Ceritasilat Novel Online

Istana Pulau Es 12

Eps 12 Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Baca online Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo

Cersil Istana Pulau Es - Kho Ping Hoo.

"Suma Hoat seorang yang baik dan dia bersikap baik kepadaku, sedangkan ayahnya adalah musuh besarmu!"

"Hemmm, betapa tepat wejangan Suhu dahulu! Hutang budi dan dendam hanya merupakan bunga dari sifat sayang diri belaka. Sumoi, andaikata Suma Kiat tidak berbuat yang merugikan keluargamu, andaikata dia melakukan hal yang baik seperti yang dilakukan puteranya, tentu dia takkan kauanggap musuh. Jadi, sama sekali bukan pribadinya yang membuat engkau mendendam, melainkan perbuatannya terhadap dirimu! Kalau perbuatan itu baik dan menguntungkan dirimu, maka engkau merasa berhutang budi! Kalau perbuatannya buruk bagimu dan merugikan dirimu, tentu akan kauanggap sebagai dendam sakit hati yang harus dibalas. Dengan demikian, maka terciptalah rantai yang tiada putusnya berupa balas membalas, baik membalas budi maupun membalas dendam!"

"Bukankah itu sudah seharusnya demikian, Suheng? Sudah adil kalau budi dendam dibalas sehingga menjadi adil namanya? Bukankah sudah demikian pada umumnya hukum karma?"

Han Ki menggeleng kepalanya.

"Memang demikianlah pendapat umum yang telah menjadi tradisi usang. Karena kepercayaan dan pendapat turun-temurun seperti inilah membuat kita terseret ke dalam arus yang dibuat manusia sendiri dan dinamakan karma. Mata rantai itu terbentuk dari perbuatan-perbuatan yang menghendaki akhiran yang menyenangkan, perbuatan-perbuatan yang bertujuan, berpamrih. Apakah artinya perbuatan baik maupun buruk kalau didasari tujuan tertentu, berpamrih yang bukan lain hanya pencetusan dari rasa sayang diri belaka? Perbuatan demikian itu, baik maupun buruk, adalah perbuatan yang tidak wajar, yang palsu dan karenanya selalu berkelanjutan dan berekor tiada kunjung putus dan menjadi hukum karma. Layaknya kalau hidup kita ini hanya kita isi dengan perbuatan-perbuatan palsu yang lebih patut disebut hutang-pihutang? Tiada kebebasan, tiada kewajaran sama sekali?"

Mendengar pendapat yang baru sama sekali ini, yang belum pernah dia mendengarnya, Siauw Bwee terkejut dan juga terheran, memandang suhengnya dengan alis berkerut dan dia membantah.

"Akan tetapi, Suheng! Apakah engkau hendak menganjurkan agar kita tidak usah mengenal dan membalas budi? Suheng! Orang yang tidak mengenal budi adalah orang yang rendah dan tidak baik!"

Kembali Han Ki menggeleng kepalanya, memandang sumoinya dengan tajam lalu berkata, suaranya bersungguh-sungguh.

"Ucapanmu itu mencerminkan pandangan umum, namun sesungguhnya pandangan seperti itu adalah tidak tepat, Sumoi."

"Mengapa tidak tepat? Orang harus selalu mengingat budi orang lain yang dilimpahkan kepadanya dan berusaha untuk membalas budi itu!"

"Cobalah renungkan dalam-dalam dan dengarkan baik-baik kata-kataku ini, Sumoi. Orang yang mengingat dan membalas budi orang lain adalah orang yang menghendaki agar budinya diingat dan dibalas orang lain pula!"

"Apa salahnya dengan itu? Saling membalas budi adalah perbuatan orang sopan dan baik!"

"Kalau sudah dijadikan keharusan balas-membalas, berarti bayar-membayar dan perbuatan itu tidak patut disebut budi lagi, melainkan semacam hutang-pihutang! Dengan mengingat dan membalas budi orang lain berarti merendahkan orang itu, merendahkan pula nilai perbuatannya yang hanya disamakan dengan hutang! Renungkan baik-baik, Sumoi. Bukan begitu?"

Siauw Bwee tercengang, kemudian menarik napas panjang dan mengangguk perlahan.

"Wahh, kebenaran pendapatmu tak dapat dibantah memang, Suheng. Akan tetapi sungguh janggal, sungguh aneh dan menyimpang dari pendapat umum."

"Bukan pendapatku, Sumoi. Setiap pendapat dari siapapun juga datangnya, tidak dapat dibenarkan, karena pendapat hanya memancing pertentangan. Kalau yang kaudengar tadi kausebut sebagai pendapaku dan kauanggap benar, tentu akan muncul orang lain yang menganggapnya tidak benar maka terjadilah pertentangan. Aku hanya mengajak engkau bersamaku mempelajari hal itu dan bersama mencari tahu apa artinya membalas dendam. Sudah jelas sekarang bahwa budi dan dendam hanyalah pencetusan dari sayang diri yang menciptakan karma, menciptakan sebab dan akibat. Kalau kita tersesat, takkan pernah kita dapat membebaskan diri dan hidup ini menjadi sia-sia, menjadi permainan sebab akibat. Karena Si Akibat sendiri pun berekor dan menjadi sebab dari akibat yang lain lagi. Sedangkan si sebab pun menjadi akibat dari sebab yang terdahulu. Bukankah seyogianya kalau kita membebaskan diri dari ikatan mata rantai yang tiada kunjung putus itu?"

"Akan tetapi, Suheng! Manusia jahat macam Suma Kiat telah mengakibatkan kematian ayahku, kehancuran keluarga Ayah. Mana mungkin aku tinggal diam saja tidak membalas dendam yang hebat ini?"

"Membalas dendam dengan cara bagaimana, Sumoi?"

"Tentu saja dengan membunuh manusia laknat itu!"

"Hemmm, Sumoi. Engkau bilang bahwa Suma Kiat jahat karena menyebabkan kematian ayahmu, dan engkau hendak membalas dengan membunuhnya! Kalau dia membunuh ayahmu kemudian engkau membunuhnya, lalu siapakah di antara kalian berdua yang baik dan jahat? Mana mungkin melenyapkan kejahatan dengan kejahatan pula? Mana bisa merubah kekerasan dengan kekerasan pula? Engkau bilang bahwa putera orang yang kauanggap musuh besarmu itu, adalah seorang yang baik dan bersikap baik kepadamu. Kalau engkau membunuh ayahnya, biarpun engkau menganggapnya sebagai akibat perbuatan Suma Kiat, bukankah perbuatanmu itu berubah menjadi sebab dendam baru, yaitu dendam di hati puteranya, Suma Hoat yang akan membalas kematian ayahnya?"

"Aku tidak takut!"

"Bukan soal takut atau tidak takut yang kita selidiki, Sumoi. Melainkan soal tepat tidaknya terseret ke dalam mata rantai dendam-mendendam."

Siauw Bwee menundukkan mukanya.

Tak dapat ia membantah kebenaran baru dan aneh yang dikemukakan suhengnya ini.

Kematian ayahnya, kehancuran rumah tangga ayahnya, memang akibat perbuatan Suma Kiat.

Akan tetapi, Suma Kiat tidak akan semata-mata melakukan hal itu tanpa sebab-sebab tertentu!

Dia telah mendengar betapa Suma Kiat amat membenci keluarga Suling Emas, amat membenci Menteri Kam Liong putera Suling Emas.

Dan karena ayahnya, Khu Tek San adalah murid Menteri Kam Liong, tentu saja terlibat dalam urusan dendam-mendendam itu dan menjadi korban dalam membela gurunya.

"Aku tidak dapat menyangkal kebenaran ucapanmu, Suheng. Aku menurut saja apa yang akan kaulakukan asal saja engkau...."

Melihat keraguan sumoinya, Han Ki bertanya.

"Asal saja aku mengapa, Sumoi?"

"Asal engkau tidak melupakan.... cinta kasih di antara kita...."

Han Ki tersenyum, akan tetapi hatinya perih.

Dia mencinta Siauw Bwee, bukan hanya cinta seorang suheng terhadap sumoinya, melainkan terutama sekali cinta seorang pria terhadap seorang wanita dan tidak ada cita-cita yang lebih nikmat dan akan membahagiakan hatinya daripada hidup sebagai suami isteri untuk selamanya dengan sumoinya ini.

Akan tetapi, di sana masih ada Maya!

Sebelum urusan dengan Maya dapat diatasi, bagaimana mungkin cita-cita itu dapat terlaksana tanpa gangguan?

"Mana mungkin manusia melupakan cintanya, Sumoi?

Yang dapat dilupakan adalah cinta palsu, cinta berahi belaka yang sama sekali tidak ada harganya untuk dibicarakan.

Nah, kau tinggallah di istana Pulau Es lebih dahulu, Sumoi.

Aku akan kembali ke darat dan mengajak pulang Maya-sumoi."

Mereka telah tiba di tepi Pulau Es. Siauw Bwee meloncat ke darat, memandang suhengnya yang masih tinggal di dalam perahu, berkata penuh keraguan.

"Bagaimana kalau dia tidak mau, Suheng? Dia mau atau tidak, engkau.... tentu akan kembali secepatnya ke sini, bukan?"

"Dia tentu dan harus mau!"

Jawab Han Ki sambil mendayung perahunya ke tengah laut dengan cepat menuju ke barat, diikuti pandang mata Siauw Bwee yang penuh dengan keraguan dan kegelisahan.

Dia maklum akan perasaan hati suhengnya.

Dia tahu bahwa suhengnya mencintanya, akan tetapi tahu pula bahwa suhengnya tidak mungkin dapat berbahagia, tidak dapat hidup tenteram sebelum membereskan urusan Maya!

Dia bertambah gelisah karena Siauw Bwee juga maklum bahwa sucinya itu pun mencinta Han Ki.

Betapapun juga, dia telah menang dalam perebutan cinta kasih itu!

Suhengnya mencintanya!

Pikiran ini melegakan hati Siauw Bwee dan dia membalikkan tubuh perlahan-lahan berjalan ke tengah pulau, menuju ke Istana Pulau Es yang telah bertahun-tahun ditinggalkannya itu.

"Heeii, berhenti dulu! Kalian mau apa menerobos masuk tanpa permisi?"

Para pengawal penjaga gedung Panglima Suma Kiat membentak dan mereka sudah memalangkan tombak menodong pasukan pengawal berseragam biru yang masuk ke halaman gedung seenaknya itu.

"Minggir kalian dan biarkan kami masuk!"

Komandan pasukan itu balas membentak sambil meraba gagang pedangnya.

"Apa? Kalian pun hanya pasukan pengawal, sama dengan kami. Biarpun engkau komandan pasukan, akan tetapi kau bukan komandan kami. Siapapun tidak boleh masuk sebelum ada perkenan dari Suma-tai-ciangkun!"

"Wuuuuttt.... ciattt!"

Komandan pasukan pengawal istana Suma-tai-ciangkun itu roboh dengan leher hampir putus disambar sinar yang tiba-tiba menyerangnya dan tampaklah seorang laki-laki tinggi besar yang berpakaian mewah telah muncul di situ.

Ketika para pengawal melihat laki-laki ini, mereka lebih kaget dari ketika melihat komandan mereka tewas tadi.

Serta-merta mereka menjatuhkan diri berlutut karena laki-laki itu bukan lain adalah Bu-koksu!

Kini bermunculan pembantu-pembantu Koksu, para panglima tinggi, dan perwira yang memimpin banyak sekali pasukan pengawal yang telah mengurung gedung itu.

Biarpun para pengawal telah menjadi ketakutan ketika melihat Koksu dengan banyak pasukannya, namun ada di antara para pengawal yang berhasil menyelinap masuk ke dalam gedung dan dengan muka pucat, melaporkan kepada Suma Kiat.

"Celaka.... Koksu dengan pasukan besar datang menyerbu....!"

Pada sore hari itu, Suma Kiat yang ditemani oleh selirnya yang terkasih, Bu Ci Goat dan muridnya, Siangkoan Lee, sedang menjamu seorang tamu yang tiba di siang hari Itu.

Tamu ini bukan lain adalah Coa Sin Cu, bengcu (pemimpin rakyat) yang bermarkas di hutan pegunungan sekitar Pantai Po-hai.

Kakek ini mempunyai hubungan dengan Suma Kiat karena mereka berdua sama-sama bersekutu dengan pemerintah Yucen.

Akan tetapi, sekali ini Coa Sin Cu datang dengan wajah keruh dan hatinya berat bukan oleh urusan politik, melainkan oleh urusan pribadinya.

Dia meninggalkan markasnya dengan hati berat setelah membunuh puteranya sendiri dan isterinya!

Beberapa hari yang lalu, ketika dia pulang malam hari dari perjalanan, pulang secara tidak terduga-duga dan belum waktunya, dia menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa isterinya berjina dengan puteranya!

Liem Cun, isterinya, adalah seorang wanita cantik dan masih muda, sebaya dengan Coa Kiong puteranya yang tampan dan gagah.

Menyaksikan adegan yang tak disangka-sangkanya itu naiklah darah ke dalam kepala Coa Sin Cu, membuat matanya gelap dan dalam kemarahan meluap-luap dia langsung mencabut senjata dan membunuh mereka!

Karena tidak dapat menahan kemarahan, kedukaan dan kekecewaan hatinya setelah dia membunuh isteri tercinta dan putera tunggalnya, Coa Sin Cu lalu pergi ke kota Siang-tan menjumpai rekannya, Suma Kiat dan mencurahkan semua isi hatinya yang penuh kedukaan.

Suma Kiat diam-diam tersenyum di dalam hatinya mendengar penuturan sahabatnya yang bernasib malang itu.

Hatinya sendiri merasa terhibur karena bukanlah dia pun menderita kecewa dan duka karena putera tunggalnya?

Hampir sama persoalannya.

Dia pun melihat puteranya, Suma Hoat, bermain gila dengan selirnya terkasih!

Akan tetapi dia tidak membunuh putera dan selirnya, dia terlalu mencinta selirnya, dan terlalu sayang kepada puteranya dan dia merasa beruntung sekarang bahwa dia tidak terlanjur membunuh mereka karena kalau hal itu dia lakukan dahulu, agaknya dia pun akan merana dan berduka seperti halnya Coa Sin Cu sekarang ini!

"Aahhh, Coa-bengcu.

Seorang laki-laki dapat menanggung segala macam derita hidup!

Semua telah berlalu, perlu apa dipikirkan lagi?

Pula, kita menghadapi urusan yahg lebih besar dan yang akan dapat merubahkan seluruh jalan hidupmu.

Kalau pemerintah Yucen berhasil, tentu jasa kita takkan dilupakan.

Setelah kelak engkau memperoleh kedudukan tinggi, apa sukarnya bagimu untuk hidup terhormat, mulia dan mewah, mengambil banyak wanita muda yang cantik dan....

ha-ha, memperoleh putera-putera lagi?"

Pada saat itulah, pengawal yang berhasil lari masuk itu tiba di dalam ruangan dengan muka pucat dan napas memburu.

Suma Kiat memandang dengan marah, akan tetapi sebelum dia sempat menegur, pengawal itu telah melaporkan akan menyerbuan pasukan yang dipimpin sendiri oleh Bu-koksu!

Mendengar itu, Suma Kiat meloncat dari kursinya diikuti oleh Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee.

Dengan geram dia berkata kepada para penjaga.

"Kumpulkan pasukan dan siap menghadapi pasukan Koksu!"

Kemudian dia sendiri setelah menyambar senjatanya, diikuti oleh selir dan muridnya, mereka melangkah keluar meninggalkan Coa Sin Cu yang masih duduk dengan muka pucat mendengar berita buruk itu.

Dia tidak berani keluar karena takut kalau-kalau mengacaukan tuan rumah, maka dia hanya menyelinap dan bersembunyi di balik pintu sambil mengintai dan mendengarkan.

Setelah tiba di ruangan depan dan melihat Bu-koksu bersama pasukannya, Suma Kiat mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan sikap angkuh dan berkata suaranya dingin dan penuh teguran.

"Sungguh amat mengherankan sekali sikap Koksu yang datang berkunjung seperti ini, tanpa pemberitahuan dan secara memaksa. Apa kehendak Koksu?"

Biarpun dalam kedudukannya, dia kalah tinggi dan kalah berkuasa kalau dibandingkan dengan kedudukan Koksu, namun di antara para panglima tinggi, nama Suma Kiat telah amat dikenalnya sebagai seorang yang dekat dengan raja dan memiliki pengaruh dan kekuasaan tinggi.

Sudah turun menurun keluarga Suma menduduki tempat penting dan pemerintahan.

Oleh karena inilah maka Suma Kiat berani bersikap angkuh terhadap Bu-koksu.

Akan tetapi Bu-koksu tersenyum mengejek dan berkata dengan suara penuh nada menyindir.

"Sikapku ini sama sekali tidak mengherankan kalau dibandingkan dengan perbuatanmu, Suma Kiat. Sebagai seorang panglima tinggi yang telah banyak menerima anugerah dari kerajaan, engkau telah berani berkhianat, menyiapkan pemberontakan dan bersekutu dengan musuh!"

Bukan main kagetnya hati Suma Kiat mendengar ini.

Dia memandang tajam dan menyangkal dengan suara keras karena dia mengira bahwa tentu Koksu hanya menuduhnya tanpa alasan atau hanya kira-kira saja.

"Bu-koksu! Harap engkau jangan mengeluarkan tuduhan dan fitnahan membabi-buta! Semenjak dahulu, keluarga Suma adalah keluarga panglima yang selalu setia kepada raja!"

"Ha-ha-ha, mungkin dahulu demikian. Biarpun nama keluarga Suma tidaklah terlalu harum, akan tetapi belum pernah memberontak terhadap Raja. Akan tetapi, sekarang agaknya engkau akan menjadi juara dalam mengotorkan nama keluarga Suma! Engkau bersekutu dengan Kerajaan Yucen, menjadi kaki tangan Pek-mau Seng-jin, Koksu pemerintah Yucen!"

"Bohong! Fitnah palsu! Apa buktinya?"

Suma Kiat masih membantah dan menyangkal keras.

"Buktinya? Ha-ha-ha, masih mau bukti lagi setelah Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin, dua orang kaki tangan Coa-bengcu yang menyelundup menjadi pengawalku itu mengaku sebelum mereka mampus di tanganku? Masih minta bukti setelah aku melihat sendiri anakmu, Suma Hoat membantu Pek-mau Seng-jin? Suma Kiat, pemberontak dan pengkhianat, menyerahlah dengan seluruh keluargamu untuk kami tangkap dan bawa ke pengadilan di kota raja!"

Tentu saja Suma Kiat terkejut sekali mendengar betapa dua orang tokoh pembantu Coa-bengcu itu telah dibunuh setelah disiksa untuk mengaku, akan tetapi dia telah kaget lagi mendengar bahwa Koksu telah melihat puteranya membantu Pek-mau Seng-jin.

Koksu Negara Yucen!

Tidak ada jalan lain lagi baginya kecuali melawan dan berusaha membebaskan diri dari keadaan berbahaya ini.

"Anjing penjilat, kaukira aku takut padamu?"

Suma Kiat sudah mencabut pedangnya dan menerjang Koksu dengan kecepatan luar biasa.

Koksu ini telah tahu akan kelihaian Suma Kiat, maka dia pun cepat menangkis dengan golok besarnya.

Terdengar suara berkerincing nyaring ketika Koksu ini mainkan goloknya.

Golok itu lebar dan panjang, punggung golok dihias gelang-gelang yang mengeluarkan bunyi nyaring berdering dan berkerincing.

Dengan tenaganya yang besar, tentu saja golok itu merupakan senjata berat yang amat berbahaya.

Namun, Suma Kiat adalah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali.

Ilmu pedangnya Toa-hong Kiam-sut (Ilmu Pedang Angin Badai) amat cepat dan kuatnya, masih dibantu tangan kirinya yang digerak-gerakkan dengan pukulan Hui-tok-ciang (Tangan Racun Api) yang mujijat dan ampuh sekali.

Karena itu, Bu Kok Tai, koksu kerajaan yang berilmu tinggi itu memperoleh lawan yang seimbang ketika berhadapan dengan Suma Kiat.

Setelah memberi isyarat kepada pasukan-pasukan yang masih setia kepada Suma Kiat sehingga para pasukan pengawal itu menerjang maju disambut pasukan pengawal Koksu, Siangkoan Lee, Bu Ci Goat juga sudah mencabut senjata masing-masing dan mengamuk melawan para panglima yang dipimpin oleh Ang Hok Cu, siucai lihai yang menjadi murid Bu-koksu.

Perang kecil yang mati-matian terjadi di ruangan depan dan halaman gedung itu, akan tetapi, jumlah pengawal yang masih setia kepada Suma Kiat jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan jumlah pengawal Bu-koksu, apalagi karena sejumlah pengawal Suma Kiat suaah menaluk ketika melihat gelagat buruk.

Bahkan kini mereka membalik dan membantu para pengawal Bu-koksu, menyerang bekas kawan-kawan sendiri dalam usaha mereka mencari keselamatan agar dosa mereka kelak diampuni!

Tentu saja hal ini amat mengurangi semangat perlawanan pihak pasukan Suma Kiat dan sebentar saja mereka berjatuhan dan menjadi korban senjata di tangan pasukan Bu-koksu.

Suma Kiat yang bertanding melawan Bu-koksu, menjadi marah sekali.

Dia mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian sehingga Bu-koksu sendiri terdesak mundur.

Namun, beberapa orang panglima dan pasukan segera membantunya mengeroyok sehingga kembali Suma Kiat terdesak hebat dan terancam keselamatannya.

Pada saat itu, Coa Sin Cu yang tadinya bersembunyi, merasa bahwa tidak baik baginya kalau terus bersembunyi karena akhirnya dia akan ketahuan.

Maka dengan nekat dia mencabut senjatanya dan menerjang keluar membantu Suma Kiat.

Melihat munculnya orang ini, Bu-koksu berseru marah dan juga girang.

Sudah lama sekali dia menyuruh orang-orangnya untuk berusaha membasmi gerombolan Coa Sin Cu yang memberontak dan sudah lama dia mendengar bahwa orang ini menjadi kaki tangan Kerajaan Yucen.

Apalagi setelah dua orang pengawalnya, Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin, di bawah siksaan berat, mengaku bahwa mereka adalah pembantu-pembantu Coa Sin Cu, kebencian Koksu terhadap Coa Sin Cu makin menghebat.

Kini, sungguh tidak disangkanya bahwa pemberontak itu berada di dalam gedung Suma Kiat.

Dengan suara menggereng hebat, Koksu ini meninggalkan Suma Kiat yang dikeroyok oleh Ang Hok Ci dan para panglimanya, tubuhnya yang tinggi besar melayang ke depan dan goloknya yang berat mengeluarkan bunyi berkerincing menerjang kepada Coa Sin Cu.

Coa Sin Cu terkejut dan cepat menangkis.

"Trangggg.... trakkkk!"

Golok di tangan Coa Sin Cu patah-patah dan golok besar Bu-koksu terus meluncur membabat leher.

Terdengar suara mengerikan dan kepala Coa Sin Cu menggelinding dari tubuhnya.

Lehernya putus terbabat golok!

"Keparat....!"

Suma Kiat marah sekali, membentak lalu melengking panjang, pedangnya menyambar ganas dan dahsyat ke depan.

Ang Hok Ci yang langsung menghadapinya menggantikan suhunya, berusaha mengelak dan menangkis, dibantu tiga orang panglima lainnya.

Akan tetapi mereka menjerit keras dan roboh dengan perut robek oleh sambaran sinar pedang yang dahsyat itu.

Ang Hok Ci berkelojotan dan tewas bersama tiga orang panglima yang membantunya.

Sementara itu, Bu Ci Sian dan Siangkoan Lee juga mengamuk, merobohkan banyak pengawal Bu-koksu, akan tetapi mereka berdua juga menderita luka-luka kecil akibat pengeroyokan yang amat ketat itu.

Sedangkan Suma Kiat kembali telah berhadapan dengan Bu-koksu dan belasan orang panglima yang mengurungnya dengan hati-hati karena kepandaian Suma Kiat benar-benar amat hebat.

"Suhu.... lebih baik kita pergi....!"

Siangkoan Lee berseru.

"Subo sudah terluka....!"

Tadinya Suma Kiat hendak mengamuk terus, akan tetapi ketika dia melirik dan melihat betapa paha kiri Bu Ci Goat berdarah, celananya robek sehingga tampak kulit paha putih halus yang terluka, hatinya menjadi tidak tega terhadap selirnya yang tercinta itu.

Dia kembali mengeluarkan suara melengking nyaring, sinar pedangnya menerjang ke depan, mernbuat Bu-koksu dan para pembantunya cepat-cepat muncur dan memutar senjata melindungi tubuh.

Saat itu dipergunakan oleh Suma Kiat untuk menyambar lengan selirnya, kemudian memutar pedangnya dan membawa selirnya yang terluka pahanya itu meloncat naik ke atas genteng, diikuti oleh Siangkoan Lee.

Karena yang dapat mengimbangi kepandaian Suma Kiat hanya dia seorang diri, Bu-koksu tidak berani mengejar sendirian, hanya memerintahkan anak buahnya menyerang dengan anak panah.

Puluhan batang anak panah meluncur ke arah tubuh tiga orang yang melarikan diri itu, namun kesemuanya dapat diruntuhkan oleh senjata di tangan Siangkoan Lee dan Suma Kiat.

Tak lama kemudian bayangan mereka menghilang di dalam kegelapan malam yang telah tiba.

Kasihanlah para penghuni rumah gedung Suma Kiat itu, yaitu para pengawal yang tadi melawan dan para pelayan.

Mereka dibunuh semua, pelayan-pelayan wanita yang tua dibunuh, yang muda dan cantik diperkosa sampai mati.

Kemudian, seisi rumah dirampok habis-habisan.

Melihat betapa anak buahnya berpesta pora, memperkosa dengan keji, merampok dan membunuh, Bu-koksu mendiamkannya saja.

Dia sedang berduka sekali melihat muridnya tewas, dan kecewa melihat Suma Kiat berhasil lolos.

Saking gemasnya dia bahkan memerintahkan membakar rumah gedung itu, kemudian mengirim Pangeran Ciu Hok Ong yang sudah ditangkapnya ke kota raja untuk diadili dan minta kepada Raja agar mengirim pasukan melakukan pengejaran untuk menangkap Suma Kiat.

Pangeran Ciu Hok Ong ditangkap tanpa melakukan perlawanan setelah rahasia persekutuannya dengan Koksu Yucen dibocorkan oleh Pat-jiu Sin-kauw dan Thian Ek Cinjin.

Suma Kiat, dengan bantuan muridnya yang setia, berhasil mendapatkan tiga ekor kuda dan dengan cepat dia, selirnya, dan muridnya meninggalkan kota Siang-tan, melarikan diri ke barat.

Dapat dibayangkan betapa sengsara keadaan Bu Ci Goat yang terluka pahanya itu, diharuskan melarikan diri siang malam tak pernah berhenti.

Suma Kiat maklum bahwa kini dia telah menjadi buronan kerajaan, dan tidak mungkin baginya muncul di dunia ramai karena tentu dia akan ditangkap sebagai seorang pengkhianat atau pemberontak.

Satu-satunya jalan terbaik hanya pergi menyeberang ke daerah Kerajaan Yucen.

Akan tetapi, dia merasa enggan untuk menghambakan diri kepada bangsa Yucen.

Bukan demikianlah cita-citanya.

Dia adalah seorang dari keluarga Suma yang terkenal angkuh dan tinggi hati.

Kalau dia suka bekerja sama dengan Koksu Yucen adalah karena dia ingin mempergunakan kekuatan Yucen untuk menggulingkan kedudukan Kaisar, membantu Pangeran Ciu Hok Ong menjadi kaisar dan dia sendiri memperoleh kedudukan lebih tinggi, sedikitnya tentu menjadi seorang menteri.

Kalau sekarang usaha itu gagal, dia tidak sudi merendahkan diri menjadi kaki tangan bangsa Yucen.

"Suhu, apakah tidak lebih aman bagi Suhu dan lebih baik bagi Subo yang sedang terluka kalau kita menyeberang saja dan minta bantuan Pek-mau Seng-jin di Yucen?"

Siangkoan Lee mengajukan usulnya di tengah perjalanan melarnkan diri itu.

Sepasang alis yang sudah bercampur putih itu berkerut dan suara Suma Kiat terdengar marah ketika menjawab.

"Siangkoan Lee, ingat baik-baik pesanku. Aku adalah seorang pahlawan yang berjuang untuk rakyat dan negara. Kalau Kaisar lalim, sudah sewajarnya kita memberontak untuk memilih kaisar baru yang lebih baik. Untuk keperluan itu pun tiada salahnya kita mengharapkan bantuan bangsa asing. Akan tetapi itu hanya siasat, bukan berarti kita menghambakan diri kepada bangsa asing! Lebih baik mati daripada menjual negara kepada bangsa asing. Ingat baik-baik pendirianku ini karena engkaulah yang harus melanjutkan cita-citaku. Engkau bukan hanya muridku, bukan hanya pembantuku, melainkan kuanggap sebagai pengganti puteraku sendiri yang akan kuwarisi seluruh ilmu kepandaianku."

Siangkoan Lee terkejut dan juga girang sekali.

"Terima kasih, Suhu...."

Katanya terharu. (Lanjut ke

Jilid 37) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 37

"Teecu bersumpah akan menaati dan melanjutkan cita-cita Suhu sampai mati!"

Dua hari kemudian, rombongan tiga orang ini terkejut ketika mendengar teriakan dari belakang dan derap kaki sekor kuda yang dibalapkan mengejar mereka.

Tadinya mereka hendak mempercepat larinya kuda, akan tetapi ketika mendapat kenyataan bahwa pengejarnya hanya satu orang saja, Suma Kiat menahan kudanya dan membalikkan kuda menanti datangnya seorang pengejar itu.

"Ayah....!"

Kiranya pengejar itu bukan lain adalah Suma Hoat!

Pemuda ini, dengan muka dan baju basah oleh peluh karena melakukan pengejaran dengan cepat, kini memandang ayahnya, ibu tiri, dan murid ayahnya.

Mereka bertiga yang duduk dia atas kuda memandang pemuda itu dengan wajah dingin dan sinar mata mengandung penuh penasaran.

"Ayah...., aku.... aku.... aku mendengar akan penyerbuan Bu-koksu.... aku cepat ke Siang-tan, terlambat.... lalu mengejar Ayah...."

"Tutup mulutmu dan jangan sekali-kali menyebut ayah kepadaku, manusia keparat!"

Suma Kiat membentak penuh kemarahan. Suma Hoat terbelalak kaget, wajahnya pucat.

"Ayah.... mengapa....?"

"Cukup! Sekali lagi menyebut ayah, kubunuh engkau! Manusia laknat, anak durhaka, karena engkaulah kami menjadi begini! Karena Koksu melihatmu bersama Pek-mau Seng-jin maka rahasiaku terbongkar. Agaknya engkau dilahirkan hanya untuk mencelakakan orang tua saja. Mulai saat ini, engkau bukan puteraku lagi dan terkutuklah engkau, akan sengsaralah engkau selama hidupmu!"

"Ayaaahhh....!"

Suma Hoat bergidik ngeri mendengar kutukan ayahnya.

"Cet-cet-cet!"

Tiga sinar menyambar ke arah Suma Hoat.

Pemuda ini kaget dan maklum bahwa dia telah diserang dengan senjata rahasia oleh ibu tirinya.

Tiada waktu lagi untuk menangkis, maka dia cepat melempar tubuhnya dari atas kuda, berjungkir balik dan berhasil menghindarkan diri dari sambaran tiga sinar yang berupa jarum-jarum beracun itu.

Akan tetapi kudanya meringkik keras lalu roboh berkelojotan, dada dan perutnya menjadi sasaran jarum-jarum beracun.

Suma Kiat melarikan kudanya diikuti oleh Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee.

Suma Hoat hanya dapat memandang dengan hati penuh duka.

Dua kali dia bentrok dengan ayahnya.

Yang pertama kali dia diusir, kini, setelah dia mengorbankan perasaannya membantu ayahnya mengadakan persekutuan dengan pemerintah Yucen, hal yang sama sekali tidak disukainya dan yang hanya ia lakukan demi menyenangkan hati ayahnya, kembali ayahnya marah dan bahkan mengutuknya!

Sejenak pemuda itu hanya berdiri mengikuti bayangan tiga ekor kuda itu dengan wajah pucat, kemudian ia menarik napas panjang, mengeluh di dalam hatinya dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

Hancurlah dunianya, habis semua pengharapannya.

Hatinya sudah remuk oleh kegagalan cintanya.

Hanya ada tiga orang wanita di dunia ini yang pernah dicintanya, yaitu Ciok Kim Hwa, kemudian Khu Siauw Bwee dan Maya!

Namun ketiganya gagal, Ciok Kim Hwa yang membalas cintanya tewas.

Siauw Bwee dan Maya yang telah menjatuhkan hatinya itu, tidak dapat membalas cintanya karena mereka telah memiliki pilihan hati masing-masing.

Kini, ayah kandungnya, satu-satunya orang yang akan dapat didekatinya, bahkan mengutuknya dan tidak mengakuinya sebagai anak lagi.

Apalagi artinya hidup ini baginya?

Siapakah yang harus disalahkannya?

Koksu Bu Kok Tai?

Tidak mungkin.

Diam-diam dia merasa kagum kepada Bu-koksu dan merasa iri hati melihat kesetiaan dan kegagahan Bu-koksu.

Mengapa ayahnya tidak dapat bersikap seperti Bu-koksu, seorang pendekar dan pahlawan sejati?

Orang-orang gagah seperti Bu-koksu adalah orang-orang segolongan dengan mendiang Menteri Kam Liong, yang terkenal karena kesaktian dan kesetiaannya terhadap nusa bangsa.

Tidak seperti ayahnya!

Mengapa dia mau saja membantu ayahnya yang bersekutu dengan pihak Yucen?

Andaikata dia tidak hendak berbaik kembali dengan ayahnya, tidak hendak menyenangkan hati orang tua itu, tentu saja dia tidak akan sudi membantu persekutuan kotor itu.

Suma Hoat menghela napas panjang dan meninggalkan tempat itu dengan wajah pucat, pandang mata sayu dan tubuh lesu.

Habis harapannya untuk mendekati ayahnya lagi.

Orang tua itu sudah terlampau marah dan dengan ibu tirinya dan Siangkoan Lee di dekat orang tuanya, tidak ada harapan baginya untuk meredakan kemarahan ayahnya.

Ibu tirinya dan Siangkoan Lee amat benci kepadanya, dan mereka tentu akan membakar terus hati ayahnya.

Suma Hoat sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mengira bahwa keadaan hidup ayahnya sendiri amatlah sengsara semenjak terjadinya peristiwa itu.

Suma Kiat yang semenjak dahulu hidup mewah dan mulia, kini kehilangan segala-galanya dan menjadi berduka sekali.

Dia sudah tua dan pukulan-pukulan batin itu membuat tubuhnya menjadi lemah dan sakit-sakitan.

Mereka bertiga melarikan diri dan bersembunyi di pegunungan Tai-hang-san.

Suma Kiat lalu mencari tempat yang cocok dan membangun sebuah tempat peristirahatan di Puncak In-kok-san (Lembah Mega), sebuah di antara puncak-puncak di Pegunungan Tai-hang-san.

Siangkoan Lee yang pandai mengambil hati gurunya, berusaha menyenangkan hati suhunya itu dengan membangun sebuah bangunan mewah, bahkan menyediakan pelayan-pelayan laki-laki dan wanita muda untuk suhunya.

Memang Suma Kiat berterima kasih sekali dan kakek ini mewariskan semua ilmu silatnya kepada Siangkoan Lee, namun tetap saja hati Suma Kiat selalu dihimpit kekecewaan dan kedukaan, terutama sekali kalau teringat akan cita-citanya yang hancur dan putera tunggalnya yang durhaka.

Semua kedukaan ini ditambah lagi oleh solah-tingkah Bu Ci Goat.

Setelah berada di pegunungan itu, melihat betapa tubuh Suma Kiat yang makin tua makin lemah, tidak mampu lagi melayani nafsu-nafsunya, wanita ini menjadi binal kembali.

Semua ini merupakan tekanan dan siksaan batin yang hebat, membuat tubuhnya tidak kuat menahan dan akhirnya kakek itu jatuh sakit.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Maya bersama anak buahnya telah berhasil menyelidiki keadaan musuh di Siang-tan.

Biarpun dia kehilangan pembantu-pembantu yang diandalkan, yang tewas dalam menyedihkan itu, namun dia kini tahu akan kekuatan musuh sehingga tidak terburu-buru melakukan penyerbuan ke Siang-tan.

Setelah mendapat kenyataan bahwa Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa berhasil lolos pula dan kembali ke Sian-yang, Maya menjadi makin girang.

Tentu saja Yan Hwa tidak menceritakan bagaimana dia dan suhengnya dapat lolos!

Tidak mau menceritakan betapa untuk kebebasan dia dan suhengnya, dia harus "menebusnya"

Dengan penyerahan diri kepada Suma Hoat, Si Dewa Cabul!

Tebusan yang bukan tidak menyenangkan hatinya!

Setelah mengadakan perundingan dengan para pembantunya dan Pangeran Bharigan, lalu diambil keputusan untuk minta bantuan Panglima Bu, panglima angkatan laut yang memberontak terhadap pemerintah, panglima yang dahulu menolong Maya.

Sepasukan tentara istimewa diutus minta bala bantuan ini dan sementara menanti datangnya bala bantuan, Maya dibantu oleh Can Ji Kun dan Ok Yan Hwa, melatih pasukan mereka yang menghadapi perang besar.

Keadaan pasukan Mancu yang bermarkas di Sian-yang dan pasukan Sung yang bermarkas di Siang-tan itu hampir tiada bedanya.

Kalau tentara Mancu menanti datangnya bala bantuan dari utara, adalah pihak Sung juga menanti datangnya bala bantuan dari selatan!

Akan tetapi, ternyata bantuan untuk Mancu datang lebih dahulu dan mendengar dari para penyelidiknya bahwa bantuan dari selatan yang diharap-harapkan Bu-koksu belum tiba, pula mendengar juga akan keributan di Siang-tan karena pengkhianatan dan ditawannya Pangeran Ciu Hok Ong dan diserbunya gedung Panglima Besar Suma Kiat, Maya segera mengerahkan pasukannya menyerang ke Siang-tan.

Pasukannya kini menjadi besar dan kuat karena memperoleh bantuan.

Tentu saja Koksu Bu Kok Tai terkejut bukan main ketika melihat keadaan bala tentara musuh yang amat besar itu.

Mengertilah dia bahwa pihak Mancu telah memperoleh bala bantuan, maka timbul kekhawatirannya.

Dia sendiri merasa heran mengapa bala bantuan yang ia harapkan dari selatan masih belum kunjung tiba.

Padahal sudah dia perhitungkan bahwa tentu bala bantuannya akan tiba lebih dulu.

Terpaksa Bu-koksu lalu mengerahkan segala kekuatan pasukannya, sebagian menyambut musuh di luar tembok benteng, sebagian lagi menjaga benteng dan siap mempertahankan kota Siang-tan dengan mati-matian.

Tiba-tiba datang seorang kurir menghadap Bu-koksu dan menceritakan dengan muka pucat bahwa pasukan bala bantuan dari selatan yang diharapkannya itu di tengah jalan telah dihadang dan diserbu pasukan besar Mancu dan kini menjadi hancur, sebagian besar tewas dan sebagian pula terpaksa melarikan diri kembali ke selatan karena jalannya terputus!

Berita yang amat mengejutkan, juga mengherankan hati Bu-koksu.

Mengapa mendadak terdapat begitu banyak tentara Mancu yang sempat bergerak di mana-mana?

Namun, dia tidak memusingkan lagi hal itu, melainkan mencurahkan perhatian untuk menghadapi penyerbuan musuh yang telah makin mendekati tembok benteng kota Siang-tan.

Sebetulnya, apakah yang terjadi?

Benarkah bala bantuan dari selatan itu dihancurkan oleh pasukan Mancu?

Memang kelihatannya demikian, akan tetapi sesungguhnya bukan pasukan Mancu yang menghancurkan pasukan bala bantuan itu melainkan pasukan Yucen yang menyamar sebagai pasukan-pasukan Mancu!

Inilah siasat yang dijalankan secara cerdik sekali oleh Pek-mau Seng-jin, koksu dari Yucen.

Dalam siasatnya untuk melemahkan kedudukan Kerajaan Sung sehingga terancam oleh serbuan-serbuan pasukan Mancu, diam-diam Koksu Yucen mempersiapkan pasukan besar yang menyamar sebagai pasukan Mancu, kemudian menghadang pasukan bantuan itu dan menghancurkannya.

Dia sendiri diam-diam berkunjung ke kota raja Sung di selatan dan menawarkan bantuannya untuk menyelamatkan Siang-tan dan mengusir pasukan-pasukan Mancu dengan syarat agar Kerajaan Sung suka menyerahkan daerah yang luas di daerah utara Siang-tan kepada Kerajaan Yucen.

Karena Siang-tan merupakan benteng yang amat penting bagi pertahanan kerajaan di selatan, dalam keadaan terjepit itu, Kaisar tidak dapat menolak dan menerima uluran tangan bantuan ini berikut syaratnya!

Pek-mau Seng-jin girang sekali lalu mengerahkan pasukan-pasukannya yang kini telah meninggalkan pakaian penyamaran mereka sebagai pasukan Mancu dengan cepat melakukan perjalanan menuju Siang-tan yang sudah terancam dan terkepung oleh pasukan Mancu.

Bu-koksu memimpin sendiri pasukan yang menyambut penyerbuan pasukan Mancu di luar tembok benteng.

Perang yang seru dan hebat terjadi di luar tembok benteng.

Perang yang terjadi sampai belasan hari lamanya, berhenti di waktu malam untuk dilanjutkan pada keesokan harinya.

Akan tetapi, akhirnya Bu-koksu harus mengakui keunggulan musuh yang mempunyai jumlah pasukan jauh lebih besar.

Terpaksa Bu-koksu menarik sisa pasukannya memasuki benteng, menutup pintu-pintu gerbang benteng dan memperkuat penjagaan.

Maya memimpin pasukan-pasukannya, diam-diam merasa kagum akan kepandaian Bu-koksu mengatur pasukan sehingga pasukan yang lebih kecil itu mampu bertahan sampai belasan hari.

Kini Maya menyusun pasukan-pasukannya, mengurung kota Siang-tan dan mulailah penyerbuan-penyerbuan untuk membobolkan benteng kota.

Namun ternyata bahwa benteng itu kuat sekali, terbuat dari tembok yang tebal dan terjaga ketat dengan barisan-barisan anak panah yang melepaskan anak panah dari tempat terlindung sehingga setiap penyerbuan pasukan Mancu selalu dapat digagalkan dan benteng masih dapat dipertahankan.

Kembali belasan hari lewat dan benteng kota Siang-tan masih juga belum dapat direbut oleh pasukan Mancu.

Akan tetapi, pihak pasukan yang dipimpin Bu-koksu sudah gelisah sekali.

Kota telah dikurung, hubungan luar kota sudah terputus sama sekali dan mereka tidak hanya terancam oleh penyerbuan-penyerbuan lawan, akan tetapi yang lebih mengkhawatirkan lagi, terancam oleh kelaparan karena gudang ransum yang setiap hari dikurung tanpa ada penambahan itu makin menipis isinya.

Keadaan yang mengancam ini membuat semangat perlawanan pasukan Bu-koksu menurun dan akhirnya, tanpa dapat dipertahankan lagi, ketika Maya mengerahkan pasukan intinya menyerbu, bobollah pintu terbesar dan membanjirlah pasukan Mancu menyerbu kota Siang-tan diiringi sorak-sorai yang memekakkan telinga.

Kini perang hebat pecah di dalam kota.

Suara senjata beradu diseling bentakan dan makian bercampur pekik kesakitan dan keluhan maut mengatasi tangis dan jerit para penduduk kota yang lari ke sana-sini kacau-balau mencari keselamatan keluarga masing-masing.

Maya yang menunggang seekor kuda putih, mengamuk dengan pedangnya.

Kudanya meringkik-ringkik, lari ke sana-sini, didahului sinar pedang di tangan panglima wanita itu, dan ke mana pun sinar pedangnya menyambar, tentu mengakibatkan robohnya seorang perwira musuh.

Menyaksikan sepak terjang panglima wanita yang hebat ini, Bu-koksu menjadi marah sekali.

Dia mencambuk kudanya menghampiri, kemudian sambil membentak marah dia menyerang Maya dengan senjatanya yang juga telah merobohkan banyak anak buah pasukan Mancu.

Maya menyambut serangan ini dengan pedangnya dan terjadilah pertandingan dahsyat antara kedua orang pimpinan kedua pasukan yang sedang berperang itu.

Akan tetapi pertandingan di antara mereka kurang leluasa karena di situ penuh dengan tentara kedua pihak yang saling terjang, sehingga seringkali mereka terpaksa mundur dan terpisah kembali untuk melayani tentara musuh yang mengepung.

Maya sendiri merasa penasaran bahwa sampai lama dia tidak dapat merobohkan Bu-koksu, maka dia lalu berseru menantang.

"Bu-koksu, kalau memang engkau gagah, mari kita bertanding di luar tembok sampai seorang di antara kita roboh binasa!"

"Anjing betina Mancu, siapa takut kepadamu?"

Bu-koksu membentak.

Maya mengaburkan kudanya ke luar pintu gerbang yang sudah bobol, dikejar oleh Bu-koksu.

Setibanya di lapangan yang luas di luar tembok, Maya berhenti dan begitu Bu-koksu yang mengejarnya tiba, dia langsung mengejar dengan ganasnya dan kembali dua orang perkasa ini bertanding dengan seru dan dahsyat.

Andaikata mereka bertanding ilmu silat biasa, tidak di atas kuda, agaknya betapapun lihainya, Bu-koksu bukanlah lawan Maya dan tak mungkin dia dapat bertahan sampai ratusan jurus.

Akan tetapi, bertanding di atas punggung kuda lain lagi halnya.

Gerakan ilmu silat tak banyak dipergunakan, yang diandalkan hanya kecepatan menggerakkan senjata dan keahlian menunggang kuda, dan tentu saja kecekatan kuda yang ditunggangi memang peranan penting.

Biarpun sudah lama Maya menjadi panglima perang, namun pengalamannya dalam bertanding di atas kuda jauh kalah banyak oleh Bu-koksu dan biarpun gerakan tangannya yang memegang pedang lebih kuat dan cepat, namun kepandaiannya menunggang kuda juga kalah.

Karena inilah, pertandingan berlangsung dahsyat dan seru.

Sukar bagi Maya untuk merobohkan lawan yang tangguh itu dan dia hanya mampu membuat lawan itu terluka di paha dan pundak kiri.

Luka yang tidak terlalu parah biarpun cukup membuat pakaian perang Bu-koksu berlumuran darah.

Betapapun juga, diam-diam Bu-koksu harus mengakui bahwa selamanya belum pernah dia bertemu tanding sehebat nona itu!

Lengannya yang memegang golok besar terasa letih sekali karena setiap kali bertemu dengan pedang lawan, lengannya tergetar hebat, tanda bahwa lawannya, seorang nona yang masih amat muda itu memiliki tenaga sin-kang yang amat luar biasa!

Namun dia tidak mengenal takut, mengambil keputusan untuk berkelahi sampai titik darah terakhir membela negaranya.

"Bu-koksu, bersiaplah untuk mampus!"

Maya berseru keras, kudanya meloncat ke depan dan pedangnya menyambar dengan sinar berkilat.

"Tidak begitu mudah keparat!"

Bu-koksu membentak dan menangkis.

"Tranggg....!"

Untuk ke sekian ratus kalinya, pedang Maya bertemu dengan golok besar di tangan Bu-koksu.

Bunga api berpijar dan kedua senjata itu melekat karena keduanya telah menyalurkan tenaga dan kini mereka mengadu tenaga melalui senjata mereka yang saling melekat itu.

"Tahan senjata....!"

Tiba-tiba tampak bayangan orang berkelebat dari atas tembok benteng dan ternyata orang itu adalah Suma Hoat!

Dengan gerakan seperti seekor burung raksasa terbang melayang turun dari tembok, Suma Hoat mendorongkan kedua tangannya ke arah dua tangan yang memegang senjata.

Maya dan Bu-koksu terkejut, tidak tahu siapakah di antara mereka yang dibantu pemuda itu, maka keduanya lalu menarik senjata masing-masing, menahan kuda dan memandang Suma Hoat yang telah berdiri di antara mereka dengan alis berkerut.

Sudah sejak tadi Suma Hoat menonton pertandingan hebat antara Bu-koksu dan Maya.

Dia berhasil menyelundup masuk ke kota Siang-tan dan menyamar sebagai seorang perwira.

Ketika ia melihat betapa Bu-koksu terancam bahaya maut di ujung pedang Maya, dia merasa tidak tega.

Di dalam hati pemuda ini timbul rasa haru dan kagum menyaksikan betapa Bu-koksu mempertahankan negara dengan mati-matian, sikap gagah perkasa yang jauh berbeda dengan sikap ayahnya.

Bu-koksu seorang pahlawan sejati!

Biarpun Bu-koksu telah menyerbu dan menghancurkan rumah tangga ayahnya, namun Suma Hoat tidak dapat menyalahkan Koksu itu yang hanya memenuhi tugasnya sebagai seorang koksu yang setia kepada kerajaan.

Maka begitu menyaksikan koksu itu terluka dan melawan mati-matian menghadapi Maya, dia merasa tidak tega.

Apalagi karena yang mengancam hendak membunuh pahlawan itu adalah Maya, gadis yang dicintanya.

"Suma Hoat, apakah engkau hendak membelanya? Kalau begitu, engkau akan mampus pula di tanganku!"

Maya membentak nyaring.

"Maya, harap engkau sadar bahwa engkau telah mengambil jalan sesat. Sama sekali tidak kusangka bahwa engkaulah yang memimpin pasukan Mancu, padahal engkau bukan seorang gadis Mancu. Engkau malah penghuni Istana Pulau Es! Bagaimana mungkin engkau merendahkan diri sampai begini rupa, membantu pasukan asing menyerang bangsa sendiri?"

"Suma Hoat, mulutmu palsu!"

Tiba-tiba Bu-koksu membentak dan menudingkan golok besarnya.

"Engkau sendiri adalah anjing penjilat Kerajaan Yucen, seorang pengkhianat hina!"

"Koksu, tidak perlu menilai diriku yang memang seorang yang tidak berharga. Akan tetapi engkau adalah seorang pahlawan yang gagah, karena itu aku tidak sampai hati melihat engkau gugur di sini. Sedangkan Nona Maya adalah penghuni Istana Pulau Es, tidak semestinya menjadi pengkhianat. Karena mengingat akan keadaan kalian berdua, maka aku memberanikan diri untuk melerai. Nona Maya, demi nama besar Pendekar Sakti Suling Emas, Pendekar Sakti Mutiara Hitam, demi nama Bu Kek Siansu...."

"Jangan sebut-sebut nama guruku!"

Maya membentak.

Diam-diam Bu-koksu terkejut bukan main karena sama sekali dia tidak pernah menyangka bahwa lawannya yang lihai ini adalah penghuni Istana Pulau Es yang hanya didengarnya seperti dalam dongeng, apalagi murid manusia dewa Bu Kek Siansu!

"Nona Maya, aku hanya mengharap agar engkau suka insyaf dan tidak membantu Mancu untuk menghancurkan bangsa sendiri...."

"Cukup! Aku memang sengaja menggunakan pasukan Mancu untuk menghancurkan Kerajaan Sung! Engkau tahu, akulah Puteri Maya, akulah puteri Raja Khitan! Kerajaan Khitan telah hancur karena pemerintah Sung, Mongol, dan Yucen! Aku telah bersumpah untuk membasmi ketiga kerajaan itu! Bukan sekali-kali aku menghambakan diri dan menjadi pengkhianat membantu Mancu, melainkan untuk membalas dendamku. Nah, Suma Hoat, engkau sebagai putera Suma Kiat musuh besarku, telah kuampunkan. Sekarang minggirlah!"

Kembali Maya menyendal kendali kudanya sehingga binatang itu meloncat ke depan dan dia sudah menyerang Bu-koksu dengan kelebatan pedangnya secara bertubi-tubi.

Bu-koksu tadinya berdiri tercengang, akan tetapi siapa pun adanya wanita ini, kalau dia berdiri di pihak Mancu berarti musuhnya dan harus dilawan mati-matian.

"Trang-cring-trang....!"

Pedang dan golok beradu bertubi-tubi dan Suma Hoat menjadi bingung, tidak tahu harus membantu siapa.

"Sumoi....!"

Tampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu kedua orang yang sedang bertanding itu terpental ke belakang karena tertolak oleh tenaga yang amat dahsyat, membuat tubuh mereka terlempar dari atas punggung kuda.

Namun, berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, Bu-koksu dan Maya tidak terbanting roboh, hanya berjungkir balik dan berdiri dengan senjata siap di tangan.

"Suheng....!"

Maya berseru dengan muka berubah pucat ketika melihat siapa orangnya yang membuat dia terpental tadi.

"Kam-siauwte....!"

Bu-koksu juga berseru kaget dan girang, mengharapkan bantuan orang yang dia tahu amat sakti ini.

Akan tetapi Han Ki, pemuda yang baru datang itu, tidak mempedulikannya, melainkan menghampiri Maya dan memandang dengan alis berkerut.

"Maya-sumoi, mengapa engkau masih juga melanjutkan kesesatanmu? Tidak malukah engkau? Tidak ingatkah bahwa engkau, adalah keturunan orang-orang gagah perkasa yang lebih baik mati daripada melakukan pengkhianatan? Di dalam tubuhmu mengalir darah Khitan dan Han, bagaimana sekarang engkau dapat membantu Mancu untuk menghancurkan bangsa sendiri?"

"Suheng, engkau boleh melupakan segala dendam, akan tetapi aku tidak! Orang tuaku, kerajaan ayahku, telah hancur oleh Kerajaan Sung. Kalau belum membasmi Kerajaan Sung, aku belum puas!"

"Engkau keliru, Sumoi. Bukan Kerajaan Sung yang menyebabkan kehancuran Kerajaan Khitan, melainkan perang dan pengkhianatan! Dan perang ditimbulkan bukan oleh siapa-siapa, melainkan oleh manusia sendiri, oleh engkau dan aku dan kita semua! Ayah bundamu gugur sebagai pahlawan-pahlawan yang membela bangsa dan negara. Apakah engkau sekarang hendak gugur sebagai seorang pengkhianat?"

Pucat sekali wajah Maya ketika dia memandang suhengnya. Suaranya tersendat-sendat ketika dia berkata.

"Suheng, engkau terlalu! Engkau tahu mengapa aku sampai menjadi begini, engkau tahu mengapa aku sampai meninggalkan Pulau Es. Engkau tahu pula mengapa aku melanjutkan semua ini setelah berjumpa denganmu di medan perang! Mengapa engkau hendak menyalahkan aku saja dan sama sekali tidak ingat bahwa engkaulah gara-gara semua ini? Engkau menolak untuk membawaku sendiri saja ke Pulau Es, engkau ragu-ragu dalam cintamu terhadap diriku.... padahal hanya angkau seorang harapanku....! Engkau telah menghancurkan harapan dan cintaku.... engkau...."

Maya menggigit bibir terisak dan tiba-tiba dia menekuk pedang dengan kedua tangannya.

"Krekkk!"

Pedang itu patah berkeping-keping dan dlbuangnya ke atas tanah.

"Llhat, seperti itulah hatiku, Suheng. Sekarang tinggal hanya dua pilihan bagiku. Kalau engkau suka bersamaku, berdua saja kembali ke Pulau Es, aku akan meninggalkan semua ini dan selamanya akan tunduk kepadamu. Kalau engkau menolak lagi, aku akan melanjutkan perang ini, dan akan mengamuk terus sampai mati!"

"Ohhhh....!"

Seruan ini keluar dari mulut Suma Hoat.

Wajah pemuda itu pucat sekali.

Kiranya Maya, gadis terakhir yang menjatuhkan hatinya, yang dicintanya, yang diharapkan akan dapat membalas cintanya, kiranya telah mencinta Kam Han Ki, seperti halnya Khu Siauw Bwee!

Han Ki sendiri sudah menduga akan pendirian Maya seperti itu.

Dia merasa tidak baik untuk berbantahan di depan banyak orang, maka dia hanya berkata.

"Sumoi, mari ikut aku pergi....!"

Tubuhnya berkelebat ke depan.

Maya tarkejut dan berusaha meronta malepaskan diri.

Akan tetapi, Han Ki telah menotoknya dan berlari pergi cepat sekali, membawa tubuh sumoinya dalam kempitan.

"Kam-taihiap, tunggu....!"

Suma Hoat berteriak, kemudian tubuh pemuda ini juga berkelebat lenyap.

Dia mengerahkan seluruh kepandaian untuk mengejar Kam Han Ki, akan tetapi tentu saja dia tertinggal jauh sekali.

Namun, Suma Hoat terus mengejar sambil berseru-seru memanggil.

Hatinya menjadi penasaran sekali.

Mana mungkin Kam Han Ki menerima cinta kasih dua orang gadis itu?

Biarlah Kam Han Ki memilih seorang di antara mereka, dan yang seorang lagi, tidak peduli yang mana karena dia sudah tergila-gila dan jatuh clnta kepada kedua orang gadis itu, kalau ditolak oleh penghuni Istana Pulau Es, biarlah menjadi isterinya!

Perang berlangsung terus biarpun Maya telah pergi.

Akan tetapi, tentu saja semangat berjuang para pasukan Mancu telah menurun hebat setelah panglima wanita yang mereka agungkan dan agulkan itu lenyap.

Apalagi setelah muncul pasukan Yucen yang membantu bala tentara Sung, pihak Mancu menjadi kewalahan dan terpaksa melarikan diri setelah meninggalkan banyak anak buah pasukan yang roboh.

Pangeran Bharigan sendiri terluka, namun luka di tubuh itu tidaklah seperti luka di hati Sang Pangeran karena lenyapnya Maya, panglima yang amat diandalkan, dan juga wanita yang amat dicintanya itu.

Air laut di sekeliling pulau itu tenang sekali dan di sana-sini tampak gumpalan es sebesar bukit, mengambang tidak bergerak.

Pulau Es tampak sebagai seorang raksasa putih, atau sebuah patung raksasa terbuat dari batu pualam putih sedang tidur telentang.

Sinar matahari yang tertutup awan tipis dan kabut laut masih cukup kuat untuk menimpa permukaan Pulau Es, membuat pulau yang aneh itu berkilauan permukaannya.

Bangunan istana di tengah pulau, yang telah lama ditinggalkan penghuni-penghuninya sehingga hampir tertutup dan tertimbun salju tak terurus, kini tampak bersih kembali setelah Han Ki, bersama dua orang sumoinya kembali ke pulau.

Biarpun kadang-kadang hatinya menjadi panas dan cemburu kepada Siauw Bwee kalau teringat akan cinta kasihnya kepada Han Ki, namun begitu bertemu dengan Siauw Bwee di Pulau Es, Maya segera menubruk dan memeluknya.

Demikian pula dengan Siauw Bwee yang merasa terharu dan rindu kepada sucinya itu.

Dua orang ini pernah tinggal sampai bertahun-tahun di atas Pulau Es sebagai saudara, senasib sependeritaan.

Hanya karena cinta dan cemburu saja mereka bermusuhan dan timbul rasa benci di hati mereka.

Kini, setelah berpisah lama, perjuangan antara mereka mendatangkan rasa terharu dan timbul kembali rasa kasih sayang di antara mereka.

"Sumoi...., aku banyak salah kepadamu, maafkan aku, Sumoi...."

"Aihhh, Suci, jangan berkata demikian. Akulah yang telah banyak kesalahan kepadamu, Suci. Akulah yang mohon maaf kepadamu...."

Han Ki menarik napas panjang menyaksikan pertemuan antara kedua orang sumoinya itu.

"Nah, begitulah, kedua sumoiku yang baik. Antara saudara sewajarnya saling mengalah dan saling memaafkan kalau ada kesalahan. Kita bertiga senasib, bertahun-tahun melatih diri di pulau ini, sesuai dengan kehendak Suhu. Karena itu, baru bahagialah hidupku melihat kita bertiga dapat kembali di sini."

Begitu dua orang dara itu mendengar suara Han Ki dan kini melepaskan pelukan menoleh ke arah pemuda itu, timbullah kembali persoalan rumit yang mengganggu hati mereka.

Hampir berbareng keduanya membentak.

"Akan tetapi, Suheng...."

Han Ki cepat mengangkat kedua tangan ke atas.

"Cukup, bukan waktunya kita bicara. Biarlah kelak kita bicarakan urusan yang menyangkut antara kita dengan tenang dan perlahan-lahan. Sekarang, yang terpenting adalah membereskan dan membersihkan Istana Pulau Es. Lihat betapa kotor dan tak terpelihara semenjak kalian berdua pergi meninggalkannya."

Han Ki menudingkan telunjuknya dan ketika dua orang dara itu memandang dan menyaksikan keadaan istana tua itu mereka menjadi terharu dan tanpa banyak membantah mereka berdua membantu Han Ki membersihkan istana itu.

Ketika mereka membersihkan ruangan di mana dahulu tiga buah arca mereka disimpan, Maya dan Siauw Bwee segera bertanya mengapa arca mereka bertiga kini tidak tampak lagi berada di situ.

Han Ki menarik napas panjang ketika menjawab.

"Gara-gara kalian berdua meninggalkan aku seorang diri di sini, hatiku merana setiap hari, apalagi kalau aku melihat arca kita bertiga yang masih berkumpul di sini. Pada suatu hari aku tidak dapat menahan gelora hatiku dan kuhancurkan ketiga arca buatanku itu yang kuanggap merupakan penggoda yang selalu memberatkan hati."

"Ihhh, Suheng! Arca yang tidak bersalah apa-apa menjadi korban kemarahan dan kedukaan hatimu. Sungguh tidak adil. Aku yang bersalah mengapa arcaku yang dihancurkan?"

Siauw Bwee mencela.

"Sumoi benar! Akulah yang menjadi gara-gara, mengapa arcaku yang amat baik itu, yang tidak berdosa apa-apa, dihancurkan? Suheng, kau harus membuatkan arcaku lagi yang baru!"

Maya juga mencela. Han Ki tersenyum. Senyum yang sudah lama sekali meninggalkan bibirnya semenjak dia ditinggalkan dua orang sumoinya, senyum gembira.

"Jangan kwawatir, aku telah siap untuk membuatkan gantinya yang lebih indah lagi. Untuk keperluan itu, aku sudah mendapatkan bahannya, yaitu batu pualam putih yang kudapatkan di atas pulau tak jauh dari sini. Inilah batu-batu itu!"

Dia memperlihatkan tiga bongkah batu pualam putih yang bersih dan indah sehingga kedua orang dara itu memandang berseri dan lenyap kekecewaan mereka.

Setelah selesai membersihkan Istana Pulau Es, Han Ki menurunkan latihan Ilmu Swat-im Sin-kang, yang menghimpun tenaga sakti yang dingin, merupakan inti dari hawa dingin di Pulau Es.

"Dengan memiliki sin-kang ini, kalian akan menjadi jauh lebih kuat, dan tidak percuma menjadi penghuni Istana Pulau Es. Latihan ini tidak ringan, karena kalian harus berlatih siang malam di tempat terbuka, terutama sekali pada tengah malam di waktu hawa sedang dinginnya kalian dapat menyedot inti hawa dingin salju. Im-kang yang kalian miliki dahulu itu sudah cukup kuat untuk menjadi dasar, sehingga untuk dapat melatih Swat-im Sin-kang dengan sempurna, kalian hanya memerlukan waktu tiga bulan. Mari kuajari cara berlatih dan kupimpin untuk memberi contoh semalam ini."

"Nanti dulu, Suheng,"

Tiba-tiba Maya berkata, suaranya bersungguh-sungguh sehingga Han Ki dan Siauw Bwee mendengarkan penuh perhatian.

Mereka bertiga duduk bersila di atas tanah yang tertutup salju, duduk begitu saja karena memang demikian yang dikehendaki Han Ki untuk melatih Swat-im Sin-kang.

"Kau hendak bertanya tentang apa, Maya-sumoi?"

Han Ki bertanya.

"Suheng, kurasa engkau lupa bahwa aku dan Sumoi bukanlah kanak-kanak lagi seperti beberapa tahun yang lalu sehingga luculah kalau Suheng memperlakukan kami seperti dua orang anak perempuan yang masih kecil! Memang latihan Swat-im Sin-kang seperti yang Suheng terangkan amat penting bagi kemajuan ilmu-ilmu kami, akan tetapi ada hal yang jauh lebih penting lagi yang Suheng lupakan, atau sengaja Suheng lewatkan begitu saja sebagai hal yang tidak penting."

Han Ki memandang tajam, hatinya merasa tidak enak.

"Maya-sumoi, apakah maksudmu? Hal apakah yang kulupakan?"

"Suheng, lupakah engkau untuk apa engkau mengajak aku ke pulau ini? Apa pula artinya engkau mengajak Sumoi pulang ke Pulau Es? Suheng, bukankah aku pernah menyatakan bahwa aku hanya mau kembali ke Pulau Es bersamamu, meninggalkan semua urusan dendam pribadi, kalau engkau mau menerima aku sebagai isterimu?"

"Maya-sumoi!"

"Suheng, kuulangi lagi. Aku dan Sumoi bukanlah anak-anak kecil lagi! Tak perlu kiranya dirahasiakan lagi karena memang bukan rahasia bagi kita bertiga bahwa aku mencintamu, Suheng, juga bahwa Khu-sumoi mencintamu pula. Adapun engkau sendiri, sikapmu sungguh menyakitkan hati. Engkau kelihatan mencintaku, akan tetapi juga menyayang Sumoi. Hal ini tidak bisa dilanjutkan tanpa pernyataanmu untuk menentukan, untuk mengambil keputusan. Sebenarnya, siapakah di antara kami yang Suheng cinta dan pilih untuk menjadi isteri?"

Han Ki menjadi pucat wajahnya, sedangkan Siauw Bwee yang tadinya berseri karena merasa yakin bahwa tentu suhengnya yang jelas telah menyatakan cinta kasihnya kepadanya, akan terang-terangan memilih dia, kini menjadi cemas melihat suhengnya kelihatan bingung.

"Khu-sumoi, bagaimana pendapatmu?"

Tiba-tiba Maya berkata kepada sumoinya.

"Bukankah sudah adil dan semestinya kalau Suheng tidak menyiksa hati kita berdua dan mengambil keputusan dengan sejujurnya?"

Khu Siauw Bwee menelan ludah, sukar untuk menjawab.

Dia pun seorang dara yang keras hati dan tabah, namun untuk bersikap terbuka dan terang-terangan seperti Maya, bicara begitu jujur mengenai urusan cinta, behar-benar dia tidak sanggup!

Maka dia hanya dapat mengangguk saja karena memang dia setuju sekali akan pendapat Maya itu.

Suhengnya memang harus dapat memutuskan urusan mereka itu agar tidak menyiksa hati lagi, mengambil pilihan sehingga tidak menimbulkan perasaan cemburu.

Kam Han Ki menarik napas panjang.

Memang hal inilah yang dia khawatirkan semenjak dia mengajak Maya dengan paksa kembali ke Pulau Es.

Tadinya dia hendak mengulur waktu, membuat mereka berdua itu lupa akan urusan cinta dengan mengajarkan ilmu-ilmu yang tinggi.

Harus dia akui bahwa cinta kasih hatinya condong kepada Siauw Bwee, akan tetapi betapa mungkin dia mengakui hal itu di depan Maya dan menghancurkan perasaan hati Maya yang amat disayangnya itu?

"Maya-sumoi dan Khu-sumoi....

sungguh berat sekali rasa hatiku menghadapi pertanyaan dan desakan kalian ini.

Kalian adalah dua orang sumoiku, yang semenjak kecil bersama-samaku di sini.

Aku sayang kepada kalian berdua, aku rela membela kalian berdua dengan taruhan nyawaku.

Aku sayang kalian seperti sayang diriku sendiri, bagaimana mungkin aku akan dapat menyakiti dan menyiksa hati kalian, dua orang sumoiku yang tercinta, dan hanya kalian berdua saja yang kumiliki di dunia ini?"

Hening sampai lama setelah Han Ki mengeluarkan kata-kata ini dan pemuda itu menundukkan mukanya, cemas sekali menantikan apa yang akan diucapkan oleh mulut kedua orang sumoinya itu.

Maya dan Siauw Bwee memandang kepada Han Ki, dengan sinar mata tajam seolah-olah sinar mata kedua dara itu hendak membelah dada menjenguk isi hati Han Ki.

Mereka berdua, terutama Siauw Bwee, merasa penasaran sekali.

Bukankah suhengnya itu telah menyatakan cinta kasihnya ketika dirawatnya dahulu?

Akan tetapi, ketika itu, ingatan suhengnya belum pulih benar sehingga pada waktu itu di dunia ini tidak ada gadis bernama Maya bagi suhengnya.

Sekarang lain lagi!

Di sampingnya terdapat Maya, seorang dara yang ia tahu amat cantik jelita dan berilmu tinggi, seorang dara yang amat disayang oleh suhengnya.

"Suheng, kami berdua kini adalah gadis-gadis yang telah dewasa, bukan kanak-kanak lagi. Karena itu, aku pun maklum akan kesulitan yang Suheng hadapi. Semenjak kecil kita bertiga berada di sini, senasib sependeritaan, maka beratlah bagi Suheng kalau di antara kita sampai terpecah. Maka, aku mempunyai usul, kalau saja Suheng dan Sumoi dapat menerimanya untuk mengatasi kesulitan ini."

Dengan penuh harapan Han Ki mengangkat muka memandang wajah Maya yang amat cantik itu.

Kecantikan Maya inilah yang benar-benar membingungkan hati Han Ki.

Dia memang amat mencinta Siauw Bwee, akan tetapi Maya....

jantungnya selalu berdebar kalau ia memandang wajah sumoinya yang memiliki kecantikan yang luar biasa dan khas itu!

"Apakah usulmu itu, Sumoi?"

Tanyanya penuh harapan karena tentu saja dia ingin sekali dapat keluar dari kesulitan yang membingungkan hatinya itu.

"Karena Suheng tidak dapat berpisah dari kami berdua, dan menyayang kami berdua, tidak mau menyiksa hati kami berdua, jalan satu-satunya bagi Suheng hanyalah menjadikan kami berdua sebagai isteri Suheng."

Pucat seketika wajah Kam Han Ki mendengar usul yang sama sekali tak pernah disangkanya itu.

Juga Siauw Bwee memandang wajah sucinya dengan mata terbelalak, akan tetapi ketika Maya juga memandangnya dan kedua orang wanita itu bertemu pandang, seolah-olah ada permufakatan tanpa kata di antara kedua orang dara itu.

Pada detik itu Siauw Bwee dapat menyelami hati sucinya dan melihat ketidakmungkinan apabila Suheng mereka diharuskan memilih seorang di antara mereka.

Memang hanya itulah jalan satu-satunya yang akan dapat membebaskan mereka dari ancaman kesulitan dan perpecahan.

"Aku tidak melihat jalan lain dan mengingat bahwa kita bertiga senasib sependeritaan sejak kecil aku setuju dengan usul Suci."

Akhirnya Siauw Bwee berkata dengan saura lirih.

"Tidak! Tidak mungkin itu....! Kalian kira aku ini orang apa? Sudah begitu rendahkah batinku sehingga mempergunakan keadaan untuk menang sendiri? Tidak, andaikata kalian rela sekalipun, aku akan mengutuk diri sendiri, Suhu akan mengutuk aku!"

Han Ki yang menjadi bingung itu menutupi muka dengan kedua tangannya.

Siauw Bwee dan Maya saling pandang, kemudian terdengar suara Siauw Bwee berkata, suaranya tegas dan dingin.

"Suheng, kiranya bukan demikianlah sikap seorang jantan! Apalagi seorang pemuda seperti Suheng, murid langsung Suhu Bu Kek Siansu, penghuni Istana Pulau Es! Seorang laki-laki harus dapat mengambil keputusan. Suheng, katakanlah sejujurnya, siapakah di antara kami berdua yang Suheng beratkan? Sungguh, aku tidak akan menyalahkanmu andaikata engkau memilih Maya-suci. Katakanlah bahwa engkau hanya mencinta Maya-suci dan memutuskan untuk mengambilnya sebagai isteri, dan aku akan pergi dari sini, tidak akan mengganggu kebahagiaan kalian."

Han Ki menurunkan kedua tangannya dan memandang Siauw Bwee, sinar matanya penuh duka, akan tetapi dia segera menundukkan mukanya lagi, tidak dapat menjawab.

Suasana menjadi hening, kemudian terdengar suara Maya, juga amat dingin dan tegas.

"Suheng, tidak kunyana bahwa engkau, pria satu-satunya di dunia ini yang kukagumi, yang kuanggap paling sakti, paling kuat, dan paling jantan, ternyata amat lemah. Mengaku terus terang akan cintamu, engkau tidak berani karena takut melukai hati seorang di antara kami. Kalau engkau mencinta kami berdua, engkau tidak berani menikah dengan kami berdua karena takut kalau dipandang sebagai laki-laki mata keranjang oleh dunia. Kalau begitu, mengapa pula engkau membujuk dan memaksa kami berdua ke sini? Mengapa tidak kaubiarkan saja kami mengembara dan menjauhkan diri darimu yang menyiksa hati kami dengan keraguan? Suheng, perlu apa engkau menghibur kami dengan melatih ilmu-ilmu tinggi? Kami bukan anak-anak kecil lagi, bukan itu yang kami butuhkan."

"Maya-suci benar! Suheng, kalau begitu, biarkan kami pergi lagi meninggalkan tempat ini, meninggalkan Suheng dan tidak perlu Suheng mencari kami lagi!"

Kata Siauw Bwee. Dua orang dara itu sudah meloncat berdiri siap untuk pergi meninggalkan Pulau Es.

"Nanti dulu....!"

Han Ki juga meloncat berdiri, mukanya pucat dan matanya sayu.

"Maya! Siauw Bwee! Berilah waktu padaku. Kalian tidak tahu betapa berat dan sukar bagiku untuk mengambil keputusan dalam hal ini. Sudah kukatakan bahwa, aku mencinta kalian berdua, mencinta sebagai adik-adik seperguruan, sebagai adik-adik kandung sendiri malah! Tiada kebahagiaan bagiku di dunia ini kecuali berdampingan selamanya dengan kalian. Akan tetapi memilih seorang di antara kalian? Benar-benar amat berat dan sukar bagiku. Aku perlu waktu untuk itu. Sekarang begini saja. Biarkan aku sendiri di dalam istana, membuat arca kita bertiga. Sambil membuat arca aku akan memilih, mungkin sekali akan dapat mengambil keputusan setelah jauh dari kalian berdua. Sementara itu, kalian berdua lanjutkan berlatih Swat-im Sin-kang di sini. Kurang lebih tiga bulan lagi, latihan kalian selesai dan pembuatan arca kita bertiga pun akan selesai. Nah, kita bertemu kembali di sini dan aku akan menentukan pilihanku."

Mendengar ini berdebar jantung di dalam dada Maya dan Siauw Bwee.

Setelah pemuda itu menyatakan hendak mengambil keputusan, menjatuhkan pilihannya, biarpun hal itu baru akan dilakukan tiga bulan lagi, hati mereka sudah menjadi tegang sekali, tegang dan khawatir, takut kalau-kalau tidak terpilih!

"Kalau tiga bulan lagi engkau belum dapat mengambil keputusan?"

Maya bertanya.

"Kalau demikian, terserah apa yang akan kalian lakukan,"

Jawab Han Ki ragu-ragu karena dia sendiri pun sangsi apakah kelak dia akan dapat mengambil keputusan yang amat sukar dan berat itu.

Kembali Maya dan Siauw Bwee saling pandang dan dua orang dara itu telah mengambil keputusan untuk menyetujui permintaan ini.

Permintaan terakhir yang akan mengakhiri pula penderitaan batin dan siksaan hati mereka.

Biarpun harus menanti dalam tiga bulan, akan tetapi karena dalam tiga bulan itu mereka dapat melatih diri dengan Swat-im Sin-kang, tidak akan terasa terlalu lama.

"Baiklah, aku setuju, Suheng,"

Kata Maya.

"Aku pun setuju,"

Kata pula Siauw Bwee. Han Ki menarik napas lega melihat dua orang sumoinya telah duduk kembali di atas salju.

"Kuharap saja tiga bulan kemudian aku takkan mengecewakan hati kalian. Marilah kuberi petunjuk tentang latihan Swat-im Sin-kang sebelum kutinggalkan kalian untuk mulai memahat arca kita."

Dengan penuh perhatian dua orang dara itu mendengarkan dan melihat petunjuk yang diberikan Han Ki, kemudian di bawah bimbingan suheng mereka itu, mereka mulai dengan latihan sin-kang yang mujijat itu.

Karena merupakan ilmu baru, berbeda dengan latihan sin-kang mereka di waktu dahulu, mereka berdua menderita sekali, apalagi setelah tiba di tengah malam yang amat dingin.

Namun, berkat kekuatan tubuh mereka, yang telah memiliki tenaga sakti, terutama sekali Siauw Bwee yang telah memiliki Jit-goat-sin-kang, mereka dapat mengatasi penderitaan itu dan pada keesokan harinya, Han Ki meninggalkan kedua orang sumoinya yang ia percaya akan mampu berlatih tanpa petunjuk dan bimbingannya lagi.

Tiga orang penghuni Istana Pulau Es itu melewatkan waktu dengan amat tekun.

Maya dan Siauw Bwee tekun berlatih sin-kang dan karena latihan ini membutuhkan pencurahan seluruh perhatian, mereka dapat melupakan urusan mereka dengan Han Ki.

Adapun Kam Han Ki yang bekerja dengan tekun di dalam Istana Pulau Es, merasa tersiksa sekali batinnya.

Dia bekerja tekun, memahat dan mengukir arca dari batu pualam.

Dia berusaha untuk memilih sambil mengerjakan arca, namun makin dipilih, makin sulit baginya.

Ketika dia mengerjakan arca Siauw Bwee, membayangkan sumoinya ini, cintanya makin mendalam dan dia maklum bahwa sesungguhnya kepada Siauw Bweelah cinta kasih hatinya dicurahkan.

Dia mencinta Siauw Bwee!

Akan tetapi, ketika ia mengerjakan arca Maya, dia membayangkan sumoinya ini dan jantungnya berdebar penuh gairah.

Selalu bangkit gairah dan birahinya setiap kali dia teringat kepada sumoinya ini, apalagi ketika membuat arcanya, seolah-olah dia selalu meraba wajah dan tubuh sumoinya.

Maklumlah dia bahwa berahinya condong kepada Maya yang memiliki kecantikan luar biasa, kecantikan yang membuat seleranya selalu tergugah.

Akhirnya, ketika dia membuat arcanya sendiri, seolah-olah dia menjenguk dan mengenal dirinya sendiri lebih mendalam, tahulah dia bahwa tak mungkin dia memilih seorang di antara mereka!

Kalau dia memilih Maya, hidupnya takkan bahagia karena dia mencinta Siauw Bwee, sungguhpun Maya akan merupakan isteri yang selalu menyenangkan hatinya.

Kalau dia memilih Siauw Bwee yang dicintanya, dia akan selalu merasa rindu dan takkan dapat melupakan wajah Maya yang cantik jelita!

Kalau dia memilih keduanya seperti yang diusulkan Maya dan disetujui Siauw Bwee, dia yakin tentu akan selalu timbul persaingan dan cemburu di antara kedua orang sumoinya itu yang memiliki watak jauh berbeda.

Baru dalam rasa sayang sebagai adik-adik seperguruan saja, semenjak dahulu mereka telah bersaing.

Apalagi membagi cinta kasihnya sebagai suami.

Tentu dia akan menjadi perebutan dan akan menciptakan neraka dalam kehidupan mereka bertiga!

Sambil menyelesaikan tiga buah arca yang kini telah jadi dan ternyata benar lebih indah daripada tiga buah arca yang dibuatnya dahulu dan yang dihancurkannya, selama beberapa malam Han Ki tidak tidur, tak dapat beristirahat karena hati dan pikirannya penuh dengan persoalan itu.

Hari terakhir dari waktu tiga bulan yang diberikan kepada dua orang sumoinya hampir tiba dan dia masihbelum mengambil keputusan dalam pemilihan itu!

Bagaimana dia akan dapat menghadapi kedua orang sumoinya dan bagaimana dia akan mengambil keputusan?

Tiga bulan lewat sudah.

Maya dan Siauw Bwee berhasil melatih Swat-im Sin-kang sampai tingkat terakhir.

Musim dingin telah berlalu, bukit-bukit es yang memenuhi laut di sekeliling Pulau Es sudah banyak berkurang.

Salju yang menutupi Pulau Es sudah banyak mencair.

Dua orang dara itu menuju ke pantai dan mencoba Swat-im Sin-kang mereka dengan memukulkan kedua telapak tangan mereka ke arah air.

Ternyata hawa pukulan mereka yang mengandung Swat-im Sin-kang dahsyat itu telah membuat air membeku dan menjadi bongkahan-bongkahan es sebesar kerbau dan gajah!

Akan tetapi, kemajuan hebat dalam ilmu kepandaian mereka ini tidak membuat Maya dan Siauw Bwee gembira.

Sebaliknya, mereka makin gelisah karena waktu yang ditentukan telah tiba, seolah-olah sudah mendekatlah keputusan hukuman bagi mereka!

Makin gelisah lagi ketika mereka menanti sampai lewat tiga hari, belum juga suheng mereka muncul!

"Eh, Sumoi.

Mengapa Suheng belum juga keluar?"

Maya berkata ketika mereka berjalan kembali ke depan Istana Pulau Es.

"Mungkin arcanya belum selesai, Suci,"

Kata Siauw Bwee yang selalu ingin membela Han Ki.

"Selesai atau belum, semestinya dia keluar untuk memenuhi janjinya. Dia tentu sudah tahu bahwa tiga bulan telah lewat, dan tahu pula betapa menyiksanya menanti seperti ini."

Siauw Bwee menghela napas.

Sebenarnya dia pun merasa gelisah sekali, akan tetapi dia tidak mau menyatakan di depan sucinya karena dia hendak melindungi Han Ki.

"Tentu ada sesuatu yang menyebabkan Suheng terlambat, Suci. Biasanya Suheng tidak pernah melanggar janji. Harap Suci suka bersabar satu dua hari lagi, tentu Suheng akan keluar menemui kita."

"Tidak! Kita sudah menunggu tiga hari. Itu sudah cukup. Aku akan menyusulnya ke dalam!"

Setelah berkata demikian, Maya lalu melangkah memasuki Istana Pulau Es untuk mencari Han Ki di dalan ruangan tempat mereka menyimpan arca dahulu, yaitu di ruangan bawah.

Melihat ini, tentu saja Siauw Bwee tidak mau tinggal sendiri dan dia pun cepat melangkah maju dan bersama sucinya memasuki istana.

Sunyi sekali di dalam istana itu.

Dengan jantung berdebar, kedua orang dara itu memasuki ruangan bawah yang pintunya tertutup.

Maya mendorong daun pintu, bersama Siauw Bwee memasuki ruangan itu.

Tiga buah arca batu pualam putih berdiri berjajar di situ, amat indah dan hidupnya menggambarkan mereka bertiga!

Kam Han Ki berdiri di tengah-tengah, Siauw Bwee di sebelah kanan dan Maya di sebelah kiri.

Dua orang dara itu terpesona, sejenak malah lupa kepada Han Ki, memandang tiga buah arca itu dengan mata terbelalak kagum.

Benar-benar suheng mereka tidak membohong, tiga buah arca itu indah sekali, jauh lebih indah daripada yang dibuatnya dahulu.

Apalagi arca-arca itu menggambarkan keadaan mereka sekarang, berbeda dengan yang dahulu, yang menggambarkan mereka yang masih remaja.

Tiga buah arca itu, ini menggambarkan seorang pria tampan dan gagah namun berwajah sayu, dan dua orang dara yang sudah dewasa, bagaikan dua kuntum bunga yang mengharapkan datangnya lebah, memanggil lebah dengan keharuman mereka.

Akan, tetapi, ke mana perginya Han Ki?

"Suheng, di mana engkau?"

Tiba-tiba Siauw Bwee berseru memanggil ketika dia tidak dapat menemukan suhengnya di dalam ruangan itu.

"Hemm, dia malah meninggalkan kita. Dia sudah pergi, Sumoi. Lihat!"

Maya berkata, menuding ke bawah. Siauw Bwee menghampiri dan bersama sucinya membaca tulisan yang dicorat-coret di atas lantai.

"Maya-sumoi dan Khu-sumoi, aku masih belum dapat mengambil keputusan. Masih mencari-cari. Maafkan aku terlambat beberapa hari."

"Hemm, Suheng benar-benar mempermainkan kita!"

Maya berkata marah, kakinya menginjak-injak ukiran huruf-huruf di lantai sehingga lantai kembali rata dan huruf-huruf itu lenyap.

Melihat ini, Siauw Bwee merasa tidak senang.

"Suci, engkau terlalu. Karena sayangnya kepada kita maka Suheng merasa tersiksa dan sukar mengambil keputusan. Sepatutnya dia dikasihani, mengapa Suci malah marah-marah kepadanya? Lihat betapa indahnya dia membuat arca kita, tanda bahwa Suheng benar-benar mencinta kita dengan sepenuh hatinya. Kalau Suci juga mencintanya seperti aku mencintanya, tentu Suci tidak akan marah, sebaliknya menaruh kasihan kepadanya."

Maya merasa betapa tepatnya ucapan sumoinya dan hal ini menimbulkan rasa cemburu dan marah besar.

Ucapan sumoinya itu membayangkan rasa cinta kasih yang mendalam dari sumoinya kepada Han Ki, dan tampaknya membuat cinta kasihnya sendiri hilang artinya!

Dengan perlahan dia membalikkan tubuhnya menghadapi Siauw Bwee, memandang tajam dan berubahlah sinar matanya sekarang.

Kebencian yang disebabkan rasa cemburu dan iri hati datang lagi setelah Han Ki tidak ada di situ.

"Sumoi, ucapanmu itu seolah-olah engkau hendak menyatakan bahwa Suheng adalah milikmu sendiri! Seolah-olah aku marah dan tidak mencintanya, dan hanya engkau yang mencinta! Sumoi, marilah kita hadapi persoalan ini dengan jujur dan bersikap sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan. Kita bukanlah wanita-wanita lemah yang memperebutkan pria yang dicintanya dengan linangan air mata! Kita adalah wanita-wanita perkasa yang sudah biasa menyelesaikan segala persoalan dengan ujung pedang! Mengapa sekarang kita bersikap lemah? Sudah jelas bahwa Suheng menjadi lemah sekali menghadapi persoalan ini, dia malah tidak berani menghadapinya dan secara pengecut menjauhkan diri dari persoalan, meninggalkan kita berdua di sini!"

"Cukup! Jangan memaki Suheng! Dia bukan pengecut. Habis, engkau mau apa?"

Siauw Bwee timbul kemarahannya mendengar kekasihnya disebut pengecut.

"Bagus, sikapmu makin menjadi-jadi, seolah-olah engkau hendak memonopoli Suheng! Andaikata kita berdua menjadi isterinya, tentu engkau pun akan bersikap seperti ini, hendak menguasai dia sendiri menjadikan aku saingan yang tidak ada artinya. Jalan satu-satunya hanyalah bahwa seorang di antara kita harus lenyap!"

Siauw Bwee membelalakkan mata dan mengerutkan alisnya.

"Maksudmu....?"

Tanyanya untuk mendapat ketegasan.

"Kita selesaikan persoalan ini di ujung pedang! Tentu saja kalau engkau berani, karena sebagai sucimu tentu tingkatku lebih tinggi darimu. Kalau engkau tidak berani melawanku, engkau harus pergi dari sini dan jangan muncul lagi di sini karena berarti bahwa engkau takut dan sudah kalah dalam memperebutkan Kam-suheng!"

"Suci! Aku sama sekali tidak takut padamu, akan tetapi.... kita adalah saudara seperguruan, mana mungkin bertanding saling bunuh? Pula, memperebutkan cinta dengan taruhan nyawa antara saudara adalah perebutan hina...."

"Cerewet! Kalau takut, perlu apa banyak alasan? Siauw Bwee, ingat, aku adalah seorang peperangan, seorang bekas panglima perang. Tidak ada persoalan lain bagiku kecuali berjuang untuk memperebutkan kemenangan. Yang ada bagiku hanyalah kalah dan menang. Hidup adalah perjuangan, yang menang berhak mendapatkan, yang kalah harus tahu diri dan pergi. Kalau tidak kita putuskan sekarang sewaktu Suheng tidak berada di sini, urusan di antara kita tidak akan ada beresnya!"

Siauw Bwee marah sekali.

"Aku tidak sudi! Aku tidak sudi memenuhi permintaanmu yang gila! Aku akan menanti datangnya Suheng."

Setelah berkata demikian, dengan isak tertahan Siauw Bwee berkelebat keluar dan lari dari situ. Maya melotot memandang arca Han Ki, kemudian berbisik.

"Engkaulah yang mendatangkan ini semua dan engkau akan melihat seorang di antara kami bergelimpang tanpa nyawa!"

Kemudian dia membalikkan tubuh, meloncat dan lari mengejar Siauw Bwee.

Dengan hati marah yang ditahan-tahannya, Siauw Bwee lari ke arah pantai yang merupakan tebing curam di Pulau Es.

Dia sengaja mendaki pantai yang tinggi ini karena dia hendak melihat dari tempat tinggi ini untuk mencari suhengnya.

Mungkin suhengnya yang ia tahu sedang bingung itu naik perahu dan menjauhkan diri dari pulau untuk mencari "ilham"

Menghadapi persoalan yang ruwet itu.

Hatinya marah sekali kepada Maya.

Tentu saja dia tidak takut menghadapi sucinya itu.

Kalau dahulu saja, sebelum meninggalkan pulau, tingkat kepandaiannya belum tentu kalah oleh Maya, apalagi sekarang, setelah dia mendapatkan banyak tambahan ilmu silat yang aneh-aneh.

Dia telah mempelajari Ilmu Kaki Tangan Kilat dari kaum lengan buntung dan kaki buntung mempelajari pula Jit-goat-sin-kang.

Dalam Ilmu Swat-im Sin-kang pun kekuatan mereka seimbang.

Dia sama sekali tidak takut, akan tetapi dia tidak mau melayani kehendak sucinya yang gila itu.

Kalau mereka bertanding mati-matian, tentu akan menimbulkan malapetaka hebat.

Andaikata dia kalah dan tewas, baginya sudah tidak ada urusan lagi.

Akan tetapi sebaliknya, kalau dia menang dan sucinya terluka atau tewas, bagaimana dia akan dapat memandang wajah suhengnya?

Kalau menurutkan hati marah, tentu saja ingin dia melayani dan melawan sucinya yang juga menjadi saingannya itu.

Akan tetapi, cinta kasihnya terhadap suhengnya terlalu besar dan tidak ingin menyakiti hati Kam Han Ki dengan melukai, apalagi membunuh Maya.

Setelah tiba di tepi pantai yang merupakan tebing tinggi dan amat curam itu, Siauw Bwee memandang ke sekeliling pulau penuh harapan.

Namun dia kecewa karena keadaan di sekeliling pulau sunyi, sama sekali tidak tampak adanya perahu seperti yang diharapkannya.

Ia lalu mengerahkan khi-kangnya dan mengeluarkan suara melengking nyaring sekali, memanggil suhengnya.

"Kam-suheng....!"

Suaranya bergema sampai ke sekeliling pulau.

Beberapa kali dia mengulang teriakannya yang melengking nyaring, menghadap ke berbagai penjuru.

Namun, tidak ada terdengar jawaban, kecuali gema suaranya sendiri.

"Suheng....!"

"Khu Siauw Bwee, bersiaplah engkau!"

Siauw Bwee terkejut sekali dan cepat membalikkan tubuhnya.

Kiranya Maya telah berdiri di hadapannya, dengan pedang terhunus!

Wajah Maya kelihatan bengis dan penuh kebencian.

"Suci, mau apa engkau?"

"Cabut pedangmu dan mari kita selesaikan urusan antara kita, sekarang juga!"

"Aku tidak sudi!"

Jawab Siauw Bwee, menekan kemarahan hatinya.

"Kalau tidak mau, minggat engkau dari sini!"

"Aku pun tidak sudi pergi!"

Jawab pula Siauw Bwee.

"Hemmm, hanya ada pilihan bagimu. Pergi dari sini atau cabut pedangmu menandingiku."

"Kalau keduanya aku tidak sudi....?"

"Akan kubunuh engkau di sini, sekarang juga!"

Maya mengelebatkan pedangnya.

"Suci, engkau telah gila! Engkau gila karena cemburu dan iri hati!"

"Tidak, aku hanya mengambil jalan yang tepat dan singkat untuk menghabiskan persoalan yang berlarut-larut. Suheng tidak dapat mengambil keputusan, engkau pun ragu-ragu dan lemah, maka akulah yang mengambil keputusan. Hayo, cabut pedangmu, kalau tidak, aku akan menyerangmu!"

"Hemmm, Maya-suci, agaknya engkau sudah merasa yakin benar akan dapat menang dariku! Aku tidak takut melawanmu, Suci. Akan tetapi aku tidak mau, karena melawanmu berarti akan membuat Suheng makin berduka. Aku terlalu cinta kepadanya maka aku rela berkorban perasaan menghadapi penghinaanmu ini...."

"Cukup! Lihat senjata!"

Maya menjadi makin marah ketika Siauw Bwee bicara tentang cintanya yang mendalam.

Pedang di tangan Maya berubah menjadi sinar terang ketika menusuk ke arah dada Siauw Bwee.

Dara ini tidak bergerak, tidak mengelak, tidak menangkis hanya memandang dengan mata terbuka lebar, sedikit pun tidak gentar.

Pedang yang meluncur cepat itu tiba-tiba terhenti, tepat di depan dada Siauw Bwee, ujungnya sudah menyentuh baju dan tergetar.

Maju beberapa senti meter lagi saja tentu ujung pedang akan menembus dada itu!

"Keparat!

Aku bukan seorang pengecut yang suka membunuh orang yang tidak melawan!"

Maya berseru marah sekali.

"Khu Siauw Bwee, engkau adalah seorang pengecut hina kalau tidak berani melawanku, melainkan memancingku agar membunuhmu tanpa melawan sehingga kelak Suheng akan menyalahkan aku. Benar-benarkah engkau seorang pengecut hina?"

Siauw Bwee juga seorang gadis yang berhati keras.

Kalau saja dia tidak ingat kepada Han Ki dan tidak ingin menyakiti hati orang yang dicintanya itu, tentu sudah tadi-tadi dia mencabut senjata dan melawan sucinya yang gila oleh cemburu dan iri hati ini.

Akan tetapi, sekarang mendengar dia disebut pengecut hina, dia tidak dapat menahan lagi kemarahannya.

"Singgg....!"

Pedangnya telah tercabut.

"Bagus, mari kita selesaikan!"

Maya berseru girang dan menerjang maju dengan pedangnya.

"Trang-cring-cringgg....!"

Bunga api berpijar ketika dua batang pedang itu bertemu bertubi-tubi.

Pertandingan itu hebat bukan main.

Mereka sama kuat, sama cekatan, dan ilmu pedang mereka pun dari satu sumber.

Lenyaplah bayangan tubuh kedua orang dara perkasa itu, terbungkus sinar pedang mereka yang bergulung-gulung seperti dua ekor naga sakti bermain di angkasa raya.

Pertandingan itu mati-matian, terutama sekali dari pihak Maya yang benar-benar ingin memenangkan (Lanjut ke

Jilid 38) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 38 pertandingan itu.

Sebagai seorang yang biasa mempergunakan siasat perang yang keras dara ini sudah mengambil keputusan untyk membunuh sumoinya dalam pertandingan ini.

Bukan sekali-kali karena bencinya terhadap sumoinya, melainkan dia tidak dapat melihat jalan lain.

Dia harus menang dan kalau kelak Han Ki datang, pemuda itu tentu tidak dapat menyalahkan dia yang menang dalam pertandingan yang terbuka dan adil.

Kalau Siauw Bwee tewas, dia mendapat banyak kesempatan untuk menghibur Han Ki, dan tentu cinta kasih pemuda yang terpecah itu akan dicurahkan seluruhnya kepadanya.

Akan tetapi, betapa kaget hati Maya ketika ia mendapat kenyataan bahwa gerakan Siauw Bwee jauh lebih hebat dari dahulu!

Gerakan kaki dan tangan sumoinya itu amat cepat dan aneh membuat dia bingung dan kadang-kadang dia terdesak hebat.

Maklumlah dia bahwa tentu selama dalam perantauan ini, sumoinya telah mempelajari ilmu silat baru yang hebat!

Dan dia hanya membuang waktu perantauannya dengan ilmu perang saja!

Maya amat cerdik.

Diam-diam dia memperhatikan gerakan kaki dan tangan Siauw Bwee dan berusaha menyelami dan mempelajari intinya.

Namun, sedikit saja dia membagi perhatian, sinar pedangnya terkurung dan dia hanya mampu menjaga diri saja tanpa mampu menyerang sedikit pun juga!

Maya makin terkejut, lalu berusaha mencari kemenangan dengan mengandalkan tenaga sin-kangnya.

Dahulu, sebelum mereka meninggalkan pulau, tingkat sin-kangnya masih menang sedikit dibandingkan dengan sumoinya, dan tentu gemblengan-gemblengan dalam perang yang dialaminya membuat tenaganya lebih kuat lagi.

Dengan pengerahan sin-kang sekuatnya pedangnya menyambar dan menangkis, dengan maksud untuk membuat pedang sumoinya patah atau terpental.

"Cringgg....!"

Nyaring sekali bunyi kedua pedang yang bertemu itu dan akibatnya, Siauw Bwee terhuyung mundur dua langkah sedangkan Maya mundur tiga langkah!

"Aihhh....!"

Tak terasa lagi Maya berteriak kaget.

Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa dalam tenaga sin-kang pun dia kalah kuat sedikit!

Hal ini tidaklah aneh karena Siauw Bwee mendapat tambahan tenaga baru dari ilmunya Jit-goat Sin-kang.

Kemarahan Maya menjadi-jadi.

Dia menubruk ke depan dan melakukan terjangan membabi-buta, agaknya kini bermaksud mengadu nyawa!

Lebih baik mati bersama daripada dia kalah dan kehilangan Han Ki!

Kalau dia menghendaki, biarpun tidak terlalu mudah, agaknya Siauw Bwee akan dapat keluar dari pertandingan itu sebagai pemenang.

Namun, dara ini di balik kemarahannya masih sadar bahwa dia tidak boleh melukai sucinya, apalagi membunuh karena hal itu mungkin akan menjadi sebab putusnya hubungan cinta antara dia dan Kam Han Ki.

Karena inilah, maka dia selalu menjaga gerakannya agar jangan sampai mendatangkan serangan maut yang mengancam nyawa lawan dan kalau mungkin, dia hanya akan mengalahkan sucinya tanpa mendatangkan luka berat.

Akan tetapi, tentu saja hal ini sama sekali tidak mudah.

Biarpun dia dapat menandingi sucinya karena ilmu-ilmu gerakan kilat dan Jit-goat Sin-kang, namun kelebihan tingkatnya tidak berapa banyak.

Betapapun lihainya Ilmu Gerak Kilat dan Jit-goat Sin-kang, tidaklah melebihi kehebatan ilmu-ilmu yang diajarkan Han Ki kepada mereka.

Keunggulan Siauw Bwee hanya karena ilmu-ilmu itu tidak dikenal oleh Maya, membuat sucinya menjadi bingung dan terdesak.

Lebih dari dua ratus jurus mereka bertanding namun belum ada yang kalah atau menang.

Jangankan terluka bahkan tiada yang berhasil merobek ujung baju lawan sekalipun!

Maya makin penasaran, dan Siauw Bwee makin gelisah.

Mengapa suhengnya belum juga datang?

Sukar untuk menahan serbuan dahsyat sucinya, dan kalau dia mengalah terus, lambat laun dia sendiri yang akan celaka, akan terluka dan mungkin terancam maut!

Karena itu, mulailah Siauw Bwee mempercepat gerakannya dan membalas serangan sucinya dengan jurus-jurus dahsyat.

Biarpun dia menggunakan jurus-jurus yang ia pelajari dari suhengnya, namun dia memasukkan inti gerakan dari gerak kilat kaki tangannya yang ia pelajari dalam perantauannya.

Menghadapi serangan dahsyat ini, Maya menjadi bingung dan terdesak mundur terus.

Dia menggigit bibirnya melawan dan membalas dengan serangan maut, namun pembalasan serangannya hanya membuat pertahanannya kurang rapat dan dengan gerakan seperti kilat menyambar, ujung pedang lawannya sudah berhasil menembus pertahanan Maya dan melukai pundak kirinya!

"Aihhh....!"

Maya terhuyung dan biarpun dia mempertahankan, tetap saja tubuhnya tergelincir dan roboh miring.

Pundaknya terbabat ujung pedang dan mengeluarkan banyak darah, membuat lengan kirinya seperti lumpuh.

Siauw Bwee terbelalak, pucat mukanya.

Dia melempar pedangnya dan menubruk Maya.

"Suci....!"

Siauw Bwee menubruk untuk menyatakan penyesalan hatinya, untuk minta maaf.

Akan tetapi tidak demikian perkiraan Maya.

Karena matanya gelap dan kepalanya pening akibat luka dan kemarahan, dia mengira bahwa gerakan Siauw Bwee itu merupakan gerakan susulan, merupakan serangan maut untuk membunuhnya.

Maka tanpa banyak cakap lagi, dia membabat dengan pedang di tangannya, dengan tubuh masih rebah miring.

"Singgg.... crakkk! Aduuuhhh.... Suci....!"

Tubuh Siauw Bwee tergelimpang, sebelah kakinya buntung terbabat pedang tadi, darah muncrat dari paha yang buntung.

"Suci.... kau.... kau....!"

Siauw Bwee meloncat bangun, menyambar kakinya yang buntung.

Maya sudah bangkit duduk, mukanya pucat sekali.

Baru sekarang dia mengerti betapa dia telah salah duga.

Pedang sumoinya ternyata ditinggalkan, dan kini tahulah dia bahwa sumoinya tadi bukan menyerangnya, melainkan hendak memeluknya, dapat dibayangkan betapa hancur hatinya.

Dia memandang pedangnya dengan pandang mata jijik, kemudian memandang sumoinya yang memandangi kaki yang buntung.

"Sumoi.... aduh.... Sumoi.... apa yang telah kulakukan....!"

"Suci....!"

"Sumoi....!"

Kedua orang itu berpandangan, kemudian Maya meloncat berdiri, menghampiri sumoinya dan memeluknya.

"Sumoi.... kau ampunkan aku...."

Maya memeluk dan menciumi sumoinya akan tetapi melihat sumoinya diam tak bergerak, disangkanya sumoinya telah tewas, maka dia menjerit-jerit memanggil nama sumoinya, kemudian roboh terguling, pingsan sambil merangkul tubuh Siauw Bwee yang juga pingsan.

Mereka tidak tahu betapa pada saat mereka mulai bertanding tadi, badai datang mengamuk.

Tidak tahu betapa Han Ki yang datang dengan perahu karena mendengar suara panggilan Siauw Bwee tadi sedang berjuang mati-matian di tengah badai.

Han Ki mendayung perahunya dengan susah payah karena perahu itu diombang-ambingkan gelombang.

Dengan hati berdebar penuh kegelisahan memikirkan kedua orang sumoinya, Han Ki mengerahkan seluruh tenaganya, namun sampai lama sekali barulah akhirnya dia berhasil minggirkan perahunya dan meloncat ke darat.

Badai masih mengamuk hebat, seolah-olah laut menjadi marah menyaksikan pertandingan antara suci dan sumoi yang mati-matian tadi.

Han Ki sama sekali tidak pernah mengira bahwa kedua orang sumoinya itu bertanding mati-matian di atas tebing, di pantai yang curam.

Dia berlari-lari ke istana, hendak memperingatkan kedua sumoinya bahwa badai dan taufan datang mengamuk.

Akan tetapi, istana itu sunyi, kedua orang sumoinya tidak berada di situ.

Dia mulai memanggil-manggil dan berlari ke sana-sini.

Akhirnya dia berlari naik ke atas tebing yang tinggi dan berdiri terbelalak, kedua kakinya seperti mendadak lumpuh tak dapat digerakkan.

Bahkan dia hampir pingsan menyaksikan pemandangan di depan itu!

Apa yang dilihatnya memang telalu mengerikan bagi Han Ki.

Kedua sumoinya saling berpelukan dan bertangisan di atas tanah yang masih bersalju, yang kini menjadi merah oleh darah!

Dia tidak tahu bahwa kedua orang dara itu telah siuman kembali dan bertangisan tanpa kata-kata.

Yang membuat Han Ki hampir pingsan adalah melihat sebelah kaki Siauw Bwee buntung dan pundak Maya terluka berat.

Tiba-tiba Siauw Bwee merenggutkan tubuhnya terlepas dari pelukan Maya, kemudian tubuh gadis itu mencelat ke pinggir tebing, dikejar oleh Maya yang menjerit-jerit kini memanggil nama Siauw Bwee dan menangis.

Namun terlambat, tubuh Siauw Bwee sudah mencelat ke bawah tebing, ke arah air laut yang sedang bergemuruh dan dahsyat bergelora itu!

Maya menjerit-jerit, kemudian gadis itu meloncat ke bawah mengejar sumoinya!

Han Ki terlampau kaget dan ngeri ketika dapat bergerak.

Andaikata dia dapat bergerak pun akan terlambat, karena jaraknya terlampau jauh.

Kini dia berloncatan dan berlarian seperti orang gila sambil berteriak-teriak.

"Siauw Bwee....! Maya....!"

Han Ki berdiri di pinggir tebing dan matanya terbelalak memandang gelombang ombak yang begitu dahsyat, seolah-olah timbul ribuan buah kepala naga siluman yang siap mencaplok apa saja yang berani turun!

Betapapun dia mencari dengan pandang mata terbelalak, tidak tampak adanya dua orang sumoinya yang tadi dilihatnya meloncat ke bawah.

"Maya-sumoi....! Khu-sumoi....!"

Kembali dia memekik, kemudian dia menuruni tebing yang curam sekali itu.

Sungguh mengerikan sekali melihat Han Ki berlari dan berloncatan turun.

Sekali terpeleset tubuhnya tentu akan hancur ke bawah dan ditelan gelombang ombak yang amat dahsyat, yang tak mungkin dapat dilawan oleh tenaga manusia.

Badai mengamuk terus, air laut naik tinggi.

Suara angin taufan bercampur air laut yang memecah di batu karang mengerikan hati.

Langit menjadi gelap, bukan hanya oleh awan hitam, akan tetapi juga oleh kabut yang dibentuk oleh air yang memecah di batu karang, kemudian turun hujan dari atas.

Pulau Es seakan-akan hendak kiamat.

Diserang gelombang badai mengamuk, pulau itu tergetar dan terselimut kabut hitam.

Suara bergemuruh dahsyat seperti bersorak-sorai setan-setan yang muncul dari permukaan laut, di antara suara bergemuruh dari badai mengamuk ini, terdengar selingan suara lengking panjang.

"Maya....! Siauw Bwee....!"

Dan tampaklah bayangan Han Ki berlari-larian di sepanjang pantai Pulau Es, tersaruk-saruk, kadang-kadang terjatuh dan dilemparkan ombak yang menyeret kakinya.

Bangun lagi, berlari-lari, berteriak-teriak dengan pengerahan khi-kangnya, memanggil-manggil nama kedua orang sumoinya tanpa hasil.

Kedua sumoinya tidak ada yang menjawab, tidak ada yang muncul, seolah-olah sudah ditelan ombak membadai.

Mengerikan dan menyedihkan.

Sebuah perahu kecil dipermainkan ombak bergelombang dalam badai itu.

Diangkat tinggi-tinggi di puncak sebuah gelombang yang setinggi bukit, kemudian dihempaskan ke bawah dan seolah-olah ditelan oleh mulut naga air, akan tetapi muncul kembali, diayun-ayun dan diputar-putar.

Tiang layar perahu itu sudah lenyap, juga dayung-dayungnya.

Yang ada tinggal perahunya yang telanjang dan seorang penghuninya yang tubuhnya terikat pada perahu.

Seorang laki-laki muda yang pingsan dan sama sekali tidak merasakan betapa perahunya dipermainkan ombak dahsyat.

Untung baginya karena kalau dia tahu akan hal ini, mungkin sekali jantungnya tidak akan kuat menahan kengerian seperti itu!

Laki-laki itu bukan lain adalah Suma Hoat.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, dia merasa penasaran ketika melihat Maya dibawa pergi oleh Kam Han Ki.

Dia melakukan pengejaran dan berlari secepat dan sekuatnya.

Namun tentu saja dia tidak dapat menyusul larinya Kam Han Ki yang memiliki kesaktian tinggi itu.

Betapapun juga, Suma Hoat tidak pernah berhenti melakukan pengejaran dengan bertanya-tanya di jalan.

Akhirnya dia mendapat keterangan dalam penyelidikannya bahwa Kam Han Ki dan Maya melanjutkan perjalanan dengan perahu di pantai utara yang didatanginya itu.

Dia pun lalu melakukan pengejaran dengan perahu, walaupun jarak waktu antara dia dan mereka sudah hampir dua pekan!

Mulailah pemuda yang menjadi korban perasaan asmara yang menggelora itu melakukan pelayaran di daerah yang sama sekali asing baginya, melakukan pengejaran terhadap perahu lain yang tidak dia ketahui ke arah mana perginya.

Suma Hoat mengambil keputusan untuk mencari Maya atau Khu Siauw Bwee sampai dapat.

Dia tahu bahwa mereka tentulah berada di Pulau Es dan dia harus dapat menemukan Pulau Es.

Seorang di antara dua orang dara yang dicintanya itu akan menjadi isterinya.

Perbuatan pemuda itu benar-benar merupakan perbuatan yang amat nekad.

Sudah sejak puluhan, bahkan ratusan tahun tokoh-tokoh kang-ouw mencari-cari Pulau Es tanpa hasil, sehingga akhirnya di dunia kang-ouw hanya terdapat semacam dongeng saja tentang Pulau Es, dianggapnya bahwa pulau itu tidak ada kenyataannya karena tidak pernah ada yang berhasil menemukannya.

Kini, dengan berperahu kecil, tanpa petunjuk hanya bermodal jejak Kam Han Ki yang dikabarkan melanjutkan perjalanan dengan perahu dari pantai itu, Suma Hoat mencari Pulau Es.

Dia benar-benar sudah nekat karena cinta kasihnya.

Dia seperti seorang yang sudah kelaparan dan kehausan, haus dan lapar akan cinta karena selama ini dia hanya tenggelam dalam nafsu berahi, tidak pernah mengenal cinta yang sesungguhnya.

Lebih dari dua bulan dia hidup di atas perahunya yang mengarungi lautan bebas dan asing.

Bekal makanannya sudah lama habis dan untuk menyambung hidupnya, Suma Hoat terpaksa makan ikan laut.

Kadang-kadang dia mendapatkan binatang darat di atas pulau karena sudah banyak sekali pulau dia datangi dan yang ternyata bukan Pulau Es, melainkan pulau-pulau kosong yang tidak ada penghuninya.

Pada hari itu, secara tiba-tiba badai mengamuk dan menimbulkan gelombang-gelombang sebesar bukit.

Betapapun kuatnya kedua lengan Suma Hoat menggerakkan dayung, namun sama sekali tidak ada artinya bagi lautan yang sedang mengganas itu.

Dia sama sekali tidak berdaya, seperti seorang bayi dan akhirnya, setelah dia hampir tidak kuat bertahan lagi, Suma Hoat mengikat tubuhnya, melibatkan tali dengan erat pada tubuhnya, diikat pada perahu kemudian menyerahkan nasibnya kepada lautan.

Tubuhnya yang terikat pada perahu itu dipermainkan gelombang, diangkat tinggi-tinggi dan dihempaskan kembali, disambut gelombang lain, dilontarkan ke atas dan dibanting lagi sampai dia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi dengan perahu dan tubuhnya.

Dia tidak tahu berapa lama dia dijadikan permainan gelombang dan sampai berapa jauh dia dihanyutkan.

Melihat keadaan Suma Hoat pada waktu badai mengamuk itu, sungguh mengerikan dan semua yang melihatnya tidak ada yang akan menduga bahwa dia akan dapat keluar dari keadaan itu dengan selamat.

Akan tetapi apakah yang dapat menentukan mati hidupnya seorang manusia?

Kalau belum tiba saatnya dia mati, tiada kekuasaan di dunia ini yang akan dapat mematikannya, sebaliknya kalau sudah tiba saatnya dia mati, tiada kekuasaan apa pun yang akan dapat menyelamatkannya.

Suma Hoat siuman dan membuka matanya.

Kepalanya terasa pening sekali, tubuhnya nyeri semua dan tenaganya habis.

Akan tetapi tubuhnya tidak bergerak-gerak lagi, perahu di mana tubuhnya terikat itu tidak diombang-ambingkan gelombang lagi.

Dia masih mendengar suara bergemuruh, suara badai mengamuk, akan tetapi perahunya tidak lagi di atas air, melainkan berada di atas daratan yang kokoh kuat!

Dia selamat!

Perahunya telah dilontarkan gelombang ke atas daratan, sedemikian jauhnya sehingga tidak ada lagi gelombang yang dapat mencapainya.

Suma Hoat mengerahkan tenaga untuk membikin putus ikatan pada tubuhnya.

Namun dia mengeluh dan kaki tangannya terkulai lemas.

Agaknya tidak ada sisa tenaga lagi di tubuhnya.

Akan tetapi tali itu telah mengendur dan dengan perlahan dia meloloskan kedua lengan, kemudian membuka tali yang mengikat tubuhnya itu dari perahu.

Ketika dia bangun duduk, kepalanya berdenyut-denyut dan pandang matanya berkunang.

Sejenak dia memejamkan mata, ketika dibukanya kembali dan denyut di kepalanya tidak begitu hebat, dia memandang ke sekelilingnya.

Air laut masih mengganas, ombak membesar dan angin badai masih mengamuk.

Akan tetapi dia telah terdampar ke sebuah pulau yang cukup besar.

Tiba-tiba dia mendengar suara mengerikan.

Suara melengking dahsyat, suara memekik-mekik seperti bukan suara manusia.

Pekik melengking seperti itu keluar dari dalam dada setan dan iblis, pikirnya ngeri.

Dia lalu menyeret tubuhnya sendiri makin naik ke tengah pulau agar jangan sampai tercapai gelombang.

Tidak lupa dia menggunakan seluruh tenaga untuk menyeret perahu.

Perahu itu telah menyelamatkan nyawanya, dan dia masih amat membutuhkannya untuk membawanya keluar dari tempat ini.

Setelah melakukan hal itu, Suma Hoat lalu duduk bersila, mengatur napas untuk memulihkan tenaganya sambil menanti berhentinya badai yang masih mengamuk dahsyat.

Untung bahwa dia telah memiliki ilmu Jit-goat Sin-kang yang mengandung unsur Yang-kang dan Im-kang.

Dengan Im-kang di tubuhnya, dia dapat melawan hawa dingin yang luar biasa itu, hawa dingin yang seolah-olah keluar dari dalam tanah pulau yang didudukinya.

Tentu saja pemuda ini sama sekali tidak pernah mengira bahwa dia telah berada di Pulau Es!

Angin taufan mulai mereda, agaknya sudah cukup puas mengamuk selama hampir sehari semalam.

Suara bergemuruh pun berhenti.

Suma Hoat yang telah beberapa lamanya duduk bersila mengatur napas, merasa tenaganya sudah pulih sebagian.

Kepeningan kepalanya menghilang dan sungguhpun tubuhnya masih lelah dan rasa nyeri-nyeri di seluruh tubuh masih terasa, dia sudah merasa ringan dan membuka matanya.

Laut di pantai tidak bergelombang hebat lagi, yang terdengar hanyalah suara berkerosoknya air yang menipis habis di pantai datar.

Suma Hoat teringat akan suara melengking yang didengarnya ketika badai masih mengamuk tadi.

Dia bangkit perlahan, membalikkan tubuh memandang ke arah tengah pulau yang kini tidak diselubungi kabut.

Ia tercengang dan memandang terbelalak ketika samar-samar tampak sebuah bangunan di tengah pulau!

Hampir dia tidak percaya kepada pandang matanya sendiri.

Digosoknya kedua matanya, lalu memandang lagi.

Tidak berubah.

Bangunan itu masih berdiri megah di tengah pulau.

Seperti sebuah istana.

"Istana....? Istana.... Pulau Es....?"

Tak terasa lagi mulut Suma Hoat berbisik.

Teringatlah dia akan suara melengking nyaring ketika terjadi badai.

Mungkin saja suara manusia kalau manusianya adalah penghuni Istana Pulau Es yang dia tahu amat sakti.

Bangkit semangatnya setelah timbul dugaan dan harapan di hatinya bahwa dia berada di Pulau Es, secara kebetulan dan aneh sekali tiba di pulau yang memang dicari-carinya itu.

Jantungnya berdebar keras.

Apakah dia akan berjumpa dengan Khu Siauw Bwee dan Maya?

Apakah kedua orang dara yang dicintanya itu berada di sana?

Ketika ia tiba di depan bangunan yang indah dan megah itu, Suma Hoat menjadi ragu-ragu untuk masuk.

Dua orang dara itu, sebagai penghuni-penghuni Istana Pulau Es, memiliki ilmu kepandaian yang dahsyat sekali, apalagi suheng mereka, Kam Han Ki.

Mereka bertiga adalah orang-orang sakti.

Tanpa seijin mereka, bagaimana dia berani memasuki istana itu?

Akan tetapi, setelah menghadapi ancaman-ancaman maut di lautan ketika dia mencari dua orang dara itu, ketika mencari Pulau Es, mengapa kini dia merasa takut akan ancaman kemarahan mereka?

Tidak, dia tidak takut karena memang dia sudah nekat.

Mereka adalah orang-orang sakti yang berilmu tinggi, tidak mungkin akan mudah marah hanya karena dia masuk ke istana tanpa ijin saja.

Dengan pikiran ini, melangkahlah Suma Hoat memasuki istana yang kelihatan sunyi sekali itu.

Ruangan depan istana itu kosong, demikian pula ruangan tengah.

Selagi dia kebingungan karena merasa betapa istana itu menyeramkan dengan kesunyian dan keindahannya, tiba-tiba dia mendengar suara orang, seperti tengah bersenandung atau membaca doa!

Dia segera menuruni anak tangga perlahan-lahan dan berhenti di depan sebuah pintu yang tertutup, menahan napas mendengarkan suara seorang laki-laki yang sedang membaca sajak!

Suara itu gemetar, kadang-kadang terisak, kadang-kadang tersendat-sendat dan diseling tarikan napas panjang penuh kedukaan.

Suma Hoat mendengarkan dengan jantung berdebar dan hatinya tertarik sekali, akan tetapi dia tidak berani lancang memasuki ruangan di balik pintu yang tertutup itu.

Dia hanya mendengarkan.

Mula-mula suara itu bersajak, dengan nada suara penuh duka, penuh lontaran pertanyaan dengan suara merintih.

Aduhai sayang, mengapa kalian begitu kejam?

Mengapa kalian hancurkan cinta yang indah?

Haruskah cinta berdampingan dengan benci?

Di mana ada cemburu dan iri, adakah cinta di sana?

Aduhai sayang, sesungguhnya siapa yang kalian cinta?

Akukah....

atau diri kalian sendiri?

Suma Hoat tertegun dan bingung.

Suara siapakah itu?

Dan apa maksudnya?

Apa yang telah terjadi dengan pria itu sehingga mengeluarkan rintihan yang keluar dari hati yang rusak dan hancur?

Dia mendengarkan lagi, karena kembali suara laki-laki itu bersajak, kini tidak terdengar penuh duka, bahkan berwibawa sungguhpun suara itu masih menggetar penuh perasaan.

Setiap orang manusia ingin dicinta tanpa ada yang menyayang, hidup terasa hampa, mengapa....?

Karena hatinya tidak mengenal cinta!

yang tidak mengenal cinta, haus akan cinta dia yang hatinya penuh oleh cinta sejati tidak lagi mengharapkan dirinya dicintai cinta sejati hanya kenal memberi tak tahu minta, tak ingin jasa!

Untuk kedua kalinya Suma Hoat tertegun.

Kini bahkan mukanya terasa panas.

Dia merasa seolah-olah dia disindir.

Selama bertahun-tahun, semenjak dia ditinggal mati cinta pertamanya, Ciok Kim Hwa, dia haus akan cinta kasih wanita.

Akan tetapi dia pun tidak pernah jatuh cinta.

Yang ada terhadap wanita-wanita yang diperkosanya hanyalah nafsu semata.

Adakah hatinya tidak mengenal cinta?

Setelah bertemu dengan Maya dan Siauw Bwee, adakah perasaannya terhadap dua orang dara itu pun bukan cinta maka dia mengharapkan balasan cinta kasih mereka?

Aihh, dia tidak mengerti sama sekali, namun di sudut hatinya, ada sesuatu yang terpesona dan tergetar oleh isi kata-kata orang yang belum dilihatnya itu.

Kembali dia memperhatikan karena suara itu telah bicara kembali.

Betapa ingin mata memandang mesra betapa ingin jari tangan membelai sayang betapa ingin hati menjeritkan cinta namun Siansu berkata .

Bebaskan dirimu dari ikatan nafsu!

Mungkinkah pria dipisahkan dari wanita?

tanpa adanya perpaduan Im dan Yang, dunia takkan pernah tercipta!

Betapapun juga, cinta segi tiga tidak membahagiakan!

menyenangkan yang satu menyusahkan yang lain akibatnya hanya perpecahan dan permusuhan ikatan persaudaraan dilupakan akhirnya yang ada hanyalah duka dan sengsara!

Kesimpulannya, benarlah pesan Siansu bahwa sengsaralah buah dari nafsu!

Kini Suma Hoat terkejut.

Orang itu menyebut-nyebut Siansu, bukankah yang dimaksudkan itu adalah Bu Kek Siansu, manusia dewa yang hanya didengarnya dalam dongeng?

Dan bukankah murid manusia dewa itu adalah Maya, Khu Siauw Bwee dan suheng mereka, Kam Han Ki?

Kalau begitu, tentu Kam Han Ki laki-laki di dalam itu!

Selagi ia hendak melangkah maju, tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu yang masih tertutup.

"Suma Hoat, bagaimana engkau bisa sampai di sini dan apa kehendakmu?"

Suma Hoat makin kaget. Cepat dia menjura di tempatnya sambil berkata.

"Harap Kam-taihiap sudi memaafkan. Terus terang saja, semenjak perpisahan di medan perang dahulu, saya terus mengikuti, kemudian mencari-cari Taihiap yang saya duga tentu berada di Pulau Es. Namun, berbulan-bulan saya tersesat di lautan, dan hanya oleh kehendak Thian saja maka saya dapat tiba di tempat ini, terbawa hanyut oleh badai yang mengamuk."

Daun pintu terbuka dan Suma Hoat hampir meloncat mundur saking heran dan kagetnya ketika ia melihat orang yang muncul dari pintu itu.

Dia masih mengenal wajah Kam Han Ki, akan tetapi pakaian orang sakti ini koyak-koyak, rambutnya awut-awutan, mukanya pucat sekali, matanya merah dan wajah yang tampan itu seolah-olah bertambah tua belasan tahun dalam waktu tiga bulan ini!

Akan tetapi, kekhawatiran hati Suma Hoat lenyap ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Kam Han Ki.

Sama sekali tidak ada tanda marah pada pandang mata itu, pandang mata yang masih amat tajam menembus jantung dan menjenguk isi hati, akan tetapi begitu lembut dan penuh pengertian!

"Suma Hoat, setelah kami bertiga melupakan segala urusan pribadi antara kami dengan orang tuamu, mengapa engkau masih mencari perkara dengan melakukan pengejaran kepada kami?

Setelah kini engkau berhasil mendarat di Pulau Es, apakah kehendakmu?"

Suma Hoat menundukkan mukanya.

Tidak dapat dia menahan pandang mata Han Ki yang begitu lembut namun begitu penuh kekuatan.

Sambil bertunduk dia menjawab.

"Maaf, Taihiap. Terus terang saja, setelah saya mengetahui bahwa Nona Maya dan Nona Khu Siauw Bwee, keduanya jatuh cinta kepadamu, saya menjadi penasaran dan melakukan pengejaran. Tak mungkin keduanya menjadi milikmu, tentu seorang di antara mereka akan kau tolak cintanya dan di situlah terbuka harapan dan kesempatanku, Taihiap. Tak perlu kupungkiri lagi, saya mencinta kedua orang nona itu dan hanya kalau seorang di antara mereka dapat menjadi isteri saya, hidup saya akan bahagia."

Mulut di wajah yang pucat itu tersenyum, senyum yang mengandung iba hati.

Alisnya berkerut, kemudian dia membukakan daun pintu lebar-lebar sambil berkata.

"Dua orang nona yang kau cari sudah tidak ada lagi, Suma Hoat. Yang ada tinggal inilah!"

Suma Hoat memandang ke dalam dan matanya terbelalak.

Di dalam ruangan itu terdapat tiga buah arca dari batu pualam yang amat indah sekali seolah-olah hidup dan bernapas!

Arca tiga orang yang amat dikenalnya.

Yang berdiri di tengah adalah arca Kam Han Ki sendiri, akan tetapi sayang arca itu bercacat, berlubang dua buah di dahinya, karena dalam kedukaannya tadi Han Ki telah menusuknya dengan dua buah jari tangannya.

Di sebelah kanan, yaitu di pinggir kiri arca pria itu, adalah arca Khu Siauw Bwee, cantik jelita, bertubuh ramping dengan wajah yang lemah-lembut, akan tetapi anehnya, sebelah kaki arca itu buntung!

Adapun arca ke tiga yang berdiri di sebelah kanan arca Han Ki, adalah arca Maya yang amat cantik dan agung, tanpa cacat, tidak seperti dua arca yang bercacat itu.

"Apa.... apa maksudmu? Di mana mereka? Apa yang telah terjadi?"

Hati Suma Hoat merasa tidak enak sekali, apalagi ketika dia teringat akan keadaan Kam Han Ki yang dihimpit kedukaan dan teringat akan isi sajak-sajak tadi.

Kam Han Ki menutupkan kembali daun pintu, kemudian memberi isyarat dengan tangan, mengajak Suma Hoat keluar dari istana.

Setelah tiba di luar istana, dia mempersilakan Suma Hoat duduk di atas batu hitam yang biasa dipergunakan sebagai tempat berlatih sin-kang.

Setelah mereka berdua duduk, dengan suara yang halus dan tenang, seolah-olah semua kedukaan telah dihabiskan dalam sajak-sajak tadi, Kam Han Ki lalu menceritakan betapa dia pun dipermainkan badai dan terlambat mendarat sehingga tidak berhasil mencegah terjadinya peristiwa yang amat mengerikan, yaitu Maya dan Khu Siauw Bwee saling bertanding.

Maya terluka pundaknya dan Khu Siauw Bwee buntung kakinya, kemudian kedua orang dara itu terjun ke bawah, ditelan gelombang yang amat buas di waktu badai mengamuk.

Wajah Suma Hoat menjadi pucat sekali, matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan sampai lama dia tidak dapat mengeluarkan kata-kata.

Tanpa disadarinya, dari kedua pelupuk matanya mengalir air mata yang turun perlahan-lahan di sepanjang kedua pipinya.

"Jadi.... me.... mereka.... telah tewas....?"

Akhirnya dia dapat bertanya dengan suara terengah-engah. Kam Han Ki menggeleng kepalanya.

"Hanya Thian yang mengetahuinya. Akan tetapi dapat engkau bayangkan kalau orang yang terluka melempar diri ke dalam gelombang di waktu badai mengamuk...."

"Ahhhh....!"

Suma Hoat mengeluh, tak dapat menahan air matanya dan diusapnya air mata dengan ujung lengan bajunya yang koyak-koyak pula karena keadaannya tidak lebih baik dari Kam Han Ki setelah dipermainkan gelombang seperti itu.

Dia tahu bahwa sudah pasti sekali kedua orang itu tewas.

Dia sendiri yang tidak terluka, yang berperahu, hampir mati dan hanya karena keajaiban saja dia masih hidup.

Apalagi dua orang dara yang terluka, lebih-lebih Khu Siauw Bwee yang sebelah kakinya buntung, yang melempar diri begitu saja di dalam gelombang!

"Mengapa....?

Kam-taihiap, mengapa mereka saling bertanding?

Mengapa pula mereka melempar diri ke dalam gelombang badai?

Mengapa....?"

Dia berteriak penuh penasaran.

"Urusan mereka sendiri, Suma Hoat. Bukan urusanmu dan kiranya tidak ada gunanya kauketahui juga,"

Han Ki berkata tenang dan tegas.

"Urusan mereka adalah urusanku juga, Taihiap! Saya mencinta mereka, saya rela mengorbankan nyawa untuk mereka. Saya harus mengetahui mengapa mereka melakukan hal itu!"

Kam Han Ki memandang wajah orang muda itu sambil tersenyum penuh pengertian, lalu berkata.

"Andaikata kau ketahui juga, apa gunanya? Yang terpenting adalah untuk mengetahui isi hatimu sendiri, mengetahui keadaan dirimu sendiri. Engkau berkali-kali menyatakan bahwa engkau cinta kepada mereka, namun sebenarnya bukan, Suma Hoat. Engkau tidak mencinta mereka, tidak mencinta siapa-siapa, kecuali mencinta dirimu sendiri. Itu pun cinta dangkal yang hanya ingin melihat diri sendiri, ingin mencapai kehendak hati mempersunting si cantik yang menggairahkan hatimu. Setelah kini dua orang dara yang kau rindukan tidak ada lagi, engkau menjadi kecewa dan berduka, yang sesungguhnya hanya sedikit selisih dan bedanya dengan keadaanmu apabila engkau memperoleh seorang di antara mereka karena kulihat tidak ada cinta dalam hatimu, melainkan cinta berahi belaka!"

Suma Hoat menjadi merah mukanya, bukan merah karena marah melainkan karena malu.

Betapapun menyakitkan kata-kata itu baginya, namun harus diakui bahwa memang seperti itulah kenyataannya.

Betapapun juga, dia merasa penasaran dan bertanya.

"Tentu saja cinta mengandung sifat-sifat seperti itu, Taihiap. Kalau tidak ada nafsu ingin memperoleh, ingin bersatu dan berdamping menghilangkan rindu, bukanlah cinta namanya dan mana ada laki-laki dan wanita bersuami isteri?"

Kam Han Ki menghela napas panjang.

Kedukaan hebat yang menimpanya ketika badai mengamuk, mendatangkan perubahan luar biasa pada diri pendekar ini, seolah-olah mata batinnya terbuka dan dia melihat kenyataan-kenyataan yang selama ini tidak dilihatnya.

Kenyataan hidup yang penuh duka dan sengsara, yang kesemuanya timbul karena kekurangsadaran manusia, yang tercipta oleh keadaan hidup manusia sendiri.

Sebelumnya terjadi peristiwa mengerikan itu memang hatinya sudah mulai terbuka, maka dia pun ragu-ragu untuk memilih Siauw Bwee yang dicintanya karena maklum bahwa pemilihan itu hanya terdorong oleh rasa sayang diri dan akibatnya akan membikin kecewa dan sengsara hati Maya.

Namun, sekarang, dia mulai mengerti hal-hal yang selama ini tidak disadarinya.

"Suma Hoat, cinta yang mengandung kehendak ingin menguasai, ingin memiliki bukanlah cinta yang sejati. Karena menguasai dan memiliki hanya akan menimbulkan pertentangan dan persoalan batin, hanya menimbulkan kecewa dan sengsara kalau yang dikuasai dan dimiliki itu kemudian bersikap tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. Bukanlah cinta yang sejati kalau bersyarat, kalau menuntut balas jasa, menghadapkan hal-hal yang menyenangkan hatinya sendiri. Cinta macam itu akan menimbulkan cemburu, iri hati, dengki, amarah dan mungkin berbalik menjadi benci. Padahal di mana ada cemburu dan lain-lain itu, apalagi benci, di sana tidak mungkin ada cinta!"

Suma Hoat melongo memandang Kam Han Ki, kemudian menggeleng kepala sampai lama dan berkata.

"Aihhh.... aku menjadi bingung, Taihiap.... aku harus merenungkan kata-katamu itu.... aku tidak mengerti...."

"Apabila rasa sayang diri masih melekat kuat di dalam pikiran, memang sukarlah untuk menjadi waspada, sukar untuk memandang dan melihat sesuatu sebagaimana adanya, karena kecenderungan pandangan dikuasai oleh pertimbangan demi kesenangan dan kepentingan diri pribadi. Sudahlah, Suma Hoat. Karena engkau sudah berada di sini, engkau boleh tinggal di pulau ini selama yang engkau suka, hanya pesanku, harap engkau jangan merusak dan mengganggu istana dan isinya."

"Terima kasih atas kebaikan Taihiap. Memang saya merasa senang sekali tinggal di sini. Setelah kedua orang nona itu lenyap, hidup tiada artinya bagi saya. Kembali ke dunia ramai hanya akan berarti mengumbar hawa nafsu berahi belaka. Saya akan bertapa di sini menjauhkan diri dari dunia ramai, hidup sederhana dan melupakan wanita!"

Kam Han Ki sudah membalikkan tubuhnya hendak memasuki istana, akan tetapi mendengar ucapan itu, dia tersenyum dan menoleh, berkata.

"Apa artinya hidup di tempat sunyi kalau pikiran dan hatinya masih gaduh dan ribut? Apa artinya hidup sederhana ditandai pakaian, tempat tinggal, dan makan sederhana kalau semua itu hanya untuk menutupi hati yang membayangkan kemuliaan hidup? Apa artinya menjauhkan diri dari wanita dan mencoba melupakannya kalau pikirannya masih penuh dengan bayangan wanita? Yang perlu sekali dibebaskan adalah batinnya, bukan lahirnya, Suma Hoat."

Setelah berkata demikian, Han Ki memasuki istana, meninggalkan Suma Hoat yang makin bengong terlongong mendengarkan semua ucapan itu, merasa seperti disiram air dingin karena tiba-tiba dia melihat kebenaran nyata terkandung dalam semua ucapan Kam Han Ki, kebenaran nyata menelanjangi keadaan hatinya seperti apa adanya sehingga tak mungkin dapat dibantah lagi!

Selama beberapa hari, Suma Hoat memulihkan kesehatannya akibat siksaan badai, kemudian dia menjelajahi Pulau Es, bukan saja untuk memeriksa keadaan pulau yang menjadi bahan dongeng ini, juga dengan harapan kalau dia akan bertemu dengan Maya atau Siauw Bwee.

Siapa tahu, dua orang dara itu, atau seorang di antaranya masih hidup.

Namun ada juga kengerian hatinya membayangkan mayat mereka yang akan ditemukannya!

Setelah mengelilingi pulau selama beberapa hari dan tidak melihat bayangan dua orang dara itu, dia lalu kembali ke tengah pulau dengan niat menemui Kam Han Ki.

Namun, istana Pulau Es itu telah kosong!

Kam Han Ki tidak ada lagi di situ.

Ketika Suma Hoat memasuki ruangan yang indah di mana beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan Kam Han Ki, dia melihat tiga buah arca itu masih berjajar di situ.

Dia mencari dalam kamar-kamar lain, dan di kamar yang terbesar dia melihat betapa dinding penuh dengan tulisan-tulisan indah berupa sajak-sajak yang mengandung kedukaan di samping sajak-sajak mengenai hidup.

Sajak yang terpanjang dan ditulis paling indah membuat dia teringat akan suara Kam Han Ki ketika membaca sajak itu dengan suara penuh duka, sajak yang dimulai dengan pernyataan keinginan hati pria yang sedang dibuai asmara..Betapa ingin mata memandang mesra betapa ingin jari membelai sayang betapa ingin hati menjeritkan cinta....

Suma Hoat menghentikan bacaannya karena kata-kata itu menusuk jantungnya, mengingatkan dia akan kemesraan cinta dan kelembutan wanita.

Dia memeriksa seluruh keadaan istana itu dan mengagumi bangunan yang amat indah dan halus.

Namun hatinya berduka kalau teringat akan nasib buruk yang menimpa penghuni-penghuninya.

Tiga orang manusia sakti, kakak beradik seperguruan, menjadi cerai-berai oleh cinta yang gagal!

Dan dia sendiri, orang ke empat yang kini secara kebetulan berada di Pulau Es dan memperoleh ijin untuk menghuni Istana Pulau Es, dia pun seorang manusia gagal yang rusak oleh cinta gagal pula!

Dengan penekanan mati-matian terhadap segala keinginan hati mudanya, Suma Hoat hidup sendiri di Pulau Es, memperdalam ilmu-ilmunya dan terutama sekali melatih Jit-goat Sin-kang.

Pulau Es merupakan tempat yang amat baik untuk melatih sin-kang, karena hawa udara di situ amat dinginnya.

Untuk melawan hawa dingin ini saja sudah merupakan latihan yang baik dan memperkuat daya tahan tubuhnya.

Bertahun-tahun lewat tanpa dia pedulikan dan tanpa disadarinya, pemuda tampan putera bangsawan yang sudah biasa hidup mewah itu, hidup menyendiri di Pulau Es selama empat lima tahun lamanya!

Kurang lebih lima tahun kemudian, pada suatu pagi, kembali ada badai mengamuk dan air laut naik sampai beberapa meter tingginya.

Pulau Es tergetar dan terguncang hebat, angin bertiup kencang membuat Suma Hoat yang gagah perkasa itu merasa ngeri juga dan terpaksa dia menyelamatkan dan menyembunyikan diri ke dalam istana!

Karena angin benar-benar amat kuat, Suma Hoat bersembunyi di ruangan bawah istana itu.

Sampai sehari semalam badai mengamuk.

Suma Hoat tidak dapat keluar dari ruangan bawah karena tiupan angin menyerbu masuk ke dalam istana.

Perutnya terasa lapar dan ketika tiba-tiba muncul seekor ular dari sebuah lubang di lantai di ruangan bawah tanah itu, Suma Hoat menjadi girang.

Ular itu cukup besar, sebesar lengan tangannya, berkulit merah dan kelihatan bersih sekali.

Sekali melompat, Suma Hoat berhasil menangkap leher ular dan mencengkeram leher itu sampai putus!

Ular mati seketika, akan tetapi daging dan darahnya masih segar ketika Suma Hoat yang kelaparan mengulitinya lalu memanggang daging ular di dalam ruangan itu.

Bau yang sedap gurih membuat perutnya makin kelaparan.

Dengan lahapnya dimakanlah daging ular itu sampai habis!

Setelah perutnya kenyang, Suma Hoat merebahkan diri dan tertidur pulas.

Dia mimpi tidur di atas sebuah ranjang lebar dan indah dalam sebuah kamar mewah dan berbau harum, ditemani oleh Coa Kim Hwa, Khu Siauw Bwee, dan Maya!

Tiga orang dara cantik jelita itu semua melayaninya dengan manja dan penuh kasih sayang.

Bukan main hebatnya kemesraan yang dinikmatinya itu, yang memeluk dan menciuminya secara bergilir dan sama sekali tidak bersaing.

Gairah ketiga orang dara itu mendatangkan rasa panas sekali pada tubuhnya, membuat kepalanya berputar rasanya dan matanya berkunang.

Payah juga melayani tiga orang dara yang begitu besar dan panas gairahnya.

Rasa panas makin menghebat sehingga dia terpaksa mendorong mereka ke samping dan terguling jatuh dari atas ranjang lalu....

sadar dari mimpi!

"Aughhhh....!"

Suma Hoat menggosok dahinya, kaget merasa betapa tangannya menjadi basah oleh keringat yang memenuhi muka dan leher bahkan ketika dia melihatnya, seluruh tubuhnya berpeluh.

Tubuhnya panas bukan main.

Agaknya badai telah mereda, tidak terdengar lagi hembusan angin ribut.

Karena tidak dapat menahan panasnya, Suma Hoat meloncat bangun, terhuyung-huyung dan lari keluar.

Biarpun dia telah berada di luar istana yang hawanya dingin, tetap saja dia merasa panas.

Bukan hanya panas yang menyiksa, melainkan terutama sekali nafsu berahi yang mengguncangnya dan menguasainya.

Nafsu berahi yang membuat dia membayangkan semua wanita yang pernah dihubunginya, pernah diperkosanya, membuat dia makin tersiksa.

"Auhhh, setan keparat! Iblis laknat! Ini tentu gara-gara daging ular merah! Celaka sekali, daging itu mengandung racun perangsang berahi!"

Suma Hoat cepat duduk bersila dan mengerahkan sin-kangnya untuk melawan rangsangan nafsu berahi yang tidak sewajarnya itu.

Namun, racun ini benar-benar hebat sekaii.

Terlalu banyak dia makan daging ular sehingga amat banyak pula racun yang menguasai dirinya.

Suma Hoat benar-benar tersiksa selama tiga hari tiga malam.

Andaikata dia tidak berada di Pulau Es, di tempat yang sunyi dan kosong tidak ada manusia lainnya, tentu dia sudah tidak dapat menahan, dan tentu dia sudah melakukan kembali perbuatan yang menjadi penyakit lamanya, yaitu melampiaskan nafsunya pada wanita yang mana saja, baik secara halus dengan bujukan maupun secara kasar dengan perkosaan!

Dia menyumpah-nyumpah, bukan hanya memaki ular merah, akan tetapi juga memaki-maki diri sendiri.

"Manusia lemah! Manusia terkutuk! Bertahun-tahun bertapa, sekarang menghadapi racun yang merangsang nafsu berahi saja tidak kuat bertahan!"

Aduhhh, benar ucapan Kam Han Ki!

Sekarang dia melihat kenyataan ucapan itu, bukan dengan teori, bukan dengan pemikiran, melainkan kenyataan yang dialaminya sendiri!

Menjauhkan diri dari wanita bukan berarti dia akan dapat melenyapkan nafsu berahi karena datangnya segala macam nafsu bukanlah dari luar, melainkan dari dalam diri pribadi, dari pikiran sendiri!

Andaikata dia berada di tengah-tengah antara seribu wanita cantik, kalau pikirannya menerima kenyataan ini tanpa disertai angan-angan pikiran membayangkan pengejaran kenikmatan demi si aku, tentu tidak akan terjadi sesuatu, tidak akan timbul rangsangan yang tidak sehat.

Sebaliknya, biarpun berada di pulau kosong seperti keadaannya sekarang, kalau hatinya masih mengenangkan dan membayangkan wanita, tentu saja nafsu berahi akan timbul, baik dengan racun ular merah maupun tidak!

Sambil mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menahan diri agar dia tidak menjadi gila karena rangsangan nafsu, dalam keadaan tersiksa dan menyendiri itu timbul pula perasaan jemu di hati Suma Hoat dengan pulau kosong ini.

Memang patut dikasihani Suma Hoat.

Demikianlah halnya manusia yang belum terbuka mata batinnya.

Batinnya selalu diamuk pertentangan-pertentangan dalam diri sendiri.

Nafsu yang sekarang dikekang dan ditentang tidak akan hilang, sesaat kelihatannya dapat ditundukkan akan tetapi di lain saat akan bangkit dan tak dapat dikendalikan lagi.

Keinginan untuk melenyapkan nafsu adalah nafsu itu sendiri dalam kedok lain.

Bagi seorang yang ingin belajar dan mengerti, seyogianya mempelajari dan mengenal nafsu sendiri apabila nafsu datang, menghadapinya dengan wajar, meneliti dan waspada akan keadaan diri pribadi, lahir batin.

Hanya orang yang belajar mengenal diri pribadi setiap saat, meneliti penuh kewaspadaan dan kesadaran akan sikap diri pribadi terhadap segala sesuatu yang menimpa dirinya, lahir maupun batin, dia itulah yang akan terbebas dari nafsu, karena dia akan terbebas pula dari keinginan akan sesuatu demi diri pribadi.

Mengenal diri pribadi, melihat dengan penuh kewajaran bahwa dirinya penuh dengan iri, dengki, murka, benci, munafik, berahi, dan sebagainya berarti dimulainya pembebasan akan semua itu.

Sayang sekali Suma Hoat tidak mau mencari ke dalam, seperti sebagian besar manusia di dunia ini.

Setiap persoalan yang dihadapinya, manusia selalu menunjukkan pandang matanya ke luar, mencari sasaran, mencari kambing hitam yang akan dipergunakan sebagai penyebab persoalan.

Andaikata manusia suka menunjukkan pandang matanya ke dalam, mempelajari diri sendiri, sikap diri sendiri menghadapi persoalan itu, maka setiap persoalan akan dapat diatasi tanpa menciptakan persoalan baru.

Setelah mengerahkan seluruh tenaganya melawan racun ular merah selama tiga hari, pada pagi hari ke empatnya, pengaruh racun sudah mulai melemah, sama lemahnya dengan tubuh Suma Hoat yang selama tiga hari tiga malam mengerahkan tenaga, tidak tidur dan tidak makan.

Selagi dia menghentikan perlawanannya terhadap racun, bangkit berdiri dengan lemas dan hendak mencari makanan, tiba-tiba dia mendengar suara mendesis-desis dari dalam istana.

Dia terkejut dan heran, cepat dia berlari masuk karena memang dia tadinya hendak mencari bahan makanan yang banyak terdapat di gudang belakang.

Mendadak ia terbelalak dan mencelat ke belakang.

Kiranya yang mengeluarkan suara mendesis-desis itu adalah barisan ular merah yang banyak sekali jumlahnya, ada ribuan ekor banyaknya, keluar dari dalam istana, dan ada pula yang merayap datang dari belakang istana.

Sukar dikatakan dari mana datangnya ular-ular itu, mungkin dari bawah istana, mungkin juga dari pantai laut yang letaknya di belakang istana.

Suma Hoat terkejut dan pucat wajahnya.

Menghadapi ribuan ekor ular beracun itu benar-benar amat menjijikkan dan mengerikan.

Dia lalu melompat dan melarikan diri, menuju ke pantai di mana dia meninggalkan perahunya.

Setelah dia menyeret perahu ke pinggir laut, dia membalikkan tubuh memandang Pulau Es dan menarik napas panjang berulang-ulang.

Kemudian dia menghampiri sebongkah batu besar.

Dia mulai membuat goresan-goresan pada permukaan batu itu, menulis huruf-huruf dengan tangan gemetar karena dia memang masih amat lemah sehingga huruf-huruf yang ditulisnya itu kasar dan buruk jadinya.

"Betapa menjemukan ular salju merah itu! Aku datang ke sini untuk menjauhi wanita, dan daging ular itu membuat aku menderita hebat! Dan hari ini, tiga hari kemudian, pulau diserbu ribuan ekor ular salju merah, memaksa aku harus pergi. Keparat! Pulau Es ini pulau terkutuk agaknya, tanah di bawahnya menjadi istana ular-ular salju merah! Ataukah nenek moyangku yang terkutuk sehingga Suma Hoat tidak berjodoh dengan Pulau Es?"

Tulisan itu dibuat oleh Suma Hoat untuk menyatakan penyesalan dan juga diharapkan sebagai peninggalan pesan untuk Kam Han Ki mengapa dia meninggalkan pulau itu.

Kemudian Suma Hoat mendayung perahunya ke tengah dan mulailah dia meninggalkan Pulau Es untuk kembali ke daratan yang diperkirakan berada di sebelah selatan atau barat itu.

Kegagalan Suma Hoat di Pulau Es mulai dari kegagalan cinta sampai kegagalan menggembleng diri, membuat penghidupan pendekar itu menjadi makin rusak!

Setelah dia berhasil mendarat, dunia kang-ouw menjadi gempar lagi dengan munculnya Jai-hwa-sian yang amat tinggi ilmu kepandaiannya, juga amat berani.

Dalam petualangannya yang jahat dan berbahaya Suma Hoat tidak mempedulikan anak dara siapa saja yang disukai, baik dara puteri seorang pembesar tinggi, maupun puteri seorang ketua partai persilatan besar, Anak murid partai besar, asal bertemu dengan dia dan membangkitkan berahinya, tentu akan dibujuknya atau dipaksanya!

Perbuatannya ini membuat nama Jai-hwa-sian menjadi makin terkenal sehingga namanya sendiri malah tidak dikenal orang.

Selain itu, juga mendatangkan banyak musuh karena banyak orang-orang gagah ingin membasminya, dan banyak pula tokoh-tokoh persilatan merasa sakit hati dan menaruh dendam karena murid wanita atau anak mereka menjadi korban keganasan Jai-hwa-sian.

Namun, sampai belasan tahun Jai-hwa-sian merajalela, entah sudah berapa ratus orang gagah yang roboh di tangannya, tidak mampu menandingi kelihaian Dewa Pemetik Bunga ini.

Selain lihai, juga Jai-hwa-sian tidak pernah tinggal lama-lama di sebuah kota, di samping ini dia jarang memperlihatkan diri sehingga jarang ada orang mengenalnya, kecuali para wanita korbannya yang sempat hidup setelah diperkosanya.

Namun mereka ini, untuk menjaga kehormatan dan nama sendiri, tentu saja membungkam dan menyimpan rahasianya sampai mati.

Hampir semua orang gagah di dunia kang-ouw memusuhinya, tentu saja ada pula yang menganggapnya sebagai seorang pendekar yang gagah berani karena sesungguhnya, sepak terjang Suma Hoat memang sebagai seorang pendekar.

Di mana pun dia berada dia selalu menentang kejahatan, membasmi gerombolan perampok, membela yang tertindas dan seringkali membagi-bagikan harta benda yang dia rampas dari sarang-sarang perampok.

Akan tetapi, tentu saja semua perbuatan baik ini tidak ada artinya karena dikotori oleh kesukaannya yang terkutuk, yaitu mendapatkan setiap orang wanita yang menggerakkan hatinya, baik secara halus maupun kasar!

Di antara orang-orang gagah di seluruh dunia kang-ouw yang menganggapnya sebagai sahabat, adalah Im-yang Seng-cu, tokoh pelarian Hoa-san-pai yang amat lihai itu.

Seringkali mereka berdua bersama-sama berjuang menghadapi gerombolan-gerombolan penjahat yang kuat, dan di antara kedua orang ini terdapat kecocokan watak.

Namun, semua nasihat Im-yang Seng-cu tidak dapat mengubah watak buruk, yaitu kesukaannya memetik bunga dengan paksa (memperkosa wanita)!

Kesukaan buruk inilah yang lagi-lagi memisahkan mereka dan membuat hati Im-yang Seng-cu kecewa dan menyesal sekali.

Pada suatu pagi, di dalam sebuah hutan di luar kota Lok-yang, di sebelah utara dekat Sungai Huang-ho, terdengar jerit mengerikan seorang wanita di antara suara beradunya senjata tajam dan teriakan-teriakan kesakitan.

Kiranya, sebuah rombongan piauwsu (pengawal) yang mengantar pelancong dan pengawal barang-barang berharga, bertanding melawan gerombolan perampok yang hendak merampok barang dan menculik wanita.

Di dalam sebuah kereta yang dikawal, terdapat seorang ibu dengan anak daranya yang cantik.

Jerit itu keluar dari mulut Si Dara yang menjadi ketakutan dan berpelukan dengan ibunya yang menangis penuh rasa takut dan gentar.

Sedangkan ayah dara itu pun dengan muka pucat duduk sambil mengembangkan kedua lengan, seolah-olah hendak melindungi anak isterinya dengan kedua lengan yang dikembangkan itu!

Biarpun rombongan piauwsu itu melakukan perlawanan sekuatnya, namun karena jumlah mereka hanya dua puluh orang sedangkan perampok-perampok itu jumlahnya lebih lima puluh, dikepalai oleh seorang raksasa tinggi besar bersenjata sepasang ruyung yang mengerikan, akhirnya rombongan piauwsu itu tewas semua, termasuk para pelayan dan kusir kereta.

Mayat mereka bergelimpangan dan terbenam dalam darah yang memenuhi tempat itu.

"Ha-ha-ha, kumpulkan semua barang!"

Kepala rampok itu tertawa-tawa.

"Tai-ongya, di dalam kereta terdapat seorang nona yang amat cantik!"

Seorang perampok melapor sambil cengar-cengir.

"Ha-ha-ha, bagus. Biar aku sendiri yang menangkapnya!"

Kepala rampok itu melangkah lebar, menyingkap tirai jendela kereta dan nampaklah dara remaja itu dipeluk ibu dan dijaga ayahnya!

Sepasang mata kepala rampok itu terbelalak penuh kagum, air liurnya menitik dan matanya menjadi merah, mulutnya terkekeh genit.

"Heh-heh-heh, manis. Marilah kupondong kau, kusenangkan kau.... ha-ha!"

"Pergi! Jangan ganggu anakku!"

Ayah dara itu membentak, akan tetapi sekali saja kepala rampok itu mengayun tangannya, laki-laki itu terlempar keluar dari kereta!

"Jangan ganggu anakku!

Setan, perampok jahat....!

Tolooonnggg....!"

Ibu dara itu menjerit, akan tetapi kembali tubuhnya terlempar keluar dari dalam kereta ketika didorong oleh kepala rampok yang sudah menyambar lengan Si Dara dan ditarik lalu didekapnya.

Dara itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil dan tidak ada suara keluar dari mulutnya saking takut, hanya matanya terbelalak seperti mata seekor kelinci yang ketakutan.

Karena ibu dara itu pun belum tua benar dan memang cantik, begitu melihat mereka terlempar dari kereta sehingga bajunya tersingkap dan kelihatan bentuk dadanya yang masih padat, seorang perampok segera menubruk dan menciuminya, hendak memperkosanya di tempat itu juga, di dekat Si Suami yang mulai merangkak bangun sambil memegangi lengan kiri yang patah tulangnya ketika dia terjatuh tadi!

"Bretttt!"

Perampok itu sudah merobek baju wanita itu dan Si Wanita selain meronta-ronta juga menjerit-jerit, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu melawan Si Perampok yang jauh lebih kuat dan yang tertawa-tawa senang melihat korbannya melakukan perlawanan itu.

Sementara itu Si Dara jelita yang dipondong oleh kepala rampok, menjerit-jerit dan menggunakan kedua tangannya memukuli dada perampok itu, akan tetapi Si Kepala Perampok tertawa-tawa bergelak dan membawa anak dara yang meronta-ronta itu ke belakang semak-semak, diiringi gelak tawa anak buahnya.

Tiba-tiba kepala rampok itu terbelalak ketika melihat seorang laki-laki secara aneh sekali tahu-tahu telah berada di depannya.

Seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, berpakaian mewah dan berwajah tampan, dengan sepasang mata seperti mata setan, tajam mengerikan!

"Lepaskan dara itu!"

Laki-laki itu berkata dengan sikap dingin, suaranya memerintah, seperti seorang bangsawan memerintah pelayannya saja.

Tahulah Si Kepala Rampok bahwa dia berhadapan dengan seorang lawan yang hendak menentangnya.

Sambil tertawa dia melempar dara itu ke atas rumput, kemudian berkata.

"Kiranya masih ada yang belum mampus, keparat!"

Dia menggerakkan ruyungnya, akan tetapi tiba-tiba tampak sinar berkelebat disusul pekik Si Kepala Rampok yang melihat betapa lengan kanannya terbang bersama ruyungnya, darah muncrat dari pangkal lengan kanan yang buntung!

"Singgg....!

crottt!"

Kembali sinar berkelebat dan kini pangkal lengan kirinya yang buntung!

Si Kepala Rampok menjerit mengerikan sebelum tubuhnya tcrjengkang rohoh, matanya terbelalak dan ia berkelojotan dalam sekarat!

Karena para perampok sedang sibuk dengan kesenangan masing-masing, membongkar-bongkar barang berharga, mereka tidak melihat peristiwa aneh itu.

Ketika Si Perampok tengah berusaha memperkosa ibu Si Dara yang melakukan perlawanan keras, tiba-tiba perampok itu memekik nyaring dan tubuhnya terlempar ke belakang, lambungnya robek dan ususnya keluar.

Barulah para perampok sadar bahwa ada seorang pengacau!

Mereka cepat mengurung laki-laki perkasa itu dan gegerlah mereka setelah ada yang melihat betapa kepala rampok pemimpin mereka itu telah berkelojotan dengan kedua lengan buntung!

Sisa gerombolan perampok yang masih ada tiga puluh orang lebih itu kini mengurung dan menyerbu laki-laki itu dan menghujankan senjata.

Akan tetapi, laki-laki itu memutar pedang yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung, tubuhnya berkelebat ke sana-sini dan terdengar teriakan-teriakan disusul robohnya para perampok itu seorang demi seorang!

Keadaan di tempat itu sungguh mengerikan dan akhirnya, semua perampok roboh dan tewas, kecuali seorang yang berusaha melarikan diri.

Laki-laki itu menoleh ke arah perampok yang melarikan diri, kakinya mencongkel sebatang golok yang terletak di atas tanah, menendang dan terdengarlah jerit perampok itu yang roboh dengan golok menembus punggung!

Selesailah pertandingan itu dan keadaan menjadi sunyi sekali, kecuali suara isak tangis ibu dan anak yang saling merangkul, dan suara ayah Si Dara yang menghibur mereka.

Di sekeliling tempat itu penuh dengan mayat!

Di tengah-tengah tempat mengerikan itu, berdirilah laki-laki setengah tua yang tampan tadi, kini tersenyum-senyum dan matanya ditujukan kepada Si Dara yang sedang menangis bersama ibunya.

Ayah Si Dara itu bangkit dan mengajak anak isterinya menghampiri pendekar itu, berlutut dan memberi hormat.

"Taihiap, kami sekeluarga menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan Taihiap,"

Kata Si Ayah.

"Bangunlah, sudah sepatutnya kalau aku menolong kalian, terutama sekali mengingat akan puterimu. Semua ini berkat nasib puterimu yang amat baik."

Terdengar pendekar itu berkata.

Mendengar suara yang halus itu, Si Dara mengangkat muka dan tiba-tiba kedua pipinya berubah merah sekali.

Tadi dia melihat wajah menyeramkan dari Si Kepala Rampok yang hampir saja memperkosanya.

Kini melihat wajah amat tampan dan gagah dari pria yang telah menyelamatkannya, hati siapa yang tidak akan berdebar dan tertarik?

"Pertolongan In-kong lebih berharga daripada nyawa dan sampai mati pun saya tidak akan melupakannya."

Dara itu berbisik dengan suara mengandung isak karena bersyukur.

Laki-laki perkasa itu membungkuk, menyentuh kedua pundak dara itu dengan sentuhan mesra, menyuruhnya bangkit.

"Aku pun merasa bahagia sekali dapat menyelamatkanmu, Nona."

"Taihiap, kami adalah keluarga Kwa dari Tai-goan hendak pindah ke Lok-yang. Bolehkah kami mengetahui nama besar Taihiap dan mempersilakan Taihiap singgah di tempat kediaman baru kami?"

Kata pula Kwa Liok, ayah Si Dara itu.

"Namaku adalah Suma Hoat, dan tentu saja saya suka singgah, karena memang saya pun hendak ke Lok-yang, sekalian akan saya kawani kalian sampai ke Lok-yang dengan selamat. Silakan naik kereta, biar aku yang akan mengemudikannya."

Ketika keluarga yang terdiri dari ayah ibu dan anak itu sudah naik kereta, Suma Hoat bertanya.

"Milik siapakah barang-barang di dalam kereta ke dua di belakang itu?"

"Bukan milik kami Taihiap. Mungkin barang-barang kiriman yang dikawal oleh rombongan piauwsu. Kami hanya ikut rombongan dengan membayar biaya pengawalan, kami keluarga miskin tidak membawa barang apa-apa kecuali bungkusan-bungkusan dalam kereta ini."

Suma Hoat mengangguk-angguk, meloncat ke belakang dan setelah memilih dan mengantongi beberapa benda berharga dari emas permata, dia lalu kembali ke kereta, naik ke tempat di depan dan mencambuk dua ekor kuda yang tadi ketakutan itu sehingga dua ekor binatang itu membalap ke depan menarik kereta.

Setelah tiba di rumah keluarga Kwa di Lok-yang, tentu saja Suma Hoat diterima sebagai tamu agung, dihormati oleh suami isteri Kwa dan terutama oleh puterinya, Kwa Bi Kiok yang benar-benar merasa kagum dan berhutang budi kepada penolongnya itu.

Dara ini memang cantik manis, maka tidaklah mengherankan apabila timbul rasa suka di hati Jai-hwa-sian terhadap gadis itu!

Seperti biasa, begitu hatinya tergerak, begitu nafsunya terangsang, dia harus mendapatkan gadis itu dan kebetulan sekali, terhadap Bi Kiok, Suma Hoat tidak perlu mempergunakan kekerasan karena ketika pada malam harinya dia memasuki kamar gadis itu, dia diterima dengan penuh kemesraan dan cinta kasih!

Sekali ini tidak seperti biasanya, Suma Hoat jatuh hati terhadap Bi Kiok.

Biasanya, setelah gairah nafsunya terlaksana terhadap seorang wanita yang dikehendakinya, dia tidak mau menengok lagi dan meninggalkan si korban begitu saja.

Akan tetapi entah mengapa, terhadap Bi Kiok dia tidak dapat bersikap demikian.

Timbul rasa cinta dan kasihan terhadap gadis ini dan di dalam diri Bi Kiok, dia seolah-olah menemukan sesuatu yang dicari-carinya, bagaikan seekor burung yang gelisah menemukan pohon yang cocok untuk berteduh seperti sebuah perahu menentukan pangkalan yang tepat untuk berlabuh.

Ataukah, mungkin juga dia menemukan cinta, bukan hanya nafsu berahi seperti biasanya?

Malam hari itu dia tinggal di rumah Kwa Bi Kiok, bahkan dia menghadiahkan semua barang-barang berharga, perhiasan-perhiasan indah mahal kepada kekasih barunya ini.

Dia menjadi amat "jinak", tidak pernah keluar rumah.

Apalagi setelah ayah bunda Bi Kiok mengetahui akan hubungan antara penolong mereka dan puteri mereka, peristiwa yang mereka sesalkan akan tetapi mereka tidak berani mencegah atau melarangnya, Suma Hoat hidup di dalam rumah itu sebagai pengantin baru dengan Bi Kiok yang ternyata amat mencintanya.

Makin mendalam perasaan Suma Hoat terhadap Bi Kiok ketika tiga bulan kemudian kekasihnya itu mengandung!

Kalau saja dia tidak khawatir akan datangnya malapetaka, tentu dia akan menikah secara resmi dengan kekasihnya itu.

Akan tetapi betapa mungkin dia melakukan pernikahan?

Begitu namanya tersiar, tentu akan datang musuh-musuh besar yang selalu mencarinya, dan gadis yang menjadi isterinya tentu akan dimusuhi pula.

Bahkan sampai tiga bulan tinggal di dalam kota Lok-yang ini saja sudah merupakan hal yang amat berbahaya dan belum pernah dilakukan sebelumnya.

Biasanya dia selalu berpindah-pindah, tidak lebih dari sepekan saja berada di sebuah kota.

Akan tetapi, karena Bi Kiok, dia kini telah tiga bulan berada di Lok-yang.

Biarpun selama tiga bulan itu dia tidak pernah keluar dari dalam rumah, apalagi melakukan perbuatannya sebagai Jai-hwa-sian, namun sudah amat berbahaya.

Pada suatu malam, terjadilah apa yang dikhawatirkan oleh Jai-hwa-sian.

Selagi tidur bersama Bi Kiok yang pulas (Lanjut ke

Jilid 39 -Tamat) Istana Pulau Es (Seri ke 05

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 39 (Tamat) dalam pelukannya, dia mendengar gerakan yang perlahan sekali di atas rumah!

Dia menengok dan memandang wajah kekasihnya, wajah yang cantik manis dan gemilang mengeluarkan cahaya cemerlang seperti biasa wajah seorang wanita yang mengandung, tidur pulas dengan bibir tersenyum penuh kepuasan dan kebahagiaan.

Jantung Suma Hoat seperti ditusuk rasanya.

Dia mencinta wanita ini!

Hati-hati sekali dia menarik lengannya yang dijadikan bantal oleh kepala Bi Kiok, cepat mengenakan pakaian dan sekali berkelebat, dia telah meloncat keluar dari kamar membawa pedangnya.

Tepat seperti apa yang diduga dan dikhwatirkannya, begitu tubuhnya melayang naik ke atas genteng, lima orang telah menghadapinya!

"Jai-hwa-sian, iblis keparat, serahkan nyawamu kepada kami!"

Seorang di antara mereka membentak.

Tanpa menanti jawaban, lima orang itu telah menerjang maju serentak dengan senjata mereka.

Suma Hoat tidak ingin mengagetkan kekasihnya, juga tidak ingin kekasihnya tahu akan keadaan dirinya, maka dia hanya mengelak lalu melarikan diri untuk memancing musuh-musuhnya itu melakukan pengejaran.

Maka dia tidak berlari terlalu cepat sehingga musuh-musuhnya mampu menyusulnya keluar dari kota Lok-yang.

Akan tetapi yang mengejar Suma Hoat hanya empat orang, sedangkan orang ke lima, seorang hwesio, telah melayang turun dan memasuki rumah keluarga Kwa.

Kwa Liok telah bangun karena kaget mendengar suara berisik tadi, dan melihat seorang hwesio di situ, dia kaget dan heran sekali.

Akan tetapi, hwesio yang berwajah tenang itu segera berkata.

"Harap engkau tidak kaget dan lebih baik kau lekas melihat keadaan puterimu. Pinceng percaya bahwa engkau tentu mempunyai seorang gadis."

Tentu saja Kwa Liok bingung dan heran. Dia menangguk, menelan ludah dan berkata.

"Memang, Twa-suhu, kami mempunyai seorang anak perempuan, akan tetapi.... mengapa....?"

"Lekas, lihat ke dalam kamarnya!"

Hwesio itu mendekat dengan alis berkerut karena dia khawatir kalau-kalau Jai-hwa-sian telah memperkosa puteri tuan rumah ini.

Biarpun ragu-ragu dan heran, Kwan Liok menghampiri kamar puterinya.

Tiba-tiba muncul isterinya yang menjadi pucat melihat seorang hwesio bersama suaminya menghampiri kamar puterinya.

Tanpa bertanya, dia ikut menghampiri kamar itu.

Pintu kamar ditekuk perlahan oleh Kwa Liok yang memanggil-manggil nama anaknya.

Tak lama kemudian terdengar jawaban.

"Ehmmm....? Siapa....? Eihh, ke mana perginya....?"

"Bi Kiok, engkau tidak apa-apa?"

Kwa Liok bertanya dan isterinya memandang bingung.

Daun pintu terbuka dan Bi Kiok terkejut, cepat-cepat menutupkan bajunya yang terbuka sedikit ketika melihat seorang hwesio bersama ayah bundanya.

"Eh, ada apakah, Ayah?"

"Omitohud....!"

Hwesio itu menarik napas panjang dan merasa lega.

"Untung bahwa Tuhan masih melindungi puterimu dari cengkeraman keji Jai-hwa-sian."

Kwa Liok, isterinya, dan Bi Kiok terkejut.

"Jai-hwa-sian....?"

Tentu saja mereka telah mendengar nama penjahat yang ditakuti ini, dan Kwa Liok menyebut nama itu dengan penuh pertanyaan.

"Ya, benar, baru saja kami berlima menyerbu setelah mendengar kabar bahwa Jai-hwa-sian, penjahat cabul yang kami cari-cari itu berada di rumah ini. Dia tadi telah kabur dan dikejar teman-teman pinceng. Akan tetapi, melihat bahwa anakmu masih selamat, sebaiknya sekarang juga kalian segera pergi dari tempat ini. Biasanya kalau Jai-hwa-sian belum berhasil mendapatkan korbannya, dia akan penasaran dan akan terus melakukan pengejaran."

"Tapi.... tapi...."

Kwa Liok tak dapat melanjutkan kata-katanya karena dia merasa bingung sekali.

"Biarpun teman-teman pinceng tadi mengejarnya, belum tentu mereka dapat menangkap atau membunuhnya. Dia amat lihai dan kejam. Untung bahwa anakmu masih belum menjadi korban, tadinya pinceng mengira dan mengkhawatirkan, seperti yang sudah-sudah, anakmu sudah menjadi mayat."

"Lo-suhu, siapakah yang kaumaksudkan dengan Jai-hwa-sian itu? Yang berada di sini sama sekali bukan Jai-hwa-sian, melainkan.... eh, suamiku.... Suma Hoat, bukan Jai-hwa-sian...."

Bi Kiok yang mendengarkan dengan muka pucat ini tiba-tiba tak dapat menahan hatinya dan berkata dengan tegas.

Biarpun dia belum menikah secara resmi dengan kekasihnya, namun Suma Hoat sudah dianggap sebagai suaminya sendiri, maka kini mendengar suaminya dituduh sebagai Jai-hwa-sian, penjahat cabul yang sudah terkenal di mana-mana, tentu saja dia tidak senang dan membantah.

"Omitohud.... suamimu....? Apa artinya ini....? Suma Hoat adalah Jai-hwa-sian, Jai-hwa-sian adalah Suma Hoat.... haittt!"

Tiba-tiba hwesio itu melempar tubuhnya ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran sebatang jarum yang datang dari atas.

Sambil bergulingan, hwesio itu memutar toyanya, kemudian melompat bangun dan berhadapan dengan Suma Hoat yang telah meloncat turun.

"Jai-hwa-sian....!"

Hwesio itu membentak, matanya terbelalak penuh kaget dan heran mengapa orang yang dikejar-kejar empat orang temannya tadi tahu-tahu telah muncul di situ.

"Hemmm, agaknya engkau murid Siauw-lim-pai, ya? Nah, mampuslah seperti empat orang kawanmu!"

Suma Hoat menggerakkan pedangnya menerjang ke depan.

Hwesio itu cepat menangkis dan terjadilah pertandingan di dalam rumah keluarga Kwa.

Ternyata hwesio itu bukan tandingan Suma Hoat.

Baru dua puluh jurus lebih saja, pundaknya terbabat pedang dan toyanya terlepas.

Hwesio itu meloncat keluar dari rumah, melarikan diri.

"Engkau hendak lari ke mana?"

Suma Hoat membentak, akan tetapi tiba-tiba Bi Kiok menubruk. Wanita ini memeluk dan menangis.

"Engkau.... engkau.... benarkah engkau Jai-hwa-sian....?"

Suma Hoat merangkul pundak kekasihnya, mengusap rambut yang awut-awutan itu dan menghela napas.

"Bi Kiok, kekasihku, dewi pujaan hatiku calon ibu anakku.... siapa pun adanya aku, engkau yakin bahwa aku mencintamu, bukan?"

Bi Kiok mengangkat muka memandang wajah orang yang dicintanya itu, terisak, merangkul leher memaksa muka Suma Hoat mendekat, lalu menempelkan pipinya pada pipi kekasihnya.

Sambil menangis dia hanya mengangguk-angguk, tak mampu menjawab karena dia bingung sekali.

Pria yang dipeluknya ini adalah laki-laki yang dicintanya, benarkah orang yang dianggapnya paling mulia di dunia ini adalah Jai-hwa-sian, penjahat cabul yang telah memperkosa ratusan orang wanita dan membunuh korbannya secara keji?

Benarkah ini?

Sukar untuk mempercayai hal ini!

"Bi Kiok, hwesio tadi benar.

Aku memang Jai-hwa-sian, bekas penjahat cabul yang kejam.

Kukatakan bekas, karena setelah bertemu denganmu, aku tidak mau lagi melakukan kejahatan itu.

Dan hwesio tadi benar bahwa engkau dan ayah bundamu harus segera pergi dari sini, malam ini juga.

Bukan takut kepadaku, melainkan takut kepada orang-orang kang-ouw yang memusuhiku.

Kalau mereka tahu bahwa engkau telah menjadi kekasihku, menjadi isteriku, menjadi calon ibu anakku, tentu engkau akan terbawa-bawa, akan dimusuhinya pula.

Sebentar lagi pun mereka tentu akan menyerbu rumah ini.

Bi Kiok, pergilah engkau."

"Suma-koko.... aku mau mati di sampingmu...."

Bi Kiok menangis.

"Suma-taihiap, bagaimanakah ini....?"

Kwa Liok akhirnya berkata dengan bingung.

"Apa yang kalian dengar dari hwesio tadi benar semua. Malam ini juga, kalian bertiga harus pergi dari sini. Saudara Kwa, bawa Bi Kiok pergi dari kota ini. Bawalah pergi ke kota Han-tiong di lembah sungai di kaki Pegunungan Ta-pa-san. Temui seorang tokoh kang-ouw bernama Im-yang Seng-cu, kau tanya-tanya di sana tentu akan bertemu. Mintalah perlindungan kepadanya. Dia sahabat baikku, tentu dia akan mellndungi Bi Kiok kalau membawa surat ini, sampai Bi Kiok melahirkan dan sebelum itu, aku akan berusaha untuk menyusul ke sana...."

Suma Hoat menyerahkan sepucuk surat dan sebuah pundi-pundi.

"Ini adalah uang emas untuk bekal di perjalanan. Nah, berangkatlah..."

Kwa Liok hanya mengangguk-angguk tak mampu menjawab saking bingungnya.

Dia dan isterinya lalu lari ke dalam kamar untuk berkemas, mempersiapkan barang yang kiranya dapat mereka bawa melarikan diri.

Akan tetapi Bi Kiok menubruk dan memeluk kekasihnya sambil menangis.

Sampai ayah bundanya datang lagi mengajaknya, dia masih menangis sehingga terpaksa Suma Hoat melepaskan pelukannya dan setengah diseret wanita itu dipaksa meninggalkan rumah di malam buta.

Suma Hoat berdiri dengan jantung berdebar, ingin lari menyusul wanita yang tangisnya masih terdengar olehnya, makin lama makin lirih itu.

Semangatnya seperti terbawa pergi, jantungnya seperti ditusuk-tusuk dan dia makin yakin bahwa dia benar-benar mencinta Bi Kiok!

Bukan cinta berahi, melainkan cinta seorang suami terhadap isterinya, cinta seorang pria terhadap wanita yang akan menjadi ibu anaknya!

Tiba-tiba ia sadar dari lamunan ketika mendengar gerakan orang.

Dia meloncat keluar rumah dan di depan rumah itu telah terdapat belasan orang mengurung!

Suma Hoat tersenyum mengejek, lalu berkata.

"Apa kalian sudah bosan hidup? Mau apa kalian mencari Jai-hwa-sian?"

"Jai-hwa-sian iblis jahat. Kalau belum membunuhmu, sampai dunia kiamat kami orang-orang kang-ouw akan selalu mencarimu!"

Suma Hoat tertawa melengking dan meloncat ke depan, disambut oleh belasan batang senjata yang mengeroyoknya.

Terdengar suara senjata beradu keras sekali, Suma Hoat mengamuk dan setelah merobohkan lima orang lawan, dia terpaksa melarikan diri karena para pengeroyoknya adalah orang-orang yang lihai ilmu silatnya, sedangkan malam hampir berganti pagi.

Dengan cepat dia melarikan diri ke luar dari kota Lok-yang, menuju ke utara untuk memancing mereka menjauhi arah yang ditempuh Bi Kiok dan ayah bundanya.

Setelah dapat membebaskan diri dari para pengejarnya, Suma Hoat mengambil jalan memutar menuju ke kota Han-tiong menyusul rombongan kekasihnya.

Dia sengaja mengambil jalan jauh dan memutar agar jangan sampai ada orang tahu tempat tinggal Bi Kiok kalau-kalau ada yang melihat dan membayanginya.

Karena perjalanan yang memutar ini, setelah tiga bulan barulah dia tiba di kaki Pegunungan Ta-pa-san, memasuki kota Han-tiong dan mencari kekasihnya.

Akan tetapi hasilnya sia-sia.

Keluarga Kwa Liok tidak berada di kota itu.

Dia sudah mencari ke sekeliling kota, sudah bertanya-tanya, akan tetapi tidak ada orang yang tahu akan rombongan tiga orang itu!

Akhirnya Suma Hoat bertemu dengan Im-yang Seng-cu, sahabat lamanya yang tinggal di dalam pondok kecil di sebuah hutan di luar kota Han-tiong.

"Aihhh, Jai-hwa-sian, angin apa yang membawamu ke sini?"

Im-yang Seng-cu cepat menyambut sahabatnya itu dan menegur gembira.

Dengan singkat Suma Hoat lalu menceritakan tentang pilihan hatinya yang baru tentang Bi Kiok dan orang tuanya yang disuruh melarikan diri ke Han-tiong karena dia dikejar-kejar oleh musuh-musuhnya.

"Sudah lebih dari tiga bulan mereka pergi, mestinya sudah berada di Han-tiong, akan tetapi kucari-cari mereka di sini tidak ada, bahkan agaknya tidak pernah datang ke Han-tiong. Jangan-jangan ada halangan di jalan...."

Suma Hoat kelihatan gelisah sekali memikirkan kekasihnya. Im-yang Seng-cu memandang heran.

"Sahabatku, tidak kelirukah pendengaranku dan penglihatanku bahwa agaknya engkau amat memperhatikan wanita yang kau cari ini?"

"Memperhatikan? Im-yang Seng-cu, aku mencintanya! Mencinta dengan seluruh tubuh dan nyawa!"

"Kau? Mencinta? Ha-ha, Jai-hwa-sian, harap jangan mempermainkan aku! Di waktu muda belia saja tidak pernah mengenal cinta, apalagi setelah kini rambutmu mulai ada ubannya!"

"Sungguh aku tidak main-main. Aku telah menemukan cintaku, Im-yang Seng-cu. Dia adalah wanita satu-satunya yang sampai kini berhasil merebut kasihku, menghentikan semua petualanganku, dan.... dan dia sudah mengandung. Dia isteriku, dan aku harus dapat menemukan dia....! Ahhh, jangan-jangan dia tertimpa halangan. Aku harus pergi sekarang juga!"

Jai-hwa-sian akan meloncat bangkit dengan wajah keruh dan penuh kekhawatiran.

"Eh-eh, ke mana, sahabatku?"

"Aku harus mencarinya. Dia dan ayah bundanya berangkat dari Lok-yang menuju ke sini, aku akan menyelusuri jalan itu sampai ke Lok-yang. Sampai jumpa, sahabatku!"

Jai-hwa-sian meninggalkan Im-yang Seng-cu yang berdiri bengong di depan pondoknya, menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Aihhh.... sungguh kasihan. Makin tua makin terlibat urusan hati sendiri!"

Im-yang Seng-cu yang biasanya memang suka merantau, menjadi tidak kerasan di pondoknya dan beberapa hari kemudian, Im-yang Seng-cu juga meninggalkan pondok dan mengambil jurusan ke Lok-yang karena dia merasa khawatir melihat sikap sahabatnya yang dianggapnya tidak seperti biasa.

Kedatangan kembali Suma Hoat ke Lok-yang sama dengan ular mencari penggebuk.

Musuh-musuhnya masih berada di Lok-yang dan masih mencari-carinya di sekitar tempat itu, maka begitu dia memasuki daerah ini, di luar kota dia sudah bertemu dan dikepung belasan orang kang-ouw yang dipimpin oleh Ceng San Hwesio, seorang tokoh besar dari Siauw-lim-pai yang telah dicalonkan menjadi ketua!

Ceng San Hwesio ini adalah murid keponakan Kian Ti Hosiang dan karena dia dianggap seorang calon yang kuat dan tepat, Kian Ti Hosiang yang sakti berkenan menurunkan beberapa ilmu kepandaian kepadanya sehingga kini hwesio Siauw-lim-pai ini memiliki tingkat ilmu silat yang hebat!

Sekilas pandang saja tahulah Suma Hoat bahwa sekali ini dia harus menghadapi pertandingan berat karena yang menghadangnya terdiri dari tokoh-tokoh Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, semua berjumlah empat belas orang dan dari sikap mereka, para penghadangnya itu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Akan tetapi, kegelisahan hati dan kelakuannya karena kehilangan kekasihnya membuat Suma Hoat tidak sempat memikirkan diri sendiri, bahkan langsung dia bertanya.

"Kalian adalah orang-orang Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai yang katanya terdiri dari orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Kalau kalian memusuhi Jai-hwa-sian, mengapa kalian mengganggu seorang wanita yang tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa?"

"Omitohud....!"

Ceng San Hwesio menggeleng-gelengkan kepalanya yang tidak berambut.

"Engkau sendiri telah melakukan dosa besar terhadap ratusan orang wanita yang tidak berdosa, sekarang menuduh kami mengganggu seorang wanita! Jai-hwa-sian, apa maksud kata-katamu itu?"

"Tidak perlu berpura-pura atau menyangkal! Di dunia ini yang memusuhi Jai-hwa-sian adalah orang-orang macam kalian ini! Sekarang, isteriku lenyap, tentu kalian yang telah menyembunyikan dan menculiknya. Kembalikan isteriku, baru aku akan dapat mengampuni kalian!"

Suma Hoat mencabut pedangnya.

"Siancai.... orang ini benar-benar tak tahu diri!"

Seorang tosu Hoa-san-pai berseru marah dan seruannya ini agaknya merupakan dorongan kepada mereka semua yang serentak menerjang maju mengeroyok Suma Hoat.

Suma Hoat terkejut juga.

Benar dugaannya.

Para pengeroyoknya ini tidak boleh disamakan dengan para pengeroyok yang lalu.

Selain pemimpin hwesio Siauw-lim-pai itu lihai sekali, juga pemimpin orang-orang Hoa-san-pai adalah wakil Ketua Hoa-san-pai, tentu saja memiliki kepandaian yang hebat pula.

Namun, dia sudah marah sekali karena menduga keras bahwa kekasihnya tentu celaka di tangan mereka ini, maka dia mengamuk seperti seekor naga terluka!

Namun, jumlah musuh terlalu banyak dan tingkat kepandaian Ceng San Hwesio dan wakil ketua Hoa-san-pai terlalu tinggi, maka setelah melakukan perlawanan selama satu jam lebih, biarpun dia berhasil merobohkan tiga orang dan melukai tiga orang lain lagi, dia sendiri pun menderita luka parah di leher, pundak dan lambungnya!

Dengan luka-luka berat, Suma Hoat terpaksa melarikan diri, dikejar-kejar oleh para pengeroyoknya.

Akan tetapi hujan jarum beracun yang disebarkan oleh Suma Hoat membuat para pengeroyok dan pengejar itu terpaksa menunda pengejaran dan Suma Hoat berhasil lolos dan menghilang ke dalam hutan yang lebat.

Maklum akan kelihaian Jai-hwa-sian dengan senjata-senjata rahasianya, Ceng San Hwesio dan kawan-kawannya tidak berani melakukan pengejaran terus, melainkan kembali ke tempat tadi untuk mengurus dan merawat teman-teman yang terluka dan tewas.

Luka-luka yang diderita oleh Suma Hoat amat parah.

Dia lelah sekali dan tiga luka di tubuhnya amat nyeri, juga terlalu banyak mengeluarkan darah.

Ini semua masih tidak sehebat derita yang terasa di hatinya yaitu akan kenyataan bahwa kekasihnya, Kwa Bi Kiok, calon ibu anaknya, telah lenyap!

Penderitaan lahir batin ini membuat Suma Hoat tergelimpang di dalam hutan dalam keadaan pingsan!

Ketika Jai-hwa-sian siuman kembali dan membuka matanya, ternyata Im-yang Seng-cu telah berlutut di dekatnya dan luka-luka di tubuhnya telah diobati oleh sahabat itu.

"Luka-lukamu hebat sekali, engkau perlu beristirahat. Terlalu banyak engkau kehilangan darah,"

Im-yang Seng-cu berkata.

"Musuh-musuhku.... terlalu lihai.... terutama hwesio Siauw-lim dan tosu Hoa-san itu...."

Im-yang Seng-cu mengangguk dan menarik napas panjang.

"Sayang sekali engkau tak pernah menghentikan kesenangan yang sesat sehingga engkau dimusuhi orang-orang gagah di dunia kang-ouw. Tentu saja mereka itu lihai karena hwesio itu adalah tokoh Siauw-lim-pai calon ketua, namanya Ceng San Hwesio. Adapun tosu tua itu adalah paman guruku, Thian Cu Cinjin, juga calon ketua Hoa-san-pai!"

Suma Hoat terkejut.

"Aahhh.... pantas kalau begitu.... aku tidak penasaran terluka parah.... akan tetapi, tidak mengapalah, yang memusingkan aku adalah lenyapnya Bi Kiok...."

Ia berhenti sebentar dan menerima air yang diminumkan oleh Im-yang Seng-cu.

"Tentu dia celaka di tangan mereka yang memusuhiku."

"Tidak, Jai-hwa-sian. Aku pun sudah membantumu melakukan penyelidikan. Tidak ada tokoh kang-ouw yang mengganggu kekasihmu dan ayah bundanya. Aku percaya kalau mereka itu sengaja melarikan diri darimu, entah bersembunyi di mana."

"Tidak mungkin! Bi Kiok mencintaku! Tidak mungkin dia lari dariku!"

Suma Hoat berkata penuh semangat dan kepercayaan.

"Gadis itu mungkin mencintamu dan tidak akan meninggalkan, akan tetapi orang tuanya? Orang tua manakah yang akan senang mempunyai mantu Jai-hwa-sian yang lebih terkenal jahat dan keji? Tentu mereka tidak rela puterinya menjadi isteri Jai-hwa-sian dan telah melarikan dan menyembunyikannya."

"Kalau begitu, akan kubunuh mereka, dan kurampas Bi Kiok!"

Im-yang Seng-cu menghela napas panjang.

"Itulah yang menyedihkan hatiku, sahabatku. Engkau seorang yang gagah perkasa, akan tetapi dalam hal satu ini, engkau seorang yang amat lemah dan kelemahanmu membuat engkau mudah saja berubah menjadi seorang iblis yang amat kejam!"

"Ahhhh.... akan tetapi dia adalah wanita yang kucinta, dan dia sudah mengandung.... anakku...."

Suma Hoat terengah-engah dan memejamkan kedua matanya, merintih penuh kedukaan dan penasaran.

Melihat ini, Im-yang Seng-cu merasa kasihan.

Agaknya sahabatnya ini mulai memetik buah-buah dari perbuatannya sendiri, buah-buah yang pahit getir.

"Biarlah aku akan membantumu mencari Bi Kiok, akan tetapi yang terpenting sekarang, luka-lukamu amat parah darr berbahaya, harus dirawat dan diobati lebih dulu."

"Jangan pedulikan aku, pergilah kau dan bantu aku mencari Bi Kiok. Im-yang Seng-cu, kalau kau bisa menemukan dan mengembalikan Bi Kiok kepadaku, selama hidupku aku takkan melupakan kebaikan budimu."

"Tidak ada budi antara sahabat. Aku akan membantumu, akan tetapi lebih dulu harus dipikirkan keadaanmu. Kalau tidak mendapat rawatan yang baik, luka-luka ini bisa menyeret nyawamu. Apa artinya aku berhasil menemukan Bi Kiok kalau engkau mati karena luka-luka ini?"

Tiba-tiba Suma Hoat memegang tangan sahabatnya.

"Aku harus bertemu dengan ayahku. Aku telah berdosa besar kepadanya. Aku seorang anak yang tidak berbakti. Bawalah aku kepada Ayah, engkau tahu bukan di mana dia? Aku mendengar dia kini berada di Tai-hang-san...."

Im-yang Seng-cu mengangguk.

"Baiklah, aku pun pernah mendengar bahwa ayahmu itu kini menjadi pertapa di puncak In-kok-san, di Pegunungan Tai-hang-san."

Im-yang Seng-cu lalu memondong tubuh sahabatnya dan dibawalah Suma Hoat menuju ke Tai-hang-san.

Sebetulnya, apakah yang terjadi dengan diri Kwa Bi Kiok dan ayah bundanya?

Tepat seperti yang diperkirakan Im-yang Seng-cu, tidak ada sesuatu menimpa diri wanita muda ini, karena mereka itu memang tidak memenuhi permintaan Suma Hoat dan tidak melarikan diri ke kota Han-tiong.

Ketika mendapat kenyataan bahwa puterinya menjadi kekasih Jai-hwa-sian, Kwa Liok menjadi terkejut, menyesal dan penasaran sekali.

Jai-hwa-sian adalah seorang penjahat yang sudah terkenal keganasannya, tukang perkosa dan tukang bunuh wanita.

Mungkin sekarang, sebelum bosan, anaknya dicinta, akan tetapi siapa tahu kalau penjahat itu sudah bosan?

Tentu anaknya akan dibunuh, dan bersama isterinya tentu tidak akan terluput dari kebinasaan!

Di samping ngeri akan kemungkinan menjadi korban kekejaman Jai-hwa-sian ini, juga andaikata dia membiarkan anaknya menjadi isteri Jai-hwa-sian, tentu selamanya anaknya akan menjadi korban pula kalau Jai-hwa-sian akhirnya terbunuh oleh orang-orang gagah dan pemerintah yang sudah lama mencari-cari penjahat itu.

Karena pikiran inilah, biarpun Bi Kiok mengeluh dan menangis minta diantar ke Han-tiong, Kwa Liok tetap memaksa anak dan isterinya untuk melarikan diri ke lain jurusan, yaitu jauh ke selatan, menuju ke kota Nan-king!

Rombongan ini tidak kepalang-tanggung dalam usaha mereka menjauhkan diri karena mereka lari jauh sekali, sampai memakan waktu berbulan-bulan dan Kwa Liok yang cerdik telah mengganti nama dan nama keturunan mereka untuk menghilangkan jejaknya.

Akhirnya, Kwa Liok bertempat tinggal di kota kecil Kam-chi dekat Nan-king.

Kepada para tetangga barunya dia mengatakan bahwa puterinya adalah seorang janda, ditinggal mati suaminya yang bernama Sie Hoat.

Setelah Bi Kiok melahirkan seorang anak laki-laki, Kwa Liok memberinya nama Sie Bun An dan semenjak kecil Sie Bun An ini dijauhkan dari segala yang berbau silat!

Sie Bun An tumbuh besar dalam didikan bun (sastra) dan sama sekali buta silat!

Demikianlah, Bi Kiok lenyap dari kehidupan Suma Hoat dan tak mungkin dapat dicari lagi.

Adapun Suma Hoat sendiri, yang masih amat lemah tubuhnya, diantar oleh Im-yang Seng-cu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Suma Kiat bekas panglima besar yang menjadi buronan karena persekutuan dengan pihak Yucen itu, melarikan diri bersama selirnya yang tercinta, Bu Ci Goat dan muridnya yang setia, Siangkoan Lee, menuju ke Tai-hang-san.

Di puncak In-kok-san yang indah, mereka mendirikan rumah dan hidup cukup mewah karena ketika pergi, mereka tidak lupa membawa banyak harta benda.

Suma Kiat sudah tua sekali, akan tetapi masih mendelik marah ketika Im-yang Seng-cu membawa Suma Hoat menghadap.

"Aku tidak mempunyai anak bernama Suma Hoat!"

Bentaknya.

"Im-yang Seng-cu, kalau tidak mengingat mendiang gurumu, Tee Cu Cinjin yang menjadi sahabatku, tentu engkau sudah kubunuh sekarang juga, berani lancang membawa manusia ini menghadapku!"

Mendengar ucapan ayahnya itu, Suma Hoat yang masih lemah itu merasa berduka sekali, akan tetapi dia tetap berlutut dan tidak berkata apa-apa.

Sebaliknya Im-yang Seng-cu menjadi penasaran.

Dia sudah mengenal baik Suma Kiat yang dahulu menjadi sahabat suhunya, bahkan dahulu di waktu dia masih kecil, kalau Suma Kiat mengunjungi gurunya, Suma Kiat bersikap baik kepadanya dan memperlihatkan rasa sayang besar.

Akan tetapi dia pun maklum siapa adanya Suma Kiat, seorang yang selalu haus akan kedudukan dan kemuliaan, seorang yang tidak segan-segan melakukan kekejaman apa pun demi tercapainya cita-citanya mengejar kemuliaan.

"Suma-locianpwe,"

Katanya dengan berani.

"Suma Hoat adalah putera tunggalmu, sekarang sedang menderita luka parah dan perlu perawatan khusus. Saya tidak percaya bahwa Locianpwe akan tega membiarkannya menghadapi ancaman maut. Andaikata dia telah melakukan kesalahan-kesalahan terhadap Locianpwe, saya mohon sudilah kiranya memaafkan putera sendiri."

"Tutup mulut! Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai anak yang bernama Suma Hoat! Im-yang Seng-cu, aku dahulu menyayangmu di waktu engkau kecil karena engkau seorang anak baik yang tidak pernah menentangku, akan tetapi kalau sekarang engkau hendak menentangku, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan mengusirmu dari sini!"

Tiba-tiba terdengar suara tertawa melengking nyaring disusul suara seorang wanita.

"Bagus sekali, dasar manusia jahat seperti iblis, anak sendiri pun dikutuknya!"

"Maya....!"

Tiba-tiba Suma Hoat yang berlutut dan berusaha melompat akan tetapi roboh kembali karena tubuhnya masih lemah dan pukulan batin mendengar ucapan ayahnya tadi benar-benar membuat hatinya makin remuk.

Im-yang Seng-cu cepat memeluknya dan dengan mata terbelalak melihat betapa ada bayangan didahului sinar berkelebat menyambar ke arah tubuh Suma Kiat!

Kakek yang masih lihai sekali ini sudah mencabut pedangnya menangkis.

Terdengar suara keras dan pedang di tangan Suma Kiat patah, tubuhnya roboh dan kembali bayangan itu berkelebat keluar.

"Keparat, hendak lari ke mana?"

Siangkoan Lee dan Bu Ci Goat meloncat dan mengejar, akan tetapi baru sampai di pintu, kedua orang ini roboh dan bayangan itu berkelebat keluar meninggalkan suara melengking dan mengerikan!

Bu Ci Goat yang lihai itu telah berhasil bangun lebih dulu daripada Siangkoan Lee yang merangkak dan terengah-engah karena pukulan jarak jauh yang yang tadi membuat dadanya sesak.

Bu Ci Goat cepat menghampiri suaminya dan terkejut melihat goresan pedang melukai leher dan dada suaminya.

Suma Kiat dipapah bangun, duduk di kursinya dan melihat Suma Hoat, bangkit lagi kemarahannya, seolah-olah anaknyalah yang mendatangkan malapetaka itu.

Telunjuknya menuding.

"Pergi....! Pergi kalian dari sini....!"

Im-yang Seng-cu mengerutkan alisnya, mengempit tubuh temannya dan membawanya keluar.

Anak murid In-kok-san yang berbaris di depan, hanya memandang bengong.

Mereka tidak berani mencampuri dan tadi ketika ada bayangan berkelebat cepat, mereka pun tidak dapat berbuat sesuatu.

Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee cepat merawat Suma Kiat.

Akan tetapi, biarpun serangan pedang itu mendatangkan luka yang tidak berapa berat, serangan batin karena munculnya Suma Hoat lebih hebat dan membuat kakek ini jatuh sakit lagi, tidak mampu meninggalkan pembaringannya.

Im-yang Seng-cu membawa Suma Hoat pergi dan berhenti di sebuah lereng puncak pegunungan itu.

Suma Hoat mengeluh minta diturunkan, lalu berkata.

"Im-yang Seng-cu, apakah engkau melihat dia tadi?"

Im-yang Seng-cu menggeleng kepalanya.

"Orang itu gerakannya luar biasa sekali. Aku hanya tahu bahwa dia seorang wanita, entah tua ataukah muda, namun kecepatannya luar biasa sehingga aku tidak dapat mengenalnya. Tentu dia seorang yang sakti dan musuh Suma Kiat."

"Dia adalah Maya.... penghuni Pulau Es...."

Im-yang Seng-cu terkejut bukan main.

"Akan tetapi.... mungkin hanya rohnya saja.... dia.... dia sudah mati...."

Mendengar ini, Im-yang Seng-cu makin bingung dan meraba dahi sahabatnya.

"Engkau panas lagi. Harap jangan pikirkan apa-apa dan beristirahatiah."

"Im-yang Seng-cu, engkau satu-satunya sahabatku. Kaupenuhilah permintaanku. Kautinggalkan aku di sini dan pergilah kaucari Bi Kiok."

"Akan tetapi engkau perlu perawatan,"

Im-yang Seng-cu membantah. Tiba-tiba terdengar jawaban seorang wanita.

"Biarlah aku yang akan merawatnya, Im-yang Seng-cu."

Im-yang Seng-cu menengok dan melihat bahwa Bu Ci Goat, selir yang lihai dari Suma Kiat, telah berdiri di situ.

Biarpun usianya sudah lima puluhan tahun, namun wanita itu masih tampak cantik dan pakaiannya mewah.

"Jangan kau kawatir, biarpun ayahnya membencinya, aku tidak. Kau pergilah memenuhi permintaannya, aku yang akan merawatnya di sini."

Im-yang Seng-cu masih ragu-ragu, menoleh kepada sahabatnya. Suma Hoat mengangguk dan berkata lemah.

"Pergilah dan cari dia, Im-yang Seng-cu. Ibu tiriku akan merawatku di sini."

Legalah hati Im-yang Seng-cu dan dia segera pergi meninggalkan sahabatnya bersama Bu Ci Goat.

Setelah Im-yang Seng-cu pergi, Bu Ci Goat berlutut di dekat Suma Hoat, memeriksa keadaannya.

"Hemm, kulihat engkau telah diobati dengan baik dan hanya perlu beristirahat. Eh, Suma Hoat, siapakah adanya bayangan yang menyerang ayahmu tadi?"

Suma Hoat menggelengkan kepalanya.

"Aku tidak tahu...."

"Akan tetapi, engkau tadi menyebut nama Maya...."

"Mungkin dia, aku tidak yakin. Dia sudah mati ditelan badai.... andaikata benar dia, agaknya dia kaget dan takut dikenal olehku, maka dia pergi lagi. Untung bagi Ayah...."

"Dia lihai bukan main!"

"Dia penghuni Pulau Es, tentu saja amat sakti...."

Mengingat akan cinta kasihnya dahulu, Bu Ci Goat merawat Suma Hoat di lereng itu dan menyuruh anak buahnya membangun sebuah pondok.

Semua itu dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui oleh Suma Kiat yang juga jatuh sakit.

Setelah Suma Kiat jatuh sakit, maka tampaklah betapa Siangkoan Lee merupakan seorang yang pandai memimpin.

Semua urusan berada di tangannya dan semua anak buah In-kok-san yang telah dikumpulkan untuk menyenangkan hati gurunya, amat tunduk dan setia kepadanya.

Juga ilmu kepandaian Siangkoan Lee menjadi hebat.

Boleh dibilang seluruh ilmu gerakan telah dia kuasai, dan biarpun dibandingkan dengan Bu Ci Goat dia masih kalah setingkat, namun pada waktu itu, Siangkoan Lee telah menjadi seorang yang sukar dicari lawannya.

Munculnya Suma Hoat menimbulkan gairah cinta lama di hati Bu Ci Goat.

Biarpun wanita ini secara diam-diam telah memuaskan nafsunya dengan pelayan-pelayan pria yang menjadi anak buah In-kok-san, namun begitu melihat Suma Hoat, timbul kembali cintanya.

Maka dia lalu melakukan pengejaran dan berhasil menemukan Im-yang Seng-cu dan Suma Hoat, bahkan dia lalu menawarkan diri untuk merawat anak tiri yang pernah menjadi kekasihnya itu.

Akan tetapi, dia segera mengalami kekecewaan.

Suma Hoat telah berubah banyak sekali.

Suma Hoat telah menjadi seorang yang sama sekali tidak mempedulikan bujuk rayunya, bahkan dengan suara dingin bekas Jai-hwa-sian ini berkata.

"Bu Ci Goat, harap kau jangan menimbulkan lagi persoalan hanya untuk melampiaskan nafsu-nafsumu. Hal pertama kali yang merenggangkan aku dengan Ayah adalah akibat perbuatanmu. Ketahuilah, pada saat ini, di dunia ini hanya ada seorang saja wanita yang kucinta, dan aku telah bersumpah tidak akan menyentuh wanita lain kecuali dia! Aku tidak dapat melayani hasratmu, dan engkau hendak merawatku atau tidak setelah penolakanku ini terserah kepadamu!"

Tentu saja Bu Ci Goat merasa malu sekali dan mundur teratur.

Akan tetapi, demi kasih sayangnya kepada Suma Hoat dia masih menyuruh beberapa orang anak buahnya merawat dan memenuhi kebutuhan anak tirinya itu.

Kemudian, untuk memenuhi kebutuhan nafsu berahinya yang selalu mendesak, mulailah dia menggoda Siangkoan Lee yang biarpun rupanya buruk seperti seekor kuda, akan tetapi merupakan laki-laki yang tidak pernah bermain gila dengan wanita sehingga keadaannya itu membangkitkan berahi Bu Ci Goat yang merasa penasaran apakah dia tidak akan dapat menjatuhkan hati pria yang berhati teguh ini!

Dan dia berhasil.

Akan tetapi, karena memandang rendah Suma Kiat yang sedang rebah dan sakit, dua orang ini kurang hati-hati dan mereka berani mengadakan pectemuan di dalam kamar Bu Ci Goat yang hanya berpisah dinding dengan kamar Suma Kiat.

Pada suatu hari, masih siang, kedua orang yang mabuk nafsu itu sedang berada di dalam kamar, tidak tahu sama sekali bahwa Suma Kiat mendengar suara mereka, turun dari pembaringan dan menghampiri pintu kamar Bu Ci Goat.

"Ci Goat....!"

Suma Kiat mendorong pintu, terbuka, dan memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak ke atas tempat tidur Bu Ci Goat di mana selirnya dan muridnya, dua orang yang paling dicinta dan dipercaya, terbelalak penuh rasa kaget memandang kepadanya, kehabisan akal!

Tiba-tiba Suma Kiat mengeluh, menekan dada kiri dengan tangan kanan, menyemburkan darah dari mulutnya, tubuhnya tergelimpang dan robohlah kakek ini ke atas lantai!

Serangan batin yang hebat ini tidak tertahan oleh tubuh yang lemah itu.

Suma Kiat roboh pingsan dan tidak sadar kembali.

Setelah jenazahnya dimasukkan peti mati dan dilakukan upacara sembahyang, Bu Ci Goat dan Siangkoan Lee yang berkabung, menangis sedih di depan peti mati.

Suma Hoat yang masih lemah, datang juga untuk bersembahyang ketika mendengar bahwa ayahnya meninggal dunia.

Setelah bersembahyang, Suma Hoat menoleh kepada Bu Ci Goat, berkata perlahan.

"Apa gunanya setelah mati ditangisi?"

Ucapan itu ditujukan kepada selir ayahnya yang dia tahu merupakan seorang isteri yang berhati palsu, yang selalu menyeleweng, seorang isteri yang amat dicinta ayahnya, namun yang sesungguhnya tidak patut mendapatkan cinta seorang suami.

Akan tetapi tanpa disengaja, teguran Suma Hoat itu membuat Siangkoan Lee menjadi merah sekali karena dia merasa disindir.

Sebelum melakukan hubungan rahasia dengan Bu Ci Goat, dia merupakan seorang murid yang amat setia, dan dia memang selalu merasa berhutang budi kepada gurunya itu.

Kini mendengar ucapan Suma Hoat, dia bangkit berdiri dan berkata.

"Mengapa Suheng berkata demikian? Budi Suhu amat besar, sampai mati pun takkan terlupa olehku. Biarpun Suhu bersikap marah kepada Suheng, akan tetapi Suheng adalah puteranya, bagaimana berkata demikian? Apakah setelah Suhu meninggal, Suheng hendak menunjukkan kekuasaan di sini menuntut warisan dengan kekeraaan?"

Menggigil tubuh Suma Hoat saking marahnya mendengar ini.

Tubuhnya masih lemah sekali, akan tetapi kemarahan membuat matanya mendelik memandang Si Muka Kuda itu.

"Bedebah, kau sombong sekali, Siangkoan Lee! Engkau yang dahulu hanya seorang pelayan, yang telah menerima budi semenjak kecil, kini berani bersikap kurang ajar kepadaku? Apa kau kira aku takut kepadamu?"

Melihat ini, Bu Ci Goat cepat bangkit berdiri.

"Harap kalian suka bersabar. Sungguh tidak patut sekali ribut-ribut di depan peti mati!"

Suma Hoat menarik napas panjang menyabarkan diri karena dia dapat memahami kebenaran ucapan ibu tirinya itu.

"Kalian dengarlah baik-baik. Biarpun aku putera Ayah, namun Ayah sudah tidak mengakui aku sebagai puteranya. Aku pun tidak haus akan warisan dan aku tidak akan menuntut dan tidak akan menguasai tempat ini. Bahkan aku tidak sudi tinggal di In-kok-san, lebih baik tinggal di pondok yang dibuatkan Bu Ci Goat. Itu pun hanya untuk sementara sambil menanti kembalinya sahabatku."

Setelah berkata demikian, Suma Hoat pergi meninggalkan mereka dan tidak pernah lagi datang sampai peti ayahnya dikubur.

Hatinya menjadi makin risau dan tertekan.

Dia merasa betapa hidupnya penuh dengan kekecewaan dan kesengsaraan.

Baru terbuka mata hatinya betapa selama ini dia hidup sebagai seorang yang amat jahat.

Tiap kali dia teringat akan semua perbuatannya, diam-diam dia merasa menyesal sekali dan berjanji bahwa kalau sampai dia dapat berkumpul kembali dengan Bi Kiok, dia akan menebus semua kesalahannya, akan membahagiakan isterinya, anaknya, semua orang!

Akan tetapi, beberapa bulan kemudian, Im-yang Seng-cu datang dengan wajah lesu dan dengan suara berat mengatakan bahwa dia tidak berhasil menemukan Bi Kiok.

"Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, mereka itu tewas oleh gerombolan orang jahat yang tidak terkenal sehingga tidak ada yang tahu. Ke dua, mereka memang sengaja menyembunyikan diri darimu dengan mengubah nama palsu dan pergi jauh sekali dari sini."

Suma Hoat mengeluh dan semenjak saat itu, kesehatannya makin memburuk.

Im-yang Seng-cu berusaha menghibur dan merawatnya, namun percuma saja karena Suma Hoat sudah kehilangan pegangan hidup, kehilangan harapan dan satu-satunya yang dirindukan hanyalah kematian.

Akhirnya, hanya berselisih setengah tahun dari kematian ayahnya, Jai-hwa-sian yang pernah menggemparkan dunia persilatan itu meninggal dunia dalam rangkulan Im-yang Seng-cu, satu-satunya orang yang mengenal betul hatinya, mengenal kelemahan-kelemahan dan kekuatan-kekuatannya!

Dengan sederhana sekali, tanpa dihadiri siapa pun, Im-yang Seng-cu mengubur jenazah sahabatnya di lereng bukit, membuatkan batu nisan yang dipahatnya sendiri dengan huruf-huruf .

MAKAM JAI-HWA-SIAN SUMA HOAT.

Kemudian dia membakar pondok bekas tempat tinggal sahabatnya, dan meninggalkan lereng bukit sambil bernyanyi!

Memang Im-yang Seng-cu seorang manusia yang berwatak aneh sekali, berbeda jauh dengan manusia biasa, bahkan kadang-kadang sikapnya merupakan kebalikan dari sikap manusia biasa sehingga seringkali dia dianggap berotak miring.

Apakah benar bayangan yang menyerang Suma Kiat dahulu itu adalah Maya seperti yang diteriakkan oleh Suma Hoat?

Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Yang sudah jelas, bahwa Maya maupun Khu Siauw Bwee tidak pernah muncul lagi di dunia ramai, tidak pernah ada orang yang berterTru dengan seorang di antara mereka.

Juga Kam Han Ki lenyap dan sebagai gantinya, puluhan tahun kemudian, muncullah nama seorang yang sakti dan aneh, seorang laki-laki yang membiarkan rambutnya riap-riapan, tak pernah bersepatu, berpakaian sederhana dan tingkah lakunya seperti orang gila.

Dia disebut Koai-lojin (Kakek Aneh) karena tidak pernah memperkenalkan namanya.

Namun dia memiliki kesaktian yang tidak lumrah manusia.

Keanehannya adalah serupa dengan keanehan Bu Kek Siansu si manusi dewa yang menjadi dongeng di dunia kang-ouw.

Koai-lojin juga menolong siapa saja, mencinta siapa saja tanpa pilih bulu!

Karena itu, banyak sekali tokoh dunia persilatan yang mendapat rezeki kebagian ilmu dari kakek sakti ini yang selalu memberi ilmu kepada siapa saja yang memintanya.

Pembaca tentu dapat menduga siapa adanya Koai-lojin ini.

Dia bukan lain adalah Kam Han Ki!

Apakah dia dapat melupakan kedukaannya?

Sukar untuk diketahui karena tak mungkin untuk menanyakan hal itu kepada Koai-lojin yang jarang sekali muncul di antara manusia.

Yang jelas, duka sengsara harus dihadapi dengan wajar, dimengerti dengan jalan mengenal diri sendiri.

Kalau hanya dijauhi, dilupakan, takkan berhasil karena berhasil melupakan duka yang satu, akan muncul duka yang lain.

Yang penting mengenal sumber dari segala duka di dalam diri sendiri.

Kalau sudah mengenal diri sendiri, mengenal sumber segala duka maka apa yang oleh umum disebut duka, bukanlah menjadi duka lagi baginya.

Duka hanyalah hasil angan-angan pikiran yang mengingat masa lampau.

Sekali ingatan akan masa lalu terhapus, lenyap pulalah duka.

Berusaha melupakan duka dengan penekanan, tidak akan menghilangkan sumber dari segaia macam duka.

Akan tetapi menghadapi duka, menyelami, mengenal duka yang berada di hati sendiri dengan mempelajari dan mengenal diri sendiri lahir batin, maka akan timbullah keadaan lain yang jauh dari jangkauan duka.

Koai-lojin yang kelihatan sebagai seorang kakek sederhana itu, paling suka berkelana di tempat-tempat sunyi, bergembira dengan alam yang masih bersih dari kotoran akibat solah-tingkah manusia.

Akan tetapi kadang-kadang dia muncul di dalam Istana Pulau Es yang selalu kosong itu, berdiri bengong di depan tiga arca buatannya sendiri, dan setelah membersijkan Istana Pulau Es, beberapa hari kemudian dia sudah meninggalkan lagi Pulau Es.

Dia pun tidak pernah berhasil mencari kedua orang sumoinya, bahkan kemudian sama sekali tidak mencarinya.

Namun, sebagai penebus rasa sesal dan salahnya terhadap Khu Siauw Bwee, diam-diam dia meninggalkan surat-surat pernyataan menyesal dan cintanya kepada Khu Siauw Bwee, dan menaruh surat-surat itu di dalam Istana Pulau Es.

Puluhan tahun kemudian, Koai-lojin datang ke Pulau Es, membawa seekor biruang salju yang berbulu putih, meninggalkan biruang yang jinak dan terlatih itu di Pulau Es sebagai penghuni dan penjaga!

Kemudian, sampai lama sekali dia tidak pernah muncul lagi di Pulau Es, juga tidak muncul di dunia ramai.

Semua kedukaan yang menimpa diri tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah gara-gara cinta, tentu demikian pendapat kita.

Akan tetapi, benarkah demikian?

CINTA tidak akan mendatangkan sengsara, karena CINTA itu adalah KEBENARAN, CINTA adalah KENYATAAN, CINTA adalah TUHAN!

Di dalam CINTA, tidak ada si pemberi dan si penerima, tidak ada si pencinta dan yang dicinta.

Berbahagialah manusia yang mengenal dan memiliki CINTA ini di dalam dirinya, karena CINTA ini sesungguhnya juga BAHAGIA!

Cinta yang dikenal umum bukanlah cinta sejati.

Kalau Suma Hoat menyatakan "Aku cinta Bi Kiok!"

Maka sesungguhnya bukan Bi Kiok yang dicintanya, melainkan dirinya sendiri!

Segala macam derita, kekecewaan, kebencian, cemburu, kemunafikan, iri hati dan dengki, semua ini timbul dari apa yang disebut cinta itu, yaitu cinta kepada si aku, bukan CINTA yang sejati.

Cinta kepada si aku sajalah yang menimbulkan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain.

Aku dirugikan, anakku diganggu, hartaku dicuri, keluargaku dihina, bangsaku, negeriku, agamaku tidak dihargai, maka marahlah AKU, bencilah AKU kepadanya!

Karena itu, selama AKU, ENGKAU, dan DIA menjadi pendorong semua perbuatan, maka timbullah pertentangan, dan selama ada pertentangan, timbullah duka sengsara.

Sebaliknya, kalau semua perbuatan itu berdasarkan CINTA tanpa perpecahan aku-engkau-dia, kiranya sebutan Sorga bukan hanya terdapat dalam dongeng belaka, karena bumi kita ini menjadi Sorga dan kita adalah mahluk-mahluk manusia yang sebenarnya, bukan hanya hamba-hamba nafsu.

Sampai di sini, pengarang mohon diri dan mudah-mudahan dapat berjumpa kembali dalam karangan mendatang.

TAMAT

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert