Eps 1 Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo.
**** Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 01 Pegunungan itu jelas memperlihatkan sentuhan musim kering yang berkepanjangan.
Pohon-pohon kehilangan banyak daunnya, bahkan ada di antara pohon-pohon yang gundul.
Cabang dan rantingnya mencuat kering ke sana sini.
Sebatang pohon besar nampak menyendiri di antara pohon-pohon yang layu.
Pohon ini nampak masih hijau segar.
Mungkin karena akar-akarnya sudah mencari air jauh di bawah permukaan tanah yang kering kerontang itu.
Sawah dan ladang terpaksa dibiarkan menganggur setelah dicangkuli, nampak terbuka dan dengan sabar menanti datangnya air hujan.
Kalau angin berhembus kuat, nampak debu mengepul di permukaan tanah.
Matahari bersinar teriknya, dan sedikit gumpalan-gumpalan awan putih tidak menjanjikan hujan yang di nanti-nanti itu.
Anak-anak sungai tidak ada airnya dan dasarnya yang masih agak basah itu dipenuhi rumput-rumput.
Beberapa ekor kerbau yang ramping kurus mencoba untuk makan rumput yang tumbuh di tengah anak sungai.
Seorang laki-laki setengah tua yang sama kurusnya meniru usaha kerbau-kerbau itu, mencabuti rumput hijau.
Untuk dimakan!
Daripada mati kelaparan, terutama bagi anaknya yang masih kecil di rumah, diambilnyalah apa saja yang masih hijau dan masih hidup, untuk dimasak dan dimakan!
Jauh di atas, beberapa ekor burung beterbangan.
Mereka itu lebih beruntung karena dengan sayap mereka, mereka mampu terbang jauh untuk mencari makanan.
Banyak serangga keluar dari sarang mereka di bawah tanah untuk mencari makanan yang amat kurang bagi mereka dan serangga-serangga ini menjadi makanan burung.
Musim kering yang panjang, mengeringkan segala yang berada di atas permukaan bumi, menjadi masa yang sengsara bagi para petani dusun.
Dusun Ki-ceng di kaki pegunungan itu dilanda malapetaka musim kering yang panjang.
Banyak penduduk yang mati karena kelaparan.
Satu-satunya sumber air yang berada di dusun itu masih mengeluarkan air, akan tetapi hanya seperse puluh dari biasanya.
Air yang mengucur kecil inilah yang setiap hari dibuat rebutan penduduk dusun.
Hanya sekedar untuk minum.
Tubuh yang kurus kering dengan pakaian compang-camping itu kulitnya kelihatan kering dan dimakan kutu penyakit gatal.
Perut anak-anak membesar walaupun kaki tangannya mengecil, tanda dari busung lapar.
Memang ada beberapa orang kaya di dusun itu, yang menjadi tuan-tuan tanah.
Namun mereka sama sekali tidak memperdulikan keadaan rakyat di sekitar mereka.
Mereka menutup pintu gudang yang penuh beras dan gandum itu rapat-rapat.
Kalaupun ada yang mau menolong, tentu ada pamrihnya.
Yang memiliki anak gadis cantik dan bersih, ditolong dengan menyerahkan gadisnya kepada si hartawan untuk di tukar dengan beberapa karung gandum atau beras.
Keluarga Si Cun termasuk satu di antara para keluarga miskin itu.
Si Cun sudah berusia lima puluh tahun dan isterinya beberapa tahun lebih muda daripada dia.
Keluarga ini mempunyai tiga orang anak, yang pertama seorang anak perempuan dan yang dua orang lagi anak laki-laki.
Anak perempuan itu bernama Si Kiok Hwa, anak kedua bernama Si Leng dan yang ketiga bernama Si Kong, karena sudah tidak dapat lagi memperoleh makanan, maka ketika Hartawan Lui yang tertarik kepada kecantikan Kiok Hwa menurunkan bantuan, Si Cun terpaksa menyerahkan Kiok Hwa untuk menjadi selir hartawan itu, menukarnya dengan lima karung beras.
Sungguh patut dikasihani nasib Kiok Hwa yang baru berusia enam belas tahun itu.
Ia dipaksa menyerahkan dirinya kepada Hartawan Lui yang usianya hampir tujuh puluh tahun itu.
Akan tetapi ia menerima nasib.
Kalau ia tidak mau, berarti ia sekeluarga akan mati kelaparan.
Lima karung beras itu hanya bertahan beberapa bulan saja.
Dan tak mungkin mengharapkan uluran tangan dari Kiok Hwa.
Anak perempuan itu seakan-akan telah mati bagi keluarga Si, karena dilarang keluar, apalagi memberikan apa-apa kepada keluarganya.
Pada suatu hari, Si Leng, anak yang kedua itu, tidak pulang kerumah.
Tentu saja Ayah ibunya dan Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun menjadi bingung dan mencari kemana-mana.
Akhirnya beberapa orang tetangga datang menggotong Si Leng yang berusia empat belas tahun itu dalam keadaan sudah tak bernyawa lagi.
Menurut cerita para tetangga, Si Leng hendak mencuri di rumah Hartawan Lui, naik kepagar tembok dan ketahuan penjaga yang mengejarnya dan membacoknya dengan golok sehingga anak itu tewas!
Si Cun sekeluarga menangis dan meratapi kematian anak mereka.
Mereka tahu benar bahwa Si Leng pergi kesana bukan untuk mencuri, melainkan untuk menemui kakak perempuannya dan minta bantuan.
Untuk masuk melalui pintu depan tentu tidak mungkin dan akan diusir para tukang pukul.
Maka dia naik ke pagar tembok dengan harapan bertemu dengan encinya di bagian belakang gedung itu.
Akan tetapi nasibnya buruk dan dia ketahuan tukang pukul, dituduh mencuri dan dibunuhnya!
Si Cun tidak berdaya.
Mau melapor kemana?
Yang berwajib di dusun itu adalah Lurah Ciu.
Dan lurah ini tentu akan menyalahkan Si Leng yang dituduh mencuri dan memarahi Si Cun yang dikatakan tidak dapat mendidik anaknya.
Kiok Hwa yang berada di gedung Hartawan Lui itupun mendengar tentang adiknya yang terbunuh karena meloncati pagar tembok, akan tetapi iapun hanya dapat menangisi kematian adiknya itu, tak dapat berbuat apa-apa.
Dalam keadaan terhimpit itu, Si Cun terpaksa menggadaikan sawahnya kepada Hartawan Boan, seorang hartawan lain di dusun Ki-ceng.
Dia memperoleh hanya sepuluh tael perak dan hutangnya itu dibebani bunga yang tinggi, sepuluh prosen sebulan.
Tanah itu menjadi milik hartawan Boan sampai Si Cun dapat mengembalikan utangnya berikut bunganya.
Uang sepuluh tael perak itu dibelikan beras, akan tetapi keluarga yang hanya tinggal tiga orang ini setiap hari harus makan bubur yang banyak airnya, itupun dibagi-bagi di antara tiga orang itu.
Ketika hujan mulai turun, uang itupun habis.
Untuk mengembalikan uang yang sudah menjadi dua puluh tael itu tentu saja Si Cun tidak sanggup.
Dan karena tanahnya dikuasai hartawan Boan, terpaksa Si Cun bekerja kepada tuan tanah sebagai buruh tani!
Dia mulai mencangkul tanah miliknya sendiri menjadi buruh tani.
Curahan keringatnya untuk menyuburkan hasil sawah itu hasilnya bukan untuk dia, melainkan untuk tuan tanah Boan dan dia hanya kebagian seperse puluh bagian.
Hanya bisa pas saja untuk makan setiap harinya, dan tidak ada sisa untuk ditabung sebagai pembayar utang.
Dengan sendirinya, hutang itu makin menumpuk, tertimbun bunganya sehingga setahun kemudian, hutang sudah menjadi berlipat ganda!
Si Cun kehilangan anak gadisnya, kehilangan anak kedua, dan kehilangan sawahnya pula!
Setiap malam Si Cun dan isterinya merenungi nasib mereka dan air mata Nyonya Si Cun sampai habis terkuras karena setiap malam menangis.
Mereka bertiga bekerja di sawah dari pagi sampai petang.
Bahkan Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun itupun membantu mencangkul di sawah.
Kehidupan manusia di dunia ini teramat janggal, teramat tidak adil.
Si kaya memiliki makanan, pakaian dan rumah yang berlebihan.
Sedangkan si miskin yang tinggal di sebelah rumahnya, demikian melaratnya sehingga untuk makan saja tidak cukup!
Malaskah si miskin itu?
Sama sekali tidak.
Bahkan mereka bekerja keras siang malam untuk sekedar bertahan hidup.
Menyedihkan memang.
Apalagi melihat si kaya membeli barang-barang mewah yang tidak perlu.
Padahal, uang yang dihamburkan itu dapat menghidupi banyak keluarga miskin.
Lebih menyedihkan lagi kalau banyak sekali uang dihamburkan untuk membeli senjata untuk mempertahankan diri.
Padahal, uang untuk membeli senjata itu akan menghidupkan suatu bangsa yang sedang dilanda kemiskinan.
Alangkah baiknya kalau dalam kehidupan ini manusia saling menolong, bangsa saling menolong sehingga tidak akan terjadi permusuhan.
Alangkah indahnya kalau sinar kasih menyelimuti kehidupan kita, bukan permusuhan, dendam dan kebencian!
Musim kering telah lewat.
Sawah ladang nampak hijau segar.
Lautan daun padi nampak menghijau dan kalau angin bertiup daun-daun itu seperti menari-nari, merayakan musim panen yang segera tiba.
Akan tetapi semua yang serba indah itu bagaikan ejekan bagi keluarga Si.
Sewaktu mereka bertiga menjaga sawah yang mulai berbuah, mereka merenungi nasib mereka, seakan tenggelam dalam lautan menghijau itu.
Dengan bekerja keras tak mengenal lelah, Si Cun dan isterinya akhirnya dapat juga memetik hasilnya.
Biarpun hanya memperoleh sepuluh bagian, namun karena hasil sawahnya banyak sekali, mereka dapat menjual hasil itu dan mengembalikan hutang kepada Hartawan Boan sebanyak dua puluh lima tael.
Sawah itu kembali kepada mereka!
Hidup mereka tetap miskin, sisa hasil sawah yang dijual dapat menahan mereka dari ancaman kelaparan, akan tetapi mereka harus berhemat.
Makan dikurangi, pakaianpun tidak membeli melainkan memakai satu-satunya pakaian yang melekat di badan!
Kalau sedang mencuci pakaian, mereka hanya menggunakan selimut butut untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang.
Pengalaman pahit membuat seseorang menjadi kebal dan pengalaman itu tidak terasa pahit lagi.
Makan sedikit bubur dengan garam tidak mendatangkan kesedihan bagi orang yang sudah terbiasa dengan makanan itu.
Kehidupan yang keras dan sulit tertanam dalam-dalam di jiwa Si Kong sehingga anak ini dapat mandiri dalam usianya yang baru sepuluh tahun.
Dia menjadi seorang anak yang tabah dan tidak cengeng.
Dia seolah lupa lagi untuk menangis karena di waktu kecilnya sudah terlalu banyak menangis.
Tubuhnya pun menjadi kokoh kuat, tulang-tulang mengeras dan daya tahannya luar biasa.
Dia mampu mencangkul sehari penuh tanpa istirahat dan hanya makan semangkok bubur encer!
Kemalangan bagi seorang manusia kadang datang secara bertubi-tubi.
Baru saja keadaan keluarga Si sedikit membaik, tanahnya sudah kembali kepada mereka, timbul wabah penyakit di dusun Ki-ceng.
Di antara orang-orang yang terkena penyakit ini, termasuk Si Cun dan isterinya!
Karena keadaan, maka penghidupan mereka tidak dapat disebut bersih.
Dan inilah yang membuat mereka kejangkitan wabah penyakit itu.
Dan dalam waktu sepekan saja, Si Cun dan isterinya berturut-turut meninggal dunia!
Dunia rasanya kiamat bagi Si Kong yang baru berusia sepuluh tahun itu!
Bagi Si Kong dan mungkin kebanyakan orang, peristiwa itu dianggap keterlaluan seolah Tuhan tidak adil!
Tentu karena manusia hanya melihat segi lahiriahnya saja!
Tuhan Maha Adil!
Hanya jalan yang di tempuh Tuhan untuk menentukan sesuatu itu rahasia besar bagi kita, tidak terjangkau oleh akal pikiran kita.
Bagi kita hanya ada satu sikap.
Yaitu, berikhtiar sekuat dan sebaik mungkin, akan tetapi menerima kenyataan dan keadaan dengan pasrah dan menguatkan iman kita bahwa apa yang Tuhan kehendaki semua terjadilah!
Dan semua itu terjadi dengan benar dan adil.
Mengapa terjadi begini atau mengapa terjadi begitu, berada di luar kekuasaan kita.
Hukum Karma tidak akan pernah menyimpang seujung rambutpun.
Dan kita harus menerimanya penuh kepasrahan, ikhlas dan dengan iman yang kuat akan kekuasaan, kebesaran dan kebenaran Tuhan!
Atas nasihat para tetangga, Si Kong terpaksa menjual sawah dan rumah gubuknya, untuk membiayai pemakaman Ayah ibunya.
Dia menggunakan uang penjualan sawah dan rumah itu membeli peti mati dan semua keperluan sembahyang, kemudian dilayat oleh para tetangga, Ayah ibunya dikuburkan secara sederhana.
Semua tetangga yang melayat sudah meninggalkan tanah kuburan itu, akan tetapi Si Kong tidak mau pergi.
Beberapa tetangga mencoba untuk membujuknya, akan tetapi Si Kong berkeras tidak mau pergi sehingga akhirnya orang meninggalkannya di depan sepasang makam itu.
Si Kong mendekam berlutut di depan kuburan Ayah ibunya sambil menangis.
Suaranya sampai habis dipakai menangis sejak kemarin.
Dia merasa berduka dan nelangsa sekali.
Kini dia hidup seorang diri, yatim piatu.
Satu-satunya saudaranya hanyalah Si Kiok Hwa, namun encinya itu telah "dipenjara"
Dalam gedung Hartawan Lui, tidak dapat dijumpainya.
Bahkan mungkin encinya itu tidak tahu akan kematian orang tuanya.
Si Kong terus mendekam dengan menyentuh tanah.
Perut lapar, seluruh tubuh lemah lunglai, tidak dirasakan lagi.
Kalau mungkin dia tidak akan bangkit lagi selamanya, ingin berada di situ bersama makam Ayah bundanya yang tercinta.
Akhirnya, tubuhnya yang tidak kuat dan diapun tergolek pingsan.
Hujan turun malam itu.
Malam gelap pekat, hanya kadang-kadang ada cahaya kilat menerangi permukaan bumi, meninggalkan bayang-bayang raksasa pohon yang menyeramkan.
Tanah kuburan itu menjadi tempat yang mengerikan!
Karena tubuhnya disiram air hujan, Si Kong siuman dari pingsannya.
Tubuhnya terasa lemas dan begitu siuman, dia teringat kepada Ayah ibunya.
"Ayah...! Ibu...! Bawalah aku..., aku ikut...!"
Dia menangis dan berteriak-teriak.
Kalau ada orang mendengarkan suara itu di tengah malam hujan di pekuburan, tentu mengira suara iblis.
Setelah menangis dan berteriak-teriak sampai suaranya habis, Si Kong lalu bangkit.
Dia memandang ke arah dua gundukan tanah itu dan baru sadar sepenuhnya apa yang telah terjadi.
Ayah ibunya telah mati, telah dikubur dan tidak mungkin membawanya.
Dia harus pulang, akan tetapi pulang kemana?
Rumahnya telah dijual, uangnya untuk biaya penguburan.
Sisanya hanya tinggal beberapa keping saja di saku bajunya yang basah kuyup.
Dia menggigil dan menatap dua makam itu.
"Ayah... ibu... bagaimana dengan aku ini...?"
Kembali dia menubruk makam itu dan menangis sambil memeluk dan rebah menelungkup di atas makam ibunya.
Dia pingsan lagi!
Mengenang masa lampau, takut menghadapi masa depan, menimbulkan duka.
Apabila kita sedang berduka, duka itu semakin menghebat kalau kita bandingkan keadaan kita dengan keadaan orang lain, karena kita selalu tengadah dan melihat mereka yang berada di atas kita.
Kalau kita melihat ke atas, yang nampak hanyalah orang-orang yang lebih tinggi kedudukannya dari pada kita, lebih kaya, lebih senang dan sebagainya, pendeknya serba lebih dari pada kita.
Akan tetapi sekali kita menunduk, melihat ke bawah, ternyata masih banyak sekali orang yang lebih rendah dari pada kita, lebih miskin, lebih sengsara dan barulah kita menyadari bahwa keadaan kita masih lebih baik daripada keadaan banyak orang!
Sekali ini, air hujan yang menyiram tubuhnya tidak mampu menggugah Si Kong dari pingsannya.
Dia pingsan terus sampai pagi, sampai matahari pagi sudah mulai menghidupkan segala sesuatu, mengusir kabut dan kegelapan.
Seorang kakek yang pakaiannya penuh tambalan memasuki kuburan itu.
Usianya sudah enam puluhan tahun, tangan kanan membawa tongkat bambu dan tangan kirinya menjinjing sebuah keranjang berisi beberapa macam daun dan akar-akaran.
Kakek berusia enam puluhan tahun itu rambutnya sudah berwarna dua, hitam dan putih sehingga dari jauh kepalanya nampak kelabu.
Namun wajahnya yang lebar itu masih nampak muda tanpa keriput, bahkan kedua pipinya kemerahan tanda sehat dan mulutnya tak pernah berhenti tersenyum.
Matanya juga bersinar-sinar sehingga wajah itu selalu nampak berseri.
Matanya mencari kanan kiri, dan agaknya dia mencari tumbuh-tumbuhan, sementara mulutnya perlahan menyanyikan sajak.
"Bacoklah air dengan pedang dan air akan mengalir terus, Benamkan duka dalam arak dan kedukaan makin bertambah, Dalam hidup ini, harapan harapan kita terpenuhi, Kelak, dengan rambut terurai lepas, kita akan pergi"
"Anda bertanya mengapa aku memilih tinggal di pegunungan. Aku tersenyum tanpa jawab, hatiku dalam kedalaman, Bunga persik pergi air mengalir, Terdapat Langit dan Bumi di luar dunia manusia."
Sajak itu adalah tulisan pujangga Li Pai (701-762) ratusan tahun yang lalu, dinyanyikan oleh kakek itu dengan suaranya yang dalam.
Dan Si Kong masih pingsan atau tertidur itu bermimpi.
Dia merasa duduk di dekat perapian yang dibuat di dalam rumah, dirangkul ibunya.
Detak jantung ibunya terasa olehnya, menimbulkan suasana akrab dan hangat.
Telinganya mendengar suara Ayahnya yang agak parau dan dalam, dan suara itu mendatangkan rasa damai dan tenteram di hatinya.
Alangkah senangnya duduk di dekat api dalam rangkulan ibunya dan mendengar suara Ayahnya.
Memang perutnya masih terasa lapar.
Makan semangkok bubur malam itu belum memuaskan perutnya.
Akan tetapi suasana yang akrab dan tenteram itu amat menyenangkan.
"Heiii, nak, matahari sudah naik tinggi dan engkau masih enak-enak tidur di sini?"
Dia mendengar teguran Ayahnya.
Ayahnya memang tidak senang kalau melihat dia malas-malasan.
Kemudian pundaknya diguncang dan suara Ayahnya terdengar lagi.
"Hayo bangun! Engkau bisa sakit tidur di sini!"
Eh, mengapa Ayahnya berkata demikian?
Dan suara itu, memang dalam akan tetapi tidak parau.
Bukan suara Ayahnya!
Si Kong bangkit dari tidurnya.
Sinar matahari tepat menerobos celah-celah daun menimpa matanya.
Dia melindungi matanya dengan punggung tangan, menggosok-gosoknya untuk mengusir sisa kantuk, lalu menurunkan kedua tangannya.
Terbelalak dia memandang kepada kakek yang tadi menyuruhnya bangun.
Sama sekali bukan Ayahnya, melainkan seorang kakek.
Kakek itu asing pula, bukan penghuni dusun Ki-ceng.
Seluruh penduduk dusun Ki-ceng dikenalnya, akan tetapi kakek ini tidak dikenal.
Rasa lapar mengerogoti perutnya, akan tetapi ditahannya.
"Engkau siapakah, kek?"
Tanyanya.
"Ha-ha-ha-ha, sepatutnya aku bertanya engkau ini siapa dan apa kerjamu di sini? Engkau tertidur di atas makam dan seluruh pakaianmu basah. Lihat mukamu membiru tanda kedinginan. Cepat kau kunyah ini dan telan, jangan pedulikan pedas dan pahitnya!"
Dia menyodorkan sejari jahe yang diambilnya dari keranjang obatnya.
Si Kong tidak membantah.
Dia memang seorang anak yang penurut dan mudah memahami kehendak orang lain.
Dia segera tahu bahwa kakek ini hendak menolongnya, maka diapun menerima jahe itu dan dimakannya.
Panas dan getir bukan main rasanya, akan tetapi terus ditelan saja.
Ada rasa hangat di perutnya.
Rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan dia tidak lagi merasa kedinginan.
"Nah, sekarang engkau harus memberitahu kepadaku, mengapa engkau berada di sini, siapa namamu dan di mana pula rumahmu?"
Karena kedua kakinya agak gemetar dipakai berdiri, Si Kong duduk di atas batu di dekat makam Ayah ibunya.
"Namaku Si Kong dan ini adalah makam Ayah dan ibuku yang baru dimakamkan kemarin sore."
"Kemarin sore dimakamkan dan engkau semalam suntuk berada disini, kehujanan dan kedinginan?"
Kakek itu bertanya dengan suara mengandung keheranan dan juga kekaguman.
Anak ini berbakti dan pemberani.
Sukar dicari anak yang berani tinggal semalam di kuburan, apalagi malam tadi gelap dan dingin banyak mengandung kilat.
"Mereka adalah orang tuaku, kakek, dan aku tidak mempunyai siapa-siapa lagi."
Teringat akan ini, kembali Si Kong mengeluarkan air mata.
"Rumah kami sudah kujual untuk membeli peti mati. Aku tidak punya rumah lagi, sebatangkara di dunia ini."
Melihat anak itu mulai menangis dan mengguguk, kakek itu meloncat dan tertawa-tawa.
Suara tawanya berbaur dengan suara tangis Si Kong sehingga terdengar aneh sekali.
Bahkan Si Kong yang sedang menangis itu menghentikan tangisnya memandang kakek itu.
"Kek, apa yang kau tertawakan?"
"Anak yang baik, apa yang kau tangisi?"
"Aku menangisi kematian Ayah ibuku."
Kata Si Kong penasaran.
"Ha-ha, benarkah itu? Bagaimana mungkin engkau tangisi orang tuamu kalau engkau tidak tahu bagaimana keadaan mereka sekarang? Yang jelas, mereka terhindar dari kemiskinan, terhindar dari sakit. Itukah yang kau tangisi? Ataukah engkau menangisi dirimu sendiri karena merasa ditinggalkan orang-orang yang kausayangi, karena merasa hidup seorang diri dan tidak mempunyai siapa-siapa lagi, tidak memiliki apa-apa lagi? Itukah yang kau tangisi?"
Si Kong tertegun dan sadar.
"Memang begituah, kek, aku menangisi diriku sendiri, merasa kasihan kepada diriku sendiri. Salahkah itu?"
"Ha-ha, tidak salah melainkan tidak tepat. Manusia harus berusaha mengatasi kesulitannya, bukan hanya ditangisi."
"Dan engkau sendiri mengapa tertawa-tawa, kek? Apa engkau menertawakan aku yang sedang berduka? Alangkah kejamnya engkau."
"Ha-ha-ha, aku tertawa karena melihat kelucuan. Betapa manusia diombang-ambingkan antara tawa dan tangis, antara suka dan duka. Baru terlahir sudah menangis, masih belum puaskah? Menangis dan menangis lagi. Seorang bocah seperti engkau ini tidak pantas menangis, pantasnya tertawa seperti aku, mentertawakan dunia mentertawakan manusia dengan segala kepalsuannya! Sudahlah, berkabung semalam suntuk sudah cukup baik. Kulihat engkau kedinginan dan kelaparan. Dinginmu sudah kuusir jahe tadi, akan tetapi kalau kubiarkan saja perutmu kosong, engkau dapat mudah diserang penyakit. Ini aku mempunyai beberapa potong buah pisang. Nah makanlah dan habiskan!"
Dia mengambil lima potong buah pisang dari keranjangnya.
Si Kong terheran-heran.
Darimana kakek itu dapat memiliki buah pisang?
Di daerah itu sama sekali tidak ada pohon pisang.
Bahkan Si Kong baru melihat saja, belum pernah makan.
Akan tetapi dia tidak menolak.
Diterimanya buah pisang itu, dikupasnya kulitnya dan dimakannya dengan lahap.
Sejak kemarin pagi, perutnya tidak dimasuki apa-apa.
"Sekarang, telanlah ini untuk menguatkan badanmu."
Kakek itu kembali mengambil sebutir pel dari bungkusan dalam keranjangnya.
Pel itu berwarna merah dan tanpa ragu-ragu lagi Si Kong menelannya.
"Aku mendengar bahwa dusun Ki-ceng diserang wabah penyakit. Apakah orang tuamu juga terserang penyakit itu?"
"Agaknya begitulah, kek. Tubuh mereka panas sekali dan dalam waktu dua hari saja, mereka meninggal dunia seperti orang-orang lain di dusun ini yang lebih dulu terserang."
"Engkau sebatangkara? Tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa?"
"Benar, kek."
"Kalau begitu, maukah engkau ikut dan membantuku? Akan tetapi ingat, keadaanku tidak banyak bedanya denganmu, aku juga tidak mempunyai apa-apa dan siapa-siapa. Maukah engkau menjadi muridku?"
"Menjadi murid? Belajar apakah, kek?"
"Ha-ha, belajar apa? Mengobati orang, membaca huruf, dan juga mengemis!"
"Aku suka belajar mengobati orang dan membaca huruf, akan tetapi aku tidak mau belajar mengemis, kek."
"Mengemis adalah perbuatan yang penting untuk mencegah kita menjadi pencuri. Kalau kita dapat bekerja mencari nafkah, itu baik sekali. Akan tetapi kalau tidak bisa, lalu apa yang kau makan? Tidak makan berarti mati, maka daripada mencuri lebih baik mengemis, menggerakkan hati manusia untuk sekedar memberi semangkok nasi."
Si Kong tidak berpikir lama.
Jelaslah bahwa kakek ini berhati baik, dia dapat belajar mengobati dan membaca huruf.
Soal mengemis, bagaimana nanti sajalah.
Dia dapat bekerja apa saja.
"Bagaimana? Engkau suka menjadi muridku?"
Si Kong menjawab.
"Suka sekali!"
Dan dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek pengemis tua itu dan menyebut "suhu"!
"Bagus!
Nah, mulai detik ini engkau harus menurut semua kata-kataku.
Siapa namamu tadi?
Si Kong?
Dan kenalilah nama gurumu.
Orang-orang yang usil mulut menyebutku Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat).
Lihat, mereka mengangkatku menjadi Yok-sian (Dewa Obat) akan tetapi memakiku sebagai Lo-kai (Pengemis Tua).
Akan tetapi aku sudah terbiasa dengan nama itu sehingga aku sudah lupa namaku sendiri, ha-ha-ha!"
"Suhu, kita akan kemana sekarang?"
"Di Ki-ceng sini sedang berjangkit wabah yang menular. Orang tuamu sendiri menjadi korban. Kita harus menolong mereka yang sakit dan menjaga mereka yang belum ketularan. Hayo, antarkan aku ke rumah kepala dusun."
Si Kong menjadi penunjuk jalan.
Sementara itu, matahari mulai memuntahkan sinarnya yang panas sehingga pakaian Si Kong yang tadinya basah kuyup karena semalam diguyur air hujan, kini mulai mengering.
Mereka disambut oleh kepala dusun sendiri yang mengenal Si Kong.
"Si Kong, ada apakah engkau minta menghadapku dan siapakah kakek ini?"
"Lo-ya, kakek ini adalah guru saya berjuluk Yok-sian Lo-kai dan dia datang untuk mengobati mereka yang sakit terkena wabah."
"Ah, kebetulan sekali. Anakku juga terserang dan baru malam tadi badannya panas sekali."
Kata kepala dusun.
"Boleh aku memeriksanya dan mengobatinya?"
Tanya Yok-sian Lo-kai.
"Tentu saja. Mari, silakan masuk."
Kepala dusun yang sedang gelisah itu mempersilakan mereka masuk.
Kakek itu masih memegang tongkat bambunya, akan tetapi kini keranjang terisi rempah-rempah itu dibawakan Si Kong.
Anak sakit itu berusia sepuluh tahunan, sebaya dengan Si Kong.
Ketika Yok-sian Lo-kai memasuki kamar itu, anak itu dalam keadaan tidak sadar dan tubuhnya panas sekali.
Yok-sian Lo-kai memeriksa denyut nadinya, membuka matanya dan mulutnya, lalu mengangguk-angguk.
"Penyakit ini memang mudah menular, terbawa oleh lalat. Akan tetapi keadaannya masih dini, belum parah dan mudah-mudahan dia dapat disembuhkan."
Kakek itu lalu menotok dengan jarinya di beberapa bagian tubuh anak itu.
Anak itu kini siuman dan mengerang kepanasan.
Kakek itu mengambil sedikit akar dan berkata kepada Si Kong.
"Si Kong, masak akar ini dengan semangkok air, sampai mendidih dan sisakan setengah mangkok, bawa kesini."
Isteri lurah yang juga berada di kamar itu lalu menggapai Si Kong.
"Mari kusediakan alatnya untuk memasak obat."
Mereka ke dapur dan kakek itu tetap menggunakan jari-jari tangannya untuk menekan sana-sini.
Setelah obat itu selesai dimasak, Si Kong membawanya kepada gurunya.
Setelah obat itu agak dingin Yok-sian Lo-kai lalu menyuruh anak yang sakit itu minum obat itu sampai habis.
Setelah itu dia menyuruh anak itu tidur kembali.
Sungguh manjur sekali obat itu karena panas tubuh anak itu segera menurun.
Tentu saja kepala dusun dan keluarganya merasa girang dan berterima kasih sekali.
"Kalian carilah ilalang dan akar ini sebanyaknya. Masak dan beri minum kepada mereka yang sakit. Tentu dapat menolong nyawa mereka. Dan yang belum terkena penyakit ini harus berhati-hati. Jangan sekali-kali membiarkan lalat hinggap pada makanan. Semua makanan harus ditutup rapat. Jangan minum air mentah, melainkan air itu harus dimasak sampai mendidih. Keluarkan alas tempat tidur dan selimut, jemur sampai kering benar. Jagalah kebersihan dan wabah ini akan lenyap dengan sendirinya."
Demikian Yok-sian Lo-kai berkata kepada kepala dusun.
Sang kepala dusun segera memanggil semua penduduk dan kepada mereka dia meneruskan pesan Yok-sian.
Beramai-ramai penduduk yang sanak keluarganya sakit mencari daun ilalang dan akar itu, lalu mengobati mereka yang sakit.
Kepala dusun lalu menjamu Yok-sian Lo-kai dan Si Kong.
Tanpa sungkan lagi Yok-sian lalu makan minum dengan lahapnya.
Juga Si Kong yang sejak kemarin belum makan, kini makan dengan lahapnya.
Setelah itu, Yok-sian lalu berkata kepada kepala dusun.
"Sekarang harap Lo-ya suka memanggil semua orang yang kaya agar berkumpul disini. Saya ingin bicara hal penting pada mereka."
Permintaan ini pun dilaksanakan oleh kepala dusun.
Tak lama kemudian belasan orang tuan tanah yang kaya raya berkumpul ditempat itu, tidak ketinggalan disertai pengawal-pengawal atau tukang pukul.
"Aku ingin bicara, harap kalian dengarkan baik-baik. Kalian adalah warga-warga dusun Ki-ceng ini, berarti senasib sependeritaan dengan warga lain yang kurang mampu. Mulai sekarang, harap kalian suka mengubah sikap terhadap warga yang miskin. Jangan lagi memeras mereka, akan tetapi bantulah mereka apabila musim paceklik tiba. Jangan memberi hutang dengan bunga tinggi, dan jangan merampas sawah ladang mereka. Kalau kalian masih berani melakukan penindasan, mungkin dusun ini akan terkutuk dan datang lagi wabah penyakit yang lebih hebat pula. Dan penyakit itu tidak takut kepada harta kalian."
Belasan orang hartawan itu menjadi gempar, dan jelas kelihatan bahwa mereka tidak menyetujui hal ini.
Melihat ini Yok-sian Lo-kai lalu berkata lantang kepada kepala dusun.
"Lo-ya sebagai kepala dusun di sini harus bersikap keras terhadap para hartawan yang membangkang. Mereka yang tidak mau membantu warga yang melarat harus dipaksa."
"Akan tetapi, in-kong (tuan penolong), semua itu adalah milik mereka sendiri dan kami tidak dapat memaksa. Bahkan mereka mempunyai pengawal-pengawal yang siap menghajar siapa yang berani menentang mereka."
Mendengar ini, Yok-sian Lo-kai berkata lagi kepada para hartawan itu.
"Kalian dengar itu? Agaknya kalian hendak memaksakan kehendak dengan mengandalkan anjing-anjing pengawal kalian! Sekarang aku yang memerintahkan kalian menurut aturan itu, membantu para warga yang miskin, memberi pinjaman tanpa bunga. Siapa yang berani menentang perintah itu?"
Para tukang pukul itu serentak maju.
Tidak kurang dari tiga puluh orang tukang pukul yang bertubuh tinggi besar melangkah maju.
"Siapa yang berani memaksa majikan kami, akan berhadapan dengan kami!"
Kata seorang diantara mereka.
"Apalagi engkau hanya seorang jembel tua, bagaimana berani bicara seperti itu kepada majikan kami? Apakah engkau sudah bosan hidup?"
"Ha-ha-ha, dengarlah!"
Kata Yok-sian Lo-kai sambil menudingkan tongkatnya kepada para tukang pukul itu.
"Ajing-anjing peliharaan para hartawan itu memang pandai menggonggong, akan tetapi mereka tidak pandai menggigit."
Para hartawan yang tidak rela untuk menolong warga yang miskin menjadi marah dan mereka memberi isyarat kepada para tukang pukul mereka untuk bertindak.
Tukang pukul yang tadi bicara berada paling depan.
Agaknya dia hendak mempertontonkan kehebatannya, maka dengan ganas dia sudah menyerang Yok-sian Lo-kai dengan kepalan tangannya yang sebesar kepala orang itu!
"Wuuutt...!"
Dengan hanya miringkan tubuh menggerakkan kepalanya Yok-sian Lo-kai sudah membuat pukulan itu mengenai tempat kosong saja dan dengan secepat kilat tongkatnya menotok, tepat mengenai lutut kanan kiri tukang pukul itu.
Mendadak, tanpa dapat dihindarkan lagi tukang pukul itu jatuh berlutut di depan Yok-sian Lo-kai.
"Ha-ha-ha, engkau minta ampun? Baik, baik, kuampuni kau!"
Kata Yok-sian Lo-kai.
Penduduk yang berdatangan menonton peristiwa itu menahan tawa karena geli.
Memang dipandang sepintas lalu, tukang pukul itu kelihatan seperti berlutut minta ampun kepada si pengemis tua.
Melihat ini, para tukang pukul lainnya menjadi marah.
Tiga orang meloncat dan menyerang, akan tetapi dengan gerakan tongkat tiga kali, tiga orang itupun terpelanting roboh terkena sambaran tongkat bambu!
Kini mengertilah para tukang pukul bahwa kakek yang pandai mengobati itu, juga pandai bersilat.
Karena mereka berjumlah banyak, mereka tidak takut dan kini mereka mencabut senjata pedang dan golok menyerbu.
Terdengar suara tawa pengemis tua itu dan tubuhnya sudah melayang ke atas.
Ketika turun, tongkatnya diputar dan banyak pengeroyok roboh berpelantingan.
Sisanya menyerbu semakin nekat, akan tetapi mereka inipun roboh satu demi satu sehingga tidak ada seorangpun yang tidak roboh.
Gerakan Yok-sian Lo-kai itu demikian cepat sehingga tidak dapat diikuti dengan pandangan mata.
Yang nampak hanya gulungan sinar kuning dan tahu-tahu para tukang pukul itu sudah roboh berpelantingan.
"Bagaimana, cu-wi wangwe (hartawan sekalian), maukah kalian memenuhi permintaanku tadi? Membantu warga miskin, jangan memungut bunga, jangan mengambil sawah ladang mereka, dan bayarlah buruh tani dengan selayaknya sehingga mereka mampu hidup dengan layak pula."
Seperti dikomando saja, para hartawan itu mengangguk dan menyatakan setuju.
"Ingat, kalau lain kali aku lewat di Ki-ceng ini dan kalian masih melakukan pemerasan terhadap warga dusun yang miskin, aku Yok-sian Lo-kai tidak akan mau mengampuni kalian lagi. Nah, pulanglah ke rumah masing-masing dan laksanakanlah perintahku. Bubarkan para tukang pukul karena kalau kalian bersikap baik terhadap warga tani yang miskin, kalian tidak perlu khawatir akan harta kalian. Penduduk akan berterima kasih kepada kalian dan akan menjaga harta milik kalian."
Orang-orang kaya itu pun pergi dengan muka ditundukkan.
Di antara mereka yang rela, terdapat mereka yang tidak rela, akan tetapi mereka takut akan ancaman pengemis tua yang sakti itu.
Sementara itu, ketika dia melihat Yok-sian Lo-kai dikeroyok para tukang pukul, Si Kong merasa khawatir sekali.
Akan tetapi ketika terjadi hal yang tidak disangka-sangkanya, betapa pengemis tua itu menghajar tiga puluh orang tukang pukul, di dalam hatinya Si Kong bersorak.
Dan dia mengambil keputusan dalam hatinya bahwa selain belajar ilmu pengobatan dan membaca huruf, diapun akan minta supaya diajari ilmu bela diri!
Setelah semua orang bubaran, Yok-sian Lo-kai segera berpamit kepada kepala dusun, kepala dusun itu tergopoh-gopoh mengambil uang dan hendak memberi sumbangan kepada pengemis tua itu.
Akan tetapi Yok-sian Lo-kai tidak mau menerimanya dan berkata.
"Aku memang seorang pengemis dan kalau terpaksa aku suka mengemis makanan. Akan tetapi untuk pengobatanku, aku tidak sudi menerima upah."
Dia lalu menggandeng tangan Si Kong dan menarik anak ini pergi dari situ.
Orang-orang hanya memandang heran dan mengikuti murid dan guru itu pergi.
Bunyi tongkat bambu itu bertuk-tuk di sepanjang jalan.
Baru setelah bayangan pengemis itu menghilang di sebuah tikungan, mereka ramai membicarakan sepak terjang pengemis tua itu.
Dan semenjak hari itu, tidak ada lagi penyakit yang berjangkit di dusun itu.
Juga kehidupan para warga dusun yang miskin kini mendingan keadaannya karena uluran tangan para hartawan.
Paksaan dan siksaan yang dilakukan para tukang pukul juga tidak ada lagi.
Mulai saat meninggalkan dusun Ki-ceng, Si Kong menjadi murid Yok-sian Lo-kai.
Yok-sian adalah seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.
Kalau bertemu dengan kota atau dusun yang cocok dan menyenangkan hatinya, dia dapat tinggal di situ sampai sebulan lamanya.
Akan tetapi banyak dusun dan kota yang dilewatinya begitu saja.
Dan di sepanjang jalan, dia selalu mengumpulkan rempah-rempah yang dianggapnya berguna.
Tangannya selalu terjulur untuk menolong dan mengobati orang sakit.
Untuk makan mereka, kadang mereka mendapatkan binatang buruan di hutan, atau mendapatkan buah-buahan di dalam hutan.
Sering pula Si Kong bekerja di rumah makan atau rumah penginapan untuk mendapatkan uang sekedar pembeli makan untuk dia dan gurunya.
Akan tetapi kalau Yok-sian Lo-kai tidak tinggal lama di suatu tempat, mereka mengemis makanan dari rumah-rumah.
Cara mengemis Yok-sian Lo-kai berbeda dengan pengemis lain.
Dia dan Si Kong mendatangi rumah orang, dan menyatakan terus terang bahwa mereka minta diberi makanan.
Kalau diberi uang, Yok-sian tidak menerimanya, melainkan pindah ke rumah lain.
Si Kong tidak sesabar itu, akan tetapi kalau ada gurunya, diapun tunduk kepada kebiasaan gurunya itu.
"Kalau perutmu tidak lapar, mengapa mengemis makanan? Kalau tidak haus mengapa mengemis minuman? Kalau tidak butuh pengganti pakaian, mengapa mengemis pakaian? Kita harus tidak melanggar pantangan itu. Mengemis uang dapat membuat kita menjadi malas."
Demikianlah pendirian Yok-sian Lo-kai.
Di waktu senggang, kakek itu mulai mengajarkan ilmu pengobatan kepada muridnya.
Tidak saja Si Kong harus menghafal nama rempah-rempah dan kegunaannya, juga dia di ajar cara meneliti keadaan orang dari denyut nadinya.
Melihat gejala-gejala penyakit dari lidah dan mata orang yang sakit.
Bahkan kalau ada orang sakit membutuhkan pengobatan, dia menyuruh muridnya untuk mengobatinya dan dia hanya meneliti kalau-kalau muridnya salah memberi obat.
Juga Si Kong diberi pelajaran tentang jalan darah manusia, titik-titik mana yang harus dipijat atau ditotok.
Memang Si Kong memiliki kecerdasan sehingga dia dapat menerima dan menghafalkan semua pelajaran itu.
Di samping pelajaran pengobatan Si Kong mulai pula diajar ilmu membaca dan menulis.
Dan ternyata Si Kong cepat sekali memperoleh kemajuan dalam ilmu ini.
Baru setahun dia ikut merantau bersama Yok-sian Lo-kai, dia sudah pandai membaca dan menulis.
Tentu saja gurunya merasa girang sekali melihat kemajuan muridnya.
Lalu dia mulai mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada muridnya.
Si Kong merasa gembira sekali dan dia berlatih dengan tekun sekali.
Karena sejak masih kecil sekali Si Kong telah terbiasa menggunakan tenaga kasar, maka tubuhnya lebih kuat dari pada anak biasa.
Bahkan kemajuannya dalam ilmu silat mengalahkan kemajuannya dalam ilmu sastra.
Gurunya maklum bahwa anak ini memang bertulang baik dan berbakat sekali, maka diapun mengajarkan ilmu tongkatnya yang terkenal sekali di seluruh dunia kang-ouw, yaitu Ta-kaw Sin-tung (Tongkat Sakti Pemukul Anjing).
Ilmu tongkat ini hanya terdiri tiga belas jurus pokok, akan tetapi perkembangannya dapat menjadi ratusan, tergantung dari bakat yang menguasai ilmu itu.
Karena itu, selama tiga tahun berlatih, barulah Si Kong dapat menguasai Ta-kaw Sin-tung, dan semenjak dia berlatih ilmu tongkat itu, dia kinipun memiliki sebatang tongkat bambu yang selain dipakai untuk berlatih silat, juga dipergunakan untuk memikul keranjang rempah-rempah milik gurunya.
Pada suatu pagi yang cerah.
Matahari masih agak kekuningan di langit timur, akan tetapi sinarnya sudah menyengat hangat.
Pohon-pohon dan segala tumbuh-tumbuhan nampaknya seperti hidup baru setelah semalam suntuk mereka diselimuti kegelapan yang penuh rahasia itu.
Di jalan yang menuju kota Souw-ciu suasananya masih sunyi.
Jalan itu memang hanya jalan yang menghubungkan kota Souw-ciu dengan dusun-dusun, maka nampak sunyi.
Saat yang sunyi itu dibuyarkan oleh dua orang yang berjalan berdampingan.
Mereka adalah Yok-sian Lo-kai dan Si Kong.
Anak itu kini telah menjadi seorang pemuda remaja berusia lima belas tahun.
Akan tetapi dia nampak lebih tua daripada usianya, mungkin hal ini dikarenakan dia ditempa oleh keadaan, banyak menghadapi kesukaran dan kesengsaraan.
Tubuhnya tinggi tegap dan wajahnya jantan dan gagah, walaupun pakaiannya yang nampak bersih itu sudah penuh dengan tambalan, seperti pakaian yang dipakai Yok-sian Lo-kai.
Agaknya pagi yang cerah itu membangkitkan kegembiraan di hati Yok-sian.
Dia memandang ke atas lalu menyanyikan sebuah sajak.
"Daripada menguasai sampai sepenuhnya lebih baik berhenti pada saatnya. Menempa untuk mencapai tajamnya ketajaman itu takkan bertahan lama. Ruangan penuh dengan emas dan batu permata tidak mungkin dapat dijaga. Angkuh karena mewah dan mulia dengan sendirinya membawa bencana. Tugas selesai, nama menyusul, diri mundur demikianlah jalan yang ditempuh langit."
"Wah sajak suhu sekali ini membuat aku bingung dan tidak mengerti apa artinya. Maukah suhu menjelaskan kepadaku?"
