Eps 1 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 01 Kang Lam, Di saat-saat gunung-gunungmu berselimutkan kembang, Di kala lembah-lembahmu bertaburkan biji-biji mutiara, Aku tak mampu berbuat apa-apa!
Rasa haru dan bangga Membuat aku hanya bisa berdiri melelehkan airmata..
Oh, Kang Lam!
Tak terasa rambutku telah menjadi putih!
Syair di atas selalu bergema dan didendangkan orang di daerah Kang Lam.
Di mana saja orang selalu menyanyikan lagu itu sebagai ungkapan rasa kagum serta bangga mereka terhadap keindahan dan kemolekan tanah itu.
Mereka sama sekali tidak peduli siapa yang menggubah dan menciptakan syair lagu itu, sebab mereka juga hanya memperolehnya dari orang-orang tua mereka pula.
Kang Lam!
Kang Lam memang sebuah daerah yang sangat indah mentakjubkan!
Terletak di bagian selatan dari Negeri Tiongkok yang besar.
Daerahnya amat luas, tanahnya subur dan airnyapun melimpah-ruah pula.
Di beberapa tempat mengalir sungai-sungai kecil yang bening airnya.
Penduduknya padat, namun karena tanahnya amat subur maka hasil pertaniannyapun lebih dari cukup untuk menghidupi mereka.
Apalagi matahari hampir selalu bersinar di sepanjang tahun.
Kang Lam diperintah oleh seorang Kepala Daerah, yang pada saat cerita ini terjadi, yaitu pada waktu Kaisar Han pertama berkuasa(Kaisar Liu Pang), dijabat oleh Cui Kok Teng, seorang bekas jendral di masa peperangan dulu.
Dan dalam mengatur roda pemerintahan daerahnya, bekas jendral yang sangat terkenal itu berkedudukan di Kota Soh-ciu.
Soh-ciu sendiri merupakan sebuah kota yang sangat besar.
Selain menjadi kota dagang yang ramai, kota Soh-ciu juga merupakan kota impian bagi orang-orang berduit.
Kota itu menyediakan hampir segala macam sarana untuk bergembira dan bersenang-senang.
Berbagai macam hiburan dan pertunjukan yang menarik, sampai dengan tempat-tempat terlarang seperti tempat judi dan tempat pelesiran yang sangat istimewapun tersedia pula di kota itu.
Apalagi Soh-ciu terkenal sebagai gudang wanita cantik di seluruh daratan Tiongkok, sehingga tidak mengherankan pula apabila kota itu menjadi semakin menarik saja di mata para pendatang.
Namun pada permulaan tahun ke sebelas setelah Kaisar Han berkuasa, daerah yang sangat mempesonakan itu mendadak berubah menjadi resah dan menakutkan.
Daerah yang semula aman dan damai itu tiba-tiba digemparkan oleh munculnya seorang penjahat berkepandaian sangat tinggi, yang selalu mengganggu ketenteraman penduduknya.
Dengan kesaktiannya yang seperti iblis, penjahat itu meraja-lela tanpa lawan.
Kota demi kota dalam daerah itu dirusak dan diganggunya tanpa pandang bulu.
Hampir setiap hari tentu terdengar berita tentang keganasan iblis itu.
Terutama berita tentang kebiadabannya terhadap wanita atau gadis-gadis cantik yang diculiknya!
Celakanya selama itu pula tak seorangpun yang bisa mengungkapkan siapa sebenarnya iblis itu.
Hal itu disebabkan oleh karena iblis itu selain berkepandaian sangat tinggi juga selalu membunuh mati semua korbannya.
Bahkan orang-orang yang pernah melihat atau memergoki perbuatannyapun telah ikut dibunuhnya pula.
Maka tidak mengherankan kalau hari demi hari jumlah korban kebiadaban iblis itupun semakin menumpuk pula.
Dan akhirnya iblis itu berani pula memasuki kota Soh-ciu yang terjaga kuat.
Seolah-olah tidak mempunyai perasaan takut terhadap para perajurit yang mondar-mandir di segala tempat, iblis itu mulai menyebar maut pula di kota itu.
Akibatnya penduduk menjadi gelisah dan ketakutan.
Semua orang tidak berani keluar terlalu jauh dari rumahnya, terutama para wanita dan gadisnya.
Dan bila malam telah datang, kota itu menjadi sepi luar biasa.
Semuanya merasa takut menjadi korban berikutnya dari Si Iblis Penyebar Maut itu!
Tentu saja berita tentang mengganasnya Si iblis Penyebar Maut di kota itu benar-benar sangat memerahkan telinga Kepala Daerah Gui Kok Teng!
Dengan kemarahan yang meluap-luap Kepala Daerah itu memimpin sendiri para perajuritnya mencari penjahat yang sangat berani itu.
Tapi usahanya itu tentu saja tidak membawa hasil, sebab tak seorangpun diantara mereka yang pernah melihat wajah buruan itu.
Mereka bagaikan berburu hantu yang belum pernah mereka ketahui bentuk dan rupanya.
Sementara itu para pendekar persilatan di daerah itu juga tidak mau ketinggalan pula.
Dengan bekal ilmu yang mereka miliki mereka ikut mencari iblis yang mengganggu daerah mereka itu.
Namun seluruh kepandaian mereka itu ternyata juga tak mampu untuk menandingi kesaktian Si Iblis Penyebar Maut.
Meskipun pada suatu saat mereka mendapat kesempatan untuk memergoki perbuatan iblis itu, tapi tak seorangpun di antara mereka yang mampu mengikuti bayangan iblis tersebut.
Bahkan Kang Lam Koai-hiap (Pendekar Aneh dari Kang lam), tokoh yang paling disegani di daerah itupun tak berdaya pula menghadapi kesaktian Iblis itu.
Orang tua itu terpaksa digotong pulang tanpa mendapat kesempatan sedikitpun untuk melihat wajah lawannya.
Demikianlah berita tentang keganasan si Iblis Penyebar Maut itupun akhirnya tersebar ke seluruh negeri bahkan sampai menyusup pula ke dalam tembok Istana di Kotaraja.
Malahan khabarnya Kaisar Han sendiri juga teIah mengirimkan pula utusannya untuk membuktikan kebenaran berita itu.
Tetapi utusan yang sangat diharap-harapkan oleh penduduk Kang Lam itu ternyata tidak pernah sampai di kota Soh-ciu.
Utusan yang membawa lima-ratus orang perajurit pilihan itu seolah-olah telah hilang lenyap di dalam perjalanannya.
Sementara itu Si Iblis Penyebar Maut justru semakin bertambah brutal dan meraja-lela tindakannya.
Bagaikan sesosok hantu yang tak pernah dapat dilihat oleh siapapun juga, iblis itu selalu gentayangan setiap malam mencari korbannya.
Dan korban kebiadabannya sudah tidak dapat dihitung lagi, sehingga kota Soh-ciu dan sekitarnya benar-benar telah berubah menjadi neraka yang mengerikan bagi para penghuninya.
Akibatnya hampir separuh dari penduduknya, terutama para wanitanya, terpaksa mengungsi ke tempat lain dan kota Soh ciu yang indah itu akhirnya menjadi sepi.
Keadaan itu sungguh sangat memprihatinkan dan sekaligus juga membuat penasaran hati Gui Kok Teng.
Tapi apalah dayanya, segala macam cara juga telah dia tempuh.
Namun nyatanya ribuan orang perajuritnya itu juga tidak berdaya menangkap iblis itu.
Rasanya memang lebih mudah bagi para perajuritnya itu untuk menghadapi ribuan musuh di medan laga dari pada harus melawan sesosok hantu yang tidak keruan rupa, bentuk dan tempat tinggalnya itu.
Begitulah, tampaknya keadaan itu akan terus berlarut-larut, tanpa sebuah kekuatanpun yang mampu mencegah si Iblis Penyebar Maut melakukan aksinya.
Sampai beberapa waktu kemudian, kira-kira pada pertengahan tahun ke sebelas itu pula, tiba-tiba dunia persilatan digemparkan oleh sebuah seruan atau ajakan yang ditujukan kepada para pendekar persilatan untuk bersama-sama memburu Si Iblis Penyebar Maut dan membinasakannya.
Dan seruan atau ajakan tersebut disampaikan secara beranting, dari mulut ke mulut, tanpa seorangpun yang mengetahui dari mana asal-mula dari ajakan atau seruan itu.
Namun yang pasti, pada saat yang telah ditentukan, kota Soh-ciu tiba-tiba dibanjiri oleh tokoh-tokoh persilatan dari segala penjuru daratan Tiongkok!
Mereka itu datang untuk memburu dan membinasakan Si Iblis Penyebar Maut yang telah menggegerkan negeri mereka itu!
Dan dari sinilah cerita ini bermula!
Matahari telah jauh menukik ke arah barat.
Senja telah menyelimuti kota Soh-ciu dan sekitarnya.
Dan sisa-sisa sinar matahari yang kuning keemasan itu masih menjamah padang rumput di kaki bukit, sehingga hamparan rumput itu laksana beludru yang terhampar di kaki langit.
Indahnya bukan main.
Namun semua keindahan itu terasa dingin dan mengecutkan hati!
Suasana yang sepi dan lengang, di tempat yang begitu luas, remang-remang pula, benar benar menimbulkan khayalan yang bukan bukan.
Apalagi bila teringat bahwa Si Iblis Penyebar Maut itu tentu telah bersiap-siap untuk keluar dari sarangnya.
Maka sungguh amat mengherankan sekali apabila di saat seperti itu ternyata masih ada juga orang yang berani lewat di sana, perempuan pula lagi!
"Ketepak!
Ketipak!
Ketepak!
Ketipak!"
Dengan melenggut di atas punggung keledai, dua orang wanita tampak melintasi padang rumput itu ke arah Soh-cia.
Yang seorang sudah tua, kira-kira berusia empat puluh tahun, berpakaian seperti pendeta, sementara yang lain masih muda-belia dan mengenakan pakaian model terakhir.
Mereka berjalan beriringan.
Perempuan tua itu berada di depan dan gadis belia itu mengikuti di belakangnya.
Meskipun cerita tentang Iblis Penyebar Maut itu tidak menakutkan hati mereka, namun wajah perempuan tua itu tampak tegang dan pucat.
Sungguh sangat berbeda dengan si Gadis yang acuh dan santai.
Gadis itu berusia sekitar tujuh belasan tahun.
Tubuhnya kecil ramping.
Wajahnya sangat menarik, cerah dan penuh kedamaian.
Matanya yang bening itu berbinar-binar mengawasi bintang-bintang yang mulai bermunculan di atas langit, sementara bibirnya yang merah tipis itu sesekali tampak merekah, mengagumi keindahan alam di sekitarnya.
"Tui Lan"! Cepatlah! Jangan berma las-malas begitu! Kita sudah terlambat dua hari! Jangan-jangan para pendekar itu sudah mendahului kita..!"
Perempuan berpakaian pendeta itu menoleh seraya berteriak.
Gadis yang dipanggil dengan nama Tui Lan itu menatap perempuan tua itu sekejab, mulutnya cemberut, lalu dengan sikap acuh matanya kembali menatap bintang-bintang di atas langit.
"Tui Lan!"
"Aah Subo! Kenapa Subo selalu terburu-buru saja? Lihat"! Suasana di sini demikian indahnya!"
Tui Lan atau gadis cantik itu merajuk.
"Anak bandel! Huh! Kau tahu apa maksud kita datang kemari ini, he?"
"Ah, subo menyinggung perkara itu lagi. Apa sih sebenarnya hubungan orang itu dengan Si Iblis Penyebar Maut ini?"
"Sungguh bodoh benar kau ini! Bukankah selama ini kita selalu mencari-cari bangsat itu? Nah, siapa tahu kalau bangsat itu juga Si Iblis Penyebar Maut ini pula? Bukankah keduanya memiliki ciri-ciri yang sama yaitu suka membunuh dan menculik wanita?"
Gadis cantik itu menghentikan keledainya. Dengan wajah merengut ia menatap perempuan tua itu.
"Setiap kali subo tentu mencurigai orang, dan setiap kali pula Subo selalu kesalahan tangan membunuhnya. Ahh"
Lalu apa bedanya tindakan subo ini dengan penjahat yang kita cari-cari itu?"
Perempuan tua itu menghentikan keledainya pula lalu berbalik dengan cepat.
"Apa katamu?"
Bentaknya keras.
"Subo! Teecu sudah bosan berkelana kesana-kemari mencari orang yang tidak tentu tempat tinggalnya. Dan teecu juga sudah bosan melihat subo selalu kesalahan tangan membunuh orang, hanya karena subo mencurigainya sebagai penjahat yang sedang kita cari-cari itu. Subo...! Marilah kita pulang kembali ke Teluk Po-hai dan hidup tenteram seperti semula! Subo mengurus kuil, teecu mencari ikan ke laut bersama para nelayan...,"
Mata perempuan tua itu tiba-tiba bergetar penuh kemarahan.
"Anak gila. Anak durhaka! Apa katamu...? Kembali ke rumah dan melupakan semua dendam kesumat itu, heh? Kurang ajar...!"
Wajah Tui Lan tiba-tiba menjadi pucat.
Gadis itu sama sekali tidak menyangka kalau kata-katanya akan menyinggung perasaan gurunya.
Dan gadis itu sama sekali juga tidak mengira kalau gurunya akan menjadi marah sedemikian rupa.
Apalagi sampai memaki-makinya seperti itu.
Sebenarnya perempuan tua itu adalah bekas ketua kuil Im-Yang-kauw cabang Teluk Po-hai yang berkedudukan di desa Ban-cung.
Tapi karena sifatnya yang keras, kejam dan suka membunuh orang, maka perempuan tua itu lalu dipecat dari kedudukannya sebagai ketua cabang.
Namun perempuan tua itu masih tetap menganggap dirinya sebagai pendeta Aliran lm-Yang-kauw dan selalu berpakaian seperti pendeta pula.
Oleh karena itu di dunia kang-ouw perempuan tua itu lalu digelari orang dengan nama Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai.
Meskipun demikian perempuan tua itu benar-benar amat menyayangi Tui Lan, muridnya.
"Subo, ma..maafkan teecu...!"
Tui Lan buru-buru minta maaf dengan suara gagap.
Melihat Tui Lan gemetar di atas keledainya, perempuan tua itu lalu menghela napas panjang.
Matanya yang berkilat-kilat marah tadi lalu meredup kembali.
Dan wajah yang telah mulai berkeriput itu kelihatan menyesal karena telah membuat kaget hati muridnya.
"Sudahlah! Marilah kita berangkat...I"
Desah Si Pendeta Palsu Teluk Po-hai itu dengan suara berat.
Gadis itu mengangguk, lalu menggerakkan keledainya kembali mengikuti perempuan tua itu.
Beberapa saat lamanya mereka berdiam diri serta tidak berbicara satu sama lain.
Sementara itu hari benar-benar telah menjadi gelap.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala.
Tinggal suramnya sinar bintang yang kini menerangi padang rumput luas itu.
"Tui Lan...! Kau tahu mengapa aku tadi marah kepadamu?"
Tiba-tiba si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menyingkap tabir kebisuan diantara mereka. Tui Lan mengangguk dan berusaha menahan sedu-sedan yang menyekak di dalam dadanya.
"Ya! Teecu... teecu... telah membuat kecewa hati Subo. Tapi... tapi..."
"Sudahlah! Sebenarnya kau ini sudah harus menyadari keadaan kita ini sejak dahulu. Sebab apa yang telah kita tempuh selama ini sebenarnya hanya demi kepentinganmu belaka, dan dalam perkara ini, sebenarnya aku hanya bertindak sebagai pembantu atau penolong dalam melaksanakan cita-citamu itu. Aku mengajarimu ilmu s ilat dan membawamu berkelana kemana saja, agar supaya kau bisa menemukan iblis yang membunuh ayah-ibumu dan membalaskan sakit hati mereka. Tapi... Mengapa sekarang kau tiba-tiba menjadi kendor dan mau mengurungkan niatmu itu?" 'Maafkan teecu, subo..."
Tui Lan tak bisa menjawab.
"Dahulu kau kutemukan di tengah-tengah hutan, di dalam gendongan ibumu yang terluka parah. Sebelum mati ibumu sempat bercerita bahwa seorang penjahat yang belum pernah dikenalnya telah membunuh ayahmu, kemudian menculik ibumu yang sedang menggendong kau dan dan... menganiayanya hingga terluka parah! Ibumu lalu menyerahkan dirimu kepadaku, dan titip pesan agar kelak kau membalaskan dendam kesumat keluargamu ini."
Diingatkan kembali pada sejarah hidupnya, Tui Lan benar-benar tak kuasa membendung air-matanya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu dan perempuan tua itu tersenyum di dalam hati.
Dibiarkannya saja gadis itu mengingat dendam dan sakit-hati keluarganya.
Sementara itu padang rumput yang mereka lalui semakin menipis.
Kini tanahnya mulai keras bercampur padas, dengan batu batu besar bertonjolan di sana-sini.
Mereka telah mencapai kaki bukit yang mengelilingi kota Soh-ciu.
Bukit yang tinggi terjal dengan jurang-jurangnya yang dalam.
"Subo...!"
Tui Lan berkata diantara isaknya.
'"Entah apa sebabnya selama beberapa bulan ini hati teecu selalu resah dan bingung bila memikirkan dendam-kesumat itu.
Dahulu teecu memang merasa dendam kepada penjahat itu.
Tapi...
tapi setelah teecu menjadi dewasa dan"dan banyak membaca buku-buku keagamaan lm-Yang-kaw milik Subo, entah"
Entah mengapa.. perasaan dendam itu secara berangsur-angsur menjadi larut, sehingga... sehingga akhirnya lenyap dari hati teecu. Ouuuugh..maafkanlah teecu, subo.. .uh-huuuu...I"
Akhirnya Tui Lan tidak bisa menahan tangisnya.
Gadis itu menangis tersedu-sedu.
Perempuan tua itu tersentak kaget.
Senyum yang tadi sudah teralas di atas bibirnya hilang seketika.
Wajah perempuan tua itu kembali keras dan kaku.
Giginya terdengar gemeretak menahan geram.
"Lalu.. apa maumu sekarang?"
Bentak perempuan itu dengan suara berat.
"Subo, ma-marilah kita"kita lupakan saja dendam kesumat itu! Marilah kita membangun kembali kehidupan yang tenteram dan damai di rumah kita! Kita... kita..."
"Jadi? Bagaimana dengan dendam kesumat keluargamu itu?"
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menggeram menahan marah.
Tui Lan menunduk semakin dalam dan tubuhnya semakin keras terguncang oleh sedu-sedannya.
Namun dengan segala kekuatan hatinya gadis itu menjawab pertanyaan gurunya.
"Bi-biarlah... kita kita serahkan saja semuanya i-itu kepada Thian. Karena Dia-lah yang berhak mengatur seluruh kehidupan alam-semesta ini. Ki-kita...tak perlu dan ma lah berdosa besar bila... bila berani mencampuriNya. Kewajiban kita justru men-menjaga dan melestarikan semua ciptaannya, dan... bukan merusak atau memusnahkannya!"
Betapa marahnya perempuan tua itu kepada Tui Lan!
Rasa-rasanya ia ingin me loncat dan menghantam remuk kepala muridnya yang tertunduk itu!
Tapi niat itu segera luntur begitu menyaksikan wajah yang pucat-pasi itu seolah-olah memancarkan sinar kedamaian yang menyejukkan hati.
Larut semua kemarahannya!
Dan mendadak timbul kembali rasa sayangnya kepada gadis itu.
Namun demikian masih ada juga perasaan kecewa yang mengganjal di hati perempuan tua itu.
"Hatimu memang terlalu lemah. Tui Lan."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berdesah kecewa.
"Dan hal itu sudah kuketahui sejak dahulu. Perasaanmu demikian halusnya sehingga menyakiti seekor semutpun kau tak tega. Tetapi aku selalu berusaha membangkitkan semangatmu, dengan mengajarimu ilmu silat dan memberimu contoh-contoh kekerasan agar supaya hatimu terusik dan bisa tumbuh menjadi seorang pendekar wanita yang gagah berani. Dan dengan demikian cita-cita ibumu dahulu bisa terlaksana, yaitu membalaskan dendam keluargamu!"
Tangis yang hampir mereda itu jebol kembali. Gadis itu merasa sangat berdosa karena telah mengecewakan harapan gurunya, dan juga harapan mendiang orang tuanya.
"Tapi"
Tapi entahlah, Subo benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi pada diri teecu. Teecu"
Teecu selalu tidak tahan melihat kekerasan berlangsung di depan mata teecu oooohh"!"
Tui Lan merintih dan terisak-isak. Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menghela napas panjang.
"Baiklah"! Baiklah"! Kau jangan menangis lagi! Kalau engkau tak kuasa melakukannya, biarlah aku saja yang mewakilimu membalaskan dendam itu."
"Subo"!"
Tui Lan menjerit dengan air mata bercucuran.
"Sudahlah! Kau jangan cengeng begitu. Malu aku melihatnya! Lihat"! Kita harus mendaki bukit terjal dengan keledai kita! Berhati-hatilah! Kita telah mendekati kota Soh-ciu. Siapa tahu si Iblis Penyebar Maut itu bersembunyi di bukit ini""
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu memberi peringatan lalu mengeprak keledainya menaiki jalan setapak yang membubung ke atas bukit.
Binatang kecil itu mengerahkan seluruh kekuatannya.
Dibawanya beban yang sangat berat itu ke atas bukit.Keempat buah kakinya yang pendek namun sangat kokoh itu menjejaki tanah berpadas dengan kuatnya.
Peluh tampak mengucur membasahi bulu-bulunya yang panjang dan tebal.
Dan keledai itu melaju terus menaiki jalan yang terjal itu.
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu tersenyum di dalam hati.
Itulah sebabnya dia memilih keledai dari pada kuda.
Meskipun kecil dan tidak bisa berlari kencang, namun keledai lebih tahan di medan yang berat dari pada kuda.
Di rawa-rawa, di atas perbukitan atau di padang pasir, keledai lebih dapat diandalkan daripada kuda.
Tapi begitu menoleh ke arah Tui Lan, senyum di bibir perempuan tua itu segera hilang.
Sebaliknya kerut-merut di atas dahinya menjadi semakin banyak.
"Gila benar anak itu!"
Desahnya seraya memandang Tui Lan yang menuntun keledainya sambil menjinjing perbekalannya.
Keringat tampak mengalir dari kening dan leher gadis itu.
Rasa gemas dan kesal karena menyaksikan tingkah muridnya membuat perempuan tua itu memacu keledainya lebih keras lagi.
Dan keledai kecil ternyata juga tidak mengecewakan tuannya.
Dengan segala kekuatannya binatang kecil itu menggerakkan kakinya lebih cepat lagi sehingga beberapa saat kemudian ia te lah mencapai bukit itu.
Tetapi...
Tiba-tiba keledai itu meringkik ketakutan dan melangkah mundur dengan tergesa-gesa, sehingga Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu hampir saja terjatuh ke dalam jurang.
Dengan tangkas perempuan tua itu melenting ke atas, berjumpalitan beberapa kali di udara, lalu meluncur kembali ke atas tanah.
Seluruh gerakan itu dilakukan dengan sangat manis, enteng dan cepat luar-biasa.
Benar-benar suatu pameran ginkang yang hebat sekali.
"Ah...!! Ang-leng-coa (Ular Lampu Merah)!"
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menjerit kaget begitu melihat dua ekor ular melintas di depan kakinya.
Kedua ekor ular berbisa itu saling berkejaran.
Tubuhnya yang hampir satu setengah meter panjangnya itu menjalar dan meliuk-liuk kesana-kemari.
Daging kecil yang tumbuh di antara kedua matanya Itu kelihatan berpijar di dalam gelap, sehingga dari kejauhan seperti lampu yang bergerak kesana-kemari.
Pantas saja mereka mengagetkan keledai Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai!
"Tenanglah, manis...I"
Perempuan tua itu membujuk keledainya seraya mengelus-elus leher binatang itu.
Namun mata perempuan tua itu segera terbelalak ketika di dalam keremangan malam itu tampak belasan lampu yang lain bergerak kesana-kemari diantara semak dan batu-batuan.
Dan perempuan tua itu segera merasakan sesuatu yang tak beres dengan hadirnya ular-ular itu disana.
Dan tiba-tiba saja Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu teringat pula akan sebuah dongeng tentang ular-ular tersebut.
"Ang Leng coa ini merupakan jenis ular yang langka di dunia. Mereka biasa hidup di gua-gua gelap atau di sungai-sungai dibawah tanah. Selain bisanya sangat tajam, binatang ini juga sangat kuat kulitnya, sehingga khabarnya ular ini kebal terhadap senjata tajam. Dan menurut dongeng yang pernah kudengar, ular-ular itu sering terlihat di Lembah Ang-leng-kok di Pegunungan Kun-lun-san. Maka sungguh sangat mengherankan sekali kalau binatang berbisa ini dapat sampai di tempat ini..."
Perlahan-lahan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menuntun keledainya kembali me lalui jalan semula.
Sambil berjalan mundur perempuan tua itu menoleh kembali ke bawah atau ke belakang untuk memberi peringatan kepada Tui Lan.
Namun betapa kagetnya perempuan tua itu tatkala Tui Lan tidak ada di sana.
Gadis itu lenyap bersama binatang tunggangannya!
"Tui Laaaaaaaaaaan..!"
Dengan cemas perempuan tua itu memanggil.
Tak ada jawaban.
Dan perempuan tua itu semakin cemas hatinya.
Ditinggalkannya keledainya, lalu berlari-lari kesana-kemari mencari murid kesayangannya itu.
Tapi gadis itu benar-benar hilang lenyap tak berbekas.
"Tui Laanaaaan...!"
"Tui Laaaaaaaaasaan...!"
"Subo, aku di sini!"
Tiba-tiba terdengar jawaban dari atas puncak.
Lega benar rasanya hati perempuan tua itu!
Namun kelegaan itu segera berubah menjadi kecemasan kembali tatkala dilihatnya muridnya itu berada di atas puncak.
"Eh! Tui Lan...! Hati-hati! Di situ banyak ular berbisa!"
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berseru.
Tapi terlambat sudah!
Belum juga gaung suara perempuan itu hilang, Tui Lan telah menjerit kesakitan!
Dan bersamaan dengan itu pula, tiba-tiba terdengar suara gemuruh disertai suara ringkikan keledai yang menyayat hati, ketika binatang tunggangan gadis itu terjerumus ke dalam jurang yang dalam!
"Tui Laaaan!"
Bagaikan terbang cepatnya perempuan tua itu meluncur ke atas bukit! Perasaan cemas dan khawatir akan keselamatan muridnya, membuat perempuan tua itu mengerahkan segala kemampuannya! "Wuuus...!"
Sekejap saja Si Pendeta Palsu itu telah berada di samping Tui Lan! "Keledaiku! Keledaiku"!"
Gadis itu menangis sambil mencengkeram seekor Ang-leng-coa yang masih menanamkan taringnya di kaki gadis itu.
Tapi perempuan tua itu tak mempedulikan tangisan muridnya.
Dengan cepat ia menyambar ular itu dan membantingnya ke atas batu.
"Blug...!"
Batu itu pecah berantakan dan... ular itu tidak apa-apa. Ular itu cuma menggeliat sebentar seperti sedang menghilangkan rasa gatal, lalu menggeleser pergi.
"Subo! Jangan bunuh ular itu! Dia tidak bersalah! Teeculah yang telah menginjaknya...!"
Tui Lan tiba-tiba menjerit seraya memegang lengan gurunya. Gadis itu sama sekali tidak menyadari 'keajaiban"
Yang baru saja terjadi di depannya.
Sementara itu Si Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai kelihatan termangu-mangu di tempatnya.
Perempuan tua itu memandang kepergian ular itu seolah-olah tak percaya.
Kekuatan tangannya yang mampu memecahkan kepala gajah itu ternyata tak mampu meremukkan seekor ular kecil.
Namun rasa heran itu segera tertutup oleh rasa cemas terhadap nasib Tui Lan yang digigit oleh Ang-leng-coa itu tadi.
"Tui Lan...! Lihat kakimu. Oh Thian...!"
Teriaknya gugup seraya menyingsingkan celana gadis itu.
Darah merah nampak merembes keluar dari dua buah luka kecil di kaki gadis itu.
Tapi gadis itu sendiri seperti tak mempedulikannya.
Gadis itu masih saja meratapi keledainya yang terjatuh ke dalam jurang.
Sebaliknya Si pendeta Palsu Dari Teluk Po hai itulah yang justru kelabakan melihat luka tersebut.
Bolak-balik tangannya merogoh ke dalam saku jubahnya, namun obat luka yang dicarinya tak kunjung ketemu.
"Ini... eh... anu! Wah.! Semua obat itu ada di dalam buntalan pakaian...!"
Serunya kesal seraya menengok ke bawah tebing di mana keledainya tadi ia tinggalkan.
"Tui Lan! Tunggu disini! Jangan bergerak! Aku akan mengambil obat itu! Mengerti?"
Tanpa menunggu jawaban lagi perempuan tua itu me lesat ke bawah, menuruni lereng untuk mencari keledainya.
Tapi meski telah berputar kesana-kemari perempuan tua itu tidak menemukan juga binatang itu.
Tampaknya binatang itu telah pergi ketika ditinggalkan tadi.
Keringat dingin membasahi jubah perempuan tua itu.
"Keledai celaka...! Ohh... di mana dia?"
Perempuan tua itu mengumpat-umpat. Lalu dengan suara yang semakin gugup dan cemas perempuan itu berteriak ke atas.
"Tui Lan...? Kau tidak apa-apa, bukan?"
Tiada jawaban. Dan perempuan tua itu menjadi pucat.
"Tui Laann...??"
Panggilnya cemas. Lalu dengan tergesa-gesa perempuan tua itu "terbang"
Kembali ke puncak bukit.
Sementara itu tanpa mempedulikan gigitan ular di kakinya, Tui Lan merayap turun ke dalam jurang untuk menengok keledainya.
Dengan ginkang dan lweekangnya yang cukup tinggi gadis itu menuruni tebing terjal yang sangat dalam itu.
Berkali-kali kakinya hampir terpeleset ketika menginjak batu berlumut yang licin.
"Tuiii Laaannn"!"
Di atas bukit gurunya memanggil-manggil namanya.
Tapi Tui Lan tidak mengacuhkan panggilan itu.
Gadis itu lebih memikirkan keledainya yang mengalami kecelakaan itu daripada yang lain.
Sementara itu malam semakin gelap, dan bulan yang cuma sesisir itu ternyata tak mampu melemparkan sinarnya yang suram ke dalam jurang, apalagi ke dasarnya.
Oleh karena itu seperti orang buta Tui Lan merayap perlahan, dari batu ke batu, dengan hanya mengandalkan perasaannya saja.
Sesekali gadis itu berhenti sejenak untuk melihat-lihat atau mendengarkan keadaan di sekitarnya.
Demikianlah beberapa waktu kemudian gadis itu telah menginjakkan kakinya di dasar jurang.
Begitu dalamnya jurang itu sehingga teriakan Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai itu tidak terdengar sampai ke bawah.
Setelah menenangkan hati dan menata perasaannya, Tui Lan meraba kesana-kemari mencari keledainya.
Dan usahanya itu tidak terlalu sukar dilaksanakan, karena dasar jurang itu berbentuk seperti sungai kering.
Sempit dan memanjang, melingkari bukit, dengan dinding-dinding tebingnya yang tinggi mencakar langit.
Keledai itu terkapar mati dengan tulang berpatahan.
Dan Tui Lan segera bersimpuh meratapinya.
Keledai itu tidak hanya sebagai binatang tunggangan bagi Tui Lan, tetapi juga sebagai sahabat yang telah mengalami suka-duka bersama.
Begitu dalam rasa kasih-sayangnya sehingga Tui Lan tidak pernah berlaku kasar terhadap keledai itu.
Seperti tadi, untuk menaikinya ke atas bukit saja gadis itu tidak sampai hati.
Gadis itu malah mengambil semua beban, kemudian menuntun keledai itu perlahan-lahan ke atas.
Dan gadis itu tidak mengikuti jalan terjal yang diambil gurunya, tapi mengambil jalan melingkar yang lebih landai dan lebih mudah.
Namun takdir tampaknya telah memisahkan mereka.
Tui Lan lalu mengeluarkan sebatang lilin dan menyalakannya.
Bau busuk tiba-tiba menyentuh hidungnya!
"Ah!
Cepat benar membusuknya?"
Gadis itu bergumam kaget seraya memandangi bangkai keledainya. Tapi dengan cepat pula bau itu menghilang. Tui Lan lalu mendekatkan hidungnya.
"Ehh"!?!"
Serunya pula ketika hidungnya mendadak mencium bau wangi yang sangat keras.
Otomatis Tui Lan meloncat mundur.
Perasaannya segera menjadi curiga dan berdebar-debar.
Ada sesuatu yang aneh dirasakannya.
Maka lilin itu lalu diangkatnya tinggi-tinggi.
Ditatapnya kepekatan malam yang melingkupi tempat itu, dan.., tiba-tiba saja jantungnya seperti berhenti berdenyut, sehingga lilin itu hampir saja terjatuh dari tangannya!
"Han...
hantu...!?"' gadis itu menjerit.
Setombak jauhnya dari bangkai keledai itu, Tui Lan melihat seorang laki-laki tua berbaring di atas batu besar.
Lelaki itu mempunyai kulit yang amat pucat seperti mayat, sementara kulit mukanya tampak kaku seperti topeng dari kayu.
Tubuhnya tidak begitu tinggi dan sangat kurus kering, sehingga sepintas lalu benar-benar seperti mayat atau hantu!
Tapi semua itu belumlah seberapa.
Yang lebih mengerikan lagi adalah matanya yang mencorong buas seperti mata harimau di dalam kegelapan!
Dan mata itu menatap Tui Lan tanpa berkedip, seakan-akan orang itu merasa heran melihat kedatangan Tui Lan!
Maka sudah sepantasnyalah kalau Tui Lan menjadi ketakutan dan menyangkanya sebagai hantu.
Gadis itu baru sadar kalau dirinya sedang berhadapan dengan manusia biasa setelah beberapa saat lamanya "Hantu"
Itu tetap saja di tempatnya, dan tidak mau hilang dari pandangannya. Tapi gadis itu cepat menyadari pula bahwa orang yang ada di depannya tersebut tentu bukan orang sembarangan.
"Kau.. kau.. siapa."
Tanyanya gemetar.
Orang tua itu menghela napas berat, kemudian terbatuk-batuk.
Tampak benar kalau dia sedang menderita sakit keras.
Namun demikian, nada suaranya masih terdengar garang ketika menjawab pertanyaan Tui Lan.
"K-kau sendiri siapa? Kulihat tubuhmu kebal terhadap racun-racun berbahaya. Apakah kau mempunyai hubungan keluarga dengan ketujuh orang bekas muridku itu? Ataukah mungkin kau murid mereka? Huk-huk-huk.!"
"Aku"
Aku... Ah, aku tidak tahu yang kau maksudkan! Siapa ketujuh orang bekas muridmu itu?"
Mata itu tampak berputar-putar menakutkan.
"Apakah kau belum mengenal tujuh orang ahli racun yang tinggal di Ban-kwi-to itu?"
Kakek itu menggeram. Tui Lan terkejut bukan main. Siapakah yang tidak mengenal mendiang Tujuh Iblis dari Ban-kwi-to itu? (baca . Pendekar Penyebar Maut).
"Oh... Lo-Cianpwe"
Lo-Cianpwe maksudkan mendiang Tee-tok-ci tujuh bersaudara itu? Ahh! Kalau begitu... aku... eh, Siauwte tidak mempunyai sangkut-paut dengan mereka."
Tui Lan menjawab sambil mundur-mundur. Mata orang itu melotot mengerikan.
"Mendiang...? Siapa bilang mereka sudah mati, hah? huk-huk-hukk..!"
Orang itu terbatuk-batuk.
"Me-mereka... mereka memang sudah mati! Kata"
Kata Subo, mereka itu mati dalam kepungan pasukan kerajaan di Pantai Karang!"
Tui Lan menjawab ketakutan.
Perlahan-lahan orang tua itu bangun dari tidurnya, lalu duduk di atas batu.
Gerakannya persis seperti mayat yang bangun dari kuburnya.
Dan Tui Lan yang amat ketakutan itu buru-buru melangkah mundur pula.
Tapi "Mayat"
Itu tiba-tiba menggerakkan tangannya dan...
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba gadis itu merasa lemas seluruh badannya!
Dan sebelum tubuh gadis itu jatuh ke tanah, orang itu menggerakkan tangannya sekali lagi dan seperti sebuah permainan sulap saja tubuh Tui Lan tersedot ke dalam pangkuan orang itu!
Dapat dibayangkan betapa "Ngerinya"
Gadis itu! Apalagi ketika orang itu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Aduh! Lo-Cianpwe... Lo-Cianpwe... lepaskan! Lepaskan...!"
Tui Lan menjerit ketakutan dan hampir menangis. Tapi gadis itu tak kuasa berbuat apa-apa.
"Ha-aha-ha... huk-huk! Tampaknya Giam-lo-ong (Dewa Maut) masih merasa kasihan kepadaku. Buktinya di saat kematianku tiba, beliau masih mengirimkan engkau kesini untuk menyambung umurku, hehe-heh...!"
Selesai berkata orang itu menggigit urat nadi di pergelangan tangan Tui Lan, sehingga darah gadis itu mengalir keluar dengan derasnya.
Kemudian orang itu menggigit pula urat-nadinya sendiri dan menempelkan kedua buah bekas gigitan itu sama lain.
Sama sekali orang itu tak mempedulikan korbannya yang hampir pingsan karena perbuatannya.
"Apa... apa yang hendak Lo-Cianpwe, Lo-Cianpwe lakukan terhadapku?"
"Hehe... dengarlah, kelinci malang! Dua-puluh-lima tahun yang lalu Tee-tok-ci dan keenam saudara seperguruannya telah bersekongkol untuk mencelakai aku, gurunya. Mereka bermaksud untuk mengambil Im-Yang Tok-keng (Buku Racun Im Yang) dan po-tok-cu (Pusaka Mustika Racun) kepunyaanku. Tapi mereka tidak berani berhadapan denganku. Mereka menggunakan akal licik. Setiap Jeng-bin Siang-kwi (Sepasang Hantu Berwajah Seribu), dua orang murid perempuanku yang cantik itu melayani aku, diam-diam minumanku dicampur dengan sedikit Hok-hiat-tok (Racun Penumpas Darah), sehingga aku tak merasakannya. Aku hanya merasakan semakin lama mukaku semakin pucat dan tubuhku semakin hari semakin lemah. Dan akhirnya aku menjadi kaget sekali ketika setahun kemudian aku sudah tak kuasa lagi mengerahkan sinkangku (tenaga saktiku). Saat itu aku baru sadar kalau aku telah terkena Hok-hiat-tok. Namun semuanya sudah terlambat. Racun itu telah merasuk ke dalam darah dan telah mengisap lebih dari separuh jumlah darahku, sehingga aku menderita penyakit kekurangan darah. Tahu kalau siasatnya telah kuketahui, murid-murid murtad itu lalu mengeroyokku. Untunglah aku bisa meloloskan diri. Sebagai orang yang tak pernah menaruh percaya kepada orang lain, aku sudah menyiapkan sebuah jalan rahasia di bawah rumahku. Hanya celakanya, mulut jalan rahasia itu lalu ditutup dan ditimbun batu karang oleh mereka."
Orang tua itu berhenti bercerita, tampaknya dia baru mengingat-ingat kejadian masa lalunya itu.
Tapi tiba-tiba Tui Lan menjadi kaget sekali ketika dari lengan orang itu keluar daya sedot yang amat kuat, sehingga darahnya membanjir keluar melalui luka bekas gigitan di pergelangan tangannya.
Darah itu mengalir masuk ke dalam tubuh orang itu me lalui lukanya pula, yang disengaja ditempelkan pada luka Tui Lan tersebut.
"Lo-Cianpwe... apa...apa yang kau lakukan?"
"Diam lah, anak malang! Aku harus mengambil darahmu, agar aku dapat hidup setahun lagi. Hehe.. ketahuilah"
Akibat Hok-hiat-tok itu aku harus mengisap darah orang lain setiap tahunnya.
Hanya biasanya aku meneliti dan memeriksa lebih dahulu darah orang itu sebelum memindahkannya ke dalam tubuhku.
Sebab orang yang hendak kuisap darahnya itu harus dari kalangan orang berdarah-bening sendiri, dan darahnya juga harus cocok dengan darahku pula.
Tapi karena sekarang aku tidak mempunyai waktu lagi, apalagi yang ada didepanku hanya engkau saja, maka secara untung-untungan aku mengambil darahmu.
Sukurlah kalau cocok.
Kalau tidakpun aku juga akan sama-sama mati pula."
"Jadi"
Jadi"? Lo-Cianpwe hendak membunuhku?"
Tui Lan berseru putus asa. Orang itu tak mengacuhkan rintihan Tui Lan. Matanya memandang nyala liIin yang jatuh dari tangan Tui Lan dengan geram.
"Kurang ajar! Bangsat benar murid-murid murtad itu! Belum juga aku dapat menghukum mereka, mereka sudah keburu mati! Huh...!"
Mulutnya mengumpat-umpat kasar.
"Tahu begini aku... tak... adouuuuh!"
Tiba-tiba orang tua itu mengaduh menyeringai kesakitan.
Kedua tangannya cepat memeluk perut dan dadanya, sehingga otomatis Tui Lan terbebas dari daya sedot itu.
Kemudian orang itu mencoba untuk berdiri, tapi tak berhasil.
Tubuhnya terjungkal ke depan menimpa tubuh Tui Lan!
"Brug...!"
Dan secara kebetulan siku tangan yang lancip dari orang itu persis menghantam sam-ki-hiat di dada kiri Tui Lan!
Maka punahlah totokan yang membuat lemas gadis itu tadi!
Tui Lan segera mendorong tubuh yang menimpanya itu dan bergegas berdiri.
Luka di pergelangan tangannya itu cepat-cepat dibalutnya, lalu tergesa-gesa pergi dari tempat yang mengerikan itu.
Tapi baru sepuluh langkah ia berjalan...
"Uhh!"
Tiba-tiba terdengar orang tua itu mengeluh.
Tui Lan menoleh.
Dan betapa terkejutnya gadis itu, ketika dilihatnya pakaian orang tua tersebut telah terbakar karena terjilat api lilinnya!
Lupa sudah api permusuhan di dada gadis itu!
Lupa pula semua perasaan takut dan ngeri yang tadi mencengkam hatinya!
Yang ada di dalam hati gadis itu kini hanya perasaan ingin menolong seorang yang hendak terbakar tubuhnya itu saja!
Maka tanpa menghiraukan dirinya lagi Tui Lan cepat berbalik kembali untuk memadamkan api yang telah membakar pakaian orang tua itu.
Akhirnya api itu padam juga.
Meskipun demikian karena api itu telah membakar hampir separuh dari pakaian orang tua itu, maka kulit di bawah pakaian tersebut sudah terlanjur melepuh dan gosong!
Orang tua itu merintih menahan sakit.
"Lo-Cianpwe, bertahanlah"! Siauwte akan berusaha mengobatimu""
Tui Lan membesarkan hati orang tua itu.
Tui Lan lalu mengeluarkan obat luka yang selalu dibawanya.
Tapi karena luka itu tidak begitu kelihatan di dalam gelap, maka Tui Lan lalu menyalakan empat batang lilin lagi.
Kemudian dengan pertolongan sinar lilin itu Tui Lan lalu memoleskan obatnya.
Sama sekali gadis itu sudah tidak ingat lagi kebuasan orang yang hendak membunuhnya itu.
Sebaliknya, orang yang terluka itu kini tampak memandang Tui Lan tanpa berkedip.
Mata yang tadi tampak liar menakutkan itu kini menatap termangu-mangu, seakan-akan tak percaya bahwa di dunia ini ternyata ada juga seorang manusia yang begitu baik, tulus dan berbudi luhur seperti gadis itu.
Padahal, sejak kedatangannya tadi, gadis itu telah berkali-kali hendak dibunuhnya.
Pertama, meskipun tidak ia sengaja, gadis itu telah terkena gigitan Ang-leng-coa, ular peliharaannya.
Lalu yang kedua, gadis itu telah diserangnya dengan bubuk beracun Keh-hiat-tok (Racun Pemutus Urat) dan Chi-shui-tok (Racun Pengantar Tidur) yang berbau busuk dan wangi itu.
Dan kemudian yang terakhir, gadis itu telah ia sedot darahnya.
Meskipun yang terakhir ini juga gagal, karena dia keburu pingsan tadi.
Tapi yang terang semuanya itu telah menunjukkan bahwa dia memang benar-benar bermaksud membunuh gadis itu.
Tetapi"
Apa yang dikerjakan gadis itu sekarang?
Ternyata semua itu tidak menimbulkan dendam di hati gadis cantik itu.
Di dalam situasi yang berbalik seperti sekarang, ternyata gadis itu tidak memanfaatkannya untuk membalas dendam.
Gadis itu ternyata justru merawat dan mengurusnya penuh perhatian.
Padahal kalau mau gadis itu bisa meninggalkannya begitu saja.
Oleh karena itu, siapakah orangnya yang tidak merasa terketuk hatinya mengalami hal seperti itu?
Biarpun orang yang terkena itu seorang penjahat berhati kejam seperti orang tua itu?
Mata yang selama ini selalu memancarkan watak keras,buas dan kejam itu tiba-tiba menitikkan air mata.
Di saat saat terakhir hidupnya orang itu ternyata memperoleh sinar terang yang mampu membuka pintu batinnya.
"Anak baik...! Kau tak perlu bersusah-payah mengobati aku lagi! Sudah tidak ada gunanya lagi..."
Orang tua itu berkata serak karena terharu.
"Kenapa Lo-Cianpwe berkata begitu? Apakah Io-cian-pwe berputus-asa karena gagal mengambil darahku? Ahh... Lo-Cianpwe"! Jika Lo-Cianpwe memang sangat membutuhkan darahku, sebenarnya akupun rela pula memberikannya. Tapi tentu saja jangan semuanya! Yang penting kita berdua bisa selamat. Misalnya darahku ini dibagi dua, Lo-Cianpwe separuh aku separuh. Bagaimana...?"
Tui Lan membuka kembali balutan lukanya. Tapi orang tua itu cepat mencegahnya.
"Jangan"!"
"Lo-Cianpwe...? Mengapa?"
"Anak baik, ketahuilah"! Didalam darahmu memang mengalir ciri-ciri khusus perguruanku, yaitu berdarah bening, yang membuat kita semua kebal terhadap semua racun. Tapi sayang darahmu itu ternyata tidak cocok bila bercampur dengan darahku, sehingga seperti yang telah kau lihat tadi, aku menjadi pingsan karenanya. Malahan percampuran itu justru mempercepat saat kematianku. Oleh karena itu sebelum mati aku akan meninggalkan pesan kepadamu."
"Lo-Cianpwe..."
"Sudahlah! Jangan banyak bicara lagi! Waktuku tinggal beberapa saat saja. Dengarlah"!"
Orang tua itu memotong perkataan Tui Lan.
Kemudain sambil mengeluarkan sebuah buku kumal dari kantong celananya, orang tua itu melanjutkan,"inilah buku Im-Yang Tok-keng itu!
Untunglah dia tidak termakan api tadi.
Sekarang kau terima lah buku ini!
Kuwariskan dia kepadamu.
Rawatlah baik-baik!
Jangan sampai terlihat orang lain,karena buku ini banyak yang mengincarnya."
"Lo-Cianpwe..."
"Dan mustika ini juga kuwariskan kepadamu!"
Orang tua itu meneruskan. Kemudian orang itu menggigit benjolan daging yang tumbuh di tengah-tengah telapak tangannya, dan dikeluarkannya sebutir mutiara putih yang berlepotan darah dari dalamnya.
"Mustika ini sengaja kutanam di dalam daging agar tidak dapat terlepas dari tanganku. Mustika ini dinamakan orang Po-tok-cu. Khasiatnya bisa menawarkan segala macam racun. Betapapun hebatnya sebuah racun, dia akan segera tawar bila tersentuh mutiara ini."
"Kalau mustika itu bisa menawarkan racun, mengapa Lo-Cianpwe masih juga terkena Hok-hiat-tok?"
Sela Tui Lan. Orang tua itu menghela napas.
"Aku belum memilikinya ketika murid-muridku itu meracuni aku. Dan ketika pusaka ini berada di tanganku, hati dan jantungku sudah terlanjur rusak oleh Hok-hiat-tok."
"Tapi... Lo-Cianpwe tadi bilang bahwa orang-orang dari kalangan berdarah bening itu kebal terhadap racun..."
"Ya! Tapi tidak semuanya. Kita tetap tidak akan tahan melawan racun, sejenis Hok-hiat-tok..."
Orang itu menerangkan seraya memberikan mustika yang dipegangnya itu kepada Tui Lan. Tui Lan menerima mutiara itu dan memasukkannya ke dalam saku.
"Hati-hati! Jangan sampai hilang"! Dan"eh, sepeninggalku nanti kalau ada seorang kakek berambut hitam legam datang, kau beritahukan saja kalau aku sudah mati, Niscaya dia takkan mengganggumu..."
"Kakek berambut hitam? Siapakah dia...?"
"Bangsat itu adalah guruku!"
Orang yang mau mati itu menggeram penuh dendam.
Tui Lan tercengang.
Sungguh aneh benar orang-orang yang ia hadapi kali ini.
Guru mendiang iblis-iblis Ban-kwi-to ini ternyata masih mempunyai guru.
Dan seperti halnya iblis-iblis Ban-kwi-to itu pula, sang guru ini ternyata juga bermusuhan dengan gurunya.
Betapa anehnya perguruan mereka!
Orang tua itu meringis kecut.
"Kau jangan heran! Guruku itu memang tidak layak untuk dihormati. Meskipun sudah tua bangka dia suka main perempuan. Sampai isteriku, isteri muridnya sendiri dilahapnya pula tanpa malu. Gila tidak itu...?"
"Ahh...!"
Tui Lan berdesah dengan pipi merah padam.
Tapi tiba-tiba gadis itu tersentak kaget.
Guru orang tua ini mahir menggunakan racun, berkepandaian tinggi dan senang main perempuan pula.
Mungkinkah guru orang tua ini adalah si Iblis Penyebar Maut itu?
Tui Lan mencengkeram lengan orang.
Tapi betapa terkejutnya dia tatkala dilihatnya orang itu sudah mulai tersengal-sengal pernapasannya.
"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe, tunggu... Apakah guru Lo-Cianpwe itu bergelar Si Iblis Penyebar Maut?"
Teriaknya keras sambil mengguncang-guncang lengan orang tua itu. Orang tua yang sudah mau mati itu berusaha membuka matanya, namun tak berhasil. Tampaknya urat-uratnya sudah mulai kaku.
"A-apa ka-katamu heh? Aku... a-aku t-t-t-tidak... mende...mendengarmu."
Gumamnya tak jelas.
"Apakah guru Lo-Cianpwe itu bergelar... bergelar Si Iblis Penyebar Maut...?"
Tui Lan berteriak sekali lagi.
"Aaapa...? Dia... d-dia.. Ouhhhhhh, se-se-selamat ting-tinggal...!"
Orang tua itu mencoba bertahan, tapi gagal. Kepalanya tersentak kemudian terkulai di atas bahunya.
"Lo-Cianpwe! Lo-Cianpwe! Aah..."
Gadis itu menghela napas panjang.
Orang tua itu telah pergi.
Dan keberangkatannya tadi tampaknya telah dilakukannya dengan penuh keikhlasan dan kedamaian hati.
Dan gadis itu juga merasa bangga pula, karena kedamaian itu tampaknya berasal atau bersumber dari dirinya.
"Inilah yang tidak disadari oleh Subo atau orang-orang lain di dunia ini. Ketentraman dan kedamaian dunia itu sebetulnya terletak di dalam diri pribadi masing-masing orang. Apabila orang itu dengan tulus ikhlas dan penuh kasih sayang mau berjalan di atas rel kebenaran, niscaya hidupnya akan selalu damai, tentram dan sejahtera. Apa yang kualami ini tadi merupakan bukti yang tak dapat dibantah lagi. Betapapun buas dan kejamnya guru Tee-tok-ci ini, tapi dia tetap seorang manusia juga. Dia bukan hewan atau binatang yang tak punya budi dan pikiran. Kasih sayang dan ketulusan hati yang kuperlihatkan kepadanya ternyata masih dapat dilihat pula oleh mata batinnya,"
Gadis itu berkata di dalam hatinya.
Iseng-iseng Tui Lan membuka buku pemberian orang tua itu.
Di halaman pertama tertulis huruf .
IM-YANG-TO KENG.
Dan dibawahnya tertera nama penulisnya atau penyusunnya, yaitu "
GIOK BIN TOK-ONG (RAJA RACUN BERWAJAH TAMPAN).
Tui Lan lalu membuka halaman selanjutnya.
Di sana tertulis segala macam hal tentang racun.
Mengenai macamnya, bentuknya, rupanya, warnanya, dan lain sebagainya.
Di dalam buku itu juga diterangkan cara bagaimana mengenalinya, memperolehnya, dan bagaimana cara penggunaannya, serta bagaimana cara menghindari atau mengobatinya.
Di halaman terakhir diterangkan pula cara bagaimana semua racun-racun ini dipergunakan oleh seorang jago silat untuk menambah kesaktian atau kedahsyatan ilmunya.
Semakin banyak gadis itu membaca isi buku itu, semakin bergidik dan ngeri hatinya.
Di dalam buku itu banyak disebutkan macam-macam racun yang khasiatnya benar-benar mendirikan bulu-romanya.
Akhirnya gadis itu tidak tahan membacanya.
Buku itu lekas-lekas ditutupnya dan dimasukkannya ke dalam sakunya.
Kalau menuruti kata hatinya ingln benar rasanya Tui Lan memusnahkan buku itu.
Tapi bila mengingat betapa susah-payahnya Giok-bin Tok-ong tersebut menyusunnya, hatinya menjadi tak tega.
Untuk menyimpan atau menyembunyikannya di suatu tempat, Tui Lan juga tak berani.
Siapa tahu buku itu diketemukan atau diambil oleh orang-orang yang tak bertanggung-jawab nanti?
"Biarlah buku ini kusimpan di dalam saku bajuku bersama-sama dengan mutiara anti racun itu, gadis itu berkata di dalam hatinya.
Tak terasa larut malam telah lewat.
Embun pagi telah mulai turun membasahi jurang itu.
Keempat lilin juga telah terbakar sampai di pangkalnya.
Tui Lan bergegas menggantinya dengan yang baru, karena dia harus menggali tanah untuk menguburkan mayat dan bangkai keledainya.
Karena tak ada pacul, Tui Lan terpaksa mempergunakan pedangnya untuk menggali tanah.
Celakanya, tak ada tanah yang empuk di dasar jurang itu.
Semuanya terdiri dari padas dan karang.
Oleh karena itu mayat dan bangkai keledai itu terpaksa ditanam dalam lubang yang tak terlalu dalam.
Dan pekerjaan itupun telah menyita waktu sampai fajar menyingsing.
Tui Lan menyeka keringatnya, kemudian merebahkan diri di atas batu besar untuk melepaskan lelah.
Usapan udara pagi yang disertai kabut dingin dari atas bukit itu akhirnya membawa gadis itu terlelap ke dalam impian.
Dan mataharipun merangkak semakin tinggi ke angkasa seolah-olah ingin segera dapat menghangati tubuh si gadis yang lembut hati itu.
Gadis itu baru terbangun ketika dirasakannya ada seseorang di dekatnya, dan gadis itu bangkit dengan cepat, ketika di dekat kakinya benar benar ada seorang kakek yang sedang berdiri mengawasinya.
"Kau... kau siapa?"
Tui Lan berseru tertahan.
Kakek itu tersenyum, sehingga wajahnya yang masih tampak muda itu kelihatan segar dan tampan sekali.
Alis dan kumisnya yang panjang berjuntai kebawah berwarna putih bersih dan diatur rapi sekali.
Sementara rambut di kepalanya, biarpun tidak lebat lagi, tapi masih berwarna hitam legam dan digelung ke atas seperti anak muda.
Matanya sangat tajam dan kocak, sedang punggungnya sudah sedikit bongkok karena umurnya.
Namun demikian, pakaiannya sungguh amat bagus dan rapi bukan main.
"Jangan takut, anak manis! Lohu (aku si orang tua) bukan orang jahat. Lohu tidak sengaja melihatmu tidur disini. Lohu kesini untuk menjumpai seseorang, hi-hi-hi-hi..."
Kakek tampan itu tertawa terkekeh-kekeh dengan suara yang mendirikan bulu-roma.
"Menjumpai seseorang? Si-siapa yang hendak Lo-Cianpwe jumpai?"
Tui Lan memberanikan dirinya.
"Ang-leng Kok-jin (Manusia Dari lembah Lampu Merah)! Kau melihat dia?" 'Ang-leng Kok-jin...? Apakah yang Lo-Cianpwe maksudkan itu guru para iblis dari Ban-kwi-to itu? Orangnya sudah tua, pucat dan kurus seperti mayat...?"
"Betul! Dan biasanya kemana-mana dia selalu diiringkan oleh ular-ularnya. Eh"
Jadi kau melihat dia?"
Kakek tampan itu mendesak.
"Ular...?"
"Ya! Ular Ang-leng-coa..."
"Ah? Siauwte tidak melihat dia membawa ular. Tapi di atas bukit ini memang banyak ular Ang-leng-coa berkeliaran. Siauwte..."
"Hei! Lekas katakan! Dimana orang itu?"
Kakek tampan itu berseru tak sabar.
"Kalau orang tua kurus dan pucat itu yang Lo-Cianpwe maksudkan, dia sudah meninggal. Dan kini sudah kumakamkan di dekat tebing itu...!"
Tui Lan mengacungkan jarinya ke arah makam yang telah dibuatnya tadi.
Tapi gadis itu membelalakkan matanya serentak melihat belasan ekor Ang-leng-coa tampak berkumpul mengitari gundukan makam Ang-leng Kok-jin itu.
Kakek tampan itu juga tidak kalah pula rasa terkejutnya.
"Hei, bocah itu sudah mati? Masakan dia"? Apakah dia tidak memperoleh darah yang cocok untuk menyambung hidupnya?"
Serunya tak percaya.
Lalu tanpa dapat diketahui bagaimana cara bergeraknya, tahu-tahu kakek itu telah berada di depan makam Ang-leng Kok-jin.
Dan kedatangannya kesana segera disambut dengan kemarahan oleh pasukan Ang-leng-coa itu.
Tapi dengan bengis kakek tampan itu membunuh mereka.
Ular-ular yang kebal terhadap senjata tajam itu segera berkelojotan begitu terkena taburan serbuk putih dari tangan si kakek.
"Lo-Cianpwe...!"
Tui Lan menjerit melihat kekejaman kakek itu.
Kakek itu seolah tak mendengar jeritan Tui Lan.
Begitu melihat ular-ular itu sudah mati, kakek itu langsung saja membongkar kuburan Ang-leng Kok-jin.
Kalau tadi menggunakan pedang saja Tui Lan mengalami kesukaran dalam menggalinya, kini ternyata kakek itu enak saja mempergunakan tangannya.
Tapi perbuatan kakek itu tentu saja sangat mengejutkan Tui Lan!
"Lo-Cianpwe!
Mengapa Lo-Cianpwe tega membongkar makam orang?"
"Hei! Siapakah yang membongkar makam orang? Katamu orang yang tertanam di dalam ini adalah Ang-leng Kok-jin. Lalu apa salahnya aku membongkar makam muridku sendiri?"
Kakek itu menyahut tanpa menghentikan pekerjaannya.
Ketika Tui Lan hendak membantah lagi, ternyata kakek itu telah selesai menggali tanah itu.
Dan sesaat kemudian mayat Ang-leng Kok-jin telah disongkel keluar dari liangnya.
Kemudian dengan penuh kewaspadaan dan kecurigaan, kakek itu berputar-putar menyelidiki mayat muridnya itu.
Sekejappun kakek itu tak berani terlalu dekat, apalagi sampai menyentuh mayat tersebut.
Baru beberapa waktu kemudian kakek itu dengan sebatang ranting pendek berani menyingkap dan membalikkan tubuh mayat itu.
Namun tiba-tiba...
"Dhoooocooooooor..."
Mayat itu meledak dengan dahsyatnya dan hancur bertaburan ke segala penjuru.
Kakek tampan yang hanya selangkah dari mayat itu ikut terpental tinggi ke udara, kemudian jatuh berdebam kembali ke atas tanah.
Namun anehnya, sekejap kemudian kakek itu telah bangkit pula kembali seperti tak pernah terjadi apa-apa.
Padahal bagian depan bajunya tampak hancur tercabik-cabik akibat ledakan itu.
Dan begitu bangun kakek itu segera berkeliling mencari sesuatu diantara sisa-sisa tubuh Ang-leng Kok-jin yang bertebaran.
Sementara itu Tui Lan yang ikut pula terhempas ke tanah, meskipun dia berdiri jauh dari ledakan tersebut, masih duduk juga termangu-mangu di tempatnya.
Gadis itu masih tampak bingung dan tak habis mengerti, kenapa mayat yang sudah ia kuburkan itu bisa meledak begitu dahsyatnya.
Dan gadis itu juga tak habis mengerti, bagaimana pula kakek itu bisa menyelamatkan dirinya dari ledakan itu?
Padahal dia yang berdiri sejauh lima tombak saja masih merasa seperti rontok seluruh isi dadanya?
Tui Lan tergagap kaget ketika Kakek itu datang dan menegurnya.
"Anak manis, kau tak apa-apa, bukan? Huh! Bangsat benar bocah itu! Sudah matipun dia masih juga memasang perangkap! Untunglah sejak dulu aku sudah mengenal sifat-sifatnya. Coba kalau tidak...! Badanku bisa tercerai-berai pula tadi! Hmmmh!"
"Memasang perangkap? Masakan murid Lo-Cianpwe berani memasang perangkap untuk mencelakakan gurunya?"
Tui Lan bertanya semakin bingung menghadapi persoalan itu.
"Kenapa tak berani? Sejak kecilpun dia sudah berani melawan aku. Malahan semenjak kematian isterinya, dia selalu menentang aku di tempat ini. Kedatanganku kemari sebenarnya juga untuk mengadu ilmu dengannya,"
Kakek itu memberi keterangan.
"Mengadu ilmu...? Kalian guru dan murid... berkelahi sendiri. Lalu... lalu apa penyebabnya?"
Tui Lan yang sejak kecil selalu terdidik dengan baik itu semakin pusing mendengar kata-kata kakek itu. (Lanjut ke
Jilid 02) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 02
"Haha-hihihi...! Tentu saja banyak penyebabnya, Anak manis. Dan salah satu diantaranya adalah masalah perempuan, hihihihi...!"
Kakek itu menjawab tanpa malu-malu.
Matanya semakin kocak dan nakal memandang Tui Lan, seakan-akan masalah perempuan antara ia dan muridnya itu bukan suatu hal yang memalukan baginya.
Justru Tui Lan yang masih ingusan itulah yang menjadi malu mendengarnya.
Gadis itu menjadi merah-padam mukanya!
Sementara di dalam hatinya gadis itu tak habis pikir, bagaimana di dunia ini ada seorang yang bejat moralnya seperti kakek itu padahal kalau dilihat keadaan tubuhnya, meskipun pintar bersolek, kakek itu tentu lebih dari delapan puluh tahun umurnya.Tapi gaya dan sikapnya sungguh amat genit seperti bujang sedang birahi.Oleh sebab itu terasa berkurang juga rasa hormat Tui Lan kepada kakek itu.
"Hmmm... Kalau begitu benar juga perkataan Ang-leng Kok-jin tadi. Jadi Lo-Cianpwe dulu pernah mengganggu isteri Ang-leng Kok-Jin. Benarkah..?"
Tapi kakek itu tiba-tiba memelototkan matanya.
"Siapa bilang aku mengganggu isterinya? Huh! Kurang ajar"
Justru bocah gila itulah yang menyuruh isterinya untuk menggodaku! Mereka bersekongkol untuk mencuri Im-Yang Tok-Keng dan Po-tok-cu milikku...!"
Serunya berapi-api.
"Apa...? Ang-leng Kok-Jin menyuruh isterinya sendiri untuk menggoda"
Eh, mencuri pusaka milik LoCianpwe? Jadi... jadi?"
Tui Lan tak mampu melanjutkan kata-katanya.
Gadis itu benar-benar pusing memikirkan urusan orang yang selain amat memalukan juga sangat ruwet itu.
Sungguh amat sulit bagi gadis itu untuk menentukan, siapa yang telah berbohong kepadanya dalam hal ini.
Ternyata kakek itu merasakan pula keragu-raguan Tui Lan terhadapnya.
Maka dengan geram dan penasaran ia berkata.
"Huh...kau tak percaya kepadaku? Kau lebih mempercayai Ang-leng Kok-jin daripada gurunya, si Giok bin Tok Ong ini, heh"?"
Kini giliran Tui Lan yang sangat kaget mendengar nama kakek itu!
Giok Bin Tok-ong adalah nama yang tertera di dalam buku Im-Yang Tok-keng.
Benarkah kakek yang genit dan tampak kurang ajar ini si Giok-bin Tok-ong, penyusun Im-Yang Tok-keng itu?
Ataukah kakek ini hanya membual dan mengaku-aku saja untuk menakut-nakutinya?
Tiba-tiba Tui Lan teringat akan kecurigaannya kepada orang tua itu.
Tadi malam dia telah mencoba bertanya kepada Ang-leng Kok-jin, sebelum orang tua itu menghembuskan napasnya yang penghabisan.
Tapi Ang-leng Kok-jin tidak sempat memberi jawaban.
Kini dia ingin bertanya langsung kepada kakek itu.
"Lo-Cianpwe...? Apakah Lo-Cianpwe ini... si Penyebar Maut yang sangat terkenal itu?"
Tanyanya hati-hati. Gadis itu sengaja membuang kata-kata "Iblis"
Di depan sebutan itu, agar supaya kakek tersebut tidak tersinggung dan menjadi marah karenanya. Tapi kakek genit itu ternyata masih tetap marah juga.
"Kurang ajar! Kau bocah kemarin sore berani menghina aku, ya? Kau persamakan aku dengan pencuri kampungan macam si Iblis Penyebar Maut itu, heh? Bangsat"! Cuh!"
Tak disangka-sangka kakek itu mengumpat-umpat kasar dan sama sekali tak peduli kalau yang ia hadapi itu seorang gadis.
Tui Lan sangat tersinggung dan merah padam mukanya.
Apalagi melihat kakek itu meludah seenaknya di depannya sampai-sampai airnya memercik mengenai sepatunya.
Namun kemarahan itu terpaksa dipendamnya di dalam hati, karena ia menyadari kelemahannya di hadapan kakek sakti itu.
Kakek itu hendak mengumpat lagi namun dari atas tebing tiba-tiba terdengar suara orang memanggil.
Suara wanita"!
"Tui Laaaannn"!"
Suara itu bergema di dalam jurang.
"Eh! Itu suara suboku...!"
Tui Lan berseru kaget.
"Siapakah subomu itu, heh?"
Kakek itu memotong dengan suara geram.
"Suboku biasa disebut orang dengan gelar... Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai!"
Tui Lan yang sedang merasa kesal itu menjawab ketus, membanggakan nama gurunya.
"Apa? Dia bekas pendeta Im-Yang-kauw di desa Ban-cung di Teluk Po-hai...?"
Kakek yang sangat memandang remeh Si Iblis Penyebar Maut itu tiba-tiba berseru dan membelalakkan matanya.
"Ya!"
Mendadak kakek itu menjadi pucat dan tampak ketakutan. Sikapnya sungguh bertolak-belakang dengan kegarangannya tadi.
"Wah, kalau yang satu ini,.. yang satu ini... lebih baik aku pergi saja!"
Gumamnya dengan suara gemetar, lalu melesat pergi dengan tergesa-gesa.
Sekejap saja bayangannya telah hilang dari pandangan Tui Lan.
Tentu saja Tui Lan melongo keheranan.
Gadis itu tak tahu apa yang menyebabkan Giok-bin Tok-ong yang lihai itu menjadi ketakutan mendengar nama gurunya!
Mungkinkah kepandaian gurunya itu lebih tinggi daripada Giok-bin Tok-ong?
"Tui Laaannn!"
"Subo, teecu disini..."
Gadis itu berteriak pula menjawab panggilan gurunya.
Gadis itu memandang keatas tebing.
Dilihatnya gurunya merayap turun dengan cepatnya.
Dan sebentar kemudian perempuan tua itu telah memeluk dirinya sambil menangis lega.
"Anak nakal...! Kemana saja kau semalaman tadi? Habis sudah harapanku untuk bisa bertemu lagi denganmu. Kukira... kukira kau telah berjumpa dengan Iblis itu. Ooohhh...!"
Perempuan tua itu berkata tersendat-sendat.
Diam-diam Tui Lan juga meneteskan air mata.
Baru kali ini ia me lihat gurunya yang terkenal keras dan kejam itu menangis mengkhawatirkan dirinya.
Hampir-hampir ia tak percaya melihatnya.
"Subo...! Teecu sehat-sehat saja. Teecu tidak sampai hati membiarkan keledai itu jatuh ke jurang. Teecu... teecu terpaksa turun melihatnya. Subo... maafkanlah teecu."
Akhirnya perempuan tua itu sadar kembali akan keadaannya. Sambil menyeka sisa-sisa air matanya, perempuan tua itu menghela napas panjang.
"Lalu... di mana keledai itu?"
Tanyanya perlahan.
"Dia"
Dia sudah kukuburkan disana!"
Tui Lan menjawab perlahan pula seraya menundukkan kepalanya.
"Hmm... Lalu bagaimana dengan gigitan ular di kakimu itu?"
"Seperti yang subo lihat sekarang, teecu tidak apa-apa! Racun ular itu tak berpengaruh apa-apa terhadap tubuh teecu...!"
Tui Lan menjawab tegas.
"Heran! Sungguh mengherankan sekali! Memang sejak kecil keadaan tubuhmu sangat berbeda sekali dengan anak-anak yang lain, tapi aku tak menyangka kalau tubuhmu kebal terhadap racun. Padahal ular itu adalah sejenis ular yang amat berbahaya sekali. Akupun takkan tahan bila terkena gigitannya."
Kedua orang guru dan murid itu lalu berdiam diri.
Masing-masing sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
Tapi perempuan tua itu terkejut bukan main ketika melihat bekas ledakan dan sisa-sisa tulang manusia berserakan di dekat tebing.
"Itu... itu... eh, apa yang telah terjadi di sini?"
Perempuan tua itu bertanya dengan mata melotot.
Tui Lan terpaksa menceritakan semuanya.
Tak satupun yang terlewatkan kecuali tentang buku dan mustika pemberian Ang-leng Kok-jin itu.
Tui Lan ingin menepati janjinya untuk tidak memperlihatkan benda-benda itu kepada orang lain, biarpun kepada gurunya sekalipun.
Kepada gurunya, Tui Lan juga menuturkan kecurigaannya terhadap Giok-bin Tok-ong yang ketakutan mendengar nama gurunya itu.
"Giok-bin Tok-ong? Dia mengaku sebagai kakek-guru para iblis ternama dari Ban-kwi-to itu? Ah"
Yang benar saja! Berapa kira-kira umurnya sekarang...?"
"Entahlah, subo. Kakek itu masih suka berdandan dan mematut-matut dirinya sehingga masih kelihatan muda. Tapi kalau me lihat kumis dan jenggotnya yang putih, serta punggungnya yang sudah membungkuk, dia tentu berusia lebih dari tujuh puluh atau delapan puluh tahun."
"Delapan puluh tahunan? Ah, kalau begitu pengakuannya itu mungkin benar juga. Mendiang Tee-tok-ci itu kira-kira berumur empat puluh lima tahun. Jikalau Ang-leng Kok-jin itu berusia enam puluhan tahun, maka kira-kira memang wajar kalau Giok-bin Tok-ong berusia delapan puluhan tahun. Di kalangan mereka memang sudah biasa mengambil murid selagi masih muda. Tapi, mengapa Giok-bin Tok-ong itu takut kepadaku? Rasa-rasanya aku belum pernah mengenalnya. Mendengar namanya pun baru sekali ini. Lain halnya dengan cucu-cucu muridnya yang sangat terkenal itu..."
Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu berpikir keras.
"Subo... kemana saja subo mencari teecu tadi malam? Kenapa subo baru menuruni jurang ini sekarang?"
"Anak nakal! Subomu mengira kau diculik si Iblis Penyebar Maut itu, sehingga subomu terpaksa mencari kau di kota Soh-ciu dan sekitarnya. Dan ketika subomu sudah hampir putus asa, barulah subomu teringat akan jurang yang dalam."
Demikianlah, kedua wanita itu mendaki tebing jurang itu kembali. Berkali-kali si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu harus membantu muridnya agar mereka dapat segera berada di atas jurang kembali.
"Tadi malam aku telah menemui Kang-lam Koai-hiap yang belum sembuh dari luka-lukanya di kota Soh-ciu. Subomu terpaksa menjumpai dia dan para pendekar yang berkumpul di rumahnya untuk meminta pertolongan mereka mencarikan kau."
Perempuan tua itu berkata kepada Tui Lan setelah mereka berada di atas jurang kembali.
"Apakah sudah banyak pendekar yang berkumpul di sana, subo?"
"Bukan main banyaknya. Itu saja belum termasuk dengan para pendekar yang berkeliaran di dalam kota. Dan juga belum termasuk para pendekar sakti yang datang secara diam-diam, karena mereka ingin bergerak sendiri-sendiri."
"Ah... kalau begitu sungguh kasihan sekali si Iblis Penyebar Maut itu,"
Bibir Tui Lan bergumam tanpa terasa.
"Apa? Tui Lan, kau bilang apa..?"
Pendeta Palsu dari teluk Po-hai tiba-tiba membentak Tui Lan.
Matanya mendelik menahan kesal dan marah.
Gadis itu cepat menundukkan mukanya dengan ketakutan.
Bibirnya yang mungil itu sampai gemetaran ketika menjawab.
"M-m-maaf subo... Teecu tidak sadar m-me-mengatakannya. T-teecu... teecu..."
"Anak cengeng! Lalu"
Apa maksudmu berkata demikian itu? Jawab!"
Perempuan tua itu menghardik lagi semakin marah. Tui Lan menatap gurunya dengan wajah pucat dan hampir menangis. Air matanya mulai berlinang-linang.
"Teecu... Teecu tidak bermaksud apa-apa.Sungguh. Entah apa sebabnya... entah apa sebabnya... tiba-tiba saja teecu teringat akan ujar atau kata-kata para arif bijaksana zaman dulu... yang mengatakan... yang mengatakan bahwa... di empat penjuru lautan itu semua manusia bersaudara! Dan.. dan bayi manusia yang dilahirkan di dunia itu... semua putih bersih. Tiada cacat-celanya tanpa noda dan dosa. Kalau toh"
Kalau toh akhirnya setelah bayi itu menjadi dewasa, masing-masing mempunyai "warna hati"
Dan "warna kehidupan"
Yang berbeda, hal itu...
Hal itu bukan salah mereka.
Mereka terdidik dan terpengaruh oleh lingkungan dan keadaan di sekitar mereka!
Begitu pula halnya dengan...
dengan si Iblis Penyebar Maut itu!
Tentu ada alasannya, kenapa dia sampai berbuat demikian.
Sebab...
sebab diapun juga seorang manusia pula seperti kita...,"
Gadis itu berkata tersendat-sendat. Dapat dibayangkan betapa kesal dan mendongkolnya perempuan tua itu. Baru saja mereka bertemu lagi, gadis itu sudah mulai dengan khotbahnya yang menjengkelkan.
"Kurang ajar! Kau ini anak kecil tahu apa tentang kehidupan? Berapa usiamu sekarang? Berapa banyak pengalaman hidup yang kau peroleh? Sungguh lancang...! Kau ini benar-benar seekor anak ayam yang belum mengenal kerasnya kehidupan, kejamnya dunia, tapi sudah berani berbicara tentang kehidupan manusia! Jangan kau persamakan 'dunia Angan-angan"
Yang kauperoleh dari dalam buku itu dengan 'dunia nyata"
Yang selalu kita hadapi setiap hari ini!"
Perempuan tua itu berteriak-teriak saking marahnya.
"Tapi... tapi..."
Tui Lan masih juga mau membantah.
"Diam! Jangan berbicara lagi yang bukan-bukan! Mari kita sekarang berangkat ke kota Soh-ciu...I"
Tui Lan tak berani menyanggah lagi.
Sambil menyeka air matanya, gadis itu melangkahkan kakinya mengikuti gurunya.
Mereka menuruni bukit itu dan menyusuri jalan besar yang membelah dusun-dusun di bawah bukit.
Beberapa orang petani tampak sedang menggarap sawah ladang mereka, tapi sepanjang jalan itu Tui Lan dan gurunya tak menjumpai seorang wanita atau gadis sekalipun.
Yang mereka jumpai selalu laki-laki atau anak kecil seakan-akan dusun-dusun yang mereka lalui itu cuma dihuni oleh laki-laki dan anak-anak.
Dan suasananyapun tampak aneh, penduduk Kang lam yang biasa ramah itu kini tampak pendiam dan acuh.
Kalau toh mereka berpapasan, mereka tentu melengos atau pura-pura tidak tahu.
Anak-anak kecilpun akan segera lari bersembunyi apabila mereka lewat.
"Lihatlah...! Penduduk Kang lam yang terkenal ramah-tamah itu kini menjadi gelisah dan ketakutan setiap dilihat orang asing. Dan tanahnya yang subur makmur itupun kini menjadi terbengkalai akibat ditinggalkan pemiliknya. Dusun-dusunnya yang dulu bersih dan rapi itu kini juga menjadi rusak dan kotor pula. Nah! Coba kaurenungkan! Siapa yang menyebabkan semua itu? Siapa...?"
"Si Iblis Penyebar Maut..."
Tui Lan menjawab seret.
"Nah! Itulah...!"
"Tapi... tapi iblis itu belum tentu orang yang telah membunuh kedua orang tua teecu."
"Ya, benar. Tapi apa bedanya? Menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkan para perusuh dan penjahat yang mengganggu rakyat. Seorang pendekar haruslah..."
"Tapi teecu bukanlah seorang pendekar..."
Tui Lan memotong.
"Gila! Ya.. sudah! Sudah!"
Perempuan tua itu berseru kesal dan jengkel, lalu melangkahkan kakinya lebih cepat lagi sehingga gadis itu terpaksa berlari-lari kecil mengejarnya.
"Subo.!"
Perempuan tua itu berjalan terus tanpa mempedulikan panggilan muridnya.
Tapi langkahnya mendadak terhenti ketika dari arah depan muncul lima orang lelaki berjalan tergesa ke arahnya.
Dan perempuan tua itu segera memegang lengan Tui Lan yang menyusul tiba.
"Hati-hati!"
Perempuan tua itu memperingatkan muridnya.
Kelima orang lelaki itu dengan cepat telah berada di depan mereka.
Langkah kaki kelima orang itu sungguh mantap dan gesit, dan hampir tidak menimbulkan debu sama sekali, sehingga sekali pandang saja setiap orang akan tahu bahwa mereka adalah tokoh-tokoh persilatan tingkat tinggi.
"Ah, kiranya Kong-tong Ngo-hiap (Lima Pendekar Dari Kong tong) yang datang..!"
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu menyambut kedatangan orang-orang itu dengan gembira.
"Bagaimana khabarnya pertemuan di lembah itu tadi malam? Apakah kita telah mendapatkan cara untuk menangkap iblis itu?"
"Hei! Rupanya lo-ni (pendeta wanita) telah menemukan kembali anak gadis yang hilang itu!"
Orang tertua dari Kong-tong Ngo-hiap itu menyapa pula dengan ramahnya.
Matanya menatap Tui Lan dari ujung kepala sampai keujung kaki, seolah-olah ingin bertanya, kemana saja gadis itu tadi malam sehingga gurunya sampai kebingungan setengah mati.
"Dia berada di dalam jurang dibawah bukit itu!"
Perempuan tua itu cepat menerangkan.
Kong-tong Ngo-hiap itu saling berpandangan satu sama lain, kelihatannya ada sesuatu yang mereka pikirkan.
Kelima orang itu adalah kakak beradik seperguruan dari Aliran kong tong-pai di Kong-tong-san.
Dan secara kebetulan pula mereka berlima adalah saudara sekandung.
Masing-masing berusia antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun.
Dan mereka itu adalah putera sekaligus murid-murid utama dari Kong-tong Cin jin atau Ketua Kong-tong-pai sekarang.
"Jadi... jadi"
Lo-ni yang berada di jurang itu pagi tadi?"
"Eh... ataukah masih ada orang yang lain lagi di sana? Hmm... begini, lo-ni. Jangan kaget..! Tadi pagi salah seorang dari para pendekar telah mendengar suara letusan di dalam jurang itu. Ketika ia mencoba turun ke sana, dia melihat bayangan seseorang di tempat yang gelap itu. Dia tak berani melihat sendiri, oleh karena itu ia melaporkannya kepada Kang Lam Koai-hiap. Kemudian Kang Lam Koai-hiap memerintahkan ayahku untuk memeriksanya. Dan ayahpun lalu mengerahkan kami semua... Dan itulah sebabnya kami berada disini sekarang."
Ji Tai lm, orang tertua dari Kong-tong Ngo-hiap itu berkata lagi.
"Kang Lam koai-hiap...? Dia memberi perintah kepada Kong-tong Cin Jin...?"
Si Pendeta Palsu dari Teluk po-hai memotong tak mengerti.
"Ah, maaf... kami belum memberitahukan hasil dari pertemuan kita tadi malam kepada lo-ni."
Tiba-tiba Ji Tai Jiang, orang kedua yang bersuara lantang dan keras, menyela percakapan tersebut.
"Samte (Adik ketiga), coba kau ceritakan sekali lagi kepada lo-ni tentang pertemuan kita tadi malam agar beliau ini tidak bingung!"
Sambungnya lagi seraya menoleh ke arah Ji Tai Song, pendekar yang paling pandai dan berbakat di dalam Kong-tong Ngo-hiap.
Ji Tai Song, yang berusia empat-puluh tahun dan berbadan tegap itu tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Lo-ni! Di dalam pertemuan malam tadi telah diputuskan untuk mengangkat Kang Lam Koai-hiap sebagai pemimpin umum di dalam perburuan ini. Meski Kang Lam Koai-hiap bukanlah orang terpandai atau yang tertua diantara kita, apalagi dia belum sembuh dari lukanya namun semua pendekar telah satu-padu dan bersepakat untuk mengangkatnya sebagai pemimpin. Hal itu kita lakukan demi untuk menghormatinya dan menghargainya sebagai tuan rumah yang paling berkepentingan di dalam urusan ini. Semula orang tua itu memang menolaknya. Tapi kami semua segera mendaulatnya, sehingga dengan berat hati dia terpaksa menerimanya pula,"
Katanya halus dan teratur.
"Oh... jadi itukah sebabnya dia berani memberi perintah kepada Kong-tong Cin-jin yang berkedudukan tinggi itu?"
Si Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai tersenyum maklum.
"Tidak cuma ayahku yang harus tunduk oleh perintahnya. Masih ada ketua partai persilatan lagi yang bernasib sama dengan ayahku. Namun kami semua itu memang sudah kami kehendaki sendiri, semuanya tidak menjadi sakit hati karenanya..."
Ji Tai song tersenyum pula diikuti oleh saudara-saudaranya.
"Tiga ketua partai persilatan? Siapa sajakah mereka itu?"
Pendeta Palsu Dari Teluk po-hai menegaskan.
"Mereka itu adalah ketua-ketua partai persilatan Tai-khek-pai, Ngo-bi-pai dan Tiam-jong-pai."
"Hei? Ketua Tiam-jong-pai... hek-pian-hok Bi bun Ting (Si Kelelawar Hitam) itu juga datang?"
Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai itu berseru girang.
"Benar. Beliau datang bersama-sama dengan ketua Ngo-bi-pai, Ang-kin Siu Li Bidadari Berselendang Merah)."
"Oh... dia juga datang?"
Tiba-tiba wajah Pendeta Palsu itu menjadi gelap kembali.
Kong-tong Ngo-hiap merasa sangat heran melihat perubahan wajah lawannya.
Tapi, mereka berlima tidak ingin mencampuri urusan pribadi orang lain.
Oleh karena itu mereka berlima tidak mau menanyakan terlebih lanjut.
Sebaliknya, Ji-Tai Song malah meneruskan ceritanya.
"Lo-ni...! Oleh Kang Lam Koai Hiap kita semua dibagi menjadi lima rombongan, agar supaya para pendekar yang banyak jumlahnya dan belum saling mengenal itu tidak menjadi ribut atau saling gasak sendiri di dalam menjalankan tugasnya nanti. Dan setiap rombongan itu juga telah memperoleh daerah-daerah sendiri dalam tugasnya. Sementara di dalam operasinya nanti, setiap rombongan itu masih dibagi-bagi lagi menjadi beberapa kelompok, dimana masing-masing pemimpin kelompok itu harus sudah saling mengenal satu sama lain."
"Ah... begitu rapinya!"
Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai berdecak kagum.
"Tentu saja, lo-ni. Selain itu setiap rombongan dan setiap kelompok juga memiliki tanda pengenal dan kata-kata sandi tersendiri, sehingga bentrokan dan salah tangkap diantara kita sendiri dapat dihindari."
"Wah...kalau begitu aku masuk rombongan yang mana?"
Si Pendeta PaIsu dari Teluk Po-hai bertanya bingung.
"Sebaiknya lo-ni menghubungi sahabatmu dari kelima rombongan itu. Lo-ni bisa menghubungi pimpinannya. Rombongan pertama dipimpin sendiri oleh Kang Lam Koai-hiap. Rombongan kedua dipimpin oleh Ketua Tai-khek-pai Ouw Yang Su. Rombongan ketiga dipimpin oleh Ketua Tiam-jong-pai, Hek-pian hok Li Bun Ting. rombongan ke empat dipimpin oleh Ketua Ngo-bi-pai, Ang kin Siu-li Siauw Hong Li. Dan rombongan terakhir dipimpin oleh ayahku sendiri, Kong-tong Cin-jin."
Ji Tai Im memberikan pandangannya.
"Tetapi...yang lebih baik lo-ni menghubungi Kang Lam Koai-hiap saja. Sebab selain dia itu menjabat sebagai pimpinan umum, dia bisa mencarikan rombongan yang cocok buat lo-ni nanti."
Ji Tai Song yang cerdik itu menyela.
"Ya! Agaknya pendapat adikku tadi memang benar,"
Ji Tai Im cepat mengiakan kata-kata adiknya.
"Dimana aku bisa menemui Kang lam Koai-hiap?"
"Dia berada di dalam kota, di rumah muridnya, yang kini telah disulap menjadi 'markas' para pendekar..."
"Baiklah! Kalau begitu kami mohon diri untuk menemui Kang lam Koai-hiap,"
Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai memberi hormat dan menarik lengan Tui Lan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Demikianlah guru dan murid kembali menyusuri jalan yang menuju ke kota Soh-ciu.
Semakin dekat dengan kota.
semakin sering pula mereka berjumpa dengan para pendekar yang mengambil bagian dalam "perburuan' itu.
"Subo, demikian banyaknya pendekar-pendekar persilatan yang hadir, tapi kenapa tak satupun terdengar para pemimpin Im-Yang-kauw kita?"
Tui Lan tiba-tiba bertanya kepada gurunya.
"Bukankah dahulu subo pernah bercerita bahwa di kuil Pusat kita terdapat tokoh-tokoh sakti yang mempunyai kesaktian seperti dewa?"
"Wah, engkau ini benar-benar ceroboh sekali! Tentu saja beliau-beliau itu tidak mempunyai minat sama sekali terhadap urusan-urusan seperti ini. Beliau-beliau itu cuma memikirkan masalah keagamaan saja setiap harinya. Lain tidak..."
"Tapi subo pernah bercerita, bahwa beberapa orang diantara mereka itu pernah menggegerkan persilatan beberapa tahun yang lalu. Misalnya... sesepuh kita yang bergelar Lojin-ong atau Toat-beng-jin (Manusia Pencabut Nyawa) itu! kata subo, beliau itu bersama dengan Kauw-cu-si (Pengurus Keagamaan Pusat) yang bernama Tong Ciak, pernah malang-melintang di dunia kang-ow tanpa lawan..."
"Ah, itu kan dulu! beliau itu keluar kuil karena masalah agama atau urusan kita. Beliau itu terpaksa keluar oleh karena telah terjadi bentrokan antara pengikut aliran kita dengan para pengikut aliran Beng kauw dan Mo-kauw!"
Tui Lan mengerutkan keningnya.
"Subo, apakah kedua aliran kepercayaan itu juga mempunyai tokoh-tokoh sakti pula sehingga mereka itu berani melawan kita?"
"Kau ini bodoh benar! Tentu saja mereka itu mempunyai tokoh-tokoh sakti pula. Kalau tidak, masakan mereka berani bentrok dengan kita?"
"Siapa sajakah mereka itu, subo?"
Gadis itu mendesak dengan nada sedikit memaksa.
"Aaaah...kau ini mau apa bertanya tentang mereka? Mau mengajak berkelahi? Jangan mengada-ada!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu membentak Tui Lan, namun bibirnya tampak sedikit tersenyum.
"Bukan begitu, subo..."
Gadis itu merajuk dengan mulut cemberut.
"Teecu memang tidak suka berkelahi tapi teecu sangat mengagumi keperwiraan dan kesaktian seseorang, yang digunakan untuk mencipta kebaikan dan kedamaian dunia seperti beliau-beliau itu..."
"Omong kosong! Siapakah yang mencipta kedamaian dan kebaikan melalui bentrokan dan perkelahian yang membawa korban jiwa? Siapa...?"
"Ah... semua itu hanya karena salah paham saja! Tak sebuahpun agama yang menganjurkan pertumpahan darah di dunia ini. Apalagi beliau-beliau itu adalah penganut dan pengurus agama yang tekun. Tak mungkin rasanya kalau mereka itu menjadi lalai dan terhanyut ke dalam arus buruk yang tak mereka kehendaki sendiri."
Tui Lan cepat menyanggah. Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu terperangah.
"Nah! Kau sudah mulai dengan khotbahmu lagi!"
Hardiknya kaku. Tui Lan menjadi kaget pula.
"Oh, maafkan teecu, subo!"
Pintanya cepat.
Mereka lalu berdiam diri.
Perempuan tua itu mempercepat langkahnya, sehingga Tui Lan terpaksa mengikutinya pula.
Dan gadis itu sudah tidak berani pula untuk bertanya-tanya lagi.
Keinginannya untuk mengetahui tokoh-tokoh tingkat tinggi itu dipendamnya saja didalam hati.
Beberapa waktu kemudian tembok kota Soh-ciu telah terlihat di depan mata mereka.
Bangunannya yang tinggi-kokoh mengelilingi kota itu tampak megah dan perkasa, meskipun dinding-dindingnya telah berwarna kehitaman dimakan jamur.
Pintu gerbangnya yang luar biasa besar itu dicat dengan warna merah tua, meskipun di beberapa tempat juga telah luntur dimakan usia tua pula.
Parit dalam dan lebar yang digali mengelilingi tembok itu tampak penuh dengan air, sehingga sepintas lalu bagaikan sebuah sungai yang mengalir mengitari kota Soh-ciu.
Tui Lan dan gurunya melintasi jembatan gantung yang melintang di atas parit itu.
Banyak orang lalu-lalang melewati jembatan itu, namun tak seorang wanitapun yang mereka lihat selain mereka sendiri, sehingga kedatangan mereka itu benar-benar menarik perhatian orang-orang di sekeliling mereka, apalagi wajah Tui Lan yang cantik menarik itu benar-benar merupakan sebuah pemandangan yang menyegarkan mata.
Pintu gerbang itu dijaga oleh enam orang perajurit bersenjata tombak, mata mereka segera melotot begitu melihat Tui Lan datang.
Empat orang diantara mereka segera mencegat langkah gadis itu.
"Berhenti sebentar! Nona siapa dan datang dari mana? Apakah nona tidak tahu kalau kota ini sedang dilanda kerusuhan? Mengapa nona datang kemari?"
Salah seorang bertanya.
Wajahnya yang kasar itu tampak berkeringat, sementara tombaknya yang panjang itu dilintangkan di depan Tui Lan.
Tui Lan berhenti dan melirik ke arah gurunya yang berdiri tak jauh darinya.
"Terima kasih! Cuwi tak usah mengkhawatirkan nasib kami berdua. Kedatangan kami kemari sekali ini justru hendak menengok atau melihat-lihat kerusuhan itu. Kami berdua ingin melihat macam apa Si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang itu. Nah... bolehkah kami lewat sekarang?"
Gadis itu berkata dengan tenang dan halus.
Para penjaga itu tersentak kaget.
Begitu pula dengan orang-orang yang tanpa sengaja berhenti memperhatikan mereka.
Semua orang malah menjadi gelagapan melihat ketenangan gadis cantik itu dan semua orang itu baru menjadi sadar tatkala gadis dan gurunya itu tiba-tiba telah lenyap dari tempat mereka!
Para penjaga itu melongo dan membalikkan badan mereka.
Dan mereka melihat gadis cantik itu telah melangkah memasuki kota bersama perempuan tua itu.
Semuanya benar-benar tidak tahu cara bagaimana kedua wanita itu lewat dari depan mereka.
Semuanya hanya melihat perempuan tua itu berkelebat cepat ke depan, seperti menyambar ke arah gadis cantik itu, dan kemudian hilang lenyap dari pandangan mereka.
"Uh! Ternyata... ternyata mereka berkepandaian tinggi!"
Penjaga itu bergumam kecewa malah, karena tak bisa menggoda gadis yang sangat menarik hatinya itu.
"Ya! Untunglah gadis itu tidak menjadi marah""
"Itulah kalau kita melupakan pesan pimpinan. Bukankah Han Cian-bu kemarin telah memperingatkan kita semua, agar berhati-hati menghadapi orang-orang yang berdatangan ke kota kita? Dalam beberapa hari ini kota Soh-ciu dibanjiri para pendekar dari seluruh negeri. Kita tidak boleh sembrono menghadapi mereka."
"Ya. Tapi siapa yang tak terpikat dengan gadis secantik dia? Sudah beberapa hari kita cuma melihat lelaki me lulu..."
Penjaga yang pertama tadi membela diri. Sementara itu Tui Lan dan gurunya telah jauh meninggalkan mereka.
"Subo, kemanakah kita sekarang?"
Gadis itu bertanya kepada gurunya setelah beberapa saat lamanya mereka berjalan di dalam kota.
"Kita makan dahulu. Nah, di seberang jalan itu ada restoran! Mari kita ke sana!"
Sekali lagi kedatangan mereka didalam restoran itu telah menarik perhatian semua orang.
Selain Tui Lan itu memang sangat cantik, di dalam ruangan yang penuh pengunjung itu memang tiada wanita lain selain mereka berdua.
Namun demikian perempuan tua itu tenang-tenang saja ketika mengajak Tui Lan duduk di kursi yang tersedia.
Tui Lan melirik ke sekitarnya.
Dilihatnya semua mata memandang ke arah dirinya, sehingga diam-diam ia menjadi kikuk juga.
"Subo, semua orang memandang ke arah kita,"
Bisiknya perlahan kepada gurunya.
"Siapa bilang? Lihat ke belakangmu! Pemuda itu sama sekali tak menggerakkan kepalanya meskipun kita duduk di dekatnya."
Pendeta Palsu dari teluk Po-hai itu mencibirkan mulutnya ke arah belakang Tui Lan.
Tui Lan menoleh sekejap.
Tapi waktu yang hanya sekejap itu telah lebih dari cukup bagi Tui Lan untuk mengetahui s iapa yang duduk di belakang dirinya.
Seorang pemuda tinggi kurus, sangat kurus sekali malah, tampak sedang menghadapi cawan kecil yang penuh berisi arak hangat.
Di atas mejanya terletak dua guci arak yang kelihatannya telah habis isinya.
Sebenarnya wajah pemuda itu sangat tampan.
Namun karena terlalu kurus serta kurang terawat dengan baik, maka wajah itu tampak pucat seperti orang yang baru menderita penyakit berat.
Apalagi kulit di sekitar matanya yang tajam luar biasa itu tampak kehitam-hitaman, seakan-akan pemuda itu tidak pernah tidur selama berhari-hari.
Dan pemuda itu hanya duduk sendirian di mejanya.
Pelayan rumah makan itu datang mendekati Tui Lan dan mencatat masakan yang dipesan oleh gadis itu dan gurunya.
"Nona, rombongan pemuda yang ada di dekat pintu itu mengundang nona untuk makan bersama kalau mau..."
Pelayan itu tiba-tiba berbisik kepada Tui Lan. Jari tangannya menunjuk ke arah pintu dimana empat orang pemuda yang sedang memandang dan tersenyum ke arah mereka.
"Hmm, kurang ajar...!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menggeram namun cepat-cepat ditahan oleh Tui Lan.
"Subo jangan lekas marah! Kita tak perlu melayani kekurang-ajaran mereka."
Gadis itu membujuk gurunya seraya tersenyum.
"Tapi orang itu terlalu menghinamu! Dikiranya kau ini gadis apa? Huh!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu tetap mengomel.
"Sudahlah, Subo! Bersabarlah. Kita tak perlu melayani segala macam lelaki seperti mereka! Itu hanya akan merendahkan martabat kita sendiri nanti. Tujuan kita kemari adalah untuk makan lalu mencari Kang Lam Koai-hiap. Yang lain tak usah kita pikirkan!"
Tui Lan terus saja menenangkan hati gurunya. Gadis itu lalu berkata kepada pelayan yang masih berdiri gemetar di dekatnya.
"Nah, katakan kepada mereka bahwa aku sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk melayani kelakar mereka! Begitu! Dan... eh, ya... kau tahu rumah Kang Lam Koai-hiap di kota ini?"
"Ya... ya, saya tahu, kouw-nio (nona). Rumahnya berada di ujung jalan ini! Apakah kouw-nio ini keluarganya?"
Pelayan itu bertanya semakin ketakutan. Tui Lan tidak mengacuhkan pertanyaan pelayan itu. Sebaliknya gadis itu merogoh sekeping uang tembaga dari dalam sakunya, dan memberikannya kepada pelayan itu.
"Nah, kau pergilah sekarang...!"
Perintahnya halus.
"Terima kasih! Terima kasih!"
Pelayan itu mengucapkan terima kasih dengan membungkukkan tubuhnya berulang-ulang, lalu cepat-cepat pergi meninggalkan Tui Lan dan gurunya yang galak itu.
Di dekat pintu pelayan itu berhenti lalu mengatakan pesan Tui Lan tadi kepada rombongan pemuda yang telah menunggunya.
Dan pelayan itu segera pergi ketika tamu-tamunya itu menjadi marah.
"Siapa yang berkelakar? Kurang ajar...!"
Salah seorang di antaranya berdiri sambil menggebrak meja.
"Kami mengundangnya secara baik-baik! Siapa bilang para pendekar Tai-khek-pai suka berkelakar?"
Serunya penasaran.
"Klinting...! klinting...klinting...!"
Selagi para tamu di dekat pintu itu menjadi ribut melihat ulah pendekar Tai-khek-pai tersebut, tiba-tiba di luar halaman terdengar kelintingan kuda mendatangi.
Dan sebentar kemudian seorang pemuda tampan berpakaian bagus dan mahal memasuki restoran tersebut.
Seorang bocah tanggung berpakaian sederhana, yang agaknya adalah seorang pelayan atau kacung, tampak membuntuti di belakangnya.
Dua buah tangannya menjinjing barang-barang bawaan pemuda tampan tersebut.
Pemuda itu menoleh kesana-kemari mencari tempat duduk.
Pelayan restoran cepat menyambutnya.
Tapi serentak terlihat oleh pemuda itu wajah Tui Lan yang cantik kakinya segera melangkah mendekati.
"A Cang...Beli meja ini!"
Pemuda itu berbisik kepada kacungnya seraya menunjuk meja pemuda kurus tadi.
Bocah tanggung itu cepat menghubungi pelayan restoran yang menyambutnya tadi.
Dikeluarkannya uang setengah tail perak dari kantung uang yang dibawanya.
"Nih, uang setengah tail! Terimalah...! Tapi tolong kaukosongkan meja di belakang gadis cantik itu karena majikanku hendak memakainya! Cepat!"
Katanya berlagak seperti orang besar.
Tentu saja pelayan restoran itu melongo melihat uang sebanyak itu.
Uang sebanyak itu bisa untuk makan tiga atau empat orang di restorannya.
Tapi perintah itu sungguh sulit dilaksanakan.
Bagaimanapun juga tak mungkin ia mengusir tamu yang belum selesai menikmati makanannya.
"Ini... ini... oh, bagaimana ini..?"
Pelayan itu berdesah gugup seraya memandangi uang perak yang ada di telapak tangannya.
Kacung itu tersenyum acuh, lalu mendekati tuannya kembali.
Dan pemuda tampan itu sendiri tampak sedang pasang aksi di belakang Tui Lan.
Sambil mengipasi tubuhnya dengan kipas sutera yang mahal, pemuda kaya itu sebentar sebentar mematut-matut pakaian yang dikenakannya.
Berkali-kali matanya melirik kepada Tui Lan.
"Brengsek benar anak-anak muda sekarang!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai ini mengomel lagi dengan kesal melihat lagak si kaya itu.
Sementara itu si pelayan restoran masih tetap salah tingkah dan kebingungan.
Sambil mendekati pemuda kurus yang sedang menikmati araknya itu ia mengeluh panjang-pendek.
"Ini..., ini... wah, bagaimana ini? Aku... aku..."
Tiba-tiba si pemuda kurus itu berdiri dari kursinya. Sekilas matanya menyambar ke arah Tui Lan dan pemuda kaya itu. Kemudian mulutnya yang sejak tadi diam itu berkata kepada si pelayan restoran.
"Jangan bingung menerima uang sebanyak itu! Kebetulan aku juga sudah tidak berselera lagi untuk meneruskan minumku. Aku akan pergi. Nih, akupun dapat memberimu uang pula! Terimalah!"
Pemuda kurus itu melangkah pergi. Tangannya melemparkan uang setengah tail pula kepada pelayan itu. Bukan perak, tapi...emas! "Hah? Ini...? Tuan, ini...?"
Pelayan itu terbelalak, lalu pingsan.
Tangannya masih tetap mencengkeram uang emas itu!
Uang emas yang nilainya dapat untuk membayari semua tamu yang sedang makan-minum saat itu!
Untuk beberapa saat tempat itu menjadi ribut.
Para pelayan yang lain segera berdatangan menolong pelayan itu.
Mereka menggotongnya ke ruangan dalam, sementara para tamu yang lain segera duduk kembali di tempat masing-masing.
Dan si pemuda kaya itu mempergunakan kesempatan tersebut untuk mengambil alih meja si pemuda kurus tadi.
"Hei! Hei...! Enak saja duduk di tempat orang! Kami telah menungguinya sejak tadi. Ayoh! Sllahkan mencari meja yang lain!"
Mendadak para tamu itu dikejutkan lagi oleh suara bentak orang.
Semua mata tertuju ke bekas meja si kurus lagi.
Di sana terlihat si pemuda kaya itu telah dikepung oleh empat orang Pendekar Tai-khek-pai tadi.
Tapi pemuda itu sendiri masih tampak tenang-tenang saja di kursinya.
"Sungguh menyebalkan!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai yang menyaksikan ulah anak-anak muda di depannya itu menggerutu kesal.
Tui Lan menundukkan mukanya yang kemerah-merahan.
Namun di dalam hatinya ada juga perasaan bangga, karena dirinya menjadi pusat perhatian orang orang itu, bahkan secara tidak langsung menjadi rebutan malah.
Mereka berlomba-lomba mendekatinya dan berlomba-lomba menarik perhatiannya.
Sementara itu "perang dingin"
Yang terjadi di belakang dirinya semakin menjadi panas juga!
Rombongan pemuda yang mengaku sebagai pendekar-pendekar dari Tai-khek-pai itu sudah mulai membentak dan menggebrak meja lawannya!
Meskipun demikian si pemuda kaya dan kacungnya itu ternyata masih tetap tenang-tenang saja di tempatnya.
"Anak manis! Kau jangan mentang-mentang mengandalkan uangmu yang banyak itu untuk berbuat seenakmu di sini. Ini bukan rumah nenekmu! Ini tempat umum, tahu?"
Si pemuda kaya itu akhirnya mengerutkan dahinya.
Lambat-laun ia menjadi risih dan marah juga.
Namun demikian tampaknya ia masih belum mau melayani para pengganggunya.
Sambil menghela napas ia menoleh kepada kacungnya.
"A Cang! Aku baru enggan berbicara dengan orang lain. Wakililah aku melayani orang-orang dari hutan ini! Terserah kepadamu, apa yang hendak kaulakukan terhadap mereka! Kau lempar ke halamanpun juga boleh!"
"Baik, Siauwya (tuan muda)..."
Bisa dibayangkan, bagaimana marahnya keempat pendekar Tai-khek-pai itu.
Mereka adalah murid-murid utama Ouw-yang Su, pendekar kenamaan yang kini menjabat sebagai Ketua Tai-khek-pai di Siong-san.
Belum pernah mereka menerima hinaan serupa itu.
"Bangsat keparat! Kau sudah bosan hidup rupanya!"
Salah seorang dari empat pendekar Tai-khek-pai itu yang sejak tadi selalu mengumpat-umpat dan marah-marah tiba-tiba menendangkan kakinya ke arah meja si pemuda kaya itu!
Tapi bersamaan dengan itu si kacung juga melintangkan kakinya di depan meja tersebut.
Maka tak dapat dicegah lagi kedua kaki mereka lantas beradu satu sama lain!
Bresssss!
"Aduuuuuuuuuh!"
Pendekar Tai-khek pai itu berteriak setinggi langit.
Tubuhnya berputar-putar sambil terpincang-pincang sementara kedua tangannya berusaha memegangi kakinya yang sakit.
Sebaliknya kacung yang bernama A Cang itu kelihatan tersenyum simpul ditempatnya.
Dengan lagak yang kocak ia membungkuk, lalu menyibakkan pipa celananya.
Dan semua orang segera melihat sarung pedang yang terbuat dari besi terselip di sana.
Benda itulah yang membikin pendekar Tai-khek-pai tadi melolong-lolong kesakitan.
"Kurang ajar! Kau anak kecil bermain curang!"
Pendekar Tai-khek-pai yang lain segera melabrak kacung itu.
"Hei! Hei! Kenapa kalian mengeroyokku? Sungguh tidak punya malu! Kalau berani...satu lawan satu, dong!"
Kacung itu menjerit-jerit seraya mengelak dan berputaran mengelilingi tuannya.
"Samwi suheng (suheng bertiga) lepaskan monyet itu untukku. Biar aku saja yang meremukkan tempurung kepalanya!"
Pendekar yang kesakitan kakinya tadi berteriak.
"Cap-sute(adik ke sepuluh), berhati-hatilah..! Bocah ini ternyata berisi juga!"
Ketiga orang Tai-khek-pai yang mengejar-ngejar A Cang itu berteriak pula, lalu berhenti.
Dan dibiarkannya saja kacung itu berhadapan sendiri dengan adik seperguruan mereka.
Sementara itu mereka bertiga lalu mengepung si pemuda kaya, yang masih enak-enakan duduk di kursinya.
Suasana menjadi tegang.
Para tamu yang duduk berdekatan dengan tempat itu segera menyingkir, termasuk Tui Lan dan gurunya.
Perempuan tua itu hampir saja tidak bisa mengendalikan kemarahannya.
Untunglah Tui Lan dengan cepat bisa mengekangnya.
"Subo, marilah kita mencari kursi yang lain saja di pojok sana!"
Gadis itu membujuk seraya menarik lengan gurunya.
"Hitung-hitung kita menonton sebuah pertandingan silat secara gratis..."
"Hmm... mau menonton atau ingin menghindari kekerasan? Kalau ingin menonton... ya, di sini dong! Dekat!"
Perempuan tua itu mengikuti langkah muridnya seraya mengejek.
"Ah, subo ini...sudah tua senangnya cuma bertengkar melulu!"
Tui Lan menggerutu. Tapi sebelum pertempuran itu benar-benar meletus, dari ruangan dalam tiba-tiba muncul si pemilik restoran sambil menjerit-jerit.
"Tahan! Jangan berkelahi! Jangan berkelahi! Jangan rusakkan rumah makanku! Silahkan cuwi keluar saja kalau ingin berkelahi...!"
Tubuh yang gemuk itu menghambur keluar dan menerjang ke arah arena. Namun dengan sigap si pemuda kaya itu bangkit menahannya. Kemudian pemuda itu mengeluarkan uang satu tail emas dari sakunya.
"Sssst! Jangan ganggu permainan ini! Aku sudah terlanjur berminat untuk menikmatinya. Nih, uang satu tail emas! Uang ini dua kali lipat pemberian si kurus yang sombong tadi bukan? Simpanlah. Tapi biarkanlah pertunjukan ini terus berlangsung, kukira uang itu lebih dari cukup untuk mengganti seluruh perabotan rumah-makan ini. Bagaimana...?"
"Oh, terima-kasih! Terima kasih..!"
Pemilik rumah makan itu tiba-tiba tertawa kemudian melangkah mundur dengan mengangguk-angguk.
"Nah, A Cang... teruskan permainanmu! Lemparkan orang hutan itu keluar halaman!"
Si pemuda kaya itu lalu berseru ke arah kacungnya.
"Baik, Siauwya...!"
A Cang menjawab gembira.
"Keparat! Kubunuh kau, haram jadah!"
Lawan si A Cang menggeram dan menyerang.
Orang itu adalah murid termuda dari Ouw-yang Su yang berjumlah sepuluh orang.
Wataknya berangasan dan suka berkelahi.
Sebenarnya sebagal murid ketua partai persilatan terkemuka, kepandaiannya cukup tinggi.
Namun karena terlalu sering bertindak sembrono dan kurang waspada, maka dia sering memperoleh kesulitan apabila berhadapan dengan musuh yang setingkat atau lebih tinggi kepandaiannya.
Begitu pula halnya dengan ketiga suhengnya yang kini sedang mengepung si pemuda kaya itu.
Sebagai murid Ouw-yang Su yang nomer tujuh, delapan dan sembilan, kepandaian mereka itu juga cukup tinggi.
Lebih tinggi dari pada murid yang kesepuluh itu malah.
Namun karena mereka bertiga itu juga masih terlalu muda pula, apalagi mereka itu juga terlalu membanggakan kesohoran guru mereka maka keadaan mereka juga tidak berbeda dengan adik seperguruan mereka itu.
Sebaliknya, kacung itu meskipun masih sangat muda, tapi sikap dan pembawaannya ternyata lebih tenang dan berhati-hati dibandingkan lawannya.
Oleh karena itu biarpun ilmu silat yang dikeluarkannya itu biasa-biasa saja tapi kenyataannya dia bisa melayani semua gebrakan lawannya dengan baik.
Malahan sering kali dengan ketenangannya itu dia bisa mencuri kesempatan untuk mendahului musuhnya.
Akibatnya bisa diduga, murid ke sepuluh dari Tai-khek-pai itu sering kecolongan sebuah pukulan atau tendangan.
Memang tidak begitu telak, namun hal itu sudah membikin pendekar Tai-khek-pai itu semakin marah dan penasaran!
Tentu saja ketiga suhengnya semakin terbakar melihat keadaan itu!
"Bangsat!
Siapakah sebenarnya kau ini?"
Murid yang ke tujuh menggeram dan membentak ke arah lawannya, sipemuda kaya itu.
"Kulihat kau tidak mengenakan tanda-tanda yang diberikan oleh Kang Lam Koai-hiap, Apakah engkau Si Iblis Penyebar Maut itu hah?"
Pemuda kaya itu tiba-tiba tertawa panjang.
"Hahaha... siasat kuno! Kau sungguh cerdik sekali! Melihat keadaan adikmu yang tidak menguntungkan itu kau lantas menuduh orang seenaknya untuk mencari dukungan orang luar, haha...!"
"Diam! Kalau kau memang bukan Si Iblis Penyebar Maut itu, hayo... katakan kepada kami! Siapakah kalian ini?"
"Nah, pertanyaan itu baru patut untuk dijawab. Tapi... benahilah dulu hatimu sebelum mendengarkan jawabanku, agar engkau tidak menjadi kaget atau... ketakutan. Hahahaha...!"
"Bangsat sombong! Lekas katakan!"
Pemuda kaya itu tertawa lagi dengan pongahnya. Lalu serunya kepada A Cang yang sedang bertempur melawan musuhnya.
"A Cang...! Coba sebutkan namaku di depan mereka!"
Kacung itu juga tertawa seperti tuannya.
Kemudian untuk sesaat ia mendesak lawannya dengan pukulan dan tendangan berganda, sehingga pendekar Tai khek-pai itu terpaksa meloncat mundur menjauhi.
Dan kesempatan itu dipergunakan oleh A Cang untuk melaksanakan perintah tuannya.
"Majikanku ini putera keluarga Tiauw dari Lautan Timur! Beliau bernama... Kiat Su! Di dunia kang-ouw beliau digelari orang Kim-mou-eng (Rajawali Berbulu Emas)!"
Teriaknya keras sekali.
Untuk beberapa saat nama itu memang sangat mengejutkan para pengunjung rumah-makan itu, terutama jago-jago dari Tai-khek-pai tersebut.
Namun bukan nama si pemuda itu yang mengejutkan mereka, melainkan disebutkannya nama Keluarga Tiauw dari Lautan Timur itulah yang sangat mengagetkan mereka!
Nama Keluarga Tiauw sangat tersohor di dunia kang-ouw, terutama di pantai laut Timur, karena nama itu adalah nama keluarga raja perompak, yang ditakuti dan berkuasa di seluruh Lautan Timur.
Tidak seorangpun yang tidak mengenal nama Tung-hai-tiauw (Rajawali Laut Timur) yang sangat ganas dan kejam itu!
"Kau...
kau she Tiauw?
Apakah kau masih mempunyai hubungan keluarga dengan Tung-hai-tiauw?"
Salah seorang dari pendekar Tai-Khek itu menegaskan, suaranya mulai goyah.
"Beliau adalah ayahku!"
Tiauw Kiat Su menjawab dengan suara galak. Lalu katanya lagi dengan nada mengejek.
"Nah..., apa kataku! Kalian mulai ketakutan, bukan?"
"Kurang ajar! Siapa yang takut kepadamu? Samwi suheng, bunuh bocah sombong itu!"
Lawan A Cang berteriak berang, kemudian menyerang kacung itu lagi.
"Bagus! Siapa takut kepada sampah masyarakat seperti ayahmu? Lihat serangan!"
Pendekar ke tujuh dari Tai-khek-pai membentak, lalu menyerang Tiauw Kiat Su.
Otomatis kedua adik seperguruannya ikut menyerang juga.
Demikianlah, pertempuran itupun tak dapat dielakkan lagi.
A Cang menghadapi murid termuda dari Tai-khek-pai sementara Tiauw Kiat Su melawan keroyokan tiga orang suhengnya.
Dalam gebrakan pertama itu masing-masing pihak belum mempergunakan senjata mereka.
Masing-masing baru mempergunakan ilmu silat tangan kosong mereka.
Tai-khek-pai mengandalkan Tai-khek-kun mereka yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus.
Yaitu suatu ilmu pukulan yang didasarkan atas keuletan dan kedalaman Iweekang pemiliknya.
Semakin tinggi dan semakin dalam lweekang pemiliknya, maka semakin dahsyat pula pengaruh ilmu itu atas lawannya.
Gerakan-gerakannya sangat halus dan selalu diawali dengan gerakan orang bersemadi, sehingga ilmu itu mempunyai pengaruh yang kuat dan menghanyutkan lawannya.
Sebaliknya ilmu silat Tiauw Kiat Su dan Kacungnya tampak sangat kasar dan buas, seolah-olah semua gerakannya hanya bertujuan membunuh atau membikin cacat lawannya.
Jurus-jurusnyapun penuh dengan jebakan atau tipuan yang mematikan lawan, sehingga rasa-rasanya ilmu itu sangat brutal dan tak berperikemanusiaan!
Memang ilmu itu sungguh amat cocok untuk para perompak atau bajak-laut yang mengandalkan hidupnya di dunia kekerasan dan kekejaman.
Dua puluh jurus telah berlalu.
A Cang telah mulai mendesak lawannya, begitu pula dengan Tiauw Kiat Su, tuannya.
Meskipun dikeroyok tiga, putera Tung-hai-tiauw itu dengan mudah dapat menguasai lawan-lawannya.
Ilmu silatnya yang kasar dan ganas, apalagi dengan lweekang dan ginkangnya yang jauh lebih tinggi dari pada lawan-lawannya itu, membuat dia seperti algojo yang sedang mengejar-ngejar binatang buruannya.
"Srrrrt!"
Tiba-tiba seperti diberi komando saja, keempat pendekar Tai-khek-pai itu mencabut senjata mereka secara berbareng!
Senjata yang dapat dilipat dan disembunyikan di bawah baju itu, ternyata adalah sebuah tombak pendek, sepanjang lengan pemiliknya, dengan mata tombak bercagak di kedua ujungnya!
Dan mereka memegang tombak itu tepat di tengah-tengahnya, dimana terdapat lobang sebesar ibu jari tempat untuk memutar-mutarkan senjata itu bila diperlukan.
Melihat lawan mereka telah mengeluarkan senjata Tiauw Kiat Su dan kacungnya juga tidak mau ketinggalan pula.
Pemuda itu cepat-cepat mengeluarkan kipasnya.
Namun yang ia keluarkan bukanlah kipas suteranya tadi, tapi yang dia keluarkan adalah kipas khusus yang terbuat dari lembaran-lembaran baja tipis.
Sedangkan A Cang dengan tangkas juga mencabut pedang pendeknya pula, yang tadi ia selipkan di dalam kain celananya.
Maka merekapun lalu bertempur pula lagi dengan sengitnya.
Dengan pedang di tangannya, A Cang yang masih sangat muda itu bertempur semakin keras dan liar.
Sebaliknya dengan tombak kebanggaannya, lawannya yang berwatak berangasan itu juga melayaninya dengan brutal pula.
Alhasil mereka berdua berkelahi bagaikan binatang buas yang kesetanan.
Sehingga mereka itu rasa-rasanya bukan bermain silat, tetapi sedang mengadu otot melalui ayunan senjata mereka.
Terdengar gemuruh dentang senjata mereka, bila kedua senjata mereka saling bertemu di udara.
Akibatnya para pengunjung restoran itu terpaksa tidak bisa menikmati makanan mereka.
Pertempuran sengit tersebut memaksa mereka untuk pergi meninggalkan meja mereka.
Mereka berkumpul berdesakan di pinggir arena, menyaksikan pertempuran itu.
Termasuk pula diantara mereka itu adalah Tui Lan dan gurunya.
Namun berbeda dengan gurunya yang amat asyik menonton pertandingan itu, Tui Lan yang tak suka kekerasan itu justru menoleh kesana-kemari, mencari pemuda kurus yang tadi duduk di belakang dirinya.
Namun sampai lelah matanya mencari, si pemuda kurus itu tetap tak diketemukannya juga.
Tampaknya pemuda itu telah pergi meninggalkan halaman restoran tersebut.
Sementara itu pertempuran antara Tiauw Kiat Su melawan tiga orang pengeroyoknya ternyata juga tidak kalah pula dahsyatnya dari pada pertempuran kacungnya itu.
Hanya saja cara perkelahian mereka sungguh amat jauh berbeda dengan cara kacungnya itu.
Meskipun jurus-jurus yang dikeluarkan oleh pemuda itu juga amat kasar dan keji, namun cara membawakannya ternyata amat berlainan.
Pemuda itu lebih menitik-beratkan lweekang dan ginkangnya dari pada beradu tenaga menonjolkan gwa-kangnya.
Bagaikan seekor lebah beracun Tiauw Kiat Su berterbangan kesana-kemari mengelilingi lawan-lawannya, untuk kemudian sesekali tampak menyengat lawan apabila mereka lengah.
Ternyata dengan modal lweekang dan ginkangnya yang lebih tinggi dari pada lawan-lawannya, pemuda itu tetap bisa menguasai pertempuran.
Malah beberapa waktu kemudian kipas besinya mampu mengoyak kulit para pengeroyoknya pula.
"Heh he he, monyet-monyet malang! Sekarang kalau kalian hendak meminta ampun kepadaku, jangan harap aku akan mengabulkannya. Apapun yang akan terjadi, kalian tetap akan kubunuh, hehehe! Tapi kalau kalian mau memilih cara kematian yang kalian ingini, aku masih mempertimbangkannya. Hmm, apakah kalian ingin mati... dengan kepala terpisah dari tubuh kalian? Atau..., kalian ingin dipotong dulu tangan dan kaki kalian, sebelum isi perut kalian nanti kukorek keluar seluruhnya? Coba, mana yang kalian pilih?"
Pemuda itu mengejek dengan kata-katanya yang sangat menyakitkan.
"Kurang ajar! Bajak laut keji adooouh!!"
Pendekar yang ke tujuh dari Tai-khek-pai itu tiba-tiba memekik, lalu roboh terguling-guling di atas lantai.
Darah segar tampak menyembur bagai pancuran dari lengan kirinya yang putus tersabet kipas lawan.
"Jit-suheng...!"
Ketiga orang Sutenya menjerit pilu.
Untuk sesaat ketiga orang itu menjadi lengah.
Dan kesempatan ini tentu saja tak disia-siakan oleh Tiauw Kiat Su dan kacungnya yang kejam itu.
Dengan amat licik mereka menyerang dari belakang.
"Srrrrt! Srrirrrrrt!"
"Auwgh...!"
Lawan A Cang dan pendekar ke delapan dari Tai-khek-pai yang berada di depan Tiauw Kiat Su menjerit berbareng.
Keduanya lantas jatuh berkelojotan di atas lantai.
Pinggang mereka benar-benar terbuka lebar sehingga isi perutnya juga benar-benar tertumpah keluar seperti kata-kata Tiauw Kiat Su tadi.
"Oooooooooh!"
Semua penonton berdesah ngeri. Sebaliknya Tiauw Kiat Su dan kacungnya tertawa tergelak gelak! "Wah... ternyata kalian berdua memilih kematian yang nomor dua! Hahaha...!"
Pemuda itu mencemooh lawannya itu.
"Subo...!"
Tui Lan menjerit lirih seraya memeluk gurunya. Tak tahan melihat pemandangan yang mengerikan itu.
"Tidak apa-apa, anakku. Itulah akibatnya kalau mempunyai ilmu silat terlalu rendah. Dengan gampang ia akan dihina dan dipermainkan oleh yang kuat,"
Dengan tenang gurunya berkata.
"Subo! Marilah kita pergi dari tempat ini!"
Tui Lan memohon kepada gurunya.
"Sebentar! Lihatlah! Ada dua orang wanita memasuki arena...!"
"Tahaaaaaan...!"
Dua orang gadis manis tiba-tiba meloncat ke dalam arena seraya berseru nyaring.
Kedua gadis yang baru datang itu masih amat muda pula.Usia mereka sekitar delapan belas atau sembilan belas tahun.
Masing-masing membawa selendang berwarna kuning dan putih di pundaknya.
Gadis yang berselendang kuning cepat menghampiri pendekar Tai-khek-pai yang putus tangan kirinya tadi.
dengan cekatan ia mengobati dan membalut lengan yang putus tersebut.
Sedangkan gadis yang berselendang putih segera menghadapi Tiauw Kiat Su dan kacungnya.
Sementara pendekar Tai-khek-pai yang masih sehat, yaitu pendekar yang ke sembilan, tampak menangisi kematian suheng dan Sutenya.
"Ah! Ini dia datang lagi dua gadis manis. Hemm, ternyata banyak juga gadis yang masih tertinggal di kota ini. Tapi kenapa sejak kemarin aku tak melihatnya?"
Dengan sikap congkak Tiauw Kiat Su menyambut kedatangan dua orang gadis manis itu. Sambil berkata pemuda itu menoleh kesana-kemari mencari Tui Lan.
"Pemuda kejam, siapakah kau?"
Gadis berselendang putih itu membentak.
"Hati-hati, Cici! Dia putera kesayangan Tung-hai-tiauw dari Lautan Timur.!"
Pendekar ke sembilan dari Tai-khek-pai itu cepat memberitahu.
"Lebih baik Cici pergi saja meninggalkan tempat ini dan memberitahukan keadaan di sini kepada gurumu, Ang-kin Sian-li! atau Cici menolong aku untuk memberitahukan keadaan kami ini kepada guruku!"
"Kukira kita tak perlu repot-repot, Twako. Biar kucoba saja dahulu kepandaian pemuda ini...!"
Gadis berselendang putih, yang ternyata adalah murid Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li itu menjawab tenang.
Gadis itu tersenyum membesarkan hati pendekar Tai-Khek-pai tersebut.
Perlahan-lahan gadis itu me lolos gelang emas yang melingkar di kedua pergelangan tangannya, lalu mengikatnya di ujung selendangnya.
Dan sementara itu saudara seperguruannya yang tadi mengobati pendekar ke tujuh dari Tai-khek pai, juga telah selesai membalut lengan pendekar itu.
"Twa-suci (kakak seperguruan tertua), berhati-hatilah! Senjata mereka mengandung racun,"
Katanya seraya mendekati gadis berselendang putih itu.
Dan seperti kakak seperguruannya yang berselendang putih itu gadis yang memakai selendang kuning tersebut juga mengikatkan gelang emasnya di ujung selendangnya.
'Wah!
Wah!
Nanti dulu, nona manis.
Aku tidak bermusuhan dengan kalian berdua, aku dan kacungku ini tak pernah bermusuhan dengan wanita.
Sungguh!
Marilah kita berbicara baik-baik!"
Tiauw Kiat Su yang tak dapat menemukan Tui Lan itu cepat-cepat menyambut dengan suara manis kepada murid-murid Ngo-bi-pai itu. (Lanjut ke
Jilid 03) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 03
"Tak perlu bermanis muka di depan kami. Kalian telah membunuh dua orang kawan kami. Dan hal itu sudah berarti tidak ada perdamaian diantara kita. Sekarang kalian tinggal memilih ikut bersama-sama kami menghadap Kang Lam Koai hiap atau bertanding mengadu jiwa di s ini!"
"Oho...sombongnya! Lihat, A Cang! Kita berdua disuruh menakluk kepada mereka. Maukah kau?"
Tiauw Kiat Su tertawa menyeringai.
"Siauwya disuruh menyerah kepada mereka? Uh?.. enaknya! Dari pada begitu, lebih baik kita membunuh saja mereka! Habis perkara!"
Pemuda tanggung itu menjawab seenaknya.
"Bagus! Kalau begitu bersiaplah!"
"Tampaknya kedua gadis ini agak berbeda dengan orang-orang Hutan itu!"
Kedua orang gadis Ngo-bi-pai itu segera menyiapkan senjata selendangnya.
Mula-mula ujung selendang itu di putar-putarkannya seperti baling-baling.
Semakin lama semakin besar, sehingga akhirnya putaran selendang itu menyerupai sebuah payung yang dapat digerakkan di sekeliling tubuh mereka.
"A Cang! Awas.. Mereka bukan pemain akrobat keliling yang sedang memamerkan kemahirannya! Jangan terlena oleh keindahan 'payung-payung' itu. Siapkan pedangmu!"
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su memperingatkan kacungnya yang kelihatan tertegun melihat permainan selendang lawannya itu.
"'Wah, bukan main indahnya! Tapi tentu akan lebih indah lagi bila warnanya tidak cuma kuning dan putih saja..."
A Cang menyahut perkataan tuannya.
"Tentu saja, goblog! Tapi kalau mereka nanti memainkan Ngo-yen-si-tin (Barisan Lima Warna) dari Ngo-bi-pai yang terkenal itu, kau tentu akan lari terbirit-birit!"
Kacung itu menatap tuannya seolah tak percaya.
Sebaliknya dua orang gadis Ngo-bi-pai itu kelihatan kaget mendengar ucapan Tiauw K iat Su.
Diam-diam keduanya saling pandang dan memberi tanda agar masing-masing lebih berhati hati menghadapi lawan mereka.
Tampaknya pemuda sombong itu sudah amat mengenal perguruan mereka.
"Lihat serangan!"
Gadis berselendang putih itu berseru, kemudian menyerang Tiauw Kiat Su. Dan gadis yang lain segera menyusul pula, menyerang Si A Cang. Payung yang ada di tangan kedua gadis itu tiba-tiba "terbang"
Melayang ke arah Tiauw Kiat Su dan kacungnya.
Karena ujung yang lain tetap di dalam pegangan gadis tersebut, maka semakin jauh atau semakin mendekati lawan mereka payung itu semakin menyusut menjadi kecil pula.
Tiauw K iat Su segera meloncat menghindar.
Sebaliknya si A Cang yang sembrono itu mencoba menangkisnya dengan pedang.
"Traaaaaang!"
Kacung itu terhuyung-huyung hampir jatuh!
Malah tidak hanya itu saja.
Payung yang dibenturnya tadi mendadak terurai, jatuh melibat ke arah pedangnya!
Hup"!
Mendadak saja pedangnya telah terlepas dari tangannya dan...
berpindah ke tangan lawannya!
"Siauwya...!"
Pemuda tanggung itu berteriak kaget, seraya berlindung di belakang tuannya.
"Nah! Apa kataku tadi? Jangan disamakan gadis-gadis ini dengan orang orang Tai-khek-pai itu! Huh, kau menepi sajalah ke sana! Biar kulayani sendiri murid-murid dari Ang-kin Sian-li ini..."
Tiauw K iat Su membentak kacungnya.
Pemuda itu lalu menyimpan kembali kipasnya dan mengambil kipas yang lebih besar lagi dari bawah baju luarnya.
Kipas itu demikian besarnya sehingga luasnya hampir menyamai sebuah payung hujan.
Dan kipas tersebut juga terbuat dari lembaran-lembaran baja tipis pula, sehingga bobotnya luar biasa beratnya.
Namun demikian, di tangan pemuda itu kipas tersebut tampak ringan sekali.
"Apakah Siauwya hendak mempergunakan golok juga?"
Tiba-tiba A Cang berseru dari tepi arena. Tiauw Kiat Su tersenyum.
"Tidak usah!"
Jawabnya lantang. Lalu secara mendadak dan tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, pemuda itu menyerang lawannya! "Whusss..!"
Kipas besar itu menyodok ke depan, lalu menyambar ke samping mengarah ke pinggang lawan-lawannya! Sekali serang pemuda itu ingin melukai kedua orang musuhnya.
"Ah!"
Kedua gadis manis itu memekik perlahan dan bergegas mengelakkan dirinya.
Mereka benar-benar tidak menduga kalau lawannya mau berbuat licik seperti itu.
Dan begitu terbebas dari bokongan Tiauw Kiat Su, kedua gadis itu lantas membalas pula.
Secara berbareng mereka menyabetkan selendang mereka ke bagian atas dan ke bagian bawah pemuda sekaligus.
Dan gelang yang terikat di ujung selendang itu melesat dengan kecepatan kilat ke arah jalan-jalan darah yang mematikan.
"Siiiing! Trang!"
Pemuda itu melenting ke atas sambil menangkis ujung selendang yang menuju ke arah matanya!
Kipasnya tergetar, sementara gelang emas itu juga terpental balik ke arah pemiliknya.
Namun demikian pemuda itu tidak mengurangi kewaspadaannya.
Dan sikapnya itu ternyata sangat menguntungkan.
Sebab tanpa terduga sama sekali, tiba-tiba gelang lawan yang membalik tadi lalu melingkar kembali dengan kecepatan yang susah diukur!
Padahal bersamaan dengan itu, selendang dari gadis yang satunya juga meluncur ke arah perutnya pula!
"Bukan main ilmu silat Selendang dari Ngo-bi-pai memang hebat sekali!"
Tiauw Kiat Su memuji sambil berjumpalitan kesana-kemari menghindari serangan selendang yang berseliweran di sekitar tubuhnya itu.
Kemudian sambil menghentakkan tenaganya pemuda itu sekali lagi membenturkan kipasnya ke gelang lawannya!
Tapi kali ini pemuda itu membarenginya dengan memencet tombol kecil di pangkal kipasnya!
"Trrrrrang!
Seeer!
Seeeer!"
Belasan, bahkan puluhan Jarum kecil berbisa melesat keluar dari lobang lobang rahasia yang terdapat di ujung-ujung kipas itu!
Jarum jarum itu me lesat dengan deras bagai hujan gerimis ke arah gadis-gadis itu!
Kedua orang pendekar wanita dari Ngo-bi-pai itu cepat menghentakkan selendang mereka.
Dan selendang itu secara otomatis segera berputar seperti baling-baling tertiup angin.
Akibatnya jarum-jarum kecil itu segera menyibak atau terpental jatuh sebelum mengenai sasarannya.
"Bagus! sekarang kalian terima lah jurusku ini! Tapi hati-hatilah, di sini ada tipuannya yang amat berbahaya! Awaaass...!"
Tiauw Kiat Su dengan suara amat sombong seakan-akan sangat yakin dengan kemampuannya, memberi peringatan kepada lawan-lawannya.
Tapi kedua gadis itu memang tak pernah melepaskan kewaspadaan mereka.
Mereka sangat menyadari dengan siapa mereka sekarang berhadapan.
Oleh karena itu begitu melihat pemuda itu menyabetkan kipas besarnya dari atas ke bawah, mereka berdua segera menyingkir ke kanan dan ke kiri.
Sama sekali mereka tak berniat untuk menangkis kipas itu, Mereka takut senjata itu akan mengeluarkan jarum-jarum beracun atau benda-benda gelap yang lain lagi.
Tapi dengan demikian kedua gadis itu justru benar-benar terjebak dalam perangkap yang dikatakan oleh Tiauw Kiat Su tadi.
Pemuda Itu memang bermaksud memisahkan mereka.
Sebab dengan terpisahnya mereka, kekuatan mereka menjadi berkurang.
Dan keduanya juga akan mengalami kesulitan untuk saling membantu.
Tiauw Kiat Su cepat mengejar gadis berselendang kuning yang berada di sebelah kirinya, kipasnya yang besar itu terayun ke samping dengan derasnya seakan-akan hendak membelah kepala gadis itu dalam sekali tebasan.
Dan kali ini Tiauw Kiat Su benar-benar mengerahkan seluruh ginkang dan lweekangnya, sehingga tidak mengherankan bila gadis itu menjadi kaget dan tak punya kesempatan untuk menghindar lagi!
Dan satu-satunya jalan cuma menangkisnya!
Sementara itu gadis yang lain tidak kalah pula kagetnya.
Sekejap gadis itu menyadari juga jebakan lawannya.
Namun apa daya, ia tak dapat segera menolong kawannya, karena ia terhalang oleh lawan yang memisahkan mereka itu.
Meskipun demikian, untuk mengurangi tekanan pemuda itu terhadap kawannya, gadis berselendang putih itu mencoba menyerang lawannya.
Selendangnya ia putar di atas kepala untuk membentuk sebuah payung kecil, dan kemudian melemparkan payung itu ke arah lawannya.
Tapi gadis itu menjadi gelagapan setengah mati ketika lawannya yang lihai itu membarenginya dengan taburan jarum-jarum kecil ke arahnya.
Dalam kegugupannya gadis itu cepat-cepat menghentakkan selendangnya untuk menangkis sergapan jarum-jarum beracun tersebut.
Begitulah, kedua murid Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li itu secara berbareng menggerakkan senjata mereka untuk menahan serangan lawan.
Gadis berselendang kuning itu menyongsong serangan kipas dengan sabetan gelang di ujung selendangnya, sementara gadis yang berselendang putih itu menghentakkan selendangnya untuk menangkis derasnya hujan jarum yang menyerbu ke arahnya!
"Traaaaaang!
Busss!
Cep!
Jep Cep!"
"Aughhhhhh...!"
"Aaaaaahhhhh...!"
Semuanya berlangsung dengan cepat dan tak terduga!
Kipas Tiauw Kiat Su yang ditangkis dengan sabetan gelang di ujung selendang itu hancur berantakan.
Dan pecahannya seluruhnya 'menyerbu' kearah si gadis, sehingga dengan jeritan memilukan gadis berselendang kuning itu roboh mandi darah.
Tubuhnya penuh dengan hunjaman baja tipis yang terlepas dari kipas itu!
Sebaliknya, nasib Si Gadis Berselendang Putihpun ternyata tidak jauh berbeda dengan temannya itu.
Entah apa yang telah terjadi, namun tiba-tiba saja pergelangan tangan kanannya telah terbabat putus oleh senjata lawannya.
Dan ketika gadis itu memandang terbelalak ke depan, hampir-hampir ia tak percaya melihat pemuda itu telah menggenggam sebilah golok tipis yang berlepotan darah.
Gadis itu lalu menjerit sambil menubruk potongan lengannya yang tergolek di atas tanah!
"Oooooh...!"
Sekali lagi para penonton berdesah ngeri.
Tapi sebaliknya Tiauw Kiat Su terdengar tertawa lagi dengan pongahnya, Dan pemuda itu semakin tampak puas dan gembira ketika melihat korbannya.
Si gadis Berselendang Kuning itu berkelojotan menanti maut.
"Hahaha! Selamat jalan, gadis manis!"
Salamnya penuh kekejaman.
"Ah, Subo! Hentikan kekejaman itu! Teecu tak tahan melihatnya..."
Tui Lan merintih di dada gurunya.
"Hmm! Menghentikan mereka? Apa perlunya? Aku tak berurusan dengan mereka! Apa gunanya aku mencari gara-gara sendiri! Heh... kau tahu apa akibatnya bila aku bermusuhan dengan anak itu? Tung-hai-tiauw akan marah kepadaku! Dan apa akibatnya bila raja bajak laut itu marah kepada kita? Seluruh penduduk dan nelayan di Teluk Po-hai akan terancam jiwanya! Mereka akan menyerang dan mengobrak-abrik teluk itu!"
"Tapi..." '"Sudahlah! Kita tak perlu ikut campur dengah urusan mereka! Marilah kita sekarang pergi dari sini! Kita mencari makan di tempat lain saja,"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu berkata perlahan.
"Nah! Siapa mau coba kemampuanku lagi? Silahkan maju! Tapi kalau sudah tidak ada lagi...marilah kalian lanjutkan makan dan minum kalian semua!"
Terdengar Tiauw Kiat Su berteriak lagi dengan sombongnya.
Semuanya terdiam.
Tak seorangpun dari sekian banyak pengunjung itu yang berani menjawab atau mengeluarkan suara.
Kepandaian dan kekejaman pemuda itu benar-benar mencekam hati dan perasaan mereka.
Namun ketika pemuda itu mencari kursi dan hendak duduk kembali mendadak dari luar melayang masuk sesosok bayangan dengan cepat sekali.
Seorang lelaki kurus kecil berpakaian sangat mewah berdiri di depan Tiauw Kiat Su.
Usianya sudah lebih dari setengah abad, sehingga rambut dan kumisnya sudah bercampur dengan putih!
Wajahnya tampak merah kehitaman seperti terbakar oleh sinar matahari.
"Paman...!"
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su berseru dan menyongsong kedatangan orang itu.
"Kiat Su! Aku sudah menduga kau tentu ada di sini. Kapan kau tiba di kota ini? Apakah kau telah memperoleh khabar tentang adikmu Tiauw Li Ing"?!"
Dengan suara kecil nyaring orang yang baru tiba itu bertanya kepada Kiat Su. Wajah pemuda itu berubah gelap. Dengan suara kesal dan tak senang pemuda itu menjawab.
"Sejak kecil gadis itu memang selalu sukar diurus. Sudah berapa kali ia minggat dari Hai-ong-hu (Istana Raja Laut) dan membikin repot kita?"
"Ah, jangan mengumpati adikmu! Kau pun tidak lebih baik dari pada dia. Hmm, jadi kau juga belum bisa menemukannya?"
Orang tua itu berkata sambil memandang korban-korban keganasan keponakannya tersebut. Pemuda itu menggeleng.
"Kalau begitu, mari kita lekas lekas meninggalkan tempat ini sebelum para pendekar yang berkumpul di kota ini mencincangmu!"
"Aku tidak takut!"
Tiauw Kiat Su menjawab dengan mata menyala. Orang tua itu menyeringai.
"Jangan takabur! Sendirian kau takkan dapat melawan mereka semua. Apalagi kota ini semakin menjadi gawat sekarang,"
Tegurnya keras.
"Gawat? Maksud paman?"
Tiauw Kiat Su bertanya tak mengerti.
"Hmm... kau harus sangat berhati-hati mulai sekarang. Selain para pendekar dari partai-partai persilatan itu, sekarang terlihat pula jago-jago kerajaan dari kota raja. Kau masih ingat akan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee dan jago-jago pengawal rahasia kaisar yang tergabung dalam Sha cap-mi-wi (T iga puluh Pengawal Rahasia Kaisar) itu?" '"Hong-Lui-Kun (Si Tinju Petir dan Badai)...?"
Terdengar suara Tiauw Kiat Su mulai merendah. Orang tua itu menyambar lengan Kiat Su dan menggandengnya ke luar halaman.
"Betul. Itu saja belum. Tadi pagi aku malahan mendengar berita yang lebih gawat lagi!"
Paman Tiauw Kiat Su itu berbisik seraya mempercepat langkahnya, sehingga sebentar saja bayangan mereka dan si A Cang itu lenyap dari pandangan para pengunjung restoran tersebut.
Setelah berada di tempat sepi di luar kota, paman Tiauw Kiat Su itu berkata.
"Ketahuilah, Kiat Su. Selain urusan Si Iblis Penyebar Maut itu, dunia persilatan sekarang telah dihebohkan pula oleh berita tentang munculnya sebuah 'Buku Rahasia' yang dicari dan diperebutkan oleh tokoh-tokoh sakti yang selama ini tak pernah keluar dari pertapaannya. Tokoh-tokoh sakti itu dikatakan orang mempunyai kesaktian yang tidak lumrah manusia, sehingga orang-orang yang pernah melihatnya malah menjadi ragu, apakah yang mereka lihat itu manusia sungguh-sungguh atau bukan?"
Tiauw Kiat Su tersenyum melihat kekhawatiran pamannya itu.
"Ah, paman ini terlalu memuji orang. Bagaimana sih paman ini? paman sendiri juga memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia pula. Sedangkan aku meskipun tidak setinggi paman, tapi kepandaianku juga jarang menemui tanding. Lalu, apa anehnya itu? Bukankah kita juga bisa menakut-nakuti orang dusun dengan kepandaian kita, sehingga mereka juga menyangka bahwa kita ini bukan manusia biasa?"
"Wah. Kau ini bandel amat. Apakah yang pernah melihat itu seorang ketua partai persilatan semacan Hek-pian hok Ui Bun Ting dan Kong--tong Cin-jin itu dapat kita sebut sebagai orang dusun? Heh?"
Senyum di wajah Kiat Su itu tiba tiba menghilang.
"Hek-pian-hok Ui Bun-Ting dan Kong-tong Cin-jin? Apakah paman tidak berkelakar?"
"Kapan aku pernah berkelakar denganmu? Nah, sekarang kau renungkan lagi! Kalau orang macam Ui Bun Ting dan Kong-tong Cin-jin saja dapat mereka taklukkan dalam satu jurus, lalu macam bagaimana kesaktian mereka itu?"
"Hanya dalam satu jurus?"
Tiauw Kiat Su berseru tak percaya.
"Siapa... siapakah yang bercerita kepada paman? Apakah Ketua Kong-tong-pai dan Tiam-Jong-pai itu sendiri?"
"Wah! Cuma dalam satu jurus saja?"
A Cang yang sejak tadi hanya diam saja dan tidak berani berlaku sembrono di depan orang tua itu, tiba-tiba berseru pula saking kagetnya.
Orang tua itu melirik sekejap kepada A Cang.
Kemudian ucapnya perlahan yang ditujukan kepada keponakannya, Tiauw Kiat Su.
"Kiat Su...! Aku memang mendengarnya sendiri dari ketua Kong-tong-pai dan Tiam-jong-pai itu. Ketahuilah...! Sebelum aku pergi ke restauran itu tadi, aku lebih dulu telah menyusup ke dalam rumah Kang Lam Koai-hiap untuk mencari Tiauw Li Ing di sana. Aku menyamar sebagai pendekar yang hendak ikut memburu Si Iblis Penyebar Maut pula, sehingga aku bisa turut mendengarkan pembicaraan mereka. Dan secara kebetulan pula mereka sedang ribut menolong ketua Kong-tong-pai dan Tiam-Jong-pai yang baru saja dilukai oleh manusia sakti itu..."
"Buku Rahasia...?"
Tiauw Kiat Su bergumam perlahan. Dahinya berkerut.
"Buku apakah itu? Mengapa sampai diperebutkan oleh para pertapa sakti yang sebelumnya tak pernah mau keluar dari tempat pertapaannya?"
"Nah! Itulah sebabnya aku tadi lekas-lekas menyeretmu pergi dari restoran itu. Kota ini sekarang baru penuh dengan manusia-manusia sakti serta tokoh-tokoh persilatan klas tinggi. Cobalah kaupikirkan...! Kalau kebetulan di restoran tadi ada hadir salah seorang dari mereka itu, apa jadinya dengan engkau? Apakah engkau mampu melawan orang yang dapat mengalahkan Kong-tong Cin-jin dalam sekali pukul itu?"
"Baiklah, paman... aku mohon maaf,"
Akhirnya Tiauw Kiat Su mengakui kesembronoannya.
"Tapi, paman... buku apa sebenarnya yang diperebutkan oleh manusia-manusia sakti itu? Mengapa ia sampai bisa mengusik hati para pertapa sakti yang sebelumnya tak ada keinginan untuk keluar dari pertapaannya itu? Demikian hebatkah buku itu?"
Orang tua itu menengadahkan kepalanya.
"Entahlah! Tak seorangpun yang mengetahuinya... Ah, sudahlah! Lebih baik kita memikirkan urusan kita sendiri saja!"
Tiauw Kiat Su menghela nafas panjang.
"Lalu"
Apa yang hendak kita lakukan sekarang, paman?"
Pemuda itu minta pendapat pamannya.
"Tentu saja kita meneruskan tugas yang diberikan oleh ayahmu! Kita mencari adikmu sampai dapat. Hmm... Di kota Liang-yang aku mendengar adikmu pergi bersama-sama kakek buta. Tapi ketika kutanyakan tak seorangpun tahu siapakah orang buta itu""
"Ahh, gadis itu sungguh menyebalkan!"
Tiauw Kiat Su menggerutu.
Sementara itu sepeninggal mereka, restoran itu lalu menjadi sibuk luar biasa.
Korban keganasan Tiauw Kiat Su tadi segera diberi pertolongan oleh para pengunjung restoran itu.
Malah beberapa orang diantara mereka segera berlari pergi ke rumah Kang Lam Koai-hiap untuk mengabarkan kejadian tersebut.
"Tui Lan! Untunglah aku tadi tidak memenuhi permintaanmu untuk menolong murid-murid Tai-khek-pai itu. Tahukah kau, siapa paman pemuda itu tadi? Dia adalah orang kedua setelah Tung-hai-tiauw, namanya Tung-hai Nung jin (Petani Dari Lautan Timur)...! Orang tua itu jauh lebih lihai dan lebih licik dari pada keponakannya itu!"
"Tung-hai Nung-jin...? Subo, rasa-rasanya teecu pernah mendengar nama itu ebelumnya."
"Aku memang pernah bercerita kepadamu tentang orang itu. Dahulu Tung-hai Nung-jin itu pernah berhadapan dengan Kauw-cu-si(Pengurus pusat Keagamaan) kita, Tong Ciak, di Kuil Delapan Dewa. Mereka mempunyai kesaktian yang hampir berimbang. Baru Setelah Tong Ciak Lo-Cianpwe itu mengeluarkan ilmu Silat Kulit Domba, tokoh bajak laut tersebut dapat dikalahkan."
"Ya, subo pernah menceritakan hal itu... Eh! Subo lihat! Ada yang datang lagi...!"
Tiba tiba Tui Lan berbisik kepada gurunya.
Dari luar halaman masuk seorang laki-laki tinggi tegap bersama seorang wanita separuh baya berpakaian anggun.
Mereka berusia sekitar lima puluhan tahun namun demikian wanita itu masih kelihatan gesit dan menarik.
Apalagi dengan selendang merah yang melilit pinggangnya itu!
"Dia adalah ketua Tai-khek-pai!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berbisik pula kepada Tui Lan.
"Namanya... Ouw-yang Su!"
"Wanita cantik itu?"
Tui Lan bertanya seraya menunjuk ke arah perempuan separuh baya itu. Mendadak Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menggeram.
"Huh! Kuntilanak itu? Dia adalah ketua Ngo-bi-pai. Namanya Siauw Hong Li. Dan kesukaannya adalah merebut kekasih dan suami orang...!"
Tui Lan cepat berpaling ke arah gurunya. Pipinya bersemu merah, namun matanya menatap gurunya penuh tanda tanya.
"Ah, subo...!"
Desahnya,"Kenapa subo tampaknya tidak menyukai wanita itu?"
"Ssssst, diamlah! Lihat apa yang hendak mereka kerjakan!"
Selesai memeriksa mayat-mayat murid mereka, kedua tokoh persilatan itu menggeram dan mengepalkan tinjunya. Mereka menatap berkeliling ke arah pengunjung yang berada di dalam restoran itu.
"Kemana para bajak laut itu sekarang?"
Siauw Hong Li yang telah kehilangan seorang muridnya itu bertanya.
Lalu ketika tiba-tiba terpandang olehnya wajah Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai diantara penonton itu, seketika air mukanya menjadi gelap!
"Huh!
Ternyata kaki tangan para pengecut itu masih berada di sini!"
"Siapa...?"
Ouw-yang Su menegaskan.
"Itu dia!"
Siauw Hong Li berseru seraya menuding Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai.
"Perempuan kotor!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai mengumpat kasar saking marahnya, lalu tubuhnya melesat ke depan menyerang Siauw Hong Li.
"Hai!"
Ouw-yang Su berseru kaget dan menghindar ke samping.
Sebaliknya, seperti seekor kucing yang berjumpa dengan musuh lamanya, Siauw Hong Li segera menyongsong serangan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu!
Tiba-tiba saja ujung selendangnya telah meletus di udara!
"Taaaar...!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berjumpalitan di udara, lalu melesat ke kiri dengan tangkasnya, sehingga letusan itu tidak mengenai dirinya.
Dan begitu kakinya menginjak lantai,tangannya tahu-tahu sudah menggenggam sebilah pedang panjang.
Dan sedetik kemudian, dengan kemarahan yang meluap-luap perempuan tua itu telah melesat kembali menyerang lawannya!
Pedangnya menusuk ke bawah, kemudian melengkung ke atas dalam jurus Memegang Pena melukis Bulan!
Tapi Siauw Hong Li juga tidak mau berdiam diri saja menantikan serangan itu.
Dengan cepat selendangnya berputar di atas kepalanya.
Lalu dengan mengerahkan seluruh tenaganya, ujung selendang yang melingkar-lingkar itu ia dorong ke atas menyongsong kedatangan senjata lawan.
"Taaar!"
Ujung pedang yang melingkar ke arah kepala itu membentur ujung selendang yang digantungi gelang!
Dan sekejap kemudian selendang itu membelit mata pedang dengan eratnya!
Untuk sesaat kedua orang lawan itu saling mempertahankan senjata mereka masing-masing.
Tapi ketika Siau Hong Li menghentakkan seluruh tenaga saktinya, maka Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai tidak bisa bertahan lagi.
Namun demikian perempuan tua itu tetap tak mau melepaskan pedangnya.
Akibatnya ia ikut terlempar tinggi ke udara!
Siauw Hong Li tersenyum.
Tapi senyum itu segera hilang ketika lawannya yang terlempar tinggi ke udara itu tiba-tiba melemparkan belasan pisau kecil ke arahnya!
"Siiiiiing!
Siiiiiiing!
Siiiing!"
Siauw Hong Li cepat melepaskan lilitan selendangnya, kemudian mati-matian menghindarkan diri dari sergapan pisau kecil yang menyerang dengan cepat sekali itu.
"Gila...!"
Umpatnya seraya membenahi kembali bajunya yang kedodoran.
"Tahan...!"
Ouw-yang Su cepat melompat menengahi perkelahian mereka.
"Mengapa kalian lantas bertempur tanpa sebab? Bukankah Lo-ni adalah Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu?"
Si Pendata Palsu Dari Teluk Po-hai mendengus marah.
"Dialah yang memulainya. Sejak semula aku toh hanya diam saja! Dialah yang mulai dengan kata kata kotor dan menyakitkan hati! Siapakah yang mau dihina oleh kuntilanak macam dia?"
"Kurang ajar! Jaga mulutmu! Kaulah yang hina dan kotor! Mana ada seorang pendeta pernah bunting selain kau! Huh!"
Siauw Hong Li yang dikatakan 'kuntilanak' itu menjerit marah.
"Bangsat! Kubunuh kau!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Pohai berteriak marah pula. Tapi Ouw-yang Su cepat melerai mereka.
"Jangan berkelahi sendiri!"
Teriaknya keras.
"Kuasailah hati dan pikiran kalian! Jangan nodai persatuan kita dengan pertumpahan darah diantara kita sendiri! Simpanlah tenaga kalian untuk melawan Si Iblis Penyebar Maut nanti!"
Meskipun dengan menahan geram, kedua wanita tua itu terpaksa menuruti permintaan Ouw-yang Su. Dengan mata masih melotot keduanya segera menyimpan senjata masing-masing.
"Nah! Terima kasih...!"
Ouw-yang Su berdesah lega. Lalu katanya lebih lanjut kepada si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai.
"Lo-ni...! Apakah sebenarnya yang terjadi disini tadi? Benarkah orang-orang Tung-hai-tiauw yang melukai dan membunuh murid-murid kami itu?"
Dengan sikap yang masih tegang dan kaku si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai terpaksa menganggukkan kepalanya.
"Benar"! Tapi mereka bertanding secara jantan dan berhadapan muka sehingga aku tak berani mencampurinya."
"Bilang saja... kau takut! Tak perlu mengajukan alasan yang bukan-bukan...!"
Siauw Hong Li mengejek.
"Kuntilanak bermulut kotor! Majulah! Mari kita berkelahi sampai mati! Jangan hanya berani membuka mulut saja!"
Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai berteriak sengit.
"Sudah...! sudah, jiwi jangan berkelahi lagi! Siauw Hong Li, mari kita bawa murid-murid kita ini ke rumah Kang Lam Koai-hiap! Setelah itu kita rundingkan cara-cara menghadapi Tung-hai-tiauw itu..."
Ouw-yang Su menengahi perselisihan perempuan-perempuan tua itu lagi.
Demikianlah, kedua orang ketua partai persilatan itu lalu membawa murid-muridnya pulang.
Dan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai yang semula mau pergi menemui Kang Lam Koai-hiap itu, mendadak mengurungkan niatnya.
Perselisihannya dengan Ketua Ngo-bi-pai membuatnya enggan dan malas untuk pergi ke sana lagi.
Paling-paling dia akan berjumpa pula dengan musuh bebuyutannya itu.
"Kemana kita sekarang, subo?"
Tui Lan bertanya kepada gurunya setelah mereka berada di jalan kembali.
"Kita tak usah bergabung dengan mereka. Kita cari sendiri iblis itu."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menjawab.
"Sekarang marilah kita mencari penginapan dahulu, kemudian meneruskan acara makan kita yang tertunda tadi."
Tui Lan tak berani bertanya lagi.
Gadis itu tahu kalau gurunya amat benci kepada Ang-kin Sian-li Siauw Hong Li tadi.
Hanya saja gadis itu tak tahu apa yang menyebabkan kedua orang itu yang tampaknya sudah saling mengenal sebelumnya itu demikian membenci satu sama lain.
Begitulah, kedua orang guru dan murid itu akhirnya memperoleh penginapan juga.
Karena belum beristirahat sejak kemarin, maka keduanya segera memasuki kamar masing-masing.
"Beristirahatlah yang banyak, karena nanti malam kita akan berburu si Iblis Penyebar Maut!"
Pesan perempuan tua itu kepada Tui Lan.
"Ah, subo... Kalau boleh... kalau boleh, teecu tak usah ikut saja. Bi-biarlah teecu menunggu subo di penginapan ini."
Dengan suara takut takut Tui Lan berkata kepada gurunya.
"Nah, kau sudah hendak mulai lagi dengan kecengenganmu! Lalu apa gunanya kalau hanya aku yang berangkat! Bukankah semua ini urusanmu? Kau ini bagaimana, sih?"
Perempuan tua itu membentak marah.
"Tapi... baik... baiklah, subo. Teecu akan ikut."
"Nah begitu lebih baik! Sekarang beristirahatlah! Nanti akan kupesan agar pelayan mengantar makanan ke kamarmu saja. Dan kita tak perlu keluar pula lagi."
Mereka lalu memasuki kamar masing masing.
Setelah membersihkan badan, berganti baju, dan makan makanan yang diantar oleh pelayan, mereka lalu beristirahat hingga sore hari.
Malamnya, Tui Lan dan gurunya baru keluar dari kamar mereka.
Keduanya telah berganti lagi dengan pakaian serba gelap, agar lebih leluasa berjalan di malam hari.
Dan demi keselamatan atau keamanannya, Tui Lan sengaja berpakaian secara laki-laki.
Rambutnya yang panjang itu ia gelung ke atas, kemudian ia tutup dengan sebuah topi sasterawan biru tua.
Bajunyapun ia memilih yang agak besar dan sedikit kedodoran untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang ramping.
Itupun dia masih mengenakan baju luar yang lebar pula, sehingga orang yang bertemu dengan dia takkan menyangka sedikitpun kalau dia seorang gadis.
Apalagi gadis itu telah mendandani wajahnya sedemikian rupa sehingga kecantikannya yang alamiah itu tidak begitu merangsang pandangan lagi.
Namun demikian dengan dandanannya itu tetap saja dia menjadi seorang pemuda yang tampan sekali.
Penginapan itu juga membuka sebuah restoran di ruang depan.
Tapi tempat itu kelihatan sepi ketika Tui Lan dan gurunya masuk.
Yang tampak disana hanya seorang pelayan saja, yang duduk kelelahan di pojok ruangan.
Namun pelayan itu segera berdiri tergopoh-gopoh ketika mereka masuk.
"Mari silahkan duduk. Nyonya! Mari tuan muda..."
Dengan sangat ramah pelayan itu menyambut kedatangan Tui Lan.
"Kenapa sepi sekali? Dimanakah para penghuni kamar yang lain?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai bertanya kepada pelayan itu.
"Semuanya telah pergi sejak sore tadi. Kami dengar ada keributan di Lembah Dalam sana,"
Pelayan itu menjawab bersemangat.
"Oh, ya... nyonya dan tuan ingin pesan makanan apa?"
"Keributan? Di Lembah Dalam? Eh... kau tahu? Keributan apa itu? Dan... dimana lembah itu?"
Dengan suara kaget Si Pendeta Dari Teluk Po-hai bertanya. Mendadak wajah pelayan itu menampilkan rasa ngeri dan ketakutan.
"Entahlah...! Saya... saya tak mengetahuinya. Orang-orang itu hanya mengatakan bahwa di lembah yang angker itu telah terjadi pertempuran antara jin, setan, iblis dan hantu! Makhluk-makhluk tersebut tidak satupun yang kelihatan ujudnya. Para penonton hanya bisa melihat akibat dari pertempuran mereka saja, yaitu debu yang mengepul tinggi, batu-batu karang yang pecah berantakan, suara-suara bentakan yang mendirikan bulu-roma dan lain sebagainya."
Ketika Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai hendak bertanya lagi, tiba-tiba dari sebuah kamar muncul seorang lelaki gagah, berpakaian ringkas diiringkan lima orang lelaki berpakaian ringkas pula.
Mereka berjalan lewat di tempat tersebut dengan amat tergesa-gesa.
Dan lelaki gagah berusia sekitar tiga puluh enam tahun itu hanya menoIeh sekejap kepada pelayan itu.
"Kami akan keluar dulu! Tolong kau bersihkan kamar kami!"
Katanya pendek.
Si Pendeta Palsu dari teluk Po-hai cepat menarik lengan Tui Lan dan dibawanya pergi mengejar rombongan lelaki gagah itu.
Tentu saja pelayan restoran itu menjadi bingung melihat ulah mereka.
Sambil memandang kepergian Tui Lan dan gurunya, dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, akhir-akhir ini banyak sekali iblis dan hantu yang berkeliaran mengganggu manusia, sehingga banyak orang yang menjadi linglung dan ketakutan dalam hidupnya."
Tui Lan berlari-lari kecil di belakang gurunya.
Namun langkahnya semakin lama menjadi semakin ketinggalan ketika gurunya itu menjadi semakin cepat pula dalam mengejar rombongan lelaki gagah itu.
Apalagi ketika mereka telah keluar dari pintu gerbang kota sebelah timur.
Rombongan lelaki gagah itu tampaknya benar-benar amat tergesa sehingga begitu keluar dari pintu gerbang kota, mereka lantas mengerahkan seluruh ginkang mereka.
Sebentar saja bayangan mereka telah hilang ditelan kegelapan malam.
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menahan langkahnya, lalu berjalan perlahan sambil menunggu kedatangan muridnya.
"Uh-uh-uh...! Subo, kemanakah mereka?"
Tui Lan dengan terengah-engah bertanya kepada gurunya.
"Hmmmmh!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menghela napas.
"Mereka berlari cepat sekali! Sungguh amat suIit sekali mengejar mereka di dalam kegelapan begini...! Ah, bagaimanapun juga jagoan-jagoan istana itu memang hebat sekali!"
"Jagoan-jagoan istana? Subo maksudkan orang-orang yang kita kejar tadi? Siapakah mereka itu, subo? Dan mengapa tiba-tiba subo mengejar mereka?"
"Lelaki gagah itu adalah Jago silat nomer satu di istana. Dia adalah kakak kandung Panglima Bala Tentara Kerajaan. Namanya... Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee! Dan kelima orang yang mengawalnya tadi tentulah jagoan-jagoan Sha-cap mi-wi yang terkenal itu."
"Oh..?"
Tui Lan berdesah kagum.
"Tapi... mengapa subo mengejarnya? Apakah subo telah mengenal mereka?"
"Bodoh! Mana mereka kenal pada pendeta dusun seperti aku? Aku mengejar mereka, karena aku yakin mereka akan pergi ke Lembah Dalam itu. Nah, maksudku dari pada aku sulit-sulit mencari tempat itu, bukankah lebih baik bila aku mengikutinya?"
"Jadi... jadi subo hendak melihat pertempuran para jin dan setan itu?"
"Hush! Omong kosong...! Mana ada jin dan setan di dunia ini? Mereka tentu manusia-manusia juga seperti kita. Cuma begitu tinggi kesaktian mereka, sehingga semua yang dilakukan oleh mereka sangat menakjubkan orang-orang bodoh seperti kita."
"Ahh... Subo juga memiliki kesaktian yang amat hebat pula!"
"Ah... kau ini benar-benar seperti katak di dalam tempurung. Hanya gurumu saja yang kau ketahui selama ini... Sudahlah, mari kita mencari lembah itu sendiri!"
Tui Lan tersenyum kemalu-maluan. Namun wajahnya tiba-tiba menjadi berseri-seri kembali ketika melihat sepetak sawah yang baru selesai dibajak pemiliknya.
"Eh, Subo... bukankah jalan ini adalah jalan yang kita lalui pagi tadi?"
Katanya gembira.
"Benar! Dan... itulah puncak bukit yang kita daki pagi tadi!"
"Hei! Bila demikian... bila demikian... apakah Lembah Dalam itu tempat teecu menguburkan Ang-leng Kok-jin itu?"
Tui Lan mengatakan dugaannya.
"Ah... mungkin kau benar Tui Lan. Kalau begitu, marilah kita kesana!"
Keduanya lalu berlari cepat mempergunakan ginkang mereka.
Sebenarnya ilmu kepandaian Tui Lan tidak kalah dengan murid-murid ketua partai persilatan yang kini ada di kota Soh-ciu itu.
Tapi karena jiwa Tui Lan yang cinta damai dan tidak suka kekerasan itu, membuat dia kelihatan lemah dan seperti orang bodoh.
Mereka menuruni jurang itu dari tempat yang sama pula.
Tapi ketika mereka sampai di tempat kuburan Ang-leng Kok-jin itu, mereka tidak melihat atau menemukan apa-apa.
Tempat itu sunyi dan sepi.
"Mungkin bukan ini yang mereka namakan Lembah Dalam."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berbisik kepada Tui Lan. Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara bentakan dan dencing senjata ke telinga mereka! "Eh, Tui Lan! Kau mendengar sesuatu?"
"Ya, subo. Seperti suara pertempuran."
Mereka lalu bergegas mencari arah suara itu.
Lembah atau dasar jurang itu bentuknya memanjang seperti dasar sungai yang kering, berkelok-kelok mengitari bukit itu, sehingga suara itu kadang-kadang terdengar jelas, kadang-kadang hilang.
"Subo...! Jurang ini makin lama makin dalam. Lihatlah tembok tebing yang berlapis-lapis itu!"
"Hei! Benar katamu. Tui Lan! Lihat di depan ini! Dasar jurang ini terputus di sini! Dan...hai! Di depan masih ada lagi palung yang dalam!"
Tui Lan berlari mendekati gurunya.
Dilihatnya gurunya duduk termangu-mangu di atas batu, menatap ke depan, ke jurang yang lebih dalam lagi.
Dan ketika angin bertiup agak lebih kencang, tiba-tiba terdengar sayup-sayup suara hiruk pikuk dari dalam palung yang dalam itu.
"Eh, Subo...! Di bawah sana terdengar suara pertempuran! Mungkin palung inilah yang disebut Lembah Dalam itu..."
Tui Lan berseru.
"Mungkin, Marilah kita merayap ke sana!"
Dengan sangat hati-hati sekali guru dan murid itu kembali merayapi tebing terjal yang licin dan berlumut.
Dan makin ke bawah, suara pertempuran itu semakin jelas terdengar.
Tapi bersamaan dengan itu pula, bau amis darah pun juga semakin keras menusuk hidung pula, sehingga guru dan murid itu diam diam menjadi berdebar-debar dan menduga-duga di dalam hati, ada apa sebenarnya di dasar palung jurang itu.
"Subo...! Apakah kita tidak lebih baik kembali ke atas saja? Lama-lama teecu merasa ngeri juga..."
Tui Lan yang berhati kecil itu berkata gemetar sambil mengawasi kegelapan yang melingkupi dirinya.
"Rasanya... rasanya kita ini hendak masuk ke dalam perut bumi yang gelap dan penuh berisi kolam darah!"
"Tidak, Tui Lan! Lihat di bawah itu! Kaulihat obor-obor itu?"
Mendadak perempuan tua itu memotong perkataan muridnya.
Tui Lan memandang ke bawah.
Dasar palung itu tinggal sepuluh atau lima-belas tombak saja lagi.
Dan dari tempat mereka berada, pertempuran itu sudah kelihatan samar-samar, dimana puluhan obor berseliweran, serta puluhan atau bahkan malah ratusan orang bertempur mengeroyok seseorang.
"Hei! Tampaknya Si Iblis Penyebar Maut telah dapat dijebak di tempat ini."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berseru gembira.
Keduanya lalu bergegas turun.
Tapi setelah berada di bawah, mereka malah tertegun di tempat masing-masing!
Apa yang mereka saksikan di dasar palung itu sungguh amat mengerikan sekali!
Tui Lan yang berhati lemah itu segera membalikkan tubuh dan menutupi wajahnya!
Di depan mereka, diantara obor yang berceceran di segala tempat, tampak mayat-mayat bergelimpangan tumpang tindih tak beraturan!
Ada yang masih mengerang kesakitan, ada pula yang bergerak-gerak menghadapi sekaratul-maut!
Darah segar masih mengalir dan berceceran di mana-mana, menandakan bahwa kematian mereka belumlah lama.
Dan tampaknya tempat tersebut bekas dipakai sebagai arena pertempuran, yang kini telah bergeser menjauh dari tempat itu.
"Tui Lan, jangan takut. Besarkanlah hatimu! Marilah kita menuju ke tempat pertempuran itu!"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menepuk bahu muridnya.
"Subo, teecu... teecu tidak tahan melihatnya."
"Sudahlah! Marilah kau ikuti aku! Tutup sajalah matamu...!"
Tapi mana bisa Tui Lan menutup matanya terus-menerus?
Gadis itu justru ma lah menjadi takut kalau kakinya nanti menginjak kepala mayat-mayat itu.
Oleh karena itu dengan memberanikan hatinya, Tui Lan lalu membuka matanya dengan paksa.
Ditatapnya mayat-mayat yang dilangkahinya itu dengan hati tak keruan rasa.
"Liih...!"
Gadis itu menjerit lirih ketika melihat mayat salah seorang anggota Kong-tong Ngo-hiap.
"Ahhh!"
Gadis itu memekik lagi ketika kakinya hampir menginjak perut pendekar Tai-khek-pai yang tadi siang bertempur dengan Tiauw Kiat Su itu.
"Jangan kauhiraukan semuanya itu! Tampaknya mereka semua telah menjadi korban Si Iblis Penyebar Maut! Marilah kita cepat ke sana! Kita jangan sampai ketinggalan."
Si Pendeta Palsu Dan Teluk Po-hai berteriak ke arah muridnya.
Palung yang berada di dasar jurang yang amat dalam itu benar-benar seperti lobang kuburan saja layaknya.
Setiap empat atau lima langkah, kedua orang guru dan murid itu tentu menemukan mayat para pendekar yang tergabung dalam pimpinan Kang Lam Koai-hiap itu.
"Aih. Subo... lihat! Bukankah mayat ini mayat ketua Tai-khek-pai itu...!"
Tiba-tiba Tui Lan berteriak sambil menuding sebuah mayat yang terkapar berpelukan dengan sesosok mayat yang lain.
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai berhenti pula dan memeriksa mayat itu.
Dibukanya pelukan mayat itu.
"Heh! Kurang ajar...! Ouw-yang Su dan Siauw Hong Li! Hmmmm... tampaknya kuntilanak yang haus lelaki ini telah menjerat hati Ouw-yang Su pula. Huh, dasar...I"
Perempuan tua itu mengumpat-umpat. Lalu bentaknya kepada Tui Lan.
"Biarkan saja! Mereka telah mendapatkan hukuman yang setimpal. Marilah kita berjalan terus!"
Tapi baru sepuluh langkah mereka berjalan, tiba-tiba perempuan tua itu membungkuk lagi ke sebuah mayat yang lain.
"Hei! Kang Lam Koai-hiap yang belum sembuh dari lukanya itu juga ikut menjadi korban pula!"
Serunya keras.
"Wah, kalau begitu pimpinan dari para pendekar itu tinggal Kong-Tong Cin-jin dan Hek-pian-hok Ui Bun Ting saja, subo?"
Tui Lan yang ikut berjongkok di samping gurunya itu bertanya gemetar.
"Ya...!"
Gurunya berbisik perlahan. Tampaknya kematian Kang Lam Koai-hiap itu benar-benar telah mempengaruhi hatinya yang keras.
"Iblis itu kelihatannya memang tidak terkalahkan oleh siapapun juga! Sekian banyaknya pendekar yang datang, tapi ternyata tak satupun yang mampu menangkapnya."
Desahnya kemudian.
"Subo, pertempuran itu telah kelihatan dari sini,"
Ucap Tui Lan menyadarkan gurunya.
"Benar, marilah kita lihat macam apa Iblis Penyebar Maut itu...!"
Tapi perempuan tua itu menjadi bingung ketika dari kejauhan ia melihat ada dua arena di dalam pertempuran itu.
"Eh, Tui Lan...! Mengapa ada dua buah arena di sana? Apakah iblis itu mempunyai kawan?"
"Subo, marilah kita kesana melihatnya!"
Tui Lan yang sudah bisa menguasai kengeriannya itu berkata, lalu mendahului berjalan.
"Tui Lan, tunggu..."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai memanggil muridnya, kemudian berlari mengejarnya.
Tapi lagi-lagi belum ada lima belas langkah perempuan tua itu berjalan mendadak telinganya mendengar rintihan yang amat mengejutkan hatinya!
"Sui Nio...!
Kaukah itu?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba pula!
Ada seseorang yang telah memanggil nama kecilnya!
Dan orang itu tampak menggeletak mandi darah di atas sebongkah batu besar.
"Siapakah kau? Kenapa kau tahu... nama kecilku? Apakah kita pernah... hei, Bun Ting! Kaukah itu?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu lantas menubruk orang yang terluka parah itu.
Sambil memangku kepala orang itu, Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai membersihkan gumpalan-gumpalan darah membeku yang melekat di wajahnya.
"Bun Ting, apamu yang terluka? Katakanlah! Biarlah aku mengobatimu!"
Perempuan tua itu berbisik di telinga ketua Tiam-jong-pai itu seperti orang merintih.
"Sui Nio...! Bertahun-tahun kita tak pernah berjumpa, tapi aku tetap ingat pada suaramu. Kulit kita sudah sama-sama berkeriput, tapi selama itu pula aku tak pernah dapat melupakanmu...!"
Ui Bun Ting berdesah perlahan.
"Apakah kau tidak jadi kawin dengan Siauw Hong Li itu?"
Perempuan tua itu berbisik pula dengan suara sedih.
"Ah, engkau telah salah paham. Aku tak pernah tertarik kepadanya. Dialah yang mengejar-ngejarku. Engkau telah terjebak dalam tipu muslihatnya, sehingga engkau menjadi salah sangka terhadapku. Engkau lantas pergi jauh meninggalkanku, membuat aku kelabakan mencarimu kemana-mana dan aku tak pernah bisa menemukan engkau, Sui Nio, kini aku telah menjumpaimu...sayang, Thian tak merestui kita..."
"Bun Ting, kau tidak boleh mati...!"
Si Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai itu berdesah serak seraya memeluk kepala orang itu.
"Jangan bersedih, Sui Nio! Aku takkan mati. Tapi...meskipun demikian, untuk selanjutnya aku akan menjadi lelaki yang tak berguna lagi. Seluruh kepandaianku telah musnah. Jangankan untuk berkelahi seperti dulu, untuk membunuh ayampun sekarang rasanya sudah tak mampu lagi."
"Oh, Bun Ting... siapakah orangnya yang berani melukai sedemikian parahnya? Apakah si Iblis Penyebar Maut itu?"
"Entahlah! Orang itu menyangkal ketika kami menuduhnya sebagal Si Iblis Penyebar Maut. Tapi kepandaiannya, ciri-cirinya, kata Kang Lam Koai-hiap memang mirip iblis itu, maka kami semua yakin kalau dia tentu si Iblis Penyebar Maut itu!"
"Dimanakah dia sekarang?"
Si Pendeta Palsu Dari Teluk po-hai menggeram marah.
"Akan kubalaskan sakit hatimu ini!"
"Sui Nio, jangan...! Kepandaiannya benar-benar seperti iblis. Kita semua bukanlah lawannya. Apalagi dia mempunyai kawan yang kesaktiannya juga tidak kalah dari pada dia.Jangan...Lihatlah di belakangmu! Lihat puluhan, bahkan ratusan korban itu! Mereka semua bukanlah pendekar-pendekar sembarangan. Namun demikian mereka semua telah dibabat habis oleh iblis-iblis itu hanya dalam empat atau lima jurus saja..."
"Tapi kulihat mereka sekarang tidak mampu lagi untuk lekas-lekas membereskan para pengeroyoknya. Kemampuan mereka tampaknya telah jauh menyusut..."
"Kau salah menduga lagi, Sui Nio. Mereka takkan pernah susut tenaganya. Tapi mereka sekarang memang sedang menghadapi keroyokan jago-jago silat kelas satu dari dunia persilatan kita. Lihatlah ke arena yang di sebelah barat itu! Kau tahu, siapakah yang berhadapan satu lawan satu dengan teman si iblis itu? Dia adalah pendekar ternama Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai! Dan siapakah yang menghadapi si iblis di arena sebelah timur itu? Mereka tidak lain adalah jagoan-jagoan kerajaan, Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee dan para pengawalnya. Mereka itu telah bertempur lebih dari dua-puluh jurus."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai memandang ke arah pertempuran.
Meskipun sangat samar-samar karena hanya ada beberapa buah obor yang menerangi tempat itu, tetapi dengan matanya yang sudah amat terlatih, perempuan tua itu dapat melihat betapa dahsyatnya pertempuran tersebut.
Gerakan mereka luar biasa cepatnya, sehingga kaki-kaki mereka seperti tidak pernah menyentuh tanah sama sekali.
Sementara angin pukulan mereka terdengar berciutan memekakkan telinga, dan sesekali malah terdengar menggelegar bila menghantam bebatuan atau tebing palung itu!
Diam-diam perempuan tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, sadar bahwa kepandaiannya memang belum dapat disejajarkan dengan mereka itu.
Kalau toh dia memaksa juga untuk terjun ke dalam arena itu, paling-paling dia juga hanya bisa bertahan sejurus dua jurus pula seperti yang lain.
"Nah, bagaimana pendapatmu, Sui Nio? Kau takkan menyia-nyiakan hidupmu, bukan? Biarlah Hong-Gi-Hiap dan Hong-Lui-Kun itu saja yang membereskan mereka. Sekarang kaukerahkan saja tenaga saktimu untuk mengobati luka dalamku!"
"Tapi..."
Perempuan tua itu tampak ragu-ragu.
Matanya memandang lepas ke depan, seolah-olah ada yang membebani hatinya.
Tapi beberapa saat kemudian mata itu kembali meredup pula lagi, dan selanjutnya kembali menatap wajah Ui Bun Ting yang pucat seperti mayat.
"Baiklah, Bun Ting. Aku akan mengobati lukamu lebih dulu. Marilah...!"
Akhirnya perempuan tua itu berkata sambil menghela napas panjang.
"Terima kasih, Sui Nio..."
Sementara itu tanpa disadari oleh gurunya, Tui Lan telah berjalan semakin mendekati arena pertempuran.
Biarpun angin pukulan mereka itu menyambarnyambar di sekelilingnya, malah kadang-kadang meletus dan mengelepar di dekatnya, Tui Lan tetap berjalan terus mendekati pertempuran dahsyat itu.
Sesekali gadis itu tampak terhuyung-huyung bila angin pukulan mereka menghembus atau menyerempet tubuhnya.
Tapi semakin dekat dengan pertempuran itu, mata Tui Lan justru semakin kabur melihatnya.
Mereka bertempur cepat bagai kilat, sehingga hanya bayang-bayang mereka saja yang dapat dilihat oleh matanya.
Namun demikian, setelah beberapa waktu lamanya, gadis itu dapat juga mengenali salah seorang diantara mereka.
"Kakek Giok-bin Tok-ong...!"
Gumamnya sedikit keras. Kakek tampan yang kelihatannya sudah mulai dapat menguasai Hong-Lui-Kun dan para pengawalnya itu, ternyata mendengar juga gumam Tui Lan itu.
"Hei, gadis ayu! Kau masih berada di jurang ini juga? Dimanakah gurumu itu?"
Teriaknya seraya melompat keluar dari kepungan musuh-musuhnya, sehingga Hong-Lui-Kun dan kawan-kawannya dapat bernafas lega kembali.
Namun Tui Lan tidak segera menjawab pertanyaan kakek sakti itu, sebaliknya gadis itu malah mengajukan pertanyaan pula.
"Lo-Cianpwe, benarkah Lo-Cianpwe itu si Iblis Penyebar Maut seperti dugaan semua orang ini?"
"Hussh, jangan banyak omong! Lekaslah menjawab pertanyaanku tadi! Dimanakah si Pendeta Palsu gurumu itu, heh?"
Kakek itu membentak marah. Tui Lan menjadi ketakutan.
"itulah dia ada di belakang!"
Jawabnya cepat.
Sungguh mengherankan sekali!
Begitu tahu Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai juga berada di tempat itu, tiba-tiba kakek sakti itu menjadi pucat wajahnya!
Seperti kemarin malam juga, tiba-tiba kakek itu lalu me lesat pergi meninggalkan tempat itu pula.
Hanya saja sebelum lenyap dari pandangan,.
kakek sakti itu sempat berteriak ke arah temannya.
"Bu-tek Sin-tong (Anak Ajaib Tanpa Tanding), aku pergi dulu! Kita bertemu lagi besok malam di Perut Naga untuk melanjutkan urusan "Buku Rahasia"
Itu...!"
"Lo-Cianpwe, tunggu...!"
Tui Lan berseru, lalu berusaha mengejarnya.
Tempat dimana Giok-bin Tok-ong tadi lenyap adalah tembok tebing palung itu.
Dan ketika Tui Lan datang mendekati, ternyata disitu ada sebuah lubang kecil sebesar perut kerbau.
Dengan agak ragu-ragu Tui Lan memandang lobang hitam yang menganga di hadapannya itu, tapi di lain saat hatinya menjadi bulat untuk memasukinya.
Sementara itu di arena pertempuran yang lain, lawan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang bernama Bu-tek Sin-tong itu terdengar mengumpat-umpat karena telah ditinggal pergi oleh Giok-bin Tok-ong.
Baca Juga: Petualang Asmara 13
Baca Juga: Pendekar Bodoh 8