Ceritasilat Novel Online

Kemelut Kerajaan Mancu 2

Eps 2 Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Baca online Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo

Cersil Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo.

"Dulu, sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah mengunjunginya. Ingin aku membalas penghinaannya terhadap ibuku, betapa tega hatinya mengusir Ibu yang telah mengandung puteri keturunannya sendiri. Ingin aku membunuhnya. Akan tetapi ketika aku memasuki kamar Pangeran Ciu Wan Kong, aku melihat dia dengan sedih merenung dan memandang lukisan wajah ibu kandungku Cui Eng, dan dia memperlihatkan tanda-tanda seorang yang tidak waras pikirannya. Aku menjadi tidak tega dan meninggalkannya. Kemudian, malam tadi... aku mendengar keterangan yang rinci dari Kakek Cui Sam bahwa sebetulnya, ayah kandungku Pangeran Ciu Wan Kong amat mencinta ibu kandungku Cui Eng dan yang memaksa untuk mengusir ibuku adalah orang tuanya, terutama ibunya. Sayang kedua orang tua Ayah Ciu Wan Kong telah meninggal dunia sehingga aku tidak dapat membalas sakit hati ibuku. Menurut Kakek Cui Sam, bahkan sampai sekarang ayah kandungku itu tidak mau mempunyai seorang selir pun dan mengurung dalam kesedihan."

"Hemm, kalau begitu sungguh malang nasib ayah dan ibumu, Hwa-moi. Akan tetapi... maafkan pendapatku ini kalau tidak cocok dengan pendapatmu. Niatmu dulu untuk membalas sakit hati ibumu terhadap ayah ibu Pangeran Ciu Wan Kong itu sungguh tidak benar, Hwa-moi. Pangeran Tua Ciu itu adalah kakekmu sendiri yang menurunkan ayahmu, dan isterinya adalah nenekmu sendiri yang melahirkan ayah kandungmu. Memang kejam sekali mengusir ibumu dari gedung mereka, akan tetapi jangan lupa bahwa tidak menyukai anak perempuan merupakan penyakit yang turun menurun. Nah, sekarang apa yang hendak engkau lakukan, Hwa-moi?"

"Pendapatmu itu memang ada benarnya, Bu-twako. Akan tetapi bagaimanapun juga, Kakek dan Nenek Ciu telah meninggal dunia, maka urusannya dengan ibu kandungku itu pun tidak perlu dibicarakan lagi. Sekarang aku hendak menyelidiki apakah benar ibu kandungku telah meninggal dunia. Kalau sudah wafat mana kuburnya dan seandainya masih hidup di mana tempat tinggalnya. Aku akan mulai mencari keterangan itu dari rumah ayahku. Setelah mendengar keterangan Kakek Cui Sam, aku ingin dekat ayahku, ingin menghiburnya dan membantu padanya. Tentu saja kalau dia berada di pihak yang benar. Agaknya di antara kalangan pangeran di kota raja terdapat semacam persaingan dan perebutan pengaruh."

"Nah, keadaan itulah yang harus kuselidiki di kota raja, Hwa-moi. Para suhu menghendaki aku selain menyelidiki keadaan kehidupan rakyat, juga bagaimana keadaan pemerintahan penjajah di kota raja,"

Kata Kong Liang.

"Akan tetapi berhati-hatilah, Bu-twako. Setelah bentrokan dengan Pembesar Bong yang jahat itu, tentu engkau akan dicari!"

"Hemm, engkau juga harus berhati-hati, Hwa-moi. Engkau seharusnya membunuh pembesar jahat macam Jaksa Bong agar dia tidak akan menyusahkan lagi. Dia tentu akan membalas dendam kepadamu."

"Hemm, aku masih mengampuninya dan hanya memotong kedua daun telinga dan hidungnya. Kalau dia masih berani membuat ulah, lehernya yang akan kubuntungi!"

Kata gadis itu gemas.

Mereka berhenti bicara dan melanjutkan perjalanan mereka ke kota raja.

Dalam perjalanan itu, Thian Hwa membandingkan Bu Kong Liang dengan Ui Yan Bun.

Dua orang pemuda sama-sama gagah perkasa dan baik budi.

Akan tetapi ia harus mengakui bahwa di dalam hatinya hanya ada rasa kagum dan suka terhadap dua orang pemuda ini, tidak ada perasaan mesra seperti yang pernah dirasakan hatinya terhadap Pangeran Cu Kiong!

Dan naluri kewanitaannya membuat ia dapat merasakan bahwa Bu Kong Liang, seperti juga Ui Yan Bun, mencinta dirinya.

Ada perasaan bangga dalam hatinya bahwa ia dicinta dua orang pendekar budiman seperti dua orang pemuda itu, akan tetapi juga ada rasa sedih karena ia tidak, atau belum dapat membalas cinta mereka.

*** Untuk menjaga keamanan, Thian Hwa dan Bu Kong Liang menanti sampai senja tiba dan cuaca sudah mulai gelap untuk memasuki pintu gerbang kota raja.

Sebelum tiba di situ, mereka memang sudah bersepakat untuk berpisah mencari jalan masing-masing.

"Sekarang kita harus mengambil jalan masing-masing, Bu-twako. Terima kasih atas semua kebaikanmu,"

Kata Thian Hwa.

"Hwa-moi, akulah yang berterima kasih kepadamu. Engkau telah menolongku. Kalau tidak ada engkau, mungkin aku sudah mati tenggelam ke dalam sungai. Jaga dirimu baik-baik, Hwa-moi. Dan semoga kita akan dapat bertemu kembali."

"Selamat berpisah, Twako."

Thian Hwa langsung menuju ke gedung Pangeran Ciu Wan Kong, sedangkan Bu Kong Liang yang merasa berat harus berpisah dari gadis yang dikaguminya itu, pergi mencari Gui Tiong, murid Siauw-lim-pai yang membuka perguruan silat "Bangau Putih"

Di kota raja.

Gui Tiong adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang sejak muda tinggal di kota raja dan membuka perguruan silat "Bangau Putih".

Dia menikah dengan seorang gadis puteri seorang pedagang di kota raja dan mempunyai seorang puteri bernama Gui Siang Lin.

Gadis ini tentu saja mewarisi ilmu silat ayahnya sehingga ia dikenal sebagai seorang gadis cantik yang lihai.

Sebagai seorang wanita gagah, ia tidak pemalu seperti gadis lain dan ia bahkan membantu ayahnya untuk melatih silat kepada para murid Pek-ho Bukoan (Perguruan Silat Bangau Putih).

Sayang bahwa isteri Gui Tiong meninggal dunia sejak Siang Lin berusia sepuluh tahun.

Nyonya Gui Tiong meninggal dunia karena wabah yang pernah mengamuk di kota raja yang menimbulkan banyak korban.

Kini Gui Tiong yang berusia empat puluh lima tahun itu hidup sebagai seorang duda, bersama puterinya.

Gui Tiong yang kini berusia empat puluh lima tahun dan tetap menduda adalah seorang laki-laki yang perawakannya sedang namun tegap.

Wajahnya cukup gagah dengan jenggot pendek dan sinar matanya tajam.

Gui Tiong terkenal dengan Pek-ho-kun (Silat Bangau Putih) yang dia ajarkan dan dia pun seorang ahli memainkan senjatanya, yaitu siang-to (sepasang golok).

Puterinya, Gui Siang Lin, yang berusia sembilan belas tahun, adalah seorang gadis yang berwajah bundar, berkulit putih mulus, matanya lebar, senyumnya manis dihias lesung di kedua pipinya.

Rambutnya hitam panjang dikuncir dua dan sebagian digelung ke atas.

Gadis yang cantik manis ini agak pendiam dan lembut, namun sikapnya tegas dan ia dapat memainkan siang-kiam (sepasang pedang) dengan indah dan kuatnya.

Sesuai dengan pendirian Siauw-lim-pai, Gui Tiong tidak pernah memperlihatkan sikap permusuhan terhadap Pemerintah Mancu, maka dia pun tidak pernah mendapat gangguan.

Apalagi banyak pemuda putera para pembesar yang belajar di perguruan itu.

Akan tetapi, biarpun dia tidak pernah memperlihatkan sikap menentang penjajah Mancu, dalam hatinya, Gui Tiong tetap tidak sudi diperalat oleh penjajah, bahkan pelajaran silat yang dia berikan kepada para pemuda Mancu hanya kulit dan kembangannya saja.

Intinya hanya ia ajarkan kepada puterinya.

Bu Kong Liang tidak menemui kesukaran untuk mencari guru silat yang masih terhitung susiok-nya (Paman Gurunya) itu.

Gui Tiong pernah belajar silat di Siauw-lim-pai walaupun tidak mencapai tingkat terakhir, dan Bu Kong Liang adalah murid Thian Beng Hwesio yang merupakan murid Siauw-lim-pai seangkatan dengan Gui Tiong.

Hanya bedanya, Thian Beng Hwesio terus memperdalam ilmu silatnya sehingga kini menjadi pelatih ilmu silat di kuil Siauw-lim.

Karena itu, biarpun Gui Tiong merupakan susiok dari Kong Liang, namun dalam hal tingkat ilmu silat, sang murid keponakan ini lebih tinggi.

Setelah menemukan rumah susioknya, Bu Kong Liang pada suatu pagi berdiri di depan rumah yang cukup besar dan memandang ke arah papan nama perguruan silat "PEK-HO BUKOAN".

Dengan gembira akan tetapi juga tegang karena selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan Gui Tiong, hanya mendengar namanya saja dari Thian Beng Hwesio, Kong Liang menghampiri pintu depan rumah itu.

Dia mengetuk pintu, akan tetapi agaknya tidak ada yang mendengarnya karena pada saat itu terdengar bentakan suara dan hentakan kaki orang-orang yang sedang berlatih silat, sehingga suara ketukannya tidak terdengar.

Kong Liang membuka daun pintu dan ternyata tidak terpalang dari dalam.

Dia melihat belasan orang laki-laki, tua muda sedang berlatih silat dan dia mengenal gerakan kaki tangan mereka itu sebagai ilmu silat Siauw-lim-pai, walaupun gerakan mereka kaku karena tidak berbakat.

Yang membuat dia merasa heran, di antara belasan orang murid yang tingkatnya masih rendah dan gerakannya hanya mengandalkan kekuatan otot itu adalah seorang gadis yang amat manis!

Gadis itu adalah Gui Siang Lin.

Seperti biasa, ia mewakili ayahnya memberi petunjuk kepada para murid itu dan ia pun mengerti bahwa ayahnya hanya mengajarkan dasar dan kembangan saja.

Para murid itu mempelajari ilmu silat hanya untuk gagah-gagahan saja.

Mereka cukup puas kalau sudah dapat melakukan gerakan yang tampak indah dan gagah dan sudah merasa dirinya hebat.

Melihat Kong Liang yang berdiri di ambang pintu yang sudah terbuka itu, Siang Lin memandang heran karena ia tidak mengenal pemuda itu.

Ia lalu memesan para murid untuk melanjutkan latihan mereka, dan melangkah keluar menghampiri tamu itu.

Melihat gadis itu menghampirinya, Bu Kong Liang segera mengangkat kedua tangan depan dada memberi hormat yang dibalas oleh Siang Lin yang sudah biasa berhadapan dengan tamu laki-laki yang hendak belajar silat.

Ia mengira bahwa pemuda ini tentu datang untuk belajar ilmu silat seperti yang lain.

"Maaf, Nona, kalau kunjunganku ini mengganggu kesibukanmu,"

Kata Kong Liang.

Siang Lin tersenyum.

Begitu bertemu, ia melihat bahwa pemuda ini berbeda dengan para murid ayahnya.

Ia melihat sikap sopan pemuda ini wajar dan keluar dari dalam.

Hal ini dapat ia ketahui dari pandang mata pemuda ini.

Pemuda-pemuda lain kalau bicara dengannya, sikap sopannya hanya dibuat-buat akan tetapi ia dapat melihat pandang mata yang penuh berahi kepadanya.

Pemuda ini memandangnya dengan jujur, bahkan sinar matanya demikian tajam berwibawa.

"Engkau tidak mengganggu. Siapakah engkau dan apakah engkau datang berkunjung untuk belajar ilmu silat?"

"Tidak, Nona. Aku datang bukan untuk belajar ilmu silat, melainkan untuk bertemu dengan pemimpin Pek-Ho Bu-koan. Bukankah yang menjadi pemimpin perguruan ini bernama Gui Tiong?"

Siang Lin memandang tajam penuh selidik dan mulai merasa curiga.

Hal ini tidak aneh karena ia tahu bahwa sebagai seorang murid Siauw-lim-pai yang menentang kejahatan, ayahnya tentu saja dimusuhi oleh orang-orang golongan sesat dari dunia kang-ouw (sungai telaga / persilatan).

"Kalau tidak untuk belajar ilmu silat, lalu apa keperluanmu hendak menemui ayahku? Kauwsu (Guru Silat) perguruan ini memang Gui Tiong, ayahku."

"Ah, maafkan aku. Aku adalah Bu Kong Liang dan aku datang untuk bertemu dengan susiok (Paman Guru) Gui Tiong."

"Susiok...? Kalau begitu, engkau ini... murid Siauw-lim-pai?"

"Benar, Nona. Aku datang dari Siauw-lim-pai dan Suhu Thian Beng Hwesio yang memberitahu agar aku menemui Susiok Gui Tiong di sini."

"Ah, kalau begitu, kita masih seperguruan! Namaku Gui Siang Lin, Bu Suheng (Kakak Seperguruan Bu). Mari kuantar menemui Ayah di dalam!"

"Terima kasih, Sumoi (Adik Seperguruan)!"

Kata Kong Liang dengan girang. Dia lalu mengikuti Siang Lin memasuki rumah dan melewati para murid yang masih berlatih silat di halaman depan rumah itu.

"Kalian boleh istirahat dulu, nanti latihannya kita lanjutkan lagi,"

Kata Siang Lin kepada belasan orang yang belajar ilmu silat itu.

Para murid itu berhenti lalu mengaso di bawah pohon yang tumbuh di tepi halaman.

Dua orang dari mereka berbisik-bisik membicarakan tamu yang baru datang.

"Kau dengar tadi? Pemuda itu murid Siauw-lim-pai, murid keponakan Suhu Gui Tiong. Hemm, mencurigakan sekali. Mau apa Siauw-lim-pai menghubungi Suhu Gui Tiong?"

Kata seorang dari mereka yang usianya sekitar empat puluh tahun dan bertubuh kurus kering seperti orang berpenyakitan.

"Hemm, perlu kita laporkan. Pergilah, aku akan memberitahu Nona Gui bahwa engkau merasa sakit perut dan pamit pulang lebih dulu,"

Bisik orang ke dua yang bertubuh gemuk dan usianya sekitar tiga puluh tahun.

Si Kurus Kering mengangguk, lalu bangkit berdiri, menekan perut dan menyeringai, dipapah keluar oleh Si Gendut yang berkata kepada para murid lain bahwa Si Kurus itu sakit perut dan hendak pulang lebih dulu.

Sementara itu, Kong Liang bersama Siang Lin memasuki ruangan samping rumah itu dan Gui Tiong yang sedang duduk di situ, memandang heran melihat puterinya masuk bersama seorang pemuda.

"Ayah, ini adalah Suheng Bu Kong Liang, murid Supek (Uwa Guru) Thian Beng Hwesio datang hendak bertemu Ayah,"

Kata Siang Lin. Kong Liang segera merangkap kedua tangan dan memberi hormat kepada laki-laki setengah tua itu. Mendengar ucapan puterinya, Gui Tiong cepat bangkit dan membalas penghormatan Kong Liang.

"Ah, kiranya murid Suheng Thian Beng Hwesio? Kalau begitu, engkau datang dari Siauw-lim-si (Kui Siauw-lim)?"

"Benar, Susiok. Suhu mengirim salam untuk Susiok."

"Ah, duduklah, Kong Liang! Gembira sekali aku mendapat kunjungan seorang keponakan murid yang datang dari Siauw-lim-si! Siang Lin, cepat ambilkan minuman untuk suhengmu!"

"Tidak perlu repot, Sumoi!"

"Ah, minuman tinggal ambil saja, Suheng!"

Kata Siang Lin dan segera gadis ini keluar dari ruangan dan tak lama kembali lagi membawa minuman air teh.

"Suheng, silakan duduk dan bicara dengan Ayah. Aku harus mengurus latihan para murid tadi."

Setelah berkata demikian Siang Lin keluar lagi.

"Nah, Kong Liang, coba ceritakan bagaimana keadaan Siauw-lim-pai sekarang. Sudah belasan tahun aku tidak pernah mendengar beritanya semenjak aku meninggalkan Kuil Siauw-lim."

Dengan singkat Kong Liang menceritakan tentang kuil Siauw-lim, dan memberitahu bahwa kini yang bertugas melatih para murid tingkat akhir adalah gurunya, yaitu Thian Beng Hwesio.

Gui Tiong mengangguk-angguk.

"Sudah kuduga, memang Suheng Thian Beng itu memiliki bakat yang jauh melampaui aku dan tentu dia telah memperoleh kemajuan pesat karena dia begitu tekun berlatih memperdalam ilmunya."

"Setelah saya tamat belajar, Suhu dan para pimpinan Siauw-lim-pai mengutus saya untuk pergi merantau sampai ke kota raja untuk melihat bagaimana keadaan rakyat setelah pemerintah dikuasai oleh bangsa Mancu. Suhu memesan agar kalau sampai di kota raja saya mencari Susiok dan minta keterangan kepada Susiok tentang keadaan di kota raja."

Gui Tiong memberitahukan bahwa keadaan di kota raja baik saja dan bahwa pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu) menyesuaikan diri dengan kebudayaan bangsa pribumi Han, sehingga banyak orang Han diangkat menjadi pejabat pemerintah.

Juga bahwa pemerintah Mancu bersikap baik terhadap perkumpulan-perkumpulan.

Kerajaan Ceng hanya bersikap keras dan tegas terhadap mereka yang menunjukkan sikap memberontak.

"Karena itu, sikap yang diambil Siauw-lim-pai agar tidak memancing permusuhan dan tidak melawan pemerintah Ceng, cukup bijaksana. Buktinya, biarpun semua orang mengetahui bahwa aku adalah murid Siauw-lim-pai, namun aku tidak pernah diganggu, bahkan boleh membuka perguruan silat dan yang datang belajar silat bahkan banyak kaum bangsawan dan hartawan."

"Suhu juga memesan begitu, Susiok. Para murid Siauw-lim-pai diharuskan menjaga diri agar jangan menentang pemerintah, melainkan bersikap sebagai pendekar yang menentang kejahatan dan membela yang benar. Kalau ada yang ingin menentang Pemerintah Mancu, dipersilakan pergi ke Secuan dan membantu pemerintah Raja Muda Wu Sam Kwi. Akan tetapi, biarpun saya tidak pernah menentang, tanpa sebab saya dihadang dan dikeroyok seregu prajurit Mancu. Beruntung saya dapat meloloskan diri, Susiok."

"Ah, mengapa tanpa sebab engkau dihadang dan dikeroyok pasukan kerajaan?"

Gui Tiong bertanya heran dan khawatir.

"Mereka hanya mengatakan bahwa aku murid Siauw-lim-pai dan menjadi pemberontak."

"Hemm, aneh sekali ini. Padahal, mereka tahu aku murid Siauw-lim-pai, akan tetapi aku tidak pernah diganggu."

Mereka lalu bercakap-cakap dengan asyik.

Sementara itu Gui Siang Ling yang keluar lalu menemui para murid yang sedang berlatih.

Mereka tampak sudah kelelahan karena memang sudah sejak pagi sekali mereka berlatih.

Karena ia ingin sekali ikut bercakap-cakap dengan Bu Kong Liang, Siang Lin lalu menghentikan latihan itu dan menyuruh para murid pulang.

Akan tetapi, seorang murid, pribumi Han dan usianya sekitar tiga puluh tahun, sengaja membiarkan dirinya tertinggal dan setelah tidak ada murid lain, dia menghampiri Siang Lin dan berkata dengan suara berbisik.

"Siocia (Nona), aku tadi mendengar Ma Kui bicara dengan Lui Hok tentang Suheng Nona tadi dan Ma Kiu meninggalkan tempat latihan dengan alasan sakit perut, sebetulnya dia hendak melaporkan kedatangannya, dan agaknya mereka berdua mencurigai Suheng Nona."

Tentu saja Siang Lin menjadi terkejut bukan main.

"Ma Kiu? Orang setengah tua yang mengaku sebagai pembantu kantor Jaksa Ji, yang tubuhnya kurus kering itu?"

"Benar, Siocia."

"Dia hendak melaporkan tentang apa? Suhengku tidak melakukan suatu pelanggaran, dan kepada siapa dia hendak melaporkan?"

"Mereka tidak mengatakan kepada siapa, Siocia. Saya hanya ingin memberi-tahu agar Gui Kauwsu (Guru Silat Gui) dan Nona mengetahui dan berhati-hati."

"Terima kasih, dan sekarang pulanglah."

Setelah murid itu keluar, Siang Lin lalu menutupkan pintu gerbang di depan halaman, memanggil seorang pelayan laki-laki setengah tua yang membersihkan halaman bekas tempat latihan itu dan memesan agar menjaga di situ dan melaporkan kalau ada yang datang bertamu.

Setelah itu, Siang Lin bergegas memasuki rumah dan langsung menemui ayahnya yang sedang bercakap-cakap dengan Bu Kong Liang.

"Ayah, ada sesuatu yang mencurigakan dan agaknya gawat terjadi di luar,"

Katanya melaporkan.

"Menurut seorang murid, Ma Kui mencurigai Bu Suheng dan akan melaporkan kepada atasannya yang tidak diketahui entah siapa."

Gui Tiong mengerutkan alisnya.

"Ma Kiu? Pekerja di kantor Jaksa Ji itu? Hemm, sejak dia menjadi murid di sini, setahun yang lalu, aku sudah mencurigainya. Aku yakin dia itu hanya pura-pura saja belajar silat. Dari sinar matanya aku dapat menduga bahwa dia adalah seorang ahli silat yang memiliki tenaga dalam cukup kuat. Tentu dia menjadi murid di sini untuk memata-matai, akan tetapi karena perguruan ini memang tidak mempunyai niat menentang pemerintah, aku juga diam dan tenang saja."

"Ah, kalau begitu kedatangan saya ini hanya menimbulkan masalah dan kesulitan bagi Susiok!"

Kata Bu Kong Liang dengan suara menyesal.

"Lebih baik saya pergi secepatnya agar jangan mendatangkan kesulitan bagi Susiok."

"Tidak, Kong Liang. Jangan khawatir, para pejabat tidak akan mengganggu kita. Aku mengenal banyak pejabat dan selama belasan tahun ini mereka tentu yakin bahwa aku sama sekali tidak pernah menentang pemerintah. Biar saja kita dicurigai dan kita pura-pura tidak tahu saja. Kalau engkau pergi dari sini lalu mereka datang bertanya, tentu kecurigaan mereka bertambah melihat engkau telah pergi tanpa aku dapat memberitahu ke mana pergimu. Tenang sajalah, kita hadapi bersama."

"Benar, Suheng. Kalau kita tidak bersalah apa pun, untuk apa melarikan diri seperti orang yang bersalah?"

"Susiok dan Sumoi memang benar, akan tetapi hendaknya Susiok ingat bahwa seperti yang saya ceritakan tadi, saya pernah dihadang dan dikeroyok oleh seregu prajurit yang dipimpin oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin karena dituduh sebagai pemberontak. Pada waktu itu muncul Ang-mo Niocu, seorang penyelidik utusan Raja Muda Wu Sam Kwi di Secuan dan ia telah membunuh enam orang prajurit. Dengan adanya peristiwa itu, tentu saya dianggap sebagai pemberontak dan kalau saya tidak meninggalkan rumah ini, Susiok dan Sumoi pasti akan terbawa-bawa."

"Hal itu juga dapat kita jelaskan. Engkau tanpa sebab dihadang dan diserang, tentu saja engkau berhak membela diri. Kalau di antara para pengeroyok itu ada yang tewas, itu pun bukan kesalahanmu, apalagi seperti kauceritakan tadi, yang membunuh adalah Ang-mo Niocu, bukan engkau. Tenanglah, di kota raja ini banyak pejabat yang adil, aku pasti akan membelamu."

"Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin, seperti pernah aku mendengar nama itu, Ayah!"

"Tentu saja. Mereka cukup terkenal di sini. Mereka adalah dua orang di antara para jagoan yang menjadi anak buah Pangeran Leng Kok Cun."

Kong Liang mengangguk.

"Saya pun sudah mendengar keterangan itu dari seorang pendekar wanita bernama Thian Hwa yang pernah bentrok dengan mereka."

"Wah, Bu Suheng mempunyai banyak teman pendekar wanita, ya? Tadi Ang-mo Niocu, sekarang Thian Hwa! Tentu mereka itu lihai dan cantik!"

Wajah Kong Liang berubah merah.

"Bukan teman, hanya kebetulan bertemu dan berkenalan saja, Sumoi."

"Sudahlah, Kong Liang. Menurut aku sebaiknya engkau diam saja di sini. Kalau engkau pergi malah mungkin akan menyusahkan kami. Kalau ada petugas pemerintah datang, kita hadapi berdua, akan tetapi kuperingatkan lebih dulu, jangan sekali-kali menggunakan kekerasan untuk melawan. Hal itu bahkan akan memperuncing keadaan dan menambah kecurigaan mereka."

Akhirnya Kong Liang terpaksa menyetujui walaupun dia merasa tidak enak kepada paman gurunya.

Dia tidak menceritakan betapa dia dan Thian Hwa juga menghajar seorang jaksa berikut para prajurit pengawalnya.

Dia merasa serba salah.

Kalau dia pergi, akibatnya Gui Tiong dan Gui Siang Lin dicurigai dan ditekan pemerintah, hal itu akan tampak bahwa dia seorang pengecut yang tidak bertanggung jawab!

Akan tetapi kalau dia tinggal di situ, susiok dan sumoinya itu akan terseret atau terlibat urusannya dengan pasukan kerajaan!

Di antara dua pilihan itu, dia memilih yang pertama.

Dia akan tinggal di situ dan menghadapi segala kemungkinan bersama Gui Tiong agar kalau sampai ada bahaya mengancam paman gurunya, dia dapat membantu.

Apa yang mereka khawatirkan itu ternyata terjadi pada siang hari itu juga.

Seorang perwira dengan dua losin orang prajurit keamanan datang membawa surat perintah Jaksa Ji untuk memanggil Gui Tiong dan pemuda yang menjadi tamunya menghadap.

"Harap Gui Kauwsu dan tamunya suka ikut dengan baik dan tidak melakukan perlawanan agar kami tidak perlu menggunakan kekerasan,"

Kata perwira itu yang sudah mengenal Gui Tiong. Bu Kong Liang mengerutkan alisnya, akan tetapi Gui Tiong memberi isyarat dengan pandang matanya agar pemuda itu tidak mengeluarkan bantahan.

"Aih, Ciangkun (Perwira), mengapa harus melawan? Kami tidak merasa bersalah, maka tentu saja kami akan menaati panggilan Ji Thaijin."

Ketika Gui Siang Lin keluar, ayahnya berkata kepadanya.

"Siang Lin, engkau menjaga rumah dan sebaiknya liburkan dulu para murid. Aku dan Kong Liang hendak pergi ke kantor Jaksa Ji memenuhi panggilannya."

"Kenapa Ayah dipanggil Jaksa Ji?"

Siang Lin bertanya.

"Ah, mungkin ada urusan yang hendak beliau tanyakan. Jangan khawatir, Siang Lin. Jaksa Ji orangnya baik, pasti tidak ada apa-apa."

"Baiklah, Ayah,"

Kata gadis itu.

Diam-diam Bu Kong Liang kagum kepada ayah dan anak ini.

Kalau mereka melakukan perlawanan tentu Siang Lin juga akan ditangkap.

Akan tetapi karena Gui Tiong bersikap lunak, maka pasukan itu pun tidak bertindak kasar sehingga mereka berdua kini hanya dikawal saja tanpa dibelenggu menuju ke kantor Jaksa Ji.

Setelah tiba di kantor itu, Jaksa Ji sudah menunggu dengan mengenakan pakaian kebesarannya.

Dengan sikap angkuh dia duduk di atas kursi dan belasan orang prajurit pengawal berjaga di situ dengan senjata pedang di tangan.

Gui Tiong dan Kong Liang dikawal masuk dan setelah tiba di ruangan itu dan berhadapan dengan Jaksa Ji, Gui Tiong memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan depan dada sambil membungkuk, ditiru oleh Kong Liang.

Akan tetapi perwira pengawal di belakang mereka membentak.

"Hayo kalian berdua berlutut memberi hormat kepada Ji Thaijin!"

Mendengar bentakan ini, Gui Tiong segera berlutut, dan biarpun hatinya mengkal, terpaksa Kong Liang juga berlutut.

Gui Tiong maklum bahwa dia diperlakukan sebagai seorang terdakwa, maka diharuskan berlutut.

Padahal biasanya dia bersikap biasa saja terhadap jaksa yang sudah dikenalnya ini.

"Ji Thaijin, saya Gui Tiong dan ini keponakan murid saya bernama Bu Kong Liang, memberi hormat memenuhi panggilan Thaijin,"

Kata Gui Tiong sambil berlutut.

"Gui Tiong!"

Kata Jaksa Ji dengan suara keren.

"Sudah tahukah engkau akan dosamu?"

"Ji Thaijin, sesungguhnya saya masih merasa heran dan tidak tahu mengapa Thaijin memanggil kami, maka mohon Thaijin jelaskan apakah maksud Thaijin mengatakan bahwa saya berdosa? Dosa apakah yang telah saya lakukan?"

"Hemm, kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu!"

Jaksa Ji mengejek.

"Kami mendapatkan kabar dari Pangeran Lu bahwa pemuda ini adalah murid Siauw-lim-pai yang memberontak. Karena dia berada di rumahmu, berarti engkau menyembunyikan seorang pemberontak! Oleh karena itu, sambil menanti keputusan pengadilan, kalian harus ditahan dalam penjara!"

"Maaf, Thaijin, saya memprotes! Saya murid Siauw-lim-pai dan tidak pernah memberontak. Andaikata saya yang dituduh memberontak mengapa Susiok Gui Tiong ikut ditahan? Dia dan puterinya sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan saya. Bahkan baru pagi tadi saya mengunjungi paman guru saya ini. Maka, mohon Thaijin membebaskan Susiok Gui Tiong!"

Kata Bu Kong Liang dengan lantang.

"Ssstt, Kong Liang, jangan berkata begitu. Aku yakin penangkapan ini hanya akibat fitnah. Biarlah di pengadilan nanti kita bicara membela diri kita yang tidak bersalah."

"Diam kalian!"

Bentak jaksa itu memandang kepada para prajurit pengawal.

"Masukkan mereka dalam penjara!"

Andaikata Kong Liang seorang diri dan tidak melibatkan paman gurunya, tentu dia tidak sudi ditawan, mengamuk dan meloloskan diri.

Akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia berbuat demikian, dia malah membahayakan keselamatan guru dan adik seperguruannya.

Tentu saja dia tidak mau hal ini terjadi dan dia pun menurut saja ketika dia dan Gui Tiong digiring belasan orang prajurit ke rumah penjara di mana mereka berdua dimasukkan sebuah kamar tahanan yang kokoh dan berterali besi amat kuatnya.

Rumah tahanan itu dijaga banyak prajurit, bahkan di luar sel mereka tampak lima orang prajurit duduk berjaga.

Mereka tadi datang menghadap Jaksa Ji tanpa membawa senjata.

Gui Tiong yang melarang keponakan muridnya membawa senjata.

Guru silat ini mengetahui bahwa pada masa itu, sudah dikeluarkan pengumuman bahwa rakyat yang bukan petugas pemerintah, dilarang membawa senjata.

Setelah mereka berdua dimasukkan dalam sel, mereka duduk bersila di atas lantai batu yang keras dan dingin.

"Susiok, ini tidak adil!"

Kong Liang berkata lirih penuh penyesalan.

"Kalau saya yang dituduh sebagai pemberontak, mengapa Susiok ikut ditahan? Maka, dalam persidangan pengadilan, harap Susiok jangan membela saya. Katakan saja terus terang bahwa saya datang berkunjung sebagai sesama murid Siauw-lim-pai, dan Susiok tidak tahu menahu tentang semua perbuatan saya. Kalau hanya saya yang dihukum, saya akan mudah berusaha untuk meloloskan diri. Sebaliknya Susiok tidak mungkin melakukan perlawanan karena itu akan membahayakan diri Sumoi Siang Lin."

Gui Tiong tersenyum, sikapnya tenang.

"Jangan khawatir, Kong Liang. Aku percaya bahwa Jaksa Ji tidak berniat buruk. Seperti katanya, dia hanya memenuhi perintah Pangeran Lu. Kita akan bersikap dan bertindak bagaimana, kita tunggu saja sampai nanti di pengadilan. Jangan risau. Dalam keadaan begini kita harus tetap tenang dan mengumpulkan tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan."

Sore harinya, seorang penjaga mengantar makan dan minum untuk mereka, dimasukkan di sela-sela terali. Prajurit itu yang mengenal Gui Tiong berkata ramah.

"Gui Kauwsu, kalau membutuhkan sesuatu, beritahu saja kepada kami."

"Terima kasih,"

Kata Gui Tiong.

Mereka lalu makan minum dan makanan yang diberikan ternyata cukup baik.

Gui Tiong memberitahu Kong Liang bahwa makanan yang mereka terima itu saja sudah membedakan mereka dengan tahanan biasa.

Agaknya mereka diperlakukan dengan baik dan kenyataan ini menunjukkan bahwa pembesar yang menyuruh menangkap mereka tentu mempunyai maksud lain.

Malam itu, para penjaga penjara tampak sibuk.

Bahkan prajurit yang berjaga di depan sel yang ditempati Gui Tiong dan Bu Kong Liang, kini dijaga belasan orang prajurit yang sudah siap dengan senjata di tangan.

Akan tetapi mereka berdiri tegap dengan sikap hormat, tidak mengeluarkan suara.

Gui Tiong dan Kong Liang memandang kesibukan itu dari belakang terali.

Tak lama kemudian tampak seorang kakek berusia sekitar enam puluh tiga tahun, tubuhnya bongkok dan mukanya buruk.

Akan tetapi orang tua yang tampak ringkih (lemah) ini berpakaian mewah sekali dan tangan kirinya memegang sebuah tongkat hitam, tangan kanan memegang sebuah kipas dan di ikat pinggangnya terselip tujuh buah belati sehingga dia tampak aneh dan lucu sekali tidak tampak garang menakutkan.

Akan tetapi kalau orang mendengar namanya, dia tentu akan terkejut dan juga takut.

KAKEK itu adalah Pat-chiu Lo-mo (Iblis Tua Tangan Delapan) yang namanya di dunia kang-ouw terkenal sebagai seorang yang sakti.

Selain ilmu tongkatnya yang hebat, dia pandai memainkan kipas yang kini dia pakai mengebuti badannya, sebagai senjata yang ampuh.

Kipasnya itu disebut Yangliu-san (Kipas Cemara) karena bentuknya seperti pohon cemara.

Selain itu, juga ilmunya menyambit dengan hui-to (belati terbang) amat dahsyat.

Dia selalu membekali dirinya dengan tujuh batang belati yang dapat dia terbangkan menyerang lawan.

Pada waktu itu, Pat-chiu Lo-mo merupakan seorang di antara para pembantu utama Pangeran Leng Kok Cun!

Di belakang kakek itu berjalan lima orang yang usianya antara tiga puluh lima sampai empat puluh lima tahun.

Lima orang ini bertubuh tinggi besar dan tegap, tampak gagah.

Mereka adalah saudara seperguruan yang terkenal dengan julukan Twa-to Ngo-liong (Lima Naga Bergolok Besar).

Aneh kalau dilihat betapa kakek bongkok yang tampak berpenyakitan itu malah menjadi pimpinan lima orang yang tampak kokoh kuat itu!

Setelah tiba di luar sel mereka berhenti dan kakek itu memandang ke arah Gui Tiong dan Bu Kong Liang.

"Kalian yang bernama Gui Tiong dan Bu Kong Liang?"

"Betul,"

Jawab Gui Tiong yang belum pernah bertemu dengan kakek itu karena memang Pat-chiu Lo-mo tidak pernah keluar dari istana Pangeran Leng Kok Cun.

"Nah, ketahuilah kalian berdua, bahwa kami datang sebagai utusan Pangeran Leng Kok Cun untuk bertanya kepada kalian. Kalian dipersilakan memilih satu di antara dua pilihan. Pertama, kalian akan diadili sebagai pemberontak-pemberontak dan pasti akan dihukum mati. Ada pun yang ke dua, kalian akan bebas dari tuduhan kalau kalian mau membantu Pangeran Leng dan melaksanakan segala perintahnya, dan kalian menerima imbalan yang amat berharga. Nah, kalian memilih yang mana? Menolak, berarti diadili dan dihukum mati, kalau menerima, mari menghadap Pangeran Leng malam ini juga!"

Melihat sikap kakek bongkok ini, Kong Liang sudah merasa tak senang. Dia bertanya dengan suara tegas.

"Kalau kami mau, lalu disuruh melakukan apa?"

"Hal itu akan ditentukan oleh Pangeran sendiri! Bagaimana jawabanmu, Gui Tiong? Engkau menerima atau menolak tawaran Pangeran Leng?"

Tanya Pat-chiu Lo-mo.

"Kalau benar Pangeran Leng Kok Cun yang ingin agar kami membantunya, mengapa beliau tidak langsung saja menemui kami? Mengapa kami harus ditangkap lebih dulu dengan tuduhan yang bohong? Pula, bagaimana kami tahu bahwa engkau diutus oleh Pangeran Leng? Kami tidak mengenalmu, sobat,"

Kata Gui Tiong yang bersikap hati-hati.

"Hemm, bagaimana mungkin Pangeran Leng merendahkan diri berkunjung ke rumahmu, Gui Kauwsu? Tuduhan itu bukan fitnah. Engkau telah menyembunyikan pemuda ini yang memberontak dan membunuh banyak prajurit kerajaan. Dan engkau belum mengenal aku? Aku dikenal sebagai Pat-chiu Lo-mo, yang bekerja membantu Pangeran Leng. Cukuplah, cepat beri keputusan. Engkau menolak atau mau kubawa menghadap Pangeran Leng sekarang juga?"

Kini Gui Tiong dapat menduga bahwa penangkapan ini tentu atas perintah Pangeran Leng yang besar kekuasaannya.

Teringatlah dia akan cerita Bu Kong Liang betapa pemuda itu pernah bentrok dengan dua orang jagoan kaki tangan Pangeran Leng, yaitu Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin.

Tentu karena itulah Kong Liang dianggap sebagai pemberontak.

Akan tetapi sesungguhnya pemuda itu bukan pemberontak, melainkan tanpa alasan dihadang dan diserang pasukan yang dipimpin dua orang jagoan itu.

Dia mengerti bahwa kalau menolak, nyawa mereka pasti tidak akan tertolong lagi.

Akan tetapi kalau menyerah, apakah dia dan keponakan muridnya harus membantu Pangeran Leng yang bersaing dengan para pangeran lain untuk menjadi pengganti Kaisar?

Melihat paman gurunya bimbang dan ragu, Kong Liang menyentuh pinggangnya sebagai isyarat dan berkata.

"Susiok, kita terima sajalah dan menghadap Pangeran Leng!"

Gui Tiong maklum bahwa penyerahan diri Kong Liang ini mungkin hanya siasat pemuda itu.

Akan tetapi, kakek itu adalah seorang yang cerdik.

Dia pun maklum dan dapat menduga bahwa mungkin setelah keluar dari situ dan dibawa ke istana Pangeran Leng, dua orang ini akan melawan dan melarikan diri.

Dia sudah mendengar akan kelihaian para murid Siauw-lim-pai ini, maka kalau benar seperti yang dia duga, berarti dia membahayakan diri sendiri.

Kalau mereka sampai lolos, tentu dia mendapat marah besar dari majikannya!

Biarpun dia sudah mengajak Twa-to Ngo-liong dan di luar masih ada dua losin prajurit yang akan mengawal dua orang tawanan ini menuju istana Pangeran Leng, namun kalau dua orang ini mengamuk, tetap saja ada bahayanya mereka atau seorang dari mereka dapat lolos!

Akan tetapi, kakek bongkok ini tidak merasa khawatir, malah tertawa terkekeh-kekeh.

"Heh-heh-heh, jangan kalian berniat yang bukan-bukan. Cepatlah karena puterimu juga sudah menanti di sana, Gui Kauwsu!"

Wajah Gui Tiong berubah pucat.

"Apa? Anakku Siang Lin juga kalian tawan? Apa salahnya? Awas kalau ada yang berani mengganggu anakku!"

Teriaknya marah.

Kong Liang juga terkejut mendengar ini dan dia mengepal tinju.

Memang tadi dia memberi isyarat kepada paman gurunya dengan maksud untuk mengajak paman gurunya memberontak dan melawan di tengah perjalanan menuju istana Pangeran Leng dan melarikan diri.

Akan tetapi mendengar bahwa Siang Lin telah berada di tangan mereka, tentu saja dia pun merasa tidak berdaya!

"Heh-heh-heh, jangan marah dan jangan khawatir, Gui Kauwsu.

Puterimu hanya diundang ke sana untuk meyakinkan kalian bahwa Pangeran Leng berniat baik.

Kalau kalian bersedia menjadi pembantunya dan menaati semua perintahnya, pasti semua berjalan dengan baik.

Mari kita berangkat karena beliau sudah menunggumu!

Bagaimana, engkau bersedia, Gui Kauwsu?"

Gui Tiong merasa tidak berdaya sama sekali. Kini puterinya disandera, maka tidak ada pilihan lain kecuali menyerah.

"Baiklah, Lo-mo, aku siap menghadap Pangeran Leng. Akan tetapi pemuda ini tidak ada urusannya denganku, maka harap dia segera dibebaskan. Aku yang siap membantu Pangeran Leng!"

"Tidak!"

Bu Kong Liang berseru.

"Aku yang menyebabkan semua ini maka aku harus ikut bertanggung jawab!"

"Bagus!"

Kata Pat-chiu Lo-mo.

"Memang Pangeran Leng menghendaki kalian berdua yang ikut menghadap beliau!"

Kakek bongkok itu lalu memberi tanda kepada kepala penjara yang segera membuka pintu sel tahanan itu.

Gui Tiong dan Bu Kong Liang keluar dan dibawa keluar.

Di luar sudah menanti dua losin prajurit dan kedua orang murid Siauw-lim-pai itu lalu dikawal menuju istana Pangeran Leng.

Kalau saja Siang Lin tidak berada di tangan Pangeran Leng, sudah pasti dua orang murid Siauw-lim-pai itu akan memberontak dan melarikan diri.

Mereka tidak gentar menghadapi enam orang jagoan dan dua losin prajurit itu.

Akan tetapi ditawannya Siang Lin membuat mereka tidak berdaya, tidak dapat berbuat lain kecuali menyerah dan menurut.

Setelah tiba di gedung berupa istana megah itu, Gui Tiong dan Kong Liang dibawa masuk ke dalam sebuah ruangan yang diterangi banyak lampu besar dan ruangan itu luas dan terhias perabot rumah yang serba indah.

Di situ telah duduk Pangeran Leng Kok Cun.

Di luar ruangan itu berjaga banyak prajurit pengawal dan di belakang.

Sang Pangeran duduk pula berjajar belasan orang yang tampaknya gagah dan menyeramkan.

Gui Tiong sudah pernah melihat Pangeran Leng Kok Cun.

Akan tetapi Bu Kong Liang baru sekarang melihatnya dan dia memandang penuh perhatian.

Pangeran itu mengenakan pakaian yang indah gemerlapan.

Usianya sekitar empat puluh tiga tahun.

Tubuhnya tinggi kurus dan tampaknya lemah, akan tetapi matanya yang lincah dan tajam itu membayangkan kecerdikan, wibawa, dan kekuatan.

Tidak mungkin orang yang memiliki pandang mata seperti itu adalah seorang yang lemah, pikir Kong Liang.

"Kalian berdua duduklah!"

Kata Sang Pangeran mempersilakan dua orang itu duduk di atas kursi-kursi yang terdapat di situ.

"Terima kasih, Pangeran."

Mereka berkata dan keduanya duduk berhadapan dengan Sang Pangeran.

Melihat betapa pangeran itu mempersilakan mereka duduk di atas kursi berhadapan dengannya, tidak harus berlutut di atas lantai, Gui Tiong diam-diam memuji pangeran ini sebagai orang yang pandai mengambil hati orang.

Dia menjadi semakin hati-hati karena sikap ini saja sudah membayangkan bahwa dia berhadapan dengan seorang yang cerdik sekali.

"Apakah kalian berdua sudah mendengar keterangan Locianpwe Pat-chiu Lo-mo tentang mengapa kalian kini dihadapkan kepadaku di sini?"

Tanya pangeran itu, suaranya lembut dan manis.

"Saya sudah mendengar dan mengerti, Pangeran. Akan tetapi sebelum kita bicara lebih lanjut, saya mohon dapat diperbolehkan melihat apakah benar anak perempuan saya berada di sini."

"Hemm, ternyata engkau seorang yang cerdik dan tidak mudah dibohongi, Gui Kauwsu. Hal ini semakin memperkuat harga dirimu sebagai pembantu kami yang dapat dipercaya. Ketahuilah bahwa kami bukan tukang berbohong. Tentu saja engkau boleh melihat puterimu agar yakin bahwa puterimu berada di tangan kami yang menanggung keselamatannya."

Pangeran Leng memberi isyarat kepada seorang pengawal yang duduk di belakang.

Orang itu, yang bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar, memberi hormat lalu keluar dari ruangan itu.

Tak lama kemudian, daun pintu yang menembus ruangan itu terbuka dan di ambang pintu muncul Gui Siang Lin dengan kedua kakinya memakai gelang rantai baja yang panjang dan di belakang gadis itu terdapat lima orang menodongkan pedang mereka ke arah gadis itu!

"Siang Lin...!"

Gui Tiong berseru khawatir.

"Tenanglah, Ayah!"

Kata gadis itu dengan suara lantang dan berani.

"Dan jangan Ayah menurut saja kalau disuruh melakukan hal yang berlawanan dengan suara hati Ayah. Lebih baik aku mati daripada Ayah harus melakukan perbuatan yang jahat. Aku tidak takut mati, Ayah!"

Mendengar ini, Pangeran Leng cepat memberi isyarat dan daun pintu itu ditutup kembali.

Gui Tiong hanya mendengar rantai yang tergantung di kaki puterinya itu diseret ketika gadis itu meninggalkan ruangan itu.

"Ha-ha-ha, ayahnya naga, puterinya juga naga! Sungguh mengagumkan sekali! Akan tetapi kalau engkau tidak mau membantu kami, terpaksa dengan hati berat aku akan menyerahkan puterimu kepada puluhan orang prajurit yang boleh berbuat apa saja terhadap dirinya, bahkan sampai mati! Ia akan tersiksa lahir batin sampai mati, dan kalian berdua juga tidak akan terbebas dari hukuman mati!"

Ancaman ini hebat sekali.

Kong Liang sendiri biarpun tidak takut mati, menjadi ragu apakah dia akan melawan dengan kekerasan kalau keselamatan Gui Tiong dan Gui Siang Lin terancam.

Terutama sekali ancaman terhadap Siang Lin membuat dia bergidik ngeri dan juga membuat mukanya menjadi merah saking marahnya.

"Baiklah, demi keselamatan anak saya, saya menyerah dan bersedia membantu Pangeran. Akan tetapi, pekerjaan apakah yang harus saya lakukan?"

Tanya Gui Tiong.

"Nanti dulu, yang kami kehendaki adalah agar kalian berdua yang menyerah dan membantu kami, taat akan perintah kami. Sekarang, engkau belum menyatakan kesediaanmu membantu kami, Bu Kong Liang. Ingatlah, engkau pernah membunuh prajurit kerajaan. Kalau engkau menolak untuk membantu kami, berarti engkau memang seorang pemberontak yang menentang kerajaan kami. Kalau engkau bukan pemberontak, tentu engkau akan dengan senang membantu kami!"

Bu Kong Liang mengerutkan alisnya dan merasa tidak berdaya.

Dia tahu sekarang bahwa tentu dua orang anak buah pangeran ini, Phang Houw dan Louw Cin yang pernah mengerahkan prajurit mengeroyoknya, tentu melaporkan kepada Pangeran Leng.

Boleh saja dia menyangkal bahwa yang membunuh prajurit bukan dia melainkan Ang-mo Niocu, akan tetapi apa gunanya?

Tetap saja dia harus menyerah dan menurut, kalau tidak, tentu Gui Tiong dan Gui Siang Lin akan celaka.

Maka, dia pun diam saja dan menyerahkan percakapan itu kepada susioknya.

Setelah menghela napas panjang, Gui Tiong berkata.

"Baiklah, Pangeran, untuk membuktikan bahwa kami sama sekali bukan pemberontak, kami menyerah dan akan menaati perintah Paduka dan bersedia untuk membantu."

"Ha-ha-ha, bagus! Kalau begitu, akulah yang akan melindungi kalian dan tidak ada yang berani menuduh kalian pemberontak. Kalian adalah pembantu-pembantuku, tidak mungkin memberontak!"

"Terima kasih, Pangeran. Harap Paduka jelaskan, perintah apa yang harus kami lakukan?"

Tanya Gui Tiong dengan perasaan amat tidak enak.

"Jangan tergesa-gesa. Malam ini kalian beristirahatlah. Besok baru akan kami beritahukan, apa yang harus kalian lakukan untuk kami."

Pangeran Leng lalu berkata kepada Pat-chiu Lo-mo untuk membawa dua orang murid Siauw-lim-pai itu ke kamar mereka.

Gui Tiong dan Bu Kong Liang lalu dikawal Pat-chiu Lo-mo, Twa-to Ngo-liong dan ditambah empat orang pengawal lain dari mereka yang duduk di belakang Pangeran Leng, masuk ke dalam dan ternyata mereka mendapatkan kamar yang terpisah.

Mereka terkejut dan kecewa akan tetapi tidak dapat menolak dan begitu memasuki kamar masing-masing, kamar yang tidak berapa besar namun cukup bersih dan perabotnya serba mewah, mereka berdua lalu duduk bersila di atas pembaringan untuk mengendalikan perasaan dan mengumpulkan tenaga.

Dalam keadaan seperti itu, mereka harus selalu tenang dan sehat agar kalau sewaktu-waktu harus bertanding, mereka sudah siap.

Agak sukar bagi kedua orang itu untuk dapat tidur pulas.

Gui Tiong lalu membayangkan puterinya dan hatinya merasa khawatir bukan main.

Sedangkan Bu Kong Liang memikirkan nasib ayah dan anak itu.

Mereka tertimpa malapetaka karena kunjungannya ke rumah mereka.

Andaikata dia tidak datang berkunjung, tentu Gui Tiong dan puterinya masih berada di rumah mereka dalam keadaan selamat.

Dia merasa menyesal bukan main dan mengambil keputusan dalam hatinya untuk membela ayah dan anak itu sekuat tenaga.

Pada keesokan harinya juga mereka belum ditemui Pangeran Leng.

Mereka diperlakukan dengan baik, bahkan diberi kesempatan bertemu dengan Gui Siang Lin.

Gadis itu berada dalam sebuah kamar lain yang pintunya berterali kokoh kuat.

Dari luar pintu, mereka dapat melihat keadaan dalam kamar itu yang indah dan bersih.

Gui Tiong dapat bicara dengan puterinya melalui daun pintu itu dan diberi waktu beberapa lamanya oleh para prajurit yang mengawal mereka.

Lega hatinya ketika Gui Tiong melihat betapa puterinya berada dalam keadaan sehat.

"Engkau baik-baik saja, Siang Lin?"

Tanya Gui Tiong. Gadis itu mengangguk.

"Mereka memperlakukan aku dengan baik dan sopan sebagai seorang tamu, Ayah. Bagaimana dengan Ayah dan Bu Suheng?"

"Kami pun baik-baik saja,"

Kata Gui Tiong dan Kong Liang mengangguk kepada gadis itu ketika mereka saling berpandangan.

"Ayah, apakah artinya penangkapan ini? Apakah rencana Pangeran Leng terhadap kita bertiga?"

Gui Tiong menghela napas panjang.

"Kami diminta untuk menyerah dan mau menjadi pembantu Pangeran Leng dan menaati semua perintahnya."

"Perintah apa yang diberikan kepada Ayah dan Suheng yang harus kalian lakukan?"

"Kami belum tahu, belum menerima perintah melakukan sesuatu untuk Pangeran Leng."

Pada saat itu, Gui Tiong merasa betapa lengannya disentuh Kong Liang.

Dia menengok dan melihat pemuda itu menujukan pandang matanya ke arah kaki Siang Lin.

Cepat Gui Tiong memandang dan melihat betapa kedua kaki puterinya tidak dibelenggu lagi, dia maklum isyarat apa yang diberikan pemuda itu.

Setelah Siang Lin bebas tidak terbelenggu, tentu Kong Liang berpikir bahwa kini mereka bertiga dapat melawan dan melarikan diri dari situ.

Akan tetapi sejak tadi Gui Tiong telah melihat sesuatu dan kini dia memberi isyarat kepada Kong Liang dengan matanya mengerling ke atas.

Pemuda itu memandang ke atas dan dia terkejut karena di atap kamar itu terdapat lubang-lubang dan tidak kurang dari enam batang anak panah tampak sudah siap diluncurkan ke bawah!

Ini berarti bahwa di atas atap itu terdapat enam orang pemanah yang selalu siap menyerang Siang Lin.

Dan agaknya, betapa pun lihainya gadis itu, kalau berada dalam kamar dan diserang enam batang anak panah dan tentu saja dapat disusul anak panah berikutnya, sukar baginya untuk dapat menyelamatkan diri.

Apalagi Kong Liang melihat betapa mata anak panah itu hijau kehitaman, tanda bahwa mata anak panah itu beracun!

Maklumlah Kong Liang bahwa Pangeran Leng yang cerdik telah mempersiapkan segala-galanya.

Tidak mungkin bagi dia dan Gui Tiong untuk melawan karena akibatnya yang pertama adalah matinya Siang Lin dihujani anak panah beracun!

Agaknya tidak ada jalan lain kecuali untuk sementara ini menyerah dan melaksanakan perintah Pangeran Leng!

Waktu yang diberikan kepala pengawal bagi mereka yang berbicara dengan Siang Lin habis dan mereka diminta untuk kembali ke kamar masing-masing.

Sehari itu mereka mendapat makan minum yang cukup mewah, diantar ke kamar masing-masing.

Bahkan mereka diberi kesempatan untuk mandi dan pakaian Gui Tiong dan puterinya telah diambil dari rumah mereka dan diberikan kepada mereka.

Juga buntalan pakaian Kong Liang diambil dari rumah Gui Tiong dan diberikan pemuda itu.

Uang yang terdapat di buntalan itu dan juga senjata mereka berdua diserahkan juga!

Gui Tiong menerima sepasang goloknya dan Bu Kong Liang sepasang siang-kek (senjata tombak pendek bercabang) miliknya.

Mereka berdua maklum bahwa Pangeran Leng yakin akan ketidak-berdayaan mereka berdua dan memang perhitungan pangeran itu tepat.

Selama Siang Lin disandera, tentu saja mereka tidak berani melawan karena hal itu berarti tewasnya Siang Lin!

Malam itu mereka diundang makan malam oleh Pangeran Leng.

Setelah mereka tiba di kamar makan yang luas, di sana telah duduk Pangeran Leng di kepala meja makan dan di situ hadir pula Pat-chiu Lo-mo yang bongkok, lima orang Twa-to Ngo-liong yang tinggi besar dan dua orang lain yang membuat Bu Kong Liang menjadi merah mukanya karena marah.

Dua orang itu bukan lain adalah Hui-eng-to Phang Houw yang gemuk pendek dan Ketua Liong-bu-pang Louw Cin yang tinggi kurus!

Mereka berdua itu hanya tersenyum ketika melihat Kong Liang memasuki ruangan bersama Gui Tiong.

"Ha, Gui Kauwsu (Guru Silat Gui) dan Bu Enghiong (Pendekar Bu), silakan duduk dan mari makan bersama kami! Oh ya, perkenalkan ini Hui-eng-to Phang Houw dan Ketua Liong-bu-pang Louw Cin."

Gui Tiong dan Kong Liang mengangguk dan mereka lalu mengambil tempat duduk di atas dua buah kursi yang agaknya memang disediakan untuk mereka.

"Kita makan dulu baru nanti membicarakan hal penting!"

Kata Sang Pangeran dan dia lalu bertepuk tangan.

Sepuluh orang gadis pelayan yang muda dan cantik datang bagaikan sepuluh ekor kupu-kupu terbang dan mereka agaknya sudah diatur karena tanpa ragu mereka lalu masing-masing menghampiri seorang dengan gaya yang manis dan lembut sopan mereka menuangkan arak ke dalam cawan sepuluh orang itu.

Mereka lalu makan minum, dilayani masing-masing oleh seorang pelayan yang membuat Bu Kong Liang merasa tidak tenang.

Dia merasa canggung dan malu dilayani seorang gadis, hal yang belum pernah dia alami sepanjang hidupnya!

Setelah selesai makan minum, Pangeran Leng mengajak sepuluh orang itu ke sebuah kamar yang biasa dipergunakan untuk mengadakan rapat tertutup dan rahasia.

Sekarang Gui Tiong dan Kong Liang melihat betapa ruangan-ruangan di mana mereka berdua berada tidak lagi terjaga pasukan pengawal dengan ketat.

Mereka berdua maklum bahwa memang hal ini tidak perlu lagi.

Pangeran Leng tentu yakin bahwa selama Siang Lin menjadi sandera, dua orang itu tidak akan berbuat sesuatu untuk menentangnya!

Setelah semua orang duduk mengitari sebuah meja besar dan daun-daun pintu dan jendela tertutup rapat, Pangeran Leng lalu berkata kepada dua orang "pembantu"

Baru itu.

"Gui Kauwsu dan Bu Enghiong, malam inilah saatnya kalian berdua membuktikan bahwa kalian benar-benar menjadi pembantuku dan menaati semua perintahku. Kalian berdua akan dibantu oleh lima saudara Ngo-liong (Lima Naga) ini dan kalian kami serahi tugas untuk membunuh seseorang."

Pangeran Leng menghentikan ucapannya dan sepasang matanya menatap wajah dua orang itu dengan penuh selidik, ingin melihat bagaimana tanggapan mereka.

Akan tetapi baik Gui Tiong maupun Kong Liang tidak memperlihatkan perasaan apa pun pada wajah mereka, sungguhpun hati mereka terkejut mendapat tugas untuk membunuh orang!

Mereka juga tidak bertanya siapa yang harus mereka bunuh itu.

"Yang kalian berdua harus bunuh adalah seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun yang kini berada di dalam gedung Pangeran Bouw Hun Ki."

Bu Kong Liang tidak tahu siapa yang dimaksudkan Pangeran Leng, akan tetapi Gui Tiong terkejut dan cepat bertanya.

"Siapa anak laki-laki itu, Pangeran?"

"Dia adalah pangeran yang dititipkan kepada Pangeran Bouw Hun Ki untuk dididik, yaitu Pangeran Kang Shi...."

"Ah! Dia... dia... Putera Mahkota...?"

Seru Gui Tiong kaget sekali.

"Benar, Putera Mahkota Kang Shi yang berusia sepuluh tahun. Tugas yang mudah sekali, bukan?"

"Akan tetapi... mengapa harus membunuh Thai-cu (Pangeran Putera Mahkota)?"

Kata Gui Tiong dengan muka pucat.

Tugas itu kalau dilaksanakan merupakan dosa yang teramat besar dan tidak dapat diampuni.

Dia dan Bu Kong Liang akan diburu oleh seluruh pasukan Kerajaan Ceng (Mancu)!

Pangeran Leng tersenyum.

"Sekarang belum saatnya engkau mengetahui sebabnya, Gui Kauwsu. Kelak engkau akan kami beritahu dan akan mengerti. Sekarang yang penting laksanakan dulu perintahku dan jangan khawatir, akulah yang akan menanggung akibatnya. Aku akan melindungi dan membelamu. Nah, kalian berdua berangkatlah ditemani Twa-to Ngo-liong. Ingat, bahwa puterimu berada di sini dalam keadaan sehat dan selamat. Kalau kalian berdua berhasil, bukan saja puterimu akan mendapat kebebasan, juga kalian berdua akan kami beri kedudukan tinggi. Kalau engkau gagal, puterimu juga akan kami bebaskan asalkan kalian tidak mengaku kepada siapapun juga bahwa kami yang mengutus kalian membunuh Pangeran Mahkota. Kalau kalian membocorkan rahasia ini, berarti puterimu juga tidak akan selamat."

Twa-to Ngo-liong sudah bangkit dan yang tertua bermuka penuh brewok berkata kepada Gui Tiong.

"Mari kita berangkat sekarang, Pangeran sudah memerintahkan."

Ketika dua orang itu memandang kepada Pangeran Leng, Sang Pangeran memberi isyarat dengan pandang mata dan gerakan tangannya agar mereka segera berangkat.

"Jangan lupa bawa senjata kalian!"

Pesannya dan pangeran itu lalu bangkit berdiri dan masuk ke sebelah dalam istananya yang besar dan megah.

"Kami hendak mengambil senjata kami dulu!"

Kata Gui Tiong dan bersama Bu Kong Liang dia lalu pergi ke kamar mereka. Dalam perjalanan ini, sebelum mereka berpisah memasuki kamar masing-masing, Gui Tiong berkata lirih.

"Kau perhatikan isyaratku nanti kalau tiba di atas istana Pangeran Bouw Hun Ki."

Setelah berkata demikian dengan suara berbisik, Gui Tiong dan Kong Liang memasuki kamar masing-masing, Twa-to Ngo-liong yang bertugas menemani dan juga diam-diam harus mengawasi mereka berdua, segera mengejar cepat, akan tetapi mereka masih kurang cepat sehingga tidak mendengar bisikan Gui Tiong kepada Kong Liang tadi.

Melihat dua orang murid Siauw-lim-pai itu memasuki kamar masing-masing, lima orang Twa-to Ngo-liong itu menanti di luar kamar.

Tak lama kemudian Gui Tiong dan Kong Liang sudah mengenakan pakaian ringkas dan membawa senjata masing-masing.

Kemudian Twa-to Ngo-liong mengajak keluar melalui pintu rahasia yang berada di taman bunga di belakang istana pangeran itu.

Setelah berada di luar pagar tembok yang mengelilingi istana, Gui Tiong berkata kepada Twa-to Ngo-liong.

"Sesuai dengan perintah Pangeran Leng Kok Cun tadi, yang diberi tugas membunuh adalah kami berdua dan kalian berlima hanya menemani dan membantu kami, oleh karena itu, aku yang memimpin tugas ini dan kalian berlima harus menaati petunjukku karena aku yang bertanggung jawab."

Twa-to Ngo-liong yang dikatakan menemani dan membantu mereka itu sesungguhnya ditugaskan mengawasi dua orang itu, maka mendengar ini mereka berlima hanya mengangguk.

Tubuh tujuh orang ini berkelebat di dalam kegelapan bayang-bayang pohon yang disinari cahaya bulan yang hampir purnama.

*** Gedung Pangeran Bouw Hun Ki tidaklah semegah gedung tempat tinggal Pangeran Leng Kok Cun yang seperti istana.

Perabot rumahnya juga tidak terlalu mewah walaupun gedung itu tetap besar dan luas.

Pangeran Bouw Hun Ki adalah seorang sastrawan, usianya sekitar lima puluh tiga tahun, rambutnya sudah dihiasi uban namun wajahnya masih tampan dan sikapnya gagah sungguhpun pangeran ini tidak pernah mempelajari ilmu silat.

Dia adalah adik Kaisar Shun Chi yang juga seorang sastrawan dan amat tekun mempelajari Agama Buddha, filsafat Guru Besar Khong Cu dan Lo Cu.

Akan tetapi dia termasuk pemeluk Agama Buddha yang amat tekun dan mempelajari ajarannya sampai mendalam.

Kaisar Shun Chi amat percaya akan kebaikan budi dan kesetiaan adiknya itu, maka dia menyerahkan Pangeran Kang Shi, yang merupakan Thai-cu (Putera Mahkota) sejak berusia tujuh tahun kepada Pangeran Bouw untuk dididik dalam ilmu tatanegara, sastra, agama dan bahkan di rumah itu pula pangeran kecil itu mendapat pendidikan dasar ilmu silat dari isteri Pangeran Bouw Hun Ki.

Kini Pangeran Kang Shi telah berusia sepuluh tahun dan pangeran kecil ini senang sekali tinggal di rumah pamannya.

Di istana dia harus menghadapi banyak peraturan dan peradatan yang membuat anak ini merasa terikat dan tidak bebas.

Akan tetapi setelah dia berada di rumah pamannya, Pangeran Bouw Hun Ki, dia merasa bebas dan setelah tinggal selama tiga tahun di rumah itu, dia merasa akrab dan sayang kepada penghuni rumah itu.

Pangeran Bouw Hun Ki tidak mempunyai seorang pun selir.

Dia amat mencinta isterinya yang dinikahinya ketika dia berusia dua puluh tahun dan isterinya berusia delapan belas tahun.

Kini isterinya yang dahulu ketika menikah bernama Souw Lan Hui telah berusia lima puluh satu tahun.

Akan tetapi Souw Lan Hui atau Nyonya Pangeran Bouw ini masih tampak cantik, tubuhnya masih tampak seperti orang muda.

Hal ini tidaklah aneh karena wanita itu sejak masa kanak-kanak telah mempelajari ilmu silat sehingga ketika masih gadis ia telah menjadi seorang pendekar wanita sakti yang dijuluki Sin-hong-cu (Si Burung Hong Sakti)!

Ia adalah seorang murid yang pandai dari Bu-tong-pai.

Maka tidak mengherankan kalau Pangeran Mahkota Kang Shi dapat memperoleh pendidikan silat pula di keluarga Bouw.

Pangeran Bouw dan isterinya mempunyai dua orang anak.

Yang pertama adalah seorang anak laki-laki yang diberi nama Bouw Kun Liong, kini telah berusia dua puluh empat tahun, belum menikah dan Bouw Kun Liong ini tentu saja mendapat pendidikan sastra dari ayahnya dan ilmu silat tinggi dari ibunya.

Wajahnya tampan seperti wajah ayahnya dan dia gagah perkasa seperti ibunya.

Pakaiannya selalu rapi, bersih, dan indah sehingga pemuda bangsawan yang tidak mempunyai selir seperti para pemuda bangsawan lainnya, amat menarik hati banyak orang, terutama para gadis yang pernah melihatnya.

Mungkin karena ayahnya adik kaisar dan ibunya seorang pendekar wanita sakti dan keduanya amat sayang kepadanya, Bouw Kun Liong agak tinggi hati dan angkuh walaupun belum sampai dapat disebut sombong.

Anak mereka yang ke dua adalah perempuan yang kini berusia sekitar delapan belas tahun.

Anak ini bernama Bouw Hwi Siang, cantik jelita seperti ibunya dan walaupun ia juga mendapatkan pendidikan ilmu silat walaupun tidak setinggi tingkat kakaknya, namun sikapnya lembut halus seperti sikap ayahnya.

Wajah Bouw Hwi Siang ini mirip ibunya.

Kakak beradik ini belum memiliki tunangan karena keduanya selalu menolak kalau ayah ibunya bicara tentang perjodohan mereka.

Pangeran cilik Kang Shi disayang keluarga Bouw dan dia pun amat sayang kepada mereka, terutama sekali kepada Bouw Kun Liong dan Bouw Hwi Siang, kedua orang kakak misannya itu.

Pemuda dan gadis itu pun merasa amat sayang kepada Kang Shi yang termasuk seorang anak yang cerdas.

Malam itu biarpun terang bulan, hampir bulan purnama, karena hawa udara amat dinginnya, maka sebelum tengah malam keadaan sudah mulai sunyi.

Tidak ada orang berlalu-lalang di jalan raya.

Rumah-rumah sudah menutup pintu dan jendela.

Bahkan di gedung-gedung para bangsawan juga sudah tampak sunyi.

Hanya para penjaga malam, prajurit-prajurit pengawal yang masih berada di luar.

Akan tetapi mereka pun lebih suka tinggal di dalam gardu penjagaan di mana tidak begitu dingin seperti kalau berada di luar.

Bayangan tujuh orang yang berkelebat di antara pohon-pohon itu sedemikian cepatnya sehingga para penjaga di luar gedung-gedung itu pun tidak ada yang melihatnya.

Mereka adalah Gui Tiong, Bu Kong Liang, dan lima orang Twa-to Ngo-liong.

Mereka menuju ke gedung keluarga Pangeran Bouw Hun Ki.

Setelah berada di belakang bangunan besar itu, Gui Tiong memberi isyarat kepada enam orang temannya untuk melompat ke atas pagar tembok.

Akan tetapi dia sengaja melompat lebih dulu bersama Bu Kong Liang dan sebelum lima orang Twa-to Ngo-liong menyusul, Gui Tiong cepat berbisik kepada pemuda itu.

"Setibanya di atas, kita turun tangan dan bunuh mereka, jangan ada yang sampai lolos!"

Kong Liang terkejut, akan tetapi dia segera dapat mengerti mengapa Gui Tiong mengambil keputusan nekat itu.

Kalau mereka berdua menyerang Twa-to Ngo-liong di luar gedung, di jalan raya, besar kemungkinan perbuatan mereka akan terlihat orang.

Hal ini berbahaya karena kalau sampai ketahuan Pangeran Leng, mereka pasti dikeroyok dan lebih parah lagi, Gui Siang Lin terancam bahaya yang lebih mengerikan daripada maut.

Kalau lima orang kaki tangan Pangeran Leng ini tidak dibunuh, mereka harus melaksanakan tugas membunuh Putera Mahkota, dan hal ini agaknya tidak mau dilakukan Gui Tiong.

Maka dia mengangguk dan setelah lima orang itu menyusul, mereka segera melompat ke atas wuwungan gedung besar itu, didahului oleh Gui Tiong sebagai pimpinan.

Tujuh orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Tubuh mereka seolah menjadi bayangan hitam yang berlompatan di atas wuwungan, diterangi sinar bulan yang cerah.

Hawa dingin tidak terasa oleh mereka yang berada dalam ketegangan.

Twa-to Ngo-liong merasa tegang karena sebagai anak buah Pangeran Leng tentu saja mereka mengerti betapa kuatnya penjagaan untuk melindungi Putera Mahkota di gedung itu.

Mereka pun sudah mendengar bahwa biarpun Pangeran Bouw Hun Ki adalah seorang sastrawan yang bertubuh lemah, namun isterinya adalah seorang wanita yang lihai sekali karena Nyonya Pangeran Bouw itu dahulunya seorang pendekar wanita yang pernah malang melintang di dunia persilatan dengan julukan Sin-hong-cu.

Kuatnya penjagaan atas diri Putera Mahkota Kang Shi inilah yang membuat Pangeran Leng sampai lama tidak berani melakukan usaha untuk membunuh pangeran kecil yang telah ditetapkan menjadi putera mahkota yang akan menggantikan kedudukan Kaisar Shun Chi kelak.

Berarti pangeran kecil itu menjadi penghalang utama bagi Pangeran Leng yang berambisi untuk menggantikan ayahnya kelak!

Kemudian, ketika dua orang pembantunya, Phang Houw dan Louw Cin melaporkan tentang kegagalan penyerangan mereka terhadap murid Siauw-lim-pai Bu Kong Liang, Pangeran Leng yang cerdik memesan kepada para anak buahnya untuk waspada dan menyelidiki kalau-kalau pemuda murid Siauw-lim-pai itu masuk ke kota raja.

Hal itu benar saja terjadi.

Mendengar bahwa Bu Kong Liang berada di Pek-ho Bukoan (Perguruan Silat Bangau Putih), dia segera mengatur siasat untuk menangkap Gui Tiong dan Bu Kong Liang.

Dengan perantaraan Jaksa Ji, seorang di antara para pejabat yang menjadi anak buahnya, dua orang murid Siauw-lim-pai itu ditangkap.

Dan untuk menyempurnakan siasatnya untuk memaksa dua orang itu, Pangeran Leng juga menyuruh orang-orangnya menangkap Gui Siang Lin dan menawannya di gedungnya.

Kini dia berani mencoba untuk membunuh Putera Mahkota Kang Shi, menggunakan tenaga dua orang murid Siauw-lim-pai yang sudah menyerah dan taat untuk melindungi keselamatan Gui Siang Lin.

Dengan cara ini, andaikata usaha itu gagal, yang akan dipersalahkan adalah Siauw-lim-pai!

Mudah saja dia mengelak dari tuduhan andaikata dua orang Siauw-lim-pai itu mengaku dia yang menyuruh mereka.

Bahkan dia dapat membuktikan bahwa dirinya juga diserang oleh puteri Gui Tiong yang dapat dia tangkap.

Dia sendiri dimusuhi murid Siauw-lim-pai, bagaimana mungkin dia menggunakan murid-murid Siauw-lim-pai untuk membunuh Pangeran Mahkota Kang Shi yang adik tirinya sendiri?

Karena itu, Twa-to Ngo-liong yang diutus menemani dua orang murid Siauw-lim-pai itu sesungguhnya ditugaskan untuk mengawasi mereka!

Setelah mereka tiba di atas wuwungan rumah induk yang cukup luas, Gui Tiong memberi isyarat kepada Bu Kong Liang dan mereka berdua cepat mencabut senjata mereka, Gui Tiong mencabut sepasang goloknya dan Bu Kong Liang mencabut sepasang tombak bercabang, lalu menyerang lima orang Twa-to Ngo-liong!

Serangan yang dilakukan Kong Liang sedemikian cepatnya sehingga seorang dari Twa-to Ngo-liong yang sama sekali tidak pernah menduga, tak mampu menghindarkan diri dan dia pun roboh mandi darah karena lehernya tertusuk tombak cagak!

Orang ke dua yang diserang Gui Tiong, masih dapat mengelak walaupun pundak kirinya tergores golok sehingga baju dan kulit pundaknya terobek dan berdarah.

Twa-to Ngo-liong tentu saja terkejut bukan main.

Mereka waspada mengikuti dua orang itu untuk melihat apakah mereka benar-benar melaksanakan tugas yang diperintahkan Pangeran Leng.

Andaikata mereka berdua ketahuan dan terjadi perkelahian, mereka berlima tidak akan membantu, bahkan akan melarikan diri.

Mereka dipesan oleh Pangeran Leng agar tidak melibatkan diri kalau terjadi pertempuran sehingga nama Pangeran Leng tetap bersih.

Maka ketika tiba-tiba dua orang murid Siauw-lim-pai itu menyerang mereka dan sudah merobohkan seorang dari mereka, tentu saja mereka terkejut bukan main.

Akan tetapi sebagai ahli-ahli silat berpengalaman, tentu saja mereka dapat bertindak cepat.

Mereka sudah mencabut golok masing-masing dan terjadilah perkelahian seru di atas wuwungan gedung tempat tinggal Pangeran Bouw!

Gui Tiong yang dikeroyok dua memutar sepasang goloknya dan pertandingan antara dia dan dua orang pengeroyok itu terjadi amat serunya.

Agaknya dua orang pengeroyok itu pun telah memiliki ilmu golok yang amat tangguh sehingga perkelahian itu seru dan seimbang.

Akan tetapi, dua orang lain dari Twa-to Ngo-liong yang mengeroyok Kong Liang, begitu saling serang, menjadi terkejut karena pemuda ini memiliki tenaga yang amat kuat dan gerakannya juga lebih cepat daripada mereka.

Mereka berdua berusaha untuk membela diri mati-matian, akan tetapi setelah bertahan selama belasan jurus, begitu Kong Liang memperhebat tekanannya, dua orang pengeroyok itu berturut-turut roboh, yang seorang tertusuk lehernya, yang ke dua tertusuk dadanya oleh siang-kek di kedua tangan Kong Liang.

Mereka roboh dan tewas di atas wuwungan.

Kong Liang cepat menoleh untuk melihat keadaan Gui Tiong yang juga dikeroyok dua orang lawan.

Dia melihat betapa keadaan mereka seimbang.

Pada saat itu, sebelum dia dapat melompat untuk membantu Gui Tiong, terdengar bunyi berdesing nyaring tinggi menusuk pendengaran dan tampak tiga sinar putih berkeredepan secara berturut-turut menyambar dari bawah ke arah tiga orang yang sedang bertanding itu.

Kong Liang membelalakkan matanya ketika melihat Gui Tiong roboh bersama dua orang pengeroyoknya!

"Tangkap yang seorang!

Jangan bunuh, dia harus dapat memberi keterangan!"

Terdengar bentakan suara wanita dan tiba-tiba ada tiga bayangan hitam berkelebat dan melayang ke atas wuwungan!

Kong Liang cepat menghampiri tubuh Gui Tiong dan berjongkok memeriksanya.

Ternyata keadaan Gui Tiong parah sekali.

Dadanya mengeluarkan banyak darah dan ternyata sebuah senjata rahasia berbentuk bintang yang putih mengkilap telah masuk ke dalam dadanya.

Kong Liang terkejut sekali melihat paman gurunya dalam keadaan sekarat dan dia pun mengenal senjata rahasia itu sebagai Gin-seng-piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak).

"Susiok...!"

Dia mengeluh dan menggunakan jari tangannya menotok beberapa jalan darah untuk mengurangi rasa nyeri, akan tetapi dia maklum bahwa nyawa paman gurunya tidak mungkin dapat tertolong.

"Kong Liang... jaga... jaga Siang... Lin...!"

Tubuh itu terkulai dan Gui Tiong telah menghembuskan napas terakhir setelah meninggalkan pesan itu.

"Susiok... ah, ampunkan saya, Susiok! Sayalah yang menyebabkan semua ini...!"

Kong Liang meratap penuh penyesalan.

"Orang muda, menyerahlah engkau!"

Terdengar bentakan di belakangnya.

Kong Liang melompat ke depan sambil memutar tubuhnya.

Dia melihat seorang wanita bertubuh ramping, namun wajahnya yang cantik menunjukkan bahwa wanita itu tentu sudah setengah tua, berusia sekitar lima puluh tahun, pakaiannya indah seperti pakaian wanita bangsawan.

Di punggung wanita itu tampak sepasang pedang dan di pinggang depan tergantung sebuah kantung merah yang biasanya untuk menyimpan senjata rahasia.

Maklumlah Kong Liang bahwa tentu wanita ini yang telah membunuh susioknya.

"Engkau telah membunuh Susiok!"

Bentaknya dan Kong Liang cepat menyerang dengan sepasang siang-kek di tangannya.

Akan tetapi wanita itu bergerak cepat bukan main dan serangannya yang bertubi-tubi itu mengenai tempat kosong!

Karena penasaran, Kong Liang menyerang lebih gencar lagi, mengeluarkan jurus-jurus yang paling ampuh.

Namun lawannya berkelebatan dan semua serangannya gagal.

"Heii! Bukankah engkau murid Siauw-lim-pai?"

Bentak wanita itu.

Kong Liang tidak peduli dan menyerang terus dengan hati semakin penasaran, akan tetapi kini wanita itu mencabut sepasang pedangnya dan begitu ia menggerakkan sepasang pedang itu dengan gerakan yang indah dan cepat, Kong Liang terkejut dan terdesak!

"Bu-tong Kiam-sut (Ilmu Pedang Bu-tong-pai)?"

Katanya kaget dan mendengar ini, wanita itu mempercepat gerakannya.

"Trang-tranggg...!!"

Bunga api berpijar dan Kong Liang terhuyung ke belakang.

Dia melihat bahwa tak jauh dari situ terdapat seorang pemuda dan seorang gadis berdiri menonton perkelahian itu.

Mereka tidak membantu lawannya, dan memang lawannya tidak perlu dibantu karena dialah yang terdesak hebat.

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan bentakan dan Kong Liang terhuyung ketika wanita itu dapat menotok pundaknya dengan gagang pedang.

Sebelum Kong Liang dapat memulihkan kuda-kudanya, kembali pundaknya tertotok dan dia pun lemas, sepasang siang-kek itu terlepas dari pegangan tangannya.

"Kun Liong, jangan bunuh dia!"

Bentak wanita yang telah merobohkan Kong Liang ketika pemuda yang tadi hanya menonton kini melompat dan menodongkan sebatang pedang ke dada Kong Liang yang roboh telentang dalam keadaan lemas.

Pemuda itu tidak berani menusukkan pedangnya.

"Kun Liong, bawa dia ke bawah! Hwi Siang, cepat perintahkan pengawal untuk menurunkan mayat-mayat itu!"

Setelah berkata demikian, wanita yang amat lihai itu melayang turun dari atas wuwungan.

Wanita itu bukan lain adalah Nyonya Pangeran Bouw Hun Ki atau Souw Lan Hui yang dulu ketika masih gadis terkenal di dunia kang-ouw sebagai Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti).

Tadi ketika bayangan tujuh orang itu berlompatan ke atas wuwungan, ia sudah mengetahui dan cepat ia memberi isyarat kepada para penjaga agar menjaga kamar suaminya dan kamar Putera Mahkota dengan ketat, sedangkan ia sendiri mengajak puteranya, Bouw Kun Liong, dan puterinya, Bouw Hwi Siang, untuk naik ke atas wuwungan.

Dalam keadaan remang-remang itu Nyonya Bouw tidak mengenal orang, tidak tahu mengapa ada yang bertanding di atas wuwungan gedungnya.

Baginya, orang-orang yang berada di atas wuwungan gedungnya pastilah bukan orang baik.

Maka ia pun tidak ragu lagi untuk menyerang mereka dengan Gin-seng-piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak) yang merobohkan Gui Tiong dan dua orang pengeroyoknya.

Melihat bahwa mereka yang berada di wuwungan telah roboh semua dan hanya tinggal seorang pemuda, maka Nyonya Bouw lalu melarang anak-anaknya untuk menyerangnya dan dengan cepat ia sendiri menghampiri Kong Liang dan membentaknya agar menyerah.

Kini Kong Liang telah diikat kaki tangannya dibawa meloncat turun oleh Bouw Kun Liong.

Nyonya Bouw dan Bouw Hwi Siang juga sudah berada di ruangan tamu yang luas dan terang benderang.

Enam orang mayat juga oleh para prajurit pengawal telah diturunkan dibawa ke dalam ruangan itu pula, direbahkan berjajar di atas lantai.

"Ah, bukankah ini... Gui Kauwsu, guru di Pek-ho Bukoan itu...?"

Kata Bouw Kun Liong ketika melihat mayat Gui Tiong.

"Betulkah?"

Kata Nyonya Bouw dengan suara heran, lalu ia memandang kepada Kong Liang yang dibiarkan duduk di atas lantai dengan kaki tangan terbelenggu.

"Akan tetapi, mengapa murid-murid Siauw-lim-pai memusuhi kita?"

Kong Liang sudah pulih dari totokan tadi.

Tubuhnya terlalu kuat sehingga totokan tadi tidak dapat lama mempengaruhinya.

Kini dia sudah mampu bergerak, akan tetapi tentu saja tidak dapat menggerakkan kaki tangan yang terbelenggu.

Dan dia pun tidak ingin memaksa diri mematahkan belenggu karena dia tahu bahwa menghadapi wanita setengah tua itu saja dia tidak menang, apalagi di situ terdapat pemuda dan gadis itu ditambah lagi beberapa orang prajurit pengawal.

Kini Kong Liang memandang kepada tiga orang yang berada di depannya, duduk di atas kursi dengan penuh perhatian.

Nyonya setengah tua ternyata seorang wanita bangsawan, tampak dari pakaian dan gaya gelung rambutnya, berusia sekitar lima puluh tahun.

Pemuda itu berusia sekitar dua puluh empat tahun, gagah dan tampan, sedangkan gadis itu berusia sekitar delapan belas tahun, cantik seperti wanita setengah tua sehingga mudah menduga bahwa ia tentu puterinya.

Mendengar seruan pemuda itu yang mengenal susioknya, Kong Liang lalu berkata dengan suara tenang dan tegas.

"Gui Kauwsu adalah Susiok saya dan kami berdua sama sekali tidak memusuhi penghuni gedung ini, bahkan kami berdua berusaha untuk mencegah niat buruk lima orang itu terhadap Thai-cu yang berada di gedung ini."

Nyonya Bouw terkejut sekali.

"Hemm, mereka hendak berbuat apa terhadap Thai-cu?"

Tanyanya lantang.

"Mereka ditugaskan untuk membunuh Pangeran Kang Shi!"

"Siapa yang hendak membunuh Thai-cu?"

Semua orang menengok ke arah pintu. Kong Liang melihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tiga tahun, tampan dan gagah, sinar matanya begitu lembut namun tajam sekali.

"Ayah, mereka ini datang dengan rencana membunuh Pangeran Kang Shi. Enam orang telah dapat ditewaskan dan yang seorang ini ditangkap,"

Kata Bouw Kun Liong. Pangeran Bouw Hun Ki mengerutkan alisnya.

"Siapakah kalian? Orang muda, tidak sadarkah engkau bahwa perbuatan kalian ini merupakan dosa yang amat besar dan dapat membuat engkau dihukum mati?"

Tanyanya kepada Bu Kong Liang. Lalu ketika dia melihat mayat Gui Tiong, dia berseru kaget.

"Ah, bukankah ini Guru Silat Gui Tiong yang membuka Pek-ho Bu-koan? Bagaimana mungkin dia melakukan ini? Bukankah dia itu orang Siauw-lim-pai?"

"Orang muda, hayo ceritakan semua dengan jelas! Tidak ada gunanya engkau menyangkal atau berbohong!"

Bentak Nyonya Bouw dan pandang matanya membuat Kong Liang menundukkan mukanya.

Begitu tajam pandang mata itu, seperti menembus jantungnya.

Akan tetapi dia segera teringat bahwa dia dan Gui Tiong tidak bersalah, maka dia mengangkat lagi mukanya dan berkata dengan suara tenang dan tegas.

"Seperti saya akui tadi, saya bernama Bu Kong Liang dan ini adalah jenazah Susiok (Paman Guru) Gui Tiong. Kami adalah murid-murid Siauw-lim-pai dan tidak mungkin kami memusuhi pemerintah, apalagi berniat membunuh Pangeran Mahkota!"

"Ceritakan saja dengan jelas, orang muda, apa yang sebetulnya terjadi?"

Tanya Pangeran Bouw Hun Ki.

Melihat sikap halus pangeran itu, Bu Kong Liang maklum bahwa dia berhadapan dengan orang yang dapat diajak bicara dan bijaksana, maka dia pun menceritakan dengan sejujurnya.

"Saya mau menceritakan yang sejujurnya, akan tetapi saya juga ingin mengetahui kepada siapa saya akan bercerita."

Bouw Kun Liong yang biasanya disebut Bouw Kongcu (Tuan Muda Bong) menghardik.

"Kamu ini penjahat yang tertawan dan menjadi pesakitan, masih lancang bertanya lagi! Hayo ceritakan dengan sebenarnya!"

Pangeran Bouw Hun Ki mengangkat tangan kanan ke atas sambil memandang puteranya, lalu berkata kepadanya.

"Biarlah, Kun Liong, agar dia mengetahui siapa kita. Bu Kong Liang, aku adalah Pangeran Bouw Hun Ki, adik Sribaginda Kaisar dan ini adalah isteriku. Pemuda ini puteraku Bouw Kun Liong dan gadis ini puteriku Bouw Hwi Siang."

Mendengar ini, Kong Liang yang duduk di atas lantai membungkukkan badan untuk memberi hormat.

"Pangeran, saya datang dari Kuil Siauw-lim di kaki Gunung Sung-san dan menuju ke kota raja untuk meluaskan pengalaman dan untuk mengunjungi Susiok Gui Tiong dan keluarganya. Akan tetapi di tengah perjalanan, saya dihadang dan diserang oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Ketua Liong-bu-pang Louw Cin yang membawa sepasukan prajurit. Saya berhasil selamat dan kedua orang itu melarikan diri. Agaknya itulah sumber malapetaka. Ketika saya datang dan mengunjungi Perguruan Pek-ho Bu-koan yang dipimpin Susiok Gui Tiong, datang utusan Jaksa Ji memanggil Susiok Gui Tiong dan saya untuk menghadap. Setelah kami menghadap, kami langsung ditangkap dan dipenjarakan, dengan tuduhan memberontak. Kemudian, malamnya datang para pembantu Pangeran Leng Kok Cun yang mengambil kami dari rumah tahanan dan kami dihadapkan kepada Pangeran Leng Kok Cun. Ternyata yang mengatur penangkapan saya dan Susiok Gui Tiong adalah Pangeran Leng itu."

Pangeran Bouw Hun Ki saling pandang dengan isterinya lalu mengangguk-angguk.

"Saya tidak pernah memberontak, demikian pula Susiok Gui Tiong, maka di depan Pangeran Leng kami juga menolak tuduhan memberontak itu. Pangeran Leng lalu memaksa kami berdua untuk menyerah dan menaati semua perintahnya, kalau tidak dia akan menyeret kami ke pengadilan dengan tuduhan memberontak agar kami dijatuhi hukuman mati. Pangeran Leng lalu memperlihatkan puteri Susiok Gui Tiong, yaitu Sumoi Gui Siang Lin yang ternyata juga sudah ditawannya kepada kami. Melihat ini, kami berdua merasa tidak berdaya. Kalau kami melawan dan melarikan diri, tentu Sumoi Gui Siang Lin akan dibunuhnya. Dengan gadis itu menjadi sandera, untuk sementara kami terpaksa tunduk kepada Pangeran Leng."

"Lalu apa hubungannya semua itu dengan kedatangan kalian bertujuh ke atas wuwungan rumah kami?"

Tanya Bouw Hujin (Nyonya Bouw) sambil menatap tajam.

"Malam itu Susiok Gui Tiong dan saya ditugaskan oleh Pangeran Leng Kok Cun untuk datang ke sini dan membunuh Putera Mahkota yang katanya berada di sini."

"Huh! Dan engkau menaati perintah itu, ya? Hendak membunuh Thai-cu?"

Bentak Bouw Kun Liong tidak sabar.

Agaknya sudah gatal rasa tangan pemuda ini untuk membunuh Kong Liang, saking marahnya mendengar murid Siauw-lim-pai itu hendak membunuh Pangeran Kang Shi!

"Tidak, kami menaati hanya untuk mencegah dia membunuh Sumoi Siang Lin.

Kami berdua diikuti Twa-to Ngo-liong, lima orang jagoan pembantu Pangeran Leng.

Diam-diam kami berdua bersepakat untuk turun tangan membunuh Twa-to Ngo-liong setelah tiba di sini, kemudian kami akan berusaha membebaskan Sumoi.

Setelah tiba di atas wuwungan, kami bertindak.

Saya berhasil membunuh tiga dari lima orang Twa-to Ngo-liong dan pada saat itu Susiok Gui Tiong dikeroyok dua orang.

Tiba-tiba saya melihat Susiok Gui Tiong dan dua orang pengeroyoknya roboh."

"Akan tetapi mengapa engkau menyerangku ketika aku minta engkau menyerahkan diri?"

Tanya Nyonya Bouw sambil mengerutkan alisnya.

Kalau cerita pemuda itu benar, dan agaknya tidak dapat diragukan lagi kebenarannya, berarti ia telah salah tangan membunuh Kauwsu Gui Tiong yang tidak berdosa!

"Begini soalnya, Hujin.

Karena saya melihat Paduka menyerang Susiok Gui Tiong dengan Gin-seng-piauw, maka saya mengira bahwa Paduka tentu seorang dari musuh-musuh kami, maka ketika Paduka menyuruh saya menyerah, saya menyerang Paduka."

Ucapan Bu Kong Liang dengan suara yang tenang dan tegas sehingga tidak dapat diragukan kebenarannya.

"Hemm, kalau benar begitu, sungguh aku merasa menyesal sekali. Aku menyerang tiga orang yang sedang bertanding di atas wuwungan, tidak tahu siapa kawan siapa lawan, maka sangat menyesal aku telah kesalahan tangan membunuh Gui Kauwsu yang tidak berdosa. Sekarang sebuah pertanyaan lagi, Bu Kong Liang! Mengapa engkau dan Gui Kauwsu tidak menaati perintah Pangeran Leng untuk membunuh Putera Mahkota, bahkan berbalik menyerang dan membunuh lima orang anak buahnya?"

"Hujin yang mulia, Susiok Gui Tiong sudah bertahun-tahun tinggal di kota raja. Pernahkah dia melakukan pemberontakan? Saya sendiri baru keluar dari kuil Siauw-lim dan para suhu di sana melarang saya mencampuri urusan mereka yang menentang pemerintah Kerajaan Ceng. Bagaimana mungkin kami berdua mau melakukan tugas membunuh Putera Mahkota yang sama sekali tidak saya kenal dan sama sekali tidak ada urusan dengan kami berdua? Kalau kami pura-pura menaati perintah Pangeran Leng, hal itu karena hanya kami ingin menyelamatkan Sumoi Gui Siang Lin yang disandera."

Tiba-tiba Pangeran Bouw Hun Ki berkata kepada puteranya.

"Kun Liong, buka ikatan tangan dan kakinya!"

Setelah mendengar cerita Kong Liang, Bouw Kun Liong juga menyadari bahwa pemuda Siauw-lim-pai ini tidak bersalah, maka mendengar perintah ayahnya, dia lalu melepaskan ikatan kaki dan tangan Kong Liang.

"Duduklah,"

Kata Pangeran Bouw Hun Ki.

Kong Liang mengucapkan terima kasih lalu duduk di atas sebuah kursi.

Pangeran Bouw Hun Ki lalu menyuruh para penjaga untuk mengurus enam mayat itu.

Lima buah mayat Ngo-liong itu dimasukkan ke dalam peti, akan tetapi jenazah Gui Tiong dirawat baik-baik, dimasukkan peti mati yang tebal dan diatur meja sembahyang di depan peti.

Kong Liang bersembahyang dengan sedih di depan peti mati susioknya.

Bukan hanya dia yang melakukan sembahyang, bahkan Nyonya Bouw juga bersembahyang dan mengucapkan permintaan maaf karena ia telah salah mengerti dan membunuh Gui Tiong yang tidak berdosa.

Tadinya, dengan marah Pangeran Bouw Hun Ki ingin mengirim lima jenazah Twa-to Ngo-liong kepada Pangeran Leng Kok Cun.

Akan tetapi Kong Liang mencegah dengan ucapan penuh hormat.

"Saya harap Paduka suka mempertimbangkan kembali pengiriman lima jenazah Twa-to Ngo-liong itu kepada Pangeran Leng, karena kalau hal itu dilakukan, sudah pasti Sumoi Gui Siang Lin akan dibunuh."

"Hemm, memang pengiriman itu sebaiknya ditunda lebih dulu, biar aku dan Bu Kong Liang malam ini juga membebaskan gadis itu!"

Kata Nyonya Bouw.

Malam itu juga, Bouw Hujin dengan pakaian ringkas berwarna hitam, bersama Kong Liang menuju ke gedung tempat tinggal Pangeran Leng.

Dalam perjalanan ini, Bouw Hujin sudah berunding dengan Kong Liang, mengatur siasat bagaimana untuk membebaskan Gui Siang Lin.

Setelah tiba di belakang gedung tempat tinggal Pangeran Leng Kok Cun yang megah seperti istana, sesuai dengan rencana siasat mereka, Bouw Hujin menanti dalam kebun belakang dan Kong Liang langsung saja memasuki gedung lewat pintu depan.

Beberapa orang petugas yang menjaga di situ, segera menyambut dan mengenalnya.

Maka Kong Liang diantar masuk menuju ruangan dalam di mana telah menanti Pangeran Leng Kok Cun yang didampingi Pat-chiu Lo-mo, Hui-eng-to Phang Houw, Liong-bu-pangcu Louw Cin dan lima orang lain yang berpakaian sebagai perwira tinggi.

Agaknya mereka itu adalah perwira-perwira yang mendukung Pangeran Leng.

Begitu Kong Liang memasuki ruangan itu dan prajurit yang mengawalnya meninggalkan ruangan, Pangeran Leng Kok Cun segera menyambut Kong Liang dengan pertanyaan penuh harapan.

"Bagaimana hasilnya tugasmu, Bu Kong Liang? Dan mana Gui Tiong dan Twa-to Ngo-liong?"

"Pangeran, saya harap Gui Siang Lin dibebaskan karena saya telah melaksanakan perintah Paduka,"

Kata Kong Liang.

"Nanti dulu, jangan tergesa-gesa. Ceritakanlah dulu kepada kami bagaimana hasil tugasmu itu!"

Kata Pat-chiu Lo-mo dan Pangeran Leng Kok Cun yang mendengar ini.

"Saya telah berhasil membunuh Pangeran Mahkota."

"Akan tetapi di mana enam orang lainnya?"

Tanya pula Pangeran Leng.

"Mereka semua tewas. Kami mendapat perlawanan yang kuat. Saya berhasil masuk dan membunuh pangeran itu seperti yang Paduka perintahkan. Akan tetapi Susiok Gui Tiong dan Twa-to Ngo-liong tewas."

Pemuda itu lalu menoleh ke arah dalam di mana Siang Lin ditahan.

"Saya mohon Paduka sekarang membebaskan Nona Gui Siang Lin. Ayahnya telah melaksanakan perintah Paduka sampai mengorbankan nyawanya."

"Bagus!"

Pangeran Leng Kok Cun tersenyum gembira sekali mendengar bahwa Pangeran Kang Shi yang masih kanak-kanak itu berhasil dibunuh.

Dia sama sekali tidak peduli mendengar betapa Gui Tiong dan Twa-to Ngo-liong yang membantunya itu tewas.

"Bebaskan gadis itu!"

Perintahnya kepada Phang Houw dan Louw Cin.

"Bawa ia ke sini!"

"Nanti dulu!"

Pat-chiu Lo-mo berseru menahan dua orang yang hendak melaksanakan perintah Pangeran Leng itu sehingga mereka berhenti melangkah.

"Pangeran, sungguh tidak bijaksana kalau membebaskan gadis itu sekarang. Sebaiknya Paduka tunggu sampai berita tentang kematian Pangeran Mahkota Kang Shi disiarkan besok sehingga keterangan Bu Kong Liang ini benar!"

"Engkau benar, Lo-mo! Kita tunggu sampai besok pagi!"

Kata Pangeran Leng sambil memberi isyarat kepada dua orang pembantunya agar membatalkan perintahnya.

Mereka pun duduk kembali.

Tahulah Kong Liang bahwa siasatnya untuk membebaskan Gui Siang Lin yang pertama telah gagal dan dia harus menggunakan siasatnya yang ke dua.

Dia mencabut sepasang tombak bercabang dan berseru kepada Pat-chiu Lo-mo.

"Kakek busuk! Engkau tidak percaya kepadaku berarti engkau menghinaku!"

Setelah berkata demikian, dia menyerang dengan siang-kek di kedua tangannya. Pat-chiu Lo-mo cepat melompat ke belakang sambil menggerakkan tongkatnya.

"Kalau engkau laki-laki, mari keluar! Kita bertanding di luar gedung!"

Kong Liang berseru lagi sambil melompat ke luar.

"Kejar dia!"

Pat-chiu Lo-mo berseru sambil mengejar.

"Pangeran, dia menipu kita!"

Mendengar ini, Hui-eng-to Phang Houw, Liong-bu-pang Louw Cin dan lima orang perwira tinggi itu mencabut senjata masing-masing dan mengejar keluar.

Pangeran Leng Kok Cun yang mulai curiga kepada Kong Liang cepat memberi tanda kepada para penjaga di istananya untuk membantu Pat-chiu Lo-mo, bahkan dia sendiri juga keluar karena pangeran ini pun bukan orang lemah.

Kong Liang sudah bertanding melawan Pat-chiu Lo-mo dan tak lama kemudian dia sudah dikeroyok banyak orang.

Akan tetapi pemuda itu dengan amat gagahnya membela diri.

Sepasang tombak pendek itu digerakkan sedemikian rupa sehingga membentuk dua gulungan sinar yang mengurung tubuhnya sehingga semua serangan pengeroyok itu dapat tertangkis.

Pengeroyok yang tidak begitu kuat, begitu senjatanya tertangkis, terhuyung atau bahkan ada yang senjatanya terpental dan terlepas dari pegangannya, karena jago muda Siauw-lim-pai ini mengerahkan tenaga saktinya.

Sementara itu, Bouw Hujin yang berada di atas genteng, mendapat kesempatan baik.

Selagi semua penjaga lari keluar untuk ikut mengeroyok Kong Liang, yang menjaga Gui Siang Lin hanya enam orang pemanah yang berada di atas atap dan yang siap membunuh gadis itu dengan anak panah mereka kalau ada isyarat Pangeran Leng Kok Cun seperti yang diperintahkannya.

BOUW HUJIN yang ketika mudanya menjadi pendekar wanita yang berjuluk Sin-hong-cu (Burung Hong Sakti) yang mengintai dari atas, begitu melihat Kong Liang dikeroyok banyak orang di luar gedung, segera turun tangan.

Beberapa kali kedua tangannya bergerak dan sinar-sinar perak menyambar ke arah enam orang yang memegang busur dan anak panah itu.

Mereka roboh dan tubuh mereka terguling dari atap ke bawah.

Bouw Hujin cepat membobol atap yang sudah dilubangi bagi para pemanah itu dan dengan ringan tubuhnya melayang ke dalam kamar.

"Engkau Gui Siang Lin?"

Tanyanya kepada gadis yang duduk bersila di atas pembaringan. Siang Lin mengangguk.

"Hayo cepat, kita bantu Bu Kong Liang!"

Bouw Hujin berkata dan ia sudah memegang tangan Siang Lin lalu keduanya melompat ke atas melalui lubang di atas.

Cepat mereka berloncatan di atas genteng istana itu dan setelah tiba di depan, kembali Bouw Hujin menyambitkan Gin-seng-piauw (Senjata Rahasia Bintang Perak).

Dalam waktu singkat saja delapan orang pengeroyok roboh.

Hanya mereka yang berilmu cukup tangguh seperti Phang Houw dan Louw Cin, juga Pat-chiu Lo-mo yang dapat menghindarkan diri dari serangan senjata rahasia itu dengan menangkis sinar perak dengan senjata mereka.

Akan tetapi melihat betapa para perwira dan penjaga roboh dan dalam waktu singkat delapan orang sudah roboh, mereka juga terkejut dan berlompatan mundur.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Kong Liang untuk melompat dan menghilang dalam kegelapan malam.

Memang sebelumnya sudah dia atur bersama Bouw Hujin.

Dia memancing Pangeran Leng Kok Cun dan para pembantunya keluar sehingga Bouw Hujin dapat bergerak dengan leluasa meloloskan Siang Lin, kemudian setelah beberapa orang pengeroyok roboh oleh senjata rahasia Nyonya Pangeran yang amat lihai itu, dia tahu bahwa Siang Lin telah dibebaskan, maka dia lalu melompat dan melarikan diri!

"Kejar...!"

Teriak Pat-chiu Lo-mo.

Akan tetapi karena malam itu gelap dan para pengejar merasa gentar terhadap serangan senjata rahasia yang ampuh itu, mereka tidak dapat menemukan Bu Kong Liang.

Pangeran Leng Kok Cun marah sekali ketika melihat betapa Gui Siang Lin lolos dan enam orang prajurit yang menodong di atas atap telah tewas semua.

Lebih hebat lagi kemarahannya ketika pada pagi harinya ada yang mengantar lima buah peti mati yang terisi mayat Twa-to Ngo-liong!

Dia tahu bahwa dia telah ditipu Bu Kong Liang dan bahwa Pangeran Mahkota Kang Shi sama sekali belum terbunuh!

Akan tetapi, dia tidak berdaya dan belum begitu nekat untuk menyerang Pangeran Bouw Hun Ki yang dekat dengan Kaisar.

Sebaliknya, Pangeran Bouw Hun Ki juga tidak dapat menuduh Pangeran Leng Kok Cun hendak membunuh Pangeran Mahkota karena tidak ada bukti nyata.

Twa-to Ngo-liong telah tewas, dan Bu Kong Liang tentu saja tidak dapat dijadikan saksi karena dia bukan anak buah Pangeran Leng.

Maka urusan itu hanya diketahui kedua pihak.

Kaisar sendiri tidak diberitahu karena selain hal itu akan membuat Kaisar khawatir akan keselamatan Putera Mahkota, juga belum dapat dibuktikan bahwa Pangeran Leng Kok Cun mengirim orang-orang untuk membunuh Pangeran Kang Shi.

Maka, diam-diam terdapat permusuhan hebat antara Pangeran Leng Kok Cun dan Pangeran Bouw Hun Ki, atau lebih tepat Nyonya Bouw, karena wanita inilah yang berani menentang Pangeran Leng.

Mulai saat itu, Bouw Hujin melakukan penjagaan amat ketat.

Bahkan ia membuat bangunan rahasia bawah tanah agar kalau sewaktu-waktu ada bahaya, Pangeran Kang Shi dapat bersembunyi di situ.

Setelah Gui Siang Lin yang dibawa Bouw Hujin tiba di istana Pangeran Bouw, dan mendengar bahwa ayahnya telah tewas, ia menangis tersedu-sedu di depan peti mati ayahnya.

Bu Kong Liang yang sudah tiba di sana pula, segera memberi penjelasan kepada gadis itu.

Dia menceritakan betapa dia dan Gui Tiong terpaksa berpura-pura menurut perintah Pangeran Leng untuk membunuh Pangeran Mahkota, karena mereka berdua melihat Siang Lin ditawan, dan kalau mereka tidak menaati perintah Pangeran Leng, Siang Lin tentu dibunuh.

"Aih, mengapa Ayah dan engkau mau melakukan perintah Pangeran Leng yang jahat itu, Suheng? Biar aku dibunuhnya, aku tidak takut dan tidak semestinya kita tunduk kepadanya!"

Siang Lin mencela sambil terisak-isak.

"Sumoi, kami menuruti perintah Pangeran Leng hanya siasat belaka. Kami bermaksud kalau sudah meninggalkan istana Pangeran Leng dan tiba di atas gedung Pangeran Bouw, kami akan bunuh Twa-to Ngo-liong yang menemani dan mengawasi kami. Aku sudah berhasil membunuh tiga orang di antara mereka, akan tetapi sayang, pada saat itu, Bouw Hujin keluar dan karena mengira bahwa ayahmu seorang di antara penjahat, beliau lalu menyerang dua orang di antara Twa-to Ngo-liong dan ayahmu sehingga mereka bertiga tewas."

"Benar, Gui Siang Lin. Akulah yang salah duga, membunuh tiga orang yang berada di atas genteng gedung kami. Kalau saja aku tahu bahwa yang seorang adalah Gui Kauwsu dari Pek-ho Bukoan, tentu tidak kuserang dia. Akan tetapi malam-malam begitu di atas genteng, tentu saja aku tidak melihat jelas mukanya. Nah, biarpun karena salah duga, aku telah kesalahan tangan membunuh ayahmu. Kalau engkau mendendam sakit hati kepadaku, aku tidak akan menyalahkanmu!"

Kata Bouw Hujin dengan lembut namun gagah.

"Sumoi, Bouw Hujin tidak dapat disalahkan. Aku sendiri tadinya mengira beliau musuh karena beliau merobohkan Susiok, aku menyerangnya dan aku tertotok dan ditawan. Barulah aku mengerti duduknya persoalan setelah aku mendapat kesempatan bicara dengan keluarga Pangeran Bouw. Kami yang bersalah, Sumoi. Semestinya sebelum tiba di sini, kami turun tangan membunuh Twa-to Ngo-liong, baru kemudian menolongmu. Akan tetapi semua telah terjadi, dan kematian Susiok sudah merupakan takdir, kita tidak mungkin dapat menyalahkan Bouw Hujin. Beliau tidak bersalah, bahkan beliau membebaskan engkau dari tawanan Pangeran Leng."

Hati Siang Lin seperti ditusuk, perih dan sakit.

Dengan kedua mata bercucuran air mata, ia memandang kepada nyonya itu.

Bouw Hujin tampak begitu cantik dan gagah, begitu penuh wibawa yang kuat.

Wanita setengah tua itu tadi telah menolongnya keluar dari tahanan Pangeran Leng Kok Cun.

Ia tidak dapat membayangkan apa yang akan diderita kalau Pangeran Leng tahu bahwa ayahnya mengkhianatinya.

Ia bukan hanya akan dibunuh, melainkan disiksa dengan penghinaan yang lebih hebat daripada maut.

Ia tidak boleh mendendam kepada Bouw Hujin.

"Ayaaahhh...!"

Gui Siang Lin menjatuhkan diri berlutut di depan peti mati ayahnya, menangis sesenggukan, membuat semua orang yang berada di situ merasa terharu.

"Nona, hentikanlah tangismu. Ayahmu tewas sebagai seorang gagah sejati menentang kekuasaan yang jahat. Tidak ada gunanya ditangisi lagi. Bahkan arwahnya tidak akan tenang melihat engkau membenamkan diri dalam kesedihan,"

Kata Bouw Kun Liong.

"Akan tetapi saya... saya... yatim piatu... sekarang hidup sebatang kara...!"

Gadis itu menutupi mukanya dengan kedua tangan, tidak menyadari siapa yang bicara menghiburnya tadi.

"Nona, kami merasa bertanggung jawab terhadap nasibmu. Ibuku telah salah sangka dan salah tangan membunuh ayahmu, maka anggaplah kami sebagai keluargamu. Ayah dan ibuku pasti akan menerimamu dengan hati dan tangan terbuka. Bukankah begitu, Ibu?"

Kata Bouw Kun Liong kepada ibunya.

Pangeran Bouw Hun Ki dan Nyonya Bouw saling pandang dan kedua orang tua ini maklum bahwa putera mereka itu agaknya telah jatuh cinta kepada Gui Siang Lin!

Suaranya ketika menghibur menggetar penuh perasaan iba, itulah tanda mulai berseminya cinta!

"Apa yang dikatakan Liong-ko (Kakak Liong) itu benar, Enci Siang Lin!"

Kata Bouw Hwi Siang sambil memegang tangan gadis yang menangis itu.

"Mulai sekarang, engkau tinggallah di sini bersama kami. Ayah Ibu pasti menyetujui sepenuhnya!"

Kini barulah Siang Lin menyadari bahwa yang menghiburnya tadi adalah Bouw Kun Liong, pemuda yang tampan gagah itu.

Ia mengusap air mata dengan kedua tangannya, lalu mengangkat muka memandang ke arah Pangeran Bouw dan Nyonya Bouw dengan hati ragu.

Bouw Hujin menatap wajah gadis itu dengan senyum, lalu mengangguk dan berkata.

"Kedua anakku berkata benar, Siang Lin. Kami dengan senang hati menerimamu dan anggaplah kami sebagai pengganti orang tuamu. Kami akan menganggap engkau sebagai anak angkat kami!"

"Benar, Gui Siang Lin, kami senang kalau engkau menjadi anggota keluarga kami,"

Kata pula Pangeran Bouw Hun Ki.

Mendengar ini, Siang Lin segera menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu tanpa dapat mengucapkan kata-kata saking terharu hatinya.

Kalau tidak ada suami isteri bangsawan ini yang menerimanya, bagaimana ia dapat hidup menjadi buruan kaki tangan Pangeran Leng yang pasti akan membalas dendam?

"Aih, Ibu bagaimana sih?

Bukan menjadi anak angkat, akan tetapi menjadi anak mantu, begitu!"

"Husss, Siang-moi!"

Bouw Kun Liong membentak adiknya, lalu dengan muka berubah kemerahan pemuda itu meninggalkan ruangan, diikuti tawa adiknya. Pangeran Bouw Hun Ki lalu berkata kepada Kong Liang.

"Bu Kong Liang, engkau telah memperlihatkan kebijaksanaanmu dengan menentang perbuatan Pangeran Leng yang jahat. Engkau juga sudah mengetahui bahwa Pangeran Mahkota dititipkan kepada kami. Ini merupakan tugas yang berat dan berbahaya dengan adanya orang-orang yang bersaing memperebutkan kekuasaan. Oleh karena itu, jika kiranya engkau tidak keberatan, kami minta agar engkau membantu kami melindungi keselamatan Pangeran Kang Shi di sini. Bagaimana pendapatmu?"

"Bu-enghiong (Pendekar Bu) adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang selalu membela kebenaran dan keadilan, juga menentang kejahatan. Sudah sepatutnya kalau dia membantu kami melindungi Pangeran Mahkota dari ancaman para pengkhianat,"

Kata Bouw Hwi Siang yang memang merupakan seorang gadis lincah dan tidak malu-malu seperti gadis lain. Ia memang berwatak gagah seperti ibunya.

"Hwi Siang!"

Tegur Nyonya Bouw, akan tetapi sambil tersenyum.

"Jangan lancang, biarkan Bu Kong Liang memutuskannya sendiri!"

Bouw Hwi Siang cemberut manja. Bu Kong Liang yang tadi menundukkan mukanya, kini memandang Pangeran Bouw dan Nyonya Bouw, lalu menjawab.

"Mengingat bahwa Pangeran Leng mengumpulkan orang-orang pandai dan merencanakan perbuatan jahat terhadap Pangeran Mahkota, maka saya siap untuk membantu Paduka melindungi beliau. Terima kasih atas kepercayaan Paduka kepada saya."

Suami isteri itu girang sekali.

Mereka sama sekali tidak menduga bahwa kesediaan pemuda murid Siauw-lim-pai itu membantu mereka melindungi keselamatan Pangeran Kang Shi, terutama sekali karena adanya Bouw Hwi Siang di situ!

Hanya Bu Kong Liang sendiri yang merasakan betapa hatinya terpikat oleh gadis bangsawan itu!

Bouw Hujin lalu berkata kepada Hwi Siang.

"Hwi Siang, engkau ajaklah Siang Lin ke dalam dan suruh pelayan siapkan sebuah kamar untuknya. Juga berikan pakaian pengganti untuknya sebelum pakaiannya diambil dari rumahnya."

"Ah, Ibu. Mengapa susah-susah menyiapkan kamar lain? Biar Enci Siang Lin tidur bersamaku saja!"

Kata Hwi Siang dan ia lalu menggandeng Siang Lin, diajak masuk ke bagian belakang, ke kamarnya dan ia memberikan pakaiannya yang baru untuk dipakai Siang Lin.

Pangeran Bouw memanggil pelayan dan menyuruh pelayan menyiapkan sebuah kamar untuk Bu Kong Liang.

Mulai saat itu, Gui Siang Lin dan Bu Kong Liang tinggal di gedung Pangeran Bouw Hun Ki yang besar.

*** Berdebar rasa jantung Thian Hwa ketika ia tiba di depan gedung besar tempat tinggal Pangeran Ciu Wan Kong.

Tidak seperti gedung tempat tinggal para bangsawan lain yang masih kerabat kaisar, rumah Pangeran Ciu Wan Kong tidak tampak angker, tidak terjaga banyak prajurit.

Hanya ada dua orang penjaga yang tidak berpakaian prajurit, melainkan sebagai pengawal biasa.

Hal ini memang mengherankan kalau diingat bahwa Pangeran Ciu Wan Kong adalah adik dari Kaisar Shun Chi.

Sejak ditinggalkan Cui Eng, wanita yang amat dicintanya karena wanita itu diusir oleh orang tuanya, Pangeran Ciu Wan Kong seolah kehilangan semangat hidupnya.

Penghidupannya berubah sama sekali.

Dia lebih banyak berdiam di dalam kamarnya, atau pergi pesiar dikawal beberapa orang pelayan yang juga menjadi pengawalnya.

Dia bahkan tidak pernah mempunyai isteri atau selir, hidup membujang dan tidak mempedulikan urusan dunia.

Ketika Thian Hwa memasuki pintu gerbang rumah itu, dua orang penjaga segera menyambutnya.

"Maaf, Nona, Siapakah Nona dan apakah keperluan Nona memasuki pintu gerbang gedung ini?"

Tanya seorang dari mereka dengan sikap sopan.

Melihat sikap dua orang penjaga ini hati Thian Hwa merasa senang.

Dari sikap petugas yang paling rendah pangkatnya dapat diketahui watak majikannya yang tingkatnya paling tinggi.

Dua orang penjaga ini bersikap sopan, tentu mereka takut untuk bersikap kurang ajar karena atasan mereka yang susilawan pasti akan menegur bahkan menghukum mereka.

"Tolong laporkan kepada Pangeran Ciu Wan Kong bahwa aku, Thian Hwa, mohon menghadap karena urusan yang teramat penting."

"Maafkan kami, Nona. Beliau sudah lama tidak mau menerima kunjungan siapa pun. Saya akan melapor, akan tetapi sebaiknya Nona memberitahu urusan apa yang hendak Nona sampaikan agar beliau dapat mempertimbangkan untuk menemui Nona atau tidak."

"Hemm, katakan bahwa aku membawa berita tentang diri seorang wanita bernama Cui Eng. Aku yakin beliau pasti akan menerimaku."

"Baik, harap tunggu sebentar, Nona,"

Kata penjaga itu, lalu seorang dari mereka menyeberangi pekarangan yang luas menuju gedung yang besar dan tampak sunyi itu.

Thian Hwa menunggu dengan hati tegang.

Biasanya, gadis yang amat tabah ini menghadapi apa pun tidak merasa gentar atau tegang, akan tetapi sekarang, menghadapi pertemuannya dengan ayah kandungnya, hatinya berdebar penuh ketegangan.

Bagaimana nanti ayah kandungnya itu akan menyambutnya?

Apakah Pangeran Ciu akan ketakutan dan melarikan diri seperti dulu?

Lalu apa yang akan ia lakukan?

Tak lama kemudian, penjaga yang tadi keluar dari dalam gedung berlari keluar menemui Thian Hwa.

"Nona, Pangeran tidak mengenal nama Thian Hwa, akan tetapi mendengar bahwa Nona membawa berita tentang wanita bernama Cui Eng, Nona diperkenankan masuk menghadap beliau. Mari saya antarkan, Nona."

Dengan jantung berdebar keras, Thian Hwa mengikuti penjaga itu memasuki gedung yang besar.

Ternyata di ruangan depan juga tidak tampak pengawal bersenjata seperti lazimnya rumah para bangsawan tinggi.

Hanya ada beberapa orang pembantu rumah tangga sedang membersihkan perabot di situ dan menyapu lantai.

Thian Hwa dibawa ke ruangan tamu dan ketika tiba di pintu ruangan itu, penjaga tadi berkata.

"Beliau menanti di dalam, Nona. Silakan masuk."

Dia lalu keluar lagi.

Thian Hwa memasuki pintu ruangan itu dan ia melihat Pangeran Ciu Wan Kong yang pernah dikenalnya dua kali, yaitu pertama kali ketika ia menyelamatkan pangeran itu dari serangan ular, kedua kalinya ketika ia datang ke gedung ini dengan niat membunuhnya.

Pangeran yang usianya baru sekitar lima puluh dua tahun itu sudah tampak tua karena mukanya kurus dan rupanya sudah putih semua.

Ketika Thian Hwa melangkah masuk, Pangeran Ciu Wan Kong yang tadinya menundukkan muka, mengangkat mukanya dan memandang.

Thian Hwa lega melihat wajah orang tua itu tidak liar ketakutan seperti dulu, melainkan terheran-heran.

Matanya terbelalak, mulutnya ternganga dan dia bangkit perlahan dari kursinya ketika Thian Hwa melangkah menghampirinya.

Thian Hwa berdiri di depannya dalam jarak sekitar sepuluh langkah.

Pangeran Ciu Wan Kong menggosok-gosok kedua matanya dengan tangan, lalu menggelengkan kepala.

"Tidak mungkin... tidak mungkin... kau... kau Dinda Cui Eng...!"

Suaranya gemetar. Thian Hwa menggelengkan kepalanya.

"Bukan, saya bukan Cui Eng...."

"Ah, Dinda Cui Eng, isteriku... kekasihku... jangan engkau membenciku. Aku... ampunkan aku, Cui Eng... engkau sampai terusir dari sini dan aku, tidak dapat melindungimu. Ampunkan aku... ampunkan aku yang berdosa padamu...."

Pangeran Ciu Wan Kong memandang dengan air mata menetes membasahi kedua pipinya yang kurus.

Thian Hwa merasa terharu sekali dan ia khawatir kalau-kalau pangeran itu akan berubah ingatan karena kejutan ini.

"Bukan, saya bukan Cui Eng. Cui Eng mempunyai tahi lalat di atas bibirnya, ingat? Saya tidak mempunyai tahi lalat itu!"

Thian Hwa melangkah mendekat agar pangeran itu dapat melihat wajahnya lebih jelas.

"Dan Cui Eng sekarang tentu tidak semuda saya, bukan?"

Sepasang mata yang basah itu berkejap-kejap.

"Ahh... engkau benar... engkau masih muda walaupun wajahmu persis Cui Eng-ku... dan tidak ada tahi lalat yang manis itu di atas bibirmu... Engkau bukan Cui Eng, lalu engkau... engkau siapa?"

"Saya yang dulu menyelamatkan Paduka dari serangan ular,"

Thian Hwa mengingatkan. Agaknya Pangeran Ciu mulai ingat.

"Ya... ya... engkau gadis yang menyelamatkan aku dari serangan ular dan... rasanya aku pernah bertemu lagi... engkau pernah ke sini malam-malam itu, bukan?"

"Benar, saya pernah ke sini,"

Kata pula Thian Hwa, merasa lega karena pangeran itu agaknya kini sudah dapat mengingatnya.

"Tapi siapakah engkau yang begini mirip dengan Cui Eng? Dan engkau membawa kabar tentang isteriku Cui Eng? Di mana sekarang isteriku yang tercinta itu?"

"Hemm, kalau Paduka memang mencinta Cui Eng, mengapa Paduka begitu tega untuk mengusirnya, membawa anaknya yang masih bayi? Apakah Paduka tidak merasa kasihan kepada ibu dan anak itu?"

Wajah yang kurus itu berkerut penuh perasaan duka.

"Ah, jangan kauingatkan itu, aku... aku tidak berdaya... mendiang orang tuaku yang dulu memaksaku. Aih, anak yang baik, cepat ceritakan bagaimana keadaan Cui Eng sekarang? Di mana ia?"

"Cui Eng sudah tewas ketika diusir pergi dan naik perahu. Perahunya terbalik di Sungai Huang-ho dan ia lenyap ditelan air!"

Kata Thian Hwa dengan suara tegas, mengandung teguran.

"Aduh... Cui Eng... ampunkan aku, Cui Eng...! Kalau engkau sudah tewas, bawalah aku. Tidak ada gunanya lagi aku hidup menanggung dosa dan penyesalan..."

Pangeran itu kini menangis tersedu-sedu.

Hati Thian Hwa yang tadinya mengeras dan membeku itu kini mencair melihat laki-laki setengah tua itu menangis seperti anak kecil.

Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, teringat akan ibunya.

Ia dapat membayangkan betapa sengsara ibunya ketika diusir bersama anaknya yang masih bayi.

"Pangeran Ciu Wan Kong, Paduka seorang pangeran berbangsa Mancu, begitu tega dan memandang rendah seorang wanita Han yang katanya engkau cinta. Di manakah prikemanusiaanmu?"

"Aku bersalah, aku berdosa... ah, Nona, siapakah engkau yang begini mirip Cui Eng, yang berani datang untuk menghancurkan hatiku seperti ini...?"

"Akulah bayi yang dilahirkan Cui Eng kemudian yang engkau usir dari sini!"

Pangeran Ciu Wan Kong terbelalak, matanya masih merah dan basah karena tangis, tubuhnya gemetar seperti mendadak terserang demam.

"Engkau... engkau anak Cui Eng... ya, ya... engkau sama benar dengan Cui Eng... engkau... engkau anakku...?"

Thian Hwa tidak dapat menahan keharuan hatinya. Ia menubruk kaki ayahnya, berlutut dan menangis.

"Ayah... aku... Ciu Thian Hwa... aku... anakmu...!"

Katanya tersendat-sendat.

Pangeran Ciu Wan Kong juga berlutut dan merangkul gadis itu, mendekap kepala gadis itu ke dadanya erat sekali, seolah dia menemukan kembali sebuah mustika yang hilang dan dia ingin membenamkan mustika dalam hatinya agar tidak hilang lagi.

"Anakku...! Ah, Cui Eng, terima kasih... engkau agaknya telah mengampuniku dan memberiku anak ini... Thian (Tuhan)... terima kasih bahwa Engkau telah melindungi anakku ini sehingga dapat bertemu denganku...!"

Ayah dan anak itu berangkulan dan bertangisan.

Sampai lama mereka bertangisan.

Akhirnya Thian Hwa yang lebih dulu dapat menenangkan hatinya yang tadinya pilu penuh haru.

Ia bangkit berdiri membimbing tangan ayahnya, mengusap air matanya dan berkata.

"Ayah, mengapa kita bertangisan? Bukankah sepatutnya kita bergembira oleh pertemuan ini?"

Pangeran Ciu Wan Kong tertawa!

Entah sudah berapa lamanya dia tidak pernah tertawa sehingga dia sendiri merasa aneh.

Akan tetapi wajahnya kini berseri dan mulutnya tersenyum, matanya yang basah bersinar menemukan kembali gairah hidupnya.

"Ha-ha-ha, engkau benar, Anakku! Mengapa kita menjadi orang-orang cengeng? Padahal engkau, anakku Ciu Thian Hwa, engkau telah menjadi seorang pendekar wanita! Ya, pendekar wanita yang gagah perkasa. Aku bangga sekali! Sepatutnya kita bergembira. Kita rayakan pertemuan ini!"

Pangeran itu bertepuk tangan dan muncullah dua orang pelayan wanita setengah tua.

Mereka berdiri terlongong memandang majikan mereka yang tampak begitu gembira.

Hal ini sungguh amat mengherankan hati mereka karena selama bekerja di situ belum pernah mereka melihat pangeran itu bergembira.

Kini pangeran itu berdiri, menggandeng tangan seorang gadis cantik dan tampak begitu gembira!

"Hayo cepat siapkan pesta!

Kami akan merayakan kembalinya anakku!

Ini puteriku, Ciu Thian Hwa.

Kalian harus menyebutnya Ciu Siocia (Nona Ciu)!"

Dua orang pelayan itu terkejut, heran, akan tetapi juga girang sekali. Mereka memberi hormat kepada Thian Hwa dan menyebut "Ciu Siocia"

Lalu mereka cepat pergi untuk melaksanakan perintah majikan mereka. Pangeran Ciu lalu membawa Thian Hwa ke ruangan dalam dan mereka duduk bercakap-cakap.

"Anakku, sekarang ceritakanlah semuanya kepadaku. Benarkah Ibumu, Cui Eng isteriku yang kucinta dan yang bernasib malang, telah meninggal dunia?"

Thian Hwa menghela napas panjang.

"Agaknya begitu, Ayah, walaupun belum ada buktinya bahwa Ibuku telah meninggal dunia. Semua hal tentang diriku juga kudengar dari guruku."

"Ceritakanlah, ceritakan semuanya, Anakku!"

"Guruku, Thian Bong Sianjin bercerita kepadaku bahwa sembilan belas tahun yang lalu dia menolong aku yang masih bayi dari air Sungai Huang-ho. Dia tidak melihat orang lain biarpun dia sudah berusia mencari di sungai itu. Maka dia berkesimpulan bahwa kalau aku pergi dibawa ibuku, tentu ibuku telah meninggal dunia. Aku lalu dipelihara dan dididik oleh guruku itu sebagai muridnya, bahkan diangkat sebagai cucunya. Kong-kong Thian Bong Sianjin memberiku nama Thian Hwa. Dia amat sayang kepadaku dan menurunkan semua ilmu silatnya kepadaku."

"Ah, sungguh besar budi kebaikan Thian Bong Sianjin. Ingin sekali aku dapat bertemu dengan dia untuk mengucapkan terima kasihku yang tak terhingga. Akan tetapi, kalau engkau dan Thian Bong Sianjin tidak pernah melihat Cui Eng, bagaimana engkau tadi dapat mengatakan bahwa Cui Eng mempunyai ciri tahi lalat di atas bibirnya?"

"Begini, Ayah. Setelah menolongku dari sungai, Kong-kong bermimpi, katanya dia melihat seorang wanita cantik dengan tahi lalat di atas bibir, mohon kepadanya untuk merawat anaknya. Maka Kong-kong berpendapat bahwa wanita cantik itu tentu ibuku."

"Aih, Cui Eng... kalau engkau sudah muncul dalam mimpi... benar-benar engkau telah mati, kekasihku?"

Melihat ayahnya tampak sedih kembali, Thian Hwa berkata menghibur.

"Ayah, tenanglah. Menurut perkiraan Kong-kong, ibuku tentu selamat karena dia tidak menemukan jenazahnya. Masih ada harapan Ibu masih hidup, entah di mana."

"Mudah-mudahan begitu, Anakku. Sekarang lanjutkan ceritamu. Bagaimana malam itu engkau dapat datang di sini dan agaknya engkau... engkau ketika itu seperti mengancamku."

"Memang benar, Ayah. Ketika itu aku datang ke sini dengan niat untuk... membunuhmu!"

"Ah, Thian Hwa anakku, kalau engkau hendak membunuhku untuk membalas sakit hati ibumu, silakan. Sekarang juga aku akan menerimanya dengan rela. Memang aku patut mati karena dosaku terhadap Cui Eng!"

"Tidak, Ayah. Buktinya aku tidak jadi membunuhmu. Aku tidak tega dan bahkan merasa kasihan kepadamu. Aku tahu bahwa engkau adalah ayahku setelah aku bertemu dengan kakekku, Kong-kong Cui Sam."

"Ah, Lo Sam! Pembantu keluarga di sini yang amat setia dan juga menjadi ayah mertuaku! Di mana dia, Anakku? Aku pun ingin bertemu dan minta maaf kepadanya!"

"Aku bertemu dengan Kong-kong Cui Sam di istana Pangeran Cu Kiong dan dia yang bercerita tentang riwayat ibuku. Mendengar betapa ibuku diusir setelah melahirkan aku, aku merasa sakit hati dan hendak membunuhmu, Ayah. Akan tetapi melihat Ayah begitu berduka dan menangisi Ibu, aku menjadi tidak tega."

"Hemm, tentu engkau yang mengambil gambar ibumu itu!"

Kata Pangeran Ciu.

"Akan tetapi bagaimana engkau sampai berada di istana Pangeran Cu Kiong sehingga dapat bertemu dengan kakekmu?"

Thian Hwa lalu menceritakan semua pengalamannya, dan bagian terakhir ia menceritakan bahwa kakeknya, Cui Sam, kini tinggal di dusun Kia-jung dekat kota Thian-cin.

"Ah, biarlah aku akan mengirim pasukan menjemput Ayah mertuaku Cui Sam. Dia harus tinggal di sini bersama kita, dia sudah banyak menderita sengsara. Kasihan dia. Akan tetapi ceritamu tentang para pangeran itu sungguh mengejutkan hatiku, Anakku. Apalagi tentang niat Pangeran Leng Kok Cun yang hendak merebut tahta kerajaan! Ini gawat sekali, dan biarpun selama ini aku juga sudah menaruh curiga kepadanya, namun tidak ada bukti akan maksud pengkhianatannya. Sekarang, kita harus segera mengabarkan hal ini kepada Sribaginda agar dapat dilakukan tindakan sebelum dia dapat melaksanakan pemberontakannya itu."

Karena menganggap berita yang dibawa puterinya itu penting sekali, Pangeran Ciu Wan Kong mengajak puterinya makan hidangan yang sudah disiapkan, kemudian bertukar pakaian dan mereka pun berangkat ke istana.

Hal ini merupakan peristiwa yang amat luar biasa bagi para pelayan Pangeran Ciu.

Sudah bertahun-tahun pangeran itu hidup terbenam kesedihan, tidak pernah tampak senyum apalagi tawa di bibirnya, dan selalu tampak lesu dan muram.

Akan tetapi mendadak saja, setelah gadis yang diperkenalkan sebagai puterinya itu datang, Pangeran itu tampak berwajah cerah gembira, matanya bersinar penuh semangat dan gerak-geriknya gesit, tidak loyo seperti biasanya.

Dia bahkan tersenyum kepada setiap pelayan yang ditemuinya ketika dia memegang tangan Thian Hwa dan mereka berdua keluar dari gedung besar.

Para pengawal istana tentu saja mengenal baik Pangeran Ciu Wan Kong, maka komandan pasukan pengawal segera melaporkan ke dalam akan kunjungan Pangeran Ciu.

Laporannya diterima oleh para Thaikam (Orang Kebiri) yang menyampaikan kepada Boan Thaijin, Thaikam yang menjadi penasihat utama Kaisar Shun Chi.

Boan Kit yang sebutannya Boan Thaikam atau Boan Thaijin ini mengerutkan alisnya mendengar bahwa Pangeran Ciu Wan Kong minta menghadap Sribaginda Kaisar.

Biarpun Boan Thaijin tidak suka kepada Pangeran Ciu yang amat setia kepada kakaknya yang menjadi kaisar, namun dia tidak berani menolak kunjungan ini.

Apalagi dia menganggap Pangeran Ciu sama sekali tidak berbahaya.

Akan tetapi ketika Pangeran Ciu dan Thian Hwa disambut Thaikam Boan Kit, penasihat kaisar ini menatap wajah Thian Hwa dengan tajam penuh selidik.

Pangeran Ciu sudah tahu orang macam apa adanya Thaikam Boan Kit, maka melihat pandang matanya dia segera memperkenalkan.

"Boan Thaikam, ini adalah puteriku bernama Ciu Thian Hwa. Karena Kakanda Kaisar belum mengenal keponakan ini, maka kami hendak menghadap Sribaginda Kaisar agar dapat mengenal keponakan beliau."

Boan Thaikam mengangguk dan merasa lega. Kalau hanya pertemuan keluarga saja, dia tidak perlu curiga dan khawatir.

"Sebaiknya Pangeran tunggu sebentar. Saya akan melaporkan kepada Sribaginda yang kini sedang berada di dalam ruangan meditasi. Kalau Beliau sudah selesai bermeditasi, tentu Pangeran berdua dapat menghadap, akan tetapi kalau masih bermeditasi, tentu saja Paduka tidak akan mengganggu Beliau."

"Tentu saja, kami akan menunggu di sini,"

Kata Pangeran Ciu.

Diam-diam Boan Thaikam merasa heran bukan main melihat Pangeran Ciu.

Dia sudah melakukan penyelidikan dan mengenal betul keadaan para pangeran.

Menurut laporan para penyelidiknya, Pangeran Ciu adalah seorang yang lemah dan bahkan jiwanya agak terganggu, selalu mengasingkan diri dan tenggelam dalam duka.

Akan tetapi hari ini dia melihat Pangeran Ciu demikian gembira, wajahnya berseri, sinar matanya penuh semangat!

Tak lama kemudian, Thaikam Boan Kit sudah datang menemui Pangeran Ciu dan berkata.

"Pangeran, kebetulan sekali Sribaginda Kaisar sudah selesai samadhinya dan mendengar bahwa Paduka hendak menghadap, Beliau gembira dan memperkenankan Paduka berdua memasuki Ruangan Meditasi."

"Terima kasih, Boan Thaikam,"

Kata Pangeran Ciu.

Tentu saja dia sudah mengenal keadaan dalam istana, maka tanpa ragu lagi dia mengajak Thian Hwa menuju ruangan itu.

Ruangan itu luas, akan tetapi tidak terisi banyak perabot yang serba mewah seperti yang terdapat di lorong-lorong dan ruangan lain dalam istana itu.

Bahkan ruangan luas ini sederhana bagi ukuran istana.

Hanya terdapat sebuah meja bundar dengan enam buah kursi, sebuah almari besar dan sebuah dipan ukuran sedang.

Tentu saja ruangan itu terlampau luas untuk perabot yang sedikit itu.

Begitu melangkah ambang pintu, Thian Hwa melihat seorang laki-laki sekitar enam puluh tahun lebih, duduk bersila dan atas dipan, menghadap ke arah pintu.

Wajahnya bersih dari jenggot dan kumis, bahkan rambutnya dipotong pendek.

Jubahnya berwarna kuning seperti yang biasa dipakai para pendeta Buddha.

Kalau saja kepala itu gundul, maka laki-laki itu jelas seorang hwesio (pendeta Buddha)!

Thian Hwa memandang heran.

Inikah Sribaginda Kaisar?

Seorang pendeta seorang hwesio?

Pangeran Ciu Wan Kong sudah menjatuhkan diri berlutut begitu melangkah masuk dan tentu saja Thian Hwa segera ikut pula berlutut.

"Ban-swe, ban-ban-swe...!"

"Semoga Sribaginda Kaisar panjang umur!"

Kata Pangeran Ciu dan ucapan ini pun diikuti oleh Thian Hwa. Secara harfiah penghormatan umum bagi kaisar itu berarti "panjang umur selaksa tahun"

Dan Thian Hwa yang meniru ayahnya meneriakkan salam penghormatan itu diam-diam merasa geli.

Laksaan tahun?

Bagaimana kalau harapan itu dikabulkan?

Bagaimana rupa kaisar itu nanti kalau usianya mencapai laksaan tahun?

Baru enam puluh tahun lebih saja sudah tampak tua!

Maka, ia tidak dapat menahan geli hatinya dan sambil menggigit bibir ia menahan tawanya dan tampak tersenyum aneh.

Terdengar suara Kaisar Shun Chi yang lembut, suara yang penuh kesabaran seperti suara seorang hwesio.

"Adinda Pangeran Ciu Wan Kong, adikku yang baik! Menurut keterangan Boan Thaikam, engkau berkunjung bersama puterimu. Ah, ini merupakan pertemuan keluarga, bukan persidangan resmi, maka jangan memakai banyak peraturan yang kaku. Tidak enak antara keluarga berbincang-bincang dengan kaku begini. Ciu Wan Kong, dan engkau keponakanku, kalian bangkit dan duduklah di atas kursi."

Pangeran Ciu Wan Kong yang merupakan adik misan Kaisar Shun Chi yang di waktu mudanya akrab dengan kakaknya, mengenal betul watak kaisar itu yang lembut dan bahkan ramah.

Dia segera bangkit berdiri, diikuti oleh Thian Hwa.

"Banyak terima kasih, Kakanda Kaisar,"

Katanya dengan akrab. Mereka lalu duduk di atas kursi menghadap ke arah Kaisar Shun Chi.

"Ciu Wan Kong, sudah bertahun-tahun kami mendengar bahwa engkau berada dalam kedukaan dan bahkan seperti mengasingkan diri. Sudah lama sekali kami tidak bertemu denganmu, akan tetapi hari ini kami melihat engkau berwajah ceria. Sukurlah kalau engkau sudah dapat mengatasi kedukaanmu. Dan kami mempunyai keponakan sudah begini besar, mengapa selama ini tidak pernah diajak menghadap ke sini?"

"Maafkan saya, Kakanda Kaisar. Sesungguhnya saya sendiri baru saja menemukan kembali puteri saya yang hilang sejak ia masih bayi."

"Omitohud! Menarik sekali itu, kenapa kami tidak pernah mendengarnya? Ceritakanlah apa yang terjadi dengan engkau dan anakmu ini, Dinda,"

Kata Kaisar dan kembali Thian Hwa merasa heran.

Mendengar ucapan Kaisar, ia merasa seolah berhadapan dengan seorang hwesio!

Pangeran Ciu Wan Kong lalu menceritakan kepada Kaisar Shun Chi tentang Cui Eng yang diusir orang tuanya sejak melahirkan seorang anak perempuan.

Kemudian menceritakan tentang pertemuannya kembali dengan Thian Hwa yang setelah menjadi seorang gadis pendekar yang lihai lalu mencari ayah ibunya.

"Hemm, kami masih ingat bahwa ibumu, adik ayahku, adalah seorang yang berwatak keras. Akan tetapi sungguh tak kusangka ia akan tega terhadap cucunya sendiri. Beginilah kalau manusia membiarkan dirinya terikat kepada derajat dan kehormatan. Ikatan menjadi sumber kesengsaraan,"

Kata Sribaginda Kaisar.

"Akan tetapi sekarang engkau dapat berkumpul kembali dengan puterimu, kami ikut merasa gembira dan bahagia!"

"Terima kasih, Kakanda Kaisar. Akan tetapi saya menghadap Kakanda ini, selain untuk memperkenalkan puteri saya, juga untuk melaporkan keadaan yang teramat gawat, yang didapatkan oleh Thian Hwa."

Kaisar Shun Chi tersenyum.

"Hal gawat apakah itu?"

"Thian Hwa, ceritakanlah kepada Sribaginda Kaisar,"

Kata Pangeran Ciu kepada puterinya.

Thian Hwa lalu menceritakan pengalamannya ketika ia bertemu dengan Pangeran Leng Kok Cun, tentang apa yang ia ketahui tentang pangeran yang hendak merampas tahta kerajaan dengan mengumpulkan banyak tokoh sesat dunia kang-ouw dan mengadakan persekutuan dengan para pejabat yang sehaluan.

"Mohon beribu ampun, Yang Mulia. Sebetulnya hamba tidak berani menyusahkan perasaan Paduka dengan cerita ini, akan tetapi menaati perintah Ayah, hamba menceritakan juga."

Thian Hwa menutup ceritanya ketika melihat betapa wajah yang penuh kesabaran itu diselimuti kedukaan setelah mendengar ceritanya. Kaisar Shun Chi menghela napas panjang.

"Baik sekali engkau menceritakan hal itu, Thian Hwa. Sesungguhnya, hal seperti itu sudah lama kukhawatirkan, Dinda Ciu Wan Kong. Perebutan kekuasaan, seolah kekuasaan harta benda itu dapat mendatangkan kebahagiaan! Padahal semua itu bahkan mendatangkan ikatan dengan dunia yang lebih kuat lagi. Jelas bahwa Pangeran Leng Kok Cun menuruti hawa nafsu angkara murka. Memang dia yang paling tua di antara putera-puteraku, akan tetapi dia lahir dari selir sehingga tidak berhak menggantikan aku. Orang pertama yang berhak adalah puteraku bungsu Pangeran Mahkota Kang Shi. Ah, kedudukan dan harta hanya mendatangkan pertengkaran dan perebutan. Keadaan inilah yang membuat aku ingin melepaskan semuanya itu. Bebas dari pengaruh dunia yang hanya mendatangkan kesenangan palsu yang berakhir dengan kesengsaraan. Bebas dari segala persoalan yang hanya menimbulkan kebencian dan permusuhan."

Kaisar itu menghela napas lagi dan duduk diam seperti orang melamun.

"Maafkan saya, Kakanda Kaisar. Menurut cerita Thian Hwa tadi, bahaya dan keributan itu baru merupakan ancaman saja dan sebaiknya ancaman itu disingkirkan agar jangan terjadi malapetaka. Ampunkan saya karena saya usulkan ini hanya demi menjaga kejayaan Kerajaan Ceng."

Kembali Kaisar Shun Chi menghela napas panjang.

"Adikku Ciu Wan Kong, bagaimanapun juga, Pangeran Leng Kok Cun adalah puteraku sendiri. Aku akan menasihatinya agar dia insaf dan menyadari kekeliruannya sehingga tidak melanjutkan niatnya yang tidak baik itu."

Tiba-tiba terdengar gerakan orang di pintu.

Thian Hwa yang memiliki kepekaan terhadap ancaman bahaya, cepat menengok dan ia melihat lima orang prajurit pengawal masuk ke ruangan itu.

Tiba-tiba mereka berlima mengayun tangan dan terdengar suara bersiutan ketika lima sinar meluncur ke arah Kaisar!

Dengan gerakan cepat sekali Thian Hwa menyambar kursi yang tadi didudukinya, melompat ke depan Kaisar dan menangkis lima batang piauw (senjata gelap) yang menyambar itu sehingga terdengar suara berdentingan ketika lima batang piauw itu terlempar ke atas lantai.

Sementara itu, Pangeran Ciu Wan Kong cepat melompat dan memegang tangan Kaisar Shun Chi, menariknya ke belakang almari besar untuk berlindung.

Melihat serangan mereka digagalkan gadis cantik yang berada di situ, lima orang prajurit pengawal itu berlompatan sambil mencabut pedang mereka.

Thian Hwa tidak membawa senjata karena hal itu dilarang oleh ayahnya.

Menghadap Kaisar memang dilarang keras membawa senjata.

Melihat lima orang itu bergerak demikian gesit, Thian Hwa dapat menduga bahwa mereka itu pasti bukan prajurit pengawal biasa.

Mungkin orang-orang kang-ouw yang pandai ilmu silat yang menyamar sebagai prajurit pengawal.

Ia tahu bahwa keselamatan Kaisar terancam, maka ia cepat mengambil jarum-jarum kecil yang disembunyikan di saku bajunya.

Kursi yang tadi dipakai menangkis lima batang piauw itu ia lontarkan ke arah lima orang pengawal yang menyerbu masuk.

Tepat seperti dugaannya, lima orang itu dengan mudah menghindarkan diri dari sambaran kursi, bahkan seorang dari mereka menggunakan pedangnya membacok kursi sehingga patah-patah.

Akan tetapi, serangan dengan lemparan kursi itu dilakukan Thian Hwa hanya untuk mengalihkan perhatian mereka.

Segera sinar-sinar putih menyusul kursi itu dan itulah jarum-jarum Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) yang menyambar dengan kecepatan kilat ke arah lima orang itu.

Terdengar teriakan mengaduh dan dua orang dari mereka terpelanting roboh terkena jarum yang menyambar dengan amat cepatnya itu.

Tiga orang yang lain masih sempat menghindarkan diri dari sambaran jarum-jarum lembut itu.

Thian Hwa melompat ke depan, disambut serangan tiga orang itu.

Memang jelas bahwa mereka itu bukan prajurit biasa karena serangan pedang mereka cukup lihai dan ganas.

Karena Thian Hwa harus melindungi Kaisar, maka ia mengambil tempat melindungi Kaisar yang berada di belakangnya agar dia dapat mencegah tiga orang itu melakukan serangan kepada Kaisar Shun Chi dan Pangeran Ciu Wan Kong yang berlindung di balik almari.

Thian Hwa bergerak dengan ilmu silat tangan kosong Kauw-jiu Kwan Im (Dewi Kwan Im Berlengan Sembilan).

Gerakannya ringan dan gesit seperti seekor burung, berkelebatan di antara tiga gulungan sinar pedang pengeroyoknya.

Tiga orang itu memang memiliki ilmu pedang yang cukup lihai, terutama sekali yang seorang, yang bertubuh tinggi kurus.

Dialah yang paling lihai dan agaknya orang ini mencari kesempatan untuk menerobos lewat Thian Hwa agar dapat membunuh Kaisar!

Pangeran Ciu Wan Kong beberapa kali membujuk Kaisar untuk memberi tanda memanggil para pengawal.

Akan tetapi Kaisar Shun Chi yang bersikap tenang sekali itu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan suara tegas.

"Tidak, Dinda. Aku ingin sekali mengetahui sampai di mana kelihaian puterimu. Kita lihat saja. Aku yakin ia akan dapat mengalahkan mereka."

Tentu saja hati Pangeran Ciu Wan Kong gelisah sekali melihat puterinya kini dikeroyok tiga orang yang bersenjata pedang, sedangkan puterinya bertangan kosong!

Akan tetapi dia tidak berani membantah ucapan Kaisar dan hanya menonton dengan jantung berdebar.

Dugaan Kaisar memang benar.

Tingkat kepandaian Thian Hwa jauh lebih tinggi daripada tingkat tiga orang pengeroyoknya, atau lebih tepat yang dua orang, karena yang seorang itu memang benar lebih tangguh daripada yang lain.

Setelah bertanding belasan jurus, dengan tendangan kakinya, Thian Hwa berhasil merobohkan dua orang pengeroyok.

Akan tetapi ia sempat terkejut melihat lawannya yang tinggal seorang itu, tiba-tiba saja menyerang ke arah kawan-kawannya sendiri!

Empat kali pedangnya menyambar ke arah empat orang yang sudah roboh terluka itu dan mereka pun tewas seketika.

"Jahanam!"

Thian Hwa membentak marah dan ia cepat menyerang dengan pengerahan tenaga sakti. Orang tinggi kurus itu mencoba untuk memapaki serangan ini dengan bacokan pedangnya.

"Trakkk...!"

Pedang itu terpental dan terlepas dari pegangan tangannya ketika terpukul oleh tangan Thian Hwa yang terisi penuh tenaga sakti yang amat kuat.

Kaki Thian Hwa menyusul dengan tendangan dan tubuh orang itu terlempar, menabrak dinding ruangan itu dan jatuh terkulai.

Thian Hwa melompat untuk menangkapnya karena ia perlu mengorek keterangan dari satu-satunya lawan yang masih hidup itu agar diketahui siapa yang mendalangi penyerangan itu.

Akan tetapi, orang itu memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya dan tubuhnya menggelepar lalu tewas!

"Keparat!

Dia telah menelan racun!"

Thian Hwa berseru marah.

Setelah lima orang penyerang itu tewas semua, barulah Kaisar Shun Chi membunyikan kelenengan sebagai tanda memanggil para pengawal.

Belasan orang prajurit pengawal berlari masuk, dipimpin oleh Boan Thaikam sendiri yang datang dengan pedang di tangan!

Boan Thaikam ini adalah seorang yang memiliki ilmu silat tinggi.

Dia terbelalak memandang mayat lima orang prajurit pengawal itu dan cepat dia memandang kepada Kaisar Shun Chi yang masih bergandeng tangan dengan Pangeran Ciu Wan Kong dan kini sudah keluar dari balik almari besar.

"Ya Tuhan...!"

Thaikam itu berseru sambil memandangi mayat-mayat itu dan menyembah kepada Kaisar dengan membalikkan pedang di bawah lengannya.

"Sribaginda, apakah yang telah terjadi? Siapa lima orang yang berpakaian seperti pengawal ini dan mengapa mereka mati di sini...?"

Dengan sikap tenang saja Kaisar berkata.

"Mereka berusaha untuk membunuhku, namun keponakanku yang gagah perkasa ini telah menggagalkan niat jahat mereka. Boan Thaikam, cepat perintahkan anak buahmu untuk menyingkirkan mayat-mayat itu dari sini dan membersihkan lantai ruangan ini!"

"Baik, Sribaginda."

Thaikam itu lalu sibuk mengatur orang-orangnya untuk menyingkirkan lima mayat itu, membawanya keluar. Kaisar Sun Chi lalu berkata kepada Pangeran Ciu Wan Kong dan Thian Hwa.

"Mari kita melanjutkan pembicaraan kita di ruangan lain."

Setelah berkata demikian, dia menekan tombol yang tersembunyi di balik almari dan...

terbukalah sebuah pintu di dekat almari itu!

Thian Hwa dan ayahnya lalu mengikuti Kaisar masuk ke ruangan lain melalui pintu rahasia itu.

Setelah mereka masuk, pintu itu segera tertutup kembali dan dinding itu tampak utuh.

Ruangan itu lain dari ruangan tadi.

Tidak seluas tadi dan perabotnya seperti di ruangan lain, indah dan mewah.

Jelas bukan merupakan kamar tidur karena tidak ada pembaringannya.

Hanya ada meja kursi dan perabot hiasan.

Setelah mereka duduk, Pangeran Ciu Wan Kong tidak dapat menahan keinginannya.

"Maaf, Kakanda Kaisar, saya sungguh merasa heran dan ingin tahu sekali. Tadi ketika Kakanda terancam lima orang pembunuh itu dan kita berada di balik almari, mengapa Kakanda tidak menggunakan pintu rahasia itu untuk menyelamatkan diri?"

Kaisar Shun Chi tersenyum lebar.

"Dan tidak menyaksikan keponakanku yang gagah perkasa ini bagaimana gagahnya ia menggagalkan usaha mereka? Omitohud! Aku tidak begitu bodoh, Dinda Pangeran. Aku ingin melihat buktinya lebih dulu bahwa Thian Hwa adalah seorang pendekar wanita yang pantas kuserahi tugas melindungi Pangeran Mahkota, dan pantas kuberi sebuah Tek-pai."

Pangeran Ciu terbelalak memandang Kaisar.

"Melindungi Pangeran Mahkota? Dan diberi Tek-pai (Bambu Tanda Kuasa Kaisar)? Akan tetapi bukankah Pangeran Mahkota sudah dilindungi oleh Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki dan keluarganya? Dan puteri saya ini... ia... ia... masih amat muda, sudah pantaskah ia menerima sebuah Tek-pai? Saya mohon Kakanda mempertimbangkan kembali."

Tentu saja Pangeran Ciu Wan Kong merasa amat khawatir mendengar ucapan Kaisar itu.

Melindungi Pangeran Mahkota merupakan sebuah tugas besar yang teramat penting dan melihat betapa para pangeran agaknya merasa iri dan ingin mendapatkan tahta kerajaan menggantikan Sang Kaisar, maka pekerjaan melindungi Pangeran Kang Shi itu penuh bahaya.

Dan diberi Tek-pai, yaitu sepotong bambu yang ada cap dan tanda tangan Kaisar dengan tulisan bahwa pemegangnya diberi kekuasaan oleh Kaisar, juga berarti memberi tanggung jawab yang amat berat di atas pundak puterinya, seorang gadis muda!

Biasanya yang diberi Tek-pai adalah mereka yang sudah benar-benar dipercaya oleh Kaisar, seorang pejabat tinggi yang setia dan sudah banyak jasanya!

Kembali Kaisar Shun Chi tersenyum.

"Adinda Ciu, aku selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan. Telah kupertimbangkan dengan baik ketika aku mengangkat Thian Hwa menjadi pelindung Pangeran Mahkota Kang Shi. Thian Hwa, engkau akan membantu Pangeran Bouw Hun Ki yang sudah kuserahi tugas mendidik dan menjaga Pangeran Mahkota. Engkau bertugas menjaga keselamatannya dan menentang mereka yang berniat jahat terhadap Pangeran Kang Shi. Untuk itu, engkau akan kuberi Tek-pai agar ke mana pun engkau minta bantuan, semua pejabat pemerintah pasti akan menerimamu dan membantumu. Nah, Thian Hwa, keponakanku yang gagah, sanggupkah engkau menerima tugas ini?"

Thian Hwa lalu bangkit dari kursinya dan menjatuhkan diri berlutut menghadap Kaisar.

"Hamba menaati semua perintah Paduka Sribaginda!"

Kaisar Shun Chi tertawa senang.

"Ha-ha-ha, engkau pantas menjadi puteri Dinda Ciu Wan Kong yang merupakan adikku yang paling bijaksana dan setia!"

Kaisar tertawa lagi. Akan tetapi dia lalu bersikap serius, senyumnya lenyap dan dia berkata lirih.

"Dengar baik-baik kalian berdua yang kupercaya. Sesungguhnya aku sudah menduga akan semua yang kalian ceritakan itu. Aku pun sudah tahu akan niat puteraku Pangeran Leng Kok Cun yang tidak sehat itu. Akan tetapi bagaimanapun juga, dia adalah puteraku. Aku akan seperti mencoreng arang di mukaku sendiri kalau bertindak terhadap puteraku sendiri. Oleh karena itu, aku sudah mengambil keputusan yang sudah sejak lama kurencanakan."

Kaisar Shun Chi lalu dengan suara berbisik memberitahu kepada Pangeran Ciu Wan Kong dan Thian Hwa tentang rencananya.

Keputusan yang diambil Kaisar Shun Chi memang luar biasa dan hebat.

Kaisar yang telah lama menekuni Agama Buddha itu sehingga dia tidak acuh terhadap urusan kerajaan, ingin meniru apa yang dilakukan Pangeran Sidharta Gautama yang meninggalkan istana dengan semua kesenangan dan kemewahannya untuk mencari jalan kebenaran sehingga akhirnya menjadi Buddha.

Kaisar Shun Chi juga ingin meninggalkan istana secara diam-diam agar jangan menggegerkan rakyat, menjadi pendeta Buddha dan menghabiskan hidupnya untuk melepaskan diri dari semua ikatan.

Agar tidak sampai menimbulkan kekacauan, mereka yang dekat dengannya dan dipercaya akan mengabarkan bahwa Kaisar Shun Chi telah wafat!

"Akan tetapi, Kakanda...!"

Pangeran Ciu Wan Kong berseru kaget dan heran. Kaisar Shun Chi mengangkat tangan kanannya ke atas.

"Cukup, Dinda Ciu, keputusan ini tidak dapat diubah oleh siapapun juga, sudah menjadi keputusanku. Aku akan meninggalkan surat wasiat bahwa penggantiku haruslah Pangeran Kang Shi. Dinda Ciu Wan Kong, terutama engkau Thian Hwa, sangat kuharapkan untuk membantu Pangeran Bouw Hun Ki dan para menteri dan panglima yang setia agar penobatan Pangeran Kang Shi sebagai kaisar penggantiku berjalan dengan lancar dan tidak ada hambatan atau halangan. Ini merupakan perintahku yang terakhir! Maukah engkau berjanji, Ciu Thian Hwa?"

Thian Hwa juga terkejut dan heran mendengar rencana Kaisar yang diucapkan dengan suara tenang namun tegas itu. Ia pun menjawab tanpa ragu.

"Hamba siap melaksanakan semua perintah Paduka, Sribaginda!"

"Bagus, sekarang hatiku menjadi tenang. Biarpun aku sudah menyerahkan semua harapan dan kepercayaan kepada Pangeran Bouw Hun Ki yang didukung oleh isterinya yang bijaksana dan tinggi ilmunya, namun mereka masih memerlukan bantuan seorang seperti engkau, Thian Hwa. Surat wasiat itu telah kutulis, akan tetapi masih kubawa. Sekarang, tugas pertamamu adalah membawa surat wasiat ini kepada Pangeran Bouw Hun Ki dan menyerahkan surat wasiat ini kepadanya."

"Maaf, Kakanda Pangeran, apakah Kakanda Pangeran Bouw Hun Ki sudah mengetahui akan rencana Kakanda membuat surat wasiat ini?"

"Sudah, mereka sudah mengetahui semua rencanaku. Berikan saja surat wasiat ini kepadanya dan dia akan mengerti."

Kaisar lalu mengambil surat wasiat itu dari balik jubahnya dan menyerahkannya kepada Thian Hwa. Gadis itu menerimanya dan menyimpannya baik-baik di balik bajunya sehingga tidak tampak dari luar.

"Nah, sekarang kalian boleh pergi dari sini."

"Akan tetapi, Kakanda. Ke manakah saya harus mencari kalau saya ingin berjumpa dengan Kakanda?"

Tanya Pangeran Ciu Wan Kong dengan hati pilu.

"Dinda Ciu Wan Kong! Kalau nanti ada berita tentang Kaisar Shun Chi wafat, berarti aku sudah tidak berada di sini. Jangan tanya lagi ke mana aku pergi dan jangan mengharap akan bertemu dengan aku lagi. Anggap saja aku benar-benar sudah mati."

"Kakanda...."

"Cukup, jangan lemah dan cengeng, Dinda Ciu Wan Kong. Lihat puterimu begitu tegar dan gagah! Laksanakan saja pesanku dengan baik dan aku yakin Kerajaan Ceng akan tetap jaya! Pergilah, kalau terlalu lama kalian berada di sini akan menimbulkan kecurigaan."

Setelah menerima Tek-pai dan surat wasiat dari Kaisar Shun Chi, Thian Hwa dan ayahnya lalu meninggalkan istana dengan hati berat.

Terutama sekali Pangeran Ciu Wan Kong.

Pertemuannya dengan Kaisar tadi mungkin merupakan pertemuan terakhir!

Akan tetapi dengan adanya Thian Hwa di sampingnya, Pangeran Ciu Wan Kong dapat terhibur.

Penghidupannya berubah sepenuhnya setelah puterinya itu tinggal bersamanya.

Dia lalu cepat menyuruh orang menjemput Lo Sam yang tinggal di dusun Kia-jung untuk datang, dan tinggal di gedungnya, bukan lagi sebagai seorang pelayan seperti dahulu, melainkan sebagai ayah mertua yang dihormati!

*** Kita tinggalkan dulu Thian Hwa yang kini tinggal bersama ayahnya di kota raja dan mengemban tugas yang penting dan berat dari Kaisar, dan kita ikuti pengalaman Ui Yan Bun yang telah hampir dua tahun kita tinggalkan.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Yan Bun membantu Thian Hwa yang dikeroyok oleh Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng), para pengawal Pangeran Cu Kiong.

Thian Hwa yang tadinya terdesak hebat, dengan bantuan Yan Bun berbalik dapat merobohkan empat orang pengeroyok hingga tewas.

Tiga yang lain melarikan diri.

Ketika Yan Bun hendak mengejar dan membunuh Pangeran Cu Kiong, Thian Hwa melarangnya.

Kemudian gadis itu meninggalkan Yan Bun yang ketika itu hendak mencari kakek angkat atau gurunya, yaitu Thian Bong Sianjin.

Sebagai seorang yang berperasaan peka, ketika Thian Hwa mencegah dia membunuh Pangeran Cu Kiong yang tampan gagah itu, Yan Bun sudah dapat menduga akan isi hati Thian Hwa.

Gadis itu agaknya jatuh cinta kepada Sang Pangeran!

Tentu saja hal ini menusuk hatinya.

Dia yang sejak dahulu amat mencinta Thian Hwa kini mendapat kenyataan betapa gadis itu tidak membalas cintanya, bahkan mencinta laki-laki lain, yaitu Pangeran Cu Kiong!

Dengan hati kecewa dan sedih karena dia harus berpisah dari gadis yang dicintanya, Yan Bun lalu meninggalkan kota raja dan menuju ke Lam-hu di selatan.

Dia hendak mengunjungi Ui Tiong, pamannya yang juga menjadi gurunya yang pertama, yang tinggal di sana.

Pek-hunya (Paman Tuanya) itu membuka sebuah toko obat di Lam-hu karena selain ahli silat yang cukup pandai, Ui Tiong juga pandai tentang ilmu pengobatan.

Kota Lam-hu merupakan kota yang cukup ramai.

Letaknya di dekat sebuah telaga yang besar.

Kota itu dinamakan Lam-hu yang sebetulnya nama dari telaga itu, yakni Lam-hu (Telaga Selatan).

Kota Lam-hu berseberangan dengan sederetan bukit-bukit yang rimbun dengan hutan.

Ketika matahari sudah mulai panas dan orang-orang mulai bekerja, menggarap sawah ladang, mencari ikan di telaga, ada pula yang mengumpulkan hasil hutan di pegunungan itu, masuklah Ui Yan Bun ke kota Lam-hu.

Dia mengenal benar kota ini karena selama tidak kurang dari tujuh tahun, dia dahulu tinggal di rumah pamannya, membantu pekerjaan Ui Tiong yang berdagang obat dan belajar silat dari pamannya itu.

Ui Tiong dan isterinya amat sayang kepada Yan Bun karena mereka sendiri tidak mempunyai anak.

Ketika memasuki kota Lam-hu, Yan Bun merasa gembira.

Seolah tidak ada perubahan sama sekali setelah dia meninggalkannya selama beberapa tahun ini.

Dia membayangkan betapa akan senangnya paman dan bibinya menyambut kedatangannya.

Ketika lewat di jalan yang berada di dekat telaga, dia berhenti sebentar dan memandang ke permukaan telaga dengan wajah berseri.

Teringatlah dia betapa dulu dia sering main-main naik perahu atau berenang dengan kawan-kawan di telaga itu.

Indah sekali pemandangan di telaga.

Dari tempat dia berdiri, dia melihat pegunungan yang hijau itu membayang di permukaan air di seberang.

Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 7

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 15

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert