Ceritasilat Novel Online

Dara Baju Merah 1

Eps 1 Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo

Baca online Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo

Cersil Dara Baju Merah - Kho Ping Hoo.

***** Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 01

"Orang she Kiang! Melihat usiamu yang masih muda, kami masih menaruh hati kasihan kepadamu. Kami nasihatkan supaya kau pergi dari sini dan jangan mencampuri urusan kami,"

Terdengar suara yang kecil dan nyaring.

"Kiang-Enghiong, kata-kata Hek-Tung Beng-yu (Sahabat Tongkat Hitam) tadi memang tepat. Menilik gerak-gerikmu, kau adalah seorang ahli silat yang sudah pandai, mengapa kau tidak tahu akan peraturan kang-ouw? Kami para Ketua Perkumpulan Pengemis sedang mengurus persoalan kami sendiri, mengapa kau begitu tidak tahu malu untuk mencampuri urusan kami? Lebih baik lekaslah kau pergi sebelum terjadi hal-hal yang kurang baik bagi dirimu,"

Kata pula suara ke dua yang parau dan kasar.

Suara dua orang ini disusul oleh gumaman banyak mulut yang menyatakan persetujuan.

Dua orang yang bicara tadi, juga mereka yang menyatakan persetujuan adalah sekumpulan orang-orang tua yang amat aneh baik bentuk tubuh, pakaian, maupun gerak-gerik mereka.

Mereka ini sudah jelas adalah sekumpulan Pengemis-Pengemis, karena baju mereka penuh tambahan dan di tangan mereka kelihatan tongkat dan tempat sedekah, seperti panci butut, batok, kaleng dan lain-lain.

Jumlah mereka ada empat belas orang.

Akan tetapi kalau orang tahu siapakah adanya mereka ini, ia akan terkejut, karena mereka ini bukan lain adalah ketua-ketua dari seluruh Kai-Pang (Perkumpulan Pengemis) yang tersebar di seluruh Tiongkok dan merupakan ketua-ketua dari semua perkumpulan terbesar.

Jangan ditanya lagi tentang kepandaian mereka!

Baru orang pertama yang bicara dengan suara kecil nyaring tadi saja, yang tubuhnya tinggi kurus dan matanya buta sebelah kiri, Dia dijuluki orang It-Gan Sin-Kai (Pengemis Sakti Mata Satu) dan kelihaiannya hanya di bawah kepandaian Raja Pengemis puluhan tahun yang lalu, yakni Ang-Bin Sin-Kai (Pengemis Sakti Muka Merah) yang menggemparkan dunia kang-ouw (baca Pendekar Sakti).

Seperti juga Ang-Bin Sin-Kai yang sudah meninggal dunia, Pengemis bermata satu ini beberapa kali pernah menggegerkan Istana kaisar karena ia menyerbu dapur dan menyikat habis masakan-masakan yang paling lezat di dapur Istana!

Juga orang ke dua yang suaranya parau dan kasar, yang bertubuh kate dengan perutnya saja yang besar dan gendut seperti anak cacingan, bukanlah sembarangan orang.

Dia ini disebut Pat-Jiu Siauw-Kai (Pengemis Kecil Tangan Delapan), kelihaiannya dalam ilmu silat tidak kalah oleh It-Gan Sin-Kai!

Demikian pula, dua belas orang Pengemis yang lain, masing-masing adalah ketua-Ketua Pengemis yang amat terkenal di dunia kang-ouw, dan kesemuanya boleh dibilang merupakan orang-orang yang menjunjung tinggi Pengemis sakti mendiang Ang-Bin Sin-Kai.

Oleh karena itu pula, maka mereka terkenal sebagai pemimpin-pemimpin yang menjaga keras sehingga para anggauta perkumpulan mereka berdisiplin, dan biarpun hidup sebagai Pengemis-Pengemis, namun merupakan sekumpulan orang-orang yang selalu siap sedia menolong kaum lemah yang tertindas!

Segolongan pendekar-pendekar yang menyamar sebagai Pengemis-Pengemis, atau lebih tepat lagi, yang suka memilih hidup bebas seperti burung di udara.

Dan menurut anggapan mereka, hanya Pengemis-Pengemis saja yang dapat hidup bebas seperti burung di udara.

Empat belas orang Ketua Pengemis itu kini nampak tidak senang dan mereka menghadapi seorang laki-laki muda yang usianya kurang lebih dua puluh lima tahun.

Pemuda ini amat gagah, pakaiannya bersih dan indah, wajahnya tampan sekali dengan alis tebal dan hidung mancung.

Bibirnya merah seperti bibir wanita.

Dadanya bidang menonjol ke depan, sepasang lengannya kekar dan ia nampak lebih tegap dan gagah karena Pedang yang tergantung di punggungnya.

Pemuda itu mempunyai sepasang mata yang tajam dan selalu berseri gembira.

Kini menghadapi empat belas orang kakek Pengemis yang marah-marah itu, ia tersenyum-senyum mengejek, sama sekali tidak merasa takut sungguhpun ia telah mengenal, atau setidaknya pernah mendengar nama semua Ketua Pengemis ini dan telah maklum pula akan kelihaian mereka.

"Hm, Cuwi Lo-Kai (Para Tuan Pengemis Tua) bicara tentang pelajaran ilmu silat, tentang peraturan kang-ouw, dan tentang tahu malu? Pernah Siauwte mendengar ujar-ujar Guru Besar Khong Cu yang berbunyi seperti berikut. Ho Hak Kin Houw Ti, Lek Heng Houw Jin, Ti Thi Kin Houw Yong! Tahukah Cuwi akan artinya? Kalau tidak salah, beginilah maksudnya. Suka belajar berarti mendekati pengetahuan, menjalankan ilmu pengetahuan berarti mendekati welas asih dan tahu malu berarti mendekati kegagahan!"

Pat-Jiu Siauw-Kai yang terkenal paling berangasan, menjadi marah dan ia melangkah maju, lalu menudingkan telunjuknya ke arah hidung pemuda itu.

"Kau anak kecil bau pupuk, mau berlagak menjadi guru ilmu batin? Kau kutip-kutip segala isi Kitab Tiong-Yong (Kitab pelajaran Guru Besar Khong Hu Cu) dengan maksud apakah?"

"Sabarlah, Lo-Kai. Kau yang terlalu banyak tangan harus bisa bersikap tenang dan sabar,"

Kata pemuda itu yang menyindir Pengemis kate ini yang berjuluk Pengemis Kecil Berlengan Delapan.

"Bukankah tadi kau yang menyatakan bahwa aku sudah mempelajari ilmu silat akan tetapi tidak tahu akan peraturan dunia kang-ouw dan tidak tahu malu! Nah, jawabku ialah isi ujar-ujar yang tepat itu."

"Apa maksudmu?"

Pat-Jiu Siauw-Kai membentak.

"Maksudku? Segala tindakanku kusesuaikan dengan ujar-ujar indah itulah. Aku bersusah payah belajar silat untuk mengejar ilmu. Setelah ilmu terdapat, aku menjalankannya untuk menolong sesama manusia, ini berarti mendekati pribudi baik atau welas asih. Adapun hal tahu malu seperti kau singgung-singgung tadi, Guru Besar berkata bahwa kalau kita tahu malu, berarti kita mendekati sifat gagah. Akan tetapi kalian ini, empat belas orang Ketua Perkumpulan besar, orang-orang kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, mengapa sekarang hendak menyiksa dan membunuh seorang kawan tua yang tidak berdaya? Apakah itu namanya tahu malu? Kalianlah orang-orang yang tak tahu malu dan karenanya aku yang muda tidak dapat menganggap kalian ini orang-orang gagah!"

"Kiang Liat, kau sombong sekali!"

Seorang Pengemis gemuk bundar yang berjuluk Tiat-Tho Mo-Kai (Pengemis Iblis Kepala Besi) melompat maju dan memaki marah.

"Kau ini orang luar tahu apa? Di dalam undang-undang Partai Pengemis nomor tujuh belas berbunyi begini. Segala keputusan rapat ketua tak boleh dicampuri oleh orang luar."

Pemuda itu yang bernama Kiang Liat tersenyum.

"Peraturan dan undang-undangmu hanya berlaku untuk kalian sendiri, aku peduli apa? Pendeknya, sebagai seorang yang pernah mempelajari ilmu silat, yang sudah bersumpah untuk hidup sebagai pendekar dan menolong si lemah yang tertindas, aku Kiang Liat tidak akan membiarkan begitu saja kalian menyiksa dan membunuh kakek itu. Habis perkara!"

"Kau menghina Cap-Si Kai-Pangcu (Empat Belas Ketua Perkumpulan Pengemis)!"

Tiat-Tho Mo-Kai membentak marah dan dengan cepat ia lalu menggerakkan tubuh.

Lucu dan mengagumkan sekali gerakannya ini.

Biarpun tubuhnya gemuk dan bundar, namun gerakannya ternyata luar biasa cepatnya dan tahu-tahu tubuh itu telah meluncur seperti dilemparkan, dengan kepala di depan ia menyeruduk ke arah Kiang Liat!

Serangan ini lihai sekali dan jarang ada ahli silat berani menerima serangan kepala dari Tiat-Tho Mo-Kai ini.

Sesuai dengan julukannya, yakni Si Kepala Besi, kepala dari Si Pengemis ini yang botak kelimis luar biasa keras dan kuatnya, melebihi besi dan kalau ia menyeruduk, seekor kerbau pun takkan kuat menahan dengan kepalanya.

Para tokoh Pengemis yang berada di situ mengira bahwa pemuda itu tentu akan mengelak dan kalau ia berbuat demikian, belum tentu ia akan dapat meluputkan diri, karena kedua tangan Tiat-Tho Mo-Kai tidak tinggal diam, melainkan dipentang dan siap untuk melakukan serangan dengan tangan apabila lawan mengelak dari serudukannya.

Akan tetapi apa yang mereka lihat?

Benar-benar tak dapat dipercaya.

Kiang Liat bukannya mengelak, melainkan berdiri dengan tegak dan menerima serudukan itu dengan perutnya!

"Capp!"

Kepala yang botak kelimis itu seakan-akan menancap pada perut pemuda itu, akan tetapi Kiang Liat hanya mundur selangkah, sama sekali tidak kelihatan sakit.

Sebaliknya, Tiat-Tho Mo-Kai nampak lucu sekali, kepalanya tertanam dalam perut berikut mulut dan hidung dan kedua kakinya bergerak-gerak!

Ia mencoba untuk melepaskan diri, untuk mencabut kepalanya akan tetapi sia-sia belaka sehingga hanya kedua kakinya saja yang bergerak-gerak ke atas dan ke bawah.

Ia bermaksud mempergunakan kedua tangan untuk menyerang, akan tetapi Kiang Liat mendahuluinya dan secepat kilat ia menotok kedua lengannya menjadi lemas tak bertenaga lagi.

Setelah merasa cukup mempermainkan Pengemis botak itu, tiba-tiba Kiang Liat berseru.

"Pergilah!"

Dan bagaikan dilontarkan saja, tubuh Pengemis botak itu terlempar sampai dua tombak lebih.

Tiat-Tho Mo-Kai jatuh berdebuk, akan tetapi ia tidak merasa terluka dan setelah mengerahkan Lwee-kang untuk membebaskan diri dari totokan pada pundaknya, ia lalu maju lagi dengan muka merah.

Sikapnya mengancam lagi dan mulutnya mengeluarkan kata-kata yang tidak begitu jelas bahwa ia hendak mengadu nyawa.

"Tiat-Tho Mo-Kai, kau sungguh tidak tahu diri. Kalau aku mau berlaku kejam, bukankah kau sudah menjadi Pengemis iblis tak bernyawa lagi?"

Kata Kiang Liat.

Mendengar ucapan ini, Tiat-Tho Mo-Kai menghentikan langkahnya dan ia nampak ragu-ragu.

Memang ia bukan tidak tahu bahwa kalau Kiang Liat mau, tadi ketika kepalanya tertanam pada perut, dengan Lwee-kangnya yang amat tinggi, pemuda itu tentu akan dapat membunuhnya.

Tadi pun ia sudah merasa terheran mengapa ia bisa keluar dari keadaan itu dengan selamat dan tidak terluka, dan kini mendengar ucapan Kiang Liat, ia merasa malu untuk maju lagi.

Sudah jelas bahwa kepandaiannya masih kalah jauh kalau dibandingkan dengan pemuda luar biasa itu.

It-Gan Sin-Kai Si Mata Satu melangkah maju dan matanya yang tinggal satu sebelah kanan itu memancarkan sinar menakutkan.

"Kiang-Enghiong, kau benar-benar lihai sekali dan tidak percuma kau berjuluk Jeng-Jiu-Sianjin (Manusia Dewa Tangan Seribu)! Akan tetapi sekali ini kau menghina dan merusak peraturan dari Cap-Si Kai-Pangcu, maka sekali lagi aku atas nama semua kawan mengharapkan agar kau sudi mengalah dan pergi meninggalkan kami mengurus dan menyelesaikan urusan kami sendiri. Lain kali kami tentu akan mengunjungimu menghaturkan maaf."

"Tidak mungkin, It-Gan Sin-Kai! Bagiku, biarpun aku Kiang Liat masih muda, namun berlaku kata-kata It-gan-ki-jut Su-ma-lam-twi (sekali kata-kata dikeluarkan, empat ekor kuda tak dapat menarik kembali)! Kalau kalian tidak mau melepaskan kakek itu, aku pun tidak akan pergi dari sini dan akan menghalangi siapapun juga yang akan membunuh orang yang tak berdaya!"

Kata Kiang Liat dengan gagah.

"Tetap begitukah pendirianmu, Kiang-Enghiong?"

Tanya It-Gan Sin-Kai marah.

"Tetap begitu dan takkan dapat dirubah oleh siapapun juga!"

Kata Kiang Liat dengan suara tetap pula, karena ia sendiri pun sudah marah melihat betapa para tokoh Pengemis itu begitu tidak tahu akan perikemanusiaan dan akan membunuh seorang kakek yang kelihatan begitu tidak berdaya.

Ia sudah seringkali mendengar tentang Cap-Si Kai-Pangcu ini, mendengar bahwa mereka adalah pendekar-pendekar berkepandaian tinggi yang menjunjung tinggi kegagahan dan perikebajikan, mengapa sekarang mereka berkeras hendak berlaku kejam terhadap seorang kakek yang tak berdaya?

"Kalau begitu, terpaksa kami akan melakukan kekerasan dengan senjata, dan kalau sekiranya semua orang kang-ouw berada di sini, pasti mereka akan membenarkan kami!"

Kata It-Gan Sin-Kai.

"Kalau mereka membenarkan kalian, mereka itu tidak pantas menyebut diri orang-orang kang-ouw, melainkan orang-orang berhati kejam yang tidak mengenal perikemanusiaan!"

Kata Kiang Liat.

Ketika melihat betapa empat belas orang Ketua Perkumpulan-perkumpulan Pengemis itu mengeluarkan senjata masing-masing ia pun lalu mencabut Pedangnya yang mengeluarkan sinar gemerlapan.

Kedua pihak sudah bersiap-sedia untuk mempergunakan kekerasan, dan Kiang Liat yang maklum bahwa ia menghadapi orang-orang lihai, berlaku amat hati-hati.

Ia pikir bahwa biarpun ia takkan menang dan sekalipun ia akan mati dikeroyok oleh Cap-Si Kai-Pangcu ini, ia tidak akan merasa penasaran oleh karena ia membela kebenaran.

Dan benar saja seperti yang ia duga, empat belas orang Pengemis itu bergerak serentak dan menyerangnya dari berbagai jurusan.

Kiang Liat cepat memutar Pedangnya menangkis dan terdengar suara tang-ting-tung ketika Pedangnya beradu dengan tongkat dari mereka.

Bukan main kagetnya Kiang Liat karena ternyata bahwa tenaga mereka itu rata-rata amat besar dan seimbang dengan tenaganya sendiri.

Ia bergerak cepat, namun empat belas batang tongkat lebih cepat lagi dan dalam lima gebrakan saja pinggangnya sudah terkena pukulan tongkat!

Bukan main sakitnya, dan baiknya ia memiliki tenaga Lwee-kang yang sudah tinggi sehingga ia tidak terluka berat.

Namun pukulan ini telah mengacaukan pikirannya dan untuk menyelamatkan diri, ia melompat jauh sambil memutar Pedangnya yang berubah menjadi segunduk sinar yang menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ketika keadaan Kiang Liat amat terdesak karena kalau empat belas orang lawannya itu menyerang lagi pasti ia takkan dapat mempertahankan diri, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan terdengar seruan orang yang suaranya amat berpengaruh.

"Tahan dulu semua senjata! Kawan-kawan yang hidup bebas mengapa mengikatkan diri dengan pertempuran?"

Kiang Liat dan semua Pengemis itu menengok.

Mereka melihat seorang Pengemis yang bertubuh tegap, berusia kurang lebih empat puluh tahun tahu-tahu telah berdiri di situ.

Pengemis ini berwajah tampan dan gagah, kulit muka dan tangannya bersih terpelihara, akan tetapi rambutnya awut-awutan ke sana ke mari, demikian pun jenggot dan kumisnya.

Bajunya tambal-tambalan, akan tetapi bersih juga.

Tangan kanannya memegang sebatang tongkat kecil, sebesar ibu jari kaki dan di pinggangnya nampak gagang sebatang Pedang.

Baik Kiang Liat maupun para tokoh Pengemis itu tidak mengenal siapa adanya Pengemis ini.

Bagi Kiang Liat, masih tidak mengherankan kalau ia tidak mengenal Pengemis yang baru datang ini, akan tetapi empat belas orang ketua Partai Pengemis yang terbesar sampai tidak mengenalnya, benar-benar adalah hal yang amat mengherankan.

"Siapakah kawan yang baru datang?"

Tanya It-Gan Sin-Kai dan suaranya jelas menyatakan betapa hatinya terguncang dan malu karena memang amat memalukan bagi seorang Ketua Perkumpulan Pengemis sampai menanyakan siapa adanya seorang Pengemis yang baru datang.

Sambil bertanya demikian, ia memandang kepada semua Kai-Pangcu yang berada di situ, akan tetapi seorang pun tidak ada yang tahu dan mereka ini pun memandang kepada Pengemis yang baru tiba itu dengan mata penuh pertanyaan.

Pengemis itu tersenyum dan wajahnya nampak tampan ketika ia tersenyum.

"Tidak ada artinya siapa adanya aku seorang Pengemis hina-dina ini yang tidak terkenal, hanya karena kebetulan sekali aku lewat di sini, aku merasa tertarik sekali melihat orang hendak mengadu nyawa. Demikian mengerikan! Mengapa untuk membereskan persoalan harus mempergunakan tongkat dan Pedang? Apakah gerangan yang terjadi di sini?"

Kiang Liat memang masih muda, akan tetapi ia sudah banyak merantau dan namanya sudah amat terkenal di dunia kang-ouw.

Pandangan matanya amat tajam dan tadi ketika Pengemis yang baru tiba ini berkelebat datang, ia dapat menduga bahwa Pengemis yang datang ini memiliki kepandaian tinggi.

Karena ia maklum bahwa ia memang takkan dapat menang menghadapi empat belas orang ketua yang lihai itu, maka ia lalu berkata kepada Pengemis yang baru datang itu.

"Sahabat yang baru datang tentulah seorang kang-ouw yang mengenal keadilan, oleh karena itu kebetulan sekali kau datang bertanya tentang persoalan ini. Sesungguhnya, aku sendiri pun seorang perantau yang tidak mempunyai sangkut paut dengan para Kai-Pangcu ini, akan tetapi ketika tiba di sini aku melihat empat belas orang Kai-Pangcu yang berkepandaian tinggi ini hendak menyiksa dan menghukum mati seorang kakek yang tidak berdaya itu. Oleh karena inilah maka terpaksa aku melupakah kebodohan sendiri dan berusaha mencegah mereka melakukan hal yang amat kejam itu."

Kiang Liat menunjuk kepada seorang kakek tua yang semenjak tadi duduk bersandar kepada sebatang pohon.

Kakek ini kelihatan tidak berdaya dan semenjak tadi hanya duduk sambil menundukkan mukanya yang pucat.

Di dekatnya terdapat sebuah buntalan yang nampak berat entah apa isinya.

Mendengar ucapan Kiang Liat ini, It-Gan Sin-Kai memandang kepada kawan-kawannya dan berkata.

"Perlukah kami memberi penjelasan kepada sahabat yang baru datang dan yang tidak mau memperkenalkan namanya ini?"

"Tentu saja,"

Kata Pat-Jiu Siauw-Kai.

"kalau dia seorang kang-ouw tulen, tentu dia akan dapat membenarkan kami."

It-Gan Sin-Kai menghadapi Pengemis yang baru datang itu, dan berkata memberi penjelasan.

"Begini, kawan. Kami empat belas orang Ketua Perkumpulan Pengemis berkumpul di sini untuk memberi hukuman kepada seorang bekas Ketua Pengemis di daerah Selatan yang telah melanggar pantangan bagi kami semua. Dia telah berlaku curang, mengumpulkan harta benda dan melepaskan diri dari tugas memimpin kawan-kawan, hendak hidup sebagai seorang kaya raya. Ini adalah kedosaan besar, melanggar peraturan kami nomor tujuh dan untuk kedosaan ini, harta bendanya harus disita demikian pula nyawanya."

"Bagus! Peraturan macam apa itu? Merampas harta benda, merampas nyawa, benar-benar amat rendah!"

Kiang Liat memotong marah.

"Kiang-Enghiong jangan kau membuka mulut sembarangan!"

It-Gan Sin-Kai juga membentak marah.

"Peraturan ini adalah buatan dari Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai yang mulia, bagaimana kau berani menyatakan rendah?"

Mendengar disebutnya nama Ang-Bin Sin-Kai, tiba-tiba Pengemis yang baru datang itu berubah mukanya.

"Kawan-kawan sekalian, kalian tahu apakah tentang Ang-Bin Sin-Kai?"

Tanyanya memandang tajam. Kini semua mata dari para Pengemis itu ditujukan kepadanya dengan marah.

"Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai adalah pendiri dari Partai-Partai Pengemis, mula-mula di Selatan. Siapa yang tidak mengenalnya? Apalagi orang yang hidup bebas sebagai Pengemis harus mengenalnya. Kami memuliakan namanya dan kau menyebut namanya begitu saja. Siapakah kau?"

"Kalian mau tahu? Aku bernama Han Le, dan Ang-Bin Sin-Kai adalah guruku!"

Kini semua mata memandang dengan terbelalak lebar dan mulut mereka bengong.

Tidak hanya para tokoh Pengemis yang menjadi terheran-heran, bahkan Kiang Liat sendiri pun memandang tak percaya.

Dia tentu saja pernah mendengar nama besar Ang-Bin Sin-Kai, namun dia tak pernah melihat orang tua sakti itu yang sudah meninggal dunia lama sekali.

Maka kini ia hanya memandang saja.

"Benar-benarkah, kawan? Awas, jangan kau main-main. Biarpun kami tidak pernah mendapat kebahagiaan mengenal Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai dari dekat, namun kami tahu betul bahwa muridnya hanyalah orang sakti yang disebut Bu Pun Su."

Han Le tertawa lebar.

"Bu Pun Su memang muridnya, akan tetapi kepandaiannya jauh lebih tinggi dari Suhu, dan aku yang rendah merasa mendapat kehormatan besar untuk mengaku bahwa Bu Pun Su adalah Suheng (kakak seperguruan)-ku."

Kembali semua orang menyatakan ketidak-percayaannya. Akan tetapi It-Gan Sin-Kai berkata.

"Tidak peduli apakah kau benar murid Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai atau bukan, apakah kau benar-benar Sute dari Bu Pun Su atau bukan, akan tetapi setelah kau tiba di sini, bagaimana anggapanmu tentang urusan kami dengan Kiang-Enghiong ini?"

"Ya, bagaimana keputusanmu, murid dari Ang-Bin Sin-Kai?"

Tanya Kiang Liat, suaranya mengejek. Memang Kiang Liat tidak percaya akan keterangan Han Le tadi, dan memang sifat Kiang Liat amat pemberani dan jenaka.

"Menurut pemandanganku yang amat bodoh, kalau memang sudah ada peraturan bahwa orang yang melanggar harus dihukum, hal itu sukar untuk dirubah lagi. Namun, aku tidak setuju kalau hukuman itu hukuman mati, paling baik dia dilepaskan dan tidak diakui menjadi anggauta lagi. Betapapun juga, dalam perselisihan ini, Kiang-Enghiong terang berada di pihak yang salah. Tidak baik mencampuri urusan rumah tangga lain orang."

Jawaban ini terang sekali bercabang dua, di satu pihak menyalahkan Kiang Liat, di lain pihak tidak menyetujui hukuman yang akan dijatuhkan kepada kakek itu.

Adapun kakek itu ketika mendengar kata-kata ini, lalu berkata seperti kepada diri sendiri.

"Aku orang she Song sudah merasa bersalah, akan tetapi bukan sekali-kali terdorong oleh keinginanku hidup mewah, hanya demi kebahagiaan cucu perempuanku yang satu-satunya. Kalian mau bunuh boleh bunuh asal saja kalian suka mengingat akan kehidupan cucuku Bi Li!"

"Tutup mulutmu, jahanam rendah!"

It-Gan Sin-Kai berkata keras, kemudian ia menghadapi Han Le.

"Orang she Han, kau datang-datang mengaku sebagai murid Ang-Bin Sin-Kai Locianpwe, datang-datang kau berani mencela undang-undang kami yang diturunkan oleh Ang-Bin Sin-Kai Locianpwe. Buktikanlah bahwa kau benar-benar murid beliau, baru kami akan suka mendengarkan omonganmu. Tanpa bukti, lebih baik kau jangan mencampuri urusan kami."

Semua tokoh Pengemis mengangguk-anggukkan kepala menyatakan persetujuannya. Han Le tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang gondrong, sungguhpun kepala itu tidak gatal.

"Bagaimana aku harus membuktikannya?"

It-Gan Sin-Kai dan kawan-kawannya saling mendekati dan bisik-bisik. Kemudian Pengemis mata satu itu berkata.

"Kami pernah mendengar bahwa Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai memiliki sebuah Kiam-Hoat (ilmu Pedang) yang amat lihai dan tiada keduanya di dunia ini, yang disebut sebagai Hun-Khai Kiam-Hoat. Kalau benar kau adalah muridnya, tentu kau dapat mainkan ilmu Pedang itu."

Han Le tertawa.

"Sudahkah kalian melihat ilmu Pedang itu?"

Mereka menggeleng kepala.

"Kalau kalian belum pernah melihat ilmu Pedang itu, bagaimana kalian bisa minta aku memainkannya?"

Para Pengemis itu saling pandang, kemudian It-Gan Sin-Kai berkata dengan suara nyaring, seakan-akan ia telah mendapatkan jalan yang terbaik untuk memecahkan hal ini.

"Kau boleh mainkan ilmu Pedang itu dan kalau kau bisa menangkan kami seorang demi seorang, barulah kami akan percaya bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai."

Kembali semua Pengemis itu menyatakan persetujuannya. Han Le tersenyum lagi dan ia menggerak-gerakkan tongkatnya yang kecil itu.

"Baiklah, bukan aku yang minta. Nah, kalian majulah seorang demi seorang untuk berkenalan dengan Hun-Khai Kiam-Hoat dari Suhu Ang-Bin Sin-Kai."

It-Gan Sin-Kai maju terlebih dulu.

Pengemis ini terkenal lihai sekali ilmu ginkangnya dan juga ilmunya mainkan ilmu Pedang yang dimainkan dengan tongkatnya.

Tongkat itu pendek saja dan sekali ia menekan, ternyata bahwa tongkat itu dapat dilepas dan kini berubah menjadi sepasang!

"Keluarkanlah Pedangmu untuk kulihat apakah betul-betul kau bisa mainkan Hun-Khai Kiam-Hoat!"

Katanya menantang.

"Bukankah kau It-Gan Sin-Kai yang pandai mainkan ilmu Pedang pasangan yang disebut Siang-Hong Kiam-Hoat (Ilmu Pedang Sepasang Burung Hong)? Kau sendiri mempergunakan tongkat sebagai Pedang, biarlah aku pun menirumu, memang bagi Pengemis-Pengemis seperti kita lebih pantas bertongkat daripada berPedang."

"Sesukamulah!"

Jawab It-Gan Sin-Kai yang cepat menyerang dengan tongkat kirinya, menusuk ke arah leher Han Le, disusul oleh tongkat kanan yang menyerang ke arah lambung.

Han Le cepat menggerakkan tongkat kecilnya sambil berkata.

"Nah, inilah ilmu Pedang Hun-Khai Kiam-Hoat bagian Khai (membuka)!"

Katanya.

Dan It-Gan Sin-Kai mengalami hal yang amat aneh yang baru ia alami kali ini dalam pertempuran-pertempuran yang banyak ia lakukan.

Kemanapun juga sepasang tongkatnya menyerang, selalu tongkatnya itu bertemu dengan senjata lawan dan terbuka atau terpalang sehingga semua serangannya terpental dan membuka.

Kalau lawannya yang jauh lebih muda itu mau, dengan mudah Han Le tentu akan dapat membalas dengan memasuki bagian-bagian yang terbuka itu.

Akan tetapi, terang sekali bahwa Han Le tidak mau melukai lawan bahkan tidak mau membalas dengan serangan.

Kurang lebih dua puluh jurus kemudian, Han Le berkata sambil tertawa.

"Dan inilah bagian Hun (memecah)!"

Tongkatnya bergerak makin cepat, dengan gerakan-gerakan yang amat aneh.

Kali ini It-Gan Sin-Kai mengeluarkan suara tertahan ketika sepasang tongkatnya menjadi kacau-balau gerakannya, dan benar-benar semua jurus yang ia keluarkan terpecah-belah oleh gerakan tongkat lawan.

Sepasang tangannya menjadi pedas sekali dan kalau ia tidak lekas-lekas melompat mundur, tentu sepasang tongkatnya akan terlepas dari pegangan.

"Lihai sekali!"

Serunya sambil menjura.

"Sungguhpun aku tidak dapat memastikan apakah yang kau mainkan itu betul-betul Hun-Khai Kiam-Hoat, namun harus kuakui bahwa selama hidupku belum pernah aku menghadapi ilmu silat seaneh dan selihai itu."

Pat-Jiu Sin-Kai Pengemis kate berperut gendut kini maju menggantikan It-Gan Sin-Kai.

Pengemis itu senjatanya tongkat panjang yang dimainkan sebagai Toya.

Akan tetapi, seperti halnya It-Gan Sin-Kai, ia hanya dapat bertahan tidak lebih dari tiga puluh jurus saja, sungguhpun Han Le tak pernah menyerangnya sejurus pun.

Dengan tangkisan-tangkisan saja ia sudah merasa bingung dan kewalahan, bahkan pada jurus terakhir, tongkatnya membalik sedemikian rupa sehingga tanpa dapat dicegah lagi, tongkat itu ujungnya menghantam kepalanya sendiri!

"Lihai benar, aku menyerah kalah!"

Katanya jujur. Setelah dua orang ini yang dianggap kepandaiannya tertinggi dengan mudah menyerah kalah, semua Pengemis mulai percaya.

"Kami mulai kehilangan keraguan bahwa kau benar-benar murid Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai,"

Kata It-Gan Sin-Kai kepada Han Le.

"Sekarang bagaimanakah menurut pendapatmu, sahabat muda yang lihai?"

Han Le tersenyum senang.

"Sudah lama aku mendengar nama Cap-Si Kai-Pangcu yang terkenal adil dan gagah, dan ternyata memang betul demikian. Perkara kakek yang melanggar larangan perkumpulan kaipang, memang harus dihukum. Harta bendanya boleh dirampas dan ia boleh dihukum, akan tetapi bukan hukuman mati, melainkan hukuman cambuk lima puluh kali."

"Setuju!"

Serentak para Pengemis itu berseru.

It-Gan Sin-Kai sendiri lalu maju dan di tangannya sudah kelihatan sebatang cambuk.

Akan tetapi tiba-tiba Kiang Liat melompat ke dekat It-Gan Sin-Kai dan sebelum Pengemis mata satu itu dapat mengelak, cambuk itu sudah dirampas oleh Kiang Liat!

"Aturan apa ini?

Kau Pengemis yang baru datang, betapa gagah pun tetap berjiwa Pengemis dan berpikir seperti Pengemis!

Orang tua itu bosan hidup menjadi Pengemis lalu menempuh hidup baru yang lebih pantas demi kebahagiaan cucunya, bukankah itu baik sekali?

Kalian seharusnya meniru perbuatannya, sungguh tidak tahu malu!

Apakah hukuman ini dilakukan karena kalian iri hati melihat dia kaya dan hidup bahagia sedangkan kalian masih jadi jembel?"

Han Le memandang kepada Kiang Liat dengan mata bersinar-sinar gembira.

Ia suka sekali melihat sikap pemuda itu, dan ia pun merasa kagum melihat caranya.

Kiang Liat merampas cambuk dari tangan It-Gan Sin-Kai.

Gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu ketika merampas cambuk, bukanlah gerakan ilmu silat yang aneh, melainkan gerakan biasa saja.

Akan tetapi cara melakukannya demikian cepat dan hebat, ditambah dengan kembangan sendiri sehingga It-Gan Sin-Kai sampai tak mengira cambuknya akan dirampas.

Gerakan ini saja sudah membuktikan bahwa Kiang Liat memang memiliki bakat yang luar biasa sekali dalam ilmu silat.

Sebagian besar ahli silat, gerakan-gerakannya otomatis seperti pelajaran yang dipelajari dari guru masing-masing dan hanya orang yang berbakat tinggi saja dapat memperkembangkan gerakan silat yang dipelajari dari gurunya menjadi gerakan yang amat baik, sesuai dengan keadaan tubuh sendiri.

Hal ini diketahui benar oleh Han Le maka kini ia memandang dengan mata berseri.

"Orang muda, terhadap peraturan dan kehidupan orang-orang yang dianggap Pengemis matamu seperti buta. Kau tidak tahu apa-apa, mengapa ikut campur? Pernahkah kau mendengar nama Ang-Bin Sin-Kai?"

Tanya Han Le.

"Tentu saja pernah,"

Jawab Kiang Liat mengedikkan kepala.

"Seperti apa kau mendengar tentang dia?"

"Ang-Bin Sin-Kai seorang patriot sejati, seorang gagah yang berani membela si lemah yang tertindas sehingga ia berani menyerbu ke Kota Raja dan tewas sebagai seorang Pahlawan,"

Jawab Kiang Liat. Han Le makin gembira.

"Apakah kau tidak dengar bahwa dia juga seorang Pengemis seperti telah disebutkan oleh julukannya?"

"Biarpun kau mengaku muridnya, akan tetapi aku tetap tidak percaya bahwa Ang-Bin Sin-Kai akan bersikap seperti kalian. Tak dapat aku membayangkan bahwa Pahlawan besar itu boleh direndengkan dengan orang-orang seperti kalian yang hendak mempergunakan kekuatan dan jumlah banyak untuk menghina seorang kakek yang tidak berdosa, bahkan yang hendak menempuh jalan benar. Pendeknya kalian tidak boleh menyiksanya!"

"Kau lancang sekali, orang she Kiang, apakah kau berani menentangku"

Han Le menantang, akan tetapi mulutnya masih tersenyum dan matanya berseri.

"Mengapa tidak berani? Boleh jadi kau murid Ang-Bin Sin-Kai dan boleh jadi kau lihai, akan tetapi aku akan menentangmu kalau kau hendak membantu Pengemis-Pengemis tua yang kejam ini."

"Nah, kalau begitu mari kita bertaruh,"

Kata Han Le dengan wajah berseri.

"Kita semua tidak mempunyai permusuhan sesuatu dan keributan ini pada hakekatnya hanya karena perbedaan paham belaka. Mari kau dan aku bertanding dan kita bertaruh."

"Apa taruhannya?"

Kiang Liat membentak.

"Untuk membela kaum lemah, aku pertaruhkan kepala dan nyawaku!"

Han Le tersenyum.

"Kalau tidak mampu, berarti aku kalah dan kau boleh membunuh aku dan semua Ketua Pengemis ini tanpa perlawanan sama sekali!"

Kembali semua Pengemis itu terkejut sehingga ada yang pucat mukanya.

Mereka tidak tahu bahwa Han Le memiliki pemandangan tajam dan sudah tahu akan kemuliaan hati Kiang Liat yang keras hati, akan tetapi ia sengaja memancing untuk melihat sampai di mana pribudi pemuda tampan ini.

"Siapa mau jiwa kalian? Kalau aku menang dalam taruhan, cukup kalau kalian membebaskan kakek itu dan mengembalikan harta bendanya dan selanjutnya jangan mengganggunya lagi."

Ia berhenti sebentar lalu berkata.

"Sebaliknya kalau aku kalah, kalau benar-benar dalam dua puluh jurus kau dapat merobohkanku, kau boleh berbuat sesuka hatimu kepadaku. Mau bunuh boleh bunuh!"

"Aha, enak saja kau bicara. Aku pun tidak kehendaki nyawamu, orang muda. Kalau kau kalah, kau harus membiarkan kami menghukum pelanggar itu, adapun kau sendiri, sebagai hukuman kau harus menjalani penghidupan sebagai Pengemis selama setahun dan ikut padaku ke mana aku pergi,"

Kata Han Le. Merah muka Kiang Liat dan ia marah sekali. Ia membanting-banting kedua kakinya karena merasa terhina, akan tetapi mulutnya menjawab.

"Boleh, boleh! Aku tidak takut mati, mengapa takut menjadi Pengemis? Bersiaplah kau!"

Sambil berkata demikian, ia mencabut Pedangnya yang tadi sudah disarungkannya kembali. Han Le memperlihatkan tongkatnya yang kecil.

"Aku sudah bersiap sejak tadi. Hayo majulah dengan jurus pertama!"

Melihat Han Le tersenyum-senyum seakan-akan amat memandang rendah, naiklah darah Kiang Liat.

Ia dikenal sebagai Jeng-Ciang-Sian (Manusia Dewa Bertangan Seribu), kepandaiannya sudah amat tinggi karena dia telah mewarisi seluruh ilmu silat dari ayahnya, ilmu silat keluarga Kiang adalah keturunan dari ilmu silat yang diciptakan oleh Jenderal Perang Kiang Bu Siong, yang ratusan tahun yang lampau pernah menggegerkan dunia karena kelihaiannya.

Ilmu silat ini turun-menurun dan akhirnya Kiang Liat adalah ahli waris terakhir, karena ayah bunda Kiang Liat telah meninggal dunia.

Selama beberapa tahun ini, setelah dewasa, Kiang Liat boleh dibilang telah mengangkat nama besar dengan ilmu silatnya.

Tidak saja ia memang berkepandaian tinggi, juga orang-orang kang-ouw memandang tinggi keluarga Kiang ini dan segan-segan untuk memusuhinya, karena memang mereka semua tahu belaka akan kelihaian ilmu silat keluarga Kiang.

Akan tetapi hari ini bertemu dengan seorang Pengemis yang rambutnya gondrong, yang kelihatannya begitu lemah, namun begitu berani menghinanya menantang untuk merobohkannya dalam dua puluh jurus!

Dan ini masih belum hebat lagi yang lebih membikin hatinya mengkal adalah karena Pengemis ini hendak menghadapi Pedangnya hanya dengan sebatang tongkat kecil!

"Orang tua,"

Katanya sambil menekan hawa ke arah dadanya agar kemarahannya tidak memuncak.

"Kau hendak merobohkan aku dalam dua puluh jurus, itu saja sudah merupakan taruhan yang berat sebelah dan tidak adil, membikin aku merasa malu saja. Sekarang kau masih hendak menghadapiku dengan sebatang tongkat kecil, bukankah ini keterlaluan? Aku bukannya seorang manusia yang hendak menang sendiri seperti itu. Kalau kau tidak mau mengeluarkan Pedangmu, aku pun tidak akan menggunakan Pedang dan aku melawan tongkatmu itu dengan tangan kosong."

Han Le membelalakkan kedua matanya, kemudian tertawa terbahak.

"Ha, ha, ha, Kiang Liat, kau memang patut menjadi muridku untuk setahun. Baiklah, kau lihat seranganku pertama dengan Pedang!"

Kata-kata ini disusul dengan kejadian yang benar-benar hebat sekali sehingga Kiang Liat hampir berteriak kaget, dan buru-buru ia memutar Pedang menangkis sambil melompat mundur.

Ternyata bahwa begitu kata-katanya habis, tubuh Han Le bergerak dan tahu-tahu ia telah memegang Pedang yang langsung dipergunakan untuk menyerang pundak Kiang Liat.

Adapun tongkatnya yang tadi, entah bagaimana dan kapan dilakukannya, tahu-tahu telah menancap di atas tanah!

Kiang Liat tidak mau berlaku lambat dan lemah.

Begitu melihat bahwa ia telah dapat mengelak dari serangan pertama, ia lalu memasang kuda-kuda dan siap menanti serangan lebih lanjut.

Hatinya mulai yakin bahwa ia kini menghadapi seorang lawan yang benar-benar amat lihai ilmu silatnya.

Han Le yang tidak mau membuang waktu sia-sia, cepat maju lagi dan melakukan dua kali serangan beruntun.

Serangannya ini demikian hebatnya serta cepatnya sehingga Kiang Liat biarpun berhasil menangkis namun ia sampai terhuyung-huyung ke belakang tiga langkah.

Namun dengan pertahanan Pedangnya yang amat kokoh kuat dari ilmu Pedang keluarga Kiang, ia berhasil menggagalkan dua serangan itu sehingga kini ia telah melewati tiga jurus dengan selamat!

Kalau Kiang Liat amat terkejut melihat dua serangan yang amat aneh dan dahsyat itu, di lain pihak Han Le diam-diam harus memuji.

Ia adalah murid Ang-Bin Sin-Kai dan ini masih belum hebat, kepandaiannya menjadi luar biasa hebatnya karena ia telah mendapatkan Pulau Pek-Hio-To (Pulau Daun Putih) ketika ia mencari Suhengnya, yakni Bu Pun Su Lu Kwan Cu, Dimana ia melihat lukisan-lukisan di dinding gua dan melatih diri dengan ilmu-ilmu silat yang terukir di dinding itu (baca cerita Pendekar Sakti).

Selain ini, dalam beberapa belas tahun ini ia telah merantau dan di dunia kang-ouw ia telah melihat banyak sekali ilmu-ilmu silat yang tinggi, maka kepandaiannya makin matang.

Namun, melihat ilmu Pedang dari keluarga Kiang yang demikian kokoh kuat pertahanannya, mau tidak mau ia harus memuji.

Dari sifat pertahanan yang kuat sekali itu, diam-diam ia menduga bahwa tentu ilmu Pedang keluarga Kiang yang dimainkan oleh pemuda ini masih satu sumber dengan Thian-San Kiam-Hoat (Ilmu Pedang dari Bukit Thian-San), yang mendasarkan kepada pertahanan yang amat kuat.

"Orang tua, hayo teruskan seranganmu. Baru tiga jurus, kurang tujuh belas jurus lagi, akan kucoba mempertahankan diri!"

Kiang Liat menantang dengan suara gembira.

Menghadapi seorang lawan yang benar-benar lihai ini, timbullah kegembiraan di hati pemuda yang tabah ini, dan melihat wajah Pengemis itu seperti ragu-ragu, ia menjadi besar hati dan timbul kesombongannya maka ia menantang.

Namun Han Le hanya tersenyum.

Dalam hal taktik pertempuran, tentu saja ia jauh lebih menang daripada Kiang Liat.

Baru tiga jurus saja tahulah Han Le bahwa pemuda itu tentu akan mempertahankan diri secara mati-matian dan dia sendiri tidak bermaksud melukai atau membinasakan Kiang Liat, maka kiranya sampai dua puluh jurus belum tentu ia akan dapat merobohkan lawannya tanpa membinasakannya.

Jalan satu-satunya adalah membiarkan pemuda itu yang menyerangnya.

Ketika mempelajari ilmu silat yang aneh dari lukisan-lukisan di dalam gua di Pulau Pek-Hio-To ia mendapatkan ilmu silat yang amat aneh gerakannya dan juga amat aneh tipu geraknya.

Ilmu silat ini mendasarkan serangannya pada serangan lawan!

Memang agak aneh terdengarnya, namun memang demikianlah halnya.

Ilmu silat yang ia pelajari itu sebenarnya adalah pecahan atau sebagian kecil saja dari ilmu silat yang terdapat dalam Kitab rahasia Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng.

Sari pelajaran dari sedikit bagian ini ialah membuka mata pelajarannya akan kekosongan atau kelemahan yang terdapat atau terbuka dalam setiap serangan lawan.

Sudah menjadi hukum alam bahwa segala sesuatu itu tentu mempunyai dua sifat yang bertentangan.

Demikian pula dalam gerakan ilmu silat.

Dalam penyerangan, walaupun penyerangan itu tentu saja bersifat kuat dan mengancam lawan, tentu terdapat lowongan yang bersifat lemah dan terancam.

Misalnya seorang yang memukul dengan tangan kanan, otomatis kedudukannya lemah karena kuda-kudanya hanya di atas sebelah kaki saja, demikian seterusnya.

Han Le yang amat cerdik itu, hendak mempergunakan ketabahan dan kekerasan hati Kiang Liat untuk mengalahkannya.

Maka ia tersenyum-senyum ketika ditantang, lalu menjawab.

"Anak muda, setelah melihat tiga gebrakan, aku yakin bahwa tanpa menyerangmu pun aku akan dapat merobohkanmu. Apalagi kalau aku serang, sedangkan dengan mempertahankan diri saja, sebelum tujuh belas jurus lagi kau tentu akan terpelanting sendiri kelelahan!"

Mendengar ini, bukan main marahnya hati Kiang Liat.

Ia benar-benar telah dipandang rendah oleh Pengemis ini.

Kalau saja ia tidak begitu muda dan keras hati, boleh jadi ia tahu akan siasat Pengemis yang lihai itu.

Namun kemarahan hatinya membuat ia tidak mau berpikir panjang lagi.

Sambil memutar Pedangnya ia berseru.

"Pengemis sombong, rasakan kelihaian ilmu Pedangku!"

Ia lalu menyerang bagaikan gelombang ombak.

Serangannya datang bergulung-gulung, susul-menyusul dengan gerak tipu yang paling lihai dari ilmu Pedangnya.

Pedangnya lenyap berubah menjadi segulung sinar yang berkilauan, bagaikan seekor naga yang berlagak di angkasa.

Para tokoh Pengemis yang berada di situ diam-diam kagum sekali, tidak hanya kagum melihat kehebatan ilmu Pedang itu, terutama sekali kagum melihat keindahan gerakan-gerakan dari pemuda tampan itu.

Memang, ilmu Pedang keluarga Kiang kuat pertahanannya seperti Thian-San Kiam-Hoat akan tetapi indah sekali gerak-geriknya, lebih indah daripada gerakan-gerakan ilmu Pedang Bu-Tong-Pai.

Han Le sendiri diam-diam memuji dan kalau ia dahulu di waktu muda tidak mewarisi ilmu kepandaian dari lukisan pada dinding gua di Pulau Pek-Hio-To, agaknya dengan Hun-Khai Kiam-Hoat saja ia tidak mungkin dapat mengalahkan pemuda ini tanpa melukainya dalam dua puluh jurus!

Sepuluh jurus lewat dan Kiang Liat merasa pening.

Matanya kabur dan pedas karena lawan yang diserangnya itu seakan-akan bukan manusia, melainkan bayang-bayang atau asap saja.

Ke mana pun juga ia menyerang, selalu mengenai angin dan bayangan lawannya berpindah tempat.

Namun ia mendesak makin hebat.

Sebelas jurus lewat, dua belas, tiga belas, lima belas jurus!

Dengan tiga jurus yang pertama, delapan belas jurus telah lewat!

Para Ketua Perkumpulan Pengemis berdebar-debar hatinya.

Kalau dalam dua jurus lagi pemuda itu tidak roboh, berarti mereka kalah bertaruh!

Dan agaknya tak mungkin akan roboh, karena Kiang Liat masih berada di pihak penyerang.

Namun, bagi Kiang Liat sendiri, ia kaget setengah mati ketika kehilangan lawannya yang lenyap entah berada di mana.

Sebelum ia dapat mencari lawannya kembali, tahu-tahu punggungnya telah tertotok oleh jari tangan yang amat lunak dan kuat.

Seluruh tubuhnya lemas dan sekali renggut saja Han Le dapat merampas Pedangnya.

Kiang Liat berusaha hendak mempertahankan diri agar jangan roboh, namun dengan enaknya Han Le mendorong dadanya dan Kiang Liat tak dapat menahan, roboh terjengkang!

Tepat sembilan belas jurus ia benar-benar kena dirobohkan tanpa terluka sedikitpun.

Cap-Si Kai-Pangcu bersorak, bukan saja karena girang mendapat kemenangan dalam taruhan, akan tetapi terutama sekali karena terkejut dan kagum.

Tanpa ada yang perintah, mereka otomatis menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le, dan It-Gan Sin-Kai berkata mewakili kawan-kawannya.

"Mohon Han-Taihiap sudi memaafkan kami sekalian yang bermata buta sehingga tadi tidak percaya bahwa Taihiap adalah murid dari Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai."

Han Le menghadapi mereka dan mukanya bersungguh-sungguh.

"Cuwi Kai-yu yang baik. Suhu dahulu memang seorang Pengemis seperti aku pula, dan memang dalam setiap perkumpulan, orang-orang harus mentaati peraturan. Namun segala macam hukuman itu harus disesuaikan dengan kedosaan orang yang melanggarnya. Menurut yang kudengar tadi, Song Lo-Kai (Pengemis Tua she Song) itu biarpun telah melakukan pelanggaran terhadap undang-undang perkumpulan, namun pelanggarannya bukan karena ia jahat. Ia ingin keluar dari keanggautaan Pengemis karena ia ingin mengangkat derajat cucunya perempuan. Dan hal ini harus kita maklumi bersama karena tak dapat disangkal lagi amat rendah derajat seorang gadis cucu Pengemis!"

Setelah berkata demikian, Han Le mengerling tajam ke arah Song Lo-Kai. Kakek itu cepat menghampiri Han Le dan berkata.

"Bukan demikian, Han-Taihiap. Memang aku telah bersalah, dan untuk kesalahan itu, biarpun dihukum mati, aku Si Tua Bangka takkan penasaran. Hanya saja, cucuku hidup sebatang kara, tiada orang tuanya lagi dan kepada siapakah ia mengandalkan hidupnya kalau tidak kepadaku, kakeknya? Oleh karena inilah maka sebelum aku mati, aku ingin meninggalkan sedikit kekayaan kepadanya, agar kelak ia takkan hidup terlantar. Untuk kebenaran omonganku, aku Si Tua Bangka she Song bersedia bersumpah."

Han Le mengangguk-angguk, kemudian berkata kepada It-Gan Sin-Kai.

"Kalian mendengar sendiri, maka bagaimana sekarang keputusan kalian?"

"Terserah kepada Han-Taihiap. Dengan adanya Taihiap di sini dan telah memberi peringatan kepada kami, kami anggap bahwa Han-Taihiap mewakili Locianpwe Ang-Bin Sin-Kai, dan kami menerima segala keputusan Taihiap."

"Keputusan, dia boleh dihukum cambuk lima puluh kali akan tetapi tidak boleh sampai mati. Hartanya boleh dia bawa pulang untuk cucunya."

"Baik, Taihiap, kami akan menjalankan keputusan itu,"

Kata It-Gan Sin-Kai.

"Bagus, dan aku percaya kalian di kemudian hari akan memutuskan sesuatu lebih bijaksana lagi agar tidak terjadi hal-hal seperti sekarang, sediakan seperangkat pakaian Pengemis untuk muridku ini dan ganti pakaiannya yang terlalu bagus itu."

Memang aneh sekali, di antara semua Ketua Perkumpulan Pengemis itu hampir semua membawa pengganti pakaian, biarpun pakaian itu adalah pakaian tambal-tambalan yang buruk!

Tidak heran apabila pakaian mereka biarpun buruk dan penuh tambalan, selalu kelihatan bersih.

Seorang ketua yang mempunyai potongan tubuh hampir sama dengan Kiang Liat, memberikan pakaiannya dan ramai-ramai mereka sambil tertawa-tawa menanggalkan semua pakaian Kiang Liat, lalu menggantikan pakaian butut itu kepada tubuh pemuda ini.

Kiang Liat tidak bisa berbuat sesuatu, oleh karena ia telah tertotok dan lemas semua tubuhnya.

Andaikata ia tidak tertotok, ia pun tentu takkan melawan, karena memang ia sudah merasa kalah bertaruh yang berarti bahwa ia harus menjalankan hidup seperti Pengemis setahun lamanya, merantau ikut dengan Han Le yang sudah menjadi gurunya!

Setelah Kiang Liat kini memakai pakaian Pengemis, Han Le memandang dan tertawa.

"Bagus, bagus! Kau sekarang kelihatan tampan patut menjadi muridku!"

Setelah berkata demikian, ia menyambar tubuh Kiang Liat dan sekali berkelebat saja ia lenyap bersama muridnya itu.

Cap-Si Kai-Pangcu tidak berani mencegah, dan pada saat itu, kakek tua she Song berseru keras.

"Han-Taihiap, tunggu sebentar, Lohu ada permohonan penting!"

Dalam sekejap mata saja, kembali Han Le kelihatan di tempat itu, mengempit tubuh Kiang Liat.

"Song Lo-Kai, kau mau bicara apakah? Apa kau masih penasaran dengan keputusanku tadi?"

Song Lo-Kai menjatuhkan diri berlutut di depan Han Le.

"Sungguh mati, Han-Taihiap, Lohu mana berani penasaran? Keputusan itu bahkan terlampau murah bagi Lohu. Hanya ada permohonan Lohu mengenai cucu Lohu yang bersama Song Bi Li."

Han Le memandang heran.

"Apa maksudmu? Apa yang kudapat lakukan untuk seorang gadis yang menjadi cucumu itu?"

Song Lo-Kai memandang kepada Kiang Liat yang masih lemas dan kini dikempit oleh Han Le seperti seorang anak kecil, lalu berkata.

"Nyawa Lohu yang tidak berharga telah diselamatkan oleh Kiang-Enghiong dan kiranya sampai mati pun Lohu yang sudah tua bangka ini takkan dapat membalas budinya. Cucuku Bi Li hidup sebatang kara dan kini usianya sudah delapan belas tahun. Hanya seorang pemuda gagah perkasa berjiwa budiman seperti Kiang-Enghiong ini saja yang kiranya akan dapat menjamin kesentausaan hidup cucuku itu. Oleh karena ini, Lohu ingin menyerahkan cucuku yang bodoh itu kepada Kiang-Enghiong."

Han Le tertawa bergelak dan Kiang Liat biarpun tidak berdaya namun masih dapat mendengar semua ucapan ini sehingga mukanya menjadi merah sekali.

"Ha, ha, ha, maksudmu ini baik sekali, Song Lo-Kai. Akan tetapi aku tidak berkuasa dalam hal ini, hanya kuberjanji bahwa setelah Kiang Liat menghabiskan pelajarannya yang setahun lamanya, aku akan menyuruhnya mencarimu agar kalian berdua dapat berunding sendiri."

Setelah berkata demikian, kembali ia berkelebat dan kali ini ia tidak kembali lagi, Song Lo-Kai girang sekali, sambil tertawa-tawa ia lalu berkata.

"Cuwi-Pangcu, silakan menjalankan hukuman cambuk kepadaku."

Hukuman dilakukan dan disesuaikan dengan keputusan Han Le, pencambukan itu dilakukan sekedar untuk memenuhi bunyi hukuman saja, dan Song Lo-Kai hanya menderita lecet-lecet pada kulit punggungnya.

Kiang Liat sebenarnya adalah seorang pemuda yang kaya raya.

Ketika orang tuanya meninggal dunia, mereka mewariskan sebuah rumah gedung yang besar dan penuh dengan perabot rumah yang indah, selain ini masih banyak sawah ladang dan uang yang ditinggalkan.

Oleh karena Kiang Liat hidup seorang diri, hanya bersama seorang pelayan wanita tua yang menjadi inang pengasuhnya semenjak ia terlahir, maka kebutuhan hidupnya tak seberapa besar dan tentu saja hasil sawah ladangnya sudah lebih dari cukup baginya.

Hidupnya tidak mewah karena ia memang suka akan kesederhanaan, namun ia tidak sayang mengeluarkan uang, Apalagi untuk menolong orang dan untuk menjamu kawan-kawannya.

Ia biasanya hidup senang, berpesiar atau merantau ke sana ke mari sampai bekal uangnya habis baru ia ingat untuk pulang ke rumahnya di Kota Siankoan.

Kini setelah bertemu dengan Han Le dan menerima hukuman selama setahun hidup sebagai Pengemis, tentu saja tadinya ia merasa terhina dan dapat membayangkan bahwa ia akan sengsara sekali.

Akan tetapi, alangkah girangnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa hidup seperti ini benar-benar bebas seperti burung di udara.

Apalagi ketika gurunya itu mulai menurunkan ilmu silat yang luar biasa sekali, ia girang bukan main.

Ia merasa amat berbahagia dapat bertemu dengan Han Le, dan tidak saja ia menerima latihan ilmu silat, juga ia mendapatkan banyak pelajaran tentang kebatinan yang membuka matanya.

Kini ia tidak berani memandang rendah kepada para Pengemis itu, yang sesungguhnya menjadi Pengemis bukan karena malas, melainkan sengaja hidup sebagai Pengemis untuk pernyataan belasungkawa akan keadaan rakyat yang banyak menderita.

Mereka adalah Pengemis-Pengemis yang sekali-kali bukan tukang minta-minta belaka.

Mereka minta-minta seakan-akan untuk menguji apakah manusia-manusia di waktu itu masih ingat akan nasib sesama manusia, dan di balik semua sandiwara ini, mereka ternyata adalah pendekar-pendekar yang tidak saja siap sedia dengan tenaga dan kepandaian untuk menolong mereka yang sengsara, bahkan mereka siap sedia pula untuk mengulurkan tangan menolong dengan sumbangan uang yang ternyata banyak disimpan di dalam perkumpulan-perkumpulan Pengemis itu!

Setelah menjadi murid Han Le, kepandaian Kiang Liat makin maju dan matang.

Kini seperti gurunya, jarang sekali ia mencabut Pedangnya dan cukup dengan sebatang ranting kecil saja ia sudah dapat menjaga diri dan kalau perlu merobohkan tokoh-tokoh kang-ouw yang lihai.

Kini terbukalah matanya betapa jauh perbedaan hidup antara orang-orang kaya raya dan orang-orang miskin, bagaikan bumi-langit.

Terbuka pula matanya bahwa di dalam kemiskinan, ia bahkan banyak melihat orang-orang jujur dan berhati mulia.

Han Le adalah seorang yang berilmu tinggi.

Melihat gerak-gerik ilmu Pedang Kiang Liat, ia tidak mau merusak kepandaian pemuda itu dengan memberi pelajaran ilmu Pedang lain.

Sebaliknya, ia memberi pelajaran dari lukisan-lukisan di dinding tua Pulau Pek-Hio-To, Mengajar gerakan-gerakan yang disesuaikan dengan ilmu Pedang Kiang Liat sehingga kini ilmu Pedang pemuda itu menjadi makin indah dan makin kuat.

Bahkan, dengan bantuan gurunya ini, Kiang Liat dapat menciptakan ilmu Pedang yang halus gerak-geriknya, tidak beda dengan orang menari-nari saja, namun di dalamnya terkandung kekuatan yang maha hebat.

Han Le membawanya merantau jauh dan selama satu tahun itu, banyak hal yang dilakukan oleh guru dan murid itu sehingga nama mereka makin meningkat tinggi, terkenal di dunia kang-ouw.

Kini nama Jeng-Ciang-Sian Kiang Liat amat disegani orang-orang kang-ouw, dan banyak orang tahu bahwa Kiang Liat telah menjadi murid Han Le.

Setahun kemudian, Han Le dan muridnya berada di lembah Sungai Huang-Ho, di dataran tinggi yang hijau segar, penuh tetumbuhan.

"Kiang Liat, waktumu telah lewat dan kau kini bebas. Kau boleh pulang dan agaknya kau kini sudah mengerti akan keadaan di dunia sehingga kelak kau takkan melakukan kesalahan-kesalahan dalam tindakanmu."

"Suhu, teecu masih ingin terus belajar kepada Suhu, kalau boleh, biar sepuluh tahun lagi teecu sanggup hidup seperti sekarang ini asal boleh menjadi murid Suhu,"

Jawab Kiang Liat. Han Le tersenyum.

"Kiang Liat, ketahuilah bahwa hanya karena suka kepadamu dan melihat bakatmu yang amat baik saja maka kau kuberi pelajaran ilmu silat itu. Sesungguhnya aku tidak berhak, karena ilmu silat yang kuajarkan kepadamu adalah pecahan kecil dari isi Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng yang menjadi milik Suhengku. Kau amat beruntung bisa bertemu dengan aku dan kini agaknya ilmu Pedangmu sukar mendapat tandingan di dunia kang-ouw. Seorang laki-laki harus memegang janji, dahulu kita berjanji akan berkumpul selama setahun dan sekarang waktunya telah habis. Dan kau ingatlah, dulu aku berjanji kepada Kakek Song agar kau menemuinya untuk bicara soal perjodohan yang ia usulkan. Aku tidak mau berlaku lancang, soal perjodohan terserah kepadamu, hanya menurut pendapatku, Kakek Song itu adalah seorang tua yang bersemangat dan berpribadi cukup baik. Kiranya cucunya takkan mengecewakan. Akan tetapi semua keputusan terserah kepadamu sendiri, hanya kuminta agar kau suka bertemu dengan dia agar janjiku terpenuhi."

"Baiklah, Suhu. Terima kasih banyak atas segala pelajaran dan nasihat yang teecu terima dari Suhu. Setahun dekat dengan Suhu bagi teecu lebih berharga daripada sepuluh tahun yang sudah-sudah."

Pada saat itu, wajah Han Le berubah dan tiba-tiba Pengemis sakti ini berseru keras sekali, wajahnya berseri girang dan juga sepasang matanya terheran-heran.

"Suheng"! Kau di sini"??"

Kiang Liat memandang ke arah gurunya memandang, namun tidak melihat sesuatu.

Tiba-tiba dari jurusan itu, yang tidak ada apa-apa, terdengar suara yang halus sekali, namun menusuk telinga karena mengandung tenaga luar biasa dan pengaruh besar.

"Sute, siapa anak muda itu?"

"Dia adalah Kiang Liat, muridku!"

Tiba-tiba debu mengebul dan tahu-tahu seorang laki-laki berusia empat puluh tahun lebih, agak lebih tua daripada Han Le, berpakaian kusut sederhana namun tidak menyembunyikan kegagahan dan ketampanannya, telah berdiri di situ.

Kiang Liat memandang dengan mulut ternganga, karena ia yang telah memiliki kepandaian tinggi, bagaimana sampai tidak dapat melihat dan mengikuti gerakan orang ini?

Ibliskah dia?

Ketika laki-laki itu memandangnya, Kiang Liat hampir menundukkan mukanya.

Demikian tajam pandangan mata itu menusuk matanya sendiri.

"Sute, kau kan tidak menurunkan Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng?"

Tanya orang itu. Han Le berubah mukanya dan kelihatan gugup.

"Hanya sedikit, Suheng, bagian permainan Pedang dan Lwee-kang untuk memperkuat ilmu Pedangnya sendiri, yakni ilmu Pedang dari keluarga Kiang yang tersohor."

"Hm, Sute Han Le, betapapun juga, kau telah berlaku sembrono sekali. Kau harus tahu bahwa ilmu kita itu berbahaya kalau dipergunakan oleh orang yang beriman lemah. Sekarang kau sudah menurunkan kepadanya, biarpun sedikit hal itu sudah berarti bahwa selamanya kau dan aku harus selalu menyelidiki dan menjaga jangan sampai orang mempergunakannya tidak pada tempatnya!"

Han Le memandang kepada Suhengnya dengan mata penuh keheranan, apalagi ketika ia kini melihat wajah Suhengnya kusut, matanya sayu dan kerut-merut pada wajah Suhengnya itu menunjukkan jelas bahwa Suhengnya telah mengalami penderitaan batin hebat selama ini.

Sudah belasan tahun ia tidak bertemu dengan Suhengnya dan kini Suhengnya benar-benar telah berubah.

Adatnya menjadi keras dan aneh.

Akan tetapi, ia merasai kebenaran ucapan Suhengnya itu dan ia mengangguk-angguk.

Orang itu lalu menghadapi Kiang Liat yang memandang kepadanya dengan perasaan tak senang.

Sebelum orang itu bicara, Kiang Liat mendahului, bertanya kepada Han Le.

"Suhu, mohon memberi penerangan kepada teecu, siapakah adanya Lo-Enghiong yang baru datang ini."

"Bocah bodoh, dia inilah supekmu. Dia Suhengku bernama Lu Kwan Cu, berjuluk Bu Pun Su, ahli silat nomor satu di dunia ini!"

Kiang Liat terkejut sekali.

Tadi ia sudah menduga-duga ketika mendengar suhunya menyebut Suheng kepada orang ini, akan tetapi ia masih penasaran dan sangsi, karena melihat orangnya, Bu Pun Su ini tidak begitu hebat sungguhpun kedatangannya tadi seperti Siluman saja.

"Kiang Liat, berapa lama kau belajar kepada suhumu?"

Kiang Liat sudah menjatuhkan diri berlutut dan kini menjawab.

"Hanya satu tahun, Supek, karena menurut perjanjian memang teecu hanya boleh belajar satu tahun."

"Perjanjian?"

Lu Kwan Cu atau Bu Pun Su menoleh kepada Han Le. Han Le tertawa dan menceritakan tentang pertaruhan setahun yang lalu. Bu Pun Su mengerutkan keningnya yang tebal dan sudah mulai memutih.

"Tidak baik bagi seorang pemuda memiliki kesombongan dan terlalu keras. Orang-orang muda selalu mendatangkan keributan di dunia, terdorong oleh nafsunya sendiri tanpa mengingat akibat dari perbuatan yang ditunggangi oleh nafsu. Berdirilah kau!"

Kiang Liat berdiri, hatinya tidak enak.

"Cabut Pedangmu!"

Kiang Liat ragu-ragu dan melirik ke arah Han Le, akan tetapi gurunya memberi isarat dengan matanya agar pemuda itu menurut saja.

Maka ia pun lalu mencabut keluar Pedangnya, Pedang Pusaka keturunan keluarga Liang, memegang Pedang itu lurus ke atas menempel jidat, tanda menghormat dan tidak mempunyai maksud buruk terhadap orang di depannya.

Akan tetapi Bu Pun Su tidak peduli kepadanya dan memerintah terus.

"Serang aku dengan Pedangmu!"

Inilah keterlaluan, pikir Kiang Liat. Ia tidak mau berlaku kurang ajar dan lancang, maka bagaimana ia brani menyerang orang yang diperkenalkan kepadanya sebagai supeknya? "Hayo serang, bodoh!"

Bu Pun Su membentak lagi dan bentakannya demikian berpengaruh sehingga di dalam tubuh Kiang Liat seakan-akan timbul aliran tenaga yang membuat ia otomatis bergerak!

Pedangnya menyambar, menusuk ke arah muka supeknya itu.

Namun ia segera ingat bahwa ia terlalu kurang ajar kalau menyerang dengan sungguh-sungguh, maka selanjutnya ia mengendurkan gerakannya dan hanya memperlihatkan tipu-tipu serangan yang indah untuk membuktikan kepada supeknya bahwa gurunya tidak memiliki murid secara sembarangan dan bahwa ia sebetulnya juga "berisi!"

Akan tetapi ia melihat Bu Pun Su sama sekali tidak menggerakkan kedua kaki, setapak pun tidak pindah dari tempat berdirinya semula.

Kedua ujung lengan baju orang sakit itu bergerak-gerak ke depan dan bukan main hebatnya!

Dari sepasang tangan yang bersembunyi di dalam lengan baju itu keluar tenaga luar biasa sehingga angin tangkisannya saja selalu menahan Pedangnya.

Pedangnya selalu terpental kembali seakan-akan terbentuk pada benda yang amat keras.

"Jangan sungkan-sungkan, serang sungguh-sungguh!"

Kembali Bu Pun Su membentak dan kali ini Kiang Liat menyerang dengan sungguh-sungguh.

Bukan saja karena ia mendengar perintah ini, juga karena hatinya merasa penasaran sekali.

Bagaimana orang dapat membikin semua serangan Pedangnya tidak berdaya hanya dengan hawa tangkisan belaka?

Inilah aneh, seperti sihir atau dalam mimpi saja.

Ia mengerahkan seluruh Lwee-kangnya dan mengeluarkan tipu-tipu silat yang paling (Lanjut ke

Jilid 02) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 02 lihai.

Ia mainkan Pedangnya dengan ilmu Pedang keluarga Kiang, ditambah dengan gerakan-gerakan halus dari ilmu silat yang ia pelajari dari Han Le.

Betul saja bahwa ilmu Pedangnya memang hebat.

Buktinya, Bu Pun Su kini tidak dapat menghadapinya dengan hawa tangkisan belaka, melainkan orang sakti itu bergerak ke sana ke mari dengan amat lambat.

Namun, betapapun lambatnya gerakan kaki orang sakti itu, tak pernah Pedang di tangan Kiang Liat mengenai sasaran, bahkan menyentuh baju Bu Pun Su saja tidak dapat!

Setelah Kiang Liat menyerang sampai tiga puluh jurus lebih, tiba-tiba pemuda ini merasa telapak tangan yang memegang Pedang sakit sekali sehingga ia terpaksa melepaskan Pedangnya.

Ketika ia memandang, Pedangnya itu telah terampas oleh gulungan ujung lengan baju Bu Pun Su!

Bu Pun Su sekarang tersenyum dan mengembalikan Pedang yang diterima oleh Kiang Liat dengan muka merah.

"Harap Supek tidak mentertawakan kebodohan teecu dan mohon petunjuk,"

Kata Kiang Liat merendah. Kini ia merasa tunduk dan takut sekali kepada orang sakti ini yang benar-benar luar biasa sekali ilmu kepandaiannya. Bu Pun Su sekarang tertawa dan berpaling kepada Han Le.

"Ah, Sute. Benar-benar matamu awas sekali. Dalam setahun sudah dapat menggerakkan Pedang seperti itu, ah, kalau dia mempelajari semua ilmu dari Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng, aku sendiri takkan mampu melawannya. Kiang Liat, kulihat biarpun kau mempergunakan Pedang seluruhnya atas dasar ilmu silat Pedang dari keluarga Kiang, namun isinya mengandung tenaga rahasia dari Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng. Oleh karena itu, kau memang sudah menjadi murid kami. Hal ini tak boleh kau anggap main-main. Sekali saja kau menyeleweng dan mempergunakan ilmu untuk melakukan kejahatan, biarpun kau berada di tempat yang selaksa li jauhnya, aku sendiri akan mencarimu dan mencabut nyawamu agar ilmu dari kami tidak dipergunakan untuk kejahatan. Mengerti?"

"Teecu bersumpah takkan tunduk terhadap godaan iblis dan nafsu jahat!"

Kata Kiang Liat sambil mengedikkan kepalanya. Ia benar-benar marah karena ketidak-percayaan supeknya kepada dirinya ini.

"Bagus, akan kita lihat bersama. Kalau benar-benar kau tidak mengecewakan menjadi murid kami, kelak kalau ada jodoh aku sendiri akan menambah satu-dua ilmu pukulan kepadamu. Sute, mari kita pergi dari sini, aku ada urusan penting sekali untuk dibicarakan!"

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari pemandangan mata Kiang Liat.

"Muridku, berhati-hatilah dan kau cari Song Lo-Kai. Sampai bertemu kembali kalau ada jodoh!"

Han Le juga berkata kemudian melompat dan lenyap untuk menyusul Suhengnya yang luar biasa itu.

Seperginya kedua orang sakti itu, Kiang Liat lalu berlutut ke arah mereka menghilang.

Kemudian ia berdiri dan menarik napas berulang-ulang.

"Hebat"

Tadinya kukira bahwa kepandaian Suhu sudah tidak ada taranya di muka bumi ini.

Tidak tahunya kepandaian Supek Bu Pun Su bahkan jauh lebih tinggi lagi!

Aah, sayang sekali aku hanya mendapat kesempatan satu tahun.

Kalau aku bisa menjadi murid Supek, alangkah senangnya""

Kemudian, setelah menyimpan Pedangnya, sambil membawa sebatang ranting seperti suhunya, Kiang Liat pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke dusun Sui-Chun di mana tinggal Song Lo-Kai.

Diam-diam ia merasa tidak enak dan sungkan-sungkan, karena kepergiannya ini adalah untuk menghadapi Song Lo-Kai yang mengusulkan pernikahan, padahal ia sama sekali belum memikirkan persoalan pelik ini.

Namun, ada juga sedikit keinginan tahu melihat macamnya cucu perempuan dari Song Lo-Kai!

Song Lo-Kai tinggal di Sui-Chun, kini menjadi seorang hartawan yang hidup berdua dengan cucunya, yakni Song Bi Li.

Dahulunya Song Lo-Kai sesuai dengan sebutannya, yakni Lo-Kai atau Pengemis tua, adalah seorang pemimpin perkumpulan Pengemis yang menjadi cabang atau anak buah dari Cap-Si Kai-Pangcu.

Semenjak cucunya kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal karena penyakit menular, kakek she Song ini telah berubah pendiriannya.

Tadinya ia memang tidak mempunyai tanggungan, hidup seorang diri dan suka hidup bebas sebagai Pengemis.

Akan tetapi, setelah anak dan mantunya meninggal dunia, dan Bi Li hidup seorang diri, ia memikirkan nasib cucunya itu.

Kebetulan sekali, Kakek Song mendapatkan sebuah surat wasiat tentang harta terpendam di sebuah guha rahasia.

Ia pergi dan berhasil mendapatkan harta ini, maka ia lalu membeli rumah gedung dan sawah ladang, hidup sebagai hartawan besar.

Kejadian inilah yang membuat ia ditangkap oleh Cap-Si Kai-Pang dan hampir dibunuh kalau tidak tertolong oleh Kiang Liat.

Song Bi Li ternyata seorang gadis yang amat cantik, berwajah ayu manis bertubuh langsing.

Kulitnya putih halus, pipinya kemerahan.

Selain cantik jelita, juga ia amat cerdas sehingga dengan mudah ia dapat menguasai kepandaian tulis dan baca, bahkan pandai sekali membuat sajak-sajak indah.

Di samping ini, ia pun terkenal di kotanya dengan hasil sulamannya yang halus.

Pendeknya di dalam Kota Sui-Chun, tidak ada gadis melebihi Bi Li cantik atau pandainya sehingga ia terkenal sebagai kembang Kota Sui-Chun.

Lebih lagi setelah kakeknya menjadi kaya-raya, pakaiannya bagus-bagus, menambahkan kecantikannya.

Dua tahun yang lalu, ketika ia dan kakeknya baru pindah ke dalam gedung besar yang dibeli oleh kakek Song, terjadilah hal yang membuat hati Bi Li terguncang dan untuk pertama kalinya gadis yang baru berusia tujuh belas tahun di waktu itu, mengalami godaan asmara.

Waktu itu masih pagi sekali dan Bi Li berjalan-jalan di dalam kebun di belakang gedung kakeknya.

Kebun ini masih kosong dan belum terpelihara, masih banyak pohon-pohon yang tak berguna lagi bagi sebuah kebun yang seharusnya ditanami bunga-bunga yang indah.

Bi Li memang sedang memeriksa kebun ini untuk mengatur sendiri cara bagaimana kebun itu akan ditanami bunga-bunga, di mana harus membuat kolam dan sebagainya.

Kakek Song memang sudah menyerahkan hal ini kepada cucunya.

Bi Li dikawani oleh Ceng Si, seorang gadis yang menjadi pelayan di rumah gedung itu.

Kakek Song sengaja membeli gadis ini dari keluarga miskin di dusun, tidak saja untuk menolong orang tua gadis ini, juga karena ia ingin agar cucunya mempunyai seorang kawan bermain yang sebaya.

Ceng Si seorang gadis yang cantik juga, sederhana dan amat penurut, lagi cinta kepada Bi Li yang semenjak itu menjadi majikannya.

"Ceng Si, di ujung Barat itu harus didirikan bangunan kecil untuk dapat beristirahat, di depannya digali empang dan dipasangi jembatan melengkung. Di ujung Timur harus digali empang ikan emas dan diisi tanaman bunga teratai. Kembang Botan ditanam di sebelah sini dan kembang Cilan disebelah sana. Kau nanti jelaskan semua ini kepada tukang kebun yang memborong pekerjaan ini, dan kalau ada yang belum jelas, biar aku sendiri yang akan menerangkan kepadanya,"

Kata Bi Li sambil menunjuk ke sana ke mari dengan telunjuknya yang kecil terpelihara.

"Baik, Siocia. Menurut Lo-ya (Tuan Tua, dimaksud Kakek Song), tukang kebun akan datang siang nanti dan akan mulai dengan menebangi pohon-pohon yang berada di sini."

"Jangan ditebang semua. Pohon yang di kanan itu, yang berjajar tiga, tebang tengahnya saja, biarkan yang dua tumbuh terus. Dan sekumpulan Yang-Liu (Cemara) itu jangan ditebang, hanya buangi cabang-cabang yang sudah kering. Yang lain boleh dibuang. Dan jangan lupa, taman ini harus dikelilingi dinding tembok yang cukup tinggi sehingga tidak kelihatan dari luar. Sekarang ini hanya dikelilingi pagar dan banyak yang sudah bobol. Kalau penuh tanaman kembang tentu akan habis dicabuti anak-anak nakal dan dimakan ayam dan kerbauku."

"Memang benar, Siocia (Nona). Belum kalau ada maling masuk,"

Kata Ceng Si. Ceng Si menutupi mulutnya dengan ujung lengan baju, tertawa. Akan tetapi segera ketawanya terhenti dan ia berkata perlahan, agak ketakutan.

"Aduh, dia benar-benar datang, Siocia""

Bi Li terkejut dan bertanya.

"Kau bilang ada maling"?"

Sambil berkata demikian, ia membalikkan tubuh menengok ke arah pelayannya itu memandang.

Ternyata benar ada seorang laki-laki yang menerobos masuk ke dalam kebun itu melalui pagar yang sudah rusak.

Mula-mula Bi Li terkejut sekali sehingga mukanya berubah, akan tetapi ia segera dapat menetapkan hatinya setelah melihat bahwa laki-laki yang menerobos ke dalam kebun itu tidak kelihatan seperti orang jahat.

"Dia tidak kelihatan jahat, Ceng Si, apakah bukan tukang kebun yang hendak bekerja di sini?"

"Stt, kau terlalu. Mana orang seperti itu dianggap tukang kebun? Dia bukan maling dan bukan pula tukang kebun, lihat saja pakaiannya seperti seorang Kongcu (tuan muda) dan orangnya begitu"

Begitu tampan!"

"Hush, genit kau"!"

Bi Li mencela, akan tetapi diam-diam ia harus mengakui bahwa yang datang itu adalah seorang pemuda yang tampan dan ganteng, berpakaian seperti seorang Siucai (Pelajar), sikapnya halus dan sopan.

Bi Li dahulu tinggal bersama orang tuanya di kampung, maka ia tidak seperti nona-nona hartawan dan bangsawan yang selalu bersembunyi di dalam gedung dan jarang bertemu dengan laki-laki asing, maka kini ia tidak merasa terlalu kikuk.

Juga ia tidak takut karena waktu itu matahari sudah naik tinggi dan ia berada di situ dengan pelayannya, sungguhpun mereka merasa curiga ketika memandang kepada pemuda ini.

Ia merasa seperti pernah melihat pemuda ini, hanya ia lupa lagi bilamana dan di mana.

Pemuda itu menghampiri mereka dan memandang kepada Bi Li dengan senyum manis.

Ia nampak ramah-tamah dan matanya berseri-seri ketika ia memandang kepada Bi Li, sungguhpun alisnya berkerut seakan-akan ada sesuatu yang menyusahkan hatinya.

"Kau siapakah dan mengapa berani lancang memasuki kebun orang?"

Bi Li menegur, suaranya ketus dan matanya bersinar marah. Pemuda itu nampak kecewa sekali mendengar teguran gadis ini. Ia menjura dengan hormat, lalu berkata, suaranya seperti orang penasaran.

"Song-Siocia, benar-benarkah kau lupa kepadaku? Benar-benarkah, setelah kini kau menjadi kaya-raya, kau lupa akan kampung halamanmu dan sekalian orang miskin yang menjadi penghuninya?"

Bi Li makin marah.

"Aku tidak kenal padamu, lekas pergi dari sini, kalau Kong-kong (Kakek) tahu kau menerobos ke sini, kau tentu akan dipukul!"

Pemuda itu berdiri tegak dan tersenyum duka.

"Jangankan dipukul, dibunuh pun aku rela. Kong-kongmu yang kaya-raya, yang merampas kau dari dusun kami, sudah begitu tinggi hati untuk menghinaku, dan sekarang aku hanya ingin menyaksikan, apakah Nona Song Bi Li juga begitu tinggi hati seperti kong-kongnya?"

"Siapakah kau? Mengapa kau begini kurang ajar?"

Bi Li memandang dengan alis dikerutkan.

"Nona, lupakah kau kepada orang yang pernah menuliskan sajak di dinding kuil di dusun kita?"

Pemuda itu berkata. Bi Li memandang makin tajam dan kini berubahlah mukanya menjadi kemerahan.

"Ah, kau... kau Cia-Siucai..."

Katanya gagap.

Terbayanglah semua pengalamannya ketika ia masih tinggal di dusunnya.

Ketika itu, kedua orang tuanya secara berturut-turut telah meninggal dunia karena penyakit yang merajalela di dusun itu.

Ketika jenazah ayah bundanya dirawat di dalam kuil, satu-satunya kuil di dusun itu di mana sebagian besar orang-orang yang meninggal diurus dan disembahyangi, banyak orang dusun datang.

Di antara mereka, terdapat seorang pemuda sasterawan yang baru saja kembali ke dusun setelah bertahun-tahun menempuh pelajaran dan ujian di Kota Raja.

Pemuda ini adalah Cia Sun atau yang segera terkenal dengan sebutan Cia-Siucai.

Bi Li tahu bahwa hampir semua gadis dusun itu merindukan Cia-Siucai, memuji-mujinya karena bukan saja ia merupakan pemuda yang paling tampan di dusun itu, juga ia amat pandai membuat sajak.

Tulisan-tulisan pada lian yang digantung di kuil, tulisan yang amat indah itu semua adalah buatan Cia Sun.

Ketika itu, Cia Sun baru pertama kali melihat Bi Li dan pemuda ini menjadi tergila-gila.

Tiada bosannya ia melirik ke arah gadis itu yang sedang menjalani upacara sembahyang, seorang gadis yang rambutnya awut-awutan, mukanya pucat dan penuh air mata, seorang gadis yang patah hati dan putus harapan karena ditinggal mati oleh ayah bundanya, yang tentu akan jatuh pingsan dan sakit kala tidak dihibur oleh seorang kakek tua yakni Song Lo-Kai, Kong-kongnya.

Cia Sun demikian tergila-gila sehingga ketika ia terlalu banyak minum arak, tanpa pedulikan apa-apa ia lalu mengambil pit dan menuliskan beberapa baris sajak di atas tembok kuil, dilihat dan dikagumi oleh semua tamu yang datang melayat.

Bi Li sampai sekarang masih ingat bunyi sajak itu, karena melihat ribut-ribut ia pun membaca tulisan itu yang berbunyi demikian .

Layu pucat Teratai Putih, Kehilangan sinar matahari.

Mengembang di empang tanpa kawan Hati siapa takkan rawan?

Nona suci hidup seorang diri Hati siapa takkan perih?

Kasihan kumelihatnya.

Hancur pilu hati dibuatnya.

Apakah dayaku, si bodoh hina ini Untuk menghibur Teratai suci?

Sajak itu tentu saja dengan amat mudah dapat diterka maksudnya.

Semua orang yang berada di situ memang merasa kasihan kepada Bi Li, gadis yang menjadi yatim-piatu dan bunyi sajak itu otomatis merupakan pengakuan dari Cia Sun bahwa begitu bertemu dengan Bi Li, ia telah jatuh cinta.

Akan tetapi, Song Lo-Kai tidak senang membaca sajak itu, dan dengan muka masam ia menarik tangan Bi Li masuk ke dalam.

Semenjak saat itu mereka tak pernah bertemu muka kembali.

Peristiwa yang terjadi sewaktu Bi Li berada di puncak kesedihan itu tentu saja tidak terlalu membekas pada hatinya dan ia pun sudah lupa akan peristiwa itu.

Akan tetapi siapa kira, sekarang tiba-tiba saja pemuda itu muncul dihadapannya, dengan jalan menerobos kebun!

Sementara itu, ketika Cia Sun melihat Bi Li mengenalnya, ia menjadi girang sekali dan wajahnya yang tampan berseri-seri.

"Aduh, terima kasih kepada Kwan Im Pousat, ternyata kau juga memikirkar diriku yang hina ini, Nona Song..."

"Siapa bilang?"

Bi Li membentak marah.

"Cia-Siucai, kau lancang sekali! Kau masuk ke sini tanpa permisi dan kau mengeluarkan kata-kata yang tidak pada tempatnya. Apa sebenarnya kehendakmu?"

"Kedatanganku hanya untuk mengulangi pernyataanku dahulu, Nona, yakni bahwa aku cinta kepadamu..."

"Tidak! Kurang ajar, pergi kau dari sini!"

Bi Li membelalakkan matanya yang indah dan mukanya berubah-ubah, sebentar merah, dadanya berombak menahan gelora hatinya. Cia Sun menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Li.

"Song-Siocia, kakekmu sudah menghinaku, sudah menolak pinanganku, kau masih mengusirku pula?"

Suara ini terdengar demikian lemah mengharukan sehingga Ceng Si yang mendengar ini menjadi pucat dan dua titik air mata membasahi pipinya.

Adapun Bi Li ketika melihat pemuda itu, tiba-tiba berlutut di depannya, dan mengeluarkan kata-kata itu, menjadi makin bingung.

"Cia-Siucai, jangan kau begini! Apa sih yang kau kehendaki?"

"Nona, Kong-kongmu menolak pinanganku dengan alasan bahwa kau sudah bertunangan dengan orang lain. Aku bukan seorang yang tidak kenal aturan, aku tidak mau menjadi seorang yang tidak kenal malu dan kurang ajar, katakanlah kepadaku secara terus terang, Nona apakah betul kau sudah menjadi tunangan orang lain? Betulkah kau sudah bertunangan?"

"Kau peduli apakah dengan itu? Hal itu bukan urusanmu, Cia-Siucai. Sudahlah, kau lebih baik lekas-lekas pergi dari sini."

"Jawab dulu, Nona. Benar-benarkah kau sudah bertunangan dengan orang lain? Kalau benar demikian, aku Cia Sun bersumpah takkan mau mengganggumu lagi."

Bi Li tak dapat menjawab.

Dia memang belum bertunangan, hal ini ia ketahui benar, karena memang dahulu orang tuanya belum mengikat perjanjian dengan siapapun juga.

Akan tetapi, menjawab pertanyaan seorang pemuda asing begitu saja tentang pertunangan, bukanlah hal yang patut dilakukan oleh seorang gadis sopan.

Ceng Si melihat keraguan nonanya maka ia yang mewakili Bi Li menjawab.

"Sesungguhnya Siocia belum bertunangan Cia-Siucai. Sudahlah, harap kau sudi meninggalkan tempat ini, kalau diketahui oleh orang lain, bukankah hal ini buruk sekali bagi Siocia?"

Mendengar ini, Cia Sun lalu membanting-bantingkan jidatnya pada tanah dan ia masih tetap berlutut.

"Penasaran! Penasaran! Nona Song, mengapa kakekmu begitu membenciku? Memang ia membohong dan menolak pinanganku? Ketahuilah, tanpa kau di sampingku, aku tidak akan dapat hidup lebih lama lagi! Lebih baik aku mati saja di sini, Song-Siocia..."

Mendengar ini, Bi Li menjadi pucat sekali dan ia menahan mulutnya yang hendak berteriak.

Kemudian ia membalikkan tubuh dan berlari pergi meninggalkan pemuda yang masih berlutut itu, berlari kembali ke dalam gedung.

Bi Li tiba di kamarnya dengan terengah-engah, mukanya pucat.

Baiknya kong-kongnya tidak ada di rumah gedung itu baru ada dia dan Ceng Si saja, karena memang belum memanggil pelayan-pelayan lain.

Hatinya berdebar, tidak karuan rasanya.

Ada rasa takut, bingung dan juga girang.

Entah mengapa, mengingat betapa pemuda tampan dan pandai yang menjadi kebanggaan dusun yang menjadi rebutan dan mimpi para gadis dusun itu kini bertekuk lutut kepadanya, menyatakan cinta kasih yang demikian besar, benar-benar menggirangkan hatinya.

Akan tetapi ia sendiri tidak mengerti perasaan apakah ini yang membuat dia menjadi kebingungan.

Tak lama kemudian, Ceng Si menyusul masuk ke dalam kamar.

"Siocia, bagaimana ini baiknya?"

Kata pelayan muda dan cantik itu sambil meremas-remas tangan.

"Dia tidak mau pergi""

"Tidak mau pergi"? Habis bagaimana baiknya"?"

Bi Li memandang kepada Ceng Si dengan bingung dan air matanya sudah mulai memenuhi pelupuk matanya.

"Siocia, dia harus dikasihi. Dia betul-betul mencinta kepada Siocia dengan sepenuh hati dan nyawa. Dia bilang bahwa dia akan tetap berlutut di sana sampai mati kalau Siocia tidak mau menyatakan sesuatu untuk menjawab cintanya. Demikian ia bilang kepadaku, Siocia."

Kini air mata menitik turun ke atas pipi Bi Li.

Ia menjadi terharu dan juga bingung, ditambah rasa takut.

Kalau sampai kong-kongnya atau orang lain tahu akan halnya pemuda itu, bukankah akan terjadi geger?

Bukankah orang lain akan menyangka yang tidak-tidak terhadap dirinya?

Sampai lama ia tidak menjawab.

Ah, Bi Li memang seorang gadis yang masih hijau dan bodoh, yang selamanya belum pernah mengalami perasaan seperti itu.

Kalau saja ia tahu apa yang baru saja terjadi ketika ia pergi meninggalkan Cia Sun, tentu akan lain sikapnya.

Begitu ia pergi, Ceng Si yang begitu melihat Cia Sun menyatakan cinta kasih terhadap nonanya, segera memegang pundak pemuda itu dengan lemah-lembut, berkata seperti bisikan mesra.

"Siucai, mengapa kau begitu lemah? Bangunlah, urusan ini dapat diatur bagaimana baiknya. Hatiku tidak kuat melihat kau begini sengsara, Kongcu..."

Mula-mula Cia Sun terheran, ia mengangkat muka dan memandang wajah pelayan yang cantik itu, kemudian setelah dua pasang mata bertemu, tahulah pemuda ini akan suara hati Ceng Si.

Ia menjadi girang sekali dan memeluk pundak Nona pelayan itu sambil berkata.

"Nona manis yang baik, benar-benarkah kau menaruh hati kasihan kepadaku yang malang ini?"

Ceng Si pura-pura melepaskan diri dan berkata dengan sikap genit.

"Cih, tak tahu malu! Baru saja Siocia pergi, sudah berubah hatinya dan hendak membujuk aku, benar-benar lelaki tidak setia!"

Cia Sun cepat menjura dan berkata dengan suara memohon.

"Nona yang baik, siapa orangnya tidak akan mencinta kau yang begini manis? Kasihanilah aku, aku benar-benar lebih baik mati kalau Siociamu tidak mempedulikan aku. Bantulah aku, bujuk Siociamu agar ia sudi sedikit menaruh perhatian kepadaku, dan aku berjanji, kelak kalau aku berhasil menjadi suami Siociamu, kau lah orang pertama yang akan menjadi Ji-Hujin (Nyonya Ke Dua)!"

Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit.

"Benar-benarkah janjimu ini? Atau hanya bujukan kosong belaka?"

"Demi langit dan bumi, aku bersumpah kelak kalau aku berhasil menjadi suami Nona Song Bi Li, aku segera akan mengambil Nona... eh, siapa namamu?"

Ceng Si mengerling, tersenyum-senyum dan berkata genit.

"Benarkah itu? Namaku, eh, Ceng Si,"

Jawabnya cepat-cepat.

"Ceng Si nama yang manis."

Kemudian ia berdongak ke arah langit dar melanjutkan sumpahnya.

"Aku akan mengambil Nona Ceng Si yang manis sebagai Ji-Hujin! Nah, langit dan bumi menjadi saksi atas sumpahku. Lekaslah kau datangi Siociamu dan bujuk agar supaya ia suka menaruh sedikit perhatian kepadaku dan suka memberi sedikit tanda mata."

"Baiklah, akan tetapi awas, kalau kau membohongiku, jangan kira Ceng Si takkan menuntut balas!"

Pelayan itu segera pergi berjalan-jalan dan menuju ke kamar Bi Li.

Demikianlah, semua ini tentu saja Bi Li tidak tahu sama sekali.

la mendengar dari Ceng Si bahwa Cia Sun masih berutut dan tidak mau pergi, hatinya menjadi amat terharu.

Demikian besarnya kasih sayangnya kepadaku sehingga ia rela mengorbankan nyawa, pikir gadis ini.

"Habis, apa yang harus kulakukan, Ceng Si?"

Kemudian ia bertanya, minta nasihat pelayannya yang ia anggap lebih mengerti dalam urusan seperti ini.

Berbeda dengan Bi Li, dalam hal ini Ceng Si lebih cerdik dan gadis pelayan ini lebih mengenal watak laki-laki seperti Cia Sun.

Ia sudah dapat menduga ke mana maksud tujuan Cia Sun, bukan karena oleh kecantikan Siocianya yang memang amat cantik itu, akan tetapi disamping ini mengandung maksud yang lebih besar, yakni hendak menjadi suami Bi Li yang menjadi ahli waris tunggal dari Song-Loya yang kaya-raya!

Aku harus berlaku cerdik, pikir Ceng Si.

Kalau kubujuk sehingga Siocia menerimanya dan kemudian sebelum mereka menjadi suami isteri, Cia Sun menyia-nyiakannya, maka akan gagallah semua niatnya.

Aku harus berusaha agar Siocia menjadi isterinya agar Cia Sun bisa diterima menjadi suami Bi Li dan kelak akan menjadi nyonya ke dua, akan menjadi Ji-Hujin (Nyonya Ke Dua).

Kedudukan nyonya kedua pada masa itu memang cukup tinggi jauh lebih tinggi daripada kedudukan nyonya ke tiga, empat atau ke lima.

Apalagi kalau bandingkan dengan kedudukan pelayan biasa, tentu saja jauh lebih tinggi!

"Siocia, apakah"

Apakah Siocia juga"

Suka kepadanya?"

Wajah Bi Li menjadi merah sekali dan ia memandang kepada pelayannya dengan mata terbuka lebar.

Maksudnya hendak marah, namun ia tidak dapat, karena wajah Ceng Si memperlihatkan sikap sungguh-sungguh, dan ia sedang bingung dan membutuhkan pertolongan pelayan ini.

"Aku tidak tahu, Ceng Si, aku... tidak tahu..."

"Siocia, Cia-Kongcu itu benar-benar cinta kepada Siocia dan kalau ia dibiarkan saja, tentu ia akan berkeras tidak mau pergi!"

"Aduh, bagaimana kalau Kong-kong datang dan melihat dia di sana?"

Bi Li ketakutan.

"Apalagi kalau ada orang luar melihatnya, tentu timbul persangkaan yang bukan-bukan."

Ceng Si menambah kebingungan Siocianya dengan maksud agar nona majikannya itu terdesak betul-betut dan akhirnya akan menurut apa yang ia nasihatkan.

Benar saja, mendengar kata-kata pelayannya ini, Bi Li lalu menangis karena bingung dan cemas.

"Ceng Si, apakah yang harus kuperlakukan? Tolonglah aku, Ceng Si!"

Pelayan muda yang cantik itu tersenyum di dalam hatinya.

Baik Cia Sun maupun Bi Li sudah minta tolong kepadanya, sudah dapat dipastikan bahwa kelak ia pasti tercapai cita-citanya, menjadi Ji-Hujin yang kaya dan terhormat!

"Siocia, tidak baik menemui padanya di kebun, akan tetapi tidak baik pula membiarkan dia begitu saja sehingga dia tidak mau pergi.

Lebih baik Siocia menghibur hatinya dengan jalan memberi sesuatu agar ia puas dan mau pergi!"

"Memberi apa, Ceng Si? Apa yang dapat kuberikan agar ia mau pergi?"

Ceng Si berpikir-pikir.

Memang akan lebih sempurna kalau memberi barang yang berharga, yang menjadi tanda atau bukti seperti misalnya hiasan rambut dari batu giok itu yang menghias rambut Bi Li yang hitam dan halus, akan tetapi hal itu terlalu berbahaya untuk pertama kalinya.

Ia masih belum tahu akan isi hati Cia Sun, belum tahu apakah pemuda itu bersungguh-sungguh atau tidak.

"Lebih baik Siocia memberikan saputangan Siocia itu, agar ia merasa bahwa Siocia menaruh kasihan kepadanya dan akulah yang akan membujuk-bujuknya agar ia mau pergi dari kebun."

Bi Li tentu saja ragu-ragu dan mukanya menjadi merah sekali.

Ia melihat saputangannya yang tersulam indah dan yang basah dengan air matanya.

Akan tetapi tidak ada jalan lain yang lebih baik.

Kalau pemuda itu nekat tidak mau pergi, lebih celaka lagi!

"Baiklah, kau berikan ini dan bujuk agar dia jangan berlaku nekad dan tidak mau pergi."

Ceng Si dengan girang menerima saputangan itu dan membawa benda itu ke kebun, di mana Cia Sun telah menantinya.

Untuk beberapa lama dua orang ini berunding, akhirnya Cia Sun pergi keluar melalui pagar kebun yang rusak.

Demikianlah.

Ceng Si menjalankan siasatnya dengan licin sekali.

Sampai kebun itu berubah menjadi taman indah dan dikelilingi pagar tembok, selalu pelayan ini mengadakan hubungan dengan Cia Sun.

Dengan amat cerdiknya Ceng Si menjaga sedemikian rupa sehingga Bi Li memberi benda-benda tanda mata, membalas surat-surat dan sajak-sajak pemuda itu, bahkan Bi Li yang bagaikan seekor lalat terjebak dalam sarang laba-laba berani bersumpah bahwa dia hanya akan bersuamikan Cia Sun!

Sampai dua tahun perhubungan ini berjalan diam-diam.

Memang betul bahwa Bi Li tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar kesusilaan, karena memang gadis ini teguh menjaga kesopanan, dan ini sesuai pula dengan rencana Ceng Si, namun di dalam hatinya, gadis ini sudah membalas cinta kasih Cia Sun.

Tentu saja Cia Sun menjadi besar hati, karena biarpun ia pernah ditolak lamarannya oleh Kakek Song, namun kalau Bi Li tidak mau dinikahkan dengan orang lain dan kelak kakek itu meninggal dunia, akhirnya dialah yang akan menjadi suami Bi Li dan menguasai semua harta benda yang besar itu!

Akan tetapi, tiba-tiba setelah Bi Li berusia sembilan belas tahun, pada suatu hari Kakek Song pulang bersama seorang pemuda yang tampan dan gagah, yang berpakaian sebagai seorang Pengemis, tambal-tambalan dan butut.

Dan hebatnya, Bi Li diperkenalkan kepada pemuda ini sebagai calon suaminya!

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Kiang Liat setelah berpisah dari suhunya, langsung menuju ke dusun Sui-Chun.

Ia sengaja tidak mau pulang dulu ke kotanya di Sian-Koan dan sengaja memakai pakaian seperti Pengemis untuk melihat apakah Kakek Song dan cucunya masih tidak berubah pendiriannya melihat dia sudah menjadi seorang Pengemis.

Tidak tahunya, baru saja ia tiba di luar dusun Sui-Chun, ia telah disambut oleh Kakek Song dengan segala kehormatan!

Memang sudah berhari-hari kakek ini menanti dari pagi sampai petang di luar kampung, ingat bahwa hari kedatangan pemuda yang pernah menolongnya itu sudah tiba.

Maka begitu melihat Kiang Liat, ia segera berlari menghampiri bersama pelayan-pelayannya, dan menyambut Kiang Liat dengan segala kehormatan.

"Kian Taihiap, sudah tiga hari Lohu menanti di sini. Bagus sekali, kau kelihatan, sehat-sehat saja dan lebih gagah!"

"Akan tetapi, aku telah menjadi Pengemis yang miskin, Lopek."

"Ha-ha-ha, dahulu pun aku seorang Pengemis yang lebih miskin daripadamu, Taihiap. Sudah lupa lagikah kau akan hal itu? Marilah, kita bicara di rumah."

Diam-diam Kiang Liat memuji kakek ini yang ternyata sikapnya tidak berubah sama sekali.

Memang ia suka mempunyai seorang mertua atau seorang kakek sebaik ini, akan tetapi ia belum melihat bagaimanakah macamnya cucu perempuan kakek ini yang bendak dijodohkan dengan dia?

Rumah gedung tempat tinggal kakek itu, sungguhpun untuk di Sui-Chun termasuk paling baik namun masih tidak sebesar dan sebaik rumah Kiang Liat sendiri di Kota Sian-Koan, maka pemuda ini sama sekali tidak merasa kagum atau kikuk ketika memasuki gedung ini.

"Suruh Siocia keluar menyambut tuan penolongku yang muliai!"

Kata Song Lo-Kai dengan girang kepada seorang pelayan perempuan.

Berdebar hati Kiang Liat ketika ia mendengar suara tindakan kaki yang halus dari dalam, kemudian mulut pintu tersingkap dan muncullah seorang bidadari dalam pandangan pemuda ini.

Ia cepat bangun dari bangkunya dan merahlah muka Kiang Liat ketika ia teringat bahwa pakaiannya amat tidak baik.

Ia memandang wajah yang cantik jelita itu, yang bibirnya tersenyum manis dengan ramah-tamah, wajahnya yang ayu berseri-seri dan sepasang matanya bersinar-sinar.

Memang Bi Li sudah pernah diceritakan oleh kong-kongnya bahwa ketika menghadapi bencana maut kong-kongnya telah ditolong oleh seorang pendekar muda.

Tentu saja kini mendengar bahwa tuan penolong itu datang, sebagai cucu kong-kongnya ia harus menyatakan terima kasihnya.

Hanya tak disangkanya bahwa tuan penolong itu ternyata adalah seorang yang masih muda dan luar biasa tampan serta gagah.

Kiang Liat menjura dan mengangkat kedua tangan ke dada, memandang bagaikan dalam mimpi, tak kuasa mengeluarkan kata-kata.

Melihat betapa pemuda itu amat kikuk, timbullah rasa sungkan dan malu kepada Bi Li sehingga gadis ini pun hanya menjura memberi hormat.

"Bi Li, mengapa kau diam saja terhadap, tuan penolongku? Tidak saja Tuan penolong, dia pun calon suamimu, Nak!"

Setelah berkata demikian, kakek ini mengejap-ngejapkan kedua matanya yang terasa panas hendak menitikkan air mata saking terharu dan girangnya.

Mendengar ucapan itu, Bi Li merasa seakan-akan kedua kakinya terjeblos ke dalam jurang.

Kagetnya bukan main dan seketika itu wajahnya menjadi pucat sekali.

Akan tetapi ia buru-buru menundukkan muka dan membalikkan tubuh terus lari ke dalam kamarnya, diikuti oleh Ceng Si yang tadi juga mengikuti nona majikannya keluar.

Bagi anggapan Kiang Liat dan kakek Song, nona itu tentu lari karena jengah dan malu, maka kakek Song tertawa bergelak-gelak saking senang hatinya.

"Lopek, sungguhpun aku sebatang kara yatim-piatu, namun aku mempunyai rumah di Sian-Koan. Biarlah aku pulang lebih dulu, baru kemudian aku akan mengirim wakil untuk membicarakan urusan perjodohan ini."

Kakek Song mengerutkan keningnya dengan khawatir.

"Akan tetapi kau"

Kau sudah setuju, bukan?"

Kiang Liat menjadi merah mukanya, tak dapat menjawab, maka ia hanya menganggukkan kepalanya dengan pasti!

Kakek Song tertawa bergelak, lalu dengan suara keras ia memberi perintah pada para pelayannya untuk menyediakan jamuan yang hebat bagi calon mantunya.

Setelah minum arak dan menerima hidangan-hidangan yang disuguhkan oleh Kakek Song, Kiang Liat lalu berpamit dan sebgai tanda mata, ia meninggalkan Pedangnya.

Dengan hati girang pemuda ini lalu melakukan perjalanan cepat sekali ke Kota tempat tinggalnya.

Ia disambut dengan girang oleh inang pengasuhnya, ia memang sudah seperti neneknya sendiri saja.

Kiang Liat girang karena melihat rumahnya tidak berubah dan tidak terjadi sesuatu atas diri inang pengasuhnya.

Ia lalu menceritakan pengalamannya secara singkat, dan terutama sekali ia bercerita tentang maksudnya hendak menikah dengan Nona Song di Sui-Chun.

Inang pengasuhnya girang bukan main, sambil berlinang air mata inang pengasuh ini lalu mengurus hal itu, mencarikan seorang wakil untuk menyampaikan warta ke Sui-Chun tentang ketetapan hari pernikahan!

Sementara itu, di rumah Kakek Song terjadi keributan.

Bi Li menangis dan menyatakah tidak mau menikah.

"Anak bodoh, usiamu sudah sembilan belas tahun mau menunggu apa lagi? Apakah kau mau menunggu kakekmu mati?"

Akhirnya Kakek Song berkata lemas. Bi Li menubruk kakeknya.

"Tidak demikian Kong-kong, akan tetapi aku"

Belum suka menikah..."

"Bi Li, jangan kau membikin bingung dan susah hati kong-kongmu. Perjodohan ini sudah kujanjikan kepada Kian-Taihiap setahun yang lalu. Sebentar kalau utusannya datang mewartakan tentang hari pernikahan, kita harus menerima dengan baik kau tak boleh berkeras kepala lagi kecuali kalau kau suka melihat kong-kongmu mampus saking jengkel dan susah."

Bi Li tak dapat menjawab hanya menjatuhkan diri di atas pembaringan dan menangis terisak-isak.

Pada saat itu, Ceng Si turun tangan.

Gadis pelayan ini memberi isyarat kepada Kakek Song untuk keluar.

Kakek ini terheran akan tetapi ia menurut saja.

Akhirya mereka bicara di dalam ruangan belakangnya dan tak seorang pun pelayan lain boleh mendekati mereka.

"Ceng Si, ada apakah? Agaknya ada sesuatu yang dirahasiakan kepadaku!"

Kakek Song berkata kurang senang. Ceng Si berlutut.

"Mohon beribu ampun Lo-ya. Sesungguhnya saya sudah berusaha banyak untuk mencegah terjadi hal ini, akan tetapi apa mau dikata, sebelum saya menjadi pelayan di sini, hal itu sudah terjadi."

"Hal ini, hal itu, apa maksudmu? Bicaralah yang jelas!"

Kakek Song membentak dengan hati kurang enak.

"Siocia tidak mau menikah karena sesungguhnya Siocia sudah mempunyai pilihan hati sendiri."

"Apa? Kau tahu akan hal ini dan tidak memberitahukan kepadaku? Berani betul kau membiarkan Siociamu merusak nama baik keluarganya? Jahanam benar..."

Wajah Kakek Song menjadi pucat sekali.

"Tidak demikian, Loya, harap jangan salah sangka. Biarpun Siocia sudah mempunyai pilihan hati, namun Siocia tak pernah bertemu dengan dia, hanya berkirim-kiriman saja dan sebagainya."

"Bedebah"!"

"Kalau Loya benar-benar sayang kepada Siocia, saya harap Loya sudi mempertimbangkan keadaan Siocia yang patut dikasihani. Dan harap Loya suka mendengar penuturan saya dengan hati sabar. Loya, sebelum Loya membawa Siocia pindah ke sini, memang diantara Siocia dan pemuda itu sudah ada pertalian batin yang erat. Mereka saling mencinta dan saling bersumpah takkan menikah dengan orang lain. Adapun menurut penglihatan saya, pemuda itu adalah seorang pemuda terpelajar yang amat sopan-santun dan baik, tulisannya indah dan juga orangnya tidak kalah oleh Kiang-Taihiap. Siocia pasti akan hidup berbahagia selama hidupnya kalau Loya membatalkan pertalian jodoh dengan Kiang-Taihiap dan sebaliknya menjodohkan Siocia dengan pilihan hatinya sendiri."

"Cukup, tutup mulutmu, kau seorang pelayan tahu apa? Siapakah adanya jahanam yang berani menggoda cucuku itu? Hayo katakan siapa dia?"

"Dia adalah seorang Siucai dan namanya Cia Sun dari dusun Lee-Hiang."

Kakek Song termenung dan mengangguk-angguk sambil mengelus-elus jenggotnya. Kemudian ia menyuruh Ceng Si pergi dan menghibur Siocianya.

"Katakan kepada Siociamu bahwa aku akan memikirkan hal ini baik-baik,"

Katanya.

Kakek ini teringat akan pemuda she Cia yang pernah melamar Bi Li, dan menurut penglihatannya, memang pemuda itu cukup baik dan terpelajar.

Akan tetapi, ia sudah menolak pinangan itu karena ia ingin menjodohkan Bi Li kepada seorang gagah agar kelak dapat melindungi cucunya itu.

Kakek Song sendiri adalah seorang ahli silat dan biarpun kepandaiannya tidak tinggi namun ia cukup tahu akan manfaat kegagahan pada jaman itu.

Apalagi sekarang ia telah menjodohkan cucunya kepada Kiang Liat seorang pemuda gagah perkasa yang pernah menolongnya dan yang amat dikaguminya, apalagi karena pemuda itu kini menjadi murid dari seorang sakti.

"Sungguh menjemukan sekali, pinangannya sudah kutolak bagaimana ia masih berani mengganggu Bi Li? Ada maksud apakah sebenarnya dengan pemuda she Cia itu?"

Demikian Kakek Song berpikir-pikir.

Kemudian ia mendapatkan akal.

Ia maklum akan keadaan keluarga Cia yang miskin, maka didatangilah rumah keluarga Cia di dusun Lee-Hiang.

Ia disambut oleh Janda Cia, yakni ibu dari Cia Sun dengan ramah-tamah dan penuh penghormatan, sebagaimana biasanya seorang kaya-raya disambut oleh seorang dusun yang miskin.

Kakek Song minta kepada nyonya janda itu untuk memanggil puteranya dan Cia Sun menghadap dengan muka pucat.

Pemuda ini takut sekali karena ia dapat menduga bahwa kedatangan Kakek Song tentulah ada hubungannya dengan Bi Li, sedangkan ia belum mendapat berita apa dari Ceng Si selama beberapa hari ini.

Hatinya gelisah sekali, namun ia menghadap Kakek Song dengan sikap sopan dan memberi hormat sebagaimana mestinya.

"Kedatanganku ini untuk membereskan persoalan yang ada antara Cia Sun dan cucuku,"

Kata Kakek Song kepada nyonya janda ibu Cia Sun. Tentu saja Nyonya Cia tidak tahu akan kelakuan puteranya maka ia memandang dengan mata penuh pertanyaan.

"Cia-Hujin, seperti kau tentu masih ingat, pinangan puteramu terhadap cucuku sudah kutolak karena memang cucuku itu sudah mempunyai tunangan. Akan tetapi akhir-akhir ini ternyata puteramu selalu mendesak dan bahkan berani mencoba untuk berhubungan dengan cucuku. Yang sudah lewat sudahlah, akan tetapi mulai sekarang, kuperingatkan agar puteramu ini jangan sekali-kali berani menghubunginya. Ingat bahwa ia sudah bertunangan."

"Hal itu tidak betul,"

Cia Sun memotong.

"Aku mendengar bahwa Song Siocia belum bertunangan."

"Hemm, begitukah?"

Kakek Song tersenyum, hatinya mendongkol sekali.

"Itu hanya dugaanmu belaka. Dia sudah tunangan dengan seorang she Kian di Kota Sian-Koan dan dalam beberapa pekan ini pun akan dilangsungkan pernikahannya. Oleh karena itu, sekali lagi kuperingatkan bahwa apabila kau mencoba untuk berlaku tidak patut dan mendekati rumah kami, aku akan turun tangan dengan jalan kekerasan atau akan menyuruh yang berwajib menangkap dan menahanmu. Sebaliknya, kalau kau berjanji tak mengganggu dan mendekatinya lagi, orang she Song akan berterima kasih sekali dan takkan melupakan kebaikan ini. Nah, biarlah sedikit bekal ini untuk keperluan kalian sehingga tak perlu keluar rumah."

Kakek Song meninggalkan sekantong uang perak dan meletakkan itu di atas meja yang reot di depan Nyon Cia.

Nyonya janda Cia terkejut dan juga girang.

Ia buru-buru berlutut menghaturkan terima kasih dan berkata kepada Kakek Song.

"Song-Loya, harap suka mengampunkan puteraku yang masih belum tahu aturan. Percayalah, aku yang akan melarangnya pergi ke sana. Terima kasih banyak atas hati Song-Loya. Sun-ji (Anak Sun), hayo lekas ucapkan terima kasih kepada Song-Loya."

Cia Sun menjadi pucat dan hanya karena takut kepada ibunya maka ia terpaksa menjura dan mengucapkan terima kasih dengan suara perlahan.

Kakek Song menjadi puas dan segera pergi dari situ, pulang ke gedungnya.

Cia Sun menjatuhkan diri di atas kursi, dua titik air mata turun membasahi pipinya.

Hancurlah cita-citanya untuk menjadi suami Bi Li, untuk mewarisi seluruh harta benda itu!

"Anakku, bagaimana sih kau ini?

Song-Siocia tentu saja bukan jodohmu, bagaimana katak bisa mencapai bulan?

Kau benar-benar lancang dan sembrono sekali berani mengganggu gadis dari keluarga demikian hartawan.

Masih untung bagi kita bahwa Song-Loya berhati pemurah dan sabar sehingga sebaliknya daripada marah kepada kita, ia memberi peringatan dengan halus dan malah memberi uang begini banyak."

Namun Cia Sun masih terbenam dalam lamunannya yang sedih.

Apakah artinya uang sekantung ini dibandingkan dengan diri Bi Li berikut harta benda dan rumah gedung ditambah sawah ladang yang demikian banyaknya?

Ia memutar-mutar otak mencari jalan yang baik, akhirnya ia berkata seorang diri.

"Hanya Ceng Si yang akan dapat memecahkan hal ini! Ceng Si manisku... kekasihku... sebenarnya kau lah yang patut menjadi isteriku. Tanpa kau yang cerdik aku merasa tak berdaya..."

Adapun Kakek Song yang pulang ke rumah gedungnya, diam-diam menyuruh beberapa orang pelayan untuk mengamat-amati dan menjaga agar jangan sampai ada orang luar bisa masuk ke dalam taman dan agar supaya mengusir setiap orang muda yang mendekati tembok sekitar gedung dan pekarangannya.

Dengan penjagaan ini, maka baik Cia Sun maupun Ceng Si sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk saling bertemu atau menyampaikan berita.

Sementara itu, sepekan kemudian, datanglah utusan dari Sian-Koan, dan Kakek Song terkejut bercampur girang bukan main, juga ia merasa heran sekali.

Utusan yang datang itu adalah seorang setengah tua yang berpakaian mewah, datangnya membawa sebuah kereta penuh dengan barang-barang berharga.

Tadinya Kakek Song mengira bahwa yang datang ini tentulah seorang saudagar kaya, akan tetapi ia menjadi melongo ketika tamu ini memperkenalkan diri sebagai utusan dari keluarga Kiang di Sian-Koan!

"Saya datang atas perintah dari Kiang-Kongcu untuk membawa sekedar hadiah bagi Song-Siocia, dan juga untuk membicarakan tentang hari pernikahan,"

Kata utusan itu.

Ketika barang-barang hadiah itu dibongkar, semua orang terheran-heran dan kagum bukan main.

Lima belas kayu kain Sutera yang paling halus dan mahal dan yang jarang sekali dilihat oleh orang-orang seisi rumah, lima buah barang ukiran dari perak yang amat indahnya, untuk hiasan dinding kamar, empat peti besar terisi kain-kain untuk muili, kelambu, dan lain-lain keperluan rumah tangga, sekantung uang emas dan sekantung pula uang perak, Kemudian yang terakhir, sebuah hiasan rambut terbuat dari emas dan dihiasi batu kemala yang amat indahnya, berbentuk seekor kupu-kupu yang hinggap di atas setangkai bunga Cilan.

Jangankan para pelayan yang memandang semua itu dengan mata terbelalak dan menahan napas, bahkan Kakek Song sendiri sampai melongo.

Hanya orang yang kaya-raya, yang jauh lebih kaya daripada dirinya sendiri, yang akan dapat mengirimkan hadiah kepada calon pengantin seroyal ini.

Ia segera menjamu tamu itu dan dari tamu ini ia mendapat keterangan bahwa Kiang-Kongcu adalah ahli waris satu-satunya dari keluarga Kiang yang amat terkenal kekayaannya.

Juga ia mendengar bahwa nenek moyang Kiang Liat adalah orang-orang ternama belaka, bangsawan-bangsawan tinggi yang bernama besar.

Maka bukan main girangnya hati Kakek Song mendengar ini.

Mereka mengobrol sambil minum arak dan makan hidangan yang mahal, kemudian utusan itu menyampaikan pesan dari Kiang-Kongcu tentang hari pernikahan yang akan dilangsungkan dalam bulan itu juga.

Sementara itu, Ceng Si yang cerdik segera mendengar bahwa pemuda she Kiang yang dahulu berpakaian sebagai orang Pengemis itu, ternyata seorang pemuda yang kaya-raya, lebih kaya dari pada keluarga Song sendiri!

Apalagi setelah ia melihat barang-barang hadiah yang dibawa oleh utusan keluarga Kiang, hatinya berdebar dan matanya yang indah itu berseri-seri.

Diam-diam ia meremas-remas tangan sendiri dan mengatur siasat.

Kemudian ia berlari menuju ke kamar Bi Li, diikuti oleh para pelayan yang memanggul barang-barang hadiah itu, karena Kakek Song memberi perintah agar supaya barang-barang itu langsung dibawa ke kamar Bi Li.

"Siocia, Kionghi!"

Ceng Si berseru sambil memeluk nona majikannya.

"Ceng Si, apakah kau gila? Aku lagi berduka, kau datang-datang memberi selamat."

"Kionghi, Siocia! Tidak tahunya, pemuda she Kiang yang kelihatan seperti Pengemis itu, ternyata adalah seorang pangeran!"

"Apa katamu? Seorang pangeran?"

Bu Li menggerakkan alis karena terheran-heran.

"Lihat saja, lihat saja barang-barang hadiahnya!"

Pintu terbuka dan mengalirlah barang-barang itu memasuki kamar.

Bi Li juga kagum sekali melihat benda-benda mahal itu, apalagi melihat hiasan rambut yang indah sekali itu, ia benar-benar amat suka, hanya merasa malu untuk menjamahnya.

Ia hanya duduk dan melihat satu demi satu semua benda itu yang diambil dari tempatnya oleh Ceng Si.

Gadis pelayan ini sambil memamerkan benda-benda itu, tiada hentinya bercakap-cakap.

"Siocia, kau benar-benar berbahagia sekali. Memang orang baik selalu mendapat perlindungan dengan Thian. Siapa kira pemuda berpakaian tambalan itu ternyata adalah seorang yang kaya-raya, yang jauh lebih kaya daripada Song-Loya sendiri? Lihatlah, begini indah dan mahalnya barang-barang ini."

"Ceng Si, aku bukan seorang yang haus akan benda-benda indah dan mahal."

"Akan tetapi orangnya pun amat gagah dan tampan! Siocia, terus terang saja, kalau diingat-ingat, Kiang-Kongcu itu malah lebih tampan daripada... pemuda she Cia itu. Dan tentu saja jauh lebih gagah, ingat saja, ia pernah menolong nyawa Song-Loya!"

"Ceng Si!"

Bi Li membentak dan mukanya menjadi pucat.

"Aku bukan seorang yang begitu mudah lupa akan sumpah sendiri!"

"Siocia, dalam hal ini kita harus jangan menurutkan perasaan dan nafsu sendiri. Ingatlah dan pertimbangkan masak-masak. Memang betul Siocia sudah bersumpah, namun semua itu dilakukan dalam keadaan melamun dan tidak sadar. Siocia bersumpah tidak di depan Cia-Kongcu dan hubungan kalian juga hanya dengan surat-surat sajak belaka. Sebaliknya, cobalah pikir baik-baik. Pemuda hartawan dan gagah perkasa she Kian itu, pertama-tama dia sudah menolong nyawa kong-kongmu, kedua kalinya dia memang patut menjadi suami Siocia karena ia memang tampan dan gagah sekali, ketiga kalinya, ia seorang hartawan besar, jadi seribu kali lebih cocok dari pada Cia-Siucai yang miskin itu."

"Ceng Si...! Aku... aku kasihan kepadanya, juga karena ia tidak berdaya dan miskin."

Berseri wajah Ceng Si, memang inilah yang dinanti-nanti.

"Kalau begitu, Siocia, mudah saja untuk menolongnya! Dia miskin, membutuhkan uang. Kalau Siocia selalu memberi sesuatu yang berharga kepadanya, bukankah itu berarti sudah menolongnya?"

"Ceng Si, bagaimana kau bisa bilang begitu? Kalau aku sudah menjadi isteri orang lain, bagaimana aku sudi dan berani mengadakan hubungan dengan laki-laki lain?"

"Mudah saja Siocia. Kalau aku Ceng Si yang bodoh selalu menjadi pelayan pribadi Siocia, selalu berada di samping Siocia, apa sih sukarnya? Kalau Siocia masih selalu menolong pemuda she Cia itu, pendeknya mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan kalau perlu membiayai dia melanjutkan pelajarannya, di Kota Raja, bukankah itu berarti bahwa Siocia mempunyai pribudi yang tinggi?"

Bi Li berpikir dan ia berkali-kali menarik napas panjang.

"Akan tetapi aku khawatir sekali, Ceng Si. Surat-suratku banyak yang berada di tangannya! Kalau kelak... orang yang menjadi suamiku mengetahui akan hal ini, bukankah ini akan mendatangkan malapetaka hebat!"

Di dalam hatinya, Ceng Si tersenyum seperti iblis. Akan tetapi pada wajahnya yang manis itu, tersungging senyum manis yang penuh hiburan.

"Jangan khawatir, Siocia. Akulah yang akan minta kembali semua tulisan-tulisan itu."

Akhirnya Bi Li dapat dibujuk dan dihibur.

Gadis ini mengeluarkan surat-surat dari Cia Sun yang tadinya disimpannya, menyerahkan semua surat itu kepada Ceng Si dengan perintah agar semua surat ini dibakar.

Ceng Si memang melakukan perintah ini, akan tetapi tidak semua surat dibakarnya, ada beberapa helai yang diam-diam ia sembunyikan dan simpan.

Dua helai surat dari Cia Sun ini merupakan senjataku yang paling ampuh terhadap Song-Siocia, pikirnya.

Kita tunda dulu dan membiarkan nona Song Bi Li melamun tentang pernikahannya yang dihadapi, dan mari kita mengikuti peristiwa lain yang amat hebat.

Di lembah Sungai Huang-Ho, nampak dua orang setengah tua berjalan perlahan.

Mereka ini adalah Bu Pun Su dan Han Le, dua kakak beradik seperguruan yang berilmu tinggi.

Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, mereka berdua baru saja meninggalkan Kiang Liat dan kini mereka jalan bersama-sama sambil bercakap-cakap.

"Lu-Suheng, mengapa kau sekarang banyak berubah? Kau kelihatan seperti orang yang menderita kesedihan besar,"

Pertama-tama Han Le menegur Suhengnya.

"Sute, sebelum kita bicarakan lebih lanjut, kuperingatkan kepadamu, jangan sekali-kali lagi kau menyebut Lu-Suheng kepadaku. Jangan sekali-kali nama Lu Kwan Cu disebut lagi. Nama itu sudah mampus dan sekarang aku adalah Bu Pun Su, tidak ada sambungannya lagi, mengerti?"

Suaranya terdengar keras dan kaku, tanda bahwa ia tidak suka mendengar nama kecilnya disebut-sebut.

Han Le beberapa kali memandang kepada wajah Bu Pun Su penuh perhatian.

Biasanya, pandangan mata Han Le tajam sekali dan dengan melihat wajah orang, ia akan dapat membaca isi hatinya.

Akan tetapi tarikan wajah Bu Pun Su demikian sukar dimengerti, seakan-akan kulit muka orang sakti itu memakai kedok.

Hanya garis-garis yang memenuhi muka dan rambut serta alis yang sudah tidak begitu hitam lagi saja yang bercerita bahwa selama ini, Bu Pun Su mengalami tekanan dan penderitaan batin yang hebat.

"Suheng, kau telah banyak mengalami penderitaan. Maafkan Sute, biarpun Sute seorang yang bodoh dan lemah, namun Sute menyediakan raga dan nyawa untuk membantu Suheng memecahkan semua kesulitan itu."

Bu Pun Su menoleh kepada adik seperguruan ini, untuk beberapa detik sepasang matanya hanya memandang, seakan-akan hendak mengalirkan air mata.

Akan tetapi tiba-tiba sepasang mata itu berseri-seri dan meledaklah suara ketawa Bu Pun Su.

Suara ketawanya demikian nyaring dan keras sehingga kalau di situ terdapat orang lain yang tidak berilmu tinggi, pasti orang ini akan lumpuh terkena daya tenaga Lwee-kangnya yang disalurkan dalam suara ketawa ini!

Baiknya Han Le sendiri telah memiliki tenaga Lwee-kang yang tinggi, namun tetap saja ia merasa jantungnya memukul keras dan terpaksa ia menahan napasnya agar jangan terkena getaran hebat dan melukai jantungnya.

"Ha, ha, ha, kau masih tidak berubah, Sute! Kau masih dikuasai oleh perasaanmu, kau lemah dan baik hati. Tidak, Sute. Aku tidak menderita sesuatu. Bagaimana Bu Pun Su bisa menderita? Kalau si lemah Lu Kwan Cu yang sudah mampus memang dia itu lemah hati, mudah dikuasai oleh nafsu, dia buta dan tuli, terlalu mengandalkan kepandaiannya yang tidak berarti, terlalu membanggakan tenaganya yang sebetulnya lemah. Ha, ha, Lu Kwan Cu sudah mampus demikian pula orang-orang yang seperti dia. Akan selalu mengalami suka duka dan hidup bagaikan benda mati yang dipermainkan oleh alam. Akan tetapi aku sekarang bukan seperti dia, aku sudah menguburkan Lu Kwan Cu. Aku Bu Pun Su hidup bukan sebagai bujang perasaan, aku hidup bebas, mempergunakan akal budi dan pertimbangan, mengeluarkan segala yang pernah kupelajari untuk membantu pekerjaan alam!"

Han Le dapat mengerti akan kata-kata yang kedengarannya tidak karuan ini.

Dia sendiri sudah banyak mengalami kepahitan hidup, sudah banyak menderita dan kecewa.

Maka ia dapat menduga bahwa Suhengnya ini tentu telah mengalami hal-hal yang hebat sekali, hal-hal yang menghancurkan hatinya, mungkin sekali telah melakukan dosa yang dianggapnya amat berat dan besar sehingga Suhengnya ini mematikan diri sendiri, mematikan dan menghilangkan semua ingatan tentang diri Lu Kwan Cu, dan seakan-akan hidup baru merupakan seorang bernama Bu Pun Su atau Si Tiada Kepandaian, manusia aneh yang hidupnya hanya untuk membantu pekerjaan alam, yakni tegasnya membantu manusia lain.

Han Le menjura kepada Suhengnya dan berkata girang.

"Kalau begitu, aku mengucapkan selamat, Suheng. Dan demi Thian Yang Maha Kuasa, aku pun hendak mencoba sedapat mungkin untuk meniru perbuatanmu yang mulia ini. Tadi Suheng bilang hendak menyampaikan sesuatu yang amat penting, apakah gerangan urusan itu?"

Karena sudah lupa lagi akan hal-hal dahulu mengenai diri Lu Kwan Cu, Bu Pun Su kembali pula kegembiraannya.

"Sute, aku perlu sekali bantuanmu, juga bantuan semua orang yang masih berbangsa dan berkebudayaan."

"Eh, apakah yang terjadi, Suheng?"

Tanya Han Le terkejut, karena kata-kata Suhengnya ini terdengar menyeramkan.

Bu Pun Su mengajak Sutenya duduk di dekat pantai Sungai Huang-Ho di mana tumbuh sebatang pohon besar yang akarnya bergantungan dan bermain-main di permukaan air sungai.

Tempat itu amat indahnya dan setiap orang, apalagi para pemancing ikan, pasti akan suka sekali duduk di situ.

"Sute, di dunia kang-ouw telah terjadi hal yang hebat dan amat membahayakan kedudukan orang-orang kang-ouw yang termasuk golongan putih. Apalagi bagi mereka yang menganut sesuatu kepercayaan atau agama."

"Mengapa, Suheng? Bukankah golongan Mo-Kauw (Agama Sesat) pada hakekatnya tidak begitu kuat dan selalu dapat dikendalikan oleh golongan Beng-Kauw (Agama Asli), sedangkan golongan Beng-Kauw biarpun agama dan kepercayaannya berlainan dan banyak sekali macamnya namun dapat menjaga kerukunan dan menghormati kepercayaan masing-masing?"

"Betul kata-katamu itu, akan tetapi hal itu adalah keadaan pada beberapa tahun yang lalu. Memang jarang ada orang kang-ouw yang mengetahui kejadian ini, karena hal itu mereka sembunyikan dan menjaga penuh rahasia agar jangan sampai bocor."

"Eh, apa sih sebetulnya yang terjadi, Suheng? Aku menjadi tertarik dan ingin sekali lekas mendengar penjelasanmu."

Bu Pun Su lalu menceritakan apa yang telah ia ketahui.

Di dalam dunia kang-ouw terbagi menjadi dua golongan yang biasa disebut golongan putih dan hitam.

Golongan putih adalah para pendekar atau mereka yang memiliki kegagahan dan yang sepak terjangnya selalu bersih, sebaliknya golongan hitam adalah mereka yang selalu disebut pengikut hek-to (jalan hitam) atau lebih tepat lagi orang-orang yang mempunyai pekerjaan jahat seperti perampok-perampok, bajak-bajak, maling, copet dan lain-lain.

Antara kedua golongan itu telah dapat diselesaikan dengan kemenangan pihak golongan putih.

Untuk dapat mengendalikan golongan hitam ini banyak tokoh besar dunia kang-ouw yang sengaja menjadi perampok atau maling, yakni menjadi ketuanya dan selalu mengawasi sepak terjang anak buahnya sehingga mereka itu tidak menyeleweng, yakni dengan lain kata, tidak merampok atau mengganggu orang-orang yang dianggap tak patut diganggu.

Bagi orang-orang gagah di waktu itu, merampok harta orang kaya yang pelit, membunuh mati orang yang berwatak jahat dan kejam, dianggap sebagai perbuatan yang bersih dan mulia juga.

Pendeknya golongan penjahat pun terpecah dua, yakni jahat yang dilakukan demi memberantas kejahatan, dan jahat karena memang pada hakekatnya jahat dan keji.

Golongan-golongan ini hanya kecil saja, atau boleh disebut golongan perorangan yang meliputi tokoh-tokoh yang hidup menyendiri.

Akan tetapi ada pula golongan-golongan besar seperti perkumpulan-perkumpulan, terutama sekali perkumpulan agama dan Partai-Partai besar persilatan yang tidak lepas dari agama dan kepercayaan, dan justeru golongan-golongan besar ini yang menjadi induk dari golongan-golongan kecil.

Dan di dalam golongan-golongan besar ini terdapat perpecahan pula!

Perpecahan ini tadinya meluas sehingga antara Partai dengan lain Partai terjadi bentrokan dan permusuhan hebat, hanya karena kepercayaan atau agama mereka berlainan.

Akan tetapi, ratusan yang lalu, ketika muncul tokoh-tokoh besar seperti Tiat Mouw Couwsu dan lain-lain tokoh dari See-Thian (Dunia Barat), bentrokan-bentrokan ini dapat diselesaikan dengan jalan rukun, sungguhpun kepercayaan mereka, bahkan ajaran limu silat mereka berlainan.

Dan oleh tokoh-tokoh besar itu diletakkan garis yang memisahkan antara golongan yang disebut penganut Beng-Kauw dan mereka yang menganut Mo-Kauw.

Golongan Beng-Kauw atau agama aseli ini tentu saja mempunyai anggauta yang paling banyak.

Semua Partai persilatan, seperti Siauw-Lim-Pai, Go-Bi-Pai, Kun-Lun-Pai, Bu-Tong-Pai, Hoa-San-Pai dan lain-lain menyebut diri sebagai golongan Beng-Kauw.

Hal ini tentu saja dapat dimengerti karena siapakah yang mau menyebut diri bukan penganut "Agama Aseli"?

Golongan ini terdiri dari Partai-Partai besar yang menganut Agama Buddha, penganut ajaran Locu atau To-Kauw, penganut ajaran Khong Hu Cu, penganut Kwan Im Pouwsat, dan lain-lain.

Siapakah gerangan yang termasuk agama Mo-Kauw?

Sebetulnya tidak ada golongan yang mau mengaku sebagai penganut Agama Sesat, akan tetapi golongan-golongan yang tidak beragama atau orang~orang kasar, atau juga mereka yang pernah melakukan pelanggaran dan dianggap jahat, mereka inilah yang disebut golongan Beng-Kauw, sebagai golongan Kaum Sesat!

Mereka ini sebagian besar merupakan kelompok orang yang menyembunyikan diri, yang bersakit hati dan karena mereka didesak ke sudut oleh mereka yang menganggap diri bersih, Mereka ini dengan sengaja lalu berlaku keaneh-anehan, sengaja mereka membentuk sekumpulan tokoh-tokoh yang lihai ilmu silatnya, memisahkan diri dan tidak mau peduli lagi dengan urusan agama.

Mereka melakukan apa saja yang mereka suka, dan hidup berkeliaran tidak tentu tempatnya akan tetapi mereka tidak pernah mendengar atau mencari perkara dengan golongan Beng-Kauw, karena maklum bahwa golongan ini mempunyai banyak orang pandai.

Akan tetapi, jangan kira bahwa golongan Mo-Kauw ini sedikit jumlahnya anggautanya.

Mereka makin lama makin banyak, sebagian besar terdiri dari orang-orang yang putus asa, sakit hati, dan orang-orang yang berwatak aneh.

Beberapa tahun yang lalu, muncullah tiga orang aneh dari See-Thian (Dunia Barat) yang sebentar saja sudah dapat merebut kekuasaan di golongan Mo-Kauw.

Tiga orang ini memiliki kepandaian yang amat tinggi, tidak saja kepandaian limu silat mereka tinggi sekali juga mereka adalah ahli-ahli Hoatsut (Ilmu Sihir) yang aneh.

Dalam beberapa bulan saja mereka dapat mengangkat diri di dalam golongan Mo-Kauw sehingga semua orang penganut agama sesat ini menganggap mereka bertiga sebagai ketua atau pemimpin.

Tiga orang aneh ini tahu akan keadaan orang-orang kang-ouw di golongan Mo-Kauw yang amat terdesak dan dianggap orang-orang jahat oleh orang-orang kang-ouw umumnya, maka mempergunakan rasa dendam dan sakit hati ini, mereka sebentar saja dapat membentuk sebuah perserikatan yang amat kuat.

Hal ini terjadi (Lanjut ke

Jilid 03) Ang I Niocu (Seri ke 02 -Serial Pendekar Sakti) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 03 tanpa banyak ribut, karena memang penghidupan para penganut Mo-Kauw ini tersembunyi, tidak diketahui oleh masing-masing kang-ouw.

Kalau sampai di situ saja persoalannya, kiranya tidak akan ada perubahan dan tidak akan menggegerkan, akan tapi ternyata bahwa tiga orang aneh ini mempunyai niat dan cita-cita yang lebih besar.

Mereka ingin menguasai seluruh dunia kang-ouw ingin menaklukkan Partai-Partai besar dan ingin mengangkat diri menjadi Ketua Perkumpulan yang paling berpengaruh di Tiongkok!

Setelah orang-orang Mo-Kauw ini berada di bawah pimpinan mereka, terjadilah hal-hal yang aneh di dunia kang-ouw.

Kitab pelajaran limu silat yang amat dipuja-puja oleh Partai Siauw-Lim-Pai, yakni Kitab peninggalan dari Tat Mouw Couwsu, pada suatu hari telah lenyap tanpa meninggalkan bekas!

Selagi Siauw-Lim-Pai, geger dan semua tokoh Siauw-Lim-Pai berusaha mencari Kitab yang hilang ini, tiba-tiba puncak Kun-Lun-Pai juga geger karena hilangnya Pedang Pusaka Pek-Liong-Kiam yang ditaruh di ruangan suci kelenteng Partai besar itu!

Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai adalah Partai-Partai besar yang sudah berpuluh tahun terkenal sebagai Partai persilatan yang berpengaruh dan mempunyai banyak orang pandai.

Oleh karena itu, kehilangan dua benda Pusaka ini tentu saja membuat mereka menjadi amat penasaran dan juga malu.

Mereka menjaga rapat peristiwa ini agar jangan sampai tersiar di luaran, dan di samping itu mereka mengerahkan orang-orang pandai untuk mencari benda Pusaka yang lenyap itu.

Akan tetapi, betapapun rapat mereka menjaga rahasia, berita itu tetap bocor juga dan sebentar saja seluruh kang-ouw mendengar bahwa Kitab peninggalan Tiat Mouw Couwsu dari Siauw-Lim-Pai dan Pedang Pusaka Pek-Liong-Kiam dari Kun-Lun-Pai telah dicuri orang dan ini merupakan hal yang menggegerkan pula, Karena biasanya tidak seorang pun anggauta Siauw-Lim-Pai atau Kun-Lun-Pai yang berani membocorkan hal yang dirahasiakan.

Maka timbullah dugaan bahwa hal ini memang sengaja dibocorkan oleh orang atau orang-orang yang melakukan pencurian itu.

Akan tetapi apa kehendak mereka?

Tokoh besar di dunia persilatan, yang baru belasan tahun muncul namun namanya sudah dijunjung tinggi dan disegani dengan penuh kekaguman dan hormat oleh semua ketua Partai besar, yakni Bu Pun Su mendengar pula akan hal ini dan ia cepat menyelidiki.

Dengan kepandaiannya akhirnya Bu Pun Su menaruh hati curiga kepada golongan Mo-Kauw.

Bahkan ia mendengar pula akan adanya tiga orang aneh di golongan Mo-Kauw ini yang kabarnya memiliki kepandaian luar biasa tingginya.

"Demikianlah, Sute,"

Kata Bu Pun Su kepada Han Le setelah menuturkan itu semua.

"Kiranya tidak akan meleset terlalu jauh dugaanku bahwa tiga orang aneh itu mempunyai hubungan dengan dua pencurinya ini. Siapa lagi kalau bukan mereka yang berani dan begitu gegabah mencuri dua barang Pusaka keramat yang dipuja-puja oleh Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai? Dan aku mendengar kabar pula, bahwa Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko, itu tokoh Mo-Kauw yang berkepandaian tinggi dan bertabiat ganas, telah diambil murid oleh tiga orang itu. Kalau Hek Pek Mo-ko dua saudara yang berkepandaian begitu tinggi masih menjadi murid mereka, dapat diduga bahwa kepandaian mereka memang betul-betul tinggi. Selain ini, aku masih mendengar kabar lagi bahwa kecuali Hek Pek Mo-ko, mereka bertiga masih mempunyai seorang murid perempuan yang jauh lebih jahat, bahkan lebih pandai daripada Hek Pek Mo-ko. Kalau pihak Mo-Kauw mempunyai begitu banyak orang-orang pandai, sedangkan sepak terjang mereka selalu disembunyikan, aku merasa kuatir sekali."

"Suheng, urusan itu sebetulnya tidak amat besar, akan tetapi mengapa tadi Suheng menyebut-nyebut tentang kebangsaan dan kebudayaan? Apa hubungannya kehilangan Kitab dari Siauw-Lim-Pai dan Pedang dari Kun-Lun-Pai itu dengan kebangsaan dan kebudayaan?"

Bu Pun Su menarik napas panjang.

"Belum kuceritakan semua keterangan yang dapat kukumpulkan, Sute. Aku mendengar berita yang tentu saja masih belum dapat dipercaya betul, bahwa tiga orang yang kini telah menguasai golongan Mo-Kauw itu, bercita-cita untuk menaklukkan semua orang kang-ouw di negeri ini. Mereka adalah orang-orang dari Barat, dan mereka berhasil menaklukkan semua orang kang-ouw, dan hal ini bukan tidak mungkin melihat kelihaian mereka yang kudengar memang luar biasa sekali tentu saja urusan ini dekat sekali hubungannya dengan kebangsaan dan kebudayaan kita. Tidak ingatkah kau betapa orang orang asing selalu mengilar dan ingin mencaplok negara kita? Kalau sampai orang-orang kang-ouw berada di bawah kekuasaan tiga orang ini sehingga dapat mereka perintah dan pergunakan, apa sukarnya merampas negara kita? Dan kalau sampai kepandaian mereka itu dapat disebar dan menggantikan ilmu silat dari bangsa kita sendiri bukankah berarti kebudayaan kita akan terpengaruh oleh kebudayaan asing pula? Ini bukan soal kecil, Sute, karenanya aku sengaja mencarimu agar kau suka membantuku, demikian pula kita harus mendatangi semua ketua Partai persilatan itu untuk bersama-sama menghadapi mereka itu."

"Siapakah sebetulnya mereka itu, Suheng? Dan orang-orang macam apakah mereka itu."

"Aku sendiri belum pernah bertemu dengan mereka akan tetapi aku sudah rnendapat keterangan serba terbatas tentang mereka. Kabarnya mereka itu adalah saudara-saudara segolongan. Yang pertama bernama atau berjuluk Hek-Te-Ong (Raja Tanah Hitam), yang kedua berjuluk Pek-In-Ong (Raja Awan Putih) dan yang ketiga berjuluk Cheng-Hai-Ong (Raja Laut Hijau). Mereka datang dari Barat dan begitu datang mereka merobohkan semua tokoh Mo-Kauw sehingga para tokoh Mo-Kauw itu takluk dan mengangkat mereka menjadi pemimpin dan menyebut mereka Thian-Te Sam-Kauwcu (Tiga Ketua Agama Bumi dan Langit). Selain itu, mereka mengajar agama baru yang berpusat pada penyembahan dan pemujaan terhadap Bumi, Langit dan Laut. Selanjutnya aku tidak mendengar jelas dan karenanya aku ingin menyelidikinya sendiri."

"Sekarang apa yang hendak kau lakukan Suheng?"

"Aku hendak mengajak engkau untuk membantuku membubarkan sarang murid dari Thian-Te Sam-Kauwcu."

"Sarang dari muridnya? Di sini?"

"Ya, di lembah Huang-Ho sebelah Selatan itu. Kira-kira lima puluh li dari sini. Thian-Te Sam-Kauwcu menyebar anak buahnya untuk mendirikan cabang di mana-mana untuk membujuk dan mengadakan hubungan dengan orang-orang kang-ouw. Dengan secara kebetulan sekali aku mendengar bahwa muridnya, Hek Pek Mo-ko, bersarang di daerah ini. Aku tidak tahu sampai di mana kelihaian mereka, namun mendengar akan kehebatan kepandaian Thian-Te Sam-Kauwcu, aku tidak mau berlaku sembrono dan lebih menguntungkan kalau kau ikut serta."

Han Le merasa agak terheran.

Ia percaya akan kepandaian Suhengnya yang sepuluh kali lipat lebih tinggi daripada kepandaiannya, mengapa Suhengnya mengajaknya?

"Suheng, bukankah kau mengajak aku untuk menjadi saksi agar sepak terjangmu terhadap mereka itu tidak akan disalah-tafsirkan oleh tokoh-tokoh kang-ouw?"

Bu Pun Su tersenyum.

"Kau makin cerdik, Sute. Memang demikianlah. Kita tahu bahwa sejak dulu Hek Pek Mo-ko biarpun menjadi tokoh Mo-Kauw yang amat terkenal, namun belum pernah dua orang itu mengganggu kita orang-orang kang-ouw, bahkan mereka dapat disebut sebagai tokoh-tokoh Mo-Kauw yang selalu menjauhkan diri dan menjaga agar jangan sampai timbul bentrokan antara mereka dengan Beng-Kauw. Akan tetapi sekarang aku hendak menyelidiki dan kalau perlu membasmi sarang mereka, maka amat baik kalau kau ikut menyaksikannya."

Berangkatlah dua orang sakti ini menuju ke tempat yang dimaksudkan oleh Bu Pun Su.

Tempat yang dimaksudkan itu adalah sebuah dusun di tepi Sungai Huang-Ho, yang dikelilingi oleh hutan-hutan kecil dan kelihatannya menyeramkan.

Begitu kedua orang ini tiba di luar dusun mereka berjalan biasa saja.

Berturut-turut, beberapa orang dusun, ada yang berpakaian seperti petani ada pula seperti nelayan, bertemu dengan mereka.

Setiap orang dusun ini melayangkan pandang mata dan mereka ini kelihatan bercuriga.

Bahkan ada beberapa orang nelayan yang masih muda dan kelihatannya kuat-kuat diam-diam mengikuti Han Le dan Bu Pun Su.

Tentu saja dua orang sakti ini mengetahui hal itu, akan tetapi mereka berpura-pura tidak melihat dan berjalan dengan biasa dan tenang.

Sebuah kelenteng besar yang berada di dusun itu sungguh tidak sesuai dengan rumah-rumah penduduk yang kecil lagi miskin.

Kelenteng ini agaknya belum lama diperbarui dan anehnya, yang kelihatan membersihkan kelenteng itu bukanlah Hwesio-Hwesio seperti pada kelenteng-kelenteng lain, melainkan orang-orang dusun, laki-laki perempuan yang bekerja di halaman depan, di kanan kiri dan di dalam kelenteng itu!

Mereka ini ketika melihat Bu Pun Su dan Han Le memasuki pekarangan kelenteng, segera melarikan diri ke dalam kelenteng seperti orang ketakutan.

Bu Pun Su tersenyum dan berbisik kepada Han Le.

"Lihat, Sute, betapa besar pengaruh dan kekuasaan mereka. Agaknya rakyat dusun juga terkena tipu daya mereka dan sudah mulai memeluk agama baru itu."

Han Le memandang ke dalam kelenteng.

Dari pintu yang terbuka, kelihatan tiga buah arca sebesar manusia, merupakan tiga orang laki-laki tua yang pakaiannya seperti Hwesio-Hwesio dari Tibet, bertubuh tinggi besar dan angker.

Yang tengah benar-benar amat tinggi besar seperti raksasa, yang berdiri di kiri agak kurus sehingga mukanya seperti tengkorak, sedangkan yang berdiri di kanan punggungnya bongkok dan matanya sipit sekali seperti meram.

"Itulah agaknya patung-patung Thian-Te Sam-Kauwcu yang dipuja-puja semua pengikutnya,"

Kata Bu Pun Su pula kepada Han Le.

Dari pintu dalam muncullah dua orang dan Han Le hampir tertawa geli ketika ia melihat dua orang itu.

Yang seorang bertubuh pendek dan kate sama sekali, telinganya besar seperti telinga gajah, pakaiannya serba hitam.

Adapun orang ke dua bertubuh tinggi besar, telinganya kecil seperti telinga tikus, sedangkan pakaiannya serba putih.

Usia mereka kurang lebih empat puluh tahun dan dari mata mereka, Han Le dapat menduga bahwa mereka adalah ahli-ahli lwee-keh yang memiliki kepandaian tinggi.

Juga, melihat pakaian mereka biarpun ia belum pernah bertemu dengan dua orang ini, Han Le dapat menduga bahwa mereka tentulah Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko.

Hek Mo-ko yang bertubuh kecil pendek itu tertawa bergelak melihat dua orang pendekar itu.

"Ha, ha, ha, selamat datang, Bu Pun Su dan Han Le, Ji-wi Taihiap! Sungguh kami mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Ji-wi ini, dan ketiga orang guru besar kami tentu akan berterima kasih sekali!"

Bu Pun Su dan Han Le tertegun.

Bagaimana dengan sekali pandang saja iblis hitam kate itu dapat mengenal mereka?

Padahal selamanya mereka belum pernah bertemu muka dengan sepasang iblis hitam putih ini dan keadaan Bu Pun Su maupun Han Le tidak sedemikian aneh seperti Hek Mo-ko sehingga mudah dikenal orang.

Berbeda dengan Hek Mo-ko yang suka tertawa dan mukanya lucu, Pek Mo-ko selalu bersungut-sungut dan wajahnya murung.

"Kalian ini orang-orang Beng-Kauw ada urusan apakah mengunjungi kami yang kalian anggap sebagai orang-orang busuk dari Mo-Kauw?"

Tanyanya sambil memandang tajam dengan sepasang matanya yang sipit.

Bu Pun Su tidak biasa memutar-mutar omongan dan ia selalu bicara dan bertindak secara langsung.

Sambil tersenyum ia berkata terus terang.

"Hek Pek Mo-ko, baru kali ini kita kebetulan saling bertemu dan keadaan kalian ternyata tetap dan sesuai sekali dengan nama kalian yang terkenal jahat dan aneh. Ketahuilah, aku dan Suteku ini datang ke sini karena kami mendengar tentang adanya tiga orang See-Thian yang kini mencengkeram Mo-Kauw, tiga orang See-Thian yang sombong dan bercita-cita menaklukkan dunia kang-ouw kita. Aku mendengar pula tentang hilangnya Kitab rahasia dari Siauw-Lim-Pai dan Pedang Pusaka dari Kun-Lun-Pai, dan aku mendengar pula bahwa banyak tokoh Mo-Kauw yang tadinya biarpun berbeda paham dengan Beng-Kauw namun tetap menjaga kegagahan, sekarang bersaing dan berebut untuk menikah dengan gadis-gadis muda, yang tentu saja dipaksanya! Dan aku mendengar pula bahwa kalian iblis-iblis tua ini pun telah menikah."

Pek Mo-ko mengeluarkan suara gerengan dari tenggorokannya akan tetapi Hek Mo-ko tertawa geli.

Suara ketawanya mula-mula rendah dan perlahan, akan tetapi makin lama makin meninggi dan nyaring sehingga menyakitkan telinga.

Mendengar ini saja Han Le maklum bahwa Lwee-kangnya dari Hek Mo-ko ini amat tinggi sehingga dia sendiri belum tentu dapat menandinginya.

"Bu Pun Su, baru kali ini aku mendengar kau menaruh perhatian kepada nasib golongan Mo-Kauw! Ada apakah kau mencampuri urusan dunia orang golongan kami? Memang guru besar kami telah datang, sengaja dari Barat mereka datang untuk memberi bimbingan kepada kami dan untuk menjaga agar kami tidak selalu dihina dan dipandang rendah oleh golongan lain. Apakah kau iri hati? Ha, ha, ha, agaknya kau benar-benar iri hati, apalagi tentang pernikahan-pernikahan kami dengan gadis-gadis muda yang cantik manis, karena kau sendiri sampai tua tidak laku, ha, ha, ha!"

"Ngaco!"

Han Le membentak marah.

"Bagaimana jawabanmu tentang hilangnya Kitab rahasia Siauw-Lim-Pai dan Pedang Pusaka Kun-Lun-Pai?"

Hek Mo-ko memandang kepada Han Le dan tersenyum sindir.

"Hilangnya Kitab dan Pedang, ada hubungan apakah dengan kami? Kau dan Suhengmu ini terkenal sebagai orang-orang sakti, masa untuk mencari benda-benda yang hilang harus bertanya kepada kami? Carilah sendiri kalau memang pandai."

"Baiklah, Hek Pek Mo-ko, aku akan mencari ke dalam kelenteng ini!"

Kata Bu Pun Su.

"Jangan kau berani menginjak kotor tempat suci kami...!"

Kata Pek Mo-ko marah dan ia bergerak untuk menghalangi.

Akan tetapi ia melongo karena gerakan Bu Pun Su luar biasa cepatnya sehingga sebelum Pek Mo-ko tiba di depan pintu untuk menghadang, Bu Pun Su sudah berkelebat masuk ke dalam kelenteng!

Pek Mo-ko hendak mengejar ke dalam, akan tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh Hek Mo-ko.

"Sute, tak perlu dikejar, biarkanlah dia melihat-lihat tempat kita!"

Tadinya Han Le sudah bersiap-siap untuk bertempur, akan tetapi melihat mereka tidak jadi mengganggu Bu Pun Su, ia pun diam saja, berdiri tenang sambil tersenyum.

Dengan cepat sekali Bu Pun Su memasuki kelenteng.

Tiga orang yang agaknya menjadi pelayan atau pembantu Hek Pek Mo-ko, orang-orang lelaki yang berpakaian seperti pendeta dan gerakannya cepat dan kuat, maju menubruknya.

Akan tetapi mereka berseru kaget sekali dan bulu tengkuk mereka berdiri ketika tiba-tiba mereka bertiga itu terjengkang ke belakang sebelum tangan mereka menyentuh pakaian Bu Pun Su, seakan-akan ada tenaga aneh keluar dari pendekar sakti ini yang mendorong mereka ke belakang!

Bu Pun Su tidak pedulikan mereka, terus ia menyelidiki keadaan di dalam kelenteng dengan mata yang awas dan tajam.

Setiap kamar diselidikinya, akan tetapi ia tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan.

Kalau Kitab dan Pedang itu disembunyikan di dalam kelenteng, kiranya takkan terlepas dari pandang mata pendekar ini.

Di dalam dua kamar, ia melihat dua orang wanita cantik yang masih muda dan bermuka pucat.

Mereka ini tidak menjerit melihat dia datang, hanya memandang dengan mata terbelalak.

"Apakah kau isteri Hek Mo-ko?"

Tanyanya kepada wanita di dalam kamar pertama. Wanita itu menggeleng kepalanya.

"Aku isteri Pek Mo-ko, kau siapakah berani berlancang memasuki kamarku?"

Kemudian wanita ini tertawa menyeringai sehingga muka yang tadinya cantik ini berubah seperti muka iblis.

Bu Pun Su berdebar kaget.

Ternyata isteri Pek Mo-ko ini agak miring otaknya!

Ia tidak bertanya lebih lanjut dan ketika ia bertemu dengan wanita ke dua di kamar lain ia bertanya pula.

"Hm, kau agaknya isteri Hek Mo ko."

"Benar,"

Jawab wanita itu.

"Kau siapakah dan bagaimana suamiku mengijinkan kau masuk ke sini?"

Bu Pun Su sebetulnya segan untuk bicara dengan isteri orang lain, akan tetapi melihat wanita ini masih amat muda dan cantik, sedangkan Hek Mo-ko demikian buruk rupa dan setengah tua, ia tak dapat menahan hatinya untuk tidak bertanya.

"Apakah Hek Mo-ko telah menculik dan memaksamu menjadi isterinya?"

Untuk sejenak wanita itu diam saja, kemudian ia berdiri dan berkata marah.

"Kau ini manusia dari manakah begini kurang ajar? Aku menikah dengan suamiku secara baik-baik dan sah, ada sangkut-paut apakah dengan kau maka kau bertanya-tanya?"

Bu Pun Su merasa seperti ditampar pipinya.

Mukanya menjadi merah sekali.

Inilah tak disangka-sangkanya sama sekali dan baru sekarang ia melihat atau dapat menduga bahwa isteri Hek Mo-ko ini sedang mengandung.

"Maaf, maaf..."

Katanya perlahan dan ia lalu keluar lagi dari kamar itu.

Setelah puas menyelidiki di dalam kelenteng dan tidak mendapatkan sesuatu, ia lalu keluar lagi.

Setibanya di ruang luar, ia berdiri menghadapi tiga patung yang sebesar manusia itu.

Buatan patung ini demikian halus sehingga menyerupai manusia benar-benar.

la memandang kepada wajah patung yang mewakili Thian-Te Sam-Kauwcu itu untuk memperhatikan mereka.

Benar-benar mereka ini kelihatan angker dan dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa tiga orang ini bukanlah orang sembarangan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

Siapa tahu kalau-kalau dua benda yang dicuri dari Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai itu disembunyikan di dalam patung-patung ini?

Ia melangkah maju dan meraba pundak patung Pek-In-Ong yang berdiri di kiri, yakni patung yang tinggi kurus mukanya seperti tengkorak.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis dan dari mulut patung itu menyambar keluar sinar hitam yang menyerang ke arah leher dan muka Bu Pun Su!

Pendekar ini bukan sembarangan ahli silat, melainkan seorang sakti yang mewarisi ilmu silat dan ilmu-ilmu aneh dari IM-YANG-BU-TEK-CINKENG.

Seorang ahli silat tinggi lainnya belum tentu dapat menghindarkan serangan tiba-tiba dari mulut patung itu, akan tetapi Bu Pun Su dengan amat tenang miringkan kepalanya sehingga sinar hitam itu menyambar lewat.

Ia mencium bau yang amat amis, maka diam-diam ia bergidik.

Tahulah Bu Pun Su bahwa yang menyambar lewat tadi adalah segenggam jarum-jarum halus berwarna hitam yang mengandung bisa yang amat jahat.

Bu Pun Su tersenyum.

Ia maklum bahwa dua patung yang lain tentu mengandung alat rahasia pula, akan tetapi dia bukan Bu Pun Su kalau merasa gentar.

Orang lain mungkin akan merasa khawatir dan tidak berani mengganggu dua patung yang lain, akan tetapi Bu Pun Su bahkan tertarik dan ingin tahu sekali bagaimana cara dua patung yang lain akan menyerangnya!

Ia mau coba-coba dan ini pun tidak aneh, karena orang seperti Bu Pun Su ini memang sudah biasa menantang dan bermain-main dengan maut!

Ia menghampiri patung di kanan, yakni patung dari Cheng-Hai-Ong yang bertubuh kurus bongkok dan matanya sipit itu.

Dengan tenang Bu Pun Su menepuk pundak patung itu dan secepat kilat kedua tangan patung itu bergerak, dengan kukunya yang panjang patung itu mencengkeram ke depan, kedua tangan menyambar dari kanan kiri!

"Aha, kau ahli gulat kiranya!"

Bu Pun Su mengejek sambil bergerak melangkahkan kaki mundur, mengelak dari cengkeraman itu.

Akan tetapi, tiba-tiba dari jari-jari tangan itu menyambar keluar benda ciri berwarna hijau yang baunya harum!

Bu Pun Su kali ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan ujung lengan baju sebelah kiri darimana keluar tenaga Pek-In Hoat-Sut yang mengepulkan uap putih, sehingga benda cair itu terpercik kembali dan membasahi muka patung.

"Hm, kiranya semua ahli racun yang berbahaya,"

Pikir Bu Pun Su.

Ia pikir bahwa patung di tengah, yang amat menyeramkan dan tinggi besar itu, tentulah yang paling lihai.

Namun ia tidak gentar, bahkan gembira dan sambil tersenyum ia melangkah menghampiri patung ini.

"Coba perlihatkan kelihaianmu!"

Katanya sambil menepuk dada patung tinggi besar ini.

Patung ini besar dan tinggi sekali sehingga Bu Pun Su hanya sampai di leher tingginya.

Begitu tangan kanan Bu Pun Su menepuk dada patung, terdengar suara keras dan dada patung itu tiba-tiba terbuka, dari mana keluar menyambar uap hitam yang menyerang ke depan.

Ini masih disusul dengan bergeraknya kaki kanan patung yang melakukan tendangan kilat ke depan, kemudian dari mata, hidung, telinga dan mulut patung itu menyambar keluar asap hitam sedangkan kedua tangan memukul pula ke depan.

Inilah serangan sekaligus yang amat luar biasa dan berbahaya sehingga Bu Pun Su sendiri menjadi terkejut.

Pendekar sakti ini tidak berani menangkis, melainkan melompat mundur cepat sekali sambil menggoyang-goyang kepalanya.

"Kau jahat sekali... jahat sekali..."

Setelah berkata demikian, ia lalu melompat keluar dari kelenteng.

Ia sudah puas karena ketika tangannya menepuk patung-patung tadi, ia telah mengerahkan Lwee-kangnya sehingga kalau di situ tersembunyi benda keras seperti Pedang mustika, tentu terdengar bunyi Pedang itu.

Namun tadi ia hanya mendengar suara mendengung tanda bahwa di dalam patung itu hanya terisi hawa, maka ia telah mengerahkan tenaga dan merusak patung itu dengan diam-diam.

Ia benci melihat tiga patung itu, bukan benci kepada orang karena macamnya, akan tetapi benci kalau mengingat betapa tiga orang dari Barat ini telah menguasai Mo-Kauw dan menyebar pelajaran atau agama baru yang sesat.

Di mana ada pendeta-pendeta suci yang menganjurkan pemeluk-pemeluk agamanya memuja dan menyembah mereka sendiri?

Setibanya di luar kelenteng, Bu Pun Su disambut oleh Pek Mo-ko dengan muka merah.

"Bu Pun Su kau telah menghina kami, kau telah mengotori kelenteng kami yang suci. Biarpun namamu sudah terkenal di seluruh kolong langit, jangan kira bahwa aku Pek Mo-ko takut melawanmu!"

"Habis, kau mau apa?"

Tanya Bu Pun Su.

"Seperti sudah kukatakan tadi, aku datang mencari Kitab dan Pedang dari Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai yang hilang dan terus terang saja aku mencurigai Thian-Te Sam-Kauwcu. Akan tetapi sayang aku tidak dapat menemukannya di dalam kelenteng ini."

Hek Mo-ko terdengar tertawa mengejek.

"Kau memang gatal tangan dan suka mencampuri urusan orang lain. Bu Pun Su, setelah kau datang dan mengacau kelenteng kami, sebagai tuan rumah terpaksa kami harus membela diri dari hinaan ini. Kedatanganmu mengacau kelenteng ini berarti sebuah tantangan, kalau kami tidak melayani bukankah kami akan ditertawai orang? Nah, bersiaplah, kita boleh main-main sebentar."

Sambil berkata demikian, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko masing-masing mengeluarkan senjata mereka.

Dua orang Iblis Hitam Putih ini lihai dan senjata mereka juga bukan senjata sembarangan.

Di tangan kanan mereka memegang sebatang Pedang yang ujungnya bercabang.

Pedang ini bukan saja amat ampuh dan kuat karena terbuat dari bahan yang baik akan tetapi juga ujungnya yang bercabang itu dapat dipergunakan untuk mengait dan merampas serta merusak senjata lawan.

Akan tetapi, betapapun lihainya Pedang di tangan kanan, masih lebih lihai lagi senjata aneh yang berada di tangan kiri mereka.

Senjata ini berupa seuntai tasbeh dari logam hitam.

Tasbeh ini dapat dimainkan begitu saja, akan tetapi dapat pula dilepas sambungannya sehingga merupakan sebuah Pian atau senjata rantai yang hebat.

Masih dapat dipergunakan dalam lain cara, yakni batu-batu tasbeh itu dapat diloloskan keluar dari untaiannya dan dipergunakan sebagai senjata yang berbahaya!

Melihat sikap Hek Pek Mo-ko yang menantang ini, Han Le mendahului Suhengnya.

Ia melompat ke depan menghadapi mereka sambil mencabut Pedangnya yang jarang keluar dari sarung itu.

"Hek Pek Mo-ko, kalian berdua dan kami pun berdua. Biarlah kita mencoba kepandaian masing-masing, seorang daripadamu boleh melawan aku dan yang seorang lagi nanti menghadapi Suheng Bu Pun Su."

"Hek Pek Mo-ko dua saudara tak pernah berpisah,"

Kata Hek Mo-ko.

"Kami sudah bersumpah hidup bersama mati berdua, dalam pertempuran kami selalu maju bersama."

"Itu tidak adil!"

Kata Han Le. Dia tidak gentar menghadapi seorang di antara mereka akan tetapi kalau dikeroyok dua, selain berat juga tidak adil.

"Suheng, biarlah kali ini aku menghadapi dia sendiri!"

Kata Pek Mo-ko yang berwatak berangasan dan baru saja ia berkata demikian tasbeh di tangan kirinya sudah bergerak menyambar kepala Han Le.

"Bagus!"

Seru Pengemis sakti ini dan cepat ia mengelak sambil menggerakkan Pedangnya yang menusuk ke arah ulu hati lawannya.

Akan tetapi Pek Mo-ko ternyata memiliki gerakan yang gesit sekali.

Tusukan Pedang ini ia tangkis dengan Pedangnya yang berujung aneh itu.

Cabang ujung Pedangnya menempel dan diputar demikian rupa untuk mengait badan Pedang Han Le dan hendak mematahkannya.

Akan tetapi Han Le bukanlah murid Ang-Bin Sin-Kai kalau ia tidak bisa menghindarkan diri dari serangan lawan ini.

Dengan gerakan Sian-Jin-Khai-In (Dewa Membuka Awan) ia melakukan gerakan "membuka"

Dari ilmu Pedang Hun-Khai Kiam-Hoat ajaran Ang-Bin Sin-Kai, dan Pedangnya yang terkait itu secara aneh telah membuka serangan lawan sehingga Pek Mo-ko bukannya dapat merampas atau mematahkan Pedang lawan, bahkan telapak tangannya merasa panas sekali sehingga ia cepat-cepat menarik pulang Pedangnya.

Sebagai gantinya, kembali tasbeh menyambar ke lambung Han Le.

Han Le terkejut sekali.

Tidak disangkanya bahwa lawan ini dapat bergerak secepat itu, cepat melakukan serangan lanjutan begitu serangan pertama ditangkis.

Ia lalu memutar Pedangnya dan mengerahkan semua tenaga dan kepandaian untuk menghadapi lawan yang amat lihai ini.

Di lain pihak, Pek Mo-ko diam-diam harus mengakui kelihaian Kiam-Hoat lawannya.

Tidak saja lihai, akan tetapi juga aneh sekali dan mempunyai gerakan yang otomatis setiap kali menghadapi desakannya.

Ia tentu saja tidak tahu bahwa selain telah mewarisi Hun-Khai Kiam-Hoat dan ilmu-ilmu silat tinggi dari gurunya, yakni Ang-Bin Sin-Kai, juga Han Le telah mempelajari dengan tekunnya lukisan-lukisan di Pulau Pek-Hio-To sehingga biarpun hanya kulitnya, ia telah sedikit-sedikit mempelajari ilmu-ilmu yang lihai dari Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng!

Pelajaran ini membuat gerakan Han Le menjadi otomatis dan matanya amat tajam dapat mengikuti semua arah tujuan serangan lawan.

Pek Mo-ko menggereng keras dan kedua senjatanya yang aneh itu diputar cepat, bertubi-tubi dan berganti-ganti melakukan serangan maut.

Namun, dengan Pedangnya, Han Le dapat membendung gelombang gerakan serangan ini sehingga sampai lima puluh jurus lebih mereka bertempur, tidak ada yang terdesak.

Kepandaian mereka jauh berbeda sifatnya, namun tingkat mereka boleh dibilang seimbang sehingga pertempuran itu benar-benar merupakan pertempuran yang amat seru.

Saking penasaran menghadapi lawan yang amat tangguh ini, Pek Mo-ko melepaskan sambungan tasbehnya sehingga tasbeh ini sekarang bukan merupakan lingkaran, melainkan menjadi sebatang Pian yang lemas dan panjang.

Pek Mo-ko dan Suhengnya sudah melakukan ratusan pertempuran dan mereka jarang sekali dikalahkan orang.

Di sebelah Barat atau Selatan dari Tibet, mereka berdua merupakan sepasang iblis yang ditakuti dan disegani, Bahkan golongan-golongan Partai persilatan besar di Barat seperti Go-Bi-Pai dan Kun-Lun-Pai, semua mengakui kelihaian Hek Pek Mo-ko.

Akan tetapi sekarang menghadapi Han Le, Pek Mo-ko tidak berdaya, bahkan tidak dapat mendesak, sungguhpun ia tak dapat dikatakan kalah oleh Pengemis sakti itu.

Saking marahnya, dalam jurus ke tujuh puluh, Pek Mo-ko berseru keras dan secepat kilat Pedangnya membacok dari kanan ke kiri.

Ketika Han Le mengelak, Pedang ini cepat sekali membalik dan menyambar ke leher.

Inilah gerakan yang tidak terduga-duga, apalagi ketika tasbeh yang sudah menjadi Pian itu menyambar ke lambung!

Han Le maklum bahwa tidak mungkin ia menghindarkan diri dari dua serangan yang dilakukan sekaligus ini, maka ia lalu mengeluarkan kepandaiannya yang amat lihai dan keberaniannya yang luar biasa.

Pedang yang menyambar lehernya ditangkisnya dengan Pedangnya sendiri, sambil mengerahkan tenaga.

"menempel"

Sehingga dua Pedang itu begitu bertemu lalu tak dapat terpisah kembali, seakan-akan besi berani dengan besi!

Adapun tasbeh yang menyambar ke lambung kirinya, cepat ditangkis dengan tangan kiri, lalu ia mengerahkan tenaga membetot.

Kini keadaan dua orang itu benar-benar aneh.

Keduanya tidak bergerak, seperti patung dalam kuda-kuda yang amat kuat.

Tangan kanan yang memegang Pedang saling mendorong akan tetapi tangan kiri yang memegang tasbeh saling membetot.

Pertarungan kini beralih kepada pertarungan tenaga Lwee-kang, akan tetapi bukan pertandingan Lwee-kang yang biasa, karena tenaga di seluruh tubuh disalurkan menjadi dua bagian, atau terpecah menjadi dua.

Sebagian disalurkan ke tangan kanan yang mendorong, sebagian pula disalurkan ke tangan kiri yang menarik!

Hal ini tak dapat dilakukan oleh sembarang ahli silat yang belum tinggi tenaga Lwee-kangnya.

Sampai beberapa puluh detik mereka tidak bergerak, dan nyata sekali bahwa masing-masing mengerahkan seluruh tenaga Lwee-kangnya untuk mencapai kemenangan.

Sekarang sudah tidak ada jalan untuk mundur lagi, karena siapa yang mundur lebih dulu, banyak bahaya akan menderita luka hebat!

Tidak ada jalan lain lagi kecuali mengerahkan tenaga dan mendesak lawan dengan Lwee-kang.

Pertandingan ini berubah menjadi perjuangan mati hidup!

Dari kepala dua orang jago ini sudah mengepul uap putih, tanda bahwa mereka telah mengerahkan tenaga yang terakhir!

Tiba-tiba Hek Mo-ko tertawa bergelak.

"Sute, mengapa kau sekarang begini lemah?"

Katanya dan dengan ringan dan cepat sekali ia telah melompat di belakang Pek Mo-ko sambil menepuk-nepuk punggungnya seakan-akan orang yang mencela dan menegur.

Akan tetapi Han Le terkejut bukan main ketika pada saat Hek Mo-ko menepuk punggung Sutenya, ia merasa tubuhnya bergetar dan kuda-kudanya tergempur!

"Hek Mo-ko, tidak malukah engkau?"

Tiba-tiba Bu Pun Su menegur.

Pendekar sakti ini berdiri di belakang Han Le sejauh satu tombak lebih.

Dia tidak menghampiri Sutenya untuk membantu, menggerakkan kedua tangan ke arah Sutenya itu seperti orang mendorong, dan dari kedua tangannya keluar uap putih.

Inilah ilmu Pek-In Hoat-Sut yang tiada taranya di dunia!

Hek Mo-ko yang masih menempelkan tangan di punggung Sutenya tiba-tiba terdorong oleh tenaga yang hebat, yang keluar dari sepasang tangan Han Le, sebaliknya Han Le merasa betapa punggungnya kemasukan hawa hangat yang menyegarkan semangat dan tubuh sehingga ia mengerahkan tenaganya lagi.

Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko hendak mempertahankan diri, namun tenaga bantuan dari Bu Pun Su benar-benar hebat sehingga mereka berteriak keras dan tubuh mereka terlempar ke belakang berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih sampai dua tombak lebih!

Pedang dan tasbeh di tangan Pek Mo-ko tadi terlepas dari tangan dan jatuh di tanah, menimpa batu menimbulkan suara berkerontangan!

Baiknya Bu Pun Su tidak berniat mencelakai dua orang iblis ini sehingga mereka tidak terluka hebat, hanya Hek Mo-ko yang terkena langsung pembalikan tenaga Pek Mo-ko sehingga wajahnya pucat dan mulutnya menyemburkan darah.

Akan tetapi, setelah mengatur napas ia pulih kembali.

Sambil memandang dengan terheran-heran, Hek Mo-ko menghadapi Bu Pun Su dengan melompat berdiri.

"Bu Pun Su, benar-benar kau lihai. Aku dan Suteku terima kalah,"

Katanya sambil menjura. Akan tetapi Bu Pun Su tidak mempedulikannya, hanya berpaling kepada Han Le.

"Sute, kita tidak mempunyai urusan lagi di sini, mari kita pergi."

Pada saat kedua orang sakti itu hendak pergi, tiba-tiba dari atas genteng kelenteng melayang turun bayangan tubuh yang ramping dan tercium bau yang harum.

Tahu-tahu seorang wanita berdiri menghadang Bu Pun Su dan Han Le.

Dua orang sakti ini berdiri bengong, tertegun dan takjub, bukan karena kecantikan luar biasa dari gadis itu, melainkan melihat cara gadis itu melompat turun dari genteng seakan-akan melayang atau terbang!

Inilah menandakan bahwa ginkang dari gadis ini telah mencapai puncak kesempurnaan.

Bahkan Bu Pun Su yang menjadi ahli waris dari Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng dan memiliki ginkang yang jauh melebihi kebanyakan ahli silat tinggi, menjadi terheran-heran.

Orang yang melayang turun itu adalah seorang gadis cantik sekali, pakaiannya mewah dan indah, rambutnya yang panjang dan hitam disanggul dalam cara yang amat menarik, kulit mukanya putih kemerahan, nampak halus dan segar, sepasang matanya bagaikan bintang di langit cerah, bibirnya tersenyum-senyum manis sekali.

Pendeknya, selama hidupnya, baik Han Le maupun Bu Pun Su sendiri, belum pernah melihat seorang gadis secantik ini.

Melihat muka dan potongan badannya, orang akan menaksir bahwa gadis ini paling banyak berusia dua puluh tahun, akan tetapi orang itu akan terkejut dan tidak mau percaya kalau diberi tahu bahwa gadis ini adalah seorang wanita yang usianya sudah tiga puluh tahun lebih!

Inilah dia murid terpandai dan terkasih dari Thian-Te Sam-Kauwcu, yang disebut Bi Sian-Li (Bidadari Cantik) Pek Hoa Pouwsat!

Tadinya Han Le dan Bu Pun Su sendiri tidak dapat menduga siapa adanya gadis ini, akan tetapi ketika Bu Pun Su melihat setangkai bunga yang bentuknya indah dan aneh, berwarna putih seperti salju menghias rambut yang digelung indah itu, tiba-tiba ia teringat.

Akan tetapi ia masih ragu-ragu dan kemudian bertanya.

"Apakah kami berhadapan dengan Pek Hoa Pouwsat?"

Gadis itu tersenyum lebar. Bibirnya merah bergerak-gerak dan terlihatlah deretan gigi yang bersih dan berkilau seperti mutiara.

"Bu Pun Su benar-benar bermata tajam sekali, sayang kau terlalu ganas dan gatal tangan sehingga kau berani merusak tiga patung dari guru-guruku. Untuk kedosaan ini kau harus menerima hukuman! Hek Pek Sute, mari kita gempur dia ini yang telah merusak patung Sam-wi Suhu!"

Sambil berkata demikian, kedua tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah memegang sepasang Siang-Kiam (Sepasang Pedang), Kemudian tanpa banyak cakap lagi ia lalu menggerakkan kedua Pedang itu yang meluncur dan menyerang leher dan dada Bu Pun Su!

Hek Pek Mo-ko sudah gentar menghadapi Bu Pun Su dan mereka telah maklum pula akan kelihaian pendekar sakti ini, akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Bu Pun Su telah merusak patung tiga orang suhu dan pemimpin mereka, Hek Pek Mo-ko menjadi marah sekali.

Apalagi sekarang mereka dibantu oleh Pek Hoa Pouwsat, hati mereka menjadi tabah dan semangat besar.

Sambil mengeluarkan suara mengancam, sepasang iblis hitam putih ini lalu menyerbu dan mengeroyok Bu Pun Su.

Melihat Suhengnya dikeroyok, Han Le tentu saja tidak mau tinggal diam.

Ia mencabut Pedangnya, namun tiba-tiba Bu Pun Su berkata.

"Simpan kembali Pedangmu, Sute. Perempuan ini lihai sekali, kau takkan menang. Biarkan aku menghadapi mereka bertiga, hitung-hitung mengukur kepandaian Thian-Te Sam-Kauwcu!"

Han Le percaya akan kata-kata Suhengnya, karena ia memang melihat betapa sepasang Pedang dari Pek Hoa Pouwsat itu amat lihai, Sepasang Pedang ini bergerak terus susul-menyusul dalam serangannya, merupakan serangan berantai yang tiada habisnya.

Akan tetapi ia lebih percaya akan kesaktian Bu Pun Su maka ia melompat ke pinggir dan berdiri menonton pertempuran itu dengan hati tenang.

Pertempuran itu berjalan seru sekali, jauh lebih ramai daripada pertempuran antara Pek Mo-ko dan Han Le tadi.

Akan tetapi pertandingan ini sebetulnya berat sebelah.

Tidak saja Bu Pun Su dikeroyok tiga, juga ketiga orang lawannya mempergunakan senjata pasangan sehingga bertiga mempergunakan enam buah senjata, sedangkan Bu Pun Su sendiri bertangan kosong!

Akan tetapi di sinilah terlihat kelihaian Pendekar sakti ini!

Tiga orang pengeroyoknya adalah tokoh-tokoh dari tingkat tinggi, boleh dibilang duduk dalam tingkatan ke satu dalam deretan tokoh-tokoh persilatan di masa itu, Akan tetapi ia masih mampu menghadapi mereka dengan mengandalkan sepasang tangan berikut ujung lengan baju saja!

Di sini pula terlihat kehebatan dari pelajaran Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng, dan terbukti bahwa ilmu silat Pek-In Hoat-Sut yang diciptakan oleh Bu Pun Su benar-benar luar biasa.

Menghadapi keroyokan tiga orang lawannya, tidak hanya sepasang lengannya yang mengeluarkan uap putih bahkan seluruh tubuhnya diliputi uap putih yang mengandung tenaga mujijat.

Patut sekali ilmu silat ini disebut Pek-In Hoat-Sut (Ilmu Sihir Awan Putih), karena pengaruhnya seperti ilmu sihir saja.

Setiap serangan senjata yang digerakkan oleh lawan dengan pengerahan tenaga Lwee-kang tinggi, begitu terbentur oleh sambaran uap putih itu, terpental membalik kepada penyerangnya sendiri.

Ini masih belum hebat, yang membuat Pek Hoa Pouwsat kadang-kadang berseru kaget adalah ketika Bu Pun Su membalasnya dengan serangan yang sama seperti gerakannya sendiri!

Bagaimana Bu Pun Su bisa meniru ilmu silatnya?

Ilmu silat Pedang dari Pek Hoa Pouwsat adalah asli dari Barat, bukan ilmu silat Tiongkok.

Sungguhpun sumbernya memang ada hubungan, bahkan boleh dibilang sama, namun perkembangannya sudah demikian berbeda sehingga jauh bedanya kalau dipandang begitu saja.

Semenjak kecilnya Pek Hoa Pouwsat hidup di Nepal, bahkan belajar ilmu silat di sana pula, dari Thian-Te Sam-Kauwcu, akan tetapi bagaimanakah sekarang Bu Pun Su dapat menyerangnya dengan ilmu silat yang gerakannya serupa?

Ia tidak tahu bahwa inilah kehebatan ilmu silat dari Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng.

Di dalam ilmu silat yang dipelajarkan oleh Kitab rahasia ini, terdapat pelajaran dari pokok gerakan semua ilmu silat dan semua gerakan kaki tangan, sehingga belum tiba, serangan lawan, dari gerakan pundak dan pangkal paha saja Bu Pun Su sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh lawan dalam penyerangannya.

Ini ditambah oleh ketajaman mata dan kecerdikan ingatannya sehingga sekali lihat saja ia sudah dapat pula menangkap inti sari setiap serangan dan dapat melakukan serangan semacam itu pula dengan sama hebatnya, kalau tidak boleh dibilang lebih sempurna lagi!

Di lain pihak Bu Pun Su memuji ilmu Pedang yang dimainkan oleh Pek Hoa Pouwsat.

Ilmu Pedang ini dalam kelihaiannya tidak kalah oleh Hun-Khai Kiam-Hoat ciptaan Ang-Bin Sin-Kai, dan dia tadi tidak membohong ketika menyatakan bahwa Han Le takkan dapat menang dari gadis ini.

Juga yang membikin gadis itu sukar dilawan adalah ginkangnya yang luar biasa seakan-akan gadis ini benar-benar seorang bidadari yang dapat terbang.

Setelah bertempur beberapa puluh jurus dan memperhatikan gerakan Pek Hoa Pouwsat, barulah Bu Pun Su tahu mengapa gadis itu dapat bergerak sedemikian ringan dan cepatnya, setiap gerakan yang cepat didahului oleh terbukanya pangkal lengan dan matanya yang tajam dapat melihat bahwa di punggung gadis ini, tersembunyi di balik pakaian, terdapat semacam alat yang terisi angin.

Agaknya semacam alat penggerak yang mengandung tenaga yang kerjanya seperti sepasang sayap.

Memang harus diakui bahwa ginkang dari gadis itu lebih tinggi daripada Han Le, akan tetapi tanpa bantuan alat tidak mungkin gadis itu dapat bergerak seperti terbang!

Dalam menghadapi tiga orang pengeroyoknya, Bu Pun Su memang hanya bermaksud menguji kepandaian mereka saja, sama sekali tidak bermaksud melukai atau membunuh mereka.

Biarpun tidak mudah baginya akan tetapi kalau dia mau ia mampu merobohkan tiga orang lawannya ini.

Biarpun demikian, tangkisan-tangkisan dari tenaga Pek-In Hoat-Sut telah membuat Hek Pek Mo-ko menjadi pucat mukanya.

Ini adalah akibat dari benturan tenaga Pek-In Hoat-Sut yang membuat setiap serangan tenaga Lwee-kang mental kembali dan menghantam penyerangnya sendiri.

Tidak demikian dengan Pek Hoa Pouwsat.

Gadis ini maklum bahwa dalam hal Lwee-kang ia tidak mampu menandingi Bu Pun Su, maka serangannya ia andalkan kepada kegesitan tubuhnya dan tiap tusukan atau sabetan Pedangnya hanya dilakukan tenaga lemas sehingga ia tidak terserang oleh tenaganya sendiri yang membalik.

Dipandang dari sudut ini saja sudah dapat diketahui bahwa gadis ini jauh lebih cerdik daripada Hek Pek Mo-ko, dan juga Bu Pun Su mendapat kenyataan bahwa biarpun dalam hal tenaga Lwee-kang, kedua iblis itu lebih kuat daripada Pek Hoa Pouwsat, namun kepandaian gadis ini masih lebih tinggi.

Setelah menyerang sampai enam puluh jurus lebih, tahulah Pek Hoa Pouwsat bahwa ia dan dua orang kawannya takkan mungkin menangkan Bu Pun Su.

Ia telah berkali-kali mengeluarkan Hoat-Sutnya, berkemak-kemik dan berkali-kali menyebar hawa beracun yang berbau harum sekali.

Lain orang apabila terkena serangan ini pasti akan menjadi lemas dan jatuh pingsan, namun berkat hawa Pek-In Hoat-Sut, semua serangan ilmu hitam ini buyar tidak ada pengaruhnya terhadap Bu Pun Su!

"Ombak pasang!

Buka layar dan mendarat!"

Tiba-tiba Pek Hoa Pouwsat berseru.

Inilah bahasa rahasia dari perkumpulan mereka dan tiba-tiba gadis ini membanting sesuatu antara dia dan Bu Pun Su.

Pendekar sakti ini sudah dapat menduga, maka cepat-cepat ia melompat mundur.

Terdengar ledakan keras asap hitam memenuhi tempat itu, membuat pandangan mata menjadi gelap.

Setelah asap hitam membuyar, tidak kelihatan lagi bayangan Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko!

Sebagai gantinya, di sekeliling tempat itu, penduduk dusun itu telah mengurung Bu Pun Su dan Han Le.

Mereka ini membawa senjata dan memandang dengan sikap mengancam!

"Sute, kau pergilah ke Siauw-Lim-Pai dan Kun-Lun-Pai, beritahukan agar mereka dan semua Partai persilatan golongan Beng-Kauw berhati-hati terhadap Thian-Te Sam-Kauwcu.

Kurasa mereka mengandung maksud kurang baik.

Biar aku mencari Kitab dan Pedang yang hilang!"

Sehabis berkata demikian, sekali berkelebat Bu Pun Su lenyap dari situ.

Semua petani yang sudah dipengaruhi oleh agama baru itu, menjadi terheran-heran, akan tetapi kini mereka mengurung dan mendekati Han Le dengan sikap mengancam, seakan-akan hendak mengeroyoknya.

Han Le tertawa pahit, kemudian sekali melompat, ia pun lenyap melalui atas kepala para pengurungnya sehingga kembali para penduduk dusun itu melongo dan saling pandang!

Bu Pun Su menyelinap ke dalam kelenteng hendak mencari Pek Hoa Pouwsat dan Hek Pek Mo-ko untuk dipaksa mengaku di mana adanya Kitab dan Pedang, atau di mana adanya Thian-Te Sam-Kauwcu, akan tetapi setelah tiba di dalam kelenteng, ia tidak melihat lagi bayangan mereka, bahkan dua orang isteri Hek Pek Mo-ko sudah lenyap pula.

Kita kembali ke dusun Sui-Chun yang sungguhpun hanya sebuah dusun namun besar menyerupai Kota yang cukup ramai.

Di rumah keluarga Song pada malam hari itu amat sunyi.

Song Lo-Kai, atau sekarang lebih terkenal dengan sebutan Song-Lo-Wangwe karena ia memang kaya raya, sudah tidur pulas.

Para pelayan juga sudah tidak kelihatan lagi.

Akan tetapi kalau orang mau menengok ke dalam taman bunga yang luas di belakang gedung itu, ia akan melihat bahwa di dalam kebun itu masih ada beberapa orang bercakap-cakap.

Mereka ini bukan lain adalah Song Bi-Li, Ceng Si pelayannya, dan seorang pemuda yang tampan.

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Sun, Siucai miskin yang mencinta Bi Li.

Atas bantuan Ceng Si pelayan dari nona itu, Cia Sun pada malam hari ini berhasil memasuki taman.

Tadinya Song Bi Li terkejut, marah dan amat khawatir melihat pemuda itu lancang memasuki tamannya, akan tetapi Cia Sun segera menjatuhkan diri berlutut sambil menangis tersedu-sedu!

"Song-Siocia, kau benar-benar berhati kejam.

Ambillah sebatang Pedang dan bunuhlah saja Cia Sun yang miskin dan malang ini.

Untuk apa hidup lebih lama lagi di dunia ini?"

Demikian Siucai tampan itu menangis. Song Bi Li yang masih hijau itu tentu saja dapat dikelabuhi dan merasa amat terharu.

"Cia-Siucai, mengapa kau begini berduka? Jangan begitu dan kau pergilah, kalau Kong-kong tahu bahwa kau masuk ke sini, kau tentu akan mendapat kesukaran."

"Lebih baik diketahui oleh Kong-kongmu agar aku dibunuh! Song-Siocia, kau benar-benar kejam sekali. Bagaimana kau dapat menerima pinangan orang lain? Kalau kau menjadi isteri orang lain, bagaimana dengan aku, Cia Sun yang bodoh dan miskin?"

Song Bi Li menjadi merah mukanya. Ia bingung dan bibirnya gemetar, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Akhirnya Ceng Si yang mewakili nonanya bicara.

"Cia-Kongcu, sudahlah jangan kau terlalu berduka. Nona terpaksa menerima kehendak kong-kongnya, karena dalam pernikahan, apakah daya seorang gadis terhadap kehendak orang tua? Adapun tentang kau, Kongcu, Siocia tentu saja takkan melupakan begitu saja. Bahkan Siocia sudah berjanji kepadaku untuk memberi bekal padamu agar kau melanjutkan pelajaranmu di Kota Raja, agar kelak kau bisa meniadi seorang berpangkat."

Cia Sun menangis lagi.

"Bagaimanakah seorang miskin seperti aku ini dapat melanjutkan pelajaran di Kota Raja? Tidak saja biaya perjalanan ke sana amat besar, juga penghidupan di Kota Raja amat mahal. Apakah kau ingin aku menjadi seorang Pengemis kelaparan di sana?"

"Bukan begitu, Cia-Sicu,"

Kata Bi Li.

"Biarpun aku tidak terlalu kaya, akan tetapi kiranya aku akan dapat membantumu. Aku sudah merencanakan hal ini dengan Ceng Si, dan inilah sedikit uang untuk bekal di perjalanan, kalau kiranya tidak mencukupi, kelak dengan perantaraan Ceng Si, aku akan dapat membantumu lagi."

Sambil berkata demikian, Bi Li rnemberi tanda dengan matanya kepada Ceng Si.

Pelayan ini lalu mengeluarkan sekantung uang emas yang memang disediakan oleh nonanya, memberikan itu kepada Cia Sun.

Pemuda itu menerimanya lalu berpura-pura marah dan berduka.

Ia melemparkan kantung uang itu ke atas lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.

"Apa artinya uang bagiku? Apa artinya kalau aku bisa melanjutkan pelajaran sehingga menerima pangkat tinggi sekalipun? Apa artinya hidup tanpa kau di sampingku, Song-Siocia? Cinta kasihku tidak semurah ini, tidak akan terbeli oleh harta dunia, takkan dapat ditukar dengan emas segunung Thai-San!"

"Cia-Siucai, harap kau dapat berpikir lebih panjang dan jangan membikin susah padaku,"

Kata Bi Li.

"Memang sudah menjadi kehendak Thian bahwa di dunia ini kita tidak berjodoh. Harap kau suka menaruh kasihan kepadaku. Terimalah uang itu dan kelak akan kutambah sewaktu-waktu kau memerlukannya."

Pada saat itu kelihatan sinar lampu di kamar Kakek Song yang tadinya padam gelap.

"Nah, Loya agaknya bangun..."

Kata Ceng Si ketakutan.

"Cia-Siucai, lekas pergi, Kong-kong bangun..."

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 12

Baca Juga: Mutiara Hitam 13

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert