Yang sudah bisa memulihkan tenaganya?"
Setelah memperoleh keputusan demikian, Chu Seng Kun lalu menarik napas dalam-dalam. Dengan tenang ia menghadapi Ceng-ya-kang yang kini keadaannya sangat mengerikan itu.
"Hmmm...terus terang aku tadi tidak mengenalmu sama sekali. Tapi begitu mendengar ceritamu, aku lantas ingat siapa kau ini sebenarnya..."
Akhirnya Chu Seng Kun membuka muIutnya.
"Hei...kau mengenal...bbrrrr...mengenalku?"
Orang yang tidak lain memang Ceng-ya-kang itu tersentak kaget.
"Ya. Bukankah kau adalah Si Kelabang Hijau Ceng-ya-kang? Siapa lagi di dunia ini yang sering bermain-main racun Kelabang Hijau selain Ceng-ya-kang?"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang meloncat maju, sehingga lendir lendirnya banyak yang terlepas berjatuhan ke tanah.
Baunya jangan ditanya lagi!
Amis dan busuk memuakkan!
"Nah, kalau aku memang benar Ceng-ya-kang, kau mau apa...heh?
Bhrrrrrr...!"
Chu Seng Kun cepat-cepat melompat ke samping, tapi lagi lagi tabib muda itu terhuyung-huyung mau jatuh.
"Bersabarlah...!"
Teriaknya.
"Heheh...bhrrrr...hati-hati kau! Aku tahu kau baru saja menghamburkan tenaga sakti untuk mengobati pemuda itu.Badanmu masih lemah, begitu pula dengan pemuda ganteng itu, bhrrrrrr...heheh! Oleh karena itu kau jangan coba-coba melawan aku. Lebih baik kau turuti saja permintaanku, jika tidak...bhrrrr...aku akan membunuh kalian berdua!"
"Bersabarlah! Aku akan mengobatimu..."
"Nah...begitu lebih baik. Tapi jangan coba-coba mengelabuhi aku. Lihatlah di sekeliling kalian! Tempat ini telah penuh dengan racun racunku. Dan tanpa kalian sadari, kalian juga sudah kemasukan racunku pula. Kalau tak percaya, hehe...bhrrrr...silakan periksa pernapasan kalian! Oleh karena itu...bhrrr...jangan coba-coba menipu aku! Sekali aku mencurigai gerak-gerik kalian, kalian tentu kubunuh!"
Chu Seng Kun lagi-lagi terperanjat, apalagi ketika ia benar-benar memeriksa pernapasannya!
Dadanya terasa sakit!
Gila, ternyata akibat penghamburan tenaganya tadi membuat kewaspadaannyapun menjadi berkurang.
Tanpa ia sadari tubuhnya telah kemasukan racun yang ditebarkan oleh Ceng-ya-kang.
Ketika tabib muda itu melirik ke arah Chin Yang Kun, hatinya semakin menjadi kecut.
Pemuda itu tampak tersengal-sengal pernapasannya.
Air mukanya kelihatan membiru, sementara matanya tampak melotot mengawasi Ceng-ya-kang!
Agaknya pemuda itu juga sudah kemasukan racun Ceng-ya-kang pula!
Memang benar juga dugaan Chu Seng Kun itu, Chin Yang Kun memang telah terkena racun yang disebar oleh Ceng-ya-kang sebelum muncul di hadapan mereka.
Tetapi seperti telah diketahui, tubuh pemuda itupun telah sarat dengan racun pula.
Maka sedikit racun yang ditebarkan oleh Ceng-ya-kang itu sebenarnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap tubuhnya.
Malahan bila dihitung-hitung, racun yang mengalir di dalam tubuh Chin Yang Kun sendiri justru sepuluh kali lipat lebih hebat dan lebih ganas dari pada racun tersebut.
Yang membuat napas pemuda itu tersengal-sengal serta air mukanya pucat membiru itu adalah ketegangan hati pemuda itu sendiri.
Kenyataan yang demikian mendadak, di mana secara tiba-tiba dia berhadapan muka dengan orang yang dicarinya, padahal keadaan tubuhnya sedang lumpuh dan kehabisan tenaga, membuat pemuda itu menjadi gelisah, tegang dan penasaran!
Rasa-rasanya pemuda itu ingin menerkam serta mencekik iblis tersebut, untuk menanyakan peristiwa di hutan Bukit Ular setahun yang lalu.
Sayang sekali badannya yang lemas dan lumpuh itu telah menghalang-halanginya.
Oleh karena itu yang dapat dilakukannya hanyalah menggeram dan melotot saja kepada Ceng-ya-kang!
"Bhrrrr...bagaimana?
kau mau mengobati aku atau tidak?"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang membentak.
"Ba-baiklah...tapi biarlah aku menyelesaikan pengobatan terhadap temanku itu dahulu. Bagaimana?"
Chu Seng Kun mencoba mencari kesempatan untuk berbicara dengan Chin Yang Kun, agar bisa merundingkan cara untuk menghadapi iblis dari Ban-kwi-to itu.
"A-a...brrrh...? Hah...kau jangan mencoba mengakali aku, ya...?"
Cengya-kang segera mencegah. Tapi Chu Seng Kun cepat berbalik dan menghadapi iblis itu dengan bertolak pinggang. Dengan lantang ia berkata.
"Hmm...kedatanganku di tempat ini hanya untuk mengobati temanku itu. Kalau akhirnya aku tak bisa menyelesaikan pengobatan itu, padahal hanya tinggal menusukkan tiga batang jarum saja, lalu di mana nanti aku hendak menaruhkan mukaku? Lalu apa gunanya aku jauh-jauh datang ke sini? Dan apa gunanya aku mempertahankan nama besarku sebagai ahli pengobatan selama ini? Hmm, kalau demikian halnya, lebih baik semuanya mati saja! kau bunuhlah aku! Biarlah aku mati, sehingga kau dan temanku itu juga mampus pula bersama aku"!"
Ceng-ya-kang justru mundur selangkah ketika Chu Seng Kun mendesak maju.
Iblis itu tampak bimbang.
Siasat Chu Seng Kun yang cerdik itu malah membuatnya bimbang!
Sekejap iblis itu termangu-mangu di tempatnya, sebab bagaimanapun juga dia ingin disembuhkan pula dari penderitaannya itu.
Dan kini secara kebetulan dia berjumpa dengan seorang tabib pandai.
Dan kesempatan seperti ini akan sulit ia dapatkan di kemudian hari.
"Ayoh! Kenapa kau menjadi ragu-ragu? Bunuhlah aku...!"
Chu Seng Kun yang melihat kebimbangan Ceng-ya-kang itu segera mendesak lagi.
"Ba...hhrr...baiklah! kau benar-benar tinggal menusukkan tiga batang jarum saja lagi, bukan? Ka-kalau begitu...lakukanlah! Tapi bhrrr...kau jangan coba-coba menipuku, karena untuk melindungi jiwaku...hhrr...aku tak segan-segan membunuhmu!"
"Hmmh!"
Chu Seng Kun mendengus, kemudian tubuhnya berbalik dan melangkah ke tempat Chin Yang Kun. Dan begitu berhadapan dengan Chin Yang Kun, tabib muda itu segera memberi isyarat dengan matanya.
"Perhatikan jarumku...!"
Bisik tabib muda itu lemah, sebelum iblis Ban-kwi-to itu ikut pula duduk di dekatnya.
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya.
Mula-mula ia menjadi gugup dan bingung melihat kawannya itu memberi isyarat kepadanya.
Tapi sesaat kemudian ia segera menangkap maksud kawannya itu.
Maka ketika ia disuruh tengkurap di atas pasir, maka iapun tak membantah.
Ia menanti saja apa yang hendak dilakukan oleh tabib muda itu kepadanya.
Dan untuk sementara ia berusaha mengesampingkan kegeraman hatinya kepada iblis Ban-kwi-to itu.
"Perhatikan jarum-jarumku...!"
Pemuda itu mengulang kata-kata Chu Seng Kun di dalam hatinya.
"Apa maksudmu...?"
Tiba-tiba kulit punggungnya terasa dicoret-coret dengan ujung jarum oleh Chu Seng Kun.
Beberapa coretan lalu berhenti.
Kemudian coretan itu diulangi lagi, persis dengan yang tadi.
Lalu berhenti lagi.
Dan beberapa saat kemudian coretan tersebut diulangi lagi oleh Chu Seng Kun, sehingga akhirnya Chin Yang Kun tahu apa yang dikehendaki kawannya.
Tampaknya tabib muda itu bermaksud menulis pesan dengan goresan-goresan jarum pada punggungnya, agar Ceng-ya-kang yang buta huruf itu tidak menyadari kalau sedang diakali.
"Ayoh...bhrrrr! Mengapa jarum itu tidak lekas-lekas kau tusukkan? Mengapa Cuma kau putar-putarkan saja di atas punggungnya? kau ingin mengulur-ulur waktu, ya? Bbrrrr...jangan harap! Cepat!"
Iblis Ban-kwi-to itu menggertak.
"Baiklah, Chu-Twako! Lekaslah...!"
Chin Yang Kun berseru kepada Chu Seng Kun pula, sebagai isyarat bahwa ia juga sudah mengerti apa yang dimaksudkan oleh kawannya itu.
"Baik!"
Chu Seng Kun juga berseru dengan gembira, begitu maksudnya telah diketahui oleh Chin Yang Kun.
"Tapi kau jangan tergesa-gesa pula. Meskipun hanya menusukkan jarum, tapi pekerjaan itu juga tidak mudah. Harus menurut aturan dan cara-cara yang telah ditentukan."
Begitulah, sambil menyelipkan pesan-pesan dengan coretan-coretannya Chu Seng Kun menusukkan ketiga jarumnya di tempat yang dikehendakinya.
"Tiga batang jarum ini kugunakan untuk memacu dan membantu urat-urat penting di dalam tubuhmu, agar urat syaraf serta peredaran darahmu dapat segera pulih seperti sedia kala. Setelah itu terserah kepadamu untuk menghadapi iblis ini."
"Nah, aku sudah selesai dengan pengobatanku sekarang. Bagaimana? Apakah kau sudah siap pula?"
Chu Seng Kun menoleh ke arah Ceng-ya-kang dan bertanya. Iblis itu bangkit berdiri.
"Bhrrrr...bagus! Aku juga sudah siap. Tapi sekali lagi kuperingatkan, jangan sekali-sekali kalian berbuat yang mencurigakan atau berbuat curang. Sebab sekali saja aku mengetahui atau melihatnya, kalian...atau kita semua akan mati di tempat ini. Kalian tahu mengapa aku berkata demikian? Bhrrr...lihat...lihatlah pasir di bawah kaki kalian itu!"
Chu Seng Kun menarik napas panjang, lalu menundukkan kepalanya.
Begitu juga dengan Chin Yang Kun.
Pemuda itu secara otomatis juga memandang pasir yang ditindihnya.
Dan secara berbareng keduanya membelalakkan matanya.
Keduanya seperti orang yang sedang ketakutan!
Pasir itu ternyata telah berubah warnanya menjadi hijau gelap.
Dan itu berarti bahwa pasir tersebut telah mengandung racun pula.
Malah lapat lapat kedua pemuda itu melihat asap tipis atau kabut tipis dari dalam pasir tersebut.
Kabut tipis itu perlahan-lahan mengepul ke atas, seakan-akan hendak menyelimuti tubuh mereka bertiga.
"Nah...bhrrr...sudah kalian lihat itu? Hahaha...bhrrr...hal itu berarti bahwa kalian berdua juga sudah terkena racunku pula. Dan hal itu juga berarti bahwa mati hidup kalian telah berada di tanganku. Maka dari itu, asal kalian tidak berlaku curang dan bisa menyembuhkan penyakitku, aku juga akan memberi obat penawar racunku...kepada kalian. Ba-ba...bherrrr...bagaimana pendapat kalian? Bu-bukankah tukar-menukar ini adil juga?"
"Sudahlah! kau tak usah menakut-nakuti kami! Bersiaplah, aku akan mulai mengobati penyakitmu!"
Chu Seng Kun cepat memotong perkataan Ceng-ya-kang.
"Bhhrrr...aku sudah siap. Apa yang harus kukerjakan?"
"Berguling-gulinglah dahulu di atas pasir biar lendir-Iendir itu hilang dari badanmu! Setelah itu mandilah dalam air laut agar supaya pasir-pasir yang menempel di tubuhmu menjadi bersih!"
Chu Seng Kun memberi perintah.
"Bhhrrrr...kurang ajar! kau mau mengolok-olok aku? Ku-kubunuh kau!"
Tiba-tiba Cengya-kang naik pitam. Iblis itu berdesis, lalu menerkam Chu Seng Kun. Dengan susah payah tabib muda itu mengelak, kemudian berteriak.
"Tunggu! kau jangan Iekas marah! Aku tidak bermaksud menghinamu! Dengarlah...I Bagaimana aku bisa melihat dan memilih urat-urat serta jalan darahmu kalau kulitmu tertutup lendir-lendir kental begitu? Bagaimana kalau aku salah menusukkan jarumku nanti?"
Ceng-ya-kang menggeram dan menunda serangannya. Kata-kata Chu Seng Kun itu memang masuk akal.
"Hmm...jadi...jadi aku harus bergulung-gulung di atas pasir ini dahulu? Bhhrrrrr..."
Akhirnya Iblis itu berkata.
"Benar! Atau kalau kau keberatan, aku akan ngawur saja dalam menusukkan jarumku. Bagaimana...?"
"Ba-baik...bherrrrr...baiklah, aku akan berguling-guling di pasir ini! Tapi awas kalau kau mempermainkan aku!"
Dengan agak sedikit malas iblis itu lalu berguling-guling di atas pasir.
Mula-mula hanya perlahan-lahan saja, tetapi makin lama akhirnya makin cepat juga.
Setelah lendir lendir kental itu hilang dari tubuhnya, iblis itu lalu berlari ke pantai.
Tubuhnya yang sekarang penuh dengan pasir itu dimasukkannya ke dalam air, kemudian digosok-gosoknya hingga bersih.
Kesempatan itu dipergunakan oleh Chu Seng Kun untuk menengok Chin Yang Kun.
"Bagaimana saudara Yang? Apakah tenaga saktimu telah bisa pulih kembali?"
"Belum. Sebentar lagi. Tolong kau ulur lagi waktunya!"
Chin Yang Kun menjawab perlahan, takut didengar Ceng-ya-kang.
"Hei...kalian bicara apa?"
Ceng-ya-kang tiba-tiba meloncat keluar dari dalam air dan berdiri di depan mereka.
"Kalian berunding untuk menjebak aku, he...?"
"Aku hanya menanyakan hasil dari pengobatanku tadi. Apakah itu tidak boIeh?"
Chu Seng Kun membantah dengan berani.
"Tidak boleh! Sekali lagi kalian berbicara satu sama lain, pemuda ganteng itu akan kubunuh!"
Ceng-ya-kang yang kini sudah bersih dari lendir itu menggeram.
"Hmmh!"
Chu Seng Kun mendengus.
"Aku sudah bersih sekarang. Apa yang mesti kukerjakan lagi? Tapi...awas! Sekali kau melakukan kecurangan, racun-racunku akan segera bekerja. Satu persatu ruas-ruas tulangmu akan terlepas seperti orang yang terkena penyakit kusta. Dan kalian jangan harap bisa sembuh tanpa meminum obat penawarku!"
Tabib muda itu tergetar hatinya. Tampaknya iblis itu tidak hanya sekedar mengancam saja. Kelihatannya iblis itu memang berkata sebenarnya. Racun Kelabang Hijau memang bukan racun sembarangan.
"Agaknya aku memang tidak boleh sembrono menghadapi orang ini. Racun itu mungkin memang takkan bisa kutahan atau kuobati sendiri tanpa pertolongan obat penawarnya. Oleh karena itu aku harus berhati-hati dan pandai mengambil hatinya, agar obat penawar itu diberikan kepadaku dengan baik-baik,"
Chu Seng Kun berkata di dalam hatinya. Tabib muda itu lalu melangkah ke depan.
"Jangan banyak bicara! kau tinggal percaya atau tidak kepadaku? Kalau masih percaya, ya...syukur. Kalau tidak, ya...silakan pergi saja! Habis perkara!"
Katanya lantang.
"Hmmh!"
Ceng-ya-kang menggeram. Lalu.
"Baiklah! Apa yang harus kulakukan Iagi?"
"Kau duduklah bersila di atas pasir! Kendorkanlah semua urat dan otot-ototmu, aku akan memeriksa dulu penyakitmu!"
Chu Seng Kun berkata tegas.
Sementara itu Chin Yang Kun sudah mulai bisa menghimpun kembali kekuatannya.
Tusukan tiga batang jarum yang dilakukan oleh Chu Seng Kun tadi benar-benar membantu dan mempercepat proses pemulihan tenaganya.
Kini hanya tinggal beberapa buah jalan darah saja yang belum pulih seperti semula.
Demikianlah, Chin Yang Kun seperti sedang berlomba dengan waktu, sementara Chu Seng Kun membantunya dengan mengulur ulur waktunya.
Tetapi meskipun demikian, tabib muda itu juga tidak berani main-main dengan iblis tersebut.
Selain mengulur waktu, tabib muda itu juga berusaha dengan sekuat tenaganya untuk mengetahui jenis penyakit lawannya.
Sementara itu tubuh Ceng-ya-kang yang sudah bersih itu mulai dilapisi dengan lendir yang keluar lagi dari dalam tubuhnya.
Lendir itu mengucur keluar dari pori-pori kulit bersama-sama dengan keringat.
Semakin lama lendir tersebut semakin banyak juga sehingga akhirnya mengganggu pekerjaan Chu Seng Kun.
"Wah...lendirmu sudah menutupi kulitmu lagi! Maukah kau membersihkannya lagi?"
Tabib muda itu mengeluh.
"Bangsat! Lendir gila! Makin lama keluarnya semakin deras juga! Huh!"
Iblis itu mengumpat-umpat. Lalu.
"Apakah kau sudah menemukan cara untuk mengatasinya?"
"Sudah! Tapi aku harus memeriksanya kembali, apakah cara yang akan kulakukan itu tidak membahayakan kau. Aku harus berhati-hati menanganinya, karena aku belum pernah menjumpai penyakit seperti ini sebelumnya,"
Chu Seng Kun menjawab.
"Kurang ajar! Huh, baiklah..., aku akan berguling-guling di pasir dan mandi di laut lagi! kau nantikanlah di sini!"
Dengan perasaan mendongkol Ceng-ya-kang bersungut sungut. Begitu iblis itu membenamkan dirinya di laut, Chu Seng Kun bergegas menghampiri Chin Yang Kun kembali.
"Saudara Yang, bagaimana...? Sudah pulih kembali?"
Bisiknya kepada pemuda berkepandaian tinggi itu.
"Tinggal sedikit lagi! Lalu apa yang harus kulakukan seteIah tenagaku pulih nanti? Menggempur dia?"
"Jangan! Biarlah aku meminta obat penawarnya dahulu, selelah itu baru terserah kepadamu..."
Chu Seng Kun cepat-cepat mencegah.
"Eh, dia sudah selesai mandi. Berhati-hatilah!"
Chu Seng Kun bergegas menjauhi Chin Yang Kun lagi.
"Ayoh...cepatlah! Tubuhku sudah bersih kembali!"
Ceng-ya-kang berseru.
"Bagus! Bersilalah Iagi di atas...!"
Iblis itu memandang Chu Seng Kun dengan tajamnya, setelah itu perlahan-lahan matanya menoleh ke arah tubuh Chin Yang Kun, yang masih tergolek di atas pasir.
"Sekali lagi kau mengajaknya bicara, aku langsung akan membunuhnya! Dan aku tidak akan peduli lagi, apa yang akan terjadi nanti!"
Iblis itu menggeram seraya bersila di muka Chu Seng Kun.
Tergetar juga hati tabib muda itu.
la tak menduga kalau iblis itu mengetahui juga gerak-geriknya tadi.
Maka untuk sesaat, ia menjadi ragu-ragu untuk melanjutkan pengobatannya.
Ia khawatir iblis keji yang sukar diduga pikirannya itu akan berbalik pikiran dan mengamuk!
"Ayoh, lekas!
Kenapa kau diam saja di situ?
Mau mengulur waktu agar tenagamu pulih kembali?
Dan kemudian kau mau mencoba melawan aku?
Huh...jangan bermimpi!
Sekali saja kau mengerahkan separuh dari tenaga saktimu, maka racunku akan segera bekerja!
Dan dalam waktu singkat seluruh anggota badanmu akan terlepas satu persatu dari tubuhmu, bagaikan sebatang pohon yang berguguran daunnya di musim gugur""
"Aaaah...!"
Chu Seng Kun berdesah.
"Ayoh! Apa yang kau tunggu lagi?"
Ceng-ya-kang mendesak. Chu Seng Kun tersentak. Tapi bersamaan dengan itu tiba-tiba timbul akal di dalam pikiran tabib muda tersebut.
"Ooughhh!"
Desisnya seperti orang yang sedang menahan sakit, lalu tubuhnya terhuyung huyung mau jatuh. Tapi ia segera berpura-pura bertahan sekuat tenaganya.
"Hei? kau kenapa...?"
Dengan kaget Ceng-ya-kang berseru. Chu Seng Kun mengambil napas sambil mendekap dadanya.
"Tidak apa-apa! Hanya gangguan kecil saja. Dadaku terasa sakit..."
"Dadamu terasa sakit? Apakah...apakah lenganmu juga terasa kesemutan?"
Chu Seng Kun melirik, diam-diam ia tersenyum melihat kekhawatiran iblis itu.
"Be-benar...! Malah tidak cuma lenganku saja yang kesemutan, tapi juga kedua kakiku,"
Tabib muda itu berbohong.
"Kurang ajar! kau tentu tidak mengindahkan peringatanku tadi! kau tentu mengerahkan sinkangmu..."
Ceng-ya-kang mengumpat.
"Hah?"
Chu Seng Kun pura-pura kaget.
"Aku...aku memang telah mengerahkan sinkangku. Tapi...tapi...itu akan kugunakan untuk mengobatimu. Untuk mengurut, menotok dan menusukkan jarum, aku harus mempergunakan sinkang..."
Chu Seng Kun meneruskan sandiwaranya.
Chu Seng Kun laIu berpura-pura jatuh.
Tentu saja Ceng-ya-kang yang sedang membutuhkan pertolongan tabib muda itu menjadi kelabakan.
Iblis tersebut mengira lawannya benar benar sedang menderita akibat serangan racunnya.
"Gila! kau tadi tidak mengatakan bahwa cara pengobatanmu itu harus mempergunakan sinkang! Tahu begitu, aku tentu akan memberimu dulu obat penawarnya!Hmh! Nih...kau isaplah dulu darahku, lalu telanlah!"
Iblis itu membentak marah.
Ceng-ya-kang lalu melukai ujung jarinya, sehingga darahnya segera merembes keluar.
Tapi ketika jari itu dia acungkan ke mulut Chu Seng Kun, tabib muda itu tidak mau mengisapnya.
Iblis itu semakin menjadi marah.
"Kau ingin sembuh tidak"?"
Teriaknya.
"Hanya darahku ini saja yang bisa mengobatimu! Inilah obat penawarnya itu! Ayoh, cepat isaplah!"
Beberapa saat lamanya Chu Seng Kun masih ragu-ragu. Selain merasa jijik, tabib muda itu juga masih menimbang-nimbang di dalam hati, adakah kata-kata iblis itu bisa dipercaya atau tidak.
"Tapi...iblis ini sekarang membutuhkan sekali pertolonganku. Jadi rasa-rasanya tak mungkin ia berbohong, atau mau membunuh aku. Dan di dalam ilmu pengobatan, kata-katanya itu memang masuk akal. Aku pernah membaca di dalam buku peninggalan Sucouw, bahwa seorang yang digigit ular akan sembuh bila meminum darah ular itu sendiri. Hmm, baiklah...aku akan meminum darah iblis ini!"
Chu Seng Kun menimbang-nimbang di dalam hati.
Demikianlah, seperti dipaksakan Chu Seng Kun mengisap darah yang menetes dari ujung jari Ceng-ya-kang.
Baunya amis dan anyir, sehingga tabib muda itu hampir muntah karenanya.
"Sekarang kau kerahkan tenaga saktimu secara perlahan-lahan! Kemudian kumpulkan semuanya di dada, lalu desaklah rasa sakit yang menyerangmu tadi keluar dari dalam tubuhmu!"
Ceng-ya-kang memberi perintah.
Jilid 39 Perlahan-lahan Chu Seng Kun mengerahkan sinkangnya seperti yang diperintahkan oleh iblis dari Ban-kwi-to itu.
Dan secara perlahan-lahan juga tubuh tabib muda itu menjadi panas, sehingga akhirnya terlihat asap tipis mengepul dari tubuh tersebut.
Asap itu semakin lama semakin tebal, berwarna kehijau-hijauan dan berbau busuk serta amis!
"Nah, kau sudah bebas dari racunku sekarang.
Kini ganti kau yang menyembuhkan penyakitku.
Aku...?"
Tiba-tiba Ceng-ya-kang tidak meneruskan ucapannya.
Iblis itu baru sadar kalau dirinya terkecoh.
Karena terlalu khawatir pada penyakitnya, ia sampai lupa memberi obat penawar kepada lawannya.
Bagaimana kalau lawannya itu tiba-tiba berbalik pikiran?
Benar saja.
Iblis itu menjadi pucat wajahnya.
Perlahan-lahan ia melihat Chu Seng Kun bertolak pinggang di hadapannya.
Tabib muda itu tersenyum penuh kemenangan.
"Manusia busuk...! sungguh pintar mengelabuhi aku! Tapi jangan buru-buru bergembira dahulu! Aku tahu kau belum pulih seluruhnya! kau tidak akan menang melawan aku! Kini akan kubunuh kau uuu...!!!"
Iblis itu berteriak penasaran.
"Cuh! Cuh! Cuh!"
Ceng-ya-kang meloncat seraya mengobral ludahnya.
Tapi dengan cepat Chu Seng Kun mengelak, kemudian melompat menjauhi lawannya.
Gerakannya masih lemah, sehingga ludah-ludah itu hampir saja mengenai badannya.
Iblis gundul itu cepat mengejar, lalu melancarkan serangan lagi secara bertubi-tubi.
Tentu saja Chu Seng Kun yang belum pulih kembali itu menjadi kalang kabut!
Beberapa kali pukulan Ceng-ya-kang hampir mengenai badannya.
Mendadak terdengar desis ular yang sangat keras.
Begitu kerasnya sehingga kedua orang yang sedang bertempur itu merasa kaget sekali.
Keduanya melompat mundur seraya bersiap-siaga penuh.
Mereka membayangkan, tentu ada seekor ular raksasa yang keluar dari dalam laut, mau menyerang mereka!
"Ssssssss!"
"Hah?"
"Heh! Ooh, kau...Saudara Yang!"
Ternyata mereka salah sangka!
Yang berdesis di belakang mereka tadi ternyata bukan seekor ular raksasa, Tetapi...Chin Yang Kun!
Pemuda itu ternyata telah selesai memulihkan tenaganya, dan kini tampak berdiri tegak memandang Ceng-ya-kang!
Matanya mencorong penuh kemarahan!
Entah mengapa, Ceng ya kang yang biasa ditakuti orang itu tiba-tiba merasa ngeri melihat pandang mata Chin Yang Kun yang penuh ancaman itu.
Bulu kuduknya terasa meremang, apalagi ditambah dengan hembusan udara dingin yang meniup dari tubuh Chin Yang Kun.
"Kau...kau...? Mengapa kau tidak terpengaruh oleh racunku?"
Dengan suara gemetar iblis itu menyapa Chin Yang Kun.
"Siapakah kau se...sebenarnya?"
"Hmm...tampaknya kau mulai ingat kembali kepadaku, iblis keji! Ayoh, kalau begitu mari kita selesaikan sekarang utang-piutang kita itu!"
Chin Yang Kun menggeram. Ceng-ya-kang mengerutkan dahinya, lalu meloncat selangkah ke belakang.
"Tunggu dulu! Huh...Utang-piutang katamu? Kurang ajar! Utang-piutang apa itu?"
"Setan gundul! kau jangan berpura-pura lupa kepadaku!Ingat peristiwa di hutan lebat di lereng Bukit Ular setahun yang lalu? Peristiwa terbantainya seluruh Keluarga Chin di tengah malam buta itu?"
Chin Yang Kun menggeram lagi dengan hebat. Tiba-tiba Ceng-ya-kang tertawa gelak-gelak.
"Ooo...itu! Hahahaha...! Aku ingat kepadamu sekarang! Huh...jadi kau ini pemuda she Chin itu?"
"Keluarga Chin...?"
Chu Seng Kun bergumam perlahan, seraya mengawasi Chin Yang Kun, sahabatnya. Sementara itu Chu Yang Kun tampak semakin tegang dan geram.
"Benar, Ceng-ya-kang! Kini sudah kau ingat lagi, bukan? Itulah utang-piutang kita yang harus kau selesaikan sekarang! Tapi...sebelum kita mengadakan perhitungan, aku akan bertanya dulu kepadamu. Siapakah yang memberi perintah kepadamu untuk membantai keluarga Chin? Apakah orang berkerudung hitam yang bergelar Hek-eng-cu itu?"
"Tak ada yang memberi perintah. Aku membunuh wanita dan anak-anak itu karena mereka tidak mau memberitahukan tempat penyimpanan Cap Kerajaan. Aku kesal...mereka tidak..."
"Tunggu! kau jangan coba-coba mengurangi dosamu, ya? kau membantai seluruh Keluarga Chin, laki perempuan, bukan hanya wanita dan anak-anak! Tahu?"
Dengan kemarahan yang meluap-luap Chin Yang Kun memotong perkataan Ceng-ya-kang.
"Bangsat! Mengapa aku mesti harus mengurangi dosa dosaku? kau kira aku takut kepadamu? Akulah yang meracun wanita dan anak-anak itu! Dan...akulah yang menulis surat ancaman itu! Nah, kau mau apa? Cuh!"
"Lalu bagaimana dengan ayah dan pamanku itu? Siapa yang membunuh mereka di rumah Pendekar Li itu?"
Chin Yang Kun berteriak penasaran.
"Aku tidak tahu!! Kenapa kau tanyakan itu kepadaku? Biarkan saja ayah dan pamanmu itu masuk neraka!!!"
Ceng-ya-kang berteriak pula tak kalah kerasnya.
"Kurang ajar! Kubunuh kau!"
Chin Yang Kun menjerit marah.
Dengan ganas pemuda itu menerkam Ceng-ya-kang!
Kedua buah tinjunya melayang ke depan, menghantam ke arah kepala dan dada Iawannya.
Dan untuk kedua kalinya terdengar suara desis yang keras dari mulut pemuda tersebut.
Iblis dari Ban-kwi-to itu cepat merendahkan tubuhnya, kemudian sambil melangkah ke kiri Iblis itu melancarkan serangan ludahnya.
Cuh!
Chuh!
Chuh!
Kedua buah pukulan Chin Yang Kun tadi menemui tempat kosong.
Sebaliknya dari lawannya ia menerima serangan ludah beracun.
Oleh karena itu dengan menggeliatkan badannya pemuda itu berputar ke arah kanan, sehingga ludah-ludah itu melesat di samping tubuhnya.
Demikianlah kedua orang itu lalu terlibat dalam pertempuran yang seru.
Masing-masing berusaha keras untuk menundukkan lawannya.
Iblis gundul itu dengan Ludah Inti Racunnya berusaha mendesak Chin Yang Kun, sementara pemuda itu dengan lincahnya mengelak kesana kemari.
Tampak benar bahwa pemuda tersebut merasa jijik oleh semburan-semburan ludah lawannya, sehingga akibatnya ia selalu didesak dan dicecar kemanapun ia pergi.
Celakanya ludah itu bagaikan mata air yang tiada habis-habisnya keluar dari mulut Ceng-ya-kang.
Maka tidaklah heran kalau akhirnya pemuda itu menjadi repot menghadapinya.
"Kurang ajar, kalau aku tidak lekas-lekas membungkam mulutnya aku bisa mendapat malu nanti! Baiklah, akan aku lawan dia dengan pukulan-pukulan jarak jauh saja!"
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
Chin Yang Kun lalu mengerahkan sinkangnya ke arah lengan, kemudian dengan pukulan-pukulan jarak jauhnya, yang dahulu pernah membuat tercengang Keh-sim Siauwhiap di rumah Pendekar Li, dia menghalau semburan-semburan ludah itu.
Dan ternyata apa yang ia lakukan tersebut benar-benar sangat jitu.
Semburan semburan ludah itu segera tersapu balik dan pecah berhamburan begitu terlanda angin pukulannya.
Malah tidak cuma itu saja.
Tubuh Ceng-ya-kang yang gemuk bulat itupun ternyata ikut pula terhempas ke belakang jatuh tunggang langgang di atas pasir.
"Setan keparat! Hantu mana yang masuk ke dalam tubuh anak ini?"
Ceng-ya-kang menggeram seraya bangkit berdiri.
Iblis dari Ban-kwi-to itu mengusap cairan darah yang meleleh dari sudut bibirnya.
Dadanya terasa sakit.
Ternyata pukulan Chin Yang Kun tadi telah melukai bagian dalam tubuhnya.
Dan untuk pertama kalinya iblis itu merasa ngeri melihat kemampuan lawannya yang masih muda itu.
"Hei, kenapa termangu-mangu saja di situ. Mulai takut?"
Chin Yang Kun mengejek lawannya. Ceng ya kang menggeram bagai harimau luka.
"Keparaaaat! Lihat, aku belum kalah!"
Teriaknya seraya menubruk ke depan. Sekali lagi Chin Yang Kun menyambut lawannya dengan pukulan jarak jauhnya.
"Whuuuuuusss!"
Tapi sekali ini Chin Yang Kun dibuat kaget oleh gerakan lawannya.
Pukulannya yang ampuh itu ternyata dengan mudah dielakkan oleh Ceng-ya-kang.
Dengan gerak langkah kakinya yang aneh, serta gerak tubuhnya yang menggeliat dan meliuk kesana kemari, iblis dari Ban-kwi-to itu ternyata bisa menerobos di sela sela angin pukulannya.
Dan kemudian dengan gaya pukulannya yang cepat, beruntun, serta sambil meliuk kesana kemari, iblis itu mendesaknya.
"Gila! Ilmu apa lagi ini? Tampaknya...seperti gerakan seekor kelabang!"
Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati.
Dan selanjutnya Chin Yang Kun dipaksa untuk mundur terus.
Ceng-ya-kang mendesak terus dengan serangannya yang beruntun dan bertubi-tubi, sehingga pemuda itu hampir tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membalasnya.
Kalau toh kadang-kadang ada juga sedikit kesempatan untuk balas menyerang, iblis itu dengan gerak langkahnya yang aneh namun cepat bukan main, segera meliuk-liuk melepaskan diri, untuk kemudian melanjutkan lagi desakannya yang cepat dan ganas itu.
Malah beberapa saat kemudian semburan-semburan ludahnya yang menjijikkan itu mulai beraksi lagi.
Akibatnya Chin Yang Kun harus berloncatan lagi kesana kemari untuk mengelakkan serangan-serangan itu.
Dan karena semburan-semburab ludah semakin lama semakin deras dan membabi-buta, maka akhirnya pemuda itupun semakin terpojok dan jatuh dalam kesulitan lagi.
Sementara itu di luar arena, Chu Seng Kun masih kelihatan berdiri termangu-mangu di tempatnya.
Di dalam kepala tabib muda itu masih bergelut pikiran tentang sahabatnya, Chin Yang Kun.
Ucapan-ucapan yang dikeluarkan oleh Ceng-ya-kang tadi telah membukakan tabir rahasia yang selama ini selalu disembunyikan dan ditutupi oleh sahabatnya itu.
Kata-kata Ceng-ya-kang yang menyebutkan tentang Keluarga Chin dan Cap Kerajaan tadi, segera mengingatkan dia kepada keluarga bekas Kaisar lama, yaitu Kaisar Chin yang dahulu bertakhta di singgasana keKaisaran negeri Tiongkok.
Cap Kerajaan itu sampai sekarang belum diketemukan, sehingga memancing banyak orang untuk mencarinya.
Oleh karena sejak dahulu telah timbul anggapan bahwasanya siapa saja yang memegang atau memiliki benda pusaka tersebut tentu akan menjadi raja atau penguasa negeri Tiongkok, maka kancah perburuan Cap Kerajaan itupun akhirnya menjadi ganas dan keras.
Pertumpahan darah tak dapat dielakkan lagi.
Dan yang menjadi sasaran utama adalah keturunan bekas Kaisar lama.
Semua orang menganggap bahwa salah seorang dari keluarga Chin itulah yang menyimpan atau menyembunyikannya.
"Kalau begitu saudara Yang ini adalah keturunan langsung dari mendiang Kaisar Chin Si Hong-te. Wah...kalau demikian halnya urusan ini akan menjadi ramai sekali nanti! Heh...?!?"
Tiba-tiba Chu Seng Kun tersentak dari lamunannya.Dilihatnya kawannya itu sedang berada di dalam kesulitan.
Ceng-ya-kang dengan semangat yang meluap-luap tampak sedang mendesak kawannya itu dengan ilmu silatnya yang cepat dan ganas.
Mula-mula dia menjadi heran, tapi setelah ia melihat temannya itu tampak jijik menghadapi ludah yang beterbangan itu, ia lantas maklum apa yang telah terjadi.
"Ilmu silat dan tenaga dalam saudara Yang sebenarnya sangat berlebihan kalau cuma untuk melayani iblis dari Ban-kwi-to itu. Tapi sungguh mengherankan sekali, mengapa dia justru terdesak dan berada di bawah angin? Mengapa dia tidak segera mencari jalan untuk mengatasi semburan ludah lawannya yang beterbangan itu? Ahh, tampaknya saudara Yang ini masih memerlukan pengalaman bertempur yang lebih banyak di dunia persilatan, agar supaya ilmunya yang dahsyat itu mampu ia kembangkan dan ia pahami untuk menghadapi ilmu-ilmu lain yang banyak ragamnya itu..."
Chu Seng Kun bergumam menilai ilmu silat kawannya.
Sementara itu Chin Yang Kun semakin terdesak oleh gaya permainan lawannya.
Tapi ketika Ceng-ya-kang semakin bernafsu untuk menyelesaikan pertempuran itu, tiba-tiba Chin Yang Kun merubah gaya perlawanannya.
Kini pemuda itu selalu mengelak dari serangan beruntun lawannya dengan loncatan-loncatan panjang.
Dengan gerakan-gerakannya itu otomatis lawannya yang lebih rendah ginkangnya itu menjadi selalu ketinggalan langkah untuk mengejarnya.
Satu-satunya jalan bagi Ceng-ya-kang untuk menutupi kekurangannya itu hanyalah semburan ludahnya.
Sambil mengejar iblis itu menyerang dengan lontaran-lontaran ludahnya.
Sayang sekali, dengan jarak yang cukup jauh itu sangat mudah bagi Chin Yang Kun untuk meruntuhkannya.
Dan kemudian dengan pukulan jarak jauhnya pemuda itu kini ganti mendesak iblis itu.
"Bagus! Itulah cara yang seharusnya ditempuh oleh saudara Yang sejak tadi!"
Chu Seng Kun bersorak di dalam hati melihat keberhasilan kawannya.
Sekarang ganti Ceng-ya-kang yang jatuh bangun didesak oleh Chin Yang Kun.
Semburan ludahnya dan ilmu silatnya yang cepat dan ganas itu sudah tidak berarti lagi terhadap lawannya.
Sementara pukulan-pukulan jarak jauh Chin Yang Kun yang ampuh itu kini selalu mengejarnya kemanapun ia pergi.
"Bangsat licik! Ayoh...majulah! kita bertempur beradu dada! Jangan Cuma berlari-lari begitu...aduuuuh!"
Ceng-ya-kang terlempar jatuh berdebam di atas pasir.
Pukulan Chin Yang Kun yang bertubi-tubi itu akhirnya tak bisa dielakkan lagi oleh Cengya-kang.
Sebuah pukulan dengan telak mengenai punggungnya sehingga iblis itu terjerembab tak bisa bangun lagi.
Darah mengalir dari mulut dan hidungnya.
"Anak setaannn...! anak iblisssss...!"
Sebelum menutup mata iblis itu masih sempat mengumpat dan memaki.
Tubuh yang gemuk berkulit pucat kehijau-hijauan itu tampak meregang sebentar, kemudian diam tak bergerak.
Perlahan-lahan kulitnya berubah kehitam-hitaman, sesuai dengan warna darah Chin Yang Kun yang beracun.
Diam-diam Chin Yang Kun menghela napas.
Di dalam hati pemuda itu menjadi ngeri sendiri melihat korban pukulan beracunnya.
Ceng-ya-kang adalah tokoh ahli racun terkemuka.
Tubuhnya telah biasa bergelut dengan segala macam racun yang ganas-ganas.
Meskipun demikian iblis itu tetap juga tidak kuasa menahan keampuhan pukulan beracunnya!
"Dia telah mati..."
Terdengar suara Chu Seng Kun lega.
"Kau telah berhasil membalaskan dendam keluargamu."
Chin Yang Kun menoleh, lalu menghela napas lagi. Wajahnya kelihatan lesu dan tak bergairah meskipun sudah bisa membunuh musuh besarnya. Tentu saja Chu Seng Kun merasa heran sekali.
"Eh, saudara Yang...mengapa kau tidak bergembira? Bukankah kau telah berhasil membunuh orang yang membantai keluargamu? Apa yang membebani hatimu lagi!"
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya, suaranya tampak kecewa sekali ketika menjawab.
"Chu-Twako...! orang terakhir yang diharapkan menjadi kunci terbukanya rahasia pembunuh keluargaku ini ternyata juga tak tahu apa-apa. Orang ini hanya membunuh ibu dan adik-adikku. Dia tidak membunuh ibu dan adik-adikku. Dia tidak membunuh ayah dan pamanku. Ahhh...lalu siapa sebenarnya yang membantai ayah dan pamanku itu?"
"Saudara Yang..."
Chu Seng Kun berbisik seraya menyentuh lengan sahabatnya itu.
"Semua orang yang kucurigai, yang kira-kira terlibat di dalam peristiwa itu, telah kutemui semuanya. Tapi tak seorangpun dari mereka yang terbukti membunuh keluargaku..."
Chin Yang Kun mengeluh lagi dengan sedihnya.
"Chu-Twako...lalu apa yang harus kuperbuat sekarang?"
"Saudara Yang, sudahlah...kau tenangkanlah dahulu hatimu! Marilah kita ke dusun itu dan berkumpul dengan kawan-kawan! Nanti kita pikirkan lagi persoalanmu itu bersama-sama. Siapa tahu Hongsiang dan para pembantunya bisa membantumu?"
"Tidak! Aku tidak mau membuat ribut orang lain. Persoalan ini adalah persoalanku sendiri. Biarlah aku mencoba mengusutnya lagi dari semula."
"Maksudmu?"
"Mungkin kegagalanku ini disebabkan karena kurangnya ketelitianku dalam melacak jejak-jejak pembunuh itu. Oleh karena itu aku akan mencoba mengusutnya lagi dari depan. Aku akan kembali ke rumahku, di mana aku sekeluarga mengasingkan diri selama ini..."
"Jadi...?"
"Aku akan mengambil kudaku secara diam-diam, lalu pergi meninggalkan tempat ini..."
Chin Yang Kun berkata tegas.
"Kau tidak ingin berjumpa dengan Hongsiang dulu?"
Chin Yang Kun tampak termangu-mangu sebentar. Lalu katanya.
"Sebaiknya aku tidak usah menemuinya. Aku minta tolong saja kepada Chu-Twako untuk melaporkan perihal kepergianku ini besok pagi. Biarlah semua orang tidak menjadi ribut kalau mendengarnya. Twako, bersediakah kau?"
Tabib muda itu menarik napas panjang.
"Baiklah kalau memang itu yang kau inginkan. Tapi...bagaimana dengan gangguan pada simpul syarafmu itu? Apakah penyakit tersebut akan kau diamkan saja hingga menjadi parah?"
"Tentu saja tidak, Chu-Twako. Aku akan segera mencari Chu-Twako begitu urusanku ini selesai."
"Dan...apabila urusan itu dalam jangka waktu lama tidak kunjung selesai juga? Padahal penyakitmu semakin hari semakin parah. Apa jadinya nanti? Di satu pihak kau dapat menyelesaikan dendammu, tetapi di lain pihak kau sudah berubah-berubah menjadi seorang iblis penyebar maut di kalangan para wanita. Apakah kau tidak merasa ngeri?"
"Ahh...aku akan berhati-hati sekali menjaga diriku. Akan selalu kuhindari hal-hal yang sekiranya bisa membuat penyakitku kambuh."
"Saudara Yang, tampaknya kau belum menyadari sepenuhnya, macam apa penyakitmu itu. Tak seorangpun di dunia ini yang mampu bertahan terhadap penyakit seperti itu. Jangankan Cuma seorang manusia biasa seperti kau dan aku, biarpun seorang pendeta atau pertapa yang telah ber puluh puluh tahun menyepipun takkan kuat bertahan menghadapi amukan penyakit tersebut. Paling-paling kau akan menyesal setelah semuanya terjadi. Tapi apa gunanya itu?"
"tapi...tapi...aku harus mencari dan menemukan orang yang telah membunuh ayah serta pamanku dulu. Aku takkan enak makan dan tidur kalau belum mendapatkan orang itu."
Chu Seng Kun berdesah panjang melihat kekerasan hati kawannya itu.
"Terserahlah kalau begitu..."
Demikianlah, tanpa menimbulkan perhatian kawan-kawannya serta para perajurit yang berada di dusun itu, Chin Yang Kun menuntun si Cahaya Biru dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
Dibawanya kuda itu menyeberangi muara, kemudian terus berjalan ke arah utara.
Pemuda itu berharap pagi hari besok telah bisa mencapai lembah itu.
Tempat dimana keluarganya dulu mengasingkan diri memang tidak jauh dari muara itu.
Langit mulai tampak kemerah-merahan, dan udarapun sudah tidak begitu gelap lagi.
Pohon-pohon sudah kelihatan daunnya, sementara jalan yang mereka lalui juga sudah kelihatan pula batu-batu dan kerikilnya, sehingga langkah si Cahaya Birupun dapat menjadi lebih cepat pula.
Kenangan Chin Yang Kun mulai terusik kembali ketika melewati tempat-tempat yang dulu sering ia kunjungi atau ia lewati.
Hutan yang kini ia lalui adalah hutan tempat ia dan mendiang paman bungsunya sering berburu kelinci atau babi hutan dahulu.
"Sebentar lagi akan terlihat batu karang berwarna putih itu. Ahhh...masihkah batu putih itu disana? Dan masih jugakah bekas pukulan tangan Paman Bungsu itu?"
Chin Yang Kun yang semakin tenggelam dalam kenangan dengan paman bungsunya itu bergumam perlahan.
Chin Yang Kun sejak kecil memang lebih dekat dengan paman bungsunya dari pada dengan ayahnya sendiri.
Apalagi semua ilmu silat pemuda itu hampir semuanya adalah hasil didikan paman bungsunya.
Maka tak heran kalau pemuda itu lebih merasa sedih dan lebih merasa kehilangan ketika paman bungsunya itu mati daripada ketika ayahnya sendiri dibunuh orang.
"Haa...itu dia Batu Putih itu!"
Chin Yang Kun seperti bersorak ketika melihat sebongkah batu karang besar berwarna putih di pinggir jalan.
"Kalau begitu desa Hoa-ki-cung tinggal beberapa langkah lagi, Ah...tampaknya semuanya tak berubah dan masih seperti dahulu juga. Rasanya aku menjadi ingin sekali singgah barang sebentar untuk menengok sanak keluarga ibuku..."
Ibu Chin Yang Kun berasal dari desa In-ki-cung, yaitu desa yang letaknya hanya bersebelahan dengan desa Hoa-ki-cung tersebut.
Keluarga ibunya sangat besar dan hampir semuanya tinggal di dua desa itu.
Dan karena sejak kecil ayah dan ibunya sering mengajak Chin Yang Kun mengunjungi kakek dan neneknya, maka Chin Yang Kun juga hampir mengenal semua sanak keluarga ibunya.
Hanya saja hubungan keluarga tersebut memang tidak begitu akrab seperti halnya dengan keluarga ayahnya, sebab bagaimanapun juga ayahnya adalah seorang Pangeran Chin, sementara ibunya hanya dari kalangan rakyat jelata saja.
Tetapi kakek luarnya atau ayah dari ibunya adalah orang yang terpandang di kedua desa itu.
Kakek luarnya adalah seorang kepala kampung yang disegani di sekitar daerah itu.
Teringat akan kakeknya, Chin Yang Kun menghela napas beberapa kali.
"Masih hidupkah dia? Dan masihkah ia menjabat sebagai kepala kampung?"
Chin Yang Kun bertanya di dalam hatinya. Sambil berjalan mendekati batu karang putih itu Chin Yang Kun mengenangkan kembali kakek dan nenek luarnya.
"Sejak kakek Baginda digulingkan oleh pemberontak Chu Siang Yu dan Liu Pang, ayah lantas mengajak seluruh keluarganya keluar dari Kotaraja. Mula-mula ayah bermaksud tinggal disini, di tempat kakek luarku. Tapi karena takut nanti dikejar dan dicari oleh musuh yang kini berkuasa, maka ayah lantas memutuskan untuk mengasingkan diri di tempat yang terpencil, yaitu di daerah pegunungan di sebelah barat desa In-ki-cung itu. Bertahun tahun aku tinggal di lembah terpencil itu tanpa setahu atau memberi kabar kepada kakek luarku. Ayah mengancam akan membunuh siapa saja yang berani keluar dari lembah itu. Ahhhh...! tapi meskipun sudah bersembunyi, rencana itu akhirnya tetap datang juga..."
Chin Yang Kun menghela napas panjang, lalu menghentikan kudanya di pinggir jalan.
Batu karang putih itu telah berada di depan matanya, dan iseng-iseng ia ingin melihat bekas pukulan paman bungsunya disana.
Tapi...tiba-tiba matanya terbelalak!
Telinganya seperti mendengar suara orang mengerang di balik batu karang putih itu!
Bergegas pemuda itu meloncat turun dari punggung kudanya, lalu berlari menghampiri batu karang itu.
Dan...sekali lagi pemuda itu terbelalak matanya!
Di batu itu tampak terikat erat seorang lelaki dengan kulit muka biru memar bekas pukulan.
Mulut dan hidung orang itu pun tampak bekas-bekas darah yang telah mengering, sementara kedua biji matanya hampir tertutup oleh kelopak matanya yang membengkak.
"Ooughh...tu-tuan...to-tolonglahhh...aku."
Orang itu merintih begitu melihat kedatangan Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun cepat menolong orang itu.
Dilepaskannya ikatannya, lalu dibaringkannya tubuh yang lemas tersebut diatas rumput.
Kemudian Chin Yang Kun mengambil buli-buli tempat airnya dan memberi minum orang itu.
"Hmm...saudara siapa? Mengapa kau berada di tempat ini? Siapakah yang telah menganiayamu?"
Chin Yang Kun bertanya setelah orang itu kelihatan bisa menguasai dirinya kembali.
Orang itu kelihatan gelisah kembali.
Matanya yang sipit karena membengkak itu berkali-kali melirik Chin Yang Kun dengan sinar mata curiga dan ketakutan.
Tampaknya orang itu masih merasa ngeri dan ketakutan terhadap orang yang menyiksanya.
Chin Yang Kun bisa menduga apa yang sedang berkecamuk di dalam pikiran orang itu.
Maka agar supaya orang itu tidak semakin curiga dan menduga hal-hal yang buruk kepadanya, Chin Yang Kun cepat membujuknya dengan kata-kata halus.
"Saudara tak usah takut atau curiga kepadaku. Aku adalah seorang pengembara yang secara kebetulan sedang lewat di tempat ini. Aku tadi mendengar suara rintihan saudara, sehingga aku berhenti dan menolong saudara...Nah, sekarang coba saudara ceritakan, apa sebenarnya yang terjadi?"
Orang itu tampak lega dan mulai percaya akan perkataan Chin Yang Kun.
"Siapa...siapakah tuan ini?"
Tanyanya ragu.
"Namaku Yang Kun...Chin Yang Kun!"
"Chin Yang Kun...? Apa...apakah tuan ini Chin...Chin Yang Kun putera Pangeran Chin itu?"
Tiba-tiba orang itu berdesah kaget. Chin Yang Kun menatap orang itu tajam-tajam. Keningnya berkerut.
"Ayahku memang seorang Pangeran Chin. Mengapa...?"
"Dan...ibumu adalah puteri kakek Cia, kepala desa In-ki-cung dan Hoa-ki-cung itu? Benarkah...?"
Orang itu bertanya lagi dengan tegangnya.
"Ya-ya, benar! Maksudmu? Eh...siapakah kau ini? Mengapa kau mengenal kedua orang tuaku? Apakah kau tinggal di desa In-ki-cung juga?"
"Ohhh...Adik Yang Kun! Ketahuilah, aku...aku ini Yung Ci Pao, saudara sepupumu dulu itu."
Orang itu berseru gembira.
"He? kau si Bopeng Ci Pao putera bibi Hui itu?"
"Be-betul!"
"Wah...aku sudah tidak mengenalmu lagi. kau dulu kecil dan berpenyakitan, sekarang demikian gemuk dan kekar."
Chin Yang Kun tersenyum memuji.
"Ahhh...akupun sudah tidak mengenalmu pula, adik Yang. Delapan tahun yang lalu kau juga hanya merupakan seorang anak kecil kerempeng pula seperti aku. Tapi sekarang...wah! Tentu banyak sekali gadis-gadis yang tergila-gila kepadamu!"
Ci Pao tersenyum pula seraya bangkit duduk.
"Ah! kau ini tampaknya masih suka menggoda anak perempuan, ya? Bagaimana dengan Si Burung Walet dulu itu? kau masih berani menggodanya juga?"
Chin Yang Kun yang teringat kembali akan masa kanak-kanak mereka segera bertanya tentang Wi Yan Cu, puteri guru sekolah desanya yang cantik lincah dahulu.
"Hei? Kenapa tidak berani? Setiap hari aku tentu menggodanya, karena dia telah menjadi isteriku sekarang. kau...ouughh!!!"
Tiba-tiba wajah Yung Ci Pao berubah dengan hebat! Wajah itu secara mendadak berubah menjadi sedih, murung, gelisah dan ketakutan kembali! Mata yang bengkak ini menatap Chin Yang Kun tanpa berkedip.
"Hah, Ci Pao...kenapakah kau?"
Chin Yang Kun berseru kaget.
"Oooooh!"
Yung Ci Pao berdesah lemas.
"Dia...dia sekarang...ohh!"
"Dia? Dia siapa? Wi Yan Cu maksudmu? Kenapa dia? Katamu dia telah menjadi isterimu!"
"Dia...dia memang telah menjadi isteriku. Tapi sekarang...dia diculik orang jahat! Aku...aku...Oh! Inilah mungkin akibat dari dosa-dosaku!"
Yung Ci Pao menangis tersedu-sedu.
"Diculik penjahat?"
Chin Yang Kun menegaskan. Yung Ci Pao tidak segera menjawab. Tangisnya semakin keras malah.
"Dosa! Dosa! Aku orang yang berdosa! Uh-huuu...!"
Chin Yang Kun menahan napas jengkel karena saudara sepupunya itu tidak mau berhenti menangis juga. la lalu berdiri dan berjalan menghampiri kudanya yang sedang merumput.
"Piao-te (Adik sepupu)...tunggulah, kau jangan pergi!"
Melihat itu Yung Ci Pao berteriak. Chin Yang Kun berhenti melangkah.
"Mengapa kau berhenti menangis? Menangislah terus, kalau menurut pendapatmu tangis itu memang bisa menyelesaikan segala-galanya,"
Katanya acuh.
"Piao-te, maafkan aku..."
Chin Yang Kun menghampiri Yung Ci Pao kembali.
"Nah...kalau demikian, ceritakanlah apa yang terjadi!"
Yung Ci Pao mengangguk.
"Baiklah..."
Katanya seret.
Yung Ci Pao lalu bercerita.
Dia telah dua tahun kawin dengan Wi Yan Cu, tapi belum dikaruniai seorang anakpun.
Sebenarnya Wi Yan Cu pernah hamil, tapi bayi tersebut meninggal sebelum dilahirkan.
Hal itu menyebabkan Wi Yan Cu menjadi sedih luar biasa.
Sikapnya menjadi berubah.
Gadis yang semula lincah dan gembira itu berubah menjadi pendiam dan tak mempunyai semangat hidup lagi.
Seperti orang yang kurang waras isterinya itu sering meninggalkan rumah mereka tanpa tujuan.
Tetapi karena dia sangat mencintai isterinya itu, maka ia selalu mencarinya dan mengajaknya pulang kembali.
Dan kemarin sore seperti biasa isterinya telah pergi meninggalkan rumah mereka lagi.
Dia cepat-cepat mencarinya.
Dan menurut penuturan para tetangganya, isterinya itu pergi ke arah hutan ini.
Demikianlah, dengan ketekunannya ia berhasil menemukan isterinya kembali.
Tapi di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba mereka berjumpa dengan dua orang lelaki dan seorang wanita muda.
Ketiga orang itu ternyata bukan orang baik-baik.
Melihat kecantikan isterinya, salah seorang dari kedua lelaki itu, yaitu yang berwajah tampan dan berpakaian mentereng, segera mencoba untuk berbuat tak senonoh.
Tentu saja dia menjadi marah sekali.
Tapi kali ini ia benar-benar membentur batu.
Ketiga orang itu ternyata adalah jago-jago silat berkepandaian tinggi.
Hanya dengan tangan kirinya saja lelaki tampan itu telah menghajarnya habis-habisan dan kemudian mengikatnya di batu karang putih ini.
Selanjutnya penjahat itu lalu membawa pergi isterinya.
"Ohhh...piao-te, tolonglah!"
Yung Ci Pao menangis lagi.
"Baiklah! Mari kita cari mereka!"
"Tapi...tapi mereka bertiga, sedangkan kita hanya berdua. Dan mereka itu mahir ilmu silat lagi!"
Yung Ci Pao berkata ketakutan.
"Sudahlah! Hal itu kita pikirkan nanti. Sekarang yang penting kita cari dulu isterimu!"
"Ohh...ba-baiklah!"
Demikianlah mereka lalu bersama-sama naik di atas punggung si Cahaya Biru.
Chin Yang Kun mengarahkan kuda itu ke desa Hoa-ki-cung yang jaraknya tinggal beberapa ratus langkah lagi.
Sementara itu matahari benar-benar telah keluar dari peraduannya.
Sinarnya yang hangat itu telah menyergap kulit pipi dan punggung mereka.
Burung-burungpun mulai terdengar berkicau bersaut-sautan di atas pohon yang mereka lalui.
"Itu dia Hoa-ki-cung!"
Yung Ci Pao berseru, telunjuknya menunjuk ke depan.
"Ahh...masih seperti dulu juga. Tidak ada perubahan. Hanya pohon siong di muka jalan masuk ke desa itu kini sudah besar sekali,"
Chin Yang Kun bergumam.
"Yaa!"
Yung Ci Pao mengangguk.
"Dan...rumah besar yang kelihatan gentingnya itu rumah Wi Yan Cu, bukan?"
"Ya...! dan kami berdua tinggal di sana selama ini."
"Lalu di mana ayah dan ibu Wi Yan Cu? apakah kalian tinggal bersama mereka?"
"Ah-eh...ti-tidak! Be-beliau sudah...sudah meninggal dunia semua."
Tiba-tiba wajah Yung Ci Pao berubah pucat, suaranyapun menjadi gemetar.
"Hei...Sudah mati semua? Kapan?"
Chin Yang Kun berseru kaget.
"Anu...anu...dua tahun yang Ialu, setelah...setelah perkawinan kami,"
Jawab Yung Ci Pao semakin gagap dan pucat.
Sikapnyapun tampak semakin gelisah pula.
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya.
Pemuda itu menjadi curiga, hatinya seperti mencium hal-hal yang tak wajar di dalam sikap saudara sepupunya itu.
"Dua-duanya mati setelah perkawinan kalian? Apakah mereka dibunuh orang?"
"Oh, tidak...tidak! mereka mati karena sakit! Mereka tidak...eh, tidak di-dibunuh orang!"
Yung Ci Pao cepat menyahut dengan suara tinggi. Chin Yang Kun menghela napas panjang, matanya menatap wajah saudara sepupunya itu dengan tajamnya, sehingga Yung Ci Pao menjadi gelisah sekali.
"Sudahlah! Kenapa kau menjadi gelisah dan berteriak-teriak begitu?"
Akhirnya Chin Yang Kun berkata pelan.
"Habis, pertanyaanmu tadi mengingatkan aku kembali kepada semua kesedihan dan penderitaanku..."
Yung Ci Pao berkata seraya mengusap peluh yang meleleh di atas dahi dan lehernya.
"Kalau begitu maafkanlah aku...! Eh, lihat! Tampaknya ada sesuatu yang terjadi di mulut desa itu! Banyak orang berkumpul di sana! Mungkin isterimu telah dikembalikan..."
Mendadak Chin Yang Kun berseru seraya mengangkat jari telunjuknya ke depan.Chin Yang Kun lalu menepuk pantat Si Cahaya Biru agar berlari lebih cepat.
"Ko Tiang! Jiu Kok...! Ada apa di sini?"
Begitu tiba Yung Ci Pao lantas berteriak ke arah dua orang pemuda yang berdiri di luar kerumunan orang itu.
Semua orang lantas berpaling mendengar kedatangan Chin Yang Kun dan Yung Ci Pao.
Kedua orang pemuda yang dipanggil Yung Ci Pao itu juga menoleh.
"Hei...si Bopeng Ci Pao telah pulang rupanya!"
Salah seorang dari mereka yang bernama Jiu Kok berkata seenaknya. Malah kedua buah lengannya segera bertolak pinggang.
"Apakah kau telah menemukan isterimu?"
"Belum. Apakah dia telah pulang kembali?"
Dengan cemas namun penuh harap Yung Ci Pao balik bertanya. Sedikitpun dia tidak mempedulikan sikap Jiu Kok yang sinis itu. Malahan dengan tergesa-gesa ia melorot turun dari atas punggung Cahaya Biru.
"Ya. Isterimu sudah pulang."
Ko Tiang menyahut pendek, suaranya kaku.
"Benarkah? Lalu dimanakah dia? Dan...eh, mengapa semua orang berada disini?"
"Ketahuilah! Isterimu pulang bersama tiga orang kawannya, dua lelaki dan seorang wanita. Tapi...ternyata mereka adalah penjahat penjahat yang sangat kejam sekali. Karena mereka datang pada saat tengah malam, beberapa orang pemuda kita menahan mereka dan menanyakan maksud kedatangan mereka. Hal itu dilakukan oleh para peronda malam, karena mereka melihat hal-hal yang tidak wajar pada diri isterimu. Tapi...apa yang terjadi? Orang-orang itu menjadi marah dan membunuh para peronda kita itu!"
Jiu Kok menerangkan. Chin Yang Kun terkejut mendengar cerita Ko Tiang dan Jiu Kok itu. Bergegas ia turun dari punggung kudanya dan ikut menghampiri kerumunan orang dari desa Hoa-ki-cung tersebut.
"Oh??? Lantas bagaimana dengan para penduduk yang lain?"
Yung Ci Pao mendesak dengan wajah kaget.
"Tak seorangpun yang berani melawan. Ketika ada beberapa orang yang mencoba memperingatkan perbuatan kejam mereka, mereka semakin marah! Orang-orang itu juga dibunuh pula. Oleh karena itu semua penduduk lantas menutup pintu rumah mereka dan tidak berani keluar. Mayat-mayat itu mereka biarkan saja tergeletak di jalanan. Baru sekarang kami berani keluar untuk mengambil mayat-mayat kawan kita itu. Lihatlah! Mengerikan bukan?"
Jiu Kok menunjuk ke tengah-tengah kerumunan temannya.
"Oooh...!"
Yung Ci Pao terbelalak memandang ke arah mayat-mayat itu.
"Lalu kemana perginya tiga penjahat itu?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun yang baru saja mendekat itu menyela. Orang-orang itu terperanjat. Mereka menatap Chin Yang Kun dengan curiga. Begitu pula dengan Jiu Kok dan Ko Tiang.
"Si-siapa dia...?"
Ko Tiang bertanya kepada Yung Ci Pao.
"Ahhh...masakan kalian sudah lupa? Dia...Chin Yang Kun dulu itu, saudara sepupuku yang bertempat tinggal di Kotaraja."
"Chin Yang Kun...? Putera Pangeran Chin itu? Eh...!"
Ko Tiang dan Jiu Kok tersentak kaget. Tapi sekejap kemudian Chin Yang Kun telah dirubung oleh para penduduk Hoa-ki cung tersebut.
"Sudahlah! Kalian tadi belum menjawab pertanyaanku. Dimanakah ketiga orang itu?"
Chin Yang Kun mengalihkan perhatian yang ditujukan kepada dirinya itu.
"Mereka berada di rumah Yung Ci Pao! dan mereka memaksa beberapa orang gadis kita untuk melayani mereka disana. Tapi...mengapa kau tanyakan hal itu? Apakah engkau bermaksud untuk bunuh diri di sana? Jangan! Mereka bertiga benar-benar mempunyai kepandaian seperti iblis. Dengan hanya menggerakkan tangan dari kejauhan saja mereka bisa membunuh kawan-kawan kita itu...!"
Jiu Kok menjawab.
"Hmmm... aku hendak melihat mereka. Ci Pao, ayoh...antarkan aku kesana!"
Chin Yang Kun menggeram, lalu mengajak saudara sepupunya untuk menemui para penjahat itu.
"A...Aaku ti-tidak berani!"
Yung Ci Pao menjawab gemetar.
"Pengecut! Bukankah isterimu dibawa oleh mereka? Mengapa kau tidak berusaha mengambilnya? Huh! Sudahlah... kalau begitu aku akan kesana sendirian!"
Chin Yang Kun mendengus jengkel melihat sikap saudara sepupunya yang pengecut itu.
Pemuda itu lalu meloncat ke punggung kudanya dan pergi menuju rumah besar yang kelihatan gentingnya tadi.
Orang orang Hoa-ki-cung itu sebenarnya merasa takut juga seperti halnya Yung Ci Pao, tapi melihat kenekadan Chin Yang Kun, beberapa orang diantaranya termasuk juga Ko Tiang dan Jiu Kok, akhirnya ingin melihat pula apa yang hendak dilakukan oleh Chin Yang Kun terhadap para penjahat itu.
"Jiu Kok, mari... marilah kita me-mengintipnya dari kejauhan!"
"Ma... marilah!"
Sementara itu matahari telah merangkak semakin jauh dari peraduannya.
Dan sinarnya yang hangat itupun juga mulai menebar menjelajahi setiap sudut halaman rumah para penduduk.
Meskipun demikian, tidak seperti biasanya desa itu masih tetap sunyi.
Sunyi dan sepi, seolah-olah desa itu telah ditinggalkan oleh penduduknya.
Tak sesosok bayanganpun yang tampak meskipun hari telah terang tanah.
Chin Yang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di sepanjang jalan yang dilaluinya ia juga tak menjumpai siapapun.
Pintu-pintu rumah penduduk masih tetap tertutup rapat sementara para penghuninya entah berada dimana.
"Hmmm... desa ini benar-benar dicekam ketakutan!"
Pemuda itu berbisik.
Beberapa puluh meter dari rumah Yung Ci Pao, Chin Yang Kun menghentikan kudanya.
Kuda itu ia tinggalkan di halaman rumah penduduk, kemudian ia melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki.
Dengan sangat berhati-hati pemuda itu menuju ke bagian belakang rumah yang ditujunya.
Rumah peninggalan ayah Wi Yan Cu itu kelihatan sunyi dan sepi pula.
Tapi ketika Chin Yang Kun melompati tembok belakang dan bersembunyi di dekat dapur, lapat-lapat ia mendengar suara tangis perempuan disana.
Oleh karena itu tanpa mengendorkan kewaspadaannya pemuda itu masuk ke dalam dapur itu.
Dua orang gadis desa kelihatan kaget dan takut sekali ketika tiba-tiba mereka berhadapan dengan Chin Yang Kun.
Dengan sekuat tenaga kedua orang gadis itu berusaha menghentikan tangis mereka, sementara tangan mereka sibuk menghapus air mata yang mengalir di atas pipi mereka.
Sebaliknya Chin Yang Kun juga berusaha keras untuk mengenali gadis-gadis itu, mungkin salah seorang diantaranya adalah Wi Yan Cu, temannya bermain semasa kanak-kanak.
Tapi wajah kedua gadis itu tak satupun yang mirip Wi Yan Cu semasa kecil.
"Jangan takut! Aku bukan kawan dari penjahat itu. Aku adalah saudara Yung Ci Pao... mengapa kalian menangis? Dimana Wi Yan Cu dan para penjahat itu?"
Chin Yang Kun berkata lirih.
Kedua orang gadis desa itu berpelukan dan tidak bisa menjawab.
Mereka masih tetap ketakutan.
Terpaksa Chin Yang Kun harus berulang-ulang menerangkan kepada mereka bahwa ia benar-benar bukan penjahat, dan kedatangannya itu justru hendak menolong mereka.
Barulah sedikit demi sedikit kedua orang ini mau menerima keterangannya.
"Nah, sekarang katakanlah! Dimana ketiga penjahat itu berada? Dan dimana pula Wi Yan Cu kini?"
Chin Yang Kun mendesak.
"Mereka... mereka bertiga berada di...di ruang dalam, bersama dengan nyonya Yung Ci Pao. Tuan... tuan ini, eh... apakah saudara sepupu Tuan Yung yang berasal dari Kotaraja itu?"
Salah seorang dari kedua gadis itu, yang tampaknya malah mulai mengenal Chin Yang Kun, akhirnya menjawab tersendat-sendat.
"Benar, aku memang saudara sepupu Yung Ci Pao. kau mengenali aku?"
Chin Yang Kun memandang gadis itu dengan raut muka gembira.
"Aku juga penduduk Hoa-ki-cung ini. Turun temurun keluargaku telah tinggal disini."
Gadis itu menjawab lagi dengan muka tertunduk. Wajahnya tampak murung dan sedih. Chin Yang Kun menarik napas panjang.
"Sudahlah! Kalian tak perlu takut dan sedih lagi. Penjahat itu akan kutangkap. Sekarang marilah kau pulang...!"
Lalu dengan hati-hati Chin Yang Kun mengantar kedua gadis itu ke pintu halaman belakang serta membukakannya.
"Nah, pulanglah kembali ke rumah kalian masing-masing! Dan katakanlah kepada semua orang, bahwa penjahat itu sebentar lagi akan kutangkap. Oleh karena itu mereka tak perlu takut lagi. Mengerti...?"
Kedua gadis itu mengangguk dan mengucapkan terima kasih, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah keduanya hilang dari pandangan, Chin Yang Kun lalu melangkah masuk ke dalam gedung besar itu kembali.
Dengan berindap-indap pemuda itu menuju ke ruangan dalam.
Sama sekali Chin Yang Kun tidak menyadari bahwa semua gerak-geriknya itu telah diketahui dan diintip oleh salah seorang dari ketiga penjahat tersebut.
Penjahat itu kebetulan hendak pergi ke dapur, sehingga dapat melihat gerak-gerik Chin Yang Kun ketika melepaskan gadis-gadis tadi.
Penjahat itu, yang ternyata adalah wanita, segera berlari ke dalam menemui kawan-kawannya.
"Li-Taihiap! Jai-hwa Toat-beng-kwi! Celaka...!"
Serunya pelan setelah berada di ruangan dalam.
Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi bergegas keluar dari kamar masing-masing.
Pendekar Li hanya mengenakan celana saja sementara Jai-hwa Toat-beng-kwi malahan hampir tidak memakai apa-apa lagi pada tubuhnya.
Dengan kaget keduanya menyongsong kedatangan wanita itu.
Lapat-lapat di kamar Jai-hwa Toat-beng-kwi terdengar suara isak tangis perempuan.
"Pek-pi Siau-kwi, ada apa...? Apanya yang celaka?"
Pendekar Li segera bertanya, nadanya sedikit mendongkol dan penasaran karena merasa terganggu tidurnya.
"Benar! Apa sebenarnya yang telah terjadi, Hantu Cantik?"
Jai-hwa Toat-beng-kwi juga meminta penjelasan. Suaranya halus, namun juga terasa kalau ia terganggu pula oleh seruan wanita itu tadi.
"Celaka! Pemuda itu telah datang ke rumah ini! Apa yang harus kita kerjakan?"
Tanpa mempedulikan kemarahan temannya Pek-pi Siau-kwi berteriak lagi.
"Kurang ajar! Mengapa kau tiba-tiba menjadi penakut seperti ini? Memangnya kenapa dengan pemuda-pemuda desa itu? Biarkan saja mereka membawa seluruh penduduk kampung ini kemari, apa yang kita takutkan?"
Pendekar Li menjawab marah.
"Whah! Sedang asyik-asyiknya, diganggu pula... hmm!"
Dengan sedikit jengkel Jai-hwa Toat-beng-kwi berbalik kembali ke dalam kamarnya.
"Ei! Yang kumaksudkan adalah... Yang Kun! Bukan pemuda desa ini!"
Pek-pi Siau-kwi berteriak penasaran.
"Apaaa...? Yang Kun??"
Hampir berbareng Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi menjerit.
"Benar! Nah, apa yang akan kita lakukan?"
Ternyata kedua penjahat itu tampak gemetar sekarang. Bagaimanapun juga kesaktian Chin Yang Kun itu amat menggiriskan hati mereka.
"Dengan siapa dia datang?"
Pendekar Li bertanya.
"Sendirian."
"Syukurlah. Kalau begitu kita masih punya kesempatan untuk melawannya. Hmm, kita harus menjebaknya di ruang dalam tanah itu..."
"setuju. Mari kita menjebaknya di sana!"
Jai-hwa toat-beng-kwi mengangguk. Pendekar Li lalu mendekati Pek-pi Siau-kwi.
"Siau-kwi, persiapkanlah perangkap itu! Pergunakanlah perempuan itu sebagai umpannya! Mengerti?"
"Tapi... aku belum puas dengan perempuan itu!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi cepat memotong.
"Lupakan saja perempuan itu! Engkau bisa mencarinya lagi yang lain! Yang penting kita dapat lolos dari tangan pemuda itu hari ini!"
Pendekar Li membentak.
"Kita lawan saja dia. Masakan kita bertiga tidak mampu melawannya?"
Jai-hwa Toat-beng-kwi masih tetap penasaran.
"Tentu saja! Tapi kitapun perlu berhati-hati. Tiada jeleknya kita berjaga-jaga sebelumnya. Siapa tahu kita benar-benar tak bisa menghadapi dia nanti?"
"Baiklah!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi akhirnya mengangguk.
Ketiga orang itu lalu bersiap-siap.
Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi mengambil pakaian dan senjata mereka, sementara Pek-pi Siau-kwi membawa perempuan yang berada di dalam kamar Jai-hwa Toat-beng-kwi, yang tidak lain adalah Wi Yan Cu itu, ke ruang bawah tanah untuk memasang perangkap.
Meskipun demikian ketika Chin Yang Kun masuk ke dalam ruangan itu, Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi tergetar juga hatinya.
Di dalam pandangan mereka, pemuda itu tampak lebih matang serta garang sikap dan penampilannya.
Dan hal itu berarti bahwa pemuda itu sudah matang dan berpengalaman daripada ketika berjumpa dengan mereka beberapa waktu yang lalu.
Sebaliknya, Chin Yang Kun kelihatan terkejut sebentar begitu berhadapan dengan Pendekar Li dan Jai-hwa Toat beng-kwi!
Pemuda itu memang tidak menyangka akan berjumpa dengan mereka di desa itu.
Tapi begitu teringat pada apa yang telah diperbuat orang-orang itu di Kim-liong Piauw-kiok, darahnya segera mendidih.
"Bangsat! Sungguh kebetulan sekali kalian kujumpai di tempat ini! Hmmh... coba katakan! Apa maksud kalian membunuh Thio Lung dengan meminjam namaku ini? Apakah kalian bermaksud menghilangkan jejak kejahatan kalian dengan mengadu-domba antara aku dan Kim-liong Piauw kiok? Begitukah? Hmmm... kini aku justru menjadi curiga, jangan-jangan kalian malah benar-benar ikut terlibat dalam pembunuhan keluargaku itu!"
Chin Yang Kun menggeram marah.
Pendekar Li saling pandang dengan Jai-hwa Toat-beng-kwi, kemudian menoleh ke arah pintu dimana Pek-pi Siau-kwi tadi keluar membawa Wi Yan Cu.
Melihat kawan wanitanya itu belum muncul lagi, Pendekar Li lalu berusaha untuk mengulur waktu.
"Baiklah! Bagaimanapun juga kalau aku tidak berterus terang, kau tentu akan selalu mencari aku. Nah, kau dengarlah...! pada malam yang naas itu, engkau telah mengetahui pula bahwa tidak hanya keluargamu saja yang terbunuh, tetapi seluruh keluargakupun telah habis pula dibantai orang. Dari kenyataan ini saja, setiap orang tentu bisa berpikir bahwa pelakunya tentu bukan dari pihakku atau pihakmu. Tentu orang ketigalah yang telah berbuat..."
"Sudahlah, kau jangan berbelit-belit! Sekarang ceritakan saja secara terus terang, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumahmu malam itu? Cepat!"
Chin Yang Kun memotong dengan tak sabar.
"Baik... aku akan menceritakan apa adanya, terserah kepadamu untuk menilainya."
Pendekar Li mengangguk. Lalu sambungnya lagi.
"Seperti telah kuceritakan kepadamu, bahwa malam itu aku dan kawan-kawanku sedang menantikan kedatangan Tung-hai Sam-mo, untuk menyelesaikan persoalan peta harta karun itu. Tapi secara tidak terduga rombongan ayahmu telah datang ke rumahku. Tentu saja kami menjadi bingung. Perselisihan tidak bisa dikendalikan lagi, apalagi rombongan ayahmu itu sejak semula tampaknya sudah siap tempur..."
"Hmm... tentu saja. Sudah beberapa hari rombongan ayahku itu dikejar-kejar orang..."
Chin Yang Kun menyahut.
"Begitulah, aku bersama-sama dengan kawan-kawanku bertempur melawan rombongan ayahmu. Oleh karena kawan-kawanku lebih banyak jumlahnya, maka sebentar saja rombongan ayahmu jatuh di bawah angin. Apalagi salah seorang di antara rombongan ayahmu itu ternyata tidak bisa ilmu silat sama sekali..."
"Tentu saja! Orang tua itu cuma pelayan keluargaku."
Lagi lagi Chin Yang Kun memotong perkataan Pendekar Li.
"Nah... beberapa saat kemudian kamipun segera dapat membunuh dua orang di antara rombongan ayahmu itu. Tampaknya kedua orang itu adalah pengawal kepercayaan ayahmu..."
"Benar! Kedua orang itu adalah Siang-hu-houw (Sepasang Harimau Terbang), pengawal kepercayaan ayahku."
Chin Yang Kun mengiyakan.
"Hmmm... lalu bagaimana dengan ayah dan pamanku?"
Pendekar Li mengambil napas seraya melirik sekali lagi ke arah pintu. Ternyata Pek-pi Siau-kwi belum tampak juga, sehingga diam-diam hatinya menjadi khawatir.
"Karena sudah bisa membunuh dua orang lawan, maka kamipun menjadi semakin bersemangat untuk segera menyelesaikan pertempuran itu. Siapa tahu rombongan Tunghai Sam-mo akan segera tiba pula?"
Pendekar Li meneruskan ceritanya.
"Tetapi kepandaian ayah dan pamanmu itu ternyata sangat tinggi. Meskipun lengan ayahmu tinggal sebelah, tapi ilmu goloknya ternyata hebat bukan main. Kami benar-benar mendapatkan kesulitan untuk segera membereskannya. Apalagi ayah dan pamanmu itu berkelahi seperti orang kesetanan..."
Pendekar Li menghentikan lagi ceritanya untuk mengambil napas. Tapi ia segera melanjutkan lagi ketika didengarnya Chin Yang Kun menggeram tidak sabar.
"Pada saat kami sedang berusaha dengan sekuat tenaga untuk membereskan ayahmu itulah tiba-tiba terdengar suara siulan panjang tinggi melengking bagaikan hendak memecahkan gendang telinga kami. Dan sekejap kemudian di halaman rumahku itu tampak berkelebat sesosok bayangan hitam dengan cepat sekali. Begitu hebat dan mentakjubkan ginkangnya sehingga kami semua lantas menduga kalau orang itu tentulah Keh-sim Siauwhiap, musuh bebuyutan kami. Dan terus terang... kami menjadi ketakutan pada waktu itu. Selain kami tak pernah menang melawan dia, bangsat itu biasanya tentu datang dengan pengikut pengikutnya. Oleh karena itu tanpa mempedulikan perasaan malu, kami semua pergi meninggalkan arena pertempuran itu. Dan selanjutnya... kau telah melihatnya sendiri. Keluargamu dan keluargaku sama-sama terbantai habis!"
"Huh! Jadi kau tetap berpendapat bahwa pembunuh itu adalah Keh-sim Siauwhiap?"
"Ya!"
"Lalu apa sebabnya kau membunuh Thio Lung? Ingin membungkam mulutnya?"
"Ya! Kami khawatir kau akan membalas dendam pula kepada kami, karena bagaimanapun juga kami telah membunuh dua orang kepercayaan ayahmu. Selain itu memang ada persoalan pribadi antara kami dan Thio Lung..."
Chin Yang Kun terpekur menatap lantai.
Ia dapat merasakan bahwa apa yang diceritakan oleh Pendekar Li tersebut tentu benar.
Tampaknya orang itu memang tidak berbohong sekali ini.
Hanya saja dugaan tentang Keh-sim Siauwhiap itu rasanya juga tidak benar pula.
Keh-sim Siauwhiap adalah seorang pendekar besar yang disanjung dan dipuji oleh banyak orang, tak mungkin rasanya ia berbuat sekeji itu.
Apalagi pendekar itu pernah bersumpah dihadapannya, bahwa ia tak pernah melakukan pembunuhan tersebut.
"Hmmm... kalau begitu ada orang ketiga yang tampaknya memanfaatkan suasana yang ruwet dan ribut seperti itu. Dan entah dengan alasan apa orang itu lalu membunuh ayah serta paman. Malahan tidak cuma itu saja. Orang itupun kemudian juga membantai pula seluruh keluarga Pendekar Li, tanpa sisa!"
Chin Yang Kun mencoba mengupas persoalan tersebut di dalam hatinya.
"Nah, sekarang bagaimana menurut penilaianmu? Apakah kau juga akan menuntut balas atas kematian kedua orang pengawal kepercayaan ayahmu itu?"
Pendekar Li tiba-tiba bertanya, sehingga membuyarkan semua lamunan Chin Yang Kun.
"Meskipun mereka itu bukan keluargaku, tapi mereka berjuang dan bertempur mengadu nyawa demi keluargaku. Maka sudah selayaknyalah kalau aku juga menuntut balas untuk mereka. Tetapi biarpun begitu, aku juga menghormati hakmu pula untuk mencari dan menuntut balas kepada orang yang telah membantai keluargamu. Nah, apakah engkau telah menemukan orang itu? Ataukah engkau masih tetap juga menuduh Keh-sim Siauwhiap yang berbuat?"
Chin Yang Kun berkata tenang.
"Ini... ah... ini... lalu siapa lagi di dunia ini yang mempunyai ginkang sehebat itu selain Keh-sim Siauwhiap? Dan yang terang...siapa lagi yang berusaha menghancurkan aku selain Keh-sim Siauwhiap, musuh bebuyutanku itu?"
Chin Yang Kun menghela napas.
"Nah... kau sekarang telah berubah menjadi ragu-ragu pula seperti diriku. Di dalam hati kau tentu tidak percaya pula kalau pendekar yang terkenal berbudi baik itu sampai hati membunuh wanita dan anak-anak, bukan?"
"Ini... eh... lalu siapakah menurut pendapatmu?"
Pendekar Li semakin merasa ragu-ragu di dalam hati.
"Itulah yang harus kita cari! Kukira pembunuh ayahku dan pembunuh anak-isterimu adalah sama orangnya. Oleh karena itu aku tidak membunuhmu sekarang. Aku memberi waktu kepadamu untuk mencari dan membalas dendam kepada pembunuh itu. Tapi waktu yang kuberikan itu hanya khusus untuk kau, teman-temanmu yang lain... tidak!"
Chin Yang Kun menutup perkataannya dengan menoleh ke arah Jai-hwa Toat-beng-kwi.
"Kurang ajar...! kau kira aku takut kepadamu? Huh! Marilah kita mengadu jiwa!"
Iblis pemetik bunga itu terperangah. Dengan cepat tangannya telah mengeluarkan pipa tembakaunya yang panjang. Chin Yang Kun segera menggeser kakinya dan bersiap-siap pula.
"Dimana kawan wanitamu itu? Mengapa dia belum keluar juga?"
Tanyanya kaku.
"Aku disini...!"
Tiba-tiba Pek-pi Siau-kwi muncul dari balik pintu. Wanita cantik itu telah bersiap siaga dengan pedangnya pula. Chin Yang Kun menoleh.
"Bagus! Nah, sekarang katakanlah! Dimana kalian menyembunyikan perempuan yang kalian culik itu?"
"Saudara Yang, kami tentu akan mengembalikan perempuan itu. Tapi...kuminta dengan sangat agar kau mau melepaskan kedua orang kawanku ini. Hanya mereka berdualah sekarang yang membantu aku. Bagaimana aku bisa melawan pembunuh itu kalau aku hanya sendirian saja? Tolonglah...!"
Pendekar Li memohon kepada Chin Yang Kun.
"Tidak bisa! Kedua iblis ini sudah banyak membawa korban. Mereka harus mati! Apalagi korban yang terakhir ini masih saudara sepupuku sendiri!"
Chin Yang Kun menjawab tegas.
"Saudara sepupumu...?"
"Benar! Perempuan yang kalian culik itu adalah isteri dari Yung Ci Pao, saudara sepupuku sendiri."
"Akhh...!"
Pendekar Li berdesah.
"Tuan Li, kita tak perlu merengek-rengek kepadanya! Biarlah aku mengadu jiwa dengan dia!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi berteriak.
Tanpa membuang waktu lagi iblis cabul itu lalu mengayunkan pipa tembakaunya.
Begitu deras ayunan pipa tersebut sehingga serbuk api tampak berhamburan keluar dari tempat tembakaunya.
"Wuuuutt!!!"
Chin Yang Kun cepat menundukkan kepalanya, lalu bergegas berputar ke arah kiri, sehingga serangan itu lewat diatas kepalanya.
Selanjutnya pemuda itu membalas pula dengan pukulan lurus ke arah ketiak lawan.
Angin dingin terasa menyembur dari kepalan tangan tersebut.
Iblis cabul itu terkejut juga melihat kegesitan dan ketangkasan Chin Yang Kun!
Justru dia sendirilah kini yang berbalik terancam oleh serangan lawan.
Tak ada kesempatan baginya untuk menangkis atau mengelak!
Satu-satunya jalan hanya mengadu nyawa seperti yang telah dikatakannya tadi!
Dengan ibu jarinya iblis cabul itu menekan pipa tembakaunya sehingga melengkung.
Tiba-tiba asap tebal tampak menyembur keluar dari ujung pipa, tepat ke arah muka Chin Yang Kun.
Hebatnya, bersamaan dengan semburan asap itu melesat pula puluhan batang jarum lembut sebesar rambut!
Serangan asap dan jarum itu benar-benar tidak terduga dan sangat mendadak pula, sehingga mereka sama-sama terpojok dan tidak bisa mengelak lagi.
Tentu saja siasat mengadu nyawa itu sungguh sangat mengejutkan Chin Yang Kun.
Bagaimanapun juga pemuda itu tidak ingin bertukar nyawa dengan iblis cabul itu.
Maka hanya dengan mempergunakan sedikit kesempatan yang tersisa, Chin Yang Kun berusaha membagi tenaga saktinya.
Sebagian untuk bertahan terhadap serangan asap dan jarum itu, sebagian lagi tetap untuk menyerang ketiak lawannya!
"Wuuuuttttt!"
"Dhiesssss!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi terlempar jauh ke kiri, sementara Chin Yang Kun juga terjengkang ke belakang.
Dan keduanya juga segera bangkit berdiri kembali.
Chin Yang Kun beberapa kali mengusap kulit mukanya untuk mengambil jarum-jarum yang menempel pada kulitnya, dan Jai-hwa Toat-beng-kwi tampak meringis kesakitan sambil memegangi lengan kanannya yang lumpuh sebatas bahunya.
"Gila! Tampaknya kau benar-benar ingin mati bersama aku, yaa...? Tapi kau jangan buru-buru bergembira dahulu! Lihatlah! Jarum-jarummu tidak ada yang dapat menembus kulitku..."
Chin Yang Kun mengejek sambil memperlihatkan jarum-jarum yang tadi menempel pada kulit mukanya. Jai-hwa Toat-beng-kwi terbelalak kagum. Tapi dilain saat iblis itu lalu tersenyum lagi.
"Tapi engkau sendiripun juga jangan buru-buru bergembira pula. Jarum-jarum itu memang tidak bisa melukai kulitmu, tetapi jangan lupa bahwa asap yang menyertai jarum-jarum tadi telah terlanjur mengenai kulit mukamu. Malah kalau tak salah kau juga telah menghisapnya pula. Dan semua itu berarti kau telah terkena racun Bunga Karangku. Nyawamu tinggal beberapa saat saja lagi, hehehe...!"
"Hei, begitukah...? Kalau demikian sebelum mati aku harus membunuhmu dahulu, hahaha...!"
Pemuda yang kini sudah menyadari betapa dirinya telah kebal racun itu tertawa.
Dengan cepat kedua tangannya segera menyerang Jai-hwa Toat-beng-kwi kembali.
Tapi sekali ini kawan-kawan iblis cabul tersebut tidak tinggal diam lagi.
Begitu melihat Jai-hwa Toat-beng-kwi diserang Chin Yang Kun, Pendekar Li dan Pek-pi Siau-kwi cepat-cepat membantunya.
Pendekar Li dengan pedang tujuh bintangnya segera menebas lengan Chin Yang Kun, sementara Pek-pi Siau-kwi menusuk ke arah pinggang dan punggung pemuda itu.
"Kurang ajar...! Mengapa kau menyia-nyiakan waktu yang kuberikan kepadamu? Ataukah kau juga ingin mati sekarang saja?"
Chin Yang Kun terpaksa mengurungkan serangannya dan berteriak ke arah Pendekar Li.
"Sudah kukatakan, tiada gunanya aku membalas dendam tanpa adanya teman-temanku ini. Oleh karena itu engkau saja yang memilih, kau lepaskan saja teman-temanku ini, atau kau bunuh aku sekalian bersama mereka!"
Pendekar Li berteriak pula menyatakan rasa setia kawannya.
Seperti juga teman-temannya, Pendekar Li itu juga percaya bahwa Chin Yang Kun tentu akan segera terkena pengaruh racun yang disemburkan oleh Jai-hwa Toat-beng-kwi melalui pipa tembakaunya tadi.
Jadi, asal mereka bisa bertahan beberapa saat saja, pemuda itu tentu akan roboh dengan sendirinya.
Dengan keyakinan seperti itulah ketiga orang sekawan itu lalu menyerang dan mengeroyok Chin Yang Kun mati-matian.
Mereka bertiga berharap bahwa dengan pengerahan tenaga yang berlebihan, pemuda itu akan semakin cepat terpengaruh oleh daya kerja racun Batu Karang Jai-hwa Toat-beng-kwi.
Sebaliknya, desakan dan serangan yang bertubi-tubi dari lawan-lawannya itu membuat Chin Yang Kun semakin menjadi marah bukan main!
Pikirannya menjadi gelap, darahnya seolah-olah mau mendidih!
Dan akibatnya benar-benar sangat menggiriskan ketiga orang lawannya!
Bukan saja racun yang mereka andalkan itu tidak kunjung merobohkan Chin Yang Kun, tapi pengaruh racun yang mereka nanti-nantikan itu seolah-olah memang tidak ada khasiatnya sama sekali.
Maka ketiga orang itu mulai menjadi gemetar dan ketakutan.
Dengan sekuat tenaga mereka bertahan dan menyerang Chin Yang Kun bersama seluruh kemampuan yang mereka punyai.
Pedang tujuh bintangnya Pendekar Li itu tampak berkelebatan kesana kemari, bagaikan bianglala yang menari-nari di angkasa sementara batu permata yang menempel pada batang pedang itu tampak berkeredepan seperti bintang-bintangnya.
Sedangkan Jai-hwa Toat-beng-kwi, meskipun lengan kanannya lumpuh, ternyata juga tidak kalah garangnya.
Pipa tembakaunya yang panjang itu tampak melayang-layang pula mencari sasaran.
Dan bila sekali waktu pipa yang penuh tembakau menyala itu tertangkap oleh lengan Chin Yang Kun, bunga api akan segera memercik berhamburan kemana-mana.
Iblis cabul itu ternyata dapat memainkan senjatanya itu dengan tangan kirinya pula.
Dan hebatnya, tangan kiri itu ternyata juga sama tangkasnya dengan tangan kanan!
Mungkin Cuma Pek-pi Siau-kwi saja yang daya tempurnya tidak begitu hebat dan garang!
Sebagai seorang wanita, gaya ilmu silatnya memang lain sekali bila dibandingkan dengan kedua teman prianya.
Gerakan tangan dan tubuhnya tampak halus serta lemah gemulai.
Meskipun demikian pengaruh dari serangan-serangannya ternyata juga tidak kalah berbahayanya bila dibandingkan dengan yang lain-lain.
Ilmu silat wanita itu ternyata banyak bertumpu pada tipu muslihat dan gerakan-gerakan semu yang mengandung perangkap yang mematikan!
Demikianlah, pertempuran satu lawan tiga itu benar-benar sangat seru dan menegangkan.
Kamar atau ruangan yang tidak begitu luas itu sudah menjadi porak poranda serta hancur berantakan.
Suara pertempuran tersebut terdengar sampai jauh di luar rumah besar itu, sehingga penduduk yang tinggal di dekat rumah itupun semakin ketakutan dibuatnya.
"Ihhh... ribut benar! Suara apakah itu?"
Ko Tiang dan Jiu Kok yang bersembunyi tidak jauh dari rumah itu saling berbisik satu sama lain.
"Ahh... apalagi kalau bukan suara para penjahat itu di dalam menghajar si Anak Pangeran yang mau menyombongkan keberaniannya itu?"
"Huh... kasihan juga anak itu! Dikiranya ia masih mempunyai kekuasaan untuk menakut-nakuti orang seperti dahulu."
Sementara itu pertempuran di dalam rumah itu semakin lama semakin sengit juga!
Tampaknya ketiga orang itu sudah menyadari bahwa racun yang dilepaskan oleh Jai-hwa Toat-beng-kwi tadi sudah tidak dapat mereka harapkan lagi.
Tampaknya racun itu benar-benar tak berpengaruh apa-apa terhadap lawan mereka yang masih muda itu.
Oleh karena itu mereka harus benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan mereka masing-masing.
Dan hal itu memang sungguh sungguh mereka lakukan!
Demi kelangsungan hidup mereka bertiga!
Jit-seng-kiam (Pedang Tujuh Bintang) yang berada di tangan Pendekar Li itu bergetar dengan hebat seolah-olah sedang digerakkan dalam hembusan badai yang maha dahsyat.
Ujungnya yang runcing itu bagaikan menyala di dalam keremangan ruangan itu.
Sedangkan hun-cwe atau pipa tembakau Jai-hwa Toatbeng-kwi juga bergerak tak kalah ganasnya dengan pedang itu.
Di dalam kegelisahannya iblis cabul itu benar-benar mengeluarkan seluruh kepandaiannya.
Beberapa kali di dalam kesempatan yang baik, pipa tersebut menyemburkan asap ataupun jarum-jarum beracun.
Sementara itu, sebagai orang yang berilmu paling rendah, Pek-pi Siau-kwi juga berusaha dengan sekuat tenaga untuk membantu pertahanan atau serangan kedua orang kawannya.
Dengan pedangnya yang tidak begitu panjang wanita itu selalu mencari lobang kelemahan Chin Yang Kun, sehingga bagaimanapun juga pemuda itu menjadi sibuk pula untuk melayani musuh-musuhnya.
Celakanya, Chin Yang Kun sendiri tidak membawa senjata untuk melayani mereka.
Sejak dari awal pertempuran pemuda itu cuma mengandalkan kedua belah tangannya saja.
Dengan Hok-te Ciang-hoatnya pemuda itu berusaha mencari lobang diantara hujan senjata yang melanda dirinya.
Untunglah pemuda itu memiliki sinkang yang maha dahsyat sehingga bisa untuk melindungi dirinya.
Beberapa kali pemuda itu sengaja membiarkan pedang Pek-pi Siau-kwi menyabet atau menggores tubuhnya, sementara pemuda itu tetap meneruskan serangannya kepada lawannya yang lain.
"Gila! Pemuda ini tak bisa kulukai dengan pedangku...!"
Pek-pi Siau-kwi menjerit penasaran.
"Bocah ini memang telah kerasukan iblis! Racunkupun tak ada yang mempan terhadap tubuhnya!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi juga berteriak pula.
"Kalau begitu serang saja bagian-bagian tubuhnya yang lemah! Atau... tusukkan senjata kalian pada jalan darahnya yang penting!"
Pendekar Li berseru memperingatkan kawan-kawannya.
"Baik...!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi dan Pek-pi Siau-kwi menyahut.
Demikianlah, ketiga orang itu lalu menujukan serangan mereka ke arah bagian-bagian tubuh Chin Yang Kun yang lemah.
Dengan kerja sama yang rapi mereka menyerang ubun-ubun, pelipis, mata, ulu hati dan bagian bawah perut Chin Yang Kun.
Dan perubahan itu memang benar-benar menyulitkan Chin Yang Kun.
Dengan kedua buah tangan kosongnya pemuda itu tak mungkin bisa melindungi semua tempat-tempat yang berbahaya itu.
"Kurang ajar...! Kalian memang benar-benar membuatku marah! Awaaaaas!"
Chin Yang Kun menggeram keras dan tiba-tiba tubuhnya melesat keluar dari arena pertempuran.
Dan selagi lawan lawannya masih dalam keadaan kaget dan bingung melihat ulahnya, Chin Yang Kun cepat mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu I-kangnya, dan bersiap-siap untuk mengeluarkan Kim-coa ih-hoatnya!
Sekejap kemudian terdengar suara desis ular marah dari mulut Chin Yang Kun, dan perlahan-lahan di dalam ruangan itu berhembus udara yang sangat dingin menggigilkan.
Tentu saja perubahan udara yang sangat mendadak itu semakin merisaukan dan membingungkan ketiga orang lawan pemuda itu.
Apalagi ketika mereka melihat tatapan mata Chin Yang Kun yang mencorong menakutkan itu, tanpa terasa bulu roma mereka tiba-tiba berdiri.
Ketiga-tiganya merasakan firasat yang tidak baik.
Dan seperti sudah berunding sebelumnya, ketiga orang itu sama-sama memutuskan untuk cepat-cepat melarikan diri dari pemuda yang sangat mengerikan itu!
Dan seperti ada yang memberi komando pula, ketiga-tiganya melesat ke arah pintu keluar dengan berbareng!
"Berhentiiii...!"
Chin Yang Kun berteriak mengguntur.
Pemuda itu melangkah ke depan dengan cepat.
Tangan kanannya meluncur ke samping, dan memanjang dua-tiga jengkal jauhnya, untuk memotong Iangkah Pendekar Li dan Pek-pi Siau-kwi, sementara lengan kirinya tampak menghantam ke depan, ke arah Jai-hwa Toat-beng kwi yang telah lolos dari jangkauan tangannya!
"Eeit!
Whusss!"
"Bhlaaaar...!"
Dengan wajah pucat serta mulut ternganga Pendekar Li dan Pek-pi Siau-kwi terpaksa meloncat mundur kembali. Keduanya menjadi "ngeri"
Menyaksikan lengan Chin Yang Kun.
Sedangkan Jai-hwa Toat-bengkwi yang merasa telah memperoleh jalan untuk melarikan diri dari ruangan itu, tiba-tiba juga mengumpat dan membalikkan tubuhnya kembali.
Mendadak saja iblis cabul itu merasakan hembusan angin dingin yang sangat dahsyat ke arah punggungnya.
Dan ketika ia mengelak ke samping, pintu yang hendak ia terobos tadi tiba-tiba meledak dan runtuh dengan suara hiruk-pikuk!
"Jangan mengharap kalian bisa lolos dari tanganku!
Hayo...
kita lanjutkan lagi pertempuran kita!"
Chin Yang Kun yang dapat menggagalkan niat ketiga lawannya itu berseru lantang.
"Perem...perempuan yang... yang kami culik itu berada di"di ruang bawah tanah!"saking takutnya Pek-pi Siau-kwi berkata dengan suara gemetar.
"Bangsat! Bunuhlah kami kalau mampu!"
Pendekar Li menjerit dan menyerang Chin Yang Kun kembali.
"Betul! Ayoh... kita bertarung lagi!"
Jai-hwa Toat-beng-kwi yang sudah mulai berputus-asa itu menyerang pula tanpa memperhitungkan keselamatan dirinya.
Dan pertarungan hidup-mati itupun berlangsung kembali dengan serunya.
Sekarang Pendekar Li dan Jai-hwa Toatbeng-kwi bertempur tanpa memperdulikan jiwanya lagi.
Melihat jalan untuk meloloskan diri sudah tidak mungkin lagi, mereka benar-benar bertarung untuk mengadu jiwa.
Dan sepak-terjang mereka memang dahsyat bukan main.
Jilid 40 Tapi Chin Yang Kun di dalam puncak ilmunya memang sungguh-sungguh menggiriskan.
Kulit tubuhnya yang sekarang seakan-akan telah berubah menjadi mengkilap kekuning-kuningan itu, benar-benar liat dan licin bagai kulit ular emas.
Ketiga batang senjata lawannya itu tak satu pun yang mampu menggores kulit tersebut.
Paling-paling ketiga buah senjata itu hanya bisa merobek atau merusakkan pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Maka sungguh tidak mengherankan bila sebentar saja ketiga orang itu telah menjadi repot bukan main.
Anggota tubuh Chin Yang Kun yang bisa bergerak seenaknya sendiri itu benar-benar membuat mereka terkecoh habis-habisan.
Hanya karena mereka itu berjumlah tiga orang saja, sehingga dapat saling membantu dan melindungi, membuat Chin Yang Kun tidak segera bisa mengalahkan mereka.
Tapi keadaan itupun juga tidak dapat berlangsung lama.
Sebuah tendangan untuk Pendekar Li dan dua buah pukulan beracun untuk Jai-hwa Toat-beng-kwi, membuat kedua orang itu terlempar menabrak dinding.
Dan selanjutnya, hanya dengan sekali gebrakan saja Pek-pi Siau-kwi telah dapat diringkus oleh Chin Yang Kun pula.
"Nah... lihatlah! Kedua orang temanmu sudah tak berdaya dan tinggal menunggu saat kematiannya saja! Sekarang marilah kau antar aku mengambil wanita yang kalian culik itu!"
Chin Yang Kun menggeram sambil mencengkeram leher Pek-pi Siau-kwi.
"Ja-jangan...! A-aku ti...tidak berani!"
Pek-pi Siau-kwi yang ingat akan jebakan atau perangkapnya sendiri merintih ketakutan.
"Kenapa tidak berani? Hah?"
"Aku... oh, aku... aku..."
Pek-pi tetap tidak berani berbicara tentang jebakan atau perangkap yang dipasangnya itu, takut Chin Yang Kun menjadi marah dan membunuhnya.
Hanya jari telunjuknya saja yang teracung ke arah kamar samping.
"Kurang ajar!"
Saking jengkelnya pemuda itu memaki.
"Kenapa kau tidak mau mengatakan juga? Ayoh, lekas katakan! Di mana ruang di bawah tanah itu?"
Sambil membentak Chin Yang Kun menarik tubuh perempuan cantik itu dan bermaksud untuk menyeretnya ke tempat yang ditunjuk oleh perempuan tersebut.
Tapi tidak terduga, saking takutnya perempuan itu meronta sehingga pegangan tangan Chin Yang Kun terlepas.
Secara otomatis tangan Chin Yang Kun yamg lain segera menyambar tubuh perempuan tersebut.
Tetapi...
"Aaauuuuu...!!"
Pek-pi Siau-kwi menjerit keras sekali.
Ternyata karena terburu-buru, tangan Chin Yang Kun tadi telah mencengkeram persis pada buah dada Pek-pi Siau-kwi yang sebelah kanan.
Tentu saja hal itu juga sangat mengejutkan Chin Yang Kun sendiri.
Bagai disengat lebah pemuda itu cepat-cepat melepaskan "benda lunak"
Yang selalu dirahasiakan oleh pemiliknya itu.
Pemuda itu mukanya merah padam, tubuhnya gemetar, dan tiba-tiba saja bayangan si Wanita Genit isteri pemilik penginapan itu kembali terbayang di depan matanya.
"Oohhh...!"
Chin Yang Kun berdesah sambil memejamkan matanya. Tapi wajah genit yang menggairahkan itu tetap saja menggoda hatinya. Berahinya timbul pula perlahan-lahan...
"Ahhh...!"
BerkaIi-kali pemuda itu mencoba membuang bayangan-bayangan kotor itu dari kepalanya dengan mengibas-ngibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Tapi tetap tak berhasil juga.
Kemudian pemuda yang telah sadar akan bahaya yang hendak menimpa dirinya itu segera menggeram dengan hebat.
"Cepat...! Sebutkan tempat itu, sebelum kau mendapatkan perlakuan yang lebih buruk dariku!"
Celakanya, Pek-pi Siau-kwi justru semakin ketakutan melihat perubahan wajah Chin Yang Kun yang menakutkan itu.
Mulutnya tak kuasa menjawab.
Sehingga akhirnya, karena sangat jengkel pemuda itu segera menyambar rambutnya dan membawanya ke ruang yang ditunjuk oleh perempuan itu.
Chin Yang Kun memasuki ruangan itu dan segera melihat sebuah lobang terbuka di atas lantai.
"Hmmm... itukah pintunya?"
Chin Yang Kun bertanya seraya menggerakkan kepalanya ke arah lobang itu.
"Be-be-be... benar!"
Dengan suara gugup dan wajah yang semakin ketakutan perempuan cantik ini menjawab.
"Sungguh? Hmm... kalau begitu mari kita memasukinya! Awas... kalau engkau berbohong, kupatahkan lehermu... lehermu yang bagus itu!"
Chin Yang Kun yang sudah mulai terpengaruh oleh kecantikan perempuan cantik itu membentak.
"Ohh, jaangannn...! Aku... aku tidak mau!"
Pek-pi Siau-kwi yang takut kepada perangkap yang telah dibuatnya sendiri itu menjerit dan meronta-ronta.
Baca Juga: Pendekar Bodoh 12
Baca Juga: Pendekar Bodoh 5