Eps 6 Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Si Pedang Kilat - Kho Ping Hoo.
"Aha, kebetulan engkau pulang, siauw-moi! Pesta ini diadakan secara mendadak, jadi tidak keburu memberitahu engkau yang sejak pagi sudah pergi. Hayo, ikutlah makan dan kenalkan, tamu kehormatan kita ini adalah seorang pendekar yang memiliki ilmu silat hebat sekali. Namanya Kwa Bun Houw dan kujuluki dia Si Pedang Kilat!"
Siauw Tek bangkit dan menarik tangan adiknya yang sudah mendekat, lalu memperkenalkannya kepada Bun Houw.
"Kwa-toako, ini adalah adikku yang bengal dan manja, namanya Kiok Lan."
Bun Houw cepat bangkit dan memberi hormat kepada gadis yang lincah itu dengan mengangkat kedua tangan depan dada.
Akan tetapi, gadis itu agaknya tidak perduli akan segala upacara perkenalan itu, lalu bertanya kepada Pouw Cin.
"Paman Pouw, benarkah, kepandaiannya hebat? Bagaimana kalau dibanding dengan kepandaian paman?"
Wajah Pouw Cin berubah kemerahan dam hampir saja dia tersedak. Dia minum araknya, lalu menjawab.
"Kepandaian Kwa-enghiong jauh lebih tinggi dari pada ilmu silat saya. Siocia (nona)."
"Aih, kalau begitu hebat! Aku harus belajar silat darimu, Kwa-enghiong!"
Seru gadis itu dan tanpa banyak ribut lagi iapun mengambil tempat duduk di sebelah Bun Houw.
Pemuda ini merasa seperti ada bunga mawar setaman mendekatinya, membuat jantungnya berdebar.
Padahal, ketika dua orang pelayan cantik tadi melayaninya, demikian dekat bahkan disengaja atau tidak beberapa kali ujung lengan baju mereka menyentuhnya, dia sama sekali tidak merasa apa-apa, bahkan merasa tidak enak sekali.
Ketika seorang pelayan menghampirinya untuk menuangkan arak, Kiok Lan menolak halus dan berkata, ditujukan kepada Siauw Tek.
"Koko, kurasa Kwa-enghiong dan Paman Pouw tidak perlu dilayani, dapat menuangkan arak dan mengambil lauk sendiri. Kenapa harus dilayani? Sebaiknya koko tidak menyusahkan kelima enci ini. Harap enci sekalian kembali saja ke dalam. Bukankah begitu. Kwa-enghiong dan kau, Paman Pouw?"
Lima orang wanita cantik itu saling pandang dan agak tersipu, akan tetapi Siauw Tek tertawa.
"Ha-ha-ha, engkau selalu jujur dan kasar, siauw-moi. Baiklah, kalian mengasolah. Nanti saja kalau sudah selesai perintahkan para pelayan membersihkan meja."
Lima orang wanita cantik itu lalu berlari kecil meninggalkan ruangan makan itu.
"Nah, begini lebih leluasa, bukan? Kita dapat bicarakan apa saja, tentu saja kalau Kwa-enghiong ini telah menjadi sahabat yang dapat dipercaya."
Tanpa sungkan lagi Kiok Lan mengambil masakan dengan sumpitnya, dan mulai makan.
Sungguh jauh bedanya dalam hal sopan santun antara gadis ini dan kakaknya.
Siauw Tek makan dengan sikap yang amat hati-hati dan selalu menjaga kesopananya cara makan seorang bangsawan tinggi yang tidak mau tercela sedikitpun.
Sebaliknya, gadis itu makan seperti seorang gadis kang-ouw, makan dengan enaknya tanpa rikuh.
Juga ia menuangkan dan minum arak bagaikan minum air saja!
"Apakah engkau membawa kabar penting siauw-moi?
Kalau urusan negara, sebaiknya dibicarakan nanti saja denganku.
Kalau urusan pribadi, boleh saja dibicarakan sekarang."
"Tidak ada urusan negara. itu kan urusanmu, koko. Dengar baik-baik, bukan hanya engkau yang menemukan Kwa-enghiong ini sebagai seorang pendekar sakti. Akupun membawa seorang tamu, seorang pendekar sakti yang berilmu tinggi, koko!"
"Ehh? Siapa dia? Bagaimana engkau bertemu dengan dia dan di mana dia sekarang?"
Siauw Tek yang agaknya amat penuh perhatian itu bertanya dan jelaslah bahwa pemuda ini memang ingin sekali berkenalan dengan orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
"Nanti dulu, koko. Biar dia menanti di ruangan tamu. Aku sudah menyuruh pelayan menghidangkan minuman. Pertemuanku dengan dia menegangkan, koko. Aku dihadang orang-orang jembel menjemukan itu. Akan tetapi ilmu silat para pimpinannya lihai dan aku hampir celaka. Untung tiba-tiba muncul pendekar yang hebat ini sehingga aku tertolong."
Siauw Tek tertarik sekali.
"Siauw-moi. ceritakanlah yang jelas. Apa yang telah terjadi? Jangan sepotong-sepotong membuat kami jadi penasaran sekali."
Tegur kakaknya.
Gadis itu tertawa, nampaknya puas sekali dapat membuat para pendengarnya tertarik.
Kemudian, tanpa menghentikan makan, sambil makan ia bercerita tentang apa yang baru saja dialaminya pagi hari itu.
Gadis itu memang merupakan adik kandung seayah berlainan ibu dengan Siauw Tek.
Sejak kecil, Kiok Lan memang memiliki watak yang lincah jenaka dan pemberani, apalagi karena sejak kecil ia suka berlatih silat sehingga kini, dalam usia tujuh belas tahun, ia telah menjadi seorang gadis yang lihai.
Banyak sekali gurunya, yaitu para jagoan istana kerajaan Liu-sung yang telah jatuh.
Dan, yang terakhir, Pouw Cin yang lihai juga melatihnya sehingga ia menjadi semakin lihai.
Pagi hari itu, ia berpamit kepada kakaknya untuk pergi berburu ke hutan di Bukit Hijau yang dihuni banyak binatang buruan.
Siauw Tek yang mengetahui keberandalan adiknya, tidak dapat melarang, akan tetapi dia percaya penuh akan kelihaian adiknya sehingga berkeliaran seorang diripun takkan ada yang mampu mengganggunya.
Adiknya itu tidak akan dapat dikalahkan oleh sepuluh orang pria kasar dan kuat sekalipun!
Dengan bersenjatakan busur kecil dan banyak anak panah, Kiok Lan memasuki hutan di lereng Bukit Hijau.
Akan tetapi di tepi hutan itu, ia bertemu dengan tiga orang pengemis yang menghadang perjalanannya.
Mereka memandang kepadanya dan ketiganya menyodorkan tangan kanan minta sedekah.
"Nona. tolonglah kami orang-orang miskin dan kelaparan!"
Kata mereka senada.
Kiok Lan berhenti melangkah dan berdiri di depan mereka, memandang penuh perhatian.
Alisnya berkerut dan mulutnya senyum mengejek.
Hatinya merasa tak senang sekali.
Tiga orang itu adalah laki-laki bertubuh cukup sehat dan kuat, usia mereka antara tiga puluh-sampai empat puluh tahun.
"lhhh, apakah kalian ini tidak malu? Tiga orang laki-laki sehat dan kuat, belum kakek-kakek lagi, menjadi pengemis yang minta-minta? Orang-orang macam kalian ini hanya membikin malu bangsa saja dan tidak layak hidup! Pergilah, aku tidak sudi memberi apapun kepada kalian!"
Berubah sikap tiga orang laki-laki itu.
Kalau tadi mereka memasang wajah menyedihkan, dengan suara yang mohon belas kasihan, kini mereka melotot dengan muka berubah kemerahan.
Mereka memandang ke kanan kiri, dan kesunyian tempat itu agaknya menambah semangat dan keberanian mereka.
Yang termuda di antara mereka, matanya sipit hampir terpejam dan hidungnya pesek, melangkah maju dan tersenyum mengejek.
"Nona manis, kalau engkau tidak mempunyai uang untuk diberikan kepada kami, berikan saja apa yang kaumiliki. Kecantikanmu, heh-heh-heh, cukup untuk kami bertiga. Bukankah begitu, heh-heh, kawan-kawan?"
"Benar sekali!"
Kata dua orang kawannya. Sepasang mata yang indah itu terbelalak, dan muka itu berubah kemerahan.
"Memang kalian tidak patut hidup! Jahanam busuk kalian, anjing kotor!"
"Ha-ha-ha, ia cantik dan galak pula!"
Kata si mata sipit dan diapun sudah menerjang ke depan untuk meringkus dan memeluk gadis yang dianggapnya amat menggairahkannya itu.
Kiok Lan menyambutnya dengan sebuah tendangan yang ditujukan ke arah perutnya.
Orang itu mengenal gerakan silat yang dahsyat, dan agaknya si mata sipit juga ahli silat.
maka dia cepat menangkis dengan kedua tangannya yang disabetkan ke bawah, tidak jadi merangkul.
"Dukkk!!"
Dan akibat tangkisan ini, si mata sipit terjengkang dan terbanting sampai tiga meter jauhnya!
Dua orang temannya menjadi terkejut dan marah.
Tahulah mereka mengapa gadis itu berani bersikap kasar dan menghina mereka.
Kiranya seorang gadis kang-ouw yang pandai silat!
Mereka segera mencabut tongkat besi yang terselip di pinggang, lalu menyerang, sekali ini bukan untuk berbuat mesum, melainkan untuk melukai gadis yang dianggap lawan berbahaya itu, Juga yang terjengkang tadi, setelah mengerang sebentar lalu bangkit, mencabut tongkat besinya dan tiga orang itu kini mengeroyok Kiok Lan!
Akan tetapi, segera mereka mendapatkan kenyataan pahit.
Mereka telah bertemu batu keras!
Biarpun hanya bersenjatakan busurnya, Kiok Lan mampu menghajar tiga orang itu sampai babak belur dan akhirnya mereka bertiga lari tunggang-langgang dengan kepala benjol dan luka-luka kecil yang merobek baju dan kulit.
"Huh, belum bertemu binatang buruan, Bertemu tiga orang yang lebih jahat dari pada binatang!"
Kata Kiok Lan sambil tersenyum mengejek.
Karena mereka merupakan lawan yang lunak saja baginya, Kiok Lan sudah melupakan peristiwa itu dan memasuki hutan.
Dalam waktu kurang dari satu jam, ia telah berhasil memanah roboh seekor kijang muda yang gemuk.
"Heh-heh, koko tentu akan senang sekali. Dia paling suka makan daging paha kijang dipanggang!"
Katanya seorang diri sambil berlari menghampiri kijang yang roboh itu.
Akan tetapi, ia tiba di bawah pohon dekat semak belukar itu, ia mengerutkan alisnya.
Kijang itu telah dipanggul seorang yang dikenalnya sebagai si mata sipit tadi, yang tertawa-tawa membawa pergi bangkai kijang itu.
"Hei, berhenti, kau anjing busuk! Kembalikan kijangku!"
Teriak Kiok Lan dan ia bergerak hendak mengejar.
Akan tetapi tiba-tiba ada angin menyambar dari samping.
Suara senjata berdesing membuat ia terkejut dan cepat melompat untuk mengelak.
Kiranya yang menyerangnya adalah seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun yang memegang sebatang tongkat besi pula.
Dan kakek inipun berpakaian pengemis.
Selain dia, di situ masih terdapat empat orang pengemis setengah tua lain lagi dan mereka semua memandang kepadanya dengan sikap marah.
"Heii! Kalian ini lima orang pengemis tua, mengapa tiba-tiba saja menyerangku? Aku hendak mengejar pencuri kijangku itu!"
Bentak Kiok Lan marah.
"Hemm, engkau seorang gadis yang masih, muda sekali, masih remaja akan tetapi sudah memiliki watak yang keras dan kejam. Engkau telah mengandalkan kepandaianmu untuk menghina dan memukuli tiga orang murid kami! Kalau engkau tidak mempunyai apa-apa untuk memberi sedekah kepada mereka sudah saja jangan beri apa-apa. Kenapa engkau tidak mau memberi malah menghina mereka, kemudian memukuli mereka?"
Baru sekarang Kiok Lan tahu bahwa ia berhadapan dengan lima orang jembel-jembel jagoan yang menjadi guru dari para pengemis, kurang ajar tadi dan timbullah kemarahannya.
"Aha, kiranya kalian adalah guru-guru para pengemis busuk yang kurang ajar tadi. Bagus, bagus! Kalau murid-muridnya jahat guru-gurunya tentu lebih jahat lagi! Kalian telah mengajarkan orang-orang yang masih sehat dan kuat untuk mengemis, bahkan untuk bersikap kurang ajar. Kalau kalian mengajar orang-orang untuk mengemis, tentu kalian sendiri juga pengemis-pengemis besar!"
"Hemm, engkau memiliki mata akan tetapi seperti buta. Kami adalah Ngo-liong Sin-kai (Pengemis Sakti Lima Naga), tentu saja pekerjaan kami mengemis. Para murid kami tadi juga adalah anggauta-anggauta Tiat-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Besi). Engkau berani mati hendak menentang Tiat-tung Kai-pang?"
"Orang masih sehat dan kuat mengemis, akhirnya tentu menjadi perampok. Kalau tidak diberi sedekah, tentu akan mengandalkan kekuatannya untuk memaksa. Kalian ini orang-orang jahat, pergilah sebelum kuhajar seperti tiga orang pengemis busuk tadi!"
"Bocah ingusan sombong! Makan tongkatku!"
Bentak pengemis setengah tua yang bertubuh kecil kurus itu.
Biarpun dia nampak kecil kurus, akan tetapi ketika tongkat besinya menyambar, terdengar angin pukulan dahsyat sehingga Kiok Lan harus cepat melompat ke belakang untuk menghindarkan diri.
Ia tahu bahwa lawannya ini lihai, akan tetapi Kiok Lan adalah seorang gadis yang tak pernah mengenal takut.
Bahkan ia marah sekali dan begitu pukulan tongkat lawan itu luput, iapun langsung membalas dengan serangan pedangnya.
Ia telah mencabut pedangnya.
Dengan pedang di tangan kanan dan busur di tangan kiri, gadis itu bukan hanya membalas dengan serangan satu kali, melainkan secara bertubi-tubi dan iapun mendesak lawan dengan penuh kemarahan.
Akan tetapi pada saat itu, empat-arang pengemis lainnya sudah menerjang dengan tongkat mereka dan ternyata setelah mereka maju berlima, gerakan tongkat mereka menjadi lain.
Mereka bergerak bagaikan barisan tongkat saling tunjang dan saling melindungi sehingga dikeroyok barisan tongkat ini, Kiok Lan menjadi bingung dan terdesak.
Sebetulnya, tingkat kepandaian lima orang itu, kalau maju seorang demi seorang, masih belum mampu menandingi Kiok Lan.
Akan tetapi begitu maju bersama, apalagi mereka memiliki ilmu barisan tongkat yang amat lihai, Kiok Lan menjadi kewalahan dan nyawanya terancam bahaya maut.
Ia kini hanya, mampu memutar pedang dan gendewanya untuk melindungi diri, namun kalau hal seperti itu dilanjutkan, akhirnya ia tentu akan terpukul roboh.
Pada saat keadaan Kiok Lan amat gawat itu, tiba-tiba terdengar suara suling melengking yang semakin lama semakin dekat.
Dan tiba-tiba saja, terdengar bentakan setelah suara suling berhenti.
"Lima orang laki-laki mengeroyok seorang, gadis remaja! Sungguh tak tahu malu!"
Lima orang pengemis itu melihat munculnya seorang pemuda yang berusia dua puluh lima tahun, bertubuh sedang dan gerak-geriknya halus dengan pakaian sasterawan yang indah dan mewah, seorang pemuda tampan pesolek yang memegang sebatang suling yang panjangnya seperti pedang, dan suling itu berkilauan putih seperti terbuat dari perak.
"Nona, mundurlah, biar aku yang menghajar orang-orang kotor itu!"
Kata si pemuda.
Kiok Lan yang sudah kewalahan dan napasnya terengah-engah, menggunakan kesempatan selagi lima orang itu memandang si pemuda, melompat ke belakang dan iapun berdiri memandang dengan kagum.
Sikap pemuda itu yang mengagumkan hatinya, begitu tenang begitu penuh kepercayaan kepada diri sendiri dan berani memandang rendah lima orang jagoan pengemis yang lihai itu.
"Keparat, jangan mencampuri urusan Tiat-tung Kai-pang!"
Bentak seorang pengemis, dan empat orang kawannya sudah bergerak mengepung pemuda yang memegang suling itu.
Melihat ini, diam-diam Kiok Lan merasa khawatir.
Jangan-jangan pemuda ini akan menjadi korban, pikirnya, ia merasa tidak enak.
Pemuda ini hendak menolongnya, akan tetapi ia meragukan apakah pemuda yang tampan halus ini akan mampu mengalahkan Ngo-liong Sin-kai yang demikian lihai.
Akan tetapi, kalau ia turun tangan membantu, ia merasa tidak enak pula kepada penolongnya, seolah ia memandang rendah.
Biarlah, pikirnya, ia akan melihat perkembangannya dan kalau penolongnya itu terdesak dan terancam, baru ia akan turun tangan membantunya.
Kini lima orang pengepung itu mulai menggerakkan tongkat besi mereka, mengeroyok dan menyerang secara bertubi, Pemuda itu masih nampak tenang saja, dan tiba-tiba nampak gulungan sinar perak berkilauan ketika dia menggerakkan sulingnya.
Lenyaplah tubuh pemuda itu terbungkus gulungan sinar senjatanya dan terdengar bunyi berdencingan ketika lima batang tongkat besi itu disambar sinar suling, disusul serangan aneh yang membuat lima orang pengeroyok itu berturut-turut terjengkang ke belakang!
Kiok Lan sampai terbelalak saking heran dan kagumnya.
Ternyata pemuda itu seorang pendekar sakti yang amat hebat ilmu kepandaiannya!
Ketika lima orang tokoh pengemis itu merangkak bangun, seorang di antara mereka berseru cemas.
"Tok-siauw-kwi (Setan Suling Beracun)!"
Pemuda itu tersenyum mengejek.
"Untuk membuktikan bahwa dugaan kalian itu benar, dalam waktu setengah hari, kalian akan mati keracunan."
Lima orang itu terkejut dan memeriksa tubuh masing-masing!
Ada yang tadi terkena pukulan suling pada lengannya dan di situ nampak noda menghitam sebesar ibu jari tangan, kalau disentuh nyeri bukan main dan terasa panas di bagian dalamnya.
Demikian pula dengan yang lain.
Di bagian yang tadi terpukul ujung suling, terdapat tanda menghitam itu.
Keracunan!
Tanpa mengenal malu lagi, mereka lalu melempar tongkat besi dan menjatuhkan diri berlutut, berjajar menghadap pemuda itu.
"Kongcu, kami mohon kongcu sudi mengampuni nyawa kami ..."
Mereka meratap ketakutan.
Pemuda itu bukan lain adalah Suma Hok yang berjuluk Tok-siauw-kwi.
Setelah menyanggupi syarat yang diajukan Bu-eng-kiam Ouwyang Sek ketika dia dan ayahnya datang melamar Hui Hong, dia lalu pergi untuk mencari gadis yang membuatnya tergila-gila itu.
Juga dia akan menyelidiki tentang Akar Bunga Gurun Pasir yang menjadi satu di antara syarat yang diajukan Ouwyang Sek.
Ketika dia kebetulan lewat di tempat itu, dia melihat Kiok Lan yang dikeroyok lima orang tokoh kai-pang itu.
Melihat betapa lima orang itu berlutut dan meratap minta ampun, Suma Hok tersenyum mengejek.
"Yang kajian ganggu adalah nona ini, maka kepadanyalah kalian harus mohon ampun."
Suma Hok adalah seorang mata keranjang yang selalu haus akan wanita cantik.
Begitu melihat Kiok Lan dikeroyok tadi, yang mendorong dia turun tangan menolong dan menentang lima orang pengemis adalah karena dia melihat betapa cantik manisnya gadis yang dikeroyok itu.
Andaikata gadis itu berwajah buruk, belum tentu dia akan suka membantu perkelahian yang tidak ada sangkut-pautnya dengan dirinya.
Kini lima orang pengemis itu memberi hormat dan berlutut menghadap Kiok Lan.
"Nona, ampunkanlah kami ... ampunkanlah kami ..."
Mereka meratap.
Kiok Lan adalah seorang gadis yang lincah dan galak, juga keras, akan tetapi dara ini sama sekali tidak memiliki hati yang kejam.
Memang lima orang ini bersalah karena membela murid-murid mereka yang kurang ajar terhadap dirinya.
Akan tetapi kesalahan itu tidaklah sedemikian besarnya sehingga mereka perlu dihukum mati!
Maka, iapun berkata kepada Suma Hok.
"Tai-hiap (pendekar besar), ampunilah mereka, tidak perlu dibunuh. Mereka tentu sudah bertaubat dan tidak akan berani sewenang-wenang lagi. Harap kau suka memberi obat penawarnya."
Suma Hok tersenyum, lalu merogoh saku bajunya, mengambil lima butir pel dari bungkusan.
"Angkat muka kalian dan buka mulut kalian!"
Katanya kepada lima orang pimpinan pengemis itu.
Lima orang itu mentaati perintah ini dan lima kali Suma Hok menggerakkan tangan dan setiap orang menerima sebutir pel yang meluncur masuk ke dalam mulut.
Mereka menelan pil itu dengan hati merasa lega dan girang sekali.
Suma Hok lalu menggerakkan kakinya, menendangi mereka berlima, tepat di tempat yang terluka sambil berkata.
"Sekarang, pergilah kalian!"
Lima orang itu terguling-guling, akan tetapi mereka merasa girang sekali karena tendangan itu agaknya merupakan cara pengobatan pula.
Mereka menjura dengan hormat ke arah Suma Hok, kemudian pergi melarikan diri dari tempat itu, diiringi suara tawa Suma Hok.
Dengan girang dan kagum sekali Kiok Lan kini berhadapan dengan Suma Hok.
Sejenak mereka saling pandang dan saling mengamati, kemudian Kiok Lan bertanya.
"Siapakah engkau yang begini lihai? Benarkah bahwa julukanmu adalah Tok-siauw-kwi?"
Suma Hok mengangguk dan tersenyum.
"Saya yang bodoh bernama Suma Hok dan memang orang di dunia kang-ouw memberi julukan Tok-siauw kwi kepadaku. Kalau boleh aku mengetahui, siapakah nama nona yang mulia?"
Sikap dan ucapan Suma Hok amat manis dan merendah-Memang pemuda ini terkenal sebagai seorang pemuda yang pandai merayu dan mengambil hati wanita cantik, sikapnya lemah lembut.
Kiok Lan terbelalak kagum.
"Aihh. kalau begitu, tentu engkau putera dari Kui-siauw Giam-ong Suma Koan, bukan?"
Diam-diam Suma Hok heran. Gadis ini mengenal nama besar ayahnya! Kalau begitu bukan gadis semharangan pula.
"Bagaimana engkau dapat menduga sedemikian tepat, nona? Bolehkah aku mengetahui siapa namamu dan mengapa pula nona berada di sini dikeroyok lima orang jembel busuk tadi?"
"Namaku Kiok Lan, dan kakakku pernah menerima ayahmu sebagai tamunya! Pernah kakakku menceritakan hal itu kepadaku dan mengatakan bahwa ayahmu adalah seorang di antara para datuk persilatan yang amat sakti. Siapa kira, hari ini aku bertemu dengan puteranya. Suma Taihiap, kalau begitu, marilah ikut denganku agar engkau dapat bertemu dengan kakakku. Dia tentu akan senang sekali bertemu putera Suma lo-cian pwe (orang tua gagah Suma)! Marilah, taihiap!"
"Siapakah kakakmu itu, nona!"
Akan tetapi gadis itu sudah memegang tangannya dan menariknya pergi dari situ.
"Kuberitahu juga engkau tidak akan tahu. Namanya Siauw Tek. Nah, engkau tidak mengenal nama itu, bukan? Marilah. Kakakku adalah seorang yang suka sekali berkenalan dengan orang pandai, dan dapat menghargainya. Mari kita menghadap kakakku!"
Suma Hok tersenyum dan timbul keinginan tahunya, siapa dan orang macam apa adanya kakak dari gadis cantik jelita ini.
Dia pun lalu mengikuti saja ketika gadis itu mengajaknya keluar dari dalam hutan dan mendaki sebuah bukit yang subur dan kehijauan.
Akhirnya, gadis itu mengajaknya ke sebuah rumah terpencil yang berada di lereng bukit itu.
Rumah besar yang sederhana, akan tetapi ketika gadis itu mengajaknya masuk ke dalam ruangan tamu, dia tercengang keheranan.
perabot ruangan itu seperti peabot ruangan rumah seorang bangsawan tinggi!
Kiok lan menyuruh dia menunggu di situ.
"Aku akan memberitahu kakakku. Akan tetapi mungkin sekarang dia sedang makan siang. Kau tunggulah di sini, taihiap, dan nikmatilah sekedar hidangan yarg, akan dikeluarkan pelayan nanti."
Iapun memasuki rumah itu dan Suma Hok menjadi semakin heran dan ingin tahu sekali.
Dia menanti dengan sabar sambil minum anggur sedap yang disuguhkan seorang pelayan.
Demikianlah.
Kiok Lan menceritakan pengalamannya kepada Siauw Tek.
Pouw Cin dan Bun Houw juga ikut mendengarkan kisah yang diceritakan secara menarik sekali oleh gadis yang pandai bicara dan lincah itu.
Di dalam hatinya Bun Houw tentu saja kaget bukan main mendengar nama Suma Hok, akan tetapi dia menahan perasaannya dan tidak memperlihatkan perasaan hatinya pada wajahnya.
"Tok-siauw-kui Suma Hok?"
Kata Pouw Cin setelah mendengar penuturan Kiok Lan.
Ketika terjadi perebutan Akar Bunga Gurun Pasir dan saya memimpin rombongan untuk merampasnya, saya melihat pula ayah dan putera Suma itu ikut pula berlumba untuk mendapatkan mustika itu.
Kongcu."
Siauw Tek mengangguk-angguk.
"Akupun masih ingat kepada datuk besar Suma Koan dan puteranya itu. Sekarang puteranya telah berada di sini, kalau dia dapat bekerja sama dengan kita, alangkah baiknya, Paman Pouw. Mari kita ke ruangan tamu menyambutnya, dan sebaiknya engkau ikut pula, Kwa-toako. Ketahuilah bahwa keluarga Suma merupakan keluarga datuk besar yang lihai sekali ilmunya."
"Koko, kalau Kwa-enghiong ini demikian hebat kepandaiannya dan merupakan ahli silat yang dapat menandingi Paman Pouw, tentu akan menarik sekali kalau dia bertemu dengan pendekar Suma Hok!"
Mendengar ini, Bun Houw tersenyum saja dan diapun merasa tegang hatinya karena tidak dapat membayangkan bagaimana nanti sikap Suma Hok kalau berhadapan muka dengan dia!
Baru beberapa bulan yang lalu dia bertemu dengan Suma Hok di rumah Bu-eng-kiam Ouwyang Sek.
ketika mereka berdua mempunyai maksud yang sama, yaitu meminang Hui Hong!
Dalam pertemuan itu, dia bahkan sempat bertanding dan mematahkan suling Suma Hok.
Suma Hok yang duduk seorang diri minum arak di ruangan tamu yang indah itu, segera bangkit berdiri ketika mendengar langkah kaki beberapa orang menuju ke ruangan itu.
Dia tersenyum ketika melihat Kiok Lan menggandeng tangan seorang laki-laki yang usianya kurang lebih dua puluh tahun, tampan anggun dan berwibawa.
Kemudian dia melihat Pouw Cin dan terkejut karena mengenal laki-laki setengah tua itu sebagai seorang bekas panglima kerajaan Liu-sung yang telah jatuh, panglima yang terkenal karena dahulu pernah memimpin rombongan utusun kerajaan Liu-sung untuk ikut berlumba memperebutkan mustika Akar Bunga Gurun Pasir!
Kemudian, wajahnya berobah kemerahan dan matanya terbelalak ketika dia melihat orang yang muncul paling akhir.
Hatinya saja yang berteriak kaget.
"Kwa Bun Houw ...!"
Akan tetapi mulutnya diam saja dan diapun kembali memandang kepada pemuda yang digandeng Kiok Lan itu.
"Suma-taihiap, inilah kakakku,"
Kata gadis itu.
Andaikata di situ tidak hadir Pouw Cin agaknya Suma Hok tidak akan mengenal pemuda kakak Kiok Lan itu.
Akan tetapi, kehadiran Pouw Cin mengingatkan dia akan sesuatu dan ketika dia memandang wajah pemuda itu penuh perhatian, tiba-tiba dia teringat dan diapun segera menjatuhkan diri berlutut menghadap pemuda itu.
"Sribaginda, mohon ampun karena hamba tidak tahu bahwa hamba akan menghadap paduka di sini ..."
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap Suma Hok, Bun Houw sendiripun terkejut bukan main.
Dia belum pernah bertemu dengan Kaisar Cang Bu yang nama kecilnya Liu Tek dari kerajaan Liu-sung yang telah jatuh, maka dia sama sekali tidak mengenalnya.
Tentu saja dia terkejut ketika melihat sikap Suma Hok, dan baru sekarang dia mengerti akan sikap pemuda yang mengaku bernama Siauw Tek itu.
Melihat sikap Suma Hok, wajah pemuda itu berseri akan tetapi hanya sebentar saja.
Dia menghela napas, melangkah maju dan memegang kedua pundak Suma Hok, menariknya agar bangun berdiri.
"Cukup, Suma-toako, jangan bersikap begitu. Saat ini, aku bukanlah kaisar dan tidak perlu engkau bersikap begitu. Aku adalah seorang pemuda bernama Siauw Tek, dan engkau boleh menyebutku Kongcu saja. Nah, duduklah, dan engkau juga, Kwa-toako!"
Mereka semua duduk mengelilingi meja besar dan sesaat pandang mata Bun Houw bertemu dengan pandang mata Suma Hok.
Kalau pandang mata Suma Hok nampak gelisah, Bun Houw bersikap tenang saja.
Tentu saja hati Suma Hok merasa gelisah.
Pertama karena dia tahu benar betapa Bun Houw kini telah menjadi seorang yang amat lihai, bahkan sedemikian lihainya sehingga pemuda itu mampu mengalahkan Ouwyang Sek, juga mampu menandiugi ayahnya!
Dan yang lebih menggelisahkan adalah bahwa pemuda saingannya itu adalah murid Tiauw Sun Ong, seorang bekas pangeran yang tentu saja masih ada hubungan keluarga dengan bekas Kaisar Cang Bu yang kini menjadi pemuda bernama Siauw Tek itu.
Tentu saja Suma Hok sama sekali tidak menduga bahwa saingannya itu bahkan sama sekali belum tahu bahwa Siauw Tek adalah bekas Kaisar Cang Bu!
Dan baru sekarang Bun Houw mengetahuinya.
"Kwa-toako, engkau tidak kelihatan heran mendengar bahwa aku adalah bekas Kaisar kerajaan Liu-sung. Apakah engkau sudah dapat menduga sebelumnya?"
Bekas kaisar itu bertanya kepada Bun Houw. Bun Houw menggeleng kepala.
"Tidak sama sekali, Kongcu. Baru sekarang aku mengetahui. Baru sekarang aku tahu bahwa Kongcu adalah seorang bekas kaisar, dan tentu nona ini seorang puteri dan Paman Pouw seorang bekas panglima."
Kini Suma Hok juga kelihatan heran, juga dia merasa lega.
Setidaknya, kini dia menjadi jelas bahwa tidak terdapat hubungan yang erat antara Bun Houw dan bekas kaisar itu yang dapat membahayakan dia.
Kembali dua orang pemuda yang bersaingan itu saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
"Apakah kalian berdua sudah saling mengenai?"
Tiba-tiba Kiok Lan bertanya dengan suara riang. Bun Houw mengangguk.
"Saya sudah mendapat kehormatan beberapa kali bertemu dengan saudara Suma Hok,"
Dalam suaranya, tidak terkandung sesuatu.
Suma Hok adalah seorang pemuda yang cerdik.
Kalau tadi dia banyak berdiam diri adalah karena dia khawatir kalau-kalau Bun Houw mempunyai hubungan dekat dengan tuan rumah.
Sekarang, setelah dia mengerti bahwa Bun Houw agaknya juga hanya seorang tamu baru, bahkan agaknya baru mengenal Kiok Lan sekarang, hatinya merasa lega dan dia cepat dapat membawa diri.
Dia bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Bun Houw.
"Ah, sungguh merupakan kejutan yang menggembirakan bahwa di sini aku dapat bertemu denganmu, saudara Kwa Bun Houw! Saking kagetku, sampai beberapa lamanya aku kehilangan suara! Memang benar apa yang telah dikatakan saudara Kwa Bun Houw tadi, kami memang pernah beberapa kali bertemu, akan tetapi kami mempunyai jalan masing-masing. Eh, hampir aku lupa, Saudara Kwa Bun Houw, sudah terlalu lama aku menyimpan benda yang pernah kautitipkan kepadaku harap kau suka menerimanya kembali sekarang!"
Dia mengambil sesuatu dari balik jubahnya dan ketika dia menyerahkan benda itu kepada Bun Houw, diam-diam Bun Houw tersenyum geli dan juga kagum akan kecerdikan orang ini.
Yang dikeluarkan dan diserahkan kepadanya adalah pundi-pundi uang, bekalnya dalam kantung pemberian gurunya tempo hari yang pernah dirampas oleh Suma Hok!
Ternyata pundi-pundi itu masih utuh!
Karena diapun tidak ingin melibatkan urusan pribadinya dengan keluarga bekas kaisar ini, maka diapun menerima pundi-pundi itu dan berkata.
"Terima kasih, saudara Suma Hok."
Dan menyimpan pundi-pundi itu ke balik bajunya.
Biarpun kedua orang pemuda itu bersikap ramah dan saling merendah, namun sesuatu yang dirasakan tidak wajar tertangkap oleh Kiok Lan yang memang amat cerdik dan berpemandangan tajam.
Ia memandang berganti-ganti kepada dua orang pemuda itu seperti hendak menembus dan menjenguk isi hati mereka dengan mulut tersenyum penuh arti sehingga Suma Hok dan Bun Houw yang bertemu pandang dengannya, terpaksa menundukkan mata.
Tiba-tiba gadis itu berkata dengan suara nyaring, mengejutkan hati kedua orang pemuda itu.
"Koko, bagaimana kalau kedua orang jago kita ini kita adukan? Aku berani bertaruh bahwa jagoku, Suma-taihiap, akan menang melawan jagomu, yaitu Kwa-enghiong itu."
"Ah. jangan bicara yang bukan-bukan, siauw moi!"
Siauw Tek berseru, kaget juga dengan gagasan adiknya ini, walaupun hal itu sebenarnya menarik baginya.
Akan tetap, dia tidak, ingin kehilangan kedua orang ini ingin menarik mereka untuk bekerja dengan dia, memperkuat posisinya.
Sebaiknya, bersama Paman Pouw, engkau mengantarkan dua orang tamu kita untuk melihat-lihat kekuatan kita.
Malam nanti baru aku ingin bicara dan berbincang-bincang dengan mereka."
Bun Houw merasa tidak enak.
"Maaf Kongcu. Aku tidak dapat tinggal lebih lama."
"Kwa-twako! Kami mengharap dengan hormat dan sangat agar engkau suka tinggal beberapa hari di sini, setidaknya malam ini engkau bermalam di rumah kami!"
Kata Siauw Tek dengan suara mengharap.
"Aih, kenapa Kwa-enghiong mau tergesa-gesa pergi saja setelah aku pulang? Apakah engkau tidak suka dengan kehadiranku? Kalai begitu, aku akan menjauhkan diri darirnu ..."Ah, sama sekali tidak, nona."
Bun Houy cepat-cepat berseru, tidak tahu bahwa dia kena diakali oleh gadis itu yang sengaja mengeluarkan ucapan itu untuk membuat dia menjadi serba salah dan tidak dapat menolak lagi.
"Kalau begitu, tidak ada halangannya bagimu untuk bermalam di sini, toako."
Siauw Tek mendesak pula.
"Kami ingin memperlihatkan keadaan kami padamu."
"Tapi, aku sudah memesan sebuah kamar di penginapan, di sudut kota, pakaianku juga masih kutinggalkan di sana dan ..."
"Ah. jangan khawatir Kwa-enghiong. Kami akan menyuruh orang mengambilnya dan semua akan beres!"
Kata Pouw Cin.
"Marilah, Siocia, kita mengajak kedua orang tamu dan sahabat kita untuk melihat-lihat keadaan dan kedudukan kita."
Terpaksa Bun Houw tak dapat menolak lagi.
Bagaimanapun juga.
dia memang ingin mengetahui apa yarg sedang dilakukan oleb bekas kaisar itu, dan apa pula niatnya maka berkeras menahannya.
Dan gadis bekas puteri itu demikian cantik dan lincah, mengingatkan dia kepada Hui Hong!
Banyak persamaan antara kedua orang radis itu, keduanya berdarah bangsawan pula dan mengingat bahwa Hui Hong adalah puteri kandung gurunya, seorang bekas pangeran kerajaan Liu-sung pula, maka tidak akan mengherankan kalau di antara kedua orang gadis itu masih ada hubungan darah atau keluarga.
Selain itu, keadaan bekas kaisar ini amat menarik dan tentu akan merupakan, berita yang amat penting bagi gurunya.
Mereka berempat menunggang kuda mendaki bukit-bukit di sepanjang Sungai Yang-ce dan dari puncak bukit, Pouw Cin menunjuk ke arah bangunan seperti benteng.
Ada empat tempat seperti itu dan Pouw Cin menerangkan bahwa di setiap benteng terdapat pasukan yang tidak kurang dari seribu orang jumlahnya!
Pimpinan pasukan terdiri dari orang-orang kang-ouw yang pandai ilmu silat dan ilmu perang.
Kongcu masih terus menarik dan mengumpulkan orang-orang gagah untuk memperkuat pasukan kami itu."
Demikian Pouw Cin memberi keterangan. Dua orang pemuda itu diam-diam terkejut. Tak mereka sangka bahwa bekas kaisar yang muda itu dapat menyusun kekuatan seperti itu.
"Akan tetapi, untuk apa menyusun pasukan di perbentengan itu?"
Bun Houw bertanya, walaupun di dalam hatinya dia dapat menduga bahwa bekas kaisar itu tentu mengusahakan pemberontakan untuk merampas kembali tahta kerajaan yang sudah lepas dari tangannya.
Dia hendak membangun kembali kerajaan Liu-sung yang telah jatuh, untuk menundukkan kerajaan baru Chi yang berkuasa.
"Nanti Kongcu akan memberi penjelasan serdiri kepada ji wi (kalian berdua) kalau kita sudah kembali ke sana,"
Pouw Cin menjawab dengan singkat.
Jelas bahwa dia tidak berani dan merasa tidak berwenang untuk bicara tentang cita-cita bekas kaisar kerajaan Liu-sung itu.
Dalam perjalanan kembali ke tempat tinggal Siauw Tek, Suma Hok telah mengambil keputusan.
Inilah jalan yang amat luas baginya, kesempatan untuk mencapai apa yang dia inginkan.
Kalau dia dapat menjadi pembantu yang dipercaya oleh bekas kaisar itu, banyak sekali keuntungan yang akan diperolehnya.
Sebelum bekas kaisar itu berhasil dengan cita-citanya, dia tentu telah mendapatkan kekuasaan atas pasukan, kalau dia menjadi pembantu utama.
Apalagi kalau sampai bekas kaisar itu berhasil dalam perjuangannya merampas kembali singgasana.
Tentu dia akan menjadi seorang pejabat tinggi, mungkin menteri, atau setidaknya panglima besar.
Dia akan memegang, kekuasaan begitu diterima menjadi pembantu bekas kaisar itu.
Keuntungan ke dua, dia dapat berdekatan dengan Pouw Kiok Lan, gadis bekas puteri istana yang cantik jelita itu.
Kalau dia dapat memperisterinya, berarti dia menjadi adik ipar bekas kaisar, ataukah calon kaisar baru?
Puteri ini akan dikawini demi memperoleh pangkat dan kekuasaan, sedangkan cintanya terhadap Hui Hong tidak akan berubah, bahkan pernikahannya dengan Hui Hong semakin banyak harapan terlaksana.
Dengan adanya pasukan, tentu tidak sukar untuk mendapatkan Akar Bunga Gurun Pasir, dan dia-pun nanti dapat minta keterangan Pouw Cin di mana akar itu sekarang.
Diapun dapat menyebar anak buah pasukan itu untuk mencari Hui Hong sampai dapat!
Sungguh berbeda sekali isi hati Suma Hok dengan isi hati Bun Houw.
Dia tahu bahwa jatuhnya kerajaan Liu-sung yang kemudian diganti kerajaan Chi merupakan perang saudara.
Kini, bekas kaisar Liu-sung yang kalah itu menyusun kekuatan.
Perang saudara akan berlarut-larut, menimbulkan banyak korban di antara anak buah pasukan dan rakyat.
Dia tidak mau terlibat perang saudara, tidak ingin menjadi satu di antara boneka-boneka yang disuruh saling bunuh demi kepentingan anggauta keluarga yang saling berebutan kekuasaan itu.
Apalagi, gurunya berkata bahwa penggantian kaisar yang terjadi itu bahkan baik, karena menurut gurunya.
Kaisar Cang Bu yang telah jatuh itu bukanlah kaisar yang cakap dan bijaksana, terlalu muda dan mudah terpengaruh oleh menteri-menteri yang palsu dan korup.
Juga gurunya berkata bahwa penggantian kaisar itu bahkan lebih baik.
Kalau kini dia melibatkan diri dalam usaha perjuangan atau pemberontakan bekas kaisar itu, berarti dia ikut saling bunuh dengan saudara sebangsa, demi kepentingan kaisar yang udah jatuh itu.
Selain itu, menurut pendapatnya, usaha yang lebih merupakan pembatasan atau perebutan kekuasaan yang diadakan bekas kaisar ini, tidak akan berhasil.
Apa artinya beberapa ribu orang pasukan dibandingkan dengan balatentara kerajaan Chi yang tentu amat besar jumlahnya?
Selain itu, perjuangan menentang kekuasaan yang ada baru akan berhasil kalau dibantu oleh rakyat, dan rakyat baru akan mau membantu kalau kekuasaan itu dirasakan menindas dan jahat bagi rakyat.
Tanpa bantuan rakyat, usaha perjuangan tak mungkin berhasil.
Dan Bun Houw tidak melihat adanya dukungan rakyat jelata terhadap gerakan Siauw Tek ini, bahkan rakyat tidak mengetahuinya karena gerakan itu dilakukan secara rahasia.
Perjalanan meninjau perbentengan itu cukup jauh sehingga ketika mereka kembali ke rumah besar itu, matahari telah tenggelam ke barat dan cuaca sudah remang-remang, malam menjelang tiba.
Rumah itu telah diterangi banyak lampu, seolah dalam keadaan pesta menyambut dua orang tamu agung itu.
Suma Hok dan Bun Houw dipersilakan ke kamar masing-masing, dua buah kamar yang terpisah dan Bun Houw mendapatkan bahwa buntalan pakaian yang tadinya dia tinggalkan di rumah penginapan itu telah berada di dalam kamar itu.
Seorang pelayan pria melayani keperluan Bun Houw, mempersiapkan air untuk mandi dan setelah mandi dan berganti pakaian, Bun Houw menerima undangan tuan rumah untuk makan malam di ruangan makan.
Bun Houw memasuki ruangan itu dan ternyata Suma Hok telah berada di situ.
Seperti siang tadi, Pouw Cin menemani mereka yang dijamu oleh Siauw Tek dan Kiok Lan.
Wanita-wanita muda yang cantik kini diperkenankan melayani mereka makan minum dan suasana makan malam itu cukup gembira.
Apalagi karena Suma Hok sudah kelihatan akrab dengan Siauw Tek dan terutama sekali dengan Kiok Lan.
Pemuda, putera majikan Bukit Bayangan Iblis ini memang pandai merayu, halus tutur sapanya, dan selain ilmu silat tinggi, juga dia mengenal baik kesusasteraan dan pandai bermain suling dengan lagu-lagu merdu.
Maka dengan mudah dia dapat menarik perhatian kakak beradik bangsawan itu dan menjadi akrab dengan mereka.
Dengan caranya yang halus dan cerdik, tadi Suma Hok dapat mendahului Bun Houw menemui Siauw Tek dan Kiok Lan, dan dengan pandai sekali dia memancing mereka untuk mendengar pendapat mereka tentang aib yang terjadi di istana ketika Pangeran Tiauw Sun Ong berjina dengan seorang selir kaisar.
Dia mengatakan bahwa dia pernah mendengar peristiwa itu di luaran, dan apakah bekas kaisar itu tahu akan hal itu?
Mendengar ini, kakak beradik itu saling pandang, kemudian Siauw Tek mengerutkan alis dan berseru.
"Ahh, jadi peristiwa itu sudah pula tersiar di luar istana? Memang aib yang amat memalukan. Terjadi ketika aku masih kecil, berusia tiga tahun kurang lebih. Aku mendengar peristiwa aib itu dari cerita para orang tua di istana."
"Jadi benarkah peristiwa itu, Kongcu? Tadinya saya kira hanya berita bohong belaka, karena di dunia kang-ouw, Tiauw Sun Ong muncul sebagai seorang tokoh yang lihai. Akan tetapi dia buta, bagaimana mungkin seorang selir kaisar ... maaf, dapat tertarik kepada seorang pangeran buta?"
Sebetulnya Suma Hok sudah tahu akan persoalannya, akan tetapi dia pura-pura tidak tahu untuk memancing dan melihat bagaimana sikap bekas kaisar ini terhadap Tiauw Sun Ong.
"Tadinya Paman Pangeran Tiauw Sun Ong tidak buta. Dia seorang pangeran yang tampan dan selir ... eh, selir mendiang ayahku itu tergila-gila kepadanya. Setelah perbuatan mereka ketahuan, Paman Tiauw Sun Ong membutakan mata sendiri dan meninggalkan istana. Adapun selir ayah itu dihukum buang, Ah, tidak perlu kita bicara tentang aib yang menjengkelkan itu!"
"Akan tetapi, kenapa yang melakukan aib menodai nama yang mulia dari Kaisar, tidak dihukum mati?"
Suma Hok memancing. Siauw Tek mengepal tinju.
"Sepatutnya memang dia dihukum mati! Akan tetapi dia adalah adik mendiang ayah, dan dia sudah membutakan kedua matanya, ayah mengampuninya."
"Ah, mendiang ayah memang terlalu lunak,"
Kata Kiok Lan.
"Dosa itu teramat besar, menodai nama dan kehormatan seluruh keluarga. Karena kelemahan ayah, maka sampai sekarang dia masih hidup dan tentu saja peristiwa itu menjadi dongeng dan diketahui banyak orang. Coba andaikata ketika itu dia dan perempuan itu dihukum mati, mungkin berita itu tidak sampai tersebar."
"Engkau benar, adikku. Memang mendiang ayah terlalu lemah. Bahkan kabarnya, selir yang menyeleweng itupun tidak sampai mati. di dalam perjalanan, para pengawalnya dibunuh orang dan ia lenyap entah ke mana."
