Ceritasilat Novel Online

Pendekar Kelana 2

Eps 2 Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo.

Adapun tiga orang Datuk Iblis itu juga nampak terkejut dan mereka memejamkan mata, mengerahkan sinkang untuk melindungi jantung mereka dan menolak pengaruh yang hebat dari lengkingan panjang itu.

Si Kong sendiri menahan napas dan mengerahkan sinkang untuk melindungi jantungnya.

Belum habis suara melengking itu, disusul suara gerengan yang juga amat hebat.

Gerengan ini seperti gerengan harimau yang mengguncangkan jantung.

Dua suara yang sama kuat getarannya ini seperti saling sahutan, dan akhirnya dua suara ini berhenti dan entah dari mana datangnya, di atas batu besar yang tadi diduduki raksasa pemimpin gerombolan itu telah berdiri dua orang kakek.

Yang seorang berusia sedikitnya enam puluh tahun, kepalanya besar sekali, sungguh menyolok karena berbeda dengan tubuhnya yang kecil.

Kedua telinganya juga lebar bukan seperti telinga manusia biasa, kepalanya botak dan dia mengenakan baju serba putih, Tangan kanannya memegang sebuah tongkat kayu berbentuk ular dan panjangnya sampai kepundaknya.

Orang kedua juga aneh.

Kepalanya penuh rambut yang tebal dan panjang sampai ke punggung, mukanya juga penuh rambut seperti muka monyet, kedua lengannya panjang sekali sampai melebihi lututnya ketika bergantung di kanan kirinya.

Tangan kanannya memegang sebatang pecut seperti yang biasa dipegang oleh para penggembala ternak.

Pakaiannya serba hitam.

Si Kong terkejut sekali melihat mereka.

Dia sendiri tidak tahu kapan mereka itu datang, tahu-tahu telah berada di atas batu itu.

Sekarang tahulah dia siapa yang tadi terdengar langkahnya akan tetapi tidak nampak orangnya.

Tentu kedua orang kakek aneh ini.

Mereka memiliki ginkang yang sukar di ukur tingginya.

Dia sendiri yang sudah mahir ilmu Liok-te Hui-teng yang membuat dia dapat bergerak seperti terbang cepatnya, sama sekali tidak ada artinya kalau dibandingkan dengan dua orang kakek ini.

Liok-te Sam-kwi (Tiga Setan Bumi) itu juga terkejut melihat munculnya dua orang aneh ini.

Mereka bertiga adalah tokoh-tokoh dunia sesat yang terkenal namun belum pernah mereka bertemu dengan dua orang ini.

Dan melihat kemunculan mereka, tiga orang itu teringat akan dua nama yang amat ditakuti para tokoh persilatan.

Dua nama yang hanya dikenal nama akan tetapi jarang ada orang bertemu dengan dua orang ini.

Thai-kwi, orang pertama dari Liok-te Sam-kwi yang pendek gendut, segera memberi hormat dari tempat di mana dia berdiri.

Dia mengangkat kedua tangan ke depan dada sebagai penghormatan dan dengan suaranya yang besar dia berkata.

"Kalau kami tidak salah duga, ji-wi tentu yang dijuluki Ji Ok (Dua Yang Jahat). Kalau benar demikian, kami bertiga Liok-te Sam-kwi menghaturkan hormat kami kepada ji-wi Lo-cian-pwe!"

Dengan menyebut ji-wi Lo-cian-pwe, Thai-kwi telah merendahkan diri dan ini menandakan bahwa dia jerih menghadapi kedua orang aneh itu.

Melihat sikap Thai-kwi yang merendahkan diri, kakek yang kepalanya besar tertawa, suara tawanya menggelegar dan membuat seluruh puncak bukit itu tergetar.

"Hoa-ha-ha-ha, bagaimana pendapatmu, Ji Ok (Jahat Ke Dua)? Kita berdua berjuluk Thao-mo-ong (Raja Iblis Tertua) dan Ji-mo-ong (Raja Iblis ke Dua) dan sekarang muncul mereka yang mengaku Liok-te sam-kwi dan hendak menguasai Bukit Iblis ini? Apa yang harus kita lakukan terhadap Siauw-kwi (Iblis Cilik) ini?"

"Toa-ok, kenapa pusing-pusing memikirkan hal itu? Bunuh saja mereka agar tidak menjadi saingan dan penghalang bagi kita!"

Kata kakek seperti monyet yang berpakaian serba hitam itu.

"Ha-ha-ha-ha! Engkau benar sekali, Ji Ok. Nah, kalian bertiga sudah mendengar sendiri. Liok-te Sam-kwi, kami tidak ingin mengotorkan tangan untuk membunuh kalian. Nah, sekarang cepat kalian bertiga membunuh diri di depan kami!"

Liok-te Sam-kwi terkejut bukan main.

Ini sudah keterlaluan sekali.

Mereka diminta membunuh diri agar tidak menjadi saingan dan tidak menghalangi mereka berdua.

Ini namanya terlalu memandang rendah kepada mereka!

Orang ketiga dari Liok-te Sam-kwi yang bertubuh katai seperti kanak-kanak ternyata seorang cerdik.

Dia hendak menggunakan tenaga enam belas orang gerombolan yang baru saja menyerah kepada mereka.

Dia meloncat ke depan pimpinan gerombolan itu dan berkata.

"Kami perintahkan kalian semua untuk mengeroyok dua orang kakek itu!"

Enam belas orang itu tidak berani membangkang.

Mereka sudah mencabut golok mereka dan mengepung dua orang kakek itu, sedangkan Liok-te Sam-kwi sendiri juga sudah bersiap-siap.

Si Kong menonton dari tempat persembunyiannya dengan panuh perhatian.

Jantungnya berdebar tegang karena dia tahu bahwa sekarang akan terjadi pertandingan yang hebat.

Tiga orang Liok-te Sam-kwi itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat, akan tetapi kedua orang kakek Toa Ok dan Ji Ok ini agaknya memiliki ilmu yang lebih hebat lagi.

Karena dapat menduga bahwa mereka menghadapi lawan yang berat, Liok-te Sam-kwi mengeluarkan senjata masing-masing.

Orang pertama yang gendut bundar itu mengeluarkan sebuah rantai baja yang ujungnya dipasangi kaitan dari pinggangnya di mana rantai itu tadinya dilibatkan.

Orang kedua yang tinggi kurus itu mencabut sebatang pedang dari punggungnya dan orang ketiga yang katai mencabut sepasang golok kecil dari punggungnya pula.

Bersama enam belas orang gerombolan yang sudah menjadi anak buah mereka itu, mereka kini mengepung batu besar di mana Toa Ok dan Ji Ok berdiri.

Dua orang Raja Iblis ini tersenyum-senyum saja dengan tenangnya, seolah dua orang dewasa menghadapi pengeroyokan anak-anak kecil saja.

Tiba-tiba, seperti sudah bersepakat lebih dulu, Toa Ok si kepala besar meloncat turun dari atas batu, ke arah kiri sedangkan Ji Ok Si Muka Monyet itu meloncat turun ke arah kanan sehingga mereka terpisah menjadi dua.

Para pengeroyoknya juga terbagi menjadi dua.

Si gendut dan si katai bersama delapan orang anak buah sudah mengepung Toa Ok.

Sedangkan si tinggi kurus bersama delapan orang anak buah yang lain mengepung Ji Ok.

"Hyaaatt...!"

Si gendut sudah memulai dengan serangannya.

Cambuk rantainya menyambar dan menjadi sinar putih menghantam ke arah leher Toa Ok.

Gerakan ini disusul pula oleh si katai yang menggerakkan sepasang goloknya.

Demikian pula delapan orang anak buah mereka sudah menggerakkan golok masing-masing untuk mengeroyok.

Toa Ok tertawa bergelak dan tahu-tahu tubuhnya melonat ke atas dengan kecepatan kilat.

Sambil meloncat dia menggerakkan tongkat ularnya ke bawah dan sekali tongkat itu menyambar, robohlah empat orang anak buah gerombolan itu dengan kepala pecah!

Ji Ok juga dikepung rapat oleh si tinggi kurus dan delapan orang anak buahnya.

Si tingi kurus itu menggerakkan pedangnya dan menyerang dengan cepat sekali, diikuti oleh delapan orang anak buah yang menggerakkan golok mereka.

Akan tetapi Ji Ok memandang rendah mereka.

Pecutnya meledak-ledak dan nampak seperti kepulan asap ketika pecut itu meledak-ledak.

Tubuhnya sendiri berkelebat lenyap dari kepungan sembilan orang itu dan ketika pecutnya berhenti meledak, sudah ada empat orang pengeroyok terkapar dengan leher hampir putus!

Gerakan pecutnya sedemikian lihainya sehingga pecut itu menjadi tajam seperti pedang.

Liok-te Sam-kwi mengeroyok dan berusaha mati-matian untuk merobohkan Toa Ok dan Ji Ok, akan tetapi mereka itu kalah cepat dan kalah kuat tenaganya.

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, begitu tongkat ular berhenti menyambar dan pecut berhenti meledak, semua pengeroyok itu, Liok-te Sam-kwi bersama enam belas orang anak buah mereka, telah roboh dan tewas semua!

Dua orang kakek itu meloncat lagi ke atas batu besar dan keduanya tertawa terkekeh saking gembiranya telah dapat membunuh sekian banyaknya orang dalam waktu singkat.

Si Kong bergidik.

Sungguh tepat mereka disebut Toa Ok dan Ji Ok, Si Jahat Pertama dan Si Jahat Kedua dengan julukan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong!

Tanpa sebab yang jelas mereka membunuhi belasan orang begitu saja.

Karena tidak dapat menahan lagi menonton pertunjukan yang kejam itu, Si Kong membuat gerakan hendak pergi dari tempat persembunyiannya.

Dia lupa betapa lihainya dua orang Raja Iblis itu.

Baru saja beberapa langkah dia maju, tiba-tiba Ji Ok sudah berseru dengan suaranya yang tinggi kecil.

"Siapa itu? Berhenti atau kamu mati!"

Si Kong terkejut dan baru teringat bahwa sedikit gerakan saja tentu akan diketahui oleh mereka yang amat lihai.

Dia berhenti melangkah dan membalikan tubuh.

Kini dia sudah berdiri di balik semak dan dapat nampak oleh dua Raja Iblis itu dari pinggang ke atas.

Melihat betapa orang itu hanya seorang pemuda remaja yang membawa buntalan pakaian di ujung pikulan bambunya, dua orang kakek itu mendengus marah.

"Engkau melihat apa?"

Bentak Ji Ok pula.

Karena masih muak menyaksikan pembunuhan atau pembantaian keji itu, seperti dengan sendirinya Si Kong menjawab.

"Saya melihat pembantaian di luar perikemanusiaan!"

Dua orang kakek itu tertegun, lalu tertawa bergelak.

Ji Ok menggerakkan pecutnya ke bawah.

Pecut itu meledak dan menyambar ke bawah, ujungnya sudah melibat sebatang golok milik anak buah gerombolan dan sekali menggerakkan pecutnya, golok itu sudah terbang dan menancap di depan kaki Si Kong.

"Pungut pedang itu dan gorok lehermu sendiri!"

Ji Ok membentak pula.

Panas hati Si Kong.

Dia tahu bahwa dua orang kakek itu lihai sekali, akan tetapi dia tidak takut.

Apalagi disuruh membunuh diri sendiri.

Mana mungkin dia dapat menaati perintah yang keji itu?

Dia membungkuk perlahan memungut golok itu.

Akan tetapi dia tidak menggorok batang leher sendiri melainkan menggunakan jari tangan menekuk golok itu.

"Pletakkk!"

Golok itu patah menjadi dua dan dilempar ke atas tanah oleh Si Kong.

Melihat ini, Ji Ok menjadi marah sekali.

Gerakan Si Kong mematahkan golok itu dianggapnya sebagai tantangan kepadanya!

Dia ditantang oleh anak kemarin sore, seorang pemuda remaja!

Akan tetapi Ji Ok masih merasa segan untuk bermusuhan dengan seorang bocah remaja.

Hal itu dianggapnya memalukan sekali.

Merendahkan kedudukannya sebagai datuk besar.

Dengan kemarahan yang ditahan-tahan dia menendang ujung batu besar itu.

Ujungnya pecah dan pecahan batu sebesar kepala itu meluncur dan menyambar ke arah kepala Si Kong!

Akan tetapi dengan tenang saja Si Kong menarik kepalanya ke belakang sehingga sambaran batu itu luput.

Melihat ini, Ji Ok merasa semakin penasaran!

Pecutnya kini menyambar-nyambar ke bawah, membelit golok-golok yang berada di bawah dan menyambitkan golok-golok itu ke arah Si Kong.

Golok-golok itu beterbangan menyambar, akan tetapi dengan sigap dan mudahnya Si Kong mengelak dan semua golok yang disambitkan dengan pecut itu tidak ada sebuahpun yang mengenai dirinya.

Tidak kurang dari sembilan buah golok yang menyambar ke arah tubuhnya dan semua dapat di elakkan.

Sekarang Ji Ok merasa heran juga.

Sambitannya tadi cepat dan kuat sekali.

Akan tetapi bocah itu dapat mengelak dengan amat mudahnya.

"Ha-ha, Ji Ok. Engkau sekali ini dipermainkan seorang bocah cilik!"

"Jangan mentertawakan aku, Toa Ok! Kulihat anak ini bukan anak sembarangan, kalau tidak mana (Lanjut ke

Jilid 04) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 04 mungkin dia dapat mengelak dari semua golok itu?"

"Hemm, kalau dia sampai lolos dan menceritakan di dunia kangouw betapa dia sudah mampu menghindarkan diri dari seranganmu, bukankah kita akan menjadi buah tertawaan orang sedunia? Sekarang, selagi tidak ada orang lain melihatnya, mari kita berlumba, siapa antara kita yang lebih dulu dapat membunuhnya!"

"Baik!"

Kata Ji Ok dan mereka berdua sudah melayang dari atas batu itu ke arah Si Kong.

Anak ini sudah tahu akan niat mereka.

Biarpun dia tahu bahwa kedua orang kakek itu bukanlah lawannya, namun dia tidak putus asa.

Selagi masih hidup, dia harus mempertahankan hidupnya.

Dia sudah menurunkan buntalan pakaiannya dan memegang pikulan bambunya sebagai tongkat.

Begitu menyambar, kedua orang kakek itu sudah menggerakan senjata sebelum kaki mereka turun ke tanah.

Tongkat ular di tangan Toa Ok berlumba cepat dengan pecut di tangan Ji Ok.

"Wuuuuutttt...!"

Si Kong maklum betapa besar bahayanya penyerangan itu.

Dia lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya Liok-te Hui-teng dan berkelebat dengan cepatnya mengelak dari sambaran kedua senjata itu.

"Wuuuutt... tarrr...!"

Tongkat dan pecut itu menyambar ganas akan tetapi tidak mengenai sasarannya.

Kedua orang datuk itu terkejut dan heran bukan main.

Mereka berdua menyerang dengan berbareng dan anak itu dapat menghindarkan diri!

Ini saja sudah merupakan hal yang luar biasa sekali.

Tokoh-tokoh kang-ouw jarang ada yang mampu menghindarkan diri kalau mereka menyerang seperti tadi dan bocah itu mempergunakan gin-kang yang amat hebat sehingga dapat bergerak lebih cepat dari pada sambaran senjata mereka!

Toa Ok mengeluarkan suara gerengan aneh saking penasaran dan marahnya dan dia sudah menyerang dengan tongkatnya yang ditusukkan ke arah dada Si Kong dengan penuh keyakinan bahwa Si Kong pasti akan tewas sekali ini.

Si Kong melihat gerakan tongkat dan dia pun mengerakkan tongkat bambunya untuk menangkis sambil menggetarkan ujung tongkat bambunya.

"Tukkk...!"

Dua batang tongkat bertemu dengan kuatnya dan Si Kong membuat tongkatnya terpental dan diapun ikut meloncat sehingga serangan Toa Ok gagal lagi.

Melihat ini, Ji Ok juga menyerang dengan pecutnya yang dibuat menjadi lemas.

Pecut itu menyambar ke arah leher Si Kong, kalau mengenai sasaran akan membelit leher dan sekali sentak dengan tenaga sin-kang, leher bocah itu tentu akan putus!

Akan tetapi kembali tongkat ditangan Si Kong menangkis dan ketika ujung cambuk hendak membelit tongkat bambu, Si Kong telah lebih dahulu mengirim tendangan kakinya ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang cambuk.

Ji Ok melihat betapa tendangan itu kuat sekali.

Dia tidak ingin pergelangan tangannya tertendang, maka terpaksa dia menarik kembali cambuknya, tidak jadi melibat tongkat.

Kini kedua orang datuk itu marah sekali, akan tetapi mereka juga merasa malu kalau harus mengeroyok seorang pemuda remaja dengan menggunakan senjata mereka!

"Ji Ok, kita bunuh anak ini dengan tangan kosong saja!"

Kata Toa Ok dengan muka berubah merah karena merasa malu.

"Baik!"

Kata Ji Ok yang segera menyimpan sabuknya, diikatkan dipinggangnya sedangkan Toa Ok menancapkan tongkatnya di tanah.

Kini mereka menghampiri Si Kong dengan tangan kosong.

Akan tetapi jangan dikira dengan tangan kosong itu mereka menjadi kurang berbahaya.

Kedua orang datuk ini telah memiliki tenaga dalam yang luar biasa kuatnya.

Toa Ok yang berkepala besar itu memiliki sinkang yang berhawa panas dan yang dapat menghanguskan tubuh lawan dengan pukulannya.

Sebaliknya Ji Ok memiliki sinkang berhawa dingin.

Dengan pukulan tangannya, dia mampu membuat lawan roboh dan tewas dengan darah membeku!

Si Kong bukan tidak maklum akan kesaktian dua orang kakek itu.

Juga dia mengerti bahwa dua orang datuk besar ini merasa marah dan malu sehingga berniat untuk membunuhnya.

"Ji-wi lo-cianpwe mengapa berkeras hendak membunuhku? Apa kesalahanku terhadap ji-wi (anda berdua)?"

Si Kong bertanya, suaranya nyaring, sama sekali tidak ada tanda-tanda takut padanya.

"Bocah setan, engkau harus mampus di tanganku!"

Ji Ok membentak.

"Kalau tidak ingin mati di tangan kami, bunuhlah dirimu sendiri dengan tongkatmu!"

Kata Toa Ok yang masih merasa malu kalau harus membunuh lawan yang melihat usianya pantas menjadi cucunya itu.

"Aku tidak bersalah, aku tidak ingin mati di tangan siapapun!"

Kata Si Kong, siap dengan tongkatnya.

"Heeeiiiitt...!"

Ji Ok sudah menyerang dengan tangan kirinya yang membentuk cakar harimau.

Akan tetapi Si Kong mengelak dengan cepat dan ujung tongkatnya sudah menyerang ke arah siku tangan yang menyerangnya itu.

Ji Ok terkejut dan menarik tangan kirinya, kini tangan kanan menyambar dengan sebuah tamparan ke arah muka Si Kong.

Si Kong mengelak ke belakang akan tetapi secara tidak terduga, sambil mengelak itu tongkatnya menyambar ke bawah.

"Takk!!"

Tongkatnya mengenai kaki Ji Ok.

Kalau bukan Ji Ok yang terkena hantaman tongkat itu, tentu sudah terpelanting jatuh.

Akan tetapi Ji Ok tidak bergeming, hanya matanya terbelalak.

"Tung-hwat (ilmu tongkat) yang hebat!"

Sementara itu, Toa Ok juga sudah menyerang dengan tamparan tangan kanan di susul tamparan tangan kiri.

Tamparan kedua tangannya ini menggunakan sinkang sehingga dapat menyerang orang dari jarak jauh.

Akan tetapi Si Kong sudah melayang ke atas dan melewati kepala Toa Ok.

Ketika turun tongkatnya sudah menghantam ke belakang tubuh lawannya.

"Bukk!"

Pinggul Toa Ok kena dihantam tongkat.

Tongkat itu terpental, akan tetapi Toa Ok sudah menjadi merah sekali mukanya karena dalam segebrakan saja dia sudah terkena pukulan tongkat walaupun pukulan pada pinggulnya itu tidak ada artinya baginya.

Dia hanya merasa heran dan terkejut, dan teringatlah dia akan akan ilmu tongkat yang terkenal paling ampuh di dunia persilatan.

"Ta-kaw Sin-tung...!"

Teriaknya dan kembali mereka menghadapi Si Kong.

Kini mereka menyerang dengan berbareng.

Si Kong menjadi terdesak hebat dan terpaksa dia harus menggunakan Yan-cu Hui-kun yang membuat tubuhnya menjadi seperti seekor burung walet gesitnya, mengelak ke sana sini sambil berloncatan dan kadang menangkis dengan tongkatnya.

Setelah lewat belasan jurus, sebuah pukulan jarak jauh dari Toa Ok menyerempet pundaknya dan diapun terpelanting dan merasa tubuhnya panas sekali, Ji Ok dan Toa Ok maju menyerang lagi dari kanan kiri, menggunakan pukulan jarak jauh dengan tenaga sakti keluar dari telapak tangan mereka.

Si Kong sudah tidak dapat menghindar lagi.

Akan tetapi, biarpun maut mengancam dirinya, anak ini sama sekali tidak takut dan dia hanya menanti datangnya pukulan dengan mata terbelalak keberanian.

"Siancai...!"

Pada saat itu terdengar seruan orang dan nampak bayangan orang berkelebat.

Tahu-tahu disitu telah berdiri seorang kakek dekat Si Kong dan kakek ini merentangkan keduan tangannya ke kanan kiri untuk menyambut pukulan Toa Ok dan Ji Ok yang ditujukan kepada Si Kong.

"Plak-plakk!"

Kakek itu menerima kedua tangan dari kanan kiri.

Dia dapat merasakan betapa telapak tangan Toa Ok mengandung hawa panas dan telapak tangan Ji Ok mengandung hawa dingin.

Akan tetapi kakek itu dengan tenangnya menyambut tangan mereka.

Toa Ok dan Ji Ok terkejut sekali ketika merasa betapa telapak tangan mereka bertemu dengan telapak tangan yang lembut dan hangat.

Akan tetapi Toa Ok dan Ji Ok adalah dua orang datuk sesat yang tidak memperdulikan nasib orang lain.

Mereka dapat membunuh orang tanpa berkedip mata.

Kini melihat seorang kakek menolong Si Kong dan kakek itu terhimpit di tengah-tengah antara mereka, Kedua orang datuk ini tidak menarik kembali tangan mereka, bahkan sebaliknya mereka mengerahkan tenaga sinkang untuk membunuh kakek yang menghalangi niat mereka membunuh Si Kong itu.

Mereka menggunakan tangan mereka itu untuk mendorong dengan pengerahan tenaga.

Akan tetapi mereka terkejut bukan main.

Ketika mendorong dengan tenaga sakti yang mengandung hawa panas, Toa Ok merasa betapa ada hawa dingin menyambut dorongannya.

Sebaliknya Ji Ok yang mendorong dengan hawa sinkang dingin, merasa betapa ada hawa panas menyambut dari telapak tangan kakek itu.

Mereka berdua terengah-engah karena sambutan hawa sin-kang dari tangan kakek itu amat kuat.

Mereka merasa penasaran sekali dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong kembali.

"Haiiiiiitt...!"

Ji Ok berseru nyaring.

"Hyaaaaaatttt...!"

Toa Ok juga membentak sambil mengerahkan seluruh tenaganya.

Akan tetapi dua orang kakek itu merasa betapa makin kuat mereka mendorong, semakin kuat pula hawa sakti menyambut dan mereka tidak kuat bertahan, lalu keduanya terjengkang roboh.

Toa Ok merasa tubuhnya di serang hawa dingin, sebaliknya Ji Ok merasa tubuhnya di serang hawa panas.

Mereka tidak tahu bahwa kakek itu sebetulnya hanya menyalurkan saja hawa pukulan mereka itu melalui kedua tangannya dan membuat dua tenaga yang berlawanan itu bertemu dan saling serang sendiri.

Ini merupakan ilmu menyimpan dan menyalurkan hawa sakti dari luar, sebuah ilmu yang teramat tinggi dan jarang ada orang mampu melakukannya.

Dengan penyaluran itu, Toa Ok tertangkis oleh tenaga Ji Ok sebaliknya Ji Ok tertangkis oleh tenaga Ji ok yang mengakibatkan keduanya roboh terluka!

Kedua orang datuk itu bukanlah orang-orang bodoh yang nekat.

Mereka maklum bahwa mereka telah terluka dalam dan kalah.

Mereka maklum bahwa mereka berhadapan dengan seorang yang luar biasa saktinya.

Sejenak mereka bangkit dan duduk bersila untuk mengatur pernapasan mengambil hawa murni untuk melindungi jantng mereka.

Kemudian keduanya bangkit berdiri.

Ada sedikit darah kelihatan di ujung bibir mereka.

"Siapakah engkau yang telah berani mencampuri urusan kami?"

Tanya Toa Ok dengan suara mengandung penasaran sekali.

"Siancai...!"

Kakek itu berseru sambil tersenyum.

"Kiranya yang berjuluk Toa Ok dan Ji Ok bahkan lebih kejam daripada namanya! Aku yang bertapa di Pulau Teratai Merah belum pernah bertemu dengan orang yang sekejam kalian berdua!"

Berkata demikian kakek itu memandang ke arah mayat-mayat yang malang melintang di tempat itu, lalu kepada Si Kong yang sudah bangkit berdiri.

Dua orang datuk ini terkejut bukan main mendengar bahwa kakek ini adalah pertapa di Pulau Teratai Merah.

Mereka sudah pernah mendengar tentang seorang pertapa yang sakti sekali, seorang yang puluhan tahun yang lalu namanya terkenal dan di takuti oleh seluruh tokoh kang-ouw, terutama kaum sesat amat takut mendengar nama itu.

Puluhan tahun yang lalu di dunia kang-ouw muncul seorang pendekar yang demikian gigih memberantas kaum sesat tanpa ampun sehingga dia dijuluki orang Pendekas Sadis!

Pendekar Sadis inilah yang kemudian setelah tua mengundurkan diri dan bertapa di Pulau Teratai Merah di Laut Selatan.

Dan kini, tanpa di sangka sama sekali, pertapa itu agaknya meninggalkan Pulau Teratai Merah dan kebetulan bertemu dengan Toa Ok dan Ji Ok, sepasang Raja Iblis yang merupakan orang-orang paling kejam di antara semua tokoh sesat.

"Pendekar Sadis...!"

Toa Ok dan Ji Ok berseru dengan suara berbareng kemudian tanpa berkata apa-apa lagi kedua orang itu melompat jauh dan pergi dari situ dengan hati jerih!

Kakek itu memang benar Pendekas Sadis yang bernama Ceng Thian Sin.

Akan tetapi dia kini telah menjadi seorang kakek tua renta yang usianya sudah mencapai hampir seratus tahun!

belasan tahun yang lalu kakek ini tinggal di Pulau Teratai Merah bersama isterinya yang juga merupakan seorang pendekar wanita yang sukar di cari tandingannya.

Ketika isterinya yang bernama Toan Kim Hong dan yang pernah menjadi datuk selatan dengan julukan Lam Sin itu meninggal dunia dalam usia delapan puluh tahun lebih, kakek Ceng Thian Sin hidup seorang diri di pulau itu sebagai seorang pertapa.

Dia sama sekali tidak mencampuri urusan dunia, bahkan lama sebelum itu, dia sudah hidup berdua dengan isterinya hidup dengan tenteram penuh kedamaian di pulau itu.

Si Kong terheran-heran melihat kakek tua renta itu.

Dia memandang pernuh perhatian.

Seorang kakek yang jangkung kurus, rambut jenggot dan kumisnya sudah putih semua akan tetapi wajahnya masih nampak sehat kemerahan seperti orang muda.

Alisnya yang tebal juga sudah putih semua dan pakaiannya amat sederhana namun bersih, dari kain kuning dan putih.

Dia tadi melihat betapa kakek itu menahan kedua tangan Toa Ok dan Ji Ok, kemudian melihat kedua orang datuk sesat itu roboh terjengkan seperti ditolak tenaga yang kuat sekali.

Melihat itu saja maklumlah Si Kong bahwa yang menyelamatkan nyawanya adalah seorang kakek yang amat sakti.

Dia tidak ragu lagi untuk menjatuhkan dirinya berlutut di depan kakek itu dan memberi hormat berulang kali.

"Saya Si Kong yang bodoh merasa bersyukur sekali bahwa Lo-cian-pwe telah menyelamatkan nyawa saya dari tangan maut Toa Ok dan Ji Ok. Kalau tidak ada Lo-cian-pwe tentulah sekarang saya telah menjadi mayat. Banyak terima kasih saya haturkan kepada Lo-cian-pwe."

Kakek itu mengelus jenggot putihnya yang panjang.

"Siancai...! Kau tahu apa tentang tolong menolong, hutang dan balas budi, hutang atau balas dendam?"

Kemudian Ceng Thian Sin berdongak kelangit dan mulutnya membaca sajak!

"Begitu semua orang mengenal keindahan dengan sendirinya muncul kejelekan, Begitu semua orang tahu apa itu kebaikan mereka pun tahu apa itu kejahatan...

Karena itu ada dan tiada saling melahirkan sukar dan mudah saling melengkapi panjang dan pendek saling mewujudkan tinggi atau rendah saling bersandar bunyi dan suara saling mengimbangi dahulu dan kemudian saling menyusul..."

Mendengar ini, saking tertariknya karena dia mengenal sajak itu, ketika kakek itu berhenti sebentar untuk menarik napas, Si Kong sudah melanjutkan sajak itu.

"Itulah sebabnya orang sudi bekerja tanpa bertindak mengejar tanpa berkata. Maka segala benda berkembang tanpa dia mendorongnya tunbuh tanpa dia mau memilikinya berbuat tanpa dia menjadi sandarannya. walaupun berjasa dia tidak menuntut, justeru karena tidak menuntut, maka tidak akan musna."

"Siancai...! engkau hafal akan ujar-ujar dalam kitab To-tek-keng! Bagus seklai, akan tetapi mengertikah engkau akan inti sari pelajaran dalam ujar-ujar kuno itu?"

"Maafkan saya, Locianpwe. Kalau tidak salah, ujar-ujar itu mengajarkan kepada orang untuk melakukan segala sesuatu tanpa pamrih untuk keuntungan atau kesenangan diri pribadi karena perbuatan apapun yang berpamrih untuk diri sendiri, maka perbuatan itu tidaklah timbul dari hati sanubari yang bersih, melainkan dipakai sebagai alat untuk mencapai kesenangan diri sendiri. Benarkah demikian, lo-cianpwe?"

"Ha-ha-ha, engkau seorang bocah yang cerdik dan pemberani. Kulihat bahkan engkau tadi berani melawan Toa Ok dan Ji Ok dengan ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung! Dan gerakanmu demikian gesit. Tentu engkau pernah mempelajari Liok-te Hui-teng dan Yan-cu Hui-kun!"

Si Kong merasa kagum dan tunduk sekali. Dia memberi hormat lagi sambil berlutut.

"Apa yang Lo-cian-pwe katakan semuanya benar. Saya yang bodoh mohon petunjuk Lo-cian-pwe."

"Aku pernah mendengar bahwa ilmu tongkat yang menjadi ilmu tertinggi dari para pengemis, dimiliki oleh Lok-sian Lo-kai, yaitu ilmu tongkat Ta-kaw Sin-tung. Sedangkan Liok-te Hui-teng dan Yan-cu Hui-kun dikuasai oleh si penyair gila Kwa Siucai. Apa hubunganmu dengan kedua orang itu?"

"Mereka berdua adalah guru-guru saya, Lo-cian-pwe."

Kata Si Kong yang menjadi lebih kagum lagi. Kakek tua renta ini agaknya mengetahui segalanya.

"Pantas engkau mengenal To-tek-keng."

Kakek itu kembali melayangkan pandang pandang matanya kepada sembilan belas buah mayat yang malang melintang di tempat itu.

"Siapa yang membunuh mereka?"

Tanyanya.

"Dua orang kakek tadi, Lo-cian-pwe."

"Ceritakan dari semula semua yang terjadi disini."

"Secara kebetulan saya mendaki bukit ini karena mendengar dari orang-orang dusun di lain bukit bahwa bukit ini di beri nama Bukit Iblis. Saya merasa tertarik mengapa bukit ini disebut demikian karena saya sendiri tidak percaya adanya iblis."

"Siancai...! Jangan bilang tidak percaya karena sesungguhnya iblis itu ada. Hanya keadaannya tidak terlihat mata, dan pekerjaan iblis itu menggoda manusia. Dua orang tadi melakukan kekejaman seperti itu, kau kira karena apa? Karena iblis yang masuk ke dalam batin mereka. Lanjutkan ceritamu."

"Mula-mula saya melihat enam belas orang itu berkumpul disini dan pimpinan mereka menyatakan bahwa sekarang mereka akan mempergunakan bukit ini sebagai sarang mereka. Lalu muncul tiga orang yang menyebut diri mereka Liok-te Sam-kwi. Tiga orang itu mengalahkan enam belas orang ini dan memaksa mereka menjadi anak buah Liok-te Sam-kwi. Kemudia muncul Toa Ok dan Ji Ok tadi yang membunuh mereka semua, setelah menyuruh mereka semua membunuh diri dan mereka tidak mau lalu terjadi pertempuran. Ketika saya hendak pergi dari sini, dua orang datuk itu melihat saya dan mereka menyerang saya seperti yang Locianpwe lihat tadi."

"Siancai...! Bunuh membunuh, bunuh membunuh sejak dahulu sampai sekarang. Orang-orang sesat di dunia kang-ouw rupanya tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali saling bunuh dan saling merebutkan kekuasaan. Dan sekarang hendak pergi ke mana, Si Kong?"

"Saya... pertama-tama saya harus menguburkan semua jenazah ini baik-baik, Lo-cian-pwe. Setelah itu baru saya akan meninggalkan tempat ini, melanjutkan perjalanan saya."

Kakek itu mengangguk-angguk sambil mengelus jenggotnya dan memandang pemuda itu dengan penuh perhatian.

Sinar kagum terpancar dari pandang matanya.

"Melanjutkan perjalanan kemana?"

"Entah kemana, Lo-cian-pwe. Kemana saja hati dan kaki ini membawa saya. Saya seorang yatim piatu, sebatangkara, dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Saya berkelana seperti seekor burung di angkasa, sendirian saja."

Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang kini telah menjadi seorang pertapa tua renta itu menjadi semakin kagum.

Dia sendirianpun hidup menyendiri.

Setelah isterinya meninggal dunia belasan tahun yang lalu, dia hidup seorang diri di Pulau Teratai Merah, bahkan tanpa pembantu.

Dia dan isterinya hanya memiliki seorang anak perempuan bernama Ceng Sui Cin yang kini sudah berusia enam puluh tahun lebih.

Ceng Sui Cin hidup bersama suaminya yang bernama Cia Hui Song yang sekarang tinggal bersama puteri mereka menjadi ketua dari Cin-ling-pai.

Biarpun puterinya dan cucunya mendesaknya untuk tinggal bersama mereka di Cin-ling-pai, dia selalu menolak.

Dia ingin hidup menyendiri sebagai seorang pertapa dan hanya kadang-kadang saja, puterinya, mantunya atau cucunya datang menjenguknya di pulau Teratai Merah.

Setelah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, kakek ini memperkenalkan diri dan disebut sebagai Ceng Lo-jin (orang tua Ceng).

Si Kong segera menggunakan golok yang banyak bertebaran di tempat itu untuk menggali sembilan belas lubang kuburan.

Pekerjaan berat itu dilakukan tanpa kenal lelah dan setelah matahari tenggelam di langit barat, barulah dia selesai mengubur semua jenazah itu.

Sejak Si Kong bekerja, Ceng Lo-jin hanya menonton saja, kemudian dia malah bersila di atas batu besar dan memejamkan matanya.

Setelah selesai, dia hendak meninggalkan tempat itu, akan tetapi melihat kakek tua renta itu masih duduk bersila dan memejamkan matanya seperti orang tidur, dia merasa tidak tega meninggalkannya.

Kakek itu sudah tua sekali, kasihan kalau ditiggalkan seorang diri saja di Puncak bukit itu, padahal malam hampir tiba.

Karena tidak tega pergi meninggalkan kakek itu seorang diri saja, apalagi pergi tanpa pamit, Si Kong menunda kepergiannya.

Dia lalu mengumpulkan kayu dan daun kering, lalu membuat api unggun di dekat batu besar untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin yang mulai datang mengganggu.

Dia sendiri lalu merebahkan diri di atas daun-daun kering di dekat batu besar dan mencoba untuk melepaskan lelah.

Pikirannya tidak pernah dapat lepas dari kakek yang duduk bersila di atas batu besar itu.

Kakek itupun seperti dia, agaknya hidup sebatangkara.

Bagi dia, seorang pemuda, tidaklah terasa berat benar.

Untuk mencari makan, dia dapat bekerja dimana saja.

akan tetapi kakek tua renta itu?

Biarpun dia memiliki kesaktian hebat, mana mungkin kakek itu bekerja untuk mencari nafkah?

Dia semakin merasa kasihan kepadanya.

Apalagi kakek itu baru saja telah menyelamatkan nyawanya.

Diapun harus berbuat sesuatu untuk kakek itu.

Setidaknya malam ini dia akan menjaga agar kakek itu tidak terganggu dalam samadhinya.

Di jaganya api unggun itu agar tidak padam.

Diapun mengaso dan mencoba tidur, walaupun hanya sebentar-sebentar karena dia harus bangun untuk menambahkan kayu bakar pada api unggunnya.

Ketika dia teringat kepada gundukan-gundukan tanah di dekat situ, mau tidak mau bulu tengkuknya meremang.

Tadi, dia sama sekali tidak ingat kepada mayat-mayat yang dikubur itu.

Kini, setelah teringat, timbullah rasa ngeri dan takut!

Jelaslah bahwa rasa takut itu tidak datang tanpa diundang.

Yang mengundang adalah ingatan yang mengingat-ingat dan membayangkan yang tidak-tidak, membayangkan hal-hal yang menyeramkan.

Ingatan mengada-ada, mengingat-ingat dan membayangkan kalau saja mayat-mayat itu bangun kembali.

Kalau saja roh-roh yang mati menjadi penasaran dan mengamuk.

Kalau saja, kalau saja...

demikianlah pikiran mengingat-ingat dan membayang-bayangkan sesuatu sehingga rasa takut datang menyelinap dalam batin.

Si Kong pernah mendengar wejangan Penyair Gila tentang timbulnya rasa takut itu, dan sekarang dia merasakannya sendiri.

Setelah dia jelas betul darimana timbulnya rasa takut yang membuat bulu tengkuknya berdiri.

Dia "memasuki"

Rasa takutnya itu dan menjenguk di balik rasa takut itu.

Dan diapun merasa geli terhadap ulahnya sendiri dan rasa takut itupun menghilang.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali kakek itu telah sadar dari samadhinya, atau tidurnya sambil duduk bersila.

Melihat kakek itu bangkit berdiri, Si Kong segera meloncat bangun pula.

"Siancai...!"

Kata kakek itu tersenyum.

"Engkau masih berada disini, Si Kong? Bukankah kau katakan bahwa engkau hendak melanjutkan perantauanmu?"

"Maaf, Lo-cian-pwe, saya belum dapat pergi karena melihat Lo-cian-pwe sedang bersamadhi. Saya tidak mungkin pergi meninggalkan Lo-cian-pwe begitu saja tanpa pamit."

Ceng Lo-jin menghela napas panjang.

"Dasar jodoh, dasar jodoh! Thian (Tuhan) yang menentukan, manusia hanya dapat berusaha sekuat dan sebaik mungkin."

Kata kakek itu perlahan seperti kepada dirinya sendiri.

"Si Kong, bagaimana pendapatmu jika aku mengambilmu sebagai murid?"

Pertanyaan seperti ini sama sekali tidak pernah di sangka oleh Si Kong, bahkan dia tidak pernah dapat mengharapkan kakek seperti ini mau menjadi gurunya.

Maka, begitu mendengar kata-kata itu, langsung dia menjatuhkan diri berlutut di bawah batu besar itu dan wajahnya berseri gembira ketika dia menjawab.

"Lo-cian-pwe, tidak ada kegembiraan yang melebih apa yang saya dengar dari Lo-cian-pwe. Kalau Lo-cian-pwe sudi mengambil saya sebagai murid, saya merasa mendapat anugerah besar dari Tuhan dan saya hanya dapat berjanji akan menaati semua perintah dan petunjuk Lo-cian-pwe."

"Baiklah, mulai sekarang engkau menjadi muridku dan harus menaati semua perintahku."

Kata kakek tua renta itu.

Dengan hati girang bukan main Si Kong lalu menjatuhkan dirinya berlutut lagi dan memberi hormat delapan kali kepada kakek itu dan menyebut.

"Suhu!"

"Teecu akan mempersiapkan sarapan pagi untuk suhu."

Kata pemuda itu. Ceng Lo-jin tersenyum.

"Sarapan apa yang hendak kau berikan kepadaku?"

"Teecu dapat berburu burung, ayam alas atau kelinci di hutan lereng itu."

Ceng Lo-jin menggoyang tangannya.

"Tidak usah, aku sudah lama tidak lagi menyentuh makanan dari binatang, aku hanya makan tumbuh-tumbuhan sajah dan aku sudah membawa bekal roti kering. Engkau juga boleh makan bersamaku. Aku hanya membutuhkan air jernih, kau boleh mencarikan itu untukku."

Si Kong membuka buntalannya.

Dia memang selalu membawa sebuah panci untuk keperluan mencari air jernih atau memasak makanan.

Dengan panci di tangan dia lalu berlari cepat sekali ke sebuah hutan di lereng.

Tak lama kemudian dia sudah kembali membawa sepanci air jernih yang ditemukan dari sebuah sumber air.

Ceng Lo-jin mengeluarkan beberapa potong roti kering dari buntalannya dan guru dan murid itu lalu makan makanan sederhana itu dengan nikmat.

"Suhu, maafkan kelancangan teecu (murid). Teecu pernah mempelajari dari kitab-kitab suci bahwa makanan bernyawa itu tidak baik bagi batin kita, bahkan menurut ilmu pelajaran pengobatan juga juga makanan bernyawa itu tidak baik bagi kesehatan tubuh. Teecu dapat mengerti mengapa suhu sebagai seorang pertapa pantang makanan bernyawa, akan tetapi yang ingin teecu tanyakan, suhu, apakah kita dapat terbebas dari makan binatang bernyawa? Menurut suhu Lok-sian Lo-kai, dalam setiap cawan air jernih bisa terdapat ratusan atau bahkan ribuan binatang-binatang kecil yang tidak dapat nampak oleh mata biasa. Demikian pula dalam tumbuh-tumbuhan seperti daun-daun untuk sayur dan juga buah-buahan, besar kemungkinan mengandung binatang-binatang kecil sehingga tak dapat dihindarkan lagi, kita terpaksa makan binatang-binatang bernyawa, mau atau tidak."

Ceng Lo-jin mengangguk-angguk.

"Benar sekali keterangan Lo-kai Lo-jin itu. Bahkan dalam setiap tarikan napas, ada beberapa banyak binatang-binatang kecil ikut masuk ke dalam tubuh kita. Akan tetapi hal itu kita lakukan tanpa disengaja, dan tidak dapat di hindarkan. Berbeda dengan kalau kita makan daging binatang dan menikmati kelezatannya. Yang namanya membunuh, apapun alasannya, tetap saja merupakan pembunuhan dan pembunuhan di dukung oleh kekejaman."

"Maaf, suhu. Bukan sekali-kali teecu membantah, akan tetapi teecu memajukan pertanyaan-pertanyaan ini karena ingin tahu dan ingin mengerti benar. Apakah dengan pendapat bahwa membunuh untuk makan itu jahat dan kejam, maka binatang pemakan daging seperti harimau, singa, buaya dan lain binatang buas juga jahat?"

"Sama sekali tidak, Si Kong. Binatang buas itu memang membunuh, akan tetapi membunuh untuk makan karena dia tidak dapat makan yang lain. Harimau dan lain-lain binatang buas itu tidak dapat makan daun, dan kalau tidak ada binatang buruan lain mereka akan mati kelaparan. Mereka memang ditakdirkan untuk itu. Akan tetapi manusia tidak dapat disamakan dengan binatang buas. Manusia dapat hidup tanpa makan daging binatang. Jadi, orang-orang yang pantang makan daging binatang itu hanya berusaha agar mereka tidak terlalu diperngaruhi oleh nafsu binatang yang tentu ikut masuk bersama dengan daging yang di makannya. Akan tetapi ini bukanlah menjadi jaminan bahwa orang yang berpantang makan daging adalah orang-orang baik, dan mereka yang makan daging adalah orang-orang yang jahat. Seperti kukatakan tadi, pantang makan daging hanya suatu cara untuk mengurangi pengaruh nafsu binatang. Karena itu, biarpun engkau sudah menjadi muridku, aku tidak akan melarang engkau makan daging."

"Ah, tidak suhu. Seorang murid haruslah menjadikan gurunya sebagai tauladan. Kalau suhu tidak makan daging, teecu juga ikut tidak makan daging, karena teecu hendak merasakan sendiri bagaimana rasa dan akibatnya kalau berpantang makan daging."

Setelah selesai makan roti kering dan minum air jernih, Si Kong mengikuti gurunya turun bukit.

Gurunya nampaknya hanya melangkah biasa saja, akan tetapi tubuh suhunya seolah tidak berjalan, melainkan melayang.

Kedua kakinya seolah tidak menyentuh tanah.

Dia harus mengerahkan ilmu Liok-te hui-teng untuk dapat mengimbangi kecepatan langkah gurunya.

Ceng Lo-jin mengajak Si Kong pergi ke selatan dan setelah tiba di pantai Laut Selatan lalu menyeberang ke sebuah pulau kecil yang tanahnya subur.

Pulau itu mempunyai beberapa buah danau dan di atas danau itu tumbuh banyak bunga teratai merah.

Karena itulah maka pulau itu disebut Pulau Teratai Merah yang menjadi tempat tinggal Ceng Lo-jin.

Di tengah pulau terdapat sebuah pondok kayu yang cukup besar dan kokoh kuat.

Ceng Lo-jin yang usianya sudah mendekati seratus tahun itu dahulu ketika masih muda, terkenal dengan julukan Pendekar Sadis karena dia amat membenci golongan sesat.

Kalau bertemu dengan penjahat, dia tidak akan memberi ampun sehingga semua penjahat di dunia kang-ouw gentar kalau menengar namanya yang menjadi algojonya para penjahat.

Ilmu kepandaian kakek ini amat tinggi dan sukar di cari lawan yang dapat mengimbangi tingkat kepandaiannya.

Dia menguasai banyak ilmu silat tinggi yang aneh-aneh.

Diantaranya semua ilmu silat itu, terdapat ilmu silat Pat-hong-sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin), Pek-in-ciang (Tangan Awan putih), Thian-te Sin-ciang (Tangan Sakti Langit Bumi), Thai-kek Sin-kun (Silat Sakti Pokok Terbesar), San-in Kun-hwat (Ilmu Silat Awan Gunung).

Akan tetapi diantara yang paling hebat di antara semua ilmu silat tinggi itu adalah Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Naga Mendekam) yang terdiri hanya dari delapan jurus dan ilmu tenaga sakti yang disebut Thi-khi-i-beng, semacam ilmu sakti yang mengerikan karena dengan ilmu itu, dia dapat menyedot tenaga sakti lawan kedalam dirinya sehingga menambah kekuatannya sendiri dan membuat lawan menjadi lemas karena tubuhnya kosong dari tenaga dalam yang disedot habis!

Thi-khi-i-beng ini merupakan ilmu rahasia dari para ketua Cin-ling-pai, akan tetapi pada waktu itu, tidak ada orang lain lagi kecuali Ceng Lo-jin yang menguasainya.

Tidak sembarang orang dapat menguasai Thi-khi-i-beng.

Bahkan puterinya sendiri yang bernama Ceng Sui Cin tidak dapat menguasai ilmu itu.

Tentu saja amat besar keberuntungan Si Kong dapat diambil murid oleh Ceng Lo-jin.

Hal ini adalah karena begitu bertemu dengan Si Kong, Ceng Lo-jin segera mengetahui bahwa pemuda remaja itu memiliki tulang yang baik dan bakat yang besar, pula memiliki kecerdikan dan keberanian.

Apalagi setelah dia mengetahui bahwa Si Kong juga pandai membaca sajak dai ujar-ujar kitab suci, hatinya semakin tertarik lagi.

Inilah anak yang boleh dia harapkan untuk mempergunakan ilmu-ilmunya sebaik mungkin, untuk kebaikan manusia dan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Karena tahu bahwa muridnya telah memiliki ilmu silat dasar yang cukup tinggi, tentu saja Ceng Lo-jin tidak mengajarkan semua ilmu yang dia kuasai.

Dia hanya mengajarkan ilmu silat sakti Hok-liong Sin-ciang yang hanya delapan jurus, akan tetapi yang delapan jurus itu dapat dikembangkan sendiri menjadi puluhan jurus.

Setiap jurus merupakan gerakan dasar yang amat sulit sehingga untuk menguasai delapan jurus Hok-liong Sin-ciang itu Si Kong harus menggunakan waktu dua tahun berlatih dengan tekun, barulah dia dapat menguasai ilmu Hok-liong Sin-ciang itu dan dapat mengembangkannya menjadi banyak jurus.

Setelah Si Kong menguasai ilmu silat yang amat sukar ini dan usianya sudah delapan belas tahun barulah Ceng Lo-jin mengajarkan ilmu yang lebih sulit lagi, yaitu ilmu tenaga sakti Thi-khi-i-beng!

Untuk dapat menghimpun tenaga sakti yang langka ini, Si Kong harus bersamadhi dengan bermacam-macam cara.

Bahkan selama berbulan-bulan dia harus bersamadhi dengan berjungkir balik agar dia menguasai benar tenaga sakti yang berada ditubuhnya dan dapat menggunakan sesuai dengan kebutuhannya.

Dia dapat membuat tenaga sakti dalam tubuh itu menjadi hawa panas, hawa dingin, menjadi tenaga keras atau lunak.

Selama Si Kong berada di Pulau Teratai Merah, pulau itu hanya baru menerima tamu bebrapa kali saja.

Yang pertama datang adalah puteri dan mantu Ceng Lo-jin, yaitu pendekar Cia Hui Song yang sudah berusia tujuh puluh tahun, dan puteri Ceng Lo-jin yang bernama Ceng Sui Cin dan telah berusia enam puluh lima tahun.

Dua kali suami isteri ini datang menjenguk Ceng Lo-jin dan setiap kali datang mereka membujuk Ceng Lo-jin untuk ikut dengan mereka ke Cin-ling-san.

Dimana kakek itu dapat tinggal bersama keluarganya.

"Tidak, aku tidak ingin pindah dari sini. Ibumu meninggal dan dimakamkan disini, akupun ingin dimakamkan disini kalau saat terakhirku tiba. Dan jangan khawatir, disini ada Si Kong yang merupakan murid yang amat berbakti."

Demikian kakek itu menolak dengan halus.

Ceng Sui Cin dan suaminya merasa kagum sekali kepada Si Kong.

Ia tidak merasa iri melihat Si Kong yang dilatih Hok-liong Sin-cang bahkan Thi-khi-i-beng yang ia sendiri tidak mempelajarinya karena bakatnya masih kurang.

"Sute Si Kong."

Kata Ceng Sui Cin pada kunjungannya yang terakhir ketika Si Kong sudah berusia sembilan belas tahun.

"engkau beruntung sekali mendapatkan kepercayaan Ayahku sehingga diambil murid dan mewarisi ilmu-ilmu rahasia dari Cinling-pai. Akan tetapi disamping keberuntungan itu, berarti engkau bertanggung jawab berat sekali. Kelak engkau harus dapat mempergunakan semua ilmu itu untuk menegakkan kebenaran dan keadilan dan sekali-kali tidak boleh kau pergunakan untuk maksud jahat dan menguntungkan diri sendiri saja. ingat, kalau engkau melakukan penyelewengan itu, kami seluruh anggauta besar Cin-ling-pai akan menghadapimu dan minta pertanggungjawab darimu."

"Saya mengerti benar akan apa yang suci maksudkan. Saya hanya seorang manusia biasa, suci, maka saya tidak berani tekebur dan menjanjikan sesuatu yang kelak tidak akan dapat saya penuhi. Saya hanya berdoa kepada Tuhan semoga Tuhan akan selalu membimbing saya ke arah jalan yang benar!"

Ucapan ini bahkan lebih melegakan hati Ceng Sui Cin dari pada kalau pemuda itu mengucapkan janji yang muluk-muluk.

Ia suka akan kerendahan hati pemuda ini.

Sayang bahwa pemuda sebaik dan sebesar in bakatnya bukan keluarga besar Cin-ling-pai.

Selain suami isteri itu yang berkunjung dua kali selama Si Kong berada di Pulau Teratai Merah, juga cucu Ceng Lo-jin, yaitu Cia Kui Hong yang berusia empat puluh tujuh tahun dan menjadi ketua Cin-ling-pai datang berkunjung bersama suaminya yang bernama Tang Hay.

Sebagai puteri Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin, tentu saja Cia Kui Hong juga merupakan seorang wanita sakti maka ia diangkat menjadi ketua Cin-ling-pai.

Akan tetapi suaminya yang bernama Tang Hay itu bahkan lebih lihai daripada ia.

Cia Kui Hong ini pernah digembleng pula di Pulau Teratai Merah oleh kakek dan neneknya, bahkan telah mewarisi ilmu pedang pasangan Hok-mo Siang-kim (Sepasang Pedang Pembunuh Iblis) dari neneknya.

Akan tetapi Cia Kui Hong inipun dianggap kurang berbakat untuk mewarisi Hok-liong Sin-cian dan Thi-khi-i-beng.

Adapun suaminya, Tang Hay adalah seorang pendekar sakti yang bukan saja memiliki ilmu yang lebih tinggi dari isterinya, akan tetapi diapun mahir ilmu sihir!

Seperti juga nenek Ceng Sui Cin, Cia Kui Hong sengaja menemui Si Kong berdua saja ketika Si Kong bekerja di ladang kecil di mana dia menanam sayur-sayuran untuk dia dan gurunya.

Dan seperti juga ibunya, Cia Kui Hong berkata kepada Si Kong.

"Si Kong, engkau telah memperoleh kepercayaan kong-kong dan diberi pelajaran ilmu silat tinggi. aku ingin memperingatkanmu agar kelak engkau menggunakan ilmu-ilmu itu untuk membela kebenaran dan keadilan, jangan sekali-kali engkau menggunakan untuk kejahatan, karena dengan demikian, engkau akan mencemarkan nama baik Cin-ling-pai dan kami semua akan menghadapimu sebagai musuh!"

Si Kong tersenyum.

Betapa miripnya nyonya ini dengan ibunya!

Ibu dan anak sudah memperingatkannya dengan keras.

"Harap pangcu tidak khawatir. Saya sudah berjanji di depan suci Ceng Sui Cin bahwa saya akan menaati semua pesan dan perintah suhu. Semoga Tuhan akan selalu membimbing saya ke dalam jalan kebenaran."

Ketua Cin-ling-pai dan suaminya itu hanya tinggal tiga hari di Pulau Teratai Merah, lalu mereka pulang karena merekapun tidak berhasil membujuk kakek Ceng Lo-jin untuk ikut dengan mereka tinggal di Cin-ling-san.

Diam-diam Si Kong merasa ngeri juga.

Dia telah mempelajari ilmu-ilmu yang menjadi pusaka dari keluarga besar para ketua Cin-ling-pai dan dia tahu bahwa mereka itu bukan omong kosong saja dengan peringatan mereka.

Akan tetapi hatinya tidak merasa khawatir karena sedikitpun tidak ada niat dihatinya untuk berbuat jahat atau seenaknya sendiri saja mengandalkan semua ilmunya.

Disamping ilmu silat, diapun mendapat banyak wejangan dan pelajaran tentang kehidupan dari Yok-sian Lo-kai, Kwa Siucai dan Ceng Lo-jin sendiri.

Waktu berlalu amat cepatnya bagaikan anak panah terlepas dari gendewanya.

Tanpa terasa, dua tahun lagi telah lewat semenjak kunjungan ketua Cin-ling-pai Cia Kui Hong bersama suaminya itu.

Kini Si Kong telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh tahun.

Diapun telah menguasai Thi-khi-i-beng.

Ceng Lo-jin juga bertambah tua, kini usianya sudah seratus tahun lebih.

Tubuhnya semakin kurus akan tetapi masih tegak dan tidak bongkok.

Pandang matanya masih tajam dan juga pendengarannya masih baik.

Pada suatu pagi, kakek itu menghampiri Si Kong yang sedang memikul air dari sumber air itu.

"Berhentilah bekerja sebentar. Aku ingin menguji apakah engkau benar-benar telah menguasai Thi-khi-i-beng secara benar."

Si Kong cepat menurunkan pikulannya dan menghampiri kakek itu.

"Teecu siap melaksanakan perintah suhu!"

Katanya dengan suaranya yang selalu bernada gembira dan tegas.

"Si Kong, bagian paling sukar dari Thi-khi-i-beng adalah menghentikan tenaga menyedot tenaga sinkang dari luar. Kalau hal itu belum dapat kau lakukan dengan sempurna, engkau dapat membunuh orang tanpa disengaja dan secara mudah karena tenaga sinkang orang itu akan membanjir ke dalam tubuhmu. Jangan sekali-kali mencoba untuk mempergunakan Thi-khi-i-beng kalau engkau belum mampu mengendalikan tenagamu dengan sempurna. Karena itu, sekarang aku akan mengujimu. Aku akan mencengkeram pundakmu. Salurkan Thi-khi-i-beng itu kepundak yang dicengkeram dan tenaga dalamku akan tersedot olehmu melalui pundak yang kucengkeram. Kalau sudah begitu, cobalah engkau cepat-cepat menarik kembali tenagamu agar sinkang dariku tidak tersedot terus."

"Baik, suhu. Akan teecu coba sebaik mungkin!"

"Lihat serangan."

Kakek berseru dan secepat kilat, tahu-tahu tangan kirinya sudah mencengkeram pundak kanan Si Kong.

Begitu merasa pundaknya dicengkeram, Si Kong segera mengerahkan Thi-khi-i-beng dan tangan kakek itu menempel pada pundaknya, dan ada tenaga sedotan yang besar sekali menyedot tenaga sinkang kakek itu melalui pundak Si Kong.

Setelah merasa betapa ada hawa panas memasuki tubuhnya, tahulah Si Kong bahwa ilmunya telah bekerja dengan baik.

Dia lalu mengerahkan tenaga untuk menarik kembali tenaga sedotan itu sambil menggerakkan pundaknya sehingga terlepas dari tempelan tangan Ceng Lo-jin.

Ceng Lo-jin sendiri terhuyung ke belakang dan melihat ini Si Kong cepat menghampirinya.

"Suhu baik-baik saja?"

Ceng Lo-jin tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Tidak apa-apa akan tetapi hatiku senang sekali. Engkau telah mampu mengendalikan Thi-khi-i-beng! Itu baik sekali, Si Kong, karena kalau tidak, engkau akan membunuh banyak orang dengan tenaga sedotan Thi-khi-i-beng yang tidak dapat kau hentikan."

Melihat kakek itu agak terengah dan mukanya agak pucat, Si Kong cepat memegang nadi tangan gurunya untuk memeriksa keadaannya.

Diaoun terkejut!

"Jantung suhu terguncang dan lemah sekali!

Suhu harus beristirahat...!"

Kembali Ceng Lo-jin tersenyum.

"Beginilah kalau badan sudah dimakan umur. Tiada yang kekal di dunia ini, juga kekuatan badan. Oleh karena itu selagi badan kuat, engkau harus dapat mempergunakannya demi keadilan dan kebenaran Si Kong. Kalau kelak engkau sudah setua aku, engkaupun akan kehilangan kekuatanmu dan kalau sudah jompo, apa yang dapat kau lakukan?"

"Akan tetapi suhu, kesehatan suhu terancam. Suhu tidak boleh mengerahkan tenaga dan harus beristirahat. Saya akan membuatkan obat untuk memperkuat daya tahan tubuh suhu!"

Ceng Lo-jin menggeleng kepala.

"Tidak, Si Kong. Pengobatan manusiapun ada batasnya. Badan yang tua tidak dapat dipulihkan kembali. Mengingat keadaanku ini, patut kunasihatkan kepadamu, tengoklah ke atas! Tengoklah keatas dan engkau akan melihat betapa banyaknya orang yang lebih pandai, lebih kaya dan lebih segala-galanya dari pada engkau dan engkau boleh berkata pada dirimu sendiri. enyahlah keangkuhan dan kesombongan! Jangan lupa untuk menengok kebawah! Tengoklah ke bawah dan engkau akan melihat betapa banyaknya orang yang lebih bodoh, lebih miskin dan lebih menderita daripada engkau dan engkau boleh berkata pada dirimu sendiri. pergilah keputus-asaan dan kerendah-dirian! Dengan menengok ke atas dan ke bawah itu, engkau akan selalu merasa bersyukur atas segala karunia Tuhan kepadamu, engkau akan selalu rendah hati dan tidak rendah diri. Engkau akan menjadi seorang manusia yang jauh lebih gagah perkasa kalau engkau mampu menguasai nafsu-nafsu sendiri dari pada kalau engkau mengalahkan seratus orang lawan!"

"Teecu akan menyimpan dalam hati dan akan selalu ingat semua nasihat suhu."

Tiba-tiba Si Kong melompat berdiri dan memandang ke arah selatan.

Tempat tinggal mereka berada di daratan paling tinggi di pulau itu dan dari situ orang dapat melihat ke empat penjuru yang lebih rendah.

Pendengarannya yang tajam dapat menangkap suara orang dari arah selatan maka dia memandang ke sana penuh perhatian.

"Ada orang-orang datang mengunjungi kita."

Terdengar Ceng Lo-jin berkata.

Ini membuktikan bahwa pendengaran kakek itu masih amat tajam.

Si Kong melihat bayangan tujuh orang datang dari pantai pulau dan kini mereka berlari cepat bukan main menuju ke arah tempat dia berdiri, Si Kong dapat melihat jelas betapa cepatnya tujuh orang itu berlari, menunjukkan bahwa mereka tentu bukan orang sembarangan.

"Benar suhu, ada tujuh orang datang berkunjung dan mereka menggunakan ilmu berlari cepat tinggi. Mereka tentu orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi, suhu."

"Siapapun adanya mereka, mari kita sambut mereka di depan pondok. Setiap orang yang datang berkunjung ke pulau ini adalah tamu yang harus kita hormati, Si Kong."

"Baik, suhu."

Mereka lalu berjalan menuju ke depan pondok dan berdiri dengan sikap tenang menanti datangnya tujuh orang itu.

Benar seperti yang dikatakan Si Kong, sebentar saja tujuh orang itu sudah tiba di depan mereka.

Pemuda itu terkejut ketika mengenal dua orang diantara mereka, seorang yang kepalanya besar dan botak berpakaian putih dan seorang yang rambutnya panjang sampai kepinggang dan mukanya berambut seperti muka monyet.

Mereka itu bukan lain adalah Toa Ok atau Thai-mo-ong dan dan Ji Ok atau Ji-mo-ong, dua orang yang disebut Si Jahat Nomor Satu dan Si Jahat Nomor Dua.

Si Kong melihat lima orang yang lain.

Mereka adalah lima orang kakek yang usianya sekitar enam puluhan tahun dengan rambut dipotong pendek dan pakaian mereka seperti jubah pendeta.

"Ha-ha-ha, kiranya Pendekar Sadis masih hidup dan berada di pulau pertapaannya ini! Dan si bocah setan juga berada disini. Bagus, kami dapat membalas kekalahan kami tempo hari kepada kalian!"

Kata Toa Ok sambil tertawa-tawa dan menggerakkan tongkat ularnya.

"Sekali ini engkau tidak dapat lolos dari tanganku, Pendekar Sadis!"

Kata Ji Ok sambil mencabut pecutnya.

"Pendekar Sadis sudah tidak ada, yang ada ini adalah Ceng Lo-jin."

Kata Ceng Lo-jin, lalu menghadapi lima orang yang menemani Toa Ok dan Ji Ok itu.

"Toa Ok dan Ji Ok agaknya belum jera setelah kekalahannya di Bukit Iblis dahulu, akan tetapi ngo-wi (anda berlima) ini siapakah dan ada keperluan apa dengan kami?"

"Kami berlima di kenal dengan sebutan Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding) datang dari barat dan kami sahabat Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong. Telah puluhan tahunkami mendengar betapa Pendekar Sadis amat sewenang-wenang dan kejam terhadap orang-orang kang-ouw. Akan tetapi karena kami mendengar bahwa Pendekar Sadis sudah mengundurkan diri dan bertapa di Pulau Teratai Merah, tadinya kami juga sudah melupakan dan membiarkan dia bertapa menyesali kekejaman-kekejamannya yang dahulu dia lakukan. Akan tetapi, kami bertemu dengan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong dan mendengar bahwa Pendekar Sadis kembali mencampuri dunia kang-ouw bahkan telah mengalahkan Thai-mo-ong dan Ji-mo-ong, juga melukai mereka. Karena itu, kami berlima mengambil keputusan untuk ikut dengan mereka mengunjungi Pulau Teratai Merah untuk membalaskan roh-roh penasaran dari banyak tokoh kang-ouw yang telah tewas di tangan Pendekar Sadis."

"Siancai...! Jadi kalian bertujuh ini sengaja datang kesini untuk membunuhku?"

"Kami datang kesini untuk menantangmu, Ceng Lo-jin!"

Kata Toa Ok.

"Mengeroyok? Tujuh lawan satu? Kalian pengecut curang!"

Kata Si Kong dengan marah.

Pemuda itu tahu benar keadaan suhunya yang sedang lemah setelah tadi menguji Thu-khi-i-beng dengannya.

Jantungnya berdetak lemah dan suhunya harus beristirahat, sama sekali tidak boleh mengerahkan tenaga sinkang untuk berkelahi, apalagi tujuh lawan satu!

"Si Kong, jangan mencampuri.

Ini adalah urusan pribadiku!"

Ceng Lo-jin berseru kepada muridnya dengan sikap gagah dan tenang sekali.

Kemudian bertanya kepada Toa Ok.

"Kalian bertujuh menantangku untuk mengeroyokku?"

"Ha-ha-ha, aku pernah mendengar bahwa dalam menghadapi lawan, Pendekar Sadis tidak pernah menanyakan dikeroyok atau tidak. memang kami bertujuh hendak maju bersama melawanmu, akan tetapi kalau engkau takut, kami memberi pengampunan dan memperbolehkan engkau membunuh dirimu di depan kami!"

Si Kong marah sekali mendengar ini.

"Aturan apa itu? Memberi pengampunan dengan jalan menyuruh orang membunuh diri!"

"Hemm, seumur hidupku belum pernah aku menolak tantangan dari siapapun juga. Nah, kalian boleh maju bersama!"

Kata Ceng Lo-jin dan dia berdiri dengan sikap penuh wibawa, sedikitpun tidak terdapat bayangan rasa takut pada wajah dan sikapnya.

"Tidak tahu malu! Mengeroyok seorang yang sudah tua dan tidak bersenjata dengan tujuh orang dan kesemuanya bersenjata!"

Teriak lagi Si Kong yang tidak dapat menahan kemarahannya.

Merah juga wajah tujuh orang itu.

Mereka adalah datuk-datuk besar yang terkenal di dunia kang-ouw.

Lima orang yang menyebut diri mereka Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa Tanpa Tanding) itu adalah bekas pendeta-pendeta Lama jubah hitam yang terusir keluar dari negara mereka karena telah melakukan penyelewengan.

Mereka lari ke timur dan sebentar sudah membuat nama besar di dunia kang-ouw karena kepandaian mereka yang tingi.

Mereka adalah kenalan Toa Ok dan Ji Ok, maka dengan senang hati mereka membantu dua orang sahabat ini menghadapi Pendekar Sadis di Pulau Teratai Merah.

Ucapan pemuda ini memang menampar harga diri mereka.

"Pendekar Sadis, mengingat bahwa engkau sudah tua renta, maka kami akan menghadapimu tanpa senjata. Lihat, kutinggalkan tongkatku disini!"

Kata Toa Ok sambil menancapkan tongkatnya ke atas tanah.

Ji Ok menyimpan kembali pecutnya yang dilingkarkan di pinggang menjadi sabuk.

Melihat ini, Bu-tek Ngo-sian yang membawa pedang di punggung masing-masing juga tidak mencabut senjata mereka.

"Bagus! Kiranya kalian masih memiliki sifat jantan. Nah, mulailah dengan usahamu untuk membunuh orang tua seperti aku!"

Kata Ceng Lo-jin.

Si Kong tadi sengaja mengejek begitu untuk menolong suhunya.

Kalau mereka menggunakan senjata, gurunya terpaksa harus menggunakan kecepatan dan tenaga sinkang dan hal ini amat berbahaya bagi keselamatan suhunya yang sedang lemah.

Akan tetapi kalau mereka tidak bersenjata, dia mengharapkan suhunya akan mampu mengalahkan mereka dengan Thi-khi-i-beng.

Ceng Lo-jin memaklumi akal muridnya ini dan diapun tersenyum.

Dia mengerti bahwa kondisi tubuhnya tidak memungkinkan dia untuk bertahan dalam pertandingan yang lama.

Dia harus mampu mengalahkan tujuh orang lawannya secepat mungkin atau dia akan tewas ditangan mereka.

Akan tetapi bagaimana mungkin dia dapat mengalahkan mereka yang rata-rata memiliki ilmu kepandaian tinggi sebagai datuk persilatan itu?

Tidak lain hanya dengan Thi-khi-i-beng!

Akan tetapi kalau dia membiarkan tenaga sinkang ketujuh orang itu membanjiri dalam dirinya, tubuhnya yang sudah lemah itupun tidak akan kuat bertahan.

Diam-diam Ceng Lo-jin yang sudah banyak sekali pengalamannya bertanding ini mencari akal agar dapat menangkan pertandingan dalam waktu secepat mungkin dengan menggunakan tenaga sedikit mungkin.

Toa Ok dan Ji Ok memelopori mengeroyok itu.

Mereka maju bersama dan menyerang dengan pukulan mereka yang cepat dan kuat.

Toa Ok mencengkeram ke arah pundak kiri Ceng Lo-jin, sedangkan Ji Ok menghantamkan tangan kanannya dengan jari terbuka ke arah perutnya.

Ceng Lo-jin tidak berani mengerahkan tenaga sinkang untuk menangkis, melainkan mengerahkan Thi-khi-i-beng untuk menerima dua macam serangan ini.

Dengan sedikit miringkan tubuhnya, dia menerima cengkeraman di pundaknya itu dan pukulan Ji Ok bukan menghantam perut, akan tetapi mengenai lambungnya.

"Plak! plak!"

Tangan kanan Toa Ok yang mencengkeram pundak bertemu dengan pundak yang lunak, demikian pula tangan kanan Ji Ok yang menghantam lambung.

Mereka berdua terkejut sekali, akan tetapi ketika mereka hendak menarik kembali tangan mereka, tangan itu sudah melekat pada pundak dan lambung Ceng Lo-jin.

Sebelum hilang rasa kaget mereka, kedua orang datuk itu menjadi terkejut bukan main ketika merasa betapa tenaga sinkang mereka melalui tangan yang melekat di tubuh orang tua itu membobot keluar seperti disedot oleh tenaga yang tidak dapat mereka lawan!

Mereka cepat berusaha mencegah, akan tetapi mereka tidak mampu menahan tenaga sinkang yang membanjir keluar itu.

Selagi mereka terkejut dan menarik-narik tangan mereka, saat itu dipergunakan oleh Ceng Lo-jin untuk memukul mereka dengan ilmu silat Hok-liong Sin-ciang.

"Dess...! Dess...!"

Toa Ok dan Ji Ok terpental ke belakang dan terhuyung-huyung.

Mereka tahu bahwa mereka telah terluka dalam.

Pada saat itu, lima orang Bu-tek Ngo-sian sudah berloncatan ke depan dan menerkam Ceng Lo-jin dengan serangan tangan mereka.

Ilmu kepandaian kelima orang bekas Lama ini setingkat dengan ilmu kepandaian Toa Ok dan Ji Ok, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya ketika mereka berlima maju untuk menyerang dengan pukulan mereka yang ampuh dan mengandung tenaga sinkang kuat!

Akan tetapi alangkkah terkejut rasa hati mereka ketika semua pukulan mereka itu tidak dielakkan maupun ditangkis oleh kakek tua renta itu, melainkan diterima begitu saja dan mereka merasakan tubuh yang lunak menerima pukulan mereka.

Kekagetan hati mereka bertambah ketika mereka merasakan tangan mereka melekat di tubuh kakek itu dan tenaga sinkang mereka membanjir keluar dari tubuh mereka melalui tangan yang menempel pada tubuh itu!

Mereka menarik-narik tangan mereka sambil mengerahkan sinkang, akan tetapi makin kuat mereka mengerahkan sinkang, makin kuat pula tangan itu menempel pada tubuh Ceng Lo-jin dan semakin besar tenaga sinkang mereka membanjir keluar!

Sementara itu Ceng Lo-jin tidak tinggal diam.

Melihat mereka semua sedang kebingungan, dia mainkan Hok-liong Sin-cing, memukul lima orang itu sehingga mereka semua terpental satu-satu dan terhuyung-huyung!

Ceng Lo-jin berdiri tegak dan penuh wibawa memandang kepada tujuh orang lawannya yang sudah diberi satu kali pukulan dan yang kini mencoba untuk bangkit berdiri.

Pukulan yang hanya satu kali itu telah membuat mereka terluka dalam.

Kini mereka bertujuh memandang kepada Ceng Lo-jin dengan mata terbelalak, jelas nampak keraguan dan ketakutan membayang pada wajah mereka.

Melihat betapa gurunya dalam keadaan sedang lemah itu mampu merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam segebrakan saja, Si Kong merasa kagum dan bangga, akan tetapi juga merasa khawatir sekali.

Suhunya telah menggunakan Thi-khi-i-beng, hal itu tidak mengapa karena penggunaan ilmu ini tidak perlu mengerahkan tenaga sinkang, akan tetapi ketika suhunya memukul roboh tujuh orang itu dengan ilmu Hok-liong Sin-ciang, jelas bahwa suhunya telah mengerahkan tenaga sinkangnya dan hal ini amat berbahaya bagi jantung suhunya yang sudah amat lemah itu.

Melihat tujuh orang itu sudah bangkit kembali, Si Kong khawatir kalau-kalau mereka menggunakan senjata untuk mengeroyok suhunya lagi, maka diapun menyambar sebatang tongkat bambu dan dengan gerakan yang cepat bagaikan kilat dia sudah meloncat ke depan tujuh orang itu.

Dia melintangkan tongkatnya di depan dada dan membentak dengan pengerahan khikang sehingga suaranya terdengar mengguntur penuh wibawa.

"Suhu sudah mengampuni kalian dan tidak menggunakan pukulan maut, apakah kalian masih juga belum jera dan minta mati?"

Tujuh orang itu memang tadi sudah terkejut sekali menyaksikan kelihaian Pendekar Sadis yang kini telah menjadi kakek tua renta itu.

Mereka sudah merasa jerih menghadapi kakek ini.

Kini, melihat gerakan Si Kong yang demikian tangkas dan kokoh kuat, sedikit keberanian mereka untuk tetap menyerang dengan senjata menjadi buyar dan Toa Ok berseru.

"Mari kita pergi!"

Tujuh orang itu melarikan diri dengan agak terhuyung karena mereka semua menderita luka dalam.

Si Kong memandang sampai bayangan mereka lenyap ke dalam sebuah perahu yang tadi mereka daratkan dan dia memutar tubuhnya dengan cepat ketika mendengar suara rintihan suhunya.

Begitu dia memutar tubuh, dia melihat suhunya terhuyung dan cepat dia meloncat dan menahan tubuh suhunya yang sudah terguling roboh.

Di lain saat kakek itu sudah jatuh pingsan dalam rangkulan Si Kong.

Si Kong cepat memondong tubuh suhunya.

Betapa ringannya tubuh suhunya dan baru Si Kong teringat bahwa suhunya sudah amat tua dan tubuhnya kurus sekali.

Dengan hati terharu dan khawatir dia merebahkan suhunya di atas pembaringan dan cepat melakukan pemeriksaan.

Ternyata detak jantung suhunya itu lemah sekali, bahkan hampir berhenti!

Si Kong terkejut dan memeriksa pernapasan suhunya.

Juga amat lemah dan terengah-engah.

Hampir Si Kong menangis.

Dengan pengetahuannya tentang ilmu pengobatan, tahulah dia bahwa keadaan gurunya gawat sekali dan tidak mungkin tertolong lagi.

Suhunya telah menggunakan seluruh sisa daya tahannya untuk mengerahkan sinkang dan kini telah kehabisan tenaga sama sekali.

Suhunya tidak mengalami luka dalam, akan tetapi karena keadaan tubuhnya yang tua itu lemah sekali, maka penggunaan tenaga sinkang itu menghabiskan daya tahannya.

Si Kong lalu menggunakan kedua telapak tangannya ditempelkan kedada gurunya dan mengerahkan sinkangnya untuk membantu suhunya agar jantungnya dapat bekerja kembali.

Hawa hangat yang mengalir keluar dari kedua telapak tangannya, memasuki tubuh tua itu dan tak lama kemudian suhunya membuka matanya, memandang kepada Si Kong dan tersenyum!

"Suhu...!"

Kata Si Kong, terharu melihat betapa dalam keadaan seperti itu suhunya masih dapat tersenyum sedemikian cerahnya!

"Si Kong...

aku...

telah kalah..."

Katanya lirih, suaranya sukar sekali keluar dari kerongkongannya.

"Tidak, suhu! Suhu telah berhasil mengusir tujuh iblis itu dari sini!"

Kata Si Kong menghibur suhunya.

"He-he... mengahadapi tujuh iblis kecil itu... aku tidak pernah kalah..., akan tetapi aku harus menyerah kalah... terhadap usiaku..."

"Suhu, teecu akan merawat dan mengobati suhu sekuat dan semampu teecu."

Kakek itu menggeleng kepalanya.

"Akan sia-sia saja, Si Kong... dan engkau juga sudah tahu akan hal itu... ilmu perngobatanmu juga tidak berdaya melawan serangan usia tua...! Kematian adalah hal yang wajar, merupakan kelanjutan daripada kehidupan... maka tidak perlu disesalkan..."

Pada saat itu, Si Kong mendengar gerakan di luar pondok.

Cepat sekali tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat keluar karena dia khawatir kalau-kalau para musuh itu datang lagi.

Akan tetapi begitu tiba di luar pondok, dia terbelalak dan jantungnya berdebar tegang dan bingung.

Sama sekali bukan para iblis tadi yang datang, melainkan seorang gadis yang jelita dan manis sekali.

Gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, kulit mukanya putih kemerahan tanpa bedak dan yanci (pemerah kulit), Tubuhnya langsing sekali, pinggangnya kecil, dada dan pinggulnya membusung.

Pakaiannya serba merah muda dan di punggungnya terdapat sepasang pedang.

Si Kong menatap wajah itu.

manis sekali dengan dahinya yang dihias anak-anak rambut yang gemulai, alis yang kecil panjang hitam seperti dilukis.

Sepasang matanya begitu tajam bersinar-sinar seperti bintang kejora.

Hidungnya kecil mancung, serasi sekali dengan mulutnya yang tersenyum mengejek dengan bibir yang merah basah.

(Lanjut ke

Jilid 05) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 05 Dagunya runcing membuat muka itu berbentuk bulat telur.

Karena tidak mengira sama sekali, bahwa dia akan berhadapan dengan seorang gadis yang demikian cantik jelitanya, Si Kong sampai tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Gadis itupun terkejut ketika melihatnya berkelebat secepat itu, akan tetapi ia segera berkata.

"Ah, engkau tentu yang bernama Si Kong, murid dari kakek buyut itu!"

Si Kong juga terkejut.

Gadis ini menyebut suhunya kakek buyut!

Dia sudah mengenal cucu gurunya, wanita perkasa yang menjadi ketua Cin-ling-pai itu bersama suaminya yang gagah perkasa.

Gadis ini tentu puteri mereka.

"Nona... siapakah...?"

Tanyanya dengan ragu. Pada saat itu terdengar suara pria yang nyaring bergema.

"Hui Lan, apakah engkau sudah bertemu dengan kakek buyutmu?"

Baru saja suaranya terhenti, orang sudah muncul di situ.

Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih bersama seorang wanita berusia empat puluh delapan tahun.

Melihat mereka, Si Kong segera memberi hormat.

Biarpun dia murid kakek mereka, akan tetapi karena usianya jauh lebih muda, dia menyebut paman dan bibi kepada mereka.

Hal inipun sudah diseteujui oleh gurunya agar tidak menempatkan Si Kong dalam kedudukan yang terlalu tinggi.

"Si Kong, bagaimana dengan kong-kong? Di mana dia?"

Tanya Cia Kui Hong kepada pemuda itu.

"Paman dan bibi, suhu berada dalam keadaan yang gawat. Silakan ji-wi (anda berdua) masuk. Suhu berada di dalam kamarnya."

Mendengar ini, Tang Hay dan Cia Kui Hong terkejut dan cepat mereka masuk, diikuti oleh puteri mereka Tang Hui Lan.

Si Kong mengikuti dari belakang.

"Kong-kong...!"

Cia Kui Hong berseru dan cepat berlutut di dekat pembaringan.

"Kong-kong, bagaimana keadaanmu?"

Tang Hay juga berlutut.

Suami isteri ini memeriksa denyut nadi tangan kakek itu dan mereka terkejut bukan main.

Denyut itu sebentar terasa sebentar tidak.

kakek mereka dalam keadaan yang gawat sekali, bahkan dalam sekarat!

Kakek itu yang tadinya telah memejamkan kedua matanya, mendengar suara mereka dan membuka kembali kedua matanya.

Dia memandang kepada cucu, cucu mantu, lalu cucu buyutnya.

Senyumnya mengembang lagi di mulutnya.

"Beruntung sekali... kalian datang... Hampir terlambat..."

"Kakek kenapa?"

Tanya Kui Hong dengan gugup, lalu berkata kepada suaminya.

"Cepat keluarkan batu giok mustika itu untuk mengobati kakek!"

Tang Hay mengeluarkan sebuah batu giok yang tadinya disimpan di dalam saku bajunya.

"Si Kong, minta air minum..., cepat!"

Si Kong tahu bahwa semua itu tidak ada gunanya, akan tetapi dia tidak membantah dan cepat menuangkan semangkuk air teh dan menyerahkannya kepada Tang Hay.

Pendekar ini lalu memasukkan batu gioknya ke dalam air teh, dibantu oleh isterinya, memberikan obat itu untuk di minum Ceng Lo-jin.

Kakek itu meminumnya sedikit, lalu berkata lemah.

"Tidak ada gunanya... lagi... tidak ada obat... bagi penyakit usia lanjut... kalau dapat di obati... tentu Si Kong... telah menyembuhkanku..."

Baru Tang Hay dan Cia Kui Hong teringat bahwa Si kong pernah mempelajari ilmu pengobatan dari Yok-sian Lo-kai.

Kui Hong segera bertanya kepada Si Kong.

"Bagaimana keadaannya?"

"Keadaannya gawat, tidak dapat diobati lagi. Jantungnya sudah terlalu lemah dan paru-parunya juga tidak bekerja dengan baik, sudah terlalu lemah. Saya sudah berbuat semampu saya, akan tetapi tidak dapat menolongnya, bibi. Di saat dalam keadaan lemah sekali, suhu telah mengeluarkan sisa tenaganya untuk memukul tujuh iblis itu, dan inilah yang menghabiskan tenaganya dan membuat semakin lemah."

"Tujuh iblis? Apa yang terjadi? Siapa mereka itu?"

Tanya Kui Hong dengan cepat dan penasaran.

"Tanpa diduga-duga mereka datang, Toa Ok dan Ji Ok. Ji Ok dan mereka berlima yang menyebut diri Bu-tek Ngo-sian. Mereka mengeroyok suhu."

"Kenapa engkau tidak membantu suhu?"

Tanya Tang Hay dengan suara mengandung teguran. Si Kong menghela napas panjang.

"Suhu terlalu gagah, terlalu jantan untuk mengelak dari tantangan mereka. Suhu tidak membolehkan saya turun tangan dan suhu menghadapi mereka sendiri. Suhu berhasil memukul mereka satu demi satu dan mereka melarikan diri, akan tetapi suhu telah menggunakan seluruh sisa tenaganya. Saya tidak berani membantah perintah suhu..."

"Akan tetapi kalau engkau sudah mengetahui keadaan kong-kong lemah, seharusnya engkau mencegah dia menghadapi keroyokan lawan!"

Kui Hong berkata dengan nada marah.

Wanita ini belum kehilangan watak kerasnya.

Apa lagi ia memang ada sedikit perasaan iri terhadap Si Kong yang mewarisi ilmu kong-kongnya.

"Sudahlah..."

Terdengar Ceng Lo-jin berkata.

"Aku puas... dapat mengusir mereka... aku akan menyesal kalau... Si Kong membantuku... aku girang dapat mati... sebagai orang gagah... bukan musuh yang membunuhku... melainkan usia tua... jangan marahi Si Kong... dia anak baik... Kui Hong cucuku... aku sudah pesan kepada Si Kong... untuk mengubur aku... dekat makam nenekmu..."

Kakek itu terengah, mengambil napas panjang beberapa kali lalu terkulai, mati.

"Kong-kong..."

Cia Kui Hong menubruk kakeknya yang sudah tak bernyawa lagi itu sambil menangis.

Tang Hay menepuk lembut pundak isterinya.

"Kong-kong sudah wafat, tidak ada gunanya ditangisi lagi."

Si Kong merasa dunia seperti kiamat.

Ceng Lo-jin merupakan satu-satunya orang di dunia yang mengasihinya dan sudah dianggapnya sebagai pengganti orang tuanya, juga pengganti dua orang gurunya yang sudah meninggalkannya.

Selama empat tahun dia hidup berdua dengan kakek itu di Pulau Teratai Merah dan kini kakek itu juga meninggalkan dirinya, untuk selamanya.

Akan tetapi, di depan keluarga itu, dia menahan untuk tidak menangis.

Tangisnya hanya di dalam dada, dan dia menggigit sendiri bibirnya yang bawah sehingga berdarah dan lecet.

Dia hanya berlutut dan memberi hormat ke arah jenazah suhunya sambil menangis mengguguk di dalam hatinya.

Lehernya seperti tercekik rasanya dan matanya terasa panas karena menahan runtuhnya air matanya.

Pemakaman jenazah Ceng Lo-jin dilakukan dengan sederhana sekali karena tidak tersedianya alat-alat sembahyang dan perkabungan.

Si Kong menggali lubang kuburan di samping makam isteri Ceng Lo-jin, dibantu oleh Tang Hay.

Sebuah peti mati sederhana dibuat sendiri oleh Si Kong, dari kayu pohon di pulau itu.

kemudian jenazah di kubur dengan dihadiri hanya oleh empat orang itu.

kembali Kui Hong menangis sedih.

Kakeknya adalah seorang pendekar besar yang namanya dihormati oleh semua tokoh dunia persilatan, akan tetapi kakeknya meninggal dan dikubur tanpa dihadiri banyak keluarga dan handai taulan.

Padahal kalau kakeknya itu meninggal dunia di kota atau bahkan di dusun yang tidak terpencil seperti di Pulau Teratai Merah, ia yakin kematiannya tentu akan dilayat oleh banyak sekali orang, termasuk ketua dari perguruan besar di empat penjuru.

Keluarga Ceng Lo-jin jauh hari sudah menyadari akan hal ini, akan tetapi semua usaha mereka untuk membujuk Ceng Lo-jin agar mau pindah dan tinggal bersama mereka di daratan besar, percuma saja karena Ceng Lo-jin berkukuh untuk tinggal di pulau itu sampai hari akhir dan ingin dimakamkan di dekat makam isterinya.

Setelah penguburan selesai, Si Kong tidak mau meninggalkan kuburan suhunya.

Tang Hay dan Cia Kui Hong membujuknya, akan tetapi dia tetap tidak mau pergi dari depan makam suhunya dimana dia berlutut.

"Gurumu sudah meninggal dunia dengan tenang, tidak perlu disesalkan dan disedihi lagi, Si kong."

Kata Tang Hay.

"Maaf, paman. Saya masih ingin merawat kuburan ini, dan belum dapat meninggalkannya. Saya persilakan paman dan bibi dan adik ini untuk kembali dulu kerumah. Disana terdapat bahan-bahan sayuran dan juga beras untuk dimasak, kalau paman sekalian menghendaki makan."

Kata Si Kong berkeras.

Terpaksa Tang Hay, Cia Kui Hong dan Tang Hui Lan meninggalkan pemuda itu untuk kembali kepondok.

Akan tetapi sampai sore pemuda itu belum juga kembali.

"Anak itu amat mencinta kong-kong."

Kata Kui Hong. Suaminya mengangguk.

"Aku tahu bahwa di dalam hatinya dia amat kehilangan dan berduka, akan tetapi semua itu disimpannya dalam hati saja. Anak yang kuat hati."

"Ibu, sejak pagi dia berada di makam, tidak makan tidak minum, tentu dia kelaparan."

Kata Hui Lan.

Kui Hong merasa kasihan juga.

Akan tetapi ia merasa tidak enak kalau sebagai seorang tua ia harus mengirimkan makanan untuk pemuda itu.

"Kau saja, Lan Lan. Bawa nasi dan sayuran serta minumnya, antarkan kepadanya. Cepat sebelum hari menjadi gelap. Kalau dapat, ajak dia pulang kesini."

"Baik, ibu."

Kata Hui Lan yang biasa di panggil Lan Lan oleh Ayah ibunya.

Gadis ini segera mengambil makanan dan minuman ke dalam mangkok dan guci, memasukkannya ke dalam keranjang dan berangkatlah ia ke makam yang berada di bagian pulau itu yang agak membukit.

Ketika tiba di makam, ia melihat Si Kong masih berlutut di depan makam dan ia mendengar pemuda itu bicara seorang diri sambil berlutut.

"Budi suhu setinggi langit sedalam lautan, selama ini suhu begitu baik kepada teecu, akan tetapi sedikitpun teecu belum dapat membalas budi suhu. Apa yang harus teecu lakukan untuk membalas budi kebaikan suhu?"

Katanya dengan isak tertahan.

Demikin dalam Si Kong tenggelam dalam lautan duka sehingga dia tidak mendengar kedatangan Hui Lan, padahal pendengarannya sudah peka dan tajam sekali.

"Kalau hendak membalas budi kong-kong, engkau harus makan minum agar tidak jatuh sakit."

Kata gadis itu. Si Kong menengok dan melihat Hui Lan, dia berkata.

"Ah, kiranya engkau, nona."

"Aku bukan nona, namaku Hui Lan, biasa di panggil Lan Lan."

Gadis itu mencela.

"Maafkan aku, nona Hui Lan..."

"Engkau adalah murid kong-couw, pantasnya aku menyebut sukong (kakek guru) kepadamu dan engkau menyebut namaku begitu saja. Akan tetapi karena engkau masih muda, tidak pantas menjadi sukong (kakek guru), maka biarlah aku memanggil namamu begitu saja. Dan engkau jangan menyebut nona Hui Lan kepadaku. Apa kata orang nanti kalau aku membiarkan kakek-guruku sendiri menyebut nona kepadaku? Sebut saja namaku atau aku tidak akan mau menjawab sama sekali."

Si Kong menghela napas.

Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini.

Selama ini dia belum pernah bergaul dengan seorang gadis, apalagi yang begini lincah dan pandai bicara seperti gadis ini.

"Baiklah, Hui Lan. Kalau aku boleh bertanya, kenapa engkau berada disini? Hari sudah hampir gelap, kembalilah kerumah, nanti orangtuamu mencarimu dengan khawatir."

"Ihh! Kau kira aku ini anak kecil yang masih di asuh oleh orang tuaku? Aku sudah pandai menjaga diri, orang tuaku tidak akan mengkhawatirkan diriku. Pula, aku kesini karena disuruh oleh ibuku."

"Disuruh oleh bibi? Disuruh apakah, nona"

Eh, Hui Lan?"

"Disuruh mengantarkan makanan dan minuman untukmu. Nah, inilah makanan dan minumannya. Cepat kau makan dan minum agar tidak kelaparan."

"Akan tetapi aku tidak lapar maupun haus!"

"Bohong! Bagaimana mungkin tidak lapar dan haus kalau sejak pagi engkau belum makan dan minum? Hayolah makan dan minum, sudah susah-susah ibu memasak untukmu dan aku mengantarkannya kesini untukmu."

Si Kong menjadi tidak enak hatinya kalau terus menolak.

Dia lalu minum seteguk dari guci, akan tetapi ketika hendak makan, lehernya seperti dicekik rasanya.

Dia mendorong makanan itu jauh-jauh dan berkata.

"Hui Lan, aku benar-benar tidak sanggup makan. Suhu baru saja meninggal dunia, bagaimana aku dapat makan?"

Melihat wajah yang penuh duka itu Hui Lan merasa kasihan juga.

"Sudahlah kalau engkau tidak mau makan, akupun tidak akan membawanya kembali. Biar disini saja, kalau engkau sudah merasa lapar, boleh kau makan. Akan tetapi, Si Kong. kenapa engkau tenggelam dalam kedukaan yang berlarut-larut? Apakah arwah kong-couw (kakek buyut) akan senang kalau melihat engkau menyiksa diri begini di depan makamnya?"

"Bagaimana aku tidak akan berduka Hui Lan? Suhu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang menyayangku dan kusayangi. Setelah dia meninggal dunia, aku kehilangan segala-galanya sebatangkara aku di dunia ini. Aku tidak tahu harus berbuat apa."

Si Kong menunduk agar tidak nampak kesedihan yang membayang di wajahnya.

Hui Lan merasa tersentuh hatinya dan dia merasa kasihan.

"Engkau memang seorang murid yang baik, Si Kong. Pantas saja kong-couw merasa amat sayang kepadamu, dan menurut ibuku, kong-couw mewariskan seluruh ilmu kepandaiannya kepadamu."

"Ah, ilmu kepandaian suhu tidak ada batasnya. Bagaimana mungkin aku dapat mempelajari semua?"

"Akan tetapi menurut ibu, engkau telah mewarisi ilmu-ilmu yang paling tinggi. kita sealiran, dan biarpun engkau ini termasuk kakek guruku, sekali-kali aku ingin mengajakmu berlatih silat. Sayang engkau masih tenggelam ke dalam duka, kalau tidak, sekarang juga aku ingin mencoba ilmumu."

Si Kong yang tadinya sudah berdiri, kembali menjatuhkan diri berlutut di depan makam.

"Hui Lan, kasihanilah aku. Tinggalkan aku sendiri di depan makam suhuku yang tercinta."

"Hemm, baiklah. Akan tetapi kalau engkau benar-benar mencintai kong-couw, seharusnya engkau mencari tujuh iblis itu."

"Akan tetapi mereka tidak membunuh suhu. Mereka bahkan sudah dikalahkan oleh suhu."

"Kematian kong-couw adalah karena bertempur dengan mereka. Itu artinya mereka yang menyebabkan kematian kong-couw. Kalau engkau tidak berani menuntut balas, akulah yang kelak akan mencari mereka dan membalas kematian kong-couw!"

Si Kong terkejut sekali.

"Hui Lan. Mereka itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Apalagi kalau mereka maju semua, amat berbahaya dan sukar ditandingi."

"Kau takut? Hemm, aku tidak! Kami keluarga Cin-ling-pai tidak pernah merasa takut menghadapi penjahat yang bagaimana lihai sekalipun!"

Setelah berkata demikian, Hui Lan meloncat dan meninggalkan Si Kong seorang diri.

Dia termenung.

Semua kata-kata gadis itu terngiang dalam telinganya.

Dan karena pikirannya dipenuhi ucapan-ucapan Hui Lan, dia tidak merasa bahwa saat seperti itu semua duka lenyap dan tidak terasa lagi olehnya!

Duka disebabkan oleh ulah pikiran.

Pikiran mengunyah-ngunyah semua kenangan seperti mengunyah makanan pahit.

Makin dikunyah makin terasa pahitnya.

Akan tetapi yang amat mengkhawatirkan pikirannya adalah ucapan Hui Lan bahwa gadis itu hendak mencari tujuh orang iblis itu untuk membalas dendam.

Gadis itu tentu akan celaka kalau bertemu dengan mereka.

Setelah tiga hari tiga malam berpuasa, pada hari keempat Tang Hay dan Cia Kui Hong sendiri mencari Si Kong di makam.

Mereka berdua membujuk dan menasihati dan barulah Si Kong mau makan dan minum sekedarnya.

"Kami bertiga akan pulang ke Cin-ling-san,"

Kata Tang Hay.

"Apakah engkau akan ikut kami?"

Si Kong menggeleng kepala.

"Terima kasih, paman. Saya tidak akan pergi meninggalkan pulau ini sebelum seratus hari."

"Hemm, mengapa begitu?"

"Saya tidak tega kepada suhu. Saya akan merawat makamnya dan setelah seratus hari baru saya akan meninggalkan tempat ini."

"Kemana engkau hendak pergi?"

Tanya Cia Kui Hong.

"Tidak tahu, bibi. Mungkin kembali ke dusun. Di sana masih ada seorang enciku yang telah menikah. Atau saya akan merantau kemana saja, bagaimana nanti sajalah."

"Engkau akan berkelana?"

Tanya Tang Hay, teringat akan dirinya sendiri ketika masih muda dan suka berkelana.

Si Kong mengangguk.

"Terserah kepadamulah. Akan tetapi jangan engkau lupa, Si Kong, bahwa setelah engkau menerima ilmu-ilmu dari kakek, berarti engkau mempunyai tanggung jawab besar dan tugas yang berat. Engkau harus menjadi seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan, dan memperjuangkan kebenaran dan keadilan menggunakan ilmu itu. Pekerjaan seorang pendekar banyak resikonya, Si Kong, karena dunia kang-ouw terdapat banyak penjahat yang selain ilmunya lihai, juga amat licik dan curang penuh tipu daya. Engkau harus berhati-hati sekali."

"Saya akan selalu ingat nasihat paman. Dan saya mohon paman dan bibi suka menasihati adik Hui Lan."

"Kenapa ia?"

Tanya Kui Hong sambil menoleh kepada puterinya.

Gadis ini mengerutkan alisnya dan memandang tajam kepada Si Kong.

"Ia pernah mengatakan kepada saya bahwa ia hendak mencari tujuh iblis yang datang ke pulau ini. Saya merasa khawatir sekali, paman, karena tujuh orang iblis itu amat lihai dan saya khawatir kalau-kalau adik Hui Lan celaka di tangan mereka."

"Hui Lan, bernarkah engkau hendak mencari tujuh orang iblis itu? Jangan lancang, Lan Lan. Kau kira mudah melawan mereka? Sedangkan kakek buyutmu sendiri sampai menderita ketika bertanding melawan mereka."

Tegur Tang Hay kepada puterinya.

"Ayah, Si Kong tidak berani mencari mereka untuk menuntut balas atas kematian kong-couw, maka akulah yang berani!"

Jawab gadis itu.

"Jangan sembarangan engkau, Lan Lan. Berundinglah dulu dengan kami kalau engkau hendak mencari mereka!"

Kata Cia Kui Hong dan Lan Lan hanya cemberut saja.

Pada hari itu juga, Tang Hay dan anak isterinya meninggalkan Pulau Teratai Merah, meninggalkan Si Kong yang masih menjaga makam suhunya.

Si Kong benar-benar menjaga tempat itu sampai seratus hari.

Dia hanya mencari makanan kalau perutnya sudah tidak dapat menahan lapar lagi.

Setelah seratus hari, barulah dia berkemas, membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan Pulau teratai Merah dengan sebuah perahu kecil.

Wajahnya nampak agak kurus karena selama seratus hari itu dia kurang makan.

Akan tetapi hatinya kini sudah tenang dan dapat menerima keadaan yang menimpa dirinya.

Dia mulai dengan niatnya berkelana di dunia bebas, mencari pengalaman hidup.

Tidak ada uang sekepingpun di sakunya.

Yang dibawanya hanyalah beberapa potong pakaian, sebuah tongkat bambu dan perahu kasar serta dayung perahunya.

Kota Sui-yangmerupakan kota yang cukup besar dan ramai karena letaknya yang dekat dengan sungai Yang-ce-kiang.

Perdagangan di kota itu ramai dilakukan orang melalui pelabuhan di kota itu.

Banyak pula pedagang yang datang maupun singgah di Sui-yang sehingga kota itu mempunyai banyak rumah penginapan dan rumah makan yang besar-besar.

Satu diantara rumah makan yang besar adalah rumah makan Hok-lai, sebuah rumah makan yang dapat menampung lebih dari seratus tamu.

Dan dibagian belakang rumah ini terdapat bangunan dengan loteng yang dipergunakan sebagai rumah penginapan pula.

Untuk rumah makan dan rumah penginapan sebesar itu tentu saja diperlukan tenaga pelayan yang banyak jumlahnya.

Siang itu rumah makan dan penginapan Hok-lai telah sibuk sekali, terutama dirumah makan.

Yang makan di sini bukan saja tamu-tamu sendiri, akan tetapi juga banyak tamu dari luar yang tidak menginap di situ dan penduduk Sui-yang sendiri karena rumah makan Sui-yang terkenal dengan masakannya yang lezat.

Para pelayan rumah makan itu sangat sibuk melayani para tamu yang memenuhi tempat itu.

Suasana menjadi ramai sekali.

Para tamu saling bercakap sendiri dan bahkan ada orang yang berteriak memanggil pelayan.

Seorang pelayan yang bertubuh kecil dengan gesitnya melayani para tamu dan ketika dia membawa sebuah baki yang terisi beberapa macam masakan, tanpa disengaja gerakannya menyenggol pundak seorang tamu.

Air kuwah panas memercik dari mangkok di atas bakinya dan kuwah itu mengenai sepatu tamu yang di tabraknya.

Tamu itu menjadi marah sekali, apalagi ketika teman-teman semejanya, mereka semua berempat, mentertawakannya.

Ketika pelayan itu kembali dai mengantarkan masakan dan lewat di dekat meja itu, tiba-tiba saja leher bajunya sudah dicengkeram oleh tamu itu.

"Jahanam, kau taruh dimana matamu? Enak saja menabrak orang dan menyiram sepatuku dengan kuah panas!"

Pelayan itu masih ingat akan peristiwa tadi, maka dengan cepat dia lalu mengangkat kedua tangan ke depan dadanya.

"Harap kongcu mengampuni saya. Saya tidak sengaja..."

"Plak-plak-plak, Tiga kali muka pelayan itu di gampar oleh pemuda itu. Gamparannya sangat keras sehingga pipi pelayan itu menjadi merah membiru dan membengkak.

"Ampun, kongcu...!"

Pelayan itu merintih dan meraba kedua pipinya.

"Hayo cepat bersihkan sepatu ini!"

Bentak si pemuda.

Pelayan itu membungkuk dan menggunakan kain lapnya untuk membersihkan sepatu yang tadi terkena kuah panas.

"Pergunakan bajumu itu! Hayo cepat, yang bersih!"

Pelayan itu menurut karena takut di pukul lagi.

Pengurus rumah makan segera datang dan dia mintakan maaf untuk pegawainya.

Pemuda itu dengan sombong lalu menendang si pelayan sehingga terjengkang.

Pelayan itu cepat merangkak bangun dan meninggalkan pemuda yang sudah mereda kemarahannya itu.

Tiga orang temannya kembali menggodanya sabil tertawa-tawa.

Para tamu yang menjadi penduduk Sui-yang mengenal empat orang pemuda ini yang memang merupakan orang-orang yang suka mencari perkara dan suka mempergunakan kekerasan kepada orang lain.

Karena itu, ketika terjadi pemukulan terhadap si pelayan, tidak ada orang yang berani melerai.

Pemuda-pemuda kasar itu suka main keroyokan dan mereka memiliki ilmu silat yang lihai.

Seorang di antara para pelayan itu adalah seorang yang masih muda, bertubuh tinggi tegap dan bersikap sederhana.

Pelayan ini merupakan pelayan baru.

Baru seminggu dia bekerja di situ sebagai pelayan.

Ketika terjadi pemukulan terhadap pelayan bertubuh kecil kurus itu, pelayan ini memandang dan sinar matanya berkilat.

Akan tetapi dia masih menahan diri, apalagi melihat bahwa pengurus rumah makan telah turun tangan memintakan maaf sehingga urusan itu dapat selesai.

Pelayan baru ini adalah bukan lain adalah Si Kong!

dalam perantauannya, dia mengambil keputusan untuk kembali ke dusun tempat tinggal mendiang orang tuanya.

Dia ingin sekali bertemu dengan Si Kiok Hwa encinya yang menjadi selir hartawan Lui di dusun Ki-ceng.

Dia dapat menduga bahwa encinya kini tentu telah menjadi janda.

Ketika dia pergi meninggalkan dusunnya, sepuluh tahun yang lalu encinya itu menikah dengan Hartawan Lui yang berusia tujuh puluh tahun.

Dalam perjalanan menuju ke dusun Ki-ceng, ketika tiba di Sui-yant, Si Kong singgah dan mencari pekerjaan di kota besar ini.

Dia tidak ingin berkunjung dan bertemu dengan encinya tanpa sekepingpun uang disakunya.

Dia ingin bekerja sebulan dua bulan, mengumpulkan uang gajinya dan baru dia akan mengunjungi encinya.

Ketika melihat seorang rekannya dipukuli tamu, Si Kong merasa penasaran sekali.

Akan tetapi dia teringat akan pesan mendiang gurunya agar tidak sembarangan mencari permusuhan dan memperlihatkan kepandaian.

Dia harus bersikap sebagai seorang yang lemah dan bodoh, dan selalu bersikap rendah hati.

Ilmu-ilmu yang dipelajarinya dengan susah payah selama bertahun-tahun itu bukan untuk dipamerkan, juga bukan untk mencari permusuhan.

Tiba-tiba Si Kong melihat dua orang tamu baru memasuki rumah makan itu.

Karena dia sedang kosong tidak melayani tamu lain, dia segera menyongsong kedatangan kedua orang itu.

Mereka adalah seorang gadis dan seorang pemuda.

Dari dandanan mereka dapat diketahui bahwa pemuda dan gadis ini tentulah orang-orang kang-ouw.

Gadis itu membawa pedang di punggungnya, dan dipinggang pemuda itu terselip dua buah pedang pendek.

Langkah mereka tegap dan biarpun pakaian mereka cukup bersih, namun sikap mereka sederhana dan gadis itupun bukan seorang pesolek.

Akan tetapi Si Kong harus mengakui bahwa gadis itu cantik sekali.

Rambutnya di gelung ke atas dan diikat dengan pita merah.

Anak rambut yang melingkar-lingkar menghias dahi dan pelipisnya.

Matanya bersinar tajam, hidungnya mancung dan mulutnya yang kecil mengembangkan senyuman yang membuat majahnya nampak manis dan ramah.

Pemuda itupun seorang pemuda yang gagah.

Mereka merupakan pasangan yang serasi.

"Selamat siang, siocia (nona) dan kongcu (tuan muda)!"

Kata Si Kong membungkuk hormat.

"Ji-wi (kalian) hendak makan?"

"Masih adakah meja kosong?"

Tanya pemuda itu sambil melayangkan pandang matanya di ruangan yang penuh tamu itu.

"Masih, kongcu. Silakan ikut saya."

Kata Si Kong yang tahu benar mana meja yang sudah kosong.

Dia melangkah mendahului dan membawa mereka ke meja kosong yang bersebelahan dengan meja di mana empat orang pemuda berandalan tadi duduk.

"Meja ini kosong, kongcu. Silakan duduk."

Si Kong menggunakan kain lapnya untuk membersihkan meja itu dari sisa-sisa percikan kuah.

Pemuda dan gadis itu lalu duduk berhadapan, dan kebetulan saja gadis itu duduknya menghadap ke arah meja sebelah di mana empat orang pemuda berandalan itu duduk.

"Kongcu dan siocia hendak memesan apakah?"

Tanya Si Kong.

"Nanti dulu, apakah di sini juga menyediakan kamar tamu?"

Tanya pula pemuda itu.

"Ah, ada, kongcu. Memang Hok-lai ini merupakan rumah makan merangkap rumah penginapan."

"Kalau begitu siapkan dua kamar yang berdampingan untuk kami."

"Baik, kongcu."

"Dan untuk makan kami, sediakan nasi dan beberapa macam sayur, dan ayam panggang. Minumannya beri air teh dan juga anggur yang baik."

"Baik, kongcu."

Tiba-tiba dari meja empat prang pemuda itu terdengar suara.

"Aih, nona cantik seperti dewi!"

Gadis itu mengangkat mukanya dan matanya bersinar marah.

Si Kong memutar tubuhnya dan melihat bahwa empat orang pemuda berandalan itu mengedip-ngedipkan mata dengan sikap kurang ajar sekali kepada gadis itu.

Pemuda itupun mendengar ucapan itu.

Dia menoleh dan berbisik kepada gadis itu.

"Sumoi, kau duduk di sini."

Berkata demikian dia bangkit berdiri dan bertukar tempat dengan gadis itu.

Mendengar sebutan itu, tahulah Si Kong bahwa mereka itu kakak beradik seperguruan.

Dia lalu pergi memenuhi pesanan mereka dan ketika dia pergi, dia sempat mendengar pula ocehan pemuda-pemuda berandalan itu.

"Dari belakang ia tampak lebih menarik. Lihat pinggulnya dan pinggangnya! Aduh, moleknya!"

"Hemm, mereka itu benar-benar keterlaluan, selalu mencari gara-gara,"

Pikir Si Kong.

Akan tetapi gadis yang baru berusia tujuh belas tahun itu dan suhengnya pura-pura tidak mendengar dan tidak mengacuhkan mereka.

Ketika Si Kong mengantar hidangan yang di pesan, dia mendengar betapa pemuda itu lebih kurang ajar lagi.

Mereka bangkit berdiri dan berkata kepada Si Kong.

"Hei, pelayan. Taruh pesanan itu di meja kami!"

Si Kong masih bersikap sabar.

"Akan tetapi, hidangan ini adalah pesanan kongcu dan nona ini."

"Tidak, nona itu akan menemani kami makan di meja ini! Bukankah begitu, manis?"

Si Kong tidak perduli dan mengantar hidangan itu di atas meja kakak beradik seperguruan itu.

"Kalau begitu, kami berempat yang akan pindah kemejamu, ya nona?"

Kata pula seorang dari mereka, dan mereka semua sudah bangkit berdiri.

"Jangan jual mahal, nona. Kami adalah kongcu-kongcu yang mempunyai banyak uang di kota ini!"

Kata pula orang kedua dan kini mereka menghampiri meja gadis itu.

Suheng gadis itu menjadi marah.

Dia bangkit berdiri dan kedua tangannya menekan meja.

"Sebetulnya apa maksud kalian mengganggu kami?"

"Siapa mengganggu? Kami berempat amat suka dan menghormati sumoimu ini dan hendak menjamunya untuk menghormatinya. Apakah itu mengganggu namanya? Kalau engkau tidak suka, engkau boleh makan sendiri, akan tetapi sumoimu ini suka menerima penghormatan kami. Bukankah begitu, nona manis?"

Suheng itu menjadi marah sekali dan dia menggebrak meja dengan kedua tangannya.

Pada saat itu Si Kong juga menekan meja itu dengan tangan kirinya.

Tiba-tiba saja empat batang sumpit yang berada di atas meja itu menyambar ke arah empat orang pemuda itu dengan kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya.

"Aduh...!"

"Ahh...!"

"Aduhhh...!"

Empat orang pemuda itu berteriak-teriak kesakitan karena tubuh mereka terluka oleh empat batang sumpit itu.

Seorang terluka pundaknya, seorang pula terkena pahanya, yang lain terkena sumpit itu di pangkal lengan dan seorang lagi bahkan tertusuk daun telinganya!

Selain berteriak kesakitan, empat orang pemuda itu juga memandang sang suheng dengan mata terbelalak, kemudian mereka berempat berlari keluar meninggalkan meja mereka tanpa membayar harga makanan dan minuman.

Si Kong berkata kepada suheng dan sumoi itu.

"Kongcu dan siocia kini dapat makan dengan tenang. Ah, kemana sumpit-sumpit tadi? Biar saya mengambil yang baru untuk ji-wi."

Diapun tergesa-gesa mengambil sumpit baru dua pasang dan menyerahkan kepada kakak beradik seperguruan itu.

Pemuda itu bernama Thio Bun Can, berusia dua puluh tahun, seorang pemuda putera seorang penduduk di kota Sin-keng yang tidak begitu jauh letaknya dari Sui-yang, hanya lima puluh li jauhnya.

Gadis itu bernama Gu Mei Cin, berusia tujuh belas tahun, puteri Gu Kauwsu (Guru silat Gu) yang menjadi murid dari Thio Bun Can.

Mereka berdua dalam perjalanan untuk menyelidiki gangguan penjahat terhadap pengiriman barang-barang berharga yang di kawal oleh paman gadis itu yang menjadi piauwsu (pengawal barang kiriman).

Satu peti barang kawalan dapat dirampas penjahat dalam perkelahian membela barang-barang kiriman yang menjadi tanggung-jawabnya, sang paman itu menderita luka-luka.

Mendengar ini, Mei Cin membela pamannya, mengajak suhengnya untuk melakukan penyelidikan.

Itulah yang membawa mereka datang ke kota Su-yang, karena peristiwa perampokan itu terjadi dalam perjalanan antara Sin-keng dan Sui-yang.

Akan tetapi, sampai ke kota Sui-yang mereka belum mendapatkan keterangan dan mereka bermaksud untuk melakukan penyelidikan ke kota Sui-yang.

Setelah empat orang pemuda berandalan itu pergi, Thio Bun Can dan Gu Mei Cin saling pandang dengan penuh keheranan.

Saking terkejut dan heran mereka, kedua orang kakak beradik seperguruan ini sampai tidak sempat memperhatikan ketika Si Kong mengambilkan dua pasang sumpit yang baru untuk mereka.

Setelah Si Kong meninggalkan mereka, barulah Bun Can berbisik kepada sumoinya.

"Sumoi, apakah yang telah terjadi?"

Mei Cin juga memandang bingung.

"Aku sendiri juga tidak mengerti, suheng. Akan tetapi yang jelas, ada seorang sakti yang telah membantu kita."

"Akan tetapi bagaimana caranya? Bagaimana sumpit-sumpit itu dapat beterbangan dari atas meja kita?"

Bisik lagi pemuda itu. Mei Cin menggerakkan pundaknya.

"Kalau ada orang menggunakan sumpit untuk menyambit sebagai senjata rahasia, hal itu tidak mengherankan. Akan tetapi tanpa menyentuh dapat membuat sumpit-sumpit itu beterbangan dan dengan tepat mengenai empat orang berandalan tadi, sungguh seperti ilmu sihir saja."

"Hemm, masuk akal juga pendapatmu. Mungkin ada orang sakti ahli sihir yang telah membantu kita, sumoi. Akan tetapi sejak sekarang, kita harus berhati-hati karena siapa tahu orang-orang berandalan itu masih tidak mau menerima kekalahan mereka."

Setelah selesai makan, kedua orang itu memanggil Si Kong yang tadi melayani mereka, membayar harga makanan minuman kepada kasir dan minta diantar oleh Si Kong ke kamar mereka yang sudah dipesan sebelumnya.

Mereka mendapatkan dua buah kamar yang berdampingan di loteng.

Setelah mendapatkan kamar masing-masing, Bun Can berkata kepada Mei Cin.

"Sumoi, kurasa sebaiknya kalau kita tinggal saja dipenginapan ini dan siang tidak keluar. Hal ini adalah untuk mencegah terjadinya keributan kalau-kalau para berandalan tadi hendak mencegat kita."

"Hemm. Kalau mereka berani menghadang, akupun tidak takut, suheng!"

Kata Mei Cin dengan penasaran.

"Mereka itu adalah orang-orang yang patut dihajar keras!"

"Apakah engkau lupa akan tugas utama kita, sumoi? Tugas kita adalah menyelidiki gerombolan yang telah mengganggu Gu Piauwsu (Pengawal Gu), pamanmu itu. Jangan tugas kita sampai terganggu oleh segala macam keributan dengan berandalan itu. Malam nanti saja kita keluar melakukan penyelidikan."

"Kemana kita akan melakukan penyelidikan?"

"Kemana saja. Ketempat-tempat ramai, tempat perjudian dan kalau perlu ke tempat pelesiran yang biasa di datangi para penjahat. Siapa tahu kalau kita akan mendapat kabar dari tempat-tempat itu."

"Baik, suheng."

Percakapan antara mereka itu diam-diam terdengar oleh Si Kong.

Pemuda ini memang masih mengkhawatirkan kedua orang itu.

Siapa tahu pemuda-pemuda berandalan itu akan mendatangkan bala bantuan dan akan tetap mengganggu si gadis.

Mendengar percakapan itu, diam-diam Si Kong merasa heran.

Apakah yang mereka sedang selidiki?

Dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati mereka dan membantu mereka kalau-kalau mereka terancam bahaya.

Malam itu Si Kong tidakbertugas.

Setelah bekerja di bagian rumah makan sejak pagi sampai sore, malam itu Si Kong bebas tugas.

Hal ini kebetulan sekali baginya karena dia sudah mengambil keputusan untuk mengamati kakak beradik seperguruan itu.

Maka, ketika kedua orang itu meninggalkan rumah penginapan dengan pakaian ringkas, diapun membayangi mereka dari jauh.

Dia melihat kakak beradik itu berkunjung ke tempat-tempat pelesir dan bahkan memasuki rumah perjudian, akan tetapi sampai banyak tempat mereka kunjungi, tidak terjadi sesuatu atas diri mereka.

Akhirnya kakak beradik itu kembali kerumah penginapan dan selagi Si Kong membayangi dari jauh, dia melihat ada sesosok bayangan berkelebat.

Ada orang lain yang agaknya juga membayangi kedua orang itu dan orang ini mengenakan pakaian serba hitam.

Ketika kakak beradik itu tiba di rumah penginapan, bayangan itupun menghilang.

Akan tetapi Si Kong merasa penasaran.

Tidak mungkin orang yang membayangi mereka tadi hanya ingin membayangi saja seperti yang dia lakukan.

Pasti ada kemauannya dan mungkin kemauan itu akan dilaksanakan malam ini.

Karena itu, Si Kong tetap waspada.

Dia tidak memasuki kamarnya melainkan bersembunyi di luar sambil mengintai ke arah kamar kakak beradik di loteng itu.

Akhirnya, jauh lewat tengah malam, setelah kamar itu lama memadamkan lilin, sesosok bayangan berkelebat dengan gesitnya menuju ke kamar loteng itu.

Dan bayangan itu berhenti di jendela kamar gadis itu!

Dengan hati-hati Si Kong mendekati.

Dengan mempergunakan ilmu Liok-te Hui-teng, tubuhnya meloncat ke atas tanpa sedikitpun suara dan tahu-tahu dia telah berada di atas genteng kamar gadis itu.

Dia membuka genteng dan menyambit ke dalam kamar dengan pecahan kecil genteng.

Usahanya berhasil.

Mei Cin sadar dari tidurnya dan gadis ini cepat bangkit berdiri dan pada saat itu ia melihat ada asap di tiupkan masuk dari jendela kamarnya, Mei Cin maklum bahwa ada orang jahat di luar kamarnya.

Ia segera menyambar pedangnya yang diletakkan di atas meja dekat buntalan pakaiannya dan sambil menahan napas agar tidak menyedot asap yang mulai memasuki kamar dari jendela itu, ia membuka pintu dan meloncat keluar.

Orang berpakaian serba hitam itu ternyata menutupi wajahnya dengan kain hitam pula.

Dia terkejut melihat gadis itu tahu-tahu telah muncul di luar kamar dan Mei Cin juga tidak membuang waktu lagi.

"Jahanam!"

Bentaknya dan ia sudah menyerang dengan pedangnya.

Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata memiliki gerakan yang gesit.

Ia mengelak, menggulingkan tubuhnya dan setelah dia bangkit berdiri, dia telah memegang sebatang golok yang tadinya diselipkan di punggungnya.

"Traaang...!"

Penjahat itu kini menangkis ketika Mei Cin menusukkan pedangnya lagi dan begitu golok bertemu pedang, Mei Cin terkejut sekali karena pedangnya terpental.

Orang itu ternyata memiliki tenaga yang kuat sekali.

"Suheng, bangun! Ada penjahat!"

Mei Cin berseru dan terus ia menyerang.

Terjadi perkelahian yang sengit, akan tetapi segera gadis itu terdesak ketika penjahat itu balas menyerang.

Ternyata bahwa bukan saja tenaganya besar juga ilmu goloknya ganas sekali.

Thio Bun Can terbangun oleh teriakan sumoinya dan suara gaduh perkelahian.

Dia keluar membawa dua pedang pendeknya dan melihat sumoinya sedang bertanding dengan seorang yang memakai topeng kain hitam yang lihai sekali gerakan goloknya, tanpa banyak cakap lagi diapun terjun ke dalam pertempuran mengeroyok.

Akan tetapi si topeng hitam itu ternyata tidak terdesak oleh pengeroyokan itu, bahkan kedua orang kakak beradik itu yang dalam keadaan terdesak!

Tiba-tiba penjahat itu berteriak kaget dan goloknya terlepas dari tangannya.

Ada suatu benda menyambar dan mengenai siku kanannya yang membuat lengannya lumpuh sehingga goloknya terlepas.

Setelah mengeluarkan teriakan ini penjahat itu lalu melompat jauh ke atas genteng rumah di sebelah.

Kakak beradik itu tidak berani mengejar karena selain gin-kang orang itu lihai sekali, juga mereka tahu bahwa ilmu kepandaian orang itu masih berada di atas tingkat mereka.

Kamar-kamar yang berdekatan mulai membuka pintu dan para tamu yang bermalam disitu bertanya-tanya.

Bun Can dan Mei Cin segera menyimpan senjata mereka dan Bun Can berkata kepada para tamu dan para pelayan yang datang berlarian.

"Ada pencuri hendak memasuki kamar, akan tetapi kami telah berhasil mengusirnya. Dia melarikan diri meninggalkan golok itu."

Setelah semua orang bubaran dan mengunci pintu kamar mereka masing-masing dengan hati merasa khawatir kalau-kalau mereka juga akan didatangi pencuri, kakak beradik itu lalu bercakap-cakap.

"Heran sekali, mengapa dia melepaskan golok dan melarikan diri?"

Kata Bun Can. Mei Cin mengerutkan alisnya.

"Tidak salah lagi. Tentu ada orang yang diam-diam membantu kita, seperti yang terjadi siang tadi. Tidak mungkin penjahat itu melepaskan senjata dan melarikan diri tanpa sebab. Bahkan tadipun ketika aku sedang tidur, ada yang membangunkan aku dari tidur sehingga aku dapat melihat usaha penjahat itu meniupkan asap ke dalam kamarku. Mari kita periksa, suheng."

Mereka memasuki kamar gadis itu dan setelah memeriksa dan mencari, akhirnya mereka menemukan pecahan genteng yang berada di atas tempat tidur.

Mei Cin mengambil pecahan genteng itu dan berkata.

"Inilah agaknya yang membangunkan aku. Tentu disambitkan dan mengenai kakiku karena aku merasa seperti ada yang menepuk kakiku. Pasti ini merupakan pekerjaan orang yang selalu membantu kita itu, suheng."

"Siapa orangnya, jelas dia bermaksud baik dan kita harus berterima kasih kepadanya, sumoi. Penjahat tadi lihai sekali. Kalau dia datang kembali dan membawa kawannya, tentu kita akan celaka."

"Akan tetapi, mengapa dia hendak menyerang kita?"

"Ya, hal itu juga aneh sekali. Ada dua kemungkinan, sumoi. Pertama, dia seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) yang siang tadi melihatmu dan menjadi tertarik untuk mengganggumu, atau mungkin juga ada hubungan dengan penyelidikan yang kita lakukan. Lebih baik kita pulang dan melaporkannya kepada suhu, minta pendapatnya. Kalau penjahat tadi ada hubungannya dengan penyelidikan kita, berarti dia itu seorang di antara para penjahat itu bersarang di kota ini. Sebaiknya kalau suhu sendiri yang memutuskan tindakan apa selanjutnya akan diambil."

"Kurasa engkau benar, suheng. Masih untung kita mempunyai seorang tuan penolong yang tidak mau di kenal, kalau tidak, tentu kita sudah celaka."

"Betapapun juga, malam ini sampai besok pagi kita harus waspada."

Kedua orang kakak beradik itu lalu berpisah, ke kamar masing-masing.

Si Kong yakin bahwa penjahat tadi tidak akan berani kembali setelah di hajarnya dengan pecahan genteng sehingga goloknya terpental dan dia melarikan diri.

Dia merasa puas sudah dapat membantu kakak beradik itu.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika Si Kong melewati kedua pintu kamar itu, dia di panggil oleh Thio Bun Can.

"Sobat, tolong beritahu pengurus rumah penginapan bahwa pagi ini juga kami akan berangkat. Kami hendak membayar sewa kamar."

Si Kong memandang kepada gadis yang sudah siap menggendong buntalan pakaian dan pedangnya.

Dia merasa kagum.

Biarpun semalam telah terjadi ancaman bahaya dan agaknya gadis itu tidak tidur lagi, namun gadis itu nampak segar dan cantik, bahkan sikapnya demikian tenang seolah tidak pernah terjadi sesuatu yang mengancam keselamatannya.

Dia lalu melayani kakak beradik itu dan setelah membayar uang sewa kamar, keduanya lalu berangkat dan pergi meninggalkan kota Sui-yang.

Setelah pemuda dan gadis itu pergi, Si Kong membersihkan bekas kamar mereka dan dia merasa kesepian, kehilangan!

Dia merasa heran sendiri mengapa dia begitu kagum dan tertarik kepada gadis itu yang sama sekali tidak di kenalnya.

Si Kong memang rajin sekali.

Pagi-pagi sekali dia bekerja di bagian rumah penginapan dan setelah rumah makan dibuka, dia membantu rumah makan sampai malam.

Majikan pemilik rumah penginapan dan rumah makan Hok-lai merasa suka sekali dengan pekerjaan pemuda yang rajin itu maka dalam waktu beberapa hari saja Si Kong sudah diangkatnya menjadi mandor atau pengawas para pekerja yang lain!

Hal ini tentu saja menimbulkan perasaan iri dalam hati banyak pelayan yang sudah bekerja lebih lama di tempat itu.

Ketika siang itu dia bekerja di rumah makan, terjadilah hal yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Rumah penginapan itu kehilangan beberapa gambar dan pot bunga yang berharga mahal.

Tadinya benda-benda itu di pasang di ruang tamu, akan tetapi tiba-tiba lenyap.

Ketika majikan rumah penginapan itu tidak melihat benda-benda hiasan itu, dia menjadi marah dan memanggil para pelayan rumah penginapan.

Semua pelayan menjadi ribut dan mencari-cari dan akhirnya orang menemukan benda-benda berharga itu didalam kamar Si Kong tersembunyi dibawah kolong tempat tidurnya!

Tentu saja majikan itu menjadi marah.

Si Kong dipanggil dan ditanyai.

Biarpun Si Kong tidak mengaku mencuri dan mengatakan tidak tahu bagaimana benda-benda itu dapat berada di kolong tempat tidurnya, akan tetapi karena bukti sudah menyatakan bahwa barang-barang yang hilang berada di tempat tidurnya, maka majikan itu tidak mendengarkan semua bantahannya dan Si Kong diusir hari itu juga.

Upahnya selama beberapa pekan dibayar.

Si Kong maklum bahwa dia difitnah.

Akan tetapi dia tidak merasa perlu untuk menyelidiki hal itu.

Memang dia pun tidak ingin bekerja selamanya di tempat itu.

setelah dikeluarkan dari pekerjaannya, Si Kong lalu membawa buntalan pakaiannya dan meninggalkan rumah penginapan itu, bahkan meninggalkan kota Sui-yang, tiga hari setelah Bun Can dan Mei Cin meninggalkan kota itu.

Gu Mei Cin dan suhengnya, Thio Bun Can, setelah meninggalkan kota Sui-yang langsung saja pulang ke kota Sin-keng yang jaraknya kurang lebih lima puluh li dari kota Sui-yang.

Dalam perjalanan itu mereka tidak menemukan halangan sesuatu dan tibalah mereka di kota Sin-keng.

Ayah Gu Mei Cin yang bernama Gu Kiat atau dikenal dengan sebutan Gu Kauwsu (Guru Silat Gu) adalah seorang guru silat dikota itu yang terkenal.

Muridnya cukup banyak dan putera-putera para pejabat dan hartawan di kota itu banyak yang menjadi muridnya.

Di antara semua muridnya, yang paling dekat dengan Mei Cin, juga yang menjadi murid tauladan adalah Thio Bun Can.

Diam-diam pemuda ini jatuh hati kepada sumoinya dan Gu Kauwsu juga menyetujui niat pemuda ini karena Bun Can memang seorang murid yang baik.

Itulah sebabnya ketika Gu Kauwsu mendengar akan malapetaka yang menimpa adiknya, Gu Piauwsu yang dilukai perampok dan barangnya ada yang terampas, dia mengijinkan puterinya pergi bersama Thio Bun Can untuk melakukan penyelidikan.

Dia menganggap bahwa kepandaian silat puterinya sudah memadai dan juga Thio Bun Can dapat menjadi pengawal yang dapat dipercaya.

Ketika puteri dan muridnya datang, Gu Kauwsu segera menyongsong mereka dengan penuh harapan dan bicara dengan mereka di dalam kamarnya.

"Bagaimana dengan hasil penyelidikan kalian? Kuharap ada hasil yang baik."

Kata Gu Kauwsu.

"Wah, penyelidikan kami belum menghasilkan sesuatu, bahkan sebaliknya kami hampir mendapat celaka di tangan orang jahat, Ayah."

Kata Mei Cin.

"Apa yang terjadi?"

"Suheng, kau ceritakan kepada Ayah."

Mei Cin minta suhengnya untuk bercerita.

Bun Can lalu menceritakan tentang pertemuan mereka dengan pemuda-pemuda berandalan di rumah makan Hok-lai dan tentang bantuan seorang sakti yang tidak memperlihatkan diri.

"Apa? Sumpit-sumpit di atas meja beterbangan sendiri menyerang empat orang pemuda yang kurang ajar itu? Seperti sihir saja!"

Kata Gu Kauwsu.

"Itulah, suhu. Teecu juga menganggap itu sihir, dan rupanya ada seorang sakti menggunakan sihirnya untuk membantu kami. Setelah orang-orang berandalan itu terusir pergi, kami tinggal di rumah penginapan sampai malam. Barulah pada malam harinya kami berdua berkunjung ke tempat-tempat yang sekiranya didatangi para penjahat untuk mencari keterangan. Kami datangi rumah-rumah judi, akan tetapi usaha kami sia-sia saja. kami tidak mendengar apa-apa yang penting tentang perampokan itu."

"Akan tetapi pada malam hari itu terjadi hal yang aneh, Ayah. Aku hampir saja celaka dalam peristiwa itu."

Kata Mei Cin.

"Apa yang terjadi?"

Tanya Gu Kauwsu sambil memandang puterinya dengan alis berkerut.

"Lewat tengah malam selagi aku tidur pulas, tiba-tiba aku dibangunkan oleh sesuatu yang rasanya seperti ada yang menepuk kakiku. Ketika aku sadar dan terbangun, aku melihat ada asap yang memasuki kamarku lewat jendela. Aku menjadi curiga dan cepat aku keluar dari pintu dan melihat bahwa di luar jendelaku terdapat seorang yang berpakaian hitam dan bertopeng hitam pula, sedang meniupkan asap ke kamar itu. Tentu saja aku menjadi marah dan aku menyerangnya. Akan tetapi orang itu tangguh sekali dengan permainan goloknya. Bahkan ketika suheng terbangun dan membantuku, kami berdua tidak mampu mendesaknya, bahkan terancam oleh gerakan goloknya. Mendadak, terjadi pula keanehan. Entah mengapa, penjahat itu berteriak, goloknya terlepas dari tangannya dan dia meloncat dengan cepat sekali melarikan diri."

"Hemm, agaknya kalian di bantu oleh orang secara diam-diam!"

Kata Gu Kauwsu.

"Agaknya memang begitu, Ayah. Karena, setelah kami memeriksa dalam kamarku, aku menemukan sepotong pecahan genteng yang agaknya dipergunakan orang untuk membangunkan aku ketika penjahat itu melepaskan asap ke dalam kamar. Asap itu tentu asap pembius!"

"Akan tetapi, mengapa engkau yang didatangi penjahat itu?"

Tanya Gu Kauwsu.

"Kami berpendapat bahwa ada dua kemungkinan untuk itu, suhu. Pertama, mungkin saja penjahat itu seorang jai-hwa-cat yang mempunyai niat buruk terhadap sumoi. Dan kemungkinan kedua, perbuatannya itu ada hubungannya dengan penyelidikan kami, dan kalau begitu, dia tentu ada hubungannya dengan perampokan yang kami selidiki itu."

"Maka kami putuskan untuk pulang dan melaporkannya kepadamu, Ayah. Penjahat itu lihai sekali, kalau dia kembali bersama teman-temannya, tentu kami celaka."

Gu Kauwsu meraba jenggotnya dan mengangguk-angguk.

"Tidak salah lagi! Penjahat itu tentu ada hubungannya dengan yang merampok pamanmu! Menurut pamanmu, yang mengalahkan dan melukai pamanmu juga seorang yang pandai mempergunakan golok, orangnya tinggi besar dan bermuka hitam seperti yang kalian telah dengar sendiri. Bagaimana bentuk tubuh orang yang bertopeng itu?"

"Tubuhnya juga tinggi besar, Ayah. Akan tetapi sayang, mukanya tertutup topeng dan penerangan di luar kamar itu hanya kecil dan remang-remang. Aku tidak dapat melihat apakah separuh mukanya bagian atas yang tertutup itu hitam atau tidak."

"Aku sendiri yang akan pergi melakukan penyelidikan ke Sui-yang!"

Kata Gu Kauwsu dengan nada suara penuh penasaran.

Tiba-tiba dari luar jendela nampak sebuah benda menyambar cepat ke arah muka Gu Kauwsu.

Guru silat itu menggerakkan tangannya menangkap dan ternyata benda itu adalah sebuah pisau yang tajam dan runcing, yang menusuk sepotong kertas.

"Jahanam!"

Gu Kauwsu cepat melompat keluar dari jendela, diikuti puteri dan muridnya, akan tetapi diluar tidak terdapat siapapun.

Pelempar pisau itu tekah pergi jauh.

Terpaksa mereka kembali kedalam dan Gu Kauwsu membaca tulisan di atas kertas itu.

"Kalau hendak mencari perampas barang kiriman, pergilah ke Puncak Bukit Ayam."

"Jahanam!"

Kembali Gu Kauwsu memaki.

"Dia telah menantangku!"

Mei Cin dan Bun Can juga ikut membaca tulisan pada kertas itu dan mereka berdua juga menjadi marah.

"Sekarang jelas, Ayah. Pelempar pisau tadi tentu juga penjahat bertopeng itu, dan mungkin dialah yang telah merampas barang kiriman yang dikawal paman. Dia pula yang melukai paman dengan goloknya."

"Tidak salah lagi. Tentu dia! Dan dia menantangku untuk datang ke Bukit Ayam? Bagus!"

"Apa yang hendak Ayah lakukan sekarang?"

Tanya Mei Cin.

"Apa lagi? Datang ke Bukit Ayam tentu saja. Bukit itu dekat saja dari sini dan sebelum gelap aku sudah akan tiba dipuncaknya."

"Ayah tidak boleh pergi sendiri. Aku ikut untuk membantu, Ayah."

"Benar, suhu. Teecu juga ikut untuk membantu. Kalau perlu teecu akan memanggil murid-murid suhu yang lain dan kita beramai datang ke sana."

Gu Kauwsu menggeleng kepala.

"Jangan kaitkan para murid lain. Pula, kalau kita banyak orang datang ke sana, penjahat itu tentu tidak akan muncul. Kita bertiga saja kesana, akan tetapi kalian harus mempersiapkan diri baik-baik dan berlaku hati-hati."

Gu Kauwsu bersama puterinya dan muridnya cepat berkemas, disaksikan oleh isterinya.

Setelah mempersiapkan diri, membawa senjata pedang masing-masing, Gu Kauwsu tidak lupa membawa sekantung senjata rahasia paku, mereka lalu meninggalkan rumah dan keluar dari kota Sin-keng melalui pintu gapura sebelah selatan.

Begitu keluar dari pintu gerbang, sudah nampak bukit yang di maskudkan.

Dari jauh bukit itu memang kelihatan seperti kepala seekor ayam, karena itu maka bukit itu di sebut Bukit Ayam.

Dengan cepat, mempergunakan ilmu lari cepat, akan tetapi dengan sikap hati-hati, tiga orang ini mendaki Bukit Ayam dan sebentar saja mereka telah tiba di puncak bukit itu.

Matahari telah mulai condong ke barat, namun masih terang.

Puncak bukit itu datar dan merupakan padang rumput terbuka, dikelilingi hutan yang berada di lereng bukit.

Akan tetapi di situ sunyi saja, tidak nampak bayangan seorang pun.

Gu Kauwsu lalu mengerahkan khikangnya dan berteriak.

Suaranya bergema di empat penjuru.

"Heii, perampok laknat. Keluarlah kalau memang engkau laki-laki!"

Segera terdengar suara tawa bergema di seluruh puncak dan tak lama kemudian nampak bayangan dua orang berlari naik ke pundak, datang dari hutan sebelah kiri.

Gu Kauwsu memberi isyarat kepada puteri dan muridnya agar waspada.

Mei Cin dan Bun Can segera mencabut pedang masing-masing dan berdiri dalam keadaan siap siaga.

Karena dua bayangan orang itu menggunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja mereka sudah tiba di depan tiga orang itu.

gu Kauwsu dan dua orang itu memandang penuh perhatian.

Dua orang itu berdiri sambil tertawa-tawa dengan lagak sombong.

Yang seorang adalah laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar, mukanya hitam garang menyeramkan.

Orang kedua adalah seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya sedang saja dia memegang sebatang tongkat berkepala naga.

Kakek inilah yang tertawa tadi, dan sekarangpun dia masih menyeringai dengan sikap memandang rendah.

"Apakah kalian berdua yang mengirim surat mengundang kami kepuncak Bukit Ayam ini?"

Gu Kauwsu bertanya denga suara tegas. Yang muda dan bermuka hitam itu mejawab.

"Benar, akulah yang mengirim surat itu!"

"Apakah ini berarti bahwa engkau yang telah merampas barang kiriman yang di kawal oleh Gi Piauwsu dan yang telah melukainya?"

"Ha-ha, benar aku yang melakukannya!"

Jawab laki-laki bermuka hitam itu.

"Sobat, aku melihat engkau bukan seorang perampok biasa, bukan pula kepala gerombolan perampok. Kenapa engkau mengganggu pekerjaan Gu-piauwsu? Aku nasihatkan engkau untuk mengembalikan barang kiriman itu kepadaku atau terpaksa aku harus menggunakan kekerasan."

Kata Gu Kauwsu dan suaranya bernada mengancam.

Si muka hitam itu menoleh kepada kakek bertongkat kepala naga.

"Suhu, bagaimana pendapat suhu?"

"Serahkan saja guru silat ini kepadaku dan kau hadapi dua orang muda itu!"

Kata kakek itu dengan sikap tenang sekali dan dengan sekali lompatan kecil dia sudah menghadapi Gu Kauwsu, lalu berkata.

"Kalau engkau masih sayang nyawamu, lebih baik engkau tidak mencampuri urusan ini. Barang sudah terampas bagaimana mungkin dikembalikan?"

Gu Kauwsu menjadi marah.

"Bun Can, Mei Cin, berhati-hatilah menghadapi si muka hitam itu!"

Setelah berkata demikian dia mencabut pedangnya dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya sudah mengambil segenggam paku yang merupakan senjata rahasianya yang ampuh.

(Lanjut ke

Jilid 06) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 06

"Orang tua sesat, engkau membela muridmu yang melakukan perampokan! Katakan siapa namamu, jangan mati tanpa nama!"

Bentak Gu Kauwsu.

"Ha-ha-ha, engkau guru silat kampungan, tidak mengenal siapa aku? Aku adalah majikan Pulau Tembaga, di kenal dunia kangouw sebagai Tung-hai Liong-ong!"

Mendengar nama ini, maya Gu Kauwsu terbelalak dan dia terkejut bukan main.

Nama yang disebut kakek itu adalah nama seorang datuk besar disepanjang pantai timur!

"Tung-hai Liong-ong?

Dia adalah seorang datuk besar pantai timur!

Tidak mungkin dia begitu rendah untuk membela muridnya yang menjadi perampok!"

"Ha-ha, kami memungut sumbangan dari mereka yang berharta, bukan merampok. Engkau guru silat kampungan tidak perlu tahu. Nah, pergilah!"

Tongkat kepala naga itu menyambar dahsyat.

Gu Kauwsu yang pernah mendengar akan kelihaian datuk itu cepat melompat ke belakang untuk menghindar.

Biarpun dia tahu lawannya amat pandai, untuk membela adiknya dia tidak merasa takut.

"Makanlah senjata rahasiaku ini!"

Teriaknya dan tangan kirinya bergerak, belasan batang paku telah menyambar ke arah tubuh kakek itu.

Akan tetapi kakek itu hanya mengibaskan tangannya dan paku-paku itu, baik yang terkena kebutan tangan maupun yang mengenai tubuh kakek itu, runtuh kebawah.

Agaknya kakek itu kebal dan kulitnya tidak dapat tertembus paku!

Dia tidak merasa gentar dan cepat menyerang maju dengan pedangnya.

Hebat juga gerakan guru silat itu sehingga Tung-hai Liong-ong tidak berani menyambut pedang itu dengan tangannya, melainkan menggerakkan tongkatnya untuk menangkis.

"Trang-trang...!"

Pedang itu hampir terlepas dari tangan Gu Kauwsu.

Akan tetapi guru silat itu tidak mundur bahkan menyerang lagi dengan lebih dahsyat.

Sementara itu, si tinggi besar bermuka hitam menghampiri Bun Can dan Mei Cin.

Dia menyeringai sambil memandang kepada Mei Cin.

"Ha-ha-ha, di Sui-yang engkau terlepas dari tanganku dan sekarang engkau datang menyerahkan diri kepadaku. Bagus sekali, nona!"

Mendengar ini, tahulah Mei Cin bahwa orang ini yang mendatangi kamarnya di malam hari itu.

Ia menjadi marah sekali dan mengelebatkan pedangnya.

"Jahanam busuk, perampok rendah, bersiaplah untuk mampus di tanganku!"

Tanpa banyak cakap lagi Mei Cin sudah menerjang dengan pedangnya.

Si muka hitam itu bukan lain adalah Ouwyang Kwi.

Murid dari Tung-hai Ling-ong.

Seperti telah kita ketahui, dia pernah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang dalam usahanya mengumpulkan uang dan kekuasaan.

Akan tetapi usahanya itu gagal dengan munculnya Si Kong bersama gurunya Yok-sian Lo-kai beberapa tahun yang lalu.

Setelah melarikan diri bersama suhunya yang sama-sama terluka dalam ketika bertempur dengan Yok-sian Lo-kai, Ouwyang Kwi mempunyai cara lain untuk mengumpulkan banyak uang yang agaknya di dukung oleh gurunya, yaitu dengan menjadi perampok tunggal.

Bukan sembarang perampok, melainkan perampok yang hanya bergerak seorang diri akan tetapi hanya merampok barang-barang yang berharga mahal saja.

Baru-baru ini dia berhasil merampok barang berharga yang di kawal Gu Piauwsu.

Dan kebetulan sekali gurunya datang berkunjung, sehingga setelah dia tahu bahwa dia dicari dan diselidiki oleh Gu Kauwsu, dia minta bantuan gurunya untuk menghadapi guru silat yang lihai itu.

Begitu Mei Cin menyerang, Ouwyang Kwi juga mencabut goloknya dan menangkis.

Mei Cin menyerang lebih dahsyat dan dua orang ini sudah bertanding lagi.

Meihat ini, maklum bahwa lawan sumoinya amat lihai, Thio Bun Can segera menerjang maju dan membantu sumoinya.

Dengan demikian, terulang pertarungan di malam hari itu, Ouwyang Kwi di keroyok oleh kakak beradik seperguruan itu.

Akan tetapi, begitu Ouwyang Kwi memainkan golok besarnya yang berat, kakak beradik itu segera terdesak.

Bagaimanapun juga, kedua orang muda itu kalah tenaga dan kalah pengalaman bertanding sehingga mereka sibuk menangkis dan melindungi diri saja tanoa mampu membalas serangan Ouwyang Kwi.

Sementara itu, pertandingan antara Gu Kauwsu dan Tung-hai Ling-ong juga berjalan tidak seimbang sama sekali.

Tingkat ilmu kepandaian datuk itu jauh lebih tinggi daripada tingkat Gu Kauwsu sehingga setelah lewat tiga puluh jurus, Gu Kauwsu sudah terdesak hebat oleh tongkat berkepala naga itu dan dia hanya mampu menangkis sambil mundur.

Gu Kauwsu sambil mundur tidak mengkhawatirkan diri sendiri, akan tetapi dia memikirkan keselamatan puterinya.

Mau tidak mau perhatiannya terpecah, sebagian untuk memperhatikan keadaan puterinya.

Dia menjadi gelisah sekali melihat puteri dan muridnya juga terdesak hebat oleh Ouwyang Kwi.

"Mei Cin, Bun Can, lari...!"

Dia berteriak, akan tetapi perhatiannya yang terpecah itu mendatangkan bencana.

Tangan kiri Tung-hai Ling-ong menyambar dan tepat tangan itu dengan jari-jari tangan terbuka menghantam dadanya.

"Dukkk...!"

Tubuh Gu Kauwsu terjengkang dan robohlah dia untuk tidak bangkit lagi.

Dia telah terkena pukulan Tok-ciang dari datuk itu, pukulan yang tidak kalah ampuhnya dengan pukulan tongkatnya.

Gu Kauwsu roboh dengan tanda telapak jari tangan hitam di dadanya.

Tok-ciang (Tangan Beracun) adalah semacam ilmu pukulan yang mengandung hawa beracun yang berbahaya sekali.

Gu Kauwsu tepat terpukul dadanya sehingga jantungnya terguncang oleh hawa beracun dan diapun tewas seketika.

Dalam perlawannya dibantu suhengnya terhadap Ouwyang Kwi, Mei Cin juga memperhatikan Ayahnya.

Agaknya Ouwyang Kwi tidak terlalu mendesaknya, melainkan lebih mendesak Thio Bun Can.

Maka ketika Ayahnya roboh, Mei Cin dapat melihatnya dan iapun menjerit.

"Ayah...!"

Tanpa perdulikan lagi suhengnya, Mei Cin melompat ke dekat Ayahnya dan berlutut.

Ketika dilihatnya Ayahnya sudah tewas, iapun amat berduka dan marah.

Dengan mengangkat pedangnya, ia menyerang Tung-hai Ling-ong.

"Kau... kau... membunuh Ayahku...!"

Bentaknya sambil menangis dan menyerang.

"Suhu, jangan bunuh gadis itu. Aku sayang padanya!"

Ouwyang Kwi berseru kepada gurunya dan diapun memperhebat serangannya kepada Thio Bun Can.

Kasihan pemuda ini.

Tadi mengeroyok bersama sumoinya saja dia tidak mampu menang, apalagi sekarang harus menghadapi lawan sendiri.

Pedangnya berkali-kali terpental dan pada suatu kesempatan selagi pemuda itu terhuyung karena pertemuan senjata itu, dengan gerakan cepat Ouwyang Kwi mengelebatkan goloknya dan robohlah Thio Bun Can mandi darahnya sendiri.

Lehernya nyaris putus oleh babatan golok.

Ouwyang Kwi tidak perdulikan lagi kepada korbannya dan dia sudah meloncat untuk melihat keadaan Mei Cin.

Alangkah girangnya melihat Mei Cin sudah menggeletak roboh oleh totokan jari tangan gurunya.

"Mari kita pergi, suhu!"

Kata Ouwyang Kwi sambil memondong tubuh Mei Cin yang sudah tidak dapat bergerak itu.

Mereka lari ke kiri memasuki hutan.

Tak lama kemudian, sesosok bayangan orang mendaki bukit itu.

orang ini bukan lain adalah Si Kong.

Secara kebetulan saja dia lewat di lereng bukit itu dan melihat keadaan bukit itu, hatinya tertarik untuk mendaki puncaknya.

Setelah tiba di lereng paling atas, dia mendengar gerakan orang berkelahi di puncak.

Si Kong mempercepat larinya dan tibalah dia dipuncak.

Akan tetapi di puncak itu telah sepi tidak terdengar apa-apa lagi.

Dan hatinya terkejut bukan main melihat dua tubuh menggeletak di tempat itu.

cepat dia menghampiri.

Pertama dia menghampiri tubuh Gu Kauwsu dan setelah menyentuh nadi dan dadanya, dia menghela napas.

Orang itu tidak dapat di tolong lagi, pikirnya.

Sudah tewas!

Dia lalu menghampiri tubuh Thio Bun Can dan melihat pemuda ini masih dapat menggerakkan tangannya.

Dan ketika memeriksa, Si Kong terkejut mengenalnya sebagai pemuda yang bermalam di rumah penginapan beberapa malam yang lalu.

Pemuda itu bermalam bersama sumoinya!

Dan kemana sekarang sumoinya?

Dia cepat menotok jalan darah untuk menghentikan darah yang mengalir keluar dari luka di leher.

Diapun melihat adanya sebatang pedang lain di situ dan dan mengkhawatirkan kalau-kalau sumoi pemuda itu juga telah menjadi korban pembunuhan.

Dia mengguncang pundak pemuda itu dan mengurut tengah keningnya.

Pemuda itu kini dapat membuka dan mengedip-ngedipkan matanya yang sudah layu.

"Dimana sumoimu? Dimana? Tunjukkan!"

Kata Si Kong.

Bun Can dalam keadaan sekarat itu masih dapat mengerti dan dia mengangkat tangannya, menuding ke arah kiri lalu terkulai dan mati.

Isarat itu sudah cukup bagi Si Kong.

dia segera melompat ke arah kiri dan lari memasuki hutan di lereng itu.

Dia harus bergerak cepat selagi hutan itu masih belum gelap.

Dengan penuh kewaspadaan dia menyusup-nyusp di hutan itu dan akhirnya usahanya berhasil ketika mendengar isak tangis seorang wanita!

Dia bergerak cepat sekali ke arah suara itu dan melihat gadis yang dicarinya itu rebah di atas rumput, tidak mampu bergerak dan hanya dapat menangis!

Dan didekatnya berlutut seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam.

Melihat laki-laki bermuka hitam itu, teringatlah Si Kong akan peristiwa empat tahun yang lalu.

Dia segera mengenal Ouwyang Kwi sebagai orang yang telah merampas kedudukan ketua Hwa I Kaipang!

Bahkan di waktu itu, dalam usia sekitar lima belas atau enam belas tahun, dia pernah bertanding melawan Ouwyang Kwi ini.

Dia tahu betapa jahatnya Ouwyang Kwi dan gurunya yang merupakan datuk timur berjuluk Tung-hai Liong-ong itu, maka diapun tahu bahwa gadis itu tentu terancam bahaya besar.

Diapun mengenal gadis yang rebah telentang sambil menangis itu sebagai gadis yang pernah bermalam di rumah penginapan Hok-lai.

"Nona manis, jangan menangis. Percuma saja engkau menangis dan tida ada gunanya enkau menolak kehendakku. Ditolak atau tidak, tetap engkau akan menjadi milikku! Maka lebih baik engkau menyerah dengan suka rela daripada aku harus menggunakan paksaan."

Setelah berkata demikian, sambil menyeringai seperti seekor srigala menghampiri korbannya, dia mendekatkan dirinya kepada gadis itu dan tangan kanannya perlahan-lahan meraih ke arah dada.

"Wuuuutt...! Plakk!"

Ouwyang Kwi terkejut dan mengaduh.

Tangannya terasa nyeri dan ketika dilihatnya, ternyata tangannya lecet berdarah karena di sambar sepotong batu yang runcing.

Dia meloncat bangkit berdiri sabil memutar tubuh dan melihat seorang pemuda telah berdiri di hadapannya dengan mata yang mencorong seperti mata seekor naga.

Tahulah Ouwyang Kwi bahwa tentu pemuda itu yang tadi menyambitnya dengan batu ke tangannya, maka tentu saja dia menjadi marah bukan main.

"Keparat, engkaukah yang menyerangku dengan batu tadi?"

Bentaknya.

Si Kong mengerutkan alisnya, diam-diam diapun marah sekali melihat perbuatan Ouwyang Kwi tadi.

"Ouwyang Kwi, ternyata engkau masih juga belum jera dan selalu melakukan perbuatan jahat dan terkutuk!"

Ouwyang Kwi terkejut.

Pemuda itu telah mengenal namanya!

"Siapakah engkau yang begitu lancang berani mencampuri urusanku?"

"Ouwyang Kwi, lupakah engkau kepadaku? Empat lima tahun yang lalu, engkau dan gurumu Tung-hai Liong-ong pernah bertemu dengan aku dan guruku Yok-sian lo-kai di Souw-ciu."

Ouwyang Kwi terkejut dan sekarang diapun teringat kepada pemuda itu.

Lima tahun yang lalu pemuda itu masih merupakan seorang pemuda remaja akan tetapi sudah sedemikian lihainya sehingga dapat menandinginya.

Bahkan gurunya, Tung-hai Liong-ong terluka dalam parah sekali oleh Yok-sian Lo-kai dan untuk menyembuhkan luka itu, gurunya harus mengobati dirinya selama tiga tahun!

Akan tetapi dia tidak takut.

Selama lima tahun ini, dia sudah memperdalam ilmu silatnya dan juga suhunya berada tidak jauh dari tempat itu.

Pemuda ini hanya datang seorang diri dan dia dapat mengandalkan gurunya kalau sampai dia kalah dari pemuda itu.

Cepat dia mencabut goloknya dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Si Kong.

"Kiranya engkau bocah setan itu dan lagi-lagi engkau telah berani mencampuri urusan pribadiku. Akan tetapi sekali ini jangan harap engkau akan mampu meloloskan diri dari golokku ini!"

Setelah berkata demikian, tanpa banyak cakap lagi Ouwyang Kwi meloncat dan menerjang dengan golok besarnya.

Si Kong sudah siap.

Dia menjatuhkan buntalan pakaiannya ke atas tanah dan menggunakan pikulan bambunya untuk senjata tongkat.

"Trang-trangg...!"

Dua tangkisan itu membuat golok terpental dan hampir terlepas dari tangan Ouwyang Kwi.

Hal ini membuat si muka hitam terkejut bukan main dan tahulah dia bahwa pemuda itu juga sudah memperoleh kemajuan pesat sehingga dalam hal tenaga sinkang dia kalah jauh!

"Suhu..., tolong...!"

Ouwyang Kwi berteriak tanpa malu lagi ketika dia menerjang maju kembali dengan serangan yang lebih dahsyat.

Si Kong teringat betapa Ouwyang Kwi telah membunuh dua orang yang mayatnya masih menggeletak di luar hutan di puncak itu, dan teringat bahwa setelah lewat empat lima tahun orang itu tidak berubah menjadi baik bahkan menjadi semakin jahat.

Maka dia mempercepat gerakan tongkatnya.

Gerakan tongkat Si Kong sekarang jauh sekali bedanya kalau dibandingkan gerakannya empat tahun yang lalu.

Dia telah di gembleng Kwa Siucai, kemudia bahkan mendapat bimbingan dari Pendekar Sadis Ceng Lo-jin, sehingga dibandingkan empat tahun yang lalu, tingkat kepandaiannya sudah maju jauh sekali.

Begitu dia mempercepat gerakan tongkatnya, tongkat itu dapat menyusup di antara gulungan sinar golok, bergetar menotok pergelangan tangan lalu meluncur ke arah tenggorokan Ouwyang Kwi.

Ouwyang Kwi berteriak ketika tiba-tiba lengannya menjadi lumpuh dan goloknya terlepas dari pegangan, dan teriakannya terhenti ketika ujung tongkat bambu itu menotok tenggorokannya.

Diapun roboh dan tidak mampu bergerak kembali karena totokan pada jalan darah dekat tenggorokannya itu telah menewaskannya!

"Wuuutt...

wirr...!"

Si Kong mengelak dengan cepat ketika tongkat kepala naga itu menyambar ke arah kepalanya dengan amat kuat dan dahsyatnya.

"Jahanam, berani engkau membunuh muridku?"

Teriak Tung-hai Liong-ong ketika melihat muridnya menggeletak dan tewas.

Dia terbelalak memandang kepada gadis yang masih telentang, lalu kepada Si Kong yang masih memegang tongkatnya dengan sikap tenang.

"Siapa engkau?"

"Tung-hai Liong-ong, engkau dan muridmu Ouwyang Kwi ternyata masih juga belum menghentikan perbuatan jahat kalian. Agaknya engkau belum jera ketika lima tahun yang lalu guruku Yok-sian Lo-kai memukulmu!"

Tung-hai Liong-ong teringat.

"Ah, jadi engkau murid Yok-sian Lo-kai? Bagus, aku memang sedang mencarinya untuk membalas kekalahanku dahulu dan sekarang engkau berani membunuh muridku? Engkau harus mati di tanganku!"

Kembali Tung-hai Liong-ong menyerang dengan tongkatnya yang berkepala naga.

Tongkat itu berat sekali dan ketika menyambar, ada hawa pukulan dahsyat sekali menerpa muka Si Kong.

Akan tetapi pemuda ini sama sekali tidak merasa gentar.

Tubuhnya dengan amat ringannya sudah mengelak dari serangan beruntun sambung menyambung sampai lima kali itu.

Tung-hai Liong-ong merasa penasaran sekali.

Lima kali berturut-turut tongkatnya menyambar-nyambar ke arah bagian tubuh yang berbahaya, namun dengan mudahnya pemuda itu mengelak dan pukulannya tidak ada yang mengenai sasaran.

Dan sebelum dia melanjutkan serangannya, kini pemuda itu telah membalas dan ujung tongkat bambu itu tergetar menjadi belasan banyaknya yang menyerang ke arah tiga belas jalan darah terpenting di tubuhnya!

"Haiiiittt...!"

Tung-hai Liong-ong membentak nyaring sambil memutar tongkatnya, menangkis tongkat bambu yang ujungnya tergetar menjadi banyak itu.

"Tuk-tuk-tunggg...!"

Tiga kali tongkat bambu bertemu dengan tongkat kepala naga dan Tung-hai Liong-ong terkejut bukan main karena getaran tongkat bambu itu menjalar melalui tongkatnya dan menggetarkan tangannya yang memegang tongkat itu.

Sebelum hilang kagetnya, tongkat bambu itu sudah menotok ke arah pergelangan tangannya.

Totokan ini datangnya cepat bukan main.

Tung-hai Liong-ong menarik tangan kanan yang memegang tongkat dan menggantikan dengan tangan kirinya untuk membebaskan tangan kanannya dari totokan.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ujung tongkat itu seperti ular saja sudah merayap naik dan kini menotok pergelangan tangan kirinya!

Terpaksa datuk itu melepaskan tangan kirinya, akan tetapi dia menghunjamkan tongkat itu ke arah Si Kong sebelum melepaskannya.

Tongkat itu menyambar dahsyat ke arah Si Kong, akan tetapi pemuda itu menggunakan tangan kirinya untuk menangkap tongkat itu lalu dia menancapkan tongkat kepala naga itu ke atas tanah.

Lawannya sekarang telah kehilangan senjata ampuhnya.

"Keparat, kau kira dapat terlepas dari tanganku?"

Bentak Tung-hai Liong-ong dan kini dia menerjang dengan kedua tangan kosong.

Akan tetapi tangannya bahkan lebih berbahaya dari tongkatnya karena kedua tangan itu mengandung ilmu Tok-ciang (Tangan Beracun) yang dapat membuat tubuh lawan menjadi hangus kalau terkena pukulannya.

Si Kong melepaskan tongkat bambunya dan menghadapi serangan dengan tangan kosong lawan dengan tangan kosong pula.

Lawannya adalah seorang datuk yang kenamaan, maka dia tidak dapat membunuhnya begitu saja.

Melihat tangan yang berubah menghitam itu menyambar ke arah kepalanya dengan cengkeraman mengerikan, Si Kong mengelak dan ketika tangan kiri kakek itu menghantam ke arah dada, dia menangkis.

Tangan kiri lawan itu terpental, akan tetapi dengan cepat telah mencengkeram ke arah pundaknya, Si Kong mengerahkan Thi-ki-i-beng ketika melihat cengkeraman ke arah pundaknya itu.

Tangan kiri Tung-hai Liong-ong yang penuh hawa beracun itu bertemu dengan pundak dan kakek itu berteriak kaget.

Tenaganya amblas tersedot oleh pundak itu.

Akan tetapi hanya sebentar.

Karena kaget dia menjadi lengah dan kesempatan itu dipergunakan oleh Si Kong untuk melancarkan pukulan Hok-liong Sin-cang.

Pukulan tangan kanan Si kong itu cepat dan mengandung getaran bergelombang, tidak dapat di elakkan lagi oleh kakek itu.

Tung-hai Liong-ong coba menangkis dengan tangan kanannya.

"Desss...!"

Biarpun dia sudah dapat menangkis pukulan itu, akan tetapi pukulan itu mengandung tenaga yang demikian kuatnya sehingga tubuh kakek itu terpental dan terjengkang ke belakang!

Tung-hai Liong-ong terkejut bukan main.

Tak pernah disangkanya bahwa pemuda itu sehebat itu kepandaiannya.

Dia tahu bahwa kini tingkat kepandaian pemuda itu bahkan sudah melewati tinggi kepandaian Yok-sian Lo-kai!

Maklum bahwa kalau dilanjutkan dia tidak akan menang, dia bangkit berdiri dan berkata.

"Lain kali akan kubalas kekalahan ini!"

Setelah berkata demikian, cepat dia menyambar mayat muridnya, mencabut tongkat naganya dan pergilah dia dengan langkah agak terhuyung.

Ternyata kakek itu telah menderita luka dalam tubuhnya.

Si Kong menghela napas panjang dan tidak melakukan pengejaran.

Dia memberi kesempatan lagi kepada datuk itu untuk mengubah jalan hidupnya, kembali ke jalan benar dan berjanji kepada diri sendiri bahwa kalau lain kali dia bertemu dengan datuk itu dan melihat bahwa Tung-hai Liong-ong masih saja melakukan kejahatan, maka dia akan membasminya.

Kini perhatian Si Kong beralih kepada gadis itu.

cepat dia meloncat mendekati dan sekali tangannya bergerak, gadis itu telah dapat bergerak, gadis itu bangkit berdiri memandang kepada Si Kong dengan kedua mata masih basah.

"Terima kasih atas pertolongan In-kong (tuan penolong),"

Katanya dengan terharu, membayangkan bahwa kalau tidak ada orang ini, entah bagaimana jadinya dengan dirinya.

Akan tetapi ketika memandang wajah Si Kong, Mei Cin teringat dan ia terbelalak.

"Kau... kau... pelayan itu...!"

Si Kong membungkuk dan berkata.

"Nona telah terlepas dari mara bahaya sekarang."

"Kau... kalau begitu... penolong di rumah makan itu, dan di kamar penginapan itu, tentu engkau pula orangnya!"

"Sudahlah, nona. Hal itu tidak perlu dibicarakan lagi."

Mei Cin teringat kepada Ayahnya dan suhengnya dan tiba-tiba ia menangis.

"Ayah... suheng... mereka telah terbunuh. In-kong, tolonglah aku, jangan kepalang menolongku... bantulah aku mengurus jenazah Ayah dan suhengku yang mati di sana."

Ia menunjuk ke depan lalu berlari keluar dari hutan itu, mendaki puncak.

Tadinya Si Kong hendak meninggalkan gadis itu, akan tetapi ketika dia teringat akan dua jenazah itu, diapun merasa kasihan dan segera mengikuti gadis itu mendaki puncak.

Setibanya di puncak, Mei Cin menubruk mayat Ayahnya dan menangis tersedu-sedu.

Si Kong menghela napas dan duduk di atas batu, membiarkan gadis itu menangis karena dalam kedukaan yang mendalam, hanya tangis itu yang akan mampu meringankan himpitan pada hatinya.

Dia teringat akan orang tuanya sendiri yang sudah tiada.

Hidup begini banyak penderitaan, pikirnya.

Akan tetapi bagaimanapun juga, setiap orang harus mampu memikul derita hidupnya sendiri, dengan hati yang kuat karena memang sudah ditakdirkan hidup mengalami semua itu.

Setelah gadis itu agak mereda, dia turun dari atas batu dan menghampiri Mei Cin.

"Nona, sudah cukup, tidak ada gunanya ditangisi lagi. Sekarang yang lebih penting mengurus jenazah Ayah dan suhengmu. Akan di kemanakan dua jenazah ini?"

Gadis itupun bangkit berdiri. Mukanya basah air mata dan agak pucat.

"Saya akan membawa mereka pulang. Kami tinggal di kota Sin-keng di bawah bukit ini."

Si Kong memandang kepada dua jenazah itu.

Bagaimana mengangkut mereka?

Dia tentu kuat membawa mereka, memanggul di kedua pundaknya atau menjinjingnya dengan kedua tangannya, akan tetapi hal itu amat tidak pantas dan kasihan kepada dua jenazah itu kalau hanya dipanggul begitu saja.

"Aku akan mencari bambu, nona. Kau tunggu sebentar di sini."

Katanya dan diapun berkelebat lenyap dari depan gadis itu, memasuki hutan dan tak lama kemudian dia sudah membawa beberapa batang bambu.

Diikatnya bambu-bambu itu menjadi sebuah usungan besar dan dia merebahkan dua jenazah itu berjajar di atas usungan.

"Kita terpaksa mengusung dua jenazah ini, nona, dan membawanya pulang."

"Terima kasih, in-kong. Tidak tahu harus bagaimana aku membalas budimu."

"Sudahlah, jangan bicarakan tentang budi. Mari kita gotong bersama usungan ini."

Mereka berdua lalu menggotong usungan itu.

Mei Cin berjalan di depan sebagai penunjuk jalan sambil memegang ujung kedua bambu usungan sedangkan Si Kong mengangkat di bagian belakang.

Akan tetapi diam-diam pemuda ini mengerahkan tenaganya agar usungan itu tidak terasa terlalu berat bagi Mei Cin.

Demikianlah, bersama dengan turunnya matahari ke barat, Mei Cin yang berjalan sambil menangis perlahan, bersama Si Kong, mengusung dua jenazah itu ke kota Sin-keng.

Mereka memasuki kota setelah hari menjadi gelap dan banyak orang terkejut melihat pemuda dan gadis itu mengusung mayat Gu Kauwsu dan Thi Bun Can.

Segera berdatangan para murid Gu Kauwsu dan mereka membantu mengusung jenazah itu ke rumah keluarga mereka.

Nyonya Gu menyambut dengan jerit tangis memilukan.

Para tetangga segera berdatangan melayat dan sebentar saja sudah tersiar berita di seluruh kota bahwa Gu Kauwsu telah tewas terbunuh oleh penjahat.

Setelah ratap tangis yang memenuhi rumah mendiang Gu Kauwsu itu agak reda, Mei Cin lalu menceritakan kepada ibunya tentang kematian Ayah dan suhengnya.

"Kalau saja tidak muncul dewa penolong... ehh, dimana in-kong?"

Tanyanya sambil mencari-cari dengan pandang matanya di antara para tamu yang datang melayat.

Akan tetapi, gadis itu tidak melihat bayangan Si Kong yang diam-diam sudah pergi karena merasa bahwa tugasnya menolong gadis itu telah selesai.

"In-kong siapa?"

Tanya ibunya.

"Pemuda yang tadi bersama aku menggotong jenazah Ayah dan suheng. Dia tadi masih berdiri di sini!"

Tidak ada seorangpun melihat pemuda itu dan Mei Cin lalu menceritakan semua pengalamannya.

"Sayang dia telah pergi sehingga tidak sempat aku menghaturkan terima kasih."

Kata ibu Mei Cin.

Semua orang yang berada disitu juga menyayangkan hal itu karena mendengar cerita Mei Cin, para murid guru silat Gu itu juga menjadi kagum sekali.

Sedikitpun mereka tidak pernah menyangka bahwa pemuda yang berpakaian sederhana itu ternyata adalah seorang pendekar sakti seperti diceritakan Mei Cin.

Mei Cin sendiri juga merasa kehilangan.

Dara ini merasa kagum sekali kepada Si Kong.

Ia tertarik bahwa pendekar sakti itu sedemikian rendah hati sehingga mau bekerja sebagai pelayan rumah penginapan dan rumah makan.

Ia merasa sayang sekali belum berkenalan dengan pemuda itu, bahkan namanyapun tidak diketahuinya.

Kota Ci-bun merupakan sebuah kota yang ramai.

Kota ini tidak begitu jauh dari kota raja.

Namun di kota itu terdapat banyak pengemis.

Hal ini tidak mengherankan karena pada waktu negara sedang di landa musim kering yang berkepanjangan sehingga semua barang sukar di dapatkan dan mahal harganya, termasuk bahan pangan yang amat dibutuhkan manusia.

Banyak rakyat kecil menderita kelaparan sehingga banyak diantara mereka menjadi pengemis.

Juga keadaan kekurangan bahan makanan ini banya mendorong orang yang tidak kuat batinnya untuk melakukan kejahatan, seperti mencuri, merampok dan lain-lain.

Si Kong melihat benar kesengsaraan rakyat kecil, terutama yang hidup dipedusunan karena dia melakukan perantauan, melalui dusun-dusun dan kota-kota.

Dia melihat betapa kehidupan manusia lebih banyak menderita daripada bahagia.

Dan dia melihat pula kepalsuan manusia.

Mereka yang berada di atas yang memiliki kedudukan dan wewenang, seolah tidak perduli akan kesengsaraan rakyat itu.

Juga para hartawan rapat-rapat menutup pintu gapura rumah mereka, seolah takut kalau-kalau harta benda mereka akan diambil orang, secara sembunyi atau terang-terangan.

Mereka mempergunakan anjing-anjing besar untuk menjaga rumah, dan mengumpulkan banyak tukang pukul untuk melindungi harta mereka.

Si Kong melihat semua ini dan batinnya bergolak.

Mengapa begitu banyak ketidak-adilan terjadi di dunia ini?

Mengapa para pejabat tidak berusaha untuk menolong rakyatnya yang menderita?

Kenapa para hartawan segan mengulurkan tangan, mengurangi sedikit harta mereka untuk menolong mereka yang kelaparan?

Diapun melihat betapa banyaknya jembel-jembel baru berkeliaran di jalan-jalan besar di kota Ci-bun ketika dia memasuki kota itu sambil memanggul buntalan pakaiannya di ujung tongkat bambu.

Melihat keadaan mereka, Si Kong merasa terharu, akan tetapi dia juga merasa bersyukur atas kemurahan Tuhan kepadanya.

Dibandingkan mereka yang berkeliaran di jalan-jalan itu, nasibnya sendiri terhitung baik!

Benarlah kata orang bijaksana jaman dahulu bahwa kalau kita sedang ditimpa kesengsaraan dalam kehidupan ini, sebaiknya kita menundukkan kepala dan memandang ke bawah.

Di sana masih terdapat banyak sekali orang yang keadaannya lebih payah dari pada keadaan kita!

Si Kong merasa heran ketika melihat orang berbondong-bondong menuju satu jurusan.

Mereka itu adalah para pengemis dan orang-orang miskin yang dapat dia ketahui dari pakaian mereka yang lusuh dan muka mereka yang kurus.

Mereka membawa tempat untuk membawa sesuatu, ada yang membawa kertas, kain-kain yang lusuh, panci dan tempat-tempat lain.

Melihat ini, Si Kong menjadi tertarik.

Tentu ada terjadi sesuatu disana yang menarik semua orang itu berkunjung kesana.

Ketika tiba di ujung timur kota itu, tahulah dia apa yang menarik semua orang itu pergi ke situ.

Ternyata di depan gedung seorang hartawan terdapat beberapa orang pelayan sedang membagi-bagi beras dari karung.

Beberapa karung yang masih penuh sudah ditumpuk disitu dan orang-orang yang ingin mendapatkan pembagian beras itu berdiri antri berderet-deret.

Mereka terdiri dari bermacam-macam orang.

Ada yang pria atau wanita, kakek dan nenek, juga ada anak-anak kecil ikut antri.

Si Kong berdiri bengong dan kagum.

Kenyataan yang di lihatnya itu membantah bahwa semua hartawan terlalu pelit dan tidak mau menolong mereka yang kelaparan.

Buktinya hartawan pemilik gedung itu sedang membagi-bagi beras kepada mereka yang membutuhkannya!

Karena terharu dan tertarik tanpa disadarinya dia terdesak banyak orang itu sehingga dia melangkah maju dan masuk ke dalam antrian.

Dia baru menyadari setelah melihat bahwa di belakangnya telah banyak orang antri.

Diapun berdiri dalam antrian untuk mendapatkan beras!

Biarlah, katanya kepada diri sendiri.

Dia memang ingin melihat orang membagi-bagikan beras itu dan hatinya ikut gembira.

Ingin dia melihat siapa hartawan itu dan menyampaikan terima kasihnya.

Seorang hartawan yang juga dermawan dan budiman!

Mendadak terjadi keributan dan antrian itu menjadi kacau ketika muncul seorang laki-laki tinggi besar berpakaian serba hitam yang melangkah maju paling depan.

Tentu saja mereka yang berdiri di depan merasa penasaran dan tidak mengijinkan si tinggi besar menyerobot antrian.

"Harus antri dibelakang!"

Kata orang terdepan.

"Kami juga antri sejak pagi."

Akan tetapi orang tinggi besar berpakaian serba hitam itu menjadi marah dan dua kali tangannya bergerak memukul.

Dua orang terdepan terpelanting roboh oleh pukulan itu.

Semua orang menjadi gentar dan si tinggi besar itu tanpa memperdulikan siapapun sudah berdiri paling depan.

Akan tetapi dia tidak membawa tempat untuk menerima pemberian beras.

"Mana tempat menerima beras?"

Tanya petugas yang membagi-bagi beras, dengan alis berkerut dan pandang mata marah karena diapun melihat betapa si tinggi besar itu memukul dua orang untuk menyerobot antrian.

"Tempat beras apa? Aku minta sekarung dan akan kupanggul sendiri. Berikan sekarung beras!"

Kata si tinggi besar dengan suara galak.

Tentu saja para petugas yang terdiri dari empat orang itu tidak dapat menyetujui permintaan ini.

Sekarung beras!

Beras sebanyak itu kalau dibagi-bagi cukup untuk dua puluh orang!

"Tidak bisa kami memberikan sekarung beras kepada seorang saja.

Kami hanya membagi-bagi rata, lima kati untuk setiap orang, tidak kurang dan tidak lebih!"

"Akan tetapi aku menghendaki sekarung!"

Kata pula si tinggi besar kukuh.

"Majikan kalian The Wan-gwe (Hartawan The) mempunyai beras bergudang-gudang. Apa artinya kalau aku hanya minta sekarung?"

Si tinggi besar itu lalu melangkah maju menghampiri tempat beras dalam karung ditumpuk.

Dengan tangan kirinya dia mengangkat sekarung beras yang beratnya seratus kati itu!

"Heii...!

Kembalikan beras itu!"

Teriak empat orang petugas sambil menghampiri ketika melihat si tinggi besar hendak melangkah pergi.

Akan tetapi, empat kali tangan kanan orang itu menampar dan empat orang petugas itu berpelantingan!

Setelah merobohkan empat orang petugas itu, sibaju hitam dengan lagak sombong memperlihatkan tenaganya.

Dia melempar-lemparkan sekarung beras itu ke atas dan memainkan benda yang cukup berat itu bagaikan sebuah bola saja.

Dia lalu menyambut kembali sekarung beras itu dengan tangan kirinya, lalu memandang ke arah semua orang yang sedang antri dan kini menjadi ketakutan itu.

"Hayo, siapa lagi yang hendak melarang aku mengambil beras itu? Majulah untuk menerima hajaranku!"

Para pekerja itu sudah melapor ke dalam dan kini mucul Hartawa The dari pintu depan.

Dia seorang laki-laki berusia enam puluh tahun dan dari sikapnya yang lemah lembut, wajahnya yang penuh senyum ramah dan pandang matanya yang lembut, dapat diketahui bahwa dia seorang yang baik hati.

Melihat lagak si baju hitam itu, dengan lembut dia berkata kepada para pembantunya.

"Biarkan dia pergi membawa sekarung beras itu."

Si baju hitam mendengar ucapan itu dan diapun menoleh.

"Ha-ha kalian dengar sendiri itu? Hartawan The tidak keberatan aku membawa sekarung beras ini, bahkan kalau aku setiap saat membutuhkan tentu akan boleh datang mengambil lagi beberapa karung!"

Setelah berkata demikian, sambil tertawa-tawa si baju hitam itu melangkah pergi dari situ.

Si Kong tidak dapat menahan kesabarannya lagi.

Orang itu telah bertindak dan bersikap keterlaluan, dan orang seperti itu yang suka memaksakan kehendak sendiri merupakan bahaya bagi umum.

Dia melangkah keluar dari antrian dan menghadang si baju hitam.

"Perlahan dulu, sobat. Engkau lupa bahwa sekarung beras itu disediakan untuk orang banyak, bukan untuk memenuhi keserakahanmu. Hayo cepat kembalikan sekarung beras itu pada tempatnya dan kalau membutuhkan beras, harus berdiri di belakang antrian untuk mendapatkan lima kati beras!"

Si baju hitam itu membelalakkan matanya, seolah tidak percaya bahwa ada seorang, masih amat muda lagi, berani mengeluarkan ucapan seperti itu kepadanya.

Agaknya pemuda itu sudah bosan hidup!

Dengan mata melotot dia membentak.

"Apa? Kau ingin aku mengembalikan beras ini? Nah, sambutlah!"

Dia lalu melontarkan sekarung beras yang berat itu kepada Si Kong dengan pengerahan tenaga.

Sekarung beras itu meluncur ke arah Si Kong, dan seandainya bukan Si Kong yang menerimanya, tentu akan roboh terjengkang tertimpa beras sekarung!

Akan tetapi, dengan mudah Si Kong menerima beras itu dan sekali tangannya bergerak, sekarung beras itu telah melayang dan jatuh di atas tumpukan beras, kembali di tempatnya semula.

"Jahanam keparat kau! Mampuslah!"

Si baju hitam berteriak sambil menerjang ke arah Si Kong, menubruknya seperti seekor harimau menerkam kambing.

Si Kong dengan tenang menggeser kakinya kesamping dan begitu tubuh tinggi besar itu lewat, dia menggerakkan kakinya kedepan dan tanpa dapat dihindarkan lagi, si baju hitam itu terperosok ke depan dan jatuh menelungkup!

Terdengar suara "Ngekk!"

Ketika dia terbanting.

Semua orang yang sedang antri beras tersenyum gembira melihat betapa si baju hitam itu dirobohkan pemuda yang berpakaian sederhana ini.

Akan tetapi si baju hitam cepat merangkak bangun dan meloncat berdiri.

Hidungnya berdarah dan dia kelihatan marah bukan main.

"Setan! Berani kau melawanku?"

Kembali dia menyerang dan sekali ini dia tidak menyerang secara sembarangan saja, melainkan menggunakan ilmu silat.

Tangan kanannya melayang ke arah kepala Si Kong, tangan kirinya menyusul menusuk ke arah perut pemuda itu dengan jari-jari tangan terbuka.

"Duk-duk!"

Kedua tangan itu tertangkis oleh Si Kong.

Akan tetapi si baju hitam itu memang tidak tahu diri.

Biarpun tangkisan tangan pemuda itu membuat kedua lengannya terasa panas dan nyeri sekali, dia tidak menjadi jera dan kini kaki kanannya menendang dengan pengerahan tenaga sekuatnya.

Kaki itu menyambar ke arah perut Si Kong dan merupakan serangan yang amat berbahaya.

Namun dengan tenang Si Kong menanti sampai kaki itu dekat dengan perutnya, kemudian tiba-tiba saja dia menarik dirinya ke belakang sambil melangkahkan kaki.

Ketika kaki kanan si baju hitam itu menyambar lewat, secepat kilat Si Kong menggunakan tangan kiri menangkap tumit kaki itu dan mendorongnya ke atas lalu kedepan.

Tubuh si baju hitam itu terlempar dan kembali terbanting, akan tetapi sekali ini dia terbanting telentang.

"Ngekkk...!"

Si baju hitam meringis kesakitan.

Tulang belakangnya seperti patah-patah rasanya ketika pinggulnya terbanting ke atas tanah.

Sekali ini para penonton tertawa dengan hati senang.

Si Kong menghampiri si baju hitam yang sudah bangkit duduk dengan muka meringis.

"Masih belum jera dan hendak melanjutkan perkelahian? Silakan bangkit berdiri, aku sudah siap!"

Si baju hitam yang masih merasa nyeri bagian belakang tubuhnya itu bengkit berdiri, memandang dengan mata melotot kepada Si Kong lalu berkata.

"Kau tunggu saja pembalasanku!"

Setelah berkata demikian diapun pergi dengan terhuyung-huyung sambil kedua tangannya menekan pinggulnya.

Hartawan The yang menyaksikan semua itu, menghampiri Si Kong dan berkata.

"Orang muda, terima kasih atas bantuanmu mengusir orang jahat itu. Akan tetapi, bagaimana kalau dia kembali dengan kawan-kawannya?"

"Harap Lo-ya (tuan besar) tidak khawatir. Kalau diperbolehkan, saya ingin membantu Lo-ya dalam pembagian beras kepada rakyat kecil yang miskin ini."

"Engkau hendak bekerja membantu kami? Tentu saja boleh dan kebetulan sekali. Kami angkat engkau menjadi pengawas dan pengatur pembagian beras yang kami lakukan setiap hari, dari pagi sampai sore."

"Terima kasih banyak, Lo-ya."

"Siapakah namamu, anak muda?"

"Nama saya Si Kong, Lo-ya."

Hartawan itu berkata kepada empat orang pembantunya yang tadi dirobohkan si baju hitam.

"Mulai sekarang, Si Kong ini menjadi pengawas dan pengatur pekerjaan kalian."

Empat orang petugas itu menyambut dengan gembira karena mereka merasa ada yang melindungi kalau-kalau si perusuh tadi kembali membawa teman-temannya.

Baca Juga: Bu Kek Siansu 1

Baca Juga: Cinta Bernoda Darah 1

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert