Eps 16 Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Baca online Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono
Cersil Pendekar Penyebar Maut - Sriwidjono.
Gadis itu berkata dengan suara dalam seolah-olah tertahan di dalam tenggorokannya.
"Ehh... Lian Cu, kau? Mengapa kau... kau berkata demikian? Ada... ada hubungan apa kau dengan masalah ini?"
Ho Pek Lian tersentak kaget, matanya menatap heran.
Souw Lian Cu menarik napas panjang untuk lebih menenangkan hatinya, kemudian melangkah lagi semakin dekat.
Tangan yang tinggal sebelah itu mencengkeram lengan Ho Pek Lian dengan eratnya.
Mata yang merah bekas tangis itu tampak basah kembali.
"Cici... ternyata tidak cuma kau yang mengalami kebingungan serta salah tafsir dalam masalah cinta itu! Ternyata aku... akupun telah mengalaminya pula seperti halnya engkau. Keadaanku... serta persoalanku ternyata persis seperti yang kau alami pula. Cuma bedanya, aku yang masih sangat muda ini tidak dapat mengendalikan diri seperti engkau. Aku masih terlalu kekanak-kanakan pikirankupun belum dewasa. Untunglah semua yang telah kulakukan selama ini belum sampai merugikanmu, atau merugikan Paman Tiong Li. Baru aku sendirilah yang menanggung rugi akibat kedangkalan pikiranku itu..."
Ho Pek Lian semakin merasa bingung dan tak mengerti.
Matanya menatap Kwee Tiong Li, Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong berganti-ganti.
Tapi gadis itu semakin menjadi heran menyaksikan orang-orang itu juga tercenung diam tak bergerak di tempat masing-masing.
Mereka semua seperti deretan patung batu di keremangan malam.
"Cici Pek Lian, ketahuilah...! Pada pertemuanku yang pertama dengan Paman Tiong Li, aku juga merasa kasihan melihat penderitaannya. Dan seperti juga yang terjadi di hati Cici Pek Lian terhadap ayahku, rasa kasihan itu akhirnya juga berkembang menjadi rasa...rasa...cinta pula. Padahal di dalam hati aku sudah merasa bahwa langkahku itu telah menyimpang dari angan-angan dan cita-citaku selama ini. Akibatnya lalu terjadi pertentangan yang hebat di dalam diriku sendiri. Dan pertentangan itu semakin memuncak tatkala kuketahui bahwa Paman Tiong Li ternyata tidak mau menyambut uluran tanganku itu. Akibatnya aku menjadi marah karena malu. Aku merasa telah mengesampingkan kepentingan dan cita-citaku sendiri, dan aku juga merasa telah merendahkan diriku sendiri dengan mengasihani seorang lelaki yang telah patut menjadi ayah atau pamanku sendiri. Tapi semuanya itu ternyata tidak memperoleh tanggapan yang baik dari orang itu. Oleh karena itu aku lantas menjadi benci kepadanya! Aku benci kepada laki-laki! Aku benci kepada semua orang...! Maka ketika seorang pemuda lain hendak mendekatiku, akupun lantas menghindarinya. Aku sudah tak mau lagi berhubungan dengan lelaki, meskipun di dalam hati sebenarnya aku menyukai pemuda itu..."
Souw Lian Cu berhenti sejenak untuk mengambil napas. Kemudian sambil memandang ke arah Keh-sim Siauwhiap gadis itu meneruskan kembali ceritanya.
"...Tetapi rasa benciku itu ternyata semakin hari semakin luntur pula, dan akhirnya aku kembali ke sini untuk menengok Paman Tiong Li. Meskipun demikian rasa marah dan penasaranku masih tetap belum mereda juga. Rasa marah dan rasa penasaran itu baru lenyap setelah mendengar percakapan Cici Pek Lian dengan Cici Siok Eng tadi. Seperti halnya Cici Pek Lian, akupun Iantas menjadi sadar pula akan kekeliruanku. Aku sebenarnya tidak cinta kepada Paman Tiong Li, aku hanya merasa kasihan saja melihat nasibnya. Sebenarnya aku hanya ingin menghiburnya saja, sebab aku tak rela orang seperti Paman Tiong Li menderita demikian hebatnya hanya karena patah cinta..."
"Oooohh... Lian Cu!"
Ho Pek Lian menjerit lirih, lalu merangkul gadis berlengan buntung itu.
Semuanya menghela napas lega, tak terkecuali pula ayah Souw Lian Cu sendiri, Souw Thian Hai.
Pendekar bernama besar itu kelihatan mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai tanda bahwa hatinya merasa puas dan bangga terhadap kebesaran dan kelapangan hati puterinya itu.
"Cici Pek Lian, maafkan aku...!"
Souw Lian Cu berbisik di telinga Ho Pek Lian.
"Tidak, Lian Cu... kau sama sekali tidak bersalah! Itu sudah lumrah dan wajar bagi seorang gadis sebayamu! Aku malah kagum sekali kepadamu. Ternyata kau lebih terbuka, dan lebih berani dalam hal ini dari pada aku. Semuda ini usiamu, namun demikian ternyata kau sudah mempunyai pemikiran yang dalam dan pertimbangan yang matang dalam hal ini... Dan... eh, omong-omong siapakah pemuda yang mencintaimu itu? Apakah pemuda itu bernama Yang Kun, yang berada di tepi pantai kemarin malam itu?"
"Be-benar, Cici..."
Souw Lian Cu menjawab perlahan.
"Oh... dia! Hmm... benar-benar pemuda yang hebat! Aku sudah mengenalnya pula."
Tiba-tiba Keh-sim Siauwhiap menyahut.
"Malah hampir saja aku terjatuh di tangannya."
"Kau...? kau kalah melawannya?"
Ho Pek Lian menatap wajah kekasihnya seolah tak percaya.
"Kukira saudara Kwee memang tidak berbohong, Nona Ho. Akupun pernah terluka pula ketika berbaku hantam dengan anak itu. Selain lweekangnya amat tinggi, pukulannya mengandung racun pula..."
Souw Thian Hai yang sejak tadi belum membuka suara mendadak ikut menyahut pula.
Ho Pek Lian semakin terperanjat.
Kemarin malam gadis itu juga sudah menyaksikan kehebatan Chin Yang Kun, yaitu ketika pemuda itu memukul patah pedangnya di tepi pantai itu.
Namun demikian gadis itu sungguh tak menyangka kalau pemuda tersebut bisa menandingi Keh-sim Siauwhiap dan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai sedemikian rupa.
Padahal gadis itu sudah lama mengenal pemuda tersebut, yaitu sejak pemuda itu dibawa oleh Kaisar Han ke istana beberapa tahun yang lalu.
Melihat keheranan Ho Pek Lian, Chu Seng Kun segera menyela.
"Ah... kukira tidak hanya saudara Kwee dan saudara Souw saja yang pernah merasakan kuatnya pukulan saudara Yang Kun. Akupun pernah melihat Hek-eng-cu yang lihai bukan main itu dibuat jatuh bangun oleh pemuda itu..."
"Hek-eng-cu...?. Dia dibuat tak berdaya oleh Yang Kun?"
Tanpa terasa Kwa Siok Eng, Chu Bwee Hong dan Ho Pek Lian berdesah tak percaya.
"Begitulah...! Padahal pada waktu itu Hek-eng-cu ada bersama dengan... kakak dari Siok Eng sendiri, yaitu Song-bun-kwi Kwa Sun Tek."
Chu Seng Kun mengiyakan seraya melirik tunangannya.
Demikianlah, mereka berbicara tentang Chin Yang Kun, tanpa mereka ketahui sama sekali bahwa pada saat itu pemuda tersebut sedang memeras keringat beradu tenaga dengan Hek-eng-cu pula!
Tanpa memegang senjata yang dapat ia pakai sebagai perisai untuk menahan sabetan-sabetan pisau beracun itu, Chin Yang Kun semakin tak berdaya menghadapi kecepatan gerak lawannya.
Untunglah dengan Kim-coa ih-hoatnya yang mempunyai gerakan-gerakan aneh di luar kewajaran manusia itu Chin Yang Kun mampu bertahan serta meloloskan diri setiap menemui jalan buntu.
"Setan! Iblisss...! kau ini manusia atau hantu, hah? Gila...! Ilmu apa sebenarnya ini?"
Beberapa kali Hek-eng-cu mengumpat dengan suara agak takut-takut setiap kali pemuda itu melakukan gerakan-gerakan yang tak masuk akal.
Sebenarnya apabila diperbandingkan ilmu kepandaian mereka, Chin Yang Kun agak lebih unggul dari pada Hek-eng-cu.
Setelah sehari lamanya mereka bertempur, ternyata Pat hong-sinkang yang sangat dibangga-banggakan oleh Hek-eng-cu itu benar-benar tak mampu mengimbangi kedahsyatan Liong-cu I-kangnya Chin Yang Kun.
Begitu pula dengan Kim liong Sin-kun dan Pat-hong Sin-ciang.
Ilmu silat yang dulu sangat disegani orang itu kini ternyata juga tak mampu menaklukkan Kim-coa ih-hoat pula.
Satu-satunya keunggulan Hek-eng-cu hanyalah ginkangnya yang maha hebat itu!
Apa lagi keunggulan tersebut ditunjang pula dengan sepasang pisau pusaka beracun itu.
Maka tak mengherankan kalau Chin Yang Kun lantas menjadi terdesak karenanya, bagaimanapun hebatnya Iweekang dan ilmu silat Chin Yang Kun, tapi menghadapi lawan yang dengan gerakannya seolah-olah bisa menghilang dari pandangan itu, tentu saja sedikit keunggulannya itu seperti menjadi tak berguna lagi.
Apalagi orang yang hampir tak bisa dilihat bentuknya itu membawa sebuah pusaka yang ampuh dan berbahaya pula.
Alhasil, pertempuran itu memang terasa sangat berat dan melelahkan bagi mereka berdua.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya Hek-eng-cu memang mampu mendesak dan menghujani lawannya dengan sabetan-sabetan pisaunya.
Namun demikian dengan memeras tenaga dan keringat ternyata Chin Yang Kun masih dapat juga melindungi dirinya pula, sehingga rasa rasanya pertempuran itu takkan selesai-selesai meskipun sampai pagi hari nanti.
Memang, telah beberapa kali Chin Yang Kun kecolongan serta tak mampu menangkis pisau Hek-eng-cu.
Namun dengan mantel pusaka yang dipakainya, pemuda itu berhasil lolos dari kematian.
Atau pula, kalau pemuda itu sudah benar-benar terpojok, ia lalu mengobral pukulan dengan seluruh kekuatan Iweekangnya!
Biarpun sangat melelahkan serta menguras tenaganya, tapi dengan demikian pemuda itu dapat memaksa lawannya untuk mengundurkan desakannya.
"Wah, pemuda itu memang hebat bukan main! Usianya masih muda, tapi Iweekangnya ternyata benar-benar sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Dan Iweekangku yang telah kuhimpun dengan susah payah selama puluhan tahun inipun agaknya juga belum bisa menandinginya pula. Hmmm...sungguh tidak masuk akal!"
Lo-si-ong yang buta itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berdecak kagum. Dengan cepat Tiau Li Ing memandang orang tua itu.
"Tapi... menurut suara yang terdengar berkumandang tadi, kepandaian kakek masih tetap lebih tinggi bila dibandingkan dengan mereka berdua itu? Suara itu tadi mengatakan bahwa kakek berada di urutan yang ke enam bersama Kam Lojin, sementara Hek-eng-cu dan Chin Yang Kun itu berada di urutan yang ketujuh."
Gadis itu menyela. Lo-si-ong tersenyum.
"Memang benar... tapi keunggulanku itu sebenarnya juga tidak terpaut terlalu banyak dengan mereka itu. Apalagi kalau dibandingkan dengan kepandaian Hek-eng-cu. Aku hanya mempunyai kelebihan sedikit dari pada dia, yaitu ilmu melontarkan senjata rahasia. Ginkangnya yang hebat itu hampir tak ada gunanya menghadapi lontaran senjata rahasiaku..."
Bekas ketua Aliran Im-yang-kauw itu menerangkan.
"Oh...!"
Tiau Li Ing berdesah dengan suara gemetar.
Di dalam hati gadis itu semakin merasa kecil dan lemah di hadapan jago-jago silat berkepandaian tinggi itu.
Diam-diam gadis itu menyesali sikapnya yang sombong dan pongah selama ini.
Dia yang merasa tak terkalahkan di kalangan para perompak anak buah ayahnya itu, kini ternyata seperti seekor anak ayam yang lemah begitu berada di daratan Tiongkok.
Setiap saat gadis itu merasa selalu bertemu dengan jago silat berkepandaian tinggi, lebih tinggi dari pada kepandaian ayahnya malah!
"Prraaaaaang!!!"
Tiba-tiba Tiau Li Ing dikejutkan oleh suara gemerincing senjata yang terjatuh di depannya.
Dan ketika gadis itu memperhatikan senjata itu hatinya menjadi kaget sekali!
Beberapa langkah di depannya tergeletak sebilah golok bersinar kuning keemasan!
Dan gadis itu tidak akan lupa kepada golok itu, karena golok itu adalah golok pusaka kebanggaan ayahnya selama ini!
Golok mustika yang bisa mematahkan besi baja!
Dan sebelum gadis itu sempat berteriak atau mengambil suara, mendadak di angkasa terdengar lagi suara Si Penyanyi Sinting itu!
"Lo-si-ong...!
Pisahkanlah dahulu perkelahian mereka!
Lambat laun Lohu merasa perkelahian ini tidak adil.
Yang satu hanya bertangan kosong, sementara yang lain malah membawa dua buah senjata.
kau berikanlah golok di depanmu itu kepada...
Chin Yang Kun agar pertempuran ini menjadi adil!"
Kakek buta itu tampak tersentak kaget mendengar suara gurunya.
Tapi sekejap kemudian tangannya telah terulur ke arah golok mustika itu untuk melakukan perintah gurunya tersebut.
Dan tanpa bisa diketahui bagaimana caranya, tiba-tiba saja dari dalam lobang lengan bajunya yang lebar, meluncur seutas tali kecil panjang, membelit gagang golok tersebut.
Dan kemudian seperti seorang pemain sulap saja, golok tersebut sudah berpindah ke tangannya.
Semua gerakan itu berlangsung dengan cepatnya, sehingga sepintas lalu golok tersebut bagaikan terbang sendiri ke tangan kakek Lo-si-ong itu.
"Berhenti!"
Kemudian orang tua itu berseru ke arah pertempuran.
Dan sebelum gema suaranya hilang, kakek itu sudah menggenggam dua puluh batang paku besi di masing-masing telapak tangannya.
Lalu sambil mengerahkan Iweekangnya, kakek itu mengayunkan tangannya empat kali berturut-turut secara bergantian.
Dan sebentar kemudian delapan kelompok paku, yang masing-masing terdiri dari lima batang melesat ke arena pertempuran, membentuk gambar bunga teratai yang berdaun bunga delapan lembar.
Dan sampai dengan satu tombak jauhnya dari arena pertempuran, paku-paku tersebut masih tetap juga membentuk daun bunga teratai.
Tapi setelah satu tombak jauhnya dari arena pertempuran, paku-paku itu berguguran satu persatu, bertebaran menyerang ke arah Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu bagaikan derasnya titik-titik hujan.
Tentu saja kedua orang yang sedang terlibat dalam pertempuran itu menjadi kaget setengah mati!
Terutama bagi Chin Yang Kun yang secara kebetulan sedang membelakangi paku-paku itu.
Apalagi saat itu pisau Hek-eng-cu juga sedang menusuk ke arah dadanya.
"Kurang ajar...!"
Chin Yang Kun yang mendapat serangan dari muka dan belakang itu mengumpat marah.
Karena sebagian besar dari paku-paku itu menyerang ke arah dirinya, maka tiada pilihan lain bagi Chin Yang Kun selain mengebutkan mantel pusaka yang dipakainya itu ke belakang, yaitu untuk menangkis atau meruntuhkan paku paku tersebut.
Dan bersamaan dengan itu pula kakinya melangkah ke samping untuk menghindari tusukan pisau Hek-eng-cu yang mengarah ke dadanya.Sementara itu beberapa buah paku yang lain juga menyerang ke arah dada dan muka Hek-eng-cu pula.
Tapi dengan tenang serta penuh keyakinan diri, iblis berkerudung itu menyongsongnya dengan pisaunya yang lain.
"Traaaang!"
Begitulah, pada saat yang bersamaan paku-paku itu ditangkis oleh Chin Yang Kun dan Hek-eng-cu dengan kebutan mantel dan pisau mereka.
Dan seperti tanpa kekuatan sama sekali, paku-paku itu segera terpental dengan mudahnya.
Tetapi betapa terperanjatnya kedua orang itu tatkala paku paku yang terpental tersebut tiba-tiba meliuk kembali ke arah mereka, seperti layaknya senjata bumerang yang tidak mengenai sasaran.
Dan yang amat mengejutkan, paku-paku itu ternyata justru melaju lebih cepat daripada tadi.
"Gila! Ilmu melempar senjata rahasia macam apa ini, hah?"
Hek-eng-cu memekik keras seraya berjumpalitan ke belakang untuk menghindarkan diri.
Begitu pula halnya dengan Chin Yang Kun!
Dengan sekuat tenaga pemuda itu terpaksa melemparkan dirinya ke atas tanah untuk meloloskan diri dari sergapan paku-paku yang bergerak seperti setan itu.
Demikianlah, paku-paku itu meluncur terus tanpa mengenai sasarannya.
Namun demikian maksud Lo-si-ong untuk memisahkan perkelahian mereka ternyata telah berhasil.
"Nah, anak muda...! Terimalah golok pusaka ini, agar kau bisa melawan musuhmu itu!"
Orang tua itu kemudian berteriak sambil melemparkan golok pemberian Si Penyanyi Sinting tadi.
Chin Yang Kun menatap Lo-si-ong dengan air muka kurang senang, namun demikian golok pusaka itu diterimanya juga.
Sebaliknya Hek-eng-cu semakin merasa kesal serta jengkel kepada orang tua itu.
Selain merasa telah diganggu perkelahiannya, Hek-eng-cu juga merasa marah karena lawannya kini telah memegang senjata pula seperti dirinya.
"Hmmh, bangsat tua yang mau mampus! Tunggulah! Selesai membereskan bocah ini akan kubereskan pula nyawamu!"
Iblis itu berteriak menggeledek.
"Apa...? Mau membereskan nyawaku? Oh-ho-ho ho ho...!"
Lo-si-ong tertawa terkekeh-kekeh.
"Boleh... boleh! Tapi... bereskanlah dulu lawanmu itu, ho-ho-ho...!"
"Baiklah! Kalian saksikan saja, golok itu tidak akan banyak berarti di tangan bocah pandir itu! Dia tetap akan kubereskan dalam waktu singkat!"
Hek-eng-cu tetap saja bersuara besar.
"Kurang ajar! Sombong benar...!"
Chin Yang Kun menggeram marah.
Kemudian tanpa memberi peringatan lagi pemuda itu menerjang dengan golok pusakanya.
Sambil melompat golok itu mula-mula diayun dari atas ke bawah, seakan-akan golok itu mau membelah tubuh Hek-eng-cu menjadi dua bagian yang sama besar.
Dan disebabkan karena kemarahannya pula pemuda itu sengaja mengerahkan seluruh kekuatannya yang maha dahsyat!
"Whuuuuus...!"
Seketika tubuh Hek-eng-cu bagaikan membeku karena terhembus oleh udara dingin yang keluar dari golok pusaka itu!
Begitu dingin rasanya, sehingga iblis berkerudung itu seperti diguyur dengan air es yang keluar dari ujung golok pusaka itu!
Tentu saja Hek-eng-cu terperanjat!
Dia yang selama ini juga mempelajari tenaga dalam yang bersifat dingin ternyata masih tetap merasa menggigil juga oleh hawa yang terpancar dari golok pusaka tersebut.
"Bangsat! Bocah ini tampaknya mendapatkan sebuah senjata yang amat cocok dengan ilmunya! Sungguh golok mustika yang tiada duanya...! Aku harus berhati-hati menghadapinya."
Iblis itu berkata di dalam hatinya.
"Traaaang!"
Bunga api berpijar menerangi arena pertempuran ketika Hek-eng-cu menangkis golok itu dengan sepasang pisaunya.
Dan masing-masing segera meloncat mundur untuk memeriksa senjatanya.
Dan begitu melihat senjata tersebut masih utuh serta tidak kurang suatu apa, maka mereka berdua lantas maju bergebrak kembali.
Begitulah, sebuah pertempuran yang sangat dahsyat kembali berlangsung pula di dalam lembah yang sunyi itu.
Masing-masing berusaha dengan sekuat tenaganya untuk cepat-cepat mengalahkan lawannya.
Dan karena masing masing kini memegang senjata pusaka, apalagi keduanya mempunyai ilmu silat yang seimbang, maka pertempuran itu benar-benar sulit untuk diduga kesudahannya.
Paling-paling keduanya tentu akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk memanfaatkan kelebihan mereka untuk mendepak atau menindih kekurangan lawannya.
Hek-eng-cu semakin meningkatkan ginkangnya.
Tubuhnya berkelebat dan berputaran dengan cepatnya seperti baling baling, sehingga Chin Yang Kun terpaksa harus mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu I-kangnya untuk bertahan.
Pemuda itu memutar golok mustikanya di sekeliling tubuhnya, untuk membendung serangan pisau lawannya.
Kemudian sekali waktu, kalau ada kesempatan pemuda itu balas menyerang dengan tidak kalah dahsyatnya.
DemikianIah, begitu dahsyatnya pertempuran sehingga tak terasa embun pagi telah turun membasahi mereka.
Sinar cerah kemerahan telah mulai menyibak di langit sebelah timur lembah itu.
Hari telah mulai menjelang fajar.
"Kek, lihatlah... fajar sudah mulai menyingsing! Ohh, lama benar pertempuran mereka. Belum pernah aku melihat pertempuran seperti ini..."
Tiau Li Ing tiba-tiba berseru sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah langit.
"Ya, cucuku...! Kedua orang itu memang boleh dikatakan mempunyai kesaktian yang seimbang. Itulah sebabnya mereka berdua sama-sama menduduki urutan yang ketujuh di dalam Buku Rahasia itu. Mereka itu mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Coba, kau lihatlah yang lebih baik...! Hek-eng-cu mempunyai ginkang yang lebih tinggi, bukan? Namun demikian sulit juga baginya untuk mendesak Chin Yang Kun, karena lweekangnya ternyata masih kalah jauh dengan pemuda itu. Padahal ilmu silat mereka boleh dikatakan seimbang, kalau tidak lebih tinggi si pemuda itu malah! Kalau tadi Hek-eng-cu bisa menang di atas angin, hal itu disebabkan oleh karena Chin Yang Kun tak bersenjata. Untunglah pemuda itu tadi memakai tutup mantel pada tubuhnya, kalau tidak...dia bisa kalah! Dan sekarang... mereka sama-sama bersenjata, sementara Chin Yang Kun malah mempunyai kelebihan sedikit yaitu... mantel pusaka itu!"
Kakek Lo-siong memberi penjelasan panjang lebar, seolah-olah orang tua itu bisa menyaksikan pertempuran tersebut dengan jelas.
"Jadi...?"
Kakek Lo-si-ong tersenyum lebar.
"Kau tidak usah gelisah, cucuku...! Pertempuran ini akan segera selesai. Bukankah sudah kukatakan semuanya tentang mereka itu...? kau harus bisa menebak pula, bagaimana akhir dari pertempuran ini..."
"Ohh...!"
Benar juga, sejalan dengan semakin susutnya tenaga mereka masing-masing, maka semakin tampak pulalah selisih perimbangan kemampuan mereka.
Kelelahan yang diakibatkan oleh pertempuran yang berkepanjangan itu membuat Hek-eng-cu seolah-olah kehabisan napas.
Gerakannya tidak selincah dan segesit tadi.
Berbeda dengan Chin Yang Kun.
Meskipun pemuda itu juga tampak lelah, namun tenaga dalamnya yang hebat itu ternyata masih tetap membuatnya kokoh dan bersemangat.
Angin pukulan yang keluar dari tangan pemuda itu masih tetap juga menderu-deru seperti sediakala, seolah-olah sumber tenaga Liong-cu I-kangnya itu tidak pernah habis atau kering.
Maka dari itu jalan pertempuran merekapun segera menjadi berat sebelah.
Hek-eng-cu yang sudah semakin kehabisan tenaga itu sudah tidak dapat memainkan Bu-eng Hwe-tengnya dengan lincah lagi.
Akibatnya semua gerakan-gerakannya dengan cepat bisa dicegat dan dibuat kalang kabut oleh Chin Yang Kun yang masih segar dan bersemangat itu.
Malahan beberapa saat kemudian golok pusaka di tangan Chin Yang Kun itu sudah mulai menggores dan melukai kulit Hek-eng-cu pula.
Iblis berkerudung itu mulai mengumpat-umpat karena ketakutan.
Tapi ia sudah tidak bisa berbuat banyak lagi.
Tanpa mantel pusaka di tubuhnya iblis itu tidak bisa berlindung lagi dari amukan golok Chin Yang Kun.
Dan akibatnya semakin banyak pula luka yang tergores pada tubuh iblis berkerudung itu!
Akhirnya, iblis yang selalu merasa tidak akan terkalahkan itu, yang selama ini selalu bertindak kejam, ganas dan tidak berperikemanusiaan itu, menjadi hancur keangkuhan dan kesombongannya!
Iblis keji itu mulai merintih dan menjerit-jerit ketakutan!
Lenyap sudah semua kegarangan dan kebiadabannya selama ini!
Kini iblis yang menakutkan itu tak ubahnya seekor babi yang menguik-nguik ketakutan ketika dibawa ke tempat penjagalan.
"Ingat, Yang Kun! Bila kau membunuh aku, kau akan menanggung dosa yang besar. Kau akan dikutuk keluarga kita, karena kau teIah membunuh aku!"
Hek-eng-cu berteriak dengan suara gemetar.
"Persetan! kau pun telah membunuh ayah dan pamanku! Apa bedanya itu?"
Chin Yang Kun balas berteriak.
"Tapi... kau belum tahu, siapa aku ini sebenarnya! Kalau kau sudah tahu... kau benar-benar akan menyesal setengah mati nanti!"
Hek-eng-cu sekali lagi berusaha untuk melemahkan hati Chin Yang Kun.
Golok yang hampir mengenai punggung Hek-eng-cu itu mendadak berhenti di tengah jalan.
Perkataan yang diucapkan Hek-eng-cu itu sungguh sungguh mengena di hati Chin Yang Kun.
Perkataan itu segera mengingatkan Chin Yang Kun pada kata-kata kakek pengasuhnya tadi siang.
"Kurang ajar...! ayoh, bukalah kedokmu itu! Siapakah sebenarnya kau ini? Pengecut...!"
Dalam kemarahannya Chin Yang Kun berteriak, lalu meneruskan serangannya kembali.
Tapi kesempatan yang hanya sesaat itu telah dipergunakan dengan baik oleh Hek-eng-cu.
Sambil menahan rasa sakit yang diakibatkan oleh luka-lukanya, iblis itu telah meloncat menghindarkan diri.
Namun ketika iblis berkerudung itu berusaha untuk melarikan diri, Chin Yang Kun segera melompat mencegatnya.
"Traaaaaang...!"
Sekali lagi golok dan pisau itu saling beradu di udara.
Namun sekarang akibatnya sungguh lain.
Kalau semula tenaga mereka masih boleh dikatakan seimbang, kini Hek-eng-cu terpaksa harus terbanting dan jatuh tunggang langgang karena terdorong oleh kekuatan Chin Yang Kun!
Itupun ternyata belum menjamin keselamatan Hek-eng-cu pula.
Karena begitu iblis itu terpental jatuh, Chin Yang Kun segera mengejar lagi dengan sabetan goloknya.
"Aaaaah...!"
Iblis berkerudung itu menjerit setinggi langit.
Chin Yang Kun cepat-cepat melompat mundur kembali untuk menghindari percikan darah segar yang menyembur dari lengan Hek-eng-cu.
Dan iblis berkerudung itu sendiri tampak terhuyung-huyung sambil mendekap lengan kirinya yang putus akibat golok Chin Yang Kun tadi.
"Bangsat kurang ajar! Anak durhaka... ohh!"
Hek-eng-cu mengumpat dan merintih dengan suara tak jelas. Tapi suara itu cukup untuk didengar oleh Chin Yang Kun.
"Anak durhaka? He-he-he... pembunuh keji, sungguh menggelikan sekali ucapanmu itu. Huh! Apakah kau sudah lupa lagi pada ucapanmu sendiri tentang arti perkataan "durhaka"
Itu, heh?"
Pemuda itu mengejek.
"Bangsaaat...!"
Hek-eng-cu yang diingatkan pada ucapannya sendiri itu berteriak marah.
Kemudian tanpa menghiraukan lagi pada luka-lukanya, iblis berkerudung itu menerjang Chin Yang Kun dengan pisaunya.
Tapi karena gerakan iblis keji itu sudah tidak tangkas dan gesit lagi, maka dengan mudah Chin Yang Kun mengelakkannya.Pemuda itu berputar ke kiri untuk kemudian menyerang lagi dengan ujung goloknya ke arah pinggang Hek-eng-cu!
Kali ini Chin Yang Kun benar-benar ingin menghabisi lawannya!
Tampaknya iblis berkerudung itu sudah berputus-asa pula.
Dengan nekad iblis itu memutar tubuhnya, dan dibiarkannya saja golok Chin yang Kun itu menabas ke arah pinggangnya.
Dan pada saat itu juga, pisau yang masih terpegang di tangan kanan iblis itu melesat menyambar tenggorokan Chin Yang Kun.
"Wusssss...!"
"Croooooot!"
Chin Yang Kun menundukkan kepalanya, dan pisau itu melayang di atas ubun-ubunnya dan berbareng dengan itu goloknya dengan tepat menabas pinggang Hek-eng-cu!
Bagaikan sapi disembelih tubuh iblis berkerudung itu menggeliat, kemudian jatuh berdebam di atas tanah.
Pinggang itu menganga hampir putus!
Namun demikian ketika Chin Yang Kun mendekat untuk membuka kerudung hitam itu.
Tiba-tiba Hek-eng-cu bergerak untuk bangkit kembali.
Dan...
dengan susah payah iblis itu akhirnya bisa berdiri juga.
Tapi karena perutnya sudah terbuka dan pinggangnya hampir putus, maka iblis itu tak dpat berdiri tegak lagi.
Dengan darah yang mengucur dari luka-lukanya, iblis itu bertelekan pada lututnya.
"Kakek...!"
Tiau Li Ing yang telah biasa membunuh orang itu menjerit kecil dan membuang muka karena tak tahan melihat pemandangan itu.
Lo-si-ong merangkul pundak Tiau Li Ing.
Orang tua itu juga menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan main...! Sungguh hebat sekali daya tahannya!"
Desahnya seolah tak percaya.
Jikalau orang lain saja sampai merasa heran menyaksikan daya tahan yang sangat mentakjubkan itu, apalagi Chin Yang Kun yang langsung berhadapan sendiri dengan iblis itu.
Pemuda itu hampir-hampir tak mempercayai matanya lagi melihat Hek-eng-cu yang putus lengannya dan terbuka isi perutnya itu masih hidup.
Masih mampu berdiri pula malah!
Tak terasa Chin Yang Kun melangkah mundur perlahan-lahan saking tegangnya.
Tapi langkahnya segera terhenti begitu mendengar suara geram Hek-eng-cu.
Dan pemuda itu lantas berdiri tegak seperti patung, dengan perasaan yang semakin menjadi tegang dan...
heran!
Tiba-tiba pemuda itu melihat atau merasakan adanya suatu perubahan dalam sikap lawannya yang hampir mati itu.
Meskipun tidak bisa melihat wajah yang tertutup oleh kerudung hitam itu, namun Chin Yang Kun seperti melihat adanya sinar kedamaian yang memancar keluar dengan kuatnya, seolah-olah mau mengusir kabut kejahatan yang selama ini selalu membungkus jiwa Hek-eng-cu!
Mendadak pemuda itu seperti melihat kembali wajah Paman Bungsunya yang telah meninggal dunia itu!
"Aaaaah...!"
Chin Yang Kun berdesah seraya menatap lawannya itu dengan tajamnya.
"Yang... Yang Kun! Kemarilah...! A-a-a-aku hendak membisikkan sesuatu kepadamu. kau... kau datanglah kemari!"
Hek-eng-cu tiba-tiba membuka mulutnya.
Tiada lagi nada permusuhan di dalam suara itu.
Dan tiada lagi hawa kejahatan yang menyelubungi manusia yang hendak pergi meninggalkan kehidupan dunia itu.
Namun demikian Chin Yang Kun masih curiga dan tak mau melakukan perintah lawannya yang mau mati itu.
"Anakku...! cepatlah kemari! Aku ingin meninggalkan pesan kepadamu! Jangan takut! Aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Sebentar lagi aku akan mati. Dan aku tak ingin menambah bebanku dengan dosa yang lebih besar lagi. Oooh, Yang Kun... anakku, cepatlah...!"
Hek-eng-cu merintih dengan suara yang semakin lirih.
"Huh, iblis keji! kau telah membunuh seluruh keluargaku! Kini dalam keadaan sekaratpun kau masih menunjukkan kekejamanmu! Hmm, jangan harap aku akan termakan oleh tipu dayamu ini..."
Chin Yang Kun menggeram.
"Tapi... tapi... aku benar-benar hendak meninggalkan pesan kepadamu. Aku benar benar tak bermaksud jelek, apa lagi hendak memperdayai engkau... Yang Kun, lihat! Lihatlah, siapa aku...!"
Hek-eng-cu cepat menarik kerudung hitamnya.
Dan karena tangannya satu-satunya yang dipakai untuk menopang tubuhnya itu dipakai untuk membuka kerudung, maka tubuhnya yang mandi darah itu pun lantas tersungkur ke depan.
Namun demikian wajahnya yang putih pucat itu sudah dapat dilihat oleh Chin Yang Kun.
"Paman Bungsu...!?!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun menjerit sekeras-kerasnya.
Kemudian tanpa memikirkan keselamatannya lagi, Chin Yang Kun melompat dan menubruk paman bungsunya itu.
Golok yang dipegangnya dibuang begitu saja, dan kepala Hek-eng-cu atau paman bungsunya itu didekap serta dipeluknya sambil mencucurkan air mata.
"Bun susiok (Paman Bun)... oh, benarkah engkau Bun susiok? Bukankah Bun susiok telah meninggal dunia?"
Seperti orang yang tak waras Chin Yang Kun memeluk dan mengguncang-guncang tubuh Hek-eng-cu yang basah dengan darah itu.
"Kau... kau tidak salah lihat, anakku... Aku memang benar paman bungsumu. Aku... aku memang tidak mati pada waktu itu. Semuanya itu hanya sandiwara belaka, agar aku bisa terlepas dari lingkungan keluarga Chin. Dan hal itu telah kurencanakan dengan matang bersama pamanmu Wan It,"
Hek-eng-cu menjawab dengan suara yang masih tetap jelas dan terang.
"Ohh... tapi mengapa... mengapa paman berbuat demikian? Dan... dan kenapa paman juga tega membunuh ayah serta Kong susiok (paman Kong)?"
"Inilah yang hendak kuutarakan kepadamu, anakku. Sekarang cobalah kau keluarkan dulu bungkusan kain yang terikat di punggungku ini, kemudian kau bukalah!"
Hek-eng-cu memberi perintah.
Tanpa membantah lagi Chin Yang Kun segera mengambil bungkusan yang dimaksudkan itu.
Tapi pemuda itu segera mengkerutkan dahinya begitu melihat beberapa buah buku kumal di dalamnya.
Buku itu terbuat dari lembaran-lembaran kain sutera yang di
Jilid menjadi satu, dan sudah berlobang-lobang saking tuanya. Dan ketika pemuda itu membaca tulisan-tulisan yang tertera di sampulnya, seketika menjadi kaget.
"Kim-liong Sin-kun... Bu-eng Hwe-teng... Pat hong Sin-ciang! Eh... bukankah buku-buku ini peninggalan Bit-bo-ong almarhum?"
Tubuh Hek-eng-cu tampak menggeletar menahan sakit, namun tak sepatah katapun suara rintihan terdengar dari bibirnya.
"Benar, anakku... Buku ini memang benda peninggalan almarhum Bit-bo-ong. Dan buku ini kudapatkan secara licik dari tangan Hong-gi-hiap Souw Thian Hai beberapa tahun yang lalu. Nah, anakku...kuminta dengan sangat kepadamu, kembalikanlah buku-buku ini kepada Hong-gihiap Souw Thian Hai! Atau...kalau engkau tidak bisa melakukannya, hmm...lebih baik kau musnahkan saja, agar tidak terjatuh ke tangan orang lain! Jangan sekali-kali kau miliki ataupun kau pelajari isinya, sebab hal itu benar-benar sangat berbahaya! Ilmu yang tertulis di dalam buku-buku ini tampaknya memang diciptakan oleh seorang manusia iblis, sehingga ilmu yang dahsyat itupun seolah-olah mempunyai pengaruh buruk, kotor dan jahat terhadap siapa saja yang mempelajarinya."
Chin Yang Kun mencoba membuka beberapa halaman dari buku-buku itu.
Semuanya tampak biasa dan tak ada keistimewaannya.
Hanya suatu hal yang membuat kening Chin Yang Kun berkerut, yaitu dilihatnya beberapa halaman terakhir pada setiap buku itu telah hilang tersobek.
Dan pada setiap buku itu, yaitu pada halaman terakhir yang tersisa, tentu tertulis kata-kata .
HALAMAN SELANJUTNYA TELAH DIMUSNAHKAN KARENA SANGAT BERBAHAYA!
TERTANDA HOA-SAN LOJIN Tampaknya Hek-eng-cu juga dapat membaca pikiran Chin Yang Kun.
Tetapi karena sudah tidak punya banyak waktu lagi, maka iblis yang pada saat-saat terakhirnya telah menyadari kesalahannya kembali itu tidak bertanya lebih lanjut.
Sebaliknya iblis itu malah meneruskan kata-katanya.
"Yang Kun, anakku...! Ketahuilah! Sebelumnya sudah kau ketahui pula, bahwa sifat dan watak pamanmu ini tidak demikian jahat, kejam serta angkara murka, bukan...? Tapi semenjak berhubungan dengan Hek-mou-sai Wan It dan kemudian mempelajari ilmu-ilmu peninggalan Bit-bo-ong, aku lantas menjadi berubah pikiran. Watakku juga berubah. Aku lantas ingin menguasai dunia. Aku ingin semua orang tunduk dan menuruti segala kemauanku. Aku menjadi kejam, serakah dan senang melihat penderitaan orang lain. Dan karena tak seorangpun bisa mengalahkan aku, maka akupun lantas semakin lupa daratan. Aku ingin berkuasa di Tiongkok. Aku ingin merebut kembali singgasana kerajaan yang telah dikuasai oleh Liu Pang itu. Tapi ternyata masih ada sedikit ganjalan untuk melaksanakan cita-cita keinginanku itu. Sebagai saudara termuda di dalam keluarga Chin, aku tentu tak berhak untuk menduduki singgasana apabila perjuanganku itu nanti berhasil."
"Dan... oleh sebab itu paman lalu membunuh ayah serta Kong-siok (Paman Kong)?"
Hek-eng-cu berusaha untuk menggelengkan kepalanya, tapi tidak bisa lagi.
Sebaliknya mulutnya malah meringis dan mendesis menahan rasa sakit yang tiba-tiba menyerang seluruh tubuhnya.
Dan karena otot-ototnya menegang, maka darahpun segera mengucur semakin deras dari luka-lukanya.
Sehingga sekejap saja wajah yang pucat itu semakin menjadi putih pula seperti kapas.
"Yang Kun... uuuuuh...! Semula aku tidak bermaksud membunuh kakak-kakakku itu. Aku ingin berjuang sendiri tanpa melibatkan semua keluarga Chin. Untuk itu aku dan Hek-mou-sai Wan It lalu membuat sandiwara "kematianku"
Itu. Aku berpura-pura mati dan meninggalkan pesan agar seluruh keluarga Chin "lari"
Dari lembah itu.
Sandiwara itu kulakukan dengan maksud agar mereka tidak memikirkan aku lagi.
Selain itu, dengan keberangkatan mereka semua dari lembah itu, otomatis semua barang-barang berharga tentu akan mereka bawa pula, termasuk di antaranya Cap Kerajaan itu!
Sebab selama ini hanya ayahmu saja yang tahu di mana benda itu berada."
"Dan kemudian... paman bermaksud untuk merampas benda itu di tengah perjalanan! Hmm... paman sungguh lihai sekali, bisa bermain sandiwara sedemikian rapinya tanpa diketahui oleh ayah dan Paman Kong,"
Chin Yang Kun menyela perkataan Hek-eng-cu.
"Benar. Aku dan anak buahku memang bermaksud untuk merampas benda pusaka itu. Tapi semuanya itu ternyata tidak dapat terlaksana. Orang orang kepercayaanku, yang kutugaskan untuk merampas benda itu, kembali kehadapanku dengan tangan kosong, Benda itu ternyata tidak dibawa oleh ayahmu. Sementara itu orang orangku malah melapor kepadaku bahwa ada kelompok lain yang juga menginginkan benda pusaka itu. Aku menjadi marah. Dengan diam-diam aku lalu menemui ayahmu sendiri. Kutemui dia di rumah Pendekar Li. Dan kebetulan juga mereka sedang bertempur karena saling salah paham. Maka langsung saja kuringkus ayah dan pamanmu itu dan selanjutnya kuminta kepada mereka Cap Kerajaan itu. Tetapi ternyata mereka tidak membawanya. Dan lebih celaka lagi, ayahmu dan Kakak Kong seperti mengenali penyamaranku. Aku menjadi gelisah dan khawatir, maka aku lantas membunuh mereka!"
"Oooh, paman sungguh kejam sekali...!"
Chin Yang Kun dengan suara serak dan menahan tangis.
"Benar, anakku...! dan kini aku telah mendapatkan pembalasan yang setimpal pula..."
Hek-eng-cu bergumam sendiri diantara desah napasnya yang mulai tersengal-sengal.
Sungguh tidak dapat ditebak ataupun diterka, bagaimana perasaan Chin Yang Kun pada saat itu.
Demikian pahit kenyataan yang diterima oleh pemuda itu, sehingga kelihatan benar kalau pemuda itu menjadi sangat menderita hatinya.
Semua bayangan-bayangan indah dan bahagia di dalam keluarganya di masa lampau, kini satu persatu telah tanggal oleh kenyataan pahit yang dihadapinya.
Dan tampak benar kalau pemuda itu menjadi sangat kecewa sekali hatinya.
Dengan pandang mata kosong dan hampa, namun masih dengan sisa-sisa air mata di sudut matanya, pemuda itu memandang wajah paman bungsunya yang telah mulai meregang jiwa menghadapi maut itu.
Sukar dikira-kira, apa yang sedang berkecamuk di dalam hati pemuda itu.
Tapi yang terang, segala macam perasaan tentu telah bercampur aduk menjadi satu, yaitu antara perasaan kecewa, sedih, menyesal dan juga perasaan berdosa.
"Ooooh... demikian ruwetnya liku-liku jalan yang kutempuh selama ini, sehingga rasa-rasanya aku ini bukan hidup di dunia kenyataan, tapi hidup di alam impian atau hidup dalam sebuah lakon sandiwara saja. Dari kecil... aku merasa sebagai keturunan Keluarga Chin, tapi ternyata... aku bukan keturunan mereka. Dan orang yang selama ini kuanggap sebagai ayahku, ternyata juga... bukan ayahku pula. Malah orang lain, yang selama ini tak pernah kukenal nama dan wajahnya, kini secara tiba-tiba justeru menjadi ayahku! Dan... Paman Bungsu, yang demikian baik budi, ramah dan menjadi kebanggaan keluarga Chin, tak disangka sangka bisa berubah menjadi manusia iblis yang tega membasmi keluarganya sendiri. Sementara... aku sendiri, yang sejak kecil dididik, diasuh dan diberi pelajaran ilmu silat oleh Paman Bungsu, kini justru menjadi... pembunuhnya malah! Aaaaah...!"
Begitu dalamnya pemuda itu memikirkan nasibnya sehingga tak tahu kalau nyawa paman bungsunya telah keluar meninggalkan jasadnya.
Pemuda itu baru sadar ketika Lo-siong dan Tiau Li Ing datang menghampirinya.
"Anak muda, pamanmu sudah meninggal..."
Orang tua itu berkata perlahan agar tidak mengagetkan Chin Yang Kun.
"Aaaaah...!?!"
Ternyata pemuda itu masih tetap tersentak kaget juga.
Dengan wajah yang semakin tampak kaku pemuda itu lalu mengurus jenasah pamannya.
Dikuburkannya mayat Hek-eng-cu itu di bekas lobang tempat ia pura-pura dimakamkan dahulu, sehingga iblis itu kini benar-benar terkubur di tempat itu selama-lamanya.
Sedangkan barang-barang peninggalan Bit-bo-ong oleh Chin Yang Kun dikumpulkan menjadi satu dalam satu bungkusan besar.
"Di saat-saat terakhir hidupnya, Paman Bungsu ternyata telah menjadi sadar kembali dan memberi pesan agar aku mengembalikan barang-barang ini kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai. Hmm... baiklah, aku akan melaksanakannya sekarang juga! Aku akan pergi ke Pulau Meng-to. Kudengar kemarin pendekar itu akan ke Pulau Meng-to bersama Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu..."
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
Demikianlah, selesai mengubur mayat pamannya Chin Yang Kun lalu mengambil golok pusaka pemberian Si Penyanyi Sinting tadi dan mengembalikannya kepada Lo-si-ong.
Setelah itu sambil menganggukkan kepalanya pemuda itu minta diri untuk pergi ke Pulau Meng-to.
"Lo-cian-pwe, terima kasih atas bantuanmu. Tiau Li Ing... aku mohon diri pula..."
Hampir saja gadis itu menjerit dan menahan kepergian Chin Yang Kun.
Untunglah Lo-si-ong segera menahan lengan gadis itu.
Sebagai orang telah banyak makan asam garam kehidupan, dan juga sebagai orang buta yang telah terbiasa mempergunakan perasaannya yang amat tajam, sekejap saja orang tua itu sudah mengetahui bahwa cinta Tiau Li Ing terhadap pemuda itu bertepuk sebelah tangan.
"Cucuku...! biarkanlah dia pergi melaksanakan tugas yang diberikan oleh pamannya. Masih banyak waktu untuk bertemu kembali,"
Orang tua itu berbisik dengan suara halus. Tiau Li Ing membalikkan tubuhnya, lalu memeluk kakek itu dengan sedu-sedan yang tertahan di tenggorokannya.
"Kakek...!"
Keluhnya sedih.
Demikianlah, bersamaan dengan fajar pagi yang mulai bersinar di ufuk timur, Chin Yang Kun pergi meninggalkan lembah yang sangat bersejarah itu.
Pemuda itu sudah tidak memikirkan lagi keadaan Tiau Li Ing, Lo-si-ong maupun si Penyanyi Sinting itu.
Jangankan orang lain seperti mereka bertiga, terhadap dirinya sendiripun kini Chin Yang Kun juga sudah tidak peduli pula lagi, Chin Yang Kun benar-benar sudah berubah sekarang.
Penderitaan demi penderitaan, kekecewaan demi kekecewaan yang diterimanya, dan yang terakhir tadi adalah kenyataan pahit tentang paman bungsunya itu, benar-benar telah membuat hati pemuda itu menjadi hampa serta kecewa sekali terhadap hidupnya.
Hampir-hampir pemuda itu sudah tidak percaya lagi kepada manusia dan alam sekelilingnya.
Yang sekarang ada di dalam hati dan jiwa pemuda itu hanyalah perasaan kecewa, hampa dan sedih luar biasa.
Dan begitu beratnya beban perasaan itu, sehingga tanpa diketahui oleh pemuda itu sendiri rambutnya telah banyak yang berubah menjadi putih.
Sementara itu di Pulau Meng-to waktu itu ternyata juga terjadi pertempuran pula yang tidak kalah dahsyatnya dengan pertempuran Chin Yang Kun melawan Hek-eng-cu!
Dikatakan amat dahsyat, karena pertempuran itu tidak hanya berlangsung antara seorang melawan seorang, melainkan antara beberapa orang sekaligus.
Malam itu seusai pertemuan yang mengharukan dan tak disangka-sangka antara sepasang kekasih, yang telah bertahun-tahun berpisah dan tak pernah berjumpa, yaitu antara Keh-sim Siauwhiap dan Ho Pek Lian, suasana di pulau yang sunyi dan sepi itu seakan-akan lalu berubah menjadi cerah dan bergairah kembali.
Keh-sim Siauwhiap dengan wajah yang berseri-seri dan hampir tak pernah lekang dari sisi Ho Pek Lian, mengajak sahabat-sahabatnya ke ruang Pendapa Utama, untuk menemui tamu-tamunya.
Dan kedatangan mereka disana segera disambut dengan gegap gempita oleh teman-teman, sahabat-sahabat dan anak buah Keh-sim Siauwhiap itu.
Sebaliknya sambutan yang sangat meriah itu ternyata juga menjadi tanda pula akan mulainya suasana panas di arena pertemuan tersebut.
Otomatis semua orang atau tamu yang berada di dalam ruangan itu lantas mengetahui siapa orang orang di sekitar mereka yang berpihak kepada Keh-sim Siauhiap dan siapa pula yang kedatangan mereka di tempat itu hanya untuk mengadakan perhitungan dengan pihak tuan rumah.
Lain dari pada itu munculnya pendekar ternama seperti Hong-gi-hiap Souw Thian Hai bersama Keh-sim Siauwhiap ternyata juga menimbulkan kegaduhan pula.
Banyak yang bertanya-tanya di dalam hati masing-masing, ada keperluan apa gerangan sehingga pendekar ternama itu sampai datang pula di pulau itu?
Apakah pendekar itu memang sengaja diundang oleh Keh-sim Siauwhiap?
kalau memang demikian halnya akan sungguh ramai seklai pertemuan mereka kali ini nanti.
Serombongan tamu yang terdiri dari belasan tokoh-tokoh silat berkepandaian tinggi tampak duduk bergerombol di tempat yang terhormat.
Mereka tidak lain adalah rombongan bekas Putera Mahkota Chin yang lari bersembunyi di Pegunungan Kun-lun-san itu.
Selain Putera Mahkota itu sendiri, mereka terdiri dari Beng Tian, Yap Cu Kiat, Siang-hou Nio-nio dan Siangkoan Ciangkun beserta beberapa orang perwiranya.
Hanya saja perwira-perwira bekas pemberontak itu kini tidak memakai pakaian seragam perajurit lagi.
Namun demikian, mereka tetap mengenakan pakaian kuning-kuning sebagai tanda bahwa mereka dulu merupakan perwira-perwira pilihan dari pasukan Kaisar Han.
Lalu di belakang mereka berdiri belasan orang pengawal bekas perajurit Siangkoan Ciangkun, yang siap dengan pedang-pedang di tangan.
"Ongya...! inilah dia bangsat Souw Thian Hai itu! Sungguh kebetulan sekali kita bisa menemuinya di sini. Kita harus minta pertanggunganjawabnya atas kematian Siau Ongya,"
Siang-hou Nio-nio berbisik kepada bekas Putera Mahkota Chin itu.
"Ya. Tapi kita harus berhati-hati menghadapinya. Selain kepandaiannya sangat tinggi, temannyapun banyak. Apalagi dia tampaknya bersahabat dengan Keh-sim Siauwhiap pula. Hmm, apakah kita tidak lebih baik menunda saja urusan tentang Siau Ongya itu? Sekarang kita bereskan urusan harta karun itu saja lebih dahulu! Ini lebih penting karena berhubungan dengan biaya perjuangan kita nanti..."
Yap Cu Kiat, suami wanita tua itu menyahut perkataan istrinya.
"Kukira pendapat Yap Lo-Cianpwe itu memang benar. Masih banyak waktu untuk menemui pendekar sakti itu. Sedangkan urusan tentang harta karun ini sudah tidak bisa ditunda-tunda lagi. Laskar kita yang berjumlah ribuan itu membutuhkan biaya hidup yang tidak sedikit..."
Dari belakang Siangkoan Ciangkun menyela pula. Putera Mahkota itu menatap Beng Tian untuk meminta pertimbangan.
"Hambapun sependapat dengan saudara Yap. Semua kepentingan pribadi harus kita kesampingkan dulu. Kepentingan kita bersama harus kita dahulukan..."
Beng Tian berkata lirih.
"Baiklah...!"
Akhirnya bekas Putera Mahkota itu mengambil keputusan.
Demikianlah, setelah membalas penghormatan tamu tamunya kemudian mempersilakan sahabat-sahabatnya untuk duduk, Keh-sim Siauwhiap lantas memanggil para pembantunya.
"Siang In...! Coba kalian baca daftar para tamu kita kali ini beserta maksud dan tujuan mereka!"
Perintahnya perlahan, tapi terdengar oleh semua tamu yang memadati ruangan itu.
Sepasang gadis berbaju putih bergegas maju ke tengah tengah pendapa diikuti oleh kawannya, dua orang gadis berseragam hitam-hitam.
Di dalam tangan gadis berbaju putih itu terlihat sebuah buku tebal berisikan nama-nama tamu yang hadir di arena pertemuan tersebut.
Setelah memberi hormat kepada Keh-sim Siauwhiap, salah seorang dari gadis berbaju putih itu lalu membuka buku yang dibawanya.
"Tocu...! Seperti biasanya, kami berempat membagi mereka menjadi tiga kelompok, berdasarkan kepentingan dan tujuan mereka kesini. Kelompok pertama adalah kelompok tamu yang ingin menyatakan rasa terima kasih mereka kepada Tocu, karena Tocu telah membantu dan memberi hadiah kepada mereka. Kelompok kedua adalah kelompok tamu yang ingin mengadakan perhitungan dengan Tocu karena Tocu telah merugikan mereka. Sedangkan kelompok yang ketiga adalah kelompok orang-orang yang ingin menyatakan persoalan harta karun yang tersimpan di Pantai Karang kepada Tocu. Orang-orang yang terkumpul di dalam kelompok ini rata-rata menganggap bahwa pantai itu masih termasuk di dalam wilayah kekuasaan Pulau Meng-to. Oleh karena itu kelompok ini juga beranggapan bahwa harta karun tersebut tentu sudah diketahui pula oleh Tocu."
"Apa...? Harta karun yang diperebutkan itu berada di Pantai Karang? Siapa... yang mengatakan demikian?"
Ternyata Keh-sim Siauwhiap berseru kaget malah.
Beberapa orang tamu yang ikut tercatat di dalam kelompok itu kelihatan berdiri dari kursinya.
Salah seorang diantaranya yang mengenakan baju tapi membiarkan di bagian dadanya tetap terbuka lebar, segera berteriak ke arah Keh-sim Siauwhiap.
"Hek-eng-cu yang menemukan tempat itu! Dan dia memperolehnya dari peta yang terlukis pada potongan emas. Beberapa hari yang lalu Hek-eng-cu dan anak buahnya datang ke pantai itu untuk mencarinya, tapi tak berhasil, sebab pasukan dari Kotaraja keburu menggagalkannya. Mendengar peristiwa itu kami dan puluhan orang persilatan yang lain segera datang pula ke tempat itu. Kami ikut mencarinya pula. Namun sampai rusak pantai itu kami aduk, harta karun itu tetap tidak dapat kami temukan juga. Maka akhirnya kami semua lantas menjadi curiga kepada Tocu, sebab Tocu juga yang menguasai pantai itu. Siapa tahu Tocu telah mengambilnya...?"
Orang itu berteriak dan ikut-ikutan memanggil Tocu seperti halnya Siang In. Tiba-tiba Keh-sim Siauwhiap menundukkan kepalanya.
"Jadi...? jadi barang-barang itu adalah harta karun yang diperebutkan orang selama ini? Aaaah...!"
Desahnya.
"Naaah...! Apa kataku? Bukankah Keh-sim Siauwhiap sudah tahu pula tentang harta karun itu?"
Dari pojok ruangan mendadak terdengar teriakan serak seorang lelaki brewok seraya mengacung-acungkan kepalan tangannya.
"Huh! Tidak hanya tahu saja! Tampaknya harta karun itu telah diangkutnya pula...!"
Dua orang lelaki gendut yang duduk di dekat pintu depan berseru pula sambil berdiri.
"Hah? Apa...? Kalau begitu harta karun itu harus dibagi rata kita semua! Bukankah setiap orang berhak untuk mendapatkannya? Kalau Keh-sim Siauwhiap tidak mau, kita bakar saja pulau ini menjadi lautan api...!"
Mendadak Siang-hou Nio-nio ikut berdiri pula seraya berseru nyaring.
"Setuju!"
"Setuju!"
"Setuju! Itu baru adil namanya...!"
Ruangan itu lalu riuh dengan teriakan dan jeritan para tamu yang menyetujui ucapan Siang-hou Nio-nio tadi.
Mereka menjerit dan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan kepalan tangan dan senjata mereka, seolah-olah mereka benar-benar akan menyerang dan membakar pulau itu.
Beberapa orang tamu dari kelompok pertama, yang kedatangan mereka di pulau itu hanya untuk menemui Keh sim Siauwhiap dan mengatakan rasa terima kasih mereka, dan sebagian besar rata-rata tidak mengenal ilmu silat, segera lari berserabutan keluar dari ruangan Pendapa Utama itu.
Orang-orang itu menjadi ketakutan menyaksikan tingkah jago-jago silat yang seolah-olah telah menjadi gila itu.
Sementara itu para tamu yang termasuk dalam kelompok kedua, yaitu orang-orang yang tak suka kepada Keh-sim Siauwhiap, yang kedatangan mereka di tempat itu memang bermaksud mengadakan perhitungan dengan Keh-sim Siauhiap, seakan-akan malah memperoleh angin dengan suasana yang ribut itu.
Mereka segera ikut menimbrung pula untuk memanaskan suasana itu.
Mereka berteriak-teriak pula menantang pihak tuan rumah.
Dan suasana di arena pertemuan itu semakin menjadi kalut tatkala para sahabat dan pendukung Keh-sim Siauwhiap berdiri pula menghadapi kedua kelompok itu.
Beberapa orang di antara mereka telah mulai saling melotot dan memaki.
Malah mereka yang secara kebetulan telah berdiri atau duduk berdekatan sudah saling mendesak, siap untuk berkelahi.
Tapi sebelum semuanya itu terjadi, tiba-tiba Keh-sim Siauhiap bangkit dari tempat duduknya dan berteriak melengking.
"Diaaam semua...!"
Semua orang yang berada di ruangan itu seolah-olah mendengar suara petir yang meledak di dalam telinga mereka masing-masing.
Otomatis semuanya diam sambil menutup lobang telinga mereka, takut gendang telinga mereka akan pecah.
Beberapa orang di antara mereka malah sudah ada yang terhuyung-huyung karena terlambat menutup telinga mereka.
Meskipun demikian banyak juga jago-jago silat berkepandaian tinggi yang hampir tidak terpengaruh oleh pameran lweekang Keh-sim Siauwhiap itu.
"Cuwi semua harap mau mendengarkan omonganku...!"
Begitu ruangan tersebut telah menjadi tenang kembali Keh sim Siauwhiap meneruskan perkataannya.
"Terus terang sampai saat ini aku baru mengetahui kalau harta karun yang diperebutkan itu adalah harta karun yang tenggelam di Pantai Karang itu. Dan terus terang kuakui pula bahwa akulah yang mengambilnya, kalau tandu-tandu itu yang dimaksudkan sebagai harta karun."
"Tandu...?"
Siang-hou Nio-nio bertanya.
"Ya! Tandu-tandu yang terbuat dari emas. Ada dua belas buah tandu banyaknya. Benda benda itu kuketemukan secara tak sengaja enam atau tujuh tahun yang lalu, yaitu ketika perahuku dihantam ombak dan terbalik di pantai itu."
"Oooh...!"
Semua tamu bagaikan terpaku di tempat masing-masing.
Seluruh perhatian mreka tercurah untuk mendengarkan ucapan Keh-sim Siauwhiap itu.
Dan tak seorangpun di antara mereka yang mengeluarkan suara.
Ceritera Keh-sim Siauwhiap tentang harta karun itu benar-benar merampas seluruh semangat dan perhatian mereka.
"Lalu... tuan simpan dimana harta karun itu sekarang?"
Tiba-tiba bekas Putera Mahkota Chin itu memecahkan keheningan di dalam ruangan tersebut.
Keh-sim Siauwhiap menoleh ke arah bekas Putera Mahkota Chin itu.
Dahi pemilik Pulau Meng-to itu berkerut, suatu tanda bahwa ia tak mengenal tokoh itu.
"Siapakah tuan ini? Rasanya aku belum pernah berkenalan dengan tuan..."
Keh-sim Siauwhiap bertanya. Tapi Tocu dari Pulau Meng-to itu segera menutup mulutnya tatkala pandang matanya tertumbuk pada wajah Yap Cu Kiat dan Beng Tian.
"Ah, Yap Lo-Cianpwe dan Beng Lo-Cianpwe kiranya... maaf, siauwte tidak menyambut Jiwi Lo-Cianpwe sejak tadi..."
Lanjutnya kemudian dengan suara merendah.
Beng Tian dan Yap Cu Kiat terpaksa menganggukkan kepalanya dengan kikuk.
Apalagi ketika mereka melihat Keh-sim Siauwhiap itu tersenyum sambil melirik ke arah bekas Putera Mahkota Chin itu.
"Tocu tak usah menanyakan namaku, karena meski kukatakan... Tocu juga belum pernah mendengarnya. Lebih baik Tocu lekas-lekas mengatakan saja, dimana Tocu menyimpan harta karun itu..."
Bekas Putera Mahkota Chin itu cepat-cepat menyela untuk melindungi muka kedua pembantu utamanya itu.
"Benar...! jangan bertele-tele dan berbicara tentang hal-hal yang tak perlu! Lekaslah Tocu mengatakan tempat penyimpanan harta karun itu kepada kami!"
Laki-laki yang bajunya dibiarkan terbuka di bagian dadanya itu berseru lagi.
"Benar!"
"Benar!"
Dan merekapun lantas menjadi ribut pula kembali.
Semuanya berkehendak agar Keh-sim Siauwhiap segera mengatakan tempat penyimpanan harta karun tersebut.
Begitu bising dan ributnya suara mereka sehingga Keh-sim Siauwhiap tidak memperoleh kesempatan untuk mengatakannya malah.
Pendekar itu terpaksa harus menantikan redanya suara mereka.
Dan hal ini membikin salah seorang sahabat Keh-sim Siauhiap menjadi marah.
Orang tersebut tidak lain adalah ketua Tiat-tung Kai-pang daerah Selatan, yaitu Tiat-tung Lokai.
"Hei! Cuwi mau diam atau tidak...? Kedatangan cuwi kemari ini untuk mendapatkan keterangan atau... sengaja cuma mau ribut saja? Kalau memang hanya ingin ribut, baiklah...marilah kita langsung berkelahi saja! Keh-sim Siauwhiap tak perlu memberikan segala macam keterangan lagi! Ayoh...!"
Sambil meloncat ke tengah-tengah pendapa orang tua itu berteriak.
Tapi kata-kata ketua pengemis itu ternyata telah menyadarkan orang-orang itu.
Seketika mereka berhenti berteriak-teriak, sehingga sekejap saja ruangan itu telah menjadi tenang kembali.
"Terima kasih, Lokai...! Silahkan kau duduk kembali! Nah, cuwi sekalian...! tadi sudah kukatakan bahwa kalau yang dimaksudkan dengan harta karun itu adalah tandu-tandu emas itu, memang akulah yang mengambilnya. Tapi semua itu sudah terjadi pada enam atau tujuh tahun berselang, sehingga benda-benda itu sekarang sudah habis dan tiada yang tertinggal lagi. Semuanya sudah kusebar dan kubagi bagikan kepada fakir miskin dan rakyat yang menderita..."
"Bohong...!"
"Bohong...!"
"Tidak percaya! Geledah saja pulau ini!"
"Benar...! Mari kita geledah bersama!"
"Benar! Ayoh...!"
"Ayoh!"
Para tamu berteriak-teriak dan menjerit-jerit kembali.
belasan orang diantara mereka malah sudah berloncatan ke tengah-tengah arena dengan senjata di tangan.
Ho Pek Lian, Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu menjadi khawatir juga akhirnya.
Diam-diam mereka bertiga juga mempersiapkan diri mereka.
Tapi sebelum orang-orang itu menjadi semakin liar, tiba-tiba Yap Cu Kiat berdiri dari kursinya.
"Saya harap cuwi semua duduk kembali. Biarlah Keh-sim Siauwhiap menyelesaikan keterangannya dahulu...!"
Orang tua itu berkata perlahan, namun anehnya setiap orang merasakan dadanya seperti dihantam oleh kekuatan yang sangat kuat, sehingga belasan orang tamu tampak terbatuk batuk dan sesak napas.
Malah untuk beberapa saat orang orang yang meloncat ke tengah-tengah pendapa tadi tampak tersengal-sengal kehilangan napas mereka.
Oleh karena itu dengan wajah ketakutan orang-orang itu segera kembali lagi ke tempat duduk mereka.
Dan ruangan itupun menjadi tenang pula kembali.
"Terima kasih, Yap Lo-Cianpwe..."
Keh-sim Siauwhiap menjura kepada Yap Cu Kiat yang telah duduk kembali di kursinya. Lalu.
"Cuwi sekalian...! siauwte tidak berbohong. Cuwi semua tentu sudah mendengar nama dan sepak terjangku selam tujuh atau delapan tahun belakangan ini. Dan... maaf, siauwte tak bermaksud untuk menyombongkan diri... tapi kukira cuwi semua juga sudah pernah mendengar pula serba sedikit, tentang apa yang pernah siauwte lakukan dalam waktu tujuh-delapan tahun itu."
Keh-sim Siauwhiap menghentikan kata-katanya sejenak untuk melihat tanggapan tamu-tamunya.
Tapi kesempatan itu dipergunakan dengan cepat oleh Tiat-tung Lokai.
Ketua perkumpulan pengemis daerah selatan itu segera meloncat ke depan dan ikut berbicara di depan para tamu.
"Coba cuwi ingat-ingat kembali! Masihkah cuwi ingat bencana paceklik yang diakibatkan oleh perang besar tujuh atau delapan tahun berselang itu? Hampir seluruh penduduk negeri pada bagian utara menjadi pengemis pada waktu itu. Nah, bila cuwi masih ingat akan kejadian itu, cuwi tentu akan ingat pula sebuah peristiwa besar yang sangat menggemparkan masyarakat pada saat itu. Peristiwa besar itu adalah...sebuah iring iringan gerobag berisi gandum dari daerah Kang Lam menuju ke daerah paceklik, yang memakan waktu sebulan lebih itu! Iring-iringan atau barisan gerobag itu terdiri dari tiga ratus pedati besar berisi gandum dan duaratus gerobag kecil berisi bahan makanan lainnya. Kemudian dengan pengawalan pasukan kerajaan bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada penduduk yang kelaparan. Nah, kalau cuwi sudah tidak ingat lagi, siapa orangnya yang bertanggung jawab dalam peristiwa besar itu, tuan bisa bertanya langsung kepada para penduduk itu sekarang. siauwte percaya bahwa mereka tentu masih ingat akan nama...Keh-sim Siauwhiap yang budiman ini! Nah... lalu dari mana Keh-sim Siauwhiap memperoleh biaya untuk membeli dan mengirimkan bahan makanan sebesar itu? Dan... masih ada lagi sebuah peristiwa lain yang tak kalah besarnya dengan peristiwa tadi, yaitu tatkala terjadi banjir besar sungai Huang-ho, yang menimbulkan bencana harta benda, sawah-ladang dan penyakit di kalangan penduduk tepian sungai itu pada kira-kira lima tahun berselang. Cuwi tentu juga masih ingat siapa yang mendirikan barak-barak pengungsi, mencukupi bahan makanan mereka, dan kemudian juga mengirimkan obat obatan bagi penduduk yang sakit? Kalau toh cuwi sudah tak ingat lagi, cuwi tentu masih tetap ingat juga apa yang karena kemuliaan budinya itu memperoleh tanda penghargaan dari Kaisar Han. Nah, cuwi sekalian... dari mana Keh-sim Siauwhiap mendapatkan biaya sebesar itu kalau tidak dari harta karun itu? Dan semuanya itu belum terhitung dengan peristiwa-peristiwa kecil yang juga mendapatkan penanganan Keh-sim Siauwhiap pula. Cuwi masih ingat waktu ada wabah penyakit menular di daerah Sin-kiang tiga tahun yang lalu? Siapa yang mengumpulkan tabib di seluruh negeri dan mengirimkannya ke daerah itu bersama obat-obatannya? Hmmm... Keh-sim Siauwhiap pulalah orangnya! Jadi...kalau cuwi masih menginginkan juga harta karun itu, ambillah atau mintalah kepada para penduduk yang kelaparan, yang terkena musibah sungai Huang-ho, yang dilanda penyakit menular, dan kepada fakir miskin yang pernah mendapatkan bantuan Keh-sim Siauwhiap itu..."
Dengan panjang lebar dan berapi-api ketua perkumpulan Tiat-tung Kai-pang itu memberi keterangan.
Sungguh mengherankan!
Ratusan tamu yang berada di Pendapa Utama itu tampak terdiam semuanya.
Tak seorangpun menyela, apalagi membantah perkataan pengemis tua itu.
Semuanya menutup mulut, seolah-olah mereka memang mengakui apa yang dikatakan Tiat-tung Lokai tersebut.
"Tapi... tentu masih ada juga sisanya, meskipun sedikit..."
Tiba-tiba Siang-hou Nio-nio ambil suara. Dengan cepat Tiat-tung Lokai membalikkan badannya. Ditatapnya Siang-hou Nio-nio yang duduk di samping Putera Mahkota Chin itu dengan marah.
"Sungguh tega benar Nio-nio mengatakan hal itu! Dan hal itu berarti Nio-nio tidak menghargai jerih payah dan kemuliaan hati Keh-sim Siauwhiap sama sekali! Seharusnya Nio-nio merasa malu berkata seperti itu!"
"Kurang ajar! Pengemis hina... apa katamu, heh?"
Ternyata Siang-hou Nio-nio merasa tersinggung oleh kata-kata itu dan berseru marah pula. Tapi Tiat-tung Lokai malah tertawa semakin menyakitkan.
"Aha-aha-ah... Nio-nio sungguh pandai memutarbalikkan kata-kata! Siapakah yang "hina"
Sebenarnya?
Nio-nio atau aku?
Hehehe...
biarpun hanya seorang pengemis tapi aku ikut pula membantu pekerjaan pekerjaan mulia dari Keh-sim Siauwhiap itu.
Dan aku tak pernah meminta imbalan untuk itu.
Tapi apa yang Nio-nio lakukan?
Membantupun tidak.
Apalagi menyumbang harta benda.
Kini datang-datang malah minta bagian..."
"Tutup mulutmu...!"
Siang-hou Nio-nio menjerit marah, lalu terbang dari kursinya menyerang Tiat-tung Lokai.
Menyadari kalau wanita tua itu sangat lihai, Tiat-tung Lokai segera mengeluarkan tongkat besinya, lalu menyongsong serangan tersebut dengan tidak kalah ganasnya.
Dengan demikian mereka berduapun segera terlibat di dalam pertempuran yang cepat dan seru.
Dan biarpun hanya dengan tangan kosong, ternyata Siang-hou Nio-nio mampu menyerang dan bertahan sama tangguhnya dengan Tiat-tung Lokai.
Sebagai tuan rumah tak enak juga rasanya Keh-sim Siauhiap menyaksikan tamu-tamunya itu berkelahi di depannya, apalagi yang menjadi dasar persoalan adalah dirinya.
Maka sambil menarik napas panjang, Keh-sim Siauwhiap segera melangkah pula ke tengah-tengah pendapa.
Perlahan saja gerakan kakinya, namun apa yang terjadi sungguh membuat kagum dan geleng-geleng kepala para tamunya.
Sekali saja kaki itu tampak terayun dan itupun dilakukan oleh Keh-sim Siauwhiap dengan gerakan lambat, tapi seperti main sulap saja tiba-tiba tubuhnya telah berada di arena pertempuran.
"Maaf, siauwte mohon jiwi berdua mau menahan diri dahulu...!"
Pendekar itu berkata seraya memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah pertempuran.
Serangkum udara hangat berhembus dari telapak tangan tersebut menghantam persis di antara Siang-hou Nio-nio dan Tiat-tung Lokai.
Begitu kuatnya hembusan angin itu sehingga kedua orang yang sedang bertempur itu terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
"Sekali lagi siauwte mohon maaf. Silakanlah jiwi berdua duduk kembali! Ada beberapa perkataan yang hendak siauwte haturkan ke hadapan jiwi semua..."
Dengan suara tetap halus Keh-sim Siauwhiap mempersilakan mereka duduk.
Melihat kehebatan tenaga dalam Keh-sim Siauwhiap, Sianghou Nio-nio dan Tiat-tung Lokai tidak berani bersitegang lagi.
Apalagi mereka berdua juga merasa tidak enak hati pula melihat perlakuan Keh-sim Siauwhiap yang halus dan sopan itu.
Namun demikian keduanya masih tetap saling melotot dan melemparkan ancaman ketika harus kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
"Terima kasih...!"
Keh-sim Siauwhiap menjura. Lalu terusnya.
"Begini, cuwi semua... siauwte memang masih menyimpan sebuah dari pada tandu emas itu. Dan benda itu juga berada di sini pula. Inilah dia...!"
Pendekar dari Pulau Meng-to itu melangkah lagi ke kursinya yang bertutup kain sutera hitam halus berenda-renda dan kemudian membukanya.
Tampaklah sebuah tandu yang telah dipreteli bagian atas dan tongkat penyangganya, sehingga kini tinggal tempat duduk dan sandarannya saja yang ada.
Bagaikan disedot oleh besi bermagnit semua mata di ruangan itu melotot ke bekas tandu yang kini menjadi tempat duduk Keh-sim Siauwhiap tersebut.
Namun mata itu segera berubah menjadi ragu-ragu dan tak percaya tatkala melihat kursi itu tak lebih hanya sebuah kursi kayu biasa saja.
Dan keragu-raguan itu segera berubah pula menjadi kemarahan karena merasa dipermainkan.
Tapi Keh-sim Siauwhiap cepat mencongkel lapisan kayu yang melapisi sandaran tangan pada kursi itu, dan hasilnya...semua tamu menjadi terbelalak matanya!
Sinar kekuning-kuningan tampak menyorot keluar dari balik lapisan kayu yang diambil oleh Keh-sim Siauwhiap tadi.
Emas!
Ternyata tandu itu benar-benar terbuat dari emas tulen!
"Emas...!"
"Heh? Kursi sebesar itu... terbuat dari emas?"
"Ohh, lantas berapa kati berat seluruhnya...?"
"Hwaduh! Kursi itu bisa untuk membeli sebuah kota..."
Kemudian...
sesuatu yang tidak terbayangkan oleh Kehsim Siauwhiap sebelumnya berlangsung dengan cepatnya!
Ratusan tamu itu tampak berdesakan dan berebut ke depan untuk melihat sisa harta karun tersebut lebih dekat lagi.
Dan pertengkaran-pertengkaran kecil akibat keributan itupun segera terjadi pula diantara mereka.
Malahan beberapa saat kemudian sebagian dari mereka lantas berkembang menjadi saling tangkis dan baku hantam yang seru.
Akibatnya di tempat yang sempit itu segera terjadi perkelahian besarbesaran.
Beberapa orang yang terkena salah pukul atau tendangan nyasar, segera menjadi marah dan merasa terganggu niatnya untuk mendekati kursi emas itu.
Mereka lalu menggunakan kekuatan dan kepandaian masing-masing untuk menyingkirkan penghalangnya.
Dan akhirnya masing masing tamu itu juga tak segan-segan lagi mempergunakan senjata mereka!
Dan pertempuran yang dahsyatpun tak terelakkan lagi, masing-masing dengan segala cara dan kekuatan mereka berusaha maju mendekati kursi emas tersebut.
Tujuan mereka sekarang adalah memperebutkan kursi yang sangat berharga itu!
Sementara itu Keh-sim Siauwhiap tampak terpaku bagai patung di tempatnya.
Pendekar itu sungguh-sungguh tak mengira bahwa keadaan akan berbalik menjadi kalut dan tidak terkendalikan seperti itu.
Dan pendekar itu malah menjadi semakin gugup ketika tiba-tiba beberapa orang tamu yang dapat meloloskan diri dari keributan itu tampak berloncatan ke arahnya.
Mereka saling berebut lebih dulu untuk mencapai kursi emas itu!
Ketika Keh-sim Siauwhiap berusaha untuk menahan orang orang itu, tiba-tiba ia dikejutkan oleh datangnya belasan buah am-gi (senjata gelap) yang menyerang ke arah dirinya.
Dan am-gi itu terdiri dari berbagai macam bentuk, dengan kekuatan dan cara menyerang yang berlainan pula, sehingga Keh-sim Siauwhiap segera dapat mengetahui bahwa pelepas am-gi tersebut tidak hanya seorang saja.
Terpaksa pemilik Pulau Meng-to itu memperlihatkan ginkangnya yang maha hebat untuk mengelakkan senjata rahasia tersebut.
Sambil memperingatkan kawan-kawannya pendekar itu "beterbangan"
Melesat kesana kemari bagai burung walet yang sedang bermain-main diantara derasnya tetesan air hujan!
Dan...tak sebuahpun dari am-gi yang mampu menyentuh pakaiannya!
Tetapi akibatnya sungguh hebat!
Senjata rahasia yang tidak mengenai sasarannya itu melesat turun ke arah pertempuran!Mereka yang tahu akan datangnya am-gi itu segera mengelak, tapi yang tidak tahu segera melengking tinggi sambil menyumpah-nyumpah karena menjadi korban am-gi nyasar tersebut.
Darah mulai menetes membasahi pendapa itu, mengakibatkan orang-orang yang berada di dalamnya semakin bertambah ganas dan garang pula.
Orang-orang itu seolah-olah sudah menjadi lupa diri.
Kursi emas itu seakanakan telah membutakan mata dan hati mereka, hingga yang ada di dalam hati mereka sekarang hanyalah membunuh saingan mereka untuk dengan segera dapat mengambil harta karun tersebut.
Jilid 44 Dan pertempuran itu menjadi semakin kejam dan ganas tatkala orang-orang seperti Siang-hou Nio-nio, Siangkoan Ciangkun dan para pengawal mereka ikut pula terjun dalam kancah perebutan harta karun tersebut.
Korbanpun segera berjatuhan.
Darah segera mengalir membasahi lantai pendapa yang licin itu.
Keh-sim Siauwhiap sudah tidak bisa mencegah orang-orang itu lagi.
Pendekar itu bersama-sama teman dan pengikutnya segera terdesak ke pinggir menjauhi kursi emas itu sementara orang-orang yang telah kalap tersebut sudah mencapai kursi emas dan saling memperebutkannya.
"Kraaak...!"
Dengan suara keras kursi itu patah dan tercabik-cabik menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Dan bagian-bagian yang kecil itupun lalu rebutan pula diantara mereka.
"Saudara Kwee, marilah kita tinggalkan pendapa ini! Sudah amat sulit untuk mengatasi orang-orang kalap itu! Mereka tidak akan mau berhenti sebelum mereka berhasil atau mati!"
Souw Thian Hai berbisik di telinga Keh-sim Siauwhiap.
"Tapi..."
Keh-sim Siauwhiap masih ragu-ragu.
"Koko...!"
Ho Pek Lian berdesah pula seraya memegang lengan kekasihnya.
"Saudara Souw memang benar. Kita tak perlu melibatkan diri dengan mereka. Biarlah mereka saling berebut sisa emas itu. Marilah kita semua keluar...!"
"Tapi emas itu hendak kugunakan untuk membangun tanggul sungai di hulu Sungai Wei-ho..."
Belum juga pendekar itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba Siang In datang tergopoh-gopoh mendekati mereka.
"Tocu! Pulau ini sudah dikepung oleh pasukan kerajaan di bawah pimpinan Gui-Goanswe! Ratusan buah perahu telah berlabuh di seluruh pantai pulau ini. Katanya mereka hendak menangkap seorang bekas Putera Mahkota Chin yang ikut menyusup diantara tamu-tamu kita."
Gadis itu melapor.
"Heh...? Bekas Putera Mahkota Chin?"
Keh-sim Siauhiap berseru kaget, lalu menoleh ke tempat di mana Sianghou Nio-nio dan rombongannya tadi berada.
Tapi sulit sekaIi menemukan mereka.
Tempat itu telah menjadi ajang pertempuran dahsyat untuk memperebutkan potongan-potongan kursi emas itu.
"Baiklah! Mari kita semua keluar menemui Gui-Goanswe!"
Akhirnya Keh-sim Siauwhiap berkata.
Kemudian pemilik Pulau Meng-to itu mendahului keluar, diikuti oleh para pembantunya dan sahabat-sahabatnya.
Hong-gi-hiap Souw Thian Hai menempatkan dirinya di barisan paling belakang bersama Chu Bwee Hong dan Souw Lian Cu.
Pendekar sakti itu tampak tenang sekali dan tidak tergesa gesa.
Sambil melangkah, beberapa kali pendekar sakti itu menangkis atau meruntuhkan senjata atau am-gi yang meluncur ke arah rombongannya.
Atau kadang-kadang pendekar sakti itu sengaja memperlihatkan kesaktiannya dengan membiarkan saja am-gi dan senjata itu mengenai tubuhnya.
Benarlah.
Di tepian pantai yang berpasir lembut itu telah berbaris ribuan prajurit kerajaan, lengkap dengan senjata dan panji-panji mereka.
Di dalam keremangan sinar bintang di langit, barisan itu bagaikan pagar manusia yang mengelilingi Pulau Meng-to.
Kedatangan Keh-sim Siauwhiap dan rombongannya segera disambut oleh beberapa orang perwira dan prajurit pengawal.
Seorang perwira setengah umur bersama dua prajurit pengawalnya, maju ke depan menghentikan langkah mereka.
"Berhenti! Siapakah kalian?"
Perwira itu membentak. Keh-sim Siauwhiap menyuruh rombongannya berhenti, lalu ia maju pula ke depan.
"Siauwte Keh-sim Siauwhiap, pemilik pulau ini. Siapakah Ciangkun ini? Dan mengapa malam-malam begini berkunjung kemari? Apakah ada sesuatu urusan penting yang tidak bisa ditunda-tunda lagi?"
Perwira setengah umur itu kelihatan terperanjat.
"Oh... Keh-sim Siauwhiap rupanya. Maaf! Maaf...!"
Perwira itu tiba-tiba menjura. Lalu sambil menoleh ke arah prajuritnya perwira itu berbisik.
"Lekas kalian melapor kepada Gui-Goanswe, bahwa Keh-sim Siauwhiap telah keluar menemui kita!"
"Baik, Ciangkun!"
Kedua prajurit tersebut memberi hormat, lalu berlari pergi.
"Ah, sekali lagi kami semua minta maaf kepada Siauwhiap, karena kami telah mengejutkan Siauwhiap dan seluruh isi pulau ini. Biarlah nanti Gui-Goanswe sendiri yang memberi penjelasan kepada Siauwhiap, kenapa secara mendadak kami berkunjung ke pulau ini..."
Sambil menantikan kedatangan jendralnya, perwira itu berkata lagi.
"Oh... jadi kedatangan Ciangkun dan para prajurit ini bersama-sama dengan Gui-Goanswe? Bagus! Bagus! Memang sudah lama siauwte tidak pernah berjumpa dengan Gui-Goanswe. Sungguh kebetulan sekali kalau begitu..."
Tidak lama kemudian Gui-Goanswe datang dengan kudanya.
Meskipun sudah tua jendral itu belum juga kehilangan ketangkasannya.
Belum juga kudanya berhenti, jendral itu telah melompat turun dengan lincahnya.
"Hei... Siauwhiap! Apa khabar?"
Begitu tiba jendral tua itu segera memeluk dan menepuk-nepuk punggung Keh-sim Siauwhiap.
"Sudah lama kita tak bertemu. Kita bertemu yang terakhir kali... kalau tak salah... di Kotaraja, yaitu ketika Hongsiang berkenan memberi tanda penghargaan kepada Siauwhiap itu, bukan? Ha-ha-ha... benar! Benar!"
Keh-sim Siauwhiap tersenyum juga melihat kehangatan Gui-Goanswe itu.
"Ah... Goanswe! siauwte justru merasa kikuk dan malu kalau teringat peristiwa itu. Tidak seharusnya siauwte memperoleh penghargaan yang begitu tingginya dari Hongsiang, siauwte cuma berdiri saja di belakang tembok, orang lainlah yang melaksanakannya."
Pendekar itu merendahkan diri.
"Hei, kenapa begitu? Justru itulah yang penting. Tanpa Siauwhiap yang mengatur dan memimpin mereka, apa yang dapat mereka hasilkan? Lihatlah para prajurit kerajaan ini. Tanpa perwira dan pimpinan yang pandai, mereka tak ubahnya seperti penyamun yang tercerai-berai."
"Ah, benar...!"
Keh-sim Siauwhiap pura-pura kaget.
"Semula siauwte memang mengira ada perampok yang datang untuk menghancurkan tempat kediamanku ini. Eh, tak tahunya... Goanswe yang datang. Maaf, siauwte terlambat menyambutnya."
"Wah... Siauwhiap menyindir kami."
Gui-Goanswe tertawa. Lalu katanya lagi dan kini dengan suara bersungguh-sungguh.
"Siauwhiap...! Kedatangan kami ini memang sangat mendadak sekali, sehingga kami tidak sempat lagi memberi kabar kepada Siauwhiap. Soalnya di dalam penyelidikan kami, kami memperoleh petunjuk bahwa bekas Putera Mahkota Chin yang lari bersembunyi di Pegunungan Kun-lun itu, malam ini telah berlayar ke Pulau Meng-to bersama-sama para pembantunya. Malahan di antara mereka itu terdapat pula Siangkoan Ciangkun dan para perwiranya, yaitu para perwira kerajaan yang membangkang dan memberontak di kota Sin-yang beberapa hari yang lalu. Hmm... benarkah berita yang kami dengar itu, Siauwhiap?"
Keh-sim Siauwhiap memang tak bermaksud untuk menutup nutupi peristiwa yang terjadi di tempat kediamannya itu.
Oleh karena itu ia lantas bercerita apa adanya dan apa yang kini sedang berlangsung di Pendapa Utamanya.
"Siauwte tak hendak menghalang-halangi niat Goanswe untuk menangkap bekas Putera Mahkota itu. Tapi sebelumnya siauwte hendak memohon kemurahan hati Goanswe, yaitu agar Goanswe mau melindungi pulau dan isinya ini dari kehancuran. Sebab, hanya pulau sunyi inilah satu-satunya tempat siauwte berlindung selama ini. Dan selain itu, siauwte juga hendak memberi sedikit peringatan kepada Goanswe, yaitu agar Goanswe berhati-hati menghadapi bekas Putera Mahkota Chin itu, karena di antara mereka itu terdapat pula Yap Lo-Cianpwe, Beng Lo-Cianpwe dan Siang-hou Nio-nio."
Pendekar itu berkata halus.
"Ahh, terima kasih Siauwhiap. Kami memang tak bermaksud untuk merusak tempat kediaman Siauwhiap ini. Oleh karena itu kami akan bertanggung jawab penuh atas segala kerusakan akibat pertempuran kami nanti. Dan sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas peringatan Siauwhiap tadi. Kami memang telah mengetahui pula akan beradanya ketiga tokoh besar itu di samping bekas Putera Mahkota Chin itu. Oleh karenanya kami juga telah mempersiapkan pula beberapa orang anggota Sha-cap mi-wi untuk menghadapi mereka..."
"Sukurlah kalau Goanswe telah tahu. Hmm...kalau begitu kami akan menghindar dari pulau ini untuk sementara waktu. siauwte serahkan seluruh pulau ini kepada Goanswe dan... eh, benar... siauwte belum memperkenalkan para sahabat baikku ini. Mereka adalah..."
"Ah, sudahlah! Kami sudah mengenal mereka semua. Siauwhiap boleh membawa mereka keluar pulau ini. Bukankah mereka ini Hong-gi-hiap Souw Thian Hai dan sahabat sahabatnya yang terkenal itu? Apa lagi di sini ada Nona Ho Pek Lian pula, mana kami berani mencurigai mereka? Ha ha ha..."
Gui-Goanswe cepat memotong.
"Terima kasih kalau begitu..."
Demikianlah, rombongan Keh-sim Siauwhiap itu lalu pergi ke pantai dan meninggalkan pulau itu dengan naik perahu.
Karena sudah mendapatkan perintah dari Gui-Goanswe, maka tak seorangpun dari ribuan prajurit itu yang menghalangi kepergian mereka.
Para prajurit itu justru membantu mempersiapkan perahu mereka dan mendorongnya ke laut.
Beberapa saat lamanya Keh-sim Siauwhiap tetap memandangi Pulau Meng-to yang mereka tinggalkan.
Ada sedikit keharuan di hati pendekar itu, seolah-olah pendekar itu telah merasa bahwa ia takkan kembali lagi ke sana.
Pendekar itu baru tersenyum kembali tatkala Pek Lian menyentuh lengannya.
"Koko, apakah yang sedang kau pikirkan?"
Gadis itu bertanya perlahan. Keh-sim Siauwhiap menatap wajah kekasihnya itu dengan mesra, lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada yang kupikirkan, moi-moi. Aku hanya merasa agak terharu, karena pulau itu pernah menjadi tempatku mengenang dan memikirkan kau selama delapan tahun lebih..."
"Ah, kau ini...!"
Ho Pek Lian pura-pura mengomel seraya mencubit lengan Keh-sim Siauwhiap.
"Itukan salahmu sendiri! Mengapa kau tak mau berusaha mencari aku selama ini? Bukankah semuanya akan lekas menjadi beres kalau kau bisa bertemu dengan aku?"
"Hei! Hei! Bagaimana aku berani menemuimu kalau di saat perpisahan kita dulu saja sikapmu demikian dinginnya terhadapku?"
Keh-sim Siauwhiap berbisik menggoda.
"Huh! Siapa yang bersikap dingin kepadamu? kau lah yang salah mengira. Hmm...itulah kalau jejaka kurang pengalaman! Aku sebenarnya tidak bersikap dingin pada waktu itu, tapi... aku sedang bingung! Tahu?!?"
Ho Pek Lian menjawab dengan mulut cemberut.
"Baiklah! Baiklah...! Akulah yang saat itu tidak bisa melihat keadaan. Maafkanlah...!"
Keh-sim Siauwhiap mengalah. Ho Pek Lian tersenyum sambil menatap wajah Kwee Tiong Li. Diam-diam gadis itu menjadi kasihan melihat bekas-bekas penderitaan di wajah kekasihnya itu.
"Koko, maafkanlah aku...! Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku cuma bergurau denganmu. Akulah yang dulu bersalah kepadamu. Akulah kini yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Koko..., maukah kau memaafkan aku?"
Kwee Tiong Li atau Keh-sim Siauwhiap menundukkan kepalanya dan menatap wajah kekasihnya dengan mesra.
Dan kemudian untuk beberapa saat lamanya mereka saling menatap tanpa berkedip.
Kedua telapak tangan mereka saling remas satu sama lain.
Mereka tampak berbahagia sekali, dan remasan jari-jemari mereka itu seolah-olah merupakan sebuah ikrar, bahwa mereka berdua takkan ingin berpisah lagi selamanya.
Ternyata kebahagiaan tersebut tidak hanya dirasakan oleh Keh-sim Siauwhiap dan Ho Pek Lian saja.
Siang In dan gadis-gadis pembantu Keh-sim Siau hiap lainnya, yang selama ini selalu melayani keperluan pendekar itu, ternyata juga kelihatan berbahagia pula menyaksikan kebahagiaan mereka.
Mata para gadis itu saling melirik satu sama lain, untuk kemudian saling menyembunyikan senyum mereka di balik saputangan masing-masing.Begitu pula dengan para sahabat Keh-sim Siauwhiap yang lain.
Kelihatannya saja mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri, padahal secara diam-diam mata mereka melirik dengan wajah gembira pula.
"Sukurlah, Thian telah mempertemukan mereka kembali..."
Kwa Siok Eng berbisik di telinga Chu Seng Kun.
"Kau benar, kekasihku...Akupun merasa gembira sekali melihat mereka. Dan perasaan gembiraku ini rasa-rasanya juga terdorong oleh perasaan bahagiaku melihat Chu Bwee Hong telah mendapatkan kembali kebahagiaannya..."
Chu Seng Kun mengangguk haru seraya menatap punggung adiknya yang berdiri berjajar dengan Souw Thian Hai di anjungan perahu.
Memang.
Chu Bwee Hong kelihatan berbahagia sekali malam itu.
Wajahnya tampak cerah, bibir selalu tersenyum, sehingga wajahnya yang memang cantik luar biasa itu semakin tampak gilang gemilang ditimpa sinar bintang di langit.
Sebentar-sebentar gadis ayu itu melirik ke arah Souw Thian Hai, kekasihnya.
Demikianlah, semuanya tampak bergembira dan berbahagia.
Kalaupun ada yang tak bergembira, orang itu tak lain hanyalah Souw Lian Cu sendiri.
Gadis remaja itu kelihatan termenung sendirian di pinggir perahu.
Sambil bertelekan di pagar perahu gadis itu memandang air laut yang kehitam-hitaman di bawahnya.
Sekali-sekali terdengar tarikan napasnya yang berat.
Begitu banyaknya penumpang di dalam perahu besar berukuran sepuluh tombak itu, namun demikian gadis ini masih tetap merasakan kesepian juga.
Dan bila sesekali terpandang wajah Keh-sim Siauwhiap, gadis itu lantas teringat pula akan wajah seorang pemuda tampan bertubuh jangkung yang selalu mengusik hatinya.
"Aku telah mengundangnya pula untuk datang ke Pulau Meng-to hari ini. Apakah ia lupa bahwa hari ini adalah tanggal lima yang telah kujanjikan itu? Apakah ia memang tak ingin datang untuk mewakili pihak Kim-liong Piauw-kiok seperti yang pernah dikatakannya dulu itu? Aaaaaah...!"
Souw Lian Cu berpikir dan berdesah berulang-ulang.
Lalu gadis itu mencoba untuk menilai dan membaca perasaan hatinya sendiri.
Adakah kepulangannya ke Meng-to kali ini benar-benar karena memenuhi panggilan dan karena ingin membantu Keh-sim Siauwhiap?
Apakah kedatangannya kali ini bukan karena ingin bertemu Chin Yang Kun, dan untuk selanjutnya menguji kepandaian pemuda yang secara diam-diam telah menarik hatinya itu?
Selanjutnya Souw Lian Cu mencoba pula untuk melihat serta menilai sikapnya terhadap pemuda itu selama ini.
"Selama ini aku selalu acuh tak acuh dan dingin setiap kali bertemu atau berdekatan dengan dia. Kadang-kadang aku malah menunjukkan sikap tak suka dan benci kepadanya. Apakah sebenarnya yang menyebabkan semua itu? Benarkah aku ini tak suka dan benci kepadanya? Bukankah sebenarnya aku tak mempunyai alasan untuk membencinya? Bukankah dia pemuda yang baik dan tak pernah berbuat jelek terhadapku? Lalu apa sebabnya aku lantas membencinya? Ohhh... rasa-rasanya semua itu hanya satu jawabannya, yaitu... karena aku telah jatuh cinta kepadanya! Hmm... benar! Semua itu karena hati kecilku telah tertarik kepada pemuda itu, padahal saat itu pikiranku sedang kalut memikirkan Keh-sim Siauwhiap. Maka masuknya pemuda itu ke dalam pintu hatiku itu kuanggap sebagai godaan dan beban yang semakin memberatkan jiwaku. Oleh karena itu aku lantas menjadi uring-uringan tanpa sebab dan membencinya tanpa alasan, padahal semuanya itu bersumber pada rasa marah dan rasa benciku terhadap diriku sendiri, karena aku telah tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Ouhhhh..."
Tak terasa butir-butir air mata menetes dari sudut mata Souw Lian Cu.
Gadis itu menjadi kaget sendiri, dan dengan tergesa-gesa lalu menghapusnya dengan sapu tangannya.
Kemudian sambil berpura-pura mengusap rambutnya yang tergerai ditiup angin laut, gadis itu menatap jauh ke depan.
Sedikit demi sedikit kegelapan yang menyelubungi udara di atas permukaan air laut itu kian sirna, dan kemudian diganti dengan sinar terang dari matahari yang mulai mengintip di balik cakrawala.
Angin lautpun mulai tenang sehingga gelombang airpun tidak sebesar tadi.
"Ohh... betapa hangatnya sinar matahari pagi!"
Tiat-tung Lokai menarik napas seraya menggeliatkan badannya ke kanan dan ke kiri.
"Ya! Tapi... hei! Lihat! Ada perahu datang...!"
Tiba-tiba Tiat-tung Hong-kai menunjukkan jarinya ke depan.
Semua orang yang ada di dalam perahu itu tersentak kaget.
Mereka lantas memandang ke arah mana ketua perkumpulan Tiat-tung Kai-pang daerah utara itu menunjukkan jarinya.
"Ah, benar... Perahu kecil dengan seorang penumpang. Hmm, siapakah dia?"
Chu Seng Kun cepat menyahut pula.
"Wah! Paling-paling juga seorang nelayan. Bukankah kita telah mendekati daratan Tiongkok?"
Tiat-tung Lokai menjawab.
Perahu yang datang itu tampak seperti sebuah kotak kayu kecil yang hanyut di tengah-tengah lautan.
Dari kapal Keh-sim Siauwhiap yang besar, perahu kecil itu kelihatan dengan jelas terombang-ambing dan timbul-tenggelam dipermainkan ombak.
"Haaaaaiii...!"
Begitu melihat kapal Keh-sim Siauwhiap, orang yang berada di atas perahu kecil itu berteriak dan mendayung perahunya lebih giat lagi.
"Hei...siapakah dia? Hebat benar tenaga dalamnya!"
Tiat-tung Hong-kai bergumam seraya berdiri mendekati Tiat tung Lokai.
"Entahlah! Kita nantikan saja dia...!"
Sebentar saja perahu kecil itu telah datang, lalu dengan mahirnya orang itu memotong arus air yang diakibatkan oleh kapal Keh-sim Siauwhiap, dan merapatkan perahunya dari arah belakang.
"Heiii... siapa di atas?"
Orang itu mendongakkan kepalanya dan berteriak kembali.
Keh-sim Siauwhiap dan sahabat-sahabatnya, berbondong bondong menuju ke pagar kapal, sehingga kapal besar itu sedikit miring karenanya.
Mereka segera menjenguk ke bawah untuk melihat siapa yang datang.
"Chin Yang Kun...!"
Semuanya berdesah kaget.
"Yang Kun...!"
Souw Lian Cu yang masih tetap melekat di pagar perahu itu juga berdesah pula.
"Eeehh...!"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget pula.
Ternyata pemuda itu juga tidak mengira sama sekali kalau hendak berjumpa dengan mereka di tempat itu.
Pemuda itu hanya menduga bahwa kapal besar tersebut tentu datang dari Pulau Meng-to.
Dan maksudnya menghampiri kapal besar tersebut adalah untuk menanyakan keadaan di Pulau Meng-to malam itu.
"Saudara Yang Kun, kau kah itu? Marilah naik...!"
Kehsim Siauwhiap berseru.
"Eh... anu, apakah... apakah Souw-Taihiap ada di atas pula?"
Mendadak Chin Yang Kun menjadi gugup ketika melihat wajah Souw Lian Cu di antara orang-orang di atas kapal besar itu.
"Aku ada di sini, saudara Yang! Apakah kau mencari aku?"
Souw Thian Hai menyeruak maju dan menjengukkan kepalanya pula.
"Ya... ya! Ada sesuatu yang hendak siauwte sampaikan kepada Taihiap..."
Chin Yang Kun cepat-cepat menjawab.
"Kalau begitu, naiklah...!"
Souw Thian Hai mempersilakan seraya melemparkan tali ke bawah.
"Terima kasih!"
Chin Yang Kun menangkap tali tersebut, kemudian mengikatkan ujungnya di tiang perahunya.
Setelah itu dengan ringan dan gesit pemuda itu melompat ke atas kapal Keh-sim Siauwhiap.
Dan Keh-sim Siauwhiap sendiri bersama kawan-kawannya segera mundur pula untuk memberikan tempat.
Begitu menginjakkan kakinya di atas kapal Chin Yang Kun lantas menjura ke sekelilingnya.
"Maafkanlah siauwte kalau siauwte mengganggu cuwi sekalian..."
Pemuda itu berseru perlahan. Lalu katanya lagi seraya menghadap ke arah Keh-sim Siauwhiap.
"Siauwhiap, sebenarnya siauwte hendak berkunjung ke Meng-to untuk menemui Souw-Taihiap. Tapi sungguh kebetulan sekali siaute sudah bisa menjumpainya di sini. Eh... anu, bolehkah siauwte menjumpainya sekarang?"
Keh-sim Siauwhiap mengerutkan keningnya.
Sebenarnya pendekar dari Meng-to itu agak curiga terhadap Chin Yang Kun, apalagi bila melihat baju dan celana Chin Yang Kun yang bernoda darah itu.
Namun karena pemuda itu berkehendak untuk bertemu dengan Souw Thian Hai, pendekar itu tak bisa menolak atau menghalang halanginya.
Siapa tahu mereka berdua mempunyai urusan pribadi?
Dan siapa tahu pula mereka hendak berbicara tentang Souw Lian Cu?
Oleh karena itu Keh-sim Siauwhiap segera mengajak kawan-kawannya yang lain untuk menyingkir.
"Ohhh... silakan! Tapi... nanti aku juga ingin berbicara sebentar dengan saudara Yang, yaitu tentang... dendam saudara Yang tempo hari."
"Ah... benar! Keh-sim Siauwhiap, maafkanlah siauwte...! siauwte telah menemukan pelaku pembantaian itu, dan siauwte telah membalasnya! Hmm... maafkanlah kekurang-ajaranku beberapa hari yang lalu, siauwte benar benar ceroboh telah menduga yang tidak-tidak terhadap Siauwhiap..."
Chin Yang Kun buru-buru memotong perkataan Keh-sim Siauwhiap.
"Hei? Jadi... saudara Yang telah dapat menemukan orang itu? Oh, siapakah dia...?"
Keh-sim Siauwhiap berseru kaget. Mendadak wajah Chin Yang Kun berubah. Sinar kekecewaan kembali memancar dari sorot matanya.
"Orang itu adalah...Hek-eng-cu! Dan...Tanganku...tanganku telah membunuhnya!"
Pemuda itu menjawab dengan suara hampa dan tak bergairah, seolah olah pemuda itu justru menjadi kecewa dan menyesal telah dapat membalaskan dendam keluarganya.
Tentu saja perubahan sikap dan wajah pemuda itu tak luput dari perhatian Keh-sim Siauwhiap dan kawan-kawannya.
"Hek-eng-cu...? Jadi orang itu adalah Hek-eng-cu yang sangat terkenal itu? Dan orang itu telah mati di tangan saudara Yang?"
Keh-sim Siauwhiap berseru seakan-akan tak percaya.
Demikian pula dengan orang-orang yang berada di atas kapal besar itu.
Kata-kata yang diucapkan oleh Chin Yang Kun itu seperti geledek di telinga mereka, dan tak seorangpun dari mereka yang percaya pada ucapan pemuda itu.
Hek-eng-cu adalah tokoh besar yang berkepandaian amat tinggi, dan mungkin justru lebih tinggi dari pada Keh-sim Siauwhiap sendiri.
Oleh karena itu sungguh mustahil kalau pemuda itu bisa membunuhnya.
Tapi Chin Yang Kun tak peduli dengan keragu-raguan orang di sekelilingnya.
Dengan acuh tak acuh pemuda itu membuka buntalan yang dibawanya.
"Justru kedatangan siauwte ini juga ada hubungannya dengan orang itu. Karena sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, Hek-eng-cu telah minta tolong kepada siauwte untuk mengembalikan benda-benda pusaka peninggalan Bit-bo-ong ini kepada Hong-gi-hiap Souw Thian Hai."
"Oooh!"
"Ooh...!"
Tiba-tiba semuanya melangkah mundur begitu melihat benda-benda mengerikan yang telah memakan banyak korban itu.
Hanya Souw Thian Hai saja yang tidak beranjak dari tempatnya.
Dengan wajah tegang pendekar sakti mengawasi Chin Yang Kun.
"Kau... kau telah membinasakan iblis keji itu? kau tidak berbohong?"
Chin Yang Kun menggeleng lemah.
"Siauwte tidak berbohong. siauwte memang benar-benar telah membunuhnya. Tapi...tapi...ahh, sudahlah! Biarkanlah siauwte pergi sekarang..."
Chin Yang Kun menjawab lemah lalu melangkah kembali ke pinggir kapal. Dan ketika melewati Souw Lian Cu pemuda itu tampak tersipu-sipu sedih.
"Maafkanlah aku, Nona Souw..."
Katanya lirih.
Lalu pemuda itu meloncat kembali ke dalam perahunya.
Sekali lagi ia menoleh ke atas, kemudian mengayuh perahunya cepat-cepat pergi dari tempat itu.
Sungguh berbeda sekali sikapnya sekarang dengan ketika ia datang tadi.
Semua kejadian itu berlangsung dengan cepat dan tidak terduga sama sekali.
Semuanya masih tertegun di tempat masing-masing.
Dan begitu mereka tersadar kembali, Chin Yang Kun telah berlayar jauh meninggalkan kapal mereka, pemuda itu kembali menuju ke daratan Tiongkok lagi.
"Yang Kun, tungguuuu...!"
Tiba-tiba mereka dikejutkan lagi dengan adanya jeritan Souw Lian Cu.
Dan sebelum semuanya sadar apa yang telah terjadi, Souw Lian Cu telah mengambil sebuah perahu kecil yang terikat di atas buritan, dan melemparkannya ke dalam air.
Gadis itu segera meloncat ke bawah, lalu mendayung perahu kecil itu kuat-kuat untuk mengejar perahu Chin Yang Kun.
"Nona Souw...!"
Keh-sim Siauwhiap memanggil.
"Lian Cu...!"
Souw Thian Hai dan Chu Bwee Hong berteriak pula.
"Aaaagh!"
Yang lain berdesah kaget dan bingung.
Tapi gadis itu telah jauh meninggalkan kapal mereka.
Dan demikian pula halnya dengan perahu Chin Yang Kun.
Sebentar saja perahu mereka telah hilang di balik gelombang air laut yang tinggi.
"Oh, Hai-ko...! Bagaimana dengan Lian Cu nanti?"
Chu Bwee Hong mengeluh. Souw Thian Hai menghela napas panjang.
"Sudahlah, dia bukan anak kecil lagi! Biarlah ia menemukan jalannya sendiri...!"
"Tapi... tapi aku kurang begitu percaya kepada pemuda itu. Sikapnya amat aneh dan mengkhawatirkan. Aku takut jangan-jangan Souw Lian Cu nanti..."
"Ah, sudahlah! Sudahlah...! kau jangan berpikir yang bukan-bukan! Lebih baik kita berdoa saja untuk keselamatan Lian Cu."
Souw Thian Hai berkata sambil memeluk pundak Chu Bwee Hong.
Lalu pendekar sakti itu mengambil buntalan yang diberikan oleh Chin Yang Kun tadi.
Keragu-raguannya tentang Chin Yang Kun seketika lenyap.
Benda benda itu memang benar-benar pusaka mendiang Bit-bo-ong yang diambil secara licik oleh Hek-eng-cu beberapa tahun yang lalu.
"Tampaknya pemuda itu memang tidak berbohong. Ini betul-betul pusaka Bit-bo-ong asli. Sungguh hebat sekali kepandaian pemuda itu. Baru sekarang kudengar ilmu warisan Bit-bo-ong dikalahkan orang..."
Souw Thian Hai bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
"Tapi... bukankah saudara Souw juga pernah mengalahkan duplikat Bit-bo-ong yang meraja-lela di dunia kang-ouw pada sepuluh tahunan yang lalu?"
Keh-sim Siauwhiap yang mendengar kata-kata Souw Thian Hai itu cepat cepat memotong. Souw Thian Hai menoleh dan tersenyum kecut.
"Tidak. Bukan itu yang kumaksudkan. Bagi aku dan seluruh keluarga Souw, ilmu warisan Bit-bo-ong ini sudah bukan barang yang aneh dan asing lagi, karena diantara Bit-bo-ong dan kami sebenarnya masih sekeluarga. Apalagi Duplikat Bit-bo-ong yang kubunuh itu juga masih terhitung adik seperguruanku sendiri. Berbeda dengan Hek-eng-cu itu. Dia terbunuh oleh seseorang yang tidak mempergunakan ilmu keluargaku... Oleh karena itu tadi kukatakan bahwa baru sekarang ini kuketemukan ilmu warisan Bit-bo-ong itu dikalahkan orang."
"Aaah!"
Semuanya menarik napas panjang.
Demikianlah, selagi semua orang membicarakan dirinya, ternyata Chin Yang Kun sendiri telah pergi jauh meninggalkan mereka.
Perahu kecil yang ditumpanginya itu meluncur cepat dibawa angin.
Sesekali terlihat pemuda itu merentangkan lengannya dan menghirup udara pagi sebanyak-banyaknya.
Keretakan dan kehancuran hatinya akibat kekecewaan hidup yang dihadapinya, membuat pemuda itu merasa segan untuk kembali lagi ke dunia ramai.
Apalagi pemuda itu merasa sudah menyelesaikan semua tugas-tugas pokok yang diberikan oleh ayahnya.
Hanya beberapa hal saja yang belum ia laksanakan.
Itupun karena sejak semula ia memang tak berhasrat untuk melakukannya, yaitu mencari Cap Kerajaan, menghimpun kekuatan dan merebut kembali kekuasaan Wangsa Chin.
"Aku tak ingin menjadi Kaisar. Apalagi untuk menjadi Kaisar aku harus... merebutnya dari tangan Liu..., Liu... ah!"
Pemuda itu tak bisa melanjutkan keluhannya.
Pemuda itu lalu menatap ke sekelilingnya.
Dilihatnya ombak yang bergulung-gulung di sekitarnya.
Dinikmatinya suara kecipak air yang menghantam badan perahunya.
Lalu dikaguminya pula gumpalan awan yang berarak beraneka warna di atas langit yang membiru.
Dan semuanya itu ternyata sangat melegakan serta terasa lapang di dalam dada pemuda itu.
"Ahh... ternyata hidup bersama alam begini justru lebih nyaman dan membahagiakan dari pada hidup bersama manusia yang tamak dan kotor hatinya. Hmm, baiklah... aku tinggal mempunyai satu tugas lagi, yaitu menabur abu Nenek Hoa di samping makam Kakek Piao Liang. Setelah itu aku akan mencari pulau kecil di tengah lautan untuk mengasingkan diri, seperti halnya Keh-sim Siauwhiap itu. Dengan demikian penyakitku yang membahayakan orang itu juga tidak akan menimbulkan korban yang lebih banyak lagi..."
Chin Yang Kun kembali merenung. Wajahnya tertunduk lama sekali, seperti orang yang sedang samadhi atau memusatkan pikirannya.
"Eh...!"
Tiba-tiba pemuda itu tersentak kaget dan wajahnya menjadi tegang luar biasa!
Dalam ketermenungannya tadi mendadak berkelebat di angan-angan Chin Yang Kun sejumlah kapal besar berisi prajurit berseragam saling bentrok satu sama lain.
Dan tempat di mana pertempuran itu berlangsung rasa-rasanya hanya di depan perahunya saja.
Namun secepat angan-angan itu datang, secepat itu pula ia pergi.
Mendadak saja bayangan itu menghilang lagi dan diganti dengan bayangan yang lain, yaitu bayangan seorang kakek tua, berjenggot dan berambut putih panjang sampai di telapak kakinya.
Kakek itu seperti sedang berayun-ayun di atas selembar daun teratai, yang mengambang di atas permukaan air laut.
Dan tubuh kakek itu tidak tertutup oleh pakaian atau kain selembarpun.
Satu-satunya penutup tubuhnya hanyalah uraian rambutnya yang luar biasa panjangnya itu.
Tapi ketika Chin Yang Kun telah tersadar kembali, ia tak melihat siapapun di sekitarnya.
Yang ada tetap hanya gelombang air laut yang bergulung-gulung dan percikan air yang membasahi lantai perahunya.
"Ah, lagi-lagi pikiranku telah dibajak oleh ilmu Lin-cui Sui-hoat yang tak sengaja kupelajari itu. Hmmm..."
Pemuda itu menggerutu.
Namun betapa terperanjatnya pemuda itu tatkala didengarnya suara nyanyian mengalun di telinganya.
Tidak begitu keras, tapi kata-katanya sangat jelas didengarnya.
Langit dan Bumi itu abadi.
Sebabnya Langit dan Bumi abadi Adalah karena tidak hidup untuk diri sendiri, maka itu abadi.
Inilah sebabnya orang suci Membelakangkan dirinya Dan oleh karenanya dirinya tampil ke depan Ia menyampingkan dirinya.
Dan oleh karenanya dirinya utuh.
Karena ia tak ada kehendak pribadi, Maka ia dapat menyempurnakan pribadinya.
"Ah... Penyanyi Sinting itu lagi! Gila! Siapa sebenarnya dia? Kenapa ia tak pernah mau menampakkan dirinya? Dan... hei! Apakah dia itu Si Kakek Telanjang yang melintas dalam angan-anganku tadi?"
Chin Yang Kun tergagap kaget, lalu...sibuk memandang kesana kemari untuk mencari orang tua itu. Tapi yang terlihat dari perahu itu cuma air dan air saja. Tak ada yang lain.
"Lo-Cianpwe...! Kalau Lo-Cianpwe bermaksud menemui aku, mengapa Lo-Cianpwe tidak menampakkan diri saja?"
Akhirnya Chin Yang Kun berseru dengan mengerahkan lweekangnya.
Tak ada jawaban.
Suara nyanyian itu berhenti dan tak terdengar lagi, namun demikian Penyanyi Sinting itu tak menjawab pertanyaan Chin Yang Kun.
Tentu saja Chin Yang Kun menjadi kesal.
"Hmm... apakah Lo-Cianpwe merasa malu menemui aku karena Lo-Cianpwe tidak mengenakan pakaian?"
"Kurang ajar! Bagaimana kau tahu? Apakah kau bisa melihatku?"
Tiba-tiba saja Chin Yang Kun merasa ada angin bertiup di belakang perahunya, dan...
entah dari mana datangnya, mendadak di beIakang perahunya itu telah berdiri seorang kakek tua, yang ujudnya persis dengan yang ada di dalam angan-angannya tadi.
"Hayo, jawab! Bagaimana caranya kau bisa melihatku tadi, he?"
Kakek tua itu membentak penasaran.
Chin Yang Kun tidak segera menjawab.
Selain masih kaget pemuda itu juga merasa geli pula melihat ulah Si Kakek Aneh yang tiba-tiba datang itu.
Kalau tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan seorang sakti, mungkin pemuda itu sudah tertawa terbahak-bahak sejak tadi.
Bagaimana Chin Yang Kun tak hendak tertawa kalau orang tua yang sering menyanyikan ujar-ujar Lao-tse itu, dan yang kini sedang membentak bentak dirinya itu, ternyata hanya seorang kakek yang tingginya tidak lebih dari seorang anak lelaki berusia sepuluh tahunan?
Dan bagaimana pula Chin Yang Kun tidak merasa geli melihat "bocah tua"
Itu kini berusaha dengan sekuat tenaga untuk "menutupi"
Bagian-bagian tubuhnya yang telanjang? "Hei! Apa yang kau lihat, heh? Mau mengintip punyaku, yaa? Kurang ajar...! Hayo... kau menghadap ke sana! Dan cepat jawab pertanyaanku tadi! Lekas!"
"Eh-oh... anu... nama siauwte Chin..."
"Goblok! Siapa tanya namamu? Tanpa kau beritahupun aku sudah tahu kalau namamu Chin Yang Kun. Tapi bukan itu yang kutanyakan kepadamu. Yang kutanyakan adalah... bagaimana kau bisa melihatku tadi?"
"Wah, kalau itu...kalau itu sih Cuma kebetulan saja. Pada waktu...pada waktu siauwte termenung sendirian tadi, tiba-tiba melintas di dalam angan-angan siaute... bayangan wajah dan bentuk tubuh Lo-Cianpwe... persis seperti keadaan Lo-Cianpwe sekarang ini. Maka... maka..."
"Huh... jangan membual kau! kau pikir berapa umurmu sekarang, heh? kau pikir dengan usiamu yang baru belasan tahun ini kau hendak mengatakan kepadaku bahwa kau sudah mampu meyakinkan ilmu Lin-cui-sui-hoat, begitu? kau tahu berapa batasan umur seseorang yang ingin mempelajari ilmu itu? Paling sedikit dua puluh lima tahun, tahu? Itupun kalau semenjak lahir dia langsung belajar lweekang. Kalau tidak... huh, ya... belajar Iweekang dulu selama dua puluh lima tahun, baru kemudian berpikir untuk meyakinkan Lin-cui-sui-hoat itu..."
Chin Yang Kun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo-Cianpwe, ini... ini... wah! Siapa yang bilang kalau siauwte mempelajari ilmu Lin-cui-sui-hoat? Bukankah siauwte tadi cuma berkata, bahwa bayangan tentang Lo-Cianpwe itu hanya melintas sekejap di dalam angan-angan siauwte?"
"Huh! Apa bedanya itu? kau pikir tanpa ilmu itu kau bisa berkonsentrasi dan bisa membayangkan hal-hal yang tak dapat kau lihat dengan matamu itu, demikian jelasnya? Bocah sombong!"
"Wah! Sungguh repot benar Lo-Cianpwe ini...! Siapa yang berkonsentrasi? Bukankah siauwte sedang... sedang termenung?"
"Termenung? kau hanya termenung dan..., bisa melihat hal-hal yang belum kau saksikan? Omong kosong! Pembual!"
Penyanyi Sinting itu "mencak-mencak"
Di atas daun teratainya. Lalu teriaknya lagi.
"Kau maksudkan hanya dengan termenung kau sudah bisa melihat diriku yang bersembunyi di bawah air? Dan dengan termenung itu kau bisa melihat sesuatu yang belum terlihat oleh matamu?"
"Entahlah... siauwte sendiri kadang-kadang merasa bingung dan tidak mengerti pula. Apa yang pernah kupikirkan atau apa yang pernah terlintas di dalam angan-anganku, kadang-kadang cocok dengan kenyataannya. Seperti ini tadi, siauwte memang benar-benar melihat bayangan Lo-Cianpwe di dalam angan-angan. Malah tidak cuma itu saja. Selain bayangan Lo-Cianpwe, siauwte juga melihat bayangan yang lain, yaitu bayangan tentang beberapa buah perahu berisi prajurit, yang bertempur satu sama lain..."
"Apaaa...? kau melihat pertempuran di Pantai Karang itu pula?"
Penyanyi Sinting itu semakin kaget.
"Pertempuran di Pantai Karang? Pertempuran apa itu?"
"Mana kutahu? Mereka sama-sama prajurit kerajaan, tapi tampaknya mereka saling berselisih paham. Nah, lihatlah itu...!"
Penyanyi Sinting itu berkata seraya mengacungkan jarinya ke depan.
Chin Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya.
Sayup-sayup terdengar suara terompet dibawa angin dan jauh di depan sana lamat-lamat terlihat asap hitam mengepul tinggi ke udara.
"Itukah pertempuran yang Lo-Cianpwe katakan itu?"
Chin Yang Kun bertanya.
"Ya! Dan tampaknya sudah selesai sekarang, karena pertempuran itu sudah berlangsung sejak fajar tadi."
Keduanya lalu memperhatikan tempat yang sangat jauh itu dengan saksama.
Untuk sekejap mereka lupa pada pertengkaran mereka tadi.
Tapi suasana yang tenang itu ternyata tidak berlangsung lama.
Beberapa saat kemudian mereka dikejutkan oleh suara teriakan Souw Lian Cu yang sudah sampai di tempat itu pula.
"Yang Kunnnnn...!"
"Heh, celaka! Ada suara wanita di sini! Aku harus cepat-cepat pergi...!"
Mendadak seperti orang kebakaran jenggot kakek bertubuh pendek itu menjerit, lalu bergegas mengambil daun teratainya dan...ambles ke dalam air!
Dan yang tampak kemudian hanyalah daun itu saja yang hanyut menjauhi perahu Chin Yang Kun.
"Ah, makanya aku tak melihat orang tua itu tadi. Tak tahunya ia bersembunyi di bawah daun teratainya..."
Pemuda itu berkata di dalam hati. Lalu.
"Hei! bukankah suara itu tadi seperti suara Souw Lian Cu? Apa-apakah ia mengejar aku?"
Dengan sedikit gemetar Chin Yang Kun mengedarkan pandangannya, mencari gadis yang selama ini selalu terbayang-bayang di dalam ingatannya.
Dan sesaat kemudian jantungnya segera berdenyut semakin keras ketika dari jauh terlihat sebuah perahu kecil mendatangi.
"Yang Kuuun...!"
"Ah, benar-benar dia! Benar-benar dia! Ouh... apa... apa maksudnya mengejar aku? Apakah... apakah dia ingin mengadakan perhitungan dengan aku sekarang? Ah, tidak! Tidaaaaak! Aku tidak ingin mencelakainya! Aku harus lekas-lekas pergi menghindarinya, sebelum tanganku yang kotor dan bernoda darah ini mencelakainya..."
Tiba-tiba Chin Yang Kun berdesah ketakutan.
Lalu tanpa berpikir panjang lagi pemuda itu mendayung perahunya kuat-kuat.
Perasaan takut apabila dirinya nanti berbuat tak senonoh dan tidak baik terhadap gadis yang dicintainya itu membuat Chin Yang Kun mendayung perahunya seperti dikejar setan.
Sebentar saja perahu Souw Lian Cu telah jauh ketinggalan dan tidak kelihatan pula lagi.
Chin Yang Kun bernapas lega, apalagi ketika dilihatnya Pantai Karang telah kelihatan dari perahunya.
Namun rasa leganya tersebut segera berganti menjadi perasaan was-was tatkala dilihatnya ada "kesibukan"
Yang mengkhawatirkan di perairan pantai itu, yaitu kesibukan para perajurit dan perahu-perahunya setelah peperangan selesai.
Sebenarnya Chin Yang Kun tak ingin berurusan dengan mereka, tapi karena sudah terlanjur dilihat oleh mereka, maka ia terpaksa tidak bisa menghindar Iagi.
Pemuda itu terpaksa mengayuh perahunya untuk mendarat di pantai tersebut.
Air laut di pantai itu tampak keruh dan amis.
Dan beberapa kali pemuda itu harus menyingkirkan mayat-mayat atau pecahan-pecahan perahu yang menghalangi jalannya.
Dan beberapa kali pula pemuda itu harus menahan napas karena terpaksa menerobos gulungan asap tebal, yang mengepul dari perahu atau kapal besar yang terbakar.
"Hei! Berhenti! Siapakah kau...?"
Mendadak dari arah kanan meluncur sebuah perahu menghalangi jalan Chin Yang Kun.
Seorang perwira bertubuh pendek kekar tampak berdiri di ujung perahu, sementara di belakangnya, tampak enam orang perajurit bertombak berdiri mengawalnya.
Chin Yang Kun terpaksa membelokkan moncong perahunya dan berhenti di samping perahu perwira tersebut.
Tapi ketika pemuda itu mau menjawab, tiba-tiba perwira itu berseru kaget.
"Ong ya (Pangeran)...!"
Dan seperti sedang bermimpi saja Chin Yang Kun melihat perwira dan para perajurit itu berlutut ke arahnya.
Tentu saja kejadian yang amat mendadak serta tidak dimengerti oleh Chin Yang Kun itu sangat mengejutkan dan membingungkan pemuda itu.
Apa lagi ketika perajurit-perajurit itu memanggil "pangeran"
Terhadap dirinya.
"Ini..., ini... eh, apa maksud kalian ini sebenarnya?"
Dalam gugupnya Chin Yang Kun bertanya kepada perwira itu. Dengan agak takut-takut perwira itu menjawab.
"Ampun Ongya...! Kedatangan kami ke pantai ini memang untuk menjemput Ongya. Kemarin Hongsiang telah memerintahkan kepada kami dan seluruh perajurit kerajaan, untuk mencari paduka dan mempersilakan paduka pulang ke Kotaraja secepatnya. Hongsiang bermaksud untuk mengadakan pembicaraan empat mata dengan paduka."
Chin Yang Kun berdesah panjang dan menundukkan kepalanya.
Sejak semula pemuda itu memang telah menduga akan hal ini, yaitu cepat atau lambat Hongsiang tentu akan mengerahkan bala tentaranya untuk mencari dia.
Bagaimanapun juga pemuda itu adaIah satu-satunya putera Kaisar Han, sebab hingga kini Baginda itu tetap tidak mau kawin dengan siapapun juga.
Dan bila mengenang akan hal ini, secara diam-diam pemuda itu merasa kasihan dan tersentuh pula hatinya.
Demikian agung dan besar cinta Baginda itu terhadap ibunya, sehingga Kaisar itu rela tidak kawin selama hidupnya.
Padahal dengan kekuasaannya yang tidak terbatas itu Kaisar Han bisa memilih setiap wanita yang diingininya.
Sementara itu melihat Chin Yang Kun hanya tertunduk diam dan tak berkata-kata, perwira di atas perahu itu menjadi gelisah.
Maka untuk menghilangkan kegelisahannya tersebut perwira itu lalu meneruskan keterangannya.
"Tak kami sangka di pantai ini kami justru bisa bertemu dengan pasukan Siangkoan Ciangkun yang telah membelot dan hampir mencelakai Hongsiang di kota Sin-yang beberapa hari yang lalu. Tampaknya pasukan itu sedang bersiap-siap untuk menyerbu Pulau Meng-to. Dan melihat kesiap-siagaan pasukan itu, kami tidak berani membuang-buang waktu lagi. Kami segera menyerang pasukan itu sebelum mereka jauh meninggalkan pantai. Dan ternyata kami memenangkan pertempuran ini."
Chin Yang Kun masih tetap tertunduk diam.
Pemuda itu hampir tak mendengarkan cerita perwira itu.
Di dalam hati pemuda itu sedang terjadi pula perang batin yang hebat, yaitu antara keinginan untuk menuruti ajakan perwira itu dan keinginan untuk menolak ajakan tersebut.
Keduanya sama sama beratnya bagi pemuda itu.
"Ongya...!"
Akhirnya perwira itu memberanikan dirinya menegur Chin Yang Kun.
Namun Chin Yang Kun masih tetap berdiam diri.
Dan sementara itu dari arah pantai tiba-tiba muncul sebuah perahu besar mendekati mereka.
Beberapa orang perwira berseragam gemerlapan tampak berdiri di atas perahu itu.
"Ada apa di sini?"
Seorang perwira tua yang pernah dilihat Chin Yang Kun di istana Kaisar Han, maju ke depan dan bertanya kepada perwira pendek kekar tadi.
"Goanswe, kami telah menemukan Ongya di sini!"
"Apa...? Di manakah dia?"
Perwira tua itu tersentak kaget. Perwira bertubuh pendek itu segera mengangguk ke arah Chin Yang Kun.
"Inilah Ongya..."
Lapornya dengan suara bangga.
"Ongya...?? Ohh...!"
Perwira tua itu menatap Chin Yang Kun dengan air muka seolah tak percaya. Tapi sesaat kemudian perwira tua itu segera mengenal Chin Yang Kun.
"Ongya...!"
Sekali lagi perwira tua itu menyebut, lalu menjura dengan sangat hormatnya. Perwira-perwira yang lainpun segera mengikutinya.Chin Yang Kun semakin menjadi kikuk dan tak enak hatinya.
"Terima kasih, Ciangkun... terima kasih! Sungguh tak enak benar perasaanku menerima penghormatan Ciangkun yang berlebih-lebihan ini. Ahh... apa sebenarnya maksud Ciangkun menyongsong aku ini?"
Akhirnya Chin Yang Kun terpaksa menanggapi perkataan mereka. Perwira tua itu menoleh sekejap ke arah temannya, Si Perwira Pendek Kekar tadi. Lalu katanya sambil membungkukkan tubuhnya.
"Ampun Ongya... saya kira Giam Ciangkun tadi telah mengatakan pula kepada paduka, apa yang menjadi tugas kami saat ini. Tapi tak apalah kiranya kalau saya mengulanginya kembali. Ongya, kami mendapat perintah dari Hongsiang untuk mencari dan menjemput paduka di manapun paduka berada, dan kemudian mengawal paduka pulang ke Kotaraja secepatnya. Saat ini Hongsiang sedang menderita sakit. Oleh karena itu beliau sangat mengharapkan sekali kedatangan paduka..."
"Apa...? Liu-Twako sakit... eh, Hongsiang sakit? Sakit apa?"
Tiba-tiba Chin Yang Kun berseru kaget.
Dan sambil berseru pemuda itu melompat dari perahunya ke perahu Si Perwira tua itu.
Gerakan pemuda itu begitu cepatnya sehingga orang-orang di atas perahu itu baru sadar ketika Chin Yang Kun telah berdiri memegangi tangan perwira tua itu.
Para prajurit itu benar-benar tidak bisa percaya bahwa putera Kaisar Han tersebut mampu meloncati jarak yang sangat jauh itu.
"Ooh... bukan main!"
Seorang perwira muda berdesah kagum.
"Yaaah... itulah sebabnya Yap Tai-Ciangkun memberi pesan secara sungguh-sungguh kepada kita, agar kita jangan berlaku sembrono bila berhadapan dengan Ongya itu,"
Perwira yang berdiri di sampingnya berkata.
"Dan rasa-rasanya kita semua ini juga takkan mampu menangkapnya bila dia menolak untuk dibawa ke Kotaraja."
Seorang perwira yang lain memberi komentar. Sementara itu Chin Yang Kun segera menggoncang goncangkan lengan perwira tua itu saking tegangnya.
"Ciangkun...! Katakanlah! Apa yang sedang diderita oleh Hongsiang?"
Perwira tua malah menjadi pucat wajahnya.
"Hongsiang... jatuh sakit karena merasa...merasa terpukul batinnya akibat penolakan paduka dua hari yang lalu. Hongsiang...Hongsiang merasa sedih luar biasa!"
Dengan tergagap-gagap perwira tua itu memberi keterangan.
"Ooough...!"
Chin Yang Kun terhenyak di tempatnya.
Perlahan-lahan pegangan tangannya terlepas.
Matanya berkaca-kaca.
Pemuda itu lantas teringat akan kebaikan Hongsiang atau Liu-Twakonya itu selama ini.
Bagaimana nasibnya di kota Tie-kwan setahun yang lalu bila tidak memperoleh pertolongan ayahandanya itu, padahal waktu itu masing-masing belum tahu sama sekali bahwa mereka adalah ayah dan anak.
"Ongya...?"
Perwira tua itu tiba-tiba menyapa dan menyentuh lengan Chin Yang Kun, sehingga pemuda itu menjadi sadar akan dirinya kembali.
"Baiklah, Ciangkun... marilah kita kembali ke Kotaraja menemui Hongsiang...!"
Seperti tidak mempunyai pilihan lain lagi pemuda itu akhirnya berkata kepada perwira tua itu.
"Aaaah...!"
Semua perwira itu bernapas lega, seakan-akan mereka terbebas dari sebuah beban yang sangat berat.
"Oh, marilah Ongya... marilah!"
Perwira tua itu cepat-cepat mengangguk-angguk di depan Chin Yang Kun.
Seketika wajahnya menjadi cerah luar biasa.
Demikianlah, seperti orang yang sedang melamun Chin Yang Kun mengikuti saja semua perintah perwira tua tersebut.
Pasukan kerajaan yang baru saja bisa menumpas anak buah Siangkoan Ciangkun itu segera berangkat setelah berbenah diri dan merampungkan urusan mereka di tempat itu.
Dan Souw Lian Cu yang tiba di tempat tersebut tinggal menemukan sisa-sisa atau bekas-bekas pertempuran itu saja.
Gadis itu telah kehilangan jejak Chin Yang Kun.
Sementara itu pasukan yang membawa Chin Yang Kun ke Kotaraja tetap meneruskan perjalanan mereka.
Sesampai mereka di kota yang terdekat, pasukan itu Ialu dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama, yaitu para prajurit yang tidak mempunyai kuda, mereka tinggalkan di kota tersebut.
Sedang kelompok kedua, yaitu kelompok prajurit berkuda, yang terdiri dari empat puluhan orang prajurit, tetap meneruskan perjalanan untuk mengawal Chin Yang Kun.
Karena semuanya sekarang menunggang kuda maka perjalanan mereka itupun lantas menjadi lebih cepat pula.
Dan di setiap tempat atau kota mereka selalu bertambah jumlahnya.
Para perajurit kerajaan yang dua hari lalu disebar Yap Tai-Ciangkun ke seluruh pelosok timur negeri itu, segera bergabung dengan mereka begitu berjumpa dengan rombongan tersebut.
Rombongan itu menginap dua malam di perjalanan.
Dan setiap kali mereka menginap, mereka terpaksa mencari tempat yang lapang di luar kota, karena jumlah mereka sudah mencapai hampir seribu orang lebih sekarang.
Seribu orang dengan seribu kuda pula.
Benar-benar sebuah barisan berkuda yang luar biasa panjangnya.
Pada hari yang ketiga barisan itu sudah mencapai batas Kotaraja.
Seorang perwira tinggi yang mulai kemarin menggabungkan diri dengan rombongan itu dan sekarang berada di samping Chin Yang Kun bersama-sama perwira tua itu, segera menghentikan barisan tersebut.
"Maaf, Ongya...! Kita telah sampai di tapal batas Kotaraja dan sebentar lagi kita akan memasuki pintu gerbang kota sebelah Timur. Oleh karena di jalan-jalan nanti tentu akan banyak penduduk yang menyambut dan mengelu-elukan kedatangan Ongya, maka kami memohon dengan sangat kepada paduka untuk berganti pakaian yang sesuai dengan kedudukan paduka."
Chin Yang Kun mengerutkan dahinya tanda kurang setuju.
Tapi serentak melihat semua orang menundukkan kepala kepadanya, pemuda itu tidak tega untuk menolaknya.
Apalagi pemuda itu ingin lekas-lekas berjumpa dengan ayahandanya.
"Baiklah! Manakah pakaianku itu?"
Sahut pemuda itu singkat.
Seorang perwira muda segera turun dari atas kudanya dan berlari-lari datang mempersembahkan sebuah buntalan kepada perwira tinggi itu.
Dan selanjutnya perwira tinggi itu lalu mempersilakan Chin Yang Kun untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian yang berada di dalam buntaIan tersebut.
Dan beberapa saat kemudian Chin Yang Kun benar-benar telah berubah menjadi seorang pangeran yang tampan berwibawa.
Rambutnya yang gemuk tebal itu digelung ke atas dan diberi hiasan emas permata yang gemerlapan.
Sedangkan pakaian dalamnya berwarna kuning emas dan ditutup dengan sebuah mantel sutera hitam berhiaskan benang berwarna-warni di bagian pundak dan punggungnya.
Sepatunya juga berwarna hitam dengan hiasan permata merah di ujungnya.
Chin Yang Kun menghela napas panjang ketika melihat para perwira itu menatap kagum dan bangga kepadanya.
Di dalam hati kecilnya pemuda itu sebenarnya malah merasa kikuk dan kaku berpakaian seperti itu.
Tapi apa boleh buat, pokoknya dia dapat lekas menjumpai ayahandanya yang sedang sakit.
"Ongya...! Ongya benar-benar cocok dan serasi sekali mengenakan pakaian seperti ini."
Perwira tinggi itu memuji.
Dan betul juga kata-kata perwira itu.
Di setiap jalan mereka disambut dan dielu-elukan oleh para penduduk.
Lelaki perempuan, anak-anak dan dewasa, semuanya berlari-lari ke jalan besar dan berdesakan di sana.
"Hidup Pangeran...!"
"Hidup Putera Mahkota!"
Para penduduk itu berteriak-teriak, menjerit-jerit gembira, seakan-akan mereka itu sedang menyambut pasukan yang pulang dari medan perang.
Dan semakin mendekati pintu gerbang kota, penduduk yang menyambut rombongan itupun juga semakin banyak pula.
Chin Yang Kun semakin kikuk pula di atas punggung kudanya.
Belum pernah rasanya pemuda itu dihormat dan disanjung-sanjung orang seperti itu.
Apa lagi ketika pemuda itu melihat di antara mereka yang berdesakan di pinggir jalan itu amat banyak gadis-gadis Kotaraja yang sangat terkenal cantiknya itu, otomatis wajah pemuda itu menjadi merah dan keringat dinginnya keluar.
Namun demikian agar jangan mengecewakan mereka, terpaksa pemuda itu menyambut lambaian tangan mereka.
"Ciangkun...!"
Chin Yang Kun berbisik kepada perwira itu yang selalu mendampinginya itu.
"Mengapa mereka mengetahui kedatanganku? Dan mengapa mereka juga mengetahui kalau aku putera Hongsiang?"
Perwira tua itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Namun demikian dia tidak segera menjawab pertanyaan itu.
Sebaliknya, matanya yang telah mulai berkeriput itu melirik kepada Perwira Tinggi yang berkuda bersama dengan mereka itu.
"Hongsiang adalah Kaisar yang berani dan suka berterus terang, Ongya sendiri tentu masih ingat akan pertemuan di desa ln-ki-cung beberapa hari yang lalu. Sebenarnya pertemuan antara keluarga ln Leng Hoan dan Hongsiang itu sifatnya sangat rahasia dan pribadi. Meskipun demikian ternyata Hongsiang tidak berusaha untuk merahasiakannya.Hongsiang justeru mengumpulkan seluruh perwira dan pembantu-pembantunya untuk ikut menyaksikan pertemuan itu. Dan agaknya sekarangpun Hongsiang telah berbuat demikian pula terhadap kita,"
Perwira tinggi itulah yang akhirnya membuka mulut untuk memberi keterangan.
"Maksud Goanswe?"
Chin Yang Kun mendesak dengan wajah tak mengerti.
"Kemarin kami telah mengirimkan kurir untuk berangkat Iebih dulu ke Kotaraja. Kurir itu kami perintahkan untuk melapor kepada Hongsiang tentang kedatangan Ongya kemari. Dan agaknya... Hongsiang demikian gembiranya sehingga beliau lalu memerintahkan para pembantunya untuk memberitahukan kegembiraan itu kepada seluruh penduduk Kotaraja. Dan inilah akibatnya..."
Ternyata pintu gerbang kota itu telah dihias dan dipajang pajang pula dengan meriahnya.
Seregu perajurit pengawal utama yang berseragam indah gemerlapan tampak menjemput rombongan itu di pintu gerbang tersebut.
Tambur dan terompet segera dibunyikan sebagai ucapan selamat datang.
Dan rakyat yang berjejal-jejal di tempat itupun lantas bersorak-sorak gembira sekali, suatu tanda bagaimana cintanya mereka terhadap Kaisar junjungan mereka.
Begitu kuda yang dinaiki Chin Yang Kun menginjakkan kakinya ke atas jembatan penyeberangan, semua perajurit penyambut segera berlutut ke arah Chin Yang Kun.
Setelah mereka berdiri kembali, lalu seorang perajurit bergegas maju ke depan seraya menuntun...Si Cahaya Biru, lengkap dengan pakaiannya yang gemerlapan!
"Hei!
Cahaya Biru...!"
Chin Yang Kun berseru kaget, lalu bergegas turun menghampiri kuda kesayangannya itu. Prajurit yang menuntun kuda itu segera berlutut dan menyerahkan tali kendali kuda itu kepada Chin Yang Kun.
"Ohh... apa khabar Cahaya Biru?"
Chin Yang Kun menyapa dan mendekati kuda itu, lalu merangkul lehernya dengan penuh kecintaan.
Dan kuda itu tampaknya juga sangat bergembira sekali dapat berjumpa dengan tuannya.
Sambil meringkik perlahan kuda itu menggosok-gosokkan kepalanya ke badan Chin Yang Kun.
Demikianlah, dengan naik di atas punggung Si Cahaya Biru, Chin Yang Kun memasuki pintu gerbang Kotaraja yang sangat megah itu.
Regu Prajurit Pengawal Istana yang tadi menyambut kedatangan pemuda itu kini berganti menjadi pengiringnya, karena kota yang amat rapat dan sangat padat penduduknya itu tak mungkin bisa menampung ribuan prajurit berkuda yang tadi mengawalnya dari luar kota.
Hanya beberapa orang perwira saja yang tetap ikut mengantar Chin Yang Kun, yaitu Si Perwira Tinggi dan Si Perwira Tua beserta bawahannya Si Perwira Pendek Kekar itu.
Di dalam kota sambutan penduduk semakin meriah lagi.
Jalan yang lebar itu rasanya cuma penuh dengan manusia saja.
Mereka berbondong-bondong, berjejaI-jejaI dan saling mendesak di pinggir jalan, seolah-olah ingin berebut di depan agar bisa melihat wajah Chin Yang Kun sejelas-jelasnya.
Chin Yang Kun merasa terharu juga menyaksikan sambutan penduduk yang sangat meriah itu.
Ini benar-benar di luar dugaannya!
Dan semua itu membuat Chin Yang Kun semakin ingin lekas bertemu dengan Kaisar Han atau ayahandanya itu, sebab semua ini tentu karena pengaruhnya juga.
Begitulah, meskipun agak merasa kaku karena menjadi perhatian orang sedemikian banyaknya, Chin Yang Kun tetap bersenyum dan melambai-lambaikan tangannya.
Dan sama sekali pemuda itu tidak mengira dan menduga bahwa diantara penduduk yang dilaluinya itu terdapat beberapa orang yang pernah dikenalnya, yang kini dengan mata terbelalak memperhatikan dirinya.
"Hei... Tong Ciak Cu-si, bukankah pangeran itu saudara Yang Kun yang kita kenal dulu? Nah, apa kataku! Isyarat yang kuterima itu mengatakan bahwa Im-yang-kauw akan menjadi sebuah aliran yang kuat dan besar apabila bisa menarik anak muda itu. Nah, apa jadinya kini?"
Toat-beng-jin yang ikut berdesakan diantara penduduk itu menepuk pundak temannya.
"Yah, Lojin-ong memang benar. Tapi kita tak perlu berputus-asa dahulu, siapa tahu dia akan menjadi saudara kita juga? Bukankah dia pernah berjanji untuk mengunjungi perkumpulan kita?"
Dan tidak jauh dari tempat itu seorang gadis cantik juga tampak lesu setelah dengan kaget melihat siapa sebenarnya pangeran yang lewat itu.
Gadis itu diam-diam mengusap air matanya.
Meskipun demikian kakek tua yang berada di samping gadis tersebut merasakan juga kesedihan itu.
"Li Ing... sudahlah, kau tak perlu menyesali nasibmu. Belum tentu semuanya itu akan berakhir sampai di sini saja. Semuanya bisa berubah setiap saat..."
Lo-si-ong membesarkan hati gadis cantik itu.
"Tapi... jarak antara aku dan dia tampaknya semakin jauh juga, kek,"
Tiau Li Ing menyahut dengan suara sendu.
"Ya, tapi kau tak perlu berputus-asa karenanya..."
Dan di dekat pintu gerbang istana seorang gadis ayu berlengan buntung sebelah juga merasa kecewa di dalam hatinya begitu melihat Chin Yang Kun kini telah menjadi seorang pangeran yang amat dihormati orang.
"Dia ternyata seorang putera mahkota. Setiap saat dia tentu dikelilingi oleh gadis gadis bangsawan yang ayu dan cantik. Aaah... masakan dia mau memikirkan seorang gadis cacat seperti aku ini lagi?"
Perlahan-lahan gadis buntung itu keluar dari dalam himpitan para penonton di sekitarnya, lalu melangkah pergi dari tempat tersebut dengan kepala tertunduk.
Beberapa kali gadis itu hampir bertubrukan dengan penonton lainnya, sehingga banyak orang yang menjadi heran melihatnya.
Sementara itu Chin Yang Kun telah memasuki halaman istana.
Dengan masih tetap dikawal oleh Prajurit Pengawal Istana tadi, pemuda itu berjalan kaki melintasi halaman serta lorong-lorong bangunan istana yang amat luas itu.
Dan setelah berbelok-belok kesana kemari, akhirnya mereka sampai juga di Gedung Induk di mana Kaisar Han tinggal.
Seorang anggota Sha-cap mi-wi yang berjaga di pintu utama segera menyambut kedatangan mereka, Si Perwira Tinggi yang sejak tadi terus menyertai Chin Yang Kun lalu maju ke depan dan berbicara dengan anggota Sha-cap mi-wi itu.
Tapi sebelum pembicaraan tersebut selesai, tiba-tiba Yap Tai-Ciangkun tampak melangkah keluar dari dalam gedung itu.
"Oh... Ongya sudah datang rupanya! Wah, sungguh kebetulan sekali kalau begitu, kita bisa bersama-sama menghadap Hongsiang di Kuil Agung sekarang juga."
Panglima muda itu berkata gembira.
"Di Kuil Agung? Eh, katanya Hongsiang sedang sakit..."
Chin Yang Kun berdesah bingung. Yap Tai-Ciangkun menghela napas dengan wajah murung.
"Hongsiang memang sakit. Tapi beliau ingin berdoa terus sampai Ongya datang. Dan kami semua tak kuasa mencegahnya..."
"Ooooh!"
Chin Yang Kun terhenyak dan rasa haru tiba-tiba mengembang memenuhi rongga dadanya.
Maka ketika Yap Tai-Ciangkun itu melangkahkan kakinya, Chin Yang Kun buru-buru mengikutinya.
Dan mereka langsung menuju ke bangunan kuil tersebut.
Beberapa orang pendeta segera menyambut mereka, sementara belasan anggota Sha-cap mi-wi yang lihai-lihai itu tampak berkeliaran sambil berjaga-jaga di sekitar tempat itu.
"Hongsiang berada di altar pemujaan, Tai-Ciangkun,"
Seorang anggota Sha-cap mi-wi menemui Yap Tai-Ciangkun dan melaporkan keadaan Baginda.
"Dengan siapa beliau di sana?"
"Sendirian. Tak seorangpun boleh masuk."
"Baiklah! Aku akan menghadap..."
Yap Tai-Ciangkun dan Chin Yang Kun bergegas masuk ke ruangan dalam, di mana altar pemujaan atau altar sembahyang itu berada. Dan kedatangan mereka segera disambut dengan suara Baginda yang berat.
"Siapa...?"
"Hamba Yap Kim datang bersama Pangeran Yang Kun, Hongsiang..."
Yap Tai-Ciangkun menjawab seraya berlutut.
Tiba-tiba Kaisar Han yang duduk membelakangi mereka di atas altar itu bangkit berdiri dengan tergesa-gesa.
Lalu sambil bertele dan di atas meja sembahyang dia memandang Yap Tai-Ciangkun.
Keadaannya sungguh sangat menakutkan.Wajahnya pucat pasi, rambutnya dibiarkan tergerai di pundak, sementara kumis dan jenggotnya yang lebat luar biasa itu hampir menutupi seluruh mukanya.
"Apa katamu, Tai-Ciangkun? Puteraku sudah tiba? Di mana dia, hah?"
Suaranya gemetar.
"Liu-Twako...!?!"
Chin Yang Kun menjerit dan berlari menghampiri Kaisar Han.
Sekejap Kaisar Han itu terbelalak menatap Chin Yang Kun, dia seakan-akan tidak percaya bahwa Chin Yang Kun benar benar telah datang.
Namun beberapa saat kemudian mata itu lantas menjadi merah berkaca-kaca.
Dan kemudian mereka berdua, ayah dan anak itu lalu saling berpelukan dengan eratnya.
"Yang Kun, anakku...! Sekarang engkau sudah mau mengakui aku sebagai ayahmu, bukan?"
Hongsiang berkata sendu.
Chin Yang Kun balas menatap wajah Hongsiang atau ayahnya yang asli itu dengan perasaan haru dan kasihan.
Lalu pemuda itu menganggukkan kepalanya.
Meskipun demikian Chin Yang Kun tetap diam tak menjawab.
Entah mengapa, pemuda itu tiba-tiba teringat kembali pada Keluarga Chin.
Dan ingatan itu menyebabkan hati dan perasaannya kembali kosong dan hampa luar biasa.
Namun demikian pemuda itu tak hendak melukai atau mengurangi kegembiraan Hongsiang atau ayahandanya itu.
Oleh karena itu Chin Yang Kun kembali bersikap biasa, seolah-olah tidak pernah terjadi gejolak apa apa di dalam dirinya.
Maka ketika Hongsiang merangkulnya lagi, Chin Yang Kun segera membalasnya dengan mesra.
"Biarlah, suatu saat nanti...kalau waktunya sudah mengijinkan, aku akan berterus terang kepada Hongsiang, bahwa aku tak dapat hidup di dalam lingkungan istana seperti itu. Aku akan minta ijin untuk meneruskan niatku semula, yaitu hidup bertapa seorang diri di tempat sunyi."
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
Sementara itu Kaisar Han sama sekali tidak tahu apa yang sedang bergejolak di dalam hati puteranya itu.
Kaisar Han benar-benar sedang diliputi kegembiraan di dalam hatinya.
"Anakku...! Kita harus merayakan pertemuan kita ini semeriah mungkin. Dan aku akan memanggil semua menteri serta kepala daerah di seluruh negeri untuk menyaksikan pengukuhanmu sebagai Putera Mahkota. Tapi sekarang marilah kita berdoa lebih dulu untuk keberuntungan kita ini!"
"Tapi... bukankah Hongsiang sedang sakit? Apakah Hongsiang tidak beristirahat saja biar lekas sembuh?"
Chin Yang Kun berusaha membujuk Kaisar Han.
"Jangan pikirkan aku! Rasa sakitku sudah tidak terasa lagi begitu melihat engkau... Ayolah!"
Begitu berlutut di atas altar, tiba-tiba Chin Yang Kun tergetar hatinya.
Bayangan sinar kuning keemasan yang dulu pernah dilihatnya di bawah altar itu kembali menggoda hatinya.
Dan hatinya semakin tergelitik ketika angan-angannya seperti melihat benda bersinar itu kembali.
Namun pemuda itu menjadi kecewa tatkala ia tak bisa menemukan lobang itu lagi.
"Hongsiang..."
Akhirnya Chin Yang Kun memberanikan dirinya untuk melaporkan hal itu kepada Hongsiang.
"Hamba merasa seperti ada sesuatu di bawah altar ini. Bolehkah hamba membongkar altar ini sebentar saja...?"
"Apa? kau hendak membongkar altar ini?"
Kaisar Han berseru dan menatap Chin Yang Kun dengan dahi berkerut. Tapi melihat kesungguhan hati puteranya itu Kaisar Han lantas mengendorkan lagi sikapnya.
"Baiklah! Terserah kepadamu. Tapi... omong-omong, apa sih sebenarnya maksudmu?"
"Entahlah, Hongsiang... hamba seperti melihat sesuatu di bawah altar ini, tapi hamba tak tahu macam apa benda itu. Maka dari itu hamba hendak membongkarnya..."
"Hmm... tapi altar dari batu giok ini beratnya tentu lebih dari seribu kati. Bagaimana kau hendak mengangkatnya? Apakah kau perlu bantuan para pengawal itu?"
"Nanti saja, Hongsiang. Biarkanlah hamba mencobanya sendiri dahulu. Jikalau nanti hamba memang tak kuat mengangkatnya, barulah hamba akan memanggil mereka."
"Hmmmm, baiklah... kau boleh mencobanya! Tapi kau harus berhati-hati!"
Kaisar Han memberi peringatan.
Chin Yang Kun lalu mempersiapkan dirinya.
Dipegangnya pinggiran altar itu dengan kedua belah tangannya.
Kemudian dengan kuda-kuda yang sangat rendah pemuda itu mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu I-kangnya.
Maka sesaat kemudian seluruh urat-urat di dalam tubuh pemuda ini pun lantas menegang dan mengembang sepenuhnya.
"Brrrrt...sssssss!"
Seketika udara dingin terasa menghembus ke seluruh ruangan.
Sekejap Kaisar Han menggigil dengan mata terbelalak kaget, namun rasa kaget tersebut segera lenyap manakala dilihatnya altar yang besar itu mulai terangkat naik!
Malahan rasa kaget itu segera berganti dengan rasa takjub luar biasa!
Suara derak altar tersebut ternyata juga menarik perhatian Yap Tai-Ciangkun dan para pengawal yang sedang menunggu di luar ruangan.
Mereka bergegas masuk.
Tapi seperti halnya Kaisar Han, merekapun segera ternganga kagum menyaksikan kekuatan Iweekang Chin Yang Kun yang maha dahsyat itu.
Semuanya baru sadar kembali tatkala altar tersebut telah bersandar di tiang kuil.
"Bukan main...!"
Mereka berdesah hampir berbareng.
Namun Chin Yang Kun tidak mempedulikan pujian mereka.
Pemuda itu bergegas mencari lobang yang pernah dilihatnya di bawah altar dulu.
Dan begitu lobang itu telah ia dapatkan pemuda itu segera memasukkan tangannya.
Tentu saja perbuatan itu menimbulkan berbagai macam pertanyaan di dalam hati orang-orang yang melihatnya.
Semuanya bertanya-tanya di dalam hati, apa sebenarnya yang sedang dilakukan oleh Pangeran itu?
Tapi semuanya segera menjadi kaget sekali ketika melihat pangeran itu mengeluarkan sebuah benda kekuning-kuningan dari dalam lobang tersebut.
Dan benda sebesar buah persik itu tampak bercahaya dan bergetaran, seakan-akan memancarkan wibawa yang sangat besar.
Dan semuanya saja, tak terkecuali Kaisar Han dan Yap Tai-Ciangkun, merasakan getaran itu, sehingga tiba-tiba saja mereka menundukkan kepala mereka dengan perasaan segan dan hormat.
"Cap Kerajaan...!"
Mulut mereka berbisik hampir tak terdengar.
Sebaliknya, Chin Yang Kun sendiri juga menjadi kaget pula menyaksikan sikap orang-orang itu.
Sambil mendekati ayahandanya, pemuda itu berulang-ulang membolak-balikkan benda yang berada di tangannya tersebut.
"Cap Kerajaan? Tapi mendiang ayah mengatakan barang ini berada di dalam Goa Harimau. Hm... masakan lobang sekecil itu disebut Goa Harimau? Tapi... tapi... bagaimana dengan perintah untuk bersembahyang di waktu tengah malam, ketika bulan tepat di atas kepala itu? Aku menemukan lobang itu juga karena aku bersembahyang pada waktu bulan tepat berada di atas kepala. Aaah... kalau begitu... kalau begitu, apakah perkataan GOA HARIMAU itu cuma merupakan kata-kata sandi atau kiasan saja? Yaa... ya, agaknya memang demikian. Agaknya yang dimaksudkan dengan Goa Harimau itu adalah sarang lawan yang sangat berbahaya, yaitu istana ini... oh!"
Sambil melangkah pemuda itu berpikir keras. Oleh Chin Yang Kun Cap Kerajaan itu dia serahkan kepada Kaisar Han, dan saking gembiranya Kaisar itu memeluk Chin Yang Kun dengan eratnya.
"Anakku...! Penemuanmu ini semakin meyakinkan aku bahwa engkau memang berjodoh dengan tahta kita. Oleh karena itu hatiku juga semakin mantap untuk lekas-lekas mengukuhkanmu sebagai calon penggantiku kelak. Nah, Yang Kun... ayahmu sungguh-sungguh merasa sangat berbahagia sekali hari ini. Oleh karena itu kau boleh mengajukan sebuah permintaan kepadaku. Dan sebagai seorang raja aku akan mengabulkan permintaanmu itu sepanjang yang kau minta tidak bertentangan dengan peraturan hukum dan keadilan..."
Kaisar Han berkata dengan suara keras.
Chin Yang Kun yang sedang gugup dan kebingungan itu tiba-tiba tertegun mendengar tawaran tersebut.
Sekilas pemuda itu melihat setitik kesempatan untuk melepaskan diri dari cengkeraman istana itu tanpa harus melukai hati ayahnya.
Tapi pemuda itu tidak tahu bagaimana ia harus mengatakannya kepada ayahnya.
"Ini... ini benar-benar sebuah kesempatan yang tak mungkin kudapatkan lagi di kelak kemudian hari, apa lagi kalau aku telah dikukuhkan sebagai Putera Mahkota nanti! Tapi... tapi... bagaimana aku harus mengatakannya?"
Pemuda itu berpikir.
"Pangeran...! Hongsiang telah berkenan untuk memberikan sebuah hadiah yang tak ternilai kepada Pangeran. Pangeran bebas untuk menyebutkannya. Apakah Pangeran menginginkan sebuah istana yang bagus? Ataukah Pangeran sudah menghendaki seorang puteri sebagai pendamping Pangeran nanti? Silakan Pangeran menyebutkannya, Hongsiang tentu akan meluluskannya...!"
Yap Tai-Ciangkun yang melihat Chin Yang Kun cuma diam saja itu ikut pula mendesak.
"Ya..., ya, anakku! Apa yang dikatakan oleh Yap Tai-Ciangkun itu memang betul. Katakan saja, aku tentu akan memberikannya!"
Kaisar Han berkata pula sambil tersenyum. Chin Yang Kun menatap wajah ayahandanya, kemudian perlahan-lahan berlutut di depannya.
"Hongsiang...! Hamba sama sekali tak menginginkan apa-apa. Yang terpikir di dalam hati hamba selama ini hanyalah..., bagaimana hamba bisa membalas budi kepada orang-orang yang pernah melepas kebajikan kepada hamba."
"Maksudmu...?"
"Hongsiang, masih banyak yang harus hamba lakukan sebelum hamba menerima anugerah itu. Diantaranya adalah memindahkan abu jenazah Nenek Hoa ke dusun Ho-ma-cun dan menghilangkan pengaruh racun yang selama ini masih mengalir di dalam tubuh hamba..."
"Hmm... kalau itu permintaanmu, lalu berapa hari kau akan pergi?"
"Inilah yang memberatkan hati hamba. Hamba tak tahu berapa lama hamba akan dapat menyelesaikan tugas itu."
Kaisar Han menundukkan kepalanya seraya menarik napas dalam-dalam. Sekilas tampak rasa sesal di wajah Baginda karena telah terlanjur memberi janji kepada puteranya itu.
"Baiklah! Karena aku tadi telah menjanjikan sebuah permintaan kepadamu, maka aku akan memenuhi juga permintaanmu itu. Tapi ingatlah! Akupun akan berjanji kepada diriku sendiri, yaitu selama kau pergi aku akan tinggal di kuil ini! Selain mengerjakan tugas-tugasku sehari-hari, aku akan tidur, makan dan minum di tempat ini. Aku akan terus berdoa sambil menantikan kedatanganmu di sini! Nah, anakku, kau boleh pergi sekarang...! Yap Tai-Ciangkun, antarkan puteraku ini keluar istana!"
Akhirnya Hongsiang bersabda.
"Hongsiang...!"
Chin Yang Kun, Yap Tai-Ciangkun dan para pengawal itu buru-buru berlutut dan menengadahkan wajah mereka yang gemetaran.
Namun Hongsiang sudah tidak berkata apa-apa lagi.
Dengan pandang mata sayu seakan-akan tiada mempunyai semangat lagi Hongsiang melangkah meninggalkan mereka, menuju ke ruangan belakang dari kuil itu.
Sekejap saja semuanya sudah dapat menduga bahwa Hongsiang sangat kecewa dan merasa sedih sekali.
Tapi apa daya, semuanya sudah terjadi, dan tak mungkin seorang Kaisar menjilat Iudahnya kembali.
Hampir semua mata di dalam ruangan itu menyalahkan Chin Yang Kun.
Mereka seperti menyayangkan sikap Chin Yang Kun yang kurang memiliki perasaan kasih sayang terhadap ayahandanya sendiri itu.
Demikianlah, dengan kepala tertunduk Chin Yang Kun keluar dari pintu gerbang istana.
Wajahnya murung.
Pakaiannya sudah berganti dengan pakaian yang amat sederhana pula.
Dan kakinya melangkah satu-satu, menyusuri tepian jalan raya, menuntun Si Cahaya Biru yang polos pula, tanpa seorangpun tahu bahwa dialah pangeran mahkota Yang dielu-elukan orang tadi.
Seorang penjaja kue dengan mata mendelik mengumpat umpat Chin Yang Kun ketika Si Cahaya Biru hampir saja menyenggol dagangannya.
Dan seorang puteri hartawan buru-buru menyingkir ketika hendak berpapasan dengan Chin Yang Kun, seolah-olah pemuda itu seorang pengemis dekil yang memuakkan.
Padahal kedua orang itu, baik si Penjaja Kue maupun si Nona Hartawan adalah orang-orang yang sangat getol dan bersemangat ketika menyambut kedatangan Chin Yang Kun tadi.
Chin Yang Kun tidak mempedulikan mereka.
Dengan langkah gontai, sambil tetap menuntun kendati kudanya, ia berjalan menerobos keramaian kota dan keluar melalui pintu gerbang selatan.
"Hidup ini rasanya seperti sebuah impian saja...!"
Pemuda itu menarik napas panjang. TAMAT Yogyakarta, 2 Desember 1982 Karya . Sriwidjono Ilustrasi . Yanes & Sriwidjono Penerbit . CV. GEMA Cetakan Tahun . 1978 (Pertama) Sumber .
http.//kumpulan-cerita-silat.blogspot.com Kontributor . Awie Dermawan Di Edit ke DOC, PDF, TXT oleh . Cersil KPH
Baca Juga: Mutiara Hitam 7
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 8