Eps 2 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
"Huh! Apa enaknya tetap tinggal disini kalau tidak ada kau, monyet! Kau sudah mengakali aku untuk menghadapi bocah lihai ini, huh! Dan kau Cuma melayani ayam-ayam kampung itu! Kurang ajar...! Sekarang kau malah minggat duluan!"
Bu-tek Sin-tong yang tubuhnya kerdil seperti anak kecil itu memaki-maki, kemudian ikut melompat keluar dari arena meninggalkan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Rambutnya yang putih dan panjang sampai di kakinya itu berkibaran ditiup angin.
Sementara badannya yang hampir telanjang sama sekali itu tampak mengkilat karena keringat.
Setelah Bu-tek Sin-tong pergi, Hong-liu-kun Yap Kiong Lee bergegas mendekati Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang telah lama dikenalnya.
(Baca pendekar Penyebar Maut).
"Selamat berjumpa lagi, saudara Souw! Apa khabar?"
Pendekar yang namanya dikenal oleh setiap orang, bahkan oleh Kaisar Han pula itu tersenyum menyambut kedatangan Hong-Lui-Kun.
"Wah, untung saudara Yap lekas-lekas datang. Kalau tidak, hmm... Jiwaku mungkin sudah melayang ke alam baka. Kedua orang itu benar benar lihai bukan main! Sudah kukuras seluruh kemampuanku, tapi tetap tak kuasa pula menanggulangi kedahsyatan ilmu mereka,"
Katanya penuh takjub dan heran. Kemudian lanjutnya pula,"
Padahal lawanku tadi cuma seorang kakek kerdil yang agaknya juga kurang waras pula..."
"Ah, kalau saudara Souw saja merasa kewalahan, apalagi aku yang bodoh ini."
Yap Kiong Lee menyesali pula kekalahannya.
"Begitu hebatnya kesaktian iblis tua itu, sehingga aku yang telah dibantu oleh lima orang anggota Sha-cap mi-wi ini masih juga dibuat tak berdaya olehnya."
Setelah saling menyapa, mereka lalu berusaha mencari orang-orang yang perlu ditolong diantara ratusan korban yang berceceran itu.
"Ah, ini benar-benar suatu bencana di dunia persilatan! Dalam semalam saja ratusan pendekar persilatan telah menemui ajalnya di tempat yang seram ini. Belum pernah kudengar peristiwa seburuk ini selama hidupku. Dan semuanya itu hanya karena seorang manusia iblis. Hm... sungguh terkutuk sekali si Iblis Penyebar Maut itu!"
Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menggeram sedih ketika tak seorangpun diantara para korban itu yang masih hidup.
"Saudara Yap, lihat... disini masih ada yang bisa ditolong!"
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai berseru ketika mendapatkan si Pendeta Palsu dari Teluk Po-hai sedang sibuk mengobati Ui Bun Ting.
"Eh! Kalau tak salah yang terluka ini adalah Hek-pian-hok Ui Bun Ting ketua Tiam-jong-pai!"
Yap Kiong Lee yang mempunyai hubungan erat dengan para ketua partai persilatan itu berseru kaget.
"Benar, Yap Taihiap. Orang ini memang Ui Bun Ting."
Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai menjawab perlahan.
Dan beberapa saat kemudian, lima anggota Sha-cap mi-wi itu berturut-turut menemukan mayat ketua Tai-khek-pai, Ngo-bi-pai dan Kong-tong Ngo-hiap.
Lima orang bersaudara dari Kong-tong-pai itu mayatnya berserakan dan berjauhan satu sama lain, suatu tanda bahwa mereka berlima benar-benar berjuang sampai titik darah yang penghabisan.
"Oh... lengkap sudah bencana besar ini! Seluruh partai persilatan di daratan Tiongkok hancur lebur hidupnya dalam satu malam!"
Yap Kiong Lee lagi-lagi berdesah sedih melihat kenyataan itu.
"Benar, Yap Taihiap. Semua telah hancur. Semuanya telah musnah. Murid-muridkupun tak ada yang hidup lagi...!"
Ketua Tiam-jong-pai yang terluka parah itu merintih perlahan.
"Ah! Dimana Tui Lan...?"
Tiba-tiba Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai tersentak kaget.
"Tui Lan? Siapakah Tui Lan itu?"
Ui Bun Ting bertanya.
"Muridku! Dia Muridku...!"
Perempuan tua itu berteriak, lalu berlari kesana-kemari mencari Tui Lan seperti orang gila.
"Tui Laaaaaaaan! Tui Laaan...! Dimanakah kau?"
Tapi biarpun semua orang ikut mencarinya, gadis itu tetap tidak bisa diketemukan.
Gadis itu seakan-akan ikut lenyap bersama dengan iblis-iblis tadi.
Sampai-sampai semua mayat dibolak-balik oleh perempuan tua itu, namun gadis itu tetap tidak diketemukannya.
"Oh celaka! Dimanakah anak perempuan itu berada?"
Perempuan tua itu menjerit lirih seakan mau menangis.
"Sudahlah, Sui Nio. Kita tunggu saja anak itu sampai terang tanah nanti. Sekarang kau lebih baik membantu Souw Taihiap dan Yap Taihiap, mengurus mayat mayat para pendekar itu."
Ui Bun Ting menasehati bekas kekasihnya itu.
Demikianlah, sampai matahari muncul dan kemudian naik terus ke punggung bukit, mereka menggali lobang dan menguburkan semua mayat itu.
Meskipun matahari tidak langsung membakar punggung mereka, karena terhalang oleh tebing jurang yang tinggi, namun tubuh mereka benar-benar basah dengan keringat.
"Saudara Yap...! Jauh-jauh kau datang ke tempat terpencil ini, meninggalkan kenikmatan istana, apakah hanya untuk bekerja-bakti menguburkan mayat-mayat para pendekar ini? Ataukah mungkin saudara Yap mempunyai tugas yang lain dari Hongsiang?"
Sambil bekerja Souw Thian Hai menanyakan maksud kedatangan Yap Kiong Lee di tempat itu. Yap Kiong Lee tersenyum.
"Kami memang mendapat tugas khusus yang sifatnya agak rahasia dari Hongsiang. Kami diperintahkan untuk mencari..."
"Jangan, saudara Yap! Kau tak usah menyebutkannya bila tugas itu memang bersifat rahasia! Biarlah..."
"Ah, tidak! Bukan begitu maksudku. Kami justru ingin bertanya tentang hal itu kepada saudara Souw ma lah. Begini saudara Souw... Sebenarnya sudah hamper dua tahun ini Hongsiang mencari putera tunggalnya. Dahulu Pangeran Mahkota itu telah minta ijin kepada Hongsiang untuk membereskan sesuatu urusan di dunia persilatan. Tapi sampai tiga tahun lebih Pangeran itu tidak juga ada khabar beritanya. Tentu saja Hongsiang menjadi khawatir. Biarpun Pangeran muda itu memiliki ilmu yang dahsyat, namun bagaimanapun juga waktu tiga tahun itu bukanlah waktu yang pendek. Hongsiang mengkhawatirkan keselamatan beliau. Nah, setelah berkali-kali utusan yang disebar oleh Hongsiang selalu pulang kembali tanpa membawa hasil, maka Hongsiang lalu mempercayakan tugas itu kepadaku..."
"Ya, aku memang sudah mendengar pula tentang hal itu. Berita itu telah tersebar dan menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat. Kebetulan aku sendiri juga mengenal baik Pangeran Yan Kun itu sehingga diam-diam aku juga memasang mata dan telinga untuknya. Tapi selama ini pula aku tak pernah mendengar beritanya. Padahal sudah setahun ini pula aku selalu keluar dari rumah untuk berkeliling di dunia kang ouw untuk mencari Souw Lian Cu, puteriku..."
Souw Thian Hai berkata pula. (Lanjut ke
Jilid 04) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 04 Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya.
Jagoan nomor satu dari kota raja itu sudah mengenal pula gadis ayu yang lengan kirinya buntung itu.
Malah menurut cerita burung yang dibawa angin, Pangeran Mahkota Yang Kun telah jatuh cinta pula kepada gadis cantik itu.
Tetapi entah apa sebabnya, keduanya tak pernah bisa bersatu.
(Baca Pendekar Penyebar Maut).
"Jadi... nona Souw juga tidak ada di rumah? Wah...! Jangan-jangan... jangan-jangan..."
Yap Kiong Lee tidak berani meneruskan dugaannya.
Souw Thian Hai tersenyum kecut.
Ayah yang masih muda ini juga mengetahui pula hubungan Pangeran mahkota itu dengan puterinya.
Tapi menurut pengetahuannya, hubungan tersebut selalu tampak tersendat-sendat, karena keduanya mempunyai watak yang amat keras.
Terlalu tinggi hati, suka menutup diri, tidak mau saling terbuka dalam mengemukakan cinta mereka.
Terutama puteri sendiri, Souw Lian Cu!
Begitu ingat pada puterinya Souw Thian Hai menghela napas panjang.
Pendekar itu memang tidak bisa menyalahkan puterinya.
Gadis itu memang terlalu banyak menderita sejak kecilnya, sehingga ia tak menjadi heran kalau watak dan sifatnya menjadi sedemikian keras dan kakunya.
Usia enam tahun Souw Lian Cu telah ditinggal mati ibunya.
Gadis kecil itu lalu dibawa pergi oleh pengasuhnya karena ayahnya, satu-satunya keluarga yang harus merawatnya telah menjadi gila karena kematian ibunya itu.
Dan gadis itu baru diketemukan oleh Souw Thian Hai, ayahnya yang telah sembuh kembali, ketika sudah berumur duabelas tahun.
Hampir saja gadis kecil itu tidak mengenal Souw Thian Hai kembali.
Gadis itu lalu hidup bersama ayahnya lagi.
Tapi empat tahun kemudian, Souw Lian Cu yang telah menjadi gadis remaja itu kembali melarikan diri meninggalkan ayahnya, karena ia tidak ingin ayahnya itu kawin lagi dengan wanita lain.
Dan gadis itu terlunta-lunta sendirian di dunia yang ganas, sehingga akhirnya diketemukan oleh Keh-sim Siauw hiap (Pendekar Patah Hati) yang sebenarnya juga masih sahabat ayahnya sendiri.
Oleh sahabat ayahnya itu, Souw Lian Cu dibawa ke Pulau Meng-to.
Dan diatas pulau itu Souw Lian Cu dinasehati, dihibur dan diberi pelajaran bermacam-macam.
Namun hal itu telah diterima lain oleh gadis yang baru menjelang dewasa tersebut.
Souw Lian Cu jatuh cinta kepada pendekar yang sudah patut menjadi pamannya itu.
Tentu saja Keh-sim Siauw-hiap tak mau melayani maksud gadis tersebut.
Akibatnya gadis muda itu menjadi malu dan minggat dari pulau Meng-to.
Dalam pengembaraannya yang kedua inilah Souw Lian Cu bertemu dengan Pangeran Yang Kun.
Dan Pangeran yang amat terkesan kepada gadis ayu berlengan sebelah itu akhirnya jatuh cinta dan mengejar-ngejarnya.
Tapi jiwa Souw Lian Cu sudah terlanjur dingin dan kaku.
Meskipun gadis itu juga amat menyukai Pangeran Yang Kun, tapi ia sudah takut berdekatan dengan laki-laki kembali.
Begitulah akhirnya sang Pangeran itu juga menjadi putus asa pula.
Keduanya lalu berpisah tanpa bisa menemukan titik perpaduan yang dapat mempersatukan kedua hati mereka.
Namun keduanya sama-sama menderita karenanya.
Demikianlah, sampai menjelang lohor kedua pendekar itu dengan dibantu lima orang anggota Sha-cap mi-wi yang mengiringkan Hong-Lui-Kun dari Kotaraja, telah selesai menguburkan ratusan mayat yang berserakan di dasar palung jurang itu.
Palung jurang yang dikenal orang dengan nama Lembah Dalam.
Semula Si Pendeta Palsu Dari teluk Po-hai tidak mau meninggalkan tempat itu.
Perempuan tua itu ingin mencari Tui Lan lagi sampai dapat.
Tapi Souw Thian Hai dan Hong-Lui-Kun Yap Kiang Lee segera menasehati agar gadis itu dicari saja di tempat lain.
Sebab kalau gadis itu memang benar-benar masih berada di tempat itu, tentu sudah kembali kepada mereka.
Ui Bun Ting juga membujuk bekas kekasihnya itu, sehingga akhirnya perempuan tua itu mau pula menuruti perkataan mereka.
Lalu, kemanakah sebenarnya Tui Lan itu?
Begitu memasuki lobang kecil itu, Tui Lan yang berpakaian laki-laki itu segera berada di dalam lorong yang gelap dan pekat.
Hampir saja gadis itu mengurungkan niatnya untuk mencari Giok-bin Tok-ong.
Tapi keinginannya untuk bertemu dengan tokoh yang mampu membunuh para ketua partai persilatan, namun ternyata sangat takut kepada gurunya itu, membuat gadis itu menjadi bersemangat kembali.
Gadis itu benar-benar ingin mengetahui mengapa manusia sakti itu sedemikian takutnya kepada gurunya.
Mungkinkah orang tua itu sungguh-sungguh telah membunuh ayah-ibunya?
Benarkah orang tua itu si Iblis Penyebar Maut yang ditakuti orang itu?
Gadis itu lalu mengeluarkan lilin dan menyalakannya.
Lobang sempit yang dari luar kelihatan buntu itu ternyata melebar di dalamnya.
Tui Lan tidak usah merangkak lagi.
Dia berjalan hati-hati me lalui celah-celah batu padas yang merekah membentuk lorong-lorong sempit di dalamnya.
Tapi lorong-lorong itu kemudian terpecah-pecah menjadi beberapa jurusan sehingga gadis itu menjadi bingung untuk melangkah maju lagi.
Angin meniup perlahan di dalam lorong itu, sehingga menggoyangkan nyala api lilin yang dipegang oleh Tui Lan.
Untuk sesaat udara segar terasa menghembus ke dalam paru-paru Tui Lan.
"Tentu ada lobang yang besar di dekat tempat ini. Dan aku juga seperti membaui air pula..."
Gadis itu berkata di dalam hati.
Tui Lan lalu menerobos ke dalam salah satu lorong yang mengeluarkan udara segar dan uap air itu.
Benarlah beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara gemericiknya air mengalir di dalam lorong yang dipilihnya itu dan sete lah membelok kesana-kemari me lalui lorong yang semakin menurun itu, maka Tui Lan lalu tiba di sebuah sungai di bawah tanah.
Sungai itu ada lima atau enam tombak lebarnya.
Tidak begitu dalam, namun airnya mengalir dengan sangat derasnya, sehingga suaranya terdengar gemuruh memenuhi lorong-lorong yang sempit itu.
"Krincing...! Krincing...!"
Hampir saja Tui Lan membentur batu padas diatasnya!
Suara gemerincing besi yang beradu satu sama lain, yang datang dari arah kiri gadis itu menggema memenuhi lorong tersebut, mengatasi gemuruhnya suara air sungai, hingga mengagetkan hati Tui Lan!
Kemudian dengan wajah dan perasaan yang amat tegang gadis itu mencari sumber suara tersebut.
Tui Lan merayap hati-hati di pinggir sungai bawah tanah.
Tiba-tiba ia mencium bau asap obor di balik sebongkah batu besar.
Gadis itu menjadi curiga!
Lilin itu ditaruhnya di atas batu kemudian dikerahkannya lweekangnya untuk menggeser batu besar tersebut.
Hup!
Batu itu bergeser, dan secercah sinar obor tampak menyeruak keluar.
Ternyata sebuah lobang kecil, sebesar tubuh manusia, menganga di belakang batu besar tersebut.
Tui Lan menjadi berdebar-debar hatinya!
Terang ada yang menyalakan api obor di dalam lobang itu!
Tapi, siapa dia?
Mungkinkah orang itu Giok-bin Tok-ong?
Ataukah ada orang yang lain lagi?
Tui Lan memaksa dirinya untuk melongok ke dalam.
Ia memang melihat obor-obor itu dipasang di dalam lobang itu, lobang yang semakin ke dalam semakin besar, yang membentuk sebuah ruangan atau rongga lebar di dalamnya.
Tapi gadis itu tak melihat seorangpun di sana.
Di dalam gua itu hanya tampak bongkah-bongkah batu karang besar yang berdiri tegar menyentuh langit-langit gua.
Tui Lan memberanikan dirinya masuk lebih ke dalam lagi, sehingga akhirnya dia berada di tengah-tengah ruangan gua tersebut.
Sebenarnya ada juga perasaan ngeri di dalam hati gadis itu melihat bongkah-bongkah batu karang yang berdiri tegar di sekelilingnya itu.
Gadis itu takut, Jangan-jangan orang yang menyalakan obor tersebut bersembunyi di balik batu-batu karang itu.
"Krinciiliing...!"
Suara besi itu kembali terdengar lagi dengan nyaringnya!
Dan tiba-tiba saja sebuah lengan yang diborgol dengan jalinan rantai besi sebesar lengan itu sendiri, menyelonong keluar dari balik sebongkah batu karang besar di depan gadis itu!Lengan itu kemudian jatuh berdencing di atas tanah dan diam tak bergerak.
Selanjutnya Tui Lan mendengar suara napas yang berat diselingi suara dengkur kecil orang tertidur.
Tui Lan yang semula hampir menjerit itu kemudian menghela napas lega.
Ternyata di balik batu karang besar itu ada seorang lelaki yang diborgol lengannya, dan sedang tertidur pulas.
Dan ketika gadis itu memperhatikan dengan lebih teliti lagi, maka ia melihat jalinan rantai besi yang melingkar-lingkar pada batu karang tersebut.
"Ah! Rantai yang dipergunakan untuk memborgol orang itu ternyata dililitkan pada batu karang, agar ia tidak bisa pergi meninggalkan tempat ini. Hmm, tampaknya orang ini sangatlah berbahaya sehingga ia diikat di gua ini. Tapi, siapakah orangnya yang mampu mengikatnya itu? Apakah Giok-bin Tok-ong juga? Baiklah aku akan melihatnya. Dengan rantai yang mengikat lengannya itu kukira ia sudah tidak berbahaya lagi..."
Gadis itu berkata di dalam hati.
"Krinciiing!"
Sekali lagi orang itu bergerak dan kini yang muncul keluar adalah kaki kirinya!
Tui Lan menghentikan langkahnya.
Dilihatnya kaki orang itu juga diborgol pula!
"Oh, tampaknya orang ini telah diborgol semua tangan dan kakinya..."
Gadis itu membatin dengan perasaan yang semakin lega, lalu kakinya melangkah lagi untuk mendekati.
Sesosok tubuh tinggi kurus sedikit demi sedikit dapat dilihat oleh Tui Lan.
Dan benar juga dugaan gadis itu, orang tersebut diborgol semua kaki-tangannya.
Malah tidak cuma itu saja!
Leher orang itupun ternyata juga dililiti borgol pula!
Ma lahan borgol itu tampaknya lebih tebal dan lebih kuat pula!
Dan borgol tersebut tampak sangat kokoh mencengkeram batang leher itu sehingga rasa-rasanya orang itu sulit untuk menggerakkan kepalanya.
Tapi ketika Tui Lan mencoba untuk menjenguk wajah orang itu, tiba-tiba mulutnya ternganga.
Tui Lan merasa kaget tapi juga heran!
Karena wajah itu adalah wajah si pemuda kurus yang ia temui di restoran kemarin!
Pemuda itu tidur terlentang dengan pulasnya.
Air mukanya tampak polos dan damai, tidak pucat dan kaku seperti kemarin, sehingga wajahnya yang amat tampan itu kelihatan makin menarik dan bercahaya, diam-diam Tui Lan kagum juga.
Baginya, pemuda itu kelihatan sangat lembut dan tidak terlalu kasar.
Hanya yang sangat mengherankan adalah mengapa pemuda itu diborgol kaki-tangannya?
Apakah pemuda itu berada dalam tawanan musuhnya?
Apakah Giok-bin Tok-ong yang menyanderanya?
Tui Lan lalu melangkah semakin dekat lagi.
Dengan sangat hati-hati dilihatnya rantai borgol yang dipakai untuk mengikat pemuda itu.
"Borgol-borgol ini dikunci dengan kuat sekali,"
Katanya di dalam hati.
"Krinciiiing!"
Tiba-tiba pemuda itu membalikkan badannya, sehingga rantai pengikat ikut bergerak dan berbunyi dengan ramainya.
Dalam kagetnya Tui Lan cepat-cepat bertiarap di lantai gua dan tidak berani bergerak atau bersuara sedikitpun.
Sambil menempelkan kepalanya di atas lantai, gadis itu menunggu beberapa saat lamanya.
Dalam suasana yang hening dan menegangkan tersebut, mendadak gadis itu mendengar suara orang bercakap-cakap!
Dan suara itu terasa dekat sekali!
Tui Lan bangkit dengan cepat.
Matanya nyalang mencari sumber suara itu.
Tapi suara itu mendadak juga lenyap begitu ia bangun, dan di dalam gua tersebut tiada orang lain selain dia dan pemuda itu.
Gadis itu menjadi penasaran sekali.
Sekali lagi ia bertiarap dan memasang telinganya baik-baik.
Benar juga.
Suara itu kembali menggema di dalam telinganya.
Namun suara tersebut segera hilang bila ia bangkit berdiri.
Tui Lan menjadi curiga terhadap lantai gua itu.
Dan ketika ia memeriksanya, ia melihat lantai itu retak atau merekah panjang, sehingga menimbulkan celah sempit selebar tiga jari dan dari dalam celah sempit itulah suara tersebut terdengar.
"Kelihatannya dibawah lantai gua ini ada ruangannya pula""
Gadis itu menduga-duga di dalam hatinya. Lalu timbul keinginan Tui Lan untuk mendengarkan percakapan orang yang berada di ruangan bawah itu. Dipasangnya telinganya di tempat yang retak itu.
"Giok-bin Tok-ong...! Jadi lelaki muda yang dapat menahan ilmuku tadi bernama Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Pantas aku agak mengalami kesulitan untuk menundukkannya! Bocah itu memang sangat lihai, sehingga dia ikut tercatat pula di dalam "Buku Rahasia"
Itu..."
Terdengar suara serak namun sangat nyaring dari dalam celah itu.
"Buku Rahasia! Buku Rahasia...! Kau selalu saja menyebut-nyebutkannya. Bosan aku mendengarnya! Ayo, tunjukkan kepadaku! Mana buku itu? Kenapa tidak lekas-lekas kau tunjukkan kepadaku, kalau buku itu memang ada? Mengapa sedari tadi kau cuma membuka mulut saja tanpa menunjukkan buktinya? Apakah kau ingin mempermainkan aku, hah?"
Terdengar suara Giok-bin Tok-ong menyahut perkataan orang yang pertama itu.
"Kau memang bebal dan berotak udang! Sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tak membawanya, kau masih saja tak percaya! Aku hanya pernah membacanya. Itupun cuma sepintas lalu, yaitu ketika orang yang mengaku bernama Bok Siang Ki itu memperlihatkannya kepadaku! Coba sekarang kau pikirkan lagi dengan baik! Bagaimana aku dapat mengenalmu dan mencarimu di tempat ini, padahal kita belum pernah saling berkenalan sebelumnya, kalau bukan karena buku itu? Bagaimana aku tahu tokoh-tokoh kang-ouw itu, padahal aku tak pernah keluar dari lobang pertapaanku selama se ratus tahun, kalau bukan karena buku itu?"
Lawan bicara Giok-bin Tok-ong itu menjawab gusar.
Hening sejenak.
Kakek berwajah tampan itu tidak terdengar lagi suaranya, sehingga Tui Lan menjadi tegang dan berdebar-debar.
Sekilas gadis itu memandang ke arah si pemuda kurus yang telah tertidur pulas itu.
"Baiklah!"
Akhirnya terdengar suara Giok-bin Tok-ong kembali.
"Tetapi aku tetap belum mempercayai kata-kata itu sepenuhnya, sebelum aku melihat sendiri buku itu. Namun demikian, aku ingin mendengar juga terlebih dahulu darimu. Siapakah Bok Siang Ki itu? Bagaimana dia sampai mendapatkan buku itu? Lalu apa saja isi buku celaka itu?"
"Bangsat! Bolak-balik kau tetap tak percaya juga kepadaku..!"
"Sudahlah! Jawab saja pertanyaanku itu!"
Giok-bin Tok-ong terdengar mendesak kembali.
"Bagaimana aku tahu orang yang bernama Bok Siang ki itu, kalau aku juga belum pernah melihat sebelumnya. Dia mendatangi gua pertapaanku yang sudah tertutup oleh semak belukar di Telaga ouw (Telaga Besar) itu, dan membangunkan aku, agar aku keluar menghentikan tapaku. Semula aku tak mengacuhkan. Tapi ketika dia hendak meledakkan guaku, aku menjadi marah. Aku menjebol dinding gua dan menghadapinya. Kami lalu berkeIahi..."
"Dan... kau kalah, bukan?"
Terdengar suara Giok-bin Tok-ong mengejek.
"Kurang ajar! Siapa bilang aku kalah? Orang itu sangat licik, sehingga aku ketinggalan satu jurus!"
Lawan bicara Giok-bin Tok-ong itu berteriak semakin gusar.
"Hei, Sin-tong! Jangan marah-marah begitu! Kalau memang kalah akui saja kekalahan itu. Di dalam perkelahian, setiap orang bebas untuk berbuat apa saja demi mendapatkan kemenangan. Jadi, salahmu sendiri bila kau sampai terkecoh oleh muslihat lawan itu."
"Jangan panggil aku Sin-tong (Anak Ajaib)! Bisa kuremukkan kepalamu nanti!"
Suara lawan berbicara Giok-bin Tok-ong itu semakin keras dan berang.
"Habis tubuhmu demikian kecil, namun kesaktianmu begitu dahsyat, sih...!"
Giok-bin Tok-ong terdengar menyahut perkataan lawannya itu dengan tertawa.
"Lalu... kalau aku tak boleh menyebutmu demikian, bagaimana aku harus memanggilmu? Coba katakan kepadaku siapakah namamu sebenarnya?"
"Ini... ini... Wah, aku sendiri sudah lupa pula pada namaku sendiri."
"Nah! Itulah sebabnya kau kupanggil Bu-tek sin-tong. yang berarti... Seorang Anak Kecil Ajaib Yang Sukar dicari Tandingannya, hehehe...!"
"Kurang ajar...!"
"Sudahlah! Kau jangan mengumpat-umpat saja! Lebih baik kau ceritakan saja kepadaku, bagaimana kau bisa membaca 'Buku Rahasia' itu?"
Akhirnya terdengar suara Giok-bin Tok-ong membujuk dan tidak mengolok-ngolok lagi.
"Huh! Setelah dia berbuat liehai sehingga dapat memenangkan perkelahian itu, dia mengeluarkan sebuah buku kumal dari dalam saku bajunya. Dia bilang bahwa kedatangannya ke guaku itu atas petunjuk "Buku Rahasia"
Tersebut. Di dalam buku itu, katanya tercantum "DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA"
Pada waktu ini, beserta tempat tinggalnya juga. Itulah sebabnya aku juga mengetahui pula tempat tinggalmu, karena kau juga tercantum dalam buku tersebut."
Bu-tek Sin-tong terdengar memberi keterangan.
"Dan kau katakan bahwa namamu tertulis pada urutan ketiga dalam "DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA"
Itu, sementara aku hanya pada urutan keempat. Begitukah? Jadi kau berada satu tingkat diatasku, begitu? Huh, enaknya!"
"Hei! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Di dalam buku yang diperlihatkan kepadaku itu, aku memang ditulis pada nomer tiga, sedangkan kau nomer empat. Sementara nomer yang kelima adalah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai..."
"Hehehe...! lalu siapakah yang berada di nomer satu dan dua?"
"Nomer dua adalah Bok Siang Ki sendiri. Sedangkan yang nomer satu adalah seorang sasterawan yang juga tidak terkenal namanya, bertempat tinggal di puncak gunung Hoa-san. Dan menurut Bok Siang Ki, buku itu diambilnya dari rumah sasterawan itu..."
"Hmm... lalu apa saja isi buku itu selain 'DAFTAR TOKOH TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA' itu?"
"Entahlah! Aku bukan seorang terpelajar, sehingga aku tak bisa memahami segala macam pantun dan syair yang tertulis di dalam buku itu. Aku bisa meraba-raba sedikit saja. Tampaknya buku itu berisikan ramalan-ramalan tentang segala macam hal di dunia persilatan dan keadaan negeri Tiongkok di masa yang akan datang."
"Ramalan...?"
Terdengar suara Giok-bin Tok-ong mencemooh sambil tertawa seolah tak mempercayai kebenaran ramalan yang baginya cuma omong-kosong itu.
"Ooh, kau tak percaya?"
"Ah, omong kosong dengan semua macam ramalan itu!"
"Tapi beberapa buah diantara ramalan itu telah terbukti kebenarannya. Misalnya tentang jatuhnya Kaisar Chin Si Hong-te oleh Liu Peng itu. Dan bagaimana keadaan anak keturunan bekas kaisar Chin itu sepeninggal Kaisar Chin Si Hong-te. Semua itu telah dikisahkan dalam buku itu. Bunyinya kalau tak salah begini . Si Naga Emas menjadi lengah Sehingga dapat dibunuh oleh anak seorang petani lemah Naga-naga kecil saling berebut diri Namun mereka mati oleh api yang mereka buat sendiri. Seekor Naga Kecil bersayap hitam Mencoba terbang mencapai awan Tapi gagal karena seekor ular. Naga Emas itu diibaratkan sebagai Kaisar Chin Si Hong-te, yang mati karena dibunuh oleh Liu Pang, anak seorang petani yang kini menjadi Ka isar Han, sementara Naga-naga Kecil atau anak-anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te justeru malah saling berbunuhan sendiri karena saling berebut kekuasaan. Kemudian ada seorang anak keturunan Kaisar Chin Si Hong-te pula, yang diibaratkan sebagai 'Seekor Naga Kecil Bersayap Hitam', yang ingin mengembalikan kekuasaan keluarganya, tapi ternyata mengalami kegagalan karena ulah seekor ular atau anak-buahnya sendiri..."
Hening lagi sejenak.
Tampaknya Giok-bin Tok-ong terpengaruh pula oleh keterangan Bu-tek Sin-tong yang panjang lebar itu.
Dan begitu pula halnya dengan Tui Lan yang ikut mendengarkan percakapan tersebut melalui celah sempit itu.
Gadis itu semakin lama semakin tertarik pula mendengar pembicaraan mereka itu.
"Lalu, siapakah yang dimaksudkan dengan "Naga Kecil Bersayap Hitam"
Itu?"
Tiba-tiba terdengar lagi suara Giok-bin Tok-ong melalui celah itu.
"Hmm, apakah kau tidak pernah mendengar nama Hek-eng-cu, yang sangat terkenal di dunia persilatan pada tiga tahun yang lalu? Tokoh sakti itu adalah keturunan Ka isar Chin Si Hong-te pula. Dia bermaksud menegakkan kembali dinasti keluarganya, tapi gagal. Dia terbunuh oleh keponakannya atau muridnya sendiri yang bernama Chin Yang Kun yang memiliki Ilmu Kim-coa ih-hoat (Baju Ular Emas)."
"Ohh! Lalu, kemanakah Chin Yang Kun itu sekarang?"
"Hei... mana aku tahu? Kepandaiannya sangat tinggi, dan usianya masih amat muda pula, apalagi ia juga tercantum pada urutan ke tujuh dalam "DAFTAR TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA' itu..."
"Eh, Sin-tong! Aku menjadi tertarik juga jadinya mendengar ceritamu itu. Aku juga ingin melihat dan membaca "Buku Rahasia' itu pula. Lalu, dimanakah orang yang bernama Bok Siang Ki itu sekarang?"
"Sulit untuk mencarinya, karena dia bertempat tinggal di tengah-tengah Gurun Gobi yang maha luas itu. Dan meskipun dapat ketemu juga, kau takkan bisa mengenalnya pula. Dia sangat licik dan pandai sekali pian-hoa (beralih rupa)."
"Kau maksudkan bahwa dia itu pandai menyamar?"
"Benar!"
"Hmm, kalau begitu aku akan menemui sasterawan yang tinggal di puncak gunung Hoa-san itu saja. Selain lebih dekat, kukira ia juga lebih mudah dicari pula."
"Hei, aku juga ikut! Aku juga ingin bertemu dengan Jago Silat Paling Terkemuka itu!"
Bu-tek Sin-tong terdengar berteriak.
Terdengar langkah kaki mereka meninggalkan ruangan bawah itu.
Tui Lan menarik napas panjang, namun demikian hatinya masih terasa tegang juga.
Giok-bin Tok-ong yang sebenarnya ingin ia jumpai itu kini telah pergi.
Sebuah kesempatan yang baik untuk menolong pemuda kurus itu dari borgolnya.
"Tapi kuncinya? Mana kuncinya? Tanpa kunci itu tak mungkin borgol yang kokoh kuat itu dapat dibuka.."
Gadis itu berkata di dalam hatinya.
Gadis Itu lalu mencari kunci borgol itu.
Namun sampai lelah ia melongok dan mencari kesana-kemari, kunci tersebut tak diketemukannya juga.
Akhirnya gadis itu mengambil keputusan untuk keluar dari tempat itu, dan melapor kepada gurunya.
Siapa tahu gurunya dapat membebaskan pemuda itu?
Mumpung Giok-bin Tok-ong pergi ke puncak gunung Hoa-san!
Tui Lan lalu keluar melalui lorong-lorong gua itu kembali.
Sampai di luar ternyata hari sudah siang, malah matahari sudah lewat di atas kepala.
Dan di luar lobang itu telah menjadi sepi.
Gurunya sudah tiada lagi di tempat itu.
Yang tampak di Lembah Dalam itu sekarang hanyalah gundukan tanah yang luar biasa banyaknya, yang hampir memenuhi seluruh lembah itu sendiri.
Diam-diam bergidik juga hati Tui Lan menyaksikan kuburan baru sekian banyaknya itu.
Oleh karena itu Tui Lan cepat-cepat merayap menaiki tebing lembah yang sangat mengerikan itu.
Dan sampai di dasar jurang tersebut, Tui Lan segera merayap pula lagi mendaki tebing jurang.
Untunglah siang itu kabut telah menghilang disapu panas mentari, sehingga Tui Lan tidak mengalami kesulitan untuk mencapai bibir jurang yang berada di puncak bukit itu.
Kedatangan Tui Lan di kota Soh-ciu disambut dengan suasana duka cita para warga kota dan penduduk Kang Lam berkenaan dengan terbunuhnya ratusan pendekar persilatan yang bermaksud membela mereka dari keganasan Si Iblis Penyebar Maut itu.
Hampir tak seorangpun yang keluar di jalan raya.
Toko-toko dan warung-warung yang berada di pinggir jalan juga menutup pintunya, sementara rumah-rumah penduduk juga tampak lengang pula, sehingga kota itu rasa-rasanya seperti sebuah kota mati saja layaknya.
Tui Lan langsung menuju ke penginapannya.
Tapi dilihatnya gurunya juga belum kembali.
Kamarnya kosong dan ketika ia memasuki kamarnya sendiri, pelayan penginapan itu menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
"Siauwya...! Nyonya tua yang tinggal di kamar sebelah tadi datang mencari Siauwya. Tapi setelah mengetahui Siauwya belum datang, beliau lalu pergi lagi."
Lapornya kepada Tui Lan yang masih mengenakan pakaian pria itu.
"Kau tahu kemanakah beliau pergi?"
Tanya Tui Lan seraya memberi persen uang logam kepada pelayan itu.
"Saya tidak tahu, Siauwya. Nyonya itu tidak meninggalkan pesan apa-apa kepada saya..."
Jawab pelayan itu sambil menerima uang pemberian gadis itu. Wajahnya menjadi berseri-seri.
"Baiklah! Biarlah aku menunggunya saja di sini."
"Apakah saudara mencari nyonya tua itu? Aku tahu kemana dia pergi,"
Tiba-tiba Tui Lan mendengar sebuah suara di belakangnya.
Gadis itu terkejut dan membalikkan tubuhnya.
Ternyata di belakangnya telah berdiri si A Cang, kacung dari Tiauw K iat Su itu.
Tui Lan menjadi curiga dan meningkatkan kewaspadaannya, karena ia merasakan sesuatu yang tidak wajar melihat kedatangan bocah tanggung itu di tempat penginapannya.
"Kau siapa?"
Tui Lan pura-pura bertanya. Tak terduga kacung itu tersenyum.
"Siauwya belum tahu namaku? Hehe. baiklah! Namaku... si A Cang! Sederhana sekali, bukan? Aku adalah pelayan dari Kim-mou-eng Tiauw Kiat Su yang tersohor itu,"
Katanya menyombongkan dirinya sambil tertawa pringas-pringis. Tapi Tui Lan tak melayani kekurang ajaran bocah tanggung itu. Sambil menengadahkan dadanya ia berkata kaku.
"Kalau tak salah saudara tadi berkata bahwa saudara mengetahui kemana nyonya tua itu pergi. Hmm, bolehkah aku tahu juga ke mana beliau itu pergi?"
"Ah, mengapa terburu-buru? Tidak enak berbicara dengan berdiri begini.. Eh, bolehkah aku masuk dan bercakap-cakap di dalam kamar Siauwya?"
Kacung itu semakin berani kurang ajar. Sekejap Tui Lan menjadi merah padam.
"Apakah bocah ini mengenali penyamaranku?"
Pikirnya keras.
"Tetapi..mustahil! Aku telah berdandan dengan rapi sekali. Dan rasanya bocah ini juga terlalu muda untuk dapat berbuat kurang ajar terhadap wanita."
Namun demikian, tentu saja Tui Lan takkan mengijinkan pemuda tanggung itu untuk memasuki kamarnya. Maka dengan sabar ia berkata.
"Saudara dapat mengatakannya di sini, atau... biarlah aku menantinya saja kalau saudara memang tak mau mengatakannya."
"Begitukah? Baiklah, karena Siauwya ternyata berlaku kurang ramah dan tampaknya juga tidak terlalu peduli pada berita yang hendak kusampaikan itu, maka sebaiknya aku juga tidak usah mengatakannya saja. Nah. permisi..."
Kacung itu berkata seraya pergi meninggalkan tempat itu.
Secara sambil lalu tangannya menepuk-nepuk pedang panjang yang tergantung di pinggangnya.
Tiba-tiba Tui Lan membelalakkan matanya!
Pedang yeng tergantung di pinggang A Cang itu adalah pedang gurunya!
Kecurigaan Tui Lan semakin menjadi-jadi!
Tampaknya telah terjadi sesuatu terhadap gurunya!
Dan bocah ini tampaknya mengetahui segalanya.
Tui Lan mengerahkan ginkangnya.
Tubuhnya melesat ke depan dan dengan sigapnya berdiri di muka pemuda tanggung itu.
"Berhenti! Kulihat kau mengenakan pedang guruku! Nah, sekarang berkatalah yang sebenarnya! Dimanakah guruku itu sekarang? Jangan berbelit-belit!"
Bentaknya keras. Ternyata kacung itu masih juga menggoda. Dengan berpura-pura kaget ia bertanya.
"Guru Siauwya? Siapakah guru Siauwya itu? Kulihat nyonya tua itu hanya mempunyai seorang murid perempuan."
Yakinlah Tui Lan sekarang bahwa pemuda itu telah mengetahui penyamarannya.
"Sudahlah, jangan berbelit-belit! Kalau kau memang sudah mengetahui semuanya, kenapa kau masih berpura-pura juga?"
Tui Lan membentak marah. Kacung itu tertawa panjang.
"Baiklah! Baiklah! Kalau begitu, marilah nona mengikuti aku ke tempat guru nona itu sekarang!"
Katanya penuh kemenangan.
Sesungguhnya Tui Lan amat kesal melihat kecongkakan kacung itu.
Namun apa daya, kekhawatirannya terhadap nasib gurunya membuatnya harus menahan sabar untuk sementara waktu.
Oleh karena itu dibiarkannya saja kacung itu berbuat sesuka hatinya, asal tidak berbuat kurang ajar saja terhadapnya.
Kacung itu membawa Tui Lan ke restoran, tempat tuannya membuat keributan kemarin.
Di sepanjang jalan kacung itu tak henti-hentinya membual dan menyombongkan kekayaan dan kesaktian keluarga Tiauw di Lautan Timur.
Meskipun Tui Lan tidak menanggapi omongannya, kacung itu tetap saja mengobral ceritanya.
Tiauw Kiat Su ternyata telah duduk di depan meja menantikan kedatangan mereka.
Dan di atas meja itu telah tersedia segala macam masakan yang enak-enak dan mahal-mahal.
Sementara di pinggir meja juga telah tersedia pula dua guci anggur merah beserta cangkirnya.
Semula kaget juga pemuda itu melihat kedatangan A Cang, yang tidak membawa gadis yang ia maksudkan, tapi sebaliknya malah datang bersama seorang pemuda tampan berpakaian sasterawan.
Tetapi setelah A Cang menerangkan siapa sebenarnya pemuda berpakaian sasterawan itu, Tiauw Kiat Su lantas tertawa terbahak-bahak.
"Wah! Pandai juga nona menyamar menjadi seorang pemuda, sehingga kami kehilangan jejak dan repot mencarimu kemana-mana. Nah, sekarang silakan duduk, nona...!"
Pemuda itu menyambut kedatangan Tui Lan dengan ramahnya.
Sesungguhnya Tui Lan ingin lekas lekas menanyakan perihal gurunya.
Namun melihat persiapan pemuda itu dalam menyambut kedatangannya, maka gadis itu segera mengurungkan niatnya.
Tampaknya pemuda itu benar-benar tertarik dan ingin sekali berkenalan dengan dirinya, sehingga bagaimanapun juga ia mendesaknya, pemuda itu tentu tidak akan segera memberitahukan keadaan gurunya.
Pemuda itu tentu akan mengulur-ulur waktu selama mungkin.
Menghadapi orang demikian, ia harus sabar dan pandai melihat keadaan.
Namun demikian, begitu duduk diatas kursinya Tui Lan terpaksa berkata juga.
"Maaf, saudara Tiauw, saya tidak mempunyai banyak waktu. Oleh karena itu saya mohon sudilah kiranya saudara Tiauw lekas-lekas memberitahukan keadaan guruku itu kepadaku..."
"Eee, nanti dulu! Jangan tergesa-gesa! Guru nona tidak apa-apa. Jangan khawatir! Marilah kita menikmati pertemuan kita ini dahulu dengan makan dan minum sekedarnya! Pelayan restoran ini sudah menyajikan sebuah masakan istimewa buat kita berdua, hahaha... oh, ya... kita belum berkenalan. Namaku Tiauw Kiat Su. Ehm, bolehkah aku mengetahui nama nona?"
Dengan lagak dan suara yang dibuat-buat Tiauw Kiat Su mencoba menarik perhatian Tui Lan.
Sesungguhnya sebal juga rasanya hati Tui Lan melihat lagak-lagu pemuda itu.
Namun karena masih membutuhkan keterangan tentang gurunya, maka sekali lagi ia menyabarkan hatinya.
Apalagi gadis itu telah menyadari pula betapa lihainya pemuda di depannya itu.
Pemuda itu harus dihadapi dengan akal, bukan dengan kekerasan.
"Namaku... Han Tui Lan,"
Gadis itu menjawab pendek.
"Han Tui Lan? Wah, betapa bagusnya nama itu. Sungguh sesuai sekali untuk nona."
Pemuda itu memuji. Lalu sambungnya cepat.
"Mari...! Marilah nona Han! Silahkan minum anggur merah dari Soh-ciu yang terkenal!"
Tanpa menunggu lagi reaksi tamunya, pemuda itu langsung saja menyiapkan cangkir di depan Tui Lan dan mengisinya dengan anggur merah yang telah tersedia di dalam guci.
Setelah itu ia berdiri mengisi pula cangkirnya sampai penuh.
Tapi ketika dilihatnya Tui Lan belum juga mau mengangkat cangkirnya, pemuda itu lantas tertawa maklum.
"Hahaha...! Marilah! Nona Han tak perlu curiga. Anggur ini tidak beracun. Lihatlah, saya hendak meminumnya lebih dulu!"
Katanya sambil memuntahkan isi cangkirnya itu ke dalam mulutnya. Setelah itu dia mendahului pula mengambil makanan yang tersedia di atas meja.
"Ayo, silakan!"
Sambungnya pula seraya mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
Tak enak juga rasanya hati Tui Lan kalau harus menolak terus hidangan yang disajikan oleh lawannya.
Apalagi pemuda itu telah lebih dahulu mencicipi makanan dan minuman yang disajikannya.
Oleh karena itu dengan sedikit enggan gadis itu terpaksa mengangkat juga cangkir yang berada di hadapannya, Namun ketika gadis itu hendak meraih makanan yang tersedia di atas meja, tiba-tiba matanya terbelalak menatap pintu restoran.
Otomatis Tiauw Kiat Su menoleh pula ke arah pintu.
Dan pemuda itu segera mengerutkan dahinya dengan wajah masam.
Seorang pemuda tampan bertubuh tinggi kurus tampak memasuki restoran itu dengan kepala tertunduk.
Dan Tiauw Kiat Su segera mengenalinya sebagai pemuda yang kemarin telah menghinanya dengan cara menyaingi dia dalam memberi hadiah uang kepada pelayan.
"Anak miskin yang berlagak banyak uang itu ternyata telah berani datang lagi ke tempat ini."
Tiauw Kiat Su menggeram dengan suara dongkol.
Sebaliknya, kedatangan pemuda kurus itu benar-benar amat mengejutkan hati Tui Lan!
Sebab baru beberapa saat yang lalu pemuda itu masih terborgol semua kaki-tangannya di dalam lorong gua di Lembah Dalam itu.
Kini pemuda itu sudah bebas.
Malahan sekarang berada di dalam kota pula kembali.
Lalu siapakah yang telah membebaskan pemuda itu dari borgolnya?
Seorang pelayan segera menyongsong kedatangan pemuda kurus itu.
Dengan suara takut dan menyesal, pelayan itu yang kebetulan juga pelayan yang kemarin diberi hadiah oleh pemuda kurus itu, memberitahukan kepada pemuda itu bahwa seluruh meja di restoran tersebut telah diborong oleh Tiauw Kiat Su semua.
"Kulihat siang ini amat sepi. Dan tuan itu tampaknya juga hanya menggunakan satu meja saja. Kenapa aku tak bisa memakai sebuah meja saja yang pinggir itu?"
Pemuda kurus itu menggerutu.
"Tapi... tapi tuan muda itu memang telah memborong semuanya, tuan. Katanya... katanya tuan muda itu hendak menjamu seorang kenalan baiknya."
"Hmmh! Coba katakan kepada tuan muda itu, kalau boleh aku akan meminjam sebuah saja diantara meja-mejanya. Kalau perlu akupun bisa menggantinya dengan uang..."
"Tapi..."
Pelayan itu melirik ke arah Tiauw K iat Su.
"Sudahlah! Tak usah takut! Katakan saja permintaanku tadi kepada tuan muda itu...!"
Pemuda kurus itu mendesak. Dengan agak takut-takut pelayan itu terpaksa menuruti permintaan tamunya. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, ternyata A Cang sudah menghadangnya.
"Goblog! Mau kemana kau, huh? Ayo pergi! Jangan ganggu tuan mudaku! Suruh pergi saja orang itu dari sini! Sekali sudah diborong, ya diborong! Tak ada kecualinya lagi!"
Hardik kacung sombong itu dengan suara menggeledek.
Namun baru saja mulut kacung itu terkatup kembali, tiba-tiba tubuhnya terangkat ke atas.
Kemudian terbanting ke lantai tanpa menyadari apa yang telah terjadi!
Tahu-tahu kacung itu melihat si pemuda kurus tadi telah berdiri bertolak-pinggang di depannya!
Semua orang ternganga kaget dan heran!
Tidak terkecuali pula Tui Lan dan Tiauw Kiat Su!
Sama sekali mereka tidak melihat cara bagaimana pemuda kurus tersebut bergerak.
Padahal jarak antara A Cang dan pemuda itu tadi lebih dari dua tombak jauhnya.
Lagipula si A Cang juga bukan anak bodoh yang tidak bisa apa-apa.
Kemarin pemuda tanggung itu justru dapat membunuh seorang pendekar dari Tai-khek-pai pula.
Tapi semua itu memang telah terjadi.
Pemuda kurus itu telah mengangkat dan membanting A Cang dengan cara yang tidak dapat diketahui oleh siapapun juga.
Dan kini kacung itu tergeletak kesakitan di atas lantai.
Tiauw Kiat Su tak dapat menahan kemarahannya.
Tapi sebelum pemuda itu bangkit dari kursinya, Tui Lan cepat mencegahnya.
Selain gadis itu amat tertarik dengan penampilan si pemuda kurus tersebut, gadis itu juga tak ingin urusan tentang gurunya itu menjadi tertunda pula.
"Saudara Tiauw! Bukankah saudara ini menjamu aku? Mengapa kini saudara justru hendak meninggalkan meja ini? Biarkan saudara itu mengambil sebuah meja untuk makan-minumnya. Dia toh takkan mengganggu pembicaraan kita."
Tui Lan berkata dengan tegas. Tiauw Kiat Su menjadi bimbang. Beberapa kali pemuda itu menoleh ke arah kacungnya. Tampak benar bahwa pemuda itu berusaha mengendalikan kemarahannya.
"Hmm! Baiklah! A Cang, mundurlah! Biarlah orang itu memakai meja kita...!"
Akhirnya pemuda itu berteriak ke arah kacungnya yang masih kesakitan itu.
"Terima kasih, saudara...!"
Pemuda kurus itu tersenyum dan mengangguk ke arah Tui Lan, kemudian menarik sebuah kursi dan duduk menghadapi sebuah meja.
Tui Lan tersenyum pula.
Dan diam-diam gadis cantik itu kembali mengagumi ketampanan pemuda tersebut.
"Ah, ternyata dia dapat juga tersenyum..."
Desahnya di dalam hati.
Sementara itu pemuda kurus itu telah memesan makanan dan minuman kepada pelayan, dan kemudian sibuk dengan urusannya sendiri.
Sedikitpun tidak mengacuhkan lagi kepada Tui Lan maupun Tiauw Kiat Su.
Cuma ketika pelayan restoran itu mengantarkan pesanannya, pemuda itu berkata,"
Kulihat kota ini tidak ramai dan sibuk seperti kemarin. Apa yang telah terjadi?"
"Ah! Mengapa tuan tidak tahu juga? Kemana saja tuan tadi malam? Wah, tuan benar-benar ketinggalan jaman. Masakan peristiwa besar yang sangat menggemparkan seperti itu tuan tidak mendengarnya juga?"
Pelayan itu balik bertanya kepada tamunya seolah-olah tak percaya. Pemuda kurus itu mengerutkan alis matanya.
"Peristiwa besar? Peristiwa apa itu? Apakah tentang Si Iblis Penyebar Maut lagi?"
Tanyanya dengan suara kaget dan tegang.
"Seluruh pendekar persilatan yang berkumpul di kota ini, yang jumlahnya lebih dari lima ratus orang itu, habis ludes, dibasmi oleh Iblis itu tadi malam. Di antara empat orang ketua partai persilatan yang ikut datang, hanya dua orang yang selamat. Itupun karena salah seorang diantaranya, Kong Tong Cin-jin, tidak ikut bersama-sama para pendekar itu karena masih sakit. Hek-pian-hok Ui Bun Ting, ketua Tiam-jong-pai yang terkenal itu digotong pulang dalam keadaan terluka parah..."
Pelayan itu memberi keterangan dengan wajah tegang pula.
"Ohh...! Jadi jadi begitukah?"
Pemuda itu mengeluh dengan suara tersendat-sendat, seolah amat terpukul atau sangat menyesal hatinya mendengar khabar itu.
"Makanya tadi kulihat banyak sekali kuburan di Lembah Dalam itu. Apakah... Apakah...? ohh!"
Sambungnya lagi seraya memegang kepala dan menundukkannya dalam-dalam.
Pelayan itu juga menghela napas, menyangka kalau tamunya tersebut sangat menyesal karena tak bisa ikut berjuang bersama-sama temannya melawan Si Iblis Penyebar Maut yang amat sakti itu.
"Bukankah kemarin tuan juga ada di tempat ini? Kemanakah tuan tadi malam, sehingga tuan tertinggal oleh para pendekar itu?"
Pelayan itu bertanya sambil menyelesaikan hidangan yang ia sajikan. Tui Lan yang ikut mendengarkan pula percakapan itu, diam-diam menjadi tegang juga hatinya menantikan jawaban pemuda itu.
"Aku... tertidur malam tadi."
Akhirnya pemuda kurus itu menjawab pendek, sehingga Tui Lan menjadi kecewa mendengar jawaban itu.
"Kelihatannya pemuda itu menyimpan rahasia. Terang dia diborgol kaki-tangannya oleh kakek tampan itu, kenapa dia bilang kalau tertidur tadi malam? Kenapa ia tak berterus terang saja kalau dirinya sedang ditawan oleh iblis itu? Apakah pemuda itu ingin melindungi iblis itu karena iblis itu tidak membunuhnya? Ataukah mungkin pemuda itu mempunyai hubungan khusus dengan iblis itu malah?"
Bermacam-macam pertanyaan mengganggu pikiran Tui Lan sehingga gadis itu menjadi tersendat-sendat makannya.
"Ah, mengapa nona makan sedikit sekali? Ayolah, minum lagi...!"
Tiauw Kiat Su yang sedari tadi selalu memperhatikan gadis itu tiba-tiba berkata.
"Terima kasih. Saya tidak begitu berselera hari ini. Pikiranku selalu terbayang pada guruku."
Tui Lan berkilah, sambil mencoba untuk membuka percakapan tentang gurunya. Tiauw Kiat Su tertawa perlahan.
"Ah, kenapa nona tetap kurang sabar juga...? Selesai acara makan dan minum ini kita akan segera pergi menemui orang tua itu. Marilah kita m inum secangkir lagi!"
Pemuda itu berkata seraya mengisi cangkir Tui Lan dengan anggur merah itu sampai penuh.
Dengan kesal Tui Lan menatap mata lawannya.
Hampir saja gadis itu tak kuasa mengekang perasaannya lagi.
Namun bayangan wajah gurunya sekali lagi menyadarkan hatinya, sehingga dengan amat berat gadis itu terpaksa menuruti permintaan pemuda tersebut.
Sekali tuang gadis itu menghabiskan anggur itu.
"Nah, saudara Tiauw... cangkirku telah kosong. Mau tunggu apa lagi?"
Tampaknya Tiauw Kiat Su maklum juga kalau Tui Lan sudah kehilangan kesabarannya. Maka, dengan sedikit enggan pemuda itu terpaksa bangkit pula dari kursinya.
"Baiklah, nona... marilah!"
Ucapnya perlahan, lalu mengajak tamunya itu keluar restoran.
A Cang yang sedari tadi menjadi tidak banyak omong, cepat mengikuti tuannya.
Ketika melewati tempat duduk si pemuda kurus tadi, bocah itu masih dapat mengancam juga.
"Huhl Awas pembalasanku!"
Pemuda kurus itu menoleh sambil tersenyum. Katanya kepada pelayan yang sedang berada di dekat mejanya.
"Siapakah tamu Tiauw Kiat Su tadi? Apakah dia penduduk kota ini juga?"
"Ah yang tuan maksudkan anak muda yang sangat tampan itu? Wah, entahlah, saya tidak tahu. Kami semua juga baru melihatnya hari ini."
Pelayan itu menjawab polos.
"Dan saya kira dia bukanlah sahabat atau teman dari pemuda congkak itu, sebab tampaknya hatinya sangat baik."
"Ya! Namun kebaikannya itu kelihatannya hendak dibalas dengan air tuba oleh Tiauw Kiat Su tadi."
"Dibalas dengan air tuba? Apakah maksud tuan?"
Pelayan itu bertanya tak mengerti. Pemuda kurus itu tersenyum.
"Sudahlah! Cepat bereskan semua rekeningku! Aku akan melihat kemana mereka tadi."
"Sudah, tuan. Uang tuan kemarin masih lebih dari cukup untuk membayar makanan tuan hari ini."
Pelayan itu menolak dengan halus. Pemuda kurus itu bangkit dari kursinya. Sambil meletakkan uang logam diatas mejanya, ia berkata.
"Jangan sebut-sebut hal yang kemarin. Aku sudah memberikannya dengan ikhlas kepadamu. Nih, berikan uang ini kepada majikanmu, kelebihannya boleh kau ambil."
"Terima kasih, tuan! Terima kasih"!"
Pelayan itu mengangguk-angguk. Lalu sambungnya lagi dengan bersemangat.
"Tuan...? Bolehkah saya mengetahui nama tuan?"
Di luar halaman pemuda kurus itu menoleh.
"Sebut saja aku... Yang Kun! Liu Yang Kun!"
Katanya perlahan namun sudah cukup terdengar juga oleh pelayan itu.
Sementara itu di rumah Kang Lam Koai-hiap yang kini kosong itu, tampak beberapa orang sedang berunding.
Mereka adalah Kong-tong Cin-jin yang masih sakit, Ui Bun Ting yang terluka parah, dan kedua orang tamu mereka, yaitu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.
Selain membicarakan duka cita yang menimpa diri para pendekar persilatan, mereka juga berbicara tentang tokoh-tokoh sakti yang secara tiba-tiba bermunculan di kota Soh-ciu.
"Bagaimana mula terjadinya sehingga musibah besar itu dapat menimpa para pendekar persilatan yang berkumpul di kota ini?"
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai bertanya kepada Kong-tong Cin-jin, yang juga belum bisa bangkit dari kursinya. Ketua Kong-tong-pai itu menarik napas panjang. Lalu dengan suara berat dia menjawab.
"Mula-mula salah seorang dari para pendekar itu melaporkan bahwa dia melihat seorang yang sangat mencurigakan di dasar jurang itu. Kang Lam Koai-hiap lalu memberi perintah kepadaku untuk menyelidikinya. Karena aku sendiri juga belum yakin terhadap laporan tersebut, maka aku mewakilkan tugas itu kepada anak-anakku, Kong-tong Ngo-hiap. Ternyata laporan itu memang benar. Anak-anakku juga bisa melihatnya. Tapi anak-anakku tidak berani menghadapi orang yang sangat mencurigakan yang mereka pastikan sebagai Si Iblis Penyebar Maut itu, sebab orang tersebut memiliki ginkang yang luar biasa tingginya."
Kong-tong Cin-jin mendongakkan kepalanya, seakan-akan sedang berusaha mengumpulkan kembali ingatannya tentang peristiwa yang terjadi kemarin.
"Maka, aku dan saudara Ui Bun Ting lalu menyusul ke jurang itu. Benarlah, di tempat tersebut kami menjumpai orang yang kami curigai itu, yaitu seorang kakek tampan yang usianya jauh lebih tua dari umurku. Karena ciri-cirinya sesuai dengan apa yang telah diceritakan oleh Kang Lam Koai-hiap, maka kami berdua lantas mengeroyoknya. Sungguh tak terduga kakek itu benar-benar lihai tak terkira. Hanya dengan dua jurus, kami yang telah berani menjadi ketua sebuah partai persilatan ini, ternyata sudah kalah dan terluka. Untunglah, ketika iblis itu hendak membunuh kami, tiba-tiba datang seorang tua bertubuh kerdil mencegahnya..."
"Ooo, orang kerdil yang bertempur melawan aku itu?"
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menyela.
"Benar, Taihiap. Selagi mereka itu ribut dan bertengkar sendiri tentang sebuah buku, yang mereka sebut sebagai Buku Rahasia aku dan Saudara Ui lalu meloloskan diri dengan dibantu oleh anak-anakku."
"Buku Rahasia...?"
Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee berdesah hampir berbareng.
"Sampai di rumah, kami lalu melaporkan kejadian tersebut kepada Kang Lam Koai-hiap, yang menjabat sebagai pimpinan dalam perburuan ini. Dan setelah berunding beberapa waktu lamanya, Kang Lam Koai-hiap lalu memerintahkan kami semua untuk mengepung Lembah Dalam itu. Demikianlah, ratusan pendekar yang tergabung dalam lima kelompok itu lalu berduyun-duyun menuju Lembah Dalam itu. Dan kemudian.. terjadilah peristiwa atau bencana yang mengerikan itu! Semuanya habis tumpas, tiada yang tersisa lagi, selain saudara Ui Bun Ting! Oh, sungguh menyesal sekali aku! Mengapa aku tak bisa ikut menjadi mayat bersama mereka, bersama-sama dengan anak-anakku...! Ooooh...!"
Ketua Kong-tong-pai itu mengakhiri ceritanya dengan suara serak.
"Memang sungguh mengherankan sekali. Belum pernah selama hidupku menyaksikan orang sesakti mereka. Sudah kukerahkan seluruh kemampuanku, namun tetap saja aku kewalahan menghadapi orang tua kerdil itu."
Souw Thian Hai berkata pula sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Akupun demikian juga, saudara Souw. Meskipun lima orang anggota Sha-cap mi-wi itu telah membantuku, ternyata aku tetap hampir mati juga melawan kakek tampan itu."
Yap Kiong Lee ikut mengiakan perkataan Souw Thian Hai.
"Meskipun demikian, kedua orang sakti itu ternyata masih bertengkar juga tentang sebuah 'Buku Rahasia'! Lalu buku macam apa pula lagi itu?"
Ui Bun Ting yang sejak tadi hanya diam saja, tiba-tiba ikut berbicara.
Namun semua orang yang berada di dalam ruangan itu hanya saling-pandang saja satu sama lain, suatu tanda bahwa tak seorangpun di antara mereka itu yang tahu tentang hal itu.
Selagi mereka itu sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba seorang pembantu Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tampak memasuki ruangan dengan tergesa gesa.
"Yap Taihiap...! saya telah melihat seorang pemuda yang wajahnya mirip sekali dengan Pangeran Yang Kun! Dan kebetulan pula saya mendengar pemuda itu menyebutkan namanya, yaitu Liu Yang Kun!"
Anggota Sha-cap mi-wi yang diperbantukan kepada Yan Kiong Lee itu melapor.
"Liu Yang Kun...? Hei, dimana kau melihat pemuda itu? Hongsiang memang she Liu, maka sudah sewajarnya kalau Pangeran itu bernama Liu Yang Kun!"
Yap Kiong Lee berteriak kegirangan.
Meskipun belum terbukti kebenarannya, namun berita itu benar-benar meledakkan kegembiraan di hati Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.
Sudah terbayang oleh pendekar itu, wajah kaisar junjungannya yang selama ini selalu murung dan tak pernah tersenyum berubah menjadi berseri-seri melihat kedatangan puteranya.
"Hei! Dimana kau melihat Pangeran itu?"
Yap Kiong Lee membentak pembantunya yang malahan menjadi gugup pula melihat kegembiraan atasannya itu.
"Beliau... beliau tadi berada di restoran dekat pasar itu! Tapi sekarang pergi ke palung jurang di Lembah Dalam itu lagi...!"
"Bagus! Panggil kawan-kawanmu! Marilah kita mengejarnya ke sana!"
Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee memberi perintah. Lalu katanya pula kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
"Saudara Souw, aku permisi dulu...!"
Souw Thian Hai cepat melangkah pula ke depan.
"Saudara Yap, bolehkah aku ikut?"
Serunya perlahan.
"Kalau orang itu benar-benar Pangeran Yang Kun aku juga ingin berbicara sebentar dengannya."
"Hei, tentu saja! Marilah!"
Yap Kiong Lee menjawab gembira. Kedua pendekar sakti itu lalu meminta diri kepada Kong-tong Cin-jin dan Ui Bun Ting. Sekejap saja bayangan mereka telah lenyap dari depan ketua partai persilatan itu.
"Hmm, hanya kepada pendekar-pendekar seperti mereka itulah nasib kita ini bergantung. Hanya merekalah yang bisa membebaskan kita dari cengkeraman kuku Si Iblis Penyebar Maut itu."
Kong tong Cin-jin bergumam kepada Hek-bin-hok Ui Bun Ting.
"Benar, Cin-jin. Orang-orang tua seperti kita ini yang di kalangan kang-ouw sudah berada di tingkat atas, karena kita telah menjabat sebagai ketua dari sebuah partai persilatan, ternyata sama sekali tidak dapat disejajarkan dengan pendekar-pendekar muda seperti mereka itu."
Selagi kedua orang tua itu menyesali kelemahan mereka, Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee dan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai telah memacu kuda mereka menuju ke pintu gerbang kota sebelah timur.
Tapi sebelum mereka mencapai pintu kota itu, serombongan perajurit yang dipimpin oleh seorang perwira berpangkat Cianbu, mencegat perjalanan mereka.
Setelah saling menghentikan kuda tunggangan mereka, perwira itu turun dari kudanya.
Dengan amat hormat perwira itu bertanya kepada Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.
"Apakah saya sekarang sedang berhadapan dengan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee?"
Yap Kiong Lee mengangguk.
"Benar. Apakah Cian-bu diutus oleh Gui Cong-tok (Kepala Daerah Gui) untuk menyambutku?"
Pendekar dari kota raja itu bertanya.
"Ya, Maaf kami telah terlambat menyambut Taihiap""
"Hmm... akupun juga meminta maaf pula karena tidak langsung mengunjungi tempat kediaman Gui Cong-tok. Tapi aku memang belum mempunyai kesempatan itu. Kedatanganku ke sini tepat pada saat peristiwa berdarah di Lembah Dalam itu terjadi."
Yap Kiong Lee juga memberi keterangan. Lalu sambungnya lagi.
"Dan sekarangpun... ternyata aku juga belum bisa memenuhi undangan Gui Cong-tok pula. Kalian lihat, aku dan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai ini hendak pergi dulu ke luar kota untuk menyelidiki sesuatu yang maha penting. Dan urusan ini tidak bisa kami tinggalkan, karena menyangkut kepentingan Hong siang sendiri."
"Oh! Kalau begitu, apa yang harus kita kerjakan?"
Perwira itu tiba-tiba bertanya dengan kaget.
"Silahkan Cian-bu kembali dulu untuk memberi laporan kepada Gui Cong-tok. Katakan bahwa aku sedang menyelidiki atau mengurus hal yang sangat penting dan tak bisa ditunda lagi. Baru setelah selesai dengan urusan ini, aku akan datang mengunjungi Gui Cong-tok di rumah."
"Baik! Baik, Taihiap...!"
Kedua rombongan itu lantas berpisah.
Pasukan yang dipimpin oleh perwira itu kembali ke gedung Kepala Daerah, sedangkan rombongan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee meneruskan perjalanan ke luar kota.
Sementara itu jauh di depan mereka, sepasang muda-mudi, Tiauw Kiat Su dan Tui Lan bersama A Cang yang selalu mengikuti di belakang mereka, berjalan tergesa-gesa ke jurang yang dalam itu.
Semakin dekat dengan tempat yang dituju, Tui Lan juga semakin berdebar-debar pula hatinya.
Meskipun Tiauw Kiat Su telah menjanjikan bahwa gurunya tidak kurang suatu apa, namun hatinya tetap merasa khawatir juga.
Sebab pedang yang tergantung di pinggang A Cang itu tak pernah terpisah dari s isi gurunya.
"Kata pelayan penginapan itu, guruku sudah kembali pulang ke penginapan. Tapi kenapa sekarang beliau pergi ke tempat itu lagi?"
Sambil berjalan Tui Lan bertanya kepada Tiauw Kiat Su.
"Wah, entahlah. Aku sendiri juga tidak mengetahuinya, Nona Han. Kudengar di Lembah Dalam tadi malam terjadi bencana maha dahsyat yang membinasakan hampir seluruh pendekar yang berkumpul di kota Soh-ciu ini. Mungkin guru nona hendak melihat tempat yang mengerikan itu."
"Tapi aku dan guruku juga berada di tempat itu pula malam tadi."
Tui Lan cepat menyanggahnya. Kemudian sambil menoleh ke belakang, yaitu ke arah A Cang yang berjalan mengikuti mereka, Tui Lan berkata.
"Hmmh, saudara Tiauw. Mengapa saudara tidak segera berterus terang saja kepadaku? Kalian apakan sebenarnya, guruku itu? Coba lihat pedang yang dikenakan oleh kacungmu itu! Pedang itu adalah pedang guruku!"
Tiauw Kiat Su kelihatan terkejut sekali.
Matanya menatap tajam ke arah kacungnya.
Sebaliknya kacung kecil itu menjadi ketakutan melihat tuannya.
Tapi sesaat kemudian air muka Tiauw Kiat Su itu cepat menjadi biasa kembali.
Dengan pintar pemuda itu menerangkan.
"Ah, jadi... itukah yang membuat nona mencurigai kami? Hahahaha...! Justru guru nonalah yang memberikan pedang itu kepadaku, agar nona benar-benar percaya kepada kami, bahwa diantara kita telah terjalin suatu persahabatan yang sangat mendalam."
"Benar! Benar! Dan sayalah yang membawakan pedang itu, karena Tiauw Siauwya tidak mau membawanya sendiri..."
A Cang dengan cepat menambahkan dengan wajah berseri-seri, seakan-akan terbebas dari belenggu ketakutan.
Tapi semua sandiwara itu tak lepas dari pandang Tui Lan.
Namun sekali lagi gadis itu menyabarkan hatinya.
Pokoknya dia ingin tahu lebih dulu keadaan gurunya.
Setelah itu baru ia akan memikirkan cara untuk menghadapi pemuda itu.
Dan misalnya pemuda itu membohonginya, sehingga kedatangannya ke jurang itu hanya merupakan jebakan saja, dia juga tidak takut.
Pada saatnya yang tepat nanti ia akan melawan pemuda itu sampai titik darah yang penghabisan.
Mereka mendaki bukit itu sehingga bibir jurang yang menjadi jalan turun ke Lembah Dalam itu berada di depan mereka.
Dan sementara itu matahari telah mulai meredup dan siap untuk memasuki peraduannya, sehingga suasana di atas bukit itu juga sudah mulai remang-remang pula.
Senja telah tiba.
Entah mengapa, meremang juga bulu kuduk Tui Lan ketika mengikuti Tiauw Kiat Su dan A Cang menuruni tebing itu.
Bayangan Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong yang telah membunuh ratusan pendekar persilatan di Lembah Dalam itu, kembali terbayang di depan matanya.
"Ah! Mengapa kita berhenti di sini. Mana guruku?"
Tui Lan tiba-tiba berseru ketika Tiauw Kiat Su berhenti di dekat makam Ang-leng Kok-jin yang dibongkar oleh Giok-bin Tok-ong itu.
Tiauw Kiat Su tidak menjawab.
Sebaliknya pemuda itu segera memandang berkeliling malah.
Tampaknya ada sesuatu yang dicarinya.
"Lo-Cianpwe...! Adakah engkau sudah datang?"
Serunya sedikit keras. Tui Lan terperanjat.
"Saudara Tiauw...! Kau mencari siapa?"
Tanyanya.
Terdengar desir angin di dekat mereka dan tiba-tiba saja di depan Tiauw Kiat Su telah berdiri seorang kakek tua yang rambutnya masih hitam legam meskipun kumis dan jenggotnya telah memutih.
Dan Tui Lan benar-benar menjadi terkejut melihatnya, karena kakek tersebut tidak lain adalah Giok-bin Tok-ong, pembunuh berdarah dingin itu!
"Eh!
Mengapa dia...
dia masih berada di sini?
Bukankah dia telah mengatakan bahwa dia hendak pergi ke puncak Hoa-san?"
Tui Lan bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Huh! Kenapa kau sudah kembali kemari? Mana gadis itu, hah?"
Giok-bin Tok-ong menghardik Tiauw Kiat Su.
"Itu... itulah dia!"
Tiauw Kiat Su menjawab dengan suara gugup. Matanya melirik ke arah Tui Lan. Kelihatannya benar kalau pemuda itu sangat takut menghadapi kakek tampan tersebut.
"Hei...? Apakah matamu sudah buta? Bocah yang kumaksudkan itu seorang gadis, bukannya seorang pemuda, tahu?"
Giok-bin Tok-ong berteriak gusar.
"Lo-Cianpwe, dia... dia seorang gadis, bukan pemuda! Dia... dia memang menyamar sebagai... sebagai seorang pemuda."
Dengan cepat Tiauw Kiat Su memotong perkataan iblis tua itu. (Lanjut ke
Jilid 05) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 05
"Hah? Apa katamu?"
Giok-bin Tok-ong menegaskan dengan suara tinggi.
Lalu tiba-tiba saja tubuhnya berkelebat ke arah Tui Lan dan di lain saat topi yang dikenakan oleh gadis itu telah terlepas, sehingga rambut yang panjang itu menjadi terurai lepas kembali.
Kakek itu terbelalak, kemudian lalu tertawa terbahak-bahak.
"Bangsat...! Pandai benar kau melakukan penyamaran! Hahaha...!"
Kakek yang gemar membunuh orang itu lalu melangkah mendekati Tui Lan. Matanya yang tajam mengerikan itu bergetaran seperti mata seekor serigala yang haus darah.
"Gadis kecil, kau tidak lupa kepadaku, bukan? Aku adalah guru Ang-leng Kok jin yang kau kuburkan disana itu."
Kakek itu berkata sambil menunjuk ke dalam lobang yang telah terbuka itu. Lalu sambungnya lagi.
"Sekarang katakan dengan terus terang kepadaku. Apakah muridku itu memberikan sesuatu benda kepadamu? Maksudku... sebuah buku dan sebutir mutiara pusaka sebesar jagung, sebelum dia mati?"
Yakinlah Tui Lan sekarang bahwa Tiauw Kiat Su memang sengaja menjebaknya ke tempat ini atas suruhan Giok-bin Tok-ong.
Hanya gadis itu tidak tahu, ada hubungan apa antara pemuda itu dengan Giok-bin Tok-ong sehingga pemuda itu rela melaksanakan perintah iblis tua tersebut?
"Saudara Tiauw!
Di manakah guruku?"
Gadis itu tidak menjawab pertanyaan Giok-bin Tok-ong, sebaliknya malah bertanya kepada Tiauw Kiat Su.
"Hei! Kau jangan menakut-nakuti aku dengan nama gurumu, ya? Gurumu tidak berada di sini, hahaha. Ayoh, sekarang jawab saja pertanyaanku tadi! Apakah muridku itu menitipkan sebuah buku dan mutiara pusaka kepadamu?"
"Jawab dulu pertanyaanku! Dimanakah guruku?"
Tui Lan tetap tidak mengacuhkan pertanyaan Giok-bin Tok-ong, dan tetap terus mendesak Tiauw Kiat Su.
Entah mengapa, tiba-tiba timbul keberanian gadis itu.
Hilang semua ketakutan dan kengeriannya terhadap Giok-bin Tok ong.
Dan seperti yang telah dikatakannya tadi, pada saat-saat terakhir ternyata ia benar-benar hendak melawan semua lawannya sampai titik darah yang penghabisan.
Melihat ketenangan gadis itu, ternyata Tiauw Kiat Su menjadi terpengaruh juga.
Kegugupannya menjadi hilang.
"Maaf, nona Han. Kau jangan terburu-buru marah dulu kepadaku. Aku memang belum membawamu ke tempat gurumu, karena gurumu itu telah berada jauh dari daerah ini bersama dengan pamanku. Maksudku, sebelum kita menempuh perjalanan yang amat jauh itu, lebih dulu aku mengajakmu kesini untuk menemui Lo-Cianpwe ini. Lo-Cianpwe ini ingin sekali bertemu denganmu."
"Guruku pergi bersama pamanmu yang bernama Tung-hai Nung-jin itu? Kemana mereka pergi?"
"Pulang ke teluk Po-hai!"
"Kau bohong lagi?"
Tiauw Kiat Su tersenyum, sehingga menambah ketampanannya.
"Tidak, nona cantik. Aku berkata sebenarnya..."
Katanya dengan suara manis.
"Hei! Hei! Berhenti! Jangan pacaran di depanku, tahu? Kau bisa tidak kebagian nanti!"
Giok-bin Tok-ong berteriak menengahi pembicaraan mereka. Lalu kakek itu membentak Tui Lan lagi.
"Hei, gadis kecil! Lekaslah kau jawab pertanyaanku tadi! Apakah kau dititipkan sebuah buku dan sebutir mutiara oleh muridku itu?"
Tui Lan terdiam tak bisa menjawab.
Timbul perang batin di dalam hati gadis itu.
Ada keinginan untuk mengembalikan saja buku dan mutiara itu kepada yang empunya.
Bukankah benda-benda pusaka itu memang milik Giok-bin Tok-ong?
Tapi di lain pihak, bila teringat akan kejahatan dan kebengisan kakek tampan itu terhadap sesama manusia, hati Tui Lan menjadi tidak rela.
Ingin rasanya memusnahkan saja buku itu, biar berkurang "pegangan"
Jago tua yang maha sakti itu.
"Hei! Kenapa kau diam saja? Apakah kau ingin digeledah dan ditelanjangi di tempat ini, heh?"
Kakek tampan itu berteriak lagi. Lalu ketika dilihatnya gadis itu tetap diam saja tak menjawab, ia membentak kearah Tiauw Kiat Su.
"Kiat Su! Telanjangi dia!"
"Lo-Cianpwe, ja-jangan... kasihan dia..."
Pemuda yang biasanya juga senang bertindak brutal itu menolak.
"Goblok! Kalau begitu, biarlah aku sendiri yang menelanjanginya!"
"Lo-Cianpwe, jangannnn...!"
Tiauw Kiat Su mencoba menghalangi maksud orang tua itu.
"Plaaak! Bluuung!"
Hanya dengan satu gerakan kecil saja pemuda yang amat lihai itu ternyata sudah terpental jatuh oleh gebrakan Giok-bin Tok-ong.
Selanjutnya, sekali saja tubuh kakek tampan itu berkelebat, maka di lain saat baju luar dan sedikit baju dalam di bagian punggung Tui Lan telah terlepas dengan paksa.
Sehingga sebagian dari punggung Tui Lan yang putih bersih itu menjadi terbuka.
"Aaaiiih!"
Gadis itu menjerit, karena bagaimanapun juga ia berusaha mengelak, tangan iblis tua itu tetap juga dapat mengenainya.
"Kurang ajar! Iblis tua yang tidak tahu malu!"
Tiba-tiba terdengar suara makian disertai berkelebatnya seorang lelaki muda mendatangi. Semuanya menoleh.
"Kau...?"
Tui Lan dan Tiauw Kiat Su berdesah hampir berbareng, begitu melihat pemuda kurus yang ada di restoran tadi telah berada di depan mereka.
"Orang tua! Lepaskan gadis itu!"
Pemuda kurus itu menggeram ke arah Giok-bin Tok-ong.
Semula kakek tampan itu memang kaget melihat kedatangan lawannya yang amat mendadak itu.
Tapi begitu menyaksikan bahwa yang datang cuma seorang pemuda kurus, yang tampaknya belum tahu siapa dirinya, maka kakek itu lantas tertawa menghina.
"Bocah tak tahu diri! Tampaknya kau tadi malam bisa meloloskan diri dari tanganku di Lembah Dalam itu. hehe...! Dan sekarang kau kemari seorang diri hendak menuntut balas atas kematian teman-temanmu itu, hah?"
"Iblis tua! Jadi kaukah yang membunuh ratusan pendekar di palung jurang itu? Hmmh, lega benar hatiku sekarang..."
Tiba-tiba pemuda kurus itu menarik napas lega. Tentu saja Giok-bin Tok-ong menjadi heran melihat sikap pemuda itu.
"Hei, kenapa kau? Mengapa kau menjadi lega malah?"
Teriaknya tak mengerti.
"Aku menjadi lega karena ternyata bukan akulah pembunuhnya...!"
Pemuda itu berkata sambil menengadahkan kepalanya ke atas.
Wajahnya berseri-seri.
Giok bin Tok-ong mengerutkan keningnya, lalu menoleh ke arah Tui Lan dan Tiauw Kiat Su berganti-ganti.
Kakek itu tampaknya menjadi bingung dan tak mengerti akan sikap pemuda itu.
"Ah, kau bisa meloloskan diri dari tanganku, tapi... kini kau tampaknya telah menjadi gila malah!"
Giok bin Tok-ong mencemooh. Sementara itu Tui Lan juga menjadi bingung pula hatinya. Dilihatnya kedua orang itu, si pemuda kurus dan Giok bin Tok-ong.
"Benar-benar belum saling mengenal sebelumnya. Kalau begitu, siapakah yang memborgol pemuda kurus itu kemarin?"
"Wah, celaka! Malam-malam begini sudah ketemu orang gila pula!"
Giok bin Tok-ong menggerutu, lalu memutar tubuhnya kembali ke arah Tui Lan dan tidak mengacuhkan lagi kepada si pemuda kurus.
"Ayoh.! Mana benda-benda itu?"
Hardiknya lagi kepada Tui Lan.
"Jangan hiraukan orang tua itu, nona! Kau pergilah saja dari tempat ini! Lekas! Biarlah kuhadapi sendiri iblis tua ini!"
Pemuda kurus itu tiba-tiba menyela kembali.
"Bocah gila! Pergilah kau dari sini! Aku paling pantang membunuh orang gila!"
Giok-bin Tok-ong berbalik lagi dan berseru dengan gusarnya.
"Dia memang sudah gila, Lo-Cianpwe! Kalau tidak, masakan dia berani berlaku sombong di depanku dan di depan Lo-Cianpwe. Hmmh, Lo-Cianpwe tak perlu turun tangan sendiri! Biarlah Siauwte saja yang mengenyahkannya..."
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su berdiri dan melangkah ke depan pemuda kurus itu.
"Bagus! Bagus! Bolehkah aku ikut menghajarnya, tuan muda?"
A Cang yang sedari tadi diam saja mendadak juga ikut berbicara pula. Matanya kelihatan geram memandang lawannya itu.
"Nanti saja kalau dia sudah kulumpuhkan. Kau boleh berbuat sesukamu terhadap dia."
Tiauw Kiat Su menjawab dengan suara yang amat memandang rendah kepada lawannya. Sebaliknya pemuda kurus itu kelihatan mendongkol juga menyaksikan kecongkakan Tiauw Kiat Su dan kacungnya.
"Hmmm, Tiauw Kiat Su... Meskipun kau belum pernah mengenal aku, tapi aku sudah mengenal semua keluargamu. Kau jangan coba-coba melawan aku, karena pamanmu si Tung-hai Nung-jin itu saja tak menang menghadapi aku. Pergilah!"
Katanya menahan geram. Tiauw K iat Su mengerutkan dahinya.
"Kau jangan membual dan mencoba menakut-nakuti aku. Huh, siapakah kau?"
Bentaknya marah. Tangannya terkepal.
"Namaku Liu Yang Kun! Ayah dan pamanmu sudah tahu siapa aku."
Pemuda kurus yang tidak lain memang Liu Yang Kun itu menjawab tenang.
Pengakuan Liu Yang Kun itu ternyata benar-benar mengejutkan Tiauw Kiat Su dan Giok-bin Tok-ong!
Tiauw Kiat Su kaget karena ia pernah diberitahu oleh ayah dan pamannya, bahwa adiknya pernah berhubungan dengan seorang pemuda yang bernama Yang Kun (baca.
Pendekar Penyebar Maut).
Sedangkan Giok-bin Tok ong terperanjat karena teringat akan cerita Bu-tek Sin-tong tentang seorang pemuda bernama Chin Yang Kun, yang di dalam 'Buku Rahasia' tercatat pada urutan yang ketujuh.
"Kurang ajar! Jadi engkaukah pemuda yang telah berani menggoda dan memikat Tiauw Li Ing itu?"
Tiauw Kiat Su menggeram marah.
"Hei? Namamu Liu Yang Kun atau Chin Yang Kun?"
Giok-bin Tok-ong menegaskan dengan suara tinggi. Liu Yang Kun tidak mempedulikan kemarahan Tiauw Kiat Su. Sebaliknya pemuda kurus itu lalu berdiri menghadapi Giok-bin Tok-ong.
"Kau pernah mendengar namaku pula?"
Katanya kepada kakek tampan itu. Lalu sambungnya lagi,"
Tentang namaku, kau boleh menyebut yang mana saja. Bagiku she Chin atau she Liu adalah sama saja. Sebab ayahku adalah she Liu, tapi sejak kecil, aku telah menjadi anak angkat keluarga Chin..."
"Oh, jadi engkaulah yang ditulis pada urutan ketujuh di dalam Buku rahasia itu?"
Sekejap Liu Yang Kun tampak bingung. Tapi sesaat kemudian pemuda itu lalu tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah, kelihatannya orang tua kerdil itu telah mempengaruhimu pula dengan ceritanya yang aneh-aneh..."
"Jadi kau juga sudah ditemui pula oleh Bu-tek Sin-tong itu?"
"Bu-tek Sin-tong? Siapakah dia?"
Liu Yang Kun atau Chin Yang Kun bertanya bingung.
"Orang tua kerdil itu! Dia kunamakan Bu-tek Sin-tong, karena bentuknya yang seperti anak-anak, namun kesaktian dan kepandaiannya benar-benar tidak terlawan oleh anak-anak kecil yang manapun juga."
"Oh, kalau orang tua itu yang kau maksudkan, aku memang pernah bertemu dengannya. Tapi kejadian itu sudah berlangsung tiga tahun yang lalu..."
"Ketika kau membunuh Hek-eng-cu?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun menjadi tegang.
Matanya seolah-olah menyala di dalam kegelapan malam yang telah melingkupi jurang itu.
Tampaknya pemuda tersebut tidak suka peristiwa tentang Hek-eng-cu itu diungkat-ungkat kembali.
"Jangan sebut-sebut hal itu lagi!"
Pemuda itu membentak.
"Hei? Mengapa...? Mengapa aku tak boleh menyebutkannya? Apakah karena Hek-eng-cu itu pamanmu atau bekas gurumu sendiri? Kau tidak ingin disebut sebagai anak durhaka, begitu!"
Giok-bin Tok-ong berteriak pula dengan tidak kalah garangnya.
"Bangsat! Tampaknya selain kejam, jahat dan suka menghina wanita, kau memang layak untuk dibungkam mulutmu sepanjang masa!"
Liu Yang Kun menggeram marah, lalu meloncat menerjang orang tua itu.
Tapi Tiauw Kiat Su yang sudah bersiap-siap itu segera mencegatnya.
Terdengar suara mendesing ketika kipas besarnya secara mendadak menyambar ke arah perut Liu Yang Kun!
"Kurang ajar!
Sudah kuperingatkan tapi kau tetap juga membandel!
Kau memang patut diberi pelajaran supaya jera!"
Liu Yang Kun berseru, lalu tangan kanannya menyambar ke depan, menyongsong kedatangan kipas itu.
"Whuuusl Bress!"
Jari-jari tangan pemuda itu menghantam kipas Kiat Su! "Auugh...!?!"
Tiauw Kiat Su menjerit kesakitan ketika tiba-tiba kipasnya "pecah' dan lempengan-lempengan baja tipis itu membalik mengenai lengan dan pahanya.
Kontan pemuda congkak itu 'mendekam' di atas tanah dan dari kedua buah pahanya mengalir darah segar dengan derasnya!
Untunglah lempengan-lempengan kipas itu tidak mengenai perut dan dadanya, sehingga jiwanya masih dapat ditolong.
"Siauwya...!"
A Cang cepat menghambur untuk menolongnya.
Tui Lan terbelalak.
Demikian pula dengan Giok-bin Tok-ong.
Mereka sungguh tidak mengira kalau tenaga dalam Liu Yang Kun ternyata sedemikian dahsyatnya.
Tanpa mengenakan alas apapun ternyata pemuda itu berani membentur kipas baja yang amat tajam itu.
Dan hasilnya, justru kipas itulah yang hancur berantakan ketika bentrok dengan jari-jarinya!
"Hei!
Kau memang pantas menduduki urutan ke tujuh.
Tapi kau jangan lekas lekas bergembira dahulu, sebab yang akan kau hadapi sekarang adalah aku, yang berada tiga tingkat di atasmu, hehehe..."
Giok-bin Tok-ong membuka mulutnya sambil tertawa. Seperti halnya para ahli silat tinggi, kakek itu menjadi amat gembira bila berjumpa dengan lawan yang "berat".
"Persetan dengan Buku Rahasia itu! Aku tidak akan percaya pada urut-urutan nama itu sebelum aku membuktikannya sendiri! Dan aku juga tidak peduli apakah namaku tercantum atau tidak di dalam buku itu. Yang penting adalah orangnya. Meskipun namaku tidak tercantum di dalam buku itu, tapi kalau aku bisa mengalahkanmu, apa mau dikata?"
Liu Yang Kun menyahut dengan suara tinggi.
"Bagus! Pendapat itu benar-benar cocok dengan hatiku.Nah, kalau begitu kita tak perlu banyak omong lagi. Ayoh kita tentukan, siapa yang lebih tinggi diantara kita ini!"
Selesai bicara iblis tua itu lalu menerjang Liu Yang Kun.
Dengan jari-jari terbuka seperti cakar garuda, orang tua itu mencengkeram ke arah pundak dan serangkum udara berbau amis ikut berhembus ke arah hidung Liu Yang Kun.
Dengar tangkas pemuda itu menghindar ke kiri.
Kemudian berbareng dengan itu tubuhnya berputar ke kanan, seraya menjulurkan kaki kanannya ke depan dalam jurus Liong-ong-sao-tee (Raja Naga Menyapu Tanah).
Kaki itu menyerang kedua lutut lawannya!
Jurus itu sebetulnya tidak istimewa, namun kecepatan dan kekuatannyalah yang sangat mendebarkan hati Giok-bin Tok-ong.
Kaki pemuda itu rasa-rasanya lalu berubah menjadi puluhan banyaknya dan angin yang amat dingin tiba-tiba saja terasa menebar, menyentuh kulit Giok-bin Tok-ong, sehingga kakek itu hampir menggigil karenanya.
Hembusan hawa amis yang keluar dari tangan Giok bin Tok-ong tadi segera punah dihantam gelombang udara dingin itu.
"Bagus!"
Kakek tampan itu memuji, lalu menggeliat menghindari kaki lawannya.
Tapi betapa kagetnya kakek itu ketika kaki lawannya itu menjadi bertambah panjang dan tetap mengejarnya!
Tak ada jalan lain lagi bagi kakek itu selain menangkis serangan kaki tersebut dengan siku tangannya!
"Bresssssssssss!"
Liu Yang Kun terjengkang dan kemudian jatuh terduduk.
Sedangkan Giok-bin Tok-ong yang mempunyai posisi yang tidak atau kurang menguntungkan itu terlempar ke belakang, sehingga membentur dinding jurang!
Keduanya sama-sama terluka bagian dalam tubuhnya.
Hanya saja tampaknya kakek tampan itu lebih parah bila dibandingkan dengan Liu Yang Kun.
"Bangsat kecil...! Aku benar-benar telah berlaku sembrono menghadapi engkau! Seharusnya sejak semula aku menyadari bahwa kau adalah orang yang juga ikut terdaftar dalam Buku Rahasia!"
Giok-bin Tok-ong menggeram seraya mengusap darah yang menetes dari mulutnya.
"Hmmh! Akupun tak menyangka orang setua kau masih juga mampu menahan tendanganku, huk..."
Liu Yang Kun berkata pula sambil berludah.
Ludah yang telah bercampur dengan sedikit darah pula.
Sementara itu Tui Lan dan Tiauw Kiat Su benar-benar bergetar hatinya menyaksikan gebrakan pertama yang sangat mendebarkan itu.
Mereka sungguh merasa sangat kecil bila diperbandingkan dengan kedua jago sakti itu.
Dan bagi Tiauw Kiat Su, apa yang telah dilihatnya itu benar-benar menggugah kesadarannya.
Ternyata semua yang dipelajarinya dan dimilikinya selama ini belumlah apa apa bila dibandingkan dengan kepandaian pemuda kurus itu.
Beberapa saat kemudian pertempuran antara Giok-bin Tok-ong dan Liu Yang Kun itupun berlangsung pula dengan sengitnya.
Mula-mula mereka masih mengandalkan ketangkasan dan ketrampilan kaki-tangan mereka, yang dilandasi ginkang serta lweekang mereka.
Namun setelah beberapa jurus lamanya mereka belum juga dapat mengatasi lawannya, keduanya lalu meningkatkan kemampuan masing-masing dengan ilmu andalannya.
Sambil memukul dan menyerang, berulang kali Giok-bin Tok-ong membuka dan menutup telapak tangannya.
Dan didalam arena pertempuran itupun segera tersebar bau wangi, busuk, kecut, amis dan lain sebagainya.
Dan setiap bau tersebut ternyata mempunyai pengaruh sendiri-sendiri.
Ada yang begitu terhisap membuat kepala menjadi pening.
Ada yang membikin mata menjadi mengantuk.
Ada pula yang mengakibatkan seluruh urat-urat di dalam tubuh menjadi lemas.
Malahan ada pula yang begitu terhisap membuat orang menjadi hilang kesadarannya.
Sebaliknya dari bibir Liu Yang Kun yang terkatup rapat itu tiba-tiba terdengar suara desis yang amat tajam, menyerupai desis ular kobra yang sedang marah!
Dan selanjutnya hawa dingin yang tadi telah membuat Giok-bin Tok-ong kedinginan, menjadi berlipat ganda lagi dinginnya!
Begitu dinginnya arena itu sehingga rasa-rasanya telah terjadi badai salju di dalam jurang itu!
Tapi yang sangat menderita adalah Tui Lan, Tiauw Kiat Su dan A Cang.
Ketiga orang yang sebenarnya juga bukan orang sembarangan itu ternyata tidak tahan menerima hantaman gelombang udara dingin, yang bercampur dengan bau-bauan berbahaya itu.
Dengan tubuh dan perasaan yang tidak keruan, mereka beringsut menjauhi arena pertempuran itu.
"Gila! Orang itu betul-betul gila! A Cang, ayolah gendong aku keluar dari tempat ini!"
Tiauw Kiat Su yang terluka pahanya itu mengeluh.
"Nanti kita kembali lagi setelah pemuda itu dapat dijinakkan oleh Giok-bin Tok-ong."
Demikianlah ketiga orang itu melihat pertempuran tersebut dari kejauhan.
Tui Lan agak lebih baik keadaannya dari pada Tiauw Kiat Su dan A Cang.
Dengan Po-tok-cu yang tersimpan di dalam sakunya gadis itu terbebas dari pengaruh racun yang disebar oleh Giok-bin Tok-ong.
Namun demikian gadis itu tidak terbebas dari pengaruh udara dingin yang menghembus dari tubuh Liu Yang Kun.
Sementara itu pertempuran antara dua jago silat kelas tinggi itu benar-benar semakin dahsyat dan mengerikan.
Liu Yang Kun yang masih muda itu telah mengeluarkan ilmu andalannya, Kim-coa ih-hoat yaitu sebuah ilmu silat aneh dan mengerikan.
Dengan Liong-cu i-kangnya yang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, pemuda itu mempermainkan sendi-sendi tulangnya, sehingga pemuda itu dapat bergerak lemas seperti sebuah boneka dari karet tangan dan kakinya bisa memanjang dan memendek sesuka hatinya sementara sambungan siku dan lututnya dapat ditekuk ke muka dan ke belakang pula tanpa kesukaran.
Dapat dibayangkan betapa repotnnya Giok-bin Tok-ong menghadapi ilmu lawannya yang masih sangat muda itu.
Tubuhnya terpaksa jatuh bangun menghindari gerakan lawan yang luar biasa aneh dan tak lumrah manusia itu.
Padahal serangan udara dingin itu benar-benar amat melelahkan tubuhnya, sehingga hampir saja kakek Iblis itu menjadi putus asa karenanya.
Untunglah ketika mendapatkan waktu untuk bernapas, kakek itu memperoleh kesempatan untuk mengeluarkan senjata andalannya.
"Dhuaaaaaaaar...!"
Sebuah ledakan yang maha dahsyat membuat Liu Yang Kun terlempar jauh tinggi ke udara, untuk kemudian seperti layang-layang putus pemuda itu jatuh kembali ke atas tanah.
"Brrrug!"
Pemuda itu jatuh berdebam di atas tanah.Tapi dengan tangkas pemuda itu bangkit kembali.
Dari sudut bibirnya menetes darah segar.
Tubuhnya sedikit terhuyung-huyung dan pakaiannya sekarang menjadi compang-camping akibat ledakan itu.
Namun demikian kulit tubuhnya tetap utuh tak kurang suatu apa sehingga diam-diam Giok-bin Tok-ong merasa heran dan takjub juga.
Selama ini tak seorangpun bisa hidup, apalagi masih utuh badannya, terkena senjata pek lek-tan (peluru-petir) kepunyaannya itu.
"Lblis tua...! Kau benar-benar keji dan licik luar biasa. Tak heran ratusan pendekar persilatan itu telah mati di tanganmu. Hmm.. untunglah aku yang terkena senjata peledakmu itu.Kukira kalau orang lain akan hancur berserakan dihantam pelurumu itu,"
Liu Yang Kun menggeram dengan suara terengah-engah.
Bagaimana pun hebat dan kuat tenaga dalamnya, namun ledakan peluru lawannya tadi benar benar menggoncangkan tubuhnya dan melukai bagian dalam badannya.
"Anak iblis! Anak setan! Tampaknya kau mempunyai ilmu kebal Tiat-poh-san sehingga kulitmu menjadi liat dan tulangmu menjadi keras seperti besi. Tapi pertempuran ini belumlah selesai. Peluruku masih banyak dan aku tak percaya ilmu kebalmu dapat bertahan terus terusan."
Giok-bin Tok-ong menantang dengan suara penasaran.
Sementara itu, melihat keadaan Liu Yang Kun itu, Tui Lan menjadi terharu dan tak sampai hatinya.
Bagaimana pun juga pemuda itu datang untuk menolong dia.
Maka tanpa memikirkan keselamatan dirinya lagi, Tui Lan lalu berlari menghampiri Liu Yang Kun.
"Taihiap! Kau jangan mempertaruhkan jiwamu hanya untuk menolong aku. Tinggalkan saja aku di sini! Biarlah kakek itu membunuh aku""
Gadis itu memohon dengan suara sungguh-sungguh.
Liu Yang Kun terkejut melihat gadis yang hendak diselamatkannya itu ternyata belum juga pergi meninggalkan jurang itu.
Kini dengan keadaan dirinya yang sudah terluka dalam itu si gadis malah datang mendekati dia.
Bagaimana pula dia harus menyelamatkan gadis itu?
"Nona...!
Kenapa kau belum juga meninggalkan tempat ini?
Pergilah cepat selagi aku masih bisa menghalanginya!"
Liu Yang Kun membentak.
"Tidak! Aku tidak akan pergi kalau Liu Taihiap tidak mau pergi."
"Hahaha...! Jangan bermimpi kalian bisa meninggalkan aku! Kalian berdua harus mati di tempat ini. Nah, bersiaplah...!"
Giok-bin Tok-ong cepat menghentikan perdebatan mereka, sementara tangannya telah mempersiapkan sebutir peluru pek-lek-tan lagi.
"Nona! Cepatlah kau lari dari tempat ini! Cepat...!"
Di dalam kegelisahan dan kekhawatirannya Liu Yang Kun berteriak ke arah Tui Lan.
"Tidaaaak! Aku tidak mau meninggalkan Liu Taihiap!"
Sebaliknya Tui Lan juga menjerit dan kemudian malah menghambur datang, serta memeluk badan pemuda yang sedang mati-matian menolongnya itu.
Dan gadis itu sama sekali juga tidak peduli lagi kalau tubuh atasnya yang nyaris terbuka itu akan terlihat oleh orang lain.
Mendadak badan Liu Yang Kun bergetar dengan hebatnya!
Tenaga sakti Li-ong-cu-i-kang yang berada di dalam tubuh pemuda itu tiba-tiba bergolak dengan dahsyatnya, sehingga pemuda itu sendiri menjadi kewalahan mengendalikannya.
Otomatis hawa dingin yang melancar dari tubuh pemuda itupun semakin menjadi berlipat-ganda pula dahsyatnya.
Namun anehnya, darah yang mengalir di dalam tubuh pemuda itu sebaliknya justru menjadi panas malah!
Begitu panasnya sehingga pemuda itu menjadi kegerahan dibuatnya.
"Nona, kau... kau pergilah! Ja-jangan peluk a-aku! Sangat ber-ber-bahaya...! Kau... kau ooh!"
Seperti orang yang sedang mabuk Liu Yang Kun mencoba menasehati Tui Lan agar menjauhi dirinya.
Matanya semakin lama semakin merah dan hampir tak mau lekang dari leher yang jenjang serta punggung yang mulus kepunyaan Tui Lan itu.
Tapi gadis itu sama sekali tak menyadari akan datangnya bahaya yang lain' itu karena semakin tidak tahan menghadapi hawa dingin yang melanda udara di sekitarnya, gadis itu justru semakin melekatkan tubuhnya ke badan Liu Yang Kun yang panas.
Gadis itu baru menjadi kaget ketika Liu Yang Kun yang dipeluknya itu tiba-tiba menggeram hebat, lalu...
balas memeluk dirinya, dan...menciumi leher serta punggungnya yang terbuka itu dengan penuh nafsu!
"Ini...
ini...
oh, Taihiap...
kau...
Kau kenapa?"
Tui Lan menjerit dan meronta-ronta.
Kulitnya merinding.
Namun seperti seekor binatang buas yang kelaparan, Liu Yang Kun terus saja menerkam dan tak mau melepaskan mangsanya, Tui Lan.
Sifatnya yang halus dan suka menolong tadi seketika menjadi hilang, dan tiba-tiba saja berubah menjadi buas tak terkendalikan lagi.
Untunglah sebelum semuanya menjadi terlanjur, serangan dari Giok-bin Tok-ong datang menyelamatkannya.
"Siuuuutt..."
Serangkum angin beracun mendahului jari-jari Giok-bin Tok-ong yang menotok kearah ubun-ubun Liu Yang Kun dan bau busukpun segera menyebar menusuk hidung.
Meskipun sedang "lupa diri", ternyata Liu Yang Kun tidak lupa akan keselamatan dirinya.
Melihat dirinya dalam ancaman bahaya, otomatis tangannya melepaskan tubuh Tui Lan, kemudian menyongsong serangan lawannya dengan kekuatan penuh.
"Phlaaaaaakh! Phlaananakh!"
Kedua telapak tangan mereka yang penuh sinkang itu bertemu di udara!
Suaranya nyaring menggetarkan udara malam di dalam jurang itu!
Dan akibatnya sungguh hebat sekali!
Masing-masing terpental balik dengan kuatnya, bagaikan dua buah bola karet yang saling berbenturan di udara, untuk kemudian jatuh bergulingan di atas tanah!
Meskipun tidak berada langsung pada garis pukulan kedua orang sakti itu, namun karena Tui Lan tadi juga berada di dalam arena pertempuran tersebut, maka dia juga ikut terkena sambar angin pukulan mereka pula.
Bahkan seperti dihempaskan oleh hembusan badai yang amat kuat, tubuh gadis itu ikut terlempar pula ke arah yang berbeda.
Walaupun demikian, ketika bangun kembali, dan melihat tubuh Liu Yang Kun tergeletak tidak jauh dari tempatnya gadis itu segera berlari menubruknya.
Lupa sudah gadis itu akan perangai Liu Yang Kun yang menakutkan dan mendirikan bulu-roma tadi.
Kali ini keadaan Liu Yang Kun tampaknya benar-benar amat parah.
Dari mulut dan hidung itu tampak keluar darah.
Tapi dengan demikian 'kebuasan' yang tadi tampak dengan tiba-tiba 'menguasai"
Jiwa pemuda itu justru menjadi lenyap malah!
Kini pemuda itu kelihatan normal kembali.
Malah ketika melihat Tui Lan datang menubruknya, pemuda itu segera bangkit pula dengan tertatih-tatih.
Kemudian ketika dilihatnya Giok-bin Tok-ong juga terkapar di atas dan sedang berusaha untuk bangun pemuda itu bergegas menarik lengan Tui Lan untuk dibawa pergi meninggalkan tempat itu.
Pemuda itu masih melihat bahaya yang mengancam jiwa mereka, karena di telapak tangan iblis tua itu masih tergenggam peluru pek-lek-tan itu.
Dan secara tidak sengaja pemuda itu berjalan menuju palung jurang yang dinamakan orang Lembah Dalam itu.
Namun sungguh tidak beruntung bagi mereka, karena malam itu langit amat cerah, bintang bertaburan, dan bulanpun bersinar dengan terangnya, sehingga jurang itu menjadi terang-benderang pula sampai ke sudut-sudutnya.
Apalagi saat itu tidak ada kabut yang melintas di dalam jurang itu.
Oleh karena itu, meskipun mereka berdua telah jauh meninggalkan arena tersebut, tetap saja dapat dilihat oleh Giok-bin Tok-ong yang juga sudah "siuman"
Dari getaran pukulan Liu Yang Kun.
Dengan menahan geram iblis tua itu mengumpat dan terhuyung-huyung mengejar mereka.
Tangan kanannya teracung keatas, siap untuk melontarkan Pek-lek-tan yang tergenggam di dalam tangannya.
"Cepat, nona! Kita turun ke dalam palung jurang itu! Kita bersembunyi di sana..."
Liu Yang Kun berbisik dengan suara tegang.
Biarpun dengan amat sukar, karena dua-duanya memang telah menderita luka dalam, namun ternyata mereka dapat juga menuruni tebing terjal itu.
Tapi ketika mereka sudah hampir mencapai dasar palung, tiba-tiba Tui Lan yang keadaan tubuhnya agak lebih baik daripada Liu Yang Kun melihat Giok-bin Tok-ong sudah mencapai puncak tebing itu pula.
Malah dari atas iblis tua itu melemparkan peluru Pek-lek-tan yang ada ditangannya ke bawah, kearah mereka.
"Liu Taihiap, awaaasss...!"
Gadis itu memekik kuat-kuat.
Liu Yang Kun juga melihat bahaya itu!
Dengan sigap lengannya menyambar pinggang Tui Lan, Kemudian menghentakkan kakinya untuk meloncat sejauh-jauhnya ke samping agar terhindar dari letusan peluru Pek-lek-tan lawannya itu.
"Wuuuttt! Bhhaaaaarr...!"
Peluru itu lewat di samping mereka kemudian jatuh ke tanah di dasar palung itu dengan kerasnya!
Terdengar suara ledakan menggelegar yang mengguncangkan seluruh isi palung jurang tersebut, sehingga batu-batu kecil tampak berguguran ke bawah, seperti sebuah bukit yang mau runtuh saja layaknya.
Dan berbareng dengan itu tercium pula bau busuk yang amat keras dari lobang bekas ledakan tersebut.
Dan bau tersebut benar-benar mengganggu pernapasan mereka.
Biarpun telah meloncat menghindar namun hembusan angina yang diakibatkan oleh ledakan itu tetap saja melemparkan mereka sampai tiga tombak jauhnya dari tempat mereka semula.
Untunglah dasar palung jurang tersebut sudah mereka capai tadi, sehingga mereka tidak terhempas dari tempat yang tinggi ketika ledakan itu terjadi.
Namun bau busuk itu masih tetap saja membuat pening kepala mereka berdua.
"Bangsat! Jangan lari kalian...! Ayoh, terimalah sebutir Pek-lek-tan lagi!"
Melihat korbannya masih bisa lolos, Giok-bin Tok-ong berteriak penasaran.
Kemudian sambil mengeluarkan sebutir Pek-lek-tan lagi, kakek itu bergegas menuruni tebing mengejar kedua muda-mudi itu.
Tapi karena kakek itu pun juga sudah terluka pula, maka gerakannya juga tidak lebih cepat daripada Liu Yang Kun maupun Tui Lan.
Liu Yang Kun dan Tui Lan berjalan tersaruk-saruk melangkahi gundukan makam yang Berpuluh-puluh banyaknya itu sementara agak jauh di belakang mereka Giok-bin Tok-ong dengan jalannya yang juga terhuyung-huyung itu, tampak berusaha mengejar mereka.
Namun karena Liu Yang Kun harus melawan rasa peningnya, apalagi ia harus "setengah menyeret"
Bebannya, yaitu Tui Lan, maka jarak diantara merekapun juga semakin dekat pula.
Sehingga ketika pemuda itu telah berada di mulut gua yang dimasuki oleh Tui Lan kemarin, jarak diantara mereka sudah cukup bagi Giok-bin Tok-ong untuk melemparkan peluru mautnya.
"Liu...Liu Taihiap, dia...dia telah berada di belakang kita!"
Tui Lan berdesah dengan suara serak karena gelisah dan takutnya.
"Gila! Iblis tua itu benar-benar sulit dilawan, terutama senjata peledaknya...!"
Liu Yang Kun berdesah khawatir pula. Khawatir terhadap keselamatan Tui Lan.
"Hahaheheh...! Mau lari kemana lagi kalian sekarang? Nih, terima lah sebutir Pek-lek-tan lagi untuk meledakkan tubuh kalian berdua, hehehe..."
Kakek itu mengejek seraya mengayunkan tangannya yang mencengkeram peluru mautnya.
"Ssssiiiiiinngg...!"
Tapi pada saat yang bersamaan, tiba-tiba di depan Liu Yang Kun dan Tui Lan berkelebat dua sosok bayangan, yang dengan cepat berusaha melindungi mereka dari keganasan peluru Pek-lek-tan itu.
Dan dua sosok bayangan tersebut adalah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Hong-liu-kun Yap Kiong Lee.
Masing-masing mengerahkan pukulan udara kosongnya untuk mengembalikan senjata maut itu.
"Pangeran...!"
Yap Kiong Lee masih sempat menyapa Liu Yang Kun, sementara Souw Thian Hai hanya melemparkan senyumnya saja kepada pemuda itu.
"Aaah!"
Liu Yang Kun memekik kecil begitu mengenali kedua orang itu. Tapi di lain saat otaknya segera teringat kembali akan bahaya yang mengancam mereka semua. Oleh karena itu teriaknya kuat-kuat.
"Awaaas! Benda itu akan meledak! Hindarilah dia jauh-jauh! Cepaaaattt...!"
Peluru maut itu terpental balik terkena dorongan angin pukulan Souw Thian Hai dan Yap Kiong Lee. Tapi hal itu justru mempercepat ledakan peluru maut tersebut! "Dhuaaaar...!"
Sekali lagi tempat itu digetarkan oleh suara ledakan yang maha dahsyat.
Dan empat orang yang berada di dekat ledakan itupun segera terlempar ke udara, untuk selanjutnya jatuh kembali ke atas tanah dengan luka dalam yang cukup parah.
Untunglah dalam kesempatan yang amat mendesak tadi Liu Yang Kun cepat mendorong tubuh Tui Lan sekuatnya, sehingga waktu ledakan itu terjadi, Tui Lan telah terlempar menjauhi arena.
Meskipun demikian tubuh gadis itu masih terguncang juga dengan hebatnya.
Souw Thian Hai yang terhempas oleh daya ledakan peluru Pek-lek-tan itu jatuh ke tanah dalam posisi tetap berdiri!
Namun demikian seluruh pakaian yang ia kenakan telah hancur compang-camping.
Tidak ada luka yang menggores kulit dan daging pendekar sakti itu, tapi dari sudut bibirnya tampak menetes darah segar.
Sungguh amat berbeda dengan keadaan Yap Kiong Lee.
Jagoan nomer satu dari kota raja itu ternyata lebih parah keadaannya daripada Souw Thian Hai.
Selain terbanting ke tanah dengan pakaian yang compang-camping, pendekar itu ternyata terus tergeletak dan tak bisa bangun kembali.
Dari mulut dan hidungnya mengalir darah yang cukup banyak pula.
Tapi yang paling parah adalah Liu Yang Kun!
Tiga kali terhempas oleh ledakan Pek-lek-tan itu benar-benar membuatnya tak berdaya.
Pemuda sakti itu lalu pingsan begitu tubuhnya terbanting di atas tanah.
Sebaliknya yang paling ringan adalah Tui Lan.
Selain rasa pening dan getaran yang mengguncangkan isi dadanya itu, gadis itu hampir tidak mengalami luka dalam yang berarti.
Hanya saja hembusan angin ledakan itu ternyata juga masih mampu menyobek-nyobek pakaian yang masih tersisa di badannya, meskipun juga tidak separah yang lain.
Tui Lan terhempas di dekat mulut gua itu bersama dengan tubuh Liu Yang Kun.
Dan ketika gadis itu bangkit berdiri, terasa buku pemberian Ang-leng Kok-jin itu terjatuh dari sakunya yang telah bolong.
Gadis itu bergegas memungutnya.
Namun gadis itu menjadi heran melihat ada empat buah buku di bawah kakinya!
Dalam keadaan bingung dan tergesa-gesa, gadis itu segera mengambil saja semuanya.
Lalu dengan maksud untuk segera menyelamatkan diri dari kejaran Giok-bin Tok-ong, gadis itu lalu buru-buru menyeret tubuh Liu Yang Kun masuk ke dalam lobang gua itu.
"Bangsat! Jangan lari...!"
Giok-bin Tok-ong berseru dan mempersiapkan sebutir Pek-lek-tan lagi.
Tapi dengan gagah perkasa Souw Thian Hai berdiri menghalanginya.
Sambil mengerahkan Ang-pek-sinkang (tenaga sakti Merah dan Putih) ke ujung jari-tangannya, pendekar sakti itu mengayunkan tangannya menyilang ke depan.
Dan sekejap kemudian selarik sinar berwarna kemerahan melesat dari ujung jari tangan tersebut, menuju kearah perut Giok-bin Tok-ong!
Bukan main terkejutnya iblis tua itu!
Meskipun tubuhnya telah menderita luka dalam yang cukup parah, namun sebagai orang yang memiliki kesaktian tinggi, orang tua itu dengan cepat bisa melihat ilmu Souw Thian Hai yang berbahaya itu!
Orang tua itu berusaha mengelak sebisanya!
Tapi karena dia juga tidak ingin kehilangan Tui Lan dan Liu Yang Kun, maka sedapat-dapatnya pula ia membidik lobang gua tersebut dengan peluru Pek-lek-tan yang digenggamnya!
Maka dalam waktu yang hampir bersamaan, beberapa hal telah berlangsung dengan cepatnya!
"Siiiiiinnng!"
Peluru maut itu meluncur kearah sasarannya.
"Ssrrrrt!"
Sinar merah yang keluar dari ujung jari tangan Souw Thian Hai itu 'memotong' ujung lengan baju Giok-bin Tok-ong, kemudian 'mengiris' pula lembaran baju yang menutup perut orang tua itu beserta sedikit kulit dagingnya juga, sehingga yang terakhir ini tampak meringis kesakitan.
"Dhuuuuuaaaaaarr...!"
Pek-lek-tan yang meluncur masuk ke dalam lobang gua itu meledak dengan hebatnya.
Begitu dahsyatnya ledakan peluru Pek-lek-tan yang masuk ke dalam lobang kecil itu, sehingga dinding tebing di mana lobang gua itu berada tampak bergetar dengan hebatnya!
Dan sejenak kemudian terdengar suara gemuruh, ketika tembok tebing yang tinggi itu longsor ke bawah!
Suasana di tempat itupun lantas seperti neraka!
Debu mengepul tinggi!
Dan suara hiruk-pikuk yang memekakkan telinga!
Sementara batu-batuan sebesar gajah tampak melayang berjatuhan ke bawah, bersama dengan ratusan ton batu kerikil dan tanah!
Souw Thian Hai cepat menyambar tubuh Hong-liu-kun Yap Kiong Lee dan membawanya lari dari tempat itu.
Dengan tangkas pendekar sakti itu berlari ke tebing yang lain, kemudian merayap keluar dari Lembah Dalam yang amat mengerikan itu.
Giok-bin Tok-ong yang tidak menyangka bahwa senjata peledaknya bisa meruntuhkan dinding tebing tinggi itu, menjadi ketakutan akhirnya.
Dengan sekuat tenaga yang masih tersisa pada dirinya, orang itu terpincang-pincang pula melarikan diri.
Sambil terbatuk-batuk akibat debu yang tebal itu Giok-bin Tok-ong mati-matian merayapi tebing terjal tersebut.
Beberapa kali kakinya tergelincir, sehingga tubuhnya kembali melorot turun.
Namun demikian, orang tua itu tidak menjadi putus-asa.
Ketakutan akan terkubur hidup-hidup di dasar palung itu membuatnya mampu menaiki tebing terjal tersebut.
Sementara itu neraka di dalam palung jurang itupun berlangsung terus hingga selesai.
Debu yang tersebar tampak membubung tinggi mencapai awan.
Dan akhirnya, hampir separuh dari palung yang disebut orang dengan Lembah Dalam, dimana ratusan pendekar persilatan menemui ajalnya dan dikuburkan pula itu, kini tampak hampir rata dengan dasar jurang itu.
Souw Thian Hai meletakkan tubuh Yap Kiong Lee di atas sebuah batu besar, lalu menonton tebing longsor tersebut dari kejauhan.
Lima orang pengawal Yap Kiong Lee yang menunggu di tempat itu cepat menyongsongnya.
Semuanya terperanjat melihat keadaan pemimpin mereka yang tergolek diam diatas batu itu.
"Souw Taihiap! Ada apa dengan Yap Taihiap ini?"
Mereka berseru dengan suara khawatir.
Dan semuanya menatap wajah Souw Thian Hai yang lusuh, kotor dan penuh debu itu dengan pandang mata heran.
Apalagi menyaksikan pakaian Souw Thian Hai yang hancur itu.
"Saudara Yap menderita luka dalam karena terkena ledakan senjata seseorang. Cepatlah kalian bantu memulihkan tenaganya dengan saluran sinkang saudara..."
Souw Thian Hai berkata datar serta agak sendu. Ada sepercik penyesalan di dalam dada pendekar ini karena tak mampu menolong Pangeran Liu Yang Kun tadi.
"Uuuhh...! Saudara Souw, dimanakah Pangeran Yang Kun tadi? Apakah beliau selamat?"
Tiba-tiba Yap Kiong Lee menggeliat dan bertanya dengan suara serak. Souw Thian Hai berpaling. Dipandangnya sahabatnya itu dengan wajah penuh penyesalan.
"Maaf, saudara Yap. Aku gagal menyelamatkannya. Iblis tua itu benar-benar lihai sekali. Aku tak mampu menjinakkan senjata peledaknya, sehingga Pangeran Yang Kun... terkubur di dasar palung itu bersama teman gadisnya."
"Aaah!"
Yap Kiong Lee berseru kecewa sekali.
Hilang sudah bayangan kegembiraan Kaisar Han di hatinya.
Sebaliknya pendekar istana itu tak berani membayangkan, apa jadinya bila berita itu nanti didengar oleh Baginda Kaisar Han.
"Pangeran Yang Kun terkubur di bawah reruntuhan tanah longsor itu?"
Anggota Sha-cap mi-wi yang siang tadi memberi laporan tentang Pangeran itu berseru kaget pula.
"Sudahlah...! saudara Yap, kau tak perlu bersedih hati! Semuanya memang diluar kemampuan kita. Lihat saja, kau terluka parah dan akupun menjadi sedemikian rupa! Hancur seluruh pakaianku...eh?!"
Tiba-tiba Souw Thian Hai tersentak kaget. Kedua tangannya sibuk mencari kesana-kemari antara pakaiannya yang telah compang-camping.
"Kau kehilangan sesuatu, saudara Souw?"
Yap Kiong Lee bertanya dengan kening berkerut.
"Celaka...! buku-buku itu telah hilang!"
Souw Thian Hai berseru tertahan.
"Buku-buku...? Buku apakah itu?"
Pendekar sakti itu menghela napas panjang. Matanya memandang palung jurang yang kini telah hampir rata dengan tanah itu.
"Buku-buku pusaka peninggalan Bit-bo-ong (Si Raja Kelelawar) almarhum, tampaknya telah terjatuh dari sakuku dan ikut terkubur di dalam palung itu..."
Katanya pasrah.
"Bit-bo-ong yang sangat terkenal pada ratusan tahun yang lalu?"
Salah seorang dari anggota Sha-cap mi-wi itu menegaskan dengan kaget.
"Kau pernah mendengar nama itu?"
Souw Thian Hai menoleh dan bertanya.
"Tentu saja, Souw Taihiap. Siapakah yang tak pernah mendengar nama tokoh hitam yang sangat terkenal itu? Demikian termashurnya tokoh itu sehingga namanya telah beberapa kali dipakai oleh anak muridnya untuk menghidupkan kembali masa kejayaannya."
Orang itu menjawab.
"Hanya saja yang sangat membingungkan hati kami adalah mengapa buku peninggalan iblis terkenal itu berada pada Souw Taihiap?"
Souw Thian Hai menunduk lesu. Raut wajahnya tak menunjukkan kegembiraan ketika menjawab pertanyaan itu.
"Iblis itu masih terhitung sebagai keluargaku, keluarga Souw. Beliau adalah adik dari kakek buyutku sendiri. Itulah sebabnya semua pusaka warisannya berada ditanganku. Tapi... Buku-buku itu telah hilang sekarang, sehingga tinggal pisau dan mantel pusakanya saja yang tersisa."
Pendekar sakti itu menerangkan seraya mengeluarkan lipatan mantel pusaka dan pisau berdarah itu dari lipatan ikat pinggangnya, untuk kemudian mengenakannya sekalian di tubuhnya agar tidak hilang.
Semuanya melongo menyaksikan Souw Thian Hai yang bertubuh tinggi besar itu.
Pendekar sakti itu menjadi sedemikian gagah dan kerennya setelah mengenakan mantel lebar yang menutupi pundak dan seluruh tubuhnya itu.
Pakaiannya yang compang-camping itu kini telah tertutup oleh warna hitam mengkilat dari mantel pusaka yang sangat bersejarah tersebut.
Dan ketika mantel itu sedikit tersingkap oleh angin yang bertiup, tampaklah gagang pisau pusaka yang dihias permata berlian itu berkeredep seperti belasan kunang-kunang di malam hari.
Sekejap mereka tertegun.
Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa segan dan ngeri di hati mereka melihat dandanan pendekar sakti itu.
Dan entah apa sebabnya pula tiba-tiba kegelapan malam di dalam jurang itu menimbulkan perasaan takut di hati mereka.
"Agaknya memang sudah benar-benar saatnya aku mengenakan ciri-ciri kebesaran keluargaku, untuk menghadapi iblis yang mengganggu dunia persilatan seperti orang tua yang membawa senjata peledak itu sekarang."
Pendekar itu berkata perlahan. Lalu sambungnya lagi.
"Dan juga... Sekalian untuk mengembalikan nama baik benda-benda pusaka ini, yang semula memang dikenakan oleh pendekar besar pembela keadilan!"
"Ini... inikah mantel pusaka yang tidak mempan oleh senjata tajam itu?"
Anggota Sha-cap mi-wi tadi bertanya lagi dengan suara gemetar. Souw Thian Hai mengangguk. Namun yang kemudian menjawab pertanyaan itu adalah Yap Kiong Lee sendiri, bukan Souw Thian Hai.
"Tentu saja. Akupun pernah melihat benda itu sebelumnya. Hmmh, apakah kau tidak percaya? Apakah kau ingin mencobanya?"
Pendekar istana itu menegaskan sambil tersenyum.
"Ah, mana kami berani? Misalkan kami berani mencobanya juga, toh kami juga takkan bisa membuktikan kekebalan mantel pusaka itu,"
Orang itu merendahkan dirinya.
"Hei, kenapa begitu?"
Yap Kiong Lee bertanya tak mengerti. Sambil tersenyum orang itu menjawab,"Habis bagaimana kami bisa membuktikannya kalau untuk mengenainya saja kami tak mampu?"
"Ah, saudara ini bisa saja memuji orang dan merendahkan diri sendiri. Siapakah yang tidak tahu kehebatan para anggota Sha-cap mi-wi? Kukira perbedaan kita hanya pada soal nama saja. Tapi dalam hal kepandaian, kukira kita tidak berselisih banyak. Aku berani bertaruh kepandaian saudara masih lebih atas bila dibandingkan dengan jago-jago silat semacam Kong-tong Cin-jin dan Ui Bun Ting itu. Padahal mereka adalah ketua-ketua partai persilatan yang terkenal."
Souw Thian Hai menolak pujian itu.
"Wahh, kalau sekarang... jelas Souw Thian Hai yang terlalu menaikkan kedudukan kami."
Orang itu cepat-cepat menyanggahnya.
Demikianlah, setelah cukup beristirahat dan yakin kalau mereka sudah tidak mungkin lagi menolong Pangeran Yang Kun, mereka lalu kembali pulang ke kota Soh-ciu.
Yap Kiong Lee yang terluka parah itu terpaksa mereka gotong bersama-sama secara bergantian.
Dan kedatangan mereka di malam buta itu ternyata sudah dinanti-nanti oleh para penduduk.
Ledakan dahsyat yang disertai oleh kepulan debu itu ternyata dapat didengar dan dilihat juga oleh para penduduk kota.
Namun karena tempat kejadian tersebut berlangsung lagi di Lembah Dalam itu, maka tak seorangpun dari mereka yang berani menjenguknya.
Karena malam sudah terlalu larut maka rombongan itu terpaksa menginap di rumah mendiang Kang Lam Koai-hiap.
Dan di dalam rumah itu ternyata sudah bertambah lagi dengan para pendekar baru yang belum lama tiba di kota itu.
Meskipun terlambat mereka tetap akan membantu mencari dan memburu Si iblis Penyebar Maut itu.
Kong-tong Cin-jin dan Ui Bun Ting sangat kaget melihat Hong-liu-kun Yap Kiong Lee digotong dan terluka parah seperti mereka.
"Apakah cuwi telah berjumpa lagi dengan orang tua yang kita curigai bagai Si Iblis Penyebar Maut itu?"Kong tong Cin-jin segera menanyakan.
"Ah, mengapa Cin-jin masih segan-segan juga untuk mengatakan bahwa iblis tua yang telah membunuh ratusan saudara-saudara kita itu adalah Si Iblis Penyebar Maut? Apakah Cin-jin masih sangsi?"
Ui Bun Ting memotong perkataan sahabatnya itu.
"Entahlah, saudara Ui. Hatiku menjadi agak ragu, sebab mendiang Kang Lam Koai-hiap pernah menyebutkan, bahwa Iblis Penyebar Maut itu bertubuh jangkung. Padahal seperti telah kita lihat semua, orang tua yang ada di dalam lembah itu bertubuh biasa saja dan tidak jangkung."
"Ah, Kang Lam Koai-hiap bisa saja salah lihat. Orang yang bergerak dengan kecepatan tinggi di dalam kegelapan malam, bentuknya tentulah menjadi berbeda atau cenderung menjadi agak lebih panjang."
"Sudahlah, saudara Ui. Kita semua memang kurang mendapatkan data-data mengenai ciri Si Iblis Penyebar Maut itu. Sampai sekarang kita memang hanya bisa mencurigai saja kepada seseorang, sebelum orang itu sendiri mengaku bahwa memang dialah Si Iblis Penyebar Maut itu."
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menengahi. Lalu katanya lagi.
"Namun yang terang kami tadi memang telah jumpa lagi dengan orang tua itu. Malah kami sempat bertempur pula, meski hanya sejurus."
Kemudian serba sedikit Souw Thian Hai menceritakan peristiwa yang terjadi di dalam jurang itu bersama Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.
Tapi atas isyarat pendekar dari istana itu, Souw Thian Hai tidak menceritakan tentang pertemuan mereka dengan Pangeran Liu Yang Kun.
"Senjata peledak? Ah, ketika melawan ratusan pendekar persilatan kemarin dia belum mengeluarkan benda mautnya itu! Itupun dia sudah bisa membinasakan kita semua. Apalagi kalau dia... wah! Wah!"
Kong-tong Cin-jin berdesah ngeri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya! Benda itu hanya sebesar kepalan tangan, namun daya ledaknya hebat bukan main! Rasa-rasanya bukitpun bisa runtuh dihantamnya!"
Yap Kiong menambahkan.
"Meskipun demikian orang itu dapat juga dilukai oleh Souw Taihiap dengan Tai-lek Pek-khong-ciangnya yang maha dahsyat itu!"
"Ah, saudara Yap sungguh pandai sekali bergurau. Lukanya itu bukan karena hebatnya pukulanku, tapi karena orang tua itu kurang berhati-hati melawanku. Mungkin dia merasa sudah terlalu sakti sehingga dia menjadi lengah sendiri, atau dia memang sangat meremehkan pukulanku sehingga dia menjadi lemah pertahanannya. Apalagi tampaknya orang itu sedang terluka dan terpecah perhatiannya."
Souw Thian Hai cepat menyangkal ucapan Yap Kiong Lee.
"Souw Taihiaplah yang pandai merendahkan diri..."
Ui Bun Ting menyokong pendapat Yap Kiong Lee.
"Siapakah di dunia ini yang tak kenal Tai-lek-pek-khong-ciang, Tai-kek Sin-ciang dan Ang-pek Sinkang dari keluarga Souw yang termashur itu?"
Ilmu silat keluarga Souw memang sudah amat tersohor di dunia persilatan.
Tenaga sakti Ang-pek Sinkang yang hanya bisa dipelajari oleh keturunan keluarga Souw sendiri itu hampir tak ada lawannya di dunia kang-ouw.
Sementara Tai-lek Pek-khong-ciang yang dapat melukai lawan dari jarak jauh, seperti tajamnya mata golok atau ujung pedang itu, juga sangat ditakuti dan disegani orang.
Belum lagi ilmu silat Tai-khek Sin-ciang yang aneh dan mengerikan itu, yang bila dima inkan, bagian tubuh yang sebelah kiri dan sebelah kanan akan bermain silat sendiri-sendiri, terpisah satu sama lain, benar-benar belum ada duanya di dunia ini.
"Sudahlah! Sudahlah! Kita semua memang amat bersukur sekali bahwa Souw Taihiap mau turun tangan dalam peristiwa ini..."
Akhirnya Kong-tong Cin-jin menghentikan perdebatan mereka.
"Marilah kita sekarang merundingkan saja cara yang baik untuk menghadapi iblis sakti itu..!"
Demikianlah, malam itu juga mereka merundingkan jalan yang terbaik untuk menghadapi orang yang mereka curigai sebagai Si Iblis Penyebar Maut tersebut.
Biarpun telah menelan korban yang tidak sedikit, tapi dengan adanya Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee diantara mereka, para pendekar menjadi besar hatinya.
Selagi para pendekar itu ramai berunding di rumah mendiang Kang Lam Koai-hiap, maka di dasar palung jurang itu Tui Lan dan Liu Yang Kun sedang berjuang melawan kegelapan dan kepengapan yang menutupi lobang gua itu.
Dengan tertutupnya pintu masuk gua tersebut oleh timbunan tanah yang longsor dari atas bukit itu, menyebabkan seluruh lorong-lorong gua yang sempit itu menjadi gelap dan sangat pengap.
Untunglah Tui Lan sudah pernah masuk sebelumnya, sehingga sedikit banyak dia dapat mengenali jalan menuju sungai di bawah tanah itu.
Meskipun harus menyeret tubuh Liu Yang Kun dan melawan kepulan debu yang menyesakkan napasnya Tui Lan berjalan terus menerobos kepekatan di sekelilingnya.
"Huk-huk-huk...!"
Terdengar suara batuk Liu Yang Kun yang telah siuman dari pingsannya. Pemuda itu tersedak dan terbatuk-batuk karena terlalu banyak mengisap debu yang memenuhi lorong-lorong gelap tersebut.
"Liu Taihiap...? Kau sudah siuman?"
Tui Lan berdesah gembira, lalu berhenti melangkah untuk membiarkan pemuda itu mendapatkan kejernihan pikirannya kembali.
Sayang di dalam kegelapan yang mencocok hidung itu dia tak bisa melihat wajah pemuda yang telah berusaha menolong dirinya secara mati-matian itu.
"Uuuh...uh, huk-huk-hukk! Aaaah, dimana aku ini? Oh, kau...nona! Dimanakah kita sekarang? Dimanakah iblis tua itu? Dan... dimanakah orang-orang yang menolong kita itu? Apa... ugh!"
Begitu siuman pemuda itu lalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada Tui Lan, seakan-akan kehitaman yang menyelimuti tempat itu tidak menghalangi pandang matanya.
Tapi ketika pemuda itu hendak bangkit dari atas tanah, tubuhnya segera jatuh kembali.
Bibirnya berdesis menahan sakit di dalam dadanya.
Sebaliknya Tui Lan yang sama sekali tidak dapat melihat keadaan pemuda itu menjadi bingung dan khawatir sekali.
Tangannya berusaha menggapai dan memegang Liu Yang Kun yang berbaring di bawah kakinya, namun mendadak tangannya segera ditariknya kembali karena jari-jarinya menyentuh wajah pemuda itu.
"Liu Taihiap, kau... kau kenapa? Apamukah yang terasa sakit?"
Serunya penuh perhatian.
"Dadaku... dadaku sakit sekali. Tampaknya lukaku benar-benar parah sekali. Eh, nona... kenapa kita sampai berada di lorong gelap seperti ini? Dimanakah kita sekarang?"
"Kita berada di dalam gua di bawah tanah. Aku tadi telah menyeretmu masuk ke dalam gua ini ketika Giok-bin Tok-ong mengejar kita. Lalu iblis tua itu meledakkan mulut gua sehingga tanah longsor menutupi pintu masuk gua ini dan memisahkan kita dari orang-orang yang mau menolong kita itu."
"Jadi... jadi kita sekarang tertimbun di dalam rongga di bawah tanah, begitukah? Oooh...!"
Liu Yang Kun berkata lemas.
"Marilah, Liu Taihiap. Kita tak perlu gelisah. Siapa tahu kita bisa menemukan jalan keluar nanti? Yang penting kita bisa menyelamatkan diri dahulu. Yang lain dapat kita pikirkan lagi nanti."
Tui Lan membesarkan hatinya.
Dengan tertatih-tatih pemuda itu lalu dituntun Tui Lan menuju sungai bawah tanah itu.
Benarlah, meskipun harus dituntun dan sebentar-sebentar berhenti melangkah, namun pemuda itu ternyata sungguh-sungguh dapat melihat dalam gelap.
Tentu saja Tui Lan menjadi sangat kagum akan kehebatan pemuda itu.
"Apakah Liu Taihiap benar-benar bisa melihat di dalam kegelapan seperti ini? Jangan-jangan Taihiap sudah pernah masuk ke tempat ini, sehingga Taihiap sudah hapal semua lorong-lorong gua ini."
Namun demikian gadis itu pura-pura tidak mempercayainya untuk memancing atau mengorek keterangan tentang terborgolnya pemuda tersebut di dalam gua itu kemarin.
Terdengar pemuda itu menarik napas panjang.
"Nona... eh, maaf. Sudah sekian lamanya kita bersama, tapi aku belum juga tahu nama nona. Nona sudah tahu namaku. Bolehkah aku mengetahui nama nona?"
"Namaku Han Tui Lan."
"Nona Han, sebenarnya mataku juga sama saja dengan matamu. Kita sama-sama tidak mempergunakannya di dalam kegelapan yang amat pekat ini."
"Tapi mengapa Liu Taihiap dapat mengetahui segalanya sedangkan aku tidak?"
Tui Lan cepat memotong.
"Karena aku mengerahkan... atau sebut saja aku menggunakan perasaan dan mata batinku sebaik-baiknya!"
Tiba-tiba Tui Lan terdiam. Gadis itu menjadi bingung dan tak mengerti kata-kata Liu Yang Kun tersebut.
"Menggunakan perasaan dan mata batin? Apakah maksud Liu Taihiap?"
Akhirnya gadis itu bertanya ragu. Sekali lagi terdengar suara tarikan napas Liu Yang Kun yang berat.
"Begini, nona Han. Di dunia ini ada ilmu yang disebut orang dengan nama Lin-cui-sui-hoat (Ilmu Tidur Di Atas Permukaan Air) yaitu semacam ilmu kebatinan yang mendasarkan ilmunya pada ketajaman rasa dan batin manusia. Seorang yang telah berhasil mempelajarinya dengan sempurna, ia akan bisa mengetahui atau paling tidak bisa merasakan hal-hal yang belum terjadi pada dirinya. Malahan kalau orang itu dapat mempelajarinya sampai pada tingkat yang tertinggi, akan bisa meramal dan mengetahui keadaan dunia di sekelilingnya pada waktu yang akan datang."
"Dan... Liu Taihiap mahir juga dengan ilmu Lin-cui-sui-hoat itu?"
Tui Lan bertanya dengan suara kagum.
"Aku pernah mempelajarinya secara tak sengaja. Oleh karena itu, apa yang kudapatkan juga tidak seberapa banyak. Namun apa yang telah kudapatkan itu juga sudah cukup bagiku untuk sekedar merasakan apa yang ada di sekitarku, tanpa harus menggunakan penglihatanku."
Liu Yang Kun merendahkan dirinya.
"Meskipun demikian ilmu itu juga tidak mutlak menjamin kebenarannya. Kadang-kadang atau sekali waktu, ilmu itu juga membuat kesalahan pula, sehingga apa yang terasa di dalam batin kadangkala juga tidak sesuai dengan kenyataannya."
"Namun bagaimanapun juga ilmu itu telah membuat Liu Taihiap menjadi lebih tinggi dan lebih hebat daripada orang lain."
Tui Lan memuji.
"Ah! Kalau berbicara soal kehebatan dalam ilmu Lin-cui-sui-hoat itu, tiada yang lebih hebat daripada tokoh-tokoh aliran Im-Yang-kauw di dunia ini..."
"Tokoh Aliran Im-Yang-kauw? Eh, Liu Taihiap, akupun adalah anggota Aliran Im-Yang-kauw pula, meskipun hanya anggota biasa."
Tui Lan menyahut dengan cepat, lalu menceritakan siapa dirinya sebenarnya.
"Maaf, aku memang belum mengenal guru nona. Yang sudah kukenal dan kuketahui dalam aliran itu cuma Toat-beng jin dan Kauw-cu-si Tok Ciak saja. Di dalam hal ini tokoh yang bernama Toat beng-jin itulah yang kumaksudkan. Beliau benar-benar mahir ilmu Lin-cui-sui hoat tersebut." (Lanjut ke
Jilid 06) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 06
"Wah, beliau itu memang tokoh puncak di dalam aliran kami."
Akhirnya kedua orang itu sampai juga di sungai di bawah tanah itu.
Sementara itu luka di dalam dada Liu Yang Kun sudah agak membaik, biarpun untuk menjadi sembuh masih memerlukan waktu dan pengobatan yang lama pula.
Di dalam lorong yang sempit itu suara air mengalir menjadi luar biasa kerasnya.
Suaranya terdengar gemuruh, sehingga di dalam kegelapan tersebut suara itu terdengar sangat menakutkan, seperti suara nyanyian setan dan hantu yang sedang berpesta-pora.
"Nona Han...! Kau tunggulah aku sebentar di sini! Aku akan mencoba mencari obor untuk menerangi tempat ini. Tapi kuharap kau jangan pergi kemana-mana, sebab air sungai itu sangat dalam dan amat deras arusnya. Kalau kau nanti tergelincir dan tak bisa berenang, tubuhmu akan segera tersedot oleh pusaran air yang ganas,"
Tiba-tiba Liu Yang Kun berbisik di telinga Tui Lan, sehingga napas pemuda itu seperti menggelitik pipi Tui Lan.
"Liu Taihiap, aku... aku takut!"
Tui Lan cepat mencengkeram lengan Liu Yang Kun erat-erat dan berbisik pula dengan suara gemetar.
Tak sadar lengan Liu Yang Kun yang lain lalu memeluk badan Tui Lan.
Sekejap mereka saling berpelukan, karena Tui Lan juga merasa aman dalam pelukan pemuda itu.
Tapi di lain saat Liu Yang Kun segera melepaskan pelukannya, ketika secara tak sengaja tersentuh pundak dan punggung Tui Lan yang telanjang.
Pemuda itu lalu mundur menjauhkan diri.
"Di sini aman, nona Han. Kau tidak perlu takut! Nah, aku pergi dulu,"
Pemuda itu berkata sambil melangkah pergi dengan terburu-buru seakan-akan takut dikejar setan.
"Liu Taihiap...!"
Tui Lan menjerit dan mau mengejarnya, tapi tak berani.
Gadis itu takut tersesat atau tergelincir ke dalam sungai.
Entah mengapa hati Tui Lan merasa ngeri dan takut sekali.
Padahal biasanya dia tak pernah mengenal takut.
Kemarinpun dia sudah masuk ke gua ini, sendirian malah.
Tapi waktu itu tak sepercikpun perasaan takut mewarnai hatinya.
Tapi kini sungguh lain, sehingga gadis itu menjadi heran pula memikirkannya.
Selagi gadis itu berjuang melawan perasaan takut, tiba-tiba dari sebuah lorong yang lain memancar secercah sinar, menerangi tepian sungai itu, sehingga kepekatan yang melingkupi tempat tersebut menjadi larut sedikit demi sedikit.
Dan beberapa saat kemudian muncullah Liu Yang Kun membawa sebuah obor besar di tangannya.
Selain obor pemuda itu juga membawa seperangkat pakaian untuk Tui Lan.
Sedangkan pemuda itu sendiri ternyata juga telah mengganti pakaiannya pula.
"Wah, kita sungguh sangat beruntung sekali kali ini, nona Han. Selain obor ini aku juga telah menemukan sejumlah pakaian yang masih bersih di dalam lorong itu. Hanya sayang, pakaian ini adalah pakaian pria. Tapi kukira ini juga lebih baik daripada tidak ada pakaian sama sekali."
Tui Lan tidak segera menyongsongnya.
Gadis itu justru termangu-mangu di tempatnya.
Gadis itu merasa aneh, karena pemuda yang menolongnya itu tampaknya selalu berusaha menyembunyikan keadaannya.
Tui Lan berani bertaruh bahwa pemuda itu tentu telah pergi ke lobang gua dimana dia diborgol kemarin.
Dan gadis itu juga berani bertaruh bahwa pakaian yang dijinjing itu tentulah pakaian pemuda itu sendiri, mengapa sekarang pemuda itu berbuat seolah-olah belum pernah menginjakkan kakinya di tempat itu?
Tentu ada apa-apanya di balik semua sandiwara pemuda itu.
Tapi untuk sementara waktu Tui Lan tidak berani menanyakannya.
Gadis itu takut Liu Yang Kun akan menjadi marah kepadanya.
Siapa tahu rahasia itu menyangkut urusan yang sangat pribadi, sehingga orang lain memang tidak boleh mengetahuinya?
"Baiklah!
Aku tidak perlu mengurusinya.
Biarlah dia menyimpan sendiri semua rahasianya.
Toh dia bukan apa-apaku,"
Akhirnya Tui Lan memutuskan sendiri semua pikirannya tentang pemuda itu.
"bukan apa-apaku...?"
Tiba-tiba gadis itu berpikir kembali dengan muka bersemu merah.
Lalu terbayang di benak gadis itu ketika Liu Yang Kun menciumi pundak dan punggungnya dengan penuh nafsu beberapa saat yang lalu.
Kemudian terbayang pula ketika mereka pelukan tadi.
Mengapa semua yang dilakukan oleh pemuda itu tidak membuatnya marah atau tersinggung?
"Aah...!"
Mendadak Tui Lan berdesah dengan keras untuk menghapus semua bayangan yang menggodanya itu.
"Nona Han...! kau kenapa? Mengapa kau tidak bergembira dengan penemuanku ini? Apakah kau sakit?"
Liu Yang Kun tiba-tiba bertanya. Pemuda itu ternyata telah berada di depannya. Tui Lan terkejut.
"A-a-aku tidak apa-apa! Aku masih merasa ketakutan disini sendirian tadi. Eh, Liu Taihiap memperoleh pakaian? Bagus! Biarlah aku mencobanya..."
Gadis itu cepat menyahut untuk menghilangkan kesan yang tidak enak itu.
Karena yang sobek hanya bajunya saja, maka Tui Lan juga hanya mencoba baju yang dibawa oleh Liu Yang Kun tersebut.
Dan ternyata baju itu terlalu besar untuk badannya.
Namun seperti apa yang diucapkan oleh Liu Yang Kun tadi, baju itu sudah cukup baik untuk dipakai daripada tidak berpakaian sama sekali.
"Eh, dimanakah Liu Taihiap menemukan obor dan pakaian ini tadi? Sungguh aneh sekali! Tempat yang begini sunyi dan terpencil seperti ini, ternyata pernah didatangi orang pula."
Tui Lan bertanya sambil lalu, tanpa memandang kepada Liu Yang Kun. Pemuda itu kelihatan gugup.
"Ini... ini... semua kudapatkan secara kebetulan saja. Aku... aku melihatnya tergeletak di atas tanah."
Tui Lan tahu kalau pemuda itu berbohong kepadanya. Namun ia tak peduli pula. Sambil lalu ia malah bertanya.
"Liu Taihiap...! Bagaimana kalau minyak obor itu habis? Dari mana kita akan memperoleh minyaknya?"
"Ah, jangan khawatir, nona Han. Obor ini masih penuh. Minyak ini masih bisa bertahan sampai dua hari lagi. Dan dalam dua hari itu kita harus membuat persediaannya."
"Membuat? Apa yang hendak kita buat menjadi minyak obor?"
Tui Lan berseru heran. Liu Yang Kun tersenyum.
"Di dalam sungai itu hidup seekor belut panjang yang dapat menghasilkan minyak bila kita rebus."
Ujarnya kalem.
"Jadi selain dagingnya dapat kita makan, minyaknya pun dapat kita pergunakan untuk menyalakan obor."
"Oh, begitukah...?"
Tui Lan berdesah lega.
"Sebenarnya hampir semua ikan yang hidup di dalam sungai di bawah tanah ini mengandung banyak lemak di badannya, tapi hanya belut panjang itulah yang paling banyak mengeluarkan minyak."
Sambil omong-omong mereka berjalan kesana-kemari meneliti lorong-lorong gua itu.
Mereka berharap dapat menemukan jalan keluar ke alam bebas kembali.
Tapi sampai lelah mereka menerobos dan menyusuri setiap lorong yang mereka jumpai, mereka selalu menemui jalan buntu.
Dan ketika mereka berdua mencoba mengikuti aliran sungai tersebut, baik kearah hulu maupun ke hilir, mereka juga menemui jalan buntu pula.
Di kedua ujung sungai tersebut ternyata airnya menyusup ke dalam tanah, sehingga permukaannya tertutup oleh atap gua.
"Oohhh, celaka! Tampaknya seumur hidup kita akan terkurung di dalam gua yang gelap ini..."
Tui Lan mengeluh putus asa.
Gadis itu lalu membanting tubuhnya di tepian sungai dengan wajah cemas.
Saat itu mereka berada di hulu sungai di bawah tanah itu.
Keduanya memandang ke arah permukaan air sungai yang bersatu dengan langit-langit gua itu.
"Satu-satunya jalan keluar bagi kita cuma mengikuti aliran sungai ini..."
Liu Yang Kun berkata lirih.
"Mana mungkin?"
Tui Lan cepat menyela.
"Kita bukanlah ikan yang dapat bernapas di dalam air! Bagaimana mungkin kita bisa terbenam terus-menerus di dalam air?"
"Tenanglah, nona Han! Kita belum tentu harus menyelam terus-menerus. Siapa tahu di balik gua ini air sungai akan tersembul kembali ke dalam lorong gua yang lain yang mungkin memiliki jalan keluar ke atas permukaan tanah?"
"Tapi bagaimana kalau sungai ini tak melewati gua lagi sampai di lautan timur sana? Apakah kita akan berenang terus di bawah air berhari-hari lamanya tanpa mengambil napas? Bisa meletus paru-paru kita!"
Tui Lan berkata lagi dengan nada yang semakin putus asa.
"Ya, tapi kita perlu berusaha, nona."
"Tapi usaha seperti itu sangatlah berbahaya. Lebih baik kita mencoba kembali melalui jalan kita semula. Kita singkirkan tanah yang menutupi mulut gua ini."
"Baiklah, kalau memang jalan itu yang nona inginkan. Aku menurut saja. Tapi perasaanku mengatakan, bahwa jalan itu sudah tidak dapat kita bersihkan lagi. Namun demikian kitapun juga perlu mencobanya pula..."
Liu Yang Kun berkata dengan suara riang dan semangat, sehingga suasana kaku dan cemas di hati Tui Lan menjadi agak reda.
Tui Lan lalu bangkit berdiri, tapi kakinya hampir saja terpeleset oleh lembaran benda licin berlumut yang menggeletak di depannya.
"Huh, benda apakah ini? Licin benar...!"
Katanya seraya memungut benda itu dan merentangkannya di depan Liu Yang Kun.
"Ah! Itu potongan dari usus atau kantong perut!"
Liu Yang Kun berseru tertahan.
"Lihatlah! Lembaran ini adalah kulit yang telah dimasak sehingga awet dan tidak berbau. Dan lembaran ini merupakan gelembung atau kantong besar yang telah kempes. Coba, mari kita tiupkan udara ke dalamnya!"
"Kotor... ah!"
Tui Lan menolak dan mengeryitkan alisnya tanda jijik.
Liu Yang Kun tersenyum, lalu berlari ke sungai untuk mencucinya.
Setelah bersih pemuda itu lalu meniupnya sendiri.
Tangannya menutup lobang yang satu, sementara mulutnya meniup lobang yang lain.
Dan di lain saat benda tersebut telah menggelembung seperti buah labu sebesar perut kambing.
"Hei... besar amat? Potongan usus binatang apa ini! Kerbau? Gajah?"
Tui Lan berseru kaget.
"Ah, masakan ada kerbau atau gajah di tempat seperti ini?"
"Namanya saja sudah diawetkan, nona. Tentu saja barang ini adalah milik seseorang yang dia bawa kemari. Mana ada binatang memotong ususnya sendiri untuk diawetkan sendiri pula? Haha...!"
Liu Yang Kun tertawa melucu.
"Ah, kau!"
Tui Lan mulai tersenyum juga oleh ketenangan kawannya itu.
Mereka lalu menyusuri lorong-lorong gua itu kembali ke pintu atau lobang dimana mereka masuk tadi.
Sambil melangkah Liu Yang Kun mempermainkan gelembung usus tersebut.
"Ah, kenapa masih kau bawa-bawa juga benda itu? Untuk apa? Buang saja."
Tui Lan yang tanpa sadar sudah mulai akrab dengan Liu Yang Kun itu berkata gemas melihat kawannya selalu mempermainkan gelembung usus tersebut sehingga menimbulkan suara dat-dut...dat-dut yang merisihkan.
"Eeee... Ada gunanya juga, nona. Benda ini bisa untuk mengambil air atau menyimpan air kalau mau memasak, haha..."
"Huh! Siapa mau memasak? Apakah kau mau tinggal di sini?"
Tui Lan yang kini sudah tidak merasa sungkan-sungkan lagi kepada Liu Yang Kun itu pura-pura membentak gusar.
"Ah, siapa tahu...?"
Enak saja Liu Yang Kun menjawab.
Pemuda yang semula juga hanya mau menghibur dengan kata-katanya yang santai itu ternyata juga menjadi latah malah.
Ternyata mereka cepat menjadi akrab satu sama lain.
Tiba di lorong yang menghubungkan pinggir sungai itu dengan lorong yang menuju ke lobang masuk gua, mereka berdua terkejut setengah mati!
Lorong sepanjang tiga puluh atau empat puluh tombak itu telah penuh dijejali longsoran kerikil dan tanah!
Jadi selama mereka tinggalkan menyusuri lorong-lorong gua yang lain tadi, di tempat itu telah terjadi tanah longsor kembali, sehingga tempat tersebut menjadi tertutup sama sekali sekarang.
"Oooh...!"
Tui Lan berdesah seraya menutupi wajahnya. Hilang sudah sekarang semua harapannya untuk kembali ke dunia ramai.
"Sudahlah, nona. Bukankah beberapa saat yang lalu kau menasehati aku agar bersikap tenang dan tidak gelisah? Siapa tahu Thian akan memberi petunjuk atau jalan kepada kita? Marilah kita mencari tempat yang baik untuk beristirahat! dan kita pikirkan cara bagaimana kita nanti melewatkan waktu-waktu yang panjang tanpa matahari, tanpa penerangan, tanpa siang dan malam sebelum Thian membebaskan kita dari tempat ini."
Dengan tubuh lemas Tui Lan terpaksa menuruti nasehat Liu Yang Kun. Mereka berdua lalu mencari tempat yang sekiranya dapat dipakai sebagai "kamar pribadi"
Untuk Han Tui Lan.
Semula Tui Lan hampir saja menyebutkan ruangan tempat pemuda itu diborgol, tapi ketika dirasakannya kawannya itu selalu menolak atau menghalangi bila ia bermaksud pergi ke sana, maka gadis itu lalu menjadi ingat kembali bahwa temannya masih mempunyai rahasia pribadi.
Akhirnya mereka mendapatkan juga "kamar pribadi' itu.
Sebuah cekungan atau gua kecil, bertanah kering, dengan panjang dua tombak dan lebar satu setengah tombak.
Langit-langitnyapun keras dan kering, tidak meneteskan air ke bawah.
"Nah, kau bisa tidur disini untuk sementara waktu."
Liu Yang Kun berkata setelah membersihkan ruangan itu.
"Dan... kau tidur dimana?"
Tui Lan bertanya. Dan tiba tiba saja pipi gadis itu menjadi merah.
"Mudah. Aku bisa tidur dimana saja. Di pinggir sungai itu, di lorong-lorong itu atau... di dalam air!"
Liu Yang Kun menjawab dengan bergurau.
"Ah... kau!"
Tui Lan melirik sambil cemberut.
"Nah. sekarang kau beristirahatlah barang sejenak. Aku tak tahu, saat ini di luar malam atau siang hari. Tapi aku juga akan beristirahat pula untuk memulihkan tenaga dan mengobati luka dalamku. Selamat tidur, nona!"
Liu Yang Kun tersenyum seraya membalikkan tubuhnya meninggalkan ruangan itu. Tapi di depan pintu ruangan pemuda itu menoleh. Dengan senyum nakal pemuda itu menggoda.
"Tapi, awaaas... kau tidak boleh menyusulku! Kalau kau berani menyusulku, hmm... kupeluk lagi kau!"
Godanya seraya berlalu. Obor yang dipegangnya itu ditaruhnya di depan pintu ruangan.
"Ahh... kau!"
Demikianlah, sepeninggal Liu Yang Kun gadis itu mencoba untuk beristirahat.
Mula-mula dicopotnya pedang pendek yang selalu tergantung di pinggangnya.
Kemudian dikeluarkannya semua isi sakunya yang bermacam-macam itu.
Saputangan, alat-alat berhias, obat-obatan dan buku-buku yang diterimanya dari Ang-leng Kok-jin itu.
"Hei! Dimanakah Po-tok-cu itu?"
Tiba-tiba gadis itu tersentak kaget.
Lalu gadis itu merogoh kesana-kemari diantara saku-sakunya yang banyak itu.
Dan ketika teraba olehnya saku yang robek itu, hatinya menjadi lega kembali.
Mutiara itu melekat di pinggir sakunya yang telah bolong tersebut.
Darah Ang-leng Kok-jin yang kemarin masih melekat ketika mengeluarkan mutiara itu dari telapak tangannya, benar-benar menyelamatkan pusaka itu dari kehilangannya.
Karena darah yang menjadi kering di dalam saku itulah yang membuat pusaka tersebut melekat di pojok saku yang bolong itu.
"Mutiara ini memang terlalu kecil untuk disimpan, sehingga sangat mudah sekali hilang. Memang paling baik disimpan atau dimasukkan ke dalam daging seperti Ang-leng Kok-jin itu..."
Tui Lan berpikir di dalam hatinya.
Gadis itu lalu mencabut pedangnya.
Hati-hati diirisnya sedikit daging dibawah ibu jarinya yang sebelah kiri dengan ujung pedang itu.
Setelah kira-kira cukup untuk memasukkan mutiara tersebut, Tui Lan lalu membubuhinya dengan obat.
Kemudian pelan-pelan gadis itu memasukkan mutiara tersebut, lalu menutup irisan dagingnya dan selanjutnya membalut telapak tangan itu dengan saputangannya.
"Nah, sepekan lagi luka ini tentu sudah akan menutup pula kembali. Dan sapu tangan ini sudah dapat kulepas,"
Tui Lan berkata di dalam hatinya.
Kemudian Tui Lan bermaksud untuk membaca buku pemberian Ang-leng Kok-jin itu.
Tapi yang kemudian terpegang oleh tangannya adalah buku yang lain, bukan Im-Yang Tok-keng tapi...
Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan)!
Dan penyusun buku itu tidak tertulis nama Giok-bin Tok-ong seperti yang pernah dilihatnya, tetapi...
Bit bo-ong (Si Raja Kelelawar).
Tui Lan terkejut.
Benar-benar terkejut!
Bagi orang persilatan seperti gadis itu, nama Bit-bo-ong bukanlah nama yang asing lagi.
Nama itu demikian tersohornya sejak se ratus tahun lalu sehingga sudah berkali-kali nama tersebut dicatut dan dipergunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat kerusuhan dan mengacau dunia kang-ouw!
Dan Bu-eng Hwe teng itu adalah salah sebuah ilmu kebanggaan tokoh termashur itu, disamping ilmunya yang lain, seperti Kim-liong Sin-kun dan Pat-hong Sin-ciang!
Sekali lagi Tui Lan membolak-balik buku itu seakan-akan tak percaya bahwa buku tersebut adalah buku pelajaran ginkang milik Bit-bo-ong yang terkenal itu.
Dirabanya dengan ujung jarinya kain kasar yang dipakai untuk membuat buku itu.
Diperhatikannya dengan teliti semua tulisan dan gambar-gambar yang menghiasi buku tersebut, dan yang terakhir dicium atau dibauinya buku itu dengan hidungnya, seolah-olah ingin meyakinkan bahwa buku tersebut memang sudah tua dan kuno.
Kemudian gadis itu bergegas mengambil buku-buku yang lain, karena ia merasa mendapatkan tiga buah buku lagi selain buku milik Ang-leng Kok-jin itu.
"Aaah!"
Sekali lagi gadis itu menjerit kecil.
Tui Lan melihat dua buah buku yang lain itu bertuliskan huruf Sin-liong sin-kun dan Pat-hong Sin ciang!
Dan kedua buah buku itu juga tampak sama kunonya dengan buku yang pertama tadi.
Malahan di dalam lembaran-lembaran kedua buah buku itu kelihatan bekas percikan-percikan darah kering, yang membuktikan bahwa buku tersebut mempunyai sejarah yang amat mengerikan!
"Ah, tampaknya...
tampaknya buku-buku ini memang sungguh-sungguh milik iblis yang sangat terkenal itu.
Tapi...
tapi bagaimana buku-buku ini sampai berada di bawah kakiku dan bercampur dengan buku Ang-leng Kok-jin yang terjatuh dari sakuku itu?"
Gadis itu berpikir dengan hati bingung.
Sambil lalu Tui Lan lalu mencoba membaca tulisan yang tertera pada lembar pertama dari buku Pat-hong Sin ciang (Tangan Sakti Delapan Penjuru Angin) itu.
Disitu tertulis cara-cara bersemadi untuk menghimpun Pat-hong sinkang atau Tenaga Sakti dari Delapan-penjuru-angin, beserta dengan gambar-gambarnya pula.
Tui Lan lalu membuka halaman-halaman selanjutnya.
Dan gadis itu semakin banyak menjumpai gambar-gambar orang bersemadi dengan cara-cara yang semakin aneh pula, ada yang jungkir balik dengan kaki di atas dan kepala dibawah.
Ada yang bergantung dengan tubuh terbalik pula di atas sebuah dahan pohon, seperti layaknya seekor kelelawar bergantung.
Malahan ada pula yang sikap tubuhnya benar-benar seperti sikap seekor kelelawar yang baru terbang di angkasa, yaitu dengan cara mengaitkan kedua ujung kakinya di sebuah dahan sementara kedua tangannya menggapai dahan lain yang berseberangan dengan dahan itu, sehingga tubuhnya terpentang di udara, laksana burung atau kelelawar terbang di angkasa.
"Hmmh, mengapa untuk mempelajari sinkang saja harus melakukan gerakan yang sulit-sulit begini?"
Tui Lan membatin.
Lalu seperti petunjuk yang diberikan pada buku itu Tui Lan mencoba melakukan gerakan yang pertama.
Kakinya bersila, sedangkan kedua telapak tangannya ia tumpuk di belakang tengkuknya.
Matanya menatap lepas ke depan, sementara bibirnya terkatup rapat.
Kemudian perlahan-lahan gadis itu menyedot napas sebanyak-banyaknya, sehingga dadanya terasa penuh sesak oleh udara.
Dan seperti yang ditulis di daIam buku itu, Tui Lan tetap menahan udara yang tersimpan di dalam paru-parunya itu untuk beberapa waktu lamanya sehingga udara yang menggelembung penuh itu seakan-akan menjadi berdesakan untuk mencari jalan keluar.
Dan sesuai dengan petunjuk di dalam buku itu pula Tui Lan lalu mempersatukan seluruh tenaga yang dihasilkan oleh udara yang berdesakan tersebut, untuk kemudian disalurkan ke bawah, menuju tan-tian (pusat).
Setelah itu udara yang memenuhi dadanya itu ia keluarkan lagi perlahan-lahan.
Gadis itu lalu mengulangi sekali lagi gerakan tersebut dari awal.
Mendadak sedikit demi sedikit hawa yang agak panas dan pengap di dalam goa itu terasa berubah menjadi sejuk dan nyaman.
Merasakan perubahan yang menyenangkan tersebut, Tui Lan menjadi gembira, sehingga gadis itu selalu mengulanginya setiap gerakan tersebut selesai.
Entah sudah berapa kali Tui Lan mengulangi gerakan tersebut.
Namun yang terang ia tak menyadari bahwa obor yang berada di depan pintu itu, semakin lama semakin surut apinya, sehingga beberapa saat kemudian api tersebut menjadi padam.
Barulah Tui Lan menjadi terkejut.
Bergegas ia bangkit untuk menyalakannya kembali.
Tapi sekali lagi gadis itu terkejut.
Batu api yang ia taruh di dekatnya itu terasa dingin bukan main, sehingga ujung jari gadis itu serasa menyentuh batu es saja layaknya.
Oleh karena itu Tui Lan menjadi kesukaran ketika ingin meletikkan apinya.
Batu api tersebut melempem.
Tui Lan lalu mendekati obor yang hanya tiga langkah dari tempatnya itu untuk sekedar memanaskan batu api tersebut.
Namun untuk ketiga kalinya gadis itu menjadi kaget.
Batang obor itu juga ikut dingin seperti es.
Malahan gadis itu merasakan batang obor tersebut sangat licin seperti terbungkus embun.
Dalam kebingungannya gadis itu berusaha keras menyalakan obor itu dengan batu apinya.
Akhirnya usahanya tersebut berhasil juga.
Obor itu kembali menyala.
Tui Lan bernapas lega.
Sambil menjungkirkan obor itu supaya apinya menjadi lebih besar, Tui Lan melangkah keluar dari 'ruangan pribadinya"
Itu.
"Hei?"
Tiba-tiba gadis itu menjerit kecil.
Terasa hawa panas menerpa tubuhnya, sehingga dalam kagetnya gadis itu kembali meloncat ke dalam ruangannya lagi.
Dan di dalam ruangan tersebut tubuhnya merasa sejuk kembali.
Karena penasaran gadis itu lalu melangkah keluar lagi.
Dan udara panas dan pengap kembali menyergapnya pula.
"Eh! Mengapa tiba-tiba saja kamarku ini menjadi lebih dingin daripada diluar itu?"
Gadis itu berdesah lirih ketika sudah berada di dalam ruangannya lagi.
Tui Lan lalu teringat pula kembali tatkala tubuhnya terasa sejuk dan nyaman ketika ia mula-mula menirukan gerakan di dalam buku itu tadi.
Dan semakin banyak ia mengulang gerakan tersebut, rasa sejuk itu juga semakin terasa menusuk tulang-tulangnya, sehingga lambat-laun hawa panas dan pengap dari ruangan yang sempit itu menjadi hilang musnah.
"Eh...! Apakah Pat-hong-sinkang itu bisa menimbulkan gelombang udara dingin? Anu... anu, tampaknya memang demikian..."
Gadis itu berpikir keras.
"Ah, kalau begitu... kalau begitu ilmu itu benar-benar hebat sekali! Baru sebuah gerakan saja sudah demikian dahsyat pengaruhnya, apalagi kalau dipelajari semuanya! Hmmmmmh!"
Tui Lan lalu duduk kembali di tempatnya.
Direnunginya buku-buku itu untuk beberapa waktu lamanya.
Namun rasa kantuk membuat gadis itu segera menyimpan kembali buku-buku tersebut di sakunya dan mencoba untuk berbaring.
Dan sebentar saja gadis itu telah tertidur pulas.
Entah sudah berapa lama Tui Lan tertidur, namun yang terang gadis itu merasa amat nyenyak dan pulas sekali, sehingga badannya justru terasa kaku dan pegal sekali malah.
Gadis itu lalu bangkit berdiri.
Ruangan itu bukan main pengap dan panasnya sehingga keringat terasa mengalir dengan derasnya dari kening, leher dan punggungnya.
Tui Lan cepat keluar dari ruangan tersebut.
Didengarnya Liu Yang Kun juga sudah bangun pula, dan tampaknya kini sedang mandi di pinggir sungai, karena terdengar pemuda itu menyanyi sambil bermain-main dengan air.
Tui Lan menjadi ragu-ragu untuk menghampiri pemuda itu.
"Nona Han...! Kau sudah bangun? Kemarilah! Kita bisa makan kenyang hari ini..."
Tiba-tiba terdengar suara pemuda itu memanggilnya.
Tui Lan terpaksa keluar dari 'sarangnya' dan menemui pemuda itu.
Ternyata pemuda itu hanya mengenakan celana saja, dan merendam diri di dalam sungai itu.
Di atas batu di pinggir sungai bertumpuk belasan ekor belut panjang berwarna kehitaman, bercampur dengan beberapa ekor ikan kecil-kecil berwarna kebiruan.
Tampaknya ikan-ikan itu adalah hasil buruan Liu Yang Kun.
Dan di dekat batu tersebut tampak sebuah obor yang lain, menyala menerangi tempat itu.
"Aku memperoleh sebuah obor lagi di lorong sana,"
Pemuda itu menyambut kedatangan Tui Lan seraya keluar dari dalam air.
"Wah, panasnya bukan main di dalam gua ini sekarang. Kelihatannya di luar sana matahari sedang membakar bumi dengan hebatnya...!"
Tui Lan mengangguk. Ingin benar rasanya gadis itu berendam seperti pemuda itu, namun tentu saja ia merasa malu kalau ada pemuda itu.
"Nona ingin mandi juga? Silakanlah! Aku akan memasak ikan-ikan itu!"
Pemuda itu seperti mengerti apa yang dipikirkan Tui Lan, sehingga gadis itu merasa sangat berterima kasih karenanya.
Namun apa yang sebenarnya disebut memasak oleh pemuda itu tak lain hanyalah membakar ikan-ikan tersebut dengan obor saja.
Lain tidak.
Apalagi dengan bumbu-bumbu masak seperti garam, cabe, bawang dan sebagainya.
Tapi ketika Tui Lan selesai mandi dan mencicipinya bersama dengan Liu Yang Kun, ikan tersebut terasa gurih dan enak juga rasanya.
Ternyata ikan sebanyak itu mereka lahap tanpa sisa.
"Hari ini aku dapat mengumpulkan secangkir minyak ikan."
Liu Yang Kun berkata riang setelah selesai makan.
"Ya? Dimana minyak itu kau simpan?"
Tui Lan menyahut dengan suara gembira pula.
"Di dalam kantong itu...!"
Liu Yang Kun menjawab seraya menunjuk 'potongan usus raksasa' yang mereka ketemukan itu. Usus itu kini telah diberi sumbat di kedua ujung lobangnya.
"Benar juga katamu. Benda itu berguna juga akhirnya."
Tui Lan berdiri, lalu melangkah perlahan-lahan menyusuri lorong-lorong gua itu lagi.
Liu Yang Kun melangkah pula mengikuti.
Gadis itu berharap memperoleh keajaiban, sehingga tercipta jalan keluar untuk mereka.
"Hei!? Kenapa telapak tangan kirimu, nona? Mengapa kau balut?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun bertanya ketika melihat balutan di tangan kiri Tui Lan itu.
"Ah, cuma luka kecil karena tergores batu karang tadi..."
Gadis itu berbohong.
"Lalu... bagaimana dengan lukamu sendiri?"
"Sudah lebih baik. Aku telah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk mengobatinya,"
Liu Yang Kun menjawab pula.
"Sepekan lagi kukira sudah pulih kembali seperti sedia kala."
"Demikian lamanya?"
Tui Lan tersentak kaget.
"Tentu saja, nona. Tiga kali aku terhempas oleh ledakan peluru pek-lek-tan itu. Untunglah peluru itu tidak langsung mengenai badanku. Kalau demikian halnya, sebutir saja sudah cukup untuk mengantarkan nyawaku ke alam baka."
Mereka telah beberapa kali berputar-putar di seluruh sudut gua itu, namun jalan untuk keluar dari tempat itu tetap tak dapat mereka ketemukan.
Tempat itu benar-benar buntu dan tertutup rapat sama sekali.
"Satu-satunya jalan kukira memang hanya aliran sungai ini..."
Liu Yang Kun bergumam pelan seperti berbicara dengan dirinya sendiri.
"Ah, lupakan saja itu!"
Tui Lan yang menjadi cemas kembali itu berkata kaku.
"Lalu... Jalan mana lagi yang akan kita tempuh? Nona punya pendapat yang lain?"
Liu Yang Kun berkata hati-hati.
"Entahlah! Aku belum dapat memikirkannya. Tapi tentu ada jalan yang lainnya. Biarlah aku kembali dulu ke kamarku untuk memikirkannya."
Tui Lan lalu meninggalkan Liu Yang Kun sendirian.
Gadis itu lalu berbaring dan melamun di kamarnya.
Ditatapnya nyala api obor yang bergoyang-goyang di depan pintunya itu.
Udara di dalam gua itu sudah tidak begitu gerah dan pengap lagi.
Mungkin matahari sudah lama terbenam, dan kini hari telah berganti malam.
Gadis itu lalu mencoba untuk memicingkan mata lagi.
Namun baru saja mau terlelap, tiba-tiba luka di telapak tangannya itu terasa berdenyut-denyut.
Dan semakin lama denyut itu semakin kuat rasanya, sehingga gadis itu merasa kesakitan dibuatnya.
Mungkin telah terjadi reaksi yang keras di dalam tubuh Tui Lan berkenaan dengan dipasangnya 'Po-tok-cu' itu di dalam telapak tangannya.
Dan denyut yang semakin menyakitkan tersebut segera diikuti pula dengan panas badan yang semakin meninggi.
Tui Lan lalu menjadi bingung dan gelisah sekali, karena lambat-laun badannya serasa berada di atas tungku api yang sedang menyala.
Hampir saja gadis itu berteriak memanggil Liu Yang Kun.
Namun setelah ia sadar bahwa karena kepanasan atau kegerahan tadi dia telah mencopoti pakaian luarnya, gadis itu tidak jadi melaksanakan niatnya tersebut.
Gadis itu mencoba bertahan sekuat tenaganya, melawan rasa sakit dan rasa panas yang menyerang dirinya itu.
Peluh membanjir keluar membasahi seluruh tubuhnya.
Dan akhirnya ketika gadis itu merasa bahwa dia sudah tidak dapat bertahan lagi, tiba-tiba berkelebat bayangan ilmu Pat-hong-sinkang yang tertulis di dalam buku peninggalan Bit-bo-ong itu.
Bukankah gerakan-gerakan yang ditirunya itu membuat dirinya merasa sejuk, dingin dan nyaman?
Siapa tahu rasa sakit dan panas atau gerah ini bisa ditanggulangi dengan ilmu itu?
Demikianlah dalam keadaan terpepet dan tak tahu apa yang harus ia kerjakan lagi, Tui Lan lalu mencoba melawan rasa sakit dan rasa gerah tersebut dengan ilmu yang tertera di dalam buku Pat-hong Sin-ciang itu.
Dan tidak cuma sekali gadis itu melakukannya, tapi berulang kali!
Meskipun demikian rasa sakit dan rasa gerah tersebut ternyata tidak kunjung lenyap juga!
Padahal nyala obor di depan pintu itu sudah mulai tersendat-sendat mau padam.
Memang, setelah melakukan gerakan itu pernapasannya menjadi lebih lancar.
Tapi rasa sakit dan gerah itu tetap saja bercokol di dalam tubuh Tui Lan.
Saking kesalnya gadis itu lalu membuka halaman berikutnya.
Gadis itu bermaksud mencoba gerakan yang selanjutnya.
Tui Lan lantas tidur telentang seperti gambar yang terlukis di halaman yang kedua itu.
Sambil menyedot napas sebanyak-banyaknya gadis itu mengangkat kedua kaki dan tangannya ke atas tegak lurus dengan tanah.
Kemudian setelah menyalurkan himpunan tenaga sakti yang tercipta itu ke dalam tan-tian, maka udara di dalam paru-paru tersebut lalu dikeluarkannya lagi secara perlahan-lahan.
Demikianlah, gerakan tersebut lalu diulanginya terus sehingga berkali-kali.
Begitulah.
Entah karena pengaruh ilmu itu atau karena rasa sakit itu sendiri yang telah hilang, namun yang terang tiba-tiba tubuh Tui Lan telah pulih kembali seperti semula.
Rasa gerah dan rasa sakit yang hampir tak tertahankan lagi oleh gadis itu mendadak hilang lenyap seketika, dan diganti dengan perasaan enak dan nyaman luar biasa.
Namun ketika gadis itu membuka matanya, didapatinya obor itu telah mati, dan ruangan sempit tersebut dalam keadaan gelap gulita.
Lebih dari pada itu, Tui Lan mendapatkan ruangan yang dingin luar biasa, sehingga lantai dan dinding-dinding gua itu rasanya menjadi lembab dan basah semuanya.
Tidak cuma itu saja.
Bahkan pakaian yang dipakainya terasa disaput oleh salju tipis yang segera mencair begitu tersentuh tangannya.
Malahan ketika gadis itu mencoba menyalakan obornya kembali, ia mendapatkan minyak dalam tangkai obor tersebut juga telah membeku seperti cairan bubur kental.
Setelah obor itu menyala kembali, Tui Lan segera membawanya keluar untuk mencari Liu Yang Kun.
Sambil berjalan gadis itu membenahi pakaiannya yang kedodoran tadi.
Lorong-lorong itu terasa pengap dan panas seperti biasanya.
Gua itu memiliki lima buah lorong atau ruangan yang satu sama lain saling berhubungan.
Dan ruangan yang paling besar adalah ruangan yang sebagian dari lantainya dialiri oleh sungai di bawah tanah itu.
Sedangkan ruangan yang paling kecil adalah ruangan yang paling sulit dicapai, yaitu ruangan dimana Tui Lan pernah melihat Liu Yang Kun diborgol kaki tangannya itu.
Ruangan tersebut hanya bisa dicapai dengan merangkak melalui sebuah terowongan kecil sepanjang tiga tombak.
Liu Yang Kun tidak dapat dijumpai Tui Lan di keempat lorong gua itu.
Tinggal satu lorong lagi yang belum dijenguk oleh gadis itu, yaitu lorong terkecil.
Namun ketika Tui Lan melangkah ke sana, terowongan sempit yang menghubungkan tempat tersebut dengan lorong yang lain telah disumbat dengan batu karang sebesar gajah, sehingga lobang itu tidak kelihatan sama sekali.
Dan tentu saja Tui Lan tak kuat memindahkannya.
"Eh... dimanakah Liu Taihiap itu? Apakah dia berada di ruangan ini? Tapi kenapa ia harus menutup lobang ini, kalau dia ada di sini? Ataukah dia tidak berada di lorong ini? Lalu dimana? Apakah masih ada ruangan lain yang dirahasiakannya selain kelima lorong ini?"
Gadis itu bertanya-tanya di dalam hati.
Dengan langkah gontai dan pikiran penuh pertanyaan Tui Lan kembali ke kamarnya lagi.
Bayangan wajah Liu Yang Kun yang kadang-kadang tampak riang dan penuh senyum, tapi seringkali juga terlihat murung dan sayu itu benar-benar membingungkan hati gadis itu.
"'Pemuda itu sangat baik kepadaku. Wajahnya tampan, kepandaiannya sangat tinggi. Tanpa alasan dan sebab apapun dia telah mempertaruhkan jiwanya untuk menolongku. Namun demikian sungguh sulit bagiku untuk menerka apa yang tersembunyi di dalam hatinya. Sikapnya kadang-kadang sangat aneh dan sulit dimengerti. Siapa tahu dia justru... Si Iblis Penyebar Maut itu malah?"
Dalam keragu-raguan dan kebingungannya gadis itu mencoba berseloroh dengan dirinya sendiri. Namun tiba-tiba hatinya menjadi kecut juga.
"Ah, masakan orang sebaik dia menjadi seorang iblis penyebar maut!"
Sangkalnya kemudian.
"Tapi... ah, sebaiknya aku memang harus berhati-hati menghadapinya. Bagaimanapun juga dia baru saja kukenal, dia adalah orang asing bagiku. Biarlah untuk selanjutnya aku akan menyelidiki siapa sebenarnya dia itu!"
Tui Lan justru tak pernah menanyakan dimana pemuda itu beristirahat serta tidur setiap harinya.
Tapi sejak itu Tui Lan menjadi semakin ramah dan suka bicara dengan Liu Yang Kun.
Tui Lan mencoba untuk mengorek asal-usul dan keluarga pemuda itu dengan cara yang amat halus dan tak kentara.
Meskipun demikian, pemuda itu ternyata juga sangat berhati-hati sekali berbicara tentang dirinya.
Setiap menyinggung keluarganya pemuda itu tentu segera mengelak dan memindahkan percakapan mereka ke hal yang lain.
Pemuda itu hanya bercerita tentang pengalamannya, tentang dirinya, dan tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia persilatan.
Pemuda itu tentu akan segera menjawab bila ditanyakan tentang dirinya, ilmunya, dan tentang apa saja yang pernah dialaminya.
Tapi dia akan segera bungkam setiap kali menjurus ke arah keluarganya.
"Ah... jadi kau pernah menginap di istana kaisar pula? Wah, pengalamanmu sungguh hebat sekali,"
Pada suatu hari Tui Lan berseru mengagumi cerita yang dikisahkan oleh Liu Yang Kun.
"Tentu saja, karena menginap di dalam istana itulah aku akhirnya bisa bertemu dengan guruku yang kedua. Ketika aku terbenam di dalam telaga di belakang istana itu, tubuhku tersedot ke dalam sungai di bawah tanah seperti sekarang ini. Di situ aku justru dapat bertemu dengan seorang wanita tua yang memberi pelajaran ilmu silat tinggi kepadaku. Aku diajari Liong-cu i-kang (Tenaga Sakti Mustika Naga) dan Kim-coa ih-hoat (Ilmu Baju Ular Emas), yang menjadi ilmu andalanku selama ini..."
"Hmm, kalau begitu kau sudah dua kali hidup di dalam ruang di bawah tanah seperti ini? Ah, makanya kau enak-enakan saja selama ini. Sama sekali tidak merasa gelisah ataupun sedih."
Tui Lan menggerutu kesal. Liu Yang Kun tertawa gembira.
"Bukan begitu, nona..."
Pemuda itu menyangkal.
"Soalnya..."
"Uh! Mengapa kau masih juga memanggil dengan nona-nonaan terus?"
Tui Lan memonyongkan bibirnya.
"Habis kau juga masih sering memanggilku Liu Taihiap, sih..."
Liu Yang Kun membela diri. Namun akhirnya pemuda itu mengalah juga.
"Baiklah! Aku akan memanggilmu Lan-moi! Tapi ingat, kaupun harus menyebutku twa ko! Bagaimana?"
"Baik. Twako...!"
Tui Lan mengangguk seraya menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis.
Demikianlah, dari hari ke hari persahabatan mereka menjadi semakin akrab.
Tui Lan semakin mengenal pribadi Liu Yang Kun, meskipun pemuda itu tetap bungkam tentang masalah keluarganya, begitu juga sebaliknya, Liu Yang Kun juga semakin mengenal diri Tui Lan.
Cuma masih ada sebuah hal yang tetap menjadi teka-teki bagi Tui Lan, yaitu masalah 'lorong gua' yang tertutup batu sebesar gajah itu.
Selama ini Liu Yang Kun tetap merahasiakan dan menutup-nutupinya.
Dan juga selama itu pula Tui Lan tak pernah mengetahui, dimana pemuda itu tidur dan beristirahat.
Namun seperti yang telah diputuskannya sendiri, Tui Lan tak pernah mengungkat-ungkat hal itu.
Sementara itu persoalan lain yang ternyata justru sangat menyibukkan Tui Lan adalah serangan hawa panas di dalam tubuhnya yang disebabkan oleh Po-tok-cu itu.
Sejak benda tersebut tertanam di dalam dagingnya, serangan hawa panas itu selalu saja mengganggunya.
Setiap hari gadis itu harus bertarung untuk mengalahkan serangan hawa panas yang membakar tubuhnya itu dengan gerakan-gerakan yang terlukis di dalam buku Pat-hong Sin-ciang.
Celakanya, setiap kali datang menyerang, hawa panas itu selalu saja bertambah dan berlipat ganda kekuatannya, sehingga untuk menanggulanginya Tui Lan terpaksa harus menambah pula gerakan-gerakannya dengan gerakan yang terdapat di halaman berikutnya dari buku tersebut.
Sehingga tanpa dikehendaki sendiri oleh gadis itu, maka lembar demi lembar isi buku Pat-hong Sin-ciang tersebut terpaksa ditirukannya untuk me lawan serta menaklukkan serangan hawa panas itu.
Kadang-kadang Tui Lan merasa kewalahan pula, sehingga sering kali ia bermaksud untuk mengeluarkan saja Po tok-cu itu dari tangannya.
Tapi bila terlihat oleh gadis bekas luka yang telah merapat dan menutupi benda pusaka itu, maka keinginannya tersebut segera hilang.
"Biarlah...,! Bila panas itu memang tak bisa kutahan lagi, dan ilmu yang tertulis di dalam buku itu juga sudah tak dapat mengatasinya pula, maka mutiara itu terpaksa akan kucongkel keluar."
Tui Lan berkata di dalam hatinya.
Akibatnya, setengah bulan kemudian pelajaran dasar ilmu bersemadi Pat-hong-sinkang tersebut sudah habis dilahap Tui Lan untuk melawan serangan hawa panas itu.
Sehingga untuk hari-hari selanjutnya, Tui Lan terpaksa pula melangkah ke halaman berikutnya lagi, karena pelajaran dasar tersebut sudah tidak kuasa lagi membendung serangan hawa panas itu.
Demikianlah, pada hari yang ke enambelas, Tui Lan mulai pula dengan halaman yang ke enambelas.
Pada halaman itulah buku tersebut benar-benar mulai mengajarkan cara-cara menguasai dan menghimpun Tenaga Sakti Delapan-Penjuru Angin atau Pat-hong sinkang!
Dan mulai hari itu pulalah Tui Lan dipaksa untuk melakukan gerakan-gerakan yang sulit dan aneh-aneh.
Sehingga untuk melakukannya Tui Lan terpaksa pula mempersiapkannya sehari sebelumnya!
Untuk menirukan gerakan 'kelelawar tidur dengan menggantungkan kakinya di atas dahan', Tui Lan terpaksa membuat lobang kecil di langit-langit guanya untuk mengaitkan ujung kakinya.
Sementara untuk menirukan gerakan 'kelelawar terbang', Tui Lan terpaksa pula mencari dua dinding gua yang saling berdekatan, yang jaraknya sesuai dengan panjang tubuhnya.
Ada delapan cara atau gerakan untuk menghimpun Pat-hong-sinkang.
Masing-masing dengan cara dan aturan-aturannya sendiri dalam menyalurkan hawa sakti yang telah terkumpul di tan tian.
Masing-masing juga disebutkan cara untuk menembus tiap-tiap simpul jalan darah yang dilalui hawa sakti tersebut, lengkap dengan ukuran dan urut-urutannya pula.
Sungguh beruntung bagi Tui Lan, karena sebelumnya dia telah memperoleh pendidikan tentang jalan darah dari gurunya, sehingga apa yang tertulis di dalam buku itu tidak membingungkannya.
Dan memang sungguh mengherankan sekali!
Sekali saja Tui Lan menyalurkan hawa sakti seperti yang diperintahkan oleh buku itu, maka hawa panas itu segera lenyap seketika!
Tak perlu gadis itu mengulang-ulangnya lagi!
Selain dari pada itu Tui Lan merasakan suatu perubahan yang mendadak di dalam dirinya.
Tui Lan merasa badannya tiba-tiba menjadi lebih segar, bersemangat dan ringan bukan main!
"Ajaib!
Pat-hong-sinkang benar-benar hebat sekali!
Dengan salah satu dari gerakannya saja, aku telah mampu mengendalikan hawa panas itu!"
Gadis itu berdesah gembira.
Tui Lan benar-benar mengagumi kehebatan ilmu yang baru dipelajarinya itu.
Maka dari itu dia tidak menjadi terpaksa lagi sekarang.
Sebaliknya gadis itu menjadi kecanduan malah.
Meskipun dengan gerakan yang pertama saja sebetulnya gadis itu sudah mampu menjinakkan serangan hawa panas tersebut namun karena ia sudah terlanjur kecanduan tadi, maka dia tetap saja meneruskan pelajarannya.
Satu persatu lembar demi lembar, petunjuk tentang Pat-hong sinkang itu dipelajarinya hingga selesai.
Baca Juga: Dara Baju Merah 1
Baca Juga: Dewi Maut 10