Kini yakinlah Suma Hok bahwa kakak beradik bangsawan ini tidak suka kepada Tiauw Sun Ong dan hal ini menyenangkan hatinya.
Setidaknya dia memiliki senjata ampuh untuk menarik kedua orang ini berpihak kepadanya kalau dia bentrok dengan Bun Houw.
Pada saat itulah, Bun Houw memasuki ruangan makan dan tentu saja percakapan itu terhenti.
Setelah selesai makan minum, sekali ini Siauw Tek mengajak mereka bercakap-cakap di ruangan dalam, tidak lagi di ruangan tamu.
Hal ini saja sudah menunjukkan bahwa dia mulai percaya kepada kedua orang tamunya.
Setelah duduk diruangan dalam yang lebih mewah keadaannya ini, Siauw Tek bertanya kepada kedua orang tamunya.
"Bagaimana, apakah kalian berdua sudah menyaksikan keadaan kami dan apa pendapat kalian?"
Suma Hok cepat menjawab.
"Wah, hebat sekali, Kongcu. Pasukan-pasukan dengan empat benteng itu amat kuat, dan kalau mendapat pimpinan seorang ahli, tentu dapat menjadi kekuatan yang dahsyat!"
Siauw Tek senang dengan pendapat ini dan dia tersenyum bangga, akan tetapi melihat Bun Houw diam saja, dia bertanya. Bagaimana pendapatmu, Kwa-toako? Cukup kuatkah pasukan yang sudah kami himpun?"
Bun Houw menjawab dengan tenang.
"Saya kira, tergantung dari penggunaannya, Kongcu."
"Apa maksudmu, toako?"
"Seperti sepotong pisau dapur, terlalu besar untuk mencukur jenggot dan terlalu kecil untuk bertempur di medan perang."
Siauw Tek mengangguk dan tersenyum.
"Jawabanmu memang tepat akan tetapi terlalu berhati-hati, Kwa-toako. Baiklah, sekarang kalian berdua dengarkan dulu tentang keadaan diriku semenjak kerajaan Liu-sung dikhianati para pemberontak yang kini membangun kerajaan Chi itu."
Bekas kaisar itu lalu bercerita.
Pemberontakan yang dilakukan oleh Siauw Hui Kong dan kawan-kawannya, yaitu juga anggauta keluarga kaisar dari pihak wanita, menimbulkan perang saudara selama tiga tahun, dimulai dari tahun 476 dan berakhir tiga tahun kemudian, yaitu pada tahun 479 dengan jatuhnya kerajaan Liu-sung.
Siauw Hui Kong mengangkat diri menjadi Kaisar Siauw Bian Ong kaisar yang mendirikan dinasti atau kerajaan Chi.
Dalam penyerbuan itu, Siauw Hui Kong dan sekutunya masih memberi kelonggaran kepada keluarga kaisar untuk melarikan diri.
Akan tetapi mereka yang melakukan perlawanan, semua tertumpas dan binasa.
Kaisar Cang Bu sendiri yang ketika itu berusia tujuh belas tahun, melarikan diri dengan dikawal oleh Panglima Pouw Cin.
Dalam pelarian ini terbawa pula beberapa orang selir dan juga Kiok Lan yang baru berusia dua belas tahun ikut pula lari mengungsi bersama kakak tirinya.
Kiok Lan dan Kaisar Cang Bu seayah berlainan ibu, karena Kiok Lan beribu dari seorang selir.
Sesungguhnya, kalau pihak lawan, yaitu pihak keluarga Siauw yang memberontak, menghendaki pelarian bekas kaisar itu tentu akan gagal dan akan mudah saja menangkapnya rombongan pengungsi ini.
Akan tetapi karena memang masih ada hubungan keluarga, agaknya pihak yang menang memang sengaja bersikap longgar, membiarkan pihak yang kalah untuk mengungsi.
"Demikianlah, ji-wi tahu bahwa setelah, kehilangan mahkota, terpaksa aku menyamar sebagai orang biasa, menggunakan nama kecilku, yaitu Liu Tek dan kusingkat menjadi Siauw Tek, agar selain tidak dikenal orang, juga aku sengaja menggunakan nama keluarga kaisar yang sekarang. Tentu saja, setema lima tahun ini, sejak keluar dari istana, aku tidak pernah melupakan kekalahan ini. Aku, dibantu oleh Paman Pouw, mulai menghimpun kekuatan karena kami bercita-cita untuk merampas kembali singgasana dan mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang telah dikhianati oleh keluarga Siauw yang kini mendirikan dinasti Chi. Kami mengundang sebanyaknya orang-orang pandai seluruh negeri untuk membantu kami. Karena itu, setelah bertemu dengan ji-wi, kami juga menawarkan kepada ji-wi agar suka membantu kami. Percayalah, kalau sampai cita-cita kami terlaksana, dan kami dapat mendirikan lagi kerajaan Liu-sung, kalian berdua akan menerima anugerah kedudukan yang tinggi dalam kerajaan kami. Kami tidak minta jawaban sekarang. Sebaiknya, ji-wi (kalian) mempertimbangkan permintaan kami itu semalam ini sambil beristirahat dalam kamar ji-wi masing-masing. Besok pagi kami mengharapkan jawaban dan keputusan yang pasti."
Tadinya Bun Houw ingin menyatakan keputusannya pada malam itu juga, yaitu menolak tawaran bekas kaisar itu untuk membantu gerakannya hendak memberontak.
Akan tetapi karena Siauw Tek memberi waktu semalam untuk mengambil keputusan, diapun merasa tidak enak kalau menolak seketika tanpa dipertimbangkan dulu.
Di dalam kamarnya, Bun Houw duduk bersila di atas pembaringan, termenung.
Dia dapat menduga bahwa orang yang berjiwa petualang seperti Suma Hok, yang hendak mencari keuntungan bagi diri sendiri saja, tentu tertarik oleh penawaran bekas kaisar itu.
Apalagi dia melihat sinar mata pemuda pesolek itu ketika memandang Kiok Lan, ia tidak ragu lagi bahwa Suma Hok pastikan menerima penawaran itu.
Akan tetapi dia tidak akan menerimanya, dia akan menolak dengan halus.
Dia masih mempunyai tugas, yaitu mencari Hui Hong.
Dan pengalamannya dengan bekas kaisar ini sudah merupakan suatu berita yang amat menarik bagi gurunya, selain itu, diapun akan melaksanakan pesan gurunya menyelidiki keadaan pemerintahan Kerajaan Chi yang baru itu.
Daun pintu terketuk.
Bun Houw merasa heran.
Malam telah larut, mungkin sudah hampir tengah malam.
Siapa yang mengetuk pintu kamarnya?
Ketukan itu lirih dan pendengarannya yang tajam menangkap gerakan kaki ringan di luar pintu.
Seorang wanita di depan pintu kamarnya!
Siapa?
Mau apa?
Dia memang mengunci daun pintu dari dalam.
Dia berada di bawah satu atap dengan seorang seperti Suma Hok, maka dia harus berhati-hati.
Tidak dapat diduga apa yang akan dilakukan oleh pemuda yang kejam dan licik bagaikan iblis itu.
"Siapa di luar?"
Bun Houw bertanya sambil menghampiri pintu.
"Saya, Kwa-kongcu. Harap suka membuka pintu, saya mempunyai kepentingan untuk dibicarakan denganmu."
Terdengar suara wanita yang merdu.
Bukan suara Kiok Lan, pikir Bun Houw yang menjadi semakin heran.
Dia membuka kunci daun pintu dan masuklah seorang wanita muda yang cantik manis.
Begitu ia masuk, tercium bau yang harum dari pakaiannya.
Bun Houw mengenal wanita ini sebagai seorang di antara lima wanita cantik yang melayani ketika dia dan tuan rumah makan, lalu muncul Kiok Lan menyuruh lima orang wanita yang disebutnya enci itu agar tidak melayani mereka lagi.
Wanita ini usianya tidak akan lebih dari dua puluh tahun, cantik manis dan di balik kerling mata dan senyumnya tersembunyi kegenitan dan gairah.
"Eh, kenapa nona masuk ke sini? Ada urusan penting apa yang akan dibicarakan?"
Tanya Bun Houw, alisnya berkerut karena tidak senang melihat seorang wanita muda memasuki kamarnya.
Kalau kelihatan tuan rumah, tentu akan menyangka yang bukan-bukan.
Akan tetapi, kesopanan melarangnya untuk mengusir begitu saja.
Gadis itu menundukkan mukanya, akan tetapi matanya mengerling ke samping atas, ke arah wajah Bun Houw dan senyumnya dikulum.
Memang gaya ini membuat ia nampak manis dan menarik sekali, sikap jinak-jinak merpati!
"Kwa-kongcu, saya bernama Yo Leng Liwa, biasa disebut Leng Leng, berusia sembilan belas tahun ..."
"Ya, ya ... akan tetapi mau apa engkau masuk ke sini? Ada kepentingan apa ... ?"
Bun Houw memotong tak sabar. Kembali kerling itu menyambar dan senyum itu melebar. Segumpal rambut jatuh berderai di leher yang panjang dan berkulit putih mulus itu.
"Kongcu, malam begini dingin dan sunyi dan kongcu berada seorang diri saja di dalam kamar, saya pikir saya ... saya dapat menemani kongcu, menghibur kongcu dan melakukan apa saja untuk melayani kongcu."
Katanya dengan suara setengah berbisik, dan kata-katanya berlagu seperti orang bersenandung.
Wajah Bun Houw berubah kemerahan.
Tentu saja dia mengerti apa yang dimaksudkan wanita ini.
Wanita muda cantik genit ini merayunya.
Akan tetapi dia menahan kemarahannya dan tidak menghardiknya karena tiba-tiba timbul kecurigaan dalam hatinya.
Dia baru pertama kali bertemu wanita ini, di antara empat orang rekannya, itupun ketika mereka melayaninya makan.
Tidak mungkin kalau dalam pertemuan singkat itu, wanita ini lalu jatuh hati kepadanya!
Dan kiranya, tidak akan mungkin wanita ini berani begitu merayunya.
Bukankah dia seorang tamu dihormati?
Dan gadis ini juga bukan pelayan?
Ada pelayan lain dan agaknya orang itu mempunyai kedudukan yang cukup terhormat di rumah itu.
Bukankah Kiok Lan adik bekas kaisar itu sendiri juga menyebut mereka berlima itu dengan sebutan enci?
Dia menduga bahwa gadis ini, seperti empat yang lain tentulah semacam dayang atau lebih tepat lagi, selir-selir dari bekas kaisar itu.
Dan kini, kalau ia berani memasuki kamarnya, menawarkan diri untuk melayani dan menghiburnya, jelas bahwa hal ini tentu merupakan tugas baginya.
Tentu ada yang memerintahnya?
Suma Hok Memfitnah Pouw Cin TIBA-TIBA sinar matanya mencorong ketika dia berkata.
"Nona, coba angkat mukamu dan kau pandang aku!!"
Gadis itu mengangkat mukanya yang cantik dan memberanikan diri memandang.
Dua pasang mata bertemu dan gadis itu terkejut melihat mata yang mencorong penuh kekuatan itu.
Ia ingin menundukkan kembali mukanya, akan tetapi tidak mampu, serasa ada kekuatan dari sepasang mata yang mencorong itu yang mengikat dan menahan pandang matanya sehingga tak dapat ditundukkan.
"Nona, engkau tentulah seorang selir dari Siauw Kongcu, bekas kaisar itu, bukan?"
Tanya Bun Houw.
"Benar, kongcu,"
Jawab Leng Leng dengan lirih dan kini sikap rayuannya lenyap, berubah menjadi khawatir.
"Hemm, kalau engkau sudah menjadi selirnya, kenapa malam-malam begini berusaha menggodaku? Apakah engkau ini jenis isteri yang tidak setia dan suka melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain?"
Wajah yang cantik itu tiba-tiba berubah merah dan mata itu mengeluarkan sinar merah.
"Kwa-kongcu, jangan menuduh sembarangan! Aku adalah seorang isteri yang setia dan taat kepada suami. Andaikata suamiku menyuruh aku menyerahkan nyawa sekalipun akan kutaati, apalagi hanya menyerahkan badan. Aku hanya meliksanakan tugas, mentaati perintah."
Diam-diam Bun Houw merasa iba kepada gadis ini.
Tahulah dia bahwa ini merupakan satu di antara cara dan akal bekas kaisar itu untuk membujuk dan menarik seseorang menjadi pembantunya.
Agaknya bekas kaisar itu tahu bahwa dia tidak akan tergiur kedudukan atau harta, maka dipergunakanlah seorang di antara selirnya untuk membujuk rayu.
Dan dia percaya bahwa tentu banyak pria perkasa yang jatuh oleh kecantikan selir-selir itu.
"Kalau begitu, kembalilah engkau kepada suamimu dan katakan kepadanya bahwa engkau adalah seorang isteri yang baik dan mencinta suami, bahwa dia tidak sepatutnya menyuruh engkau membujuk rayu seorang tamu. Katakan bahwa aku berterima kasih, akan tetapi aku tidak suka menghancurkan martabat dan perasaan hati seorang wanita yang terpaksa demi cinta dan kesetiaannya kepada suami, mau melakukan apa saja yang diperintahkan suami, bahkan menyerahkan diri dan kehormatannya kepada laki-laki lain. Pergilah, nona."
Selir yang cantik itu menatapnya dengan sepasang matanya yang indah, kemudian kedua mata yang tadinya bengong memandang heran, perlahan-lahan menjadi basah air mata.
"Baik. dan maafkan saya, kongcu."
Katanya dengan suara gemetar mengandung isak, lalu wanita itupun keluar dari kamar dengan langkah-langkah gontai.
Seorang wanita yang memiliki daya tarik kuat sekali pada wajah dan bentuk tubuhnya, Bun Houw menggumam sambil menutupkan daun pintu dan menguncinya kembali.
Dia duduk bersila kembali ke atas pembaringan dan tersenyum.
Yang jelas, kalau tidak ada dua hal yang menolongnya, yang mendatangkan kekuatan di batinnya, bukan hal aneh kalau tadi diapun bertekuk lutut dan terlena dalam pelukan wanita cantik tadi.
Dua hal itu pertama-tama adalah pengalaman gurunya yang pernah berjina dengan seorang selir kakaknya dan yang kemudian mendatangkan akibat yang amat hebat dan pahit dalam kehidupan gurunya.
Selain itu juga pengalamannya sendiri dengan Cia Ling Ay yang mendatangkan akibat pahit pula.
Adapun hal kedua adalah cintanya terhadap Hui Hong membuat dia tidak ingin dimiliki dan memiliki wanita lain.
Perasaan tidak enak dalam hati Bun Houw bahwa dia berada di bawah satu atap dengan Suma Hok, ternyata bukan perasaan kosong belaka.
Dia tidak dapat menduga apa yang akan dilakukan oleh pemuda licik itu.
Di luar tahunya, setelah mereka tadi saling berpisah dari ruangan dalam, Suma Hok juga menerima kunjungan seorang selir bekas kaisar itu yang datang hendak membujuknya.
Dan pemuda yang amat cerdik ini, walaupun melihat selir itu seperti seekor kucing melihat dendeng yang membuatnya mengilar, namun demi pengejaran yang lebih tinggi, dia bersikap sopan dan menolak wanita yang disuguhkan kepadanya itu!
Dan dia bahkan mengikuti wanita itu kembali ke kamar Siauw Tek kemudian dia membisikkan hal yang penting bagi bekas kaisar itu.
"Saya menghaturkan terima kasih atas budi kebaikan Kongcu,"
Katanya sambil mengantarkan kembali selir itu.
"Akan tetapi harap Kongcu maafkan, saya tidak suka berganti dengan wanita yang bukan milik saya. Selain itu, saya ingin menyampaikan hal yang saya kira amat penting bagi kongcu, mengenai diri Kwa Bun Houw."
Diam-diam Siauw Tek memuji pemuda ini. Seorang pemuda yang tidak lemah terhadap godaan wanita.
"Suma toako, ada urusan apakah? Apa yang hendak kau sampaikan mengenai diri Kwa-toako?"
"Hendaknya kongcu bersikap waspada karena Kwa Bun Houw itu adalah seorang yang berbahaya sekali."
"Kaumaksudkan dia lihai? Hal itu kami sudah tahu, toako. Kami sudah menguji kepandaiannya dan dia mampu mengalahkan Paman Pouw dengan mudah."
"Bukan itu saja, Kongcu. Akan tetapi ada satu hal yang Kongcu belum ketahui sehingga tidak melihat bahaya yang mengancam diri kongcu sekarang. Ketahuilah bahwa Kwa Bun Houw adalah murid bekas Pangeran Tiauw Sun Ong!"
"Ahhh ...?!?"
Bekas kaisar itu berseru kaget dan mukanya berubah agak pucat.
"Kalau begitu ... apa maunya dia mau menerima undanganku?"
"Hemm, tidak sukar diduga, Kongcu. Sepanjang pengetahuanku, bekas pangeran Tiauw Sun Ong sama sekali tidak berbuat sesuatu ketika kerajaan Kongcu dijatuhkan oleh keluarga Siauw. Itu saja menjadi bukti bahwa diam-diam Tiauw Sun Ong tentu mendendam kepada mendiang ayah Kongcu! Dan sekarang muridnya berada di sini aku tidak akan heran kalau dia mewakili gurunya, melakukan tugas mata-mata demi kepentingan kerajaan Chi."
"Ahh! Kalau begitu, kita hatus cepat turun tangan! Kita harus membunuhnya sekarang juga!"
Kata bekas kaisar itu dan Suma Hok tersenyum.
Bekas kaisar ini demikian lemah dan bodoh, pikirnya.
Pantas saja kerajaannya jatuh.
Kalau orang ini berhasil menjadi kaisar kembali dan dia dapat menjadi perdana menterinya, tentu dia akan mudah dapat menguasainya!
"Harap paduka tenang dulu.
Kita harus berhati-hati dan jangan mengagetkan ular dalam semak.
Kita pura-pura tidak tahu lebih dulu agar dia tidak curiga dan tidak melarikan diri.
Ilmu silatnya lihai bukan main.
Kita harus mengatur siasat untuk dapat menangkap atau membunuhnya."
Suma Hok berbisik-bisik dan malam itu juga Pouw Cin di panggil untuk mengatur siasat.
Siauw Tek merahasiakan siasat itu dari adiknya karena dia maklum betapa aneh watak adiknya itu, kadang berani menentangnya.
Ketika selirnya yang tadinya diutus untuk membujuk-rayu Bun Houw kembali kepadanya dan melapor bahwa Bun Houw menolak halus, makin besar kecurigaan Siauw Tek yang sudah dapat dibakar oleh Suma Hok.
Kini Suma Hok menambahkan.
"Nah, jelas bahwa dia berniat buruk. Aku, pernah mendengar bahwa Bun Houw seorang laki-laki mata keranjang, seperti juga gurunya. Kalau sekarang dia menolak pelayanan seorang wanita cantik, hal ini patut dicurigai. Pasti dia tidak ingin terbujuk agar dapat melakukan tugasnya memata-matai keadaan kongcu dengan baik."
Siauw Tek mengangguk-angguk, menyetujui pendapat pembantu barunya itu.
Dia teringat akan bekas pamannya, yaitu Pangeran Tiauw Sun Ong.
Bekas pangeran itu dahulu terkenal sebagai seorang pria yang menaklukkan hati banyak wanita, bahkan tidak segan berjina dengan selir ayahnya.
Kini bekas pangeran itu menjadi guru Kwa Bun Houw.
Kalau gurunya seperti itu, muridnya dapat dibayangkan wataknya.
Akan tetapi, Pouw Cin masih ragu-ragu.
Bekas panglima ini adalah seorang yang sudah berpengalaman.
Setelah bertemu dengan Bun Houw dan menguji kepandaiannya, dia sudah dapat menilai pemuda itu sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan halus budi pekertinya.
Sama sekali tidak kejam.
Hal ini terbukti ketika dia dikalahkan pemuda itu.
tanpa sedikitpun menderita luka.
Di samping ini, diapun seorang yang amat setia kepada bekas kaisar itu, maka tentu saja dia tidak pernah membantah perintah Siauw Tek, selalu mentaatinya dengan membuta.
Dan diapun pernah mendengar nama ayah dan anak Suma yang menjadi majikan Bukit Bayangan Iblis sebagai datuk sesat yang amat kejam dan curang.
Maka, diam-diam diapun mencurigai Suma Hok, bahkan hatinya merasa tidak enak melihat keakraban hubungan antara Suma Hok dan nona majikannya, Kiok Lan.
Diam-diam dia bersikap waspada.
"Paman Pouw, kenapa engkau diam saja? Bagaimana pendapatmu tentang Kwa Bun Houw itu? Amat mencurigakan, bukan? Aku sungguh khawatir dia benar-benar mewakili gurunya, memata-matai kita demi kepentingan kerajaan Chi."
"Jalan satu-satunya adalah besok pagi-pagi, di luar sangkaannya, kita mengepung dan membunuhnya. Kita sudah mengatur barisan pendam, dan dia tidak akan mampu melarikan diri lagi. Bukanlah siasat kita ini baik sekali, Paman Pouw?"
Kata Suma Hok dengan nada suara gembira.
Kematian Bun Houw merupakan hal yang amat menguntungkan dia.
Pertama, dia dapat membalas kekalahannya tempo hari, kedua dia akan kehilangan saingan dan lawan yang amat lihai dalam memperebutkan Hui Hong dan akhirnya, dia tidak akan menghadapi rintangan dalam kerja samanya yang menguntungkan dengan para pemberontak yang dipimpin oleh bekas kaisar Cang Bu.
Pouw Cin tidak menjawab pertanyaan Suma Hok, melainkan memandang majikannya dan berkata dengan hati-hati.
"Saya harap Kongcu teliti dalam hal ini. Biarpun andaikata benar dia murid bekas pangeran Tiauw Sun Ong, belum tentu dia memata-matai kita. Hal itu harus dibuktikan dulu. Ilmu kepandaiannya hebat, Kongcu, kalau kita dapat menariknya sebagai pembantu, tentu keadaan Kongcu menjadi semakin kuat. Sebaiknya kita melihat sikapnya besok pagi. Tanpa bukti lalu menyerangnya begitu saja amatlah tidak bijaksana. Bagaimana kalau kemudian terbukti dia bukan mata-mata dan kita sudah terlanjur mencelakainya? Tentu orang-orang di dunia persilatan akan menentang kita!"
Siauw Tek mengangguk-angguk.
"Hemm, kami rasa pendapatmu ini memang tepat. Bagaimana pikiranmu, Suma-toako? Memang kita harus berhati-hati agar jangan salah sangka, kita harus dapat membuktikan dulu kalau benar dia memata-matai kami."
"Saya harap Kongcu teliti dalam hal ini. Biarpun andaikata benar dia murid bekas pangeran Tiauw Sun Ong belum tentu dia memata-matai kita."
Suma Hok juga bukan orang bodoh.
Sebaliknya malah, dia cerdik dan licin bagaikan belut.
Dia tidak mau berkeras mempertahankan pendapatnya dan menentang pendapat Pouw Cin yang dia tahu merupakan orang yang paling dipercaya oleh bekas kaisar itu!
"Hebat!
Pendapat Pouw-lo-enghiong memang hebat, tanda bahwa Paman Pouw seorang yang bijaksana.
Sesungguhnya, sayapun tidak hanya menuduh sembarangan.
Walaupun belum terbukti Kwa Bun Houw menjadi mata-mata kerajaan Chi, akan tetapi prasangka buruk saya ini bukan tidak berdasar.
Dasarnya kuat sekali, karena selain menjadi murid tersayang bekas pangeran yang kini menjadi datuk lihai yang matanya buta itu, juga dia ingin menjadi mantu bekas Pangeran Tiauw Sun Ong."
"Ahhhh ..."
Siauw Tek berseru kaget. Pouw Cin mengerutkan alisnya.
"Bagaimana mungkin itu? Setahuku, Pangeran Tiauw Sun Ong tidak mempunyai isteri dan tidak mempunyai anak !"
Suma Hok membungkuk sambil tersenyum.
"Paman Pouw, saya juga bukan seorang yang suka berbohong. Akan tetapi, keterangan sepihak saja dari saya tentu tidak meyakinkan. Baiklah, besok di waktu makan pagi saya akan bertanya kepada Kwa Bun Houw, dan biarlah dia sendiri yang akan mengakui kebenaran apa yang saya kemukakan tadi."
Dengan sikap hormat dan ramah, Suma Hok memandang kepada Siauw Tek, lalu bertanya dengan halus.
"Kalau Bun Houw sudah mengaku dengan mulut sendiri bahwa dia ingin menjadi mantu gurunya, apakah Kongcu akan yakin dan percaya kepada saya?"
Bekas kaisar itu mengangguk-angguk.
"Kalau benar dia murid dan bahkan calon mantu Tiauw Sun Ong, keadaannya sungguh amat mencurigakan!"
"Kalau dia sudah mengaku dengan mulut sendiri dan Kongcu sudah yakin bahwa dia tentu memata-matai Kongcu, kita harus sudah siap."
Kata Suma Hok penuh kegembiraan karena merasa berhasil.
"Dia amat berbahaya dan lihai sekali, karena itu, jangan sampai kita kedahuluan olehnya. Siapa tahu, dia bertugas untuk membunuh Kongcu! Karena itu, besok ketika kita makan pagi dan saya memancingnya agar mengaku, di luar ruangan makan sebaiknya dilakukan penjagaan yang kokoh kuat dan begitu dia mengaku bahwa memang calon mantu Tiauw Sun Ong, kita mengepung dan mengeroyoknya!"
Kembali Siauw Tek mengangguk dan memandang kepada Pouw Cin.
Sejak dia dipaksa melarikan diri karena singgasana dirampas oleh Souw Hui Kong lima tahun yang lalu, semangat dan harapannya tergantung kepada bekas jenderal yang dahulu menjadi panglimanya yang setia itu.
Maka, kinipun segala keputusannya selalu ditanyakan dulu kepada pembantu setia ini.
"Bagaimana pendapatmu, Paman Pouw?"
Pouw Cin adalah seorang yang berpengalaman dan selalu bertindak dengan hati-hati, tidak mudah dia mencurigai orang, juga tidak mudah percaya begitu saja.
"Kongcu, sebaiknya kalau kita berhati-hati dalam hal ini. Andaikata benar demikian, sedapat mungkin kita harus membujuk agar Kwa Bun Houw suka membantu kita. Kalau dia mau bekerja sama, kita dapat memanfaatkan tenaganya karena pemuda itu memang seorang ahli silat yang amat tangguh. Kalau dia menolak, barulah terpaksa kita melenyapkannya, apalagi kalau dia benar-benar seorang mata-mata dari Chi. Akan tetapi, Kongcu, yang membuat saya merasa ragu dan penasaran adalah keterangan dari Suma Kongcu tadi. Setahu kita. Pangeran Tiauw Sun Ong tidak beristeri dan tidak mempunyai anak ketika meninggalkan istana, bagaimana sekarang dia dapat mempunyai puteri yang akan dijodohkan dengan Kwa Bun Houw?"
Dia berhenti sebentar mengingat-ingat.
"Dan selama ini, saya hanya mendengar bahwa bekas pangeran itu menjadi seorang tokoh persilatan yang tidak pernah, mempunyai isteri."
Siauw Tek menoleh kepada Suma Hok.
"Bagaimana jawabanmu dengan pertanyaan itu, toako? Berilah keterangan agar hati Kami tidak menjadi bimbang, dan meragukan keterangan itu."
Suma Hok tersenyum.
"Pertanyaan Pouw-lo-enghiong memang tepat sekali, dan sudah sepatutnya kalau kongcu dan lo-enghiong mengetahuinya. Ketahuilah. Kongcu bahwa selir yang menjadi kekasih Pangeran Tiauw Sun Ong itu, ketika melaksanakan hukuman buang, dalam perjalanan ia dibebaskan oleh Bu-eng-kiam Ouwyang Sek, majikan Lembah Bukit Siluman, kemudian menjadi isterinya. Ketika menjadi isteri datuk itu, selir itu telah mengandung yang kemudian melahirkan seorang anak perempuan. Nah, anak perempuan itu adalah anak kandung Pangeran Tiauw Sun Ong! Anak perempuan itulah yang akan menjadi isteri Kwa Bun Houw, Kongcu."
Kalau bekas kaisar itu mengangguk-angguk, sebaliknya bekas panglima Pouw Cin mengerutkan alisnya.
"Kalau demikian, maka gadis itu bukan lagi puteri Pangeran Tiauw Sun Ong! Ia adalah puteri Bu-eng-kiam Ouwyang Sek!"
"Memang tadinyapun begitu, Pouw-lo-enghiong. Bahkan gadis itu sendiri tidak tahu bahwa ayah kandungnya adalah Tiauw Sun Ong. Akan tetapi akhir-akhir ini rahasia itu terbuka dan Tiauw Sun Ong mendatangi keluarga Ouwyang, dan menuntut agar puteri kandungnya itu dijodohkan dengan muridnya, yaitu Kwa Bun Houw itulah!"
"Nah, bagaimana, Paman, Pouw?"
Tanya Siauw Tek.
"Kurasa memang pemuda itu berbahaya sekali, apalagi mengingat bahwa dia amat lihai. Siapa tahu dia memang, ditugaskan oleh gurunya untuk menyelidiki, atau mungkin untuk memata-matai kita."
"Bukan mustahil tugasnya lebih jahat lagi, yaitu membunuh Kongcu."
Kata Suma Hok. Mendengar ini, Siauw Tek terkejut dan wajahnya berubah agak pucat.
"Kita tidak boleh terburu-buru menuduh orang, akan tetapi juga sebaiknya siap menjaga segala kemungkinan. Biarlah kita melihat perkembangannya besok pagi di waktu makan pagi. Kalau dia sudah mengaku sendiri bahwa dia akan berjodoh dengan puteri gurunya, kemudian kita bujuk agar dia suka bekerja sama membantu kita. Kalau dia menolak, baru kita turun tangan menangkapnya. Saya akan mempersiapkan pasukan untuk mengepung tempat di mana kita menjamunya makan pagi, Kongcu."
"Akan tetapi dia lihai bukan main, kalau hanya dikeroyok pasukan saja, mungkin dia akan dapat lolos."
Kata Suma Hok.
"Aku masih meragukan apakah Pouw-lo-enghiong akan mampu menangkapnya."
Suma Hok sengaja berkata demikian untuk membakar perasaan bekas panglima itu dan dia berhasil. Wajah Pouw Cin berubah kemerahan dan dia mengepal tinju.
"Boleh jadi dia lihai dan aku tidak dapat menandinginya, akan tetapi kalau aku mempergunakan pasukan, jangan harap dia akan mampu meloloskan diri, kecuali kalau dia membunuh diri terjun dari atas tebing!"
Mereka bertiga lalu mengatur siasat dan tentu saja diam-diam Suma Hok gembira bukan main.
Orang yang dibencinya, yang juga menjadi saingannya dalam memperebutkan Hui Hong, besok pagi-pagi akan terbunuh atau tertawan!
Diapun kembali ke kamarnya dan tidur dengan pulas karena kelegaan hatinya.
Kiok Lan cepat menyelinap di balik sudut tembok, mengintai ke depan, ke arah kamar seorang di antara dua orang tamunya, yaitu Kwa Bun Houw.
Ia merasa heran sekali melihat Yo Leng Hwa, seorang di antara selir-selir kakaknya yang cantik, dengan langkah ringan seperti seekor kucing, menghampiri pintu kamar Kwa Bun Houw.
Kiok Lan merasa heran bukan main.
Mau apa malam-malam begini selir kakaknya itu menghampiri lalu mengetuk daun pintu kamar tamu mereka?
Padahal, Kwa Bun Houw adalah seorang tamu, seorang pemuda pula.
Sungguh tidak pantas kalau selir kakaknya itu mengetuk pintu pemuda itu malam-malam.
Andaikata kakaknya mempunyai keperluan kepada tamunya, masih ada pelayan lain yang dapat diutusnya untuk memberitahu pemuda itu, bukan selirnya.
Kiok Lan mengerutkan alisnya, hatinya tidak senang dan ia mengintai terus.
Wajah gadis bekas puteri istana ini menjadi kemerahan dan matanya bersinar penuh kemarahan ketika ia melihat betapa daun pintu dibuka dan selir kakaknya itu memasuki kamar!
Akan tetapi, daun pintu itu tetap terbuka sehingga Kiok Lan masih dapat mengintai dan mendengarkan percakapan antara Bun Houw dan Leng Leng.
Mendengar betapa Leng Leng disuruh kakaknya untuk membujuk rayu Bun Houw, bukau main marahnya hati gadis itu.
Kakaknya sungguh keji dan, tidak tahu malu!
Dan-melihat Bun Houw menolak dengan sikap yang tegas, iapun merasa kagum sekali.
Seorang pendekar muda yang hebat, pikirnya, ia melihat betapa Leng Leng meninggalkan kamar Bun Houw, dengan air mata berlinang sehingga ia diam-diam merasa kasihan kepada selir kakaknya itu yang dipaksa oleh kakaknya untuk menyeleweng dengan tamu, dan kemarahannya tertuju kepada kakaknya.
Daun pintu kamar Bun Houw, ditutup kembali dan kini Kiok Lan membayangi Leng Leng yang meningalkan kamar Bun Houw ...!"
Kiok Lan, melihat selir itu memasuki ruangan dalam.
Ia mengintai dari balik pintu dan melihat Leng Leng melapor kepada Siauw Tek bahwa tugasnya telah dilaksanakan, akan tetapi gagal karena Bun Houw menolaknya.
Siauw Tek dengan sikap kecewa menyuruh Leng Leng keluar dari ruangan itu di mana dia sedang bercakap-cakap dengan Pouw Cin dan Suma Hok.
Dan iapun mengintai dan mendengarkan.
Gadis ini terkejut mendengar rencana kakaknya untuk mempersiapkan pasukan dan besok pagi-pagi akan menangkap Bun Houw kalau pemuda itu tidak mau diajak bekerja sama, karena Bun Houw dicurigai sebagai mata-mata setelah Suma Hok menceritakan siapa adanya pemuda itu.
Murid Pangeran Tiauw Sun Ong, bahkan calon mantunya!
Cepat-cepat Kiok lan kembali ke kamarnya sendiri setelah mendengar semua rencana itu.
Liu Kiok Lan duduk melamun.
Ia tahu bahwa kakaknya menghimpun pasukan untuk dapat merebut kembali tahta kerajaannya yang dirampas oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan baru Chi.
Sebagai seorang bekas puteri istana, tentu saja ia menyetujui rencana kakaknya ini dan dengan sepenuh hati ingin membantunya.
Hal ini dianggap sebagai kewajibannya pula.
Akan tetapi, kalaupun mereka harus merebut kembali kerajaan dan membangun kembali dinasti Liu-sung yang sudah jatuh, harus dilakukan dengan cara yang gagah dan wajar.
Ia selalu cocok dengan sikap yang diambil oleh bekas Panglima Pouw yang selalu bertindak dengan gagah perkasa.
Ia pulang tidak suka dengan cara yang curang dan licik.
Kini, melihat betapa kakaknya hendak menyuguhkan selirnya sendiri kepada Kwa Bun Houw untuk menjatuhkan hati pendekar itu dari menariknya sebagai pembantu, tentu saja ia merasa amat tidak senang.
Apalagi mendengar rencana kakaknya yang agaknya terbujuk oleh Suma Hok untuk menangkap atau membunuh, Kwa Bun Houw dengan pengeroyokan kalau pendekar itu tidak mau membantu, sungguh amat mengganggu hatinya dan menekan perasaannya.
Akhirnya ia meneambil keputusan untuk menyelamatkan Bun Houw.
Bukan karena ia merasa berat kepada pemuda yang baru saja dikenalnya itu, melainkan ia hendak mencegah kakaknya bertindak curang.
Cepat ia bertukar pakaian yang ringkas dan membawa pedang.
Ia harus dapat memabuki kamar Bun Houw sebagai pencuri agar tidak sampai terlihat kakaknya, Kalau ia masuk sebagai pencuri, andaikata ia ketahuan kakaknya, ia dapat mengambil alasan bahwa ia berniat untuk menyerang tamu itu, karena ia sudah tahu bahwa tamu itu adalah murid Paigeran Tiauw Sun Ong dan ia mencurigainya.
Dengan ilmu kepandaiannya, tidak sukar bagi Kiok Lan untuk meloncat ke atas genteng dan berada di atas kamar Bun Houw.
Setelah membiarkan peronda lewat, ia melayang turun dan mencokel jendela kamar dengan pedangnya.
Ia tahu bagaimana bentuk jendela itu.
maka tanpa banyak kesukaran ia dapat mencokel jendela sehingga terbuka dan cepat ia meloncat ke dalam kamar, lalu menutupkan lagi daun jendela dari dalam, ia merasa lapang dada karena agaknya tidak ada orang mengetahui perbuatannya, dan agaknya tamu itupun sudah tidur.
Ia menghampiri pembaringan yang kelambunya tertutup.
Cuaca dalam kamar itu remang-remang karena lilin di atas meja sudah dipadamkan, akan tetapi ada sinar masuk dari luar melalui lubang-lubang angin di atas jendela, yaitu sinar lampu gantung di luar kamar!"
Tiba-tiba kelambu tersingkap dan sesosok tubuh meloncat keluar.
Karena Kiok Lan tidak nenyerang, maka Bun Houw juga hanya meloncat dan berdiri di tengah kamar, memandang kepada gadis yang membawa pedang di tangan kanan itu.
"Kwa-twako ...!"
Bisik Kiok Lan yang mencontoh kakaknya, menyebut twako (kakak) kepada pemuda itu.
Baru sekarang Bun Houw tahu bahwa bayangan hitam membawa pedang yang mencokel daun jendela dan memasuki kamarnya itu adalah Liu Kiok Lan, bekas puteri istana, adik bekas kaisar!
Kalau tadinya dia terkejut karena sudah tahu ada orang mencokel jendela kamarnya, kini kekagetan itu bertambah dengan keheranan setelah mengetahui bahwa yang masuk seperti pencuri ke dalam kamarnya adalah bekas puteri itu.
"Nona itu ... apa ... apa artinya ini ...?"
"Dia bertanya gagap, namun menahan suaranya sehingga berbisik karena dia sama sekali tidak ingin ada orang lain melihat gadis, bangsawan ini memasuki kamarnya seperti itu. Sekilas lantas dia mengira bahwa jangan-jangan bekas kaisar itu, setelah tadi usaha selirnya gagal, kini begitu tega mengutus adiknya sendiri untuk merayunya! Akan tetapi segera dia mengusir prasangka ini karena biarpun dia baru saja mengenal Kiok Lan ketika sama-sama makan di meja makan, dan ketika gadis itu bersama Pouw Cin mengantar dia dan Suma Hok berkeliling melihat benteng yang disusun, namun dia sudah dapat menduga bahwa gadis bangsawan ini memiliki kegagahan dan keangkuhan, memiliki harga diri yang tinggi. Tidak mungkin gadis seperti itu sudi melaksanakan tugas yang sehina itu.
"Maafkan kalau aku mengejutkanmu, twako. Akan tetapi jawab dulu pertanyaanku. Benarkah engkau murid bekas pangeran Tiauw Sun Ong, dan benar pulakah bahwa engkau akan menjadi mantu Tiauw Sun Ong? Jawab sejujurnya, ini mengenai mati-hidupmu!"
Tentu saja Bun Houw terbelalak.
Mengenai mati hidupnya?
Biarpun dia tidak ingin bercerita tentang gurunya dan apalagi tentang Hui Hong, namun melihat betapa gawatnya keadaan dari sikap aneh bekas puteri istana ini, diapun mengaku terus terang seperti yang dikehendaki gadis itu.
"Benar, nona. Aku murid suhu Tiauw Sun Ong dan dicalonkan menjadi mantunya. Lalu, kenapa?"
"Jawab lagi sejujurnya, demi iktikad baikku terhadap dirimu! Apakah engkau datang ke sini sebagai mata-mata. diutus oleh suhumu atau oleh kerajaan Chi?"
Sekarang mengertilah Bun Houw.
Dia dicurigai!
Akan tetapi kalau gadis ini mencurigainya, kenapa malam-malam datang mengajukan pertanyaan itu?
Kalau benar dia mata-mata, sungguh tindakan gadis ini bodoh sekali.
"Tidak sama sekali, nona! Secara kebetulan saja aku bertemu dengan kakakmu, lalu aku diundang ke sini. Sebetulnya, aku tidak ingin berdiam di sini, akan tetapi kakakmu yang mendesakku sehingga aku merasa sungkan, melihat sikapnya yang ramah. Kenapa nona menyangka yang bukan-bukan?"
"Nah, ada satu pertanyaan yang harus kaujawab sejujurnya. Kakakku menghendaki agar engkau suka membantunya dalam perjuangannya merebut kembali tahta kerajaan. Bersediakah engkau membantunya?"
Tanpa ragu lagi Bun Houw menggeleng kepala dan menjawab.
"Tidak, nona. Aku tidak mau melibatkan diriku dalam perang saudara memperebutkan kekuasaan."
"Nah, inilah sebabnya aku malam-malam-memasuki kamarmu seperti seorang pencuri. Besok pagi-pagi, kakakku dalam perjamuan makan pagi akan meminta keputusanmu. Kalau engkau suka membantunya, tentu tidak akan terjadi apa-apa. Akan tetapi sebaliknya, kalau engkau menolak, engkau akan ditangkap, mungkin dibunuh karena mereka sudah tahu bahwa engkau murid Tiauw Sun Ong."
Bun Houw terkejut, akan tetapi tidak merasa heran.
Tentu Suma Hok yang membuka rahasia dirinya dan diapun tahu mengapa.
Suma Hok membencinya, dan agaknya hendak mempergunakan kesempatan ini untuk mencelakakannya.
"Hemm, lalu apa maksudnya nona datang memberitahukan semua ini kepadaku?"
"Aku tidak suka dengan cara yang diambil kakakku kepadamu. Enci Leng disuruh merayumu. Sungguh tak tahu malu! Dan kalau engkau tidak mau membantunya, besok engkau akan dikepung pasukan dan dikeroyok, inipun tindakan curang dan licik yang tidak kusukai. Karena itu, aku datang memberitahu kepadamu agar malam ini juga engkau cepat melarikan diri dari tempat ini. Cepat!"
Pada saat itu, terdengar suara kaki orang di luar kamar dan melalui sinar lampu, nampak bayangan beberapa orang seperti mendekati jendela.
"Cepat, akan kuserang kau!"
Bisik Kiok Lan dan gadis ini segera menendang daun jendela terbuka dan berseru.
"Mata-mata laknat, engkau akan mati di tanganku!"
Bun Houw sudah menyambar buntalan pakaiannya dan ketika diserang oleh Kiok Lan, tubuhnya sudah mencelat ke belakang.
Kemudian, dia membalik dan mengerahkan tenaga dari ilmu Im-yang Bu-tek cin-kang, mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah daun pintu.
"Braaaakkk ...!!"
Daun pintu jebol dan dia lalu meloncat ke luar, dan sebelum para peronda yang terkejut dan tercengang itu dapat bergerak, Bun Houw sudah meloncat naik ke atas genteng.
"Mata-mata jahat, akan lari ke mana kau!"
Bentak Kiok Lan yang sudah meloncat keluar pula melalui pintu yang jebol, dengan pedang di tangan dan iapun melayang naik ke atas genteng melakukan pengejaran.
Namun, Bun Houw sudah menghilang dalam kegelapan malam.
Kiok Lan merasa lega dan ia berpura-pura masih mencari-cari sambil berteriak-teriak, menyuruh para penjaga melakukan pencarian di sekitar tempat itu.
Tiba-tiba nampak Pouw Cin, Suma Hok dan tiga orang perwira dari pasukan yang dihimpun Siauw Kongcu, berloncatan ke atas genteng.
"Nona, apa yang terjadi?"
Tanya Suma Hok dan Pouw Cin yang terkejut mendengar ribut-ribut itu.
Mereka keluar dari kamar dan mendengar ada mata-mata dari para penjaga yang berada dalam keadaan panik.
Kiok Lan mengerutkan alisnya.
"Sialan! Aku gagal menangkapnya! Dia telah berhasil melarikan diri. Cepat kita kejar dan cari dia, tangkap! Bunuh!"
Tanpa memberi kesempatan kepada lima orang itu untuk bicara, Kiok Lan sudah meloncat jauh ke depan, lalu melakukan pengajaran ke sana sini.
Tentu saja lima orang itupun bingung.
Mereka kini tahu bahwa yang melarikan diri adalah Kwa Bun Houw, akan tetapi ke mana mereka harus mengejar?
Pengejaran dan pencarian itu gagal dan kini mereka semua sudah berada di ruangan depan menghadap Siauw Tek yang sudah terbangun dan siap untuk mendengar laporan mereka.
"Paman Pouw, apa yang telah terjadi, kenapa ribut-ribut ini dan aku mendengar keterangan yang tidak jelas dari para pengawal. Kwa Bun Houw melarikan diri? Bagaimana pula ini."
Pouw Cin memberi hormat dan nampak gelisah.
"Maaf, Kongcu. Saya sendiri juga tidak mengetahui dengan tepat apa yang telah terjadi. Ketika terdengar suara ribut-ribut, saya terbangun dan lari keluar dari kamar bertemu dengan Suma-taihiap dan tiga orang perwira. Melihat Siocia berada di atas genteng, kami berlompatan naik dan membantu Siocia melakukan pengejaran dan pencarian terhadap Kwa Bun Houw, akan tetapi sia-sia. Dia telah lenyap."
"Siauw-moi, apa yang telah terjadi?"
"Begini, koko. Tadi ketika aku kebetulan lewat didepan kamar di mana koko bersama Paman Pouw dan Suma-toako ini bicara, aku mendengar bahwa Kwa Bun Houw adalah murid dan calon mantu Pangeran Tiauw Sun Ong dan bahwa dia memata-matai kita. Aku menjadi marah dan setelah kuanggap dia tidur pulas, aku memasuki kamarnya untuk membunuhnya. Aku berhasil masuk, aku melihat dia sudah siap dengan buntalannya untuk melarikan diri. Aku menyerangnya, kami berkelahi dalam kamar akan tetapi dia terlalu lihai, koko. Dia menjebol pintu dan melarikan diri. Aku berusaha mengejarnya namun tidak berhasil."
"Ahh, Siauw-moi, kenapa engkau begitu lancang? Kami sudah mengatur rencana untuk menangkapnya besok pagi-pagi. Kenapa engkau telah mendahului kami sehingga dia berhasil melarikan diri?"
Tegur bekas kaisar itu. Adiknya memandang dengan alis berkerut dan bibir cemberut.
"Aku tidak tahu akan rencana itu, koko. Salahmu sendiri kenapa aku tidak diajak berunding? Begitu mendegar dia murid dan calon mantu Tiauw Sun Ong dan bahwa dia memata-matai kita, aku sudah tidak sabar lagi dan aku ingin membunuhnya.
"Hemm, engkau lancang, siauw-moi. Dia memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, bagaimana mungkin engkau mampu menandingi seorang diri saja? Kalau kau memberitahukan kami, tentu kita tidak akan gagal untuk menangkapnya,"
Kembali bekas kaisar itu mengomeli adiknya.
"Saya kira, belum tentu Kwa Bun Houw itu memata-matai kita, Kongcu. Siapa tahu, dia malah dapat kita bujuk untuk membantu perjuangan kita,"
Kata Pouw Cin.
"Itulah yang mengesalkan hatiku, paman! Kalau dia tidak melarikan diri karena diserang Kiok Lan, besok kita dapat membujuknya dan kalau dia mau membantu, berarti kita mendapatkan tenaga yang boleh diandalkan. Sekarang dia telah pergi, kita kehilangan seorang pembantu tangguh."
"Harap Kongcu tidak terlalu kecewa. Andaikata Bun Houw mau menjadi pembantu Kongcu, tetap saja hal itu amat berbahaya. Sebagai murid dan calon mantu Tiauw Sun Ong, bagaimana dia dapat dipercaya? Sekali waktu tentu akan menjadi pengkhianat. Sudahlah, ada baiknya dia pergi dan tidak membahayakan kita lagi. Tentang tenaga bantuan, harap Kongcu tidak khawatir, Aku akan membujuk agar ayahku bersama semua anak buah kami suka membantu Kongcu. dan tenaga bantuan ayahku dan anak, buah kami tentu jauh lebih kuat dan boleh diandalkan dari pada tenaga Bun Houw."
Mendengar ucapan ini, wajah bekas kaisar itu berseri gembira dan dia memandang kepada Suma Hok dengan mata bersinar-sinar.
"Ah, benarkah itu, Suma toako? Alangkah baiknya kalau ayahmu suka membantu kami. Aku sudah mengenal baik Kui-siauw Giam-ong Suma Koan dan sudah tahu akan kehebatannya. Kami akan merasa gembira dan beruntung sekali kalau dia suka membantu kami!"
Suma Hok tersenyum.
"Aku akan berusaha sedapatku Kongcu. Akan tetapi harus kuakui bahwa memang tidak mudah membujuk ayah. Ayah memiliki watak yang keras dan kalau bukan keluarga sendiri, atau orang yang memiliki hubungan erat atau hubungan keluarga dengan dia, agak sukar dia mau membantu."' "Hemm, kami mengenal siapa ayahmu. Kalau datuk besar itu mau membantu perjuangan kami, kelak kalau kami berhasil tentu tidak akan melupakan jasanya dan kami akan memberi kedudukan yang tinggi."
"Sebagai panglima besar, Kongcu?"
Cepat Suma Hok mendesak. Siauw Tek tersenyum, akan tetapi senyumnya agak dingin dan dia menoleh kepada Pouw Cin.
"Kedudukan yang tinggi, akan tetapi tentu saja bukan panglima besar karena kami sudah memiliki seorang panglima besar, yaitu Paman Pouw Cin."
"Hemm, saudara muda Suma Hok, belum juga jasa dibuat, bagaimana hendak bicara tentang pahala? Harap jangan khawatir! Kongcu tidak akan melupakan jasa para pembantunya, dan aku sendiri yang akan mencatat semua jasa agar kelak dapat dipertimbangkan, pahala apa yang patut diterima?"
Kata Pouw Cin dengan nada suara menegur.
Tadi mendengar ucapan bekas kaisar yang sudah menentukan bahwa panglima besarnya adalah Pouw Cin, hati Suma Hok sudah merasa iri dan tidak senang kepada bekas jenderal itu.
Kini ditambah lagi dengan ucapan Pouw Cin sendiri, dia merasa direndahkan, akan tetapi dia berpura-pura tidak merasa tersinggung dan tersenyum saja.
Pada saat itupun dia sudah mengambil keputusan untuk mencari jalan lain agar derajatnya naik dalam pandangan bekas kaisar itu.
Jalan itu adalah melalui Liu Kiok Lan!
Kalau saja dia dapat merayu gadis bekas puteri yang cantik jelita itu, dan dapat menarik gadis itu menjadi isterinya, sudah pasti bekas kaisar yang menjadi kakak ipar itu akan lebih mementingkan dia dari pada Pouw Cin!
Pagi yang cerah dan indah sekali, apalagi di dalam taman yang terpelihara baik-baik dan penuh dengan bermacam bunga itu.
Musim semi telah berumur sebulan lebih, telah memberi waktu cukup bagi para tanaman untuk mengembangkan bunga-bunga yang indah dan harum.
Kupu-kupu ikut bergembira ria, beterbangan di antara bunga-bunga indah.
Mereka hinggap dari satu ke lain bunga, dengan rajin mencari dan menghisap madu yang manis dan wangi.
Kiok Lan duduk termenung seorang diri di dalam taman, duduk di atas bangku panjang dekat kolam ikan emas.
Ia baru saja memberi makan ikan emas dan kini ia melihat ikan yang berenang memperebutkan makanan, kemudian termenung, tenggelam dalam lamunan.
Ia telah mengkhianati kakaknya sendiri!
Ia telah membebaskan orang yang akan ditawan oleh kakaknya.
Lamunan membawanya kepada masa lampau, sejak lima tahun yang lalu ia ikut kakaknya melarikan diri dari kota raja Nan-king karena kerajaan kakaknya, yaitu dinasti Liu-sung, diserbu dan dikalahkan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi Kaisar Siauw Bian Ong dan mendirikan kerajaan baru, yaitu dinasti Chi.
Ketika itu, ia baru berusia dua belas tahun.
Kehancuran kekuasaan kakaknya yang membuat kakaknya menjadi pengembara ini membuat ia bertekad untuk menjadi seorang wanita tangguh dengan mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan gurunya yang terakhir adalah Paman Pouw, pembantu setia kakaknya.
Keluarga kerajaan Liu-sung cerai berai dan iapun selalu mengikuti kakaknya merantau dan akhirnya menetap di daerah Kui-cu, di mana kakaknya mencoba untuk menghimpun kekuatan dan membangun pasukan dengan bantuan Pouw Cin.
Iapun dengan penuh semangat hendak membantu kakaknya dan bertekad bahwa kalau kelak terjadi perang dalam usaha kakaknya merebut kembali tahta kerajaan, ia akan membantu dan kalau perlu siap mengorbankan nyawa untuk kebangkitan kerajaan Liu-sung.
Akan tetapi, apa yang dilakukan kakaknya terhadap Kwa Bun Hou merupakan tamparan besar baginya, tamparan yang membuat hatinya terasa sakit, yang menghimpit perasaannya dan menghancurkan semua kebanggaan hatinya terhadap kakaknya, bekas kaisar yang sedang berusaha untuk merampas kembali tahta kerajaan yang sudah hilang itu.
Kakaknya melakukan hal-hal yang amat rendah, yang tidak pantas dilakukan searang raja yang besar!
Menyuguhkan selir sendiri kepada tamu!
Hanya untuk merayu dan membujuk tamu agar suka membantunya.
Bahkan, kalau yang dibujuk menolak untuk membantu, akan ditangkap, dibunuh!
Betapa keji dan curangnya.
Ia sama sekali tidak setuju, dan kenyataan itu membuat ia merasa berduka sekali.
Kakaknya telah berubah.
Dalam usahanya mengejar cita-cita, kakaknya telah tidak segan mempergunakan segala macam cara, yang kotor dan hina sekalipun.
Dan ia tahu bahwa Pouw Cin sudah pasti tidak menyetujui tindakan kakaknya itu.
Ia tahu benar betapa gagah dan jantan pembantu utama kakaknya yang juga menjadi gurunya itu.
Ia merasa bersedih sekali, dan juga khawatir.
Duka dan takut timbul dari pikiran yang mengenang masa lalu dan membayangkan masa depan.
Kalau kita membayangkan apa yang telah terjadi, apa yang telah lewat atau peristiwa masa lalu, membanding-bandingkan dan merasa betapa kita kehilangan, bahwa kita dirugikan, akan timbul duka, baik dari iba diri, kecewa atau kesepian.
Demikian pula dengan rasa khawatir atau takut, selalu timbul kalau kita membayangkan masa depan, yang dihubungkan dengan saat ini, lalu kita merasa bahwa keadaan kita akan tidak enak, tidak baik atau merugikan dan membahayakan kita.
Tidak akan timbul duka dan takut kalau kita hidup saat demi saat, menganggap yang sudah terjadi itu wajar saja dan sesuatu yang sudah dikehendaki Tuhan, membiarkannya lalu seperti hembusan angin tanpa bekas, sebagai sesuatu yang sudah lewat dan sudah mati, kalau kita tidak membayangkan hal yang belum terjadi, menganggap bahwa masa depan hanya kelanjutan dari saat ini, masa depan adalah saat ini juga kalau saatnya tiba, maka tidak perlu dibayangkan.
Yang ada hanya berikhtiar sebaik mungkin dalam kehidupan ini, dalam bekerja, dalam berhubungan dengan manusia lain, hubungan dengan masyarakat, dengan pemerintah.
Berikhtiar sebaik mungkin berarti bekerja sebaik mungkin, dengan didasari penyerahan diri kepada Tuhan Yang Maha Kasih.
Tugas kita hanyalah mengerjakan segala pemberian Tuhan berupa seluruh anggauta badan termasuk hati akal pikiran, memanfaatkannya untuk hidup sebaik mungkin, dan dengan dasar penyerahan kepada Tuhan berarti bahwa apapun yang kita lakukan adalah suatu persembahan kepadaNya.
Kalau sudah begini, penyerahan itu seperti menggerakkan kekuasaan Tuhan yang akan membimbing kita sehingga nafsu kita sendiri tidak akan merajalela memperhamba kita, sehingga apapun yang kita lakukan tentu baik dan benar, tidak menyeleweng!
"Nona Liu, selamat pagi."
Kiok Lan terkejut, sadar dari lamunannya, dan menoleh.
Dilihatnya Suma Hok sudah nampak rapi sekali pagi itu, wajahnya yang tampan segar karena habis mandi, pakaiannya juga indah dan rambutnya disisir mengkilap dan digelung ke atas dengan rapi, diikat kain sutera biru.
Pemuda ini memang tampan dan pesolek, dan wajahnya kini nampak berseri dengan senyum yang memikat.
"Ah, Suma-toako, selamat pagi. Pagi-pagi engkau sudah nampak rapi, hendak ke manakah?"
Tanya Kiok Lan yang juga dapat bersikap lincah dan gembira.
"Ah, tidak kemana-mana, nona. Sehabis mandi, aku melihat betapa indahnya taman ini di pagi yang cerah, maka aku memasukinya, dengan maksud mencari tempat sunyi untuk berlatih silat. Tidak tahu bahwa engkau berada di sini, nona. Maafkanlah kalau aku mengganggu."
"Pemuda yang mengagumkan ini selalu bersikap sopan,"
Pikir Kiok Lan. Dan mendengar bahwa Suma Hok hendak berlatih silat. Kiok Lan segera menjadi tertarik sekali.
"Toako, kebetulan sekali kalau engkau hendak berlatih silat. Aku ingin sekali belajar silat darimu toako!"
"Aih, nona. Engkau sudah cukup lihai dengan ilmu silat yang kau kuasai, bagaimana aku berani mengajarmu?"
Kiok Lan cemberut, mengambil sikap seperti orang kecewa.
"Hemm, engkau tidak mau mengajarkan silat padaku, toako? Agaknya engkau menganggap aku terlalu bodoh dan tidak berharga untuk menerima pelajaran silat darimu, ya?"
"Ah, sama sekali tidak, nona!"
Kata Suma Hok dengan melebarkan matanya.
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya khawatir bahwa engkau akan kecewa, karena ilmu kepandaianku masih rendah ..."
"Nah-nah. ... sekarang engkau merendahkan diri. Kaukira aku belum tahu? Ketika engkau mengalahkan Ngo-liong Sin-kai, aku sudah melihat betapa lihainya engkau! Bahkan aku merasa yakin bahwa guruku terakhir, yaitu Paman Pouw seniiri tidak akan menang melawanmu. Bagaimana, toako, engkau, masih tidak mau mengajarkan silat kepadaku?"
"Baiklah, nona. Aku akan mengajarkan apa yang aku bisa, akan tetapi dengan satu syarat bahwa aku tidak mau kauanggap sebagai guru, apalagi kalau engkau menyebut suhu kepadaku, aku tidak mau menerimanya!"
Kiok Lan tertawa dan Suma Hok terpesona.
Dia seorang pemuda yang memiliki watak mata keranjang dan gila kecantikan wanita, maka tentu saja Kiok Lan yang lincah dan cantik jelita, juga memiliki pembawaan agung ini membuat dia mengilar.
Akan tetapi dia memang pandai membawa diri dan berpura-pura alim.
"Hi-hik, engkau lucu, toako! Bagaimana mungkin aku menyebut suhu kepadamu? Usiamu hanya beberapa tahun saja lebih tua dariku. Bahkan kepada guruku terakhir, yaitu Paman Pouw Cin, aku menyebut paman, tidak memanggilnya suhu. Akupun enggan kalau harus menyebut suhu kepadamu!"
Suma Hok tertawa pula, memperlihatkan giginya yang dia tahu berbaris rapi dan putih terpelihara.
"Sungguh aku merasa berbahagia sekali memperoleh seorang murid yang pandai, cerdik, dan cantik jelita seperimu nona."
Sebelum gadis itu terkesan oleh pujaan atau rayuannya, dia cepat menyambung.
"Nah, sebaiknya kita mulai sekarang, nona. Pagi ini cuaca baik sekali untuk berlatih."
Kegembiraan karena akan dilatih silat oleh pemuda itu membuat Kiok Lan tidak begitu memperhatikan lagi rayuan tadi, dan iapun cepat mengajak Suma Hok ke belakang pondok di taman.
Belakang pondok itu, di tempat terbuka memang disediakan untuk berlatih silat.
Lantainya dari ubin batu lebar yang rata dan cukup luas.
Suma Hok yang cerdik ingin mengambil keuntungan sebanyaknya dari kesempatan ini.
Dia memang sudah mengambil keputusan untuk merayu gadis bekas puteri ini.
Kalau gadis ini sudah jatuh ke tangannya dan menjadi isterinya atau setidaknya menjadi tunangannya, maka barulah dia akan membantu perjuangan bekas kaisar kerajaan Liu-sung dengan sepenuh tenaga, bahkan akan membujuk ayahnya untuk membantu pula.
Dan untuk dapat mencapai cita-citanya memperisteri bekas puteri ini, terlebih dahulu dia harus dapat menjatuhkan hati Kiok Lan!
Oleh karena dia telah memperhitungkan segalanya dengan cepat, pemuda yang cerdik dan licik ini lalu berkata sambil tersenyum.
"Nona, karena engkau telah mempelajari banyak ilmu yang cukup tinggi, maka kiranya tidak perlu mempelajari ilmu silat baru dariku. Sebaiknya kalau aku mencoba memberi petunjuk kepadamu dalam ilmu silat yang sudah kaukuasai, menunjukkan kelemahan dan kekurangannya, dan menambah daya serangannya sehingga engkau akan memperoleh kemajuan cepat. Caranya adalah engkau berlatih silat denganku, engkau keluarkan jurus-jurus ilmu silatmu dan kalau aku melihat jurus yang lemah, akan kuberi petunjuk. Dengan demikian maka engkau akan cepat maju."
Kiok Lan mengangguk.
"Rencanamu itu baik sekali, toako. Nah, mari kita mulai. Aku akan menyerangmu dengan ilmu silat yang paling kuandalkan."
"Baik, aku sudah siap. nona."
Kata pemuda itu.
Dengan cara yang diambilnya itu, selain dia tidak perlu mengajarkan ilmu-ilmunya kepada gadis ini, juga dalam latihan bersama, dia akan mendapat, kesempatan lebih banyak untuk beradu lengan, untuk menyentuh gadis itu, dan berdekatan, juga untuk memamerkan kepandaiannya membuat gadis itu tidak berdaya.
Diapun memasang kuda-kuda dengan gagahnya, kaki kiri ditekuk di depan, kaki kanan di belakang, tangan kiri diangkat ke atas dan tangan kanan ditekuk di pinggang, mukanya menoleh ke kanan menghadap ke arah Kiok Lan.
"Toako, lihat seranganku! Haiiittt ...!!"
Kiok Lan yang kini merasa gembira karena mendapat kesempatan berlatih silat dengan pemuda yang ia tahu amat lihai itu segera mengerahkan tenaganya.
Cepat sekali tubuhnya bergerak ke depan dan ia sudah menyerang dengan totokan-totokan kilat yang bertubi-tubi ke arah berbagai jalan darah di bagian depan tubuh lawan.
"Bagus!"
Suma Hok mengelak ke sana-sini, berloncatan dan kadang menangkis sambil mengamati gerakan gadis itu.
Ketika melihat kesempatan, pada saat jari tangan kanan gadis itu menotok ke arah pundaknya, dia memutar tubuh ke kiri dan menangkap dengan tangan kanan pada pergelangan tangan Kiok Lan yang kanan, lalu tangan kirinya menotok pundak kiri gadis itu sambil memuntir lengan kanan Kiok Lan ke belakang.
Gadis itu sama sekali tidak berdaya, lengan kanannya terbekuk ke belakang dan kini lengan kiri Suma Hok melingkari lehernya dengan jari-jari tangan mengancam tenggorokannya!
Tentu saja hanya sebentar Suma Hok menelikung gadis itu, lalu melepaskannya lagi.
"Nah, di sini engkau melakukan gerakan yang lemah, nona, sehingga engkau mudah dapat tertekan,"
Kata Suma Hok, dengan lembut dan sopan dia memberi penjelasan, minta kepada gadis itu mengulang lagi serangannya yang tadi dan menjelaskan bagian mana yang lemah dan harus diadakan perbaikan.
Demikianlah, dengan cerdiknya Suma Hok memberi petunjuk dan dia mendapat banyak kesempatan untuk meringkus, merangkul dan memeluk tubuh gadis itu ketika menundukkannya, namun tidak membuat Kiok Lan merasa rikuh karena semua itu dilakukan Suma Hok untuk memberi petunjuk kepadanya.
Kedua orang muda ini sama sekali tidak tahu betapa sepasang mata mengamati mereka dari jauh, sepasang mata yang berkilat dan sepasang alis yang berkerut tanda bahwa si pemilik mata tidak berkenan hatinya melihat apa yang mereka lakukan itu.
Sejak pagi hari itu, hubungan antara Suma Hok dan Liu Kiok Lan menjadi semakin akrab.
Kiok Lan merasa senang dan puas karena harus ia akui bahwa sejak ia diberi petunjuk oleh Suma Hok, ia memperoleh kemajuan pesat sekali.
Iapun menjadi semakin tertarik dan kagum saja kepada pemuda itu.
Suma Hok nampaknya memberi petunjuk dengan sungguh hati dan sikap pemuda itupun selalu sopan dan ramah, membuat gadis itu terpikat dan senang sekali.
Apalagi ketika Suma Hok berjanji akan mengajarkan suatu cara menghimpun tenaga sin-kang (tenaga sakti) yang istimewa untuk memperkuat tubuh, Kiok Lan menjadi semakin bersemangat.
"Latihan itu merupakan cara bersamadhi yang harus dilakukan dalam tempat tertutup dan tidak boleh kelihatan orang lain! Kurasa latihan itu dapat dilakukan di dalam pondok taman, nona. Dan untuk dapat melakukan latihan itu dengan baik, engkau harus minum ramuan obat dari keluarga Suma yang sengaja dibuat untuk melengkapi latihan itu."
"Ah, aku senang sekali, toako. Mari kita lakukan latihan itu, aku telah siap. Kapan kita melakukannya, Suma-toako?"
Tanya Kiok Lan penuh semangat.
Mereka baru habis berlatih dan beristirahat di belakang pondok.
Kiok Lan menghapus keringatnya dengan saputangan, wajahnya yang berkeringat nampak kemerahan dan segar seperti buah tomat yang sedang ranum, matanya bersinar-sinar dan bibirnya yang merah basah itu tersenyum manis.
Suma Hok menelan ludah.
"Secepatnya lebih baik, nona, akan tetapi aku khawatir kalau-kalau engkau akan berkeberatan dan terutama kalau-kalau Kongcu akan tidak mengijinkan latihan itu kaulakukan ..."
"Eh, kenapa, toako? Koko sudah tahu, bahwa engkau memberi petunjuk ilmu silat kepadaku dan dia sama sekali tidak berkeberatan, bahkan ikut bergembira melihat kemajuanku. Kalau latihan itu untuk memperkuat sin-kang dalam tubuhku, kenapa dia tidak akan mengijinkan?"
Sepasang mata yang bening itu mengamati wajah Suma Hok dengan penuh selidik.
"Begini, nona. Latihan sin-kang dari keluarga kami itu merupakan latihan rahasia yang tidak boleh dilihat atau diketahui orang lain. Dan si pelatih tidak akan berhasil tanpa bantuan seorang di antara kami yang telah ahli, dan dalam hal ini, nona harus kubantu kalau ingin berhasil. Dan latihan ini baru dapat dilakukan kalau matahari sudah tenggelam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk. Inilah yang membuat aku ragu apakah nona tidak akan berkeberatan, dan apakah Kongcu akan memberi ijin kalau nona berlatih sin-kang dalam pondok dengan kutemani selama semalam suntuk. Karena itu, lebih baik kalau engkau tidak berlatih sin-kang keluarga kami itu, nona."
Sepasang alis itu berkerut.
Memang agak aneh cara latihan itu, pikirnya.
Memang tentu saja kakaknya tidak akan mengijinkan kalau ia berlatih sin-kang berdua saja semalam suntuk dengan Suma Hok dalam tempat tertutup.
Hal itu memang tidak semestinya dan tidak pantas.
Akan tetapi, ia melihat kesungguhan dalam cara Suma Hok mengajarkan ilmu kepadanya.
Selama ini, Suma Hok mengajar dengan sungguh hati dan tidak pernah pemuda itu memperlihatkan sikap atau melakukan perbuatan yang tidak sopan kepadanya.
Ia percaya sepenuhnya kepada Suma Hok dan ia merasa yakin bahwa biarpun mereka berdua akan berlatih dalam pordok tertutup selama semalam suntuk, pasti pemuda itu tidak akan melakukan hal-hal yang tidak pantas.
Ia melihat betapa lihainya Suma Hok dan ia ingin sekali mendapatkan kekuatan sin-kang yang hebat.
"Jangan khawatir, toako. Kalau latihan itu hanya dilakukan dalam waktu semalam suntuk, aku akan dapat mengaturnya agar kita melakukan latihan itu tanpa diketahui oleh kakakku atau oleh siapapun juga."
Diam-diam Suma Hok merasa girang bukan main.
Dia sudah melihat tanda-tanda bahwa gadis itu mulai tertarik dan percaya kepadanya dan sekali gadis itu menyerahkan diri, maka sudah dapat dipastikan bahwa mau atau tidak mau, bekas puteri istana ini akan menjadi isterinya!
Bagaikan seekor laba-laba yang memasang jerat, dia telah melihat betapa kupu-kupu yang indah dan berdaging lunak itu sudah mulai mendekati jeratnya!
"Akan tetapi, bagaimana caranya, nona?
Dan aku ...
sungguh aku merasa takut kalau-kalau kelak mendapat marah dari Kongcu."
"Jangan takut, aku yang tanggung kalau sampai koko mengetahui dan memarahimu, akan kukatakan bahwa aku yang menghendaki latihan itu, bukan engkau! Dan caranya mudah saja. Kita tentukan waktunya, kemudian setelah semua orang tidur dan keadaan sunyi, kita ketemu di pondok dan melakukan latihan itu sampai pagi. Mudah saja, bukan?"
"Tapi ... tapi ... benarkah engkau yang akan bertanggung jawab kalau sampai kakakmu mengetahui dan marah?"
"Tentu saja. Dan pula, kita berdua hanya akan berlatih sin-kang, tidak melakukan hal-hal yang melanggar garis kesopanan, andaikata ada yang mengetahui sekalipun, apa salahnya?"
Hemm, dia harus berhati-hati, pikir Suma Hok.
Gadis ini ternyata lebih sukar ditundukkan dari pada yang dia kira.
Kalau menghadapi gadis lain, tentu tidak sesukar itu dia menundukkannya, Liu Kiok Lan ini seorang gadis yang tegas, berani, memiliki harga diri yang tinggi.
Seorang gadis seperti ini, walau misalnya sudah tertarik dan jatuh cinta padanya sekalipun, belum tentu akan suka menyerahkan diri begitu saja karena ia selalu menjunjung tiaggi adat istiadat dan kesusilaan, amat menghargai kehormatannya sebagai seorang bekas puteri istana.
Buktinya, gadis itu begitu benci kepada Tiauw Sun Ong karena Tiauw Sun Ong pernah berjina dengan selir ayahnya, pada hal Tiauw Sun Ong adalah pamannya sendiri.
Dia harus berhati-hati dan dia harus mempersiapkan segalanya dengan sebaik mungkin agar tidak sampai gagal.
Gagal menundukkan gadis ini berarti akan gagal semua cita-citanya.
Mereka lalu menentukan waktu untuk melaksanakan latihan itu.
Suma Hok memilih waktu tiga malam lagi.
Dia memperhitungkan bahwa malam itu cuaca akan gelap tanpa adanya bulan sedikitpun sehingga tentu malam itu keadaan di luar akan sunyi sekali.
Kiok Lan menyetujui dan mereka berjanji akan saling bertemu di pondok itu yang oleh Kiok Lan akan dibiarkan tidak terkunci daun pintunya.
Tiga malam kemudian.
Malam itu memang gelap seperti sudah diperhitungkan Suma Hok.
Agaknya keadaan malam itu membantu rencana siasatnya.
Selain tidak ada bulan, langit pun tertutup mendung sehingga bintang-bintangpun tidak nampak.
Malam gelap pekat dan udara dingin, membuat orang segan untuk keluar pintu.
Taman rumah besar bekas kaisar itupun sunyi sekali.
Yang terdengar hanya bunyi kerik jangkerik dan belalang malam.
Karena sunyinya, tidak ada yang tahu bahwa kerik jangkerik itu sempat terhenti sejenak dua kali karena adanya orang yang lewat memasuki taman menuju ke pondok dalam waktu yang sebentar saja selisihnya, kemudian sekali lagi kerik jangkerik terganggu dan terhenti.
"Selamat malam, nona."
Kata Suma Hok dengan sikap hormat ketika dia melihat Kiok Lan memasuki pintu pondok.
Dia sudah berada di situ lebih dahulu.
Ruangan pondok itu cukup luas, dengan sebuah meja dan delapan buah kursi, juga sebuah dipan di sudut.
Tidak banyak peabot di ruangan itu karena memang pondok itu dibuat hanya untuk istirahat bagi Siauw Tek dan keluarganya kalau siang terlampau terik.
Melihat pemuda yang menjadi guru tidak resmi itu sudah siap dan berada di situ, Kiok Lan tersenyum manis dan legalah hatinya.
Hadirnya Suma Hok lebih dahulu di situ berarti bahwa suasana aman dan tidak ada seorangpun mengetahui rahasia mereka malam itu!
"Selamat malam, toako.
Sukurlah, engkau sudah berada di sini.
Nah, kita dapat segera mulai dengan latihan kita, toako."
Bagaimanapun juga, berada berdua saja dengan pemuda itu di dalam pondok yang hanya diterangi lampu gantung dari luar sehingga keadaan ruangan itu remang-remang, pada malam hari pula, mendatangkan perasaan rikuh di hatinya, maka ia pun hendak menutupi perasaan itu dengan cepat-cepat melaksanakan latihan yang dijanjikan Suma Hok kepadanya.
"Nanti dulu, nona. Seperti telah kukatakan, ilmu ini merupakan ilmu keluarga Suma, ilmu rahasia atau simpanan yang biasanya hanya diajarkan kepada anggauta keluarga turun temurun, dan yang melatih ilmu ini haruslah minum ramuan obat untuk penguatnya, kalau tidak, dapat membahayakan kesehatan. Oleh karena itu, untuk memenuhi syarat-syaratnya, nona harus berjanji dan mengakui keluarga seperti lajimnya, lalu minum ramuan obat yang sudah kupersiapkan."
"Baik, toako, aku sudah siap."
Dengan tenang Suma Hok lalu mengeluarkan sebuah guci, sebuah cawan dan sebungkus obat bubuk.
Dia menuangkan isi guci yang menyiarkan bau anggur yang harum ke dalam cawan, kemudian memasukkan bubuk putih dari bungkusan.
"Nona, mari kita berlutut untuk mengucapkan janji seperti yang diharuskan bagi anggauta keluarga yang melatih ilmu ini."
Katanya dan dia sendiripun berlutut menghadap ke utara, arah Bukit Bayangan Setan tempat tinggal keluarga Suma. Kiok Lan dengan patuh mengikutinya dan berlutut di sampingnya.
"Nah, peganglah cawan ini dan tirukan ucapanku, nona."
Katanya. Kiok Lan menerima cawan itu dan sambil berlutut, ia menirukan ucapan Suma Hok.
"Saya Liu Kiok Lan, mengaku sebagai anggauta keluarga Suma, berjanji akan merahasiakan ilmu Lui-kong ciang (Tangan Halilintar) dan tidak mengajarkan kepada orang lain kecuali anggauta keluarga Suma. Bumi dan Langit menjadi saksi dan saya memperkuat janji ini dengan minum obat penguat dari keluarga Suma!"
Lalu Suma Hok memberi isarat kepada Kiok Lan untuk minum isi cawan sampai habis.
Kiok Lan meminumnya dengan taat.
Anggur itu manis dan berbau harum bercampur bau yang aneh dan keras, membuat ia tersedak, akan tetapi isi cawan itu sudah habis diminumnya.
Suma Hok menerima kembali cawan kosong dan berkata lembut.
"Engkau akan merasa pening sedikit, akan tetapi hanya sebentar. Duduklah di atas dipan itu, nona. Kalau peningmu sudah lenyap, bersilalah di atas dipan, menghadap ke dalam. Aku akan berdiri di tepi dipan dan mambantumu menghimpun sin-kang dari belakang. Sikapmu dalam samadhi harus seperti ini, dan pernapasan harus begini."
Pemuda itu memberi petunjuk dan penjelasan.
Kiok Lan memperhatikan petunjuk itu dengan seksama, kemudian benar saja, ia merasa agak pening maka cepat ia bangkit dan menghampiri dipan, lalu duduk bersila di atas dipan, menghadap ke dalam.
Ia masih mendengar betapa Suma Hok juga bangkit dan pemuda itu agaknya duduk di kursi.
Tak lama kemudian, pemuda itu bertanya.
"Apakah peningnya sudah hilang, nona?"
"Susudah ... toako ..."
Kata Kiok Lan dan mendengar suara gadis itu berbisik dan tersendat, dengan napas memburu, Suma Hok tersenyum.
Obat itu sudah mulai memperlihatkan pengaruhnya!
Dia tahu benar bahwa tidak lama lagi, paling lama sejam lagi, obat itu sudah mempengaruhi seluruh tubuh dan juga hati dan pikiran gadis itu, membuatnya seperti dibakar gairah berahi, dan dia boleh berbuat apa saja terhadap gadis itu yang tentu akan disambut dengan penuh semangat tanpa penolakan sedikitpun!
"Bagus!"
Katanya sambil menghampiri dipan, kemudian dengan lembut dia lalu menjulurkan kedua lengannya, dan kedua telapak tangannya dia tempelkan punggung Kiok Lan sambil berkata.
"Sekarang, tariklah napas perlahan-lahan seperti kuterangkan tadi, dan terima saja penyaluran hawa dari kedua tanganku, biarkan berkumpul di dalam tan-tian (titik tiga inci di bawah pusar), lalu gerakkan kedua tangan seperti yang kuajarkan tadi, mulailah menghimpun tenaga sakti Lui-kong-ciang!"
Kiok Lan yang sudah tidak merasa pening kini merasa seperti dalam mimpi.
Mula-mula tubuhnya seperti terbang atau terapung tanpa bobot dan rasanya nikmat bukan main, seperti diayun-ayun, kemudian ia merasa betapa dua telapak tangan yang menempel di punggungnya, mengeluarkan hawa yang hangat dan mendatangkan getaran yang menggetarkan seluruh tubuhnya, membuat ia merasa seperti digelitik dan mula-mula bulu tengkuknya meremang, lalu seluruh tubuh dan pikirannya mulai tidak karuan, tidak dapat dikendalikan.
Sedikit demi sedikit, bagaikan api yang mulai membakar, ia merasakan suatu rangsmgan yang luar biasa, yang membuat ia merasa tubuhnya panas, makin lama semakin panas seperti dibakar.
"Auhhh ... panas ... panas, ... gerah ..."
Ia mulai mengeluh, napasnya memburu dan suaranya seperti merintih.
Dan suara yang halus lembut itu terdengar dekat sekali dengan telinganya, berbisik lembut.
Ia tidak ingat lagi suara siapa itu akan tetapi suara itu terdengar jelas dan halus.
"Kalau panas dan gerah mengganggumu engkau boleh membuka pakaianmu, agar terasa nyaman, agar tidak mengganggu latihanmu ..."
Kiok Lan menggeleng-geleng kepala.
Nalurinya membantah dan berkeras tidak mau memenuhi keinginan hatinya yang timbul oleh bujukan itu, diperkuat oleh kegerahan yang membuat ia berkeringat.
Akan tetapi karena tubuhnya seperti dibakar, akhirnya ia tidak tahan dan mulailah ia merenggut dan melepaskan pakaiannya bagian atas.
Pada saat yang amat gawat itu.
tiba-tiba daun jendela ruangan dalam pondok itu terbuka dan sesosok tubuh manusia meloncat masuk ke dalam.
"Keparat jahanam!"
Terdengar teriakan.
"Nona Kiok Lan ...!"
Bayangan itu bukan lain adalah Pouw Cin.
Tentu saja Suma Hok terkejut bukan main dan tubuhnya sudah mencelat ke belakang dan berjungkir balik.
Melihat keadaan Kiok Lan yang tubuh bagian atasnya hampir telanjang dan yang bergoyang-goyang dan merintih-rintih, Pouw Cin yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga.
Gadis itu terbius dan terangsang!
Cepat dia meloncat dekat dan begitu tangannya menotok tengkuk Kiok Lan.
gadis itu mengeluh dan terguling jatuh roboh miring di atas dipan.
Kemudian Pouw Cin membalikkan tubuh karena dia mendengar angin menyambar dahsyat.
Dia cepat membuat gerakan menangkis, namun terlambat.
Ketika dia tadi menotok tubuh Kiok Lan, tentu saja keadaannya dari belakang terbuka dan perhatiannya masih tercurah kepada Kiok Lan sehingga tangkisannya agak terlambat.
"Dukkk!!"
Suling di tangan Suma Hok telah menotok dadanya, tepat di ulu hatinya.
"Hukkk ...!!"
Pouw Cin terjengkang.
napasnya terasa sesak dan dadanya nyeri bukan main karena suling itu memang mengandung racun yang amat hebat.
Suling itu yang membuat Suma Hok di dunia kaug-ouw dijuluki Tok-siauw-kwi (Suling Setan Kecil).
Pouw Cin mengerahkan tenaganya bergulingan, lalu melompat berdiri, matanya terbelalak, mukanya pucat, tangannya menuding ke arah Suma Hok.
"Kau ... kau ...!"
Akan tetapi Suma Hok sudah menerjangnya lagi, menyerang dengan suling mautnya.
Pouw Cin mencoba untuk melawan sedapat mungkin, akan tetapi karena totokan pertama tadi telah membuat dia terluka berat, membuat napasnya sesak dan dadanya sakit sekali, perlawanannya tidak berarti bagi Suma Hok.
Berulang kali ujung sulingnya menemui sasaran dan tubuh Pouw Cin kembali terjengkang atau terpelanting beberapa kali.
Akhirnya, sebuah hantaman suling yang mengenai kepalanya membuat Pouw Cin roboh dan tidak mampu bangkit kembali.
Mukanya berubah kehitaman karena keracunan, dari mata, telinga, mulut dan hidungnya keluar darah.
Akan tetapi matanya masih melotot memandang kepada Suma Hok, dan bibirnya masih bergerak-gerak.
"kau ... kau ... terkutuk kau ..."
Dan diapun terkulai, seorang jenderal atau panglima besar yang amat setia kepada rajanya, menemui kematian secara menyedihkan sekali.
Sejenak Suma Hok berdiri, bergantian memandang ke arah mayat Pouw Cin yang menggeletak telentang di atas lantai, ke arah tubuh Kiok Lan yang rebah miring di atas dipan.
Dia lalu mengganguk-angguk dan mulutnya tersenyum.
Senyum iblis!
Dia masih tersenyum ketika menghampiri dipan sambil kedua tangannya membuka kancing bajunya, matanya berkilat dan senyum di mulutnya semakin keji!
Menjelang pagi, gegerlah seluruh penghuni rumah besar milik bekas kaisar itu ketika Suma Hok berteriak-teriak.
"Ada pembunuh ...! Ada penjahat keji ...!!"
Semua orang berdatangan, dan tak lama kemudian Siauw Tek sendiri muncul bersama beberapa orang yang bertugas menjadi pengawalnya.
Mereka melihat Suma Hok berdiri di depan pondok dengan suling di tangan dan muka babak belur, pakaian robek-robek dan pemuda ini kelihatan kebingungan.
Begitu melihat Siauw Tek, pemuda itu cepat maju dan berlutut di depan bekas kaisar itu.
"Ahh ... Kongcu, celaka ... sungguh celaka ...!"
Ketika melihat para pengikut Siauw Tek hendak memasuki pondok, dia meloncat dan menghalangi mereka.
"Jangan masuk! Tak seorangpun boleh masuk kecuali Kongcu!"
Ketika semua orang mundur, kembali Suma Hok menghampiri Siauw Tek dan dengan suara bercampur tangis dia berkata.
"Kongcu malapetaka telah menimpa orang yang paling Kongcu percaya ..."
"Suma toako, tenanglah dan ceritakan apa yang telah terjadi?"
Siauw Tek memegang pundaknya dan mengguncangnya tidak sabar. Guncangan ini agaknya membuat Suma Hok menjadi tenang.
"Kongcu, harap perintahkan semua orang mundur, dan marilah kongcu bersama saya saja yang masuk melihat ..."
Biarpun merasa heran.
Siauw Tek memberi isarat kepada semua pembantunya untuk menjauh, kemudian diapun memasuki pondok bersama Suma Hok.
Dan apa yang dilihatnya di ruangan itu, yang kini nampak jelas karena Suma Hok membawa lampu penerangan dari luar masuk, membuat bekas kaisar itu terbelalak dan hampir saja dia terhuyung jatuh.
Suma Hok cepat memegang lengannya.
"Kuatkan hati paduka, Kongcu ..."
Katanya hormat.
"dan sebaiknya tidak membuat ribut agar tidak semua orang mengetahui terjadinya aib ini, biar kita berdua saja yang mengetahuinya ..."
Dengan bergantung kepada lengan Suma Hok, bekas kaisar itu terbelalak melihat pemandangan mengerikan di kamar itu.
Pouw Cin menggeletak di lantai, tewas dengan mata melotot, dari telinga, mata, hidung dan mulut keluar darah!
Dan yang lebih mengejutkan hatinya lagi, pakaian bekas panglimanya itu tidak karuan, celana turun dan dia hampir telanjang.
Kemudian, ketika dia mengarahkan pandang matanya ke arah dipan, dia mengeluh.
Adiknya, Liu Kiok Lan, dengan pakaian setengah telanjang pula, telentang di atas dipan dan sekilas pandang saja tahulah dia bahwa adiknya telah diperkosa orang dan kini dalam keadaan mati, pingsan atau tidur.
"Apa ... apa yang telah terjadi ... teriaknya lirih karena dia masih ingat untuk tidak membuat ribut.
"Nanti kuceritakan, Kongcu. Sekarang yang terpenting menolong Nona Liu. Kita harus membereskan letak pakaiannya agar tidak kelihatan orang lain sebelum ia sadar dari pingsannya."
"Ia ... ia tidak mati ... ?"
"Tidak, Kongcu. Hanya pingsan, tidak berbahaya."
Kata Suma Hok dan dibantu oleh Siauw Tek, dia lalu membereskan pakaian di tubuh Liu Kiok Lan yang setengah telanjang itu.
Setelah pakaian gadis itu beres, Siauw Tek mengguncang-guncang pundak adiknya dan memanggil-manggil namanya.
Suma Hok berpura-pura ikut menggugah, akan tetapi diam-diam dia menotok pungggung gadis itu dan Kiok Lan bergerak, sadar dan membuka matanya.
Begitu melihat dirinya rebah di atas dipan dan di situ nampak kakaknya, ia bangkit duduk dan terkejut, memandang kepada Suma Hok.
"Koko ...!"
Serunya bingung karena seingatnya, tadi ia melakukan latihan Lui-kongciang, dipimpin dan dibantu oleh Suma Hok lalu tiba-tiba jendela terbuka, Pouw Cin masuk dan iapun tidak ingat apa-apalagi.
Dan kini tahu-tahu kakaknya telah berada di situ bersama Suma Hok.
"Tenanglah, adikku, tenanglah, jangan ribut agar orang-orang di luar tidak tahu apa yang telah terjadi. Jahanam busuk itu ...!"
Dia menuding ke arah tubuh Pouw Cin. Kiok Lan yang masih agak nanar itu memandang dan iapun terbelalak.
"Dia ... dia kenapa ... ?"
Ia menoleh kepada Suma Hok.
"Toako, apa yang telah terjadi? Kuingat tadi dia meloncat memasuki kamar dan sekarang ... dia ... dia mati ...?"
Kiok Lan meloncat turun, akan tetapi tiba-tiba ia menahan jeritnya dan wajahnya menyeringai kesakitan.
Ia merasa nyeri dan tahu bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya!
"Ihhh ...
aku ...
kenapa ...?
Toako, apa yang telah terjadi?"
Tanyanya, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.
"Benar, ceritakan, Suma-toako, apa yang telah terjadi tadi?"
Tanya pula Siauw Tek.
"Kongcu, nona, sebaiknya kalau kita suruh angkat dulu jenazah ini dan kita ceritakan bahwa dia tewas karena perbuatan mata-mata. Semua orang tahu bahwa Kwa Bun Houw mempunyai ilmu silat tinggi dan bahkan telah mengalahkan Paman Pouw, maka mereka tentu akan percaya kalau dikabarkan bahwa yang membunuhnya adalah Kwa Bun Huow, mata-mata kerajaan Chi. Dengan demikian, tidak akan terjadi banyak dugaan dan kecurigaan."
Kakak beradik itu hanya dapat mengangguk setuju, karena mereka masih terkejut dan tegang, apalagi Kiok Lan yang kenyerian itu kini pucat sekali dan dapat menduga bahwa tentu telah terjadi hal mengerikan pada dirinya!"
Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik.
Dia sendiri lalu mengajak Siauw Tek dan Kiok Lan kembali ke dalam rumah.
Di dalam ruangan sebelah dalam yang tertutup, di mana tidak ada orang lain dapat mendengarkan percakapan mereka, mereka bertiga duduk dan kakak beradik itu mendesak agar Suma Hok menceritakan apa yang telah terjadi.
Suma Hok memandang kepada Siauw Tek, lalu berkata dengan suara tenang.
"Kongcu, sebelumnya saya harap Kongcu suka memaafkan saya dan juga Nona Liu Kiok Lan. Malam tadi. Nona Liu sedang berlatih semacam ilmu menghimpun tenaga sakti dari saya. Karena ilmu itu harus dilatih di waktu malam dan, tidak boleh-dilihat orang lain, terpaksa kami melakukan di dalam pondok di taman itu. Selagi kami berlatih, tiba-tiba Paman Pouw Cin menerobos masuk melalui jendela. Dia menotok roboh Nona Liu dan saya demikian terkejut sehingga tidak dapat menjaga diri dan sayapun roboh tertotok dan tidak mampu bergerak sama sekali."
Dia memandang kepada Kiok Lan yang matanya terbelalak.
"Ketika itu, saya sedang menyalurkan tenaga sin-kang untuk membantu Nona Liu, maka tenaga saya tersalur dan tidak mampu menahan ketika Pouw Cin menyerang dan merobohkan saya dengan totokan."
Hui Hong Bertemu Sang Ayah MELIHAT Suma Hok berhenti bercerita dan kelihatan sedih dan bingung Kiok Lan yang sudah menduga hal terburuk menimpa dirinya, segera mendesaknya.
"Lalu bagaimana, toako? Teruskan ...!!"
Kembali Suma Hok nampak kebingungan, sebentar memandang kepada gadis itu, lalu kepada Siauw Tek, dan agaknya amat sukar baginya untuk bicara.
"Toako, ceritakan, apa yang selanjutnya terjadi?"
Siauw Tek mendesak pula.
"Saya roboh tertotok, berusaha untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, akan tetapi tidak berhasil karena saya tertotok ketika tenaga saya tersalur. Kemudian ... kemudian ... si jahanam itu ... saya hanya dapat melihat saja, tidak berdaya sehingga akhirnya saya tidak kuasa melihatnya lagi, saya memejamkan mata ..."
"Apa yang dia lakukan? Cepat, jawab!"
Suma Hok lalu membuka pintu pondok dan memanggil para penjaga, menerangkan bahwa Pouw Cin tewas oleh mata-mata Kwa Bun Houw, dan agar jenazah itu dirawat baik-baik.
Kiok Lan membentak, mukanya sebentar merah, sebentar pucat.
"Dia menggunakan kesempatan selagi saya tidak berdaya, dan selagi engkau juga ditotoknya pingsan ... dia ... binatang itu telah melakukan hal keji terhadap dirimu nona ..."
Kiok Lan menjerit dan menutupi mukanya dengan kedua tangan, menangis.
" ... jahanam busuk, keparat terkutuk ...?"
Ia memaki-miki dan merintih-rintih, hatinya hancur lebur.
Kakaknya cepat bangkit dan merangkulnya, mencoba untuk menghiburnya.
Namun sia-sia, Kiok Lan terus menangis tersedu-sedu.
Dua orang laki-laki itu membiarkannya melepas kedukaannya melalui tangisnya dan setelah agak mereda.
Siauw Tek bertanya kepada Suma Hok yang sejak tadi hanya menundukkan mukanya.
"Suma-toako, lalu apa yang terjadi? Bagaimana jahanam terkutuk itu dapat mampus?"
Mendengar pertanyaan kakaknya ini, biarpun masih terisak-isak, Kiok Lan ikut mendengarkan.
"Saya berusaha keras untuk membebaskan diri dari pengaruh totokan, Kongcu. Akan tetapi memang totokan itu kuat sekali sehingga saya tidak mampu menolong Nona Liu. Kemudian, jahanam busuk itu mengakhiri perbuatannya yang terkutuk dan agaknya hendak membunuh saya agar rahasianya tidak sampai bocor. Akan tetapi, tepat pada saat dia hendak membunuh saya dengan totokan maut, saya dapat terbebas dari pengaruh totokan. Cepat saya lalu mencabut suling dan menyerangnya. Kami berkelahi dan akhirnya saya dapat merobohkan dan menewaskan manusia berwatak iblis itu."
Kiok Lan mengeluarkan suara mengeluh, dan gadis ini lalu bangkit dan sambil menutupi muka dengan kedua tangan, iapun berlari keluar dari ruangan itu.
"Siauw-moi ...!!"
Kakaknya berseru memanggil dan mengejar. Akan tetapi gadis itu memasuki kamarnya sendiri dan menutupkan, daun pintu, memalangnya dari dalam sehingga tidak ada orang lain dapat memasukinya.
"Kongcu, saya kira lebih baik kalau sementara ini kita biarkan saja Nona Liu melepaskan kedukaan dan kekagetannya seorang diri saja dalam kamarnya."
Kata Suma Hok yang ikut pula mengejar dan kini menyentuh lengan bekas kaisar itu. Siauw Tek menarik napas panjang, lalu mengeluh.
"Ahh, nasib ... kenapa begini buruk nasib kami sekeluarga? Aih, aku dapat membayangkan betapa hancurnya hati adikku. Kini ia ternoda, lalu bagaimana nanti masa depannya? Aihhhh ...!"
Kembali bekas kaisar itu mengeluh panjang dan wajahnya nampak bersedih sekali.
"Semua itu telah terjadi, Kongcu, tidak cukup hanya untuk disedihkan saja."
Suma Hok menghibur. Mereka berjalan kembali memasuki ruangan yang tadi. Siauw Tek menutupkan daun pintu dan kini mereka berdua bercakap-cakap tanpa diketahui orang lain.
"Aih, Suma-toako, bagaimana aku tidak akan bersedih? Tanpa kusangka, malapetaka hebat menimpa diri kami. Adikku menderita aib, diperkosa orang, dan pembantuku yang paling baik, ternyata seorang jahanam dan kini telah tewas! Adikku kehilangan kebahagiaan dan aku kehilangan pembantu yang setia."
"Kongcu, memang sudah sepantasnya kalau Kongcu bersedih, akan tetapi terlalu bersedih tidak ada gunanya, bahkan kalau berlarut-larut amat tidak baik, merugikan diri sendiri. Kongcu kehilangan pembantu utama, akan tetapi saya siap untuk membantu Kongcu dengan kesetiaan yang tidak kalah besar, dan saya rela mengorbankan jiwa raga untuk membantu Kongcu sampai tercapai cita-cita Kongcu menumbangkan kerajaan Chi dan membangun kembali kerajaan Liu-sung!"
Wajah Siauw Tek yang tadinya muram itu kini agak berseri dan dia menatap tajam wajah Suma Hok.
"Terima kasih, Suma-toako. Agak terhibur hatiku dengan kesediaanmu ini. Apalagi kalau kelak ayahmu suka pula untuk bekerja sama. Akan tetapi, ahhh ... hatiku tak mungkin dapat melupakan nasib yang menimpa adikku! Bagaimana aku tidak akan bersedih?"
"Kongcu, kita sebagai laki-laki harus mampu bersikap tenang menghadapi segala peristiwa dan mencari jalan keluarnya, memang sudah menjadi kenyataan, walaupun hanya kita bertiga yang mengetahuinya, bahwa Nona Liu tertimpa aib yang akan menghancurkan masa depannya, akan tetapi hal itupun kiranya masih dapat ditemukan jalan keluarnya."
Bekas kaisar itu memandang Suma Hok dengan sinar mata mengandung penuh pertanyaan.
"Bagaimana mungkin hal seperti itu dapat dicari jalan keluarnya, toako?"
"Kongcu, kalau Nona Liu menikah, tentu aib itu akan lenyap."
"Menikah? Toako, bagaimana kau dapat berkata demikian? Justeru di situlah letak persoalannya. Adikku, juga aku, tentu akan menderita malu besar kalau ia menikah kemudian suaminya tahu ..."
"Toako, tidak akan ada keributan, tidak akan ada rasa malu kalau calon suami Nona Liu sudah mengetahui akan aib itu dan suka menerima kenyataan yang ada,"
"Hemm, siapa yang akan mau? pria mana. yang akan suka berkorban seperti itu, menikahi seorang gaiis yang sudah ..."
"Saya mau, Kongcu."
"Engkau ...?! !"
Bekas kaisar itu memandang heran, akan tetapi ada sinar harapan terkandung dalam pandang matanya.
"Engkau, toako? Tapi ... engkau sendiri tahu. bahkan menjadi saksi tunggal ..."
"Toako, saya merasa kasihan sekali kepada Kongcu, juga kepada Nona Liu. Oleh karena itu, saya bersedia untuk menutupi aib itu, dengan segala kerendahan hati, dengan suka rela. tentu saja kalau Nona Liu sudi menerima saya dan kalau paduka menyetujui. ..."
"Aku? Tentu saja aku setuju sepenuhnya, bahkan aku akan berterima kasih sekali kepadamu, toako! Dan tentang adikku, bagaimana mungkin ia akan menolak? Pengorbananmu ini akan menolongnya, melepaskannya dari aib dan mendatangkan sinar terang yang baru bagi masa depannya. Aku akan segera menyampaikan kepadanya, toako, agar terhibur hatinya dan tidak menjadi putus asa."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekala Siauw Tek sudah menemui adiknya di dalam kamar adiknya.
Karena sudah agak reda, tangisnya, Liu Kok Lian membukakan pintu kamarnya dan begitu kakaknya memasuki kamar.
ia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Siauw Tek, merangkul kedua kaki bekas kaisar itu dan menangis.
Siauw Tek mengangkat bangun adiknya, menuntunnya untuk duduk di pembaringan dan dia duduk di tepi pembaringan.
"Tenangkan hatimu, Kiok Lan, dan sudahlah, jangan bersedih lagi. Aku telah menemukan jalan terbaik bagiku, yang akan menchindarkan engkau dari aib ini."
Gadis itu, dengan mata membengkak merah dan kedua pipi masih basah, memandang kakaknya.
Ia masih belum dapat mengeluarkan kata-kata akan tetapi pandang matanya sudah mengajukan pertanyaan apa yang dimaksudkan kakaknya dengan ucapan itu.
"Adikku yang manis, hentikan tangismu dan dengarkan baik-baik. Kita telah mendapatkan bintang penolong, yaitu seorang pemuda yang dengan suka rela akan menutupi aib pada dirimu. Dia bersedia untuk menikah denganmu, menjadi suamimu yang sah."
"Koko! Bagaimana mungkin aku ..."
"Ssttt ... jangan kfrawatir. Dia sudah tahu akan keadaan dirimu, bahkan dia yang telah menyaksikan semua itu. Dia adalah Suma Hok ..."
"Ahh ...!"
Wajah gadis itu berubaha kemerahan, tentu saja ia merasa malu bukan main mengenangkan bagaimana pemuda itu telah menjadi saksi yang tak berdaya ketika, ia dalam keadaan pingsan, diperkosa oleh Pouw Cin!"
"Ingat, adikku. Dia kini menjadi pambantu utamaku, pengganti Paman Pouw Cin yang ternyata menjadi jahat seperti kemasukan iblis, dan Suma-toako memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Dan selain dari itu, bukankah dia pula yang telah membalaskan sakit hatimu, telah membunuh jahanam yang berbuat keji terhadap dirimu?"
"Akan tetapi ... koko, kenapa dia ... dia mau mengorbankan diri untuk menolongku?"
Ia meragu karena masih bimbang, tidak tahu harus mengambil keputusan bagaimana semua peristiwa ini terjadi demikian tiba-tiba dan mengejutkan.
Tadinya, ia sebagai seorang gadis yang lincah gembira, yang masih remaja karena usianya baru tujuh belas tahun, tiba-tiba saja telah dipaksa untuk menjadi seorang gadis dewasa yang dihadapkan pada pernikahan!
"Dia merasa iba kepadaku, dan kepadamu, siauw-moi, dan dia menawarkan diri selain untuk menggantikan Pouw Cin menjadi, pembantuku yang setia, dia juga bersedia untuk menutupi aibmu dan menjadi suamimu.
Bukankah itu hebat sekali, siauw-moi?
Dengan pengorbanan orang gagah itu, semua menjadi beres, melapetaka ini bahkan menjadi berkah.
Aku mendapatkan seorang pembantu yang amat baik.
dan engkau mendapatkan seorang suami yang baik pula."
"Tapi ... aku ... aku sebetulnya belum mempunyai keinginan untuk berumah tangga, koko, usiaku juga baru tujuh belas tahun ..."
"Aku mengerti, adikku. Akan tetapi dalam keadaanmu seperti ini, kurasa ... ah, kita terpaksa ...! Bagaimana, Kiok Lan, engkau setuju, bukan? Aku harus memberi keputusan kepada Suma-toako sekarang juga agar dia tidak ragu-ragu dalam membantuku."
"Kiranya tidak ada jalan lain bagiku kecuali menyetujui jalan keluar yang satu-satunya ini, koko. Akan tetapi, biarlah aku bicara dulu dengan dia, baru aku akan memberi keputusan."
"Baiklah, adikku. Aku menunggu dengan sabar, dan engkau harus ingat juga keadaanku, karena aku amat membutuhkan bantuan Suma-toako dan kalau engkau menolak, mungkin dia akan merasa tersinggung. Dia menawarkan diri untuk menolong, kalau ditolak, seolah kita memandang rendah kepadanya."
"Aku mengerti. Biar aku yang bicara sendiri dengannya, koko."
Demikianlah, baru dua hari kemudian, setelah mata gadis itu tidak lagi membengkak dan merah, setelah lenyap bekas-bekas tangis dukanya, ia memberi kesempatan kepada Suma Hok untuk bertemu dengannya di ruangan tamu.
Ia tidak mau mengadakan pertemuan dengan Suma Hok di taman.
Semenjak terjadinya peristiwa itu, taman dan pondoknya seolah menjadi tempat yang mengerikan bagi Kiok Lan.
Mereka duduk berhadapan di dalam ruangan tamu itu.
Hati Suma Hok merasa lega dan juga kagum melihat betapa gadis itu kini sudah pulih, tidak lagi terbenam dalam duka.
Namun ada suatu perubahan terjadi, yaitu dalam sikapnya.
Biasanya, Liu Kiok Lan adalah seorang gadis yang lincah jenaka dan gembira, bahkan masih agak kekanak-kanakan.
Akan tetapi kini sikapnya menjadi lain, begitu tenang pendiam dan gerak geriknya halus, seolah gadis remaja itu kini telah menjadi seorang wanita dewasa yang dapat menguasai dan mengendalikan diri.
"Nona Liu ..."
Kata Suma Hok setelah mereka berdua duduk berhadapan agak lama dan keduanya berdiam diri saja.
Liu Kiok Lan mengangkat muka memandang.
Dua pasang mata bertemu pandang, bertaut dan akhirnya Kiok Lan lebih dahulu menundukkan mukanya, kedua pipinya agak kemerahan karena kembali ia teringat akan peristiwa, yang amat memalukan baginya itu dan betapa pemuda di depannya ini yang menjadi saksi tunggal.
Ia masih menundukkan mukanya ketika dengan suara lirih.
"Suma-toako, aku telah mendengar dari kakakku tentang niatmu untuk menolong aku. ..."
Ia berhenti, sukar agaknya untuk melanjutkan.
"Nona, maafkan kalau engkau menganggap aku lancang. Sesungguhnya, aku memang tidak cukup berharga dan pantas untuk menjadi teman hidupmu ..."
Suma Hok dengan cerdik mengambil sikap rendah hati.
"Toako, aku mendengar dari kakakku bahwa engkau bersedia melakukan itu karena engkau merasa iba kepadaku dan karena engkau ingin membebaskan aku dari aib. Benarkah itu?"
"Benar sekali, nona!"
Kata Suma Hok cepat.
"Aku merasa amat iba kepadamu, aku ingin membebaskan engkau dari kedukaan dan keputus-asaan, juga ingin melenyapkan aib yang kauderita."
Hening sebentar dan setelah menghela napas beberapa kali, Liu Kiok Lan mengangkat muka menatap wajah pemuda itu dan kini.!! Sinar matanya tajam penuh selidik.
"Hanya itu saja alasannya? Engkau hendak menikahiku hanya karena ingin menolongku, hanya karena engkau merasa iba kepadaku?"
Sepasang mata itu memandang tanpa berkedip.
"Tidak ada alasan lain?"
Suma Hok terkejut.
Mata itu seolah dapat menjenguk hatinya.
Tentu saja alasan utamanya bukan menutup aib, bukan pula iba, melainkan sama sekali berlainan.
Dia ingin memperisteri gadis itu selain untuk mendapatkan seorang isteri yang cantik jelita bekas puteri istana, juga hal itu akan mengangkat derajatnya dan akan memperbesar kemungkinan dia kelak menduduki jabatan tinggi!
Sama sekali dia tidak merasa iba, dan seujung rambutpun dia tidak perduli akan aib yang menimpa diri Kiok Lan atau gadis yang manapun juga di dunia ini.
Dia seorang yang cerdik dan licik bukan main.
Biarpun pertanyaan itu diam-diam mengejutkan hatinya, hanya sebentar saja dia tertegun.
Segera dia tersenyum malu-malu dan berkata dengan suara lirih menggetar.
"Nona. sebetulnya aku tidak berani mengatakan hal yang sejak dulu menjadi bisikan hatiku ini, akan tetapi ... karena sekarang engkau bertanya, terpaksa aku memberanikan diri untuk mengaku terus terang. Nona Liu Kiok Lan, sebelumnya maafkan aku, akan tetapi ... sejak pertama kali kita berjumpa, sejak aku membantumu menghadapi Ngo-liong Sin-kai itu, aku ... telah jatuh cinta kepadamu! Nah, lega hati ini telah mengeluarkan bisikan hatiku itu, nona. Sejak pertama kali bertemu, aku telah jatuh cinta padamu. Akan tetapi ... siapakah aku ini? Nona adalah seorang bekas puteri istana, bahkan adik bekas, kaisar, seorang puteri bangsawan, dan aku ... aku hanya seorang pendekar petualang, maka sampai matipun aku tidak akan berani menyatakan cintaku kepadamu. Kemudian, sungguh jahanam Pouw Cin itu! Kemudian terjadilah malapetaka itu menimpa dirimu, nona. Karena tidak melihat jalan keluar lain untuk menolongmu, maka aku memberanikan diri untuk menyatakan kesediaanku menikahimu tentu saja kalau nona sudi menerimaku."
Terjadi perubahan sedikit demi sedikit pada wajah yang masih agak pucat itu.
Kedua pipi itu kemerahan, mata itu bersinar dan wajahnya berseri, mulutnya dihias senyum yang ditahan-tahan.
Pengakuan cinta Suma Hok sungguh merupakan obat amat mujarab yang dapat mengurangi rasa nyeri, pedih dan perih di hati gadis itu.
Kalau pemuda itu hendak menikahinya hanya karena iba, hanya untuk menolongnya, maka dalam hubungan itu tentu tidak ada ikatan batin, akan hambar dan seperti permainan sandiwara belaka.
Akan tetapi kalau ada cinta, itu lain lagi!
Dan agaknya tidak akan sukar baginya untuk mencinta pemuda itu, yang memang sudah dikaguminya sejak semula, walaupun saat itu ia belum merasakan adanya kasih sayang itu.
Melihat gadis itu hanya menundukkan mukanya yang kini kemerahan, mata itu tadi bersinar-sinar, dan bibir itu kini agak merekah dengan senyum malu-malu, Suma Hok juga tersenyum senang dan bangga, penuh kemenangan.
Dia menanti sampai beberapa saat lamanya, dan melihat gadis itu agaknya sukar untuk bicara, diapun benar ya lembut tanpa mendesak.
"Bagaimana jawabanmu, nona? Percayalah andaikata nona merasa terlalu tinggi untuk menjadi jodohku, katakan saja terus terang dan aku tidak akan menyalahkan mu, hanya aku bersumpah selamanya tidak akan menikah dengan wanita lain. Sebaliknya, kalau nona setuju, aku akan membahagiakanmu, nona, dan aku akan membantu kakakmu sampai tercapai cita-cita kita bersama, yaitu membangun kembali kerajaan Liu-sung.' Betapa muluknya janji yang diucapkan pemuda itu. Kiok Lan sampai terbuai dan memejamkan mata sejenak, kemudian ketika ia membuka matanya dan mengangkat muka memandang, Suma Hok melihat betapa pandang mata kepadanya itu kini sudah berubah. Demikian indah, demikian mesra! "Toako, aku menerima usulmu atau katakanlah pinanganmu dan aku berterima kasih kepadamu. Akan tetapi, aku minta agar urusan perjodohan ini ditunda sampai setahun lagi. Setahun kemudian, barulah aku bersedia untuk melangsungkan pernikahan denganmu, toako."
Diam-diam Suma Hok terkejut dan kecewa.
"Maaf, nona, akan tetapi mengapa kita harus menanti sampai satu tahun lagi? Apa yang menjadi halangannya?"
"Harap jangan salah paham, toako. Terus terang saja, sejak pertama akupun sudah kagum kepadamu, walaupun belum ada cinta kasih seperti yang terdapat dalam perasaan hatimu kepadaku. Maka, kalau aku sekarang menerima, hal itu kulakukan penuh kesadaran dan keikhlasan. Akan tetapi, aku pernah mengambil keputusan bahwa sebelum usiaku delapan belas tahun, aku tidak akan menikah. Kita masih mempunyai waktu setahun untuk saling bergaul sebagai tunangan, dan dalam waktu itu, aku juga ingin dapat jatuh cinta kepadamu, kepada orang yang akan menjadi suamiku selama hidupku."
Bukan main girangnya hati Suma Hok.
Tidak apa menanti setahun, karena bukan gairah berahi yang mendorongnya memperisteri Kiok Lan.
Biarpun belum menikah, kalau dia sudah menjadi tunangan gadis ini, berarti dia sudah menjadi calon adik ipar bekas kaisar, berarti dia sudah menjadi keluarga dekat.
Apalagi kalau dia menjadi pembantu utama!
Kedudukan tinggi sudah menanti di ambang pintu baginya!
"Baiklah, nona ...
atau bolehkah aku menyebutmu moi-moi (adinda?) Lan-moi?"
Dia tersenyum. Kiok Lan juga tersenyum, kini senyum wajar yang timbul karena kelegaan dan kegembiraan hati.
"Tentu saja boleh, dan aku akan menyebutmu koko, Suma-koko. Dan kita akan lanjutkan latihan-latihan ilmu silat, ya, koko?"
"Tentu saja. Lan-moi. Aku akan mengajarkan seluruh apa saja yang kumiliki kepadamu. Bukankah engkau ini calon isteriku tersayang?"
Demikianlah, mulai hari itu, Suma Hok menjadi pembantu utama dari Siauw Tek, menggantikan kedudukan Pouw Cin.
Semua perwira diperkenalkan kepadanya, bahkan seluruh pasukan yang jumlahnya tidak kurang dari lima ribu orang besarnya itu kini mengetahui bahwa panglima Pouw Cin telah tewas oleh mata-mata musuh, dan kini yang menjadi panglima adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dengan julukan Tok-siauw-kui, pu-tera dari Kui-siauw Giam-ong Suma Koan yang terkenal sebagai datuk dari Kui-eng-san (Bukit Bayangan Setan).
Para perwia juga sudah diberitahu bahwa panglima atau komandan mereka adalah calon suami nona Liut Kiok Lan.
Tentu saja kenyataan ini membuat mereka lebih tunduk dan hormat kepada Suma Hok.
Pemuda yang amat cerdik inipun dapat bertahan, mengekang gairahnya.
Dia tahu bahwa Kiok Lan adalah seorang gadis yang berbeda dari gadis biasa.
Ia seorang bekas puteri yang mempunyai harga diri amat tinggi.
Dia tidak berani main-main dan tidak pernah dia mencoba untuk membujuk calon isterinya itu menyerahkan diri kepadanya.
Dia akan bersabar sampai waktu setahun lewat, sampai mereka dinikahkan secara resmi.
Dan Suma Hok juga tidak tinggal diam sebagai pengganti Pouw Cin.
Dia bahkan mengajarkan ilmu silat tambahan kepada para perwira dan memerintahkan agar semua perajurit dilatih ilmu itu sehingga setiap orang perajurit merupakan tenaga yang tangguh.
Selain itu, Suma Hok juga memberi kabar kepada ayahnya yang menjadi gembira sekali mendengar puteranya menjadi calon adik ipar bekas kaisar Cang Bu yang kini sedang berusaha untuk mendirikan kembali kerajaan Liu-sung yang sudah jatuh lima tahun yang lalu.
Dengan senang hati diapun menyatakan siap untuk membentu, membuat Siauw Tek semakin gembira dan bersemangat.
Kota raja Nan-king menjadi semakin ramai dan besar setelah kini menjadi kota raja dari kerajaan baru, yaitu dinasti Chi (479-501) yang didirikan oleh Siauw Hui Kong yang kini menjadi kaisar pertama kerajaan Chi dengan nama Kaisar Siauw Hian Ong.
Berbeda dengan sikap kerajaan Liu-sung yang lebih condong memihak Agama To dari pada Agama Buddha sehingga kerajaan Liu-sung tidak mendapatkan dukungan dari Agama Buddha yang memiliki banyak pengikut, Kaisar Siauw Bian Ong membuka pintu lebar-lebar bagi kedua agama itu.
Apalagi pada masa itu, kerajaan Wei di utara, yaitu kerajaan Bangsa Toba atau Tartar yang dipimpin oleh Kaisar Wei Ta Ong, mengambil sikap memusuhi para hwesio (pendeta Buddha) yang dianggap sebagai orang-oran gasing.
Banyak sekali hwesio yang dibunuh di kerajaan Wei yang dipengaruhi oleh para pengikut agama To, dan banyak yang melarikan diri ke selatan, menyeberangi Sungai Yang-ce dan mengungsi ke daerah kerajaan baru Chi.
Di selatan ini.
Agama Buddha berkembang dengan pesat, dan kebijaksanaan Kaisar Siauw Bian Ong membuat permusuhan yang terjadi antara para pengikut Agama To dan pengikut Agama Buddha tidak terbawa ke selatan.
DI kerajaan ini, kedua pengikut agama itu dihargai dan dihormati, penyebaran agama mereka diterima secara bebas oleh rakyat.
Karena inilah, maka kota raja Nan-king nampak semakin meriah dan ramai.
Keamanan jauh lebih baik dari pada di utara, dan suasana aman ini tentu saja menumbuhkan perdagangan.
Pedagang keluar masuk kota raja Nan-king.
dan tentu saja akibatnya banyak dibangun rumah-rumah penginapan dan rumah-rumah makan yang besar dan yang setiap hari penuh dengan tamu.
Pasukan keamanan kota raja Nan-king juga.
terkenal dengan jagoan-jagoan istana yang lihai, dan yang selalu melakukan perondaan untuk menjaga ketertiban dan keamanan di kota raja itu.
Tidak ada penjahat berani banyak lagak di kota raja ini, dan suasana yang terjamin keamanannya itulah yang membuat para pedagang menjadi semakin bersemangat melakukan perdagangan dan suasana di kota ini nampak meriah dan gembira.
Apalagi golongan penjahat kecil, bahkan para tokoh kang-ouw, baik golongan hitam atau putih, baik para penjahat maupun pendekar, tidak ada yang berani malakukan kejahatan secara berterang di kota raja Nanking.
Kaisar Siauw Bian Ong adalah seorang kaisar yang bijaksana dan pandai, tidak seperti bekas Kaisar Cang Bu dari kerajaan Liu-sung yang hanya mementingkan kesenangan diri pribadi belaka, kurang memperhatikan nasib rakyat jelata sehingga pemerintahannya dicengkeram oleh para pembesar yang korup.
Para pembesar seperti itu, bukan hanya tidak memperhatikan nasib rakyat, bahkan lebih celaka lagi, sebaliknya dari pada mengayomi rakyat, mereka bahkan menekan rakyat dengan berbagai cara untuk memenuhi gudang harta mereka sendiri.
Kalau bapaknya penjahat, bagaimana mengharapkan anaknya menjadi baik?
Kalau para penjahat tinggi korup, bagaimana mungkin mengharapkan para penjahat rendahan akan bersikap jujur?
Dan pembesar tinggi yang menjadi pengawas sendiri bertindak korup, bagaimana mungkin dia berani meindak hawahannya yang juga melakukan Korup seperti dia sendiri, dalam ukuran lebih kecil?
Kalau yang di atasan jujur, sudah, pasti yang di bawahan tidak berani curang karena yang di atasnya tentu akan menghantamnya.
Kaisar Siuw Bian Ong yang mengaku sebagai keturunan keluarga Siauw yang besar yang terkenal sejak nenek moyang mereka yang bernama Siauw Ho menjadi perdana menteri kerajaan Han (tahun 206 S.M.
-8 A.D.), maklum bahwa sebuah kerajaan baru akan kokoh kuat kalau mendapatkan dukungan rakyat jelata.
Biarpun memiliki kekuatan pasukan yang besar dan kuat.
kalau tidak mendapat dukungan rakyat dan lebih lagi kalau sampai dibenci rakyat, maka kekuatan pasukan itu tidak akan banyak manfaatnya.
Dan satu-satunya cara untuk memperoleh dukungan rakyat hanyalah kalau pemerintah dapat mendatangkan kemakmuran bagi rakyat jelata.
Kalau rakyat merasa puas.
dengan langkah yang diambil oleh pemerintah, kalau rakyat dapat memetik buah dari pohon tanaman pemerintah, kalau rakyat dapat ditingkatkan taraf hidupnya, maka rakyat tentu akan mencintai pemerintah dan akan membela mati-matian kalau pemerintah yang mendatangkan kebahagiaan itu sampai terancam oleh kekuasaan lain.
Dan satu-satunya cara untuk mendatangkan kemakmuran kepada rakyat jelata hanyalah dengan pembangunan dalam segala bidang.
memperluas lapangan pekerjaan, menjaga ketertiban dan keamanan sehingga rakyat dapat bekerja dengan gembira karena merasa aman dan tenteram, mengatur sedemikian rupa dengan segala kebijaksanaan agar setiap orang dari rakyat jelata terpenuhi semua kebutuhan pokok hidup mereka.
Dan kalau para cerdik pandai, mereka yang memegang kemudi pemerintahan, terdiri dari orang-orang bijaksana yang tidak memetingkan diri sendiri, tidak melakukan korupsi, tidak menekan rakyat, maka cita-cita untuk memakmurkan kehidupan rakyat bukan sekedar menjadi slogan dan mimpi kosong belaka.
Kaisar Siauw Bian Ong berusaha ke arah itu.
Maka, tidaklah mengherankan apabila kini, setelah lima tahun dia mendirikan dinasti Chi, kota raja Nan-king menjadi sebuah kota kerajaan yang besar, ramai dan perdagangan maju dalam segala bidang.
Juga kaisar baru ini bersikap lunak terharap bekas para pejabat tinggi, para bangsawan, bahkan keluarga dari kerajaan Liu-sung yang telah dia jatuhkan.
Dia tidak seperti penakluk-penakluk yang lain, yang sering kali melakukan pembersihan, membunuhi seluruh keluarga raja yang ditaklukkan, bahkan membunuhi para pejabat tinggi kerajaan yang kalah karena takut kalau-kalau mereka akan mengadakan pembalasan dan pemberontakan.
Hal ini mungkin karena memang masih ada hubungan keluarga antara keluarga Siauw dan keluarga Liu, yaitu keturunan raja-raja yang memerintah kerajaan Liu-sung.
Akan tetapi terutama sekali karena Kaisar Siauw Bian Ong ingin agar para cerdik pandai bekas pembesar kerajaan Liu-sung, kini membantu pemerintahannya, dan melihat bahwa pemerintah yang baru jauh lebih baik dari pada pemerintah kerajaan yang telah jatuh itu.
Satu di antara keluarga bangsawan yang tidak dibasmi, dihukum atau dibunuh oleh pemerintah yang baru adalah keluarga bangsawan Kwan yang telah turun temurun menjadi bangsawan yang memegang jabatan penting dalam kerajaan Liu-sung.
Yang terakhir, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, Kwan Jin Kun memegang kedudukan tinggi, yaitu sebagai Menteri Kehudayaan.
Kwan-taijin (Pembesar Kwan) adalah seorang sasterawan dan seniman yang bijaksana dan lemah lembut.
Karena dia seorang yang mencintai pekerjaannya, mencintai kebudayaan, maka dia sejak dahulu tidak pernah menjadi seorang pembesar yang korup dan sewenang-wenang seperti banyak pejabat lainnya.
Dia tidak pernah menyalah-gunakan kekuasaannya, apalagi karena jabatannya mengurus kebudayaan, maka jabatannya sendiri tidak memberi banyak kesempatan kepadanya untuk melakukan tindakan yang menyimpang dari kebenaran.
Biasanya, kesempatan yang membuat orang melakukan penyelewengan.
Ketika kerajaan Liu-sung jatuh.
Kwan-taijin tidak mengajak keluarganya melarikan diri seperti banyak pembesar lainnya.
Akan tetapi, diapun tidak lalu menyerah kepada penguasa baru.
Dia bukan seorang pengkhianat, bukan pula penakut.
Kalau dia tidak mengikuti kaisarnya yang melarikan diri mengungsi, hal itu bukan karena dia tidak setia kepada kerajaan Liu-sung, melainkan sudah hal suatu ketidakcocokan antara dia dan kaisar Cang Bj, pernah dia memrotes kaisar dan para pejabat tinggi yang hanya tenggelam dalam kesenangan tanpa memperdulikan keadaan rakyat, bahkan lengah terhadap gejala pemberontakan yang timbul di mana-mana, akan tetapi protes ini bahkan membuat kaisar marah-marah kepadanya.
Oleh karena itu, ketika kerajaan Liu-sung jatuh, diapun tinggal saja di rumah bersama keluarganya.
Dia sama sekali tidak merasa takut, karena dia tidak pernah merasa bersalah.
Kalau penguasa baru akan membunuhnya, diapun sudah siap.
Kwan Jin Kun mempunyai dua orang anak.
Yang pertama adalah seorang puteri bernama Kwan Hwe Li, akan tetapi keluarga itu telah kehilangan puteri ini sejak kurang lebih tiga puluh tahun yang lalu!
Sampai sekarang, keluarga itu belum pernah bertemu kembali dengan puteri itu yang meninggalkan rumah.
Kwan-taijin dan isterinya merasa prihatin bukan main, apalagi ketika mereka mendengar bahwa puteri mereka itu kini telah menjadi seorang datuk di dunia kang-ouw!
Anak ke dua mereka seorang putera yang kini telah berusia empat puluh delapan tahun dan telah menjadi seorang hakim di kota Bi-ciu, dan setelah pergantian pemerintahan, di kerajaan Chi diapun masih tetap menjadi hakim, karena dia terkenal sebagai seorang hakim yang bijaksana dan adil sehingga pemerintah yang baru tetap mengangkat Kwan Hwe TJn ini menjadi hakim di Bi-ciu.
Kwan Jin Kun kini telah berusia tujuh puluh lima tahun, dan isterinya telah meninggal dunia lima tahun yang lalu ketika terjadi perang saudara.
Ketika kerajaan Liu-sung jatuh, wanita inipun jatuh sakit karena kaget dan khawatir sehingga ia tidak sempat menyaksikan betapa semua kekhawatirannya bahwa keluarganya akan tertimpa malapetaka sebetulnya tidak terjadi.
Suaminya tidak diganggu oleh penguasa baru.
bahkan Kaisar Siauw Biang Ong tadinya menunjukkan untuk tetap memegang jabatan lamanya.
Akan tetapi, Kwan Jin Kun dengan hormat dan halus menolak, dengan alasan bahwa dia sudah terlalu tua untuk bekerja, apalagi semenjak ematian isterinya, dia sudah tidak mempunyai semangat lagi, dan hanya ingin menghabiskan sisa usianya untuk bersamadhi dan melepaskan diri dari semua ikatan keduniawian.
Rumah gedung besar tempat tinggal Kwan Jin Kun kini nampak sepi.
Yang tinggal di situ hanyalah kakek Kwan, ditemani dua orang selir yang kini sudah berusia enam puluhan tahun akan tetapi misih setia kepadanya, dan empat orang pembantu rumah tangga.
Hanya kadang saja, beberapa bulan atau setidaknya setahun sekali, kalau Kwan Hwe Un dari Bi-ciu bersama isteri dan anak-anaknya datang berkunjung, rumah gedung itu menjadi ramai-Selebihnya, rumah itu selalu sunyi, hanya kadang terdengar bunyi yang-kim (kecapi) yang dimainkan oleh seorang di antara selirnya.
Pada suatu pagi yang cerah, dua orang wanita memasuki pekarangan rumah gedung tua yang sunyi itu.
Mereka adalah dua orang wanita yang cantik, yang seorang berusia kurang lebih duapuluh tiga tahun, wajahnya cantik jelita dengan mulut yang manis dan sikapnya penurut dan lembut.
Adapun wanita yang ke dua nampaknya berusia beberapa tahun lebih tua akan tetapi belum ada tiga puluh tahun, wajahnya juga cantik, pesolek dengan pakaian indah, mulutnya selalu tersenyum mengejek dan sikapnya anggun dan angkuh.
Mereka ini adalah Cia Ling Ay, janda muda yang cantik itu bersama gurunya.
Bi Moli Kwan Hwe Li yang usianya sudah lima puluh tahun akan tetapi masih nampak muda dan cantik.
Seorang wanita pelayan keluar dari pintu depan menyambut mereka.
Suasana dalam rumah itu sudah jauh berbeda dengan ketika Kwan Hwe Li masih tinggal di situ sebagai seorang gadis.
Tidak lagi seperti rumah bangsawan dengan pengawal dan pelayan yang berpakaian keren.
Kini melihat suasana rumah itu, melihat pakaian pelayan wanita yang keluar menyambut, tiada bedanya dengan ramah orang biasa.
Pelayan wanita itu membungkuk-bungkuk menanyakan keperluan kedua orang wanita cantik itu datang berkunjung.
"Ji-wi sio-cia (Nona berdua) hendak mencari siapakah?"
Tanyanya dengan sikap hormat.
Kwan Hwe Li tidak mengenal pelayan itu, tentu seorang pelayan baru.
Dan memang, ketika ia meninggalkan rumah ini, hal itu telah lewat kurang lebih tiga puluh tahun, dan ketika kerajaan Liu-sung jatuh, semua pelayan dari keluarga Kwan ikut pula lari mengungsi bersama banyak penduduk Nan-king yang lain, meninggalkan keluarga majikan mereka.
"Aku ingin bertemu dengan Kwan-loya (tuan tua Kwan),"
Kata Hwe Li, menahan getaran hatinya.
Biarpun selama ini ia telah menguasai ilmu yang hebat, bahkan telah menjadi datuk kang-ouw yang terkenal sekali, keras hati dan berwibawa, tidak urung hatinya tergetar ketika ia berada di rumah keluarga orang tuanya di mana ia dibesarkan, dan akan bertemu dengan ayah kandungnya.
Ia sudah mendengar bahwa ibu kandungnya meninggal dunia ketika terjadi perang saudara dan bahwa kini yang tinggal di rumah itu tinggal ayahnya seorang diri.
Ia tahu pula dari keterangan anak buahnya bahwa kakak tunggalnya kini masih menjadi hakim di Bi-ciu.
"Maaf, nona. Saya tidak berani menggangu lo-ya, karena pada saat sepagi ini, lo-ya masih duduk bersamadhi dalam kamarnya dan tak seorangpun dari kami diperbolehkan mengganggunya."
Hwe Li teringat bahwa menurut keterangan para anak buahnya yang pernah ia utus melakukan penyelidikan, selain ayahnya, di situ masih tinggal dua orang selir ayahnya, atau ibu tirinya, akan tetapi seingatnya, ayahnya dahulu mempunyai empat orang selir dan ia tidak tahu, selir yang mana yang sekarang masih menemani ayahnya tinggal di situ.
"Kalau begitu, panggilkan saja nyonya besar, katakan bahwa aku ingin bicara."
Katanya tak sabar.
"Baik, nona. Silakan ji-wi (kalian) menunggu di ruangan tamu."
Pelayan itu mempersilakan dua orang tamunya duduk di ruangan tamu yang berada di samping kiri.
Bi Mo Li Kwan Hwe Li dan Cia Ling Ay memasuki ruangan tamu itu dan duduk di atas kursi-kursi jang bentuknya kran.
Diam-diam Kwan Hwe Li terharu melihat keadaan kamar itu.
Semua perabotnya adalah perabot lama yang kini sudah mulai nampak tua dan butut.
Ruangan itu, yang dahulu nampak mewah, kini kehilangan kemewahannya dan bahkan membayangkan keadaan yang bangkrut.
perabot yang semestinya minta ganti yang baru dipertahankan, ruangan itu memberi kesan yang tua dan buruk.
Suara langkah kaki dengan sepatu diseret membuat kedua orang wanita itu menengok, memandang ke arah pintu sebelah dalam yang terbuka.
Seorang wanita berusia enam puluhan tahun muncul di ambang pintu dan biarpun wanita itu sudah kelihatan tua sekali, namun Hwe Li segera mengepalnya.
Inilah ibu tirinya yang ke tiga, yang dahulu ketika ia pergi, merupakan seorang wanita berusia tiga puluhan tahun yang selain cantik menarik, juga lincah dan genit!
Namun, di antara para ibu tirinya, wanita inilah yang sikapnya paling ramah dan akrab dan merupakan ibu tiri yang dahulu seperti sahabatnya sendiri.
"Ibu ke tiga ...!"
Kata Hwe Li sambil mengamati wajah itu dan seruannya merupakan bisikan penuh keraguan.
Akan tetapi, wanita tua itu terbelalak.
Kwan Hwe Li sudah pergi selama tiga puluh tahun, akan tetapi seolah-olah wajah cantik itu sama sekali tidak berubah, masih tetap seperti dahulu, tiga puluh tahun yang lalu!
"Kau ...
kau ...
Hwe Li ...!?
Ah, tidak mungkin ...!
Hwe Li hanya lebih muda sepuluh tahun dariku, tentu sekarang telah menjadi seorang nenek.
Ah, aku tahu!
Engkau tentulah puterinya!
Ya, engkau tentu anak dari Hwe Li!
Bagaimana ibumu sekarang, nak?
Kenapa ia tidak ikut datang?"
Wanita itu dengan ramahnya menghampiri dan merangkul pundak Hwe Li.
Wanita ini tersenyum dan diam-diam ia merasa terharu.
Wanita ini, biarpun sekarang sudah tua dan keluarganya jatuh miskin, masih tetap ramah dan periang seperti dahulu.
Pantas saja ayahnya masih mempertahankannya untuk menemanimu di situ.
"Ibu, akulah Hwe Li!"
Katanya sambil merangkul selir ayahnya yang ke tiga itu.
"Ehh ...??"
Wanita itu memegang kedua pundak Hwe Li, mendorongnya ke belakang dan mengamati wajah yang cantik itu.
'"Kau ...
kau memang tiada bedanya dengan Hwe Li.
Akan tetapi tidak mungkin!
Engkau tentu sudah berusia lima puluhan tahun, dan engkau kelihatan seperti seorang gadis.
Bagaimana mungkin engkau Hwe Li?"
"Sungguh, ibu. Aku adalah Kwan Hwe Li dan aku datang untuk menengok ayah. Bagaimana dengan ayah? Aku ingin sekali bertemu dengannya."
"Hwe Li ...! Engkau benar-benar Hwe Li? Kami sudah mendengar bahwa engkau menjadi seorang wanita sakti, akan tetapi ... bagaimana mungkin engkau menjadi wanita yang selalu muda, tak pernah menjadi tua?"
Hwe Li tersenyum, merangkul pinggang ibu tiri yang dahulu menjadi amat akrab seperti sahabat baik dengannya.
"Ibu, mari kita temui ayah. Kamarnya masih yang dahulu, bukan? Oh, aku sampai lupa, Ibu, ini adalah Cia Ling Ay, ia muridku. Ling Ay, ini ibuku yang ke tiga, engkau boleh memanggilnya Bibi ke Tiga."
Ling Ay cepat membungkuk dan memberi hormat. Wanita tua itu memandang, terheran-heran.
"Kalau engkau benar-benar Hwe Li sungguh luar biasa sekali! Engkau masih secantik dan semuda dahulu, dan engkau bahkan seperti kakak beradik saja dengan muridmu ini."
"Sudahlah, ibu, mari kita temui ayah."
Kata Hwe Li dan ia menggandeng ibu tirinya keluar dari ruangan tamu dan masuk ke ruangan dalam.
Ia masih ingat di mana letak kamar ayahnya, kamar besar yang tak jauh dari ruangan tengah.
Setelah mereka berada di depan pintu kamar, ibu tirinya berbisik.
"Hwe Li, biasanya, pada saat seperti ini, ayahmu masih bersamadhi di dalam kamarnya. Aku tidak berani mengganggunya."
"Ibu, biarlah aku yang memangil ayah."
Kala Hwe Li dan ia mengetuk daun pintu, lalu mengerahkan khi kang sehingga biar suaranya hanya lirih, namun suara itu menembus ke dalam kamar dan akan terdengar dengan jelas sekali oleh orang yang berada di dalam kamar.
"Ayah, aku Kwan Hwe Li datang untuk menengok ayah!"
Hanya sekali Hwe Li bicara dan terdengar suara kaget dari dalam.
Suara Hwe Li yang didorong kekuatan khi-kang itu terdengar jelas sekali oleh kakek Kwan yang bersamadhi di dalam kamar.
Tentu saja dia tersentak kaget mendengar kalimat itu.
"Ahhh ..."
Dan diapun turun dari atas pembaringan, menghampiri daun pintu kamar dan membukanya.
Sekeras-kerasnya hati Hwe Li, ia merasa seolah jantungnya diremas karena terharu melihat ayahnya kini telah menjadi seorang kakek tua renta!
Biarpun dahulu, tigapuluh tahun yang lalu, ayahnya juga hanya seorang laki-laki yang lemah dan tidak pernah mempelajari ilmu silat, namun ayahnya yang lemah lembut itu memiliki gairah hidup yang timbul karena jiwa seninya.
Kini, hanya sepasang mata itu yang masih nampak hidup bersemangat, akan tetapi tubuhnya sudah lemah dan gemetaran!
"Ayah ...!!"
Hwe Li menubruk dan merangkul ayahnya.
Ketika kedua lengannya merangkul, ia merasakan betapa kedua lengannya memeluk kerangka, seolah tubuh itu hanyalah tulang tulang terbungkus kulit saja.
Namun, kedua tangan kurus itu masih membelainya.
"Hwe Li ... kau Hwe Li ...! Engkau masih seperti dulu ...! Engkau masih Hwe Li yang dahulu!"
Tiba-tiba tangannya memegang pundak Hwe Li dan seperti yang dilakukan isterinya yang ke tiga tadi, dia mendorong tubuh Hwe Li dan mengamati wajah dan seluruh tubuh wanita itu dengan penuh keheranan.
"Akan tetapi, engkau masih begini muda! Pada hal, usiamu tentu sudah ada lima puluh tahun sekarang!"
Sepasang mata yang masih indah itu basah air mata.
Menangis merupakan kebiasaan kaum wanita.
Biasanya, perasaan wanita amatlah halus dan peka, dan hal ini membuat mereka emosionil dan air mata mereka selalu siap untuk dicucurkan dalam tangis.
Akan tetapi.
Bi Moli Kwan Hwe Li bukan wanita biasa lagi.
Hatinya sudah mengeras dalam gemblengan pengalaman hidup yang serba keras dan pahit.
Hatinya tidak lagi mudah tergerak dalam keharuan, apalagi tangis.
Namun kini, hampir ia tidak dapat menahan untuk tidak terisak menangis dan hanya air matanya saja yang membasahi pelupuk matanya dan ada sebutir dua air mata yang sempat meloncat keluar.
"Ayah, aku Hwe Li, ayah. Berkat ilmu yang kupelajari, aku dapat tetap awet muda seperti sekarang."
"Hwe Li, ahh ... Hwe Li ...!"
Ayah itu merangkul, kemudian mereka keluar dari kamar itu, menuju ke ruangan tengah di mana mereka duduk dengan penuh kegembiraan.
Kakek Kwan meneriaki para pembantunya dan memperkenalkan puterinya, lalu menyuruh mereka mempersiapkan pesta seadanya untuk merayakan pulangnya puteri itu.
"Ayah, ini adalah Cia Ling Ay, muridku. Ling Ay, inilah ayahku, sekarang telah tua sekali."
Ling Ay cepat memberi hormat kepada orang tua itu. Sejak tadi Kwan Jin Kun tiada hentinya mengamati wajah puterinya. kemudian dia berkata.
"Hwe Li, ketika kami mendengar berita bahwa engkau telah menjadi seorang tokoh dunia persilatan, dan kabar itu amat menggelisahkan hatiku karena engkau dikabarkan menjadi seorang datuk kang-ouw yang berwatak iblis. Aku membayangkan bahwa engkau tentu kini menjadi seorang wanita setengah tua yang menakutkan. Akan tetapi ... ha-ha, kabar itu bohong semua! Mungkin disebar oleh mereka yang membenci keluarga kita. Engkau ternyata masih tetap Hwe Li yang dahulu, dan engkau tidak seperti iblis, bahkan seperti seorang dewi!"
Kwan Jin Kun lalu menceritakan apa yang dialaminya sejak puterinya pergi meninggalkan rumah itu.
"Kaisar Siauw Bian Ong dari kerajaan Chi yang baru ini cukup bijaksana, balikan aku harus mengakui dia lebih bijaksana dibardingkan kaisar yang lalu. Beliau juga menawarkan kedudukan lama kepadaku, akan tetapi aku sudah merasa terlalu tua untuk bekerja, Hwe Li. Aku lebih suka menghabiskan sisa hidupku dengan mempelajari kitab-kitab agama dan bersamadhi. Aku tidak bersemangat lagi untuk mencampuri urusan dunia yang penuh dengan pertentangan. Lalu sekarang ceritakan semua pengalamanmu setelah engkau pergi meninggalkan rumah ini, anakku."
Hening sejenak.
Diam-diam Ling Ay juga ingin sekali mendengarkan karena selama ini, gurunya belum pernah menceritakan dengan jelas tentang latar belakang kehidupannya.
Pada saat itu, selir ke dua dari kakek itu memasuki ruangan itu.
Tadi ia pergi berbelanja berbagai keperluan keluarga itu dan seperti juga selir ke tiga, ia terheran-heran karena ia segera mengenali Hwe Li.
Segera iapun ikut pula duduk di ruangan itu dan mereka semua kini menanti Hwe Li menceritakan pengalamannya yang tentu akan menarik sekali.
"Ayah tentu masih ingat mengapa aku pergi meninggalkan rumah ini tanpa pamit?"
Setelah menghela napas panjang Hwe Li bertanya dan memandang kepada ayahnya dan kedua orang ibu tirinya. Ayahnya mengangguk dan diapun menarik napas panjang.
"Siapa yang akan dapat melupakan peristiwa itu? Gara-gara pangeran mata keranjang itu! Gara-gara tunanganmu. Pangeran Tiauw Sun Ong, melakukan perbuatan yang memalukan itu, engkau menjadi marah dan malu, dan engkau pergi meninggalkan keluargamu tanpa pamit!"
"Benar sekali, ayah. Gara-gara Tiauw Sun Ong maka aku menjadi seroang petualang, Hatiku sakit bukan main. Tadinya aku berniat untuk mencari Tiauw Sun Ong yang sudah lolos dari sebagai seorang buta. Tekadku untuk membunuhnya karena ia telah menghancurkan kebahagiaan hatiku, telah mengkhianatiku, dan kami saling mencinta sejak remaja. Siapa kira, dia melakukan perbuatan tak senonoh dengan selir kaisar. Dalam perantauanku, aku bertemu orang-orang pandai di dunia, kang-ouw, aku mempelajari ilmu silat dengan tekun karena ada satu tujuan, yaitu membunuh Tiauw Sun Ong!"
Ayahnya menggeleng kepala dan menghela napas panjang.
"Eehhh, kenapa engkau menuruti nafsu amarah? Mengapa engkau meracuni hatimu sendiri dengan dendam sakit hati, anakku? Sekali kita membiarkan nafsu merajalela di hati, nama kita akan diperhamba dan nafsu akan menjadi pembimbing kita yang akan menyelewengkan jalan hidup kita."
Baca Juga: Pendekar Kelana 1
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 8