"Apa yang tidak jelas? Sajak itu sendiri sudah menjelaskan artinya. Dinasihatkan di situ agar kita tidak menuruti kehendak nafsu yang ingin memiliki sepenuhnya, menguasai sepenuhnya, yang akhirnya tak pernah puas dan tergelincir oleh tindakan sendiri. Lebih baik berhenti pada saatnya atau mengenal batas. Segala sesuatu yang dipaksakan untuk diperolehnya, yang diperoleh itu tidak akan bertahan lama, akan membosankan. Harta kekayaan yang berlebihan hanya akan menimbulkan iri hati dan mendatangkan maling untuk mencurinya. Kalau orang menjadi angkuh karena kemewahan dan kemuliaan, harta benda atau kedudukan tinggi, hal itu akhirnya akan mendatangkan bencana pada diri sendiri. Kalau merasa sudah menyelesaikan tugas dengan baik, tentu namanya menjadi harum dan dia boleh mengundurkan diri untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Jalan itulah yang ditempuh oleh Langit dan Bumi, yang bersikap selaras dengan kehendak Tuhan."
"Aduh, demikian dalamnya ini sajak itu, suhu. Siapakah pembuat sajak itu?"
"Sajak itu termuat dalam kitab Tao-tek-keng, merupakan ujar-ujar peninggalan Sang Bijaksana Lo Cu. Kelak kalau ada kesempatan, engkau harus menghafalkan dan memahami seluruh sajak Tao-tek-keng itu."
Mereka kini memasuki kota Souw-ciu dari arah barat.
Kota itu cukup ramai dan dikelilingi bukit sehingga pemandangannya indah dan hawanya juga sejuk.
Gembira rasa hati Si Kong ketika dia memasuki kota, melihat banyak toko, rumah makan dan penginapan.
"Suhu, aku dapat mencari pekerjaan di kota ini!"
Katanya.
"Banyak sekali toko besar, rumah makan dan penginapan."
"Hemm, kita lihat saja nanti. Belum tentu aku suka tinggal lama ditempat ini. Mari kita melihat ke sana, agaknya di sana itu ada pasar yang ramai."
Mereka berjalan terus dan tiba-tiba perhatian mereka tertarik oleh sedikit keributan yang terjadi di depan sebuah rumah makan.
Seorang pengemis berpakaian compang-camping hitam sedang ribut mulut dengan seorang pengemis yang pakaiannya tambal-tambalan berkembang.
"Tidak usah banyak cakap! Engkau dan rombonganmu tidak kami perbolehkan untuk mengemis di kota ini, kecuali kalau kalian menjadi anggauta kami!"
Kata si pengemis baju berkembang.
"Kalian selalu mengganggu kami! Kami sudah mempunyai perkumpulan sendiri. Kami tidak sudi menjadi anggauta perkumpulan kalian dan sudah sejak dahulu kami bekerja di sini. Kalian tidak berhak melarang."
"Eh, berani membantah, ya? Engkau sudah bosan hidup rupanya!"
Dan si pengemis baju berkembang itu segera menyerang pengemis baju hitam.
Terjadi perkelahian saling pukul dan saling tendang.
Tak lama kemudian datang lima orang pengemis baju berkembang, juga lima orang pengemis baju hitam dan terjadilah perkelahian di antara mereka.
Orang-orang segera datang menonton perkelahian antara pengemis itu.
Sejak tadi Yok-sian Lo-kai berhenti melangkah dan menonton perkelahian.
Melihat betapa perkelahian telah menjadi keroyokan, dia berkata kepada Si Kong.
"Orang-orang itu tidak tahu diri. Pekerjaan mengemis saja diperebutkan! Si Kong, coba kau pergunakan tongkatmu untuk melerai mereka. Kalau mereka nekat berkelahi, hajar mereka semua dengan gebukan tongkatmu!"
Selama ini belum pernah Si Kong berkelahi.
Biarpun dia sudah menguasai Tongkat Sakti penggebuk anjing dengan baik, akan tetapi belum pernah dia pergunakan untuk bertanding.
Kehidupan mereka sebagai pengemis itu tentu saja tidak pernah menarik perhatian para perampok atau penjahat sehingga dia dan gurunya tak pernah diganggu orang.
Kini, gurunya menghendaki agar dia melerai dua belas orang yang sedang berkelahi dan merobohkan mereka semua kalau mereka tidak berhenti berkelahi.
Akan tetapi dia tidak membantah.
Diturunkannya keranjang rempah-rempah dari pikulannya dan dengan senjata tongkat bambu di tangan dia menghampiri mereka yang sudah saling pukul itu.
"Heii, kawan-kawan! Berhentilah berkelahi! Tidak baik antara kita sendiri berkelahi. Hayo, berhenti!"
Akan tetapi melihat bahwa yang melerai itu adalah seorang pemuda pengemis pula, bukan anggauta pengemis baju hitam dan juga bukan anggauta pengemis baju berkembang, para pengemis itu tidak peduli, bahkan mereka berbalik menyerang Si Kong!
Baik yang baju hitam maupun yang baju berkembang kini menyerang Si Kong!
Si Kong cepat mengelak dan memutar tongkat bambunya.
Baginya, gerakan para pengemis itu terlampau lamban, dan mudah saja untuk dirobohkan.
Akan tetapi hati Si Kong tidak tega untuk menyakiti mereka.
Oleh karena itu, tongkatnya bergerak hanya untuk menjegal atau mendorong sehingga berturut-turut dua belas orang pengemis itu terpelanting ke kanan kiri!
Para pengemis itu terkejut.
Mereka yang berbaju berkembang bangkit dan seorang di antara mereka menudingkan telunjuknya kepada Si Kong sambil berkata.
"Awas akan pembalasan kami!"
Dia lalu memberi isarat kepada kawan-kawannya untuk pergi dari situ.
Sementara itu, enam orang pengemis baju hitam tidak pergi, melainkan memandang kepada Si Kong dan Yok-sian Lo-kai.
Mereka mengerti bahwa pemuda itu hanya melerai, buktinya diantara mereka tidak ada yang terluka.
Tiba-tiba seorang di antara mereka melihat keranjang rempah-rempah di dekat Yok-sian Lo-kai, dan dia segera memberi hormat dan bertanya.
"Bukankah Locianpwe ini yang berjuluk Yok-sian Lo-kai?"
"Ha-ha-ha, sialan itu nama! Di mana-mana ada saja yang mengetahuinya. Benar, aku Yok-sian Lo-kai. Dan kalian ini apa-apaan, di antara sesama pengemis saling hantam! Memalukan sekali!"
Kini enam orang itu menjatuhkan diri berlutut di depan Yok-sian Lo-kai dan seorang diantara mereka berkata.
"Kami mohon bantuan Locianpwe!"
"Apa? Kalian menyuruh aku ikut campur dalam perkelahian antara pengemis? Nanti dulu! Aku bukan orang yang suka memusuhi sesama pengemis, darimana pun pengemis itu berasal."
"Bukan itu, Locianpwe. Melainkan kami mohon pertolongan agar Locianpwe suka mengobati ketua kami yang terluka parah."
"Hemmm, kenapa dia terluka parah? Apakah karena dia berkelahi pula dengan pengemis lain?"
"Locianpwe akan mendengarnya sendiri nanti. Tadipun kami tidak bermaksud memusuhi pengemis baju berkembang, melainkan mereka yang melarang kami mengemis, kecuali kalau kami mau menjadi anggauta mereka. Kami mohon Locianpwe sudi menolong kami..."
"Hemmm, membikin repot saja. Hayo Si Kong, kita ikuti mereka."
Enam orang pengemis itu kelihatan gembira sekali dan mereka lalu menjadi penunjuk jalan, diikuti oleh Yok-sian Lo-kai dan Si Kong.
Orang-orang yang tadi menonton juga bubaran dan mereka membicarakan dan memuji pemuda yang dengan tongkat bambunya membuat dua belas orang yang berkelahi itu menjadi kocar-kacir.
Enam orang itu ternyata keluar dari kota dan menuju ke selatan.
Di luar kota ini terdapat sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan lagi dan agaknya kuil ini menjadi tempat tinggal perkumpulan pengemis Baju Hitam.
Ketika mereka tiba di situ, terlihat belasan orang pengemis baju hitam sedang duduk di beranda kuil.
Melihat enam orang rekan mereka datang bersama dua orang pengemis asing, mereka semua bangkit berdiri dan menyambut.
"Bagaimana dengan pangcu (ketua)?"
Tanya seorang dari enam orang pengemis yang baru datang itu.
"Wah, makin payah. Napasnya terengah-engah dan tubuhnya panas sekali."
Kata seorang di antara mereka yang tadi duduk diberanda.
"Locianpwe, silakan masuk. Pangcu kami berada di kamar dalam."
Yok-sian Lo-kai mengangguk dan bersama Si Kong dia mengikuti pengemis itu memasuki kuil.
Ternyata kuil yang sudah tua itu cukup besar dan mereka diajak masuk ke dalam sebuah kamar.
Di dalam kamar ada beberapa orang pengemis baju hitam menjaga sang ketua yang sedang sakit.
Melihat keadaan yang gawat dari ketua itu, tanpa diminta lagi Yok-sian segera menghampirinya, memegang pergelangan tangan si sakit untuk merasakan denyut nadinya.
"Hemm, dia keracunan!"
Katanya.
"Dia terluka pukulan didadanya,"
Kata seorang pengemis.
"Coba, buka bajunya, perlihatkan luka itu."
Kata Yok-sian.
Baju pengemis yang sakit itu dibuka dan nampaklah gambar lima jari tangan atau cap telapak tangan pada dada itu.
Yok-sian memeriksa luka atau bekas pukulan tangan itu, merabanya dan berkata.
"Kalian semua boleh keluar. Biarkan aku dan muridku mengobatinya."
Mendengar ucapan ini, para pengemis baju hitam lalu keluar dari dalam kamar.
Yok-sian menoleh kepada muridnya dan berkata.
"Ini kesempatan baik bagimu untuk menguji kepandaianmu dalam ilmu pengobatan. Hayo, kau periksa keadaannya dan katakan bagaimana pendapatmu dan cara mengobatinya."
Si Kong yang sudah bertahun-tahun mempelajari ilmu pengobatan dari gurunya, segera menghampiri si sakit.
Diperiksanya nadinya, dirabanya dadanya dan didengarnya detak jantungnya.
Kemudian dia berkata penuh keyakinan kepada gurunya.
"Dia menderita pukulan beracun, suhu. Tangan lawannya itu tentu mengandung sinkang panas. Pengobatannya adalah dengan tusuk jarum atau totokan jari ke arah Ci-kiong-hiat, Koan-goan-hiat dan Thian-ti-hiat. Totokan-totokan untuk mengalirkan darah ke arah luka juga perlu dilakukakan. Sementara itu, dia harus diberi minum obat pembersih darah dan obat menurunkan panas. Kalau itu masih kurang, boleh menyalurkan sinkang untuk membantu hawa murni di tubuhnya yang keluar dari tantian. Demikianlah, suhu, dan mudah-mudahan apa yang teecu kemukakan itu benar."
"Ha-ha-ha, bagus! Memang itu cara pengobatan yang baik sekali. Sekarang lakukanlah totokan-totokan itu."
Kata Yok-sian Lo-kai.
Si Kong memandang kepada tubuh yang bagian atasnya telanjang itu dan sambil mengerahkan tenaganya mulailah dia menotok jalan-jalan darah yang disebutkannya tadi.
Dia sampai berkeringat ketika selesai melakukan totokan terakhir di sekitar dada yang terluka.
Hatinya girang karena dia melihat betapa tanda telapak tangan menghitam itu sudah mulai pudar.
"Sekarang minggirlah dan masak obat pembersih darah dan obat menurunkan panas di luar. Aku akan menyalurkan sin-kang kepadanya."
Si Kong merasa girang bahwa cara dia mengobati ketua Hek I Kaipang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam) tadi ternyata benar.
Dia lalu keluar membawa keranjang rempah-rempah dan minta kepada para pengemis untuk disediakan perapian untuk memasak obat.
Setelah selesai memasak obat dan membawa dua mangkok kecil ke dalam kamar, dia melihat suhunya menempelkan telapak tangan kirinya ke dada ketua perkumpulan pengemis itu sambil pejamkan mata.
Tahulah dia bahwa gurunya sedang mengerahkan tenaga sakti ke dada orang sakit itu untuk mengusir sisa hawa kotor yang terkandung dalam pukulan tangan beracun itu.
Dia sendiri sudah mempelajari dan menghimpun tenaga sinkang yang lumayan, akan tetapi untuk mengusir hawa kotor itu tenaga saktinya belum kuat.
Oleh karena itu suhunya yang melakukannya.
Setelah Yok-sian Lo-kai menyalurkan hawa sakti dari telapak tangannya, perlahan-lahan kakek yang sakit itupun mulai menggerakkan biji matanya.
Lalu dia membuka matanya dan mencoba untuk bangkit.
Yok-sian membantunya bangkit duduk, dan dia minta dua mangkok yang dibawa masuk Si Kong.
"Minumlah dua mangkok obat ini dan engkau akan sembuh seperti sediakala."
Kai-pangcu (ketua perkumpulan pengemis) itu tidak membantah dan minum dua mangkok obat itu.
Tenaga kakek itu kini pulih dan wajahnya kemerahan, dadanya sudah tidak ada lagi tanda-tanda menghitam.
Dia memandang kepada Yok-sian Lo-kai, lalu kepada Si Kong dan dia lalu turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut di depan Yok-sian.
"Atas pertolongan Locianpwe Yok-sian Lo-kai, saya menghaturkan terima kasih."
Yok-sian Lo-kai tertawa sambil memandang kepada muridnya.
"Ha-ha-ha-ha! Lihat, Si Kong, betapa tidak enaknya menjadi orang terkenal. Di mana-mana ada saja orang mengenalnya, padahal orang itu tidak pernah berjumpa dengannya."
Setelah berkata demikian, dia menggunakan tongkatnya, dimasukkan ke bawah lengan ketua itu dan sekali bergerak, ketua itu dipaksa berdiri.
"Jangan keterlaluan, aku bukan raja kenapa mesti berlutut? Dan bagaimana engkau bisa tahu siapa diriku?"
Dengan sikap hormat, membungkuk Hek I Kaipangcu itu lalu berkata.
"Mudah saja. Melihat pakaian Locianpwe jelas pakaian seorang pengemis, dan melihat betapa Locianpwe dapat menyembuhkan dan memulihkan kesehatan saya, jelas bahwa Locianpwe seorang ahli pengobatan luar biasa yang berilmu tinggi. Siapa lagi pengemis yang pandai ilmu pengobatan selain Yok-sian Lo-kai?"
"Dan siapakah engkau? Mengapa engkau sampai terluka oleh pukulan keji itu?"
Ketua itu menghela napas panjang.
"Saya adalah ketua perkumpulan Pengemis Baju Hitam, semenjak dahulu kami selalu mengambil jalan benar, mengemis kepada orang-orang yang dermawan dan tidak pernah melakukan kejahatan dalam bentuk apapun. Akan tetapi pada suatu hari muncul pengemis-pengemis yang memakai baju berkembang, dan mereka melarang kami mengemis di tempat ini. Kami boleh mengemis kalau menjadi anggauta perkumpulan mereka. Akan tetapi melihat cara mereka mengemis tiada bedanya dengan merampok, mengemis dengan paksa kami tidak sudi bergabung. Lalu pada suatu hari, sepekan yang lalu, ketuanya datang dan menantangku. Aku terluka oleh pukulannya yang keji."
Yok-sian Lo-kai mengerutkan alisnya.
Biarpun dia tidak aktif dalam dunia mengemis, dia sudah mendengar keadaan para perkumpulan pengemis dimana-mana.
"Akan tetapi sepanjang pendengaranku, Hwa I Kaipang (Perkumpulan Pengemus Baju Kembang) adalah kaipang yang bersih, dipimpin oleh ketuanya yang baik pula."
Hek I Kaipangcu menghela napas panjang.
"Dahulu saya pun menganggap demikian. Nama saya adalah Lu Tung San, dan saya mengenal baik ketua Hwa I Kaipang. Akan tetapi yang muncul dan mengaku sebagai ketua Hwa I Kaipang sama sekali bukan ketua yang saya kenal, melainkan seorang yang masih muda dan entah bagaimana, dia bisa menjadi ketua Hwa I Kaipang dan membawa perkumpulan pengemis itu ke jalan sesat."
"Dan di mana adanya ketua yang dulu?"
"Tidak seorangpun yang mengetahui nasibnya dan di mana dia berada."
"Wah, gawat kalau begitu. Pangcu, mari antar kami ke sarang Hwa I Kaipang. Urusan ini terpaksa kami harus campur tangan karena akan mencemar nama baik para pengemis. Kalau dibiarkan saja tentu sukar membedakan antara pengemis dan perampok."
"Baik, akan saya antar sekarang juga. Dan perlukah anak buah Hek I Kaipang ikut? Siapa tahu mereka akan melakukan pengeroyokan."
"Tidak perlu. Yang ingin kami temui adalah ketuanya. Perkumpulan pengemis adalah perkumpulan orang-orang yang taat kepada pimpinan. Kalau ketuanya sudah dapat kita bereskan, tentu anak buahnya akan menaati kita."
Lu Tung San, ketua Hek I Kaipang, ternyata sudah sembuh sama sekali.
Karena selama sepekan ini dia hampir dikatakan tidak bisa makan, maka para anggautanya telah mempersiapkan makan minum untuk ketua mereka.
Lu Tung San mengajak Yok-sian dan Si Kong untuk makan bersama.
Dan ternyata makanan itu cukup lumayan, bahkan cukup mewah bagi para pengemis.
Setelah makan Lu Tung San berangkat bersama Yok-sian Lo-kai dan Si Kong yang tidak lupa memikul keranjang rempah-rempah milik gurunya.
Sarang Hwa I Kaipang juga berada di luar kota, akan tetapi bukan merupakan rumah tua bekas kuil seperti yang ditempati Hek I Kaipang.
Di luar kota, di lereng sebuah bukit, berdiri sebuah rumah besar dari tembok dan itulah sarang Hwa I Kaipang.
Ketika mereka mendaki bukit itu, beberapa anggauta Hwa I Kaipang melihat mereka.
Mereka mengenal Lu Tung San dan cepat mereka berlari ke sarang mereka untuk memberitahukan kunjungan Lu Tung San yang pernah dirobohkan ketua mereka yang baru itu.
Tepat seperti yang dikatakan Yok-sian, tadinya Hwa I Kaipang juga merupakan sebuah perkumpulan pengemis yang sederhana dan baik, tidak pernah mereka itu melakukan pemerasan atau kejahatan lain.
Baru beberapa bulan yang lalu, pada suatu hari datang seorang laki-laki berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun ke sarang Hwa I Kaipang.
Laki-laki itu bertubuh tinggi besar dan bermuka hitam.
Ketika ketua Hwa I Kaipang yang usianya sudah enam puluh tahun keluar menemui tamu itu, dengan terang-terangan orang yang mengaku bernama Ouwyang Kwi itu mengatakan bahwa dia hendak mengambil alih pimpinan Hwa I Kaipang!
Tentu saja Hwa I Kai-pangcu menjadi marah dan terjadi perkelahian.
Akan tetapi ternyata orang itu lihai bukan main.
Biarpun dia dikeroyok oleh belasan orang yang merupakan pimpinan dan pembantunya, dia merobohkan mereka semua, bahkan menawan ketuanya.
Melihat kelihaian si muka hitam itu, semua pengemis menyatakan takluk dan tunduk dan semenjak hari itu, Ouwyang Kwi menjadi ketua Hwa I Kaipang.
Bahkan dia memindahkan sarang Hwa I Kaipang ke lereng bukit itu, dimana berdiri sebuah rumah tembok yang besar.
Dan mulailah terjadi perubahan besar dari para anggauta Hwa I Kaipang.
Karena anjuran pemimpin baru mereka, para pengemis itu berani melakukan pemerasan terhadap penduduk kota Su-couw, dusun-dusun dan kota-kota di sekitar wilayah itu.
Sejak Ouwyang Kwi menjadi ketua, kehidupan para pengemis baju kembang berubah menjadi mewah.
Pakaian mereka yang berkembang-kembang itu bersih dan masih baru karena mereka mendapatkannya dari toko-toko yang tidak berani menentang permintaan mereka.
Kalau permintaan mereka ditolak, mereka lalu mengamuk dan tidak ada orang yang berani melawan.
Memang tadinya ada orang-orang yang merasa dirinya kuat dan pandai silat, menentang kaum pengemis Baju Kembang, akan tetapi mereka semua satu demi satu dirobohkan oleh ketua Hwa I Kaipang yang bermuka hitam itu.
Demikianlah keadaan Hwa I Kaipang.
Ouwyang Kwi tadinya adalah seorang perampok tunggal.
Akan tetapi agaknya dia merasa jemu dengan pekerjaan merampok seorang diri saja.
Maka diapun mengambil alih kedudukan ketau Hwa I Kaipang dan dia selain memperoleh kedudukan ketua, juga mendapatkan anak buah yang siap melakukan semua perintahnya.
Dia merasa seolah menjadi seorang raja!
Pakaiannya juga berkembang-kembang, namun pakaian itu mewah, sama sekali bukan pakaian seorang pengemis yang biasanya compang-camping dan penuh tambalan.
Dalam waktu beberapa bulan saja semua anak buah Hwa I Kaipang telah berubah.
Memang demikianlah (Lanjut ke
Jilid 02) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 02 keadaannya dengan kita manusia.
Mengajar orang-orang agar supaya menjadi baik budi amatlah sukarnya.
Akan tetapi ajarilah orang-orang itu untuk berbudi buruk dan memperoleh kesenangan, maka sebentar saja semua orang akan suka dan menurut.
Ketika Lu tung San, Yok-sian dan Si Kong memasuki perkampungan Hwa I Kaipang, mereka disambut oleh Ouwyang Kwi sendiri yang muncul bersama seorang kakek berpakaian mewah.
Kakek ini bukan orang biasa.
Dia adalah seorang datuk besar dunia kang-ouw dan juga majikan Pulau Tembaga di Lautan Timur.
Datuk sesat inilah guru Ouwyang Kwi yang datang berkunjung kepada muridnya yang kini telah menjadi ketua Hwa I Kaipang itu.
Kedatangannya di sambut oleh Ouwyang Kwi dengan mengadakan pesta makan minum secara mewah.
Ketika Ouwyang Kwi menerima laporan dari anak buahnya bahwa Lu Tung San datang bersama seorang kakek dan seorang pemuda yang pada siang hari tadi menghajar enam orang anggautanya, menjadi marah sekali.
"Bagus dia sudah mengantarkan sendiri nyawanya. Sekarang ini aku tidak akan membiarkan dia pergi hidup-hidup!"
Kata Ouwyang Kwi. Gurunya merasa heran sekali melihat muridnya marah-marah.
"Ada apakah Ouwyang Kwi? Siapa yang datang dan membuatmu marah?"
Datuk ini merasa bangga bahwa muridnya telah menjadi ketua sebuah perkumpulan pengemis yang berpengaruh.
Dia sendiri adalah seorang datuk yang besar pengaruhnya di Lautan Timur.
Para bajak laut semua tunduk kepadanya dan membayar "upeti"
Kepadanya sebagai hadiah karena mereka diperkenankan membajak di perairan itu.
Datuk ini dikenal di dunia kang-ouw sebagai Tung-hai Liong-ong (Raja Naga Lautan Timur).
Julukan Raja Naga ini mungkin karena orang melihat dia bersenjata sebatang tongkat kepala naga yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.
Tongkat kepala naga ini menjadi andalan dan senjatanya yang ampuh.
Ketika Tung-hai Liong-ong melihat Yok-sian Lo-kai, dia tercengang sejenak dan memandang tajam.
Demikian pula dengan Yok-sian Lo-kai.
Sama sekali tidak pernah menyangka akan bertemu dengan datuk besar itu di tempat ini.
"Hemm, kiranya Yok-sian Lo-kai yang datang!"
Kata Tung-hai Liong-ong.
"Ha-ha-ha, kiranya majikan Pulau Tembaga berada di sini pula! Tidak mengherankan kalau terjadi keributan!"
Kata Yok-sian sambil tertawa.
Dua orang yang sama-sama amat terkenal di dunia kangouw ini memang pernah saling bertemu walaupun di antara mereka belum pernah terjadi pertikaian.
Sementara itu, ketika melihat Lu Tung San, Ouwyang Kwi berkata mengejek.
"Hek I Kaipang, agaknya ada orang yang mengobatimu sampai sembuh. Apakah engkau belum jera dan ingin merasakan pukulanku lagi?"
"Ouwyang Kwi, aku datang mengantarkan Locianpwe Yok-sian Lo-kai yang ingin bicara denganmu karena sepak terjang anak buahmu yang sewenang-wenang."
"Aha, kiranya engkau memanggil bala bantuan? Aku tidak takut menghadapi jagoanmu!"
Ouwyang Kwi mengejek.
Ouwyang Kwi adalah murid Tung-hai Liong-ong dan dia baru saja masuk ke dalam dunia kangouw setelah selama beberapa beberapa tahun menjadi perampok tunggal.
Oleh karena itu dia belum mengenal nama Yok-sian Lo-kai dan sama sekali tidak gentar menghadapi nama julukan itu.
"Jadi mereka inikah yang memukul enam orang anak buahku? Jembel tua dan pengemis muda ini?"
Dia menudingkan telunjuknya ke arah Yok-sian dan Si Kong.
"Ha-ha-ha, betapa sombongnya! Aku sudah mengenal semua ketua perkumpulan para pengemis di empat penjuru. Mereka semua rata-rata baik. Maka ketika melihat enam orang pengemis Baju Kembang melarang Pengemis Baju Hitam untuk mengemis, aku menjadi tertarik dan ingin menyelidiki. Aku pernah mendengar bahwa perkumpulan Pengemis Baju Kembang adalah perkumpulan yang bersih, dipimpin oleh ketuanya yang baik pula. Akan tetapi, kenapa sekarang menjadi tersesat? Aku mendengar bahwa engkau orang she Ouwyang mengambil alih ketua yang lama?"
"Jembel tua, orang di luar Hwa I Kaipang tidak berhak mengurus urusan yang menyangkut Hwa I Kaipang. Sekarang yang menjadi ketua Hwa I Kaipang adalah aku, Ouwyang Kwi. Sebaiknya engkau tidak lancang mencampuri urusan kami, atau kami akan menggunakan kekerasan mengusirmu!"
"Ha-ha-ha-ha! Engkau bukan lawanku, Ouwyang Kwi. Kalau engkau mampu mengalahkan tongkat muridku ini, barulah engkau pantas melawan aku. Si Kong, bersiaplah untuk menandingi ketua palsu yang sombong ini."
Si Kong juga merasa marah mendengar ucapan ketua berpakaian kembang-kembang yang sombong itu, maka mendengar ucapan suhunya, dia lalu menurunkan keranjang rempah-rempah dan melintangkan tongkat bambunya di depan dadanya.
"Aku sudah siap, orang sombong!"
Katanya kepada Ouwyang Kwi.
Ouwyang Kwi sudah mendengar laporan anak buahnya bahwa pemuda yang masih remaja itulah yang merobohkan mereka.
Akan tetapi tentu saja dia tidak merasa gentar.
Dia sudah banyak pengalaman dalam perkelahian selama bertahun-tahun, mana mungkin dia kalah oleh seorang bocah yang usianya paling banyak lima belas tahun ini?
"Baik, akan kubunuh dulu bocah ini, baru kemudian engkau jembel tua dan ketua Hek I Kaipang ini!"
Bentaknya dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah mencabut sebatang golok dari punggungnya dan langsung menyerang Si Kong yang memegang tongkat bambu.
Akan tetapi Si Kong sudah siap siaga dan dengan mudahnya dia mengelak dan secepat kilat tongkatnya sudah menotok ke tiga bagian jalan darah di kedua pundak dan dada lawannya.
"Eh...!"
Ouwyang Kwi terkejut sekali dan cepat memutar goloknya kedepan tubuhnya untuk melindungi diri dari totokan-totokan yang cepat dan tak terduga itu.
Kalau Si Kong bertanding untuk merobohkan lawan saja, sebaliknya Ouwyang Kwi bertanding untuk membunuh lawannya.
Dia seorang ahli bermain golok yang lihai, akan tetapi sekali ini dia sudah kewalahan dan sebentar saja dia sudah terdesak hebat!
Dia hanya mampu menangkis dan memutar goloknya saja tanpa dapat membalas.
"Jangan pakai golok, gunakan Tok-ciang (Tangan Beracun)!"
Tiba-tiba dia mendengar suara gurunya.
Orang lain tidak dapat mendengar seruan itu karena Tung-hai Liong-ong "mengirim"
Suaranya melalui khikang yang kuat sehingga seolah dia berbisik dekat telinga muridnya.
Mendengar ini, Ouwyang Kwi melempar goloknya dan dia menggerak-gerakkan kedua tangannya yang perlahan-lahan berubah menghitam!
Yang terkejut melihat perubahan ini adalah Yok-sian Lo-kai.
Dia pun tidak mendengar bisikan itu, akan tetapi dia dapat menduga bahwa Majikan Pulau Tembaga itu yang agaknya memberi nasihat kepada muridnya.
Dia tahu bahwa Si Kong tidak bermaksud membunuh lawan, maka tongkatnya hanya mencoba untuk menotok jalan darah yang tidak membahayakan nyawa lawan.
Dan karena kini Ouwyang Kwi bertangan kosong, dia dapat menangkis tongkat bambu dengan tangannya dan sekaligus mencoba untuk merampas tongkat.
Juga sambaran tangan itu mengandung hawa beracun yang berbahaya.
Diam-diam Yok-sian mengerahkan khikangnya dan berbisik yang hanya terdengar oleh muridnya.
"Pukul Kaki Seratus Anjing". Ini adalah nama jurus dari ilmu silat Tongkat Sakti Pemukul Anjing itu. Ketika Si Kong mendengar bisikan gurunya itu, cepat dia mengubah caranya bersilat dan tubuhnya bergerak rendah dan tongkatnya secara bertubi-tubi menyerang ke arah kedua kaki lawan. Karena yang diserangnya bagian lutut dan pergelangan kaki, maka kalau mengenai sasaran, tentu lawan akan jatuh berlutut, Kembali Ouwyang Kwi terdesak oleh serangan Si Kong. Dia berloncat-loncatan dan tidak mampu balas menyerang. Kembali telinganya mendengar bisikan gurunya.
"Garuda menyerang segerombolan kelinci!"
Ini merupakan jurus yang dilakukan dengan loncatan ke atas kemudian dari atas mencengkeram ke arah kepala lawan.
Dan begitu dia meloncat tinggi di udara, dengan sendirinya serangan Si Kong juga macet, dan berbalik dia yang diserang oleh kedua tangan yang membentuk cakar itu.
Si Kong terpaksa mengelak ke sana sini, karena kalau dia menangkis, ada bahayanya tongkat itu terpegang lawan dan kalau hal ini terjadi, tongkatnya dapat terampas atau setidaknya dihancurkan oleh cengkeraman tangan beracun itu!
Tiba-tiba dia yang sedang terdesak itu mendengar bisikan gurunya.
"Ular Senduk Menyerang Garuda!"
Si Kong menjadi girang sekali dan cepat dia menggerakkan tongkatnya yang meluncur seperti seekor ular yang menyerang musuh yang datangnya dari atas.
Dengan jurus ini maka kembali Si Kong dapat mendesak lawan.
Yang diserang oleh luncuran tongkatnya adalah kedua mata dan leher lawan, serangan yang cukup berbahaya kalau mengenai sasaran.
Demikianlah, dua orang itu saling serang dan sesungguhnya yang bertanding adalah guru-guru mereka yang membisikkan jurus-jurus melalui mereka.
Ketika mendapat kesempatan, Si Kong menggetarkan ujung tongkatnya dan dengan pengerahan sinkangnya, dia menusuk ke arah uluhati lawan.
Melihat ini, Ouwyang Kwi menangkis dengan tangan kanan sambil mengerahkan sinkang pula.
"Tuk...!"
Ujung tongkat bertemu telapak tangan dan keduanya terdorong mundur sampai lima langkah.
Ternyata dalam hal tenaga sinkang, mereka seimbang dan hal ini amat mengejutkan hati Ouwyang Kwi.
Tadipun kalau tidak mendapatkan bisikan-bisikan gurunya, dia sudah terdesak beberapa kali oleh pemuda remaja itu!
Kini tahulah dia mengapa anak buahnya yang enam orang jumlahnya tidak mampu melawan pemuda ini.
Baik Yok-sian Lo-kai maupun Tung-hai Liong-ong merasa khawatir kalau pertandingan antara murid-murid mereka dilanjutkan.
"Hemm, Jembel Tua, murid kita sudah cukup bertanding. Bagaimana kalau guru mereka, tua sama tua, maju menguji ilmu kepandaian?"
"Ha-ha-ha, Naga Tua, kalau dilanjutkan pun muridmu akan kalah. Kau menantang aku? Ha-ha-ha, memang sudah lama aku ingin sekali mengetahui sampai di mana kelihaian Tung-hai Liong-ong dari Pulau Tembaga yang namanya tersohor itu!"
"Jembel Tua, kalau kita menggunakan senjata, orang-orang akan menganggap aku tidak adil karena senjataku lebih berat dan lebih besar dari pada tongkat bambumu. Karena itu, aku tantang engkau untuk bertanding dengan tangan kosong!"
Berkata demikian Tung-hai Liong-ong menancapkan tongkat kepala naga itu ke tanah.
Tongkat itu menancap di tanah sampai hampir setengahnya dan ini menunjukkan betapa kuat tenaga sinkang datuk itu.
Yok-sian tertawa.
Dia maklum bahwa lawannya tentu gentar menghadapi ilmu tongkatnya Ta-kaw Sin-tung maka sengaja menantang pertandingan tangan kosong.
Tentu mengandalkan Tok-ciang (Tangan Beracun) yang hebat.
Akan tetapi dia hanya tertawa dan tidak menolak tantangan itu.
"Ha-ha-ha, sesukamulah, Naga Tua. Bersenjata baik, bertangan kosong juga baik! Nah, aku sudah siap, mulailah!"
Kakek pengemis itu berdiri santai saja, tidak memasang kuda-kuda seperti orang yang hendak bertanding.
Melihat sikap lawannya, Tung-hai Liong-ong segera mengeluarkan suara bentakan nyaring dan tubuhnya bergerak ke depan menyerang dengan dahsyat bagaikan angin topan!
"Hyaaaat...!!"
Kedua lengan Tung-hai Liong-ong menyambar dari kanan kiri.
"Heiiiittt...!"
Yok-sian mengelak dengan tubuh condong ke belakang sehingga serangan pertama Liong-ong (Raja Naga) itu luput dan segera kakinya mencuat untuk membalas serangan lawan dengan sebuah tendangan kilat.
"Wuuuutt... dukk!"
Liong-ong sudah menangkis tendangan Yok-sian dan balas memukul.
Terjadilah pertandingan yang berjalan amat cepat sehingga yang nampak hanya bayangan dua orang kakek itu yang menyambar-nyambar seperti dua ekor ayam jantan berlaga.
Diam-diam Si Kong memperhatikan dan dia melihat bahwa dalam hal ginkang atau meringankan tubuh gurunya masih menang setingkat.
Akan tetapi Liong-ong memiliki ilmu pukulan yang hebat sekali.
Dari kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan yang panas.
Tahulah dia bahwa Liong-ong memiliki kedua tangan yang sudah mengandung hawa beracun amat jahatnya dan kini dia mengerti mengapa Liong-ong mengajak gurunya bertanding dengan tangan kosong.
Tentu karena dia mengandalkan ilmunya itu untuk mengalahkan Yok-sian.
Setelah lewat seratus jurus, dua orang kakek mengubah gerakan mereka, kini tidak cepat lagi seperti tadi, melainkan dengan gerakan lambat, namun setiap gerakan mengandung hawa sakti yang menyambar-nyambar, terasa oleh mereka yang menonton.
Kedua orang sakti itu kini mengerahkan tenaga sinkang untuk saling serang.
Pukulan mereka dilakukan dengan jari tangan terbuka dan dari telapak tangan mereka itulah menyambar hawa pukulan yang dahsyat bukan main.
Dengan khawatir Si Kong melihat betapa kedua tangan Liong-ong menghitam sampai kesikunya.
Itulah tandanya bahwa Liong-ong telah mempergunakan Tok-ciang (Tangan Beracun) yang amat berbahaya.
"Heeeiiiiiittt...!"
Liong-ong berseru dan tangan kirinya mendorong ke depan, sementara tangan kanannya diangkat tinggi di atas kepalanya.
Ada hawa menghitam menyambar dan ketika Yok-sian mengelak, sebatang pohon kena dihantam tangan Liong-ong.
Pohon itu tumbang dan di bagian yang terpukul menjadi hitam seperti terbakar.
"Hyaaatt...!"
Yok-sian yang sudah mengelak itu kini merendahkan tubuh dan dengan menekuk kedua lututnya dan kedua tangannya mendorong ke depan.
Akan tetapi Tung-hai Liong-ong agaknya hendak mengadu tenaga karena dia pun melakukan gerakan yang sama dan mendorongkan kedua tangannya.
"Wuuuuuuutttt... plak..."!"
Dua pasang tangan itu bertemu di udara dan telapak tangan mereka saling melekat.
Kini kedua orang kakek itu seperti dua orang anak-anak bermain dorong-dorongan!
Nampak sekali mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk mendorong lawan.
Dari kepala Liong-ong mengepul uap hitam dan dari kepala Yok-sian mengepul uap putih.
Si Kong memandang dengan hati khawatir sekali.
Dia tahu betul bahwa gurunya sedang bertanding mati-matian, mengerahkan seluruh tenaga.
Kalau gurunya kalah kuat dan dapat terdorong, tentu akan menderita luka dalam yang hebat!
Untuk membantu juga tidak mungkin, bahkan berbahaya karena dia dapat terserang oleh dua tenaga singkang yang sedang saling dorong itu.
Ouwyang kwi juga mengerti keadaan gurunya.
Dia nampak bingung dan tidak tahu harus berbuat apa, hanya membanting-banting kakinya dengan kesal.
Wajah Liong-ong menjadi tegang dan kemerahan, sedangkan wajah yok-sian masih tersenyum seperti biasa.
"Hyaaaaaaaaaaaattt!!"
Dua orang kakek itu mengeluarkan teriakan melengking dan akibatnya, tubuh Tung-hai Liong-ong terdorong mundur sampai lima langkah dan hampir saja dia terjatuh, akan tetapi ditahannya, lalu dia muntahkan darah segar dari mulutnya!
Tubuh Yok-sian hanya bergoyang-goyang akan tetapi kedua kakinya tidak melangkah, hanya mukanya yang menjadi agak pucat.
Tung-hai Liong-ong menoleh kepada Ouwyang Kwi sambil mengusap darah dari bibirnya dan berkata dengan suara parau.
"Hayo kita pergi! Untuk apa memperebutkan kedudukan ketua pengemis busuk?"
Dengan kedua tangan dia mencabut tongkatnya yang tadi tertancap di atas tanah dan pergilah Tung-hai Liong-ong setelah dia memandang kepada Yok-sian.
"Lain kali aku menang!"
Dia melangkah pergi.
Ouwyang Kwi nampak bingung.
Akan tetapi diapun tahu bahwa dia sudah kalah, maka tanpa banyak cakap lagi diapun mengikuti langkah gurunya.
Lu Tung San kini melangkah maju dan menghadapi anak buah Hwa I Kaipang dan berteriak lantang.
"Kami akan memaafkan kalian kalau kalian mencari di mana adanya ketua kalian yang lama, Tang Sin Pangcu."
Seorang anggauta Hwa I Kaipang berlari ke dalam dan tak lama kemudian dia menuntun seorang kakek yang nampak lemah.
Dia itu bukan lain adalah Tang Sin, ketua Hwa I Kaipang yang dikalahkan oleh Ouwyang Kwi dan ditahan di kamar tahanan belakang gedung!
Yok-sian sendiri kini duduk bersila dan mengatur pernapasannya.
Dari sudut mulutnya nampak darah.
Kiranya dia pun terluka parah, hanya tidak kelihatan seperti halnya Tung-hai Liong-ong.
Si Kong berlutut di sisi gurunya.
"Suhu terluka...?"
Tanyanya lirih.
Yok-sian mengangguk, membuka mata memandang kepada Tang Sin yang sudah menjatuhkan diri berlutut di depannya.
Yok-sian berkata kepada muridnya.
"Si Kong, kau cepat periksa dia dan obati sampai sembuh."
Si Kong memenuhi permintaan gurunya.
Dia memeriksa tubuh Tang Sin yang lemah.
Ternyata Tang Sin juga terluka oleh pukulan beracun seperti halnya Lu Tung San.
Maka cepat dia menotok dan menekan beberapa jalan darah di tubuhnya dan memasakkan obat dengan bantuan para pengemis baju berkembang dan memberikan obat itu kepada Tang Sin.
"Si Kong, mari kita pergi dari sini!"
Kata Yok-sian kepada muridnya sambil bangkit berdiri.
Wajahnya masih pucat akan tetapi dia tetap penuh senyum.
"Kami menghaturkan terima kasih kepada Locianpwe Yok-sian Lo-kai!"
Kata Lu Tung San.
"Sudahlah, di antara kita mana ada budi dan terima kasih? Semua yang kita lakukan adalah kewajiban kita. Dan engkau, Hek I Kai-pangcu, engkau pun mempunyai kewajiban. Bantulah ketua Hwa I Kaipang untuk menyadarkan para anggautanya yang dibawa menyeleweng oleh Ouwyang Kwi. Bantu dia membawa anak buahnya ke jalan lurus kembali. Sekarang, biarkan kami pergi melanjutkan perjalanan kami."
Tang Sin dan Lu Tung San yang berterima kasih itu mencoba untuk mencegah kepergian kakek itu, akan tetapi sia-sia belaka.
Mereka hanya dapat mengantar sampai di luar gedung dan membiarkan Yok-sian Lo-kai dan Si Kong pergi dari situ.
"Kita mencari tempat yang sunyi. Aku... ingin beristirahat."
Kata Yok-sian.
Si Kong membawanya keluar kota Souw-ciu dan melihat ada sebatang pohon besar di sebelah kanan jalan, Si Kong mengajak gurunya ke sana dan Yok-sian duduk bersila di bawah pohon.
"Suhu, biarkan teecu (murid) memeriksa keadaan suhu."
"Aku sudah tahu keadaanku. Aku terserang hawa beracun dari Naga Tua itu. Terluka parah sekali. Aku tidak akan mampu lagi mengerahkan tenaga sinkang sampai lama."
"Suhu, apakah tidak ada obatnya untuk mengobati luka suhu?"
Yok-sian menggeleng kepala.
"Salahku sendiri. Kalau aku mengaku kalah dan tidak menahan, tentu tidak akan terluka sampai seperti ini. Diapun terluka, sama parahnya dengan aku. Dia dan aku kini menjadi orang-orang tua tanpa daya dan untuk memulihkan keadaanku, aku harus menghimpun tenaga dari hawa murni, entah selama berapa tahun lagi."
Tentu saja Si Kong merasa prihatin sekali.
"Suhu, biarlah teecu berusaha untuk membantu suhu mengusir mengusir hawa beracun itu."
Katanya dan diapun lalu bersila di belakang tubuh suhunya dan menempelkan kedua tangannya di punggung Yok-sian sambil mengerahkan tenaga saktinya.
Akan tetapi alangkah kagetnya ketika terasa olehnya ada hawa yang amat panas menyerangnya dan membuatnya terpelanting.
"Jangan kau lakukan itu, percuma saja, bahkan engkau bisa terluka. Tenaga dalamku menjadi kacau dan keracunan. Aku membutuhkan waktu lama untuk memurnikannya kembali."
Kata Yok-sian Lo-kai.
Si Kong merasa sedih melihat keadaan gurunya.
Dia mengusulkan kepada gurunya untuk bermalam di sebuah penginapan dan dia sendiri ingin bekerja mencari uang untuk membayar sewa kamar.
Akan tetapi gurunya tidak setuju.
"Pengemis-pengemis menginap di rumah penginapan? Kita hanya akan diejek dan diusir. Sudahlah, aku tidak membutuhkan tempat yang baik, hanya membutuhkan tempat yang sunyi."
Akhirnya Si Kong menemukan sebuah kuil tua yang kosong, beberapa li jauhnya dari kota Souw-ciu.
Dia mengajak suhunya untuk tinggal di kuil itu.
Dan setiap pagi dia pergi ke kota Souw-ciu pulangnya membawa makanan dan juga obat penguat badan untuk gurunya.
Dia bekerja apa saja untuk mendapatkan uang guna keperluan itu.
Setelah tiga bulan tinggal di kuil itu dan setiap hari dia bekerja sebagai buruh kasar, pada suatu siang ketika dia kembali ke kuil tua, gurunya sudah tidak ada di tempat itu!
Si Kong menjadi bingung dan khawatir, akan tetapi dia menemukan coret-coretan di dinding sebelah dalam.
Itu adalah tulisan Yok-sian Lo-kai yang dilakukan dengan ujung tongkatnya.
Si Kong, Aku terpaksa meninggalkanmu.
Aku tidak ingin melihat engkau bersusah payah untuk mengurus diriku.
Aku hanya membutuhkan istirahat selama beberapa tahun.
Engkau merantaulah seorang diri dan pergunakanlah apa yang kau pelajari dariku untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Selamat tinggal.
Si Kong menjadi lemas.
Seperti orang kebingungan dia lari keluar dan mencari ke sana-sini, untuk mengejar suhunya.
Akan tetapi usahanya itu gagal dan akhirnya dia kembali ke kuil menjatuhkan dirinya duduk di lantai yang biasa diduduki gurunya dan termenung.
Dia merasa nelangsa, merasa kesepian.
Setelah hidup bersama Yok-sian Lo-kai selama lima tahun, orang tua itu sudah melekat di hatinya, menjadi satu-satunya orang yang dekat dengannya.
Kini, tiba-tiba saja gurunya pergi karena tidak ingin menyusahkannya!
Bagaimana hatinya tidak akan merasa sedih.
Padahal, dengan senang hati dia ingin merawat suhunya sebagai pembalas budi.
Akan tetapi orang tua itu tidak mau dan meninggalkannya.
Selama ini dia merasa hidupnya bahagia.
Biarpun harus hidup sebagai seorang pengemis, namun dia tidak pernah merasa susah.
Kemanapun dia merasa berbahagia karena gurunya selalu tersenyum dan tertawa katanya menertawakan dunia dan manusianya yang serba palsu dan lucu.
Si Kong merasa kesepian dan ditinggalkan kebahagiaan.
Rasanya berat harus hidup seorang diri, seolah kehilangan pegangan.
Kemana dia harus pergi?
Ketika bersama gurunya tak pernah dia tanya hal ini.
Seolah dengan sendirinya dia harus pergi kemana gurunya pergi dan gurunya itupun tidak pernah mempunyai rencana harus pergi kemana.
Dia teringat akan kata-kata gurunya.
Manusia mencari kebahagiaan ke mana-mana dan dengan segala cara, namun tidak pernah dapat menemukan kebahagiaan itu.
Menurut gurunya, kebahagiaan tidak bisa ditemukan kalau dicari.
Kebahagiaan adalah suatu keadaan batin yang tidak diganggu oleh gejolaknya nafsu.
Selama nafsu masih bergejolak dalam batin, tidak mungkin manusia dapat berbahagia, karena dia akan terbentur dengan halangan-halangan dalam mengejar kesenangan seperti yang dikehendaki oleh nafsu.
Dalam keadaan tidak berbahagia, bagaimana mungkin menemukan kebahagiaan?
Kalau keadaan yang tidak berbahagia itu tidak ada lagi, manusia tidak lagi membutuhkan kebahagiaan.
Kenapa?
Karena dia sudah bahagia!
Kebahagiaan itu sudah ada selalu dalam diri manusia sendiri, namun terselubung oleh bermacam persoalan dan kesukaran yang menjadi akibat dari menuruti nafsu diri.
Seperti orang yang mencari kesehatan.
Bagaimana mungkin akan dapat mengalami kesehatan kalau tubuhnya sedang sakit?
Daripada mencari kesehatan yang tak mungkin dia temukan, lebih baik meneliti dirinya sendiri yang sakit, mengusahakan agar penyakit itu lenyap.
Kalau dirinya sudah tidak dihinggapi penyakit lagi, apakah dia butuh mencari kesehatan?
Tidak perlu lagi karena dia sudah sehat!
Manusia biasanya tidak dapat menikmati kesehatan kalau dia sehat.
Baru merindukan kesehatan kalau dia sakit.
Demikian pula manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan kalau dia berbahagia.
Baru merindukan kebahagiaan dikala dia sedang tidak berbahagia.
Hidup itu sendiri adalah indah, hidup itu sendiri adalah bahagia.
Mengapa repot-repot mencari kebahagiaan dengan segala cara?
Setelah merenungkan kembali apa yang pernah dia dengar dari Yok-sian Lo-kai, Si Kong merasa terhibur.
Kalau dia merasa kehilangan dan kesepian, itu sama saja dengan mengundang ketidak-bahagiaan dalam hatinya.
Kata gurunya hidup haruslah berani mandiri, tidak boleh terikat atau tergantung kepada apa dan siapapun juga.
Hidup adalah miliknya sendiri, akan diisi apapun terserah kepada dirinya sendiri.
Dia bangkit berdiri, merasa lega dan merasa kuat.
Aku memang sudah semestinya hidup sendiri.
Demikian pikirnya.
Aku sudah yatim piatu dan tidak memiliki apa-apa.
Aku akan merantau, seperti yang dilakukan suhu.
Aku harus berani dan menempuh kehidupan ini dengan tabah dan gembira.
Aku harus menjadi seoang kelana, pergi kemana saja menurutkan arah kakinya melangkah.
Terbang bebas lepas di udara seperti seekor burung.
Kata gurunya, burung yang kecil-kecil dan penakut terbang berkelompok dan tidak berani menyendiri.
Akan tetapi burung rajawali berani terbang melayang dengan lepas bebas seorang diri saja, menghadapi kehidupan ini seorang diri tanpa rasa takut.
"Aku akan berkelana! Terima kasih atas segala petunjuk dan bimbinganmu suhu!"
Katanya keras-keras, lalu dia keluar dari kuil itu mulai dengan pengembaraannya.
Setelah berkelana seorang diri Si Kong meninggalkan pula kebiasaannya memakai pakaian seperti pengemis, yaitu tambal-tambalan.
Dengan tubuhnya yang kuat dan tenaganya yang besar, mudah baginya mencari pekerjaan kasar yang menghasilkan sedikit uang dan mulailah dia membeli pakaian yang sederhana namun tidak ada tambalannya.
Dia berkelana dari kota ke kota, dari dusun ke dusun, dan berhenti beberapa bulan lamanya untuk bekerja.
Setelah mendapatkan uang, dia berkelana lagi.
Pada suatu pagi, dia berjalan dengan santai mendaki sebuah bukit kecil.
Dia baru saja meninggalkan kota Pu-han di mana dia tinggal sebulan lamanya untuk bekerja.
Kini dia melanjutkan kelananya dengan mengantungi uang hasil pekerjaannya.
Hatinya terasa ringan, segala yang nampak kelihatannya indah.
Matahari belum naik tinggi, sinarnya masih kemerahan.
Pemandangan di bukit kecil itu pada pagi hari amatlah indahnya.
Burung-burung berkicau, siap meninggalkan sarangnya di mana dia melewatkan malam gelap.
Para petani sepagi itu sudah menuju ke sawah ladangnya membawa cangkul.
Semua nampak indah berseri dan seperti itulah seyogyanya kehidupan ini.
Namun sayang, batin selalu mudah terguncang sehingga menimbulkan perasaan tidak bahagia.
Si Kong mendaki makin tinggi dan di dekat puncak bukit sudah tidak ada lagi sawah ladang, melainkan padang rumput dan hutan di sana-sini.
Tiba-tiba dia mendengar suara orang menyanyikan sajak.
Jantungnya berdebar.
Gurunya, Yok-sian Lo-kai yang biasa bernyanyi seperti itu!
Akan tetapi suaranya agak lain.
Dia mempercepat langkahnya dan dapat menyusul seseorang yang berjalan sambil menyanyikan sajak.
"Sebelum timbul girang dan marah sebelum terasa senang dan susah batin berada dalam keadaan bimbang. Apa bila perasaan itu timbul namun dapat mengendalikan batin berada dalam keadaan keselarasan. Keseimbangan dasar termulia di dunia dan keselarasan adalah alan utama di dunia"
Si Kong segera mengenal kata-kata itu.
Dia sudah banyak mempelajari ayat-ayat dari kitab-kitab agama dari Yok-sian.
Maka diapun mengenal syair yang dinyanyikan itu, ialah sebagian daripada isi kitab Tiong Yong.
Karena suara orang itu terdengar lantang gembira, dia terbawa gembira dan seperti tanpa disadari diapun menyambung nyanyian itu dengan suaranya yang lantang.
"Apabila Keseimbangan dan Keselarasan dilaksakan dengan sempurna, maka keberesan abadi meliputi langit dan bumi, dan segala mahluk dan benda terpelihara dengan baik."
Mendengar ini, orang itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
Dia seorang laki-laki berusia lima puluh tahun, tubuhnya kurus kering seperti pohon kekeringan, namun wajahnya tampan dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik.
Orang itu membelalakkan matanya dan nampak keheranan setelah melihat bahwa orang yang menyambung sajaknya itu hanyalah seorang pemuda remaja!
Dia berhenti melangkah dan menanti sampai Si Kong datang dekat.
"Engkau hafal akan ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong?"
Tanya orang itu, masih keheranan.
"Engkau tentu seorang anak yang terpelajar!"
Si Kong tersenyum dan memberi hormat.
"Paman, saya tidak pernah bersekolah atau belajar, saya hanya menirukan apa yang pernah di katakan suhu."
"Siapa suhumu?"
Dengan bangga Si Kong menjawab.
"Suhu adalah Yok-sian Lo-kai."
"Ah, dia? Pantas engkau hafal ayat-ayat Tiong Yong. Akan tetapi apakah engkau mengerti akan artinya ayat-ayat itu?"
"Justru artinya yang membingungkan aku, paman. Suhu tidak pernah menjelaskan dan hanya mengatakan bahwa kelak aku akan mengerti sendiri."
"Mengerti sendiri memang dapat, akan tetapi ada kemungkinan pengertian itu menyeleweng dari arti yang sebenarnya. Nah, dengarlah baik-baik anak muda. Batin manusia seperti yang telah ada padanya sejak lahir memiliki Watak Aseli yang sifatnya tenteram, lurus dan seimbang. Akan tetapi apabila batin diguncangkan oleh perasaan seperti suka dan duka, senang dan marah, maka keseimbangannya dapat menjadi goyah dan miring dan kalau demikian halnya, maka dia akan meninggalkan Tao atau Jalan Kebenaran atau Hukum Alam. Akan tetapi manusia disertai pula oleh nafsu-nafsu daya rendah yang saling berebut untuk menguasainya, maka tidak dapat dielakkan lagi berbagai macam guncangan itu akan menerjangnya dalam kehidupan, seperti sebuah biduk tak terbebas dari guncangan ombak. Akan tetapi kalau dia sedang diguncang nafsu, namun dapat mengendalikan perasaan itu, maka akan terciptalah keselarasan. Sudah manusiawi kalau mendapatkan sesuatu yang tidak enak, manusia berduka, apabila melihat kejadian yang tidak adil, dia marah, akan tetapi kalau semua itu dapat dia kendalikan, maka segalanya akan selaras dan dia tidak akan tenggelam ke dalam perasaan itu dan pertimbangannya akan tetap tegak dan berimbang. Demikian pula kalau menghadapi sesuatu yang mendatangkan perasaan suka dan girang, dia tidak akan mabuk dan menjadi bangga, angkuh, serakah dan selanjutnya. Demikianlah, maka seperti yang kau nyanyikan tadi, apabila Keseimbangan dan Keselarasan dapat dilaksanakan dengan sempurna, maka langit dan bumi akan menjadi beres dan tenteram, dan kehidupan di dunia akan penuh kebahagiaan."
Si Kong memandang kagum.
Jelas bahwa orang ini seorang sastrawan, atau setidaknya seorang yang terpelajar tinggi.
Dia segera memberi hormat dan berkata.
"Paman, terima kasih atas penerangan semua itu. Kalau begitu, dalam kitab Tiong Yong terdapat pelajaran tentang kehidupan yang amat mendalam."
"Dalam kitab suci, tentu saja tersimpan pelajaran yang amat mendalam. Hanya persoalannya, kalau hanya dipelajari dan tidak dilaksanakan, maka pelajaran itu menjadi benda yang tidak ada gunanya sama sekali."
Si Kong menghela napas panjang.
"Tepat sekali, paman. Akan tetapi mengapa di dunia ini terdapat lebih banyak kejahatan daripada kebaikan, terdapat demikian banyaknya orang jahat padahal di dunia ini terdapat pelajaran agama yang demikian indah dan mendalam?"
"Ha-ha-ha-ha!"
Sastrawan itu terbahak, mengingatkan Si Kong akan gurunya yang mempunyai kebiasaan tertawa lepas.
"Mudah sekali menjawabnya. Karena manusia disertai nafsu-nafsu daya rendahnya yang selalu ingin menguasainya. Nafsu-nafsu daya rendah sudah menguasai manusia lahir batin, lebih kuat karena memang manusia itu lemah sehingga manusia menjadi budak dari nafsunya. Bahkan pikirannya sudah dikuasai nafsu sehingga biarpun dia tahu bahwa melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, pikiran yang sudah dikuasai nafsu itu selalu mencoba untuk membelanya dan membenarkan tindakannya yang menyimpang dari kebenaran itu. Maka orang bijaksana jaman dahulu selalu mengingatkan manusia agar berhati-hati menghadapi musuh dalam selimut, yaitu nafsu-nafsunya sendiri."
"Wah, paman. Sungguh jelas apa yang paman terangkan itu! Terima kasih paman."
"Dan engkau juga seorang anak yang aneh. Masih remaja akan tetapi sudah tertarik akan soal-soal kehidupan."
"Tentu saja, paman. Bukankah saya inipun manusia hidup yang harus tahu akan kehidupan, bukan?"
"Ha-ha-ha, engkau juga cerdik Siapakah namamu orang muda?"
"Nama saya Si Kong, paman."
"Si Kong? Nama yang bagus, engkau harus berhati-hati kalau mempunyai nama yang bagus, karena engkau harus menyesuaikan perbuatanmu dengan namamu itu! Kau tidak ingin tahu namaku?"
"Tentu saja, paman. Paman tentu seorang yang terkenal sekali di dunia."
"Ha-ha-ha, orang-orang menyebut aku Kwa Siucai (Pelajar Kwa) dan ada pula yang menyebutku Penyair Gila! Orang-orang itu membenciku karena aku suka berterus terang menyatakan watak-watak mereka yang buruk. Aku seorang peramal, heh-heh!"
"Saya tidak suka diramal nasib saya, paman."
"Kenapa?"
"Tahu lebih dulu akan nasib diri mendatangkan banyak kerugian. Kalau nasibnya baik akan membuat dia sombong dan tekebur, sebaliknya kalau mengetahui nasibnya buruk akan membuat dia putus asa dan murung. Tidak, saya lebih baik tidak mengetahui dan menanti saja apa yang akan datang menimpa diri kita."
"Ha-ha-ha, cocok sekali! Aku sendiripun tidak suka meramalkan nasib sendiri. Tapi orang-orang bodoh itu ingin sekali menjenguk masa depan mereka. Dan aku hidup bebas dari rasa takut. He, Si Kong, banyak sikap yang sama di antara kita, dan melihat bentuk tubuhmu, aku tidak akan merasa heran kalau engkau lihai dalam ilmu silat. Bukankah gurumu Yok-sian Lo-kai yang lihai?"
"Saya hanya mempelajari beberapa macam pukulan dengan tongkat ini, paman."
"Ah, engkau tentu sudah pandai mainkan Ta-kaw Sin-tung!"
Si Kong tertegun.
Orang ini memang aneh.
Ternyata pandai pula menebak ilmu silat yang dia pelajari dari Yok-sian Lo-kai.
"Bagaimana paman dapat mengetahuinya?"
"Engkau masih muda, sebetulnya tidak membutuhkan tongkat, akan tetapi engkau selalu membawa tongkat bambu. Apalagi kalau tidak pandai Ta-kaw Sin-tung, Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang tersohor itu?"
"Ah, saya hanya bisa sedikit saja, paman."
"Ada nasihat yang dikatakan orang-orang di dunia kangouw bahwa semakin orang merendahkan diri, makin lihailah dia! Sudah lama sekali aku mendengar tentang Tongkat Sakti Pemukul Anjing yang kabarnya telah mengalahkan banyak anjing dan srigala di dunia kangouw. Sekarang aku bertemu denganmu, ingin sekali aku merasakan bagaimana lihainya ilmu tongkat itu."
"Ah, paman hanya main-main saja. Aku tidak akan mau menggunakan tongkat ini untuk memukul paman. Tongkat ini kubawa hanya untuk memukul anjing-anjing dan srigala."
"Nah, anggap saja aku ini anjing atau srigala!"
"Tidak, paman adalah seorang yang baik hati. Aku tidak ingin berkelahi dengan paman."
"Aku hanya ingin mencoba kelihaian tongkatmu, bukan mengajakmu berkelahi. Sekarang begini saja. Aku akan menyerangmu dan kau lawanlah dengan Ta-kaw Sin-tung. Awas, aku mulai!"
Setelah berkata demikian, Kwa Siucai atau Penyair Gila itu sudah menerjang ke depan dan tangannya menghantam ke arah dada Si Kong.
Pemuda ini terkejut bukan main ketika dari tangannya yang menghantam itu menyambar hawa pukulan yang amat kuat!
Kiranya Penyair Gila ini memiliki tenaga sin-kang yang amat hebat.
Diapun cepat mengelak sambil memutar tongkatnya.
Begitu serangan pertamanya luput, Kwa Siucai sudah menyusul dengan serangan kedua yang lebih cepat dan lebih kuat.
Kini terpaksa untuk membela diri Si Kong mainkan Ta-kaw Sin-tung, menangkis, memutar tongkat melindungi dirinya dan balas menyerang.
Dalam ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung, balas menyerang merupakan gaya melindungi diri yang paling tepat.
Kalau orang diserang anjing, dia harus membalas dengan serangan, bukan hanya mengelak saja, demikian inti ilmu tongkat itu.
Kwa Siucai tertawa terbahak karena girang melihat betapa pemuda itu mainkan ilmu tongkat yang ingin sekali dilihatnya itu.
Dan setelah Si Kong menyerangnya secara bertubi, barulah dia menjadi repot melayaninya.
Memang ilmu tongkat itu aneh bukan main.
Yang dipukul kepala akan tetapi tahu-tahu ujungnya yang lain menotok ke arah kaki.
Kalau yang dipukul bagian tubuh yang kanan, ujungnya yang lain menyerang tubuh kiri!
Anjing-anjing memang akan menjadi bingung dan terkena pukulan kalau diserang seperti itu!
Si Kong tidak ingin melukai Kwa Siucai, maka tongkatnya hanya mendesak saja dan tidak pernah dia memukul dengan sungguh-sungguh walaupun kedua ujung tongkatnya menyerang silih berganti dan tidak memberi peluang kepada lawan untuk membalas menyerang.
"Bagus, Si Kong. Bagus sekali! Akan tetapi sekarang berhati-hatilah engkau!"
Tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai yang diserangnya itu lenyap!
Dari hawa pukulannya yang datang dari belakang tahulah dia bahwa lawannya telah berada di belakangnya.
Dia membalik dan memutar tongkatnya untuk menyerang, akan tetapi hanya kelihatan berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu Kwa Siucai sudah lenyap pula.
Tiba-tiba orang itu sudah berada di sebelah kananya.
Kini Si Kong yang menjadi repot.
Dia harus terus menangkis pukulan yang datangnya dari semua penjuru seolah tubuh Kwa Siucai berubah menjadi puluhan banyaknya!
Tahulah dia dengan hati kagum dan kaget bahwa Kwa Siucai sebenarnya seorang sakti yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai sempurna sehingga dia seperti pandai menghilang saja!
Karena terus diserang dari berbagai penjuru dan sama sekali dia tidak dapat balas menyerang, Si Kong sampai mandi keringat menjaga diri dari serangan yang tiba-tiba datangnya itu.
Akan tetapi, mendadak setelah Si Kong kehilangan lagi bayangan Kwa Siucai, tahu-tahu tongkatnya terpegang ujungnya dari belakang.
Dia mempertahankan tongkatnya sehingga tidak dapat dirampas, akan tetapi dia pun tidak dapat menggerakkan lagi tongkatnya!
"Ha-ha-ha, memang bukan kosong saja berita tentang kehebatan Ta-kaw Sin-tung!
Aku kagum sekali, Si Kong!"
Si Kong adalah seorang pemuda remaja yang cerdik bukan main.
Dari pengalamannya bertanding tadi, tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan seorang yang sakti yang memiliki ilmu silat tinggi.
Maka, tanpa banyak cakap lagi dia segera menjatuhkan diri berlutut di depan Penyair Gila itu.
"Locianpwe telah membuka mata saya untuk melihat ilmu meringankan tubuh yang luar biasa sekali. Mohon petunjuk, Locianpwe!"
"Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali, Si Kong. Tadi ketika bertemu pertama kali melihat engkau dapat menghafal ujar-ujar dalam kitab Tiong Yong, aku sudah tertarik sekali padamu. Sekarang melihat engkau mainkan Ta-kaw Sin-tung, aku lebih kagum lagi. Agaknya kita memang berjodoh, Si Kong. Bagaimana kalau engkau menjadi muridku?"
Memang inilah yang dikehendaki Si Kong.
Maka, tanpa banyak cakap lagi dia sudah memberi hormat sambil berlutut dan berkata.
"Teecu (murid) akan menaati semua perintah suhu!"
Kwa Siucai menjadi girang sekali.
"Bagus! Nah, bangkitlah dan perhatikan semua petunjukku. Kejarlah aku!"
Dan tiba-tiba saja tubuh Kwa Siucai sudah melesat seperti anak panah terlepas dari busurnya, sebentar saja sudah jauh.
Melihat ini, Si Kong menjadi gembira dan dia pun melompat dan mengejar.
Akan tetapi betapapun dia mengerahkan tenaga untuk berlari secepatnya, tetap saja dia tidak mampu mengejar, padahal Kwa Siucai kelihatan melangkah dengan santai saja.
Dipandang sepintas lalu, seolah kedua kaki Penyair Gila itu tidak menyentuh tanah!
Napas Si Kong hampir putus ketika mereka tiba di puncak bukit karena dia mengerahkan seluruh tenaganya sejak tadi.
Tahu-tahu Kwa Siucai sudah menanti di puncak bukit dan tertawa melihat dia terengah-engah.
"Duduklah bersila!"
Perintahnya.
Si Kong menaati dan duduk bersila di depan suhunya yang juga sudah duduk bersila di atas tanah berumput.
"Bernapaslah dengan perut tarik napas sepanjang dan sekuat mungkin, tarik terus lalu keluarkan ke dalam tan-tian dan tahan sejenak, lalu keluarkan dari mulut dengan mengeluarkan suara begini!"
Kwa Siucai memberi contoh kepada Si Kong dan pada saat itu juga dia sudah mulai dilatih untuk menghimpun udara bersih dan memperkuat pernapasannya.
Si Kong berlatih dengan penuh kesungguhan sehingga gurunya menjadi semakin suka.
Pada hari-hari berikutnya dia mulai melatih ginkang (ilmu meringankan tubuh) kepada Si Kong.
Perlahan-lahan dia mengajarkan ilmu meringankan tubuh yang disebut Liok-te Hui-teng (Lari Terbang Di atas Tanah) dan ilmu silat yang mengandalkan ginkang dan disebut ilmu silat Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang).
Tentu saja untuk mempelajari kedua ilmu ini, membutuhkan waktu lama, terutama untuk latihan pernapasan, akan tetapi Si Kong dengan tekunnya mengikuti semua petunjuk Kwa Siucai.
Dalam kehidupannya bersama guru barunya ini, Si Kong mendapatkan kenyataan bahwa Penyair Gila itu bahkan lebih miskin dibanding Yok-sian Lo-kai.
Yok-sian setidaknya diterima orang dengan senang hati dan tangan terbuka karena Dewa Obat ini datang untuk mengobati orang sehingga dia dan guru pertamanya itu dimana-mana disambut orang dengan hidangan dan kehormatan.
Dan kalau dia mau, dengan kepandaiannya mengobati orang, dia akan bisa mendapatkan uang.
Akan tetapi Penyair Gila ini tidak dapat menjual sajak-sajaknya yang aneh, apalagi ramalannya yang menelanjangi orang-orang sehingga membuat banyak orang merasa tidak suka kepadanya!
