Eps 3 Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Kelana - Kho Ping Hoo.
Hartawan The lalu masuk ke dalam rumah kembali dan Si Kong segera mengatur antrian itu agar jangan menjadi kacau.
Empat orang petugas itu senang karena biarpun di angkat menjadi pengawas dan pengatur, ternyata Si Kong juga membantu mereka membagi beras, bahkan mengangkat beras dalam karung yang belum dibuka.
Sementara itu, Hartawan The memasuki rumahnya dan merasa bersukur bahwa peristiwa kerusuhan telah berlalu, akan tetapi diapun merasa khawatir kalau-kalau para perusuh datang lagi.
Dia kembali keruangan tamu di mana tadi dia bercakap-cakap dengan seorang gadis cantik berusia delapan belas tahun.
Bersama isterinya, dia tadi bercakap-cakap disitu ketika dia dilapori oleh pembantunya akan keributan yang terjadi diluar.
Gadis itu bernama Tan Kiok Nio, datang dari kota Sia-lin.
Ibu gadis itu adalah adik Hartawan The Kun.
Begitu datang di sambut Hartawan The dan isterinya, Kiok Nio menangis sedih dalam rangkulan isteri The-wan-gwe.
Dengan heran dan khawatir, Hartawan The Kun dan isterinya bertanya mengapa gadis itu menangis.
Setelah tangisnya reda, Kiok Nio lalu menceritakan malapetaka yang menimpa keluarganya.
Ayah Kiok Nio bernama Tan Tiong Bu, seorang pendekar besar yang namanya terkenal di dunia kang-ouw.
Keluarga Tan ini tinggal di kota Sia-lin, sebelah selatan kota raja.
Tan-Taihiap, sebutan Tan Tiong Bu memiliki sebuah rumah besar dan diapun memiliki sawah ladang yang luas sehingga kehidupan keluarganya cukup mampu biarpun tak dapat dibilang kaya raya.
Di waktu mudanya, Tan Tiong Bu pernah menjadi murid di biara Siauw-lim-pai, kemudian pernah pula menjadi murid Bu-tong-pai.
Dia terus memperdalam ilmu-ilmunya sehingga akhirnya dia dapat menggabungkan semua ilmu itu dan merangkai ilmu pedang yang hebat.
Ilmu pedang ini hanya dinamakan ilmu pedang keluarga Tan.
Diwaktu mudanya dia malang melintang di dunia kang-ouw, mengalahkan banyak tokoh sesat dan sebagai pendekar dia selalu menegakkan kebenaran dan keadilan.
Setelah dia menikah dengan seorang gadis yang menjadi adik Hartawan The, dan mempunyai seorang anak perempuan, Tiong Bu mengurangi petualangannya.
Akan tetapi namanya tersohor dan dia disegani orang-orang kang-ouw.
Kemudian muncul berita angin bahwa pedang Pek-lui-kiam berada di tangan Tan-Taihiap ini.
Pedang itu semenjak lama telah menjadi perebutan di antara orang-orang kang-ouw dan sudah terjadi banyak perkelahian dan pembunuhan untuk memperebutkannya.
Akhir-akhir ini tersiar berita yang mengejutkan, yaitu matinya beberapa tokoh kang-ouw yang diketahui mencoba untuk mendapatkan Pek-lui-kiam.
Mereka itu mati dalam keadaan mengerikan, dengan kepala putus terlepas dari lehernya.
Padahal yang tewas itu adalah orang-orang terkenal di dunia persilatan, baik dari golongan bersih maupun dari golongan sesat.
Maka peristiwa itu amat menggemparkan dunia persilatan.
Banyak orang menduga bahwa Tan Tiong Bu yang menjadi pelaku pembunuhan itu karena ada berita bahwa pedang Pek-lui-kiam berada di tangannya.
Tan Tiong Bu sendiri tidak mengacuhkan berita itu.
Dia tidak merasa membunuh.
Adapun tentang pedang Pek-lui-kiam memang berada padanya, sebagai pemilik yang sah.
Pada suatu hari, hawa udara amat panasnya.
Musim kering yang berkepanjangan mendatangkan hawa yang panas.
Terlalu lama bumi di panggang sinar matahari, tidak pernah mendapat siraman air hujan.
Karena merasa panas, Tan Tiong Bu dan isterinya duduk di beranda depan yang terbuka agar mendapatkan angin.
Puteri mereka sedang tidak berada di rumah.
Gadis itu memang sudah biasa pergi keluar rumah dan orang tuanya tidak merasa khawatir.
Sebagai anak tunggal, biarpun ia seorang wanita, akan tetapi ia telah mewarisi ilmu-ilmu silat dari Ayahnya, bahkan telah mahir memainkan ilmu pedang keluarga Tan.
Karena itu kepergian Kiok Nio dari rumah tidak pernah di khawatirkan orang tuanya.
Tiba-tiba dari pintu pagar diluar masuklah seorang kakek berusia sekitar enam puluh tahun.
Tan Tiong Bu mengerutkan alisnya dan memandang penuh perhatian kepada orang yang kini melangkah tenang memasuki halaman depan itu.
Dia seorang yang menggelung rambutnya ke atas dan mengikat rambut itu dengan pita merah!
Dan pakaiannya seperti pakaian pertapa atau pendeta, dengan jubah longgar berlengan lebar.
Akan tetapi yang terasa aneh, jubah itu berwarna merah!
Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebuah kipas yang gagangnya terbuat daripada baja.
Melihat pakaian serba merah itu Tan Tiong Bu terkejut.
Biarpun belum pernah bertemu, akan tetapi dia sudah mendengar akan adanya seorang datuk di barat yang berjuluk Ang I Sianjin (Manusia Dewa Berbaju Merah).
Menurut keterangan yang diperolehnya, Ang I Sianjin adalah seorang datuk yang berilmu tinggi, akan tetapi menggunakan ilmunya di jalan yang sesat dan suka memaksakan kehendaknya kepada orang lain.
Tentu saja mengingat keadaan kakek itu, Tan Tiong Bu merasa tidak senang kedatangan datuk sesat itu.
Akan tetapi sebagai tuan rumah, mau tidak mau dia harus menyambut kedatangan tamu.
Maka Tan Tiong Bu bangkit berdiri dan menyambut ke depan sambil mengangkat kedua tangan di depan dada sambil berkata.
"Selamat datang sobat. Engkau siapakah dan ada keperluan apa datang berkunjung?"
Kakek tinggi kurus itu tersenyum, senyumnya mengandung ejekan.
Dia tertawa terkekeh sebelum menjawab.
"Heh-heh-heh! Apakah aku berhadapan dengan pendekar besar Tan Tiong Bu?"
"Benar sekali. Dan kalau tidak salah, yang datang berkunjung ini adalah Ang I Sianjin, benarkah?"
"Heh-he-he-heh! Ternyata matamu tajam sekali. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan ilmu silat keluarga Tan."
"Lalu apa maksud kunjungan ini, Sianjin?"
"Aku ingin bertanding denganmu!"
"Aih, Sianjin. Mengapa kita harus bertanding kalau diantara kita tidak ada urusan apapun?"
"Hemm, jadi engkau tidak berani menerima tantanganku?"
"Tidak ada alasan bagiku untuk bertanding denganmu, Sianjin. Mari silakan duduk dan kita membicarakan hal lain saja sebagai sahabat. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga."
"Heh-he-he-heh! Bagus sekali kalau begitu. Engkau mau menerimaku sebagai sahabat, tentu tidak keberatan kalau memberi pinjam Pek-lui"kiam kepadaku!"
Tan Tiong Bu terkejut sekali.
Memang ada berita angin bahwa para tokoh dunia persilatan menginginkan pedang pusakanya, yaitu Pek-lui-kiam.
Karena ada beritu itu, dia menyembunyikan pedang pusaka itu di dalam kamarnya dan tidak pernah membawanya keluar rumah.
Sekarang, sudah terjadi hal yang dikhawatirkan, yaitu para tokoh kang-ouw tentu akan mendatanginya dan berusaha merebut Pek-lui-kiam.
"Tidak ada pedang Pek-lui-kiam padaku."
Kata Tan Tiong Bu tegas.
"Hemm, kalau begitu engkau tidak ingin menjadi sahabtku? Cabutlah pedangmu, hari ini aku ingin sekali mencoba kepandaian keluarga Tan. Pilih salah satu. Serahkan Pek-lui-kiam padaku dan aku pergi, atau engkau harus melawan pedangku!"
Tan Tiong Bu adalah seorang pendekar besar.
Tentu saja ditantang dan didesak seperti itu, dia menjadi marah.
Kalau dia berbohong mengatakan bahwa Pek-lui-kiam tidak ada padanya, hal itu dilakukan untuk menghindarkan perkelahian dan permusuhan, bukan karena takut.
Dia menoleh kepada isterinya.
"Ambilkan pedangku yang tergantung di dinding kamar itu."
Isterinya pergi ke dalam tanpa mengucapkan sesuatu karena wanita ini sudah maklum bahwa suaminya adalah seorang pendekar besar dan sewaktu-waktu seorang pendekar tentu akan ditantang orang untuk bertanding.
Akan tetapi, wanita itu merasa jantungnya berdebar karena tegang dan gelisah.
Setelah isterinya kembali membawa pedangnya, dia lalu menghadapi Ang I Sianjin dan berkata dengan lantang.
"Ang I Sianjin, diantara kita tidak ada permusuhan. Karena engkau memaksa dan menantang, terpaksa aku melayanimu!"
Dia mencabut pedangnya yang berkilauan saking tajamnya, dan menyerahkan sarung kepada isterinya.
Ang I Sianjin tadinya memandang dengan wajah berseri ketika isteri Tan Tiong Bu menyerahkan pedang kepada suaminya.
Dia mengira bahwa pendekar itu akan mempergunakan Pek-lui-kiam.
Akan tetapi ketika pedang itu di cabut, dia merasa kecewa.
Pedang di tangan lawannya itu memang pedang baik, akan tetapi sama sekali bukan Pek-lui-kiam.
"Engkau tidak mau menyerahkan Pek-lui-kiam, jangan katakan aku kejam kalau aku akan membunuhmu dan merampas Pek-lui-kiam!"
Kata Ang I Sianjin sambil mencabut pula peangnya dengan tangan kanan.
Setelah berseru lantang diapun mulai dengan serangannya yang dhasyat.
"Tranggg...!"
Tan Tiong Bu menangkis dan dia merasakan getaran hebat dan hawa panas menyerang seluruh lengannya.
Tahulah dia bahwa lawannya itu lihai bukan main.
Karena itu dia segera mainkan ilmu pedang keluarga Tan yang telah terkenal di dunia persilatan itu.
Ang I Sianjin terkejut dan kagum ketika hampir saja perutnya terkena tusukan lawan.
Dia meloncat kebelakang dan karena diapun tahu bahwa lawannya merupakan lawan yang lihai, dia lalu memutar pedangnya dan juga mainkan kipasnya dengan tangan kiri.
Ternyata permainan pedang dan kipas itu serasi sekali, dapat saling bantu dan saling menutupi lowongan kalau sedang menyerang.
Kini Tan Tiong Bu yang terkejut.
Biasanya, kalau lawan menyerang tentu akan membuka pertahanan untuk balas diserang.
Akan tetapi setelah lawanya mainkan kipas dan pedang, ketika lawan menyerang sama sekali tidak ada bagia tubuh yang terbuka pertahanannya.
Kalau pedang yang menyerang, kipas yang bertahan, sebaliknya kalau kipas baja itu dipakai menyerang, pedang yang bertahan.
Dengan demikian, Tan Tiong Bu tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk membalas serangan lawan.
Setelah pertandingan yang seru berlangsung lima puluh jurus, pundak kiri Tan Tiong Bu terkena tusukan gagang kipas baja sehingga dia terhuyung dan pundaknya berdarah.
Melihat lawannya terhuyung, Ang I Sianjin tertawa dan menubruk ke depan dengan pedangnya.
"Tranggg"!"
Pedangnya tertangkis dari samping dan ternyata yang menangkis pedang itu adalah isteri Tan Tiong Bu.
Untuk menyelamatkan suaminya, nyonya itu dengan nekat menggunakan pedang yang tadinya di bawa pula dari dalam untuk menangkis.
Padahal, dalam ilmu silat pengetahuannya masih rendah.
Ang I Sianjin marah dan kipasnya bergerak ke arah nyonya itu.
Ujung kipas itu dengan tepat menusuk leher dan sambil mengeluh isteri Tan Tiong Bu roboh terpelanting.
Melihat ini, Tan Tiong Bu terkejut dan marah sekali.
Dia meloncat ke depan dan menyerang lawan sekuat tenaga tanpa memperdulikan pundak kirinya yang terasa nyeri.
Akan tetapi karena hatinya gelisah mengingat keadaan isterinya, permainan pedangnya pun kurang tetap dan kesempatan ini dipergunakan oleh Ang I Sianjin untuk menghunjamkan serangan pedang dan kipasnya.
Tan Tiong Bu beruaha membela diri, akan tetapi dia kalah cepat, ketika pedangnya terpental karena bertemu kipas, tahu-tahu pedang Ang I Sianjin telah menembus dadanya.
Darah muncrat dan tubuh Tan Tiong Bu berguling.
Akan tetapi pendekar ini masih dapat mengarahkan kejatuhan tubuhnya dekat isterinya.
Dia masih dapat memeriksa keadaan isterinya dan ketika melihat bahwa isterinya telah tewas, dia menudingkan telunjuknya yang berlepotan darah isterinya kepada Ang I Sianjin dan berkata.
"Kau"
Iblis... terkutuk...!"
Tubuh Tan Tiong Bu terkulai dan diapun menghembuskan napas terakhir.
Ang I Sianjin tidak memperdulikan lagi suami isteri yang sudah mati itu.
Dia meloncat ke dalam rumah dan mulai melakukan penggeledahan untuk mencari Pek-lui-kiam.
Ketika bertemu dua orang pembantu rumah tangga itu, seorang pria dan seorang wanita, tanpa berkata apapun tangannya bergerak dan kedua orang pembantu itu tewas dengan kepala retak!
Ang I Sianjin menggeledah kamar Tan Tiong Bu dan akhirnya dia dapat menemukan pedang pusaka itu yang tersimpan di dalam almari pakaian pendekar itu.
Dia mencabut pedang itu.
sinar kilat menyilaukan mata ketika pedang dicabut.
Kakek itu tertawa-tawa gembira.
"Heh-he-he-heh! Inilah Pek-lui-kiam! Kini terjatuh ketanganku! Aku akan menjadi jagoan tanpa tanding dengan pedang ini, heh-heh-heh!"
Dia menyarungkan kembali pedang itu, menyelipkannya diikat pinggangnya kemudian dia berlari keluar dengan cepat sekali.
Ketika seorang tetangga datang untuk suatu keperluan ke rumah keluarga Tan, dia terkejut sekali melihat Tan Tiong Bu dan isterinya menggeletak di halaman dekat beranda dalam keadaan tak bernyawa lagi dan tubuhnya mandi darah.
Tetangga ini keluar sambil berteriak-teriak minta tolong.
Para tetangga lain datang berlarian dan mereka semua merasa terkejut dan ngeri.
Apalagi ketika mereka menemukan mayat dua orang pembantu rumah tangga keluarga Tan.
Para tetangga lalu merawat empat jenazah itu.
Menjelang sore, Tan Kiok Nio pulang ke rumahnya.
Gadis itu terkejut dan heran melihat banyaknya orang dirumahnya.
Ia berlari cepat memasuki halaman rumahnya dan tertegun melihat empat buah peti mati berjajar di beranda.
Wajahnya menjadi pucat, jantungnya berdebar-debar dan iapun meloncat menghampiri peti mati.
Ketika melihat peti mati yang masih belum di tutup itu dan menjenguk ke dalamnya, gadis itu menjerit-jerit.
Ia lari dari satu peti ke peti yang lain.
"Ayah...! Ibu...! Kalian kenapa... kenapa...?"
Gadis itu lunglai dan roboh pingsan.
Para wanita tetangga yang berada di situ ikut menangis dan beramai-ramai mereka mengangkat gadis yang pingsan itu ke kamarnya.
Setelah sadar dari pingsannya, Kiok Nio bangkit dan cepat berlari keluar.
Bukan, bukan mimpi!
Di beranda itu terdapat empat buah peti mati berisi mayat-mayat Ayahnya, ibunya, dan dua orang pembantunya.
Iapun menubruk peti ibunya dan menangis tersedu-sedu sambil memanggili ibunya, kemudian menubruk peti Ayahnya dan sambil menangis, memanggili nama Ayahnya.
Para tetangga membiarkan gadis itu melampiaskan dukanya melalui air mata.
Setelah tangisnya mereda, barulah para wanita tetangga menghiburnya.
"Mereka sudah meninggal dunia, walau ditangisi juga tidak ada gunanya, nona. Sekarang sebaiknya kita mengurus jenaza-jenazah itu."
Kiok Nio dapat menekan perasaan dukanya, lalu bertanya.
"Apa yang telah terjadi? Mengapa Ayah ibu mati? Siapa yang membunuhnya?"
"Tidak ada yang tahu, nona. Hanya kebetulan saja seorang tetangga ketika lewat melihat seorang kakek berjubah merah, tinggi kurus dan mukanya pucat keluar dari halaman rumah ini. Tetangga itu mempunyai urusan dengan Ayahmu maka dia masuk ke halaman dan melihat Ayah ibumu sudah menggeletak di halaman dalam keadaan tidak bernyawa. Kami semua memasuki rumahmu dan melihat dua orang pembantumu juga sudah tewas pula."
"Kakek tinggi kurus berjubah merah? Siapa dia?"
Kiok Nio bangkit berdiri dan mengepal kedua tinjunya.
"Siapa dia?"
"Nona, sayalah yang melihat kakek itu, akan tetapi saya tidak mengenalnya. Akan tetapi dia mudah di kenal. Jubahnya itu yang aneh, mirip jubah pendeta akan tetapi berwarna merah dan rambutnya yang di gelung ke atas juga diikat pita merah."
Kata tetangga yang melihat kakek itu dan yang pertama kali menemukan mayat Tan Tiong Bu dan isterinya.
"Siapapun adanya orang itu, pasti akan kucari dan kubalas dendam ini!"
Kiok Nio lalu berlari keluar dengan gerakan cepat dan ia mencari-cari kakek itu diseluruh pelosok kota.
Para tetangga tidak berani melarangnya dan hanya menunggu peti-peti mati itu.
Akhirnya Kiok Nio pulang dengan wajah lesu.
Ia tidak berhasil menemukan musuh besarnya.
Setelah jenazah Ayah ibunya dimakamkan, Kiok Nio tidak betah tinggal seorang diri di dalam rumah itu dan sebulan kemudian, ia pergi meninggalkan rumahnya dan pergi ke kota Ci-bun untuk mengunjungi pamannya, yaitu Hartawan The Kun.
Di depan paman dan bibinya ia menangis menceritakan tentang kematian Ayah ibunya.
Tentu saja The Kun menjadi terkejut bukan main.
"Kau tinggallah bersama kami disini, Kiok Nio. Engkau sudah yatim-piatu, anggaplah kami sebagai orang tua sendiri. Kebetulan kami juga tidak mempunyai anak."
Karena paman dan bibinya amat ramah dan Kiok Nio tahu bahwa pamannya itu adalah seorang hartawan yang budiman dan dermawan, maka ia suka tinggal disitu.
Demikianlah riwayat gadis cantik manis yang tinggal di rumah Hartawan The Kun dan mari kita kembali keluar gedung untuk melihat apa yang terjadi di tempat pembagian beras itu.
si Kong bekerja dengan rajin sehingga menyenangkan empat orang lainnya.
Akan tetapi, seperti yang dikhawatirkan semua orang, mendadak datang lima orang yang kesemuanya berpakaian hitam dan kelihatan sikap mereka yang kasar dan tubuh mereka yang kokoh kuat.
Di antara lima orang itu terdapat si baju hitam yang tadi hendak merampas beras sekarung dan dapat di usir oleh Si Kong.
"Di mana pemuda jahanam yang tadi berani memukul aku?"
Teriak si baju hitam itu. Sebelum Si Kong melangkah maju, terdengar bentakan halus.
"Bangsat pengacau, kalian datang untuk mencari penyakit!"
Semua orang terkejut dan menengok.
Ternyata Kiok Nio sudah berdiri disitu.
Gadis ini tadi mendengar cerita pamannya tentang si baju hitam yang memaksa hendak mengambil sekarung beras akan tetapi pengacau itu dapat diusir seorang pemuda yang kini diterimanya sebagai pembantu bekerja membagi-bagi beras.
Gadis itu merasa menyesal mengapa ia tadi tidak ikut keluar sehingga dapat menghajar sendiri pengacau itu.
Kini, mendengar ribut-ribut di luar ia cepat meloncat keluar dan melihat lima orang itu, ia lalu membentak mereka.
Si baju hitam dan empat orang kawannya mendengar bentakan itu lalu menoleh.
Kiranya yang membentak mereka adalah seorang gadis cantik.
Meliha Kiok Nio, si baju hitam lau maju menghampiri, diikuti emoat orang temannya.
"Nona manis,"
Kata si baju hitam sambil menudingkan telunjuknya.
"Jangan engkau mencampuri urusan kami, atau aku akan menangkapmu untuk kujadikan isteriku!"
Empat orang kawannya juga menyeringai menjemukan.
"Jahanam busuk, kalau engkau dan teman-temanmu ini datang untuk mengacau, aku sendiri yang akan memberi hajaran kepada kalian!"
Pada saat itu, dari dalam rumah muncul Hartawan The Kun.
Melihat keponakannya berhadapan dengan lima orang laki-laki yang menyeramkan, diapun cepat berkata.
"Kiok Nio, jangan berkelahi!"
Lalu kepada si baju hitam dia berkata.
"Kalau kalian menginginkan beras ambillah akan tetapi harap jangan bikin kacau disini."
Si Kong sejak tadi terheran-heran melihat seorang gadis cantik berani menantang lima orang berandal itu.
Melihat pedang di punggung gadis itu, dia tahu bahwa gadis itu tentu seorang yang pandai ilmu silat.
Ketika Hartawan The Kun muncul dan menegur gadis yang di panggil Kiok Nio itu, Si Kong mengira bahwa gadis itu puteri Hartawan The.
Dia lalu menghampiri dan berkata kepada si baju hitam.
"Sobat, engkau berani datang lagi membawa teman-temanmu. Majulah, aku tidak takut kepada kalian."
"Tidak!"
Gadis itu berkata cepat.
"Aku yang akan menghajar lima orang ini kalau mereka tidak cepat pergi dari sini. Paman The, jangan khawatir, aku dapat menandingi mereka. Hayo, anjing baju hitam, aku tantang kalian. Kalau kalian tidak berani, cepat kalian pergi dari sini dan jangan menganggu ketenteraman."
Si baju hitam tentu saja menjadi marah mendengar dirinya disebut anjing hitam oleh seorang gadis.
Itu merupakan penghinaan besar, apalagi diucapkan di depan banyak orang yang sedang antri beras.
"Gadis kurang ajar, berani engkau menghina kami!"
Dan setelah bekata demikian, dia menerjang maju dengan gerakan cepat sambil mengembangkan kedua lengannya seolah hendak menerkam Kiok Nio.
Akan tetapi dengan gesitnya Kiok Nio mengelak kesamping sehingga terkaman itu luput.
Empat orang kawan si baju hitam melihat kawannya sudah mulai bergerak, tidak tinggal diam.
Mereka semua ingin sekali dapat membekuk dan memeluk gadis cantik itu, maka tanpa diperintah lagi mereka sudah mengepung Kiok Nio dengan sikap yang kasar menakutkan.
Melihat dia dikepung lima orang laki-laki tinggi besar itu, Kiok Nio sama sekali tidak gentar.
Akan tetapi ia tidak mau beradu tangan dan lengan dengan mereka, maka sekali tangan kanannya bergerak ke punggung, ia telah mencabut sebatang pedang dan melintangkan pedang itu di depan dada!
Melihat ini si baju hitam dan kawan-kawannya juga mencabut senjata mereka berupa golok yang besar dan tajam.
"Kawan-kawan, hati-hati jangan lukai nona manis ini. Sayang kalau kulitnya yang halus itu ada yang lecet, ha-ha-ha!"
Kawan-kawannya juga tertawa mendengar ucapan ini.
Ucapan si baju hitam itu membuat Kiok Nio menjadi marah sekali.
"Lihat serangan!"
Bentaknya dan pedangnya udah berkelebat ke depan menyerang si baju hitam.
Orang ini terkejut bukan main.
Serangan sedemikian cepatnya sehingga hampir saja dia terkena tusukan pada dadanya.
Dia menggerakkan goloknya menangkis sambil melompat mundur dan kini empat orang kawannya maju dengan golok mereka, menyerang Kiok Nio dari empat jurusan.
Akan tetapi Kiok Nio memutar pedangnya dan terdengar suara nyaring berdenting empat kali.
Selanjutnya gadis itu memainkan ilmu pedang keluarga Tan dan lima orang lawannya menjadi terkejut dan mata mereka silau.
Pedang di tangan Kiok Nio berubah menjadi segulungan sinar yang terang dan menyambar-nyambar ke arah tubuh mereka!
Lima orang itu kini hanya mampu membela diri dengan tangkisa-tangkisan dan berlompatan ke sana sini untuk menghindarkan sinar pedang yang makin lama semakin cepat itu.
Si Kong yang tadinya merasa khawatir dan siap-siap membantu atau menolong kalau gadis itu terancam bahaya, kini sebaliknya menjadi kagum bukan main.
Gadis itu memiliki ilmu pedang yang dahsyat dan tahulah dia bahwa gadis itu tidak akan kalah dikeroyok lima orang itu.
Dugaan Si Kong memang tepat.
Setelah lewat belasan jurus, pedang di tangan Kiok Nio telah mengurung lima orang itu dan orang yang pertama roboh terpelanting adalah si baju hitam.
Pedang Kiok Nio melukai pangkal lengan kanannya sehingga dia terpaksa melepaskan goloknya dan roboh, memegangi lengan (Lanjut ke
Jilid 07) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 07 kanan yang terluka itu sambil mengaduh-aduh.
Pedang itu berkelebatan terus dan berturut-turut empat orang pengeroyok yang lain juga roboh.
Ada yang terluka pundaknya, ada yang robek pahanya dan orang ke lima roboh oleh tendangan kaki Kiok Nio yang tepat mengenai perut, membuat orang itu perutnya mulas!
Tepuk sorak terdengar ketika mereka yang antri beras itu melihat lima orang itu dapat dirobohkan oleh gadis itu.
si Kong juga ikut bertepuk tangan memuji dengan hati lega karena selain gadis itu dapat menang, akan tetapi terutama sekali gadis itu tidak membunuh orang.
Dengan ilmu pedang seperti itu, kalau gadis itu hendak membunuh para pengeroyoknya, hal itu dapat dilakukan dengan mudah.
Akan tetapi gadis itu hanya membuat mereka luka ringan saja.
hal inilah yangmengagumkan hati Si Kong.
Setelah hari menjadi sore dan pekerjaan membagi-bagi beras itu selesai The-wan-gwe memanggil Si Kong.
Si Kong segera memasuki ruangan depan dan disitu telah duduk The Kun, isterinya dan Tan Kiok Nio.
Si Kong memberi hormat kepada mereka.
"Inilah pemuda yang bernama Si Kong itu yang telah mengusir pengacau."
The Kun memperkenalkan kepada isteri dan keponakannya. Kemudia berkata kepada Si Kong.
"Si Kong, ini adalah isteriku dan itu adalah keponakanku bernama Tan Kiok Nio."
Kembali Si Kong memberi hormat.
"Duduklah, Si Kong. Kami memanggilmu untuk diajak berunding."
Si Kong mengambil tempat duduk.
"Urusan apakah yang hendak dirundingkan, Lo-ya?"
"Sebelumnya kami ingin mengtehui engkau berasal dari mana, dan siapa gurumu?"
"Saya dulu ketika masih kecil tinggal di Ki-ceng, akan tetapi sejak saya berusia sepuluh tahun saya berkelana seorang diri karena orang tua saya sudah meninggal dunia. Saya selalu merantau dan dalam perantauan itu saya belajar silat dari beberapa orang guru. Ketika tadi saya melihat di kota ini ada seorang dermawan membagi-bagi beras, hati saya tertarik dan beruntung saya dapat membantu Lo-ya."
"Dan kami berterima kasih sekali kepadamu, Si Kong. Keponakanku ini kebetulan datang sehingga ia dapat mengusir lima orang pengacau tadi."
"Siocia memiliki ilmu yang sangat tinggi, sungguh mengagumkan sekali."
Kata Si kong dengan sejujurnya karena dia memang melihat betapa hebatnya ilmu pedang gadis itu.
"Keponakanku ini adalah puteri seorang pendekar besar yang namanya terkenal di dunia persilatan, bernama Tan Tiong Bu, tentu saja ia memiliki ilmu yang tinggi warisan dari Ayahnya."
"Ah, paman harap jangan memuji terlalu tinggi. Di dunia ini terdapat banyak sekali orang sakti, bahkan mendiang Ayah juga dikalahkan dan di bunuh orang yang tentu lebih pandai."
Kata Kiok Nio merendah. Hartawan The menghela napas panjang.
"Betapa banyaknya orang jahat di dunia ini. Seperti para pengacau tadi, mereka adalah orang-orang yang amat jahat. Entah mengapa mereka memusuhi aku. Si Kong, engkau sudah banyak merantau di dunia kang-ouw, mungkin engkau mengenal mereka itu siapa dan dari perkumpulan apa?"
Si Kong menggeleng kepalanya.
"Maaf, Lo-ya. Saya baru saja hari ini memasuki kota Ci-bun. Saya sama sekali tidak mengenal mereka."
Kiok Nio yang ikut mencurahkan perhatian kepada percakapan itu berkata.
"Mereka berpakaian serba hitam semua, tentu mereka itu anggauta sebuah perkumpulan. Dan melihat pakaian dan penampilan mereka, mereka itu tentu anggauta-anggauta perkumpulan perampok atau perkumpulan pengemis yang sesat."
Hartawan The menepuk pahanya.
"Perkumpulan pengemis? Ah, sekarang aku teringat! Di Ci-bun ini memang terdapat sebuah perkumpulan pengemis berbaju hitam, yaitu Hek I Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Apakah mereka itu dari perkumpulan itu? Akan tetapi biasanya para anggauta perkumpulan itu tidak pernah ada yang membikin kacau, apalagi berbuat jahat. Kalau melihat pakaian mereka, memang besar sekali kemungkinan mereka itu orang-orang Hek I Kaipang."
"Hemm, dimanakah sarang perkumpulan itu, Lo-ya?"
"Bagaimana kami bisa mengetahui tempat tinggal mereka? Akan tetapi biasanya ada saja pengemis baju hitam yang berkeliaran di kota ini. Kalau engkau bertanya kepada mereka, tentu mereka akan dapat memberi keterangan."
"Kalau begitu, besok pagi saya mohon pamit, Lo-ya."
Kiok Nio memandang penuh perhatian.
Pemuda itu menurut cerita pamannya telah mengalahkan si baju hitam.
Akan tetapi hal itu belum menjadi jaminan bahwa dia memiliki ilmu silat tinggi yang akan mampu menghadapi pengeroyokan anggauta Hek I Kaipang!
"Apa maksudmu hendak mencari sarang Hek I kaipang!"
Tanyanya dengan hati tertarik.
"Saya hendak bicara dengan ketuanya, melaporkan perbuatan anak buahnya yang jahat dan minta kepadanya agar selanjutnya jangan mengganggu usaha kemanusiaan Lo-ya yang membagi-bagi beras."
"Engkau berani?"
"Kenapa tidak, siocia. Saya kesana dengan maksud baik. Saya tidak ingin bermusuhan dengan siapa juga."
"Kalau ketuanya tidak mendengar omonganmu dan engkau dikeroyok, bagaimana?"
"Saya kira tidak demikian, siocia. Akan tetapi kalau terjadi seperti yang nona katakan itu, yah, bagaimana nanti sajalah!"
Kiok Nio mendapatkan ingatan mengenai urusannya sendiri.
"Si Kong, engkau adalah seorang yang suka berkelana tentu pengetahuanmu tentang dunia kang-ouw lebih luas daripada aku. Oleh karena itu, aku minta pertolongan kepadamu, entah engkau mau menyanggupi atau tidak."
"Katakanlah, siocia. Kalau memang aku dapat melakukannya, tentu akan kusanggupi."
"Begini, aku mempunyai musuh besar, yaitu orang yang telah membunuh Ayah ibuku. Akan tetapi aku belum pernah melihat orangnya, tidak tahu namanya. Hanya ada keterangan bahwa pembunuh itu mengenakan pakaian serba merah usianya enam puluh tahun kurang lebih, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat. Nah, kalau engkau dapat mengetahui siapa orang itu, siapa namanya dan dimana tempat tinggalnya, aku minta agar engkau suka memberi kabar padaku disini. Maukah engkau membantuku, Si Kong?"
Si Kong mengangguk dan menjawab dengan sungguh-sungguh.
"Akan saya buka lebar-lebar mata dan telinga saya untuk mencari tahu tentang kakek itu, nona. Mudah-mudahan saja ada yang tahu siapa kakek dengan gambaran seperti yang nona ceritakan tadi."
"Ada satu keterangan tambahan, Si Kong. Orang itu telah merampas sebatang pedang milik Ayah. Pedang itu disebut Pek-lui-kiam, pedang yang mengeluarkan sinar kilat."
"Keterangan itu penting sekali, nona. Kalau tidak dapat dikenal orangnya, mungkin dapat dikenal pedangnya. Saya akan berusaha mencarinya, nona."
"Terima kasih, engkau baik sekali, Si Kong. Dan untuk bekal perjalananmu, terimalah benda-benda ini dan juallah."
Gadis itu menyerahkan sapasang gelang emasnya. Si Kong menolak dengan halus.
"Nona, apa yang saya lakukan adalah suatu kewajiban bagi saya, dan saya tidak membutuhkan imbalan."
"Tidak, Si Kong. Simpanlah ini. Kalau engkau sampai kehabisan bekal di perjalanan, dapat kau pergunakan gelang-gelang ini. Kalau engkau tidak mau menerimanya, aku akan selalu merasa gelisah dan menyesal, dan tidak mempunyai harapan akan dapat menemukan musuh besarku. Terimalah! Ini bukan imbalan jasa, melainkan untuk biaya perjalanan."
"Kiok Nio benar, Si Kong. Terimalah sepasang gelang itu agar hatinya tenteram."
Kata Hartawan The Kun.
Karena di desak oleh mereka, akhirnya Si Kong mau juga menerima sepasang gelang emas bertabur permata itu.
Malam itu dia bermalam di dalam sebuah kamar tamu dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia sudah berpamit lalu pergi meninggalkan rumah The Kun dan berjalan keliling kota.
Tak lama kemudian, bertemulah dia dengan yang dicari-carinya.
Dua orang pengemis yang mengenakan pakaian berwarna hitam sedang mengemis di depan sebuah pasar.
Dua orang pengemis ini sama sekali tidak kelihatan menyeramkan seperti lima orang perusuh yang kemarin mengacau di depan rumah Hartawan The.
Si Kong memperhatikan mereka berdua.
Pakaian mereka memang serba hitam seperti pakaian para pengacau kemarin akan tetapi mereka mengemis seperti pengemis biasa, bukan menggunakan kekerasan dan menerima apa dan berapa saja pemberian orang.
Si Kong sengaja lewat di depan mereka, akan tetapi mereka itu sama sekali tidak mengenalnya dan hanya menodongkan tangan minta sumbangan.
Si Kong mengambil empat keping uang dan memberi mereka masing-masing dua keping.
Melihat ada orang memberi mereka masing-masing dua keping, dua orang pengemis itu membungkuk-bungkuk mengucapkan terima kasih.
"Sekarang aku minta tolong kepada kalian."
Kata Si Kong.
"Dimanakah tempat tinggal ketua Hek I Kaipang?"
Mendengar ini, mata dua orang pengemis itu menatap wajah Si Kong penuh perhatian dan setelah bertemu pandang, baru Si Kong menduga bahwa dua orang pengemis yang kelihatan lemah ini tentu memiliki ilmu silat yang lumayan.
"Kongcu, ada keperluan apakah kongcu menanyakan Hek I Kaipang?"
"Aku hanya ingin bertemu dengan pangcu kalian. Kalau pembicaraan kami cocok, aku ingin menyumbang."
Kata Si Kong.
Mata yang tadinya mencorong penuh selidik itu menjadi lembut kembali dan seorang di antara dua orang pengemis itu tersenyum.
"Kalau kongcu keluar dari pintu gerbang kota sebelah timur, dalam jarak kurang lebih lima mil, kongcu akan melihat sebuah bangunan kuil yang sudah tidak dipergunakan lagi. Disanalah tempat tinggal kami."
"Terima kasih,"
Kata Si Kong dengan gembira.
"Sekarang juga aku akan pergi kesana."
Dia lalu melangkah cepat ke pintu gerbang timur dan keluar dari pintu gerbang itu.
Ternyata sebelah timur kota itu merupakan persawahan yang tidak ada bangunan rumahnya, tidak ada orang kecuali mereka yang bekerja di sawah ladang.
Dia berjalan menuju ke timur, melalui jalan yang tanahnya pecah-pecah karena musim kering panjang.
Dari jauh kelihatan sebuah hutan di depan, dan sungguh menyenangkan melihat kehijauan hutan itu setelah hati merasa sedih melihat tanah yang kekeringan.
Karena jalan itu sepi orang, Si Kong lalu mempergunakan ilmu Liok-te Hui-teng sehingga tubuhnya seolah melayang atau terbang saja saking cepatnya dia berlari.
Tak lama kemudian dia memasuki hutan itu dan di dalam hutan terdapat sebuah kuil kuno yang besar namun sudah tidak berfungsi menjadi kuil tempat bersembahyang lagi.
Ketika Si Kong tiba di depan kuil, di pekarangan kuil itu dia melihat beberapa orang berpakaian hitam sedang bekerja.
Ada yang menyapu halaman, ada yang memelihara tanaman bunga, adapula yang membersihkan pintu dan jendela-jendela.
Kiranya kuil yang tua dan sudah tidak digunakan lagi itu kini terpelihara oleh anak buah Hek I Kaipang.
Kuil itu nampak tua akan tetapi bersih.
Si Kong memasuki halaman itu dan segera ada tiga orang pengemis berpakaian hitam menghadangnya.
"Kongcu, disini bukan tempat umum, melainkan tempat tinggal kami. Ada keperluan apa kongcu masuk ke sini?"
Tanya seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus.
Pengemis ini masih memegang sapu bergagang panjang.
Adapun dua orang temannya yang tadi bekerja memelihara pohon bunga, berdiri dengan sikap waspada sambil membawa golok yang tadi mereka pergunakan untuk membabat tumbuh-tumbuhan yang liar.
Si Kong segera menjawab dengan tulus.
"Kedatanganku ini untuk bertemu dengan ketua Hek I Kaipang."
Tiga orang itu kelihatan terkejut lalu memandang dengan sinar mata penuh kecurigaan.
"Orang muda, ada keperluan apa engkau hendak bertemu dengan pangcu (ketua) kami?"
"Kalian tidak perlu tahu. Bawa saja aku menghadap pangcu kalian dan aku akan bicara dengannya."
"Hemm, tidak mudah untuk bertemu dengan pangcu kami, orang muda. Ada syaratnya untuk di anggap patut bertemu dengan beliau."
Kata pula pengemis jangkung kurus itu.
"Ada syaratnya? Dan apakah syarat itu?"
Tanya Si Kong penasaran.
Masa hendak bertemu dengan ketua pengemis saja ada syaratnya?
Betapa angkuhnya para pengemis ini.
"Syaratnya ada dua. Pertama, harus diberitahukan dulu kepada kami apa keperluanmu dan mencari kami akan melapor kepada pangcu apakah beliau mau bertemu dengan engkau atau tidak."
"Dan syarat ke dua?"
"Syarat kedua berlaku untuk mereka yang tidak memenuhi syarat pertama, yaitu kalau hendak masuk kuil, harus melangkahi tubuh kami bertiga!"
Ini sebuah tantangan!
Biarpun sikap mereka tidak sekasar dan sesombong si baju hitam dan empat orang kawannya yang mengacau di depan rumah Hartawan The, tiga orang ini jelas memandang rendah orang lain dan menantangnya.
Hatinya makin merasa tidak suka kepada Hek I Kaipang.
"Bagus, aku menghendaki syarat ke dua!"
Kata Si Kong.
Si tinggi kurus melintangkan sapunya yang bergagang panjang sedangkan dua orang temannya memegang golok.
Mereka kelihatan tegang dan sudah bersiap-siap untuk mengeroyok.
"Majulah kalau engkau berani melawan kami bertiga, kami sudah siap!"
Kata si tinggi kurus.
Si Kong lalu menerjang maju, menampar ke arah pengemis kurus itu.
Si pengemis kurus menggerakkan gagang sapunya, memainkan sapu itu seperti orang bersilat pakai tongkat, menangkis tamparan Si kong sambil mengerahkan tenaga.
"Krakk!"
Tongkat sapu itu patah menjadi dua potong!
Dua orang pengemis lain sudah membantu dengan menyerang Si Kong, menggunakan golok mereka, dari kanan kiri.
Namun dengan amat mudahnya Si Kong mengelak ke belakang dan ketika kedua batang golok itu menyambar luput, Si Kong sudah menggerakkan jari tangannya menotok dan kedua orang itu roboh tanpa dapat bangkit kembali karena tubuh mereka sudah tertotok lemas.
Si tinggi kurus marah sekali dan dia menggunakan tongkatnya yang sudah patah menjadi dua potong itu untuk menyerang Si Kong.
Akan tetapi, Si Kong menangkis dua potong tongkat itu dengan kedua tangannya dan kembali tongkat itu patah!
Sebelum pengemis itu mampu menyerang lagi, Si Kong sudah menotoknya pula dan si tinggi kurus itu juga roboh tak dapat bangkit kembali.
Masih ada dua orang pengemis yang bekerja di halaman itu.
Melihat tiga orangnya di robohkan pemuda itu, mereka menjadi marah.
Seorang dari mereka berlari masuk ke dalam kuil, sedangkan orang kedua berlari menghampiri Si Kong dan menyerang, menggunakan tongkatnya.
Si Kong tidak mau membuang banyak waktu lagi.
Dia menangkap tongkat itu dan menotok roboh pengemis keempat.
"Nah, aku telah memenuhi syarat ke dua, dapat melangkahi tubuh kalian. Tentu sekarang aku diperkenankan masuk."
Setelah berkata demikian dia melangkahi tubuh mereka.
Pada saat itu, dari dalam kuil muncul dua orang.
Yang seorang adalah adalah seorang kakek berpakaian serba hitam yang usianya sudah ada enam puluh tahun, namun tubuhnya masih nampak sehat dan kokoh.
Muka pengemis ini bundar, dengan sepasang mata yang mencorong menandakan bahwa dia memliki tenaga sinkang yang kuat.
"Siapa berani membikin ribut disini?"
Bentaknya dan dia memandang kepada Si Kong, lalu kepada tubuh empat orang pengemis yang menggeletak diatas tanah tanpa dapat bergerak.
Adapun orang kedua adalah seorang gadis yang cantik dan gagah sekali, dengan sebatang pedang terselip di punggung.
Pengemis tua itu lalu meloncat kedepan tubuh empat orang pengemis tertotok itu.
Tongkatnya bergerak cepat menotok mereka berempat dan seketika empat orang itu mampu bergerak kembali.
Mereka bangkit dan berdiri, muka mereka merah karena telah di kalahkan oleh pemuda itu.
"Orang muda, siapakah engkau? Engkau berani datang dan menyerang empat orang anggauta kami, merobohkan mereka dengan totokan. Apa maksud perbuatanmu ini dan apa kehendakmu?"
Si Kong mengamati orang tua itu.
Tubuhnya masih tegap dan nampak kuat.
Sebatang tongkat hitam setinggi pundak berada di tangannya.
Tentu orang ini memiliki ilmu tongkat yang lihai, pikirnya.
"Engkau ketua Hek I Kaipang?"
Tanya Si Kong, suaranya tegas.
"Benar, akulah Hek I Kaipangcu (Ketua Perkumpulan Pengemis Baju Hitam)."
"Aku bernama Si Kong dan aku datang untuk menegurmu. Sebagai ketua Kaipang, engkau harus mendidik anggautamu dengan baik-baik. Mengemis makanan dan uang memang perbuatan tak tahu malu dan menjadi tanda kemalasan. Akan tetapi mengemis dengan cara merampok merupakan kejahatan yang tak dapat diampuni lagi!"
"Pemuda sombong! Engkau datang mengacau di sini, sebaliknya engkau menuduh orang lain yang bukan-bukan. Engkaulah yang sombong dan jahat!"
"Hemm, dengarkan dulu omonganku..."
"Tidak perlu banyak bicara. Engkau kalahkan dulu tongkatku ini, baru kita bicara. Engkau telah merobohkan empat orang anggauta kami, itu sudah lebih dari cukup. Merobohkan anggauta kami di tempat kami sendiri merupakan penghinaan bagi ketuanya. Nah, bersiaplah engkau!"
Kakek itu memutar-mutar tongkatnya dan terasa ada angin yang kuat menyambar.
Diam-diam Si Kong kagum akan tetapi juga membangkitkan nafsunya untuk mencoba dan menandingi kakek ahli ilmu tongkat itu.
Melihat tempat itu dikepung banyak pengemis baju hitam dan banyak di antara mereka yang memegang tongkat, Si Kong lalu meloncat ke samping dan sebelum pemilik tongkat itu tahu apa yang terjadi, tongkat bambunya sudah berpindah ke tangan Si Kong.
"Pangcu, aku datang untuk bicara, akan tetapi aku disambut dengan tongkat. Jangan dikira bahwa aku takut menghadapi tongkatmu. Mari kita bermain tongkat sebentar. Hendak kulihat sampai dimana kelihaian tongkatmu!"
Si Kong melintangkan tongkat bambunya di depan dada.
Sebaliknya, ketua Hek I Kaipang itu menjadi semakin penasaran.
Pemuda itu berani menyambut tantangannya dengan bersenjatakan sebatang tongkat bambu!
Padahal, tongkat di tangannya adalah sebatang tongkat yang terbuat dari pada baja pilihan sehingga tongkatnya itu berani menyambut senjata pusaka yang bagaimanapun ampuhnya.
Sementara itu, gadis cantik gagah yang keluar bersama ketua Hek I Kaipang itu hanya menontong dengan sikap tenang sekali.
Gadis ini bukan gadis biasa, melainkan seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian hebat sekali.
Ia adalah puteri dan anak tunggal dari pendekar besar Pek Han Siong yang diwaktu kecilnya dijuluki Sin-tong (Anak Sakti) karena bertulang dan berbakat baik sekali.
Pek Han Siong ini menguasai banyak macam ilmu silat, diantaranya ilmu silat Pek-sim-pang (Tongkat Hati Murni), Kwan Im Kiamsut (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im) yang dapat dimainkan dengan tangan kosong pula, disebut Kwan Im Sin-kun dan masih banyak lagi.
Dan lebih dari pada itu, diapun menguasai ilmu sihir!
Adapun isterinya juga bukan orang sembarangan.
Ibu gadis itu bernama Siangkoan Bi Lian yang pernah mendapat julukan Tiat-sim Sian-li (Dewa Berhati Besi).
Diantara ilmu-ilmu silat yang dikuasainya, terdapat ilmu Kim-ke Sin-kun (Ilmu Silat Ayam Emas) dan juga Kwan Im Sin-kun.
Gadis itu adalah puteri mereka, anak tunggal yang bernama Pek Bwe Hwa, berusia delapan belas tahun.
Wajahnya berbentuk bulat telur seperti wajah ibunya, hidungnya kecil mancung, bibirnya merah membasah, dagunya yang runcing itu membayangkan kekerasan hati, tubuhnya ramping padat dan rambutnya digelung sederhana di atas kepala, diikat dengan pita merah.
Pedang yang berada di punggungnya itu adalah pedang pusaka Kwan Im-kiam (Pedang Dewi Kwan Im) yang diterimanya dari Ayahnya.
Sebagai puteri tunggal sepasang pendekar sakti itu, tidak mengherankan kalau Bwe Hwa mewarisi ilmu-ilmu dari Ayah ibunya.
Bahkan ia pernah di beri petunjuk dan dilatih oleh Ayahnya dalam ilmu sihir!
Bwe Hwa sedang berkunjung kepada Ketua Hek I Kaipang dalam usahanya ikut mencari dan memperebutkan Pek-lui-kiam yang menghebokan dunia kang-ouw itu.
Pek Han Siong dan isterinya yang mendengar tentang pedang pusaka yang kabarnya dipakai berebutan oleh para tokoh dan datuk persilatan, sengaja menyuruh puteri mereka untuk ikut pula berlumba menemukan dan merampas pedang itu.
Mereka yakin bahwa puteri mereka pasti mampu melindungi diri sendiri dengan semua ilmunya.
Mereka menghendaki agar puteri mereka memperoleh pengalaman di dunia kang-ouw, seperti mereka dulu ketika masih muda.
Kini Pek Han Siong sudah berusia lima puluh satu tahun dan isterinya empat puluh sembilan tahun.
Mereka juga memberitahu nama dari para tokoh sesat dan juga tokoh-tokoh yang bersih.
Demikianlah sedikit keterangan mengenai Pek Bwe Hwa dan kedua orang tuanya yang kini bertempat tinggal di kota Tung-ciu, disebalh timur kota raja.
Ketika itu Pek Bwe Hwa sedang menjadi tamu ketua Hek I Kaipang karena dari orang tuanya dara ini mendapat tahu bahwa ketua Hek I Kaipang merupakan kenalan Ayahnya dan boleh dipercaya.
Bwe Hwa berkunjung untuk mencari keterangan perihal Pek-lui-kiam kepada ketua itu.
Dan selagi mereka bercakap-cakap di dalam, datang anggauta Hek I Kaipang yang melaporkan tentang kedatangan Si Kong yang bertanding dengan para anggauta perkumpulan itu di halaman depan.
Hek I Kaipangcu menjadi marah mendengar laporan itu dan diapun bergegas keluar sambil membawa tongkatnya.
Bwe Hwa tertarik dan ikut keluar.
Akan tetapi gadis ini tidak mau mencampuri urusan Souw Kian atau Souw-pangcu (Ketua Souw) ketua Hek I Kaipang itu.
Ia mendengar dari Ayahnya bahwa Souw Pangcu adalah seorang yang memiliki ilmu tongkat yang lihai, maka iapun tidak perlu membantu.
Akan tetapi melihat Si Kong, hatinya menjadi tertarik.
Pemuda itu tidak kelihatan seperti seorang penjahat dan begitu pemberani sehingga berani menyambut tantangan Souw Pangcu yang bersenjatakan tongkat baja itu hanya dengan senjata tongkat bambu.
Hati gadis ini menjadi kagum dan tertarik sekali.
Akan tetapi ia melangkah maju mendekat agar dapat mencegah kalau sekiranya Souw Pangcu terancam bahaya maut.
Souw Pangcu adalah seorang gagah.
Melihat pemuda itu hanya bersenjatakan sebatang tongkat bambu, diapun enggan menggunakan tongkat bajanya.
Yang dilawannya adalah seorang yang masih muda belia, kalaupun dia menang dalam pertandingan itu, kemenangannya tidak adil dan dia merasa malu.
Maka, diapun menggapai seorang anggauta perkumpulannya yang memegang tongkat bambu.
Anggauta itu mendekat dan Souw Pangcu menukar tongkat bajanya dengan tongkat bambu.
"Nah, sekarang senjata kita berimbang. Bersiaplah dan seranglah aku, orang muda."
"Aku hanya tamu dan engkau tuan rumah, pangcu. Silakan maju lebih dulu, aku sudah siap!"
"Bagus, lihat seranganku!"
Bentak ketua itu dan mulailah dia memutar tongkat dan segera tongkatnya itu berubah seperti payung putih yang menerjang ke arah Si Kong.
Di dalam hatinya sudah timbul keraguan apakah ketua perkumpulan ini seorang jahat karena sikapnya yang demikian gagah.
Jelas bahwa ketua ini tidak ingin menang sendiri.
Maka diapun menyambut dan dalam hatinya dia mengambil keputusan untuk tidak membunuh atau melukai berat lawannya.
Asal dapat mengalahkan saja sudah cukup.
Apalagi maksud kunjungannya bukan untuk berkelahi, melainkan untuk membujuk ketua ini agar suka melarang para anggautanya melakukan kejahatan.
"Trak-tuk-tuk"!"
Tiga kali tongkat berbenturan dan Souw Pangcu menjadi kaget setengah mati.
Pertemuan tongkat yang terakhir itu membuatnya terhuyung ke belakang!
Ini tidak mungkin, pikirnya.
Dia tadi merasa betapa kedua tangannya tergetar ketika menangkis pukulan pertama dan kedua, akan tetapi pada pertemuan tongkat yang ketiga kalinya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya untuk membikin hancur tongkat lawan.
Akan tetapi akibatnya, bukan tongkat lawan yang hancur, melainkan tubuhnya yang terdorong kebelakang sampai dia terhuyung-huyung.
Akan tetapi hal ini membuat Souw Kian menjadi penasaran sekali.
Kembali dia menerjang dengan teriakan nyaring, memainkan ilmu silat Hek-liong-tung-hwat (Ilmu Tongkat Naga Hitam).
Tongkatnya berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung seperti seekor naga mengamuk.
Akan tetapi, semua serangannya dapat dihindarkan oleh Si Kong dengan elakan maupun tangkisan dan setiap kali pemuda itu membalas, sang ketua menjadi repot menyelamatkan diri.
Bwe Hwa melihat ini semua dan ia semakin kagum saja.
Ilmu tongkat pemuda itu aneh sekali dan perubahannya tak dapat disangka lawan.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Si Kong lalu menyerang dengan hebatnya, mengurung tubuh lawan dari segala jurusan dengan tongkatnya yang bergerak amat cepatnya.
Souw Kian terkejut dan main mundur terus, akan tetapi tongkat lawan yang tadi menyerang tubuh bagian atas, tiba-tiba meluncur ke bawah dan sekali congkel, tongkat itu masuk di antara kedua kaki Souw Kian dan begitu tongkat di tarik kesamping, tak dapat dihindarkan lagi tubuh Souw Kian terjatuh menelungkup karena kedua kakinya terangkat ke atas!
Dia jatuh menelungkup seolah-olah orang minta ampun.
"Bangkitlah, pangcu, tidak perlu memberi penghormatan secara berlebihan!"
Kata Si Kong yang hendak melucu.
Akan tetapi ucapannya ini membuat Bwe Hwa memandang kepadanya dengan mata mencorong.
Iapun meloncat kedepan dan sekali tarik pundak Souw Kian, ketua itu tertarik ke atas dan dapat berdiri.
"Mengasolah, Souw Pangcu. Biar aku yang menghadapi pengacau ini!"
Souw Kian terpaksa harus mengakui kekalahannya.
Dia mengundurkan diri dengan muka merah dan berulang-ulang menghela napas panjang.
Akan tetapi dia kini mengharapkan gadis tamunya itu akan mampu menghajar pemuda itu.
Dia dapat menduga bahwa gadis itu tentu memiliki ilmu silat yang amat tinggi, mempelajarinya dari kedua orang tuanya yang menjadi pendekar sakti.
Diapun kini menonton dari pinggiran.
Bwe Hwa menghadapi Si Kong dengan senyum dingin dan matanya mencorong.
Gadis ini menganggap Si Kong sebagai seorang pengacau.
Ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka Si Kong dan berkata dengan suaranya yang lembut akan tetapi penuh wibawa.
Karena menganggap pemuda itu sudah membuat malu kepada Souw Pangcu, iapun hendak membalas membikin malu pemuda pengacau itu.
"Si Kong engkau merangkaklah!"
Di dalam suara itu terkandung kekuatan sihir yang seolah hendak memaksa Si Kong berlutut dan merangkak.
Si Kong terkejut bukan main ketika merasa jantungnya tergetar dan ada dorongan dari hatinya sendiri untuk menjatuhkan diri dan berlutut.
Akan tetapi dia teringat akan peringatan Ceng Lo-jin bahwa di dunia kang-ouw, terdapat orang-orang yang memiliki keahlian sihir.
Kalau menghadapi lawan seperti ini dan ada dorongan hebat dari batinnya untuk menurut apa yang di katakan oleh lawan seperti itu, dia harus cepat mengerahkan sinkangnya yang akan dapat menolak pengaruh sihir.
Maka, begitu batinnya mendorongnya untuk berlutut dan merangkak, dia mengerahkan sinkangnya untuk melawan dorongan ini.
Kini berbalik Pwk Bwe Hwa yang terbelalak heran.
Pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya!
Maklumlah ia bahwa pemuda itu telah memiliki sinkang yang amat kuat sehingga mampu menahan kekuatan sihirnya.
Melihat kenyataan ini, ia menghentikan kekuatan sihirnya dan mencabut pedang dari punggungnya.
"Singg"!"
Ketika pedang itu dicabut nampak sinar berkilauan dan gadis itu sudah melintangkan pedang di depan dadanya.
"Pengacau sombong, lihat pedangku!"
Bentaknya dan Pek Bwe Hwa segera menyerang dengan dahsyatnya.
Pedangnya lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar terang yang panjang dan tiba-tiba sinar itu mencuat ke arah Si Kong.
"Tranggg...!"
Pedang di tangan Bwe Hwa tergetar hebat di gadis itu bertambah heran dan juga terkejut.
Pemuda yang memegang tongkat bambu ini memiliki tenaga sinkang yang bukan main kuatnya.
Akan tetapi ia tidak menjadi gentar dan melanjutkan serangannya secara bertubi-tubi.
Ia menggunakan pedang Kwan-im-kian untuk memainkan Kwan im Kiam-sut yang amat lihai.
Si Kong terkejut bukan main.
Ilmu pedang gadis itu memang hebat sekali dan sama sekali tidak boleh dipandang rendah.
Timbul kekaguman dalam hatinya.
Gadis itu masih muda, paling banyak delapan belas tahun usianya, akan tetapi sudah memiliki ilmu pedang yang demikian dahsyatnya.
Karena maklum bahwa ilmu pedang gadis itu berbahaya bukan main, Si Kong lalu mainkan Ta-kaw Sin-tung dan mengerahkan khikangnya sehingga gerakannya cepat bukan main, lebih cepat daripada gerakan Bwe Hwa!
Kedua orang muda itu bertanding dengan seru, saling serang dan saling desak.
Akan tetapi tentu saja Si Kong tidak mempunyai niat untuk melukai atau membunuh lawannya.
Dia ingin mengalahkan tanpa melukai, kalau dapat merampas pedang yang hebat itu.
Akan tetapi justeru ini membuat dia sukar sekali untuk mendapatkan kemenangan.
Merampas pedang itu amatklah sulit dan pertandingan antara mereka sudah berlangsung lebih dari lima puluh jurus, masih belum ada yang kalah.
Mulailiah Si Kong merasa khawatir.
Agaknya tidak mungkin baginya untuk dapat merampas pedang gadis itu.
Kalau dia mau, tentu saja dia dapat merobohkan lawan dengan melukainya, akan tetapi karena dia tidak menghendaki hal ini terjadi, dia mengalami kesulitan sendiri.
Tiba-tiba teringatlah dia akan ilmu Thi-ki-i-beng.
Hanya ilmu ini saja yang memungkinkan dia mengalahkan lawan tanpa melukainya.
Ketika pedang itu menyambar lagi ke arah lehernya Si Kong menangkis dan menggunakan tenaga sinkangnya untuk membuat pedang itu menempel pada tongkatnya dan tidak dapat ditarik kembali.
Bwe Hwa terkejut dan mengerahkan sinkangnya untuk menarik kembali pedangnya yang sudah melekat pada tongkat.
Akan tetapi pada saat itu sesuai dengan rencananya, Si kong sudah mengerahkan Thi-ki-i-beng sehingga ketika gadis itu mengerahkan sinkang, tenaga gadis itu tersedot melalui pedang dan tongkat.
Bwe Hwa terkejut bukan main!
Dari Ayah ibunya dia mendengar bahwa di dunia kang-ouw terdapat sebuah ilmu yang luar biasa, yang dinamakan Thi-ki-i-beng.
Akan tetapi yang menguasai ilmu itu di dunia persilatan mungkin hanya seorang, yaitu Ceng Thian Sin atau Pendekar Sadis yang tinggal di Pulau Teratai Merah di lautan selatan.
Karena tidak ingin tenaga sinkangnya disedot sehingga ia kehabisan tenaga, terpaksa Bwe Hwa melepaskan pedangnya dan meloncat jauh ke belakang!
Biarpun andaikata ia tidak melepaskan pedang, tetap saja ia tidak akan terancam bahaya karena Si Kong segera menyimpan kembali tenaga Thi-ki-i-beng.
Diapun tidak ingin menyedot habis tenaga sinkang gadis itu dan hanya ingin membuatnya terkejut sehingga dia dapat merampas pedang itu.
Si Kong mengambil pedang yang menempel pada tongkatnya, lalu menghampiri Bwe Hwa danmenyodorkan pedang itu kepada pemiliknya.
Wajah Bwe Hwa menjadi merah, akan tetapi ia merasa penasaran sekali da bertanya.
"Engkau menggunakan Thi-ki-i-beng! Dari mana engkau dapat menguasai ilmu itu? Apa hubunganmu dengan kakek Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah?"
Ia menerima pedangnya.
Si Kong makin kagum.
Gadis ini masih muda, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan agaknya memiliki pengetahuan luas sehingga dapat mengenal Thi-ki-i-beng dan gurunya, Ceng Thian Sin.
"Penglihatanmu tajam sekali, nona. Kakek Ceng Thian Sin adalah guruku."
"Tidak mungkin!"
Gadis itu membentak.
"Kakek Ceng Thian Sin adalah seorang pendekar sakti yang namanya terkenal. Sejak muda ia menentang kejahatan dan menghukum para penjahat. Bagaimana sekarang muridnya menjadi penjahat?"
"Nona!"
Kata Si Kong penasaran.
"Aku bukan penjahat!"
"Hemm, kau datang ke sini dan mengacaukan kehidupan para pengemis yang tenteram, engkau mengandalkan ilmumu untuk membikin rusuh, apakah itu tidak jahat namanya?"
Diam-diam Si Kong terkejut.
Jelas bahwa gadis itu bukan orang jahat, akan tetapi mengapa ia berada di sarang Hek I Kaipang yang jahat?
"Nona, aku datang kesini bahkan untuk menentang kejahatan.
Aku ingin menegur ketua Hek I Kaipang yang membiarkan anak buahnya melakukan kejahatan!"
"Souw-pangcu biarpun menjadi ketua para pengemis adalah seorang gagah perkasa yang selalu membela keadilan dan kebenaran. Bagaimana engkau dapat menuduhnya memiliki anak buah yang jahat? Itu hanya fitnah belaka!"
Souw Kian kini maju menghadapi Si Kong.
"Agaknya terjadi kesalah-pahaman di antara kita, Si-Taihiap. Kalau Si-Taihiap hendak menegakkan kebenaran dengan menentang kejahatan, maka jelaslah bahwa disini terjadi kesalah-pahaman. Aku berani menanggung jawab bahwa di antara anggauta kami tidak ada yang menjadi penjahat."
Si Kong menjadi ragu-ragu mendengar ucapan ketua Hek I Kaipang itu.
"Akupun bukan bertindak secara ngawur, pangcu. Aku sendiri yang menghadapi para penjahat itu. mereka berpakaian hitam-hitam seperti anggautamu."
"Hemm, mungkin ada yang sengaja berusaha merusak nama baik Hek I Kaipang. Tolong Taihiap ceritakan apa yang terjadi. Akan tetapi rasanya tidak enak bicara sambil berdiri di halaman ini. Marilah, Taihiap, kita bicara di dalam. Mari, Lihiap."
Si Kong yang kini menyadari bahwa memang ada kesalah-pahaman, mengikuti ke dalam, Bwe Hwa juga masuk ke dalam dan ternyata di dalam kuil yang tua dan tidak dipergunakan lagi itu amat bersih terawat.
Dindingnya di kapur putih dan lantainya juga bersih sekali.
Diruangan tengah terdapat meja dan beberapa buah bangku kayu.
"Silakan duduk, Taihiap dan Lihiap (pendekar wanita)."
Setelah mereka bertiga duduk menghadapi meja, Souw Kian berkata.
"Nah, silakan menceritakan semua yang telah terjadi sehingga Taihiap menuduh kami."
Si Kong menjadi semakin ragu.
Lima orang pengacau berpakaian hitam itu baru lagaknya saja sudah dapat diketahui bahwa mereka bukan orang baik-baik.
Akan tetapi sikap ketua Hek I Kaipang ini sama sekali tidak menunjukkan bahwa dia orang jahat.
Dia menghela napas beberapa kali lalu bercerita.
"Mula-mula terjadi di depan rumah Hartawan The pada hari kemarin. Ketika The-wan-gwe sedang membagi-bagi beras kepada mereka yang membutuhkan sehingga orang-orang itu berdiri dengan antri, tiba-tiba muncul seorang berbaju hitam yang pakaiannya serba hitam pula. Dia tidak mau antri seperti yang lain, menyerobot ke depan, bahkan dia minta sekarung beras. Ketika para petugas menolaknya, dia memukul empat orang petugas itu."
"Hemm, jahat sekali orang itu. The-wan-gwe terkenal sebagai seorang dermawan yang budiman. Kalau aku berada di sana, tentu orang itu sudah kuhajar!"
Kata Souw Kian marah.
"Pendapatku sama dengan pendapat Souw-pangcu. Aku melihat kejadian itu lalu turun tangan dan menghajarnya. Dia melarikan diri akan tetapi tidak lama kemudian dia muncul lagi dengan empat orang kawannya yang semua juga berpakaian serba hitam. Untung di sana ada keponakan The-wan-gwe, seorang gadis yang pandai ilmu pedang dan gadis itu berhasil mengusir lima orang itu. Nah, karena lima orang itu berpakaian hitam-hitam, maka aku menduga bahwa mereka tentu anak buah Hek I Kaipang dan aku segera datang kesini untuk menegur Souw-pangcu. Akan tetapi malah aku yang dituduh membikin kacau!"
"Mengerti aku sekarang. Tentu ada orang-orang yang sengaja hendak memburukkan nama kami. Akan tetapi percayalah, Taihiap, bahwa lima orang itu bukan anak buah kami, dan kami akan mengerahkan seluruh anggauta kami untuk melakukan penyelidikan dan menangkap lima orang itu."
Si Kong mengangguk.
"Setelah melihat keadaan Hek I Kaipang disini, dan sikap pangcu, akupun mulai percaya bahwa lima orang itu bukan anggauta Hek I Kaipang, melainkan orang-orang lain yang sengaja menyamar. Maafkanlah kesalahanku, pangcu."
Si Kong bangkit berdiri dan memberi hormat kepada ketua itu.
Souw Kian cepat berdiri dan membalas penghormatan itu.
"Tidak perlu minta maaf, Taihiap. Kalau aku yang melihat peristiwa itu tentu akupun bertindak seperti yang Taihiap lakukan. Silakan duduk lagi, Taihiap. Kami merasa beruntung sekali dapat berkenalan dengan Si-Taihiap."
Akan tetapi Si Kong tidak ingin duduk kembali.
Urusannya telah selesai dengan Hek I Kaipang, maka dia tidak mau terlalu lama di situ.
"Aku masih mempunyai banyak urusan yang harus kuselesaikan, pangcu. Karena itu aku tidak dapat terlalu lama berada di sini."
"Tunggu dulu, sobat."
Kata Bwe Hwa.
"Ayah ibuku mempunyai hubungan yang dekat dan akrab sekali dengan keluarga Cin-ling-pai. Karena engkau murid Ceng-Locianpwe dan memiliki ilmu Cin-ling-pai, maka berarti engkau adalah orang sendiri. Bagaimana keadaan Ceng-Locianpwe di Pulau Teratai Merah? Tentu beliau kini sudah tua sekali."
Di tanya tentang keadaan gurunya, wajah Si Kong menjadi muram seperti diselimuti awan.
Setelah menghela napas panjang Si Kong menjawab.
"Suhu telah wafat beberapa bulan yang lalu."
"Ahhh! Kalau begitu, tentu Ayah dan ibuku pergi ke sana untuk melayat. Sudah lama aku meninggalkan rumah."
Melihat sikap gadis itu kini ramah padanya, Si Kong merasa senang.
"Kurasa Ayah ibumu tidak datang melayat karena kematian suhu terjadi secara mendadak dan kami tinggal di pulau terpencil. Akan tetapi pada saat suhu wafat, bibi Cia Kui Hong yang menjadi ketua Cin-ling-pai bersama suami dan puterinya datang sehingga mereka dapat bicara dengan suhu sebelum meninggal dan ikut pula mengurus jenazah suhu."
Mendengar ini, wajah Bwe Hwa menjadi berseri.
"Ah, engkau bahkan telah bertemu dengan mereka? Baru sekali, dua tahun yang lalu, aku bertemu dengan keluarga itu. Bagaiamana sekarang keadaan adik Hui Lan? Tentu ilmu kepandaiannya sudah tinggi sekali. Ayahnya, paman Tang Hay adalah sahabat Ayahku."
"Adik Hui Lan baik-baik saja. Mengenai kepandaiannya, aku tidak tahu, akan tetapi aku percaya bahwa ia tentu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi. Sudahlah, nona, aku harus melanjutkan perantauanku."
"Nona? Engkau menyebut nona? Kong-ko (kakak Kong), kita adalah orang-orang sendiri, tidak perlu bersikap seperti orang asing. Bolehkah aku mengetahui nama orang tuamu dan dimana mereka tinggal?"
Menghadapi gadis yang lincah dan pandai bicara ini, Si Kong merasa terdesak dan terpaksa diapun menjawab.
"Ayah ibuku telah meninggal dunia. Aku yatim piatu dan sebatangkara, tempat tinggalkupun di mana saja, tidak tetap. Nah, sudah cukup, Hwa-moi, aku harus pergi sekarang."
Dia mengangkat kedua tangan depan dada lalu melangkah keluar.
Bwe Hwa merasa kecewa.
Sebetulnya ia ingin bicar lebih banyak dengan pemuda itu, menceritakan riwayat perjalanan mereka masing-masing.
Hatinya tertarik sekali kepada Si Kong yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.
Akan tetapi sebagai seorang gadis, tentu saja ia merasa tidak enak kalau harus mencegah pemuda itu agar jangan begitu cepat pergi meninggalkannya.
Karena ia merasa kecewa dan hatinya merasa sepi setelah pemuda itu pergi, Bwe Hwa mengalihkan perhatiannya dengan bercakap-cakap dan minta bantuan Souw-pangcu dalam usahanya mencari pedang pusaka Pek-lui-kiam.
"Seperti yang ku katakan tadi sebelum Kong-ko itu datang, pangcu. Apakah engkau mengetahui dimana adanya pedang pusaka Pek-lui-kiam?"
Souw Kian menghela napas panjang.
"Dunia kang-ouw menjadi ramai dengan munculnya berita bahwa pedang pusaka Pek-lui-kiam menjadi rebutan dan semua orang mencarinya. Pedang itu kabarnya menjadi milik Tan-Taihiap atau Tan Tiong Bu yang tinggal di kota Sia-lin. Akan tetapi, beberapa pekan yang lalu, kabarnya Tang Tiong Bu dan isterinya terbunuh. Tidak ada orang tahu siapa pembunuhnya, akan tetapi di duga keras bahwa orang itu membunuh untuk merampas pedang pusaka Pek-lui-kiam itu."
"Dapatkah engkau menduga siapa kiranya yang melakukan pembunuhan dan merampas Pek-lui-kiam?"
Bwe Hwa mendesak. Ketua Hek I Kaipang itu menggeleng kepalanya.
"Aku sudah menyuruh anak buahku menyelidik ke Sia-lin. Akan tetapi di sana pun tidak ada yang tahu. Hanya menurut kabar, pada saat kematian Tan Tiong Bu, ada orang melihat seorang kakek berpakaian serba merah keluar dari pekarangan rumah itu. Nah, kalau engkau hendak ikut mencari Pek-lui-kiam, engkau harus mencari kakek yang berpakaian serba merah dan mukanya pucat itu."
Bwe Hwa mengerutkan alisnya.
Betapa akan sukarnya mencari seorang kakek berpakaian merah dan pucat mukanya diantara rakyat yang tak terhitung jumlahnya itu.
"Pangcu, engkau jauh lebih berpengalaman dari pada aku di dunia kang-ouw. Tentu engkau dapat menduga siapa adanya kakek berpakaian merah bermuka pucat itu. Barangkali ada tokoh atau datuk sesat yang seperti itu."
"Banyak sekali datuk sesat empat penjuru, nona. Akan tetapi belum pernah aku mendengar tentang seorang datuk yang berpakaian serba merah. Akan tetapi... nanti dulu! Aku pernah mendengar akan munculnya seorang tokoh baru yang datang dari barat. Tidak ada yang tahu siapa namanya dan orang hanya menyebutnya Ang I Sianjin (Manusia Dewa Jubah Merah), dan tempat tinggalnyapun tidak ada yang mengetahui. Mungkin dia yang melakukannya, akan tetapi sepanjang pendengaranku, tokoh itu tidak pernah melakukan kejahatan."
"Terima kasih, pangcu. Setidaknya itu merupkan landasan bagiku untuk mencarinya. Mencari pedang yang tidak di ketahui dimana adanya amatlah sukar, bahkan tidak mungkin. Akan tetapi mencari orang yang sudah diketaui namanya, agaknya lebih mudah. Nah, selamat tinggal, pangcu. Engkau telah menyambut kedatanganku dengan baik sekali. Akan kuceritakan kebaikanmu ini kepada Ayah dan ibuku kalau aku pulang nanti."
"Ah, nona, kedatanganmu ke sini saja sudah merupakan penghormatan besar bagi kami, dan kamilah yang berterima kasih bahwa seorang pendekar wanita sudi berkunjung ke rumah jelek dan kotor ini. Sampaikan salam hormatku kepada orang tuamu."
Bwe Hwa lalu meninggalkan kuil itu, memasuki lagi kota Ci-bun dengan hati mengharapkan pertemuan dengan Si Kong di dalam kota itu.
Akan tetapi setelah tiga hari ia tinggal di Ci-bun dan tidak pernah melihat bayangan pemuda itu, hatinya terasa hampa dan kehilangan.
Ia lalu meninggalkan Ci-bun untuk melanjutkan perantauannya.
Dengan jantung berdebar karena tegang dan terharu, Si Kong memasuki dusun Ki-ceng.
Begitu memasuki dusun itu, semua kenangan masa kecilnya terbayang kembali.
Sungai kecil yang kalau musim kering tiba menjadi kering itu kini di penuhi air yang mengalir jernih.
Dahulu, sering kali dia mandi di sungai ini atau mengail ikan.
Hatinya menjadi sedih ketika melihat betapa dusun itu masih dipenuhi gubuk-gubuk reyot yang menjadi tempat tinggal petani miskin.
Dia tahu benar bagaimana penderitaan mereka karena ketika dia masih kecil, Ayahnya juga menjadi buruh tani, demikian pula ibunya.
Namun penghasilan mereka berdua masih belum cukup untuk dapat memberi makan anak-anak mereka sampai kenyang.
Jembatan kayu itu masih berdiri, dan terdapat tambahan kayu di sana sini untuk mengganti yang lapuk.
Dan beberapa rumah gedung milik para hartawan masih berdiri megah, dikelilingi pagar tembok yang tinggi.
Di pintu gerbang rumah-rumah gedung ini Si Kong melihat beberapa orang laki-laki yang bertubuh kekar.
Dia masih ingat.
Mereka itu adalah tukang-tukang pukul para hartawan itu, ditugaskan untuk mengancam, memukul atau membunuh buruh tani yang tidak dapat mengembalikan hutang mereka kepada sang hartawan.
Si Kong lewat di depan rumah gubuk yang dahulu menjadi tempat tinggal orang tuanya dan dalam hatinya timbul keharuan dan kesedihan yang mengiris hati.
Terbayanglah semua peristiwa dahulu, kematian Ayah ibunya.
Akan tetapi dia merasa kehilangan karena rumah yang lama sudah tidak ada lagi.
Hanya pohon di depan rumah itu masih berdiri seperti dahulu.
Rumahnya telah berganti dengan rumah yang bagus.
Dia dapat menduga.
Tentu rumah dan tanahnya telah di sita tuan tanah untuk pengganti hutang Ayahnya dan tuan tanah itu mendirikan rumah di situ, entah untuk siapa.
Mungkin untuk pegawai yang di percaya.
Dia melanjutkan perjalanannya, melupakan semua itu dan kini dia pergi menuju ke rumah Hartawan Lui.
Setelah tiba di depan rumah itu, teringatlah dia akan segalanya.
Kakaknya perempuan Si Kiok Hwa, sejak berusia enam belas tahun, telah dijual oleh Ayahnya kepada Hartawan Lui untuk dijadikan selir.
Kakaknya Si Leng, dalam usia empat belas tahun telah memasuki rumah itu lewat pagar tembok di belakang, dengan maksud mencari encinya dan minta bantuan encinya karena keluarga Ayahnya kehabisan beras dan diancam kelapan.
Akan tetapi kakaknya itu ketahuan oleh tukang pukul dan dipukuli, disiksa sampai mati!
Tentu saja dengan tuduhan mencuri.
Tiba-tiba kerinduannya terhadap kakak perempuanitu demikian mendesak hatinya.
Ingin sekali dia melihat keadaan encinya.
Kalau encinya dalam sehat dan hidup berbahagia, diapun akan merasa senang.
Si Kong lalu menghampiri pintu pekarangan gedung besar itu.
disitu terdapat lima orang penjaga yang tubuhnya tinggi besar dan kekar, bahkan mereka semua membawa golok di pinggang.
Menyeramkan sekali.
Belum juga Si Kong datang dekat dia sudah menegur.
"Heii! Mau apa engkau mendekati pintu ini? Mau mengemis, atau mau mencuri?"
Hati Si Kong menjadi panas, akan tetapi dia menahan dirinya, bersabar karena demi kebaikan encinya, dia tidak boleh membikin ribut di tempat itu.
Si Kong melangkah maju menghampiri lima orang yang berdiri bertolak pinggang dengan sombongnya itu dan berkata.
"Maaf, aku tidak ingin mengemis atau mencuri. Aku hanya ingin bertemu dengan kakakku perempuan yang tinggal di dalam gedung ini."
Para tukang pukul itu mengerutkan alis dan saling pandang, lalu dia yang berkumis lebat itu melangkah maju mendekati Si Kong sambil bertanya.
"Encimu tinggal disini?"
Katanya tidak percaya.
"siapakah encimu itu? Jangan main-main kau!"
"Aku berkata benar. Enciku bernama Si Kiok Hwa, sudah sepuluh tahun tinggal disini menjadi selir Lui-wan-gwe."
"Si Kiok Hwa? Ha-ha-ha, engkau mimpi! Sudah bertahun-tahun aku menjadi pekerja disini dan tidak pernah mendengar nama Si Kiok Hwa. Pergilah dan jangan membikin aku marah. Tidak ada Si Kiok Hwa di tempat ini."
"Kalau begitu, biarkan aku bicara dengan Lui-wan-gwe. Dia tentu tahu tentang enciku Si Kiok Hwa itu."
"Mau bertemu Lui-wan-gwe? Aha, enak saja kau bicara! Orang macam engkau ini mana ada harganya untuk bertemu dengan Lui-wan-gwe? Tidak boleh, dan pergilah, atau aku akan menghajarmu!"
Kini Si Kong tidak dapat menahan kemarahannya lagi.
"Jahanam-jahanam busuk. Kalian ini seperti anjing-anjing yang menggonggong keras akan tetapi sebetulnya kepalamu kosong!"
"Keparat!"
Si kumis tebal sudah maju menghantam ke dada Si Kong.
Si Kong miringkan tubuhnya dan ketika lengan yang besar itu lewat, dia menangkap lengan itu, diputar ke belakang tubuh si kumis tebal dan sekali tarik ke atas, lengan itu menjadi lumpuh karena sambungan lengan terlepas dari pundaknya.
Nyerinya bukan kepalang dan si kumis itu melolong-lolong kesakitan.
Empat orang kawannya segera mencabut golok masing-masing dan mengeroyok Si Kong dari empat penjuru.
Akan tetapi Si Kong tidak memberi kesempatan lagi kepada mereka.
Dengan gerakan yang demikian cepatnya sehingga tidak dapat diikuti pandang mata mereka berempat, tahu-tahu golok di tangan mereka terlepas dan berjatuhan di atas tanah, disusul tubuh mereka yang terpental oleh tendangan kaki maupun tamparan tangan Si Kong.
Masih untung bagi mereka bahwa Si Kong tidak mau membunuh orang, maka mereka itu hanya mengalami tulang patah dan muka membengkak saja.
Si Kong tidak mempedulikan mereka lagi dan dengan langkah lebar dia memasuki pekarangan itu, terus menuju ke pintu depan.
Lima orang penjaga lain sudah menghadangnya dengan golok di tangan.
"Heii, berhenti kau! Tidak boleh memasuki rumah ini!"
Bentak seorang diantara mereka.
"Kalian yang minggir dan memberi jalan kepadaku kalau tidak ingin kuhajar!"
Lima orang penjaga itu melihat betapa lima orang rekan mereka yang berjaga diluar masih merangkak-rangkak dengan susah payah.
Akan tetapi mereka tidak percaya kalau pemuda ini telah merobohkan rekan-rekan mereka itu, dan dengan teriakan marah mereka berlima sudah menerjang dan mengeroyok Si Kong.
Kembali Si Kong berkelebatan dan sebentar saja lima orang itupun roboh malang melintang dan golok mereka beterbangan terlepas dari tangan mereka.
Mereka hanya mengaduh-aduh dan tidak dapat berbuat sesuatu ketika Si Kong memasuki rumah besar itu.
Sesampainya diruangan depan, beberapa orang pelayan wanita menyambutnya dengan heran dan seorang diantara mereka bertanya.
"Engkau siapakah dan ada keperluan apa memasuki rumah ini?"
"Aku hendak bertemu dan bicara dengan Hartawan Lui. Cepat beritahu mana dia. Aku akan menemuinya!"
Para pelayan itu sudah melihat dari dalam betapa para penjaga dibuat roboh berpelantingan oleh pemuda ini.
Mereka tidak berani menolak, akan tetapi juga tidak berani membawa pemuda itu menhadap majikan mereka yang sudah tua.
"Silakan tunggu diruangan depan, kami akan segera memberitahu majikan kami."
Si Kong mengangguk dan berkata.
"Cepat laporkan dan minta dia keluar menemuiku, sekarang juga."
Tiga orang wanita pelayan itu bergegas pergi ke sebalah dalam dan Si Jong tetap berdiri di tempat itu, memandangi perabot rumah yang serba indah.
Di dinding terdapat banyak lukisan indah dengan sajak pasangan yang muluk-muluk, mengajarkan manusia melakukan segala macam kebaikan.
Akan tetapi, ujar-ujar yang suci itu digantung disitu hanya sebagai hiasan saja, tidak ada sebuahpun yang dilaksanakan oleh si hartawan!
Terdengar langkah-langkah kaki dari dalam.
Si Kong melihat kedalam dan muncullah seorang kakek tua renta yang usianya tentu sedikitnya sudah delapan puluh tahun.
Jalannya saja dipapah oleh dua orang gadis cantik dan disampingnya berjalan seorang laki-laki tinggi kurus dan laki-laki ini memandang kepada Si Kong dengan mata mencorong.
Sebatang pedang tergantung dipunggung orang itu.
Tentu dia seorang ahli silat, mungkin merupakan pengawal pribadi Lui Wan-gwe!
Melihat kakek itu yang dipapah duduk di atas sebuah kursi, Si Kong lalu menghadapinya dan memberi hormat.
Bagaimanapun juga kakek ini adalah kakak iparnya.
"Apakah engkau yang bernama Hartawan Lui?"
Kakek itu tidak menjawab.
Yang menjawab adalah orang tinggi kurus yang sudah melangkah menghadapi Si Kong.
"Kalau benar beliau ini Lui Wan-gwe, engkau mau apakah?"
"Aku hendak bertanya tentang enciku yang bernama Si Kiok Hwa. sepuluh tahun yang lalu enciku diambil selir oleh Lui Wan-gwe. Aku ingin bertemu dengan enciku itu."
"Si Kiok Hwa tidak berada di sini lagi. Nah, pergilah, orang muda dan jangan mengganggu majikan kami."
"Aku tidak mau pergi sebelum mendengar tentang enciku!"
"Hemm, nampaknya engkau patut dihajar, berani engkau kurang ajar terhadap Lui wan-gwe?"
Orang tinggi kurus yang usianya sekitar empat puluh tahun itu mencabut pedangnya dengan sikap mengancam.
"Aku tetap tidak mau pergi sebelum mendengar keterangan yang jelas tentang diri enci Si Kiok Hwa!"
Kata Si Kong dengan suara tegas.
"Engkau sudah bosan hidup!"
Bentak kepala pengawal itu dan dia sudah menyerang dengan pedangnya.
Akan tetapi dengan mudahnya Si Kong mengelak.
Ilmu pedang orang ini boleh juga.
Setelah pedangnya dapat dielakkan Si Kong, dia menyusulkan serangan bertubi-tubi ke arah tubuh Si Kong.
Namun, betapapun cepat gerakan pedangnya, gerakan Si Kong jauh lebih cepat lagi.
Setelah mengelak sampai sepuluh kali, tiba-tiba Si Kong menyambar pedang yang ditusukkan ke dadanya itu dan menjepit pedang itu dengan jari-jari tangannya.
Si tinggi kurus terkejut dan berusaha menarik kembali pedangnya.
Akan tetapi Si Kong sudah menggerakkan kaki menendang.
"Bukk"!"
Orang tinggi kurus itu terpental kebelakang dan memegangi dadanya yang rasanya remuk sehingga dia terengah-engah, tidak mampu berdiri hanya bangkit duduk sambil menekan-nekan dadanya yang tertendang.
Si Kong menggerakkan tangan yang merampas pedang dan senjata itu meluncur seperti anak panah dan menancap di dinding sampai setengahnya lebih.
Gagangnya bergoyang-goyang saking besarnya tenaga yang melemparkannya tadi.
Si Kong menghampiri kakek tua itu yang kelihatan gemetaran.
"Tidak perlu takut, Lui Wan-gwe. Aku datang kesini hanya ingin bertemu dengan enci Kiok Hwa! Akan tetapi para tukang pukulmu yang menghalangi, terpaksa aku merobohkan mereka. Nah, sekarang katakan dimana adanya enci Kiok Hwa?"
Kakek itu menggeleng kepalanya.
"Entah dimana. Sudah lima tahun yang lalu ia meninggalkan rumah ini, dan menikah dengan seorang yang bernama Lo Sam, aku tidak tahu lagi""
Melihat kakek itu suaranya sudah gemetaran, Si Kong tidak mau mendesaknya.
"Kalau engkau tidak tahu, siapa yang tahu dimana adanya Lo Sam itu sekarang?"
Dia berhenti sebentar lalu melanjutkan dengan suara mengandung ancaman.
"Karena tadinya enciku berada disini, maka yang bertanggung jawab adalah engkau, Lui Wan-gwe. Kalau aku tidak mendapat keterangan yang jelas, akan kugeledah seluruh isi rumah ini!"
"Tunggu...!"
Lui Wan-gwe mengangkat tangan.
"Terus terang saja, aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ada seorang bujang tua yang mengetahui kemana Lo Sam membawa Kiok Hwa."
Dia lalu memberi isyarat kepada seorang gadis cantik yang tadi memapahnya.
"Panggilkan Ji Kwi kesini."
Tak lama kemudian gadis itu sudah muncul kembali bersama seorang wanita tua yang usianya sudah enam puluh tahun.
Wanita ini menghadap dengan takut-takut.
"Lo-ya memangggil saya?"
Katanya sambil berlutut di depan Hartawan Lui.
"Benar. Aku ingin engkau menceritakan tentang diri Kiok Hwa kepada adiknya ini!"
Hartawan Lui menunjuk ke arah Si Kong dan Si Kong menghampiri bujang tua itu dan berkata dengan suara halus.
"Bibi, ceritakanlah tentang enci Kiok Hwa, ceritakan semuanya jangan menyembunyikan sesuatu."
"Lima tahun yang lalu encimu keluar dari rumah ini untuk menikah dengan Lo Sam."
Kata bujang tua itu.
"Dimana adanya Lo Sam itu?"
"Dahulu rumahnya di gang keempat dari jalan raya selatan, kalau mereka belum pindah tentu engkau akan dapat menemukan mereka disana."
Si Kong mengangguk-angguk.
"Akan kucari di sana. Kalau aku tidak dapat menemukan enciku, engkau harus bertanggung jawab, Lui Wan-gwe!"
Setelah berkata demikian, Si Kong melompat dan keluar dari rumah itu.
Setelah pemuda itu pergi, Lui Wan-gwe yang sudah tua renta itu lalu marah-marah dan memaki-maki para pengawalnya yang dikatakannya tidak becus menjaga keselamatannya.
"Cepat undang Gin-to-kwi (Iblis Golok Perak) Bouw Kam kesini!"
Perintahnya.
Gin-to-kwi Bouw Kam adalah seorang tokoh besar di antara jagoan-jagoan yang menjadi tukang-tukang pukul para hartawan di dusun itu.
Dia bersedia melakukan segala macam perintah para hartawan itu dengan imbalan uang.
Kalau perlu dia bersedia membunuh demi mendapatkan upah.
Sementara itu Si Kong tidak membuang waktu lagi segera pergi kejalan raya selatan dan memasuki gang empat.
Ketika dia mencari keterangan dari orang-orang yang tinggal di gang itu di mana rumah Lo Sam, dengan mudah dia mendapatkan keterangan itu.
Dia lalu menuju kerumah Lo Sam, menyelinap dan memasuki rumah itu dari pintu belakang.
Tiba-tiba dia mendengar suara wanita batuk-batuk dan di susul suara seorang pria yang terdengar marah-marah.
"Engkau perempuan tiada guna! Kenapa tidak cepat mampus saja agar aku terlepas dari beban!"
Suara wanita itu menjawab, (Lanjut ke
Jilid 08) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 08
"Huk-huk-ugh... Lo Sam, dimana perasaanmu...? Ketika aku masih sehat... kau memaksaku untuk melacurkan diri... dan uangnya semua engkau pergunakan untuk berjudi dan bersenang-senang... tapi, sekarang setelah aku jatuh sakit, engkau tidak mau merawatku bahkan setiap hari memaki-maki..."
Berdebar rasa jantung Si Kong.
Dia tidak lagi mengenal suara wanita itu, akan tetapi timbul dugaannya bahwa itu adalah suara Si Kiok Hwa, encinya!
Maka cepat dia mendorong pintu kamar itu terbuka dan dia melihat seorang wanita kurus kering sedang rebah telentang di atas pembaringan dan seorang laki-laki tinggi besar sedang berdiri dekat pembaringan sambil bertolak pingggang.
"Engkau yang bernama Lo Sam?"
Tanya Si Kong sambil memandang laki-laki itu.
Laki-laki itu terkejut melihat tiba-tiba ada seorang pemuda membuka pintu dan memasuki kamarnya.
Dia menjadi marah sekali dan tanpa berkata-kata lagi, dia sudah menerjang dan memukul Si Kong dengan cepat dan mengerahkan seluruh tenaganya.
Akan tetapi Si Kong menangkap tangan itu dan mencengkeramnya.
Pria itu mengaduh-aduh karena merasakan kepalan tangannya seperti dijepit cengkeraman besi.
"Aduh, aduh... sakit... ampunkan saya..."
"Katakan dulu, benarkah engkau yang bernama Lo Sam?"
Kata Si Kong tanpa melepaskan cengkeramannya.
"Benar, aku Lo Sam""
Si Kong menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lo Sam sehingga orang itu tidak mampu bergerak lagi, berdiri dengan posisi menyerang dan memukul, seolah dia telah menjadi sebuah patung.
Si Kong menghampiri pembaringan itu.
Dia tidak mengenal wanita yang kurus kering itu.
Dahulu, sepuluh tahun yang lalu, encinya adalah seorang gadis remaja berusia enam belas tahun yang cantik manis, sedangkan yang menggeletak di situ adalah seorang wanita yang kelihatan tua dan kurus kering rambutnya awut-awutan dan tubuhnya kurus sekali.
"Apakah engkau Si Kiok Hwa?"
Tanyanya ragu. Wanita itu memandang Si Kong dan berkata lemah.
"Benar, aku Si Kiok Hwa... dan engkau siapa, orang muda?"
"Enci Kiok Hwa! Aku Si Kong, adikmu!"
"Si Kong...? Ya Tuhan, terima kasih atas pertemuan ini..."
Si Kong duduk ditepi pembaringan dan memegang tangan encinya.
Terkejutlah dia ketika memeriksa nadi tangan encinya.
Detik jantungnya begitu lemah dan tidak tetap, napasnya terengah-engah dan tahulah dia bahwa encinya menderita tekanan batin yang luar biasa sehingga kini tubuhnya tidak kuat bertahan dan jatuh sakit yang berat sekali.
Baru memeriksa nadi, mulut dan pernapasan encinya saja tahulah Si Kong bahwa encinya sukar diselamatkan.
Encinya itu seolah telah berada diambang kematian.
"Enci kenapa engkau sampai menderita seperti ini? Bukankah dahulu engkau menjadi selir Lui Wan-gwe?"
Dengan suara terputus-putus dan terengah-engah, wanita itu lalu menceritakan pengalamannya yang pahit.
Ternyata ia hanya menjadi permainan Lui Wan-gwe saja.
Setelah Lima tahun, kakek yang kaya raya itu bosan dengannya, lalu menyerahkan kepada Lo Sam untuk menjadi istrinya.
Mula-mula ia memang merasa bahagia karena Lo Sam menjadi suaminya.
Akan tetapi Lo Sam ini seorang penjudi dan suka hidup royal.
Ketika dia masih menerima sumbangan dari Lui Wan-gwe, memang hidup mereka tidak kekurangan.
Akan tetapi tiga tahun kemudian Liu Wan-gwe menghentikan bantuannya dan mulailah penderitaan menimpa diri Kiok Hwa.
Mula-mula semua perhiasannya dijual oleh Lo Sam untuk berjudi, lalu perabot rumah tannga.
Akhirnya, ketika tidak ada lagi yang harus di jual untuk mendapatkan uang, Lo Sam lalu menjual isterinya!
"Dia memaksa untuk menjadi pelacur...
betapa hancur hatiku...
akan tetapi dia memaksa dan kalau tidak mau dia menyiksaku.
Aku terpaksa...
menjadi pelacur...
dan uang penghasilanku semua di ambil oleh Lo Sam.
Selama hampir tiga tahun aku menjadi pelacur dan akhirnya, sebulan yang lalu aku jatuh sakit dan tidak dapat bekerja...
sebagai pelacur...
akan tetapi dia...
dia..."
Wanita itu menuding kepada Lo Sam yang masih berdiri seperti patung.
"Dia tidak mau merawatku... bahkan memujikan agar aku lekas mati..."
Kiok Hwa menangis, akan tetapi tidak ada air mata yang keluar.
Agaknya air matanya sudah habis terkuras selama ini.
Si Kong menjadi marah bukan main.
Dia meninggalkan encinya dan menghampiri Lo Sam, sekali totok Lo Sam dapat bergerak lagi.
Tadi dalam keadaan tertotok, Lo Sam mendengar semua cerita isterinya dan dia menjadi takut setengah mati ketika mengetahui bahwa pemuda yang lihai itu adalah adik isterinya!
Maka begitu bebas dari totokan, dia segera lari untuk meninggalkan pemuda itu.
Akan tetapi sekali menggerakkan kaki, Si Kong telah dapat mengejarnya dan menjambak rambutnya, menyeretnya kembali ke dalam kamar.
Ketika jambakan rambut dilepaskan, Lo Sam segera menjatuhkan diri berlutut di depan Si Kong.
"Ampunkan saya... ah, ampunkan saya..."
"Keparat busuk!"
Si Kong memakinya dan dua kali tangannya bergerak, terdengar suara "karak-krak"
Dua kali dan kedua tangan Lo Sam sudah dipatahkan tulangnya di atas siku.
Lo Sam mengaduh-aduh dan kedua lengannya tergantung tak berdaya karena tulangnya sudah patah.
"Si Kong...!"
Terdengar Kiok Hwa berkat lirih.
"Jangan Si Kong... dia mempunyai banyak teman, engkau akan dikeroyoknya..."
"Jangan khawatir, enci. Kalau dia memanggil teman-temannya, aku akan menghajar mereka semua! Lo Sam, berdirilah saja disitu, awas, kalau engkau melarikan diri, aku tidak akan mengampunimu lagi!"
"Ba... baik... Taihiap...!"
Kata Lo Sam tergagap saking takutnya.
"Si Kong..."
Wanita itu mengeluh panjang dan Si Kong segera menghampirinya dan duduk di tepi pembaringan.
"Ada apa enci?"
"Aku... aku..."
Si Kong segera menotok beberapa jalan darah untuk memulihkan kekuatan encinya yang sudah terengah-engah itu.
"Si Kong... kalau aku mati... kuburkanlah aku... di dekat makam... Ayah dan ibu..."
"Enci...!"
Si Kong merangkulnya sambil menangis.
Tidak dapat dia menahan kesedihannya melihat keadaan encinya, satu-satunya keluarganya yang masih hidup, kini berada di ambang kematian tanpa dia dapat menolongnya.
Dia hanya dapat menolong agar encinya tidak terlalu menderita kenyerian, akan tetapi tidak dapat mengobatinya sampai sembuh.
Keadaan encinya sudah parah sekali.
Paru-parunya juga sudah terluka digerogoti penyakit.
"Enci tenangkanlah hatimu dan mengasolah. Aku akan membalaskan sakit hatimu kepada semua orang yang telah membuatmu sengsara seperti ini. Aku pergi sebentar, enci."
Dia lalu membantu encinya menelan sebutir pil yang dibuatnya sendiri dari akar-akaran dan khasiat pil ini adalah untuk menguatkan badan dan melancarkan jalan darah.
Setelah itu, dia merebahkan lagi encinya, menyelimutinya dan encinya dapat tidur dengan tenang.
"Hayo ikut aku!"
Katanya kepada Lo Sam sambil menyeret tangan orang yang usianya sudah empat puluh tahun itu.
"Ke... ke mana..., Taihiap?"
"Tidak perlu bertanya, ikut saja!"
Kata Si Kong dan menyeretnya keluar dari rumah itu.
Orang-orang yang tinggal di gang itu terheran-heran melihat Lo Sam didorong-dorong oleh seorang pemuda untuk melangkah maju dan kedua lengan Lo Sam tergantung lemas.
Akan tetapi tidak ada orang mau bertanya.
Mereka sudah mengenal Lo Sam itu orang macam apa.
Penjudi, pemabok dan pembuat kerusuhan, apalagi kalau bersama teman-temannya.
Setelah tiba di jalan besar, Si Kong mendorong pundaknya.
"Kita pergi ke rumah Lui-wangwe!"
Lo Sam menjadi pucat, akan tetapi tidak berani membantah.
Sebelum tiba di rumah hartawan Lui, tiba-tiba ada empat orang pemuda yang berpapasan dengan mereka.
"He, Lo Sam. Engkau mengapa?"
Tanya mereka. Timbul kembali semangat Lo Sam ketika melihat bahwa mereka itu adalah kawan-kawannya.
"Kawan-kawan, tolonglah aku. Aku dipaksa oleh pemuda ini!"
Teriaknya.
Empat orang itu cepat maju dan mengepung Si Kong.
Mereka berempat mencabut senjata yang tadinya terselip dipinggang, yaitu pisau belati yang panjang dan tajam berkilauan.
Mereka menyerang dengan ganasnya, menusukkan pisau-pisau itu ke arah Si Kong.
Akan tetapi pemuda itu tiba-tiba lenyap dari kepungan mereka dan ternyata Si Kong memang meninggalkan mereka untuk mengejar Lo sam yang berusaha melarikan diri.
Lo Sam yang melihat empat orang kawannya sudah mengepung Si Kong, menggunakan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan orang di depannya, ketika dia melihat, alangkah kagetnya melihat Si Kong sudah menghadang di depannya!
Si Kong lalu menggerakkan jari tangannya menotok Lo Sam, membuat Lo Sam kembali tidak dapat bergerak seperti patung.
Setelah itu barulah Si Kong menghadapi empat orang pemuda berandalan itu.
Empat orang itu mengejar dan kembali mengepung, lalu mereka menyerang dengan tusukan belati mereka.
Si Kong menggerakkan kaki tangan dan empat orang itu berpelantingan.
Dalam waktu singkat Si Kong telah menampar dua menendang dua orang lagi sehingga mereka terpelanting roboh dan menyeringai kesakitan, tidak dapat segera bangkit lagi.
Si Kong tidak memperdulikan mereka, lalu menghampiri Lo sam, membebaskan totokannya kemudian menyeret lengan yang sudah lumpuh itu sehingga terpaksa Lo sam melangkah dengan muka pucat dan mulut menyeringai kesakitan.
Setelah tiba di pekarangan rumah besar, Hawtawan Lui, Si Kong menyeret Lo Sam memasuki pekarangan.
Akan tetapi tiba-tiba dari dalam rumah itu keluar seorang laki-laki yang usianya sekitar lima puluh tahun dan dia memegang sebuah kampak yang mengerikan karena kampak itu besar dan berat, berkilauan saking tajamnya.
Melihat ini, segera Si Kong menendang Lo Sam dan tubuh Lo Sam terlempar dan dia hanya mengaduh-aduh, tidak dapat bangkit lagi karena kedua tangannya sudah lumpuh dan kaki kirinya yang terkena tendangan pada pahanya itu juga nyeri luar biasa.
Si Kong melangkah maju, disambut oleh laki-laki yang memegang kampak itu.
Laki-laki itu bertubuh tinggi tegap dan dia memegang kampak besar dan menumpangkan kampak itu di atas pundak kanan.
"Hei, orang muda pengacau. Ternyata engkau berani datang lagi dan aku sudah menunggumu. Katakan siapa namamu agar engkau jangan mati tanpa nama."
Si Kong mengerutkan alisnya dan tahulah dia bahwa Hartawan Lui agaknya sengaja memanggil tukang pukul atau jagoan ini untuk melawannya.
"Sobat, kalau boleh kunasihatkan, jangan mencampuri urusanku dengan Lui Wan-gwe dan pulanglah ke rumahmu sendiri. Aku tidak ingin bermusuhan dengan siapapun juga!"
Orang itu tertawa.
"Ha-ha-ha, pemuda sombong. Ketahuilah, aku Gin-to-kwi adalah pelindung Hartawan Lui. Engkau berani datang mengganggunya, berarti engkau sudah bosan hidup!"
Si Kong memandang penuh perhatian dan melihat bahwa di belakang orang itu, terdapat sebatang golok menempel di punggung.
Agaknya orang ini ahli bermain golok, akan tetapi untuk menakut-nakuti lawan, dia sengaja membawa kampak yang besar itu.
"Gin-to-kwi, kalau engkau tidak mau pergi, terpaksa aku akan menghajarmu pula!"
Sepasang mata itu melotot.
Belum pernah ada orang yang berani menantangnya selama ini, dan pemuda ini berani berkata hendak menghajarnya!
Kemarahannya membuat mukanya menjadi kemerahan dan dia mengayun kampaknya untuk memperlihatkan kekuatannya.
Kampak itu diputar di atas kepalanya, kemudian dia berseru.
"Orang muda, mampuslah engkau!"
Orang itu menyerang dengan kampaknya, dihantamkan ke arah Si Kong.
Kalau serangan itu mengenai sasarannya, kepala Si Kong tentu akan terpisah dari tubuhnya seperti penjahat yang dipancing kepalanya oleh seorang algojo.
Akan tetapi, dengan mudah saja Si Kong menundukkan kepala dan menekuk sedikit lututnya sehingga kampak itu berdesing lewat di atas kepalanya.
Saat itu dipergunakan oleh Si Kong untuk mengayun kaki kanan, menendang ke arah perut Gin-to-kwi.
"Dukk!"
Gin-to-kwi menangkis dengan tangan kirinya.
Ternyata jagoan ini memiliki kepandaian yang lumayan juga.
Tidak mengherankan kalau dia menjadi jagoan nomor satu di dusun Ki-ceng.
Biarpun dia merasa nyeri pada tangannya yang menangkis, tidak diperdulikan dan kampaknya sudah menyambar lagi, kini menghantam ke arah dada Si Kong.
Kembali Si Kong mengelak ke samping dengan menggeser kakinya.
Kampak itu membuat gerakan memutar ke atas dengan cepatnya menyerang lagi ke arah kepala Si Kong!
Si Kong tahu akan bahayanya senjata berat ini, maka setelah mengelak dengan mendoyongkan tubuh ke belakang dia lalu balas menyerang dengan cepat luar biasa karena dia menggunakan ilmu Yan-cu Hui-kuin (Silat Burung Walet Terbang).
Orang bertubuh tinggi besar itu terkejut, akan tetapi dia tidak dapat mengelak atau menangkis lagi ketika tangan Si Kong menampar dan tepat mengenai belakang sikunya.
Seluruh lengan terasa lumpuh sehingga kampak itu terlepas dari tangannya.
Dia cepat meloncat kebelakang dan menggerak-gerakkan tangan kanan untuk mengusir kelumpuhan itu.
Ketika lengannya sudah pulih kembali, dia lalu mencabut golok dari punggungnya.
Sinar terang menyilaukan mata menyambar ketika golok di cabut.
Kiranya senjata ity terbuat dari perak murni dan tajam bukan main.
"Bocah setan, sekarang bersiaplah untuk mampus!"
Bentak Gin-to-kwi sambil memutar goloknya dan menyerang.
Bagi Si Kong, gerakan lawan itu tidak terlalu cepat seperti tampaknya, dia mengelak ke sana sini mencari kesempatan.
Ketika melihat lowongan pada saat golok menyambar lehernya, dia lalu masuk menotok dada kanan lawan.
"Tukk!"
Golok itu terlepas dari tangannya dan sebelum Gin-to-kwi dapat berbuat sesuatu, sebuah tendangan membuat tubuhnya terlempar ke belakang!
Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi roboh lagi.
Si Kong sudah tidak memperdulikan dia lagi, menghampiri Lo Sam dan membebaskan totokannya lalu menyeretnya memasuki rumah gedung tempat tinggal Lui Wan-gwe itu.
"Hartawan Lui, keluarlah aku mau bicara!"
Teriak Si Kong ke sebelah dalam.
Tak lama kemudian, Hartawan Lui keluar dengan dipapah dua orang gadis cantik.
Si Kong mendorong Lo Sam sehingga orang ini jatuh berlutut.
"Nah, Hartawan Lui, inilah Lo Sam yang telah mengawini enciku. Menurut keterangan tadi, enciku keluar dari rumah ini dan menikah dengan Lo Sam. Akan tetapi sesungguhnya tidak demikian. Hayo Lo Sam, akuilah terus terang bagaimana engkau sampai dapat menikah dengan enci Kiok Hwa yang tadinya menjadi selir Hartawan Lui!"
Lo Sam sudah mati kutu.
Dia tidak berani lagi berbohong, walaupun dia takut kepada Hartawan Lui akan tetapi dia lebih takut kepada Si Kong.
"Pada suatu hari saya dipanggil Hartawan Lui dan diberi hadiah seorang selirnya dan juga uang."
"Nah, kau dengar sendiri, Lui-wangwe? Engkau dahlu mengambil enci Kiok Hwa menjadi selirmu, mengandalkan kekayaanmu dan mengambil kesempatan selagi Ayahku terdesak oleh kemiskinannya. Akan tetapi, setelah lewat lima tahun engkau merasa bosan dan memberikan enciku kepada jahanam ini seolah enciku sebuah benda yang tidak terpakai lagi. Jahanam Lo Sam ini telah menyiksa enciku dan memaksanya menjadi pelacur! Akan tetapi, kesengsaraan yang di derita enciku itu bermula pada tindakanmu yang memberikan ia kepada Lo Sam. Engkau harus bertanggung jawab untuk itu!"
Kakek Hartawan itu gemetar seluruh tubuhnya.
"Aku menyesal telah melakukan itu. Harap engkau suka mengampuni aku. Kalau engkau menginginkan uang, sebutkan saja jumlahnya, tentu aku akan memberi padamu."
"Aku tidak butuh uangmu! Akan tetapi engkau harus membebaskan semua tanah, sawah dan ladang yang kau sita dari penduduk miskin karena mereka tidak mampu membayar hutang mereka kepadamu. Dan engkau harus membebaskan semua hutang penduduk miskin di dusun ini, mulai hari ini tidak ada seorangpun yang pinjam uang kepadamu, semua telah lunas. Mengerti?"
"Ba... baik...!"
Kata Hartawan itu.
"Awas engkau! Kalau dalam beberapa hari ini engkau masih belum mengembalikan sawah ladang kepada mereka, aku akan datang lagi kesini dan membunuhmu seperti anjing ini!"
Si Kong menggerakkan tangannya ke arah kepala Lo Sam.
Orang yang kejam inipun terpelanting roboh dan tidak dapat bergerak lagi karena kepalanya sudah retak dan nyawanya sudah melayang meninggalkan badannya.
Hartawan Lui makin ketakutan.
Mukanya pucat sekali dan kalau dia tidak dipapah dua orang gadis itu, tentu dia akan roboh.
Lututnya sudah menggigil.
"Dan ingat, jangan panggil jagoan seperti yang menggeletak diluar itu atau aku akan membunuhmu dan membakar rumah ini!"
"Baik... akan kuturuti permintaanmu..."
Kata Hartawan Lui.
Setelah mengeluarkan ancaman itu, Si Kong lalu keluar dari rumah itu.
Para penjaga tidak kelihatan karena mereka semua telah bersembunyi ketakutan.
Si Kong kembali ke rumah Lo Sam untuk melihat encinya.
Akan tetapi ketika dia memasuki kamar itu, Kiok Hwa telah meninggal dunia.
Si Kong memeluk tubuh encinya dan merasa kasihan sekali.
Encinya menjadi korban karena kemiskinan orang tua mereka.
Kalau Ayahnya tidak semiskin itu, tentu encinya tidak sampai diserahkan kepada Hartawan Lui.
Para tetangga datang melayat ketika mendengar bahwa Si Kiok Hwa meninggal dunia.
Si Kong mengurus jenazah encinya dan dikuburkan di dekat kuburan ibu dan Ayahnya.
Setelah penguburan selesai dia berkata kepada para tetangga itu.
"Kalau diantara kalian ada yang mengggadaikan tanah kepada Hartawn Lui dan yang lain-lain, mulai sekarang boleh memiliki tanah itu kembali. Garaplah sawah ladang kalian baik-baik dan jangan sekali-kali menggadaikannya. Kalau kalian butuh uang, mintalah saja kepada para hartawan disini, mereka pasti akan menolong kalian."
Ucapan Si Kong itu disambut dengan sikap bermacam-macam oleh mereka.
Ada yang berjingkrak kegirangan, ada pula yang tidak percaya dan ada yang ragu-ragu.
Si Kong tidak berhenti sampai disitu saja.
Dia mengunjungi semua tuan tanah dan hartawan yang tinggal di Ki-ceng.
Tentu saja dia mendapatkan perlawanan dari tukang-tukang pukul para hartawan.
Akan tetapi semua tukang pukul dia robohkan dan semua hartawan itu diancamnya untuk membebaskan semua hutang dan mengembalikan sawah ladang, dan selanjutnya bermurah hati kalau rakyat dusun itu sedang menderita kekurangan pangan.
Si Kong tinggal di dusun itu sampai sebulan lamanya.
Setelah dia melihat bahwa semua ancamannya dipenuhi para hartawan sehingga seluruh penduduk dusun yang miskin menjadi gembira luar biasa, baru Si Kong meninggalkan dusun itu.
Penduduk yang tahu akan kepergian Si Kong, berbondong-bondong mengantarkan pemuda itu sampai keluar dari dari dusun.
Dan semenjak hari itu, seluruh penduduk dusun hidup dengan aman dan tenteram.
Para hartawan tidak perlu lagi memelihara tukang pukul karena rakyat miskin yang mengenal budi itu akan menjaga keselamatan mereka dari gangguan perampok.
Tidak ada lagi kekurangan pangan, karena para hartawan suka membagi-bagi beras apabila musim panas yang panjang datang.
Dan tidak ada lagi pencurian atau perampokan, karena selain penduduk melakukan penjagaan, juga tidak ada keadaan yang memaksa mereka untuk mencuri.
Dusun Ki-ceng menjadi dusun tauladan.
Penduduknya hidup tenteram dan sebentar saja dusun itu berkembang menjadi besar.
Bahkan banyak orang berdatangan untuk menjadi penghuni dusun Ki-ceng.
Para hartawan juga tidak kehabisan hartanya karena suka membagi-bagi beras kepada penduduk miskin, karena kalau sedang panen para penduduk miskin yang banyak menerima bantuan itu secara bergotong royong membantu tanpa menuntut upah.
Memang demikianlah.
Kalau yang memiliki kelebihan memberi kepada yang kekurangan, baik kelebihan harta atau ilmu pengetahuan, maka akan ada pemerataan penghasilan di antara penduduk, tidak ada lagi bahaya kelaparan dan tidak ada lagi rasa iri dan dendam.
Tanpa dia sadari Si Kong telah menolong rakyat di dusun tempat asalnya dan mengubah dusun yang biasanya dilanda kelaparan itu menjadi dusun yang maju dan makmur.
Kini Si Kong melakukan perjalanan tanpa tujuan tertentu.
Dia sudah kembali kedusunnya, bahkan kehilangan keluarga satu-satunya, yaitu encinya.
Setelah mengubur jenazah encinya, habislah kaitannya dengan dusun Ki-ceng.
Kemudian, ketika pada suatu siang yang panas dia mengaso di bawah sebatang pohon rindang dan membuka buntalannya, dia melihat kantung kain kecil yang berisi perhiasan wanita, yaitu sepasang gelang emas bertabur permata yang indah sekali.
Dia teringat akan pemberi sepasang gelang itu, seorang gadis yang cantik jelita dan memiliki ilmu pedang yang lihai.
Namanya Tan Kiok Nio.
Membayangkan wajah gadis itu, jantungnya berdebar.
Gadis yang hebat, pikirnya.
Dia lalu mengenang kembali semua pengalamannya dan dia mendapat kenyataan bahwa diapun teringat akan Tong Kim Lan, puteri si Huncwe Maut Tong Li Koan.
Gadis itupun seringkali muncul dalam ingatannya.
Kemudian dia teringat pula akan Tang Hui Lan, puteri suami isteri pendekar besar, cucu gurunya Ceng Lo-jin.
Dibandingakan dua orang gadis itu, Hui Lan menang segala-galanya.
Kecantikannya, kepandaiannya.
Ia merasa yakin bahwa Hui Lan tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali.
Kemudian dia teringat kepada Gu Mei Cin, yang ditolongnya dari tangan si jahat Ouwyang Kwi.
Kemudian diapun teringat dan membayangkan wajah gadis lain yang tak kalah cantiknya dari lain-lain.
Bahkan ia memiliki ilmu kepandaian yang paling hebat.
Entah siapa yang lebih unggul ilmunya antara gadis itu yang bernama Pek Bwe Hwa dengan Tang Hui Lan.
Satu demi satu wajah kelima orang gadis itu bermunculan dan hatinya merasa gelisah sendiri.
"Ihh! Tak tahu malu. Kenapa mengenang gadis-gadis itu?"
Celanya kepada diri sendiri.
Cepat dia menyimpan kembali sepasang gelang emas berhias permata itu kedalam kantung kain dan mengambil roti kering yang tadi dibelinya di dusun terakhir yang dilewatinya.
Makan sepotong roti kering dan ikan kering membuat leher terasa haus bukan main.
Akan tetapi tempat airnya telah penuh, diisi air teh di warung dusun tadi, dan dia dapat makan dan minum sambil melepaskan lelah.
Selagi dia makan minum, nampak seorang laki-laki setengah tua datang sambil memikul ubi.
Agaknya dia seorang petani yang baru saja panen ubi dan kini membawa ubi dalam pikulannya.
Melihat ada seorang pemuda beristirahat di bawah pohon besar yang lebat daunnya, memberi keteduhan di bawahnya, laki-laki berusia hampir lima puluh tahun itupun meninggalkan jalan dan menuju ke pohon itu.
Dia menurunkan pikulannya dan menyeka keringat dengan bajunya.
Bahkan dia lalu menanggalkan baju atasnya karena merasa gerah bukan main.
"Selamat siang, paman."
Kata Si Kong ramah.
"Kalau paman mau, silakan makan minum bersamaku. Akan tetapi aku hanya mempunyai roti kering dan teh dingin!"
"Roti kering dan teh dingin sudah merupakan hidangan lezat di siang hari panas seperti ini."
Kata orang itu.
Lalu dia duduk dekat Si Kong, diatas hamparan rumput hijau.
Sambil tersenyum Si Kong mengulurkan tangan memberi roti dan ikan kering kepada orang itu yang menerimanya dengan pandang mata berterima kasih.
Mereka lalu makan minum bersama sambil bercakap-cakap santai.
"Paman hendak menjual ubi ke kota?"
"Benar, kongcu."
"Aih, jangan sebut aku kongcu, paman. Aku hanya seorang perantau miskin, bukan pemuda bangsawan bukan pula pemuda hartawan. Namaku Si Kong dan paman boleh menyebutku dengan nama itu saja."
Petani itu tersenyum dan memandang kepada Si Kong dengan matanya yang ramah.
Kulit muka petani itu sudah penuh keriput walaupun usianya baru lima puluh tahun, namun wajah keriput itu masih nampak segar dan tubuhnya masih nampak kuat.
"Baiklah, Akong dan terima kasih atas keramahanmu mengundang aku makan. Roti kering dan ikan kering itu lezat sekali!"
"Setiap makanan akan lezat kalau dimakan selagi perut merasa lapar, bukankah begitu, paman?"
"Kau benar dan perutku memang sedang lapar."
"Apakah paman mempunyai anak isteri."
"Aku mempunyai isteri dan dua orang anak."
"Apakah hidup paman kekurangan?"
"Ah, tidak. Kedua anakku membantu diladang. Kami setiap hari dapat makan dan ubi sisa makanan kami ini dapat kujual kekota dan uangnya dapat kupakai membeli pakaian atau keperluan lain. Tidak, aku tidak kekurangan dan keluargaku tidak pernah kelaparan. Kami memiliki sebidang sawah dan juga memiliki sebuah rumah yang biarpun tidak bagus namun cukup menyenangkan bagi kami."
Si Kong memandang kagum.
Didepannya duduk seorang setengah tua yang sederhana dan miskin, memikul ubi yang berat untuk di jual dengan harga yang murah, namun kakek ini tidak merasa kekurangan.
Agaknya orang seprti kakek inilah yang dapat disebut orang yang berbahagia hidupnya.
Mereka telah selesai makan dan kakek itu yang telah melakukan perjalanan cukup jauh agaknya hendak mengaso sejenak di tempat yang teduh itu.
"Paman, engkau tentu seorang yang berbahagia hidupnya?"
"Bahagia? Apakah itu? Aku tidak merasa berbahagia, akan tetapi juga tidak merasa sengsara. Aku sekeluargaku cukup makan, dapat bertukar pakaian, dan memiliki rumah sebagai tempat tinggal kami, dapat bekerja diladang setiap hari."
"Kalau begitu engkau pasti berbahagia?"
Kata Si Kong sambil mengangguk-angguk.
"Aku tidak tahu, Akong. Apa sih bahagia itu? Yang jelas, aku tidak membutuhkan bahagia, asalkan keluargaku semua sehat dan tidak ada halangan sesuatu."
"Paman tentu tidak mengenal kesusahan dan kekecewaan."
"Ah, siapa bilang? Kalau ubi yang kupikul ini tidak laku, atau hanya laku sedikit saja, aku tentu kecewa dan susah. Kalau anak-anakku tidak menaati kata-kataku, akupun marah dan kesal. Aku masih bisa susah dan kecewa, Akong."
Si Kong tertegun dan memandang wajah penuh keriput itu.
Benar, orang ini masih mengenal susah dan kecewa.
Kalau begitu, dia bukan orang yang berbahagia.
"Kalau begitu engkau juga tidak berbahagia seperti halnya diriku, paman."
"Aku tidak tahu. Yang jelas, aku kadang-kadang merasa senang dan kadang-kadang juga merasa susah, kadang merasa puas dan sering merasa kecewa juga. Bukankah kehidupan ini terisi kesenangan dan kesusahan, Akong? Wah, matahari telah naik tinggi, aku tidak boleh kesiangan sampai dikota, karena ubiku tentu tidak akan laku lagi. Para tengkulak sudah pulang dan terpaksa ubi kujual murah, membuat aku merasa kecewa dan susah."
Kakek itu lalu memikul lagi ubinya dan pergi meninggalkan Si Kong.
Setelah kakek itu pergi, Si Kong termenung.
Kakek itu bukan orang yang berbahagia, pikirnya.
Lalu, apakah kebahagiaan itu.
Baru sekarang timbul pertanyaan ini.
Sayang dia dahulu tidak pernah membicarakan perihal bahagia ini dengan guru-gurunya.
Sekarang dia menghadapi pertanyaan itu seperti menghadapi teka-teki.
Dia sama sekali tidak tahu apa yang dimaksudkan bahagia itu dan kemana harus mencari bahagia.
Seperti juga Si Kong, semua orang di dunia ini mendambakan kebahagiaan, akan tetapi agaknya jarang ada orang yang menemukan kebahagiaan.
Yang dirasakan orang hanyalah kesenangan, tidak dapat tidak kita pasti akan berhadapan dengan kesusahan pula.
Senang dan susah, puas dan kecewa, gembira dan sedih, berhutang budi dan dendam, semua itu menjadi isi kehidupan, yang satu tidak terpisah jauh dari yang lain sehingga manusia dipermainkan oleh perasaannya sendiri.
Kesenangan memang mudah dicari dan ditemukan, dan walaupun tidak dikehendaki, kesusahan menyusul kesenangan itu, silih berganti.
Apakah kebahagaiaan itu?
Ke mana mencarinya?
Orang mencari kebahagiaan dengan berbagai cara.
Melalui agama, melalui pertapaan dan penyiksaan diri, melalui pengetahuan, namun amatlah sukar menemukan orang yang sudah mendapatkan kebahagiaan yang dicari-cari itu.
Tetap saja mereka menjadi permainan susah dan senang.
Kalau kita renungkan secara mendalam, kita dapat bersama-sama menyelidiki tentang kebahagiaan itu.
Kebahagiaan berada di atas susah dan senang.
Bahkan diwaktu mendapatkan kesusahan, kita masih berbahagia.
Bahagia tidak disentuh dan tidak diubah oleh susah senang yang hanya lewat seperti lewatnya segumpal awan diangkasa yang cepat lewat dan lenyap.
Kebahagiaan tidak mungkin dapat ditemukan dengan jalan mencarinya.
Kebahagiaan tidak dapat dicari.
Makin didambakan dan dicari, makin menjauhlah dia.
Daripada bersusah payah mencari kebahagiaan, lebih baik orang meneliti ketidak-bahagiaan.
Ketidak-bahagiaan ini dapat terasa oleh setiap orang.
Merasa tidak berbahagia.
Kita lalu meneliti dan mengamati diri sendiri, apa yang menyebabkan kita tidak bahagia?
Kalau sebab adanya ketidak-bahagiaan ini sudah tidak ada lagi, kita tidak membutuhkan bahagia.
Kenapa?
Karena kita sudah berbahagia!
Berarti bahwa kebahagiaan itu sudah ada dan selalu ada dalam diri kita.
Seperti halnya kesehatan.
Kesehatan itu sudah ada pada kita.
Akan tetapi biasanya kita tidak merasakan adanya kesehatan ini, tidak dapat menikmati.
Baru kalau kita jatuh sakit, kita mendambakan kesehatan.
Demikian pula kebahagiaan.
Selalu terutup oleh ulahnya nafsu, senang susah, sedih gembira, dan segala macam perasaan yang didorong oleh nafsu.
Karena kita menjadi budak nafsu kita sendiri, maka kebahagiaan itu tertutup dan tidak pernah dapat dirasakan.
Yang dapat dirasakan hanya kesenangan dan kesenangan inipun ulah nafsu.
Nafsu mendorong kita agar selalu mengejar kesenangan.
Orang yang tidak lagi menjadi budak nafsu, melainkan menjadi majikan nafsu, mungkin sekali akan dapat merasakan kebahagiaan itu.
Nafsu tidak lagi menyeret kita ke dalam perbuatan yang hanya mengejar kesenangan sehingga untuk mencapai kesenangan, kita halalkan segala macam cara.
Nafsu merupakan peserta hidup yang amat penting dan berguna, kalau saja kita yang mengendalikannya.
Akan tetapi kalau nafsu menguasai kita, maka malapetakalah yang akan menimpa diri kita.
Tanpa nafsu kita tidak akan dapat hidup di dunia ini.
Nafsu yang mendorong kita untuk hidup layak sebagai manusia.
Akan tetapi dengan nafsu menjadi majikan, kita akan hidup sesat.
Nafsu bagaikan api.
Kalau kita dapat menguasainya, maka api itu amat berguna nagi kehidupan kita.
Akan tetapi kalau terjadi sebaliknya, api yang mengamuk menguasai kita, api itu akan membakar segala yang ada!
Lalu bagaimana caranya untuk menguasai dan mengendalikan nafsu yang demikian kuatnya?
Diri kita sudah menjadi gudang nafsu, maka akan sia-sialah kalau kita berusaha untuk menundukkannya.
Pikiran itu sendiri yang ingin menguasai nafsu, sudah bergelimang dengan nafsu.
Juga ilmu pengetahuan tidak dapat dipergunakan untuk menguasai nafsu.
Lalu bagaimana?
Satu-satunya jalan untuk menguasai nafsu hanya MENYERAH kepada KEKUASAAN TUHAN!
Hanya Tuhanlah yang dapat menundukkan nafsu.
Siapa lagi yang dapat menundukkan nafsu selain YANG MAHA PENCIPTA?
Kalau kita menyerahkan diri dengan penuh keimanan, tawakal dan kepasrahan yang ikhlas, maka kekuasaan Tuhan akan bekerja dalam diri kita!
Si Kong bangkit berdiri dan membawa buntalan pakaiannya dengan memanggul tongkat bambu.
Dia melakukan perjalanan ke barat dengan melangkahkan kaki seenaknya karena dia tidak tergesa-gesa, bahkan tidak mempunyai tujuan.
Kembali dia teringat kepada Tan Kiok Nio, gadis jelita yang minta tolong kepadanya untuk mencari tahu dimana adanya seorang kakek berusia enam puluh tahun yang bermuka pucat dan berpakaian serba merah.
Kakek itu telah membunuh orang tua Kiok Nio.
Biarpun amat sukar mencari orang yang tidak diketahui dimana tempat tinggalnya, akan tetapi kalau kebetulan dia bertemu dengan kakek itu, tentu dia akan mengenalnya.
Sukar dicari orang tua yang memakai pakaian serba merah!
Pada suatu hari tibalah dia di tempat yang sunyi sepi dan di depannya menjulang tinggi sebuah bukit yang penuh dengan pohon-pohon besar.
Matahari telah naik tinggi dan Si Kong merasa betapa perutnya lapar sekali.
Semenjak kemarin sore dia belum makan apapun kecuali minum air jernih yang menjadi bekalnya.
Melihat hutan dibukit itu, timbul niatnya untuk berburu binatang yang dagingnya dapat dimakan.
Tidak nampak dusun disekitar tempat itu dimana dia dapat membeli makanan.
Dengan membawa beberapa potong batu yang runcing dia memasuki hutan itu.
Setelah berkeliaran di dalam hutan mencari-cari, akhirnya dia meloncat naik ke atas pohon besar untuk melihat kalau-kalau di dekat situ terdapat binatang buruan.
Usahanya berhasil.
Dari atas pohon itu dia melihat anak sungai yang berliku-liku dan tak jauh dari situ terdapat beberapa ekor kijang sedang minum air.
Dengan hati-hati Si Kong turun dari atas pohon dan berindap-indap mendekati sekawanan kijang itu, menyusup-nyusup diantara semak belukar dan batang-bantang pohon.
Setelah jarak antara dia dan kijang-kijang itu tidak begitu jauh lagi, Si Kong lalu menggenggam sepotong batu, matanya dengan tajam mengambil jarak dan membidik, kemudian tangannya bergerak dan batu itu meluncur ke arah seekor kijang muda yang gemuk.
"Wuuutt... tarr!"
Batu itu bertumbuk dengan batu lain yang meluncur dari samping sehingga dua batu runtuh.
Kijang-kijang itu terkejut oleh bunyi kedua batu yang bertumbukan itu dan mereka segera berloncatan cepat sekali menghilang di balik semak-semak belukar.
Si Kong mengerutkan alisnya dan dia menjadi marah.
Jelas ada orang yang telah menimpuk batunya sehingga niatnya merobohkan seekor kijang menjadi gagal.
Dia meloncat keluar dari balik semak-semak dan pada saat yang sama, dari balik sebatang pohon besar meloncat keluar pula seorang pemuda remaja yang dari pakaiannya yang kusut penuh tambalan itu dapat diduga bahwa dia seorang pengemis.
Di punggungnya tergendong sebuah buntalan kain kuning.
Bajunya yang penuh tambalan itu terlampau besar sehingga kedodoran dan kepanjangan sampai lutut.
Namun wajah yang kotor terkena tanah dan debu itu nampak tampan juga.
Sebelum Si Kong menegurnya, pengemis muda itu lebih dulu menudingkan telunjuknya ke arah hidung Si Kong dan membentak nyaring.
"Engkau manusia kejam yang tak mengenal prikebinatangan! Kijang-kijang itu sedang santai melepas dahaga, kenapa engkau hendak membunuhnya? Engkau lebih kejam daripada binatang buas!"
Si Kong tidak jadi marah.
Melihat seorang pengemis muda yang hidupnya tentu serba kekurangan dan sengsara, dia sudah merasa iba dan dia sudah memaafkan perbuatan pengemis muda remaja itu.
Akan tetapi dia penasaran juga ketika dikatakan lebih kejam dari binatang buas.
"Adik kecil""
"Aku bukan anak kecil!"
Pengemis itu membantah.
Si Kong tersenyum.
Seorang pemuda remaja yang nakal, pikirnya dan diapun berkata.
"Adik yang baik, bagaimana engkau mengatakan bahwa aku lebih kejam dari binatang buas? Kalau aku menjadi harimau, sudah kuterkam kijang tadi!"
"Harimau lain! Memang makanannya daging binatang dan dia hanya membunuh korbannya kalau perutnya lapar dan dia ingin makan."
Si Kong mengelus perutnya.
"Aku juga lapar."
"Tapi engkau tentu suka makan makanan lain. Sebaliknya harimau tidak suka makan roti, tidak suka minum arak, tidak suka makan nasi. Sebaliknya engkau, aku yakin engkau suka makan roti dan minum arak!"
"Akan tetapi aku tidak mempunyai pilihan lain. Di sini yang ada hanya kijang itu, tidak ada roti dan arak!"
Pengemis muda itu menurunkan buntalannya dari punggung, membuka buntalan dan diantara pakaian yang tambal-tambalan terdapat pula sebungkus roti bakpau yang isinya cukup banyak untuk dimakan dua orang!
Dan juga seguci arak.
"Aku tidak tega melihat kijang dibunuh. Binatang itu demikian indah, kalau engkau tadi membunuhnya, tentu ada orang tua dan sanak saudaranya yang kehilangan, terutama pacarnya. Maka aku menghalangimu dan kalau engkau memang lapar, sama dengan aku. Maka mari kita makan bakpau ini."
Dia lalu duduk bersila diatas rumput.
Si Kong memandang dengan bengong.
Bocah ini memang nakal, akan tetapi kata-katanya demikian tepat sehingga sukar untuk dibantah, seperti kata-kata seorang pendeta yang pantang makan daging saja.
Diapun mengangguk dan duduk di depannya, mengambil sepotong bakpau dan menggigitnya.
Lezat sekali bakpau itu, tentu bukan bakpau yang murahan.
Akan tetapi ketika lidahnya merasakan daging di dalam bakpau, dia mengerutkan alisnya.
"Adik, engkau tadi mencela aku yang hendak makan daging kijang! Akan tetapi engkau sendiri sekarang makan daging yang berada di dalam bakpau. Kalau begitu, engkau seorang yang munafik!"
"Apa kau bilang? Aku munafik? Siapa yang mengatakan kepadamu bahwa aku tidak suka daging?"
"Kau tadi melarangku..."
"Tentu saja karena aku membawa bekal cukup bakpau yang cukup banyak. Kalau ada bakpau, mengapa membunuh kijang? Yang kumakan ini daging ayam, itupun bukan aku yang menyembelih, melainkan orang yang memeliharanya."
Si Kong tersenyum.
Percuma saja berdebat dengan anak kecil yang mau menang sendiri saja.
Dia lalu makan lagi dan tidak sampai makan waktu lama, bungkusan bakpau itu telah habis mereka makan!
"Nih, minumnya!
Bukan arak keras, melainkan anggur yang sedap dan tidak memabokkan.
Aku paling muak melihat orang mabok!"
Bocah ini nakal, pandai bicara dan mau menang sendiri, akan tetapi hatinya polos dan baik.
"Engkau minumlah dulu, baru aku. Engkau pemiliknya berhak minum lebih dulu karena disini tidak ada cawan."
Kembali bocah itu mengerutkan alisnya.
"Kau tidak percaya padaku dan kau kira arak ini mengandung racun? Hemm, kalau aku ingin meracunimu, sekarang juga engkau sudah menggeletak tanpa nyawa. Aku dapat menaruh racun itu dalam bakpau tadi!"
"Wah, jangan salah sangka, sobat. Aku sama sekali tidak takut kalau dalam arak ada racunnya. Akan tetapi karena kita harus minum begitu saja dari mulut guci, maka sebaiknya engkau dulu yang minum, baru aku."
"Aturan mana itu? Aku tuan rumah dan engkau tamuku. Tentu saja engkau yang harus minum lebih dulu. Kalau engkau menolak, itu berarti engkau tidak percaya dan tidak menghargai suguhanku."
Kembali Si Kong merasa kalah kalau harus berdebat dengan pengemis muda yang bicaranya seperti seorang pengacara ini.
Terpaksa dia menerima guci itu dan minum dari mulut guci, menjaga agar bibirnya tidak menyentuh mulut guci.
Anggur itu memang enak sekali, manis dan sedap.
Karena isinya masih penuh, diapun minum sepuasnya.
Lalu dia mengembalikan guci itu kepada pemiliknya.
Pengemis muda itupun menuangkan anggur dari guci kemulutnya dan menempelkan bibirnya pada mulut guci.
Si Kong memandang wajah pengemis itu.
Wajah itu masih kekanak-kanakan, akan tetapi setelah dipandang dengan waspada, dia harus mengakui bahwa wajah pengemis itu tampan sekali.
Giginya berderet putih bagaikan mutiara.
Akan tetapi wajah berlepotan lumpur dan debu.
Teringatlah dia akan peristiwa tadi.
Sambitan batu yang dilontarkan pada kijang tadi mengandung tenaga yang kuat, yang diaturnya agar dapat membunuh kijang itu sekali sambit.
Akan tetapi pemuda remaja ini mampu meruntuhkannya dengan sambitan batu lain.
Ini membuktikan bahwa pemuda jembel ini memiliki ilmu kepandaian yang tidak rendah.
"Adik yang baik, siapakah namamu dan dimana tempat tinggalmu?"
Pengemis muda itu menatap tajam wajah Si Kong, agaknya dia sedang mempertimbangkan pertanyaan itu.
Kemudian dia berkata.
"Katakan dulu siapa engkau dan ada urusan apa engkau datang ke tempat ini?"
Si Kong tersenyum.
"Ditanya belum menjawab bahkan berbalik mengajukan pertanyaan."
"Tentu saja sebagai tamu engkau harus memperkenalkan diri lebih dulu. Kalau engkau tidak bertanya siapa namaku akupun tidak akan menanyakan namamu."
Dasar pokrol, pikir Si Kong.
Akan tetapi pengemis muda ini sudah menjamunya dengan bakpau dan anggur, maka diapun mengalah.
"Namaku Si Kong, tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap. Aku seorang yatim piatu yang hidup sebatangkara dan aku mengembara kemana saja hati dan kakiku membawaku. Kebetulan aku lewat di sini dan perutku keroncongan. Karena melihat di sekitar tempat ini tidak ada dusun, maka terpaksa aku harus berburu binatang untuk memberi makan perutku yang lapar. Nah sudah jelas, bukan? Sekarang giliranmu bercerita tentang dirimu."
"Aku... eh, namaku Siangkoan Ji. Aku juga berkelana seorang diri saja. Kalau tidak ada yang menaruh iba, tentu kudatangi rumah hartawan yang kikir dan kuambil emasnya barang sekantung. Lihat, inilah sisa emas sekantung. Telah kubagi-bagikan kepada para petani miskin dan sisanya tidak berapa lagi, akan tetapi cukup untuk kubelikan makanan kalau lapar. Tidak akan habis sebulan."
Si Kong mengerutkan alisnya.
"Ji-te, mengemis itu pekerjaan yang memalukan, dan mencuri adalah perbuatan yang jahat. Mengapa engkau mengemis dan mencuri?"
"Aku mengemis untuk makan. Aku mencuri untuk menolong para petani miskin di dusun-dusun. Kenapa di bilang jahat? Habis, kalau aku tidak boleh mengemis atau mencuri, aku harus makan apa? Aku tidak suka makan batu dan minum air comberan!"
Pemuda itu membantah dan bersungut-sungut.
"Engkau bisa bekerja, Ji-te (adik Ji), seperti aku. Akupun suka bekerja kalau kehabisan bekal. Gajinya kutabung, kalau sudah cukup aku melanjutkan pengembaraanku. Engkaupun dapat bekerja Ji-te."
Pengemis muda itu nampaknya senang di sebut Ji-te, sebutan yang akrab sekali.
Pemuda tegap di depannya itu tidak keberatan untuk bersahabat dengan pengemis, tidak seperti pemuda-pemuda lain yang jijik melihatnya dan mengusirnya kalau dia mendekati mereka.
"Aku tidak biasa bekerja, Kong-ko. Aku tidak bisa bekerja apa-apa. Mana aku kuat kalau diharuskan bekerja kasar seperti mengangkuti barang sekarung atau balok yang besar?"
"Ji-te, tidak perlu bersembunyi didepanku. Aku tahu benar bahwa engkau memiliki tenaga yang besar dan engkau tentu seorang ahli silat yang lihai."
Pengemis itu membelalakkan matanya.
"Eh, bagaimana engkau bisa mengetahuinya?"
"Mudah saja. Ketika aku menyambitkan batu ke arah kijang itu ada batu lain yang menghancurkan batuku. Tentu engkau yang menyambitkan batu itu, bukan? Nah, untuk menyambit batuku begitu tepat sampai dapat menghancurkan, engkau pasti memiliki kepandaian tinggi dan tenaga yang kuat."
"Wah, ternyata engkau cerdik juga, Kong-ko. Akan tetapi tenagaku itu hanya untuk membela diri, bukan untuk mengangkut barang berat dan mencari uang. Dan engkau sendiri, bukankah selain bekerja berat engkau juga suka mencuri barang para hartawan kikir?"
"Tidak, aku tidak pernah mencuri!"
"Hemm, kalau begitu dari mana engkau memperoleh sepasang gelang permata itu?"
Si Kong terkejut dan heran.
Bagaimana bocah ini bisa tahu bahwa dia menyimpan sepasang gelang emas dalam buntalannya?
Dia segera meraih buntalan itu yang tadi diletakkan diatas tanah, dekat pengemis muda itu duduk.
Ketika memeriksanya, ternyata butalan gelang itu telah lenyap!
Si Kong menjadi semakin bingung.
Pengemis muda itu tertawa.
"Ha-ha, apakah ini yang kau cari, Kong-ko?"
Dia mengangkat kantung kain terisi sepasang gelang itu ke atas sambil meloncat berdiri.
"Jadi engkau yang telah mencopetnya! Kembalikan."
Tangan Si Kong meraih, akan tetapi Siangkoan Ji menarik tangannya sehingga sambaran tangan Si Kong itu luput.
"Ha, engkau memiliki sepasang gelang yang berharga mahal, akan tetapi engkau bekerja sebagai kuli kasar, bukankah itu pelit namanya? Ataukah, sepasang gelang ini pemberian pacarmu sebagai tanda mata?"
Siangkoan Ji menggoda. Si Kong melompat berdiri.
"Ji-te, harap jangan main-main. Sepasang gelang itu milik seorang gadis yang dititipkan kepadaku, bukan dari pacarku karena aku tidak mempunyai pacar. Kembalikan padaku!"
"Kalau bukan dari pacarmu, lebih gawat lagi. Kalau pacarmu mengetahui engkau membawa gelang milik gadis lain ia tentu akan cemburu sekali. Sebaiknya aku yang membawa agar engkau tidak dimarahi pacarmu."
"Ji-te, jangan main-main! Kembalikan gelang itu kepadaku, cepat!"
"Ha, bukan kebiasaanku untuk memberikan barang yang sudah kuambil. Kalau engkau mampu, ambillah sendiri dari tanganku!"
Pengemis muda itu tertawa-tawa mengejek.
Si Kong menjadi marah.
Dia melompat ke depan dan menjulurkan tangannya untuk merampas sepasang gelang yang berada di tangan kanan Siangkoan Ji.
Akan tetapi, ternyata pengemis muda itu memiliki gerakan yang cepat sekali.
Dia sudah melompat ke samping sehingga sambaran Si Kong luput.
"Ji-te, kembalikan atau terpaksa aku menggunakan kekerasan!"
"Ha, memang itulah yang kukehendaki. Aku ingin tahu apakan dengan menggunakan kekerasan engkau akan mampu merampas gelang ini."
Si kong kembali meloncat dan menyergap, namun pengemis muda itu dengan amat lincahnya mengelak kesana-sini sambil berloncatan.
Si Kong menjadi semakin penasaran dan kini dia menjulurkan tangan untuk menangkap pergelangan tangan kanan Siangkoan Ji.
Dia sudah menyentuh pergelangan tangan itu akan tetapi tiba-tiba pengemis muda itu menendang ke arah dadanya.
Karena tendangan itu cepat dan mengandung tenaga sinkang yang kuat, terpaksa Si Kong melepaskan pegangannya pada pergelangan tangan dan mengelak ke belakang.
Kini Si Kong maju sambil menyerang dengan menggunakan ilmu Yan-cu Hui-kun (Silat Burung Walet Terbang).
Gerakannya cepat bukan main seperti seekor burung walet di udara.
Pengemis muda itu mengeluarkan seruan kaget dan diapun menggunakan ginkang yang hebat untuk dapat mempertahankan sepasang gelang di tangan kanannya, dan kini diapun balas menyerang sehingga kedua orang muda itu kini saling serang dengan serunya.
Si Kong mendapat kenyataan bahwa pemuda pengemis ini tidak saja dapat bergerak cepat, akan tetapi juga ilmu silatnya cukup tangguh!
Pantas dia berani mengembara dalam usia yang demikian muda.
Kiranya dia memang dapat membela diri dengan kuatnya dan kiranya pada penjahat akan sukar mengalahkan pemuda pengemis ini.
Biarpun dia telah mengerahkan ilmu silat Yan-cu Hui-kun, ternyata pemuda itu mampu menandinginya dan sampai tiga puluh jurus dia belum mampu merampas gelang atau merobohkannya!
Tidak ada jalan lain bagi Si Kong kecuali menggunakan Thi-Khi-I-beng.
SeLo-jin supaya tidak sembarangan saja menggunakan Thi-khi-I-beng.
Akan tetapi pemuda pengemis itu terlalu cepat gerakannya dan kalau dia menggunakan Hok-liong Sin-ciang dia khawatir akan melukainya.
Hal ini tidak ingin dia lakukan.
Dia harus merampas kembali gelang emas permata itu, akan tetapi tidak mau membuat pemuda pengemis itu cedera atau terluka dalam tubuhnya.
Satu-satunya jalan untuk merampas sepasang gelang tanpa melukainya hanyalah penggunaan Thi-khi-I-beng.
Ketika tangan kiri pemuda pengemis itu menyambar dan menghantam ke arah dadanya, Si Kong menerimannya dengan dada tanpa mengelak sedikitpun.
"Plak!"
Tangan pemuda remaja itu mengenai dadanya dan melekat, menyedot tenaga sinkang pemuda itu.
Pemuda itu terkejut setengah mati dan berusaha melepaskan tangannya yang tersedot dan melekat di dada itu.
Dengan mudah Si Kong lalu merampas sepasang gelang di tangan kanan pemuda itu, lalu melepaskan tenaga thi-khi-I-beng dan melompat mundur.
Pengemis muda itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak.
"Kong-ko, engkau menggunakan ilmu setan apakah?"
Tegurnya setengah bertanya. Si Kong tersenyum.
"Ilmu itu namanya ilmu merampas gelang."
Dengan tenang Si Kong lalu menyimpan kembali buntalan sepasang gelang itu ke dalam buntalan pakaian, lalu memanggul tongkat bambunya di ujung mana buntalan pakaian itu tergantung.
"Kong-ko, ternyata engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Dalam perkelahian tangan kosong aku mengaku kalah, akan tetapi kalau saja aku mempunyai sebatang pedang, aku yakin dapat mengalahkanmu."
"Syukurlah bahwa engkau tidak mempunyai sebatang pedang, Ji-te. Karena aku tidak suka berkelahi denganmu. Engkaupun lihai sekali. Gurumu tentu seorang tokoh besar dalam perkumpulan pengemis. Akan tetapi seorang pemuda yang begini lihai seperti engkau, kenapa berkeliaran di sini dan berpakaian pengemis?"
"Aku hendak menonton keramaian di bukit depan itu,"
Dia menuding ke arah bukit yang tampak menjulang di depan mereka, lalu tiba-tiba pengemis itu berseru.
"Heiii, jangan-jangan engkau salah seorang di antara mereka!"
"Mereka siapa?"
"Mereka yang hendak bertanding disini untuk meperebutkan Pek-lui-kiam."
Diam-diam Si Kong terkejut.
"Aku bukan anggota dari partai manapun dan aku tidak hendak bertanding di bukit itu. Apakah seorang di antara mereka yang menguasai pedang Pek-lui-kiam yang kabarnya diperebutkan orang-orang persilatan itu?"
"Aku sendiri tidak tahu. Mungkin juga begitu. Aku hanya mendengar bahwa datuk-datuk besar besok pagi-pagi akan mengadakan pertemuan di sana untuk memperebutkan Pek-lui-kiam. Kalau engkau bukan seorang diantara mereka, marilah kita nonton, Kong-ko! Tentu akan ada pertunjukan menarik di sana!"
Si Kong mengangguk.
Tanpa diminta pun dia tentu akan pergi ke sana kalau pedang Pek-lui-kiam yang diperebutkan.
Dia sendiri telah menyanggupi Tan Kiok Nio untuk mencari kakek berjubah merah yang membunuh orang tua gadis itu dan merampas Pek Lui-kiam.
"Baik, aku ikut denganmu,"
Jawabnya.
"Akan tetapi engkau harus bersembunyi, Kong-ko dan tidak boleh sembarangan keluar dari tempat persembunyianmu. Mereka itu adalah para datuk yang tidak segan membunuhmu!"
"Jangan khawatir, Ji-te, aku akan menuruti nasihatmu."
Jawab Si Kong sambil tersenyum.
"Kita lewatkan malam dalam hutan di kaki bukit itu, dan besok pagi-pagi barulah kita mendaki bukit."
Si Kong hanya menurut saja dan pemuda jembel itu menjadi penunjuk jalan.
Agaknya dia sudah hafal benar akan keadaan di situ dan setelah tiba di kaki bukit, dia mengajak Si Kong memasuki sebuah hutan.
"Di sana terdapat bekas kuil kecil yang sudah tidak dipergunakan lagi. Kita melewatkan malam di sana."
Kata Siangkoan Ji.
Benar saja, setelah tiba di tengah hutan itu, Si Kong melihat sebuah bangunan yang sudah bobrok saking tuanya dan tidak terawat.
Dindingnya sudah menjadi hijau oleh lumut dan atapnya juga banyak yang pecah.
Di waktu hujan tentu kuil ini kebocoran dimana-mana.
Mereka memasuki kuil kecil itu dan di ruangan tengah terdapat sebuah arca batu yang juga sudah penuh lumut sehingga sukar dikenal lagi arca siapakah itu.
Akan tetapi Siangkoan Ji memberi hormat kepada arca itu dan perbuatannya ini diikuti oleh Si Kong.
Yang dibuatkan arca tentu sebangsa dewa atau orang suci budiman yang patut dihormati.
Di sudut ruangan belakang terdapat lantai yang bersih.
Agaknya sudut itu sering dipakai mengaso para pemburu binatang sehingga lantainya bersih.
"Nah, kita lewatkan malam disini, Kong-ko."
"Baiklah, aku mau pergi keluar sebentar."
"Mau kemana, Kong-ko?"
"Untuk mencari kayu bakar."
"Untuk apa?"
"Ji-te, malam nanti hawanya tentu dingin dan nyamuknya banyak sekali. Membuat api unggun dapat mengusir nyamuk dan melawan hawa dingin."
Si Kong menunjuk ke arah kanan dimana terdapat abu dan arang.
"Mereka yang pernah bermalam di sini juga membuat api unggun."
"Untuk mengusir nyamuk aku tidak membutuhkan api unggun, dan untuk menahan udara dingin akupun kuat. Akan tetapi kalau engkau membutuhkannya, silahkan saja mencari kayu bakar."
Si Kong tersenyum.
"Aku ingin sekali melihat bagaimana engkau akan mengatasi kegelapan yang pekat malam ini tanpa api unggun."
"Malam nanti aku tidur, terang atau gelap saja,"
Jawab Siangkoan Ji sambil tersenyum pula.
Si Kong lalu keluar dari situ dan mengumpulkan kayu-kayu kering yang kiranya cukup untuk membuat api unggun semalam suntuk.
Ketika Si Kong memasuki kuil itu sambil memanggul sebongkok kayu kering, dia melihat Siangkoan Ji sedang menggosok-gosok tubuhnya yang tidak tertutup pakaian dengan semacam minyak dari botol kecil.
Kedua tangan sampai ke siku lalu kaki bagian atas yang tidak tertutup sepatu, dan terutama muka dan lehernya.
"Apa itu, Ji-te?"
"Inilah obat istimewa penolak serangga macam serangga dan nyamuk. Kalau ada nyamuk berani hinggap di kulitku, binatang itu akan tewas seketika!"
Si Kong menurunkan kayu bakar dan memeriksa botol minyak itu, dibukanya lalu diciuminya.
"Ah, ini racun hebat dan berbahaya!"
Katanya sambil mengembalikan botol itu kepada pemiliknya. Siangkoan Ji tertawa.
"Tidak berbahaya bagi manusia, asalkan jangan diminum. Akan tetapi bagi nyamuk merupakan cairan maut, baru menciumnya saja sudah dapat membunuh binatang itu."
"Dari mana engkau memperoleh racun itu, Ji-te?"
"Aku membuatnya sendiri."
Kata Siangkoan Ji bangga.
Si Kong mengerutkan alisnya.
Pemuda remaja ini penuh rahasia.
Selain ilmu silatnya tinggi, juga agaknya dia ahli racun.
Akan tetapi dia diam saja.
Setelah hari mulai gelap, benar saja seperti dikhawatirkan Si Kong tadi, datang nyamuk banyak sekali.
Akan tetapi Siangkoan Ji enak-enak saja dan Si Kong melihat sendiri pemuda itu menjulurkan tangan agar digigit nyamuk.
Beberapa ekor nyamuk menyerang tangan itu dan nyamuk-nyamuk itu berjatuhan, mati!
Dia sendiri menjadi korban gigitan nyamuk, maka cepat-cepat dia membuat api unggun.
Barulah nyamuk-nyamuk itu terbang pergi.
Dan bersama gelapnya malam, datang hawa dingin.
Akan tetapi api unggun itu mendatangkan kehangatan.
Siangkoan Ji menggunakan daun-daun pohon untuk menyapu lantai, kemudian dia merebahkan diri.
"Aku mau tidur disini, Kong-ko. Kalau engkau mau tidur, carilah tempat sendiri."
"Kau tidurlah, Ji-te. Aku akan menjaga api unggun agar tidak sampai padam,"
Dia lalu duduk bersila dekat api unggun.
Tak lama kemudian siankoan Ji sudah tidur pulas.
Si Kong mengetahui hal ini dari pernapasannya yang lembut dan panjang.
Dia sendiri memejamkan mata, akan tetapi tidak tidur, hanya mengendurkan seluruh urat syarafnya untuk beristirahat.
Lewat tengah malam, tiba-tiba Si Kong mendengar suara orang berbicara di luar kuil.
Dia menjadi waspada dan bangkit berdiri, kemudian berindap-indap keluar dari kuil untuk melihat siapa yang bicara itu.
Karena di luar gelap, dia hanya melihat dua bayangan orang sedang bicara.
Mereka memegang sebatang golok dan menghampiri kuil dengan langkah perlahan.
"Tentu ada orangnya di dalam. Api unggun itu tentu ada yang membuatnya,"
Terdengar suara yg (Lanjut ke
Jilid 09) Pendekar Kelana (Seri ke 12 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 09 parau.
"Siapapun dia, kita harus memeriksanya dan kalau dia musuh, kita bereskan sekarang juga."
Jawab suara yang tinggi.
"Akan tetapi, apakah tidak lebih baik kita memberitahu teman-teman, siapa tahu di dalam ada orang lihai?"
"Ahh, selihai-lihainya mana mampu menandingin kita berdua. Kalau diberitahukan teman-teman, kita yang rugi. Siapa tahu orang itu membawa barang berharga!"
"Dan mungkin saja ada wanitanya yang cantik!"
Si suara parau tertawa perlahan.
"Ssst, jangan keras-keras, nanti mengejutkan orang dan kalau orang itu lari melalui pintu belakang, akan sulitlah menemukan dia dalam gelap begini."
Si kong sudah hendak keluar menjumpai dua orang itu, akan tetapi tiba-tiba dua orang itu menjerit.
"Aduhhh...!"
"Ahhh...! Lari, hayo kita lari!"
Lalu terdengar suara dua orang itu melarikan diri.
Tentu saja Si Kong menjadi heran sekali dan cepat menengok ke belakang.
Ternyata Siangkoan Ji tidak berada di tempat dia tertidur tadi.
Dan tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan pemuda pengemis itu telah duduk ditempatnya.
"Ji-te, kenapa kau lakukan itu?"
Si Kong menegur karena dia sudah dapat menduga tentu Siangkoan Ji yang menyebabkan dua orang tadi mengaduh dan melarikan diri.
"Kulakukan apa?"
Pemuda remaja itu berbalik bertanya.
"Engkau yang menyebabkan kedua orang itu mengaduh dan melarikan diri, bukan?"
"Apakah engkau lebih senang melihat mereka masuk dan menyerang kita dengan golok mereka?"
"Hemm, tadi engkau tidur pulas, bagaimana dapat mengetahui kedatangan mereka?"
"Telingaku peka sekali, Kong-ko. Sedikit suara saja sudah cukup membangunkan aku."
"Apa yang kau lakukan tadi sehingga mereka mengaduh?"
"Ha-ha, apakah engkau tidak dapat menduganya? Aku menimpuk mereka dengan batu-batu. Ah, mereka lari ketakutan, tentu mengira ada setan mengganggu mereka!"
Pemuda itu tertawa senang.
Akan tetapi diam-diam Si Kong merasa kagum dan kecewa.
Kagum karena pemuda pengemis itu dapat menyerang dengan tepat sekali mengenai dua orang yang hanya nampak bayangan mereka dengan samar-samar saja, akan tetapi kecewa karena menganggap Siangkoan Ji terburu nafsu.
Sebetulnya dia ingin membekuk dua orang itu yang dari percakapan mereka jelas bukan merupakan orang baik-baik.
"Sudahlah, mereka sudah pergi. Tidurlah lagi, Siangkoan Ji, malam sudah larut dan hawanya dingin sekali. Biar kubesarkan api unggun ini."
"Aku tadi sudah tidur, sekarang tidak mengantuk lagi. Kau saja yang tidur, Kong-ko, biar aku yang menjaga api unggun."
"Baiklah, aku hendak tidur sebentar, Ji-te."
Setelah berkata demikian Si Kong lalu merebahkan diri di sudut dimana tadi Siangkoan Ji tidur.
Aneh sekali begitu dia merebahkan diri, hidungnya mencium bau yang harum.
Dia tidak tahu mengapa tempat itu berbau harum dan diapun tidak ingin menyelidiki karena matanya sudah mengantuk.
Sebentar saja Si Kong sudah tidur pulas.
Ketika dia membuka matanya, Si Kong menjadi silau.
Langit yang nampak dari bawah, melalui atap yang berlubang, nampak sudah terang.
Kiranya matahari telah sejak tadi menampakkan diri di langit timur.
Dia memandang ke kanan kiri, lalu dia bangkit duduk ketika melihat Siangkoan Ji sedang membakar sesuatu di atas api unggun.
Dia mencium bau sedap daging ayam dibakar.
"Ji-te, engkau memanggang apakah itu?"
Tanyanya kepada pemuda pengemis yang berjongkok membelakanginya.
Siangkoan Ji menoleh dan berkata dengan senyum cerah.
"Bangunlah dan mandilah dulu, Kong-ko. Tuh di sana terdapat sumber air yang jernih. Aku sedang memanggang daging ayam untuk sarapan kita nanti."
"Ayam? Dari mana engkau memperoleh ayam?"
Tanyanya heran.
"Aih, sudahlah. Ditanggung halal, bukan mencuri. Nah, mandilah dulu, baru nanti kuceritakan sambil sarapan."
Si Kong tersenyum.
Temannya ini memang cerdik sekali, sepagi itu sudah mendapatkan seekor ayam untuk dipanggang dagingnya.
Dia lalu bangkit berdiri dan menuju ke sumber air yang ditunjukkan Siangkoang Ji tadi.
Benar saja, di balik batu-batu padas terdapat air yang mengucur dari batu, dan air itu jernih sekali.
Si Kong membersihkan dirinya lalu kembali ke kuil tua.
Daging ayam itu sudah matang dan kini Siangkoan Ji sedang memasak air, lalu dibuatlah air teh yang di tuangkan ke dalam dua buah mangkuk.
Si Kong terheran-heran.
Pengemis muda itu ternyata mempunyai banyak macam barang yang berguna dalam buntalan pakaiannya.
Ada teh, dan adapula mangkuk-mangkuk.
Setelah teh itu mendidih dan menuangkan dalam mangkuk, Siangkoan Ji berkata.
"Nah, sekarang kita dapat sarapan pagi. Hayo silakan, Kong-ko. Kita makan selagi panggang ayam ini masih panas."
Si Kong juga duduk di dekat api unggun.
Pagi itu amat dingin hawanya.
Dia menerima paha ayam yang diserahkan Siangkoan Ji kepadanya.
Ketika dia menggigit paha ayam itu, kembali dia tertegun dan kagum.
Dia sendiri pernah memanggang daging ayam, akan tetapi rasanya hambar karena tidak di bumbui, akan tetapi panggang daging ayam yang dibuat Siangkoan Ji ini, lezat bukan main.
Sedap dan gurih.
Tentu pemuda itu membawa-bawa bumbu pula dalam buntalan pakaiannya!
"Nah, sekarang ceritakan padaku darimana engkau memperoleh ayam ini.
Aku tahu bahwa ayam itu bukan ayam hutan.
Pernah aku memanggang ayam hutan akan tetapi dagingnya liat, tidak lunak seperti ini.
Ini tentu ayam peliharaan orang."
Siangkoan Ji tersenyum.
"Jangan khawatir, ayam ini seratus prosen halal. Pagi-pagi sekali tadi aku pergi ke perkampungan di bawah sana dan dapat membeli seekor ayam dari orang kampung."
"Tidak mencuri?"
Si Kong memandang penuh selidik dan keraguan. Siangkoan Ji tertawa.
"Hemm, engkau tidak percaya ya? Kau kira aku ini maling kecil yang suka mencuri milik orang dusun yang miskin? Aku hanya mencuri harta milik orang kayak yang kikir, bahkan membagi-bagikannya kepada orang-orang dusun yang miskin. Bagaimana aku tega mencuri dari mereka?"
Si Kong menggigit daging ayam panggang itu, kini terasa lebih lezat dan dia mengangguk-angguk.
"Aku percaya padamu, dan keteranganmu itu sungguh menyenangkan hatiku."
Siangkoan Ji mengambil sebuah kantung kecil dari buntalan pakaiannya, membuka kantung itu dan memperlihatkan kepada Si Kong.
"Nah, kau lihatlah. Aku dapat membeli seratus ekor ayam kalau kau mau, mengapa mesti mencuri?"
Si Kong mengangguk dan tersenyum.
"Maafkanlah aku, Ji-te. Wah, bukan saja panggang ayam ini yang lezat, bahkan air teh ini sedap dan harum sekali."
"Kong-ko,"
Kata Siangkoan Ji sambil menyimpan kembali kantung kecil berisi uang dan emas itu.
"kalau aku mengetahui malam tadi, tentu aku sudah membunuh dua orang itu."
"Eh, kenapa?"
"Ketika aku turun dari bukit ini untuk pergi ke dusun terdekat, di tengah jalan aku melihat banyak orang membuat perkemahan di lereng bukit. Setelah aku melihat bendera mereka, aku terkejut dan tahu bahwa mereka adalah orang-orang Kwi-jiauw-pang yang terkenal jahat."
"Kwi-jiauw-pang (Perkumpulan Cakar Setan)? Perkumpulan macam apa itu?"
"Aku sendiripun hanya mendengar cerita orang saja. Kwi-jiauw-pang berpusat di Kwi-liong-san (Gunung Naga Siluman) dan kabarnya orang-orang perkumpulan sesat itu merajalela di daerah mereka. Semua pencuri dan perampok harus membagi hasil mereka kepada Kwi-jiauw-pang. Kalau ada yang melanggar tentu akan dibunuh secara mengerikan. Tubuh mereka akan dicabik-cabik cakar setan, senjata mereka yang ampuh, yang dipasang pada kedua tangan mereka."
"Ihh, kejamnya!"
Seru Si Kong.
"Ha-ha, engkau tidak tahu bahwa di dunia ini banyak orang yang bahkan lebih kejam dari mereka. Mudah-mudahan nanti kita akan dapat melihat orang-orang yang kau sebut kejam itu."
"Akan tetapi apa maksud Kwi-jiauw-pang berada di bukit ini?"
"Aku sendiri juga tidak tahu, Kong-ko. Yang ku ketahui dari kabar yang kuperoleh hanya mengatakan bahwa hari ini akan ada pertemuan dari tokoh-tokoh sesat untuk memperebutkan Pek-lui-kiam, pedang pusaka yang menghebohkan dunia kang-ouw itu?"
Si Kong sudah tahu dari Tan Kiok Nio bahwa pedang yang disebut-sebut itu tadinya menjadi milik Ayah gadis itu yang telah dibunuh oleh seorang kakek berpakaian merah.
Bahkan dia sudah berjanji kepada gadis itu untuk mencari tahu tentang kakek berpakaian merah.
Akan tetapi untuk mengetahui lebih jelas tentang Pek-lui-kiam yang menurut Kiok Nio telah dirampas pembunuh Ayahnya itu, dia berpura-pura tidak tahu dan bertanya.
"Apa sih pedang Pek-lui-kiam itu dan mengapa pula diperebutkan orang?"
Pengemis muda itu membelalakkan matanya yang bersinar tajam.
"Engkau tidak pernah mendengar tentang Pek-lui-kiam yang menghebohkan dunia persilatan itu, Kong-ko? Aih, sungguh pengalamanmu tentang dunia kang-ouw masih dangkal sekali."
"Memang aku seorang bodoh yang kurang pengalaman, Ji-te,"
Kata Si Kong sederhana.
"Nah, engkau begitu rendah hati. Baiklah kuberitahu. Pedang Pek-lui-kiam itu dikabarkan orang adalah milik seorang manusia dewa yang bertapa di pegunungan Himalaya. Kemudian tersiar berita bahwa pedang pusaka itu dicuri orang. Ada yang mengatakan bahwa pedang pusaka itu terjatuh ke tangan Tan Tiong Bu, pendekar besar yang amat terkenal dengan ilmu pedangnya itu. Akan tetapi, baru-baru ini tersiar berita bahwa Tan-Taihiap itu telah tewas terbunuh orang. Karena tidak ada yang tahu kemana pedang pusaka itu dibawa orang dan siapa yang kini menjadi pemiliknya, dunia kang-ouw menjadi geger dan semua orang seperti berlomba mencarinya."
"Heran sekali. Apakah orang-orang itu tidak mempunyai pekerjaan lain yang lebih penting? Apa sih artinya pedang Pek-lui-kiam maka dijadikan rebutan orang-orang kang-ouw?"
"Wah-wah-wah! Kalau pedang Pek-lui-kiam saja tidak kau kenal, sungguh keterlaluan engkau, Kong-ko. Pedang itu merupakan pedang pusaka yang hebat, ampuh bukan main sehingga siapa yang memilikinya tentu akan menjadi semakin lihai dan ditakuti orang!"
Si Kong mengangguk-angguk, lalu tersenyum memandang wajah Siangkoan Ji dan berkata.
"Sekarang aku mengerti apa sebabnya engkau berada di tempat ini, Siangkoan Ji. Engkau merupakan seorang diantara mereka yang ingin memiliki pedang itu!"
"Hemm, siapa orangnya yang tidak ingin memiliki pedang Pek-lui-kiam? Dengan pedang itu ditanganku, aku tidak takut menghadapi lawan yang bagaimana tangguhpun! Semua orang akan tunduk kepadaku dan menaati semua perintahku!"
"Wah, agaknya engkau ini seorang yang gila kekuasaan, Ji-te!"
"Mengapa tidak? Siapakah orangnya yang tidak gila kekuasaan? Dalam kerajaan, dalam masyarakat, bahkan dalam keluarga semua orang memperebutkan kekuasaan. Apakah engkau juga tidak ingin memiliki pek-lui-kiam kalau kesempatan untuk itu ada?"
"Setelah mendengarkan keteranganmu, akupun ingin sekali melihat seperti apa pedang pusaka itu."
"Akan tetapi sayang sekali, Kong-ko. Orang yang memiliki pedang itu haruslah seorang yang tinggi ilmu silatnya, karena kalau tidak, tentu pedang itu tidak ada gunanya baginya dan mudah dirampas orang lain yang lebih tinggi kepandaiannya."
"Ya, sayang sekali aku tidak memiliki kepandaian seperti engkau, Ji-te."
"Sudahlah, engkau ingin melihat keramaian atau tidak? Kalau engkau takut, tinggallah saja disini. Di sini engkau aman, akan tetapi kalau engkau ikut aku, mungkin saja engkau akan terancam bahaya karena yang akan mengadakan pertandingan adalah orang-orang yang berilmu tinggi."
"Ada engkau di dekatku, takut apa?"
Si Kong tertawa.
"Engkau tentu tidak akan tinggal diam saja kalau ada orang jahat mengancam aku, bukan?"
"Tentu saja! Ah, sudahlah, mari kita berangkat,"
Siangkoan Ji menggendong buntalan pakaiannya dan Si Kong juga mengikatkan buntalan pakaiannya di ujung tongkat bambunya dan memikul tongkat bambu itu.
Diam-diam dia merasa kagum kepada sahabat barunya itu.
Masih begitu muda akan tetapi memiliki ilmu kepandaian tinggi dan memiliki keberanian yang luar biasa pula.
Setelah memadamkan api unggun, merekapun berangkat, keluar dari kuil itu dan mendaki ke arah puncak bukit.
Ketika mereka tiba di lereng dimana Siangkoan Ji pagi tadi dia melihat serombongan orang Kwi-jiauw-pang, ternyata tempat itu telah kosong dan orang-orang yang berada disitu pagi-pagi sekali sudah meninggalkan tempat itu.
Mereka hanya melihat bekas api-api unggun yang besar, banyak tulang binatang berserakan dan bau arak masih dapat tercium ketika Si Kong dan Siangkoan Ji tiba disitu.
Siangkoan Ji mencari jejak mereka dan berkata "Mereka telah mendaki bukit.
Itu jejak mreka.
Sebaiknya kita mengambil jalan lain agar tidak bertemu dengan mereka, mencari tempat yang enak untuk bersembunyi dan mengintai apa yang terjadi di puncak."
Si Kong menurut saja karena pemuda remaja itu agaknya sudah mengenal betul daerah ini.
Mereka masuk keluar hutan, menyusup di antara semak belukar dan ilalang yang tinggi sampai ke pundak mereka dan akhirnya mereka tiba di puncak.
Siangkoan Ji mengajak Si Kong bersembunyi di balik semak belukar dan mengintai ke arah puncak yang merupakan padang rumput yang luas.
Mereka sudah melihat belasan orang berkumpul di tengah lapangan itu, ada yang berdiri dan ada yang duduk.
Sebuah tiang bendera berdiri di situ dengan benderanya yang berkibar ditiup angin pagi.
Dari tempat mereka berdua mengintai, nampak bahwa bendera itu bergambar sebuah tangan yang merupakan cakar yang kukunya tajam melengkung dan mengerikan.
Tanpa penjelasan lagi, Si Kong mengerti bahwa orang-orang yang jumlahnya lima belas itu tentu orang-orang Kwi-jiauw-pang seperti yang diberitakan Siangkoan Ji tadi.
Akan tetapi yang membuat jantung dalam dada Si Kong berdebar adalah ketika dia melihat seorang di antara mereka yang pakaiannya berbeda dengan yang lain.
Kalau orang-orang lain berpakaian serba hitam dengan sabuk merah, maka yang seorang ini berpakaian serba merah!
Teringat akan pesan Kiok Nio, Si Kong memandang dengan penuh perhatian.
Orang berjubah merah itu berusia kurang lebih enam puluh tahun bermuka kepucatan seperti orang sakit, tubuhnya tinggi kurus namun kelihatan kokoh.
Dia memegang sebuah kipas dengan tangan kirinya dan sedang menggerak-gerakkan kipas seperti orang kepanasan.
Padahal pagi itu hawanya cukup dingin.
Si Kong berpikir bahwa agaknya tidak salah lagi.
Kakek inilah yang dicari oleh Tan Kiok Nio.
Kakek inilah yang telah membunuh orang tua Kiok Nio dan merampas pedang dari tangan Ayahnya.
Dan orang itu agaknya menjadi pemimpin orang-orang Kwi-jiauw-pang!
"Ji-te, apakah kakek berjubah merah itu ketua Kwi-jiauw-pang?"
Bisiknya lirih dekat telinga Siangkoan Ji. Siangkoan Ji mengangguk.
"Mungkin sekali, aku sendiri belum pernah melihatnya."
"Tahukah engkau siapa namanya?"
"Kalau tidak salah, nama julukannya adalah Ang I Sianjin, karena pakaiannya selalu merah. Kabarnya ilmu kepandaiannnya lihai sekali dan senjatanya adalah kipas dan pedang. Dia sudah lihai masih membawa anak buahnya, empat belas orang banyaknya. Tentu akan ramai sekali nanti."
Bisik Siangkoan Ji dekat telinga Si Kong.
Mereka berjongkok di balik semak belukar, berdekatan.
Tiba-tiba Si Kong mengerutkan alisnya.
Berjongkok berdekatan dengan Siangkoan Ji, dia mencium bau harum seperti ketika dia tidur di dalam kuil.
Tahulah dia bahwa yang berbau harum adalah Siangkoang Ji!
Mengapa seorang laki-laki, pengemis pula, memakai wangi-wangian?
Akan tetapi perhatiannya segera tertarik ketika dia ditepuk pundaknya oleh Siangkoan Ji.
"Lihat itu...!"
Si Kong melihat munculnya lima orang dan kembali jantungnya berdebar penuh ketegangan.
Dia mengenal baik lima orang itu.
Mereka bukan lain adalah Bu-tek Ngo-sian, lima orang yang dulu datang bersama Toa Ok dan Ji Ok mengeroyok Ceng Lo-jin.
Biarpun mereka semua dikalahkan Ceng Lo-jin, namun gurunya yang sudah tua renta itupun terluka hebat dalam tubuhnya, mengakibatkan kematiannya.
Dan sekarang Bu-tek Ngo-sian berada di tempat itu.
Agaknya kakek berjubah merah itu telah mengenal Bu-tek Ngo-sian (Lima Dewa tanpa Tanding) itu.
Dia melangkah maju, menutup kipasnya dan memberi hormat.
"Kiranya Bu-tek Ngo-sian ikut datang! Selamat datang, Ngo-sian. Kuharap saja nanti kalian tidak mengandalkan keroyokan untuk mencari kemenangan!"
Bu-tek Ngo-sian adalah lima orang yang sudah bersumpah sebagai saudara, walaupun mereka itu tidak ada hubungan keluarga satu dengan yang lain.
Yang pertama atau tertua bernama Ciok Khi, bertubuh tinggi besar dan bermuka penuh cacat bekas cacar.
Orang kedua berusia empat puluh lima tahun, lima tahun lebih muda dibandingkan Ciok Khi, bernama Sia Leng Tek, bertubuh tinggi kurus dan mukanya agak pucat seperti orang berpenyakitan.
Orang ketiga berusia empat puluh tiga tahun, wajahnya penuh brewok dan tubuhnya sedang tegap, bernama Cong Boan.
Orang keempat bertubuh pendek gendut, usianya sekitar empat puluhan dan biarpun tubuhnya pendek gendut, namun kelihatan gesit, orang ini bernama Bwa Koan Si.
Adapun orang kelima bertubuh pendek kecil seperti orang katai, usianya kurang dari empat puluh tahun.
Si katai ini memiliki mata yang tajam bersinar-sinar seperti burung rajawali.
Wajahnya juga kecil dan namanya Bhe Song Ci.
Mendengar ejekan Ang I Sianjin itu, Ciok Khi yang mewakili adik-adiknya berkata, suaranya menggelegar parau.
"Ang I Sianjin, engkau membawa empat belas orang anak buah, yang khawatir menghadapi keroyokan bukan engkau, melainkan kami!"
"Ha-ha-ha!"
Tawa Ang I Sianjin.
"Anak buahku ini hanya akan bergerak kalau aku dikeroyok, akan tetapi hanya menjadi saksi kalau aku berhadapan dengan seorang lawan. Kalian tidak perlu khawatir, pedang dan kipasku sudah cukup untuk mengalahkan setiap orang lawan yang berani menantangku!"
"Ha-ha-ha, ucapan yang bagus sekali!"
Tiba-tiba terdengar suara orang lain dan sesosok bayangan berkelebat dan disitu telah berdiri seoranng kakek berusia enam puluh tahunan, memegang sebatang tongkat kepala naga.
"Wah, Majikan Pulau Tembaga juga datang, tentu akan ramai sekali."
Bisik Siangkoan Ji. Si Kong menjawab dengan pertanyaan lirih.
"Apakah engkau mengenal pula lima orang itu?"
"Tentu saja! Mereka adalah Bu-tek Ngo-sian, lima orang yang sombong sekali sehingga mengaku diri sebagai dewa yang tidak terkalahkan."
Si Kong diam-diam memuji Siangkoan Ji.
Pemuda ini benar-benar luas pengetahuannya tentang dunia kangouw sehingga mengenal para tokoh itu.
Dia sendiri kalau belum pernah bertemu dengan orang-orang itu, tentu tidak akan mengenal mereka.
"Selamat bertemu, Tung-hai Liong-ong! Agaknya engkaupun tertarik akan berita tentang Pek-lui-kiam itu!"
"Ha, siapa yang tidak akan tertarik? Katakanlah, apakah benar berita yang kudengar bahwa sekarang pedang pusaka itu berada padamu, Ang I Siangjin?"
"Aku tidak menyangkal juga tidak mengaku. Ketika itu, kukatakan bahwa siapapun boleh menyelidiki sendiri."
"Hi-hi-hik, ucapan yang mengandung kesombongan dan juga kelicikan!"
Suara wanita ini terdengar jelas dan sesosok bayangan berkelebat.
Ketika semua mata memandang, ternyata di situ telah berdiri seorang wanita yang berusia empat puluh tahu n lebih, namun masih nampak cantik dan pakaiannya mewah.
Dipunggungnya tergantung sebatang pedang dan tangan kirinya memegang sebuah hud tim (kebutan).
"Kau juga mengenal wanita itu, Ji-te?"
Tanya Si Kong.
"Tentu saja. Ia disebut Ang-bi Mo-li, seorang tokoh yang lihai juga."
Si Kong makin kagum saja.
Dia memang mengenal wanita ini ketika dia bekerja sebagai penggembala kerbau milik Tong Li Koan, majikan Bukit Bangau.
Bahkan dia pernah bertanding melawan wanita itu dan dapat mengalahkannya.
Ketika itu usianya baru lima belas atau enam belas tahun.
Akan tetapi dengan heran Si Kong melihat bahwa wanita itu tidak nampak lebih tua, masih seperti dulu.
"Bagus, kini suasana menjadi meriah!"
Kata Ang I Sianjin.
"Ang-bi Mo-li rupanya juga ingin menguasai pedang Pek-lui-kiam."
"Aku tidak malu mengaku bahwa memang demikianlah, aku ingin merampas pedang pusaka itu. Akan tetapi ucapanmu itu tadi mengandung kelicikan. Kalau pedang pusaka itu memang ada padamu, katakan saja terus terang dan pertahankanlah dengan kepandaianmu. Sebaliknya kalau tidak ada padamu, siapa ingin bersusah payah berkelahi denganmu?"
Sebelum Ang I Sianjin menjawab, Tung-hai Liong-ong sudah melompat ke depan Ang-bi Mo-li.
"Ang-bi Mo-li, daripada engkau maju sendiri melawan Ang I Sianjin, lebih baik engkau menjadi isteriku dan kita bersama menandinginya. Kau lihat, Ang I Sianjin datang bersama anak buahnya."
Wajah Ang-bi Mo-li menjadi merah dengan marah ia menghadapi Tung-hai Liong-ong.
Dengan kebutannya ia menuding ke arah muka kakek itu dan suaranya melengking tinggi karena ia marah sekali.
"Tung-hai Liong-ong! Sejak dulu engkau membujuk dan merayu aku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak sudi menjadi isterimu. Sekarang di depan banyak orang engkau kembali menghinaku. Engkau pantas kuhajar!"
Ia menerjang maju dan menggerakkan kebutannya mengarah mata lawan.
Tung-hai Liong-ong cepat mengelak dan menggerakkan tongkat kepala naganya dan menyambar ke arah kaki wanita itu.
"Engkau memang harus di tundukkan dengan kekerasan!"
Kata Tung-hai Liong-ong.
Ang-bi Mo-li meloncat untuk menghindarkan diri dari serangan ke arah kakinya itu.
Sambil meloncat ia sudah mencabut pedangnya dan menyerang dengan pedang dan kebutannya.
Namun, Tung-hai Liong-ong adalah seorang datuk yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Dia memutar tongkat kepala naga dan kedua senjata wanita itu tidak mampu menembus gulungan sinar tongkat itu.
Si Kong memperhatikan dan melihat betapa ilmu pedang Ang-bi Mo-li sudah jauh lebih maju dari pada dahulu.
Akan tetapi diapun tahu betapa lihainya Tung-hai Liong-ong, maka pertandingan itu tentu akan berlangsung seru.
Ketika dia melirik ke kiri, dia melihat Siangkoan Ji juga menonton dengan wajah gembira dan jarang berkedip.
Dia ingin mencoba pengetahuan pemuda itu dalam ilmu silat.
"Ji-te, kau kira siapakah yang bakal menang atau kalah dalam pertandingan itu?"
"Tung-hai Liong-ong tidak bersungguh-sungguh ketika mengatakan bahwa dia ingin mengambil Ang-bi Mo-li sebagai isterinya. Dia sengaja mengeluarkan kata-kata itu untuk membuat Ang-bi Mo-li marah dan menyerangnya. Inilah yang dikehendaki, yaitu agar dia menyingkirkan dulu seorang saingan dalam memperbutkan pedang pusaka itu."
Kata Siangkoan Ji dengan suara sungguh-sungguh.
"Dan kau pikir siapa yang akan menang?"
"Hemm, mudah di duga. Betapapun lihainya kebutan dan pedang Ang-bi Mo-li, ia kalah tenaga dan tingkat kepandaiannya masih di bawah Tung-hai Liong-ong, Mo-li pasti kalah."
Diam-diam Si Kong kagum.
Ucapannya yang mengatakan bahwa Tung-hai Liong-ong menggunakan siasat untuk memancing kemarahan Ang-bi Mo-li memang masuk akal, kemudian penilaiannya tentang pertandingan itupun tepat sekali.
Si Kong sudah dapat melihat sejak tadi bahwa Ang-bi Mo-li pasti akan kalah.
Pertandingan itu masih berlangsung seru.
Kedua pihak mengerahkan sekuruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu mereka.
Akan tetapi jelas bahwa Mo-li kalah tenaga.
Setiap kali pedangnya bertemu dengan tongkat Tung-hai Liong-ong, pedang itu terpental.
Tongkat Liong-ong menyambar ganas dan Mo-li menyambut dengan kebutan tangan kirinya.
Bulu-bulu kebutan itu membelit tongkat dan pedang tangan kanannya menusuk dada.
Akan tetapi biarpun tongkatnya sudah terbelit kebutan, Liong-ong masih dapat menggerakkannya dengan tenaga besar sehingga sehingga tangan Mo-li terbetot dan kalau dia tidak melepaskan kebutan tentu ia akan tertarik.
Ia melepaskan kebutannya dan pedangnya meluncur terus menusuk dada.
Liong-ong menggerakkan tongkatnya.
"Tranggg...!"
Bunga api berpercikan dan tubuh Mo-li terhuyung ke belakang, pedangnya sudah lepas dari pegangan tangannya dan melayang jauh.
Ujung tongkat itu secepat kilat sudah menempel di dadanya.
Tung-hai Liong-ong tersenyum menyeringai.
"Bagaimana, Mo-li. Akan kau teruskan penyeranganmu?"
Wajah yang cantik itu sebentar pucat sebentar merah.
Dikalahkan seorang datuk besar seperti Tung-hai Liong-ong memang wajar, akan tetapi dia dikalahkan di depan orang banyak, ini merupakan penghinaan baginya.
"Sekali ini aku kalah, akan tetapi akan datang saatnya aku menebus kekalahan ini!"
Setelah berkata demikian, ia mengambil kebutan dan pedangnya, lalu lari dengan cepat meninggalkan puncak itu.
Melihat wanita itu kalah, Siangkoan Ji lupa bahwa dia sedang mengintai dan bersembunyi.
Dia bersorak dan berkata dengan bangga kepada Si Kong.
"Nah, benar tidak kataku? Perempuan Iblis itu pasti kalah!"
Setelah ucapannya keluar barulah Siangkoan Ji teringat dan dia terkejut sendiri lalu berjongkok kembali, akan tetapi sudah terlambat.
Baca Juga: Petualang Asmara 11
Baca Juga: Istana Pulau Es 2