Eps 3 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Dan sebulan kemudian Pat-hong-sinkang itupun telah habis dilahapnya pula.
Sekarang tinggal separuh buku saja lagi.
Itupun bukan inti pelajaran lwee kang pula, tapi adalah jurus-jurus ilmu Pat-hong Sin-ciang yang terkenal itu!
Namun sudah banyak kemajuan yang diperoleh Tui Lan dalam waktu sebulan itu.
Sekarang Tui Lan sudah dapat melihat di dalam kegelapan tanpa harus menggunakan obor lagi, meskipun jaraknya juga masih sangat terbatas pula.
Dan sekarang Tui Lan juga sudah bisa mengatur tenaga saktinya, sehingga obor itu juga tidak menjadi padam lagi seperti dulu.
Dan dengan kepandaiannya mengatur hawa sakti itu, dinding-dinding di dalam guanya sudah tidak menjadi basah serta mengembun lagi seperti dulu.
Sementara itu pergaulannya dengan Liu Yang Kun juga semakin akrab pula.
Setiap hari mereka mencari ikan dan membakarnya bersama-sama.
Kadang-kadang mereka berlatih silat pula dengan tekun.
Atau kalau mereka sedang lelah, mereka cuma berbincang-bincang saja sambil duduk-duduk di tepi sungai itu.
Namun selama itu pula mereka selalu menjaga diri dan menjaga jarak diantara mereka, agar hubungan itu tidak dikotori oleh nafsu-nafsu yang akan menyesatkan mereka nanti.
Begitu kuatnya mereka menjaga 'persahabatan' itu sehingga masing-masing sangat menghormati dan menjauhi daerah 'pribadi' sahabatnya.
Walaupun demikian, kadang-kadang Liu Yang Kun tampak sedikit curiga juga menyaksikan kemajuan Tui Lan.
Di matanya sekarang, gadis itu kelihatan lebih tangkas dan lincah, sedangkan sinar matanya tampak lebih tajam berwibawa.
Namun pemuda itu tetap tidak pernah bertanya, apalagi mengurusnya.
Tapi yang terang gadis itu selalu tampak bertambah cantik saja setiap harinya.
"Lan-moi... Kau benar-benar... cantik sekali!"
Pada suatu hari pemuda itu memuji.
Tampaknya pemuda itu sudah tidak bisa menguasai perasaannya lagi.
Tentu saja pipi Tui Lan menjadi merah seketika.
Gadis itu sungguh tidak menyangka kalau Liu Yang Kun akan memujinya seperti itu.
"Ah, Twako... kau ini ada-ada saja! Bagaimana mungkin wajah seperti ini bisa disebut cantik? Cermin tidak ada, bersolekpun juga tidak pernah."
Tui Lan cepat menyanggahnya dengan kemalu-maluan.
Namun sebenarnya hatinya terasa membengkak sebesar bukit.
Bagaimana Tui Lan tidak menjadi berbangga dan berbesar hatinya mendengar pujian itu?
Sejak pertama kali melihat Liu Yang Kun, gadis itu sudah merasa kagum dan tertarik hatinya.
Apa lagi ketika pemuda itu menyelamatkannya dari keganasan Giok-bin Tok-ong, rasa kagum tersebut menjadi bertambah pula dengan rasa hutang budi dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
Dan rasa-rasanya perasaan itu menjadi semakin mendalam selama mereka berada di dalam gua itu.
Namun sebagai seorang gadis tentu saja Tui Lan selalu berusaha untuk menahan diri dan mengendalikan perasaannya.
Siapa tahu perasaannya itu ternyata hanya bertepuk sebelah tangan?
Maka sungguh tidak mengherankan bila kata-kata pujian pemuda itu benar benar sangat mengejutkan, sekaligus juga amat menggembirakan hati Tui Lan.
Perasaan gadis itu seolah-olah melayang-layang di atas langit.
"Benar, Lan-moi. Justru karena melihatmu tanpa berdandan demikian itu aku lantas memujimu. Di Kotaraja atau di kota Soh-ciu ini aku sering menyaksikan gadis cantik dengan dandanannya yang sangat anggun Tapi selama ini aku belum pernah melihat seorang gadis bisa secantik kau tanpa berdandan dan memoles wajahnya dengan alat-alat kecantikan..."
Liu Yang Kun memuji lagi.
Apa yang bisa dikatakan lagi oleh Tui Lan selain diam seribu bahasa?
Gadis itu hanya bisu menundukkan mukanya, untuk menyembunyikan kegembiraannya.
Tapi justru sejak itu Tui Lan jarang-jarang melihat Liu Yang Kun.
Kalau biasanya seharian mereka selalu bersama, kini pemuda itu hanya muncul bila waktunya makan dan mencari ikan.
Dan Tui Lan melihat suatu perubahan yang aneh pada wajah dan sikap pemuda itu.
Pemuda itu kelihatan sangat gelisah dan murung.
Meskipun pemuda itu selalu berusaha menyembunyikan keadaannya tersebut dengan sikapnya yang riang, tapi Tui Lan tak bisa dikelabuinya.
Pemuda itu seperti sedang menanggung beban batin yang amat berat.
Dan setiap saat pemuda itu seperti selalu menghindarinya.
Dan kalau hal itu ditanyakannya, pemuda itu akan menjadi gelagapan, dan semakin tampak sangat menderita sekali.
"Badanku... eh, aku agak kurang enak badan, Lan-moi! Biarlah aku beristirahat dulu..."
Paling-paling pemuda itu akan berkata demikian, dan kemudian meninggalkannya.
Tentu saja Tui Lan menjadi sedih sekali.
Apalagi ketika kadang-kadang sampai dua hari Liu Yang Kun tidak kelihatan menemuinya.
(Setelah sebulan mereka berada di dalam kegelapan gua tersebut, mereka bisa mengira-ira, apakah hari itu siang atau malam, dengan cara membedakan panasnya udara di dalam gua itu).
Akibatnya Tui Lan menjadi sulit tidur, dan nafsunya untuk mempelajari jurus-jurus Pat-hong Sin-ciang-pun juga menjadi kendor.
Gadis itu lebih banyak melewatkan waktunya dengan melamun.
Lambat laun Tui Lan tidak tahan juga menanggung beban perasaan tersebut.
Hatinya yang sudah terlanjur 'melekat' pada pemuda itu benar-benar amat tersiksa menghadapi keadaan seperti itu.
Akhirnya Tui Lan memutuskan untuk mencari tahu, apa yang menyebabkan kawannya bersikap seperti itu.
Maka pada suatu hari, ketika sudah dua hari lamanya Liu Yang Kun tidak muncul, Tui Lan segera mencarinya.
Tui Lan sudah tidak peduli lagi pada peringatan Liu Yang Kun dulu, bahwa dia tidak sekali-kali diperbolehkan menyusul pemuda itu di tempatnya.
Langsung saja Tui Lan ke lorong gua yang terkecil itu, karena dia yakin kalau pemuda itu tentu berada di sana.
Tapi sampai di depan lobang terowongan itu Tui Lan menjadi bingung.
Bagaimana dia bisa masuk kalau menggeser batu sebesar itu saja dia tak mampu?
"Aaah...!"
Tui Lan menghela napas kecewa, lalu membalikkan badannya untuk kembali lagi ke kamarnya.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti!
Telinganya yang tajam itu mendengar suara geraman yang menggetarkan hati.
Suara geraman yang pernah dia dengar sebelumnya, tapi ia lupa entah dimana.
Tui Lan menjadi tegang, hatinya berdebar-debar.
Kebetulan gadis itu tidak membawa obornya.
Dengan pandang matanya yang bisa menembus kegelapan itu Tui Lan celingukan kesana-kemari mencari asa l suara tersebut.
Dan ketika suara geraman itu menggema kembali, Tui Lan segera mendekati lobang terowongan yang tertutup batu besar tersebut.
"Suara itu benar-benar datang dari dalam lorong gua ini..."
Tui Lan membatin dengan hati semakin tegang.
"Kalau begitu... kalau begitu, apakah Liu Twako yang menggeram itu? Ah... benar! Aku ingat sekarang!"
Tui Lan lalu teringat kembali akan pengalamannya sebelum dia tertimbun di dalam gua itu.
Tatkala itu dia sedang memeluk pinggang Liu Yang Kun yang sedang bertempur melawan Giok-bin Tok-ong di luar gua.
Pada waktu itulah dia tiba-tiba mendengar Liu Yang Kun menggeram dan kemudian...menciumi punggung dan lehernya!
Di dalam ketegangannya mendengar geraman Liu Yang Kun itu, timbul pula perasaan khawatir di hati Tui Lan.
Jangan-jangan pemuda itu sedang menderita sakit atau sedang mendapatkan kesukaran.
Maka ketika sekali lagi geraman itu terdengar oleh telinganya, Tui Lan segera melupakan kelemahannya, batu sebesar gajah itu didorongnya dengan sekuat tenaganya!
"Rrrrrrrttttt!"
Batu itu tergeser dengan mudahnya!
Sejenak Tui Lan malah menjadi kaget!
Matanya terbelalak, mulutnya ternganga!
Hampir saja gadis itu tidak percaya kalau ia bisa mendorong batu itu!
"Apakah semua ini diakibatkan oleh Pat-hong-sinkang itu?"
Gadis itu menduga-duga di dalam hatinya.
Setelah hilang kekagetannya, Tui Lan lalu merangkak masuk ke dalam lobang terowongan itu.
Hatinya merasa agak tenang karena suara geraman tersebut sudah tidak terdengar lagi.
Ruangan gua itu tampak terang benderang dengan sinar obor yang ditaruh di tengah-tengah gua.
Tapi karena ruangan itu mempunyai banyak tiang-tiang batu karang yang menghubungkan langit-langit gua itu dengan lantai di bawahnya, maka bayang-bayangnya tampak hitam berjajar-jajar di dinding gua, bagaikan bayangan manusia yang bergoyang goyang mengerikan!
Tui Lan menjulurkan lehernya ke dalam ruangan itu.
Satu-persatu tiang-tiang batu karang yang amat besar tersebut ditelitinya.
Dicarinya Liu Yang Kun diantara puluhan bayang-bayang hitam itu.
"Krinciiiiiiing...!"
Tiba-tiba terdengar suara gemerincing besi yang amat nyaring!
Tentu saja Tui Lan menjadi kaget bukan main!
Terlintas kembali di dalam pikiran gadis itu tubuh Liu Yang Kun yang diborgol kaki dan tangannya dua bulan yang lalu!
Siapakah yang kini bermain-main dengan rantai borgol itu?
Apakah Liu Yang Kun sendiri?
"Liu Twako!"
Tui Lan menyapa perlahan.
Tiada jawaban.
Tui Lan lalu melangkah masuk perlahan-lahan.
Dihampirinya asal suara tadi.
Dan...
Apa yang dilihatnya kemudian benar-benar sangat mencengangkan hatinya.
Di atas lantai tampak Liu Yang Kun sedang tertidur pulas.
Kedua buah tangan dan kakinya terjepit borgol besi yang amat besar dan kuat!
Malahan lehernya tampak dilingkari borgol pula sekarang!
"L-i-u t-w-a...k-o?"
Tui Lan menjerit.
Namun tak ada suara yang keluar dari kerongkongannya selain suara serak yang hampir tak terdengar.
Suaranya seolah-olah tertahan di dalam kerongkongannya.
Lalu gadis itu menggosok-gosok kedua matanya seolah tak percaya!
Benarkah orang yang diborgol kaki tangannya ini Liu Yang Kun?
Ataukah orang ini adalah orang lain yang wajahnya mirip dengan Liu Yang Kun?
Tapi kenapa baju yang dipakai orang ini juga persis dengan baju yang dikenakan Liu Yang Kun dua hari yang lalu?
"Oooooouugh...!"
Tui Lan mengeluh seraya memegangi kepalanya.
Tiba-tiba gadis itu terhuyung-huyung mau jatuh.
Namun tangannya dengan cepat berpegangan pada dinding gua.
Kemudian perlahan-lahan gadis itu melangkah keluar dari ruangan itu.
Rasa pening membuat gadis itu merasa seolah-olah sedang berada di dalam ruangan yang berputar cepat sekali!
Tanpa mengembalikan lagi batu besar itu ke tempatnya semula, Tui Lan merayap menuju ke kamarnya sendiri.
Sampai di kamarnya gadis itu lalu membaringkan badannya dan mencoba untuk tidur.
Dan gadis itu memang tertidur dengan nyenyaknya.
Matanya baru terbuka kembali ketika udara panas di dalam gua itu telah menyengatnya, di luar gua matahari telah bersinar dengan teriknya.
"Aughhh...!"
Tui Lan menguap lebar, lalu duduk.
Namun bagai disengat lebah Tui Lan segera melompat keluar kamarnya.
Bergegas gadis itu berlari ke tempat Liu Yang Kun diborgol malam tadi.
Batu besar itu kelihatan sudah tergeser semakin jauh dari lobangnya.
Tui Lan menjadi tegang, hatinya berdebar-debar.
Selangkah demi selangkah gadis itu merangkak melalui terowongan itu.
Tapi akhirnya gadis itu menjadi sangat kecewa sekali.
Ruangan tersebut telah kosong.
Rantai borgol itu sudah tidak ada lagi di sana.
Dan pemuda itupun juga sudah lenyap pula bersama borgol itu.
Yang tertinggal di dalam ruangan itu hanyalah obor.
Obor yang sudah hampir habis minyaknya!
Otomatis Tui Lan menjadi gelisah sekali.
Kemanakah pemuda itu?
Pindah ke lorong gua yang lain?
Tapi kenapa?
Apa karena pemuda itu sudah mengerti kalau dia bayang-bayangi?Tui Lan cepat keluar kembali.
Dengan amat tergesa-gesa dia mengelilingi semua lorong-lorong gua itu.
Tapi pemuda itu tetap tak dijumpainya juga.
Sekarang Tui Lan benar-benar mengkhawatirkan nasib Liu Yang Kun.
Sekali lagi gadis itu berlari-lari mengelilingi lorong-lorong gua itu.
Bolak-balik kesana-kemari membawa obor yang hampir habis minyaknya itu untuk memuaskan hatinya.
Setelah yakin bahwa Liu Yang Kun memang tidak dapat ia ketemukan, maka Tui Lan lalu duduk termangu-mangu di tepian sungai.
Dipandangnya air sungai yang gelap kehitam-hitaman.
"Mungkinkah dia benar-benar dapat tidur di dalam air yang dalam ini?"
Desahnya risau, teringat akan seloroh pemuda itu tempo hari.
"Ooooh...!"
Rintihnya pula seraya menutupi wajahnya dengan telapak tangan.
"Kenapa aku tidak menolongnya kemarin? Mengapa aku malahan meninggalkannya? Oooooh..."
Hari itu Tui Lan terpaksa mencari ikan sendiri, membakar sendiri, dan membikin minyak sendiri pula.
Wajahnya amat pucat.
Hatinya tampak putus asa.
Berkali-kali gadis itu berdiri di tepi sungai yang hitam pekat itu sambil meneteskan air mata.
"Liu Twako...!"
Bisiknya berulang-ulang, seolah-olah pemuda itu memang benar-benar berada di dasar sungai tersebut.
Beberapa hari lamanya Tui Lan tidak makan dan tidak tidur.
Badannya menjadi sangat lemah.
Namun demikian gadis itu hampir tak pernah beranjak dari tepian sungai itu.
Akibatnya gadis itu menjadi sakit.
Tubuhnya demam.
Pada hari yang ke lima Tui Lan sudah tidak bisa bangkit lagi dari pembaringannya.
Walaupun demikian gadis itu tetap merangkak menuju pinggir sungai itu.
Gadis itu ingin mati di pinggir sungai, kalau Thian memang menghendaki ia mati di dalam gua itu.
Tui Lan lalu duduk bersandar pada dinding gua dan menghadap ke arah sungai.
Pada saat-saat terakhirnya gadis itu masih ingin melihat kalau-kalau pemuda yang dicintainya itu muncul kembali.
Ditatapnya tirai kegelapan yang mewarnai udara di atas sungai itu.
Sungai besar yang tidak ia ketahui berapa lebarnya, karena sinar obor cuma mencapai dua atau tiga tombak saja dari tepian.
"Mungkinkah di seberang sungai ini masih ada juga lorong-lorong gua seperti ini?"
Tiba-tiba terbetik di dalam pikiran Tui Lan suatu kemungkinan di seberang sungai itu.
"Benar. Mungkin memang benar. Kalau tidak, dimana lagi Liu Twako itu berada?"
Bayangan itu benar-benar menumbuhkan semangat di dalam dada Tui Lan.
Tiba-tiba saja api kehidupan yang hampir padam di dalam hatinya itu menyala kembali dengan hebatnya.
Gadis itu lalu mengerahkan Pat-hong-sinkangnya.
Dan perlahan-lahan kekuatannya timbul kembali, meskipun juga tidak pulih seperti biasanya.
Kemudian jari-jarinya memegang tangkai obornya erat-erat.
"Akan kulemparkan obor ini ke seberang agar supaya kelihatan keadaan disana..."
Tui Lan berkata di dalam hatinya, lalu dengan sekuat tenaganya obor itu ia lemparkan ke seberang.
Bagaikan sebatang anak panah obor itu meluncur di atas permukaan sungai!
Biarpun sangat lemah, tapi sinarnya cukup untuk menerangi buih-buih ombak yang berloncatan menjilat udara.
Sayang sekali, belum ada separuh jalan obor itu telah habis kekuatannya.
Obor itu padam ditelan gelombang sungai yang amat besar.
Meskipun demikian, apa yang terlihat tadi sungguh-sungguh amat menggetarkan hati Tui Lan!
(Lanjut ke
Jilid 07) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 07
"Tak kusangka sungai ini demikian besarnya! Malahan kalau melihat besarnya ombak tadi, kukira ini bukan sungai lagi. Rasa-rasanya seperti sebuah telaga saja..."
Tui Lan berdesah lemah.
Otomatis semangatnya musnah kembali.
Dan perasaan putus-asapun kembali menghantuinya pula.
Tapi tiba-tiba Tui Lan membelalakkan matanya!
Jauh di seberang sungai mendadak terlihat setitik api naik ke atas langit-langit gua.
Lalu api itu bergerak perlahan-lahan menghampiri tempatnya, sehingga api tersebut semakin lama tampak menjadi semakin besar pula.
Sampai di atas kepala Tui Lan api itu jatuh ke bawah!
"Bruuug!"
Tiba-tiba saja Liu Yang Kun telah berdiri di depan Tui Lan dengan menggenggam obor di tangannya.
"Lan-moi...!"
Dengan kaget pemuda itu berseru memanggil Tui Lan.
"Koko...!"
Gadis itu menjerit pula dengan riangnya.
Rasa-rasanya kembali semua kekuatannya begitu melihat wajah Liu Yang Kun.
Mereka berpelukan dengan eratnya, seolah-olah tak ingin berpisah lagi.
Tui Lan malahan menitikkan air mata saking gembiranya.
Tapi seperti sebuah pelita yang telah kehabisan minyak, tiba-tiba tubuh Tui Lan menjadi lemas kembali.
Gadis itu pingsan di dalam pelukan Liu Yang Kun.
Yang Kun membawa tubuh Tui Lan ke tempat yang kering, lalu membaringkannya di atas tanah.
Pemuda itu semakin kaget begitu tahu Tui Lan menderita sakit demam.
Dengan tangkas pemuda itu lalu menotok beberapa jalan-darah di sekitar leher Tui Lan.
Setelah itu dibukanya mulut gadis itu dan dimasukkannya sebutir pel obat untuk menguatkan badan.
"Lan-moi...! Mengapa kau sampai menderita sakit demam seperti ini...? Beberapa hari kau tak makan dan tak tidur?"
Yang Kun segera berbisik di telinga Tui Lan, ketika gadis itu sudah siuman kembali.
Tui Lan cepat memalingkan mukanya.
Entah mengapa, tiba-tiba timbul perasaan malu di hati gadis itu.
Otomatis pipinya menjadi merah, sehingga di mata Liu Yang Kun wajah itu menjadi semakin cantik bukan main.
Tapi kecantikan yang amat menawan tersebut justru sangat merisaukan hati Yang Kun.
Sambil memejamkan matanya rapat-rapat bagaikan seorang yang sedang menahan rasa sakit di dalam dadanya, pemuda itu mengeluh dan meratap perlahan, seperti ditujukan kepada dirinya sendiri.
"Ya, Tuhan! Berilah aku kekuatan! Jangan Engkau rusakkan persahabatan ini dengan kekotoran yang telah melekat di dalam tubuhku!"
Sebaliknya, melihat pemuda yang dikasihinya itu tiba-tiba seperti orang yang sedang mengerang kesakitan Tui Lan menjadi kaget pula.
Hilang perasaan malu yang membelit hatinya, dan kemudian seperti mendapatkan tenaga baru dia bangkit memeluk Liu Yang Kun.
"Koko...! Kau... kau kenapa?"
Serunya khawatir.
Tapi diluar dugaan pemuda itu mendadak mendorong dada Tui Lan dan meloncat menghindari.
Namun begitu melihat dorongannya itu membuat Tui Lan jatuh, Liu Yang Kun cepat menyergapnya kembali ke dalam pelukannya.
"Lan-moi! Oh, Lan-moi... maafkanlah aku!"
Pemuda itu merintih memelas, seraya mendekap kepala Tui Lan. Tui Lan mendorong badan Liu Yang Kun, kemudian menatap wajah sendu itu dengan sinar mata penuh pertanyaan.
"Koko...! katakanlah! Apa sebenarnya yang telah terjadi kepadamu? Mengapa sikapmu akhir-akhir ini menjadi sangat aneh dan membingungkan? Dimana saja kau beberapa hari ini? Dan... dari mana kau tadi? Koko, ayolah... ceritakan semuanya kepadaku! Jangan kau siksa aku sedemikian rupa!"
Tui Lan segera memuntahkan seluruh kandungan hatinya selama ini. Liu Yang Kun tampak semakin kesakitan. Wajah yang tampan itu tampak pucat dan layu.
"Banyak... Banyak sekali yang harus kuceritakan, Lan-moi. Tapi semuanya serba menyedihkan! Serba menyakitkan! Oleh karena itu aku akan mencoba untuk lari saja dari kenyataan itu! Aku ingin menguburkannya sendiri bersama tubuhku! Aku tak ingin melukaimu! Apalagi sampai menyeretmu..."
Pemuda itu merintih dan tak bisa meneruskan kata-katanya. Tui Lan cepat menyentuh pundak Liu Yang Kun.
"Kau keliru, koko. Itu takkan dapat menyelesaikan persoalanmu. Kau seharusnya sudah menyadarinya. Sejak kita berada di dalam penjara ini, mati atau hidup kita hanya berdua saja. Tidak ada yang lain lagi. Penderitaan atau kesengsaraan yang menimpa salah seorang dari kita, akan berakibat pula kepada yang lain. Kita akan lebih kuat bila selalu bersama, dan akan binasa bila berpisah. Apakah nikmatnya hidup sendirian di dalam penjara gelap seperti ini? Kita bisa gila dibuatnya. Mendingan kita bersatu, sehingga kita bisa saling menghibur dan membagi penderitaan bersama-sama..."
Liu Yang Kun menengadahkan wajahnya.
Ditatapnya wajah yang cantik itu lekat-lekat, seolah-olah ia tak percaya bahwa kata-kata itu keluar dari mulut gadis muda itu.
Tapi sekejap kemudian ia tertunduk pula kembali.
Wajahnya tetap murung.
"Baiklah, Lan-moi. Aku akan berterus terang kepadamu. Tapi sebenarnyalah bahwa persoalannya tidak sesederhana itu. Kau mungkin tidak akan mempercayainya setelah mendengarnya nanti. Oleh karena itu aku berharap kepadamu, agar kau benar-benar bersiap diri menerima kenyataan yang akan kupaparkan nanti. Hal ini kuberitahukan terlebih dahulu, agar kau tidak menjadi kaget atau... pingsan setelah mendengarnya!"
Katanya sambil menghela napas berulang-ulang.
Tui Lan menatap wajah Liu Yang Kun dengan mata terbelalak dan hati berdebar-debar.
Untuk sesaat gadis itu menjadi tegang luar biasa.
Tapi di lain saat gadis itu segera sadar pula akan dirinya.
Semuanya itu memang telah dikehendakinya juga.
Oleh karena itu sambil benar-benar menata hatinya sendiri, gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Silakanlah, koko!"
Ucapnya pendek.
"Sudah siap? Nah, dengarlah...!"
Liu Yang Kun berkata dengan napas berat. Lalu desahnya lagi sambil bangkit berdiri membelakangi Tui Lan.
"Ketahuilah! Aku adalah Pangeran Liu Yang Kun! Putera Mahkota Kaisar Han yang sekarang berkuasa!"
"Twako... putera... putera Baginda Kaisar Han?"
Tui Lan berseru serak seraya meloncat berdiri dengan mata terbelalak. Tubuhnya gemetar. Liu Yang Kun membalikkan badannya dengan cepat.
"Nah! Ternyata kau belum benar-benar bersiap diri! Kau masih kaget mendengar keteranganku..."
"Tidak! Tidak! Aku tidak kaget, Twako... eh, Pangeran! Wah, anu... anu...!"
Tui Lan menjadi gelagapan dan bingung, takut Liu Yang Kun membatalkan ceritanya.
"Anu... aku Cuma... cuma kurang percaya! Betulkah twako... Twako ini putera Kaisar Han?"
Liu Yang Kun tersenyum.
"Buat apa aku membohongimu, Lan-moi? Apa gunanya kedudukan itu di tempat seperti ini? Apa gunanya kedudukan itu kalau akhirnya kita berdua akan mati di sini?"
Katanya sabar dan tenang.
"Kalau begitu... kalau begitu maafkanlah hamba, Pangeran. Hamba benar-benar tak tahu, sehingga hamba telah bersikap kurang hormat kepada Pangeran."
Tiba-tiba Tui Lan berlutut dan meminta maaf.
"Nah! Inilah akibatnya...! Akibat yang benar-benar tak kusukai.."
Liu Yang Kun berkata kesal menyaksikan perubahan sikap Tui Lan itu.
"Oleh karena itu sebenarnya aku tak suka menceritakannya, tapi kau mendesaknya juga. Apabila demikian lebih baik aku tak meneruskannya saja cerita ini..."
"Jangan...!"
Tui Lan bangkit dengan segera dan berteriak.
"Maafkanlah aku...! Tapi jangan kau hentikan cerita itu! Lan...lanjutkanlah, Twako!"
Ratap gadis itu kemudian.
"Habis, kau...?"
Ucap Liu Yang Kun seolah-olah menyesal.
"Tidak, Twako! Aku tidak akan mengubah sikapku lagi! Dan aku juga tidak akan terkejut pula...!"
Tui Lan berseru ketakutan. Kasihan juga Liu Yang Kun melihat wajah gadis itu.
"Baiklah...! Akan aku teruskan. Tapi... kau harus benar-benar bersiap diri! Jangan kaget lagi!"
Pemuda itu memperingatkan.
"Ya... ya! Aku akan mengingatnya..."
Tui Lan menyambutnya dengan gembira sekali, seperti anak kecil yang diluluskan permintaannya.
"Tapi... tapi Twako harus memberitahukannya juga kepadaku, kenapa kau malah pergi meninggalkan semua kemuliaan itu? Mengapa Twako sampai terlunta-lunta di luar istana seperti ini? Dimanakah para pengawalmu?"
"Sabarlah! Jangan tergesa-gesa! Memang itulah yang hendak aku ceritakan kepadamu."
Liu Yang Kun menyahut dengan tenangnya.
"Oooooh!"
Tui Lan menarik napas panjang.
"Aku pergi meninggalkan istana tiga tahun yang lalu atas ijin ayahandaku sendiri, Baginda Kaisar Han. Aku pergi mencari obat mujarab yang bisa menyembuhkan kelainan di dalam badanku. Oleh karena itu aku sengaja tidak membawa pengawal seorangpun agar perjalanan yang belum tentu waktu dan tujuannya itu tidak merepotkan orang lain."
"Sakit...? Apa sebenarnya sakitmu itu, Twako? Dan sudahkah kau memperoleh obatnya itu?"
Tui Lan menyela.
"Dulu aku pernah terkena dua macam racun dahsyat yang hampir menewaskanku. Tapi karena pertolongan seorang tabib bernama Chu Seng Kun, nyawaku dapat diselamatkan. Namun demikian, racun tersebut ternyata tidak lenyap dari dalam tubuhku, sebaliknya malah mengeram dan berkembang-biak di dalam darahku. Akibatnya seluruh bagian tubuhku menjadi beracun karenanya. Sampai-sampai dengan keringat, kotoran, air ludah dan...air kencingpun beracun semuanya. Tentu saja hal itu menjadi sangat berbahaya buat orang lain. Orang yang sangat lemah daya tahan tubuhnya, apalagi dia tak memiliki kepandaian silat sama sekali, bisa mati karena bersentuhan denganku."
"Tapi kau sendiri tak apa-apa?"
Tui Lan bertanya heran dan otomatis hatinya menjadi tertarik sekali. Liu Yang Kun menarik napas sedih. Untuk beberapa waktu lamanya pemuda itu terdiam dan tak dapat segera melanjutkan ceritanya.
"Dulu memang tidak!"
Akhirnya pemuda itu menjawab.
"Tapi lambat-laun sesuai dengan berkembangnya waktu, racun itu ternyata mengganggu juga susunan syaraf di dalam otakku. Dan... akibatnya sungguh amat parah!"
Sekali lagi Liu Yang Kun tak bisa meneruskan kata-katanya.
Pemuda itu tiba-tiba seperti orang yang kesakitan lagi.
Raut-mukanya tampak pucat, lelah dan sangat menderita.
Otomatis Tui Lan merasa amat kasihan sekali.
Kini serba sedikit gadis itu mulai mengerti kesulitan pemuda itu.
"Jangan bersedih, koko! Setiap manusia yang dilahirkan di dunia ini memang telah membawa suratan nasibnya sendiri-sendiri. Kalau takdir memang telah menentukan nasibmu demikian, apa perlunya kau menangis dan meratapinya sepanjang hidupmu! Itu takkan bisa merubahnya.. Lebih baik kita serahkan saja semuanya itu kepada Thian yang telah menciptakan kehidupan kita ini. Nah, koko... bagaimanakah kelanjutan dari ceritamu itu?"
Gadis itu berkhotbah seperti yang sering dilakukannya.
Liu Yang Kun menatap wajah Tui Lan dengan sinar mata terimakasih.
Pemuda itu diam-diam semakin kagum dan hormat kepada gadis yang lebih muda daripada dirinya itu.
Hatinya yang mulai layu dan rapuh itu seperti mendapatkan kekuatan kembali.
Namun demikian suaranya masih tetap sedih ketika melanjutkan ceritanya.
"Terima kasih atas pengertianmu, Lan-moi. Tetapi bukan maksudku menangisi dan meratapi semua penderitaan dan kesengsaraan yang diakibatkan oleh racun itu, Lan-moi... Seperti yang telah kau katakan tadi, akupun takkan mengeluh ataupun merengek-rengek seandainya semua itu hanya menimpa pada diriku sendiri saja. Tapi cobalah kau katakan, bagaimanakah kalau semua yang kuderita itu juga mengakibatkan neraka bagi orang lain?"
"Maksudmu... racun yang menyerang susunan syarafmu itu dapat menimbulkan kematian bagi orang lain?"
Gadis yang cerdas itu cepat menangkap apa yang dimaksudkan Liu Yang Kun.
"Lebih dari itu!"
Liu Yang Kun menyahut dengan cepat. Namun selanjutnya pemuda itu menjadi ragu-ragu ketika melanjutkan ceritanya. Tampaknya pemuda itu masih agak takut untuk membeberkan semuanya.
"Karena... karena syaraf yang terganggu itu kebetulan persis yang berhubungan dengan... dengan... nafsu berahiku, maka... maka... akibatnyapun juga sangat... sangat mengerikan pula!"
Liu Yang Kun tampak sedikit lega karena sudah berhasil mengeluarkan bagian yang paling sulit dalam ceritanya.
Meskipun yang keluar itu juga baru bagian permulaannya saja.
Namun demikian hal itu ternyata sudah membikin merah padam wajah Tui Lan!
Sebenarnya raut wajah Tui Lan masih menunjukkan bahwa dia belum dapat 'menangkap' dengan jelas arti kata-kata Liu Yang Kun tadi.
Tapi karena menyangkut kata-kata nafsu berahi, maka gadis itu menjadi malu untuk menanyakannya.
"Aku... aku tidak tahu maksudmu, koko,"
Gadis itu terbata-bata. Kini giliran Liu Yang Kun yang merasa kerepotan untuk menjelaskannya. Tapi karena sudah berjanji untuk menceritakannya, maka akhirnya pemuda itu terpaksa menjelaskannya pula.
"Lan-moi, kau jangan kaget! Karena gangguan pada syarafku itu aku menjadi seorang manusia yang tak kuasa mengendalikan... nafsu biadabku... apabila nafsu berahiku itu terangsang!"
"Ooooh!"
Tui Lan terpekik, dan tiba-tiba ia teringat sewaktu pemuda itu menciumi punggung dan lehernya sebulan yang lalu.
"Kalau... kalau nafsu berahi itu menyerang diriku, maka otak dan akal sehatkupun sudah tidak kuasa lagi mengekangnya! Siapapun yang berada di dekatku, aku sudah tidak peduli lagi. Aku tentu akan melahapnya tanpa ampun! Hati dan otakku rasa-rasanya sudah tak bisa berjalan searah lagi! Oohhh..."
Liu Yang Kun mencengkeram rambutnya, kemudian meratap dengan sedihnya.
Tampak sekali kalau pemuda itu sangat menderita karena penyakitnya yang aneh itu.
Sedangkan Tui Lan, yang tak menyangka kalau kelainan jiwa Liu Yang Kun ternyata sedemikian 'parah' dan 'mengerikan", justru menjadi termangu-mangu malah!
Beberapa saat lamanya gadis itu menatap wajah orang yang dikasihinya itu tanpa berkedip!
Di dalam hati gadis itu hampir tak percaya kalau pemuda yang baik hati, tampan, sakti dan putera seorang kaisar itu bisa menemui nasib yang jelek seperti itu.
Tukang perkosa wanita!
Mana ada sebutan yang lebih dahsyat dan lebih biadab dari pada sebutan itu?
"Karena seluruh bagian tubuhku beracun semuanya, maka korban-korban kebiadaban penyakitku itupun tidak ada yang masih bisa hidup.
Mereka mati keracunan semuanya...!
Oh, betapa besarnya dosaku!"
"Oh...!"
Tui Lan memekik kecil dan melangkah mundur, seakan-akan hatinya ikut menjadi ketakutan pula melihat wajah Liu Yang Kun.
Tapi pemuda itu sudah tidak peduli lagi pada sikap Tui Lan.
Ia ingin lekas-lekas memuntahkan seluruh isi hatinya tentang penyakit yang dideritanya itu kepada gadis yang telah menarik hatinya.
"Akibatnya aku lantas merasa takut berada di tempat umum. Aku takut sewaktu-waktu penyakitku kambuh dan membunuhi wanita-wanita tak berdosa. Berbulan-bulan aku lewat di tempat sunyi dan tak berani bertemu dengan wanita. Tapi... Thian agaknya masih belum cukup menghukum aku."
"Eh! Apalagi...?"
Tui Lan berdesah tak terasa.
"Mungkin karena aku selalu berusaha menahan dan mencegah kambuhnya gangguan penyakit itu, serta selalu melawan bila ia datang menyerang otakku, maka... gangguan itu lalu meletus dalam bentuk lain!"
"Dalam bentuk lain? Apakah Itu...?"
Liu Yang Kun menutupi mukanya dan berdesah semakin sedih.
"Tampaknya karena selalu kukekang dan tak pernah kuberi kesempatan untuk melampiaskan kebuasannya, maka gangguan penyakit itu menjadi menumpuk di dalam tubuhku. Dan tumpukan yang terpendam itu ternyata memperoleh jalan keluar sewaktu aku... tidur!"
"Sewaktu tidur? Mana mungkin? Bukankah kau akan lantas bangun apabila terjadi apa-apa pada dirimu?"
Tui Lan yang semakin 'tahu' kesulitan Liu Yang Kun itu menegaskan.
Liu Yang Kun menarik napas panjang.
Lama ia tak menjawab pertanyaan itu.
Tampaknya ia sedang mencari jalan yang mudah untuk menjelaskan hal itu kepada Tui Lan.
"Lan-moi...! Pernahkah kau mendengar seorang yang sedang tidur tiba-tiba terbangun dan berjalan mondar-mandir tanpa sadar?"
Mendadak pemuda itu balik bertanya.
"Ah!"
Tui Lan tersentak, lalu mengangguk-angguk.
"Ya... ya pernah. Malahan... malahan kata guruku, aku sendiri sering berbuat demikian bila siang harinya terlalu lelah. Dan guruku sering menggoda atau mempermainkan aku bila aku sedang 'mimpi berjalan' seperti itu. Katanya aku diajaknya berbicara segala macam hal, padahal setelah sadar aku tak merasa berbicara apa-apa kepadanya. Hanya sering kali aku menjadi kaget karena sewaktu bangun tidur kudapatkan diriku di kursi, lantai atau kamar lain."
"Nah! Persis seperti itulah penyakitku itu! Tapi dalam bentuk yang lebih dahsyat dan mengerikan! Coba kau bayangkan! Nafsu biadab yang terpendam di waktu siang hari itu akan muncul dan meledak di kala aku tidur di malam harinya. Seperti orang bermimpi aku bangkit dari tidurku, kemudian menyebar mala-petaka di kalangan wanita, tanpa aku sendiri menyadari apa yang telah kuperbuat itu. Aku baru sadar akan semua perbuatan dosaku itu apabila aku telah terbangun dari tidurku, dan mendapatkan korban-korban yang berserakan di sekelilingku. Oooooooh..., Lan-moi! Apa dayaku? Semakin lama aku menjadi semakin ketakutan terhadap diriku sendiri! Semakin lama aku juga menjadi makin asing kepada diriku sendiri! Aku juga menjadi takut untuk tidur, sehingga berhari-hari aku tidak berani memejamkan mataku..."
Liu Yang Kun bercerita semakin memelas.
Matanya tampak berkaca-kaca.
Tui Lan yang tadi agak merasa ngeri dan takut kepada Liu Yang Kun kini berbalik menjadi kasihan kembali.
Dipandangnya wajah pemuda yang pucat dan kurus karena penderitaan dan kurang tidur itu dengan perasaan kasihan.
Ia bisa membayangkan, betapa hebat penderitaan batin pemuda itu.
Seorang pemuda kurus kering, murung dan tampak sedih, sedang minum sendirian di sebuah restoran!
Padahal sebenarnya pemuda itu adalah seorang Pangeran.
Putra Mahkota dari kaisar yang berkuasa di negeri ini!
"Ah!
Koko.
kasihan sekali kau...!"
Tiba-tiba gadis itu tak kuasa menahan perasaannya. Tangannya menyentuh pundak Liu Yang Kun dengan mesra. Sebaliknya Liu Yang Kun merasa kaget pula menyaksikan tanggapan Tui Lan.
"Lan-moi, kau...mengerti perasaanku? Kau dapat menyelami penderitaanku?"
Tanyanya penuh perasaan.
"Tentu saja, koko. Aku mengerti, kau sama sekali tidak bersalah. Nasib jelek saja yang membuatmu menderita seperti itu. Sekarang kau lanjutkanlah lagi ceritamu itu!"
Tui Lan mengangguk-angguk dan membesarkan hati pemuda itu. Liu Yang Kun menelan ludahnya.
"Berhari-hari aku tak berani memicingkan mataku, sehingga badanku menjadi lemas bukan main. Tapi lambat-laun tubuhku tak kuat juga. Mana ada manusia tidak tidur di dunia ini? Namun, begitu aku tertidur, penyakit itupun datang lagi, dan lebih... brutal serta lebih ganas! Ketika aku sudah bangun kembali, kulihat di dekatku berserakan empat sosok mayat wanita yang belum pernah kukenal sebelumnya. Mereka mati keracunan karena... karena habis kuperkosa! Ooh, Lan-moi... Betapa berdosanya aku! Bagaimana kalau wanita-wanita itu punya suami dan anak-anak yang masih kecil? Betapa terkutuknya aku ini, bukan? Tapi... apa dayaku? Semua itu kulakukan dalam keadaan tak sadar. Aku sendiri membencinya. Mengutuknya. Tapi apa yang harus aku lakukan? Membunuh diri? Agar aku tidak membuat korban lagi? Ooh, Lan-moi... aku takut! Aku takut melakukan bunuh diri! Aku takut secara sadar melakukan tindakan tercela itu! Aku hanya berharap bahwa sekali waktu ada seorang pendekar wanita yang bisa membunuhku sewaktu aku meraja-lela di dalam tidurku itu..."
Liu Yang Kun menghentikan ceritanya sebentar untuk menyeka keringat yang mengalir di atas kening dan lehernya.
Matanya kelihatan sayu dan lelah.
Lenyap sudah kesannya sebagai jago silat nomer tujuh di dunia.
"Sesudah kejadian itu, aku lalu memesan rantai baja yang sangat kuat. Yang kekuatannya kira kira mampu menahan kekuatan lima ekor gajah sekalipun. Aku lalu mencari sebuah tempat tersembunyi dan sulit didatangi orang. Setiap mengantuk dan ingin tidur, aku lalu memborgol dan merantai diriku sendiri di tempat tersebut."
Tui Lan menatap wajah pemuda itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Betapa hebat usaha pemuda itu untuk menanggulangi 'penyakit' itu.
"Ohh? Jadi... kau sudah pernah melihatku?"
Sebaliknya Liu Yang Kun berseru pula dengan kagetnya. Tui Lan tertunduk sambil menghela napas.
"Ya! Tapi semula aku menyangka Giok-bin Tok-ong itulah yang mengikatmu,"
Gadis itu menjawab. Lalu serba sedikit gadis itu mengatakan apa yang pernah dilihatnya tentang pemuda itu dulu.
"Ohhh...!"
Liu Yang Kun berdesah. Tiba-tiba Tui Lan menatap mata Liu Yang Kun lekat lekat.
"Jadi itulah sebabnya kau selalu menyendiri dan bersikap aneh selama di dalam gua ini? Tapi... tapi mengapa tidak kau katakan saja terang semuanya itu kepadaku? Bukankah dengan demikian tidak akan terjadi kesalah-pahaman diantara kita? Hmmmmh, kau benar-benar tidak merasakan bagaimana sedih dan bingungnya hatiku,"
Katanya kesal seolah-olah menyesali tindakan pemuda itu.
Liu Yang Kun menengadahkan mukanya dan balas menatap mata Tui Lan.
Namun sekejap kemudian matanya segera tertunduk kembali.
Ia menjadi ketakutan melihat 'sesuatu' yang aneh di dalam pandangan mata gadis cantik itu.
Sesuatu yang sangat ditakutinya selama ini.
"Aku tidak berani mengatakannya kepadamu. Aku... aku tidak berani membayangkan, apa jadinya kalau kau tahu, macam apa orang yang sedang berada bersamamu di dalam gua ini. Aku takut kau menjadi gila atau mati ketakutan karena selalu merasa dibayang-bayangi atau diintai oleh Iblis yang mengeram di dalam tubuhku."
Pemuda itu lalu berkata dengan suara gemetar.
Hatinya menjadi gelisah.
Mendadak mata Tui Lan tampak berkaca-kaca.
Pipinya menjadi agak kemerah-merahan, sehingga tanpa disadarinya mulut Liu Yang Kun sampai melongo menyaksikan kecantikan alam yang sangat mempesonakan itu.
Sedangkan mata pemuda itu seolah-olah ikut bergantung pada bibir mungil yang bergerak-gerak ketika berbicara itu.
"Meskipun demikian tak seharusnya kau lantas meninggalkan aku begitu saja tanpa keterangan selama sepekan. Kau benar-benar membuat hatiku sedih, putus-asa dan kehilangan pegangan. Koko, katakanlah...! Apa sebabnya engkau berbuat demikian kepadaku? Bersembunyi dimanakah kau selama ini?"
Bibir mungil itu berbisik lirih penuh perasaan.
Seakan-akan ikut terseret oleh ayunan bibir mungil tersebut, mulut Liu Yang Kun secara otomatis menyahut pula tanpa terpikir lebih dahulu.
Suaranya bergetar pula dengan penuh perasaan.
"Karena... karena aku takut melihatmu. Melihat wajahmu...! Aku juga takut men...mendengar suaramu. Suara panggilanmu, ketawamu, dan... dan bisikanmu!"
"Ah! Mengapa begitu?"
Tui Lan tersentak kaget, matanya menatap tajam.
Dipandang seperti itu Liu Yang Kun semakin menjadi gelisah dan risau.
Pemuda itu menyesal telah kelepasan omong tadi.
Sekarang ia tak bisa mengelak lagi.
Terpaksa ia mengatakan juga apa yang ada di dalam hatinya.
"Pokoknya... aku takut kepadamu!"
"Mengapa takut kepadaku? Kenapa justru kau yang takut kepadaku?"
Tui Lan tetap mengejarnya.
"Karena... aku mulai tertarik kepadamu! Karena aku mulai jatuh cinta kepadamu! Dan hal itu sungguh amat berbahaya! Itu sama saja dengan bencana! Kalau sewaktu-waktu timbul berahiku kepadamu... ohhhh, aku tak bisa membayangkan apa jadinya nanti! Aku akan bisa gila! Aku akan menyesal seumur hidupku karena telah membunuh orang yang kucinta! Nah, itulah sebabnya aku bersembunyi!"
Akhirnya Liu Yang Kun melepaskan juga seluruh kandungan hatinya.
Bahkan nadanya agak sedikit berapi-api malah.
Namun yang terang, selesai berkata hatinya menjadi Iapang.
Tapi pernyataan cinta yang diucapkan oleh Liu Yang Kun itu sebaliknya amat mengejutkan hati Tui Lan!
Namun di balik perasaan kaget itu ternyata tersembul pula perasaan bahagia yang tak terkira.
Entah mengapa, tiba-tiba saja gadis itu merasakan bahwa gua itu sebenarnya tidaklah sesunyi dan segelap yang mereka lihat selama ini.
Obor yang mereka pasang itu sudah cukup terang.
Terlalu terang malah untuk dua orang yang sedang tenggelam dalam dunia asmara.
Sedangkan bunyi gemerciknya air dan suara deburan ombak di tengah-tengah sungai yang bergema memenuhi lobang gua tersebut, sebenarnya juga tidaklah sebising yang ia dengarkan selama ini.
Bahkan suara itu terasa riang dan hidup bagaikan suara ombak di tepi pantai.
Dan ketika gadis itu menundukkan mukanya tiba-tiba pula ia merasa pakaiannya sangat kotor dan buruk sekali.
Gadis itu merasa seperti seorang wanita desa yang jorok dan buruk rupa.
Sesaat gadis itu merasa sangat menyesal, mengapa ia tak bisa bersolek dengan pakaian yang bagus di depan kekasihnya.
"Koko...! Ini... aku..."
Tui Lan gelagapan dan bingung tak tahu apa yang mesti ia katakan. Sebaliknya Liu Yang Kun justru menjadi tenang sekarang. Setelah semua 'beban"
Itu keluar, dadanya terasa lapang, dan otomatis rasa takutnya selama ini menjadi hilang. Dan ia segera meneruskan ceritanya untuk menghilangkan perasaan kikuk diantara mereka itu.
"Semula aku memborgol diriku sendiri di lorong gua yang terkecil dan menutup jalan masuknya dengan batu besar. Tapi hatiku masih merasa khawatir juga. Jangan-jangan kau bisa menggeser batu itu dan masuk ke sana pula. Aku takut, dalam suasana hati dan pikiranku yang sedang penuh dengan bayangan itu kau datang menemui aku. Aku tak bisa membayangkan apa jadinya nanti. Aku tentu tak dapat lagi mengendalikan api asmaraku kepadamu. Dan... kau tentu akan menjadi korban kebiadaban penyakitku! Ahhhhhh...! Oleh karena itu aku lantas meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat lain yang kiranya tak dapat kaudatangi. Nah, pada saat itulah baru terlintas dalam pikiranku tempat di seberang sungai itu. Selama ini kita tak pernah memikir bagaimana sebenarnya keadaan di seberang sungai yang tak bisa kita lihat berapa lebarnya ini. Karena tak mungkin menyeberanginya, maka aku lantas merayap melalui langit-langit gua ini."
Liu Yang Kun berhenti sebentar untuk mengambil napas. Sebentar-sebentar matanya melirik ke arah Tui Lan, yang ini justru tak berani menatap kepadanya.
"Tak kusangka sungai ini lebar bukan main. Untunglah di beberapa tempat menemukan ceruk-ceruk atau lobang kecil untuk beristirahat. Dan kadang-kadang aku menjadi ketakutan ketika Iangit-langit gua itu menurun dan hampir menyentuh debur ombak yang menggila di bawahku. Akhirnya aku dapat juga mencapai seberang sana. Diam-diam aku juga berharap, mudah-mudahan ada jalan keluar di tempat itu. Tapi harapanku itu ternyata sia-sia belaka. Di sana hanya ada lorong sempit di sepanjang tepian sungai ini. Aku malah tidak dapat menemukan sebuah lobang guapun untuk beristirahat. Untunglah aku bisa mendapatkan sebuah tiang batu karang yang dapat kupergunakan untuk mengikat rantai bajaku. Demikianlah, Lan-moi... beberapa hari lamanya aku menyiksa diri di tempat itu. Sampai akhirnya aku tadi melihat meluncurnya obormu itu ke tengah sungai, yang kemudian tenggelam ditelan ombak. Aku sangat terperanjat melihatnya. Aku mengira kau nekat menyeberang dan tenggelam, sehingga aku lekas-lekas merayap ke sini kembali. Ooooh...! Syukurlah! Ternyata kau masih hidup. Meskipun keadaan tubuhmu ternyata juga amat payah karena lelah dan kurang makan. Lan-moi..."
"Koko...!"
Tui Lan tak kuasa lagi menahan dirinya.
Sekali lagi mereka berpelukan.
Kini keduanya benar benar menyadari, bahwa mereka saling mencinta dan saling membutuhkan.
Dan tampaknya Thian memang telah mentakdirkan bahwa mereka harus bertemu di tempat itu dan bertempat tinggal di tempat itu pula.
Namun sementara mereka berpelukan itu ternyata apa yang terpikir dan terbayang di dalam batin mereka sungguh amat berbeda sekali.
Kalau dalam batin Tui Lan telah terbayang kebahagiaan mereka sebagai suami-isteri, sebaliknya Liu Yang Kun justru sedang sibuk memikirkan bagaimana caranya memberi pengertian kepada gadis itu bahwa mereka berdua tidak mungkin menjadi suami-isteri.
Dengan tubuhnya yang sangat beracun itu tak mungkin dia menikahi gadis itu, meskipun di dalam hati dia juga sangat mencintainya.
Demikianlah hari itu mereka mencari ikan dan membuat minyak bersama-sama lagi.
Begitu bahagia tampaknya hati Tui Lan sehingga Liu Yang Kun tidak sampai hati untuk mengatakan kesulitannya itu.
Dibiarkannya saja gadis itu bergembira ria terlebih dahulu untuk beberapa waktu lamanya.
"Koko, apakah kau belum juga mendapatkan obat mujarab itu?"
Sambil membakar belut panjang yang mereka peroleh Tui Lan bertanya kepada Liu Yang Kun. Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.
"Belum..."
Katanya pelan.
"Selama ini aku belum bisa menjumpai Chu Seng Kun, orang yang telah mengobati aku dahulu. Hanya orang itu kukira yang bisa menyembuhkan penyakitku."
Malamnya mereka berpisah.
Tui Lan tidur di ruangannya sendiri, sedangkan Liu Yang Kun juga beristirahat di dalam lorong gua yang terpencil itu pula.
Hanya bedanya kalau malam itu Tui Lan bermimpi indah sekali, sebaliknya Liu Yang Kun justru sangat gelisah dan tak dapat tidur sama sekali.
Berbagai macam kekhawatiran yang selama ini selalu menghantui pikirannya kembali menggoda pula.
Keesokan harinya Tui Lan bangun lebih awal dari pada biasanya.
Pertama tama yang dilakukannya adalah bersemadi menurut gambar dalam buku Pat-hong Sin ciang itu untuk memulihkan kesegarannya.
Beberapa waktu kemudian, setelah udara di dalam gua itu terasa hangat oleh sinar matahari yang menerpa lapisan tanah di atas gua itu, ia turun ke sungai untuk membersihkan badannya.
Dan tidak seperti hari-hari yang lalu, kali ini ia bersolek lebih lama dari pada kebiasaannya.
Dan seperti biasanya ia lalu pergi ke lorong di tepi sungai itu untuk bertemu dengan Liu Yang Kun.
Tapi sampai siang hari pemuda itu tak kelihatan juga batang hidungnya, mula-mula Tui Lan tak mencurigainya.
Gadis itu hanya menganggap bahwa Liu Yang Kun terlalu lelah sehingga terlambat bangun.
Namun setelah lama sekali pemuda itu tak kunjung keluar juga, Tui Lan mulai berdebar-debar pula.
Gadia itu lalu pergi ke lorong gua terkecil itu.
Namun betapa kagetnya gadis itu ketika dilihatnya ruangan gua itu kosong melompong.
Liu Yang Kun tiada lagi di tempat itu.
"Koko...!?"
Tui Lan menjerit seraya berlari-lari di antara tiang-tiang batu karang yang banyak terdapat di ruangan tersebut.
Tiba-tiba gadis itu melihat beberapa coretan huruf di lantai gua.
Huruf-huruf itu berbunyi .
Lan-moi, Maafkanlah aku!
Aku terpaksa pergi ke seberang lagi.
Semalam aku hampir tak bisa mengendalikan api asmaraku kepadamu.
Biarlah untuk sementara aku berada di sana saja dahulu.
Kau bersabarlah!
LIU YANG KUN Lemas seluruh persendian Tui Lan membaca huruf-huruf itu!
Hilang pula kebahagiaan yang dihirupnya sejak kemarin itu.
Kini gua itu kembali sunyi dan sepi lagi, sementara suara air dan ombak itu terdengar membosankan pula seperti biasanya.
Dengan lesu gadis itu melangkah keluar.
Tapi tiba-tiba kakinya menendang sebuah potongan besi kecil sebesar jari telunjuknya.
Potongan besi itu menyerupai sebuah kunci.
"Ahhhh!"
Tui Lan berseru perlahan kemudian mengambil benda itu dan mengamat-amatinya.
"Jangan-jangan benda ini adalah kunci borgol itu! Oh, bagaimana jadinya kalau Liu Koko tak bisa membuka kembali borgolnya nanti?"
Pikirnya lagi dengan perasaan khawatir.
Tui Lan lalu berlari ke tepi sungai itu.
Ia mencoba berteriak sekuat-kuatnya.
Siapa tahu Liu Yang Kun masih berada di langit-langit gua itu dan masih bisa mendengar suaranya?
Tapi sampai serak tenggorokan Tui Lan, teriakannya tak memperoleh jawaban.
Suaranya seakan-akan hilang ditelan oleh suara gemuruh ombak sungai itu.
Akhirnya gadis itu duduk dengan lemasnya, bersandar pada sebuah batu karang.
Matanya berkaca-kaca menyesali nasibnya.
Juga nasib Liu Yang Kun yang dicintainya.
"Oh! Bagaimana aku harus mengantarkan kunci ini ke seberang? Untuk merayap di atas langit-langit seperti Liu koko harus dipergunakan ginkang yang sempurna semacam Peh-hou-ciang atau ilmu cecak merayap..."
Sehari itu Tui Lan hampir tak bergerak dari pinggir sungai.
Di dalam hati gadis itu berharap agar Liu Yang Kun dapat segera menenangkan hatinya dan kembali ke sisinya lagi.
Namun harapannya itu ternyata sia-sia saja.
Pemuda itu tetap tak kembali.
Sehari.
Dua hari.
Akhirnya sepekanpun telah berlalu.
Liu Yang Kun tetap tidak kunjung datang.
Tui Lan mulai berputus asa dan khawatir.
Ada dua kemungkinan kenapa pemuda itu tak datang, menurut Tui Lan.
Pertama, pemuda itu belum mampu mengendalikan dirinya.
Kedua, pemuda itu terlanjur mengunci borgolnya, dan sekarang tak bisa membukanya kembali, sebab kuncinya tertinggal di tempat itu.
Dan kemungkinan yang kedua tersebut benar-benar sangat merisaukan hati Tui Lan.
"Oh, bagaimana kalau Liu koko benar-benar telah terlanjur memborgol dirinya di seberang itu? Masakan aku harus berpisah selamanya dengan dia? Bagaimana caranya aku mengirimkan kunci itu ke sana? Oooooh...! Merayap di atas langit-langit gua aku tak bisa. Berenang menyeberangi sungai ini juga tidak mungkin. Perahu juga tak ada..."
Tui Lan berkeluh kesah menyesali dirinya.
Tiba-tiba gadis itu teringat pada buku-buku peninggalan Bit-bo-ong itu.
Jikalau tidak salah, satu di antaranya merupakan buku pelajaran ilmu meringankan tubuh yang amat tersohor di dunia, yaitu Bu-eng Hwe-teng.
Menurut kisah yang pernah didengarnya, mendiang Bit-bo ong bisa berjalan di atas air dengan ilmu tersebut.
Teringat akan hal itu, timbul pula semangat Tui Lan.
Bergegas gadis itu pergi ke kamarnya.
Diambilnya buku tersebut dan dibacanya.
Mula-mula gambar dan tulisan yang ada di dalam buku itu amat membingungkannya.
Tapi setelah dibaca dan dilihatnya berulang-ulang, tulisan dan gambar-gambar itu akhirnya dapat dimengertinya juga.
Demikianlah, karena semangat dan keinginannya untuk dapat pergi ke seberang sangat tinggi, maka gadis itu menjadi lupa waktu.
Gadis itu menjadi jarang sekali beristirahat, tidur, apalagi makan.
Setiap saat gadis itu selalu mempergunakan waktunya untuk belajar Bu-eng Hwe-teng.
Kadang-kadang berhari-hari gadis itu hanya belajar berloncatan di lorong lorong gua itu untuk melatih otot-otot tubuhnya, sekalian mengenal dan mempelajari gaya kelenturan tubuhnya dalam berbagai gerakan.
Setelah itu berhari-hari pula gadis itu belajar mengenal gerakan dasar ilmu ginkang Bu-eng Hwe teng, yaitu pemanfaatan daya dorong dan daya tolak yang timbul di dalam su atau gerakan.
Setelah itu berhari hari pula gadis itu dengan tekun belajar bermacam-macam gerakan pokok di dalam Bu-eng Hwe-teng.
Tak terasa tiga bulan telah berlalu.
Dan biarpun setiap saat Tui Lan selalu menatap jauh ke seberang, namun gadis itu benar-benar telah lupa akan waktu.
Apalagi dengan tiadanya sinar matahari yang menyorot ke dalam gua itu, menyebabkan gadis itu tidak merasa bahwa tiga bulan telah berlalu.
Saking asyiknya, gadis itu menyangkanya baru beberapa hari saja ia berlatih Bu-eng Hwe-teng.
Begitulah, tak terasa mereka telah menginjak bulan yang keenam di dalam gua di bawah tanah itu.
Tanpa terasa Tui Lan juga telah menyelesaikan isi buku Bu-eng Hwe-teng itu pula.
Namun gadis itu menjadi kecewa ketika melihat beberapa lembar terakhir dari buku tersebut ternyata telah hilang.
Dan dia hanya menemukan sebuah catatan atau tulisan di lembar yang terakhir, yang bunyinya .
Halaman selanjutnya telah dimusnakan karena sangat berbahaya!
Tertanda .
Hoa-san Lojin "Hoa-san Lojin (Orang Tua dari Hoa-san)...?
Siapakah dia?"
Tui Lan bertanya-tanya di dalam hatinya.
Dan gadis itu tiba-tiba teringat akan pembicaraan Giok-bin Tok-ong dan Butek Sin-tong di bawah lorong gua itu beberapa waktu yang lalu.
Kalau tak salah kedua orang tua itu pernah berbicara tentang pemilik Buku Rahasia yang berdiam di puncak gunung Hoa-san pula.
Mungkinkah orang tua itu pula yang menyobek buku ini dan memusnakannya?
Tui Lan lalu memeriksa kedua buah buku Bit-bo-ong yang lain.
Ternyata berapa lembar terakhir dari buku-buku itupun juga telah disobek pula.
Dan di dalam buku-buku tersebut juga diberi catatan pula seperti buku Bu-eng Hwe teng!
Mendadak Tui Lan seperti disentakkan dari lamunannya!
"Celah di lantai gua itu!
Kenapa selama ini aku melupakan ruangan di bawah lantai gua itu!
Kedua orang tua itu bisa sampai di sana tanpa melalui lorong gua ini!
Tentu ada jalan yang lain untuk mencapai ke tempat itu!
Oh!"
Gadis itu berdesah dengan tegangnya.
Lalu gadis itu berlari menuju ke lorong gua yang terkecil itu!
Saking tegangnya, tanpa terasa gadis itu mengerahkan ginkangnya!
Kakinya meloncat panjang-panjang dengan gesitnya, seperti seekor kijang yang berlompatan di padang rumput.
Tui Lan merasakan tubuhnya sangat ringan sekali, sehingga rasa-rasanya ia tak mempunyai bobot sama sekali!
Begitu ringannya tubuhnya, sehingga dengan sedikit gerakan saja tubuhnya telah melayang bagai kapas tertiup angin!
Akibatnya beberapa kali gadis itu hampir menabrak dinding gua!
Untunglah gadis itu lalu teringat akan gerakan-gerakan Bu-eng Hwe-teng yang harus ia lakukan.
Namun demikian, ketika tiba di pinggir sungai itu, tetap saja tubuhnya 'menyelonong' ke tengah sungai tanpa dapat dikendalikan lagi!
Tentu saja Tui Lan menjadi ketakutan setengah mati!
Dengan air muka pucat pasi gadis itu mencoba.bertahan sebisa-bisanya agar tidak tercebur ke dalam air yang hitam kelam itu.
Ditahannya napasnya.
Dipejamkannya matanya.
Kemudian kedua buah kakinya yang beralaskan sepatu itu menjejak ke arah permukaan air sedapat-dapatnya!
"Plak!
Plak!
Plak!"
Terdengar suara berkecipak ketika sepatu Tui Lan 'menampar' permukaan sungai.
Airpun memercik ke atas.
Tapi berbareng dengan itu pula tubuh Tui Lan tampak melenting ke atas kembali seperti layaknya sebuah bola karet yang membentur permukaan tanah!
Namun hal itu justru sangat mengejutkan Tui Lan sendiri malah!
Gadis itu menjadi bengong dan tak mengira kalau tubuhnya benar-benar bisa melenting di atas permukaan air!
Sekejap gadis itu menjadi bingung dan salah tingkah malah!
Sehingga akibatnya menjadi gelagapan dan sekaligus juga ketakutan ketika tubuhnya yang melenting tersebut kembali meluncur ke dalam air sungai lagi!
Untunglah Tui Lan segera menyadari dirinya kembali.
Bergegas gadis itu mengerahkan ginkangnya lagi dan menjejakkan kakinya pula seperti tadi.
Tapi sekarang gadis itu bergerak menurut aturan-aturan yang ada di dalam buku Bu-eng Hwe-teng itu.
Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh amat mengejutkannya!
Jejakan kaki pertama memang menimbulkan suara berkecipak yang keras seperti suara tamparan telapak tangan atas permukaan air.
Dan selanjutnya kaki itu bagai tertolak ke atas kembali dengan kuatnya.
Namun pada jejakan kaki yang kedua ternyata gadis itu bagai menginjak tempat kosong!
Kaki masuk begitu saja ke dalam air, seolah-olah tiada hambatan sama sekali!
"Byuuuuur!"
Tak ampun lagi gadis itu tercebur ke dalam sungai! Mulutnya segera menjerit! Tapi sekejap kemudian wajah itu segera berubah menjadi lega, karena ternyata dia menginjak di tempat yang dangkal.
"Oooh...! Ternyata aku masih berada di tepian..."
Tui Lan menakik napas lega, lalu tertatih-tatih keluar dari dalam sungai.
Namun kejadian itu telah menyadarkan pikiran Tui Lan bahwa sebenarnya dirinya sudah benar-benar menguasai sebagian dari ilmu mendiang Bit-bo-ong itu.
Apalagi ketika ia sadar bahwa di dalam ketergesaannya tadi ia sama sekali lupa untuk membawa obor.
Biarpun demikian ternyata dia bisa melihat di dalam kegelapan tanpa kesukaran.
"Ohh! Tampaknya... tampaknya sudah tiba saatnya aku menyusul Liu twako ke seberang sana. Meskipun demikian tampaknya... tampaknya aku juga masih harus berlatih dan menyempurnakan lebih dahulu ilmu-ilmu itu."
Gadis itu membatin dengan wajah gembira.
Demikianlah sambil berjalan ke lorong gua yang terkecil itu Tui Lan mulai berpikir dan memperhatikan semua gerakan dan pernapasannya, agar sesuai dengan petunjuk-petunjuk di dalam buku-buku itu.
Sekalian juga mencari-cari dan membetulkan hal-hal yang sekiranya kurang cocok pada dirinya, untuk kemudian menyesuaikannya dengan keadaan tubuhnya.
Dan hasilnya memang sangat menggembirakannya.
"Ah! Ternyata ilmu Bit-bo-ong itu sungguh menarik dan menyenangkan."
Tui Lan bergumam puas ketika sampai di terowongan gua terkecil itu.
Lalu dengan harap-harap cemas gadis itu masuk ke dalam gua tersebut.
Tanpa mempergunakan obor lagi matanya mencari celah sempit dimana ia mendengarkan pembicaraan Giok-bin Tok-ong dengan Bu-tek sin-tiong dulu.
Dan dengan cepat celah sempit tersebut ia temukan.
Tapi hati Tui Lan segera menjadi kecewa.
Lantai gua itu bukanlah tanah lunak atau padas gembur yang mudah digali, melainkan adalah batu karang yang kuat dan keras luar biasa.
Tak mungkin rasanya pedang pendeknya mampu menembus lantai gua tersebut.
Maka dengan perasaan lesu gadis itu lalu keluar dan kembali ke tempatnya sendiri.
Dan hari hari selanjutnya Tui Lan semakin menekuni Pat hong-sinkang dan Bu-eng Hwe-teng.
Gadis itu sengaja menekuni kedua buah ilmu itu tanpa mengenal lelah, dan sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh buku-bukunya yang lain.
Ditelaah dan didalaminya isi ilmu itu sedalam-dalamnya, dan diusahakannya dengan sekuat tenaga untuk mengurangi semua rahasia-rahasia yang ada di dalamnya, untuk kemudian dipelajari dan diterapkan pada dirinya.
Begitu keras dan hebatnya semangat serta kemauan gadis itu, sehingga beberapa lembar dari rambutnya tanpa terasa telah menjadi putih.
Dan tiga bulan kemudian jumlah rambut yang hitam dan yang putih telah menjadi sama banyaknya.
Namun demikian, apa yang telah dicapai dalam waktu tiga bulan itu benar benar dahsyat tiada terkira.
Kekuatan dan kemampuan yang kini terpendam di dalam tubuh Tui Lan sungguh jauh sekali bedanya dengan kekuatan yang dimilikinya dahulu.
Meskipun perilakunya masih tampak halus lemah lembut, tapi kemampuannya sekarang benar-benar tidak boleh dipandang ringan lagi.
Mata dibalik bulu-mata yang lentik itu kini menyorot tajam di kegelapan, bagai mata harimau betina di keremangan malam.
Dan gadis itu tak membutuhkan obor lagi untuk menerangi lorong-lorong gua itu.
Sementara itu ilmu Bu-eng Hwe-teng yang telah melekat dan menyatu di dalam tubuhnya, membuat gadis itu dapat bergerak seringan kapas yang tertiup angin!
Dan sudah sepekan ini gadis itu belajar dengan giat untuk bisa berjalan di atas air.
Namun usahanya itu selalu menemui kesulitan.
Dengan kepandaiannya sekarang memang mampu berjalan beberapa langkah jauhnya.
Tapi karena permukaan air selalu bergerak turun naik dan miring kesana kemari, maka telapak kakinya tak mampu 'menampar' permukaan air dengan tepat lagi.
Sehingga akibatnya kaki itu terperosok dan tercebur ke dalam sungai.
Untunglah dia berlatih di tepian yang dangkal, sehingga setiap kali tercebur ke dalam air ia tak menjadi terbenam karenanya.
"Sebetulnya mudah saja mengatasi kesulitan ini. Asal kuikatkan sebilah papan atau sepotong bambu di bawah alas sepatuku, maka gelombang air yang bagaimana besarpun takkan menjadi soal. Tapi masalahnya, dimana aku bisa mendapatkan kedua buah benda itu di tempat ini?"
Tui Lan bergumam dengan hati kesal.
Sambil memikirkan jalan yang terbaik, Tui Lan melangkah hilir-mudik di tepian sungai itu.
Beberapa kemungkinan telah ia pikirkan, namun ternyata hanya menyeberangi sungai itu sajalah yang kira-kira sesuai dengan kemampuannya sekarang.
Pat-hong-sinkang yang ia pelajari itu memang amat hebat, namun tak bisa untuk merayap di atas langit-langit gua.
Tiba-tiba Tui Lan mendekati perapian dimana ia sering membakar ikan selama ini.
Matanya menatap kantong minyak dan kulit lambung yang diketemukan oleh Liu Yang Kun dulu.
"Kantong kulit itu bila kuikat dua lobangnya akan menjadi balon udara yang selalu terapung di dalam air. Sayang cuma ada sebuah saja. Kalau ada dua buah tentu akan dapat kugunakan sebagai pengganti papan atau bambu..."
Tui Lan berdesah kecewa.
"Tapi kantong kulit itu cukup besar bentuknya. Meskipun hanya satu, tapi rasanya juga sudah cukup untuk menahan tubuhku di atas air..."
Tui Lan lalu mengambil kantong minyak itu.
Isinya yang tinggul separuh itu dituangkan ke dalam obor-obor yang sudah hampir habis minyaknya.
Kemudian kedua buah lobangnya dia ikat dengan kuat, setelah lebih dulu dia tiupkan udara ke dalamnya.
Demikianlah, sepanjang hari Tui Lan belajar berloncatan di atas air dengan kantong itu.
Meskipun hanya berloncatan dengan satu kaki, tapi ternyata ia bisa bergerak di atas air tanpa tenggelam.
"Aku tidak tahu, apakah kantong minyak ini mampu bertahan di dalam gelombang sungai yang besar. Tapi aku harus mencobanya. Kasihan Liu Twako""
Tui Lan berbisik dengan suara harap-harap cemas.
Keesokan harinya Tui Lan benar-benar menyeberangi sungai itu.
Kedua belah tangannya memegang dua buah obor yang menyala dengan besarnya, sehingga matanya bisa melihat lebih jauh ke depan.
Kantong kulit yang menggelembung besar itu diikatnya di bawah sepatu kanannya, sebagai alas untuk berloncatan di atas permukaan air.
Ternyata sungai itu benar-benar lebar bukan main.
Semakin ke tengah, gelombang air menjadi semakin besar pula.
Malahan di tengah tengah sungai, gelombang itu sudah menyerupai ombak di lautan.
Berdebur dan bergemuruh memekakkan telinga!
Dan kalau dulu, ketika ia melemparkan obor ke tengah-tengah sungai itu, ia hanya melihat selintas saja, kini Tui Lan sungguh-sungguh me lihat dan menghadapinya langsung!
Untuk sesaat Tui Lan menjadi ngeri dan ketakutan juga.
Namun begitu ingat akan Liu Yang Kun, semuanya itu segera lenyap dari hatinya.
Rasa cinta dan rasa khawatirnya terhadap nasib pemuda itu ternyata telah mengalahkan seluruh ketakutan di hatinya.
Sebaliknya gadis itu menjadi heran dan tak habis mengerti, mengapa di tempat yang tertutup dan tanpa adanya tiupan angin yang berarti itu bisa menimbulkan gelombang air yang begitu dahsyat?
Tapi beberapa saat kemudian Tui Lan menjadi maklum.
Arus air di tengah-tengah sungai itu memang luar biasa ganasnya.
Sementara di tempat itu ternyata banyak karang-karang berbentuk kerucut yang muncul di permukaan air, sehingga arus air yang menghantam batu batu karang itu membentuk pusaran-pusaran air dan ombak yang besar dan kuat.
Hati Tui Lan menjadi berdebar-debar.
Pelampung dari kantong kulit yang berada di bawah sepatunya itu akan tidak berdaya bila menyentuh pusaran air tersebut.
Dia harus menghindarinya.
Dan satu-satunya jalan hanyalah berloncatan di atas batu-batu kerucut itu.
Memang sangat berbahaya.
Tapi dengan Bu-eng Hwe-teng yang telah dipelajarinya, Tui Lan bisa melewatinya dengan aman.
Akhirnya dengan hati tegang dan cemas Tui Lan sampai juga di seberang.
Kemudian dengan berlari-lari kecil ia menyusuri sungai tersebut untuk mencari kekasihnya.
"Liu Twako...!"
Panggilnya dengan suara gemetar.
Tiba-tiba mata Tui Lan terbelalak.
Beberapa langkah di depannya tampak sesosok tubuh manusia tergeletak tak berdaya di atas tanah.
Dan Tui Lan takkan melupakan bentuk perawakan orang itu.
"Koko...???"
Gadis itu menjerit sekeras-kerasnya, kemudian berlari menubruk orang itu.
Dan selanjutnya, seperti orang yang kehilangan keluarganya Tui Lan menangis sekuat-kuatnya.
Dipeluknya tubuh yang amat dingin itu sepenuh perasaannya.
"Koko...! Jangan tinggalkan aku sendiri di tempat ini! Bawalah aku serta! Koko...!"
Gadis itu menjerit dan memekik sehingga suaranya menjadi serak.
Tapi orang yang tidak lain memang Liu Yang Kun itu tetap diam tak bergerak.
Di lehernya masih terpasang borgol besi yang amat kuat itu.
Sementara borgol yang membelit kaki dan tangannya telah terlepas, walaupun masih juga dalam keadaan terkunci semuanya.
"Lan...moi...?"
Tiba-tiba orang yang disangka telah mati itu berbisik lemah.
Seketika tangis Tui Lan berhenti.
Gadis itu menatap wajah kekasihnya dengan mulut ternganga.
Gadis itu seolah-olah tak percaya akan pendengarannya sendiri.
"Koko...? K-k-kau ma...masih hidup?"
Ucapnya seakan-akan tercekik.
"Lan-moi...? Be-benarkah... kau... yang da...tang?"
Liu Yang Kun kembali berbisik dengan suara lemah.
"Kokooooo...!"
Tui Lan memekik gembira begitu menyaksikan bibir itu benar-benar bergerak.
"Oooh, koko...! "Be-benar! Inilah aku yang datang menjengukmu... Marilah! Marilah kutolong kau! Aku telah membawakan kunci borgol itu pula..."
Tui Lan lalu mengeluarkan kunci yang diketemukan itu, kemudian cepat membuka borgol besi yang me lilit leher Liu Yang Kun.
Lalu tubuh yang kurus kering itu dibawanya ke tempat yang lapang untuk diobati.
Beberapa waktu lamanya gadis itu menyalurkan tenaga saktinya guna memuIihkan tenaga Liu Yang Kun.
Peluh tampak mengalir keluar dari seluruh badannya.
Terutama dari kening dan lehernya.
Namun sedikit demi sedikit hasilnya memang dapat dilihat.
Pemuda tinggi kurus itu mulai memerah wajahnya.
Dan tubuh itu sudah tidak terasa dingin lagi.
"Lan-moi..."
Pemuda itu akhirnya membuka matanya dan berbisik lemah. Mata itu tampak berlinang-linang.
"Koko...? Kau sudah sadar kembali? Oh, terima kasih, Thian..."
Tui Lan bernapas lega sambil mencucurkan air mata pula.
Air mata kegembiraan.
Lalu dipeluknya tubuh yang masih lemah itu dengan perasaan bahagia.
Lama sekali keduanya berdiam diri, seolah-olah mereka memang tidak memerlukan lagi kata-kata untuk diucapkan.
Hati dan perasaan mereka sudah cukup untuk saling mengerti.
Meskipun demikian akhirnya Tui Lan membuka mulut juga.
"Apa sebenarnya yang telah terjadi, koko? Mengapa engkau menjadi seperti ini?"
Gadis itu bertanya seraya meneteskan beberapa titik air ke mulut kekasihnya.
Liu Yang Kun menatap wajah Tui Lan dengan perasaan yang sukar dilukiskan.
Apalagi ketika terlihat olehnya rambut Tui Lan yang penuh uban itu.
"Lan-moi...? Kenapa dengan rambutmu itu...?"
Tanyanya kaget.
"Rambutku? Ada apa dengan rambutku?"
Gadis itu justru bertanya pula. Tapi setelah gadis itu melihat ujung rambutnya yang terjuntai di belakang punggungnya, seketika hatinya menjadi kaget pula.
"Oh! Ini... ini.?"
Katanya bingung. Liu Yang Kun menjadi kasihan melihatnya. Ia tahu gadis itu telah mengalami goncangan dan tekanan batin yang amat kuat.
"Sudahlah, Lan-moi... Kau telah mengalami penderitaan jiwa raga yang sangat hebat, sehingga rambutmu menjadi putih. Tak apalah! Kau justru... bertambah anggun dan cantik malah!"
Hiburnya.
"Koko...!"
Gadis itu menghambur kembali ke dalam pelukan Yang Kun.
Pemuda itu lalu bangkit duduk.
Tetesan air yang diberikan Tui Lan tadi tampaknya sungguh amat menyegarkan badannya, sehingga kekuatannya telah mulai bangun kembali.
Sambil merangkul pundak Tui Lan pemuda itu lalu bercerita.
Malam itu Liu Yang Kun menjadi amat gelisah karena tidak bisa tidur.
Bayangan wajah Tui Lan selalu menggoda dan memburunya terus, sehingga akhirnya dia menjadi ketakutan malah, menjadi ngeri kalau kalau setiap saat penyakitnya akan kambuh kembali.
Oleh karena itu sebelum semuanya menjadi terlanjur, maka dia memutuskan untuk kembali lagi ke seberang.
Benarlah!
Di dalam perjalanan pemuda itu merasakan gejala-gejala tersebut.
Maka begitu tiba di seberang cepat-cepat memborgol dirinya sendiri.
Sehingga ketika penyakitnya itu benar-benar datang, ia sudah tidak bisa pergi kemana-mana lagi.
Hanya celakanya ketika 'badai setan' itu telah berlalu, ia tak dapat membuka borgol itu lagi.
Kuncinya ternyata sudah tidak ada di sakunya.
Hilang entah kemana.
Lemaslah semangat pemuda itu.
Tanpa kunci itu ia akan terantai di tempat itu selama hidupnya.
Namun masih untung pula bahwa rantai yang mengikatnya agak panjang, sehingga ia masih bisa pergi ke pinggir sungai untuk mencari ikan dan mengambil air.
Hanya saja dalam beberapa hari ini ia tak bisa mendapatkan ikan itu Iagi.
Tampaknya ikan-ikan itu sudah tidak berani menepi pula, sehingga selama beberapa hari ia juga hanya minum air saja.
Maka tak heran kalau tubuhnya lambat laun menjadi lemas.
Untunglah Tui Lan segera datang menolongnya.
Kalau tidak, ia tentu akan mati kelaparan di tempat itu.
"Tapi... tapi bagaimana kau sampai di tempat ini? Bagaimana caramu menyeberang?"
Selesai bercerita Liu Yang Kun bertanya dengan wajah keheranan.
Terpaksa Tui Lan juga bercerita apa adanya.
Sedikitpun gadis itu tidak berusaha menyembunyikan apa yang telah dialam inya selama ini.
Bagaimana ia memperoleh buku-buku itu, dan apa yang telah terjadi setelah ia memasukkan Po-tok-cu itu ke telapak tangannya.
Sekarang giliran Liu Yang Kun yang melongo keheranan mendengar penuturan itu.
Sama sekali ia tak menyangka Tui Lan telah mengalami kejadian yang begitu hebatnya.
"Lan-moi...? Jadi kau telah mendapatkan buku-buku Bit-bo-ong dan mempelajarinya? Oh, kalau begitu buku-buku itu tentu telah jatuh dari saku Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai ketika dia melawan Giok-bin Tok-ong itu."
"Eh! Apakah buku-buku itu kepunyaan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Kenapa kau menduganya begitu?"
Liu Yang Kun lalu bercerita lagi.
Buku-buku mendiang Bit-bo-ong tersebut empat tahun yang lalu telah dicuri oleh seorang tokoh persilatan yang bernama Hek-eng-cu.
Dengan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari buku-buku itu Hek-eng-cu lalu malang-melintang di dunia kang-ouw tanpa lawan.
Sampai pada suatu saat iblis itu dapat dijumpainya dan berhasil dibunuhnya.
Kemudian buku-buku mendiang Bit-bo-ong itu ia kembalikan kepada yang berhak yaitu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
"Ohh...!"
Tui Lan berdesah seraya mengangguk-angguk. Tiba-tiba Liu Yang Kun menepuk pundak Tui Lan.
"Lan-moi...! Bolehkah aku meminjam buku pemberian Ang-leng Kok-jin itu sebentar? Siapa tahu ada keterangan tentang penyakitku ini di sana?"
Tanyanya.
"Wah! Buku itu kutinggalkan di seberang sana,"
Tui Lan cepat menjawab. Lalu sambungnya lagi.
"Biarlah aku mengambilnya sekarang..."
Tapi Liu Yang Kun segera mencegahnya.
"Jangan! Besok saja kita ke sana bersama-sama. Marilah sekarang kita berburu ikan untuk memulihkan tenagaku!"
"Benarkah? Ohh... koko! Marilah!"
Tui Lan tercengang, namun segera bertepuk dengan riangnya.
Demikianlah, sehari itu Liu Yang Kun sengaja mengerahkan segala kemampuannya untuk memulihkan kembali tenaganya.
Dan sehari itu pula mereka berdua seolah-olah menumpahkan segala kerinduan mereka selama ini.
Kini mereka benar-benar saling membuka diri dan tidak malu-malu lagi mengeluarkan isi hatinya.
(Lanjut ke
Jilid 08) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 08 Terutama Liu Yang Kun.
Entah mengapa, setelah mendengar keterangan Tui Lan tentang Po-tok-cu itu, hatinya menjadi amat lega dan gembira bukan main.
Meskipun di dalam kegembiraan tersebut hatinya juga masih sedikit waswas pula.
"Lan-moi..."
Liu Yang Kun berkata gemetar ketika pada suatu saat mereka duduk bersanding menikmati kebahagiaan mereka. Tui Lan menjadi tergetar juga hatinya. Entah mengapa gadis itu merasakan sesuatu yang 'lain"
Di dalam nada suara pemuda itu. Dan diam-diam gadis itu meremang seluruh badannya. Akibatnya gadis itu tak berani bersuara sedikitpun.
"Lan-moi... Benarkah Po-tok-cu itu bisa menawarkan segala macam racun?"
Tui Lan menelan ludah. Lalu jawabnya dengan suara gemetar pula.
"Bukan menawarkan..., tapi... tapi siapapun yang memegang mustika itu akan kebal terhadap racun apapun juga. Begitu... begitulah yang dikatakan oleh Ang-leng Kok-jin..."
"Ooooooh...!"
Liu Yang Kun berdesah dan hendak berbicara lagi, tapi tak jadi.
Pemuda itu kelihatan ragu ragu.
Otomatis Tui Lan menjadi tegang dan gelisah pula.
Gadis itu menantikan kata-kata yang hendak dikeluarkan oleh Liu Yang Kun.
Namun karena ucapan tersebut tak kunjung keluar juga, maka gadis itu menjadi tak tahan menunggunya.
"Lekaslah kau katakan, koko. Kau hendak berbicara apa?"
Akhirnya gadis itu mendesak. Liu Yang Kun menjadi gelagapan. Tapi karena Tui Lan terus saja mendesaknya, maka akhirnya pemuda itu menjawab pula dengan hati-hati.
"Lan-moi... Tampaknya kita memang telah ditakdirkan untuk hidup di dalam kurungan gua ini selamanya. Meskipun demikian Thian kelihatannya masih mengasihani kita juga. Buktinya kita terjeblos berdua di tempat ini sehingga kita bisa saling mempunyai teman. Hmm, coba... bagaimana kalau kita terjeblos sendirian di sini? Selain dari pada itu... selain dari pada itu..."
Liu Yang Kun tak berani meneruskan perkataannya, sehingga Tui Lan segera mendesak lagi.
"Ayolah, koko. Mengapa kau menjadi ragu-ragu lagi?"
Liu Yang Kun menghela napas panjang. Kemudian dengan menguatkan hatinya pemuda itu menatap wajah gadis yang telah mampu menarik hatinya itu lekat-lekat.
"Selain dari pada itu..., tampaknya kita memang telah diperjodohkan oleh Thian. Buktinya... buktinya.. kita berdua menjadi cocok satu sama lain. Kita saling... saling mengasihi satu sama lain. Dan lebih dari pada itu, ternyata Thian telah memberi karunia kepadaku, seorang gadis yang kebal terhadap racun! Nah, mana ada "kebetulan' yang lebih hebat dari pada itu? Oh Lan-moi...! Kukira hal ini memang telah menjadi kehendak Thian."
Tui Lan tertunduk semakin dalam. Wajahnya menjadi merah seperti udang direbus. Sementara napasnya tampak memburu dan terengah-engah. Namun demikian wajah itu tampak bahagia sekali.
"Lan-moi...! Bagaimana pendapatmu? Jawablah! Mau... maukah kau menjadi... isteriku?"
Tui Lan tidak kuasa menjawab.
Gadis itu hanya menatap mata Liu Yang Kun sekilas, lalu menghambur ke dalam pelukannya.
Sekejap kemudian terdengar isaknya yang tertahan.
Isak kebahagiaan seorang wanita.
Tapi pemuda yang belum berpengaIaman itu menjadi bingung karenanya.
Dipandangnya rambut kekasihnya yang halus namun berwarna dua itu dengan pandang mata bertanya-tanya.
Kenapa tiba-tiba gadis itu menangis terisak-isak?
Apakah gadis itu tidak menyukainya?
"Kenapa kau malah menangis, Lan-moi?
Kau...
Kau tidak setuju dengan maksudku tadi?"
Pemuda itu mendesak dengan suara risau dan cemas.
Tiba-tiba wajah gadis itu menengadah, lalu menempelkan pipinya ke pipi Liu Yang Kun.
Dan tangisnya semakin menjadi-jadi.
Namun bibirnya sempat berbisik di telinga kekasihnya.
"Tidak! Tidak! Aku menangis bukan karena itu! Aku... aku... oh, koko... mengapa maksudmu itu tidak kau katakan dulu-dulu?"
"Hah?"
Liu Yang Kun tersentak kaget, sehingga gadis itu ikut terbawa berdiri.
"Tidak dari dulu-dulu? Oh! Jadi... kau setuju, Lan-moi?"
Pemuda itu tampak gembira sekali.
Begitu pula dengan Tui Lan.
Kedua orang itu tampak saling memandang dengan bahagia sekali.
Lalu, entah siapa yang memulai dahulu, tiba-tiba saja mereka telah saling berciuman dengan mesranya.
Namun kemesraan tersebut terputus dengan mendadak pula, ketika secara tiba-tiba Liu Yang Kun bergegas melepaskan diri dengan tubuh bergetaran!
Mata pemuda itu tampak melotot kemerah-merahan, sementara badannya semakin tampak menggigil seperti sedang menahan sakit yang amat sangat.
Tentu saja Tui Lan menjadi kaget sekali.
"Koko...? Kau... kau kenapakah?"
Pekiknya ketakutan. Tapi pemuda itu tidak menjawab. Sebaliknya dia segera berlari ke tempat dimana dia menaruh rantai borgol tadi. Dengan amat tergesa-gesa pemuda itu segera memasang borgolnya.
"Tui Lan...! Cepat pergi dari sini! Cepaaaaat...! Penyakitku, penyakitku... aaaarrrgh!??"
Pemuda itu berteriak sekuat-kuatnya.
Namun belum juga habis perkataannya, pemuda itu sudah menggeram keras sekali.
Matanya tiba-tiba membalik.
Dan sekejap kemudian sikapnya telah berubah menjadi buas!
Sambil meronta-ronta ia berusaha menggapai-gapai ke arah Tui Lan.
Tui Lan semakin ketakutan.
Dengan demikian gadis itu justru tidak kuasa beranjak dari tempatnya malah!
Saking ngerinya gadis itu malah jatuh terduduk di atas tanah.
Bersimpuh dengan tubuh menggigil!
Pemuda itu terus meronta-ronta, seperti seekor singa kelaparan yang ingin lepas dari rantai pengikatnya.
Sambil sekali sekali meraung dan menggeram dengan buasnya, pemuda itu berusaha meloloskan diri dari borgolnya.
Dan apa yang dilihat oleh Tui Lan benar-benar sangat mengerikan!
Mata gadis itu terbeliak ketakutan, sementara aliran darahnya seolah-olah membeku dan berhenti mengalir!
Mula-mula tampak oleh gadis itu tangan Liu Yang Kun memanjang beberapa jengkal jauhnya.
Tapi ketika tangan itu tidak dapat juga menggapai dirinya, lengan tersebut segera mengerut kembali dengan cepatnya.
Dan entah bagaimana caranya, selain mengerut lengan itu juga mengecil bentuknya, sehingga ketika pemuda itu meronta sekali lagi, tangan itu otomatis terlepas dari borgolnya.
Begitu juga halnya dengan lengan dan kedua kakinya yang lain.
Satu persatu mereka terlepas dari cengkeraman borgol besi itu.
Sehingga akhirnya tinggal bagian lehernya saja yang tidak bisa lepas.
Bagaimanapun juga leher itu memanjang dan memendek, tapi tempurung kepala itu tetap tak bisa mengerut atau mengecil.
Karena pemuda itu masih tetap saja meronta dan membelot sekuatnya, maka otomatis borgol yang melilit lehernya itu seperti mencekik dirinya.
Mukanya menggembung merah padam.
Matanya melotot merah.
Sementara mulutnya terbuka lebar dengan lidah yang menjulur keluar.
Tui Lan yang semula ketakutan itu tiba-tiba menjadi khawatir akan keselamatan Liu Yang Kun.
Gadis itu menjadi cemas, jangan-jangan kekasihnya itu akan mati tercekik oleh ulahnya sendiri.
"Koko...! Hentikan! Jangan memaksa untuk melepaskan diri! Kau... kau bisa tercekik!"
Gadis itu memekik seraya bangun berdiri. Tak terasa gadis itu melangkah maju, lalu berhenti lagi.
"Ekkkkkh...! Ekhhhhk...!"
Tapi melihat mangsanya datang semakin dekat, maka Liu Yang Kun justru menjadi semakin buas malah!
Pemuda itu meronta dan meraung-raung semakin keras.
Darah mulai menetes dari luka-luka di lehernya, namun tak dirasakan oleh pemuda itu.
Justru Tui Lanlah yang menjadi bertambah khawatir.
"Koko...? Tahannnn...!?"
Pekiknya dengan suara serak.
Otomatis kakinya melangkah maju lagi.
Tiba-tiba kedua lengan Liu Yang Kun yang bebas itu meluncur ke depan dengan cepatnya.
Kedua-duanya memanjang hampir dua kali lipat panjangnya, sehingga ujung baju Tui Lan hampir tersambar karenanya.
Tui Lan berdesah kaget.
Otomatis lengannya menangkis dengan kekuatan penuh, sehingga tenaga sakti Pat-hong-sinkang yang berada di dalam tubuhnya ikut keluar pula dengan dahsyatnya.
"Plaaak! Breeeees!"
Terdengar suara letupan yang keras dan nyaring seperti dua batang besi baja yang saling berbenturan di udara.
Tui Lan mengeluh.
Tubuhnya terpelanting ke tanah dengan kuatnya.
Kemudian menggelinding semakin mendekati Liu Yang Kun malah!
Liu Yang Kun yang telah menjadi 'buas' itu tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Sambil meraung keras ia menubruk Tui Lan yang sudah tak berdaya itu.
Namun di dalam kekalutan dan ketakutannya, ternyata Tui Lan tidak melupakan Bu-eng Hwe-tengnya.
Ketika kaki kanannya menjejak batu karang yang menonjol di dekat kakinya, maka tubuhnya segera meluncur ke samping dengan cepatnya.
Tapi gerakan Liu Yang Kun ternyata juga tidak kalah cepatnya.
Di dalam keadaan tidak sadarnya itu tampaknya Liu Yang Kun selalu berada di puncak kemampuannya.
Buktinya Tui Lan yang sudah menyalurkan seluruh tenaga sakti Pat-hong-sinkangnya tadi ternyata juga tak mampu membentur lengan pemuda itu.
Dan sekarang, meskipun ia juga telah mengerahkan Bu-eng Hwe-teng pula, ternyata juga tetap tak bisa menghindar sepenuhnya dari sergapan pemuda tersebut.
"Brrrrrt!"
Terdengar suara kain sobek yang keras sekali ketika kesepuluh jari-jari tangan Liu Yang Kun yang kokoh kuat itu sempat menyambar kain celana dan sebagian ujung baju Tui Lan!
Gadis itu menjerit sekeras-kerasnya!
Kemudian berguling-guling dan mendekam di tanah dengan air muka pucat pasi!
Seluruh bagian tubuhnya, dari pinggang ke bawah, kini telanjang sama sekali!
Malahan di bagian pinggulnya yang membusung itu tampak bekas guratan kesepuluh jari tangan Liu Yang Kun dengan amat jelasnya.
Merah dan sedikit berdarah!
Dan saking takutnya, gadis itu tiba-tiba seperti tidak mempunyai tenaga lagi.
Dengan mata terbelalak tubuhnya menjadi lemah lunglai, seperti seekor kelinci kecil yang telah berada di depan mulut harimau.
Lemas dan pasrah!
Dan kejadian selanjutnya ia tak tahu lagi, karena la lalu pingsan begitu Liu Yang Kun menerkam dirinya!
Tui Lan baru sadar kembali ketika ia merasakan tubuhnya diguncang keras oleh seseorang.
Dan ketika gadis itu membukakan matanya, la melihat Liu Yang Kun menangis menggerung-gerung sambil memeluk dan mengguncang-guncang tubuhnya.
Tui Lan merasakan badannya sakit semua, tubuhnya sangat lemas, sehingga ia tak lekas-lekas bangkit untuk menemui Liu Yang Kun.
Ia sadar bahwa semua yang ditakutkannya itu telah terjadi.
Tapi sedikitpun ia tak menyalahkan kekasihnya.
Itu semua terjadi karena diluar kesadaran Liu Yang Kun.
Pemuda itu sendiri sangat menderita karena penyakitnya tersebut.
"Koko..."
Bisiknya lemah, tapi sudah cukup keras untuk menyadarkan Liu Yang Kun.
"Hah? Lan-moi...?"
Pemuda itu berseru kaget dan tangisnya seketika berhenti.
Dan begitu melihat Tui Lan yang disangkanya telah mati itu benar-benar bergerak dan membuka matanya, serentak mulutnya berteriak kegirangan.
Begitu girangnya dia sehingga tubuh Tui Lan yang masih lemah itu di angkat dan didekapnya sambil berputar-putar.
"Oh, kekasihku...! Kau masih hidup! Oooh, terima kasih Thian...!"
Teriaknya seperti orang tidak waras.
"Koko...!"
Panggil Tui Lan.
"Yaa...?"
Tiba-tiba pemuda itu berhenti berputar dan menjawab. Kemudian seperti orang yang baru sadar dari mabuknya ia menurunkan kembali tubuh Tui Lan dengan tersipu-sipu.
"Maafkanlah aku, Lan-moi. Maafkanlah..."
Ucapnya berulang-ulang.
Tapi keduanya segera terpekik kaget begitu menyadari bahwa mereka berdua ternyata tidak berpakaian sama sekali!
Masing-masing cepat memalingkan mukanya.
Dan mereka segera melihat cabikan-cabikan kain yang bertebaran di sekeliling mereka.
Tampaknya di dalam ketidaksadarannya tadi Liu Yang Kun telah merobek-robek seluruh pakaian yang mereka kenakan.
Tak bisa diceritakan bagaimana perasaan Liu Yang Kun pada saat itu.
Perasaan bersalah, malu, kotor dan rendah diri memenuhi dada pemuda itu.
Kini kekasihnya itu benar-benar menyaksikan sendiri bagaimana jahat dan biadabnya dia.
Bagaimana kotor dan tidak berharganya orang seperti dirinya.
"Lan-moi, maafkanlah...! Seperti itulah aku ini. Kotor, jahat. Dan tidak layak untuk disejajarkan dengan bidadari semacam kau..."
Liu Yang Kun merintih, lalu jatuh terduduk sambil menutupi mukanya.
Tui Lan berpaling dengan cepat.
Tiba-tiba gadis itu seperti tersentuh hatinya mendengar keluh kesah pemuda itu.
Gadis itu seperti merasakan pula penderitaan batin kekasihnya itu.
Sehingga tanpa terasa kakinya melangkah mendekati.
Kemudian duduk berjongkok di belakang pemuda itu.
"Koko...!"
Bisiknya perlahan di telinga pemuda itu.
"Kau tidak bersalah. Aku tidak menganggapmu rendah dan kotor. Sebaliknya aku merasakan bahwa sebenarnya kau adalah seorang lelaki yang mulia. Hanya nasibmu saja yang agak kurang baik..."
Liu Yang Kun berbalik dengan cepat.
Dan keduanya segera saling memandang dengan tatapan mata dalam, seolah-olah ingin saling menjajaki dan saling menjenguk isi hati masing-masing.
Sama sekali mereka tidak memikirkan lagi bahwa mereka tidak berpakaian.
"Lan-moi...!"
Akhirnya Liu Yang Kun berdesah lebih dahulu.
"Kau tidak membenci aku? Kau dapat memaafkan aku?"
Tui Lan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak! Aku tidak membencimu! Aku justru menaruh kasihan dan menyayangimu. Kau patut diselamatkan. Dan aku bersedia berkorban apa saja demi keselamatanmu,"
Katanya penuh perasaan.
Liu Yang Kun terbelalak tak percaya.
Sekejap pemuda itu seakan-akan terangkat ke awang-awang.
Dan ucapan Tui Lan itu seolah-olah suara nyanyian bidadari yang amat terdengar merdu di teIinganya.
"Benarkah pernyataanmu itu, Lan-moi? Oh, betapa mulianya hatimu."
Liu Yang Kun berbisik dengan penuh perasaan pula.
"Dengarlah. Lan-moi... Berulang kali aku mengalami peristiwa seperti tadi, tapi baru sekarang ini aku merasa sangat berputus asa dan sangat menderita sekali. Rasa-rasanya aku juga tak ingin hidup lagi bila seandainya kau tadi benar-benar meninggal karena racunku."
Kini giliran Tui Lan yang seolah-olah terbang ke awang-awang.
Matanya terpejam rapat, seakan-akan sedang menikmati alunan suara kekasihnya yang sangat membahagiakan hatinya itu.
Oleh karena itu ia tidak menolak ketika sekali lagi pemuda itu mendekapnya dengan kencang...
Udara di dalam gua itu terasa panas dan pengap, sehingga kedua orang kekasih yang sedang dimabuk cinta itu merasa sangat kegerahan.
Peluh tampak mengalir di sekujur badan mereka.
Namun demikian mereka berdua kelihatan berbahagia sekali.
Liu Yang Kun duduk bersandar di sebuah batu karang, sementara Tui Lan tampak menggelendot manja di dadanya.
"Koko...! Kita harus wajib mengadakan upacara perkawinan, meskipun sangat sederhana sekalipun, agar kita lepas dari perasaan berdosa dan kotor di dalam batin kita. Keadaan memang tidak memungkinkan kita mengadakan peralatan upacara yang lengkap seperti lazimnya adat-istiadat leluhur kita. Tapi biarpun amat sangat sederhana, kukira hikmahnya juga sama saja. Yang penting adalah tekad kita yang tulus di depan Thian..."
"Bagus, Lan-moi. Aku memang sedang memikirkan hal itu pula. Hmm, kalau begitu... marilah kita laksanakan saja sekarang! Kita anggap batu karang ini sebagai meja sembahyang, sedangkan obor-obor yang kau bawa itu sebagai dupa dan lilinnya. Marilah!"
"Telanjang bulat begini?"
Tui Lan memotong dengan agak malu-malu.
"Apa boleh buat. Kita tidak mempunyai pakaian lagi. Biar saja sebelum diketemukan bahan pakaian, nenek moyang kita dulu juga tidak mengenakan apa-apa ketika mengadakan upacara perkawinan."
Liu Yang Kun membela diri.
"Kau ngawur! Zaman dulu tidak ada upacara perkawinan malah! Asal mereka saling suka sama suka. maka merekapun langsung hidup bersama."
"Siapa bilang! Baiklah! Kalau begitu marilah kita lekas-lekas melaksanakannya. Setelah itu kita terus kembali ke seberang."
Tui Lan mengalah. Liu Yang Kun tersenyum, kemudian memeluk tubuh Tui Lan.
"Maafkanlah aku, Lan-moi."
Katanya pelan.
Demikianlah, meskipun dengan peralatan yang amat sederhana, sepasang kekasih itu lalu mengadakan upacara perkawinan mereka sendiri.
Mereka bersumpah dan mengucapkan janji bersama-sama, untuk saling mengikatkan diri menjadi suami-isteri selama-lamanya.
Mereka juga akan berusaha untuk saling menyayangi jodoh mereka itu apapun yang terjadi.
Selesai mengadakan upacara mereka lalu bersiap-siap untuk kembali ke seberang lagi.
Karena ilmu yang mereka gunakan berbeda, maka cara yang mereka tempuhpun juga berlainan.
Liu Yang Kun yang mahir pek-houw-ciang itu merayap melalui langit-langit gua, sedangkan Tui Lan yang pandai Bu-eng Hwe-teng itu kembali mempergunakan kantong kulit untuk berloncatan di atas permukaan sungai.
Dan ternyata Tui Lan lebih dahulu mencapai seberang dari pada suaminya.
"Bukan main! Ilmu Mengentengkan Tubuhmu sekarang jauh lebih hebat dari aku."
Liu Yang Kun memuji.
"Mulai sekarang kaupun juga bisa mempelajarinya pula. Hmm, marilah kita melihat buku Im-Yang Tok-keng itu...!"
"Hei! Aku sekarang boleh ikut ke kamarmu?"
Liu Yang Kun menggoda.
"Kau gila!"
Tui Lan mengomel dengan muka bersemu merah.
"Justru mulai sekarang kalau kau tidak tidur di kamarku tentu akan kudamprat habis-habisan!"
"Wah! Kalau begitu punya isteri itu repot juga, ya?"
Liu Yang Kun pura-pura bersungut-sungut sambil menggaruk garuk kepalanya.
Namun mulutnya tampak bersenyum-simpul bahagia sekali.
Tui Lan tidak menjawab.
Gadis itu hanya melirik saja sambil mencibirkan bibirnya, lalu bergegas melangkah menuju ke 'kamarnya'.
Pinggul yang bulat penuh tanpa penutup kain barang sesobekpun itu tampak menari-nari bila dilihat dari belakang, sehingga Liu Yang Kun cepat-cepat membuang muka karenanya.
Tui Lan lalu memperlihatkan semua buku-bukunya.
Tapi Liu Yang Kun hanya mengambil buku Im-Yang Tok-keng saja.
Pemuda itu buru-buru membolak-balik halamannya.
Dicarinya keterangan yang kira-kira memuat petunjuk tentang penyakitnya.
Namun sampai lelah ia membolak balik isi buku itu ia tetap tidak menemukan keterangan itu.
"Ah, buku ini sama sekali tidak membahas tentang pengaruh racun terhadap orang yang selalu bermain-main atau menyimpan racun di dalam tubuhnya. Buku ini Cuma berisi tentang aneka macam racun di dunia ini, beserta cara membuat dan memperolehnya. Juga cara melawan dan mengatasinya..."
Pemuda itu berkata kecewa. Tui Lan cepai merangkul pundak suaminya.
"Sudahlah, koko. Kau tak perlu bersedih karenanya. Di tempat ini, beracun atau tidak beracun sama saja bagimu. Tak ada orang lain yang perlu kautakutkan akan terkena racunmu. Yang ada hanya aku. Padahal racunmu tidak berpengaruh apa-apa terhadapku. Apa lagi...?"
Hiburnya. Liu Yang Kun menatap wajah Tui Lan yang cantik itu. Tiba-tiba bibirnya tersenyum kembali. Sambil balas merangkul pemuda itu berkata.
"Kau benar, Lan-moi. Terima kasih..."
Maka hari-hari selanjutnya sepasang pengantin baru itu lalu melewatkan masa-masa bulan madu mereka seperti layaknya para pengantin baru yang lain.
Meskipun berada di tempat yang gelap di dalam gua di bawah tanah, namun hal itu tidak mengurangi kegembiraan dan kebahagiaan mereka berdua.
Mereka tekun berlatih silat dan mempelajari buku-buku peninggalan Bit-bo-ong almarhum.
Malah untuk merintang-rintang waktu mereka juga membaca-baca pula buku Im-Yang Tok-keng milik Giok-bin Tok-ong itu.
Demikianlah enam bulanpun sudah berlalu pula sehingga kalau dihitung mereka berdua telah satu tahun berada di dalam gua itu.
Liu Yang Kun telah menyelesaikan ketiga buah buku peninggalan Bit-bo-ong itu dan tinggal menyempurnakannya saja.
Sementara itu Tui Lan baru menyelesaikan dua buah buku saja, yaitu Bu-eng Hwe-teng dan Pat-hong Sin-ciang, meskipun sebenarnya Liu Yang Kun juga sudah berusaha mati-matian membantunya.
Pada suatu hari, setelah seharian mereka berlatih silat, mereka duduk-duduk melepaskan lelah di tepian sungai sambil omong-omong.
Mereka berbincang tentang segala macam hal.
Tentang ilmu silat.
Tentang nasib mereka besok.
Dan yang terakhir mereka berbincang tentang penyakit Liu Yang Kun.
"Koko...! Kulihat kau sekarang tidak pernah kambuh 'mimpi berjalan' lagi. Tidurmu sangat nyenyak... Tampaknya penyakitmu itu memang sudah hilang sekarang."
Tapi Liu Yang Kun segera menggeleng.
"Tidak, moi-moi. Penyakitku belum hilang. Jikalau selama ini tak pernah muncul lagi, hal itu disebabkan karena sudah ada penyalurannya. Aku tak pernah mengekangnya lagi, apalagi sampai menumpuknya. Hmmmh...! Aku masih merasa khawatir.Tetapi asalkan kau masih tetap berada di sampingku, penyakit itu juga akan tetap bisa dijinakkan."
Tui Lan tersenyum.
"Koko, kau ini ada-ada saja. Di tempat sempit seperti ini, mau kemana lagi aku kalau tidak berada di sampingmu?"
Mereka berpandangan dengan mesra.
"Siapa tahu kau meninggalkanku kelak?"
Liu Yang Kun bergurau.
Namun Tui Lan tidak melayani gurauan suaminya itu.
Tiba-tiba saja ia menarik napas panjang.
Kepalanya tertunduk.
Matanya tampak meredup sayu, sehingga suaminya menjadi kaget melihatnya.
"Itu terbalik, koko. Seharusnya akulah yang mengatakannya. Bukan kau,"
Akhirnya Tui Lan berdesah perlahan.
"Kau? Apa maksudmu, moi-moi?"
Liu Yang Kun bertanya bingung. Tui Lan mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah suaminya itu dengan tajamnya. Lalu katanya pelan.
"Bukan aku yang akan meninggalkanmu. Itu terbalik. Kaulah kelak yang akan meninggalkanku."
Tiba-tiba Liu Yang Kun tertawa.
"Ah, kukira apa...ha-ha-ha! Ternyata cuma soal itu. Wah, moi-moi... aku tadi cuma bergurau saja. Aku tidak bersungguh-sungguh. Mengapa kau masukkan ke dalam hati?"
"Tentu saja aku memasukkannya ke dalam hati, koko. Sebab aku sangat mencintaimu. Tapi sebaliknya, aku kurang yakin bahwa kau mencintaiku."
Tui Lan menjawab dengan suara bersungguh-sungguh.
"Hei! Kenapa kau ini?"
Liu Yang Kun bertanya semakin tak mengerti. Dahinya berkerut. Sekali lagi Tui Lan menatap wajah suaminya lekat-lekat.
"Koko...! Cobalah kau jawab dengan jujur! Siapakah Souw Lian Cu yang selalu kau sebut-sebut di dalam mimpimu itu."
Bukan main terperanjatnya Liu Yang Kun!
Air mukanya seketika menjadi pucat!
Mulutnya terbuka, tapi tak sepatah katapun suara yang keluar.
Kalau akhirnya keluar juga, maka suara itu tak lebih seperti suara orang kaget yang gelagapan tiada artinya.
"Lan-moi! Kau... ini... itu... apa? Oh!"
Tapi dengan tenang Tui Lan memeluk suaminya. Tampaknya ia menjadi kasihan melihat keadaan Liu Yang Kun itu. Meskipun demikian ia tidak mengurangi kesungguhannya ketika menghibur lelaki itu.
"Koko...! Kau tidak perlu khawatir. Aku tidak apa-apa. Aku tidak merasa tersinggung mendengar nama yang selalu kau sebut dengan suara mesra di dalam mimpimu itu. Dan aku juga tidak akan marah kepadamu. Aku terlalu mencintaimu. Aku sudah merasa sangat berbahagia dapat mendampingimu. Kau pilih menjadi isterimu..."
Tui Lan berhenti sebentar untuk mengambil napas. Lalu sambungnya lagi.
"Sejak semula sudah kusadari bahwa lelaki hebat seperti kau tentu banyak pengagumnya. Maka aku takkan heran jika sebelumnya kau teIah mempunyai seorang calon ataupun seorang... isteri malah."
Tui Lan mencium pipi Liu Yang Kun.
"Malahan sudah lama aku bersiap sedia pula, bila pada suatu saat kelak kau akan mengatakan kepadaku, bahwa perkawinanmu denganku ini hanya karena terpaksa. Karena tiada wanita lain di dalam lorong gua ini..."
Bisiknya lagi dengan suara serak.
"Moi-moi!"
Liu Yang Kun berseru seraya menutup bibir Tui Lan dengan jari-jari tangannya.
Sekejap Liu Yang Kun memandang tak senang ke arah isterinya.
Tapi serentak melihat air mata yang mengalir membasahi pipi Tui Lan, hatinya segera tersentuh.
Tiba-tiba pemuda itu memeluk isterinya.
"Lan-moi, maafkanlah aku, maafkanlah suamimu ini... Aku tak sengaja menyakiti hatimu. Tak seharusnya aku menyimpan masa laluku itu kepadamu. Tapi... kau jangan salah sangka tentang hal itu. Aku benar-benar mencintaimu. Kau jangan menyiksa diri seperti itu. Baiklah...Untuk terangnya, biarlah kuceritakan saja tentang gadis itu..."
Bisiknya dengan suara serak pula kepada isterinya.
Lalu mulailah Liu Yang Kun menceritakan masa lalunya.
Malah tidak hanya hubungannya dengan Souw Lian Cu saja tapi hubungannya dengan Tiauw Li Ing pula.
"Aku melihatnya pertama kali di dusun Hi-san-cung lebih kurang lima tahun yang lalu. Saat itu dia sedang sibuk menolong para pengungsi yang luka-luka akibat gempa bumi besar itu. Entah mengapa tiba-tiba saja aku tertarik kepadanya. Mungkin aku sangat terkesan akan pengorbanannya atau pengabdiannya terhadap rakyat yang lagi menderita. Atau mungkin juga karena wajahnya yang ayu namun ternyata lengannya buntung sebelah itu..."
"Lengannya buntung sebelah?"
Tui Lan menyela dengan kaget. Liu Yang Kun mengangguk.
"Tapi sungguh tak kusangka wataknya sangat kaku dan mudah tersinggung. Ketika terjadi bentrokan antara para anggota Kim liong Piauw-kiok dan Tat-tung Kai-pang di tempat itu, aku dan dia berselisih. Aku membantu Kim-liong Piauw-kiok, sedangkan dia membantu para pengemis dari Tiat-tung Kai-pang itu. Sebenarnya aku tak ingin berselisih dengannya. Tapi keadaan pada saat itu telah membuat jurang pemisah di antara kami berdua, sehingga maksudku untuk berkenalan dengan dia menjadi gagal karenanya. Kami berpisah dengan memendam perasaan tidak enak di hati masing-masing."
Liu Yang Kun menghentikan ceritanya dan mengawasi isterinya untuk beberapa lamanya. Melihat kesungguhan wanita itu dalam mendengarkan kisahnya, maka ia segera melanjutkannya lagi.
"Kami bertemu lagi di kuil Delapan Dewa beberapa hari kemudian. Dia dirawat di kuil itu karena luka-lukanya ketika bertempur dengan orang-orang Aliran Mo-kauw. Ternyata dia masih mendendam kepadaku, sehingga apa yang kukerjakan selalu tidak berkenan di hatinya. Akibatnya aku lalu menjadi salah tingkah. Perselisihan semakin meruncing, sementara hatiku menjadi semakin tertarik kepadanya. Akhirnya kami berpisah lagi tanpa ada kesempatan untuk saling mengenal diri kami masing-masing..."
"Lalu...?"
Tui Lan mendesak tak sabar. Liu Yang Kun menarik napas panjang.
"Lama sekali kami tak berjumpa. Sementara itu aku mendapat kenalan baru, yaitu Tiauw Li Ing. Dia puteri Tung-hai-tiauw, raja bajak laut dari Lautan Timur. Gadis itu lebih berani, ramah dan suka berterus terang. Sebentar saja kami telah menjadi akrab satu sama lain. Namun di dalam hatiku diam-diam aku tak menyukai kekejaman dan kecongkakannya. Maka ketika dia kelihatan mulai mendesakku, aku segera menghindar. Aku masih tetap penasaran kepada gadis buntung yang amat membenci aku itu..."
Liu Yang Kun berhenti lagi. Tapi hanya sebentar saja. Di lain saat ia telah meneruskan lagi ceritanya.
"Pertemuan kami yang ketiga adalah di muara Sungai Huang-ho. Saat itu dia datang bersama ayahnya. Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai."
"Dia puteri pendekar besar Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai?"
"Benar. Tapi sebelumnya aku juga tak menyangka kalau dia adalah puteri pendekar yang tersohor itu..."
"Ooooh, lalu...?"
Tui Lan mendesak.
"Sebenarnya ayahnya itu sangat menyukai aku. Dan tampaknya beliau itu juga telah merasakan keanehan hubungan kami. Maka di dalam kesempatan tersebut beliau ingin mendamaikan dan memperbaiki hubungan kami itu. Tapi entah mengapa, gadis itu tetap keras kepala dan masih kelihatan sangat membenci aku. Maksud baik ayahnya itu ditentangnya dengan keras. Meskipun dia mau melaksanakan perintah ayahnya untuk meminta maaf kepadaku, tapi selanjutnya dengan menahan air mata dia lari meninggalkan aku dan ayahnya. Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai segera mengejarnya, tapi aku tidak."
"Mengapa tidak? Ah! Kau keliru, koko..."
Tui Lan menyela dengan cepat. Liu Yang Kun menatap wajah Tui Lan dengan kening berkerut.
"Hei! Mengapa aku keliru?"
Tanyanya heran. Tui Lan menghela napas.
"Kau memang bodoh dalam hal ini. Namun apa boleh buat, semuanya telah lewat. Tak perlu disesali lagi. Memang begitulah agaknya kehendak Thian. Nah, koko teruskan saja ceritamu! Mengapa kau tidak ikut mengejarnya?"
"Hei! Nanti dulu! Kau belum menerangkan, kenapa aku mesti keliru?"
Liu Yang Kun berkata penasaran.
"Ah, kau ini...! Teruskan dulu ceritamu, nanti aku terangkan!"
Liu Yang Kun memandang isterinya dengan agak ragu, tapi beberapa saat kemudian sambil menghembuskan napasnya yang berat ia mengalah.
"Baiklah! Aku tidak ikut mengejar Souw Lian Cu karena pada waktu itu aku sudah sadar akan keadaan tubuhku yang tidak normal ini. Dengan keadaan tubuhku yang sangat beracun ini tak mungkin aku bisa mencintai dia. Itu sama saja dengan membunuhnya. Oleh karena itu, apa gunanya aku mengejar-ngejarnya? Kebenciannya yang amat sangat kepadaku itu justru kuanggap sangat kebetulan malah."
"Tapi di dalam hati kau sebenarnya masih sangat mengharapkannya, bukan?"
Liu Yang Kun cepat memandang isterinya, namun segera tertunduk kembali. Pandang mata Tui Lan seolah-olah menembus ke dalam hatinya.
"Ayoh, jawablah dengan jujur, koko...! Benar, bukan?"
Tui Lan mendesak lagi. Liu Yang Kun terpaksa mengangguk.
"Maafkanlah aku, moi-moi!"
Katanya lirih. Tui Lan tersenyum.
"Sudah kukatakan, aku tidak apa-apa. Jangan khawatir! Lalu bagaimana selanjutnya?"
Liu Yang Kun menelan ludah. Lalu lanjutnya.
"...Pertemuan kami yang terakhir atau yang keempat adalah di dekat Pulau Meng-to. Saat itu aku bermaksud ke Pulau Meng-to untuk mencari Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai. Aku ingin mengembalikan buku-buku Bit-bo-ong yang sekarang kau bawa itu kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, sesuai dengan pesan... Hek-eng-cu. Tapi di tengah laut perahuku telah berpapasan dengan perahu majikan Pulau Meng-to, Keh sim Siau-hiap. Malahan Hong-Gi-Hiap Souw dan Souw Lian Cu berada di atas perahu besar itu pula. Oleh karena itu aku lalu naik ke atas perahu mereka untuk menyerahkan buku-buku itu. Sebenarnya aku tak ingin bertatap muka dengan gadis itu. Tapi apa daya, gadis itu seolah-olah justru menghadangku malah. Aku terpaksa memandang dan menyapanya. Namun aku menjadi kaget bukan main. Aku melihat sesuatu yang aneh dalam pandang matanya. Sesuatu yang lain dari pada dulu. Dan sikapnya juga sudah sangat berbeda dengan sikapnya dahulu. Tetapi... aku menjadi ketakutan malah! Aku tak berani membayangkan, bagaimana halnya kalau gadis itu berbalik pikiran menjadi senang kepadaku. Sekejap hatiku menjadi gelisah, bingung dan cemas. Saking cemasnya aku lalu bergegas meninggalkan perahu besar itu dan cepat-cepat meluncur pergi dengan perahuku sendiri. Aku lari sejauh-jauhnya agar tidak dapat bertemu lagi dengannya..."
Liu Yang Kun menutup ceritanya dengan kepala tertunduk dalam-dalam.
Tampaknya kerut-merut di wajahnya seakan-akan masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Sehingga Tui Lan yang amat perasa dan amat mencintai suaminya itu menjadi kasihan melihatnya.
Wanita muda itu tahu bahwa di dalam lubuk hati suaminya masih melekat rasa cinta kepada puteri pendekar besar Souw Thian Hai itu.
"Koko, sudahlah! Kau tak perlu menyedihkannya. Kalau kau memang berjodoh dengan dia, Thian tentu akan memberikan jalannya."
Tui Lan menghibur. Liu Yang Kun meremas jari tangan isterinya. Bibirnya berusaha untuk tersenyum.
"Moi-moi. ah...! Kau jangan berpikir yang bukan-bukan! Aku sama sekali sudah tidak memikirkannya lagi. Sudah ada kau di sampingku. Kaulah jodoh yang dikirim Thian untukku..."
Katanya membesarkan hati isterinya. Bagaimanapun juga Tui Lan adalah seorang wanita. Dia sangat bahagia mendengar ucapan suaminya itu. Sambil menggelendot manja ia berbisik di telinga Liu Yang Kun.
"Koko... Aku punya khabar gembira untukmu."
Liu Yang Kun tersenyum, lalu mencium pipi isterinya.
"Apa itu? Coba katakan...!"
Bisiknya pula. Tui Lan menatap mata suaminya. Wajahnya tampak cerah dan berbinar-binar gembira, sehingga kecantikannya semakin tampak menonjol.
"Sebentar lagi kita tidak akan sendirian di sini..."
Katanya masih berteka-teki.
"Tidak sendirian lagi? Apakah maksudmu?"
Liu Yang Kun bertanya. 'Huh kau ini bodoh benar. Sebentar lagi kita akan punya anak, tahu? Aku sudah mulai hamil sekarang."
Tui Lan menjawab kesal seolah-olah sangat marah karena Liu Yang Kun tak pernah memperhatikannya.
"Hei! Kau sudah hamil?"
Liu Yang Kun benar-benar kaget. Lalu tiba-tiba saja lengannya menyambar tubuh Tui Lan dan dibawanya berjingkrak-jingkrak saking senangnya.
"Lan-moi...! Oh, Lan-moi...!"
Serunya gembira.
"Hei! Hei! Jangan keras-keras, ayah bodoh! Kau bisa menyakiti anakmu!"
Tui Lan menjerit-jerit.
"Ah, ya... ya... benar! Benar? Sungguh bodoh benar aku! Hehe... aku memang benar-benar ayah yang bodoh seperti katamu, heheho..."
Liu Yang Kun berseru kaget, kemudian dengan sangat hati-hati menurunkan tubuh Tui Lan.
"Huh! Kau memang sangat bodoh. Kalau kau pandai tentu tidak akan terjadi kesalah-pahaman yang berlarut-larut dalam hubunganmu dengan Souw Lian Cu itu."
Tui Lan mengomel serta mencubit lengan suaminya.
"Kalau aku pandai...?"
Liu Yang Kun termangu-mangu tak mengerti.
"Ya! Kalau kau pandai, seharusnya kau ikut pula mengejar Souw Lian Cu ketika dia lari meninggalkanmu itu."
Tui Lan tegas.
"Mengapa begitu?"
Liu Yang Kun mendesak.
"Sudahlah! Kau memang tidak mengerti hati perempuan..."
Potong isterinya sambil melangkah pergi meninggalkannya.
Liu Yang Kun terlongong-longong saja di tempatnya mengawasi kepergian isterinya.
Dia tetap tidak mengerti apa yang dikatakan isterinya itu.
Maka sambil mengangkat pundaknya ia berjalan mengikuti langkah Tui Lan.
Namun demikian ia sangat gembira dengan berita kehamilan isterinya itu.
Demikianlah, dengan kehamilan Tui Lan itu hubungan mereka menjadi semakin mesra dan bersemangat.
Setiap saat selalu mereka pergunakan untuk bercinta dan bergembira bersama.
Namun demikian mereka juga tidak lupa untuk memperdalam ilmu silat yang mereka pelajari.
Dan karena buku-buku yang dibawa oleh Tui Lan itu sudah habis dipelajari Liu Yang Kun, maka menjadi tugas pemuda itu untuk ganti membimbing dan mengajari isterinya.
Dan kini tinggal Kim liong Sin-kun saja yang harus dipelajari oleh Tui Lan.
Yang lain tinggal menyempurnakannya.
Maka tanpa mereka sadari sendiri kepandaian mereka sekarang benar-benar melonjak dengan hebatnya.
Kepandaian Tui Lan sekarang telah jauh meninggalkan gurunya, sementara kepandaian Liu Yang Kun yang sudah amat hebat itu menjadi semakin dahsyat pula.
Demikian tinggi tenaga dalam mereka sehingga mereka tidak membutuhkan obor lagi untuk me lihat di dalam kegelapan itu.
Mereka hanya mempergunakan obor itu untuk membakar ikan.
Dan sekarang enak saja bagi mereka untuk berjalan-jalan di atas sungai dengan kantong kulit itu.
Malah kadang-kadang mereka menyeberang dengan bergendongan.
Meskipun demikian, dengan semakin terlihatnya kandungan Tui Lan, ternyata semakin sering pula Liu Yang Kun termenung sendirian.
Kadang-kadang suami muda itu kelihatan termangu-mangu di pinggir sungai berjam-jam lamanya tanpa bergerak.
Matanya memandang ke dalam air yang mengalir deras itu tanpa berkedip.
Tentu saja kelakuannya itu lambat laun diketahui pula oleh isterinya.
Dan ketika pada suatu hari dilihatnya lagi suaminya itu di pinggir sungai, Tui Lan segera datang menghampiri.
Dengan sangat hati-hati Tui Lan menepuk pundak suaminya.
"Koko...! Sudah beberapa hari ini kulihat kau selalu termenung di tepi sungai. Apakah sebenarnya yang sedang kaupikirkan?"
Tanyanya halus. Liu Yang Kun menarik napas dalam-dalam. Sambil menarik tubuh Tui Lan ke atas pangkuannya ia berkata.
"Moi-moi...! Dengan semakin besarnya perutmu, aku menjadi semakin mengkhawatirkan nasib anak kita itu pula. Apa jadinya dia kelak kalau hidupnya selalu berada di tempat yang sunyi dan gelap seperti ini? Siapa pula temannya bila suatu saat kita pergi mendahuluinya? Dapatkah ia hidup normal seperti layaknya manusia kalau yang ia kenal hanya kita berdua? Oh..."
Ternyata Tui Lan dapat merasakan juga keluh kesah suaminya itu. Memang bisa dibayangkan, betapa sengsaranya anak itu kelak kalau harus hidup seorang diri di tempat itu.
"Lalu... apa yang harus kita kerjakan, koko?"
Tiba-tiba Tui Lan menjadi sedih juga. Liu Yang Kun menundukkan mukanya. Diciumnya isterinya, lalu dirabanya perut yang mulai tampak membusung itu.
"Kita harus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari tempat ini sebelum dia lahir,"
Jawabnya tegas dan mantap.
"Ya. Tapi bagaimana caranya?"
Tui Lan bertanya dengan suara hampa dan berputus asa.
"Itulah yang kupikirkan selama ini. Dan aku telah menemukannya, meskipun aku juga belum bisa memastikan keberhasilannya."
"Katakanlah, koko!"
"Aliran sungai ini tentu bermuara ke laut pula. Oleh karena itu kalau kita bisa menyusurinya sampai ke muara, maka kita tentu akan bisa keluar pula dari dalam tanah ini. Yang menjadi persoalan kita sekarang hanyalah berani atau tidak kita mencobanya?"
Liu Yang Kun mengemukakan pendapatnya.
Tui Lan terdiam.
Matanya terpejam sedangkan dahinya tampak berkerut.
Tapi beberapa waktu kemudian matanya telah terbuka kembali.
Dan mata itu menatap wajah suaminya dengan sinar mata pasrah.
"Koko, aku adalah isterimu. Dan kau adalah suamiku, sekaligus pemimpin serta kepala rumah tangga kita. Apapun yang menjadi keputusanmu, aku beserta anak-anakmu tentu akan melaksanakannya. Nah, katakanlah! Bagaimana menurut pendapatmu?"
Liu Yang Kun sungguh terharu mendengar ucapan isterinya. Maka sambil memeluk wanita itu ia berkata.
"Terima kasih, moi-moi. Kau memang baik sekali. Tidak salah aku memilihmu. Sekarang dengarlah pendapatku! Dan kau boleh menyanggahnya bila kurang setuju..."
"Silakanlah. koko!"
"Begini, moi-moi... Setelah berhari-hari kurenungkan dan kupikirkan rasanya kita memang harus berani menyusuri aliran sungai ini! Apapun yang akan terjadi nanti. Dan hal itu harus kita lakukan sebelum kandunganmu itu menjadi besar atau sebelum anak itu lahir kelak. Sebab kita tidak akan bisa melaksanakannya lagi bila perutmu sudah menjadi besar atau bayi itu sudah lahir."
Liu Yang Kun berhenti sejenak untuk me lihat pengaruh ucapannya itu. Melihat isterinya diam saja tak bersuara ia segera melanjutkan kata-katanya.
"Pertimbanganku begini... Kalau dipikirkan betul-betul, kita sekarang ini sebenarnya sudah mati dan tak berguna lagi. Dengan terkuburnya kita berdua di tempat ini, boleh dikatakan kita ini tinggal menantikan saat saat kematian kita saja. Lain tidak. Oleh karena itu, mengapa kita tidak mencoba segala cara untuk keluar dari tempat ini? Sekarang mati, besukpun juga mati. Lalu apa bedanya? Bukankah lebih baik kita mencoba menyusuri sungai ini saja? Syukur kita dapat berhasil. Kalau tidak, kitapun masih dapat bersyukur karena bisa mati bersama-sama..."
"Koko, kau benar. Aku dapat memahami pendapatmu.Hatiku mendadak juga seperti terbuka sekarang. Rasa-rasanya kita ini memang hanya menantikan kematian kita saja di tempat ini. Tak bisa kubayangkan, bagaimana kalau saat kematian itu datangnya tidak bersama-sama? Oh, koko... aku takut sekali!"
Tui Lan berdesah cemas sambil menutupi mukanya.
"Jadi... kau setuju dengan pendapatku?"
Liu Yang Kun mendesak tegang. Tui Lan cepat membuka tangannya dan mengangguk-angguk.
"Lebih baik kita mati bersama dari pada harus menunggu kematian kita satu persatu."
Sahutnya mantap.
"Bagus!"
Liu Yang Kun berteriak lega.
"Kalau begitu... besuk kita berangkat! Lihat kantong kulit ini! Benda ini akan sangat membantu kita nanti."
"Maksudmu...?"
Tui Lan bertanya tak mengerti. Liu Yang Kun tersenyum gembira.
"Kita akan dipaksa untuk menyelam bila aliran sungai ini menerobos ke dalam lobang atau terowongan nanti. Nah... pada waktu itulah benda ini bermanfaat. Dia akan dapat kita gunakan sebagai alat menyimpan udara untuk menyambung napas kita nanti. Asal kita masing-masing menggigit salah satu dari kedua lobangnya itu, maka kita dapat bernapas dengan bebas di dalam air."
Tui Lan menatap suaminya dengan kagum.
"Kau sungguh cerdik sekali, koko. Tapi bagaimanapun juga udara yang tersimpan di dalam kantong itu juga terbatas. Bagaimana kalau terowongan itu panjang sekali, sehingga kita dipaksa untuk menyelam seharian penuh? Bukankah kita akan mati kehabisan napas?"
Tanyanya. Liu Yang Kun tertawa sambil memencet hidung isterinya.
"Kalau demikian halnya, apa boleh buat? Kita akan mati bersama-sama. Apakah kau masih takut?"
Tui Lan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak takut bila mati bersamamu. Aku lebih takut hidup sendirian tanpa kau..."
Sahutnya tegas.
"Nah! Kalau begitu... marilah kita mempersiapkan diri. Kita harus makan sebanyak-banyaknya sebelum berangkat."
Hari itu mereka sengaja tidak berlatih silat untuk menyimpan tenaga mereka.
Mereka hanya duduk bersamadhi untuk mengumpulkan semangat dan tenaga sakti mereka.
Keduanya benar-benar telah mempersiapkan diri untuk mencari kebebasan atau...
mati!
Keesokan harinya Liu Yang Kun segera mengajak isterinya berangkat.
Di tangannya telah terpegang kantong kulit itu.
Sementara di pinggangnya yang telanjang dan hanya tertutup oleh sesobek kain itu terikat sepasang batu api.
"Hei? Mengapa kau masih termenung saja sejak tadi? Apakah yang kau pikirkan lagi?"
Ia menegur Tui Lan.
"Bagaimana dengan buku-buku kita ini? Mereka tentu rusak bila terkena air. Bagaimanakah cara kita me lindunginya?"
Tui Lan balik bertanya seraya menunjuk ke arah buku-buku. Liu Yang Kun tersenyum.
"Ah, kau ini repot amat. Biar saja kita tinggalkan buku-buku itu di sini dari pada rusak terkena air. Siapa tahu ada orang yang datang pula ke tempat ini kelak? Dan buku itu tentu akan sangat berguna pula baginya..."
"Tapi aku belum selesai mempelajari Kim-liong Sin-kun itu..."
Tui Lan berkata dengan suara kesal.
"Ah... kau ini ada-ada saja. Nasib kitapun belum tentu selamat, kau masih berpikir tentang ilmu silat pula. Sudahlah, mari kita berangkat! Jangan khawatir! Kalau kita selamat dan berhasil kembali ke dunia ramai, aku akan mengajarimu sampai mahir."
Liu Yang Kun berjanji.
"Baiklah..."
Akhirnya Tui Lan menurut. Demikianlah, mereka lalu berjalan mengikuti aliran sungai itu. Sambil melangkah Liu Yang Kun selalu berusaha membesarkan hati isterinya.
"Rasanya terharu juga hendak meninggalkan gua yang sangat bersejarah ini."
Tui Lan bergumam sedih.
"Dasar perempuan..."
Liu Yang Kun menggerutu.
Akhirnya mereka sampai pula di ujung gua itu.
Di tempat tersebut permukaan air bertemu dengan langit-langit gua.
Dan air sungai hampir membasahi seluruh dasar gua yang semakin menyempit.
Tui Lan mulai berdebar-debar, karena kakinya telah mulai terbenam di dalam air.
"Dua hari yang lalu aku telah memeriksa tempat ini. Malah aku sudah menyelam pula ke lobang terowongan tempat air sungai ini mengalir keluar. Ternyata lobang itu tidak terlalu dalam, namun lebar sekali. Di bagian tengah, arus air sangat deras dan kuat. Sebaiknya kita menerobos sambil berpegangan pada dinding terowongan..."
Liu Yang Kun menerangkan.
Tui Lan terkejut.
Dia tak menyangka kalau suaminya sudah menyelidiki sungai itu sampai sedemikian cermatnya.
Tampaknya secara diam-diam suaminya itu telah merencanakan maksudnya tersebut sejak lama.
"Jangan kaget!"
Kata Liu Yang Kun sambil tersenyum ketika isterinya memandangnya dengan kening berkerut.
"Aku memang telah meneliti aliran air ini sejak lama. Aku malah sudah memasuki terowongan air itu sejauh dua puluh tombak. Namun aku lantas kembali lagi karena takut kehabisan napas. Soalnya waktu itu belum terlintas di dalam pikiranku untuk menggunakan kantong kulit itu..."
"Dua puluh tombak...?"
Tui Lan berdesah tak percaya.
"Sudah sejauh itu tetap belum ada lorong gua yang lain? Wah, bagaimana kalau sampai satu lie nanti tetap juga tak ada gua yang lain?"
Ngeri juga Tui Lan membayangkannya.
Menyelam di lorong air yang gelap dan deras arusnya sejauh satu lie lebih.
Betapa menyeramkan!
"Kau tak usah takut!
Asal kita berhemat dengan udara di dalam kantong ini, maka dua lie atau tiga lie pun bukan masalah bagi kita.
Percayalah kepadaku.
Justru arus air itulah yang harus kita perhitungkan.
Kau bisa berenang...?"
Liu Yang Kun menenangkan hati isterinya. Tui Lan mengangguk, meskipun wajahnya masih menampilkan perasaan ngeri.
"Masa kecilku berada di tengah-tengah kaum nelayan di pantai Teluk Po Hai. Bagaimana aku tak bisa berenang?"
Katanya meyakinkan dirinya.
"Bagus! Kalau begitu tak ada yang perlu ditakutkan lagi. Marilah!"
Liu Yang Kun berkata dengan suara mantap dan keras untuk menghilangkan keragu-raguan isterinya.
Lalu pemuda itu mengeluarkan tali buatannya sendiri, yang dipintal dari sobekan-sobekan bekas pakaian mereka.
Tali itu ia ikatkan pada pinggangnya, sementara ujungnya yang lain ia ikatkan pula pada pinggang isterinya.
Kemudian kantong kulitnya ia isi dengan udara segar sebanyak-banyaknya, sehingga menggembung seperti balon karet yang amat besar.
Kedua lobang yang berada di ujungnya ia ikat pula dengan sebuah tali kecil supaya tidak kempes di dalam air nanti.
Kemudian sambil berpegangan tangan mereka turun ke dalam air.
Mereka melangkah perlahan-lahan mengikuti arus air.
"Kerahkan Pat-hong-sinkangmu dan tarik napas sebanyak-banyaknya, lalu keluarkan sedikit demi sedikit. Berhematlah dengnn sekuat tenagamu! Kita baru menggunakan cadangan udara di dalam kantong ini bila kita sudah sangat memerlukannya. Marilah...!"
Sebelum mereka menyelam Liu Yang Kun memberi nasehat kepada isterinya.
Begitu menyelam air segera menghanyutkan mereka ke lobang terowongan itu.
Tapi mereka cepat mencengkeram batu-batu di dinding terowongan agar tidak terseret ke tengah.
Kemudian bergantian mereka merayapi dinding terowongan itu.
Meskipun keduanya telah terbiasa melihat di dalam kegelapan, namun di dalam gulungan arus air yang deras itu mereka hampir tak bisa saling melihat satu sama lain.
Rasa-rasanya mereka berdua seperti diaduk di dalam kubangan tinta hitam yang pekat dan kental, Untunglah Liu Yang Kun telah mengikat tubuh mereka dengan tali sehingga mereka tetap tidak terpisahkan oleh gelombang air.
Limabelas tombak telah mereka lalui, Tui Lan telah mulai kehabisan napas.
Wanita muda itu memberi isyarat kepada suaminya bahwa dia sudah hampir tak bisa bernapas lagi.
Bergegas Liu Yang Kun mendekati isterinya.
Perlahan lahan tangannya membuka tali pengikat kantong kulit itu, lalu sambil menutup lobangnya dengan jarinya ia memberikan kantong itu kepada Tui Lan.
Hati-hati Tui Lan memasukkan lobang itu ke dalam mulutnya, lalu bernapas dua atau tiga kali.
Kemudian mengembalikannya lagi kepada Liu Yang Kun dengan hati-hati.
Dadanya kembali lega dan lapang.
Tapi sebaliknya matanya semakin terasa pedih karena terlalu lama di dalam air.
Arus air makin deras dan kuat, sehingga mereka harus semakin hati hati berpegangan di dinding terowongan.
Liu Yang Kun di depan, sedangkan Tui Lan di belakangnya.
Berkali-kali Tui Lan hampir terpeleset dan terseret arus air.
Untunglah Liu Yang Kun selalu menjaganya.
Setiap wanita itu tak kuasa menjaga keseimbangannya, suaminya segera merangkulnya.
Arus air memang sedemikian kuatnya sehingga berulang kali batu tempat mereka berpegang terlepas dari dinding terowongan.
Terowongan itu berkelok-kelok, naik turun beberapa kali.
Setiap berada di kelokan, tubuh mereka seperti dihempaskan ke dinding terowongan dengan kuatnya.
Dan berkali-kali pula Liu Yang Kun harus melindungi isterinya dari keganasan arus air yang ganas itu.
Hampir saja Tui Lan berputus asa.
Sudah berjam-jam rasanya ia hanyut di dalam terowongan itu, dan kemungkinan telah lebih dari setengah lie ia menempuh jalan itu, namun ternyata mereka belum muncul juga di permukaan air.
Cadangan udara di dalam kantong kulit itu sudah hampir habis.
Mereka sudah membayangkan kematian di depan mata.
Mereka sudah pasrah.
Apalagi ketika mereka sudah tak kuasa lagi melawan seretan arus yang semakin ganas itu.
Sambil berpegangan dan menggigit kedua lobang kantong udara itu, mereka membiarkan diri mereka hanyut dibawa arus air tersebut.
Sudah lebih dari lima lie jauhnya mereka diseret arus air itu.
Udara segar di dalam kantong itu sudah tidak memungkinkan lagi untuk mereka isap bersama.
Kerongkongan mereka seolah tercekik, sementara isi dada mereka bagaikan hendak meletus keluar.
Tui Lan sudah mulai lemas, sehingga Liu Yang Kun terpaksa membiarkannya bernapas dengan kantong itu sendirian.
Dengan sekuat tenaga ia menahan napasnya sambil berdoa, agar supaya ia dan isterinya segera dikeluarkan dari terowongan maut tersebut.
Liu Yang Kun sudah tidak kuat lagi.
Meskipun masih menggigit kantong udara itu, tapi keadaan Tui Lan juga sama saja dengan suaminya.
Dia juga sudah tak bisa bertahan lebih lama lagi.
keduanya berusaha berpelukan dengan erat, agar niat mereka untuk mati bersama-sama benar-benar terlaksana.
Tiba-tiba Liu Yang Kun mendengar suara gemuruh di depan mereka, seolah-olah suara malaikat dari sorga yang hendak menjemput mereka.
Kemudian arus air itu seperti melontarkan mereka ke atas, menyongsong suara gemuruh tersebut.
Dan entah bagaimana, tiba-tiba saja kepala mereka tersembul ke atas permukaan air!
"Haaah..?"
Otomatis mulut Liu Yang Kun dan isterinya terbuka lebar untuk menghirup udara segar.
Dan otomatis pula lengan Liu Yang Kun menggapai batu karang sebisanya, untuk menahan tubuh mereka.
Hup!
Ia berhasil memeluk sebongkah batu, kemudian menaikkan Tui Lan ke atasnya.
"Ya Thian... terima kasih! Telah Kau kabulkan doaku..."
Liu Yang Kun berdesah dengan lemasnya di sisi isterinya.
Setelah berkurang rasa lemas dan gemetar di badannya,Liu Yang Kun perlahan-lahan melihat isterinya.
Dilihatnya Tui Lan masih memejamkan matanya.
Napasnya belum teratur.
Namun demikian tangannya masih tampak mencengkeram kantong udara itu dengan eratnya.
"Ah...!"
Pemuda itu berseru perlahan ketika dilihatnya tubuh isterinya tak memakai penutup apa-apa lagi. Begitu pula dirinya. Tampaknya arus air itu telah menghanyutkan segalanya.
"Moi-moi...! Bangunlah! Kau tidak apa-apa, bukan?"
Bisiknya perlahan di telinga istrinya.
"Uuuuuuuuuh...? Koko... apakah kita sudah mati?"
Tui Lan bersuara serak.
"Tidak! Kita belum mati, moi-moi. Kita masih hidup. Pandanglah aku!"
Tui Lan membuka matanya. Lalu memandang wajah suaminya.
"Kalau begitu... kita sudah bisa selamat dari dalam tanah itu?"
Tanyanya dengan nada gembira.
"Belum! Belum! Kita masih... hei?!"
Tiba-tiba Liu Yang Kun berteriak kaget.
Ketika ia mengedarkan matanya ternyata dirinya berada di ujung sebuah air terjun di dalam tanah.
Batu karang dimana mereka berbaring itu ternyata merupakan benteng terakhir dari ujung terowongan air tadi.
Dan ketika ia mencoba melongok ke bawah, ia me lihat kabut air yang diakibatkan oleh air terjun tersebut.
Dasar air terjun itu tidak kelihatan dari tempatnya berbaring.
Dan ketika sekali lagi ia mengedarkan pandangannya, diam-diam hatinya menjadi ngeri.
Lobang terowongan yang dilaluinya itu ternyata menjebol keluar di atas atap sebuah gua lain yang amat besar dan tinggi langit-langitnya.
Sehingga arus air yang terlontar dari dalam lobang terowongan itu langsung tertumpah ke dalam dasar gua teraebut.
Dan suara gemuruh yang didengarnya tadi ternyata adalah suara air terjun itu.
"Koko...? Ada apa? Mengapa kau berteriak?"
Tui Lan yang masih terlentang itu bertanya. Liu Yang Kun menghela napas panjang.
"Kita berdua telah lolos dari lobang neraka, tapi kelihatannya justru terperosok ke neraka lain yang lebih buruk dan mengerikan. Lihatlah, kita berdua berada di atas langit-langit sebuah gua...!"
"Apa...?"
Tui Lan tersentak kaget, lalu bangun, tapi cepat-cepat dipegang tangannya oleh Liu Yang Kun.
"Hati-hati...! Kau bisa jatuh terhempas ke bawah."
"Oooooh??"
Tui Lan menjerit begitu melihat dimana dirinya sedang berada.
"Jangan takut! Kita nanti mencari jalan untuk turun ke bawah. Hmm, tampaknya kita tidak semakin ke atas, tapi justru semakin ke bawah menembus bumi..."
Tui Lan memeluk dan menangis di dada suaminya.
"Koko... aku takut,"
Katanya gemetar. Lalu.
"Dimanakah kita sekarang...?"
"Tenanglah hatimu. Paling-paling kita mati. Dan sungguh berbahagia sekali bisa mati bersamamu. Kau demikian juga, bukan?"
Sekali lagi Liu Yang Kun menenangkan hati isterinya. Tui Lan menatap wajah Liu Yang Kun, kemudian mengangguk-angguk. Liu_Yang Kun tersenyum.
"Laut Timur lebih dari seribu lie jauhnya dari kota Soh-ciu. Sedangkan kita tadi rasanya belum lebih dari sepuluh lie dihanyutkan air. Jadi kita ini masih berada di daerah Kang Lam juga. Cuma tepatnya dimana, aku tak tahu..."
"Sepuluh lie dari Soh-ciu...? Ah, kalau begitu kita ini kira-kira berada di bawah lahan pertanian orang-orang suku Wei itu, koko? sepuluh lie sebelah timur kota Soh-ciu adalah daerah orang-orang suku Wei,"
Tukas Tui Lan agak bersemangat.
"Mungkin juga. Siapa tahu kita sekarang berada di bawah perkampungan suku Wei itu malah?"
Liu Yang Kun menyahut sambil tersenyum.
Tui Lan juga tersenyum mendengar kelakar itu.
Berkurang ketegangan dan ketakutan yang mengeram di dalam hatinya.
Tapi perutnya sebaliknya lantas terasa lapar sekarang.
Liu Yang Kun mendengar juga suara berkeruyuk di dalam perut isterinya itu.
"Kau lapar? Baiklah...! Kau tunggulah di sini! Ikatkan tali yang membelit pinggangmu itu ke batu karang! Aku akan mencari ikan di bawah sana, sekalian menyelidiki gua ini. Nah! Aku pergi dulu. Kau jangan kemana mana!"
Perintahnya kepada isterinya.
"Koko, hati hati...!"
Pesan wanita itu bersungguh-sungguh.
"Jangan khawatir! Dengan pek-houw ciang tidak sukar bagiku untuk menuruni langit-langit gua ini."
Liu Yang Kun lalu mengerahkan seluruh tenaga sakti Liong-cu i-kangnya, sehingga matanya seolah-olah menyala di dalam kegelapan.
Lalu seperti seekor ular yang menjalar ia merayap turun ke dasar gua itu.
Dan semakin ke bawah, dinding gua itu semakin licin akibat percikan air terjun yang bertebaran kemana-mana.
(Lanjut ke
Jilid 09) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 09
"Sungguh menakutkan!"
Sesampainya di bawah Liu Yang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdesah ngeri.
Matanya memandang lobang kecil di atas langit-langit dimana isterinya tadi berada.
Lalu matanya menurutkan aliran air terjun yang jatuh ke dalam kedung atau sumur luas di dasar gua itu, sebelum akhirnya "tumpah"
Ke sungai yang mengalir di lorong gua itu.
Liu Yang Kun lalu melangkah mengikuti aliran sungai itu, yang menerobos lorong gua gelap yang panjang seolah-olah tak berujung.
Dan kali ini sungai itu tidak sebesar atau selebar sungai yang ada di dalam guanya itu.
Sungai itu hanya selebar sembilan atau sepuluh tombak saja, sehingga tepian sungai di seberang kelihatan dari tempatnya, walaupun hanya remang-remang.
Ternyata suasana di dalam gua itu agak berbeda dengan gua dimana ia tinggal dulu.
Di sini tampak lebih hidup dan lebih lapang udaranya.
Tentu ada lobang-lobang udara, walau sangat kecil sekalipun, yang menghubungkan gua itu dengan permukaan tanah.
Di tepian sungai itu Liu Yang Kun banyak menjumpai jamur-jamur atau lumut-lumut yang beraneka warna.
Dan rata-rata tumbuh-tumbuhan itu tampak bercahaya di dalam kegelapan.
Ada yang bersinar kebiru-biruan, kemerah-merahan, kekuning-kuningan atau kehijauan.
Sehingga dari jauh tumbuh-tumbuhan itu tampak indah, tapi juga sangat menakutkan.
Rasanya di dalam kegelapan itu banyak mata setan dan hantu yang sedang mengintai.
Untunglah dengan Liong-cu-i kangnya yang maha dahsyat itu mata Liu Yang Kun mampu menembus kegelapan bagaikan mata kucing di malam hari, sehingga dengan mudah ia mengetahui bahwa cahaya-cahaya yang gemerlapan itu tidak lain hanyalah daun-daun jamur saja.
Lapat-lapat Liu Yang Kun mencium bau amis pula, sehingga tiba-tiba ia teringat akan perut isterinya yang lapar.
"Ah, benar. Aku harus berburu ikan dulu..."
Katanya kepada dirinya sendiri.
"Sungai ini tentu banyak ikannya, karena telah kucium baunya yang amis."
Tapi bukan main herannya pemuda itu!
Telah satu lie lebih ia menyusuri anak sungai tersebut, namun tak seekor ikanpun yang dapat ditangkapnya.
Memang banyak ikan yang dijumpainya, tapi tak seekorpun yang layak ia tangkap.
Semuanya masih kecil-kecil.
Paling besar hanya sama dengan ibu jari tangannya, sehingga tidak sampai hati pemuda itu mengambilnya.
"Heran! Apakah ikan-ikan itu tahu kalau hendak kutangkap, sehingga mereka buru-buru bersembunyi ke dalam lobang perlindungannya?"
Liu Yang Kun mengeluh.
Karena ingin mencarikan makanan bagi isterinya, maka Liu Yang Kun nekad meneruskan langkahnya.
Kadang-kadang ia menyusuri tepian sungai, tapi sering kali ia juga terpaksa berlompatan di atas batu-batu yang berserakan di antara air sungai itu pula.
Namun sampai dua lie lagi jauhnya ia tetap belum menjumpai ikan yang patut ia ambil.
Terpaksa karena tak ingin mencemaskan hati isterinya, ia pulang lagi seraya menangkap belasan ekor ikan ikan kecil tersebut.
"Lumayan buat pengisi perut..."
Gumamnya perlahan.
"Kokooooooooo...!"
Tiba-tiba telinga Liu Yang Kun seperti mendengar lapat-lapat suara jeritan isterinya.
Pemuda itu lalu berhenti dan memasang telinganya baik-baik.
Otomatis urat-urat di seluruh tubuhnya menegang.
Liong-cu i-kang mengalir dengan sendirinya.
"Kokooooooo... oh!"
Sekali lagi terdengar suara jeritan Tui Lan bergaung dan menggema di dalam lorong gua itu.
Kontan ikan yang dipegang oleh pemuda itu dibuang begitu saja.
Dan dengan Bu-eng hwe-teng yang telah dikuasainya pemuda itu melesat kembali ke tempat isterinya.
Tubuhnya melayang demikian cepatnya, sehingga sepintas lalu seperti seekor kelelawar yang terbang melayang-layang di dalam kegelapan.
Sebentar saja pemuda itu telah tiba di pinggir air terjun itu kembali.
Namun kedatangannya segera disambut oleh desis kemarahan seekor ular raksasa, yang kelihatannya sedang penasaran karena tak bisa meraih tubuh Tui Lan yang berada di langit-langit gua itu.
Ular itu hampir sepaha orang besarnya.
Warnanya hijau kehitaman, dengan sisiknya yang besar-besar dan tampak keras sekali.
Panjangnya mungkin lebih dari sepuluh tombak, sementara kepalanya juga hampir sebesar buah kelapa muda pula.
Ular itu menggeliat dan meronta kesana-kemari.
Mengaduk dan berkubang di dalam air kedung itu, kemudian sesekali kepalanya yang menganga itu meluncur ke atas, melawan arus air terjun untuk meraih Tui Lan.
Namun segala usahanya selalu gagal.
Lobang air terjun Itu terlalu tinggi baginya.
Air kedung tampak berhamburan kemana-mana.
Sementara bau amis yang sangat luar biasa tercium dengan amat kuatnya, sehingga Liu Yang Kun menjadi pusing karenanya.
Tapi dengan sekuat tenaga pemuda itu bertahan agar tidak menjadi pingsan oleh bau amis tersebut.
"Lan-moi...???"
Pemuda itu berteriak memanggil isterinya. Tak ada jawaban.
"Lan-moiii...!?"
Sekali lagi Liu Yang Kun berseru.
Tidak ada jawaban pula.
Sebaliknya ular raksasa itu justru mendengar teriakannya malah!
Sambil berdesis dan menyemburkan uap kehijauan dari dalam mulutnya, ular itu berbalik menyerang Liu Yang Kun!
Taringnya yang besar lancip itu menyambar dengan gesitnya.
"Whuuuuuuuuuuuss...!"
Bau amis yang amat memuakkan meniup ke arah Liu Yang Kun, membuat pemuda itu hampir muntah karenanya.
"Oouuuhh...! Tak kusangka tempat ini ada penunggunya.Makanya sungai itu tak ada ikannya. Hmmh, aku berani bertaruh ular ini tentu sangat beracun sekali. Hanya karena aku sendiri juga beracun, maka racunnya tak kuasa membunuh aku. Coba kalau orang lain yang datang kesini. Menginjak lantai gua atau terkena percikan air kedung itupun kukira sudah akan menjadi mayat akibatnya."
Liu Yang Kun bergumam sambil mengelakkan serangan ular itu.
Namun saat-saat selanjutnya Liu Yang Kun tak bisa mengelak terus-menerus.
Ular yang sudah menjadi marah itu berdesis panjang dan menyemburkan uap beracun semakin banyak.
Ekornya yang sangat kuat sebesar lengan orang dewasa itu menyambar kian kemari, sementara air kedung itu bagai diaduk dan dihamburkan ke segala penjuru.
Sebaliknya, Liu Yang Kun yang sangat cemas akan keadaan Tui Lan itu juga mengerahkan segala kemampuannya.
Tiba-tiba kulit tubuhnya yang telanjang itu berubah menjadi kekuning-kuningan pula.
Tampak licin dan beracun!
Sementara bibirnya juga mengeluarkan suara berdesis pula yang tak kalah dahsyatnya.
Matanya juga mencorong di kegelapan itu, menyaingi mata ular tersebut.
Dan tenaganya yang telah terisi dengan Liong-cu i-kang itu benar-benar sangat mengerikan dipandang mata.
Meskipun demikian ular raksasa itu ternyata juga sangat alot kulitnya dan sangat dahsyat pula tenaganya.
Ketika sekali waktu Liu Yang Kun tak mampu lagi mengelakkan sabetan ekornya, sehingga pemuda itu terpaksa menangkisnya dengan pukulan Pat-hong-sin-ciangnya yang maha hebat, maka sebuah letupan nyaring yang mengatasi bisingnya air terjun terdengar sangat memekakkan telinga.
Liu Yang Kun terlempar menabrak dinding gua, sehingga beberapa potong batu tampak terlepas dari tempatnya.
Namun sebaliknya, ular raksasa itupun tampaknya juga menderita pula oleh pukulan Liu Yang Kun.
Ular itu mendesis-desis seraya menggeliat kesana-kemari seperti orang kesakitan.
Malahan dari mulutnya tampak menetes pula air liurnya.
Liu Yang Kun ingin menggunakan kesempatan itu untuk menengok isterinya.
Dengan tangkas kakinya meloncat mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya.
Sekali loncat ia bermaksud mencapai dinding gua yang tertinggi, untuk kemudian dengan Pek-houw-ciangnya dia mau merayap ke tempat isterinya berada.
Tapi ular raksasa yang kesakitan itu tampaknya telah benar-benar marah.
Dengan ngawur ular itu menyabetkan ekornya kesana-kemari.
Dan secara kebetulan memotong jalur yang hendak dilalui Liu Yang Kun malah!
Maka tak dapat dielakkan lagi mereka terpaksa mengadu kekuatan lagi!
Dan kali ini Liu Yang Kun mempergunakan kedua belah kepalannya.
"Dhiiiiegh!!"
Ular raksasa itu seperti mengeluarkan suara kesakitan.
Nadanya seperti suara seekor ayam jantan yang sedang disembelih.
Sementara di lain pihak juga terdengar suara keluhan tertahan pula dari mulut Liu Yang Kun.
Pemuda itu terlempar ke tengah-tengah gua dan...
tercebur ke dalam 'kubangan ular"
Yang sangat dalam itu!
Air yang sedang bergejolak dan berdebur dengan hebat itu tentu saja sangat menyulitkan Liu Yang Kun untuk berenang.
Tubuh pemuda itu segera terayun kesana-kemari dipermainkan oleh air.
Padahal moncong ular raksasa telah memburunya pula.
Maka tiada jalan lain lagi bagi Liu Yang Kun selain mencari pegangan pada tubuh ular itu sendiri.
Sebab kalau tidak demikian ia tentu akan tenggelam ke dasar kedung tersebut.
Atau lebih celaka lagi, tubuhnya akan segera disantap oleh moncong ular raksasa itu!
Demikianlah, sekenanya pemuda itu meraih tubuh ular itu.
Dan ternyata ia mendapatkan bagian perut yang bersisik besar-besar dan kuat.
Lalu sambil menahan napas pemuda itu memeluk dengan kuatnya sehingga ular itu merasa kesakitan dibuatnya.
Akibatnya ular itu lantas meronta dan menggeliat semakin hebat, hingga Liu Yang Kun terpaksa timbul tenggelam di dalam air, menurutkan gerakan ular raksasa tersebut.
Dan sesekali ia menghantam tubuh ular itu sekuat tenaganya.
Namun ular raksasa itu memang sangat kuat dan tangguh luar biasa.
Pukulan Liu Yang Kun yang dapat menghancurkan batu karang itu ternyata tak bisa berbuat banyak terhadap kulit ular itu.
Ular tersebut hanya merasa kesakitan saja, lain tidak!
Dan ular yang marah itu berusaha membelit dan menggigit tubuh Liu Yang Kun.
Tapi dengan ilmu Kim-coa ih-hoatnya yang hebat, Liu Yang Kun selalu bisa meloloskan dirinya.
Ternyata dengan ilmu tersebut tubuh Liu Yang Kun tak bedanya dengan tubuh lawannya.
Sama-sama liat, lentur dan licin luar biasa, dengan demikian pertempuran itu benar-benar menjadi ramai bukan main.
"Bagaimana aku harus membunuhnya? Pukulanku yang penuh lweekang itu tak dirasakannya sama sekali. Senjata aku tak punya..."
Pemuda itu berpikir keras.
Liu Yang Kun mencoba memukul kepala lawannya.
Tapi tak pernah mengenainya.
Hal itu ternyata sangat sulit lakukan.
Selain ia sendiri selalu terombang-ambing kesana-kemari, kepala ular tersebut juga luar biasa gesitnya, sehingga pukulannya selalu meleset.
"Gila! Apa akal...? Sebentar lagi aku tentu akan kehabisan napas,"
Pemuda itu menggeram cemas. Tiba-tiba pemuda itu memperoleh akal.
"Ah! Kata orang kelemahan ular itu ada pada kepalanya. Kalau aku bisa merayapi tubuhnya ini sampai ke atas kemudian menghajar matanya, hmm""
Katanya gembira.
Kemudian pemuda itu me laksanakan niatnya.
Sedikit demi sedikit ia merayap ke atas, mendekati kepala ular itu.
Namun niatnya tersebut ternyata tidak mudah dilakukan.
Selain selalu bergerak kesana-kemari, kulit ular itu benar-benar licin sekali.
Belum sabetan ekor dan patukan gigi taringnya yang sangat berbahaya itu!
Be lum pula semburan asap hijaunya yang amat beracun itu!
Akhirnya, meskipun sangat sulit dan harus mengerahkan segala kemampuannya, pemuda itu dapat juga mencapai kepala binatang tersebut.
Tapi untuk itu Liu Yang Kun juga harus menderita luka di beberapa bagian tubuhnya.
Punggung dan pahanya sobek akibat sabetan ekor ular tersebut, padahal pemuda itu juga telah mengerahkan seluruh tenaga dalamnya.
Belum barut-barut di bagian tubuhnya yang lain akibat bergesekan dengan batu-batu atau dinding gua yang tajam.
Kini binatang itu tidak bisa mengigit atau menyerang Liu Yang Kun dengan mulut atau taringnya.
Sebaliknya pemuda itu dengan mudah menghantam atau menendang mulutnya.
Mula-mula Liu Yang Kun menjejak taring ular itu dengan tumit sepatunya sehingga taring binatang itu patah dan mengucurkan darah yang banyak.
Lalu ketika binatang yang kesakitan itu berusaha membalasnya dengan sabetan ekornya Liu Yang Kun segera mengelak seraya mencocok kedua mata ular tersebut dengan jarinya.
"Croooot...!"
Kedua biji mata ular itu pecah dan menyemburkan darah pula! Namun betapa terkejutnya Liu Yang Kun, ketika dalam kesakitannya ular raksasa tersebut secara mendadak membenamkan kepalanya ke dalam air.
"Celaka...!"
Liu Yang Kun berteriak tertahan, tapi tangannya tak berani melepaskan pelukannya.
Takut terbenam.
Sebaliknya pemuda itu berharap agar ular itu lekas lekas mengangkat kepalanya kembali.
Tapi harapan itu tampaknya sia sia.
Ular yang kesakitan itu kelihatannya lebih suka membenamkan dirinya dari pada berada di atas permukaan air.
Liu Yang Kun menjadi gelisah dan cemas sekali.
Di dalam kecemasannya pemuda itu menggigit sekenanya di bagian kepala ular itu, dengan harapan ular itu akan meronta-ronta dan membawanya kembali ke permukaan air.
Tak sengaja Liu Yang Kun menggigit daging pipih di atas kepala ular itu.
Darah segera membanjir keluar memenuhi mulutnya.
Karena tak bisa bernapas, ia terpaksa menelan saja darah yang membanjir ke dalam mulutnya itu.
Demikian banyak darah yang ia telan sehingga perutnya menjadi kembung.
Tapi ketidak-sengajaannya itu ternyata telah membawa hasil baik.
Tiba-tiba saja ular raksasa itu menjadi lemas dan tak bisa berkutik.
Agaknya memang daging pipih itulah letak kelemahannya.
Sekali saja ular raksasa itu meronta.
Kepalanya dihentakkan kuat-kuat, sehingga terlempar ke permukaan air, dan untuk selanjutnya terbanting ke lantai gua dalam keadaan tewas.
Liu Yang Kun cepat meloncat turun dengan napas lega.
Dengan dada terengah-engah ia memandang ular raksasa yang telah mati.
"Kurang ajar! Hampir saja aku mati kehabisan napas. Hmmh... aduh!"
Tiba-tiba pemuda itu mencengkeram perutnya sendiri.
Wajahnya menunjukkan rasa kesakitan yang hebat.
Saking hebatnya pemuda itu tak kuasa untuk berdiri lagi.
Ia berguling-guling di lantai gua.
Keringat membanjir keluar dari badannya bercampur dengan air kedung yang telah membasahinya.
Warna kulitnya yang kekuning-kuningan itu mendadak berubah menjadi kehijauan seperti warna kulit ular tadi.
Dan badannya yang dingin itu mendadak juga berubah menjadi panas tak terkira.
Begitu panasnya sehingga air dan keringat yang mengalir di atas kulitnya itu menguap dan menjadi kering karenanya.
Di dalam kegelisahan pemuda itu mengerahkan Liong-cu-l-kangnya yang bersifat dingin untuk melawan rasa panas tersebut.
Namun sekali lagi pemuda itu menjadi kaget bukan kepalang.
Tiba tiba saja badannya yang panas itu berubah menjadi dingin dengan mendadak.
Begitu dinginnya sehingga giginya saling beradu satu sama lain, sementara tubuhnya sampai menggigil dengan hebatnya.
Akhirnya Liu Yang Kun tak tahan menanggungnya.
Seluruh sendi-sendi tubuhnya terasa kaku dan sukar digerakkan lagi, sehingga rubuhnya menjadi kaku dan sakit bukan ma in.
Karena tak bisa bertahan lagi maka akhirnya ia menjadi pingsan.
Anehnya, begitu ia pingsan, serangan hawa dingin itupun lantas menghilang pula.
Ternyata Tui Lan yang berada di mulut air terjun itu juga pingsan pula seperti halnya suaminya.
Saking ngeri dan takutnya tadi, Tui Lan menjadi pingsan di atas batu tersebut.
Dan sekarang setelah pertempuran antara suaminya dengan ular raksasa itu selesai ia s iuman kembali.
Namun ketika ia melongok ke bawah, serentak mulutnya menjerit!
"Kokoooooo...???!"
Pekiknya kuat-kuat, lalu melompat ke bawah begitu saja.
Melihat suaminya menggeletak mandi darah, sementara didekatnya tergolek tubuh ular raksasa yang amat menakutkannya itu, kontan Tui Lan lupa segala-galanya, lupa kepada keselamatannya sendiri.
Lupa bahwa langit-langit gua itu sangat tinggi.
Dan lupa bahwa ia bisa mati bila ia nanti salah mendaratkan tubuhnya.
Yang ada di dalam pikiran dan hati wanita itu hanyalah keadaan Liu Yang Kun, suaminya.
"Byuuuuuuuuur...!"
Tubuh Tui Lan jatuh persis dalam kedung itu.
Airpun lantas muncrat tinggi ke udara.
Dan tubuh wanita itupun lantas menghilang ditelan air yang dalam.
Namun beberapa saat kemudian tubuh itu kembali muncul pula ke pemukaan air, lalu bergegas berenang ke tepian.
Begitu keluar dari dalam air, wanita itu buru-buru berlari ke tempat suaminya menggeletak.
Sekilas matanya melirik ke arah ular yang telah mati itu.
"Kokooo...!"
Jeritnya keras seraya menubruk tubuh suaminya yang terbujur dingin dan kaku itu.
"Jangan tinggalkan aku! Akupun tak mau hidup tanpa engkau...!"
Untuk kedua kalinya wanita itu pingsan kembali.
Tapi sekarang bukan disebabkan karena ketakutannya terhadap ular raksasa itu, tapi disebabkan karena kecemasan dan kegelisahannya melihat suaminya terbaring diam di lantai gua seakan-akan telah mati itu.
Dan entah berapa lamanya mereka pingsan itu.
Ketika Liu Yang Kun siuman lebih dahulu, ia menjadi kaget sekali menyaksikan isterinya telah berada di atas dadanya.
Pingsan lagi!
"Hei!
Lan-moi, bangunlah...
Kau kenapakah?"
Pemuda itu berdesah gugup seraya mengguncang-guncang isterinya.
"Uuuuh?"
Tui Lan mengeluh menggeliat, kemudian membuka matanya. Tiba-tiba ia tersentak bangun. Mulutnya menjerit ketakutan.
"Koko, jangan tinggalkan aku...!"
Liu Yang Kun cepat memeluknya. Pemuda itu tahu bahwa isterinya belum sadar betul. Pikiran isterinya itu masih dipenuhi bayang-bayang mengerikan itu.
"Lan-moi... Jangan takut! Aku tidak apa-apa. Lihatlah...!"
Bujuknya perlahan. Tui Lan menatap suaminya. Air matanya meleleh turun, membasahi pipinya. Lalu dengan perasaan gembira dan bahagia bukan main ia memeluk Liu Yang Kun.
"Koko...!"
Jeritnya lirih. Liu Yang Kun sangat terharu. Dipeluknya kepala mungil itu, dan diciuminya rambutnya.
"Tenanglah, moi-moi! kita berdua selamat tak kurang suatu apa. Hmmmh, bagaimana kau turun dari atas tadi? Merayap seperti aku pula?"
Kepala mungil itu menggeleng didalam pelukan suaminya.
"Lhoh...? Lalu bagaimana kau melakukannya?"
Liu Yang Kun bertanya heran.
"Aku... aku terjun ke dalam kedung itu."
Tui Lan menjawab dengan muka merah.
"Terjun...? Kenapa kau lakukan itu? Bukankah itu sangat berbahaya sekali? Bagaimanakah kalau airnya dangkal? Kakimu bisa patah, bukan?"
"Aku sudah tidak peduli lagi! Melihat kau menggeletak mandi darah, aku pun lantas tak memikirkan nyawaku lagi..."
Tui Lan menjawab pula seraya menyembunyikan mukanya di dada suaminya. Liu Yang Kun tercengang. Sekejap ia tak bisa berkata apa-apa. Hatinya sungguh sangat terharu mendengar ucapan isterinya itu.
"Ah, betapa besar perhatianmu kepadaku..."
Akhirnya ia berbisik sambil membelai rambut Tui Lan.
Mereka lalu berdiam diri pula untuk beberapa saat lamanya.
Masing-masing merasakan betapa dalamnya cinta kasih mereka.
Mereka baru melepaskan pelukan mereka, ketika secara tak sengaja Tui Lan meraba luka di punggung Liu Yang Kun.
"Oh, lukamu...?"
Desah wanita itu cemas.
"Ah... tak apa-apa. Sebentar juga akan sembuh sendiri."
Liu Yang Kun menenangkan hati isterinya.
"Tapi... hei? Ulaaaaar...!"
Tiba-tiba Tui Lan menjerit kaget.
Jari telunjuknya teracung ke arah belakang suaminya.
Liu Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya.
Dan matanya segera terbelalak lebar.
Di belakangnya tampak belasan ekor ular, besar dan kecil, berbaris berjejer-jejer menghadap ke arahnya.
Tidak cuma itu saja.
Ternyata di kanan kiri mereka juga banyak pula yang lain.
Dan ketika mereka memandang lebih teliti lagi agak jauh dari barisan pertama ternyata masih ada beberapa lapis barisan pula lagi.
Begitu banyaknya ular itu, sehingga rasa-rasanya semua ular di dunia ini telah berkumpul semuanya di gua itu.
"Ah! Ini... eh, dari mana datangnya ular sebanyak ini?"
Liu Yang Kun agak gugup juga melihat ular sebanyak itu.
Memang sungguh mengherankan sekali.
Ular itu berbaris dengan rapi.
bersap-sap banyaknya, dan ratusan pula jumlahnya.
Namun demikian tak seekorpun diantara mereka yang bergerak keluar dari barisan mereka.
Mereka tampak sangat jinak sekali.
Malahan tampak ketakutan sekali malah.
Seperti para pesakitan yang sedang berkumpul menunggu keputusan hukumannya.
Karena ular-ular itu tampaknya memang tak bermaksud jelek kepada mereka, maka Tui Lan dan Liu Yang Kun menjadi tenang juga akhirnya.
Dicobanya bergerak mendekati mereka.
Dan keduanya jadi tercengang.
Ular-ular itu segera menyibak, meskipun masih tetap dalam barisan masing-masing.
Dan ketika Liu Yang Kun mencoba lebih jauh lagi menerobos ke dalam barisan itu, ternyata ular-ular itu juga terus menyibak pula.
Ular-ular itu benar-benar amat patuh dan takut kepada mereka berdua.
Tanpa terasa Liu Yang Kun saling berpandangan dengan isterinya.
"Heran. Ada apa sebenarnya? Mengapa mereka sangat takut sekali kepada kita...?"
Liu Yang Kun bertanya kepada isterinya. Tapi Tui Lan juga menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, koko... akupun tidak mengerti. Apakah... karena kau telah membunuh ular raksasa itu? Eh, benar!"
Tiba-tiba Tui Lan seperti ingat akan sesuatu hal.
"Ada apa, Lan-moi?"
"Ular raksasa itu!"
Tui Lan menjawab singkat. Wajahnya berseri-seri.
"UIar raksasa...?"
Liu Yang Kun mengulang ucapan isterinya dengan nada bingung.
"Ah, kau ini? Pelupa benar. Baru kemarin kita membacanya. Masa kau sudah lupa pula? Wah!"
Tui Lan mengomel.
"Sudahlah! Jangan buat aku semakin bingung! Katakanlah lekas...!"
Liu Yang Kun mendesak dengan suara penasaran pula.
Matanya menatap isterinya semakin tidak mengerti.
Tui Lan terpaksa tersenyum.
Sekali lagi matanya memandang ke arah ratusan ular yang mengelilinginya itu.
Lalu ia kembali menatap wajah suaminya lagi.
"Koko...! Masa kau sudah lupa pada keterangan di dalam buku Im-Yang Tok-keng itu? Menurut Giok-bin Tok-ong di daerah Kang Lam ini ada sebuah kerajaan ular, yang pusatnya berada di daerah tempat tinggal Suku Wei. Oleh karena itu, kalau kita sekarang memang benar-benar berada di bawah perkampungan orang-orang suku Wei itu, maka... disinilah letak pusat kerajaan itu. Dan ular raksasa yang telah kau bunuh itu tentulah Ceng-liong-ong (Raja Naga Hijau), raja dari segala macam ular ini..."
"Jadi...?"
"Yah! Karena kau telah membunuh rajanya, maka merekapun lalu takluk pula kepadamu. Untuk membuktikannya, cobalah kau memanggil dengan isyarat tangan kepada salah seekor dari ular-ular ini"!"
Tui Lan menerangkan.
Liu Yang Kun menurut.
Ia menunjuk seekor ular belang yang tampak berbahaya dan ganas di barisan nomer empat.
Kemudian jari-jarinya ditarik dan menuding ke tanah di depan kakinya.
Aneh!
Tiba-tiba saja ular itu benar-benar bergerak meninggalkan barisannya.
Dengan ragu-ragu dan takut-takut ular yang terkenal ganas itu menjalar mendekati suami-isteri itu, lalu tergolek diam di depan kaki Liu Yang Kun.
Binatang itu seolah-olah menunggu perintah yang akan diucapkan oleh rajanya.
Sekarang giliran Liu Yang Kun yang kebingungan malah!
Pemuda itu merasa seperti sedang bermimpi dan tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Matanya hanya menatap bengong ke arah ular belang itu.
Tui Lan tersenyum saja melihat kebingungan suaminya itu.
Ia menjadi terlalu gembira karena dugaannya tentang ular tersebut ternyata benar.
"Tak usah bingung, koko. Dia hanya seekor binatang. Kau diamkan pun dia takkan marah. Biarlah untuk sementara dia berada di situ."
"Ya..., tapi...??"
"Sudahlah! Marilah kita sekarang memeriksa bangkai Ceng-Iiong-ong itu saja. Kalau catatan Giok-bin Tok-ong itu benar, maka kita akan mendapatkan Po-tok-cu yang lain..."
Tui Lan menyahut seraya menepuk punggung suaminya.
"Po-tok-cu yang lain?"
Liu Yang Kun bertanya semakin tak mengerti.
"Ya! Marilah kita lihat!"
Tui Lan menjawab, lalu menarik lengan suaminya.
"Di dalam bukunya Giok bin Tok-ong menulis bahwa ia pernah bertemu dan berkelahi dengan raja ular itu di perkampungan orang-orang Suku Wei. Dan Giok-bin Tok-ong berhasil membunuhnya serta mengambil mutiara pusaka yang ada dalam daging kepala ular itu. Namun orang-orang dari Suku Wei menyangsikan kalau ular raksasa yang dibunuh oleh Giok-bin Tok-ong tersebut Ceng liong ong, sebab menurut dongeng nenek-moyang, Raja Ular itu berwarna hijau kehitaman, bukan berwarna kekuningan seperti yang telah dibunuh oleh Giok-bin Tok-ong itu."
"Lalu...?"
"Tentu saja Giok-bin Tok-ong menjadi marah dan merasa dihina. Orang-orang Suku Wei yang tidak percaya kepadanya lalu dibunuhnya pula, kemudian pergi dari tempat itu."
"Ohhhh!"
Liu Yang Kun berdesah mendengar kekejaman iblis tua itu.
"Tapi... melihat ular raksasa yang baru saja kau bunuh itu, aku lantas membenarkan kesangsian orang-orang suku Wei itu. Inilah raja ular Ceng-liong-ong yang sebenarnya..."
Tui Lan berkata lagi.
"Lalu ular yang dibunuh oleh Giok-bin Tok-ong itu?"
"Mungkin betinanya...! Kau lihat Ceng-liong-ong itu tadi? Betapa ia kelihatan sangat marah dan berusaha meraih aku di lobang atap gua itu? Agaknya ia mencium Po-tok-cu betinanya yang ada di tanganku ini."
Kedua suami-isteri itu telah berada di dekat bangkai ular raksasa itu.
Hati hati Tui Lan meraba kepala ular tersebut.
Ketika tangannya menyentuh daging pipih itu.
Tiba-tiba ia menjadi kaget.
Darah masih mengalir tak henti-hentinya dari luka akibat gigitan di tempat itu.
"Kau yang menggigitnya?"
Tui Lan bertanya. Liu Yang mengangguk.
"Kau sungguh beruntung. Luka inilah yang membunuh ular raksasa ini. Di sini pulalah Po-tok-cu dari ular raksasa ini berada. Tanpa bisa melukai tempat ini engkau takkan dapat membunuhnya. Sebab di sinilah letak kelemahan jenis ular ini,"
Wanita itu menerangkan. Dengan sangat hati-hati Tui Lan lalu menyobek daging pipih itu dan mencari mutiara pusakanya.
"Nah, betul bukan kataku? Lihatlah...!"
Katanya kemudian sambil memperlihatkan sebutir mutiara kecil yang baru saja ia keluarkan dari kepala ular itu.
Liu Yang Kun cepat menerima 'mutiara' itu dan memandangnya dengan takjub.
Mutiara itu bersinar gemerlapan di dalam kegelapan.
"Ah, bagaimana kau tahu tentang mutiara ini?"
Sambil menimang-nimang mutiara tersebut Liu Yang Kun bertanya kepada isterinya.
"Aku hanya menduganya saja. Ular yang usianya lebih dari se ratus tahun biasanya memiliki kristal seperti ini di dalam kantung racunnya. Kalau betinanya saja punya, apalagi yang jantan."
"Lalu... apa yang harus kita perbuat dengan benda ini?"
Tui Lan tersenyum.
"Hei, mengapa bingung-bingung? Tentu saja benda itu menjadi milikmu. Itulah rejekimu...! Dan ini juga menjadi pertanda bahwa kita berdua memang berjodoh. Aku memiliki Po-tok-cu Betina, kau memiliki Po-tok-cu Jantan! Dan... ingat-ingatlah, kau sekarang adalah Raja Ular!"
"Hah? Maksudmu...?"
Liu Yang Kun tersentak kaget.
"Lihatlah di sekeliling kita! Ular-ular itu sekarang sangat patuh kepadamu. Apa yang kau perintahkan, tentu akan mereka lakukan tanpa membantah sedikitpun. Apalagi dengan Po-tok-cu Jantan di tanganmu itu, mereka akan ketakutan setengah mati kepadamu."
"Ooooohh...!?"
"Coba kau perintahkan kepada mereka untuk bubar dan kembali ke tempat masing-masing!"
Tui Lan berkata kepada suaminya.
Karena sudah percaya se ratus persen kepada isterinya, maka Liu Yang Kun pun segera melakukan apa yang dikatakan isterinya itu.
Dan memang betul juga, ular-ular itu segera beranjak pergi pula.
Mereka meninggalkan tempat tersebut secara berurutan.
Dari baris yang pertama atau yang terdepan, terus diikuti oleh baris yang kedua, ketiga dan seterusnya.
Masing-masing barisan dipimpin oleh seekor ular besi yang tampaknya sangat ganas dan berwibawa.
Akhirnya tempat tersebut menjadi sepi kembali.
Ular-ular itu telah menyelinap pergi ke liang mereka masing masing.
"Tahulah aku sekarang, mengapa ada udara segar di dalam gua tertutup seperti ini. Ternyata banyak sekali liang-liang ular yang menembus ke permukaan tanah sana."
Liu Yang Kun bergumam seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya! Dan kalau benar apa yang dituliskan Giok-bin Tok-ong di dalam bukunya, maka Ceng-liong-ong dan betinanya itu tentu punya jalan tersendiri pula untuk keluar ke atas tanah."
Tui Lan mengiyakan perkataan suaminya.
"Tapi jalan itu tentu saja takkan cukup untuk manusia seperti kita. Salah-salah kita nanti malah terjebak di dalam lobang sempit, di mana kita tak bisa maju ataupun mundur lagi."
Liu Yang Kun yang dapat menebak arah perkataan isterinya itu segera menyahut dengan suara ngeri.
"Ah...!"
Tui Lan berdesah pula. Ngeri. Oleh karena itu ia segera mengalihkan pembicaraan mereka.
"Koko...! Bagaimana kalau kita mengambil kulit Ceng-liong-ong ini untuk baju kita! Hmm, dari pada telanjang begini?"
Katanya perlahan.
"Bagaimana kita harus mengeringkannya?"
"Mudah saja. Kita membikin obor lagi."
Sahut Tui Lan dengan cepat.
"Tapi kita sulit mencari ikan disini. Aku sudah tiga lie jauhnya menyusuri sungai ini, tapi tak seekor ikanpun yang layak kutangkap. Bagaimana kita harus membuat minyak itu?"
"Tiga lie? Oh...? Kau sudah berjalan tiga lie jauhnya? Begitu panjangnya lorong gua ini?"
Tui Lan menegaskan dengan wajah terheran-heran.
"Ya, benar. Dalam jarak itupun gua ini belum buntu pula. Tampaknya masih jauh lagi malah."
"Dan siapa tahu ada pula lorong lorongnya yang menembus ke permukaan tanah?"
Tui Lan menyambung dengan penuh harapan.
"Ya, siapa tahu...?"
Liu Yang Kun berkata pula dengan suara gembira. Lalu sambungnya lagi.
"Namun demikian kita juga harus menyimpan kantong udara itu baik-baik. Siapa tahu pula kita masih harus menyelam lagi?"
Tiba-tiba Tui Lan tersentak.
"Hah benar! Kantong itu masih kutinggalkan diatas sana ketika terjun tadi. Ohhh...!"
Serunya khawatir.
"Jangan takut! Aku akan mengambilnya. Tunggulah sebentar disini!"
Suaminya bergegas menyahut.
Demikianlah, hari itu mereka menguliti tubuh ular raksasa tersebut dengan pedang pendek Tui Lan.
Tapi hampir saja mereka memperoleh kesulitan untuk memotong kulit ular itu, karena ternyata sisik-sisik ular tersebut benar-benar keras sekali.
Pedang yang amat tajam itu sama sekali tak kuasa menembus atau mengirisnya.
Terpaksa Liu Yang Kun merobeknya dari dalam, yaitu dari mulutnya.
Lalu mengambil bagian lehernya, karena kulit di tempat itu sisiknya lembut, tipis dan amat kuat.
"Hei, koko! Ternyata daging ular ini banyak sekali lemaknya. Mengapa kita tidak membuat minyak dari lemak ini saja? Dan... sekaligus memakan dagingnya pula?"
Baca Juga: Kisah Si Pedang Kilat 6
Baca Juga: Kemelut Kerajaan Mancu 3