Ceritasilat Novel Online

Kemelut Kerajaan Mancu 4

Eps 4 Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo.

Ia hanyut dan menjerit-jerit sekuatnya memanggil anak dan ayahnya yang hanyut terpisah darinya.

Akhirnya ia pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi!

Ketika ia siuman, tahu-tahu ia telah berada di pondok yang berada di Puncak Bukit Kera ini.

Ternyata ia telah diselamatkan oleh seorang datuk besar persilatan, yaitu Bu Beng Kiam-sian (Dewa Pedang Tanpa Nama) yang bertapa di Bukit Kera.

Datuk itu menyelamatkannya dari air sungai Huang-ho, mengobatinya sehingga ia selamat dari maut, akan tetapi berada dalam keadaan lupa ingatan dan sering pingsan.

Bu Beng Kiam-sian membawanya ke Bukit Kera dan setelah seminggu dirawat, barulah ia siuman dan sadar betul.

Sambil menangis ia menceritakan riwayatnya dan mohon kepada penolongnya untuk mencarikan ayahnya dan bayinya yang hanyut pula di Sungai Kuning.

Bu Beng Kiam-sian segera pergi ke Sungai Kuning untuk mencari Cui Sam dan bayi itu, akan tetapi karena peristiwa itu terjadi seminggu yang lalu, dia tidak dapat menemukan apa-apa.

Akhirnya dia kembali ke Bukit Kera dan menceritakan kepada Cui Eng bahwa pencariannya tidak berhasil dan sedikit sekali kemungkinannya ayah dan bayinya itu dapat selamat dari air sungai yang sedang banjir itu.

Demikianlah, sejak itu Cui Eng yang sudah kehilangan segala-galanya yang membuat ia terkadang bosan hidup, akhirnya menjadi murid Bu Beng Kiam-sian yang merasa iba kepadanya.

Cui Eng seolah menjadi manusia baru.

Kalau dulu ia seorang wanita lemah, kini ia menjadi seorang wanita yang sakti.

Juga dari Bu Beng Kiam-sian ia mendapat banyak pelajaran tentang hidup dan ini membuat ia dapat melanjutkan kehidupannya.

Akan tetapi ia telah menjadi manusia lain.

Ia membuang namanya dan sepuluh tahun kemudian, setelah ia menjadi seorang wanita yang benar-benar tangguh, Bu Beng Kiam-sian memberinya nama Im-yang Sian-kouw.

Nama ini diberi mengingat bahwa ia adalah seorang ahli ilmu Im-yang Kiam-hoat (Ilmu Pedang Im Yang) dari Im-yang Posan (Ilmu Kipas Im Yang).

Pada waktu itu, Bu Beng Kiam-sian membawa pulang Si Han Bu, anak yatim piatu yang ayah ibunya terbunuh oleh pasukan Wu Sam Kwi.

Im-yang Sian-kouw mendidik Si Han Bu menjadi muridnya sampai sekarang.

Kini, Bu Beng Kiam-sian telah meninggal dunia karena usia tua selama hampir dua tahun yang lalu.

Kini Im-yang Sian-kouw tinggal berdua dengan Si Han Bu di Puncak Bukit Kera, ditemani seorang wanita janda tua dari dusun di kaki bukit.

Ia telah berusia empat puluh satu tahun dan Si Han Bu kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah perkasa berusia sekitar dua puluh dua tahun!

Im-yang Sian-kouw terusik dari lamunannya ketika seorang wanita tua berusia lima puluh tahun keluar dari dalam pondok membawa sebuah baki berisi poci dan cawan teh.

"Silakan minum Sian-kouw,"

Kata wanita pelayan itu. Dengan suara lembut Im-yang Sian-kouw menjawab.

"Biarlah, kau taruh di atas meja dalam pondok dulu, Bibi Cong, aku belum ingin minum."

Bibi Cong mengangguk lalu kembali ke dalam pondok.

Wanita ini sudah menjadi janda sejak berusia tiga puluh tahun dan begitu Bu Beng Kiam-sian membawa Cui Eng pulang dua puluh tahun yang lalu, orang sakti itu lalu minta bantuan Bibi Cong untuk merawat Cui Eng dan membantu pekerjaan rumah.

Sejak itu, Bibi Cong tidak pernah meninggalkannya dan menjadi pembantu atau pelayan yang sudah dianggapnya sebagai bibinya sendiri oleh Cui Eng atau Im-yang Sian-kouw.

Setelah kemunculan Bibi Cong tadi membuyarkan lamunannya, kini Im-yang Sian-kouw mengenangkan ayah dan bayinya.

Apakah ayahnya, Cui Sam masih hidup?

Dan bagaimana dengan bayinya yang belum sempat ia beri nama itu?

Agaknya tidak mungkin bayi yang masih demikian kecil dan lemah itu dapat bertahan hidup hanyut di sungai yang sedang banjir.

Ia menghela napas panjang.

"Aih, pagi-pagi begini Subo sudah melamun dan menghela napas panjang! Subo, teecu (murid) ambilkan minum teh, ya?"

Im-yang Sian-kouw tersenyum dan memandang kepada muridnya yang telah berdiri di depannya, pemuda gagah perkasa dan tampan, tanpa memakai baju dan dadanya yang bidang penuh dengan keringat sehingga berkilau terkena cahaya matahari pagi.

Segala sesuatu tampak cerah kalau pemuda itu hadir di dekatnya.

Melihat wajahnya saja yang penuh senyum cerah, bukan hanya mulutnya yang tersenyum, bahkan sinar matanya pun turut tersenyum, hati terasa gembira.

Muridnya inilah yang bagaikan sinar terang terkadang mengusir kegelapan dari hati Im-yang Sian-kouw yang timbul kalau ia teringat akan ayahnya dan puterinya.

"Han Bu, cepat pergi mandi dan bertukar pakaian. Jangan bertelanjang baju seperti ini atau orang akan mengira engkau monyet penghuni Bukit Kera ini."

"Wah, memang sudah ada yang memaki teecu sebagai monyet, Subo."

"Eh, siapa yang berani memakimu sebagai monyet?"

Tanya Im-yang Sian-kouw, penasaran juga mendengar muridnya dimaki orang.

"Siapa lagi kalau bukan Wan Kim Hui yang galak itu, Subo! Akan tetapi teecu tidak marah lho, teecu malah senang dimaki seperti monyet."

"Hemm, engkau senang dimaki seperti monyet karena yang memaki itu gadis cantik jelita! Bukankah begitu?"

"Yah, bukan cuma itu, Subo. Akan tetapi jauh lebih baik dimaki seperti monyet daripada seperti orang, bukankah begitu? Seperti monyet berarti bukan monyet, akan tetapi kalau dimaki seperti orang berarti bukan orang!"

Im-yang Sian-kouw tertawa.

"He-heh, sudahlah, cepat mandi sana. Setelah mandi dan berganti pakaian, baru engkau boleh bawakan teh untukku dan aku ingin bicara penting padamu."

"Baik, Subo. Semua yang Subo ucapkan selalu amat penting bagi teecu!"

Dia lalu berlari menuju ke pancuran air yang berada di belakang pondok, diikuti tawa gurunya.

Im-yang Sian-kouw amat sayang kepada muridnya itu.

Si Han Bu merupakan segala-galanya baginya.

Ia telah kehilangan ayahnya, kehilangan suaminya, kehilangan puterinya, kehilangan gurunya.

Kini hanya tinggal Si Han Bu yang merupakan pengganti dan ia menganggapnya sebagai anaknya sendiri.

Dan ia merasa puas dengan bakat yang dimiliki Han Bu.

Semua ilmunya yang ia dapatkan dari mendiang Bu-beng Kiam-sian telah ia turunkan kepada Han Bu.

Bahkan juga ilmu pengobatan yang penting telah dikuasai Han Bu.

Anak itu pun walau tidak dapat dibilang ahli sastra, namun pengertiannya cukup tentang kehidupan, dan yang penting tidak buta huruf.

Kiranya yang dimiliki pemuda itu sudah dapat dipakai sebagai bekal atau modal untuk terjun ke dunia ramai.

Tak lama kemudian, Si Han Bu sudah muncul kembali dalam keadaan segar, sudah mandi dan rambut serta pakaiannya sudah rapi.

Dia membawa baki berisi poci dan cawan air teh itu dan dengan lincahnya dia meletakkan baki di atas meja batu di depan gurunya.

Dia sendiri lalu duduk di sebuah bangku batu lain yang lebih kecil, di seberang meja, berhadapan dengan gurunya.

"Silakan minum air teh, Subo,"

Katanya sambil menuangkan air teh yang masih panas dari poci ke dalam cawan.

Im-yang Sian-kouw mengambil cawan itu lalu minum perlahan-lahan.

Memang sedap sekali minum air teh yang pahit sepat dan sedap harum di waktu pagi seperti itu.

Setelah minum dua cawan kecil air teh, Im-yang Sian-kouw memandang muridnya dan berkata dengan suara serius.

"Han Bu, ingatkah engkau, berapa lamanya engkau berada di Puncak Bukit Kera ini dan mempelajari ilmu sejak engkau dibawa mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian ke sini?"

Han Bu memandang gurunya dengan sinar mata heran, akan tetapi dia merasakan kesungguhan dalam suara gurunya itu, maka dia pun menjawab.

"Subo setiap tahun baru yang dirayakan penduduk di kaki bukit, teecu menghitung dan sudah terjadi dua belas kali sejak teecu berada di sini. Berarti sudah dua belas tahun, benarkah itu, Subo?"

Im-yang Sian-kouw mengangguk lalu bertanya lagi.

"Jadi kalau begitu, sekarang ini berapa sudah usiamu?"

"Dulu sepuluh ditambah dua belas, jadi dua puluh dua tahun, Subo. Akan tetapi... mengapa Subo menanyakan umur teecu? Apakah teecu mau di... kawinkan...?"

Im-yang Sian-kouw tersenyum geli.

"Bocah tolol!"

Ia terpaksa memaki sayang.

"Kalau kau kawin, cari sendiri jodohmu. Setelah bertemu, baru aku akan mengurus perkawinanmu. Jangan macam-macam, aku mau bicarakan sesuatu yang penting padamu. Buka telingamu lebar-lebar dan dengarkan baik-baik."

"Baik, baik, Subo! Teecu dengarkan!"

Dia memiringkan kepalanya dan menghadapkan telinganya kepada gurunya sehingga melihat gaya ini, kembali Im-yang Sian-kouw tidak dapat menahan tawanya.

"Beginikah, Han Bu. Engkau sekarang sudah cukup dewasa, bukan anak-anak lagi. Maka sudah sepantasnya engkau turun gunung, memasuki dunia ramai, memanfaatkan semua ilmu yang telah kaupelajari di sini untuk bertindak sebagai seorang pendekar pembela kebenaran dan keadilan. Tinggalkan tempat ini, Han Bu, dan bersikap serta bertindaklah yang benar, sesuai dengan semua ajaran yang kau terima dari mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan dariku."

Mendengar keseriusan sikap dan suara gurunya, tiba-tiba Han Bu bersikap lain.

Lenyaplah semua kejenakaannya dan dia lalu turun dari bangku batunya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan batu yang diduduki gurunya.

"Subo... bagaimana teecu dapat meninggalkan Subo sendiri di sini? Apakah Subo... mengusir teecu? Lalu, ke mana teecu akan pergi, Subo...?"

Im-yang Sian-kouw tersenyum, lalu mengetuk kepala pemuda itu.

"Anak bodoh, duduklah. Sudah kukatakan tadi, dengarkan aku baik-baik dan jangan menyangka yang bukan-bukan. Duduklah!"

Pemuda itu bangkit dan duduk kembali, akan tetapi wajahnya kehilangan kegembiraannya.

"Maaf, Subo. Nah, jelaskanlah mengapa teecu harus pergi, Subo. Teecu akan mendengarkan dengan baik."

"Pertama, engkau telah dewasa dan tidak ada lagi yang dapat kaupelajari di sini, maka sebaiknya engkau menambah pengetahuanmu dengan menimba pengalaman dari luar. Ke dua, sesuai dengan keinginan mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan aku sendiri, engkau seyogianya menjadi seorang pembela kebenaran dan keadilan dan untuk itu engkau harus terjun di dunia ramai dan mengamalkan semua kepandaian yang telah kaupelajari dengan susah payah selama sepuluh tahun lebih ini agar tidak sia-sia bagi aku yang mengajar dan engkau yang belajar. Dan ke tiga, aku ingin engkau dapat menolong aku."

Mendengar alasan ke tiga ini, seketika Han Bu menjadi bersemangat sekali.

"Subo, tentu saja teecu selalu siap sedia untuk membantu Subo. Cepat perintahkan Subo, apa yang harus teecu lakukan untuk Subo?"

"Sebelumnya, dengarkan dulu riwayatku, Han Bu. Gurumu ini dua puluh tahu yang lalu mengalami malapetaka yang mengakibatkan aku kehilangan ayah, suami, dan seorang anak perempuan yang masih bayi."

Im-yang Sian-kouw menceritakan pengalamannya.

Betapa ia dahulu sebagai pelayan keluarga Pangeran Ciu telah diperisteri Pangeran Ciu Wan Kong, akan tetapi setelah melahirkan seorang anak perempuan, terpaksa pergi bersama ayahnya yang juga menjadi pelayan di sana karena orang tua Pangeran Ciu tidak setuju putera mereka menikah dengan seorang pelayan yang melahirkan seorang anak perempuan!

Kemudian betapa bersama ayahnya yang duda ia membawa bayinya pergi dengan niat pulang ke kampung halamannya, akan tetapi perahu mereka terbalik di Sungai Kuning sehingga ia kehilangan ayah dan anaknya.

Mendengar kisah ini, wajah Han Bu berubah merah dan sambil mengepal tinju dia berseru.

"Keparat pangeran itu! Mengapa Subo tidak menghajarnya?!"

"Jangan memaki dia, Han Bu!"

Im-yang Sian-kouw menegur muridnya.

"Pangeran Ciu Wan Kong sayang kepadaku, akan tetapi dia lemah dan taat kepada orang tuanya. Pada waktu itu, aku adalah seorang wanita yang lemah, tidak mampu melawan dan terpaksa pergi bersama Ayah dan anakku. Akan tetapi... entah bagaimana nasib ayahku dan anakku... ahh, kalau aku ingat, rasanya lebih baik kalau pada waktu itu aku mati saja bersama mereka! Anakku masih bayi, terseret air Sungai Huang-ho yang sedang banjir, tak dapat diharapkan dapat bertahan hidup...."

Kedua mata Im-yang Sian-kouw menjadi kemerahan dan basah. Han Bu ikut merasa sedih dan terharu.

"Kasihan sekali, tidak teecu sangka nasib Subo dahulu demikian buruknya. Subo menjadi sebatang kara...."

Im-yang Sian-kouw sudah dapat menguasai perasaannya dan ia berkata.

"Han Bu, kukira nasibmu juga tidak lebih baik, engkau juga kehilangan ayah ibu dan menjadi sebatang kara. Sekarang dengarkan ceritaku lebih lanjut. Ketika aku terseret air Sungai Kuning yang sedang banjir, dalam keadaan tidak sadar aku diselamatkan oleh mendiang Suhu Bu Beng Kiam-sian dan sejak itu aku menjadi muridnya. Seminggu kemudian setelah aku sadar dan menceritakan nasibku kepada Suhu, Suhu pergi mencari anakku dan ayahku, akan tetapi hasilnya sia-sia. Tentu ayahku dan anakku sudah terseret air banjir itu dan... dan mungkin mereka telah tewas...."

"Subo, apa yang dapat teecu lakukan untuk Subo? Perintahkan, Subo, sekarang juga akan teecu taati dan laksanakan!"

"Kalau engkau sudah turun gunung dan terjun ke dunia ramai sebagai seorang pendekar, tolonglah aku, coba engkau cari keterangan dan cari ayahku dan kalau mungkin anakku."

"Siapakah nama mereka, Subo?"

"Ayahku bernama Cui Sam, kalau masih hidup usianya sekarang tentu sudah enam puluh enam atau enam puluh tujuh tahun. Dia berasal dari dusun Kia-jung di sebelah selatan Thian-cin. Carilah keterangan di sana."

"Baik, Subo. Dan puteri Subo itu, siapa namanya dan berapa usianya sekarang?"

"Sekarang tentu berusia sekitar dua puluh tahun. Adapun namanya, ahhh... ketika itu aku berada dalam keadaan sedih dan bingung setelah diusir dari gedung Pangeran Ciu sehingga aku belum sempat memberi nama kepada anakku...."

Melihat subonya sedih lagi, Han Bu cepat berkata.

"Jangan khawatir, Subo! Teecu akan menyelidiki tentang seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahun yang ketika bayi tercebur ke air Sungai Kuning dan terseret arus air! Juga teecu akan mudah mengenalnya kalau dapat bertemu dengannya, karena ia pasti cantik jelita dan wajahnya seperti wajah Subo!"

Han Bu berhenti sebentar, memandang wajah gurunya lalu berkata lagi.

"Dan teecu akan mengunjungi Pangeran Ciu Wan Kong itu!"

Mendengar suara yang bernada mengancam dari muridnya, Im-yang Sian-kouw berkata.

"Han Bu, ingat ini! Engkau boleh menyelidiki dan melihat keadaan Pangeran Ciu Wan Kong sekarang. Usianya tentu sekitar lima puluh tahun lebih. Akan tetapi sekali lagi kuingatkan, dia sama sekali tidak membenciku, tidak bersalah, maka jangan sekali-kali engkau mengganggunya! Lihat keadaannya agar kelak engkau dapat menceritakan kepadaku."

"Subo,"

Kata Han Bu terharu.

"Dia sudah menyia-nyiakan Subo, akan tetapi Subo masih penuh perhatian kepadanya. Sungguh berbahagia sekali pangeran itu yang menerima cinta kasih demikian murni dan besar seperti cinta kasih Subo kepadanya."

Im-yang Sian-kouw menghela napas panjang.

"Aku yakin dia pun amat menderita, kehilangan isteri dan anaknya, Han Bu. Karena itu, jadikanlah pengalaman gurumu ini sebagai pelajaran. Jangan engkau mudah terperangkap dalam cinta, harus kauselidiki dengan teliti lebih dulu apakah keadaan orang yang kaucinta itu sesuai denganmu dan sudah tepat benar untuk menjadi jodohmu. Cinta dapat membuat orang hidup bahagia, akan tetapi juga dapat membuat orang menderita. Nah, sekarang berkemaslah, Han Bu. Ini peninggalan Suhu Bu Beng Kiam-sian, kuberikan kepadamu untuk bekalmu dalam perjalanan."

Im-yang Sian-kouw mengambil sebatang pedang dan sekantung uang emas yang sudah ia persiapkan sebelumnya.

"Pedang Im-yang-kiam, Subo?"

"Benar, pedang pusaka ini dahulu ikut mengangkat nama besar Kakek Gurumu di dunia kang-ouw. Karena itu, engkau harus mempergunakan untuk membela kebenaran dan keadilan sehingga berarti engkau menjunjung tinggi dan mempertahankan nama besar dan kehormatan Kakek Gurumu."

Han Bu menerima pedang dan sekantung uang emas itu, lalu masuk pondok membuat persiapan dan berkemas.

Dia membungkus pakaian dan sekantung uang itu dengan sehelai kain kuning yang lebar, kemudian menggendong buntalan itu di punggungnya.

Pedang Im-yang-kiam itu dia gantungkan di pinggangnya.

Setelah keluar dia lalu menjatuhkan diri berlutut di depan bangku batu yang diduduki gurunya.

"Subo, teecu pamit, mohon bekal dan doa restu dari Subo."

"Baiklah, Han Bu. Akan tetapi ada sebuah hal lagi yang perlu kita bicarakan sebelum engkau berangkat. Ingat, jangan sekali-kali engkau melibatkan diri dalam urusan negara dalam perang. Orang tuamu tewas sebagai korban perang, maka tidak semestinya engkau memusuhi Jenderal Wu Sam Kwi. Juga tidak perlu engkau memusuhi Pemerintah Penjajah Mancu. Jangan pula terlibat dan membantu para pemberontak. Pendeknya, jangan libatkan dirimu dalam pertikaian perebutan kekuasaan. Engkau harus selalu berpegang kepada kebenaran. Siapa pun dia, baik dari pihak Wu Sam Kwi, dari pihak Pemerintah Mancu, atau pihak pemberontak, kalau dia melakukan kejahatan terhadap rakyat, harus kautentang! Akan tetapi siapa pun dia dari pihak mana pun, yang bertindak dan diperlakukan tidak adil, patut kaubela. Mengertikah engkau, Han Bu?"

"Teecu mengerti, Subo. Sekarang teecu hendak berangkat. Selamat tinggal, Subo. Harap Subo menjaga diri baik-baik."

"Selamat jalan, Han Bu dan jaga dirimu baik-baik."

Han Bu memberi hormat sambil berlutut, lalu bangkit berdiri dan hendak pergi. Pada saat itu, nenek pelayan mereka muncul.

"Nak Han Bu, berhati-hatilah menjaga dirimu!"

Kata nenek itu, suaranya mengandung isak tertahan. Maklum, nenek inilah yang selalu bersama Han Bu sejak pemuda itu berada di situ selama hampir dua belas tahun yang lalu.

"Selamat tinggal, Bibi Cong!"

Kata Han Bu, lalu pemuda itu berlari cepat turun Puncak Bukit Kera.

Bayangannya diikuti pandang mata dua orang wanita itu sampai lenyap.

*** Ciu Thian Hwa memenuhi panggilan Kaisar Shun Chi melalui ayahnya yang hari itu menghadap Sribaginda Kaisar.

Ia diminta datang seorang diri, akan tetapi Kaisar memesan agar ia memasuki istana dengan diam-diam agar tidak diketahui siapa pun.

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa menggunakan ilmunya, bergerak di malam hari itu, hanya bayangannya yang berkelebatan sehingga tidak ada yang dapat melihatnya ketika ia akhirnya memasuki ruangan di mana Kaisar Shun Chi sudah menunggu seorang diri.

Begitu Thian Hwa muncul, Kaisar Shun Chi memberi isyarat agar gadis itu mengikutinya dan melalui sebuah pintu rahasia, Kaisar Shun Chi mengajak Thian Hwa memasuki sebuah ruangan rahasia.

Begitu berada dalam ruangan itu, Thian Hwa segera menjatuhkan diri berlutut di depan Sribaginda Kaisar.

Akan tetapi Kaisar Shun Chi segera memegang kedua pundaknya dan menyuruhnya bangkit dan duduk di atas kursi, berhadapan dengan kaisar itu.

"Thian Hwa, engkau sengaja kami panggil untuk datang seorang diri, karena kami menemui kesulitan untuk melaksanakan rencana kami semula. Berita bahwa kami telah meninggal dunia memang tidak sukar dilakukan, akan tetapi yang amat sukar adalah lolosnya kami dari istana. Kiranya amat sukar keluar dari istana tanpa diketahui orang, apalagi kami mendapat tanda-tanda bahwa kepala Thaikam agaknya patut dicurigai."

Thian Hwa terkejut.

"Paduka maksudkan, Thaikam Boan Kit?"

Kaisar mengangguk, lalu menghela napas panjang.

"Aih, melihat ulah manusia-manusia yang lemah sehingga mereka menghalalkan segala cara sesat untuk mencapai tujuan yang mereka inginkan, sungguh menyedihkan sekali. Pantaslah banyak orang meniru sikap Sang Buddha yang meninggalkan semua kemewahan dan kesenangan duniawi yang amat mempengaruhi jiwa menimbulkan kejahatan dan penderitaan, pergi mengasingkan diri dari keramaian. Agaknya Boan Thaikam telah dipengaruhi oleh mereka yang memperebutkan tahta kerajaan. Gerak-geriknya mencurigakan sekali. Karena itulah, aku sengaja memanggilmu secara diam-diam untuk menjaga keamananku sebelum aku berhasil keluar dari istana tanpa diketahui orang lain, Thian Hwa."

"Baik, Paman Kaisar! Hamba siap melakukan tugas karena pada saat ini, penjagaan keselamatan Pangeran Mahkota cukup kuat. Selain ada dua orang murid Siauw-lim-pai yang membantu Paman Pangeran Bouw Hun Ki, juga pasukan pengawal penjaga keamanan kini telah diperkuat."

"Bagus kalau begitu, akan tetapi aku tidak ingin mereka yang berhati khianat mengetahui bahwa engkau melakukan penjagaan di dalam istana, maka sebaiknya engkau menyamar sebagai seorang prajurit pengawal pribadi."

Demikianlah, Thian Hwa lalu menyamar sebagai seorang prajurit pengawal muda, dibantu oleh seorang pelayan pribadi Kaisar yang telah diyakini kesetiaannya.

Thian Hwa sebagai seorang pengawal pribadi tidak pernah jauh dari Sribaginda Kaisar dan selalu waspada menjaga keselamatannya.

*** Tiga hari kemudian.

Malam itu hawanya dingin sekali menembus sampai ke dalam istana sehingga para penghuni istana sudah memasuki kamar masing-masing mencari kehangatan.

Sribaginda Kaisar Shun Chi juga sudah memasuki kamar dan duduk bersamadhi seperti yang biasa dia lakukan setiap hari.

Suasananya amat sunyi di dalam istana.

Ketika Thaikam Boan Kit yang menjadi kepala para Thaikam bersama dua orang Thaikam lain berjalan melakukan perondaan di bagian dalam istana, para pengawal yang bertugas di dalam istana tidak menaruh curiga.

Memang sudah menjadi kewajiban dan kebiasaan kepala Thaikam itu untuk mengadakan perondaan seperti itu.

Ketika Boan Thaikam berjalan menuju ke kamar Kaisar, lima orang prajurit pengawal yang menjaga di luar kamar segera bangkit dari duduknya dan berdiri tegak, berjajar lalu memberi hormat kepadanya.

Boan Thaikam dan dua orang temannya menghampiri mereka.

"Bagaimana keadaan malam ini?"

Tanya Boan Thaikam sambil mendekat.

"Baik-baik dan aman, Thaijin!"

Lapor seorang di antara lima pengawal itu.

Tiba-tiba sekali, Boan Thaikam dan dua orang pembantunya bergerak cepat bukan main dan lima orang prajurit pengawal itu roboh tanpa dapat mengeluarkan suara.

Mereka telah tertotok dan pingsan.

Boan Thaikam dan dua orang pembantunya cepat menyeret mereka ke sebuah taman kecil dekat situ dan menyembunyikan tubuh mereka di balik semak-semak bunga.

Sebelum meninggalkan kelima orang itu, Boan Thaikam dan dua orang temannya menggunakan pedang membunuh mereka.

Setelah itu, mereka menghampiri kamar Kaisar dan hampir tanpa mengeluarkan suara, Boan Thaikam menggunakan tenaganya untuk membuka daun pintu kamar.

Kamar itu hanya remang-remang karena di meja hanya bernyala sebuah lilin kecil yang ditutup warna kebiruan.

Akan tetapi mereka dapat melihat dengan jelas Kaisar yang duduk bersila di atas pembaringan, tertutup tirai kelambu tipis dan tembus pandang.

Boan Thaikam menutupkan kembali daun pintu kamar itu dengan rapat lalu memberi isyarat kepada dua orang pembantunya untuk berdiri menjaga di sebuah pintu tertutup yang menembus ke kamar itu.

Tanpa mengeluarkan suara, dengan gerakan kaki ringan, dua orang yang berpakaian sebagai Thaikam itu lalu melangkah dan berdiri di dekat pintu yang menembus ke kamar atau ruangan lain.

Tiba-tiba daun pintu tembusan itu terbuka dan sebelum dua orang Thaikam itu sempat berbuat sesuatu, ada empat sinar kecil putih menyambar ke arah mereka.

Dua orang itu roboh dan tak mampu bangun lagi karena tepat di dahi mereka masing-masing telah menancap dua batang Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) yang membuat mereka tewas seketika.

Pada saat itu, Boan Thaikam sedang menghampiri pembaringan Kaisar dan mengangkat pedangnya membacok tubuh Kaisar yang duduk bersila.

Sesosok bayangan berkelebat cepat sekali dan sebatang pedang menangkis pedang yang oleh Boan Thaikam dibacokkan ke arah tubuh Kaisar di balik kelambu.

"Singg... tranggg...!"

Boan Thaikam terkejut bukan main dan cepat dia melompat ke belakang karena tangannya tergetar hebat ketika pedangnya tertangkis tadi.

Dia melihat seorang prajurit pengawal muda bertubuh ramping dan berwajah tampan berdiri di depannya, memegang sebatang pedang.

Ketika dia melihat dua orangnya menggeletak tak bergerak, dia menjadi semakin panik.

Akan tetapi Thian Hwa yang menyamar sebagai prajurit pengawal itu tidak memberi kesempatan kepadanya untuk melarikan diri karena ia sudah menerjang dengan lompatan kilat.

Boan Thaikam terpaksa melawan dan mereka pun bertanding dengan seru dan mati-matian di kamar Kaisar itu.

Kaisar Shun Chi sadar dari samadhinya dan dia menonton perkelahian itu.

Dia tidak heran melihat Boan Thaikam bertanding melawan Thian Hwa.

Tentu Thaikam khianat itu tadinya hendak membunuhnya dan Thian Hwa menghalanginya.

Dia tetap duduk di atas pembaringan dan menonton perkelahian itu.

Jantungnya berdebar tegang, khawatir kalau Thian Hwa kalah.

Dia tidak khawatir dirinya dapat terbunuh, melainkan mengkhawatirkan keselamatan keponakannya itu.

Akan tetapi kekhawatirannya lenyap ketika dia melihat dua orang Thaikam telah menggeletak di dekat pintu tembusan dan dalam perkelahian itu dia melihat dengan jelas betapa Thian Hwa mendesak lawannya.

Boan Thaikam yang berusia sekitar lima puluh tahun itu ternyata lihai juga.

Ilmu pedangnya cukup hebat sehingga dia mampu mempertahankan diri membuat perlawanan sengit kepada Thian Hwa.

Akan tetapi setelah Thian Hwa mengubah ilmu pedang Kwan-im Kiam-hoat menjadi Huang-ho Kiam-hoat yang istimewa, pedangnya berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung bagaikan ombak Sungai Huang-ho, Boan Thaikam menjadi terdesak hebat.

Hal ini disebabkan pula karena Boan Thaikam telah menjadi gentar dan panik.

"Hyaattt...!"

Thian Hwa menyerang dahsyat, pedangnya berputar dan menyambar-nyambar ke arah kepala dan leher lawan.

Boan Thaikam yang tidak mampu balas menyerang, hanya menangkis dan mengelak saja.

Serangan hebat itu membuat dia menjadi terhuyung ke belakang dan tiba-tiba kaki kiri Thian Hwa mencuat dan menendang perutnya.

"Bukkk...!"

Tubuh Boan Thaikam terlempar dan terjengkang.

"Tangkap dia!"

Terdengar Kaisar Shun Chi berkata kepada Thian Hwa.

Gadis itu melompat ke depan hendak menangkap Boan Thaikam, akan tetapi Thaikam yang maklum bahwa dia tidak mungkin dapat meloloskan diri lagi, tiba-tiba menggorok leher sendiri dengan pedangnya dan tewas seketika!

Melihat ini, Thian Hwa berdiri bengong dan Kaisar Shun Chi turun dari pembaringannya.

Peristiwa itu terjadi dalam kamarnya, tidak terdengar orang lain karena pintu kamar tertutup rapat dan perkelahian tadi sama sekali tidak menimbulkan suara gaduh.

Thian Hwa menyalakan dua batang lilin lain sehingga kamar itu menjadi terang.

Ia memandang ke arah mayat Boan Thaikam penuh kebencian.

"Paduka benar, Pamanda Kaisar. Pengkhianat jahanam ini benar-benar hendak berbuat jahat dan keji terhadap Paduka. Biar hamba memanggil kepala pengawal agar semua orang mengetahui akan pengkhianatan ini!"

"Jangan...!"

Thian Hwa memandang kaisar itu dengan heran.

"Dengarkan, Thian Hwa, ini kesempatan baik bagiku! Lihat, bentuk tubuhnya hampir sama dengan aku. Kalau kita memakaikan pakaianku lalu mengabarkan bahwa aku telah terbunuh, maka mudah bagiku untuk meloloskan diri."

Kaisar menjelaskan rencananya dan Thian Hwa tidak berani membantah.

Kaisar itu lalu memanggil lima orang pelayannya yang paling setia dan dipercaya, kemudian dibantu Thian Hwa, mereka semua bekerja dengan cepat.

Menjelang pagi, selagi semua orang dalam istana masih tidur dengan pulas karena hawa udara amat dinginnya, tiba-tiba terdengar jerit tangis disusul teriakan-teriakan nyaring.

"Pembunuhan! Pembunuhan! Sribaginda Kaisar dibunuh orang!"

Gegerlah seluruh istana.

Mula-mula para prajurit pengawal istana berlarian datang, lalu keluarga istana dan akhirnya seluruh penghuni istana terbangun dan bergerombol di luar kamar tidur Kaisar.

Hanya orang-orang penting saja boleh masuk kamar, di antaranya selain keluarga istana juga komandan pengawal dan mereka yang berkedudukan tinggi di istana.

Mereka semua melihat jenazah kaisar di atas pembaringan.

Jenazah itu amat mengerikan karena mukanya penuh luka bacokan sehingga tidak dapat dikenali lagi.

Pakaiannya penuh darah dan lehernya juga hampir putus!

Selain jenazah Kaisar Shun Chi, mereka juga melihat mayat dua orang Thaikam dalam kamar itu.

Karena hanya Thian Hwa yang menjadi saksi peristiwa itu dan dapat menceritakan, maka ia lalu dituntut oleh semua pejabat dan keluarga Kaisar untuk menceritakan apa yang telah terjadi malam itu.

Sebuah persidangan, dihadiri oleh para pangeran dan pejabat tinggi.

Tentu saja hadir pula pangeran-pangeran adik Kaisar dan para putera Kaisar.

*** Di ruangan persidangan itu sudah berkumpul mereka yang berhak menghadiri persidangan.

Para pejabat tinggi termasuk para panglimanya.

Para pangeran adik Kaisar, di antaranya Pangeran Ciu Wan Kong, Pangeran Bouw Hun Ki dan beberapa orang pangeran lagi yang hanya merupakan saudara misan.

Kemudian para pangeran putera Kaisar, antara lain yang terpenting adalah Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong.

Adapun Pangeran Kang Shi ditahan oleh pamannya, Pangeran Bouw Hun Ki, karena dianggap belum dewasa untuk membicarakan persoalan yang merupakan malapetaka itu, dan agar anak itu tidak menjadi kaget mendengar cerita kematian ayahnya yang mengerikan.

Ruangan persidangan yang biasa dipergunakan oleh Kaisar untuk bersidang dengan para pejabat tinggi itu luas dan semua yang hadir, lebih dari seratus orang banyaknya, telah duduk di kursi masing-masing.

Yang memimpin persidangan itu adalah Pangeran Bouw Hun Ki.

Dalam hal memilih pimpinan persidangan ini pun terjadi kekacauan karena Pangeran Leng Kok Cun tadinya berkeras mengatakan bahwa dia yang paling berhak memimpin persidangan karena dialah putera Kaisar yang tertua.

Akan tetapi banyak suara memilih Pangeran Bouw Hun Ki dengan alasan bahwa selain Pangeran Bouw Hun Ki merupakan adik Kaisar yang tertua, juga dia menjadi pelindung Pangeran Mahkota dan mewakili Pangeran Kang Shi.

Akhirnya Pangeran Leng kalah suara dan Pangeran Bouw Hun Ki memimpin persidangan itu.

Setelah semua orang duduk dan suasana tertib dan diam, Thian Hwa diberi kesempatan untuk menceritakan apa yang telah terjadi semalam.

Thian Hwa lalu bercerita, sesuai dengan apa yang telah direncanakan Kaisar Shun Chi.

Ia bercerita bahwa ia diperintahkan oleh "mendiang"

Kaisar Shun Chi untuk menyamar sebagai seorang prajurit pengawal karena Kaisar telah mencurigai Thaikam Boan Kit. Ia harus menjaga keamanan sebagai pengawal pribadi Kaisar.

"Nanti dulu! Mengapa Ayahanda Kaisar menaruh curiga kepada Thaikam Boan Kit?"

Tiba-tiba Pangeran Leng Kok Cun bertanya dengan suara berwibawa, seolah hendak menunjukkan bahwa dia putera sulung Kaisar dan karenanya memiliki kekuasaan.

Thian Hwa menatap tajam wajah pangeran itu dengan bibir tersenyum mengejek, teringat betapa ia pernah berurusan dengan pangeran pemberontak ini.

Melihat sinar mata Thian Hwa mencorong tajam, Pangeran Leng menundukkan pandang matanya, tidak tahan beradu pandang dengan gadis pendekar yang dia tahu amat galak dan lihai itu.

"Kalau Sribaginda Kaisar menaruh kecurigaan, pasti ada sebabnya! Orang yang mempunyai niat jahat dapat dilihat dari gerak-gerik dan terutama suara dan sinar matanya!"

Jawab Thian Hwa.

Ia melanjutkan ceritanya.

MALAM itu ia berada di ruangan yang bersebelahan dengan kamar Kaisar, dihubungkan sebuah pintu tembusan.

Malam itu ia mendengar suara gaduh di kamar Kaisar.

Ia cepat membuka pintu tembusan dan ia dihadang dua orang Thaikam yang menyerangnya.

Ia berhasil merobohkan mereka dengan sambitan Pek-hwa-ciam, akan tetapi ia terlambat menyelamatkan Kaisar.

Ia melihat bayangan Thaikam Boan Kit melarikan diri melalui pintu.

Karena ingin melihat keadaan Kaisar, ia tidak sempat mengejar dan ternyata ia mendapatkan Kaisar telah tewas dengan luka-luka bacokan pada leher dan mukanya sehingga tak dapat dikenali lagi.

Ia mencoba untuk melakukan pengejaran namun Thaikam Boan telah lenyap, maka ia lalu berteriak dan memanggil para prajurit pengawal dan membangunkan seluruh penghuni istana.

"Demikianlah apa yang terjadi malam tadi!"

Thian Hwa mengakhiri ceritanya dan ia menceritakan juga bahwa lima orang prajurit pengawal juga ditemukan mati di taman tak jauh dari kamar Kaisar dan mereka adalah lima orang pengawal yang malam itu bertugas jaga di depan kamar Kaisar.

Mudah diduga bahwa mereka tentu dibunuh pula oleh Thaikam Boan Kit dan dua orang pembantunya yang tewas oleh Thian Hwa.

Tentu saja kejadian yang sesungguhnya tidak demikian.

Setelah wajah mayat Boan Kit dirusak dengan bacokan-bacokan pedang agar tidak dapat dikenal, mayat itu lalu diberi pakaian Kaisar yang seperti pakaian pendeta dan dilumuri darah, kemudian mayat itu diletakkan di atas pembaringan Kaisar.

Setelah itu, dengan kepandaiannya, Thian Hwa menyelundupkan Kaisar keluar dari istana, bahkan keluar dari pintu gerbang kota raja.

Setelah tiba di luar kota raja, dua orang pelayan yang setia sudah menunggu lebih dulu dan Kaisar yang mengenakan jubah pendeta Buddha dan menggunduli rambut kepalanya itu lalu pergi menjauh dari kota raja.

Setelah itu, baru Thian Hwa kembali ke istana dan bersama para pelayan yang setia mereka menjerit-jerit sehingga membangunkan seluruh penghuni istana.

Tentu saja cerita Thian Hwa ini dipercaya oleh semua orang pendengarnya, apalagi terbukti adanya jenazah raja.

Mereka tidak dapat mengenali wajah jenazah itu, akan tetapi dari bentuk tubuhnya tidak ada yang ragu bahwa itu adalah jenazah Kaisar Shun Chi yang sudah dirawat dan dimasukkan peti mati.

"Sudahlah, malapetaka itu sudah terjadi. Mudah saja nanti kita berusaha untuk mengejar dan menangkap Thaikam Boan Kit dan menghukumnya. Sekarang, yang terpenting, kita tidak boleh membiarkan kerajaan tanpa kaisar! Hal ini dapat menimbulkan kekacauan dan akan memancing datangnya musuh negara untuk menyerang kerajaan yang sedang lowong tidak ada pemimpinnya. Maka, aku mengusulkan agar sekarang juga ditentukan siapa yang berhak menggantikan kedudukan kaisar, menggantikan mendiang Ayahanda Kaisar!"

Kata Pangeran Leng Kok Cun penuh semangat.

"Ah, baik sekali itu! Aku juga akan mengusulkan begitu!"

Kata Pangeran Cu Kiong, tidak kalah bersemangatnya.

Pangeran Bouw sebagai pimpinan sidang menoleh kepada Ciang Taijin, pembesar tinggi yang paling tua, usianya sudah lebih dari tujuh puluh tahun dan dia dikenal sebagai tua-tua dan penasihat di istana.

Melihat Pangeran Bouw menoleh dan memandang kepadanya, pejabat tinggi yang sudah tua dan setia ini segera bangkit berdiri dan berkata dengan suaranya yang halus dan tenang.

"Soal pengganti kedudukan Kaisar, hal itu kami rasa tidak menjadi masalah dan tidak perlu dibicarakan lagi. Bukankah mendiang Sribaginda Kaisar telah mengangkat seorang Pangeran Mahkota? Menurut hukum yang berlaku, kalau Kaisar meninggal dunia, sudah barang tentu yang menggantikan kedudukannya adalah Pangeran Mahkota, dalam hal ini Pangeran Mahkota Kang Shi!"

"Akan tetapi Ayahanda belum pernah meresmikan pengangkatannya sebagai pengganti kedudukan Kaisar!"

Bantah Pangeran Leng Kok Cun.

"Karena itu, aku sebagai putera Ayahanda yang sulung, akulah yang berhak menggantikan kedudukannya sebagai kaisar!"

"Tidak benar dan tidak bisa!"

Teriak Pangeran Cu Kiong.

"Kakanda Pangeran Leng Kok Cun, biarpun paling tua, akan tetapi merupakan putera selir ke tujuh! Menurut kepantasan, yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar dilihat dari urutan kedudukan para isteri Ayahanda! Memang yang paling berhak adalah Adinda Pangeran Kang Shi karena dia adalah putera dari Ibunda permaisuri, akan tetapi dia masih terlalu kecil untuk menjadi kaisar dan memang benar, Ayahanda belum meresmikan dia menjadi penggantinya. Urutan yang ke dua adalah keturunan selir ke dua, akan tetapi Ibunda selir ke dua hanya mempunyai anak perempuan. Maka urutan berikutnya adalah anak Ibunda yang menjadi selir ke tiga. Jadi, kalau mau menurut aturan dan kepantasan, akulah yang berhak menggantikan kedudukan kaisar!"

"Pendapat Pangeran Cu Kiong itu tidak benar!"

Bentak Pangeran Leng Kok Cun.

"Pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun lebih tidak benar lagi!"

Pangeran Cu Kiong juga membentak marah. Kedua orang pangeran ini sudah bangkit berdiri dan saling pandang dengan mata merah melotot.

"Harap Ananda berdua tenang! Ketahuilah para anggota keluarga kerajaan dan para pejabat tinggi, kami telah menerima surat wasiat yang ditulis dan ditinggalkan oleh mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Akan saya bacakan surat wasiatnya."

"Nanti dulu!"

Bentak Pangeran Leng Kok Cun.

"Surat wasiat seharusnya dipegang oleh orang yang dapat mewakili Ayahanda Kaisar. Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki tidak mempunyai kekuasaan itu!"

"Benar, Pamanda Pangeran Bouw tidak berhak!"

Teriak pula Pangeran Cu Kiong.

"Aku yang berhak!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring seorang wanita. Semua orang memandang dan yang bicara adalah Ciu Thian Hwa. Ia sudah bangkit berdiri dengan tegak dan sikapnya gagah sekali.

"Akulah yang menjadi wakil mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, dan inilah tanda kekuasaanku!"

Ia mengeluarkan Tek-pai tanda kekuasaan yang diberikan Kaisar Shun Chi itu dan melihat ini, para pejabat tinggi cepat membungkuk untuk memberi hormat karena pemegang Tek-pai itu seolah menjadi wakil kaisar sendiri.

Melihat ini, Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong diam, tidak berani membantah lagi.

Mereka memang sudah mendengar bahwa gadis liar yang berjuluk Huang-ho Sian-li yang pernah menentang mereka dahulu itu adalah puteri Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih keponakan kaisar dan juga keponakan Pangeran Bouw, bahkan masih menjadi saudara mereka sendiri.

Mereka tahu pula bahwa Thian Hwa telah menyelamatkan nyawa Kaisar Shun Chi ketika diserang lima orang pembunuh dahulu, maka tidak mustahil kalau kini gadis itu membawa Tek-pai pemberian Kaisar.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa menerima surat wasiat itu dari tangan Pangeran Bouw Hun Ki lalu berkata dengan lantang.

"Akulah yang menerima dari tangan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, Tek-pai dan surat wasiat ini, maka aku pula yang berhak membacanya. Siapa yang berani menentang pesan terakhir mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi, silakan maju, aku berhak atas nama Kaisar untuk menghukumnya!"

Ucapan itu demikian berwibawa dan tidak ada yang berani membantah.

Pangeran Leng dan Pangeran Cu tentu saja merasa jengkel dan marah, akan tetapi mereka maklum bahwa kalau mereka berani membantah kenyataan ini, semua orang yang berada di situ pasti akan menentangnya.

Melihat tidak ada yang berani membantah, Thian Hwa lalu membaca surat wasiat itu yang maksudnya, Kaisar Shun Chi menyatakan bahwa dia mengangkat Pangeran Mahkota Kang Shi menjadi penggantinya, yaitu menjadi kaisar baru kalau dia sudah tidak ada.

Setelah ia selesai membacakan surat wasiat itu, Thian Hwa duduk kembali.

Kini Pangeran Bouw Hun Ki bangkit berdiri.

"Kami yakin bahwa kita semua pasti menghormati dan mentaati perintah terakhir dari mendiang Kakanda Kaisar Shun Chi. Nah, kini sudah dipastikan bahwa Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan dinobatkan menjadi Kaisar Kerajaan Ceng kita. Pelaksanaannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari dari kematian Kakanda Kaisar Shun Chi, kami kira hadirin semua merasa setuju dan tidak ada yang merasa keberatan."

Tiba-tiba Pangeran Leng Kok Cun bangkit berdiri dan bicara dengan lantang.

"Paman Pangeran Bouw Hun Ki, mengingat bahwa Adinda Pangeran Kang Shi baru berusia sepuluh tahun, masih kanak-kanak, tidak mungkin dia dapat mengatur pemerintahan. Sudah tentu dia membutuhkan seorang pendamping atau penasihat yang dapat dipercaya! Nah, aku sebagai kakaknya yang tertua berhak untuk menjadi pendamping dan penasihatnya, maka dalam sidang ini aku minta agar hal ini dibicarakan dan disetujui semua yang hadir!"

Mendengar ini, Pangeran Cu Kiong cepat memberi tanggapan.

"Aku tidak setuju dengan pendapat Kakanda Pangeran Leng Kok Cun! Dia sudah terlalu tua untuk mendampingi Adinda Pangeran Kang Shi! Yang paling tepat untuk mendampinginya adalah aku sebagai calon pewaris ke dua setelah Pangeran Mahkota, dan usiaku jauh lebih muda dari Kakanda Pangeran Leng sehingga dapat bergaul lebih baik dengan Adinda Pangeran Kang Shi."

Kembali semua orang bicara sendiri, ada yang mendukung Pangeran Leng, ada pula yang membenarkan Pangeran Cu.

Agaknya kedua orang pangeran ini memiliki pendukung masing-masing di antara para pejabat tinggi yang hadir.

Melihat keadaan menjadi ribut, Thian Hwa bangkit lagi dan berkata dengan nyaring.

"Harap Cu-wi (Anda Sekalian) tenang! Saya sebagai pemegang kekuasaan yang diberikan mendiang Pamanda Kaisar, menyatakan bahwa perebutan kedudukan pendamping Kaisar yang baru itu tidak tepat. Seorang pendamping Kaisar seyogianya merupakan seorang yang paling dekat dengan Kaisar, dalam hal ini Adinda Pangeran Mahkota Kang Shi. Oleh karena itu, sepantasnya dia sendiri yang akan memilih, nanti setelah dia dinobatkan menjadi Kaisar. Dia sendiri yang akan memilih siapa yang akan menjadi pendamping dan penasihatnya."

Seperti tadi, ucapan Thian Hwa itu pun tidak ada yang berani membantahnya karena ucapan itu memang pantas dan cukup adil. Pangeran Bouw Hun Ki lalu bangkit berdiri dan berkata.

"Kami kira keputusan itu sudah tepat sekali. Nanti setelah lewat perkabungan selama seratus hari, Pangeran Mahkota Kang Shi akan dinobatkan menjadi Kaisar dan dia yang akan memilih siapa yang menjadi pendamping dan penasihatnya. Sekarang, kami minta Adinda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang Tek-pai untuk menunjuk seorang yang akan menjadi pejabat Kaisar sementara sebelum Pangeran Mahkota dinobatkan menjadi Kaisar."

Ciu Thian Hwa bangkit berdiri lagi.

"Mengingat bahwa selama ini yang paling dekat dengan mendiang Pamanda Kaisar Shun Chi adalah Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki sehingga beliau diberi kepercayaan untuk mendidik Pangeran Mahkota, maka atas nama Kaisar saya menunjuk Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki untuk menjabat kedudukan kaisar sementara!"

Pangeran Bouw Hun Ki cepat menanggapi.

"Aku tidak keberatan, akan tetapi hanya dengan satu syarat, yaitu aku harus didampingi Ananda Ciu Thian Hwa sebagai pemegang kuasa yang diberikan oleh mendiang Kaisar sendiri."

"Saya menerima syarat itu. Apakah ada di antara Cu-wi yang tidak setuju?"

Kata Thian Hwa.

Kembali tidak ada yang berani menolak karena memang semua yang diajukan itu masuk akal dan sesuai dengan aturan.

Seorang pemegang Tek-pai seolah menjadi pribadi Kaisar sendiri yang semua ucapannya merupakan perintah yang tidak boleh dibantah oleh siapa pun.

Demikianlah, persidangan itu selesai.

Semua orang merasa puas dan lega, kecuali tentu saja Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong!

*** Pangeran Cu Kiong dalam perjalanan pulang dari menghadiri persidangan, berjalan dengan wajah muram.

Tentu saja dia merasa kecewa dan penasaran sekali akan keputusan yang diambil dalam persidangan itu bahwa selain Pangeran Kang Shi ditentukan menjadi pengganti Kaisar dan akan dinobatkan sebagai kaisar baru dan dia yang berwenang memilih pendamping atau penasihatnya, juga ditentukan bahwa pejabat kaisar selama seratus hari ini adalah Pangeran Bouw Hun Ki.

Dan dia sama sekali tidak dapat membantah karena Ciu Thian Hwa memegang Tek-pai!

Dia semakin benci kepada Huang-ho Sian-li itu!

Dia pernah tertarik, bahkan pernah saling mencinta dengan Huang-ho Sian-li, akan tetapi dia bermaksud memanfaatkan kelihaian gadis itu untuk tujuannya merebut tahta kerajaan.

Kini gadis itu, yang kemudian ternyata puteri Pangeran Ciu Wan Kong, malah membela Pangeran Mahkota Kang Shi, berarti menjadi musuhnya!

Pangeran Cu Kiong merasa kecewa, penasaran dan marah sekali.

Tiba-tiba dia merasa ada gerakan orang di belakangnya dan ketika dia menengok, dia melihat seorang wanita muda tersenyum kepadanya dan berjalan melewatinya lalu membalik dan menghadapinya.

"Maafkan saya, apakah Paduka yang bernama Pangeran Cu Kiong?"

Gadis itu bertanya, suaranya merdu, gayanya memikat dengan sinar mata yang berkilat tajam dan bibir mungil tersenyum manis sekali.

Pangeran Cu Kiong mengamati gadis itu.

Gadis itu sudah matang, berusia sekitar dua puluh tiga tahun dan yang menarik adalah payung merah yang dipegang gagangnya dengan tangan kiri dan payung itu melindungi wajahnya dari terik matahari siang itu.

Bentuk tubuhnya menarik, ramping padat dan matang, wajahnya bulat dan mata serta mulutnya menggairahkan seperti menantang.

Bajunya berkembang-kembang merah dengan celana sutera hijau.

Kecantikannya agak asing, tidak seperti kecantikan wanita Han, juga tidak seperti wanita Mancu, melainkan kecantikan wanita dari daerah selatan yang khas.

Pangeran Cu Kiong segera tertarik sekali melihat kecantikan yang berbeda dari wanita lain itu.

"Benar, aku Pangeran Cu Kiong. Engkau siapakah, Nona?"

Tanyanya, tertarik bukan hanya karena kecantikan gadis itu, juga karena dari wajah dan logat bicaranya, jelas bahwa gadis ini datang dari selatan.

"Saya dikenal sebagai Ang-mo Niocu (Nona Payung Merah), dan saya sengaja datang menjumpai Paduka membawa pesan dari Raja Muda Wu Sam Kwi."

Cu Kiong terkejut mendengar disebutnya nama Wu Sam Kwi.

Dia memang telah beberapa lamanya mengadakan kontak hubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi yang kini disebut Raja Muda itu.

Kiranya gadis ini seorang utusan dari Wu Sam Kwi.

Kalau sampai ada orang mengetahui bahwa dia berhubungan dengan Jenderal Wu Sam Kwi, bisa gawat dan berbahaya baginya.

Maka cepat dia berkata lirih.

"Nona, datanglah nanti ke istanaku, jangan terlalu mencolok karena suasananya sedang genting."

Setelah berkata demikian dia cepat melanjutkan langkahnya pulang ke gedungnya.

Ang-mo Niocu, gadis cantik genit yang pernah kita jumpai ketika ia bertemu dengan Kong Liang dan Thian Hwa itu, maklum akan ucapan Sang Pangeran, maka ia pun cepat pergi ke lain jurusan agar tidak ada yang tahu bahwa ia tadi menghubungi Pangeran Cu Kiong.

Sore itu Ang-mo Niocu datang berkunjung ke gedung Pangeran Cu Kiong yang megah seperti istana.

Ia disambut oleh Thio Kwan dan Yu Kok Lun, yaitu dua orang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng).

Empat yang lain dulu telah tewas oleh Ciu Thian Hwa dan Ui Yan Bun, sedangkan yang seorang lagi, Ciang Sun, telah pergi meninggalkan kota raja.

Dua orang jagoan pembantu Pangeran Cu Kiong itu memang mendapat perintah dari Sang Pangeran untuk menyambut kalau gadis dari selatan, utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu datang berkunjung.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun adalah dua orang jagoan yang tidak pernah sembuh dari watak mereka yang sombong.

Baru julukan mereka saja, ketika masih bertujuh, menunjukkan kesombongan mereka, yaitu memakai julukan Tujuh Dewa!

Sejak dulu mereka sombong dan merasa paling hebat sendiri, apalagi karena mereka menjadi jagoan seorang pangeran.

Biarpun kini mereka tinggal berdua, namun tetap saja mereka berkepala besar dan dengan sendirinya mereka memandang rendah ketika melihat bahwa utusan Jenderal Wu Sam Kwi itu hanya seorang gadis cantik yang membawa payung merah!

Memang Ang-mo Niocu sama sekali tidak tampak seperti seorang kang-ouw yang pandai ilmu silat.

Ia cantik manis, pakaiannya berkembang dan sama sekali tidak tampak membawa senjata.

Begitu tiba di pintu gerbang gedung besar yang mempunyai halaman depan luas itu, Ang-mo Niocu dihadang dua orang jagoan ini yang sudah menunggu di gardu penjagaan sejak tadi.

Belasan orang prajurit berada dalam gardu dan hanya menonton sambil tersenyum kagum melihat seorang gadis cantik memakai payung memasuki pintu gerbang.

Mereka sudah dipesan oleh dua orang jagoan itu agar diam saja dan membiarkan mereka berdua yang menyambut tamu yang dinantikan oleh Sang Pangeran.

Para prajurit itu mengharapkan memperoleh tontonan menarik karena mereka semua maklum bahwa dua orang jagoan itu pasti akan menggoda dan mengganggu seorang gadis cantik seperti itu.

Thio Kwan yang berusia sekitar lima puluh dua tahun, tinggi kurus dan mukanya pucat seperti mayat, berdiri bertolak pinggang menghadapi Ang-mo Niocu, sedangkan temannya, Yu Kok Lun yang berusia lima puluh tahun lebih dan bertubuh gemuk pendek bermuka hitam, hanya tersenyum-senyum di samping rekannya.

"Apakah Nona yang disebut Nona Payung Merah?"

Tanya Thio Kwan sambil tersenyum mengejek, memandang rendah.

Ang-mo Niocu mengenal laki-laki kurang ajar macam ini.

Akan tetapi ia bersabar mengingat bahwa orang-orang ini tentu anak buah Pangeran Cu Kiong yang tadi ia jumpai di jalan dan yang menarik hatinya karena pangeran yang masih muda itu memang tampan dan gagah sekali.

"Benar, aku Ang-mo Niocu hendak bertemu dengan Pangeran Cu Kiong."

"Nanti dulu, Nona. Logat bicara Nona terdengar asing. Benarkah menurut keterangan Pangeran Cu bahwa Nona datang dari Yunnan-hu yang berada jauh di selatan?"

Ang-mo Niocu mengerutkan alisnya. Pembantu pangeran ini cerewet benar. Ia merasa tidak perlu untuk memperkenalkan diri lebih banyak terhadap Si Muka Pucat ini, maka ia cepat menjawab.

"Benar aku dari selatan. Jauh-jauh aku datang untuk bertemu Pangeran Cu Kiong. Cepat kalian laporkan kepadanya."

"Aih, Nona. Kenapa Nona jauh-jauh datang dari selatan seorang diri saja? Nona seorang gadis yang cantik jelita begini melakukan perjalanan jauh seorang diri?"

Kata Yu Kok Lun yang tidak dapat menahan keinginan hatinya untuk bicara dengan gadis yang amat menarik ini.

Setelah bicara, memang Ang-mo Niocu tampak menggairahkan sekali.

Sepasang bibirnya yang berbentuk indah dan kemerahan itu seolah dapat bergerak-gerak dengan manis dan menantang!

"Benar, Nona.

Kalau kami tahu, tentu akan kami jemput Nona di selatan sehingga Nona dapat melakukan perjalanan bersama kami.

Tentu lebih aman dan menyenangkan!"

Kata Thio Kwan.

Dua orang jagoan itu bersikap berani mengganggu karena mereka memang mendapat pesan dari Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi ini.

Ang-mo Niocu bukan seorang gadis yang tidak biasa bergaul dengan pria.

Kalau yang menggodanya itu pemuda-pemuda tampan, pasti ia tidak akan marah malah menjadi gembira sekali.

Akan tetapi digoda dua orang jagoan yang bertampang buruk, yang seorang bermuka pucat seperti mayat dan yang seorang lagi mukanya hitam seperti pantat kuali, ia menjadi marah.

Akan tetapi mulutnya masih tersenyum ketika ia menjawab.

"Hemm, diantar dan ditemani dua orang kuli pelayan macam kalian hanya akan membikin aku malu karena muka kalian begitu buruk dan menjijikkan! Sudahlah, cepat laporkan kepada Pangeran Cu Kiong bahwa aku telah datang dan ingin berjumpa dengannya. Aku tidak ingin berurusan dengan kalian dua orang monyet jelek ini!"

Belasan orang prajurit pengawal yang berada dalam gardu hampir tidak dapat menahan tawa mereka mendengar ucapan yang amat mengejek dan menghina kepada dua orang jagoan yang biasanya bersikap sombong itu.

Mereka melihat betapa dua orang itu terbelalak mendengar ucapan gadis berpayung merah.

Thio Kwan marah sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak berani menyerang tamu majikannya karena Pangeran Cu hanya berpesan agar dia menguji kelihaian tamu ini.

"Pangeran memang mengutus kami menjemputmu, akan tetapi tidak sopan kalau engkau memasuki gedung dengan memakai payung. Serahkan payungmu!"

Katanya. Ang-mo Niocu menutup payungnya yang tadinya berkembang.

"Payung ini tidak boleh terlepas dari tanganku!"

"Hemm, terpaksa aku akan merampasnya!"

Setelah berkata demikian, dengan cepat Thio Kwan menggerakkan tangan kanannya dan dia sudah menangkap payung yang berada di tangan kiri gadis itu.

Thio Kwan adalah seorang ahli lwee-keh (ahli tenaga dalam) yang memiliki tenaga kuat sekali.

Dia merasa yakin bahwa sekali renggut saja dia akan mampu merampas payung itu dari tangan Ang-mo Niocu.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika dia merasa betapa payung itu sama sekali tidak dapat dia tarik karena seolah melekat dan berakar pada tangan kiri gadis itu.

Dia mengangkat muka memandang wajah gadis itu dan dengan penasaran sekali dia melihat gadis itu tersenyum-senyum dan mengedipkan mata kepadanya!

Jelas bahwa gadis itu menganggap dia ringan sekali.

Maka Thio Kwan mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik.

Namun tetap sia-sia.

Karena marah, dia lalu menggerakkan tangan kirinya untuk mencengkeram pergelangan tangan kiri gadis itu.

Akan tetapi cepat bagaikan kilat tangan kanan Ang-mo Niocu sudah mendahuluinya menotok ke arah tangan kanannya yang memegang payung.

Seketika dia merasa lengan kanannya lemas dan pedangnya terlepas.

Dengan marah dia melanjutkan cengkeraman tangan kirinya, kini tidak ke arah pergelangan tangan kiri lawan, melainkan ke arah pundaknya!

"Plakk!"

Ang-mo Niocu menangkis dan tenaga saktinya demikian kuatnya sehingga Thio Kwan merasa lengan kirinya nyeri sampai menembus tulang.

"Pergilah!"

Ang-mo Niocu berseru dengan bentakan nyaring, kakinya mencuat ke arah perut Si Muka Mayat.

"Bukkk...!"

Tubuh tinggi kurus itu terlempar dan masih untung Thio Kwan mampu mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga jatuh berjongkok, tidak sampai terbanting!

"Wah, hebat juga engkau, Nona!

Coba hadapi siang-kiam (sepasang pedang) ini!"

Yu Kok Lan sudah mencabut siang-kiam dari punggungnya karena dia hendak menguji kelihaian gadis itu dalam bertanding senjata.

"Keluarkan senjatamu!"

Tantangnya, dan dia sudah memasang kuda-kuda dengan menyilangkan sepasang pedangnya di atas kepala sehingga tampak garang dan gagah sekali.

Ang-mo Niocu tersenyum.

Kini ia dapat menduga bahwa dua orang ini agaknya memang disuruh oleh Pangeran Cu Kiong untuk mengujinya.

Pangeran itu yang mengadakan kontak dengan Jenderal Wu Sam Kwi tentu ingin merasa yakin akan kelihaian utusan Jenderal Wu Sam Kwi.

Maka ia pun tersenyum menghadapi Yu Kok Lun yang tampak gagah itu.

Ia menudingkan payungnya yang sesungguhnya merupakan pedang ke arah lawan dan berkata.

"Majulah, aku akan melawan sepasang pedangmu dengan payungku ini."

Tentu saja Yu Kok Lun merasa dihina dan dipandang rendah.

Masa siang-kiamnya yang tersohor sehingga dia dijuluki Siang-kiam-sian (Dewa Sepasang Pedang) hanya akan dilawan dengan sebuah payung merah, oleh seorang gadis muda?

Ini namanya keterlaluan!

"Nona, memalukan kalau aku dengan sepasang pedangku melawan engkau yang hanya memegang sebuah payung.

Biarlah aku menggunakan sebelah pedangku saja!"

Setelah berkata demikian Yu Kok Lun menyimpan pedang kirinya dan hanya memegang pedang kanannya.

"Terserah, engkau mau menggunakan sebatang, dua batang, atau sepuluh batang pedang. Aku tetap cukup menggunakan payungku ini saja!"

Yu Kok Lun mulai marah.

"Sambutlah pedangku ini!"

Bentaknya, dan dia pun sudah menyerang dengan dahsyat karena dia sudah menggunakan jurus paling ampuh dan berbahaya karena dapat menduga bahwa lawannya bukan seorang lemah.

Pedangnya berkelebat dengan jurus serangan Kilat Menyambar Atas Kepala.

Pedang yang bergerak cepat sekali itu berubah menjadi sinar putih yang menyambar ke arah kepala Ang-mo Niocu dengan bacokan dari atas, seolah hendak membelah kepala itu menjadi dua!

"Wuuuss...!"

Pedang itu hanya membelah udara kosong karena dengan gerakan yang ringan dan cepat sekali Ang-mo Niocu sudah mengelak ke samping.

Yu Kok Lun menjadi penasaran melihat betapa serangannya yang dahsyat tadi dapat dielakkan dengan amat mudah oleh gadis itu.

Pedangnya sudah menyambar lagi, kini membabat dari samping ke arah pinggang lawan.

Pinggang yang kecil ramping itu agaknya akan dapat terbabat putus oleh sambaran pedang yang dahsyat itu karena pedang itu digerakkan dengan jurus Giok-tai-wi-yiauw (Sabuk Kemala Melilit Pinggang)!

Serangan ke dua ini cukup berbahaya, maka Ang-mo Niocu menggerakkan payungnya menangkis.

"Tranggg...!"

Yu Kok Lun hampir berteriak saking kagetnya ketika pedangnya hampir terlepas dari tangannya karena terpental oleh tangkisan yang amat kuat, bahkan kini ada sinar merah menyambar pundaknya.

Dia cepat mengelak dan "brett...!"

Baju di bagian pundaknya robek tertusuk ujung payung yang runcing!

Maklum bahwa payung itu ternyata merupakan senjata yang ampuh, Yu Kong Lun yang masih merasa penasaran cepat mencabut pedang ke dua dan kini dia menyerang dengan menggerakkan siang-kiam itu secara cepat sekali.

Akan tetapi semua serangannya sia-sia karena begitu gadis itu menggerakkan payungnya, payung itu menjadi perisai yang kuat sekali.

Ternyata bahwa payung itu terbuat dari semacam kulit yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga menjadi lentur namun amat kuat, mampu menahan senjata tajam tanpa robek sedikit pun.

Begitu sepasang pedang menyerang, payung berkembang dan begitu sepasang pedang lawan terpental, payung menutup dan ujung payung itu menyerang dengan tusukan seperti sebatang pedang!

Sebentar saja Yu Kok Lun menjadi kewalahan dan terdesak, kebingungan.

Maka Ang-mo Niocu tidak menyia-nyiakan kesempatan, selagi lawan bingung oleh serangan payung berpedang, ia mengayun kakinya dan seperti juga apa yang dirasakan Thio Kwan tadi, perut Yu Kok Lun terkena tendangan kaki Ang-mo Niocu sehingga tubuhnya terlempar dan dia jatuh berdebuk di atas tanah.

Dua orang jagoan itu kini harus mengakui kelihaian Ang-mo Niocu, maka mereka tidak berani main-main lagi.

Thio Kwan lalu maju memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada, diikuti Yu Kok Lun dan dia berkata.

"Li-hiap (Pendekar Wanita), maafkan kami karena sesungguhnya kami diutus Pangeran Cu Kiong untuk menguji kelihaianmu. Sekarang mari kami antarkan Li-hiap menghadap Pangeran Cu Kiong yang sudah lama menunggu kedatanganmu."

Ang-mo Niocu tersenyum mengejek.

"Beginikah cara Pangeran Cu Kiong menyambut utusan sahabatnya? Aku mengerti akan maksudnya mengujiku, akan tetapi yang menyebalkan adalah kalian bukan hanya menguji, akan tetapi juga menghinaku dengan kekurangajaranmu. Maka kalian perlu mendapat hajaran agar lain kali tidak berani menggangguku! Sambut ini!"

Tiba-tiba kini Ang-mo Niocu menyerang dengan tusukan payungnya yang tertutup.

Ujung yang runcing itu meluncur dan menusuk ke arah pundak Thio Kwan.

Orang itu terkejut dan cepat mengelak, tusukan itu luput akan tetapi tetap saja dia roboh dan mengeluh kesakitan.

Kemudian ujung payung itu menyerang Yu Kok Lun.

Ahli siang-kiam yang masih memegang pedangnya ini cepat menangkis.

"Trangg...!"

Payung itu tertangkis, akan tetapi anehnya, Yu Kok Lun juga terkulai roboh dan merintih sambil memegangi pundaknya.

Ternyata pundak kedua orang ini terkena tusukan jarum yang terasa panas dan pundak mereka sampai lengan menjadi kaku dan lumpuh!

Jarum beracun!

Jarum-jarum itu keluar dari ujung payung dan merupakan senjata rahasia yang amat ampuh dari gadis suku Yao yang lihai ini.

Hal ini tidak mengherankan karena Ang-mo Niocu adalah murid Lam-hai Cin-jin.

Datuk Selatan yang sakti.

"Nah, mari antar aku menghadap Pangeran Cu Kiong!"

Kata Ang-mo Niocu.

Dua orang itu bangkit dengan wajah pucat dan mereka menyeringai karena pundak mereka terasa nyeri bukan main, panas dan ngilu, juga kaku dan lumpuh sampai ke ujung jari tangan.

Mereka tidak berani membantah dan mendahului menuju ke gedung besar yang megah itu.

Ang-mo Niocu mengikuti mereka dari belakang dan tetap bersikap waspada.

Siapa tahu Pangeran Cu Kiong yang tampan gagah itu masih akan mengujinya lagi!

Akan tetapi tidak ada rintangan lagi dan setelah mereka memasuki ruangan tamu, Pangeran Cu Kiong bangkit dari kursinya, tersenyum ramah menyambut gadis cantik dari selatan itu.

Akan tetapi dia mengerutkan alisnya ketika melihat dua orang jagoannya masuk dengan wajah pucat dan menyeringai kesakitan dengan sebelah tangan tergantung lumpuh.

"Ada apa dengan kalian? Apa yang telah terjadi?"

Tanyanya dan karena dua orang jagoannya menundukkan kepala tanpa menjawab, dia memandang wajah Ang-mo Niocu dengan sinar mata bertanya.

"Pangeran, Paduka tanyakan kepada mereka berdua saja apa yang menyebabkan mereka menderita luka."

Pangeran Cu Kiong memandang dua orang jagoannya dan mereka berdua yang menjadi ketakutan mengingat betapa mereka telah menggoda gadis itu sehingga menjadi marah dan melukai mereka, lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Pangeran Cu Kiong.

"Pangeran, hamba berdua mengaku bersalah. Hamba kalah dan terluka oleh Li-hiap ini...,"

Kata Thio Kwan.

Pangeran Cu Kiong merasa kagum akan tetapi juga tak senang kepada gadis itu.

Memang ia lihai sekali mampu mengalahkan dua orang jagoannya, akan tetapi mengapa harus melukai mereka sedemikian beratnya.

"Ang-mo Niocu, mereka hanya kami suruh mengujimu, mengapa engkau melukai mereka?"

Pangeran Cu Kiong menegur, biarpun ucapannya halus. Ang-mo Niocu tersenyum.

"Pangeran, mereka melanggar perintah Paduka, mereka bukan sekadar menguji akan tetapi juga bersikap tidak sopan kepada saya. Karena itu saya melukai mereka dengan Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah). Kalau tidak saya beri obat pemunah, lengan mereka yang sebelah akan mati selamanya. Biar mereka tidak berani melanggar perintah Paduka lagi!"

Gadis itu memang cerdik.

Ia menghukum dua orang itu dengan alasan karena mereka melanggar perintah Pangeran Cu Kiong, bukan karena mereka mengganggunya.

Hal ini berarti bahwa ia bertindak untuk membela pangeran itu!

Mendengar ini, hati Pangeran Cu Kiong merasa senang dan kini dia membentak dua orang jagoannya itu.

"Hayo cepat kalian minta ampun kepada Ang-mo Niocu!"

Dua orang itu tadi mendengar bahwa mereka terluka oleh jarum beracun, menjadi semakin panik dan mereka lalu berlutut di depan kaki Ang-mo Niocu.

"Mohon ampun, Li-hiap. Kasihanilah kami dan mohon diberi obat pemunahnya!"

Mereka memohon bergantian. Ang-mo Niocu memandang kepada Pangeran Cu Kiong.

"Bagaimana, Pangeran?"

Pangeran itu mengangguk.

"Berikanlah obatnya, Niocu. Bagaimanapun juga, mereka adalah pembantu-pembantuku yang setia kepadaku."

Ang-mo Niocu lalu menghampiri mereka, menggunakan sin-kang (tenaga sakti) menyedot dua batang jarum itu dari pundak mereka menggunakan telapak tangannya, kemudian ia menyerahkan dua butir pel berwarna merah kepada mereka.

"Telan ini dan kalian akan sembuh."

Thio Kwan dan Yu Kok Lun cepat menerima pel itu dan langsung menelannya. Benar saja, mereka merasa betapa kekakuan dan rasa nyeri panas di pundak mereka berkurang.

"Sekarang keluarlah dan pesan kepada semua prajurit jaga agar kunjungan Li-hiap ini tidak sampai diketahui orang luar. Kalau sampai beritanya bocor, ini tanggung jawab kalian dan hukumannya akan berat sekali!"

Dua orang itu membungkuk lalu keluar dari ruangan tamu.

Pangeran Cu Kiong lalu menutupkan daun pintu sehingga mereka dapat bicara berdua dengan aman, tanpa ada yang dapat melihat atau mendengar mereka.

"Silakan duduk, Niocu. Sekarang lebih dulu buktikanlah bahwa engkau memang benar utusan dari Jenderal Wu Sam Kwi,"

Kata Pangeran Cu Kiong sambil menatap wajah cantik itu.

Ang-mo Niocu tersenyum manis sekali, tampak deretan giginya yang putih dan rapi, lalu ia duduk dan mengeluarkan sepucuk surat dari balik bajunya di bagian dada!

"Pangeran, saya sengaja minta surat dari Raja Muda Wu Sam Kwi agar Paduka tidak ragu lagi."

Pangeran Cu Kiong menerima kertas yang masih hangat karena lama berada di dada gadis itu.

Dia memang seorang laki-laki yang sudah biasa bergaul dan merayu wanita, maka sambil tersenyum dia mendekatkan kertas surat itu ke hidungnya, mengendusnya lalu berkata.

"Ahh... harumnya...!"

Ang-mo Niocu juga bukan seorang gadis yang belum pernah dirayu orang, maka ia tidak menjadi malu, malah senyumnya melebar dan sinar matanya berkilau karena senangnya.

"Saya simpan surat itu baik-baik agar jangan sampai dilihat orang lain, Pangeran."

Pangeran Cu Kiong membaca surat itu.

Surat dari Wu Sam Kwi itu menyatakan bahwa pihaknya sudah siap untuk bekerja sama dengan Pangeran Cu Kiong dan untuk memperlancar hubungan, dia mengirim Ang-mo Niocu sebagai utusan dan gadis itu sudah diberi wewenang penuh untuk mengatur rencana bersama Sang Pangeran.

Pangeran Cu Kiong merasa kagum dan juga heran bagaimana seorang gadis muda seperti ini sudah diberi kekuasaan penuh oleh Jenderal atau kini Raja Muda Wu Sam Kwi!

"Niocu (Nona), dalam surat ini Jenderal Wu Sam Kwi telah memberi kekuasaan sepenuhnya kepadamu untuk berunding dan mengatur rencana bersamaku.

Niocu, apakah kedudukanmu di sana maka dia begitu percaya kepadamu?"

Kembali gadis yang kedua pipinya merah tanpa yanci (bedak pemerah) tersenyum manis.

Tentu saja ia tidak mau mengaku bahwa walaupun ia tidak mau dijadikan selir, namun ia adalah seorang kekasih dari Wu Kan, seorang dari para putera Raja Muda Wu Sam Kwi.

"Pangeran, saya adalah murid dari Lam-hai Cin-jin. Datuk Selatan yang menjabat sebagai Koksu (Guru Negara, Penasihat) Raja Muda Wu Sam Kwi. Karena Suhu sendiri mempunyai banyak kesibukan dan tidak mungkin terlalu lama meninggalkan jabatannya, maka Suhu minta kepada Raja Muda Wu untuk mengirim saya dan Raja Muda Wu menyetujuinya."

Pangeran Cu Kiong mengangguk-angguk.

Dia sudah mendengar tentang kesaktian Lam-hai Cin-jin.

Tidak mengherankan kalau gadis ini demikian lihai, kiranya murid Lam-hai Cin-jin!

Dia merasa girang sekali bahwa Jenderal Wu mengirim utusan yang merupakan seorang gadis cantik manis dan lihai ilmu silatnya.

"Baik, kami dapat menerimamu sebagai utusan Raja Muda Wu Sam Kwi. Nah, sekarang lebih dulu kauceritakan apa kesanggupan Raja Muda Wu untuk membantu kami dan apa pula syarat-syaratnya."

"Pangeran, Raja Muda kami telah menerima berita dari Pangeran dan beliau setuju untuk membantu Paduka agar dapat merebut tahta kerajaan. Beliau sudah mengambil keputusan untuk mengirim dua orang sakti yang dapat diandalkan, yaitu Guru saya sendiri Lam-hai Cin-jin dan Susiok-couw (Kakek Paman Guru) Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Lima Nyawa) yang memiliki kesaktian tinggi. Saya kira, dengan adanya mereka yang akan datang ke sini dalam bulan ini juga akan dapat mengalahkan semua musuh Pangeran. Saya juga akan membantu Paduka sekuat tenaga."

"Hemm, Jenderal Wu Sam Kwi bersungguh-sungguh hendak membantu kami. Padahal dia membenci bangsa Mancu kami. Tentu bantuan itu diberikan bukan dengan percuma. Apa imbalan yang dimintanya?"

Tanya pangeran itu secara langsung dan terus terang.

"Aih, senang bicara dengan Paduka yang terbuka dan jujur. Menurut Raja Muda kami, beliau hanya menghendaki agar kekuasaan beliau diakui oleh Kerajaan Ceng dan daerah kekuasaan beliau diperluas sampai ke daerah selatan Sungai Yang-ce."

Pangeran Cu Kiong terdiam.

Permintaan yang terlalu berlebihan, pikirnya.

Masa minta perluasan daerah yang lebih besar daripada yang telah dikuasai Jenderal Wu Sam Kwi sekarang?

Akan tetapi dia membutuhkan bantuan yang amat kuat.

Mudah saja nanti menghadapi Wu Sam Kwi kalau sudah tercapai ambisinya, menjadi Kaisar Kerajaan Ceng!

Pula, kalau dia menolak, otomatis gadis itu tentu akan pergi, bahkan akan memusuhinya.

Padahal ia demikian cantik jelita dan sikapnya begitu menantang!

Dia merasa yakin benar bahwa tidak akan sukar untuk menikmati kesenangan bersama gadis ini!

Baru pandang mata dan senyum bibirnya itu saja sudah mengandung tantangan yang menggairahkan.

"Baiklah, kami menerima permintaan imbalan itu. Kalau kami sudah berhasil menjadi Kaisar sebagai pengganti mendiang Ayahanda Kaisar, pasti permintaan itu kami penuhi!"

"Nah, sekarang sebaiknya Paduka menceritakan segala keadaan di kota raja, siapa musuh-musuh Paduka, apa yang telah terjadi, agar kita dapat merundingkannya dan mencari jalan terbaik, mengatur rencana yang tepat untuk mencapai kemenangan."

Pangeran Cu Kiong tentu saja tidak tahu apa yang terdapat dalam benak Ang-mo Niocu pada masa itu.

Dia tidak tahu bahwa gadis itu adalah pengikut Wu Sam Kwi yang setia dan diam-diam membenci Pemerintah Ceng, yaitu Pemerintah Mancu yang menjajah hampir seluruh daratan Cina.

Ia tentu saja mendukung Wu Sam Kwi yang tidak pernah mau takluk kepada Pemerintah Ceng, bahkan selalu bercita-cita untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air.

Akan tetapi yang dibencinya adalah Pemerintah Ceng, kalau pribadi Pangeran Cu Kiong yang begitu gagah dan tampan, tentu saja membuat ia tertarik dan ia tidak akan melewatkan kesempatan baik untuk bersenang-senang dengan pria muda setampan dan segagah itu begitu saja.

Seorang pangeran lagi!

Dan dari sikap dan sinar mata pangeran itu, Ang-mo Niocu yang sudah berpengalaman itu maklum benar bahwa ia tidak bertepuk sebelah tangan!

Pangeran Cu Kiong membutuhkan waktu untuk yakin benar bahwa tidak ada bahayanya dia menceritakan segala yang terjadi dan semua keadaannya kepada gadis yang baru dijumpainya itu, walaupun ia membawa surat dari Jenderal Wu Sam Kwi.

Maka ia lalu tersenyum dan berkata.

"Niocu, sebaiknya engkau mengaso dulu, mandi dan berganti pakaian, engkau tampak lusuh dan lelah, maklum baru saja berkelahi. Setelah engkau mandi dan berganti pakaian, kita makan. Nah, setelah itu, kita bersantai dan nanti akan kuceritakan semuanya sehingga kita berdua dapat membuat rencana dengan lebih nyaman."

Pangeran Cu Kiong bertepuk tangan sebagai isyarat memanggil pelayan.

Dua orang pelayan wanita memasuki ruangan tamu itu dengan cepat.

Mereka masih muda-muda dengan wajah dan bentuk tubuh cukup menarik.

"Persiapkan sebuah kamar tamu yang terbaik untuk Nona ini. Dan layani kalau ia ingin mandi dan berganti pakaian. Setelah selesai, antarkan ia ke kamar makan dan suruh para pekerja di dapur menyiapkan pesta kecil untuk menghormati Nona ini. Nah, sekarang antarkan ia ke kamar tamu."

Dia bangkit dan berkata kepada Ang-mo Niocu.

"Silakan, Niocu. Sampai jumpa nanti di kamar makan."

Gadis itu tersenyum, membungkuk sebagai penghormatan lalu mengikuti dua orang pelayan itu dengan langkah berlenggang-lenggok lemah gemulai.

Pangeran Cu Kiong mengikuti dari belakang dengan pandang matanya dan dia tersenyum senang.

Setelah mandi, berganti pakaian dan bersolek sehingga ia tampak semakin cantik, Ang-mo Niocu diantar seorang pelayan memasuki ruangan makan yang luas.

Di situ telah menanti Pangeran Cu Kiong yang juga sudah mandi dan berganti pakaian sehingga tampak tampan sekali.

Mereka lalu duduk berhadapan terhalang meja yang sudah penuh dengan hidangan masakan bermacam-macam, semua masih mengepulkan uap sehingga baunya yang sedap membuat perut menjadi semakin lapar.

Mereka semakin akrab dan makan minum dengan gembira.

Pangeran Cu Kiong senang sekali mendapat kenyataan bahwa gadis itu pun kuat sekali minum arak.

Mereka saling menyulangi sampai menghabiskan beberapa cawan arak dan setelah hawa arak memasuki kepala mereka, keduanya semakin akrab, makan minum sambil tertawa-tawa gembira.

Setelah selesai makan, Pangeran Cu Kiong mengajak gadis itu bicara di dalam ruangan tertutup.

Dia lalu mulai menceritakan semua yang telah terjadi di kota raja, tentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun yang menjadi saingannya paling berat.

Kemudian tentang kematian Kaisar Shun Chi yang terbunuh oleh Thaikam Boan Kit, akan tetapi Thaikam itu sempat melarikan diri dan tidak tertangkap.

"Hemm, mengapa Thaikam Boan membunuh Kaisar?"

"Dia juga kaki tangan Pangeran Leng Kok Cun!"

Kata Pangeran Cu gemas.

"Pembunuhan sia-sia, karena sebelum mati, Ayahanda Kaisar telah meninggalkan surat wasiat kepada puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong yang bernama Ciu Thian Hwa. Bahkan Thian Hwa telah menerima Tek-pai dari Kaisar karena ia telah menyelamatkan Kaisar dari serangan lima orang pembunuh yang juga tentu dikirim oleh Pangeran Leng. Maka, setelah Kaisar wafat, Thian Hwa yang memegang Tek-pai dapat mempengaruhi semua orang yang terpaksa harus tunduk. Lalu menurut surat wasiat itu, Pangeran Mahkota Kang Shi yang akan diangkat menjadi kaisar baru. Pengangkatannya akan dilakukan setelah lewat masa perkabungan seratus hari. Sungguh keadaan ini tidak menguntungkan sama sekali!"

"Hemm, gadis bernama Ciu Thian Hwa itu lihai juga. Padahal ia adalah puteri seorang pangeran."

"Ya, ia puteri Pamanda Pangeran Ciu Wan Kong, jadi masih terhitung saudara sepupu dengan aku. Ia sebelumnya memang terpisah dari ayahnya dan hidup di dunia kang-ouw sebagai seorang pendekar berjuluk Huang-ho Sian-li."

"Apa...?!"

Gadis itu terkejut sekali.

"Eh? Engkau mengenalnya, Niocu?"

Ang-mo Niocu mengangguk.

"Saya pernah bertemu dengannya, Pangeran, bahkan pernah bertanding dengannya."

"Engkau kalah...?"

"Ah, tidak mungkin saya kalah oleh Huang-ho Sian-li, Pangeran!"

Kata Ang-mo Niocu bangga.

"Akan tetapi sebelum kami berkelahi lebih lanjut, ada yang melerai. Dia itu murid Siauw-lim-pai bernama Bu Kong Liang."

"Bu Kong Liang? Hemm, dia termasuk orang yang membantu Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki yang melindungi Adinda Pangeran Kang Shi."

Dia lalu menceritakan tentang hasil sidang yang diadakan setelah kaisar wafat.

"Selain Kaisar Kang Shi yang masih anak-anak itu ditetapkan menjadi kaisar menurut surat wasiat, juga pendamping atau penasihatnya ditentukan nanti setelah Pangeran Kang Shi menjadi kaisar. Aku berani memastikan bahwa dia akan memilih Pamanda Pangeran Bouw yang telah melindungi dan mendidiknya sejak kecil. Menggemaskan sekali!"

"Tenanglah, Pangeran. Mari kita melihat posisi Paduka. Jelas sekarang bahwa di sini ada tiga pihak yang bertentangan. Pertama tentu saja pihak Pangeran Bouw yang melindungi Pangeran Mahkota, calon kaisar baru. Pihak ke dua adalah Pangeran Leng, dan pihak ke tiga adalah Paduka sendiri. Benarkah gambaran saya itu?"

"Benar."

"Nah, sekarang mari kita melihat kekuatan semua pihak. Pertama kekuatan Pangeran Bouw. Harap Paduka gambarkan kekuatan pihak ini."

"Pangeran Mahkota sendiri baru berusia sekitar sebelas tahun dan dia tidak ada artinya. Pangeran Bouw Hun Ki juga seorang yang lemah, seorang sastrawan. Mereka didukung beberapa orang panglima dengan pasukannya, akan tetapi tidak semua. Akan tetapi Pangeran Kang Shi berada dalam lindungan yang amat kuat. Isteri Paman Pangeran Bouw adalah seorang wanita sakti, kabarnya dahulu ketika muda ia juga seorang pendekar berjuluk Sin-hong-cu. Mereka mempunyai dua orang anak, yang pertama bernama Bouw Kun Liong dan yang ke dua bernama Bouw Hwi Siang. Pemuda dan gadis saudara-saudara sepupuku ini pun amat lihai karena digembleng oleh ibu mereka sendiri. Selain mereka, ada pula Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa itu, dan dibantu pula oleh dua orang murid Siauw-lim-pai, yaitu Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin. Sudah terbukti bahwa kedudukan mereka amat kuat dan tempat perlindungan Pangeran Mahkota Kang Shi sulit ditembus."

"Lalu bagaimana dengan kekuatan pihak Pangeran Leng Kok Cun?"

"Menurut para penyelidikku, sebetulnya kekuatan Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tidak berapa hebat lagi. Dia memang telah mempunyai dukungan berupa beberapa orang pejabat tinggi dan panglima, akan tetapi kekuatannya itu rontok setelah Thaikam Bong melarikan diri karena membunuh Ayahanda Kaisar sehingga dia tidak lagi memiliki sekutu yang berpengaruh di dalam istana. Aku juga heran mengapa dia begitu gegabah menyuruh Boan Thaikam membunuh Kaisar. Setahuku, kini orang-orang sakti yang mendukungnya tidaklah begitu mengkhawatirkan. Mereka hanyalah Pat-chiu Lo-mo, Hui-eng-to Phang Houw, dan Liong-bu-pangcu Louw Cin dengan anak buahnya, para anggota Liong-bu-pang."

"Hemm, kalau begitu, dia bukan merupakan saingan berat, Pangeran."

Pangeran Cu Kiong menghela napas panjang.

"Bagi kami dia tetap berbahaya karena sekarang kami tidak lagi mempunyai pendukung yang kuat. Dahulu kami mempunyai Kam-keng Chit-sian, akan tetapi kini tinggal dua orang saja, yaitu Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang telah kaurobohkan tadi. Juga para pejabat tinggi yang mendukungku tidak sebanyak mereka yang mendukung Pangeran Leng. Karena itulah maka kami menghubungi Jenderal Wu Sam Kwi dan mengajak bekerja sama."

Melihat wajah pangeran itu tampak muram, Ang-mo Niocu berkata ramah dan menghibur.

"Jangan putus asa, Pangeran. Tidak percuma Paduka mengajak kami bekerja sama. Saya kira, hal yang terpenting bagi Paduka sekarang adalah menyingkirkan Pangeran Leng. Kalau dia sudah tidak menjadi penghalang lagi, maka kita dapat mencurahkan semua tenaga dan perhatian untuk menghadapi Pangeran Mahkota yang dilindungi Pangeran Bouw. Kita tunggu saja kedatangan Suhu dan Susiok-couw. Percayalah, semua pasti beres dan akhirnya Paduka pasti akan menang dan dapat menguasai tahta Kerajaan Ceng."

Hati Pangeran Cu menjadi lega dan girang sekali.

"Ah, Niocu, kalau benar kata-katamu dan aku dapat mencapai cita-citaku menjadi Kaisar menggantikan Ayahanda, aku tidak akan melupakan jasamu yang besar dan apa pun yang kau minta, pasti akan kupenuhi!"

Mendengar ini, tentu saja Ang-mo Niocu menjadi girang sekali.

Pangeran ini lebih gagah dan lebih tampan dibanding Wu Kongcu atau Wu Kan putera Raja Muda Wu Sam Kwi, apalagi kalau Pangeran Cu dapat menjadi kaisar, tentu kedudukannya menjadi yang paling tinggi.

"Benarkah janji itu, Pangeran?"

"Tentu saja benar, dan janji seorang calon kaisar pasti tidak akan dilanggar. Katakan, apa yang kauminta kalau kelak perjuangan kita berhasil?"

"Maaf, Pangeran, tentu Paduka sudah mempunyai isteri, seorang calon permaisuri, bukan?"

Tanya gadis itu sambil mengerling tajam penuh arti dan tersenyum manis. Pangeran Cu Kiong tertawa.

"Ha-ha, aku belum mempunyai isteri, hanya ada beberapa orang selir, Niocu. Apa maksudmu menanyakan hal itu?"

Wajah yang manis itu berubah kemerahan.

"Aih, tidak apa-apa, Pangeran, saya hanya... eh, saya juga belum menikah...."

"Ha-ha-ha! Benarkah itu yang kelak kauminta itu? Engkau ingin menjadi isteriku, menjadi calon permaisuri?"

"Seorang manusia harus memiliki cita-cita yang tinggi, Pangeran. Kalau Paduka bercita-cita menjadi kaisar, apa salahnya kalau saya juga bercita-cita menjadi permaisuri?"

Pangeran Cu Kiong gembira sekali. Dia bangkit dan maju merangkul gadis itu dan menciumnya. Ang-mo Niocu tidak menolak bahkan membalas dengan mesra.

"Jangan khawatir, Niocu... eh, siapakah namamu, manis?"

"Nama saya Yi Hong, Pangeran."

"Yi Hong, aku berjanji bahwa kalau kelak engkau berhasil membantu aku menjadi kaisar, engkau akan kuangkat menjadi permaisuriku. Mari kuperkenalkan dengan para selir dan pelayan di istanaku ini, Hong-moi (Dinda Hong)!"

Cu Kiong menggandeng tangan gadis itu dengan mesra dan diajaknya masuk ke bagian dalam gedung itu.

Dia memperkenalkan Yi Hong atau Ang-mo Niocu kepada lima orang selirnya yang kesemuanya masih muda dan cantik, dan memperkenalkan pula kepada para pelayan dan pengawal sebagai tunangannya!

Dia memerintahkan kepada mereka semua agar menghormati dan menaati semua perintah gadis itu.

"Semua perintah Niocu harus ditaati seperti perintahku sendiri,"

Katanya.

"Siapa melanggar akan dihukum berat."

Diam-diam Thio Kwan dan Yu Kok Lun menjadi terkejut sekali.

Tadi mereka bersikap kurang hormat kepada gadis itu dan untung mereka tidak menerima hukuman berat.

Tentu saja Ang-mo Niocu Yi Hong sendiri tidak pernah menduga bahwa pangeran yang tampan dan cerdik itu hanya hendak memanfaatkan dirinya sebagai kekasih yang menggairahkan dan sebagai pembantu yang memiliki ilmu silat tinggi.

Sedikit pun tidak ada niat di hati Pangeran Cu Kiong untuk mengambil seorang gadis kang-ouw yang liar dan kasar sepertinya, apalagi yang bersuku bangsa Yao, menjadi permaisuri kelak kalau dia berhasil menjadi kaisar!

*** Belasan hari kemudian.

Suasana berkabung masih meliputi kota raja.

Dalam masa perkabungan selama seratus hari itu tidak ada penduduk yang berani mengadakan pesta dan bersenang-senang.

Bahkan mereka yang hendak mengadakan perayaan pernikahan anak mereka pun terpaksa diundur sampai lewatnya masa perkabungan kematian kaisar itu.

Pangeran Leng Kok Cun, seperti juga Pangeran Cu Kiong, merasa penasaran dan marah sekali.

Semua usahanya telah gagal sama sekali.

Memang, usahanya membunuh ayahnya sendiri yang dilakukan Thaikam Boan, berhasil.

Kaisar terbunuh dan Thaikam Boan dapat melarikan diri sehingga tidak tertawan dan tidak membongkar rahasianya, akan tetapi hasilnya sama saja.

Sama sekali tidak menguntungkan baginya.

Malah lebih payah lagi.

Ternyata ayahnya meninggalkan surat wasiat yang mengangkat Pangeran Kang Shi menjadi pengganti Kaisar!

Dan lebih celaka lagi, dia tidak dapat memaksa agar dirinya dijadikan pelindung dan pendamping adiknya, Pangeran Kang Shi yang masih kecil itu.

Yang menjadi halangan adalah Pangeran Bouw Hun Ki, dan tentu saja Ciu Thian Hwa!

Sialan, ayahnya sebelum mati memberi Tek-pai kepada Ciu Thian Hwa sehingga gadis itu dapat mempengaruhi semua orang yang takut kepada pemegang Tek-pai.

Dan dia pun kembali tidak berdaya!

Kini, harapan menjadi pengganti Kaisar lenyap, bahkan harapan menjadi pendamping adiknya pun sia-sia!

Dia marah sekali dan memutar otak untuk mencari jalan yang baik agar ambisinya tercapai.

Malam itu gelap sekali.

Tidak ada bulan, ditambah adanya awan mendung membuat malam itu gelap gulita karena tiada bintang yang tampak.

Langit merupakan kehitaman pekat dan hanya sekali-kali saja tampak cahaya halilintar disusul suara guntur yang terdengar lapat-lapat saking jauhnya.

Pangeran Leng Kok Cun mengadakan rapat dengan para pembantunya di ruangan tertutup dalam gedungnya.

Yang hadir adalah Pat-chiu Lo-mo, kakek berusia enam puluh tiga tahun yang tubuhnya kurus bongkok dan mukanya buruk.

Pat-chiu Lo-mo ini bernama Cio Kiat, seorang tokoh sesat dunia kang-ouw di bagian Utara.

Senjatanya adalah sebatang tongkat, sebuah Yang-liu-san (Kipas Cemara) dan beberapa buah hui-to (pisau terbang) terselip di pinggangnya.

Tokoh ini memang merupakan pembantu setia sejak dulu dari Pangeran Leng dan dialah yang mencarikan jagoan-jagoan yang mau mendukung Pangeran Leng dengan janji yang muluk-muluk kalau usaha pangeran itu berhasil.

Orang kedua yang hadir adalah seorang pembantu baru.

Tokoh ini seorang datuk besar yang amat lihai, berjuluk Bu-lim Sai-kong (Kakek Singa Rimba Persilatan).

Usianya sekitar enam puluh tahun, tubuhnya tinggi besar seperti raksasa, rambut kepalanya kemerahan terurai sebagian menutupi mukanya yang merah sehingga muka itu mirip muka seekor singa.

Di pinggangnya tergantung sebatang golok gergaji besar dan Bu-lim Sai-kong ini selain memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki tenaga besar dan ilmu goloknya berbahaya sekali, juga dia memiliki sin-kang yang kuat dan mahir pula menggunakan ilmu sihir.

Dia amat dihormati Pat-chiu Lo-mo yang berhasil menariknya untuk membantu Pangeran Leng karena Pat-chiu Lo-mo yang lihai itu maklum bahwa tingkat kepandaian Si Muka Singa ini jauh lebih kuat dan lebih tangguh daripada tingkat kepandaiannya sendiri!

Adapun dua orang lagi yang hadir adalah Phang Houw yang berjuluk Hui-eng-to (Golok Garuda Terbang) karena dia terkenal dengan ilmu goloknya Hui-eng-to-hoat yang cukup dahsyat.

Tubuhnya gemuk pendek dengan wajah bundar kekanak-kanakan, akan tetapi gerak-geriknya sombong.

Dan seorang bertubuh tinggi kurus, usianya sebaya dengan Phang Houw, sekitar empat puluh empat tahun.

Si Tinggi Kurus ini bernama Louw Cin dan dia adalah ketua perkumpulan Liong-bu-pang dari kota Tui-lok.

Dia pun sudah lama bergabung dengan Pat-chiu Lo-mo, bahkan mengerahkan anak buahnya para anggota Liong-bu-pang sebanyak kurang lebih lima puluh orang yang selalu bersiap membantu Pangeran Leng.

Louw Cin ini terkenal dengan senjata ruyung besinya yang berduri dan tampak menyeramkan.

Mereka berlima duduk mengelilingi sebuah meja besar, berunding sambil minum-minum.

Pangeran Leng sudah mengambil keputusan nekat.

Malam itu dia akan mengerahkan para pembantunya untuk membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Ciu Thian Hwa, karena dua orang inilah yang merupakan penghalang utama sehingga dia tidak dapat menguasai kerajaan dengan menjadi pendamping dan penasihat adiknya yang diangkat menjadi kaisar, yaitu Pangeran Kang Shi yang masih kecil.

Kalau dia dapat menjadi pelindung atau pendamping calon kaisar yang masih kanak-kanak itu, sama saja dengan dia sendiri yang menjadi kaisar dan memimpin pemerintah.

Kalau sudah begitu, segala hal dapat dia atur sesukanya, bahkan mudah saja untuk kemudian melenyapkan Kaisar Kang Shi yang masih kanak-kanak sehingga dia sebagai kakaknya tentu dapat menggantikannya menjadi kaisar, apalagi kalau dia sudah menjadi pendamping kaisar!

Perebutan kekuasaan terjadi di mana-mana.

Setiap orang memiliki keinginan untuk mendapat kekuasaan, baik hal itu terjadi di dalam keluarga, di dalam masyarakat, perkumpulan, perusahaan, di antara karyawan, sampai ke para pembesar dan pejabat.

Untuk memperebutkan kekuasaan, manusia dapat bertindak apa saja.

Tujuan menghalalkan segala cara!

Untuk mencapai tujuan itu, segala cara licik dan kejam dilakukan orang.

Bahkan terjadi saling bunuh antara saudara, antara bangsa, sampai menjalar kepada perang antar bangsa.

Semua demi memperoleh kekuasaan!

Yang menang itu berkuasa, dan yang berkuasa itu pasti benar dan senang.

Jadi, memperebutkan kekuasaan itu pada hakekatnya untuk mencari kesenangan dan kesenangan biasanya bisa diperoleh dengan uang.

Dengan sendirinya, permusuhan, perang, perebutan kekuasaan itu tiada lain hanyalah memperebutkan harta karena harta mendatangkan kesenangan!

Andaikata kekuasaan yang diperebutkan itu tidak mendatangkan uang, adakah kiranya orang yang memperebutkannya?

Kedudukan atau kekuasaan sebagai pengurus perkumpulan sosial yang biasanya tidak mendatangkan keuntungan uang, tidak pernah diperebutkan, bahkan dia yang ditunjuk mencari berbagai alasan untuk menolaknya.

Akan tetapi sebuah kedudukan atau kekuasaan yang akan mendatangkan banyak uang, pasti menjadi rebutan!

Kekuasaan dapat membuat seseorang menjadi gila kekuasaan.

Merasa dirinya paling atas dan biasanya hal ini mendatangkan ketinggian hati dan melahirkan tindakan sewenang-wenang.

Terutama sekali, orang yang memegang kekuasaan selalu dirubung penjilat-penjilat yang ingin mendapatkan bagian dari keuntungannya berupa harta.

Kenyataan seperti ini terdapat di sepanjang jaman dan terjadi pada para penguasa, sejak jaman dahulu sampai sekarang.

PANGERAN Leng Kok Cun sering membayangkan betapa senangnya kalau dia menjadi kaisar.

Segala keinginannya pasti terkabul, segala perintahnya pasti ditaati orang.

Kehormatan, kemuliaan, kemewahan, akan berlimpah memenuhi kehidupannya setiap hari.

Ingin memuaskan mata menikmati pemandangan indah, tinggal perintah dan para pembantunya akan menyediakannya.

Ingin memuaskan telinga menikmati pendengaran merdu, ingin memuaskan penciuman menikmati harum-haruman, ingin memuaskan mulut menikmati makanan apa saja, semua tinggal perintah dan pasti akan terlaksana.

Ingin wanita cantik yang mana pun, tinggal menggapai pasti akan dimilikinya.

Membayangkan segala kesenangan ini membuat Pangeran Leng semakin bernafsu untuk meraihnya, kalau perlu dengan jalan apapun juga.

Membunuh atau menyuruh bunuh ayah kandung sendiri pun sudah dia lakukan!

Pangeran Leng lupa atau buta akan kenyataan, seperti semua orang yang sedang dilanda nafsu keinginan mendapatkan sesuatu, bahwa bayangan dan kenyataan itu berbeda jauh, seperti bumi dengan langit.

Lupa bahwa segala macam bayangan kesenangan itu akan hilang tidak ada artinya kalau dia terserang penyakit yang paling sederhana sekalipun, seperti misalnya sakit gigi, kepala pening, sakit perut, sakit mata, dan sebagainya.

Semua kesenangan itu tidak akan dapat dinikmati lagi, kalah oleh kesengsaraan sebuah penyakit yang paling sederhana!

Juga lupa bahwa segala macam bentuk kesenangan, baik itu yang dinikmati melalui mata, telinga, hidung, mulut dan indera lainnya, akan mendatangkan kebosanan.

Yang paling dapat menikmati sesuatu adalah dia yang belum memiliki sesuatu itu, dinikmati benar melalui pikiran yang membayangkannya.

Akan tetapi kalau sesuatu itu telah dimilikinya, maka yang datang adalah kebosanan.

Semua kesenangan duniawi, kesenangan badani pasti mendatangkan kebosanan karena nafsu keinginan itu menjangkau yang lain lagi, yang belum dimilikinya!

Yang sudah terdapat menjadi bosan dan yang tampak nikmat dan indah adalah sesuatu yang belum didapat!

Beginilah ulah nafsu keinginan!

Berbahagialah orang yang dapat menikmati APA ADANYA, menikmati saat demi saat, apa pun yang terjadi padanya, apa pun yang diperolehnya, yang selalu bersukur dan memuji nama Yang Maha Kasih atas apa saja yang terjadi padanya dan menerimanya sebagai karunia yang dianugerahkan kepadanya, tanpa memperhitungkan untung rugi atau enak tidak enak!

Seperti yang telah disepakati, menjelang tengah malam, Pat-chiu Lo-mo, Bu-lim Sai-kong, Hui-eng-to Phang Houw, Louw Cin dan sekitar lima puluh orang anggota Liong-bu-pang berangkat menuju gedung tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki.

Tugas mereka adalah untuk membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa!

Semula Pangeran Leng Kok Cun memang merasa ragu.

Dia maklum betapa kuatnya mereka yang berada di gedung Pangeran Bouw Hun Ki.

Akan tetapi Pat-chiu Lo-mo menghiburnya.

"Jangan khawatir, Pangeran. Dengan adanya Bu-lim Sai-kong, yakinlah bahwa malam nanti Pangeran Bouw Hun Ki pasti akan mampus! Adapun tentang diri Huang-ho Sian-li, biarpun ia merupakan lawan yang cukup tangguh, namun saya yakin kami berdua pasti sanggup membunuhnya. Pula, siasat kita akan membuat mereka itu terpencar sehingga menjadi lemah."

"Hoa-ha-ha! Pangeran, percayalah kepada saya! Sekali Bu-lim Sai-kong bergerak, pasti musuh akan terpenggal lehernya oleh golok saya ini, ha-ha-ha!"

Mereka berangkat dengan terpencar, kegelapan malam itu melindungi mereka sehingga mereka dengan mudah dapat tiba di luar tembok pagar gedung tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki.

Sesuai dengan siasat yang sudah mereka atur dan rencanakan sebelumnya secara masak, Pang Houw dan Louw Cin memimpin kurang lebih lima puluh orang anak buah Liong-bu-pang.

Sebagian, dipimpin oleh Pang Houw, melepas anak panah berapi ke arah belakang, kanan dan kiri gedung sehingga tak lama kemudian terjadi kebakaran di tiga tempat itu.

Setelah terjadi kebakaran dan terdengar kegemparan di sebelah dalam, Louw Cin memimpin anak buahnya untuk menyerbu ke pintu gerbang.

Diserang secara serentak dalam kegelapan itu, para prajurit yang melakukan penjagaan di gedung itu menjadi panik juga.

Jumlah para petugas yang bergilir hanya sekitar tiga puluh orang, ini pun dibagi.

Ada yang bertugas di pintu gerbang, ada yang bertugas di sekeliling rumah dan ada yang meronda.

Maka sekitar lima belas orang yang bertugas jaga di pintu gerbang, tentu saja terkejut ketika diserbu puluhan orang yang bersenjata ruyung semua.

Memang semua anggota Liong-bu-pang bersenjata ruyung seperti ketua mereka.

Seluruh isi gedung Pangeran Bouw Hun Ki menjadi sibuk.

Sebagian prajurit memadamkan kebakaran di tiga bagian, dan sisanya menyambut serbuan musuh.

Kini, anak buahnya yang dipimpin Phang Houw, sudah membantu kawan-kawan mereka pula, menyerbu di pintu gerbang sehingga terjadi pertempuran yang tidak seimbang.

Lima puluh orang mendesak lima belas orang prajurit!

Akan tetapi, tiba-tiba muncul empat orang muda yang amat dahsyat gerakan mereka.

Mereka adalah Bu Kong Liang yang mengamuk dengan siang-kek (sepasang tombak pendek bercagak) didampingi Bouw Kun Liong yang bersenjata siang-kiam (sepasang pedang), dan Bouw Hwi Siang yang bersenjata siang-kiam pula didampingi Gui Siang Lin yang juga bersenjata siang-kiam.

Munculnya empat orang muda lihai ini membuat para penyerang menjadi kocar-kacir.

Dengan marah Pang Houw menerjang dengan goloknya.

Dia disambut Bu Kong Liang yang sudah menggerakkan sepasang tombak pendeknya.

Tombak kiri menangkis bacokan golok, dan tombak kanan membalas dengan tusukan ke arah perut.

Phang Houw terkejut ketika merasa betapa tangannya yang memegang golok tergetar hebat oleh tangkisan itu dan cepat dia melangkah mundur dan memutar tubuh untuk menghindarkan diri dari tusukan tombak pendek.

Goloknya lalu berkelebat menyambar lagi namun selalu serangannya dapat ditangkis oleh Bu Kong Liang.

Segera mereka berdua bertanding dengan mati-matian.

Liong-bu-pangcu Louw Cin juga penasaran.

Bagaimanapun juga dia mengandalkan jumlah anak buahnya yang lebih banyak.

Tadi dia mengamuk, akan tetapi melihat di pihak musuh muncul dua orang gadis dan dua orang pemuda yang lihai gerakannya, dia cepat maju untuk membantu Phang Houw.

Akan tetapi ruyungnya bertemu dengan sebatang pedang di tangan kiri Bouw Kun Liong.

"Tranggg...!"

Bunga api berpijar dan Louw Cin terdorong mundur dua langkah.

Dia terkejut sekali karena dari tangkisan tadi dia maklum bahwa lawan ini seorang pemuda yang memiliki tenaga yang amat kuat.

Akan tetapi dia tidak diberi kesempatan untuk berdiam diri karena sepasang pedang di tangan Bouw Kun Liong kini menyambar-nyambar bagaikan dua ekor naga mengamuk.

Louw Cin melawan sekuat tenaga dan mereka berdua pun bertanding dengan seru dan mati-matian.

Sementara itu, dua orang gadis cantik yang gagah perkasa itu, Bouw Hwi Siang dan Gui Siang Lin, mengamuk bagaikan dua ekor harimau betina yang dikeroyok banyak anjing srigala.

Mereka menubruk ke kanan kiri dan depan, terkadang memutar tubuh dan pedang mereka membentuk-sinar bergulung-gulung.

Terkadang ada lawan terkena sambaran sinar itu dan dia roboh mandi darah.

Pertempuran itu terjadi di pekarangan yang hanya diterangi lampu gantung di depan gardu sehingga cuacanya remang-remang.

Hal ini malah menyukarkan bagi para pengeroyok karena gerakan dua orang gadis itu lincah dan cepat sekali.

Pada saat itu, di sebelah dalam gedung, di ruangan yang luas terjadi pula perkelahian yang tidak kalah hebatnya.

Tadi, melihat anak buahnya sudah berhasil melakukan pembakaran dan menyerbu pintu gerbang, Pat-chiu Lo-mo dan Bu-lim Sai-kong segera melompati pagar tembok dan mereka berhasil memasuki gedung dari atas atap.

Akan tetapi saat itu semua penghuni gedung sudah terbangun oleh keributan itu.

Pangeran Bouw Hun Ki yang maklum bahwa ada penjahat menyerbu dan mereka itu tentu bermaksud membunuh Pangeran Mahkota, cepat mengajak Pangeran Kang Shi memasuki sebuah ruangan rahasia yang sengaja dibangun untuk menyembunyikan Pangeran Mahkota dari ancaman bahaya.

Pangeran Bouw Hun Ki tinggal di situ, bersembunyi bersama Pangeran Mahkota.

Akan tetapi Bouw Hujin dan Ciu Thian Hwa menduga bahwa yang diincar para penyerbu itu sudah pasti Pangeran Mahkota Kang Shi, maka keduanya cukup membiarkan Bu Kong Liang, Bouw Kun Liong, Gui Siang Lin, dan Bouw Hwi Siang berempat membantu para prajurit pengawal menghadapi serbuan para penjahat, sedangkan mereka berdua siap dan waspada menjaga ruangan tengah yang luas di mana terdapat pintu tembusan rahasia ke tempat persembunyian Pangeran Kang Shi.

Dua orang wanita perkasa ini sama sekali tidak mengira bahwa dugaan mereka sekali ini keliru.

Bukan Pangeran Kang Shi yang menjadi sasaran pembunuhan, melainkan Pangeran Bouw Hun Ki dan Ciu Thian Hwa yang dianggap sebagai penghalang tercapainya niat Pangeran Leng untuk menjadi pendamping adiknya, Pangeran Kang Shi kalau nanti dinobatkan sebagai kaisar!

Ketika ada dua sosok bayangan melayang turun dari atas atap dan memasuki ruangan yang luas itu, Bouw Hujin dan Thian Hwa masih mengira bahwa dua orang itu tentu hendak mencari Pangeran Kang Shi.

Thian Hwa segera mengenal seorang dari mereka yang bukan lain adalah Pat-chiu Lo-mo, musuh lama yang pernah ia lawan ketika ia dahulu membantu Pangeran Cu Kiong yang pada waktu itu disangkanya seorang yang baik budi.

Bahkan dalam pertandingan yang seru, ia berhasil mengalahkan Pat-chiu Lo-mo walaupun tidak sampai membunuhnya.

Adapun orang ke dua yang muncul bersama Pat-chiu Lo-mo sama sekali tidak dikenalnya.

Laki-laki berusia enam puluh tahun itu tampak menyeramkan dengan mukanya yang seperti muka singa, rambut merah riap-riapan, tubuh tinggi dan kekar.

Juga Bouw Hujin yang dahulu seorang pendekar wanita, belum pernah melihatnya.

"Pat-chiu Lo-mo jahanam busuk! Engkau tentu utusan Pangeran Leng untuk melakukan kejahatan, akan tetapi sekarang aku tidak akan mengampuni dan membiarkanmu hidup!"

Thian Hwa membentak marah dan menudingkan pedangnya ke arah muka kakek kurus bongkok itu.

Pat-chiu Lo-mo merasa jerih terhadap Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa yang sudah dia kenal kelihaiannya.

Dia lebih memandang rendah kepada Nyonya Bouw Hun Ki.

Walaupun dia sudah mendengar bahwa isteri Pangeran Bouw ini juga seorang wanita yang memiliki kepandaian silat tinggi, namun dia menganggap mustahil kalau ia lebih lihai daripada Huang-ho Sian-li.

Maka dia memberi isyarat kepada Bu-lim Sai-kong agar kawannya itu menghadapi Huang-ho Sian-li dan dia yang akan melawan Bouw Hujin.

Akan tetapi Bu-lim Sai-kong yang berwatak sombong sekali dan menganggap bahwa di dunia ini dialah yang paling hebat, memandang rendah dua orang wanita itu dan dia tertawa.

Suara tawanya juga aneh, mirip singa mengaum, kepalanya didongakkan, mulutnya dibuka lebar dan terdengar auman yang menggetarkan jantung.

Karena auman itu merupakan pengerahan kekuatan sihir atau ilmu hitam yang menggunakan tenaga berasal dari roh jahat, dan sengaja dikerahkan dan ditujukan kepada Bouw Hujin dan Thian Hwa, maka dua orang wanita itu tiba-tiba merasa betapa isi dada mereka terguncang dan kepala mereka menjadi pening dan kacau!

Hampir saja Thian Hwa terpengaruh dan terbawa ikut tertawa dan kalau hal ini terjadi, maka berarti ia akan tunduk di bawah pengaruh Sai-kong itu.

Akan tetapi tiba-tiba Bouw Hujin berseru nyaring.

"Segala ilmu setan tidak akan dapat mengganggu batin yang bersih!"

Mendengar ini, Thian Hwa sadar bahwa dirinya diserang melalui suara tawa itu dengan ilmu sihir, maka cepat ia mengerahkan tenaga saktinya, memusatkan perhatian menolak pengaruh itu dan seketika pengaruh itu pun menghilang.

Bu-lim Sai-kong merasa penasaran melihat dua orang wanita itu tidak dapat dia pengaruhi, maka dia cepat berkemak-kemik membaca mantera, lalu mengangkat kedua tangannya ke atas seperti kedua kaki depan biruang hendak menerkam.

Matanya mencorong seperti mengeluarkan api dan dia berkata dengan suara yang menggelegar.

"Kalian dua orang wanita lemah, hayo berlututlah di depan Bu-lim Sai-kong!"

Dari kedua tangannya itu seolah keluar hawa yang bergetar kuat.

Kembali Huang-ho Sian-li merasa seolah-olah kedua lututnya gemetar dan hampir saja ia benar-benar menjatuhkan diri berlutut.

Kekuatan sihir Bu-lim Sai-kong memang hebat.

Ia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk melawan pengaruh yang amat kuat itu.

Untung baginya bahwa Bouw Hujin berada di situ.

Nyonya Bouw ini jauh lebih berpengalaman dibandingkan Thian Hwa dalam menghadapi serangan sihir macam itu.

Ketika Bu-lim Sai-kong menyerang dengan sihir untuk kedua kalinya, Bouw Hujin tidak sabar lagi.

"Pergilah!"

Bentaknya, dan dari tangannya menyambar tiga sinar putih ke arah Sai-kong itu.

Ternyata jalan pikiran Nyonya Bouw sama dengan Thian Hwa karena Huang-ho Sian-li ini juga sudah menyambitkan Pek-hwa-ciam ke arah Pat-chiu Lo-mo.

Hampir berbareng, tiga buah Gin-seng-piauw (Piauw Bintang Perak) dan tiga batang Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) meluncur ke arah Bu-lim Sai-kong dan Pat-chiu Lo-mo!

Akan tetapi dua orang kakek itu juga bukan orang sembarangan.

Pat-chiu Lo-mo sudah berhasil menyampok atau mengebut tiga batang jarum yang dilepas Thian Hwa dengan Yang-liu-san (Kipas Cemara) yang berada di tangan kirinya.

Sedangkan Sai-kong itu pun sudah berhasil menangkis tiga buah Gin-seng-piauw dengan golok besar di tangan kanannya.

Melihat ilmu sihirnya tidak mampu menundukkan dua orang wanita itu, baru Bu-lim Sai-kong menyadari bahwa dia berhadapan dengan dua orang wanita yang lihai, terutama Nyonya Bouw.

Maka setelah menangkis Gin-seng-piauw, dia langsung saja menyerang nyonya itu.

Bouw Hujin juga sengaja menghadapi kakek muka singa ini karena dia dapat menduga bahwa Si Muka Singa inilah yang merupakan lawan berbahaya.

Mungkin kalau bertanding ilmu silat, belum tentu Thian Hwa akan kalah karena tingkat kepandaian gadis Dewi Sungai Kuning itu tidak jauh selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri.

Akan tetapi agaknya Thian Hwa belum begitu kuat menghadapi serangan ilmu sihir.

Maka melihat Sai-kong itu menggerakkan goloknya yang menyeramkan, golok yang besar dan berat dengan punggung golok berbentuk gergaji, Bouw Hujin cepat memainkan sepasang pedangnya dengan Bu-tong Kiam-sut (Ilmu Pedang Bu-tong-pai) yang terkenal indah dan juga lembut namun kuat sekali.

Menghadapi golok besar yang digerakkan tenaga raksasa itu, Bouw Hujin cepat memainkan kedua pedangnya dengan ilmu pedang Thai-kek-kiam dari Bu-tong-pai.

"Mampus kau!"

Bu-lim Sai-kong membentak, bentakan yang tetap mengandung getaran hebat ilmu sihir yang sudah merupakan serangan pendamping, lalu goloknya menyambar dari kanan ke kiri mengarah ke leher Bouw Hujin.

Bouw Hujin bergerak cepat, menggunakan jurus Yancu-pok-cui (Burung Walet Menyambar Air), ia merendahkan tubuhnya, agak membungkuk, pedang kanan melintang depan kedua kakinya, pedang kiri diacungkan ke atas, lalu pedang kanan cepat menyambar ke atas membalas dengan tusukan dari bawah ke arah tenggorokan lawan sambil berdiri dengan kaki kanan, kaki kiri mengangkat lututnya.

Gerakannya lembut namun mengandung tenaga sin-kang dan tahu-tahu pedangnya sudah meluncur ke arah tenggorokan Bu-lim Sai-kong.

Kakek muka singa ini cepat menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaga untuk membuat pedang itu terpental.

Namun, seperti hidup pedang itu mengelak sehingga tidak sampai terpukul golok yang besar dan berat.

Perkelahian berlangsung seru dan menegangkan.

Gerakan Bu-lim Sai-kong bagaikan seekor harimau yang kuat dan kasar, menubruk dan mencengkeram, akan tetapi Bouw Hujin bergerak perlahan, seolah tanpa tenaga, terkadang diam, bagaikan seekor ular yang menghadapi serangan harimau yang kasar.

Biarpun gerakannya perlahan, namun waspada dan semua serangan dapat dihindarkan dengan baik, bahkan serangan balasannya terjadi cepat dan tidak terduga-duga sehingga sering kali Bu-lim Sai-kong berseru kaget.

Sementara itu, Thian Hwa yang marah sekali melihat musuh besarnya, sudah menerjang Pat-chiu Lo-mo dengan ilmu pedang Huang-ho Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sungai Kuning) yang khas.

Ilmu pedang ini gubahan Thian Bong Sianjin, merupakan perkembangan dari Kwan-im Kiam-hoat (Ilmu Pedang Dewi Kwan Im).

Pat-chiu Lo-mo yang memang sudah merasa jerih menghadapi Thian Hwa, segera terdesak hebat walaupun dia sudah melawan mati-matian dengan tongkatnya dan kipasnya.

Kakek kurus bongkok ini bahkan merasa terkejut karena dibandingkan sekitar dua tahun yang lalu, gadis ini ternyata kini jauh lebih lihai lagi!

Dia tentu saja tidak tahu bahwa gadis ini telah memperdalam lagi ilmu silatnya di bawah gemblengan gurunya yang juga menjadi kakek angkatnya!

Lebih panik lagi hatinya ketika dia sempat melirik ke arah temannya, ternyata Bu-lim Sai-kong yang amat dia andalkan, yang sudah membuka mulut besar meyakinkan hati Pangeran Leng bahwa mereka berdua pasti dapat membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Huang-ho Sian-li, sekarang juga terdesak hebat oleh Bouw Hujin yang agaknya tidak kalah lihai dibandingkan Huang-ho Sian-li!

Setelah bertanding selama tiga puluh jurus lebih dan mereka berdua semakin terdesak, Pat-chiu Lo-mo maklum bahwa tugasnya telah gagal dan kalau mereka tidak cepat pergi, akan berbahaya sekali bagi mereka.

"Sai-kong, kita pergi!"

Katanya dan dia membanting sebuah benda seperti bola yang meledak dan mengeluarkan asap hitam bergumpal-gumpal! "Tahan napas dan kejar!"

Bouw Hujin berseru.

Thian Hwa maklum dan ia pun cepat menerjang asap dan melakukan pengejaran bersama Nyonya Bouw.

Melihat dua bayangan kakek itu lari ke arah taman, mereka mengejar terus.

Tiba-tiba ada dua sinar menyambar ke arah Bouw Hujin dan Thian Hwa.

Ternyata itu adalah hui-to (pisau terbang) beracun yang disambitkan Pat-chiu Lo-mo.

Namun dengan mudah dua orang wanita perkasa itu menangkis dengan pedang mereka, lalu seperti diingatkan oleh serangan hui-to tadi, mereka menyerang sambil mengejar, menyambitkan senjata rahasia mereka dengan gencar.

Pek-hwa-ciam yang disambitkan Thian Hwa menjadikan Pat-chiu Lo-mo sebagai sasaran, sedangkan Gin-seng-piauw dari Nyonya Bouw menyerang Bu-lim Sai-kong.

Tiba-tiba Pat-chiu Lo-mo berteriak dan tubuhnya terpelanting.

Melihat kawannya roboh, Bu-lim Sai-kong cepat menyambar tubuh kawannya yang terluka dan melemparkan dengan tenaga yang kuat sekali ke arah kedua orang wanita yang mengejarnya!

Bouw Hujin dan Thian Hwa terkejut.

Cepat mereka mengelak dan pedang mereka berkelebat.

Tubuh Pat-chiu Lo-mo roboh dan tewas karena terbabat pedang dua orang wanita perkasa itu.

Akan tetapi bayangan Bu-lim Sai-kong sudah hilang dalam kegelapan malam.

Mereka maklum bahwa tidak ada gunanya mengejar dalam gelap, maka mereka lalu cepat berlari ke arah dalam istana dan kemudian ke halaman.

Ternyata para penyerbu itu sudah roboh semua.

Banyak yang tewas dan yang tertangkap mengaku bahwa mereka adalah anak buah Liong-bu-pang yang dipimpin oleh Phang Houw dan Louw Cin yang juga tewas di tangan Bouw Kun Liong dan Bu Kong Liang.

Tadi, Bouw Hwi Siang dan Gui Siang Lin juga mengamuk bagaikan dua ekor naga betina, merobohkan banyak penyerbu.

Di pihak Pangeran Bouw, terdapat beberapa orang prajurit yang tewas.

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa memaksa mereka yang tertawan untuk mengaku, siapa yang mengirim mereka dan apa maksud serbuan itu.

Mereka tidak berani menyangkal lagi dan mengatakan bahwa penyerbuan itu adalah siasat yang direncanakan Pangeran Leng Kok Cun bersama Pat-chiu Lo-mo, Bu-lim Sai-kong, Phang Houw dan Louw Cin dengan maksud membunuh Pangeran Bouw Hun Ki dan Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa!

"Hemm sekarang kesempatan bagiku untuk menangkap pengkhianat itu!"

Kata Thian Hwa marah di depan Pangeran Bouw yang sudah keluar dari persembunyiannya, dan yang lain-lain. Gadis ini marah sekali.

"Akan tetapi engkau harus membawa Tek-pai itu agar dia mau menyerahkan diri tanpa harus menggunakan kekerasan, Thian Hwa,"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki.

"Baik, Paman Pangeran,"

Kata Thian Hwa lalu malam itu juga ia pergi seorang diri dengan cepat menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Leng Kok Cun.

Bouw Hujin tidak melarang karena wanita ini percaya akan kemampuan Thian Hwa.

Para prajurit lalu dikerahkan mengurus mayat-mayat dan membawa musuh yang masih hidup menjadi tawanan ke penjara.

*** Pada malam hari itu, sebelum kaki tangan Pangeran Leng Kok Cun menyerbu gedung Pangeran Bouw, di gedung Pangeran Cu Kiong, pangeran itu bersama Ang-mo Niocu yang sudah menjadi kekasih barunya mengadakan pesta makan minum menyambut kedatangan dua orang penting utusan Jenderal Wu Sam Kwi.

Mereka adalah Lam-hai Cin-jin, guru Ang-mo Niocu, dan seorang lagi yang bernama Ngo-heng Kui-ong.

Mereka sengaja datang sebagai utusan Jenderal Wu Sam Kwi, menyusul Ang-mo Niocu yang berangkat lebih dulu, dan mereka ditugaskan membantu Pangeran Cu Kiong yang kini menjadi sekutu Jenderal Wu Sam Kwi.

Lam-hai Cin-jin, Datuk Selatan ini adalah guru Ang-mo Niocu.

Dia seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun dan dia menjadi orang kepercayaan Wu Sam Kwi, bahkan memiliki kedudukan sebagai Koksu (Guru Negara) dari pemerintahan Wu Sam Kwi yang berada di Yunnan-hu.

Lam-hai Cin-jin ini bertubuh pendek dengan perut gendut sekali, mukanya kekanak-kanakan.

Akan tetapi sesungguhnya dia adalah seorang yang sakti dan lihai, memiliki ilmu pukulan beracun yang disebut Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam).

Selain ahli racun yang pandai, Lam-hai Cin-jin juga memiliki ilmu silat tinggi dan tenaga sin-kang yang kuat.

Senjatanya berupa ruyung berduri amat berbahaya dan dahsyat.

Orang ke dua yang berjuluk Ngo-beng Kui-ong (Raja Setan Lima Nyawa) lebih menyeramkan lagi.

Usianya sudah sekitar delapan puluh tahun dan dia adalah susiok (paman guru) dari Lam-hai Cin-jin.

Wajahnya kurus dan pucat seperti mayat hidup, tubuhnya yang tinggi kurus itu dibungkus kain serba putih.

Kakek tua renta ini tampaknya lemah, akan tetapi sesungguhnya dia memiliki ilmu yang tinggi.

Ilmu silatnya aneh dan dahsyat karena mengandung tenaga sihir dan tenaga sakti, dan dalam hal racun, dia malah lebih lihai daripada Lam-hai Cin-jin.

Setelah mendengar semua penjelasan Ang-mo Niocu tentang keadaan di kota raja Kerajaan Ceng, dan tentang rencana yang telah diatur oleh gadis itu dan Pangeran Cu Kiong, dua orang kakek itu menjanjikan bahwa malam itu mereka pasti akan membunuh Pangeran Leng yang menjadi penghalang utama cita-cita Pangeran Cu Kiong.

Pangeran Cu Kiong lalu menjamu dua orang itu dan mereka sedang makan minum dengan gembira ketika mereka mendengar bahwa para jagoan pembantu Pangeran Leng bersama anak buahnya malam itu menyerbu gedung Pangeran Bouw Hun Ki di mana terdapat Pangeran Mahkota Kang Shi.

"Aha, ini kesempatan yang amat baik!"

Pangeran Cu Kiong berseru.

"Pangeran Leng tentu mengerahkan seluruh jagoannya ke gedung Pangeran Bouw Hun Ki dan dia berada sendirian di gedungnya. Kesempatan baik sekali bagi kita untuk membunuhnya. Aku sendiri akan ikut ke sana!"

Demikianlah, mereka semua pergi ke gedung Pangeran Leng.

Pangeran Cu Kiong diikuti Lam-hai Cin-jin, Ngo-beng Kui-ong, Ang-mo Niocu, dan tidak ketinggalan Thio Kwan dan Yu Kok Lun.

Setelah tiba di pintu gerbang rumah gedung Pangeran Leng Kok Cun, mudah saja mereka masuk.

Selain para prajurit penjaga mengenal dan takut kepada Pangeran Cu Kiong, juga mereka yang menentang dengan mudah dirobohkan oleh Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang selalu memperlihatkan "kegagahan"

Dan kegarangannya kalau berhadapan dengan lawan yang lemah.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Pangeran Leng Kok Cun ketika dia melihat Pangeran Cu Kiong dan para pengikutnya memasuki ruangan di mana dia duduk dengan gelisah, menanti berita hasil penyerangan orang-orangnya ke gedung Pangeran Bouw Hun Ki.

Dia melompat berdiri dan menyambar pedang yang berada di atas meja.

"Dinda Pangeran Cu Kiong! Apa maumu datang memasuki rumahku dengan rombongan seperti perampok ini?!"

Bentaknya marah. Pangeran Cu tersenyum mengejek.

"Pangeran Leng Kok Cun,"

Katanya tanpa menyebut kakanda lagi.

"Aku datang untuk menangkapmu. Engkau pengkhianat yang mengirim orang-orang untuk membunuh Adinda Pangeran Mahkota Kang Shi di rumah Paman Pangeran Bouw Hun Ki!"

Wajah Pangeran Leng menjadi merah sekali saking marahnya.

"Jahanam! Engkau sendiri bagaimana? Engkau juga ingin merebut tahta, engkau lebih pengkhianat, dan engkau hendak menangkap aku?"

Setelah berkata demikian, dia menerjang maju hendak menyerang adik tirinya dengan pedangnya.

Pangeran Cu Kiong cepat melompat ke belakang Lam-hai Cin-jin untuk berlindung karena dia maklum bahwa dalam hal ilmu silat, dia tidak akan menang melawan kakak tirinya ini yang jauh lebih lihai daripadanya.

Ketika Pangeran Leng hendak mengejar, tiba-tiba Ang-mo Niocu melompat ke depan dan cepat sekali tangannya digerakkan untuk memukul pundak Pangeran Leng.

Pangeran ini marah dan cepat menggerakkan pedangnya untuk membabat putus lengan gadis itu.

Akan tetapi, Ang-mo Niocu yang lihai malah menangkap pedang itu dengan tangannya dan pedang dalam genggamannya itu seperti melekat kuat pada telapak tangannya.

Kemudian, selagi Pangeran Leng terkejut dan berusaha menarik lepas pedangnya, tangan kanan gadis itu bergerak menotok ke arah dada Pangeran Leng.

Tanpa dapat mengeluarkan suara Pangeran Leng terkulai roboh dan tidak mampu bergerak lagi karena sudah tertotok jalan darahnya!

Pada saat itu terdengar suara ribut-ribut di luar ruangan itu.

Mendengar ini, cepat Pangeran Cu Kiong keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Dia merasa bahwa sebagai seorang pangeran dia akan dapat menguasai keluarga Pangeran Leng agar tidak melakukan perlawanan.

Akan tetapi, setelah tiba di luar, dia melihat kejadian yang membuat wajahnya berubah pucat.

Din melihat Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa sedang mengamuk, dikeroyok oleh belasan orang prajurit pengawal.

Dalam waktu sebentar saja semua pengeroyok itu roboh di tangan gadis yang gagah perkasa itu.

Pangeran Cu cepat kembali ke ruangan tengah dan memberi-tahu para pembantunya akan kedatangan Huang-ho Sian-li.

"Kebetulan ia muncul, mungkin ingin menangkap Pangeran Leng. Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), tolong tangkap hidup-hidup gadis itu!"

Ang-mo Niocu menyentuh lengan pangeran itu. Dengan alis berkerut ia berbisik.

"Pangeran, agaknya Paduka tertarik oleh kecantikan Huang-ho Sian-li?"

"Ih, tidak begitu, Niocu. Ia mempunyai Tek-pai, ingat? Kita harus memanfaatkannya. Locianpwe Ngo-beng Kui-ong, tolong tangkaplah gadis itu hidup-hidup. Kami mempunyai rencana yang baik sekali untuk keuntungan kita!"

Ngo-beng Kui-ong saling pandang dengan keponakan muridnya dan Lam-hai Cin-jin memandang muridnya. Ang-mo Niocu mengangguk sebagai isyarat bahwa ia setuju dengan permintaan Pangeran Cu.

"Mundurlah, Pangeran. Biar kami menangkapnya dan tunggu sampai ia masuk ke sini, dengan demikian ia tidak akan mampu meloloskan diri,"

Kata Lam-hai Cin-jin.

Pangeran Cu lalu menyeret tubuh Pangeran Leng yang tidak mampu bergerak atau bersuara itu ke sudut ruangan, ditemani Ang-mo Niocu, Thio Kwan, dan Yu Kok Lun.

Adapun Lam-hai Cin-jin dan Ngo-beng Kui-ong dengan tenangnya menanti dan bersembunyi di dekat pintu.

Mereka tidak menanti lama.

Setelah merobohkan semua pengeroyoknya, Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa berkelebat dan melompat masuk ke dalam ruangan besar itu, hendak mencari Pangeran Leng Kok Cun.

Begitu tiba dalam ruangan itu, pandang matanya tertarik ke arah Pangeran Cu Kiong yang berdiri di sudut bersama Ang-mo Niocu, gadis berpayung merah yang pernah dijumpainya, dan dua orang pengawalnya yang juga sudah dikenalnya, yaitu Thio Kwan dan Yu Kok Lun.

Ia merasa heran sekali bagaimana bisa menemukan Pangeran Cu Kiong di gedung Pangeran Leng Kok Cun.

Akan tetapi ia lalu melihat tubuh Pangeran Leng menggeletak di atas lantai, di belakang Pangeran Cu Kiong.

Ia tidak dapat terlalu lama berheran-heran, juga tidak sempat bicara karena pada saat itu angin yang kuat sekali menyambar dari belakangnya dan ternyata ia diserang oleh seorang kakek pendek gendut yang gerakannya kuat sekali.

Kakek itu mencengkeram ke arah pundaknya, agaknya hendak menangkapnya.

Thian Hwa cepat mengelak dengan cepat maju ke depan, memutar tubuh dan pedangnya sudah menyambar dengan tusukan ke lambung lawan.

Lam-hai Cin-jin yang tadinya memandang ringan, terkejut sekali dan cepat dia pun melompat ke samping untuk menghindarkan diri.

Akan tetapi dengan gerakan yang indah namun cepat Thian Hwa sudah menyerang lagi dengan sabetan pedangnya.

Begitu dihindarkan dengan elakan, ia menyerang terus secara beruntun dan sambung menyambung!

"Ehhh...?"

Lam-hai Cin-jin terhuyung dan terdesak.

Dia lalu mencabut senjatanya tongkat atau ruyung berduri dan ketika sinar pedang kembali menyambar, dia menangkis dengan pengerahan tenaga saktinya untuk membuat pedang gadis itu terlepas dan terpental.

"Trangggg...!"

Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika pedang bertemu ruyung.

Akan tetapi pedang itu sama sekali tidak terlepas dari tangan Thian Hwa dan ketika terpental, malah membuat gerakan melengkung ke bawah dan kini membabat kaki Lam-hai Cin-jin!

Kembali ruyung itu menangkis, akan tetapi pedang Thian Hwa terus membuat serangan bertubi-tubi.

Betapa pun lihainya, Lam-hai Cin-jin memegang senjata yang berat sehingga gerakan ruyungnya tentu saja tidak dapat mengimbangi kecepatan gerakan pedang.

Maka untuk menangkis terus, tentu saja dia tidak sempat dan dia harus berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang yang amat dahsyat itu!

Lam-hai Cin-jin sama sekali tidak mengira bahwa Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa sedemikian lihainya.

Pangeran Cu Kiong memang sudah memberitahu bahwa gadis itu lihai sekali, akan tetapi melihat bahwa ia hanya seorang gadis muda yang sepatutnya menjadi cucunya, dia menganggap pujian Pangeran Cu Kiong itu terlalu dilebihkan.

Kini dia mendapat kenyataan pahit bahwa gadis itu benar-benar mampu menandingi dan mengimbanginya, bahkan ketika bertanding senjata membuat dia kerepotan!

Mulailah dia merasa penasaran dan malu terhadap Ngo-beng Kui-ong dan yang lain-lain, rasa malu yang berubah menjadi kemarahan.

Dia lupa bahwa dia diminta untuk menangkap gadis ini hidup-hidup.

"Huahhhh...!"

Tiba-tiba dia membentak dan tangan kirinya memukul dari jarak jauh dengan dorongan telapak tangannya yang berubah hitam sekali!

Thian Hwa maklum bahwa lawannya menyerang dengan tenaga sakti yang mengandung hawa beracun, maka cepat ia mengerahkan semua tenaga saktinya dan menyambut serangan itu dengan dorongan tangan kirinya pula.

Hawa dingin yang menyambar keluar dari telapak tangannya menyambut hawa panas yang menyambar keluar dari tangan Lam-hai Cin-jin.

"Wyuuuuttt... blarrr...!"

Tubuh Thian Hwa terhuyung ke belakang, akan tetapi tubuh Lam-hai Cin-jin juga mundur sampai lima langkah!

Ternyata tenaga sakti mereka pun seimbang!

Akan tetapi dalam keadaan terhuyung tadi, terdengar suara tawa meringkik seperti suara tawa seekor kuda dan Ngo-beng Kui-ong telah bergerak maju.

Tangan kanannya bergerak dan Thian Hwa yang berada dalam keadaan terhuyung dan masih tergetar oleh pertemuan tenaga sakti yang dahsyat tadi, tidak mampu lagi menghindarkan diri karena gerakan tangan kakek yang seperti mayat hidup ini demikian ringan dan lembut seperti angin berhembus dan tahu-tahu pundaknya telah ditotok.

Thian Hwa mengeluh dan roboh terkulai, lemas.

Pedangnya segera dirampas oleh Lam-hai Cin-jin dan diserahkan kepada Pangeran Cu Kiong.

"Bukan main... hebat juga gadis ini..."

Lam-hai Cin-jin memuji.

"Sudah kami ceritakan bahwa ia amat lihai, Locianpwe,"

Kata Pangeran Cu Kiong sambil menghampiri Thian Hwa dan mengambil kantung berisi Pek-hwa-ciam yang tergantung di pinggang gadis itu.

Kemudian pangeran itu memerintahkan Thio Kwan dan Yu Kok Lun untuk membelenggu kedua pergelangan kaki dan tangan Thian Hwa karena dia khawatir kalau gadis yang amat lihai itu dapat meloloskan diri.

Atas permintaannya, Ngo-beng Kui-ong menambahi totokan yang membuat Thian Hwa selain tidak mampu bergerak karena lemas, juga tidak mampu mengeluarkan suara!

"Niocu, geledah ia dan ambil Tek-pai yang pasti ada padanya,"

Kata Pangeran Cu Kiong.

Sebagai seorang pangeran, selain sudah biasa memerintah, juga dia tidak mau bertindak kasar dan tidak sopan untuk menggeledah dan meraba-raba sendiri tubuh seorang gadis.

Ang-mo Niocu menghampiri Thian Hwa yang sudah terbelenggu dan rebah telentang.

Melihat mata Thian Hwa memandang kepadanya dengan sinar mencorong, Ang-mo Niocu tersenyum.

Gadis ini pernah menghinanya dan tidak mau bekerja sama kiranya sekarang bahwa Huang-ho Sian-li adalah puteri seorang pangeran Mancu!

Ia cepat menggerayangi tubuh Thian Hwa dan akhirnya ia menemukan Tek-pai itu yang berada di dalam ikat pinggang.

Thian Hwa memang membawa Tek-pai itu yang tadinya ia maksudkan untuk dipergunakan menangkap Pangeran Leng tanpa harus menggunakan kekerasan.

"Bagus sekali!"

Pangeran Cu Kiong menerima Tek-pai itu dengan gembira.

Kemudian ia mengambil tiga batang Pek-hwa-ciam dari kantung senjata rahasia yang tadi dia ambil dari pinggang Thian Hwa, lalu dia menghampiri Pangeran Leng yang masih menggeletak telentang di atas lantai.

Tiga kali tangan Pangeran Cu bergerak dan dia sudah menyambitkan jarum-jarum itu dari jarak dekat dan tepat mengenai ulu hati, tenggorokan, dan dahi Pangeran Leng Kok Cun.

Tubuh pangeran itu berkelojotan sejenak lalu tewas!

"Mengapa engkau lakukan itu, Pangeran?"

Tanya Ang-mo Niocu dengan sikap manja kepada Pangeran Cu Kiong.

Melihat sikap gadis ini, tahulah Thian Hwa bahwa Ang-mo Niocu telah bergaul akrab dan bukan aneh kalau kini ia menjadi kekasih pangeran itu.

Ada rasa panas di hatinya, tanda bahwa ia masih mempunyai rasa cemburu karena bagaimanapun juga, pangeran itu merupakan orang atau pria pertama yang menjatuhkan hati Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa.

Akan tetapi kini perasaan cemburu itu bahkan memperbesar rasa bencinya terhadap Pangeran Cu Kiong.

"Mengapa aku melakukan ini? Ha-ha, kini Huang-ho Sian-li datang membunuh Pangeran Leng Kok Cun dan aku sebagai adiknya telah menangkap Si Pembunuh. Bagus, bukan?"

"Ha-ha-ha, siasat yang bagus sekali!"

Lam-hai Cin-jin juga tertawa memuji kecerdikan pangeran itu.

Melihat ini semua, diam-diam Thian Hwa terkejut dan merasa ngeri menyaksikan kekejaman dan kejahatan yang terjadi di depan matanya tanpa ia mampu berbuat apa-apa.

Demi mencapai keinginannya yang sesat, yaitu menguasai tahta kerajaan, Pangeran Cu Kiong ini agaknya telah bersekutu dengan Jenderal Wu Sam Kwi, buktinya Nona Payung Merah itu bersamanya.

Dan yang lebih keji lagi, dengan tangannya sendiri dia membunuh Pangeran Leng Kok Cun, kakaknya sendiri satu ayah berlainan ibu!

Kini Pangeran Cu Kiong melanjutkan rencananya.

Dia segera berteriak-teriak!

"Pembunuhan!

Pembunuhan...!"

Diikuti pula oleh Thio Kwan, Yu Kok Lun, dan juga Ang-mo Niocu.

Gegerlah para penghuni di gedung itu.

Keluarga Pangeran Leng, para pelayan pembantu dan para pengawal berlari-lari ke ruangan itu.

Para selir Pangeran Leng dan isterinya, juga beberapa orang anaknya, segera merubung jenazah itu dan mereka menangis hiruk pikuk.

Ketika keluarga itu mendengar bahwa pembunuhnya adalah Ciu Thian Hwa yang sudah tertangkap oleh Pangeran Cu Kiong, mereka hendak menyerang gadis yang sudah terbelenggu kaki tangannya itu.

Akan tetapi Pangeran Cu Kiong mencegah mereka.

"Jangan diganggu. Ia sudah kami tangkap dan akan kami ajukan dalam persidangan! Ia harus dihukum berat sebagai pembunuh Kakanda Pangeran Leng Kok Cun dan diusut siapa yang menyuruh ia melakukan pembunuhan terkutuk ini!"

Karena Pangeran Cu Kiong adalah adik Pangeran Leng Kok Cun, bahkan yang telah menangkap pembunuhnya, biarpun biasanya kedua orang kakak beradik ini tidak akrab hubungan mereka, maka para keluarga Pangeran Leng menurut saja ketika diatur oleh Pangeran Cu Kiong.

*** Kota raja gempar!

Ada dua berita yang menggemparkan para pejabat dan keluarga kerajaan, bahkan yang menggegerkan penduduk, yaitu pertama, berita tentang penyerbuan puluhan orang ke gedung Pangeran Bouw Hun Ki yang menjadi pelindung Pangeran Mahkota Kang Shi dan akhirnya semua penyerbu tewas atau tertawan.

Adapun berita kedua adalah terbunuhnya Pangeran Leng Kok Cun dan pembunuhnya, yaitu Huang-ho Sian-li, telah tertangkap!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi semua pejabat tinggi dan keluarga kerajaan telah berkumpul di pendapa gedung Pangeran Leng Kok Cun yang luas.

Jenazah Leng Kok Cun berada dalam sebuah peti mati yang belum tertutup.

Di antara para anggota keluarga Pangeran Leng yang berkumpul di dekat peti, tampak juga Pangeran Cu Kiong yang bersikap keren.

Pada pagi hari itu pendapa menjadi tempat pelayatan dan juga perundingan.

Sidang darurat diadakan atas permintaan Pangeran Cu Kiong, dan Pangeran Bouw Hun Ki sebagai pejabat kaisar sementara terpaksa memenuhi permintaan itu karena peristiwa itu mendatangkan kegemparan dan amat gawat.

Apalagi dengan tertangkapnya Thian Hwa yang dituduh sebagai pembunuh Pangeran Leng.

Persidangan diadakan di ruangan yang pintunya menembus ke pendapa.

Yang menghadiri persidangan ini adalah semua pejabat tinggi dan para pangeran, seperti yang diadakan ketika mereka membicarakan tentang diangkatnya Pangeran Mahkota Kang Shi sebagai calon kaisar baru.

Setelah semua berkumpul dan suasana sunyi karena semua orang dengan tegang memandang kepada Pangeran Bouw Hun Ki yang duduk di kursi pimpinan sidang, Pangeran Bouw lalu menceritakan terjadinya peristiwa semalam.

"Serombongan orang melakukan pengacauan di tengah malam, mereka melakukan pembakaran di rumah kami dengan melepas anak panah berapi, kemudian menyerbu ke dalam. Kami melakukan perlawanan dan akhirnya semua penyerbu yang jumlahnya sekitar lima puluh orang itu dapat ditumpas, sebagian besar tewas dan ada pula yang tertawan. Mereka dipimpin oleh empat orang tokoh sesat, dan tiga di antara mereka dapat terbunuh. Hanya seorang di antara semua penyerbu yang dapat meloloskan diri. Dari mereka yang tertangkap hidup kami mengetahui bahwa pimpinan mereka adalah Pat-chiu Lo-mo, Phang Houw, dan Louw Cin yang telah tewas. Seorang lagi berjuluk Bu-lim Sai-kong yang sempat melarikan diri. Dan mereka itu ternyata diperintahkan Pangeran Leng Kok Cun untuk mengacau melakukan pembunuhan terhadap kami, dan bukan tidak mungkin juga mereka bermaksud membunuh Pangeran Mahkota Kang Shi."

"Tidak mungkin!"

Tiba-tiba Pangeran Cu Kiong berdiri dan berseru nyaring.

"Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tidak memusuhi Adinda Pangeran Kang Shi. Kami adalah kakak beradik, tidak mungkin akan saling bermusuhan dan saling bunuh. Mungkin yang dimusuhi adalah Pamanda Pangeran Bouw Hun Ki dan wanita jahat Huang-ho Sian-li karena mereka telah menghalangi kami semua putera-putera mendiang Ayahanda Kaisar Shun Chi memegang tampuk pemerintahan membantu Adinda Kang Shi! Buktinya, malam tadi ketika kami berkunjung ke rumah Kakanda Pangeran Leng Kok Cun, kami melihat perempuan jahat Huang-ho Sian-li berada di sana. Kami terlambat karena ia telah berhasil membunuh Kakanda Pangeran Leng Kok Cun. Akan tetapi kami dapat menangkap penjahat keji itu!"

"Pangeran Cu Kiong!"

Tiba-tiba Pangeran Ciu Wan Kong bangkit berdiri dan berseru marah kepada keponakannya itu.

"Engkau sebut-sebut Huang-ho Sian-li penjahat keji, padahal ia adalah saudara sepupumu sendiri, puteriku bernama Ciu Thian Hwa! Aku yakin semua ceritamu itu fitnah belaka! Aku menuntut agar puteriku dihadirkan dalam persidangan ini!"

"Tidak mungkin, Paman Pangeran Ciu! Biarpun saudara sepupuku, kalau ia demikian jahat dan kejam membunuh Kakanda Pangeran Leng, sudah seharusnya kami tangkap dan kami tahan. Berbahaya sekali, dan aku khawatir kalau dia dihadirkan di sini, akan membikin onar dan siapa tahu, teman-temannya akan mencoba untuk membebaskannya! Ia harus diseret ke dalam pengadilan, atau kami sendiri yang akan menghukumnya! Kami berhak membalas atas kematian saudara tua kami!"

"Pangeran Cu Kiong, engkau tidak boleh bertindak sewenang-wenang menghukum puteriku!"

Teriak Pangeran Ciu Wan Kong marah.

"Pengadilan harus melakukan dengan seadil-adilnya! Semua tuduhan yang tidak ada bukti-bukti dan saksi-saksinya, hanyalah fitnah belaka!"

"Fitnah? Siapa yang mengatakan fitnah? Bukti dan saksi sudah lebih dari cukup. Buktinya? Mari kita lihat bersama! Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tewas karena diserang jarum oleh Huang-ho Sian-li. Apakah itu bukan bukti yang amat kuat? Siapa lagi yang memiliki senjata rahasia jarum bunga putih selain Huang-ho Sian-li?"

"Mari kita lihat bersama!"

Pangeran Bouw Hun Ki yang merasa penasaran menyetujui.

Maka berbondong-bondong mereka yang bersidang itu keluar dari ruangan itu dan menghampiri peti jenazah yang masih terbuka.

Tampak jelas bahwa ada tiga batang jarum bunga putih menancap di dahi antara kedua alis, tenggorokan, dan menembus baju tepat di ulu hati jenazah itu.

Mereka lalu kembali ke ruangan sidang.

"Nah, bukankah sudah terbukti bahwa Kakanda Pangeran Leng Kok Cun tewas oleh tiga batang jarum Pek-hwa-ciam milik Huang-ho Sian-li? Dan tentang saksi, seluruh keluarga Kakanda Pangeran Leng menjadi saksi bahwa yang membunuhnya adalah Huang-ho Sian-li!"

"Bohong! Bukti itu dapat saja dibikin dan para saksi adalah keluarga Pangeran Leng yang memang memusuhi puteriku!"

Pangeran Ciu Wan Kong membantah. Terjadi ketegangan dan Pangeran Bouw Hun Ki yang bijaksana cepat menengahi.

"Cukup! Kami sebagai pejabat kaisar sementara, memerintahkan kalian semua agar menghentikan perbantahan ini. Amat tidak bersusila untuk ribut-ribut membuat pertengkaran di rumah duka. Kita harus menghormati jenazah Pangeran Leng Kok Cun. Urusan ini, nanti kita putuskan dengan mengadakan persidangan yang dihadiri semua pejabat tinggi di dalam istana! Pangeran Cu Kiong, walaupun engkau sudah dapat memperlihatkan bukti kematian Pangeran Leng Kok Cun, akan tetapi engkau tidak berhak untuk menghakimi sendiri. Semua harus diserahkan kepada pengadilan untuk memutuskan salah atau tidak dan untuk menjatuhkan hukuman. Siapa pun yang bersalah pasti akan dihukum. Sekarang, persidangan darurat ini dibubarkan."

"Nanti dulu!"

Teriak Pangeran Ciu Wan Kong.

"Karena puteriku ditahan oleh Pangeran Cu Kiong, maka aku tekankan bahwa dia harus bertanggung jawab atas keselamatan puteriku Ciu Thian Hwa sampai ia dihadapkan di pengadilan!"

Cu Kiong, pangeran muda yang merasa dirinya sudah memegang kunci kemenangan itu, tersenyum.

"Jangan khawatir, Paman Pangeran Ciu Wan Kong. Aku bukan orang jahat, dan aku hanya hendak menuntut pembunuh Kakakku agar diadili. Huang-ho Sian-li tidak akan diganggu sebelum ia diadili di pengadilan!"

Semua orang bubar dan setelah jenazah Pangeran Leng Kok Cun dimakamkan, Pangeran Bouw Hun Ki memanggil semua kerabat keluarga istana dan para pejabat tinggi untuk mengadakan persidangan di istana.

Sebagai pejabat sementara persidangan itu pun dipimpin oleh Pangeran Bouw Hun Ki berunding dengan isterinya, kedua anaknya Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang, dan dua orang murid Siauw-lim-pai yang membantu mereka, yaitu Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin.

Empat orang muda yang merasa kagum kepada Ciu Thian Hwa dengan penuh semangat mengusulkan untuk menyerbu rumah Pangeran Cu Kiong dan membebaskan Thian Hwa.

Akan tetapi Pangeran Bouw Hun Ki melarang mereka.

"Amat tidak bijaksana kalau kita melakukan hal itu. Kekerasan itu bahkan akan melemahkan pihak kita di sidang pengadilan, dan menguatkan kedudukan Pangeran Cu Kiong,"

Katanya.

"Ayah kalian benar,"

Kata Bouw Hujin kepada dua orang anaknya.

"Kalau kita melakukan kekerasan membebaskan Thian Hwa, hal itu amat merugikan. Pertama, Thian Hwa tentu disembunyikan dan dijaga ketat sehingga tidak mudah untuk membebaskannya. Kedua, kalau Thian Hwa sampai tertawan, pasti ada orang sakti di pihak Pangeran Cu Kiong yang menjaganya sehingga pembebasan itu tidak akan mudah dilakukan. Ketiga, kalau kita berkeras membebaskannya, bisa saja Pangeran Cu Kiong yang kejam itu malah langsung membunuhnya. Masih ada lagi hal-hal penting lain, misalnya Tek-pai yang dibawa Thian Hwa. Maka sebaiknya kita menunggu sampai diadakannya persidangan di istana itu di mana kita dapat melihat apa yang sesungguhnya dikehendaki Pangeran Cu Kiong. Aku sendiri tetap tidak percaya bahwa Thian Hwa membunuh Pangeran Leng Kok Cun. Bagaimana mungkin demikian kebetulan, orang-orang Pangeran Leng menyerbu ke sini dan ketika Thian Hwa pergi hendak menangkap Pangeran Leng, di sana terdapat Pangeran Cu Kiong? Tentu benar seperti dikatakan Adinda Pangeran Ciu Wan Kong tadi. Puterinya itu tentu difitnah, dan sudah jelas bahwa Thian Hwa tertawan dan dijadikan kambing hitam sebagai pembunuh Pangeran Leng."

"Akan tetapi, Ibu. Bagaimana mungkin Enci Thian Hwa yang demikian tinggi ilmu silatnya dapat ditawan Pangeran Cu Kiong?"

Tanya Bouw Hwi Siang penasaran.

"Seperti kukatakan tadi, Pangeran Cu Kiong agaknya mempunyai pembantu yang amat lihai. Aku teringat sekarang akan pemberitahuan dari Thian Bong Sianjin ketika dia berkunjung ke rumah kita. Dia menceritakan bahwa Pangeran Cu Kiong bersekutu dengan Wu Sam Kwi dan bahwa Raja Muda Wu Sam Kwi mengirim dua orang yang sakti ke kota raja."

"Hemm, aku juga teringat, ketika aku datang melayat di rumah Pangeran Leng, ada dua orang kakek yang aneh duduk tidak jauh dari Pangeran Cu. Yang seorang bertubuh pendek gendut berwajah kekanak-kanakan, berpakaian mewah, sedangkan orang ke dua yang tampak tua sekali berpakaian serba putih, tinggi kurus dan seperti mayat hidup. Agaknya mereka itulah orang-orang sakti yang kini membantu Pangeran Cu."

"Nah, kita perlu berhati-hati. Aku kira Pangeran Cu tidak akan berani mengganggu Thian Hwa sebelum diadakan persidangan di istana karena hal itu pasti membuat sebagian besar pejabat tinggi menjadi marah. Semua orang tahu bahwa Thian Hwa adalah pemegang Tek-pai, maka ia dihormati semua orang. Padahal melihat rencananya menguasai tahta kerajaan, Pangeran Cu Kiong membutuhkan simpati dan dukungan para pejabat tinggi,"

Kata Pangeran Bouw dan mendengar ini, hati mereka yang muda seperti Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang, dan Gui Siang Lin menjadi lebih tenang.

*** "Hai, Paman Lu, sepagi ini engkau sudah bekerja di ladang sambil bersenandung!

Paman, jawablah, apakah Paman merasa bahagia?"

Tanya seorang pemuda berpakaian serba putih, berwajah tampan gagah, menggendong buntalan pakaian yang memanjang, kepada seorang petani setengah tua yang mencangkul di ladang.

"Bahagia? Apa sih bahagia itu?"

Jawab Si Petani, menunda pekerjaannya dan memandang pemuda itu dengan heran.

"Semua orang mencari bahagia. Mengapa Paman malah tidak mengerti apa bahagia itu?"

Pemuda itu bertanya heran.

"Lho, aku memang tidak mengenal dan bahkan tidak butuh bahagia! Untuk apa sih? Apa kaumaksudkan bahagia itu senang? Rasa hati senang, tidak susah? Yang penting bukan mencari rasa senang, akan tetapi menyelidiki mengapa hati tidak senang. Kalau hati merasa tidak senang kita lalu mencari agar perasaan hati senang. Dalam keadaan hati tidak senang mana mungkin mengubahnya menjadi rasa senang?"

"Hem, kalau begitu, bagaimana agar hati bisa senang, Paman?"

"Kukira tidak ada caranya mencari rasa senang itu, karena perasaan itu muncul dengan sendirinya. Yang terpenting adalah menghilangkan perasaan tidak senang atau susah itu. Seperti orang sakit mencari sehat, mana mungkin? Yang penting mencari tahu apa yang menyebabkan sakit itu dan menghilangkannya. Orang sakit memang ingin sekali sehat. Akan tetapi kalau orang tidak sakit, apakah membutuhkan sehat? Kalau ada kelilip di mata, jangan mencari mata agar nyaman, tapi cari dan buang kelilip itu."

"Kalau begitu, engkau orang bahagia, Paman."

Pemuda itu tertawa lalu pergi.

Dia itu Si Han Bu.

Seperti kita ketahui, pemuda ini oleh gurunya, Im Yang Sian-kouw, disuruh turun gunung memanfaatkan semua ilmunya untuk berjuang menegakkan kebenaran dan keadilan sebagai seorang pendekar silat.

Selain itu, juga Han Bu dipesan oleh gurunya yang dia hormati dan sayangi seperti kepada ibunya sendiri, untuk mencari ayah gurunya yang bernama Cui Sam, dan mencari puteri ibunya yang belum sempat diberi nama karena ketika masih bayi lenyap terbawa arus air Sungai Huang-ho yang sedang banjir.

Dia pun sudah mendengar semua riwayat gurunya dan tahu bahwa gurunya dahulu menikah dengan seorang pangeran, yaitu Pangeran Ciu Wan Kong di kota raja.

Karena dia tidak tahu di mana adanya Kakek Cui Sam yang menurut gurunya berasal dari dusun Kia-jung di sebelah selatan Thian-cin, juga sama sekali tidak tahu di mana adanya puteri gurunya yang tanpa nama itu, dia mengambil keputusan untuk pergi saja ke kota raja.

Mencari Pangeran Ciu Wan Kong tentu jauh lebih mudah!

Apalagi Pangeran Ciu Wan Kong dalam keadaan sehat ketika ditinggalkan oleh gurunya secara paksa, sedangkan Kakek Cui Sam dan bayi itu terpisah dari gurunya dalam keadaan terseret arus air dan sedikit sekali kemungkinan masih hidup.

Maka berangkatlah dia ke kota raja.

Bukan mustahil kalau Pangeran Ciu Wan Kong mengetahui di mana adanya ayah mertua dan puterinya itu.

Demikianlah, dengan menunggang kuda yang dibelinya di jalan dan selalu diganti dan ditukar-tambahkan dengan kuda baru kalau kudanya yang lama sudah terlalu letih, Si Han Bu dapat tiba di kota raja dengan cepat.

Karena sejak kecil tinggal di puncak Bukit Kera dan paling jauh dia pergi ke dusun-dusun di kaki pegunungan, maka selama dalam perjalanan, kalau melewati kota besar, Han Bu tiada hentinya mengagumi rumah-rumah tembok besar dan toko-toko yang penuh dengan barang beraneka macam.

Akan tetapi begitu memasuki kota raja dia sering dibuat bengong melihat keindahan gedung-gedung istana para pangeran, bangsawan tinggi dan pejabat tinggi.

Dia seperti seorang pemuda dusun masuk kota raja, berjalan perlahan-lahan menengok ke kanan kiri dengan bengong dan bingung.

Kudanya telah dia jual ketika memasuki pintu gerbang kota raja.

Selain kuda itu sudah terlalu letih, juga dia tidak merasa perlu menunggang kuda dalam kota raja.

Orang-orang yang bertemu dengannya tidak menaruh perhatian.

Dia adalah seorang pemuda tinggi besar gagah dan tampan.

Pakaiannya serba putih dengan sedikit garis dan kembang biru, akan tetapi potongan baju itu biasa saja sehingga tidak mencolok.

Dia menggendong buntalan pakaian yang agak memanjang karena dia menyembunyikan pedangnya dalam buntalan pakaian pula.

Gurunya memberitahu bahwa kini pemerintah melarang orang membawa senjata, maka dia harus menyembunyikan pedangnya itu dalam buntalan.

Ketika matanya melihat papan nama dengan tulisan besar SIN AN LIKOAN (Penginapan Sin An), dia berhenti melangkah.

Sebuah rumah penginapan yang tampaknya tidak begitu besar namun cukup teratur rapi dan bersih.

Tentu tidak terlalu mahal, pikirnya.

Hari sudah sore dan lebih baik kalau lebih dulu mendapatkan sebuah kamar, pikirnya.

Dia lalu memasuki rumah penginapan itu dan seorang pelayan berusia sekitar tiga puluh tahun menyambutnya.

Baca Juga: Istana Pulau Es 12

Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert