Eps 15 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
"Hei? Kenapa tidak mau? Apakah...? Ohh... bagus... bagus! Aku tahu sekarang! Tentu ada apa-apa di dalam lobang itu, dan... kau tidak mau mengatakannya kepadaku! Baik! Sekarang kau akan kubawa saja bersama-sama, sehingga kau akan mengalami hal yang sama denganku apabila terjadi apa-apa nanti..."
"Jahanam...! Jangannn...!"
Tapi Chin Yang Kun sudah tidak peduli lagi.
Perempuan itu ditotoknya lemas.
Kemudian diseretnya memasuki lobang masuk ke ruang di bawah tanah tersebut.
Tapi begitu kaki pemuda itu menginjak anak tangga yang ke tujuh, tiba-tiba terjadi ledakan hebat yang menggoncangkan seluruh bangunan rumah tersebut!
"Bhhlaaaaaarr...!!!"
Bagaikan gunung meletus atap rumah besar itu tercampak berhamburan ke udara!
Suaranya menggelegar mengagetkan seisi dusun itu.
Pecahan-pecahan genting, kayu dan lain-lainnya, terlempar jauh ke pekarangan-pekarangan di sebelahnya.
Tiba-tiba saja semua orang keluar dari rumah-rumah mereka yang tadi tertutup rapat itu.
Mereka berlarian kesana kemari dengan wajah ngeri dan ketakutan!
Dan sekejap saja dusun yang semula sepi itu menjadi ribut dan gempar luar biasa!
Terdengar jerit dan tangis anak-anak serta wanita dimana-mana!
Semua orang menyangka telah timbul bencana alam seperti dulu lagi.
Tetapi beberapa orang yang tergabung dengan Ko Tiang dan Jiu Kok, yang melihat dengan jelas apa yang telah terjadi, segera keluar dari persembunyian mereka dan berusaha untuk menenangkan penduduk yang panik.
Mereka mengatakan kepada semua orang, apa yang telah terjadi di rumah Yung Ci Pao.
Dan kemudian mereka mengajak para penduduk untuk melihat rumah itu.
Akhirnya kegemparan tersebut menjadi reda juga.
Kini semua orang berbondong-bondong ingin melihat ke rumah Yung Ci Pao, untuk mengetahui apa sebenarnya yang telah terjadi di tempat itu.
Tetapi orang-orang itu hanya bisa melihat puing-puing bekas rumah Yung Ci Pao saja sekarang.
Rumah yang dulu sangat besar dan megah itu kini telah hancur dan hampir rata dengan tanah.
Asap masih tampak mengepul di sana-sini.
Mendadak seorang pemuda berlari mendatangi, dan kemudian menyibakkan kerumunan orang yang berjubel di sekitar tempat itu.
Wajahnya yang biru memar bekas disiksa orang itu tampak pucat pias!
Matanya melotot mengawasi rumah yang telah hancur berantakan itu!
"Rumahku...!
Ohhh...
rumahku!
Wi Yan Cuuuuu...!
Wi Yannn Cuuuu...!
Dimanakah engkauuuu...???"
Pemuda yang tidak lain adalah si Bopeng Yung Ci Pao itu menjerit-jerit seperti orang gila.
Beberapa orang tetangga Yung Ci Pao berusaha membujuk pemuda itu, termasuk pula Ko Tiang dan Jiu Kok.
Tetapi cobaan yang datang bertubi-tubi itu tampaknya benar-benar sangat memukul batin dan jiwa Yang Ci Pao sehingga sulit sekali bagi mereka untuk menyadarkan atau menenangkannya.
Seperti orang gila pemuda itu menjerit-jerit memanggil nama isterinya, meronta-ronta dan setelah terlepas dari pegangan orang-orang itu lalu berlarian sambil menjambaki rambutnya sendiri.
"Rumahkuuuu...! Rumahkuuu... ohh!... Yan Cu! Yan Cu! Yan Cuuuu...! Huhu-uh-huuuuu...!"
Akhirnya semua orang membiarkan saja pemuda itu meratapi nasibnya.
"Kasihan anak itu. Habis sudah semua yang dikejarnya dan dikuasainya dengan cara yang kurang terpuji itu sekarang..."
Seorang tetangganya yang telah berusia lanjut berdesah perlahan.
"Benar. Tampaknya pemuda itu telah mulai memetik hasil perbuatannya sendiri."
Isterinya yang juga telah tua menyahut pula.
Sementara itu Ko Tiang dan Jiu Kok rupanya telah membagi tugas.
Ko Tiang dengan kawan-kawannya, dibantu oleh pemuda-pemuda desa itu berusaha menyingkirkan puing puing reruntuhan itu.
Mereka mencari kalau-kalau di bawah reruntuhan itu masih ada sesuatu yang perlu mereka selamatkan.
Siapa tahu Chin Yang Kun, Wi Yan Cu atau teman gadis mereka yang juga dipaksa untuk melayani ketiga penjahat itu masih hidup pula?
Sedangkan Jiu Kok dengan tergesa-jesa mengajak dua orang temannya berlari ke desa In-ki-cung untuk melaporkan hal itu kepada kepala desa mereka.
Seorang kepala desa yang telah lima puluhan tahun mengabdikan dirinya, yaitu semenjak pemerintahan Kaisar lama.
Tetapi meskipun telah lanjut usia, kepala desa itu benar-benar sangat disegani dan dihormati oleh penduduknya.
Sebab, selain orang tua itu adalah keturunan dari cikal-bakal desa tersebut, ia juga seorang yang sangat bijaksana serta berwibawa.
Apalagi salah seorang puterinya pernah diambil isteri seorang pangeran dari Kotaraja pula.
"Jadi ada penjahat yang telah mengacau desa Hoa-ki-cung? Hmm...kalau begitu marilah kita ke sana! Ah... Ci Pao... Ci Pao! Sudah kuperingatkan sejak dahulu..."
Kepala desa itu berbisik dengan muka muram.
Dengan mengajak beberapa orang pembantunya, kepala desa itu mengikuti Jiu Kok ke desa Hoa-ki-cung.
Wajah kakek itu tampak muram dan gelisah, sebab bagaimanapun juga Yung Ci Pao masih termasuk cucu luarnya sendiri.
"ln-cungcu (Kepala Desa she In)..."
Di tengah jalan Jiu Kok mencoba mengajak berbicara dengan kepala desanya itu.
"Ada apa Jiu Kok?"
"Selain Ci Pao di sana juga ada cucu In-cungcu yang lain..."
"Hmmh... siapa?"
Kakek itu menyahut hampir tidak peduli.
Apa anehnya kalau di tempat itu ada cucunya yang lain?
Kakek itu hampir mempunyai seratus cucu di desa In-ki-cung dan Hoa-ki-cung.
Dan dengan terjadinya musibah di rumah Yung Ci Pao itu tentu saja semua sanak-familinya berkumpul disana.
"Tapi cucu ln-cungcu yang seorang ini tidak tinggal di desa kita ini..."
Jiu Kok yang ingin memberi kejutan kepada kakek itu cepat-cepat berkata.
"Cucuku yang tidak tinggal di desa kita? Huh... apa maksudmu?"
Kakek itu menoleh dan bertanya, sama sekali belum menangkap maksud dari perkataan Jiu Kok.
"Ahh... bukankah In-cungcu masih mempunyai cucu yang lain? Cucu kesayangan yang hampir sepuluh tahun tak pernah datang mengunjungi In cungcu lagi...?"
Jiu Kok masih tetap jual mahal dan tidak lekas-lekas mengatakan apa yang dimaksudkannya.
Benar juga.
Mendengar ucapan Jiu Kok yang terakhir itu tiba-tiba In-cungcu berhenti.
Dengan suara gemetar kakek itu menghardik.
"Jiu Kok! Katakan cepat! Jangan berputar-putar! Apakah yang kau maksudkan itu...,cucuku yang tinggal di Kotaraja?"
"Be-ben... eh... benar!"
Jui Kok menjawab dengan suara gemetar pula melihat kemarahan kepala kampungnya.
"Siapa? Chin Yang Kun...?"
In-cungcu mendesak. Jiu Kok yang sedianya mau membuat kejutan itu mengangguk.
"Heh? Benarkah...? Apa-apa...oh apakah engkau tidak salah lihat?"
Kakek itu mendadak menyambar leher baju Jiu Kok dan berteriak dengan suara parau.
Jiu Kok malah tidak bisa menjawab lagi.
Pemuda itu Cuma mengangguk dan menggeleng-geleng saja.
Tapi sikap itu sudah merupakan jawaban yang jelas bagi In-cungcu.
"Ooohh...!"
Kakek itu tiba-tiba berbalik, lalu dengan tergesa-gesa berlari ke rumah Yung Ci Pao di desa Hoa-ki-cung!
Pembantunya, Jiu Kok dan teman-temannya hanya saling pandang, kemudian juga berlari mengikuti kakek itu pula.
Kedatangan In-cungcu di Hoa-ki-cung disambut dengan ratap tangis oleh anak cucunya yang tinggal di desa itu.
Mereka segera melaporkan apa yang telah terjadi di rumah Yung Ci Pao, yang juga masih keluarga mereka sendiri itu.
"Di manakah Ci Pao sekarang?"
"Itu dia...!"
Salah seorang dari sanak keluarganya itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Yung Ci Pao, yang duduk bengong termangu-mangu sendiri di bawah pohon di pojok halaman rumahnya.
"Lalu... di mana... eh, di manakah...?"
In-cungcu masih juga bertanya seraya menoleh kesana kemari, seolah-olah ada yang ia cari lagi selain Yung Ci Pao.
Dan ketika kakek itu tidak juga dapat menemukan orang yang dimaksudkannya, ia lalu menoleh ke arah Jiu Kok.
"Hei, Jiu Kok...! Di manakah dia?"
Teriaknya tak sabar. Jiu Kok cepat berlari datang.
"Ada apa Cungcu?"
Tanyanya setelah berada di depan kakek itu.
"Kau katakan bahwa dia berada di sini. Apakah engkau mau mempermainkan aku? Di manakah dia... hei?"
Tentu saja orang-orang yang berada di tempat itu menjadi heran melihat kelakuan kepala desa mereka. Mereka menatap In-cungcu dan Jiu Kok berganti-ganti.
"Eh... anu! Chin Yang Kun berada di rumah ini ketika rumah ini meledak dan roboh! Mungkin... mungkin dia tertimbun pula di dalam reruntuhan itu bersama tiga orang penjahat itu."
Dengan hati-hati Jiu Kok memberi keterangan. Lalu secara singkat pemuda itu menceritakan apa yang telah terjadi di desa itu sebelum semua peristiwa tersebut terjadi.
"Hai... kalau begitu cepatlah semua orang menyingkirkan reruntuhan itu! Ayoooooh!"
Kakek itu berteriak keras sekali.
Demikianlah, semua orang yang berada di tempat tersebut lalu bekerja keras menyingkirkan puing-puing rumah Yung Ci Pao yang roboh tersebut.
Dan beberapa waktu kemudian, yaitu bersamaan dengan saat matahari berada di atas kepala mereka, mereka menemukan mayat Pendekar Li dan Jai-hwa Toat-beng-kwi di bawah reruntuhan itu.
Tubuh kedua penjahat itu hampir tak bisa dikenali lagi bentuknya.
Keduanya tergencet oleh balok balok kayu besar penyangga rumah.
Penemuan itu sungguh mengejutkan In Cungcu yang sedang mengkhawatirkan Chin Yang Kun.
Serta-merta kakek itu meloncat menghampiri.
"Ma-mayat si... siapa itu?"
Teriaknya hampir menjerit.
"Ah, bukan dia In-cungcu...! Bukan dia! Kedua sosok mayat ini adalah mayat penjahat-penjahat itu."
Jiu Kok cepat-cepat memberi keterangan.
"Ouohh...!"
Kakek itu bernapas lega.
"Kalau begitu... ayolah kalian teruskan pekerjaan kalian ini!"
Tapi sampai matahari condong ke barat dan akhirnya malah tenggelam di balik pegunungan, para penduduk itu tidak juga menemukan mayat-mayat yang lain lagi.
Padahal mereka telah menyingkirkan seluruh reruntuhan rumah itu.
"Hei, kemanakah mayat-mayat mereka? Bukankah di rumah ini ada penjahat wanita, Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun pula? Apakah mereka bertiga bisa meloloskan diri dari bencana itu? Tetapi...mustahil! Kalau mereka lolos, mereka tentu datang menemui kita..."
Ko Tiang berkata seraya memandang Jiu Kok dan yang lain-lain.
"Kau benar! Lalu ke mana mereka itu?"
Jiu Kok menyahut pula.
"Ayoh... coba terus! Kalian singkirkan reruntuhan itu sampai kelihatan lantainya! Siapa tahu kita bisa menemukan mereka di bawah reruntuhan pasir dan tembok itu."
In cungcu dengan suara tegang dan gelisah memberi perintah lagi.
Beberapa orang penduduk yang lain segera menyiapkan obor untuk penerangan.
Tapi belum juga mereka meneruskan pekerjaan mereka itu, tiba-tiba seorang pembantu In-cungcu datang tergopoh-gopoh mendapatkan kepala desanya itu.
"Cungcu, kau... kau diharapkan pulang sekarang juga!"
Begitu datang orang itu langsung mengatakan maksudnya.
"Heh? Ada apa di rumah?"
In-cungcu tersentak kaget.
"Anu... anu... Baginda... Baginda Kaisar telah berkenan datang di desa kita! Sekarang, beliau berada di Kuil Ban-lok-si di pinggir desa itu."
"Apa...??? Hongsiang berkunjung ke desa kita?"
Kakek itu berseru dan wajahnya mendadak menjadi pucat pasi.
Rasa gentar dan takut yang luar biasa tampak membayangi wajah yang biasanya sangat berwibawa itu.
Selanjutnya kakek itu tampak gelisah dan bingung sekali.
Keringat dingin kelihatan membasahi pakaiannya, sementara dengan sangat tergesa-gesa kakinya melangkah meninggalkan rumah Yung Ci Pao yang sedang tertimpa malapetaka itu.
Begitu risaunya hati orang tua itu sehingga beberapa kali tubuhnya melanggar orang yang menghalangi jalannya.
"Matilah sudah aku sekali ini! Ohhh...Leng Hoan...Leng Hoan, apa yang akan kau andalkan lagi sekarang? Dia telah menjadi Kaisar junjunganmu! Dan engkau takkan bisa mengelak lagi kalau dia mau membalas dendam atas perlakuanmu dahulu... ohhh!"
Kakek itu komat-kamit menyalahkan dirinya sendiri.
Tentu saja semua orang heran sekali melihat kelakuan orang tua itu.
Bukankah kakek itu seharusnya bergembira menerima kunjungan rajanya?
Tidak semua orang bisa memperoleh kesempatan baik seperti itu.
Tapi bagi orang-orang tua yang seangkatan dengan kakek itu, yang selama ini selalu tinggal di desa In-ki-cung dan Hoa-ki-cung, sikap yang aneh dari In-cungcu tersebut sama sekali tidak mengherankan mereka.
Semuanya masih ingat dengan jelas pada peristiwa dua puluh tahun yang lalu, ketika In cungcu itu hendak mengawinkan salah seorang puterinya yang bernama In Soh Hwa.
Gadis yang menjadi bunga desa ln-ki-cung itu ternyata menjadi rebutan para pemuda yang ingin memperisterikannya, sehingga akhirnya mengakibatkan keributan dan kegemparan di desa tersebut.
Dan keributan itu baru dapat menjadi reda setelah secara kebetulan ada seorang pangeran dari Kotaraja yang lewat dan berhenti di desa mereka.
Tapi kedatangan si pangeran tersebut ternyata berbuntut panjang.
Sebab pangeran yang masih berusia muda dan belum beristeri itu akhirnya juga menghendaki ln Soh Hwa pula.
Tentu saja pemuda-pemuda desa itu menjadi segan dan takut untuk bersaing dengan pangeran yang kaya dan mempunyai kekuasaan besar itu.
Satu persatu mereka mundur dari arena persaingan, apalagi ketika mereka mengetahui bahwa si pangeran itu masih putera dari Kaisar mereka sendiri.
Meskipun demikian, ternyata masih ada juga yang nekad dan tidak mau mengalah.
Pemuda tersebut adalah Liu Pang, putera seorang petani melarat di desa itu juga.
Memang sudah lama pemuda itu menjalin cinta dengan In Soh Hwa, biarpun ayah gadis itu atau In-cungcu tidak menyukai hubungan mereka itu.
Dan puncak dari kenekadan pemuda Liu Pang tersebut adalah ketika dia dengan berani mengambil In Soh Hwa serta melarikan gadis tersebut ke daerah perbukitan.
Tentu saja perbuatan pemuda itu mengundang kemarahan si pangeran dan keluarga In Soh Hwa sendiri.
ln Leng Hoan atau In cungcu segera mengerahkan para pembantunya untuk mengejar Liu Pang, sementara pangeran itu juga mengerahkan perajurit yang dibawanya dari Kotaraja untuk merampas kembali calon isterinya.
Demikianlah, selama dua hari dua malam pasukan besar itu mengobrak-abrik tempat persembunyian Liu Pang.
Dan pada hari ke tiga, barulah sepasang kekasih itu mereka ketemukan.
Maka penyiksaan atas diri pemuda nekad itupun terjadilah!
Sayang, pada saat pangeran itu memberi perintah untuk membunuh Liu Pang, seorang pendekar tak dikenal telah datang dan menyelamatkan nyawa pemuda itu.
Dan selanjutnya tak seorangpun tahu bagaimana nasib Liu Pang itu.
Tapi belasan tahun kemudian, orang-orang dari desa ln-kicung itu dikejutkan oleh berita tentang munculnya Liu Pang, yang memimpin ribuan orang petani dan pendekar-pendekar persilatan untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Chin Si di Kotaraja.
Tampaknya dendam pemuda itu terhadap si Pangeran Chin, yang telah merebut kekasihnya itu telah menyalakan semangat pemuda tersebut untuk membalas dendam.
Dan dendam itu akhirnya ternyata terlaksana juga.
Kaisar Chin Si dan bala tentaranya menyerah.
Liu Pang menjadi Kaisar yang baru, bergelar Kaisar Han.
Sayang di dalam kemenangannya itu Kaisar Han tak pernah bisa menemukan kekasih yang dicintainya, yaitu In Soh Hwa!
Dan tampaknya setelah bertahun-tahun tak bisa menemukan juga kekasihnya itu, kini Liu Pang kembali ke desanya.
Anak petani melarat itu sekarang datang dengan segala kebesarannya, kereta-kereta perang dan ribuan orang perajuritnya!
Bagaimana seorang kepala desa kecil seperti ln Leng Hoan tidak menjadi gemetar ketakutan melihatnya?
Di dalam perjalanan kembali ke rumahnya, In Leng Hoan terus saja mendesak kepada pembantunya.
"Lo Kwang, apa... apakah Hongsiang membawa banyak pengawal?"
"Pengawal...? Ah, Cungcu ini aneh benar! Masakan Hongsiang hanya diikuti oleh beberapa orang pengawal? Hmm... tentu saja Hongsiang membawa pasukan yang lengkap. Lengkap sekali...!"
Lo Kwang menjawab pertanyaan kepala desanya dengan wajah terheran-heran.
"Lengkap sekali?"
Ln Leng Hoan mengulangi seolah tak percaya.
"Ya! Cungcu ingat padang rumput di lereng bukit di sebelah selatan desa kita itu? Nah, tempat itu kini penuh dengan perajurit dari Kotaraja!"
"Hah? Padang rumput yang luar biasa luasnya itu?"
Sekali lagi In Leng Hoan mengulangi kata-kata pembantunya.
"Ohhh mati aku!!!" '"Hei, Cungcu... kau kenapa?"
Lo Kwang berteriak kaget. Tapi ln Leng Hoan cepat-cepat menggeleng.
"Tidak apa-apa! Tidak apa-apa..."
Desah kakek itu dengan suara putus-asa.
Tentu saja kegelisahan kepala desanya itu sangat mengherankan Lo Kwang.
Pembantu kepala desa yang masih berusia muda dan belum lama tinggal di In-ki-cung tersebut tentu saja tak tahu menahu sama sekali peristiwa yang terjadi pada dua puluhan tahun berselang.
Demikianlah, dengan pikiran kacau ln Leng Hoan sampai di rumahnya.
Kedatangannya telah dinantikan oleh isteri dan anak-anaknya, yang sengaja berkumpul di rumah itu.
Anakanaknya yang tua, yaitu kakak-kakak ln Soh Hwa, segera menyongsong dia dan mengelilinginya.
"A-ayah... dia telah datang kemari! Apa... apa yang harus kita perbuat?"
Puteranya yang tertua, yang rambutnya juga telah mulai memutih, bertanya dengan suara khawatir.
"Benar, yah...! Tampaknya dia hendak...hendak membalas dendam atas perlakuan kita dahulu."
Puteranya yang ke dua, yang dahulu ikut menyiksa Liu pang, berkata pula dengan bibir bergetar.
Wajah In Leng Hoan semakin tampak pucat tak berdarah.
Perasaan takut, cemas dan ngeri membuat kakek itu seolah olah sudah tidak mempunyai pengharapan untuk hidup lagi.
Kedatangan Kaisar Han beserta pasukannya itu seakan-akan ia rasakan sebagai malaikat elmaut yang hendak mencabut nyawanya.
Melihat itu isterinya menjadi tidak tega.
Betapapun dirinya juga takut luar biasa, tapi memandang suaminya seperti itu hatinya menjadi kasihan dan tidak rela.
"Sudahlah! kau tak perlu takut dan bersedih hati! Kita berdua sudah tua-renta. Tanpa mereka bunuhpun kita juga akan segera meninggalkan semua ini. Apa bedanya mati sekarang atau besok bagi kita? Sudah cukup rasanya kita berdua mengasuh anak cucu selama ini..."
"Ahhh...!"
In Leng Hoan berdesah dan tiba-tiba wajahnya tampak berseri-seri memandang isterinya.
Kedua lengannya terulur ke depan dan di lain saat sepasang kakek-nenek itu lalu saling berangkulan tanpa mempedulikan anak anak mereka.
"Kau benar, isteriku... Ah, aku sekarang sudah tidak takut lagi. Biar sampai lumat dengan tanahpun kita berdua akan selalu bersama-sama. Bukan begitu?"
Nenek itu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Beberapa butir air mata kelihatan meloncat dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya yang keriput.
"Ehh...tetapi bagaimana dengan anak-cucu kita nanti? Bagaimanakah kalau Kaisar itu juga memusuhi mereka pula?"
In Leng Hoan berbisik perlahan ke telinga isterinya.
"Ah, tidak mungkin! Perbuatan itu hanya akan merugikan nama baiknya di mata para perajuritnya. Pembunuhan yang membabi-buta terhadap rakyat kecil seperti kita justeru akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik terhadap kewibawaannya,"
Isterinya cepat-cepat menyahut.
"Klinting... klinting... klinting!"
"Ohh...itu suara kelintingan kuda! Utusan yang hendak menjemput ayah telah datang,"
Putera In Leng Hoan yang tertua berbisik gelisah.
Tapi dengan bibir tersenyum In Leng Hoan menepuk-nepuk pundak puteranya, kemudian seraya menggandeng lengan isterinya kakek itu melangkah ke ruang pendapa.
Dan benar saja di halaman depan telah terlihat seregu perajurit berkuda mendatangi.
Seorang perwira berpakaian gemerlapan tampak memimpin pasukan itu.
ln Leng Hoan bergegas mengajak isterinya turun ke halaman, menyongsong kedatangan perwira itu.
Dengan sangat hormat sekali kakek itu membungkuk di hadapan perwira tersebut.
"Selamat datang di rumah kami, Ciangkun...!"
Perwira itu melambaikan tangannya ke belakang, menyuruh anak buahnya berhenti. Lalu tanpa beranjak dari punggung kudanya perwira itu mengangguk.
"Terima kasih! Apakah kamu yang bernama In Leng Hoan dan menjabat sebagai kepala desa di dusun In-ki-cung ini?"
Katanya singkat tanpa berbelit-belit.
"Betul, Ciangkun! Aku memang In Leng Hoan, kepala desa di tempat ini. Bolehkah saya bertanya, siapakah Ciangkun ini?"
"Aku adalah utusan Hongsiang yang saat ini sedang berada di Kuil Ban-lok-si, di luar desamu ini. Hongsiang berkenan untuk memanggilmu ke sana sekarang juga! Oleh karena itu engkau bersiaplah untuk kami bawa ke hadapan beliau!"
Perwira itu berkata lagi, halus namun tegas.
"Ba-baik...! Tapi silakanlah Ciangkun singgah dulu sebentar di pendapa! Aku akan berbenah dahulu di dalam..."
In Leng Hoan yang sudah tidak merasa ketakutan lagi itu menjawab tenang.
"Terima kasih! Tidak usah...! Aku akan menunggu saja di halaman ini. Nah, lekaslah kau bersiap-siap...!"
Demikianlah, setelah berpamitan dengan anak-isterinya In Leng Hoan lalu pergi mengikuti perwira itu.
Semula isteri dan anaknya hendak ikut, tetapi dengan keras kakek itu melarangnya.
Kakek itu menyuruh mereka supaya menunggu saja di rumah.
Mereka baru diperbolehkan menyusul kalau ada berita darinya.
Bagaimanapun juga hati kakek itu menjadi ciut pula melihat penjagaan yang begitu rapat di sekeliling Kuil Ban-lok-si itu.
Berpuluh-puluh orang perajurit bersenjata lengkap tampak mondar-mandir di sepanjang jalan dan halaman kuil tersebut.
Mereka tampak bersiap siaga sepenuhnya!
"Ah, perajurit-perajurit ini cuma sebagian saja dari kekuatan yang dibawa oleb Liu Pang itu.
Yang lain mereka tempatkan di lereng bukit itu..."
In Leng Hoan bergumam di dalam hati.
"Utusan Hongsiang telah tiba...!"
Tiba-tiba perajurit yang berdinas jaga di pintu halaman kuil berteriak ke dalam.
Lalu terjadilah kesibukan yang luar biasa di dalam kuil itu.
Beberapa orang perwira tampak keluar dari dalam kuil.
Di belakang mereka tampak belasan perajurit pengawal mengiringkan mereka.
Bergegas para perwira itu menyongsong perwira yang membawa In Leng Hoan tadi.
Dan perwira yang membawa In Leng Hoan itu cepat meloncat turun dari atas punggung kudanya.
Sambil memberi hormat perwira itu melaporkan tugas yang telah diselesaikannya.
Salah seorang perwira yang keluar dari dalam kuil itu mengangguk, lalu mengajak In Leng Hoan ke dalam.
Para perwira yang lain segera mengikuti mereka dari belakang.
belasan orang anggota Sha-cap mi-wi, dengan pakaian seragam kebesarannya yang gemerlapan, tampak berdiri berderet di kanan kiri jalan yang mereka lalui menuju ke pintu ruang dalam.
Jagoan jagoan pengawal rahasia kerajaan itu tampak gagah-gagah, berwibawa dan garang-garang!
Kepandaian mereka yang rata-rata sangat tinggi itu membuat sikap dan pembawaan mereka sangat tenang dan yakin pada diri mereka sendiri.
Dan semua itu membuat hati In Leng Hoan semakin menjadi lebih menciut lagi.
Apalagi ketika kakek kepala desa itu sampai di dalam.
Para perwira tinggi dan panglima-panglima kerajaan yang saat itu dibawa oleh Yap Tai-Ciangkun dalam perlawatannya ke Pantai Karang, tampak duduk berderet-deret di sekitar altar pemujaan, di mana kursi Baginda Kaisar Han diletakkan.
Lampu-lampu besar dan bau dupa wangi yang tersebar di ruangan dalam yang luas itu membuat suasana menjadi kelihatan agung dan menggetarkan hati.
Kursi itu masih kosong.
Hongsiang belum berkenan duduk di tempat itu.
Tampaknya Baginda ingin menunggu kedatangan utusannya lebih dahulu.
In Leng Hoan diperintahkan duduk di atas lantai di depan altar, sambil menunggu kedatangan Baginda Kaisar Han.
Dan kakek itu hampir tak berani menengadahkan mukanya.
Perwira-perwira tinggi dengan seragamnya yang indah gemerlapan itu seakan-akan menyilaukan matanya dan menyita seluruh keberaniannya.
Sementara itu udara di luar kuil benar-benar telah menjadi gelap.
Malam telah datang menyelimuti bumi.
Para perajurit juga telah memasang obor penerangan di mana-mana, sehingga suasana di sekitar tempat itupun telah menjadi terang benderang bagaikan siang hari saja.
Demikian pula yang terjadi di rumah Yung Ci Pao di Hoa-kicung.
Penduduk di sana juga sudah memasang obor sebanyak-banyaknya untuk membantu kawan-kawan mereka yang sedang sibuk membongkar puing-puing reruntuhan rumah itu.
Sesuai dengan perintah kepala desa mereka, mereka melanjutkan usaha mereka untuk menemukan mayat Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun.
Tetapi sampat habis reruntuhan rumah itu mereka singkirkan, mayat kedua orang itu tetap juga tak mereka ketemukan.
Tentu saja hal itu sangat mengherankan orang-orang itu.
Mereka lalu bertanya-tanya di dalam hati, kemanakah gerangan mayat kedua orang itu?
Masakan cuma mayat kedua orang penjahat itu saja yang dapat mereka ketemukan?
Lalu kemanakah mayat penjahat wanita itu?
Dan ke mana pula mayat Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun, yang saat itu juga berada di rumah tersebut?
Tak seorang pun penduduk desa itu yang tahu tentang ruang di bawah tanah itu.
Selama hidupnya keluarga Wi Yan Cu selalu merahasiakan ruang di bawah tanah tersebut.
Hanya keluarga terdekat saja yang diberitahu tentang hal itu, termasuk pula Wi Yan Cu dan Yung Ci Pao.
Tetapi di bawah ancaman Pendekar Li dan kawan-kawannya, ternyata Wi Yan Cu juga telah memberitahukan pula tempat tersebut kepada penjahat-penjahat itu.
Dan sekarang ruang rahasia itu telah dipergunakan oleh Pek-pi Siau-kwi untuk menjebak Chin Yang Kun.
Lalu apa yang terjadi dengan Chin Yang Kun setelah ledakan dahsyat tersebut?
Ternyata ledakan hebat yang menggoncangkan seluruh bangunan rumah besar itu benar-benar sangat mengagetkan Chin Yang Kun pula.
Pemuda itu terlempar ke bawah bersama-sama dengan tubuh Pek-pi Siau-kwi dan untuk beberapa saat lamanya mereka seperti orang yang tidak sadarkan diri.
Dan ketika keduanya sudah siuman kembali, mereka mendapatkan diri mereka di dalam sebuah ruangan yang pengap dan gelap.
Hanya ada sebatang lilin besar menyala di pojok ruangan di mana sinarnya tak mampu menerangi seluruh ruangan yang luas itu.
"Uh-huuu...uh!"
Mendadak mereka mendengar suara tangis perempuan di arah sebelah kiri mereka.
Chin Yang Kun cepat menoleh.
Di dalam keremangan cahaya lilin matanya melihat sesosok tubuh wanita tertelungkup di atas pembaringan.
"Ah, Wi Yan Cu...!"
Pemuda itu berbisik perlahan, lalu bergegas bangkit dari tempatnya.
Pek-pi Siau-kwi yang merasa seram melihat suasana di dalam kamar itu cepat-cepat berdiri pula di belakang Chin Yang Kun.
Tetapi belum juga kakinya dapat berdiri tegak, iblis cantik itu buru-buru mendekam kembali.
Dari mulutnya terdengar suara jeritannya yang khas!
"Aiiih...!"
Dengan sigap Chin Yang Kun membalikkan tubuhnya.
Rasa kaget membuat pemuda itu segera bersiap siaga sepenuhnya.
Tapi dengan perasaan kaget pula pemuda itu cepat-cepat membuang mukanya!
Pipinya merah seketika!
Sekejap matanya melihat Pek-pi Siau-kwi sedang "sibuk"
Dan repot menutupi tubuhnya yang "nyaris"
Telanjang! "Wahh...!"
Pemuda itu berdesah, kemudian menunduk untuk menenteramkan hatinya yang tiba-tiba berguncang.
Tapi sekali lagi pemuda itu terkejut!
Ternyata seperti halnya Pek-pi Siau-kwi, pakaian yang melekat pada tubuhnyapun juga kedodoran serta compang-camping pula.
Malah apabila diperbandingkan dengan Pek-pi Siau-kwi, keadaannya justru lebih parah lagi malah!
Tubuhnya yang kurus itu rasa-rasanya sudah tidak tertutup pakaian lagi!
"Wah, ini...ini?
Bagaimana ini...?"
Chin Yang Kun gugup dan tiba-tiba tangannya ikut-ikutan menjadi sibuk pula.
Sementara itu suara jeritan Pek-pi Siau-kwi tadi ternyata sangat mengejutkan Wi Yan Cu pula.
Wanita yang berada di atas pembaringan itu segera meloncat turun dan berlari menjauhi mereka.
"Jangan! Jangan sentuh aku...!"
Wanita itu berteriak ketakutan seraya bersandar di dinding ruangan.
Sambil menutupi anggauta tubuhnya yang terbuka Chin Yang Kun menjadi bingung, gelisah dan serba salah!
Berkali-kali matanya tak dapat ia cegah untuk melirik ke arah Pek-pi Siau-kwi yang "mendekam"
Di dekatnya. Wanita cantik itu hampir tidak berpakaian sama sekali, sehingga tubuhnya yang mulus itu tampak dengan jelas lekuk-likunya.
"Aaaah...!"
Chin Yang Kun berdesah dengan napas memburu. Badannya menjadi panas dingin serta gemetar. Dan tiba-tiba saja seperti ada "sesuatu"
Yang bergerak di dalam tubuhnya! "Ini... ini, oh... gila! Hmmmh!"
Pemuda itu menggeram dan berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menahan gejolak nafsu yang hendak membakar dirinya.
Sebenarnya Chin Yang Kun telah sadar akan bahaya yang hendak menyerang dirinya.
Tapi seperti yang pernah dikatakan oleh Chu Seng Kun, bahwa nafsu setan ini tak mungkin bisa ditahan lagi bila datang, maka usahanya sia-sia belaka.
Detik demi detik nafsu iblis itu menggelegak semakin ganas dan beberapa saat saja pemuda itu sudah menjadi kewalahan untuk mencegahnya!
Akhirnya pemuda itu sudah tidak kuasa membendung nafsu berahinya!
Perlahan-lahan lengannya terulur ke depan untuk meraih tubuh yang menggairahkan itu.
Meskipun demikian dari mulut pemuda itu masih terdengar juga kata-kata yang menunjukkan sedikit kesadarannya.
"Ce-cepaat... kau pergilah. Se-sebelum... ouhhh!"
Tapi Pek-pi Siau-kwi sudah terlanjur ketakutan terhadap Chin Yang Kun.
Sikap Chin Yang Kun yang sangat mengerikan itu justru dianggapnya sebagai pertanda bahwa pemuda itu telah mengetahui perangkap yang dipasangnya, dan kini pemuda itu menjadi berang dan mau membunuhnya!
"Jangan...
oh...
jangan kau bunuh aku!
A-aku menyerah...!"
Iblis cantik itu meratap seraya menubruk kaki Chin Yang Kun.
Beberapa helai dari sisa pakaian yang tadi masih melekat di tubuhnya tampak terlepas pula, sehingga tubuhnya yang memang sangat bagus itu nyaris tak mempunyai penutup lagi.
"Gila! Pergiii... oh... pergilah kau!"
Dengan sisa-sisa kesadaran yang masih dipunyainya Chin Yang Kun berteriak.
Tapi Pek-pi Siau-kwi tetap tak mau melepaskan pelukannya.
Iblis cantik itu justru bangkit berdiri dan memeluk lebih erat, sehingga Chin Yang Kun semakin "kebakaran"!
"Ooh...
ampunilah aku!
kau berbuatlah sesuka hatimu, tapi...
jangan bunuh aku...!"
Pek-pi Siau-kwi meratap.
Gejolak nafsu iblis yang membakar tubuh pemuda itu benar-benar telah menggelegak sampai di puncaknya.
Pemuda itu benar-benar telah kehilangan seluruh kesadarannya!
Perempuan telanjang yang berada di dalam pelukannya itu segera ia lemparkan ke atas pembaringan dan...
kemudian semuanya berlangsung tanpa ada yang mencegah lagi!
"Ooooooh...!"
Wi Yan Cu yang menyaksikan dengan jelas semua kejadian itu menjerit ngeri dan pingsan.
Demikianlah, kejadian yang sebenarnya sangat tidak diinginkan oleh Chin Yang Kun sendiri itu, berlangsung dengan cepat dan tidak bisa dihindarkan lagi.
Semula Pek-pi Siau-kwi memang meronta dan hendak melawan, tapi dengan kepandaiannya yang berselisih jauh itu, mana mampu ia melawan Chin Yang Kun?
Sekali gebrak saja wanita cantik itu segera menggelepar tak berdaya.
Dan selanjutnya peristiwa mengerikan seperti yang pernah terjadi di rumah penginapan dulu itu terulang kembali di tempat tersebut, Pek-pi Siau-kwi mengerang dan menggelepar kesakitan sebelum akhirnya mati keracunan!
Dan begitu sudah selesai dan sadar kembali Chin Yang Kun menangis sedih.
Kembali seorang wanita telah menjadi korban keganasan "penyakitnya."
"Ohh... sungguh malang benar nasibku! Sampai kapankah aku harus menderita penyakit seperti ini? Dan sampai kapan pula aku harus mencelakakan orang-orang yang tidak berdosa di dunia ini?"
Chin Yang Kun meratap pula semakin sedih, apalagi ketika matanya melihat mayat Pek-pi Siau-kwi yang rusak kehitam-hitaman itu.
Hatinya semakin sedih dan pilu.
Sambil menjambaki rambutnya sendiri pemuda itu meratap dan mengeluh panjang pendek.
Begitu besar rasa penyesalan Chin Yang Kun sehingga untuk sementara pemuda itu sampai melupakan keadaan sekelilingnya.
Dia tidak menduga sama sekali kalau Wi Yan Cu telah siuman kembali, dan kini wanita itu justru sedang mengamat-amati atau memperhatikan semua tingkah lakunya yang aneh itu.
Dan wanita itu tampak benar kalau menjadi heran serta bingung menyaksikan ulah tingkah Chin Yang Kun, pemuda yang semula kelihatan sangat ganas dan mengerikan itu.
Wanita itu tidak habis mengerti, mengapa pemuda keji itu mendadak menangis sedih, begitu selesai melakukan perbuatan terkutuknya.
"Yang Kun... Yang Kun! Oh! Tampaknya di kehidupanmu yang silam kau adalah orang yang penuh dosa, sehingga dalam penitisanmu yang sekarang kau harus membayarnya dengan kesengsaraan dan penderitaan."
Chin Yang Kun meratapi nasibnya.
"Yang Kun...?"
Mendengar keluh kesah itu tiba-tiba Wi Yan Cu berteriak di hatinya.
Dengan perasaan ragu-ragu dan kurang percaya wanita itu bangkit berdiri.
Matanya menatap Chin Yang Kun dengan tajamnya, seolah-olah ingin memastikan, apakah pemuda berwatak keji yang tiba-tiba merasa menyesal setelah melakukan perbuatan terkutuknya itu benar-benar Chin Yang Kun, temannya semasa kanak-kanak dulu?
"Ah...
tentu bukan dia!
Chin Yang Kun adalah putera seorang pangeran.
Wataknya halus, pendiam dan baik hati.
Orang ini kejam, ganas, kasar dan keji!
Tak mungkin dia!"
Wi Yan Cu bergumam dan menduga-duga di dalam hati.
Memang tidak mengherankan kalau Wi Yan Cu merasa terkejut mendengar keluh kesah Chin Yang Kun tadi.
Sebab bagaimanapun juga nama itu sangat dikenal dan tak mungkin dilupakan oleh Wi Yan Cu.
Sejak kanak-kanak nama itu amat dikenalnya serta amat dekat dengan dirinya.
Nama itu menjadi pujaan dan idaman dari gadis-gadis keciI sebayanya, karena nama itu adalah nama seorang pemuda yang amat tampan, perangainya halus, baik budi dan kaya-raya.
Dan yang tak mungkin dapat dilupakannya adalah pemuda itu sering melindunginya dari kenakalan teman-teman sekampungnya.
"lih...!"
Tiba-tiba Wi Yan Cu terpekik perlahan ketika mendadak Chin Yang Kun mengangkat kepala dan menoleh ke arahnya.
Sekejap wanita itu gemetar dan ketakutan bagaikan seekor kelinci yang tiba-tiba saja berhadapan dengan seekor singa yang hendak memangsanya.
Dan rasa takut itu secara serentak juga berbaur dengan rasa kaget dan ragu di dalam benaknya!
Wajah pemuda ini persis dengan wajah teman semasa kanak-kanaknya itu!
"Ohh??"
Sekali lagi Wi Yan Cu menjerit seraya menutupi muIutnya.
Matanya melotot Iebar, seakan-akan melihat hantu dari temannya itu.
Sebaliknya Chin Yang Kun tampak tersenyum sedih melihat kekagetan wanita yang telah menjadi isteri Yung Ci Pao itu.
"Wi Yan Cu tentu kaget sekali melihat perbuatanku tadi."
Pemuda itu berkata di dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja Chin Yang Kun merasa dirinya sangat rendah dan kotor sekali.
"Wi Yan Cu... maafkanlah aku bila aku mengagetkanmu!"
Chin Yang Kun membuka mulutnya.
"Ooh? kau mengenalku...? kau... kau benar-benar Chin Yang Kun temanku itu? Oooooh...!"
Wi Yan Cu menjerit Iemas, tak menyangka kalau pemuda di hadapannya itu betul-betul Chin Yang Kun.
"Ah...!"
Chin Yang Kun berdesah semakin sedih. Mukanya tertunduk dalam-dalam.
"Yang... Yang Kun, oh... mengapa kau sekarang berubah sekali? Mengapa kau... kau berbuat se-seperti itu?"
Wi Yan Cu mendadak mempunyai keberanian kembali, dan menegur teman yang dulu pernah dikaguminya itu.
"Ahh! Nasibku memang buruk. Aku memang sudah ditakdirkan untuk menderita..."
Chin Yang Kun menjawab perlahan.
"Ditakdirkan untuk menderita? Apa maksudmu?"
Wi Yan Cu bertanya tak mengerti.
"Bukankah kau selalu bergelimang kekayaan? Bukankah kau tak pernah merasa kecewa di dalam hidupmu? Bukankah kau selalu memperoleh apa yang kau inginkan?"
Chin Yang Kun menarik napas dalam-dalam.
"Kau belum tahu hal yang sebenarnya..."
Pemuda itu berdesah panjang, kemudian menutupi mukanya dengan kedua belah telapak tangannya.
Tampak benar betapa sedihnya hatinya.
Untuk beberapa saat lamanya mereka lalu berdiam diri, yang terdengar hanya tarikan napas dan keluhan Chin Yang Kun saja.
Pemuda itu sungguh-sungguh kelihatan bersedih sekali, sehingga akhirnya Wi Yan Cu menjadi tertarik dan merasa penasaran sekali untuk mengetahui apa yang disedihkan oleh temannya tersebut.
Perlahan-lahan wanita itu mendekati Chin Yang Kun.
Entah mengapa melihat kesungguhan pemuda itu, hatinya merasa tersentuh.
Hilang perasaan takutnya.
Yang ada di dalam hatinya kini hanya perasaan tertarik dan ingin tahu masalah yang sedang disedihkan oleh pemuda yang dulu pernah dikaguminya itu.
"Yang Kun... Apa sebenarnya yang kau sedihkan? Mengapa kau merasa amat menderita? Itukah... itukah yang menyebabkan sehingga kau menjadi berubah seperti ini?"
Chin Yang Kun tersentak kaget. Tahu-tahu Wi Yan Cu telah memegang pundaknya dan berbisik di telinganya.
"Yan Cu... kau? kau...?"
Chin Yang Kun tergagap bingung menyaksikan tingkah Wi Yan Cu.
"Sudahlah, kau jangan bersedih! kau tidak sendirian di dunia ini. Tidak hanya engkau saja yang merasa sengsara serta dirundung kesedihan di dalam hidup ini. Malah banyak orang lain yang lebih menderita dari pada dirimu..."
"Aaa-apa maksudmu?"
Chin Yang Kun terpekik, dan tanpa terasa pemuda itu mencengkeram tangan Wi Yan Cu.
"Hidupkupun tidak bahagia pula."
Wi Yan Cu menjawab pendek dengan wajah berubah merah.
Chin Yang Kun menarik lengan yang halus itu lebih dekat lagi.
Matanya menatap wajah yang pernah dikenalnya itu lekat-lekat, sehingga si pemilik wajah itu menjadi tersipu-sipu malu.
"Kau tidak berbahagia? Apa maksudmu? Bukankah Yung Ci Pao sangat... sangat mencintaimu? Dia sedang kebingungan mencarimu."
"Huh! Persetan dengan lelaki bangsat itu! Karena dia aku menderita seperti ini!"
Tiba-tiba Wi Yan Cu berteriak geram. Lalu menangis tersedu-sedu. Chin Yang Kun semakin tak mengerti akan sikap Wi Yan Cu.
"Ah, engkau tak berubah sama sekali. Sejak dulu kau selalu menangis bila sedang merasa kesal. Hanya bedanya kini engkau telah menjadi dewasa dan telah menjadi isteri orang pula. Hemm, apa sebenarnya kekuranganmu?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun menjadi malu sendiri.
Hampir saja pemuda itu memuji kecantikan Wi Yan Cu dan menyebut tentang keberuntungan Yung Ci Pao, yang bisa mempersunting bunga desa ln-ki-cung itu.
Untunglah dengan cepat pemuda itu bisa membelokkan perkataannya dan hanya bertanya tentang kekurangan yang diderita oleh wanita itu, sehingga ia tidak semakin malu di depan Wi Yan Cu.
Tapi di dalam hati Chin Yang Kun merasa kesal terhadap dirinya sendiri.
"Huh, kenapa sekarang aku menjadi romantis sekali?"
Kutuknya di dalam hati. Sementara itu Wi Yan Cu semakin menundukkan kepalanya. Berulang kali tangannya mengusap air mata yang mengalir di atas pipinya.
"Yan Cu, katakanlah kepadaku! Mengapa engkau tampaknya sangat membenci Yung Ci Pao, suamimu? Bukankah dia sangat baik kepadamu?"
Tangis yang sudah hampir mereda itu kembali naik pula, sehingga pundak wanita itu sampai turun naik dengan kuatnya.
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya, tapi ia tak berbuat apa-apa.
Dibiarkannya saja wanita itu menangis sepuas-puasnya agar supaya lapang hatinya.
"Sa-sangat baik...? Huh! Musang berbulu ayam! Serigala berkulit domba! Kelihatannya saja baik, tapi sebenarnya hatinya culas, kejam dan jahat! Kalau tidak dengan muslihatnya yang kotor dan keji, tak mungkin dia bisa memperisterikan aku!"
Dengan suara lantang dan disertai isak tangisnya yang masih berjejalan di tenggorokannya Wi Yan Cu menggeram penuh kemarahan.
"Hah? Apa katamu?"
Chin Yang Kun berseru kaget.
"Lelaki bangsat itu! Kalau tidak karena memperkosa aku lebih dahulu, sehingga aku hamiI, tak mungkin bangsat itu mendapatkan aku."
"Memperkosamu? Yung Ci Pao memperkosa engkau?"
Chin Yang Kun berteriak tak percaya.
"Ya! Karena ulahnya itu ayah ibuku yang biasa dihormati orang itu menjadi malu dan makan hati. Malah karena tak tahan menanggung semua itu ayahku lantas jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia. Melihat kematian ayah, ibuku yang biasanya tabah itu juga tak kuasa menahan pula. Beliau juga jatuh sakit, dan akhirnya pergi pula meninggalkan aku seorang diri di dunia ini. Tampaknya selain tak kuat menahan beban batin yang ditanggungnya, ibuku juga tak tahan melihat penderitaanku setiap harinya,"
Wi Yan Cu menjawab dengan suara berapi-api.
"Kurang ajar!"
Chin Yang Kun menggeram dan ikut menjadi marah pula mendengar ceritera Wi Yan Cu tersebut.
"Tapi kalau memang demikian halnya, mengapa engkau mau juga kawin dengan Yung Ci Pao itu?"
Tiba-tiba mata Wi Yan Cu menjadi berkaca-kaca kembali.
"itulah kelemahanku! Sebenarnya aku bermaksud bunuh diri pada waktu itu. Tapi niat itu lalu kuurungkan, karena aku kasihan kepada ibu dan ayahku. Beliau akan semakin terpukul batinnya bila aku mengakhiri hidupku sendiri. Apalagi aku menjadi hamil karena perbuatan keji itu."
"Huh! Sungguh kurang ajar benar si Bopeng Ci Pao itu! Tapi kau pun sebenarnya juga salah! Tak Seharusnya kau diam saja menerima semua itu. Seharusnya kau melapor untuk minta keadilan."
"Melapor? Kepada siapa? Kepada kepala kampung maksudmu? Hmm, apakah engkau sudah lupa, siapa Yung Ci Pao itu? Apa gunanya kami melaporkan kejahatan itu kepada In-cungcu yang masih kakek Yung Ci Pao sendiri itu? Adakah laporan kami tersebut akan mereka perhatikan?"
"Ahhh...!"
Chin Yang Kun berdesah dengan muka merah, sebab sebagai cucu In Leng Hoan dia pun merasa ikut terkena pula sindiran Wi Yan Cu tersebut.
Dan untuk beberapa saat lamanya mereka lalu berdiam diri, masing-masing berusaha mengenangkan kembali semua peristiwa yang telah lampau itu.
Chin Yang Kun, yang kini sudah mengetahui duduk persoalannya itu, mulai bersimpati kepada Wi Yan Cu.
"Lalu... dimanakah anakmu itu sekarang?"
Pemuda itu mencoba untuk mencocokkan cerita Yung Ci Pao dengan cerita wanita ini.
"Anak haram itu? Uh! Kenapa anak itu harus lahir? Dia mati sebelum waktunya. Dan aku gembira sekali malah!"
Wi Yan Cu menjawab dengan berapi-api kembali.
"Tapi... bukankah anak itu tidak berdosa sama sekali?"
Wi Yan Cu terdiam tak menjawab.
Sekilas tampak matanya berkaca-kaca lagi.
Agaknya diam-diam wanita itu tersentuh juga rasa keibuannya.
Namun dengan kekerasan hatinya wanita itu berusaha untuk menindasnya.
"Ya... dia memang tidak bersalah! Tapi dia akan lebih menderita apabiIa terlahir nanti."
Chin Yang Kun mengangguk-angguk, mencoba untuk mengerti perasaan Wi Yan Cu.
Demikianlah mereka berdua lalu terdiam pula kembali.Tetapi beberapa waktu kemudian Wi Yan Cu tampak gelisah duduknya.
Beberapa kali matanya melirik ke arah Chin Yang Kun, tampaknya ada sesuatu yang hendak dia katakan.
"Yang Kun..."
"Hah? Ada apa...?"
"Mengapa... mengapa kau dan keluargamu tak pernah berkunjung ke In-ki-cung lagi setelah peperangan besar itu berakhir? Apakah... apakah keluargamu menjadi... menjadi korban dari peperangan itu?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun mengerutkan keningnya.Kemudian sambil menarik napas panjang sekali pemuda itu menundukkan kepalanya. Lama sekali baru ia menjawab pertanyaan wanita itu.
"Keluargaku memang tidak menjadi korban pasukan pemberontak yang masuk ke Kotaraja, karena ayahku telah lebih dahulu mengungsikan kami semua. Namun demikian nasib keluargaku selanjutnya ternyata juga tidak lebih baik dari pada jatuh ke tangan para pemberontak itu. Sebab ternyata kami hanya bisa bersembunyi selama beberapa tahun saja di tempat persembunyiannya atau tempat pengungsian kami itu. Setahun yang lalu beberapa kelompok musuh telah mendatangi tempat kami. Karena kalah banyak, maka kami sekeluarga segera pergi meloloskan diri. Tapi...ternyata satu-persatu keluargaku mati terbunuh di perjalanan!"
"Dan... kini kau sebatang kara?"
Chin Yang Kun mengangguk.
"Ah... jadi nasibmu sama dengan aku sekarang."
Wi Yan Cu berdesah dan tiba-tiba timbul sebuah perasaan kecewa di hati wanita itu, mengapa perjumpaan itu datang terlambat.
Chin Yang Kun menatap wajah Wi Yan Cu, kemudian bibirnya yang pucat itu tersenyum hampa, seolah-olah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita tersebut.
"Ya, kita memang senasib. Sama-sama sebatang kara. Tapi kesendirianku ini sebenarnya tak begitu kusedihkan. Aku lebih merasa sedih kepada nasib buruk yang selalu menimpa diriku. Setelah aku hidup sebatang kara itu..."
"Nasib buruk?"
Wi Yan Cu bertanya dengan kening berkerut.
"Ya!"
Lalu Chin Yang Kun menceritakan semua riwayat buruknya setelah ia ditinggalkan oleh ayah, ibu dan paman-pamannya.
Bagaimana ia terkena racun yang membuat tubuh dan darahnya menjadi beracun semua, sehingga dirinya menjadi sangat berbahaya bagi orang lain.
Dan semua itu juga belum seberapa jika dibandingkan dengan "penyakit aneh"
Yang akhir-akhir ini menyerangnya. Yaitu penyakit yang membuat dirinya tiba-tiba berubah menjadi manusia yang haus akan nafsu berahi. Dan celakanya "penyakit"
Itu tak bisa ia cegah apabila datang. Padahal dengan keadaan tubuhnya yang beracun itu, semua orang akan mati bila berhubungan dengannya. Seperti yang telah terjadi pada Pek-pi Siau-kwi tadi.
"Ohhh!"
Wi Yan Cu menjerit kecil seraya menutupi mulutnya.
"Nah, itulah yang menjadikan aku sangat sedih sekali..."
Chin Yang Kun menundukkan mukanya.
Matanya sayu.
Tampak benar kalau hatinya sangat sedih.
Wi Yan Cu lantas teringat pada saat-saat ketika pemuda itu tadi hendak memperkosa Pek pi Siau-kwi.
Bagaimana pemuda itu tampak gelisah sekali, seolah-olah sedang bergelut atau bertahan terhadap rasa sakit yang menyerang di bagian dalam tubuhnya.
Bagaimana pemuda itu kemudian seakan akan tak kuasa mengatasi rasa sakit tersebut.
Dan selanjutnya bagaimana pemuda itu lalu memperkosa Pek-pi Siau-kwi untuk menghilangkan rasa sakit yang melilit-lilit itu.
Dan yang terakhir, Wi Yan Cu juga teringat, bagaimana pemuda itu sangat menyesali perbuatannya yang keji itu.
Semuanya itu terbayang kembali di dalam pikiran Wi Yan Cu.
Dan tiba-tiba wanita itu seperti dapat melihat juga kemelut yang ada di dalam tubuh Chin Yang Kun.
"Ah... kasihan benar dia. Racun itu tampaknya benar-benar telah merusak seluruh jaringan tubuhnya..."
Wanita itu lalu beringsut mendekati Chin Yang Kun. Perlahan-lahan jari-jarinya menyentuh lengan pemuda itu.
"Dug! Dug! Dugg...I"
Tiba-tiba atap kamar itu seolah-olah bergetar dihantam palu.
Pasir berhamburan ke bawah, mengagetkan Wi Yan Cu dan Chin Yang Kun.
Chin Yang Kun cepat melenting berdiri, kemudian menyambar pinggang Wi Yan Cu, dibawa ke pinggir.
Pemuda itu tak memikirkan lagi keadaan tubuhnya yang hampir telanjang.
"Apa... apakah itu?"
Wi Yan Cu berseru dengan suara serak.
"Ahh...!"
Mendadak Chin Yang Kun berdesah lega.
"Tampaknya ada orang yang hendak menolong kita."
"Oh, benar...! Kelihatannya ada orang yang sedang menggali ke arah ruangan ini."
Wi Yan Cu berseru gembira, dan untuk sesaat wajahnya tampak cantik bukan main.
"Oh...!"
Mereka saling berpandangan dan... tiba-tiba saja mereka lalu melepaskan pelukan mereka. Keduanya tampak merah padam mukanya.
"Maaf...! Maafkanlah aku!"
Chin Yang Kun bergumam dengan suara yang hampir tidak bisa didengar oleh siapapun juga.
"Dug! Dug! Brug...! Brolll...!"
"Hei! Di sini tanahnya berlubang!"
Tiba-tiba terdengar suara orang berteriak di atas mereka.
"Benar...! Eh... hei? Di bawah ada sinar lampu...??!"
Terdengar suara yang lain pula.
Dan sesaat kemudian suara palu itu semakin gencar menghantam atap ruangan tersebut.
Debu dan pasirpun berhamburan pula semakin deras ke bawah, sehingga Chin Yang Kun dan Wi Yan Cu rasanya hampir tak bisa melihat atau bernapas lagi.
Tapi lobang di atas itu menganga pula semakin lebar.
"Huk! Huk! Huk...!"
Wi Yan Cu terbatuk-batuk.
"Hei... berhenti semua! Aku seperti mendengar suara orang di bawah lobang ini...!"
Suara palu itupun lantas berhenti.
"Huk! Huk...!"
"Nah, kalian dengar itu... Hei?! Siapa di dalam?"
Hening sejenak. Semua orang memasang telinga mereka baik-baik.
"Hmh! Aku,...! Chin Yang Kun dan Wi Yan Cu!"
Chin Yang Kun menjawab.
"Hah... itu dia! Mereka masih hidup! Eee... apakah kalian bisa naik bila kami berikan seutas tali?"
"Tak usah! Kalian menyingkir saja dari lobang itu! Kami akan meloncat keluar...!"
Chin Yang Kun cepat menjawab. Tapi sebelum pemuda itu membawa Wi Yan Cu keluar, tiba-tiba terjadi keributan di luar lobang tersebut, dan sebentar kemudian sebuah kepala melongok ke bawah.
"Yang Kun, cucuku... kau kah itu?"
Teriak orang itu dengan suara tegang. Chin Yang Kun tergagap kaget. Meskipun sudah sangat lama tidak pernah mendengar suara itu, tapi pemuda itu tetap mengenalnya.
"Kong-kong..."
Seru pemuda itu serak.
"Ya, Thian...! kau benar-benar Chin Yang Kun, cucuku! Ouuh...!"
Orang tua yang tidak lain adalah In Leng Hoan itu berdesah gembira.
"Yang Kun...!"
Tiba-tiba sebuah kepala lagi dengan hiasan rambut yang gemerlapan, melongok pula di samping kepala kampung itu. Chin Yang Kun terperanjat.
"Liu-Twa.. ohh! Baginda...?!?"
Desahnya tak percaya.
"Yaa... selamat bertemu kembali, Yang Kun. kau naiklah!"
Kaisar Han mengangguk seraya menjawab. Yang Kun? Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hati. Mengapa sekarang Liu-Twako-nya itu memanggil namanya begitu saja? Mengapa tidak dengan sebutan "adik Yang"
Seperti biasanya itu?
Apakah...?
Ah, benar!
Semuanya sudah tersingkap sekarang.
Tiada rahasia lagi.
Dan tentu saja sebagai seorang Kaisar atau raja besar Liu-Twakonya itu berhak untuk memanggil apa saja terhadap rakyatnya.
Berpikir sampai di situ Chin Yang Kun lantas menghela napas panjang.
"Baiklah, Hongsiang... hamba akan naik. Tapi... eh, anu... bolehkah hamba meminta seperangkat pakaian buat mengganti pakaian hamba yang hancur akibat ledakan itu?"
"Pakaian? Oh... baiklah! Hei, perajurit! Bawa seperangkat pakaian yang bersih kemari! Cepat!"
"Hamba, Hongsiang...!"
Sebentar kemudian perajurit itu telah kembali lagi dengan membawa setumpuk pakaian bagus-bagus.
Dan oleh Kaisar Han pakaian itu segera dilemparkan ke dalam lobang.
Chin Yang Kun segera berganti pakaian pula.
"Nah, Wi Yan Cu... sekarang mari kau kubawa naik ke atas!"
Setelah selesai berganti pakaian Chin Yang Kun menoleh ke arah Wi Yan Cu. Tapi Wi Yan Cu tampak pucat ketakutan.
"Hei, kau kenapakah...?"
Chin Yang Kun bertanya kaget.
"Be-benarkah... orang... orang yang berada di atas itu Baginda Kaisar Han?"
Wanita itu bertanya gagap.
"Ohh... itukah yang membuat kau gemetar? Benar, memang beliau adalah Kaisar Han. Marilah kita naik!"
Chin Yang Kun tersenyum, sehingga dengan pakaiannya yang indah ini dia tampak tampan sekali.
Sekali sambar kemudian terus menjejakkan kakinya di atas lantai, Chin Yang Kun dengan cepat telah membawa tubuh Wi Yan Cu keluar dari lobang itu.
Kedatangannya segera disambut dengan hangat oleh kakeknya dan Kaisar Han.
"Yang Kun, cucuku... Aku sungguh tak menyangka bisa bertemu lagi denganmu. Sudah sekian lamanya kau tak mengunjungi aku dan nenekmu, dimanakah ibu dan adik-adikmu sekarang?"
Ln Leng Hoan memeluk serta menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan.
"Tenanglah, kek...! Nanti aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Sekarang marilah kita mencari tempat yang baik dahulu!"
Chin Yang Kun berkata sambil melepaskan diri dari pelukan kakeknya.
"Yang Kun...! kau... kau... eh, hmm... In-cungcu, benarkah pemuda ini putera Soh Hwa itu?"
Tiba-tiba Kaisar Han maju dan menyela di antara mereka. Wajah Kaisar itu kelihatan pucat dan tegang ketika memandang ke arah Chin Yang Kun.
"Benar, Hongsiang... inilah anak itu,"
Dengan wajah ketakutan serta dengan suara gemetar pula ln Leng Hoan membungkukkan badannya.
Chin Yang Kun melirik dengan kening berkerut.
Tak diduganya tempat itu telah dipenuhi dengan perajurit-perajurit kerajaan.
Dan selain orang-orang yang ikut menggali lobang tadi, semua penduduk tampak berdiri menggerombol di luar halaman.
Wi Yan Cu yang tadi dibawanya keluarpun juga telah berada di antara mereka, isteri Yung Ci Pao itu kelihatan menangis dalam bujukan wanita-wanita tua, sementara Yung Ci Pao sendiri tampak ketakutan di dekatnya.
Beberapa kali saudara misannya itu mengawasi isterinya, lalu melirik ke arah perajurit-perajurit yang bertebaran di halaman rumahnya.
"Oh, benarkah...? Sungguh tak kusangka... Hmm, Yang Kun..., Yang Kun!"
Tiba-tiba Kaisar Han memeluk Chin Yang Kun dari belakang. Wajah Baginda kelihatan gembira, sedih dan terharu.
"Oh... makanya begitu melihat anak ini, tanpa sebab dan alasan aku lantas menyukai dan menyayanginya seperti adik atau anakku sendiri. Hmm... ternyata naluri dan perasaanku telah merasakannya sebelum aku sendiri menyadarinya. Yang Kun..., anakku, ayahmu sungguh berdosa sekali kepadamu!"
"A-a-aapa... apa ini?"
Chin Yang Kun tersentak kaget dan meronta dalam pelukan Kaisar Han.
"Yang Kun, kau... kau jangan kurang ajar di depan ayahandamu! Ayoh, berlututlah!"In Leng Hoan menghardik cucunya.
"Kong-kong! Liu-Twako! Ada apa ini? Kalian... kalian ini omong apa? Ja-ja-jangan ngawur...!"
Di dalam kagetnya Chin Yang Kun berteriak keras sekali. Tapi Kaisar Han cepat merangkulnya kembali.
"Yang Kun, tenanglah. Kami semua tidak ngawur. Marilah kita berbicara yang baik di rumah kakekmu atau di pesanggrahanku!"
Ajak Kaisar itu.
"Tidak!! Omong kosong! Kalian cuma mau menipu aku...!"
Mendadak Chin Yang Kun berteriak marah.
"Ayahku, ibuku, pamanku dan adik-adikku sudah mati semua. Aku sebatang-kara di dunia ini. Mana aku mempunyai ayah yang lain lagi?"
"Apa...? Jadi ibumu sudah meninggal?"
In Leng Hoan dan Kaisar Han menjerit hampir berbareng.
"Benar..."
"Ohh... Soh Hwa..."
Lagi-lagi ln Leng Hoan dan Kaisar Han berdesah hampir bersamaan pula.
Untuk sejenak semuanya tampak berdiri diam termangu mangu di tempat masing-masing.
Dan sinar obor yang terang benderang itu menerpa wajah mereka yang pucat-pucat seperti tak ada darahnya.
Dan khusus untuk Chin Yang Kun, pemuda itu selain pucat juga kelihatan masih sangat penasaran sekali.
Akhirnya Kaisar Han yang arif dan bijaksana itulah yang lebih dulu terjaga dari kebisuan tersebut.
Dengan kata-kata yang halus Baginda membujuk dan mengajak Chin Yang Kun ke pesanggrahannya, yaitu di Kuil Ban-lok-si.
Para perajurit yang menebar di halaman itupun lalu berkumpul pula untuk mengiringkan Baginda Kaisar Han kembali ke In-ki-cung.
Ketika berjalan melewati Wi Yan Cu, Chin Yang Kun berhenti.
Dengan tangkas pemuda itu meloncat keluar barisan, lalu meringkus Yung Ci Pao yang masih tetap berdiri ketakutan di tempatnya.
Setelah menotok urat-urat pentingnya, sehingga lelaki bopeng itu lumpuh, Chin Yang Kun melemparkannya di depan Wi Yan Cu.
"Yan Cu, inilah lelaki yang telah mencelakakan hidupmu itu. Dia kuserahkan kepadamu. kau bebas untuk berbuat apa saja terhadapnya. Dia telah kutotok lumpuh agar kau bebas untuk menghukumnya."
Chin Yang Kun menggeram, lalu kembali ke samping kakek dan Liu-Twakonya lagi. Sebaliknya In Leng Hoan menjadi terperanjat sekali melihat perbuatan Chin Yang Kun tersebut.
"Yang Kun... mengapa kau... kau menyerang saudara misanmu sendiri? Apa kesalahannya?"
Ln Leng Hoan berseru kaget.
"Ah... kong-kong, kau tentu sudah tahu sebabnya, apa kesalahan si Bopeng itu terhadap keluarga Wi. Kita tidak boleh melindungi pemuda brengsek semacam dia, meskipun dia masih keluarga kita sendiri."
Chin Yang Kun menjawab kaku.
"Eh, bolehkah aku bertanya? Apa sebenarnya kesalahan pemuda itu?"
Kaisar Han tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Chin Yang Kun menatap Kaisar Han atau Liu-Twakonya, lalu sambil mengangguk ia menjawab halus namun tegas.
"Saudara misanku itu dengan cara yang licik tidak terhormat telah mengawini wanita itu. Mula-mula ia telah memperkosanya hingga mengandung, setelah itu baru ia melamarnya. Untuk menutupi aib tersebut, ayah wanita itu terpaksa mengawinkan mereka. Tapi aib tersebut tetap merupakan beban yang tidak tertanggungkan oleh keluarga si wanita itu. Satu persatu ayah ibunya lalu sakit dan meninggal dunia."
"Tapi... mengapa orang seperti itu didiamkan saja? Mengapa ia tidak ditangkap dan dihukum?"
Kaisar Han bertanya lagi.
"Hmm... pemuda itu masih cucu dari orang yang paling berpengaruh di daerah ini. Pemuda itu adalah cucu dari kakekku sendiri. Itulah sebabnya dia berani berlaku sewenang-wenang."
Chin Yang Kun menjawab pula seraya berpaling ke arah kakeknya.
"Hmmh!"
Kaisar Han menggeram, teringat akan nasibnya sendiri ketika ia ingin mempersunting ibu Chin Yang Kun dahulu.
Bagaimana In Leng Hoan atau kakek Chin Yang Kun itu mengerahkan seluruh kaki tangannya untuk menangkap dirinya.
"Benarkah perkataan cucumu itu, In Cungcu?"
Kaisar Han berdesah seraya berpaling kepada ln Leng Hoan.
"Be-be benar, Hongsiang...! Hamba... hamba memang telah berlaku salah, membiarkan sepak terjang Yung Ci Pao itu."
"Hmmm... perajurit!"
Kaisar Han berseru.
"Ya, tuanku...?"
"Kau tinggal di sini bersama sepuluh orang temanmu. Lindungilah perempuan itu! kau turuti saja apa keinginannya! Kalau dia ingin membalas dendam kepada lelaki itu, kau pun harus membantunya! Mengerti...?"
"Hamba, tuanku!"
Perajurit itu mengangguk.
"Nah, Yang Kun... In Cungcu... marilah kita berangkat!"
"Ohh... jangan! Jangan! Kong-kong...Piao-te, tolonglah aku! Aku jangan ditinggalkan di sini...!"
Yung Ci Pao berteriak-teriak dan menjerit-jerit ketakutan.
Tapi Chin Yang Kun bersama rombongan Kaisar itu, tidak mempeduIikannya.
Begitu pula dengan In Leng Hoan.
Kakek itu sama sekali tidak berani berbuat apa-apa di depan Kaisar Han.
Mereka tetap berjalan terus meninggalkan tempat itu.
"Ohh, Yang Kun... terima kasih!"
Sambil mengusap air matanya Wi Yan Cu berbisik.
Matanya sayu menatap punggung Chin Yang Kun yang semakin lama semakin jauh.
Demikianlah, menjelang tengah malam rombongan itu sampai pulalah di Kuil Ban-lok-si di luar desa In-ki-cung.
Dan Chin Yang Kun yang sudah tidak sabar lagi untuk mendengar penjelasan kakeknya dan Kaisar Han itu bergegas memasuki kuil tersebut.
Tapi pemuda itu menjadi terkejut sekali ketika di dalam kuil ia disambut oleh nenek serta saudara-saudara ibunya.
Keluarga mendiang ibunya yang sudah lama tidak ia jumpai itu tampak menyongsong kedatangannya dengan meriah.
Chin Yang Kun menjadi terharu juga melihat mereka.
Apalagi ketika dia menceritakan kepada mereka tentang kematian ibunya.
Semuanya tampak sedih dan meneteskan air mata.
Neneknya yang telah tua itu malah menangis meraung raung.
Sementara itu di pihak lain In Leng Hoan kelihatan gelisah dan khawatir sekali menyaksikan seluruh keluarganya berada di tempat itu.
Berbagai macam pikiran buruk segera berkelebat di depan matanya.
Jangan-jangan dia serta seluruh keluarganya sengaja dikumpulkan oleh Kaisar Han di tempat itu untuk menerima hukuman.
"Tapi... tapi aku telah menceritakan semuanya, seluruh peristiwa yang menyebabkan keluargaku dan keluarga Chin memburu dia pada dua puluh tahun berselang. Malah aku telah membuka pula rahasia keluargaku tentang anak itu kepadanya. Masakan ia sekarang masih mendendam dan mau membalas sakit hatinya itu?"
Orang tua itu berkata-kata di dalam hatinya.
Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Mengapa ln Leng Hoan yang semula memenuhi panggilan Kaisar Han di kuil itu tiba-tiba telah berada di rumah Wi Yan Cu di Hoa-ki-cung bersama-sama dengan Kaisar tersebut?
Dan bagaimana pula secara tiba-tiba Kaisar Han itu menyebut Chin Yang Kun sebagai puteranya?
Apa sebenarnya yang telah terjadi di kuil itu setelah kakek ln Leng Hoan menghadap Baginda Kaisar sore tadi?
Apa yang telah dibayangkan oleh In Leng Hoan dan isterinya sebelum kepala kampung itu memenuhi panggilan Kaisar Han ternyata meleset.
Kepala kampung itu ternyata tidak memperoleh perlakuan buruk seperti yang telah ia duga sebelumnya.
Liu Pang yang kini telah menjadi Kaisar itu ternyata cuma menanyakan, apakah dia masih kenal kepadanya.
Dan Kaisar itu juga hanya bertanya tentang ln Soh Hwa, ibu Chin Yang Kun yang telah kawin dengan seorang Pangeran Chin itu.
Tentu saja ln Leng Hoan tidak berani berbohong di depan Kaisarnya.
Dengan menyembah kakek itu menjawab bahwa ia masih tetap mengenal junjungannya itu.
Adapun mengenai ln Soh Hwa, karena sejak pecah perang itu ia memang tidak pernah lagi melihat dan mendengar beritanya, maka ia juga menjawab seperti apa adanya.
Ternyata Kaisar Han mempercayai kata-katanya.
Tapi ketika akhirnya Kaisar Han itu bertanya tentang bayi yang dikandung oleh In Soh Hwa sebelum kawin dengan Pangeran Chin itu, ln Leng Hoan menjadi bungkam mulutnya.
Kakek itu menjadi gugup dan gelisah.
Bagaimanapun juga aib yang menimpa puterinya itu adalah rahasia pribadi keluarganya.
Tetapi Kaisar Han itu terus saja mendesaknya.
Malahan saking jengkelnya, karena ia tetap saja menutup mulutnya, Kaisar itu sempat membentak serta mengancamnya.
Akhirnya karena merasa takut kakek itu terpaksa membuka rahasia itu juga.
ln Soh Hwa memang telah mengandung putera Liu Pang selama dua bulan ketika kawin dengan Chin Yang, si Pangeran Chin itu.
"Dan... anak itu akhirnya lahir dengan selamat, bukan?"
Kaisar Han berbisik dengan perasaan tegang.
"Benar, Ba-Baginda..."
"Lalu dimanakah puteraku ini sekarang?"
Saking tegang dan gembiranya Kaisar itu meloncat turun dari kursinya, lalu mengguncang-guncang pundak In Leng Hoan.
"Anak itu? Eh, dia... dia..."
"Ya! Di manakah dia sekarang? Lekas katakan!"
Kaisar Han berteriak gelisah melihat keragu-raguan kakek itu.
"Anu... anu... menurut laporan orang-orang hamba anak itu sekarang tertimbun reruntuhan rumah Yung Ci Pao yang roboh! Eh, maksud... maksud hamba..."
"Apaaa...?"
Kaisar Han menjerit.
Tiba-tiba tubuh kakek yang sedang berada di lantai itu terlempar ke atas ketika lengan Baginda menariknya.
Untunglah seorang perwira dengan cepat menyambarnya, kalau tidak tubuh tua itu mungkin sudah hancur terbanting di atas lantai.
"Ampun, tuanku...! Hamba... hamba..."
In Leng Hoan cepat-cepat menyembah.
Lalu dengan gagap dan gemetar kakek itu mencoba menerangkan apa yang telah terjadi pada Chin Yang Kun menurut laporan anak buahnya.
Kakek itu juga menerangkan bahwa iapun belum sempat bertemu dengan anak itu.
Malah ketika Baginda mengirim utusan untuk memanggil dirinya itu, ia baru memimpin orang-orangnya untuk menggali reruntuhan itu.
"Kalau begitu... ayoh, tunjukkan tempat itu! Kita harus lekas-lekas menolongnya!"
Kaisar Han berteriak.
Demikianlah, seperti yang telah diceritakan di depan, Kaisar Han beserta perajurit perajuritnya telah bisa menyelamatkan Chin Yang Kun dan Wi Yan Cu dari lobang di bawah tanah.
Dan begitu diberi tahu bahwa pemuda itulah putera yang dikandung oleh ln Soh Hwa itu, Kaisar Han menjadi kaget bukan main.
Jilid 41 Bagi Kaisar Han atau Liu Pang, Chin Yang Kun bukanlah orang asing lagi.
Pemuda itu pernah ditolongnya dari kematian.
Pemuda itu sudah dianggapnya sebagai saudara angkat.
Dan lebih dari pada itu, Chin Yang Kun telah dianggap sebagai keluarganya sendiri pula.
Maka dari itu kenyataan tentang hubungan mereka itu benar-benar sangat mengharukan, sekaligus amat menggembirakan hati Kaisar Han tersebut.
Tetapi Chin Yang Kun agaknya masih belum siap untuk menerima semua kenyataan itu.
Hal itu terbukti dengan sikap pemuda itu ketika mendengar perkataan kakeknya dan Kaisar Han.
Pemuda itu tampak tidak percaya dan bersikap menentang.
Oleh karena itu setiba mereka di pesanggrahan Ban-lok-si, Kaisar Han berusaha dengan sekuat tenaga untuk meyakinkan kenyataan tersebut kepada Chin Yang Kun.
"Yang Kun, engkau memang benar-benar puteraku. Ibumu sudah berhubungan dengan aku, dan telah hamil dua bulan ketika kawin dengan ayahmu. Kalau engkau kurang percaya, engkau dapat bertanya kepada kakekmu ini..."
Dengan suara haru Kaisar Han berkata kepada Chin Yang Kun.
"Hal ini... hal ini... se-sebenarnya merupakan rahasia pribadi keluarga kita."
In Leng Hoan berkata dengan suara gemetar pula.
"...Tapi apa boleh buat, rahasia itu kini terpaksa harus kukatakan juga kepadamu. Keadaan memang sudah berubah, dan aku sungguh berdosa besar kepadamu kalau aku tetap tidak mau membeberkan rahasia ini. kau sudah dewasa. kau berhak untuk mengetahui, siapa sebenarnya orang yang menurunkan dirimu..."
Kakek itu berhenti sebentar untuk mengambil napas, lalu seraya menatap wajah Chin Yang Kun lekat-lekat ia meneruskan perkataannya.
"Cucuku...! Sebenarnyalah bahwa kau ini bukan putera kandung ayahmu. lbumu telah hamil muda ketika kawin dengan ayahmu. Dan ayahmu yang sebenarnya adalah... seorang petani muda bernama Liu Pang, yang kini telah berkenan duduk di depanmu dan telah menjadi raja junjungan kita semua!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berdiri dari tempat duduknya.
Wajahnya pucat, matanya terbelalak mengawasi Kaisar Han.
Bibirnya gemetar dan komat-kamit seakan ada yang hendak dikatakannya, tapi tak bisa.
Kelihatannya apa yang telah diutarakan oleh kakeknya itu benar-benar di luar dugaan dan sangat menggoncangkan hatinya.
Memang, selama ini tak seorangpun yang bercerita tentang kenyataan itu kepadanya.
Mendiang ibunyapun tidak.
Sehingga selama ini dia beranggapan bahwa dirinya memang putera dari ayah ibunya, keluarga bangsawan Chin dari Kotaraja.
Dan seingatnya, ia seperti tak pernah mendapatkan perlakuan lain seperti halnya seorang anak tiri di rumahnya.
Ayahnya memang sangat keras dan kaku terhadap dirinya.
Malah kadang-kadang terasa sangat kejam.
Tetapi menurut penilaiannya, memang begitulah watak dan sifat ayahnya.
Ia tak pernah merasa diperlakukan lain dengan adik-adiknya.
Kalau toh ia lebih dekat dengan paman-pamannya, itu hanya karena paman-pamannya tersebut lebih ramah serta pandai mengambil hatinya.
Apalagi mereka itulah yang selama ini selalu membimbing dirinya dalam ilmu silat.
Membayangkan semuanya itu hati Chin Yang Kun lantas berteriak.
"Tidaaak...! Kalian semua bohong!"
Akhirnya pemuda itu menjerit.
Semua orang yang berada di dalam kuil itu tersentak kaget.
Kaisar Han dengan pandang mata tak percaya, perlahan-lahan bangkit dari kursinya.
Para perwira yang duduk di dekat Bagindapun juga ikut berdiri pula.
Begitu pula dengan para perajurit yang berjaga-jaga di dalam kuil itu.
Mereka tampak bersiap siaga dengan senjata masing-masing.
Nenek Chin Yang Kun cepat menubruk serta memeluk cucunya itu, diikuti pula oleh anak-anaknya, atau saudara saudara kandung ibu Chin Yang Kun.
"Cucuku...! Oh, kau jangan berkata demikian. Itu berdosa! Memang benar apa yang telah dikatakan oleh kakekmu tadi. kau adalah putera Liu... eh, putera kandung Hongsiang...!"
Nenek itu berseru dan menangis.
"Benar, Yang Kun. kau memang putera Hongsiang!"
Paman Chin Yang Kun ikut menegaskan perkataan ibunya.
"Tidaaaaak...!"
Sekali lagi pemuda itu berteriak setinggi langit.
Lalu tanpa diduga oleh siapapun, tiba-tiba Chin Yang Kun berlari ke arah pintu.
Disibakkannya para penjaga yang menghalang-halangi jalannya, kemudian tubuhnya melesat keluar, dan sekejap saja sudah tidak kelihatan bayangannya.
Sayup-sayup masih terdengar teriakannya.
"Tidak...! Tidaaak...!"
Kejadian itu benar-benar sangat mendadak dan di luar dugaan siapapun juga.
Semua orang, termasuk Hongsiang sendiri seolah-olah telah terkena hipnotis, sehingga mereka cuma bisa melihat saja kepergian pemuda itu.
Semuanya terdiam bagaikan patung di tempat masing-masing.
baru beberapa saat kemudian Kaisar Han tersadar dari impian buruk itu.
Tapi semuanya telah terlambat.
Chin Yang Kun, puteranya yang baru saja ia dapatkan, yang selama ini selalu menjadi teka-teki dalam hidupnya, tak mungkin dapat dikejar lagi.
Anak yang berkepandaian sangat tinggi itu telah hilang di dalam kegelapan malam.
"Hong-lui-kun! Yap Tai-Ciangkun! Kejar dia...!"
Dalam kebingungannya Baginda memberi perintah kepada jago-jagonya.
"Baik, Hongsiang!"
Kakak-beradik itu menyahut berbareng, kemudian dengan cepat tubuh mereka berkelebat keluar.
Tetapi karena mereka berdua tidak tahu arah ke mana Chin Yang Kun tadi berlari, maka usaha mereka pun sia-sia.
Meskipun dengan ginkang mereka yang tinggi keduanya menjelajahi hampir seluruh perbukitan di sekitar tempat itu, bayangan Chin Yang Kun tetap tidak dapat mereka ketemukan.
Keduanya kembali ke kuil Ban-lok-si dengan tangan hampa.
Tentu saja Kaisar Han menjadi penasaran sekali.
"Yap Tai-Ciangkun! Kerahkan seluruh anggauta Sha-cap mi-wi untuk mencari puteraku tadi sampai ketemu! Bawalah anak itu menghadapku!"
Baginda berteriak.
"Baik, Hongsiang...akan hamba kerjakan!"
Demikianlah, malam itu suasana di dalam kuil itu menjadi sibuk bukan main.
Yap Tai-Ciangkun memanggil semua anggauta Sha-cap mi-wi yang kebetulan bertugas mengikuti perjalanan Baginda pada malam itu.
Dengan singkat panglima muda itu menjelaskan persoalannya dan kemudian memerintahkan kepada mereka untuk melaksanakan tugas yang dibebankan kepada mereka itu.
Sementara itu malam semakin larut dan suasana di daerah yang berbukit-bukit itu tampak semakin lengang pula.
Hanya desau angin dan suara-suara binatang malam saja yang terdengar.
Dan bulan yang pucatpun tampak semakin condong pula ke arah barat.
Tapi semuanya itu ternyata tak bisa mendinginkan hati Chin Yang Kun.
Pemuda itu masih tetap terus berlari dan berlari, naik turun bukit dan jurang bagaikan orang gila.
Kenyataan yang dihadapi oleh pemuda itu sungguh-sungguh sangat menggoncangkan jiwanya, dan sama sekali tak pernah terlintas dalam hati dan pikirannya.
Oleh karena itu meskipun derajatnya sekarang menjadi lebih tinggi, karena ayahnya yang sekarang adalah seorang Kaisar, tapi hati dan perasaan pemuda itu tetap belum bisa menerimanya.
Jiwa dan pikiran pemuda itu masih tetap lekat dengan erat kepada ayahnya, apapun yang terjadi.
Bayangan ayahnya ketika mau meninggal masih jelas teringat dalam benaknya.
Bagaimana sang ayah itu memeluknya, dan bagaimana ayahnya itu memberi pesan-pesan terakhir kepadanya.
Apalagi jika teringat akan kebaikan hati paman-pamannya, terutama paman bungsunya.
"Ooooh...!"
Pemuda itu berlari terus seraya mengeluh panjang-pendek.
Tanpa terasa malam telah berganti pagi.
Seperti orang yang tidak mempunyai rasa lelah, Chin Yang Kun masih tetap juga berlari tanpa tujuan.
Pemuda itu baru berhenti ketika tiba-tiba ia memasuki sebuah lembah subur yang sangat dikenalnya.
Lembah itu tidak begitu luas dan terletak di antara gununggunung yang tinggi, sehingga lembah itu sebenarnya hanya merupakan sebuah celah gunung yang agak luas begitu saja.
Tempat itu letaknya sangat terpencil dan sedikit sulit untuk didatangi.
Namun demikian Chin Yang Kun ternyata telah sampai di tempat tersebut.
Ternyata tanpa disengaja dan hanya karena nalurinya saja pemuda itu sampai di lembah tersebut.
Lembah yang selama beberapa tahun menjadi tempat persembunyian keluarganya.
Dalam kepepatan dan kerisauan hatinya ternyata pemuda itu telah berlari ke lembah itu, seperti ayam pulang ke kandang di sore hari.
Hal ini bisa saja terjadi karena lembah itu memang tidak begitu jauh letaknya dari daerah perbukitan di mana desa ln-ki-cung dan Hoa-ki-cung berada.
Chin Yang Kun termangu-mangu sejenak ketika lewat di bawah pohon cemara tua, yang tumbuh di mulut lembah itu.
Dahulu ketika dia dan keluarganya masih tinggal di situ, setiap hari tentu lewat di bawah pohon tua itu.
Begitu seringnya ia lewat di sana, sehingga ia sangat hapal akan lekuk Iiku dan jumlah dahan serta cabang dari pohon cemara tua tersebut.
Dia sendiri malah sering menggurat namanya di tempat itu.
Chin Yang Kun melangkah mendekati pohon itu dan mencari guratan namanya di sana.
Tetapi matanya terbelalak lebar.
Bagian di mana ia pernah mengukir namanya ternyata telah rusak dan hancur seperti bekas dihantam dengan benda keras.
Dan bekas kerusakan itu seperti masih baru, paling tidak belum lebih dari dua hari yang lalu.
Bekas itu masih tampak mengeluarkan getah.
"Hemm, ada orang yang baru saja datang kemari. Siapakah dia?"
Chin Yang Kun tertegun.
Pemuda itu lalu melangkah lagi, tapi sekejap kemudian berhenti lagi.
Matanya nanar melihat ke arah sebuah benda yang tergolek tidak jauh dari pohon itu, yaitu sebuah guci bekas tempat arak, terbuat dari tanah liat.
Tetapi bukan guci itu yang mengejutkan Chin Yang Kun, akan tetapi bekas-bekas cuilan kayu cemara yang menempel di bagian pantatnya.
Chin Yang Kun cepat menoleh kembali ke arah pohon yang rusak tadi dan tiba-tiba hatinya tergetar hebat!
Rusaknya atau hancurnya kulit pohon itu terang diakibatkan oleh hantaman pantat guci tersebut.
Hanya anehnya, mengapa guci yang terbuat dari tanah liat itu tidak pecah, tapi justru malah kayu cemara yang keras itu yang rusak?
Dari kenyataan itu saja dapat diduga bahwa orang yang memegang guci tersebut tentu bukan orang sembarangan.
Chin Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya, siapa tahu orang itu masih berada di lembah itu dan kini sedang mengamati seluruh gerak-geriknya?
Dan siapa tahu pula orang tersebut adalah lawannya?
Maka dari itu dengan sangat hati-hati dan teliti, Chin Yang Kun mengedarkan seluruh pandangannya ke seluruh lembah dan tebing-tebing gunung di sekitarnya.
Dicarinya kalau kalau ada sesuatu yang mencurigakan di sana.
Tapi tempat itu sepi sekali.
Hanya suara kicau burungburung liar saja yang terdengar di telinga Chin Yang Kun.
"Hmm... sepi benar! Rasa-rasanya ada sesuatu yang tak beres di tempat ini. Perasaanku seperti... eh! Apakah itu?"
Tiba-tiba pemuda itu berbisik kaget. Segulung asap tipis tampak mengepul dari sebuah jurang di sebelah kirinya. Tapi ketika pemuda itu berlari mendekati, asap tersebut telah hilang tertiup angin.
"Kelihatannya ada orang di bawah jurang ini. Mungkin orang itu adalah orang yang datang merusak pohon cemara tadi. Ahh...!"
Hati-hati Chin Yang Kun mencari jalan turun ke bawah jurang itu. Kakinya berloncatan di antara batu-batu besar yang menonjol pada tebing yang curam.
"Gila! Di mana aku harus mencari asal asap tadi?"
Pemuda itu menggerutu sambil berjalan berkelak-kelok di antara serakan batu-batu besar di dasar jurang itu.
"Batu-batu ini demikian rimbunnya, dan bertumpuk-tumpuk seperti kueh bak-pao..."
Kemudian pemuda itu melangkah menelusuri parit kecil yang mengalir di tengah-tengah jurang itu.
Tapi beberapa saat kemudian Iangkahnya terhenti lagi.
Hidungnya mencium bau kayu terbakar di dekatnya.
Otomatis Chin Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya, siapa tahu dia telah berada di dekat orang yang membuat asap tadi?
Oleh karena itu dengan sigap ia meloncat ke balik semak-semak.
Tetapi betapa terkejutnya pemuda itu ketika kakinya hampir saja menginjak tubuh seseorang yang tergolek di balik semak tersebut.
Maka dengan tangkas, sekali lagi pemuda itu meloncat ke samping untuk menghindarinya.
"Ehh...!?"
Chin Yang Kun terpekik perlahan sambil mempersiapkan dirinya.
Tapi untuk yang kedua kalinya pemuda itu menjadi terperanjat bukan buatan.
Malah kali ini kekagetannya justru ditambah dengan perasaan tidak percaya pula, karena orang yang tergeletak di depannya tersebut adalah...pelayan tua yang menjadi pengasuhnya sejak kecil dahulu!
"Kakek...!"
Chin Yang Kun menjerit seraya mengusap-usap matanya.
"Oohh...! Tuan... tuan muda... huk-huk-huk!"
Dalam kagetnya pelayan tua itu terbatuk-batuk.
"Kek, kau... kau kenapa? Apakah penyakit batukmu kumat lagi?"
Begitu tersadar dari perasaan kagetnya Chin Yang Kun lalu bergegas menubruk pengasuhnya itu.
Dibangunkannya orang tua itu, lalu didudukkannya di tempat yang baik dan kemudian dipeluknya erat-erat.
Tak terasa air matanya meleleh membasahi pipinya.
"Tuan muda... oh, tuan muda... betapa bahagianya hatiku! Tak kusangka tubuhku yang tua dan sudah keropos ini masih bisa bertemu dengan tuan muda, huk hukhuuk... ah! Tak sia-sia rasanya penantianku selama ini. Ternyata doaku masih dikabulkan juga. Huk-huk-huk...!"
Kakek tua itu menangis pula di antara batuknya.
"Kek... tampaknya penyakitmu kumat lagi. kau jangan banyak bicara dulu. Hmm, di mana... di manakah pipa tembakaumu itu? Berikanlah kepadaku! Biarlah aku racikkan obatmu..."
Chin Yang Kun yang ingat akan kebiasaan pengasuhnya itu segera menanyakan pipa tembakau milik kakek tua itu.
Tapi kakek tua itu segera menggelengkan kepalanya dengan lemah.
Beberapa kali bibirnya tampak meringis menahan sakit, seolah-olah ada sesuatu yang sangat menyakitkan di dalam tubuhnya.
"Tuan... tuan muda, oh... tidak usah! Semuanya sudah tidak berguna lagi. Penyakitku sudah... sudah... sangat parah..."
"Kakek..."
Chin Yang Kun cepat menyela dengan suara serak.
"Kau jangan berputus-asa! Mari kau kugendong ke rumah...!"
"Oh, jangan!"
Tiba-tiba kakek tua itu berdesah.
"Di...di rumah ada... ada orang yang akan membunuh kita. Orang itu..., orang itu... ohhh huk huk-huk!"
"Apa...? Siapa yang berada di rumah kita?"
Chin Yang Kun mendesak dengan suara tinggi.
"Oh, bukan! Anu... ah, tidak! Tidak...!"
Kakek itu tampak ragu-ragu serta menyesal telah mengatakan hal itu.
"Apa, kek? Ayoh, katakan! Mengapa kau tiba-tiba tidak mau berbicara? Siapakah yang berada di rumah kita?"
"Jangan...! Jangan! kau tidak boleh bertemu dengan mereka! Kita lebih baik menyingkir dari tempat ini."
Kakek itu cepat menjawab dengan suara takut dan khawatir.
"Heh? Mengapa begitu...?"
Seru Chin Yang Kun penasaran.
"Siapa sebenarnya orang ini? Mengapa kakek katakan... mereka? Ada berapa orang di sana?"
"Tuan muda... oh... pokoknya tuan muda jangan ke sana! Turutilah perkataan hambamu ini! Sungguh! Huk-huk... tuan muda akan merasa kecewa serta sedih luar biasa bila tidak menurut perkataanku ini..."
Chin Yang Kun semakin tidak mengerti maksud pengasuhnya itu.
"Sudahlah, tuan muda. Marilah kita lekas-lekas pergi dari tempat ini. Siapa tahu mereka pergi ke tempat ini nanti?"
Chin Yang Kun terdiam. Dipandangnya kakek tua yang banyak sekali jasanya terhadap dia itu.
"Baiklah...!"
Akhirnya pemuda itu menyerah.
"Kau tentu mempunyai alasan yang kuat, mengapa aku tidak kau perbolehkan menemui mereka. Marilah kakek kugendong keluar dari tempat ini! Tapi... kakek harus berjanji. Kakek harus menceritakan pengalaman kakek selama ini! Kakek tentu tahu peristiwa yang menimpa ayah serta paman setelah kutinggalkan di tengah hutan malam itu, bukan?"
Kakek tua itu tampak ragu-ragu Iagi. Tapi agar Chin Yang Kun mau dia bawa keluar dari tempat itu dengan cepat, maka kakek itu lalu mengangguk.
"Baiklah tuan muda..."
Chin Yang Kun tersenyum, lalu mengangkat tubuh kakek itu ke pundaknya.
Kemudian dengan hati-hati pemuda itu melangkah mengikuti aliran parit kecil itu.
Sampai di luar lembah pemuda itu berlari menerobos hutan, menuju ke utara.
Pemuda itu masih ingat pada sebuah gubug kecil di tengah hutan, tempat ia dulu sering beristirahat bila sedang berburu binatang.
"Nah, kek... untuk sementara kita beristirahat saja dulu di sini. Nanti kalau penyakitmu sudah agak baik, kita melanjutkan lagi perjalanan kita,"
Pemuda itu berkata setelah tiba di dalam gubug tersebut.
"Eh, tuan muda... Gubug siapa ini? Mengapa aku tak pernah melihatnya selama ini?"
Chin Yang Kun tersenyum lagi.
"Tentu saja kakek tak tahu, karena kakek tidak pernah ikut aku berburu sejak dahulu. Gubug ini aku sendiri yang membuat..."
"Ohh... huk-huk-hukk!"
Tiba-tiba kakek itu terbatuk-batuk lagi dengan keras. Beberapa tetes darah merah tampak membasahi telapak tangan kakek itu.
"Hei, kek... kau kenapa?"
Chin Yang Kun berseru kaget.
Wajah kakek itu tampak semakin pucat, dan batuknyapun juga semakin menjadi-jadi pula.
Chin Yang Kun menjadi gelisah sekali.
Apalagi ketika dilihatnya kakek itu mengeluarkan darah yang lebih banyak dari dalam mulutnya.
"Kek, kau...?"
Chin Yang Kun berdesah serak dan hampir menangis melihat penderitaan pengasuhnya itu.
"Tuan muda... huk... aku sudah tidak kuat lagi, huk! Sudah dua hari aku bertahan di jurang itu. Huk! Ada orang yang hendak membunuhku... Ah, tuan muda, kau... kau lekaslah pergi dari tempat ini! Lebih jauh lebih baik...!"
"Kakek...! kau jangan mati dulu! Ooooh! kau belum bercerita tentang kematian ayah dan pamanku...!"
"Aaaah... tuan muda lebih baik tak usah mengetahui siapa pembunuhnya. Tuan muda malah akan menyesal selama hidup nanti..."
Chin Yang Kun terbelalak memandang pengasuhnya yang hampir sekarat itu.
"Jadi... jadi kakek tahu siapa pembunuh ayahku? Jadi kakek berada di rumah Pendekar Li pula malam itu?"
"Hamba... hamba... Uu-huk huk-huu-huk...!"
Kakek tua itu kelihatan berat sekali untuk menjawab.
"Kek...? Mengapa kau diam saja? Mengapa tak kau jawab pertanyaanku? Bu-bukankah kau selalu berada di dalam rombongan itu pula? A-apa yang terjadi di rumah bergenting merah itu?"
Di dalam ketegangan dan kegelisahan hatinya Chin Yang Kun sampai lupa mengguncang badan orang tua itu keras keras, sehingga akibatnya kakek itu lalu terbatuk-batuk semakin hebat dan tak bisa menjawab pertanyaannya malah!
Tetapi pemuda itu tak menyadari perbuatannya tersebut, malah sebaliknya ia menjadi marah dan semakin merasa penasaran melihat kebandelan pengasuhnya itu.
"Mengapa engkau tak mau menjawab juga? Ohhh...sungguh heran benar aku!"
Saking jengkelnya pemuda itu berteriak. Apalagi ketika orang tua itu tetap menutup mulutnya juga.
"Kek! Berbicaralah! Mengapa kau seperti menyembunyikan sesuatu dan tak mau berterus terang kepadaku?"
"Tu-tuan muda... uu huk huk-huuuk... maafkan hambamu!"
Orang tua itu tetap tak mau menjawab. Chin Yang Kun menggeram dengan hebat sehingga debu debu yang menempel di dalam rumah atau gubuk itu berguguran ke bawah.
"Hmmh, baiklah...! Tampaknya kau memang tidak menyayangi aku! Tampaknya kau memang ingin membuat aku mati penasaran..."
"Tuan muda..."
Kakek itu berdesah sedih sekali.
Matanya yang kuyu itu menatap anak asuhannya dengan air mata berlinang-linang.
Meskipun demikian mulutnya tetap bungkam seribu bahasa.
Chin Yang Kun lalu bangkit berdiri.
"Baiklah, kek...! Kalau begitu, aku akan kembali ke lembah itu. kau tadi melarangku menemui orang itu. Sekarang aku menjadi curiga malah. Jangan-jangan merekalah yang membunuh orang tuaku. Dan jangan-jangan orang-orang itulah yang menyebabkan engkau tidak mau berterus terang kepadaku. Nah, biarlah aku ke sana sekarang juga!"
"Jangannn...!"
Tiba-tiba kakek itu menjerit keras sekali, lalu pingsan. Chin Yang Kun terkejut sekali.
"Kek, kau...?"
Bergegas pemuda itu menolong kakek pengasuhnya.
Dibawanya orang tua itu ke dalam bilik dan dibaringkannya di atas pembaringan kayu yang telah tersedia di sana.
Kemudian dengan lweekangnya yang tinggi pemuda itu berusaha menyadarkan orang tua tersebut.
Akhirnya tak lama kemudian orang tua itu sadar pula kembali.
Melihat Chin Yang Kun masih berada di sampingnya, orang tua itu menjadi gembira bukan main.
Sinar kelegaan tampak membayang di wajahnya yang pucat pasi.
"Tuan muda...!"
Kakek tua itu berbisik seraya mencengkeram tangan Chin Yang Kun erat-erat. Chin Yang Kun menatap wajah kakek pengasuhnya itu dengan mata berlinang.
"Kek, maafkanlah aku...! Aku tak bermaksud menyakitimu. Aku terlalu mementingkan diriku sendiri sehingga aku melupakan penyakitmu."
"Hu-hu-huuk... tuan muda, kau tak bersalah. Hambamu inilah yang bersalah. Tuan muda tentu telah banyak menderita selama ini. Maka tak seharusnya hambamu ini menyimpan rahasia kematian keluargamu itu. Baiklah, sekarang aku akan menceritakan semuanya. Terserah kepada tuan muda untuk menilainya..."
Chin Yang Kun memeluk pengasuhnya dengan perasaan lega.
"Terima kasih, kek. Tetapi kau pun tak bersalah juga. Sebagai orang yang dengan penuh kasih sayang mengasuhku sejak kecil, engkau tentu mempunyai alasan-alasan dan pertimbangan-pertimbangan yang baik demi aku jua. Hanya saja di dalam persoalan ini, aku memang meminta dengan sangat kepadamu agar kau berterus terang dan menceritakan saja semuanya kepadaku. Apapun yang terjadi, biarlah semua itu menjadi jelas, sehingga tidak menjadi beban batin di dalam hidupku. Kalau kau tahu, bagaimana penderitaanku selama ini, kau tentu akan memaklumi perasaanku ini."
Kemudian dengan singkat Chin Yang Kun bercerita tentang riwayat hidupnya, semenjak ditinggalkan ayah bundanya sampai ia bertemu kembali dengan kakek pengasuhnya itu.
Di dalam ceritanya itu Chin Yang Kun sengaja menekankan seluruh penderitaan yang diperolehnya selama ini, dalam usahanya mencari tahu siapa pembunuh keluarganya itu.
"Nah, kek... akupun tak tahu, sampai kapan aku bisa bertahan terhadap racun yang mengeram di dalam tubuhku itu. Setiap saat akupun bisa mati karenanya. Dan aku tidak mau mati dalam keadaan penasaran. Oleh karena itu engkau tentu bisa memaklumi semua sikapku kepadamu tadi..."
Chin Yang Kun mengakhiri ceritanya.
Orang tua itu memandang Chin Yang Kun dengan sinar mata sedih.
Bagi orang tua tersebut Chin Yang Kun sudah dianggapnya sebagai anak atau cucunya sendiri.
puluhan atau belasan tahun ia memelihara dan mengasuh anak itu seperti anaknya sendiri, sehingga apa yang diutarakan oleh anak itu ia dapat merasakannya pula.
Orang tua itu menghela napas panjang.
Untuk beberapa saat lamanya ia masih kelihatan ragu-ragu juga.
Tampaknya apa yang hendak ia ceritakan itu masih terasa berat untuk dikeluarkan.
Tapi akhirnya cerita itu keluar juga dari mulutnya.
"Tuan muda...! tampaknya Thian telah murka kepada keluarga Chin. Dan entah dosa apa yang telah diperbuat oleh nenek moyangmu, tapi yang terang seluruh keluargamu tampaknya memang akan dimusnakan dari muka bumi ini. Sejak kakek Bagindamu Kaisar Chin Si wafat, semua anak cucunya saling cakar dan saling bunuh sendiri hanya karena berebut harta dan singasana. Sekarang sisa-sisa dari anak keturunannyapun juga berguguran pula satu persatu oleh sebab yang sama. Dan sebentar lagi satu-satunya keluarga Chin yang masih tertinggal juga akan musnah karena dosa dosa yang telah diperbuatnya sendiri..."
"Kek...? apa katamu? Apa yang kau maksudkan...?"
Chin Yang Kun berseru kaget mendengar perkataan pengasuhnya itu.
Orang tua itu menghela napas panjang lagi dan entah apa sebabnya kakek tua itu seperti mendapatkan kekuatan baru untuk menceritakan pengalamannya.
Penyakit batuknya tiba-tiba mereda dan tidak begitu mengganggunya lagi.
"Sudahlah, tuan muda... kelak kau akan mengerti sendiri semua perkataanku itu. Sekarang biarlah aku bercerita tentang kejadian di rumah bergenting merah itu dahulu..."
"Oooooh!"
Chin Yang Kun berdesah dan terpaksa berdiam diri pula.
Kakek tua itu lalu mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamar, seolah mau mengingat ingat atau mengumpulkan kembali semua ingatannya tentang kejadian di malam yang bersejarah itu.
"Malam itu... ayahandamu mengajak pamanmu untuk singgah di rumah bergenting merah itu. Sebenarnya waktu itu pamanmu tidak menyetujui maksud ayahandamu itu. Tapi karena ayahandamu tetap memaksanya juga, maka pamanmu terpaksa tidak berani membantahnya. Maka seluruh rombongan, termasuk aku dan Siang-hui-houw, lalu memasuki halaman rumah bergenting merah itu..."
Orang tua itu berhenti bercerita dan tiba-tiba wajahnya menjadi tegang. Otomatis Chin Yang Kun ikut menjadi tegang pula hatinya.
"Tak terduga di halaman rumah itu kami disambut dengan... senjata dan kepalan oleh tuan rumah!"
Sekali lagi orang tua itu menghentikan ceritanya. Napasnya mulai memburu dan wajahnya kelihatan semakin tegang pula. Tampaknya kejadian pada malam itu benar-benar sangat mencekam hatinya.
"Pada gebrakan yang pertama, aku telah terkena senjata nyasar. Aku menggeletak tak berdaya dan dikira telah mati. Tapi dengan demikian aku justru menjadi selamat malah! Dan dengan menggeletak di tengah-tengah pintu halaman, aku beruntung dapat menyaksikan pertempuran itu dengan jelas. Tampaknya pertempuran itu berlangsung karena salah paham belaka. Dari sumpah serapah mereka selagi bertempur, aku dapat memastikan bahwa kedua belah pihak telah terjadi salah paham. Di malam yang gelap gulita itu pihak tuan rumah telah menyangka kami sebagai musuh yang hendak menyerang rumah mereka, sementara ayah dan pamanmu menganggap mereka sebagai kawanan pembunuh yang selalu mengejar-ngejar keluarga Chin. Sebentar saja korban segera berjatuhan, termasuk pula diantaranya adalah Siang-hui-houw. Kedua harimau pengawal keluarga Chin itu mati terkena pukulan sakti lawannya."
"Aaaah...!"
Chin Yang Kun menjadi tegang sendiri mendengar cerita pengasuhnya itu.
"Selanjutnya tinggal ayah dan pamanmu saja yang melawan keroyokan pihak tuan rumah. Tapi selagi... selagi pertempuran itu berjalan dengan sengit, tiba-tiba... tiba-tiba... oooh!"
Mendadak orang tua itu menghentikan ceritanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tentu saja Chin Yang Kun menjadi kaget sekali.
"Kek... ada apa? Apa yang telah terjadi?"
Pemuda itu berteriak seraya mencengkeram lengan pengasuhnya. Tapi orang tua itu tampak sukar sekali melanjutkan ceritanya.
"...Tiba-tiba terdengar siulan nyaring. Dan Tiba-tiba... tiba-tiba... oh, tiba-tiba pamanmu datang! Ooooh...! Maksudku... maksudku..."
"Maksud kakek... seseorang telah datang pula ke tempat itu, begitukah, kek?"
Chin Yang Kun membantu pengasuhnya yang tampaknya mulai bingung itu.
"Tidak... tidak! Ehh! Ya... ya! Ooooh... apa yang mesti kukatakan kepadanya?"
Mendadak kakek tua itu mengeluh dan tak tahu apa yang harus dia ceritakan selanjutnya.
Tampaknya kakek tua itu telah sampai pada inti ceritanya.
Tapi karena inti cerita tersebut sangat mengerikan dan menggoncangkan batinnya, maka kakek itu menjadi terpengaruh dan sulit mengutarakannya.
Namun sebaliknya bagi Chin Yang Kun, yang sedikit banyak telah mendengar cerita itu dari mulut Pendekar Li dan Keh-sim Siauwhiap, cerita tentang kedatangan orang yang bersiul nyaring tersebut tidaklah begitu mengagetkannya.
Pemuda itu telah tahu bahwa orang yang datang itulah yang telah membantai ayah dan pamannya.
Cuma yang masih menjadi pertanyaannya sampai sekarang adalah "siapakah sebenarnya orang itu"?
"Tenanglah, kek!
Marilah kau kubantu menyelesaikan cerita itu!
Setelah orang yang bersiul nyaring itu datang, dia lalu bertanya kepada tuan rumah tentang sebuah peta yang terlukis pada potongan emas, bukan?"
"Ehh! Tuan muda, kau...kau benar! Dari mana kau tahu?"
Sekarang kakek tua itulah yang terkejut mendengar perkataan Chin Yang Kun.
"Dan... karena pihak tuan rumah ternyata tidak mau juga memberikan potongan emas itu, maka orang yang baru datang itu lantas mengamuk! Benar tidak, kek...?"
"Be-benar...! eh, bagaimana tuan muda tahu? Bukankah tuan muda pergi ke tepi sungai Huang-ho pada waktu itu? Apakah tuan muda tidak jadi pergi ke sana dan kembali mengikuti rombongan kami?"
Chin Yang Kun cepat menggelengkan kepalanya, lalu meneruskan ceritanya. Yaitu cerita yang ia dapatkan dari Pendekar Li dan Keh-sim Siauwhiap.
"Sebentar saja pihak tuan rumah telah terdesak oleh amukan orang yang baru datang itu. Untunglah dalam keadaan yang gawat pihak tuan rumah dapat meloloskan diri melalui pintu rahasia. Tentu saja orang yang mengamuk itu marah sekali. Seluruh bagian rumah itu diobrak-abriknya. Setiap orang yang dijumpainya, tidak peduli itu lelaki atau perempuan, orang tua atau anak-anak, semuanya dibunuhnya! Termasuk pula di dalamnya... ayahku dan pamanku!"
Chin Yang Kun menutup ceritanya dengan suara berapi-api. Tetapi dengan cepat orang itu menggoyang-goyangkan tangannya di depan Chin Yang Kun.
"Eh, tuan muda... nanti dulu!"
Selanya dengan sinar mata agak curiga.
"Akhir dari peristiwa pada malam itu memang demikian halnya. Darah berceceran, mayat-mayat bergelimpangan dimana-mana. Sungguh mengerikan sekali...! tetapi jalan peristiwanya tidak begitu... eh, tuan muda! Dari mana kau memperoleh cerita seperti itu?"
"Oh... jadi ceritanya tidak demikian itu? Lalu bagaimanakah...?"
Chin Yang Kun yang ternyata telah salah terka itu bertanya dengan suara cemas dan tegang.
"Ahhh... ini... ini... oh, apa yang mesti kukatakan?"
Tiba-tiba orang tua itu kembali ragu-ragu dan berat untuk melanjutkan ceritanya. Tentu saja Chin Yang Kun yang sudah tidak sabar lagi untuk mendengarkan cerita itu menjadi kelabakan dibuatnya.
"Ayolah, kek...! mengapa kau menjadi ragu-ragu lagi?"
Sekali lagi orang tua itu memandang anak asuhannya tersebut dengan pandangan sedih. Matanya berlinang-linang, sementara batuknya mulai timbul lagi satu-satu.
"Baiklah, tuan muda... huk-huk, aku akan bercerita. Tapi kuharapkan tuan muda mempersiapkan diri lebih dahulu secara lahir batin, karena cerita ini sungguh-sungguh akan mengecewakan hatimu. Mungkin kau malah akan merasa menyesal sekali telah mendengar cerita ini dariku... huk-huk!"
Berdebar hati Chin Yang Kun mendengar ucapan pengasuhnya itu.
Berkali-kali kakek tua itu memperingatkan dirinya, dan berulang kali pula orang tua itu kelihatan berat serta ragu-ragu untuk menceritakan jalannya peristiwa berdarah itu.
Tampaknya memang ada sesuatu yang aneh atau sesuatu yang akan mengejutkannya dalam cerita kakek pengasuhnya itu.
Diam-diam Chin Yang Kun menjadi ketakutan juga hatinya.
Tapi setelah dipikir-pikir lagi, pemuda itu menjadi tenang kembali.
Bagaimanapun juga sejak semula ia memang bermaksud membuka tabir rahasia itu.
Kalau sekarang telah terbuka kesempatan itu, mengapa ia harus menghindarinya?
"Silakan, kek...
aku sudah siap untuk mendengarkannya,"
Akhirnya pemuda itu berkata dengan suara dalam. Untuk beberapa saat orang tua itu masih terbatuk-batuk di tempatnya. Tampaknya dia juga sedang berusaha untuk menenangkan dirinya pula.
"...Begitu suara siulan nyaring itu berhenti, tiba-tiba di dekatku telah berdiri seorang lelaki gagah mengenakan sebuah topi lebar, yang dibenamkan dalam-dalam sehingga hampir menutupi seluruh mukanya. Dan begitu ia melihat ayah dan pamanmu sedang bertempur di halaman itu dia lantas menurunkan kain cadar hitam yang terikat di pinggir topinya. Sekejap saja wajahnya telah tertutup oleh kerudung hitam."
Sesungguhnya Chin Yang Kun telah mempersiapkan diri secara lahir batin, tapi meskipun demikian perkataan orang tua itu ternyata masih tetap juga seperti petir yang meledak di pinggir telinganya.
"Lelaki berkerudung hitam...?"
Serunya bagai disengat lebah.
"Be-benar...!"
Kakek tua itu ikut-ikutan kaget dan menjadi gagap pula karenanya.
"Oooh... Hek-eng-cu... Hek-eng-cu! Tak kusangka kau lah biang-keladinya!"
Pemuda itu menggeram penuh dendam.
"Tuan... tuan muda, kau... kau sudah mengenal orang itu?"
"Hmm, aku memang belum berkenalan. Tapi aku telah beberapa kali bertemu dengan dia..."
"Apaaa...? Huk-hukk! Tuan muda telah beberapa kali bertemu dengan dia? Dan... tuan muda tidak dapat mengenalnya?"
Kakek tua itu terbelalak seperti tidak percaya pada anak asuhannya itu.
"Aku tidak mengenalnya katamu? Hei, memang siapa sebenarnya orang itu...?"
Chin Yang Kun bertanya keheranan. Orang tua itu menelan ludah dan mulutnya yang terbuka itu tampak gemetar.
"Orang itu adalah..."
Akhirnya ia berkata.
Tapi sebelum kata-kata itu selesai ia ucapkan, tiba-tiba pintu bilik itu terbuka dengan paksa dari luar.
Dan pada detik yang sama pula, sebilah pisau kecil melesat menembus dada orang tua itu.
"Grobyaaag!"
"Aduuuuuh...!"
Kakek tua itu berteriak kesakitan, lalu terkulai diam di pembaringannya.
Chin Yang Kun membalikkan badannya dan bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.
Bibirnya berdesis panjang, sementara kedua matanya mencorong ke depan, seakan-akan seperti dua bongkah bara yang menyala dan hendak membakar tubuh seorang lelaki yang secara tiba-tiba telah berdiri di depan pintu bilik gubug tersebut.
"Kau... kau... paman Wan It?"
Tiba-tiba pula pemuda itu berdesah tak percaya melihat siapa orang yang berdiri di depan pintu itu.
"Ya... akulah yang datang, tuan Yang Kun!"
Bangsat, Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati melihat sikap yang menantang dari bekas pengawal keluarganya itu.
Kecurigaan yang telah lama mengeram di dalam hatinya ternyata memang benar-benar terbukti sekarang.
Orang bertubuh tinggi besar itu telah membunuh kakek tua itu.
"Hmmh... tak kusangka kau yang telah bertahun-tahun mengabdi kepada Keluarga Chin ini sekarang telah berbalik memihak musuh."
Chin Yang Kun menggeram dengan hebat.
"Lalu, apa maksudmu membunuh orang tua ini secara licik?"
"Hahaha... sungguh garang sekali! Lagaknya masih juga seperti seorang pangeran..."
Hek-mou-sai Wan It tertawa dengan lagak yang sangat meremehkan.
"Diam kau, bangsat pengecut! Sekali lagi kutanya kau, kenapa kau bunuh orang tua sakit-sakitan itu secara licik, hah?"
Dengan kemarahan yang meluap-luap Chin Yang Kun membentak.
Tawa yang berkumandang di dalam gubug kecil itu seketika berhenti, tapi wajah orang tinggi besar berbulu lebat itu perlahan-lahan berubah merah seperti besi yang membara.
"Anak haram! Jaga mulutmu baik-baik, aku bukan orang upahanmu lagi! Sekali lagi kau membentak aku, kubunuh kau!"
Orang itu menggeram dengan hebat. Tapi sebaliknya kata-kata umpatan "anak haram"
Yang dikeluarkan oleh orang itu benar-benar meledakkan kemarahan Chin Yang Kun. Sekilas pemuda itu teringat akan pernyataan kakek luarnya tentang dirinya tadi malam.
"Kurang ajar...!"
Chin Yang Kun menjerit, lalu kedua telapak tangannya bagai kilat mendorong ke depan.
"Krrraaaak! Grobyag!"
Dinding depan yang terbuat dari kayu itu hancur berkeping keping dilanda pukulan Chin Yang Kun.
Untunglah sedari tadi Hek-mou-sai Wan It selalu waspada hingga serangan itu dapat dihindarinya.
Meskipun demikian bekas pengawal kepercayaan keluarga Chin itu merasa bergetar juga hatinya menyaksikan kekuatan pemuda itu.
Sebelumnya Hek-mou-sai memang telah diberitahu oleh Hek-eng-cu dan Song-bun-kwi, bahwa kepandaian Chin Yang Kun sekarang tidak boleh dipandang ringan lagi.
Pemuda itu pernah beradu tenaga dengan mereka dan pemuda itu ternyata bisa bertahan tanpa mengalami cedera sedikitpun.
Tetapi Hek-mou-sai tidak begitu yakin akan peringatan tersebut, sebab dia sangat mengenal ilmu silat Keluarga Chin.
Apalagi ia sering melihat anak itu berlatih silat di tempat pengasingan mereka.
Tapi setelah melihat sendiri akibat dari pukulan pemuda itu, Hek-mou-sai baru percaya, meskipun belum sepenuhnya.
Oleh karena itu bekas pengawal yang dulu pernah menjadi pengawal pribadi Kaisar Chin Si itu bermaksud mencoba kemampuan pemuda tersebut.
Apalagi kedatangannya di tempat ini memang atas perintah Hek-eng-cu untuk mencari dan melenyapkan kakek tua yang tahu tentang rahasia mereka itu.
"Bagus! Tenagamu sungguh hebat! Marilah kita keluar untuk mencari tempat yang lapang untuk saling mencoba kekuatan kita, hehehe...! Dan kau akan kuringkus serta kubuat tidak berdaya, untuk kemudian akan kupersembahkan kepada Ongya sebagai obat untuk menyembuhkan rasa kecewanya selama ini."
Hek-mou-sai menantang seraya meloncat keluar halaman.
Chin Yang Kun menatap tubuh pelayannya yang terbujur di atas pembaringan itu sebentar.
Kemudian sambil berjanji di dalam hati bahwa ia akan membalaskan dendam orang tua itu Chin Yang Kun lantas mengejar Hek-mou-sai Wan It keluar.
Orang tinggi besar itu telah berdiri bertolak pinggang di atas tanah yang lapang di samping gubug tersebut.
Sinar matanya kelihatan berseri-seri, menunjukkan keyakinan hatinya.
"Hahaha... ayolah kemari anak muda! Kita mengukur kemampuan di tempat ini. Hmm, sungguh beruntung benar aku bisa mendapatkan engkau di tempat yang tak disangka sangka ini. Alangkah senangnya Ongya nanti bila tahu akan hal ini. Berbulan-bulan kami mencarimu, sampai akhirnya kami datang kembali ke lembah itu. Hehehe"
Dan ternyata engkau kami ketemukan pula disini. Ooooh...alangkah senangnya!"
Sebenarnya Chin Yang Kun sudah tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi.
Tapi serentak ia mendengar ucapan Hek-mou-sai tentang si Ongya atau Hek-eng-cu itu, ia segera berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan diri.
Ia tadi belum selesai dengan cerita si kakek tua pengasuhnya itu.
Siapa tahu sekarang ia bisa mengorek keterangan dari bekas pengawal keluarganya itu?
Lain dari pada itu diapun harus berhati-hati pula, siapa tahu Hek-eng-cu berada disekitar tempat itu juga?
Oleh karena itu sambil menenangkan hatinya Chin Yang Kun berdiri lima langkah di depan musuhnya.
"Hek-mou-sai! Aku benar-benar tidak menyangka pula bahwa kau dapat berbalik pikiran dengan mengabdi kepada musuh keluargaku. Padahal selama ini kami selalu memperlakukan kau dengan baik, malah boleh dikatakan kami telah menganggapmu sebagai keluarga kami sendiri. Hmm... lalu sejak kapan kau ikut Hek-eng-cu?"
Orang tinggi besar itu menatap Chin Yang Kun dengan pandang mata kasihan.
"Sejak kapan? Hahaha"
Ya tentu saja sejak keluargamu mengasingkan diri di lembah ini. kau tidak menyangkanya, bukan?"
Ejeknya. Bukan main kagetnya Chin Yang Kun.
"Jadi...kau selama ini selalu memata-matai kami sekeluarga? Lalu... lalu apa sebenarnya maksudmu dan maksud Hek-eng-cu itu?"
Pemuda itu bertanya penasaran. Hek-mou-sai tersenyum.
"Ah... kau jangan berlagak tak tahu. Masakan kau tak mengerti harta kekayaanmu sendiri?"
"Jangan berbelit-belit! Apa maksudmu...?"
Chin Yang Kun menggeram marah.
"Kaulah yang berbelit-belit dan pura-pura tidak tahu! Apalagi yang lebih berharga di dalam keluargamu selain Cap Kerajaan itu, hah? Itulah yang kami cari selama ini...! Nah... sebelum nyawamu melayang, sekarang katakan saja kepadaku, dimana benda itu kalian sembunyikan?"
"Oooo... jadi benda itukah yang kau incar selama ini? Hmm, benar-benar tak kusangka. Kalau begitu aku sungguh kagum pada kesabaran dan ketabahanmu selama ini. Demikian hebat pengabdianmu kepada Hek-eng-cu, dan demikian besar keinginanmu untuk mendapatkan benda itu, sehingga kau rela menjadi budak, selama bertahun-tahun di tempatku. Ahhh... benar-benar tak kusangka! Makanya selama itu kami tak pernah bisa bersembunyi dari kejaran orang-orang yang ingin memiliki benda pusaka tersebut, sebab di dalam rombongan itu sendiri ternyata telah bercokol seekor ular berbisa seperti dirimu..."
"Hahaha... jangan penasaran!"
Hek-mou-sai memotong dengan ketawanya yang menyakitkan hati.
"Aku tidak penasaran. Aku justru kagum kepadamu. Hmm... jadi ketika kau ditangkap oleh anak buah Hek-eng-cu, kemudian dijebloskan ke dalam penjara di bawah tanah bersama-sama dengan aku dulu itu cuma hasil sandiwaramu saja? Dan dalam keadaan tak berpengharapan seperti itu kau ingin mengorek keterangan dariku? Begitukah...?"
"Benar... hahaha! Sayang kau tak mau menyebutkannya pada waktu itu. kau Cuma menyebutkan Goa Harimau saja. Hmh, sekarang coba kau sebutkan, dimanakah Goa Harimau yang kau maksudkan itu?"
"Nanti dulu! Aku belum selesai dengan pertanyaanku."
Chin Yang Kun memotong pertanyaan Hek-mou-sai.
"Aku ingin tahu pula... imbalan apakah sebenarnya yang kau terima dari Hek-eng-cu, sehingga kau rela menuruti segala perintahnya? Dan yang terakhir... apa sebabnya kau sampai di tempat ini sehingga kau membunuh kakek tua itu secara licik?"
"Ooh... kau ingin mengetahui dengan jelas semuanya sebelum engkau mati, begitukah?"
Chin Yang Kun mengumpat di dalam hati, tapi demi untuk menyenangkan hati lawannya dia mengiyakan saja pertanyaan itu.
"Yaa... kalau aku boleh bertanya,"
Jawabnya sambil menghela napas.
Betul juga.
Hek-mou-sai tampak puas sekali melihat Chin Yang Kun kelihatan lemas dan tak berdaya seperti itu.
Maka dengan senyum yang mengembang di wajahnya bekas pengawal keluarga Chin itu bercerita.
"Dengarlah...! Ongya yang bergelar Hek-eng-cu itu sebenarnya adalah seorang Pangeran Chin. Dan sebagai keturunan Raja Chin beliau bermaksud untuk mengembalikan lagi kekuasaan Dinasti Chin di Tiongkok ini, maka untuk mewujudkan..."
"Nanti dulu...! kalau dia memang keturunan Raja Chin dan bercita-cita untuk mendirikan kembali Kerajaan Chin, mengapa dia malah membinasakan ayah serta pamanku?"
Chin Yang Kun memotong. Hek-mou-sai mengerutkan alisnya. Jawabannya kaku.
"Karena... ayah dan pamanmu merupakan penghalang besar bagi seluruh cita-citanya itu. Selain dari pada itu, ayah serta pamanmu dianggap terlalu lemah dan penakut untuk dijadikan sekutu dalam melaksanakan rencana besar ini. Oleh karena itu daripada mereka menjadi dari penghalang di kemudian hari, maka lebih baik mereka dimusnahkan saja...!"
"Hmmh!"
Chin Yang Kun menggeram di dalam hati. Lagi-lagi Hek-mou-sai tersenyum melihat kegeraman lawannya. Lalu dengan senyum yang masih mengembang di wajahnya orang itu meneruskan ceritanya.
"Dan... untuk mewujudkan cita-citanya itu, Ongya lalu mengajak aku dan beberapa orang kawan untuk menghimpun sebuah kekuatan besar di antara rakyat. Mereka akan dipersiapkan sebagai laskar yang nanti akan dipergunakan untuk menumbangkan kekuasaan Kaisar Han..."
Hek-mou-sai menghentikan ceritanya sebentar untuk melihat tanggapan Chin Yang Kun mengenai peranannya di dalam rencana besar tersebut.
Tapi karena pemuda itu hanya berdiam diri saja, maka Hekmou-sai lalu meneruskan kembali ceritanya.
Cuma sekarang nada suaranya tak selantang dan segembira tadi.
"Sebenarnya maksud Ongya itu telah mendapatkan sambutan yang meriah di kalangan rakyat. Buktinya dalam setahun saja kekuatan yang diperoleh telah mencapai puluhan ribu orang. Itu belum yang diperoleh di dalam kalangan perajurit Kaisar Han sendiri. Tetapi sayang..."
Tiba-tiba ucapan Hek-mou-sai semakin merendah.
"Tetapi sayang kekuatan yang belum terbina dengan baik itu buru-buru tercium oleh kaki tangan Kaisar Han sehingga Kaisar Han segera mengerahkan bala tentara untuk menumpasnya. Dan kini... kekuatan itu telah tercerai-berai kembali. Meskipun tidak hancur seluruhnya, tapi untuk menghimpunnya lagi dibutuhkan waktu yang lama."
Sekali lagi Hek-mou-sai menghentikan ceritanya. Matanya menerawang jauh ke depan. Namun demikian dari sikap dan raut wajahnya dapat dibaca bahwa ia masih mempunyai keyakinan untuk memperbaikinya lagi.
"Hmmh! Menurut Ongya kegagalan tersebut disebabkan oleh karena beliau dan kami semua telah mengabaikan atau melupakan syarat utama dari perjuangan itu sendiri. Telah disabdakan oleh para cerdik-pandai dan para bijaksanawan zaman dulu melalui nenek-moyang kita, bahwa siapa saja akan bisa menduduki takhta apabila ia dapat menyimpan dan memiliki benda pusaka yang berwujud Cap Kerajaan...! dan ternyata sampai sekarang Ongya belum juga memiliki benda pusaka tersebut. Itulah sebabnya perjuangan besar gagal di tengah jalan."
Hek-mou-sai mengambil napas, seolah-olah menyesali kegagalan itu. Tetapi sesaat kemudian matanya telah berapi-api kembali.
"Tapi untuk selanjutnya kegagalan itu tak boleh terulang kembali! Oleh karena itu, sebelum langkah untuk menghimpun kembali kekuatan yang tercerai-berai itu dilaksanakan, Ongya telah menetapkan untuk mencari benda pusaka itu terlebih dahulu! Nah... itulah sebabnya aku dan Ongya berada di lembah ini! Kami ingin mencarinya lagi yang lebih teliti..."
"Dan... kalian secara tidak terduga menjumpai kakek tua itu disini, begitu, bukan? Lalu kalian beranggapan pula bahwa kakek itu tentu menyimpan benda pusaka itu, atau setidak-tidaknya tentu mengetahui di mana benda tersebut disimpan, sehingga kalian lalu menyiksanya agar mau mengaku serta menunjukkan tempatnya..."
"Benar! Tapi orang tua itu ternyata membandel. Selain tidak mau mengakui bahwa dia menyimpan benda itu, dia malahan berani menasehati Ongya secara panjang lebar. Ternyata selain telah mengenali penyamaran Ongya, orang tua itu juga sudah tahu tentang sepak-terjang Ongya selama ini, termasuk diantaranya adalah pembasmian keluarga Chin itu."
Mendengar penjelasan Hek-mou-sai itu Chin Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tahulah sudah pemuda itu sekarang, siapa sebenarnya pembunuh ayah dan pamannya, serta latar belakang apa yang menyebabkannya.
Semua itu ternyata adalah tanggung jawab Hek-eng-cu!
"Jadi...
jadi...
Hek-eng-cu juga yang membunuh Paman Bungsuku?"
Dengan hati berdebar Chin Yang Kun menegaskan. Hek-mou-sai tertawa terbahak-bahak. Matanya sampai berair ketika memandang kepada Chin Yang Kun.
"Tentu saja, anak bodoh! Siapa lagi yang dapat membunuh atau menyingkirkan paman bungsumu itu selain Hek-eng-cu di dunia ini? Hahaha..."
Sekarang Chin Yang Kun benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
"Bangsat! Sekarang pertanyaanku yang terakhir...siapakah sebenarnya Hek-eng-cu itu? Apakah dia itu Putera Mahkota Kaisar Chin Si yang kini bersembunyi di Pegunungan Kun Lun bersama Yap Cu Kiat dan Siang-houw Nio-nio itu?"
"Hahaha... jangan merengek-rengek seperti itu! Tidak ada gunanya! Aku tidak akan menjawabnya, hahahah...!"
"Kurang ajar...! kubunuh kau pengkhianat!"
Chin Yang Kun berteriak, lalu menyerang dengan kepalannya. Hek-mou-sai cepat mengelak.
"Hahaha, anak muda...! jangan salahkan aku kalau nyawamu nanti melayang ke alam baka. Meskipun kau telah menyempurnakan ilmu silatmu, tapi kau tetap bukan lawanku. Aku mengenal ilmu silat keluarga Chin seperti mengenal ilmu silatku sendiri, hahaha...! ayoh, kerahkan seluruh kemampuanmu...!"
Sambil mengeluarkan kata-kata ejekan Hek-mou-sai meluncur ke samping kiri Chin Yang Kun dalam jurus Menyangga Pedati Dengan Kaki Tunggal.
Kaki kanannya yang besar dan kuat itu mengait setengah lingkaran ke belakang, sehingga tumitnya menghantam ke arah pusar Chin Yang Kun!
Begitu manis dan cepat gerakan itu dilakukan oleh Hekmou-sai, sehingga Chin Yang Kun tak mempunyai banyak waktu untuk berpikir lagi.
Tahu-tahu kaki itu telah nyelonong begitu saja di depan perut Chin Yang Kun.
Apalagi sejak semula pemuda itu memang telah salah duga dengan gerakan lawannya tersebut.
Pemuda itu mengira bahwa Hek-mou-sai mau menerobos ke belakang tubuhnya, untuk kemudian hendak menyerang ke arah punggungnya!
Dalam keadaan terpepet, tiada jalan lain lagi bagi Chin Yang Kun selain menghantam tumit itu dengan siku tangannya!
Sementara untuk menghindari serbuan atau serangan beruntun dari lawannya itu.
Chin Yang Kun menjejakkan kakinya ke tanah, sehingga tubuhnya segera melenting tinggi melampaui kepala Hek-mou-sai!
Dan begitu terlepas dari desakan lawannya, Chin Yang Kun ganti menyerang dengan Jurus Liong-ong sao-te (Raja Naga Menyapu Tanah) ke kaki Hek-mou-sai, yang masih berdiri dengan satu kaki itu.
Sayang karena terlalu tergesa-gesa, serangan itu terlalu tinggi sehingga dengan mudah Hek-mou sai dapat mengelakkannya pula.
Demikianlah, beberapa saat kemudian mereka telah bertempur dengan sengitnya.
Masing-masing berusaha mengungguli lawannya.
Chin Yang Kun mengeluarkan ilmu silat Hok-te ciang-hoatnya, sementara Hek-mou-sai mengeluarkan ilmu silat perguruannya pula.
Kedua-duanya sama-sama bergerak dengan lincah dan gesit, bagaikan dua buah bayang-bayang hitam yang sukar dipisahkan.
Mereka berkelebatan kesana kemari mengitari halaman gubug itu, seperti dua ekor kupu-kupu yang sedang bercanda di pagi hari.
Dan sejalan dengan meningkatnya kemampuan yang mereka keluarkan, maka gerakan merekapun semakin lama juga semakin cepat dan ganas.
Angin pusaran yang timbul akibat hembusan tenaga sakti yang keluar dari dalam tubuh merekapun juga semakin menggiriskan hati.
Desisan-desisan panjang atau letupan-letupan kecil yang diakibatkan oleh pergeseran atau bentrokan tenaga mereka juga semakin sering terdengar pula, sepuluh jurus, dua puluh jurus.
Akhirnya lima puluh juruspun telah berlalu pula.
Hek-mou-sai mulai ragu-ragu dan keringatpun mulai keluar membasahi punggungnya.
Bekas pengawal pribadi Kaisar Chin Si, yang dulu selalu bersama-sama dengan Siang-hou Nio-nio dalam setiap tugasnya itu, kini mulai berdebar-debar menyaksikan lawannya.
Setiap kali ia meningkatkan kemampuannya atau setiap kali ia menambah tenaganya, setiap kali pula ia masih merasakan kekurangannya dalam melayani serbuan lawannya.
Dan akhirnya kecemasan mulai timbul di dalam hati Hekmou-sai ketika dalam puncak kemampuannya Chin Yang Kun masih tetap mengungguli juga.
Malah beberapa saat kemudian pemuda itu masih juga mampu meningkatkan lagi kepandaiannya, sehingga sedikit demi sedikit dirinya mulai terdesak.
Apalagi ketika lawannya itu masih juga menambah terus kekuatan tenaga saktinya, maka tanpa ampun lagi ia semakin terperosok ke dalam jurang kesulitan yang dalam.
Mulailah Hek-mou-sai menyesali kecerobohannya.
Tidak seharusnya ia mengabaikan peringatan kawan-kawannya.
Dan tidak seharusnya pula ia menghadapi pemuda itu tanpa senjata di tangan.
Begitu cerobohnya dirinya tadi, dan begitu congkaknya dia tadi, sehingga dengan tanpa melaporkan lebih dulu kepada majikannya, ia merasa dapat mengatasi pemuda itu dengan mudah.
Kini semuanya telah terlambat.
Untuk meloloskan diri dari libatan lawannya sudah tidak mungkin lagi, apalagi mau melapor kepada Hek-eng-cu.
Satu-satunya jalan yang tersedia baginya cuma bertempur mati-matian dan mengadu jiwa!
"Hhhaaarrgh...!"
Hek-mou-sai menggeram dahsyat dengan ilmu Sai-cu ho-kang (Auman Singa).
Siapa tahu suaranya itu bisa terdengar sampai ke lembah?
"Hmmh...
Hek-mou-sai!
Coba kau katakan sekarang, siapa yang kini berteriak merengek-rengek karena nyawanya hendak melayang ke alam baka?
Ho-ho...
kau berteriaklah setinggi langit untuk memanggil calon rajamu itu, aku tidak takut!
Aku justru hendak membantainya pula di depan mayat kakek tua itu, seperti dia telah membantai seluruh keluargaku!"
Hek-mou-sai tak mampu untuk menjawab lagi.
Seluruh pikiran dan kemampuannya telah tercurah habis untuk menghadapi desakan lawannya.
Tak ada lagi kesempatan baginya untuk melayani ejekan-ejekan ataupun kata-kata lawannya itu.
Jangankan untuk melayani kata-kata ejekan itu, untuk menyelamatkan diri saja Hek-mou-sai sudah tidak mungkin lagi.
Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, meskipun belum telak tapi sudah mulai menyentuh kulitnya.
Itupun sudah bukan main sakitnya dia rasakan.
Malah beberapa saat kemudian rasa sakit itu diikuti pula dengan rasa gatal yang hebat di tempat-tempat ia menerima sentuhan tersebut.
"Gila! Setan mana yang telah merasuk ke dalam tubuh anak ini?"
Hek-mou-sai mengumpat di dalam hati begitu menyadari pukulan lawannya ternyata mengandung racun yang berbahaya pula.
Demikianlah, racun yang masuk melalui pukulan Chin Yang Kun itu semakin lama semakin mempengaruhi daya tahan dari tubuh Hek-mou-sai.
Ketika pada suatu saat Chin Yang Kun secara tidak sengaja membalikkan tangannya ke belakang dalam jurus Naga Melingkar Menjilat Ekor, yaitu salah satu jurus dari Kim-coa ih-hoat, Hek-mou-sai sudah tidak bisa lagi mengelakkan diri.
Bekas pengawal Keluarga Chin itu menjadi terperanjat bukan main melihat lawan yang sedang membelakangi dirinya itu tiba-tiba bisa memukul ke belakang seperti layaknya orang yang sedang menghadap ke arah dirinya.
"Bhluuug!"
"Aaarrrgh...!"
Hek-mou-sai melenguh seperti kerbau disembelih ketika pukulan itu menimpa ulu hatinya.
Tubuhnya yang tinggi besar itu terjerembab ke belakang menghantam pohon, kemudian jatuh terlentang di atas tanah.
Dari mulutnya mengalir darah segar berwarna kehitaman.
"Kkkauu... kau...? Ilmu... ilmu a-apa itu...? Uuuhh!"
Hek-mou-sai berbisik dengan suara serak, untuk kemudian terkulai menemui ajalnya.Beberapa saat lamanya Chin Yang Kun masih saja berdiri mengawasi mayat bekas pembantu ayahnya itu.
Perlahan-lahan kulit orang itu menjadi kehitam-hitaman, sehingga tubuh yang besar dan berbulu lebat itu menjadi sangat mengerikan rupanya.
"Uuuuh...!"
Tiba-tiba terdengar suara keluhan tertahan di dalam gubug, sehingga Chin Yang Kun menjadi kaget sekali.
Serentak urat-uratnya menegang, dan sekejap kemudian pemuda itu telah melesat bagai terbang cepatnya ke dalam gubug itu.
"Kek... kau... kau ma-masih hidup...?"
Bukan main kagetnya pemuda itu begitu melihat kakek tua pelayannya itu masih bergerak di pembaringannya.
"Uuuuh...!?"
"Kek! Kakek...! Bagaimana...? a-apa yang kau rasakan...?"
Di dalam kegugupannya Chin Yang Kun justru menjadi bingung malah.
"Tu-tuan muda...? kau... kau se-selamat?"
"Ya-ya... tentu saja, kek! Orang itu telah kubunuh mati! Ba-bagaima...?"
"Ooh, s-s-syukurlah...! d-d-dialah yang men-men...jadi biang ke-ke-keladi semua mala-mala...mala-petaka ini! Dialah ib...iblis penghasut yang...yang...me-memeretakkan Keluarga Chin... oooooh!"
Wajah tua itu mendadak tersenyum lega dan matanya perlahan-lahan tertutup kembali. Chin Yang Kun menjerit dan menggoncang tubuh kakek itu keras-keras.
"Kek...! kau jangan mati dulu! Ayoh! Jangan mati dulu! Katakan padaku... be-benarkah aku ini bukan putera ayahku? Benarkah aku ini putera Kaisar Han yang bertakhta sekarang ini?"
Tiba-tiba mata yang sudah hampir terpejam itu terbuka kembali, meskipun sudah buram dan tak bersinar sama sekali.
"K-kau sudah me-mengetahuinya...? Ohh...!"
Bibir yang sudah mulai kaku itu berbisik lemah, kemudian terdiam untuk selama-lamanya.
"Ouuuh...!"
Chin Yang Kun berdesah pula dengan lemahnya.
Sejenak pemuda itu memandang jenazah pengasuhnya itu.
Wajahnya tampak muram dan sedih.
Ucapan terakhir yang dikeluarkan oleh kakek itu tadi membuat perasaannya menjadi kosong dan hampa luar biasa.
Seakan-akan dirinya yang sebatang kara itu telah dilemparkan ke dalam jurang yang dalam, sepi dan lengang!
"Ooooh...
kenapa semuanya ini terjadi pada diriku?"
Chin Yang Kun meratap di dalam hati.
Air matanya menetes membasahi pipinya.
Lama sekali pemuda itu terpekur saja di tempatnya.
Sekali sekali terdengar tarikan napasnya yang panjang dan berat.
Baru beberapa saat kemudian kakinya melangkah lambat ke luar gubug, untuk mencari tempat yang cocok buat menguburkan mayat-mayat itu.
Demikianlah, meskipun lambat kedua sosok mayat itu telah selesai dikuburkan semua.
Tempat itu menjadi sepi serta sunyi kembali.
Kini tinggallah perasaan lelah yang luar biasa menggayuti tubuh Chin Yang Kun.
Pertempurannya tadi ternyata telah menyita seluruh sisa kekuatan yang masih ada di dalam tubuhnya.
"Oh, betapa lelahnya badanku...! telah beberapa hari ini aku kurang makan dan kurang tidur."
Chin Yang Kun menguap seraya menjatuhkan dirinya di atas pembaringan yang ada di dalam gubug itu.
Dan sebentar saja matanya telah terpejam.
Rasa lelah yang amat sangat membuat Chin Yang Kun bermimpi di dalam tidurnya.
Pemuda itu merasa seperti sedang berada di tepi pantai bersama-sama dengan Souw Lian Cu.
Mereka berdua duduk bersanding di atas pasir, sambil memandang gulungan ombak yang berdebur memecah pantai.
Chin Yang Kun meremas jari-jari tengah Souw Lian Cu, sementara matanya menatap wajah gadis itu seperti tiada puasnya.
Dan biarpun Souw Lian Cu hanya selalu menundukkan kepalanya, serta tidak pernah menjawab perkataannya, Chin Yang Kun tidak pernah menjadi berkecil hati karenanya.
"Lian Cu...! mengapa kau tidak mau memandangku? Apa sebenarnya yang menyusahkan hatimu? Apakah yang kau pikirkan selama ini? Dengarlah...! kau tidak boleh selalu bersusah hati. kau harus selalu bergembira di dalam hidupmu... aku akan selalu menjagamu. Aku... aku... cinta kepadamu!"
Tiba-tiba kepala yang tertunduk itu menengadah dan memandang Chin Yang Kun. Mata yang indah itu terbelalak.
"Jangan...!"
Gadis itu berbisik ketakutan.
"Heh? Jangan? Mengapa...?"
Chin Yang Kun mendesak penasaran. Mendadak gadis itu bangkit berdiri, lalu berlari cepat sekali meninggalkan Chin Yang Kun. Tentu saja Chin Yang Kun terperanjat sekali.
"Lian Cu...!"
Pemuda itu berteriak. Tapi Souw Lian Cu menolehpun tidak. Gadis itu berlari terus menerjang ke tengah laut, menyongsong ombak. Dan sebentar saja tubuhnya telah lenyap ditelan gelombang besar.
"Oh, Lian Cu...!"
Chin Yang Kun meratap. Wajahnya tertunduk lesu.
"Yang Kun...!"
Tiba-tiba pemuda itu dikejutkan oleh suara lirih di dekat telinganya.
Chin Yang Kun menoleh dengan cepat, dan hampir saja pipinya menyentuh pipi Tiau Li Ing yang secara tiba-tiba telah berada di dekatnya.
"Li Ing... kau?"
Pemuda itu berbisik kaget.
"Ya... akulah yang datang! Aku datang untuk mencarimu. Mengapa kau dulu meninggalkan aku seorang diri di rumah penginapan itu? Dan kemana saja kau selama ini? Yang Kun, oh... jangan tinggalkan aku lagi! Aku mau ikut engkau kemanapun kau pergi! Aku tidak mau berpisah lagi denganmu..."
Gadis binal itu mencengkeram lengan Chin Yang Kun dan merengek manja.
"Li Ing... ini... ini... ahhh!"
Chin Yang Kun berdesah gugup sambil berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Tiau Li Ing.
Tapi gadis itu tak mau melepaskan tangannya juga, sehingga Chin Yang Kun menjadi kikuk dan salah tingkah.
"Ini... ini... eh! Le-lepaskan dulu..."
Chin Yang Kun mendorong tubuh Tiau Li Ing. Tapi tak terduga telapak tangannya persis mendorong ke arah dada gadis itu, sehingga Chin Yang Kun lantas menjadi kelabakan sendiri untuk menarik tangannya.
"Grobyaag!"
Chin Yang Kun terjatuh dari pembaringan dan... siuman dari tidurnya! "Ahhh... kurang ajar! Aku telah bermimpi ini tadi..."
Pemuda itu bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Chin Yang Kun lalu melangkah keluar gubug.
Dilihatnya hari telah menjelang sore.
Matahari telah turun mendekati cakrawala, sehingga sinarnya yang kuning kemerahan membentuk bayang-bayang hitam pada pepohonan.
Sesaat pemuda itu memandang gundukan tanah tempat ia mengubur Hek-mou-sai dan kakek pengasuhnya tadi, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Pemuda itu merasa beruntung bisa tidur agak lama tadi.
Sekarang badannya terasa lebih segar serta telah pulih kembali kekuatannya.
Dan kini ia telah merasa siap untuk bertarung mengadu jiwa dengan Hek-eng-cu!
"Hemmm...
Hek-eng-cu, nantikanlah kedatanganku!
Apapun yang telah terjadi padaku, aku tetap tak merubah niatku untuk membunuhmu!
Aku masih tetap akan menagih hutangmu kepada Keluarga Chin!"
Chin Yang Kun berlari menuju ke lembah lagi.
Ia masuk melalui jalan pertama, yaitu celah gunung dimana pohon cemara tua itu tumbuh.
Sebab dengan melalui jalan tersebut dia bisa naik ke atas lereng lembah, untuk kemudian dapat berputar mengelilingi rumahnya, sehingga ia bisa turun di bagian belakang rumahnya.
Dengan demikian kedatangannya takkan diketahui oleh Hek-eng-cu.
Tapi betapa kagetnya pemuda itu tatkala lewat di tempat pohon cemara tersebut tumbuh.
Pohon tua yang kokoh kuat itu kini telah tumbang, sehingga batangnya yang tinggi itu melintang menutupi jalan masuk ke dalam lembah.
"Hei... kenapa dengan cemara ini? Tiada hujan tiada angin, tahu-tahu telah tumbang. Padahal pagi tadi pohon ini masih berdiri dengan tegarnya..."
Chin Yang Kun berkata di dalam hatinya. Karena merasa penasaran Chin Yang Kun mencoba memeriksa pohon itu.
"Ah, pohon ini tumbang bukan karena lapuk atau dihembus angin kencang, tetapi...tumbang karena pukulan seorang jago silat berkepandaian tinggi."
Chin Yang Kun bergumam perlahan begitu melihat bagian batang pohon yang patah.
Pemuda itu mencoba menyentuh pada bagian yang patah tersebut.
Dan pemuda itu tersentak kaget tatkala kayu yang disentuhnya tersebut rontok ke bawah seperti tepung yang berhamburan tertiup angin.
Diam-diam pemuda itu menjadi cemas juga.
Melihat akibat yang ditimbulkan oleh pukulan itu bisa diduga bahwa pelakunya tentu seorang tokoh sakti yang mempunyai tenaga dalam hampir sempurna.
Dan siapa tahu orang tersebut adalah Hek-eng-cu sendiri?
"Sekali ini aku memang harus berhati-hati.
Siapa tahu orang yang merobohkan cemara ini memang benar-benar Hek-eng-cu adanya?
Dan kalau dugaan itu memang betul, hmmm...
tugasku kali ini sungguh tidak ringan.
Lweekang yang telah diperlihatkan itu terang tidak berada di bawah Iweekang yang kuterima dari nenek Buyutku.
Oleh karena itu jika ilmu silatnya nanti ternyata jauh lebih hebat dari pada Hok-te Ciang-hoat atau Kim-coa ih-hoatku, terang aku nanti akan mengalami kesulitan di dalam menghadapinya..."
Untuk lebih meyakinkan siapa sebenarnya orang yang telah merobohkan pohon cemara tersebut, Chin Yang Kun lalu memeriksa tempat itu sekali lagi.
Siapa tahu ia bisa menemukan petunjuk lain tentang orang itu?
Tapi apa yang kemudian ia ketemukan lagi di tempat itu malah membuatnya lebih cemas dan khawatir.
Ketika pemuda itu tanpa sengaja menyepakkan kakinya ke arah tumpukan daun cemara kering di depannya, tiba-tiba sebuah benda keras ikut pula terlempar bersama-sama dengan tumpukan daun tersebut.
Dan pemuda itu menjadi kaget sekali tatkala diketahuinya benda itu adalah sebuah kipas besi.
Chin Yang Kun cepat mengambil kipas itu dan menimang nimangnya di atas telapak tangannya.
Dilihatnya beberapa buah jeruji kipas itu telah rusak dan patah.
"Kipas ini milik Tiau Li ing... Hmm... sungguh mengherankan sekali. Apakah sebenarnya yang telah terjadi di tempat ini beberapa saat yang lalu? Apakah gadis itu telah kesasar ke tempat ini dan kemudian lalu bertemu dengan Hek-eng-cu? Wah, kalau memang demikian halnya gadis itu tentu mendapatkan kesulitan..."
Pemuda itu menduga-duga dalam hatinya.
Begitu memikirkan nasib yang mungkin menimpa Tiau Li lng, Chin Yang Kun lantas menjadi gelisah hatinya.
Bergegas pemuda itu melompati pohon yang tumbang tersebut dan kemudian berlari meninggalkan tempat itu.
Dan sesuai dengan rencananya tadi, pemuda itu tidak berjalan langsung menuju ke rumahnya, tetapi lebih dahulu naik ke atas tebing, kemudian merambat diantara batu-batu karang dan semak perdu, terus melingkar ke belakang rumahnya.
Sambil merangkak dengan hati-hati, Chin Yang Kun mengawasi terus keadaan rumahnya.
Rumah tempat tinggalnya itu sekarang boleh dikatakan telah rusak sama sekali.
Temboknya telah banyak yang hancur, sementara pintu dan jendelanyapun juga telah banyak yang copot pula.
Dan semuanya itu karena akibat ulah para pencari Cap Kerajaan!
Chin Yang Kun sudah sampai di belakang rumahnya.
Tapi sejak tadi rumah itu tampak sepi dan sunyi seperti kuburan.
Tak ada tanda-tanda kalau ada manusia atau hewan di tempat itu.
Yang terdengar Cuma suara gemerisiknya daun alang-alang tertiup angin.
Sementara itu matahari benar-benar telah hilang di balik cakrawala.
Dan keadaan didalam lembah itupun semakin tampak gelap juga.
Tetapi, meskipun hari sudah menjadi gelap, rumah itu tetap sepi pula.
Tak ada tanda-tanda orang menyulut lampu atau yang lainnya.
Suasana benar-benar sunyi dan lengang, sehingga dengan kegelapan malam yang menyelubunginya, rumah itu menjadi tampak angker dan menyeramkan.
Chin Yang Kun menjadi gelisah.
Dengan wajah tegang pemuda itu lalu bergerak menuruni tebing itu.
Sampai di bawah pemuda itu lalu melingkar ke kanan melewati makam paman bungsunya.
Tapi ketika melewati makam itu Chin Yang Kun menjadi terkejut sekali!
Makam itu sudah tidak ada lagi!
Yang sekarang ada ditempat itu hanyalah sebuah lobang terbuka yang ditumbuhi semak dan alang-alang!
Dan di pinggir lobang itu tampak sebuah kotak peti mati yang telah hancur tertimbun tanah.
"Gila...! si-siapa yang be-berani... membongkar makam ini?"
Saking kagetnya Chin Yang Kun berdesah agak keras.
Dan tiba-tiba saja terdengar suara gaduh dari dalam rumah yang gelap itu.
Sekejap terdengar jeritan seorang wanita.
Tapi suara itu cepat terhenti, seolah-olah mulut yang menjerit tersebut telah dibungkam orang secara paksa.
Dan sebagai gantinya kemudian terdengar suara bentakan yang ditujukan ke arah Chin Yang Kun.
"Siapa di luar...?"
Sekali lagi Chin Yang Kun terperanjat!
Ternyata di dalam rumah itu ada orangnya juga.
Malah karena kurang hati-hati, kedatangannya telah diketahui oleh orang tersebut.
Terpaksa pemuda itu keluar dari tempat persembunyiannya.
Dengan kaki terpentang lebar pemuda itu berdiri menghadap ke pintu rumah tersebut.
"Aku! Akulah yang datang...! Keluarlah!"
Chin Yang Kun menggeram keras, meskipun sebenarnya hatinya amat berdebar-debar.
Hening sejenak.
Chin Yang Kun semakin berdebar-debar.
Rasanya lama sekali orang itu tidak keluar-keluar.
Tiba-tiba...!
"Huh...?
kau...
Chin Yang Kun?"
Seorang lelaki berkerudung hitam yang bukan lain adalah Hek-eng-cu, muncul di depan pintu dengan suara kaget pula.
Sejak semula Chin Yang Kun sudah menduga kalau Hek-eng-cu tentu berada di rumah tersebut, namun demikian kemunculan orang itu ternyata masih tetap juga mendebarkan hatinya!
Saking tegangnya pemuda itu tidak dapat segera mengeluarkan suara.
Baru beberapa saat kemudian, setelah pemuda itu ingat kembali pada tujuannya semula, mukanya menjadi merah padam.
Dengan cepat kemarahannya membakar seluruh pori-pori tubuhnya.
"Iblis keji! Jangan kaget! Aku datang untuk menagih nyawa keluargaku! Oleh karena itu... bersiaplah!"
Chin Yang Kun menggeram.
Karena menyadari bahwa lawannya sekali ini benar-benar sangat berat, maka Chin Yang Kun tidak mau berlaku ceroboh.
Langsung saja pemuda itu mengerahkan seluruh kekuatan Liong-cu I-kangnya.
Tubuhnya sampai bergetar karena menahan gelombang tenaga sakti yang maha dahsyat itu.
Sebaliknya Hek-eng-cu masih kelihatan tenang-tenang saja di tempatnya.
Beberapa kali kepalanya malah menoleh kesana kemari seolah-olah ada yang dicarinya.
Sikapnya tampak memandang rendah sekali kepada Chin Yang Kun.
Tentu saja Chin Yang Kun menjadi marah sekali.
"Kurang ajar...! Apa yang kau cari? kau mencari pembantumu yang tinggi itu? Huh...! Percuma! Orang itu telah kucabut nyawanya sore tadi!"
Chin Yang Kun membentak.
Jilid 42 Kepala yang tersembunyi di dalam kerudung itu cepat berpaling kepada Chin Yang Kun. Bola matanya tampak mencorong seakan-akan bisa menembus tirai kerudung tersebut.
"Apa katamu? kau telah membunuh Hek-mou-sai Wan lt? Huh...! Jangan mengigau di depanku! Aku tahu dengan pasti siapa Wan It dan siapa...engkau! Jangankan membunuhnya, menyentuh ujung bajunyapun engkau takkan mampu. Apakah yang kau pergunakan sebagai modal untuk menghadapi dia? Hok-te Ciang-hoat? Atau Hok-te To-hoat? Hmh!"
Hek-eng-cu mendengus dengan suara di hidung.
Merah telinga Chin Yang Kun.
Namun demikian pemuda itu tetap berusaha untuk mengendalikan dirinya.
Pemuda itu masih tetap sadar bahwa untuk menghadapi lawan tangguh, ia harus tetap berhati tenang dan dingin.
Kemarahan justru akn membuat dirinya lemah dan lengah.
Masih terngiang di dalam teIinganya kata-kata paman bungsunya dahulu bahwa ketenangan mutlak diperlukan dalam setiap pertandingan.
Barang siapa bisa berlaku tenang dan selalu dapat mengendalikan dirinya dalam setiap pertandingan pibu, boleh dianggap orang itu telah memenangkan separuh dari pertandingan itu sendiri.
Ketenangan membuat seorang jago silat menjadi waspada, jernih pikiran dan tidak salah langkah.
Oleh karena itu Chin Yang Kun segera mengambil napas panjang untuk menenangkan hatinya.
Setelah itu dengan suara dingin ia menjawab perkataan lawannya.
"Engkau sendiri adalah keturunan Chin. Dan sedikit banyak kau tentu mempelajari juga ilmu silat warisan nenek moyang kita itu. Tapi sungguh mengherankan sekali, mengapa kamu tidak menghargainya? Malah tampaknya kau sangat meremehkan sekali ilmu silat itu? Apakah kau...?"
Dengan sikap kaget Hek-eng-cu melangkah mundur setindak.
"Huh...Yang Kun! kau sudah tahu siapa aku?"
LbIis berkerudung itu berseru kaget. Chin Yang Kun mencoba tersenyum agar lebih memantapkan hatinya.
"Sudab kukatakan tadi bahwa pembantumu yang lihai itu telah kubereskan nyawanya dan sebelum napasnya terhenti, ia sempat bercerita panjang lebar tentang dirimu. Dia juga telah membeberkan apa saja yang telah kau perbuat selama ini demi untuk mencapai cita citamu yang besar itu, termasuk diantaranya pemusnahan keluarga Chin sendiri. Nah... apakah kau sekarang masih meragukan juga semua kata-kataku tadi? Apakah kau masih juga tidak percaya kalau pembantumu itu telah kubunuh?"
"Huh! Aku tetap belum percaya! kau cuma ingin membakar kemarahanku saja!"
Hek-eng-cu yang sudah mulai termakan oleh gosokan Chin Yang Kun itu mencoba untuk berlaku tenang.
Tapi Chin Yang Kun yang merasa telah mendapatkan angin itu segera menceritakan semua peristiwa di gubug tadi, sehingga mau tidak mau Hek-eng-cu terpaksa mempercayainya.
Apa lagi ketika Chin Yang Kun menyebut nyebut tentang kakek tua pengasuhnya itu, Hek-eng-cu semakin merasa terpukul hatinya.
"Dan... tahukah kau, apa yang kupergunakan untuk membunuh Hek-mou-sai Wan It? Tidak lain adalah... Hok-te Ciang-hoat juga!"
Chin Yang Kun yang merasa bahwa kata-katanya mulai dapat mempengaruhi perasaan lawannya itu cepat-cepat memberi pukulan lagi dengan kata-katanya yang menyakitkan.
Namun dalam keadaan tertekan itu Hek-eng-cu justru menjadi tenang malah.
Karena semua belangnya telah diketahui oleh lawannya, maka iblis itu merasa tak perlu untuk menutup-nutupi lagi.
Dengan suara lantang iblis itu lalu menggeram.
"Baiklah! Aku memang tak ingin menutup-nutupinya lagi. Dengarlah...! Memang aku yang membasmi keluargamu! Itu kalau kau mau menganggap bahwa mereka adalah keluargamu juga!"
"Kalau aku mau? Apa maksudmu...?"
Chin Yang Kun mengerutkan keningnya.
"Sudahlah! kau tak perlu berpura-pura pula. kau bukan keturunan Chin. Engkau keturunan Liu Pang, musuh keluarga Chin!"
Hek-eng-cu membentak dengan suara keras untuk memancing kemarahan Chin Yang Kun.
Namun Chin Yang Kun tetap berusaha dengan keras pula untuk mengendalikan dirinya.
Pemuda itu sadar bahwa lawannya secara diam-diam juga sedang berusaha untuk membakar hatinya.
"Baiklah! Kalau memang demikian halnya kau mau apa? Bagiku, keturunan Chin atau bukan, sama saja! Aku tetap merasa berkewajiban untuk menuntut balas kepadamu! Dan...kukira sikapku ini masih tetap jauh lebih mulia serta lebih baik dari pada sikapmu yang berkhianat serta durhaka terhadap keluargamu sendiri itu!"
"Kurang ajar! kau ini anak kecil tahu apa? Heh...? Apa yang kau maksud dengan "mulia"
Itu? Dan apa pula yang kau artikan dengan istilah "durhaka"
Itu...? Bagi seorang besar yang bercita-cita tinggi dan berpandangan luas seperti aku, istilah "mulia"
Dan "durhaka"
Itu hanya dikaitkan pada "tujuan hidup"
Ini saja.
Siapapun juga yang mau berjuang demi terlaksananya cita-cita itu, dialah yang disebut mulia.
Tapi sebaliknya, siapa saja yang berkhianat terhadap cita-cita itu, dialah yang disebut durhaka!
Dan orang yang bersikap durhaka itu patut untuk dibasmi serta disingkirkan, siapapun juga mereka itu!
Tak perduli mereka itu kawan atau keluarga sendiri..."
"Hmh... manusia berbudi rendah! Kalau begitu engkau ini tak ada bedanya dengan seekor binatang buas, yang sanggup memangsa kawannya sendiri bila menginginkan sesuatu..."
Chin Yang Kun menggeram dengan hebat.
"...Jadi karena ayah serta pamanku itu kau anggap durhaka maka mereka lalu kau bunuh? Begitu?"
Hek-eng-cu tertawa lirih.
"Benar, anak bodoh! Ketika malam itu kutemui ayah dan pamanmu di rumah pendekar Li, langsung saja kuminta Cap Kerajaan itu kepada mereka, seperti juga aku meminta potongan peta rahasia harta karun kepada Pendekar Li dan kawan-kawannya. Karena ayahmu tidak memberikannya seperti juga Pendekar Li yang tak mau memberikan potongan petanya, maka aku lalu mengamuk. Ayah dan pamanmu dapat kubunuh mati, tapi sebaliknya Pendekar Li dan kawan-kawannya dapat melarikan diri melalui pintu rahasia. Karena kedua buah benda itu tak dapat kuperoleh semua, maka aku lalu menjadi marah dan penasaran. Siapa saja yang kujumpai di dalam rumah itu kubunuh mati semuanya..."
"Manusia keji! Siapa sebenarnya kau ini...? Aku hampir mengenal semua keluarga Chin di Kotaraja, tapi kenapa aku seperti belum pernah melihatmu? Ayoh, lepaskan kerudungmu itu dan bertanding secara jantan denganku!"
Chin Yang Kun menantang.
"Oh... jadi kakek pengasuhmu itu belum sempat memberitahukan siapa sebenarnya aku ini kepadamu, heh? Hah-hah-ha-ha-ha, sungguh malang benar orang tua itu! Dua hari yang lalu aku dan Wan It kemari. Kutemukan orang tua itu di pondok ini bersama gadis berkipas besi itu. Lantas kuperintahkan kepada Wan It untuk menangkap mereka. Mereka berusaha untuk melarikan diri keluar lembah, tapi dengan mudah Wan It mencegat mereka di mulut lembah itu. Akhirnya gadis itu dapat kutangkap sementara kakek tua itu terjatuh ke dalam jurang, hiah-hah-ha-ha... Hmmm, kusangka kakek berpenyakitan itu sudah mati terbanting di dasar jurang, eh... tak tahunya masih hidup dan dapat kau temukan. Sungguh ceroboh benar aku ini!"
Chin Yang Kun menatap wajah di balik kerudung itu lekat lekat, tapi kegelapan malam ternyata tidak dapat membantunya untuk mengenali orang itu.
"Kalau begitu kaliankah yang merusakkan pohon cemara tua itu?"
Chin Yang Kun bertanya. Hek-eng-cu memiringkan kepalanya yang tertutup oleh topi dan kerudung itu.
"Eh! Apakah yang kau maksudkan adalah pohon cemara yang tumbang itu? Yah... kalau itu yang kau maksudkan, memang akulah yang menumbangkannya. Habis, pagi tadi gadis itu bermaksud melarikan diri dan bersembunyi di puncak pohon itu, maka aku terpaksa menumbangkannya..."
Orang itu berkata dengan tenang.
"Hmm... bukan itu yang kumaksudkan! Yang kumaksudkan adalah bekas guci tanah liat yang merusakkan kulit pohon itu..."
Sebenarnya Chin Yung Kun hendak mengatakan...
guci tanah liat yang merusakkan guratan namanya itu tapi karena takut dikatakan terlalu kekanak-kanakan, maka ia lalu batal menyebutkannya.
Pemuda itu cuma mengatakan tentang kulit pohon itu saja yang rusak.
"Bekas guci tanah liat? Huh...siapa yang membawa guci tanah liat ke tempat ini?"
Hek-eng-cu malah kaget mendengar perkataan Chin Yang Kun itu.
Kepalanya menoleh kesana kemari, seolah-olah ingin memastikan bahwa Chin Yang Kun hanya sendirian datang ke tempat itu.
Sebaliknya Chin Yang Kun juga merasa heran melihat sikap Hek-eng-cu yang aneh itu.
Tetapi karena tidak bisa menebak hati lawannya, pemuda itu juga diam saja.
"Guci tanah liat... guci tanah liat...,"
Iblis berkerudung itu bergumam terus seperti orang linglung.
"Eh, apakah guci itu berwarna putih kekuningan seperti warna... gading gajah?"
"Ya...! Memangnya ada apa?"
Chin Yang Kun mengangguk dengaa kening berkerut.
"Ah, setan itu lagi-lagi datang membayangiku...!"
Hek-eng-cu menggeram.
"Siapa? Apa yang kau katakan?"
Chin Yang Kun yang tidak begitu mendengar ucapan lawannya itu menegaskan.
Tapi Hek-eng-cu diam saja tak menjawab.
Iblis berkerudung itu kembali termangu-mangu di tempatnya.
Berita tentang guci yang terbuat dari tanah liat itu tampaknya benar-benar sangat mengganggu ketenangannya.
Begitu risaunya hatinya sehingga beberapa kali mulutnya berdesah panjang pendek.
Malahan di lain saat tanpa mempedulikan Chin Yang Kun lagi, ia berteriak ke segala penjuru dengan tenaga dalamnya yang dahsyat.
"Penyanyi Sinting...! Hayo, keluarlah kalau kau memang ingin bermain-main denganku! Jangan selalu bermain kucing-kucingan saja...!"
"Penyanyi Sinting? Siapakah yang dimaksudkan itu?"
Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hatinya.
Teriakan Hek-eng-cu itu bergema di dalam Iembag seperti gemuruhnya halilintar yang hendak menyingkirkan kelamnya malam di saat itu.
Dan diam-diam Chin Yang Kun bergetar juga hatinya menyaksikan kedahsyatan ilmu lawannya.
Lagi lagi pemuda itu menjadi ragu-ragu akan kemampuannya sendiri.
"Persetan! Aku tidak takut mati!"
Chin Yang Kun menggeram di dalam hatinya.
Pemuda itu melangkah ke depan.
Tapi sebelum mulutnya membuka suara, tiba-tiba kesunyian malam itu dikuakkan oleh suara nyanyian yang seolah olah juga bergema di seluruh lembah itu.
Malahan suara nyanyian itu diiringi pula dengan suara harpa yang melengking-lengking tinggi.
Chin Yang Kun terkejut di dalam hati.
Dengan ketajaman serta ketinggian Liong-cu I-kangnya, ternyata dia tak bisa menemukan sumber atau asal dari suara itu.
Suara itu bergema dimana-mana.
Dari pada memegang sampai penuhnya Lebih baik berhenti pada saatnya.
Menempa untuk mencapai tajamnya Tidak akan tahan lama, Ruangan penuh dengan emas dan permata Tak mungkin bisa dijaga, Angkuh karena kemewahan dan kemuliaan.
Dengan sendirinya akan membawa bencana.
Tugas selesai, nama menyusul, diri mundur Demikian jalan yang ditempuh Langit!
"Ahh...
kalau tak salah syair ini diambil dari kitab To-tik king bagian ke sembilan.
Dan kelihatannya syair ini memang ditujukan kepada Hek-eng-cu,"
Chin Yang Kun yang sejak kecil juga diajari menulis dan membaca kesusasteraan lama itu berkata di dalam hatinya.
Dilain pihak Hek-eng-cu tampaknya juga merasakan sindiran itu.
Buktinya dengan kemarahan yang meluap-luap tiba-tiba saja tubuhnya melesat bagai kilat ke depan, menuju ke gerumbul perdu di belakang rumah.
Kedua belah telapak tangannya yang penuh berisi Pat-hong sinkang (Tenaga Sakti Delapan Penjuru) itu tampak mendorong ke depan dengan kekuatan penuh!
Tapi hampir bersamaan pula dengan gerakan Hek-eng-cu tersebut, Chin Yang Kun juga melenting pula ke depan dengan tangkasnya, mengejar Hek-eng-cu!
Lengan kanan pemuda itu memanjang hampir dua kali lipat panjangnya ke arah punggung iblis berkerudung itu.
Dalam kagetnya pemuda itu mengira bahwa Hek-eng-cu hendak melarikan diri.
"Bangsat, jangan lari kau...!"
"Kroooosak... broooollll!"
"Srrrt...! Plaaaak!"
Bagaikan dihantam oleh angin puting beliung yang maha dahsyat gerumbul perdu di belakang rumah itu tiba-tiba meledak berhamburan ke sekelilingnya!
Tempat yang semula rimbun dan gelap itu mendadak berubah menjadi terang dan lapang.
Namun demikian si penyanyi yang dikira bersembunyi di tempat itu ternyata tidak berada di sana.
Tempat tersebut kelihatan kosong tidak ada apa-apanya.
Sementara itu, seperti tidak pernah terjadi apa apa, suara nyanyian itu terus saja mengalun memenuhi udara di dalam Iembah itu.
Suara petikan harpanyapun juga masih terus melengking-lengking menggelitik hati, seolah-olah mengajak para pendengamya untuk ikut menciptakan kedamaian di atas dunia ini.
Sebaliknya jari-jari tangan Chin Yang Kun yang terulur ke punggung Hek-eng-cu dengan tepat mencengkeram mantel pusaka yang dikenakan oleh iblis berkerudung tersebut.
Lalu dengan dilandasi tenaga sakti Liong-cu-l-kangnya yang maha hebat Chin Yang Kun menyendalnya (menariknya) ke belakang kembali.
Entah karena disebabkan oleh kuatnya tarikan Chin Yang Kun, atau entah karena disebabkan oleh kendornya tali pengikat mantel pusaka itu sendiri, tapi yang terang mantel pusaka tahan senjata itu tiba-tiba terlepas dari tubuh Hek-eng-cu.
Malah saking kuatnya tarikan itu, menyebabkan tubuh Hek-eng-cu terpelanting dan hampir saja terbanting ke atas tanah.
Dapat dibayangkan betapa marahnya orang berkerudung hitam tersebut.
Mata di balik kerudung itu bagaikan menyala di dalam kegelapan.
Selanjutnya, seperti seekor harimau kelaparan tubuhnya melesat ke depan, menerkam tubuh Chin Yang Kun!
Dengan ilmu Bu-eng Hwe-tengnya yang sangat termashur itu gerakannya hampir tidak bisa diikuti dengan mata biasa.
Tahu-tahu jari-jari tangannya yang penuh dengan tenaga sakti Pat hong sinkang itu telah berada di depan mata Chin Yang Kun.
"Keparattt...! Kembalikan mantel itu kepadaku!"
Lengkingnya buas.
Untunglah sejak semula Chin Yang Kun sudah melipat-gandakan kewaspadaannya!
Apalagi jauh-jauh sebelumnya pemuda itu telah berjaga-jaga terhadap ginkang Hek-eng-cu yang hebat tiada tara itu.
Maka begitu iblis berkerudung itu bergerak, Chin Yang Kun segera menyongsongnya dengan jurus Tiang Bendera Meruntuhkan Panah Lo Biauw, yaitu salah sebuah jurus dari Hok-te To-hoat.
Mantel pusaka yang masih terpegang di dalam tangannya itu ia sabetkan ke arah lawannya.
Dan oleh karena gerakan tersebut ditunjang oleh tenaga sakti Liong-cu I-kang yang maha dahsyat, maka berkelebatnya mantel itu sampai menimbulkan suara mengaung yang sangat keras.
"Dhukk... srrrt!"
Tapi ternyata sekali ini Chin Yang Kun benar-benar terkena batunya.
Sebagai seorang keturunan Chin, tentu saja Hek-eng-cu juga mendalami ilmu Hok-te To-hoat pula.
Melihat Chin Yang Kun menyerang dengan jurus Tiang Bendera Meruntuhkan Panah Lo Biauw, dengan mudah ia bisa menebak arah dan cara-cara mengatasinya.
Kedua tangannya yang terjulur ke depan itu segera ditekuk ke bawah, kemudian ditarik sedikit ke samping, sehingga ayunan mantel pusaka itu otomatis tidak mengenai lengannya.
Setelah itu dengan kecepatan luar biasa jari-jarinya mengejar dan menjepit mantel yang baru saja lewat tersebut.
Dan sekejap saja ujung mantel itu telah berada di dalam genggamannya.
Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu lalu memasang kuda-kuda.
Keduanya lantas saling menarik ujungnya.
Dan masing-masing segera mengerahkan tenaga saktinya.
Hek-eng-cu mengerahkan Pat-hong sinkangnya, sementara Chin Yang Kun mengerahkan Liong-cu I-kangnya!
Masing-masing merupakan tenaga sakti yang jarang ada bandingannya di dunia persilatan, dan masing-masing juga sudah boleh dikatakan hampir mencapai kesempurnaan dalam mempelajarinya.
Untunglah yang menjadi ajang adu tenaga itu juga bukan benda biasa.
Mantel tersebut adalah sebuah mantel pusaka yang kebal segala macam senjata.
Oleh karena itu kekuatannyapun juga luar biasa pula.
Meskipun kedua ujungnya telah ditarik oleh kekuatan yang maha dahsyat, ternyata mantel itu sedikitpun tidak mengalami kerusakan.
Masing-masing tidak mau mengalah.
Perlahan-lahan kedua kaki mereka amblas ke dalam tanah.
Uap atau asap tipis tampak mengepul di atas ubun-ubun mereka, suatu tanda bahwa mereka benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan mereka.
Tiga puluh jeruji berpusat pada satu poros, Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Dari tanah liat terbuat jambangan, Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Lobang dibobol untuk pintu dan jendela ruangan.
Pada tempat yang kosong terletak gunanya.
Maka, Ia diadakan untuk menjadi pegangan, Ia dikosongkan supaya berguna.
Dalam keadaan yang sangat menegangkan itu lagi-lagi suara nyanyian itu mengganggu pemusatan pikiran mereka.
Kini si Penyanyi itu melagukan syair yang dipetik dari kitab To-tik-king bagian yang ke sebelas.
Suara nyanyian itu terdengar lebih renyah dan mantap seperti suara seorang guru sekolah di depan murid-muridnya.
Yang sangat mengherankan, dengan tingkat ilmu kepandaian mereka yang sangat tinggi itu Hek-eng-cu maupun Chin Yang Kun sama sekali tak bisa melepaskan diri dari pengaruh suara nyanyian yang mengalun riang itu.
Semakin mereka itu berusaha menutup pikiran dan perasaan mereka, nada dan kata-kata di dalam lagu itu semakin menggelitik hati mereka malah.
Apalagi ketika si Penyanyi itu selalu mengulang-ulang lagu tersebut, pemusatan pikiran mereka semakin menjadi runyam dan perhatian mereka semakin menjadi terpecah-pecah pula.
"Bangsat keparat...!"
Hek-eng-cu mengumpat-umpat di dalam hati.
Memang dapat dimaklumi bila iblis berkerudung itu menjadi jengkel dan mendongkol.
Pada mula pertama dari adu tenaga dalam memang ia bisa mengimbangi kekuatan Chin Yang Kun.
api beberapa saat kemudian Pat-hong sinkang yang ia andalkan itu ternyata tak kuasa membendung derasnya arus tenaga sakti Liong-cu I-kang milik Chin Yang Kun yang dahsyat.
Sementara daya tahan Pat-hong sinkangnya semakin menurun, kekuatan Liong-cu I-kang lawannya ternyata justru semakin berkembang dan bertambah terus seperti tiada habis-habisnya.
"Gila! Sungguh gilaaaa...!"
Lblis berkerudung itu berteriak.
Terpaksa ujung mantel yang dipegangnya itu dilepaskannya lagi ke tangan Chin Yang Kun.
Kemudian masih dengan mengumpat-umpat Hek-eng-cu bersiap siaga kembali menghadapi Chin Yang Kun.
Sementara itu suara nyanyian yang sangat mengganggu itupun telah berhenti pula.
Dan sebagai gantinya, terdengar suara tertawa terkekeh kekeh yang ditujukan kepada Hek-eng-cu.
"Hi-hi-hi...! Hek-eng-cu, anak malang...! Tak usah kau bersikeras untuk merebut kembali mantel pusaka itu, karena hal itu akan sia-sia belaka. Telah disebutkan di dalam Buku Rahasia, bahwa kau akan jatuh di tangan keluargamu sendiri hari ini..."
"Buku Rahasia... Buku Rahasia...! kau selalu saja menyebut tentang Buku Rahasia itu! Huh! Siapa kau ini sebenarnya? Ayoh... keluarlah!"
Hek-eng-cu menjerit marah. Tapi si Penyanyi itu tetap saja tertawa terkekeh-kekeh.
"Kukatakan namakupun kau takkan mengenalnya, hi-hi-hihi... dan tak seorangpun di dunia ini yang mengenalku, karena aku baru saja keluar dari tempatku bertapa selama seratus tahun, hi-hi-hi-hiii...!"
"Apa...? Seratus tahun?"
Tanpa terasa Chin Yang Kun berdesah.
"Hihi... kalian tak percaya? Akupun dulu juga tak percaya kepadaku sendiri pula. Dan aku mulai bertapa pada umur delapan belas tahun. Kepalaku gundul... oleh karena itu aku memilih tempat bertapa di sebuah gua di tepi Telaga Tai-ouw yang sejuk. Tapi ketika aku selesai dengan tapaku, ternyata aku tak bisa keluar lagi dari gua itu. Mulut gua tempat aku masuk dulu ternyata sudah tertutup oleh akar-akar pohon dan semak-belukar. Malah persis di depan mulut gua itu telah tumbuh pohon pek besar sekali, yang batang pohonnya sepelukan dua orang lelaki dewasa besarnya. Terpaksa aku membuat liang seperti seekor tikus untuk keluar dari gua itu. Kemudian aku sudah kembali lagi ke dunia ramai. Tapi aku menjadi kaget ketika melihat bayanganku sendiri di Telaga Tai-ouw. Mukaku sudah berkeriput, rambutkupun telah putih semua. Paras dan kepalaku yang dulu tampan dan gundul itu kini tak ubahnya seperti seekor anjing berbulu panjang dengan jenggot dan rambut yang melambai-lambai sampai di tanah ini, hi-hi-hiii..."
"Diaaaam...!"
Sekali lagi Hek-eng-cu menjerit kesal karena tak tahan mendengar suara ketawa yang terkekeh kekeh itu.
"Aku tak butuh cerita khayalanmu! Yang kuinginkan adalah... nyawamu! ayoh... kau keluarlah! Kita bertanding mengadu kepandaian!"
"Bertanding dengan aku? Hi-hi-hi-hiii...itu terlalu berat bagimu. Di dalam Buku Rahasia, namamu cuma tercantum di urutan yang ke tujuh pada Daftar Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini. ltupun kau harus bersaing dengan anak muda di depanmu itu, karena pada urutan yang ke tujuh tersebut tercantum tiga buah nama yang memiliki kepandaian setarap, yaitu Toat-beng-jin, kau dan pemuda itu!"
"Omong kosong...! Omong kosong dengan Buku Rahasiamu yang menyesatkan itu! Aku adalah orang yang tak terkalahkan! Dengan ilmu warisan Bit-bo-ong almarhum, kesaktianku tiada yang bisa menandingi lagi..."
Hek-eng-cu berteriak.
"Sudahlah! kau jangan berteriak-teriak begitu! Apalagi menjerit-jerit menyombongkan diri sebagai orang yang tak terkalahkan di dunia persilatan seperti itu, hi-hi-hiii... Apakah kau lupa, bahwa kau selama ini tak pernah menang melawan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai yang selalu kau curangi dan kau tipu itu? Hi-hi-hiiii... padahal pendekar ternama itu baru yang nomer lima di dalam Daftar Tokoh tokoh Persilatan Terkemuka itu."
"Hong-gi-hiap Souw Thian Hai... nomer lima?"
Chin Yang Kun berdesah di dalam hatinya, seolah-olah tak percaya bahwa pendekar sakti yang ia kagumi kesaktiannya itu Cuma mendapatkan nomer yang kelima.
"Ahh, tampaknya orang ini memang benar-benar hanya omong kosong belaka, biarpun kesaktiannya memang tidak meragukan lagi."
Sementara itu, begitu diingatkan pada musuh besarnya, Hong-gi-hiap Souw Thian Hai, Hek-eng-cu semakin menjadi berang dan penasaran.
"Apa? Hong-gi-hiap Souw Thian Hai? Kurang ajar...! Ayoh, bawalah dia ke sini! Akan kuhancurkan dia! Akan kulumatkan tubuhnya!"
Teriaknya setinggi langit. Tapi lagi-lagi si Penyanyi itu cuma tertawa terkekeh-kekeh, tanpa mau menampakkan dirinya sedikitpun.
"Sudahlah! Jangan terlalu besar kepala! Lawanlah dulu pemuda di hadapanmu itu untuk memperebutkan nomer yang ke tujuh. setelah itu baru kau memikirkan untuk menantang tokoh yang duduk pada nomer di atasmu!"
Si Penyanyi itu memperdengarkan lagi suaranya.
"Persetan dengan urutan nomermu yang tak masuk di akal itu! Tapi...baiklah, akan kutunjukkan kepadamu sekarang, bahwa...Buku Brengsekmu...itu..."
"Buku Rahasia...!"
Si Penyanyi itu membetulkan.
"Peduli amat! Aku bebas menyebutnya apa saja! Buku Gila, kek! Buku Brengsek, kek! Pokoknya aku akan menunjukkan bahwa tulisan itu adalah salah dan ngawur! AkuIah sebenarnya orang yang nomer satu di dunia ini! Hmmh...!"
"Baik! Sekarang buktikanlah dulu kata-katamu itu! Kalau kau bisa menyingkirkan pemuda itu, kau boleh bertanding dengan tokoh yang berada diurutan ke enam nanti."
"Siapa yang berada diurutan ke enam menurut Buku Brengsekmu itu, heh?"
"Tokoh yang berada di urutan nomer enam kebetulan juga tidak cuma seorang saja. Ada dua tokoh sakti yang kebetulan mempunyai kepandaian seimbang pada tingkatan itu. Mereka adalah Kam Song Ki atau Kam Lojin dan... Lo-si-ong, muridku sendiri!"
"Lo-si-ong? Siapakah Lo-si-ong itu? Apakah dia itu bekas ketua lm-yang-kauw yang buta matanya karena pibu dengan Put-chien-kang Cin-jin dulu itu?"
Hek-eng-cu menggeram keheranan.
"Ya, benar. Sekarang orang tua itu telah menjadi muridku."
"Huh... jadi menurut Buku Brengsekmu itu dia menjadi tokoh yang ke enam di dunia persilatan saat ini! Di mana dia itu sekarang?"
"Dia... berada di belakangmu!"
Si penyanyi itu menjawab, kemudian tertawa lagi terkekeh-kekeh.
Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuh mereka.
Dan dengan wajah kaget mereka menatap seorang lelaki tua, yang secara tiba-tiba telah berdiri di tengah-tengah pintu rumah, di mana Hek-eng-cu tadi keluar.
Orang tua yang usianya tentu lebih dari tujuh puluhan tahun itu berdiri menggandeng lengan seorang gadis, yang tidak lain adalah Tiau Li lng.
Di atas pundak orang tua itu tergantung sebuah Khim atau harpa yang bertali banyak itu.
"Li lng...,"
Chin Yang Kun menegur gadis itu perlahan.
Tapi Tiau Li Ing tidak mempedulikan teguran itu.
Seperti orang yang belum pernah saling berkenalan gadis itu malah membuang mukanya ke tempat lain.
Tapi sekilas Chin Yang Kun dapat menyaksikan setetes air mata yang meloncat keluar dari mata gadis itu.
"Hmmm... kenapa dengan Tiau Li Ing itu?"
Chin Yang Kun bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Eh... apakah dia ini... pemuda yang kau ceritakan itu?"
Tiba-tiba orang tua itu bertanya kepada Tiau Li Ing.
"Be-benar... kek!"
Gadis itu menjawab dengan suara berbisik.
"Kalau begitu, jangan kau hiraukan dia! Sekarang katakan saja kepadaku, di manakah orang berkerudung itu?"
"Dia... dia... ohh! Dia... berada kira-kira sepuluh langkah di depan kita. Kakek harap berhati-hati terhadap dia. Ginkangnya hebat sekali!"
Tiau Li Ing, menjawab dengan suara sendu. Lo-si-ong atau orang tua itu tertawa halus.
"Jangan khawatir! Dia itu bukan lawanku. kau mendengar kata-kata guruku tadi bukan? Aku masih berada satu tingkat di atasnya.Dan yang jelas orang berkerudung itu akan bertanding Iebih dahulu dengan Chin Yang Kun, bukan dengan aku."
Sementara itu Hek-eng-cu sudah tidak dapat lagi mengendalikan dirinya.
Melihat tawanannya telah dibebaskan oleh Lo-si-ong, iblis berkerudung itu segera mengeluarkan dua bilah pisau panjangnya yang ampuh itu.
Meskipun salah satu dari ciri kebesarannya telah berada di tangan Chin Yang Kun, tapi perbawa pisau yang bersinar kebiruan itu masih tetap menggiriskan hati juga.
Di dalam keremangan malam pisau itu tampak berkilat-kilat seperti hidup.
Tetapi ketika iblis itu hendak menyerang Lo-si-ong, dengan cepat Chin Yang Kun menghadangnya.
Selain khawatir terhadap keselamatan Tiau Li lng, pemuda itu juga takut kehilangan kesempatan bertanding dan membunuh musuh besarnya itu.
Sambil mengenakan mantel rampasannya tadi, Chin Yang Kun bertolak pinggang di depan Hek-eng-cu.
"Pembunuh keji! Jangan kau layani orang tua itu! Hadapilah aku dulu, baru nanti yang lain-lainnya...!"
"Hmmmh...! Bocah tak tahu diri! Minggirlah...! kau bukan lawan yang setimpal buatku. Hok-te To-hoat maupun Hok-te Ciang-hoat yang kau pelajari itu takkan berguna untuk menghadapi aku. Jangan percaya pada Buku Brengsek atau pada ramalan Penyanyi Sinting itu...! Nah... cepatlah kau menyingkir!"
Hek-eng-cu membentak dengan suara nyaring.
Iblis berkerudung itu sengaja mengisi suaranya dengan Pat-hong-sinkangnya yang mempunyai kekuatan sihir itu, sehingga suaranya menjadi nyaring sekali.
Begitu nyaring suara bentakannya itu sehingga suara itu seakan-akan dapat menembus dada Chin Yang Kun dan bergema atau berkumandang di dalam sudut hatinya.
Untuk sesaat pemuda itu seperti tidak bisa menolak perintah lawannya.
Perlahan-lahan kakinya terangkat untuk melangkah pergi dari tempat itu.
Tapi sekejap kemudian Liong-cu I-kangnya yang maha hebat itu segera bergolak untuk menyadarkannya kembali dari pengaruh sihir tersebut.
Kaki yang telah terangkat itu cepat-cepat diturunkannya kembali.
Dan ternyata keadaan itu sungguh tepat sekali datangnya.
Terlambat sedetik saja, kemungkinan besar nyawa Chin Yang Kun sudah melayang ke alam baka.
Karena seperti kebiasaan Hek-eng-cu yang menyerang lawannya selagi mereka terpengaruh oleh kekuatan sihirnya, tiba-tiba saja kedua bilah pisaunya telah berkelebat menyambar leher dan ulu hati Chin Yang Kun!
Untunglah kesadaran itu segera memberi kesempatan bagi Chin Yang Kun untuk menghindari serangan berbahaya tersebut.
Sambil menggeser tubuhnya ke samping pemuda itu menghantam ke depan dalam jurus Raja Chin Miu Mematahkan Kim-pai.
Kedua sisi tangan pemuda itu menebang pergelangan tangan Hek-eng-cu!
Sekejap Hek-eng-cu kaget juga menyaksikan lawannya bisa melepaskan diri dari pengaruh sihirnya tapi melihat pemuda itu menyerangnya dengan ilmu silat Hok-te Ciang-hoat, diam-diam mulutnya tertawa.
"Bocah ini benar-benar tidak bisa melihat kenyataan. Masakan dia masih juga berani melawan aku dengan ilmu Hok-te Ciang-hoat? Sungguh kasihan benar...!"
Karena iblis berkerudung itu juga mahir memainkan ilmu silat tersebut, maka dengan gampang serangan itu dapat ia elakkan.
Malah untuk selanjutnya iblis itu juga tahu, gerakan apa yang hendak dilakukan oleh Chin Yang Kun.
"Hei! Siapa mengajari kau melakukan gerakan Panglima Yi Po Mengatur Barisan seperti itu? Kenapa kakimu kau tekuk terlebih dulu, heh?"
Suatu saat Hek-eng-cu menegur, ketika Chin Yang Kun melakukan jurus Panglima Yi Po Mengatur Barisan yang diajarkan oleh Nenek Buyutnya.
Chin Yang Kun yang merasa serangannya selalu mengenai tempat kosong menggeram penasaran.
"Jangan menggurui aku! Justeru gerakan seperti yang kulakukan itulah yang betul. Kalau kau tak percaya, marilah kita mengadu ilmu silat Hok-te Ciang-hoat kita...!"
"Baik!"
Hek-eng-cu tertawa mencemooh, lalu menyimpan kembali kedua bilah pisaunya.
Demikianlah, kedua orang she Chin itu segera bertarung dengan ilmu keluarga mereka sendiri, yaitu Hok-te Ciang-hoat.
Karena masing-masing sudah hapal dan mendalami ilmu silat tersebut sampai ke dasarnya, maka masing-masing seperti sudah tahu apa yang hendak dilakukan oleh lawan mereka.
Malahan pada suatu saat keduanya mengeluarkan jurus yang sama pula, sehingga benturan-benturan yang sangat keras tidak bisa dielakkan lagi.Lo-si-ong dan Tiau Li Ing menyaksikan pertempuran tersebut dengan hati tegang.
Tiau Li Ing yang mengetahui betapa hebatnya kesaktian Hek-eng-cu itu menjadi gelisah sekali terhadap keselamatan Chin Yang Kun.
Meskipun gadis itu sedang marah dan kecewa kepada Chin Yang Kun, namun tak dapat dipungkiri hatinya masih terpaut kepada pemuda itu.
Sebaliknya, Lo-si-ong yang buta itu, meskipun tidak dapat melihat langsung pertempuran mereka, tetapi dengan indera tubuhnya yang sudah sangat terlatih, ia bisa menduga-duga apa yang telah terjadi.
"Tenanglah, cucuku...! kau tak perlu mengkhawatirkan nasib temanmu itu. Biarpun mereka bertanding dengan ilmu yang sama, tapi aku dapat merasakan perbedaan perbedaannya."
"Berbeda...? Apanya yang berbeda, kek? Ilmu silat mereka sama, jurus-jurus yang mereka keluarkanpun sama pula. Kalau toh berbeda...itu cuma karena Hek-eng-cu Iebih tangkas dan lebih mendalami ilmu tersebut!"
Tiau Li lng bertanya dengan kening berkerut. Lo-si-ong tertawa perlahan, sehingga mulutnya yang ompong tak bergigi lagi itu terbuka dengan jelas.
"Kau keliru, cucuku. Kalau kau katakan bahwa Hek-eng-cu itu lebih cepat dan gesit gerakannya, itu memang benar. Siapapun sudah tahu bahwa Hek-eng-cu mempunyai ginkang yang hebat sekali. Tapi kalau kau katakan bahwa Hek-eng-cu itu lebih dalam ilmunya dari pada Chin Yang Kun... hmm, kau salah! Yang terjadi justeru sebaliknya malah! Meskipun mereka melakukan gerakan yang sama, tetapi apa yang dilakukan oleh Chin Yang Kun ternyata lebih baik dan lebih bermutu dari pada Hek-eng-cu..."
"Lebih baik dan lebih bermutu? Apanya yang lebih baik? Kulihat mereka sama-sama tangkasnya..."
Sekali lagi Tiau Li Ing memotong perkataan Lo-si-ong dengan wajah tak mengerti. Tangan Lo-si-ong terangkat, lalu menepuk-nepuk pundak Tiau Li Ing.
"Li Ing, memang masih sulit bagimu untuk melihat perbedaan-perbedaan itu. Tapi suatu saat kau pun akan bisa juga melihatnya, hanya saja mulai sekarang kau harus belajar lebih giat lagi."
Tiba-tiba wajah Tiau Li Ing menjadi murung sekali.
"Ohh! Tidak...! Aku tidak berminat lagi untuk belajar silat..."
Desahnya seperti berputus-asa. Tapi Lo-si-ong segera menutup mulutnya.
"Ssstt! Lihatlah...!"
Orang tua itu berbisik sambil memasang telinganya dengan sungguh-sungguh.
"Tampaknya mereka sama-sama mengeluarkan jurus yang sama, sehingga kedua kepalan mereka saIing beradu satu sama lain. Tapi karena gerakan Chin Yang Kun lebih baik dan lebih betul, maka jurus yang dilakukan oleh pemuda itu lebih menampakkan hasilnya dari pada jurus yang dilakukan oleh Hek-eng-cu... Hei, lihat! Benar bukan perkataanku? Lihat... Hek-eng-cu terjatuh kesakitan."
Orang tua itu berseru gembira.
Tiau Li lng memandang ke arah pertempuran.
Gadis itu benar-benar melihat Hek-eng-cu terpelanting karena beradu kepalan dengan Chin Yang Kun!
Namun demikian dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang maha hebat, iblis berkerudung itu cepat-cepat melenting kembali, sehingga tubuhnya tidak jadi menyentuh tanah.
Meskipun begitu iblis itu telah merasa malu bukan main.
"Gila...!"
Hek-eng-cu mengumpat.
"Darimana kau mempelajari ilmu silat itu? Mengapa ilmu silat itu sudah tidak sesuai lagi dengan aslinya?"
Chin Yang Kun tersenyum puas melihat keberhasilannya. Dan di dalam hati pemuda itu semakin percaya kepada nenek buyutnya yang telah tiada.
"Hei? Siapa bilang ilmu silat Hok-te Ciang-hoatku tadi sudah tidak sesuai lagi dengan aslinya? Hmmh... mengapa sebagai seorang ahli kau tidak bisa menilainya? Dari hasilnya saja setiap orang tentu bisa melihat, bahwa ilmu silatmu itulah yang telah menyimpang dari aslinya."
Pemuda itu menerangkan, lalu lanjutnya lagi.
"Ketahuilah...,! Jurus Menatap Lantai menyembah Raja tadi diciptakan oleh mendiang Raja Chin yang ke tiga, yaitu Raja Chin Luan. Dan jurus itu khusus diciptakan dan dipersiapkan oleh beliau untuk menghadapi Raja Chouw yang menduduki istana kerajaan Chin pada waktu itu. Ketika Baginda Raja Chin Luan diseret ke depan Raja Chouw dan dipaksa untuk berlutut didepan raja penakluk itu, Baginda Raja Chin Luan lalu mengeluarkan jurus Menatap Lantai Menyembah Raja itu. Dengan telapak tangan penuh Iweekang Baginda Raja Chin Luan menghantam lutut kiri Raja Chouw sehingga remuk! Oleh karenanya dalam jurus Menatap Lantai Menyembah Raja ini, tangan kanan kita bergerak dari atas ke bawah seperti layaknya sebuah kaki yang hendak memasang kuda-kuda. Dan karena bergerak seperti kaki, maka tumpuan tenaga kitapun terletak pada bahu, bukan dari pinggang... seperti yang kau lakukan tadi."
Pemuda itu menerangkan atau lebih tepatnya membuka rahasia jurus Menatap Lantai Menyembah Raja kepada Hek-eng-cu, seperti halnya dulu nenek buyutnya menerangkan hal tersebut kepadanya.
"Selain kau tadi salah dalam menyalurkan tenaga saktimu, gerakan tubuhmu juga masih terlalu tegak dan kurang membungkuk sedikit. Meskipun kepalamu sudah menunduk, tapi matamu masih dapat melihat aku sebagai lawanmu. Sehingga jurusmu tadi lebih tepat disebut Menatap Kaki Menghantam Lutut dari pada Menatap Lantai Menyembah Raja! Hmm...untunglah aku tadi tidak mengerahkan seluruh Iweekangku. Kalau aku tadi mengerahkan seluruh tenagaku, niscaya lenganmu sudah patah..."
Dapat dibayangkan betapa merahnya muka di balik kerudung hitam itu.
Namun karena perkataan lawannya itu memang terbukti dan masuk akal, maka iblis yang banyak akalnya itu tak bisa membantah atau menyanggahnya lagi.Dan untuk menutupi perasaan malunya, iblis itu segera mengerahkan tenaga sakti Pat-hong-sinkangnya.
Yang bergejolak di dalam benak iblis itu sekarang hanyalah membunuh mati pemuda yang telah membuatnya malu itu!
Perlahan-lahan tangan yang gemetar itu telah memegang sepasang pisaunya lagi.
"Bocah sombong...! Kini aku tak bisa mengampunimu lagi! kau bersiaplah! Pisauku ini akan mengerat tulang dan dagingmu, sepotong demi sepotong, sehingga darahmu akan terkuras habis dan tak bisa berdiri lagi..."
Asap tipis kehitam-hitaman mengepul di atas kepala Hek-eng-cu, suatu tanda bahwa iblis itu benar-benar telah mengerahkan seluruh kesaktiannya.
Oleh karena itu Chin Yang Kun juga tidak berani berlaku sembrono Iagi.
Pemuda itu tahu bahwa dirinya tak mungkin bisa melawan ginkang Hek-eng-cu yang tersohor itu.
Maka untuk menghadapi keIincahan dan kegesitan iblis itu, Chin Yang Kun segera membentengi tubuhnya dengan Liong-cu I-kangnya yang maha dahsyat itu pula.
Dan untuk membatasi gerak langkah lawannya yang cepat seperti angin itu Chin Yang Kun segera bersiap-siap untuk bertempur dalam jarak jauh.
"Sayang aku tak membawa senjata untuk melawan pisaunya. Hmm, tampaknya hari ini harus benar-benar mengerahkan seluruh kemampuanku."
Chin Yang Kun mengeluh di dalam hatinya.
"Hei! Kenapa kau tidak lekas-lekas mengeluarkan senjatamu? Jangan salahkan pisauku kaIau kau terluka atau tak bisa menahannya nanti...!"
Hek-eng-cu menggeram dan bersiap-siap menyerang.
"Kau mulailah! Aku memang tidak pernah membawa senjata..."
Chin Yang Kun menantang seraya membetulkan letak bungkusan pakaian yang terikat di atas pinggangnya.
"Kurang ajar...!"
Hek-eng-cu yang semakin merasa terhina itu menjerit dan menyerang dengan buasnya.
Bagaikan kilatan halilintar sepasang pisau itu berkelebat ke arah leher dan ulu hati Chin Yang Kun!
Sepintas lalu tangan yang tergenggam itu seperti tidak memegang apa-apa.
Itulah sebabnya ilmu silat yang sedang dikeluarkan oleh Hek-eng-cu ini mendapat sebutan Kim-Iiong Sin-kun atau Kepalan Sakti Naga Emas!
Dan pada zamannya Bit-bo-ong asli, iImu silat ini hampir tak pernah mendapatkan tandingan.
Melihat lawannya menggerakkan pisau ke arah leher dan ulu hatinya, Chin Yang Kun segera melangkah ke samping dua tindak.
Kemudian sambil meliukkan badannya ke depan, pemuda itu menotok ke arah tulang rusuk Hek-eng-cu bagian kiri bawah, yaitu pada jalan darah leng-siu-hiat.
Begitu serangannya gagal dan kemudian malah mendapatkan serangan balik dari lawannya, Hek-eng-cu buru buru menarik sepasang pisaunya.
Dengan cepat ujung sepatunya menotol ke tanah, sehingga tubuhnya melesat ke atas seperti burung meninggalkan sarangnya.
Ketika tubuhnya berada di atas Chin Yang Kun, iblis berkerudung itu kembali menyerang dengan kedua bilah pisaunya.
Kali ini yang diincar adalah ubun-ubun kepala Chin Yang Kun!
"Sungguh lihai...!"
Chin Yang Kun berdesah seraya menarik kembali tangannya, lalu bergeser setengah langkah lagi ke depan, sehingga serangan lawannya itu juga menemui tempat kosong pula.
"Hmmh...!"
Hek-eng-cu menggeram penasaran, lalu sebelum tubuh meluncur kembali ke atas tanah kakinya menendang ke arah punggung Chin Yang Kun.
Dengan tangkas Chin Yang Kun memutar badannya pula.
Siku tangan pemuda itu dengan cepat menghantam tumit Hek-eng-cu!
Dhuuuk!
Chin Yang Kun terdorong ke samping dan hampir jatuh tertelungkup.
Sebaliknya tubuh Hek-eng-cu yang berada di atas itu juga terpelanting dengan kuatnya, sehingga menghantam batang pohon yang-liu (cemara) yang tumbuh di dekat pintu rumah.
Lagi-lagi Iweekang Chin Yang Kun menunjukkan keunggulannya bila dibandingkan dengan Iweekang Hek-eng-cu!
Dan hal itu semakin membuat penasaran Hek-eng-cu!
"Anak gila!
Awas, kubunuh kau...!
Kubunuh kau...!"
Iblis berkerudung itu menjerit-jerit seraya menyerbu Chin Yang Kun kembali dengan ganasnya.
Dan pertempuran selanjutnya sungguh-sungguh dahsyat tidak terkira.
Tubuh Hek-eng-cu berkelebat kesana kemari dengan gesitnya seperti burung walet menyambar mangsanya, sementara Chin Yang Kun yang telah membentengi tubuhnya dengan Liong-cu I-kang itu tampak bergerak lamban namun pertahanannya kelihatan kokoh dan rapat sekali.
Sepuluh jurus.
Dua puluh jurus.
Dan akhirnya tiga puluh juruspun telah berlalu.
Hek-eng-cu benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan dan kesaktiannya.
Semua ilmu peninggalan Bit-bo-ong yang dahsyat itu ia keluarkan semuanya, sehingga tubuh iblis berkerudung itu bergerak bagaikan badai angin yang hendak melumatkan tubuh Chin Yang Kun.
Sepasang pisau pusaka di tangan Hek-eng-cu, yang mempunyai perbawa mengerikan karena telah banyak meminum darah manusia itu, tampak berkelebatan memenuhi arena.
Pisau itu tampak berkilat-kilat di keremangan malam, memburu serta mengejar Chin Yang Kun kemanapun pemuda itu pergi, seolah-olah pisau tersebut memang bernyawa iblis, yang haus akan kehangatan darah Chin Yang Kun.
Memang sungguh berat lagi Chin Yang Kun sekali ini.
Meskipun sudah menguras seluruh kemampuan dan kesaktian yang diperolehnya selama ini, pemuda itu masih tetap saja kewaIahan menghadapi kebuasan ilmu lawannya.
Hok-te Ciang-hoat yang tadi sempat membuat malu Hek-eng-cu ternyata menjadi kalang kabut menghadapi kim-liong Sin-kun dan Pat-hong sin-ciang warisan Bit-bo-ong.
Untunglah dengan Kim-coa ih-hoatnya yang aneh pemuda itu dapat sekedar membingungkan lawannya, sehingga dengan demikian dia bisa bertahan dan mengulur waktu.
Apalagi dengan perlindungan Liong-cu I-kangnya yang dahsyat itu, Chin Yang Kun semakin sulit untuk ditundukkan dalam waktu singkat.
Namun demikian kalau hal itu berlanjut terus tanpa ada pertolongan dari luar, tak pelak lagi Chin Yang Kun benar benar akan mengalami kesulitan yang serius.
Benar juga beberapa saat kemudian Chin Yang Kun mulai kebobolan pertahanannya.
Untunglah dengan mengenakan mantel pusaka yang dapat direbutnya tadi, pemuda itu dapat terhindar dari goresan pisau yang mengandung racun mematikan itu.
"Kurang ajar! Ginkang iblis ini semakin lama semakin memusingkan aku!"
Pemuda itu mengeluh di dalam hatinya.
Memang tak dapat disangkal lagi.
Tanpa memegang senjata yang sekali waktu dapat ia pergunakan sebagai perisai untuk menangkis pisau beracun itu, Chin Yang Kun tak mungkin dapat bertahan terus-menerus.
Sekali waktu pisau itu tentu akan terhunjam pula ke dalam tubuhnya.
Sementara itu di tepi arena pertempuran, Tiau Li Ing menjadi gelisah bukan main melihat Chin Yang Kun terdesak terus tanpa bisa membalas.
Tanpa terasa saking gelisahnya gadis itu mencengkeram lengan Lo-si-ong yang berdiri di sampingnya.
Meskipun matanya buta, namun orang tua itu tahu juga keadaan Chin Yang Kun yang "repot"
Itu.
Tapi karena bekas ketua lm-yang-kauw itu sangat percaya pada ucapan gurunya, maka hatinya tidak segelisah hati Tiau Li Ing.
Orang tua itu tetap yakin bahwa lblis berkerudung itu akan jatuh di tangan Chin Yang Kun.
Hanya saja orang tua itu tidak mengetahui cara bagaimana pemuda yang telah terdesak habis-habisan itu akan bisa mengalahkan Iawannya.
Yang sangat mengherankan, meski sudah sedemikian jauh pertempuran antara Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun itu berlangsung, namun Si Penyanyi Sinting itu tetap belum menampakkan dirinya juga.
Malahan suara nyanyiannya yang sejak tadi selalu mengganggu konsentrasi Hek-eng-cu, kini telah tiada dan tidak terdengar pula.
Seolah-olah orang itu memang telah pergi meninggalkan tempat itu.
Langit tampak bersih tanpa awan, sehingga bintangbintang kelihatan jelas bertaburan di angkasa.
Mereka berkelap-kelip berdesakan, seolah-olah mereka juga ingin menyaksikan pertempuran seru antara Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu tersebut.
Sementara itu angin pegunungan yang dingin terasa meniup semakin kencang pula, sehingga udara di dalam Iembah itupun seolah-olah menjadi beku karenanya.
Dan pada saat yang sama, udara dingin juga bertiup di atas Pulau Meng-to yang sunyi.Angin laut yang mengandung air itu bertiup kencang membasahi pepohonan dan bebatuan di atas pulau kecil tersebut, sehingga suasana di atas pulau itu menjadi lembab dan basah.
Maka tidak mengherankan bila semua penghuninya menjadi enggan untuk keluar dari pintu rumah, padahal d Pendapa Utama saat itu banyak berkumpul tamu-tamu yang ingin bertemu dengan majikan pulau mereka, Keh-sim Siauwhiap.
Tamu-tamu yang berdatangan sejak pagi hari itu banyak yang sudah bosan dan mulai tak sabar lagi untuk bertemu dengan Keh-sim Siauwhiap.
Meskipun mereka semua dijamu dan diberi tempat istirahat yang baik, tapi semuanya berkeinginan untuk lekas-lekas bertemu dengan Keh-sim Siauwhiap dan mengutarakan maksud kedatangan mereka masing masing.
Kini semuanya berkumpul di tengah-tengah Pendapa Utama yang luas itu.
Tapi sejauh ini mereka juga baru ditemui oleh Sepasang Gadis Berbaju Putih dan Sepasang Gadis Berbaju Hitam, pembantu Keh-sim Siauwhiap itu.
Beberapa orang tamu yang mulai terpengaruh oleh arak yang disuguhkan kepada mereka, mulai terdengar menggerundel dan mengeluarkan rasa ketidak-senangan mereka.
Tapi dengan sabar dan halus gadis-gadis pembantu Keh-sim Siauhiap itu menenangkan hati mereka.
Gadis-gadis itu memberi tahu kepada mereka bahwa Keh-sim Siauwhiap memang baru akan keluar pada tengah malam nanti, sebab Keh-sim Siauhiap sekarang sedang menyelesaikan samadhinya.
Untuk mengurangi perasaan kesal serta bosan itu beberapa orang tamu tampak berdiri dari tempat duduk mereka, lalu keluar dari pendapa, menuju ke arah pantai.
Mereka berjalan sendiri-sendiri atau dengan teman seperjalanan mereka, tanpa menghiraukan hembusan angin laut yang membasahi tubuh mereka.
Dan diantara mereka itu terdapat seorang lelaki muda dan dua orang gadis cantik yang berjalan perlahan-lahan menyusuri tepian pantai.
Diantara suara angin dan debur ombak yang memecah pantai itu terdengar desah suara mereka bertiga dalam nada yang amat kesal dan mendongkol.
"Lagaknya seperti seorang raja saja...hah! Tahu begini aku tidak mau berkunjung ke mari."
Salah seorang dari kedua gadis itu menggerutu seraya menyepak sepotong kayu kecil yang dilemparkan ombak di atas pasir.
"Ah, sudahlah Adik Pek Lian...! kau tak perlu menggerutu begitu...! kau harus ingat, bahwa pulau ini adalah rumah dan tempat tinggalnya. Tentu saja dia bebas untuk berbuat apa saja di rumahnya sendiri. Apa lagi dia tak memintamu atau mengundangmu kemari. kau datang ke pulau ini atas kehendakmu sendiri. Apa salahnya ia menemui kita tengah malam nanti? Dan... eh, Adik Pek Lian...kau jangan Iupa bahwa dia pernah menyelamatkan kita dari keganasan mendiang para iblis Ban-kwi-ti itu!"
Gadis satunya yang tidak lain adalah Kwa Siok Eng menegur Ho Pek Lian, gadis yang sedang kesal itu.
"Benar, Nona Ho... biarlah kita bersabar lagi barang sejenak. Toh waktu yang dijanjikannya itu sudah tidak lama Iagi..."
Lelaki yang bersama mereka itu ikut membujuk Ho Pek Lian.
"BaikIah...! Baiklah! Tapi... aku tetap ingin segera tahu, macam apa sebenarnya pendekar yang disanjung-sanjung orang itu?"
Ho Pek Lian terpaksa mengalah, meskipun mulutnya masih tetap cemberut juga.
"Hei... bukankah kita dulu pernah melihatnya?"
Kwa Siok Eng memotong.
"Ya! Tapi kita tak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Selain sangat gelap, waktu itu dia selalu membelakangi kita."
"sudahlah...! Sebentar lagi kita juga akan melihatnya. Yang terang, melihat namanya... dia itu masih muda,"
Chu Seng Kun, lelaki yang bersama mereka itu, menengahi perdebatan mereka.
"Benar! Masih muda dan...sukar diajak bersahabat!"
Tunangannya menambahkan dengan suara menggoda. Chu Seng Kun menatap wajah Kwa Siok Eng dengan kening berkerut. Namun demikian mulutnya tetap bersenyum ketika bertanya.
"Sukar diajak bersahabat? Mengapa demikian...?"
Kwa Siok Eng juga tersenyum.
"Koko, sebutan atau gelarnya saja Pendekar Patah Hati (Keh-sim Siauwhiap).Nah...mana ada seorang yang sedang patah hati bisa diajak bersahabat di dunia ini? Koko sudah bisa melihat sendiri sekarang, bagaimana ia selalu menutup dirinya..."
Chu Seng Kun menunduk serta menghela napas dalam dalam.
"Memang. Sejak kedatangan kita di pulau ini akupun sudah berpikir tentang...dia! Namanya begitu disanjung dan dikagumi orang karena kemuliaannya. Hartanya banyak, kaya raya, kepandaiannyapun tinggi sekali. Lalu apa yang masih kurang pada dirinya itu? Mengapa dia masih bisa patah hati? Puteri mana yang telah menolak manusia pilihan seperti dia itu?"
"Ah, Chu-Twako jangan berpendapat demikian..."
Ho Pek Lian cepat-cepat menyahut perkataan Chu Seng Kun itu.
"Patah hati itu bisa diakibatkan oleh bermacam-macam sebab. Dan salah satu di antaranya memang bisa seperti yang Twako katakan itu. Tapi selain hal itu, patah hati dapat juga disebabkan oleh karena hal yang lain. Misalnya... salah seorang dari mereka meninggal dunia, padahaI keduanya sudah saling mencinta satu sama lain. Atau... patah hati itu bisa juga terjadi karena adanya rintangan dari pihak luar yang sama sekali tidak dapat mereka atasi, sehingga akhirnya mereka tak bisa mewujudkan cita-cita dan impian mereka itu. Dan hal-hal yang demikian itu bisa mengakibatkan mereka menjadi patah hati pula... Banyak contoh tentang peristiwa seperti itu di masa lampau. Misalkan pada zaman Dinasti Chou Barat dahulu, seorang pangeran mahkota telah dipaksa untuk melepaskan kekasihnya yang hanya seorang gadis rakyat jelata ketika ia dinobatkan sebagai raja. Akibatnya gadis itu menjadi patah hati dan akhirnya bunuh diri, sementara putera mahkota itu juga patah hati dan tak mau kawin pula selama hidupnya. Dan contoh yang lain tak usah jauh-jauh kita cari.Baginda Kaisar Han yang sekarangpun juga seorang yang menderita patah hati, sehingga beliau memilih tidak kawin pula sampai sekarang..."
Chu Seng Kun dan Kwa Siok Eng saling memandang satu sama lain.
Wajab mereka malah kelihatan bingung dan terheran-heran mendengar ucapan Ho Pek Lian yang seolah olah malah membantu atau melindungi Keh-sim Siauwhiap itu.
Padahal gadis itu tadi baru saja marah-marah karena kesal dan dongkol kepada Keh-sim Siau hiap.Dan yang lebih mengherankan Iagi adalah sikap dan cara gadis itu berbicara.
Gadis itu berbicara dengan bersemangat dan bersungguh-sungguh, seakan-akan gadis itu sendiri sedang mewakili orang-orang yang patah hati tersebut.
Oleh karena itu sambil tertawa menggoda, Kwa Siok Eng berkata kepada Ho Pek Lian.
"Adik Lian... mendengar kata-katamu yang bersemangat tadi hatiku malah menjadi berdebar-debar. Ehh..., jangan-jangan kau pun...kau pun juga pernah menderita patah hati pula."
Tiba-tiba wajah yang cantik itu menyeringai kecut.
"Ahh, Cici... kau ini ada-ada saja. Patah hati...sih tidak. Cuma pada suatu saat aku memang pernah merasa kecewa kepada seseorang dan kepada hidupku sendiri, sehingga sampai sekarang akupun belum mempunyai minat untuk mencari teman hidup..."
Ho Pek Lian terpaksa menerangkan dengan suara lirih.
"Kecewa...? Ah, sungguh tak masuk akal. Siapa yang telah berani mengecewakanmu? Apakah orang itu tidak tahu kalau kau ini murid terkasih dari Baginda Kaisar Han?"
"Ahh, kau ini... Apa hubungannya Kaisar Han dengan masalah pribadiku? Apa lagi waktu itu suhu belum menjadi Kaisar seperti sekarang ini..."
"Oh, jadi peristiwa itu terjadi pada waktu kau dan Kaisar Han masih suka berkelana di dunia kang-ouw dahulu? Hmm... kalau begitu sudah hampir Sepuluhan tahun yang lalu, ya? Eh, Adik Lian...kalau aku boleh bertanya...kalau aku boleh bertanya, siapa sih pemuda yang Pernah mengecewakanmu itu?"
Kwa Siok Eng yang sudah amat akrab dan sudah seperti saudara sendiri dengan Ho Pek Lian itu berbisik sambil merangkul pundak gadis itu.
Ho Pek Lian menjadi merah pipinya, sementara matanya melirik ke belakang, kearah Chu Seng Kun yang berjalan enam atau tujuh langkah di belakang mereka.
Tampaknya pemuda ahli obat itu memang sengaja memperlambat langkahnya begitu mendengar pembicaraan mereka yang mulai bersifat pribadi itu.
"Bagaimana Adik Lian? Apakah... apakah aku boleh tahu siapa orang itu?"
Kwa Siok Eng mendesak lagi.
"Aaaaah...!"
Ho Pek Lian mengerling dan berdesah panjang, seakan-akan masih merasa enggan atau malu mengatakannya.
"Ayolah... Adik Lian! Kita toh sudah seperti keluarga sendiri. Apa lagi usia kitapun sudah tidak muda lagi. kau dua puluh lima dan aku dua puluh enam, yang kalau menurut adat kebiasaan kita sudah dianggap terlambat kawin. Mengapa kau masih merasa malu dan ragu-ragu untuk mengatakannya kepadaku?"
"Tapi..."
Ho Pek Lian sekali lagi melirik ke belakang. Dilihatnya Chu Seng Kun tertinggal semakin jauh di belakang mereka. Pemuda itu tampak sedang bermain-main dengan air laut yang menjilati kakinya.
"Baiklah, Cici Siok Eng... Aku akan berbicara. Tapi kuminta kau jangan menceritakannya kepada Chu-Twako. Maukah kau?"
Akhirnya gadis itu mengalah. Kwa Siok Eng tersenyum lalu menoleh ke arah tunangannya.
"Jangan takut! Kalau kau memang menginginkan demikian, akupun takkan mengatakannya kepada siapapun. Aku berjanji! Nah... ayolah!"
Hening sejenak.
Kedua orang sahabat itu lalu berjalan menuju ke gardu pemandangan, yang khusus dibangun oleh Keh-sim Siauwhiap dan anak buahnya di tempat itu.
Mereka berdua duduk berendeng seperti sepasang kekasih atau seperti dua orang kakak-beradik yang sedang menikmati hamparan ombak di depan mereka.
Keduanya tidak mempedulikan lagi pada Chu Seng Kun yang bermain-main dengan air sendirian.
"Cici...! Sebenarnya aku malu menceriterakan hal ini kepadamu. Tapi karena kau sudah berjanji untuk tidak mengatakannya kepada siapa pun juga, maka aku berani pula berterus-terang kepadamu. Begini...! Sebenarnya sampai saat ini aku sendiri juga masih bingung terhadap hatiku sendiri. Aku benar-benar tak tahu, siapa sebenarnya Ielaki yang kudambakan itu? Dan aku sendiri juga masih bingung, siapa sebenarnya lelaki yang kupilih diantara mereka itu? Cici... aku benar-benar bingung bila memikirkan hal itu. Rasa-rasanya aku menjadi asing terhadap diriku sendiri..."
"Heh...? Adik Lian...? kau ini sungguh aneh sekali. Bagaimana bisa sampai begitu? Coba kau terangkan kepadaku! Aku malah menjadi bingung pula mendengar ceritamu itu... Eh, apakah"
Apakah kau mencintai lebih dari seorang lelaki? Ataukah... kau ini dicintai dan dilamar oleh beberapa orang lelaki, sehingga kau malah menjadi bingung dan sulit untuk memilihnya?"
Kwa Siok Eng berbisik dengan suara heran.
"Ahh, Cici... bukan begitu maksudku."
Ho pek Lian mencubit lengan sahabatnya itu dengan cemberut.
"Aku... aku... ah, bagaimana ya?"
"Wah... kau ini bagaimana sih?"
Kwa Siok Eng pura-pura merasa kesal.
"Sudahlah! Marilah kita pulang kembali saja kalau kau memang tak ingin menceritakannya!"
Kwa Siok Eng pura-pura bangkit dari tempat duduknya, tapi dengan cepat lengannya ditarik kembali oleh Ho Pek Lian.
"Baik! Baiklah...! Aku akan mengatakannya kepadamu..."
Gadis itu berkata kepada Kwa Siok Eng.
"Kalau begitu cepatlah bercerita...!"
Siok Eng mendesak tak sabar. Sambil menundukkan mukanya Ho Pek Lian akhirnya bercerita, meskipun suaranya terdengar semakin lirih di telinga Kwa Siok Eng.
"Cici, aku mulai merasa tertarik kepada laki-laki pada usia tujuh belas tahun. Dan perasaan itupun bermula dari rasa kasihan pula, karena pemuda yang kumaksudkan itu menderita penyakit aneh yang sukar disembuhkan. Rasa kasihan itu ternyata berkembang menjadi perasaan tertarik dan perasaan kagum pula ketika aku semakin bisa mendalami watak dan sikapnya yang jantan penuh keperwiraan. Tetapi karena waktu itu usiaku masih terlalu muda dan belum punya pengalarnan sama sekali, maka aku belum menyadari bahwa sebenarnya aku telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Oleh karena itu ketika salag seorang sahabat akrabku juga merasa tertarik kepada pemuda itu, bahkan kemudian malah jatuh cinta pula kepadanya, aku langsung saja menyetujui dan merelakannya. Bahkan aku ikut membantunya malah! Saya sangat bergembira pemuda itu memperoleh kebahagiaannya. Tapi... lama-kelamaan justru hatiku sendiri yang akhirnya menjadi sedih. Entah mengapa aku seperti telah kehilangan sesuatu yang tak kumengerti. Hatiku seakan-akan selalu merasa menyesal terus-menerus..."
Ho Pek Lian berhenti untuk mengambil napas. Wajahnya pucat, matanya menerawang jauh ke tengah laut, seolah-olah benar-benar menyesali sikapnya selama ini.
"...Lalu datanglah pemuda yang kedua mendekatiku. Di dalam segala hal pemuda ini jauh lebih baik dari pada pemuda yang pertama. Selain masih muda, kaya, tampan dan berkepandaian tinggi, pemuda yang kedua ini juga sangat dihormati orang. Sebab pemuda itu adalah seorang pemimpin persilatan yang mempunyai anggota lebih dari ribuan orang. Dan pemuda ini juga seorang pejuang serta ksatria pembela kaum lemah pula. Apalagi secara terus terang pemuda itu juga telah menyatakan cinta kasihnya kepadaku...,"
Sekali Iagi Ho Pek Lian menghentikan ceritanya.
Matanya yang sayu itu tampak berkaca-kaca ketika bercerita tentang pemuda yang kedua itu, sehingga Kwa Siok Eng sama sekali tak berani mengganggunya.
Gadis itu takut kalau-kalau Ho Pek Lian menjadi terganggu konsentrasinya.
"Sebetulnya... di dalam hati aku telah menerimanya. Memang pemuda seperti itulah yang selalu kucari-cari selama ini. Gagah, tampan, berkedudukan baik, berwatak ksatria pula. Nah... apalagi yang kurang? Tapi...Cici, aku sungguh heran terhadap hatiku sendiri. Kenapa aku tak bisa melupakan pemuda yang pertama itu? Wajahnya yang polos, yang kadang-kadang tampak sangat menderita karena penyakitnya itu sering mengganggu hatiku. Biarpun di sana sudah ada seorang gadis yang mendampinginya, namun hatiku ini rasanya masih tetap juga belum yakin dan belum percaya kepada gadis tersebut. Rasanya hatiku ini seperti hati seorang ibu yang tidak tega melihat bayinya dalam perawatan wanita lain. Dan celakanya, perasaan itu selalu saja mengejar dan menggangguku di manapun aku berada, sehingga lambat-laun hatiku menjadi terpengaruh pula karenanya. Tanpa terasa sikapku terhadap pemuda yang kedua itu menjadi berubah dingin dan acuh tak acuh, padahal aku sama sekali tak bermaksud demikian. Akibatnya pemuda yang telah kupilih dan kucintai sepenuh hati itu menjadi salah sangka terhadapku. Dengan perasaan kecewa dia lantas mengundurkan diri dari sampingku, dan kemudian pergi entah ke mana...Oh, Cici... bagaimanakah menurut pendapatmu? Salahkah sikapku itu? Apa yang mesti kuperbuat? Cici, aku benar-benar bingung sekali. Aku benar-benar tak tahu, apa sebenarnya yang kukehendaki selama ini. Sebab sepeninggal pemuda yang kedua itu, hatiku juga menjadi pecah berantakan pula. Kalau semula sikapku terhadap pemuda yang pertama itu seperti sikap seorang ibu yang tidak tega melepaskan bayinya dalam perawatan orang lain, kini sikapku terhadap pemuda yang kedua malah justru lebih parah lagi. Sikapku sekarang benar-benar seperti sikap seorang ibu yang telah kehilangan anaknya! Setiap hari hatiku menangis tak henti-hentinya menyesali kepergiannya. Tapi apalah dayaku... nasi telah menjadi bubur, semuanya telah terjadi dan tak mungkin diulang kembali. Kini tinggallah aku seorang diri, terombang-ambing tak menentu, seperti perahu yang kehilangan arah di tengah lautan."
Gadis itu menghela napas panjang ketika menyelesaikan ceritanya.
Matanya yang semula hanya berkaca-kaca, kini benar-benar meneteskan air mata.
Wajahnya tampak pucat dan hampa, sungguh berbeda sekali dengan sikapnya sehari hari yang riang dan gembira.
Sekejap Kwa Siok Eng juga termangu-mangu saja di tempatnya.
Meskipun gadis itu bisa menebak siapa yang dimaksudkan dalam cerita Ho Pek Lian itu, namun kenyataan yang tak pernah diduganya itu sungguh-sungguh telah mengagetkannya.
Hampir tak terlintas sama sekali di dalam hati Kwa Siok Eng bahwa temannya itu akan mengalami hal yang demikian.
"Adik Lian... sungguh tak kusangka kau akan mengalami persoalan yang rumit seperti itu. Selama ini aku hanya menyangka bahwa kesendirianmu ini memang telah kau sengaja karena engkau belum mendapatkan pasangan yang cocok dengan selera hatimu. Ternyata dugaanku atau bayanganku itu adalah salah sama sekali. Ternyata kau telah menyimpan persoalan yang demikian peliknya di dalam hatimu. Adik Lian, kita telah lama menjalin persababatan. Oleh karena itu kukira aku telah bisa menebak siapa-siapa yang kau maksudkan dalam ceritamu itu. Hmm... pemuda yang pertama, yang menimbulkan rasa belas kasihanmu itu tentu Souw Thian Hai, bukan? Dan pemuda yang kedua, yang sebenarnya merupakan pemuda yang sangat mencocoki hatimu itu tentulah saudara Kwee Tiong Li, bukan? Dan tentu saja gadis yang kau maksudkan itu adalah Enci Chu Bwe Hong. Benar tidak?"
Dengan sangat hati-hati Kwa Siok Eng menanggapi cerita Ho Pek Lian itu. Gadis itu mengangguk tanpa menjawab. Kwa Siok Eng merangkul pundak sahabatnya itu.
"Adik Lian... sungguh malang benar keadaanmu. Seharusnya kau tak perlu mengalami keruwetan itu apabila kau mau meminta pendapat atau petunjuk kepada sahabat-sahabatmu. Persoalanmu itu sebenarnya sangat jelas dan mudah sekali pemecahannya..."
Dengan cepat wajah yang tertunduk itu menengadah, menatap wajah Kwa Siok Eng.
"Cici Siok Eng...?"
Gadis itu berdesah kaget. Siok Eng merangkul pinggang Pek Lian. Dengan suaratenang dan halus gadis itu berbisik.
"Adik Lian... jangan terkejut! Aku tidak bergurau, aku berkata sebenarnya. Kalau hal itu terasa sulit dan ruwet, semua itu karena kau ikut terlibat langsung di dalamnya, sehingga akibatnya kau malah tak bisa melihat persoalan tersebut secara jelas dan terang."
Wajah yang cantik itu semakin tertunduk lesu.
"Ohhh...kalau begitu lekaslah Cici katakan pendapatmu itu!"
"Baik...!"
Siok Eng berkata seraya bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri bersandar pada dinding gardu tersebut.
"Sebagai orang luar aku justru dapat melihat persoalanmu itu dengan jelas sekali. Oleh sebab itu aku dengan mudah juga bisa mengetahui di mana letak kesalahannya dan bagaimana pula pemecahan serta jalan keluarnya... Nah, Adik Lian... marilah kita bahas masalahmu itu perlahan-lahan!"
Bulan tipis yang tadi berada di atas langit sebelah barat, kini sudah hampir tenggelam di balik cakrawala, suatu tanda bahwa hari sudah mendekati tengah malam.
Dan dengan sabar serta penuh pengertian Chu Seng Kun masih tetap berada di tepi laut, bermain-main dengan percikan air sendirian.
"Adik Lian... Dari dasar atau landasan perasaan tertarikmu kepada kedua orang pemuda itu saja sebenarnya sudah bisa dipergunakan sebagai pedoman, siapa sebenarnya pemuda yang kau pilih. Karena kasihan kau menaruh perhatian kepada saudara Souw Thian Hai. Dan perhatian itu akhirnya berkembang menjadi rasa kagum melihat kepandaian dan keperwiraannya. Dari hal ini saja sebenarnya sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa kau sesungguhnya tidak mencintai saudara Souw Thian Hai. kau cuma merasa kasihan kepadanya dan juga sangat menyayangkan kepandaiannya yang tinggi. kau sebenarnya tidak mencintainya, karena di dalam hati kecilmu kau sendiri merasa kurang cocok dengan keadaannya. Sebab sebagai seorang puteri pejabat tinggi kau sudah terbiasa berkecimpung dalam dunia kemewahan, kemuliaan dan kehormatan. kau tidak akan merasa puas dan cocok dengan pemuda biasa seperti Souw Thian Hai itu. Apa lagi dia mempunyai penyakit gila. Itulah sebabnya ketika Enci Chu Bwee Hong jatuh cinta kepada Souw Thian Hai, kau merasa girang luar biasa, sebab kau merasa seperti mendapatkan wakil yang bisa kau percayai untuk merawat pemuda hebat seperti saudara Souw Thian Hai itu. Sementara itu kau sendiri sudah cocok dengan saudara Kwee Tiong Li. Sebab selain di dalam segala hal saudara Kwee Tiong Li itu tidak kalah dengan saudara Souw Thian Hai, diapun juga datang dari golongan terhormat, kaya dan berpangkat pula. Apa lagi saudara Kwee Tiong Li tidak gila seperti saudara Souw Thian Hai. Dan semua penilaianku ini sebenarnya juga sudah tercermin di dalam pendapatmu sendiri. Bukankah Adik Lian sendiri sudah mengibaratkan tentang kepergian mereka itu? kau mengibaratkan saudara Souw Thian Hai sebagai bayi yang diasuh oleh wanita lain, sementara kau menganggap kepergian saudara Kwee Tiong Li sebagai ibu yang kehilangan anaknya. Dari perumpamaanmu itu saja sudah dapat ditarik kesimpulan bahwa kau lebih merasa berat kehilangan Kwee Tiong Li dari pada kehilangan Souw Thian Hai..."
Dengan panjang lebar Kwa Siok Eng memberi petunjuk kepada Ho Pek Lian.
Bagai terbuka rasanya hati Ho Pek Lian sekarang.
Ternyata persoalan tersebut sebenarnya tidaklah sesulit yang ia rasakan.
Hanya karena dia sendiri ikut terlibat di dalamnya, maka dirinya seolah-olah menjadi buta dan tak bisa mengurai persoalan tersebut dengan baik.
"Ohh, Cici... lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?"
Gadis itu bertanya dengan suara sendu. Kwa Siok Eng menghampiri Ho Pek Lian dan kemudian duduk di samping gadis itu kembali. Dengan suara tenang namun pasti Siok Eng berkata.
"Tentu saja kau harus mencari saudara Kwee Tiong Li sampai dapat, lalu meminta maaf kepada dia karena kau telah menyakiti hatinya."
"Mencarinya sampai dapat? Ohhh... Cici, ba -bagaimana kalau... kalau ia sudah kawin dengan wanita lain? Delapan tahun bukanlah waktu yang pendek, siapa tahu kalau dia telah melupakan aku?"
Ho Pek Lian berdesah hampir menangis, lalu menubruk ke atas pangkuan Kwa Siok Eng. Siok Eng menghela napas panjang. Matanya ikut berkaca kaca melihat penderitaan sahabat akrabnya itu.
"Adik Lian... kau jangan buru-buru berputus-asa dahulu. Serahkanlah semuanya ini kepada Thian. Yang penting kau harus berusaha, siapa tahu Thian masih menaruh belas kasihan kepadamu? Namun demikian kalau Thian nanti terpaksa menentukan lain, kau pun juga harus menerimanya dengan hati lapang pula. Anggaplah semua cobaan itu sebagai tebusan atas kesalahan kesalahanmu di masa lalu..."
"Ciciii...!"
Ho pek Lian tak dapat menahan tangisnya.
Angin laut bertiup semakin kencang, mengawali pasangnya air laut, tepat pada waktu tengah malam.
Begitu kuatnya hembusan angin tersebut sehingga mampu menerbangkan pasir-pasir Iembut ke udara.
Sekejap tempat itu menjadi gelap oleh debu-debu pasir tersebut.
Namun demikian Chu Seng Kun tidak menjadi terhalang pandangannya ketika dari arah Pendapa Utama mendatangi dua sosok bayangan ke tempat itu.
"Berhenti! Siapakah kalian...?"
Pemuda ahli obat itu menyapa. Kedua sosok bayangan itu berhenti beberapa langkah di depan gardu pemandangan, sehingga Chu Seng Kun dengan tergesa-gesa menghampiri mereka.
"Oh, Tuan Chu rupanya...! Inilah kami yang datang. Kami berdua mau menjemput Tocu (Majikan Pulau) karena waktu yang beliau janjikan telah tiba."
Kedua sosok bayangan yang tidak lain adaIah kedua gadis pembantu Keh-sim Siauwhiap itu menjawab teguran Chu Seng Kun.
"Ahh...nona berdua kiranya."
Chu Seng Kun bernapas lega.
"Hmm, jadi pertemuan itu sudah akan dimulai? Tapi... kenapa nona berdua malah datang kemari...? Apakah nona berdua mau memberi tahu kepada tamu-tamu yang berada di luar pendapa?"
Kedua gadis pembantu Keh-sim Siauwhiap itu saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba mereka menjadi curiga ketika dalam gardu pemandangan itu muncul Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian menghampiri mereka.
"Kami... kami berdua mau menjemput Tocu kami. Eh, kenapa cuwi bertiga berada di sini? Di sini tempat terlarang...,"
Dengan suara gemetar gadis-gadis itu menjawab gemetar.
"Gerrriiit...!"
Tiba-tiba terdengar suara daun pintu terbuka di dalam gardu pemandangan itu.
Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian menjadi terkejut setengah mati, sebab mereka tahu bahwa tidak ada pintu di dalam gardu pemandangan tersebut.
Bangunan itu cuma bangunan kecil berukuran tiga kali tiga meter, dengan tembok di bagian samping dan belakang saja.
Sementara di dalamnya hanya ada tumpukan batu-batu tebal memanjang, di mana di bagian atasnya ditutup papan kayu tebal untuk alas duduk orang orang yang ingin beristirahat di sana.Empat sosok bayangan hitam tiba-tiba berdiri di tengah tengah bangunan itu.
Dua orang lelaki dan dua orang wanita.
Dan salah seorang dari ke empat bayangan itu segera melangkah keluar dari dalam gardu pemandangan tersebut, kemudian diikuti pula oleh ketiga sosok bayangan yang lain.
Meskipun udara sangat gelap, namun sinar bintang yang berkelap-kelip di atas langit ternyata mampu juga menerangi raut wajah mereka berempat.
"Tocu...!"
Dua orang pembantu Keh-sim Siauwhiap tadi segera berlari menyongsong bayangan yang pertama dan berlutut di hadapannya.
"Hari sudah tepat waktu tengah malam. Para tamu sudah lama menantikan kedatangan Tocu."
Mereka melapor. Lelaki yang tak lain adalah Keh-sim Siauwhiap atau pemilik Pulau Meng-to sendiri itu mengangguk.
"Aku sudah siap. Kalian berangkatlah lebih dahulu, nanti aku menyusul bersama-sama sahabat-sahabatku ini!"
Dua orang gadis itu mengerutkan kening mereka.Sebenarnya mereka agak curiga kepada orang-orang yang berada di tempat terlarang itu.
Tapi karena majikan mereka telah mengatakan bahwa orang-orang itu adalah sahabatnya, maka keduanya tidak berani berbuat apa-apa lagi.
Keduanya lantas pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu Chu Seng Kun, Kwa Siok Eng dan Ho Pek Lian seolah-olah menjadi patung saking kaget mereka melihat siapa yang keluar dari gardu pemandangan itu.
Meskipun tidak begitu jelas, namun mereka semua takkan melupakan wajah-wajah yang telah lama mereka kenal itu.
"Kwee Tiong Li... koko!"
Ho Pek Lian menatap wajah Keh-sim Siauwhiap seakan tak percaya, lalu tiba-tiba saja tubuhnya telah menghambur ke dalam pelukan.
"Saudara Thian Hai...!"
Chu Seng Kun menegur Ielaki tinggi besar yang berada dibelakang Keh-sim Siauwhiap.
"Bwee Hong...! Lian Cu...! Kenapa kalian diam saja?"
Kwa Siok Eng berteriak dan segera menghambur memeluk kedua wanita itu pula.
Jilid 43 Demikianlah, pertemuan itu sungguh-sungguh sebuah pertemuan yang tak mereka sangka sebelumnya.
Semuanya benar-benar tak mengira bahwa Keh-sim Siauwhiap yang tersohor dan amat terkenal di dunia persilatan itu adalah Kwee Tiong Li, sahabat lama mereka sendiri (baca Darah Pendekar).
Sahabat lama yang telah delapan tahun tak pernah berjumpa.
Dan khusus bagi Ho Pek Lian, pertemuan itu sungguh sungguh sangat membahagiakan hatinya.
Rasanya ia bisa mendapatkan kembali anaknya yang hilang itu.
Dunianya yang semula sepi itu tiba-tiba terasa ramai dan cerah kembali.
"Lian-moi, aku dan saudara Souw telah mendengar semua pembicaraanmu tadi. Sungguh tak kusangka kau pun juga menderita pula seperti aku..."
Keh-sim Siauwhiap atau Kwee Tiong Li berbisik di telinga Ho Pek Lian, kekasihnya.
Sekejap pipi gadis itu menjadi merah.
Sekilas matanya mengerling ke dalam gardu pemandangan itu.
Tatkala dilihatnya papan kayu tempat duduknya tadi kini telah terbuka, gadis itu maklum apa yang telah terjadi.
"Tampaknya di bawah tempat duduk itu merupakan pintu masuk ke ruangan di bawah tanah. Benarkah, Koko?"
Gadis itu bertanya.
"Benar. Tempat ini adalah tempat terlarang, karena tempat ini adalah tempatku melakukan samadhi setiap harinya. Kebetulan pula sejak sore tadi aku telah berada di sana bersama saudara Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu..."
"Ohh... kalian sungguh nakal. Mengapa kalian tidak lekas-lekas keluar menemui kami? Huh... dasar tukang intip dan mendengar omongan orang!"
Ho Pek Lian pura-pura mengomel, padahal sesungguhnya hatinya merasa malu sekali. Malu sekaligus berbahagia! Keh-sim Siauwhiap tersenyum pula.
"Tapi kalau aku tadi terus keluar, kami semua ini tentu takkan bisa mendengarkan isi kesulitanmu itu. Dan tanpa mendengarkan pengakuanmu yang tulus dan berterus terang tadi, kami semuapun tentu masih akan tetap salah sangka terhadapmu, sehingga pertemuan ini juga tidak akan dapat semeriah dan sebahagia ini pula. Tanpa pengakuanmu tadi semuanya masih akan tetap gelap dan ruwet... Bukankah demikian, sahabatsahabatku?"
Pendekar itu berkata sambil menoleh ke arah tamu-tamunya, terutama kepada Souw Lian Cu yang kelihatannya baru saja selesai menangis.
Souw Thian Hai melirik ke arah puterinya sebentar, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Demikian pula yang dilakukan oleh Chu Bwee Hong.
Wanita ayu bekas isteri ketua Bing-kauw itu juga menatap wajah Souw Lian Cu sambil menepuk-nepuk bahu gadis berlengan sebelah itu.
"Ayolah, Lian Cu...! Tunjukkanlah kebesaran dan keluhuran hatimu! Bukankah kau tadi sudah mengatakan, bahwa kau telah maklum dan sadar pula akan kekeliruanmu selama ini, seperti halnya yang terjadi pada Ho Pek Lian, yang sadar akan sikapnya yang kurang benar itu?"
Katanya lembut kepada gadis calon anak tirinya tersebut.
Souw Lian Cu tersenyum getir, namun demikian matanya yang bulat dan indah itu menatap Chu Bwee Hong penuh pengertian.
SeteIah itu dengan dada tengadah gadis tersebut melangkah maju menghampiri Keh-sim Siauwhiap dan Ho Pek Lian.
"Apa yang telah dikatakan oleh Paman Tiong Li tadi memang benar, Cici Pek Lian... Tanpa mendengar pembicaraanmu dengan Cici Siok Eng tadi, suasana tentu belum akan sejernih sekarang ini. Semuanya tentu belum akan menyadari kesalahannya. Dan masing-masing tentu juga masih salah sangka terhadap yang lain. Alhasil, persoalan ini masih akan tetap ruwet sepanjang masa..."
Baca Juga: Suling Naga 1
Baca Juga: Jago Pedang Tak Bernama 3