Eps 1 Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo
Baca online Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo
Cersil Kemelut Kerajaan Mancu - Kho Ping Hoo.
Kemelut Kerajaan Mancu (Seri ke 02 Dewi Sungai Kuning) Karya .
Asmaraman S.Kho Ping Hoo Matahari memuntahkan panasnya melalui cahayanya yang membakar seluruh permukaan bumi.
Hari menjadi amat cerah, langit bersih seolah semua awan ketakutan menyingkir dari cahaya matahari.
Namun Sungai Kuning (Huang-ho) seolah tidak merasakan teriknya matahari.
Di sepanjang sungai dan kedua tepinya yang dihias pohon-pohon dan tumbuh-tumbuhan subur itu tampak hijau dan sejuk.
Seolah sungai yang lebar itu menyerap semua hawa panas yang mengandung kehidupan itu.
Burung-burung dan binatang lain mencari perlindungan di bawah pohon-pohon dan di antara daun-daun yang sejuk.
Bahkan para nelayan yang biasanya menjala atau memancing ikan, pada siang hari yang terik itu pergi mengaso, tidak kuat menahan panasnya sinar matahari.
Huang-ho (Sungai Kuning) tampak sepi pada siang hari itu.
Tiba-tiba dari jauh tampak meluncur seorang wanita di atas air sungai.
Kalau ada yang melihatnya pada saat itu, tentu dia akan tercengang keheranan, mungkin lari ketakutan dan mengira bahwa wanita itu adalah setan yang dapat berjalan di atas air!
Akan tetapi kalau dilihat dari jarak agak dekat, tentu dia akan mengira bahwa yang meluncur di atas air itu adalah seorang Dewi atau Bidadari!
Ia memang cantik jelita.
Rambutnya yang digelung ke atas itu agak terurai karena hembusan angin sehingga beberapa gumpalan anak rambut bermain-main di dahi dan pipinya.
Rambut yang hitam lembut panjang dan agak berikal.
Mukanya berbentuk bulat telur, sepasang matanya mencorong tajam dan memiliki daya tarik yang memikat, hidungnya mancung dan mulutnya bersaing indah dengan matanya, memiliki daya pikat yang akan menimbulkan gairah dalam hati setiap orang pria yang melihatnya.
Apalagi di kanan kiri mulutnya terdapat lesung pipi yang amat manis.
Kulitnya putih bersih dan kini kedua pipinya kemerahan karena panas matahari.
Ia bukanlah seorang dewi apalagi setan penunggu sungai.
Ia seorang gadis yang usianya sekitar dua puluh tahun, bertubuh sintal denok dan berwajah cantik jelita.
Pakaiannya dari sutera putih dan kalau ia tampak seperti orang berjalan di atas air, sesungguhnya ia sedang meluncur dengan cepat di atas air!
Bukan berdiri di atas kedua kakinya, melainkan ia menggunakan terompah papan selancar.
Dengan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang sudah tinggi tingkatnya, ia dapat berdiri di atas papan, lalu dengan pengerahan khi-kang ia dapat mendorong kedua kaki yang menginjak papan itu sehingga ia meluncur dengan cepat di atas air!
Gadis itu bernama Ciu Thian Hwa, seorang pendekar wanita yang selain cantik jelita juga amat lihai.
Ia malang melintang di dunia kang-ouw, membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan dengan keras sehingga ia terkenal dengan julukan Huang-ho Sian-li (Dewi Sungai Kuning).
Setelah mengalami banyak hal yang menimbulkan kepahitan dan kekecewaan hati yang membuat hatinya terasa sedih, akhirnya ia mengambil keputusan untuk mencari gurunya yang juga menjadi kakek angkatnya.
Gurunya adalah Thian Bong Sianjin yang dulu sebelum bertobat menjadi pendeta berjuluk Huang-ho Sui-mo (Setan Air Sungai Kuning).
Thian Hwa makin mempercepat luncuran papan selancarnya di atas air.
Setelah berada di atas Sungai Huang-ho kembali, ia merasa gembira dan sedikit demi sedikit lenyaplah segala kekecewaan dan kepahitan yang dideritanya.
Ia merasa telah kembali ke tempat yang sesuai dan cocok baginya, yaitu Sungai Huang-ho dan karena ia tahu bahwa ia seolah kembali di sungai itu, dan ibu kandungnya lenyap pula di situ, maka ia merasa seolah-olah kini ia berada dekat dengan ibunya.
Ia merasa seakan-akan telah mendapatkan kembali ibunya, yakni sungai dengan airnya yang luas itu!
Ia meluncur dan memandang permukaan air dengan hati terharu, dan dengan cekatan ia membungkuk untuk menggunakan tangannya menyendok air lalu air ia siramkan ke mukanya!
Angin Sungai Huang-ho meniup mukanya yang menjadi segar dan nyaman.
Lenyaplah segala kesedihannya!
Ketika air Sungai Huang-ho mulai sukar ditempuh karena banyak terdapat air terjun dan terkadang penuh dengan batu-batuan, Thian Hwa lalu mendarat dan berlari cepat menyusuri Lembah Sungai Huang-ho.
Setiap kali bertemu dusun nelayan, ia bertanya-tanya barangkali ada yang melihat Thian Bong Sianjin.
Beberapa kali ia mendapat keterangan bahwa kakek itu menuju ke hulu Sungai Huang-ho, ke arah barat.
Maka ia pun melanjutkan perjalanan menyusuri pantai ke hulu, daerah yang belum pernah ia jelajahi.
Setelah melakukan perjalanan selama sebulan lebih, pada suatu hari tibalah ia di sebuah dusun di tepi sungai.
Dusun itu cukup ramai dihuni oleh para petani dan nelayan sebanyak sekitar lima puluh rumah atau keluarga.
Di dusun ini Thian Hwa mendengar bahwa tiga hari yang lalu seorang kakek membasmi gerombolan perampok yang mengganggu dusun itu.
Hatinya girang bukan main mendengar bahwa kakek itu berusia sekitar lima puluh enam tahun, berpakaian serba putih, pakaian pendeta To dan mukanya tanpa kumis atau jenggot, dan di punggungnya tergantung sebatang pedang.
Gambaran itu adalah gambaran kong-kongnya!
Ia lalu mencari keterangan ke mana kakek itu pergi, dan seorang penduduk dusun menceritakan bahwa dia melihat kakek penolong mereka itu tinggal di sebuah kuil tua yang tidak terpakai lagi, di puncak sebuah bukit kecil di tepi sungai.
Thian Hwa cepat mendaki bukit itu dan kagum melihat keindahan pemandangan alam di atas bukit itu.
Melihat keadaan bukit yang tanahnya subur dan hawanya sejuk itu, ia merasa betah dan senang sekali.
Apalagi ketika ia menemukan kuil kosong di puncak bukit dan melihat Thian Bong Sianjin duduk bersila di atas sebuah batu depan kuil!
"Kong-kong...!"
Ia berseru dan berlari cepat menghampiri. Thian Bong Sianjin memandang gadis itu dan tersenyum dengan wajah berseri.
"Aha, Thian Hwa, akhirnya engkau datang juga! Bagaimana hasilnya dengan penyelidikan selama beberapa bulan ini?"
Ditanya demikian, Thian Hwa teringat akan semua pengalamannya, dan ia lalu menjatuhkan diri berlutut di atas tanah depan kakek itu, dan tak dapat menahan diri lagi menangis terisak-isak!
"Aih, inikah cucuku yang biasanya gembira, pemberani, keras hati dan jujur itu?
Mengapa kini menjadi cengeng?"
Kakek itu lalu turun dari atas batu dan membungkuk, mengelus rambut kepala Thian Hwa.
Gadis itu bangkit berdiri dan merangkul, menangis di atas dada kakek yang selama ini ia anggap sebagai pengganti orang tuanya itu.
Thian Bong Sianjin membiarkan gadis itu menangis sehingga air matanya membasahi jubah bagian dadanya, hanya mengelus kepala gadis yang amat dikasihinya itu.
Dia maklum bahwa cara terbaik bagi seorang untuk melepaskan himpitan duka dalam hati adalah melalui cucuran air matanya.
Setelah tangis Thian Hwa mereda, kakek itu berkata halus.
"Tenangkan hatimu, Cucuku. Duduklah di atas batu di depanku ini dan ceritakan semuanya kepadaku. Tidak ada perkara apa pun di dunia ini yang tidak dapat kita atasi, asalkan kita menerimanya sebagai suatu kenyataan yang wajar. Tidak ada masalah dalam hidup ini kecuali kalau kita menerima suatu peristiwa sebagai masalah. Kita sendiri yang membuat masalah dan kita pula yang mengakhiri masalah itu."
Thian Hwa sudah menumpahkan semua ganjalan hati melalui air matanya.
Kini dadanya terasa lapang dan ia memperoleh kembali ketenangannya.
Ia menggunakan sehelai saputangan untuk mengusap sisa air mata dari mata dan mukanya sampai kering, baru ia menaati ucapan kakeknya dan duduk bersila di atas sebuah batu di depan kakek itu yang kini sudah duduk kembali di tempat semula.
"Nanti dulu, Kong-kong,"
Katanya, dan kini suaranya sudah tenang dan biasa kembali.
"Sebelum aku menceritakan semua pengalamanku, aku ingin tahu lebih dulu apa maksud Kong-kong ketika mengatakan bahwa tidak ada masalah dalam hidup ini. Bagaimana mungkin tidak ada masalah kalau dalam kehidupan ini banyak terjadi peristiwa menimpa kita yang mendatangkan kekecewaan, penasaran, dan kedukaan?"
Kakek itu tersenyum ramah, matanya yang bersinar tajam namun lembut itu menatap wajah cucunya dengan penuh pengertian.
"Hidup ini sendiri akan menjadi masalah kalau kita menerimanya sebagai masalah. Peristiwa apa pun yang terjadi pada diri kita merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat diubah pula. Kenyataan apa adanya itu adalah suatu kewajaran. Biasanya, nafsu yang mengaku-aku dan selalu mementingkan diri sendiri, mengejar kesenangan sendiri, itulah yang menimbulkan penilaian terhadap apa yang terjadi, lalu timbul apa yang disebut menyenangkan atau menyusahkan. Kalau merugikan, lalu dianggap sebagai suatu masalah yang menimbulkan rasa khawatir, takut, penasaran, kecewa, benci atau duka."
Thian Hwa mengerutkan alisnya, merasa bingung.
"Kong-kong, tolong diberi contoh agar aku tidak menjadi bingung."
"Misalnya hujan lebat turun. Peristiwa yang menimpa kita ini adalah satu kenyataan yang tak dapat diubah oleh siapa pun juga. Baikkah atau burukkah peristiwa ini? Menjadi masalah ataukah suatu kewajaran? Tergantung bagaimana kita menerimanya. Kalau kita terima sebagai hal yang merugikan kita, timbullah kekecewaan dan kedukaan. Kalau kita terima sebagai kenyataan apa adanya, suatu kewajaran, maka akan timbullah kebijaksanaan dalam batin kita sehingga kita dapat mengatasinya, misalnya dengan berteduh, bahkan dapat memanfaatkan peristiwa itu membuat bendungan menyalurkan airnya dan sebagainya. Demikian sebaliknya kalau hari panas sekali. Kita dapat berlindung dari sengatan sinar matahari dan dapat memanfaatkan sinar yang panas itu untuk menjemur dan sebagainya, bukan menerimanya sebagai suatu masalah yang menimbulkan nafsu marah, kecewa, penasaran, takut yang mendatangkan duka. Mengertikah engkau, Thian Hwa?"
Thian Hwa diam sejenak, lalu mengangguk-angguk perlahan.
"Ah, aku mulai mengerti, Kong-kong. Jadi, apa pun yang menimpa diri kita, dari yang paling menyenangkan sampai yang paling tidak menyenangkan, seperti penyakit dan kematian, adalah suatu hal yang wajar dan tidak dapat diubah lagi, suatu kenyataan sehingga kita harus menerimanya tanpa menjadikannya suatu masalah. Begitukah? Akan tetapi bagaimana mungkin manusia dapat hidup tanpa dipengaruhi segala macam perasaan, terutama susah senang itu? Manusia hidup tanpa perasaan menjadi seperti mati!"
"Bukan demikian, Cucuku. Manusia hidup memang tidak mungkin mematikan atau menghilangkan nafsu. Nafsu menjadi peserta manusia dalam hidupnya di alam fana ini. Yang terpenting adalah keseimbangan, menjaga agar nafsu jangan memperhamba kita, melainkan menjadi peserta dan pembantu kita. Ada pelajaran dari Guru Besar Khong Cu yang bijaksana dalam Kitab Tiong Yong, begini bunyinya. HI NOU AI LOK CI BI HOAT, WI CI TIONG. HOAT JI KAI TIONG CIAT, WI CI HO. Artinya. Sebelum perasaan Girang Marah Duka dan Suka timbul, batin berada dalam keadaan Tegak Lurus. Apabila berbagai perasaan itu timbul namun mengenal batas (dapat mengendalikan), batin berada dalam keadaan selaras (seimbang)."
Gadis itu mengangguk-angguk.
"Sekarang aku mengerti, Kong-kong."
"Nah, sekarang ceritakanlah apa saja yang kaualami sehingga engkau hampir kehilangan keseimbanganmu."
Dengan lancar dan tabah Thian Hwa menceritakan semua pengalamannya.
Betapa ia bertemu dengan Cui Sam atau yang sebutannya Lo Sam, kakeknya atau ayah dari ibunya yang kini bekerja sebagai pelayan Pangeran Cu Kiong.
Dari kakeknya ini ia mengetahui bahwa ibunya bernama Cui Eng yang menjadi selir Pangeran Ciu Wan Kong, kemudian ketika melahirkan anak perempuan, yaitu dirinya, ibunya itu diusir oleh keluarga Pangeran Ciu Wan Kong.
Menurut cerita kakeknya, Kakek Cui Sam dan Cui Eng hendak kembali ke kampung halaman mereka di selatan.
Akan tetapi ketika menyeberangi Sungai Huang-ho, perahu mereka terbalik dan Cui Sam, Cui Eng, dan bayinya hanyut.
"Kakek Cui Sam dapat menyelamatkan diri, akan tetapi dia kehilangan ibu dan aku yang dia kira tentu tewas tenggelam,"
Kata Thian Hwa melanjutkan ceritanya.
"Aku merasa sakit hati sekali kepada Pangeran Ciu Wan Kong. Dan pada suatu malam, kudatangi gedungnya, akan kubunuh untuk membalaskan kematian ibu kandungku. Akan tetapi ketika tiba di kamarnya dan melihat dia berduka cita mengamati gambar ibuku, aku menjadi tidak tega. Apalagi dia ketika melihat aku mengira bahwa aku adalah ibuku, dan dia... dia... tertawa menangis seperti orang gila!"
"Siancai...! Kekuasaan Thian (Tuhan) Yang Maha Adil tak pernah berhenti bekerja. Setiap manusia takkan terhindar dari akibat perbuatannya sendiri. Siapa menanam, dia akan memetik buahnya. Hukum ini berlaku di seluruh alam semesta dan sudah wajar dan adil! Lanjutkan ceritamu, Thian Hwa."
Thian Hwa melanjutkan ceritanya, betapa sebelumnya, ia juga telah menolong Pangeran Ciu Wan Kong yang ternyata ayah kandungnya sendiri itu dari serangan ular air.
Kemudian betapa ia terlibat perkara dengan Pangeran Leng Kok Cun yang merencanakan pemberontakan.
Akhirnya ia ketahuan bahwa ia hanya seorang penyelundup dan dikeroyok para jagoan dan ia melarikan diri berlindung ke gedung Pangeran Cu Kiong yang dianggap saingan Pangeran Leng Kok Cun.
"Hemm, ternyata terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran! Ha-ha-ha, penyakit lama itu selalu terdapat dalam setiap pemerintahan kerajaan. Agaknya Kerajaan Mancu tidak terkecuali, diam-diam terjadi perebutan kekuasaan di antara mereka sendiri. Lalu bagaimana, Thian Hwa?"
"Setelah aku mengalami guncangan akibat pertemuanku dengan ayah kandungku, aku mengalami guncangan kedua yang amat menyakitkan hati, Kong-kong. Pangeran Cu Kiong yang masih muda, tampan dan halus budi bahasanya itu amat baik kepadaku, bahkan dia mengaku cinta kepadaku dan hendak memperisteri aku. Aku bodoh sekali, Kong-kong, aku terpikat dan tertarik kepadanya. Aku percaya padanya. Baru kemudian aku mendengar dia bicara dengan tujuh orang pengawalnya, yaitu Kam-keng Chit-sian, dan baru aku ketahui bahwa dia hanya ingin mempergunakan tenagaku. Dia bermaksud mengambil aku sebagai seorang selirnya dan memanfaatkan tenagaku untuk membantu dia dalam perebutan kekuasaan itu. Aih, Kong-kong, perasaanku sakit sekali. Bahkan ketika aku hendak pergi meninggalkan dia, Pangeran Cu Kiong hendak menahanku dengan paksa, mengerahkan tujuh orang pengawalnya untuk mengeroyok dan menangkap aku. Aku melawan akan tetapi nyaris aku celaka di tangan tujuh orang yang cukup tangguh itu, kalau saja tidak muncul Bun-ko yang membantuku."
"Ah, jadi Yan Bun menyusulmu dan dapat menolongmu?"
"Benar, Kong-kong. Dengan bantuan Bun-ko akhirnya kami dapat merobohkan empat dari tujuh orang Kam-keng Chit-sian itu. Kemudian kami meninggalkan gedung Pangeran Cu Kiong dan aku lalu pergi mencari Kong-kong."
"Hemm, lalu bagaimana dengan Pangeran Cu Kiong? Engkau tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya?"
Thian Hwa menghela napas panjang dan menggeleng kepalanya.
"Aku tidak tega membunuhnya."
"Hemm, engkau masih mencintanya, Thian Hwa?"
Tanya kakek itu dengan alis berkerut. Thian Hwa menghela napas lagi.
"Aku memang mencintanya, Kong-kong, akan tetapi aku juga membencinya!"
"Siancai...! Kasihan, Cucuku mulai menjadi permainan cinta. Dan bagaimana dengan Yan Bun? Setelah dia menolongmu, lalu di mana dia?"
"Kami berpisah, Kong-kong. Dan Bun-ko... dia pun berterus terang bahwa dia dan Paman Ui Hauw mengharapkan agar aku menjadi jodohnya. Akan tetapi aku menolak, karena selain aku sama sekali tidak mempunyai perasaan lain terhadap Bun-ko, kecuali merasa dia sebagai kakakku, juga aku merasa muak kepada laki-laki yang cintanya palsu seperti kutemui pada diri Ayah kandungku sendiri dan pada Pangeran Cu Kiong! Aku merasa jera untuk jatuh cinta lagi, Kong-kong!"
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Aku dapat memahami perasaanmu, Thian Hwa. Dikecewakan dalam hubungan cinta memang menyakitkan sekali dan membuat kita merasa jera. Akan tetapi, perasaan itu sama sekali tidak benar. Aku sendiri sudah merasakan. Karena jera akibat cinta gagal, aku membujang selama hidup, dan akibatnya, aku tidak mempunyai keturunan. Untung aku menemukan engkau, kalau tidak, di masa tuaku ini aku akan hidup sebatang kara dan bukan tidak mungkin matiku nanti akan terlantar karena tidak ada keluarga yang merawat."
"Kong-kong! Jadi Kong-kong juga pernah gagal dalam cinta? Bagaimana riwayatnya, Kong-kong? Siapa wanita yang pernah engkau cinta?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Sesungguhnya cerita lama itu sudah tak pernah kuingat lagi, Thian Hwa. Akan tetapi agar dapat engkau jadikan bahan pertimbangan, boleh juga kau ketahui. Dua puluh tahun lebih yang lalu, aku pernah saling mencinta dengan seorang pendekar wanita yang lihai. Ilmu silatnya setingkat denganku, dan kami sudah saling berjanji untuk menjadi suami isteri."
"Siapakah nama pendekar wanita itu, Kong-kong?"
"Namanya? Aih, mengapa engkau menanyakan namanya segala? Baiklah, namanya Souw Lan Hui, murid Bu-tong-pai, dan di dunia kang-ouw ia mendapat julukan Sin Hong-cu (Burung Hong Sakti)."
"Wih! Tentu ia secantik burung Hong!"
Thian Bong Sianjin menghela napas.
"Siancai! Ia memang cantik dan pada waktu itu aku merasa bangga dan bahagia sekali. Akan tetapi segala sesuatu tidaklah abadi. Pada suatu hari kami bertemu dengan seorang pangeran muda. Begitu bertemu, mereka saling tergila-gila dan kami pun berpisah. Ia menikah dengan pangeran itu!"
"Ihh! Kenapa begitu? Cintanya kepada Kong-kong hanya palsu!"
Seru Thian Hwa penasaran.
"Siapa sih pangeran itu? Hemm, tidak urung dia akan disia-siakan seperti halnya ibu kandungku!"
"Tak perlu diketahui siapa pangeran itu. Dugaanmu keliru. Siapa orangnya berani mempermainkan Si Burung Hong Sakti? Kalau pangeran itu berani mengambil seorang selir saja, pasti dia akan menjadi korban siang-kiam (sepasang pedang) Souw Lan Hui! Apalagi sampai berani menyia-nyiakan! Dan tentang kepalsuan cinta, Cucuku, semua cinta yang dimiliki manusia dan yang didorong nafsu semuanya berpamrih, semuanya palsu. Engkau tahu sekarang, bukan hanya laki-laki saja yang suka mempermainkan cinta, wanita pun ada. Jadi, jangan menganggap semua laki-laki itu tukang mempermainkan cinta dan wanita! Sudahlah, sekarang engkau masih amat muda, baru delapan belas tahun. Kelak engkau akan mengerti sendiri. Sekarang kita membicarakan orang tuamu. Pangeran Ciu Wan Kong itu jelas adalah ayah kandungmu dan engkau bermarga Ciu, keturunan seorang pangeran!"
"Aku tidak sudi menggunakan marga pangeran yang jahat dan yang mengusir ibu kandungku, menyebabkan kematian Ibuku!"
Thian Hwa berkata ketus.
"Nanti dulu, Thian Hwa. Melihat dia masih berduka dan mengingat ibumu, berarti dia mencinta ibumu. Perlu kauketahui dulu mengapa ibumu dulu diusir dan siapa yang mengusirnya. Mungkin Cui Sam, kakekmu itu dapat menceritakannya. Selain itu, belum tentu pula kalau ibumu sudah mati."
"Eh? Apa maksudmu, Kong-kong?"
"Dulu, ketika aku menemukan engkau yang masih bayi, kupikir tentu ada orang-orang dewasa yang hanyut pula. Mungkin orang tuamu. Maka aku sudah berusaha mencari, akan tetapi tidak menemukan sebuah pun mayat terapung. Bukan mustahil kalau ibumu juga dapat menyelamatkan diri seperti kakekmu itu, atau mungkin juga diselamatkan orang, seperti engkau kuselamatkan."
"Ahh...!"
Wajah gadis itu berseri, matanya bersinar-sinar penuh harapan.
"Kalau begitu, aku akan mencarinya, Kong-kong!"
"Tenang dulu, Thian Hwa. Agaknya, untuk menyelidiki tentang ibumu, engkau harus mulai dari kota raja, menemui kakekmu. Dan mengingat akan pengalamanmu di kota raja, di sana sedang terjadi pertentangan dan persaingan dalam memperebutkan kekuasaan dan di sana terdapat orang-orang pandai yang mungkin akan mengancam keselamatanmu, oleh karena itu, sebelum engkau pergi lagi, perlu sekali engkau memperdalam ilmu kepandaianmu. Akan kuajarkan semua ilmu yang kukuasai, agar kepandaianmu meningkat dan tidak mudah engkau tertimpa bencana."
Thian Hwa tidak berani membantah dan ia memang maklum bahwa di kota raja banyak terdapat orang pandai yang jahat, maka perlu ia membekali diri dengan kepandaian yang tinggi.
Maka mulai hari itu, ia tekun memperdalam ilmunya di bawah gemblengan Thian Bong Sianjin yang amat mengasihinya.
*** Sejak jaman kuno sekali, Cina memang memiliki kebudayaan yang sangat tinggi.
Maka tidaklah mengherankan apabila bangsa-bangsa yang pernah menjajah Cina, seperti bangsa Kin dan bangsa Mongol dahulu, setelah menjajah Cina mereka itu malah terseret oleh kebudayaan Cina.
Para penjajah itu tidak mungkin dapat mengubah kebudayaan dan tradisi dari rakyat Cina yang jumlahnya berpuluh kali lipat lebih banyak daripada jumlah rakyat penjajah.
Karena kebudayaan Cina memang lebih tinggi, pula untuk dapat menyesuaikan diri sehingga dapat menarik hati dan menguasai rakyat Cina dengan baik, para penjajah itu mengubah diri menjadi Cina, baik budayanya, adat istiadat, sastra dan bahasanya, bahkan namanya!
Demikian pula dengan bangsa Mancu.
Biarpun bangsa Mancu telah menguasai sebagian besar daratan Cina bagian utara, yaitu dengan perbatasan Sungai Yang-ce ke utara, sedangkan bagian selatan Sungai Yang-ce masih dikuasai sisa pendukung Kerajaan Beng yang dipimpin oleh Wu Sam Kwi di barat daya dengan ibu kota Yunnan-hu dan dua orang pemimpin rakyat lain yang tidak begitu besar kekuatannya, namun tetap saja penjajah Mancu juga menyesuaikan diri dengan tata-cara hidup bangsa pribumi Han.
Bahkan terkenal ejekan di antara para pendekar pejuang pribumi Han bahwa para pangeran, bangsawan dan pembesar tinggi penjajah Mancu itu menjadi "lebih Cina daripada pribumi Cina sendiri"!
Namun, siasat penjajah Mancu ini memang berhasil, karena dengan membaurkan diri dengan pribumi Han, Kerajaan Ceng (Mancu) ini menarik simpati orang-orang Han.
Kerajaan Ceng menghargai orang-orang pribumi yang memiliki kepandaian tinggi, memberi mereka kedudukan penting.
Pemerintah Mancu memang mengharuskan rakyat yang laki-laki memelihara rambut yang dikuncir, akan tetapi mereka sendiri, para pangeran dan bangsawan, juga menggunakan kebiasaan ini sehingga rakyat Han tidak merasa terhina.
Pula, para bangsawan itu sengaja mengubah nama Mancu menjadi nama Cina sehingga sukarlah diketahui apakah seorang pembesar itu berdarah Mancu ataukah Han, apalagi karena orang-orang Mancu itu juga memakai bahasa Han dan tata-cara hidup dan kebudayaan Han!
Pada waktu kisah ini terjadi, yang menjadi kaisar Kerajaan Ceng (Mancu) adalah Kaisar Shun Chi (1644-1661).
Ketika Thian Hwa memperdalam ilmu-ilmunya di atas bukit di Lembah Huang-ho, pada waktu itu Kaisar Shun Chi sudah tua.
Kaisar ini memang berwatak lemah sehingga dia mudah dipengaruhi oleh para Thaikam (Sida-sida, orang kebiri), yang menjadi pengurus terpercaya dalam istana.
Kaisar Shun Chi bagaikan boneka dan jalannya pemerintahan seolah dikendalikan para Thaikam.
Pada waktu itu, Kepala Thaikam yang menjadi penasehat utama kaisar adalah seorang Sida-sida bernama Boan Kit yang berusia lima puluh tahun.
Boan Kit yang biasa disebut Boan Thaijin (Pembesar Boan) adalah seorang yang amat cerdik.
Dia pandai membawa diri, bersikap merendah dan menjilat di depan Kaisar Shun Chi, akan tetapi bersikap agung dan berwibawa di depan para pembesar sehingga mereka semua segan dan tunduk padanya.
Selain pandai dan cerdik, juga Boan Kit yang peranakan Mancu/ Han ini adalah seorang ahli silat yang amat lihai dan juga dia memiliki kemampuan ilmu sihir.
Karena pengaruh sihirnya itulah maka Kaisar Shun Chi semakin tunduk dan percaya padanya.
Kaisar Shun Chi menjadi semakin lemah dan tidak mengacuhkan urusan pemerintahan ketika dia semakin tertarik dengan pelajaran Agama Buddha.
Dia menganggap bahwa semua urusan duniawi hanya menyeretnya ke dalam pertentangan, kemelekatan dan duka nestapa.
Yang lebih sering dilakukan hanyalah berdoa dan bermeditasi.
Inilah sebab utama terjadinya persaingan di antara para pangeran untuk memperebutkan tahta kerajaan itu.
Kaisar Shun Chi lemah dan tidak mempedulikan, bahkan agaknya pernah mengatakan siapa yang akan menggantikannya.
Kekuasaan berada di tangan para Thaikam, atau lebih tepat lagi, di tangan Thaikam Boan atau Boan Thaijin!
Thaikam Boan Kit bukan seorang bodoh.
Tidak.
Dia cerdik bukan main.
Tentu saja dia maklum bahwa sebagai seorang Thaikam, tidak mungkin dia akan dapat menggantikan kedudukan Kaisar.
Kalau dia merampas kedudukan Kaisar, semua pangeran pasti akan mengeroyok dan menumpasnya.
Maka dia harus mengadakan pilihan, kiranya siapa yang patut dijagokan sebagai pengganti kaisar yang sudah tua itu, tentu saja seorang kaisar baru yang akan dapat dia kuasai pula!
Dan sudah sejak beberapa bulan dia menjatuhkan pilihannya kepada Pangeran Leng Kok Cun!
Pangeran Leng Kok Cun yang berusia empat puluh tahun itu adalah putera seorang selir kaisar yang ke tujuh.
Menurut urut-urutan para pangeran, tidak mungkin dia yang akan diberi hak menggantikan ayahandanya kelak.
Pangeran Leng Kok Cun berambisi besar untuk kelak menggantikan kedudukan kaisar dan tentu saja dia menjadi semakin bersemangat ketika Thaikam Boan Kit mengulurkan tangan untuk mengadakan kerja sama.
Tentu saja dengan perjanjian kelak Thaikam Boan Kit yang akan menjadi penasehat utama atau istilahnya Kok-su (Guru Negara) yang akan mengatur semua politik yang dikeluarkan kaisar yang berkuasa!
Dengan penuh semangat, Pangeran Leng Kok Cun lalu mengerahkan segala daya untuk memperkuat diri.
Dia bahkan mengundang orang-orang yang sakti untuk membantunya, dan menyerahkan kepada Pat-chiu Lo-mo untuk menghubungi para jagoan itu.
Selain Pangeran Leng Kok Cun, yang ingin sekali dapat mewarisi tahta kerajaan adalah Pangeran Cu Kiong, putera dari selir ke tiga dari Kaisar Shun Chi.
Tidak seperti Pangeran Leng Kok Cun yang tidak mempunyai harapan untuk menjadi kaisar kecuali dia melakukan pemberontakan atau merebut dengan kekerasan, Pangeran Cu Kiong lebih banyak harapan.
Saingannya hanya seorang saja, yaitu Pangeran Kang Shi, putera Kaisar Shun Chi dari permaisuri.
Akan tetapi saingan utamanya ini, yang tentu saja berhak menjadi putera mahkota, baru berusia sembilan tahun!
Dan selir ke dua hanya mempunyai seorang puteri.
Maka, dia mempunyai harapan besar, setidaknya menjadi penjabat kaisar atau untuk sementara mewakili kaisar yang masih belum cukup umur!
Karena itu, Pangeran Cu Kiong berusaha sedapat mungkin untuk menyenangkan hati ayahandanya Kaisar Shun Chi dan tentu saja dia menentang gerakan Pangeran Leng Kok Cun!
Adapun Pangeran Kang Shi yang berusia sembilan tahun itu sejak berusia lima tahun oleh Kaisar Shun Chi telah diserahkan kepada adiknya untuk mendidiknya.
Kaisar mengenal adiknya, Pangeran Bouw Hun Ki yang kini berusia sekitar lima puluh dua tahun, sebagai seorang pangeran yang jujur, ahli sastra dan tata-negara, juga saling mengasihi dengan dia.
Selain itu, Pangeran Bouw Hun Ki memiliki seorang putera yang terkenal sebagai seorang ahli silat yang amat tangguh sehingga tidak pernah ada orang-orang jahat berani mengganggu Pangeran Bouw Hun Ki sekeluarga.
Putera Pangeran Bouw Hun Ki ini bernama Bouw Kun Liong, berusia sekitar dua puluh tiga tahun dan orang-orang mengenalnya sebagai Bouw Kongcu (Tuan Muda Bouw), dan semua orang segan dan menghormatinya karena pemuda ini biarpun terkenal lihai, sikapnya ramah dan lembut.
Biarpun dia sendiri lemah dan tidak mengacuhkan pemerintahan, agaknya Kaisar Shun Chi merasa bahwa di antara para pangeran terjadi pertentangan secara diam-diam.
Sebagai seorang ayah dia dapat merasakan hal ini.
Untuk urusan pemerintahan, dia memang lebih condong menuruti nasehat Thaikam Boan Kit.
Akan tetapi untuk urusan keluarga dia lebih percaya kepada adiknya, yaitu Pangeran Bouw Han Ki.
Pada suatu malam diam-diam dia mengundang Pangeran Bouw Hun Ki datang ke istana dan diajak bicara empat mata dalam kamarnya.
Dalam kamar itu, tanpa didengar atau dilihat orang lain, Kaisar Shun Chi memesan wanti-wanti kepada adiknya itu agar membimbing, melindungi dan membela Pangeran Kang Shi sebagai putera mahkota yang kelak berhak penuh untuk menggantikan dia sebagai kaisar.
Dalam kesempatan ini, Pangeran Bouw Hun Ki bersumpah setia untuk menaati perintah kaisar.
Setelah meninggalkan pesan ini, barulah hati Kaisar Shun Chi menjadi tenang.
Pangeran Ciu Wan Kong adalah adik Kaisar Shun Chi dan adik Pangeran Bouw Hun Ki pula.
Biarpun kini Pangeran Ciu Wan Kong tidak mau memegang jabatan dan tampak lemah, namun dia juga seorang pangeran yang setia kepada Kaisar Shun Chi.
Beberapa kali Pangeran Leng Kok Cun mencoba untuk membujuknya agar pamannya itu suka menjadi pendukungnya seperti beberapa orang pangeran dan bangsawan lain yang dapat dia pengaruhi.
Dukungan Pangeran Ciu Wan Kong tentu saja amat penting, karena sebagai adik kaisar, tentu saja suara pangeran ini mempunyai pengaruh yang cukup kuat.
Namun Pangeran Ciu Wan Kong bukan saja menolak keras bujukan itu, bahkan dia sering menegur keponakannya yang ambisius itu.
Tentu saja hal ini membuat Pangeran Leng Kok Cun membenci pamannya itu dan menganggap bahwa Pangeran Ciu Wan Kong merupakan seorang di antara mereka yang menjadi penghalang ambisinya.
*** Sang waktu lewat seperti biasa, wajar dan sesungguhnya cepat atau lambat tergantung kepada kita yang merasakan dan menilainya.
Akan tampak lama sekali kalau kita tergesa-gesa menantikan sesuatu dan memperhatikan waktu, sebaliknya akan tampak cepat bukan main kalau kita tidak memperhatikannya.
Karena tidak diperhatikan, Sang waktu melesat dengan cepatnya sehingga tahu-tahu setahun telah lewat semenjak Thian Hwa tinggal bersama Thian Bong Sianjin di bukit kecil di Lembah Huang-ho.
Bukit itu dinamai Yang-liu-san (Bukit Pohon Cemara) karena di situ banyak ditumbuhi pohon cemara beraneka macam.
Karena memang sesungguhnya Thian Hwa telah mencapai tingkat tinggi dalam ilmu silatnya, maka yang masih dapat diajarkan Thian Bong Sianjin hanya sedikit, namun yang sedikit itu menyempurnakan ilmu kepandaian Thian Hwa.
Kini, setelah selama setahun ia digembleng dan berlatih dengan tekun tak mengenal jenuh dan lelah, akhirnya tingkat kepandaian gadis yang kini berusia sembilan belas tahun itu sudah seimbang dengan tingkat yang dikuasai Thian Bong Sianjin sendiri!
Ilmu pedang Kwan-im Kiam-hoat yang dikuasainya semakin dahsyat, juga ilmu pedang Huang-ho Kiam-hoat yang merupakan hasil gubahan Thian Bong Sianjin sendiri, telah dikuasai dengan amat baiknya.
Selain kedua ilmu pedang andalannya ini, juga ilmu silat tangan kosong Kauw-jiu Kwan Im (Dewi Kwan Im Berlengan Sembilan) merupakan ilmu yang amat cepat gerakannya sehingga kalau ia mainkan, seolah-olah ia memiliki sembilan buah lengan!
Di samping itu semua, Sin-kang (Tenaga Sakti), Khi-kang (Tenaga Hawa Murni), Lwee-kang (Tenaga Dalam), dan Gin-kang (Ilmu Meringankan Tubuh) telah diperkuat dengan latihan yang tekun siang malam.
Masih ada sebuah ilmu andalannya, yaitu menggunakan Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih), yang berupa senjata rahasia jarum dengan kepala bunga putih kecil.
Pada hari itu, Thian Bong Sianjin dihadap murid yang juga cucu angkatnya ini.
Mereka duduk bersila berhadapan di atas bangku di ruangan depan kuil yang kini menjadi tempat tinggal Thian Bong Sianjin.
Thian Hwa mengenakan pakaian putih sehingga ia tampak bersih dan cantik segar, dengan pedang tergantung di punggungnya dan sebuah buntalan pakaian berada di atas meja.
Kiranya gadis ini sudah siap untuk melakukan perjalanan, dan kini ia menerima pesan dan nasehat gurunya atau juga kakek angkatnya.
"Thian Hwa, kiranya semua pesan dan nasehatku yang lalu masih engkau ingat semua. Yang perlu kuulangi lagi agar tidak akan kau lupakan ialah agar engkau selalu bertindak sebagai seorang pendekar sejati. Ingat baik-baik, Thian Hwa. Sekarang bukan waktunya lagi untuk memperjuangkan tanah air dari tangan penjajah. Pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu) terlalu kuat dan agaknya, pemberontakan tidak akan berhasil. Lihat saja betapa kini kekuatan Wu Sam Kwi makin melemah dan dia, seperti juga para raja kecil di selatan, bukan lagi memperjuangkan kemerdekaan tanah air, melainkan memperjuangkan kekuasaan dan kesenangan diri masing-masing. Aku mendengar bahwa bangsa Mancu menghargai kebudayaan Han, bahkan mereka seolah melebur diri menjadi sama dengan bangsa pribumi. Ini pertanda yang baik. Kalau memang mereka merupakan penguasa yang adil dan mencinta rakyat, juga suka mempergunakan tenaga pribumi untuk mengatur negara, maka kita tidak perlu menentang mereka. Engkau bertindak saja seperti seorang pendekar pembela keadilan dan kebenaran. Siapa yang jahat, tidak peduli dia bangsa dan golongan apa, sepatutnya engkau tentang. Sebaliknya, belalah mereka yang lemah tertindas, tidak peduli dia bangsa apa. Ingat, engkau sendiri pun mempunyai darah Mancu, bahkan ayah kandungmu seorang Pangeran Mancu, akan tetapi ibumu seorang wanita Han. Maka, jangan biarkan dirimu terseret ke dalam pertentangan antar bangsa, melainkan tempatkanlah dirimu di pihak kebenaran. Dan ingat, Cucuku, bagaimanapun juga, Pangeran Ciu Wan Kong adalah ayah kandungmu. Bersikaplah bijaksana terhadap ayah kandungmu. Kalau dia ternyata seorang yang baik budi, andaikata dia dulu bersalah terhadap ibumu, bersikaplah untuk memaafkannya. Sebaliknya kalau dia terperosok ke dalam kejahatan, sudah menjadi kewajibanmu sebagai anak yang berbakti, engkau harus menyadarkan dan mengingatkannya. Jangan lupakan pesanku ini, Thian Hwa."
"Baik, Kong-kong. Aku akan selalu menaati semua pesanmu. Selama aku pergi, harap Kong-kong suka menjaga diri baik-baik."
"Jangan khawatir, Thian Hwa. Tanah di sini subur dan sungainya mengandung banyak ikan. Aku tidak akan kekurangan. Agaknya, aku sudah bosan merantau dan akan menetap di Bukit Cemara ini. Aku akan selalu berada di sini kalau engkau ingat padaku dan ingin menemuiku."
Setelah berpamit dari kakeknya, Thian Hwa menuruni Bukit Cemara.
Pagi itu cerah dan pemandangan dari atas bukit itu amat indahnya.
Dari puncak tampak Sungai Huang-ho yang amat lebar.
Airnya memantulkan sinar matahari pagi sehingga menyilaukan mata.
Thian Hwa kini berusia sembilan belas tahun.
Pakaiannya tetap serba putih, dari sutera.
Rambutnya disanggul secara sederhana, diikat tali sanggul berwarna merah muda.
Ikat pinggangnya seperti akan membelah pinggangnya yang ramping.
Menaati pesan Thian Bong Sianjin, kini disembunyikannya pedangnya dalam buntalan pakaian.
Memang pada jaman itu, Pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu) melarang orang membawa senjata tajam, maka untuk menjaga agar jangan memancing keributan, Thian Hwa oleh gurunya dipesan agar tidak membawa pedangnya secara mencolok.
Buntalan pakaiannya itu digendong di belakang punggung dan ia tampak cantik jelita ketika menuruni puncak Yang-liu-san.
Bagaikan setangkai bunga sedang mekar, Thian Hwa memang cantik menarik.
Wajahnya berbentuk bulat telur berkulit putih mulus, di sana-sini kemerahan tanda sehat.
Rambutnya hitam lebat dan panjang, halus seperti benang sutera dan terawat bersih.
Anak rambut halus berjuntai di atas dahinya dan melingkar di kedua pelipisnya, membuat sepasang telinga yang bentuknya indah itu tampak semakin manis.
Alisnya hitam kecil melengkung seperti dilukis hasil lukisan alam yang sewajarnya tidak dibuat tangan manusia namun amat indahnya.
Sepasang matanya bening dan jeli, sinarnya tajam dan terkadang mencorong membayangkan keberanian dan wibawa yang kuat.
Bulu matanya panjang lentik membuat bayang-bayang di bawah matanya.
Hidungnya kecil mancung dengan ujungnya agak menjungat ke atas berkesan agung.
Mulutnya merupakan bagian yang paling menarik.
Mulutnya menggairahkan, dengan sepasang bibir yang lembut dan penuh, kulitnya tipis bagaikan buah yang masak, merah tanpa gincu.
Kalau tersenyum tampak kilatan gigi yang berderet rapi dan putih seperti mutiara.
Lebih manis lagi mulut itu karena ada lesung pipi di kanan kirinya dan dagunya agak meruncing.
Bentuk tubuh dara ini menambah daya tarik yang menggairahkan.
Ramping padat dengan lekuk lengkung sempurna seorang wanita yang sedang tumbuh dewasa!
Seperti terbang cepatnya ia lari menuruni Bukit Cemara dan tak lama kemudian ia telah berdiri di tepi Sungai Huang-ho.
Beberapa lamanya ia berdiri di tepi sungai yang sunyi itu, menanti kalau-kalau ada perahu lewat.
Akan tetapi setelah cukup lama menanti dan tidak ada perahu yang dapat ditumpanginya ke hilir, Thian Hwa lalu memotong batang pohon cemara yang cukup besar, membuat sepasang kayu papan peluncur dan sebatang ranting panjang untuk dayung.
Setelah terompah peluncur itu selesai dibuatnya, ia lalu melanjutkan perjalanan dengan bersilancar di atas air dengan amat cepatnya.
Karena kini ia melakukan perjalanan bersilancar mengikuti arus sungai ke hilir, maka tentu saja ia tidak perlu menggunakan banyak tenaga.
Beberapa hari kemudian Thian Hwa tiba di Terusan Besar yang menghubungkan Sungai Huang-ho ke utara.
Ia lalu melanjutkan perjalanan melalui daratan, menyusuri sepanjang Terusan ke utara karena di Terusan itu terdapat banyak perahu dan ia tidak ingin menarik perhatian orang dengan bersilancar.
Pada suatu pagi, setelah melewatkan malam di sebuah dusun, Thian Hwa melanjutkan perjalanan dan kota besar Thian-cin sudah tinggal belasan mil lagi.
Ia melalui jalan yang sunyi dan tiba-tiba ia mendengar suara ribut-ribut di depan ketika ia memasuki daerah berhutan.
Karena suara ribut-ribut itu seperti suara orang berkelahi, Thian Hwa mempercepat langkahnya menuju ke arah suara.
Setelah tiba di tempat perkelahian yang agak jauh dari jalan sepanjang Terusan, Thian Hwa mengintai dari balik pohon besar, dan melihat seorang pemuda berpakaian serba kuning dikeroyok oleh dua orang dan ada dua belas orang berpakaian tentara Mancu berjaga-jaga dan mengepung dalam lingkaran besar.
Pemuda itu berusia sekitar dua puluh empat tahun, bertubuh sedang dan wajahnya tampan.
Dengan memegang senjata siang-kek (sepasang tombak cagak) pendek pemuda itu menghadapi pengeroyokan dua orang dan gerakannya mantap dan kokoh.
Dari kedudukan kuda-kuda kaki dan gerakan silatnya, Thian Hwa yang sudah mendapat banyak petunjuk dari Thian Bong Sianjin segera mengenal bahwa pemuda gagah itu tentu seorang murid Siauw-lim-pai yang tangguh.
Akan tetapi ketika ia memandang kepada dua orang yang mengeroyok pemuda itu, ia mengerutkan alisnya.
Ia segera mengenal dua orang itu.
Yang seorang berusia sekitar empat puluh dua tahun, bertubuh gemuk pendek dan berwajah sombong, yang bukan lain adalah Phang Houw yang berjuluk Hui-eng-to (Si Golok Elang Terbang) orang yang pernah bertempur dengannya ketika mengunjungi Perkumpulan Liong-bu-pang di kota Tui-lok sekitar satu setengah tahun yang lalu.
Adapun orang ke dua yang mengeroyok pemuda Siauw-lim-pai itu adalah Louw Cin, Ketua Liong-bu-pang!
Ia tahu betul bahwa dua orang itu adalah kaki tangan atau para pendukung Pangeran Leng Kok Cun, dan melihat selosin tentara Mancu mengepung tempat perkelahian itu, tahulah ia bahwa pemuda Siauw-lim-pai itu tentu dianggap musuh pula oleh mereka.
Kagum juga hati Thian Hwa melihat sepak terjang pemuda Siauw-lim-pai itu.
Dengan gagahnya dia melawan dua orang pengeroyoknya.
Phang Houw yang bersenjata golok besar dan berat itu ia anggap tidak berbahaya, hanya sombong saja.
Akan tetapi Ketua Liong-bu-pang, yaitu Louw Cin yang tinggi kurus dan berusia empat puluh tahun lebih itu merupakan lawan yang cukup berbahaya.
Ketua Liong-bu-pang ini memegang senjata sebatang ruyung yang berduri dan terbuat dari baja sehingga tampak berat dan menyeramkan.
Akan tetapi pemuda Siauw-lim-pai itu melakukan perlawanan gigih.
Sepasang tombak cagaknya yang hanya sepanjang lengan digerakkan dengan mantap sekali.
Setiap kali dia menangkis serangan lawan, terdengar suara berdentang nyaring dan bunga api berpijar berhamburan.
Phang Houw selalu tampak tergetar setiap kali goloknya tertangkis tombak cagak, menunjukkan bahwa dia kalah kuat.
Akan tetapi Louw Cin dapat mengimbangi tenaga pemuda Siauw-lim-pai itu.
Pertandingan satu lawan dua itu berlangsung amat serunya dan setiap serangan kedua pihak merupakan ancaman maut.
Biarpun di dalam hatinya Thian Hwa tentu saja berpihak kepada pemuda Siauw-lim-pai karena ia memang tidak suka kepada para pendukung Pangeran Leng Kok Cun yang hendak memberontak itu, namun melihat betapa pemuda Siauw-lim-pai itu cukup tangguh untuk membela diri, maka Thian Hwa juga tidak turun tangan membantu pemuda itu.
Akan tetapi, tiba-tiba Louw Cin memberi komando kepada pasukan Mancu yang terdiri dari selosin prajurit itu dan segera pasukan itu maju mengeroyok si pemuda!
Melihat ini, tentu saja Thian Hwa merasa penasaran dan ia sudah siap untuk terjun ke dalam pertempuran membantu pemuda Siauw-lim-pai yang kini dikeroyok empat belas orang itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara melengking nyaring dan tampak sesosok bayangan berkelebat didahului sinar merah.
Thian Hwa menahan diri tidak jadi turun tangan membantu dan ia melihat betapa sinar merah bergulung-gulung dan menyambar-nyambar, mengamuk di antara para prajurit Mancu.
Ke mana pun sinar merah menyambar, tentu ada seorang prajurit yang roboh!
Ketika ia memperhatikan, Thian Hwa melihat bahwa bayangan dengan sinar merah itu adalah seorang wanita muda cantik jelita yang memegang sebuah payung berwarna merah.
Hebat bukan main wanita itu, payung merahnya yang indah itu setiap kali menyambar, tentu merobohkan seorang prajurit dan ternyata bahwa gagang payung merah itu merupakan sebatang pedang yang ujungnya menonjol di atas payung!
Wanita itu usianya sekitar dua puluh satu atau dua puluh dua tahun, tampak masih muda dan cantik sekali walaupun sikap, pandang mata dan senyumnya yang mengandung ejekan itu menunjukkan bahwa ia seorang yang telah matang dalam pengalaman hidup.
Tubuhnya ramping dan menggairahkan, agak tinggi.
Rambutnya digelung ke atas model rambut puteri bangsawan.
Pakaiannya juga indah mewah, dengan perhiasan lengkap, anting-anting, tusuk sanggul emas permata, kalung, gelang kemala, cincin permata, pendeknya serba lengkap, mewah dan indah.
Akan tetapi Thian Hwa harus mengakui bahwa wanita itu lihai bukan main.
Senjatanya berupa payung pedang itu dapat dipakai sebagai pelindung sinar matahari dan hujan, juga sebagai pelengkap dandanannya karena payung itu merah dan berbentuk indah, dapat pula dipergunakan sebagai senjata yang ampuh sekali.
Payung itu dapat dipergunakan sebagai perisai merangkap pedang dan amat berbahaya bagi lawan.
Dengan lincahnya gadis berpayung merah itu mengamuk dan dua belas orang prajurit Mancu itu kocar-kacir!
Sebentar saja sudah enam orang prajurit roboh oleh gadis itu.
Melihat ini, para prajurit yang tinggal enam orang lagi menjadi jerih.
Juga Louw Cin dan Phang Houw agaknya menjadi gentar juga.
Baru mengeroyok pemuda Siauw-lim-pai itu saja sudah sukar untuk mengalahkannya, sekarang muncul gadis yang aneh dan lihai bukan main itu!
Maka, maklum akan bahaya yang mengancam mereka, Louw Cin dan Phang Houw lalu berloncatan jauh meninggalkan lawannya.
Enam orang tentara Mancu juga mengambil langkah seribu mengikuti dua orang pemimpin mereka.
Tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda.
Agaknya mereka menambatkan kuda mereka tak jauh dari situ ketika menghadang dan menyerang pemuda Siauw-lim-pai tadi dan kini mereka kabur menunggang kuda, meninggalkan enam orang anggota pasukan yang telah tewas di tangan wanita bersenjata payung itu!
Pemuda Siauw-lim-pai itu kini berdiri berhadapan dengan penolongnya.
Dia menggantungkan kembali siang-kek di punggungnya dan mengangkat kedua tangannya menjura kepada gadis berpayung itu.
"Bantuan Nona yang amat berharga telah menyelamatkan nyawaku, dan aku Bu Kong Liang mengucapkan banyak terima kasih."
Gadis berpakaian sutera hijau berkembang merah itu tersenyum dan senyumnya amat manis, matanya yang jeli seperti mata Burung Hong itu mengerling dengan agak genit.
"Bu-enghiong (Pendekar Bu), tidak enak bicara di depan mayat-mayat ini, mari kita mencari tempat yang bersih di mana kita bicara dengan nyaman,"
Kata gadis itu sambil memanggul payungnya untuk melindungi wajah dan lehernya dari sinar matahari yang mulai menghangat.
Kemudian ia berjalan cepat meninggalkan hutan itu ke utara.
Pemuda itu mengikutinya.
Thian Hwa juga membayangi dari jauh.
Ia sendiri juga sedang menuju ke utara, maka perjalanan mereka searah dan ia memang ingin sekali mengetahui siapa pemuda dan gadis itu dan mengapa mereka bertentangan dengan anak buah Pangeran Leng Kok Cun.
Ketika melihat dua orang itu berhenti di tepi Sungai Terusan, di tempat yang sunyi, Thian Hwa juga berhenti dan bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Mereka telah meninggalkan tempat tadi sejauh sekitar dua mil.
Pemuda itu duduk di atas batu di tepi sungai, akan tetapi wanita cantik itu masih berdiri, menutup payungnya karena tempat itu cukup teduh, sinar matahari terhalang daun-daun pohon.
Tiba-tiba gadis itu menggerakkan kakinya mencokel sebuah batu sebesar kepalan tangan dan batu itu dengan amat cepatnya meluncur ke arah kepala Thian Hwa yang keluar dari balik batu besar!
"Wuuuuuttt...
plakk!"
Batu itu kini berada di tangan kiri Thian Hwa yang menyambut sambitan itu. Wanita itu tertawa, tawanya merdu, terkekeh seperti mengandung ejekan.
"Adik yang manis, mengapa mengikuti kami sejak tadi? Kalau ingin bicara, keluarlah menemui kami!"
Katanya.
Thian Hwa merasa malu karena ternyata perbuatannya membayangi sejak tadi telah ketahuan.
Mungkin sejak tadi wanita itu juga mengetahui ketika ia mengintai pemuda Siauw-lim-pai yang dikeroyok orang.
Ia pun keluar dan sengaja ia meremas hancur batu yang disambitkan tadi.
Diremas dalam tangannya yang mungil, batu itu hancur, dan Thian Hwa menyebarkan debunya ke atas tanah.
Lalu ia melangkah dengan dada terangkat dan kepala ditegakkan, menghampiri dua orang itu.
Gadis berpakaian sutera hijau berkembang-kembang merah itu tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Bagus! Adik yang manis, gin-kangmu (ilmu meringankan tubuh) ketika membayangi kami cukup hebat dan sin-kangmu (tenaga saktimu) ketika meremas hancur batu juga hebat. Tidak tahu di pihak manakah engkau berdiri? Kalau engkau kawan antek-antek Mancu tadi, jangan buang waktu lagi, seranglah aku!"
Ditantang begitu, Thian Hwa membalas senyuman gadis itu. Tentu saja ia tidak sudi berpihak kepada orang-orangnya Pangeran Leng Kok Cun.
"Aku tidak berpihak siapa pun. Aku kebetulan lewat dan menonton pertempuran. Karena tertarik kepada kalian maka aku mengikuti kalian,"
Katanya, jujur dan bersahaja.
"Bagus, kalau begitu mari kita bertiga saling berkenalan. Silakan duduk, Adik manis."
Gadis itu duduk di atas batu di depan pemuda Siauw-lim-pai dan Thian Hwa juga mengambil tempat duduk di atas batu depan mereka.
Biarpun ia berhadapan dengan seorang gadis cantik yang tampaknya seperti bangsawan, dan dengan seorang pemuda pendekar Siauw-lim-pai, namun Thian Hwa tidak mau bersikap rendah diri.
Gurunya atau kakeknya sering memesan kepadanya agar menjadi seorang gagah ia jangan sekali-kali bersikap tinggi hati, akan tetapi juga jangan sekali-kali merasa rendah diri.
Tinggi hati mendatangkan kesombongan dan suka sewenang-wenang terhadap orang lain yang direndahkan, sebaliknya rendah diri mendatangkan rasa takut dan menjadi penjilat yang di atas.
Ia harus selalu rendah hati akan tetapi harus pula menjaga tinggi harga dirinya.
Maka, berhadapan dengan dua orang muda itu, ia bersikap tenang dan biasa saja, tidak menganggap mereka lebih tinggi atau lebih rendah.
Sejenak mereka bertiga hanya duduk diam dan saling pandang.
Thian Hwa kini dapat melihat jelas wajah dan sikap pemuda itu.
Seorang pemuda yang sikapnya gagah perkasa namun sederhana, baik pakaian maupun sikapnya.
Matanya membayangkan keteguhan hati, dan biarpun jarang tersenyum namun wajahnya cerah.
Usianya sekitar dua puluh empat tahun.
Pakaiannya berwarna kuning, dari kain kasar sederhana, namun bersih.
Gadis cantik itu sebaliknya, memiliki wajah yang penuh senyum dan gembira, dengan sinar mata yang tajam dan nakal, mulut dengan senyumnya itu seolah mengejek.
Namun harus diakui bahwa gadis itu memiliki daya tarik yang kuat.
"Nah, sekarang kita berkenalan dan memberitahukan nama masing-masing. Twako (Kakak) ini bernama Bu Kong Liang seperti yang tadi dia akui, dan aku hanya dikenal sebagai Ang-mo Niocu (Nona Berpayung Merah) dan engkau, Adik manis, siapakah namamu?"
Karena gadis itu tidak memperkenalkan nama, hanya memperkenalkan julukannya, maka ia pun menirunya.
"Aku biasa disebut Huang-ho Sian-li."
"Hemm, dengan julukan Dewi Sungai Huang-ho, engkau tentu memiliki kepandaian yang hebat, Nona,"
Kata pemuda murid Siauw-lim-pai yang bernama Bu Kong Liang itu, ucapannya jujur dan tidak mengandung maksud lain. Ang-mo Niocu terkekeh.
"Hi-hik, bagus sekali julukanmu, Sian-li. Sebaiknya aku menyebutmu Sian-li saja, engkau setuju?"
Thian Hwa mengangguk.
"Boleh, dan aku akan menyebutmu Niocu saja."
"He-he-heh! Bagus, engkau terbuka dan jujur, seperti juga Bu-twako ini, aku suka itu! Nah, sekarang setelah kita berkenalan, perlu kita menceritakan keadaan kita masing-masing, bukan? Apa artinya mempunyai kenalan tanpa mengetahui keadaannya? Bisa menimbulkan salah paham dan pertentangan. Hayo, engkau yang laki-laki sepatutnya mengalah dan ceritakan dulu keadaan dirimu, Bu-twako!"
Bu Kong Liang tersenyum.
"Baiklah, memang tidak ada rahasia tentang diriku. Namaku Bu Kong Liang, sebatang kara di dunia ini, yatim piatu sejak kecil. Sejak berusia lima tahun aku telah menjadi kacung dan murid di Siauw-lim-si (Kuil Siauw-lim). Setelah tamat belajar, para suhu di Siauw-lim-pai mengutus aku untuk pergi ke kota raja, menyelidiki keadaan kota raja setelah pemerintahan dipegang Kerajaan Ceng. Dan tadi, ketika aku sedang berjalan menyusuri Terusan, tiba-tiba saja aku dihadang pasukan Kerajaan Ceng (Mancu) yang hendak menangkap aku dengan tuduhan hendak melakukan pemberontakan. Sungguh aneh! Mungkin mereka tahu dari para penyelidik bahwa aku murid Siauw-lim-pai dan mereka mencurigai aku."
"Bagus! Biarpun riwayat itu pendek saja, namun sudah dapat menjelaskan bahwa Bu-twako adalah seorang pendekar Siauw-lim-pai yang tentu saja tidak akan merendahkan diri menjadi antek penjajah Mancu! Sekarang, bagaimana dengan engkau, Sian-li? Tiba giliranmu untuk menceritakan keadaanmu agar kami dapat lebih mengenalmu dengan baik. Aku percaya bahwa engkau pasti murid seorang yang amat pandai sehingga semuda ini engkau telah memiliki gin-kang dan sin-kang sedemikian hebatnya."
Thian Hwa menjawab dengan tegas.
"Niocu, engkau tadi minta agar Bu-twako yang pertama memperkenalkan diri dan keadaannya, itu sudah tepat, karena memang dia yang paling tua dan sudah sepatutnya mengalah. Sekarang, karena engkau lebih tua daripada aku, Niocu, sebaiknya engkau yang lebih dulu menceritakan keadaanmu."
"He-he-heh, engkau ini anak yang cerdik, Sian-li. Tentu engkau belum percaya benar padaku karena belum mengetahui siapa aku dan bagaimana latar belakangku. Baiklah, aku akan menceritakan keadaanku dengan sejujurnya karena aku yakin bahwa Bu-twako dan engkau sendiri bukanlah antek-antek penjajah Mancu, bukan orang-orang di pihak musuhku. Aku datang dari Barat-daya, dari kota raja Yunnan-hu, dan aku adalah seorang puteri kepala suku bangsa Yao. Sejak kecil aku suka mempelajari ilmu silat dan guruku yang terakhir adalah Suhu Lam Hai Cinjin yang di selatan terkenal sebagai Datuk Selatan dan kini menjabat sebagai Koksu (Guru Negara) yang membantu usaha gerakan pasukan Jenderal Wu menentang penjajah Mancu."
"Hemm, kalau begitu engkau adalah seorang pejuang dari selatan, Niocu?"
Tanya Bu Kong Liang sambil memandang kagum.
Pada waktu itu, bagi para pendekar, terutama yang datang dari selatan, nama Wu Sam Kwi merupakan nama seorang pemimpin pejuang yang patriotik, menentang penjajah Mancu.
Ang-mo Niocu tersenyum girang dan mengangguk.
"Dapat dianggap demikian, Twako. Aku diutus oleh Jenderal Wu untuk melihat-lihat keadaan pemerintah Kerajaan Ceng (Mancu). Maka, ketika tadi aku melihat seorang pemuda dikeroyok tentara Mancu, tanpa ragu lagi aku membantumu. Nah, demikianlah riwayat diriku, agar kalian berdua mengetahui bahwa aku adalah orang yang bekerja untuk Jenderal Wu Sam Kwi yang dengan gigih hendak mempertahankan sebagian tanah air daerah Baratdaya dan bercita-cita membebaskan seluruh tanah air dari cengkeraman penjajah Mancu. Sekarang tiba giliranmu, Sian-li. Cerita tentang dirimu tentu jauh lebih menarik daripada riwayat Bu-twako dan riwayatku."
"Nanti dulu, Niocu, engkau belum menceritakan apakah ayah ibumu masih ada, dan tinggal di mana?"
Tanya Thian Hwa. Ang-mo Niocu terkekeh.
"Hi-hik! Tadi sudah kuceritakan bahwa ayahku adalah seorang kepala suku bangsa Yao. Ayah dan Ibu masih ada dan tinggal di Yunnan-hu. Mengapa engkau menanyakan orang tuaku, Sian-li?"
Thian Hwa menghela napas panjang.
Tentu saja ia tidak dapat menceritakan keadaan dirinya yang sesungguhnya.
Dua orang ini agaknya adalah pendekar-pendekar pejuang rakyat yang anti penjajah Mancu.
Ia sendiri keturunan seorang Pangeran Mancu, ayahnya, Pangeran Ciu Wan Kong, adalah adik Kaisar Shun Chi yang sekarang masih berkuasa.
Walaupun ibunya seorang wanita Han pribumi, akan tetapi kalau ia mengaku ayah kandungnya seorang Pangeran Mancu, dua orang ini pasti akan mencurigainya, bahkan mungkin sekali akan memandangnya seperti seorang musuh!
"Niocu, riwayatku lebih tidak menarik lagi.
Engkau masih beruntung karena mempunyai orang tua.
Aku, seperti Bu Twako, juga hidup seorang diri, sebatang kara.
Sejak kecil aku menjadi murid Suhu Thian Beng Sianjin dan hidup di sepanjang Sungai Kuning (Huang-ho), menentang kejahatan dan membela yang lemah tertindas sehingga orang-orang menyebut aku Huang-ho Sian-li."
Thian Hwa merasa lega karena agaknya dua orang sahabat barunya itu tidak mengenal nama gurunya. Bu Kong Liang bertanya.
"Sian-li, tadi aku sudah menceritakan bahwa aku diutus para suhu di Siauw-lim-pai untuk menyelidiki keadaan di kota raja setelah pemerintahan dipegang Kerajaan Ceng (Mancu). Juga Niocu sudah menceritakan bahwa ia menjadi utusan Jenderal Wu Sam Kwi untuk menyelidiki keadaan Kerajaan Ceng di kota raja. Nah, sekarang engkau sendiri hendak ke manakah? Dan apa yang hendak kaulakukan?"
Thian Hwa menjawab dengan tegas, tanpa ragu.
"Aku meninggalkan Lembah Huang-ho untuk merantau ke tempat-tempat ramai untuk mencari pengalaman, kini sedang menuju ke kota Thian-cin."
"Kalau begitu, Sian-li, mari kita melakukan perjalanan bersama! Engkau dapat membantu aku karena aku percaya engkau tentu seorang pendekar wanita yang menentang penjajah Mancu!"
Kata Ang-mo Niocu. Thian Hwa menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Niocu. Aku tidak ingin melibatkan diri dalam perang. Aku hanya akan menentang mereka yang melakukan kejahatan dan membela yang lemah tertindas, tidak peduli siapa atau golongan mana. Sekarang tidak ada perang lagi dan yang terpenting bagiku adalah membela dan menegakkan kebenaran dan keadilan di antara rakyat."
Ang-mo Niocu mengerutkan alisnya, tampak tak senang mendengar ucapan Thian Hwa.
"Mengapa begitu, Sian-li? Sudah jelas bahwa bangsa Mancu itu jahat sekali, menjajah tanah air kita. Setiap orang pendekar seharusnya menentang Kerajaan Ceng yang menjajah!"
"Tidak, Niocu. Sekarang belum saatnya bagi rakyat untuk bangkit melawan Kerajaan Ceng. Nanti kalau muncul seorang pemimpin patriot sejati yang menghimpun pasukan rakyat untuk menentang dan memerangi penjajah, barulah mungkin aku akan membantunya. Sekarang aku hanya menjadi penentang kejahatan, bukan penentang pemerintah Kerajaan Ceng, seperti yang dipesan guruku."
"Ah! Bukankah Jenderal Wu Sam Kwi merupakan pemimpin patriot sejati? Setiap orang gagah harus membantunya untuk membebaskan tanah air dari penjajah Mancu."
Ang-mo Niocu bicara penuh semangat.
"Kalau tidak, maka orang gagah itu membiarkan dirinya menjadi pengkhianat!"
"Sesukamulah engkau hendak bicara apa saja, Niocu! Akan tetapi bagiku, terus terang saja aku sekarang belum melihat adanya seorang pemimpin sejati yang patut menghimpun kekuatan rakyat!"
"Kalau begitu engkau menghina Jenderal Besar Wu Sam Kwi, Sian-li! Sikapmu ini dapat menimbulkan permusuhan antara kita berdua!"
"Terserah kepadamu, Niocu. Pendirianku sudah tetap dan tidak dapat diubah lagi. Aku tidak mencari permusuhan dengan siapa pun, akan tetapi juga tidak akan menolak kalau ada yang memusuhi aku!"
Kata-kata Thian Hwa juga mengandung kekerasan, karena ia pun sudah marah mendengar ucapan Ang-mo Niocu yang nadanya menentang tadi.
Melihat dua orang gadis cantik itu berdiri dengan sikap seperti dua ekor singa betina siap untuk saling serang, Bu Kong Liang cepat menengahi.
"Aih, bagaimana sih kalian ini? Baru saja saling berkenalan sekarang sudah ribut dan bertengkar? Niocu, kukira orang bebas untuk menentukan jalan pikiran dan pendapatnya masing-masing. Yang penting kita mempunyai satu sasaran, yaitu menentang kejahatan. Engkau tidak boleh memaksakan kehendakmu agar orang lain menyetujui dan mengikuti pendapatmu sendiri."
ANG-MO NIOCU yang tadinya bersikap manis dan ramah sekali kepada pemuda itu, kini memandang kepadanya dengan muka merah dan mata bersinar marah.
"Bagus, Bu Kong Liang! Baru saja aku membantumu menghadapi pengeroyokan pasukan Mancu, dan sekarang engkau malah menentangku dan membela gadis ini?"
Bentaknya.
"Niocu, yang kubela adalah kebenaran. Dalam urusan ini, Huang-ho Sian-li mempertahankan pendiriannya dan ia tidak salah, akan tetapi hendak memaksakan kehendakmu agar diikuti orang lain, maka engkaulah yang bersalah, Niocu."
"Biarlah Bu-twako, agaknya Niocu yang tadi membantumu tanpa kau undang bukan menolongmu, melainkan memberi hutang dan kini menagih! Kalau ia hendak memaksakan kehendaknya, aku tetap menolak, dan apa pun akibatnya, akan kuhadapi! Aku tidak menentang siapa pun, akan tetapi kalau ada yang menantangku, aku tidak akan mundur selangkah pun!"
Thian Hwa yang memang pada dasarnya memiliki watak pemberani, jujur dan keras itu berkata dengan nada tegas, matanya mencorong memandang kepada Ang-mo Niocu.
"Kau...! Kau...!"
Ang-mo Niocu marah sekali dan agaknya kedua orang gadis itu segera akan saling serang. Melihat ini, Bu Kong Liang melangkah maju menghadapi Ang-mo Niocu dan berkata.
"Niocu, kuharap engkau menyadari bahwa kedatanganmu dari selatan ke sini bukan untuk memusuhi para pendekar yang tidak sehaluan denganmu."
Mendengar ucapan pemuda itu, Ang-mo Niocu menekan kemarahannya.
"Huh, kalian menjemukan!"
Setelah berkata demikian, ia memutar tubuhnya dan berkelebat pergi dengan gerakan cepat, sebentar saja menghilang dari situ. Kini Thian Hwa berhadapan dengan Bu Kong Liang dan ia berkata.
"Bu-twako, sekarang aku hendak melanjutkan perjalananku."
"Nanti dulu, Sian-li. Engkau hendak ke Thian-cin, bukan? Aku pun hendak ke sana, karena tujuanku ke kota raja. Kalau engkau tidak merasa keberatan, bagaimana kalau kita melakukan perjalanan bersama? Aku ingin membicarakan denganmu tentang banyak hal, tentu saja kalau engkau suka, karena aku tidak ingin memaksakan kehendakku padamu seperti yang dilakukan Ang-mo Niocu tadi."
Karena sikap pemuda itu sopan dan kata-katanya mengandung kejujuran, Thian Hwa tidak merasa keberatan untuk melakukan perjalanan bersama.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan ke utara, menyusuri tepi Terusan menuju ke Thian-cin sambil bercakap-cakap.
Mereka berjalan seenaknya, tidak tergesa-gesa.
"Sian-li, aku tertarik sekali ketika engkau mengatakan kepada Ang-mo Niocu, bahwa sekarang belum muncul pemimpin rakyat yang sejati untuk memimpin rakyat melawan pasukan penjajah Mancu. Padahal, semua orang mengetahui bahwa sekarang, pemimpin yang dengan terang-terangan menentang Kerajaan Ceng (Mancu), hanyalah Jenderal Wu Sam Kwi. Mengapa engkau tidak menganggap jenderal itu sebagai pemimpin perjuangan yang sejati?"
Thian Hwa menghela napas.
Ia sudah banyak mendengar dari Thian Bong Sianjin tentang perlawanan terhadap bangsa Mancu yang dulu dilakukan oleh Pemimpin Laskar Rakyat Li Cu Seng dan Wu Sam Kwi yang jenderal.
"Aku mendengar dari guruku, bahwa sejarah merupakan saksi betapa orang-orang yang tadinya memimpin rakyat untuk menggulingkan sebuah pemerintahan, setelah perjuangan itu berhasil dan dia diangkat menjadi kaisar, lalu luntur kepemimpinannya, dan dia hanya menggunakan kekuasaannya untuk memakmurkan dirinya dan keluarganya saja. Mereka lalu menjadi gila kekuasaan dan lupa akan rakyat yang sejak dulu mendukung perjuangannya, lupa bahwa rakyatlah yang memungkinkan dia menjadi kaisar. Hidup dia dan keluarganya makin mewah berlebihan, kekayaan ditumpuk sebanyaknya dan tidak mengenal puas, sementara itu rakyat atau lebih tepat sebagian besar dari rakyat hidup serba kekurangan. Hanya segerombolan orang yang dekat dengan kaisar, yang mau menjilat dan mencari muka saja yang kebagian hidup makmur."
"Aduh, keras sekali penilaianmu terhadap para pemimpin pejuang, Sian-li!"
Bu Kong Liang berseru sambil menahan senyum.
"Pemimpin-pemimpin yang terakhir menentang masuknya pasukan Mancu adalah Li Cu Seng dan Jenderal Wu Sam Kwi. Nah, mengapa sekarang engkau menganggap mereka berdua itu bukan pemimpin sejati?"
"Aku sendiri tidak mengenal mereka, akan tetapi aku mendengar banyak, tentang mereka, dari guruku. Dahulunya, Li Cu Seng merupakan pemimpin Laskar Rakyat yang bijaksana dan cita-citanya besar. Dia memulai sebagai seorang pahlawan bangsa, seorang patriot sejati. Akan tetapi setelah dia berhasil memimpin rakyat menduduki Peking dan mengakhiri Kerajaan Beng yang ketika itu dipimpin para penguasa yang lalim dan korup, dia juga menjadi gila kekuasaan, sehingga banyak di antara para pendukungnya yang terdiri dari para pendekar yang gagah perkasa meninggalkannya. Kemudian, dia pun diserbu oleh Jenderal Wu Sam Kwi yang bekerja sama dengan bangsa Mancu, terusir dan mati dalam pelarian. Jelas Li Cu Seng tidak dapat mempertahankan kemurniannya sebagai seorang pemimpin sejati. Dia bahkan pernah tergila-gila kepada seorang wanita yang tadinya menjadi selir tercinta Jenderal Wu Sam Kwi. Kemudian ketahuan bahwa Jenderal Wu Sam Kwi menyerang Li Cu Seng karena terdorong untuk membalas dendam dan merampas kembali selirnya itu. Jenderal Wu Sam Kwi merampas Peking atas bantuan bangsa Mancu yang kemudian mempertahankan kota raja itu sebagai milik mereka. Jenderal Wu melarikan diri ke Barat Daya, akan tetapi di sana pun dia hidup sebagai raja kecil. Mereka semua bukanlah pemimpin sejati yang benar-benar berjuang demi rakyat dan tidak menjadi gila kekuasaan lalu menggendutkan perut sendiri sebagai hasil kemenangannya yang sesungguhnya merupakan kemenangan rakyat jelata."
Mendengar Thian Hwa bicara panjang lebar, Bu Kong Liang memandang penuh kagum, lalu menghela napas panjang dan berkata.
"Ah, tidak kusangka engkau akan dapat mengemukakan pandangan yang demikian luas, Sian-li. Memang kukira pendapatmu itu tidak menyimpang terlalu jauh dari kenyataannya. Para suhu di Siauw-lim-pai juga sering kali mengatakan bahwa betapa pun gagah perkasanya seorang laki-laki, dia harus berhati-hati terhadap tiga hal yang akan mempengaruhi wataknya, yaitu Kekuasaan, Kekayaan, dan Wanita. Tiga kekuatan ini dapat menyelewengkan seorang yang gagah perkasa dan patriotik menjadi lalim dan mengejar kesenangan diri pribadi."
"Ah, jangan memujiku, Twako. Sesungguhnya aku hanya mengetahuinya dari keterangan guruku."
"Kalau begitu aku yakin bahwa gurumu pasti seorang yang selain sakti, juga amat bijaksana. Sian-Ii, tadi sudah kuceritakan bahwa aku hendak pergi ke kota raja untuk memenuhi perintah para suhu di Siauw-lim-pai, yaitu melihat keadaan hidupnya rakyat di desa sampai di kota raja, setelah kini pemerintahan dipegang Kerajaan Ceng (Mancu). Kalau boleh aku mengetahui, apakah engkau mempunyai tujuan dalam perjalananmu ini?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu itu, Twako, aku ingin bertanya lebih dulu. Apakah engkau juga anti Kerajaan Mancu dan menentangnya seperti halnya Ang-mo Niocu?"
"Ah, tidak, Sian-li. Keadaanku tiada bedanya denganmu. Para suhu di Siauw-lim-pai juga tidak ingin mengadakan permusuhan secara terbuka menentang Kerajaan Ceng, karena hal itu akan sia-sia belaka. Tidak mungkin Siauw-lim-pai yang hanya memiliki beberapa ratus anggota mampu menandingi pasukan Mancu yang ratusan ribu jumlahnya. Tidak, aku hanya disuruh menyelidiki dan melakukan tugas sebagai murid Siauw-lim-pai, yaitu menentang kejahatan dan membela yang lemah tertindas."
"Kalau begitu, mengapa tadi engkau diserang pasukan Mancu yang dipimpin oleh Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu Pangcu Louw Cin?"
"Eh? Engkau mengenal dua orang yang memimpin pasukan itu, Sian-li?"
"Aku mengenal mereka, akan tetapi jawab dulu pertanyaanku tadi, Bu-twako."
"Seperti sudah kuceritakan tadi, aku sendiri tidak tahu mengapa aku diserang pasukan Mancu. Dengan tiba-tiba saja mereka menyerangku. Ini menguatkan dugaan para pimpinan Siauw-lim-pai bahwa Pemerintah Mancu diam-diam mencurigai para perkumpulan persilatan besar, terutama sekali Siauw-lim-pai. Karena ketika terjadi perlawanan terhadap balatentara Mancu, banyak terdapat ahli-ahli silat, pendekar-pendekar, di antaranya banyak pendekar Siauw-lim-pai berada di pihak Kerajaan Beng. Mungkin saja ada mata-mata mereka yang mengetahui bahwa aku seorang murid Siauw-lim-pai, maka mereka langsung mengeroyokku."
Thian Hwa mulai percaya kepada pemuda itu, akan tetapi untuk mengaku sebenarnya tentang dirinya, bahwa ia adalah puteri seorang pangeran, ia masih belum mau.
Maka untuk menjawab pertanyaan pemuda itu tadi, ia lalu memberitahu sebagian saja.
"Bu-twako, engkau tadi menanyakan tujuan perjalananku. Aku juga hendak pergi ke kota raja, akan mencari kakekku yang dulu berada di kota raja, bekerja sebagai pelayan pada sebuah keluarga pangeran. Dan mengenai dua orang yang memimpin pasukan yang menyerangmu, memang aku mengenal mereka, bahkan aku pernah bentrok dengan mereka. Hui-eng-to Phang Houw dan Louw Cin Ketua Liong-bu-pang itu adalah kaki tangan seorang pangeran lain yang agaknya mempunyai ambisi hendak merampas kedudukan Kaisar yang sudah tua. Begitulah, Bu-twako, apa yang dapat kuterangkan kepadamu sementara ini dan harap engkau tidak bertanya lagi tentang itu."
Bu Kong Liang mengangguk-angguk.
Diam-diam pemuda itu merasa kagum kepada Thian Hwa dan dia menduga bahwa tentu ada sesuatu yang dirahasiakan oleh gadis itu.
Gadis yang begini cantik jelita, sederhana, memiliki ilmu yang tinggi akan tetapi seperti ada rahasia yang menyelubungi dirinya.
Gadis ini agaknya mengenal keadaan para pangeran di kota raja sehingga mengetahui akan adanya pangeran yang hendak ingin merampas tahta kerajaan yang berarti pemberontakan dan pernah bentrok dengan kaki tangan pemberontak itu.
Gadis aneh yang agaknya menyembunyikan pula namanya, hanya memperkenalkan diri dengan julukannya, Huang-ho Sian-li!
Akan tetapi dia menahan keinginan tahunya, khawatir kalau-kalau akan menyinggung gadis itu dan membuatnya marah.
Dia ingin mengenal gadis itu lebih baik lagi yang dia percaya tentu seorang gadis pribumi Han mengingat akan keterangannya tadi bahwa ia cucu seorang yang bekerja sebagai pelayan di sebuah keluarga pangeran.
Pada waktu itu, yang bekerja sebagai pelayan keluarga bangsawan Mancu pastilah seorang pribumi Han!
"Terima kasih, Sian-li.
Keteranganmu itu sudah cukup dan terima kasih atas kepercayaanmu padaku.
Aku senang sekali dapat melakukan perjalanan bersamamu ke kota raja karena engkau tentu sudah mengenal kota raja, sedangkan aku belum pernah melihatnya."
"Aku pun baru satu kali berkunjung ke sana, hampir dua tahun yang lalu,"
Kata Thian Hwa, merasa lega bahwa pemuda itu tidak mendesak dan bertanya lebih jauh tentang riwayat dirinya.
Ia merasa semakin suka kepada Bu Kong Liang yang agak pendiam, berwibawa, sopan dan bersikap hormat itu.
Mereka melanjutkan perjalanan ke utara, menuju kota Thian-cin.
*** Dusun Kia-jung terletak di dekat Terusan, hanya sekitar dua puluh mil jauhnya dari kota Thian-cin.
Karena letaknya di tepi Terusan dan dekat kota besar, maka dusun itu ramai dan menjadi pusat pengumpulan hasil bumi yang akan dikirim ke Thian-cin, bahkan ada yang dikirim ke Peking.
Penduduknya memiliki kehidupan yang cukup makmur dan biarpun di dusun itu tidak terdapat pasukan keamanan yang besar, hanya terjaga keamanannya oleh belasan orang pemuda penduduk dusun itu sendiri, namun selama ini keamanannya cukup baik.
Tidak pernah terjadi gangguan keamanan yang besar.
Yang pernah ada hanyalah pencurian kecil-kecilan.
Sore hari itu, keadaan dusun Kia-jung sudah mulai sepi.
Kesibukan perdagangan hasil bumi terjadi dari pagi sampai siang tadi, dan pada sore hari ini orang-orang sudah mengaso setelah lelah bekerja pada pagi dan siang harinya.
Dua belas orang pemuda malas-malasan berada di gardu penjagaan yang berada di pintu gerbang dusun sebelah selatan.
Mereka bercakap-cakap dengan seorang laki-laki tua.
Laki-laki tua itu berusia sekitar enam puluh enam tahun, pakaiannya biarpun sederhana, namun lebih rapi dan bersih dibandingkan pakaian seorang kakek dusun.
Juga ketika dia bicara, cara bicaranya juga menunjukkan bahwa dia sudah biasa bicara halus dan sopan.
Akan tetapi dia ramah sekali dan agaknya disuka oleh para pemuda itu yang menghujani pertanyaan kepadanya tentang segala hal yang belum mereka ketahui.
Ternyata kakek itu pandai sekali bercerita, terutama cerita mengenai kehidupan di kota raja.
Agaknya dia tahu benar keadaan di kota raja, bahkan dia dapat menceritakan keadaan di istana-istana para pangeran.
Ketika dia bercerita betapa dia pernah mengiringkan seorang pangeran berkunjung ke istana kaisar, para pemuda itu mendengarkan dengan penuh kekaguman.
Kakek itu pandai sekali menggambarkan keadaan dan kemewahan istana kaisar yang belum pernah mereka bayangkan dalam mimpi sekalipun!
"Sam Lopek (Paman Tua Sam), benarkah para puteri istana itu memiliki kecantikan seperti bidadari dari langit?"
Seorang di antara mereka bertanya dan pertanyaan ini disambut tawa ria para pemuda itu.
"Tolong gambarkan kecantikan mereka, Lopek!"
Kata yang lain, dan riuh rendahlah para pemuda itu minta agar kakek itu suka menggambarkan kecantikan para puteri istana yang sudah mereka dengar namun belum pernah mereka saksikan.
Kakek yang dipanggil Sam Lopek itu tersenyum dan tampak deretan giginya yang tidak utuh lagi, sudah terdapat ompong di sana-sini sehingga wajahnya yang masih memiliki bekas ketampanan itu tampak lucu.
"Heh-heh, para pemuda itu di mana-mana sama saja. Di kota maupun desa, yang tinggal di istana maupun yang tinggal gubuk, semua sama. Selalu bersemangat kalau mendengar tentang wanita cantik!"
Katanya, dan ucapan ini disambut sorak dan tawa para pemuda itu. Kembali kakek itu tersenyum.
"Wah, puteri-puteri istana memang cantik jelita seperti bidadari, akan tetapi bagi aku, para dayang istana, gadis-gadis yang menjadi pelayan istana bahkan lebih cantik manis dibandingkan para puterinya."
"Eh, benarkah itu, Lopek? Masa pelayannya lebih cantik daripada majikannya?"
Seorang pemuda bertanya tak percaya.
"Sebetulnya mereka itu sama-sama cantiknya, hanya bedanya, kalau puteri-puteri istana yang menjadi majikan itu memakai bedak terlalu tebal, gincu terlalu merah dan celak terlalu hitam, sehingga kecantikan mereka seperti topeng, sebaliknya para gadis dayang atau pelayan itu, yang tidak diperbolehkan berias terlampau tebal, malah tampak kecantikan aselinya. Kalau boleh diumpamakan bunga, para puteri itu adalah bunga kertas, sedangkan para pelayan itu bunga murni!"
Para pemuda itu kembali tertawa riuh.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh munculnya belasan orang yang bertubuh tinggi besar dan berwajah seram.
Usia mereka antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, dan di pinggang mereka tergantung senjata tajam seperti pedang atau golok atau ruyung.
Melihat ini, dua belas orang pemuda itu berlompatan dengan kaget, akan tetapi mereka siap, biarpun para pemuda yang melakukan penjagaan itu hanya mempunyai sebatang tongkat di tangan masing-masing.
Akan tetapi kakek itu memberi isyarat kepada para pemuda untuk mundur.
Dia melihat bahwa belasan orang bertampang seram itu berbahaya sekali kalau dihadapi dengan kekerasan, maka dia pun melangkah maju dan mengangkat tangan depan dada memberi hormat kepada seorang di antara mereka yang jelas menunjukkan diri sebagai pemimpin.
Orang ini bermuka hitam, bertubuh tinggi besar dan pakaiannya berbeda dengan yang lain.
Pakaiannya lebih mentereng dan di pinggangnya tergantung sepasang golok besar.
Kumisnya panjang melingkar, tanpa jenggot dan sepasang matanya lebar, memandang bengis.
"Selamat datang di dusun Kia-jung kami! Apakah yang dapat kami bantu untuk Cu-wi (Anda Sekalian)?"
Tiba-tiba Si Muka Hitam itu menggerakkan tangan kirinya dan tahu-tahu dia sudah mencengkeram baju kakek itu, dan sekali angkat, tubuh kakek itu pun terangkat ke atas!
"Kamu ini anjing tua antek para pangeran penjajah Mancu!
Orang-orang di sini tentu sudah engkau pengaruhi!"
Melihat kakek itu diangkat, beberapa orang pemuda maju hendak menolong.
Akan tetapi kakek itu dibanting ke atas tanah sedemikian kerasnya sehingga seketika pingsan di depan kaki Si Muka Hitam yang galak itu.
Si Muka Hitam lalu mencabut sebuah golok, menempelkan golok pada leher kakek yang pingsan itu sambil membentak.
"Kalian berani melawan kami? Kakek ini akan kubunuh dulu sebelum kami membunuh kalian dan seisi dusun kalau berani melawan kami!"
Mendengar ini, belasan orang pemuda itu terkejut dan menjadi jerih.
Mereka bukanlah jagoan-jagoan dan kini berhadapan dengan sekitar tujuh belas orang yang tinggi besar, berwajah bengis menyeramkan dan semua membawa senjata tajam, tentu saja mendengar gertakan itu, hilang keberanian mereka.
Baru melihat mereka itu membawa senjata tajam dengan terang-terangan saja mereka sudah jerih.
Pada waktu itu, Pemerintah Mancu melarang orang membawa senjata tajam di tempat umum, dan sekitar tujuh belas orang ini demikian terang-terangan membawa senjata tajam, padahal dusun Kia-jung letaknya dekat kota raja Thian-cin dan tidak begitu jauh dari kota raja Peking.
Ini saja menunjukkan bahwa mereka pasti bangsa perampok atau segerombolan penjahat.
Melihat para pemuda itu mundur-mundur ketakutan, kepala gerombolan itu lalu berseru kepada anak buahnya.
"Hayo cepat kumpulkan sumbangan dari para penduduk dusun ini. Kalau mereka tidak mau menyerahkan sumbangan yang cukup demi perjuangan kita, berarti mereka itu antek Mancu dan kalian bunuh saja!"
Belasan orang itu mulai bergerak memasuki rumah-rumah penduduk.
Akan tetapi mereka memilih dan hanya rumah yang kelihatan besar dan kelihatan sebagai tempat tinggal keluarga kaya saja yang mereka masuki.
Segera terdengar jerit ketakutan dari rumah-rumah itu dan para anggota gerombolan itu keluar dari rumah sambil membawa kantung-kantung yang sudah diduga tentu berisi uang atau benda berharga yang lain.
Akan tetapi baru enam rumah mereka jarah rayah, tiba-tiba pemimpin gerombolan bermuka hitam itu berteriak memanggil mereka.
Enam belas orang anak buahnya sambil membawa kantung-kantung jarahan berlari-lari kembali ke pintu gerbang selatan itu.
Apa yang terjadi sehingga kepala gerombolan yang bermuka hitam itu memanggil anak buahnya?
Kiranya ketika enam belas orang anak buah gerombolan itu sedang sibuk merampasi barang-barang berharga dari beberapa buah rumah besar di sepanjang jalan raya, dan kepala gerombolan bermuka hitam itu masih berdiri dengan sikap sombong di sana, tak jauh dari tubuh kakek yang masih pingsan, sedangkan belasan orang pemuda dusun itu berdiri agak jauh dengan penasaran akan tetapi juga ketakutan, datang ke tempat itu seorang pemuda dan seorang gadis yang bukan lain adalah Bu Kong Liang dan Thian Hwa!
Begitu melihat beberapa orang pemuda dusun berdiri ketakutan dan melihat pula seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam dan bengis berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar dan lagaknya sombong, sedangkan seorang kakek rebah menelungkup pingsan tak jauh dari kaki laki-laki muka hitam itu, Bu Kong Liang segera bertanya kepada para pemuda itu.
"Apa yang terjadi?"
Seorang di antara pemuda itu menggerakkan muka ke arah laki-laki muka hitam sambil berbisik.
"Dia dan anak buahnya sedang merampok rumah-rumah penduduk kita."
Mendengar ini, tanpa banyak cakap lagi Thian Hwa lalu menghampiri laki-laki muka hitam dan Bu Kong Liang cepat mengikutinya.
Laki-laki muka hitam itu dengan alis berkerut dan sikap memandang rendah melotot kepada gadis dan pemuda yang berani menghampirinya itu.
"Kalian mau apa? Apakah kalian hendak membela para antek Mancu?"
Tanyanya dengan suara membentak galak. Mendengar ini, Bu Kong Liang merasa heran. Sebelum Thian Hwa berkata atau berbuat sesuatu, dia cepat bertanya.
"Sobat, kami tidak ingin membela antek Mancu. Siapakah engkau?"
Pertanyaan Bu Kong Liang dilakukan dengan sikap dan suara lembut, dan Si Muka Hitam itu membusungkan dadanya yang lebar dan tebal.
"Hemm, mau mengenal aku? Aku adalah Tiat-thou Hek-go (Buaya Hitam Kepala Besi) yang memimpin seregu pejuang yang gagah perkasa!"
"Hemm, apa yang terjadi dengan orang tua itu?"
Thian Hwa menuding ke arah tubuh kakek yang telungkup di atas tanah.
"Huah-ha-ha, dia adalah antek Mancu. Ketika tadi kami datang, dia menceritakan kepada para pemuda itu tentang pangeran dan istana. Aku menamparnya!"
"Dan apa yang dilakukan anak buahmu itu?"
Tanya Bu Kong Liang, menahan kemarahannya.
"Kami minta sumbangan kepada penduduk. Yang tidak mau menyumbang berarti mereka itu antek Mancu dan akan kami basmi semua! Kami pejuang rakyat, patriot-patriot bangsa yang menentang penjajah Mancu dan semua anteknya!"
Si Muka Hitam itu semakin berlagak, apalagi dihadapi Thian Hwa yang cantik jelita, aksinya makin hebat, mulutnya senyum-senyum, matanya melirik-lirik dan dadanya diangkat membusung.
Thian Hwa merasa muak melihat betapa orang itu melirik-lirik sambil cengar-cengir kepadanya.
Bu Kong Liang tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Dia menudingkan telunjuk kirinya ke arah hidung Si Muka Hitam lalu berkata dengan nyaring.
"Beginikah macamnya pejuang rakyat? Kamu ini bukan lain hanyalah perampok yang bertopeng pejuang! Orang macam kamu ini yang mengotorkan dan menodai nama pejuang dan patriot! Manusia tak bermalu!"
Si Muka Hitam terbelalak dan matanya yang melotot menjadi merah saking marahnya.
Akan tetapi sebelum dia mampu membuka mulut atau bergerak, Thian Hwa sudah menyambung dengan ucapan yang lebih ketus lagi.
"Yang macam begini bukan manusia lagi, melainkan buaya yang kotor dan jahat, yang tidak patut dibiarkan hidup. Kamu buaya kepala besi? Aku berani bertaruh, kepalamu tidak sekeras besi melainkan selunak tahu, sekali pukul juga hancur!"
Sepasang mata itu semakin melotot seperti mau melompat keluar dari kelopaknya, hidung dan mulutnya seolah mengeluarkan asap panas saking marahnya dan sambil mengeluarkan gerengan seperti seekor biruang, raksasa muka hitam yang berjuluk Buaya Hitam Berkepala Besi itu menerkam ke arah Thian Hwa.
Kedua lengannya yang panjang dan besar itu hendak merangkul dari kanan kiri dan agaknya gadis itu tidak akan dapat menghindarkan diri lagi.
Akan tetapi menghadapi serangan kasar yang hanya mengandalkan kekuatan otot itu tentu saja merupakan ancaman kecil sekali bagi Thian Hwa.
Dengan kedua tangan terbuka, ia menyambut dua lengan itu dengan pukulan tangan miring untuk menangkis dan pada saat itu juga, kaki kirinya mencuat ke arah perut lawan.
"Plak-plak, bukk...!"
Tubuh kepala rombongan itu terjengkang dan terbanting roboh.
Rasa kepalanya seperti tujuh keliling karena kedua lengannya terasa nyeri seperti ditangkis besi, perutnya mulas dicium ujung sepatu kaki kiri Thian Hwa, ditambah lagi belakang kepalanya terbanting ke atas tanah.
Akan tetapi saking marahnya, dia tidak mau merasakan semua kenyerian itu dan cepat bangkit berdiri lalu memanggil anak buahnya!
Kini tujuh belas orang laki-laki tinggi besar itu mengepung Thian Hwa dan Bu Kong Liang dan mereka sudah mencabut senjata mereka, pedang, golok, atau ruyung.
Kini yang menonton tak jauh dari situ bukan hanya dua belas orang pemuda dusun Kia-jung, akan tetapi bertambah menjadi dua puluh orang lebih, semuanya laki-laki tua muda yang tertarik dan berdatangan ke situ.
Akan tetapi mereka semua tidak berani menentang tujuh belas orang yang tampak kuat dan bengis itu, dan kini mereka memandang dengan penuh kekhawatiran akan nasib gadis cantik dan pemuda tampan yang tidak mereka kenal itu.
Kakek Sam telah mereka angkat dan kini direbahkan di tepi jalan, masih dalam keadaan pingsan.
Akan tetapi dua orang yang amat dikhawatirkan penduduk dusun itu, Thian Hwa dan Bu Kong Liang, tenang-tenang saja walaupun dikepung dan diancam tujuh belas orang yang tampaknya buas dan kejam itu.
"Bagaimana, Twako. Akan kita apakah para pejuang patriotik ini?"
Tanya Thian Hwa.
"Pejuang? Huh, gerombolan perampok mengaku patriot pejuang! Kita hajar mereka baru tahu rasa!"
Kata Bu Kong Liang.
Thian Hwa mengangguk setuju, dan tiba-tiba tujuh belas orang itu menerjang maju, menyerang dengan senjata mereka.
Akan tetapi Thian Hwa dan Bu Kong Liang maklum dari gerakan mereka bahwa mereka itu hanya bertenaga kuat saja, sama sekali tidak memiliki ilmu silat yang berarti.
Maka tubuh gadis dan pemuda ini berkelebatan cepat dan para pengeroyok menjadi kacau!
Mereka merasa kehilangan dua orang yang mereka keroyok, yang tiba-tiba berubah menjadi bayangan yang berkelebatan dan semua serangan mereka tidak pernah mengenai sasaran.
Bahkan kini terdengar teriakan-teriakan mereka, dan senjata di tangan mereka terlepas dari pegangan dan terlempar ke sana-sini.
Melihat ini, para penduduk, terutama pemudanya, tidak merasa takut lagi.
Timbul semangat mereka dan mereka pun datang menyerbu.
Celakalah tujuh belas orang perampok itu.
Setiap ada yang roboh oleh tendangan atau tamparan Thian Hwa atau Kong Liang, penduduk menyerbu, membawa pentungan atau senjata-senjata tajam memukul dan membacok para perampok yang berserakan dan habislah tubuh perampok yang roboh itu, hancur dihujani bacokan dan pukulan.
Dalam waktu singkat saja tujuh belas orang perampok bertopeng pejuang itu pun mati semua dikeroyok penduduk!
Ketika para penduduk mencari dua orang yang telah menyelamatkan mereka itu, mereka tidak menemukan gadis dan pemuda tadi!
Juga Kakek Sam tidak tampak di situ.
Kakek yang tadinya masih pingsan itu kini lenyap!
Akan tetapi para penduduk tidak sempat memikirkan ke mana perginya gadis dan pemuda gagah perkasa itu, juga mengira bahwa Kakek Sam sudah siuman dan pulang ke rumahnya.
Mereka kini sibuk menyambut sepasukan tentara Mancu yang kebetulan lewat di dusun Kia-jung, datang dari Thian-cin dan tadi dilapori seorang penduduk.
Akan tetapi ketika pasukan yang terdiri dari dua losin prajurit itu tiba di tempat pertempuran, tujuh belas orang gerombolan perampok itu telah mati semua!
Karena gerombolan perampok itu mengaku sebagai pejuang yang menentang Pemerintah Kerajaan Ceng, tentu saja penduduk Kia-jung mendapat pujian dari komandan pasukan.
Ke manakah perginya Thian Hwa dan Kong Liang?
Dan ke mana pula menghilangnya Kakek Sam?
Tadi, setelah merobohkan semua penjahat dan penduduk membantai para penjahat yang sudah roboh terluka oleh tamparan dan tendangan Thian Hwa dan Kong Liang, tiba-tiba Thian Hwa mendengar suara panggilan.
"Cucuku Thian Hwa...!"
Thian Hwa terkejut dan cepat memandang.
Kiranya Kakek Sam yang tadinya roboh pingsan terpukul kepala gerombolan, telah siuman dan ketika dia melihat Thian Hwa, dia segera mengenalnya sebagai cucunya!
Kiranya kakek itu adalah Cui Sam yang ketika menjadi pengawal Pangeran Cu Kiong disebut Lo Sam.
Thian Hwa juga segera mengenal kakeknya, maka ia cepat menghampiri dan karena ia tidak ingin dirinya dikenal banyak orang, ia lalu mengajak Cui Sam pergi dari situ.
Bu Kong Liang mengikuti dari belakang.
Thian Hwa menggandeng tangan kakeknya dan karena ia mempergunakan ilmu berlari cepat, kakek itu merasa dirinya seolah dibawa terbang!
Setelah tiba jauh di luar dusun Kia-jung, Thian Hwa menghentikan larinya.
Kong Liang juga berhenti dan dia memandang kepada gadis itu dengan heran, lalu menoleh kepada kakek itu.
Kakek Cui Sam menghela napas panjang dan karena masih merasa pening setelah baru saja siuman dari pingsan diajak "terbang"
Oleh cucunya, dia lalu duduk di atas sebuah batu yang banyak terdapat di tepi jalan itu.
Thian Hwa melihat betapa Kong Liang memandangnya dengan mata mengandung pertanyaan dan keheranan, maka setelah tadi ia menyaksikan sepak terjang Kong Liang menghadapi para perampok yang mengaku pejuang, ia tidak ragu lagi untuk memperkenalkan diri sebenarnya.
Selama beberapa hari melakukan perjalanan bersama pemuda itu, ia mendapat kenyataan bahwa Kong Liang seorang pemuda yang selain gagah perkasa dan ramah, juga jujur dan sopan.
"Perkenalkan, Twako, ini adalah kakekku, ayah dari ibuku, bernama Cui Sam."
Lalu gadis itu berkata kepada kakeknya.
"Kong-kong (Kakek), ini adalah Twako (Kakak) Bu Kong Liang, seorang pendekar dari Siauw-lim-pai, sahabatku."
Ciu Sam cepat membalas penghormatan Bu Kong Liang dan dia berkata.
"Terima kasih kepada Bu Thaihiap (Pendekar Besar Bu) yang telah menolong penduduk Kia-jung membasmi para perampok tadi."
"Ah, Paman Cui Sam, yang banyak merobohkan para perampok adalah Sian-li ini."
"Sian-li? Ah, engkau maksudkan cucuku ini? Aih, kalau tidak melihat sendiri setelah saya siuman tadi, saya tidak dapat percaya bahwa cucu saya sekarang telah menjadi seorang pendekar wanita yang berilmu tinggi!"
"Wah, bukan tinggi lagi, Paman. Ia malah terkenal sebagai Huang-ho Sian-li!"
Kata Kong Liang sambil tersenyum senang melihat kebanggaan kakek itu akan kehebatan cucunya.
"Sudahlah, Twako, jangan terlalu memuji. Sekarang hari sudah hampir gelap, kita harus mencari tempat penginapan. Kong-kong kelelahan dan perlu beristirahat. Kota Thian-cin tidak jauh lagi, mari kita cepat melanjutkan perjalanan ke sana agar jangan terlalu malam tiba di Thian-cin."
"Biar Paman Cui Sam kugendong saja agar perjalanan dapat dilakukan lebih cepat,"
Kata Kong Liang.
Thian Hwa menyetujui dan kini kakek itu digendong di punggung Kong Liang, dan mereka berdua menggunakan ilmu berlari cepat sehingga yang tampak hanya berkelebatnya dua bayangan.
Apa lagi cuaca mulai remang, maka andaikata ada orang melihat mereka, tentu hanya mengira bayangan pohon atau burung yang lewat.
Yang menjadi terkagum-kagum bercampur takut adalah Cui Sam.
Biarpun dia mengetahui bahwa terdapat banyak ahli silat yang pandai dan memiliki ilmu kepandaian yang menakjubkan, namun baru tadi ketika digandeng Thian Hwa dia merasakan, apalagi sekarang dengan digendong, pemuda itu dapat berlari secepatnya sehingga dia merasa seolah-olah dibawa terbang ke angkasa!
Setibanya di Thian-cin, mereka menyewa tiga buah kamar, dan melihat kakeknya kelelahan, Thian Hwa tidak mau mengganggunya.
Setelah mereka makan malam, Kakek Cui Sam lalu memasuki kamarnya dan tidur.
"Besok saja kita bicara,"
Kata Thian Hwa dan biarpun Kong Liang ingin benar mengetahui lebih banyak tentang kakek itu, dia maklum bahwa dia harus bersabar sampai besok.
*** Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali setelah mandi, Thian Hwa memasuki kamar kakeknya.
Cui Sam juga telah membersihkan diri dan setelah menutupkan daun pintu kamar itu, mereka lalu duduk bercakap-cakap.
"Kong-kong, aku ingin sekali mendengar ceritamu tentang ibu dan ayah kandungku."
Kakek itu mengangguk-angguk.
"Memang, Thian Hwa, ketika kita bicara dulu, baru sedikit kuceritakan kepadamu tentang mereka karena Pangeran Cu Kiong muncul."
"Sekarang lebih dulu beritahukan, mengapa Kong-kong berada di dusun itu? Bukankah engkau bekerja di gedung Pangeran Cu?"
"Aku dikeluarkan setelah terjadi keributan denganmu dahulu itu, Thian Hwa. Masih baik dia tidak menggangguku, hanya memecat dan mengusirku. Setelah pergi dari kota raja, aku kembali ke dusun Kia-jung yang menjadi kampung halamanku ketika aku masih muda."
"Nah, sekarang ceritakan dari permulaan sejak ibu kandungku menjadi isteri Pangeran Ciu Wan Kong. Aku ingin sekali mendengar semuanya tentang kehidupan ibu dan ayahku."
Kakek Cui Sam lalu bercerita.
Di waktu mudanya, Cui Sam adalah penduduk dusun Kia-jung.
Dia hidup dengan isterinya dan mereka mempunyai seorang anak perempuan yang mereka namakan Cui Eng.
Akan tetapi keluarga ini tertimpa malapetaka ketika terjadi perang yang berkecamuk di daerah Cina terutama di bagian utara pada waktu Kerajaan Ceng mulai berdiri sebagai kejayaan jaman Mancu yang semakin berkembang.
Dalam keributan perang, isteri Cui Sam saking terkejut dan ketakutan karena harus berlari mengungsi dari satu ke lain tempat, jatuh sakit sampai meninggal dunia.
Tinggal Cui Sam seorang diri bersama puterinya, Cui Eng yang baru berusia sepuluh tahun.
Cui Sam lalu mengembara ke utara dan sampai ke Peking.
Dia lalu menghambakan diri, menjadi pelayan di gedung Pangeran Ciu Wan Kong dan keluarganya.
Ketika dia diterima menjadi pelayan, Pangeran Ciu Wan Kong berusia dua puluh tahun.
Pangeran tua Ciu, ayah Pangeran Ciu Wan Kong dan semua keluarga itu suka kepada Cui Sam yang rajin dan pandai membawa diri sehingga mereka memperkenankan Cui Sam membawa Cui Eng tinggal di kamar-kamar pelayan dari gedung itu.
Setelah Cui Eng menjadi dewasa, ia amat cantik jelita dan ia pun ikut bekerja sebagai pelayan bagian dalam, membersihkan kamar-kamar, melayani makan dan sebagainya.
Akhirnya terjalin perasaan saling mencinta antara Pangeran Ciu Wan Kong yang tampan dengan Cui Eng.
Niat Cui Sam untuk menjodohkan puterinya, selalu ditentang Pangeran Ciu Wan Kong.
Bahkan diam-diam pangeran muda dan gadis pelayan itu mengadakan hubungan.
Ketika Cui Eng berusia dua puluh satu tahun, Pangeran Ciu Wan Kong memberitahu ayah ibunya bahwa dia ingin mengangkat Cui Eng menjadi isterinya.
Tentu saja Pangeran Tua Ciu dan isterinya tidak menyetujui niat putera mereka!
Bahkan ketika Pangeran Ciu Wan Kong mohon agar diperbolehkan mengambil Cui Eng sebagai selirnya, orang tuanya, terutama ibunya menyatakan tidak setuju.
"Wan Kong, bagaimana engkau dapat melakukan hal yang memalukan itu? Seorang pangeran mengambil pelayan yang rendah derajatnya, pelayan keluarga sendiri lagi? Ah, nama kita akan tercemar dan menjadi bahan gunjingan para bangsawan. Tidak, aku tidak setuju! Banyak wanita yang dapat kauambil menjadi selirmu, akan tetapi jangan pelayan sendiri!"
Akan tetapi, ketika Ciu Wan Kong memberitahu bahwa Cui Eng sedang mengandung hasil hubungannya dengan dia, orang tuanya terpaksa tidak dapat menolak lagi.
Akan tetapi ibunya yang amat menjaga nama dan kehormatan kebangsawanan mereka, mengajukan sebuah syarat.
"Baik, engkau boleh mengambil Cui Eng sebagai selir, akan tetapi setelah ia melahirkan seorang anak laki-laki! Kalau nanti ia melahirkan seorang anak perempuan, engkau tidak boleh mengakuinya dan ia harus minggat dari sini!"
Keputusan ibunya itu tidak dapat diganggu-gugat lagi.
Bahkan ayahnya juga tidak berdaya.
Akhirnya Cui Eng melahirkan dan...
yang terlahir adalah seorang anak perempuan!
Tanpa ampun lagi, dan tanpa mempedulikan puteranya yang menangis, ibu Pangeran Ciu Wan Kong mengusir Cui Sam dan Cui Eng dari gedung itu dengan memberi uang pesangon sekadarnya.
Diam-diam Pangeran Ciu Wan Kong yang tidak berdaya itu memberi bekal uang yang cukup banyak kepada Cui Sam.
Demikianlah, Cui Sam membawa anaknya, Cui Eng, dan cucunya, pergi dari kota raja.
Akan tetapi ketika mereka menyeberangi Sungai Huang-ho, datang badai mengamuk dan perahu mereka terbalik.
"Aku tidak melihat lagi anakku Cui Eng dan bayinya. Kuanggap mereka itu telah hanyut atau tenggelam dan tewas. Sungguh tak kusangka, ketika engkau menjadi tamu Pangeran Cu Kiong, yang menjadi majikanku setelah aku hidup sendiri dan kembali ke kota raja, engkau menceritakan riwayatmu dan aku yakin bahwa engkau adalah cucuku, anak Cui Eng karena wajahmu persis wajah ibumu!"
"Kong-kong, kalau engkau dapat menyelamatkan diri dari Sungai Kuning (Huang-ho), dan aku yang masih bayi saja dapat ditolong orang yang kemudian menjadi guruku, juga kakek angkatku, apakah tidak mungkin ibuku itu dapat diselamatkan orang dan sekarang masih hidup?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Bertahun-tahun aku mengharapkan hal itu terjadi, akan tetapi setelah hampir dua puluh tahun ini tidak ada kabar darinya, aku sudah putus asa dan menganggap bahwa anakku Cui Eng sudah meninggal dunia. Kalau ia dapat terbebas dari kematian, tidak mungkin selama ini ia tidak memberi kabar kepadaku."
Thian Hwa merasa kecewa, akan tetapi ia tidak putus asa tentang ibunya. Sebelum ia mendapat bukti atau mendengar saksi akan kematian ibunya, ia masih mempunyai harapan.
"Kong-kong, sebetulnya siapakah namaku? Nama yang diberi Ibu padaku?"
Kakek itu menghela napas panjang.
"Ketika itu, kami pergi meninggalkan kota raja dalam keadaan tenggelam ke dalam duka. Sampai beberapa kali aku menyinggung tentang pemberian nama padamu, namun ibumu hanya menangis dan mengatakan belum memikirkan hal itu. Maka, sampai terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan engkau hilang, engkau belum diberi nama oleh ibumu. Oleh karena itu, pakailah nama pemberian gurumu, Thian Hwa. Nama itu sudah bagus sekali."
"Akan tetapi aku adalah keturunan marga Ciu, sedangkan marga Thian adalah marga suhuku."
"Hemm, kalau begitu pakai saja keduanya dan namamu menjadi Ciu Thian Hwa. Bagus, bukan?"
"Baiklah, Kong-kong. Aku mulai sekarang bernama Ciu Thian Hwa. Kong-kong, benarkah wajah ibuku sama dengan aku?"
"Serupa benar, seperti kembar. Hanya bedanya, di atas bibir ujung kiri terdapat sebuah tahi lalat hitam."
Thian Hwa tertegun.
Dan gurunya dahulu bermimpi melihat wanita bertahi lalat seperti itu yang menitipkan anaknya kepadanya.
Ia merasa khawatir sekali.
Bukankah yang dapat menampakkan diri dalam mimpi itu arwah seorang yang sudah mati?
"Kong-kong, sekarang ceritakan tentang Ayah kandungku itu.
Bagaimanakah watak Pangeran Ciu Wan Kong itu?
Apakah dia jahat seperti para pangeran yang pernah kukenal?"
"Ah, sama sekali tidak, Cucuku! Pangeran Ciu Wan Kong sejak mudanya adalah seorang yang baik budi, hanya agak lemah terhadap orang tuanya, terutama terhadap ibunya yang keras. Dan dia amat mencinta ibumu, Thian Hwa. Setelah ibumu diusir ibunya, dia sering termenung dan berduka. Bahkan sampai sekarang tidak mau menikah, tidak mempunyai isteri yang resmi, bahkan kabarnya dia memulangkan semua selirnya. Dia juga tidak mau memegang jabatan walaupun dia amat setia kepada Sribaginda Kaisar. Hidupnya kesepian, seringkali melancong seorang diri, mabok-mabokan dan yang paling akhir... aku mendengar bahwa dia terkadang kelihatan seperti orang... sinting...."
Tak terasa lagi kedua mata Thian Hwa menjadi basah. Ia merasa terharu dan iba sekali kepada ayah kandungnya, juga senang mendengar bahwa ayah kandungnya tidak jahat seperti para pangeran lain.
"Setelah sekarang ayah ibunya meninggal dunia, Pangeran Ciu Wan Kong hidup seorang diri di gedungnya, hanya dikelilingi para pelayan. Bahkan dia tidak mempunyai pasukan pengawal seperti halnya para pangeran lain."
Thian Hwa mengangguk-angguk.
"Dan bagaimana dengan Pangeran Cu Kiong itu, Kong-kong?"
"Pangeran muda Cu Kiong? Hemm, dia juga termasuk seorang pangeran yang baik. Kalau dia jahat, mana mungkin aku menghambakan diri padanya? Pangeran Cu Kiong itu adalah putera Sribaginda dari selir ke tiga. Sesudah Putera Mahkota, Pangeran Kang Shi yang masih kecil, maka Pangeran Cu Kiong merupakan orang pertama yang berhak menggantikan kedudukan Kaisar."
"Hemm, kalau dia orang baik-baik, mengapa dia menghinaku, merendahkan aku yang hanya akan diambil sebagai selirnya?"
"Hal itu karena dia tidak tahu bahwa engkau keturunan Pangeran Ciu Wan Kong, Cucuku. Kalau dia tahu, aku yakin dia mau menjadikan engkau isterinya, bukan sekadar selirnya. Akan tetapi sesungguhnya dia sendiri telah ditunangkan sejak kecil dengan seorang puteri dari keluarga Pangeran Bouw. Itulah sebab-sebabnya mengapa dia tidak dapat mengangkatmu sebagai isterinya."
"Hemm, dia hendak memperalat aku untuk memusuhi Pangeran Leng Kok Cun, hendak menggunakan aku untuk dapat mencapai cita-citanya. Apakah dia bukan bermaksud merampas kekuasaan di istana Kaisar?"
"Kukira tidak, Thian Hwa. Dia memang mengharapkan kedudukan Kaisar, akan tetapi hanya sebagai wakil, atau sementara adiknya Pangeran Kang Shi yang putera mahkota itu masih kecil. Dia memang memusuhi Pangeran Leng Kok Cun, karena Pangeran Leng agaknya mengumpulkan banyak orang pandai dan dicurigai akan merebut tahta dengan kekerasan."
"Hemm, betapapun juga, aku benci Pangeran Cu Kiong. Dia bahkan hendak membunuhku dengan mengerahkan pengawal-pengawalnya, yaitu Kim-keng Chit-sian."
"Mungkin hal itu dia lakukan karena engkau memusuhinya dan karena dia khawatir engkau kelak akan menjadi pembantu Pangeran Leng."
"Apa pun alasannya, aku benci padanya, Kong-kong. Sekarang setelah aku mendengar akan riwayat Ibu dan Ayah darimu, kuharap engkau pulang dulu ke Kia-jung. Aku hendak melanjutkan perjalananku ke kota raja. Akan kuselidiki keadaan ayah kandungku itu."
"Akan tetapi, Thian Hwa. Kapan engkau akan datang ke Kia-jung, menjenguk kakekmu yang kini hidup sebatang kara ini?"
"Jangan khawatir, Kong-kong. Kelak aku pasti akan datang menengokmu. Nah, berangkatlah, Kong-kong, selagi hari masih pagi. Ini sedikit uang boleh Kong-kong bawa untuk bekal."
Thian Hwa menyerahkan beberapa potong uang, akan tetapi Cui Sam menolak dan berkata.
"Aku tidak memerlukan uang, Thian Hwa. Ketahuilah bahwa ketika dulu, Pangeran Ciu memberi banyak emas kepada aku dan ibumu sehingga sampai sekarang aku tidak pernah kekurangan. O ya, aku ingat. Ibumu dulu, sebelum perahu kami terbalik, menyerahkan perhiasan-perhiasannya padaku. Ada sebuah perhiasan yang dulu amat disayang ibumu, dan barang itu pemberian ayah kandungmu sebagai tanda kasih. Barang itu tidak pernah berpisah dariku, sebagai kenangan akan ibumu, ke mana-mana kubawa. Mari, Thian Hwa, terimalah barang ini, barang peninggalan ibumu yang paling ia sayang."
Kakek itu mengeluarkan sebuah hiasan rambut berbentuk burung Hong kecil dari emas dan bermata intan.
Ukiran hiasan rambut itu halus dan indah bukan main.
Thian Hwa menerima dengan terharu, lalu mencium benda itu.
"Terima kasih, Kong-kong."
Cui Sam lalu meninggalkan rumah penginapan itu, langsung keluar dari kota Thian-cin menuju ke selatan, ke dusun Kia-jung.
Hati kakek itu gembira bukan main.
Dia merasa berbahagia sekali telah bertemu lagi dengan cucunya dan tentu saja dia merasa amat bangga melihat cucunya, puteri Cui Eng, kini menjadi seorang gadis pendekar yang sakti!
Bahkan yang telah menolong penduduk Kia-jung kemarin!
Sementara itu, Thian Hwa juga merasa lega.
Ternyata ayah kandungnya bukan orang jahat, bukan seburuk yang tadinya ia duga.
Yang jahat dan mengusir ibunya adalah orang tua Pangeran Ciu Wan Kong, terutama ibu pangeran itu.
Akan tetapi kedua orang tua itu telah wafat dan kini ayah kandungnya hidup kesepian seorang diri, bahkan saking sedihnya kehilangan ibunya, sampai sekarang, walaupun telah lewat hampir dua puluh tahun, ayah kandungnya itu masih merasa berduka!
Diam-diam ia merasa bangga akan kasih sayang yang sedemikian besar dari ayahnya terhadap ibunya dan ia merasa iba sekali kepada pangeran yang menjadi ayah kandungnya itu.
"Selamat pagi, Sian-li!"
Kata Kong Liang ketika dia melihat gadis itu duduk termenung di atas bangku yang berada di depan kamarnya. Thian Hwa memandang. Pemuda itu sudah mandi dan berganti pakaian kuning yang baru.
"Selamat pagi, Twako."
"Sian-li, mana Paman Cui Sam? Apakah dia belum bangun dari tidurnya?"
"Dia sudah pergi, Twako. Pagi sekali tadi Kong-kong telah berangkat, pulang ke dusun Kia-jung."
"Ah, mengapa begitu tergesa-gesa? Sebetulnya aku ingin berkenalan lebih baik dengan kakekmu, Sian-li."
"Dia ingin segera kembali ke Kia-jung untuk mengurus sawah ladangnya, Twako. Dan aku sendiri pagi ini hendak melanjutkan perjalananku ke kota raja."
"Ah, kalau begitu mari kita berangkat. Akan tetapi sebaiknya kita sarapan lebih dulu, Sian-li. Tadi aku sudah pesan kepada pelayan untuk menyediakan makan pagi untuk kita bertiga. Akan tetapi karena Paman Cui Sam sudah pergi, mari kita makan berdua saja."
Thian Hwa tidak dapat menolak, maka mereka lalu pergi ke ruangan depan di mana memang dibuka sebuah rumah makan untuk melayani keperluan makan para tamu rumah penginapan itu.
Setelah makan bersama, Thian Hwa dan Kong Liang segera meninggalkan rumah penginapan itu untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju Peking.
*** Mereka berdua melakukan perjalanan dengan santai.
Dua hari kemudian, pada suatu pagi mereka meninggalkan kota Gu-an yang terletak di sebelah selatan sungai.
"Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu?"
Bu Kong Liang mengajukan usul.
Usul ini bagaikan penawaran kepada seekor domba untuk mengambil jalan melalui padang rumput bagi Thian Hwa.
Ia memang sudah rindu untuk melakukan perjalanan di atas air yang mudah, tidak melelahkan, lancar dan ia dapat menikmati suara gemerciknya air dan pemandangan yang amat dikenalnya di sepanjang tepi sungai.
Setelah tiba di tepi sungai mereka hendak mencari perahu.
Bu Kong Liang ingin menyewa perahu, akan tetapi Thian Hwa mencegahnya.
"Twako, lebih baik membeli saja sebuah perahu. Tidak leluasa kalau mengajak tukang perahu, bahkan kalau ada apa-apa malah merepotkan."
"Wah, membeli sebuah perahu? Tentu mahal harganya, Sian-li!"
"Tidak mahal, Twako. Kita membeli perahu tua yang buruk dan sederhana saja. Itu di sana ada perahu tua, tentu tidak mahal kalau kita beli."
Kong Liang memandang yang ditunjuk dan dia melihat seorang kakek sedang membetulkan perahunya yang tua dan agaknya bocor.
"Wah, perahu seperti ini jangan-jangan akan terbalik di sungai dan kita akan hanyut atau tenggelam! Aku sama sekali tidak pernah mendayung perahu, Sian-li, dan berenang pun aku hanya bisa sedikit sekali, sekedar tidak tenggelam!"
Thian Hwa tersenyum.
"Twako, agaknya engkau lupa bahwa aku dijuluki Huang-ho Sian-li. Aku dibesarkan di Sungai Kuning (Huang-ho) dan sejak kecil sudah biasa bermain-main di air yang dalam. Aku dapat mendayung dan jangan khawatir."
Kong Liang diam saja dan menurut.
Dia khawatir kalau dia membantah, mungkin Thian Hwa akan nekat melanjutkan perjalanan dengan perahu dan meninggalkannya!
Setelah melakukan perjalanan bersama gadis itu, Bu Kong Liang merasa bahwa akan berat sekali baginya untuk berpisah dari gadis itu.
Dia mengalami perasaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Benar saja, kakek pemilik perahu butut itu menyerahkan perahunya dengan harga murah.
Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan dengan perahu.
Perahu itu kecil dan begitu melangkah ke atas perahu, Kong Liang menjadi agak cemas karena perahu itu terayun-ayun ke kanan kiri.
Perahu itu biasanya dipergunakan kakek pemiliknya untuk mencari ikan dengan jalan mengail.
Keadaannya sederhana sekali dan butut.
Ada dua buah dayung butut di situ.
Ada pula batu besar yang diikat tali yang dipergunakan untuk menghentikan perahu, pengganti jangkar, kalau kakek itu ingin berhenti di suatu tempat di tengah sungai untuk memancing ikan.
Tempat duduk di bagian depan dan belakang, untuk dua orang saja, hanya terbuat dari papan yang dipasang melintang di atas perahu.
Masih baik bahwa perahu itu dilengkapi atap anyaman bambu di bagian tengahnya sehingga penumpangnya dapat berlindung di bawahnya kalau panas amat terik dan kalau turun hujan.
Dengan petunjuk Thian Hwa, Kong Liang membantu dengan sebatang dayung, mendayung di bagian belakang perahu.
Thian Hwa mendayung di kepala perahu, sekalian mengemudikan perahu dengan dayungnya.
Saking gembiranya bertemu perahu dan air sungai, Thian Hwa mendayung dengan kuat sehingga perahu meluncur cepat.
Biarpun dia seorang murid Siauw-lim-pai yang gagah perkasa, tidak pernah gentar menghadapi lawan yang kuat dan banyak, namun kali ini Kong Liang mengerutkan alisnya dan memandang ke air yang agak bergelombang dengan jantung berdebar.
Kalau perahu butut ini terbalik, dia masih meragukan kemampuannya apakah dia akan dapat berenang ke tepi menyelamatkan diri dari ancaman maut di dalam air!
Namun melihat betapa tangkasnya Thian Hwa menguasai perahu dengan dayungnya, lambat laun hati Kong Liang menjadi tenang.
Bahkan dia mulai mempelajari dari gadis itu cara mendayung yang benar dan cara menguasai dan mengemudikan perahu itu.
Perahu kini meluncur dengan mulus dan hati Kong Liang mulai merasa tenang, bahkan mulai timbul kegembiraannya karena dia mulai merasakan betapa lancar, tidak melelahkan, dan amat menyenangkan melakukan perjalanan dengan perahu.
Mereka meluncur terus sampai matahari naik tinggi dan perahu mereka tiba di daerah yang sunyi dan di kanan kirinya tumbuh hutan lebat.
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan dari belakang mereka.
"Minggir! Minggir!"
"Hayo minggir! Apa kalian sudah bosan hidup?"
"Kena ditabrak perahu kami mampus kamu!"
Mendengar bentakan-bentakan ini, Kong Liang dan Thian Hwa menoleh ke belakang.
Kiranya dari belakang datang meluncur sebuah perahu besar yang dihias indah, diikuti oleh dua belas buah perahu kecil yang masing-masing ditumpangi dua orang prajurit Mancu!
Di atas perahu besar itu berdiri pula enam prajurit, masing-masing memegang tombak dan mereka berdiri menjaga, tiga di kanan dan tiga di kiri perahu.
Thian Hwa tidak ingin mencari keributan.
Pula, tidak ada alasannya untuk bermusuhan dengan para prajurit Mancu itu.
Maka, ia lalu cepat mendayung perahunya ke sisi agar tidak menghalangi perahu besar dan dua belas perahu kecil yang mengawalnya itu.
Akan tetapi, ketika perahu besar mendekat, Thian Hwa mendengar tangis wanita.
Ia bangkit berdiri untuk dapat menjenguk ke atas perahu besar yang mewah itu.
Dan setelah ia berdiri, ia melihat ada suami isteri setengah tua duduk dengan kaki tangan terikat di atas dek, dan muka laki-laki setengah tua itu bengkak-bengkak.
Tangis wanita itu terdengar dari balik perahu yang pintunya tertutup.
Melihat ini, bangkit jiwa kependekaran Si Dewi Huang-ho!
Ia mengambil batu besar pengganti jangkar, lalu menurunkannya ke dalam air.
Perahu segera berhenti, tidak hanyut terbawa air karena tertahan tali yang diikatkan pada batu besar yang kini sudah tiba di dasar sungai.
"Hai, mengapa berlabuh di sini, Sian-li?"
"Tenanglah, Twako. Engkau tunggu saja di sini, aku harus tolong mereka yang agaknya ditangkap di perahu itu,"
Kata Thian Hwa sambil sibuk mematahkan papan tempat duduk perahu itu, lalu cepat mengikatkan dua batang papan itu di bawah telapak kakinya yang bersepatu kulit.
Karena tidak tahu apa artinya semua itu, Kong Liang hanya memandang dengan heran.
Setelah papan yang dipergunakan sebagai terompah peluncur itu terikat kuat-kuat di bawah sepatunya, Thian Hwa mengambil pedang dari buntalan pakaian dan menyelipkannya di bawah jubahnya.
"Tunggu saja di sini, Bu Twako!"
Kata Thian Hwa dan ia langsung melompat keluar dari perahu.
Kong Liang terbelalak memandang tubuh gadis itu yang berdiri tegak di atas air, kemudian gadis itu menggerakkan dayung yang dibawanya dan tubuhnya meluncur ke permukaan air, mengejar perahu-perahu itu!
Hampir dia tidak percaya kepada penglihatannya sendiri.
Benarkah gadis itu meluncur di atas air seperti seekor angsa saja?
Akan tetapi Kong Liang kini merasa khawatir akan keselamatan gadis itu.
Dia tadi melihat bahwa perahu besar itu terjaga enam orang prajurit sedangkan yang mengawalnya ada dua losin orang prajurit.
Bagaimana mungkin Huang-ho Sian-li yang seorang diri, hanya menggunakan sepasang papan untuk dapat mengapung di atas air, akan mampu menandingi mereka yang berada di perahu-perahu itu?
Tanpa ragu lagi, Bu Kong Liang menarik batu penahan perahu itu ke atas, kemudian dia mendayung perahu itu melakukan pengejaran.
Thian Hwa bersilancar dengan cepat sekali sehingga sebentar saja ia sudah dapat menyusul perahu-perahu itu.
Dua losin prajurit dalam selosin perahu yang mengawal di belakang perahu besar memandang heran melihat seorang gadis cantik seolah berdiri di atas air dan meluncur dengan cepatnya sambil mendorong air dengan sebatang dayung!
Mereka belum pernah menyaksikan hal seperti itu, maka mereka terheran-heran dan menjadi kurang waspada sehingga mereka diam saja tidak mencoba menghalangi, mungkin karena selain kagum dan heran mereka juga sama sekali tidak menduga bahwa gadis itu akan menghampiri perahu besar.
Baru setelah tubuh Thian Hwa melompat ke atas perahu besar, dua losin prajurit pengawal itu menjadi gempar dan mereka mendekatkan perahu kecil mereka mengepung perahu besar.
Begitu melompat ke atas perahu dan tiba di dek, Thian Hwa cepat melepaskan kakinya dari ikatan pada dua buah papan.
Enam orang pengawal yang tadi berdiri di atas kanan kiri perahu, kini lari menghampiri dan mengepung Thian Hwa.
Akan tetapi karena gadis itu tidak melakukan gerakan menyerang, maka mereka pun hanya mengepung saja.
Tiba-tiba pintu bilik perahu besar itu terbuka dan muncul dua orang laki-laki.
Dari pintu yang terbuka Thian Hwa dapat melihat seorang gadis berusia sekitar enam belas tahun sedang menangis di sudut ruangan itu.
Ia lalu mencurahkan perhatiannya kepada dua orang yang muncul itu.
Yang seorang adalah seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh lima tahun, mukanya gemuk perutnya besar sekali.
Mukanya bulat kekanak-kanakan, hidung pesek mata sipit sehingga mukanya seperti muka babi.
Akan tetapi pakaiannya mewah sekali, tanda bahwa dia adalah seorang pembesar.
Yang muncul bersama dia adalah seorang laki-laki tinggi besar, mukanya brewok sehingga tampak bengis dan tangannya memegang senjata Long-ge-pang (Toya Bergigi Srigala).
Begitu membuka pintu, pembesar gendut itu berseru, suaranya terdengar marah.
"Heii... ada apa ini ribut-ribut menggangguku saja...."
Akan tetapi kata-katanya terhenti dan matanya yang sipit dilebar-lebarkan agaknya agar dapat melihat lebih jelas gadis cantik jelita yang berdiri di perahunya, dikepung enam orang prajurit pengawal.
"Ehh... Nona cantik seperti bidadari... siapakah engkau dan apa yang dapat kubantu untukmu, Nona manis?"
Mendengar ucapan dan melihat sikap ceriwis ini sudah cukup membuat Thian Hwa marah dan ingin ia menampar Si Muka Babi itu.
Akan tetap ia menahan sabar dan sambil memandang kepada laki-laki dan perempuan setengah tua yang terikat kaki tangannya, yang laki-laki bengkak-bengkak mukanya dan menunduk lemas sedangkan yang perempuan sesenggukan menangis tanpa berani mengeluarkan suara, lalu ia memandang ke dalam kamar di mana gadis remaja itu duduk menangis di sudut bilik, lalu ia bertanya.
"Tidak penting aku siapa, aku hanya ingin tahu mengapa dua orang ini diikat di sini, dan mengapa pula gadis itu menangis di dalam bilik?"
"Ha-ha-ha, jangan salah sangka, Nona manis. Mari kenallah dulu siapa aku. Aku adalah Jaksa Bong Sun Kok yang bertugas di Thian-cin. Suami isteri ini adalah pemberontak-pemberontak yang seharusnya kujatuhi hukuman mati. Akan tetapi karena aku seorang yang baik hati, aku hendak membawa mereka ke kota raja berikut anak perempuan mereka. Aku percaya Pangeran Leng Kok Cun akan suka memaafkan mereka dan mengambil mereka berikut anak perempuan mereka menjadi pelayannya."
Thian Hwa mengerutkan alisnya dan kini ia pun mengenal laki-laki berpakaian sebagai perwira yang bertubuh tinggi besar dan memegang senjata Long-ge-pang itu.
Ia tidak mengenal namanya, akan tetapi ia ingat bahwa orang itu adalah seorang di antara Kam-keng Chit-sian (Tujuh Dewa dari Kam-keng) yang dulu menjadi pengawal Pangeran Cu Kiong!
Empat orang di antara mereka yang berjumlah tujuh itu dapat roboh tewas di tangan ia dan Ui Yan Bun, sedangkan yang tiga orang, termasuk orang ini, dapat melarikan diri.
DENGAN sinar mata tajam menusuk, Thian Hwa berkata, suaranya lantang dan ketus.
"Aku tahu sekarang, engkau adalah manusia rendah yang bertindak sewenang-wenang terhadap orang-orang sederhana ini dengan tuduhan memberontak karena engkau hendak menyenangkan hati Pangeran Leng dengan menyerahkan gadis itu kepadanya! Orang macam engkau yang menjilat kepada orang atasan patut untuk diberi hajaran!"
Mendengar ini, Bong Su Kok terbelalak, marah bukan main. Belum pernah sejak dia memegang jabatannya ada orang, apalagi seorang wanita muda, berani mengeluarkan ucapan yang demikian menghina kepadanya.
"Tangkap perempuan kurang ajar ini!"
Bentaknya.
Begitu mendengar suara Thian Hwa dan melihat sikap yang galak, perwira tinggi besar bermuka brewok itu teringat bahwa gadis itu adalah gadis lihai yang pernah mengamuk di istana Pangeran Cu Kiong dan yang bersama seorang pemuda telah membunuh empat orang rekannya.
Orang ini bernama Ciang Sun, orang pertama dari Kam-keng Chit-sian yang kini mengambil jalan sendiri-sendiri dengan dua orang rekannya yang masih hidup.
Setelah melarikan diri dari istana Pangeran Cu Kiong karena gagal melawan Thian Hwa dan Ui Yan Bun, Ciang Sun pergi ke Thian-cin dan dia kini menjadi pengawal pribadi dari Jaksa Bong Sun Kok.
Dia merasa lebih cocok bekerja pada seorang pembesar yang berasal dari bangsa Pribumi Han, bukan bangsa Mancu.
Sungguh sama sekali tidak disangkanya bahwa pada hari itu dia bertemu lagi dengan Thian Hwa.
Tentu saja dia sudah merasa jerih karena maklum akan kelihaian gadis itu, maka dia segera berteriak memberi aba-aba kepada anak buahnya, baik enam orang prajurit pengawal yang berada di atas perahu maupun dua losin prajurit pengawal yang berada di perahu-perahu kecil untuk mengeroyok Thian Hwa.
Ciang Sun ini setelah diterima menjadi pengawal pribadi Bong Taijin (Pembesar Bong), segera diberi pangkat perwira yang menjadi komandan dari pasukan pengawal pembesar itu.
Setelah menjadi kaki tangan penjajah Mancu, Bong Sun Kok merasa bahwa para pendekar patriot pasti membenci dirinya, maka dia mempunyai pasukan pengawal yang tidak kurang dari lima puluh orang jumlahnya, mengalahkan jumlah pengawal para pembesar atasannya!
Begitu mendengar perintah Bong Taijin tadi, para pengawal sudah siap siaga.
Kini mendengar aba-aba dari komandan mereka Ciang Sun, enam orang pengawal yang berada di atas perahu segera menggerakkan tombak di tangan mereka untuk menyerang Thian Hwa.
Akan tetapi Thian Hwa yang sudah siap sejak tadi, begitu menggerakkan tangan, tampak sinar-sinar putih menyambar-nyambar dan enam orang prajurit pengawal itu berteriak dan terjengkang jatuh semua!
Mereka telah menjadi korban senjata rahasia Pek-hwa-ciam (Jarum Bunga Putih) yang amat dahsyat dari gadis itu.
Tentu saja Bong Taijin dan juga Perwira Ciang Sun terkejut bukan main.
Bong Taijin sudah cepat berlari memasuki pintu bilik yang segera ditutup dan dipalang dari dalam, lalu dia naik ke atas dipan rebah meringkuk dengan tubuh menggigil seperti orang terserang demam!
Ciang Sun terkejut dan gentar menghadapi gadis yang sekali menggunakan senjata rahasia telah dapat merobohkan enam orang anak buahnya itu.
Dia lalu nekat, menggerakkan senjata Long-ge-pang itu menyerang sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Toya Gigi Srigala itu menyeramkan, selain berat juga terbuat dari baja dan di ujungnya menyerupai gigi dan taring srigala.
Ketika menyambar, terdengar bunyi mengiuk.
Namun, kurang lebih dua tahun yang lalu saja Ciang Sun ini tidak mampu menandingi Thian Hwa.
Apalagi sekarang setelah gadis itu memperdalam ilmunya di bawah gemblengan Thian Bong Sianjin.
Dengan mudah ia mengelak dari sambaran toya dan balas menyerang dengan tamparan dan tendangan.
Karena yakin bahwa ia tidak perlu menggunakan pedang untuk mengalahkan musuh lama ini, Thian Hwa menghadapi senjata lawan itu dengan tangan kosong saja!
Sementara itu, dua belas buah perahu kecil yang ditumpangi dua puluh empat orang prajurit pengawal itu kini menempel pada perahu besar dan perahu-perahu kecil yang masing-masing ditumpangi dua orang itu mulai sibuk.
Dari setiap perahu kecil dilemparkan tali berujung kaitan ke pinggir perahu besar dan mereka sudah mulai merayap melalui tali untuk naik ke perahu besar mengeroyok Thian Hwa.
Akan tetapi tiba-tiba meluncur sebuah perahu kecil lain dan perahu ini ditumpangi Bu Kong Liang.
Mulailah dia melompat dari perahunya ke atas perahu kecil terdekat dan begitu kaki tangannya bergerak, dua orang penumpang perahu itu terpelanting dan terlempar ke dalam air!
Sebelas perahu lain segera mengalihkan perhatian mereka.
Mereka mencoba untuk mengepung Bu Kong Liang yang berada di perahu kecil setelah dua orang prajurit penumpangnya terlempar ke dalam air.
Begitu dikepung sebelas buah perahu dengan dua puluh dua orang prajurit, Kong Liang menjadi repot juga.
Dia berdiri di atas perahu yang terayun-ayun ketika dia bergebrak menyambut pengeroyokan banyak prajurit itu.
Dia mengeluarkan senjatanya sepasang tombak pendek bercabang dan berloncatan dari perahu ke perahu lain.
Begitu tubuhnya melayang dan menerjang, dua orang prajurit di atas perahu mereka pasti terjungkal ke dalam air.
Kalau saja pengeroyokan itu dilakukan di atas daratan, kiranya dua losin prajurit itu akan dapat dia robohkan dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Akan tetapi gerakan Kong Liang kurang mantap, bahkan terkadang dia harus mengatur keseimbangan tubuhnya agar tidak sampai terguling dan jatuh ke air!
Sementara itu, Ciang Sun yang mengamuk dengan senjata Long-ge-pang dan menghujani Thian Hwa dengan serangan kilat, menjadi pening karena tiba-tiba gadis yang diserangnya itu berkelebatan seperti telah berubah menjadi bayang-bayang.
Ke mana pun senjatanya menyambar, selalu mengenai tempat kosong dan dia dapat menghindarkan serangan balasan berupa tamparan atau tendangan hanya mengandalkan perasaannya saja.
Serangan gadis itu tentu mendatangkan hawa pukulan yang dahsyat sehingga dia dapat mengetahui dan cepat melompat menghindar atau menggerakkan senjatanya untuk melindungi dirinya.
Bagaimanapun juga, tingkat kepandaian Thian Hwa jauh lebih tinggi daripada tingkat Perwira Ciang itu, maka setelah lewat belasan jurus, sebuah tendangan gadis itu tak sempat dihindarkan Ciang Sun.
"Wuut... desss...!!"
Tubuh Ciang Sun terlempar keluar perahu dan jatuh tercebur ke sungai.
Air muncrat tinggi dan Thian Hwa tidak mempedulikan lagi lawan yang sudah dikalahkannya.
Ia cepat menghampiri pintu dan menendang daun pintu.
"Braakkk...!"
Daun pintu bilik perahu itu jebol dan ketika ia melompat masuk, ia melihat gadis tadi masih bersimpuh di sudut kamar sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan dan menangis.
Adapun Jaksa Bong Sun Kok yang gendut itu meringkuk di atas dipan menarik kedua lutut ke perut sehingga dia tampak seperti seekor babi kekenyangan mendekam bermalas-malasan!
Thian Hwa melihat sebatang pedang tergantung di dinding.
Tentu pedang tanda kebesaran atau pelengkap tanda pangkat Jaksa Bong.
Ia cepat mencabut pedang itu dan sekali tangan kirinya bergerak, sebatang jarum bunga putih meluncur dan menancap di pinggul yang besar itu.
"Adauuww...!"
Jaksa Bong menjerit dan tubuhnya terlompat ke atas, lalu merosot keluar dari dipan, jatuh berdebuk di atas lantai bilik perahu, kedua tangan meraba pinggul yang terkena serangan Pek-hwa-ciam, akan tetapi melihat gadis itu sudah berdiri di situ, dia berlutut menangis sambil membentur-benturkan dahinya ke atas lantai seperti sedang memberi hormat kepada kaisar!
"Manusia hina yang rendah budi!
Sepatutnya engkau mampus!"
Setelah membentak begitu, tangan kanan Thian Hwa bergerak, pedang itu berkelebat dan Jaksa Bong menjerit-jerit sambil kedua tangannya sibuk meraba ke hidung, kedua telinganya dan pinggulnya karena di empat tempat itu terasa nyeri bukan main.
Hidungnya telah terbabat putus, demikian pula kedua daun telinganya.
Darah membasahi muka dan lehernya dan akhirnya dia bergulingan sambil menangis!
Thian Hwa menghampiri gadis yang menangis itu.
"Adik, bangkitlah. Engkau dan Ayah Ibumu harus cepat pergi dari sini!"
Gadis itu melepaskan kedua tangan dari mukanya, terbelalak ngeri melihat Jaksa Bong mandi darah dan bergulingan menguik-nguik seperti babi, dan dengan kedua kaki gemetar ia bangkit dan mengikuti Thian Hwa keluar dari bilik perahu.
Cepat Thian Hwa memutuskan tali pengikat kaki tangan suami isteri setengah tua itu.
Gadis itu kini berangkulan dengan ibunya sambil menangis.
Thian Hwa lalu melompat lagi ke dalam bilik dan setelah menggeledah sebentar, ia menemukan sebuah peti kecil berisi potongan emas yang tidak kurang dari lima tail beratnya.
Ia lalu keluar lagi dan menyerahkan emas itu kepada ayah gadis itu.
"Paman, cepat engkau ajak isteri dan anakmu pergi dari sini. Ini uang untuk bekal. Cari tempat lain, jangan tinggal lagi di tempatmu yang lama, pergi jauh-jauh ke dusun. Akan kucarikan perahu untuk kalian!"
Thian Hwa melihat betapa Bu Kong Liang masih dikeroyok para prajurit.
Ia melihat sebuah perahu kecil milik para prajurit yang telah kosong, tentu dua orang prajuritnya telah dirobohkan Kong Liang.
Perahu itu masih terkait pada perahu besar.
"Mari kubawa kalian ke perahu!"
Kata Thian Hwa dan cepat ia menyambar tubuh tiga orang itu satu demi satu, dibawanya melompat ke perahu kecil.
Setelah itu, ia melepaskan kaitannya dan menyuruh anak gadis itu mendayung perahu, pergi dari situ.
Ayah, ibu dan anak itu berlutut di atas perahu kecil menghadap ke arah Thian Hwa yang masih berada di perahu besar, mengucapkan terima kasih.
"Cepat pergi...!"
Seru Thian Hwa dan ia melihat betapa sebuah perahu dengan dua orang prajurit meluncur menghampiri perahu yang ditumpangi tiga orang itu.
Dengan cepat ia menyambitkan dua batang Pek-hwa-ciam dan dua orang prajurit itu mengaduh, tubuh mereka terguling keluar dari dalam perahu.
Thian Hwa melihat betapa ayah gadis itu sudah mendayung perahunya menjauh.
Maka ia segera memperhatikan keadaan Kong Liang.
Kini tinggal lima buah perahu yang mengepung Kong Liang.
Sepuluh orang prajurit itu kini menggunakan anak panah untuk menyerang Kong Liang.
Karena musuh menggunakan anak panah menyerang dari jarak jauh, tentu saja Kong Liang tidak dapat menyerang mereka.
Dia hanya dapat memutar senjatanya untuk menangkis semua anak panah.
Akan tetapi tiba-tiba ada dua orang prajurit yang muncul dari dalam air, dekat perahu di mana Kong Liang berdiri.
Dua orang itu menyelam dan menggulingkan perahu dari bawah!
Menghadapi serangan licik ini, tentu saja Kong Liang tidak berdaya mempertahankan diri, dengan tergulingnya perahu, otomatis tubuh Kong Liang juga terpelanting dan dia jatuh ke dalam air sungai!
Melihat pemuda itu terjatuh ke air, sepuluh orang prajurit dalam lima buah perahu itu lalu mendekatkan perahu mereka dan anak panah mereka kini diarahkan kepada pemuda yang bergerak-gerak dengan kaku dalam air agar tidak tenggelam!
Melihat ini, Thian Hwa cepat melompat dari atas perahu besar dan bagaikan seekor ikan ia berenang ke arah tempat dikurungnya Kong Liang.
Setelah ia tiba dekat, ia melihat Kong Liang dengan gerakan kaku karena harus menjaga agar tubuhnya tidak tenggelam, memutar siang-kek (sepasang tombak pendek bercabang) untuk melindungi tubuhnya dari sambaran anak panah.
Akan tetapi karena gerakannya tidak leluasa, maka sebatang anak panah menancap di belakang pundak kirinya dan Kong Liang gelagapan!
Thian Hwa yang sudah tiba di situ, menggerakkan kedua tangannya.
Jarum-jarum bunga putih meluncur menjadi sinar putih dan dua orang prajurit yang berhasil memanah Kong Liang, berteriak dan terjungkal ke air.
Thian Hwa yang dapat bergerak seperti ikan, melompat ke perahu kosong itu dan dari situ, ia menyebar jarum-jarumnya.
Beberapa orang prajurit terkena sambaran jarum dan terpelanting ke air.
Tinggal empat orang lagi dalam dua buah perahu.
Mereka agaknya gentar menghadapi kehebatan sepak terjang Thian Hwa, maka mereka berusaha untuk lari dengan mendayung perahu mereka.
Akan tetapi, Thian Hwa mendayung perahu demikian cepatnya sehingga sebentar saja dara perkasa ini dapat menyusul mereka.
Kini pedang Thian Hwa bergerak empat kali dan empat orang itu pun roboh keluar dari perahu, tubuh mereka terbawa hanyut arus air!
Thian Hwa menoleh dan melihat Bu Kong Liang gelagapan, agaknya sukar baginya yang sudah terluka itu untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam.
Thian Hwa melompat dan terjun ke air, lalu berenang secepatnya menghampiri Kong Liang.
Ketika ia dapat memegang tangan pemuda itu, Kong Liang terkulai pingsan!
Dengan mencengkeram leher baju pemuda itu dan menariknya ke atas dan menelentangkannya sehingga muka Kong Liang tidak terbenam air, Thian Hwa berenang dan menyeret tubuh pemuda itu menuju ke perahu mereka.
Baiknya tadi sebelum melakukan serangan terhadap para prajurit di perahu-perahu kecil, Kong Liang sudah melepas jangkar batu sehingga perahu kecil mereka tidak hanyut terbawa air sungai.
Thian Hwa mengangkat tubuh Kong Liang dan merebahkannya dalam perahu, kemudian ia menarik jangkar batu dan cepat mendayung perahu pergi dari situ.
Ada bahaya datangnya bala bantuan pasukan, maka Thian Hwa lalu cepat mendayung perahunya dan setelah melihat bagian yang sunyi dan di tepi sebelah selatan terdapat hutan yang lebat, ia lalu mendayung perahu ke tepi.
Setelah perahu menepi dan talinya ia ikatkan pada batang pohon, Thian Hwa lalu memondong tubuh Kong Liang, membawanya masuk hutan dan merebahkannya di atas rumput.
Kemudian ia memeriksa tubuh pemuda itu.
Anak panah itu menancap, untungnya tidak terlalu dalam di belakang pundak kiri.
Ia harus berhati-hati mencabut anak panah agar ujung anak panah jangan sampai patah dan tertinggal dalam daging.
Dengan pengerahan sin-kang, ia berhasil mencabut anak panah.
Ia merasa lega melihat bahwa ujung anak panah itu tidak mengandung racun.
Cepat ditotoknya jalan darah di sekitar luka agar jangan terlalu banyak darah keluar.
Kong Liang mengeluh lalu membuka matanya.
Ia seperti bingung dan nanar, akan tetapi ketika mengenal muka Thian Hwa, dia bernapas lega dan menggerakkan tubuhnya untuk bangkit duduk.
"Jangan banyak bergerak dulu, Twako. Engkau terluka,"
Kata Thian Hwa yang membantunya bangkit duduk.
Kong Liang mengumpulkan ingatannya.
Dia memandang ke kanan kiri, lalu kepada pakaian dan rambut Thian Hwa yang basah, juga kepada celananya sendiri yang basah dan bajunya yang sudah ditanggalkan dari badannya, juga anak panah yang terletak di atas tanah.
"Ah, aku tadi terkena anak panah dan nyawaku terancam. Hemm, pasti engkau yang telah menyelamatkan nyawaku, Sian-Ii. Aku melihat engkau meluncur di atas permukaan air! Bukan main! Kiranya engkau memang pantas dijuluki Huang-ho Sian-li. Aku berhutang nyawa kepadamu, Sian-li!"
"Aih, sudahlah, jangan banyak bicara dulu, Twako. Aku harus mengobati lukamu."
Gadis itu lalu mengambil bungkusan obat dari buntalan pakaiannya.
Buntalan itu berisi bubuk putih.
Dari gurunya, Thian Hwa memang dibekali beberapa macam obat untuk luka dan gadis ini sudah mempelajari bagaimana mengobati luka-luka, bahkan yang mengandung racun sekalipun!
Sedikit bubuk putih ia taburkan ke dalam luka anak panah itu, lalu ia mengambilkan pengganti baju dan membantu pemuda itu mengenakan bajunya.
"Sekarang, paling penting adalah mengganti pakaian kita yang basah, Twako, agar kita tidak terserang penyakit."
Gadis itu mengambilkan pakaian dalam dan celana untuk Kong Liang, kemudian ia sendiri mengambil seperangkat pakaian dan mengganti pakaiannya yang basah sambil bersembunyi di balik semak belukar.
Setelah selesai berpakaian dan Kong Liang merasa betapa luka di belakang pundaknya tidak nyeri lagi, mereka duduk bercakap-cakap di bawah pohon besar.
"Bu-twako, mengapa engkau tadi membantu aku sehingga membahayakan dirimu sendiri?"
"Aih, Sian-li. Melihat betapa jumlah prajurit demikian banyaknya, mana mungkin aku membiarkan engkau menghadapi mereka seorang diri? Bahaya yang menimpaku tadi adalah karena kesalahanku sendiri. Aku tidak mahir bermain di air, maka aku sampai terkena anak panah. Apakah yang terjadi di perahu besar itu, Sian-li?"
"Melihat suami isteri setengah tua yang terikat di perahu besar dan mendengar suara tangis wanita, aku menjadi curiga, dan setelah aku melompat ke perahu besar, ternyata suami isteri setengah tua itu difitnah sebagai pemberontak dan anak gadis mereka ditawan. Kata Pembesar Bong itu, orang tua dan gadis itu akan diserahkan kepada Pangeran Leng di kota raja! Aku membebaskan mereka, menyuruh mereka naik perahu dan melarikan diri, dan aku memberi hajaran keras kepada Jaksa Bong itu. Seorang pribumi Han yang diangkat menjadi pembesar oleh Kerajaan Mancu malah bertindak jahat terhadap bangsa sendiri! Menyebalkan!"
"Memang demikianlah, Sian-li. Kedudukan mendatangkan kekuasaan yang membuat manusia menjadi lalim, suka bertindak sewenang-wenang mengandalkan kekuasaannya."
"Akan tetapi tidak semuanya begitu, Twako!"
"Tentu saja, tentu ada pengecualian. Ada juga pembesar yang bijaksana, jujur, setia, tidak suka korupsi, tidak suka menindas bawahan menjilat atasan. Akan tetapi beberapa gelintir yang seperti itu? Sebagian besar ya seperti jaksa itulah, tidak peduli bangsa apa orangnya! Akan tetapi sekelebatan aku tadi melihat engkau melawan seorang yang bersenjata Long-ge-pang, dan agaknya dia lihai juga. Aku tadi khawatir melihat engkau dikeroyok dan melawan laki-laki tinggi besar bersenjata Long-ge-pang itu."
"Dia adalah seorang di antara Kam-keng Chit-sian yang dulu menjadi pengawal dari Pangeran Cu Kiong di kota raja."
"Wah, Sian-li, sungguh engkau membuat aku semakin kagum dan heran. Sama sekali tidak kusangka, engkau ternyata memiliki kepandaian yang luar biasa di dalam air dan engkau mengenal pula, bahkan pernah bertanding melawan jagoan-jagoan yang menjadi pengawal para pangeran di kota raja! Sian-li, agaknya engkau tidak asing dengan keadaan di kota raja!"
Thian Hwa memandang wajah pemuda itu dengan sinar mata tajam penuh selidik, lalu ia bertanya.
"Bu-twako, setelah beberapa kali engkau bentrok dengan pasukan Mancu, katakanlah terus terang, apakah engkau membenci orang-orang Mancu seperti Ang-mo Niocu?"
Pemuda itu menggelengkan kepala dengan pasti.
"Tidak, Sian-li. Aku hanya membenci orang yang jahat dan akan membela yang benar tidak peduli bangsa apa dan apa pula kedudukannya."
Thian Hwa senang mendengar ini, akan tetapi ia masih memancing.
"Akan tetapi, bukankah engkau seorang pribumi Han dan menentang penjajahan Mancu?"
Kong Liang menghela napas.
"Perjuangan untuk itu sudah banyak dilakukan dan sia-sia saja hasilnya, bahkan mengorbankan banyak jiwa. Kalau kelak ada gerakan besar-besaran yang menggerakkan rakyat untuk menentang penjajah, aku pasti akan membantu mereka. Akan tetapi untuk saat ini, aku akan bertindak seperti para pendekar Siauw-lim-pai pada umumnya, yaitu membela kebenaran dan keadilan, demi melindungi rakyat kecil yang hidup sengsara dan tertindas. Biarpun dia seorang pembesar Mancu, kalau dia bijaksana dan baik terhadap rakyat, aku pasti akan membelanya."
Thian Hwa merasa senang.
Pemuda ini ketika menghadapi gerombolan yang mengaku sebagai pejuang yang menentang Pemerintah Penjajah Mancu, langsung membasminya.
Kini, berhadapan dengan pasukan yang mengawal pembesar yang bertindak sewenang-wenang, juga membantunya untuk membasmi pasukan pengawal itu.
Kong Liang telah membuktikan bahwa dia tidak menentang Pemerintah Mancu karena merasa belum saatnya, juga dia bukan seorang yang mengabdi kepada Kerajaan Goan lalu bertindak sewenang-wenang terhadap bangsa sendiri seperti yang dilakukan oleh Jaksa Bong.
Maka ia tahu bahwa Kong Liang dapat dipercaya dan sudah saatnya ia menceritakan dirinya.
Ia perlu mendapatkan seorang sahabat yang dapat dipercaya untuk diajak bertukar pikiran.
"Twako Bu Kong Liang, aku memang pernah ke kota raja dan terlibat dalam urusan dengan beberapa pangeran dan sempat bertanding dengan para pengawal mereka, seperti Hui-eng-to Phang Houw dan Liong-bu-pangcu Louw Cin yang dulu memimpin pasukan menyerangmu, dan juga seorang dari Kam-keng Chit-sian pengawal yang bersenjata Long-ge-pang di atas perahu besar itu. Karena aku percaya padamu, akan kuceritakan riwayatku dengan syarat bahwa engkau tidak akan menceritakan kepada siapapun juga. Kepada orang lain aku hanya ingin dikenal dengan sebutan Huang-ho Sian-li saja. Maukah engkau berjanji, Twako?"
Kong Liang memandang wajah gadis itu dengan sikap serius dan suaranya juga tegas.
"Tentu saja, Sian-li. Aku berjanji tidak akan menceritakan tentang dirimu kepada siapapun juga!"
"Baiklah, Twako, dan terima kasih. Akan kuceritakan dengan singkat saja. Sesungguhnya, aku tidak pernah mengenal orang tuaku, karena ketika masih bayi aku ditemukan dan diselamatkan oleh Suhu Thian Bong Sianjin, hanyut dibawa arus air Huang-ho (Sungai Kuning). Aku diambil murid dan diaku sebagai cucu angkatnya. Setelah aku dewasa dan mendengar keterangan Suhu, aku lalu pergi mencari keterangan tentang orang tuaku. Suhu pernah bermimpi bertemu seorang wanita berpakaian bangsawan yang menitipkan anaknya kepadanya. Karena itu, aku pergi ke kota raja untuk mencari keterangan tentang ayah bundaku, karena kami menduga bahwa ibuku adalah seorang wanita bangsawan."
Thian Hwa lalu menceritakan pengalamannya ketika ia terlibat dalam urusan Pangeran Leng Kok Cun yang mengumpulkan orang-orang sakti dengan maksud merampas tahta kerajaan.
Ketika ia dikeroyok para jagoan pembantu Pangeran Leng, ia lari dan ditolong oleh Pangeran Cu Kiong, dan di gedung Pangeran Cu Kiong ini ia bertemu dengan kakeknya, yaitu ayah kandung ibunya.
"Ah, maksudmu Kakek Cui Sam dari dusun Kia-jung itu?"
"Benar, Twako. Ketika aku bercerita tentang keinginanku, mencari orang tuaku kepada Pangeran Cu Kiong yang menolongku, Kong-kong (Kakek) Cui Sam mendengarkan. Dia ketika itu bekerja sebagai pelayan kepada Pangeran Cu Kiong."
Thian Hwa melanjutkan ceritanya.
Ia tidak menceritakan hubungan batin yang timbul antara ia dan Pangeran Cu Kiong.
Ia hanya menceritakan betapa Pangeran Cu Kiong hendak memperalatnya untuk membantunya dalam perebutan kekuasaan, maka ia lalu meninggalkannya.
Pangeran Cu lalu mengerahkan tujuh orang pengawalnya, yaitu Kam-keng Chit-sian untuk menangkapnya.
Ia melawan mati-matian dan dalam keadaan terkepung dan terancam bahaya, muncul Ui Yan Bun membantunya.
"Siapakah Ui Yan Bun itu, Sian-li?"
"Dia adalah seorang sahabatku, boleh juga dianggap suhengku (Kakak Seperguruanku) karena dia pernah diberi pelajaran silat oleh Kong-kong atau Suhu Thian Bong Sianjin. Nah, berdua kami dapat membunuh empat dari ketujuh orang jagoan itu. Orang bersenjata Long-ge-pang di perahu itu adalah seorang di antara mereka yang lolos, yaitu ada tiga orang."
Thian Hwa lalu melanjutkan ceritanya betapa sebelum pertempurannya melawan para pengawal Pangeran Cu Kiong, ia dapat mendengar dari Kakek Cui Sam tentang ayah ibunya.
"Wah, beruntung sekali engkau, Sian-li. Jadi engkau dapat berjumpa dengan orang tuamu?"
Thian Hwa menghela napas.
"Dari Cui Kong-kong (Kakek Cui) aku mendengar akan riwayat yang menyedihkan dari ibu kandungku. Ketika dulu, Kakek Cui bekerja sebagai kepala pelayan pada keluarga Pangeran Tua Ciu di kota raja. Dia sudah menduda dan dia membawa anaknya perempuan yang belum dewasa. Kemudian anak perempuannya yang bernama Cui Eng juga bekerja di situ sebagai pelayan. Setelah Cui Eng dewasa, ia saling jatuh cinta dengan Pangeran Ciu Wan Kong, putera dari Pangeran Tua Ciu. Akan tetapi orang tua Pangeran Ciu Wan Kong, terutama ibunya, tidak menyetujui kalau puteranya mengambil seorang pelayan sebagai selir, apalagi sebagai isterinya. Akan tetapi... pada waktu itu, Cui Eng sudah mengandung sebagai hasil hubungannya dengan Pangeran Ciu Wan Kong."
Thian Hwa berhenti dan menatap wajah pemuda itu. Akan tetapi Kong Liang tidak memperlihatkan perasaan apa pun pada wajahnya, dia tetap tenang mendengarkan.
"Ketika mendengar bahwa Cui Eng sudah mengandung, ibu dari Pangeran Ciu Wan Kong memutuskan bahwa kalau Cui Eng melahirkan seorang anak laki-laki, ia akan diterima menjadi selir Pangeran Ciu Wan Kong, akan tetapi kalau yang terlahir anak perempuan, ia akan diusir dari gedung Pangeran Ciu. Ternyata Cui Eng melahirkan seorang anak perempuan. Ia diusir dari gedung itu dan dibawa ayahnya keluar dari kota raja. Akan tetapi ketika mereka menggunakan perahu berlayar di Sungai Kuning, perahu itu diserang badai dan tenggelam!"
Melihat Thian Hwa menghentikan ceritanya dan tampak terharu dan berduka, Kong Liang berkata.
"Ah, kejadian seperti itu sudah sering kudengar, terjadi sejak jaman dahulu. Kaum bangsawan suka sewenang-wenang menyia-nyiakan selirnya, dan mereka pada umumnya tidak suka kalau mempunyai keturunan wanita. Sungguh tidak adil! Sian-li, aku dapat menduga sekarang. Tentu engkaulah anak itu, dan ternyata engkau diselamatkan Locianpwe (Orang Tua Gagah) Thian Bong Sianjin. Juga Kakekmu, Cui Sam, ternyata juga telah dapat menyelamatkan diri dan masih hidup sampai sekarang. Akan tetapi, apa yang terjadi dengan ibumu yang bernama Cui Eng itu?"
Thian Hwa menggelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Tidak ada kabar ceritanya lagi tentang ibuku. Cui Kong-kong juga tidak tahu dan hanya mengira bahwa ibuku tentu telah tewas, tenggelam dalam Sungai Huang-ho. Ketika Suhu Thian Bong Sianjin menemukan aku, dia memberi nama Thian Hwa kepadaku, menggunakan marga Thian, yaitu marga dari Suhu sendiri. Sebetulnya, ayah kandungku adalah Pangeran Ciu Wan Kong yang sekarang masih hidup, maka aku akan menggunakan nama Ciu Thian Hwa, dua marga itu kupakai dan namaku Hwa (Kembang) saja! Akan tetapi untuk umum, aku lebih suka dikenal sebagai Huang-ho Sian-li."
Bu Kong Liang menghela napas panjang.
"Aih, riwayatmu sungguh menyedihkan sekali, Sian-li. Terima kasih bahwa engkau sudah mempercayai aku dan menceritakan riwayatmu kepadaku."
"Bu-twako, setelah engkau mengetahui namaku, jangan engkau sebut aku Sian-li (Dewi) lagi. Panggil saja aku Hwa (Bunga)!"
Kong Liang tersenyum.
"Baiklah, Hwa-moi (Adik Hwa). Sekarang, apa yang hendak kaulakukan? Apakah engkau hendak ke kota raja untuk menemui ayah kandungmu, Pangeran Ciu Wan Kong itu?"
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 9
Baca Juga: Mutiara Hitam 2