Ceritasilat Novel Online

Istana Pulau Es 8

Eps 8 Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo.

"orang-orang murtad! Kalian telah melakukan tiga pelanggaran. Pertama, sebagai murid Kakak Mutiara Hitam, kalian tidak mencontoh jejaknya, bahkan berwatak sombong dan kejam menggunakan pedang-pedang iblis ini. Ke dua, kalian malah merendahkan diri menjadi penjilat bangsa Mancu, hal yang takkan dilakukan oleh guru kalian. Ke tiga, kalian berhadapan dengan paman gurumu sendiri akan tetapi bersikap kurang ajar. Aku adalah Kam Han Ki dan guru kalian Mutiara Hitam adalah kakak misanku."

Kedua orang muda itu tentu saja sudah mendengar dari guru mereka tentang Kam Han Ki, bahkan mereka mengerti bahwa mereka berhadapan dengan murid manusia dewa Bu Kek Siansu, berhadapan dengan suheng dari Panglima Wanita Maya!

Mereka kaget bukan main dan teringat akan guru mereka, kedua orang itu lalu memberi hormat sambil berlutut.

"Mohon Susiok sudi memaafkan. Teecu berdua menggabungkan diri dengan bangsa Mancu agar dapat menuntut balas kematian Subo di tangan orang-orang Mongol, juga menuntut balas atas kematian Supek Kam Liong di tangan Kerajaan Sung, dan menuntut balas atas kehancuran Khitan di tangan musuh-musuhnya, di antaranya bangsa Yucen!"

Kam Han Ki menarik napas panjang.

"Urusan pribadi jangan dibawa-bawa dalam perang. Sudahlah, kalau aku tidak memaafkan kalian, apakah kalian kira masih dapat hidup di saat ini? Kalian boleh pergi dan jangan merendahkan nama guru kalian dengan menjadi panglima Mancu. Dan pedang-pedang ini.... hemm, mendiang Enci Kam Kwi Lan tentu akan merasa jijik dan malu melihat kalian menggunakan sepasang pedang iblis ini."

"Akan tetapi, Susiok! Pedang-pedang itu adalah pemberian Subo!"

Mendengar ucapan Yan Hwa ini Han Ki terkejut dan memandang sepasang pedang yang mengeluarkan cahaya kilat menyilaukan mata itu.

"Apa? Benarkah itu?"

"Sumoi tidak membohong, Susiok. Pedang-pedang itu adalah buatan Nila Dewi dan Mahendra atas perintah Subo, kemudian oleh Subo ditinggalkan kepada Suhu dan akhirnya diberikan kepada teecu berdua."

Han Ki menghela napas dan menyerahkan kembali sepasang pedang itu.

"Baiklah, sebetulnya baik buruknya sifat pedang tergantung kepada tangan manusia yang memegangnya. Tentu mendiang gurumu memberikan pedang-pedang ini dengan niat baik. Mulai saat ini, pergunakanlah pedang-pedang itu untuk menjunjung tinggi nama gurumu, karena kalau kalian menyeleweng, aku bersumpah untuk membersihkan pedang-pedang pemberian guru kalian dengan darah kalian! Nah, pergilah!"

Ji Kun dan Yan Hwa saling pandang, kemudian menyimpan pedang, menjura dan berlari pergi meninggalkan medan perang.

Setelah kedua orang itu pergi Han Ki mengamuk lagi.

Sakit hati karena kematian Sung Hong Kwi, ditambah kenyataan betapa dua orang murid Mutiara Hitam sampai terbujuk menjadi panglima-panglima Mancu, membuat ia membenci orang Mancu, dan kini kedatangan pasukan baru di pihak Mancu yang berjumlah selaksa orang ia sambut dengan amukan yang dahsyat.

Pasukan-pasukan Mancu yang dipimpin oleh kedua orang murid Mutiara Hitam adalah pasukan istimewa yang terlatih, rata-rata perajuritnya memiliki kepandaian yang lumayan dan semangat yang tinggi karena para perwiranya terdiri dari bekas Pasukan Maut pimpinan Panglima Wanita Maya.

Karena ini, pihak Mancu melakukan serbuan yang ganas dan pasukan-pasukan Yucen terdesak hebat.

Biarpun di situ terdapat Kam Han Ki yang mengamuk seperti seekor naga sakti yang marah, namun pasukan Mancu tetap bertempur dengan semangat tinggi, roboh seorang maju dua orang, roboh dua orang maju empat orang sehingga mayat mereka bergelimpangan kena sambaran sinar pedang di tangan kanan Han Ki dan pukulan maut dari tangan kirinya.

Perang yang terjadi itu benar-benar mengerikan karena kedua pihak tidak ada yang mau kalah dan mundur.

Setengah hari lamanya Han Ki mengamuk terus, bergerak tanpa berhenti dan biarpun dia merupakan seorang yang berilmu tinggi, sakti dan amat kuatnya, namun tetap saja dia seorang manusia biasa dari darah dan daging.

Hujan senjata pedang, tombak, golok dan senjata-senjata rahasia pengeroyoknya dan biarpun tubuhnya dapat menahan semua itu, namun pakaiannya pecah-pecah dan robek-robek, kulitnya babak-belur dan seluruh tubuhnya basah oleh keringat.

Amat menyeramkan keadaan pendekar muda ini yang seperti gila diamuk rasa sakit hati yang timbul dari kedukaan hatinya melihat kekasihnya tewas.

Segala kekecawaan hatinya, segala kedukaannya ia tumpahkan di saat itu melalui pedang dan tangan kirinya, merobohkan siapa saja yang menentangnya.

Pihak Mancu menjadi gentar juga menghadapi pengamukan Han Ki.

Para perwira pilihan tidak ada yang kuat menghadapinya.

Dalam beberapa gebrakan saja, kalau tidak tewas tentu terluka berat sehingga akhirnya para perwira itu mengerahkan pasukan-pasukan istimewa yang dilatih oleh Panglima Wanita Maya sendiri.

Han Ki dipancing masuk ke tempat yang sudah dipasangi lubang-lubang jebakan, dikurung oleh dua losin perajurit yang sudah ahli mempergunakan jaring-jaring baja yang ada kaitannya.

Han Ki tidak tahu akan jebakan ini maka ketika ia memasuki tempat itu dan dikurung oleh lawan yang menggerakkan jaring-jaring baja secara teratur, ia menjadi marah.

Pedangnya diputar dan ia membabat setiap jaring yang menyambar tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba kakinya terjebak.

Barulah ia tahu bahwa dia sengaja hendak dijebak.

Pada saat kaki kirinya terjeblos ke dalam lubang yang ditutupi ranting dan tanah, tiga helai jaring baja menyambar dari tiga jurusan.

"Cring-tranggg.... brettt!"

Tak mungkin bagi Han Ki untuk dapat menghalau tiga helai jaring baja itu sekaligus.

Pedangnya merobek dua helai jaring, dan mematahkan banyak kaitan baja, akan tetapi sehelai jaring telah menyelimuti tubuhnya, kaitan-kaitan baja merobek pakaian dan melecetkan kulit tubuhnya.

Dengan marah ia meraih dengan tangan kiri, merenggut lepas tiga buah kaitan baja dan ketika tangan kirinya bergerak, terdengar jerit-jerit mengerikan dan tiga orang penyerangnya roboh dengan dahi pecah dihantam kaitan-kaitan baja itu!

Han Ki menggunakan pedangnya membabati jaring yang menyelimutinya.

Akan tetapi baru saja ia berhasil membebaskan diri, datanglah serangan anak panah dari empat penjuru, anak panah yang mengandung racun dan ada juga anak panah yang mengandung api!

Bukan main berbahayanya penyerangan ini dan terpaksa Han Ki yang sudah lelah sekali itu memutar pedangnya melindungitubuh.

Ia maklum bahwa kalau dia hanya melindungi tubuh saja, tentu penyerangan itu takkan berhenti dan akhirnya ia akan celaka.

Maka ia melirik ke sekelilingnya dan melihat di mana adanya musuh-musuh yang menghujankan anak panah.

Tiba-tiba tubuhnya melesat ke kiri, luar biasa cepatnya mendahului gerakan anak panah berikutnya, pedangnya berkelebat dan robohlah lima orang pemanah yang bersembunyi di sebelah kirinya.

Han Ki mengamuk terus.

Kini tidak ada lagi lawan yang berani mendekat, apalagi karena pihak Mancu harus menjaga desakan pasukan Yucen yang berbesar hati menyaksikan sepak terjang Han Ki yang biarpun tidak secara terang-terangan membantu mereka, namun pengamukan pemuda sakti itu terhadap pihak Mancu benar-benar menguntungkan mereka.

Perang di antara kedua pasukan itu masih berlangsung, akan tetapi Han Ki sudah kehabisan tenaga.

Dia sudah tidak mengamuk lagi.

Apalagi mengamuk, berjalan dan bahkan berdiri pun dia sudah tidak kuat.

Dia harus mengaso, tubuhnya lelah sekali, marahnya berkurang dan ia menjatuhkan diri berlutut, tangan kanan memegang gagang pedang yang ditancapkan di atas tanah, mukanya menunduk, matanya terpejam.

Rambutnya awut-awutan, seperti juga pakaiannya.

Tangan, muka dan tubuhnya berlepotan darah kental menghitam, darah lawan dan darahnya sendiri.

Namun, tidak ada yang berani mendekatinya biarpun pemuda itu sudah berada dalam keadaan seperti itu.

Ada dua orang perwira yang hendak menggunakan keuntungan dan kesempatan selagi pemuda itu kelihatan habis tenaga untuk membunuhnya, akan tetapi, ketika dua orang perwira Mancu ini menerjang dari depan belakang dengan golok terangkat, tiba-tiba pedang di tangan Han Ki mengeluarkan sinar kilat dua kali, ke depan dan belakang dan....

dua orang perwira itu roboh dengan perut terobek pedang.

Setelah terjadi hal yang mengerikan ini, tidak ada lagi yang berani mengganggu Han Ki yang sudah kehabisan tenaga.

Han Ki benar-benar lelah.

Dia mendengar teriakan-teriakan hiruk-pikuk dan gerakan kaki pasukan Yucen yang kacau-balau dan bubar, tanda bahwa pasukan Yucen terdesak lawan dan mulai mundur.

Akan tetapi Han Ki tidak mempedulikan semua itu.

Dia tidak peduli apakah pasukan Yucen menang atau kalah karena yang penting baginya hanyalah membalas kematian Sung Hong Kwi kepada orang-orang Mancu sampai tenaganya habis!

Kini mulailah ia sadar kembali.

Setelah tubuhnya kehabisan tenaga, rasanya tidak berdaya, pikiran dan hatinya menguasai diri, kesadarannya pulih dan ia merasa terkejut dan menyesal.

Apakah yang telah dilakukannya?

Mengapa ia membunuhi demikian banyaknya manusia?

Dan dia bukan seorang perajurit Yucen!

Dia membunuhi manusia-manusia Mancu seperti iblis, hanya terdorong oleh kedukaan hati kehilangan Sung Hong Kwi!

Han Ki membuka matanya dan ngeri ia menyaksikan bekas tangannya sendiri, melihat mayat orang Mancu bertumpuk di sekelilingnya.

"Ya Tuhan...., apakah yang telah kulakukan tadi....?"

Terbayang olehnya betapa dengan nafsu seperti seekor binatang buas yang kelaparan ia mengamuk selama satu hari, membunuh entah berapa ratus atau berapa ribu orang!

Teringat akan semua perbuatannya sehari tadi, tak terasa lagi dua titik air mata membasahi pipi Han Ki, apalagi karena ia teringat pula akan kematian kekasihnya, Sung Hong Kwi.

Dia mengguncang-guncang kepala seolah-olah hendak mengusir kepeningan, merasa seperti dalam sebuah mimpi yang amat buruk dan mengerikan.

Mengapa ia telah lupa akan segala nasihat gurunya sehingga dia sampai melakukan pembunuhan besar-besaran ini?

Tiba-tiba ia mendengar derap banyak kaki kuda dan melihat pasukan Yucen lari kocar-kacir sehingga keadaan di sekelilingnya sejenak sunyi.

Tak lama kemudian tampaklah pasukan Mancu yang baru tiba, masih segar dan menunggang kuda, agaknya pasukan baru yang membuat pasukan Yucen kocar-kacir tadi.

Namun Han Ki tidak peduli dan dia masih tetap berlutut memulihkan tenaga.

Dia tidak akan bergerak kalau tidak diserang orang, bahkan dalam keadaan seperti itu, selagi hatinya penuh penyesalan, andaikata diserang orang sekalipun belum tentu dia mau membela diri.

"Suheng....!"

Pasukan berkuda itu berhenti dan sesosok bayangan melesat ke dekat Han Ki, lalu berlutut di depan Han Ki.

"Suheng....!"

Han Ki membuka mata memandang.

Hampir dia tidak percaya akan pandang matanya sendiri.

Seorang wanita cantik dan gagah perkasa, berpakaian sebagai seorang Panglima Besar Mancu.

"Maya-sumoi....!"

Han Ki tergagap saking bingungnya melihat sumoinya telah menjadi Panglima Besar Mancu.

"Kau.... kau seorang Panglima Mancu?"

"Aihh, Suheng. Kiranya engkau orangnya yang mengamuk dan membinasakan pasukan Mancu. Ah, Suheng, mana mungkin ini? Engkau membantu bangsa Yucen? Bangsa yang telah mengakibatkan kehancuran Khitan? Suheng...."

"Diam!"

Han Ki membentak marah lalu bangkit berdiri.

"Maya, tidak kusangka bahwa engkau begitu merendahkan diri menjadi kaki tangan Mancu. Lihat, aku masih orang biasa, aku bukan perajurit Yucen. Kalau aku memusuhi orang Mancu, hal itu adalah karena urusan pribadi.... aku.... aku pun sudah menyesal sekarang. Akan tetapi engkau.... ahh, engkau mabok akan kedudukan dan kemuliaan, ya? Nah, sekarang engkau menjadi Panglima Besar Mancu, aku sudah banyak membunuh orang-orangmu, engkau mau apa? Mau menangkapku? Membunuhku?"

"Suheng....!"

Maya bangkit pula berdiri dan mukanya pucat sekali.

"Suheng, mengapa engkau berkata seperti itu kepadaku? Suheng, begitu bencikah engkau kepadaku? Aku.... aku bukan gila kedudukan. Aku.... aku menggabung dengan Kerajaan Mancu untuk membangun kembali Khitan yang telah hancur, untuk dapat membalas sakit hati orang tua terhadap Yucen, Mongol dan Sung. Kalau hanya seorang diri, mana mungkin aku dapat membalas, Suheng? Ayah bundaku dan kerajaan mereka hancur oleh Yucen dan Sung, sedangkan Bibi Mutiara Hitam tewas di tangan orang Mongol. Suheng, marilah engkau pergi bersamaku menghadap Raja Mancu. Perbuatanmu hari ini tentu akan dimaafkan, mari kita berjuang bahu-membahu untuk membalas dendam keluarga, menegakkan cita-cita, Suheng...."

Han Ki melangkah mundur, matanya terbelalak.

"Tidak! Aku tidak mau terlibat dalam perang antar bangsa yang kotor ini. Aku meninggalkan Istana Pulau Es untuk mencari engkau dan Khu-sumoi. Sekarang aku telah dapat berjumpa denganmu, Sumoi. Kautinggalkan semua ini, mari kita mencari Khu-sumoi dan kita bertiga kembali ke Pulau Es."

Maya mengerutkan keningnya menjawab perlahan.

"Engkau tahu tiada keinginan lebih besar di hatiku kecuali hidup di dekatmu di Pulau Es, Suheng. Akan tetapi, lupakah engkau akan peristiwa tidak enak yang terjadi di antara kita bertiga? Aku tidak tahu apakah Sumoi sudah tidak marah lagi kepadaku. Marilah engkau ikut bersamaku, Suheng. Luka-lukamu harus dirawat dan biarlah aku nanti menyuruh pasukan mencari berita ke mana perginya Sumoi. Setelah kita bertiga berkumpul, baru kita bicarakan urusan masa depan kita."

"Tidak, aku tidak sudi menerima kebaikan orang Mancu setelah aku membunuhi banyak anak buahnya. Setidaknya aku sekarang sudah tahu di mana engkau berada. Aku tidak akan menghalangi jalan hidupmu, Sumoi. Biarlah aku pergi sendiri mencari Khu-sumoi...."

Dengan hati penuh duka karena kecewa menyaksikan sumoinya itu ternyata telah menjadi seorang Panglima Besar Mancu, Han Ki membalikkan tubuh hendak pergi.

"Tunggu, Suheng....!"

Maya berkelebat dan sudah mFloncat menghadang ke depan suhengnya, memandang dengan sepasang mata merah dan basah.

Biarpun tubuhnya sudah lelah sekali, melihat Maya mengejarnya, Han Ki memandang dengan wajah berseri.

"Bagus, Sumoi. Lekas kau buang pakaian panglima itu dan marilah kau ikut bersamaku mencari Khu-sumoi."

"Suheng, tidak ada kebahagiaan bagiku melebihi kalau aku hidup di sampingmu selamanya, Suheng. Aku suka ikut bersamamu, akan tetapi marilah kita berdua pergi ke Pulau Es dan hidup selamanya di sana. Jangan mencari Sumoi karena.... hal itu.... hal itu hanya akan menimbulkan pertentangan dan...."

"Maya-sumoi! Apa maksudmu ini?"

Han Ki membentak.

"Suheng, tidak tahukah engkau....? Aku.... aku.... dan Sumoi.... kami.... ah, tak mungkin kami berdua hidup di sampingmu bersama-sama...."

"Omong kosong! Kau seperti anak kecil saja, Sumoi! Sudahlah, nanti kita bicara lagi kalau sudah pergi dari sini. Mari ikut bersamaku."

"Tidak, Suheng. Kalau Suheng tidak mau berjanji pergi berdua saja dengan aku ke Pulau Es aku tidak bisa ikut. Suheng harus dapat memilih seorang di antara kami."

"Maya....!"

Maya terisak menangis.

"Selamat berpisah, Suheng...."

Ia membalikkan tubuhnya, kemudian melampiaskan kemarahan, kedukaan dan kekecewaannya dengan memimpin pasukannya menyerang pasukan Yucen yang menjadi kocar-kacir dan melarikan diri.

Han Ki pergi meninggalkan tempat itu dengan hati gelisah.

Diam-diam ia merasa menyesal sekali bahwa di dalam hatinya, Maya masih membenci Siauw Bwee dan dia bingung sekali karena dia pun maklum apa yang menyebabkan Maya bersikap seperti itu.

Maya jatuh cinta kepadanya dan merasa cemburu kepada Siauw Bwee!

Pandang matanya berkunang dan kepalanya menjadi pening ketika ia melihat gerakan pasukan yang hilir-mudik.

Ia terhuyung-huyung menjauhkan diri dan di dalam hatinya mengeluh.

"Maya.... kenapa engkau bersikap seperti ini? Mengapa engkau memaksa aku menjadi makin menderita setelah aku kehilangan Hong Kwi? Engkau dan Siauw Bwee adalah sumoiku juga murid-muridku, bagaimana aku dapat jatuh cinta kepada kalian yang kukenal sejak kecil? Maya.... apa yang harus kulakukan kini? Siauw Bwee, aku harus mencarimu dan mudah-mudahan kau akan dapat membujuk Maya agar dia suka kembali ke Pulau Es...."

Dengan hati berduka akhirnya Han Ki dapat keluar dari daerah perang itu dan mulai dengan usahanya untuk mencari sumoinya yang ke dua, yaitu Khu Siauw Bwee setelah gagal mengajak Maya kembali ke Pulau Es, bahkan mengalami pukulan batin ketika melihat kenyataan bahwa Maya telah menjadi seorang Panglima Besar Mancu dan dara itu bertekad hanya mau pergi bersamanya kalau tidak mengajak Siauw Bwee.

Dengan mengerahkan seluruh sisa tenaganya, Han Ki dapat mencapai lereng gunung dan dari tempat ini dia hanya melihat gerakan pasukan seperti serombongan semut.

Ia lelah lahir batin ketika duduk di bawah pohon.

Pertandingan hebat di mana ia telah membunuh banyak sekali orang Mancu itu telah menghabiskan tenaganya dan kini, setelah ia sadar akan segala perbuatannya ditambah dengan pertemuannya dengan Maya, ia merasa batinnya tertekan hebat dan penuh dengan penyesalan.

Seluruh tubuhnya lemas, akan tetapi tidak selemas batinnya.

Kulit tubuhnya menderita banyak luka, akan tetapi tidak sehebat luka di hatinya.

Baru terbuka matanya, mata batinnya betapa ia telah melakukan perbuatan yang amat jahat membunuhi orang-orang Mancu tanpa alasan, hanya terdorong oleh rasa sakit hatinya oleh kematian Sung Hong Kwi.

Ia menyesal bukan main dan merasa malu sendiri mengapa dia sampai dapat menjadi begitu lemah.

Teringat ia akan suhunya, Bu Kek Siansu dan ia menjadi makin menyesal!

Gurunya adalah seorang manusia dewa yang telah menurunkan banyak ilmu kepadanya.

Ilmu-ilmu yang amat luar biasa dan yang amat tinggi pula.

Sekarang terbuktilah kata gurunya dahulu bahwa yang menentukan nilai seseorang bukanlah ilmunya, bukanlah kepandaiannya, melainkan kekuatan batinnya.

Dan dia harus mengakui bahwa batinnya masih lemah, masih mudah dikuasai oleh nafsu dendam.

Ia merasa menyesal sekali.

Ia harus dapat membujuk Maya agar melepaskan diri dari ikatan perang.

Hal ini sudah merupakan kewajibannya.

Namun, ia mengenal pula kekerasan hati sumoinya itu sehingga dalan keadaan seperti sekarang ini, dipaksa pun akan percuma.

"Aku harus dapat menemukan Khu-sumoi. Hanya dialah yang kiranya akan dapat membantuku membujuk Maya, Khu-sumoi, di manakah engkau....?"

Han Ki mengeluh.

Dalam keadaan berduka itu teringatlah Han Ki akan semua pengalamannya sejak kecil.

Dan teringat ia akan kedua orang encinya.

Ia pernah mendengar dari Menteri Kam Liong bahwa kedua orang kakak perempuannya, yaitu Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui, berada di Ta-liang-san belajar ilmu dari paman kakek mereka, Kauw Bian Cinjin.

Dalam keadaan tertekan hatinya itu timbul perasaan rindu di hatinya kepada kedua orang encinya itu.

Akhirnya, setelah bersamadhi di lereng gunung itu selama semalam untuk memulihkan tenaganya, pada keesokan harinya Han Ki meninggalkan tempat itu dan pergi menuju ke selatan, ke Pegunungan Ta-liang-san karena dia tahu bahwa kedua orang sucinya itu dahulu tinggal di Puncak Ta-liang-san, digembleng oleh paman kakeknya, Kauw Bian Cinjin.

Di lereng Gunung Heng-toan-san sebelah timur, di lembah Sungai Cin-sha, terdapat sebuah kelompok bangunan yang dilingkari tembok tinggi dan tebal, merupakan sebuah benteng yang kokoh kuat, megah dan juga menyeramkan karena siang malam selalu terjaga orang-orang yang kelihatan gagah sehingga tidak ada penduduk sekitar Pegunungan Heng-toan-san yang berani datang mendekat.

Para penduduk di kaki pegunungan ini seringkali melihat orang-orang yang kelihatannya gagah menggiring kereta yang berisi peti-peti barang atau menggiring serombongan kuda yang juga penuh muatan bahkan adakalanya menggiring wanita-wanita cantik yang menangis di sepanjang jalan.

Biarpun semua barang dan tawanan itu digiring memasuki benteng dan semua penduduk dapat menduga bahwa perampokan-perampokan yang terjadi di sekitar pegunungan ini tentu ada hubungannya dengan benteng besar itu, namun tak seorang pun berani mencampuri.

Mereka hanya tahu bahwa benteng itu merupakan sarang dari perkumpulan Beng-kauw yang kini menjadi nama yang amat ditakuti, tidak seperti beberapa tahun yang lalu di mana Beng-kauw terkenal sebagai perkumpulan yang amat kuat berpengaruh menjadi tulang punggung Kerajaan Nan-cao dan juga menjadi penjamin ketenteraman karena tidak ada penjahat yang berani sembarangan bergerak di bawah kekuasaan Beng-kauw.

Memang Beng-kauw kini telah berubah sama sekali semenjak dikuasai oleh Hoat Bhok Lama.

Pendeta Lama dari Tibet yang berjubah merah ini adalah keturunan dari datuk kaum sesat Thai-lek Kauw-ong, maka biarpun dia berpakaian pendeta, namun pakaian ini hanya menjadi kedok belaka untuk menutupi keadaan yang sebenarnya karena Hoat Bhok Lama adalah seorang yang menjadi hamba dari nafsu-nafsunya, yang mengumbar nafsu tanpa pengekangan sedikitpun juga.

Hidupnya telah dipersembahkan untuk menuruti segala kesenangan dunia yang dapat ia capai mengandalkan kepandaiannya yang tinggi.

Dia gila kedudukan, gila kemewahan, gila perempuan dan karena hendak menuruti dorongan nafsu-nafsunya ini dirampasnya Beng-kauw agar dia memperoleh kedudukan ketua yang tinggi, memiliki ratusan orang anak buah yang taat, dihormati dan ditakuti banyak orang.

Kemudian untuk memuaskan nafsunya akan kemewahan, dia menggunakan kepandaian dan kekuasaannya untuk menundukkan semua kaum sesat di daerah itu sehingga setiap pencurian, setiap perampokan yang berhasil, harus lebih dulu dibawa ke bentengnya, kemudian dia memilih hasil-hasil rampokan itu, baru sisanya dikembalikan kepada mereka yang melakukannya!

Bukan hanya benda-benda berharga dan indah, juga termasuk penculikan-penculikan wanita cantik!

Karena inilah, maka keadaan di dalam benteng itu benar-benar mengagumkan orang, semua perabot serba mewah dan mahal, gudangnya penuh dengan emas dan perak, sedangkan di dalam kamar-kamar yang berderet-deret di belakang kamar ketua ini terdapat simpanan wanita cantik yang merupakan haremnya tidak kurang dari dua puluh orang banyaknya, dan masih terus minta ditambah!

Wanita-wanita ini dalam beberapa tahun saja sudah diganti-ganti dengan orang baru, karena watak Hoat Bhok Lama yang pembosan tidak memungkinkan seorang wanita tinggal lebih dari sebulan di situ.

Setelah bosan, ia hadiahkan kepada pembantu-pembantu yang berjasa, kemudian dia menghendaki pengganti untuk memperlengkapi haremnya.

Pihak pimpinan Beng-kauw yang aseli, sudah sejak dahulu berusaha membasmi Hoat Bhok Lama dan kaki tangannya, namun tiada seorang pun dapat menandingi kelihaian pendeta Lama ini.

Bahkan orang-orang gagah di dunia kang-ouw, yang mendengar akan kejahatan Beng-kauw baru ini, banyak yang datang untuk menentang.

Namun mereka semua menjadi korban dalam perjuangan mereka menentang kejahatan ini karena selain Hoat Bhok Lama amat sakti dan pembantu-pembantunya yang dia latih juga memiliki kepandaian tinggi, juga di sekitar sarang mereka telah dipasangi tempat-tempat yang berbahaya, jebakan-jebakan dan alat-alat rahasia yang mampu menghancurkan setiap penyerbu sebelum mereka dapat memasuki benteng.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali kembali tampak sebuah kereta diiringkan oleh anak buah Beng-kauw yang menyeleweng memasuki pintu gerbang benteng itu.

Di dalam kereta terdapat tiga orang wanita muda yang menangis terisak-isak.

Mereka adalah anggauta rombongan pedagang yang baru saja dirampok.

Semua harta dirampas, kaum pria yang berada di kereta dibunuh termasuk para pengawal sedangkan tiga orang wanita muda yang cantik itu ditawan.

Mereka adalah tiga orang enci adik, yang dua orang telah menikah dan baru saja suami mereka tewas dalam pertempuran melawan perampok, adapun yang termuda masih gadis berusia enam belas tahun.

Biarpun kedua orang encinya telah menikah, namun karena usia mereka baru dua puluh tahun lebih dan cantik-cantik pula, maka tidak dibunuh dan dijadikan tawanan.

Hoat Bhok Lama tercengang penuh kegirangan hati ketika melihat tiga orang wanita ini.

Baru saja dua hari yang lalu ia menghadiahkan lima orang wanita haremnya dan ia haus akan wanita-wanita baru, maka kedatangan tiga orang wanita ini membuat pendeta Lama itu gembira sekali.

Ia minum-minum sampai mabok kemudian sekaligus menyeret tiga orang tawanan itu yang meronta-ronta dan menangis, memasuki kamarnya.

Terdengarlah jerit tangis tiga orang wanita itu yang terdengar sampai keluar kamar dan ditertawai anak buah Beng-kauw.

Sudah terlalu sering terdengar rintih tangis dari dalam kamar yang merupakan kamar jagal di mana wanita-wanita muda seperti domba-domba yang disembelih tanpa ada yang membela mereka.

Di antara rintih tangis ini terdengar suara ketawa Hoat Bhok Lama yang menyeramkan.

"Tok-tok-tok! Suhu....!"

Terdengar ketukan di pintu kamar itu.

"Setan! Siapa yang sudah bosan hidup berani menggangguku?"

Hoat Bhok Lama membentak marah dari dalam kamar.

"Teecu hendak melapor, ada musuh datang!"

Wanita muda yang kini berlutut di luar pintu kamar berkata.

"Heh, keparat!"

Hoat Bhok Lama meloncat, menyambar pakaian dan membuka daun pintu.

Tangannya terkepal, siap memukul wanita muda yang menjadi muridnya, juga selirnya tentu saja karena muridnya cantik.

"Maaf, Suhu. Kalau tidak penting, teecu mana berani mengganggu kesenangan Suhu? Penjaga melapor bahwa dua orang kakak beradik she Kam itu naik lagi ke bukit. Apa yang harus kami lakukan?"

"Apa? Dua orang keturunan Beng-kauw itu? Bagus, sekali ini dua keturunan terakhir itu harus dibasmi agar tidak selalu menimbulkan kekacauan. Eh, kau jaga mereka bertiga itu, suruh mereka makan dan membersihkan diri dan jangan sampai mereka membunuh diri, aku masih belum selesai dengan mereka!"

Setelah selesai berkata demikian, tergesa-gesa Hoat Bhok Lama meninggalkan (Lanjut ke

Jilid 24) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 24 kamar tanpa menengok lagi.

Si Murid memasuki kamar dan melihat betapa tiga orang wanita muda itu saling peluk di atas ranjang sambil menangis mengguguk.

Hoat Bhok Lama berlari menaiki anak tangga menuju ke atas tembok di mana terdapat gardu penjaga.

Para pembantunya sudah menanti dan memberi hormat.

"Di mana mereka? Dan berapa orang yang datang?"

"Hanya mereka berdua, Kauwcu (Ketua Agama),"

Jawab seorang pembantunya.

"Enci adik Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui yang dulu juga."

"Hemm, mereka benar-benar sudah bosan hidup. Kalau saja masih muda, hemm, ada gunanya, akan tetapi biarpun cantik, mereka sudah terlalu tua. Kita bunuh saja mereka."

"Wah, sayang, Kauwcu. Mereka cantik-cantik sekali dan sebagai keturunan Beng-kauw yang masih ada hubungan darah dengan Suling Emas, tentu mereka hebat. Aihh, bagaimana kalau mereka itu diberikan kepada kami saja?"

"Boleh, akan tetapi selanjutnya harus dibunuh. Sebelum dibunuh, boleh kalian permainkan mereka sepuasnya. Kalau tidak dibunuh, mereka tentu akan selalu membikin kacau. Di mana mereka?"

"Mereka mendaki dari lereng sebelah utara."

"Aku tidak ingin mengorbankan anak buah sekali ini. Mereka cukup lihai dan sekarang aku sendiri akan keluar menangkap mereka."

Tanpa menanti jawaban karena maklum bahwa ucapannya merupakan perintah yang tidak boleh dibantah, kakek berjubah merah ini lalu melompat turun seperti seekor burung berbulu merah yang besar dan dengan kaki ringan sekali dia turun ke atas tanah di luar tembok.

Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui mendaki lereng Pegunungan Heng-tuan dari utara dan tidak tahu bahwa pihak musuh telah tahu akan kedatangan mereka.

Andaikata mereka tahu pun mereka tidak peduli dan tidak takut karena mereka telah bertekad bulat untuk mengadu nyawa dengan pimpinan Beng-kauw yang menyeleweng itu.

Mereka telah gagal mohon bantuan Siauw-lim-pai dan sebelum mengambil keputusan terakhir mengadu nyawa di Heng-tuan-san, mereka telah mencari bantuan namun hasilnya kosong.

Para orang-orang gagah sudah mendengar akan kesaktian Hoat Bhok Lama, menjadi gentar dan tidak berani membantu.

Partai-partai besar yang mengkhawatirkan kedudukan mereka segan untuk memusuhi Beng-kauw yang amat kuat itu.

Dengan kecewa dan penasaran, akhirnya kedua orang enci adik itu mengambil keputusan terakhir, yaitu maju sendiri tanpa bantuan, mengadu nyawa dengan Ketua Beng-kauw yang sakti untuk membalas dendam kematian suami dan saudara-saudara mereka, dan untuk merampas kembali Beng-kauw.

Mereka telah mempersiapkan diri dengan tekad bulat mempertaruhkan nyawa dan mempersenjatai diri dengan lengkap.

Sebatang pedang di tangan kanan dan sebatang cambuk di tangan kiri.

Pecut di tangan mereka yang berwarna hitam itu bukanlah senjata sembarangan, tidak kalah ampuhnya dengan pedang di tangan mereka.

Pecut itu dahulunya adalah senjata dari paman kakek, juga guru mereka, Kauw Bian Cinjin.

Pecut itu terbuat dari pintalan rambut monyet hitam raksasa yang hanya terdapat di Pegunungan Himalaya dan senjata ini mengeluarkan pengaruh mujijat dan hawa panas.

Pecut ini dahulu hanya sebuah, kemudian oleh Kauw Bian Cinjin dijadikan dua dan menjadi dua buah pecut kecil sebagai senjata kedua orang cucu keponakan, juga muridnya.

"Moi-moi, hati-hati, kita sudah mendekati benteng. Kita belum pernah menyerbu dari utara akan tetapi aku menduga bahwa di bagian ini pun tentu banyak terdapat jebakan-jebakan dan alat rahasia. Siapkan senjatamu dan jangan sembrono melangkahkan kaki."

"Baik, Cici,"

Jawab Siang Hui dan dia berjalan di belakang cicinya karena Siang Kui lebih berpengalaman disamping lebih tinggi tingkat ilmunya.

Mereka berhenti di tepi padang rumput yang membentang luas di antara mereka dan tembok benteng.

Di kanan kiri mereka terdapat gunung-gunung batu karang.

"Hemm, begini sunyinya dan tenang. Amat mencurigakan!"

Kata Siang Hui.

"Benar, kita harus menyelidiki dulu, baru boleh melintasi padang rumput ini. Siapa tahu di bawahnya tersembunyi jebakan."

Berkata demikian, Siang Kui mengambil sepotong batu untuk dilemparkan ke arah rumput yang hijau segar di sebelah depan.

"Trakk!"

Batu itu hancur berkeping-keping disambar sinar merah dari samping dan kepingannya jatuh ke atas rumput tanpa menimbulkan reaksi apa-apa.

Dua orang wanita perkasa itu cepat menengok ke kiri dan mereka memandang dengan muka merah dan mata terbelalak penuh kemarahan kepada seorang kakek yang sudah berdiri di situ sambil tertawa bergelak.

Hoat Bhok Lama, musuh besar yang mereka cari-cari, pembunuh Kauw Bian Cinjin, suami mereka dan para tokoh Beng-kauw yang lain!

Inilah orang yang telah merampas nama Beng-kauw, menghancurkan Beng-kauw aseli yang didirikan oleh kakek mereka, Pat-jiu Sin-ong Liu Gan dan kini mengangkat diri menjadi Ketua Beng-kauw, membawa anak buah Beng-kauw menyeleweng ke arah jalan sesat!

"Ha-ha-ha, kalian berdua perempuan keras kepala, sudah berkali-kali kami beri ampun mengingat bahwa keturunan pendiri Beng-kauw hanya tinggal kalian berdua, mengapa masih belum bertobat dan datang mengantar nyawa?

Bukankah lebih baik kalian yang menjadi janda, masih cantik, mencari suami-suami baru sebelum terlambat sehingga memiliki keturunan untuk menyambung keluarga?"

"Hoat Bhok Lama, engkau penjahat besar yang berkedok pendeta, manusia terkutuk yang berselimut jubah merah Lama, keparat busuk yang bersembunyi di balik nama pendeta! Hari ini kami akan mengadu nyawa denganmu untuk membersihkan nama Beng-kauw dan membalas kematian tokoh-tokoh Bang-kauw!"

Setelah mencaci marah, tubuh Kam Siang Kui bergerak cepat berubah menjadi bayangan hijau, pedangnya menusuk ke arah perut lawan.

"Crengggg....!"

Siang Kui terhuyung ke belakang, tangan yang memegang pedang tergetar hebat.

Hoat Bhok Lama tertawa bergelak, sepasang gembreng yang tahu-tahu telah berada di kedua tangannya dan tadi dipergunakan menangkis pedang itu berkilauan menyilaukan mata dan bunyi gembreng membuat telinga kedua orang wanita kakak beradik itu seperti tuli.

Akan tetapi Siang Hui telah menggerakkan pecut hitam di tangannya.

"Tar-tar....!"

Ujung cambuk hitam ini menyambar ke arah kepala Hoat Bhok Lama yang menjadi kaget juga karena ia mengenal cambuk bulu kera yang ampuh ini.

Cepat ia melempar tubuh ke belakang, kemudian berjungkir-balik dan tubuhnya meluncur ke depan, gembreng di tangan kiri menghantam ke arah kepala Siang Hui.

"Cringgg....!"

Seperti juga encinya, ketika pedangnya menangkis gembreng kuning itu, tubuhnya terhuyung dan tangan kanannya tergetar.

"Ha-ha-ha! Aku akan menangkap kalian hidup-hidup! Ha-ha!"

Hoat Bhok Lama kini menerjang maju, sepasang gembrengnya berubah menjadi gulungan sinar kuning yang lebar, menyambar-nyambar seperti dua bola api.

"Sing-sing-sing, crenggg....!"

Sepasang gembreng itu menyambar-nyambar dengan suara berdesing dan kadang-kadang diseling bunyi berdencreng kalau sepasang senjata aneh itu saling bertemu sendiri atau beradu dengan pedang lawan.

Hebat bukan main sepasang senjata ini.

Dahulu, seorang di antara datuk kaum sesat yang bernama Thai-lek Kauw-ong merupakan orang yang amat sakti sehingga hanya pendekar-pendekar sakti seperti Suling Emas saja yang sanggup menandinginya, di samping tokoh-tokoh atau datuk-datuk kaum sesat lain seperti mendiang Bu-tek Siu-lam, Jin-cam Khoa-ong, Siauw-bin Lo-mo dan Kam Sian Eng bibi kedua orang wanita ini yang telah mewarisi ilmu-ilmu aneh dari Liu Lu Sian, puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan pendiri Beng-kauw.

Dan Hoat Bhok Lama adalah keturunan langsung yang mewarisi ilmu kepandaian Thai-lek Kauw-ong.

Di samping senjata sepasang gembreng yang amat ampuh, bukan saja dapat dimainkan dengan dahsyat akan tetapi dapat pula mengeluarkan getaran suara yang menulikan telinga dan menggetarkan jantung, namun di samping ini dia memiliki Ilmu Silat Soan-hong Sin-ciang (Tangan Sakti Angin Puyuh) dan pukulan Thai-lek-kang yang mengandung sin-kang amat kuat.

"Wuuut-wuuut-wuuut, tar-tar-tar!"

Kedua orang wanita Beng-kauw itu terpaksa menjaga diri dengan cambuk hitam mereka yang diputar cepat, berubah menjadi segulung sinar hitam yang membentuk benteng sinar kuat menyelimuti tubuh mereka sedangkan dari dalam gulungan sinar hitam itu, pedang mereka kadang-kadang meluncur ke depan secara tiba-tiba untuk membalas serangan lawan.

Sebetulnya, tingkat kepandaian kedua orang wanita perkasa itu masih jauh lebih rendah kalau dibandingkan dengan tingkat kepandaian Hoat Bhok Lama, dan kalau kakek ini menghendaki, tentu saja dia dapat mengeluarkan itmunya yang tinggi untuk merobohkan dan membunuh mereka dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Akan tetapi, kedua orang wanita itu bertanding mati-matian, bermaksud mengadu nyawa dan rela mati asal dapat membunuh kakek itu.

Hal ini membuat mereka seolah-olah berubah menjadi dua ekor naga betina yang ganas.

Di samping ini, Hoat Bhok Lama juga ingin menangkap kedua lawannya hidup-hidup seperti yang ia janjikan kepada para pembantunya.

Dua orang wanita ini telah banyak membikin pusing kepadanya, maka akan terlalu enak bagi mereka kalau dibunuh begitu saja.

Kalau dia menawan mereka hidup-hidup, dia akan memperoleh dua keuntungan, pertama, ia dapat menyiksa musuh-musuh ini dan ke dua ia akan dapat menyenangkan hati pembantu-pembantu dan anak buahnya.

Bagi dia sendiri, biarpun mata keranjang dan harus diakui bahwa kedua orang janda ini masih amat menarik, namun sudah terlalu tua dan dia dapat memperoleh gadis-gadis muda setiap saat yang dikehendakinya!

Karena itulah maka pertandingan itu berlangsung lama dan amat hebat.

Siang Kui dan Siang Hui maklum bahwa memang mereka datang mengantar nyawa.

Mereka tahu bahwa lawan jauh lebih pandai dari mereka, karena itu mereka tadinya berusaha minta bantuan Ketua Siauw-lim-pai untuk membantu mereka.

Namun semua usaha mereka gagal dan kini mereka datang dengan tekad bulat untuk membunuh lawan atau mengorbankan nyawa terbunuh olehnya!

"Cuit-cuit-tar-tar-tar!"

Dua batang cambuk yang bergulung-gulung itu menyambar empat kali ke arah empat jalan darah di tubuh Hoat Bhok Lama, disusul tusukan dua batang pedang dari kanan kiri.

"Aihhhh!"

Hoat Bhok Lama terkejut sekali sepasang gembrengnya bergerak melindungi tubuhnya sehingga terdengarlah suara nyaring yang membuat dua orang wanita itu menjerit karena telinga mereka seperti ditusuk jarum dan jantung mereka tergetar, membuat mereka terhuyung ke belakang.

Namun, sebatang ujung cambuk di tangan Siang Kui masih berhasil melecut dan menotok leher kanan Hoat Bhok Lama, mendatangkan rasa nyeri bukan main.

Kalau lain orang yang terkena totokan ini tentu akan roboh, setidaknya menjadi lumpuh lengan kanannya.

Namun, sin-kang kakek ini kuat sekali dan ia hanya merasa lehernya ngilu dan matanya berkunang.

Bangkitlah kemarahan kakek ini dan ia mengeluarkan teriakan keras seperti seekor singa terluka, sepasang gembrengnya digerakkan cepat sekali dan tubuhnya berpusing seperti gasing!

Siang Kui dan Siang Hui terkejut bukan main.

Pusingan tubuh kakek itu mengeluarkan angin seperti angin puyuh, membuat mereka berdua tidak dapat tetap pasangan kuda-kuda kaki mereka.

Itulah Soan-hong Sin-ciang yang biasanya dilakukan dengan tangan kosong, akan tetapi kini lebih berbahaya lagi karena yang menyambar-nyambar dari bayangan yang berpusingan itu adalah sepasang gembreng!

Kam Siang Kui dan Kam Siang Hui melakukan perlawanan mati-matian, mengimbangi cengkeraman-cengkeraman maut yang berupa sepasang gembreng itu dengan serangan-serangan mereka yang tidak kalah dahsyatnya.

Akan tetapi yang membuat keduanya merasa pening dan bingung adalah tubuh lawan yang berpusing ditambah suara gembreng beradu yang selain menulikan telinga juga menggetarkan jantung mereka.

Untuk memusatkan sin-kang menghadapi lawan yang lihai ini, kedua orang kakak beradik itu memejamkan mata dan hanya mengandalkan pendengaran mereka yang sudah kacau oleh suara gembreng.

"Cuit-cuittt....!"

Ketika Hoat Bhok Lama secara tiba-tiba menghentikan pusingan tubuhnya hanya untuk sejenak saja, dua orang wanita itu secepat kilat telah menyerang dengan cambuk mereka.

"Cret-crett!"

Ujung cambuk bertemu sepasang gembreng, melekat dan melibat tak dapat ditarik kembali.

Terdengar kakek itu terkekeh dan tiba-tiba ia melepaskan kedua gembrengnya, tubuhnya berjongkok dan ia memukul dengan kedua tangan terbuka dari bawah ke arah perut kedua orang lawannya.

Inilah pukulan Thai-lek-kang yang jaman dahulu membuat Thai-lek Kauw-ong menjadi seorang di antara datuk-datuk golongan hitam!

"Siuuut!

Siuuutt!"

Dua sinar kecil hitam menyambar ke arah kedua pelipis Hoat Bhok Lama dari kanan kiri.

Kakek ini terkejut sekali, terpaksa menarik kembali kedua tangannya dan tubuhnya ke belakang sehingga sambaran benda-benda itu lewat yang ternyata hanyalah dua buah batu kecil yang dilepas dengan tenaga dahsyat.

Kakek ini meloncat ke atas, mencengkeram ke arah kepala dua orang wanita yang sudah terkena pukulan Thai-lek-kang sehingga terhuyung ke belakang.

Ketika mereka membuang diri ke belakang, cepat Hoat Bhok Lama sudah merampas kembali sepasang gembrengnya yang tadi terbelit oleh ujung kedua batang cambuk.

Ketua Beng-kauw itu menoleh ke kanan kiri dan melihat munculnya dua orang laki-laki muda.

Yang muncul dari sebelah kirinya adalah seorang pemuda tampan sekali, dengan pakaian mewah indah dan di punggungnya tampak gagang pedang beronce merah, sikapnya gagah dan sepasang matanya bersinar tajam.

Yang muncul dari kanan adalah seorang pemuda yang pakaiannya sederhana, memegang tongkat dan kedua kakinya telanjang.

Ia maklum bahwa dua orang yang dapat melempar sebuah batu kerikil dengan tenaga lontaran seperti itu tentu memiliki tenaga besar dan kepandaian tinggi.

Kalau tadi dia maju sendiri untuk menghadapi dua orang kakak beradik itu adalah karena dia sudah yakin akan dapat memenangkan pertandingan melawan mereka.

Akan tetapi kini munculnya dua orang muda yang lihai membuat dia ragu-ragu untuk mengandalkan kepandaian sendiri, maka kakek itu tertawa aneh dan tubuhnya sudah melompat ke belakang, ke arah padang rumput.

"Manusia terkutuk, hendak lari ke mana kau?"

Siang Kui berseru dan meloncat pula mengejar, diikuti oleh Siang Hui.

"Kedua bibi jangan kejar dia!"

Laki-laki tampan yang bukan lain adalah Suma Hoat si jai-hwa-sian berteriak memberi peringatan.

Kalau saja yang muncul bukan Suma Hoat tentu enci adik Kam itu akan menurut, akan tetapi munculnya keponakan yang dianggap sebagai seorang manusia cabul dan jahat, membuat hati mereka marah.

Apalagi Siang Kui yang cerdik tidak mau melakukan hal yang lengah atau sembrono, mengejar begitu saja.

Dia sudah curiga bahwa padang rumput itu mengandung jebakan, maka dia pun meloncat ke arah bekas kaki Hoat Bhok Lama menginjak.

Dan benar saja, ketika tubuhnya turun, dia menginjak tempat yang keras.

"Moi-moi, ikuti jejak kakiku!"

Dia berteriak kepada adiknya tanpa menoleh karena dia harus mencurahkan seluruh perhatiannya untuk melihat dan mengingat bekas injakan kaki orang yang dikejarnya.

Tiga kali dia meloncat mengikuti Hoat Bhok Lama dan dia sudah berada di tengah padang rumput, di belakang Hoat Bhok Lama, sedangkan Siang Hui juga sudah menyusul dan berada di belakang encinya ketika tiba-tiba Hoat Bhok Lama tertawa bergelak dan tubuh Siang Kui bersama adiknya yang menginjak tepat di bekas kaki pendeta itu terjeblos dan roboh terguling ke dalam air!

Ternyata bahwa rumput hijau itu tumbuh di atas air yang tertutup tanah tipis.

Tempat berpijak kaki Hoat Bhok Lama memang tepat di atas balok-balok yang dipasang dan disembunyikan di bawah rumput, akan tetapi balok-balok ini dipasangi kawat sehingga dapat diatur oleh anak buahnya yang bersembunyi sehingga ketika ia memberi isyarat, anak buahnya menggerakkan balok-balok itu sehingga tentu saja kaki Siang Kui dan Siang Hui tergelincir dan terjatuhlah mereka ke dalam air.

Dua orang wanita ini boleh jadi amat perkasa kalau mereka di darat, akan tetapi setelah mereka tercebur ke dalam air yang ternyata dalam karena tempat ini sesungguhnya merupakan telaga kecil yang oleh Hoat Bhok Lama diatur menjadi padang rumput sebagai jebakan, Mereka tidak berdaya dan menjadi gelagapan.

Empat orang anak buah Hoat Bhok Lama yang bertugas menjaga tempat ini segera muncul dari bawah rumput di mana mereka bersembunyi, lalu mereka berenang menghampiri Siang Kui dan Siang Hui.

Mereka adalah ahli-ahli renang yang pandai, maka mereka dengan mudah dapat menarik kaki kedua orang wanita itu dari bawah dan dalam pergulatan ini kedua orang wanita perkasa itu kehilangan senjata pedang dan cambuk mereka, akan tetapi mereka berhasil membunuh dua orang pengeroyok.

Biarpun demikian, mereka tidak mampu melepaskan pegangan tangan dua orang pada kaki mereka yang menarik mereka ke bawah sehingga terpaksa mereka gelagapan minum air telaga yang kotor!

"Cepat, kita harus menolong mereka!"

Teriak Im-yang Seng-cu yang tadi muncul bersama Suma Hoat.

Orang aneh bertelanjang kaki ini sudah melontarkan tongkatnya, tubuhnya menyusul melayang seperti seekor burung terbang dan kakinya hinggap di atas tongkatnya yang melintang dan mengambang di atas rumput dekat tempat kedua orang wanita itu tenggelam.

Juga Suma Hoat sudah melontarkan sepotong kayu yang didapatnya di situ, meniru perbuatan kawannya melompat.

Sekali menggerakkan tangan mereka sudah berhasil membunuh dua orang yang berusaha menenggelamkan dua orang wanita itu, kemudian mereka menarik tangan Siang Hui dan Siang Kui.

Namun berat tubuh dua orang terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh hanya sebatang tongkat dan kayu, maka sambil menarik mereka terus melontarkan tubuh Siang Kui dan Siang Hui ke depan, ke arah tepi di seberang yang lebih dekat.

Siang Kui dan Siang Hui yang sudah kehilangan senjata, meluncur ke depan dan mereka berjungkir-balik di udara untuk menambah tenaga luncuran sehingga mereka dapat turun ke tepi seberang padang rumput dengan selamat.

Dengan kemarahan meluap-luap mereka tidak sernpat berterima kasih kepada keponakan mereka yang tadinya mereka benci itu, melainkan terus mengejar bayangan Hoat Bhok Lama yang berlari ke depan sambil tertawa-tawa.

Kakek itu lari mendekati sebuah gunung batu karang di sebelah depan.

Melihat kenekatan kedua orang bibinya, Suma Hoat menjadi khawatir sekali.

Dia dan Im-yang Seng-cu baru saja tiba di tempat itu dan hampir mereka terlambat menolong Siang Kui dan Siang Hui.

"Monyet tua itu lihai dan licik sekali, kita harus membantu bibimu!"

Im-yang Seng-cu berkata.

"Aku harus membawa senjataku, lontarkan aku ke sana!"

Suma Hoat mengangguk, lalu ia memegang lengan kanannya dan mengerahkan sin-kang melemparkan tubuh kawan itu ke seberang depan.

Im-yang Seng-cu menjepit tongkatnya dengan jari kaki yang telanjang dan dia pun mengerahkan gin-kangnya untuk membantu tenaga lontaran Suma Hoat.

Pemuda tampan ini sampai amblas kedua kakinya yang menginjak kayu ketika melontarkan tubuh kawannya, kemudian ia menggunakan kayu itu sebagai perahu untuk menyusup di antara rumput hijau menuju ke seberang.

Hoat Bhok Lama tadinya tertawa-tawa menanti dua orang wanita yang sudah tidak memegang senjata.

Dia merasa yakin kini akan dapat menawan mereka, akan tetapi ketika ia melihat dua orang laki-laki muda yang lihai itu juga mengejar, cepat kakek ini mengeluarkan suara melengking panjang untuk memberi isyarat kepada anak buahnya.

Pada saat Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat tiba di seberang padang rumput atau telaga yang tertutup rumput itu, dari atas puncak gunung karang tampak datang banyak orang anak buah Beng-kauw yang menjadi kaki tangan Hoat Bhok Lama.

Melihat ini Suma Hoat berteriak.

"Harap Bibi berdua hadapi tikus-tikus dari atas itu. Serahkan monyet tua ini kepada kami!"

Sekali ini Siang Kui dan Siang Hui tidak membantah.

Diam-diam mereka merasa berbesar hati bahwa keponakan mereka itu agaknya telan insyaf dan kini datang bersama seorang bertelanjang kaki yang kelihatan juga lihai sekali untuk membantu mereka menghadapi pendeta Lama yang menyelewengkan Beng-kauw.

Mereka juga tahu diri, maklum bahwa mereka tidak akan mampu menandingi Hoat Bhok Lama, apalagi setelah mereka kehilangan senjata mereka.

Maka mereka hanya mengangguk dengan pandang mata bersyukur, kemudian mereka lari naik menyambut rombongan anak buah Hoat Bhok Lama.

Dengan beberapa kali loncatan Suma Hoat dan Im-yang Seng-cu sudah berhadapan dengan Hoat Bhok Lama yang sudah menanti dengan sepasang gembreng di tangan dan sepasang mata yang memandang ringan, mulutnya menyeringai menyambut dua orang muda itu dengan ucapan memuji.

"Wah, kepandaian kalian boleh juga! Siapakah kalian orang-orang muda yang berani menentang Ketua Beng-kauw?"

Suma Hoat tidak mau menjawab dan sudah akan menerjang maju, akan tetapi Im-yang Seng-cu tertawa menjawab.

"Anak buah Beng-kauw yang kau pimpin adalah penyeleweng-penyeleweng dan engkau adalah seorang ketua palsu, Hoat Bhok Lama! Karena itu maka hari ini aku, Im-yang Seng-cu dan sahabat kentalku ini, Jai-hwa-sian sengaja datang untuk melenyapkan yang palsu membangun yang aseli. Bagaimana?"

Hoat Bhok Lama menjadi merah mukanya dan alisnya berkerut.

"Hemmm, seingatku, nama julukan Jai-hwa-san dimiliki seorang yang rendah hati menggolongkan diri sebagai kaum sesat dan hitam, juga Im-yang Seng-cu kabarnya adalah seorang pelarian yang murtad dari Hoa-san-pai, jadi juga tidak tergolong kaum bersih. Mengapa kini berlagak seperti orang-orang bersih yang sombong dan hendak menentang golongan sendiri? Sebaiknya Ji-wi membantu kami dan Ji-wi akan menikmati hidup ini, apalagi Jai-hwa-sian, ingin mendapatkan gadis yang betapa cantik pun tidak usah repot-repot mencari sendiri. Bagaimana?"

Mereka saling pandang, kemudian Im-yang Seng-cu tertawa.

"Ha-ha-ha-ha! Usulmu memang adil dan baik sekali. Kami bukan hendak mengaku-aku orang baik-baik dan orang suci! Memang kami akui bahwa Jai-hwa-sian dan Im-yang Seng-cu bukan manusia suci, namun kami tidak pernah menyembunyikan diri di balik jubah pendeta merah dan di bawah kepala gundul! Di antara kami dengan engkau jelas terdapat perbedaan yang mencolok, Hoat Bhok Lama. Kami kotor akan tetapi tidaklah palsu seperti engkau! Kalau sekarang engkau suka berlutut minta ampun kepada dua orang keturunan Beng-kauw asli itu dan menyerahkan kembali anak buahmu yang sudah kaubawa menyeleweng, kemudian kau membiarkan aku mengetuk kepalamu yang gundul sampai benjol-benjol, kemudian kau membiarkan rambut kepalamu tumbuh dan mengganti baju pendetamu, nah, kalau begitu mungkin kami mau mengampunkan engkau!"

"Manusia sombong! Makanlah gembrengku seorang satu!"

Bentak Hoat Bhok Lama yang menjadi marah sekali dan menyerang ke depan, kedua gembrengnya sebelum menyerang saling beradu sehingga terdengar suara yang menggetarkan jantung menulikan telinga, kemudian tampak sinar kuning menyambar ke arah Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat.

"Cringgg! Tranggg!"

Pedang di tangan Suma Hoat dan tongkat di tangan Im-yang Seng-cu menangkis.

Dua orang muda perkasa itu terdorong mundur tanda bahwa tenaga sin-kang kakek itu benar-benar amat hebat, mereka terkejut dan balas menyerang, maka terjadilah pertandingan yang amat seru dan dalam sekejap mata saja lenyaplah bayangan mereka bertiga, terbungkus oleh sinar senjata masing-masing.

Dua gulungan sinar kuning dari sepasang gembreng Hoat Bhok Lama saling belit dengan sinar putih pedang Suma Hoat dan sinar hijau tongkat Im-yang Seng-cu!

Hoat Bhok Lama adalah keturunan langsung dari Thai-lek Kauw-ong yang mempunyai dua orang murid.

Murid ke dua adalah Pat-jiu Sin-kauw yang pernah bentrok dengan dua orang muda itu ketika mereka menyerbu tempat Coa-beng-cu, ketua perkumpulan hitam di pantai Po-hai dahulu.

Namun dibandingkan dengan Hoat Bhok Lama kepandaian Pat-jiu Sin-kauw masih terlalu rendah karena murid pertama ini benar-benar telah mewarisi kepandaian Thai-lek Kauw-ong yang hebat.

Setelah kini bertanding mati-matian, tahulah Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat bahwa tingkat mereka masih kalah oleh Ketua Beng-kauw palsu ini, maka mereka mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaian mereka untuk mengimbangi gerakan sepasang gembreng yang benar-benar dahsyat sekali itu.

Andaikata mereka berdua itu maju satu lawan satu pasti mereka akan kalah, akan tetapi karena mereka itu maju berdua dan di antara mereka terdapat kecocokan hati dan perasaan persahabatan yang mendalam sehingga gerakan mereka pun dapat saling melindungi, repot juga bagi Hoat Bhok Lama untuk dapat mendesak kedua orang pengeroyoknya yang jauh lebih muda.

Apalagi selama ini Hoat Bhok Lama terlalu banyak membuang tenaga untuk bersenang-senang dengan wanita-wanita muda yang menjadi tawanannya sehingga tenaga sin-kangnya banyak berkurang, juga daya tahan dan napasnya.

Untung baginya bahwa Suma Hoat tidak dapat mencurahkan seluruh perhatiannya dalam pertandingan itu karena pemuda perkasa ini membagi perhatiannya kepada kedua orang bibinya yang sudah bertempur dikeroyok banyak orang anak buah Beng-kauw yang menyeleweng.

Pertandingan di dekat puncak gunung karang itu lebih seru lagi.

Dua puluh orang lebih pembantu-pembantu Hoat Bhok Lama yang memegang bermacam senjata mengeroyok Siang Kui dan Siang Hui yang mengamuk seperti dua ekor singa betina yang marah.

Biarpun tingkat kepandaian para pembantu ketua palsu itu tidak setinggi tingkat mereka, namun mereka berdua bertangan kosong dan mereka dikeroyok dan dikepung ketat.

Siang Kui dan Siang Hui mengamuk, merobohkan enam orang, namun muncul pula beberapa orang lagi sehingga para pengeroyoknya tetap berjumlah dua puluh orang lebih.

Sambil memutar pedang melindungi tubuh dari sambaran sinar kuning yang bergulung-gulung, Suma Hoat sering kali melirik ke atas.

Dia melihat betapa kedua orang bibinya mengamuk dan kini para pengeroyok itu makin mundur menuju ke puncak gunung karang dikejar oleh kedua bibinya.

Ia merasa tidak enak sekali, mengingat betapa licik mereka ini dan betapa berbahayanya tempat itu, penuh jebakan.

"Bibi berdua, harap jangan mengejar mereka....!"

Ia berteriak, akan tetapi teriakannya itu sia-sia belaka karena Siang Kui dan Siang Hui yang sudah berhasil merobohkan banyak musuh dan kini melihat anak buah Beng-kauw palsu itu mundur tentu saja tidak mau melepaskan mereka dan berniat untuk membasmi sampai ke akar-akarnya.

Apalagi karena mereka kini memperoleh kesempatan baik sekali selagi Hoat Bhok Lama yang amat lihai itu sibuk menghadapi pengeroyokan dua orang muda perkasa.

Enci adik ini mengejar terus dan merobohkan banyak anak buah musuh yang melarikan diri ke puncak gunung karang.

Ketika sisa anak buah Beng-kauw itu tiba di bawah puncak, tiba-tiba mereka lenyap seperti ditelan jurang.

Dua orang wanita perkasa itu melompat jauh dan setibanya di bawah puncak mereka memandang ke kanan kiri, mencari-cari.

"Bibi.... awaaasss....!"

Masih terdengar teriakan Suma Hoat jauh di bawah dan tiba-tiba tanah batu yang mereka injak tergetar hebat!

Siang Kui dan Siang Hui terkejut sekali.

Getaran makin menghebat disertai suara bergemuruh seolah-olah gunung itu akan meletus!

"Moi-moi, turun....!"

Siang Kui berseru keras.

Hampir berbareng mereka membalik dan hendak meloncat turun melalui jalan mereka mengejar naik tadi.

Akan tetapi mata mereka terbelalak dan tubuh mereka berdiri kaku memandang ke depan.

Batu-batu besar yang mereka lalui tadi kini telah merekah pecah membentuk jurang menganga lebar dan kini puncak gunung batu itu runtuh ke bawah!

Mula-mula hanya batu-batu kecil lalu disusul batu-batu sebesar kerbau bahkan batu-batu sebesar rumah bergulingan ke bawa.

"Cici....!"

Siang Hui menjerit.

Mereka berusaha mengelak, akan tetapi mana mungkin menghindarkan diri dari hujan batu yang sedemikian banyaknya?

Suma Hoat dan Im-yang Seng-cu menyaksikan malapetaka mengerikan itu.

Suma Hoat menjadi nekat.

Dengan gerengan seperti seekor singa dia menubruk maju, menerima gembreng kanan lawan dengan telapak tangan kiri sedangkan pedangnya membacok ke arah kepala yang ditangkis oleh Hoat Bhok Lama dengan gembreng kiri.

Saat itu, tongkat Im-yang Seng-cu bergerak dan memang inilah yang dihendaki Suma Hoat, yaitu membuat sepasang senjata lawan sibuk menghadapinya, agar temannya dapat turun tangan.

"Desss!"

Biarpun Hoat Bhok Lama dapat menyelamatkan kepala dan lehernya, namun tetap saja pundaknya kena hantaman tongkat Im-yang Seng-cu sehingga ia terlempar ke belakang dan terhuyung-huyung, akan tetapi Suma Hoat juga mengeluh dan roboh miring.

Hoat Bhok Lama tertawa bergelak lalu berloncatan pergi menghilang.

Im-yang Seng-cu tidak berani mengejar ketika melihat temannya terluka.

Dia berlutut dan bertanya.

"Bagaimana?"

Suma Hoat menyeringai dan menarik napas panjang.

Tangan kirinya, dari telapak tangan sampai ke siku, berwarna biru karena tadi ketika ia menahan gembreng dia kalah tenaga sehingga hawa sin-kang lawan yang mendesaknya membuat lengannya terluka dan kemasukan hawa beracun.

Akan tetapi Suma Hoat tidak mempedulikan diri sendiri, matanya memandang ke arah puncak, kedua matanya berlinang air mata, kemudian dengan nekat ia meloncat bangun dan berlari mendaki pundak yang kini sudah tidak berguncang lagi.

Batu-batu dari puncak telah menutup tempat di mana Siang Kui dan Siang Hui berdiri, ribuan bongkah batu besar yang membentuk puncak baru.

"Bibi....! Bibi....!"

Suma Hoat sudah menyarungkan pedangnya dan tanpa mempedulikan lengan kirinya yang sudah biru itu dia mulai membongkar batu-batu besar seperti kelakuan seorang gila.

"Sabar dan tenanglah, sahabatku. Bagaimana mungkin kita membongkar batu-batu sebanyak dan sebesar ini?"

Im-yang Seng-cu menghibur akan tetapi ia pun ikut membantu kawannya membongkar batu-batu.

Suma Hoat tidak menjawab dan tidak mempedulikan kawannya, melainkan terus membongkar batu-batu itu sambil memanggil-manggil kedua orang bibinya.

"Bibi....! Tiba-tiba Suma Hoat melemparkan sebuah batu besar dan Im-yang Seng-cu juga memandang terbelalak ketika tampak pakaian orang di bawah batu itu. Suma Hoat mengulur tangan menangkap lengan orang itu.

"Bi....!"

Akan tetapi ia berhenti memanggil dan meloncat ke belakang ketika melihat bahwa orang di bawah batu itu sama sekali bukan bibinya, bahkan kini tampak bergerak-gerak dan muncullah sebuah kepala seorang kakek tua, kepala yang botak dan amat besar, dengan mata melotot dan mulut tersenyum-senyum!

Melihat kakek yang kepalanya besar ini, Im-yang Seng-cu segera mengayun tongkatnya tepat mengenai kepala yang rambutnya jarang itu dengan keras sekali.

"Takkk!"

Akan tetapi tongkatnya terpental dan Im-yang Seng-cu merasa betapa kedua telapak tangannya nyeri bukan main seolah-olah bukan kepala orang yang dihantamnya tadi melainkan kepala terbuat dari baja murni.

Kakek itu mengejapkan matanya, kemudian tubuhnya digoyang dan dia terlepas dari himpitan batu-batu, meloncat bangun.

Kiranya kakek ini bertubuh pendek cebol, tubuh seperti anak kecil akan tetapi kepalanya lebih besar daripada kepala orang dewasa yang manapun juga!

"Monyet, kau orangnya Hoat Bhok Lama, ya?"

Tangannya terulur dan angin dorongan yang keras membuat Im-yang Seng-cu roboh terguling sungguhpun dia telah mengerahkan sin-kang menahan.

Tentu saja dia terkejut sekali dan cepat melompat bangun sambil melintangkan tongkat di depan dada siap bertanding.

"Jangan, Locianpwe! Dia sahabatku, malah memusuhi Hoat Bhok Lama!"

Suma Hoat yang dapat mengerti bahwa kakek itu amat sakti segera berkata.

"Heh-heh-heh, kalau aku tidak tahu, apakah dia dapat bangun lagi? Ha-ha-ha, Hoat Bhok Lama benar kurang ajar, dan kalau tidak ada kau orang muda yang membongkar batu, kiranya aku si tua bangka akan mampus."

Kakek yang bertubuh kecil dan berkepala besar itu tertawa bergelak sampai keluar air matanya!

Tiba-tiba Im-yang Seng-cu menghampiri kakek itu dan menjura penuh hormat sambil berkata.

"Mohon Locianpwe mengampuni boanpwe yang seperti buta tidak mengenal Locianpwe Bu-tek Lo-jin."

Mendengar disebutnya nama itu, Suma Hoat terkejut bukan main dan memandang kakek itu dengan mata terbelalak.

Di dalam perantauannya, pernah ia mendengar akan nama orang-orang sakti seperti dewa yang oleh dunia kang-ouw dianggap telah lenyap dari dunia ramai, orang-orang seperti Bu Kek Siansu dan ke dua adalah Bu-tek Lo-jin.

Teringatlah ia akan ciri-ciri orang aneh ini, bertubuh seperti kanak-kanak akan tetapi kepalanya besar.

Pantas saja pukulan tongkat Im-yang Seng-cu yang amat dahsyat pada kepala kakek ini seperti tidak terasa tadi, kiranya kakek ini adalah orang yang memiliki kesaktian yang kabarnya seperti dewa itu!

Maka ia pun cepat memberi hormat di depan kakek itu.

Kakek itu memang benar Bu-tek Lo-jin, seorang yang sudah amat tua usianya dan sudah puluhan tahun tidak pernah terdengar lagi muncul di dunia ramai.

Di dalam cerita "Mutiara Hitam"

Kakek yang sakti dan berwatak aneh ini muncul, bahkan menjadi guru pendekar Pek-kong-to Tang Hauw Lam, suami dari pendekar wanita Mutiara Hitam.

Kakek Bu-tek Lo-jin ini pulalah yang mengunjungi Khitan dan mengadakan pelamaran atas diri Mutiara Hitam sebagai wali muridnya itu.

Biarpun hanya beberapa bulan saja Tang Hauw Lam menerima petunjuk dari kakek ini, namun kakek itu telah menurunkan ilmu yang dahsyat-dahsyat dan membuat pendekar itu makin terkenal.

Setelah Tang Hauw Lam menikah dengan Mutiara Hitam, kakek yang aneh watak dan bentuk tubuhnya ini lalu menghilang dan tidak pernah terdengar lagi sepak terjangnya yang aneh-aneh.

Karena itu, dapat dibayangkan betapa keget dan heran hati Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat ketika tanpa disangka-sangka mereka bertemu dengan kakek sakti ini secara demikian luar biasa!

"Ha-ha-ho-ho-ho!

Engkau sudah mengemplang kepalaku satu kali, akan tetapi engkau bermata tajam dapat mengenalku, berarti sudah lunas!

Kulihat gerakanmu tadi seperti ilmu dari Hoa-san.

Eh, bocah tak bersepatu seperti aku, siapakah sih engkau ini?

Dan kau ini, bocah yang bertulang baik dan telah menyelamatkan aku dari himpitan batu-batu, kau siapa?"

Suma Hoat cepat menjawab.

"Dia itu adalah sahabat saya yang terkenal dengan sebutan Im-yang Seng-cu, bekas tokoh Hoa-san-pai. Adapun saya sendiri.... saya bernama Suma Hoat...."

"Heh-heh-heh! Im-yang Seng-cu? Nama sebutan yang bagus. Dan kau she Suma? Hemm, kau berjodoh denganku. Eh, Suma Hoat, coba kauserang dengan seluruh kepandaian yang kau miliki!"

Tentu saja Suma Hoat terbelalak heran. Dia teringat akan kedua bibinya, maka dia menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu dan berkata.

"Harap Locianpwe sudi memaafkan teecu. Sesungguhnya teecu ingin membongkar batu-batu ini untuk menolong kedua orang bibi teecu yang tertimbun batu."

Setelah berkata demikian, kembali Suma Hoat membongkar batu-batu itu.

"Hayaaaa....! Jadi mereka itu tadi bibi-bibimu? Percuma, siapa dapat menyelamatkan dua orang wanita yang terhimpit batu-batu begini banyak? Mereka telah tewas dan mengapa masih harus mengganggu jenazah mereka yang sudah baik-baik terkubur seperti ini? Jarang ada orang mati dapat dikubur sehebat ini! Apakah engkau bersusah payah membongkar batu-batu ini hanya untuk menyaksikan tubuh mereka yang tentu sudah hancur?"

"Bu-tek Locianpwe benar sekali, sahabatku. Daripada membuang waktu membongkar batu yang tidak akan dapat menolong kedua orang bibimu, lebih baik kita mencari Hoat Bhok Lama dan membalas kematian kedua orang bibimu,"

Kata Im-yang Seng-cu. Ucapan ini menyadarkan Suma Hoat. Dia meloncat bangun, pandang matanya beringas.

"Kau betul! Mari kita kejar dia!"

"Heitt, nanti dulu!"

Bu-tek Lo-jin berseru dan tampak bayangan berkelebat, tahu-tahu tubuhnya yang kecil sudah berdiri di depan Suma Hoat.

"Aku tadi sudah merasakan gebukan tongkat Si Kaki Telanjang akan tetapi aku belum melihat kepandaianmu. Dengan kepandaian seperti yang dimiliki Si Kaki Telanjang, bagaimana mungkin melawan Si Gundul Jubah Merah? Apalagi, setelah aku bebas, Si Gundul busuk itu dapat berlari ke manakah? Hayo Suma Hoat, kauseranglah aku!"

Suma Hoat kelihatan ragu-ragu, akan tetapi Im-yang Seng-cu cepat berkata, suaranya terdengar gembira.

"Suma Hoat, mengapa kau begini bodoh dan tidak cepat-cepat mentaati perintah gurumu?"

Tentu saja Suma Hoat tidak bodoh, bahkan dia cerdik sekali.

Kalau tadi dia kurang perhatian adalah karena hatinya berduka oleh kematian kedua bibinya, dan marah kepada Hoat Bhok Lama.

Kini ia teringat betapa besar untungnya kalau dia bisa menjadi murid orang sakti ini, maka biarpun lengan kirinya terasa nyeri, dia memasang kuda-kuda dan berkata.

"Baik, teecu mentaati perintah Locianpwe. Teccu menyerang!"

Tubuhnya sudah menerjang maju, kedua kakinya melakukan gerakan aneh dan ketika ia menggerakkan kedua tangannya, angin menyambar ke arah leher dan pusar kakek itu.

"Cuss! Cusss!"

"Heiiihhh! Dari mana engkau memperoleh ilmu setan ini?"

Bu-tek Lo-jin berteriak sambil membelalakkan kedua matanya, mengelus-elus leher dan perut yang tadi tercium ujung jari tangan Suma Hoat.

Pemuda ini sendiri sudah terhuyung ke samping dengan kaget sekali.

Ketika ia menotok tadi, jari tangannya seperti menotok air saja, bahkan tenaga sin-kangnya seperti terbanting membuat ia terpelanting ketika dari tubuh kakek itu timbul hawa mujijat yang melawannya.

Maklum betapa saktinya kakek aneh ini, Suma Hoat menjatuhkan diri berlutut.

"Teecu mohon petunjuk."

Bu-tek Lo-jin mengerutkan alisnya yang tebal putih.

"Di dunia gila ini banyak sudah kulihat dan temui orang-orang gila yang memiliki kepandaian seperti setan. Biarpun mereka semua sekarang telah menjadi setan-setan, entah di neraka, entah di mana, akan tetapi mengenang kepandaian mereka, aku masih bergidik. Pek-kek Sin-ong dan Lam-kek Sin-ong memiliki ilmu kepandaian istimewa, tidak perlu bicara lagi tentang ilmu kepandaian Suling Emas dan keturunan-keturunannya. Dahulu, di empat penjuru dunia terdapat datuk-datuk golongan hitam yang seperti raja-raja kejahatan, mereka adalah Bu-tek Siu-lam dari barat, Thai-lek Kauw-ong dari timur, Jin-cam Khoa-ong dari utara, dan Siauw-bin Lo-mo dari selatan. Namun mereka semua itu masih tidak mampu menandingi kedahsyatan, kegilaan dan keseraman adik Suling Emas yang telah menjadi murid iblis-iblis sendiri, bernama Kam Sian Eng. Heh, orang muda, gerakan kakimu tadi bukankah dari Cap-sha Seng-keng, dan serangan tanganmu yang aneh tadi mirip Im-yang-tiam-hoat? Padahal dua ilmu itu dahulu milik Kam Sian Eng si wanita iblis!"

"Beliau adalah nenek teecu!"

Suma Hoat berkata.

"Aihhhh! Pantas.... pantas....!"

Kakek yang sudah tua sekali itu berloncatan seperti seorang anak kecil.

"Dia memang mempunyai seorang putera Suma Kiat yang licik dan jahat sekali, jadi dia...."

"Dia adalah ayah teecu!"

Suma Hoat berkata cepat, suaranya keras karena ia merasa mengkal sekali, sungguhpun ia tidak dapat membantah akan kebenaran kata-kata kakek ini.

"Ha-ha-ha-ha! Besar sekali untungku! Pernah aku mengambil murid calon suami Mutiara Hitam sekarang aku mengambil murid seorang keturunan keluarga Suling Emas, biarpun dari keluarga yang gila dan jahat. Eh Suma Hoat, di dalam dirimu engkau condong kepada yang jahat atau yang baik?"

"Tentu saja yang baik, Locianpwe!"

Im-yang Seng-cu mendengarkan percakapan itu penuh perhatian dan diam-diam ia merasa terharu mendengar pengakuan sahabatnya.

Dia pun percaya bahwa sebetulnya sahabatnya yang berjuluk jai-hwa-sian itu tidaklah memiliki dasar watak yang jahat, memiliki sebuah penyakit yang ditimbulkan oleh dendam kebencian terhadap wanita sehingga terciptalah dorongan nafsu berahi yang tidak wajar di samping kekejaman yang amat mengerikan terhadap kaum wanita.

Bu-tek Lo-jin memandang dengan matanya yang tua dan mulut yang tak bergigi lagi.

"Heh-heh, kalau engkau mengerti yang baik, coba terangkan, apakah kebaikan itu?"

Tanpa ragu-ragu Suma Hoat menjawab.

"Apa yang baik menurut perasaan hati teecu, itulah baik bagi teecu!"

Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya dan menganggap betapa piciknya jawaban sahabatnya itu.

Akan tetapi Bu-tek Lo-jin tertawa bergelak sampai keluar air matanya.

"Huah-ha-ha-hah, berbahaya sekali! Perasaan hati dapat dikuasai nafsu sehingga bukanlah hati yang murni yang akan diturut, melainkan nafsu. Akan tetapi, setidaknya engkau jujur, muridku. Mengaku apa adanya, tanpa ditutupi kepalsuan. Bagiku, masih lebih kuhargai seorang penjahat yang mengaku dirinya jahat daripada seorang baik yang menyombongkan kebaikannya. Nah, mulai sekarang engkau menjadi muridku yang bungsu, murid terakhir sebelum aku lenyap ditelan maut. Engkau siap menerima warisan ilmu-ilmuku?"

"Teecu siap, Suhu."

"Nah, kalau begitu, mari kau ikut aku pergi dari tempat ini!"

Kakek aneh itu bangkit dan Suma Hoat juga bangkit berdiri.

"Heii, nanti dulu, Suma Hoat! Apakah kau lupa untuk membalaskan kematian kedua orang bibimu?"

Im-yang Seng-cu menegur. Suma Hoat memandang gurunya.

"Suhu, teecu harus membunuh Hoat Bhok Lama dan membasmi Beng-kauw palsu yang mereka rampas dari tangan kedua bibi teecu yang telah tewas. Setelah itu baru teecu akan mengikuti Suhu"

Bu-tek Lo-jin mengerutkan alisnya.

"Mengapa kau hendak membunuhnya? Untuk membalas dendam kematian kedua bibimu?"

Suma Hoat yang cerdik itu ternyata sedikit banyak telah dapat menyelami dan mengenal watak gurunya yang amat aneh itu.

Ia menggeleng kepala dan menjawab.

"Sebagai murid, teecu harus mencontoh Suhu. Suhu sama sekali tidak mendendam kepada Hoat Bhok Lama padahal Suhu dicelakainya. Tidak, teecu bukan hendak membonuhnya karena dendam, melainkan karena teecu harus memberantas kejahatan yang dilakukan Hoat Bhok Lama dan anak buahnya. Teecu harus menolong dan melindungi orang-orang dari ancaman perbuatan jahat mereka."

Kembali kakek itu tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha! Pikiran keruh, pendapat yang kacau-balau. Siapakah engkau ini yang dapat memberantas kejahatan yang dilakukan orang-orang? Siapakah engkau ini yang dapat menolong dan melindungi orang-orang? Khayalan kosong melompong! Akan tetapi selama ucapan dan perbuatanmu sejalan dengan isi hatimu, engkau jujur dan tulen. Hayolah, aku pun ingin sekali mengetuk satu kali kepala Hoat Bhok Lama yang botak, ha-ha-ha!"

Setelah berkata demikian, Bu-tek Lo-jin yang masih tertawa-tawa itu menyambar lengan Suma Hoat, meloncat dan sekali berkelebat tubuhnya dan tubuh murid barunya lenyap di balik tumpukan batu-batu yang longsor dari puncak tadi.

Im-yang Seng-cu menarik napas panjang.

Dia merasa senang sekali bahwa sahabatnya telah menjadi murid kakek aneh itu.

Dia tidak merasa iri hati, karena dia sendiri tidak mempunyai keinginan menjadi murid siapapun juga, bahkan dia telah melepaskan diri dari ikatan Hoa-san-pai.

Im-yang Seng-cu adalah seorang yang ingin bebas, tidak mau terikat oleh peraturan, tidak mau mencontoh guru yang sudah dicetak untuk murid, ingin hidup bebas lahir batin.

Akan tetapi, di dalam hatinya, terdapat rasa simpati yang besar terhadap Jai-hwa-sian Suma Hoat, perasaan yang timbul di luar kesadarannya.

Dia merasa kasihan kepada Suma Hoat, maka kini merasa girang bahwa sahabatnya itu menjadi murid seorang pandai.

Dengan hati tegang Im-yang Seng-cu lalu meninggalkan tempat itu, menyusul guru dan murid itu yang ia tahu tentulah mencari Hoat Bhok Lama di sarangnya.

Karena puncak gunung batu karang itu runtuh, perjalanan menuruni tempat itu sukar sekali.

Terbentuk puncak-puncak tumpukan batu baru, dan goncangan tadi membuat banyak tanah batu merekah menjadi jurang-jurang yang amat curam.

Im-yang Seng-cu berjalan hati-hati menuju ke bangunan yang dikelillngl pagar tembok tinggi.

Menjelang senja barulah ia sampai di depan pintu gerbang dan dia merasa heran bukan main menyaksikan keadaan markas Beng-kauw yang amat sunyi itu.

Tidak nampak penjaga di depan pintu dan ketika ia melangkah maju dengan hati-hati karena maklum bahwa markas besar Beng-kauw ini mempunyai banyak alat-alat rahasia dan jebakan berbahaya, melongok ke dalam, ia menjadi makin terheran.

Biarpun terasa amat sunyi karena tidak ada suara, namun di sebelah dalam benteng itu tampak kesibukan orang-orang.

Im-yang Seng-cu menggerakkan tubuhnya, melesat ke dalam melalui pintu gerbang yang terbuka lebar.

Kini tampaklah olehnya betapa orang-orang itu sibuk mengangkuti mayat-mayat manusia yang malang-melintang di tempat itu termasuk mayat Hoat Bhok Lama dan para pembantunya.

Ketika melihat mayat Hoat Bhok Lama diangkat, Im-yang Seng-cu mendapat kenyataan bahwa mayat itu tidak kelihatan terluka, tidak mengeluarkan darah, hanya ada tanda biru di ubun-ubun kepalanya yang gundul.

Im-yang Seng-cu bergidik dan teringat suara Bu-tek Lo-jin yang ingin mengetuk satu kali kepala yang gundul itu!

Ketika orang-orang yang bekerja dengan sunyi itu melihat munculnya Im-yang Seng-cu, mereka memandang dengan khawatir, bahkan seorang di antara mereka yang agaknya memimpin pekerjaan mengurus mayat-mayat itu, seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahun lebih, cepat menghampiri Im-yang Seng-cu, menjura dengan penuh hormat dan berkata.

"Harap Taihiap tidak turun tangan mengganggu kami yang hanya menaati perintah Bu-tek Locianpwe dan Suma Taihiap."

Im-yang Seng-cu mengangguk-angguk kagum, maklum betapa dalam waktu singkat sahabatnya dan gurunya yang luar biasa itu telah dapat membereskan Beng-kauw, membunuh Hoat Bhok Lama dan para pembantunya dan menundukkan anak buahnya.

"Apa yang telah terjadi?"

Tanyanya. Orang itu memandang tajam, agaknya terheran mendengar ucapan pendekar kaki telanjang ini.

"Bukankah Taihiap sahabat baik Suma-taihiap dan datang bersama dia?"

"Benar, akan tetapi aku tertinggal di sana. Harap kauceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi, dan mengapa pula Bu-tek Locianpwe dapat muncul di tempat ini."

Qrang itu menarik napas panjang, kemudian setelah memandang Im-yang Seng-cu beberapa lama, ia berkata.

"Taihiap adalah Im-yang Seng-cu seperti yang dikatakan Suma-taihiap, sudah sepatutnya mendengar semua keadaan kami. Marilah kita bicara di dalam dan saya akan menceritakan semuanya."

Im-yang Seng-cu mengikuti orang itu memasuki sebuah bangunan yang cukup mewah dan setelah duduk menghadapi meja dan diberi suguhan arak, dia mendengarkan penuturan Lauw Kiam, orang itu yang dahulunya seorang anggota Beng-kauw tulen yang sudah memiliki kedudukan lumayan tingginya.

"Ketika Hoat Bhok Lama dan kaki tangannya mula-myla menyerbu Beng-kauw, kami pihak Beng-kauw melakukan perlawanan mati-matian. Dalam perlawanan ini, satu demi satu gugurlah para pimpinan kami, bahkan tokoh tertua yang kami andalkan, Kauw Bian Cinjin, gugur pula di tangan Hoat Bhok Lama. Sampai habis semua pimpinan kami tingkat tinggi, dan hanya kedua orang Kam-toanio kakak beradik saja yang masih sempat meloloskan diri. Kami, termasuk saya yang sejak muda menjadi anggauta Beng-kauw yang setia, tadinya bertekad untuk melakukan perlawanan sampai mati. Akan tetapi, kemudian tertarik oleh bujukan-bujukan Hoat Bhok Lama, pelajaran-pelajaran ilmu silat tinggi dan kebatinan sehingga akhirnya kami sampai terpikat dan terbujuk pula. Antara lain, Hoat Bhok Lama mengatakan bahwa Agama Beng-kauw adalah Agama Terang yang semenjak dahulu memerangi Gelap dan bahwa keturunan Pat-jiu Sin-ong Liu Gan, pendiri Beng-kauw di Nan-cao, telah menyelewengkan pelajaran Beng-kauw yang sejati!"

"Hemm, agaknya Hoat Bhok Lama mengerti benar akan pelajaran Beng-kauw,"

Kata Im-yang Seng-cu.

"Apa saja yang dikatakannya mengenai penyelewengan itu?"

Lauw Kian lalu bercerita.

Menurut pelajaran Hoat Bhok Lama yang disebarkan kepada semua bekas pengurus dan anggauta Beng-kauw, Agama Beng-kauw atau Agama Terang (Manichaeism) didirikan oleh Guru Besar Mani.

Terang adalah lambang kebaikan dan Gelap adalah lambang kejahatan.

Pelajarannya adalah untuk menyelamatkan Terang dari selubungan Kegelapan.

Jadi menurut pelajaran agama ini, terdapat dua kerajaan di alam semesta ini, yaitu Kerajaan Terang dan Kerajaan Gelap yang saling berlawanan.

Setan menjadi raja dari kegelapan.

Manusia adalah ciptaan Setan, demikian menurut Hoat Bhok Lama, karena itu selalu diliputi kegelapan atau kejahatan.

Dan Agama Beng-kauw merupakan pelajaran dari Sang Duta Terang, yaitu Guru Besar Mani, pendirinya.

Dongeng yang menjadi pegangan para penganut Beng-kauw ini memang sama dengan yang dijelaskan oleh Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.

Letak perbedaannya adalah bahwa kalau Liu Gan mengajarkan bahwa para penganutnya harus mengenyahkan kegelapan, mengenyahkan kejahatan dengan pantangan-pantangan, sebaliknya Hoat Bhok Lama tidak mengadakan pantangan, bahkan mengajarkan anak buahnya untuk memasuki kegelapan!

"Betapa mungkin kita dapat mengalahkan musuh tanpa menyelidiki keadaan musuh itu sendiri, tanpa mengetahui kekuatan-kekuatannya dan kelemahan-kelemahannya?

Dan untuk dapat mengetahui keadaan musuh melalui penyelidikan, kita harus terjun ke dalamnya!

Kita lahir dari kegelapan, setelah kita sadar dan mendapat sinar terang untuk melawan kegelapan itu sendiri, kita harus benar-benar memahami apakah itu kegelapan, apakah itu kejahatan, apakah itu kekuasaan nafsu.

Untuk menyelidiki kekuasaan nafsu, jalan satu-satunya hanyalah menuruti dorongan itu sendiri!

Setelah kita mengenal betul sifat-sifat nafsu dalam diri kita, tidak akan sukar lagi untuk menundukkannya!"

Demikianlah bujukan dan pelajaran yang disebar oleh Hoat Bhok Lama, dan sudah lajimnya manusia yang lemah lebih suka menganut sesuatu yang menyenangkan hati dan badan daripada menganut pelajaran yang sukar dan tidak menyenangkan hati dan badan.

Mengekang nafsu merupakan hal yang sukar dan tidak mendatangkan nikmat kepada tubuh, sebaliknya mengumbar nafsu mendatangkan nikmat jasmani.

Tentu saja pelajaran macam itu segera mendapat minat yang besar sekali dari para bekas anggauta Beng-kauw sehingga banyak di antara mereka yang tunduk dan mengakui Hoat Bhok Lama sebagai seorang ketua baru yang jauh lebih "bijaksana"

Daripada para bekas pengurus lama.

Apalagi di samping itu sudah menjadi kenyataan bahwa Hoat Bhok Lama memiliki kepandaian yang amat tinggi sehingga mereka makin tertarik untuk dapat mempelajari ilmu-ilmu tinggi dari pendeta Lama itu.

Im-yang Seng-cu mengangguk-angguk mendengar penuturan itu dan diam-diam ia menarik napas panjang.

Dia masih belum tua namun sudah banyak sekali mengalami hal-hal aneh di dunia ini yang membuat pandangannya cukup luas.

Di mana-mana ia melihat kegagalan usaha para tokoh agama apapun juga dalam perjuangan mereka mendatangkan damai dan bahagia bagi manusia seluruhnya.

Kegagalan itu seluruhnya terletak kepada kelemahan manusia yang biarpun dengan akal budi dan pikirannya dapat menerima inti pelajaran untuk hidup sebagai manusia yang baik, namun jasmaninya terlalu kuat sedangkan hatinya terlalu lemah untuk menentang nafsu badani sendiri sehingga terjadilah pertentangan yang amat menyedihkan.

Pertentangan antara hati nurani sendiri dengan perbuatan-perbuatan yang terdorong oleh nafsu pribadi, yang biasanya sering kali dimenangkan oleh nafsu.

Inilah sebabnya mengapa makin banyak orang mempelajari kebatinan, makin banyak pula terjadi pelanggaran dan dosa.

Raja Kegelapan memiliki senjata yang amat ampuh untuk menundukkan manusia, yaitu senjata sayang diri atau iba diri yang menjadi dasar sehingga manusia dengan senang hati dan mudah melakukan hal-hal yang tidak baik.

Lihatlah manusia-manusia kecil, kanak-kanak.

Betapa mudahnya mereka itu, tanpa disuruh tanpa diajar, untuk membohong dalam membela diri.

Sebaliknya, biarpun setiap hari diajar dan disuruh pantang membohong, disuruh jujur dan lain sifat-sifat baik, agaknya amat sukar bagi mereka.

"Hem, dia memang cerdik, mungkin iblis sendiri yang mengajarinya,"

Kata Im-yang Seng-cu.

"Dan bagaimanakah kakek dewa Bu-tek Lo-jin dapat muncul di tempat ini?"

"Hal itu terjadi dua bulan yang lalu,"

Kata Lauw Kian.

Kemudian ia menceritakan tentang kakek aneh itu.

Bu-tek Lo-jin pada dua bulan yang lalu datang ke Pegunungan Heng-toan, ke markas Beng-kauw karena hendak mencari Kauw Bian Cinjin yang dikenalnya.

Kakek ini tidak tahu bahwa Beng-kauw telah terjatuh ke tangan Hoat Bhok Lama dengan paksa.

Ketika mencari Kauw Bian Cinjin yang telah tewas, kakek ini kemudian mengunjungi Beng-kauw untuk bertanya tentang kematian sahabat yang dikenalnya itu.

Hoat Bhok Lama tentu saja mengenal kakek sakti ini dan dengan amat cerdiknya, Hoat Bhok Lama membujuk agar kakek sakti itu membantu Beng-kauw yang katanya hendak dikembangkannya sampai ke seluruh daratan.

Ketika tampak gejala penolakan dari Bu-tek Lo-jin, dan ada pula bahaya akan diketahui kakek itu bahwa dia merampas Beng-kauw dan membunuh semua pengurusnya, Hoat Bhok Lama lalu menipu Bu-tek Lo-jin memasuki guha di puncak yang merupakan tempat jebakan yang amat berbahaya.

Kakek yang sakti akan tetapi terlalu berani dan terlalu ingin tahu itu kena diakali dan jatuh terjerumus ke dalam lubang jebakan yang terdapat di guha puncak gunung itu.

"Hoat Bhok Lama menutup lubang dan guha itu, kami menganggap kakek itu telah tewas."

Lauw Kian menutup ceritanya.

"Siapa dapat menduga, tadi kakek yang luar biasa itu muncul bersama Suma-taihiap. Entah bagaimana dia dapat hidup selama dua bulan tertutup di dalam sumur guha itu."

Im-yang Seng-cu kagum sekali.

Hanya orang yang memiliki ilmu yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali saja yang akan dapat mempertahankan hidupnya setelah dua bulan tertutup di dalam sumur di puncak, bahkan ketika puncak itu longsor oleh gerakan alat-alat rahasia sehingga kakek itu terbawa runtuh pula ke bawah, dia masih mampu menyelamatkan diri.

"Setelah kini kalian terlepas dari tangan orang-orang jahat yang menguasai Beng-kauw, apa yang akan kalian lakukan?"

Im-yang Seng-cu bertanya.

"Kami akan meninggalkan tempat ini, kembali ke Nan-cao dan kami akan berkumpul kembali dengan bekas para anggauta Beng-kauw, bsrsama-sama membangun ksmbali Beng-kauw,"

Jawab Lauw Kian dengan wajah berduka, teringat akan para tokoh dan pimpinan Beng-kauw yang tewas sehingga kini perkumpulan mereka seolah-olah tidak mempunyai pimpinan lagi.

Im-yang Seng-cu mengangguk-angguk.

"Perkumpulan kalian adalah perkumpulan agama yang semestinya mencurahkan segala perhatian khusus untuk agama, berarti untuk kerohanian. Kalau urusan kerohanian dicampur dengan urusan dunia, tentu akan timbul pertentangan-pertentangan karena di antara keduanya bersimpang jalan. Kuharap saja Beng-kauw akan dapat benar-benar menjadi Agama Terang yang akan mendatangkan penerangan bagi manusia yang telah kehilangan slnar rohaninya, digelapkan oleh awan-awan nafsu. Sebuah perkumpulan agama bukanlah sebuah parkumpulan tukang pukul, yang disebut kuat dalam perkumpulan kalian bukanlah kaki tangannya, melainkan batinnya, rohaninya, sehingga msmancarkan sinar tsrang membantu mereka yang ksgslapan. Semoga kalian berhasil."

Im-yang Ssng-cu meninggalkan Pegunungan Heng-toan, berjalan menyusuri sepanjang tepi Sungai Cin-sha, diam-diam ia memujikan semoga sahabatnya, Jai-hwa-sian Suma Hoat, selaln memperoleh ilmu kepandaian tinggi dari Bu-tek Lo-jin, juga akan dapat sadar dan mengalahkan penyakitnya sendiri yang membuat pemuda itu mendapat julukan Dewa Pemetik Bunga!

"Aiihhh...., semua tempat kacau-balau oleh perang.

Dalam keadaan sekacau ini, mana mungkin mencari orang?

Ahhh, Suheng....

di manakah engkau....?"

Siauw Bwee menghela napas berulang-ulang sambil duduk termenung menghadapi api unggun yang dinyalakannya di tengah hutan sunyi itu.

Berbulan-bulan lamanya ia melakukan perjalanan tanpa arah tertentu dalam usahanya mencari dua orang dengan perasaan hati yang berlawanan.

Yang seorang dicarinya dengan hati penuh rindu dan kasih, yang ke dua dicarinya dengan dendam dan benci.

Namun, sudah banyak kota dijelajahi, hutan-hutan dimasuki dan bukit-bukit didaki, sudah banyak ia menyaksikan perang dan kekacauan, belum juga dia dapat menemukan orang-orang yang dicarinya, yaitu Kam Han Ki suhengnya dan Suma Kiat musuh besarnya.

Tersorot cahaya api unggun yang kemerahan itu, Siauw Bwee kelihatan amat cantik jelita.

Rambutnya yang panjang dan mawut itu mengkilap, kedua pipinya kemerahan tersentuh sinar api, matanya yang merenung itu kadang-kadang berkilat.

Dara jelita yang memiliki ilmu kesaktian tinggi itu duduk bertopang dagu.

Kudanya menggerogoti rumput kurus tak jauh di depannya.

Di dalam perantauannya semenjak meninggalkan Pulau Es Siauw Bwee yang telah mengalami banyak hal hebat, telah pula mematangkan ilmu-ilmunya dan telah menerima ilmu-ilmu baru yang tinggi.

Terutama sekali ilmu yang diterimanya dari kakek Lu Gak, yaitu gerakan kaki tangan kilat, benar-benar membuat Siauw Bwee menjadi seorang dara sakti yang akan sukar dikalahkan lawan.

Namun, dara yang berilmu tinggi dan yang cantik jelita seperti bidadari ini ternyata tidak berbahagia seperti yang disangka semua orang yang melihatnya.

Tidak sama sekali, dia kini duduk termenung penuh penasaran, kekecewaan dan kedukaan.

Kewaspadaan seorang ahli silat tinggi setingkat Siauw Bwee amat luar biasa sehingga seolah-olah penglihatan, pendengaran dan perasaannya, menjadi satu dan selalu siap menjaga diri.

Namun, segala kewaspadaan akan hilang apabila manusia dikuasai perasaan duka yang membuat semangat tenggelam.

Siauw Bwee benar-benar sedang tenggelam di lautan duka sehingga perlahan-lahan matanya berkilau basah, berkumpul di pelupuk membentuk dua butir mutiara yang turun bergantung pada bulu matanya yang panjang lentik.

Kalau ia teringat akan nasibnya, ayahnya sebagai seorang panglima yang gagah perkasa dan setia harus menerima kematian sebagai seorang pemberontak, ibunya yang meninggal dunia dalam keadaan merana berduka, kemudian ia terpaksa harus berpisah dari sucinya Maya dengan kandungan dendam di dalam hati, harus berpisah dari suhengnya dengan kandungan rindu dan kasih tak sampai di hatinya.

Siapa yang takkan berduka?

(Lanjut ke

Jilid 25) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 25 Sementara itu, semua ketidaksenangan hatinya yang hendak ia tumpahkan dalam pembalasan dendam terhadap diri Suma Kiat, tak juga dapat terlaksana karena dia belum berhasil menemukan musuh besarnya itu.

Ada didengarnya bahwa Suma Kiat memimpin pasukan besar melakukan perang terhadap barisan Mancu, akan tetapi setiap kali ia mengejarnya, dia selalu kecelik atau tidak berkesempatan turun tangan.

Tentu saja tidak mungkin baginya untuk nekat menyerbu barisan yang laksaan orang banyaknya untuk mencari musuh besarnya itu.

Hal ini akan berarti pemberontakan dan sebagai puteri tunggal Panglima Khu Tek San yang berjiwa pahlawan, dia tidak mau menambah cemar nama ayahnya dengan melawan pasukan pemerintah yang berarti pemberontakan!

Biarpun ayahnya tewas di tangan para pengawal Sung, namun yang ia persalahkan dalam hal ini hanyalah Suma Kiat karena orang itulah yang menjadi biang keladinya.

Dalam keadaan melamun tak berketentuan arah pikiran dan perasaan hati itu teringatlah Siauw Bwee akan bunyi sajak yang pernah dibacakan ayahnya, seorang ahli silat dan juga penggemar sastra.

Sejak keluhan sastrawan yang kesunyian, seperti dirinya di saat itu.

....

kosong melengang....

pikiran melayang mengejar kenangan dihimpit kesunyian....

seperti iblis mentertawakan bunyi daun berkelisik kerik jengkerik kerok katak kokok burung hartu di luar bising....

namun betapa sunyi melengang terasa di dalam seribu suara malam menambah rasa kesepian....

Teringat akan sajak ini, dua butir mutiara air mata menyusul dua yang pertama, menitik ke atas pipi.

Siauw Bwee menarik napas panjang dan memandang kudanya yang makan rumput kurus.

Terhibur sedikit hatinya.

Dia tidak sendirian sama sekali.

Masih ada kudanya.

Terdorong oleh perasaan senasib sependeritaan, Siauw Bwee bangkit berdiri, mendekati kuda itu dan mengelus bulu leher binatang itu.

"Aihh, kudaku yang setia. Sesungguhnyalah, seperti dikatakan sastrawan yang kesepian itu, sunyi timbul dari dalam hati, bukan dari keadaan di luar tubuh. Kalau tidak begini besar rinduku kepada Suheng, dendamku kepada si keparat Suma Kiat, kedukaanku karena kematian Ibu, agaknya malam ini akan terasa lain sekali, sama sekali tidak sunyi lagi. Aihhhh...."

Betapapun tinggi ilmu kepandaian silat yang dimiliki Siauw Bwee, namun dia hanyalah seorang dara remaja yang belum matang batinnya.

Kepandaian yang dimilikinya hanyalah kepandaian lahiriah.

Kalau setinggi itu pengertian batinnya, tentu dia akan tahu bahwa yang membuat orang merasa merana dalam kesunyian adalah karena dia belum dapat menyatukan diri dengan keadaan sckelilingnya.

Melihat kudanya, dia menemukan hiburan karena ada rasa persatuan di dalam hatinya terhadap binatang itu.

Kalau dia memiliki perasaan persatuan yang sama terhadap sekelilingnya, terhadap suara binatang-binatang kecil yang tak tampak, terhadap berkelisiknya daun, terhadap angin, terhadap kegelapan malam, menyatukan diri dengan alam dan seisinya, tentu tidak ada lagi penderitaan batin yang merana karena kesepian itu.

Hanya manusia yang dapat menyatukan diri dengan alam dan seisinya, baik yang tampak maupun yang tidak, dialah yang akan dapat merasakan betapa bahagia hidup ini, betapa kecil artinya hal-hal yang menimpa dirinya dan yang dianggapnya tidak menyenangkan.

Persatuan dengan alam dan seisinya, termasuk manusia dan segala makhluk, membuka rasa kasih yang akan menerangi hidup dan akan musnah segala perbandingan, segala perbedaan, segala iri hati, segala dendam dan kebencian!

Betapa sulitnya!

Sulit?

Tidak, sama sekali tidak bagi yang sadar dan yang sudah dapat mengenal diri pribadi, dapat menyaksikan dengan mata batinnya akan segala nafsu dan kekotoran yang menyelubungi dirinya.

Karena manusia selalu menunjukkan pandangan matanya KE LUAR, tidak pernah KE DALAM, maka dia tidak akan melihat semua itu dan tidak dapat menjadi sadar.

Perasaan sengsara yang menekan batin Siauw Bwee membuat dara ini lengah dan kehilangan kewaspadaannya, tidak tahu bahwa semenjak tadi, ada sepasang mata yang mengintainya, sepasang mata seorang pemuda tampan yang duduk di atas cabang pohon tinggi.

Pemuda itu telah berada di atas cabang pohon ketika Siauw Bwee datang ke tempat itu dan membuat api unggun.

Semenjak tadi, pemuda ini memandang dengan mata penuh kagum terpesona oleh kecantikan dara remaja itu.

Pemuda yang berpakaian sederhana dan berwajah tampan ini adalah seorang pendekar muda yang belum lama keluar untuk merantau meluaskan pengalaman.

Dia belum terkenal di dunia kang-ouw, karena wataknya yang halus, sesuai dengan pendidikan ayah bundanya, membuat dia tidak pernah bentrok dengan orang lain, padahal pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang tinggi.

Dia bernama Yu Goan.

Ayahnya adalah seorang pendekar yang berilmu tinggi bernama Yu Siang Ki, putera ketua perkumpulan pengemis Khong-sim Kai-pang yang terkenal (baca cerita Mutiara Hitam).

Adapun ibunya adalah seorang yang berilmu tinggi pula, tidak hanya dalam hal ilmu silat, akan tetapi terutama sekali dalam hal ilmu pengobatan karena ibunya itu puteri dari Song Hai yang berjuluk Yok-san-jin (Kakek Gunung Ahli Obat)!

Ayah dan bundanya kini membuka toko obat dan dari kedua orang tuanya, Yu Goan mewarisi ilmu silat aseli dari Khong-sim Kai-pang dan ilmu pengobatan dari raja obat Yok-san-jin Song Hai.

Dengan bekal ilmu kepandaian yang tinggi ini orang tuanya, juga kakeknya, memperkenankan pemuda ini merantau untuk meluaskan pengalaman.

Malam itu, kebetulan sekali Yu Goan bermalam di dalam hutan itu, duduk di atas cabang pohon dengan aman sampai munculnya Siauw Bwee yang membuat ia bengong terlongong dan memandang penuh kagum.

Hatinya ikut merasa terharu ketika melihat dara itu termenung dan berduka seorang diri.

Menurutkan dorongan hatinya, ingin sekali ia meloncat turun dan berkenalan, namun pendidikannya sebagai seorang pemuda terpelajar dan sopan membuat ia menahan hatinya dan tidak berani turun, bahkan tidak berani berkutik, khwatir kalau-kalau ketahuan dan disangka seorang pengintai kurang ajar.

Dia hanya berdoa dalam hatinya mudah-mudahan dara itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak, misalnya berganti pakaian, melepas sepatu dan lain perbuatan yang akan membuat dia tersudut dan menjadi makin kurang ajar tampaknya.

Tiba-tiba pemuda itu terkejut dan matanya terbelalak memandang jauh.

Apakah benda-benda mencorong yang muncul di belakang gadis itu?

Seperti mata harimau!

Ada tiga pasang banyaknya!

Otomatis tangan pemuda ini meraba ke pinggang di mana disimpannya beberapa buah senjata rahasia, siap melindungi dara itu kalau betul ada tiga ekor harlmau merunduknya!

Siauw Bwee tiba-tiba meloncat dan membalik.

"Srattt!"

Sinar kilat tampak ketika ia mencabut pedangnya.

Yu Goan memandang makin kagum.

Bukan main, pikirnya.

Gerakan dara itu sedemikian gesit dan ringannya, dan cara mencabut pedang tadi pun menunjukkan gerakan seorang ahli!

Karena terhibur oleh kehadiran kudanya, kewaspadaan Siauw Bwee timbul kembali dan telinganya dapat menangkap gerakan di belakangnya.

Ketika ia membalik dan melihat tiga pasang benda mencorong di balik semak-semak, ia terkejut dan juga menduga bahwa tentulah itu tiga pasang mata binatang buas, entah harimau entah apa.

Akan tetapi begitu ia membalik dan mencabut pedangnya, tiba-tiba tiga pasang benda mencorong itu pun lenyap, seolah-olah api yang ditiup padam.

Dia menjadi penasaran.

Tidak ada manusia atau binatang yang boleh mengintainya kemudian melenyapkan diri begitu saja sebelum dia tahu benar apa dan siapa mereka itu!

Tubuhnya berkelebat dan sekali melesat bayangannya lenyap dari pandang mata Yu Goan yang melongo terheran-heran penuh kekaguman.

Dengan gerakan kilat, gerakan yang kini jauh melebihi kecepatannya ketika sebelum ia mempelajari ilmu gerakan kaki tangan kilat, Siauw Bwee berloncatan ke sana-sini, mencari-cari.

Akan tetapi tidak menemukan seorang pun manusia atau seekor pun hewan!

Terpaksa ia kembali ke dekat api unggun memandang ke kanan kiri dengan mata tajam dan diam-diam ia merasa bulu tengkuknya berdiri.

Apakah benda-benda mencorong yang dilihatnya tadi?

Apakah pandang matanya keliru?

Ah, tidak mungkin!

Jelas ia melihat enam buah benda mencorong, tiga pasang dan melihat jaraknya tentulah merupakaan tiga pasang mata.

Akan tetapi, mata apa?

Andaikata binatang, atau manusia, tentu dapat ia kejar.

Akan tetapi benda-benda itu lenyap begitu saja tanpa meninggalkan suara apa-apa!

Seluruh urat saraf di tubuh Siauw Bwee menegang dan dia berdiri dengan sikap waspada, menanti munculnya benda-benda aneh itu, pedang masih di tangan.

Hampir setengah jam ia berdiri tanpa bergerak seperti itu, tidak tahu bahwa ada dua buah mata, sepasang mata yang tidak mencorong, mata manusia, mengintainya jauh di atas dengan melongo penuh kagum.

Api unggun bergoyang-goyang mengecil dan hal ini menyadarkan Siauw Bwee bahwa tidak ada apa-apa yang mengancamnya.

Apapun juga adanya tiga pasang benda mencorong tadi, yang pasti mereka itu tidak ada lagi sekarang.

Ia menghampiri api tinggun, menambah kayu dan api unggun menyala lagi, apinya makan kayu kering dengan lahapnya.

Kini Siauw Bwee sudah duduk lagi, akan tetapi bukan duduk melamun seperti tadi, melainkan duduk sambil menanti dengan penuh kesiap-siagaan.

Kini semua ketajaman pendengarannya dipasang dan suara yang tidak wajar sedikit saja tentu akan dapat ditangkapnya.

Dia mengambil keputusan untuk bergerak secepatnya dan tidak akan membiarkan mahluk itu sempat melenyapkan diri kalau berani muncul lagi.

Yu Goan yang berada di atas pohon dan tadi juga melihat tiga pasang benda mencorong itu, tidak kalah tegangnya.

Tegangnya dua kali lipat, karena selain tegang memikirkan benda-benda aneh itu, juga tegang menyaksikan sikap dara jelita yang ternyata dapat bergerak seperti menghilang itu.

Dia pun memasang mata penuh perhatian dan karena dia berada di tempat tinggi, dia lebih awas daripada Siauw Bwee yang pandangan matanya terhalang oleh pohon-pohon dan tetumbuhan lain.

Tiba-tiba Yu Goan bergerak, hampir lupa dan hampir berseru ketika ia melihat lagi benda-benda mencorong, tidak lagi hanya tiga pasang, melainkan banyak sekali, muncul di sekitar tempat itu!

Untung baginya bahwa Siauw Bwee juga melihat sehingga gadis itu tidak mendengar gerakannya di atas dan kini tubuh Siauw Bwee telah lenyap ketika dara ini berkelebat meloncat dengan pedang di tangan.

Siauw Bwee berseru heran karena tiba-tiba begitu ia bergerak, benda-benda mencorong itu "padam"

Dan lenyap, juga sekali ini dia tidak berhasil menemukan sesuatu biarpun dia sudah berloncatan ke sana ke mari di sekeliling tempat itu.

Kini Siauw Bwee kembali ke tempatnya dengan muka penuh karingat.

Hatinya ngeri sekali.

Belum pernah ia merasa ngeri seperti saat ini.

Dia bukanlah seorang penakut, sama sekali tidak.

Akan tetapi apa yang dialaminya di hutan ini benar-benar amat menyeramkan.

Tentu iblis-iblis penghuni hutan yang mengganggunya!

Dia tidak akan gentar menghadapi lawan manusia yang bagaimanapun.

Akan tetapi melawan iblis?

Uhh, kalau saja malam tidak begitu gelap, kalau saja matahari telah muncul, tentu ia akan segera meninggalkan hutan berhantu ini!

Siauw Bwee menghela napas, tak berdaya.

Terpaksa ia harus melewatkan malam di tempat menyeramkan ini.

Dia duduk kembali, perlahan-lahan dan tidak pernah mengalihkan perhatiannya dari keadaan di sekelilingnya.

Tiba-tiba Siauw Bwee yang baru menekuk lutut untuk duduk kembali itu menyambar segenggam tanah di dekat kakinya dan tangannya terayun sambil tubuhnya diputar.

Segenggam tanah itu mengeluarkan suara bercicitan ketika meluncur ke atas ke arah pemuda yang menjadi terkejut bukan main.

"Wuuuuttt! Trakkk!"

Biarpun hztnya segenggam tanah dan pasir, namun cabang pohon yang tadinya diduduki Yu Goan, menjadi patah terkena hantamannya.

Pemuda itu sudah meloncat dengan gerakan ringan, melayang turun sambil berseru.

"Heit, saya bukan musuh....! Harap Nona tidak salah sangka, saya bukanlah mahluk-mahluk mengerikan yang memiliki mata mencorong itu!"

Siauw Bwee memandang tajam ke arah wajah pemuda yang tinggi tegap dan tampan itu, tangannya meraba gagang pedang, jantungnya masih berdebar tegang karena tadi dia mengira bahwa tentu laki-laki di atas pohon itu yang mengganggunya.

Di bawah sinar api unggun yang kemerahan, mereka saling pandang dan setelah kini berhadapan, Yu Goan menjadi makin terpesona.

Kiranya dara itu setelah didekatinya, malah jauh lebih jelita daripada ketika ia melihat dari atas tadi, dan masih amat muda!

"Mudah saja membela diri.

Sudah jelas engkau mengintai aku dari atas pohon, atau engkau pun hendak menyangkal lagi?"

Siauw Bwee mencela, suaranya dingin. Yu Goan menggeleng kepala.

"Saya tidak menyangkal telah melihatmu dari atas pohon, Nona, akan tetapi bukanlah salahku. Bukan niatku sengaja hendak mengintai, karena aku telah berada di atas pohon lama sebelum Nona datang dan membuat api unggun di bawah pohon ini."

Siauw Bwee memandang marah, teringat akan benda-benda mencorong yang menimbulkan rasa ngeri di hatinya, yang kini ia duga tentulah perbuatan pemuda ini.

"Engkau membohong!"

Yu Goan menarik napas panjang.

"Nona, membohong atau tidak bukan hal yang dapat dipersoalkan, karena seorang pembohong tentu saja tidak mau mengaku. Akan tetapi, andaikata Nona yang berada di sini terlebih dulu, kemudian aku datang mengintai dari atas pohon, bagaimana mungkin sampai tidak tahu ada orang datang dan memanjat pohon? Aku bukan dewa, bukan pula iblis seperti makhluk-makhluk aneh tadi."

Siauw Bwee termenung dan akhirnya ia mengangguk-angguk.

Dia dapat menangkap kebenaran ucapan itu karena biarpun dari gerakan pemuda ini ketika mengelak dan melompat turun tadi, terbukti bahwa pemuda ini bukan seorang lemah, namun kiranya masih tidak mungkin pemuda ini dapat datang dan meloncat ke atas pohon itu tanpa dia ketahui sama sekali.

"Kalau begitu, mengapa engkau diam saja dan sengaja mengintaiku dari atas pohon?"

"Habis, apa yang harus kulakukan, Nona?"

"Mengapa engkau tidak menegurku sehingga aku tahu bahwa ada orang di atas pohon?"

"Ahh, mana aku berani, Nona? Andaikata engkau seorang pria, tentu saja aku akan langsung menegurmu dan berkenalan. Akan tetapi engkau seorang wanita muda, bagaimana aku berani menegur dan bersikap tidak sopan? Aihhhh, Nona, kalau saja engkau tahu betapa tersiksa hatiku di atas sana tadi, tak tahu harus berbuat apa, turun tidak berani diam saja bagaimana. Aihh, benar-benar tersiksa. Aku hanya mengkhawatirkan suatu hal...."

Tiba-tiba pemuda itu berhenti dan mukanya yang tampan menjadi merah sekali, ia pun menunduk dan merasa telah terlanjur, menurutkan suara hatinya.

Siauw Bwee kini sudah hilang kemarahannya, bahkan diam-diam ia senang sekali melihat sikap yang halus, pandang mata yang penuh perhatian, tutur kata yang sopan dan tersusunrapi.

Ia percaya bahwa pemuda seperti ini tidak mungkin seorang penjahat.

Akan tetapi keraguan pemuda dalam kalimat terakhir tadi kembali membangkitkan kecurigaannya dan ia cepat berkata mendesak.

"Apa yang kau khawatirkan itu? Katakanlah agar aku tidak meragukan kebersihanmu!"

"Yang kukhawatirkan tadi.... eh, anu...., aku diam-diam berdoa kepada Tuhan agar engkau tidak melakukan hal yang bukan-bukan di bawah sini selagi aku berada di atas pohon, karena kalau engkau melakukannya, aku benar-benar akan celaka!"

"Eh, jangan bicara seperti teka-teki. Katakan, hal yang bukan-bukan itu apakah? Perbuatan apa yang kau khawatir aku lakukan?"

".... hem.... misalnya.... eh, kau merasa kakimu lelah dan membuka.... sepatu.... atau.... eh, berganti pakaian.... maaf...."

Tiba-tiba Siauw Bwee menahan ketawanya dan mukanya juga menjadi merah sekali.

Memang tidak ada air di situ.

Kalau ada, tentu dia akan mandi dan berganti pakaian dan memikir hal ini....

bertelanjang bulat di situ, di bawah pandang mata pemuda ini, ia merasa bulu tengkuknya berdiri!

Akan tetapi dia masih penasaran dan bertanya.

"Andaikata benar demikian, mengapa kau khawatir dan kaukatakan akan celaka?"

"Tentu saja, Nona. Kalau terjadi hal itu, tentu dalam pandanganmu aku akan lebih kurang ajar lagi."

Siauw Bwee tersenyum dan memandang dengan mata bersinar.

"Sungguh lega hatiku sambitanku tadi tidak mencelakakan engkau. Ternyata engkau bukan musuh, dan engkau seorang yang amat sopan dan jujur. Siapakah engkau?"

Pemuda itu menjura dengan hormat, wajahnya berseri karena dia senang sekali bahwa Nona yang dikaguminya itu tidak marah.

"Saya she Yu bernama Goan, seorang perantau yang kemalaman di sini maka bermalam di atas pohon. Dan Nona...."

"Eh, apakah engkau tadi melihat benda-benda mencorong yang aneh itu?"

Siauw Bwee memotongnya.

"Aku melihatnya, dan aku kagum sekali menyaksikan gerakan Nona yang amat cepat."

"Hemm, kalau gerakanmu demikian cepat tentu akan dapat menangkap mereka. Tahukah engkau, apakah benda-benda itu tadi?"

"Aku pun tidak tahu, Nona. Melihat jaraknya, seperti sepasang mata, akan tetapi kalau sampai Nona yang demikian cepat gerakannya tidak dapat menangkap mereka, aku bukan seorang yang percaya akan tahyul, hanya.... kiranya tak mungkin manusia memiliki mata seperti itu. Aihh, sampai sekarang pun aku masih merasa ngeri dan merasa seolah-olah saat ini banyak pasang mata yang memandang dan mengintai kita."

Siauw Bwee bergidik, hatinya ngeri, akan tetapi juga agak lega dan girang bahwa dia mendapatkan seorang kawan dalam hutan yang menyeramkan ini.

Tanpa disengaja, matanya melirik ke bawah dan memperhatikan kedua kaki pemuda itu.

Pemuda yang tampan sekali dan sikapnya halus seperti itu jarang ia jumpai dan munculnya tidak wajar.

Jangan-jangan penjelmaan iblis dan siluman, siapa tahu?

Tiba-tiba pemuda itu tertawa geli.

"Ampun, Nona. Harap jangan menyangka bahwa aku ini siluman! Sungguh mati, aku manusia biasa!"

Wajah Siauw Bwee menjadi merah dan ia pun tersenyum.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa aku menyangka engkau siluman?"

"Nona memandang ke arah kakiku untuk melihat apakah kedua kakiku menginjak tanah, bukan? Menurut dongeng, bangsa siluman kalau menjelma menjadi manusia dapat dikenal dari kakinya yang tidak menginjak tanah, melainkan berada sejengkal di atas tanah, dan kalau ada cermin, dia tidak mempunyai bayangan."

"Ihh, aku harus berhati-hati terhadapmu. Engkau sopan, jujur dan cerdik sekali. Dan hatiku masih panik oleh rasa ngeri memikirkan benda-benda mencorong itu."

Pemuda itu mengangguk.

"Kalau tidak bertemu di sini, agaknya aku pun akan takut setengah mati. Untung kita saling bertemu dan sebaiknya malam ini kita bersikap waspada. Engkau mengasolah, Nona. Biar aku yang menjaga. Menurut dongeng, bangsa siluman takut akan api, maka api unggun ini harus selalu dijaga jangan sampai padam."

Siauw Bwee menggeleng kepala.

"Setelah munculnya makhluk-makhluk aneh itu, mana aku dapat tidur? Engkau tidurlah, biar aku yang menjaga api. Kalau mereka itu betul makhluk hidup dan muncul lagi.... hemmm, ingin aku menggempur mereka!"

"Tidak, Nona. Engkau yang harus tidur dan aku yang menjaga."

"Tidak! Aku yang menjaga!"

Keduanya saling pandang dan melihat pemuda itu memandangnya dengan mata terbelalak penuh keheranan dan kegelian hati, mau tidak mau Siauw Bwee tersenyum.

Mereka baru saja bertemu, sudah berbantahan!

"Aku telah tahu bahwa ilmu kepandaian Nona hebat bukan main, mungkin sepuluh kali tingkat kepandaianku.

Akan tetapi, betapapun juga, Nona adalah seorang wanita dan aku seorang pria.

Mana mungkin seorang pria yang tahu akan susila dapat tidur pulas dan membiarkan seorang wanita melakukan penjagaan?

Biarpun bodoh, aku tidaklah sekasar dan kurang ajar seperti itu, Nona."

Siauw Bwee tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, aku akan mengaso dulu. Akan tetapi begitu muncul lagi benda-benda mencorong seperti tadi, jangan ragu-ragu untuk membangunkan aku. Dan jangan lupa, kita bergilir. Kalau bulan secuwil di atas itu sudah lenyap, tibalah saatnya giliranku menjaga dan engkau mengaso."

Yu Goan mengangguk.

"Baiklah."

"Akan tetapi awas, jangan kau terlalu sungkan dan membiarkan aku tidur terus sampai siang. Aku akan marah!"

Yu Goan tersenyum.

Makin tertarik hatinya.

Dara itu cantik jelita melebihi bidadari impian hatinya, berilmu tinggi sekali, pemberani dan tabah sehingga seorang diri berani bermain di dalam hutan, dirundung keprihatinan yang tadi memancing keluarnya mutiara air mata mendatangkan perasaan iba di hatinya, dan sekarang ternyata selain berwatak halus dan bersikap ramah, juga sikapnya terbuka, polos dan jujur!

Seorang dara yang menonjol di antara laksaan orang gadis lain!

Siauw Bwee rebah miring membelakangi api unggun.

dan Si Pemuda.

Biarpun dia merasa yakin akan sifat-sifat baik pemuda itu, namun hatinya masih penuh kengerian maka dia hanya akan merasa aman kalau tidur sambil menghadap ke arah kegelapan dari mana tadi muncul benda-benda aneh.

Hati Yu Goan merasa lega.

Kalau gadis itu rebah miring menghadap ke arahnya, tentu dia tidak akan berani menatap wajah gadis itu.

Kini, gadis itu membelakanginya sehingga dia mendapat kebebasan untuk memandangnya, biarpun dia hanya dapat mengagumi lekuk-lengkung tubuh belakang di balik pakaian sederhana, dan sedikit kulit tengkuk yang putih kuning yang membayang di antara dua kepang rambut yang hitam subur, anak-anak rambut yang melingkar indah di atas tengkuk, dan garis pipi kemerahan dilindungi sebuah telinga yang kecil panjang dan tipis.

Semalam suntuk tidak terjadi sesuatu, tidak ada benda-benda mencorong atau makhluk aneh muncul.

Yu Goan tenggelam dalam kekaguman sehingga dia tidak merasa betapa malam telah lewat.

Dirasakannya sebentar saja dan tahu-tahu dia mendengar bunyi ayam hutam berkokok dan sinar keemasan membayang di timur.

Malam telah lewat dan pagi mulai menjenguk di ambang timur!

Siauw Bwee mengulet enak sekali, membalikkan tubuh, menegangkan otot-otot dan mengembangkan kedua lengan ke atas kepala, menguap kecil.

Pemandangan ini sedemikian indah mengharukan bagi Yu Goan, membuatnya terpesona akan tetapi ketika hatinya mencela mata yang menikmati pemandangan itu, dia cepat mengalihkan pandang dari tubuh dan muka yang kini telentang itu, menunduk.

Kokok ayam hutan memasuki pendengaran Siauw Bwee dan seketika dia meloncat bangun, membalik dan memandang ke arah api unggun yang masih menyala dan ke arah pemuda yang masih duduk dekat api unggun.

Mata gadis itu bersinar marah dan ia membentak.

"Terlalu sekali! Sudah pagi! Mengapa kau tidak membangunkan aku? Mengapa membiarkan aku tidur kesiangan dan tidak memberi kesempatan padaku untuk melakukan gilir berjaga? Apa maksudmu?"

Yu Goan bangkit berdiri dan menjawab halus.

"Maaf, Nona. Hanya ada dua pilihan bagiku malam tadi. Pertama, aku harus melihat Nona terganggu dari tidur nyenyak kalau aku membangunkan Nona. Ke dua, aku harus menghadapi kemarahan Nona kalau aku tidak membangunkan Nona. Dari dua pilihan itu, aku memilih yang ke dua. Aku menerima salah dan siap menerima hukuman."

Bagaimana mungkin orang bisa marah menghadapi sikap yang menyerah seperti inl?

Apalagi pemuda itu jelas bermaksud bahwa rela dimarahi daripada mengganggunya dari tidur nyenyak!

Kalau dia toh marah terus, berarti dia yang keterlaluan!

Seketika kejengkelan hati Siauw Bwee lenyap dan dara ini menurunkan kedua lengan yang tadi menegang, membanting kaki kiri dan berkata.

"Aihhhh! Engkau membikin aku tidak enak saja. Kalau tahu begini, aku tidak mau tidur sedikitpun juga, apalagi tidur semalam suntuk dan membiarkan engkau melakukan penjagaan!"

"Tapi aku senang sekali melakukan penjagaan, Nona. Dan semalam tidak ada muncul peristiwa sesuatu. Agaknya iblis-iblis itu telah merasa takut mendengarkan ancamanmu."

Siauw Bwee teringat dan cepat ia menyambar pedangnya, digantungkan di punggung.

"Ahh, sekarang kita dapat mencari iblis-iblis itu! Kalau ada jejak kakinya, berarti bukan iblis!"

"Engkau benar, Nona. Mari kita mencari!"

Dua orang muda itu lalu mencari di antara rumput alang-alang dan tetumbuhan di sekitar tempat itu, di tempat-tempat di mana semalam mereka melihat benda-benda mencorong dan dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka ketika melihat tapak kaki manusia!

"Bukan main!

Manusia-manusia apakah mereka yang memiliki mata mencorong seperti mata harimau?"

Yu Goan berseru.

"Hebatnya, bagaimana mereka dapat bergerak demikian cepatnya?"

Siauw Bwee berkata lirih dan diam-diam ia terkejut sekali.

Setelah ia memiliki ilmu sakti gerak kaki tangan kilat dari rombongan kaki buntung dan lengan buntung, gin-kangnya mencapai tingkat tinggi sekali.

Akan tetapi mengapa semalam dia tidak mampu menangkap orang-orang aneh ini?

Mungkinkah mereka memiliki kepandaian menghilang seperti setan?

"Jumlah mereka banyak dan tapak kaki mereka menuju ke satu jurusan.

Kita dapat mengikuti mereka."

Yu Goan berkata sambil meneliti tanah.

"Hemm, aku merasa curiga sekali. Mari kita cari mereka!"

Siauw Bwee berkata.

Kedua orang itu lalu berjalan mengikuti arah jejak tapak kaki yang menuju ke selatan.

Setelah berjalan dua jam lamanya, mereka berdua berhenti di tepi sebuah tebing yang amat curam.

"Ah, tentu di bawah itu sarang mereka....!"

Kata Yu Goan menunjuk ke bawah.

Tebing itu amat curam, kiranya tidak kurang dari dua ribu kaki.

Dan jauh di bawah sana kelihatan kecil sekali seperti mainan kanak-kanak, tampak sebuah perkampungan kecil dengan beberapa buah rumah sederhana.

Lembah di bawah itu kelihatan sunyi, seolah-olah perkampungan itu tidak ada penghuninya.

"Aneh sekali. Lembah di bawah itu dikelilingi tebing yang begini curam, seolah-olah terpisah dari dunia ramai. Siapakah gerangan yang tinggal di bawah sana?"

Siauw Bwee berkata, termangu-mangu.

"Sebaiknya kita mencari jalan turun ke sana untuk menyelidikinya, Nona."

"Memang begitu kehendakku. Akan tetapi, aku mendapat firasat di hati bahwa tempat itu amat berbahaya, dan agaknya orang-orang yang tinggal di tempat seperti itu tentulah orang-orang aneh yang berilmu tinggi. Aku tidak ingin melihat engkau menghadapi malapetaka di sana, Yu-twako."

Yu Goan menoleh, mereka berpandangan dan pemuda itu tersenyum.

"Engkau baik sekali, Nona. Jangan khawatir, aku dapat menjaga diri dengan pedangku."

Sejenak Siauw Bwee memandang pemuda itu. Akhirnya ia tersenyum dan mengangguk.

"Baiklah, aku pun percaya bahwa engkau bukanlah seorang yang mudah dikalahkan, Yu-twako. Mari kita mencari jalan turun!"

"Nanti dulu, Nona!"

Siauw Bwee membalikkan tubuh dan melihat pemuda itu memandangnya penuh perhatian, ia bertanya.

"Ada apakah?"

Pemuda itu kelihatan bingung dan ragu-ragu, agaknya sukar sekali membuka mulut menyatakan isi hatinya.

"Harap Nona sudi memaafkan kalau aku bersikap kurang ajar, karena sungguh tidak sopan bagi seorang pemuda untuk mengajukan pertanyaan ini kepada seorang dara terhormat...."

"Aihhh, katakanlah. Apa yang ingin kaukatakan, Twako? Engkau terlalu sungkan."

"Aku terpaksa mengajukan pertanyaan ini, Nona, mengingat bahwa kita telah saling berkenalan dan kita bersama menghadapi hal yang belum kita ketahui bagaimana sifatnya, mungkin berbahaya."

Siauw Bwee mengangguk tak sabar.

"Tanyalah!"

"Aku ingin mengetahui siapakah Nona? Dan siapakah nama Nona yang mulia?"

Siauw Bwee tertawa dan menggunakan tangan kiri menutupi mulut.

"Hi-hi-hik! Engkau benar-benar lucu sekali, Twako! Engkau terlalu ditekan dan diselubungi kesopanan sehingga kelihatan lucu! Bertanya nama saja apa sih dosanya? Tentu saja kau boleh menanyakan namaku, bahkan aku yang lupa belum memperkenalkan diri, padahal aku telah mengetahui namamu. Mengapa kau ragu-ragu dan malu-malu, minta maaf segala? Dengarlah, namaku adalah Khu Siauw Bwee."

"Khu Siauw Bwee....?"

Yu Goan mengingat-ingat, akan tetapi merasa belum pernah mendengar nama ini. Tiba-tiba ia mengangkat muka memandang.

"Khu-lihiap (Pendekar Wanita she Khu), aku pernah mendengar nama besar murid dari pendekar sakti Kam Liong yang menjadi menteri, murid Menteri Kam Liong itu seorang pahlawan yang gagah perkasa, dan yang telah gugur bersama gurunya di kota raja karena fitnah. Namanya Khu Tek San, dan mengingat she itu...."

Yu Goan berhenti bicara dan memandang terbelalak ke wajah jelita yang berubah agak pucat.

Dua butir air mata menitik turun dan bibir yang kecil merah itu bergerak-gerak lalu digigit.

"Khu-lihiap, maafkan aku. Apakah mendiang Khu Tek San itu...."

Siauw Bwee mengangguk.

"Dia adalah ayahku sendiri!"

Yu Goan cepat mengangkat kedua tangan ke depan dada, membungkuk penuh hormat.

"Ahhh, sudah kuduga bahwa Nona tentulah bukan orang sembarangan! Kiranya puteri mendiang Khu-ciangkun, murid yang setia dan gagah perkasa dari mendiang Menteri Kam yang terkenal di seluruh dunia! Maafkan kalau aku bersikap kurang hormat, Lihiap!"

Siauw Bwee menarik napas panjang.

"Sudahlah, Twako. Sikapmu yang terlalu sungkan dan hormat itu bisa membuat orang salah mengerti, mengira bahwa engkau memiliki watak penjilat. Bagimu mungkin aku puteri seorang pahlawan, akan tetapi banyak orang menganggap aku puteri seorang pemberontak! Aku tahu bahwa engkau seorang yang terpelajar dan berbudi halus, penuh kesopanan, dan aku suka bersahabat denganmu, Twako. Akan tetapi kalau engkau tidak membuang sikapmu yang sungkan dan sopan itu, aku akan benci padamu. Aku paling tidak suka melihat pria yang menunduk-nunduk seperti seorang penjilat!"

Wajah Yu Goan menjadi merah sekali.

"Tidak ada seujung rambut pun di dalam hatiku ingin menjilat kepadamu atau kepada siapa pun di dunia ini, Nona. Sikapku tidak kubuat-buat dan sewajarnya, sesuai dengan pelajaran-pelajaran yang semenjak kecil kuterima dalam pendidikan. Karena itu maafkan aku, Lihiap."

"Twako, aku ingin sekali mengetahui bagaimana engkau bisa mengenal ayahku, dan mengenal nama Menteri Kam?"

"Ayah bundaku mengenal baik Menteri Kam yang sakti, Nona. Terutama sekali ayahku, dia banyak bercerita tentang pendekar-pendekar sakti keturunan Suling Emas. Ayah amat kagum terhadap keturunan Suling Emas, kekaguman yang tertanam pula di dalam hatiku. Ah, betapa ayah dan ibu akan merasa bangga bahwa aku dapat bertemu dan bersahabat dengan puteri Khu-ciangkun yang terkenal, murid Menteri Kam!"

"Sudahlah, Twako. Aku menjadi pening mendengar pujian-pujian dan segala nama besar yang kosong itu! Lihat, di bawah itu mulai ada gerakan!"

Siauw Bwee menuding dan ketika Yu Goan memandang ke bawah, dia melihat pula manusia manusia bergerak ke sana ke mari akan tetapi karena jaraknya amat jauh sehingga manusia-manusia di bawah itu hanya kelihatan sebesar jari tangan, maka mereka tidak dapat melihat jelas.

Dengan hati-hati dari berindap-indap, Siauw Bwee dan Yu Goan mencari jalan turun ke lembah di bawah yang penuh rahasia itu.

Akan tetapi dengan kaget mereka mendapat kenyataan bahwa tebing yang amat curam itu tidak mungkin dapat dituruni.

Mana mungkin turun melalui dinding karang yang ratusan kaki tingginya, licin dan tegak tidak ada tempat kaki berpijak atau tangan bergantung?

Untuk menggunakan gin-kang meloncat ke bawah?

Lebih tak masuk akal lagi.

Namun Siauw Bwee dan Yu Goan bukanlah orang-orang lemah yang muda berputus asa.

Mereka terus mencari, meneliti setiap kemungkinan menuruni tebing dan memeriksa sekeliling tebing yang berada di situ sampai setengah hari mereka mencari jalan turun, namun hasilnya sia-sia.

Lembah di bawah itu, perkampungan yang aneh, dikelilingi tebing terjal yang tidak mungkin dituruni atau didaki.

Seekor monyet sekalipun kiranya tak mungkin menuruni tebing itu yang halus licin tanpa ada tempat menahan tubuh.

Perkampungan di lembah bawah itu seolah-olah terputus sama sekali dari dunia luar daerah mereka.

Mereka seperti hidup di dalam sebuah mangkok, tidak mungkin dapat menjenguk keluar dari bibir mangkok yang merupakan tebing yang mengelilingi tempat tinggal mereka.

Akhirnya Siauw Bwee dan Yu Goan terpaksa mengaku kalah.

Mereka telah melakukan pemeriksaan mengitari sekeliling lembah sampai kembali ke tempat mereka berangkat, tempat mereka mula-mula melakukan pemeriksaan.

Keduanya duduk mengaso di tepi tebing sambil memandang ke bawah dengan hati penasaran.

Dari atas tampak manusia di bawah itu menuju ke suatu tempat di tengah perkampungan, kemudian tampak api bernyala, asap mengepul tinggi seolah-olah mereka yang berada di bawah itu membakar sesuatu.

Terlalu tinggi tempat itu untuk dapat melihat jelas apa yang dikerjakan oleh manusia-manusia di lembah itu.

"Tanpa sayap seperti burung, mana mungkin menuruni tempat itu?"

Yu Goan berkata sambil menghapus peluh dari lehernya.

"Memang tidak mungkin, kecuali kalau menggunakan alat."

Siauw Bwee berkata memandang ke bawah dengan alis berkerut.

"Menggunakan kaitan besi atau tali untuk merayap ke bawah."

"Akan tetapi terlalu berbahaya. Biarpun merayap ke bawah tidak amat berbahaya, namun kalau orang-orang di bawah itu menyambut dengan sikap bermusuh, kita sedang merayap tak berdaya itu tentu merupakan sasaran yang lunak."

Siauw Bwee mengangguk-angguk.

"Memang aneh sekali. Makin sukar tempat itu didatangi, makin tertarik hatiku untuk membongkar rahasia mereka itu. Yang mengherankan hati, kalau memang benar mereka di bawah sana itu yang malam tadi mengganggu kita, bagaimana cara mereka mendaki tebing?"

"Dan gerakan mereka begitu cepat seperti menghilang!"

Yu Goan berkata.

"Yu-twako, awasss....!"

Tiba-tiba Siauw Bwee berseru dan tubuhnya yang tadinya duduk di atas rumput dekat pemuda itu, mencelat ke belakang, berjungkir-balik beberapa kali.

Yu Goan terkejut pula, meloncat ke atas dan ketika ia membalik, dengan kagum ia melihat dara jelita itu telah mendorong roboh dua orang laki-laki yang bertubuh tegap kuat dan berpakaian sederhana kasar seperti orang liar!

Betapa cepatnya gadis itu mengetahui kedatangan musuh dan betapa cepatnya bergerak merobohkan lawan!

Dari gerakan-gerakan itu mengertilah Yu Goan bahwa tingkat kepandaian dara ini jauh lebih tinggi daripada tingkatnya, bahkan dia dapat menduga bahwa dara itu lebih pandai daripada ibunya, atau ayahnya sekalipun!

Akan tetapi dia terkejut sekali ketika melihat bahwa yang datang mengurung tempat itu bukan hanya dua orang yang didorong roboh oleh Siauw Bwee tadi, melainkan banyak sekali.

Sebagian sudah memperlihatkan diri, dan masih banyak pula yang menyelinap di balik pohon-pohon dan tetumbuhan!

Siauw Bwee tadi sengaja mendorong dua orang terdekat sampai terguling, akan tetapi betapa heran hatinya ketika melihat dua orang itu sudah meloncat bangun lagi!

Ketika ia tadi berloncatan berjungkir balik lalu menyerang, dua orang itu membuat gerakan tangan yang baginya amat canggung dan tidak ada artinya sehingga mudah saja dia mendorong mereka dan menotok pundak mereka.

Akan tetapi sungguh luar biasa.

Kedua orang kasar itu bukan roboh tertotok, melainkan terguling karena tenaga dorongan dan begitu menyentuh tanah mereka sudah meloncat bangun kembali.

Dan kini tampak belasan orang mengurung dia dan Yu Goan.

"Tahan!"

Siauw Bwee membentak ketika melihat orang-orang itu mulai bergerak hendak menyerang.

Dia melihat orang-orang ini bukan seperti perampok-perampok, bahkan mereka seperti manusia-manusia liar dengan pakaian sederhana, muka yang membayangkan kebodohan, akan tetapi sepasang mata mereka mengeluarkan sinar berkilat!

Ah, kiranya orang-orang inilah yang semalam mengintai.

Mata mereka yang aneh seperti mata harimau itu mencorong karena sinar api unggun!

Diam-diam Siauw Bwee terheran-heran karena menurut penuturan suhengnya, hanya orang-orang yang memiliki sin-kang tingkat tinggi saja yang dapat membuat matanya mencorong seperti mata harimau.

Dia dan suci serta suhengnya pun dapat membuat matanya mencorong kalau dia kehendaki, akan tetapi tentu saja dia tidak mau melakukan itu karena hal demikian hanya akan membuat dia menjadi tontonan!

Akan tetapi orang-orang kasar ini semua memiliki sinar mata yang mencorong!

"Siapakah kalian dan mengapa kalian mengurung kami berdua?"

Siauw Bwee membentak. Orang-orang itu saling pandang, tidak ada yang menjawab.

"Heii! Apakah kalian tuli, atau gagu?"

Siauw Bwee membentak lagi.

"Mereka hanya melaksanakan perintah!"

Tiba-tiba terdengar suara orang dan muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dari belakang sebatang pohon besar.

Siauw Bwee dan Yu Goan menoleh dan mereka mengerutkan kening melihat bahwa orang itu tidak segolongan para pengepung tadi.

Orang ini berpakaian biasa, bahkan pakaiannya bersih dari sutera mahal, bentuk pakaian seorang sastrawan, tubuhnya tinggi kurus dan wajahnya biasa saja.

Akan tetapi anehnya, juga pancaran pandang mata orang ini aneh, mencorong seperti semua orang liar itu.

"Perintah siapa?"

Siauw Bwee bertanya, maklum bahwa tentu sastrawan inilah yang menjadi komandan pasukan orang liar yang mengepung.

"Tentu saja perintah ketua kami. Kalian berdua memasuki daerah kami, daerah terlarang, karenanya kalian harus menyerah sebagai tawanan kami untuk kami bawa menghadap Ketua!"

"Hemm, kami berdua tidak salah apa-apa, mengapa akan dijadikan tawanan?"

Yu Goan membantah.

"Mau apa kalian menawan kami?"

Sastrawan itu memandang Yu Goan dan tersenyum mengejek.

"Hanya ketua kami yang akan memutuskan."

"Aku tidak sudi menyerah!"

Siauw Bwee membentak.

"Pergilah kalian, jangan menggangguku. Kalian akan menyesal nanti!"

Sastrawan itu mengerutkan kening, memberi aba-aba dan menyerbulah belasan orang liar itu.

Gerakan mereka kaku sekali, akan tetapi baik Siauw Bwee maupun Yu Goat terkejut sekali ketika dari gerakan tangan mereka itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat!

"Hati-hati, Twako.

Sin-kang mereka amat kuat!"

Siauw Bwee berseru dan dara perkasa ini sengaja berkelebatan cepat mengirim pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan, mempergunakan ilmu mujijat gerak kaki tangan kilat sehingga dalam sekejap mata saja dia sudah merobohkan delapan orang terrnasuk Si Sastrawan!

Akan tetapi, kembali dia terkejut karena seperti halnya dua orang yang pertama kali dia robohkan tadi, delapan orang ini pun meloncat bangun begitu tubuh mereka terbanting ke tanah, sedikitpun tidak tampak tanda-tanda mereka itu menderita nyeri.

Yu Goan juga cepat mengerahkan gin-kangnya untuk mengelak ke sana-sini, karena tanpa peringatan Siauw Bwee pun dia maklum betapa pukulan-pukulan para pengurung liar ini mendatangkan angin keras.

Sambil mengelak, dia sudah menotok jalan darah di leher seorang pengeroyok, dan pada detik berikutnya, kakinya sudah menendang sambungan lutut seorang pengeroyok lain.

Kedua orang itu terpelanting, akan tetapi mereka mencelat bangun lagi.

Baik totokannya maupun tendangannya tidak hanya membuat kedua orang itu terpelanting, akan tetapi sama sekali tidak mengalahkan mereka.

Berkali-kali Siauw Bwee dan Yu Goan merobohkan para pengeroyok yang ternyata tidak memiliki ilmu silat tinggi.

Bahkan Si Sastrawan itu hanya memiliki ilmu silat yang bagi Siauw Bwee biasa saja.

Akan tetapi jelas terbukti bahwa segala macam pukulan, totokan, tendangan, tidak mampu merobohkan para pengeroyok yang agaknya memiliki kekebalan luar biasa, atau tubuh mereka seolah-olah dilindungi oleh semacam hawa mujijat.

Siauw Bwee merasa terheran-heran dan diam-diam ia mencurahkan perhatian untuk menyelidiki keadaan lawan.

Ketika ia sengaja menerima pukulan dengan telapak tangannya, ia merasa ada hawa yang panas keluar dari kepalan orang itu, yang cepat dapat ia enyahkan dengan sin-kangnya.

Akan tetapi pukulan kedua orang dari orang yang sama, mengandung hawa yang sejuk nyaman.

Juga Im-kang yang aneh ini tentu saja dapat ia lawan dengan sin-kang yang amat tinggi dan kuat, yang ia latih di Pulau Es.

Biarpun Siauw Bwee belum tahu dengan jelas, namun kini ia sudah dapat menduga bahwa para pengeroyoknya itu biarpun tidak memiliki ilmu silat tinggi, namun memiliki inti tenaga sin-kang yang amat kuat dan aneh, dan agaknya mereka yang masih rendah ilmu silatnya ini secara luar biasa telah dapat menggabungkan tenaga sakti Im dan Yang.

"Twako, pergunakan senjatamu!"

Tiba-tiba Siauw Bwee berseru dan dia sendiri mencabut pedangnya.

"Sing! Singgg!"

Dia sinar berkelebat ketika dua orang muda itu mencabut pedang mereka dan benar saja seperti yang diduga Siauw Bwee, para pengeroyok itu, kecuali Si Sastrawan, kelihatan jerih.

"Twako, robohkan akan tetapi jangan bunuh orang!"

Kembali Siauw Bwee berseru dan diam-diam Yu Goan menjadi makin suka dan kagum kepada dara perkasa itu yang ternyata selain lihai, cantik jelita, juga hatinya lembut, tidak kejam.

Orang-orang ini biarpun kelihatan jerih, namun mereka itu menyerbu dengan nekat.

Yu Goan membacokkan pedangnya, mengarah bagian yang tidak berbahaya.

Dua kali pedangnya berkelebat, menyambar pangkal lengan seorang dan paha orang ke dua.

"Plak! Plak!"

Pedangnya itu mengenai sasaran, akan tetapi telapak tangannya terasa panas karena dua kali pedangnya membalik seperti membacok karet yang ulet dan kuat.

Dua orang itu terhuyung.

Pangkal lengan dan paha yang terbacok itu terluka, akan tetapi lukanya hanya merupakan goresan pada kulit saja, sedangkan dagingnya tidak terluka sama sekali.

Darah yang keluar hanya merupakan goresan merah pada kulit yang terbacok.

Ternyata baju mereka lebih parah terobek pedang daripada kulit mereka.

Demikian pula Siauw Bwee mengalami hal yang sama.

Dia kaget dan makin kagum.

Kekebalan yang hebat sekali dimiliki oleh orang kasar ini.

Sungguh aneh sekali.

Tentu mereka ini orang-orang yang kasar dan bodoh, telah menerima ilmu berlatih sin-kang yang amat mujijat!

Apalagi ketika ia menyerang Si Sastrawan yang dianggapnya pimpinan orang-orang itu, dia lebih terkejut lagi.

Pedangnya selalu mencong arahnya, menyeleweng ketika ujungnya mendekati tubuh Si Sastrawan, seolah-olah ada tenaga tak tampak yang mendorong senjatanya ke samping!

Hal ini membuktikan sin-kang yang amat kuat, dan untung baginya bahwa sin-kang kuat yang dimiliki orang-orang ini, terutama Si Sastrawan, hanya mereka kuasai untuk melindungi tubuh saja.

Kalau sin-kang yang sedemikian kuatnya itu dapat mereka pergunakan untuk menyerang, agaknya dia sendiri belum tentu akan mampu menandingi pengeroyokan orang-orang yang sehebat itu tenaga sin-kangnya!

"Tangkap mereka dengan jala!"

Tiba-tiba Si Sastrawan mengeluarkan aba-aba.

"Wuuuuttt! Wuuuuutttt!"

Para pengeroyok itu dengan cepat sekali telah mengeluarkan jala yang istimewa.

Jala ini amat lebar dan ringan, namun demikian kuat sehingga dengan jala ini mereka biasanya menangkap binatang-binatang buas seperti harimau, biruang dan lain-lain!

Juga agaknya mereka ahli mainkan jala-jala itu yang kedua ujungnya dipegang oleh dua orang, kemudian mereka mengayun dan menggerakkan jala-jala itu seperti orang bermain tari naga.

Bagaikan dua ekor naga besar, kini dua buah jala yang dimainkan empat orang itu menyerang Siauw Bwee dan Yu Goan.

Sedangkan para pengeroyok lain masih tetap mengeroyoknya, terutama Si Sastrawan yang melancarkan pukulan-pukulan berat kepada Yu Goan, sedangkan Siauw Bwee dikeroyok sisa-sisa orang liar itu.

Yu Goan menggerakkan pedangnya membacok sekuat tenaga untuk memutus jala yang melayang-layang ringan di atas kepalanya itu.

Akan tetapi betapa kaget hatinya ketika ia mendapat kenyataan bahwa pedangnya tidak mampu membikin putus tali jala.

Kiranya jala itu terbuat dari pada benang-benang yang amat luar biasa, berwarna hitam mengkilap dan amat ringan, halus dan ulet sekali, dapat mulur sehingga bacokan senjata tajam itu sama sekali tidak berbekas.

Yu Goan merasa seolah-olah senjatanya membacok asap saja!

Sementara itu, jala yang melayang-layang itu menyambar turun.

Yu Goan cepat meloncat jauh ke kiri untuk mengelak.

Dua orang pengeroyok menubruknya dari kanan kiri dan dia berhasil membuat mereka terhuyung-huyung dengan pukulan tangan kiri dan sabetan pedang ke arah kaki orang ke dua.

"Dukkk!"

Pukulan Si Sastrawan menyerempet punggungnya.

Yu Goan terhuyung, pandang matanya berkunang.

Biarpun pukulan itu tidak tepat kenanya, namun karena mengandung tenaga sin-kang yang hebat, dia merasa tubuhnya tergetar dan cepat-cepat pemuda ini mengatur pernapasan.

Pada saat itu, bayangan jala sudah melayang turun lagi menimpa ke arah kepalanya!

Yu Goan melempar tubuhnya ke bawah dan berusaha mengelak dengan cara bergulingan ke atas tanah.

Akan tetapi, ternyata dua orang yang memegang jala itu adalah ahli-ahli yang cekatan sekali.

Jala mereka sudah melayang dan kalau tadi bergulung-gulung kini jala itu terbuka dan terbentang selebarnya, langsung menutup tubuh Yu Goan yang tidak mungkin mengelak lagi.

Yu Goan makin kaget dan cepat ia mengerahkan gin-kangnya, meloncat bangun dan memutar pedangnya.

Akan tetapi, jala itu seperti hidup, bergerak menggulungnya dan makin keras ia meloncat, makin keras pula ia terbanting karena jala itu bersifat mulur seperti karet namun kuat melebihi baja.

Tubuh Yu Goan tergulung jala dan pedangnya terlepas, jauh di luar jala.

Ketika Yu Goan hendak mengambilnya, pedang itu sudah disambar oleh seorang pengeroyok.

Kemudian jala itu terus diguling-gulingkan sehingga tubuh Yu Goan terbelit-belit ketat dan tak dapat berkutik pula!

Melihat ini, Siauw Bwee kaget dan marah sekali.

Dengan sin-kangnya yang istimewa kuatnya itu pun Siauw Bwee tidak mampu membikin putus jala dengan pedangnya.

Akan tetapi dengan gin-kangnya yang membuat dia bergerak seperti kilat itu membuat mereka yang menggunakan jala tidak mungkin dapat menangkapnya!

Dara itu mencelat ke sana sini, dikejar bayangan jala sehingga kelihatannya seperti dia bermain-main, di antara dua orang pemegang jala, bermain loncat-loncatan dengan gaya yang indah sekali!

Kini keadaannya berubah.

Melihat Yu Goan tertawan, Siauw Bwee mengeluarkan suara melengking nyaring, pedangnya bergerak ke depan dan robohlah seorang pemegang jala dengan kulit dada robek dari kiri ke kanan, lukanya cukup dalam karena dalam penyerangannya sekali ini Siauw Bwee menambah tenaganya.

"Bebaskan dia, kalau tidak, aku akan membunuh kalian semua!"

Bentaknya dan bagaikan seekor burung garuda menyambar, tubuhnya sudah melayang ke arah Si Sastrawan, didahului sinar pedangnya yang menyambar.

Sastrawan itu cepat mengelak, akan tetapi.

"brettt!"

Kedua helai pita rambut sastrawan itu yang panjang terbabat putus! "Kalau tidak kaulepaskan dia, lehermu yang akan putus!"

Siauw Bwee yang sudah marah sekali itu membentak.

Tiba-tiba sastrawan itu menggulingkan tubuhnya, bergulingan dan tahu-tahu ia sudah berada di dekat Yu Goan yang sudah terbelenggu seluruh tubuhnya oleh jala dan tak dapat bergerak itu.

"Bergeraklah dan sahabatmu ini akan kubunuh lebih dulu!"

Si Sastrawan berseru sambil menodongkan pedang Yu Goan ke punggung pemuda yang rebah miring itu.

Siauw Bwee terkejut, terbelalak dan mukanya menjadi pucat.

Tak disangkanya bahwa Si Sastrawan itu ternyata amat cerdik dan licik.

Pada saat dia terkejut dan berdiri termangu itu, tiba-tiba sebuah jala melayang dari atas dan tahu-tahu tubuhnya sudah tertutup jala.

Siauw Bwee kaget dan cepat ia mencelat ke atas.

Jala itu terbawa melayang ke atas dan ketika kedua orang pemegangnya menggerakkan tangan, jala itu terputar-putar dengan tubuh Siauw Bwee di dalamnya.

Akan tetapi tiba-tiba dara perkasa itu berseru keras dan tubuhnya dalam jala meluncur dengan kekuatan yang luar biasa sehingga dua orang pemegang jala di kanan kiri itu tidak dapat bertahan dan mereka ikut tertarik, roboh terseret ke depan!

Para pengeroyok, dan juga Si Sastrawan yang menlnggalkan Yu Goan untuk membantu teman-temannya menundukkan dara yang amat lihai itu, datang menyerbu ke arah tubuh Siauw Bwee yang sudah mulai tergulung jala.

Akan tetapi, biarpun tubuhnya sudah dibelit-belit jala, Siauw Bwee masih memegang pedangnya dan begitu tubuhnya mencelat ke depan, robohlah tiga orang pengeroyok termasuk Si Sastrawan yang kena ditendang dadanya, seorang dipukul kepalanya dan seorang lagi hampir putus pahanya terkena pedang dara perkasa itu yang meluncur keluar dari dalam jala!

"Tahan....!"

Tiba-tiba terdengar seruan halus dan mendengar seruan ini, para pengeroyok seketika menghentikan sernua gerakan mereka dan menjatuhkan diri berlutut di atas tanah, kecuali Si Sastrawan yang berdiri dengan muka tunduk ke arah kakek yang tiba-tiba muncul di tempat itu.

"Lepaskan mereka berdua! Buka jala-jala itu!"

Kembali kakek itu berseru halus dan para pengeroyok tadi kini sibuk membuka jala dari kanan kiri dan melepaskan belitan-belitan yang amat kuat itu.

Yu Goan yang sudah terbebas dari dalam jala, menyambar pedang dan sarung pedangnya yang dilempar di atas tanah oleh Si Sastrawan, kemudian pemuda itu berdiri dekat Siauw Bwee yang sudah bebas lebih dulu.

Mereka berdiri memandang kakek yang datang itu dan siap menghadapi segala kemungklnan tanpa mengeluarkan suara.

Ketika mereka mengerling kiranya di situ sudah berkumpul banyak sekali orang-orang liar itu.

Adapun kakek yang muncul itu agaknya adalah ketua mereka, melihat dari sikap hormat dan takut semua orang liar, kecuali Si Sastrawan yang kelihatannya bersikap takut hormat buatan, sikapnya palsu dan hal ini diam-diam tidak terlepas dari pandang mata Yu Goan dan Siauw Bwee.

Kakek itu sudah tua sekali, jenggot dan rambutnya yang tidak terpelihara baik-baik itu sudah putih, matanya yang cekung dan tubuhnya yang jangkung itu amat kurus, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan sinar yang aneh, lebih mencorong daripada mata orang-orang liar itu!

Pakaiannya juga sederhana sekali sehingga tampak jelas betapa bedanya dengan pakaian Si Sastrawan.

"Jala-jala itu kubikin untuk menangkap binatang buas, untuk memenuhi kebutuhan perut kita. Mengapa sekarang kalian pergunakan untuk menangkap manusia-manusia? Bukankah aku sudah melarang kalian bertanding dengan orang luar?"

Para pengeroyok tadi tidak ada yang menjawab, hanya berlutut dan menundukkan muka, akan tetapi beberapa orang di antara mereka melirik ke arah Si Sastrawan, seolah-olah menyerahkan jawabannya kepada sastrawan itu.

Kakek itu dapat menangkap sikap anak buahnya ini, maka dia menoleh ke arah sastrawan itu dan berkata.

"Ang-siucai, engkau adalah tamu terhormat di sini, mengapa membawa anak buah kami untuk mengeroyok dua orang muda ini?"

Sastrawan itu menjura dan menjawab dengan suara tenang.

"Harap Pangcu (Ketua) suka memaafkan saya. Karena dua orang ini melanggar wilayah Pangcu dan sikap mereka mencurigakan, maka saya mengusulkan kepada kawan-kawan untuk menangkap mereka dan membawa mereka ke depan Pangcu untuk diadili. Akan tetapi, mereka berdua tidak mau menyerah, bahkan melawan sehingga terjadilah pertempuran."

Kakek itu mengerutkan keningnya.

"Hemmm, tidak pernah aku memerintahkan untuk mengganggu orang yang lewat, asal mereka tidak mengganggu kami. Biarlah sekali ini aku tidak akan menghukum anak buahku. Dan kuharap Ang-siucai suka ingat agar tidak melakukan hal seperti ini pula, karena kalau demikian, terpaksa aku tidak akan dapat menganggap engkau sebagai tamu terhormat dan sahabat baik lagi. Nah, harap kalian semua kembali lebih dulu!"

Anak buah orang-orang liar itu bersama Si Sastrawan lalu bangkit dan pergi dari situ dengan kepala menunduk.

Mereka itu semua kelihatan patuh dan sama sekali tidak memperlihatkan muka penasaran, akan tetapi dengan kerling matanya Siauw Bwee dapat menangkap ketidak-puasan membayang di wajah sastrawan itu, bahkan mulut sastrawan itu membayangkan senyum mengejek.

Hemm, orang itu bukan seorang baik-baik, pikir Siauw Bwee, akan tetapi karena urusan orang-orang itu tidak ada sangkut-pautnya dengan dia, maka dia pun diam saja dan hanya memandang kakek yang masih berdiri di depannya.

Kakek itu sejenak memandang kepada Yu Goan, kemudian memandang lebih lama dan penuh perhatian kepada Siauw Bwee, kemudian membungkuk dan berkata.

"Harap Ji-wi suka memaafkan kekerasan anak buahku yang tidak berpendidikan. Melihat gerakan-gerakan Lihiap tadi, aku percaya bahwa Lihiap tentulah seorang pendekar muda yang menjadi murid seorang sakti."

Siauw Bwee tersenyum.

Biarpun sederhana keadaannya, kakek ini tidaklah sebodoh orang-orang kasar tadi, maka dia pun mengangkat kedua tangan memberi horrnat seperti yang dilakukan Yu Goan lalu berkata.

"Kami berdua hanya kebetulan lewat saja lewat di hutan sana akan tetapi malam tadi anak buahmu mengintai kami. Kami menjadi curiga dan mengikuti jejak mereka sampai di sini dan tiba-tiba kami dikeroyok. Pangcu siapakah dan perkumpulan apakah yang Pangcu pimpin, dan di bawah tebing sana itu.... apakah ada hubungannya dengan Pangcu?"

Tiba-tiba wajah kakek itu berubah agak pucat dan ia cepat menggeleng kepala sambil berkata.

"Harap Lihiap tidak bertanya-tanya lebih banyak lagi. Aku sudah mohon maaf atas kelancangan anak buahku. Sudahlah, aku minta dengan hormat sukalah Ji-wi meninggalkan tempat ini dan harap jangan menceritakan orang lain akan keadaan kami, dan jangan pula kembali ke tempat ini. Percayalah, aku seorang tua yang bicara demi kebaikan Ji-wi sendiri."

Tiba-tiba kakek itu mengerutkan keningnya, menyentuh dahi dengan tangan kanan, mukanya berubah pucat membiru, matanya dipejamkan, mulutnya menyeringai dan seluruh tubuh tergetar menggigil seperti orang kedinginan hebat.

Giginya saling beradu dan akhirnya kakek itu menjatuhkan diri di atas tanah, mengeluh dan mengerang kedinginan, mukanya makin membiru.

"Pangcu...."

"Sssttt....!"

Yu Goan mencegah Siauw Bwee dan ketika nona ini memandang temannya, pemuda itu mendekati ketua itu dan memandang penuh perhatian dengan alis berkerut.

Kini wajah kakek itu mulai putih kembali, dari biru menjadi putih dan tubuhnya tidak menggigil lagi.

Dia dapat duduk bersila tenang dan wajahnya yang pucat itu mulai kemerahan.

Akan tetapi betapa terkejut hati Siauw Bwee ketika melihat bahwa muka itu makin lama makin merah dan tubuh kakek itu seolah-olah mengeluarkan hawa panas yang sampai terasa olehnya.

Kakek itu kembali tersiksa, kini seperti seekor cacing terkena abu panas, bergulingan di atas tanah!

"Pangcu...."

Kembali Siauw Bwee melangkah maju.

"Jangan, biarkan saja. Dia sedang terancam jiwanya oleh penyakit yang amat berat, aku sedang mempelajari penyakitnya."

Seperti tadi Yu Goan mendekat dan memandang penuh perhatian.

Siauw Bwee merasa heran dan juga kagum.

Kiranya pernuda itu, yang sudah ia saksikan ilmu silatnya yang sungguh tak boleh dikatakan masih rendah tingkatnya, bahkan amat tinggi mutunya, memiliki pula ilmu kepandaian pengobatan!

Pemuda yang aneh dan mengagumkan!

Kurang lebih satu jam lamanya kakek itu menderita, akhirnya keadaannya tenang kembali.

Dia membuka mata, mengeluh dan meloncat bangun, menghapus keringat dari dahi dan lehernya, memandang kepada dua orang muda itu dan berkata perlahan.

"Maafkan.... ah, aku telah membuat Ji-wi kaget saja. Sedikit gangguan kesehatanku...."

"Gangguan kesehatan? Aihh, Pangcu tidak tahukah pangcu bahwa yang Pangcu ceritakan ini bukan sekedar gangguan kesehatan, melainkan ancaman jiwa Pangcu? Pangcu telah menderlta keracunan hebat sekali, racun yang menimbulkan hawa meresap ke dalam pusar dan mempengaruhi seluruh tubuh Pangcu!"

Kakek itu menjadi pucat wajahnya. (Lanjut ke

Jilid 26) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 26

"Bagaimana Sicu bisa tahu?"

"Sedikit-sedikit aku tahu akan ilmu pengobatan, Pangcu. Bolehkah aku memeriksanya?"

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian duduk bersila dan Yu Goan mempersilakan dia membuka bajunya.

Dengan gerakan tangan tetap pemuda itu lalu memeriksa denyut nadi, kemudian menempelkan telapak tangan ke pusar dan ke atas kedua dada kakek itu.

Keningnya berkerut tanda bahwa pemuda itu memusatkan pikiran, kemudian berkata.

"Benar seperti dugaanku. Pangcu terkena racun yang amat hebat. Bukankah kadang-kadang hawa sin-kang di tubuh Pangcu tak dapat dikendalikan, di pusar terasa sakit seperti ditusuk, dada sesak dan kadang-kadang terasa amat dingin adakalanya amat panas hampir tak tertahankan? Pandangan mata menjadi berkunang telinga terdengar bunyi melengking?"

Kakek itu terbelalak.

"Sicu benar! Ahh, kiranya Sicu seorang ahli yang pandai. Bolehkah aku mengetahui siapa guru Sicu?"

"Aku mendapat ilmu pengobatan dari kakekku sendiri yang berjuluk Yok-sanjin."

"Ahh, kiranya Si Raja Obat Song Hai?"

Kakek itu berseru girang, lalu merangkap kedua tangannya.

"Mohon pertolongan Sicu untuk mengobati dan menalong nyawaku."

"Sudah menjadi kewajiban setiap orang untuk menolong sesamanya yang menderita, Pangcu. Akan tetapi mengobati Pangcu tidaklah mudah, membutuhkan tenaga sin-kang yang amat besar dan pula bukan di sini tempatnya."

"Ahh, aku berlaku kurang hormat. Marilah, silakan Ji-wi datang ke tempat kami!"

Yu Goan mengangguk dan Siauw Bwee memandang kepadanya dengan penuh rasa kagum.

Mereka berdua mengikuti kakek itu pergi meninggalkan tebing menuju ke dalam hutan.

Di tengah jalan Siauw Bwee berkata.

"Wah, kiranya engkau seorang ahli pengobatan yang lihai, Yu-twako."

"Ahh, pengertianku hanya dangkal saja, Lihiap. Pula, aku merasa sangsi apakah aku akan cukup kuat untuk menyembuhkan orang tua ini."

"Harap Sicu jangan khawatir. Berhasil atau tidak bukanlah soal bagiku. Aku tetap berterima kasih kepada Sicu yang telah sudi melimpahkan budi dan berusaha menolong aku, padahal tadi anak buahku telah mengganggu Ji-wi. Bolehkah aku mengetahui Ji-wi yang gagah? Aku sendiri bernama Ouw Teng dan sudah belasan tahun menjadi ketua di sini."

Siauw Bwee dan Yu Goan menjura dan pemuda itu berkata.

"Lihiap ini adalah Khu Siauw Bwee, dan aku bernama Yu Goan."

Biarpun kakek itu belum pernah mendengar nama dua orang muda itu, namun karena sudah lama dia tidak muncul di dunia kang-ouw, dia percaya bahwa mereka itu tentulah tokoh-tokoh muda murid orang pandai, maka ia bersikap menghormat sekali.

Setelah melalul jalan berliku-liku, akhirnya tibalah mereka di perkampungan yang sederhana, di tengah hutan gelap akan tetapi tanah di daerah ini amat subur dan sebagian dari hutan itu telah berubah menjadi sawah dan kebun sayur.

"Daerah kami ini jarang didatangi orang luar dan kami hidup tenang di sini, tidak pernah kekurangan makan. Di dalam kesederhanaan kami, kami tidak membutuhkan apa-apa, karena itu kami hidup cukup bahagia,"

Kata Ouw-pangcu sambil mempersilakan kedua orang muda itu memasuki pondok terbesar yang menjadi rumahnya.

Orang-orang yang berpakaian sederhana seperti yang mengeroyok mereka tadi, nampak hilir mudik dan sibuk bekerja.

Agaknya mereka semua telah mendengar tentang kedua orang muda itu, maka mereka memandang dengan penuh perhatian, akan tetapi tidak ada seorang pun yang berani membuka suara karena kini dua orang muda itu datang bersama ketua mereka.

Diam-diam Yu Goan tersentuh oleh ucapan ketua itu.

Terbukti kebenaran pelajaran yang pernah ia dengar dari kakeknya bahwa kebahagiaan hanya dapat dirasakan oleh orang yang tidak membutuhkan apa-apa!

Bahkan tidak membutuhkan kebahagiaan itu sendiri!

Keinginan timbul karena panca indera ditempeli pikiran yang membayangkan dan mengenang segala pengalaman kenikmatan jasmani dan kesenangan.

Kalau keinginan sudah timbul, maka memuaskan keinginan itulah yang menciptakan kebutuhan.

Ada kebutuhan disusul dengan usaha pencarian, yaitu mencari apa yang dibutuhkan.

Sungguh berlika-liku dan sulit ditempuh, padahal setelah mencapai apa yang dicari, hahya mendatangkan kesenangan sesaat saja, kemudian dilupakan untuk disambung kebutuhan lainnya yang tak kunjung habis, tak kunjung henti karena kebutuhan itu diciptakannya sendiri tanpa sadar.

Betapa mungkin manusia yang selalu dikejar-kejar kebutuhan yang diciptakan sendiri oleh kehausan dan kerakusan akan kenikmatan duniawi, dapat merasakan kebahagiaan?

Kebahagiaan bukanlah senang bukan pula susah, bukan jntung bukan pula rugi, karena itu tidak ada kebalikannya, tidak ada perbandingannya.

Jika masih dapat dibandingkan, itu bukanlah bahagia!

Pondok tempat tinggal Ouw Pangcu cukup besar, akan tetapi amatlah sederhana.

Dindingnya terbuat daripada bata bertumpuk-tumpuk secara kasar, daun pintunya dari kayu dengan bentuk bersahaja.

Pembaringan kakek ini pun hanya merupakan sebuah dipan bambu!

Belum pernah selama hidupnya dua orang muda itu melihat seorang ketua semiskin ini!

Mereka duduk berhadapan di atas dipan, Yu Goan dan Ouw-pangcu.

Adapun Siauw Bwee duduk di atas bangku tak jauh dari situ mendengarkan percakapan dua orang itu.

Dia sendiri tidak mengerti ilmu pengobatan maka dia hanya ingin menonton bagaimana sahabatnya itu mengobati Ouw-pangcu.

"Bagaimanakah aku sampai keracunan? Aku sama sekali tidak pernah bertanding dengan orang lihai dan tidak pernah kena pukul,"

Kata kakek itu, menyatakan keheranannya biarpun dia tidak meragukan keterangan Yu Goan yang cocok dengan penderitaannya.

"Engkau tidak terluka oleh pukulan, Pangcu. Akan tetapi karena makanan atau minum sesuatu yang dicampuri racun. Dan racun ini mengacaukan hawa murni di tubuhmu. Karena engkau telah melatih diri dengan sin-kang yang tinggi dan aneh, yang agaknya telah dapat kau kuasai sedemikian rupa sehingga engkau mampu mempergunakan Im-kang dan Yang-kang yang amat kuat, maka kini kedua hawa yang sifatnya bertentangan itu saling menggempur tubuhmu sendiri."

Kakek itu membelalakkan matanya.

"Betapa mungkin makanan atau minumanku diracuni orang? Akan tetapi.... keteranganmu tepat sekali, Sicu. Memang aku telah melatih diri dengan sin-kang yang.... yang...."

Kakek itu kelihatan ragu-ragu.

"Hemm, bukankah engkau melatih Im-yang-sin-kang secara berbareng dan pandai menggunakan kedua sin-kang itu secara berbareng?"

Tiba-tiba Siauw Bwee menyambung ketika melihat kakek itu agak ragu-ragu untuk memberi tahu.

Kakek itu makin kaget dan memandang Siauw Bwee penuh kagum.

"Engkau tahu akan hal itu, Nona? Bukan main! Agaknya di dunia ini penuh dengan orang-orang muda yang berilmu tinggi! Tidak salah, sesungguhnya ilmuku ini merupakan rahasia, akan tetapi heran sekali mengapa engkau dapat menduga begitu tepat, dan Sicu ini dapat pula memberi keterangan yang cocok."

"Hemm, apa anehnya Pangcu?"

Siauw Bwee berkata.

"Anak buahmu tidak pandai ilmu silat tinggi, namun mereka rata-rata memiliki sin-kang yang amat kuat. Dan juga sastrawan itu...."

Tiba-tiba wajah kakek itu menjadi pucat.

"Aihh! Apakah bisa jadi....?"

"Apa yang hendak kaukatakan, Pangcu?"

Yu Goan berkata.

"Racun itu....! Anak buahku tidak mungkin meracuniku, akan tetapi dia.... Ang-siucai itu.... dia banyak mengajarkan ilmu masakan kepada para koki kami! Dan anggur yang dibuatnya itu....!"

Tiba-tiba ia menarik napas panjang, kemudian melanjutkan dengan suara lirih hampir berbisik.

"Ah, aku sudah membuka rahasia. Akan tetapi agaknya keadaan gawat, dan entah mengapa, timbul kepercayaan besar di hatiku terhadap Ji-wi. Biarlah kuceritakan keadaan kami sebelum engkau mencoba mengobatiku, Sicu."

Kakek ini dengan suara perlahan lalu menceritakan keadaan orang-orang di situ yang dipimpinnya.

Dahulu di tempat itu tinggal sekelompok orang, kurang lebih dua ratus orang jumlahnya, yang hidupnya masih terbelakang dan jarang bertemu dengan orang luar.

Mereka hidup sederhana, bahkan masih setengah liar.

Kemudian muncullah seorang kakek sakti yang aneh dan berilmu seperti dewa.

Melihat keadaan sekelompok manusia yang wajar dan sederhana ini, kakek itu lalu memimpin mereka dan mengajarkan ilmu kepandaian agar mereka itu dapat menjaga diri, dan dapat mengalahkan segala tantangan hidup dalam dunia yang masih liar itu.

"Karena pimpinan Locianpwe itulah maka kami memiliki sedikit ilmu kepandaian sehingga kami dapat menangkap binatang buas yang bagaimana kuat pun. Akan tetapi, sungguh celaka, nasib buruk menimpa kami. Tidak lama setelah Locianpwe itu berada di sini dan beliau suka sekali hidup di antara orang-orang yang masih sederhana, wajar dan liar seperti kami, malapetaka menimpa kami, yaitu berupa penyakit yang menyeramkan."

"Penyakit apakah, Pangcu?"

Siauw Bwee bertanya, hatinya tertarik sekali mendengar penuturan itu dan menduga-duga siapa gerangan kakek sakti itu.

"Penyakit kusta."

"Kusta....?"

Yu Goan sebagai seorang ahli pengobatan tentu saja merasa ngeri mendengar penyakit yang belum pernah dapat diobati itu.

"Lalu bagaimana, Pangcu?"

"Inilah sebetulnya rahasia besar kami yang sekarang kubuka kepada Ji-wi karena Ji-wi sudah kuanggap bukan orang lain. Mereka yang terkena penyakit itu terpaksa harus menjauhkan diri agar jangan sampai menular kepada orang lain. Hal ini diatur oleh Locianpwe itu dan mereka itu ditempatkan di lembah."

"Di bawah sana itu? Jadi orang-orang di bawah itu adalah penderita-penderita penyakit kusta?"

Tanya Siauw Bwee.

"Benar, jadi di antara mereka dan kami sebenarnya masih ada hubungan erat, bahkan masih keluarga, dan lebih lagi, di antara mereka yang menderita itu terdapat ketua kami yang dahulu dipilih oleh Locianpwe itu sehingga sampai sekarang pun, tingkat mereka lebih tinggi dari pada kami orang-orang penghuni hutan di bukit ini. Karena penderitaan mereka itulah, Locianpwe menurunkan ilmu melatih sin-kang yang disebut Jit-goat-sin-kang (Hawa Sakti Matahari Bulan). Hanya mereka yang berada di lembah saja yang memperoleh ilmu itu, dan di atas sini hanya ketuanya, yaitu aku sendiri yang mendapatkan ilmu itu. Aku melatih sin-kang itu dengan mengambil tenaga sakti matahari dan bulan, kulatih bertahun-tahun. Siapa mengira, sekarang aku menjadi korban dari sin-kang itu sendiri."

"Kenapa engkau keracunan, Pangcu. Dan agaknya ada orang yang sengaja meracunimu,"

Kata Yu Goan.

"Tentu orang yang tahu akan Jit-goat-sin-kang, dan satu-satunya.... hemmm, hanya Ang-siucai yang kuberi tahu akan rahasia ilmu itu untuk membalas budinya. Setelah Locianpwe itu pergi beberapa tahun yang lalu, datanglah Ang-siucai sebagai utusan pemerintah yang bersikap baik sekali kepada kami, mengajarkan masak dan baca tulis. Mungkinkah dia....? Aihh, jangan-jangan sikap beberapa orang anak buahku yang berubah ini pun hasil perbuatannya! Celaka, dan aku terluka. Ah, Sicu, tolonglah aku agar aku dapat menyelidiki hal ini dan mencegah terjadinya hal yang lebih hebat lagi. Aku khawatir kalau-kalau akan terjadi pemberontakan di sini. Dalam beberapa bulan ini aku sudah melihat gejala-gejala perlawanan dan sikap tidak mau menaati perintahku, termasuk penyerangan mereka kepada Ji-wi tadi."

"Baik, Pangcu. Akan kucoba. Silakan Pangcu duduk bersila dan aku akan membantumu membersihkan hawa beracun yang mengacaukan sin-kang di tubuhmu."

Kata Yu Goan.

Pemuda ini lalu duduk bersila di atas dipan, di belakang kakek itu, kemudian ia menempelkan kedua telapak tangannya di atas punggung yang telanjang itu, mengerahkan sin-kangnya.

Tak lama kemudian, Yu Goan berteriak keras dan tubuhnya terpelanting jatuh dari atas dipan, mukanya pucat penuh keringat dan matanya terbelalak.

Siauw Bwee cepat menyambar lengan Yu Goan dan membantu pemuda itu berdiri.

Kakek itu menoleh dan mengerutkan alisnya yang putih.

"Bagaimana, Sicu?"

"Bagaimana, Twako? Kenapa kau jatuh?"

Siauw Bwee juga bertanya. Yu Goan mengusap peluhnya dan menggeleng kepala.

"Percuma. Agaknya Jit-goat-sin-kang yang kaumiliki itu luar biasa kuatnya, Pangcu. Aku tidak kuat menahan. Untuk mengobatimu membutuhkan orang yang memiliki sin-kang jauh lebih tinggi daripada kekuatanmu sendiri. Sin-kangmu yang dua macam saling berlawanan itu mana mungkin dilawan orang biasa seperti aku? Yang mengobati harus membagi tenaganya, sebagian untuk menahan penolakan Jit-goat-sin-kang yang berlawanan itu, sebagian untuk mengirim hawa murni ke pusarmu dan membantumu menguasai kembali sin-kangmu dan bersama-sama mengusir hawa beracun. Tak mungkin aku melakukannya, bahkan seluruh sin-kangku masih tidak kuat menghadapl pergolakan Jit-goat-sin-kang yang saling berlawanan itu, apalagi untuk mengusir hawa beracun."

"Aihh, sudah nasibku. Untuk menghadapi maut, bagiku bukan apa-apa, karena aku pun sudah cukup tua. Akan tetapi kalau yang kukhawatirkan terjadi, kalau samnpai timbul pemberontakan, celakalah anak buahku semua...."

Kakek itu mengeluh dengan air muka berduka sekali.

"Pangcu, jangan khawatir. Aku akan membantumu mengobati penyakitmu. Twako, jelaskan apa yang harus kulakukan?"

"Khu-lihiap...., hal itu.... berbahaya sekali. Jit-goat-sin-kang di tubuhnya liar dan amat kuatnya. Salah-salah engkau akan terluka parah di sebelah dalam tubuhmu!"

"Sicu benar, Lihiap. Harap jangan main-main dan mengorbankan diri sendiri untukku,"

Ouw-pangcu juga berkata dengan hati tulus. Siauw Bwee tersenyum.

"Kalau belum dicoba mana kita tahu, Twako? Biarlah aku mencobanya."

"Khu-lihiap, ini bukan main-main, mana boleh dicoba-coba? Aku tahu bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi daripada tingkatku. Aku tidak hendak mengatakan bahwa sin-kangmu lebih lemah daripada sin-kangku, akan tetapi betapapun, tak mungkin dapat melawan Jit-goat-sin-kang yang liar di tubuh Ouw-pangcu."

Kembali Siauw Bwee tersenyum.

"Ouw-pangcu, Locianpwe yang kausebutkan tadi, apakah dia seorang kakek bertubuh kecil seperti kanak-kanak akan tetapi kepalanya besar sekali dan namanya Bu-tek Lo-jin?"

Ouw-pangcu begitu kaget mendengar ini sampai dia meloncat turun dari dipan dan memandang Siauw Bwee dengan mata terbelalak.

"Ini.... ini.... rahasia besar.... bagaimana Lihiap bisa tahu....?"

Tanyanya gugup dan Yu Goan juga terkejut.

Dia pernah mendengar dari ayahnya akan nama Bu-tek Lo-jin itu, seorang manusia setengah dewa yang sakti dan aneh sekali, bahkan lebih terkenal daripada nama Pek-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, dua orang kakek beradik yang tidak lumrah manusia itu dan hanya kalah kebesaran dan keanehannya oleh Bu Kek Siansu!

"Karena engkau telah mempercayakan rahasiamu kepadaku, Pangcu, dan karena aku sudah percaya penuh kepada Yu-twako, maka tidak perlu aku menyembunyikan rahasia diriku lagi.

Aku mendengar nama besar Bu-tek Lo-jin dari suhengku ketika aku digemblengnya di Pulau Es."

"Pulau Es....?"

Kini seruan itu keluar hampir berbareng dari mulut Yu Goan dan Ouw-pangcu.

"Khu-lihiap, jadi engkau.... murid penghuni Istana Pulau Es? Engkau murid manusia dewa Bu Kek Siansu....?"

Yu Goan bertanya dengan mata terbelalak. Siauw Bwee tersenyum, mengangguk.

"Aku murid beliau, akan tetapi beliau tidak ikut bersama kami ke Pulau Es dan yang mengajarku adalah Suheng. Penghuni Pulau Es hanyalah kami bertiga, aku, suciku dan suhengku."

"Ah, aku bersikap kurang hormat....!"

Ouw-pangcu cepat menjatuhkan diri berlutut.

Akan tetapi baru setengahnya, tangan Siauw Bwee telah menangkap lengannya dan sekali tarik, tubuh kakek itu telah melayang ke atas dipan!

Kakek itu duduk bersila dan memejamkan mata sambil berkata.

"Khu-lihiap penghuni Istana Pulau Es, aku menyerahkan nyawaku ke tangan Lihiap!"

"Jangan terlalu sungkan, Ouw-pangcu. Aku pun belum dapat menentukan apakah aku akan dapat menyembuhkanmu. Twako, jangan banyak pujian dan sungkan-sungkan lagi, lekas terangkan bagaimana caranya mengobati luka Ouw-pangcu."

Dengan keheranan dan kekaguman masih menyelubungi hatinya, Yu Goan lalu memberi petunjuk.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar, suara beradunya senjata dan teriakan anak buah Ouw-pangcu.

"Pemberontak! Pengkhianat! Manusia palsu Ang Hok Ci!"

Ouw-pangcu menjadi pucat wajahnya, akan tetapi dengan tenang Siauw Bwee berkata.

"Twako, kau menjaga di pintu, biar aku mengobatinya."

Lalu dara perkasa ini menempelkan kedua telapak tangannya ke punggung kakek itu.

Ouw-pangcu hendak melawan karena ingin dia menghadapi para pemberontak, akan tetapi sungguh aneh, tenaga Jit-goat-sin-kang di tubuhnya tiba-tiba bertemu dengan sin-kang yang amat kuat, juga sin-kang yang keluar dari kedua tangan dara itu merupakan dua macam sin-kang, panas dan dingin.

Dia terheran-heran.

Apakah dara ini pandai pula Jit-goat-sin-kang?

Sebenarnya bukanlah demikian, Siauw Bwee tidak pernah melakukan ilmu sin-kang dari inti hawa sakti matahari dan bulan, akan tetapi dia berlatih di Pulau Es di bawah petunjuk Han Ki dan menurut kitab-kitab pelajaran Bu Kek Siansu tentu saja dia menguasai Yang-kang dan Im-yang dengan baiknya.

Sementara itu, di luar pondok terjadi perang yang amat seru.

Anak buah yang masih setia kepada Ouw-pangcu diserbu anak buah lain yang telah dipengaruhi Ang Hok Ci atau Ang-siucai.

Kiranya diam-diam Ang-siucai selama setengah tahun berada di situ, telah menurunkan ilmu silat kepada para kawan yang dipengaruhinya sehingga dalam pertempuran itu, anak buah Ouw-pangcu banyak yang roboh dan tewas.

"Bunuh Ouw-pangcu!"

Terdengar teriakan Ang-siucai dan ternyata bahwa kini selain Ang-siucai dan para anak buah yang dapat dipengaruhinya, muncul pula beberapa orang kawan Ang-siucai yang datang dari luar dan pada saat itu sudah menyerbu masuk perkampungan itu untuk membantu pemberontakan yang dicetuskan oleh sastrawan itu!

Mereka itu rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan Ang-siucai sendiri sekarang pun tidak pura-pura.

Biasanya, dia menyembunyikan kepandaiannya maka ia selalu bergerak dengan kaku seperti orang-orang di situ, akan tetapi sekarang, di samping tenaga Jit-goat-sin-kang yang telah dimilikinya walaupun belum mencapai tingkat tinggi, dia juga menggunakan ilmu silatnya sendiri yang ternyata cukup hebat.

Seorang demi seorang robohlah para pengikut Ouw-pangcu dan sebagian kini menyerbu ke pondok tempat tinggal Ouw-pangcu!

Daun pintu dibobol dari luar dan Yu Goan cepat menggerakkan pedangnya, merobohkan orang pertama yang menyerbu masuk.

Pemuda itu maklum bahwa selagi Siauw Bwee mengobati Ouw-pangcu, kedua orang itu tidak berdaya untuk membantunya.

Bahkan kalau mereka berdua diganggu, amat berbahaya bagi keselamatan mereka.

Selain itu, cara pengobatan menggunakan sin-kang itu tidak dapat dihentikan di tengah jalan karena hal ini akan membahayakan yang diobati.

Dia harus dapat bertahan seorang diri sampai Siauw Bwee selesai mengobati kakek itu.

Dua orang dengan gerakan liar menyerbu masuk dengan tangan memegang golok.

Mereka menyerang berbareng ke arah Yu Goan.

Pemuda ini sudah melolos pedang dan sarung pedangnya karena dia maklum akan menghadapi pengeroyokan banyak lawan.

Melihat datangnya dua batang golok yang digerakkan dengan tenaga kuat itu, ia menangkis dengan pedang dan sarung pedangnya.

Untung baginya bahwa dua orang itu hanya memiliki tenaga sin-kang yang amat kuat akan tetapi gerakan mereka sama sekali tidak berbahaya, maka begitu menangkis, pedangnya terus berkelebat ke kanan kiri menusuk dada dan menyabet perut.

Dua orang itu berteriak keras, akan tetapi benar-benar tubuh mereka kebal, karena tusukan ke arah dada itu meleset dan hanya mendatangkan luka pada kulit, sedangkan sabetan pada perut hanya merobek baju dan kulit.

Dua orang itu sambil berteriak kaget sudah menerjang lagi dengan buas, akan tetapi Yu Goan yang melihat betapa di belakang dua orang itu menyerbu banyak sekali lawan, bergerak cepat sekali.

Serangan orang di sebelah kanannya ia elakkan sehingga orang itu terhuyung ke belakang, cepat pedangnya dibalik dan secara tiba-tiba pedangnya menusuk ke belakang dan tepat menancap pada punggung lawan ini yang menjerit dan muntahkan darah segar dari mulutnya lalu terjungkal.

Adapun penyerangnya dari kiri ia sambut dengan totokan sarung pedang pada pergelangan tangan orang itu sehingga goloknya terlempar karena tangan itu menjadi lumpuh.

Pedang Yu Goan menyambar, kini mengarah leher dan biarpun leher itu juga kebal, namun goresan mengenai jalan darah di leher sehingga tampak getar ketika bertemu dengan golok yang dipegang seorang berpakaian seperti orang Han, dahinya lebar sekali dan gerakan goloknya aneh dan tangkas.

Bersama orang ini, menyerbu pula enam orang liar dan Yu Goan segera dikeroyok di depan pintu.

Pemuda ini memutar pedang dan sarung pedangnya.

Namun kepandaian orang Han yang menjadi kawan Ang-siucai itu benar-benar tak dapat dipandang ringan sehingga Yu Goan harus bersikap hati-hati sekali.

Dia memutar pedang dan sarung pedang, berloncatan ke sana-sini tanpa meninggalkan posisinya melindungi Siauw Bwee yang sedang mengobati Ouw-pangcu di sebelah belakangnya.

Dia berhasil merobohkan dua orang pengeroyok pula, akan tetapi kini Ang-siucai sendiri bersama teman-temannya datang, dan Yu Goan terkurung oleh delapan orang termasuk Ang-siucai, dan dua orang Han yang lihai!

Yu Goan bukanlah seorang pendekar muda biasa.

Dia adalah putera tunggal pendekar besar Yu Siang Ki, keturunan langsung dari tokoh-tokoh besar Ketua Khong-sim Kai-pang, perkumpulan pengemis pendekar yang amat terkenal itu.

Ayahnya sendiri yang telah menggemblengnya dalam ilmu silat, bahkan ayahnya yang menjadi seorang ahli ilmu tongkat keluarga Yu, telah mengubah ilmu pedang dari ilmu tongkatnya itu.

Kini, Yu Goan mainkan pedang di tangan kanan dan sarung pedang di tangan kiri yang dipergunakan sebagai tongkat, dapat menangkis dan juga menotok jalan darah lawan!

Namun, jumlah pengeroyok terlalu banyak.

Roboh dua maju empat orang dan sebentar saja banyak lawan menyerobot masuk sehingga Yu Goan menjadi sibuk dan bingung juga karena dia harus melindungi Siauw Bwee dan Ouw-pangcu.

Andaikata dia tidak harus melindungi dua orang itu, tentu saja sejak tadi dia sudah meloncat keluar mencari tempat yang lebih luas agar enak dia mengamuk.

Kini, di tempat sempit itu, dan separuh perhatiannya ia tujukan untuk melindungi Siauw Bwee dan Ouw-pangcu, tentu saja dia kurang menjaga diri sendiri sehingga beberapa kali dia terkena sambaran senjata yang bagaikan hujan datangnya.

Pundaknya, pangkal lengan kirinya dan paha kanannya sudah terluka, namun Yu Goan tak pernah berhenti bergerak menahan musuh yang seolah-olah air bah mengancam Siauw Bwee dan Ouw-pangcu.

"Kurung dia rapat-rapat!"

Ang-siucai berseru dan kini dua belas orang mengepung Yu Goan.

Pemuda ini bingung sekali karena dia tidak dapat lagi melindungi Siauw Bwee.

Baginya hanyalah Siauw Bwee yang penting maka kembali dia terkena tusukan ujung golok pada dada kanannya yang mengakibatkan luka lumayan dalamnya.

Hal ini dapat terjadi karena dia nekat meloncat keluar dari kepungan mendekati Siauw Bwee.

Pada saat itu, dua orang liar telah dekat di belakang Siauw Bwee, telah mengangkat golok hendak membacok wanita muda yang duduk bersila dan memejamkan mata, kedua telapak tangan menempel di punggung Ouw-pangcu itu.

"Trang-trang! Cepp! Cepp!"

Dalam kemarahan dan kegelisahannya, Yu Goan menangkis golok dari belakang, kemudian dua kali pedangnya amblas memasuki lambung dua orang itu yang tidak sempat mengerahkan sin-kang karena serangan itu datangnya amat cepatnya.

"Bukkk!"

Tubuh Yu Goan terguling ketika pukulan tangan kiri Ang-siucai mengenai punggungnya.

Belasan batang golok dan pedang menghunjam ke bawah mengarah tubuh pemuda ini, akan tetapi dengan sikap seperti seekor burung terbang, tubuh Yu Goan sudah mencelat ke atas dan terdengar bunyi nyaring ketika pedang dan sarung pedangnya menangkis sekian banyaknya senjata!

Kesempatan ini dipergunakan oleh dua orang Han pembantu Ang-siucai untuk menerjang Siauw Bwee dari belakang.

Mereka telah melihat Siauw Bwee dan diam-diam mereka ini tergila-gila, maka ketika mereka menerjang, mereka tidak ingin membunuh dara jelita itu, melainkan ingin menangkapnya.

Dua orang ini menubruk dan karena tanpa berunding lebih dulu memang mereka mempunyai nafsu hati yang sama, seorang mencengkeram pundak kiri Siauw Bwee dan orang ke dua mencengkeram pundak kanan.

Niat hati mereka, dara itu akan ditangkap, dipeluk, dipondong dan dibawa lari!

"Auugghhh!"

"Aiiighhh!"

Dua orang itu begitu menyentuh pundak Siauw Bwee, terpelanting dan terbanting ke atas lantai.

Yang memegang pundak kiri seketika menjadi kejang, mula-mula menggigil lalu mati kaku dengan muka dan tubuh membiru karena darahnya telah membeku terserang Im-kang yang dahsyat.

Adapun yang menyentuh pundak kanan tadi menjadi hitam seluruh tubuhnya dan mati seperti orang terbakar karena darahnya telah terbakar oleh Yang-kang!

"Ihhhh....!"

Ang-siucai berteriak kaget dan memberi aba-aba kepada para kawannya agar tidak menyerang nona itu.

Namun terlambat dua orang pembantunya, anak buah Ouw-pangcu yang memberontak telah menusukkan golok mereka ke punggung Siauw Bwee.

Begitu ujung golok menyentuh punggung, keduanya memekik dan terjengkang ke belakang dan mati seketika!

Pada saat itu Siauw Bwee sedang mengerahkan seluruh tenaga sin-kangnya, dan tenaga itu bercampur dengan tenaga Jit-goat-sin-kang dari Ouw-pangcu, maka dahsyatnya bukan kepalang.

Tenaga itu seolah-olah melindungi tubuh mereka berdua dan tentu saja penyerang yang kurang kuat sin-kangnya akan mati seketika seperti yang dialami empat orang sembono itu.

Ang-siucai membawa teman-temannya keluar dan kini pertandingan dilanjutkan di luar.

Pihak pengikut Ouw-pangcu terdesak hebat dan Yu Goan yang masih mengamuk dan terkurung dan terdesak karena pemuda perkasa ini sudah menderita banyak luka.

Keadaannya berbahaya, sekali, namun Yu Goan sedikit pun tidak menjadi gentar dan, bertekad melawan sampai detik terakhir.

Ouw-pangcu menghela napas panjang, tubuhnya bergerak dan ia berkata dengan suara nyaring.

"Terima kasih, Lihiap. Budimu takkan kulupakan dan ternyata Lihiap tidak kecewa menjadi murid Bu Kek Siansu!"

"Tidak perlu berterima kasih, Pangcu. Lebih baik lekas kita membantu Yu-twako."

Kedua orang ini meloncat keluar.

Ouw-pangcu masih bertelanjang baju dan tangannya sudah menyambar goloknya yang tadi tergantung di dinding, begitu tiba di luar, Siauw Bwee dan Ouw-pangcu mengamuk.

Terutama sekali Ouw-pangcu yang masih menyaksikan Yu Goan menderita banyak luka dan orangnya banyak yang tewas.

Ketua ini mengamuk seperti harimau terluka dan banyak kaum pemberontak roboh dan tewas di ujung golok atau di bawah telapak tangan kirinya.

Namun, ketika para pemberontak melemparkan senjata dan berlutut minta ampun, di antara mereka tidak terdapat Ang-siucai dan kawan-kawannya yang telah lebih dulu melarikan diri.

Hanya dua orang Han yang menyerang Siauw Bwee tadi yang tewas, selebihnya telah berhasil melarikan diri semua.

Ouw-pangcu yang merasa penasaran, mengerahkan orang-orangnya untuk melakukan pengejaran, namun Ang-siucai dan teman-temannya lenyap seperti ditelan bumi.

Dengan hati penuh penasaran dan duka Ouw-pangcu memimpin anak buahnya untuk mengurus mayat-mayat yang bergelimpangan, dan mengobati yang terluka.

Yu Goan mencerita luka, namun tidak ada yang berbahaya sehingga setelah mengobati dirinya sendiri, pemuda perkasa ini masih sibuk mengobati anak buah Ouw-pangcu yang terluka.

Hati Ouw-pangcu menjadi terharu sekali.

Dia menjatuhkan diri berlutut di depan Siauw Bwee dan Yu Goan.

Ketika dua orang itu menolak dan membujuknya untuk berdiri, dia berkata.

"Aku tidak mau berdiri kalau Ji-wi tidak suka menjadi anak-anak angkatku!"

Yu Goan dan Siauw Bwee saling pandang akhirnya keduanya mengangguk.

"Baiklah, Gihu!"

"Bangkitlah sekarang, Gihu!"

Kata pula Siauw Bwee yang mencontoh Yu Goan menyebut gihu (ayah angkat) kepada kakek itu.

Ouw-pangcu melompat bangun, tertawa bergelak dan merangkul pundak kedua orang muda itu, memandang muka mereka saling berganti penuh kebanggaan.

"Ha-ha-ha-ha! Mempunyai dua orang anak angkat seperti kalian, biar sekarang mati pun aku akan mati dengan senyum bahagia!"

Siauw Bwee dan Yu Goan menjadi terharu sekali dan diam-diam mereka tidak menyesal, bahkan bangga mempunyai seorang ayah angkat yang demikian gagah perkasa, jujur, dan hidup dalam keadaan wajar.

"Marilah, anak-anakku. Marilah kuajarkan ilmu melatih sin-kang untuk memperoleh tenaga inti matahari dan bulan. Kebetulan bulan sedang purnama malam ini, kau bisa mulai."

Bagi Yu Goan tentu saja ilmu ini merupakan keuntungan besar bukan main dan dengan tekun ia mulai melatih diri.

Bagi Siauw Bwee, sesungguhnya dia memiliki sin-kang yang lebih dahsyat daripada yang dimlilki Ouw-pangcu, akan tetapi ketika dia mempelajari teori pelajaran ini, dia mendapat kenyataan bahwa kalau orang dapat mencapai tingkat tertinggi dari ilmu ini, bukan saja akan memliiki sin-kang yang dahsyat, pun akan dapat memetik hawa mujijat dari matahari dan bulan!

Maka dia pun lalu mempelajari dengan teliti dan mulai berlatih bersama Yu Goan.

Ouw Teng, ketua penghuni tebing dan hutan itu, bersikap amat baik kepada Yu Goan dan Siauw Bwee.

Kakek ini tidak mempunyai isteri atau anak, dan rasa terima kasih membuat dia berusaha sedapatnya untuk menyenangkan hati kedua orang anak angkatnya.

Dia menceritakan segala hal mengenai keadaan para penghuni di situ tanpa menyimpan rahasia.

Anak buahnya, yaitu para penghuni tebing dan hutan, tadinya berjumlah seratus orang lebih.

Mereka membentuk keluarga di situ dan beranak bini.

Akan tetapi pemberontakan itu menewaskan belasan orang anak buahnya, sedangkan yang terbujuk oleh Ang-siucai dan tewas serta melarikan diri, ada tiga puluh orang.

Setelah tinggal di tempat itu selama dua bulan, Siauw Bwee dan Yu Goan mendapat kenyataan betapa orang-orang itu sesungguhnya hidup jauh lebih bahagia daripada orang-orang kota.

Dan sesungguhnya mereka hidup dengan tenang, tenteram dan penuh damai.

Tidak pernah ada percekcokan.

Tidak pernah ada pencurian karena mereka tidak mengenal istilah mencuri.

Semua benda yang terdapat di situ adalah milik mereka bersama dan siapa yang membutuhkan boleh mengambilnya.

Tidak ada iri hati karena keadaan hidup mereka sama, bahkan Ouw-pangcu sendiri hidupnya tidak berbeda dengan mereka.

Melihat keadaan ini, Siauw Bwee diam-diam membenarkan Bu-tek Lo-jin yang menaruh kasihan dan mengajarkan ilmu kepada mereka.

Hidup secara liar seperti itu tentu saja lebih membutuhkan kekuatan untuk melawan ancaman binatang buas, penyakit yang timbul dari hawa udara dan lain ancaman lagi.

Karena melihat bahwa mereka itu hanya memiliki kekebalan, Siauw Bwee lalu mengajarkan beberapa jurus ilmu pukulan dan ilmu meringankan tubuh.

Kini ia mendapat kenyataan bahwa ketika malam-malam mereka mengintai dia dan Yu Goan, mereka itu melenyapkan diri bukan karena memiliki gerakan cepat, melainkan karena mempunyai tempat persembunyian di hutan-hutan yang tentu saja sudah mereka kenal betul keadaannya.

Pula, karena mata mereka mengeluarkan cahaya mencorong berkat sin-kang mereka, maka begitu mereka memejamkan mata dan mendekam di tempat gelap, Siauw Bwee tidak dapat melihat mereka.

Bagi Siauw Bwee yang sudah mengalami banyak hal aneh, bahkan pernah tinggal di tempat Pulau Es yang sunyi, kini tinggal di dalam hutan di antara orang-orang yang demikian sederhana hidupnya, ia merasakan ketenteraman hati yang amat menyenangkan.

Ia merasa kerasan di tempat itu, hidup di antara pohon-pohon dan tanaman-tanaman liar, tidak pernah terlihat kemewahan kota, tidak pernah melihat kesibukan manusia mengejar uang, tidak pernah melihat percekcokan-percekcokan.

Juga Yu Goan, di samping tekun melatih diri dengan Ilmu Jit-goat-sin-kang, juga merasa amat senang tinggal di situ.

Akan tetapi, berbeda dengan perasaan Siauw Bwee, pemuda ini maklum bahwa jangankan tinggal di tempat yang tenang itu, biar tinggal di dalam neraka sekalipun dia akan merasa senang kalau di situ terdapat Siauw Bwee di sampingnya!

Pemuda ini menyadari sedalamnya bahwa dia telah jatuh cinta kepada dara jelita yang sakti itu.

Jatuh bertekuk lutut, mencinta Khu Siauw Bwee bukan hanya dengan jiwa raganya, melainkan seluruh hidupnya seakan-akan kini ia tujukan demi cinta kasihnya kepada dara itu!

Dia tidak berani mengeluarkan isi hatinya, akan tetapi setiap pandang matanya, suaranya, gerak-geriknya jelas membayangkan cintanya yang amat mendalam.

Siauw Bwee sendiri bukan tidak tahu akan perasaan pemuda itu, dan hal ini amat mengganggu hatinya.

Dia suka kepadanya.

Yu Goan yang ia tahu adalah seorang pemuda yang amat halus budi pekertinya, seorang pemuda yang berkepandaian tinggi, bukan hanya dalam ilmu silat, juga dalam kesusastraan dan ilmu pengobatan, sopan-santun dan jujur, pendeknya seorang pemuda pilihan.

Akan tetapi, hatinya yang sudah jatuh cinta kepada suhengnya Kam Han Ki, tidak mungkin mencinta pria lain.

Dia merasa kasihan kepada Yu Goan, terharu kalau melihat betapa sinar mata pemuda itu memandangnya penuh kasih, dan ia mengambil keputusan untuk mengakhiri penderitaan pemuda itu dengan satu-satunya jalan yang ia ketahui, yaitu memisahkan diri dari pemuda itu.

Pagi itu mereka berdua berlatih di waktu matahari mulai naik tinggi, duduk bersila dan melatih sin-kang menerima cahaya matahari dan membiarkan sinar matahari yang mengandung inti hawa panas yang menjadi sumber segala hawa panas itu meresap ke dalam tubuh mereka.

Setelah mereka menghentikan latihan mereka dan tubuh mereka basah oleh peluh, mereka mengaso di bawah pohon yang teduh sambli menghapus peluh.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siauw Bwee untuk mengutarakan keinginan hatinya.

"Yu-twako, kurasa kita sudah cukup memahami cara melatih diri dengan Jit-goat-sin-kang. Kini yang penting hanya tinggal melatih diri yang dapat kita lakukan di manapun juga. Sudah terlalu lama kita tinggal di tempat ini."

Yu Goan menoleh dan memandang dara itu dengan matanya yang lembut. Kemudian ia berkata.

"Ucapanmu benar, Lihiap...."

"Aihh, sudah berapa kali aku minta agar engkau tidak menyebutku dengan lihiap, Twako. Bukankah sejak lama aku menyebutmu Twako?"

"Terima kasih, ....eh, Bwee-moi. Sesungguhnya engkau baik sekali dan aku merasa amat beruntung diperbolehkan menyebutmu adik. Akan tetapi, engkau adalah seorang pendeker wanita yang tiada keduanya di dunia ini, den aku.... aku merasa terlalu rendah untuk manyebutmu adik."

"Omongan apakah ini? Aku hanya seorang manusia biasa, Twako. Kalau kau tidak menyebutku adik, aku tidak mau menjawabnya."

"Baiklah, Bwee-moi. Maafkan aku. Apa yang kaukatakan tadi benar bahwa kita sudah memaharni Jit-goat-sin-kang dan sudah terlalu lama tinggal di sini mengganggu ayah angkat kita. Akan tetapi...., kita akan pergi ke manakah?"

Inilah yang berat bagi Siauw Bwee dan semua tadi ia ucapkan hanya untuk dipergunakan sebagai alasan belaka.

Maksudnya hanya untuk mencari jalan agar ia dapat memisahkan diri dari pemuda ini.

"Aku akan melakukan perjalananku mencari suci dan suheng, Twako. Kita berpisah di sini, aku melanjutkan perjalanan dan engkau pun melanjutkan perjalananmu sendiri."

Dengan hati perih Siauw Bwee melihat betapa wajah yang tampan itu menjadi pucat, mata itu memandangnya dengan sinar mata penuh permohonan.

"Bwee-moi...., mengapa.... mengapa kita harus saling berpisah? Bukankah kita dapat melakukan perjalanan bersama? Aku akan membantumu mencari suheng dan sucimu sampai engkau dapat bertemu dengan mereka!"

Siauw Bwee menggeleng kepalanya.

"Twako, engkau baik sekali dan percayalah bahwa aku selamanya tidak akan melupakan engkau sebagai seorang sahabat yang paling baik, bahkan sebagai saudara angkat karena setelah kita berdua menjadi anak-anak angkat Ouw-pangcu, kita pun menjadi saudara angkat. Akan tetapi, tidak baik kalau kita melakukan perjalanan bersama, apalagi aku tidak ingin menyusahkanmu. Urusan pribadiku masih amat banyak, dan engkau sendiri tentu mempunyai urusan pribadi. Biarlah kita berpisah di sini dan tentu kelak kita masih akan dapat saling berjumpa kembali."

Yu Goan menggunakan kedua tangan menutupi mukanya untuk menyembunyikan kedukaan yang membayang di wajahnya.

"Ah, Bwee-moi.... aku mohon kepadamu, jangan aku harus berpisah darimu.... jangan kita saling berpisah lagi...."

Siauw Bwee tentu saja sudah menduga akan isi hati pemuda ini, akan tetapi ia mengeraskan hati, memandang dengan alis berkerut dan bertanya dengan suara nyaring mendesak.

"Twako! Apa maksudmu dengan kata-kata itu?"

Yu Goan menurunkan kedua tangannya dan memandang wajah dara itu dengan muka pucat namun sinar mata membayangkan isi hatinya tanpa disembunyikan lagi.

Suaranya menggetar, namun ia memaksa diri untuk menggunakan saat itu mengeluarkan semua isi hatinya.

"Bwee-moi, dengarlah. Semenjak saat pertama aku melihatmu, kemudian mendengar bahwa engkau adalah puteri dari mendiang pahlawan Khu Tek San, cucu murid Menteri Kam Liong, kemudian dilanjutkan melihat sepak terjangmu, menyaksikan kelihaian ilmu kepandaianmu dan watakmu yang amat mulia, aku telah jatuh cinta kepadamu! Tidak tahukah engkau, Bwee-moi? Aku cinta kepadamu, Bwee-moi, dan aku tidak akan dapat hidup kalau harus berpisah dari sampingmu. Engkau telah menjadi separuh nyawaku dan aku...."

"Cukup, Twako!"

Siauw Bwee berkata keras, tidak marah, hanya sengaja memperkeras sikapnya untuk "mengobati"

Penyakit yang menyerang hati pemuda itu.

"Aku bukan seorang buta yang tidak melihat tanda-tanda itu semua, dari sinar matamu, dari suara dan gerak-gerikmu. Aku tahu bahwa engkau sudah jatuh cinta kepadaku. Akan tetapi, karena aku tahu pula bahwa amat tidak mungkin bagiku untuk membalas perasaan hatimu itu, aku mengambil keputusan bahwa kita harus saling berpisah sebelum penyakitmu menjadi makin berat."

Yu Goan memandang dengan mata terbelalak kosong, sekosong hatinya yang mengalami pukulan hebat.

Wajahnya yang pucat, matanya yang memandang kosong, mulutnya yang agak terbuka seolah-olah sukar mengeluarkan suara, merupakan ujung pedang yang menusuk hati Siauw Bwee.

"Meng.... mengapa tidak mungkin...., Bwee-moi?"

Suara ini lebih mirip rintihan yang membuat Siauw Bwee memejamkan mata sejenak.

Ketika dibukanya kembali, dua titik air mata menetes turun.

Sejenak dia memandang wajah Yu Goan yang pucat, rambutnya yang mawut, matanya yang sayu, mulutnya yang tertarik derita hatinya.

Ahhh, betapa mudahnya jatuh cinta kepada seorang pemuda seperti ini, pikiran ini seperti kilat memasuki kepalanya.

Akan tetapi di sana ada Kam Han Ki dan dia tidak mau menukar suhengnya itu dengan pria lain yang manapun juga, betapa tampan dan baik pun!

"Yu-twako, aku suka kepadamu, aku menganggap engkau sebagai sahabat terbaik, bahkan sebagai saudara, akan tetapi tidak mungkin aku membalas cintamu karena....

karena cinta kasihku telah dimiliki pria lain, Twako."

Yu Goan terbelalak, kemudian kedua lengannya bergerak ke atas, yang kanan menjambak rambut sendiri, yang kiri menutupi muka, tubuhnya gemetar dan suaranya menggetar.

"Ahhhh.... maafkan aku, Bwee-moi.... maafkan aku....!"

Siauw Bwee memegang kedua tangan Yu Goan dan menariknya turun.

Ia memandang air mata yang menetes-netes turun di wajah yang pucat itu, menahan air matanya sendiri dan mengeraskan suaranya.

"Twako! Begini lemahkan engkau? Seorang pemuda gagah perkasa, begini sajakah kekuatan batinmu?"

Yu Goan memandang dara itu, lalu memejamkan mata dan menundukkan mukanya.

"Maafkan aku.... maafkan...."

Siauw Bwee mengguncang kedua lengan pemuda itu.

"Yu-twako! Engkau mengatakan bahwa engkau cinta kepadaku, akan tetapi kalau ternyata bahwa engkau menderita batin karena aku tidak bisa membalas cintamu, berarti bahwa engkau bukan mencinta aku melainkan mencinta dirimu sendiri!"

Yu Goan mengangkat mukanya yang basah air mata, memandang terbelalak.

"Apa maksudmu, Bwee-moi?"

"Di balik cintamu itu tersembunyi nafsu mementingkan diri sendiri, tersembunyi keinginan untuk menyenangkan diri sendiri, kau ingin dicinta, ingin memiliki, itu bukanlah cinta sejati, Twako, melainkan cinta diri yang bergelimang nafsu. Karena di balik cintamu bersembunyi hal-hal itulah maka engkau menjadi berduka dengan merasa sengsara ketika mendengar bahwa aku tidak dapat membalas cintamu! Renungkanlah, Twako, siapakah yang kaucinta itu? Aku ataukah dirimu sendiri?"

Yu Goan termenung, tangannya mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian ia mengangguk.

"Akan tetapi.... adakah cinta yang murni, tanpa keinginan untuk tidak berpisah lagi selamanya dari orang yang dicintanya?"

"Tentu saja ada, Twako. Cinta murni melupakan keinginan hati sendiri, hanya ingin melihat orang yang dicintanya bahagia. Karena kita yakin bahwa aku tidak mungkin membalas cinta kasihmu, robahlah cintamu itu, bersihkan daripada nafsu berahi. Lihatlah, aku memegang tanganmu, tanpa getaran nafsu, akan tetapi dengan rasa cinta sepenuhnya, cinta saudara. Dapatkah engkau merasakan itu, Twako?"

Yu Goan memandang tajam, kemudian menghela napas panjang dan mengangguk.

"Aku mengerti, Bwee-moi."

Ia lalu meraih tubuh dara itu dan mencium dahinya, ciuman yang lembut dan bersih daripada nafsu, jauh daripada kemesraan kasih sayang lawan kelamin.

Siauw Bwee dapat melaksanakan pula hal ini, maka dia tidak kaget, tidak membantah, dan diam-diam ia merasa bersyukur dan kagum bahwa pemuda itu benar-benar seorang yang memiliki budi pekerti yang bersih.

Yu Goan menekan keharuannya dan melepaskan pelukannya.

Mereka hanya duduk berhadapan, saling berpegang tangan.

Kini terbayang senyum di bibir Yu Goan biarpun pada matanya yang biasanya tajam penuh kegembiraan itu kini berganti pandang sayu tanda bahwa hatinya terluka oleh ujung anak panah Dewa Cinta yang beracun.

"Bwee-moi, terima kasih. Aku memang bodoh sekali, bodoh karena mementingkan diri sendiri saja. Bwee-moi, kalau boleh aku bertanya, apakah cinta kasihmu terhadap pria yang berbahagia itu juga murni dan bersih daripada nafsu?"

Wajah Siauw Bwee tiba-tiba menjadi merah sekali dan ia menggenggam tangan Yu Goan ketika menjawab.

"Aku.... aku juga bodoh seperti engkau, Twako. Aku.... aku mencinta dia seperti engkau mencintaku tadi. Ahhh.... sudah mengerti namun tetap tidak dapat mengalahkan perasaan sendiri, betapa lemah dan bodohnya aku, lebih bodoh dan lebih lemah daripada engkau, Twako."

Tiba-tiba Siauw Bwee menangis, teringat akan Han Ki, teringat akan Maya, teringat akan cintanya yang masih berbelit-belit itu karena dia tidak tahu kepada siapakah sesungguhnya Han Ki mencinta, cinta seorang pria terhadap wanita, cinta yang tak dapat dibagi-bagi, kepada dia ataukah kepada Maya?

Yu Goan menjadi terharu dan merasa kasihan sekali.

Ia merangkul pundak Siauw Bwee, menepuk-nepuk punggungnya perlahan sambil berkata.

"Bwee-moi, kasihan engkau....! Engkau sedang menderita, ditambah oleh gangguan lagi. Tenanglah, Bwee-moi, aku berjanji takkan mengganggumu lagi dan aku akan bersembahyang setiap saat kepada Tuhan semoga engkau akan berbahagia dalam cinta kasihmu itu."

"Terima kasih, Yu-twako, engkau baik sekali."

Tiba-tiba kedua orang ini tersentak kaget dan meloncat berdiri ketika pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk kentongan-kentongan bambu yang dipukul bertalu-talu.

Tanpa bicara keduanya melesat meninggalkan tempat itu, kembali ke perkampungan dan mereka melihat orang-orang lari tergopoh-gopoh berkumpul di depan pondok Ouw-pangcu.

Ketika melihat dari jauh wajah Ouw-pangcu dan wajah anak buahnya kelihatan tegang, Siauw Bwee dan Yu Goan tidak mau mengganggu, hanya memandang bengong ketika melihat Ouw-pangcu memimpin anak buahnya, berbondong-bondong lari menuruni bukit memasuki hutan.

Siauw Bwee dan Yu Goan saling berpandangan, kemudian mereka bergerak mengikuti rombongan itu dari belakang.

Sudah lama Siauw Bwee dan Yu Goan mempunyai keinginan bertemu dengan penghuni lembah di bawah, atau setidaknya ketuanya karena mereka itu adalah orang-orang yang menerima pendidikan langsung dari Bu-tek Lo-jin.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert