Eps 12 Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Baca online Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo
Cersil Sepasang Pedang Iblis - Kho Ping Hoo.
Diam-diam Bun Beng meloncat ke atas pagar dan cepat melayang turun ke sebelah dalam, dari jauh dia membayangi orang bergolok itu.
Benar saja dugaannya.
Orang itu kini mendekam di atas wuwungan dan perla-han lahan membuka genteng!
Akan tetapi, karena gerakan orang itu ketika meloncat ke atas wuwungan menimbulkan sedikit suara, tiba-tiba Bun Beng melihat bayangan bayangan orang meloncat naik ke atas genteng dengan berturut turut.
Jumlah mereka delapan orang dan Si Pencuri itu telah terkurung.
Si Pencuri itu meloncat bangun dan mengamuk.
Terjadilah pertempuran yang berat sebelah.
Biarpun gerakan golok pencuri itu cukup lihai, namun menghadapi pengeroyokan belasan orang yang rata rata memiliki ilmu silat yang cukup kuat akhirnya dia roboh, goloknya terlepas dan dia dihujani pukulan kemudian diringkus, diikat kaki dan tangannya dan dibawa masuk ke dalam pondok.
Bun Beng tidak mau tahu apa yang mereka lakukan terhadap pencuri itu.
Dia lebih perlu melakukan penyelidikan keadaan tempat itu.
Ternyata tempat itu cukup luas dan sedikitnya ada dua puluh buah pondok darurat yang dibangun secara sederhana akan tetapi cukup kuat.
Di sudut terdapat sebuah bangunan besar dan agaknya malam itu mereka berpesta, diseling suara ketawa ketawa laki laki dan perempuan.
Hemm, kiranya di tempat itu disediakan pula wanita wanita untuk menghibur pasukan khusus itu, pikir Bun Beng.
Dia memutari bangunan-bangunan itu dan memeriksa ke pekarangan belakang.
Di tempat inilah tampak beberapa lidah api bernyala nyala keluar dari tanah, dan tak jauh dari situ ia melihat sebuah sumur.
Ketika ia menjenguk ke dalam sumur, hidungnya mencium bau keras, bau minyak!
Hmm, bukan air yang berada di sumur itu agaknya, melainkan minyak!
Benar benar Bun Beng tidak mengerti dan dia cepat menjauhi sumur karena menjenguk sebentar saja, kepalanya pening dan dadanya sesak.
Uap minyak itu beracun agaknya!
Tiba-tiba terdengar suara ribut ribut dari dalam.
Bun Beng menyelinap di tempat gelap dan melihat empat orang menyeret pencuri tadi yang sudah dibelenggu kaki tangannya.
Melihat keadaan pencuri itu tentu dia telah disiksa karena matanya bengkak bengkak dan dia tidak mengeluarkan suara apa-apa kecuali merintih perlahan.
Empat orang diikuti oleh belasan orang yang tertawa-tawa geli, seolah-olah mereka hendak menyaksikan pertunjukan yang menarik hati.
Dengan hati ngeri dan sebal, Bun Beng melihat betapa mereka menggantung kaki pencuri sial itu di atas sumur, kepalanya di bawah kakinya di atas, kemudian mengereknya turun sehingga tampak hanya kakinya di atas permukaan bibir sumur, terikat pada tali timba sumur.
Kaki itu meronta ronta dan talinya bergoyang goyang sedangkan belasan orang yang mengelilingi sumur itu tertawa bergelak gelak, kemudian mereka meninggalkan sumur itu sambil tertawa-tawa, kembali ke dalam pondok, dan ada pula yang agaknya hendak menuju ke pondok di sudut di mana terdengar suara wanita bernyanyi nyanyi dan orang-orang tertawa-tawa.
Bun Beng tidak maju menerjang orang-orang itu karena tidak tahu siapa pencuri itu, sehingga tidak perlu dia meninggalkan keributan di tempat itu hanya untuk membela seorang pencuri yang tidak dikenalnya.
Akan tetapi setelah orang-orang itu pergi Bun Beng cepat meloncat mendekati sumur.
Malam telah hampir lewat dan sinar kemerahan telah muncul di timur.
Sebelum terang tanah, dia harus cepat keluar dari tempat itu, maka Bun Beng segera menyambar tali timba dan menarik keluar pencuri sial itu.
Orang itu napasnya sudah empas empis.
Bun Beng mengangkatnya keluar dan merebahkannya ke atas tanah, merenggut putus belenggu kaki tangannya.
Orang itu membuka matanya yang bengkak bengkak, tadinya mengira bahwa dia akan disiksa lagi.
Akan tetapi ketika melihat seorang pemuda berjongkok di dekatnya dan pemuda itu melepaskan belenggu kaki tangannya, mulutnya bergerak-gerak lirih.
"Persekutuan.... hendak membunuh Kaisar.... membunuh Pangcu...."
Bun Beng mengerutkan alisnya. Hmm, kiranya bukan seorang pencuri, melainkan seorang mata-mata agaknya! "Engkau anggota perkumpulan apa?"
"Mereka.... menyiksaku.... aku tidak pernah mengaku.... Thian.... Pangcu akan dibunuh.... auugghh...."
Orang itu terkulai, akan tetapi Bun Beng sudah tahu atau dapat menduga bahwa orang ini tentulah seorang anggota Thian liong-pang, seorang mata-mata Thian liong pang yang dapat mencium rahasia persekutuan itu, Akan tetapi tertangkap dan terbunuh.
Karena tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk menolong orang yang sudah mati itu, Bun Beng lalu meninggalkannya dan menuju ke pagar untuk meloncat ke luar.
Akan tetapi dia terlambat karena pada saat itu, terdengar suara orang dan tampak belasan orang keluar dan menuju ke sumur itu sambil membawa ember-ember besar.
Bun Beng tidak jadi lari pergi karena kembali dia tertarik dan ingin mengetahui apa yang hendak dilakukan orang-orang itu dengan ember ember mereka?
Dia melihat ke sekelilingnya dan melihat gentong gentong besar berada tak jauh dari sumur.
Cepat ia lari menghampiri dan memasuki sebuah di antara gentong-gentong kosong itu, bersembunyi di situ dan menggunakan jari tangannya menusuk gentong sehingga berlubang dan ia mengintai dari lubang itu keluar!
"Haiii!
Kenapa dia bisa terlepas....?"
"Wah, belenggunya putus semua...."
"Akan tetapi dia sudah mampus!"
"Hemm, orang ini lumayan kuatnya, dapat membebaskan diri dari gantungan. Tentu dia orang terkenal dari Thian-liong pang, sayang dia berani menyelidiki kita sehingga mati konyol."
"Dia tentu berusaha melarikan diri, akan tetapi kekuatannya habis setelah mematahkan belenggu kaki tangannya dan mampus."
Seorang di antara mereka melapor ke dalam dan muncullah seorang laki laki bertubuh raksasa, bertelanjang dada dan kepalanya gundul akan tetapi mukanya penuh cambang bauk.
Di sebelahnya berjalan seorang tinggi kurus yang mukanya pucat kuning, namun sikapnya me-nunjukkan bahwa dialah pemimpin di situ sedangkan raksasa itu adalah pembantu utamanya.
"Kubur dia di sudut kosong sana!"
Terdengar laki laki tua kurus itu berkata. Dua orang menggusur mayat itu, kemudian laki laki muka pucat itu berkata lagi.
"Hari ini kita menimba sepuluh gentong penuh untuk memenuhi permintaan Pangeran Jenghan yang harus dikirim besok. Kemudian semua harus bersiap, karena kita hanya menanti datangnya berita dari Koksu saja untuk segera bergerak ke selatan secara menggelap."
Setelah kedua orang pemimpin itu pergi, maka belasan orang bekerja menimba minyak dari dalam sumur dan mengisi gentong gentong kosong yang berjajar.
Diam-diam Bun Beng merasa lega karena dia berada di dalam gentong yang ke enam belas sehingga tidak khawatir akan disiram minyak!
Diam-diam dia memperhatikan orang-orang yang menimba minyak campur lumpur itu.
Bagaimana dia harus meninggalkan persekutuan ini atau setidaknya mengacaukan tempat itu?
Untuk melawan orang banyak itu, kurang lebih seratus orang banyaknya, dia tidak takut, akan tetapi apa gunanya?
Orang-orang itu kelihatan pandai, apalagi Si Kurus muka pucat dan Si Raksasa itu, tentu bukan orang-orang sembarangan.
Kalau dia sekarang meloncat ke luar dan melarikan diri, tentu dia bisa lolos dari tempat itu, akan tetapi dia ingin sekali melihat kedatangan utusan Koksu dan mendengar perkembangan selanjutnya dan rombongan orang kuat yang sengaja dikumpulkan di tempat itu.
Selain menjadi tempat memusatkan calon pasukan istimewa untuk melawan Thian liong pang, juga agaknya mereka itu sekalian berjaga, menjaga sumber minyak!
Untung bahwa Bun Beng tidak menunggu terlalu lama.
Sebentar saja, kurang lebih dua tiga jam, sepuluh buah gentong telah penuh dengan minyak dan lumpur, kemudian mereka semua pergi untuk membereskan tubuh yang berlumuran lumpur.
Lebih baik ku kacau mereka sekarang, kemudian melihat perkembangan lebih jauh, pikir Bun Beng.
Dia belum begitu mengenal minyak yang diambil dari sumur itu, akan tetapi dia tahu bahwa api bernyala kalau bertemu minyak.
Melihat di sekitar sumur itu sudah sunyi, Bun Beng meloncat keluar dari gentong, mengambil sebatang kayu kering mencelupkan kayu itu ke dalam gentong yang penuh minyak, kemudian dengan pedang Hok mo kiam dia memukul batu di bibir sumur sehingga berpijarlah bunga api yang menyambar kayu itu.
Kayu itu bernyala keras seperti yang diduga oleh Bun Beng.
Sambil tersenyum Bun Beng lalu melemparkan kayu bernyala itu ke dalam sumur!
"Heiii!
Tangkap pengacau!"
Tiba-tiba terdengar teriakan keras dan seorang berpakaian Han menyerang Bun Beng dari belakang dengan pedangnya.
Gerakan orang itu cukup tangkas karena dia meloncat dari jarak empat meter, sambil meloncat pedangnya menusuk ke arah punggung Bun Beng dengan kecepatan kilat dan dengan tenaga besar.
Pada saat itu, Bun Beng sedang berdiri tegak, pedang Hok mo kiam masih terhunus dan berada di tangan kanan, Agaknya dia tidak tahu akan serangan itu karena dia sedang memandang ke arah sumur dengan terbelalak menyaksikan betapa ada suara gemuruh keluar dari sumur itu disusul lidah lidah api dan asap hitam yang mengantar bau yang menyesakkan napas.
Akan tetapi, begitu ujung pedang lawan hampir menyentuh punggungnya, Bun Beng menekuk kedua kakinya, membiarkan pedang dan tubuh lawan lewat dan tiba-tiba dia bangkit sambil menggerakkan pedangnya.
Terdengar teriakan mengerikan ketika tubuh laki laki yang terlanjur meloncat dan kini ditambah dorongan Bun Beng itu meluncur masuk ke dalam sumur yang bernyala nyala!
Bun Beng yang tadinya tersenyum, berubah wajahnya dan memandang terbelalak!
Tak disangkanya sama sekali bahwa elakannya mengakibatkan terjadinya hal mengerikan itu!
Dia tidak bermaksud untuk melempar penyerangnya itu ke dalam sumur untuk dibakar hidup-hidup!
Teriakan yang amat nyaring menyayat hati itu terdengar oleh banyak orang dan tampak-lah berbondong-bondong penghuni asrama itu berlari keluar.
Bun Beng tidak mau melarikan diri seperti pencuri karena biarpun dia dikepung, kalau hendak meloloskan diri pun tidak akan sukar baginya.
Maka dengan tenang dia menyimpan kembali pedangnya dan berdiri tegak menanti kedatangan puluhan orang itu.
Melihat sikap Bun Beng, orang-orang itu menjadi ragu ragu untuk menyerang.
Apalagi karena mereka tidak melihat temannya yang menjerit tadi.
Mereka hanya menanti sampai orang kurus bermuka pucat itu muncul bersama pembantu utamanya, Si Gundul.
Orang kurus itu adalah seorang Han, akan tetapi suaranya menunjukkan bahwa dia berasal dari utara.
"Siapakah engkau?"
Orang itu bertanya sambil memandang Bun Beng dengan penuh perhatian.
"Namaku Gak Bun Beng,"
Jawab Bun Beng sederhana.
"Mau apa engkau datang ke sini? Apakah engkau juga seorang mata-mata Thian liong pang?"
Bun Beng menggeleng kepalanya.
"Aku tidak disuruh oleh siapapun juga, juga tidak mewakili siapa siapa. Aku kebetulan lewat dan ingin tahu apa yang berada di dalam tempat yang penuh rahasia ini. Kiranya terisi orang-orang yang mengadakan persekutuan!"
Semua orang memandang dengan sikap mengancam ketika mendengar itu, akan tetapi Si Tua kurus itu mengangkat tangan menyuruh anak buahnya diam.
"Kulihat engkau masih amat muda akan tetapi sikapmu tenang dan tabah sekali. Orang muda, agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian. Kebetulan sekali di sini kurang hiburan bagi anak buahku. Hiburan perempuan dan nyanyian sudah membosankan. Kalau diberi hiburan pertandingan silat yang sungguh-sungguh tentu akan menimbulkan kegembiraan."
"Bagus! Bagus....! Serahkan dia kepadaku, biar kupatahkan batang lehernya!"
"Tidak, kepadaku saja! Aku ingin merobek mulut yang sombong itu!"
"Biarkan aku menghancurkan kepalanya!"
Si Kurus pucat itu kembali mengangkat tangannya menyuruh anak buahnya diam, lalu berkata gagah.
"Kita adalah orang-orang gagah di dunia kang ouw, mengapa bersikap seganas itu? Tidak, pertandingan ini akan diadakan satu lawan satu dengan adil. Akan tetapi aku ingin sekali tahu, siapakah yang tadi mengeluarkan suara menjerit?"
Tidak ada seorang pun yang tahu.
"Kami sendiri pun tidak tahu. Suara itu terdengar dari sini, akan tetapi ketika kami datang, yang tampak hanya pemuda ini seorang diri. Jangan-jangan setan dari mata-mata itu yang...."
"Hemmm, tak patut orang gagah percaya akan tahyul!"
Si Kurus membentak.
"Tentu ada yang berteriak tadi, terdengarnya seperti teriakan ketakutan. Eh, orang muda she Gak, apakah engkau tahu siapa yang berteriak tadi?"
Bun Beng mengangguk.
"Aku tahu, sebab yang menjerit tadi adalah seorang anak buahmu yang menyerangku dari belakang ketika aku membakar sumur minyak ini."
Jawaban ini kembali membuat semua orang ribut.
Betapa beraninya pemuda ini, sudah membakar sumur, masih mengaku seenaknya dengan begitu tenang!
"Di mana dia sekarang?"
Si Kurus bertanya lagi.
"Di dalam sana...!"
Bun Beng menuding ke arah sumur yang masih bernyala itu.
Kembali suasana menjadi ribut dan Si Kurus terpaksa mendiamkan mereka dengan isyarat tangannya.
"Apakah engkau melemparnya ke dalam sumur?"
Tanyanya kepada Bun Beng. Suaranya sudah kehilangan ketenangannya karena dikuasai kemarahan.
"Sama sekali tidak. Dia menyerangku dari belakang, agaknya dia terlalu bernafsu untuk membunuhku sehingga ketika aku mengelak, dia terus menyelonong ke dalam sumur."
Semua orang terbelalak mendengar ini, merasa ngeri akan nasib kawan mereka yang terbakar hidup-hidup. Akan tetapi Si Kurus pucat bersikap tenang.
"Gak Bun Beng, kesalahanmu bertumpuk tumpuk. Pertama, engkau memasuki tempat terlarang ini tanpa ijin, seperti maling. Ke dua engkau berani membakar sumur yang kami jaga ini. Ke tiga engkau telah membunuh seorang di antara anak buahku. Menurut patut, engkau harus dibunuh sekarang juga. Akan tetapi, melihat engkau masih begini muda dan mengingat bahwa kami adalah orang-orang gagah yang tidak mau membunuh begitu saja...."
"Kecuali ketika kalian mengeroyok dan menangkap mata-mata Thian liong-pang itu, ya?"
Bun Beng memotong.
"Hemmm, itu lain lagi. Dia adalah anggauta Thian liong-pang, musuh kami. Sedangkan engkau hanya seorang pemuda bebas yang terlalu sombong dan lancang. Engkau boleh membela nyawamu dalam pertandingan satu lawan satu, tanpa ada pengeroyokan."
"Hemmm, kalau aku menang aku boleh pergi dengan bebas?"
"Kalau sudah tidak ada yang mampu melawanmu, boleh saja!"
Kata Si Kurus dan terdengarlah suara orang-orang tertawa bergelak.
Mereka itu tentu saja memandang rendah kepada Bun Beng.
Sebagian di antara mereka adalah orang-orang kang ouw dan liok lim, dan mereka belum pernah bertemu atau mendengar nama Gak Bun Beng di dunia persilatan.
"Siapa di antara kalian yang berani melawan bocah ini?"
Pemimpin kurus itu berseru.
Pertanyaan itu disambut suara sorak-sorai karena hampir semua orang yang berada di situ mengangkat tangan dan mereka seolah-olah hendak berebut menandingi pemuda itu, bukan hanya untuk membalaskan kematian teman mereka, juga ini merupakan kesempatan bagi mereka untuk memamerkan kepandaian!
"Locianpwe, mengapa menimbulkan banyak ribut dan susah susah?
Agar urusan cepat selesai, suruh pembantu Locianpwe yang seperti raksasa ini maju.
Kalau aku menang, berarti mereka yang berteriak teriak itu tentu takkan ada yang berani maju lagi, kalau aku kalah, yah, terserah!"
Si Muka pucat ini agaknya senang sekali disebut "locianpwe"
Oleh Bun Beng, maka kembali dia mengangkat tangan menyuruh orang-orangnya diam, kemudian berkata.
"Ucapan bocah ini benar juga, cukup masuk akal dan bisa diterima. Akan tetapi, sungguh membikin malu aku dan pendekar Gozan dari Mongol kalau dia harus maju sendiri melayanimu, bocah she Gak. Ketahuilah bahwa pendekar Gozan ini adalah seorang ahli silat dan ahli gulat nomor satu di Mongol, dan merupakan orang ke dua sesudah aku di tempat ini. Akan tetapi karena engkau sendiri yang minta, dan memang ada benarnya juga agar tidak membuang waktu, biarlah aku menyuruh orang ke tiga maju melayanimu beberapa jurus. Agar kau ketahui sebelumnya bahwa pertandingan ini merupakan pibu (adu ke-pandaian) sehingga terluka atau mati bukan merupakan persoalan yang harus disesalkan."
"Aku mengerti, Locianpwe. Kurasa mati di tangan orang ke tiga di tempat seperti ini cukup terhormat!"
"Ha ha, bagus sekali! Engkau seorang pemuda yang berani, sayang engkau bukan anak buahku. He, Thai lek gu (Kerbau Bertenaga Raksasa), majulah dan harap kau suka mewakili aku melayani Gak Bun Beng ini!"
Kata Si Kepala asrama yang kurus itu.
Dari dalam rombongan orang-orang itu muncullah seorang laki laki yang membuat Bun Beng hampir tertawa geli karena anehnya.
Orang ini tubuhnya pendek sekali, akan tetapi amat besar dan gendut sehingga seperti bola yang besar.
Perutnya besar bulat sehingga bajunya di bagian perut tidak dapat menutupinya dengan baik dan tampaklah kulit perut putih halus membayang di antara kancing baju yang terlepas.
Kepalanya juga bulat dengan sepasang mata kecil sipit.
Kakinya pendek buntek, besar seperti kaki gajah, demikian kedua lengannya besar akan tetapi panjang sekali sampai ke lutut sehingga kalau dia membungkuk sedikit saja, kedua tangannya seperti menyentuh tanah dan membuat kedua lengan itu mirip sepasang kaki depan binatang kaki empat.
Pantas saja dia dijuluki Kerbau Bertenaga Raksasa, karena memang dia mirip seekor kerbau dengan perutnya yang bergantung ke bawah itu.
Thai lek gu langsung menghadapi Bun Beng, matanya yang sipit itu agak terbuka dan terdengar suaranya yang kecil halus, jauh bedanya dengan tubuhnya yang bulat itu.
"Orang muda, sungguh sialan sekali engkau diharuskan bertanding melawan aku. Apakah tidak lebih baik engkau cabut pedangmu itu dan memenggal lehermu sendiri supaya lebih cepat mati dan tidak tersiksa lagi?"
Ucapan ini disambut suara tertawa di sana sini karena semua orang mengerti bahwa ucapan itu merupakan ejekan. Bun Beng tersenyum.
"Aku heran sekali mengapa engkau dijuluki Thai lek-gu, kalau melihat matamu yang kecil dan sikapmu yang malas, engkau lebih tepat dijuluki Thai lek ti (Babi Tenaga Raksasa), sungguh pun aku masih menyangsikan sekali akan tenagamu."
Kembali terdengar suara ketawa, dan sekali ini Thai lek gu yang menjadi bahan tertawa sehingga dia marah sekali.
"Bocah bermulut lancang! Kematian sudah di depan hidung engkau masih berani kurang ajar terhadap aku?"
"Memang kematian sudah di depan hidung, akan tetapi entah kematian siapa dan hidung siapa!"
Bun Beng menggerak gerakkan cuping hidungnya.
"Menurut hidungku, aku tidak mencium kematianku, akan tetapi ada bau bau tidak enak datang deri tempat kau berdiri!"
Kembali orang-orang tertawa.
si Gendut itu memang wataknya kasar dan sombong, suka mengejek dan mempermainkan teman temannya yang tidak berani melawan, maka kini mendengar dia diolok olok oleh pemuda asing itu, mereka menjadi girang dan tertawa geli, biarpun mereka semua maklum bahwa tentu pemuda itu akan tewas oleh Si Gendut yang lihai.
Karena melihat pemuda itu menggerak gerakkan cuping hidungnya, Thai lek gu otomatis juga mencium cium, akan tetapi karena hidungnya pesek hampir tidak ada ujungnya, maka tentu saja tidak dapat digerak gerakkan, hanya lubangnya saja yang menjadi makin lebar.
Saking marahnya, dia tidak dapat berkata apa-apa lagi dan hanya mengeluarkan suara menggereng kemudian secara tiba-tiba dia menyerang Bun Beng.
Biarpun tubuhnya gendut sekali akan tetapi ternyata gerakannya cepat ketika dia menubruk dengan kedua lengan yang panjang itu terpentang, kemudian menyergap dari kanan-kiri hendak merangkul tubuh Bun Beng yang kelihatan kecil itu untuk ditekuk tekuk dan dipatah patahkan semua tulangnya!
"Bresss!"
Tiba-tiba Thai lek gu menjadi bingung karena tadi tampaknya serangannya tak mungkin dapat dielakkan lagi, Kedua lengannya sudah menyentuh kedua pundak lawan, akan tetapi begitu kedua tangannya meringkus, yang diringkusnya hanya angin saja dan tubuh pemuda itu sudah lenyap!
Cepat dia membalikkan tubuhnya dan ternyata pemuda itu sudah berdiri di belakangnya sambil bersedekap dan tersenyum senyum.
Terkejutlah Si Muka Pucat yang kurus dan Si Raksasa gundul ketika menyaksikan betapa dengan amat sigapnya tubuh pemuda itu tadi melesat ke luar dari sergapan Thai lek gu dan meloncat ke atas melewati kepalanya, kemudian turun bagaikan seekor burung walet saja di belakang Thai lek gu.
Juga Thai lek gu yang bukan merupakan seorang ahli silat sembarangan, kini dapat menduga bahwa pemuda itu ternyata memiliki kepandaian tinggi terbukti dari gin-kangnya yang istimewa, Bersikap hati-hati dan tidak lagi berani memandang rendah bahkan dia menekan hatinya melenyapkan rasa marah agar dapat menghadapi lawan dengan tenang.
Setelah memasang kuda kuda, mulailah Thai lek gu membuka serangannya.
Tubuhnya seperti menggelundung ke depan karena gerakan kedua kakinya sukar terlihat, tertutup oleh perutnya, dan tahu-tahu kedua lengannya sudah menyambar ke depan bergantian, melakukan pukulan-pukulan yang amat keras sehingga terdengar anginnya mengiuk berulang ulang.
Bun Beng menurunkan kedua tangannya yang bersedekap, kedua tangan itu bergerak cepat sampai tidak tampak, tahu tahu jari tangannya sudah mengetuk ke arah lengan lawan, yang kanan mengetuk pergelangan tangan kiri, sedangkan yang kiri mengetuk tulang dekat siku.
"Plak! Tukkk!"
"Wadouuhh....!"
Thai lek gu berteriak keras sekali dan cepat meloncat mundur, Mulutnya yang amat kecil dibandingkan dengan kepala dan perutnya itu menyeringai kesakitan kedua tangannya sibuk sekali bergerak bergantian, yang kiri mengusap siku kanan, yang kanan menggosok pergelangan tangan kiri.
Kulit lengan di kedua tempat itu membiru dan tampak benjolan sebesar telur ayam!
Dengan kemarahan yang meluap luap, Thai lek gu kini menyambar sepasang golok yang dibawakan oleh seorang temannya.
Sepasang golok ini pantasnya untuk menyembelih babi, dan memang Thai-lek gu ini dahulunya adalah seorang jagal babi!
Betapapun marahnya, Thai lek gu ini adalah seorang tokoh kang ouw yang tahu akan kegagahan, maka sambil menahan marah, menggerak gerakkan sepa-sang goloknya di depan dada kemudian berhenti depan dada dalam keadaan bersilang dia berseru.
"Hayoh keluarkan senjatamu!"
Bun Beng tersenyum.
Dia tidak mempunyai urusan atau permusuhan pribadi dengan orang-orang ini dan biarpun dia tahu bahwa mereka itu pemberontak-pemberontak, namun dia tidak pula berpihak kepada Kaisar Mancu.
Andaikata mereka ini bukan kaki tangan Koksu yang menjadi musuh besarnya, agaknya dia pun tidak mau mengganggu mereka.
Apalagi melihat sikap Thai lek gu yang masih menghargai kegagahan dalam pertandingan ini, tidak mengeroyok, tidak pula menyerang lawan yang bertangan kosong, dia mengambil keputusan untuk bersikap lunak terhadap mereka.
"Thai lek gu, tidak perlu aku mempergunakan senjataku sendiri karena engkau sudah begitu baik hati untuk menyediakannya untukku. Nah, seranglah!"
Thai lek gu memandang heran dan ragu ragu.
"Orang muda yang sombong, jangan kau main main. Sepasang golokku ini sekali keluar, tidak akan masuk sarungnya kembali sebelum minum darah lawan. Keluarkan senjatamu!"
"Baiklah, akan tetapi bukan senjataku, melainkan yang kau pinjamkan kepadaku itulah!"
Tiba-tiba Bun Beng menubruk ke depan dan mengirim serangan kilat, menusukkan jari tangan kirinya ke arah mata lawan.
Thai lek gu marah dan terkejut, cepat dia menundukkan kepala dan golok kanannya berkelebat membacok ke arah lengan Bun Beng yang menyerangnya.
Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba merendahkan diri, gerakannya cepat bukan main, golok menyambar lewat di atas kepalanya dan tiba-tiba Thai lek gu mengeluarkan seruan tertahan dan memandang dengan mata terbelalak kepada lawan yang sudah tersenyum senyum memandangnya dengan sebatang golok di tangan.
Golok kirinya telah dirampas secara cepat dan aneh oleh pemuda itu!
"Nah, sekarang aku telah memegang senjata.
Terima kasih atas kebaikanmu memberi pinjam golok ini kepadaku, Thai lek gu."
Thai lek gu marah bukan main, marah penasaran dan juga kaget.
Pemuda itu dalam segebrakan saja telah berhasil merampas sebatang di antara sepasang goloknya.
Hal ini saja membuktikan bahwa pemuda itu memiliki kepandaian yang luar biasa hebatnya.
Akan tetapi karena sudah kepalang mencabut senjata, dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang ke depan dengan nekat.
"Trang trang trang....!"
Tiga kali Si Pendek gendut menyerang dan tiga kali Bun Beng menangkis tanpa menggeser kaki dari tempatnya, berdiri seenaknya akan tetapi kemana pun golok lawan menyambar, selalu dapat ditangkisnya dan setiap tangkisan membuat Thai lek-gu terpental ke belakang.
Hal ini mengejutkan semua orang.
Thai lek gu terkenal memiliki tenaga yang amat besar, akan tetapi serangan golok tadi berturut turut dapat ditangkis oleh Si Pemuda yang membuat tubuh Thai lek-gu terpental!
Tentu saja Thai lek gu menjadi makin marah.
Dengan lengking panjang dia lari ke depan, menyerbu dengan golok diangkat tinggi tinggi di atas kepala, kemudian golok itu menyambar ke arah leher Bun Beng, dibarengi cengkeraman tangan kiri Thai lek gu ke arah perutnya!
Serangan ini dahsyat sekali dan merupakan serangan mati matian untuk mengadu nyawa.
Tentu saja Bun Beng tidak menjadi gentar.
Dia sengaja mengerahkan tenaganya, menggerakkan golok menangkis golok lawan, sedangkan tangan kirinya menyambut cengkeraman tangan lawannya dia menotok pergelangan tangan.
"Krekk.... dessss!"
Golok di tangan Thai lek gu patah-patah dan dia menjerit kaget ketika tubuhnya terlempar ke belakang dan lengan kirinya lumpuh tertotok.
Betapapun diusahakannya untuk mengatur keseimbangan tubuhnya, tetap saja dia terbanting roboh dan karena kelumpuhan lengan kiri, terpaksa dengan susah payah dia merangkak bangun.
"Maafkan aku dan kukembalikan golokmu. Terima kasih!"
Bun Beng melempar golok pinjaman itu yang meluncur ke depan.
Semua orang terkejut, mengira bahwa pemuda itu melontarkan goloknya untuk membunuh Thai lek gu, akan tetapi golok itu berputaran kemudian meluncur turun menancap di atas tanah depan pemiliknya.
Tiba-tiba terdengar suara menggereng seperti seekor biruang marah dan tanah seperti tergetar ketika seorang raksasa melompat turun di depan Bun Beng.
Dengan matanya yang lebar dia memandang Bun Beng, mulut yang tertutup cambang bauk melintang galak itu bergerak-gerak dan terdengar suaranya yang kaku dan parau.
"Aku Gozan. Kau orang muda boleh juga, aku merasa terhormat mendapatkan lawan seperti engkau. Orang muda, majulah kau mari mulai!"
Baru saja menghentikan kata katanya, raksasa itu sudah menubruk ke depan, kedua lengannya yang panjang itu menyambar dari kanan dan kiri pinggang Bun Beng.
Pemuda ini mengerti bahwa lawannya memiliki tenaga yang amat hebat, hal ini diketahuinya dari angin sambaran kedua lengan itu.
Akan tetapi karena dia memang ingin sekali mencoba sampai di mana kehebatan lawan yang menurut Si Muka Pucat tadi adalah jago nomor satu di Mongol, ahli silat dan ahli gulat, maka dia sengaja bergerak lambat dan membiarkan pinggangnya ditangkap.
Akan tetapi betapa kagetnya ketika tahu tahu tubuhnya terangkat ke atas dan usahanya memperberat tubuhnya sama sekali tidak terasa oleh Si Raksasa itu yang mengangkat tubuhnya ke atas, memutar mutar tubuhnya sambil tertawa-tawa!
"Kiranya tenagamu tidak berapa hebat, orang muda.
Nah, pergilah kau!"
Sambil berkata demikian, Gozan jagoan dari Mongol itu mengerahkan tenaga pada kedua lengannya dan melemparkan tubuh Bun Beng ke depan.
Tanpa dapat dilawan pemuda ini, tenaga dahsyat mendorongnya dan membuat tubuhnya meluncur jauh ke depan, seolah-olah tubuhnya menjadi sebuah peluru yang terbang dengan cepatnya.
Namun Bun Beng dapat menguasai dirinya.
Dengan ilmu gin kangnya dia berjungkir balik di tengah udara dan tubuhnya kini membalik dengan tenaga lontaran masih mendorongnya sehingga tubuhnya meluncur kembali ke arah lawannya!
Tentu saja Gozan menjadi terkejut dan terheran melihat pemuda lawannya itu tahu tahu telah berkelebat datang dan berdiri di depannya kembali sambil ter-senyum senyum mengejek!
"Engkau masih belum pergi?
Kalau begitu engkau sudah bosan hidup!"
Gozan membentak dan kini dia menerjang ke depan, menggerakkan dua pasang kaki dan tangannya, seperti otomatis, bergantian dan bertubi tubi menghujankan pukulan dan tendangan ke arah tubuh Bun Beng.
Biarpun gerakan itu tidak banyak perubahannya, hanya mengandalkan kecepatan gerak yang teratur, dan mudah bagi Bun Beng menghadapinya, namun pemuda ini maklum bahwa tenaga Si Raksasa itu amat besar dan bahwa terkena sekali saja oleh pukulan atau tendangan itu, amatlah berbahaya.
Maka dia mengandalkan keringanan tubuh dan kecepatannya untuk menghindar dengan loncatan ke kanan-kiri dan belakang sampai puluhan jurus serangan sehingga akhirnya Gozan sendiri yang menjadi lelah dan napasnya terengah engah.
Tiba-tiba raksasa itu menghentikan serangannya dan memandang dengan mata merah, lehernya mengeluarkan gerengan marah dan dia berkata.
"Orang muda, apakah engkau seorang pengecut sehingga dalam pertandingan selalu menjauhkan diri? Kalau tidak berani bertanding, kau berlututlah dan mengaku kalah, kalau memang berani balaslah seranganku!"
"Begitulah kehendakmu? Nah, sambutlah ini!"
Bun Beng tersenyum dan memukul ke arah dada raksasa itu, tangan kiri siap untuk merobohkan lawan yang bertubuh kuat itu.
Akan tetapi, secepat kilat Gozan menangkap lengan kanan Bun Beng dengan cara yang tak terduga duga.
Gerakan kedua tangan raksasa itu seperti gerakan dua ekor ular yang menyambar dari kanan-kiri dan tahu tahu lengan kanan Bun Beng telah ditangkapnya!
Kiranya, dengan ilmu silat pukulan dan tendangan, raksasa itu sama sekali tidak berdaya mengalahkan lawan, maka kini dia kembali hendak menggunakan ilmu gulatnya!
Sebelum Bun Beng tahu apa yang terjadi, kembali tubuhnya sudah terangkat ke atas, di atas kepala lawannya, kemudian dia dibanting ke bawah dengan tenaga yang dahsyat!
Karena tadi lemparannya tidak berhasil, kini Gozan mengganti siasatnya, tidak melemparkan tubuh lawan, melainkan membantingnya ke atas tanah.
"Wuuuttt.... brukkk.... ngekkk!"
Semua orang terbelalak kaget dan heran, terutama sekali Si Kurus Pucat yang menjadi pemimpin ketika menyaksikan peristiwa yang aneh dan hebat itu.
Terbelalak dia memandang jagoannya, Gozan Si Raksasa tinggi besar tadi kini terkapar di depan kaki Bun Beng, dalam keadaan pingsan!
Jelas semua orang melihat tadi betapa tubuh pemuda itu telah diangkat dan dibanting, akan tetapi mengapa tiba-tiba keadaannya terbalik, bukan tubuh Bun Beng yang terbanting melainkan tubuh Si Raksasa itu sendiri?
Kiranya Bun Beng sudah bergerak cepat sekali.
Ketika tubuhnya dibanting dan lengan kanannya dicengkeram, dia menggunakan tangan kirinya menotok tengkuk lawan dan seketika tubuh raksasa itu menjadi lemas.
Dengan gerakan indah sekali, namun cepat sehingga sukar diikuti pandangan mata, Bun Beng yang masih terdorong oleh tenaga bantingan membalikkan tubuh sehingga kakinya yang lebih dulu tiba di atas tanah, sedangkan dia menggerakkan kedua tangan yang kini memegang pangkal lengan raksasa itu, menggunakan sisa tenaga bantingan lawan untuk mengangkat tubuh lawan dan membantingnya, ditambah dengan tenaga sin kangnya sendiri.
Dalam keadaan tertotok, Gozan tidak mampu mempertahankan diri dan berat tubuhnya membuat bantingan itu makin hebat akibatnya sehingga dia pingsan seketika!
"Wirr....
siuuuuttt....!"
Bun Beng cepat merendahkan tubuhnya kaget sekali melihat senjata yang menyambarnya.
Kiranya Si Muka Pucat yang kurus tadi telah menyerangnya dan senjata di tangan orang ini benar benar amat luar biasa.
Pimpinan orang-orang gagah itu memegang gagang pancing, lengkap dengan tali dan mata kailnya!
Bagi yang mengenal Liong Khek, Si Kurus muka pucat ini tentu tidak akan heran karena dia memang berasal dari keluarga nelayan.
Mungkin mengingat akan asal usulnya ini, ditambah lagi bahwa senjata istimewa ini amat hebat dan jarang dikenal lawan, maka dia memilihnya sebagai senjatanya.
"Orang muda, engkau benar hebat, akan tetapi jangan harap akan dapat keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa!"
Liong Khek berseru dan menerjang maju dengan senjatanya yang aneh.
Bun Beng merasa heran juga melihat senjata itu.
Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang ahli silat bersenjata pancing, bahkan mendengar pun belum pernah.
Oleh karena itu, dia menyabarkan diri dan ingin sekali melihat bagaimana lawannya mempergunakan senjata istimewa itu.
"Singgg.... siuuuttt....!"
Kembali sinar kecil itu menyambar dan Bun Beng cepat mengelak mengulur tangan berusaha menangkap tali pancing itu.
Akan tetapi dengan gerakan pergela-ngan tangannya, Liong Khek Si Kurus itu telah menarik kembali tali pancingnya, kemudian meloncat maju kan kini mempergunakan gagang pancingnya sebagai senjata tongkat untuk menusuk lambung Bun Beng.
Pemuda ini mengelak sambil menangkis dengan lengannya, dengan hati-hati dan penuh perhatian menghadapi lawan.
Dia kagum sekali.
Kiranya senjata itu benar benar hebat dan berbahaya sekali.
Gagangnya dapat dimainkan sebagai tongkat dan mata kail yang terbuat dari baja dan amat runcing melengkung itu kadang-kadang menyambar ke arah bagian bagian tubuh yang berbahaya dan setiap kali dapat ditarik kembali kalau talinya digerakkan atau disendal.
Bahkan ada kalanya, gagang pancing menyerang dibarengi sambaran mata kail dari lain jurusan!
Benar benar senjata yang tak tersangka sangka ini merupakan senjata yang amat berbahaya kalau dimainkan semahir Liong Khek memainkannya.
Pada saat itu, terdengar derap kaki kuda dan tampaklah selosin orang berpakaian tentara memasuki markas itu.
Mereka adalah utusan Koksu dan begitu melihat Liong Khek bertanding melawan seorang pemuda, komandan pasukan bertanya tanya.
Ketika mendengar bahwa pemuda itu diduga keras seorang mata-mata, komankan pasukan berkata marah.
"Kalau dia mata-mata, mengapa tidak dibunuh saja? Hayo serbu!"
Selosin orang tentara itu sudah meloncat turun dari atas kuda, dan kini bersama orang-orang gagah yang berada di situ, mereka lari menghampiri untuk mengeroyok Bun Beng.
Pemuda ini tertawa melengking, mengerahkan khi kang sehingga para pengeroyok itu terbelalak kaget, kaki mereka menggigil dan sejenak mereka tidak dapat bergerak.
Juga Liong Khek terkejut sekali ketika suara lengkingan dahsyat itu membuat tubuhnya tergetar.
Sebelum ia dapat memulihkan kembali ketenangannya tahu tahu sebuah tendangan mengenai pahanya, membuat tubuhnya terlempar dan senjata pancingnya telah dirampas pemuda yang luar biasa itu!
Ketika terbanting jatuh, maklumlah Liong Khek ternyata bahwa pemuda itu tadi hanya main main saja dan bahwa sesungguhnya pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!
Bun Beng mencelat ke dekat pagar, mengayun tubuh ke atas dan mengambil buntalan pakaian dan topinya yang tadi ditaruhnya di atas pagar agar jangan mengganggu gerakannya.
Dia menaruh topi berbentuk caping petani yang lebar itu, menalikan tali caping di leher, kemudian menalikan buntalan pakaiannya di depan dada sehingga buntalan itu tergantung ke belakang bahu kanannya.
Semua ini dikerjakan selagi tubuhnya di atas pagar.
Para pengeroyoknya sudah lari mengejarnya dan kini beberapa orang sudah melayang naik ke atas pagar sambil menyerangnya.
"Wuuuttt.... wirrr....!"
Dua orang menjerit dan jatuh dari atas pagar ketika pancing di tangan Bun Beng bergerak menyambar dan melukai hidung dan pipi dua orang itu!
Timbul kegembiraan Bun Beng dengan senjata rampasan yang baru ini.
Dia tadinya hendak melompat keluar dari tempat itu dan lari, akan tetapi melihat hasil sambaran senjata pancing itu, dia ingin mencoba lagi dan kini dia malah melompat turun ke sebelah dalam markas!
Tentu saja dia disambut pengeroyokan puluhan orang itu, termasuk pasukan tentara yang baru tiba.
"Heii, apakah kalian ini anjing anjing Koksu?"
Bun Beng berteriak sambil melompat ke kiri dan menggerakkan gagang pancing dengan pergelangan tangannya.
Kembali dua orang yang menyerbunya roboh terpelanting!
"Kami adalah pengawal pengawal, utusan pribadi Koksu.
Menyerahlah orang muda!"
Bentak Si Komandan pasukan yang mengira bahwa sebagai seorang kang ouw, tentu pemuda itu akan gentar dan tunduk kalau mendengar nama Koksu.
Akan tetapi pemuda itu malah tertawa bergelak.
"Kalau kalian anjing-anjing pengawal dari Koksu, aku belum meninggalkan tempat ini sebelum menghajar kalian!"
Kini Bun Beng mengamuk dan serangan-serangannya ditujukan kepada pasukan itu.
Mendengar bahwa pasukan itu adalah utusan pribadi Koksu, sudah timbul rasa tidak senangnya.
Empat orang anggauta pasukan roboh pingsan terkena tamparan tangannya, sedangkan dua orang lagi masih mengaduh aduh karena muka mereka robek terkait mata kail yang runcing.
Akan tetapi, orang-orang gagah yang dipimpin oleh Liong Khek merasa marah dan merasa terhina bahwa di depan utusan utusan Koksu, mereka tidak mampu menangkap seorang pengacau yang masih muda.
Mereka berteriak teriak dan mengepung Bun Beng.
Pemuda ini menjadi kewalahan juga menghadapi demikian banyaknya pengeroyok.
Dia tertawa dan tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas dan hinggap di atas atap kandang kuda, senjata pancingnya terayun ayun di tangan kiri.
Dia melihat lihat ke bawah, hendak memilih kuda yang terbaik yang terkumpul di situ.
Perwira yang memimpin pasukan tadi tahu akan niat pemuda pengacau itu.
"Kepung, jangan biarkan dia lolos dengan mencuri kuda!"
Teriaknya sambil berlari cepat diikuti sisa anak buahnya ke bawah atap di mana Bun Beng berdiri.
Komandan itu menggerakkan senjata tombak panjangnya menusuk ke atap.
"Crappp!"
Tombak bercabang itu menembus atap, akan tetapi dengan mudah saja Bun Beng mengelak, bahkan kini dia menggerakkan pancingnya ke bawah.
"Auuuhwww.... aduuuuhhh....!"
Mata kail yang runcing melengkung itu telah berhasil mengait pinggul seorang anak buah pasukan dan sekali tangan kiri Bun Beng digerakkan, tubuh orang yang terpancing itu terangkat naik ke atap.
Pada saat itu, komandan pasukan dan seorang anak buahnya, dengan kemarahan meluap menusukkan tombak mereka dari bawah mengarah tubuh Bun Beng.
"Crepp! Creppp!"
Dua batang tombak panjang itu me-nembus atap, akan tetapi dengan gerakan ringan dan mudah sekali, Bun Beng meloncat menghindar kemudian turun dengan kedua kaki, menginjak ujung dua batang tombak yang menembus atap itu!
Gagang pancingnya dia gerakkan berputar sehingga tubuh tentara itu pun terbawa berputaran, kemudian sambil tertawa Bun Beng melemparkan pancingnya ke arah Si Komandan pasukan.
Karena lontaran ini cepat dan kuat sekali, Si Komandan tidak sempat mengelak sehingga dia tertimpa tubuh anak buahnya sendiri dan roboh terguling guling!
Sebelum komandan itu sempat bangun dan dalam keadaan masih nanar karena kepalanya terbentur keras, tiba-tiba dia merasa pundaknya dicengkeram dan tahu-tahu pemuda yang dikeroyoknya tadi telah berada di dekatnya, tangan kiri mencengkeram pundak dan tangan kanan menodongnya dengan sebatang tombak.
Tombaknya sendiri!
"Mundur semua, kalau tidak, kubunuh perwira ini!"
Bun Beng membentak sambil menempelkan ujung tombak yang runcing itu ke perut Si Komandan yang menjadi ketakutan, bermuka pucat dan menggigil.
Melihat ini, Si Muka pucat segera memberi aba aba kepada anak buahnya untuk mundur.
Tentu saja keselamatan komandan pasukan yang menjadi utusan Koksu amatlah penting, dan kini dia yakin bahwa pemuda yang mengacau itu benar benar seorang yang memiliki ilmu kepandaian amat tinggi, terlampau tinggi untuk mereka tandingi dan kalau mereka melanjutkan pertandingan dan pengero-yokan dengan jalan kekerasan, akibatnya akan berbahaya sekali.
"Mundur.... hentikan pertandingan!"
Teriak Si Kurus dengan suara nyaring, kemudian dia melangkah maju menghadapi Bun Beng, menjura dan berkata.
"Orang muda she Gak! Engkau tadi mengaku bukan mata-mata dan tidak memusuhi kami, mengapa engkau membikin kacau dan menangkap seorang panglima dari kota raja?"
Bun Beng membelalakkan matanya lalu tertawa bergelak, nadanya mengejek.
"Ha ha ha! Kalau ada maling teriak maling, hal itu amat lucu dan dapat dimengerti karena Si Maling ingin menyelamatkan diri. Akan tetapi kalau ada pemberontak teriak pemberontak, hal ini sudah tidak lucu lagi, malah menyebalkan! Aku bukan seorang penjilat Kaisar, juga bukan seorang pemberontak. Bukan aku yang mengacau di sini, melainkan kalian sendiri yang memaksaku bertanding!"
Si Kurus bermuka pucat itu kembali menjura.
"Kalau begitu, kami menerima salah, harap engkau suka membebaskan panglima yang menjadi tamu kami."
"Panglima ini harganya tentu lebih mahal dari seekor kuda,"
Kata pula Bun Beng.
"Seekor kuda....?"
Si Kurus memandang tajam.
"Ya, seekor kuda yang paling baik diantara semua kuda di sini."
Mengertilah Si Kurus.
Dia lalu memberi aba aba kepada anak buahnya untuk mengeluarkan kuda tunggangannya sendiri, seekor kuda berbulu putih yang benar-benar bagus dan kuat, merupakan kuda pilihan.
"Nah, ini kudaku sendiri, pakailah kalau engkau memerlukannya,"
Katanya.
Bun Beng tertawa, melepaskan Si Perwira dan sekali meloncat dia telah berada di atas punggung kuda.
Dia sengaja berbuat demikian, karena dia ingin melihat sikap mereka itu.
Begitu melihat perwira itu dilepaskan, terjadi gerakan-gerakan seolah-olah mereka hendak maju lagi menerjang Bun Beng yang bersikap tenang di atas punggung kudanya.
Akan tetapi Si Kurus bermuka pucat mengangkat tangan kanan ke atas dan membentak.
"Jangan bergerak! Biarkan Gak congsu lewat dan keluar dari sini tanpa gangguan!"
Bun Beng melarikan kudanya, menoleh ke arah Si Kurus sambil berkata.
"Terima kasih. Pemberontak atau bukan, engkau masih mempunyai sifat kegagahan!"
Kudanya lari terus keluar dari pintu pagar tanpa ada yang merintanginya, dan pemuda ini melanjutkan perjalanan menuju ke selatan, ke kota raja.
"Haiiii....! Maharya pendeta palsu tukang tipu! Hayo keluar kau jangan sembunyi saja! Terimalah jawaban teka tekimu. Hayo keluar, kalau tidak, kucabut nanti bulu jenggotmu!"
Yang berteriak teriak ini adalah Bu-tek Siauw jin, Kakek pendek cebol yang keluar dari tempat tahanannya bersama Kwi Hong.
Dara jelita ini bersikap tenang, berjalan di samping gurunya.
Dia tidak pedulikan gurunya yang berteriak teriak karena dia sudah maklum akan watak dan sifat gurunya yang aneh dan tidak lumrah manusia.
Dia sendiri tentu saja tidak khawatir keluar dari tempat tahanan, apalagi bersama gurunya yang sakti, sungguhpun dia maklum bahwa keadaan mereka amat berbahaya karena mereka berada di tempat kediaman Koksu, berada di dalam sarang harimau.
Ada beberapa orang penjaga yang bingung tidak tahu apa yang harus mereka lakukan, berlagak hendak mencegah dua orang tahanan ini keluar.
Yang berani menghadang hanya empat orang penjaga.
Mereka melintangkan tombak menghadang dan berkata.
"Tanpa perkenan Koksu kalian tidak boleh keluar....!"
Empat kali Kwi Hong menggerakkan tubuhnya, empat kali terdengar suara.
"krekk! plakk!"
Dan empat batang tombak patah patah disusul tubuh empat orang penjaga itu terlempar ke kanan-kiri!
Adapun kakek cebol itu masih berteriak teriak memanggil nama Maharya, seolah-olah tidak melihat muridnya merobohkan empat orang penghalang tadi.
"Maharya pendeta palsu! Di mana engkau? Koksu, suruh pembantumu Si Pendeta konyol itu keluar....!"
"Ser serr serrr....!"
Tampak sinar menyambar dari kanan-kiri dan depan.
Dengan tenang sekali Kwi Hong menggerak gerakkan kedua lengan bajunya seperti yang dilakukan gurunya dan belasan batang anak panah yang menyambar ke arah mereka itu runtuh ke bawah.
"Ha ha ha, Im kan Seng-jin Bhong Ji Kun, beginikah seorang Koksu negara menghadapi tamu?"
Bu tek Siauw jin tertawa mengejek sedangkan Kwi Hong memandang ke depan dan kanan-kiri dengan alis berkerut marah.
Daun pintu besar yang menembus ruangan belakang gedung Koksu itu tiba-tiba terbuka dan muncullah Bhong koksu bersama Maharya dan belasan orang panglima yang menjadi kaki tangan dan sekutu Koksu itu, diiringkan pula oleh sepasukan tentara yang berjumlah lima puluh orang lebih bersenjata lengkap!
"Heh heh heh, Siauw jin.
Engkau adalah seorang hukuman, tanpa ijin Koksu berani membobol penjara dan merobohkan penjaga.
Sungguh tak tahu aturan!"
Maharya berkata sambil tertawa mengejek. Bu tek Siauw jin memandang dengan mata melotot.
"Siapa jadi orang hukuman? Kami menjadi tamu! Dan teka tekimu yang palsu itu mudah saja menjawabnya! Maharya, lekas kau ambil pisau penyembelih babi, lekas!"
Karena nada suara kakek cebol itu mendesak dan disertai pengerahan tenaga sin kang, maka mempunyai wibawa yang kuat sekali sehingga Maharya yang menjadi ahli sihir itu pun sampai terpengaruh dan otomatis bertanya heran.
"Pisau penyembelih babi? Untuk apa?"
"Ha ha ha ha! Untuk memotong ujung hidungmu yang terlalu panjang itu! Bukankah sudah begitu perjanjian antara kita? Kalau aku bisa menjawab teka-tekimu, engkau harus memotong ujung hidungmu, kemudian engkau, Koksu dan pendeta Tibet.... eh, mana Si Gendut itu, mengapa tidak ikut pula menyongsongku? Dan jangan lupa, Pulau Es dan Pulau Neraka juga harus dibangun kembali!"
"Siauw jin, kematian sudah berada di depan mata, engkau masih berani sombong. Orang macam engkau tak mungkin dapat menjawab pertanyaanku itu...."
"Apa? Pertayaan licik penuh akal bulus dan palsu itu siapa yang tidak dapat menjawabnya? Dengar baik baik, Maharya. Aku Sejati yang kau tanyakan itu adalah Aku Sejati yang palsu, khayalan pikiranmu sendiri yang kotor itu, yang hanya meniru niru dari orang lain yang sebetulnya juga tidak tahu apa-apa. Semua itu palsu, sepalsu hati dan pikiranmu, Maharya!"
"Ihhh, engkau gila....!"
Maharya membentak dengan muka merah.
"Paman guru, perlu apa melayani orang gila ini?"
Tiba-tiba Koksu berkata sambil mencabut pedang dengan tangan kanan dan mengeluarkan cambuk merah dengan tangan kiri, kemudian mengangkat cambuk ke atas sebagai aba aba.
Para panglima melihat ini lalu mencabut senjata mereka dan semua anak buah pasukan tentara pengawal juga siap dengan senjata masing-masing.
"Suhu, teecu rasa tidak perlu melayani mereka ini!"
Kwi Hong juga berkata dan tampaklah sinar berkilat mengerikan ketika dara itu sudah mencabut keluar pedang Li mo kiam! "Serbu....!"
Bhong koksu mengeluarkan aba aba dan menyerbulah pasukan pengawal dipimpin oleh belasan orang panglima itu.
Memang Koksu telah siap, untuk mengeroyok Bu tek Siauw jin dan karena dia tahu betapa lihainya kakek itu bersama muridnya yang memegang pedang mujijat, maka dia sendiri pun telah mengeluarkan pedangnya, sebatang pedang pusaka yang jarang dia pergunakan karena biasanya, dengan sebatang pecut merahnya saja Koksu ini sudah sukar menemukan tanding.
"Ha ha ha, pendeta palsu, Koksu pengecut!"
Bu tek Siauw jin tertawa-tawa ketika melihat pasukan pengawal itu menyerbu.
Akan tetapi Kwi Hong tidak seperti gurunya, dara ini sudah berkelebat ke depan didahului sinar pedangnya yang menyilaukan mata.
Para pengawal yang belum mengenal dara dan pedangnya yang mujijat itu, menerjang dengan senjata tombak, golok atau pedang.
"Singgg....
trang trang-krek krek krekkk....!"Tombak, golok dan pedang beterbangan di udara dalam keadaan patah patah, disusul pekik kaget dan kesakitan, pekik kematian dari mulut lima orang pengawal yang tak dapat menghindarkan diri dari sambaran sinar pedang Li mo kiam!
Melihat ini, terkejutlah semua anak buah pasukan dan mereka mengurung dan mengeroyok lebih hati-hati, dipimpin oleh belasan orang panglima yang memiliki ilmu kepandaian tinggi pula.
Karena maklum bahwa dia sama sekali tidak boleh memandang ringan pengeroyok yang jumlahnya amat banyak itu Kwi Hong tidak bertindak sembrono, Dan hanya berdiri di tengah tengah, pedang melintang depan dada, tidak bergerak dan hanya sepasang matanya yang indah itu saja yang bergerak, mengerling ke kanan-kiri menanti gerakan lawan.
Dua belas orang panglima yang menjadi kaki tangan Bhong koksu, yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi, dengan hati-hati mengurung Kwi Hong dan di belakang mereka bergerak, siap siaga dengan pengurungan yang amat nekat.
Tiba-tiba terdengar seorang panglima tertua mengeluarkan seruan sebagai aba-aba, dan puluhan anak buah mereka se-rentak dua belas orang panglima itu menerjang Kwi Hong dibantu oleh anak buah mereka dari belakang.
Kembali tubuh Kwi Hong berkelebat dan lenyap bersembunyi di balik sinar pedang yang amat menyilaukan mata, seperti kilat menyambar nyambar.
Dia berhasil mematahkan beberapa batang senjata lawan namun karena dua belas orang panglima itu memang sudah maklum akan keampuhan pedang di tangan gadis itu, mereka bersikap hati-hati dan tidak mau mengadu senjata sehingga Yang menjadi korban hanya senjata para pengawal yang berani menyerang terlalu dekat.
Betapapun juga, Kwi Hong tidak dapat mencurahkan perhatian untuk merobohkan lawan di depan karena dia dikepung ketat dan senjata senjata lawan datang bagaikan hujan di sekeliling tubuhnya, sedangkan tangan yang menggerakkan senjata-senjata itu pun tangan terlatih dan cukup kuat dan cepat.
Sementara itu, Maharya yang bersenjata sebatang tombak bulan sabit, senjata barunya setelah dia meninggalkan senjatanya yang dahulu berupa ular putih hidup dan sarung tangan emas, sudah menerjang maju melawan Bu tek Siauw-jin dibantu oleh Koksu yang bersenjatakan pedang di tangan kanan dan cambuk di tangan kiri.
"Ha ha ha, kalian ini tiada lebih hanyalah tukang tukang keroyok yang menjijikkan!"
Bu tek Siauw jin tertawa mengejek, akan tetapi dia harus cepat-cepat menghindar dan mengebutkan lengan bajunya karena ujung tombak bulan sabit itu telah menyambar ganas ke arah lehernya, disusul tusukan pedang Bhong koksu ke arah ulu hatinya dan sambaran cambuk ke arah ubun ubun kepalanya.
"Tarrr....!"
Sambaran cambuk yang datang terakhir itu tidak dielakkan dan ditangkis, melainkan diterima begitu saja oleh ubun ubun kepalanya, akan tetapi akibatnya, ujung cambuk itu membalik dan telapak tangan Bhong koksu lecet-lecet!
"Serang lima tempat dari mata ke bawah!"
Maharya berseru dan kini Bhong-koksu menerjang lagi membantu paman gurunya, menujukan serangan-serangannya ke arah kedua mata, tenggorokan, pusar, dan bawah pusar!
"Heh heh heh, Maharya pendeta palsu, dukun lepus!
Mari mari kita main main sebentar!"
Setelah berkata demikian, kakek pendek itu membalas dengan pukulan pukulan jarak jauh, kedua telapak tangannya mengeluarkan hawa pukulan yang amat kuat, Kadang-kadang mengandung hawa panas, kadang-kadang dingin sehingga Maharya maupun Bhong koksu berlaku hati-hati dan tidak berani menghadapi langsung pukulan pukulan itu, melainkan mengelak sambil mengirim serangan serangan balasan dari samping.
Dalam hal ini, hanya cambuk di tangan kiri Bhong koksu saja yang lebih berguna karena cambuk itu cukup panjang untuk mengirim serangan dari jarak jauh.
Sedangkan tubuh Maharya menyambar-nyambar, menggunakan kesempatan setiap Bu tek Siauw jin mengelak dari sambaran cambuk, menerjang dengan tombak bulan sabitnya.
Bu tek Siauw jin masih tertawa-tawa dan menghadapi mereka dengan kedua tangan kosong saja.
Memang kakek aneh dari Pulau Neraka ini sudah puluhan tahun meninggalkan senjata, dan hal ini pun tidaklah aneh kalau diingat bahwa dengan kaki tangannya dia sudah cukup kuat menghadapi serangan lawan.
Betapapun juga, menghadapi pengeroyokan dua orang sakti seperti Maharya dan Bhong koksu, kakek cebol ini repot juga dan biarpun mulutnya tertawa-tawa, dia harus memeras keringat untuk menghindarkan diri dari hujan serangan maut itu.
Tingkat kepandaiannya hanya lebih tinggi setingkat dari Maharya, dan mungkin tidak ada dua tingkat dari kepandaian Bhong koksu.
Untung bagi kakek cebol Pulau Neraka ini babwa dia kebal terhadap ilmu sihir biarpun dia sendiri tidak suka mempelajari ilmu itu sehingga kekuatan ilmu sihir yang dimiliki Maharya tidak ada artinya kalau ditujukan terhadap Bu tek Siauw jin dan di samping ini dia menang jauh dalam hal kekuatan sin kang, maka dia dapat menahan tekanan dua orang itu dengan tenaga sin kangnya.
Dibandingkan dengan gurunya, keadaan Kwi Hong lebih payah.
Dua belas orang panglima itu berkepandaian tinggi, dan andaikata hanya mereka yang mengeroyok, kiranya Kwi Hong akan mampu menandingi dan mengatasi mereka.
Akan tetapi, di samping dua belas orang panglima itu, masih terdapat puluhan, bahkan kini ratusan orang tentara pengawal yang mengepungnya!
Hal ini membuat dia lelah sekali setelah berhasil merobohkan tiga puluh orang lebih!
Tetap saja dia masih terkepung ketat karena yang datang jauh lebih banyak daripada yang roboh.
Kini, enam orang panglima yang me-lihat betapa Kwi Hong sudah terkepung ketat, meninggalkan pimpinan pengeroyokan kepada enam orang temannya dan mereka sendiri lalu membantu Bhong-koksu menyerbu Bu tek Siauw jin.
"He he he, bagus, bagus....! Majulah semua, maju yang banyak agar lebih menggembirakan....!"
Bu tek Siauw jin tertawa dan tiba-tiba tubuhnya roboh menelungkup ke depan, berputar dan tahu tahu kedua kakinya menendang ke belakang, inilah ilmu yang baru, Si Jengkerik menyentik atau Si Kuda (Lanjut ke
Jilid 37) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37 menyepak yang didapatkan ketika dia mengadu jengkerik.
Serangan ini amat tiba-tiba dan tidak terduga oleh Maharya dan Bhong koksu, sehingga biarpun mereka berdua cepat menghindar, tetap saja angin tendangan kedua kaki itu menyambar ke arah muka mereka dan celakanya tapak kaki itu berlepotan tanah sehingga muka mereka terkena tanah dan lumpur!
Pada detik detik berikutnya, terdengar jerit nyaring dan dua orang panglima roboh tewas terkena tendangan kaki yang kekuatannya tidak kalah oleh sepakan lima ekor kuda itu!
Andaikata Maharya atau Bhong koksu yang terkena sepakan itu, tentu paling hebat tubuh mereka akan terlempar.
Akan tetapi dua orang panglima yang tingkat sin kangnya kalah jauh itu, terkena sepakon pada dada mereka, seketika tewas dengan tulang tulang iga remuk dan jantung tergetar pecah!
"Tar tar tar....!"
Cambuk panjang di tangan Bhong koksu melecut seperti halilintar menyambar nyambar ke arah ke-pala Bu tek Siauw jin.
"Aihh.... wuuutt!"
Ujung cambuk itu terkena sambaran tangan Si Kakek cebol dan dicengkeramnya.
Tentu saja Bhong-koksu mempertahankan senjatanya itu dan mereka bersitegang.
Cambuk yang terbuat dari bahan yang ulet dan dapat mulur itu meregang dan tiba-tiba Bu tek Siauw jin melepaskan ujung cambuk.
Terdengar suara nyaring dan ujung cambuk ini menyambar ke arah muka Bhong koksu sendiri!
Bhong koksu kaget bukan main melepaskan gagang cambuk dan menundukkan muka merendahkan tubuh.
"Aduhhh....! Aduhhh....!"
Dua orang panglima pembantu yang berdiri di belakangnya berteriak dan roboh, merintih-rintih karena yang seorang kepalanya benjol besar dihantam gagang cambuk sedangkan orang ke dua kulit dadanya robek disambar ujung cambuk.
Dengan kemarahan meluap Bhong koksu kini menerjang maju dengan hanya mempergunakan pedangnya, sedangkan Maharya juga mendesak dengan tombak bulan sabitnya.
"Kwi Hong, kau larilah!"
Tiba-tiba tubuh kakek cebol itu berkelebat melewati di atas kepala Bhong koksu dan Maharya, sambil berteriak ke arah muridnya yang terdesak hebat dan terkurung ketat.
Akan tetapi, begitu tubuhnya tepat berada di atas kedua orang musuhnya terdengar suara memberobot disusul bau yang cukup membikin Bhong koksu dan Maharya merasa muak hendak muntah!
"Tidak, Suhu.
Kita hajar mampus semua anjing ini!"
Kwi Hong yang tahu-tahu melihat gurunya sudah berada di sampingnya dan dengan mudah mendorong dorong roboh beberapa orang pengeroyok, membantah.
"Hushhh, musuh terlampau kuat dan banyak. Buat apa mati konyol di sini? Heran sekali pamanmu, Pendekar Siluman itu. Ke mana saja dia minggat dan mengapa membiarkan kita dikeroyok tanpa membantu? Hayo kau pergi cari pamanmu, minta bantuannya!"
"Suhu yang harus pergi!"
"Hushhh, aku masih belum kenyang main main di sini. Pula, perutku mules ingin buang air besar. Lekas kau pergi keluar dari sini, cari pamanmu sampai dapat dan katakan, kalau dia tidak mau membantu aku, kelak akupun tidak sudi membantunya kalau dia membutuhkan tenaga bantuan. Hayo!"
"Tapi, Suhu sendiri...."
"Ihhhh, anak bandel! Sungguh tolol sekali aku mengapa mengambil murid engkau perawan bandel ini. Pergi, atau minta kugaplok?"
Kwi Hong maklum bahwa gurunya berwatak sinting, maka bukanlah tidak mungkin kalau dia benar benar akan digaploknya.
Dia masih penasaran melihat Bhong koksu dan Maharya belum roboh, akan tetapi dia mengerti juga kalau pertandingan ini dilanjutkan, dia tentu akan kehabisan tenaga dan akhirnya akan kalah.
"Baik, Suhu. Hati-hati menjaga dirimu Suhu!"
"Weh weh! Kau kira aku anak kecil, ya? Pakai ditinggali pesanan segala. Pergilah, aku membuka jalan!"
Kakek itu lalu menerjang ke depan, kedua lengannya bergerak dan setiap kedua lengan dikembangkan dan didorongkan, tentu pihak pengeroyok bubar dan terhuyung ke kanan-kiri, membuka jalan.
Kwi Hong berkelebat ke depan, tubuhnya dilindungi sinar pedang Li mo kiam sehingga senjata senjata rahasia dan anak panah yang berusaha mencegah dia lari, runtuh semua dan tak lama kemudian lenyaplah dia keluar dari tempat itu.
Kini kemarahan Bhong koksu dilimpahkan seluruhnya kepada Bu tek Siauw jin.
"Kakek tua bangka keparat! Kalau belum memenggal lehermu dengan pedangku, aku Im kan Seng jin takkan mau sudah!"
"Singg.... siuuutt....!"
Hampir berbareng, pedang di tangan Bhong koksu menyambar dari kanan dan tombak bulan sabit di tangan Maharya menyambar dari kiri.
Namun, tiba-tiba tubuh cebol itu roboh ke atas tanah.
Dua orang lawannya terkejut dan terpaksa menahan serangan dan bersikap waspada karena mengira bahwa si cebol itu tentu akan mengguna-nakan jurus tendangan menyepak yang lihai tadi.
Akan tetapi mereka kecele karena Si Cebol tua renta itu sama sekali tidak menendang, melainkan terus menggelundung menuju ke belakang dan keluar dari pintu memasuki taman.
"Kejar....!"
"Tangkap....!"
"Bunuh....!"
Teriakan teriakan nyaring ini keluar dari mulut para panglima dan pengawal, akan tetapi yang berkelebat lebih dulu melakukan pengejaran adalah Bhong-koksu dan Maharya.
Mereka mengejar ke dalam taman yang besar dan indah itu, akan tetapi tidak tampak bayangan Bu tek Siauw jin.
"Celaka, jangan jangan dia telah berhasil melarikan diri...."
Bhong koksu berkata.
"Belum tentu, kalau dia melompat keluar dari taman tentu kita tadi melihatnya,"
Kata Maharya sambil mencari terus ke seluruh taman.
Para panglima dan pasukan pengawal yang ikut mengejar telah tiba di situ pula, akan tetapi tidak ada seorang pun di antara mereka yang melihat bayangan kakek cebol yang lihai itu.
"Heiiii, kalian mencari apa? Aku berada di sini!"
Semua orang memandang dan kiranya kakek yang mereka cari-cari itu berada di atas pohon, duduk ongkang ongkang di atas dahan dalam keadaan telanjang bulat, pakaiannya tergantung di cabang pohon.
Tentu saja Bhong koksu dan Maharya marah sekali dan mereka sudah berlari menghampiri pohon yang berdiri di tepi telaga di dalam taman.
"Aku gerah sekali, lelah melayani kalian. Aku mau mandi lebih dulu nanti kita lanjutkan lagi."
Setelah berkata demikian, tubuh kakek cebol itu melayang ke bawah dan terjun ke dalam air telaga.
"Byuuurrr!"
Air muncrat tinggi dan sampai lama tubuh itu tenggelam.
Ketika dia muncul lagi yang tampak hanya kepala sebatas dada.
Kiranya telaga itu tidak dalam dan di dasarnya terdapat tanah lumpur sehingga ketika terjun tadi sebagian tubuh Bu tek Siauw jin terbenam ke dalam lumpur.
Tentu saja muka dan kepalanya penuh lumpur ketika dia tersembul keluar sambil megap-megap!
"Siauw jin, engkau akan mampus dalam keadaan yang lebih rendah daripada seorang siauw jin (manusia hina).
Engkau akan mampus seperti seekor anjing yang bangkainya hanyut di air!"
Maharya berseru dan kini semua orang telah mengurung telaga itu dengan senjata disiapkan.
Bu tek Siauw jin yang gelagapan tadi kini sudah mencuci kepala dan mukanya dengan air.
Air telaga itu jernih sekali, dan di situ terdapat banyak ikan emas peliharaan Koksu.
Sambil menyembur-nyemburkan air dari mulut dan menggosok kedua matanya, Bu tek Siauw jin memandang kepada Koksu dan Maharya, terkekeh gembira mempermainkan dan mengejek.
"Ha ha ha, sejak jaman dahulu, belum pernah kerajaan memiliki seorang Koksu segagah Im kan Seng jin Bhong Ji Kun, mengerahkan pasukan pengawal dan anjing peliharaan Maharya pendeta palsu untuk mengeroyok seekor anjing yang sedang mandi! Eh, Bhong koksu dan Maharya, tahukah engkau mengapa aku harus mandi dulu?"
Maharya yang sudah banyak pengalamannya dan maklum akan kelihaian kakek cebol itu, menahan gejolak kemarahan hatinya.
Dia pun tersenyum lebar, sungguhpun senyumnya agak pahit, kemudian berkata.
"Tentu saja aku tahu, Siauw jin. Memang tepat sekali kalau engkau mandi lebih dulu agar tubuhmu bersih, karena setelah mati tidak akan ada yang sudi membersihkan mayatmu. Biarlah engkau mati dalam keadaan bersih tubuhmu, kami sabar menantimu di sini."
Jawaban itu dikeluarkan dengan suara halus dan ramah, namun sebetulnya merupakan ejekan yang menyakitkan hati.
"Bukan! Bukan begitu! Jawabanmu ngawur dan memang sejak dahulu aku tahu engkau seorang manusia tolol dan berkedok pendeta biar dianggap suci dan pintar, Maharya! Akan tetapi engkau tidak bisa mengelabuhi aku! Engkau bertapa di puncak gunung-gunung, bukan untuk membersihkan batin melainkan untuk memupuk ilmu agar dapat kau pergunakan untuk merebut kemuliaan di dunia ramai! Engkau memakai cawat dan pakaian sederhana, makan seadanya, memamerkan hidup sederhana, bukan untuk mempertajam pandang mata batin melainkan kau pakai untuk kedok agar lebih mudah engkau menipu orang, seperti seekor srigala berkedok bulu domba. Mau tahu mengapa aku mandi? Karena sudah terlalu lama aku bertanding dengan kalian, dan terlalu banyak kotoran dari kalian mengotori tubuhku. Maka itu harus membersihkan dulu tubuhku agar tidak sampai keracunan oleh kotoran dari kalian tadi, ha ha ha!"
Bhong koksu marah bukan main.
Dia melambaikan tangan kiri memberi aba-aba dan mulailah para panglima dan anak buah mereka menyerang kakek cebol yang sedang mandi itu dengan senjata rahasia.
Beterbanganlah anak panah, piauw (pisau terbang), peluru besi, paku dan lain lain ke arah tubuh Bu tek Siauw jin.
Sambil tertawa kakek itu mengelak ke kanan-kiri kemudian tenggelam.
Karena pergerakannya, tentu saja air menjadi keruh dan tubuhnya tidak tampak.
Tahu tahu dia telah muncul jauh dari tempat sasaran dan kedua tangannya digerak gerakkan menyambit ke daratan.
Berhamburanlah air keruh, lumpur dan batu batu kecil ke arah para pengurungnya!
Bahkan ada dua buah benda kekuningan menyambar ke arah muka Koksu dan Maharya.
Dua orang ini cepat mengelak dan dua buah benda itu dengan tepat mengenai muka dua orang panglima yang berada di belakang Koksu dan Maharya.
"Plok! Plok! Uuhhhgg.... hak.... haek-haek....!"
Dua orang panglima itu muntah muntah karena dua "benda"
Yang mengenai mulut dan hidung mereka itu adalah tahi (kotoran manusia) yang lembek, lunak dan masih hangat!
Kiranya kakek cebol itu bukan hanya mandi, melainkan juga membuang air besar!
Kiranya dia tadi tidak membohong ketika menyuruh muridnya pergi dan dia ingin membuang air besar lebih dulu.
Pantas saja dia merendam tubuh bertelanjang bulat dan ketika ia membuang air besar diam diam ditampungnya kotoran dengan tangan dan kini dipergunakan untuk membalas serangan senjata rahasia lawan dengan "senjata rahasia"
Yang luar biasa itu! "Ha ha ha ha, benar benar anjing yang suka makan tahi!"
Bu tek Siauw jin tertawa bergelak, akan tetapi terpaksa harus slulup (menyelam) kembali karena dari pihak pengurungnya telah datang anak panah seperti hujan menyerang dirinya.
Terjadilah main kucing kucingan antara kakek cebol dan para pengurungnya.
Kalau dihujani serangan, dia menyelam, kemudian timbul di lain bagian sambil membalas dengan sambitan batu-batu dan lumpur.
Agaknya permainan ini mendatangkan kegembiraan besar di hati Bu tek Siauw jin, apalagi ketika dia berhasil mengotori pakaian Koksu dan sorban di kepala Maharya dengan lumpur membuat dua orang sakti itu memaki-maki dan menyumpah nyumpah.
Kakek cebol tertawa bergelak, mengejek ke kanan-kiri sambil menjulurkan lidah.
"Ambil minyak! Kita bakar permukaan telaga!"
Tiba-tiba Bhong koksu mengeluarkan perintah. Perintahnya ini hanya gertakan saja, akan tetapi cukup membuat Bu tek Siauw jin terkejut dan kha-watir.
"Wah, itu licik sekali namanya! Biar kulawan kalian lagi di atas daratan kalau begitu!"
Akan tetapi Bhong koksu, Maharya dan para panglima beserta anak buah mereka, telah menanti di tepi telaga, membuat kakek itu sukar mendarat dan terpaksa ke tengah telaga kembali sambil memaki maki.
"Kalian cacing cacing busuk, pengecut licik, tak tahu malu, ya?"
"Singgg.... cuppp....! Wirrrr!"
Maharya dan Bhong koksu terbelalak memandang gagang pedang yang tergetar di atas tanah di depan mereka itu, sebatang pedang yang tadi meluncur dari atas, menancap di atas tanah depan mereka.
Pada detik berikutnya, sesosok bayangan berkelebat dan tahu tahu di depan mereka, dekat pedang di atas tanah tadi, telah berdiri seorang wanita bertubuh tinggi langsing dan mukanya berkerudung, Ketua Thian liong pang!
"Pa....
paduka....?"
Bhong koksu berseru, lupa diri dan menyebut paduka kepada Ketua Thian-liong pang yang dikenalnya sebagai puteri kaisar, Nirahai.
"Aihhh, Ketua Thian liong pang hendak memberontak?"
Maharya juga berseru.
"Bhong Ji Kun manusia rendah budi, pengkhianat dan pemberontak hina! Engkaulah yang hendak mengkhianati kaisar, hendak memberontak dan bersekutu dengan orang-orang Mongol dan Tibet dibantu orang-orang Nepal, hendak menjatuhkan kaisar dan diperalat Pangeran Yauw Ki Ong yang hendak merebut tahta kerajaan. Berlututlah engkau pengkhianat busuk agar kutangkap dan kuhadapkan kaisar!"
Ketua Thian liong pang atau Puteri Nirahai itu membentak dengan suaranya yang nyaring.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Bhong koksu dan semua panglima yang menjadi kaki tangannya mendengar betapa rahasia mereka telah terbuka.
Untuk menyembunyikan rasa khawatirnya, Im kan Seng jin Bhong Ji Kun tertawa.
"Ha ha ha! Engkau puteri buronan, puteri pelarian yang telah mencemarkan nama kerajaan, berpura pura hendak bersikap seperti seorang setiawan. Kebetulan sekali, Nirahai, engkau menjadi musuh kerajaan dan hadapilah kematianmu di ujung pedangku sendiri!"
Bhong koksu melintangkan pedang di depan alisnya sedangkan Maharya telah menggerakkan senjata tombak bulan sabitnya.
"Haiii.... engkaukah Ketua Thian-liong pang? Gagah perkasa benar engkau, akan tetapi aku Bu tek Siauw jin tidak minta bantuanmu! Menghadapi coro coro kacoa bau itu aku belum membutuhkan bantuanmu!"
Bu tek Siauw jin berteriak teriak dari tengah telaga, kemudian meloncat ke darat dekat Ketua Thian liong-pang.
Nirahai, wanita berkerudung itu secepat kilat telah menyambar pedangnya yang tadi dilontarkan menancap tanah, ketika ia melirik ke kiri dari balik kerudungnya, mukanya menjadi merah padam melihat betapa kakek cebol di sebelahnya itu bertelanjang bulat!
"Kakek sinting, pergilah!"
Bentaknya ketus.
"Aku tidak butuh bantuanmu!"
Bu tek Siauw jin mengerutkan alisnya, menghadapi Nirahai dan bertolak pinggang, lupa sama sekali betapa lucu sikapnya, bertolak pinggang membusungkan dada tipis dan sama sekali tidak berpakaian!
"Wah wah weh weh!
Siapa yang membantu dan siapa yang dibantu?
Sebelum kau muncul aku sudah mereka keroyok sampai kelelahan dan terpaksa aku mandi dan buang air dulu.
Engkau mau dibantu atau tidak, aku terpaksa harus menggempur mereka ini, terutama si botak Koksu dan si palsu Maharya!"
Maharya, Bhong koksu, dan lima orang panglima sudah menerjang maju, tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
Bhong koksu yang menganggap bahwa Nirahai lebih berbahaya, bukan ilmunya karena mungkin Si Kakek cebol itu lebih sakti, melainkan berbahaya karena Nirahai telah mengetahui rahasianya, sudah cepat-cepat menerjang Nirahai dengan pedangnya.
Pedang itu dengan gerakan cepat membabat leher Nirahai, ketika dielakkan dilanjutkan dengan tusukan ke arah perut yang dapat ditangkis pula oleh pedang Nirahai, akan tetapi pedang di tangan Koksu yang seperti hidup, tahu tahu sudah membabat ke arah kedua kaki lawan!
Nirahai maklum bahwa lawannya bukan orang sembarangan, melainkan seorang ahli silat tinggi yang sakti, maka cepat tubuhnya mencelat ke atas, kedua kakinya ditarik ke atas menghindarkan babatan pedang, namun kaki itu tidak hanya mengelak saja, melainkan dari atas mengirim tendangan beruntun ke arah dada dan muka lawan!
"Wuuut!
Wuuutt!"
Bhong koksu berseru kaget dan nyaris dagunya tercium ujung sepatu lawan kalau saja dia tidak cepat-cepat mencelat mundur.
Dan keadaannya yang terdesak itu tertolong oleh majunya tiga orang panglima pembantunya yang mengurung dan menyerang Nirahai sehingga wanita berkerudung itu tidak dapat mendesak Bhong koksu yang dibencinya.
Biarpun dihadapi tiga orang panglima yang rata rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, Nirahai masih dapat mencelat melalui mereka dan pedangnya menyambar ke arah Maharya yang berada di tempat lebih dekat dengannya daripada Bhong koksu yang melompat mundur tadi.
Dia sengaja menyerang pendeta ini karena dia maklum bahwa di antara para pembantu Bhong koksu, pendeta inilah yang paling berbahaya.
Pedangnya yang berkelebat seperti halilintar menyambar itu mengejutkan Maharya yang cepat menggerakkan tombak bulan sabitnya sambil membentak.
"Robohlah!"
Tangkisan Maharya dengan tombaknya mengenai pedang Nirahai, menimbulkan bunyi nyaring sekali, dan bentakannya tadi mengandung pengaruh mujijat ilmu sihirnya, namun selain Nirahai telah memiliki sin kang yang amat kuat, juga muka wanita ini terlindung kerudung sehingga sinar mata Maharya yang penuh kekuasaan mujijat itu tidak mempengaruhinya.
Namun, tetap saja bentakan itu mendatangkan getaran hebat bagi Nirahai yang cepat mengerahkan sin kang melindungi jantungnya.
Lebih hebat lagi, tangkisan tombak kepada pedang itu disambung dengan meluncurnya tiga batang jarum yang keluar dari leher tombak menyambar ke arah Nirahai!
"Pendeta curang...!"
Tiba-tiba Bu tek Siauw jin berteriak dan tiga batang jarum beracun itu runtuh semua oleh sambitan Si Kakek cebol ini yang menggunakan lumpur!
Sambitan ini menyelamatkan Nirahai sungguh pun belum tentu wanita perkasa ini akan menjadi korban jarum andaikata tidak dibantu Bu tek Siauw jin, akan tetapi baju Nirahai terkena noda sedikit lumpur.
"Singgg.... wuuusss.... hayyaaa....!"
Bu tek Siauw jin menggulingkan tubuhnya ketika tiba-tiba pedang Nirahai menyambar ke arah lehernya!
"Wah wah, Ketua Thian liong pang benar ganas!
Diberi madu membalas racun!
Ditolong membalas dengan niat membunuh!"
"Siapa membutuhkan pertolonganmu? Engkau mengganggu saja!"
"Weh weh, sombongnya! Kalau tidak kubantu, apa engkau kira akan mampu menang melawan mereka ini?"
"Aku tidak sudi dibantu orang gila tak tahu malu. Hayo berpakaian dulu kau, kakek tua bangka tak bermalu, baru kita bicara tentang bantuan!"
Nirahai terpaksa sudah meninggalkan Bu tek Siauw jin lagi untuk mengamuk dengan pedangnya karena Bhong koksu dan Maharya sudah menerjangnya lagi.
Suara pedangnya menangkis senjata mereka dan senjata para panglima terdengar nyaring berdenting dan bertubi tubi kemudian terdengar teriakan dua orang pengawal yang roboh terkena sambaran sinar pedang wanita berkerudung yang sakti itu.
Bu tek Siauw jin yang merasa penasaran karena tidak boleh ikut bertanding, sambil mengomel meloncat ke atas pohon menyambar pakaiannya dan karena tergesa gesa mengenakan pakaiannya beberapa kali dia memakai pakaian dengan terbalik!
Akhirya selesai juga dia berpakaian.
"Thian liong pangcu! Lihat aku sudah sopan sekarang, sudah berpakaian, uh uh! Pikiran gila yang menganggap bahwa berpakaian tanda sopan! Hayoh kita berlomba, siapa lebih banyak merobohkan cacing cacing tanah ini!"
Dari atas, tubuh yang cebol itu melayang turun, berputar putar seperti ge-rakan seekor anak burung belajar terbang dan akhirnya tubuh cebol itu menyambar dari atas ke arah kepala Maharya.
Memang pendeta inilah yang dicarinya!
Begitu Bu tek Siauw jin menyambar, kakek cebol ini menggunakan tangan kiri menyambar lengan yang memegang tombak bulan sabit, tangan kanan mencengkeram ke arah ubun ubun kepala, kedua kaki menendang bergantian ke arah punggung dan lambung sedangkan mulutnya masih mengeluarkan suara "cuhhh!"
Meludah ke arah tengkuk Maharya!
Diserang secara luar biasa itu, Maharya gelagapan.
Dia dapat menyelamatkan diri dengan memutar senjatanya melindungi kepala dan membuang tubuh ke bawah lalu bergulingan, akan tetapi tetap saja dia tidak dapat mengelak dari air ludah yang berubah menjadi hujan kecil menimpa sebagian dagunya!
"Siauw jin manusia kotor!"
Dia membentak setelah mencelat berdiri lagi sambil menyerang ganas, dibantu oleh beberapa orang panglima.
Bu tek Siauw jin maklum akan kelihaian Maharya dan para pembantunya, cepat dia menggerakkan kaki tangan untuk mengelak dan menangkis, mulutnya tertawa-tawa mengomel.
"Heh heh, kau kira engkau ini manusia bersih? Mana lebih baik kotor luarnya bersih dalamnya dibandingkan dengan engkau yang bersih luarnya kotor dalamnya? Heh heh heh! Aku memang Bu tek Siauw jin, namaku saja sudah manusia rendah, apanya yang aneh kalau aku kotor! Engkau adalah seorang pendeta, baik pakaian maupun namamu menunjukkan bahwa engkau pendeta, akan tetapi sepak terjangmu sama sekali berlawanan!"
"Mampuslah!"
Maharya membentak dan senjatanya yang ampuh itu sudah menyambar dan tampak sinar kilat berkelebat.
Namun, dengan tubuhnya yang cebol, Bu tek Siauw jin dapat mencelat ke kiri, kakinya menendang sebatang golok di tangan seorang pengawal yang mencoba menyerangnya.
Pengawal itu terhuyung ke depan, diterima oleh pinggul kakek cebol yang digerakkan ke samping.
"Desss! Augghh....!"
Tubuh pengawal yang kena disenggol pinggul kakek itu terlempar dan menabrak dua orang temannya sendiri sehingga mereka bertiga jatuh terguling guling.
Hanya Maharya dan Bhong koksu saja yang masih dapat menandingi amukan Bu tek Siauw jin dan Nirahai secara ber-depan, sedangkan para panglima dan anak buah mereka yang banyak jumlahnya itu hanya berteriak teriak dan membantu mengurung serta menyerang kalau ada kesempatan, dari kanan-kiri atau belakang, Karena amukan kakek cebol dan wanita berkerudung itu benar benar amat dahsyat dan sudah banyak jatuh korban di antara para pengawal yang berani menyerang terlampau dekat.
Memang kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Maharya masih kalah tinggi oleh Bu tek Siauw jin, sedangkan Bhong koksu pun masih kalah setingkat oleh Nirahai yang pada tahun tahun yang lalu memperoleh kemajuan banyak sekali berkat mengambil inti sari ilmu-ilmu silat tinggi dari partai partai lain.
Akan tetapi, dengan bantuan pengeroyokan banyak anak buah mereka, sedangkan para panglima yang membantu juga memiliki kepandaian lumayan, maka kakek cebol dan wanita berkerudung itu terkurung ketat dan belum juga mampu merobohkan Maharya dan Bhong koksu.
Tiba-tiba muncul belasan orang Tibet dan Mongol yang memiliki gerakan cepat dan jelas bahwa tingkat mereka lebih tinggi daripada kepandaian para panglima.
Mereka adalah bala bantuan yang didatangkan oleh seorang panglima dan kini mereka langsung menerjang maju mengeroyok Bu tek Siauw jin dan Nirahai!
Terpaksa dua orang yang terkurung itu kini saling membantu dengan beradu punggung saling membelakangi.
Bu tek Siauw jin sudah mandi keringat.
Kakek ini telah merampas sebatang toya dan melindungi tubuhnya dengan toya itu sampai senjata itu remuk, lalu dirampasnya sebatang golok untuk melanjutkan gerakannya melindungi tubuh sendiri dari serangan yang datang bagaikan hujan lebatnya.
"Kita harus keluar dari sini,"
Tiba-tiba Bu tek Siauw jin berkata kepada Nirahai di belakangnya.
"Hemmm, apakah engkau takut?"
Nirahai balas bertanya dan ujung sepatu kirinya berhasil merobohkan seorang Nepal, dengan menendang pusar orang itu sehingga roboh berkejotan untuk tak dapat bangun kembali.
"Siapa takut? Yang terlalu adalah Pendekar Super Sakti, sampai sekarang pun tidak muncul batang hidungnya. Terlalu ini namanya! Aku sendiri yang disuruh menghadapi cacing-cacing ini!"
"Aku tidak butuh bantuan dia atau siapa juga!"
Mendengar disebutnya Pendekar Super Sakti, Nirahai marah.
"Kalau kau takut, pergilah. Aku tidak butuh bantuanmu."
"Eh-eh, benar-benar kau wanita sombong dan galak! Untung bukan isteriku!"
Nirahai terbelalak di balik kerudungnya dan memutar pedangnya menangkis serangan yang datang bertubi-tubi sehingga tampak bunga api berpijar menyusul suara berdencing nyaring.
"Apa kau bilang? Mengapa untung?"
"Punya isteri galak macam engkau benar-benar mendatangkan neraka dunia!"
Bu-tek Siauw-jin berkata lagi.
"Sudah dibantu, tidak menerima malah bicara galak dan sombong. Eh, Thian-liong-pangcu, aku menganjurkan kita keluar dari sini bukan karena takut melainkan aku khawatir saat ini perkumpulanmu sedang dihancurkan oleh mereka!"
"Apa....?"
"Bodoh! Apakah engkau melihat pembantu-pembantu mereka itu lengkap? Engkau kena dipancing di sini, kalau kau tidak cepat-cepat keluar menolong perkumpulanmu, akan habislah Thian-liong-pang!"
Karena percakapan itu dilakukan dengan suara keras, tentu saja terdengar oleh Bhong-koksu yang tertawa bergelak.
"Si Cebol busuk ini benar-benar pandai! Memang sekarang Thian-liong-pang sedang kami gempur habis, ha-ha!"
"Singgg.... tranggg....!"
Bhong-koksu terkejut dan cepat dia melempar tubuhnya ke belakang.
Serangan Nirahai tadi benar-benar hebat bukan main, dilakukan dengan pengerahan seluruh tenaga saking marahnya sehingga tangkisan Bhong-koksu membuat kakek ini terpental dan hampir saja pundaknya tercium pedang lawan.
Para pembantunya, orang-orang Tibet dan Mongol yang lihai segera mengurungnya kembali.
Kini dua orang sakti itu mengamuk lagi, akan tetapi kalau tadi mengamuk untuk membunuh lawan sebanyaknya, kini mereka mengamuk untuk membuka jalan darah dan keluar dari tempat itu, keluar dari taman istana Koksu untuk menyelamatkan Thian-liong-pang.
Tentu saja Nirahai yang mempunyai keinginan ini, sedangkan Bu-tek Siauw-jin sama sekali tidak peduli akan nasib Thian-liong-pang karena dia sendiri ingin mencari muridnya disamping sudah lelah sekali bertempur sejak tadi.
Sudah bosan dia dan ingin menyusul muridnya, ingin bertemu dengan Pendekar Super Sakti yang dikagumi akan tetapi yang juga menimbulkan kemendongkolan hatinya karena sampai sekian lamanya pendekar itu tidak muncul juga membantunya!
Adapun Bhong-koksu dan Maharya yang maklum bahwa dua orang itu berusaha keluar dari kepungan, berkali-kali meneriakkan aba-aba untuk mengepung lebih ketat lagi sehingga terjadilah pertandingan yang lebih hebat dan mati-matian.
Dugaan Bu-tek Siauw-jin memang benar.
Biarpun kakek cebol ini kelihatan sinting dan ketolol-tololan, namun dia adalah seorang yang sudah berpengalaman dan berada di tempat itu selama beberapa hari, mendengar percakapan-percakapan antara Koksu dan Nirahai, percakapan-percakapan yang dilakukan para pengawal ketika dia dan muridnya ditahan, sudah cukup baginya untuk mengerti duduknya perkara.
Dugaannya bahwa Thian-liong-pang diserang selagi ketuanya mengamuk di taman, memang tepat sekali.
Hal ini memang sudah direncanakan oleh Bhong-koksu yang menganggap bahwa kalau Thian-liong-pang belum dihancurkan lebih dahulu, tentu perkumpulan yang amat kuat itu akan menjadi penghalang bagi pemberontakan yang diaturnya bersama Pangeran Yauw Ki Ong karena Nirahai tentu akan memimpin perkumpulan-nya itu untuk membela ayahnya kaisar.
Pada saat Nirahai dan Bu-tek Siauw-jin mengamuk di taman istana koksu, sepasukan tentara dipimpin oleh Thian Tok Lama, Bhe Ti Kong panglima tinggi besar tangan kanan Koksu, dan beberapa orang panglima yang berkepandaian tinggi dibantu pula oleh orang-orang yang menjadi jagoan-jagoan dari Nepal dan Tibet, menyerbu markas besar Thian-liong-pang di luar kota raja.
Karena puteri Ketua Thian-liong-pang, Milana sudah mengetahui akan rahasia Bhong-koksu dengan persekutuan pemberontaknya, maka begitu ibunya meninggalkan markas untuk membuat perhitung-an dengan Koksu, dara perkasa ini telah mengadakan persiapan.
Penjagaan dilakukan dengan ketat dan dibantu oleh para tokoh Thian-liong-pang, yaitu Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok Si Kakek Muka Singa, dan para pembantu lainnya.
Jumlah anak buah Thian-liong-pang bersama para pemimpinnya yang berkumpul di tempat itu masih ada kurang lebih seratus orang.
Mereka semua siap sedia menanti perintah dari puteri ketua mereka dan di lain pihak Milana juga menanti kembalinya ibunya dengan hati penuh ketegangan karena dia maklum bahwa pasti akan terjadi sesuatu yang hebat berhubungan dengan pemberontakan yang diatur oleh Pangeran Yauw Ki Ong dan dibantu oleh Koksu itu.
Karena persiapan yang telah diadakan oleh Milana dan para tokoh Thian-liong-pang inilah, maka ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan pengawal yang dipimpin oleh Thian Tok Lama, terjadi pertempuran yang amat seru dan hebat.
Pihak Thian-liong-pang mengadakan perlawanan mati-matian dan karena rata-rata anggauta Thian-liong-pang memiliki ilmu silat yang cukup tangguh, maka biarpun pasukan tentara lebih besar dan lebih kuat, tidak mudah bagi mereka untuk menumpas Thian-liong-pang tanpa jatuh banyak korban di pihak tentara.
Betapapun juga, ilmu kepandaian Thian Tok Lama amat lihai dan betapapun para tokoh Thian-liong-pang membela diri mati-matian, Tak seorang pun di antara mereka yang mampu menandingi pendeta Lama dari Tibet yang kosen ini.
Agaknya hanya Milana seoranglah yang hampir dapat mengimbanginya, akan tetapi pada saat penyerbuan terjadi, Milana telah dikepung dan dikeroyok oleh lima orang Nepal dan dua orang Tibet pembantu Thian Tok Lama, sedangkan Lama itu sendiri memimpin orang-orangnya menyerbu ke dalam dan mengamuk, ditahan oleh Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang, dan Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok.
Terjadilah pertandingan dahsyat di sebelah luar dan dalam markas Thian-liong-pang.
Pertandingan mati-matian yang berlangsung sampai setengah hari lebih!
Betapa gigih para tokoh Thian-liong-pang mempertahankan diri, tanpa adanya ketua mereka di situ, akhirnya mereka itu runtuh juga.
Seorang demi seorang roboh dan tewas, mula-mula Tang Wi Siang tewas oleh Thian Tok Lama, kemudian Lui-hong Sin-ciang Chie Kang bahkan Sai-cu Lo-mo Bhok Toan Kok juga terluka parah dan hanya karena di situ tidak ada ketuanya maka kakek ini memaksa diri untuk lari, bukan karena dia takut mati, melainkan agar kelak dia dapat melaporkan kepada ketuanya, apalagi setelah dilihatnya betapa puteri ketuanya tertawan oleh Thian Tok Lama.
Hanya beberapa orang saja yang berhasil lolos dari maut dalam penyerbuan itu, dan seperti juga Sai-cu Lo-mo, para anggauta Thian-liong-pang yang berhasil lolos dan melarikan diri itu menderita luka-luka parah.
Karena telah dapat menghancurkan Thian-liong-pang dan terutama sekali dapat menawan Milana, Thian Tok Lama tidak melakukan pengejaran terhadap sisa orang Thian-liong-pang.
Hari telah menjadi sore dan dia hendak cepat-cepat membawa Milana sebagai tawanan ke kota raja.
Dara itu merupakan seorang tawanan penting sekali, karena dengan adanya dara itu sebagai sandera, tentu Ketua Thian-liong-pang tidak akan mampu berbuat hal-hal yang akan merugikan persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Yauw Ki Ong dan Bhong-koksu.
Berangkatlah sisa pasukan pengawal yang tinggal separuh itu meninggalkan markas Thian-liong-pang yang telah terbasmi dan telah mereka bakar, menuju ke kota raja.
Milana dengan kedua tangan terbelenggu, menjadi tawanan dan dinaikkan ke atas punggung seekor kuda, digiring di tengah-tengah mereka dan dikawal sendiri oleh Panglima Bhe Ti Kong, Thian Tok Lama dan para pembantunya.
Yang menjadi pelopor di depan adalah jagoan-jagoan Nepal!
Yang bersorban dan rata-rata bertubuh tinggi besar.
Mereka merasa bangga karena dalam kemenangan ini mereka melihat tanda yang baik bahwa persekutuan mereka akan berhasil, dan kalau kaisar berhasil dijatuhkan, tentu mereka akan memperoleh kedudukan tinggi bukan hanya dari kaisar baru, akan tetapi terutama dari raja-raja mereka sendiri karena Pangeran Yauw Ki Ong sudah menjanjikan persahabatan, bukan penaklukan se-perti sekarang, kepada Nepal, Mongol dan Tibet.
Karena hari sudah hampir gelap dan perjalanan melalui sebuah hutan besar, maka pasukan itu melakukan perjalanan cepat.
Terdengar suara derap kaki kuda mereka bergema di dalam hutan dan pasukan yang berjalan kaki mengikuti dari belakang setengah berlari.
Sembilan orang jagoan Nepal yang merasa berjasa dan bergembira, tidak dapat menahan kegembiraan hati mereka dan terdengarlah suara mereka bernyanyi-nyanyi dalam bahasa Nepal ketika mereka membedal kuda tunggangan mereka mendahului pasukan karena memang mereka menjadi pelopor.
Aneh dan janggal sekali suara mereka itu, suara asing yang bergema di sepanjang hutan yang dilalui pasukan itu.
Kadang-kadang suara nyanyi hiruk pikuk panjang pendek itu diseling suara ketawa dan teriakan-teriakan mereka bersendau-gurau.
Semua ini diperhatikan dan didengarkan oleh Milana yang duduk dengan sikap tenang di atas kudanya.
Dara perkasa ini merasa berduka mengingat akan kehancuran Thian-liong-pang dan kematian tokoh perkumpulan ibunya.
Namun sedikit pun dia tidak merasa gelisah atau takut.
Hanya terpaksa dia ditawan.
Akan tetapi setiap saat ia bersiap untuk melawan dan memberontak jika terdapat kesempatan.
Satu-satunya hal yang dikhawatirkannya hanyalah keadaan ibunya.
Ibunya belum tahu akan malapetaka yang menimpa Thian-liong-pang dan dia tidak tahu di mana adanya ibunya, akan tetapi dia dapat menduga bahwa tentu ibunya juga terancam bahaya besar yang direncanakan oleh Koksu dan kaki tangannya.
Dengan sikap angkuh dan agung Milana mengerling kepada Thian Tok Lama dan Panglima Bhe Ti Kong yang menunggang kuda di dekatnya.
Panglima itu menjadi orang kepercayaan Koksu dan kedua orang ini, terutama Thian Tok Lama, yang mengawal dan menjaganya.
Kalau saja tidak ada pendeta Tibet itu, agaknya masih ada harapan baginya untuk meloloskan diri.
Akan tetapi pendeta gundul itu benar-benar amat lihai.
"Tidak enakkah dudukmu, Nona? Menyesal sekali, terpaksa kami membelenggu kedua tanganmu."
Terdengar Panglima Bhe Ti Kong berkata.
Milana tidak menjawab, juga tidak menoleh sama sekali, melainkan tetap duduk tegak memandang ke depan seolah-olah tidak mendengar suara panglima itu.
Betapapun juga, dia adalah puteri Ketua Thian-liong-pang, malah lebih jelas lagi, puteri dari Puteri Nirahai!
Dia adalah cucu kaisar!
Kedudukannya jauh lebih tiggi daripada kedudukan seorang panglima pembantu Koksu.
Dengan pikiran ini, Milana dapat duduk dengan tegak dan sikap agung dan sikap ini terasa sekali oleh Bhe Ti Kong maupun Thian Tok Lama.
"Hemm, tiada gunanya bersikeras. Hanya orang bodoh dan tidak bijaksana saja yang tidak mampu menghadapi kekalahan dan berkeras kepala."
Kembali Bhe Ti Kong berkata karena diapun tahu bahwa dara jelita dan perkasa itu adalah cucu kaisar, merupakan seorang tawanan yang amat penting dan membuat dia merasa tidak enak sendiri.
Milana tersenyum mengejek, mengerling dan berkata.
"Perlu apa banyak cerewet? Tunggulah saja kalau sampai kalian terjatuh ke tangan ibuku!"
Pada saat itu, sebelum Bhe Ti Kong atau Thian Tok Lama menjawab, tiba-tiba terdengar teriakan mengerikan di sebelah depan.
Sampai tiga kali terdengar jerit mengerikan itu jerit memanjang, jerit orang yang ketakutan, jerit kematian.
Setelah gema suara jerit itu lenyap, yang terdengar hanya derap kaki kuda dan suasana menjadi menyeramkan dan menegangkan sekali.
"Harap Ciangkun menjaga dia baik-baik, pinceng akan mengadakan pengawalan di belakang. Kumpulkan semua tenaga untuk mengawal dia,"
Kata Thian Tok Lama.
Bhe Ti Kong mengangguk, kemudian memanggil para panglima dan jagoan-jagoan Nepal, dan pasukan itu bergerak maju, Milana di tengah-tengah mereka, dijaga ketat.
"Apakah yang terjadi? Siapa yang menjerit tadi?"
Bhe Ti Kong bertanya. Para pelopor, jagoan-jagoan Nepal itu mengangkat bahu.
"Kawan-kawan yang berada di depan tentu akan dapat memberi keterangan nanti,"
Kata mereka.
Mereka adalah tiga orang di antara sembilan jagoan Nepal yang tadi bernyanyi-nyanyi dan tertawa-tawa.
Adapun yang enam orang lain telah mendahului gerakan pasukan sebagai pelopor dan pembuka jalan, juga sebagai pengawas agar jalan yang akan mereka lalui aman.
Milana tetap duduk tegak di atas kudanya dengan tenang.
Dikurung di tengah-tengah antara para panglima dan jagoan Nepal, kudanya lari mencongklang, membuat tubuhnya terayun-ayun mengikuti gerakan kuda, dan rambut dara yang panjang itu berkibar.
Mereka memasuki bagian hutan yang lebat dan keadaan sudah mulai suram dan agak gelap.
"Haiii....! Lihat di depan itu....!"
Tiba-tiba Bhe Ti Kong berteriak, disusul seruan-seruan kaget para jagoan Nepal yang cepat membalapkan kuda mereka menuju ke depan di mana tampak sesosok tubuh orang bersorban membujur di atas tanah.
Milana memandang dengan jantung berdebar.
Dari jauh saja dia sudah dapat melihat bahwa orang yang rebah di atas tanah di tengah jalan itu tentulah seorang di antara jagoan Nepal yang tadi bernyanyi-nyanyi.
Dugaannya memang tepat.
Setelah mereka datang dekat dan para jagoan Nepal bersama Panglima Bhe Ti Kong meloncat turun dari kuda memeriksa, ternyata bahwa tubuh itu adalah mayat seorang di antara para jagoan Nepal yang mendahului jalan, rebah telentang dan tewas dengan sebatang pisau, pisaunya sendiri yang menjadi kebanggaan para jagoan Nepal itu, menancap di tenggorokannya!
Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda membalap dari arah depan dan belakang.
Hampir berbareng dua orang penunggang kuda itu tiba di situ.
Yang datang dari belakang adalah Thian Tok Lama yang telah mendengar akan kematian seorang pembantunya dari Nepal, adapun yang datang dari depan adalah seorang jagoan Nepal lain yang bermuka pucat dan yang begitu datang melapor dengan suara terengah-engah kepada Thian Tok Lama.
"Celaka.... di depan ada lagi tiga orang teman yang tewas....!"
Thian Tok Lama terkejut dan marah sekali.
Sambil mengeluarkan suara menggereng keras dia melayang turun dari atas punggung kudanya, berdiri dan memandang ke depan, mulutnya mengeluar-kan suara yang nyaring melengking sampai bergema di seluruh hutan.
"Pinceng Thian Tok Lama memimpin pasukan khusus dari Koksu, siapakah begitu berani mati menggang-gu kami dan membunuh empat orang anggauta pengawal pasukan kami?"
Semua orang diam dengan hati tegang membuka mata dan telinga menanti jawaban dan keadaan di hutan itu sunyi sekali, sunyi dan menyeramkan.
Sampai dua kali Thian Tok Lama mengulang teriakannya namun belum juga ada ja-waban.
Suara Milana yang tertawa mengejek memecahkan kesunyian yang menyeramkan itu.
"Hem, mengapa kalian begini ketakutan?"
Dara itu mengejek, hanya untuk memperolok orang-orang yang di-bencinya itu.
Dia sendiri tidak tahu siapa pembunuh orang-orang Nepal itu, tidak dapat menduga apakah pembunuh itu kawan ataukah lawan.
Melihat caranya membunuh jagoan-jagoan Nepal yang lihai jelas dapat diduga bahwa pembunuhnya tentulah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi dia yakin bukan ibunya yang melakukan hal itu.
Cara yang dipergunakan ibunya selalu terbuka, tidak suka ibunya membunuh lawan secara menggelap macam itu.
Ibunya adalah seorang gagah perkasa sejati sedangkan cara yang dipergunakan pembunuh ini menyeramkan penuh rahasia.
Tiba-tiba terdengar suara yang nyaring, seolah-olah menyambut atau menjawab pertanyaan mengejek dari Milana tadi.
"Kalau Nona Milana tidak segera dibebaskan, sebentar lagi bukan hanya para pelopor yang tewas, melainkan seluruh pasukan! Berani melawan dan menghina tunanganku, berarti bosan hidup!"
Diam-diam Milana terkejut dan kecewa sekali mendengar suara yang dikenalnya itu.
Dia merasa gelisah.
Tahulah dia bahwa yang membunuh orang-orang Nepal itu adalah pemuda Pulau Neraka yang amat dibencinya itu, dibenci akan tetapi juga ditakutinya.
Namun tentu saja dara jelita ini tidak memperlihatkan rasa khawatirnya dan masih tetap bersikap biasa dan tenang seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang membuat dia merasa khawatir.
Tentu saja Thian Tok Lama menjadi marah sekali.
Dia tidak tahu dan tidak dapat menduga siapa orang yang mengeluarkan kata-kata sombong itu, akan tetapi dia menduga bahwa tentulah orang itu berniat merampas tawanan.
Satu-satunya orang yang ditakutinya di dunia ini hanyalah Pendekar Super Sakti, dan biarpun dia tahu bahwa Ketua Thian-liong-pang juga amat lihai dan mungkin saja ketua itu tiba-tiba muncul untuk menolong puterinya, namun dengan bantuan para jagoan-jagoan Nepal dan pasukannya yang kuat, dia merasa cukup kuat menghadapi bekas puteri kaisar itu.
"Siapa berani main-main dengan pinceng? Harap suka keluar untuk bicara!"
Kembali Thian Tok Lama mengeluarkan seruan dengan pengerahan khi-kang sehingga suaranya mengandung getaran berpengaruh.
"Blarrr....!"
Sebuah ledakan keras me-ngejutkan semua orang.
Tempat itu menjadi gelap tertutup asap hitam.
Seorang panglima yang berlaku waspada cepat meloncat dekat kuda yang diduduki Milana untuk menjaga jangan sampai dalam keadaan gelap itu tawanan yang penting ini dilarikan orang.
"Pasukan tenang, jangan gugup dan mudah dikacau orang. Asap ini tidak berbahaya....!"
Thian Tok Lama berseru ketika ia mendapat kenyataan bahwa asap hitam itu tidak mengandung racun.
Sedangkan dia sendiri diam-diam bergerak di dalam asap, memasang mata untuk mencari musuh yang melepas asap hitam tebal.
Akan tetapi tidak tampak ada gerakan sesuatu, maka diapun hanya berdiri dan bersikap waspada karena untuk bergerak di dalam selimutan asap gelap itu benar-benar merupakan bahaya, salah-salah bisa menyerang anak buah sendiri.
"Wir-wir-wirrr....!"
Asap hitam membuyar tertiup angin yang menyambar-nyambar sehingga tak lama kemudian tempat di sekitar itu tidak begitu gelap lagi.
Asap hitam mulai menipis.
Thian Tok Lama memandang dengan mata terbelalak, kaget bukan main melihat bahwa angin yang menyambar-nyambar mengusir asap hitam itu keluar dari gerakan kedua lengan seorang pemuda tampan yang tahu-tahu telah berdiri di dekat kuda yang ditunggangi Milana, sedangkan seorang panglima tua yang tadi mendekati dan menjaga tawanan telah menggeletak tak bernyawa di kaki kudanya sendiri!
"Keparat, siapa engkau....?"
Thian Tok Lama sudah menggerakkan tangan dan siap menyerang.
Pemuda itu mengangkat tangan kanannya ke atas dan terdengar suaranya tertawa.
Thian Tok Lama merasa seram.
Pemuda itu tertawa, atau lebih tepat, memperdengarkan suara tertawa, akan tetapi mulut dan matanya tidak tertawa, hanya bibirnya bergerak sedikit.
Persis mayat tertawa!
"Ha-ha-ha-ha, pendeta Lama.
Kalau aku menjadi engkau, aku tidak akan sembrono menggerakkan tangan menyerang!"
Sikap dan kata-kata pemuda itu membuat Thian Tok Lama ragu-ragu dan curiga.
Dia tidak tahu siapakah pemuda aneh ini, kawan ataukah lawan karena keadaan masih agak gelap, bukan hanya gelap oleh asap, akan tetapi karena senja mulai mendatang dan tempat itu penuh dengan pohon-pohon besar.
Akan tetapi ada sesuatu yang seolah-olah membisikkan kewaspadaan kepadanya, maka kini dia melangkah maju dan memandang penuh perhatian.
Tiba-tiba pendeta Lama itu terkejut.
Kini dia mengenal pemuda itu, seorang pemuda yang masih remaja, akan tetapi yang memiliki sikap aneh luar biasa.
Pemuda tampan yang mempunyai mata seperti mata iblis, mukanya agak pucat dan gerak-geriknya membayangkan ketinggian hati yang tidak lumrah.
Pemuda dari Pulau Neraka yang pernah muncul di padang tandus ketika Thian-liong-pang mengadakan pertemuan dan pertandingan!
Hatinya menjadi agak lega.
Pemuda ini bukan tokoh Thian-liong-pang, dan sebagai seorang tokoh Pulau Neraka, pasti sekali bukan sahabat Thian-liong-pang, sungguhpun dia dan pasukannya tidak dapat mengharapkan sikap baik dari penghuni Pulau Neraka yang telah dibasmi oleh pasukan pemerintah itu.
"Orang muda, kalau pinceng tidak salah mengenal orang, engkau adalah orang yang pernah muncul sebagai tokoh Pulau Neraka, benarkah?"
Mendengar ucapan Thian Tok Lama itu, para panglima dan jagoan Nepal terkejut, dan diam-diam mereka bersiap-siap dengan pasukan mereka mengurung pemuda itu.
Sedangkan Milana yang diam-diam merasa cemas juga, tetap bersikap dingin dan tidak mau mengacuhkan mereka semua, duduk diam dan tegak di atas kudanya, memandang jauh.
Pemuda itu adalah Wan Keng In, putera Ketua Pulau Neraka.
Pemuda yang tergila-gila kepada Milana itu, mendengar pertanyaan Thian Tok Lama tersenyum dingin dan hanya mengangguk dan memandang rendah, sama sekali tidak menjawab karena dia sudah menoleh lagi kepada Milana dengan pandang mata penuh kemesraan!
Melihat sikap pemuda itu, diam-diam Thian Tok Lama mendongkol sekali.
Dia tahu bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang lihai dan aneh, akan tetapi dia sendiri bukanlah seorang biasa yang mudah merasa gentar menghadapi lawan semuda itu!
Apalagi melihat bahwa pemuda itu hanya seorang diri, tidak ditemani dua orang kakek seperti setan yang pernah menggegerkan pertemuan yang diadakan Thian-liong-pang.
Dengan adanya pasukan dan para pembantunya, tentu saja dia tidak takut menghadapi pemuda yang masih amat muda itu.
"Orang muda, pinceng harap engkau tidak begitu nekat untuk menentang pasukan pemerintah! Apakah engkau yang telah lancang membunuh orang-orang kami itu?"
Kembali Thian Tok Lama bertanya.
Dengan sikap acuh tak acuh, Wan Keng In memaksa mukanya mengalihkan pandang mata dari wajah Milana yang jelita kepada wajah Thian Tok Lama yang gemuk.
Cuping hidungnya yang tipis bergerak, mengeluarkan dengus menghina, kemudian dia berkata.
"Thian Tok Lama, tak perlu menggertak aku dengan nama pasukan pemerintah. Aku tahu pasukan apa ini, dan tahu pula apa yang akan dilakukan oleh Koksu bersama Pangeran Yauw Ki Ong. Ha-ha-ha, apa kau kira aku tidak melihat betapa kalian membasmi Thian-liong-pang? Sungguh bagus....!"
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Thian Tok Lama mendengar ucapan itu, dan semua anggauta pasukan sudah meraba senjata.
Akan tetapi karena pendeta Lama itu belum memberi aba-aba, mereka semua hanya bersiap-siap mengha-dapi pemuda yang mendatangkan suasana menyeramkan itu.
"Orang muda, di pihak siapakah engkau berdiri?"
Thian Tok Lama memancing, tidak mau berpura-pura lagi karena maklum bahwa dia menghadapi orang luar biasa.
"Tentu saja di pihakku sendiri, tolol!"
Wan Keng In menjawab.
"Kalian membasmi Thian-liong-pang bukan urusanku karena Ketua Thian-liong-pang berani menghina dan menolak pinanganku. Akan tetapi engkau telah berani menawan dan menghina tunanganku ini, hemm...., benar-benar tak boleh dibiarkan begitu saja. Kalau Koksu tidak minta maaf kepada Nona Milana, aku akan membasmi dia dan semua kaki tangannya!"
"Manusia sombong....!"
Bhe Ti Kong berseru marah sekali.
Panglima ini adalah seorang yang tangguh, kasar dan setia kepada Koksu.
Sudah banyak dia melihat orang pandai namun orang-orang pandai tunduk dan takut kepada Koksu, maka kini melihat seorang pemuda bersikap demikian angkuh, dan melihat sikap Thian Tok Lama yang dianggapnya terlalu merendahkan kedudukan dan wibawa Koksu, dia menjadi marah sekali.
Sambil membentak demikian, Bhe Ti Kong sudah menerjang maju, meloncat turun dari kudanya dan langsung menyerang pemuda itu dengan senjatanya yang dahsyat, yaitu sebuah tombak cagak yang bergagang pendek.
Gerakan panglima ini kuat sekali, dan bagaikan seekor burung rajawali dia menyambar dari atas, langsung tombaknya melakukan gerakan serangan beruntun sampai tiga kali ke arah kepala, leher, dan dada Wan Keng In.
"Plak-plak-plak.... bressss....!"
Enak saja Wan Keng In menyambut serangan-serangan itu.
Tanpa menggeser kedua kakinya yang masih berdiri terpentang lebar, dengan sikap acuh tak acuh, dia tadi menggerakkan tangan kiri, menyampok ke arah tombak setiap kali ujung tombak itu menyambar.
Tiga kali dia menangkis dan yang terakhir kalinya disusul dengan dorongan yang membuat tubuh Panglima Bhe Ti Kong terbanting ke atas tanah dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya!
Melihat ini, para jagoan Nepal dan para panglima terkejut dan sudah mencabut senjata masing-masing, bergerak hendak mengeroyok.
"Tahan....!"
Thian Tok Lama mengangkat tangan ke atas sehingga pasukarinya tidak berani maju, hanya menoleh dan memandang kepadanya penuh pertanyaan.
Thian Tok Lama melangkah maju menghadapi Wan Keng In yang tersenyum mengejek.
"Orang muda, engkau siapakah, dan apakah kehendakmu? Berikan penjelasan sebelum kami terlanjur turun tangan yang akan mendatangkan penyesalan karena kami akan lebih suka menarikmu sebagai sahabat. Pada waktu ini, Koksu membutuhkan bantuan banyak orang pandai dan kalau engkau suka membantunya, pinceng yakin bahwa kelak engkau akan memperoleh kemuliaan."
Pendeta itu memang cerdik sekali.
Biarpun dia tidak takut terhadap pemuda ini, akan tetapi kalau sampai terjadi bentrokan, tentu akan jatuh banyak korban di antara pembantu-pembantunya melihat pemuda itu secara lihai bukan main telah mengalahkan Bhe Ti Kong dalam segebrakan saja.
Apalagi kalau diingat bahwa siapa tahu, muncul pula dua orang kakek setan yang mengerikan itu!
Maka, jauh lebih baik membujuk pemuda ini, karena kalau dia berhasil menarik pemuda lihai ini sebagai sekutu, tentu Koksu akan menjadi girang bukan main dan akan memujinya.
Wan Keng In mengeluarkan suara mendengus marah.
"Huhh! Kau kira aku ini orang macam apa yang membutuhkan anugerah Koksu? Kalau Koksu sendiri mau datang ke sini dan minta maaf kepada Nona Milana, kemudian mengundang aku, barulah aku akan pikir-pikir tentang kerja sama yang kau sebut-sebut itu."
Dapat dibayangkan betapa marahnya Thian Tok Lama mendengar ucapan yang amat sombong itu!
Namun, sebagai seorang yang sudah banyak pengalaman, dia dapat menduga bahwa pemuda dari Pulau Neraka ini adalah seorang anak manja yang sejak kecil memperoleh pendidikan kesaktian tinggi sehingga terlalu percaya kepada kepandaian sendiri, juga karena ada yang diandalkan.
Maka dia bersikap sabar, bahkan tersenyum dan berkata.
"Ha-ha-ha, tenaga seorang pandai memang amat mahal! Seorang pemimpin yang bijaksana tidak akan segan-segan merendahkan diri untuk mendapatkan bantuan orang pandai. Menteri Kiang Cu Ge pun baru mau mengabdi kepada kaisar setelah kaisar datang sendiri mengundangnya. Pantas saja kalau Sicu (Orang Muda Gagah) mencontoh perbuatannya. Akan tetapi, sebelum terbukti cukup berharga untuk diundang sendiri oleh Koksu, harus lebih dulu diuji kepandaiannya. Pinceng adalah seorang pembantu Koksu yang sudah memperoleh kepercayaan, biarlah pinceng memberanikan diri untuk menguji kepandaian Sicu, kalau Sicu suka memperkenalkan nama."
Mendengar ucapan dan melihat sikap menghormat ini, Wan Keng In yang biasanya dimanja menjadi bangga sekali.
Pendeta itu adalah tangan kanan Koksu Negara, dan sudah menyama-kannya dengan Kiang Cu Ge, tokoh manusia dewa dalam sejarah lama (cerita Hong-sin-pong) yang menjadi pujaan semua manusia karena kebijaksanaannya sehingga sekalian setan dan iblis di neraka pun tunduk kepadanya!
"Thian Tok Lama, aku Wan Keng In pun bukanlah seorang yang tidak tahu siapa yang pada waktu ini patut dibantu.
Aku tadi membunuh orang-orangmu karena aku marah melihat kekasih dan tunanganku ditawan.
Kalau engkau hendak mengujiku, silakan, akan tetapi jangan menyesal kalau engkau tewas dalam pertandingan ini!"
Benar-benar ucapan yang amat sombong, akan tetapi pada saat itu Wan Keng In sudah mencabut pedangnya yang membuat Thian Tok Lama terbelalak kaget dan ngeri.
Pedang di tangan pemuda itu mengeluarkan sinar maut yang berkilat-kilat.
"Aihh.... bukankah Lam-mo-kiam di tanganmu itu, Sicu?"
Wan Keng In memandang pedangnya dan mengangguk bangga.
"Wan-sicu, pinceng percaya bahwa Si-cu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Biarlah tidak perlu lagi pinceng menguji dan marilah Sicu ikut bersama pinceng pergi menghadap Koksu"
Gentar juga pendeta ini melihat Lam-mo-kiam. Wan Keng In masih melintangkan pedangnya di depan dada, alisnya berkerut, kemudian dia menjawab.
"Dengan dua syarat!"
"Katakanlah, pinceng yakin Koksu akan dapat memenuhi syarat Sicu."
"Pertama, Nona Milana ini adalah kekasih dan tunanganku, tidak boleh diganggu dan bahkan harus disyahkan menjadi isteriku. Ke dua, aku menjadi pembantu langsung dari Koksu Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, dan hanya mau menjadi bawahan orang yang dapat mengalahkan kepandaianku!"
Diam-diam Thian Tok Lama tertawa dalam hatinya.
Orang muda ini benar-benar sombong dan berkepala dingin!
Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Koksu adalah seorang yang ahli dalam memilih pembantu, kalau sudah bertemu dengan Wan-sicu dan menyaksikan kelihaian Sicu, tentu akan suka memberikan kedudukan yang tinggi. Tentang Nona ini.... ehhh....!"
Tiba-tiba Thian Tok Lama tidak melanjutkan kata-katanya karena terkejut melihat betapa kuda yang ditunggangi Milana itu mendadak meloncat ke depan dan kabur!
Kiranya ketika tadi Milana mendengar percakapan di antara mereka dan melihat perkembangan yang tidak menguntungkan baginya, dara ini menjadi makin cemas.
Tadinya dia mengharap akan terjadi bentrokan antara pihak Thian Tok Lama dan Wan Keng In sehingga dalam kekacauan itu dia mendapat kesempatan untuk meloloskan diri.
Akan tetapi dengan kecewa dan mendongkol dia melihat perkembangan yang jauh berbeda.
Kedua orang itu bahkan bersekutu, maka habislah harapannya untuk melihat mereka bertanding.
Karena tidak melihat jalan lain, dan merasa ngeri membayangkan terjatuh ke tangan pemuda gila itu, dia lalu berusaha mengaburkan kudanya sambil mengerahkan tenaga sehingga belenggu kedua tangannya putus.
"Ha-ha, tidak perlu khawatir, aku akan menangkapnya kembali. Heiii, manisku, engkau hendak pergi ke mana? Jangan tinggalkan aku, kekasih....!"
Wan Keng In berseru dan tubuhnya sudah me-luncur ke depan cepat sekali.
Milana maklum bahwa dia harus melawan mati-matian, maka dengan nekat dia lalu menggerakkan tangannya dan bekas tali yang tadi membelenggu tangannya, kini meluncur menjadi sinar hitam menyambut tubuh Wan Keng In yang mengejarnya.
"Ha-ha-ha, engkau mau main-main denganku?"
Wan Keng In tertawa, tangan kiri menyambut tali itu.
Menangkap ujungnya dan terus disentakkan ke atas, tangan kanan dipukulkan ke depan ke arah tubuh belakang kuda yang membalap.
Kuda yang ditunggangi Milana mengeluarkan suara meringkik keras dan roboh berkelojotan terkena pukulan jarak jauh yang dilakukan oleh Wan Keng In, sedangkan tubuh dara itu terlempar ke atas ketika tali yang dipergunakan menyerang pemuda itu tadi tertangkap oleh Keng In dan disentakkan ke atas.
Pemuda itu benar-benar hebat sekali ilmu kepandaiannya dan kini dia sudah meloncat ke depan untuk menyambut tubuh Milana yang terlempar ke atas.
"Ehhhh....?"
Wan Keng In terbelalak heran dan memandang ke atas.
Dia merasa kecelik karena tubuh dara yang dinantikan itu sama sekali tidak kelihatan melayang turun, bahkan ketika ia menarik lagi tali yang dicengkeramnya, tali itu putus dan hampir menghantam mukanya sendiri.
Dan dapat dibayangkan betapa heran dan marahnya ketika melihat bahwa kini Milana telah duduk di atas dahan pohon tinggi, berhadapan dengan seorang pemuda dan mereka asyik bercakap-cakap!
Thian Tok Lama dan para panglima serta jagoan-jagoan Nepal sudah memburu ke bawah pohon, dan kini mereka itu mengurung pohon bahkan pasukan lalu dikerahkan untuk menjaga di sekeliling pohon agar gadis tawanan itu tidak sampai dapat meloloskan diri.
"Milana, manisku, turunlah engkau!"
Wan Keng In berkata halus dan dia belum mengenal siapa adanya laki-laki muda yang bercakap-cakap dengan dara itu.
Akan tetapi baik Milana maupun pemuda di atas pohon itu tidak mempedulikannya, tidak mempedulikan mereka yang mengurung pohon karena mereka berdua itu sedang saling berbantah.
Melihat sikap mereka itu, mau tidak mau Wan Keng In mendengarkan percakapan mereka dan ia merasa heran, dan marah bukan main!
Pemuda yang berada di atas itu bukan lain adalah Gak Bun Beng!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, pemuda sakti ini meninggalkan markas pasukan istimewa pembantu para pemberontak di perbatasan utara, kemudian dia menuju ke kota raja.
Tanpa disengaja, secara kebetulan sekali di dalam hutan itu dia melihat pasukan yang dipimpin Thian Tok Lama sedang diganggu oleh Wan Keng In.
Tentu saja Bun Beng menjadi terkejut sekali dan girang melihat musuh-musuh besarnya, terutama sekali Thian Tok Lama dan Bhe Ti Kong, dua orang di antara mereka yang dahulu mengeroyok dan membunuh gurunya, Siauw Lam Hwesio tokoh Siauw-lim-pai.
Akan tetapi ia tercengang melihat Wan Keng In dan ia segera mengenal pemuda Pulau Neraka yang amat lihai itu.
Timbul kemarahannya karena ia teringat betapa dia pernah dikalahkan dan dihina oleh pemuda iblis itu, Bahkan pedang Lam-mo-kiam telah dirampas oleh pemuda Pulau Neraka yang semenjak kecil sudah amat jahat itu.
Akan tetapi, yang membuat dia terkejut sekali adalah ketika ia melihat Milana duduk di atas punggung kuda sebagai seorang tawanan!
Bertemu dengan semua ini, Bun Beng bersikap hati-hati.
Tentu saja dia harus menolong Milana, dara jelita yang telah melepas budi banyak sekali kepadanya.
Akan tetapi, dia maklum bahwa menolong Milana dari tangan pasukan yang kuat dan dipimpin orang-orang pandai itu, apalagi di situ terdapat pemuda Pulau Neraka, bukanlah hal yang mudah.
Karena inilah, dia bersabar dan bersembunyi sambil mengintai dan mendengarkan mereka.
Mula-mula diapun merasa heran ketika mendengar percakapan antara Wan Keng In dan Thian Tok Lama, bahkan seperti juga Milana, Diam-diam dia mengharapkan kedua pihak ini akan bertanding sehingga dia mendapat banyak kesempatan untuk menolong dara itu.
Akan tetapi betapa kecewanya ketika akhirnya pemuda Pulau Neraka itu dapat terbujuk dan bahkan bersekutu, maka terpaksa dia siap untuk menggunakan kekerasan menyelamatkan Milana.
Pada saat itulah Milana merenggut tali belenggunya dan berusaha mengaburkan kuda.
Melihat Milana dikejar Wan Keng In, kudanya dirobohkan dan dara itu (Lanjut ke
Jilid 38) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38 sendiri terlempar ke atas, Bun Beng cepat melayang ke atas pohon besar dan menyambar lengan dara itu.
Bagaikan dalam mimpi Milana melihat Bun Beng di depannya, di atas dahan pohon tinggi sehingga untuk beberapa lamanya dara ini hanya terbelalak memandang, kemudian perlahan-lahan kedua pipinya berubah merah sekali, jantungnya berdebar.
"Kau....?"
Hanya demikian dia dapat mengeluarkan suara.
"Nona, syukur sekali secara kebetulan aku lewat di tempat ini. Serahkan mereka itu kepadaku, akan tetapi engkau harus cepat-cepat pergi dari tempat ini. Berbahaya sekali di sini."
Milana menggeleng kepala keras-keras.
"Membiarkan engkau menghadapi mereka sendiri dan aku lari? Tidak! Aku akan membantumu melawan mereka!"
"Aahhh, jumlah mereka terlalu banyak dan kulihat orang-orang pandai di antara mereka. Harap engkau suka menurut, Nona. Sungguh berbahaya sekali kalau memaksa diri melawan."
"Hemm, Gak-twako. Kau bilang berbahaya bagiku kalau melawan, habis engkau sendiri?"
"Nona...."
"Gak-twako, begini sombongkah engkau? Sejak dahulu?"
Bun Beng gelagapan ditegur seperti itu dan dia memandang dengan mata terbelalak lebar.
"Sombong! Aku....?"
"Apa kau tidak suka bersahabat denganku?"
"Tentu saja, aku...."
"Sudah mengenal sejak dahulu, mengapa engkau masih selalu sungkan dan menyebut aku nona? Namaku Milana dan engkau tahu ini, bukan?"
"Habis.... habis....?"
"Aku tidak mau kau sebut nona! Nah, sebut namaku atau adik, atau.... sudah jangan mengenal aku lagi kalau kau begini angkuh!"
"Eh...., ohh...., Nona.... eh, Adik Milana! Jangan main-main begini....!"
Bun Beng menegur, terheran-heran mengapa dalam keadaan terancam seperti itu dara yang dahulu bersikap halus dan lemah lembut itu meributkan soal sebutan!
"Gak-twako, tidak girangkah engkau bertemu denganku?"
Bun Beng makin bingung dan memandang dengan alis berkerut.
Celaka, pikirnya.
Jangan-jangan dara ini keracunan, atau sudah bingungkah pikirannya?
Dia mengangguk.
"Aku.... aku girang sekali, Twako tidak tahu engkau betapa girangku.... dan ahh.... kau.... kau tolonglah aku, Twako....!"
Tiba-tiba Milana terisak menangis dan ketika dengan kaget Bun Beng menyentuh lengannya, dara itu memeluknya dan menangis terisak-isak, menyembunyikan muka di dadanya!
Tentu saja Bun Beng menjadi bengong!
Dia tidak tahu bahwa sesungguhnya Milana telah menderita guncangan batin yang cukup hebat, menderita tekanan batin yang ditahan-tahannya semenjak dia melihat Thian-liong-pang terbasmi, pembantu-pembantu ibunya gugur dan dia sendiri menjadi tawanan.
Dara itu tentu saja berduka sekali melihat perkumpulan ibunya hancur, melihat Tang Wi Siang, Lui-hong Sin-ciang Chie Kang dan yang lain-lain roboh dan tewas, dan kemudian dia sendiri menjadi tawanan, bahkan kemudian terjatuh ke tangan Wan Keng In pemuda yang mengerikan, sedangkan dia belum tahu apa yang telah terjadi dengan ibunya.
Dalam keadaan hampir putus asa itu, secara tiba-tiba, secara tidak terduga-duga, di atas pohon, muncul Gak Bun Beng, orang yang selama ini dirindukannya!
Inilah sebabnya mengapa dara itu bersikap demikian aneh, seperti orang mabok atau seperti orang yang berubah ingatannya dan kini dia menangis tersedu-sedu, teringat akan semua kedukaannya dan hanya mengharapkan bantuan orang yang amat dipercayanya ini.
Tentu saja Bun Beng salah sangka.
Apakah dara ini telah berubah menjadi seorang yang amat penakut dan menangis menghadapi ancaman bahaya?
Jantungnya berdebar tidak karuan.
Dara yang menangis di dadanya itu membuat dia merasa betapa dekatnya wajah jelita itu yang menempel di dadanya, terasa olehnya kehangatan air mata membasahi kulit dada dan tercium olehnya harum rambut Milana.
"Nona.... eh, Moi-moi (Adik).... hentikan tangismu. Jangan takut, aku akan melindungimu dari mereka itu, percayalah...."
"Keparat, mampuslah engkau!"
Tiba-tiba seorang panglima meloncat ke atas dan menggerakkan goloknya membacok Bun Beng.
"Prakk...., bresss....!"
Tubuh panglima itu terlempar dan terbanting roboh ke atas tanah oleh tangkisan Bun Beng.
"Aku tidak takut.... ah, Twako.... kau tidak tahu.... mereka telah membasmi Thian-liong-pang.... Bibi Tang Wi Siang dan para paman.... mereka telah tewas...."
Terkejutlah Bun Beng.
Dia sudah tahu bahwa para pemberontak yang dipimpin Koksu memusuhi Thian-liong-pang, akan tetapi tidak disangkanya pasukan ini demikian mudah membasmi Thian-liong-pang.
"Mana mungkin? Di mana ibumu?"
Dia tidak dapat percaya Thian Tok Lama dan kawan-kawannya itu dapat menandingi Ketua Thian-liong-pang yang demikian sakti.
"Ibu tidak ada, mungkin di kota raja. Kami melawan mati-matian, akan tetapi percuma, dan aku tertawan...."
Bun Beng mengangguk-angguk dan tiba-tiba dia melakukan gerakan menampar ke bawah.
"Desss....!"
Dahan di mana Bun Beng berjongkok itu tergetar hebat, akan tetapi tubuh Wan Keng In yang tadi meloncat dan memukul, juga terdorong kembali ke bawah ketika pukulannya tertangkis oleh Bun Beng.
Diam-diam Bun Beng terkejut.
Pemuda Pulau Neraka itu benar-benar hebat sekali kepandaiannya!
Di lain pihak Wan Keng In yang belum mengenal Bun Beng karena di dalam pohon sudah mulai gelap, lebih kaget lagi melihat ada orang yang mampu menangkis pukulannya bahkan membuat tubuhnya seperti dibanting ke bawah dengan kekuatan dahsyat!
"Milana,"
Bun Beng berbisik, tidak bersikap sungkan lagi.
"Tidak banyak waktu sekarang. Mereka itu benar-benar lihai dan jumlah mereka banyak. Kalau kita berdua melawan, mungkin engkau akan tertangkap lagi atau terluka. Engkau harus lari lebih dulu. Tunggu setelah aku mengamuk di bawah, engkau melompat jauh dari tempat ini, melalui pohon-pohon dan menghilang dalam gelap. Bawa pedang ini...."
"Tidak! Aku akan melawan, bertanding di sampingmu sampai mati...."
Bun Beng merasa lehernya seperti dicekik mendengar ini.
"A.... apa....?"
"Gak-twako, apa masih perlu kujelaskan lagi? Tidak cukupkah ketika dahulu aku membela dan melindungimu ketika kau terluka?"
Gemetar seluruh tubuh Bun Beng, tangannya menggigil ketika ia memegang tangan Milana.
"Tidak cukup....? Duhai.... terlalu cukup, terlalu banyak.... bahkan itulah yang menyiksa hatiku. Milana.... betapa aku berani menyatakan kekurangajaran ini? Akan tetapi...., ah, kata-katamu tadi.... Milana, orang yang paling kumuliakan di dunia ini karena baik budimu, yang paling kucinta di dunia ini.... maafkan aku.... akan tetapi aku cinta padamu.... dan.... dan kau bilang ingin bertanding di sampingku sampai mati....? Benarkah pendengaranku?"
"Singg....! Krekkk.... plakkk! Aduhhh....!"
Tubuh seorang jagoan Nepal yang tadi menyerang dengan tombaknya, terpelanting, tombaknya patah dan kepalanya pecah oleh pukulan Bun Beng yang menangkis dan memukul tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah Milana.
Sepasang mata itu basah air mata, akan tetapi bibir yang gemetar tersenyum.
"Gak-twako, mengapa baru sekarang kau menyatakan isi hatimu yang sejak dahulu tampak membayang dalam pandang matamu?"
"Milana.... betapa aku berani.... kau.... seorang dara mulia, puteri Ketua Thian-liong-pang, puteri Pendekar Super Sakti yang kumuliakan, malah cucu kaisar sendiri! Ya Tuhan, betapa beraniku menyatakan cinta! Kalau tidak mendengar ucapanmu tadi.... perasaan hatiku akan kusimpan sebagai rahasia sampai mati."
"Terima kasih, Twako. Sekarang aku tidak ragu-ragu lagi! Aku puas, aku bahagia. Apapun yang akan terjadi, biar orang sedunia menentangnya, aku akan selalu berbahagia di sampingmu, hidup atau mati. Marilah, Twako. Mari kita menerjang ke bawah, kita lolos dan selamat berdua atau mati bersama!"
"Tidak....! Seribu kali tidak! Setelah aku tahu bahwa harapan hidupku tidak sia-sia, setelah aku tahu bahwa engkau pun mencintaku, mana mungkin aku membiarkan engkau terancam bahaya? Tidak! Milana, dengarlah baik-baik. Lihat pedang ini. Ini adalah Hok-mo-kiam yang sudah dapat kurampas kembali. Bawalah pedang ini, cari ibumu di kota raja dan serahkan pedang ini kepada ayahmu, Pendekar Super Sakti. Dengan pedang ini engkau akan dapat melindungi dirimu. Aku akan hadapi mereka di bawah itu.... hemmm.... akan kuhajar cacing-cacing busuk yang telah berani menghina dewi pujaan hatiku!"
"Tidak, Twako...."
"Husshhh, demi cinta kita, taatilah aku sekali ini saja, sayang! Aku tidak akan dapat memaafkan engkau, memaafkan aku sendiri atau siapa juga kalau sampai engkau ikut turun dan menderita celaka. Nah, aku terjun, siaplah meloncat dan lari. Sampai jumpa, sayang!"
Tanpa menanti jawaban, Bun Beng yang hampir bersorak saking gembira hatinya itu turun.
Dia hanya mendengar suara Milana terisak, akan tetapi hatinya lega ketika dia mulai merobohkan beberapa orang pengawal dan memandang ke atas, pohon itu telah kosong dan bayangan Milana telah lenyap.
"Thian Tok Lama pendeta palsu!"
Dia membentak ketika melihat kakek itu membuat gerakan hendak melakukan pe-ngejaran kepada Milana.
Sebuah pukulan kilat yang dilakukan dengan pengerahan tenaga sin-kang mengejutkan pendeta itu, apalagi ketika dia mengelak sambil menangkis, tetap saja hawa pukulan dari tangan Bun Beng membuatnya terpelanting.
"Wan Keng In, tikus Pulau Neraka, hendak ke mana engkau?"
Bun Beng sudah meloncat ke depan, menerjang Wan Keng In yang kelihatan ragu-ragu dan agaknya mencari-cari Milana yang lenyap.
Diterjang secara hebat oleh Bun Beng, Wan Keng In terpaksa melayaninya.
Dengan penasaran dan marah Keng In mengerahkan tenaganya, menyambut pukulan Bun Beng ke arah dadanya itu dengan dorongan telapak tangannya pula.
"Dessss....!"
Kalau tadi mereka saling mengadu lengan di atas pohon, kini mereka mengadu kedua telapak tangan yang saling bertumbukan.
Akibatnya, tubuh Wan Keng In terlempar ke belakang sampai lima meter lebih!
Makin pucat wajah Wan Keng In dan biarpun dia tidak terluka, namun dia terkejut setengah mati dan barulah kini sepasang matanya memandang dengan sinar berkilat-kilat ke arah Bun Beng.
Betapa hatinya tidak terkejut.
Di dalam dunia ini, kiranya hanya ada dua orang, gurunya sendiri dan paman gurunya, dua kakek setan Pulau Neraka, yang dapat membuatnya terlempar seperti itu!
Pekik melengking yang menyeramkan keluar dari dada pemuda Pulau Neraka itu ketika dia meloncat ke depan lalu membentak.
"Jahanam! Siapa engkau?"
"Plak-plak-dess-dess!"
Empat orang anggauta pasukan terpelanting ke kanan-kiri dan tak dapat bangkit kembali terkena hantaman kaki tangan Bun Beng yang merasa betapa tubuhnya ringan dan enak sekali, seringan dan seenak hatinya yang gembira bukan main.
Pemuda ini mengerling ke kanan-kiri, tertawa ketika melihat para pengawal tidak berani maju dan hanya mengurung dari jarak jauh.
Dengan tenang dia lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Wan Keng In, tersenyum mengejek dan memandang dengan sinar mata berseri.
Dunia seolah-olah berubah bagi hati Bun Beng dan biarpun dia berhadapan dengan musuh-musuh yang berbahaya, dia tetap gembira.
Tidak ada kemarahan, tidak ada kebencian, tidak ada kekhawatiran dan semua orang kelihatan menggembirakan.
Agaknya wajah-nya yang berseri itu membuat semua orang terheran-heran dan curiga, Ssedangkan Wan Keng In mulai mengingat-ingat siapa gerangan pemuda tampan berseri-seri yang wajahnya tertimpa cahaya obor yang dinyalakan oleh beberapa orang pengawal.
Dia merasa seperti mengenal wajah itu, akan tetapi dia lupa lagi di mana dan kapan.
Selain kebahagiaan karena cinta kasihnya terbalas oleh Milana, hal yang sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya, atau diharapkannya itu membuat hatinya riang gembira, juga Bun Beng sengaja hendak memancing perhatian mereka agar Milana mendapat kesempatan untuk melarikan diri jauh-jauh.
Kalau Milana sudah selamat, dan pedang Hok-mo-kiam sudah dapat dibawa pergi dara itu untuk diberikan kepada yang berhak, yaitu ayah dara itu, Pendekar Super Sakti, tidak ada apa-apa lagi di dunia ini yang menyusahkan hatinya!
Dia sendiri akan menghadapi bahaya apapun juga dengan hati ringan.
"Wan Keng In, engkau bocah setan ini makin jahat dan tersesat saja. Sekali ini aku tidak akan membiarkan kau terlepas sebelum memberi hajaran kepadamu! Dan Thian Tok Lama agaknya masih melanjutkan kejahatan-kejahatannya. Sudah lama aku menanti kesempatan ini, untuk bertemu denganmu dan membalas kematian Suhu Siauw Lam Hwesio."
Ucapan Bun Beng itu agaknya menya-darkan dua orang ini dan teringatlah mereka kini.
Disebutnya nama Siauw Lam Hwesio sebagai guru mengingatkan Thian Tok Lama akan murid kakek tokoh Siauw-lim-pai itu, Gak Bun Beng yang pernah dan sempat dilihatnya pula ketika pemuda itu membantu Pulau Es pada waktu pasukan pemerintah membasmi pulau itu.
Adapun Wan Keng In sekarang teringat akan pemuda yang telah menemukan Sepasang Pedang Iblis, pemuda bernama Gak Bun Beng yang tadinya dia pandang rendah akan tetapi yang sekarang mampu membuatnya terlempar sampai lima meter!
"Manusia she Gak keparat!"
Wan Keng In memaki.
"Gak Bun Beng, engkau anak haram dari Setan Botak Gak Liat yang kurang ajar itu....!"
"Wuuuuttt.... plakkk!"
Untuk kedua kalinya dalam waktu yang singkat itu tubuh Thian Tok Lama terpelanting ketika dia tergopoh-gopoh menangkis pukulan Bun Beng yang marah sekali mendengar makian dan penghinaan itu.
Akan tetapi dia tidak dapat mendesak musuh besarnya itu karena Wan Keng In sudah menyerangnya dengan pukulan-pukulan maut.
Pukulan pemuda Pulau Neraka ini dilakukan dengan jari-jari tangan terbuka seperti cakar harimau, akan tetapi dari setiap ujung jari keluar hawa pukulan beracun yang amat dahsyat.
Bun Beng maklum akan kelihaian Keng In, maka dia sudah cepat mencelat ke kiri menghindarkan serangan sambil menerima tusukan tombak dan golok dari dua orang Nepal, membetot dua buah senjata itu sambil menendang.
Dua orang Nepal itu mengaduh dan tubuh mereka terjengkang.
Dua orang pengawal yang menerjang maju, roboh oleh tombak dan golok yang dirampas Bun Beng dan disambitkan menyambut terjangan mereka.
Terjadilah pertandingan yang amat hebat.
Bun Beng mengamuk seperti seekor burung garuda, dikeroyok oleh puluhan orang anak buah pasukan.
Tentu saja mereka itu merupakan lawan lunak bagi pemuda sakti ini dan dalam waktu beberapa menit saja sudah ada belasan orang tentara pengawal roboh termasuk beberapa orang Nepal dan panglima.
Melihat sepak terjang Bun Beng yang demikian hebat, Thian Tok Lama dan Wan Keng In menjadi penasaran sekali.
Pendeta Lama itu mengeluarkan senjatanya, sebatang golok melengkung yang mengeluarkan sinar hijau, sedangkan Wan Keng In sudah mencabut Lam-mo-kiam.
Mereka ini, dibantu oleh Bhe Ti Kong dan sisa para panglima serta jagoan Nepal lain, mengurung Bun Beng.
Adapun anak buah pasukan yang juga membentuk pengepungan ketat di sebelah luar, siap pula dengan senjata di tangan sedangkan di empat penjuru, delapan orang memegang obor untuk menerangi tempat yang mulai terselimut malam gelap.
"Kok-kok-kok heeeehhhh!"
Perut gendut Thian Tok Lama mengeluarkan suara berkokok, kemudian disusul bentakannya dia menyerang maju, tangan kiri memukul, tangan kanan menggerakkan goloknya dengan cepat dan kuat sekali.
"Singgg.... syet-syet-syettt....!"
Sinar hijau menyambar-nyambar dan bergulung-gulung ke arah tubuh Bun Beng yang tidak berani memandang rendah.
Cepat dia menggerakkan tubuhnya mencelat ke kanan-kiri dan belakang.
Betapapun cepat serangan Thian Tok Lama, gerakan Bun Beng lebih cepat lagi sehingga gulungan sinar golok berwarna kehijauan itu tak pernah dapat mendekati sasaran.
"Hyaaattt.... singgg.... cing-cing....!"
"Hemmm....!"
Bun Beng mengeluarkan suara kaget dan cepat dia melempar tubuhnya ke belakang dengan kecepatan kilat ketika dia melihat sinar kilat menyambar ganas dengan kecepatan seperti halilintar dan sinar itu mengandung hawa menyeramkan sekali sehingga dia sendiri merasa ngeri, tengkuknya terasa dingin.
Melihat berkelebatnya sinar kilat yang menyilaukan mata, tahulah dia bahwa Wan Keng In telah turun tangan menyerangnya dengan menggunakan pedang Lam-mo-kiam.
Maka dia tidak berani berlaku lambat, begitu melempar tubuh ke belakang, dia berjungkir balik dan melanjutkan dengan meloncat jauh ke kanan.
"Syuuuuutttt.... singggg!"
Bun Beng menelan ludah.
Bukan main hebatnya Lam-mo-kiam.
Biarpun dia sudah bergerak cepat sekali, masih saja dia tadi nyaris tergores punggungnya.
Namun dia tidak sempat memikirkan hal itu karena begitu dia terhindar dari bahaya serangan Keng In, Serentak dua orang panglima dan dua jagoan Nepal telah menyerangnya dengan berbareng.
Dua orang Nepal yang bersorban itu menyerangnya dengan senjata mereka yang membuat mereka ditakuti, yaitu pisau belati yang kecil namun amat runcing dan tajam, dua buah banyaknya dipegang setengah bersembunyi di balik lengan kanan-kiri.
Serangan dari depan oleh dua orang Nepal itu amat cepat, gerakan mereka aneh dan kecepatan mereka menjadi hebat karena lengan mereka panjang.
Dalam sedetik itu, dua orang ini menyerang secara berbareng dan empat buah pisau belati menyambar ke arah leher, ulu hati, perut dan lambung!
Dalam setengah detik berikutnya, menyambar pula sebatang golok besar di tangan seorang panglima brewok, berlomba cepat dengan tombak gagang pendek di tangan Bhe Ti Kong yang menghujani ke arah punggung Bun Beng!
"Heiiittt!"
Bun Beng berseru keras sekali, tubuhnya membuat gerakan berpusing, demikian cepatnya sehingga sukar diikuti pandang mata oleh lawan, akan tetapi tahu-tahu jari-jari tangannya secara berturut-turut telah mengetuk terlepas sambungan siku kedua tangan orang Nepal, merampas golok besar dan menangkis tombak gagang pendek Bhe Ti Kong dengan golok itu setelah merobohkan pemilik golok dengan tendangan.
"Tranggg....!"
Bhe Ti Kong berseru kaget dan cepat menarik kembali tombaknya, memutar senjatanya untuk melindungi tubuh.
Dua kali dia berhasil menangkis dan harus bergulingan dan jatuh bangun, terus dikejar sinar golok rampasan Bun Beng yang mengenal panglima ini sebagai musuh besarnya dan yang mendesak untuk membunuhnya.
"Singgg....!"
Sinar kilat pedang Lam-mo-kiam yang sudah menyambar lagi menyelamatkan nyawa Bhe Ti Kong.
"Cringgg!"
Bun Beng yang tadinya mendesak Bhe Ti Kong, terkejut melihat sinar kilat, terpaksa membuang diri sambil menangkis dengan golok rampasan, akan tetapi sekali bertemu dengan Lam-mo-kiam, golok besar itu patah menjadi dua potong!
"Trang-trang....!"
Kembali Bun Beng yang baru meloncat bangun itu menangkis dengan golok buntungnya, menangkis serangan golok Thian Tok Lama yang sudah membantu Keng In mengeroyoknya pula.
Biar hanya mempergunakan golok buntung, namun tangkisan ini membuat Thian Tok Lama terhuyung.
Bun Beng menyambitkan golok buntungnya kepada Wan Keng In ketika melihat pemuda itu sudah menerjang lagi.
Biarpun hanya disambitkan, namun golok buntung itu meluncur dengan kekuatan dahsyat sehingga Keng In tidak berani bersikap sembrono dan cepat menggerakkan Lam-mo-kiam untuk menangkis.
Golok buntung itu runtuh dan patah-patah.
Akan tetapi, ketika Keng In menangkis sambitan golok buntung, Kesempatan ini dipergunakan oleh Bun Beng untuk menerjang ke kiri, merobohkan empat orang panglima dan orang Nepal, dan merampas sebatang tombak lagi.
Gerakannya kuat dan cepat sekali sehingga ketika Wan Keng In dan Thian Tok Lama menyerangnya lagi, dia sudah dapat menghadapi mereka dengan tombak di tangan!
Namun, dengan adanya Keng In yang bersenjata Lam-mo-kiam, Bun Beng benar-benar kewalahan.
Sekali bertemu, tombak rampasannya patah-patah lagi dan hampir saja dia termakan sinar pedang Lam-mo-kiam yang amat ampuh.
Untung baginya bahwa jumlah pengeroyok amat banyak sehingga dia dapat menerjang dan menyelinap di antara para pengeroyok.
Hal ini membuat Keng In merasa agak sukar untuk menekannya, dan pemuda Pulau Neraka itu dibantu oleh Thian Tok Lama selalu mengejar-ngejar Bun Beng yang mengamuk di antara para panglima, orang Nepal, dan pasukan pengawal.
Betapapun dia mencobanya, Wan Keng In dan Thian Tok Lama tidak memberi kesempatan sedikitpun juga kepada Bun Beng untuk dapat melarikan diri.
Pemuda itu dikepung ketat dan terpaksa dia me-ngamuk, merobohkan dan menewaskan banyak sekali anak buah pasukan, sedangkan keselamatannya selalu terancam dan berkali-kali nyaris saja terluka oleh Lam-mo-kiam dan golok di tangan Thian Tok Lama.
Telah lebih dari dua puluh orang anak buah pasukan roboh, lebih setengah jumlah panglima dan jagoan Nepal tewas, dan pertandingan itu telah berjalan sampai hampir tengah malam!
Bun Beng berhasil sebegitu jauh menyelamatkan diri dari ancaman Lam-mo-kiam, akan tetapi karena pengeroyokan ketat dan untuk menghindarkan luka senjata, Terpaksa dia menerima hantaman tangan kiri Thian Tok Lama sampai dua kali dan tamparan tangan kiri Wan Keng In satu kali.
Tamparan pemuda Pulau Neraka itu hebat bukan main, membuat dada yang terkena tamparan terasa seperti akan pecah dan napas menjadi sesak, Bun Beng maklum bahwa isi dadanya terguncang dan bahwa pukulan Wan Keng In mengandung racun.
Dia tidak takut akan pukulan beracun karena tubuhnya sudah kebal oleh jamur-jamur beracun, akan tetapi guncangan itu membuat tenaganya berkurang.
Keadaannya amat berbahaya.
Dia tidak takut mati, akan tetapi dia akan merasa kecewa kalau belum berhasil membalas kematian gurunya.
Karena itu, dia mencurahkan perhatian dan kepandaiannya untuk memilih sasaran, yaitu Bhe Ti Kong dan Thian Tok Lama, dua di antara para pembunuh gurunya.
"Thian Tok Lama, bersiaplah kau menyusul Thai Li Lama...!"
Tiba-tiba dia berseru ketika melihat lowongan.
Secepat kilat dia menubruk maju, menendang sebatang pedang yang menyambar dari samping, mengelak dari tusukan Lam-mo-kiam, menggunakan tangan kanan mencengkeram golok Thian Tok Lama.
Pendeta itu terkejut sekali, bukan hanya karena tahu bahwa yang membunuh sau-daranya itu adalah pemuda ini, akan tetapi terutama sekali melihat betapa dengan tangan kosong pemuda lihai itu berani menangkap dan mencengkeram goloknya!
Dia berusaha menarik golok untuk melukai tangan Bun Beng, akan tetapi tiba-tiba Bun Beng sudah menggerakkan tangan kiri menampar ke arah kepalanya!
Hebat bukan main serangan ini dan kalau tamparan ini mengenai sasaran, tak dapat disangsikan lagi nyawa Thian Tok Lama tentu akan melayang.
Akan tetapi pada saat itu, sebuah pukulan yang keras dari tangan kiri Wan Keng In mengenai tengkuk Bun Beng pada saat yang amat tepat.
"Desss....!"
Berbareng jatuhnya pukulan Keng In pada tengkuk Bun Beng dengan tamparan, tangan Bun Beng yang menyeleweng, tidak jadi mengenai kepala melainkan menghantam pundak Thian Tok Lama.
Biarpun menyeleweng, namun cukup membuat pendeta itu terpelanting dan muntah darah!
Akan tetapi, hantaman yang keras dari Keng In, itupun membuat Bun Beng terjengkang!
Bhe Ti Kong menubruk dengan tombaknya, menusuk ke arah ulu hati Bun Beng dengan tombak gagang pendeknya sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Dia merasa yakin bahwa sekali ini dia tentu berhasil membunuh pemuda yang berbahaya ini, apalagi melihat pemuda itu telah terpukul dan mulutnya menyemburkan darah seperti yang dialami Thian Tok Lama.
Tombak itu meluncur tepat ke arah ulu hati Bun Beng.
Pemuda ini tak dapat mengelak lagi, maka terpaksa dia memasang kedua telapak tangan ke depan dada dan begitu ujung tombak menyentuh telapak tangannya, dia membuat gerakan menyentak sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
Pengerahan tenaga ini membuat dadanya terasa nyeri bukan main, pandang matanya berkunang dan darah makin banyak keluar dari mulutnya, akan tetapi tombak itu membalik secara tiba-tiba, menyambut dada Panglima Bhe Ti Kong yang terdorong ke depan.
"Crappp..... auggghhh....!"
Bun Beng menjadi gelap mata dan pingsan, tidak tahu bahwa tubuh Bhe Ti Kong menimpa tubuhnya dan betapa darah yang membanjir keluar muncrat-muncrat dari dada musuhnya itu menyiram tubuhnya.
Panglima itu berkelojotan dan tewas dengan dada tertembus tombaknya sendiri.
"Tahan, Wan-sicu. Jangan bunuh dia....!"
Thian Tok Lama mencegah ketika melihat Wan Keng In mengelebatkan Lam-mo-kiam untuk membunuh Bun Beng.
Wan Keng In menoleh, menahan pedang dan mengerutkan alisnya.
"Manusia macam dia perlu apa dibiarkan hidup? Dia membuat Milana hilang dan sudah mendatangkan banyak korban....!"
Kembali Lam-mo-kiam bergerak.
"Jangan, Wan-sicu! Dia adalah seorang tawanan penting sekali! Dialah yang telah merampas Hok-mo-kiam. Dia yang melepaskan puteri Ketua Thian-liong-pang! Terlalu enak bagi dia kalau dibunuh begitu saja, dan dia perlu diseret di depan Koksu untuk meringankan kesalahan kita...."
"Hmm...."
Wan Keng In menyimpan pedangnya, akan tetapi dia lalu mengayun tangan kanannya ke arah punggung tubuh Bun Beng yang rebah miring.
"Desss!"
Pukulan itu hebat sekali dan Wan Keng In mengomel.
"Biarpun nyawanya rangkap, pukulanku ini akan mencabut nyawanya dalam waktu dua puluh empat jam."
Thian Tok Lama juga terluka di dalam tubuh, akan tetapi tidak membahayakan nyawanya.
Dia lalu turun tangan sendiri, menelikung dan membelit-belit tubuh Bun Beng dengan tali yang amat kuat, lalu mengikat tubuh pemuda yang masih pingsan itu di atas punggung kuda.
"Dia sudah kuberi pukulan Toat-beng-tok-ci (Jari Beracun Pencabut Nyawa). Jangankan untuk melawan, dibiarkan pun dia akan mampus sebelum malam besok."
Wan Keng In mencela melihat betapa pendeta itu bersusah payah membelenggu tubuh yang dia tahu sudah takkan mampu melawan lagi itu.
"Kita tidak boleh gagal lagi membawa dia ke kota raja, Wan-sicu."
Thian Tok Lama membantah dan Wan Keng In mendengus, mengangkat pundak dan sikapnya menjadi murung karena dia marah-marah dan kecewa telah kehilangan Milana.
Betapapun juga, dia harus ikut dan bertemu dengan Koksu.
Setelah dia menyaksikan sendiri betapa lihainya Bun Beng, diam-diam pemuda ini merasa jerih juga.
Bukan terhadap Bun Beng yang tinggal menanti maut itu, akan tetapi baru Bun Beng sudah demikian lihainya, apalagi ibu Milana Si Ketua Thian-liong-pang, belum lagi Pendekar Super Sakti!
Maka dia harus bersikap cerdik dan harus dapat mencari kawan, dan agaknya kedudukannya akan kuat sekali kalau dia dapat bersekutu dengan Koksu yang selain memiliki kedudukan tinggi dan pengaruh besar, juga mempunyai banyak orang pandai itu.
Dengan murung dan tergesa-gesa, membawa teman-teman yang terluka, pergi keluar dari hutan menuju ke kota raja.
Kuda yang membawa tubuh Bun Beng yang kaki tangannya ditelikung dan diikat di atas punggung binatang itu, berada di tengah-tengah dan dikawal sendiri oleh Thian Tok Lama, Wan Keng In.
Kini mereka siap dengan senjata di tangan memegang senjata masing-masing dan bersikap waspada.
Baik Wan Keng In maupun Thian Tok Lama sudah mengambil keputusan untuk pertama-tama menggerakkan senjata membunuh Bun Beng apabila terjadi suatu gangguan di tengah perjalanan ini.
Bun Beng membuka matanya.
Ketika ia merasa betapa tubuhnya tergantung di atas punggung kuda, bergoyang-goyang dan kaki tangannya terbelenggu, dia teringat semua dan tersenyum!
Tubuhnya lemah dan tak bertenaga, sakit-sakit, akan tetapi hatinya riang!
Teringat dia akan Milana dan rasa bahagia di hatinya masih mengatasi semua kesengsaraan yang diderita tubuhnya.
Milana mencintanya!
Puteri Pendekar Super Sakti cinta kepadanya!
Bukan main!
Cucu kaisar sendiri!
Dan dia hanyalah seorang anak haram, keturunan seorang tokoh sesat yang dikutuk dunia!
Apalah artinya siksa dan mati setelah menghadapi kenyataan yang berbahagia itu?
Dan dia telah berhasil menyelamatkan Milana.
Dara itu telah bebas!
Dia akan menyambut kematian atau apapun juga, dengan senyum bahagia!
Ia mengerling ke kiri dan melihat Thian Tok Lama duduk di atas seekor kuda, memegang sebatang golok.
Hemm, sayang.
Dia belum berhasil membunuh pendeta ini, juga belum berhasil membalas Bhong-koksu atas kematian gurunya.
Baru Thai Li Lama dan Panglima Bhe Ti Kong yang telah menebus kematian gurunya.
Bun Beng mencoba mengerahkan sinkangnya.
Hawa panas di pusarnya segera menjawab pengerahannya, akan tetapi tiba-tiba dada dan punggungnya terasa nyeri bukan main, tak tertahankan!
Tahulah dia bahwa dadanya terluka dan punggungnya menderita lebih hebat lagi!
Darah mengalir dari dalam leher ke mulutnya dan dia tahu bahwa dia telah menderita luka akibat pukulan yang mungkin membawa maut.
Tentu perbuatan Wan Keng In atau Thian Tok Lama.
Agaknya lebih tepat kalau dia menduga pemuda Pulau Neraka itulah yang memukulnya.
Luka di tulang punggung ini bukan pukulan biasa, dan kiranya hanya pemuda itulah yang dapat melakukan pukulan sekeji ini.
Dia menghela napas panjang.
Tidak ada harapan untuk menggunakan saat terakhir itu mencoba me-lepaskan diri dan membunuh Thian Tok Lama.
Kalau dia melanjutkan pengerahan sin-kangnya tentu dia akan mati sebelum sempat bergerak!
Dia tidak putus asa.
Mereka telah menawannya, dan biarpun agaknya ketika dia pingsan dia menderita pukulan gelap yang amat membahayakan nyawanya, Namun pada saat itu dia belum mati dan selama dia belum mati dia tidak akan kehabisan harapan.
Mereka belum membunuhnya, berarti bahwa dia masih mempunyai harapan untuk dapat menyelamatkan diri.
Bun Beng tidak berusaha lagi untuk mengerahkan tenaga, bahkan dia lalu melemaskan tubuhnya agar dapat bergantung pada punggung kuda dengan enak.
Rombongan itu melalui hutan terakhir yang penuh dengan pohon bambu.
Daerah ini memang terkenal dengan pohon bambu yang bermacam warna dan bentuknya.
Hati Thian Tok Lama terasa lega karena kota raja sudah dekat.
Tembok kota raja yang tinggi sudah tampak dari tempat tinggi itu, merupakan bayangan hitam memanjang yang tertimpa sinar bintang-bintang di langit yang remang-remang.
Angin malam mempermainkan daun-daun bambu, menimbulkan rasa berkelisik..
Tiba-tiba terdengar teriakan-teriakan dan serta merta terjadilah kekacauan ketika rombongan itu diserang oleh daun-daun bambu yang datang bagaikan anak panah atau senjata rahasia piauw yang runcing.
Tadinya mereka mengira bahwa daun-daun bambu itu rontok oleh angin besar, akan tetapi setelah daun-daun bambu ini menancap dan melukai kulit daging, barulah mereka terkejut dan menjadi kacau!
Kekacauan menjadi-jadi ketika sampai batang-batang bambu yang panjang tiba-tiba meliuk dan menyerang mereka, seolah-olah rumpun bambu itu menjadi hidup dan digerakkan oleh setan-setan menyerang rombongan itu.
Terdengar suara berdebuk disusul robohnya orang susul-menyusul ketika tubuh-tubuh itu dihantam oleh batang bambu.
Thian Tok Lama dan Wan Keng In cepat dapat menduga bahwa amukan pohon-pohon dan daun-daun bambu itu tentulah perbuatan musuh yang lihai.
Akan tetapi pada saat mereka menggerakkan senjata hendak membunuh Bun Beng, tiba-tiba sebatang pohon bambu yang besar dan panjang terbang menyerang mereka, berikut cabang-cabang dan daun-daunnya.
Tentu saja keduanya menjadi terhalang dan mereka menggerakkan senjata membabat runtuh batang bambu itu.
Akan tetapi kuda yang membawa tubuh Bun Beng sudah meringkik keras, terlempar dan roboh dengan perut tertembus batang bambu, sedangkan Bun Beng sendiri yang tadinya menelungkup di atas punggung kuda, melintang, sudah lenyap!
"Tawanan lenyap!"
"Kejar....!"
"Tangkap pengacau!"
Teriakan-teriakan para panglima itu menambah kekacauan dan di antara suara hiruk-pikuk mereka terdengarlah suara terkekeh menyeramkan, suara yang terdengar makin menjauh dan akhirnya lenyap.
"Tidak perlu dikejar, percuma saja karena dialah yang datang menolong Bun Beng,"
Kata Wan Keng In yang menjadi lemas tubuhnya ketika mendengar suara ketawa itu. Thian Tok Lama menahan kudanya.
"Siapakah dia?"
Wan Keng In menarik napas panjang.
"Siapa lagi kalau bukan Bu-tek Siauw-jin? Kalau dia muncul dan ikut-ikut, kita takkan mampu menghadapinya. Dan setelah dia muncul, orang satu-satunya yang dapat melawannya hanyalah guruku. Karena itu, aku tidak akan ikut bersamamu ke kota raja, Thian Tok Lama. Aku harus mencari guruku, minta bantuannya untuk menghadapi tua bangka cebol itu. Sampai jumpa!"
Tanpa menanti jawaban, Wan Keng In yang merasa jerih mendengar suara ketawa susioknya, Bu-tek Siauw-jin, berkelebat dan lenyap dari depan Thian Tok Lama.
Pendeta Tibet ini menarik napas berulang-ulang, menggeleng kepala dan dengan hati risau terpaksa memimpin sisa pasukannya yang ketakutan itu ke kota raja.
Memang dia telah berhasil membasmi Thian-liong-pang akan tetapi pasukannya pun rusak, tawanan lenyap dan banyak panglima tewas, termasuk pembantu kepercayaan Koksu, Panglima Bhe Ti Kong.
Sementara itu, jauh dari situ, di dalam hutan yang gelap, Bu-tek Siauw-jin berjalan seorang diri sambil memanggul sebatang bambu panjang dan di ujung bambu itu terpikul tubuh Bun Beng yang masih terbelenggu kaki tangannya!
Sementara itu, di dalam istana kaisar sendiri terjadilah hal yang amat hebat dan penting.
Kaisar sendiri yang sibuk dengan urusan pemerintahan, dalam usahanya untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat agar pemerintahannya, pemerintah penjajah, mendapat kesan baik di hati rakyat, sama sekali tidak menduga bahwa di antara para pembantunya yang paling dipercaya sedang mengatur pemberontakan untuk menjatuhkannya.
Kaisar Kang Hsi memang seorang kaisar yang pandai.
Akan tetapi, sebagai seorang manusia biasa yang tak terlepas daripada kekurangan, Kaisar yang menjadi pembangun dasar-dasar kekuatan pemerintah Mancu ini mempunyai kelemahan terhadap wanita.
Banyak sekali selirnya dan banyak pula anaknya.
Karena terlalu banyak inilah maka terjadi perebutan dan iri hati, dan Pangeran Yauw Ki Ong adalah seorang di antara putera-puteranya dari selir yang demi cita-cita dan kemurkaan-nya tidak segan-segan melakukan pengkhianatan dan mengadakan persekutuan untuk memberontak dan menggulingkan ayahnya sendiri!
Selir yang ratusan orang jumlahnya masih belum memuaskan hati Kaisar yang selalu haus akan wanita muda yang baru.
Kelemahan ini tentu saja tidak disia-siakan oleh mereka yang ingin menjilat dan mencari kedudukan lebih tinggi.
Mereka selalu mengincar dara-dara muda yang cantik jelita untuk dipergunakan sebagai "persembahan", tentu saja dengan harapan mendapatkan balas jasa.
Kelemahan Kaisar ini menciptakan pembantu-pembantu yang palsu dan di samping ini, juga menimbulkan persaingan dan pertentangan di kalangan para selir itu sendiri.
Mereka adalah wanita-wanita cantik yang masih muda.
Dengan adanya terlalu banyak selir, mereka menderita dan tentu saja akibatnya memungkinkan terjadinya pelanggaran dan ketidaksetiaan.
Untuk mengatasi hal ini, para selir itu dikurung dan dijaga keras oleh pengawal-pengawal yang semua terdiri dari thaikam (manusia kebiri).
Penjagaan dan pengawasan keras ini mendatangkan penderitaan lahir batin bagi wanita-wanita muda itu sehingga mereka merupakan segolongan orang yang mudah dihasut untuk membenci Kaisar yang mereka anggap sebagai orang yang menyiksa mereka dan membuat hidup merupakan kesunyian dan kesengsaraan bagi mereka.
Malam hari itu, para selir yang seperti biasanya melewatkan malam sunyi dengan celoteh, saling berbisik mempercakapkan Kaisar dengan hati penuh iri, karena malam hari itu, semenjak sore hari, Kaisar telah mengeram dirinya di dalam kamar bersama seorang selir baru!
Seorang dara yang kabarnya cantik sekali dan baru malam hari itu mendapat tugas kehormatan melayani Kaisar, seorang dara istimewa karena dara ini adalah persembahan dari Koksu sendiri!
Menurut berita yang didengar sebagian para selir yang tidak melihat sendiri, mendengar penuturan para thaikam penjaga, dara itu selain muda remaja, juga memiliki kecantikan yang luar biasa, bermata agak kebiruan, hidungnya mancung dan kulitnya putih kemerahan, seorang dara asing dari see-thian (dunia barat)!
Dan sebagai persembahan dari Koksu sendiri, tentu saja dara itu mempunyai kedudukan istimewa.
Para thaikam tidak berani bersikap kurang hormat karena takut kepada Koksu, bahkan para selir yang biasanya suka mengeluarkan perasaan iri mereka terhadap selir lain dengan berani, sekarang hanya berani mempercakapkan selir baru ini dengan bisik-bisik.
Semua orang di istana, bahkan para selir dan para pelayan sekalipun, tahu belaka akan kekuasaan Koksu yang ditakuti!
Malam itu memang istimewa.
Hal ini bukan hanya dirasakan oleh para selir dan para thaikam yang bertugas jaga, melainkan terutama sekali oleh Kaisar sendiri.
Semenjak Kaisar menerima gadis persembahan Koksu yang datang menghadap pagi hari itu, Kaisar merasakan sesuatu yang lain daripada biasa.
Belum pernah dia melihat kecantikan seorang dara seperti dara peranakan Nepal ini.
Kecantikan yang khas, dan yang sekaligus menjatuhkan rasa sayang dan membangkitkan gairah di hati Kaisar itu.
Terangsang oleh gairah ingin cepat-cepat berdua saja dengan Si Jelita ini, Kaisar menunda semua urusan, dan baru saja matahari mengundurkan diri Kaisar sudah memasuki kamar peraduannya yang istimewa dan memerintahkan Si Juita datang menghadap dan melayaninya.
Kamar ini luas sekali, berbau harum dan dindingnya yang berwarna hijau muda dihias bunga-bunga dan lukisan-lukisan indah.
Lantainya dari batu pualam yang jernih dan satu-satunya perabot kamar itu hanyalah kasur-kasur tebal yang memenuhi bagian tengah, ditilami kain berbulu yang halus dan hangat, dengan bantal-bantal terhias sarung sutera bersulam indah.
Kaisar telah duduk setengah rebah di atas kasur ketika Thaikam kepala membuka pintu kamar.
Thaikam berlutut di luar pintu dan tampak seorang dara yang bertubuh tinggi ramping dengan langkah gontai dan lemah lembut.
Setelah dara itu memasuki kamar, daun pintu tertutup lagi di belakangnya dan terdengar langkah-langkah halus Thaikam kepala meninggalkan depan pintu disusul suaranya berbisik-bisik mengatur penjagaan.
Seperti biasa, setiap kali Kaisar bermalam di kamar ini, di empat penjuru luar kamar selalu dijaga oleh pengawal-pengawal thaikam yang berkepandaian tinggi, di samping pelayan-pelayan wanita yang berlutut di luar kamar, diam tak bergerak seperti arca akan tetapi siap untuk memasuki kamar apabila tenaga dan pelayanan mereka dibutuhkan.
Empat orang pelayan wanita yang muda dan masih gadis malam itu menjaga di luar kamar, tubuh mereka yang duduk bersimpuh itu tak bergerak, Akan tetapi mata mereka kadang-kadang mengerling liar ke arah kamar dan jantung mereka berdebar penuh ketegangan.
Biarpun mata mereka tidak mungkin menembus dinding kamar untuk menyaksikan apa yang terjadi di dalam kamar, akan tetapi dinding itu terbuat dari papan kayu tipis halus sehingga telinga mereka dapat mendengar semua suara dari dalam kamar.
Suara yang lirih sekalipun, seperti berkereseknya pakaian atau tarikan napas panjang, dapat terdengar jelas!
Dara itu benar-benar cantik luar biasa.
Kedua kakinya tidak bersepatu, telanjang dan bersih, tampak putih kemerahan di balik pakaiannya yang terbuat dari sutera longgar, pakaian tidur yang khusus dibuat untuk selir-selir kaisar, hanya merupakan kain sutera tipis menyelimuti tubuh dan membayangkan bentuk tubuh yang padat menggairahkan, Penuh lekuk lengkung yang menantang.
Ketika dara itu tiba di depan pembaringan yang hanya kasur terletak di atas lantai, dia menjatuhkan diri berlutut, menelungkup sehingga kedua lengannya rebah di atas lantai di depan kepalanya, pangkal kedua lengan menutupi muka, rambutnya tergerai lepas di atas lantai.
Kulit leher yang putih kemerahan dan halus membayang dari celah-celah rambut yang tersibak, dan sebagian lengan yang dilonjorkan keluar dari selimutan Sutera, tampak putih bersih dan halus bagaikan lilin diraut!
Kaisar terpesona.
Tubuh yang muda dan sempurna, tidak terlalu besar tidak terlalu kecil, tidak terlalu tinggi atau pendek.
Cuping hidungnya bergerak mencium keharuman yang keluar dari rambut dan leher agak terbuka penutupnya itu, dan dengan suara agak gemetar Kaisar berkata halus.
"Bangunlah....!"
Tubuh yang berlutut setengah menelungkup di atas lantai batu pualam dan yang tadi tidak bergerak-gerak itu menggigil sedikit, lalu kedua lengan diangkat, dan tubuh itu bangkit duduk, wajahnya tampak cantik jelita dan segar kemerahan kedua pipinya, mulut yang amat manis bentuknya membentuk senyum malu, senyum ditahan yang membuat bibir itu gemetar halus, kedua mata yang lebar setengah terpejam dengan pandangan menunduk sehingga bulu mata yang lentik panjang membentuk bayang-bayang di atas pipi, leher yang panjang itu tampak jelas, kepalanya agak dimiringkan.
Kaisar makin terpesona, kini dia duduk dan mengembangkan kedua lengannya sehingga pakaian tidurnya terbuka memperlihatkan dada yang bidang dan perut yang mulai menggendut.
"Juita sayang.... jangan takut dan malu, ke sinilah...."
Kembali Kaisar berbisik.
Muka itu makin merunduk, bibirnya merekah dan tampak deretan gigi seputih mutiara menggigit sebelah dalam bibir bawah, kemudian dara itu bergerak maju dengan menggunakan kedua lututnya, menghampiri Kaisar.
Begitu tiba dekat, Kaisar sudah menerkam-nya dengan pelukan penuh gairah.
Para thaikam yang menjaga di luar kamar itu mendengarkan suara di dalam kamar dengan wajah tidak berubah sama sekali.
Mereka sudah terbiasa dan keadaan mereka sebagai orang kebiri telah melenyapkan pula perasaan halus mereka.
Mereka berdiri berjaga dengan sikap sama sekali tidak mengacuhkan.
Akan tetapi yang amat tersiksa adalah gadis-gadis pelayan yang terpaksa memejamkan mata dan menggigit bibir mendengarkan segala kemesraan yang berlangsung di dalam kamar Kaisar.
Wajah mereka sebentar pucat sebentar merah.
Kaisar seperti mabuk dalam nafsunya sehingga kehilangan kewaspadaan, tidak mendengar kegaduhan yang terjadi di luar kamarnya.
Padahal, terdengar bentakan tertahan sebelum para pengawal thaikam itu roboh tewas, dan seorang diantara para gadis pelayan sempat menjerit kecil sebelum dia roboh pula seperti teman-temannya.
Kaisar yang tergila-gila kepada dara bermata biru itu, yang mabok dalam buaian nafsunya sendiri, sama sekali tidak tahu bahwa di luar kamarnya darah berlepotan membanjiri lantai.
Bukan hanya ini saja kelengahannya, bahkan dia juga tidak tahu betapa dara yang membuatnya seperti gila, yang sempat mengeluarkan rintihan merayu, dengan kedua lengan yang halus dan jari-jari tangan yang membalas belaiannya, juga merupakan maut yang siap mencabut nyawanya!
Tanpa terlihat oleh Kaisar, dua buah jari tangan yang halus meruncing dan indah itu kini telah menjepit sebatang jarum dan jari-jari tangan yang mengandung tenaga kuat itu siap untuk menusukkan jarum ke dalam otak di kepala Kaisar melalui pusat di tengkuk!
Tiba-tiba tampak sinar berkelebat dari arah pintu kamar.
Dara dalam pelukan Kaisar itu tiba-tiba mengeluarkan suara menjerit nyaring lalu tubuhnya berkelojotan dalam sekarat!
Tentu saja Kaisar menjadi terkejut sekali, serta-merta meloncat, menyambar pakaiannya dan membalikkan tubuh memandang ke arah pintu.
Pintu telah terbuka dan di tengah pintu tampak seorang wanita setengah tua yang cantik, gagah dan mengerikan karena mukanya yang cantik itu putih seperti kapur!
Wanita itu segera menjatuhkan diri berlutut ke arah Kaisar!
Kaisar yang terkejut sekali itu dapat menguasai diri dan membentak marah.
"Siapa engkau sungguh berani mati sekali! Pengawal....!"
"Hendaknya Paduka ketahui bahwa semua pengawal dan pelayan telah terbunuh dan nyaris Paduka juga terancam maut di tangan perempuan itu."
Wanita bermuka putih itu berkata tanpa mengangkat muka dan dengan sikap hormat, akan tetapi juga dingin.
Kaisar yang sudah bangkit berdiri itu membalik dan memandang ke arah dara yang tadi membuatnya mabok dan lupa segala.
Tubuh yang mulus dan indah itu masih membujur telentang di atas kasur, dengan sikap menggairahkan, akan tetapi kini sudah tidak bergerak lagi, sudah tidak bernyawa dengan pelipis terluka mengeluarkan darah.
Akan tetapi bukan tubuh itu dan bukan luka itu yang membuat Kaisar terbelalak, melainkan jari tangan yang menjepit sebatang jarum hitam!
"Apa....
apa yang telah terjadi....?"
Kaisar tergagap karena merasa heran dan tidak mengerti.
"Harap Sri Baginda mengampunkan hamba yang lancang ini. Persekutuan pemberontak telah merencanakan ini semua, dipimpin oleh Koksu. Perempuan ini adalah seorang kaki tangan Koksu yang bertugas merayu dan membunuh Paduka dengan tusukan jarum beracun. Sedangkan para thaikam pengawal di bagian istana ini telah dibunuh oleh kaki tangan pemberontak. Karena tadi melihat betapa perempuan ini hampir saja membunuh Paduka, terpaksa hamba tidak sempat memberi tahu dan turun tangan membunuhnya."
"Apa....? Pemberontak? Koksu? Heii, wanita, jangan engkau lancang bicara! Dosamu sungguh besar....!"
Pada saat itu, muncul dua orang bersorban di belakang wanita itu.
Mereka menggerakkan tangan dan dua batang pisau terbang meluncur ke dalam kamar.
Wanita itu berseru, tubuhnya mencelat ke depan dan sekali sambar dia telah berhasil menangkap dua batang pisau yang menyerang Kaisar, kemudian dengan kecepatan kilat dia telah menyambitkan pisau-pisau rampasan itu ke belakangnya.
Dua orang Nepal itu memekik dan roboh terjengkang dengan dada tertusuk pisau mereka sendiri!
Kini barulah Kaisar yakin akan kebenaran kata-kata wanita aneh itu.
"Aihhh.... lekas ceritakan dengan singkat, apa yang terjadi!"
"Hamba bernama Lulu dan secara kebetulan saja hamba tahu akan persekutuan busuk ini. Pemberontakan direncanakan oleh Pangeran Yauw Ki Ong dan dibantu oleh Koksu dan kaki tangan mereka, bahkan di perbatasan utara telah dipersiapkan tentara pemberontak gabungan, dibantu orang-orang Nepal, Mongol dan Tibet. Hamba tidak tahu banyak, akan tetapi untung hamba tidak terlambat ketika Paduka terancam...."
"Hemm, jasamu cukup dan kami berterima kasih kepadamu. Lulu namamu? Engkau wanita Mancu? Seperti pernah aku mendengar nama ini. Lulu, sekarang kuperintahkan engkau untuk membasmi para pembunuh di istana puteri ini. Kuberi kekuasaan kepadamu."
"Akan tetapi Paduka? Hamba harus menjaga Paduka...."
"Aku akan kembali ke istana melalui jalan rahasia di dalam kamar ini. Jangan khawatir, sebentar lagi pengawal-pengawalku akan membantumu sehingga tidak seorang pun pembunuh akan lolos. Lakukanlah perintahku!"
Wanita itu yang bukan lain adalah Lulu atau bekas Ketua Pulau Neraka, memberi hormat lalu berkelebat keluar dari kamar itu.
Kaisar memandang ke arah tubuh jelita yang kini telentang menjadi mayat, menghela napas panjang penuh penyesalan, lalu menghilang di balik sebuah pintu rahasia yang muncul ketika Kaisar menekan tombol di sudut kamar.
Dengan gerakan ringan bagaikan seekor burung walet, Lulu meloncat keluar dari dalam kamar.
Sambaran senjata rahasia membuat dia waspada, tubuhnya mengelak dan sekali meloncat dia telah naik ke atas sebuah meja.
Dari belakang muncullah empat orang bersorban yang bersenjata golok melengkung.
Golok mereka itu berlepotan darah dan dengan ganas mereka menyerang Lulu.
"Sing-sing.... crak-crakkkk!"
Meja di mana Lulu tadi berdiri pecah-pecah tertimpa senjata tajam, akan tetapi Lulu sendiri sudah lenyap dari situ dan tahu-tahu telah berada di belakang dua orang Nepal membalas serangan dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.
Dua orang Nepal itu bukanlah orang-orang biasa, melainkan jagoan-jagoan pilihan yang bertugas membantu dan mengawal wanita yang akan membunuh Kaisar.
Mereka ini terdiri dari dua belas orang Nepal dan tiga orang Han dan semua thaikam yang menjaga di istana bagian puteri ini telah mereka bunuh.
Tamparan Lulu dapat mereka elakkan, bahkan mereka memutar tubuh sambil menyerang lagi dengan golok.
Akan tetapi yang mereka hadapi adalah Lulu, bekas Ketua Pulau Neraka yang memiliki kesaktian luar biasa.
Biarpun tamparan-tamparannya luput, melihat dua orang Nepal itu balas menyerang dengan golok, Lulu sama sekali tidak mengelak bahkan mengembangkan kedua tangan menyambut golok-golok itu.
"Trak-trakkkkkk!"Dapat dibayangkan betapa kaget hati kedua orang Nepal itu melihat golok mereka dapat dicengkeram dan patah-patah oleh jari-jari tangan yang kecil halus itu, akan tetapi sebelum mereka sempat melanjutkan rasa kaget, keduanya sudah roboh dengan urat-urat leher putus terkena "bacok"
Kedua tangan Lulu! "Hati-hati, kepung dia....!"
Tiba-tiba terdengar bentakan seorang Nepal yang berdiri di sudut.
Orang ini, berbeda dengan yang lain, tidak membawa senjata, bahkan agaknya dia sedang asyik minum arak dari sebuah guci yang didapatnya di istana itu.
Kemudian terdengar dia bicara dalam bahasa Nepal, dan orang-orang bersorban dibantu oleh tiga orang Han yang gerakannya ringan gesit kini mengurung Lulu dengan gerakan teratur.
Agaknya kakek Nepal yang minum arak itu tahu akan kelihaian Lulu dan sudah mengatur anak buahnya untuk mengurung dan membentuk barisan!
Lulu berdiri di tengah-tengah ruangan yang luas, diam tak bergerak, hanya kedua matanya saja yang bergerak mengerling ke kanan-kiri mengikuti gerak-gerik para pengurungnya.
Dia melihat betapa mereka itu membentuk garis pat-kwa dan mulai mengeluarkan suara seperti bernyanyi atau berdoa!
Mula-mula Lulu memandang rendah, sungguhpun dia bersikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa bergerak, akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika suara nyanyian itu makin lama makin tidak enak sekali memasuki telinganya, seperti menusuk-nusuk dan dia mulai menjadi pening!
Yang paling nyaring suaranya adalah orang Nepal yang tidak ikut mengurung, yaitu kakek Nepal yang masih memegang guci arak dan kini kakek itu berada di loteng, menonton ke bawah sambil bernyanyi-nyanyi memimpin anak buahnya!
Lulu tidak tahu bahwa mereka itu mempergunakan ilmu hitam untuk menundukkannya.
Tak tertahankan lagi kepeningan kepalanya dan Lulu terpaksa memejamkan matanya.
Pada saat itu, terdengar aba-aba dari atas loteng dan tiga di antara orang-orang Nepal menubruk maju dan menggerakkan senjata mereka.
Seorang bersenjata golok, seorang menusuk dengan pisau-pisau belati di kedua tangan, dan orang ke tiga menghantamkan sebuah ruyung!
Lulu merasa pening dan telinganya seperti ditusuk-tusuk, akan tetapi dia merasa akan datangnya serangan.
Dengan kemarahan meluap-luap, wanita sakti ini mengeluarkan jerit melengking yang tidak lumrah suara manusia, seperti suara iblis saja.
Dia tidak mengelak, melainkan langsung menubruk maju menyambut serangan-serangan itu dengan kedua lengan dikembangkan, kedua tangan dengan jari-jari terbuka mencengkeram ke depan!
Tanpa disengaja, Lulu telah membuyarkan pengaruh suara nyanyian yang mengandung ilmu hitam itu, yaitu ketika dia menjerit dengan pengerahan khi-kang saking marah tadi.
Akibat dari terjangannya yang dahsysat, senjata-senjata tiga orang itu terpental ke belakang, seorang Nepal kena dicengkeram dadanya oleh tangan kiri Lulu sehingga jari-jari tangan wanita itu menancap masuk dan merobek dada, seorang lagi terlempar oleh tamparan yang mengenai kepala, sedangkan orang ke tiga terhuyung-huyung mundur ketakutan!
Lulu melemparkan orang yang dicengkeram dadanya, kemudian cepat meloncat ke belakang melampaui kepala para pengurungnya karena pada saat itu, sudah datang pula senjata-senjata para pengeroyok menyerangnya seperti hujan lebat!
Loncatan Lulu yang amat gesit ini sama sekali tidak disangka-sangka oleh para pengurungnya, demikian cepat laksana kilat menyambar gerakan Lulu dan tahu-tahu wanita itu telah berada di atas sebuah meja!
Orang-orang Nepal itu cepat mengurung lagi dan serentak maju menyerang, akan tetapi kini Lulu yang sudah marah mulai mengamuk dan wanita perkasa ini tidak pernah meninggalkan meja dan meja itu bergerak menerjang ke kanan-kiri, melayang-layang menggantikan kaki wanita perkasa itu!
Terjadilah pertempuran yang aneh dan hebat sekali.
Karena dia selalu berada di atas meja tidak mudah bagi pengeroyok untuk menyerangnya tanpa terancam bahaya pukulan-pukulan mengandung hawa sin-kang yang dilancarkan Lulu dari atas meja, membuat mereka tak berani mendekat karena siapa yang terlalu dekat, kalau tidak terpelanting oleh pukulan jarak jauh, tentu roboh oleh sambaran jarum-jarum rahasia yang dilepas oleh bekas Ketua Pulau Neraka itu.
Betapapun juga, karena rata-rata orang-orang Nepal itu memiliki kepandaian tinggi, Lulu juga tidak berani bersikap sembrono dan memandang rendah.
Dia selalu membuat mejanya melayang ke luar dari kepungan setiap kali para pengeroyoknya berusaha untuk mengepungnya.
Ketika dia berhasil merobohkan empat orang pula dan pihak pengeroyok mulai menggunakan pisau-pisau terbang, tiba-tiba meja itu melayang ke atas loteng!
Kakek Nepal yang tadinya minum arak dan memandang rendah karena yakin bahwa kepungan anak buahnya tentu akan merobohkan wanita itu, menjadi kaget dan penasaran sekali.
Ditenggaknya arak dari guci, kemudian dia bergerak meloncat menyambut Lulu yang melayang bersama mejanya ke atas loteng, dan disemburkanlah arak dari mulutnya ke arah Lulu.
Wanita ini mengerti bahwa ada serangan dari belakang.
Mejanya berputar dan ia menghadapi kakek Nepal itu.
Melihat ada gumpalan seperti uap hitam kemerahan menyerangnya, Lulu cepat menggerakkan tangan mendorong sambil mengerahkan sin-kang.
Uap arak itu membuyar, akan tetapi Lulu terkejut bukan main melihat betapa uap itu seolah-olah hidup, terpecah-pecah dan seperti serombongan ular terbang, terus menyerang ke arah mukanya!
Dan pada saat itu, kakek Nepal sudah melontarkan guci yang kosong ke arah meja yang diinjaknya.
"Desss!"
Lulu lebih memperhatikan serangan uap aneh ke arah mukanya, maka dia meloncat ke atas meninggalkan mejanya yang pecah berantakan dihantam guci, kemudian di udara dia berjungkir balik, melayang ke arah kakek Nepal melampaui gumpalan uap tadi, langsung menghantam dengan Ilmu Pukulan Toat-beng Bian-kun!
Kakek Nepal itu sesungguhnya hanya kuat ilmu hitamnya dan dia terlalu memandang rendah Lulu, tidak tahu bahwa wanita itu adalah bekas Ketua Pulau Neraka yang tersohor.
Melihat wanita itu dapat menghindarkan serangan uap araknya dan kini melayang sambil memukulnya dengan dorongan telapak tangan yang membawa angin pukulan halus, dia terkekeh, lalu melonjorkan tangan me-nyambut pukulan tangan Lulu dengan niat menangkap tangan wanita itu!
"Plakkk!"
Telapak tangan kakek itu bertemu dengan telapak tangan Lulu, dan kakek itu terkekeh makin girang ketika merasa betapa telapak tangan itu halus, lunak dan hangat, sama sekali tidak mengandung tenaga sin-kang yang kuat.
Akan tetapi, dia sama sekali tidak tahu bahwa Pukulan Toat-beng Bian-kun adalah semacam pukulan halus yang amat berbahaya.
Lulu memperoleh ilmu pukulan mujijat ini dari Nenek Maya yang sakti, dan setelah dia tinggal di Pulau Neraka, pukulan ini diperhebat dengan hawa beracun.
Jangankan baru kakek Nepal ini yang tidak berapa tinggi ilmunya, biar orang-orang terkuat di dunia kang-ouw jaranglah kiranya yang akan kuat menerima pukulan ini secara terbuka seperti itu.
Suara ketawanya tiba-tiba berubah menjadi pekik mengerikan, tubuhnya seketika kaku seperti kemasukan api halilintar dan begitu tangan kiri Lulu menyusul dengan tamparan mengenai kepalanya, kedua telapak tangan yang saling menempel tadi terlepas, tubuh kakek Nepal terjengkang dan dia sudah tewas dengan muka berubah hitam!
Gegerlah orang-orang Nepal melihat betapa pemimpin mereka tewas.
Mereka tadinya berloncatan mengejar ke atas loteng dan kini Lulu mengamuk, merobohkan tiga orang lagi.
Sementara itu di antara mereka ada yang sudah melihat wanita yang ditugaskan membunuh Kaisar menggeletak tanpa nyawa di dalam kamar peraduan, maka maklumlah mereka bahwa usaha mereka gagal sama sekali.
Mulailah mereka menjadi panik dan berusaha untuk melarikan diri.
Akan tetapi, Lulu yang telah menerima perintah kaisar, tidak membiarkan mereka lolos.
Dia selalu berkelebat menyerang dan merobohkan lawan yang hendak melarikan diri dan tidak lama kemudian, muncullah pasukan pengawal yang dipimpin oleh Kaisar sendiri dari pintu samping!
Pasukan pembunuh menjadi makin kacau, mereka melawan mati-matian akan tetapi akhirnya mereka roboh semua seorang demi seorang!
Pada saat itu telah menjelang fajar dan beberapa detik setelah orang terakhir pasukan pembunuh roboh, daun jendela ruangan itu pecah dan dua sosok tubuh melayang masuk ke ruangan itu.
Lulu memandang kaget ketika mengenal bahwa yang baru masuk melalui jendela ini bukan lain adalah Ketua Thian-liong-pang si wanita berkerudung bersama dara jelita Milana.
Kedua orang itu memegang pedang terhunus!
"Tangkap Ketua Thian-liong-pang, sekutu pemberontak!"
Tiba-tiba kaisar membentak marah.
Dia sudah mendengar akan kerja sama antara Koksu dan Thian-liong-pang yang tadinya dia setujui saja karena dia percaya kepada Koksu.
Akan tetapi setelah kini ternyata Koksu memberontak, tentu saja Thian-liong-pang juga merupakan pemberontak, dan agaknya Ketua Thian-liong-pang inilah yang memimpin pasukan pembunuh.
Kaisar hanya menerima laporan Koksu tentang Ketua Thian-liong-pang yang katanya amat lihai dan seorang wanita berkerudung yang penuh rahasia.
Mendengar bentakan kaisar ini, lima orang pengawal menerjang maju dengan senjata terhunus, mengurung dan hendak menyerang.
"Jangan lancang!"
Nirahai, wanita berkerudung itu membentak sambil menggerakkan tangan kiri dan lima orang pengawal itu terpelanting ke kanan-kiri!
Melihat ini para pengawal terkejut dan (Lanjut ke
Jilid 39) Sepasang Pedang Iblis (Serial 08 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 Kaisar sendiri pun kaget sekali.
"Biarkan hamba yang menghadapinya!"
Lulu berkata lantang dan sekali kakinya bergerak, tubuhnya sudah melayang ke depan Nirahai.
Untuk kedua kalinya, dalam keadaan dan tempat yang jauh berlainan dari yang pertama, dua orang wanita sakti ini saling berhadapan!
Bagaimanakah Nirahai, Ketua Thian-liong-pang itu dapat muncul secara tiba-tiba di situ bersama puterinya?
Seperti kita ketahui, Nirahai bersama Bu-tek Siauw-jin menghadapi pengeroyokan Bhong-koksu dan Maharya yang dibantu oleh banyak sekali perwira dan pengawal yang kuat.
Pertandingan hebat itu terjadi di dalam taman di istana Koksu dibantu oleh Maharya dan banyak tokoh Tibet dan Mongol yang lihai sekali, namun Nirahai dan Bu-tek Siauw-jin mengamuk dan merobohkan banyak orang dalam usaha mereka membobol keluar dari kepungan.
Tadinya Nirahai berniat akan mengamuk terus sampai dia berhasil membunuh Bhong-koksu yang telah memberontak kepada Kaisar dan bersekutu untuk membunuhnya dan menghancurkan Thian-liong-pang, akan tetapi ketika mendengar betapa pada saat itu Koksu telah mengirim pasukan untuk menyerbu Thian-liong-pang, Dia menjadi khawatir sekali dan bersama dengan Bu-tek Siauw-jin yang sudah bosan bertempur, dia membuka jalan darah untuk keluar dari kepungan.
Kepandaian Ketua Thian-liong-pang ini, terutama dengan adanya Bu-tek Siauw-jin kakek aneh yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia, membuat kepungan Bhong-koksu dan kaki tangannya kurang kuat dan akhirnya, setelah merobohkan banyak lawan, dua orang sakti itu berhasil membobol kepungan dan melarikan diri ke luar dari taman di belakang istana Koksu.
Mereka lari berpencar.
Nirahai langsung menuju keluar dari kota raja untuk pergi ke markasnya, sedangkan Bu-tek Siauw-jin keluar pula dari kota raja untuk mencari jejak muridnya.
Baru saja Nirahai keluar dari tembok kota raja, dia bertemu dengan Milana yang berlari-lari.
"Milana....!"
Dia memanggil dengan hati tidak enak.
Puterinya bertugas menjaga di markas dan kalau tidak terjadi sesuatu, tak mungkin Milana berani meninggalkan markas Thian-liong-pang.
"Ibu....!"
Melihat ibunya, Milana terus saja menangis sehingga hati Nirahai makin tidak enak lagi.
"Apa yang terjadi?"
Nirahai bertanya sambil memeluk pundak puterinya yang menangis terisak-isak.
Dengan suara terputus-putus Milana lalu menceritakan penyerbuan pasukan Koksu yang dipimpin Thian Tok Lama sehingga tokoh-tokoh Thian-liong-pang tewas semua, anak buah mereka pun sebagian besar tewas dan hanya sedikit saja yang kiranya dapat melarikan diri.
Mendengar penuturan ini Nirahai marah bukan main.
"Anjing pengkhianat Bhong Ji Kun....!"
Dia memaki dan mengepal tinju.
"Kita harus membalaskan kematian Bibi Wi Siang dan yang lain-lain, Ibu."
Milana berkata penuh sakit hati.
"Bagaimana engkau dapat lolos?"
Tiba-tiba Nirahai bertanya. Milana lalu meceritakan betapa dia dijadikan tawanan dan ditolong oleh Gak Bun Beng.
"Dia memaksa aku melarikan diri dan memberikan pedang Hok-mo-kiam ini untuk diserahkan kepada Ayah."
"Hemmm...., anak itu memang baik sekali. Sungguh tidak tersangka. Milana, sekarang juga kita harus menghadap Kaisar. Agaknya sudah tiba saatnya aku kembali kepada kerajaan, membantu kerajaan dan membasmi Koksu pengkhianat itu dan kaki tangannya."
Demikianlah, ibu dan anak itu dengan cepat malam itu juga pergi ke istana dan tiba di istana menjelang pagi.
Sebagai bekas puteri kaisar, tentu saja dengan mudah Nirahai dapat menyelundup ke istana dan langsung menuju ke bangunan istana bagian puteri karena di waktu larut malam seperti itu dia tidak berani mengganggu Kaisar.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dia bersama Milana melihat keributan di istana bagian ini, melihat banyak thaikam menggeletak tewas dan banyak pula orang-orang bersorban tewas, bahkan di ruangan dalam masih terjadi pertempuran dan teriakan-teriakan para pengawal kaisar yang membantu Lulu membunuh orang-orang Nepal.
Ketika mendengar bentakan Kaisar yang menganggapnya sebagai sekutu Koksu dan perintah Kaisar untuk membunuhnya, Nirahai berdiri tegak dan dia mendorong roboh lima orang pengawal yang menyerangnya.
Kini Lulu berdiri di depannya dengan sikap menantang!
"Hemm, sungguh tak kusangka kita akan saling bertemu lagi di sini, Thian-liong-pangcu!
Lebih-lebih lagi tidak kusangka bahwa engkau begitu keji dan palsu, bersekutu dengan pemberontak untuk membunuh Kaisar!
Setelah berada di depan Sri Baginda, engkau masih banyak berlagak.
Orang lain boleh jadi takut kepadamu, akan tetapi aku tidak!"
Lulu berkata, dan diam-diam dia merasa tidak suka kepada wanita berkerudung yang telah mengancam puteranya dan yang telah menolak pinangannya itu.
"Kurung para pemberontak! Jangan biarkan mereka lolos!"
Kaisar berseru lagi ketika dari pintu-pintu ruangan itu bermunculan pengawal-pengawal yang mendengar akan peristiwa di istana bagian puteri dan cepat memimpin pasukan untuk membantu.
Kini tempat itu penuh dengan pasukan pengawal dan semua pintu dijaga ketat sehingga tidak ada jalan keluar Pagi bagi Nirahai dan Milana.
"Pemberontak rendah, bersiaplah untuk mati!"
Lulu membentak dan tubuhnya sudah menerjang ke depan, menyerang Nirahai dengan pukulan-pukulan dahsyat.
Karena dia maklum bahwa lawannya ini adalah seorang yang sakti, maka begitu menyerang, Lulu telah mainkan jurus dari Ilmu Silat Sakti Hong-in-bun-hoat dan tenaga pukulannya adalah Ilmu Toat-beng-bian-kun!
"Plak!
Plak!
Heiiiittt!"
Lulu melancat ke belakang setelah berseru nyaring, penuh keheranan karena Ketua Thian-liong-pang itu menangkis dan menghadapi serangannya dengan ilmu silat dan tenaga pukulan yang sama!
"Aihh, ternyata betul kabar yang tersiar bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah pencuri ilmu yang tak tahu malu!"
Bentak Lulu dengan penuh kemarahan.
"Lulu, betapa bodohnya engkau!"
Tiba-tiba suara di balik kerudung ini berubah halus dan Lulu tersentak kaget.
"Kau.... kau.... siapakah....?"
Pada saat itu, Milana sudah menjatuhkan diri. berlutut menghadap kepada Kaisar sambil menangis dan berkata.
"Mohon Sri Baginda sudi mengampunkan hamba dan ibu hamba....! Thian-liong-pang sama sekali bukan pemberontak, bahkan sebaliknya. Thian-liong-pang selalu membantu kerajaan! Karena itulah, baru saja kemarin, Thian-liong-pang diserbu dan dihancurkan oleh pasukan pemberontak Koksu pengkhianat, para pembantu Ibu tewas semua dan hamba sendiri pun nyaris tewas.... harap Paduka sudi mengampunkan ibu dan Ibu.... Ibu.... selamanya.... setia kepada Paduka...."
Milana tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia sudah menangis tersedu-sedu.
Baru sekarang ini dia bertemu dengan Kaisar yang sebetulnya masih kakeknya sendiri!
Dia menangis bukan karena takut melihat ancaman terhadap ibunya dan dia, melainkan merasa berduka dan terharu.
Lulu juga mendengar ucapan ini.
Dia ragu-ragu dan memandang wanita berkerudung itu dengan bingung.
Kini wanita berkerudung itupun menjatuhkan diri berlutut menghadap Kaisar dan terdengar suaranya lantang.
"Sesungguhnyalah apa yang dikatakan oleh puteri hamba Milana itu. Semenjak dahulu, hamba adalah puteri Paduka yang setia...."
Nirahai merenggut kerudung yang menutupi mukanya dan tampaklah wajah yang cantik agung dan diliputi penderitaan batin itu.
"Suci (Kakak Seperguruan)....!"
Lulu menjerit saking kagetnya karena sedikit pun tidak pernah diduganya bahwa Ketua Thian-liong-pang, ibu Milana, adalah Nirahai! "Nirahai....!"
Kaisar juga berseru girang, lalu melangkah maju.
"Aihhh.... jadi engkaukah yang selama ini menjadi Ketua Thian-liong-pang? Dan gadis ini.... dia anakmu....?"
Nirahai menggandeng tangan Milana, dibawa menghadap dah berlutut di depan Kaisar.
"Harap Paduka sudi mengampunkan hamba, Milana adalah anak hamba dan...."
"....dan dia cucuku! Ahhhhh!"
Kaisar menyentuh kepada Milana dengan ujung jari tangannya.
"Nirahai, sukurlah bahwa engkau sudah kembali. Sekarang, kuserahkan seluruh pengawal. Seperti dahulu, pimpin mereka membersihkan pemberontak-pemberontak laknat itu! Tangkap Yauw Ki Ong dan Bhong Ji Kun, seret mereka ke pengadilan! Dan.... wanita bernama Lulu ini, siapakah dia? Sumoi-mu?"
"Dia adalah Lulu, Sumoi hamba dan.... dialah bekas Ketua Pulau Neraka yang telah dibasmi oleh pasukan kerajaan."
Nirahai berkata dan Lulu sudah menjatuhkan diri berlutut. Kaisar mengelus jenggotnya dan menarik napas panjang.
"Hemm...., semua adalah gara-gara perbuatan Bhong Ji Kun yang khianat. Dialah yang melaporkan kepadaku bahwa Pulau Es dan Pu1au Neraka merupakan kekuatan-kekuatan berbahaya dan perlu dibasmi, dan aku selalu percaya kepadanya. Apalagi karena aku mengira bahwa engkau berada di Pulau Es.... ahh, benar-benar menyesal sekali aku, telah mendengar bujukan Si Palsu itu."
"Baik Thian-liong-pang, Pulau Es, dan Pulau Neraka tidak pernah memusuhi kerajaan!"
Nirahai berkata dan Lulu hanya menundukkan mukanya karena dia benar-benar menjadi bingung sekali setelah mendapat kenyataan bahwa Ketua Thian-liong-pang adalah Nirahai.
Jadi puteranya, Wan Keng In, tergila-gila kepada anak Nirahai?
Dan anak Nirahai berarti anak....
Han-koko, pikirnya terharu dan terkejut, karena bukankah sucinya itu pernah menjadi isteri Suma Han Si Pendekar Super Sakti?
"Si keparat Bhong Ji Kun yang berdosa.
Nirahai, dan engkau Lulu, aku menyerahkan tugas dan kekuasaan kepada kalian berdua untuk membasmi pemberontak.
Setelah itu barulah kita bicara.
Nah, terimalah pedangku sebagai lambang kekuasaan tertinggi!"
Kaisar meloloskan pedang yang sarungnya bertahtakan naga dan burung Hong, menyerahkan pedang itu kepada Nirahai yang menerimanya sambil berlutut.
Kemudian, dikawal oleh pengawal-pengawal pribadinya, Kaisar mengundurkan diri dan Nirahai lalu mengajak Lulu dan Milana untuk mengatur pasukan bersama para panglima istana yang kini menganggap Nirahai sebagai kepala mereka.
Para panglima yang tua tentu saja masih mengenal Nirahai dan mereka girang sekali mendapatkan pimpinan wanita sakti ini karena yang mere-ka lawan adalah Koksu yang dibantu oleh banyak orang lihai.
Akan tetapi, ketika Nirahai yang dibantu oleh Lulu mengerahkan pasukan untuk membikin pembersihan, ternyata bahwa Pangeran Yauw Ki Ong, Bhong-koksu dan semua pembantunya, diam-diam telah lolos dari kota raja dan melarikan diri ke utara untuk bergabung dengan sekutu mereka dan membentuk barisan untuk menyerang kerajaan secara terbuka!
Dengan penuh rasa penasaran, Nirahai lalu mengerahkan pasukan, melakukan pengejaran ke utara, tetap dibantu oleh Lulu.
Adapun Milana tidak ikut membantu ibunya karena dara ini bersikeras untuk mencari ayahnya, menyerahkan pedang Hok-mo-kiam dan juga diam-diam dara ini mengkhawatirkan keadaan Bun Beng yang sama sekali tidak dia ketahui bagaimana nasibnya.
Berangkatlah pasukan besar yang dipimpin oleh Puteri Nirahai, menuju ke perbatasan utara untuk mengejar para pemberontak.
Semangat pasukan itu besar sekali karena mereka menaruh kepercayaan penuh kepada Puteri Nirahai yang dahulu pun telah amat terkenal sebagai seorang pemimpin yang pandai dan gagah perkasa.
Apalagi karena Puteri Nirahai adalah puteri kaisar sendiri!
Tubuh Bun Beng terayun-ayun di ujung bambu yang dipikul Bu-tek Siauw-jin.
Pemuda ini maklum bahwa dia tadi telah ditolong oleh kakek pendek yang luar biasa ini.
Dia tidak tahu siapa kakek ini, dan di dalam gelap tadi dia tidak dapat memperhatikan wajahnya.
Kini, bulan sepotong menimpakan cahaya yang cukup terang, akan tetapi dia tergantung di ujung bambu seperti seekor binatang buruan, seperti seekor kijang atau babi hutan yang tertangkap, kaki dan tangannya masih terbelenggu dan tergantung di belakang tubuhnya.
Dari tempat ia bergantung, dia hanya dapat melihat punggung tubuh yang pendek dengan rambut riap-riapan, langkah-langkah kedua kaki kecil pendek dengan gerak pinggul yang lucu, seperti menari-nari!
"Heh-heh-heh, tentu akan terjadi perang lagi.
Tentu debu-debu jalanan akan mengebul kotor dilanda barisan bala tentara yang berbaris.
Ramai!
Ramai!"
Kakek cebol itu lalu mengayun langkah pendek-pendek, berlenggang meniru gerakan pasukan berbaris.
Bambu panjang yang dipanggulnya, bergerak naik turun dan dipegang seperti tentara memanggul tombak, mulutnya meniru aba-aba komandan pasukan.
"Tu-wa! Tu-wa! Tu-wa!"
Diam-diam Bun Beng mendongkol sekali.
Karena ayunan itu, tentu saja tubuhnya ikut terangguk-angguk di ujung bambu, membuat kepalanya makin pening!
Celaka, pikirnya, kakek cebol ini agaknya sudah terlalu tua dan pikun sehingga berubah seperti kanak-kanak, atau memang otaknya agak miring!
Sukar diduga apa yang akan menimpa dirinya yang terjatuh ke dalam tangan seorang kakek gila yang sakti, sedangkan dia menderita luka dalam yang amat parah sehingga jangankan mempergunakan tenaga dan kepandaiannya, Bahkan melepaskan diri dari belenggu kaki tangannya saja dia tidak sanggup.
Setiap pengerahan sin-kang akan mempercepat nyawanya melayang.
Maka diapun tidak bergerak dan tidak bersuara, hanya menyerahkan nasibnya di tangan kakek cebol yang aneh itu.
Memang kalau orang belum tiba saatnya tewas, ada saja penolongnya seperti halnya Bun Beng.
Dia sudah terancam maut di tangan Thian Tok Lama dan Wan Keng In, menjadi tawanan dan tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri.
Sungguh kebetulan sekali, ketika dia menolong Milana, berhasil membebaskan dara itu dan dia sendiri mengamuk, ada sepasang mata yang menonton semua itu dengan penuh rasa kagum.
Sepasang mata itu adalah mata Bu-tek Siauw-jin yang sedang mengikuti jejak Pendekar Super Sakti.
Kalau saja Bu-tek Siauw-jin tidak menyaksikan semua peristiwa ketika Bun Beng menyelamatkan Milana di atas pohon, agaknya kakek ini tidak mau mencampuri urusan, apalagi menolong Gak Bun Beng yang sama sekali tidak dikenalnya.
Bukan hanya sikap dan kata-kata Bun Beng yang menggerakkan hati kakek itu, menimbulkan kekaguman dan rasa suka, akan tetapi terutama sekali ketika ia menyaksikan dengan penuh keheranan betapa Gak Bun Beng mampu menghadapi Wan Keng In dan Thian Tok Lama, bahkan dengan bantuan pasukan yang mengeroyoknya.
Dia menyaksikan betapa ilmu kepandaian pemuda itu luar biasa sekali, dan seandainya pemuda itu tidak menghadapi pedang Lam-mo-kiam di tangan Wan Keng In, agaknya belum tentu pasukan itu dapat menawannya.
Sebagai seorang sakti, Bu-tek Siauw-jin terheran-heran dan ingin sekali tahu dari mana pemuda itu memperoleh kepandaian yang demikian tinggi, maka ia mengambil keputusan untuk menculik Bun Beng.
Bukan semata-mata karena dia tertarik dan kagum kepada Bun Beng, juga sebagian terdorong oleh rasa tidak sukanya kepada Wan Keng In, murid suhengnya itu!