Dan terdapat perbedaan yang besar antara watak Kwa Siucai ini dengan Yok-sian.
Yok-sian biarpun miskin namun menjaga nama dan kehormatan dirinya, tidak suka mencuri bahkan tidak pernah menjual kepandaiannya mengobati orang.
Daripada mencuri dia lebih baik mengemis!
Akan tetapi ternyata tidak demikian dengan Kwa Siucai.
"Orang-orang kaya yang tidak pernah mau memperdulikan nasib sesama manusia yang menderita karena kemiskinannya, adalah orang-orang yang tidak berbudi,"
Demikian antara lain Kwa Siucai berkata.
"Orang-orang kaya itu sudah mendapatkan kemurahan dari Thian, maka sudah sepatutnya kalau dia menjadi seorang dermawan pula. Seorang hartawan harus menjadi seorang dermawan, maka barulah cocok. Kalau dia kikir, maka orang seperti itu pantas kalau dikurangi sebagian hartanya."
Yang dimaksudkan oleh Kwa Siucai dengan dikurangi sebagian hartanya itu adalah dicuri, kemudian uang hasil curian itu dia bagikan kepada orang-orang miskin.
Kwa Siucai menjadi seorang maling budiman!
Dan Si Kong yang menjadi muridnya diharuskan melakukan perbuatan yang sama.
Si Kong mempertimbangkan alasan Kwa Siucai itu, dan akhirnya diapun tidak keberatan untuk mencuri uang dari para hartawan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin.
Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan kemiskinan dan dapat merasakan penderitaan orang miskin.
Maka setelah mendapat pelajaran dari Kwa Siucai, dia merasakan betapa bahagianya orang-orang miskin yang diberinya uang hasil curian itu.
Akan tetapi semua ini dikerjakan oleh Kwa Siucai secara diam-diam.
Dia mencuri tanpa meninggalkan bekas dan memberikan uang kepada orang-orang miskin tanpa mereka ketahui siapa pemberinya.
Hartawan-hartawan pemeras rakyat itu tahu-tahu kehilangan sebagian hartanya, dan orang-orang miskin itu tahu-tahu menemukan uang didalam rumahnya tanpa mengetahui siapa yang memberi mereka.
Kalau guru dan murid ini mendengar adanya seorang hartawan yang dermawan, mereka sama sekali tidak mengganggu hartawan itu.
Akan tetapi hartawan yang pelit dan suka memeras rakyat jelata, tidak pernah diampuni.
Dan di antara yang mereka curi itu, hanya sedikit saja yang mereka pergunakan untuk keperluan sendiri.
Hanya untuk membeli makan dan minum, juga pengganti pakaian sekadarnya.
Semua dihabiskan untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin!
Setelah belajar selama setahun dengan tekun sambil merantau bersama Kwa Siucai, Si Kong telah menguasai dua ilmu yang diajarkan oleh Kwa Siucai, yaitu ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng dan ilmu silat Yan-cu Hui-kun.
Dia kini tinggal mematangkan saja ilmu-ilmu itu dengan latihan yang tekun.
Pada suatu hari Kwa Siucai berkata kepada Si Kong.
"Si Kong, engkau sudah menguasai dua ilmu yang kuajarkan kepadamu. Dalam waktu setahun engkau sudah dapat menguasainya, hal itu luar biasa sekali. Bakatmu amat besar dan engkau memiliki ketekunan yang teguh. Sekarang tiba saatnya bagi kita untuk berpisah!"
Si Kong terkejut sekali.
"Akan tetapi kenapa, suhu? Kenapa kita harus berpisah? Teecu masih membutuhkan bimbingan suhu dalam segala hal!"
Kwa Siucai tersenyum dan menggerakkan tangannya.
"Engkau telah menguasai Ta-kaw Sin-tung. Kalau kau gabungkan ilmu tongkatmu itu dengan Yan-cu Hui-kun, maka engkau sudah menjadi orang yang sukar di tandingi. Aku ingin kembali ke kampungku, jauh di selatan, Si Kong, dan kita pun tidak mungkin berkumpul terus. Aku dapat mengurus diriku sendiri seperti juga engkau dapat mengurus dirimu sendiri. Ada pertemuan tentu ada perpisahan, Si Kong."
Si Kong menjatuhkan dirinya berlutut.
"Suhu, perkenankan teecu ikut dengan suhu untuk membalas semua kebaikan suhu."
"Aih, sudahlah, tidak ada budi dan tidak ada pembalasan. Selama ini engkau menjadi murid yang baik, itu sudah cukup menyenangkan hatiku. Selamat tinggal, Si Kong!"
"Suhu...!"
Akan tetapi Si Kong melihat bayang berkelebat dan suhunya sudah tidak berada di depannya lagi.
Dia tetap berlutut lalu berkata lantang.
"Terima kasih atas semua kebaikan suhu kepada teecu!"
Dia memberi hormat beberapa kali baru bangkit berdiri dan kembali dia merasakan kekosongan di hatinya seperti ketika dulu ditinggalkan Yok-sian Lo-kai.
Dia merasa kesepian dan sendiri, bagaikan seekor burung di udara, tidak tahu harus pergi kemana dan harus berbuat apa!
Dia menghela napas.
Inilah kelemahannya selama ini.
Dia terlalu menggantungkan dirinya kepada orang lain!
Maka, begitu ditinggalkan, dia merasa kesepian dan nelangsa.
Tidak!
Dia harus berani hidup sendiri!
Dia mengepal tinjunya.
Dia sama sekali tidak boleh lemah seperti ini.
Kedua orang gurunya itu telah memberi banyak pelajaran tentang hidup kepadanya.
Sekaranglah saatnya untuk memasuki kehidupan seorang diri dan menghadapi apa saja yang menimpa dirinya seorang diri.
Dia bukan anak kecil lagi.
Usianya sudah enam belas tahun!
Dia harus berani dan harus mampu mandiri.
Si Kong seperti mendapat semangat baru.
Dengan cepat dia menuruni bukit itu.
Dari atas bukit itu tadi dia melihat samar-samar genteng rumah orang di bukit depan.
Tentu disana ada penghuninya, maka diapun kini menuruni bukit lalu mendaki bukit di depan.
Hari telah menjelang sore dan dia ingin mencari tempat bermalam di dusun yang berada di lereng bukit itu.
Setelah tiba dilereng itu, dia melihat sebuah perkampungan yang dikelilingi tembok yang cukup tinggi.
Akan tetapi agaknya itu bukan merupakan sebuah dusun karena di pintu gerbangnya yang besar terjaga oleh lima orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah keren.
"Hei, orang muda! Siapa engkau dan hendak kemana?"
Tanya seorang diantara para penjaga itu ketika melihat Si Kong hendak memasuki pintu gerbang.
Lima orang itu menghadang di pintu gerbang dan sikap mereka galak.
"Maaf, aku hanya ingin memasuki dusun ini untuk mencari tempat menginap malam ini,"
Kata Si Kong dengan sikap tenang.
Lima orang itu saling pandang lalu tertawa bergelak.
Si penanya tadi yang agaknya menjadi pimpinan membentak.
"Bocah lancang! Ini bukan dusun, akan tetapi tempat tinggal majikan kami, Tong Lo-ya (Tuan besar Tong). Orang dari luar sama sekali tidak boleh masuk!"
"Ah..."
Kata Si Kong kecewa, akan tetapi dia mendapat pikiran baik dan segera berkata.
"Kebetulan kalau begitu. Aku ingin menghadap majikan kalian untuk mohon diberi pekerjaan."
Memang dalam hatinya Si Kong sudah mengambil keputusan untuk tidak mengemis seperti Yok-sian dan tidak mencuri seperti Kwa Siucai.
Kedua kebiasaan ini dianggapnya tidak baik.
Dia ingin bekerja untuk mendapatkan uang guna biaya hidupnya.
"Hemm, tidak demikian mudah untuk menghadap majikan kami! Dan bocah macam engkau ini dapat bekerja apakah?"
Menghadapi sikap yang angkuh dan kasar ini, Si Kong masih bersabar hati.
"Aku dapat melakukan apa saja yang kalian dapat lakukan."
Pemimpin para penjaga itu mengerutkan alisnya.
"Kau dapat melakukan apa saja yang kami dapat lakukan? Huh, kalahkan dulu kami kalau engkau ingin diberi kesempatan menghadap Lo-ya!"
Dia menantang untuk menakut-nakuti pemuda remaja itu, sedangkan empat orang kawannya tertawa-tawa.
Pemuda itu pasti pergi ketakutan, pikir mereka.
Akan tetapi Si Kong kini merasa penasaran.
"Kalau itu yang kalian kehendaki, aku siap melawan kalian berlima!"
"Bocah gila! Melawan aku seorang saja jangan harap kau dapat menang, apalagi melawan kami berlima!"
Teriak seorang di antara mereka yang matanya agak juling.
"Boleh coba-coba!"
Kata Si Kong yang menganggap sikap mereka ini keterlaluan.
Dia sudah menancapkan tongkatnya ke atas tanah karena tidak memerlukan senjata itu untuk melawan lima orang sombong itu.
Si juling makin marah.
"Bocah gila, rasakan pukulanku ini!"
Dia menyerang dengan jotosan ke arah muka Si Kong.
Akan tetapi dengan amat mudahnya Si Kong mengangkat tangan menangkap lengan yang menyambar ke arahnya itu dan sekali menggeser kakinya dia telah menekuk lengan itu ke belakang tubuh si juling, lalu mendorong ke depan.
Si juling terdorong ke depan dan jatuh menelungkup!
Bukan main marahnya si mata juling.
Dia meloncat bangun dan sudah menyambar sebatang tombak yang disandarkan pada gardu penjagaan, lalu menyerang Si Kong dengan tusukan-tusukan tombak.
Si Kong sudah melihat bahwa kepandaian lawannya itu biasa saja, maka dia masih tidak menggunakan tongkatnya melainkan mengelak ke kanan kiri.
Dan setelah mendapat kesempatan, kakinya menendang tangan lawan.
Tombak itu terlepas dan terlempar sampai jauh.
Melihat ini, empat orang penjaga yang lain lalu turun tangan mengeroyok Si Kong dengan menggunakan golok dan tombak.
Si mata juling juga tidak menjadi jera.
Melihat teman-temannya membantu, diapun segera mengambil tombaknya yang terlempar tadi dan ikut pula mengeroyok!
Si Kong masih menghadapi pengeroyokan lima orang itu dengan tangan kosong saja.
Gerakannya yang gesit sekali membuat lima orang itu bingung, bahkan kadang senjata mereka saling bertemu sendiri.
Pemuda itu seperti berubah menjadi bayangan yang tidak dapat disentuh senjata mereka.
Si Kong sengaja tidak mau mencari permusuhan, maka diapun hanya mengelak saja dan berloncatan ke sana sini tanpa membalas.
Tiba-tiba nampak seorang pemuda meloncat keluar dari sebelah dalam pintu gapura dan dia membentak.
"Hentikan perkelahian!"
Lima orang itu segera menghentikan pengeroyokan mereka sehingga Si Kong merasa lega.
Dia melihat seorang pemuda yang perawakannya sedang dan berwajah tampan, berusia kurang lebih delapan belas tahun telah berdiri disitu dengan gagahnya.
"Ada apa ribut-ribut ini?"
Bentak si pemuda kepada lima orang penjaga.
Pemimpin para penjaga segera menghadap pemuda itu dengan sikap hormat.
"Maafkan kami, Kongcu. Bocah ini hendak lancang menghadap Tong Loya. Tentu saja kami melarangnya dan timbul perkelahian."
Pemuda ini mengerutkan alisnya dan matanya memandang ke arah Si Kong.
Pandangan matanya menunjukkan kemarahan dan dia memandang rendah kepada Si Kong, seorang pemuda yang pakaiannya sederhana seperti orang dusun.
"Siapa engkau yang begitu lancang hendak menghadap Ayahku?"
Tanyanya dan nadanya menunjukkan bahwa dia tidak senang mendengar laporan para penjaga.
Si Kong segera memberi hormat, karena dia maklum bahwa pemuda yang disebut kongcu ini tentulah putera majikan Tong itu.
"Maafkan saya, kongcu. Nama saya Si Kong dan saya hanya mohon menghadap Loya untuk minta pekerjaan."
Pemilik atau majikan tempat itu yang disebut Tong-Loya oleh para penjaga itu bernama Tong Li Koan, seorang kaya berusia lima puluh tahun yang juga terkenal memiliki kepandaian ilmu silat tinggi.
Pemuda itu adalah puteranya yang bernama Tong Kim Hok, berusia delapan belas tahun.
Pemuda ini juga mempelajari ilmu silat dari Ayahnya dan wataknya agak angkuh dan tinggi hati, sadar sepenuhnya bahwa sebagai kongcu (tuan muda) dia adalah majikan kecil Bukit Bangau itu dan menganggap dirinya sudah memiliki ilmu silat yang dapat dibanggakan.
Kini melihat ada seorang pemuda lain berani melawan pengeroyokan lima orang penjaga, dia merasa penasaran sekali.
"Minta pekerjaan? Engkau bisa apakah?"
Tanyanya dengan nada tinggi.
"Pekerjaan apapun yang diberikan kepada saya, akan saya lakukan, kongcu. Pekerjaan kasarpun tidak saya tolak!"
"Pekerjaan kasar? Engkau merasa kuat?"
"Tentu saja saya merasa kuat melakukannya, kongcu."
"Hemm, hendak kulihat sampai di mana kekuatanmu. Aku yang akan mengujimu apakah engkau pantas bekerja untuk kami. Coba lawanlah aku. Jaga seranganku ini. Hyaaaaaaatt...!"
Si Kong terkejut sekali.
Tak disangkanya akan mendapat sambutan seperti itu dari tuan muda ini.
Akan tetapi diapun melihat bahwa serangan pemuda itu tidak seperti gerakan para penjaga yang hanya mengandalkan tenaga kasar.
Serangan pemuda ini mengandung tenaga dalam dan dilakukan cukup cepat.
Namun tidak terlalu cepat baginya dan dengan mudah dia sudah mengelak.
Serangannya yang luput membuat Tong Kim Hok menjadi semakin penasaran dan marah.
Dia merasa malu kepada para penjaga itu kalau dia tidak mampu merobohkan Si Kong.
Maka diapun menyerang lagi lebih cepat dan kuat.
Si Kong menjadi bingung.
Tentu saja dia mampu melawan pemuda yang ilmu silatnya masih mentah itu.
Akan tetapi dia tidak berani mengalahkan pemuda itu, karena pemuda itu tentu akan marah dan kalau sudah begitu, tidak mungkin dia diterima bekerja di situ.
Maka diapun mengalah, setelah mengelak dari enam tujuh serangan dengan mengelak, dia mulai menangkis tanpa mengerahkan tenaganya sehingga setiap kali menangkis dia terhuyung kebelakang.
"Bukk...!"
Sebuah tendangan dari Tong Kim Hok mengenai lambungnya, membuat Si Kong terhuyung-huyung.
Tentu saja dia sudah menjaga lambungnya yang dibiarkannya terkena tendangan itu dengan sinkang sehingga dia tidak sampai terluka.
Akan tetapi ternyata Tong Kim Hok masih belum puas dengan sebuah tendangan yang mengenai lambung Si Kong.
Dia bahkan merasa penasaran sekali karena Si Kong tidak sampai roboh dan dia menyerang lagi kalang-kabut.
Beberapa kali Si Kong membiarkan tubuhnya kena hantaman yang membuatnya terhuyung.
"Sudah cukup, kongcu. Saya mengaku kalah!"
Katanya berulang-ulang, akan tetapi Tong Kim Hok tetap saja menyerangnya terus.
Para penjaga menjadi girang melihat Si Kong dihajar.
Mereka tertawa-tawa dan ada yang berkata memberi semangat kepada Tong Kim Hok.
"Hajar terus, kongcu! Pukul terus!"
Biarpun dia tidak sampai terluka, akan tetapi karena membiarkan tubuhnya mendapat pukulan-pukulan, bibir kiri Si Kong berdarah dan pipi kanannya menjadi membiru bekas pukulan.
Pada saat itu, seekor kuda datang berlari dan sesosok bayangan orang meloncat dari atas punggung kuda itu.
"Cukup, koko (kakak)! Mengapa engkau memukul orang?"
Terdengar seruan dan di antara Si Kong dan Tong Kim Hok sudah berdiri menghadang seorang gadis remaja berusia kurang dari enam belas tahun.
Gadis ini cantik manis, dengan rambut dikuncir dua dan diikat pita merah, dibiarkan tergantung di kedua pundaknya.
"Moi-moi (adik), engkau minggirlah, biar aku menghajar bocah lancang ini!"
Kata Tong Kim Hok yang lehernya sudah bersimbah peluh dan napasnya agak memburu karena tadi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menghajar Si Kong.
"Nanti dulu, koko. Kenapa engkau hendak menghajar orang? Apa kesalahannya?" (Lanjut ke
Jilid 03) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 03
"Bocah itu minta bertemu dengan Ayah, katanya mencari pekerjaan. Maka aku mengujinya karena dia tadi melawan lima orang penjaga kita. Nah, minggirlah, aku ingin menghajarnya sampai dia tahu rasa!"
Gadis itu bernama Tong Kim Lan berusia hampir enam belas tahun dan adik dari Tong Kim Hok.
Ia memang seorang gadis lincah dan berbakat sekali dalam ilmu silat sehingga dibandingkan dengan Tong Kim Hok, ia lebih maju, terutama sekali lebih cepat sekali gerakannya dan dalam hal ilmu pedang, iapun melebih kakaknya.
Ia menoleh dan memandang kepada Si Kong yang berdiri dengan muka ditundukkan.
Melihat bibir Si Kong berdarah dan pipinya lebam, ia merasa kasihan.
Seorang bocah dusun minta pekerjaan malah dihajar!
"Apa salahnya minta pekerjaan?
Kalau tidak ada pekerjaan, tolak saja, tidak perlu dipukuli.
Dan pula, aku mendengar sendiri dari Ayah bahwa dia membutuhkan tenaga seorang pembantu untuk menggembala kerbau kita.
Eh, sobat siapa namamu dan apakah engkau mau diberi pekerjaan menggembala segerombolan kerbau?"
"Nama saya Si Kong, nona. Saya akan senang sekali kalau diberi pekerjaan dan rasanya saya sanggup untuk menggembala kerbau."
Jawab Si Kong dan dalam hatinya dia memuji gadis ini yang sikapnya berbeda jauh sekali dibandingkan kakaknya yang angkuh.
Gadis ini ramah dan lincah.
"Kalau ada seekor saja kerbaunya yang hilang, engkau harus menggantinya!"
Bentak Tong Kim Hok, suaranya masih marah.
"Aih, koko. Siapa sih yang berani mencuri kerbau kita? Mari kau ikut aku, Si Kong, kita menghadap Ayah."
"Terima kasih, nona."
Si Kong mengikuti gadis itu yang memasuki pintu gerbang dan menghampiri sebuah gedung yang berdiri dengan megahnya di tengah perkampungan itu.
Di kanan-kiri dan belakang gedung besar itu berdiri banyak pondok, agaknya menjadi tempat tinggal para pekerja di situ.
Tong Li Koan memang seorang kaya raya yang menjadi majikan Bukit Bangau.
Dia menggunakan banyak pekerja dan mengerjakan sawah ladangnya di bukit itu juga memperkerjakan sejumlah belasan tukang pukul untuk menjaga perkampungan.
"Ayah...!"
Kim Lan berteriak ketika memasuki rumah dan menyuruh Si Kong menanti di serambi depan.
Tak lama kemudian gadis itu sudah muncul kembali bersama seorang laki-laki berusia lima puluhan tahun, berpakaian mewah dan tangan kirinya memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjangnya setengah meter dan ketika dihisap mengeluarkan bau tembakau yang harum.
"Inikah orangnya?"
Tanya Tong Li Koan kepada puterinya.
Dia amat menyayangi puterinya yang jauh lebih pandai dan cerdik dibandingkan puteranya.
"Ya, Ayah. Namanya Si Kong dan dia mau menjadi penggembala kerbau kita."
Si Kong sudah mengangkat kedua tangan depan dada sebagai penghormatan kepada Tong-Loya.
"Saya bersedia untuk bekerja apa saja, Loya,"
Katanya hormat.
Tong Li Koan memandang ke arah mulut dan pipi Si Kong lalu mengerutkan alisnya dan menuding dengan huncwenya ke arah muka Si Kong.
"Kenapa mukamu itu? Seperti orang habis berkelahi!"
Katanya.
Si Kong merasa tidak enak sekali untuk memberitahu bahwa dia dipukuli putera majikan itu, maka dia hanya menggumam.
"Tidak apa-apa, Loya."
"Dia dipukuli koko, Ayah. Koko hendak mengujinya sebelum dia bekerja."
"Ah, Kim Hok terlalu ringan tangan""
Kata hartawan itu.
"Saya yang bersalah, Loya,"
Kata Si Kong cepat-cepat.
"Saya telah berani lancang hendak menghadap loya untuk minta pekerjaan."
"Sudahlah, engkau kuterima sebagai penggembala kerbau. Setiap hari, pagi-pagi sekali engkau engkau harus menggembalakan kerbau-kerbau kami yang berjumlah tiga puluh ekor itu ke padang rumput, memelihara dan menjaga mereka baik-baik."
Tong Li Koan bertepuk tangan dan seorang pembantu datang berlari kepadanya.
Hartawan itu memerintahkan kepada pembantu itu untuk memberi sebuah kamar bagi Si Kong dan memberi petunjuk akan pekerjaannya menggembala kerbau.
"Beri dia kamar di pondok dekat kandang kerbau di belakang. Dan engkau, Si Kong, bekerjalah baik-baik dan engkau akan memperoleh upah yang lumayan serta makan dan pakaian yang secukupnya."
Si Kong merasa girang sekali.
"Terima kasih, Lo-ya dan siocia (nona)."
Lalu dia pergi mengikuti pembantu itu yang membawanya menuju ke kandang kerbau untuk memperlihatkan kerbau-kerbau yang harus dirawatnya, juga menunjukkan sebuah kamar di pondok dekat kandang kerbau di mana dia boleh memakai sebagai tempat tinggalnya.
Demikianlah, dengan hati gembira Si Kong menerima pekerjaan baru itu.
Kekosongan hidupnya sudah terisi.
Dia mempunyai pekerjaan!
Dia merasa beruntung sekali bahwa pada hari kepergian gurunya yang kedua, yaitu Kwa Siucai, langsung dia mendapatkan pekerjaan sebagai penggembala kerbau.
Sebulan lewat tanpa terasa sejak Si Kong bekerja di Bukit Bangau.
Benar saja seperti telah dijanjikan Tong Li Koan, dia menerima upah yang lumayan, setiap hari makan sekenyangnya dan diberi pakaian sehingga dia dapat berganti pakaian setiap hari.
Pekerjaan menggembala kerbau itu cukup menyenangkan.
Kerbau-kerbau itu adalah hewan ternak yang sudah diatur, penurut dan mudah dijaga, tidak liar lari ke sana-sini.
Setelah matahari naik tinggi, dia menggembala kerbaunya kembali ke kandang.
Kelebihan waktunya dia pergunakan untuk menyabit rumput sebagai penambah makanan hewan itu.
Sore hari dan malamnya dia boleh beristirahat di dalam pondok dekat kandang kerbau itu.
Dia sama sekali tidak tahu bahwa diam-dian Tong Kim Hok mendendam kepadanya.
Pemuda ini telah dimarahi Ayahnya karena memukuli Si Kong.
Dia tahu bahwa tentu adiknya yang mengadu, akan tetapi kemarahannya dia timpakan kepada Si Kong.
Selain menggembala tiga puluh ekor kerbau, Si Kong juga diberi tugas mengurus lima ekor kuda yang menjadi kuda tunggangan keluarga Tong.
Memberi makan dan menggosok badan kuda sampi bersih.
Pada suatu siang, setelah dia pulang menggembala kerbau, makan dan hendak berangkat menyabit rumput untuk kerbau-kerbaunya dan lima ekor kuda, mendadak muncul Kim Lan di depan pondoknya.
Si Kong menyambutnya dengan hormat.
"Apakah nona membutuhkan kuda untuk ditunggangi hari ini?"
Tanyanya.
Sudah seringkali dia bertemu dengan gadis manis ini karena Kim Lan memang suka sekali menunggang kuda dan seringkali datang sendiri ke kandang untuk mengambil kudanya.
"Tidak, Si Kong. Aku hanya ingin bertanya bagaimana dengan pekerjaanmu di sini? Apakah engkau sudah cocok dan suka tinggal di sini bekerja untuk kami?"
"Cocok dan senang sekali, nona. Nona dan Tong-loya amat baik kepada saya."
Gadis itu tersenyum dan menatap tajam wajah Si Kong yang gagah. Ia mengerutkan alisnya dan bertanya.
"Si Kong, engkau berasal dari manakah dan mengapa bisa sampai ke sini, minta pekerjaan kepada Ayahku? Di mana orang tua dan keluargamu?"
Si Kong tersenyum sedih dan menjawab.
"Saya berasal dari jauh, nona, dari sebuah dusun yang disebut Ki-ceng. Akan tetapi saya sudah yatim piatu dan tidak mempunyai sanak keluarga, tidak mempunyai siapa-siapa di dunia ini, sebatangkara. Saya seorang kelana dan ketika lewat di sini, saya tertarik dan ingin mencari pekerjaan tetap. Untung nona menolong saya dan menghadapkan kepada Loya sehingga saya mendapatkan pekerjaan di sini. Terima kasih, nona."
Tiba-tiba dari arah kandang kerbau muncul Tong Kim Hok.
Pemuda itu kelihatan marah sekali dan berkata kepada Si Kong.
"Hei, Si Kong! Bagaimana engkau bekerja ini? Kalau engkau lalai seperti ini, lama-kelamaan kerbau-kerbau kami akan mati semua!"
Si Kong terkejut dan memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak heran.
"Apa yang kongcu maksudkan? Saya tidak pernah lalai menjaga kerbau-kerbau itu!"
"Enak saja kau bicara! Seekor di antara mereka mengalami luka parah pada kakinya dan kau bilang kau menjaga dengan baik?"
"Koko, apa artinya ini?"
Tanya Tong Kim Lan.
"Moi-moi, engkau tidak perlu bersikap manis kepadanya! Kau lihat sendiri, ada kerbau yang terluka dan dia pura-pura tidak tahu! Mari lihat sendiri!"
Kim Hok berjalan ke arah kandang, diikuti oleh Kim Lan dan Si Kong yang merasa heran akan tetapi juga khawatir.
Setelah tiba di kandang, Kim Hok menuding ke arah seekor kerbau yang mendekam di sudut.
"Lihat itu! Kakinya luka berdarah. Dia bahkan tidak kuat berdiri!"
Si Kong terkejut sekali dan cepat memasuki kandang, membantu kerbau yang mendekam itu agar berdiri.
Dan nampak olehnya betapa sebuah kaki depan kerbau itu terluka parah!
"Tapi ini...
ini aneh sekali!
Tadi ketika saya menggiring mereka masuk kandang, tidak ada yang terluka kakinya!"
"Apa yang aneh? Kerbau-kerbau ini setiap hari engkau yang mengurusnya. Kini ada yang terluka kakinya, karena engkau takut dimarahi Ayah, engkau pura-pura bodoh dan tidak tahu! Bagus sekali, ya?"
"Si Kong, apakah yang terjadi dengan kerbau ini? Nampaknya seperti terluka oleh bacokan senjata tajam!"
Kata Kim Lan, mendekati Si Kong dan kerbaunya.
"Saya tidak tahu, nona. Ketika tadi saya menggiring semua kerbau memasuki kandang, belum ada yang terluka. Agaknya ada orang sengaja melukai kerbau ini sewaktu saya sedang makan."
"Apa? Kau berani menuduh aku melukai kerbau ini? Jangan kurang ajar, Si Kong!"
Bentak Kim Hok marah dan dia sudah menghampiri Si Kong dengan sikap hendak menyerang.
Akan tetapi Kim Lan menghadangnya.
"Tahan, koko. Si Kong tidak menuduh siapa-siapa, hanya mengatakan bahwa agaknya ada orang melukai kerbau ini sewaktu dia sedang makan, tidak menuduhmu!"
Pada saat itu terdengan suara orang tertawa, tawa seorang wanita terkekeh-kekeh.
Kim Hok dan Kim Lan terkejut dan menengok, demikian pula Si Kong memandang ke kanan, ke arah datangnya suara tawa.
Kiranya di situ telah berdiri seorang wanita yang usianya sekitar empat puluh tahun, akan tetapi ia masih kelihatan cantik dengan pakaiannya yang mewah.
Di punggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebatang kebutan berbulu merah.
"Hi-hi-hik-heh-heh! Kalau tidak ada yang membacok dengan pedang, mana mungkin kaki kerbau bisa terluka? Si Huncwe Maut serakah dan curang, agaknya menurun kepada puteranya! Heh-heh!"
Mendengar ini Kim Hok menjadi merah mukanya dan dia meloncat ke depan wanita itu.
Huncwe Maut adalah nama julukan Ayahnya di dunia kang-ouw, maka jelas bahwa wanita itu tadi maksudkan dia sebagai putera Huncwe Maut.
"Siapakah engkau? Berani sekali berlancang mulut!"
Bentak Kim Hok marah.
"Hi-hik, orang muda, engkau masih remaja akan tetapi sudah banyak akal dan licik. Coba cabut pedangmu, di situ pasti masih ada bekas darah kaki kerbau itu!"
"Perempuan lancang! Engkau datang melanggar wilayah kami, hayo cepat pergi sebelum aku terpaksa menggunakan kekerasan!"
"Heh-heh-heh-hi-hik! Persis seperti Ayahnya, berani, angkuh dan cerdik! Akan tetapi engkau tidak tahu siapa yang engkau hadapi, anak muda. Lebih baik lekas panggil Ayahmu ke sini untuk bertemu denganku!"
Watak Kim Hok memang angkuh dan dia merasa kuat sendiri.
Tentu saja dia memandang rendah kepada wanita setengah tua itu.
Orang perempuan itu berani tidak memandang kepada Ayahnya!
"Engkau layak dipukul!"
Katanya dan cepat dia sudah menerjang ke depan dan memukul ke arah muka wanita itu.
Wanita itu hanya mengelak sedikit dan begitu tangannya bergerak, tubuh Kim Hok telah terlempar ke belakang dan terbanting jatuh!
Kim Hok marah sekali.
Dia tidak menjadi jera, bahkan dia kini mencabut pedangnya dan menyerang wanita itu dengan tusukan pedangnya ke arah dada.
Akan tetapi wanita itu menggerakkan tangan kirinya, bulu kebutannya membelit pedang dan sekali bergerak, ia sudah menendang Kim Hok hingga kedua kalinya tubuh pemuda itu terpental dan pedangnya telah terampas.
Sambil mendengus penuh ejekan wanita itu menggerakkan kebutannya dan pedang itu meluncur dan menancap di atas tanah dekat kaki Kim Hok!
Seorang pembantu melihat perkelahian itu dan dia cepat lari masuk ke gedung untuk memberitahu kepada majikannya.
Sementara itu, Kim Hok sudah mencabut lagi pedangnya dari tanah dan seperti kerbau gila mengamuk dan menyerang wanita itu, lupa bahwa sudah dua kali dia dirobohkan.
Melihat kakaknya dua kali dirobohkan wanita itu, Kim Lan mencabut pedangnya dan hendak membantu, akan tetapi Si Kong berkata kepadanya.
"Nona, wanita itu bukan lawanmu! Ia terlalu lihai bagimu!"
Kim Lan tidak jadi menyerang dan hanya memandang ketika kakaknya itu kembali sudah menyerang secara bertubi-tubi.
Akan tetapi wanita itu dengan mudahnya mengelak ke sana-sini, sambil mengeluarkan suara tawanya yang mengejek seperti mempermainkan seorang anak.
"Anak nakal, engkau masih juga belum mau mengaku kalah?"
Wanita itu tiba-tiba menggerakkan hudtimnya ke depan dan seketika tubuh Kim Hok menjadi kaku dan tidak mampu bergerak lagi karena jalan darahnya sudah tertotok.
"Hi-hi-hik, kau anak nakal yang bandel!"
Wanita itu menggunakan tangannya untuk mengelus dan mencubit dagu Kim Hok dengan gaya yang genit sekali kemudian tangannya itu mendorong dada Kim Hok dan untuk ketiga kalinya Kim Hok terjengkang roboh!
Sekali ini dia roboh dekat kaki Si Kong yang segera membungkuk dan menolongnya.
"Kongcu, engkau tidak apa-apa?"
Katanya diam-diam menotok punggung pemuda itu sehingga tubuh Kim Hok yang tadinya kaku dapat bergerak kembali.
"Huh! Jangan pegang-pegang aku!"
Bentak Kim Hok sambil meronta, dan dia sudah memegang pedangnya kuat-kuat untuk menyerang lagi.
Akan tetapi sebelum Kim Hok menyerang lagi, terdengar bentakan Ayahnya.
"Kim Hok, jangan lancang!"
Mendengar bentakan Ayahnya, Kim Hok berhenti menyerang dan mundur.
Tong Li Koan kini berdiri berhadapan dengan wanita itu.
Setelah memandang dengan mata tajam penuh selidik sambil mengisap huncwenya, Tong Li Koan melepaskan huncwe cari mulut dan berkata sambil tersenyum.
"Hemm, kalau tidak salah sangka, agaknya aku berhadapan dengan Ang-bi Mo-li (Iblis Perempuan Cantik Merah)"
Tentu julukannya ini dihubungkan dengan bulu kebutannya yang berwarna merah.
Wanita itu tertawa dan nampak giginya yang rapi berderet rapi.
"Kiranya yang berjuluk Huncwe Maut, selain kaya raya juga berpemandangan tajam! Tong Wan-gwe (Hartawan Tong), aku memang Ang-bi Mo-li! Puteramu ini curang angkuh dan pemberani. Tidak kecewa menjadi putera Huncwe Maut, hanya sayang ilmu silatnya rendah saja sehingga aku menjadi ragu apakah ilmu kepandaianmu juga sebesar namamu!"
Tong Li Koan maklum bahwa Iblis Betina ini sengaja hendak mencari perkara, maka diapun mengangkat tangan ke depan dada memberi hormat lalu berkata.
"Anakku masih muda dan lancang, harap engkau suka memaafkannya. Setelah engkau lewat disini, mari silakan singgah di rumah kami agar lebih leluasa kami menyambutmu sebagai tamu."
Tong Li Koan sengaja bersikap lunak karena dia tidak ingin bermusuhan dengan wanita yang namanya terkenal di dunia persilatan sebagai tokoh yang lihai sekali.
Mendengar ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh.
"Heh-heh-heh-hi-hik! Tong wan-gwe aku berada di daerah ini bukan sebagai tamu dan juga engkau bukan sebagai tuan rumah di sini. Dahulu, lama sebelum engkau datang, tanah ini sudah menjadi wilayahku dan aku tinggal di sebelah timur bukit. Sekarang, aku mendengar bahwa engkau menguasai seluruh bukit. Ini tidak adil! Karena aku berminat untuk tinggal di sini lagi, kita bagi rata saja. Bagian timur bukit menjadi milikku, dan engkau menguasai bagian barat ini."
Tong Li Koan mengerutkan alisnya, mengisap huncwenya dan mengepulkan asapnya dari hidung.
Kemudian dia berkata, suaranya lantang.
"Usulmu itu tidak mungkin dilaksanakan, Mo-li! Sebelum aku datang, seluruh daerah bukit ini masih merupakan hutan dan rawa liar. Aku yang membangunnya sehingga kini menjadi tanah sawah ladang yang subur dan digarap oleh orang-orangku. Mana bisa aku yang mencangkul dan menanam, sekarang engkau ingin memetik hasilnya begitu saja?"
"Aku yang datang lebih dulu, orang she Tong! Kalau engkau berkukuh hendak menguasai bukit ini seluruhnya, engkau harus dapat mengalahkan dan mengusir aku dari sini. Sebaliknya kalau engkau kalah olehku, engkaulah dan seluruh keluargamu harus pergi meninggalkan tempat ini!"
Mendengar ini, Tong Li Koan menjadi marah. Bahkan kedua orang anaknya juga menjadi marah.
"Ayah, kita hajar saja orang kurang ajar ini!"
Kata Kim Lan sambil mencabut pedangnya.
"Kim Lan, dan engkau Kim Hok, jangan ikut campur. Dia bukan lawan kalian!"
Kata Tong Li Koan dan dia maju menghampiri Ang-bi Mo-li lalu berkata.
"Mo-li, kalau kedatanganmu ini hendak menantang aku, aku tidak dapat menolaknya. Jangan dikira bahwa aku takut menghadapimu! Silakan!"
Dia lalu memasang kuda-kuda dan memegang huncwenya dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya mencabut pedangnya.
Melihat ini, Ang-bi Mo-li tertawa terkekeh-kekeh, lalu tiba-tiba tangan kanannya bergerak dan tahu-tahu ia telah mencabut pedangnya dari punggung dengan amat cepatnya.
"Orang she Tong! Engkau memilih mati dari pada menyerahkan bagian timur bukit ini?"
Ejeknya.
"Akan kupertaruhkan nyawaku untuk bukit ini!"
Jawab Tong Li Koan dengan tegas.
"Bagus, lihat seranganku!"
Ang-bi Mo-li tanpa rikuh lagi sudah mulai menyerang.
Pedangnya berkelebat di susul berkelebatnya hud-tim (kebutan) di tangan kirinya.
Entah mana yang lebih berbahaya, pedangnya atau kebutannya karena keduanya menyambar dengan dahsyat dan mengirim serangan maut.
"Trang-traang...!"
Si Huncwe Maut menangkis dengan pedang dan huncwenya, lalu balas menyerang dengan hebatnya pula.
Ang-bi Mo-li juga dapat menghindarkan diri dari serangan Huncwe Maut.
Terjadilah perkelahian yang amat menegangkan antara kedua orang yang namanya sudah terkenal di dunia persilatan itu.
Kalau kebutan itu berbahaya sekali karena dapat menjadi kaku untuk menusuk atau menotok lalu menjadi lemas untuk melilit senjata lawan, huncwe itu tidak kalah berbahayanya.
Dengan gerakan tertentu Tong Li Koan dapat membuat huncwe itu memercikan api ke arah wajah lawan, lalu menotok jalan darah dengan ujungnya.
Berkali-kali kedua pedang bertemu dan berpijarlah bunga-bunga api yang menyilaukan mata.
Kim Hok dan Kim Lan yang menonton pertandingan itu merasa tegang sekali.
Mereka tidak tahu apakah Ayah mereka akan menang atau kalah dalam pertandingan itu dan untuk membantu mereka tidak berani.
Ilmu kepandaian mereka masih jauh untuk dapat membantu.
Akan tetapi Si Kong yang juga menonton pertandingan itu mengerutkan alisnya.
Dengan tingkat kepandaiannya dia dapat mengikuti pertandingan itu dengan baik dan dia melihat betapa tingkat kepandaian wanita itu masih lebih tinggi dari pada kepandaian majikannya.
Majikannya akan kalah, hal ini sudah dapat diduganya melihat jalannya pertandingan.
Dugaan Si Kong memang benar.
Biarpun dalam hal tenaga dalam kedua orang yang bertanding itu memiliki kekuatan seimbang, namun dalam hal kecepatan gerakan, Tong Li Koan atau si Huncwe Maut masih kalah sehingga kini perlahan-lahan wanita itu mendesaknya dengan sambaran kebutan dan pedangnya.
Baru setelah Tong Li Koan terdesak dan mundur terus, kedua orang anaknya mengetahui bahwa Ayah mereka terdesak dan hampir kalah.
Rasa takut terhadap wanita itu hilang karena melihat Ayah mereka terancam bahaya maut, maka dua orang anak itu meloncat ke depan dan menggunakan pedang mereka untuk menyerang Ang-bi Mo-li!
Akan tetapi kebutan Ang-bi Mo-li menyambar.
Kim Hok dan Kim Lan terlempar ke belakang dan bergulingan.
Pada saat itu, pedang Tong Li Koan menusuk ke arah dada Ang-bi Mo-li.
Wanita itu dengan cepatnya mengelak, kebutannya menyambar dan membelit pergelangan tangan Tong Li Koan yang memegang pedang.
Ketika Tong Li Koan mengayun huncwenya, dia kalah dulu karena pedang wanita itu telah mengenai ujung pundaknya.
Dia berteriak dan meloncat ke belakang, pedangnya terampas dan pundaknya berdarah.
Kim Hok dan Kim Lan melompat dekat Ayah mereka.
"Ayah, engkau tidak apa-apa?"
Tanya Kim Hok.
"Ayah, pundakmu berdarah."
Kata Kim Lan. Tong Li Koan menghela napas panjang.
"Aku telah kalah..."
Katanya dengan nada sedih.
"Heh-heh-heh-hi-hik, engkau cukup jantan untuk mengaku kalah. Aku memberi waktu dua hari kepada kalian semua untuk meninggalkan bukit ini!"
Kata Ang-bi Mo-li.
"Nanti dulu...!"
Terdengar bentakan dan semua orang menengok memandang kepada Si Kong yang datang menghampiri karena pemuda inilah yang membentak tadi.
"Ang-bi Mo-li, enak saja kau bicara! Majikanku telah mengalah, hal itu sudah sepatutnya karena engkau seorang wanita. Akan tetapi engkau tidak tahu diri, hendak merampas hak milik orang lain begitu saja. Masih ada aku di sini yang mempertahankannya dan kuharap engkaulah yang segera pergi dan jangan mengganggu majikanku!"
"Si Kong...!"
Kim Lan berlari mendekati.
"Apa kau sudah gila? Ia... Ia akan membunuhmu!"
Si Kong tersenyum.
Hatinya senang karena anak perempuan majikannya ini mengkhawatirkan dirinya.
Kim Lan selama ini bersikap ramah dan baik sekali kepadanya.
"Terima kasih, nona. Sebaiknya nona kembali kepada loya, biar aku hadapi iblis betina itu!"
Kim Lan berlari kembali kepada Ayahnya.
"Ayah...!"
Ia hendak minta Ayahnya mencegah wanita itu membunuh Si Kong yang berani mati membela keluarganya.
Akan tetapi Ayahnya menggeleng kepala dan memandang kepada Si Kong dengan sinar mata heran dan kagum.
Dengan langkah lebar dan tenang Si Kong kini menghampiri Ang-bi Mo-li.
Sejenak iblis betina inipun tertegun dan heran melihat seorang pemuda remaja berani berkata dan bersikap seperti itu kepadanya.
Apa lagi pemuda remaja itu menyebut Tong Li Koan sebagai majikannya.
Pemuda ini tentu hanya seorang pembantu!
"Kau...
kau siapa?"
Tanyanya, alisnya berkerut dan pedangnya menuding ke arah muka Si Kong.
"Namaku Si Kong dan aku menjadi penggembala kerbau di sini."
Ang-bi Mo-li sudah menguasai keheranannya dan kini ia tertawa terkekeh-kekeh.
"Penggembala kerbau? Hah-hah-heh-heh-heh-heh, Tong Li Koan, tidak malukah engkau dibela oleh penggembala kerbaumu? Suruh dia mundur, karena dia berani menentangku berarti dia akan mati di tanganku!"
Tong Li Koan menghela napas panjang.
Tentu saja dia merasa malu kalau penggembala itu sampai mengorbankan nyawa untuknya.
"Si Kong, mundurlah. Aku tidak ingin melihat engkau mati untukku."
"Lo-ya, harap jangan khawatir. Aku tidak akan mati oleh wanita ini. Ang-bi Mo-li, kalau engkau tidak berani melawan aku, bilang saja terus terang, tidak perlu bicara dengan majikanku!"
"Bocah setan! Engkau tadi telah dikhianati kongcumu dan sekarang engkau bahkan hendak membela Ayahnya? Kongcumu yang melukai kerbaumu, aku melihatnya sendiri."
"Cukup! Urusan kami tidak ada sangkut pautnya denganmu, Ang-bi Mo-li!"
Kini Ang-bi Mo-li benar-benar marah.
Tentu saja ia tidak takut kepada Si Kong, hanya merasa malu kalau harus bertanding melawan seorang pemuda remaja penggembala kerbau!
"Bocah gila!
Kalau engkau sudah bosan hidup, majulah.
Akan tetapi sekali kau maju, engkau pasti akan mampus!"
"Dan aku tidak akan membunuhmu, Ang-bi Mo-li! Aku tidak akan sekejam itu."
Ang-bi Mo-li menyarungkan pedangnya di punggung dan memegang kebutannya dengan tangan kanan.
Tanpa pedang, bahkan tanpa kebutan sekalipun ia akan mampu membunuh pemuda remaja itu.
"Ang-bi Mo-li, kalau engkau menurunkan tangan keji membunuh seorang pemuda remaja, engkau akan menjadi bahan ejekan orang sedunia kangouw!"
Kata Tong Li Koan dalam usahanya untuk menghindarkan Si Kong dari kematian.
"Heh-heh-heh, aku tidak sebodoh itu, Tong Li Koan. Aku tidak akan membunuhnya, hanya akan membuat kedua kakinya lumpuh selama hidupnya, heh-heh!"
Sementara itu, melihat betapa lihainya wanita itu mempergunakan kebutannya sebagai senjata, Si Kong tidak berani main-main dan dia sudah menyambar sebuah tongkat bambu yang biasa dia pergunakan untuk memikul keranjang rumput.
"Ang-bi Mo-li, aku sudak siap, tidak perlu terlalu banyak bicara lagi!"
Katanya sambil menghadapi wanita itu dengan tongkat di tangan.
"Heh-heh, kau sudah siap untuk menjadi lumpuh seumur hidupmu? Nah, sambutlah serangan ini!"
Ang-bi Mo-li seudah menggerakkan kebutannya dengan cepat sekali.
"Wuuuttt...!"
Ang-bi Mo-li terkejut melihat betapa pemuda itu dengan mudah dan lincahnya mengelak dengan loncatan ke kiri, dan tiba-tiba saja tongkatnya di tangan sudah terayun dan mengancam pinggul kirinya.
Tentu saja wanita ini tidak mau pinggul kirinya digebuk tongkat.
Ia mengayun kebutannya untuk menangkis dengan membuat kebutan itu menjadi kaku dengan maksud untuk membentur tongkat itu agar terlepas dari pegangan si penggembala kerbau.
"Takkk...!"
Kembali Ang-bi Mo-li terkejut bukan main karena ketika kebutannya menangkis tongkat, tangannya tergetar hebat karena tongkat itu ternyata mengandung tenaga yang sangat kuat!
Dan ia hampir terpekik kaget karena begitu tertangkis tongkat itu sudah membalik dan kini menghantam ke arah pundaknya!
Ia menggunakan kelincahannya untuk mengelak, namun nyaris pundaknya terkena hantaman tongkat.
Dari rasa kaget, wanita itu menjadi marah bukan main.
Hampir ia tidak dapat percaya bahwa pemuda tanggung itu dapat memiliki tenaga demikian kuat dan kecepatan gerakan tongkat yang luar biasa.
"Bocah setan, mampuslah!"
Ia berseru dengan marah dan menggerakkan kebutannya untuk menyerang lebih cepat dan kuat lagi.
Kini ia tidak perduli lagi apakah serangannya akan membunuh lawan ini.
Kebutan itu menengang dan menusuk ke arah leher Si Kong.
Akan tetapi kembali Si Kong menggerakkan tongkatnya yang menggetar ujungnya untuk menangkis.
"Plakk!"
Ketika kebutan bertemu tongkat, Ang-bi Mo-li mengubah tenaganya dan kebutan itu menjadi lemas dan membelit tongkat itu.
Ia ingin merampas tongkat itu sebelum menghajar pemiliknya.
Akan tetapi untuk yang kesekian kalinya ia terkejut.
Kebutannya sama sekali tidak mampu merampas tongkat.
Biarpun ia menarik dengan tenaga dalam yang kuat, tongkat itu tidak bergeming bahkan kini tongkat itu membalik dan ujungnya yang lain menyodok perutnya!
"Ihh...!"
Ang-bi Mo-li berseru dan melepaskan libatan kebutannya sambil meloncat ke belakang.
Si Kong kini mendesak maju dan mainkan ilmu silat tongkat Ta-kaw Sin-tung.
Tongkatnya seolah berubah menjadi banyak dan ujung-ujung tongkat dengan gencarnya menghujankan gebukan kepada lawannya, Ang-bi Mo-li terkejut bukan main melihat gerakan tongkat itu, gerakan ilmu tongkat yang mengingatkan ia akan seorang tokoh besar dunia persilatan.
Kembali ia memutar kebutannya untuk melindungi dirinya sambil berloncatan ke belakang.
"Tahan dulu!"
Serunya setelah ia mendapatkan kesempatan.
Mendengar seruan itu, Si kong menahan tongkatnya, memegang tongkat itu melintang di depan dadanya.
"Apa hubunganmu dengan Yok-sian Lo-kai?"
Tanya Ang-bi Mo-li.
"Beliau adalah guruku!"
Kata Si Kong yang kembali mulai menyerang sambil berseru.
"Lihat seranganku!"
Ang-bi Mo-li cepat mencabut pedangnya karena hanya menggunakan kebutan saja ia merasa kewalahan.
Sementara itu, Tong Li Koan, Kim Hok dan Kim Lan memandang dengan bengong.
Sedikitpun tidak pernah mereka sangka bahwa Si Kong selihai itu!
Terutama sekali Kim Hok.
Wajahnya menjadi pucat dan matanya terbelalak memandang kepada Si Kong, seolah-olah tidak percaya kepada penglihatannya sendiri.
Si Kong yang pernah dihajarnya!
Tanpa dapat melawannya!
Kini dapat menandingi Ang-bi Mo-li yang demikian lihainya!
Sedangkan Kim Lan ternganga, terkagum-kagum.
Ang-bi Mo-li kini menyerang dengan pedang dan kebutannya.
Serangannya cepat dan dahsyat sekali.
Wanita itu kini tidak berani memandang rendah setelah mendengar bahwa pemuda remaja ini murid Yok-sian Lo-kai.
Dengan sepasang senjatanya yang lihai, ia merasa sanggup menghadapi ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung.
Akan tetapi tiba-tiba ia terkejut sekali.
Ia telah kehilangan lawannya yang tahu-tahu telah berada di belakangnya.
Demikian cepatnya gerakan Si Kong sehingga ia sendiri menjadi bingung.
Pemuda itu seolah dapat menghilang.
Ternyata pemuda itu telah menggabung ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung dengan ilmu meringankan tubuh Liok-te Hui-teng sehingga tubuhnya seperti pandai menghilang dan gerakan tongkatnya semakin cepat sehingga seolah tongkat itu mempunyai ber puluh ujung yang menyerang dari segala penjuru.
"Takk... tranggg...!"
Kebutan dan pedang itu terpental ketika bertemu dengan tongkat.
Kecepatan gerakan pemuda itu membuat Ang-bi Mo-li teringat kepada Penyair Gila yang terkenal memiliki ginkang yang sukar ditandingi.
Ia menggunakan kesempatan ketika ia melompat mundur untuk bertanya.
"Apa hubunganmu dengan Kwa Siucai?"
"Beliau adalah guruku!"
Jawab Si Kong pula dengan terus terang tanpa menghentikan desakannya.
Ang-bi Mo-li terkejut bukan main mendengar pengakuan itu.
Pantas pemuda ini lihai bukan main, kiranya murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai!
Dengan repot ia menggerakkan kebutan dan pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari hujan serangan ujung tongkat yang gerakannya amat cepat dan sukar diikuti pandang mata itu.
Namun, betapapun cepat ia memutar kedua senjatanya untuk melindungi tubuhnya, tetap saja ujung tongkat itu menotok pundaknya, membuat lengannya seperti lumpuh dan ia terhuyung ke belakang, memegang pundak kanannya dengan tangan kiri yang masih memegang kebutan.
Wajahnya berubah pucat, lalu kemerahan.
Ia merasa malu bukan main karena jelas ia telah kalah.
Ia harus mengakui ini dan menerimanya, karena kalau dilanjutkan, mungkin ia akan menderita luka yang lebih hebat.
Pemuda itu terlalu cepat baginya, ilmu tongkatnya terlalu aneh dan sulit ditandingi.
"Si Kong, sekali ini aku mengaku kalah. Akan tetapi lain kali aku akan menebus kekalahan ini!"
Katanya untuk menutupi rasa malunya dan tanpa berkata apa-apa lagi tubuhnya melompat jauh dan ia sudah melarikan diri secepatnya dari tempat yang membuatnya malu itu.
Sejenak suasana menjadi sunyi karena keluarga Tong masih tertegun saking heran dan kagumnya.
Kemudian meledaklah kegembiraan Kim Lan yang lari menghampiri Si Kong.
"Si Kong, engkau hebat sekali!"
Kata gadis itu dengan penuh kekaguman.
Juga Tong Li Koan menghampiri pemuda itu dengan wajah gembira dan kagum.
Pemuda yang menjadi penggembala kerbaunya ini telah menyelamatkannya!
Kalau tidak ada Si Kong, dia tentu terpaksa harus meninggalkan tempat itu bersama seluruh keluarganya dan menyerahkan bukit itu kepada Ang-bi Mo-li!
"Si Kong, kenapa engkau tidak pernah memberitahukan kepadaku bahwa engkau memiliki kepandaian yang tinggi?"
Kata Tong Li Koan dengan nada menegur.
Kalau Tong Li Koan dan Tong Kim Lan menghampiri Si Kong dengan wajah berseri gembira dan penuh kagum, Tong Kim Hok masih berdiri di tempatnya yang tadi tanpa menggerakkan kakinya dan mukanya menjadi pucat.
Dia merasa malu bukan main!
Si kong sudah mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Bukit Bangau.
Tong Kim Hok sudah jelas tidak suka kepadanya.
Untuk apa dia bekerja terus di situ kalau putera majikannya tidak suka kepadanya?
"Maaf, Lo-ya.
Saya pamit karena hendak pergi dari sini."
Tong Li Koan terbelalak.
"Pergi dari sini? Hendak ke mana dan mengapa pergi?"
Si Kong tersenyum.
"Hendak melanjutkan pergi berkelana. Sudah terlalu lama saya tinggal di sini. Terima kasih kepada Lo-ya dan Siocia, selama ini telah bersikap baik sekali kepadaku."
"Si Kong, jangan pergi dan jangan sebut aku nona. Panggil saja namaku. Aku ingin bersahabat denganmu, ingin belajar silat darimu."
Kata Kim Lan.
"Benar, Si Kong. Mulai sekarang engkau tidak usah menggembala kerbau, bantu saja mengawasi para pekerja di ladang."
Kata Tong Li Koan.
"Engkau tidak usah pergi dari sini."
"Maaf, Loya dan Siocia. Saya harus pergi berkelana untuk meluaskan pengalamanku."
Pada saat itu Kim Hok berlari menghampirinya. Dengan muka kemerahan dia berkata.
"Ayah, akulah yang bersalah mengganggunya. Si Kong, kau maafkanlah aku dan jangan pergi dari sini."
Si Kong tersenyum dan menepuk-nepuk pundak pemuda yang lebih tua darinya itu.
"Sudahlah, kongcu. Kesalahan apapun yang dilakukan seseorang, kalau dia sudah insaf dan menyesali kesalahannya, hal itu baik sekali. Saya senang melihat kongcu menyadari kesalahannya."
Biarpun tiga orang itu membujuknya agar jangan pergi, tetap saja Si Kong mengambil buntalan pakaiannya, lalu mengangkat kedua tangan depan dada, berkata.
"Loya, harap jangan khawatir. Ang-bi Mo-li tentu tidak berani datang lagi. Kini kemarahannya tertumpah kepadaku, kalau ia hendak membalas tentu mencari saya bukan mencari Loya. Selamat tinggal Loya, Siocia dan Kongcu."
Tiga orang itu tidak sempat lagi menahan karena setelah berkata demikian, sekali berkelebat Si Kong yang menggunakan ginkangnya itu telah lenyap dari depan mereka.
Tong Li Koan menghela napas panjang.
"Luar biasa sekali anak itu. Semuda itu telah memiliki ilmu kepandaian hebat, bahkan menjadi murid Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai! Dan dia tidak malu untuk bekerja menjadi penggembala kerbau! Luar biasa! Kim Hok, engkau patut mencontoh dia sudah pandai masih rendah hati sedemikian rupa."
"Ini semua kesalahan koko!"
Kim Lan merengek.
"Karena perbuatan koko, Si Kong menjadi tersinggung dan meninggalkan kita! Koko telah menuduhnya menggembala kerbau tidak benar sehingga kaki seekor kerbaunya terluka, padahal, menurut Moli tadi, yang melukai kaki kerbau itu adalah koko sendiri!"
Tong Li Koan mengerutkan alisnya dan memandang tajam penuh selidik kepada puteranya.
"Benarkah itu, Kim Hok?"
"Ampun, Ayah. Saya memang bersalah, dan tadipun saya sudah minta maaf kepada Si Kong,"
Kata Kim Hok.
"Akan tetapi kenapa engkau melakukan fitnah begitu kepada Si Kong?"
"Tadinya hati saya masih jengkel kepadanya, Ayah, karena dia pernah melawan para penjaga."
"Jangan ulangi lagi perbuatan semacam itu, Kim Hok. Engkau sama sekali tidak boleh tinggi hati dan angkuh dan sama sekali tidak boleh memandang rendah orang lain. Ah, kalau saja sikapmu seperti Si Kong, alangkah akan bahagianya hatiku."
"Ampun, Ayah. Saya sudah sadar sekarang dan saya akan mencontoh Si Kong, saya akan belajar dengan tekun dan tidak akan memandang rendah orang lain."
"Begitu baru kakakku!"
Kata Kim Lan girang.
Tong Li Koan mengajak dua orang anaknya masuk kedalam, diam-diam berterima kasih sekali kepada Si Kong karena berkat anak pengelana itu keluarganya terbebas dari ancaman Ang-bi Mo-li dan lebih dari itu, puteranya telah menyadari kesalahannya dan akan berusaha mencontoh sikap Si Kong yang rendah hati.
Dalam perantauannya, pada suatu pagi yang cerah Si Kong mendaki sebuah bukit yang penuh dengan hutan pohon-pohon besar yang oleh penduduk di bukit-bukit lain di sebut Bukit Iblis.
Justeru mendengar sebutan Bukit Iblis inilah yang membuat hati Si Kong tertarik sehingga pagi itu dia mendaki Bukit Iblis, sebuah di antara bukit-bukit di pegunungan Thian-san yang amat luas dan penuh perbukitan itu.
"Kenapa bukit itu disebut Bukit Iblis?"
Tanya kepada pemilik rumah di dusun pegunungan di mana dia numpang menginap.
"Entahlah, akan tetapi tidak ada seorangpun berani naik ke bukit yang kabarnya dihuni oleh iblis-iblis yang mengerikan. Kabarnya, dahulu setiap kali ada orang berani mendaki bukit itu, tidak kembali lagi ke bawah dan lenyap begitu saja."
Si Kong sudah mendapat pendidikan cukup dari Yok-sian Lo-kai dan Kwa Siucai.
Dia seorang pemberani dan tidak percaya akan tahyul, maka mendengar keterangan itu, timbul keinginan hatinya untuk menyelidik keadaan Bukit Iblis itu.
Setelah tiba di lereng teratas, Si Kong tersenyum sendiri.
Penduduk dusun yang tahyul itu, pikirnya.
Di situ tidak ada apa-apa kecuali pemandangan yang indah sekali di pagi hari yang cerah itu!
Apalagi iblis!
Tidak nampak bayangannya sekalipun.
Akan tetapi tiba-tiba Si Kong menahan langkahnya.
Dia mendengar bunyi langkah orang di belakangnya!
Dia cepat menengok dan tidak melihat siapa-siapa.
Dia melangkah maju lagi dan kembali terdengar langkah dua orang, langkah yang terdengar lembut sekali.
Kalau dia tidak mengetahui kekuatan pendengarannya dan menahan napas, dia tidak akan dapat mendengar langkah itu.
Tepat di belakangnya!
Cepat sekali dia menoleh ke belakang akan tetapi kembali dia kecelik.
Tidak nampak seorangpun di belakangnya!
Dia mulai bergidik ngeri.
Benarkah ada iblis di tempat ini?
Siang hari ada iblis berkeliaran?
Ataukah manusia-manusia yang mengeluarkan bunyi langkah itu?
Kalau manusia tentu ilmunya meringankan tubuh sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Dia mendaki terus ke puncak.
Ternyata puncak bukit itu datar dan merupakan padang rumput yang cukup luas.
Ketika dia tiba di atas, dia melihat belasan orang laki-laki yang bertubuh kekar sedang berkumpul, duduk mengelilingi batu besar di mana duduk seorang laki-laki tinggi besar seperti raksasa yang berusia kurang lebih empat puluh tahun.
Dari sikap dan lagaknya, mudah diketahui bahwa laki-laki raksasa itu tentulah menjadi pemimpin belasan orang itu.
Dia menyelinap di balik semak-semak dan mengintai.
Kiranya mereka itu orang-orang biasa yang bertubuh kekar kuat dan bersikap kasar.
Dan bukan iblis-iblis!
Raksasa yang duduk di atas batu besar itu mengembangkan kedua lengannya dan berkata dengan suara lantang.
"Saudara-saudaraku, bagaimana kalian berpendapat tentang bukit ini kalau menjadi sarang kita yang baru? Ha-ha-ha, tempat ini sunyi tak pernah didatangi orang yang takut karena nama bukit ini Bukit Iblis. Ha-ha-ha, sekarang benar-benar menjadi Bukit Iblis dan iblisnya adalah kita."
Belasan orang ikut tertawa sehingga suara tawa mereka riuh rendah memenuhi permukaan bukit itu.
Kalau ada orang mendengarnya, tentu akan mengira bahwa iblislah yang tertawa itu.
"Tempat ini baik sekali, twako! Kami merasa cocok untuk tinggal di sini. Di hutan-hutan bawah itu terdapat banyak kayu besar dan bambu, mudah bagi kita untuk membuat bangunan-bangunan untuk kita tinggal."
Pada saat itu terdengar suara orang terkekeh-kekeh saling sahutan.
Dari suara tawa yang berbeda-beda itu dapat diketahui bahwa yang tertawa itu lebih dari satu orang.
Kemudian nampak tiga sosok bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri tiga orang yang menyeramkan.
Yang seorang tinggi kurus seperti tiang bambu, kepalanya juga panjang kecil sehingga nampak aneh sekali.
Orang kedua pendek gendut dan segalanya yang ada pada orang ini bundar belaka, jauh sekali bedanya dengan orang pertama yang serba kecil panjang.
Orang ketiga bertubuh katai seperti kanak-kanak, akan tetapi mukanya menunjukkan bahwa dia sudah tua, sedikitnya lima puluh tahun usianya dan lebih muda sedikit saja dari dua orang terdahulu.
Tiga orang ini muncul sambil tertawa-tawa.
"Ha-ha-he-heh-heh!"
Orang pertama yang tinggi kurus berkata sambil tertawa-tawa.
"Segerombolan setan kecil berani mengganggu daerah kami, sungguh sudah bosan hidup!"
"Jangan, Sam-kwi (Setan ke Tiga), jangan bunuh. Mereka perlu untuk menjadi pelayan-pelayan kita. Kita bikin tempat kita ini menjadi istana dengan belasan orang pelayannya, heh-heh!"
"Benar apa yang dikatakan Thai-kwi (Setan Tertua), Sam-kwi. Akupun sudah bosan setiap hari mencari makanan sendiri!"
Mendengar ucapan tiga orang itu, si raksasa yang memimpin lima belas orang anak buahnya itu terbelalak.
"Apakah kalian yang berjuluk Liok-te Sam-kwi (Tiga Iblis Bumi)?"
Kakek yang gendut bundar tertawa.
"Ha-ha-ha, setan cilik ini cerdik juga, sudah dapat menduga siapa adanya kita. Setan-setan cilik, setelah kalian ketahui siapa kami, hayo lekas berlutut dan berjanji untuk menjadi pelayan-pelayan kami yang patuh!"
Raksasa yang berdiri di atas batu besar itu bangkit berdiri, tubuhnya yang tinggi besar penuh otot mengembang itu menyeramkan dan dia berkata dengan lantang.
"Liok-te Sam-kwi, orang lain boleh merasa takut kepada kalian bertiga. Akan tetapi kami tidak takut kepada kalian. Kalau kalian tidak cepat pergi dari sini, kami enam belas orang pasti akan menyingkirkan kalian dengan paksa."
Thai-kwi yang bertubuh pendek gendut itu tertawa mendengar ucapan ini.
"Ji-kwi dan Sam-kwi, kalian mendengar bualan itu? Mari kita hajar mereka agar mengenal siapa kita, akan tetapi jangan dibunuh, kita membutuhkan tenaga mereka untuk melayani kita!"
Kepala gerombolan itu meloncat turun dari atas batu besar, mencabut sebatang golok besar dari punggungnya dan memberi aba-aba kepada para anak buahnya.
"Serbu...! Bunuh mereka...!"
Lima belas orang anak buahnya juga sudah mencabut golok masing-masing dan dengan ganas mereka menyerang tiga orang aneh itu.
Si Kong dalam persembunyainnya melihat betapa tiga orang itu kelihatan tenang saja, akan tetapi setelah serangan keroyokan itu dilakukan, mereka bergerak cepat mengelak dan membalas dengan tamparan dan tendangan mereka itu.
Hebat sekali memang gerakan mereka itu.
Mereka tidak memegang senjata akan tetapi gerakan mereka demikian cepat sehingga sukar diikuti dengan mata, tahu-tahu para pengeroyok itu berpelantingan terkena sambaran tangan atau kaki mereka.
Golok-golok beterbangan terlepas dari tangan mereka dan dalam waktu pendek saja enam belas orang itu sudah roboh semua!
Diam-diam Si Kong memandang dengan kagum.
Di antara tiga orang itu dia melihat si pendek gendut yang paling lihai.
Akan tetapi yang di herankan di antara tiga orang ini walaupun memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi, masih belum mampu melangkah seperti yang didengarnya ketika mendaki bukit ini tadi.
Langkah-langkah orang di belakangnya akan tetapi begitu dia menengok, tidak nampak orangnya!
Agaknya ginkang tiga orang ini belum setinggi yang dia dengar langkahnya tadi.
Betapapun juga, harus diakui bahwa tiga orang itu lihai sekali.
Dikeroyok enam belas orang yang rata-rata memiliki tenaga besar, begitu mudahnya bagi tiga orang itu untuk merobohkan mereka semua.
Raksasa itu agaknya terkena tendangan yang paling parah karena dia tidak dapat segera bangun, hanya mengaduh-aduh sambil memegang dadanya yang tertendang oleh kaki si pendek gendut.
"Ha-ha-ha-ha!"
Tiga orang itu kini tertawa-tawa.
"Apakah kalian sudah mengenal kami?"
Si pendek gendut yang menjadi ornag pertama dari Tiga Iblis itu menghampiri pimpinan belasan orang itu.
Raksasa itu maklum bahwa dia dan teman-temannya tidak akan menang melawan tiga Datuk Iblis itu, maka diapun terpaksa mengakui kekalahannya daripada dibunuh.
"Kami telah kalah dan meyerah atas pimpinan sam-wi."
"Bagus! Mulai sekarang kalian enam belas orang menjadi anak buah kami, siapa berani membangkang akan kami bunuh!"
Kata pula si pendek gendut dengan girang.
Si Kong menyaksikan semua ini dan dia tidak ingin mencampuri.
Itu adalah urusan orang-orang kang-ouw yang sesat saling berebut kekuasaan di Bukit Iblis itu.
Tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya dan dia tidak ingin mencampuri.
Biarlah kalau tiga orang Iblis ini menguasai bukit ini dan mengambil belasan orang itu sebagai anak buah mereka.
Akan tetapi selagi dia hendak pergi menyingkir dari tempat itu agar jangan terlibat, tiba-tiba terdengar lengkingan panjang yang membuat dia terkejut dan terpaksa Si Kong tidak jadi pergi, tetap mendekam di balik semak-semak untuk melihat apa yang akan terjadi.
Suara melengking tinggi itu bukan saja nyaring, akan tetapi juga mengandung getaran yang membuat semua orang yang mendengarnya merasa jantung mereka terguncang hebat.
belasan orang yang tadi kena hajar dan belum pulih benar, mendengar lengkingan ini menjadi panik dan mereka roboh kembali karena tidak dapat menahan guncangan jantung mereka.
Baca Juga: Mutiara Hitam 3
Baca Juga: Pusaka Pulau Es 6