Ceritasilat Novel Online

Kemelut Kerajaan Mancu 5

Eps 5 Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo.

"Kongcu (Tuan Muda) hendak menyewa kamar?"

Tegurnya dengan sikap kurang acuh.

"Benar, aku ingin menyewa sebuah kamar."

"Untuk Kongcu sendiri atau...?"

"Sendiri, tentu saja."

"Kongcu, malam ini dingin sekali. Apakah tidak sebaiknya kalau saya carikan teman?"

Han Bu memandang heran.

"Teman? Apa maksudmu? Aku tidak ingin sekamar dengan tamu laki-laki yang tidak kukenal."

"Aih, Kongcu. Tentu saja bukan laki-laki. Ada gadis-gadis manis, Kongcu boleh pilih...."

Han Bu mengerutkan alisnya.

Dia tidak mengerti akan tetapi merasa tak senang.

Bagaimana mungkin ada orang menawarkan gadis untuk menemaninya dalam kamar?

"Eh, sobat, apakah engkau mabok?

Atau agak begini, barangkali?"

Han Bu menaruh jari telunjuknya melintang di depan dahi, yang biasanya digunakan orang untuk menandakan bahwa orang itu otaknya miring alias gila.

Pelayan itu melototkan matanya.

Akan tetapi pada saat itu muncul seorang laki-laki berpakaian mewah seperti pakaian seorang hartawan.

Usianya sekitar empat puluh tahun, mukanya hitam akan tetapi agaknya dia mencoba untuk mengurangi kehitamannya dengan bedak!

"Aih, selamat sore, Loya!"

Pelayan itu menyambut sambil membungkuk-bungkuk penuh hormat dan Han Bu hampir tertawa karena sikap pelayan itu seperti seekor anjing yang menyambut tuannya dengan mengibas-ngibaskan ekornya.

Tamu itu mengerling kepada Han Bu dengan sikap congkak, lalu berkata kepada pelayan itu dengan nada memerintah.

"He, Lo Kaw, persiapkan untukku kamar besar, sediakan santapan malam yang paling mewah lalu panggil A Bwe dan A Mei untuk melayaniku semalam. Setelah itu jangan ada yang ganggu aku, aku hendak bersenang-senang malam ini!"

"Ah, baik... baik, Loya. Silakan, kamar besar sudah siap untuk Loya pakai sewaktu-waktu."

Sambil berbongkok-bongkok pelayan itu mengikuti tamu itu masuk. Setelah tiba di pintu dia agaknya teringat kepada Han Bu lalu menoleh dan berkata perlahan.

"Orang muda, kautunggu sebentar di sini, aku melayani dulu Loya ini."

Han Bu merasa mendongkol sekali.

Dia melihat hal-hal aneh yang membuatnya merasa heran akan tetapi juga penasaran dan dongkol.

Sejak memasuki kota raja, dia menyaksikan hal-hal yang amat menyakitkan hati.

Rumah-rumah gedung bertingkat mewah dan dari gang-gang sempit dia dapat melihat rumah-rumah seperti gubuk kumuh di belakang gedung-gedung itu.

Juga gubuk-gubuk kumuh di tepi sungai dan di bawah jembatan-jembatan, jelas merupakan tempat tinggal mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Dan di depan gubuk-gubuk itu menjulang tinggi dan besar gedung-gedung yang seperti istana yang hanya dapat dimiliki oleh mereka yang hidupnya berada di atas garis kaya, bahkan berlebihan.

Gedung-gedung seperti itu adalah milik para bangsawan dan hartawan.

Juga dia melihat orang-orang yang berkereta indah, berkuda besar, berpakaian mewah sekali, di samping orang-orang berpakaian lusuh dan bahkan terdapat pula para pengemis dengan pakaian butut penuh tambalan.

Dia merasa heran sekali.

Di dusun-dusun daerah pegunungan tempat tinggal gurunya, orang-orang berpakaian sederhana, namun tidaklah butut penuh tambal-tambalan.

Juga rumah-rumah di dusun, tidak ada yang demikian mewah, akan tetapi juga tidak ada yang demikian kumuh dari kotor.

Perbedaan antara si kaya dan si miskin di kota raja ini demikian jauh seperti langit dengan bumi!

Dan kini dia melihat keanehan lain lagi.

Pelayan yang menjilat-jilat tamu kaya dan memandang rendah tamu miskin, bahkan gadis-gadis yang ditawarkan untuk melayani tamu laki-laki!

Ah, agaknya segala sesuatu bisa didapatkan dengan uang di tempat ini!

Dia bergidik lalu cepat meninggalkan rumah penginapan itu.

Akhirnya dia menemukan rumah penginapan merangkap rumah makan yang sederhana.

Pelayannya juga sopan, seorang laki-laki setengah tua berusia lima puluhan yang mengantarnya ke sebuah kamar yang sederhana namun cukup bersih.

"Tuan Muda, engkau tentu datang dari tempat jauh. Engkau membawa buntalan pakaian, kelihatan letih dan pakaianmu penuh debu,"

Kata pelayan itu setelah membawa Han Bu memasuki sebuah kamar.

"Benar, Paman. Aku ingin mandi kemudian makan, bisakah aku memesan makan di kamar ini? Aku letih dan lapar sekali."

PELAYAN itu tersenyum mengangguk-angguk.

"Tentu saja bisa, Kongcu. Makanan apa yang harus saya sediakan dan antarkan ke sini?"

"Nasi dengan masakan sayur dua macam saja untuk dua orang, Paman."

Pelayan itu mengerutkan alisnya.

"Untuk dua orang? Kongcu membawa teman?"

"Ah, tidak, Paman. Aku hanya seorang diri."

"Akan tetapi mengapa makanannya untuk dua orang? Ah, saya mengerti! Maafkan saya, Kongcu, tentu Kongcu letih dan lapar sekali sehingga perlu makan lebih banyak dari biasanya."

Han Bu tertawa.

Suara tawanya demikian riang gembira sehingga pelayan itu tak dapat menahan diri dan ikut pula tertawa.

Mereka berdua tertawa akan tetapi dengan sebab yang berlainan.

Kakek pelayan itu tertawa karena merasa lucu akan keadaan pemuda itu yang gembul dan karena dugaannya tepat.

Akan tetapi Han Bu tertawa karena merasa lucu mendengar dugaan pelayan itu ngawur.

"Bukan begitu, Paman. Aku makan biasa saja, pesananku itu memang untuk dimakan dua orang."

"Tapi Kongcu tadi bilang tidak membawa teman?"

"Temannya adalah engkau, Paman. Aku mengundang Paman makan bersamaku karena aku ingin makan sambil bercakap-cakap. Maukah, engkau, Paman?"

Belum pernah selama belasan tahun menjadi pelayan di situ dia mengalami hal seperti ini. Diajak makan oleh tamunya! Kembali pelayan itu mengangguk-angguk seperti ayam makan beras.

"Tentu saya merasa terhormat dan senang sekali, Kongcu. Masakannya tadi dua macam sayuran? Apakah Kongcu sedang melaksanakan Ciak-jai (vegetarian)?"

"Tidak juga, Paman. Hanya aku sudah terbiasa makan sayur-sayuran, jarang makan daging sehingga aku tidak begitu suka. Kalau sedikit saja bolehlah."

"Bagus, bagus sekali! Pantas Kongcu bersikap begini lembut namun gembira, kiranya seorang yang hidupnya bersih. Tentu tidak minum arak pula, bukan?"

"Minum juga, akan tetapi tidak sampai mabok, Paman."

"Baik, Kongcu. Sekarang mandilah, saya akan mempersiapkan pesananmu."

Setelah berkata demikian, dengan wajah berseri pelayan itu pergi meninggalkan kamar.

Baru sekarang dia merasa senang berhadapan dengan seorang tamu yang sikapnya demikian akrab dan baik.

Biasanya, para tamu bersikap angkuh dan memandang rendah para pelayan.

Setelah mandi dan bertukar pakaian, tak lama kemudian pelayan tadi datang membawakan makanan yang dipesan Han Bu.

Mereka segera makan minum dengan gembira karena Han Bu bicara dengan jenaka dan lucu.

Dia mau pula minum arak yang dituangkan pelayan itu ke dalam cawannya, akan tetapi hanya mau minum dua cawan saja.

Setelah makan minum, Han Bu mengajak pelayan itu bercakap-cakap.

Karena sesungguhnya itulah yang dikehendaki pemuda ini.

Dia ingin mencari keterangan tentang Pangeran Ciu Wan Kong dari kakek pelayan ini.

"Paman, tadi Paman mengatakan bahwa sejak kecil tinggal di kota raja. Tentu Paman mengetahui segala yang terjadi di kota raja dan tahu pula akan para pangeran yang berada di sini. Nah, aku ingin tahu, apakah Paman mengetahui adanya seorang pangeran bernama Pangeran Ciu Wan Kong?"

"Wah, tentu saja, Kongcu. Dia itu orangnya begini!"

Dia mengacungkan jempolnya.

"Tidak seperti bangsawan lain. Pangeran Ciu itu sikapnya halus, tidak suka menghina kaum kecil yang melarat, juga suka menolong mereka yang membutuhkan pertolongan dan berani minta kepadanya. Eh, Kongcu, mengapa Kongcu bertanya tentang beliau? Apa hubungan Kongcu dengan beliau?"

Pelayan itu memandang dengan alis berkerut.

"Hei, Paman! Mengapa tiba-tiba Paman memandangku seperti itu? Aku tidak berniat jahat!"

"Maaf, Kongcu. Sekarang ini jaman gila, apalagi para pembesar dan bangsawan itu agaknya sedang dilanda wabah penyakit gila."

"Kenapa Paman berkata begitu?"

"Habis, banyak kejadian-kejadian aneh dan gila. Maka saya menjadi curiga ketika Kongcu menanyakan Pangeran Ciu Wan Kong, takut kalau-kalau Kongcu juga memusuhinya."

Han Bu cukup cerdik. Melihat betapa pelayan ini memuji-muji kebaikan hati Pangeran Ciu Wan Kong, tentu saja dia pun harus memperlihatkan sikap baik terhadap pangeran itu.

"Jangan curiga, Paman. Aku mempunyai seorang guru yang menjadi sahabat baik Pangeran Ciu Wan Kong dan sebelum aku menghadapnya untuk menyampaikan salam dari guruku, aku lebih dulu ingin mengetahui keadaannya."

"Hemm, bagus kalau begitu. Seperti saya katakan tadi, para bangsawan tinggi itu sedang dilanda penyakit gila. Terjadi saling permusuhan di antara para pangeran. Apalagi setelah Sribaginda Kaisar tewas dibunuh orang jahat, keadaannya menjadi semakin kacau dan sungguh kasihan sekali nasib Pangeran Ciu Wan Kong yang baik hati...."

Diam-diam Han Bu terkejut. Kaisar dibunuh orang? "Aih, aku baru datang di kota raja ini, Paman, dan tidak tahu sama sekali tentang semua itu. Maukah Paman menceritakan kepadaku?"

"Sribaginda Kaisar tewas dibunuh orang jahat. Beliau meninggalkan wasiat, mengangkat Putera Mahkota menjadi penggantinya. Dan terjadilah kekacauan itu. Mula-mula gedung tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki, oaman yang melindungi Putera Mahkota, diserbu penjahat akan tetapi semua penjahat dapat ditumpas. Pangeran Bouw Hun Ki memang mempunyai isteri dan putera-puteri yang amat lihai, apalagi mereka dibantu oleh Huang-ho Sian-li yang sakti!"

"Huang-ho Sian-li? Siapakah itu, Paman?"

"Aih, Kongcu belum mendengar namanya yang terkenal sebagai seorang pendekar yang amat hebat? Pendekar wanita itu berjasa kepada Sribaginda Kaisar, bahkan ia diberi Tek-pai dan ia yang ikut melindungi Pangeran Mahkota. Ia seorang gadis pendekar yang selain cantik jelita, juga amat gagah perkasa. Ia masih keponakan Sribaginda Kaisar sendiri karena ia adalah puteri tunggal dari Pangeran Ciu Wan Kong."

Kalau saja pelayan itu memperhatikan, tentu dia akan melihat perubahan muka pemuda itu.

Han Bu merasa betapa jantungnya berdebar dengan tegang.

Dia mulai mendengar berita tentang Pangeran Ciu Wan Kong, suami gurunya dan sekarang malah berita tentang puteri tunggal Pangeran Ciu Wan Kong, berarti puteri gurunya!

Ingin sekali dia bertanya lebih dan mendesak keterangan pelayan yang ramah itu, akan tetapi dia takut kalau desakan itu akan menimbulkan kecurigaan sehingga akibatnya malah pelayan itu tidak mau bercerita sama sekali.

Maka dia bertanya dengan suara sambil lalu.

"Apa yang terjadi kemudian, Paman? Sebagai seorang yang baru datang, ceritamu sungguh menarik sekali."

"Ah, sungguh menyedihkan dan membingungkan, Kongcu. Telah terjadi hal yang sama sekali tidak disangka orang dan yang amat membingungkan. Baru-baru ini, terdengar berita bahwa Huang-ho Sian-li kini ditangkap dan akan diajukan ke dalam sidang pengadilan kerajaan."

"Ah, kenapa, Paman? Bukankah ia dianugerahi Tek-pai dan berjasa besar kepada kerajaan seperti kauceritakan tadi?"

Han Bu benar-benar merasa heran dan terkejut.

"Mengapa ia ditangkap? Apa kesalahannya?"

"Kabarnya Huang-ho Sian-li telah membunuh Pangeran Leng, yaitu seorang putera kaisar yang paling tua."

"Hemm, aneh sekali. Mengapa ia malah membunuh seorang pangeran?"

Pelayan itu menoleh ke kanan kiri, lalu berbisik lirih.

"Kami tidak heran kalau Pangeran Leng Kok Cun dibunuh karena dia memang terkenal seorang pangeran yang jahat dan suka bergaul dengan orang-orang sesat. Kalau benar-benar Huang-ho Sian-li membunuhnya, saya yakin tentu pendekar wanita itu mempunyai alasan yang kuat!"

"Apakah ia benar-benar membunuhnya?"

Pelayan itu menghela napas panjang.

"Agaknya tidak bisa disangkal lagi karena setelah membunuh Pangeran Leng, Huang-ho Sian-li ditangkap oleh Pangeran Cu Kiong di tempat itu, dengan mengerahkan banyak anak buahnya yang terdiri dari orang-orang sesat yang kabarnya menjadi saksi. Akan tetapi rakyat juga tidak merasa heran seandainya Huang-ho Sian-li benar-benar membunuh Pangeran Leng Kok Cun, karena semua orang mengetahui bahwa yang menjadi sumber keributan adalah Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong. Kabar angin mengatakan bahwa dua orang pangeran itu diam-diam bersaing untuk menjadi kaisar menggantikan ayah mereka."

"Paman, lalu bagaimana dengan Pangeran Ciu Wan Kong? Guruku memesan agar aku menyampaikan salam kepadanya. Akan tetapi kini ada urusan menyangkut puterinya. Siapa saja yang berada di istananya sekarang? Isterinya atau keluarga lain?"

Han Bu memancing. Pelayan itu menggelengkan kepalanya.

"Saya hanya seorang kecil, Kongcu, tidak mengetahui akan keadaan para bangsawan besar seperti para pangeran itu. Hanya menurut kabar, Pangeran Ciu Wan Kong tidak pernah menikah, tidak mempunyai isteri. Kemudian, tahu-tahu orang mengabarkan bahwa dia mempunyai seorang puteri yang terkenal dengan julukan Huang-ho Sian-li."

"Paman, menurut keterangan guruku, katanya dahulu Pangeran Ciu Wan Kong mempunyai seorang pelayan bernama Cui Sam, benarkah itu?"

"Saya tidak tahu, Kongcu."

Keterangan itu cukup bagi Han Bu.

Malam itu dia pergi berjalan-jalan dan sengaja dia melewati depan gedung tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong, juga dia melewati gedung tempat tinggal Pangeran Leng Kok Cun yang kelihatan sepi, lalu melewati gedung tempat tinggal Pangeran Cu Kiong yang terjaga ketat dan nampak menyeramkan.

*** Pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, Han Bu berkunjung ke gedung Pangeran Ciu Wan Kong.

Empat orang prajurit yang berjaga di depan pintu gerbang, bertanya siapa dia dan ada keperluan apa datang ke tempat itu.

Melihat sikap empat orang prajurit itu sopan dan tegas namun tidak sombong, Han Bu merasa senang.

Sikap anak buah itu dengan sendirinya mencerminkan watak atasannya.

Pangeran Ciu Wan Kong sudah pasti seorang yang bijaksana maka para prajuritnya yang menjaga di luar gedungnya bersikap demikian sopan.

"Harap dilaporkan kepada Pangeran Ciu Wan Kong bahwa saya, Si Han Bu, mohon untuk menghadap beliau untuk menyampaikan salam dan pesan dari guru saya yang dahulu menjadi sahabat baik Pangeran Ciu Wan Kong,"

Katanya.

Kepala jaga itu, seorang prajurit yang usianya sekitar empat puluh tahun, mengamati keadaan pemuda itu penuh perhatian.

Dia melihat seorang pemuda yang berusia sekitar dua puluh dua tahun, tinggi besar, gagah dan tampan, berpakaian serba putih dan sikapnya sopan, wajahnya juga membayangkan kejujuran, kelembutan namun gagah.

"Orang muda, lebih dulu engkau harus memperkenalkan siapa gurumu yang menjadi sahabat Pangeran dan di mana tempat tinggalnya."

"Guruku adalah kenalan lama Pangeran Ciu, namanya adalah Im Yang Sian-kouw yang bertapa di Beng-san."

"Baiklah, harap tunggu sebentar akan kami laporkan ke dalam,"

Kata kepala jaga yang lalu masuk ke dalam gedung. Tak lama kemudian dia sudah kembali lagi dan berkata dengan suara dan sikap sungguh-sungguh.

"Pangeran Ciu mengatakan bahwa beliau tidak pernah mendengar namamu dan nama gurumu, akan tetapi beliau ingin mendengar apa yang hendak engkau sampaikan itu. Engkau diperkenankan masuk, akan tetapi, orang muda, kami harap engkau suka meninggalkan pedangmu di sini. Ini sudah merupakan peraturan bagi tamu yang belum dikenal."

Karena permintaan itu sopan dan masuk akal, Han Bu lalu melepaskan ikatan sarung pedangnya Im-yang-kiam dan menyerahkan pedang berikut sarungnya kepada para prajurit.

Kemudian dia mengikuti kepala jaga memasuki gedung, di mana dia diterima menghadap Pangeran Ciu Wan Kong di ruangan tamu.

Pada saat itu, Pangeran Ciu Wan Kong sedang berada dalam keadaan risau dan bingung karena puterinya, Ciu Thian Hwa, ditawan Pangeran Cu Kiong, dituduh membunuh Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Cu Kiong bersikeras menghadapkan Ciu Thian Hwa ke depan pengadilan agung di istana.

Memang dia tidak merasa putus asa, karena masih banyak bangsawan tinggi dan berpengaruh yang berpihak kepada Thian Hwa dan siap menolong, seperti Pangeran Bouw Hun Ki dan lain-lain.

Akan tetapi tetap saja dia merasa khawatir karena dia tahu benar bahwa Pangeran Cu Kiong mendendam dan membenci Thian Hwa yang selalu menentangnya.

Tentu pangeran itu akan berusaha untuk mencelakai Thian Hwa.

Dalam keadaan seperti itu, ketika penjaga melaporkan bahwa ada seorang tamu, murid Im Yang Sian-kouw yang katanya merupakan sahabat baiknya, hendak menghadap, dia segera mengabulkannya.

Kunjungan teman mana pun, walau dia merasa tidak mengenal nama itu, merupakan hiburan baginya.

Setelah Han Bu memasuki ruangan dan memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada lalu membungkuk di depan Pangeran Ciu Wan Kong, pangeran itu memberi isyarat kepada pengawal untuk keluar dari ruangan itu.

Para pengawal itu menanti dan menjaga di luar ruangan.

Gedung Pangeran Ciu Wan Kong sekarang mempunyai sepasukan pengawal yang tidak berapa banyak, dan hal ini adalah kehendak Thian Hwa yang ingin menjaga keamanan gedung ayahnya mengingat bahwa di luar terdapat banyak orang jahat yang diam-diam memusuhi ayahnya.

"Orang muda, silakan duduk,"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong.

Han Bu duduk di atas sebuah bangku di depan pangeran itu dan mereka saling pandang.

Han Bu melihat bahwa pangeran itu adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun lebih, bertubuh tinggi sedang, wajahnya masih tampak tampan walaupun pada saat itu sinar matanya redup dan wajahnya tampak muram.

Pakaiannya tidak terlalu mewah seperti para pangeran lainnya, namun rapi dan bersih.

Sebaliknya, Pangeran Ciu Wan Kong merasa suka melihat pemuda yang berwajah lembut dan cerah ini.

"Orang muda, siapakah engkau dan siapa pula gurumu yang bernama Im Yang Sian-kouw yang mengaku mengenalku itu? Aku sungguh tidak ingat pernah mengenal nama itu."

Han Bu merasa terharu.

Jadi inikah suami gurunya yang sebetulnya amat mencinta gurunya namun yang terlalu lemah sehingga tidak mampu menolak kehendak orang tua agar dia berpisah dari Cui Eng yang sudah menjadi isterinya dan melahirkan seorang anak perempuan?

Akan tetapi dia masih merasa penasaran karena hati pemuda ini merasa sakit kalau dia memikirkan betapa gurunya yang baru saja melahirkan diusir dari rumah ini.

Biarpun hal itu dilakukan orang tua Pangeran Ciu Wan Kong, namun pangeran ini sama sekali tidak membela isterinya yang katanya dicintanya, juga tidak membela puteri kandungnya sendiri.

"Begini, Pangeran. Sesungguhnya, saya adalah murid Im Yang Sian-kouw dan Subo mengutus saya untuk menghadap Pangeran. Subo mengetahui akan seorang wanita she Cui yang pernah bekerja di gedung ini bersama ayahnya yang bernama Cui Sam."

Pangeran Ciu Wan Kong melompat bangkit berdiri, matanya terbelalak.

"Kaumaksudkan... Cui... Cui Eng...? Benarkah? Ia masih hidup? Ahh... di mana ia... di mana...?"

Melihat ini, Han Bu semakin terharu. Tak dapat disangsikan lagi, pangeran ini mencinta subonya, masih mencinta isterinya yang diusir orang tuanya itu.

"Nanti dulu, Pangeran. Subo pesan kepada saya bahwa saya harus yakin dulu sebelum menceritakan tentang wanita she Cui yang dikenal Subo itu."

Ciu Wan Kong lalu bertepuk tangan tiga kali. Dua orang pengawal muncul dari pintu dan pangeran itu berseru.

"Cepat undang Cui Loya (Tuan Tua Cui) ke sini, cepat!"

Dua orang pengawal itu berlari keluar dan tak lama kemudian seorang kakek berusia sekitar enam puluh tujuh tahun memasuki ruangan itu dengan tergesa-gesa.

"Engkau memanggilku, Pangeran? Ada urusan apakah? Bagaimana dengan Thian Hwa?"

"Duduklah, Gak-hu (Ayah Mertua). Perkenalkan, pemuda ini adalah... adalah... siapa namamu, orang muda?"

"Nama saya Si Han Bu."

"Si Han Bu ini mengaku murid seorang bernama Im Yang Sian-kouw dan katanya gurunya itu mengenal dan mengetahui di mana adanya Cui Eng...."

"Ahh...! Benarkah, orang muda? Di manakah adanya anakku Cui Eng...?"

Cui Sam bertanya dengan suara menggetar penuh harapan dan keharuan.

"Ya, katakanlah, Si Han Bu. Di mana adanya Cui Eng sekarang?"

Tanya Pangeran Ciu Wan Kong.

"Nanti dulu, Pangeran. Subo memesan kepada saya agar lebih dulu yakin apakah saya berada di alamat yang benar. Subo sudah mendengar apa yang diceritakan oleh wanita she Cui itu apa yang terjadi dengan dirinya di sini. Maka, harap Paduka menceritakan lebih dulu apa hubungan wanita she Cui itu dengan Paduka dan apakah benar bahwa Kakek ini adalah ayahnya."

Pangeran Ciu Wan Kong menghela napas panjang.

Dia lalu menceritakan tentang Cui Eng dan ayahnya, Cui Sam yang tadinya bekerja sebagai pelayan di rumah keluarga orang tuanya.

Betapa kemudian terjalin hubungan cinta antara dia dan Cui Eng sampai Cui Eng mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan.

Akan tetapi orang tuanya tidak setuju bahkan mengusir Cui Eng tanpa dia dapat berbuat sesuatu.

Cui Sam dan Cui Eng yang membawa bayinya yang belum diberi nama pergi meninggalkan gedung itu.

Kemudian muncul Ciu Thian Hwa yang berjuluk Huang-ho Sian-li, yang ternyata adalah anaknya, bayi yang dulu dibawa pergi Cui Eng.

Ketika menceritakan ini semua, kedua mata Pangeran Ciu Wan Kong menjadi basah air mata.

"Aku telah dapat berkumpul kembali dengan ayah mertuaku dan puteriku, akan tetapi... selama ini kukira bahwa Cui Eng, isteriku tercinta itu... telah tewas hanyut di air Sungai Kuning. Akan tetapi, kini engkau muncul, Si Han Bu, dan menceritakan bahwa gurumu mengetahui di mana Cui Eng berada. Aih, kalau saja hal ini sungguh benar... alangkah bahagia hatiku...."

Pangeran itu menangis.

"Semua yang diceritakan Pangeran Ciu Wan Kong ini memang benar, orang muda. Aku sebagai ayah kandung Cui Eng menjadi saksinya. Kasihan mantuku ini, biarpun engkau membawa berita dan harapan yang membahagiakan, tetap saja dia berada dalam kedukaan dan kekhawatiran besar karena puterinya, cucuku Ciu Thian Hwa, Huang-ho Sian-li, kini menjadi tahanan Pangeran Cu Kiong yang jahat...."

Pangeran Ciu Wan Kong dapat mengatasi kesedihannya dan dia menceritakan apa yang terjadi dengan diri Thian Hwa yang difitnah membunuh Pangeran Leng Kok Cun.

"Sekarang ceritakan, Si Han Bu, di mana adanya Cui Eng? Aku akan segera pergi menjemputnya bersama ayah mertuaku,"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong.

"Benar, orang muda. Di mana sekarang anakku Cui Eng tinggal? Kami ingin segera menemuinya!"

Kata pula Cui Sam. Han Bu menghela napas panjang.

"Pangeran, saya tidak diberi tahu di mana adanya wanita bernama Cui Eng itu. Hanya Subo yang mengetahuinya. Karena itu, sebaiknya Pangeran bertanya sendiri kepadanya kelak kalau Subo datang ke kota raja seperti yang beliau janjikan. Sekarang, yang terpenting adalah urusan mengenai puterimu. Saya akan mencoba untuk menyelidiki, kalau mungkin saya akan membebaskannya."

"Akan tetapi hal itu tidaklah mudah, Han Bu. Pangeran Cu Kiong itu mempunyai banyak sekali pembantu yang amat lihai, kedudukannya kuat sekali karena dia adalah putera Kakanda Kaisar Shun Chi. Kiranya amat sukar untuk membebaskan Thian Hwa, kecuali melalui pengadilan di mana banyak pejabat tinggi tentu akan membela Thian Hwa."

"Jangan khawatir, Pangeran. Saya akan dapat menjaga diri."

Pangeran Ciu Wan Kong mencoba untuk menahan Si Han Bu dan menganjurkan pemuda itu bermalam dan tinggal di gedungnya, akan tetapi Han Bu menolak dan akan merasa lebih bebas kalau tinggal di rumah penginapan.

Dia lalu berpamit dan menjanjikan untuk memberitahu kepada gurunya tentang keadaan Pangeran Ciu Wan Kong dan Ciu Thian Hwa, juga tentang Kakek Cui Sam.

*** Para pejabat tinggi yang terpenting, para pangeran dan keluarga kerajaan hadir dalam ruangan persidangan istana yang amat luas itu.

Mereka semua datang untuk menyaksikan persidangan yang akan mengadili Ciu Thian Hwa atau Huang-ho Sian-li yang dituduh telah membunuh Pangeran Leng Kok Cun.

Di antara sekian banyaknya pejabat tinggi dan para keluarga kerajaan, terbagi menjadi tiga bagian.

Sebagian dari mereka adalah orang-orang yang tidak memihak sana sini, hanya ingin melihat keadilan ditegakkan dalam persidangan itu.

Ada pula sebagian dari mereka yang mendukung Pangeran Cu Kiong dan menyalahkan Huang-ho Sian-li yang membunuh Pangeran Leng Kok Cun.

Selebihnya adalah mereka yang setia kepada Kaisar dan yang diam-diam tidak percaya bahwa Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa membunuh Pangeran Leng Kok Cun.

Di antara mereka ini tentu saja terdapat Putera Mahkota Kang Shi sendiri, Pangeran Bouw Hun Ki dan para pendekar yang membela Pangeran Mahkota, juga para panglima dan pejabat tinggi yang setia kepada kaisar dan karena mereka semua menghargai Ciu Thian Hwa sebagai pemegang Tek-pai, maka tentu saja mereka berpihak kepada Huang-ho Sian-li.

Pangeran Bouw Hun Ki yang dalam sidang yang lalu telah diangkat dan ditetapkan menjadi pendamping dan wakil calon kaisar yang masih muda dan kini menjadi pemimpin sidang, datang lebih dulu dalam ruangan persidangan yang luas itu.

Akhirnya Pangeran Cu Kiong dan rombongannya yang telah ditunggu-tunggu datang ke rumah persidangan.

Semua orang memperhatikan.

Pangeran yang masih muda dan berpakaian mewah ini diiringkan para "pengawal"

Yaitu Si Tinggi Kurus Thio Kwan, Si Gemuk Pendek Yu Kok Lun, Ang-mo Niocu Yi Hong yang cantik dan genit, lalu ikut pula gurunya yaitu Lam Hai Cin-jin Datuk Selatan yang amat lihai itu.

Pangeran Bouw Hun Ki dan para pendukungnya mengerutkan alis karena mereka tidak melihat Pangeran Cu Kiong membawa tawanannya, yaitu Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa yang akan diadili dalam persidangan itu.

Suasana menjadi ribut karena hampir semua orang bertanya-tanya mengapa gadis yang akan diadili itu tidak dihadirkan di situ.

Diam-diam muncul perasaan khawatir dalam hati Pangeran Bouw Hun Ki, terutama dalam hati Pangeran Ciu Wan Kong karena timbul dugaan jangan-jangan puterinya mengalami kecelakaan.

Siapa tahu Pangeran Cu Kiong yang curang dan jahat itu diam-diam membunuhnya!

Ketika dia membisikkan kekhawatirannya ini kepada Pangeran Bouw Hun Ki, pangeran itu menggelengkan kepala dan berkata lirih.

"Harap tenang, Adinda Pangeran Ciu. Kuyakin Pangeran Cu Kiong tidak akan begitu bodoh melakukan hal itu karena semua pejabat pasti akan menentang kebodohan itu."

Setelah semua orang berkumpul, Pangeran Bouw Hun Ki sebagai pimpinan sidang dan sudah duduk di belakang meja pimpinan, bangkit berdiri dan mengangkat kedua tangannya memberi isyarat kepada semua yang hadir agar berdiam diri.

Pangeran Kang Shi yang berusia sepuluh tahun itu duduk dengan tenangnya di sebelah kanan Pangeran Bouw Hun Ki.

Biarpun usianya baru sepuluh tahun lebih, namun calon kaisar ini tampak anggun dan berwibawa, wajahnya serius ketika dia memandang kepada semua orang yang hadir di situ.

Setelah semua orang berdiam diri dan suasana menjadi tenang Pangeran Bouw Hun Ki berkata dengan nyaring.

"Cu-wi (Anda Sekalian) yang terhormat, atas nama Paduka Pangeran Mahkota, kami mengucapkan selamat datang dan menyatakan bahwa persidangan ini dibuka! Akan tetapi sebelum persidangan dimulai, kami minta kepada Pangeran Cu Kiong sebagai penuntut agar menghadirkan terdakwa Ciu Thian Hwa alias Huang-ho Sian-li di ruangan persidangan ini!"

Pangeran Cu Kiong bangkit berdiri dan suasana menjadi sunyi karena mereka semua ingin sekali mendengarkan apa yang akan diucapkan pangeran muda itu.

"Kami sengaja menahan terdakwa dan tidak menghadirkannya di sini. Kami harap sidang pengadilan ini dapat dimulai tanpa hadirnya terdakwa. Cukup dibicarakan dan dihadirkan saksi-saksi untuk menentukan kesalahan dan dosa yang telah dilakukan terdakwa yang telah membunuh Kakanda Pangeran Leng Kok Cun secara kejam!"

Kembali terdengar para hadirin bicara sendiri memberi tanggapan atas ucapan Pangeran Cu Kiong sehingga suasananya menjadi riuh kembali.

Pangeran Bouw Hun Ki mendiamkannya keadaan itu sejenak, lalu dia bangkit lagi dan mengangkat kedua tangan ke atas.

"Harap Cu-wi tenang. Kami hendak bertanya kepada Pangeran Cu Kiong sebagai pendakwa, bagaimana mungkin mengadili seorang terdakwa tanpa menghadirkan terdakwa itu ke dalam sidang pengadilan?"

"Kenapa tidak bisa? Kesalahan terdakwa Huang-ho Sian-li sudah jelas, buktinya sudah ada yaitu kematian Kakanda Pangeran Leng Kok Cun dan saksinya juga banyak. Ada saya sendiri yang menyaksikan dan para pengawal saya, bahkan semua keluarga dan penghuni rumah Kakanda Leng Kok Cun juga menjadi saksi. Saya tidak merasa perlu menghadirkan terdakwa ke sini karena mengingat bahwa ia adalah seorang yang berbahaya sekali, liar dan ganas. Saya tidak ingin melihat ia memberontak dan dapat melepaskan diri di tempat ini. Melihat cara ia membunuh Kakanda Pangeran Leng, kami bahkan berkesimpulan bahwa dahulu yang membunuh Ayahanda Kaisar juga wanita itu!"

"Bohong besar!"

Pangeran Ciu Wan Kong berseru nyaring.

"Anakku Ciu Thian Hwa malah menyelamatkan Kakanda Kaisar dari serangan penjahat sehingga anakku diberi anugerah Tek-pai oleh mendiang Kakanda Kaisar. Ia bukan pembunuh!"

"Hemm, mungkin saja Ayahanda Kaisar dikelabuhi olehnya. Gadis itu licik sekali, licik dan kejam. Rasanya tidak mungkin Ayahanda memberi anugerah Tek-pai kepada seorang gadis yang tidak dikenal asal-usulnya sama sekali!"

"Pangeran Cu Kiong, jangan bicara sembarangan!"

Pangeran Bouw Hun Ki membentak dengan teguran.

"Sudah jelas bahwa Ciu Thian Hwa adalah puteri Adinda Pangeran Ciu Wan Kong, maka ia adalah anak keponakan mendiang Kakanda Kaisar sendiri dan engkau berani menghina dan mengatakan ia tidak dikenal asal-usulnya sama sekali?"

"Saya tidak bicara sembarangan, Paman Pangeran Bouw Hun Ki! Siapa yang tidak tahu bahwa Paman Pangeran Ciu Wan Kong tidak pernah beristeri dan tidak mempunyai anak? Semua orang tahu benar akan hal ini dan tiba-tiba saja ada seorang gadis liar dunia kang-ouw yang berjuluk Huang-ho Sian-li muncul mengaku sebagai puterinya! Nah, karena khawatir gadis liar itu meloloskan diri kalau dihadirkan di sini, maka sengaja saya menahannya dengan pengawalan ketat. Kita sidangkan perbuatannya di sini dan kalau kita sudah memutuskan hukuman apa yang akan kita jatuhkan kepadanya, baru saya akan melaksanakan hukuman itu di depan umum."

Pangeran Bouw Hun Ki menjadi marah, akan tetapi dia masih dapat mengendalikan diri dan dia berkata lantang.

"Cu-wi yang terhormat. Karena terdakwa tidak dapat dihadirkan dalam persidangan ini, maka persidangan ini ditunda sampai tiba saatnya yang tepat. Persidangan ditutup sampai di sini!"

Orang-orang menjadi riuh bicara sendiri sehingga protes yang diteriakkan Pangeran Cu Kiong tenggelam ke dalam suara banyak orang itu.

Apalagi Pangeran Bouw Hun Ki sudah mengawal Pangeran Mahkota Kang Shi bersama pasukan pengawal dengan ketatnya meninggalkan ruangan persidangan memasuki bagian dalam istana di mana kini Pangeran Mahkota tinggal dan selalu ditemani Pangeran Bouw Hun Ki yang diperkuat oleh Nyonya Bouw, Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang dan Gui Siang Lin.

Selain mereka, Pangeran Bouw Hun Ki juga memerintah tiga orang panglima yang setia mengerahkan pasukannya untuk memperkuat penjagaan di istana.

Sementara itu, pagi tadi selagi para pejabat tinggi berbondong-bondong menuju ke ruangan persidangan di istana, Thian Hwa berada dalam sebuah kamar tahanan yang kokoh kuat.

Bukan hanya pintu besi kamar itu yang amat kuat, juga di luar kamar tahanan yang dindingnya terbuat dari baja itu terdapat lima orang prajurit yang membawa gendewa dan anak panah.

Mereka adalah ahli-ahli panah yang pandai dan di atas sebuah bangku tampak seorang kakek tua yang seperti mayat dengan pakaian serba putih rebah telentang dan mendengkur.

Dia adalah Ngo-beng Kui-ong yang usianya sudah delapan puluh tahun, susiok dari Lam Hai Cin-jin.

Pangeran Cu Kiong yang menghadiri persidangan di istana sengaja meninggalkan pendukung paling kuat yang dikirimkan Jenderal Wu Sam Kwi itu agar menjaga tawanan karena dia tidak ingin Thian Hwa dapat lolos dari situ.

Hanya Ngo-beng Kui-ong yang akan sanggup mengalahkan Huang-ho Sian-li.

Thian Hwa duduk bersila di atas dipan yang berada di dalam kamar tahanan itu.

Ia tidak dibelenggu karena ketika dimasukkan ke dalam kamar tahanan, ia berada dalam keadaan tertotok sehingga tidak mampu bergerak.

Ia tahu benar bahwa ia berada dalam bahaya, dituduh sebagai pembunuh Pangeran Leng Kok Cun!

Andaikata ia dihadirkan dalam persidangan, tentu saja ia dapat membela diri dan menceritakan yang sebenarnya, yaitu bahwa Pangeran Leng dibunuh oleh Pangeran Cu Kiong sendiri.

Akan tetapi apa buktinya dan mana saksinya?

Buktinya, Pangeran terbunuh oleh tiga batang jarum senjata rahasianya Pek-hwa-ciam dan saksinya yang ketika itu berada di situ, bahkan semua keluarga Pangeran Leng tentu saja percaya bahwa ia yang telah menjadi pembunuhnya.

Thian Hwa tidak mau menggunakan kekerasan mencoba untuk meloloskan diri.

Akan sia-sia belaka.

Ia tahu betapa kuatnya kamar tahanan itu.

Baru dihujani anak panah oleh lima orang itu dari luar kamar tahanan saja rasanya sukar baginya untuk meloloskan diri, apalagi di sana masih ada kakek yang tidur mendengkur itu.

Kakek tua renta yang lihai bukan main dan yang ia tahu ia takkan mampu mengalahkannya.

Tiba-tiba lima orang prajurit yang duduk berjajar di atas bangku itu serentak bangkit berdiri dengan gendewa dan anak panah siap di tangan.

Mereka memandang kepada seorang prajurit pengawal yang melangkah datang dengan gagah dari istana pangeran bagian dalam menuju ke tempat tahanan yang berada di belakang itu.

Prajurit yang masih muda dan tampan gagah ini memberi hormat atau salam secara militer kepada lima orang rekannya itu, lalu berkata dengan tegas.

"Saya menerima tugas dari Pangeran Cu Kiong untuk membawa tawanan ke istana. Perintah ini penting sekali dan harus segera dilaksanakan!"

Lima orang prajurit pengawal itu saling pandang dan mengerutkan alisnya.

"Ah, mana mungkin Yang Mulia Pangeran mengutus seorang prajurit pengawal semuda engkau ini untuk membawa tawanan yang amat penting ini ke sana? Bagaimana mungkin engkau akan mampu menguasainya?"

Kata seorang.

"Kami pun tidak bisa percaya begitu saja karena kami tidak mengenal siapa engkau,"

Kata yang lain. Prajurit muda itu memandang dengan mata mencorong.

"Tidak tahukah kalian bahwa saat ini Pangeran Cu Kiong mendatangkan banyak sekali jagoan lihai untuk mendukungnya? Aku baru kemarin tiba dan sudah mendapat kepercayaan untuk membawa tawanan penting, ini membuktikan bahwa Pangeran Cu percaya kepadaku! Dan kalian ini pengawal-pengawal biasa berani mencurigaiku?"

Prajurit muda itu segera mengeluarkan sehelai surat perintah yang ada cap dari Pangeran Cu Kiong.

Di situ tertulis bahwa dia harus mengambil tawanan bernama Huang-ho Sian-li dan membawanya ke persidangan di istana kaisar!

Melihat ini, lima orang prajurit tentu saja percaya dan takut.

Cap dari pangeran itu tidak meragukan lagi dan seorang dari mereka segera mengeluarkan kunci besar untuk membuka pintu kamar tahanan.

"Hati-hati, kawan. Ia lihai sekali, jangan-jangan ia akan mengamuk dan dapat meloloskan diri,"

Kata lima orang itu sambil memasang anak panah pada gendewa mereka, bersiap-siap mencegah kalau Huang-ho Sian-li mengamuk. Akan tetapi prajurit muda itu berkata.

"Hemm, jangan khawatir, kawan-kawan. Aku sudah biasa menghadapi lawan-lawan tangguh dan Pangeran Cu juga sudah percaya kepadaku. Aku akan menotoknya dan membuat tawanan ini tidak akan mampu mengamuk."

Thian Hwa mendengarkan semua itu dan dengan heran ia memandang wajah prajurit muda yang tampan itu.

Pada saat mereka bertemu pandang, Thian Hwa melihat prajurit muda itu mengedipkan sebelah mata kepadanya.

Ia merasa heran dan jantungnya berdebar tegang.

Prajurit muda ini pasti berniat menolongnya.

Ia tidak boleh gegabah mengamuk karena di sana ada Ngo-beng Kui-ong yang amat lihai, dan mendengar ucapan pemuda itu serta isyarat kedip mata itu, Thian Hwa mengambil keputusan untuk menurut saja.

Setelah daun pintu dibuka dan prajurit muda itu dengan lompatan yang amat ringan dan cepat mendekatinya lalu menotok kedua pundaknya, Thian Hwa merasa semakin heran.

Ia sama sekali tidak merasakan apa-apa, tidak merasa lemas karena totokan itu.

"Nah, ia sudah kutotok dan kubuat tidak berdaya!"

Kata prajurit muda itu dan Thian Hwa segera membuat dirinya sendiri terkulai lemas! "Nah, aku akan memondongnya dan membawanya ke istana di mana Pangeran Cu Kiong sudah menanti!"

Kata prajurit muda itu kepada lima orang rekannya.

Prajurit muda itu bukan lain adalah Si Han Bu.

Setelah bertemu Pangeran Ciu Wan Kong dan Cui Sam, suami dan ayah kandung gurunya, dia merasa gembira sekali.

Akan tetapi mendengar betapa Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa, puteri kandung gurunya, kini difitnah membunuh seorang pangeran dan berada dalam tahanan Pangeran Cu Kiong, dia merasa khawatir sekali.

Dia mengambil keputusan untuk menolong dan membebaskan gadis itu, demi gurunya!

Puteri kandung gurunya itu hanya harus dia tolong dan dia bebaskan.

Demikianlah, pagi-pagi sekali hari itu dia menyelidiki gedung istana milik Pangeran Cu Kiong dan setelah melihat Pangeran Cu Kiong dan para pengikutnya meninggalkan gedung, dia melompat masuk melalui pagar tembok di belakang.

Setelah mengintai cukup lama akhirnya dia melihat kesempatan baik.

Dia dapat menyusup ke dalam dan dapat menemukan kamar tidur Pangeran Cu Kiong yang kebetulan kosong.

Di atas meja dalam kamar itulah dia menemukan cap pangeran itu.

Cepat dia membuat surat perintah dengan membubuhi cap itu untuk membawa pergi tahanan bernama Huang-ho Sian-li!

Kemudian, dia dapat menangkap seorang prajurit yang bentuk tubuhnya sama dengannya, melucuti dan dia lalu mengenakan pakaian prajurit itu.

Tubuh prajurit yang sudah ditotoknya lumpuh itu lalu disembunyikan di balik sebuah almari dan dia lalu cepat mencari tempat tahanan di bagian belakang kompleks gedung istana itu.

Setelah dia menemukan tempat itu dia berlagak seperti seorang prajurit kepercayaan Pangeran Cu Kiong untuk mengambil tawanan.

"menotok"

Thian Hwa dan memanggul tubuh yang "lemas"

Itu keluar dari dalam kamar tahanan.

Akan tetapi ternyata seorang di antara lima prajurit penjaga itu merasa curiga dan dia membangunkan Ngo-beng Kui-ong.

Ketika kakek itu terbangun dan melihat tawanannya dipondong seorang prajurit, dia mengeluarkan suara bentakan marah.

"Tahan...!"

Melihat kakek itu mengeluarkan sebatang tongkat ular yang tiba-tiba seperti hidup, Han Bu dapat menduga bahwa kakek itu tentulah seorang lawan yang sakti dan tangguh sekali.

Maka dia melepaskan Thian Hwa dari panggulannya dan berbisik.

"Nona, kita robohkan mereka!"

Tanpa dikomando lagi, begitu mendengar bentakan Ngo-beng Kui-ong, Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa sudah siap melawan.

Ia melompat dari atas panggulan pundak Han Bu dan begitu ia menggerakkan kedua tangan kakinya, tiga orang prajurit yang belum siap menggunakan anak panah mereka telah roboh dan tidak dapat bangkit kembali.

Han Bu juga menggunakan pedangnya dan dua orang prajurit lainnya roboh!

Akan tetapi, terdengar suara orang-orang di luar tempat tahanan itu dan hal ini berarti bahwa para prajurit lain agaknya mendengar keributan itu dan sedang mendatangi tempat itu.

"Nona, cepat pergi lapor ayahmu, jangan sampai engkau tertawan lagi!"

Kata Han Bu sambil menghadapi kakek yang seperti mayat hidup itu.

Thian Hwa meragu.

Biarpun ia tidak mengenal pemuda ini, akan tetapi pemuda ini telah menolongnya dan membebaskannya dari tahanan.

Bagaimana mungkin kini harus meninggalkannya seorang diri menghadapi tengkorak hidup yang ia tahu amat lihai itu?

Akan tetapi Han Bu yang lebih mengkhawatirkan gadis itu karena banyak prajurit mendatangi, segera berkata.

"Nona Huang-ho Sian-li, ayahmu menanti-nantimu. Cepat pergilah. Aku akan menahan mereka di sini. Ingat engkau harus selamatkan Pangeran Mahkota!"

"Dan engkau sendiri?"

Tanya Thian Hwa ragu.

"Ha-ha, jangan pikirkan aku!"

Pada saat itu, Ngo-beng Kui-ong membentak nyaring dan dia sudah melemparkan tongkat ularnya ke udara dan tongkat itu kini berubah menjadi ular hidup yang meluncur ke arah tubuh pemuda itu.

Dengan mengeluarkan suara mendesis-desis dan menyemburkan uap hitam, ular itu meluncur dan menyerang ke arah kepala Han Bu.

Akan tetapi dengan tenangnya Han Bu sudah mengelebatkan pedangnya, menyerang dan membacok-bacok ke arah ular itu.

Ular itu pun agaknya tidak mau terbabat pedang dan gerakannya cepat sekali, seolah menjadi seekor burung yang pandai terbang, dan tetap menyambar-nyambar sambil menyemburkan uap hitamnya.

Akan tetapi, biarpun Thian Hwa sudah menduga bahwa uap hitam itu tentu beracun, agaknya pemuda itu sama sekali tidak merasakannya.

Ia tidak tahu bahwa pemuda itu adalah murid Im Yang Sian-kouw atau cucu murid Bu Beng Kiam-sian yang selain terkenal sebagai Dewa Pedang, juga merupakan seorang ahli pengobatan yang pandai.

Sebagai cucu murid seorang ahli pengobatan tentu saja Han Bu juga mempelajari ilmu itu dan kini, berhadapan dengan Ngo-beng Kui-ong yang dia duga kemungkinan besar suka mempergunakan racun, dia sudah membekali dirinya dengan menelan sebutir pel kebal racun sehingga ketika tongkat ular itu mengeluarkan asap hitam beracun, dia sama sekali tidak terpengaruh.

Bahkan tongkat ular yang tidak berani bertemu sambaran pedang itu menjadi repot menghindarkan diri dari bacokan pedang dan akhirnya, ketika Ngo-beng Kui-ong berseru, tongkat itu terbang kembali ke tangannya.

Melihat betapa pemuda itu cukup lihai menghadapi Ngo-beng Kui-ong dan melihat pula betapa belasan orang prajurit kini menyerbu dan memasuki tempat tahanan itu, Huang-ho Sian-li cepat memungut pedang milik prajurit yang sudah ia robohkan tadi lalu mengamuk dan menerjang keluar!

Terjadilah pertempuran hebat di mana Huang-ho Sian-li mengamuk dikeroyok lima belas orang prajurit pengawal.

Thian Hwa teringat akan seruan pemuda yang menolongnya itu agar ia melapor kepada ayahnya.

Hal ini berarti bahwa pemuda itu sudah bertemu ayahnya dan mungkin saja ayahnya yang menyuruhnya menolongnya, juga pemuda itu berseru agar ia menyelamatkan Pangeran Mahkota.

Apa yang terjadi dengan Pangeran Mahkota?

Apa yang terjadi dengan keluarga Bouw Hun Ki?

Pemuda itu benar juga.

Ia harus lebih dulu dapat meloloskan diri dan melihat keadaan di luar tempat tahanan ini, baru ia akan berunding dengan Pangeran Bouw Hun Ki dan yang lain-lain apa yang harus dilakukannya.

Maka ia mempercepat gerakan pedang rampasannya dan empat orang pengeroyok roboh mandi darah.

Yang lain terkejut dan mundur dengan jerih melihat kelihaian gadis itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Thian Hwa untuk melompat keluar dari tempat itu, dan terus lari ke tembok taman lalu melompat dan keluar dari lingkungan gedung tempat tinggal Pangeran Cu Kiong!

Sementara itu, melihat Thian Hwa sudah lolos, Han Bu merasa lega.

Kelegaan yang hanya sebentar karena dia segera diserang oleh Ngo-beng Kui-ong dan mendapat kenyataan bahwa kakek yang seperti mayat hidup ini ternyata lihai bukan main!

Juga para prajurit yang ditinggalkan Thian Hwa dan tidak berhasil mengejarnya, kini mengepung pemuda yang memakai pakaian prajurit itu sehingga sama sekali tidak ada jalan bagi Han Bu untuk meloloskan diri.

Kini setelah tongkat ular itu berada di tangan Ngo-beng Kui-ong, kakek itu berani mempergunakannya untuk diadu dengan pedang Im-yang-kiam dan ternyata tongkat itu kuat sekali karena didukung tenaga sakti yang dahsyat dari Si Mayat Hidup.

Maka Han Bu berada dalam keadaan gawat.

Dia baru tahu bahwa lawannya yang tampaknya lemah ini ternyata memiliki tenaga sakti yang amat kuat dan ilmu silat yang amat aneh dan tinggi tingkatnya sehingga agaknya gurunya sendiri pun belum tentu akan mampu menandingi kakek ini!

"Hei, kakek tua, tahan dulu!"

Tiba-tiba Han Bu berseru dan melompat ke belakang. Akan tetapi para prajurit sudah menghadang di belakangnya.

"Hoa-ha-ha, kau mau lari ke mana?"

Ngo-beng Kui-ong tertawa.

"Siapa mau lari? Aku hanya ingin tahu dulu siapa yang menjadi lawanku agar aku tidak sampai membunuh orang tanpa kukenal siapa yang menjadi korban pedangku ini!"

"Ha-ha, memang baik sekali agar engkau mati setelah mengenal namaku. Aku adalah Ngo-beng Kui-ong. Nah, engkau pun jangan mati tanpa nama. Siapa namamu sebelum aku membunuhmu!"

"Aku tidak akan mati, maka tidak perlu meninggalkan nama,"

Kata Han Bu dan tiba-tiba saja dia menyerang dengan terjangan dahsyat. Pedangnya berputar dan menusuk ke arah muka lawan, lalu siap menoreh ke bawah ke arah ulu hati kalau tusukannya gagal.

"Tranggg...!"

Tongkat ular itu menangkis pedang dan sejenak Han Bu tidak mampu menarik kembali pedangnya yang menempel pada tongkat.

Kakek itu mengamati pedang yang berwarna separuh hitam separuh putih itu.

Dia berseru kaget, mendorongnya sehingga tenaga yang amat kuat membuat Han Bu terpaksa mundur tiga langkah dan kakek itu berseru.

"Dari mana engkau mendapatkan Im-yang Po-kiam ini? Bukankah Im-yang Po-kiam ini pedang milik Im Yang Sian-kouw dari Beng-san?"

Han Bu merasa heran dan juga bangga. Agaknya kakek lihai ini mengenal gurunya! Maka sambil membusungkan dadanya dia berkata lantang.

"Dengarlah baik-baik, wahai Ngo-beng Kui-ong! Aku bernama Si Han Bu dan Im-yang Sian-kouw adalah Guruku! Subo menghadiahkan pedang ini kepadaku!"

"Ha-ha-ha, bocah sombong! Murid Im-yang Sian-kouw, cucu murid mendiang Bu Beng Kiam-sian, berani melawan aku, Ngo-beng Kui-ong! Heh, bocah ingusan, tahukah engkau, Bu Beng Kiam-sian adalah teman seperjuanganku! Dan Im-yang Sian-kouw, heh-heh, janda cantik itu, sombong sekali berani menolak aku. Sekarang, engkau berani menantangku? Ho-ho, sudah bosan hidupkah engkau?"

"Engkau yang sudah bosan hidup karena sudah tua renta, Ngo-beng Kui-ong. Hendak kulihat bagaimana daya tahan seorang yang sudah mendekati ajal sepertimu, tentu saja kalau engkau tidak begitu pengecut untuk mengeroyokku!"

"Huh, bocah sombong. Siapa yang akan mengeroyokmu? Sambut ini!"

Bentak Ngo-beng Kui-ong marah.

Han Bu memang sengaja berlagak sombong untuk membuat penasaran hati kakek itu dan mengalihkan perhatian sehingga kakek tua renta itu lupa bahwa tawanan yang dijaganya telah lolos.

Dan usaha Han Bu ini berhasil baik.

Ngo-beng Kui-ong agaknya sudah lupa sama sekali akan tawanannya!

Melihat serangan yang amat dahsyat itu, Han Bu tidak berani main-main.

Dia cepat mengerahkan seluruh tenaganya dan memainkan ilmu pedang Im-yang Kiam-sian dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memainkan Im-yang Po-san, yaitu senjata kipasnya yang juga amat lihai.

Para prajurit hanya berani mengepung, tidak berani turun tangan karena mereka semua maklum bahwa kakek itu memiliki watak yang amat aneh dan keras.

Mengeroyok tanpa diperintah bisa saja berakibat mereka dibunuh sendiri oleh kakek itu.

Pertempuran berjalan cukup ramai.

Hal ini karena Ngo-beng Kui-ong tidak ingin membunuh Han Bu, melainkan ingin menangkapnya hidup-hidup.

Dia mempunyai sebuah rencana bagi pemuda itu.

Dahulu, kakek ini memang seorang sahabat dari Bu Beng Kiam-sian.

Mereka sama-sama mempelajari ilmu, saling menukar ilmu, hidup sebagai datuk-datuk yang gagah perkasa dan patriotik.

Ketika Im-yang Sian-kouw yang dulu bernama Cui Eng menjadi murid Bu-beng Kiam-sian, Ngo-beng Kui-ong sempat tergila-gila kepada janda muda itu dan beberapa kali dia membujuk rayu dan meminang agar Cui Eng menjadi isterinya dan dijanjikan akan diberi semua ilmu yang dikuasainya.

Pada waktu itu Ngo-beng Kui-ong berusia hampir enam puluh tahun dan masih gagah, tidak seperti sekarang.

Akan tetapi Cui Eng menolak dan Ngo-beng Kui-ong tidak berani memaksa karena tentu saja dia merasa sungkan kepada Bu Beng Kiam-sian yang melindungi Cui Eng.

Juga dia sendiri bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak memenuhi nafsunya.

Kemudian, ketika pasukan Mancu menyerang dan menduduki Cina, Ngo-beng Kui-ong ikut melakukan perlawanan.

Setelah Jenderal Wu Sam Kwi melarikan diri ke selatan dan membentuk pemerintahan sendiri lalu masih melakukan perlawanan mati-matian terhadap pemerintah penjajah Mancu, dengan sendirinya Ngo-beng Kui-ong condong membantunya, apalagi muridnya, Lam-hai Cin-jin, menjadi Koksu (Guru Negara), penasihat Jenderal Wu Sam Kwi.

Walaupun dia sudah tua dan tidak secara langsung membantu Wu Sam Kwi, namun ketika muridnya, Lam-hai Cin-jin minta bantuannya mewakili Wu Sam Kwi dalam persekutuannya dengan Pangeran Cu Kiong, dia tergerak dan berangkat juga.

Demikianlah, ketika kini tiba-tiba dia berhadapan lawannya, seorang pemuda yang mengaku sebagai murid Im-yang Sian-kouw, Ngo-beng Kui-ong memiliki rencana bagi pemuda itu.

Dia hendak menangkapnya hidup-hidup untuk kelak menyenangkan hati Im-yang Sian-kouw.

Walaupun andaikata wanita yang membuatnya tergila-gila itu tetap tidak mau menjadi isterinya, setidaknya Im Yang Sian-kouw dapat diharapkan bantuannya mendukung pemerintah Jenderal Wu Sam Kwi!

Ketika melihat betapa pemuda itu memang sudah mewarisi ilmu pedang dan ilmu kipas yang lihai dari Bu-beng Kiam-sian melalui gurunya, yaitu Im-yang Sian-kouw, maklumlah Kui-beng Kui-ong bahwa untuk merobohkan pemuda ini tanpa melukai tidaklah mudah dan jalan satu-satunya hanyalah menggunakan tenaga sakti dibantu kekuatan sihirnya.

Maka, setelah berkemak-kemik membaca mantera, dia mendorongkan tangan kirinya ke arah Han Bu sambil berseru.

"Robohlah engkau!"

Hawa dorongan itu dahsyat bukan main.

Angin yang menyambar bagaikan badai dan di dalamnya terkandung pula wibawa yang mempengaruhi diri Han Bu.

Ada sesuatu yang seolah memaksa dirinya untuk kehilangan daya tahannya dan biarpun dia mencoba untuk bertahan, tetap saja dia terpelanting dan sebelum dia dapat mengatur keseimbangan tubuhnya, kakek itu melompat dan menotoknya sehingga pemuda itu tidak mampu bergerak lagi.

Para prajurit kini berlompatan mendekat dan mereka sudah menggerakkan golok dan pedang untuk membunuh Han Bu.

Akan tetapi Han Bu berseru.

"Ngo-beng Kui-ong, apa engkau tidak berani membunuh aku sendiri dan menyuruh anjing-anjingmu ini mengeroyok aku yang sudah tidak mampu bergerak? Pengecut besar!"

Mendengar ini, Ngo-beng Kui-ong menggerakkan tangannya dan angin menyambar amat kuatnya membuat beberapa orang prajurit yang menghampiri Han Bu berpelantingan!

"Tidak ada yang boleh membunuh pemuda ini!

Mundur kalian semua!"

Para prajurit ketakutan dan mundur, mengepung dari jarak jauh.

"Ngo-beng Kui-ong, sekarang engkau hendak membunuh aku yang kaubuat tidak berdaya dengan ilmu iblismu? Huh, tak tahu malu. Kalau memang kau gagah, hayo jangan pergunakan ilmu setan dan tewaskan aku dalam perkelahian adu ilmu silat yang jujur dan adil, kalau kau berani!"

"Ho-ho, jangan berlagak, bocah sombong! Engkau ketakutan maka engkau berlagak pemberani."

"Ha-ha-ha, kakek tua bangka! Siapa takut mati? Aku adalah murid Subo Im-yang Sian-kouw dan cucu murid Sukong Bu Beng Kiam-sian, mana mungkin takut mati? Berarti engkau bohong dan belum mengenal kegagahan mereka!"

"Huh, bagaimanapun juga, aku akan membunuhmu. Akan tetapi mengingat akan persahabatanku dengan Janda Im-yang Sian-kouw yang menjadi gurumu, biarlah aku memberi kelunakan padamu. Engkau boleh memilih sendiri cara kematianmu. Kalau pilihanmu benar, engkau akan mendapat kehormatan mati di tanganku. Kau tahu, mati di tangan Ngo-beng Kui-ong merupakan kehormatan besar bagi seorang kang-ouw! Akan tetapi kalau pilihanmu tidak benar, engkau akan kuserahkan kepada para anjing ini biar mereka yang mengeroyokmu sampai engkau mampus dengan cara rendah dan hina! Nah, engkau boleh pilih!"

Han Bu adalah seorang pemuda yang lincah jenaka, pemberani dan banyak akalnya.

Mendengar ucapan itu, dia memutar otaknya, mencari akal.

Kemudian, dengan wajah cerah, dalam keadaan rebah telentang dan tidak mampu menggerakkan kaki tangannya, dia bertanya.

"Ngo-beng Kui-ong, apakah engkau ini benar-benar seorang datuk ilmu silat yang terkenal dan dapat dipercaya janjinya? Ataukah hanya seorang Siauw-jin (Manusia Rendah) yang suka menjilat ludah sendiri, mengingkari janjinya?"

"Bocah setan! Tentu saja aku selalu memegang teguh ucapan dan janjiku!"

"Hemm, kau tadi bilang bahwa aku boleh memilih dan kalau pilihanku tepat, maka aku akan mati terhormat di tanganmu, sebaliknya kalau pilihanku keliru, aku akan mati dikeroyok anjing-anjing ini. Benarkah demikian janjimu?"

"Benar sekali dan aku tidak akan mengingkarinya!"

"Berani engkau bersumpah bahwa engkau tidak akan melanggar janjimu sendiri? Ingat, janjimu disaksikan Bumi dan Langit, juga didengarkan oleh belasan anak buahmu ini. Sebagai seorang datuk besar, tentu engkau tidak akan menjilat ludahmu sendiri!"

Ngo-beng Kui-ong marah sekali.

Dia merasa dipermainkan anak yang pantas menjadi cucunya, bahkan cucu buyutnya!

"Bocah setan!

Siapa hendak mengingkari janji?

Tidak sudi aku bersumpah, akan tetapi biar semua orang ini menjadi saksi bahwa kalau engkau memilih benar, engkau akan mati terhormat di tanganku, sebaliknya kalau engkau memilih keliru, engkau akan mati dikeroyok anak buah ini!"

Han Bu mengerutkan alisnya.

Wah, tidak enak semua!

Akan tetapi, lebih baik, seratus kali lebih baik mati sebagai seekor harimau yang mati-matian membela diri daripada sebagai seekor babi yang hanya menguik-nguik menghadapi kematian tanpa melawan hanya berkaok-kaok ketakutan!

"Ngo-beng Kui-ong, satu hal lagi.

Kalau aku memilih benar sehingga aku mati di tanganmu, aku minta agar aku dibebaskan dari totokan sehingga aku dapat melawanmu dan mati karena kalah dalam perkelahian.

Bagaimana?"

"Tentu saja! Kalau pilihanmu benar, engkau akan melawanku sampai mati, akan tetapi kalau pilihanmu keliru, dalam keadaan tertotok engkau akan dihabisi mereka. Nah, jangan banyak cerewet lagi seperti seorang nenek bawel, cepat lakukan pilihanmu!"

Setelah memutar otaknya dan menahan napas, dengan nekat Han Bu lalu berkata lantang sehingga terdengar oleh semua prajurit yang berada di situ.

"Aku, memilih mati di tangan prajurit ini!"

Mendengar ini, para prajurit tertawa riuh, dan Ngo-beng Kui-ong juga tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, kiranya engkau hanya seorang pengecut dan takut melawan aku, maka memilih mati seperti seekor tikus! Baik, kalau itu pilihanmu, engkau akan mampus dicincang para prajurit ini dan arwahmu tidak boleh menyalahkan siapa pun karena ini merupakan pilihanmu sendiri!"

Dia tertawa lagi terbahak.

"Tidak kusangka murid Im-yang Sian-kouw setolol ini!"

Para prajurit sudah gatal tangan dan siap untuk mencincang tubuh pemuda pengacau itu dengan golok dan pedang mereka.

"Tahan!"

Han Bu berseru.

"Ngo-beng Kui-ong, bukan aku yang tolol, akan tetapi engkau yang hendak menjilat ludahmu sendiri. Datuk macam apa engkau hendak mengingkari janjimu, hah?"

Kakek itu terkejut dan marah.

"Bocah setan, siapa mengingkari janji?"

"Coba pergunakan otakmu yang tumpul karena sudah terlalu tua itu. Apa pilihanku tadi?"

"Engkau memilih mati di tangan para prajurit!"

"Benar, dan engkau sekarang hendak melaksanakan itu, menyuruh para prajurit membunuhku? Kalau begitu berarti pilihanku benar! Padahal kalau pilihanku benar, aku tidak harus dibunuh para prajurit, melainkan melawan sampai mati. Nah, masih ingat, bukan? Ataukah engkau sudah pikun dan pura-pura lupa?"

Ngo-beng Kui-ong tertegun dan bengong seperti orang bodoh, dan para prajurit saling pandang lalu mengangguk-angguk.

Mereka dapat melihat kebenaran omongan pemuda itu.

Pemuda itu memilih mati di tangan mereka, kalau hal ini dilaksanakan, berarti pilihannya benar dan kalau pilihannya benar, seperti dijanjikan kakek itu, dia tidak seharusnya mati di tangan para prajurit!

Agaknya Ngo-beng Kui-ong akhirnya dapat menyadari kebenaran ini.

Tidak, anak muda itu tidak boleh mati dikeroyok prajurit karena kalau hal itu terjadi, maka pilihannya benar dan kalau pilihannya benar, menurut janji dia akan mendapat kehormatan melawannya dan mati di tangannya.

"Ah, benar juga, aku keliru, Si Han Bu. Baiklah, sekarang aku akan membebaskan dan memberi kesempatan kepadamu untuk bertanding melawan aku sampai mati!"

Kakek itu hendak melawan Han Bu dan sekali tangannya berkelebat, dia sudah membebaskan pemuda itu dari totokan yang ampuh. Han Bu melompat berdiri dan segera berseru.

"Tahan dulu, Ngo-beng Kui-ong! Engkau tidak jadi menjilat ludah yang ini, akan tetapi siap untuk menjilat ludahmu yang lain. Sungguh tidak tahu malu. Aku tidak sudi bertanding melawanmu karena itu menyalahi apa yang telah kaujanjikan!"

"Lho! Apa lagi ini? Aku melanggar janji yang mana?"

"Dasar sudah pikun dan bodoh! Apa janjimu tadi? Kalau aku salah pilih aku akan mati di tangan para prajurit, bukan? Nah, apa yang kupilih? Aku memilih mati di tangan para prajurit, kalau sekarang aku harus mati di tanganmu, berarti pilihanku tadi salah dan kalau salah, tidak semestinya aku mati di tanganmu! Seharusnya mati di tangan para prajurit!"

Kakek itu melongo dan menghitung-hitung.

Kalau pemuda yang memilih mati di tangan para prajurit itu dibiarkan mati dikeroyok, berarti pilihannya benar dan tidak boleh mati dikeroyok.

Sebaliknya kalau mati di tangannya, berarti pilihannya keliru dan seharusnya mati dikeroyok.

"Lho, bagaimana ini...?"

Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya dengan bingung.

"Menyuruh para prajurit membunuhmu salah, aku sendiri yang membunuhmu juga salah! Lalu bagaimana?"

Para prajurit juga geleng-geleng kepala karena bingung dan mereka semua baru menyadari bahwa mereka telah diakali oleh pemuda itu!

Akan tetapi Ngo-beng Kui-ong tidak berdaya karena tentu saja dia tidak mau melanggar janjinya sendiri yang disaksikan demikian banyaknya prajurit.

"Memang tidak semestinya engkau membunuhku, Ngo-beng Kui-ong. Kalau betul engkau dahulu sahabat kakek guruku mendiang Bu Beng Kiam-sian dan juga sahabat ibu guruku Im-yang Sian-kouw, bagaimana engkau akan dapat bertemu mereka kalau engkau membunuh aku?"

Selagi kakek itu kebingungan tak mampu menjawab, terdengar suara berisik di luar bangunan itu, Ngo-beng Kui-ong cepat menotok Han Bu yang tidak siap sehingga pemuda itu terkulai lumpuh kembali.

Kakek itu lalu mengangkat tubuh Han Bu dan dimasukkan ke dalam kamar tahanan yang tadi dipergunakan untuk menawan Huang-ho Sian-li.

Setelah melemparkan pemuda itu ke dalam kamar tahanan, pintunya lalu ditutup dan digembok dari luar.

Han Bu merasa lega.

Setidaknya dia gembira karena pertama, dia dapat meloloskan Huang-ho Sian-li, dan ke dua, dia dapat mengakali Ngo-beng Kui-ong sehingga kakek itu menjadi serba salah dan tidak dapat membunuhnya.

Akan tetapi, dalam keadaan telentang dan tertotok, rebah di atas pembaringan kayu, kini dia melihat munculnya beberapa orang yang membuat dia dapat merasakan bahwa keadaan dirinya tetap saja gawat.

Yang muncul adalah Pangeran Cu Kiong sendiri bersama Lam-hai Cin-jin, Thio Kwan, Yu Kok Lun, dan Ang-mo Niocu yang cantik genit.

"Locianpwe Ngo-beng Kui-ong, apa yang kami dengar dari laporan para pengawal itu? Bagaimana Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa dapat lolos dari tahanan?"

Pangeran Cu Kiong yang masih marah karena persidangan itu gagal dan ditunda, kini mendengar bahwa Huang-ho Sian-li musuh yang paling berbahaya baginya itu telah lolos dari tempat tahanan!

Tentu saja dia menjadi marah sekali, matanya terbelalak merah dan kalau saja bukan Ngo-beng Kui-ong yang melakukan penjagaan dan bertanggung jawab atas lolosnya tawanan, tentu dia sudah turun tangan membunuhnya!

"AH, aku tertidur ketika Huang-ho Sian-li ditolong dan dikeluarkan oleh bocah ini.

Sekarang dia yang meloloskan Huang-ho Sian-li telah kutangkap!"

Kata kakek itu, sama sekali tidak merasa menyesal karena dia yang sudah tua tidak begitu mementingkan tentang rencana Pangeran Cu Kiong.

Dia datang ke kota raja hanya sebagai utusan Jenderal Wu Sam Kwi untuk membantu murid keponakannya, yaitu Lam-hai Cin-jin.

Mendengar bahwa ada orang telah meloloskan Huang-ho Sian-li dari tawanan, dan orang itu kini sudah tertangkap, Pangeran Cu Kiong bertanya, marah.

"Mana Si Jahanam yang telah membikin lolosnya Huang-ho Sian-li?"

Ngo-beng Kui-ong sambil menyeringai menuding ke arah dalam kamar tahanan.

"Itu dia orangnya!"

"Keparat, biar kubunuh dia!"

Pangeran Cu Kiong sudah mencabut pedangnya, hendak menyuruh buka pintu kamar penjara karena dia ingin melampiaskan kemarahannya kepada orang yang telah mengeluarkan Huang-ho Sian-li dari tahanan.

"Eitt, nanti dulu, Pangeran. Jangan bunuh dia!"

Ngo-beng Kui-ong mencegah dan berdiri menghadang di depan pintu kamar penjara.

Pangeran Cu Kiong menjadi marah sekali dan Lam-hai Cin-jin juga khawatir akan sikap susioknya (paman gurunya) yang sudah tua renta dan suka bersikap ugal-ugalan tanpa pandang bulu itu.

"Susiok, mengapa Susiok melarang Pangeran Cu untuk membunuh orang muda itu? Bukankah dia telah bersalah besar membebaskan Huang-ho Sian-li yang menjadi tawanan penting?"

Lam-hai Cin-jin menegur paman gurunya.

"Ho-ho-ho, engkau tidak tahu, Cin-jin. Kau tahu siapa pemuda ini? Dia ini murid Im-yang Sian-kouw, cucu murid mendiang Bu Beng Kiam-sian. Kau ingat mereka itu dahulu adalah sahabat-sahabatku. Sekarang aku dapat menangkap murid Im-yang Sian-kouw, ini merupakan senjata baik sekali untuk memaksa ia suka membantu Raja Wu Sam Kwi! Nah, amat menguntungkan, bukan? Kalau dibunuh begitu saja, apa untungnya bagi kita? Pangeran Cu Kiong, hati boleh panas, akan tetapi kepala harus tetap dingin sehingga dapat berpikir dengan baik. Kita pertimbangkan untung ruginya! Aku tetap mempertahankan hidup pemuda ini karena aku mengharapkan gurunya akan mau mendukung Raja Wu Sam Kwi yang membutuhkan banyak bantuan tenaga orang sakti."

Lam-hai Cin-jin tersenyum masam.

Tentu saja dia maklum bahwa alasan yang dikemukakan paman gurunya itu walaupun ada benarnya namun sesungguhnya bukan itulah tujuannya.

Dia tahu bahwa dahulu paman gurunya itu pernah tergila-gila kepada Im-yang Sian-kouw dan pernah merayu dan berkali-kali meminang janda muda cantik itu untuk menjadi isterinya.

Akan tetapi Im-yang Sian-kouw sudah mengambil keputusan untuk menjanda selama hidupnya, maka bujuk rayu dan pinangan itu ditolaknya.

Kini agaknya Ngo-beng Kui-ong yang sudah berusia delapan puluh tahun lebih, makin tua semakin bergairah, dan agaknya hendak mempergunakan murid Im-yang Sian-kouw yang ditawannya untuk memaksa janda itu mau menjadi isterinya!

Pangeran Cu Kiong menjadi marah dan kecewa sekali.

Huang-ho Sian-li bebas dari tahanan dan tentu akan menimbulkan banyak kesulitan baginya.

Biarpun dia merasa marah dan benci sekali kepada pemuda yang telah membebaskan Huang-ho Sian-li, namun melihat Ngo-beng Kui-ong berkeras tidak membiarkan pemuda itu dibunuh, dia pun tidak berani mendesak.

Akan rugi sekali kalau dia bentrok dengan kakek tua renta yang sakti itu.

Pula, tidak begitu penting artinya baginya kalau pemuda itu dibunuh ataukah tidak.

Yang terpenting sekarang dia harus membuat rencana secepatnya untuk menguasai keadaan sebelum Huang-ho Sian-li membuat kesulitan baginya.

Maka dengan muka masih merah karena marah dan mulut bersungut-sungut, Pangeran Cu Kiong memberi isyarat kepada para pembantunya untuk mengadakan perundingan di dalam kamar rahasia.

Sekali ini, dia membuat pertemuan terakhir, maka dia mengundang semua pendukungnya.

Selain para pembantu tetapnya, yaitu Thio Kwan dan Yu Kok Lun, dan para pendukung tetap, yaitu para utusan Jenderal Wu Sam Kwi seperti Lam-hai Cin-jin, Ang-mo Niocu Yi Hong, Mong Lai orang Mongol yang membantu Wu Sam Kwi, dan Ngo-beng Kui-ong, juga hadir pula para panglima dan pejabat tinggi yang sudah dapat dipengaruhi Pangeran Cu Kiong yang kini menggunakan Tek-pai yang dirampasnya dari Huang-ho Sian-li!

Dengan Tek-pai itu, banyak panglima dan pejabat tinggi tertarik dan terbujuk olehnya.

Dalam ruangan rahasia yang tertutup itu kini dipenuhi mereka yang mengadakan perundingan dengan serius, dipimpin oleh Pangeran Cu Kiong yang penuh semangat dan berapi-api.

"Kita harus bertindak sekarang juga atau akan terlambat dan tidak akan ada kesempatan lagi! Tek-pai berada di tanganku dan dengan Tek-pai ini aku dapat bertindak atas nama Kaisar, Ayahku, sedangkan kaisar baru belum diangkat, berarti aku memiliki kekuasaan mutlak. Para pejabat tinggi tentu akan tunduk kepada pemegang Tek-pai. Sekarang aku hendak bertanya, bagaimana ketiga Ciangkun, apakah kalian bertiga sudah mempersiapkan pasukan kalian dan setiap saat sudah siap untuk mengepung istana dan menguasainya?"

Berkata demikian, Pangeran Cu Kiong memandang kepada tiga orang panglima perang yang terbujuk olehnya dan menjadi pendukungnya, tentu saja dengan janji akan mendapatkan kedudukan yang jauh lebih tinggi kalau Pangeran Cu Kiong kelak menjadi kaisar.

"Kami sudah siap, Pangeran!"

Serentak mereka menjawab.

"Bagus! Gui-ciangkun, bagaimana hasil penyelidikanmu tadi? Apa yang dilakukan Pangeran Bouw Hun Ki dan di mana adanya Pangeran Kang Shi?"

Tanya Pangeran Cu Kiong kepada panglima yang ditugaskan sebagai kepala para penyelidik.

"Menurut hasil penyelidikan para anak buah yang kami sebar di mana-mana, tidak tampak banyak gerakan oleh Pangeran Bouw Hun Ki. Pangeran Mahkota Kang Shi masih berada di sana dan semua kegiatan juga dilakukan di sana. Istana masih sepi dan kabarnya, sebelum terjadi pelantikan kaisar baru, maka Pangeran Kang Shi masih akan tinggal bersama Pangeran Bouw Hun Ki. Para panglima yang setia kepada Kaisar juga belum kelihatan mengadakan persiapan apa pun. Jadi menurut hamba, saat ini memang tepat dan baik sekali apabila Paduka membuat gerakan yang pasti akan berhasil baik selagi pihak musuh sedang lengah."

"Bagus! Sekarang, aku ingin mendengar pendapat Lam-hai Cin-jin, bagaimana langkah yang sebaiknya harus kita ambil."

"Hemm, Pangeran, pada saat ini, kerajaan sedang kosong, belum ada kaisar baru, maka memang saatnya paling tepat untuk bergerak. Satu-satunya yang menjadi penghalang bagi Pangeran untuk dapat naik tahta hanyalah Pangeran Kang Shi. Akan tetapi Pangeran itu masih kecil, jadi bukan dialah yang menjadi penghalang terbesar, melainkan pelindungnya dan pendampingnya, yang bukan lain adalah Pangeran Bouw Hun Ki. Maka, sebaiknya Pangeran mengerahkan semua kekuatan untuk menyerbu ke gedung Pangeran Bouw Hun Ki dan membinasakan semua keluarga dan pengikutnya, termasuk Huang-ho Sian-li."

"Saya setuju sekali dengan pendapat Lam-hai Cin-jin,"

Kata Thio Kwan si tinggi kurus muka pucat.

"Terutama sekali Huang-ho Sian-li, kita harus sekali ini dapat membunuhnya. Tidak ada gunanya menawannya hidup-hidup, lebih cepat ia tewas lebih baik."

"Memang tepat sekali,"

Kata Yu Kok Lun yang pendek gemuk.

"Gadis itu berbahaya sekali dan kiranya setelah ia pernah kita tawan, tidak akan mudah lagi menawannya karena ia tentu akan berhati-hati. Maka sebaiknya digunakan siasat yang cerdik. Bagaimana kalau kita tangkap ayahnya? Pangeran Ciu Wan Kong seorang lemah, kalau kita dapat menangkapnya, saya kira Huang-ho Sian-li dapat kita tundukkan."

"Bagus, bagus! Semua usul itu baik sekali dan harus segera dilaksanakan! Dan sekarang, apakah ketiga Ciangkun sudah membuat rencana apa yang akan dilakukan dan sudah membagi tugas kepada pasukan masing-masing?"

"Pangeran, kami bertiga telah membagi-bagi tugas. Tiga pasukan kami sudah kami rencanakan untuk bergerak sebagai berikut. Pasukan pertama akan menghadang di pintu gerbang dan mencegah masuknya pasukan dari luar kota raja yang hendak membela Pangeran Mahkota. Pasukan kedua kami perbantukan usaha penyerbuan ke gedung Pangeran Bouw Hun Ki dan menghancurkan semua kekuatannya, kemudian pasukan ke dua membantu pasukan ke tiga yang mengepung istana dan kemudian menyerbu setelah saatnya tiba, yaitu kami menunggu komando dari Pangeran."

Pangeran Cu Kiong menggosok-gosok kedua tangannya dengan wajah girang.

Dia seolah sudah yakin bahwa usahanya pasti berhasil!

"Bagus, sekarang kita tentukan rencana gerakan besok pagi-pagi sekali seperti berikut.

Malam ini, Gui Ciangkun harap bekerja keras memata-matai semua gerakan di gedung Pangeran Bouw Hun Ki dan di istana sehingga kalau terjadi perubahan kita dapat mengetahui gerakan mereka.

Juga malam ini, ketiga pasukan harus sudah dapat menyusup dan siap di tempat masing-masing, yaitu di pintu gerbang, di dekat gedung Pangeran Bouw, dan di dekat istana.

Jangan membuat gerakan mengepung lebih dulu karena gerakan itu dapat menarik perhatian orang.

Kemudian, begitu ada tanda ayam berkokok, pasukan kedua membantu kedua Locianpwe Lam-hai Cin-jin dan Ngo-beng Kui-ong, Sobat Mong Lai, dan para perwira penyerbu istana Pangeran Bouw Hun Ki, membasmi semua yang melawan termasuk Pangeran Bouw Hun Ki dan Pangeran Kang Shi.

Sementara itu, Thio Kwan dan Yu Kok Lun lebih dulu membawa dua losin prajurit pergi menangkap Pangeran Ciu Wan Kong sehingga kalau dalam pertempuran di istana Pangeran Bouw Hun Ki itu Huang-ho Sian-li mengamuk, kalian dapat memaksa ia menyerah dengan memperlihatkan ayahnya yang disandera.

Kemudian, kalau pasukan pertama ternyata tidak menemui pasukan kerajaan yang akan masuk, mereka harus cepat pergi ke istana dan membantu pasukan ke tiga yang mengepung istana.

Nah, kalau ada pertanyaan, silakan ajukan sekarang karena ini merupakan perundingan terakhir."

Setelah merundingkan rencana pemberontakan mereka secara rinci, perundingan itu ditutup karena semua orang harus membuat persiapan malam itu juga.

Setelah semua meninggalkan ruangan rahasia itu, sebagian para panglima dan pejabat tinggi, pulang ke tempat tinggal masing-masing, dan para pembantu atau pengawal kembali ke kamar masing-masing yang disediakan untuk mereka dalam istana itu, Pangeran Cu Kiong berjalan menuju kamarnya bersama Ang-mo Niocu Yi Hong.

Akan tetapi ketika Yi Hong hendak menuju ke kamarnya sendiri, tangannya dipegang Pangeran Cu Kiong.

"Niocu, malam ini engkau harus menemani aku. Besok merupakan hari penentuan dan malam ini aku ingin menikmatinya, siapa tahu merupakan malam terakhir pula bagiku."

"Ih, mengapa bicara begitu, Pangeran? Aku ingin tidur, harus siap dan mengaso agar besok pagi dapat mengerahkan tenaga sepenuhnya."

"Marilah, Niocu, engkau tidur di kamarku saja."

"Pangeran, biarkan aku sendiri saja...."

Ang-mo Niocu Yi Hong menarik tangannya yang dipegang, akan tetapi pangeran itu tidak mau melepaskannya.

"Niocu, apakah engkau tidak cinta lagi padaku? Bukankah kita saling mencinta? Ingat, kalau aku berhasil, engkau pun akan mendapat kedudukan tinggi di istanaku...."

Di dalam hatinya Yi Hong tersenyum mengejek.

Cinta?

Tak pernah ada rasa cinta menyelinap dalam hatinya.

Hatinya sejak kecil sudah dijejali dan dipenuhi bibit kebencian terhadap pria sehingga kini yang ada hanya perasaan benci.

Kalau ia mau berdekatan dengan pria yang muda dan tampan, ini sama sekali bukan cinta, melainkan hanya nafsu berahi belaka.

Akan tetapi biarpun setelah beberapa lamanya menjadi kekasih Pangeran Cu Kiong dan ia mulai merasa bosan, ia menahan diri dan tidak mau memperlihatkannya.

Kini pun ia terpaksa mengalah, bukan karena ada rasa sayang terhadap pangeran yang ia tahu bukannya cinta kepadanya melainkan hendak memanfaatkannya, melainkan karena demi memenuhi tugasnya sebagai utusan Jenderal Wu Sam Kwi.

Tiada seorang pun laki-laki di dunia ini yang pernah dicintanya dengan kasih yang murni, bahkan Yi Hong tidak pernah merasakan kasih sayang antara dirinya dan ayah kandungnya yang telah tewas terbunuh oleh ibu kandungnya sendiri ketika ia berusia satu tahun!

Gurunya sendiri, Lam-hai Cin-jin, yang telah mendidiknya sejak ia berusia sepuluh tahun, juga hanya ia taati dan ia hormati sebagai guru tanpa ada rasa sayang seorang murid kepada gurunya, dan hal ini hanya karena gurunya itu seorang laki-laki!

Kalau ada laki-laki yang benar-benar ia bela, bukan lain adalah Jenderal Wu Sam Kwi.

Sejak kecil telah tertanam dalam lubuk hatinya bahwa Jenderal Wu Sam Kwi adalah seorang pahlawan besar yang gagah perkasa, setia kepada tanah air dan bangsa, dan yang ia junjung tinggi.

Untuk tokoh yang sudah tua itu, Ang-mo Niocu siap untuk berkorban nyawa sekalipun!

Justru karena rasa bakti dan sayangnya kepada Jenderal Wu Sam Kwi, maka Yi Hong membantu Pangeran Cu Kiong dengan sungguh hati, bukan demi keberhasilan pangeran itu, melainkan demi kemenangan dan keberhasilan Jenderal Wu Sam Kwi.

Melihat itu setelah melayani Pangeran Cu Kiong dengan hati muak karena memang sudah bosan dan terpaksa, Yi Hong dapat membujuk pangeran itu untuk menitipkan Tek-pai (Tanda Kekuasaan) dari mendiang Kaisar Shun Chi yang dirampas dari Huang-ho Sian-li itu kepadanya.

"Tek-pai itu merupakan bukti terpenting bagi Paduka,"

Demikian Yi Hong membujuk.

"Dengan Tek-pai di tangan, setidaknya Paduka memiliki kekuasaan yang disegani sebagian besar para pejabat kerajaan, apalagi sebelum ada kaisar baru. Maka, amat berbahaya kalau Paduka pegang sendiri. Juga kalau Paduka sembunyikan, bisa saja diambil atau dicuri orang. Maka, kalau Paduka percaya kepada saya, bagaimana kalau diam-diam Paduka titipkan kepada saya? Tidak akan ada yang menyangka sehingga saya dapat menyelamatkan Tek-pai itu dan tidak sampai dirampas atau dicuri orang."

Pangeran Cu Kiong menganggap usul itu baik sekali, maka pada keesokan harinya pagi-pagi sekali setelah mereka mandi dan berganti pakaian, Tek-pai itu sudah berada di balik ikat pinggang Ang-mo Niocu Yi Hong.

Tentu saja tujuan Yi Hong menyimpan Tek-pai itu sama sekali bukan untuk kepentingan Cu Kiong, melainkan untuk kepentingan Jenderal Wu Sam Kwi.

Ia mengharapkan barang kali tanda kekuasaan dari kaisar itu akan dapat berarti penting sekali bagi junjungannya di Se-cuan, terutama sekali kalau rencana pemberontakan Pangeran Cu Kiong sampai menemui kegagalan.

*** Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa merasa menyesal sekali bahwa ia terpaksa harus pergi meninggalkan tempat tahanan di istana Pangeran Cu Kiong, meninggalkan pemuda tampan gagah yang telah membebaskannya dari tahanan tanpa dapat menolongnya.

Di tempat tinggal Pangeran Cu Kiong terdapat banyak prajurit pengawal.

Walaupun hal ini bukan merupakan bahaya bagi seorang yang memiliki kelihaian seperti pemuda yang membebaskannya itu, namun di situ ada pula Ngo-beng Kui-ong yang sakti.

Mungkinkah pemuda itu mampu menyelamatkan diri dari mereka?

Akan tetapi, ada dua hal yang memaksa Huang-ho Sian-li pergi meninggalkan pemuda itu, walaupun tindakannya ini mendatangkan penyesalan yang mendalam kepadanya.

Pertama pemuda itu yang mendorong ia agar pergi melarikan diri dengan mengatakan bahwa ia harus cepat menemui ayahnya dan yang terpenting menyelamatkan Pangeran Mahkota.

Ke dua, kalau ia nekat mengamuk untuk membantu pemuda itu meloloskan diri, kemudian ia tertangkap pula karena lihainya kakek yang seperti mayat hidup itu, lalu bagaimana dengan tugasnya melindungi Pangeran Mahkota?

Demikianlah, dengan hati merasa menyesal sekali, terpaksa Thian Hwa meninggalkan istana Pangeran Cu Kiong dan cepat ia kembali ke gedung ayahnya Pangeran Ciu Wan Kong.

"Ayah...!"

Ia melompat ke ruangan dalam di mana ayahnya sedang duduk termenung.

Pangeran Ciu Wan Kong baru saja kembali dari menghadiri persidangan dalam istana di mana Pangeran Bouw Hun Ki memutuskan untuk menunda persidangan karena Huang-ho Sian-li yang menjadi terdakwa pembunuh Pangeran Leng tidak dihadirkan di situ.

Pangeran Ciu termenung dan diam-diam dia merasa khawatir sekali akan nasib puterinya yang menjadi tawanan Pangeran Cu Kiong yang jahat dan kejam.

Ketika mendengar panggilan itu dan melihat berkelebatnya bayangan Huang-ho Sian-li yang tiba-tiba sudah berada di ruangan itu, dia melompat berdiri.

"Thian Hwa...!"

Saking girangnya, Pangeran Ciu Wan Kong merangkul puterinya. Thian Hwa juga merasa terharu karena ia dapat merasakan rangkulan ayahnya yang penuh kasih sayang itu.

"Ayah...!"

Ia pun merangkul dengan hati terharu. Pangeran Ciu Wan Kong melepaskan rangkulannya dan menyuruh puterinya duduk.

"Terima kasih kepada Tuhan, engkau dapat pulang dengan selamat, Anakku. Nah, ceritakan, bagaimana engkau dapat meloloskan diri dari cengkeraman Pangeran Cu Kiong yang jahat itu dan apa yang telah terjadi?"

"Ayah, aku telah difitnah oleh Pangeran Cu. Dia yang membunuh Pangeran Leng, menggunakan Pek-hwa-ciam milikku yang telah dirampasnya setelah mereka merobohkan dan menangkapku."

"Sudah kami duga hal itu, Thian Hwa. Akan tetapi bagaimana terjadinya? Ceritakan selengkapnya, aku ingin sekali mendengar apa yang terjadi."

Thian Hwa lalu menceritakan apa yang ia alami ketika ia mengunjungi Pangeran Leng Kok Cun di mana telah terdapat Pangeran Cu Kiong dan para jagoannya yang lihai sehingga ia ditawan mereka dan difitnah sebagai pembunuh Pangeran Leng, padahal yang membunuhnya adalah Pangeran Cu Kiong sendiri!

"Pedang, Pek-hwa-ciam, dan Tek-pai pemberian Kaisar dirampas, lalu aku dimasukkan kamar tahanan, dijaga oleh Ngo-beng Kui-ong yang amat sakti dan para prajurit yang siap dengan panah mereka mencegah aku melepaskan diri dari tahanan."

"Ah, masih baik nasibmu engkau tidak dibunuh pangeran yang jahat itu, Anakku...."

"Mereka tentu masih menganggap aku berguna maka mereka tidak atau belum membunuhku, Ayah. Mereka merasa menang karena dapat memfitnahku dengan membunuh Pangeran Leng."

"Akan tetapi, bagaimana engkau dapat meloloskan diri, Thian Hwa?"

"Tadi muncul seorang pemuda yang merobohkan para prajurit dan dia membebaskan aku dari kamar tahanan dengan menyamar sebagai seorang prajurit...."

"Ah, pemuda yang tampan gagah itu? Dia Si Han Bu...!"

"Si Han Bu...?"

"Ya, dia sudah datang berkunjung ke sini. Dia mengaku bernama Si Han Bu, murid dari Im-yang Sian-kouw di Beng-san. Kemunculannya membawa banyak kabar yang demikian baiknya sehingga sulit dipercaya, Anakku!"

"Kabar apakah, Ayah?"

"Kebahagiaan pertama yang dibawanya tentu saja dengan tindakannya yang telah membebaskanmu dari tahanan Pangeran Cu Kiong. Dan kabar ke dua yang membuat kita patut bersyukur kepada Tuhan adalah bahwa... Cui Eng.... masih hidup dan gurunya, Im-yang Sian-kouw, mengetahui di mana adanya...."

Suara Pangeran Ciu Wan Kong kini mengandung isak tangis! "Cui Eng... Ibuku...?"

Thian Hwa setengah menjerit.

"Ibu... Ibu... Ibuku masih hidup...?"

Ia bangkit dan merangkul ayahnya.

Ayah dan anak kembali berangkulan dan kini keduanya menangis!

"Benar, Anakku....

menurut Si Han Bu, gurunya yang bernama Im-yang Sian-kouw mengatakan bahwa Cui Eng ibumu masih hidup dan ia tahu di mana kini ibumu berada...."

Tiba-tiba Thian Hwa melepaskan pelukan ayahnya.

"Ayah, sekarang juga aku akan pergi ke Beng-san, mencari Im-yang Sian-kouw dan bertanya kepadanya di mana adanya ibuku!"

"Nanti dulu, Thian Hwa! Engkau tidak boleh pergi sekarang ini!"

"Kenapa, Ayah? Apakah Ayah sudah lupa kepada Ibu dan Ayah tidak lagi mencinta Ibu maka tidak ingin aku mencari Ibu?"

"Bukan begitu, Thian Hwa. Akan tetapi, engkau harus dapat menentukan mana yang paling penting untuk dilaksanakan paling dulu. Ibumu masih hidup, hal ini merupakan berkah Tuhan, merupakan kebahagiaan yang tiada bandingnya bagi kita berdua dan bagi kong-kongmu, akan tetapi saat ini ibumu berada dalam keadaan baik dan sehat. Sebaliknya, kerajaan terancam bahaya, Pangeran Mahkota terancam keselamatannya padahal engkau telah dipercaya oleh Kaisar untuk melindunginya. Juga kita tidak boleh melupakan Si Han Bu yang mungkin terancam keselamatan nyawanya di istana Pangeran Cu Kiong. Bagaimana mungkin engkau pergi meninggalkan mereka yang terancam bahaya begitu saja? Mari kita lakukan yang terpenting lebih dulu dan ini merupakan perintahku kepadamu sebagai ayah memerintahkan anaknya!"

Betapapun keras hatinya, Thian Hwa dapat melihat kebenaran ucapan ayahnya setelah tadi dalam rangkulan ayahnya ia dapat merasakan kasih sayang orang tua itu, maka setelah menghela napas panjang meredakan guncangan dan ketegangan hatinya mendengar ibunya masih hidup, ia lalu berkata.

"Baiklah, Ayah. Aku akan menaati semua perintahmu."

"Sukurlah, Anakku yang baik. Mari kita cepat pergi menemui Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki dan kauceritakan semua pengalamanmu di istana Pangeran Cu Kiong."

Ayah dan anak itu pergi mengunjungi Pangeran Bouw Hun Ki.

Ketika Pangeran Bouw Hun Ki, Bouw Hujin, Bouw Kun Liong, Bouw Hwi Siang, Bu Kong Liang, Gui Sian Lin, dan beberapa orang panglima dan pejabat tinggi yang setia kepada Pangeran Mahkota dan membantu usaha Pangeran Bouw melindungi dan membela calon kaisar menerima kedatangan Huang-ho Sian-li bersama Pangeran Ciu Wan Kong, mereka terkejut, heran dan juga girang melihat gadis itu selamat dan berhasil lolos dari penahanan Pangeran Cu Kiong.

Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa segera menceritakan pengalamannya secara lengkap kepada mereka sampai ia dapat terlepas karena pertolongan Si Han Bu yang kini entah bagaimana nasibnya.

"Aih, sungguh aku dan Dinda Pangeran Ciu Wan Kong merasa prihatin, sedih dan malu mempunyai seorang keponakan seperti Pangeran Cu Kiong yang jahat dan licik itu. Kita harus siap siaga menghadapi niatnya yang jelas hendak memberontak dan merebut tahta kerajaan dari Pangeran Mahkota!"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki.

"Memang secepatnya kita harus bertindak, malam ini juga kita membuat persiapan!"

Kata Bouw Hujin penuh semangat.

"Sekarang, bukan hanya kita melindungi Pangeran Mahkota dan menyelamatkan tahta kerajaan, akan tetapi juga harus menolong dan menyelamatkan pemuda yang telah membebaskan Thian Hwa itu! Aku sendiri yang akan menyelidiki ke istana Pangeran Cu Kiong untuk menolong pemuda bernama Si Han Bu itu!"

"Aku akan menemani Bibi!"

Kata Thian Hwa dengan gagah.

"Perlahan dulu, jangan terburu-buru dan gegabah,"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki.

"Urusan ini sudah menjadi urusan negara, bukan urusan pribadi lagi. Istana Pangeran Cu Kiong sekarang tentu makin diperkuat penjagaannya setelah Thian Hwa lolos dari sana. Kita kumpulkan semua pasukan yang setia dan membuat pertahanan besar-besaran. Para ciangkun yang berada di sini harap cepat menghubungi teman-teman sependirian yang setia kepada pemerintah. Juga pasukan kita yang berada di luar kota raja, malam ini sudah harus memasuki kota raja. Semua ini perlu diatur sebaik mungkin dan secara rahasia. Ketahuilah, bahwa pihak musuh juga mempunyai banyak pendukung dan mereka cerdik. Kita sudah berhati-hati, sudah menyembunyikan lagi Pangeran Mahkota ke rumah kami ini, di ruangan rahasia bawah tanah, tidak lagi di istana. Namun, mungkin mereka sudah mengetahui atau menduganya. Karena itu, yang terutama kita harus mengungsikan Pangeran Mahkota ke tempat yang benar-benar rahasia dan dijaga amat kuat, baru kita atur yang lain."

"Pangeran, sebaiknya Pangeran Mahkota disembunyikan di dalam benteng induk pasukan kerajaan yang mempunyai tempat persembunyian rahasia dan terjaga kuat oleh pasukan pilihan yang besar jumlahnya!"

Kata Panglima Ciang.

"Baik, usul itu diterima!"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki yang percaya sepenuhnya kepada panglima ini.

Setelah itu, mereka lalu mengatur rencana untuk menjaga kalau sewaktu-waktu pihak lawan bergerak, dan mengubah posisi mereka yang mungkin sudah diketahui atau diduga musuh.

Mereka semua dapat menduga bahwa titik-titik pusat yang akan diserang oleh kekuatan pemberontak tentu istana tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki dan istana kaisar yang tentu akan dikuasai pemberontak.

Oleh karena itu, pertahanan pertama diutamakan istana, dan tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki sengaja dikosongkan untuk menjebak lawan!

Keselamatan Pangeran Mahkota tidak perlu dikhawatirkan lagi karena selain pihak musuh tidak mungkin tahu atau menduga, juga perbentengan induk pasukan itu kuat bukan main.

Demikianlah, kalau pihak Pangeran Cu Kiong malam itu mengaso untuk persiapan gerakan esok hari, pihak Pangeran Bouw Hun Ki malam itu juga sibuk membuat persiapan untuk menghancurkan apabila pihak pemberontak mengadakan aksi penyerbuan!

Pada keesokan harinya, penduduk kota raja sama sekali tidak menyangka akan terjadi peristiwa menggemparkan.

Mereka semua mengira bahwa peristiwa penyerbuan di istana Pangeran Bouw Hun Ki telah selesai dan para penjahat atau pemberontak yang didalangi Pangeran Leng Kok Cun sudah terbasmi, bahkan dalangnya, Pangeran Leng Kok Cun, sudah pula terbunuh.

Mereka semua mengira bahwa tentu suasananya kini aman setelah tidak ada yang mendalangi pemberontakan.

Akan tetapi, suasana mulai gempar dan para penghuni banyak yang berlari-larian, mengungsi ketakutan ketika terjadi pertempuran hebat di beberapa tempat.

Terutama sekali terjadi pertempuran besar-besaran antara dua pasukan pemerintah yang berbeda pimpinan.

Hanya ragam pakaian, bentuk topi, dan bendera mereka saja berbeda, lambang-lambang kesatuan mereka, akan tetapi di antara mereka tidak terdapat pasukan musuh dari luar.

Semua adalah pasukan pemerintah.

Berarti ini terjadi perang pemberontakan!

Pertempuran berkobar mulai pagi-pagi sekali.

Mula-mula, pasukan pemberontak yang menjaga di pintu gerbang selatan, berjumlah seribu orang, tiba-tiba menghadapi serbuan pasukan pemerintah dari luar pintu gerbang dalam jumlah yang seimbang.

Akan tetapi baru saja pertempuran dimulai, dari dalam kota raja muncul sekitar seribu orang prajurit pemerintah yang menjepit pasukan pemberontak.

Pasukan ke dua dari pemerintah ini ternyata masuk ke dalam kota raja melalui pintu gerbang utara semalam, hal yang sama sekali tidak disangka para pemimpin pemberontak.

Pertempuran ke dua terjadi di depan istana tempat tinggal Pangeran Bouw Hun Ki.

Akan tetapi pertempuran di sini tidak seimbang.

Pertahanan yang dilakukan para prajurit pemerintah di sini lemah sekali sehingga mereka terus mundur, terdesak oleh pasukan pemberontak yang lebih besar jumlahnya.

Pertempuran ke tiga terjadi di depan istana kaisar!

Di sini terjadi pertempuran yang sama hebatnya dengan yang terjadi di pintu gerbang kota raja.

Pihak pasukan pemberontak mendapat sambutan hebat dari pasukan pemerintah yang tidak kalah banyaknya, bahkan pasukan pemberontak terjepit oleh pasukan yang membanjir keluar dari benteng induk pasukan yang semalam telah menampung bala bantuan dari luar yang masuk ke kota raja melalui pintu-pintu gerbang yang tidak terjaga pasukan pemberontak.

Tentu saja pihak pasukan kerajaan dapat mendesak pasukan pemberontak yang menjadi panik menerima penyambutan itu.

Selain di tiga tempat itu, terdapat pula pertempuran-pertempuran kelompok kecil dari para mata-mata dan penyelidik kedua pihak.

Bahkan para jagoan pendukung pemberontak yang ikut menyerbu, ketika disambut para pendekar yang membela kerajaan segera memisahkan diri dari pasukan yang bertempur dan mereka memilih bertanding di tempat-tempat yang luas, tidak sempat oleh banyaknya prajurit yang bertempur.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang memimpin dua losin prajurit menyerbu ke gedung tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong dengan membawa tugas menangkap ayah Huang-ho Sian-li, akan tetapi setelah menyerbu, mereka kecelik karena di gedung itu tidak terdapat siapa pun.

Bahkan tidak ada seorang pun pelayan.

Yang ada hanya beberapa orang prajurit penjaga yang segera melarikan diri melihat ada prajurit pemberontak menyerbu.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun kecewa dan marah sekali.

Untuk melampiaskan kemarahan mereka, mereka merusak perabot-perabot rumah, membiarkan dua losin anak buah mereka mengambil dan merampok barang berharga sesuka hati mereka dari rumah itu, kemudian mereka menyuruh anak buah mereka membakar gedung itu untuk melampiaskan kemarahan mereka!

Setelah itu, dengan sorak sorai kemenangan menutupi kekecewaan dua orang pimpinan mereka dan juga gembira karena pasukan yang berubah menjadi gerombolan perampok itu telah memperoleh "hasil"

Lumayan dari gedung Pangeran Ciu Wan Kong, mereka menuju ke istana Pangeran Bouw Hun Ki untuk membantu pasukan besar yang menyerbu ke sana.

Ketika Thio Kwan dan Yu Kok Lun tiba di depan istana Pangeran Bouw Hun Ki, hati mereka gembira melihat betapa pasukan pendukung Pangeran Cu Kiong sedang mendesak pasukan pemerintah yang mempertahankan istana Pangeran Bouw.

Akan tetapi mereka berdua juga melihat perkelahian mati-matian terjadi agak jauh dari pertempuran para prajurit, yaitu antara jagoan-jagoan pendukung Pangeran Cu Kiong melawan para pendekar yang membela kerajaan!

Memang seru dan menarik sekali perkelahian antara para ahli silat tingkat tinggi itu, jauh lebih seru dan menegangkan dibandingkan dengan pertempuran antara para prajurit kedua pihak yang saling tumpas dengan ngawur itu.

Seperti telah direncanakan oleh para pemberontak, yang memimpin pasukan yang menyerbu istana Pangeran Bouw Hun Ki diperkuat dengan orang-orang sakti seperti Lam-hai Cin-jin, Ngo-beng Kui-ong, Mong Lai dan para perwira tinggi.

Akan tetapi setelah melihat para pendekar tidak ada yang menyambut mereka dan hanya pasukan kerajaan saja yang menyambut, maka Lam-hai Cin-jin mengajak para jagoan untuk membantu penyerbuan ke istana yang dipimpin sendiri oleh Pangeran Cu Kiong yang dibantu oleh Ang-mo Niocu Yi Hong.

Setelah tiba di depan istana kaisar, barulah mereka mendapat sambutan dahsyat.

Lam-hai Cin-jin segera diterjang Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa tanpa banyak cakap lagi dan mereka segera bertanding mati-matian.

Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki atau yang ketika masih gadis merupakan seorang pendekar wanita berjuluk Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti) bernama Souw Lan Hui, begitu melihat Ngo-beng Kui-ong segera menerjang kakek mayat hidup ini karena ia dapat menduga tentu kakek ini lihai bukan main seperti yang diceritakan Thian Hwa dan mereka pun segera terlibat perkelahian dahsyat.

Ang-mo Niocu Yi Hong segera diserang oleh Bu Kong Liang yang kini membenci wanita yang ternyata berwatak jahat dan palsu itu.

Mong Lai, tokoh Mongol yang ahli ilmu silat campur gulat, juga memiliki kekuatan ilmu sihir, diserang oleh Bouw Kun Liong, putera Pangeran Bouw.

Thio Kwan dan Yu Kok Lun yang baru datang ke depan istana itu setelah membakar rumah Pangeran Ciu Wan Kong yang ternyata kosong, juga sudah diserbu dua orang gadis cantik, yaitu Bouw Hwi Siang dan Gui Siang Lin.

Adapun Pangeran Cu Kiong yang tadinya hanya memberi semangat kepada para jagoannya, tiba-tiba harus menghadapi Pangeran Bouw Hun Ki!

"Cu Kiong, apakah engkau tidak malu berhadapan dengan nenek moyang kita setelah engkau mati nanti sebagai seorang pengkhianat dan pemberontak?"

"Bouw Hun Ki, engkau orang tua yang tidak tahu malu! Engkau sudah bekerja sama dengan penjahat wanita Huang-ho Sian-li untuk menguasai tahta kerajaan. Pada lahirnya saja engkau mengaku sebagai pelindung dan pendamping Pangeran Kang Shi, akan tetapi siapa tidak tahu akan isi perutmu? Engkau ingin menguasai Pangeran yang masih kanak-kanak itu sehingga engkaulah yang berkuasa atas pemerintahan!"

Setelah berkata demikian, Pangeran Cu Kiong menerjang dan menyerang dengan pedangnya.

"Tranggg...!"

Pangeran Bouw Hun Ki menangkis dengan pedangnya dan dua orang pangeran yang paman dan keponakan ini sudah saling serang dengan pedang mereka.

Biarpun Pangeran Bouw Hun Ki baru setelah menikah dengan Souw Lan Hui belajar ilmu silat dari isterinya itu, namun karena isterinya memiliki kepandaian silat yang hebat, maka pangeran ini pun memiliki pertahanan yang cukup kuat dan serangan balasannya juga cukup berbahaya bagi lawannya karena Pangeran Cu Kiong juga bukan seorang ahli silat yang terlalu pandai.

Setelah pertempuran berlangsung, barulah Pangeran Cu Kiong dan para pembantu dan pendukungnya, merasa terkejut dan kecelik.

Mereka sama sekali tidak mengira bahwa rencana siasat mereka telah dihadapi dengan persiapan yang amat kuat oleh pihak lawan, bahkan pasukan yang mendukung pemberontak jumlahnya jauh kalah besar.

Yang menjadi puncak perkelahian antara para ahli silat itu adalah pertandingan antara Lam-hai Cin-jin melawan Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa, dan antara Ngo-beng Kui-ong melawan Sin-hong-cu Souw Lan Hui atau Nyonya Bouw.

Mereka inilah yang memiliki tingkat ilmu silat paling tinggi di antara para tokoh kedua pihak.

Bouw Hujin menghadapi lawan yang amat tangguh.

Nyonya yang berusia lima puluh satu tahun ini adalah murid Bu-tong-pai yang lihai.

Senjatanya siang-kiam (sepasang pedang) bergerak cepat sekali membentuk dua gulungan sinar pedang yang menyambar-nyambar bagaikan dua ekor naga sakti berlomba saling berebut mustika.

Juga ia memiliki tenaga sakti yang amat kuat.

Akan tetapi sekali ini ia bertanding melawan Ngo-beng Kui-ong yang merupakan datuk tua paling dahsyat ilmunya di seluruh daerah selatan!

Tadi sebelum Nyonya Bouw dan para pembantunya keluar menyambut lawan, Ngo-beng Kui-ong ini, di samping keponakan muridnya, yaitu Lam-hai Cin-jin, mengamuk dan telah membunuhi setiap orang perwira maupun prajurit yang berani dekat dengan mereka.

Entah sudah berapa puluh orang tewas di tangan Ngo-beng Kui-ong.

Kini pun, Nyonya Bouw masih sering mendapat bantuan prajurit atau perwira yang merasa memiliki ilmu silat lumayan.

Namun, mereka itu bagaikan laron menyerang api, begitu tersentuh sinar tongkat ular di tangan Ngo-beng Kui-ong mereka sudah berpelantingan dan tewas!

Melihat betapa banyaknya prajurit dan perwira yang menjadi korban kelihaian kakek yang seperti mayat hidup itu, Nyonya Bouw menjadi marah sekali.

Ia mengeluarkan pekik melengking dan tangan kirinya bergerak.

Tiga benda berkeredepan seperti kilat menyambar ke arah tenggorokan, ulu hati, dan pusar tubuh Ngo-beng Kui-ong!

Itulah tiga batang Gin-seng-piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak) yang dilepas secara dahsyat oleh tangan kiri Nyonya Bouw!

Biarpun Ngo-beng Kui-ong merupakan seorang yang memiliki ilmu silat tingkat tinggi dan lihai sekali, walaupun dia mampu menghindarkan diri dari serangan maut ini, tidak urung dia terkejut bukan main.

Dia melempar diri ke belakang dan bergulingan sehingga serangan tiga batang piauw itu luput.

Ketika dia bergulingan itu, dia melihat betapa pasukan pengikut Pangeran Cu Kiong sudah terdesak mundur dan banyak di antara mereka yang tewas.

Kakek ini memang cerdik dan licik.

Dia sudah memperhitungkan jauh-jauh bahwa kalau Pangeran Cu Kiong kalah, agaknya akan sukar baginya untuk menyelamatkan dirinya, sukar untuk keluar dari kota raja.

Maka sekarang, selagi ada kesempatan, dia harus mempergunakannya untuk menyelamatkan diri.

Keselamatan dirinya adalah yang paling utama baginya.

Maka begitu dia melompat bangun, dia melemparkan tongkat ularnya ke atas dan senjata itu melayang seperti seekor ular hidup ke arah leher Nyonya Bouw!

Nyonya Bouw maklum akan kelihaian tongkat ular yang kini bergerak seolah hidup itu, dapat menduga bahwa itu merupakan ilmu sihir yang jahat, maka ia pun cepat menggerakkan sepasang pedangnya untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga saktinya.

Terdengar suara nyaring berdentangan ketika tongkat ular itu mengamuk dan selalu bertemu dengan sepasang pedang yang dimainkan oleh Nyonya Bouw dengan cepat sehingga membentuk lingkaran sinar bergulung-gulung seperti payung besar yang dibuka dan menjadi perisai.

"Trang-trang-trak-trakk!"

Ketika Nyonya Bouw membuat gerakan menggunting dengan kedua pedangnya dari kanan kiri, tiba-tiba tongkat itu seperti kehilangan kekuatannya dan dapat terpotong-potong oleh sepasang pedang Nyonya Bouw.

Ternyata Ngo-beng Kui-ong menghentikan kekuatan sihirnya yang tadi mengendalikan tongkat itu, karena dia menggunakan kesempatan itu untuk tidak mempedulikan tongkatnya lagi, melainkan melompat dengan cepatnya ke arah Pangeran Bouw Hun Ki yang masih berkelahi melawan Pangeran Cu Kiong dengan sengitnya.

Pada saat itu, perkelahian antara dua orang pangeran tua dan muda itu masih berlangsung seru.

Agaknya para prajurit masih sungkan terhadap wibawa dua orang pangeran yang paman dan keponakan sendiri ini sehingga tidak ada prajurit yang mau melakukan pengeroyokan atau mencampuri perkelahian itu.

Karena tempat mereka berdua berkelahi menjadi terbuka tanpa adanya pengeroyokan, Ngo-beng Kui-ong sekali loncat dapat menyambar tubuh Pangeran Bouw Hun Ki.

Begitu menotok punggung Pangeran Bouw Hun Ki sehingga pangeran itu terkulai lumpuh, dia terus mengempit dan membawanya melompat jauh.

Melihat ini, para panglima pendukung kerajaan terkejut dan hendak menolong, akan tetapi mereka tidak berani bergerak ketika melihat Ngo-beng Kui-ong mendekatkan jari-jari tangan membentuk cakar kepada kepala Bouw Hun Ki sambil berseru.

"Siapa berani menghalangiku, kuhancurkan kepalanya!"

Bahkan Nyonya Bouw yang melihat betapa suaminya ditangkap Ngo-beng Kui-ong yang secara licik meninggalkannya tadi, perbuatan yang sama sekali tidak ia sangka-sangka, menjadi pucat dan marah sekali.

Akan tetapi wanita perkasa ini pun bukan seorang berbatin lemah yang tidak mampu mengendalikan perasaannya sendiri.

Dia maklum bahwa Ngo-beng Kui-ong tidak mempunyai alasan lain dalam menculik suaminya kecuali untuk mempergunakannya sebagai sandera agar dia dapat meloloskan diri.

Tidak ada alasan lain karena kakek yang seperti mayat hidup itu hanyalah merupakan orang kiriman Jenderal Wu Sam Kwi untuk membantu gerakan Pangeran Cu Kiong.

Jadi, kurang kuat alasannya untuk membunuh Pangeran Bouw.

Pasti hanya untuk sandera agar dia dapat meloloskan diri keluar kota raja.

Maka, ia pun cepat melakukan pengejaran, hanya membayangi saja, tidak berani terlalu dekat karena khawatir hal itu akan membahayakan nyawa suaminya.

Tidak ada yang tahu akan peristiwa terculiknya Pangeran Bouw Hun Ki oleh Ngo-beng Kui-ong lalu dikejar Nyonya Bouw keluar dari medan pertempuran karena semua orang sibuk sendiri bertempur menghadapi lawan masing-masing yang cukup tangguh.

Pertempuran terus berlanjut dan sudah banyak korban dari kedua pihak berjatuhan.

Sementara itu, tiga puluh orang prajurit yang ditinggalkan di istana Pangeran Cu Kiong untuk menjaga agar tawanan Si Han Bu tidak sampai lolos, merasa gelisah.

Mereka tahu bahwa Pangeran Cu Kiong dan semua anak buahnya sedang mencoba untuk merebut tahta kerajaan dan kini sedang bertempur melawan pasukan kerajaan.

Dari tempat mereka berkumpul di rumah tahanan yang berada di belakang istana, mereka dapat mendengar suara orang bertempur yang bergemuruh.

Mereka menjadi gelisah sekali.

Bukan hanya mereka yang merasa gelisah, akan tetapi juga seluruh penghuni istana, yaitu para keluarga Pangeran Cu Kiong dan para pelayan dan pembantu rumah tangga.

Mereka tinggal menanti berita.

Kalau pihak Pangeran Cu menang mungkin kemuliaan menanti mereka, akan tetapi sebaliknya kalau usaha pemberontakan itu gagal, malapetaka menanti mereka!

Si Han Bu yang duduk di atas pembaringan, bersila dan tampak tenang saja.

Dia memang tidak merasa khawatir sama sekali, bukan hanya karena dia maklum bahwa Ngo-beng Kui-ong yang menawannya hendak menggunakan dia untuk membujuk gurunya agar membantu Jenderal Wu Sam Kwi, akan tetapi terutama sekali karena pemuda ini tidak pernah merisaukan sesuatu.

Dia menghadapi segala hal yang menimpa dirinya dengan tenang.

Apa pun yang terjadi, terjadilah!

Dia kini ditawan musuh, ini merupakan sebuah kenyataan.

Perlu apa dirisaukan lagi?

Yang penting tetap tenang dan waspada, tanpa mengkhawatirkan dan membayangkan hal-hal buruk yang mungkin akan datang.

Dia ditawan, ini merupakan sebuah kenyataan yang tak dapat disangkal atau diubah lagi.

Tidak perlu disusahkan, tiada gunanya dikhawatirkan.

Dia ditawan musuh, titik.

Dalam keadaan tenang, pikirannya menjadi jernih dan hatinya tenang menghadapi apa pun yang akan terjadi.

Sekarang dia masih hidup dan selama masih hidup, dia tidak akan pernah putus asa.

Tentu saja sudah menjadi kewajiban setiap orang manusia yang hidup di dunia ini mempertahankan keadaan dirinya, mempertahankan kehidupannya.

Ikhtiar itu wajib.

Kalau lapar mencari makanan, kalau haus mencari minuman, kalau mengantuk tidur, kalau sakit mencari obatnya.

Setiap orang harus menjaga kehidupan dirinya sendiri, bahkan setiap mahluk harus melakukannya, kalau ia masih ingin hidup.

Sekarang pun dia harus berupaya untuk dapat meloloskan dari tahanan.

Tidak perlu mengotori otaknya dengan semua ketakutan, kesusahan, atau kekhawatiran dengan membayangkan masa depan yang belum tiba.

Otak harus bersih untuk dapat berdaya upaya menolong dirinya sendiri.

Maka ia duduk bersamadhi, untuk menenangkan hati dan akal pikirannya, dan untuk menghimpun tenaganya yang mungkin kalau peluangnya ada, akan dia perlukan.

Kita kembali ke medan pertempuran yang kini semakin menjauhi istana kaisar karena pemberontak mulai terdesak mundur dan keluar dari daerah istana.

Yang berkelahi dengan seru dan mati-matian terutama sekali adalah Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa melawan Lam-hai Cin-jin, jagoan paling lihai dari pihak pemberontak setelah Ngo-beng Kui-ong yang sudah melarikan diri menculik Pangeran Bouw Hun Ki dan dikejar Nyonya Bouw keluar kota raja.

Dengan pedangnya, Thian Hwa melawan mati-matian karena harus diakuinya bahwa Lam-hai Cin-jin merupakan seorang lawan yang amat tangguh.

Tingkat kepandaian Koksu (Guru Negara) dari Yunnan-hu ini hanya berada di bawah Ngo-beng Kui-ong, itu pun selisihnya tidak banyak walaupun kakek mayat hidup itu merupakan paman gurunya.

Senjata di tangan Lam-hai Cin-jin amat menyeramkan.

Sebuah tongkat ruyung berduri yang mengandung racun sehingga lawan dapat terbunuh hanya oleh luka yang tidak berbahaya karena racunnya akan menjalar ke dalam tubuh korban.

Selain tongkat ruyung berduri yang ganas itu, juga tangan kiri Lam-hai Cin-jin menyelingi serangan ruyungnya dengan pukulan jarak jauh Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam).

Setiap tangan kirinya melancarkan serangan ini, telapak tangannya berubah hitam dan dari telapak tangan itu menyambar uap hitam beracun!

Thian Hwa harus bekerja keras menghadapi pukulan Hek-tok-ciang dan sambaran ruyung berduri itu.

Ia mula-mula mainkan Kwan-im Kiam-sut (Ilmu Pedang Kwan Im) yang lembut indah dan kokoh pertahanannya.

Namun lama-lama ia maklum bahwa menghadapi lawan seperti Lam-hai Cin-jin yang demikian lihainya, kalau hanya bertahan saja akhirnya ia sendiri yang akan terancam bahaya.

Melawan seorang yang demikian lihainya, menyerang merupakan pertahanan yang lebih menguntungkan.

Maka ia lalu mengubah ilmu pedangnya.

Kini ia mainkan Huang-ho Kiam-hoat (Ilmu Pedang Sungai Kuning) yang tidak selembut Kwan-im Kiam-sut namun Huang-ho Kiam-hoat ini memiliki gerakan yang dahsyat penuh dengan serangan yang bergelombang.

seperti membanjirnya air Sungai Kuning yang terkenal itu.

"Cring-tranggg...!"

Bunga api berpijar-pijar ketika pedang itu untuk ke sekian kalinya bertemu dengan ruyung.

"Wuuuuttt...!"

Tangan kiri Lam-hai Cin-jin menyambar dan uap hitam meluncur ke arah kepala Thian Hwa. Gadis perkasa itu miringkan tubuhnya dan cepat menggunakan tangan kiri untuk menangkis.

"Dukk...!"

Lengan tangan kiri Thian Hwa yang berkulit putih halus dan mungil itu bertemu dengan lengan yang besar pendek dipenuhi bulu kasar.

Biarpun Thian Hwa sudah dapat menduga akan kekuatan lawan dan dara ini tadi sudah mengerahkan sin-kang sekuatnya, tetap saja tubuhnya terpental dan terhuyung ke belakang saking kuatnya pertemuan tenaga sakti mereka.

Thian Hwa terkejut karena dia tidak menduga bahwa pukulan tangan kiri Lam-hai Cin-jin sedahsyat itu.

Pada saat itu, Lam-hai Cin-jin sudah melompat ke depan dan ruyungnya menyambar ke arah kepala Thian Hwa!

Dalam keadaan yang amat gawat itu, berkelebat bayangan putih dan sebuah sinar pedang meluncur dan menangkis ruyung itu.

"Singg... trranggg...!"

Lam-hai Cin-jin terkejut sekali ketika ruyungnya tertangkis sebatang pedang dan yang membuat tangannya tergetar hebat.

Pada saat itu ada hembusan angin kuat menyambar.

Kiranya ada kipas yang menyerangnya.

Dia tahu berhadapan dengan lawan kuat.

Cepat dia melempar diri ke belakang dan berjungkir balik tiga kali.

Ketika dia memandang, seorang wanita berpakaian putih, berusia empat puluh tahun lebih namun masih cantik, telah berdiri, pedang di tangan kanannya dan kipas di tangan kirinya.

"Im-yang Sian-kouw...!"

Katanya kaget dan maklum bahwa akan sulit menghadapi pengeroyokan dua orang wanita sakti itu dia lalu melompat jauh menghilang di antara para prajurit yang sedang bertempur.

Thian Hwa tidak mengejar karena mengejar pun percuma mencari seorang di antara demikian banyaknya prajurit yang bertempur.

Pula ia amat tertarik mendengar disebutnya nama tadi.

Ia menghampiri wanita itu dan bertanya.

"Apakah... Bibi ini Im-yang Sian-kouw...?"

Im-yang Sian-kouw mengangguk dan sejak tadi pun ia sudah kagum melihat sepak terjang gadis muda yang berani melawan Lam-hai Cin-jin dengan demikian gigihnya.

Ia mengangguk sambil tersenyum, akan tetapi sebelum ia sempat bertanya, Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa sudah berkata dengan hati tegang.

"Bibi, cepat, Bibi. Kita harus pergi menolong murid Bibi...."

"Muridku?"

"Ya, bukankah Si Han Bu itu murid Bibi?"

Im-yang Sian-kouw terkejut.

"Benar, di mana dia? Apa yang terjadi dengan dia?"

"Nanti saja kuceritakan, Bibi. Sekarang yang terpenting kita harus menolong dan membebaskannya. Mungkin dia tertawan di rumah Pangeran Cu Kiong, Si Pemberontak itu. Mari, Bibi!"

Huang-ho Sian-li melompat dengan cepat sekali sehingga Im-yang Sian-kouw harus mengerahkan gin-kang untuk menyusul gadis itu.

Hatinya tentu saja merasa gelisah mendengar murid yang disayang seperti anak sendiri itu tertawan musuh.

Setelah mereka berlari secepat terbang, Im-yang Sian-kouw mendapat kenyataan betapa gadis itu dapat berlari cepat sekali, tidak kalah olehnya!

"Apa...

apa dia masih hidup?"

Tanyanya khawatir.

"Mudah-mudahan saja, Bibi!"

Ketika mereka tiba di istana Pangeran Cu Kiong, keadaan di situ sunyi. Maklum, pasukan telah meninggalkan tempat itu untuk ikut menyerbu istana kaisar.

"Tempat tahanan berada di belakang, mari kita ke sana, Bibi!"

Kata Thian Hwa dan dua orang Wanita perkasa itu melayang ke atas wuwungan istana dan menyelidiki di bagian belakang.

Ketika tiba di ruangan tahanan yang telah dikenal baik oleh Thian Hwa, mereka berdua melihat tiga puluh orang prajurit sibuk melepaskan anak panah ke dalam sebuah kamar tahanan melalui jeruji besi yang kokoh kuat.

Di dalam ruangan itu, mereka melihat seorang pemuda yang bukan lain adalah Si Han Bu, bergerak-gerak lincah, mengelak dan menangkisi puluhan batang anak panah yang menyambar dari depan.

Masih untung baginya bahwa di belakangnya adalah dinding sehingga para prajurit itu tidak dapat mengepung dan menyerangnya dari belakang atau samping, hanya dari depan.

Ternyata tiga puluh orang prajurit yang ditinggalkan Pangeran Cu Kiong untuk menjaga tawanan itu semakin gelisah mendengar berita bahwa pasukan pendukung Pangeran Cu Kiong tampaknya terdesak.

Maka, karena mereka ingin sekali segera pergi dari situ, baik untuk membantu perang ataupun untuk lari menyelamatkan diri, mereka serentak mengambil keputusan untuk membunuh tawanan dengan menyerang dengan anak panah dari luar ruangan tahanan!

Betapa pun lihainya Si Han Bu, dihujani anak panah oleh tiga puluh orang prajurit tanpa dia memegang senjata untuk melindungi dirinya, sungguh merupakan hal yang merepotkannya.

Sudah ada dua batang anak panah yang melukai pundak dan pahanya.

Walaupun dua batang anak panah itu tidak menembus pundak dan paha, namun tetap saja dua bagian tubuhnya itu lecet-lecet dan berdarah.

Han Bu lalu melompat dan mengangkat dipan yang menjadi tempat tidurnya, dan setelah dia menggunakan dipan untuk melindungi diri dari keroyokan anak panah, keadaannya agak membaik.

Dia tidak repot sekali, namun tetap saja dia sama sekali tidak mampu membalas.

Tiba-tiba terdengar bentakan suara wanita.

"Pertahankan, Han Bu!"

"Subo...!"

Han Bu girang sekali mendengar suara gurunya dan dia menjadi lebih gembira melihat Huang-ho Sian-li juga datang bersama subonya.

Tentu saja Han Bu sudah tahu, bahkan sudah merasa yakin bahwa Im-yang Sian-kouw sesungguhnya dulu bernama Cui Eng, puteri dari Cui Sam atau ibu kandung dari Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa!

Dua orang wanita itu lalu mengamuk.

Begitu mereka melayang turun dari atas genteng, tubuh mereka berkelebatan bagaikan dua ekor burung rajawali menyambar-nyambar dan para prajurit itu berpelantingan roboh!

Dalam waktu sebentar saja, dua belas orang prajurit sudah roboh dan tak dapat bangun lagi.

Yang lainnya menjadi panik dan ketakutan.

Mereka tanpa dapat dikomando lagi lalu melarikan diri meninggalkan bangunan tempat tahanan, bahkan terus melarikan diri keluar dari istana Pangeran Cu Kiong.

Im-yang Sian-kouw cepat membuka pintu kamar tahanan dan Han Bu keluar sambil tersenyum.

"Wah, untung Subo dan Huang-ho Sian-li datang menolong. Kalau tidak tentu aku akan mati!"

"Bagaimana luka di pundak dan pahamu?"

Im-yang Sian-kouw memandang ke arah baju bagian pundak dan celana di paha yang robek dan berdarah.

"Tidak apa-apa, Subo, hanya lecet sedikit."

"Bibi dan Si Han Bu, mari kita cari senjata kita yang dirampas, lalu cepat kembali ke istana membantu pasukan yang bertahan terhadap serbuan para pemberontak!"

Mendengar ucapan Huang-ho Sian-li, guru dan murid itu mengangguk dan mereka cepat mencari pedang Kwan-im-kiam dan kantung Pek-hwa-ciam milik Thian Hwa yang dirampas, juga pedang Im-yang-kiam dan kipas Im-yang-po-san milik Si Han Bu.

Mereka tidak mempedulikan keluarga dan para pelayan Pangeran Cu Kiong yang ketakutan dan setelah mencari di kamar Pangeran Cu Kiong, gadis dan pemuda itu menemukan senjata mereka.

Dengan girang mereka lalu membawa senjata mereka dan bersama Im-yang Sian-kouw cepat kembali ke tempat pertempuran yang masih berlangsung.

Mereka tidak sempat untuk bicara karena pertempuran masih berlangsung dan Huang-ho Sian-li mendesak guru dan murid itu untuk bergegas ke istana dan membantu pasukan kerajaan.

Pertempuran masih berlangsung ramai walaupun pasukan pemberontak terus terdesak mundur.

Juga terjadi perubahan besar dalam pertempuran antara jagoan-jagoan pendukung pemberontak melawan para pembela kerajaan.

Setelah pihak pemberontak ditinggalkan jagoan yang paling sakti, yaitu Ngo-beng Kui-ong, maka banyak di antara teman-temannya yang menjadi jerih.

Ang-mo Niocu Yi Hong yang cerdik dan licik itu merasa gentar setelah melihat Ngo-beng Kui-ong melarikan diri sambil menculik Pangeran Bouw Hun Ki.

Ia melihat betapa gurunya, Lam-hai Cin-jin, juga hanya mampu mendesak Thian Hwa akan tetapi lalu muncul seorang wanita setengah tua cantik yang amat lihai yang membuat gurunya lari terbirit-birit!

Lam-hai Cin-jin dan Ngo-beng Kui-ong sudah melarikan diri, tidak ada harapan lagi untuk menang!

Ang-mo Niocu yang cerdik berpikir.

Biarpun pemberontakan itu gagal, setidaknya ada keuntungannya bagi Jenderal Wu Sam Kwi, pertama karena pemberontakan itu melemahkan Kerajaan Mancu.

Kedua kalinya, ia telah memiliki Tek-pai dari Kaisar Shun Chi dan ia percaya Tek-pai ini amat berguna bagi pemimpinnya.

Kalau ia serahkan Tek-pai itu kepada Jenderal Wu Sam Kwi, tentu ia mendapatkan pahala besar!

Maka, untuk apa membahayakan dan mengorbankan nyawanya hanya untuk membela Pangeran Cu Kiong yang bagaimanapun hanya seorang pangeran penjajah Mancu?

Maka, sambil berteriak melengking ia menusukkan payung pedangnya dan ketika ditangkis, mendadak dari ujung payung pedang itu meluncur Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) sebanyak tujuh batang menyerang ke arah Bu Kong Liang yang menjadi lawannya!

Murid Siauw-lim-pai yang tangguh itu cepat memutar siang-kek (sepasang tombak pendek bercabang) sambil melompat tinggi ke atas lalu berjungkir balik ke belakang sehingga sebagian jarum-jarum merah itu tertangkis dan sebagian lagi dapat dielakkannya.

Ketika dia turun kembali, Ang-mo Niocu sudah tidak berada di depannya.

Wanita ini merasa ketakutan ketika ia melihat Huang-ho Sian-li dan Im-yang Sian-kouw yang tadi membuat gurunya lari terbirit-birit sudah datang lagi di tempat itu.

Maka ia cepat menyelinap di antara para prajurit dan menghilang!

Thio Kwan yang bertanding melawan Bouw Hwi Siang, dapat mengimbangi gadis itu, bahkan tampak lebih kuat.

Demikian pula Yu Kok Lun dapat mendesak Gui Siang In.

Akan tetapi Bu Kong Liang yang ditinggal lari Ang-mo Niocu segera membantu dua orang gadis itu sehingga Thio Kwan dan Yu Kok Lun terkejut dan terdesak terus.

Tak lama kemudian, kedua orang dari Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa Kam-keng) yang mengabdi kepada Pangeran Cu Kiong itu, tewas pula.

Kam-keng Chit-sian kini habis, tinggal seorang saja, yaitu Ciang Sun, akan tetapi sudah lama dia meninggalkan Pangeran Cu Kiong.

Bouw Hwi Siang, Gui Siang In, dan Bu Kong Liang kini membantu Bouw Kun Liong yang masih bertanding ramai melawan Mong Lai.

Orang Mongol ini memang tangguh sekali.

Selain bertenaga gajah, ilmu silat campur ilmu gulatnya juga berbahaya, ditambah lagi dia menguasai ilmu sihir sehingga tadi dia sempat membuat Bouw Kun Liong kewalahan.

Akan tetapi setelah tiga orang itu maju mengeroyok, Mong Lai menjadi repot dan akhirnya dia pun roboh dan tewas.

Melihat Pangeran Cu Kiong masih saja berteriak-teriak memberi semangat kepada pasukannya tanpa melihat kenyataan bahwa tiga orang jagoannya, Thio Kwan, Yu Kok Lun, dan Mong Lai telah tewas, sedangkan mereka yang dia andalkan, Ngo-beng Kui-ong, Lam-hai Cin-jin, dan Ang-mo Niocu juga sudah melarikan diri meninggalkan pertempuran, Si Han Bu melompat dengan sigapnya dan sekali tangannya menampar, Pangeran Cu Kiong tidak mampu menghindarkan diri dan dia tertampar roboh.

Dia mencoba untuk bangkit, akan tetapi Han Bu sudah menggerakkan pedangnya.

"Si Han Bu, jangan bunuh dia!"

Terdengar Huang-ho Sian-li berseru dari belakang dan ia pun menolak lengan kanan Han Bu sehingga pedang yang sudah ditodongkan itu menjauh dari leher Pangeran Cu Kiong! "Ha-ha-ha!"

Pangeran Cu Kiong tersenyum getir.

"Huang-ho Sian-li, apakah engkau masih ada perasaan cinta kepadaku sehingga tidak tega melihat aku terbunuh?"

Mendengar ini, Thian Hwa merasa sedih juga karena harus ia akui bahwa Pangeran Cu Kiong adalah cinta pertamanya!

Walaupun kini ia tidak mempunyai perasaan cinta kepada pangeran yang licik, kejam dan berkhianat itu, namun tetap saja kemesraan dalam hatinya yang dulu masih membekas.

"Pangeran Cu Kiong, dosamu sudah bertumpuk dan sebetulnya sudah sepatutnya kalau engkau dibunuh. Akan tetapi aku mau menukar jiwamu dengan Tek-pai milikku pemberian Kaisar. Kembalikan Tek-pai padaku dan aku tidak akan membunuhmu!"

Tiba-tiba Pangeran Cu Kiong tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, jangan harap mendapatkan Tek-pai itu, Huang-ho Sian-li! Tek-pai itu telah dibawa pergi Ang-mo Niocu Yi Hong untuk diserahkan kepada Jenderal Wu Sam Kwi!"

"Aku akan mengejar dan mengambilnya kembali!"

Tiba-tiba Si Han Bu berkata dan tubuhnya berkelebat, pergi dari situ.

"Si Han Bu...!"

Huang-ho Sian-li melarang, akan tetapi Im-yang Sian-kouw tersenyum.

"Biarkan saja, anak itu sukar dihalangi kalau sudah mempunyai kehendak. Dia dapat menjaga diri dan aku hampir yakin dia akan mampu mengambil Tek-pai itu kembali."

THIAN HWA lalu bergerak cepat, menotok jalan darah di tubuh Pangeran Cu Kiong sehingga tidak mampu bergerak lagi.

Kemudian, tiba-tiba ia memanggul tubuh pangeran itu dan membawanya melompat ke atas.

Setelah tiba di puncak menara, di bawah sinar matahari yang telah naik tinggi, ia berseru dengan pengerahan khi-kang sehingga suaranya terdengar nyaring dan menggema ke seluruh penjuru.

"Para pasukan pemberontak, dengar dan lihatlah! Pangeran pemberontak Cu Kiong yang berkhianat terhadap kerajaan telah kami tawan. Juga semua kaki tangannya telah ditumpas, banyak yang mati dan sebagian melarikan diri. Kalau kalian, yang masih prajurit pasukan kerajaan, membuang senjata, berlutut dan menyerah, masih bisa diharapkan pengampunan bagi kalian. Kalau nekat bertempur tanpa pimpinan lagi, kalian semua pasti binasa!"

Tadinya para prajurit pemberontak ragu-ragu, akan tetapi begitu ada seorang prajurit yang membuang senjata dan berlutut, hal itu seperti merupakan komando dan akhirnya mereka semua berlutut dan membuang senjata mereka.

Berakhirlah perang saudara itu dan pemberontakan Pangeran Cu Kiong itu gagal sama sekali!

Para prajurit yang ikut memberontak dan kini menyerahkan diri mendapat pekerjaan berat, yaitu mengurus ratusan mayat yang menjadi korban pertempuran dan merawat lebih banyak lagi mereka yang luka-luka.

Juga mereka diharuskan melakukan pembersihan di bekas tempat pertempuran yang dinodai darah.

Rakyat penduduk kota raja yang tadinya banyak melarikan diri mengungsi, perlahan-lahan kembali ke rumah masing-masing.

*** Kini baru Im-yang Sian-kouw sempat berhadapan dengan Huang-ho Sian-li.

Setelah membiarkan Si Han Bu pergi mencari Tek-pai dan Huang-ho Sian-li membawa Pangeran Cu Kiong naik ke menara dan gadis perkasa itu berhasil mengakhiri perang dan membuat semua prajurit pemberontak menyerahkan diri, Im-yang Sian-kouw memandang gadis itu dengan sinar mata penuh kagum.

Pangeran Cu Kiong telah diserahkan kepada panglima untuk ditahan dalam penjara.

"Nona, ketika mula-mula tiba di kota raja dan mendengar akan nama besar Huang-ho Sian-li, aku masih belum percaya bahwa ada seorang gadis yang masih muda seperti engkau ini selain memiliki ilmu kepandaian yang lihai sekali, juga dapat bersikap tegas dan bijaksana seperti seorang panglima perang! Nona, siapakah gurumu?"

"Guruku bernama Thian Bong Sianjin, Bibi. Akan tetapi, Bibi Im-yang Sian-kouw, ilmu kepandaianmu lebih hebat lagi, bahkan kalau tidak ada muridmu Si Han Bu yang menolongku keluar dari tahanan, mungkin sekarang aku sudah mati."

"Aih, hal itu tidak perlu dibicarakan lagi, Nona. Sudah semestinya orang-orang segolongan dan sehaluan saling membantu tanpa pamrih. Eh, apa artinya ucapan Pangeran Cu Kiong itu? Benarkah bahwa engkau... mencintanya? Maafkan pertanyaanku ini karena sungguh aku merasa bingung mendengarnya. Apakah hubunganmu dengan pangeran pemberontak itu?"

Huang-ho Sian-li tersenyum menghela napas panjang.

"Sebetulnya kami masih merupakan saudara sepupu, Bibi. Dia itu putera Pamanda Kaisar Shun Chi, sedangkan aku adalah puteri seorang pangeran...."

"Wah! Kiranya engkau ini puteri pangeran? Ah, pantas kalau begitu. Siapakah ayahmu, kalau aku boleh mengetahui?"

Dalam suara Im-yang Sian-kouw terdengar getaran aneh dan sinar matanya kini dengan tajam penuh selidik menatap wajah Thian Hwa.

"Ayahku bernama Ciu Wan Kong, seorang adik Kaisar Shun Chi.... eh, kenapa Bibi...?"Thian Hwa hampir saja meloncat untuk menangkap tubuh Im-yang Sian-kouw yang tiba-tiba terhuyung dan wajahnya tampak pucat sekali. Siapa yang akan dapat bertahan mendengar pengakuan seorang gadis cantik jelita dan gagah bahwa gadis itu adalah puteri suaminya? Akan tetapi Im-yang Sian-kouw adalah seorang wanita gemblengan yang sudah banyak mengalami hal-hal yang amat hebat sehingga batinnya sudah menjadi kuat. Ia tersenyum, memandang Thian Hwa dan menggelengkan kepalanya dengan lembut.

"Tidak apa-apa... tidak apa-apa... engkau... eh, siapakah namamu, anak yang baik?"

"Namaku Ciu Thian Hwa, Bibi."

Im-yang Sian-kouw terdiam sejenak.

Ia sengaja tidak mengeluarkan suara lagi karena jantungnya berdebar kencang dan ia tahu bahwa sekuat-kuat hatinya, pada saat itu tetap saja suaranya akan terdengar gemetar penuh perasaan haru dan sangsi.

Ya, ia masih sangsi bahkan tidak percaya akan dugaannya yang muncul bahwa gadis ini adalah puterinya!

Tidak, tidak mungkin!

Pasti anak ini merupakan keturunan lain dari Pangeran Ciu Wan Kong, atau tentu ada keterangan lain.

Tidak mungkin sama sekali gadis ini adalah anaknya yang ketika masih bayi bersama ia dan ayahnya hanyut terbawa arus air Sungai Kuning yang demikian dahsyatnya.

"Engkau kenapa, Bibi?"

Kembali Thian Hwa bertanya melihat wanita itu kini diam saja termenung.

"Thian Hwa, maukah engkau memperkenalkan aku dengan keluargamu?"

Tanyanya lirih.

"Tentu saja, Bibi! Murid Bibi itu pun sudah bertemu dengan ayahku. Mari, Bibi, kita pergi ke rumah Ayah, akan tetapi maklum, aku tadi mendengar kabar bahwa rumah Ayah dirampok dan dibakar oleh gerombolan pemberontak. Ayah sudah mendahului ke sana untuk memeriksa dan membereskannya."

Im-yang Sian-kouw tidak banyak bicara lagi dan kedua kakinya bergerak cepat, bagaikan melayang ia meninggalkan tempat itu.

Thian Hwa cepat mengejarnya dan gadis ini sampai lupa dan tidak memperhatikan bahwa wanita cantik itu langsung menuju ke arah rumah ayahnya!

Tentu saja hal ini tidak aneh karena Im-yang Sian-kouw yang dulu bernama Cui Eng itu sudah hafal akan letak rumah Pangeran Ciu Wan Kong yang juga menjadi tempat tinggalnya!

Setelah tiba di depan gedung tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong, Im-yang Sian-kouw berhenti dan berdiri dengan hati diliputi keharuan.

Ia tentu saja mengenal benar rumah besar itu, di mana ia tinggal sejak kecil sampai menjadi dewasa, bekerja sebagai pelayan, kemudian menjadi kekasih Pangeran Ciu Wan Kong.

Pot-pot bunga seruni yang berjajar di depan gedung itu masih berdiri dan pada saat itu sedang berbunga.

Akan tetapi bagian kanan rumah itu terdapat bekas terbakar, hangus dan barang-barang berserakan.

Ia melihat banyak prajurit sedang membersihkan tempat itu.

"Bibi, biar aku mencari Ayah dan memberitahukan akan kedatanganmu,"

Kata Thian Hwa.

Im-yang Sian-kouw tidak menjawab, masih berdiri seperti patung memandang rumah itu.

Thian Hwa berlari memasuki gedung dan ia menemukan ayahnya sedang mengumpulkan barang-barang berharga yang dapat diselamatkan dari kebakaran, menyusunnya dalam kamar ayahnya, dibantu oleh Cui Sam, kakeknya.

"Ayah! Kong-kong!"

"Thian Hwa, rumah ayahmu dirampok dan dibakar jahanam-jahanam itu!"

Kata Kakek Cui Sam gemas.

"Ah, tidak mengapa. Ini masih baik karena bagaimanapun juga, pihak pemberontak berhasil dihancurkan, bukan begitu, Thian Hwa?"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong dengan wajah gembira.

Dia tadi mendengar akan sepak terjang puterinya yang hebat mengagumkan, yang telah menawan Pangeran Cu Kiong dan membawanya ke puncak menara di mana dengan gagah beraninya Thian Hwa berhasil membuat para sisa pemberontak membuang senjata dan menakluk!

Perbuatan itu amat hebat dan menjadi buah bibir dan pujian seluruh rakyat.

"Harta benda hilang bisa dicarikan penggantinya, yang terpenting adalah nama dan kehormatan keluarga dan engkau telah menjunjung tinggi sekali nama dan kehormatan keluarga kita, Anakku!"

Kata pula Pangeran Ciu Wan Kong.

"Ayah, aku datang bersama seorang tamu."

"Eh? Mana tamunya? Siapa?"

"Bibi Im-yang Sian-kouw, Ayah."

"Im-yang Sian-kouw?"

Tanya pangeran itu ragu karena merasa tidak mengenal nama itu.

"Hemm, agaknya Ayah telah lupa lagi akan keterangan pemuda bernama Si Han Bu itu."

"Si Han Bu...? Ah, ya, maksudmu guru Si Han Bu yang katanya tahu di mana adanya ibumu itu? Ah, cepat persilakan ia masuk ke sini. Thian Hwa."

Lalu dia berkata kepada Cui Sam.

"Gak-hu (Ayah Mertua), mari kita bersihkan tempat ini dan persiapkan untuk menerima tamu kita. Ia akan memberitahu tentang Cui Eng!"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong dan mereka berdua segera sibuk membereskan ruangan tamu untuk menyambut Im-yang Sian-kouw.

Baru saja mereka selesai membersihkan kamar tamu yang tidak ikut terbakar itu, Thian Hwa dan Im-yang Sian-kouw muncul di ambang pintu.

"Ayah, inilah Bibi Im-yang Sian-kouw yang telah menyelamatkan nyawaku ketika aku terancam oleh Lam-hai Cin-jin!"

Kata Thian Hwa. Pangeran Ciu Wan Kong sedang memegang sebuah vas kembang dan membersihkannya dari debu. Dia memutar tubuh memandang dan...

"pyarrr...!"

Vas itu terlepas dan terjatuh pecah berkeping-keping di atas lantai.

Dia berdiri bengong terlongong dengan wajah pucat.

Thian Hwa terkejut, memandang Im-yang Sian-kouw dan melihat betapa wanita itu menundukkan mukanya yang pucat dan perlahan-lahan butiran air mata menuruni kedua pipinya!

"Cui Eng...!

Cui Eng...

Ya Tuhan...

benar-benar engkaukah ini...?

Cui Eng, isteriku...?"

Suara ini terdengar menggigil, bahkan kedua lengan pangeran itu pun menggigil.

"Pangeran...."

Suara Im-yang Sian-kouw lirih dan sesenggukan.

"Cui Eng...! Engkau benar Cui Engku...!"

Tiba-tiba Pangeran Ciu Wan Kong tersaruk-saruk maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan wanita itu!

"Cui Eng, ampunkan aku...

Aku demikian lemah sehingga tidak berani menentang kehendak orang tuaku...

aku telah berdosa kepadamu, telah membuat hidupmu, hidup Gak-hu (Ayah Mertua) dan hidup anak kita menderita...

ampunkan aku, Cui Eng...."

Im-yang Sian-kouw menahan perasaan harunya.

"Pangeran, bangkit dan berdirilah. Kalau engkau menyadari bahwa dulu engkau amat lemah, mengapa sekarang tidak berubah dan masih amat lemah?"

"Cui Eng... terima kasih engkau telah kembali...."

"Berdirilah, Pangeran. Dengar, aku tidak ingin kembali kepadamu yang sudah mengusirku. Aku hanya datang untuk mendengar tentang ayah dan anakku...."

"Cui Eng, aku di sini..,."

Tiba-tiba Cui Sam yang sejak tadi hanya melongo saja di sudut ruangan, kini maju menghampiri puterinya.

"Ayah...!"

Cui Eng berseru dan ia segera berlutut di depan kaki Cui Sam. Kakek itu mengangkatnya dan mereka pun berangkulan sambil menangis.

"Cui Eng, inilah anak kita, Ciu Thian Hwa. Thian Hwa, cepat beri hormat kepada ibumu!"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong yang sudah bangkit berdiri.

Sejak tadi Thian Hwa berdiri dengan muka pucat, tidak bergerak seperti patung.

Sama sekali ia tidak pernah menduga bahwa Im-yang Sian-kouw adalah Cui Eng ibunya!

Bagaimana ia dapat menduganya?

Ia mendengar dari kakek dan ayahnya bahwa Cui Eng adalah seorang wanita lemah yang sama sekali tidak paham ilmu silat.

Sedangkan Im-yang Sian-kouw merupakan seorang wanita yang demikian sakti!

Maka biarpun ayahnya menyuruh ia memberi hormat kepada Im-yang Sian-kouw sebagai ibunya, ia masih ragu-ragu dan hanya memandang dengan sinar mata mencorong penuh selidik.

Sebaliknya, Im-yang Sian-kouw juga belum dapat menerima dan percaya begitu saja bahwa Huang-ho Sian-li adalah anak kandungnya yang dulu belum ia beri nama ketika terlepas dari pondongan dan hanyut dalam Sungai Kuning.

"Pangeran Ciu Wan Kong! Ayah, harap jangan membohongi aku. Bagaimana mungkin anak ini adalah anakku yang ketika bayi hanyut di air Sungai Huang-ho? Bagaimana mungkin...?"

Suara wanita itu kini tergetar mengandung isak. Tiba-tiba Cui Sam berkata dengan suara seorang ayah yang marah dan menegur puterinya.

"Cui Eng! Jangan keraskan hatimu karena dendam kebencian! Ketahuilah bahwa Ciu Wan Kong juga menderita, bahkan tidak kalah menderitanya dibandingkan kita! Dia bahkan tidak pernah menikah dan telah dikenal sebagai orang yang sinting karena duka memikirkan dirimu! Panjang ceritanya bagaimana anakmu ini dapat selamat bahkan kini menjadi seorang pendekar wanita. Apa anehnya? Engkau sendiri juga dahulu seorang wanita lemah dan kini telah menjadi seorang wanita sakti. Pandanglah baik-baik, andaikata pikiranmu yang penuh dendam kepada Pangeran Ciu itu mencoba untuk menyangkal, pandanglah muka Ciu Thian Hwa! Tidakkah engkau dapat melihat, apakah matamu telah buta untuk dapat melihat betapa anakmu ini memiliki wajah seperti kembar dengan wajahmu? Thian Hwa, inilah Cui Eng, ibumu yang selama ini kau rindukan!"

Mendengar ucapan Cui Sam yang marah itu, bagaikan bendungan air pecah, kedua orang wanita itu mengeluarkan rintihan jerit hati dan mereka tersedu-sedu lalu entah siapa yang lebih dulu, mereka saling tubruk dan saling rangkul.

Dua orang wanita ini hampir tidak dapat mengeluarkan suara.

"Ibu...!"

"Anakku... Anakku...!"

Keduanya menangis tersedu-sedu, bagaikan air bah yang membanjir setelah bendungannya bobol.

Im-yang Sian-kouw merangkul, menciumi muka Thian Hwa yang basah dengan air mata mereka, lalu menekan muka anaknya itu ke dadanya seperti seorang ibu hendak menyusui bayinya.

Dapat dibayangkan betapa mendalam rasa haru di dalam dada hati dua orang wanita itu.

Keduanya sama sekali tidak pernah mengira bahwa mereka akan dapat saling bertemu.

Thian Hwa yang sejak bayi terpisah dari ibunya dan ditemukan Thian Bong Sianjin hanyut di air Sungai Huang-ho, menganggap ibunya tentu sudah tewas.

Demikian pula, seujung rambut pun tidak pernah mengira bahwa anaknya yang masih bayi dapat selamat dari air sungai yang besar dan ganas itu.

Keharuan yang mendalam itu timbul dari perasaan duka, sakit hati, juga rasa bahagia yang luar biasa.

Selama ini Cui Eng atau Im-yang Sian-kouw tidak mau pergi ke kota raja untuk menemui suaminya karena ia merasa sakit hati sekali atas pengusiran terhadap dirinya.

Yang membuat ia mendendam terutama sekali karena ia kehilangan anaknya.

Ia menganggap bahwa Pangeran Ciu Wan Kong telah memusnahkan semua kebahagiaannya, membunuh anaknya dan membunuh ayahnya, membuat ia merana dan hampir mati kalau saja tidak ditolong Bu Beng Kiam-sian.

Betapa pun hebatnya perasaan haru mencekam perasaan hati Huang-ho Sian-li dan Im-yang Sian-kouw, namun mereka berdua adalah wanita-wanita yang gagah perkasa dan sudah tergembleng lahir batinnya sehingga selain tenaga badan mereka amat kuat, juga tenaga batin mereka kokoh dan tidak mudah dilumpuhkan perasaan sendiri.

Tak lama kemudian keduanya sudah dapat menguasai hati dan ketenangan mereka, lalu Im-yang Sian-kouw melepaskan rangkulannya kepada puterinya dan menghampiri Cui Sam, lalu ia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki ayahnya itu.

"Ayah...!"

Cui Sam membungkuk dan merangkul puterinya, ditariknya agar berdiri dan kakek ini pun memandang puterinya dengan sepasang mata basah.

"Cui Eng, alangkah bahagianya kita sekeluarga dapat bertemu dan berkumpul kembali seperti ini...."

"Apa yang dikatakan Gak-hu benar, Eng-moi... sekarang tidak ada lagi penghalang bagi kita untuk hidup bersama dengan bahagia, sekeluarga menjadi satu dan tidak akan terpisah lagi,"

Kata Pangeran Ciu Wan Kong. Akan tetapi Im-yang Sian-kouw memandang wajah pangeran itu dengan sinar mata mencorong dan mulut bergaris keras.

"Pangeran Ciu Wan Kong, setelah apa yang kaulakukan terhadap aku dan keluargaku dua puluh tahun yang lalu, bagaimana mungkin aku dapat hidup bersamamu lagi? Tidak, aku tidak mau!"

Cui Sam, Thian Hwa, dan terutama sekali Pangeran Ciu Wan Kong terkejut bukan main mendengar ucapan yang keras dan tegas penuh kepahitan dari Im-yang Sian-kouw.

Akan tetapi ucapan itu sekaligus menikam perasaan Pangeran Ciu Wan Kong seperti ujung sebatang pedang ditusukkan ke ulu hatinya.

"Cui Eng, engkau jangan berkata begitu! Aku menjadi saksinya bahwa yang mengusir kita dulu adalah orang tua Pangeran Ciu, bukan dia. Dia hanya terlalu taat kepada orang tuanya dan tidak berani menentang kehendak mereka. Dan aku tahu betapa dia amat menderita. Dia tidak pernah menikah dan...,"

Kata Cui Sam.

"Aih, Eng-moi, aku mengerti sekarang...!"

Pangeran Ciu Wan Kong tiba-tiba memotong.

"Aku memang tidak pernah menikah, akan tetapi engkau... mungkin saja engkau telah menikah dengan laki-laki lain...."

Suaranya terdengar sedih sekali.

"Huh, memikirkannya juga aku tidak pernah!"

Bentak Im-yang Sian-kouw. Tiba-tiba Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa merangkul ibunya dan menangis.

"Ibu... Ibu... selama aku hidup baru sekarang ini aku ingin memohon sesuatu kepada ibuku. Ibu, aku mohon sukalah kiranya Ibu mengasihani dan memaafkan kelemahan Ayah dahulu, sudilah Ibu kembali kepada Ayah dan hidup bersama kami, Ibu...."

"Memaafkan manusia yang kejam ini? Manusia yang begitu angkuh akan kedudukan dan keturunan, yang memandang rendah rakyat kecil dan miskin seperti aku? Memaafkan manusia yang telah menghancurkan hidupku, yang membuat Ibu Anak dan kakekmu menderita dan hampir tewas? Dan engkau, yang sejak kecil dipisahkan dari ayah ibumu dan kakekmu, yang bahkan tidak sempat diberi nama oleh ibumu, engkau yang sudah digembleng menjadi seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, engkau malah membujuk aku memaafkan manusia yang jahat ini?"

Thian Hwa menjatuhkan diri berlutut dan menciumi kaki ibunya.

"Ibu, harap dengarkan dulu kesaksianku, Ibu. Ketika pertama kali aku mendengar cerita Kakek Cui Sam tentang apa yang Ibu alami di keluarga Ciu, aku juga marah dan bahkan mengambil keputusan untuk membantai keluarga Ciu yang dulu mengusir Ibu. Akan tetapi, orang tua Ayah, yaitu mereka yang dulu mengusir Ibu, telah tiada. Aku marah kepada Pangeran Ciu Wan Kong dan bermaksud menghajarnya. Akan tetapi ketika aku tiba di sini dan melihat Ayah meratapi dan menangisi gambar Ibu seperti orang yang hilang ingatan, aku menyadari bahwa Ayah bukanlah orang jahat. Dia hanya lemah dan tidak berani menentang orang tuanya. Ibu, jahatkah orang yang taat dan tidak mau menentang Ayah Ibunya? Memang, Ayah lemah, akan tetapi sama sekali tidak jahat. Selain itu, aku berani memastikan bahwa Ayah amat mencinta Ibu, sejak dahulu sampai sekarang. Karena itu, sekali lagi, Ibu kembalilah kepada Ayah. Aku ingin sekali melihat Ayahku dan Ibuku hidup rukun dan saling mencinta. Apalagi Kakek Cui Sam juga sudah berada di sini, Ibu. Kita semua dapat merupakan sebuah keluarga lengkap yang hidup berbahagia."

Dengan air mata bercucuran Pangeran Ciu Wan Kong kini berlutut pula di dekat puterinya.

"Eng-moi.... kalau engkau tidak mau memaafkan aku... kalau engkau memang demikian sakit hati kepadaku, aku mohon maaf... bunuhlah aku agar aku dapat menebus semua kesalahanku kepadamu...."

Im-yang Sian-kouw Cui Eng sesungguhnya tidak pernah membenci suaminya ini.

Ia memang menderita sakit hati yang hebat, akan tetapi bukan kepada suaminya melainkan kepada kedua mertuanya yang sekarang telah tiada.

Ia tahu bahwa suaminya amat mencintanya dan ia pun selalu mencinta suaminya.

Kini melihat suaminya, anaknya, juga ayahnya semua memintakan maaf atas kelemahan suaminya, dan melihat suaminya berlutut minta dibunuh, hatinya menjadi cair dan dengan air mata bercucuran ia membangunkan suaminya.

"Bangkitlah, Pangeran, tidak baik seorang suami berlutut di kaki isterinya. Aku... aku memaafkan semua kelemahanmu dahulu."

Empat orang itu bertangis-tangisan, akan tetapi tangis terakhir ini adalah tangis kebahagiaan.

Setelah luapan keharuan mereka mereda, Pangeran Ciu Wan Kong lalu memerintahkan pelayan untuk menyediakan pesta makan keluarga dan mereka makan minum dengan gembira menyambut persatuan kembali keluarga itu.

Selesai makan, barulah mereka saling menceritakan pengalaman masing-masing.

Pangeran Ciu Wan Kong tidak mengalami banyak hal, selama itu seolah dia mati walaupun jasmaninya masih hidup.

Dia tidak melakukan kegiatan apa pun, hanya menyesali dan menangisi kepergian Cui Eng dan anaknya.

Baru setelah muncul Huang-ho Sian-li Ciu Thian Hwa dalam hidupnya, gairah hidupnya bangkit kembali dan dia bahkan terlibat dalam urusan menghadapi para pangeran yang memberontak.

Kemudian Kakek Cui Sam menceritakan pengalamannya.

Ketika mereka bertiga, Kakek Cui Sam, Cui Eng, dan bayinya yang sedang pergi menuju dusun tempat asal mereka, terbawa hanyut air Sungai Huang-ho yang deras, dia kehilangan puteri dan cucunya.

Dia sendiri berhasil menyelamatkan diri dan dalam keadaan sengsara dia kembali ke kota raja dan diterima sebagai pelayan di istana Pangeran Cu Kiong sampai dia bertemu dengan Ciu Thian Hwa yang segera dikenalnya karena wajah gadis itu persis wajah puterinya, Cui Eng.

Kemudian betapa akhirnya dia dibawa Thian Hwa untuk tinggal bersama Pangeran Ciu Wan Kong, mantunya.

Ketika giliran Ciu Thian Hwa tiba, gadis ini menceritakan semua pengalamannya dengan panjang lebar.

Karena Kakek Cui Sam dan Pangeran Ciu Wan Kong sudah pernah mendengar ceritanya, maka yang amat memperhatikan dan mendengarkan dengan hati tertarik sekali adalah Im-yang Sian-kouw.

Thian Hwa bercerita betapa ketika ia yang masih bayi terseret air Sungai Kuning, ia diselamatkan oleh Thian Bong Sianjin dan kemudian menjadi muridnya.

"Aih, jadi engkau murid Thian Bong Sianjin? Aku pernah mendengar namanya disebut mendiang guruku, Bu Beng Kiam-sian!"

Seru Im-yang Sian-kouw girang dan kagum. Pantas puterinya menjadi seorang pendekar wanita yang amat terkenal, kiranya ia menjadi murid, bahkan dirawat dan dibesarkan oleh tosu itu.

"Dan diakah yang memberimu nama Thian Hwa?"

"Benar, Ibu. Kong-kong (Kakek) atau Suhuku itu memberiku nama Thian Hwa."

"Dan julukan Huang-ho Sian-li itu?"

Wajah Thian Hwa berubah kemerahan.

"Ah, itu hanya sebutan dari para penduduk dusun-dusun di sepanjang Huang-ho. Karena aku sering menolong mereka, maka mereka menyebutku demikian."

Gadis itu juga bercerita tentang Ui Yan Bun yang menjadi sahabat baiknya, bahkan juga terhitung suhengnya karena Ui Yan Bun mendapat gemblengan pula dari Thian Bong Sianjin.

"Siapa kau bilang nama pemuda sahabatmu dan Suhengmu tadi?"

Im-yang Sian-kouw memotong.

"Namanya Ui Yan Bun, Ibu."

"Nanti dulu... apakah dia seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tiga tahun, berpakaian serba biru, wajahnya bersih dan sikapnya sopan, tubuhnya tinggi sedang dan senjatanya pedang?"

Kini Thian Hwa memandang ibunya dengan mata terbelalak dan wajah berseri.

"Ibu mengenalnya? Benar, dia adalah pemuda seperti yang Ibu gambarkan!"

"Aku pernah bertemu dengan Ui Yan Bun. Ketika itu, dia datang ke Beng-san bersama seorang gadis bernama Wan Kim Hui. Maksud kedatangan mereka mencarikan obat bagi ibu gadis itu yang terkena pukulan Hek-tok-ciang dari Lam-hai Cin-jin. Mereka ingin minta obat itu dari guruku, akan tetapi karena Bu Beng Kiam-sian telah tiada, maka aku memberikan obat penawar racun Hek-tok-ciang itu kepada mereka."

Dengan singkat Im-yang Sian-kouw menceritakan tentang pertemuannya dengan Ui Yan Bun dan Wan Kim Hui itu.

Baca Juga: Suling Emas 3

Baca Juga: Pendekar Bodoh 7

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert