Ceritasilat Novel Online

Pusaka Pulau Es 6

Eps 6 Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Pusaka Pulau Es - Kho Ping Hoo.

"Enak saja engkau bicara, Keng Han! Hendak memaksa ayahku begitu saja? Kalau masih ada aku, jangan harap akan bisa melakukan itu!"

Keng Han tercengang.

"Ayahmu....?"

"Ya, aku adalah anak angkat Pangeran Tao Seng, dan sebagai anak aku setia dan berbakti kepadanya, akan membelanya dengan nyawaku. Sebaliknya engkau ini seorang anak yang tidak berbakti, bahkan durhaka hendak memaksa ayahnya sendiri seperti itu!"

"Minggir! Ini bukan urusanmu!"

Bentak Keng Han dan dia pun sudah mendorong ke arah pundak Gulam Sang dengan tangan kanannya.

Dorongan itu mengandung hawa panas dan kuat sekali sehingga Gulam Sang cepat mengelak karena dia sudah mengenal kehebatan tenaga pemuda itu.

Sambil mengelak dia pun membalas sambil mencabut pedangnya.

Hebat dan dahsyat sekali serangan Gulam Sang dengan pedangnya itu, disabetkan untuk menebas pinggang Keng Han.

Keng Han mengelak mundur dan karena dia pun maklum akan kelihaian Gulam Sang, dia lalu mencabut pedang bengkoknya, lalu menangkis ketika pedang Gulam Sang menyambar lagi ke arah lehernya.

"Trang.... trang....!"

Dua kali pedang Gulam Sang bertemu dengan pedang bengkok dan yang kedua kalinya tangan Gulam Sang tergetar hebat Gulam Sang merasa penasaran dan mengamuk.

Akan tetapi Keng Han mengimbanginya dengan gerakan cepat sehingga mereka bertempur dengan seru dan hebatnya di tempat itu.

Pangeran Tao Seng sudah bangkit dan mundur mepet dinding.

Demikian pula Liong Siok Hwa mundur dan gentar menyaksikan pertandingan yang amat hebat itu.

Pertandingan itu memang hebat sekali.

Gulam Sang adalah seorang murid dari Dalai Lama yang selain mempelajari ilmu silat tinggi juga telah memiliki tenaga sakti yang ampuh, diperkuat pula oleh ilmu sihirnya.

Akan tetapi, berhadapan dengan Keng Han, dia tidak dapat mempergunakan ilmu sihirnya.

Orang yang sudah memiliki tenaga sinkang sekuat Keng Han, tidak dapat dipengaruhi sihir lagi.

Maka Gulam Sang hanya mengandalkan ilmu pedangnya yang cepat dan aneh gerakannya.

"Heiiiiittttt....!"

Pedang Gulam Sang menyambar dari atas ke bawah, membacok ke arah kepala Keng Han.

"Hemmm....!"

Keng Han mengelak ke kiri sambil menorehkan pedang bengkoknya ke arah lengan lawan yang memegang pedang.

Namun Gulam Sang sudah menarik lengannya, kemudian tubuhnya merendah dan pedangnya membabat ke arah kedua kaki Keng Han.

"Hiaaaaattt....!"

Gulam Sang berteriak dengan pengaruh sihir.

"Robohlah engkau!"

Keng Han merasa jantungnya tergetar akan tetapi tidak terpengaruh oleh teriakan itu.

Dia meloncat tinggi ke udara untuk menghindarkan kedua kakinya yang dibabat pedang, lalu berjungkir balik dan menukik dengan kepala ke bawah, pedangnya menikam dari atas ke arah ubun-ubun kepala Gulam Sang.

"Wuttttt.... tranggg....!"

Bunga api berpijar ketika pedang bertemu dan sekali ini Gulam Sang agak terhuyung, akan tetapi Keng Han juga harus berjungkir balik untuk mematahkan tenaga dorongan pedang dari bawah yang menangkisnya.

Keduanya sudah berhadapan lagi dan saling menyerang dengan dahsyatnya.

Akan tetapi, kini Keng Han mulai memainkan ilmunya yang hebat yaitu Hong-In Bun-hoat.

Pedang bengkoknya membuat coretan-coretan di udara seperti orang menulis huruf, akan tetapi akibatnya, permainan pedang Gulam Sang menjadi kacau.

Dia dikacaukan oleh gerakan pedang di tangan Keng Han.

Dan setiap serangannya selalu dapat ditangkis lawan, bahkan lawan membalas kontan dengan cepat dan dengan gerakan sambung menyambung yang aneh sekali sehingga tak lama kemudian Gulam Sang sudah terdesak hebat oleh Keng Han.

Dia kini hanya mampu menangkis dan mengelak dengan repot sekali oleh permainan pedang lawan.

Pada saat itu, Pangeran Tao Seng memberi isyarat dan muncullah tiga orang datuk yang sejak tadi sudah mengintai dan menunggu isyarat dari sang pangeran.

Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin sudah berada di situ.

Lam-hai Koai-jin yang masih memandang rendah Keng Han, sudah menerjang dengan senjata ruyungnya.

"Tranggg....!"

Pedang Keng Han dan ruyung bertemu dan akibatnya, keduanya mundur dua langkah.

Baru kini Keng Han melihat adanya tiga orang kakek itu di situ.

Melihat Swat-hai Lo-kwi dan Tung-hai Lo-mo barulah dia tahu benar akan kekuatan persekutuan itu.

Ternyata ayahnya itu telah mempergunakan orang-orang dari golongan sesat untuk membantunya.

Dan dia maklum bahwa kalau dia harus menghadapi empat orang ini sekaligus, tidak mungkin dia akan menang.

Mereka terlampau kuat dan paling bisa dia melawan dua orang di antara mereka.

Pikiran Keng Han bekerja cepat dan tiba-tiba tubuhnya sudah berkelebat dan meloncat ke dekat ayahnya.

"Jangan mendekat!"

Bentaknya dan dia sudah menempelkan pedang bengkoknya pada leher Pangeran Tao Seng sedangkan tangan kirinya memegang lengan pangeran itu.

"Biarkan kami keluar. Awas, siapa bergerak, dia akan kubunuh lebih dulu!"

Dia teringat akan perbuatan Cu In ketika hendak membebaskan diri dari pengeroyokan Toat-beng Kiam-sian Lo Cit dan anak buah Kwi-kiam-pang, yaitu dengan menyandera puteri Lo Cit.

Kini dia meniru perbuatan Cu In itu dengan menyandera Pangeran Tao Seng!

Ayahnya sendiri.

Memang dalam keadaan terdesak, apalagi menghadapi pengeroyokan yang curang, dia boleh saja menggunakan kecurangan sebagai taktik untuk menyelamatkan diri.

Kini, dia menangkap ayahnya sendiri bukan saja untuk membebaskan diri dari pengeroyokan, melainkan karena dia memang hendak menangkap ayahnya dan memaksanya pergi ke Khitan bersamanya untuk menghadap ibunya!

Benar saja.

Tiga orang datuk itu tak berani bergerak ketika melihat Keng Han menyandera sang pangeran.

Dan Keng Han yang menodong Pangeran Tao Seng menyeret ayahnya itu menuju ke pintu.

"Sam-wi Locianpwe (ketiga orang tua gagah), mari kita serang dia! Dia tidak akan membunuh ayahnya sendiri!"

Tiba-tiba Gulam Sang berteriak dan menyerangnya dengan pedang.

Keng Han terkejut sekali.

Tak disangkanya Gulam Sang sedemikian cerdiknya.

Memang, bagaimanapun dia tidak mau membunuh ayahnya dan tadi hanya untuk menggertak saja.

Tung-hai Lo-mo sudah mengayun dayung bajanya.

Swat-hai Lo-kwi juga menggerakkan pedangnya dan Lam-hai Koai-jin menggerakkan ruyungnya menye-rang kepada Keng Han.

Terpaksa Keng Han memutar pedangnya untuk menangkis dan melepaskan pegangannya pada lengan ayahnya.

Merasa dirinya dilepas Pangeran Tao Seng lalu meloncat menjauh-kan diri.

Kini Keng Han sudah dikeroyok oleh empat orang yang amat lihai sehingga dia mulai terdesak hebat.

"Jangan bunuh dia! Tangkap saja, jangan sekali-kali bunuh dia!"

Teriak Pangeran Tao Seng.

Dia masih mengharapkan puteranya itu berubah pikirannya dan mau membantunya.

Bagaimanapun, Keng Han adalah putera kandungnya dan ternyata ilmu kepandaiannya melebihi Gulam Sang!

Empat orang itu mendengar seruan ini dan mereka pun membatasi serangan mereka.

Biarpun demikian, tetap saja Keng Han terkepung ketat sekali oleh empat orang itu dan setelah dia dapat membela diri sampai hampir seratus jurus, ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin mengenai punggungnya, membuat dia terhuyung.

Ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin menyerang terus dengan dorongan ke arah dada.

Keng Han mengelak, akan tetapi dayung baja di tangan Tung-hai Lo-mo menghantam dari belakang mengenai pahanya dan Keng Han roboh terpelanting.

Sebelum dia dapat meloncat bangun, pedang Gulam Sang sudah menempel di lehernya, juga pedang Swat-hai Lo-kwi telah mengancam dadanya.

Keng Han maklum bahwa dia telah kalah dan tertawan.

Gulam Sang segera mengikat kaki tangannya dan dia pun dibawa ke dalam kamar tahanan yang berada di belakang rumah Hartawan Ji.

Kamar tahanan itu kokoh kuat dan di jaga oleh belasan orang anak buah Gulam Sang.

"Ayah, Keng Han itu amat berbahaya, apakah tidak sebaiknya kalau dia dibunuh saja?"

Tanya Gulam Sang kepada Pangeran Tao Seng setelah mereka semua kembali berunding.

"Jangan! Aku menyayangkan ilmu kepandaiannya yang hebat. Akan kubujuk dia agar mau membantu. Dia akan merupakan tenaga bantuan yang penting sekali."

Jawab sang pangeran.

"Bagaimana kalau dia tidak mau?"

"Kalau dia keras kepala dan tidak dapat dibujuk, maka kuserahkan dia kepadamu."

Gulam Sang nampak gembira sekali.

Pemuda ini ingin sekali dapat membunuh Keng Han karena diam-diam dia merasa khawatir kalau-kalau ayah angkatnya menerima Keng Han sebagai puteranya dan tentu kedudukannya akan kalah oleh anak kandung itu.

Keng Han merupakan duri dalam daging baginya yang harus dilenyapkan.

"Akan tetapi aku membutuhkan bantuanmu. Kita berikan racun perampas ingatan darimu itu. Kalau sampai dia hilang ingatan, tentu dia tidak mempunyai niat macam-macam lagi dan akan tunduk kepada semua perintah kita."

Gulam Sang mengerutkan alisnya.

Dia teringat betapa Keng Han sudah minum racun itu yang dicampurkan dalam arak yang disuguhkan kepada pemuda itu, akan tetapi sama sekali tidak nampak tanda-tanda bahwa pemuda itu keracunan!

Mungkin racunnya kurang banyak, demikian pikirnya.

"Baik, akan saya laksanakan dan mencampurkan racun perampas ingatan di dalam makanan dan minumannya."

Pada keesokan harinya, Keng Han duduk bersila dalam kamar tahanannya.

Kaki tangannya tidak dibelenggu, akan tetapi kaki tangannya dipasangi rantai yang terikat pada dinding sehingga dia tidak akan dapat melarikan diri.

Rantai itu terbuat dari baja dan tebal sekali tak mungkin diipatahkan.

Keng Han juga tidak bodoh untuk mencoba mematahkan rantai itu.

Penjaga banyak terdapat di luar tahanan dan di sana masih terdapat empat orang sakti itu.

Dia tidak mungkin dapat melawan mereka kalau mereka maju bersama.

Dia hanya menanti saatnya untuk dapat meloloskan dirinya.

Maka, dia pun menjaga kesehatan dan tenaganya dan dia makan semua makanan dan minuman yang dihidangkan walaupun dia dapat menduga bahwa makanan dan minuman itu dicampuri racun.

Dia tidak takut akan segala racun.

Tubuhnya kebal terhadap segala macam racun.

Asal saja mereka tidak mempergunakan asap pembius, pikirnya.

Pernah dia tertawan karena ledakan asap pembius yang dipergunakan orang-orang Kwi-kiam-pang.

Akan tetapi kalau racun itu masuk ke tubuhnya melalui makanan, atau melalui luka, dia tidak akan terpengaruh.

Darahnya memiliki daya menolak pengaruh racun itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Pangeran Tao Seng sudah mengunjungi kamar tahanannya.

"Anakku, kenapa engkau berkeras hati? Aku adalah ayah kandungmu. Engkau darah dagingku. Sungguh sengsara hatiku melihat engkau tertawan seperti ini. Anakku, kenapa engkau tidak mau membantu gerakanku? Katakanlah bahwa engkau akan membantuku dan kau akan dibebaskan dan menjadi puteraku yang tersayang dan terpercaya."

Hati Keng Han panas sekali mendengar ucapan ayahnya itu.

Hatinya sudah kecewa sekali melihat orang yang menjadi ayah kandungnya.

Ternyata orang itu licik dan curang.

"Aku memang puteramu dan engkau adalah ayah kandungku. Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa aku akan membantu engkau melakukan kejahatan, engkau mimpi di siang hari. Sampai mati sekalipun aku tidak ingin membantumu. Sebaliknya engkau yang menyadari kekeliruan tindakanmu dan ikut dengan aku menemui ibu. Kalau engkau mau melakukah itu, tentu aku akan menganggap engkau seorang ayah yang telah bertaubat dan baik, dan aku akan berbakti kepadamu."

"Jangan khawatir, Keng Han anakku. Kalau sudah tercapai cita-citaku, pasti aku akan memboyong ibumu ke istanaku. Aku juga amat mencinta ibumu."

Pangeran Tao Seng membujuk.

"Sudahlah, tidak perlu membujukku lebih lanjut. Akan sia-sia saja. Biarpun engkau ayah kandungku, akan tetapi kalau kau lanjutkan usahamu untuk berkhianat dan memberontak, aku akan berdiri di pihak Kaisar kakekku dan Pangeran Mahkota Tao Kuang pamanku."

Pangeran Tao Seng meninggalkan tempat tahanan itu dengan muka merah karena marah, Akan tetapi dia tidak putus asa dan mengharapkan agar racun perampas ingatan dari Gulam Sang itu akan bekerja dengan baik sehingga dia dapat membujuk puteranya itu.

Pada malam kedua, sesosok bayangan putih berkelebat di atas pagar tembok di belakang rumah Hartawan Ji.

Bayangan ini bukan lain adalah Cu In.

Setelah mendapatkan keterangan dari The-ciangkun di mana letak rumah Hartawan Ji, Cu In datang berkunjung pada malam itu.

Ia meloncat dari dalam taman itu ke atas sebatang pohon ketika melihat ada dua orang peronda berjalan menghampiri tempat ia bersembunyi.

Ia berada di atas pohon, siap bertindak kalau sampai ketahuan.

Dan ia men-dengarkan mereka bercakap-cakap.

"Menjemukan sekali, malam-malam gelap begini harus meronda. Biasanya kita hanya berjaga di gardu dan dapat terlindung dari cuaca yang amat dingin, membuat api unggun yang hangat."

"Ah, ini semua gara-gara pemuda yang bandel itu. Kabarnya dia berkepandalan tinggi dan dibujuk untuk membantu Ji Wan-gwe dia tidak mau. Heran aku mengapa ada orang tidak mau bekerja kepada Ji Wan-gwe yang kaya raya dan royal."

"Ketika hendak menangkapnya pun susah bukan main. Kabarnya dari teman-teman yang melihatnya, setelah ketiga locianpwe dikerahkan untuk membantu Kongcu, barulah dia dapat ditawan. Kongcu sendiri kewalahan menghadapi pemuda ini."

"Hebat. Sayang kalau pemuda lihai macam itu akhirnya mesti mati karena tidak mau terbujuk."

"Percakapan itu cukup bagi Cu In. Tubuhnya melayang turun dan sekali dua tangannya menyambar, dua orang peronda itu sudah roboh tanpa dapat berteriak, roboh tertotok tidak mampu bergerak maupun bersuara. Ang Hwa Nio-nio memang memiliki keistimewaan dalam ilmu menotok sehingga ilmunya itu disebut Tok-ciang (Tangan Beracun) karena sekali totok saja mampu mencabut nyawa orang. Cu In juga menguasai ilmu ini dan dua orang yang ditotoknya itu sama sekali tidak mampu berkutik. Akan tetapi dara bercadar ini tidak membunuh mereka. Cu In melolos pakaian hitam seorang di antara mereka dan mengenakan pakaian itu menutupi. pakaian-nya sendiri yang serba putih. Kemudian ia berkata kepada orang kedua.

"Cepat lakukan perondaan sampai ke tempat tahanan itu. Awas, sekali saja engkau berteriak nyawamu akan melayang."

Setelah berkata demikian dia membebaskan orang kedua dari totokan, lalu memaksanya berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.

Ia berjalan di belakangnya sambil menyembunyikan mukanya yang bercadar.

Peronda itu ketakutan setengah mati.

Dia maklum bahwa orang yang kini berada di belakangnya itu tidak hanya menggertak kosong belaka.

Kalau dia berteriak, tentu dia akan tewas.

Dia pun tidak tahu bagaimana nasib temannya yang ditinggalkan dibelakang semak dalam keadaan tidak bergerak seperti sudah menjadi mayat.

"Bawa aku ke tempat tahanan dan berbuatlah seolah-olah engkau melakukan ronda."

Desis suara Cu In di dekat telinga peronda itu.

Peronda itu hanya mengangguk, membawa lampu teng dan memukul kentungannya, melangkah menuju ke bagian belakang rumah besar Ji Wangwe.

Segera dua orang penjaga yang berada di luar tempat tahanan menghadap mereka.

"Kenapa engkau sampai di tempat ini?"

Tanya seorang diantara dua orang penjaga itu. Pemuda yang sudah mendapat pesan dari Cu In berkata dengan suara ketakutan.

"Ah, tolonglah.... tadi aku melihat banyak bayangan orang di sana. Aku khawatir akan datang serangan musuh!"

Mendengar ini, dua orang itu masuk ke dalam dan memberitahu kepada kawan-kawannya di sana. Empat orang lain keluar dan kini enam orang itu bertanya.

"Di mana bayangan-bayangan itu?"

"Di sana....!"

Peronda itu menudingkan telunjuknya ke arah taman, sedangkan Cu In bersembuny di balik tubuh peronda sehingga mukanya tidak nampak.

"Mari kita periksa!"

Kata seorang di antara enam penjaga itu dan mereka, segera berlarian dengan golok di tangan memasuki taman.

Melihat ini, Cu In segera menotok peronda itu sehingga roboh tak mampu berkutik lagi.

Ia pun cepat menyelinap melalui pintu dari mana enam orang penjaga tadi keluar.

Ternyata di sebelah dalam masih terdapat tujuh orang penjaga lagi.

Mereka sedang bermain kartu dan melihat bayangan memasuki tempat mereka berjaga, tujuh orang itu serentak bangkit.

Melihat bahwa yang masuk adalah seorang yang menutupi tubuhnya dengan pakaian hitam dan mukanya bercadar semua menjadi kaget dan menyambar golok mereka.

"Siapa engkau?"

Bentak seorang kepala jaga.

Akan tetapi Cu In tidak memberi kesempatan kepada mereka.

Sabuk sutera putihnya menyambar-nyambar dengan totokan yang jitu sehingga tujuh orang itu roboh malang melintang dalam keadaan tertotok.

Dengan cepat ia dapat menemukan serangkai kunci di atas meja, dan ia segera berlari masuk.

Dari jeruji baja ia dapat melihat Keng Han yang duduk bersila dengan kaki terikat rantai.

"Keng Han...."

Bisiknya. Keng Han membuka matanya dan segera dia mengenal orang bercadar itu.

"Cu In....!"

Bisiknya kembali.

Cu In bekerja cepat.

Sebuah kunci membuka pintu tahanan yang berat itu, kemudian dengan sebuah kunci lain ia membuka rantai mengikat kaki Keng Han.

"Cu In, terima kasih...."

Kata Keng Han girang dan juga terharu.

Lagi-lagi gadis bercadar ini yang menolongnya.

Ketika dia ditawan Kwi-kiam-pang, gadis ini pula yang menyelamatkannya.

Ketika dia hendak dibunuh Bi-kiam Nio-cu, Cu In pula yang mencegahnya.

"Ssttt, kita harus cepat pergi dari sini sebelum mereka semua datang!"

Kata Cu In yang segera melompat keluar dari situ, diikuti oleh Keng Han.

Baru saja mereka tiba di luar, enam orang penjaga yang tadi memeriksa dalam taman, sudah kembali dan melihat bahwa tawanan mereka lolos, mereka terkejut sekali dan menggunakan golok mereka untuk menyerang Keng Han dan Cu In.

Ada pula yang berteriak-teriak minta tolong sehingga ributlah keadaan, di tempat itu.

"Cepat robohkan mereka dan lari!"

Kata pula Cu In kepada Keng Han.

Ia sendiri telah merobohkan tiga orang penjaga.

Keng Han juga lalu menggunakan tenaganya, menampar ke sana sini dan tiga orang penjaga dapat dia robohkan dalam waktu singkat.

Pada saat itu, nampak orang-orang berdatangan dengan obor di tangan.

"Cepat lari!"

Kata Cu In pula.

Keng Han mengikuti Cu In melarikan diri, memasuki taman dan keluar dari pagar tembok taman itu.

Orang-orang yang mengejar mereka, Gulam Sang dan para datuk, tidak menemukan jejak mereka berdua.

Ketika mendapat kenyataan bahwa tawanan telah lolos, Gulam Sang menjadi marah sekali dan dia menampari para penjaga.

Sialan sekali para penjaga.

Baru saja ditotok roboh oleh dua orang itu, kini ditampar oleh Gulam Sang sampai pipi mereka bengkak-bengkak.

Mereka segera memberi laporan kepada Pangeran Tao Seng.

Sang pangeran mengerutkan alisnya dan dia berkata.

"Kalau begitu, rencana kita harus dipercepat pelaksanaannya. Sam-wi Locianpwe harap melaksanakan pembunuh terhadap kaisar itu selambat-lambatnya besok pagi. Aku khawatir dengan lolosnya Keng Han rencana kita akan menjadi kacau. Gulam Sang, malam ini juga engkau harus meng-hubungi Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai, juga kerahkan murid-murld Bu-tong-pai untuk bersiap-siap di luar kota raja. Dan Sam-wi Locianpwe, harap membawa orang-orang yang dapat diandalkan untuk pekerjaan membunuh Kaisar, dan mereka harus orang-orang berani mati yang sudah disumpah untuk mengakui sebagai orang thian-li-pang kalau sampai tertangkap hidup-hidup, sesuai dengan rencana kita semula."

Setelah mengatur semuanya, Pangeran Tao Seng memberi keterangan yang lebih jelas kepada tiga orang datuk sesat yang bertugas membunuh kaisar itu.

"Seperti biasa, sesudah persidangan, Kaisar akan pergi ke taman sambil membawa laporan-laporan untuk dipelajari. Nah, saat itulah yang terbaik untuk turun tangan. Semua menteri dan panglima sudah meninggalkan sidang, pulang ke rumah masing-masing dan keadaan di istana dalam suasana tenang dan tenteram. Para pengawal tentu tidak akan ada yang menduga bahwa akan terjadi penyerangan. Dan untuk menyelundupkan kalian ke dalam istana, sudah kuserahkan kepada Ciu-ciangkun yang akan mengaturnya. Kalian akan diberi pakaian sebagai pengawal-pengawal istana dan dapat masuk ke dalam istana dengan leluasa. Nah, bersiaplah kalian semua. Untuk menjaga jangan sampai Keng Han bertindak terhadap diriku, aku akan mengungsi di luar kota raja, di dusun yang telah kalian ketahui sebagai tempat peristirahatanku. Mengerti semua?"

Setelah semua mengerti dan siap, mereka bubaran.

Pangeran Tao Seng atau Hartawan Ji bersama adiknya, Pangeran Tao San, keluar dari rumah, bahkan keluar dari kota raja menunggang kereta menuju ke dusun di sebelah utara kota raja.

Gulam Sang pergi pula untuk mempersiapkan pasukan, dan tiga orang locianpwe bersama selosin anak buah pergi menemui Ciu-ciangkun untuk diselundupkan pagi hari itu ke dalam istana!

Gulam Sang sendiri mendapat perintah istimewa dari Pangeran Tao Seng untuk membawa teman dan pergi melakukan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota Tao Kuang, sesudah dia mengumpulkan pasukan di luar kota raja yang siap untuk memasuki kota raja dan menyerbu istana, apabila saatnya telah tiba.

Menurut rencana Pangeran Tao Seng, apabila usaha membunuh Kaisar telah berhasil, dan juga usaha membunuh Pangeran Mahkota berhasil, dia sendiri akan menyerbu ke dalam istana, menggunakan pasukan Panglima Ciu yang sudah dapat dihasutnya dengan janji pangkat besar, dibantu oleh orang-orang Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai.

Adaikata rencana itu gagal, mereka akan menimpakan kesalahan pemberontakan itu kepada Thian-li-pang!

"Cu In, sekali lagi engkau menyelamatkan nyawaku.

Hutang budi terhadapmu bertumpuk-tumpuk, bagaimana aku akan dapat membalasnya?

Dan engkau yang sudah menyaksikan betapa aku akan membunuh Paman Tao Kuang karena aku dihasut oleh ayah kandungku sendiri, kenapa engkau masih saja mau menolong aku yang sesat ini?"

Keng Han bertanya setelah dia dan Cu In lolos dari rumah Hartawan Ji.

"Tidak ada hutang piutang budi, Keng Han. Aku membantumu karena melihat bahwa engkau tidak bersalah. Engkau hendak membunuh Pangeran Tao Kuang karena engkau dihasut dan mendapat keterangan yang keliru."

"Akan tetapi bagaimana engkau dapat menduga bahwa aku akan tertimpa malapetaka di rumah Hartawan Ji yang bukan lain adalah Pangeran Tao Seng itu? "Sudah kuduga bahwa setalah menerima keterangan dari Pangeran Tao Kuang, engkau tentu akan menuntut balik kepada ayah kandungmu sendiri yang telah menghasutmu. Dan kalau engkau lakukan itu, besar sekali kemungkinan engkau akan ditentang, ditawan atau dibunuh karena Pangeran Tao Seng ternyata adalah seorang yang mabuk kedudukan dan sudah melupakan putera sendiri. Maka aku lalu mencari keterangan lebih lanjut dan sesudah merasa pasti bahwa Hartawan Ji adalah Pangeran Tao Seng, malam ini aku segera pergi ke sana. Akan tetapi sudahlah, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi. Yang penting sekarang ini, apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku harus menyelamatkan Sribaginda Kaisar. beliau terancam bahaya maut!"

"Ah, benarkah itu? Bahaya apa yang mengancamnya?"

Keng Han lalu bercerita tentang ucapan-ucapan Pangeran Tao Seng yang hendak membunuh kaisar dan pangeran mahkota dan betapa kini di rumah pangeran Itu telah berkumpul datuk-datuk sesat seperti Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo, dan Lam-hai Koai-jin.

Juga di sana terdapat Gulam Sang yang lihai.

"Kalau begitu, kita harus memberi peringatan kepada Pangeran Tao Kuang. Hanya beliau yang dapat mengatur semua penjagaan agar jangan sampai terjadi pembunuhan itu."

"Baik, mari kita menghadap beliau."

"Keng Han, sudah kau pikirkan masak-masak semua ini? Ingat, jika kau bertindak begini, itu berarti bahwa engkau melawan ayah kandungmu sendiri!"

"Ayah kandung atau siapa saja yang bertindak salah, harus ditentang. Ayahku itu telah menyia-nyiakan kehidupan ibuku sehingga ibu hidup merana dan selalu menanti di Khitan. Kemudian ayahku itu telah bertindak curang hendak membunuh adiknya sendiri, apalagi sekarang dia telah bertindak sedemikian jauhnya untuk membunuh ayahnya sendiri dan juga adiknya yang menjadi pangeran mahtkota. Tentu saja aku menentengnya!"

Mendengar ini, Cu In termenung.

Hampir bersamaan nasib yang dialami oleh Keng Han dan ia sendiri.

Hanya bedanya, kalau yang menyusahkan hati Keng Han itu ayahnya, ia lain lagi.

Ibu kandungnya yang membuatnya bersusah hati.

Ibunya mendidiknya sebagai murid, menghasutnya agar ia membunuh ayah kandungnya!

Akan tetapi dapatkah ia membenci ibu kandungnya?

"Keng Han, apakah engkau membenci ayahmu itu?"

"Tidak, aku tidak membenci orangnya, melainkan perbuatanya. Maka perbuatannya yang kutentang.

"Bagaimana kalau ayahmu itu mau mengubah sikapnya dan tidak lagi melakukan kejahatan?"

"Aku sudah membujuknya, bahkan hendak memaksanya untuk ikut bersamaku menemui ibu di Khitan. Akan tetapi usahaku itu dihalangi oleh para datuk. Kami berkelahi dan aku dikeroyok empat sampai akhirnya aku tertawan."

"Jadi engkau akan memaafkan ayahmu kalau dia mengubah sikapnya?"

"Tentu saja kalau perbuatannya sudah benar maka dia itu ayahku dan aku harus berbakti kepadanya."

"Ahhh....!"

"Kau kenapakah, Cu In?"

Tanya Keng Han khawatir melihat gadis itu seperti tertegun.

"Tidak apa-apa. Marilah kita menghadap Pangeran Mahkota."

"Sebetulnya aku merasa sungkan dan malu menghadap beliau. Baru kemarin aku berusaha untuk membunuhnya!"

"Jangan khawatir. Ada aku yang akan menjelaskan kepadanya."

Mereka melanjutkan perjalanan menuju ke istana Pangeran Tao Kuang. Ketika mereka hampir tiba di istana itu, Keng Han kembali bertanya.

"Cu In, mengapa engkau begini baik terhadap diriku? Kanapa engkau begini membela aku?"

"Hemmm, mengapa? Karena engkau pun baik sekali kepadaku. Ingat, engkau pun pernah menolongku, bukan?"

"Cu In, suci-mu mengatakan bahwa engkau lebih kejam daripada ia, akan tetapi aku melihat engkau sama sekali tidak kejam, bahkan engkau lembut hati dan mulia. Aku menyebut namamu begitu saja, bukan menyebut Su-I (Bibi Guru), engkau pun tidak marah. Aku sungguh kagum kepadamu sejak pertama kali kita bertemu, aku.... aku terpesona melihat sinar matamu dan aku suka sekali kepadamu. Apakah engkau akan marah dan membunuhku kalau aku mengatakan bahwa aku suka kepadamu?"

Sepasang mata itu mencorong, akan tetapi hanya bentar.

Tadinya Cu In hendak marah sekali karena ia sudah terbiasa menganggap bahwa kalau ada pria menyatakan suka kepadanya, Maka pria itu hanya merayu saja dan pernyataannya itu palsu adanya separti yang sering kali dikatakan gurunya.

Akan tetapi kemudian ia teringat bahwa gurunya atau ibunya itu bersikap demikian karena sakit hati terhadap kekasihnya, maka kemarahannya pun hilang.

Ia tidak perlu percaya lagi kepada semua pendapat ibunya.

Ia sendiri tidak dapat menyangkal bahwa ia pun suka sekali kepada Keng Han.

Baru sekarang ia menyadari bahwa pria pun sama saja dengan wanita, ada yang baik dan ada yang jahat.

Dan Keng Han ini jelas bukan laki-laki yang jahat.

Ia menyadari bahwa kebiasaannya mengenakan cadar agar mukanya jangan sampai terlihat laki-laki itu merupakan kebiasaan yang keliru.

Akan tetapi sekarang sudah kepalang, bahkan hal itu dapat dipakainya untuk menguji sampai di mana rasa suka Keng Han terhadap dirinya.

"Aku tidak marah dan tidak akan membunuhmu karena pernyataan itu, Keng Han. Akan tetapi bagaimana mungkin engkau mengatakan bahwa engkau suka kepadaku pada hal engkau belum pernah melihat wajahku?"

"Aku tidak peduli akan wajahmu, Cu In. Bagaimanapun bentuk wajahmu aku tetap akan merasa suka kepadamu. Aku kagum akan kepribadianmu, watakmu, cara engkau bicara, gerak-gerikmu, dan sinar matamu."

"Tidak, Keng Han. Jangan katakan begitu. Aku.... aku tidak berharga bagimu. Aku gadis kang-ouw, petualang yang hidup menyendiri, sedangkan engkau seorang putera pangeran! Tidak, aku sama sekali tidak sebanding denganmu."

"Cu In, jangan merendahkan diri sampai demikian! Aku cinta padamu, bukan karena rupa atau kedudukan. Aku mencinta dirimu, pribadimu, tidak peduli engkau berwajah bagaimana dan dari golongan apa.

"Ah, engkau akan menyesal kelak dan kalau engkau menyesal aku kembali akan menjadi pembenci pria yang teryata berhati palsu, kata-katanya tidak dapat dipercaya."

"Aku tidak akan menyesal, Cu In. Aku cinta padamu dan tidak ada apa pun yang dapat mengubah cintaku."

"Akan tetapi wajahku buruk sekali, Keng Han. Aku seorang wanita yang cacat mukanya."

"Aku tidak percaya! Dan andaikata benar wajahmu cacat, aku tetap akan mencintamu."

"Benarkah? Ingin aku melihat apakah pendapat guruku tentang pria benar, bahwa pria hanya merupakan perayu besar yang tidak setia dan palsu. Kau lihatlah baik-baik, Keng Han!"

Setelah berkata demikian, Cu In menyingkap cadarnya memperlihatkan mukanya dari hidung ke bawah.

Keng Han memandangnya dan pemuda itu terbelalak, terkejut dan heran.

Tak disangkanya sama sekali bahwa wajah yang di bagian atasnya demikian cantik jelita, bagian bawahnya mengerikan.

Wajah itu totol-totol hitam, seperti bekas luka yang memenuhi permukaan wajahnya sehingga biarpun hidung dan mulutnya berbentuk sempurna, namun karena bertotol-totol hitam menjadi buruk untuk dipandang.

Cu In menutupkan kembali cadarnya dan berkata dengan nada suara mengejek.

"Engkau terkejut? Engkau ngeri? Wajahku seperti setan, bukan? Nah, apakah masih ada ada rasa cinta di dalam hatimu, Keng Han?"

Keng Han sudah dapat menyadari lagi keadaannya dan menguasai perasaannya yang terkejut.

"Aku tetap mencintamu, Cu In. Biarpun wajahmu cacat, engkau tetap Cu In yang tadi, yang bercadar, yang kucinta. Akan tetapi mengapa wajahmu seperti itu, Cu In? Aku merasa iba kepadamu dan aku akan berusaha agar supaya cacat di wajahmu dapat hilang. Akan kucarikan tabib terpandai di dunia ini yang akan dapat menyembuhkanmu."

"Kau tidak benci kepadaku? Tidak jijik melihat mukaku!"

Tanya Cu In, suaranya mengandung keheranan. Keng Han mendekat dan memegang kedua tangan gadis itu.

"Sudah kukatakan, aku mencinta pribadimu, bukan sekedar kecantikanmu. Aku tetap mencintaimu biarpun wajahmu cacat. Jadi itulah sebabnya engkau memakai cadar selama ini! Agar mukamu yang cacat tidak kelihatan orang lain."

"Benar, aku tidak ingin ada orang melihat mukaku dan kemudian membenciku. Engkau benar-benar tidak peduli akan cacat di mukaku?"

Tanya Cu In tanpa melepaskan pegangan Keng Han pada kedua tangannya.

"Aku bukan tidak peduli, akan tetapi aku bahkan kasihan sekali padamu dan ingin membantumu mencarikan obat untuk menghilangkan bekas luka di wajahmu itu. Akan tetapi cacat di mukamu itu tidak mengubah perasaan hatiku yang mencintamu."

Cu In melepaskan kedua tangannya dan membalikkan tubuhnya membelakangi pemuda itu.

"Aku.... aku tidak percaya...."

Suaranya mengandung isak.

"Kenapa engkau tidak percaya? Kenyataan bahwa engkau murid Ang Hwa Nio-nio dan sumoi Bi-kiam Nio-cu yang jahat dan kejam itu pun tidak mengubah cintaku padamu, pada hal aku sama sekali tidak menyukai watak mereka. Aku bersumpah bahwa aku tetap mencintamu Cu In."

"Ssttt, sudahlah. Soal itu dapat kita bicarakan kemudian. Sekarang ada pekerjaan yang lebih penting. Mari kita menghadap Pangeran Mahkota Tao Kuang."

Baru teringat oleh Kan Han betapa lama mereka berhenti di jalan yang sunyi itu. Dia tersenyum kepada Cu In dan berkata.

"Perasaan hati kita lebih penting dari segala urusan, Cu In. Aku sudah mengutarakan isi hatiku dan hal ini melegakan sekali. Walaupun aku belum tahu bagaimana tanggapanmu tentang perasaanku, namun kini aku merasa lega bahwa engkau mengetahui akan perasasn hatiku kepadamu. Nah, mari kita lanjutkan perjalanan kita."

Ketika mereka tiba di istana Pangeran Tao Kuang, mereka segera disambut oleh Sang Pangeran sendiri yang ditemani oleh Kwi Hong dan ibunya, juga Kai-ong dan muridnya, Yo Han Li masih berada di situ.

Melihat munculnya Keng Han bersama Cu In, Kwi Hong segera meloncat ke depan ayahnya dengan pedang terhunus di tangan.

"Han-ko, apakah engkau hendak membunuh ayahku?"

Bentaknya.

Keng Han tersenyum.

Sudah lama dia mengetahui bahwa Kwi Hong adalah adiknya sendiri, adik sepupu dan semarga.

Dia menggelengkan kepalanya dan berkata.

"Tidak, Hong-moi. Aku bahkan datang untuk minta maaf kepada ayahmu."

Lega hati Kwi Hong mendengar ini dan ia pun segera melangkah ke pinggir dekat ayahnya.

"Saya datang pertama-tama untuk mohon maaf kepada Paman Pangeran!"

Kata Keng Han sambil memberi hormat kepada Pengeran Tao Kuang. Pangeran itu tersenyum dan berkata.

"Aku maafkan engkau, Keng Han. Engkau kemarin bersikap demikian karena hasutan orang. Apakah engkau sekarang sudah mengerti benar akan duduknya perkara?"

"Sudah, Paman. Bahkan bukan itu saja. Kami, yaitu Cu In dan saya, mengetahui hal-hal lain yang amat membahayakan keselamatan Paduka dan juga keselamatan Yang Mulia Kaisar. Ada komplotan yang hendak membunuh Paman dan Kaisar."

Pangeran Tao Kuang terkejut mendengar ini dan segera mengajak Cu In dan Keng Han ke ruangan dalam untuk membicarakan hal itu.

Setelah tiba di ruangan dalam Keng Han menceritakan semua pengalamannya, menceritakan pula rencana ayahnya yang hendak membunuh Pangeran Mahkota dan Kaisar.

"Dia yang kini memakai nama Hartawan Ji telah mengundang datuk-datuk besar yang berilmu untuk melaksanakan pembunuhan itu. Karena itulah maka kami berdua segera menghadap Paman untuk menghadapi komplotan pembunuh itu. Di antara mereka yang bersekutu itu terdapat pula seorang Tibet bernama Gulam Sang yang agaknya sudah mengadakan persekutuan dengan pihak Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Mungkin mereka akan mengadakan penyerbuan ke kota raja. Juga Bu-tong-pai bekerja sama dengan mereka. Keadaan ini gawat sekali kalau tidak dipersiapkan penjagaan yang ketat."

Demikian antara lain Keng Han berkata.

"Untuk menjaga keselamatan Paduka, di sini sudah terdapat adik Kwi Hong, adik Han Li dan Locianpwe Kai-ong, Akan tetapi untuk menjaga keselamatan Kaisar, perlu ada tenaga yang boleh diandalkan untuk mencegah terjadinya pembunuhan."

Kata Cu In.

"Wah, ini perkara penting sekali. Aku harus segera menghubungi ayahanda Kaisar dan para panglima untuk melakukan penjagaan dan untuk menyelidiki gerakan musuh di luar kota raja. Bagaimana kalau kami minta bantuan kalian, Keng Han dan Cu In, untuk ikut menjadi pengawal Kaisar untuk sementara waktu?"

"Saya bersedia, Paman."

Kata Keng Han. (Lanjut ke

Jilid 14) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 14

"Kalau memang dibutuhkan, saya pun suka membantu,"

Kata pula Cu In penuh semangat.

"Bagus, kalau begitu sekarang juga kalian berdua ikut dengan aku menghadap Kaisar. Kwi Hong, engkau menjaga di rumah dan saya mohon bantuan Locianpwe Kai-ong dan nona Yo untuk membantu Kwi Hong."

"Baik, Ayah. Aku dan ibu akan siap siaga."

"Ha-ha-ha, setelah siang malam makan dan tidur dengan enak di sini kami tentu saja suka membantu. Ada pekerjaan itu baik sekali, makan tidur saja setiap hari membuat aku menjadi malas!"

Kata Kai-ong.

Maka berangkatlah Pangeran Tao Kuang menuju ke istana Kaisar, dikawal oleh Keng Han dam Cu In.

Setelah tiba di istana dan diterima oleh Kaisar, Pangeran Tao Kuang menceritakan keadaan yang berbahaya itu.

Mendengar laporan ini, Kaisar yang sudah tua itu memukul dengan kursinya.

"Aahhh, anak-anak macam apa Tao Seng dan Tao San itu? Mereka sudah dihukum, tidak jera malah membikin ulah lagi. Kami serahkan penanggulangan pengacau ini kepadamu, Tao Kuang. Selesaikan sampai tuntas urusan ini. Aaahh, kalau kami yang harus memikirkan masalah anak-anak durhaka ini, hanya akan mendatangkan penyesalan saja di dalam hati!"

"Baik, Ayah. Serahkan saja semua ini kepada hamba. Di sini hamba mengajak dua orang pendekar yang menjadi saksi usaha pemberontakan itu dan hamba harap agar Ayah menerimanya sebagai pengawal sementara untuk menghadapi mereka yang berani masuk ke Istana."

Kaisar menerima Keng Han dan Cu In dengan senang. Akan tetapi melihat Cu In yang bercadar, Kaisar mengerutkan alisnya dan berkata.

"Kenapa gadis ini memakai cadar? Sebaiknya kalau cadar itu dilepas agar kami dapat melihat wajahnya."

"Ampun, Yang Mulia. Hamba telah bersumpah untuk tidak membuka cadar ini. Yang berhak melakukan hanya suami hamba kelak?"

Kata Cu In.

Keterangannya ini tidak seluruhnya bohong karena di dalam hatinya ia pun mengambil keputusan bahwa yang berhak membuka cadar adalah tangan suaminya.

Mendengar ini Keng Han merasa jantungnya berdebar.

Gadis ini sudah membuka cadar di depannya, bukankah itu menunjukkan bahwa gadis ini setuju dia menjadi calon suaminya?

Hemmm, sumpah yang aneh.

Akan tetapi sudahlah, karena putera kami yang membawamu ke sini, engkau boleh bercadar.

akhirnya Kaisar berkata sambil mengangguk walaupun merasa heran akan sumpah yang aneh itu.

Keng Han dan Cu In ditinggalkan dalam istana untuk menjadi pengawal pribadi kaisar.

Walaupun kaisar sudah mempunyai pasukan pengawal pribadi, Namun hadirnya dua orang muda yang oleh puteranya diperkenalkan sebagai dua orang pendekar yang berilmu tinggi, kaisar suka menerimanya dan hal ini.

menambah tenang hatinya.

Pangeran Tao Kuang sendiri lalu membawa sepasukan pengawal untuk mengawalnya.

Dia tidak segera pulang melainkan mendatangi rumah panglima The Sun Tek yang dikenalnya sebagai Panglima besar yang memiliki ilmu silat tinggi.

Kepada panglima itu dia menceritakan tentang usaha persekutuan yang dipimpin oleh Pangeran Tao Seng dan dia menyerahkan penyelidikan dan pembasmian gerombolan pemberontak yang mungkin bersembunyi dekat kota raja untuk mencegah gerombolan itu menyerbu kota raja.

Setelah Panglima The Sun Tek menyatakan siap untuk melaksanakan perintah Kaisar melalui Pangeran Mahkota itu, Pangeran Tao Kuang baru pulang ke rumahnya, dikawal pasukan pengawal dengan ketat.

Panglima The Sun Tek mengerahkan pasukan istimewa untuk menambah kekuatan penjagaan di istana, lalu menyebar penyelidik untuk menyelidiki apakah ada gerombolan yang bersembunyi di sekitar kota raja.

Kaisar Cia Cing yang usianya sudah lebih dari tujuh puluh lima tahun itu nampak tenang saja mendengar bahwa dirinya terancam bahaya maut.

Apalagi dengan adanya Keng Han dan Cu In, dia merasa aman.

Adapun penambahan pengawal istana membuat dia lebih tenang lagi karena penjagaan ketat sekali.

Keng Han dan Cu In sama sekali tidak menyangka bahwa di antara pengawal istana itu terdapat Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin.

Mereka ini di selundupkan oleh panglima yang sudah dipengaruhi Pangeran Tao Seng, yaitu Panglima Cau, ke dalam pasukan pengawal istana!

Adapun Swat-hai Lo-kwi oleh Panglima Ciu diselundupkan ke dalam pasukan penjaga istana Panyeran Mahkota.

Tentu saja ketiga orang datuk sesat ini menyamar sehingga kelihatan muda dan seperti anggauta pasukan biasa.

Dua orang datuk, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin, bertugas untuk membunuh kaisar dan bersama dengan mereka diselundupkan pula anak buah Pek-lian-pai sebanyak selosin orang untuk membantu usaha dua orang datuk itu.

Sedangkan Swat-hai Lo-kwi dibantu oleh selosin prajurit pula, yaitu para anggauta Pat-kwa-pai.

Gulam Sang sendiri memimpin pasukan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai bersama para tokoh kedua gerombolan itu, mempersiapkan pasukannya di luar kota raja, siap untuk membantu apabila saatnya tiba.

Penyerbuan itu akan dibarengi dengan gerakan pasukan Panglima Ciu dari dalam dan kalau saatnya tiba, Panglima Ciu akan melepaskan anak panah berapi di udara sebagai tanda kepada gerombolan yang bersembunyi di luar kota raja.

Penyerbuan akan dilakukan pada malam hari.

Pangeran Tao Kuang yang sudah menerima keterangan sejelasnya dari Keng Han dan Cu In, berhubungan terus dengan Panglima The Sun Tek.

Panglima ini adalah seorang panglima perang yang sudah hafal akan liku-liku siasat perang.

Maka dia tidak terpancing keluar dan mengerahkan pasukannya keluar kota raja.

Dia menaruh curiga kalau-kalau pihak pemberontak telah menyelundupkan banyak pasukan ke dalam kota raja.

Mudah saja untuk menyusup dengan menyamar sebagai pedagang atau petani yang menjual hasil ladang mereka ka kota raja.

Maka dia pun membagi pasukannya menjadi dua bagian.

Yang satu bagian diperuntukkan membasmi gerombolan yang berada di luar kota raja, sedangkan sebagian lagi tetap menjaga di kota raja kalau-kalau pihak musuh sudah menyelundupkan pasukan ke dalam kota raja untuk menyerbu istana, Penjagaan di istana diperketat.

Malam itu teramat indah.

Biarpun tidak ada bulan di angkasa namun malam itu penuh bintang.

Langit bersih sehingga semua bintang nampak di angkasa bagaikan butir-butir mutiara di hamparan beludu hitam.

Kalau ada orang yang menengadah, maka akan nampaklah keindahan yang luar biasa, nampaklah kekuasaan Tuhan yang tiada taranya.

Bintang-bintang itu berkelap-kelip, ada yang berkejap ada pula yang tenang diam tanpa sinar gemerlapan.

Cahaya sekian banyaknya bintang di angakasa, tidak terhitung banyaknya, membuat cuaca di bumi nampak remang-remang.

Cahaya bintang-blntang itu demikian lembut sehingga malam terasa sejuk.

Kalau ada angin semilir, barulah terasa betapa dinginnya hawa udara di saat itu.

Dingin dan sunyi, penuh pesona dan rahasia.

Kadang nampak bintang meluncur lalu lenyap membuat kita bertanya-tanya apa sebenarnya yang ter jadi jauh di atas itu.

Benarkah pendapat kuno bahwa setiap bintang itu mewakili seorang manusia.

Agaknya pendapat kuno ini berlebihan.

Buktinya banyak bintang yang sudah beratus tahun masih nampak cemerlang di angkasa sedangkan manusia sudah berganti beberapa generasi.

Apakah di bintang itu terdapat mahluk hidup?

Mungkin, siapa tahu.

Tuhan Maha Kuasa, maka tidak ada hal yang tidak mungkin.

Kalau Tuhan meng-hendaki, mungkin saja di antara bintang-bintang itu ada bintang yang seperti dunia kita ini.

Malam yang indah.

Akan tetapi malam yang mencekam bagi para penjaga di istana.

Beberapa orang melihat berkelebatnya bayangan orang di luar kamar tidur Kaisar.

Akan tetapi ketika diperiksa, ternyata tidak ada siapa-siapa.

Ketika mendengar laporan para penjaga itu, Keng Han dan Cu In siap siaga dengan penuh kewaspadaan.

Keng Han menyuruh para perajurit pengawal untuk mengepung kamar tidur kaisar, sedangkan dia sendiri bersama Cu In sudah melayang naik ke atas atap, menjaga kalau-kalau ada yang menyerbu dari atas.

Penjagaan itu demikian ketatnya sehingga siapapun yang akan memasuki kamar kaisar, dari luar maupun dari atas, pasti akan ketahuan.

Kecuali kalau ada yang masuk melalui bawah tanah, suatu hal yang tidak mungkin.

Tengah malam tiba.

Bintang-bintang semakin jelas kelihatan, membuat Keng Han dan Cu In yang berada di atas atap menjadi kagum bukan main.

Terutama sekali Keng Han.

Sudah sering dia melihat malam penuh bintang, akan tetapi entah bagaimana, belum pernah nampak seindah malam ini.

Dia tersenyum seorang diri, maklum mengapa hatinya demikian tenteram dan bahagia, walaupun menghadapi tugas yang berbahaya.

Bukan lain karena Cu In berada di situ, di dekatnya!

Terdengar bunyi langkah dua losin perajurit pengawal datang dari arah luar.

Mereka itu adalah seregu perajurit pengawal yang datang untuk menggantikan para perajurit yang sudah berjaga sejak sore tadi.

Setelah komandan perajurit yang baru datang menerima laporan dari komandan perajurit yang diganti bahwa tadi nampak bayangan mencurigakan berkelebat akan tetapi kini suasana aman dan tenang dan bayangan itu tidak dapat ditemukan.

"Mungkin hanya bayangan burung yang terbang lewat,"

Komandan itu menutup keterangan-nya kepada komandan yang baru.

"Betapapun juga, harap menjaga dengan hati-hati dan waspada."

"Dia tidak menceritakan bahwa Keng Han dan Cu In berada di atas atap karena dia sendiri tidak tahu di mana dua orang peagawal pribadi kaisar itu bersembunyi. Pergantian pengawal sudah dilakukan dan para perajurit pengawal yang baru nampak masih segar dan mereka mengepung kamar kaisar, bahkan kadang melakukan perondaan di sekeliling tempat itu. Keng Han dan Cu In mendengar suara mereka dan melongok ke bawah. Mereka tahu bahwa ada pergantian pengawal, maka mereka tidak mengacuhkan lagi. Tak lama kemudian mereka mendengar suara gedebak-gedebuk seperti orang jatuh.

"Cu In, cepat kau periksa di bawah, biar aku yang menjaga di sini!"

Kata Keng Han.

Cu In melayang turun dan terkejutlah ia melihat beberapa orang perajurit pengawal menyerang kawan-kawannya sendiri!

Dia sama sekali tidak tahu bahwa di antara dua losin perajurit itu, yang empat belas orang adalah anak buah Pek-lian-pai yang menyamar sebagai perajurit, dan juga dua orang datuk sesat, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin!

Melihat sepuluh orang perajurit diserang oleh perajurit yang lain dan empat orang sudah roboh tak bergerak lagi Cu In berseru.

"Tahan....!!"

Akan tetapi, para perajurit penyerang itu bahkan menyerangnya dan seorang di antara mereka yang memegang ruyung berseru.

"Lo-mo, cepat bergerak dari atas!"

Tung-hai Lo-mo mengenal Cu In yang bercadar.

Tahu betapa lihainya wanita itu, dia menyerahkannya kepada Lam-hai Koai-jin dan selosin anak buah Pek-lian-pai.

Maka mendengar seruan Lam-hai Koai-jin, Tung-hai Lo-mo segera meloncat naik ke atas atap.

Diperhitungkannya, kalau memasuki kamar lewat atap tentu tidak ada yang tahu dan kalau dia dapat membunuh kaisar dengan tangannya sendiri, tentu pahalanya besar dan Pangeran Tao Seng akan memberi hadiah yang besar.

Akan tetapi, begitu kakinya menginjak atap, terdengar bentakan yang mengejutkan hatinya.

"Berhenti, siapa engkau?"

Kiranya Keng Han sudah berdiri di depannyai Dia segera mengenal Keng Han, akan tetapi pemuda itu sendiri tidak mengenalnya karena kakek Itu memakai samaran sebagai seorang perajurit biasa.

Melihat Keng Han menghadang dengan pedang bengkok di tangan, Tung-hai Lo-mo segera menggerakkan tombaknya.

Sebagai perajurit tentu saja dia tidak mungkin membawa-bawa dayungnya, maka dia memilih memegang tombak daripada lain senjata karena tombak itu dapat dipergunakan sebagai senjata dayungnya.

Melihat perajurit itu menyerangnya dengan tombak, Keng Han menangkis dengan pedang bengkoknya.

"Tranggg....!

Keduanya terdorong mundur tiga langkah.

Keng Han terkejut.

Orang, yang dikirim ayahnya untuk membunuh kaisar ini ternyata lihai dan memiliki tenaga sinkang yang kuat!

Maka dia pun mengerahkan tenaganya dan segera mainkan pedangnya dengan ilmu silat Hong-in-bun-hoat.

Pedang itu menyambar-nyambar dengan gerakan aneh seperti mencorat-coret di udara membuat huruf-huruf, akan tetapi akibatnya hebat, Tung-hai Lo-mo segera terdesak mundur.

Datuk sesat ini berpikir bahwa kalau bertempur di atas, berbahaya baginya.

Selain atap itu licin dan miring, juga dia tidak mempunyai kawan.

Kalau di bawah terdapat selosin anak buah Pek-lian-pai dan ada pula Lam-hai Koai-jin.

Maka, dia membabatkan tombaknya menyerampang kedua kaki lawan.

Ketika Keng Han meloncat untuk menghindarkan sambaran tombak, kesempatan ini dipergunakan oleh Tung-hai Lomo untuk meloncat turun ke bawah!

Pembunuh jahat, engkau hendak lari ke mana?

bentak Keng Han dan dia pun meloncat ke bawah melakukan pengejaran.

Melihat Keng Han meloncat turun.

Tung-hai Lo-mo menggunakan tombaknya menyambut dengan tusukan yang cepat dan kuat sekali.

Akan tetapi Keng Han sudah waspada dan melihat lawannya menyambutnya dengan tusukan, dia pun memutar pedang bengkoknya untuk melindungi tubuhnya.

"Trang-tranggg...."

Bunga api berpercikan ketika kedua senjata itu bertemu dan mereka segera bertanding lagi dengan serunya.

Sementara itu, pertandingan antara Cu In melawan Lam-hai Koai-jin juga berlangsung seru.

Akan tetapi karena Cu In membantu para perajurit pengawal yang diserang oleh orang-orang Pek-lian-pai yang menyamar, Ia jadi terkeroyok dan ruyung di tangan Lam-hai Koai-jin membuatnya terdesak.

Akan tetapi dengan sabuk suteranya, gadis ini berhasil merobohkan lima orang anak buah Pek-lian-pai sehingga kini jumlah mereka tinggal tujuh orang lagi dan mereka itu dapat dilawan para perajurit pengawal yang tulen dan Cu In hanya menghadapi Lam-hai Koal-jin seorang saja!

Lam-hai Koai-jin adalah seorang datuk selatan yang gendut pendek.

Permainan ruyungnya menggiriskan.

Senjata berat itu dapat dia gerakkan dengan cepat sehingga mengeluarkan suara berdesing-desing.

Namun, lawannya adalah Cu In yang memiliki ginkang yang luar biasa.

Kecepatan gerakan Cu In mem-bingungkan Lam-hai Koai-jin.

Sabuk sutera putih yang dimainkan Cu In bagaikan kilat menyambar-nyambar, atau bagaikan seekor naga bermain di angkasa.

Ujungnya melecut dan menotok sehingga datuk gendut pendek itu seolah terkepung oleh belasan ujung sabuk yang menyerangnya secara bertubi-tubi.

Baik Tung-hai Lo-mo maupun Lam-hai Koai-jin kini maklum bahwa usaha mereka mengalami gangguan.

Apalagi kini berdatangan pasukan pengawal lain yang mendengar akan perkelahian itu dan mereka datang berbondong-bondong untuk membantu teman-teman mereka.

Melihat ini, Tung-hai Lo-mo berseru, Lari....!

Dia sendiri sudah meloncat jauh ke belakang untuk melarikan diri.

Lam-hai Koai-jin juga meloncat jauh mengikuti jejak kawannya.

Para anak buah mereka juga ingin lari, akan tetapi kini bantuan sudah datang dan mereka terkepung dengan ketat sehingga tak lama kemudian, dua belas orang anak buah Pek-lian-pai yang menyamar sebagai perajurit pengawal itu dapat dirobohkan.

Di antara mereka ada yang belum tewas dan hanya terluka, maka yang terluka lalu ditawan.

Pintu yang menuju ke kamar tidur kaisar terbuka dari dalam.

Dua orang thaikam muncul.

Mereka tadi mendengar suara ribut-ribut di luar kamar, maka mereka membuka pintu untuk melihat apa yang terjadi.

Kaisar pun sudah terjaga dari tidurnya dan memerintahkan thaikam untuk memeriksa keadaan di luar.

Para pembunuh menyamar sebagai perajurit pengawal datang menyerang, akan tetapi mereka semua sudah tertangkap!

Keng Han melapor kepada para thaikam dan mereka itu dapat melapor kepada Kaisar.

Siapa yang menyuruh kalian?

Hayo cepat katakan!

Keng Han membentak kepada empat orang penyerbu yang terluka dan sudah diikat kedua tangannya.

Akan tetapi empat orang itu diam saja tidak mau menjawab.

Katakan kalian dari golongan apa?

tanya lagi Keng Han.

Seorang di antara mereka kini mengangkat muka memandang kepada Keng Han dan menjawab singkat.

Kami anggauta Thian-li-pang!

Keng Han dan Cu In terkejut sekali.

Anggauta Thian-li-pang?

Mereka teringat kepada Han Li yang berada di rumah Pangeran Mahkota.

Gadis itu puteri ketua Thian-li-pang!

Mungkin mereka berbohong.

Kita undang Han Li ke sini untuk mengenali mereka.

kata Cu In dan Keng Han menyetujui.

Keadaan kini sudah aman.

Tidak mungkin ada pembunuh yang dapat masuk dari luar istana yang sudah dijaga ketat oleh pasukan.

Kalau tadi mereka kebobolan adalah karena para penjahat itu menyamar sebagai perajurit-perajurit pengawal istana.

"Benar, di sini sudah aman. Kita serahkan para perajurit untuk menjaga keamanan selanjutnya dan kita harus cepat pergi ke rumah Pangeran Mahkota. Siapa tahu mereka membutuhkan bantuan."

Kata Keng Han.

Keduanya lalu pergi meninggalkan istana.

Dari para penjaga di luar istana mereka mendapat kabar bahwa dua orang pembunuh yang lihai dan menyamar sebagai perajurit-perajurit itu telah berhasil lolos.

Mereka tidak mempedulikannya lagi.

Penjahat-penjahat itu pasti tidak berani masuk kembali ke istana, pikir mereka.

Dengan cepat mereka lalu menuju ke istana Pangeran Tao Kuang.

Di istana ini pun terjadi keributan.

Menjelang tengah malam, ada bayangan tiga belas orang memasuki istana lewat pagar tembok dibelakang taman.

Mereka segera ketahuan karena penjagaan sudah diatur dengan ketat dan terjadi pertempuran antara tiga belas orang itu dengan para perajurit.

Akan tetapi tiga belas orang itu ternyata lihai, terutama sekali seorang di antara mereka seorang kakek yang memegang pedang.

Banyak Perajurit penjaga roboh di tangan kakek ini yang bukan lain adalah Swat-hai Lo-kwi.

Akan tetapi Pangeran Tao Kuang segera dilapori penjaga dan Tao Kwi Hong bersama ibunya Liang Siok Cu, ditemani pula oleh Han Li dan Kai-ong Lu Tong Ki dengan cepat pergi ke tempat di mana terjadi pertempuran, yaitu di taman bunga.

Sedangkan Pangeran Tao Kuang sendiri yang nyawanya terancam, telah masuk ke dalam kamar rahasia yang tidak akan dapat ditemukan orang luar.

Swat-hai Lo-kwi mengamuk dan dia mencari kesempatan untuk menerobos masuk ke dalam istana itu mencari Pangeran Tao Kuang.

Pedangnya membabat ke sana sini.

"Tranggg....!"

Tiba-tiba pedangnya bertemu dengan sebatang tongkat bambu.

Biarpun hanya tongkat bambu, ternyata mampu membuat pedang di tangan Swat-hai Lo-kwi terpental dan tangannya terasa panas.

Datuk sesat ini segera memandang penuh perhatian kepada penangkisnya dan ternyata yang menangkis pedangnya adalah seorang kakek tinggi kurus berpakaian tambal-tambalan dan memegang sebatang tongkat bambu, berdiri sambil tertawa bergelak dan mengelus jenggotnya dengan tangan kiri.

"Ha-ha-ha-ha-ha! Kiranya Swat-hai Lo-kwi yang memimpin penyerbuan ini. Tidak aneh kalau Swat-hai Lo-kwi dapat diperalat kaum pemberontak, tentu dengan janji pahala yang muluk-muluk!"

Kata Kai-ong Lu Tong Ki.

"Kai-ong, jangan mencampuri urusanku. Apakah engkau telah menjadi anjing peliharaan penjajah Mancu?"

"Heh-heh-heh, tidak perlu engkau berpura-pura bersikap sebagai seorang patriot yang mencinta tanah air dan bangsa. Aku, Kai-ong, sudah lama mengenal isi perutmu!"

"Keparat, mampuslah engkau!"

Swathai Lo-kwi menyerang dengan tangan kirinya, memukul dengan telapak tangan terbuka ke arah dada Kai-ong.

Pukulan ini bukan sembarang serangan, melainkan serangan maut karena tangan itu terisi tenaga sakti yang amat dingin.

"Haiiiiit....,!"

Swat-hai Lo-kwi mengeluarkan tenaga saktinya sambil memekik dahsyat.

"Hemmm....!"

Kai-ong juga mengerahkan tangan kirinya, menyambut pukulan tangan terbuka dengan tangannya sendiri.

"Desssss....!"

Kedua tangan bertemu dengan dahsyatnya.

Akibatnya, Swat-hai Lo-kwi terdorong mundur sampai tiga langkah sedangkan Kai-ong yang bergoyang-goyang saja tubuhnya akan tetapi dapat bertahan sehingga tidak sampai terdorong mundur.

"Haiiiiit!"

Kembali Swat-hai Lo-kwi memekik dan kini pedangnya menyambar.

Kai-ong juga menggerakkan tongkat bambunya dan kedua orang tua ini sudah saling serang dengan hebatnya.

Gerakan mereka tidak cepat, bahkan nampak lamban, akan tetapi setiap gerakan mengandung tenaga sakti yang dahsyat, Menyambar-nyambar bahkan terasa oleh mereka yang berada dalam jarak tiga meter dari mereka.

Sementara itu, Kwi Hong dan ibunya Liang Siok Cu, dibantu oleh Han Li, sudah meng-amuk menghadapi dua belas orang anak buah Pat-kwa-pai yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi.

Para perajurit penjaga merasa lega dengan munculnya tiga orang wanita ini dan mereka segera membantu dengan pengeroyokan.

Liang Siok Cu menggunakan senjata sebuah tongkat kecil.

Ia adalah seorang ahli tiam-hiat-to (menotok jalan darah) dan tongkatnya merupakan senjata andalannya karena tongkat itu menyambar-nyambar mengarah jalan darah para lawannya.

Tak lama kemudian, dua orang anak buah Pat-kwa-pai sudah roboh tak berkutik terkena totokan tongkat nyonya selir Pangeran Mahkota itu.

Kwi Hong mengamuk lebih hebat lagi.

Dengan pedangnya ia mainkan Ngo-heng Sin-kiam dan lawan-lawan-nya menjadi repot melindungi dirinya dari sambaran pedang yang ampuh itu.

Tak lama kemudian tiga orang lawan telah dapat dirobohkan oleh pedang di tangan Kwi Hong.

Han Li memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi dibandingkan Kwi Hong atau ibunya.

Ia telah mewarisi banyak ilmu silat dari ayah dan ibunya.

Akan tetapi menghadapi para penyerbu ini, ia menyerang mereka dengan setengah hati.

Bahkan ia tidak mencabut pedangnya, melainkan hanya membagi-bagi tamparan dan tendangan saja.

Namun, biarpun ia tidak bermaksud membunuh orang-orang yang menentang penjajah, tamparan, dan tenda-ngan sudah cukup membuat empat orang terpelanting roboh.

Para perajurit mengeroyok tiga orang sisa para penyerbu dan mereka pun roboh menjadi korban senjata para perajurit.

Sekarang tinggal Swat-hai Lo-kwi seorang yang masih bertanding melawan Kai-ong.

Ketika Kwi Hong hendak membantu kakek itu, lengannya dipegang Han Li.

Jangan, Suhu tidak memerlukan bantuan.

Dia tidak akan kalah.

Mendengar ucapan Han Li itu, Kwi Hong menghentikan gerakannya.

Gadis yang suka bertualang di dunia kang-ouw ini mengerti bahwa banyak tokoh besar persilatan tidak suka dibantu apabila sedang ber-tanding satu lawan satu, tidak mau bersikap curang melakukan pengeroyokan.

Maka, membantunya dapat juga diartikan penghinaan.

Ia pun berdiri menonton pertandingan yang hebat itu.

Akan tetapi sekarang ternyata betapa perlahan-lahan Swat-hai Lo-kwi terdesak hebat oleh tongkat Kai-ong.

Mereka bergerak cepat sekali.

Yang nampak hanya dua gulungan sinar pedang dan sinar tongkat.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring "tranggg....!"

Dan sesosok tubuh mencelat keluar dari medan pertandingan.

Yang meloncat itu adalah Swat-hai Lokwi dan dari bibir sebelah kiri mengalir darah dan tangannya menekan dadanya.

Jelas bahwa dia telah terkena tongkat itu pada dadanya sehingga menderita luka dalam.

"Sekarang aku mengaku kalah, Kai-ong. Akan tetapi akan datang saatnya aku membalas kekalahan ini!"

Dan dia pun sudah melompat jauh, melarikan diri dalam kegelapan malam.

Setelah semua musuh tidak dapat melakukan gerakan lagi, dua belas orang itu ada yang tewas dan ada yang hanya terluka, Pangeran Tao Kuang lalu diberi tahu.

Pangeran itu keluar dari tempat persembunyiannya.

Dia memerintahkan pengawal untuk menyeret seorang di antara mereka yang terluka dan dibawa ke depan Pangeran Tao Kuang.

"Kamu datang dari perkumpulan mana?"

"Dari Thian-li-pang!"

Jawab orang itu dengan lantang.

"Bohong!"

Bentak Yo Han Li sambil menghampiri orang itu.

"Kalau engkau dari Thian-li-pang, coba katakan siapa aku ini!"

Orang itu memandang kepada Han Li dan tidak menjawab.

"Hayo katakan, siapa aku!"

Kembali Han Li membentak dan kini gadis yang marah itu telah mencabut pedangnya dan menodongkan ke dada orang itu.

Orang itu menjadi pucat wajahnya, lalu menggeleng kepalanya dan menjawab.

"Tidak.... tidak tahu...."

"Nah, Paman Pangeran, jelas bahwa dia berbohong ketika mengaku sebagai anggauta Thian-li-pang."

Setelah berkata demikian, pedangnya membuat gerakan.

"Bret-bret-bret....!"

Baju bagian dada orang itu terbuka sehingga di bawah sinar lampu dapat terlihat jelas di dada itu ada cacahan gambar pat-kwa (segi delapan).

"Dia dari Pat-kwa-pai!"

Seru Kwi Hong yang mengenal tanda gambar itu. Han Li mengangguk.

"Benar. Aku mendengar bahwa di Pat-kwa-pai dan Pek-lian-pai terdapat pasukan berani mati. Sampai mati pun mereka tidak mau mengaku bahwa mereka murid Pat-kwa-pai, maka sengaja tadi dia menyebut Thian-li-pang untuk mengalihkan kesalahan kepada Thian-li-pang."

Pangeran Tao Kuang mengangguk-angguk dan memerintahkan para pengawal untuk menyingkirkan mayat-mayat itu dan untuk menawan mereka yang masih hidup.

Pada saat itulah muncul Keng Han dan Cu In.

Melihat pangeran berada di taman bersama Kwi Hong, ibunya dan Han Li bersama gurunya, juga melihat banyak orang menggeletak berserakan di tempat itu mereka dapat menduga bahwa penyerangan terhadap diri Pangeran Mahkota juga telah dapat digagalkan.

"Mereka mengaku dari perkumpulan apa?"

Tanya Keng Han.

"Ada yang mengaku dari Thian-li-pang, akan tetapi nona Yo Han Li telah membuktikan bahwa mereka adalah anak buah Pat-kwa-pai. Lihat tanda di dadanya itu."

Keng Han dan Cu In melihat tanda gambar pada dada orang itu dan Cu In mengangguk-angguk.

"Sudah kami duga! Akan tetapi kami tidak menduga bahwa ada tanda gambar perkumpulan mereka di dada. Orang-orang yang menyerbu ke istana juga mengaku dari Thian-li-pang."

"Ah, kita harus dapat membuktikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang."

Kata Han Li.

"Aku harus menjadi saksi di sana. Untuk itulah kami datang ke sini. Selain untuk melihat keadaan di sini juga untuk menjemput engkau adik Han Li. Hanya engkau yang dapat memastikan bahwa mereka bukan dari Thian-li-pang. Baik, mari kita berangkat"

Kata Han Li tegas.

Gadis ini tentu saja ingin membersihkan nama perkumpulannya dari fitnah yang dilontarkan para calon pembunuh kaisar dan pangeran itu.

Setelah mereka tiba di istana, seorang penyerbu yang terluka yang tadi mengaku dari Thian-li-pang, dibawa menghadap Han Li yang telah diterima menghadap Kaisar sendiri.

Orang itu didorong dan dipaksa berlutut di depan Kaisar.

Han Li lalu menghampiri orang itu dan bertanya, Engkau dari perkumpulan apa?

Orang itu menjawab tanpa ragu-ragu lagi.

Dari Thian-li-pang!

Han Li lalu bertanya sambil mencabut pedangnya, ditodongkan ke arah dada orang itu.

Kalau engkau dari Thian-lipang, katakan siapakah aku?

Orang itu berdongak memandang wajah Han Li.

Akan tetapi dia tidak mengenalnya dan menggeleng kepala sambil berkata, Saya tidak tahu.

Han Li memberi hormat kepada Kaisar.

Nah, Yang Mulia.

Orang ini jelas berbohong.

Kalau dia orang Thian-li-pang pasti dia mengenal siapa hamba.

Hamba adalah puteri ketua Thian-li-pang.

Setelah berkata demikian, pedangnya bergerak beberapa kali dan baju di bagian dada tawanan itu pun robek-robek.

Semua orang memandang dan melihat cacahan gambar berbentuk bunga teratai di dada itu.

Dia seorang anggauta Pek-lian-kauw, Yang Mulia.

kata Han Li.

Benar, dia anggauta Pek-lian-kauw!

kata Cu In.

Sekarang bagi mereka jelaslah bahwa selosin anak buah yang menyerbu istana adalah anak buah Pek-lian-pai sedangkan selosin yang menyerbu istana pangeran adalah anggauta Pat-kwa-pai!

Maka terhapuslah dugaan bahwa Thian-li-pang yang mengirim orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota.

Akan tetapi sudah terlanjur tersiar berita yang datangnya dari para pengawal yang menjadi saksi ketika tawanan-tawanan itu mengaku bahwa mereka orang Thian-li-pang sehingga umum berpendapat bahwa Thian-li-pang sudah mulai dengan pemberontakannya dan mengutus orang-orangnya untuk membunuh kaisar dan pangeran mahkota.

Setelah membuka rahasia para penyerbu itu di depan Kaisar sendiri, Keng Han dan Cu In berpamit kepada kaisar.

Kaisar hendak memberi hadiah kepada mereka dan memberi anugerah pangkat, namun keduanya dengan hormat dan halus menolak-nya.

Mereka keluar dari istana dan waktunya sudah jauh lewat tengah malam.

Mendadak mereka melihat panah api diluncurkan orang di udara.

"Apa itu?"

Tanya Cu In.

"Panah api!"

"Tentu menjadi suatu tanda yang dilakukan orang di dalam kota raja untuk mereka yang berada di luar kota raja. Aku khawatir penyerbuan akan dimulai."

"Kenapa khawatir? Bukankah menurut Pangeran Mahkota, semua itu telah di aturnya dengan baik? Kita melihat saja. Kalau memang mereka menyerbu dan kota raja terancam, kita berdua membantu."

"Kau benar, Cu In. Biarpun yang menggerakkan semua ini ayah kandungku sendiri, akan tetapi terpaksa aku harus menentangnya. Dia memberontak untuk dapat merampas tahta kerajaan dengan cita-cita menjadi kaisar! Andaikata yang memberontak itu para pejuang bangsa Han, biarpun aku keturunan Mancu dan Khitan, aku tidak akan membantu siapa-siapa."

Cu In mengangguk.

"Aku setuju sekali dengan pendapatmu itu, Keng Han. pernberontak dilakukan oleh orang-orang yang berambisi mengangkat diri sendiri menjadi penguasa, dan mereka telah mengnggunakan tokoh-tokoh sesat dan kumpulan-perkumpulan jahat seperti Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai. Kalau Thian-li-Pai yang bergerak, tentu bukan menggunakan cara ini dan di belakangnya tentu mendapat dukungan rakyat jelata. Mari kita melihat lagi ke istana Pangeran Mahkota untuk mendapat petunjuk dari pangeran."

Keduanya berlari cepat menuju ke istana Pangeran Tao Kuang.

Ternyata mereka semua tidak beristirahat melainkan berkumpul di ruangan depan, juga menanti sesuatu yang pasti akan terjadi.

"Kami melihat panah api diluncurkan ke udara."

Kata Keng Han setelah mereka berdua menghadap sang pangeran.

"Kami juga sudah mengetahui. Tentu itu merupakan tanda bagi pemberontak yang berada di dalam kota raja. Semua telah diatur oleh The Ciang-kun. Dia telah mengetahui semua siasat pemberontak dan sudah siap siaga menghadapi pemberontak, baik di dalam kota raja maupun yang berada di luar."

Terkejut Cu In mendengar bahwa yang memimpin pertahanan adalah The-Ciangkun.

"Apakah yang dimaksutkan itu adalah ciangkun yang bernama The Sun Tek?"

Tanyanya.

"Benar,"

Jawab Pangeran Tao Kuang.

"Dia adalah seorang panglima besar yang pandai ilmu silat dan ilmu perang, dan juga setia. Apakah engkau mengenalnya, Nona?"

"Saya mengenalnya dengan baik, Pangeran."

Kata Cu In.

"Bagus, kalau begitu kalian pergilah membantunya. Nona Yo Han Li dan Kai-ong biar tetap di sini untuk menjaga kemungkinan penyerbuan mata-mata musuh."

"Baik,"

Kata Keng Han dan Cu In. Mereka lalu keluar dari istana itu.

"Cu In, benarkah engkau mengenal Panglima The itu?"

"Tentu saja mengenalnya. Dia itu ayah kandungku."

Kata Cu In terus terang.

"Ehhh....?"

Keng Han menghentikan langkahnya dan memandang Cu In.

Wajah bercadar itu hanya nampak garis-garisnya saja dalam malam yang hanya diterangi bintang-bintang itu.

"Bukankah engkau pernah bercerita kepadaku bahwa ayah ibumu sudah mati terbunuh musuh, dan engkau mencari musuh itu?"

"Memang benar, akan tetapi belum waktunya aku menceritakan kepadamu. Lihat, di sana sudah terjadi pertempuran!"

Mereka lari ke tempat itu dan ternyata yang bertempur itu adalah pasukan anak buah Panglima Ciu yang mempertahankan benteng mereka yang sudah dikepung pasukan anak buah Panglima The.

Sementara itu, tempat persembunyian pasukan Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai di luar kota raja juga sudah ditemukan para penyelidik dan begitu ada tanda panah api, sebagian pasukan Panglima The yang sudah mengepung tempat itu bertindak menyerbu.

Tiba-tiba terdengar suara lantang.

"Panglima Ciu! Di sini Panglima The dengan semua pasukannya yang kuat. Lebih baik engkau menyerah karena semua persekutuanmu dengan pihak pemberontak telah kami ketahui. Heiii, para perajurit dalam benteng! Kalau kalian tidak menyerah, tentu kalian semua akan mati ditumpas pasukan kami!"

Mendengar seruan ini, banyak pasukan dari benteng berlari keluar tanpa membawa senjata dan mengacungkan kedua tangan ke atas.

Mereka membiarkan diri mereka ditangkap dan ditawan.

Panglima Ciu yang maklum bahwa terlibatnya dalam persekutuan pemberontak itu tentu tidak akan mendapat pengampunan, Dengan nekat memimpin anak buahnya yang masih setia untuk melakukan perlawanan.

Akan tetapi karena kalah banyak jumlahnya juga para anak buahnya sudah kehilangan semangat, dengan mudah pasukannya dapat dihancurkan dan Panglima Ciu sendiri dengan pedang di tangan menyerang Panglima The.

Cu In dan Keng Han melihat ini dan mereka tidak memberi bantuan karena melihat bahwa pasukan Panglima The jauh lebih kuat dari pada musuh.

Juga ketika Panglima Ciu bertanding melawan Panglima The, Cu In hanya menonton tidak membantu ayah kandungnya.

Memang tidak perlu dibantu karena belum sampai lima puluh jurus, pedangnya sudah menyambar dan memeng-gal leher Panglima Ciu.

Seorang pembantunya mengangkat kepala Panglima Ciu tinggi-tinggi dengan sebatang tombak dan berseru.

"Hentikan perlawanan kalian. Panglima kalian telah tewas!"

Mendengar dan melihat ini para perajurit hilang nyalinya.

Mereka membuang senjata dan menjatuhkan diri berlutut tanda menyerah.

Sementara itu, pertempuran yang terjadi di luar kota raja juga tidak berlangsung lama.

Jumlah para pemberontak itu jauh lebih kecil dibandingkan pasukan pemerintah.

Biarpun di antara mereka terdapat Gulam Sang yang dibantu Liong Siok Hwa dan beberapa orang tokoh Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, namun karena dikeroyok banyak sekali orang, akhirnya Gulam Sang mengajak Liong Siok Hwa untuk melarikan diri!

Demikianlah watak seorang yang licik.

Demi memperoleh kedudukan tinggi dia mau melakukan perbuatan apa pun, akan tetapi begitu melihat usahanya gagal, dia lebih dulu melarikan diri.

Gulam Sang mengajak Siok Hwa melarikan diri ke Bu-tong-pai di mana dia menyamar sebagai Thian It Tosu, ketua Bu-tong-pai yang tua itu.

Liong Siok Hwa yang datang bersama Gulam Sang itu, diterima oleh para tokoh Bu-tong-pai dengan hormat.

Bahkan setelah Thian It Tosu muncul keluar dari tempat pertapaannya, dia mengumumkan kepada para anggauta bahwa mulai hari itu, Liong Siok Hwa diterima menjadi muridnya.

Sebagai murid Thian It Tosu, tentu saja Siok Hwa boleh tinggal di perkampungan Bu-tong-pai sesuka hatinya.

Beberapa hari kemudian Bu-tong-pai kedatangan banyak tamu, antara lain Ji Wan-gwe, Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lomo, Lam-hai Koai-jin dan banyak orang lagi.

Mereka semua adalah pelarian, setelah kalah dan gagal dalam usaha mereka menyerbu istana dan membunuh kaisar dan putera mahkota.

Thiat It Tosu menerima.

mereka dengan senang hati dan mereka menjadi tamu-tamu kehormatan Bu-tong-pai.

Mereka semua pergi ke Bu-tong-pai setelah kalah dan mereka berkumpul di situ pertama kali untuk menyembunyikan diri, kedua untuk dapat mengadakan pertemuan dan berunding.

Dalam perundingan mereka, Ji Wangwe atau Pangeran Tao Seng menyesalkan para pembantunya yang ternyata sama sekali gagal dalam tugas mereka.

"Akan tetapi semua kegagalan itu bukan kesalahan kami, melainkan karena rahasia kita telah bocor dan pihak musuh mengetahui akan semua rencana kita. Aku yakin bahwa yang mengkhianati kita adalah Tao Keng Han!"

Tung-hai Lo-mo mengangguk dan berkata.

"Memang benar. Kalau tidak ada pemuda itu tentu kami telah berhasil membunuh Kaisar! Pemuda itu telah mengkhianati Pangeran, ayahnya sendiri."

Pangeran Tao Seng mengepal tinjunya.

"Kalau tahu akan begini jadinya ketika dia tertawan dulu, sudah kubunuh dia!"

"Tidak ada gunanya Ayah marah-marah. Kita masih mempunyai rencana kedua. Kalau rencana ini berhasil, keadaan kita menjadi semakin kuat sehingga kita akan mampu mengobarkan pemberontakan."

"Hemmm, rencana apakah itu, Kongcu?"

Tanya Swat-hai Lo-kwi dan para tokoh lain yang juga ingin mengetahuinya.

"Begini,"

Kata Pangeran Tao Seng.

"Bu-tong-pai telah sepenuhnya kita kuasai. Dengan membonceng nama Bu-tong-pai kita dapat mengumumkan bahwa Bu-tongpai mengadakan pemilihan bengcu (pemimpin rakyat) baru. Tentu saja harus diusahakan agar supaya GuLam Sang yang akan menang dan menjadi bengcu baru. Nah, kalau kedudukan bengcu sudah di tangan kita, kiranya akan mudah bagi kita untuk menggerakkan semua orang di dunia kang-ouw untuk mulai dengan gerakan pemberontakan yang besar."

"Pikiran yang bagus! Akan tetapi bagaimana dengan bengcu yang sekarang?"

Tanya Tung-hai Lo-mo.

"Dalam pemilihan bengcu sepuluh tahun yang lalu, sebagian besar orang memilih Pendekar Tangan Sakti Yo Han yang kini menjadi ketua Thian-li-pang. Akan tetapi dia tidak bersedia menjadi ketua. Maka pilihan lalu dijatuhkan kepada Bhe Seng Kok, seorang pendekar Siauw-lim-pai. Nah, kalau kita hendak merampas kedudukan bengcu, lebih dulu kita harus singkirkan Bhe Seng Kok ini. Kalau bengcu yang lama sudah tewas, tentu harus diadakan pemilihan bengcu baru. Dan Bu-tong-pai yang akan mempelopori pemilihan itu."

Kata Gulam Sang. Semua orang memandang pemuda Tibet ini dengan kagum. Dia agaknya tahu akan segala peristiwa di dunia persilatan.

"Akan tetapi siapa yang akan menyingkirkan ketua Bhe Seng Kok? Aku pun mendengar bahwa murid Siauw-lim-pai itu tangguh sekali!"

"Aku yang akan melakukannya, dengan bantuan Tung-hai Lo-mo. Kalau kita berdua yang menghadapinya, aku tanggung dia akan tewas!"

Kata pula Gulam Sang. Pangeran Tao Seng mengerutkan alisnya.

"Murid Siauw-lim-pai? Ah, kalau sampai Siauw-lim-pai mengetahuinya dan memusuhi kita, akan celakalah. Kekuatan mereka besar sekali dan nama mereka sudah terkenal sehingga lain-lain aliran tentu akan berpihak kepada Siauw-lim-pai."

"Harap Paduka tidak khawatir. Pembunuhan itu harus dilakukan dengan menggelap dan menyamar sehingga kalau pun ada yang melihatnya mereka tentu tidak akan mengenal kami. Kami membunuh dengan alasan sebagai balas dendam musuh lama. Sebagai seorang pendekar, kalau sampai Bhe Seng Kok terbunuh oleh orang-orang yang mendendam, tentu tidak mengherankan semua orang dan hal itu wajar saja terjadi."

Demikian kata Gulam Sang.

Mendengar ini, Pangeran Tao Seng menjadi lega hatinya dan dia menyerahkan saja urusan itu kepada anak angkat yang sudah dipercaya sepenuhnya itu.

Dia tidak tahu bahwa kalau Gulam Sang masih setia kepadanya padahal perebutan tahta tidak berhasil, Hal ini adalah karena Gulam Sang masih, membutuhkan harta kekayaan untuk membiayai rencananya.

Setelah selesai perundingan itu, Swat-hai Lo-kwi dan Lam-hai Koai-jin berpamit untuk pulang ke tempat masing-masing dengan janji bahwa kelak pada pemilihan bengcu mereka pasti akan hadir dan siap membantu Gulam Sang.

Tung-hai Lo-mo tinggal di situ untuk membantu Gulam Sang.

Keng Han meninggalkan istana dan kota raja bersama Cu In.

Biarpun tidak berjanji keduanya ternyata melakukan perjalanan bersama dan setelah mereka berada jauh dari kota raja, Keng Han menunda langkahnya dan berhenti.

Melihat ini Cu In juga berhenti melangkah.

Keduanya saling pandang dan Keng Han bertanya, suaranya mengandung kekhawatiran kalau-kalau gadis itu akan meninggalkan dia lagi.

"Cu In, ke manakah tujuan perjalananmu kali ini?"

Cu In tidak menjawab, menengok ke depan dan kanan kiri seperti orang mencari jawabannya dari pohon-pohon dan sawah ladang yang berada di kanan kirinya.

"Dan engkau sendiri, Keng Han. Engkau hendak kemanakah?"

Akhirnya ia bertanya kembali tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu. Keng Han menghela napas panjang.

"Tujuan perjalananku meninggalkan Khitan adalah untuk mencari ayah kandungku dan mengajaknya pulang karena ibu sangat merindukannya. Akan tetapi kenyataannya, ayahku seorang ambisius yang memberontak dan melakukan perbuatan jahat dengan usaha pembunuhan, pembunuhan itu. Bahkan sekarang ayah telah menjadi seorang pelarian dan buruan pemerintah, dan aku tidak tahu dia berada di mana. Aku tidak tahu ke mana harus pergi, dan aku akan mengikuti saja ke mana engkau pergi, Cu In."

Gadis itu menghela napas panjang, lalu duduk di atas sebuah batu di tepi jalan. Keng Han juga mengambil tempat duduk di depannya.

"Aku sendiri belum tahu ke mana aku harus pergi?"

Kata Cu In.

"Cu In, bukankah engkau mempunyai ayah dan ibu? Engkau berjanji akan menceritakan kepadaku tentang pengalamanmu. Dahulu engkau mengatakan bahwa engkau yatim piatu dan engkau hendak membalas dendam kepada pembunuh orang tuamu. Akan tetapi kemudian engkau mengatakan bahwa engkau telah bertemu dengan ayah bundamu. Bagaimanakah ini?"

Cu In menghela napas panjang lagi.

Kalau bukan kepada Keng Han, ia segan menceritakan persoalan ayah ibunya.

Akan tetapi ia amat tertarik dan percaya kepada Keng Han, maka ia merasa tidak tega untuk berbohong.

"Sejak kecil sekali aku dipelihara subo (ibu guru) dan subo selalu mengatakan bahwa ayah ibuku telah terbunuh orang. Setelah aku dewasa, subo mengatakan kepadaku bahwa pembunuh ayah bundaku adalah The Sun Tek yang tinggal di kota raja."

"Ahhh....!"

Keng Han berseru heran.

"Kau maksudkan The-ciangkun yang memimpin pembasmian pemberontak itu?"

"Benar, dialah orangnya. Aku dapat mencarinya di kota raja dan aku sudah siap untuk membunuhnya, akan tetapi The-ciangkun menceritakan tentang hubungannya dengan Ang Hwa Nio-nio. Ternyata bahwa suboku adalah bekas kekasih The Sun Tek, dan bahwa aku adalah puteri mereka berdua! Muncul guruku atau ibuku yang memaksa aku harus membunuh The Sun Tek. Karena aku sudah tahu bahwa aku anak The-ciangkun, maka aku tidak mau melakukannya. Subo marah dan hendak membunuhku, akan tetapi dicegah ayahku. Hatiku demikian sakit rasanya. Kiranya ibuku mendendam sedemikian hebatnya kepada ayahku sehingga ia mendidik aku sebagai muridnya hanya dengan maksud agar setelah dewasa aku akan membunuh ayahku sendiri! Pembalasan dendam yang amat keji. Karena hatiku sakit, aku lalu meninggalkan mereka."

Keng Han mendengarkan penuh perhatian, menghela napas dan berulang kali menggeleng kepalanya.

"Dan bagaimana engkau dapat terlibat dalam keluarga Putera Mahkota?"

"Aku bertemu dengan adik Yo Han Li yang sekereta dengan Kwi Hong. Ia memanggilku dan mereka membujuk aku agar suka berkunjung ke rumah Kwi Hong. Demikianlah, maka aku berada di sana ketika engkau hendak membunuh Pangeran Mahkota."

Kembali Keng Han menghela napas.

"Nasib kita hampir sama, Cu In. Engkau disuruh membunuh ayahmu oleh ibumu sendiri, dan aku hampir saja membunuh pangeran yang tidak bersalah. Engkau mendapat kenyataan betapa kejam ibumu, dan aku pun mendapat kenyataan betapa kejam ayahku. Hemmm, sekarang aku mulai mengerti mengapa Bi-kiam Nio-cu begitu membenci pria dan kalau ada pria mencintanya harus dibunuhnya. Tentu engkau pun demikian, bukan?"

"Memang suboku atau ibuku selalu mendidik kami agar membenci kaum pria. Dikatakannya bahwa laki-laki itu semua palsu dan bohong, tukang bujuk rayu yang berbahaya, maka kami diharuskan menjauhkan diri dari laki-laki dan kalau ada laki-laki yang menggoda, harus dibunuh! Akan tetapi semenjak aku.... bertemu denganmu, pandanganku sudah berubah. Seperti juga wanita, laki-laki itu ada yang jahat dan ada yang baik. Apalagi setelah aku mengetahui mengapa ibu demikian membenci pria, aku tahu bahwa sebabnya hanya karena ia sakit hati dan dendam kepada seorang pria."

"Akan tetapi, bagaimana ibumu dahulu sampai berpisah dari The-ciangkun?"

"Ayahku dilarang orang tuanya mengambil ibuku seorang wanita kang-ouw sebagai isteri, dan dia sudah ditunangkan dengan wanita lain, seorang gadis bangsawan. Ayah membujuk ibu agar suka menjadi selir, akan tetapi ibu tidak mau dan mereka berpisah ketika ibuku sudah mengandung aku tiga bulan."

Keng Han merasa terharu dan ikut bersedih akan nasib gadis ini.

"Ah, sekarang aku mengerti pula mengapa engkau menutupi mukamu dengan cadar. Tentu agar tidak terlihat pria sehingga kalau ada yang melihat dan menggodamu engkau akan terpaksa membunuhnya?"

Cu In mengangguk membenarkan. Pada saat itu terdengar seruan orang.

"Cu In....! Engkau di sini? Aku mencarimu ke mana-mana, kiranya engkau berada di sini. Sungguh aku girang sekali dapat menemukan anakku di sini!"

Keng Han dan Cu In menoleh dan ternyata yang mengeluarkan ucapan itu bukan lain adalah Panglima The Sun Tek!

Cu In bangkit berdiri dan Keng Han juga bangkit berdiri.

"Engkau tentu pemuda bernama Tao Keng Han, aku sudah mendengar banyak tentang dirimu dan aku kagum sekali, orang muda."

Keng Han memberi hormat pula.

"Sebaliknya saya pun mendengar bahwa berkat pimpinan Paman maka pemberontak dapat diruntuhkan."

"Dan ada urusan apakah engkau mencariku, Ciangkun?"

Tanya Cu In, suaranya dingin.

"Ah, Cu In. Engkau adalah puteriku. Aku ayah kandungmu! Tentu saja aku mencarimu."

"Ibuku sendiri tidak mengakui aku sebagai anaknya, maka ayahku juga sebaiknya demikian. Biarlah aku menganggap diriku ini tidak mempunyai ayah dan ibu lagi...."

Dalam suaranya terkandung isak tangis.

"Cu In, harap engkau tidak berpendirian seperti itu. Ayahmu adalah seorang yang terhormat, gagah dan terpandang. Dan dia sudah bersusah payah mencarimu. Aku sendiri, kalau ayahku bersikap sebaik ayahmu, tentu akan menyambutnya dengan bahagia sekali,"

Kata Keng Han membujuk.

"Akan tetapi apa artinya seorang ayah bagiku, tanpa seorang ibu? Ibuku memusuhi ayah, apakah aku harus mengkhianati ibuku?"

Pertanyaan Cu In ini ditujukan kepada ayahnya.

"Cu In, ketahuilah bahwa ibumu bersedia menghabiskan sisa hidupnya bersamaku, akan tetapi dengan satu syarat bahwa aku harus dapat mengajakmu pulang menemuinya. Karena itu, demi kebahagiaan kita, marilah kita pergi mengunjungi ibumu di Beng-san."

"Ah, itu bagus sekali! Aku ikut merasa girang, Cu In. Aku mau menemanimu ke sana.

"Sebaiknya kita semua ke sana,"

Kata The Sun Tek.

"Kai-ong dan muridnya juga sudah berangkat. Ketahuilah bahwa Bu-tong-pai mengundang semua orang kang-ouw untuk datang ke sana untuk mengadakan pemilihan bengcu baru."

"Bengcu baru?"

Tanya Keng Han heran.

"Lalu ke mana perginya bengcu yang lama?"

"Entahlah, itu pun menjadi pertanyaan dalam hatiku. Beng-san tidak jauh dari Bu-tong-san. Setelah aku dapat memboyong isteriku, kita semua dapat singgah di Bu-tong-san untuk menghadiri pertemuan besar itu dan di sana tentu akan dapat terjawab mengapa diadakan pemilihan bengcu baru dan ke mana perginya bengcu yang lama. Bukankah yang menjadi bengcu adalah Bhe Seng Kok, tokoh Siauw-lim-pai?"

"Benar, Paman. Saya pun mendengar bahwa bengcu yang sekarang bernama Bhe Seng Kok."

"Kalau begitu, mari kita berangkat, Cu In. Kita kunjungi ibumu dan aku akan memboyongnya ke kota raja. Dari sana kita sekalian pergi ke Bu-tong-pai untuk melihat pemilihan bengcu baru."

Akhirnya setelah dibujuk oleh Keng Han, Cu In mau juga pergi bersama ayahnya dan Keng Han.

Mereka bertiga melakukan perjalanan ke Beng-san dan Cu In menjadi penunjuk jalan.

Dan selama dalam perjalanan ini, The Sun Tek mengerti dari sikap dan kata-kata Keng Han dan Cu In bahwa kedua orang muda ini saling menaruh hati!

Akan tetapi dia diam-diam merasa girang karena diketahuinya bahwa Keng Han seorang pemuda yang baik sekali, walaupun dia itu putera Pangeran Tao Seng yang memberontak.

Bhe Seng Kok adalah seorang pria berusia empat puluh lima tahun dan tinggal di kota Cian-an.

Sepuluh tahun yang lalu, ketika diadakan pemilihan bengcu, dia juga hadir.

Tadinya semua orang memilih dan menunjuk Pendekar Sakti Yo Han untuk menjadi ketua baru, akan tetapi Yo Han yang sudah menjadi ketua Thian-li-pang menolak.

Kemudian atas usul Yo Han yang mengenal baik Bhe Seng Kok, pendekar Siauw-lim-pai inilah yang dipilih menjadi bengcu.

Bhe Seng Kok menerimanya dan sejak itu dialah yang menjadi bengcu.

Tugas seorang bengcu adalah mengepalai seluruh dunia kang-ouw dan kalau terjadi bentrokan antara orang kang-ouw, bengcu inilah yang akan menyelesaikannya.

Akan tetapi ketika terjadi perang antara pemberontak dan pemerintah, dia sama sekali tidak mau mencampurinya.

Biarpun banyak anggauta kang-ouw yang terlibat, akan tetapi Bhe Seng Kok menganggap itu urusan pemerintah dan dia tidak mau melibatkan diri, hanya mendengar laporan dari orang-orang kang-ouw saja.

Bhe Seng Kok, hidup menyendiri, tidak mempunyai keluarga dan tidak pernah menikah.

Bahkan ada keinginan dalam hatinya untuk kembali ke biara Siauw-lim-pai dan menjadi hwesio di sana.

Pada suatu hari Bhe Seng Kok sedang duduk sendiri di dalam rumahnya yang tidak besar.

Tiba-tiba terdengar langkah kaki orang di depan rumahnya dan dia cepat keluar untuk menyambut tamu yang datang.

Ternyata yang datang adalah dua orang, seorang pemuda yang gagah dan seorang kakek tinggi kurus yang memegang sebatang dayung baja.

Bhe Seng Kok yang menjadi bengcu tentu saja mengenal hampir semua orang kang-ouw, apalagi tokoh-tokoh yang tua.

Maka begitu melihat kakek yang memegang dayung baja, dia teringat dan segera menyambut dengan ramah.

"Ah, kiranya Tung-hai Lo-mo yang datang berkunjung. Selamat datang dan marilah kita duduk di dalam agar dapat bicara dengan leluasa."

"Terima kasih, Bengcu."

Kata Tunghai Lo-mo dan dia masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Gu Lam Sang, pemuda gagah itu.

"Silakan Ji-wi (Kalian berdua) duduk!"

Bhe Seng Kok mempersilakan dua orang tamunya.

"Terima kasih, Bengcu."

Kata Tunghai Lo-mo sambil tersenyum.

"Perkenalkan pemuda ini bernama GuLam Sang, seorang pemuda yang memiliki ilmu silat tinggi bukan main."

Bhe Seng Kok mengangguk dan memandang kepada GuLam Sang sambil berkata.

"Maafkan kalau aku belum mengenal Sicu, karena Sicu masih muda dan baru muncul di dunia. kang-ouw. Tunghai Lo-mo, keperluan apakah yang membawamu datang ke tempat ini?"

"Yang mempunyai keperluan justeru GuLam Sang kongcu ini. Aku hanya mengantarkannya saja."

"Ah, begitukah? Sicu, ada keperluan apakah maka Sicu datang menemuiku?"

Gulam Sang tersenyum mengejek.

"Aku mendengar bahwa engkau adalah bengcu yang mengepalai seluruh dunia kang-ouw. Benarkah?"

"Benar, dan aku menjadi bengcu karena dipilih dan didorong oleh para saudara di dunia kang-ouw."

"Seorang bengcu tentu mempunyai ilmu silat yang tak terkalahkan. Karena tertarik dan ingin sekali membuktikan sendiri bagaimana hebatnya ilmu silat bengcu, maka aku sengaja datang untuk menantangmu mengadu ilmu silat!"

Kata Gu Lam Sang terus terang. Bhe Seng Kok tersenyum lebar dan berkata.

"Orang muda, menjadi bengcu bukan diukur dari ilmu silatnya saja, melainkan harus pula memiliki kebijaksanaan dan rasa keadilan. Bengcu bukan jagoan yang membanggakan ilmu silatnya, maka tidak perlu kita harus mengadakan pibu (mengadu ilmu silat)."

"Maaf, Bengcu. Kurasa pendapat itu tidak benar,"

Kata Tung-hai Lo-mo.

"Kongcu GuLam Sang ini datang dari jauh di Barat. Kalau permintaannya untuk pibu tidak dipenuhi, tentu dia akan menceritakan kepada semua orang bahwa Bengcu takut bertanding dengan dia."

GuLam Sang tertawa.

"Ha-ha-ha, kalau memang Bengcu takut bertanding melawanku, akuilah saja. Asalkan engkau suka berlutut memberi hormat tiga kali padaku, aku tidak akan memaksamu lagi. Berkerut alis Bhe Seng Kok.

"Tidak ada yang takut dan tidak ada yang perlu berlutut! Aku menolak diadakan pibu hanya karena menyayangkan Sicu yang masih muda. Kalau sampai Sicu terluka dalam pibu, aku akan ditertawakan orang sedunia. Seorang bengcu melayani tantangan seorang pemuda yang tidak ternama tanpa alasan. Tidak, aku tidak mau pibu denganmu!"

Gu Lam Sang bangkit dan mencabut pedangnya.

"Engkau telah menghinakui Pendeknya, mau atau tidak engkau harus melawanku untuk menentukan siapa di antara kita yang lebilh lihai!"

Melihat kenekatan Gu Lam Sang, Bhe Seng Kok mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk.

"Begitukah yang kaukehendaki? Kalau begitu terpaksa aku akan melayanimu!"

Setelah berkata demikian, Bhe Seng Kok menyambar pedangnya yang tergantung di dinding.

"Mari kita pergi ke kebun di belakang agar lebih leluasa bertanding!"

Mereka pergi ke kebun di belakang rumah itu. Di kebun ini biasanya Bhe Seng Kok bercocok tanam.

"Nah, di sini tempatnya luas dan engkau boleh mulai, orang muda!"

"Bengcu, jagalah seranganku!"

Kata Gu Lam Sang dan dia sudah menyerang dengan ganasnya.

Melihat serangan ini, diam-diam Bhe Seng Kok terkejut karena dia mengenal ilmu silat yang dahsyat.

Maka dia pun menangkis dengan pedangnya lalu membalas serangan itu.

Gu Lam Sang juga dapat menghindarkan diri dan mereka sudah bertanding dengan seru.

Melihat betapa semua serangan Gu Lam Sang bukan sekedar untuk menguji kepandaian, melainkan benar-benar menyerang dengan serangan maut yang berbahaya, Bhe Seng Kok terpaksa mengimbangi-nya dengan ilmu pedangnya yang kokoh kuat.

Bengcu ini adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai maka tentu saja ilmu silatnya sudah mencapai tingkat tinggi.

Akan tetapi sekali ini dia bertemu dengan Gu Lam Sang yang pernah mempelajari ilmu-ilmu dahsyat dari Dalai Lama, maka pertandingan itu berlangsung seimbang dan amat hebatnya.

Sinar kedua pedang itu bergulung-gulung dan dua orang yang bertanding itu merasa betapa tangguh lawannya.

Seratus jurus telah lewat tanpa ada yang terdesak dan ternyata tingkat mereka seimbang!

Tiba-tiba sebatang dayung baja yang kuat dan berat menyambar ke arah Bhe Seng Kok.

Bengcu itu terkejut bukan main.

Dia mengelak dengan cepat dan menahan pedangnya menudingkan telunjuknya kepada Tung-hai Lo-mo sambil berseru.

"Lo-mo, kau....!"

Akan tetapi pada saat itu, pedang di tangan Gu Lam Sang telah menyerangnya dari belakang.

Bhe Seng Kok sedang mencurahkan perhatiannya kepada Tung-hai Lo-mo, maka dia tidak tahu akan kecurangan itu dan tahu-tahu punggungnya telah ditembusi pedang.

Bengcu itu roboh terlentang, matanya mendelik ke arah kedua orang itu dan berseru.

"Kalian keji dan curang...!"

Dan dia pun terkulai, menghembuskan napas terakhir.

"Bagus!"

Kata Tung-hai Lamo.

"Perkelahian ini tidak nampak oleh orang lain. Mari cepat pergi (dari sini, jangan sampai terlihat orang lain!"

Keduanya lalu melarikan diri, menyusup-nyusup di antara pohon-pohon kemudian melompat keluar dari pagar tembok rumah itu.

Tidak ada orang lain yang melihatnya dan baru beberapa hari kemudian mayat Bhe Seng Kok ditemukan tetangganya yang mencium bau mayat.

Tidak ada orang mengetahuinya siapa yang membunuh bengcu itu.

Melihat bengcu itu tewas dengan luka di punggung dan masih memegang sebatang pedang, semua orang tahu bahwa bengcu itu terbunuh dalam perkelahian akan tetapi tidak ada yang tahu siapa pembunuh itu.

Matinya beng-cu ini segera tersiar ke seluruh pelosok negeri.

Dan dua hari setelah kematian beng-cu itu, Thian It Tosu dari Bu-tong-pai mengundang para tokoh kang-ouw dan partai-partai besar untuk datang ke Bu-tong-pai.

Bu-tong-pai hendak menjadi pelopor untuk pemilihan beng-cu baru.

Undangan ini pun tersiar cepat sehingga terdengar sampai ke kota raja.

Maka The Sun Tek juga mendengar tentang undangan Bu-tong-pai itu walaupun dia belum mendengar akan kematian Bhe Seng Kok.

Orang yang memiliki pamrih besar yang dia sendiri sebut sebagai cita-cita, memang mempunyai seribu satu macam akal untuk mencapai apa yang dituju.

Dia tidak peduli lagi akan caranya, segala macam cara dianggap halal dan pantas dilakukan demi mencapai apa yang dicita-citakan.

Seperti Gulam Sang dan kawan-kawannya itu.

Baru saja dia gagal (Lanjut ke

Jilid 15) Pusaka Pulau Es (Seri ke 17 -Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 15 dalam usaha membunuh kaisar dan pangeran mahkota, juga penyerbuan ke kota raja gagal, mereka kini sudah menjalankan siasat lain dan untuk keberhasilan siasat itu, mereka tidak segan-segan membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah.

Siapapun yang dianggap menghalangi jalan mereka tentu akan dihancurkan.

Mereka bertiga melakukan perjalanan dengan cepat dan pada suatu hari tibalah mereka di kaki Beng-san.

The Sun Tek berjalan di depan, kemudian di belakangnya Cu In berjalan di samping Keng Han.

Cu In yang menjadi penunjuk jalan.

"Di depan itu terdapat jalan simpangan ke kiri. Jalan itulah yang harus diambil Ayah. Membelok ke kiri."

Kini Cu In sudah tidak asing lagi menyebut ayah kepada The Sun Tek dan hal ini benar-benar membahagiakan hati panglima itu dan juga menyenangkan hati Keng Han.

"Kita sudah berjalan lebih dari setengah hari, apakah tidak baik kalau kita beristirahat lebih dulu?"

Keng Han mengusulkan.

Dia sendiri sebetulnya masih dapat bertahan, akan tetapi dia melihat betapa dahi Cu-In sudah berkeringat dan dia merasa kasihan kepada gadis itu.

Mendengar ini, The Sun Tek tersenyum dan menghentikan langkahnya.

"Engkau benar, Keng Han. Saking besarnya semangatku hendak. cepat-cepat bertemu isteriku, aku sampai lupa akan kelelahan, dahaga dan kelaparan. Mari kita beristirahat sejenak sambil makan bekal kita."

Cu In diam saja akan tetapi juga tidak membantah, mereka memilih tempat yang teduh di bawah pohon besar dan duduk di atas batu yang terdapat di situ.

Keng Han lalu membuka.

buntalan dan mengeiuarkan beberapa potong roti kering dan dendeng kering.

Juga seguci anggur dan tiga buah cawan.

Tanpa banyak cakap lagi mereka duduk makan dan minum.

Karena mereka sudah lelah dan lapar, maka makanan sederhana itu bagi mereka terasa nikmat sekali.

Setelah selesai makan mereka lalu duduk beristirahat melepas lelah.

"Cu In, anakku. Engkau mengenakan cadar di mukamu karena tekanan ibumu agar mukamu tidak sampai terlihat pria yang dianggapnya semua jahat. Akan tetapi, kukira sekarang pendapat ibumu itu lain lagi, maka pantangan itu pun harus kau buang jauh-jauh. Tidak semua pria jahat. Contohnya Keng Han ini. Apakah engkau dapat mengatakan bahwa dia seorang laki-laki yang jahat?"

"Tidak, Ayah."

Kata Cu In sambil menundukkan mukanya.

"Apakah engkau meng-anggap ayahmu ini laki-laki yang jahat pula?"

"Tidak juga, Ayah."

"Nah, kalau begitu kenapa engkau selalu memakai cadar itu rnenyembunyikan mukamu dari kami? Aku ayahmu, Cu In. Aku ingin sekali melihat mukamu. Maka kuminta, bukalah cadar itu, Cu In."

Melihat gadis itu menjadi bingung, Keng Han lalu berkata dengan lembut.

"Cu In, bukalah cadarmu dan biarkan ayahmu melihatmu. Seorang ayah yang baik tentu akan tetap menyayang anaknya, bagaimanapun juga wajah anaknya itu"

"Ayah, kau berjanji tidak akan membenciku atau malu mengakui aku sebagai anakmu setelah melihat wajahku?"

"Ah, bagaimana mungkin? Engkau anakku, tidak peduli bagaimanapun bentuk wajahmu. Bukalah cadar itu sebentar saja, untukku."

Cu In lalu menghadapi ayahnya dan berkata.

"Lihatlah Ayah, betapa buruk rupaku!"

Ia menyingkap cadarnya dan The Sun Tek sampai melangkah mundur dua langkah saking kagetnya.

"Engkau.... jijik melihatku, Ayah?"

"Tidak, ah, tidak....!"

Ayah itu menghampiri dan memeluk Cu In yang sudah menutupkan lagi cadarnya.

Aku tetap sayang kepadamu, bahkan aku iba kepadamu.

Kenapa mukamu sampai begini, anakku?

Kenapa?"

"Ketika kecil aku diserang penyakit cacar yang berat sehingga setelah sembuh mukaku bercacat seperti ini."

"Nah, apa kataku, Cu In. Orang yang mencinta dengan hati tulus tidak akan berubah hanya karena melihat muka yang dicintanya itu cacat. Bahkan rasa iba memperdalam rasa cinta itu. Jangan khawatir, kelak aku akan mengobati dan menghilangkan cacat di mukamu itu!"

Dari ucapan ini The Sun Tek dapat menduga bahwa pemuda itu pun sudah pernah melihat muka anaknya yang cacat.

Sudah melihat bahwa muka gadis itu mengerikan akan tetapi tetap mencintanya,sungguh merupakan seorang pemuda yang sulit dicari keduanya di dunia ini.

"Ucapan Keng Han benar, anakku. Kami akan mencarikan tabib terpandai untuk mengobatimu. Nanti setelah kita hidup serumah dengan ibumu, aku akan menyebar anak buahku untuk mencarikan tabib itu. Nah, setelah sekarang engkau melihat bukti-nya bahwa kami tidak berubah sikap terhadapmu setelah melihat mukamu yang cacat, tentu engkau menyadari bahwa tidak semua laki-laki di dunia ini jahat seperti yang diajarkan ibumu. Baru dua orang yang melihat wajahmu, yaitu aku dan Keng Han, akan tetapi kami tidak menjadi jijik atau membencimu."

"Bukan baru Ayah dan Keng Han yang melihatnya. Ada seorang lain yang melihatnya dan begitu dia melihatku, langsung saja aku akan dibunuh."

"Siapakah orang itu, Cu In?"

Tanya Keng Han dengan cepat.

"Tung-hai Lo-mo. Kau ingat, Keng Han ketika engkau menolongku dari tangan Tung-hai Lo-mo dan Swat-hai Lokwi? Nah, ketika itu Tung-hai Lo-mo yang menawanku telah membuka cadarku dan begitu melihat wajahku, dia hendak membunuhku. Baiknya engkau datang dan menolong."

"Tung-hai Lo-mo? Datuk sesat itu memang orang jahat. Biarpun tidak membuka cadarmu pun dia tetap seorang jahat yang harus dibasmi! Orang laki-laki macam dia tidak masuk hitungan, Cu In. Seperti juga julukannya, dia memang seorang iblis!"

Kata The Sun Tek marah.

"Aku sendiri akan membunuhnya, Ayah, sesuai dengan sumpahku dahulu bahwa siapa yang berani membuka cadarku, dia harus mati di tanganku."

"Ah, sumpah itu mengerikan sekali anakku. Aku sendiri dan Keng Han juga sudah melihat wajahmu, apakah engkau juga akan membunuh kami?"

"Tidak, Ayah. Sumpahku itu sudah kuanggap habis begitu aku bertemu dengan Keng Han dan kemudian melihat bahwa kebencian ibuku terhadap pria hanya sekadar pelampiasan amarahnya terhadapmu. Akan tetapi perkenankan aku memakai cadar ini, Ayah. Pertama, karena aku sudah terbiasa memakainya sehingga kalau ditanggalkan aku merasa malu seolah telanjang, dan kedua kupakai agar tidak menjadi perhatian orang. Ketiga, agar engkau dan Keng Han tidak akan menjadi malu."

"Aku? Malu? Kenapa aku harus malu."

"Punya anak yang cacat wajahnya."

"Aku adalah seorang yang berani menghadapi kenyataan betapapun pahitnya, Cu In. Cacatnya wajahmu tidak mengurangi kasih sayangku kepada engkau sebagai puteriku!"

"Dan kenapa aku harus malu, Cu In?"

Tanya Keng Han dengan suara mengandung penasaran.

"Kalau orang-orang melihat wajahku lalu mendengar bahwa engkau.... cinta padaku, bukankah engkau akan menjadi bahan tertawaan?."

Keng Han terkejut.

Gadis ini membuka rahasia hatinya begitu saja di depan ayahnya!

Dia menjadi tersipu dan salah tingkah, lalu memandang kepada The Sun Tek.

Panglima ini juga memandang-nya wajah berseri dan mulut tersenyum, lalu kepalanya mengangguk perlahan.

"Cu In, apa pun yang terjadi padaku, aku tidak peduli. Orang boleh menertawakan aku sesuka hati mereka, namun aku tetap seorang sahabat yang amat mencintamu."

"Ayah, kau dengar itu? Apakah ucapan seperti itu dapat dipercaya? Bagaimana mungkin seorang pemuda yang tampan dan gagah tanpa cacat dapat mencinta aku yang berwajah buruk mengerikan ini? Aku belum dapat percaya sepenuhnya!"

"Cu In, engkau belum mengerti tentang cinta. Bagaikan aku dan ibumu. Apa pun yang telah dilakukan ibumu, aku tetap mencinta dan menyayangnya. Bagi seorang yang mencinta dengan tulus, segala macam cacat pada diri orang yang dicintanya tidak ada artinya. Bukankah begitu, Keng Han?"

"Benar sekali, Paman. Aku mencinta Cu In karena kepribadiannya, bukan karena wajahnya. Setelah melihat wajahnya, aku bahkan merasa semakin sayang karena iba, dan kelak aku akan mencarikan tabib yang pandai untuk mengobati cacatnya itu."

"Nah, anakku. Engkau beruntung sekali menemukan pemuda seperti ini. Cintanya tulus dan suci, dan aku pun setuju sekali kalau dia menjadi mantuku!"

"Ayah. Apakah Ayah telah tahu siapa dia? Dia adalah putera Tao Seng, pangeran yang memberontak itu! Nah, apakah Ayah masih setuju juga berbesan dengan pengkhianat Pangeran Tao Seng itu?"

"Menilai orang dengan melihat ayahnya adalah picik. Belum tentu seorang ayah yang baik budi memiliki anak yang baik pula dan tidak semua ayah yang jahat memiliki anak yang jahat pula. Aku tidak peduli calon mantuku itu anak siapa yang penting asal pribadinya baik. Dan kulihat Keng Han seorang pendekar yang baik dan gagah perkasa."

Cu In menundukkan mukanya, akan tetapi terlihat betapa sepasang mata itu mencorong berseri.

"Aku sendiri tidak dapat menjawab sekarang. Kita lihat nanti sajalah. Sekarang yang penting kita harus bertemu ibu dulu. Masih ada ibuku yang memiliki hak untuk menentukan siapa calon mantunya."

Keng Han diam saja akan tetapi The Sun Tek mengerut-kan alisnya.

Dia sudah tahu akan watak isterinya yang keras.

Kalau isterinya tidak menyetujui Keng Han, sampai mati pun ia tentu tidak akan menyetujuinya!

Pada saat itu, nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang wanita yang cantik jelita.

Usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun, cantik jelita kulit mukanya putih mulus, pipinya kemerahan, mata dan bibirnya begitu manisnya sehingga setiap orang pria pasti akan tertarik.

Rambutnya yang dibiarkan terurai panjang di punggung-nya itu diikat sutera merah dekat kepala.

Punggungnya membawa sebatang pedang.

"Suci kiranya engkau!"

Tegur Cu In. Keng Han merasa tidak enak juga kalau tidak menyapa wanita itu.

"Subo....!"

Katanya, terpaksa menyebut subo kepada Bi-kiam Nio-cu Siang Bi Kiok karena dia pernah diberi pelajaran cara menghindarkan totokannya yang amat lihai.

Akan tetapi Bi-kiam Nio-cu mengerutkan alisnya dan memandang kepada Keng Han dengan mata bersinar marah.

Ia sudah merendahkan diri begitu rupa terhadap pemuda itu, bahkan menemani pemuda itu sampai dapat menghadap Dalai Lama, akan tetapi apa balasan Keng Han kepadanya?

Diajak berjodoh dan lari minggat meninggalkan subonya, pemuda itu tidak mau!

Dan sekarang nampak bergaul akrab sekali dengan sumoinya!

Nio-cu menudingkan telunjuknya yang runcing ke arah muka bercadar itu dan terdengar suaranya lantang.

"Sumoi, apa artinya ini? Engkau bukan saja telah melanggar pantangan subo, bahkan engkau berani membawa dua orang laki-laki ke sini! Apa kau sudah bosan hidup? Hayo lekas bunuh dua orang laki-laki itu, atau aku akan segera melaporkan kepada subo!"

"Kebetulan sekali kalau begitu, Suci. Cepat laporkan kepada subo bahwa aku datang menghadap bersama ayahku dan saudara Keng Han yang sudah berulang kali menyelamatkan diriku."

"Apa kau bilang? Ayahmu....?"

Nio-cu mengamati The Sun Tek dengan penuh perhatian.

"Ya, Ayahku. Sudahlah jangan bertanya panjang lebar. Beritahukan saja bahwa aku datang bersama ayahku dan sahabat baikku tentu subo akan mengerti."

Betapapun marahnya, Niocu yang galak dan kejam ini masih jerih terhadap Cu In yang tingkat kepandaiannya lebih tinggi darinya.

"Baik, dan kalian tentu akan dibunuh semua!"

Ia. pun berkelebat dan pergi.

"Cu In, itukah yang terkenal dengan julukan Bi-kiam Nio-cu? "

Tanya The Sun Tek kepada puterinya.

"Benar, Ayah. Ia su-ciku dan ia pun patuh sekali kepada guru kami sehingga ia melaksanakan semua perintah guru. Entah berapa banyak laki-laki yang berani bersikap ceriwis kepadanya telah dibunuhnya."

The Sun Tek menghela napas panjang.

"Mudah-mudahan aku dapat menghentikan semua perintah ibumu yang keterlaluan itu."

Mereka mendaki bukit Beng-san dengan cepat.

"Kita mengambil jalan pintas, Ayah, agar supaya lebih dekat. Akan tetapi kita harus berhati-hati karena daerah ini termasuk wilayah yang dilindungi oleh keluarga Gak."

"Keluarga Gak adalah keluarga yang sakti. Paman Gak Ciang Hun sendiri adalah seorang yang dekat dengan keluarga Pulau Es, ilmu silatnya lihai sekali. Juga isterinya memiliki ilmu silat yang hebat. Bahkan subo sendiri kalau tidak perlu sekali tidak mau lewat daerah ini."

Keng Han tertarik sekali.

"Kalau begitu, dia tentu mengenal baik Paman Yo Han."

"Kiranya demikian. Sudah lama aku mendengar akan nama besar Pendekar Tangan Sakti Yo Han. Apalagi isterinya yang berjuluk Bangau Merah, adalah seorang wanita sakti. Kabarnya ia pernah belajar dari locianpwe Suma Ceng Liong yang merupakan keturunan langsung dari Keluarga Pulau Es."

Keng Han mengangguk-angguk.

"Kalau begitu tidak salah lagi bahwa Pulau Hantu itu adalah Pulau Es yang dulu tenggelam dan kini muncul lagi. Paman Yo Han mengenal semua ilmu silat yang kupelajari dari pulau itu."

"Ah, kalau begitu engkau adalah pewaris ilmu-ilmu keluarga Pulau Es!"

Seru The Sun Tek dengan kagum.

"Ah, hanya kebetulan saja aku menemukan dan mempelajari, Paman. Dibandingkan dengan orang-orang keturunan keluarga itu tentu kepandaianku tidak ada artinya. Aku belajar sendiri tidak ada yang membimbing."

"Jangan merendahkan diri, Keng Han. Aku sendiri sudah melihat betapa hebatnya ilmu kepandaianmu, dapat menandingi ilmu silat para datuk sesat."

"Engkau terlalu memuji, Cu In. ilmumu sendiri juga hebat sekali?"

Dua orang muda itu saling memuji dan saling merendahkan dirinya sehingga The-ciangkun yang mendengarnya menjadi senang.

Pertanda baik bagi orang yang saling mencinta dan calon berjodoh.

Akan tetapi mereka tidak menemi halangan sehingga mereka menduga bahwa keluarga Gak itu disegani dan ditakuti orang karena adalah pendekar-pendekar yang lihai.

Akan tetapi mereka sendiri tidak pernah usil mencampuri urusan orang lain sehingga biarpun ada orang asing memasuki wilayah mereka asal orang asing itu tidak mengganggu, juga tidak dilarang.

Ketika mereka tiba di pondok tempat tinggal Ang Hwa Nio-nio ternyata wanita itu sudah menunggu di serambi depan bersama Bi-kiam Nio-cu.

Dan wanita itu agaknya mengenakan pakaian yang masih baru dan rambutnya tersisir rapi dengan hiasan kembang merah.

Agaknya ia sudah diberitahu oleh Niocu akan kedatangan Cu In, Keng Han, dan laki-laki setengah tua itu.

Ketika melihat The-ciangkun, Ang Hwa Nio-nio menyambutnya dengan ucapan dingin.

"Hemmm, kiranya engkau memenuhi janjimu, menemukan dan membawa Cu In ke sini."

Mendengar sikap dan mendengar ucapan yang nadanya dingin itu, Cu In yang merasa marah sekali kepada wanita yang menjadi ibu dan gurunya itu berkata.

"Kalau tidak dibujuk Ayah dan Keng Han, sampai mati pun aku tidak akan mau datang ke sini lagi!"

Ang Hwa Nio-nio memandang kepada Cu In.

Hatinya seperti ditusuk rasanya.

Puteri kandungnya sendiri berkata seperti itu!

"Cu In, jangan berkata begitu, Nak!"

Katanya.

"Mengapa baru sekarang ibu memanggilku seperti itu? Kenapa ibu mengingkari dan mengatakan bahwa aku yatim piatu dan dipungut menjadi murid, kemudian bahkan disuruh membunuh ayah kandungku sendiri? Mengapa?"

Kini dalam suara gadis berkerudung itu terdengar isak tangis. Ang Hwa Nio-nio menghela napas panjang.

"Engkau tidak mengetahui penderitaanku selama itu, Cu In. Hidup seorang diri, menahan semua rasa rindu. Bahkan peristiwa itu membuat aku membenci dan ingin membunuh semua pria! Akan tetapi setelah bertemu dengan ayahmu, aku menginsyafi kekeliruanku. Ternyata tidak semua laki-laki itu jahat. Juga ayahmu sama sekali bukan seorang laki-laki jahat."

Mendengar semua itu, Bi-kiam Niocu Siang Bi Kiok menjadi terheran-heran.

Ia membelalakkan matanya yang indah, memandang kepada The Sun Tek, lalu kepada gurunya.

"Jadi... Paman ini.. dia suami Subo?"

Tanyanya dengan suara lirih terputus-putus.

Ang Hwa Nio-nio hanya mengangguk dan kedua matanya menjadi basah, berlinang air mata!

Makin heranlah Niocu.

Belum pernah selama ini ia melihat subonya menangis.

"Aku... aku memang bersalah diracuni sakit hatiku, Cu In. Maafkan ibumu, Nak..."

The Sun Tek berkata.

"Sudahlah, mari kita lupakan semua yang terjadi dan memulai hidup baru yang penuh kasih sayang dan berbahagia. Cu In, ibumu telah minta maaf. Cairkan perasaan hatimu yang membeku itu."

"Benar, Cu In. Bagaimanapun juga, beliau adalah ibu kandungmu yang melahirkanmu kemudian memeliharamu sampai menjadi dewasa."

Kata Keng Han membujuk.

Sejak melihat ibunya menangis dan bicara dengan suara terputus-putus mengakui kesalahannya, Cu In sudah menangis tanpa suara.

Air matanya bercucuran akan tetapi tidak kelihatan ia menundukkan mukanya.

Kini mendengar bujukan ayahnya dan Keng Han, ia lalu bangkit dan berlari menubruk kedua kaki ibunya.

"Ibuku....!"

"Cu In.... Cu In.... engkau anakku, anak tunggal. Kau maafkan aku, ya?"

Ibunya juga merangkul dan keduanya bertangisan.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ibu. Aku dapat memaklumi perasaan Ibu."

"Subo, bagaimanakah ini? Jadi Sumoi adalah puteri Subo sendiri dan Paman ini adalah suami Subo?"

Keng Han melangkah maju menghampiri Niocu sambil berkata.

"Sesungguhnya begitulah, Subo"

"Jangan kau panggil subo kepadaku! Seperti orang mengejek saja. Panggil saja Niocu seperti dulu. Siapa tidak tahu bahwa Ilmumu jauh lebih tinggi dari Ilmuku? Jangan sekali-kali panggil subo atau aku akan menganggap engkau menghinaku."

Ang Hwa Nio-nio yang tahu benar bahwa hati para muridnya itu penuh kebencian kepada pria seperti yang sejak dulu ia tekankan, tahu pula akan watak Bi-kiam Niocu.

"Bi Kiok, sudahlah. Mulai sekarang, jangan membenci setiap orang pria. Hanya yang jahat saja boleh kau benci. Akan tetapi kalau pria itu baik, tidak ada salahnya menjadi sahabatnya."

"Ibu, bagaimana kalau ada pria yang mencinta Suci? Apakah dia harus dibunuh?"

"Tidak, tidak. Dului itu aku sudah gila. Jatuh cinta bukanlah hal yang jahat. Kalau Bi Klok tidak membalas cintanya, jauhi saja dan katakan terus terang."

"Bagaimana kalau teecu yang jatuh cinta, Subo? Apakah pria itu harus dibunuh?"

"Tidak! Kalau engkau mencinta seseorang dan orang itu pun mencintamu, maka tiada halangannya engkau berjodoh dengan, dia."

"Aih, terima kasih, Subo! Adik Cu In, mulai sekarang engkau tidak perlu menutupi mukamu lagi. Kutukan itu telah dihapuskan oleh Subo!"

"Suci, aku tidak mau menjadi buah tertawaan dengan mukaku yang penuh cacat ini! Tidak, aku kini mempunyai sumpah bahwa aku tidak akan membuka cadar ini sebelum aku menikah. Dalam malam pengantin aku membuka dan membuang cadarku untuk selamanya!"

"Sumoi....!"

Kata Niocu sambil memandang kepada Keng Han.

Dari sikap mereka ia dapat menduga bahwa keduanya saling mencinta.

Akan tetapi kalau kelak Keng Han melihat wajah sumoinya itu, apakah Keng Han akan mau menjadi suaminya?

"Bi Kiok, Cu In sudah mempunyai pendirian begitu, engkau tidak boleh mencampurinya!"

Kata Ang Hwa Nio-nio sambil tersenyum.

Niocu memandang bengong.

Belum pernah dilihatnya gurunya itu tersenyum apalagi tertawa dan ia melihat wajah subonya itu kini penuh senyuman dan ternyata gurunya itu masih cantik walaupun usianya sudah lima puluh tahun!

"Hong Bwe, anak kita ini sudah mempunyai calon jodohnya bahkan sudah pernah melihat mukanya."

"Ayah....!"

Cu In berseru dan dahinya nampak kemerahan.

"Cu In, engkau tidak dapat menyembunyikan perasaanmu di depan ayahmu, Ha-ha-ha!"

"Benarkah itu?"

Ang Hwa Nio-nio berseru, nada suara-nya gembira bukan main.

"Siapakah laki-laki yang bijaksana itu?"

"Orangnya dekat di sini, apa engkau tidak dapat menduganya, Hong Bwe?"

"Ah, engkaukah, orang muda? Benarkah engkau mencinta Cu In dengan setulus hatimu?"

Biarpun perasaan sungkan dan tersipu, Keng Han menjawab dengan lantang.

"Benar, Bibi. Saya mencinta Cu In dengan segenap jiwa ragaku."

"Ah, tidak mungkin!!"

Tiba-tiba Bikiam Nio-cu berseru nyaring.

"Sama sekali tidak mungkin!"

Tentu saja ia merasa terkejut sekali mendengar ucapan Keng Han itu.

Ia pernah mencinta Keng Han dan mengharapkan pemuda itu menjadi suaminya.

Akan tetapi Keng Han menolaknya.

Dan sekarang Keng Han menyatakan bahwa dia mencinta Cu In?

Rasanya tidak mungkin.

Ia sendiri seorang wanita cantik dan ia menyadari benar akan hal Ini.

Sebaliknya, ia sudah melihat wajah sumoinya yang totol-totol hitam, buruk sekali.

Kalau Keng Han pernah melihat wajah itu, bagaimana mungkin dia jatuh cinta kepada wanita yang wajahnya sedemikian buruknya?

The Sun Tek berkata, suaranya tegas dan berwibawa.

"Mengapa tidak mungkin? Ada dua macam cinta di dunia ini. Yang pertama cinta murni yang tidak dipengaruhi oleh buruknya rupa, buruknya nama atau kemiskinan. Yang kedua adalah cinta nafsu yang digerakkan oleh keadaan yang dicinta seperti wajah elok, terkenal, berkuasa atau hartawan. Dan cinta Keng Han seperti cinta yang pertama tadi."

"Ucapan suamiku ini benar, Bi Kiok. Lihat cinta suamiku kepadaku. Biarpun namaku buruk dan terkenal sebagai seorang yang disebut kejam dan sesat, namun cintanya kepadaku sama sekali tidak pernah berkurang. Usahakan agar engkau menemukan seorang pria seperti itu, yang mencintamu bukan sekedar pelampiasan nafsu belaka!"

The Sun Tek berkata kepada Ang Hwa Nio-nio.

"Hong Bwe, sebaiknya engkau berkemas dan sekarang juga kita pergi ke kota raja, pulang ke rumah kita."

"Pulang...?"

Ang Hwa Nio-nio bertanya suaranya seperti orang kebingungan, seperti dalam mimpi.

"Ya, pulang ke rumah kita di kota raja."

"Aku sudah bersiap-siap, lama sebelum engkau datang,"

Kata Ang Hwa Nio-nio dengan kedua pipinya berubah kemerahan.

"Aku hanya mem-bawa sebuah buntalan saja."

"Subo, apakah Subo akan pergi meninggalkan tempat ini?"

Tanya Bi-kiam Nio-cu.

"Benar, Bi Kiok. Aku akan pergi, akan pulang ke kota raja, meninggalkan Beng-san dan tidak akan kembali ke sini lagi. Rumah beserta isinya ini kutinggalkan kepadamu, menjadi milikmu."

Ang Hwa Nio-nio lalu mengambil buntalan yang menjadi bekalnya, kemudian mengajak suami dan puterinya untuk segera berangkat. Keng Han tidak ikut.

"Paman, sebagai seorang anak, saya harus mencari ayah saya, membujuknya agar dia menghentikan usahanya memberontak dan mengajaknya pulang ke Khitan. Setelah itu barulah orang tua saya akan mengajukan peminangan resmi atas diri Cu In."

The Sun Tek mengangguk-angguk, diam-diam memuji calon mantunya itu.

"Itu adalah suatu niat yang mulia sekali. Pergilah, kami akan menantimu di kota raja. Memang sudah semestinya kalau orang tuamu merestui perjodohanmu."

The Sun Tek, Ang Hwa Nio-nio dan Cu In segera berangkat.

Akan tetapi belum jauh mereka pergi, Cu In membalikkan tubuhnya dan lari menghampiri Keng Han.

"Keng Han, kuharap engkau suka menyimpan ini baik-baik!"

Ia meloloskan sabuk suteranya yang putih.

"Selama ini sabukku menjadi teman yang setia."

Keng Han merasa terharu sekali ketika menerima sabuk sutera putih itu. Dia pun lalu mengambil pedang bengkoknya dan diserahkan kepada Cu In.

"Terima kasih, Cu In. Dan ini pedangku harap kau simpan baik-baik. Pedang ini pemberian ibuku dan biarlah sekarang untuk sementara disimpan oleh calon isteriku yang tercinta."

"Selamat tinggal, Keng Han."

Kata Cu In sambil menerima pedang bengkok itu.

"Selamat jalan dan selamat berpisah untuk sementara, Cu In."

Kata Keng Han. Gadis itu lalu pergi dengan cepat menyusul orang tuanya.

"Hi-hi-hik, sungguh lucu. Seperti orang bermain sandiwara saja. Alangkah mesranya, Keng Han!"

Bi-kiam Nio-cu mengejek sambil tertawa.

"Kalau dua hati sudah bertemu dalam cinta, tentu saja timbul kemesraan, Niocu"

"Aku heran sekali. Apakah matamu sudah buta, Keng Han?"

"Niocu, harap engkau jangan menghinaku. Mengapa engkau mengatakan mataku buta?"

"Benarkah engkau sudah menyaksikan bagaimana bentuk wajah sumoi Cu In?"

"Sudah, mengapa?"

"Wajahnya begitu buruk dan menjijikkan! Engkau dapat mencinta gadis dengan wajah seperti itu?"

"Niocu, engkau belum mengenal apa artinya cinta. Aku mencinta Cu In sejak la belum memperlihatkan mukanya. Aku mencinta ia, mencinta pribadinya, bukan mencinta wajahnya. Setelah aku melihat mukanya, cintaku semakin kuat karena ada dorongan perasaan iba kepadanya. Aku kelak akan mencarikan tabib terpandai di seluruh dunia untuk mengobatinya!"

"Hi-hi-hik, percuma saja. Cacat di mukanya itu menurut kata subo dan sumoi sendiri, adalah cacat bekas cacar. Mana mungkin pulih kembali. Kelak engkau akan menyesal. Kalau semua orang menertawakanmu ketika engkau bersanding dengan isterimu yang wajahnya seperti setan....!"

"Cukup, Niocu! Jangan engkau menghina Cu In atau aku akan menghajarmu!"

"Eh-eh-eh, engkau akan menghajarku? Lupakah, engkau bahwa aku ini gurumu?"

"Hemmm, memang engkau pernah mengajari cara menghadapi tok-ciang, akan tetapi engkau sendiri yang menyuruh aku memanggil Niocu. Jadi sekarang aku bukan lagi muridmu."

"Hemmm, pedangmu sudah kau berikan kepada kekasihmu, bagaimana engkau akan melawan aku? Dengan sabuk sutera putih pemberian kekasihmu itu?"

"Niocu, untuk melawanmu tidak perlu aku mempergunakan senjata!"

Kata Keng Han sambil mengikatkan sabuk sutera putih itu di pinggangnya.

"Keparat! Berulang kali engkau menghinaku, menolakku, dan sekarang-lah ke sempatan bagiku untuk membunuhmu! kalau aku tidak dapat memperolehmu, orang lain juga tidak boleh!"

Berkata demikian, Bi-kiam Nio-cu mencabut pedangnya lalu menyerang dengan cepat dan dahsyat.

Namun Keng Han dengan tenang saja menggerakkan tubuhnya mengelak dari tusukan ke arah dada itu.

"Percuma, Niocu. Engkau tidak akan menang. Hentikanlah seranganmu itu dan jangan ganggu aku lagi!"

Keng Han masih mencoba untuk memperingatkan lawannya.

"Mampuslah!"

Niocu memben-tak dan menyerang lebih hebat lagi.

"Wuutt.. singgg...!"

Pedang yang menebas ke arah leher itu luput karena dielakkan oleh Keng Han.

Keng Han mengalah dan terus mengelak sampai sepuluh jurus.

Ketika melihat gadis itu semakin nekat menyerang-nya, dia pun lalu membalas.

Tangan kirinya menampar ke arah leher Niocu, akan tetapi ketika Niocu mengelak, ia disambut oleh tangan kanan Keng Han yang menjotos ke arah lambungnya.

Niocu berseru kaget dan melompat mundur ke belakang sehingga jotosan ke lambung itu luput.

Keng Han segera bersilat dengan ilmu Toat-beng Bian-kun, sebuah di antara ilmu silat pusaka Pulau Es.

Nampaknya saja ilmu silat ini lemah lembut seperti kapas, akan tetapi di dalamnya terkandung tenaga sinkang yang mengancam lawan dengan dahsyatnya!

Menghadapi ilmu silat aneh dan berbahaya sekali ini, Niocu terdesak mundur terus.

"Hentikan seranganmu, Niocu. Hentikan!"

Keng Han berkali-kali membujuk.

Akan tetapi Niocu yang sudah menjadi penasaran itu tidak mempedulikan seruannya dan menyerang terus.

Tiba-tiba ia menggerakkan kepalanya ke belakang dan gelungan rambutnya terlepas sehingga rambut itu menjadi riap-riapan dan panjang sampai ke pinggang.

Rambut ini, yang lembut dan berbau harum, merupakan senjata yang tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangan kanan Niocu.

Bahkan gerakan rambut ini datangnya tidak terduga-duga, bisa dipergunakan untuk menyolok mata, melibat dan mencekik leher, bahkan menotok ke arah jalan darah lawan.

Namun Keng Han sudah mengenal kelihaian rambut panjang itu.

Ketika Niocu menusukkan pedangnya ke arah perut, tiba-tiba rambutnya melibat leher Keng Han!

Keng Han mengelak ke kiri akan tetapi tidak dapat mengelak dari rambut yang sudah melilit lehernya.

Dia menggunakan tangan kirinya, menangkap rambut itu dan sekali tarik, rambut itu putus setengahnya!

Niocu menjerit kaget.

Rambutnya yang tadinya sepanjang pinggang itu kini tinggal sepundak!

Akan, tetapi ketika sedang mundur dan kaget melihat rambutnya, Keng Han sudah maju dan menendang ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang.

Kembali Niocu menjerit kaget dan pedangnya terlepas dari pegangan, mencelat ke atas.

Tiba-tiba nampak bayangan tubuh orang yang menangkis pedang yang terpental itu.

Ketika bayangan itu turun, ternyata dia seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun.

Wajahnya penuh brewok seperti muka harimau dan brewok serta rambutnya sudah putih semua!

"Bi-kiam Nio-cu, ini pedangmu!

Apakah engkau perlu bantuanku menghadapi bocah lancang ini?"

Bi-kiam Nio-cu bukan orang yang curang.

Sebaliknya, ia menghargai kegagahan dan tanpa malu lagi ia mengaku dalam hati bahwa kepandaiannya tidak mampu menandingi kepandaian Keng Han.

Ia menyimpan kembali pedangnya menyanggul rambutnya yang tinggal sepundak, lalu berkata kepada orang itu.

"Pek-thou-houw (Harimau Kepala Putih), tidak perlu engkau mencampuri urusanku. Dan ada keperluan apakah engkau datang ke sini?"

Orang yang berjuluk Harimau Kepala Putih itu menghela napas panjang.

Bi-kiam Nio-cu ini ternyata masih sama angkuhnya dengan dulu.

Seorang wanita yang dingin dan angkuh!

Maka dia pun tidak mau bicara panjang lebar, hanya menyampaikan tugasnya saja.

"Bi-kiam Nio-cu, aku diutus oleh Thian It Tosu dari Bu-tong-pai untuk mengundang Ang Hwa Nio-nio ke Bu-tong-san, karena di sana akan diadakan rapat besar antara para datuk dan tokoh kang-ouw. Harap engkau suka minta pada gurumu untuk menemuiku atau aku yang menghadap ke dalam."

Kata Pek-thou-houw sambil memandang ke arah rumah itu.

"Guruku sudah pergi dan tidak akan kembali,"

Kata Bi-kiam Nio-cu.

"maka tidak mungkin dapat pergi. Akan tetapi aku yang akan mewakilinya datang ke Bu-tong-san."

"Begitupun bagus, Niocu. Kami semua telah mendengar nama besar Bi-kiam Nio-cu. Niocu, bagaimana kalau sebelum aku pergi, aku memberi hajaran kepada bocah ini agar lain kali dia tidak akan menggodamu lagi?"

Bi-kiam Nio-cu tersenyum mengejek.

"Sesukamulah!"

Katanya. Pek-thou-houw menghampiri Keng Han yang sejak tadi hanya menjadi penonton saja.

"Heh, orang muda, siapa namamu? Aku tidak biasa membunuh orang yang tidak mempunyai nama!"

Bentak Harimau Kepala Putih itu dengan sikap bengis.

"Namaku Si Keng Han dan kuharap engkau tidak mencampuri urusan antara aku dan Niocu."

Kata Keng Han dengan lembut.

"Apa katamu? Kalau aku mencampuri, kau mau apa?"

"Sesukamulah kalau begitu. Aku sudah memperingatkan!"

Kata Keng Han, kini tidak lembut lagi bahkan suaranya mengandung gertakan.

"Awas seranganku. Heh-heiiiiittt!"

Si Kepala Putih itu mengeluarkan gerakan seperti seekor harimau dan tubuhnya sudah meloncat ke depan, sikapnya presis harimau yang hendak menerkam korbannya, kedua tangan dibentangkan dengan jari-jari membemtuk cakar harimau.

"Hemmm....!"

Keng Han mengenal ilmu silat harimau ini.

Akan tetapi harus diakui bahwa Si Harimau Kepala Putih inii telah mempelajari segala bentuk gerakan harimau dengan seksama dan seorang ahli dalam Houw-kun (silat Harimau) itu.

Dia percaya bahwa dua cakar itu sanggup merobek kulit dan daging lawan!

Karena telah mengenal ilmu itu, dengan mudah dia mengelak dengan lompatan ke kiri dan begitu "harimau"

Itu turun ke atas tanah, dia sudah menampar dengan tangan kiri.

"Wuuuuuttt.... plakkk....!!"

Keng Han terkejut sendiri.

Tanpa disadari tangan kirinya masih memegang potongan rambut Niocu sehingga ketika dia, menampar, rambut itu yang melecut ke arah muka Pek-thou-houw!

Pek-thou-houw berteriak kesakitan.

Lecutan cambuk istimewa itu keras sekali sehingga meninggalkan jalur merah pada pipi dan lehernya.

Sementara itu, Keng Han yang baru teringat akan rambut itu sudah mendekati Niocu dan menjulurkan tangan mengembalikan rambut.

"Maafkan aku, Niocu. Aku menyesal sekali."

Katanya.

Bi-kiam Nio-cu menyambar rambutnya sambil menggigit bibir menahan keluarnya air mata, lalu ia membalikkan tubuhnya dan berlari pergi meninggalkan tempat itu.

Ketika melihat bahwa Bi-kiam Niocu lari pergi, dan teringat akan lecutan rambut tadi, dia merasa jerih.

Tahulah dia bahwa Bi-kiam Nio-cu tadi agaknya kalah oleh pemuda itu, apalagi dia!

Maka, tanpa ramit lagi dia pun lari meninggalkan Keng Han.

Keng Han memandang ke arah bayangan Niocu dan berulang kali dia menghela napas panjang.

Mudah-mudahan dia mendapatkan seorang pria yang benar-benar mengasihinya, pikirnya.

Dia merasa kasihan kepada Bi-kiam Nio-cu.

Dia mengerti bahwa Bi-kiam Nio-cu mencintainya, bahkan pernah mengajaknya menikah lalu lari minggat dari subonya.

Sekarang, melihat dia saling mencinta dengan Cu In, tentu hati wanita itu penuh iri dan cemburu, maka berusaha mati-matian untuk membunuhnya.

Dia tahu bahwa Bi-kiam Nio-cu bukan orang jahat, dan kalau wataknya menjadi kejam terhadap kaum pria, hal itu adalah karena sejak kecil dara ini dididik untuk membenci pria.

Akan tetapi mulai sekarang dia mengharapkan gadis itu berubah pula setelah melihat betapa subonya kembali kepada kekasihnya, bahkan merestui perjodohan antara dia dan Cu In.

"Semoga engkau menemukan jodohmu yang tepat, Niocu."

Kata Keng Han sambil menarik napas panjang dan dia pun pergi ke Bu-tong-san.

Dia tertarik mendengar dari Pek-thou-houw tadi bahwa Bu-tong-pai akan mengada pertemuan besar.

Siapa tahu dia akan dapat bertemu dengan ayahnya di sana, mengingat bahwa gerakan ayahnya itu sejalan dengan sikap Bu-tong-pai yang hendak memberontak.

Sebuah kereta berhenti di halaman depan gedung istana Pangeran Mahkota Tao Kuang.

Setelah kepala jaga memeriksa siapa yang berada di dalam kereta itu, dia memberi hormat dan kereta itu diperbolehkan masuk sampai ke pintu depan istana.

Pangeran Tao Kuang sedang bercakap-cakap dengan Kwi Hong, Kai-ong dan Han Li di ruangan perpustakaan yang luas ketika penjaga melapor akan kedatangan tamu-tamu berkereta itu.

Mendengar siapa yang datang berkunjung, Pangeran Mahkota tersenyum dan berseri wajahnya, lalu mengajak mereka semua untuk keluar menyambut.

"Kalian ikutlah, akan kuper-kenalkan kepada seorang pangeran adik sepupuku yang menjadi sahabat baikku! Dialah satu-satunya orang di kalangan kelurga kami yang kupercaya sepenuhnya."

Katanya kepada Kai-ong dan Han Li.

Ketika mereka di luar, mereka semua melihat tiga orang berada di serambi depan.

Seorang pria berusia empat puluh tahun lebih yang tampan dan lembut sikapnya, seorang wanita cantik yang agung dan anggun, berusia sebaya dengan pria itu.

Dan di belakang mereka berjalan seorang pemuda yang tampan dan gagah.

Begitu melihat mereka, Han Li berubah air mukanya, menjadi kikuk dan salah tingkah karena ia mengenal mereka itu sebagai suami isteri Pangeran Cia-Sun dan isterinya, Sim Hui Eng dan putera mereka, Cia Kun.

Suami Isteri dan putera mereka itu belum lama ini telah datang ke Bukit Naga untuk meminang dirinya yang hendak dijodohkan dengan putera mereka itu!

Begitupun Kwi Hong.

Ketika ia melihat siapa yang datang, kedua pipinya menjadi kemerahan karena ayah bundanya pernah bertanya kepadanya, bagaimana kalau ia dijodohkan dengan putera Cia Sun, saudara sepupu ayahnya.

Sudah lebih dari tiga tahun dara ini tidak pernah bertemu dengan Cia Kun dan kini pemuda itu telah menjadi seorang dewasa yang ganteng!

Demikian pula Cia Kun, dia terheran melihat Han Li berada di situ dan dia juga terpesona melihat Kwi Hong yang kini demikian cantik jelita.

Pangeran Cia Sun beserta isterinya juga merasa heran melihat Han Li.

"Bukankah engkau Yo Han Li? Bagaimana bisa berada di sini?"

Sebelum Han Li dapat menjawab, Pangeran Tao Kuang berkata sambil tertawa.

"Bagus, kiranya kalian sudah saling mengenal sehingga tidak perlu kuperkenalkan lagi"

"Akan tetapi siapa Locianpwe ini? Kami tidak mengenalnya."

"Ah, Paman ini adalah seorang tokoh yang terkenal di dunia kang-ouw, Dinda Pangeran. Tentu engkau pernah mendengar akan julukan Kai-ong, bukan?"

"Bukankah Kai-ong Lu Tong Ki?"

Tanya Pangeran Cia Sun.

"Benar, dia dan muridnya, nona Han Li, menjadi tamu kehormatan kami. Paman Lu, ini adalah Pangeran Cia Sun yang dahulu sering bertualang di dunia kang-ouw."

Pangeran Cia Sun dan pengemis tua itu saling memberi hormat.

"Nah, marilah kita semua masuk ke dalam dan bicara di sana!"

Kata Pangeran Tao Kuang dengan ramah.

Mereka semua diajak masuk ruangan tamu yang luas dan sejuk karena banyak jendelanya sehingga hawa dapat masuk dengan leluasa.

"Kanda Pangeran, kedatangan kami untuk menjenguk Kanda karena kami mendengar bahwa Kanda diserbu orang-orang yang hendak membunuh. Kami bersyukur sekali mendengar bahwa Kanda Pangeran terlepas dari bahaya maut."

"Benar, Adinda Pangeran. Semua ini adalah jasanya Tao Keng Han dan nona Souw Cu In yang membongkar rencana pemberontakan dan pembunuhan itu. Karena kami telah mengetahui lebih dulu, maka kami sekeluarga dibantu Paman Lu dan muridnya Han Li telah bersiap-siap. Juga penjagaan oleh pasukan dilakukan dengan ketat. Dengan ayahanda Kaisar pun demikian. Bahkan sepasang pendekar itu menyamar sebagai pengawal pribadi Kaisar."

"Ah, kami merasa gembira sekali mendengar itu, Kanda. Untuk itu, biarlah kuucapkan selamat dan menyulangi Kanda dengan tiga cawan arak!"

Karena memang di situ sudah dipersiapkan dan disediakan arak, maka kedua orang pangeran, diikuti yang lain minum tiga cawan arak.

"Bagaimanapun juga, kalau tidak ada bantuan nona Yo Han Li dan gurunya, tetap saja kami terancam bahaya maut. Mereka berdua yang dapat menandingi pihak pemberontak itu."

Cia Sun tersenyum memandang kepada Han Li.

"Tentu saja. Han Li adalah puteri Si Tangan Sakti Yo Han dan isterinya Si Bangau Merah Tan Sian Li. Apalagi sekarang menjadi murid Kai-ong! Tentu ilmu kepandaiannya menjadi luar biasa sekali!"

"Aih, Paman Cia terlalu memujiku, membuat aku merasa malu saja."

"Li-moi, ayahku hanya berkata sebenarnya, mengapa harus malu? Dan aku percaya bahwa Hong -moi sekarang tentu telah menjadi seorang gadis yang lihai pula. Kabarnya Hong-moi menerima pelajaran dari para ahli silat yang menjadi panglima pengawal, berganti-ganti guru sehingga tentu memiliki banyak macam ilmu silat!"

Kata Cia Kun sambil memandang adik sepupunya itu dengan sinar mata penuh kagum.

Pemuda ini sudah mendengar dari ayahnya bahwa pinangan mereka atas diri Han Li ditolak halus oleh orang tua gadis itu, maka dia tidak mengharapkan lagi dan perhatiannya beralih kepada Kwi Hong yang tidak kalah cantiknya dibandingkan Han Li.

"Aih, Kun-ko, engkau pandai memuji orang. Mana aku dapat dibandingkan dengan enci Han Li? Dibandingkan dengan engkau saja aku sudah kalah jauh! Selain Paman Pangeran Cia sendiri memilikl ilmu yang tinggi, Bibi yang menjadi ibumu memiliki ilmu silat yang lebih hebat pula. Engkau tentu telah mewarisi semua ilmunya!"

"Ah, Ayah dan terutama ibu memang pandai, akan tetapi aku yang bodoh, tidak maju-maju dalam pelajaran ilmu silat,"

Bantah Cia Kun sambil memandang kepada adik sepupunya itu dengan senyum.

"Kwi Hong, kenapa engkau tidak mengajak Han Li dan Cia Kun. untuk bicara di taman?. Biarkan kami yang tua-tua bicara di sini."

Kata Pangeran Tao Kuang kepada puterinya.

"Ah, taman bunga sedang indah karena bunga-bunga sedang mekar, di mana hawanya sejuk sekali. Mari, enci Han Li dan kanda Cia Kun, kita bermain-main dan bicara di sana!"

Karena ajakan nona rumah ini, Han Li dan Cia Kun tidak dapat menolak dan pergilah tiga orang muda itu ke taman bunga.

Setelah tiga orang muda itu pergi, bertanyalah Cia Sun kepada Pangeran Tao Kuang.

"Kanda Pangeran, sebetulnya apakah yang telah terjadi? Siapa yang mendalangi pemberontakan itu?"

Pangeran Tao Kuang menghela napas panjang.

"Sungguh memalukan kalau dipikir. Yang menjadi dalangnya adalah Tao Seng dan Tao San."

"Bukankah mereka dihukum buang ketika hendak membunuhmu dahulu itu, Kanda Pangeran?"

Tanya Cia Sun.

"Benar, akan tetapi hukuman mereka telah habis. Mereka lalu kembali ke kota raja dan menyamar sebagai orang-orang hartawan. Kita mengetahui akan hal itu akan tetapi mendiamkan saja. Bagaimanapun juga mereka adalah saudara-saudara kita dan hukuman bagi mereka sudah habis. Akan tetapi sungguh tidak disangka sama sekali, diam-diam mereka menghimpun kekuatan, mempergunakan datuk-datuk dan tokoh-tokoh sesat untuk membunuh ayahanda Kaisar dan aku sendiri. Dan engkau tahu siapa yang membongkar rahasia mereka?"

"Kakanda tadi sudah memberitahu bahwa yang membongkar rahasia itu adalah seorang bernama Tao Keng Han dan nona Souw Cu In."

"Benar dan tahukah engkau si-apa Tao Keng Han itu? Dia adalah keponakan kita sendiri, yaitu putera dari kakanda Tao Seng."

Pangeran Mahkota Tao Kuang lalu menceritakan betapa Keng Han hendak membunuhnya karena pemuda itu dihasut oleh ayahnya sendiri yang menyamar sebagai Hartawan Ji.

Akan tetapi akhirnya pemuda itu dapat disadarkan akan kekeliruannya dan bahwa dia terkena hasutan.

Cia Sun mendengarkan dengan bercampur kagum.

"Jadi pemuda itu memusuhi ayahnya sendiri dan membongkar rahasia pemberontakannya kepadamu?"

"Benar. Akan tetapi bukan berarti bahwa dia membenci ayah kandungnya. Dia berbuat demikian karena melihat bahwa perbuatan ayahnya itu tidak benar. Sekarang dia hendak mencari ayahnya untuk dibujuk pulang ke Khitan. Ibunya adalah puteri kepala suku Khitan."

Pangeran Cia Sun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Benar hebat pemuda itu. Dia tentu seorang pendekar yang besar!"

"Dia memang berjiwa pendekar dan menurut keponakanmu Kwi Hong, ilmu silatnya hebat sekali sehingga dia mampu mengalahkan para datuk sesat. Karena itu maka aku minta agar dia dan nona Souw Cu In yang juga lihai sekali untuk melindungi Kaisar dan ternyata mereka berhasil merobohkan banyak penjahat yang menyamar sebagai perajurit pengawal, akan tetapi sayang, para datuk yang memimpin penyerbuan itu dapat kabur. Rencana pemberontakan itu keji sekali. Mereka hendak membunuh ayahanda Kaisar dan aku, dan mereka mempersiapkan pasukan di luar dan di dalam kota raja, berhasil pula mempengaruhi seorang panglima. Tujuan mereka, kalau Kaisar dan aku sudah tewas, istana akan dikuasainya dan dengan dalih singgasana kosong dan dia yang berhak duduk sebagai kakakku yang tertua, Pangeran Tao Seng akan mengangkat diri sendiri menjadi kaisar."

"Keterlaluan sekali kanda Tao Seng itu. Dan sekarang, apakah dia, sudah tertangkap kembali?"

"Belum, begitu gerakan mereka gagal, dia sudah menghilang entah ke mana. Para penyelidik sedang mencarinya dan kalau tertangkap, sekali ini tentu akan di jatuhi hukuman mati."

"Aku. dapat menduga siapa datuk-datuk sesat yang dipergunakan para pemberontak itu. Mereka tentu termasuk Swat-hai Lo-kwi, Tung-hai Lo-mo dan Lam-hai Koai-jin. Mereka adalah datuk-datuk yang tersesat, mau melakukan apa saja asalkan pahalanya besar."

Kata Kai-ong Lu Tong Ki yang sejak tadi diam saja.

"Hemmm, tiga nama datuk itu sudah terkenal sekali. Kalau hanya menerima upah harta saja tentu mereka tidak mau membantu pemberontakan,"

Kata isteri Pangeran Cia Sun yang bernama Sim Hui Eng.

Wanita ini sudah kenyang dengan pengalaman di dunia kang-ouw maka ia mengenal pula tiga orang datuk yang disebutkan tadi.

"Kurasa mereka itu mendapatkan janji akan diberi kedudukan tinggi kalau Pangeran Tao Seng berhasil menjadi Kaisar."

Pangeran Mahkota Tao Kuang mengangguk-angguk.

"Dugaan itu tepat sekali. Tidak dapat disangsikan lagi, mereka tentu diberi janji yang muluk-muluk."

"Akan tetapi masih ada satu hal lagi yang amat mengherankan hatiku, Kanda Tao Kuang."

"Apa yang kau herankan?"

"Hadirnya Yo Han Li di tempat ini. Kalau Locianpwe Kai-ong tidak aneh berada di sini sebagai tamu karena aku tahu bahwa Kanda Pangeran suka menghargai orang pandai. Akan tetapi Han Li, ia masih terhitung keponakanku sendiri karena ayahnya adalah kakak angkatku. Akan tetapi biarpun demikian, ayahnya itu juga ketua Thian-li-pang yang jelas merupakan perkumpulan para pejuang yang sewaktu-waktu dapat memberontak. Bukankah tersiar berita bahwa para penyerang yang hendak membunuh kaisar itu mengaku orang Thian-li-pang?"

Pangeran Tao Kuang tersenyum.

"Berita itu bohong dan yang membongkar rahasianya adalah nona Yo Han Li. Ia tidak mengenal orang-orang itu sebagai anggauta Thian-li-pang, bahkan kemudian diketahui bahwa para penyerang itu adalah orang-orang Pek-lian-pai dan Patkwa-pai. Tadinya aku pun sangat curiga kepada nona. Yo, akan tetapi selama ia di sini ia memperlihatkan sikap yang baik sekali, bahkan cocok dengan Kwi Hong. Karena itu, aku sepenuhnya menanggung bahwa nona Yo tidak berpihak kepada pemberontakan, bahkan ia pun ikut turun tangan melawan ketika gerombolan penjahat itu menyerbu ke istana ini."

Pangeran Cia Sun mengangguk-anggup, dan Liang Siok Cu, selir Pangeran Tao Kuang yang mendampingi mereka bercakap-cakap, menambahkan.

"Menurut penglihatanku, nona Yo sama sekali tidak jahat. Bahkan ia baik sekali, sopan dan ramah. Dengan terus terang ia pernah mengatakan kepada aku dan Kwi Hong, bahwa ayahnya memang pemimpin Thian-li-pang dan berjiwa patriot, akan tetapi sama sekali tidak membenci keluarga Kaisar. Yang dibencinya adalah penjajahan dan sekarang mereka hanya bergerak melindungi rakyat dari penindasan pejabat yang menyeleweng atau gangguan gerombolan perampok. Itulah sebabnya mengapa ia mau tinggal di sini menjadi tamu kami, bahkan telah ikut membantu menyelamatkan kami dari serbuan para pembunuh."

Kembali Cia Sun mengangguk-angguk.

"Aku sudah mengenal baik siapa itu Yo Han. Pendekar Tangan Sakti itu memang seorang pendekar tulen yang budiman. Hampir tidak pernah dia membunuh orang. Orang-orang jahat hanya dia kalahkan dan dia taklukkan dan diampuni asalkan mau mengubah jalan hidup mereka yang menyeleweng."

Baca Juga: Istana Pulau Es 7

Baca Juga: Istana Pulau Es 8

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert