Ceritasilat Novel Online

Kemelut Kerajaan Mancu 3

Eps 3 Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo.

Perahu-perahu nelayan hilir mudik perlahan dan tampak para nelayan menyebar jala, dan banyak pula yang memegang tangkai kail untuk memancing ikan di bagian yang airnya tenang.

Yan Bun yang berpakaian serba biru, berwajah tampan dan bertubuh tegap, melanjutkan langkahnya dengan hati merasa gembira.

Dia telah dapat melupakan kekecewaan dan kesedihannya memikirkan Thian Hwa, yang seolah tidak mempedulikannya.

Kini dia ingin segera bertemu Ui Tiong dan isterinya.

Akan tetapi ketika dia tiba di rumah Ui Tiong, dia segera melihat keanehan itu.

Matahari telah naik tinggi, akan tetapi toko obat itu belum dibuka!

Ini aneh sekali, karena biasanya, paman dan bibinya itu amat rajin dan selama dia berada di situ dulu, tidak sehari pun toko itu ditutup.

Maka dia segera mengetuk daun pintu rumah yang berada disamping toko.

Ketika pelayan membuka daun pintu, dia disambut tangis memilukan oleh isteri Ui Tiong!

"Bibi, apa yang terjadi?"

Yan Bun bertanya.

"Pamanmu... Pamanmu...."

Nyonya itu menangis semakin sedih.

"Pek-hu (Paman Tua) kenapa? Di mana dia?"

Wanita itu tak dapat bicara dan menangis sesenggukan.

Yan Bun menghiburnya dan setelah tangisnya mereda, barulah wanita itu dapat menceritakan apa yang telah terjadi dan menimpa Ui Tiong, suaminya.

Nyonya Ui Tiong lalu menceritakan apa yang menimpa suaminya.

Terjadinya baru tadi malam.

Ketika itu, toko obat sudah ditutup dan Ui Tiong bersama isterinya sedang makan malam ketika tiba-tiba saja pintu rumah mereka terbuka dan muncul seorang gadis cantik.

"Hei, siapa engkau dan apa keperluanmu, Nona?"

Ui Tiong yang sudah selesai makan menegur dengan alis berkerut karena perbuatan gadis itu memang tidak sewajarnya dan kurang ajar memasuki rumah orang begitu saja dan tahu-tahu berada di dalam.

Akan tetapi dia masih bersabar karena mengira bahwa gadis itu tentu sedang resah karena ada keluarganya yang sedang sakit parah dan kini datang hendak minta tolong atau mencari obat.

Yang membuat Ui Tiong dan isterinya merasa heran adalah karena melihat bahwa gadis itu seorang yang sama sekali tidak mereka kenal.

Padahal, suami isteri ini sudah tinggal di kota Lam-hu selama belasan tahun dan dapat dikatakan bahwa mereka mengenal semua penduduk kota itu.

Gadis itu berusia sekitar sembilan belas tahun, tubuhnya tinggi semampai, pinggangnya ramping dan wajahnya cantik manis dengan setitik tahi lalat hitam di dagu sebelah kiri.

Pakaiannya mewah seperti pakaian seorang puteri bangsawan.

Dengan sinar matanya yang tajam ia menatap Ui Tiong dan isterinya, lalu bertanya dengan sikap angkuh, ditujukan kepada Ui Tiong.

"APAKAH engkau yang bernama Ui Tiong, pemilik rumah obat ini?"

"Benar, Nona,"

Jawab Ui Tiong singkat.

"Silakan duduk, Nona."

"Tidak perlu duduk. Apakah engkau juga memiliki kepandaian mengobati orang sakit?"

"Sedikit-sedikit aku mengerti tentang pengobatan."

"Bagus, kalau begitu marilah ikut denganku untuk mengobati orang sakit,"

Ajak gadis itu dengan suara mendesak.

"Nona, sebaiknya si sakit itu engkau bawa ke sini, aku akan memeriksanya dan kalau aku mampu, akan kuobati dia."

"Tidak bisa! Engkau harus ikut denganku dan memeriksanya di rumah kami!"

Ui Tiong mengerutkan alisnya. Gadis ini bersikap demikian angkuh dan hendak memaksanya! Akan tetapi sebagai seorang yang berpengalaman, dia mampu menahan kesabarannya.

"Nona, maafkan saja. Kalau malam ini aku tidak dapat ikut. Besok pagi saja aku akan datang ke rumahmu. Di manakah rumahmu, Nona?"

"Tidak, harus sekarang! Rumahku di seberang telaga, kuberitahu juga engkau tidak akan menemukannya. Marilah Ui Sinshe (Tabib Ui), engkau ikut denganku sekarang. Aku sudah menyediakan seekor kuda untukmu!"

Ui Tiong menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa, Nona. Kalau dibawa ke sini malam ini juga akan kuperiksa dia, kalau aku yang harus pergi ke sana, besok pagi baru dapat kulakukan."

"Engkau harus pergi bersamaku sekarang juga!"

Gadis itu berkata dengan suara tegas sehingga Ui Tiong mengerutkan alisnya.

Dia adalah seorang murid Thai-san-pai yang cukup lihai, bahkan ilmu silatnya lebih mendalam dibandingkan ilmu pengobatannya.

Kini ada seorang gadis muda seolah hendak memaksa pergi, tentu saja dia merasa penasaran sekali dan yakin bahwa gadis ini tentu bukan penduduk Lam-hu maka tidak mengenal dia sebagai seorang ahli silat.

"Hemm, siapa yang berhak mengharuskan aku pergi bersamamu, Nona?"

Tanyanya dengan senyum seorang tua menghadapi seorang anak yang nakal. Gadis itu pun mengerutkan alisnya dan pandang matanya mencorong.

"Aku yang mengharuskan! Tabib Ui Tiong, engkau harus pergi bersamaku, kalau perlu kuseret engkau!"

"Heh, bocah kurang ajar! Jaga sikap dan bicaramu!"

Ui Tiong membentak marah. Kini Nyonya Ui mencampuri.

"Nona yang baik, harap jangan memaksa. Sebaiknya cepat bawa si sakit ke sini, siapa tahu suamiku dapat menyembuhkannya."

Nyonya itu melangkah maju untuk mencegah terjadinya keributan antara suaminya dan gadis itu.

"Pergi kau, jangan mencampuri!"

Tiba-tiba gadis itu membentak dan sekali tangan kirinya bergerak, ia telah mendorong Nyonya Ui sehingga terjengkang jatuh! "Gadis jahat!"

Ui Tiong berseru marah dan dia pun cepat menggerakkan tangan untuk mendorong pundak gadis itu. Akan tetapi gadis itu menggerakkan tangan menangkis.

"Dukk!"

Tubuh Ui Tiong terdorong ke belakang.

Tentu saja murid Thai-san-pai ini terkejut dan semakin penasaran, akan tetapi dia juga menyadari bahwa gadis itu bukan orang sembarangan.

Ketika dorongannya ditangkis tadi, terbukti bahwa gadis itu memiliki tenaga sakti yang amat kuat!

Melihat kelihaian dan sikapnya yang demikian angkuh, Ui Tiong dapat menduga bahwa gadis itu tentu seorang gadis kang-ouw (sungai telaga atau dunia persilatan) golongan sesat.

Di dunia persilatan memang terdapat orang-orang dari berbagai golongan.

Yang pertama tentu saja golongan pendekar yang mempergunakan kepandaian silatnya selain untuk menjaga, membela dan melindungi diri sendiri dan orang lain dari gangguan orang jahat, juga untuk menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan.

Golongan ke dua adalah yang disebut golongan hitam atau golongan sesat, yaitu mereka yang mempergunakan kepandaian silatnya untuk menjadi jagoan dan memaksakan keinginan mereka sendiri kepada orang lain, suka mengganggu, menindas, dan melakukan kejahatan-kejahatan seperti perampok, bajak, atau tukang-tukang pukul bayaran.

Adapun golongan ke tiga adalah mereka yang menggunakan kepandaian silatnya untuk memperoleh pekerjaan sebagai prajurit atau penjaga keamanan seperti piauwsu (pengawal kiriman barang) atau pengawal-pengawal para bangsawan atau hartawan.

Masih ada satu golongan lain, yaitu mereka yang menjadi pendeta atau pertapa, yang jarang mencampuri urusan dunia namun memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi sehingga mereka ini banyak dicari orang muda untuk dijadikan guru mereka.

Menduga bahwa gadis itu hendak memaksakan kehendaknya secara kasar, Ui Tiong menjadi marah sekali dan dia membentak.

"Gadis liar, pergilah!"

Ui Tiong menyerang dengan jurus Lim-houw-to-yo (Harimau Rimba Menyambar Kambing).

Sebagai murid Thai-san-pai, tentu saja Ui Tiong bukan seorang yang lemah.

Ilmu silatnya cukup lihai, juga dia memiliki tenaga murni yang kuat karena hidupnya bersih dan dia seorang ahli pengobatan.

Serangannya itu biarpun tidak dilakukan dengan niat melukai atau membunuh, cukup kuat.

"Wuuutt... takk!"

Kembali tubuh Ui Tiong tergetar dan terdorong ke samping ketika gadis itu menggunakan jurus Sin-ho-liang-ci (Bangau Sakti Pentang Sayap), gerakannya amat ringan, cepat dan mengandung tenaga sakti yang kuat ketika ia memutar tubuh dengan merentangkan kedua lengannya menangkis serangan Ui Tiong.

Kemudian dengan cepat pula ia balas menyerang.

Maklum bahwa gadis itu lihai dan juga liar dan ganas, Ui Tiong mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan.

Terjadilah perkelahian di depan toko obat itu dan Ui Tiong terkejut bukan main ketika mendapat kenyataan betapa gadis itu sungguh amat lihai.

Biarpun dia sudah mengeluarkan semua kepandaiannya, tetap saja dia terdesak terus.

Ui Tiong masih mampu bertahan sampai lima puluh jurus.

Itu juga karena gadis itu agaknya tidak ingin melukai atau membunuhnya.

Andaikata demikian halnya, kiranya dia tidak akan mampu bertahan sampai sekian lamanya.

"Haaiiitt, robohlah!"

Tiba-tiba gadis itu yang sudah mendesak sejak tadi, berhasil menyarangkan totokan jari tangannya ke pundak Ui Tiong dan laki-laki ini terpelanting roboh dan lemas tidak mampu bergerak lagi!

Gadis itu menoleh ke belakang dan ternyata ia tadi diiringkan oleh empat orang pengikut, semua laki-laki yang berusia sekitar empat puluh tahun dan bertubuh tegap.

Ia memberi isyarat dan empat orang itu datang menuntun lima ekor kuda.

Tanpa banyak cakap lagi mereka mengangkat tubuh Ui Tiong di atas punggung seekor kuda dan seorang duduk di belakangnya.

Kemudian mereka semua, juga gadis itu, meloncat ke atas punggung kuda masing-masing dan mereka membalapkan kuda pergi meninggalkan kota Lam-hu.

Nyonya Ui hanya dapat menangis.

Ia adalah isteri seorang laki-laki gagah, maka biarpun ia merasa khawatir akan keselamatan suaminya, ia tidak berteriak minta tolong melihat suaminya dibawa pergi.

Pertama, karena ia tahu benar bahwa para tetangganya tidak ada yang akan mampu menolong suaminya, dan ia pun khawatir bahwa kalau ia menjerit, gadis liar itu mungkin malah akan menjadi marah dan mencelakai suaminya.

Selain itu ia pun tahu bahwa gadis itu hanya ingin minta pertolongan suaminya untuk mengobati orang sakit, walaupun caranya minta tolong dengan paksaan dan kekerasan.

Ia hanya dapat mengingat betul keadaan gadis itu, agar kelak ia dapat mengenalnya.

Ketika Ui Yan Bun, keponakan suaminya datang, Nyonya Ui Tiong menceritakan semua peristiwa itu.

Yan Bun mengerutkan alisnya, merasa penasaran sekali bagaimana seorang gadis muda dapat bersikap demikian kasar, memaksa pamannya untuk pergi memeriksa orang sakit.

"Bibi, apakah gadis itu tidak memberitahu siapa namanya dan ke mana ia membawa Pek-hu Ui Tiong?"

"Ia tidak memperkenalkan namanya hanya mengatakan bahwa rumahnya berada di seberang telaga. Yan Bun, tolonglah Paman tuamu, susullah, carilah dia. Aku khawatir akan keselamatannya karena gadis itu demikian liar, ganas dan berkepandaian tinggi."

Nyonya itu berkata sambil menyusut air matanya.

"Tentu aku akan mencarinya, Bibi. Akan tetapi, ke mana aku harus mencari? Di seberang telaga, sebelah mana? Telaga itu demikian luas dan di sana terdapat daerah perbukitan. Tanpa ada petunjuk yang jelas, tentu akan sulit menemukan tempat kemana Pek-hu mereka bawa."

Yan Bun malam itu tinggal di rumah Ui Tiong.

Maksudnya, besok pagi baru dia akan mencoba untuk mencari pamannya yang diculik gadis liar itu.

Akan tetapi pada keesokan harinya, baru saja dia selesai mandi lalu sarapan yang disediakan bibinya, tiba-tiba pintu toko yang tertutup itu diketuk keras dari luar.

Nyonya Ui terkejut dan tampak takut, maka Yan Bun lalu bangkit dan membuka pintu depan.

Yang mengetuk pintu itu adalah seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian ringkas dan di punggungnya terdapat sebuah golok besar.

Melihat wajah yang membayangkan kekerasan dengan sepasang mata lebar melotot itu, Yan Bun mengerutkan alisnya.

Akan tetapi dia menahan kesabarannya dan bertanya dengan lembut.

"Saudara siapakah dan ada keperluan apakah engkau mengetuk pintu kami?"

Laki-laki itu memandang ke arah Nyonya Ui yang muncul di belakang Yan Bun.

"Aku datang untuk membeli obat!"

Dia menyodorkan sehelai kertas bertuliskan resep obat, bukan kepada Yan Bun, melainkan kepada Nyonya Ui.

Yan Bun hendak menegur sikap kasar itu, akan tetapi Nyonya Ui segera menerima resep obat itu dan Yan Bun hanya melihat betapa bibinya mulai melayani permintaan itu, mengumpulkan rempah-rempah yang tertulis di resep dengan jari-jari tangan gemetar.

Setelah lengkap, ia membungkusnya dan menyerahkannya kepada laki-laki itu.

Laki-laki itu menerima bungkusan obat lalu mengambil sepotong uang perak dari kantungnya, menyerahkannya kepada Nyonya Ui.

Wanita itu menolak dan berkata dengan suara agak gemetar.

"Tidak perlu bayar, obat ini saya beri cuma-cuma, bawalah,"

Katanya.

"Harus diterima!"

Bentak laki-laki itu.

"Aku diharuskan menyerahkan uang ini dan harus engkau terima!"

"Ini terlalu banyak...."

Nyonya Ui membantah, akan tetapi laki-laki itu sudah melempar potongan perak ke atas meja lalu melangkah keluar, melompat ke atas punggung kudanya dan melarikan kuda dari situ.

"Dia seorang dari mereka...."

Bisik Nyonya Ui kepada Yan Bun. Mendengar ini, Yan Bun segera mengejar keluar.

"Jangan khawatir, Bibi. Aku akan mencari dan membawa pulang Pek-hu!"

Dengan menggunakan gin-kangnya yang tinggi, Yan Bun lalu mengejar penunggang kuda itu dan membayangi dari jauh.

Dia yakin bahwa orang itulah yang akan menjadi penunjuk jalan ke tempat di mana pamannya dilarikan para penculik itu.

Biarpun pembeli obat tadi kini membalapkan kudanya menuju ke Telaga Lam-hu, kemudian setibanya di tepi telaga dia mengambil jalan menyusuri tepi telaga dan agaknya hendak mengitarinya, Yan Bun dapat terus membayanginya dengan menggunakan ilmu berlari cepat Hong-yang-liap-in (Tiupan Angin Mengejar Awan).

*** Kita tinggalkan dulu Ui Yan Bun yang membayangi pembeli obat itu dan mari kita melihat keadaan Ui Tiong yang dalam keadaan tertotok dilarikan oleh gadis liar bersama para pembantunya.

Gadis liar itu bernama Wan Kim Hui, berusia sembilan belas tahun.

Ia berwajah manis dengan tahi lalat kecil di dagunya.

Pakaiannya mewah seperti yang biasa dipakai para puteri bangsawan.

Ia merupakan puteri dari seorang tokoh besar kang-ouw daerah selatan yang bernama Wan Cun dan di dunia kang-ouw dikenal sebagai Lam-ong (Raja Selatan).

Di Propinsi Se-cuan di selatan, namanya amat terkenal.

Juga ibu dari Wan Kim Hui, Nyonya Wan, adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal lihai.

Maka tidaklah mengherankan kalau Wan Kim Hui yang digembleng oleh ayah ibunya menjadi seorang yang amat lihai pula.

Mungkin karena terlalu dimanja oleh ayahnya, Wan Kim Hui menjadi seorang gadis yang berwatak liar, galak, nakal dan agak tinggi hati, selalu menuntut agar keinginannya dipenuhi.

Akan tetapi sesungguhnya ia mewarisi juga watak ayahnya yang gagah dan patriotik, juga watak ibunya yang adil dan menentang kejahatan.

Seperti tercatat dalam sejarah, ketika bangsa Mancu mulai membangun kekuatan besar di utara, di luar Tembok Besar yang menjadi pertahanan, Kerajaan Beng mulai lemah dengan adanya pemberontakan-pemberontakan.

Bahkan akhirnya Kerajaan Beng tamat riwayatnya, kaisarnya yang terakhir menggantung diri ketika Peking diserbu dan diduduki oleh pemberontak Li Cu Seng.

Mendengar ini, Jenderal Wu Sam Kwi yang menjadi panglima pasukan yang menjaga tapal batas kerajaan di sebelah utara Peking, mengadakan persekutuan dengan Pangeran Dorgan yang menjadi raja atau wakil raja bangsa Mancu yang sudah mendirikan Kerajaan Ceng dan menguasai seluruh Mancuria, dan persekutuan ini menyerbu Peking.

Li Cu Seng melarikan diri ke barat, dikejar-kejar Wu Sam Kwi dan akhirnya Li Cu Seng tewas dibunuh sendiri oleh para petani yang menjadi pengikutnya.

Setelah Kerajaan Beng, kerajaan terakhir yang dikuasai pemerintah pribumi jatuh dan Kerajaan Ceng yang dikuasai bangsa Mancu mulai menjajah Cina, Jenderal Wu Sam Kwi tentu saja menentang bangsa Mancu yang tadinya menjadi sekutunya.

Akan tetapi dia kalah dan terpaksa melarikan diri ke daerah Se-cuan, di mana dia mempertahankan diri mati-matian dari serangan Pemerintah Ceng (Mancu).

Di Se-cuan, Wu Sam Kwi menjadi Raja Muda dan masih banyak orang-orang pandai mendukungnya sehingga tidak mudah bagi Pemerintah Mancu untuk menaklukkannya.

Kisah ini terjadi sekitar tahun 1660 dan ketika itu, yang menjadi Kaisar Kerajaan Ceng (Mancu) adalah Kaisar Shun Chi (1644-1661) dan putera mahkotanya adalah Pangeran Kang Chi yang baru berusia sepuluh tahun.

Sementara itu Jenderal Wu Sam Kwi yang kini menjadi Raja Muda di Se-cuan, masih belum dapat ditundukkan.

Kita kembali kepada keluarga Wan.

Wan Cun bersama isteri dan puterinya Wan Kim Hui, juga sejak dulu tinggal di Se-cuan.

Akan tetapi dia sama sekali tidak mau mencampuri urusan politik, tidak mau ikut dalam perebutan kekuasaan.

Maka dia pun tidak mau ketika Jenderal Wu Sam Kwi menawarkan kedudukan kepadanya.

Wan Cun yang berjuluk Lam-ong itu lebih suka bebas.

Hal ini membuat dia tidak disuka oleh para datuk kang-ouw lainnya yang mendukung Wu Sam Kwi.

Bahkan seorang datuk yang terkenal bernama Lam Hai Cin-jin, yang dulunya menjadi sahabat baiknya, kini menjauhinya.

Lam-hai Cin-jin, Datuk Selatan itu pun menjabat pangkat tinggi dalam pemerintahan Jenderal Wu Sam Kwi.

Dia diangkat menjadi Koksu (Guru Negara) yang bekerja sebagai penasehat Raja Muda Wu Sam Kwi.

Wan Kim Hui yang cantik manis dan pandai ilmu silat membuat banyak pemuda tergila-gila.

Akan tetapi sebagian besar dari mereka yang tidak pandai ilmu silat dan bukan merupakan putera hartawan atau bangsawan, hanya berani memandang dan mengaguminya dari jauh.

Hanya beberapa orang pemuda putera bangsawan yang berkedudukan tinggi saja yang berani mendekati Kim Hui.

Akan tetapi selama ini gadis itu menghadapi mereka dengan sikap acuh tak acuh.

Belum ada seorang pun di antara mereka yang menarik perhatian gadis ini.

Seorang dari mereka yang paling berani mendekati Wan Kim Hui adalah Wu Kongcu, seorang di antara putera-putera Raja Muda Wu Sam Kwi.

Wu Kongcu (Tuan Muda Wu) ini bernama Wu Kan, seorang pemuda yang tampan akan tetapi terkenal sebagai seorang kongcu hidung belang dan tukang pelesir.

Usianya dua puluh lima tahun dan biarpun dia belum menikah, namun selirnya sudah ada belasan orang!

Wu Kan tergila-gila kepada Wan Kim Hui.

Dia ingin sekali mendapatkan Kim Hui sebagai isterinya.

Selain Kim Hui cantik manis, juga gadis itu lihai, pandai ilmu silat, sehingga kalau menjadi isterinya berarti dia memiliki pelindung yang boleh diandalkan.

Wu Kan sendiri memiliki kepandaian silat, namun dibandingkan Wan Kim Hui, dia tertinggal jauh.

Ketika Wu Kan memberitahukan ayahnya bahwa dia ingin berjodoh dengan Wan Kim Hui, Raja Muda Wu Sam Kwi merasa setuju karena kalau gadis itu menjadi mantunya, dapat diharapkan ayah gadis itu, Wan Cun yang sakti, bisa membantunya.

Pinangan lalu diajukan, akan tetapi sungguh membuat Raja Muda Wu Sam Kwi dan puteranya penasaran karena lamaran itu dengan halus ditolak oleh keluarga Wan!

Penolakan ini tentu saja berdasarkan penolakan Wan Kim Hui, dan orang tuanya tidak mau memaksa puteri tunggal mereka menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya.

Wu Kan marah sekali mendengar pinangannya ditolak.

Semua gadis di seluruh Se-cuan, siapa yang akan menolak pinangannya?

Semua tentu akan senang menjadi isterinya, menjadi mantu Raja Muda Wu Sam Kwi!

Akan tetapi ternyata pinangannya terhadap Wan Kim Hui ditolak mentah-mentah!

Dalam keadaan mabok, dikawal belasan orang jagoannya, Wu Kan lalu mendatangi rumah keluarga Wan.

Pada saat itu kebetulan suami isteri Wan Cun tidak berada di rumah dan yang ada hanyalah Wan Kim Hui.

Gadis itu cepat keluar ketika melihat Wu Kan datang dikawal dua belas orang.

Karena orang tuanya tidak berada di rumah, ia tidak ingin pemuda itu memasuki rumahnya, maka ia langsung keluar dan menyambut pemuda itu di pekarangan rumahnya.

"Wu Kongcu, mau apa engkau datang berkunjung? Ayah Ibuku sedang tidak berada di rumah,"

Kata Kim Hui, suaranya mengandung perasaan tidak senang mengingat bahwa beberapa hari yang lalu pemuda itu "berani"

Mengirim orang untuk meminangnya. Wu Kan yang sedang mabok dan memang merasa marah dan penasaran atas penolakan pinangannya, segera menudingkan telunjuknya ke arah muka gadis itu.

"Wan Kim Hui, gadis yang sombong dan bodoh! Engkau berani menolak pinanganku! Kalau engkau tidak mau menjadi isteriku, lalu ingin menjadi isteri laki-laki macam apa? Apakah engkau ingin menjadi isteri seorang laki-laki kang-ouw yang tidak punya kedudukan tidak punya harta, seorang gelandangan dan pengemis?"

Muka yang manis itu berubah merah. Dengan suara galak ia berseru.

"Wu Kan, tidak ada yang mengundang kamu datang ke sini! Pergilah dan jangan lanjutkan mengeluarkan kata-kata busuk atau terpaksa aku akan menghajarmu!"

Wu Kan menjadi semakin marah.

Sejak kecil belum pernah ada orang yang bicara seperti itu kepadanya.

Kalau dia tidak sedang mabok, kiranya dia masih berpikir-pikir dulu untuk bersikap kasar terhadap Wan Kim Hui.

Akan tetapi dalam keadaan mabok dan sakit hati karena lamarannya ditolak, Wu Kan lupa diri dan membentak marah.

"Gadis brengsek! Engkau ini siapa sih? Apa yang kau andalkan berani mengancam aku, putera Pangeran Muda Wu Sam Kwi, pahlawan bangsa yang gagah berani dan dihormati seluruh bangsa? Engkau perempuan rendah berani hendak menghajar aku...."

Belum habis dia bicara, tubuh Wan Kim Hui berkelebat cepat sekali dan tangannya menyambar seperti kilat.

"Plak! Plak!"

Kedua pipi pemuda itu telah ditamparnya.

Demikian kuat tamparannya sehingga tubuh Wu Kan terpelanting dan dia roboh pingsan dengan kedua pipi bengkak dan kedua ujung bibir berdarah karena giginya banyak yang copot!

Dua belas orang pengawal itu terkejut.

Mereka pun tadi minum-minum sehingga setengah mabok dan keadaan ini membuat mereka lebih berani.

Melihat majikan mereka dipukul roboh, mereka mencabut golok dan menyerang Wan Kim Hui.

Akan tetapi bagaikan seekor burung rajawali marah, tubuh gadis itu berkelebatan menyambar-nyambar, membagi pukulan dan tendangan.

Dalam waktu singkat saja, dua belas orang itu telah terpelanting roboh.

Mereka menjadi ketakutan, bangkit dan tertatih-tatih mereka menolong Wu Kongcu dan membawanya pergi dari situ!

Ketika Wan Cun dan isterinya pulang dan mendengar keterangan Kim Hui tentang apa yang terjadi, Wan Cun mengerutkan alisnya dan menegur puterinya.

"Ah, Kim Hui, engkau telah membuat gara-gara. Biarpun kita tidak takut, akan tetapi perkara ini tentu akan berekor panjang dan akhirnya akan mencelakakan kita semua. Tidak mungkin kita melawan Jenderal Wu Sam Kwi yang mempunyai pasukan besar. Mari, kita menghadap Jenderal Wu Sam Kwi. Kalau kita laporkan apa yang terjadi sesungguhnya, tentu dia mempunyai cukup keadilan untuk melihat bahwa puteranya yang mencari gara-gara dan menghabiskan urusan itu sampai di sini saja."

Wan Cun mengajak puterinya untuk pergi menghadap Raja Muda Wu Sam Kwi.

Kim Hui yang menyadari bahwa ia telah bertindak agak terlalu keras kepada Wu Kan yang sedang mabok, bersedia ikut ayahnya dan minta maaf kepada Raja Muda Wu Sam Kwi.

Mereka berdua berangkat, meninggalkan Nyonya Wan Cun di rumah.

Akan tetapi ketika mereka tiba di istana, para pengawal istana memberi-tahu mereka bahwa Raja Muda sedang mengadakan persidangan dengan para panglimanya sehingga tentu saja tidak dapat menerima kunjungan mereka yang hendak menghadap.

Wan Cun dan Wan Kim Hui terpaksa menunda niat mereka menghadap lalu pulang ke rumah mereka.

Alangkah terkejut hati mereka ketika mereka melihat banyak prajurit mengepung rumah mereka dan di depan rumah tampak Nyonya Wan Cun sedang berkelahi melawan seorang kakek pendek gendut yang lihai sekali.

Pada saat Wan Cun dan Wan Kim Hui berlari cepat seperti terbang ke rumah mereka, mereka melihat lawan Nyonya Wan Cun berjongkok dan menyerang dengan pukulan jarak jauh dan dia mengeluarkan suara kok-kok-kok seperti seekor katak buduk.

Nyonya Wan Cun terjengkang roboh!

"Lam-hai Cin-jin, apa yang kaulakukan itu?!"

Wan Cun membentak dan sekali melompat dia sudah melompati kepala para prajurit dan langsung dia menyerang kakek pendek gendut itu dengan dahsyat.

Kakek pendek itu menyambut serangan dengan tangkisannya.

"Wuuuttt... dukkk...!"

Tubuh kedua orang laki-laki itu terdorong ke belakang sampai lima langkah! Wan Kim Hui juga melompat, tetapi ayahnya cepat berseru.

"Kim Hui, cepat selamatkan dan bawa pergi ibumu!"

Kim Hui cepat tanggap apa yang dimaksudkan ayahnya.

Ia mengenal siapa adanya kakek pendek gendut itu yang bukan lain adalah Lam-hai Cin-jin, datuk yang terkenal di selatan dan yang kini menjadi Koksu kerajaan kecil Raja Muda Wu Sam Kwi.

Ia tahu betapa lihainya orang itu dan dibantu demikian banyaknya prajurit, sungguh bukan merupakan lawan sepadan bagi ia dan ayahnya.

Ia pun dapat menduga bahwa penyerangan itu tentu akibat pukulannya terhadap Wu Kan, putera Raja Muda Wu Sam Kwi.

Yang penting sekarang memang menyelamatkan ibunya yang terluka oleh pukulan Lam-hai Cin-jin yang lihai.

Cepat ia lari dan memondong ibunya yang pingsan, lalu membawa ibunya lari dari situ.

Dengan mudah Kim Hui merobohkan para prajurit yang mencoba menghadangnya dengan pedangnya.

Tangan kiri memanggul tubuh ibunya di atas pundak dan tangan kanan ia pergunakan untuk mengamuk dengan pedangnya.

Para prajurit yang berani menghadangnya roboh mandi darah dan sebentar saja sudah ada belasan orang prajurit roboh.

Hal ini membuat prajurit lain ketakutan dan Kim Hui cepat melompat dan berlari cepat keluar dari kota.

Lam-hai Cin-jin tidak dapat mencegah gadis itu melarikan ibunya karena dia sendiri sibuk menghadapi Wan Cun yang menyerang dengan ganas.

Sebetulnya dia diperintah oleh Wu Kongcu untuk menangkap dan menyeret Wan Kim Hui kepadanya.

Akan tetapi ketika dia datang bersama tiga losin prajuritnya, Kim Hui dan ayahnya tidak berada di rumah.

Karena dia hendak memaksa menggeledah ke dalam rumah, Nyonya Wan Cun melarangnya dan mereka berdua pun berkelahi.

Namun, ilmu kepandaian Nyonya Wan masih belum cukup tangguh untuk melawan Lam-hai Cin-jin.

Biarpun ia melawan mati-matian, akhirnya ia terkena pukulan Hek-tok-ciang dari lawannya sehingga roboh dan pingsan.

Lam-ong Wan Cun masih mengamuk, dikeroyok oleh Lam-hai Cin-jin dan para prajurit.

Raja Selatan ini menggunakan sebuah pedang yang besar panjang dengan ujung pedang bercabang dua.

Dengan pedang ini dia mampu dengan mudah merampas senjata lawan.

Kalau senjata lawan dapat tertangkap di tengah ujung yang bercabang itu lalu pedangnya diputar dengan tenaga sentakan, maka senjata lawan tentu akan patah atau terlepas dari pegangan lawan.

Beberapa orang prajurit sudah kehilangan golok atau roboh oleh sabetan pedang di tangan Wan Cun.

Akan tetapi karena dia harus menghadapi serangan Lam-hai Cin-jin yang menggunakan sebuah ruyung baja berduri diselingi pukulan Hek-tok-ciang, maka tentu saja Wan Cun mulai terdesak hebat.

Untuk melarikan diri, sukar juga baginya karena dia telah dikepung banyak prajurit dan Lam-hai Cin-jin merupakan seorang lawan tangguh yang tingkat kepandaiannya seimbang dengan tingkatnya sendiri.

Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan terdengar seruan lantang.

"Ayah, mari kita basmi anjing-anjing busuk ini!"

Dan Wan Kim Hui telah berada di situ, mengamuk dengan pedangnya.

Begitu ia bergerak, empat orang prajurit terjengkang mandi darah dan gadis itu lalu membantu ayahnya menghadapi Lam-hai Cin-jin yang dibantu banyak prajurit.

Munculnya gadis yang lihai itu membuat Lam-hai Cin-jin menjadi jerih.

Dia tahu bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang hampir menyamai tingkat ayahnya!

Akan tetapi melihat puterinya datang membantu, Wan Cun menjadi khawatir akan keselamatan isterinya.

"Kim Hui, mari kita pergi!"

Katanya sambil menggerakkan pedangnya menyerang Lam-hai Cin-jin yang segera melompat ke belakang.

Kesempatan ini dipergunakan ayah dan anak itu untuk melompat keluar dari kepungan dan mereka lalu melarikan diri keluar kota.

Setelah tiba di luar kota, Wan Cun bertanya.

"Di mana ibumu?"

"Ibu selamat walaupun terluka, Ayah. Kutitipkan di rumah seorang petani di sana."

Mereka lalu berlari menuju ke dusun kecil itu.

Wan Cun menemukan isterinya rebah dalam rumah sederhana seorang petani dalam keadaan masih pingsan.

Dia cepat memeriksa keadaannya.

Ternyata isterinya terkena pukulan Hek-tok-ciang dari Lam-hai Cin-jin.

Pada lambungnya terdapat tanda tapak jari hitam.

Dia cepat membantu isterinya dengan penyaluran tenaga sin-kang untuk mencegah menjalarnya hawa beracun pukulan itu.

Isterinya siuman namun keadaannya lemah.

"Ayah, mari kita kembali dan bunuh jahanam Lam-hai Cin-jin itu!"

Kim Hui berkata sambil mengepal tinju. Ayahnya menggelengkan kepalanya.

"Tidak mudah membunuhnya. Dia dilindungi Raja Muda Wu Sam Kwi dan kita akan berhadapan dengan pasukan yang besar jumlahnya. Lagi pula, sekarang yang terpenting bukan membalas dendam, melainkan mencarikan obat untuk menyembuhkan ibumu."

Demikianlah, untuk menjaga agar pasukan Raja Muda Wu Sam Kwi tidak dapat menemukan mereka, Wan Cun dan Wan Kim Hui membawa lari Nyonya Wan keluar dari daerah Se-cuan dan akhirnya mereka tiba di sebuah bukit tak jauh dari Telaga Lam-hu.

Bukit itu dikenal sebagai Bukit Siluman dan tidak ada penduduk yang tinggal di sekitar Lam-hu berani mendaki bukit itu karena dikabarkan bahwa bukit itu menjadi tempat tinggal para setan dan siluman!

Mendengar ini, Wan Cun menganggap bahwa bukit itu tempat yang baik untuk menyembunyikan diri.

Akan tetapi ketika mereka bertiga mendaki bukit itu, mereka dihadang oleh sekitar dua puluh orang.

Mereka adalah gerombolan penjahat di bukit itu yang dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar bermuka penuh brewok yang mengaku berjuluk Tiat-thouw-ciang (Kepalan Besi).

Terjadilah perkelahian dan dengan mudah saja Wan Cun dan Kim Hui membunuh Tiat-thouw-ciang dan lima orang anak buah yang menjadi pembantunya.

Lima belas orang anak buah lain melihat pemimpin mereka tewas, segera berlutut minta ampun dan takluk.

Karena dia membutuhkan anak buah untuk membangun rumah tinggal di situ, maka Wan Cun menerima lima belas orang ini menjadi anak buahnya dan menggunakan rumah bekas tempat tinggal Tiat-thouw-ciang sebagai tempat tinggalnya.

Akan tetapi luka dalam yang diderita Nyonya Wan semakin parah.

Usaha pengobatan Wan Cun tidak mampu menyembuhkannya, hanya dapat mencegah luka itu menjalar semakin parah.

Melalui anak buahnya, Wan Cun mendengar bahwa di kota Lam-hu terdapat sebuah ahli pengobatan yang membuka toko obat bernama Ui Tiong.

Maka, dia lalu mengutus puterinya untuk mengundang Ui Tiong ke Bukit Siluman untuk memeriksa dan mengobati isterinya.

Demikianlah, seperti diceritakan di bagian depan, Wan Kim Hui mengajak lima orang anak buahnya, menunggang kuda pergi ke kota Lam-hu.

Karena Ui Tiong tidak mau diundang dan minta agar yang sakit dibawa ke tokonya, Wan Kim Hui yang menjadi semakin galak karena mengkhawatirkan keadaan ibunya, lalu memaksanya, menotoknya dan menculiknya, dibawa ke Bukit Siluman!

Setelah tiba di rumah perkampungan kecil di puncak bukit, Ui Tiong dibebaskan dari totokan.

Dia memeriksa si sakit dan terkejut.

Ternyata luka dalam yang diderita Nyonya Wan sungguh hebat.

"Hemm, lukanya sungguh berat. Aku hanya dapat memberi obat pencegah rasa nyeri dan pembersih darah agar darahnya jangan sampai dikotori hawa beracun itu."

Dia lalu menulis resep obat dan seorang anak buah Bukit Siluman segera diutus untuk membeli obat di rumah Ui Tiong.

Ketika utusan itu membeli obat lalu pergi naik kuda, kesempatan itu dipergunakan Ui Yan Bun yang datang berkunjung ke rumah pamannya untuk membayanginya.

Pemuda itu merasa penasaran dan marah sekali mendengar cerita bibinya betapa seorang gadis liar menculik pamannya dan memaksanya untuk mengobati orang sakit.

Penunggang kuda itu sama sekali tidak tahu bahwa dia dibayangi Yan Bun.

Setelah tiba di perkampungan itu, dia langsung menyerahkan bungkusan obat itu kepada Ui Tiong yang segera memasaknya dan meminumkannya kepada Nyonya Wan.

Obat itu agaknya manjur karena setelah minum obat itu, rasa nyeri tidak lagi begitu menyiksa Nyonya Wan Cun.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara ribut-ribut di luar rumah.

Mendengar ini, Wan Kim Hui cepat berlari keluar dan ia melihat lima orang anak buahnya sedang mengeroyok seorang pemuda.

Sambil menghindarkan diri dari serangan lima orang itu dengan gerakan mengelak yang ringan dan cepat, pemuda itu berseru.

"Aku tidak ingin mencari permusuhan! Aku hanya ingin melihat apakah Paman Ui Tiong dalam keadaan selamat dan ingin mengajak dia pulang!"

Setelah berkata demikian, dengan gerakan yang cepat dia balas menyerang.

Kedua tangan dan kakinya bergerak dan berturut-turut lima orang itu berteriak dan golok yang mereka pegang terlepas karena pergelangan tangan mereka kena pukul atau tendang.

"Kalian mundur semua!"

Bentak Kim Hui.

Mendengar bentakan gadis itu, lima orang anak buah cepat mundur dan para anak buah lain yang berdatangan juga tidak berani mendekat.

Kini Wan Kim Hui berhadapan dengan Ui Yan Bun.

Mereka saling pandang, dan sepasang alis pemuda itu berkerut.

Yan Bun teringat akan cerita bibinya tentang seorang gadis cantik yang menculik pamannya dan mendorong roboh bibinya.

Gadis liar dan kasar!

"Nona, engkaukah yang telah menculik pamanku Ui Tiong?"

Tanyanya dengan suara ketus.

Diam-diam kemarahannya bercampur dengan rasa heran.

Gadis itu cantik manis dan pakaiannya mewah, sama sekali tidak tampak liar.

Mengapa gadis seperti ini dapat memaksa dan menculik pamannya?

Wan Kim Hui juga tertegun ketika berhadapan dengan Yan Bun.

Ia melihat seorang pemuda yang berpakaian serba biru, usianya sekitar dua puluh dua tahun bertubuh tegap, wajahnya tampan gagah dan sinar mata dan sikapnya lembut.

Akan tetapi pertanyaan yang agak ketus itu membuat ia mendongkol juga.

Ia tersenyum manis sekali walaupun senyum itu dibarengi pandang mata yang mengejek.

"Kalau benar, engkau mau apa? Siapa sih engkau ini?"

"Aku bernama Ui Yan Bun dan yang kauculik adalah pamanku Ui Tiong! Siapakah engkau ini seorang wanita muda berani melakukan kekerasan memaksa pamanku ikut denganmu?"

"Aku bernama Wan Kim Hui dan aku memaksa pamanmu karena dia tidak mau pergi dengan suka rela."

"Aku datang untuk menjemput pamanku. Di mana dia? Bebaskan dia atau...."

"Atau apa?"

Kim Hui tertawa.

"Atau terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!"

Senyum Kim Hui melebar.

"Engkau? Hendak menggunakan kekerasan? Hemm, ingin kulihat bagaimana engkau akan melakukannya."

"Nona, kuharap engkau suka membebaskan pamanku untuk kuajak pulang. Aku datang bukan hendak mencari permusuhan. Akan tetapi kalau engkau menolak, terpaksa aku mengimbangi perbuatanmu. Engkau memaksa pamanku ikut denganmu dan kini terpaksa aku pun hendak memaksa mengajaknya pulang!"

"Tidak perlu banyak cakap! Perlihatkan kepandaianmu kalau memang engkau mempunyainya!"

Tentu saja Yan Bun tidak mau menyerang seorang gadis.

Dia lalu menggunakan gin-kangnya untuk berkelebat cepat menuju ke pintu rumah itu, dengan niat untuk masuk ke dalam mencari pamannya.

Akan tetapi tiba-tiba tubuh gadis itu pun sudah berkelebat dan sebelum Yan Bun tiba di depan pintu, gadis itu telah menghadangnya dan begitu dekat, tangan Kim Hui menyerang dengan tamparan ke pundak pemuda itu.

Yan Bun kagum juga melihat betapa gadis itu mampu mendahuluinya, dan melihat tamparan yang mendatangkan angin pukulan kuat itu dia cepat mengelak dan balas menyerang dengan tamparan pula.

Kim Hui menangkis dengan cepat.

"Dukk!"

Keduanya terdorong ke belakang tiga langkah, menandakan bahwa tenaga mereka seimbang.

Hal ini mengejutkan keduanya karena mereka tidak mengira bahwa lawan masing-masing sedemikian kuatnya!

Kim Hui merasa penasaran dan ia menyerang lebih ganas.

Yan Bun harus bersikap hati-hati karena kini dia pun dapat mengerti mengapa pamannya dapat ditawan gadis ini yang ternyata amat lihai.

Perkelahian tangan kosong berjalan seru.

Biarpun keduanya membawa pedang di punggung mereka, akan tetapi keduanya tidak mencabut pedang, hanya saling serang dengan tangan kosong.

Yan Bun memang hanya ingin menjemput pamannya, sama sekali tidak ingin bermusuhan dengan gadis itu, maka dia tidak mau menggunakan senjata tajam.

Sebaliknya, Kim Hui yang biasanya ganas dan galak itu, sekali ini juga tidak menggunakan pedangnya karena ia ingin menguji sampai di mana hebatnya ilmu silat tangan kosong pemuda yang diam-diam amat menarik hatinya itu.

Baru pertama kali ini ia merasa tertarik oleh seorang pemuda!

Setelah bertanding sekitar empat puluh jurus, diam-diam Yan Bun menjadi semakin kaget.

Lawannya benar-benar hebat.

Semua serangannya mampu dipatahkan dengan mudah dan sebaliknya, kadang-kadang serangan gadis itu membuat dia terdesak dan terpaksa mundur!

Tiba-tiba terdengar bentakan suara yang parau dan dalam.

"Kim Hui, minggir kau!"

Sesosok bayangan menyambar dan Yan Bun terkejut sekali. Dia cepat menangkis sebuah tangan yang mencengkeram ke arah pundaknya.

"Dukkk!"

Tubuhnya tergetar dan terhuyung ke belakang!

Kini di depannya berdiri seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, mukanya brewok dan mirip muka singa, sepasang matanya mencorong.

Kini laki-laki itu yang bukan lain adalah Wan Cun sudah menerjang lagi tanpa mengeluarkan kata-kata.

Yan Bun membela diri sedapat mungkin, namun dia hanya dapat bertahan sepuluh jurus saja karena tanpa dapat dia hindarkan, pundaknya terkena totokan yang ampuh dan dia pun terguling roboh dengan tubuh lemas lunglai.

Wan Cun lalu mencengkeram punggung baju pemuda itu dan menjinjingnya, membawanya masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Kim Hui yang mengambil pedang dari punggung Yan Bun.

Setelah tiba di ruangan dalam di mana Ui Tiong sedang menunggu si sakit sambil duduk di atas kursi, Wan Cun melepaskan tubuh Yan Bun sehingga pemuda itu terkulai dan rebah telentang di atas lantai.

"Yan Bun...! Engkau di sini...?"

Ui Tiong memandang dengan mata terbelalak heran dan khawatir.

Melihat Pek-hu (Paman Tua) itu dalam keadaan selamat, Yan Bun yang tidak mampu menggerakkan kedua kaki tangannya akan tetapi masih dapat mengeluarkan suara, berkata lega.

"Sukurlah Pek-hu dalam keadaan selamat."

Tiba-tiba Nyonya Wan terbatuk-batuk, lalu muntah-muntah.

Wan Cun, Ui Tiong dan juga Kim Hui cepat menghampiri si sakit.

Setelah muntah-muntah, nyonya itu tampak lelah dan napasnya terengah-engah.

Ui Tiong cepat memeriksa denyut nadi dan pernapasan Nyonya Wan, lalu dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang.

Melihat ini, Wan Cun cepat bertanya.

"Bagaimana keadaan isteriku?"

"Ah, terpaksa sekali saya katakan bahwa keadaan nyonya ini berat sekali. Hawa beracun dalam dadanya sukar untuk dibersihkan, bahkan kalian dapat lihat, obat yang diminumkannya tadi banyak yang dimuntahkan kembali. Hawa beracun itu sungguh ganas dan jahat sekali."

Tentu saja keterangan ini membuat ayah dan anak itu menjadi gelisah sekali.

"Engkau harus dapat sembuhkan dia! Harus dapat sembuhkan dia!"

Bentak Wan Kim Hui dan kedua mata yang bersinar tajam itu menjadi basah dengan air mata.

Melihat sikap dan mendengar ucapan gadis yang liar dan galak itu, Ui Tiong mengerutkan alisnya dan sambil memandang keponakannya yang masih menggeletak telentang di atas lantai, dia berkata dengan hati kesal.

"Hemm, kalian ini orang-orang kang-ouw akan tetapi sama sekali tidak menghargai sopan santun dan peraturan orang-orang dunia kang-ouw. Kalian telah memaksa aku ke sini, dan kini kalian malah menangkap keponakanku. Apa sih kehendak kalian ini?"

Wan Cun menghela napas dan berkata.

"Kami bukan tidak tahu aturan, akan tetapi keadaan yang memaksa kami berbuat begini. Isteriku terluka, keluarga kami terusir dan anakku karena khawatir akan keselamatan ibunya, telah bersikap kasar kepadamu. Keponakanmu ini datang dengan maksud memaksamu pulang, maka terpaksa pula aku tangkap dia agar jangan membikin kacau. Kami hanya menghendaki agar isteriku sembuh."

Ui Tiong menggelengkan lagi kepalanya.

"Sulit, Lam-ong,"

Katanya.

Wan Cun memang sudah memperkenalkan nama dan julukannya kepadanya sebelum dia mengobati, maka dia mengetahui bahwa ayah dari gadis yang menculiknya adalah seorang datuk persilatan dari Selatan.

"Terus terang saja, aku sendiri tidak ada kemampuan untuk menyembuhkan isterimu. Dan kukira di seluruh daerah ini, tidak ada orang yang akan mampu menyembuhkannya. Satu-satunya orang yang kukira akan dapat memberi obat yang dapat menyembuhkannya hanyalah Bu Beng Kiam-sian (Dewa Pedang Tanpa Nama) yang berada di Beng-san. Dia saja yang dapat menyembuhkan segala luka dari pukulan beracun yang amat jahat seperti Hek-tok-ciang yang hawa beracunnya berasal dari katak hitam raksasa ini."

Mendengar ini, ayah dan anak tampak semakin bingung, bahkan Kim Hui mulai menangis sambil memeluk ibunya.

Timbul rasa iba di hati Yan Bun melihat ini.

Ayah dan anak ini lihai bukan main, terutama ayah yang berjuluk Lam-ong (Raja Selatan) itu.

Kalau mereka bertindak kasar dan tampak sewenang-wenang hanya karena mereka berdua gelisah dan bingung.

Keinginan satu-satunya bagi mereka hanyalah menyembuhkan ibu dari gadis itu.

"Aku sanggup menghadap Bu Beng Kiam-sian mencarikan obat itu,"

Katanya.

Mendengar ini, Lam-ong cepat menghampiri pemuda yang masih rebah telentang di atas lantai itu dan sekali ia menekan punggung Yan Bun, pemuda itu terbebas dari totokan.

Dia lalu bangkit berdiri dan Kim Hui dengan tak sabar cepat bertanya.

"Benarkah engkau dapat mencarikan obat untuk ibuku?"

Tanyanya sambil menatap wajah Yan Bun dengan pandang mata penuh harapan, sepasang mata yang masih basah.

"Orang muda, benarkah kata-katamu bahwa engkau sanggup mintakan obat untuk isteriku kepada Bu Beng Kiam-sian di Beng-san?"

Tanya Wan Cun pula.

"Yan Bun, bagaimana engkau menyanggupi semudah itu? Beng-san merupakan gunung yang tinggi dan sukar didaki, juga Bu Beng Kiam-sian adalah seorang manusia aneh yang tidak mudah berhubungan dengan manusia lain,"

Kata Ui Tiong.

"Pek-hu, saya sanggup karena saya pernah diajak oleh Suhu Thian Bong Sianjin berkunjung ke sana. Karena saya pernah berjumpa dengan Bu Beng Kiam-sian, maka saya berani menyanggupi pekerjaan itu."

"Bagus! Orang muda, siapakah namamu?"

Tanya Wan Cun dengan suara gembira karena dia mendapatkan harapan baru.

"Nama saya Yan Bun, Locianpwe (sebutan hormat orang tua)."

"Nah, Ui Yan Bun, kalau memang sanggup untuk mencarikan obat untuk menyembuhkan isteriku, minta kepada Bu Beng Kiam-sian di Beng-san, kami sekeluarga akan berterima kasih sekali kepadamu, dan kami akan mohon maaf atas pemaksaan kami terhadap pamanmu, juga terhadap dirimu yang telah kutangkap tadi,"

Kata Wan Cun.

"Tidak mengapa, Locianpwe. Setelah saya mengetahui apa yang menyebabkan puterimu memaksa Pek-hu untuk ikut ke sini, maka hal itu hanya merupakan salah paham saja. Akan tetapi, saya akan berusaha mencarikan obat itu kalau Locianpwe suka memenuhi permintaan saya."

"Hei, Ui Yan Bun, engkau mengajukan syarat, ataukah hendak memeras ayahku?"

Wan Kim Hui bertanya penasaran.

"Aku hanya ingin mendapatkan imbalan untuk tugas yang berat ini, demi kesembuhan ibumu, Nona,"

Kata Yan Bun.

"Katakanlah, orang muda. Apa yang kauminta dariku kalau engkau telah berhasil mendapatkan obat dari Bu Beng Kiam-sian?"

Wan Cun bertanya, penuh harapan.

"Saya hanya minta agar Locianpwe suka mengajarkan ilmu silat kepada saya."

"Boleh! Aku berjanji kalau engkau berhasil mendapatkan obat dan isteriku sembuh, engkau akan menjadi muridku dan akan kuberikan semua ilmuku kepadamu!"

Wan Kim Hui lalu menyerahkan pedang Yan Bun yang tadinya ia rampas, tanpa mengeluarkan ucapan apa pun.

Akan tetapi ketika pandang mata mereka bertemu, Yan Bun melihat bahwa sinar mata gadis itu kini tidak galak lagi, bahkan kedua pipi Kim Hui kemerahan!

Untuk membuktikan niat baiknya, Wan Cun memberi kebebasan kepada Ui Tiong.

Tabib ini boleh pulang ke Lam-hu, dengan janji bahwa setiap hari dia akan datang menjenguk dan memeriksa keadaan Nyonya Wan.

Ui Yan Bun segera berangkat pada hari itu juga, membawa buntalan pakaian dan pedangnya.

Dia melakukan perjalanan cepat karena ingin segera sampai di Beng-san.

Nyonya Wan Cun harus dapat disembuhkan, bukan hanya karena dia ingin menerima pelajaran ilmu silat tinggi dari Lam-ong Wan Cun, melainkan terutama sekali agar pamannya bebas dari ancaman dan agar hati Wan Kim Hui senang melihat ibunya dapat disembuhkan!

Akan tetapi, ketika dia meninggalkan Bukit Siluman sejauh belasan kilometer, tiba-tiba ada bayangan berkelebat melewatinya dan tahu-tahu Wan Kim Hui telah berdiri di depannya!

Gadis itu menggendong sebuah buntalan pakaian dan pedangnya juga tergantung di punggungnya, tanda bahwa gadis itu hendak melakukan perjalanan jauh.

"Eh, engkaukah ini, Nona Wan...?"

Yan Bun menegur heran.

"Tidak usah nona-nonaan, Ui Yan Bun! Namaku Kim Hui, sebut saja namaku!"

Gadis itu memotong cepat. Yan Bun tersenyum dan menghela napas panjang. Gadis ini benar-benar bersikap terbuka, polos dan agak liar.

"Baiklah, Kim Hui. Ke manakah engkau hendak pergi, kalau aku boleh bertanya? Atau... engkau memang mengejarku dan kalau begitu, ada kepentingan apakah?"

Tiba-tiba dia merasa betapa jantungnya berdebar tegang karena terpikir olehnya bahwa jangan-jangan ibu gadis itu meninggal! "Aku hendak ikut denganmu ke Beng-san!"

Kata Kim Hui singkat. Yan Bun terkejut.

"Eh? Kenapa? Aku yang akan mencarikan obat itu, Kim Hui, dan aku tidak memerlukan bantuan."

Kim Hui cemberut dan sinar matanya menyambar marah.

"Yan Bun, yang sakit adalah ibuku, ibu kandungku! Aku lebih berhak mencari obat untuknya daripada engkau! Dan lagi, aku tidak ingin membantumu, aku ingin cari sendiri kalau engkau tidak suka melakukan perjalanan bersamaku!"

Melihat betapa gadis itu marah sekali, Yan Bun cepat berkata.

"Sama sekali bukannya aku tidak ingin melakukan perjalanan bersamamu, Kim Hui. Aku malah senang sekali karena engkau lihai dan dapat diandalkan, akan tetapi...."

"Akan tetapi apa lagi? Kalau engkau tidak keberatan melakukan perjalanan bersamaku, sudahlah jangan banyak cakap. Mari kita lanjutkan perjalanan agar dapat cepat memperoleh obat itu!"

Yan Bun harus mengakui bahwa gadis ini dapat merupakan bantuan besar sekali baginya karena kelihaian gadis ini bahkan melampauinya sehingga kalau dia bertemu penghalang di jalan, gadis ini dapat membantu mengatasinya.

Pula, memang tentu saja gadis ini berhak dan berkewajiban untuk berusaha mencarikan obat bagi ibunya.

Dia khawatir kalau-kalau Kim Hui akan menjadi semakin marah jika dia membantah lagi, maka dia lalu berkata.

"Baiklah, mari kita pergi."

Mereka lalu melanjutkan perjalanan dengan cepat mereka berlomba lari!

*** Beng-san merupakan pegunungan yang panjang, terdiri dari banyak bukit-bukit dan puncaknya menjulang tinggi menembus awan.

Di atas puncak sebuah di antara bukit-bukit itu, yaitu Bukit Kera, tinggal seorang pertapa wanita berjuluk Im Yang Sian-kouw.

Wanita ini berusia sekitar empat puluh satu tahun, masih tampak cantik dan lembut, berpakaian jubah pendeta yang longgar berwarna putih.

Di puncak itu ia mempunyai sebuah pondok kayu yang cukup besar dan ia mempunyai seorang pelayan wanita setengah baya berusia lima puluh tahun.

Selain itu, ia mempunyai pula seorang murid laki-laki, seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun bernama Si Han Bu yang merupakan murid tunggalnya.

Pada suatu pagi yang cerah, walaupun matahari masih tampak merah dan bulat besar di ufuk timur, seorang pemuda sedang berlatih silat di lapangan yang datar di puncak Bukit Kera.

Dia berlatih silat di antara tanaman bunga-bunga yang merupakan taman itu belakang pondok, dan di tengah taman itu memang sengaja dibuat sebuah lapangan untuk berlatih silat.

Pemuda itu berusia dua puluh dua tahun, bertubuh tinggi tegap dan wajahnya yang berkulit putih itu tampan.

Sepasang matanya bersinar-sinar terang membayangkan semangat hidup dan kegembiraan, mulutnya mengandung senyum nakal.

Akan tetapi wajahnya membuat orang yang memandangnya sukar untuk menjadi marah karena wajah itu tampak ramah sekali.

Pakaiannya sederhana dan baik celana maupun bajunya terbuat dari kain berwarna putih bersih.

Pada saat itu, pemuda yang bernama Si Han Bu ini sedang berlatih silat.

Tangan kanannya memegang sebatang pedang dan dengan gerakan indah dia mainkan pedang itu, mula-mula lambat saja, kemudian semakin cepat sehingga pedangnya berubah menjadi gulungan sinar putih.

Tiba-tiba dari dalam pondok itu muncul seorang wanita yang berpakaian serba putih pula.

Wanita ini adalah Im-yang Sian-kouw, biarpun usianya sudah empat puluh satu tahun lebih, namun ia masih tampak cantik dengan wajahnya yang lembut, sepasang matanya yang sinarnya lembut namun terkadang mencorong penuh wibawa, kulitnya yang putih mulus, rambutnya yang panjang hitam dan mulutnya yang selalu tersenyum ramah walaupun ada garis-garis kedukaan membekas di kedua ujung mulutnya.

Tubuhnya juga masih tampak ramping padat.

Dengan langkah perlahan Im-yang Sian-kouw keluar dari pintu belakang menuju ke dalam taman di mana murid tunggalnya, Si Han Bu, sedang berlatih silat pedang.

Ia duduk di atas bangku tak jauh dari lapangan berlatih silat itu, menonton dengan penuh perhatian lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Begitulah seharusnya Im-yang Kiam-sut (Ilmu Pedang Im Yang) dimainkan, Han Bu. Coba sekarang imbangi dengan Im-yang Po-san (Kipas Im Yang)!"

Tanpa menghentikan gerakan pedangnya, Si Han Bu mencabut sebuah kipas lebar yang mukanya berwarna putih akan tetapi belakangnya berwarna hitam, lalu tangan kiri yang memegang kipas itu membuat gerakan silat melengkapi gerakan pedangnya sehingga tampak dua buah senjata yang paling menunjang dan saling melindungi.

Indah dan juga berbahaya sekali bagi lawan permainan kombinasi pedang dan kipas itu!

Setelah pemuda itu berhenti berlatih dan berdiri di depan gurunya, Im-yang Sian-kouw berkata lembut namun dengan nada suara bersungguh-sungguh.

"Han Bu, kalau ilmu pedangmu sudah baik sekali, permainan kipasmu masih terlalu lemah. Kipasmu itu hanya mengambil bagian pertahanan saja, padahal kalau engkau selingi dengan serangan tiba-tiba, akan membuat lawan terkejut dan bingung. Engkau mainkan kipasmu seperti sedang menari saja, hanya menekankan segi keindahannya daripada kegunaannya dalam pertandingan."

Pemuda itu tersenyum lebar.

"Maaf, Subo (Ibu Guru), teecu (murid) tadi memang lebih banyak menggunakan kipas untuk mengipasi tubuh teecu yang panas berkeringat. Maklum sudah sejak pagi sekali tadi teecu berlatih sehingga teecu merasa gerah sekali. Maaf, Subo."

Dia kini menggunakan ujung lengan bajunya untuk mengusap keringat yang membasahi muka dan lehernya.

Melihat lagak muridnya yang lucu itu, Im-yang Sian-kouw tersenyum.

Ia sangat menyayang muridnya itu dan menganggapnya seperti puteranya sendiri.

Sesungguhnya, yang menemukan Si Han Bu adalah gurunya, yaitu Bu Beng Kiam-sian yang kini telah meninggal dunia sekitar setahun yang lalu.

Bu Beng Kiam-sian menemukan Si Han Bu yang sudah yatim piatu, ketika anak yang baru berusia sepuluh tahun itu bersama ayah ibunya meninggalkan dusun karena pergi mengungsi setelah terjadi perang.

Dalam pengungsian mereka, di kaki pegunungan Beng-san, mereka bertemu pasukan pengikut Jenderal Wu Sam Kwi dan melihat ibu Si Han Bu yang cantik, mereka hendak mengganggunya.

Ayah ibu Si Han Bu melawan sampai akhirnya mati dikeroyok dan Han Bu yang berusia sepuluh tahun melarikan diri dikejar beberapa orang prajurit.

Untung pada saat yang gawat dan berbahaya bagi keselamatan anak itu, muncul Bu Beng Kiam-sian yang segera menghajar para prajurit dan menolong anak itu.

Bu Beng Kiam-sian lalu mengubur jenazah ayah ibu Han Bu dan membawa anak itu ke Bukit Kera.

Nah, sejak berusia sepuluh tahun Han Bu menjadi murid Im-yang Sian-kouw atau cucu murid Bu Beng Kiam-sian.

Setelah Bu Beng Kiam-sian meninggal, maka di puncak Bukit Kera itu tinggal Im-yang Sian-kouw, Si Han Bu, dan nenek pelayan yang menempati pondok itu.

"Han Bu, ingatlah bahwa engkau tidak boleh jumawa, jangan dikira bahwa kepandaianmu sudah paling hebat. Tidak ada batas bagi tingkat kepandaian manusia. Yang pandai ada yang lebih pandai lagi, yang tinggi ada yang lebih tinggi lagi. Engkau harus selalu rendah hati karena orang yang rendah hati sajalah yang memiliki kesempatan besar untuk meningkatkan kepandaiannya. Sebaliknya orang yang merasa dirinya paling hebat tidak akan maju, bahkan kesombongannya sendiri yang akan menjatuhkannya. Engkau harus terus belajar, tidak ada kata akhir bagi orang belajar, bahkan sampai mati pun kita harus tetap belajar."

Han Bu menggaruk-garuk bagian belakang telinganya biarpun tidak terasa gatal.

"Waduh, alangkah akan lelahnya kalau harus belajar terus selama hidup, Subo!"

Im-yang Sian-kouw tertawa.

"Hush, bukan hanya belajar silat terus menerus. Hidup bukan hanya sekadar belajar silat, Han Bu. Hidup ini sendiri merupakan proses belajar, sejak lahir sampai akhir usia. Belajar dari kehidupan ini agar engkau bukan hanya mahir mainkan pedang dan kipas untuk melindungi diri sendiri dan orang lain, untuk mempertahankan dan membela kebenaran dan keadilan, akan tetapi banyak hal yang perlu kaupelajari sehingga engkau mengerti benar apa artinya hidup ini dan apa kewajibanmu dalam kehidupan. Jangan sekali-kali merasa dirimu pandai."

Han Bu tertawa.

"He-he, sudah sering Subo mengatakan bahwa tidak ada orang pandai di dunia ini! Tadinya teecu bingung. Masa tidak ada orang pandai? Bukankah mendiang Sukong (Kakek Guru) dan Subo sendiri juga orang-orang pandai? Akan tetapi sekarang teecu sudah mendapatkan jawabannya mengapa Subo mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada orang pandai."

Sambil tersenyum melihat cara muridnya bicara yang lucu, Im-yang Sian-kouw berkata.

"Hemm, benarkah engkau sudah mengerti mengapa? Coba katakan pendapatmu."

"Memang tidak ada orang pandai di dunia ini, Subo. Sepandai-pandainya orang, dia masih amat bodoh. Buktinya, orang yang bagaimana pandai pun, tidak dapat mengatur apa yang menempel di tubuhnya sendiri. Tidak dapat menghentikan tumbuhnya rambut, tidak dapat mencegah kuku menjadi panjang, apalagi menghitung rambutnya sendiri. Maaf, Subo, teecu berani bertaruh bahwa Subo sendiri juga tidak dapat menghitung berapa banyaknya rambut yang berada di kepala Subo. Maka, benarlah kalau Subo mengatakan bahwa tidak ada orang pandai di dunia ini!"

Im-yang Sian-kouw tertawa dan menutupi mulutnya.

"Karena itu, jangan sekali-kali engkau menjadi sombong dan merasa dirimu pandai. Kepandaian manusia itu terbatas sekali. Yang Maha Pandai hanyalah Thian Yang Maha Kuasa. Apa yang dapat dilakukan manusia hanyalah karunia yang diberikan oleh Thian, bukan karena si manusia sendiri yang pandai. Nah, sudahlah, Han Bu, kalau bicara denganmu aku selalu menjadi geli dan ingin tertawa. Berlatihlah lagi sampai Im-yang Po-san dapat kaumainkan dengan sebaik-baiknya. Aku akan bersamadhi dan kalau engkau ingin sarapan lagi, minta saja kepada Sun-ma (Ibu Sun) di dapur, tidak perlu menunggu aku karena aku tidak ingin makan pagi ini."

"Wah, Subo tentu selalu memegang prinsip Subo, yaitu. Tidak makan kalau tidak lapar, tidak minum kalau tidak haus, tidak tidur kalau tidak mengantuk!"

"Tentu saja, anak bodoh. Melakukan lebih dari apa yang dibutuhkan badan merupakan pemborosan tenaga dan pengrusakan diri sendiri."

Setelah berkata demikian, Im-yang Sian-kouw meninggalkan tempat itu, kembali memasuki pondok dengan mulut masih menahan senyum.

Hidup dekat pemuda itu orang tidak mungkin dapat menahan tawa dan gembira.

Ia bersukur kepada Tuhan bahwa terdapat seorang murid seperti Han Bu yang dianggapnya putera sendiri yang selalu mendatangkan seri gembira dalam hidupnya, menghiburnya dari duka nestapa yang pernah ia alami di masa mudanya.

Han Bu memandang gurunya yang berjalan santai menuju pondok sampai gurunya itu lenyap di balik pintu belakang pondok.

Dia tersenyum dan merasa bangga sekali kepada ibu gurunya yang dia anggap sebagai ibunya sendiri.

Betapa bahagianya dia!

Biarpun sejak kecil kehilangan ayah ibunya yang terbunuh oleh para prajurit dari Selatan, namun dia memperoleh pengganti.

Sebelum meninggal, Bu Beng Kiam-sian juga amat baik kepadanya.

Biarpun kini kakek itu sudah meninggal, namun dia mendapatkan pengganti ayah ibunya dalam diri Im-yang Sian-kouw!

Dia amat menyayang ibu gurunya, menyayangnya seperti ibunya sendiri.

Dia selalu menyanjung gurunya, mengagumi kecantikannya, kelembutannya, kebijaksanaannya, dan kepandaiannya.

Terkadang dia juga dapat merasakan betapa ada sesuatu yang membuat gurunya itu menderita batin yang selalu ditahan-tahannya.

Tentu ada hubungannya dengan riwayat subonya ketika masih muda.

Akan tetapi subonya tidak pernah menceritakan riwayat hidupnya dan dia pun tidak berani bertanya.

Si Han Bu mulai berlatih lagi.

Kini dia hanya melatih ilmu silat kipasnya saja.

Setelah dia berlatih dengan gaya yang indah namun lucu sampai puluhan jurus dan mulai merasa gerah, tiba-tiba berkelebat dua sosok bayangan orang.

Han Bu cepat menghentikan permainan silat kipasnya dan ketika dia memandang, di situ telah berdiri seorang pemuda berpakaian serba biru yang berwajah tampan gagah dan seorang gadis berpakaian mewah seperti puteri bangsawan yang berwajah manis dengan tahi lalat hitam kecil di dagu kirinya.

Melihat mereka berdua membawa pedang di punggung, Han Bu dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang kang-ouw yang pandai ilmu silat.

Melihat gadis cantik manis yang sikapnya angkuh, berdiri dengan menegakkan kepala dan membusungkan dada yang sudah mulai dewasa itu, timbul kenakalan Han Bu.

Dia tersenyum cengar-cengir mengamati dua orang itu, terutama gadis yang manis itu, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.

MEREKA adalah Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui.

Melihat pemuda yang cengar-cengir dengan senyum yang seperti menertawakan itu, Kim Hui sudah naik darah.

Ia cemberut dan alisnya berkerut, sinar matanya berkilat.

Tadi ia sempat melihat pemuda yang cengar-cengir itu bersilat dengan kipas, gayanya seperti seorang badut menari.

"Hei, kamu tukang kebun, ya?"

Tegurnya. Han Bu tidak marah melihat orang demikian galak dan memandang rendah.

"Benar, Nona yang cantik manis. Aku tukang kebun di sini."

"Heh, lancang mulut kamu! Berani menyebut aku Nona yang cantik manis! Kamu hendak kurang ajar, ya?"

Bentak Kim Hui, sedangkan Yan Bun hanya melihat saja karena dia merasa betapa Kim Hui terlalu kasar bertanya.

Selama melakukan perjalanan bersama Kim Hui, Yan Bun dapat mengenal watak gadis itu.

Gagah berani dan terbuka, juga memiliki perasaan adil dan menentang yang jahat, akan tetapi galaknya bukan main!

Si Han Bu membelalakkan matanya dan mulutnya terbuka, lalu bibirnya dimonyongkan meruncing.

"Maafkanlah aku, Nona yang jelek dan pahit,"

Katanya sambil membungkuk dengan sikap hormat.

Sikap dan ucapan Han Bu ini bagaikan minyak disiramkan kepada api.

Mukanya menjadi merah, matanya berapi, kedua tangannya dikepal lalu ia menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka pemuda itu.

"Monyet kurang ajar! Pantas bukit ini disebut Bukit Kera, tentu karena monyet busuk seperti kamu berada di sini! Keparat busuk kamu, berani mengatakan aku jelek dan pahit!"

Kim Hui membanting kakinya lalu mencabut pedangnya.

"Eiitt, tenang dulu, Nona. Engkau ini bagaimana sih? Aku jadi bingung. Tadi kusebut Nona yang cantik dan manis, engkau marah. Lalu aku mengubah sebutan menjadi Nona yang jelek dan pahit, engkau malah semakin marah. Lalu aku harus menyebutmu bagaimana?"

"Cerewet! Engkau memang kurang ajar, pantas dihajar. Biar kurobek mulutmu yang lancang itu!"

Gadis itu menerjang dan menyerang Han Bu dengan pedangnya. Pedang meluncur ke arah mulut pemuda itu.

"Kim Hui, jangan...!"

Yan Bun berteriak mencegah, akan tetapi serangan sudah dilakukan.

"Tranggg...!"

Cepat sekali Han Bu sudah mencabut pedang dan menangkis serangan itu.

Keduanya melangkah mundur karena pertemuan dua batang pedang itu terasa menggetarkan tangan mereka.

Kim Hui memandang kepada pemuda di depannya itu dengan marah.

Han Bu berdiri dengan pedang di tangan kanan dan tangan kirinya masih memegang kipasnya yang kini dia pergunakan untuk mengipasi tubuhnya.

Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Aduh-aduh, baru kali ini aku bertemu orang segalak ini! Datang-datang mengamuk seperti kerbau kehilangan tanduk...."

"Engkau yang anjing! Engkau yang kerbau, babi, monyet, kadal busuk!"

Kim Hui memaki-maki marah.

"Kau maki aku kerbau, ya? Mampuslah!"

Kim Hui menyerang dengan marah, kini menyerang untuk membunuh.

"Kim Hui, jangan...!"

Yan Bun kembali berseru.

Akan tetapi dalam keadaan marah seperti itu, Kim Hui tidak mempedulikan siapapun juga.

Ia menyerang dengan mengerahkan tenaga dan menggunakan jurus-jurus terampuhnya.

Akan tetapi, ia semakin penasaran karena ternyata Han Bu dapat mengelak atau menangkis semua serangannya!

Akan tetapi diam-diam Han Bu terkejut bukan main karena gadis yang galak dan dianggapnya sombong itu ternyata bukan lawan yang ringan!

Dia harus berhati-hati dan menggunakan pedang dan kipasnya untuk membela diri!

Bahkan dia harus balas menyerang karena kalau dia terus membela diri saja, akhirnya dia pasti akan terluka.

Gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang tidak berada di bawah tingkatnya sendiri!

Perkelahian itu seru sekali dan Yan Bun sudah menjadi bingung.

Sukarlah untuk melarang seorang gadis seperti Kim Hui yang keras hati dan kalau dia turun tangan melerai, dia khawatir kalau-kalau pemuda yang suka bergurau dan nakal itu akan salah sangka dan mengira dia mengeroyoknya.

Maka dia hanya dapat berseru berulang kali.

"Kim Hui, berhentilah! Berhentilah kalian berkelahi!"

Akan tetapi karena Kim Hui yang merasa penasaran terus saja menyerang, terpaksa Han Bu membela diri sehingga perkelahian itu tidak dapat dihentikan. Tiba-tiba tampak bayangan putih berkelebat.

"Tarrr-tarrr...!"

Segulung sinar putih menyambar.

Kim Hui berseru kaget dan pedangnya hampir terlepas dari tangannya ketika bertemu sinar putih.

Ia melompat ke belakang dan Han Bu segera menyimpan kedua senjatanya dan memberi hormat kepada Im-yang Sian-kouw yang sudah berdiri di antara dua orang yang tadi berkelahi.

"Subo, teecu terpaksa membela diri dan tidak dapat berhenti karena ia yang amat galak itu terus mendesak teecu dan tidak mau berhenti menyerang."

"Tentu saja aku menyerangmu, engkau laki-laki kurang ajar! Engkau memaki aku kerbau!"

Teriak Kim Hui.

Ia memandang kepada wanita berpakaian serba putih yang kini memandangnya.

Wanita itu tadi telah melerai perkelahian menggunakan sehelai pita putih dan ia merasa terkejut sekali betapa pita sutera putih itu demikian kuatnya sehingga hampir saja pedangnya terlepas ketika terbentur pita yang berubah menjadi sinar putih.

Tahulah ia bahwa ia berhadapan dengan seorang wanita yang memiliki tingkat kepandaian tinggi sekali.

Ui Yan Bun juga maklum bahwa ia berhadapan dengan seorang yang amat lihai, dan diam-diam ia merasa heran sekali.

Mengapa dia merasa seolah pernah bertemu dengan wanita ini?

Bahkan dia merasa seolah dia telah mengenalnya dengan baik.

Akan tetapi dia tidak ingat lagi di mana dan kapan pernah bertemu dengannya.

Cepat dia memberi hormat kepada wanita itu.

"Locianpwe, saya mohon maaf atas kelancangan kami berdua, telah mengganggu ketenangan di sini."

Im-yang Sian-kouw memutar tubuh menghadapi pemuda itu dan ia tersenyum.

Begitu wanita itu tersenyum, jantung Yan Bun berdebar aneh.

Dia merasa yakin pernah bertemu dengan wanita ini, akan tetapi tetap saja dia tidak ingat di mana dan kapan.

"Baik, orang muda. Aku yakin bahwa kalian berdua bukanlah orang-orang sesat yang hendak membuat kacau di tempat ini. Apa yang terjadi dengan muridku tadi tentu hanya merupakan kesalah-pahaman belaka. Maklumlah, muridku Si Han Bu ini memang nakal dan suka bergurau! Nona muda, kaumaafkan muridku,"

Katanya sambil menoleh kepada Kim Hui.

Wan Kim Hui memang seorang gadis yang liar dan galak, namun ia memiliki keadilan dan kalau berhadapan dengan orang yang lembut dan ramah, kekerasan hatinya mencair seperti salju dibakar.

"Bibi yang baik, aku juga minta maaf, akan tetapi harap engkau suka mengajar muridmu itu agar dia bersikap sopan kepada seorang gadis."

Mendengar suara gadis itu kini lembut dan sama sekali tidak tampak marah atau mendongkol, Si Han Bu tersenyum.

"Aku yang bersalah, Nona yang... baik dan lihai sekali, maafkan aku."

Kim Hui tersenyum dan semua orang tersenyum. Im-yang Sian-kouw kini berkata kepada Yan Bun.

"Orang muda, siapakah kalian dan apa maksud kalian datang berkunjung ke rumah kami?"

"Locianpwe, saya bernama Ui Yan Bun dan Nona ini bernama Wan Kim Hui. Kami datang dari Lam-hu dan sebetulnya jauh-jauh kami berkunjung ke Beng-san ini adalah untuk menghadap Locianpwe Bu Beng Kiam-sian."

"Aih, sungguh sayang, kedatangan kalian berdua sia-sia karena Suhu Bu Beng Kiam-sian sudah wafat sekitar setahun yang lalu,"

Kata Im-yang Sian-kouw dengan suara menyesal karena ia merasa kasihan kepada dua orang muda yang datang dari jauh dengan sia-sia itu.

"Aduh, celaka... Yan Bun...!"

Tiba-tiba Kim Hui berseru dan ia pun menangis.

Hampir saja Si Han Bu berseru saking herannya, akan tetapi ditahan ketika ingat betapa galaknya gadis itu.

Yang membuat dia bengong terheran-heran adalah melihat gadis yang demikian galaknya kini dapat menangis tersedu-sedu!

"Ui Yan Bun, apakah yang terjadi?

Mengapa kalian mencari mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan mengapa pula Kim Hui ini menangis sedih ketika mendengar beliau telah tiada?"

"Locianpwe, kami berdua dari Lam-hu berkunjung ke sini untuk menghadap Locianpwe Bu Beng Kiam-sian dan mohon pertolongan beliau untuk menyelamatkan nyawa ibu dari Adik Wan Kim Hui ini. Akan tetapi, beliau ternyata telah wafat, maka habislah harapan kami untuk mendapatkan obat itu...,"

Kata Yan Bun dengan nada sedih.

"Ah, mengapa putus harapan? Nona Wan Kim Hui, hentikan tangismu. Biarpun Kakek Guru Bu Beng Kiam-sian telah wafat setahun yang lalu, akan tetapi masih ada yang dapat mengobati ibumu!"

Kata Si Han Bu dengan suara lantang mengandung hiburan. Mendengar ini, seketika Kim Hui menghentikan tangisnya dan Yan Bun juga memandang pemuda yang riang itu dengan penuh harapan baru.

"Benarkah? Engkau dapat mengobati ibuku?"

Kim Hui bertanya dan ia melangkah maju menghadapi pemuda itu. Si Han Bu tersenyum.

"Tenanglah, Nona dan jangan khawatir. Bukan aku yang dapat mengobati ibumu, akan tetapi Subo Im-yang Sian-kouw adalah murid mendiang Sukong Bu Beng Kiam-sian dan Subo telah mewarisi semua kepandaian mendiang Su-kong. Beliau ini yang akan mampu menyembuhkan ibumu."

"Si Han Bu! Engkau sudah lupa akan pesanku agar engkau tidak menyombongkan diri?"

Tegur Im-yang Sian-kouw kepada muridnya. Han Bu tersenyum dan memberi hormat kepada gurunya.

"Maaf, Subo, akan tetapi teecu bukan menyombongkan diri, hanya membanggakan Subo. Apa itu tidak boleh?"

Sulitlah untuk marah kepada seorang seperti Han Bu. Im-yang Sian-kouw tersenyum lalu berkata kepada Yan Bun dan Kim Hui.

"Kalian hendak bertemu dengan mendiang guruku, biarlah aku mewakilinya. Mari, silakan masuk dan kita bicara di dalam pondok."

Setelah berkata demikian Im-yang Sian-kouw memasuki pondoknya.

Ketika Yan Bun dan Kim Hui tampak ragu-ragu, Han Bu memberi isyarat agar mereka berdua ikut masuk.

Dia mengiringkan dari belakang.

Setelah berada di dalam pondok, mereka berempat duduk mengelilingi meja dan Sun-ma, pelayan tua itu, menghidangkan air teh.

"Nah, sekarang ceritakanlah apa yang telah terjadi dengan ibumu, Wan Kim Hui,"

Kata wanita cantik berpakaian pendeta itu kepada Kim Hui. Kim Hui memandang kepada Yan Bun lalu kepada nyonya rumah dan berkata.

"Bibi, biarlah Ui Yan Bun yang menceritakannya karena dia yang bertugas mencari obat. Aku hanya menemaninya saja. Yan Bun, ceritakanlah kepada Bibi Im-yang Sian-kouw seperti yang pernah kuceritakan kepadamu tentang keluargaku."

Yan Bun memang sudah mendengar dari gadis itu tentang semua peristiwa yang menimpa keluarga Wan Cun.

Maka dia lalu menceritakan kepada Im-yang Sian-kouw apa yang terjadi di daerah Se-cuan, yang menimpa keluarga Wan sehingga Nyonya Wan Cun mengalami luka dalam yang parah dan mereka bertiga terpaksa melarikan diri dari daerah yang dikuasai pemerintahan Raja Muda Wu Sam Kwi.

Im-yang Sian-kouw dan Si Han Bu mendengarkan dengan penuh perhatian sampai Yan Bun mengakhiri ceritanya.

Setelah pemuda itu selesai bercerita, Im-yang Sian-kouw memandang kepada Kim Hui dan bertanya.

"Kim Hui, ayahmu bernama Wan Cun. Bukankah dia yang berjuluk Lam-ong?"

"Benar, Bibi. Ibuku terluka oleh pukulan Hek-tok-ciang dari Lam-hai Cin-jin, harap engkau suka memberi obat untuk menyembuhkannya."

Im-yang Sian-kouw mengangguk-angguk.

"Aku pernah mendengar nama Lam-ong dan juga Lam-hai Cin-jin. Kabarnya Lam-hai Cin-jin menjadi Koksu (Guru Negara) dari Raja Muda Wu Sam Kwi. Hemm, keluargamu dimusuhi karena engkau memukul putera Raja Muda Wu Sam Kwi?"

"Pemuda itu kurang ajar, hendak memaksa aku menerima lamarannya, Bibi. Kalau aku tahu akan berekor panjang sehingga ibuku terluka, tentu bukan hanya kuhajar pemuda she Wan itu, melainkan sudah kubunuh dia!"

Im-yang Sian-kouw menghela napas panjang.

"Dan engkau, Yan Bun, mengapa engkau yang mencarikan obat untuk Nyonya Wan? Ada hubungan apakah antara engkau dan keluarga Wan?"

Wanita itu mengerling ke arah Kim Hui karena muncul dugaan bahwa tentu ada hubungan antara gadis cantik itu dengan pemuda she Ui ini.

Kim Hui sudah mengerutkan alisnya, khawatir kalau-kalau Yan Bun akan menceritakan tentang ia yang menculik Ui Tiong untuk dipaksa mengobati ibunya.

Yan Bun memandang kepadanya dan mengerti akan kegelisahan hati Kim Hui, maka dia tersenyum dan berkata kepada Im-yang Sian-kouw.

"Begini, Locianpwe. Saya tidak mempunyai hubungan dengan keluarga Wan, bahkan saya bukan penduduk Lam-hu. Ketika saya mengunjungi Paman saya Ui Tiong di Lam-hu, Paman sedang mencoba untuk mengobati Nyonya Wan. Akan tetapi luka beracun yang diderita Nyonya Wan itu amat parah dan Paman Ui Tiong tidak mampu menyembuhkannya. Paman saya mengatakan bahwa yang dapat mengobati hanyalah Locianpwe Bu Beng Kiam-sian. Karena itu saya yang pernah bertemu dengan Locianpwe Bu Beng Kiam-sian memberanikan diri untuk membantu keluarga Wan."

"Ah, engkau pernah bertemu dengan mendiang Suhu?"

Im-yang Sian-kouw bertanya.

"Kenapa aku tidak pernah melihatmu?"

"Saya pernah diajak Suhu Thian Bong Sianjin berkunjung ke sini, Locianpwe, ketika Locianpwe Bu Beng Kiam-sian masih hidup. Ketika itu, sekitar lima tahun yang lalu, beliau tinggal seorang diri di pondok ini."

"Lima tahun yang lalu? Ah, ketika itu aku dan muridku Si Han Bu ini memang masih tinggal di lereng bukit. Aku mengenal nama Thian Bong Sianjin. Jadi engkau muridnya? Baiklah, Yan Bun dan Kim Hui, aku suka menolong Nyonya Wan. Keterangan Han Bu tadi memang bukan membual, aku mewarisi ilmu pengobatan dari mendiang Suhu dan kebetulan sekali aku menyimpan obat yang amat langka untuk menyembuhkan luka beracun berbahaya seperti akibat pukulan Hek-tok-ciang itu."

Wanita itu lalu menghampiri almari kayu dan mengambil sebuah bungkusan, menyerahkan kepada Yan Bun.

"Ini adalah Jamur Salju Putih. Masak dengan air tiga mangkok, biarkan mendidih dan tinggal satu mangkok, minumkan kepada si sakit. Kemudian ampasnya boleh diulang, masak dengan dua mangkok air disisakan semangkok, diulang pagi dan sore sampai tiga hari. Kalau Thian menghendaki, hawa beracun itu pasti dapat terusir bersih!"

Yan Bun dan Kim Hui merasa girang sekali.

Mereka mengucapkan terima kasih dan pamit.

Han Bu mengantar mereka sampai menuruni puncak dan tiba di lereng paling bawah.

Yan Bun menghentikan langkahnya dan berkata kepada Han Bu.

"Saudara Si Han Bu, kami kira cukuplah engkau mengantar kami. Banyak terima kasih atas kebaikanmu dan sampaikan terima kasih kami yang sedalam-dalamnya kepada gurumu."

"Ah, Yan Bun dan Kim Hui, setelah aku bertanding dengan Kim Hui kemudian kalian bertemu dengan Subo dan diberi obat, bukankah kita bertiga telah menjadi sahabat? Setelah menjadi sahabat, di antara kita tidak perlu ada sungkan-sungkanan lagi, bukan?"

Melihat wajah yang cerah dan ramah itu, Yan Bun tertawa.

"Ah, tentu saja, Han Bu. Aku senang dan bangga menjadi sahabatmu!"

Han Bu memandang kepada Kim Hui.

"Lho, kenapa engkau cemberut, Kim Hui? Apakah engkau tidak suka menjadi sahabatku? Apakah engkau masih saja menganggap aku seorang pemuda kurang ajar?"

"Selama engkau menganggap aku galak, aku akan menganggap engkau kurang ajar,"

Jawab Kim Hui tanpa senyum.

"Aih, Kim Hui, engkau masih belum dapat memaafkan aku? Sekarang aku tidak menganggap engkau galak lagi. Engkau manis.... budi, maksudku baik hati dan aku bangga sekali menjadi sahabatmu! Sekali lagi maafkan aku dan jangan engkau benci padaku, Kim Hui."

"Siapa yang benci? Aku tidak benci padamu!"

Kata Kim Hui, kini tidak lagi cemberut.

"Bagus! Kalau begitu engkau sayang padaku?"

"Apa?! Sayang...?"

"Maksudku, sayang sebagai sahabat. Kalau tidak benci berarti sayang, bukan? Wah, jangan marah lagi, sobat."

Kim Hui tersenyum. Memang harus ia akui bahwa sukarlah untuk marah kepada pemuda yang riang ini.

"Aku tidak benci, itu saja sudah cukup dan aku menganggap engkau sahabatku. Nah, sekarang, selamat berpisah dan jangan ikuti kami lagi."

"Baiklah, aku berhenti mengantar sampai di sini. Yan Bun, selamat berpisah dan selamat jalan. Kim Hui, selamat jalan dan mudah-mudahan kita akan saling berjumpa lagi. Jaga dirimu baik-baik, sahabatku tersayang."

Han Bu melambaikan tangan kepada mereka berdua yang melanjutkan perjalanan.

Yan Bun juga melambaikan tangan dan Han Bu menanti-nanti, akan tetapi Kim Hui berjalan terus, tidak menengok.

Dia mengerutkan alisnya, benar-benarkah gadis itu sama sekali tidak mempedulikannya?

Tiba-tiba, sebelum mereka membelok, gadis itu membalikkan tubuhnya, tersenyum dan melambaikan tangan sambil berseru.

"Han Bu, sampai jumpa dan jaga dirimu baik-baik!"

Setelah mereka berdua menghilang di belokan, Han Bu meloncat-loncat kegirangan.

"Ha-ha, ia suka padaku! Suka padaku!"

Dia lalu berlari cepat mendaki Bukit Kera.

Sementara itu, Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui melakukan perjalanan secepatnya kembali ke Bukit Siluman di dekat Lam-hu.

Ketika mereka tiba di tempat tinggal keluarga Wan, mereka melihat betapa penyakit yang diderita Nyonya Wan semakin parah.

Kebetulan sekali hari itu Ui Tiong juga datang menengok dan memeriksa si sakit.

Kedatangan dua orang muda itu disambut dengan gembira dan muncul kembali harapan dalam hati Wan Cun.

Kim Hui segera memasak obat itu seperti yang dipesankan Im-yang Sian-kouw, kemudian setelah bersisa satu mangkok dan agak dingin, obat itu diminumkan kepada ibunya.

Setelah minum obat itu, benar saja wajah Nyonya Wan menjadi agak merah dan ia pun siuman dari pingsannya.

Setelah siuman, ia mengatakan bahwa dadanya tidak terasa terlalu nyeri dan sesak lagi.

Semua orang bergembira dan setelah obat itu diminum pagi sore sampai tiga hari, nyonya itu sembuh sama sekali.

Tanda telapak tangan menghitam itu pun lenyap dan suami isteri itu mengucapkan terima kasih kepada Ui Yan Bun.

Setelah Nyonya Wan sembuh, mulailah Yan Bun dilatih ilmu silat oleh Lam-ong Wan Cun dan Yan Bun tinggal di Bukit Siluman sampai selama satu tahun.

*** Pangeran Bouw Hun Ki adalah adik kaisar yang setia mendukung Kaisar Shun Chi.

Dia sendiri seorang sastrawan yang berwatak gagah berani menentang kelaliman biarpun dia tidak pernah mempelajari ilmu silat tinggi.

Akan tetapi dia mempunyai seorang isteri yang amat lihai.

Isterinya atau Bouw Hujin (Nyonya Bouw) dahulu bernama Souw Lan Hui dan di dunia kang-ouw ia terkenal sebagai seorang pendekar wanita yang berjuluk Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti).

Memang agak aneh kalau dua orang yang berlainan keahlian ini, yang laki-laki ahli sastra yang wanita ahli silat, dapat saling jatuh cinta lalu menikah.

Pangeran Bouw Hun Ki kini berusia lima puluh empat tahun, masih tampan dan gagah dengan rambut bercampur uban.

Isterinya, Bouw Hujin, berusia sekitar lima puluh satu tahun, masih cantik dan tubuhnya ramping padat dan biarpun gerak-gerik dan suaranya lembut seperti seorang wanita bangsawan karena ia isteri seorang pangeran, namun sinar matanya terkadang mencorong penuh wibawa dan kekuatan.

Suami isteri ini mempunyai dua orang anak, yaitu yang pertama bernama Bouw Kun Liong, kini berusia dua puluh empat tahun, wajahnya tampan mirip ayahnya dan pakaiannya indah, sikapnya agak galak namun dia menghargai kejujuran dan kegagahan, yang ke dua seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun bernama Bouw Hwi Siang, cantik seperti ibunya.

Dua orang anak ini juga menerima gemblengan ilmu silat ibu mereka dan juga mempelajari sastra dari ayah mereka.

Karena maklum bahwa di antara para pangeran banyak yang hendak memperebutkan tahta, maka Kaisar Shun Chi merasa khawatir akan keselamatan putera mahkota, yaitu putera dari permaisuri, Pangeran Kang Shi yang ketika itu baru berusia sekitar sebelas tahun.

Karena dia percaya sepenuhnya kepada Pangeran Bouw Hun Ki, terutama sekali karena dia maklum bahwa Panglima Bouw Hun Ki memiliki isteri dan dua orang anak yang amat lihai dan boleh diandalkan, maka Kaisar Shun Chi menitipkan Pangeran Mahkota Kang Shi pada keluarga Pangeran Bouw agar dididik dan dilindungi.

Bouw Hujin amat berhati-hati menjaga keamanan Pangeran Mahkota.

Ia membuat sebuah ruangan rahasia di bawah lantai gedung sehingga kalau sewaktu-waktu ada bahaya mengancam, ia dapat mengungsikan dan menyembunyikan pangeran itu ke dalam ruangan rahasia.

Kini, setelah terjadi percobaan pembunuhan terhadap kaisar, dan percobaan pembunuhan terhadap Pangeran Mahkota seperti yang dilakukan Pangeran Leng Kok Cun yang mengutus Gui Tiong dan Bu Kong Liang yang dibayangi Twa-to Ngo-liong, maka keluarga Bouw menjadi semakin waspada dan berhati-hati.

Kini penjagaan dilakukan dengan ketat.

Apalagi kini mereka mendapat bantuan dari Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin yang diminta tinggal untuk sementara di gedung keluarga Bouw untuk ikut menjaga keselamatan Pangeran Kang Shi.

Setelah Kong Liang dan Gui Siang Lin yang masih adik seperguruannya itu tinggal kurang lebih satu bulan di gedung keluarga Bouw, mereka menjadi akrab dengan putera dan puteri Pangeran Bouw.

Bouw Hwi Siang tertarik sekali kepada Bu Kong Liang yang gagah perkasa, sopan, jujur dan tegas penuh kejantanan itu.

Adapun Bouw Kun Liong juga jatuh cinta kepada Gui Siang Lin, sebaliknya gadis yatim piatu itu pun tertarik kepada pemuda bangsawan yang tampan dan gagah itu.

Pada suatu pagi, Pangeran Bouw Hun Ki bercakap-cakap dengan isterinya di serambi sambil minum teh.

Mereka berdua tadi melihat putera dan puteri mereka bersama Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin dengan wajah gembira pergi ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat).

Empat orang muda itu setiap pagi berlatih ilmu silat dan mereka saling menguji dan saling memberi petunjuk sehingga mereka dapat saling mengisi dan saling melengkapi.

Kong Liang dan Siang Lin adalah murid-murid Siauw-lim-pai, adapun Kun Liong dan Hwi Siang keduanya menerima pelajaran silat Bu-tong-pai dari ibu mereka.

Padahal, ilmu silat Bu-tong-pai dahulunya juga bersumber kepada ilmu silat Siauw-lim-pai, maka kedua aliran itu memang dapat saling mengisi dan melengkapi.

"Lihatlah, Pangeran, keakraban anak-anak kita dengan pemuda dan gadis itu!"

Kata Bouw Hujin kepada suaminya. Pangeran Bouw mengangkat muka, memandang ke arah ruangan belajar silat, lalu memandang isterinya.

"Kalau mereka akrab, lalu apa salahnya?"

Bouw Hujin tersenyum dan untuk ke sekian kalinya Pangeran Bouw merasa kagum dan heran bahwa sampai sekarang setiap kali isterinya tersenyum, jantungnya bergetar penuh kasih sayang.

"Tentu saja tidak salah, bahkan saya akan merasa senang sekali kalau Kun Liong dapat berjodoh dengan Siang Lin dan Hwi Siang dapat berjodoh dengan Kong Liang. Bukankah gagasan ini baik sekali, Pangeran?"

Akan tetapi Pangeran Bouw menggelengkan kepalanya dan mengerutkan alisnya.

"Hemm, gagasan itu sungguh tidak tepat!"

Pandang mata Bouw Hujin menjadi tajam ketika ia menatap wajah suaminya. Ia pun mengerutkan alisnya dan suaranya biarpun tetap halus mengandung teguran.

"Pangeran, apakah engkau tidak setuju karena mengingat bahwa pemuda dan pemudi itu bukan berdarah bangsawan? Apakah mereka itu dianggap terlalu rendah untuk menjadi jodoh anak-anak kita?"

Pangeran Bouw balas memandang isterinya dan dia tersenyum lebar.

"Isteriku yang baik, engkau tahu benar bahwa aku bukan orang yang mempersoalkan keturunan. Buktinya aku menikah denganmu dan kita menjadi suami isteri yang berbahagia sampai sekarang."

"Kalau begitu, mengapa gagasan saya tadi dikatakan tidak tepat?"

Kembali pangeran itu tersenyum lebar.

"Karena mendahului mereka, isteriku yang baik! Apakah engkau ingin menjodohkan anak-anak kita tanpa persetujuan mereka lebih dahulu? Kalau begitu, aku tidak setuju. Mereka harus menentukan sendiri dengan siapa mereka akan berjodoh."

Nyonya Bouw atau Souw Lan Hui tertawa dengan perasaan lega.

"Aih, tentu saja, Pangeran! Yang saya maksudkan tadi, saya akan senang kalau kedua orang anak kita dapat berjodoh dengan Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin. Tentu saja yang menentukan adalah mereka sendiri."

"Yah, mudah-mudahan anak kita akan melakukan pilihan yang tepat sehingga mereka akan dapat hidup berbahagia dengan jodoh masing-masing,"

Kata Pangeran Bouw.

"Ya, seperti kita,"

Kata isterinya.

Tiba-tiba seorang prajurit pengawal yang bertugas menjaga di gapura depan, datang memasuki serambi itu dan memberi hormat kepada Pangeran Bouw dan isterinya.

Dengan sikap hormat dia melapor bahwa di luar terdapat Pangeran Ciu Wan Kong yang datang berkunjung.

Sejak Pangeran Mahkota berada di gedung keluarga Pangeran Bouw, tempat itu memang selalu dijaga oleh pasukan pengawal.

Hal ini untuk menambah penjagaan agar keselamatan Pangeran Mahkota dapat terjamin.

Mendengar bahwa yang datang berkunjung adalah adik tirinya, Pangeran Ciu Wan Kong, Pangeran Bouw segera memerintahkan agar para penjaga mempersilakan tamu itu memasuki ruangan tamu yang berada di sebelah kiri gedung.

Mereka berdua sendiri lalu meninggalkan serambi menuju ke ruangan tamu untuk menyambut tamu.

Belum lama suami isteri itu duduk di ruangan tamu, Pangeran Ciu Wan Kong memasuki ruangan itu bersama puterinya, Ciu Thian Hwa.

Pangeran Bouw Hun Ki bangkit dan menyambut Pangeran Ciu Wan Kong dengan gembira.

"Aih, Dinda Pangeran Ciu Wan Kong! Sungguh berbahagia sekali hati kami menerima kunjunganmu. Selamat datang, Dinda, engkau tampak sehat dan gembira!"

Kata Pangeran Bouw yang menyambut bersama isterinya dengan perasaan heran dan gembira karena selama ini dia tahu bahwa adik tirinya ini selama bertahun-tahun hidup tidak wajar, selalu tenggelam dalam kesedihan, tidak pernah tersenyum, tidak pernah keluar dari gedungnya, bahkan ada yang mendesas-desuskan bahwa Pangeran Ciu Wan Kong telah menjadi seorang ling-lung yang miring otaknya.

Akan tetapi sekarang pangeran itu muncul bersama seorang gadis cantik dan tampak demikian cerah gembira penuh semangat!

Pangeran Ciu Wan Kong memberi hormat kepada kakak tirinya dan kakak iparnya, dan setelah mereka semua duduk mengelilingi meja, Pangeran Ciu berkata.

"Maafkan saya, Kanda Pangeran Bouw Hun Ki, sudah lama saya tidak pernah datang menghadap. Hari ini saya sengaja datang, selain sudah merasa rindu, juga untuk memperkenalkan anak saya ini, Ciu Thian Hwa."

Thian Hwa cepat memberi hormat dan Pangeran Bouw beserta isterinya memandang dengan hati tertarik, akan tetapi juga dengan perasaan heran.

Mereka tahu bahwa Pangeran Ciu tidak pernah menikah, bahkan selir pun tidak punya, bagaimana sekarang tahu-tahu telah mempunyai seorang anak perempuan yang sudah dewasa?

Melihat sikap dan pandang mata kakak tirinya yang terheran-heran, Pangeran Ciu Wan Kong berkata.

"Maaf, Kanda Pangeran, saya akui bahwa selama ini saya hidup dalam keadaan seperti dalam mimpi penuh penderitaan dan menyimpan rahasia. Sesungguhnya, hidup ini tidak ada artinya lagi bagi saya setelah wanita yang saya cinta, terpaksa meninggalkan saya membawa anak kami. Kemudian secara tiba-tiba anakku, anakku tersayang, Ciu Thian Hwa ini, muncul! Ah, betapa bahagia rasa hati saya, Kakanda. Saya seolah bangkit dari jurang kematian. Saya hidup lagi! Dan anak saya ini telah menjadi seorang yang memiliki ilmu silat yang amat tinggi! Baru saja kami berdua menghadap Sribaginda untuk memberi laporan tentang hal-hal rahasia yang diketahui anak saya, dan di sana, Thian Hwa ini telah menyelamatkan Sribaginda Kaisar dari usaha pembunuhan lima orang penjahat. Ia telah membunuh mereka!"

"Ah, lalu bagaimana dengan Kakanda Kaisar?"

Tanya Pangeran Bouw.

"Kakanda Kaisar selamat, kemudian beliau memberi tugas yang amat penting kepada Thian Hwa, dan mengutus kami menyerahkan surat ini kepada Kanda."

Pangeran Ciu Wan Kong mengeluarkan surat dari kaisar dan menyerahkannya kepada Pangeran Bouw Hun Ki yang segera membacanya lalu menyerahkannya kepada isterinya untuk dibaca.

Dalam surat itu, Kaisar Shun Chi memberitahu kepada mereka bahwa dia telah memberi Tek-pai (tanda kuasa) kepada Ciu Thian Hwa dan memerintahkan gadis perkasa itu untuk membantu Pangeran Bouw Hun Ki melindungi Pangeran Mahkota dan menjaga agar penobatan Putera Mahkota Kang Shi sebagai kaisar baru berjalan lancar.

Setelah membaca surat itu, suami isteri itu memandang kepada Thian Hwa dengan kagum.

"Ciu Thian Hwa, aku merasa kagum dan bangga mempunyai seorang keponakan sepertimu. Seorang gadis muda sepertimu ini sudah mendapatkan Tek-pai dari Sribaginda Kaisar, sungguh luar biasa,"

Kata Pangeran Bouw.

"Sekarang aku ingat,"

Kata Bouw Hujin.

"Baru-baru ini aku mendengar bahwa di dunia kang-ouw muncul seorang gadis pendekar yang namanya amat terkenal sebagai Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning). Engkaukah Huang-ho Sian-li itu, Ciu Thian Hwa?"

Thian Hwa yang sudah mendengar dari ayahnya bahwa Nyonya Pangeran Bouw ini adalah seorang wanita sakti yang memiliki ilmu silat tinggi sehingga memperoleh kepercayaan kaisar untuk mendidik dan melindungi Pangeran Mahkota, memberi hormat.

"Memang saya yang dimaksudkan, akan tetapi julukan yang diberikan orang kepada saya itu terlalu dilebih-lebihkan."

"Thian Hwa, coba ceritakan kepada kami rahasia penting apa yang engkau sampaikan kepada Kakanda Kaisar,"

Kata Pangeran Bouw.

Dengan singkat namun jelas Thian Hwa bercerita kepada suami isteri itu tentang Pangeran Leng Kok Cun yang mempunyai ambisi untuk memberontak dan merampas kedudukan Kaisar dengan menyingkirkan saingan-saingannya yaitu Pangeran Cu Kiong dan tentu saja Pangeran Mahkota Kang Shi.

Juga ambisi Pangeran Cu Kiong yang ingin merebut kedudukan pengganti kaisar dari tangan Putera Mahkota Kang Shi.

Mendengar keterangan Thian Hwa, Bouw Hujin mengangguk-angguk dan berkata.

"Dinda Pangeran Ciu dan Thian Hwa, sebetulnya kami sendiri sudah lama mengetahui tentang mereka yang tidak setia itu. Akan tetapi Kakanda Kaisar selalu melarang untuk bertindak karena bagaimanapun juga, mereka adalah putera-puteranya sendiri, dan kalau mereka itu ditindak dan terdengar rakyat akan mencemarkan nama keluarga kerajaan sendiri."

Pangeran Bouw Hun Ki menyambung.

"Benar, kami dan juga Kakanda Kaisar sudah tahu bahwa Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong membujuk para pejabat tinggi untuk mendukungnya. Pangeran Cu sendiri kabarnya diam-diam mengadakan kontak dengan Jenderal Wu Sam Kwi di selatan. Akan tetapi Kakanda Kaisar selalu menutup-nutupi kesalahan para puteranya, bahkan sekarang beliau mengambil keputusan yang luar biasa, yaitu hendak meninggalkan kerajaan dan menghilang."

"Hemm, Kakanda Pangeran Bouw agaknya sudah tahu pula akan keinginan Kakanda Kaisar yang luar biasa itu. Sesungguhnya, saya sendiri merasa tidak setuju. Bagaimana Kakanda Kaisar yang masih hidup dan sehat dikabarkan mati? Dan bagaimana mungkin beliau yang sudah tua akan merantau sebagai seorang pendeta?"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong dengan terharu.

"Sebetulnya hal itu tidak aneh, Dinda Pangeran Ciu. Seperti kita ketahui, beliau dalam kemuliaannya sebagai Kaisar, penuh kekuasaan dan kemuliaan, ternyata malah jauh dari kebahagiaan dengan adanya perebutan kekuasaan di antara para puteranya. Beliau melihat kenyataan bahwa kekuasaan dan harta benda, segala kesenangan duniawi tidak mendatangkan kebahagiaan malah mendatangkan penderitaan batin. Oleh karena itu, beliau memilih meninggalkan semua itu dan mencapai kebahagiaan dan ketenteraman. Dengan cara meninggal dan menunjuk Pangeran Mahkota sebagai penggantinya, berarti menghilangkan pula keraguan dan perebutan kekuasaan di antara para pangeran lainnya."

"Akan tetapi bagaimana kalau keputusan itu memancing timbulnya pemberontakan dari para pangeran yang merasa tidak puas melihat Putera Mahkota yang masih kecil diangkat menjadi kaisar?"

Tanya Pangeran Ciu dengan khawatir.

"Kalau ada pemberontakan, maka pemerintah tentu akan menumpasnya! Karena itulah Sribaginda telah memberi kekuasaan kepada kami dan kini malah dibantu oleh Ciu Thian Hwa. Kami telah menghubungi semua panglima dan mereka semua sepakat mendukung Putera Mahkota kalau diangkat menjadi kaisar. Setiap pemberontakan pasti akan dapat kita hancurkan,"

Kata Pangeran Bouw.

"Jika ada penyerangan terhadap pribadi Pangeran Mahkota, kami yang bertanggung jawab untuk melindunginya. Di sini sudah kami persiapkan untuk melindungi beliau. Saya sendiri dibantu oleh kedua orang anak kami kini siap dan kami malah mendapat bantuan dua orang pendekar muda yang boleh diandalkan. Mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang lihai. Dan sekarang ada lagi Ciu Thian Hwa ini yang membuat tenaga perlindungan Putera Mahkota menjadi semakin kuat. Kita tidak perlu khawatir."

"Dinda Pangeran Ciu dan Thian Hwa. Kalian berdua sudah tahu bahwa rencana yang hendak dilakukan Sribaginda Kaisar merupakan rahasia yang hanya boleh diketahui kita berempat dan mereka yang diberi kepercayaan di istana oleh Sribaginda saja. Oleh karena itu, kita berempat harus merahasiakannya, bahkan kepada anak-anak kita tidak perlu kita ceritakan. Biarlah rencana Sribaginda yang mulia itu menjadi rahasia bagi orang lain,"

Kata Pangeran Bouw dan mendengar ini, Pangeran Ciu mengangguk.

"O ya, biar kupanggil anak-anak itu ke sini. Mereka harus berkenalan dengan Thian Hwa!"

Kata Bouw Hujin. Kemudian, saking girangnya dan menghendaki anak-anaknya dan dua orang murid Siauw-lim-pai itu segera datang ke situ, ia mengerahkan tenaga saktinya dan berseru.

"Anak-anak, kalian berempat kesinilah, ke ruangan tamu, cepat!"

Suaranya lirih saja akan tetapi Thian Hwa terkejut karena dalam suara itu terkandung getaran yang amat kuat sehingga ia dapat menduga bahwa orang-orang yang dipanggil itu, biarpun berada di tempat jauh, tentu dapat mendengarnya dengan jelas.

Benar saja dugaannya.

Tak lama kemudian berkelebat empat bayangan orang dan di dalam ruangan tamu itu telah berdiri dua orang pemuda dan dua orang gadis yang semua masih berkeringat di leher dan muka mereka.

Thian Hwa terkejut, akan tetapi juga girang ketika mengenal seorang di antara dua orang pemuda itu yang bukan lain adalah Bu Kong Liang.

Akan tetapi tentu saja ia hanya diam dan memandang mereka.

"Anak-anak, perkenalkan, ini adalah paman kalian, Pangeran Ciu Wan Kong, dan ini puterinya, Ciu Thian Hwa yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sian-li, Thian Hwa, ini adalah anak-anak kami, Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang, dan inilah dua orang murid Siauw-lim-pai yang membantu kami, Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin."

Mereka yang diperkenalkan saling memberi hormat. Dalam kesempatan ini Kong Liang menyapa Thian Hwa.

"Hwa-moi, aku girang dapat berjumpa kembali denganmu di sini."

"Aku juga tidak mengira akan bertemu denganmu di sini, Liang-ko,"

Jawab Thian Hwa.

"Ah, kalian sudah saling mengenal?"

Kata Bouw Hujin sambil tersenyum.

Kong Liang lalu bercerita kepada mereka tentang pertemuan dan perkenalannya dengan Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

Setelah bercakap-cakap, Thian Hwa segera dapat akrab dengan kedua orang putera dan puteri Pangeran Bouw dan juga dengan Gui Siang Lin.

Karena mereka semua merupakan orang-orang yang diberi tugas penting yang sama, yaitu melindungi Pangeran Mahkota Kang Shi dan menjaga terlaksananya pengangkatan Pangeran Mahkota menjadi kaisar, maka mereka mengadakan perundingan bagaimana baiknya tugas itu dapat dilaksanakan.

Lalu diambil keputusan bahwa untuk sementara, Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin tinggal di rumah keluarga Pangeran Bouw sebagai tamu.

Sedangkan Ciu Thian Hwa tetap tinggal di rumah ayahnya, akan tetapi selalu mengadakan kontak dengan keluarga Pangeran Bouw, bahkan setiap pagi datang ke gedung keluarga itu.

Pangeran Bouw Hun Ki juga mengadakan hubungan dengan para panglima yang setia kepada Kaisar.

Biarpun pada waktu itu, hampir seluruh Cina dijajah oleh orang Mancu, dan hanya sedikit di daerah Barat Daya yang masih dikuasai Jenderal Wu Sam Kwi, namun kebanyakan kaum pendekar akhirnya mendukung Kerajaan Ceng.

Hal ini terutama sekali karena para pemimpin Mancu menggunakan siasat yang amat pandai.

Mereka melihat betapa kebudayaan pribumi Cina (Han) amat tinggi dan luhur, dan satu-satunya cara untuk menarik perhatian dan rasa suka rakyat adalah dengan menghargai budaya dan adat istiadat mereka.

Oleh karena itu, para bangsawan Mancu itu lalu mengikuti adat dan kebudayaan pribumi Han.

Selain itu, mereka juga menerima dan menghargai orang-orang pribumi yang mau bekerja kepada pemerintah Kerajaan Mancu, memberi mereka kedudukan-kedudukan penting bagian tatanegara dan urusan sipil.

Hanya kedudukan di kemiliteran yang tidak diberikan kepada pribumi Han, melainkan dipegang oleh bangsa Mancu sendiri.

Sebab lain yang membuat rakyat pribumi tidak banyak menentang pemerintah penjajah Mancu adalah karena tidak ada lagi yang menjadi penerus Dinasti atau Kerajaan Beng (1368-1644) yang telah jatuh oleh pemberontak-pemberontak bangsa pribumi sendiri sehingga akhirnya negara jatuh ke tangan bangsa Mancu.

Satu-satunya pihak yang menentang Kerajaan Ceng (Mancu) sampai waktu itu hanyalah yang dipimpin oleh Jenderal Wu Sam Kwi yang berpusat di Yunnan-hu.

Akan tetapi Wu San Kwi bukanlah pewaris Kerajaan Beng, bahkan dia adalah seorang panglima Kerajaan Beng yang memberontak terhadap Kerajaan Beng sehingga dia boleh dikata menjadi satu di antara penyebab jatuhnya Kerajaan Beng.

Karena itu, biarpun dia merupakan penentang Kerajaan Mancu yang paling gigih dan bertahan lama, namun tetap saja rakyat menganggapnya sebagai pemberontak dan tidak mendapat banyak dukungan rakyat.

Dunia kang-ouw, yaitu dunia kaum persilatan, pada waktu itu juga terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok.

Yang terbesar adalah mereka yang mendukung tiga kelompok.

Pertama tentu saja mereka yang mendukung Kerajaan Ceng (Mancu) atau yang setia kepada Kaisar Shun Chi, terdiri dari para pendekar Han dan Mancu sendiri.

Kedua adalah mereka yang mendukung Pangeran Leng Kok Cun yang berambisi untuk merebut tahta kerajaan, yang didukung oleh para tokoh kang-ouw golongan sesat.

Adapun yang ke tiga adalah mereka yang mendukung dan bekerja sama dengan Jenderal Wu Sam Kwi, termasuk Pangeran Cu Kiong dan sekutunya.

Demikianlah keadaannya pada waktu itu.

Karena sedih dan bingung melihat ada di antara putera-puteranya yang mempunyai niat jahat memperebutkan tahta kerajaan, maka Kaisar Shun Chi yang sudah tua dan yang menjadi pemeluk Agama Buddha yang taat, mengambil keputusan untuk berpura-pura mati dan mengundurkan diri secara rahasia, meninggalkan surat wasiat dan pesan kepada Pangeran Bouw Hun Ki dan para pendekar yang membantunya.

*** Beberapa malam kemudian.

Malam itu bulan purnama bersinar cemerlang karena tidak ada awan menghalanginya.

Akan tetapi hawa yang amat dingin membuat orang tidak betah lama-lama di luar rumah.

Sebelum tengah malam, keadaan sudah sunyi sekali di kota raja.

Akan tetapi justru malam yang dingin sepi namun terang dan indah itu Thian Hwa keluar dari gedung ayahnya.

Tadi, ketika ia bercakap-cakap dengan ayahnya, tanpa disengaja ia membicarakan tentang Bouw Hujin yang memiliki ilmu silat tinggi, yang membuat ia kagum.

"Aku merasa heran, Ayah. Pangeran Bouw Hun Ki itu...."

"Dia Pamanmu, Thian Hwa, Paman tuamu (Kakak Ayahmu)!"

Tegur Pangeran Ciu Wan Kong.

"O ya, Paman Pangeran Bouw itu, bagaimana dapat memiliki isteri yang demikian gagah perkasa dan tinggi ilmu silatnya? Apakah Bibi Bouw itu juga seorang wanita bangsawan Mancu?"

"Bukan, Thian Hwa. Ia seorang wanita pribumi Han, dan memang sejak dulu ia seorang pendekar wanita yang amat terkenal dengan julukan Burung Hong Sakti."

Mendengar julukan ini, Thian Hwa memandang dengan mata terbelalak.

"Sin-hong-cu, Ayah? Julukannya Sin-hong-cu?"

Kini Pangeran Ciu yang memandang anaknya dengan heran.

"Benar, julukannya Sin-hong-cu, kenapa, Thian Hwa?"

Thian Hwa tidak ingin membuka rahasia gurunya, biar kepada ayahnya sekalipun.

Akan tetapi ia ingat benar bahwa gurunya Thian Bong Sianjin, pernah bercerita kepadanya bahwa gurunya itu dahulu saling mencinta dengan seorang pendekar wanita berjuluk Sin-hong-cu, akan tetapi kemudian pendekar wanita itu menikah dengan seorang pangeran!

Kini ia tidak sangsi lagi bahwa Bouw Hujin yang lihai itulah yang dulu menjadi kekasih gurunya!

"Tidak apa-apa, Ayah.

Aku hanya pernah mendengar nama julukan itu."

Ayahnya mengangguk.

"Tidak aneh karena memang dahulu namanya sebagai pendekar wanita terkenal sekali."

Demikianlah, karena hatinya tertarik sekali mendengar bahwa Bouw Hujin adalah Sin-hong-cu bekas pacar gurunya, malam itu Thian Hwa keluar dari gedung ayahnya dengan niat mengelilingi gedung keluarga Pangeran Bouw.

Ia memang merasa ikut bertanggung jawab akan keselamatan Pangeran Mahkota yang berada di gedung itu dan setiap pagi ia pasti datang ke gedung itu.

Akan tetapi ada baiknya kalau sewaktu-waktu ia berkunjung di waktu malam, menyelidiki dan menjaga kalau-kalau ada bahaya mengancam di waktu malam.

Sementara itu, di malam bulan purnama yang dingin itu, Bouw Hujin keluar dari kamarnya dan menuju ke taman bunga seorang diri.

Pangeran Bouw Hun Ki, suaminya, sudah tidur pulas.

Ketika melihat sinar bulan melalui jendelanya, ia lalu keluar dari dalam kamar, ingin menikmati malam yang amat indah itu.

Biarpun usianya sudah lima puluh satu tahun, Nyonya Bouw atau Souw Lan Hui ini masih tampak cantik dan tubuhnya masih ramping padat.

Diterangi sinar bulan purnama, berada di tengah taman bunga itu, ia seolah seorang bidadari yang sedang menghibur diri di taman.

Ia berjalan-jalan sebentar lalu duduk di atas bangku dekat kolam ikan, memandangi ikan-ikan yang berenang hilir mudik di kolam air yang jernih itu.

Terkadang ada ikan emas yang membalikkan tubuh sekilas dan tampak perutnya mengkilap terkena sinar bulan purnama.

Tiba-tiba kedua tangan Bouw Hujin bergerak menyambit ke arah kiri dan dua sinar perak meluncur cepat sekali ke arah bayangan seorang yang bersembunyi di balik semak-semak pohon kembang.

Akan tetapi, bayangan itu miringkan tubuhnya dan dengan kedua tangannya dia menangkap Gin-seng-piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak) yang menyambar ke arah tubuhnya itu.

"Gin-seng-piauwmu sungguh masih hebat dan berbahaya sekali!"

Seru bayangan itu yang ternyata seorang laki-laki berpakaian serba putih bertubuh tinggi kurus, dan dari gelung rambut serta pakaiannya dapat diketahui bahwa dia adalah seorang tosu (Pendeta To), berusia sekitar lima puluh tujuh tahun.

"Kui Thian Bong...!"

Bouw Hujin berseru ketika melihat laki-laki itu. Laki-laki itu ternyata adalah Thian Bong Sianjin yang dahulu bernama Kui Thian Bong, guru Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

"Hui-moi (Adik Hui)... eh, maksudku Bouw Hujin, maafkan kalau aku mengejutkan dan mengganggumu,"

Kata Thian Bong Sianjin sambil memberi hormat.

"Bong-ko (Kakak Bong), aku sudah mendengar bahwa engkau menjadi seorang tosu. Ah, aku memang terkejut melihatmu, akan tetapi aku... aku senang melihat engkau sehat. Tapi... tapi... mengapa engkau kini menjadi seorang tosu?"

Kata Bouw Hujin sambil bangkit dari tempat duduknya.

Thian Bong Sianjin melangkah maju menghampiri dan mereka kini berhadapan, dalam jarak sekitar dua tombak.

Sejenak mereka saling pandang dan dalam mata mereka terdapat keharuan yang mendalam.

Bagaimanapun juga, mereka berdua dahulu adalah sepasang kekasih yang saling mencinta.

Akan tetapi, kemudian hati Souw Lan Hui tertarik oleh Pangeran Bouw Hun Ki yang biarpun tidak sangat lihai namun terkenal sebagai seorang yang gagah berani.

Akhirnya Souw Lan Hui menikah dengan pangeran itu yang dianggapnya lebih dapat menjamin kehidupannya kemudian, memberinya kemuliaan dan kehormatan di samping cinta kasih yang mendalam.

Jauh lebih meyakinkan daripada keadaan Kui Thian Bong yang hidup sebagai seorang pendekar yang keras dan tidak tentu keadaan dan tempat tinggalnya.

Dan ternyata pilihannya itu benar karena ia hidup berbahagia di samping suaminya dan kedua orang anaknya, hidup terhormat dan mulia, juga amat dicinta suaminya yang biarpun seorang pangeran namun tidak mengambil isteri atau selir lain.

Biarpun demikian, kini melihat bekas kekasihnya muncul secara tiba-tiba dan telah menjadi seorang tosu, hati Souw Lan Hui merasa terharu sekali.

Mendengar pertanyaan itu, Thian Bong Sianjin tersenyum.

"Siancai.... apa salahnya menjadi seorang tosu, Bouw Hujin? Pinto sekarang bukan Kui Thian Bong yang dulu, melainkan Thian Bong Sianjin, dan engkau adalah Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki yang terhormat."

"Akan tetapi... mengapa engkau tidak... menikah dan berumah tangga...?"

Hati wanita itu merasa terharu karena kini baru ia merasa betapa ia yang memutus cinta telah membuat laki-laki ini tidak mau menikah dan bahkan menjadi seorang pendeta!

Mengingat begini, kedua mata wanita itu menjadi basah.

Ia merasa kasihan dan berdosa telah menghancurkan kebahagiaan hidup bekas kekasihnya.

"Maafkanlah aku... Bong-ko...,"

Katanya dan wanita itu terisak.

"Siancai, tidak ada yang perlu dimaafkan, Bouw Hujin. Bahkan pinto harus berterima kasih kepadamu karena keputusanmu itu ternyata membuat kita menjadi orang-orang bahagia. Pinto mendapatkan kebahagiaan sebagai seorang tosu dan pinto mendengar bahwa engkau pun menjadi seorang ibu yang berbahagia. Sungguh pinto patut bersyukur."

Ucapan tulus dari Thian Bong Sianjin itu memancing keluarnya air mata lebih banyak lagi sehingga Bouw Hujin terisak. Pada saat itu terdengar bentakan nyaring.

"Keparat, berani engkau mengganggu ibu kami!"

Tiba-tiba Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang sudah melompat dekat dan menyerang Thian Bong Sianjin dengan senjata siang-kiam (sepasang pedang) mereka!

Serangan mereka itu dahsyat sekali.

Empat batang pedang menyambar ke arah tubuh Thian Bong Sianjin!

Tosu itu maklum akan serangan yang cukup berbahaya itu maka sekali berkelebat tubuhnya sudah melompat ke belakang sehingga serangan dua orang muda itu tidak mengenai sasaran.

Akan tetapi pemuda dan gadis itu segera berlompatan mengejar dan menyerang lagi dengan hebatnya.

Karena serangan itu memang berbahaya sekali, Thian Bong Sianjin terpaksa mencabut pedangnya dan memutar pedang itu sehingga berubah menjadi sinar pedang yang menggulung menyelimuti dirinya.

"Trang-trang-trang-trang...!"

Empat batang pedang yang menyerang itu bertemu dengan sinar pedang Thian Bong Sianjin dan tampak bunga api terpijar menyilaukan mata.

Dua orang muda itu terkejut karena sepasang pedang mereka terpental oleh tangkisan yang amat kuat itu.

"Kun Liong! Hwi Siang! Berhenti dan mundur!"

Tiba-tiba Bouw Hujin membentak dan dua orang muda itu segera menahan pedang mereka dan mundur ke dekat ibunya sambil memandang dengan heran mengapa ibunya melarang mereka menyerang penjahat itu.

"Siancai! Mereka ini tentu putera-puterimu. Hebat, mereka gagah dan lihai seperti ibunya,"

Kata Thian Bong Sianjin sambil menyimpan kembali pedangnya.

"Benar, Totiang (Bapak Pendeta), ini adalah Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang, kedua orang anakku. Kun Liong dan Hwi Siang, tosu ini adalah Thian Bong Sianjin, bukan musuh dan tidak boleh kalian menyerangnya."

"Benar sekali, dia bukan penjahat, bukan musuh. Dia adalah sahabat baik ibumu, sahabat baik kami!"

Tiba-tiba terdengar suara Pangeran Bouw Hun Ki dan dia pun muncul dan menghampiri isterinya. Thian Bong Sianjin menjadi merah mukanya dan cepat dia memberi hormat kepada Pangeran Bouw Hun Ki.

"Maafkan pinto, Pangeran, kalau kehadiran pinto di tengah malam ini tidak pantas dan mengganggu."

"Ah, tidak mengapa, Totiang. Totiang adalah sahabat lama kami yang baik dan kedatanganmu akan selalu kami sambut dengan senang hati. Mari, silakan masuk ke dalam di mana kita dapat bicara lebih leluasa,"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki dengan ramah.

Dalam hatinya, Thian Bong Sianjin merasa girang melihat bahwa pangeran ini benar-benar berhati bersih dan berbudi baik, sehingga dia yakin bahwa Souw Lan Hui pasti hidup berbahagia di samping suami yang bijaksana itu.

Pangeran itu memang telah mengenalnya dahulu.

"Terima kasih, Pangeran. Pinto tidak dapat lama di sini. Kedatangan pinto ini sesungguhnya hendak menyampaikan hal yang amat penting, dan maafkan kalau terpaksa pinto datang malam-malam begini dengan alasan agar tidak diketahui oleh mereka yang akan pinto laporkan. Mereka itu sangat lihai dan kalau mereka tahu pinto datang ke sini melaporkan, tentu usaha pinto akan gagal dan keluarga di sini terancam bahaya besar."

"Thian Bong Sianjin! Siapakah mereka itu dan apa yang telah terjadi?"

Tanya Bouw Hujin yang terkejut sekali karena tentu saja ia khawatir kalau-kalau ada bahaya mengancam Pangeran Mahkota yang dilindunginya.

"Ketika pinto merantau ke daerah selatan, ke daerah Se-cuan di mana Jenderal Wu Sam Kwi menjadi raja muda, pinto mendengar akan persekutuan antara Jenderal Wu Sam Kwi dengan seorang pangeran di sini yang merencanakan perebutan kekuasaan Kerajaan Ceng dengan cara membunuh Pangeran Mahkota. Pinto mendengar bahwa Pangeran Mahkota yang masih kecil berada dalam perlindungan keluarga Pangeran Bouw Hun Ki, maka pinto sengaja datang ke sini untuk melaporkan ancaman bahaya itu. Jenderal Wu Sam Kwi sudah mengirim dua orang yang amat lihai untuk melaksanakan tugas pembunuhan itu, dan pinto khawatir kalau mereka tahu bahwa pinto melaporkan ke sini, tentu rencana mereka akan diubah dan kita tidak tahu lagi apa yang akan mereka lakukan dan hal itu akan jauh lebih berbahaya daripada kalau kita mengetahui lebih dulu apa yang hendak mereka lakukan."

"Hemm, mereka mau coba-coba membunuh Pangeran Mahkota di sini? Boleh mereka coba!"

Kata Souw Lan Hui dengan sikap gagah.

"Nanti dulu, Totiang, dapatkah engkau memberitahu kami, siapakah pangeran yang bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi itu?"

Tanya Pangeran Bouw Hun Ki.

"Dia adalah Pangeran Cu Kiong, Pangeran,"

Jawab Thian Bong Sianjin yang lalu menjura dengan hormat kepada ayah ibu dan dua orang anak mereka itu sambil berkata.

"Nah, semua sudah pinto laporkan, legalah hati pinto karena pinto percaya bahwa Pangeran dan Bouw Hujin akan menjaga dan melindungi Pangeran Mahkota dengan baik. Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, tubuh tosu itu berkelebat dan lenyap dari situ.

"Bukan main! Dia lihai sekali!"

Kata Bouw Kun Liong melihat gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat itu.

"Ibu, tadi saya melihat Ibu menangis, mengapa Ibu tadi menangis terisak-isak ketika bertemu Thian Bong Sianjin sehingga kami berdua mengira dia mengganggu Ibu dan menyerangnya?"

Tanya Bouw Hwi Siang sambil menatap wajah ibunya. Mendengar pertanyaan ini wajah Bouw Hujin menjadi kemerahan, akan tetapi sambil tersenyum ia menjawab.

"Aku terkejut sekali dan sama sekali tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan dia, Hwi Siang. Dia adalah seorang sahabat baikku dan kami berdua dahulu bersama-sama berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan di dunia kang-ouw. Melihat dia muncul dan sudah menjadi seorang pendeta, hatiku terharu maka aku sampai menangis."

"Ibumu benar, dahulu Thian Bong Sianjin adalah seorang pendekar yang gagah perkasa dan menjadi sahabat baik kami."

Pangeran Bouw yang bijaksana menolong isterinya.

Dia tahu benar bahwa dahulu, hubungan isterinya dengan pendekar itu memang amat dekat, dan dia tahu bahwa Kui Thian Bong amat mencinta isterinya ketika ia masih seorang gadis pendekar.

Akan tetapi Souw Lan Hui memilih dia sebagai suaminya, hal yang amat membahagiakan hatinya.

Kemudian dia mengalihkan perhatiannya dan percakapan.

"Keterangan Thian Bong Sianjin tadi cukup mengejutkan. Kita mencurahkan perhatian terhadap Pangeran Leng Kok Cun yang jelas berniat memberontak, bahkan kita tidak syak lagi bahwa yang mengirim lima orang pembunuh ke istana untuk membunuh Sribaginda, tentu dia juga. Dia telah berniat membunuh Pangeran Mahkota pula seperti yang diceritakan Kong Liang. Siapa tahu, kini ternyata Pangeran Cu Kiong merupakan ancaman bahaya yang lebih besar karena dia bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi."

"Sebaiknya mari kita bicara di dalam saja,"

Ajak Souw Lan Hui atau Bouw Hujin yang merasa tidak enak berada di situ, mengingatkan ia akan pertemuannya dengan bekas pacarnya dulu.

Mereka semua lalu memasuki gedung dan setelah berada di dalam, mereka melanjutkan percakapan, kini ditambah dengan hadirnya Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin yang mendengar suara keluarga itu.

Mereka duduk di ruangan dalam, mengelilingi meja besar.

Ketika Bu Kong Liang mendengar keterangan Pangeran Bouw Hun Ki akan laporan Thian Bong Sianjin bahwa Pangeran Cu Kiong bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi dan mengancam akan membunuh Pangeran Mahkota, dia berseru.

"Ah, sekarang saya ingat, Paman Pangeran! Ketika baru turun gunung, saya bertemu dengan seorang gadis yang lihai ilmu silatnya. Ia adalah seorang gadis yang menjadi kaki tangan Wu Sam Kwi dan ia menuju ke kota raja. Mungkin sekali ia merupakan mata-mata dari Jenderal Wu Sam Kwi dan kedatangannya di kota raja untuk menghubungi Pangeran Cu Kiong!"

Pemuda murid Siauw-lim-pai ini lalu menceritakan pertemuannya dengan gadis yang dikenalnya sebagai Ang-mo Niocu itu.

"Hemm, sangat boleh jadi,"

Kata Bouw Hujin.

"Thian Bong Sianjin menceritakan bahwa persekutuan itu mempunyai rencana untuk membunuh Pangeran Mahkota, maka mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati dan waspada."

"Ibu benar,"

Kata Bouw Kun Liong.

"Penjagaan kita masih kurang kuat. Kalau ada orang berilmu tinggi masuk, para penjaga tidak dapat mengetahui, seperti ketika Thian Bong Sianjin tadi masuk, tahu-tahu telah berada di taman!"

"Paman Pangeran,"

Kata Bu Kong Liang.

"Kalau boleh saya mengetahui, mengapa para pangeran itu mempunyai niat yang demikian buruk? Padahal, mereka itu semua adalah putera Sribaginda Kaisar. Akan tetapi mengapa seolah saling bermusuhan dan bahkan hendak membunuh Pangeran Mahkota yang masih kecil?"

Pangeran Bouw Hun Ki menghela napas panjang.

"Hal ini sungguh memalukan dan menyedihkan sekali. Aku yang menjadi paman mereka pun merasa sedih. Sesungguhnya, pewaris tahta kerajaan tentu saja adalah Pangeran Mahkota Kang Shi. Akan tetapi dia masih kecil sehingga kalau dia tidak menjadi pengganti kaisar atau sampai terbunuh mati, yang berhak mewarisi tahta adalah Pangeran Cu Kiong yang menjadi putera dari selir ke tiga karena selir ke dua hanya mempunyai seorang puteri. Mungkin karena itulah maka Pangeran Cu Kiong berniat jahat membunuh Pangeran Kang Shi dan karena merasa kurang kuat, ia bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi. Adapun Pangeran Leng Kok Cun, biarpun dia itu putera dari selir ke tujuh namun dia merupakan pangeran yang paling tua, maka dia agaknya merasa bahwa dia yang paling berhak mewarisi tahta. Karena Sribaginda Kaisar memutuskan mengangkat Pangeran Kang Shi yang masih kecil menjadi Pangeran Mahkota, maka diam-diam dia merasa penasaran dan berniat memberontak. Demikianlah keadaan yang amat menyedihkan itu. Aku merasa kasihan sekali kepada Kakanda Kaisar, karena beliau yang paling menderita batin melihat keadaan para puteranya."

Setelah bercakap-cakap, Bouw Hujin memerintahkan para panglima yang setia kepada kaisar untuk memperketat penjagaan dan memasang para perwira yang memiliki ilmu kepandaian tinggi untuk bergiliran melakukan penjagaan.

Sementara itu, Thian Bong Sianjin dengan cepat meninggalkan taman gedung Pangeran Bouw.

Dengan menggunakan gin-kang yang luar biasa sehingga tubuhnya hanya berkelebat seperti bayang-bayang melompati pagar tembok belakang, dia dapat keluar dari situ seperti masuknya tadi, tanpa dapat terlihat oleh para penjaga yang melakukan perondaan mengelilingi pagar tembok gedung besar itu.

AKAN tetapi sekali ini lain.

Baru saja dia tiba di luar pagar tembok, sesosok bayangan menghadangnya dan suara wanita yang nyaring membentaknya.

"Berhenti!"

Thian Bong Sianjin melihat di bawah sinar bulan purnama bahwa yang menghadangnya adalah seorang gadis jelita dengan pedang di tangan.

"Thian Hwa...?!"

Tosu itu berseru dengan girang.

"Kong-kong...?"

Thian Hwa juga berseru, girang akan tetapi juga kaget dan heran.

"Kong-kong yang memasuki gedung Pangeran Bouw? Akan tetapi... mengapa...? Apakah Kong-kong tahu bahwa... bahwa... Bouw Hujin adalah...."

"Ssst, mari kita pergi menjauh agar jangan kelihatan petugas jaga yang meronda dan bicara di sana,"

Kata kakek itu dan mereka berdua segera melompat dan dua sosok bayangan berkelebat cepat meninggalkan tempat itu. Setelah tiba di tempat sunyi, Thian Hwa berkata.

"Kong-kong, mari kita ke rumah Ayah saja. Aku sekarang tinggal bersama Ayah kandungku, Pangeran Ciu Wan Kong. Kakekku, ayah dari ibuku, juga tinggal di sana. Mari, Kong-kong, marilah kita ke sana dan bicara di sana."

Thian Bong Sianjin tidak dapat menolak ajakan muridnya yang dianggapnya seperti anak atau cucu sendiri itu.

Dia amat menyayang Thian Hwa dan dia ikut berbahagia bahwa gadis itu kini telah bertemu dan tinggal bersama ayah kandungnya.

Setelah tiba di gedung ayahnya, Thian Hwa menyuruh petugas jaga untuk membuka pintu dan begitu masuk, dia langsung membangunkan ayahnya, juga Lo Sam atau Cui Sam, ayah mertua Pangeran Ciu Wan Kong yang sekarang ikut tinggal di gedung itu sebagai ayah mertua yang terhormat.

Ketika diperkenalkan, Pangeran Ciu Wan Kong segera memberi hormat kepada tosu itu dan berkata terharu.

"Totiang yang bijaksana dan berbudi mulia, perkenankan saya menghaturkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Totiang!"

Dia hendak berlutut di depan kaki Thian Bong Sianjin, akan tetapi cepat tosu itu memegang kedua pundaknya dan mengangkat bangkit kembali.

"Siancai, jangan begitu, Pangeran. Kalau hendak berterima kasih, marilah kita berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pinto hanya melakukan kewajiban pinto, lain tidak."

"Totiang, bagaimana saya tidak berterima kasih kepada Totiang? Totiang telah menyelamatkan anak perempuan saya, dan kembalinya Thian Hwa kepada saya berarti memberi kehidupan baru bagi saya. Totiang bukan hanya menyelamatkannya, bahkan memelihara dan mendidiknya sehingga ia menjadi seorang gadis yang dapat dibanggakan orang tuanya. Terima kasih, Totiang."

Melihat sikap pangeran ini, diam-diam Thian Bong Sianjin bersukur.

Kiranya ayah dari Thian Hwa adalah seorang laki-laki yang halus dan baik budi, tidak seperti pangeran lain yang biasanya bersikap congkak dan tinggi hati, memandang rendah orang biasa yang bukan bangsawan atau hartawan.

Cui Sam juga mengucapkan terima kasih kepada Thian Bong Sianjin yang telah menyelamatkan, memelihara dan mendidik cucunya.

Setelah itu, kakek yang tahu diri ini, yang merasa tidak tahu mengenai urusan negara, lalu berpamit mengundurkan diri.

Kini tinggal Pangeran Ciu dan Thian Hwa yang duduk bercakap-cakap dengan Thian Bong Sianjin.

"Dan sekarang, katakan, Kong-kong. Apakah Kong-kong sudah tahu siapa sebenarnya Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki?"

Tanya Thian Hwa sambil menatap wajah kakek angkatnya.

Melihat cara bicara dan sikap Thian Hwa terhadap tosu itu yang demikian akrab bahkan manja, diam-diam Pangeran Ciu Wan Kong merasa terharu dan semakin bersukur bahwa puterinya ditolong seorang tosu yang demikian baik budi.

Thian Bong Sianjin tersenyum dan mengangguk.

"Ia Souw Lan Hui, bukan?"

"Ah, Kong-kong sudah tahu?"

"Tentu saja, Thian Hwa. Sejak dulu juga pinto sudah tahu bahwa Souw Lan Hui menjadi Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki!"

"Akan tetapi kenapa engkau pada tengah malam memasuki tempat keluarga Bouw secara menggelap? Apa yang Kong-kong lakukan di sana?"

Tanya Thian Hwa heran.

"Thian Hwa, bersikaplah sopan terhadap gurumu!"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong menegur puterinya. Thian Bong Sianjin tertawa.

"Ha-ha-ha...! Tidak mengapa, Pangeran! Thian Hwa memang merupakan cucuku sendiri maka ia sudah terbiasa manja dan bicara terbuka dan jujur. Pertanyaan yang jujur itu perlu jawaban yang jujur pula. Bukankah begitu, Thian Hwa?"

"Tentu saja, Kong-kong. Bukankah sejak dulu Kong-kong mengajarkan agar aku terbuka dan jujur?"

"Akan tetapi urusan ini merupakan rahasia yang menyangkut Kerajaan Ceng, menyangkut keselamatan Pangeran Mahkota."

"Ah, kalau begitu, lebih penting lagi aku harus tahu! Ketahuilah, Kong-kong, aku adalah orang yang ditugaskan Sribaginda Kaisar untuk melindungi Pangeran Mahkota, membantu keluarga Pangeran Bouw, bahkan aku telah diberi Tek-pai oleh Sribaginda Paman Kaisar."

Diam-diam Thian Bong Sianjin terkejut, akan tetapi juga bangga.

"Engkau? Diberi kuasa oleh Sribaginda Kaisar?"

Dia menoleh dan memandang kepada Pangeran Ciu Wan Kong seolah minta kesaksiannya.

"Benar, Totiang. Thian Hwa menyelamatkan Kakanda Kaisar dari serangan lima orang penjahat dan ia lalu diberi Tek-pai oleh Kakanda Kaisar dan diberi tugas membantu keluarga Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk melindungi Pangeran Mahkota."

"Hebat! Engkau hebat, Thian Hwa dan pinto ikut bangga mendengarnya. Sekarang memang tidak ada rahasia lagi, tentu saja engkau boleh mendengar penjelasanku. Ketika aku merantau ke selatan, ke daerah yang dikuasai Wu Sam Kwi, di Yunnan-hu pinto mendengar bahwa Wu Sam Kwi mengadakan persekutuan dengan Pangeran Cu Kiong di kota raja untuk merebut tahta kerajaan dan rencana pertama mereka adalah mengirim dua orang pembunuh yang amat sakti untuk membunuh Pangeran Mahkota."

"Ih! Pangeran keparat itu!"

Thian Hwa berseru, demikian marahnya sehingga ia memaki, membuat ayahnya mengerutkan alisnya memandang kepada puterinya.

"Thian Hwa, perbuatan Pangeran Cu Kiong itu memang tidak benar dan jahat sekali. Kita mengira bahwa Pangeran Leng Kok Cun yang hendak memberontak dan membunuh Pangeran Mahkota, tidak tahunya Pangeran Cu Kiong juga, malah bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi! Akan tetapi mengapa engkau membenci dan memakinya begitu kasar?"

Thian Hwa menghela napas panjang, teringat bahwa ia memang tidak menceritakan persoalannya dengan Pangeran Cu Kiong yang hendak memperalatnya dulu.

Ia lupa pula bahwa ia kini adalah seorang puteri bangsawan, puteri seorang pangeran, keponakan kaisar, sehingga tidak semestinya mengeluarkan kata makian.

"Maaf, Ayah. Aku benci mendengar orang berniat jahat,"

Katanya.

Thian Bong Sianjin yang sudah mendengar cerita Thian Hwa tentang persoalan gadis itu dengan Pangeran Cu Kong, maklum bahwa gadis itu belum menceritakannya kepada ayahnya.

Maka dia pun tidak menanggapi dan melanjutkan ceritanya.

"Nah, mendengar itu aku lalu pergi ke sini untuk menceritakan kepada yang berwenang akan ancaman itu agar Sang Pangeran tidak jadi terbunuh. Akan tetapi aku mendengar bahwa Pangeran Mahkota berada dalam lindungan Pangeran Bouw Hun Ki yang sudah kukenal. Karena itulah maka aku lalu tadi berkunjung ke sana dan telah bertemu dengan Pangeran Bouw, isterinya, dan dua orang anaknya. Sudah kuberi laporan tentang ancaman bahaya itu. Sekarang telah selesai kewajibanku, aku akan melanjutkan perjalananku. Pangeran, maafkan, pinto akan melanjutkan perjalanan pinto."

"Aih, kenapa tergesa-gesa amat, Totiang? Tinggallah di rumah kami agar kami dapat membuktikan rasa sukur dan terima kasih kami kepada Totiang."

"Terima kasih, Pangeran. Sudah pinto katakan tadi, tidak perlu ada rasa terima kasih itu. Pinto sudah merasa bahagia sekali melihat Thian Hwa dapat bertemu dan berkumpul dengan ayah kandungnya dan kakeknya. Pinto akan pergi sekarang juga."

"Tidak...!"

Tiba-tiba Thian Hwa bangkit dari tempat duduknya, menghampiri dan merangkul pundak Thian Bong Sianjin.

"Tidak, Kong-kong, engkau tidak boleh pergi begitu saja! Setidaknya, tinggallah di sini selama beberapa hari, aku masih kangen dan banyak hal yang perlu kubicarakan denganmu! Kong-kong, jangan pergi...!"

Suara Thian Hwa manja dan seperti hendak menangis.

Thian Bong Sianjin tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya, akan tetapi dengan penuh sentuhan sayang dia mengelus rambut kepada gadis itu.

Melihat ini, Pangeran Ciu Wan Kong merasa terharu dan dia lalu bangkit dari duduknya dan berkata kepada Thian Bong Sianjin dengan suara agak gemetar menahan haru.

"Totiang, silakan Totiang bicara berdua dengan Thian Hwa, dan mudah-mudahan Totiang tidak segera pergi sekarang melainkan suka tinggal beberapa lamanya di sini. Selamat malam."

Pangeran itu lalu masuk ke dalam dan membiarkan puterinya berdua dengan tosu itu.

"Siancai! Anak nakal, engkau memaksa aku merasa tidak enak kepada ayahmu kalau pergi juga. Nah, mari kita bicara. Apa yang ingin kaubicarakan?"

Thian Hwa duduk kembali, berhadapan dengan kakek itu, terhalang meja.

"Aku rindu sekali kepadamu, Kong-kong. Aku ingin mendengar semua pengalaman Kong-kong sejak kita berpisah dan nanti akan kuceritakan semua pengalamanku kepadamu."

"Ha-ha, anak nakal. Apa yang dapat kuceritakan? Aku merantau ke selatan, ke arah Se-cuan dan tiba di Yunnan-hu. Melihat keadaan daerah yang dikuasai Wu Sam Kwi dan para pengikutnya. Di sanalah aku mendengar tentang persekutuan Wu Sam Kwi dengan Pangeran Cu Kiong itu, maka aku segera kembali ke utara untuk melaporkan hal itu agar tidak lagi terjadi perang karena perang hanya mendatangkan kesengsaraan kepada rakyat jelata."

"Kong-kong, ceritakan, bagaimana pertemuan Kong-kong dengan Bouw Hujin?"

Thian Bong Sianjin tertawa.

"Ha-ha, tentu saja pertemuan antara kami itu baik-baik saja. Bouw Hujin hanya merasa terharu melihat aku kini telah menjadi seorang tosu. Akan tetapi kami bertemu sebagai dua orang sahabat, demikian pula suami dan anak-anaknya menganggap aku sebagai seorang sahabat baik. Tidak ada apa-apa yang aneh dan jangan kau membayangkan yang bukan-bukan! Nah, sekarang kauceritakan pengalamanmu sejak kita berpisah, Thian Hwa."

"Nanti dulu, Kong-kong. Ada satu hal yang penting yang belum Kong-kong ceritakan. Siapakah dua orang sakti yang diutus Wu Sam Kwi untuk membunuh Pangeran Mahkota?"

"Yang pertama adalah Koksu (Guru Negara), penasihat dari Wu Sam Kwi sendiri yang disebut Lam-hai Cin-jin (Datuk Laut Selatan)."

"Apakah dia lihai sekali, Kong-kong?"

"Dia adalah datuk dari selatan, tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi orang ke dua lebih hebat lagi, karena dia seorang pertapa yang menjadi Susiok (Paman Guru) dari Lam-hai Cin-jin, bernama Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Bernyawa Lima), yang kabarnya selain ahli silat tingkat tinggi juga ahli sihir, sedangkan Lam-hai Cin-jin adalah seorang ahli racun."

"Ih, mengerikan. Apakah Bouw Hujin sudah mengetahui dan mengenal mereka?"

"Aku tadi belum menceritakan kepada keluarga Bouw siapa dua orang pembunuh utusan Wu Sam Kwi itu. Nah, sekarang ceritakan pengalamanmu."

Thian Hwa lalu menceritakan pengalamannya sejak ia meninggalkan gurunya yang disebutnya kong-kong (kakek) itu.

Ia menceritakan betapa ia bertemu dengan Bu Kong Liang, pemuda murid Siauw-lim-pai itu dan betapa bersama Kong Liang ia membasmi perampok-perampok jahat dan memberi hajaran kepada Jaksa Bong yang sewenang-wenang.

"Dan ketika aku mengunjungi keluarga Pangeran Bouw, aku bertemu pula dengan Bu Kong Liang. Ternyata dia juga membantu keluarga Bouw melindungi Pangeran Mahkota yang berada di gedung Pangeran Bouw."

Karena Thian Bong Sianjin ingin mendengar secara jelas betapa murid yang diaku cucunya itu menyelamatkan kaisar, gadis itu menceritakan lagi peristiwa itu sehingga Sribaginda Kaisar berterima kasih kepada keponakannya ini dan memberi kepercayaan besar.

"Aku harus melindungi Pangeran Mahkota dan menjaga agar pelaksanaan pengangkatan dia menjadi kaisar dapat terlaksana tanpa ada gangguan."

"Pangeran Mahkota diangkat menjadi Kaisar? Bukankah dia masih kecil, kabarnya usianya baru sekitar sepuluh tahun!"

Thian Hwa telah terlanjur bicara, akan tetapi kepada gurunya ini ia merasa tidak perlu menyembunyikan rahasia Kaisar Shun Chi. Ia berbisik.

"Kong-kong, ini merupakan rahasia besar dan hanya kepada Kong-kong aku berani memberitahu. Kaisar Shun Chi berduka sekali melihat para puteranya saling memperebutkan tahta, maka beliau mengambil keputusan untuk pura-pura mati."

"Siancai...! Pura-pura mati? Apa maksudmu?"

"Begini, Kong-kong. Paman Kaisar yang menjadi pemeluk Agama Buddha yang taat, ingin diam-diam meninggalkan istana untuk hidup sebagai seorang pendeta Buddha, dan diam-diam beliau akan dikabarkan meninggal dunia. Beliau telah meninggalkan surat wasiat kepadaku untuk diserahkan kepada Pangeran Bouw. Surat itu adalah surat pengangkatan Pangeran Mahkota sebagai pengganti Kaisar."

"Siancai... patut dipuji dan dikagumi keputusan yang diambil oleh Sribaginda Kaisar itu. Engkau mendapatkan tugas yang amat penting dan mulia, Thian Hwa. Maka, lakukanlah itu sebaik mungkin agar engkau dapat mengangkat tinggi nama dan kehormatan ayahmu."

"Kong-kong, tugas ini memang berat dan berbahaya, apalagi mengingat akan niat buruk Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong yang bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi. Karena itu, aku ingin agar engkau suka membantu kami, Kong-kong. Bukankah Kong-kong juga sahabat baik Bouw Hujin dan sudah sepatutnya kalau Kong-kong membantunya?"

Thian Bong Sianjin menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Sayang sekali, Thian Hwa. Aku tidak dapat mencampuri urusan keluarga Kaisar dan tentu saja tidak mungkin aku membantu Pemerintah Ceng...."

"Maksudmu Pemerintah Mancu, Kong-kong? Engkau tidak mau membantu karena pemerintah ini adalah pemerintah Mancu?"

"Ya, begitulah, Thian Hwa. Bagaimanapun juga, pemerintah Kerajaan Ceng adalah pemerintah penjajah, bukan bangsaku. Maka, tentu tidak mungkin aku membantunya."

"Kalau begitu, Kong-kong akan membantu Jenderal Wu Sam Kwi karena dia adalah seorang pribumi Han?"

Thian Hwa mengejar dan suaranya mengandung penasaran. Thian Bong Sianjin menggelengkan kepalanya.

"Wu Sam Kwi memang seorang Han, akan tetapi dia bukan anggota keluarga Kerajaan Beng. Dia dahulu bahkan memberontak terhadap Kerajaan Beng. Dia seorang petualang yang berjuang untuk dirinya sendiri, sama sekali bukan pejuang untuk menegakkan Kerajaan Beng yang sudah jatuh, dan bukan pula pejuang rakyat. Jelas aku tidak mau membantunya. Dalam keadaan sekarang ini, aku ingin bebas dan tidak mencampuri perang yang hanya akan membuat rakyat kita menderita sengsara."

"Akan tetapi Kong-kong menganjurkan aku untuk membantu Pamanda Kaisar!"

"Tentu saja, Thian Hwa. Jangan lupa, engkau adalah puteri Pangeran Ciu Wan Kong, keponakan dari Sribaginda Kaisar, maka tentu saja sudah menjadi kewajibanmu untuk membelanya, berarti membela keluarga ayah kandungmu sendiri, menentang mereka yang memberontak dan mempunyai niat jahat terhadap Pangeran Mahkota yang juga merupakan saudara misanmu sendiri."

"Akan tetapi, bukankah sahabat Kong-kong, yaitu Sin-hong-cu Souw Lan Hui itu juga seorang wanita pribumi Han? Ia juga membela Pamanda Kaisar dan Kong-kong tidak menentangnya!"

Bantah Thian Hwa. Tosu itu tersenyum.

"Aih, Thian Hwa, perlukah kujelaskan padamu? Souw Lan Hui adalah isteri Pangeran Bouw Hun Ki, ia pun telah menjadi keluarga Kaisar, maka tentu saja ia pun berkewajiban untuk membela keluarganya sendiri. Ketahuilah baik-baik, Thian Hwa. Aku tidak membela Kaisar Kerajaan Mancu bukan karena aku membencinya, karena tidak ada permusuhan pribadi antara aku dan dia. Aku tidak dapat membelanya karena itu berlawanan dengan hati nuraniku sebagai anak bangsa yang tidak mau membantu pihak yang menjajah tanah air dan bangsa Han. Akan tetapi aku pun tidak memusuhinya karena dalam urusan kebangsaan ini dia tidak dapat disalahkan, dia pun hanya anggota bangsanya yang melaksanakan tugas. Selama kaisar atau pembesar mana pun, baik bangsa Mancu ataupun bangsa Han sendiri, bertindak bijaksana dan tidak menindas rakyat, aku pasti tidak akan memusuhinya, mengertikah engkau, Thian Hwa?"

Thian Hwa diam sejenak, berpikir dan mengingat-ingat akan apa yang pernah diajarkan gurunya itu.

"Apakah Kong-kong maksudkan hal ini menyangkut kebaktian kepada bangsa seperti yang Kong-kong sering katakan dahulu?"

"Benar, Thian Hwa. Ada tiga kebaktian yang harus kita lakukan dalam hidup ini. Pertama berbakti kepada Thian yang berarti pantang melakukan segala bentuk kejahatan yang dilarang olehNya menurut petunjuk semua kitab suci agama-agama di dunia. Ke dua berbakti kepada orang tua yang berarti membela dan menjunjung tinggi nama dan kehormatan mereka dengan cara hidup sebagai orang yang baik dan budiman. Dan yang ke tiga, berbakti kepada bangsa yang berarti membela negara sebagai seorang pahlawan bangsa. Kalau seseorang melanggar satu di antara tiga kebaktian ini, dia akan menjadi seorang manusia yang tercela dan tidak baik."

"Aku ingat, dahulu Kong-kong mengatakan bahwa yang melanggar kebaktian terhadap Thian adalah orang berdosa. Yang melanggar kebaktian terhadap orang tua disebut orang durhaka. Dan yang melanggar kebaktian terhadap bangsa dan negara disebut seorang pengkhianat."

"Benar, Thian Hwa. Engkau tentu tidak ingin mempunyai guru dan kakek angkat yang disebut pengkhianat, bukan?"

Thian Hwa segera berlutut dan merangkul kedua kaki tosu itu dan ia menangis. Thian Bong Sianjin hanya mengelus rambut gadis itu penuh kasih sayang.

"Kong-kong...., kenapa Kong-kong bukan bangsa Mancu atau aku bukan keturunan Han saja agar kita dapat bersikap, berpendirian dan bertindak yang sama...?"

Ia meratap.

"Hentikan tangismu, Thian Hwa dan duduklah. Keluhanmu tadi mungkin dikeluhkan juga oleh banyak sekali manusia yang menghadapi kesulitan dan kebingungan karena adanya bentrokan antara suku atau bangsa. Bentrokan yang sering kali membuat orang-orang yang saling menyayangi terpaksa menjadi terpecah belah, dipecah oleh suku, bangsa, atau bahkan agama yang saling bertentangan. Akan tetapi lahir sebagai suatu warga bangsa merupakan takdir, merupakan kehendak dan rahasia Thian yang tidak dapat dimengerti oleh siapa pun. Mengapa aku dilahirkan sebagai keturunan Han dan mengapa pula engkau dilahirkan sebagai keturunan Mancu? Ini merupakan kehendak Thian dan sesungguhnya tidak ada salahnya sama sekali. Yang bersalah adalah manusianya mengapa dapat bercerai-berai, terpecah-belah dan saling bermusuhan! Sesungguhnya Thian tidak menghendaki yang demikian itu terjadi. Semua itu ulah manusia karena pengaruh nafsu daya rendah dan akibatnya terjadi permusuhan, bunuh membunuh, yang kesemuanya hanya mendatangkan kekacauan di dunia dan penderitaan bagi manusia sendiri."

Thian Hwa tidak dapat membujuk guru atau kakek angkatnya itu untuk ikut membela Kaisar.

Akan tetapi ia berhasil menahan Thian Bong Sianjin yang terpaksa menuruti permintaannya untuk tinggal di gedung Pangeran Ciu sampai tiga hari lamanya.

Kemudian dia pergi meninggalkan gedung itu, akan tetapi sebelum pergi dia menerima sebuah hiasan rambut berbentuk Burung Hong dari emas permata yang diberikan Thian Hwa kepadanya.

Hal ini dilakukan Thian Hwa setelah gurunya itu berjanji akan menyelidiki dan mencari ibu kandungnya yang hanyut di Sungai Huang-ho akan tetapi tak pernah ditemukan mayatnya.

"Aku mempunyai perasaan bahwa ibu kandungmu masih hidup, Thian Hwa. Aku sudah melakukan penyelidikan di sepanjang tepi Sungai Kuning, namun tidak ada penduduk di sepanjang tepi sungai yang pernah menemukan mayat seorang wanita yang hanyut."

"Mimpi Kong-kong yang dulu Kong-kong ceritakan itu benar. Menurut Kakek Cui Sam, Ibu memang mempunyai setitik tahi lalat di atas bibirnya. Aih, betapa akan bahagianya hidupku kalau ternyata Ibu masih hidup dan aku dapat bertemu dengannya!"

"Aku akan mencoba untuk melakukan penyelidikan dan pencarian lagi, Thian Hwa."

Mendengar ini, Thian Hwa lalu mengambil hiasan rambut yang dulu diterimanya dari Kakek Cui Sam itu dan menyerahkannya kepada gurunya.

"Siapa tahu usaha Kong-kong berhasil. Bawalah hiasan milik Ibu ini, Kong-kong, siapa tahu perhiasan ini dapat menuntun Kong-kong kepada pemiliknya."

Thian Bong Sianjin menerimanya, menyimpannya lalu pergi meninggalkan kota raja.

*** Im-yang Sian-kouw duduk termenung seorang diri di depan pondok kayu sederhana di puncak Bukit Kera itu.

Beberapa ekor kera kecil bermain-main di atas atap pondok.

Burung-burung berkicau riang gembira di pepohonan, suara mereka seperti nyanyian riang dilatarbelakangi suara gemericik air terjun yang berada di sebelah belakang pondok.

Matahari pagi bersinar hangat dan cerah, suasana di puncak itu mendatangkan ketenangan dan ketenteraman.

Akan tetapi Im-yang Sian-kouw seolah tidak melihat atau mendengar semua itu.

Ia tenggelam ke dalam lamunannya.

Ia duduk bersila di atas sebuah batu bundar.

Batu besar yang sengaja dibentuk menjadi bundar dan rata seperti sebuah meja, buatan Si Han Bun, muridnya.

Dilihat dari jauh, Im-yang Sian-kouw yang dalam usianya yang sekitar empat puluh satu tahun itu masih cantik, dalam pakaian serba putih, ia kelihatan seperti Kwan Im Pouwsat (Dewi Kwan Im) sendiri sedang bersila di atas bunga teratai.

Kepekaan panca indera kita menjadi tumpul oleh kebiasaan yang diulang-ulang.

Mata ini tidak lagi dapat menikmati keindahan yang setiap saat dilihatnya.

Telinga ini tidak lagi dapat menikmati kemerduan suara yang setiap saat didengarnya.

Hidung pun tidak lagi dapat menikmati keharuman yang setiap saat diciumnya dan mulut pun tidak dapat menikmati kelezatan yang setiap saat dimakannya!

Hal ini adalah karena segala macam kesenangan itu akan berubah menjadi kebosanan setelah terus-menerus dialami.

Karena itulah, maka dia yang dapat menikmati segala sesuatu hanyalah orang yang belum memiliki segala sesuatu itu.

Berbahagialah orang yang dapat menjaga semua kepekaan panca inderanya dengan menerima segala sesuatu sebagai hal yang baru.

Baru setiap hari, baru setiap saat, karena yang baru itu selalu menyenangkan.

Pada saat itu, Im-yang Sian-kouw tidak dapat menikmati segala keindahan yang terbentang di depannya.

Wanita yang memiliki ilmu silat dan ilmu pengobatan tinggi itu sedang tenggelam ke dalam lamunan.

Pikiran yang disibukkan dengan kesenangan masa lalu, tenggelam ke dalam ingatan dan renungan, kehilangan kewaspadaannya dan selalu mendatangkan kemurungan dan kesedihan.

Masa lalu wanita sakti ini memang penuh dengan pengalaman yang amat pahit getir.

Sekitar dua puluh tahun yang lalu Im-yang Sian-kouw adalah seorang wanita muda yang lemah dan sama sekali tidak mengenal ilmu silat.

Ia adalah seorang gadis sederhana dan cantik, puteri Cui Sam yang duda dan miskin.

Ayah dan anak ini bekerja sebagai pelayan dalam gedung keluarga Pangeran Ciu Wan Kong yang ketika itu berusia sekitar tiga puluh tahun.

Pangeran Ciu Wan Kong jatuh cinta kepada Cui Eng, yaitu nama Im-yang Sian-kouw ketika masih gadis.

Cui Eng juga membalas cinta pangeran yang baik hati itu.

Sebagai seorang pelayan, tentu saja Cui Eng tidak dapat menolak rayuan dan ajakan Pangeran Ciu Wan Kong.

Mereka mengadakan hubungan dan Cui Eng menjadi hamil.

Akan tetapi orang tua Pangeran Ciu Wan Kong menjadi marah dan tidak setuju kalau putera tunggal mereka menikahi seorang gadis pelayan.

Terjadi pertentangan, akan tetapi Pangeran Ciu Wan Kong tidak berani menentang ayah ibunya.

Ketika Cui Eng melahirkan seorang bayi perempuan, orang tua Pangeran Ciu Wan Kong menjadi lebih marah dan kecewa.

Andaikata anak itu terlahir laki-laki, mungkin akan berbeda nasib Cui Eng.

Akan tetapi anaknya terlahir perempuan dan ia serta ayahnya lalu diusir dari gedung itu!

Sesungguhnya Pangeran Ciu Wan Kong amat mencinta Cui Eng, akan tetapi dia tidak berani menentang kehendak orang tuanya.

Dia hanya dapat diam-diam memberi bekal secukupnya kepada Ciu Sam dan Cui Eng.

Ayah, anak dan cucu yang masih bayi itu terpaksa meninggalkan kota raja, hendak pulang ke dusun kampung kelahiran mereka.

Akan tetapi ketika mereka naik perahu di Sungai Kuning yang ketika itu sedang banjir, terjadilah musibah itu.

Perahu mereka terguling dan bayinya terlepas dari pondongannya!

Baca Juga: Pendekar Sakti 6

Baca Juga: Harta Karun Jenghis Khan 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert