Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 9

Eps 9 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

Pada saat kedua senjata bertemu, Bouw Song Khi menggerakkan pergelangan tangannya dan ujung rantai itu seperti ular hidup melibat pedang di tangan Han Houw!

Namun, pangeran muda yang lihai ini tidak menjadi gentar, bahkan dia menggerakkan kakinya maju dan cepat sekali kakinya menendang ke arah pergelangan tangan yang memegang rantai.

Terpaksa Bouw Song Khi melepaskan libatan rantainya dan kini ujung rantai menyambar ke arah kaki lawan yang terpaksa pula harus menarik kembali kakinya dan keduanya meloncat ke belakang.

Dalam beberapa gebrakan itu, keduanya maklum bahwa mereka masing-masing menghadapi lawan yang lihai.

Namun Sin Liong maklum bahwa kakak angkatnya itu hanya main-main belaka.

Dia sudah tahu akan kelihaian Han Houw dan dalam gebrakan-gebrakan pertama tadi dia mengerti bahwa kakak angkatnya itu jauh lebih lihai daripada lawannya.

Dan memang dugaannya ini tepat.

Kini, Bouw Song Khi yang mengira bahwa lawannya hanya memiliki tingkat sampai sekian saja, sudah menggerakkan rantainya dan mengirim serangan secara bertubi-tubi.

Rantainya berubah menjadi gulungan sinar yang nampaknya mengurung diri lawannya.

Bagi penglihatan semua orang, kelihatan pangeran itu terdesak karena dia hanya berloncatan ke sana-sini dan menggerakkan kedua kakinya mengatur langkah-langkah aneh.

Akan tetapi diam-diam Sin Liong tersenyum dan memandang kagum.

Kakak angkatnya itu kembali telah memperilhatkan kelihaian Pat-kwa-po, yaitu Langkah Segi Delapan yang amat aneh.

Pemuda tampan gagah itu hanya melangkah ke sana-sini seperti orang menari, namun semua sambaran rantai itu luput dan mengenai tempat kosong selalu.

Makin lama makin penasaran rasa hati Bouw Song Khi karena semua serangannya tak pernah berhasil, juga mulai dia merasa ngeri karena dia dapat menduga bahwa pangeran ini benar-benar amat lihai.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa mengejek dari pangeran itu dan dia telah menggerakkan tangan kirinya menangkis rantai yang datang menyambar!

Dengan tangan kosong dia berani menangkis rantai!

Hal ini mengejutkan hati Sin Liong den menggirangkan hati Bouw Song Khi.

Rantai itu terbuat daripada baja murni den digerakkan dengan pengerahan tenaga sin-kang.

Batu karangpun akan hancur terkena hantaman ujung rantai, apalagi tangan yang terdiri dari kulit daging dan tulang, pasti akan hancur berantakan!

"Plakk!"

Tangan itu menangkis ujung rantai dan rantai itu membalik, hampir menghantam muka Bouw Song Khi sendiri!

Dan tangan kiri pemuda bangsawan itu sama sekali tidak terluka, lecet sedikitpun tidak!

Bouw Song Khi menjadi pucat.

Tak disangkanya bahwa pemuda ini memiliki kekebalan yang sehebat itu.

Dan Sin Liong kagum bukan main.

Dia sendiri tidak tahu bahwa kakak angkatnya itu telah mewarisi ilmu kekebalan yang hebat dari Hek-hiat Mo-li!

Nenek iblis ini, bersama mendiang Pek-hiat Mo-ko, telah menciptakan ilmu kekebalan yang ajaib, yang membuat seluruh tubuh mereka kebal terhadap senjata yang bagaimana ampuhnya, bahkan kedua tangan mereka mampu menangkis senjata-senjata pusaka.

Dalam cerita Dewi Maut, para pendekarpun sampai kewalahan menghadapi kekebalan Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li, sampai kemudian sepasang pendekar Cia Bun Houw dan Yap In Hong mengetahui rahasia kelemahan mereka yang dibuka oleh Khamila, ratu dari Raja Sabutai, yaitu kelemahan kakek dan nenek iblis itu berada pada telapak kaki mereka den akhirnya sepasang pendekar itu berhasil menewaskan Pek-hiat Mo-ko dan melukai Hek-hiat Mo-li.

Kini, ternyata ilmu yang luar biasa itu telah diturunkan pula kepada Ceng Han Houw den hanya pangeran ini sendiri yang tahu rahasia kelemahannya sendiri!

Setelah menguji kekebalannya sendiri, Han Houw tertawa dan kini seenaknya saja dia menghadapi scrangan rantai itu, bahkan kadang-kadang dia menerima gebukan rantai itu dengan tubuhnya!

Makin pucat wajah Bouw Song Khi dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

Uap hitam menyambar ke arah muka Han Houw dan itu adalah bubuk beracun yang mengandung obat bius, yang biasa dipergunakan oleh jai-hwa-cat ini untuk membius wanita yang diculiknya.

Akan tetapi, perbuatannya inilah yang mendatangkan malapetaka baginya.

Kalau tadinya Han Houw masih ragu-ragu untuk membunuh orang yang dianggap tidak ada sangkut-pautnya dengan Jeng-hwa-pang, kini melihat orang itu mempergunakan racun, pangeran muda ini menjadi marah.

Dia meloncat untuk menghindari dan tiba-tiba dari mulutnya menyambar sinar putih sedemikian cepat dan tidak terduga sehingga biarpun Bouw Song Khi berusaha menghindar, tetap saja mata kirinya menerima sambaran pek-ciam (jarum putih) yang tersebar dari mulut pangeran itu.

Bouw Song Khi menjerit keras, rantainya terlepas dan kedua tangannya mendekap matanya karena terasa kenyerian yang sampai menyusup ke dalam jantungnya.

Han Houw menggerakkan pedangnya yang sejak tadi hanya dipakai menangkis saja.

Pedang itu menembus dada dan ketika dicabutnya, darah muncrat dari tubuh lawan yang terjengkang dan tewaslah Bouw Song Khi.

Melihat ini, Gak Song Kam menjadi kaget bukan main, juga amat marah.

Dia berteriak mengeluarkan aba-aba bagi semua anak buahnya untuk maju mengeroyok, sedangkan dia sendiri lalu mengerakkan pedangnya yang ampuh, pedang yang mengandung racun amat jahat, menerjang ke depan, disambut oleh Sin Liong!

Han Houw mengeluarkan suara tertawa mengejek dan pangeran ini lalu menggerakkan pedangnya mengamuk, dikeroyok oleh puluhan orang anak buah Jeng-hwa-pang.

"Ha-ha-ha, kalian orang-orang Jeng-hwa-pang sungguh tak tahu diri dan sudah selayaknya mampus! Kami adalah sepasang pendekar Lembah Naga! Kami adalah Harimau Sakti dan Naga Sakti dari Lembah Naga, dan hari ini Jeng-hwa-pang akan terbasmi habis oleh kami!"

Diam-diam Sin Liong terkejut mendengar suara yang amat congkak ini, dan dia merasa ngeri melihat betapa Han Houw mengamuk dengan pedangnya, merobohkan para anggauta Jeng-hwa-pang seperti orang membabat rumput saja.

Tentu saja para anggauta Jeng-hwa-pang itu bukan lawan pangeran yang lihai itu.

Sambil tertawa-tawa Han Houw merobohkan mereka seorang demi seorang.

Darah muncrat-muncrat membasahi bumi dan teriakan-teriakan mengerikan terdengar susul-menyusul.

Melihat keadaan yang tidak menguntungkan ini, Gak Song Kam merasa khawatir sekali.

Apalagi ketika dia mendapat kenyataan betapa semua gerakan pedangnya yang ditujukan untuk menyerang pemuda remaja itu tak pernah berhasil mengenai sasaran, dia makin gelisah dan maklum bahwa keadaannya amat berhahaya.

Ketua Jeng-hwa-pang ini memang seorang pengecut.

Dahulupun ketika Jeng-hwa-pang diserbu oleh Kim Hong Liu-nio dan dia tahu bahwa baginya tidak ada harapan untuk menang, diam-diam dia lalu melarikan diri sambil membawa pergi Sin Liong.

Kini, ternyata dua orang pemuda remaja itu tidak kalah lihainya dibandingkan dengan wanita iblis itu, bahkan sutenya telah tewas dan anak buahnya banyak yang tewas dan kini sedang dihajar habis-habisan oleh pemuda yang berpakaian indah dan memakai sorban berhiaskan batu permata itu!

"Heiiiiikkkkk!"

Tiba-tiba ketua Jeng-hwa-pang itu mengeluarkan teriakan nyaring dan begitu kedua tangannya bergerak, dari tangan kirinya meluncur paku-paku hitam dan dari pangkal pedang dekat gagang juga meluncur jarum-jarum hitam.

Baik paku-paku dan jarum-jarum itu semua mengandung racun yang amat ampuh dan menyambar dengan cepat sekali ke arah Sin Liong!

Untung bahwa pemuda remaja ini pernah digembleng oleh orang-orang sakti seperti Cia Keng Hong dan Ouwyang Bu Sek, sehingga dia telah memiliki kematangan dan ketenangan batin yang luar biasa.

Penyerangan jarum-jarum dan paku-paku itu amat tiba-tiba dan sama sekali tidak tersangka-sangka, juga dilakukan dari jarak dekat.

Kalau dia gugup dan menangkis, sedikit lecet saja pada lengannya akan cukup membahayakan karena senjata-senjata rahasia itu direndam racun yang amat jahat.

Namun Sin Liong sudah tahu bahwa ketua Jeng-hwa-pang itu adalah ahli racun, maka diapun secara otomatis melempar tubuhnya ke belakang, berjungkir balik dan terhindar dari sambaran senjata-senjata gelap yang beracun ini.

Akan tetapi, kesempatan itu dipergunakan oleh Gak Song Kam untuk melempar-lemparkan alat peledak yang mengeluarkan asap hitam tebal.

Sambil tersenyum lega dia lalu meloncat melalui asap hitam yang beracun itu dan yang tidak mengganggu dirinya untuk melarikan diri seperti yang telah dilakukannya ketika Kim Hong Liu-nio menyerbu Jeng-hwa-pang dahulu.

Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba ada bayangan berkelebat dan tahu-tahu pemuda remaja yang menjadi lawannya tadi sudah berdiri di depannya, menghalanginya sambil tersenyum mengejek dan tidak kurang suatu apa.

Dia tidak tahu bahwa Sin Liong masih ingat akan lihainya alat-alat peledak itu, maka melihat lawannya tadi melontar-lontarkan benda-benda itu, Sin Liong mempergunakan gin-kangnya untuk menghindar jauh ke tempat gelap, kemudian dia berkelebat menghadang ketika melihat ketua Jeng-hwa-pang itu hendak melarikan diri.

"Jangan harap akan dapat lari lagi seperti dulu, pangcu!"

Sin Liong berkata dan dia merasa muak akan kecurangan ketua yang pengecut ini, yang selalu hendak meninggalkan anak buahnya dan menyelamatkan diri sendiri secara curang apabila keadaan berbahaya baginya, sama sekali tidak patut dilakukan oleh seorang ketua yang tidak memperdulikan keadaan anak buahnya.

Akan tetapi melihat pemuda yang luar biasa itu sudah menghadangnya, Gak Song Kam yang semakin panik itu menubruk dengan pedangnya, mengirim serangan maut dan nekat karena dia maklum bahwa kalau dia tidak dapat segera melarikan diri dan pangeran yang sedang mengamuk itu turun tangan pula, tak mungkin lagi dia menyelamatkan diri.

Melihat serangan yang dilakukan dengan nekat ini, Sin Liong lalu merendahkan tubuhnya dan dari samping lengannya mengibas.

Serangkum hawa yang luar biasa kuatnya menyambar dan langsung menyerbu dada ketua Jeng-hwa-pang itu.

Gak Song Kam mengeluh, pedangnya terlepas dan dia terpelanting, roboh pingsan!

Kiranya Sin Liong telah menggunakan lagi sebuah jurus Cap-sha-ciang yang ampuh itu, dan akibatnya, baru terkena angin pukulannya saja lawan telah terpelanting dan roboh pingsan.

Memang sama sekali tidak terkandung niat di hati Sin Liong untuk membunuh orang, maka diapun tidak melanjutkan serangan dan hanya memandang kepada tubuh lawan yang tak bergerak itu.

"Ha-ha, bagus. Liong-te, engkau telah berhasil merobohkannya!"

Terdengar suara Han Houw bersorak dan Sin Liong melibat tubuh kakak angkatnya itu berkelebat, lalu sinar pedang menyambar ke arah leher ketua Jeng-hwa-pang yang masih pingsan.

"Houw-ko, jangan...!"

Teriaknya, akan tetapi dia memejamkan mata melihat darah muncrat-muncrat dan kakak angkatnya itu telah memegang kepala yang buntung itu pada rambutnya, mengangkatnya tinggi-tinggi sambil tertawa-tawa!

Semenjak tadi, para anak buah Jeng-hwa-pang memang sudah gentar dan panik.

Melihat betapa pasukan obor roboh semua oleh Sin Liong, disusul robohnya sute dari ketua mereka oleh Han Houw yang kemudian mengamuk dan merobohkan banyak kawan mereka, para anak buah Jeng-hwa-pang itu sudah menjadi ketakutan.

Hanya karena ketua mereka masih melawan Sin Liong mati-matian sajalah mereka masih mempunyai harapan untuk mengalahkan dua orang muda perkasa itu.

Akan tetapi, begitu Gak Song Kam roboh dan tewas, kepalanya dijambak dan diangkat oleh pangeran itu, nyali mereka terbang dan dengan ketakutan sisa anak buah Jeng-hwa-pang itu lalu melarikan diri dari tempat itu!

Han Houw tertawa bergelak dan menyambitkan kepala yang buntung lehernya itu ke arah anak buah yang melarikan diri.

"Trakkkk!"

Dengan tepat kepala dari Gak Song Kam itu menimpa kepala anak buah yang sedang lari, maka robohlah orang itu dengan kepala retak!

Ceng Han Houw lalu mengambil obor yang banyak dilempar di atas tanah oleh para anak buah Jeng-hwa-pang, kemudian dia membakari rumah-rumah yang berada di situ.

Dalam waktu singkat saja, sarang Jeng-hwa-pang menjadi lautan api!

Para wanita yang tadinya bersembunyi di dalam, kini berlari-larian keluar dalam keadaan panik, ditertawakan oleh Han Houw yang menganggap keributan itu sebagai tontonan yang lucu.

"Tolooooonggg...! Ayah... ibu... tolonggg...!"

Suara jerit wanita yang keluar dari sebuah diantara bangunan itu menarik perhatian Sin Liong dan dia cepat mendekati rumah terbakar dati mana terdengar jerit wanita itu.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan orang berkelebat dan kiranya dia telah didahului oleh Han Houw yang sudah menerjang daun pintu rumah itu dan melompat ke sebelah dalam.

Hati Sin Liong merasa kagum dan girang.

Betapapun garang dan ganasnya sikap pangeran itu terhadap musuh-musuhnya, namum di dalam dadanya terdapat watak pendekar juga yang siap menolong orang yang patut ditolong, seperti wanita yang menjerit-jerit itu.

Tak lama kemudian, di antara berkobarnya api yang mulai memakan daun pintu rumah itu, nampak Han Houw meloncat keluar sambil memondong tubuh seorang wanita muda yang manis dan kelihatan ketakutan.

Sambil tersenyum Han Houw berhenti di depan Sin Liong, menggunakan jari tangan kiri mencolek dagu gadis manis itu sambil borkata.

"Dia ini perawan dusun yang diculik Bouw Song Khi dan belum sempat diganggu! Liong-te, tugas kita sudah selesai dan aku mau bersenang-senang. Banyak wanita cantik berlarian di sana, kau boleh pilih sesukamu. Aku cukup dengan perawan dusun ini, ha-ha!"

Pangeran itu lalu lari sambil memondong gadis itu.

Sin Liong bardiri dengan alis berkerut.

Dilihatnya gadis itu meronta-ronta, menangis dalam pondongan Han Houw, namun tentu saja tidak berdaya dalam pondongan lengan pangeran yang kuat itu.

"Houw-ko..., lepaskan dia...!"

Tiba-tiba Sin Liong berseru dan berlari mengejar.

Dia tidak ingin melihat kakak angkatnya melakukan hal yang amat jahat itu!

Kalau gadis itu mau melayani kakak angkatnya, Dia tidak perduli, seperti yang dilihatnya ketika kakak angkatnya dilayani oleh wanita-wanita cantik dalam rumah-rumah pembesar yang mereka lewati dahulu.

Akan tetapi, gadis dusun itu meronta dan menangis, dan dia tidak ingin melihat kakak angkatnya itu menjadi seorang penjahat yang memaksa wanita.

Akan tetapi, hanya terdengar suara ketawa dan pangeran itu berlari terus memasuki hutan di mana mereka meninggalkan kuda mereka.

Sin Liong mengejar terus, dan ketika dia melihat pangeran itu melanjutkan larinya dengan naik kuda sambil memeluk tubuh perawan dusun yang ditelungkupkan melintang di atas punggung kuda, diapun lalu meloncat ke atas punggung kudanya dan mengejar.

Terjadilah kejar-kejaran di malam hari itu dan Han Houw tertawa-tawa sambil membalapkan kudanya, terus dikejar oleh Sin Liong.

"Houw-ko, lepaskanlah gadis itu. Banyak wanita yang mau dengan suka rela melayanimu, mengapa engkau memaksa seorang gadis yang tidak mau?"

Berkali-kali Sin Liong berteriak dan membujuk.

Melihat ada orang mengejar dan agaknya hendak menolongnya, gadis, itu berteriak minta tolong, akan tetapi Han Houw terus melarikannya sambil tertawa-tawa.

Agaknya pangeran itu merasa gembira dengan permainan ini dan karena kudanya memang jauh lebih baik daripada kuda yang ditunggangi Sin Liong, maka adik angkatnya itu belum juga mampu menyusulnya.

Kejar-kejaran itu berlangsung sampai pagi!

Tentu saja gadis dusun itu tersiksa bukan main harus menelungkup di atas pangkuan Han Houw dan terguncang-guncang.

Dia sudah setengah pingsan dan tidak mampu berteriak lagi.

Dan kini timbul kemarahan di dalam hati Han Houw.

Tadinya dia menganggap adik angkatnya itu main-main saja, akan tetapi setelah melihat betapa Sin Liong mengejar terus, dia mulai merasa terganggu dan marah.

Setelah tiba di lapangan rumput yang terbuka, Han Houw memperlambat larinya kuda yang sudah megap-megap kelelahan itu.

"Houw-ko, berhentilah dulu, aku mau bicara...!"

Terdengar teriakan Sin Liong di belakangnya, Han Houw menoleh dan melihat adik angkatnya itu sudah mengejar dekat, dia mengerutkan alisnya dan tiba-tiba dia menghentikan kudanya, lalu melemparkan tubuh gadis itu ke atas rumput.

Gadis itu mengeluh dan terguling di atas rumput, hanya merintih dan menangis karena seluruh tubuhnya terasa lelah dan sakit-sakit, tidak mampu bangkit.

Han Houw melompat turun dari kudanya.

Melihat ini, Sin Liong juga meloncat turun dari atas punggung kudanya dan membiarkan kuda yang sudah kelelahan itu beristirahat.

Dua orang kakak beradik angkat itu kini berdiri saling berhadapan, dua pasang mata saling menentang pandang dan saling menyelidik.

"Sin Liong, kalau engkau menghendaki gadis itu, nah, kau ambillah dia! Kau minta baik-baikpun tentu akan kuberikan, tidak perlu kau mengejar-ngejarku semalam suntuk!"

Sin Liong menarik napas panjang.

"Houw-ko, maafkanlah aku kalau aku mengganggu kesenanganmu. Akan tetapi engkau tahu bahwa aku mengejar-ngejar sama sekali bukan bermaksud mendapatkan wanita itu, melainkan aku ingin mencegah agar Houw-ko tidak melakukan perbuatan jahat terhadap wanita itu."

"Melakukan perbuatan jahat? Apa maksudmu?"

Ceng Han Houw bertanya, suaranya kaku den sinar matanya memancarkan kemarahan.

Sin Liong memandang tajam.

Marahlah dia.

Apakah Han Houw hendak mempermainkannya dan masih berpura-pura bertanya lagi padahal sudah jelas betapa pemuda itu melarikan dan hendak memaksa seorang gadis yang tidak mau menuruti kehendaknya?

"Houw-ko, jelas bahwa engkau melarikan gadis itu dan hendak memperkosanya, memaksanya, dan engkau masih bertanya apa maksudku?"

Dia berkata dengan suara bernada teguran.

Kini Han Houw memandang dengan sinar mata berapi dan mukanya yang tampan gagah itu menjadi merah sekali, matanya yang lebar itu terbelalak dan dia menggerakkan kedua tangannya bertolak pinggang.

"Cia Sin Liong! Kau berani menuduhku demikian? Kau kira aku ini laki-laki macam apa? Sungguh engkau menghinaku dan tak mungkin aku membiarkan saja penghinaan itu!"

Tiba-tiba tubuhnya menerjang ke depan dan pangeran ini sudah menyerang Sin Liong dengan hebatnya!

"Ehhh...!"

Sin Liong terkejut bukan main dan cepat dia mengelak lalu meloncat ke belakang.

Akan tetapi, Han Houw yang sudah melanjutkan serangannya dengan tendangan berantai, tendangan Soan-hong-twi yang bertubi-tubi karena kedua kakinya bergerak seperti angin puyuh, bergantian menyambar dengan amat kuat dan cepatnya.

"Plak-plakk!"

Sin Liong mengelak dan terpaksa menangkis karena mengelak terus akan berbahaya.

Akan tetapi dia tidak mengerahkan seluruh tenaganya karena dia tidak ingin berkelahi dengan kakak angkatnya ini.

"Houw-ko, jangan...!"

"Sin Liong, apakah engkau akan menjadi pengecut? Sudah berani menghina tidak berani menanggung akibatnya?"

Bentak Han Houw dan dia terus menyerang lagi, kini mengerahkan seluruh kepandaiannya karena memang dia ingin "menguji"

Adik angkatnya ini.

Serangan demi serangan yang amat hebat dilancarkan oleh Han Houw, bahkan pemuda bangsawan ini juga mengerahkan sin-kangnya yang membuat tubuhnya kebal, maka Sin Liong terdesak hebat sekali.

Ketika dia mengelak dan mengatur langkah untuk menghindarkan diri tanpa membalas, tetap saja pundaknya kena sambaran pukulan Han Houw.

"Desss...!"

Tubuh Sin Liong terguling.

Pukulan tadi keras bukan main dan hanya karena ada tenaga Sin-ciang saja maka pundaknya terlindung dan tidak sampai terluka atau patah tulangnya.

Namun Sin Liong menderita kenyerian yang membuat dia meringis.

Han Houw gembira dapat merobohkan Sin Liong, maka dia lalu menubruknya dengan susulan pukulan yang amat keras.

Dalam keadaan bergulingan itu, Sin Liong melihat datangnya pukulan keras, maka diapun mengerahkan tenaganya dan menangkis dari bawah.

"Dukkk...!"

Tubuh Han Houw terpental sampai dua meter, akan tetapi dia dapat cepat berjungkir balik sehingga tidak sampai terbanting jatuh.

Diam-diam Han Houw kagum sekali dan juga penasaran.

Pemuda ini semenjak kecil bukan saja digembleng dengan ilmu-ilmu silat tinggi oleh sucinya dan juga oleh subonya, akan tetapi selain ilmu silat juga dia memiliki kepandaian seperti sucinya, yaitu waspada dan mengenal ilmu-ilmu silat orang lain, mudah menangkap dan mencatat ilmu-ilmu asing.

Maka ketika dia menyerang Sin Liong, dia sudah memasang mata untuk mencatat semua gerakan adik angkatnya itu.

Seperti biasa, seperti yang diajarkan oleh sucinya pula, dia ingin "mencuri"

Ilmu silat lawan yang tinggi.

Akan tetapi sekali ini dia kecele.

Ketika dia menyerang sambil memperhatikan gerakan Sin Liong, adik angkatnya itu hanya mengelak atau menangkis saja, Sama sekali tidak membalas menyerang sehingga dia tidak dapat mengenal perkembangan setiap gerakan.

Apalagi, gerakan Sin Liong terlalu sederhana, seperti bukan gerakan silat lagi, melainkan gerak otomatis melindungi diri dari bahaya.

Memang demikianlah.

Makin tinggi dan makin matang ilmu silat yang dimiliki seseorang, makin lenyap pula kembangan-kembangan yang tidak ada gunanya, yang hanya bertugas sebagai hiasan belaka.

Sin Liong yang digembleng orang-orang sakti telah membuat ilmu-ilmu yang tinggi itu mendarah daging dan menjadi satu dengan syaraf tubuhnya sehingga setiap gerakannya, biar tidak sedang berkelahi sekalipun, telah mengandung unsur-unsur melindungi diri ini.

Oleh karena itu, begitu dia diserang, dia sudah bergerak tanpa hafalan ilmu silat lagi, melainkan secara otomatis dan gerakannya tidak lagi dibatasi oleh gerak hafalan.

Setiap jurus yang dimainkannya hanya "keluar"

Intinya belaka, yang disesuaikan dan dimanfaatkan dengan datangnya setiap bahaya.

Oleh karena itu, maka Han Houw yang memperhatikan dan hendak mempelajarinya, hanya melihat gerakan sederhana tanpa tahu ujung pangkalnya.

Padahal, untuk menghindarkan diri dari semua serangan Han Houw yang amat berbahaya tadi, Sin Liong telah mempergunakan ilmu silat yang tinggi, di antaranya jurus-jurus dari San-in-kun-hoat dan Thai-kek Sin-kun, dan dia menggerakkan pula hawa sakti dari tubuhnya yang diwarisi dari Kok Beng Lama, yaitu Thian-te Sin-ciang.

Tidaklah aneh bahwa semua serangan Han Houw dapat dihindarkan oleh Sin Liong karena anak itu mempergunakan inti dari ilmu-ilmu yang amat tinggi itu.

Akan tetapi Han Houw menjadi makin penasaran.

"Sin Liong, coba kau sambut serangan pedangku!"

Dia sudah mencabut pedangnya dan menyerang.

"Houw-ko... mengapa kau... hendak membunuhku?"

Sin Liong berseru kaget, akan tetapi pedang itu sudah meluncur ke arah lehernya.

Tentu saja Sin Liong tidak mau dibunuh begitu saja.

Melihat pedang meluncur dengan cepat ke lehernya, dia mulai merasa marah.

Bagaimanakah kakak angkatnya ini?

Sudah gilakah?

Karena serangan pedang itu tidak boleh dipandang ringan setelah dia mengenal kekuatan kakak angkatnya yang lihai, Sin Liong secara otomatis menggerakkan tangan kanan dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang yang membuat lengan dan tangannya menjadi kebal, menangkis ke arah pedang lalu mencengkeramnya.

"Plakk!"

Pedang itu kena dicengkeram dan tangan kirinya lalu menangkap pergelangan tangan Han Houw.

"Ihhhhh...!"

Han Houw berseru dan kaget bukan main karena merasa betapa tenaga sin-kangnya memberobot keluar dari lengannya yang terpegang adik angkatnya itu.

Tahulah dia bahwa Sin Liong telah mempergunakan Thi-khi-i-beng yang mujijat, dan dia juga kagum melihat betapa adik angkatnya itu berani menyambut pedang dengan tangan kosong dan memiliki kekebalan yang tidak kalah ampuhnya dengan ilmu kekebalan yang dimilikinya sendiri.

Han Houw tidak mau menerima kalah begitu saja.

Dalam kagetnya karena tenaga sin-kangnya tersedot keluar, tangan kirinya bergerak dan jari-jari tangan itu menusuk ke arah mata Sin Liong!

Mata merupakan bagian tubuh yang tentu saja tidak mungkin dibikin kebal, maka serangan ini amat mengejutkan Sin Liong yang terpaksa melepaskan pedang dan lengan lawan, melangkah mundur sambil mengelak dengan miringkan kepalanya.

Akan tetapi Han Houw benar-benar hebat.

Baru saja pedang dan tangannya terlepas, dia menyusuli tusukan jari tangan ke arah mata tadi dengan tusukan pedang ke arah pusar dan tangan kirinya mencengkeram dengan ganas sambil mengerahkan tangan sehingga dari telapak tangan kiri itu mengepul uap hitam.

Itulah pukulan beracun semacam Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang mengeluarkan uap hitam.

Bau uapnya itu saja sudah cukup untuk merobohkan atau membuat pening lawan, apalagi pukulannya sendiri!

Diserang seperti itu, Sin Liong kembali terkejut dan dia harus mengakui bahwa Han Houw merupakan lawan yang luar biasa lihainya dan kalau dia tidak segera mengeluarkan ilmu simpanannya, jangan-jangan dia akan celaka di tangan kakak angkatnya.

Maka dia meloncat ke belakang dan ketika kakaknya mendesak, dia merendahkan tubuhnya, kedua tangannya bergerak aneh, mendorong ke depan.

"Eihhh... brukkkk!"

Tubuh Han Houw terbanting cukup keras sehingga dia menjadi pening!

Dia hanya dapat bangkit duduk dan memejamkan mata sambil mengguncang-guncang kepalanya karena bumi seperti terputar di sekelilingnya.

"Houw-ko, maafkan aku...!"

Sin Liong cepat menghampiri.

Han Houw mengangkat muka memandang dan menarik napas panjang.

Dia tidak membantah ketika adik angkatnya mengulurkan tangan dan membantunya bangkit berdiri.

Disimpannya pedangnya dan dia bertanya dengan pandang mata penuh kagum.

"Liong-te, bukankah pukulanmu yang terakhir tadi merupakan jurus dari ilmu silat yang diajarkan oleh suhu Bu Beng Hud-couw?"

Sin Liong mengangguk.

"Dari kitabnya karena aku belum diajar secara langsung."

Sin Liong mengingatkan.

"Ah, bukan main! Baru belajar tidak langsung saja sudah begitu hebat. Apalagi kalau diajar oleh manusia sakti itu sendiri. Ah, aku harus menemuinya dan berguru kepadanya! Liong-te, engkau hebat sekali."

"Maafkan aku, Houw-ko. Akan tetapi mengapakah engkau menyerangku seperti itu?"

Sin Liong bertanya, nadanya menegur. Han Houw memandangnya lalu tersenyum.

"Aku ingin mengujimu, adikku. Dan pula, mengapa engkau menghinaku dan menuduhku yang bukan-bukan? Kau menuduhku hendak memaksa dan memperkosa wanita!"

Sin Liong menengok dan melihat gadis itu sudah duduk dengan muka pucat, mata terbelalak dan kelihatan takut sekali.

Sejak tadi dia tidak berani bergerak, hanya duduk dan melihat perkelahian itu.

"Akan tetapi... mengapa engkau melarikan gadis itu?"

Han Houw menoleh ke arah gadis itu dan tersenyum lebar.

"Kau kira aku ini orang apa? Aku adalah Pangeran Oguthai, lupakah engkau, adikku? Memperkosa wanita? Ah, apa perlunya? Semua wanita akan suka sekali melayaniku, mengapa harus memperkosa? Betapa hina dan rendahnya!"

"Tapi... tapi dia itu tidak mau dan berteriak-teriak..."

Sin Liong berkata bingung.

"Ha-ha-ha, karena gelap dan karena dia tidak tahu aku siapa! Disangkanya aku sama dengan si laknat Bouw Song Khi yang menculiknya. Kau lihat saja, adikku, dan coba buktikan apakah aku memperkosa wanita atau bukan?"

Setelah berkata demikian, Han Houw lalu mengebut-ngebutkan pakaiannya, memakai kembali topinya yang tadi terjatuh, kemudian dengan langkah lembut dia menghampiri gadis yang masih duduk di atas rumput.

Melihat pemuda tampan bertopi indah itu menghampirinya, gadis itu memandang dengan mata terbelalak.

Baru sekarang dia melihat betapa orang yang semalam melarikannya itu ternyata adalah seorang pemuda yang demikian tampan dan gagahnya!

Sama sekali tidak disangkanya hal ini maka dia terheran-heran, juga hatinya ragu-ragu dan masih takut-takut.

Han Houw tersenyum manis dan memang wajah pangeran ini amat tampan dan sikapnya halus serta gagah.

Dia meng gunakan bahasa daerah, dengan lembut dia lalu berkata kepada gadis dusun itu.

"Nona, aku telah menolongmu dari rumah terbakar, membebaskanmu dari tangan penjahat-penjahat kejam, mengapa engkau malah meronta-ronta dan menangis semalam suntuk sehingga saudaraku ini mengira yang bukan-bukan?"

Suara itu halus dan dengan muka manis sehingga dara itu kehilangan rasa takutnya.

"Maafkan saya... saya tidak tahu dan mengira... kawanan penjahat yang melarikan saya..."

"Hemm, anak manis. Engkau tidak tahu siapa aku maka kau mengira aku seorang jahat? Coba pandang wajahku dengan teliti. Apakah engkau tidak pernah mendengar tentang Pangeran Oguthai?"

Dara itu terbelalak dan memandang wajah pangeran itu dengan takjub.

"Pangeran... pangeran..."

"Akulah Pangeran Oguthai, putera Raja Sabutai!"

"Ahhh... ampunkan hamba, pangeran..."

Dan gadis dusun itu segera menjatuhkan diri berlutut sampai hampir menelungkup di atas tanah, di depan kaki pangeran itu.

Han Houw tersenyum dan menoleh ke arah Sin Liong yang hanya memandang dengan penuh perhatian.

"Bangunlah, manis. Aku tidak ingin melihat pakaian dan wajahmu yang manis itu kotor oleh tanah. Bangunlah, aku mengampunimu."

Gadis itu bangun dan masih berlutut, lalu menengadah, wajahnya berseri dan bertambah manis.

"Ah, terima kasih, pangeran..."

Sikapnya berubah sama sekali, kini sama sekali tidak lagi kelihatan takut, bahkan tersenyum manis sekali!

"Manis, engkau cantik dan aku suka padamu.

Kalau aku minta padamu agar engkau suka melayaniku, karena aku cinta padamu, apakah engkau akan menolak?"

Wajah yang berseri itu seketika menjadi merah sekali dan wajah itu menunduk kelihatan malu-malu akan tetapi bibirnya tetap tersenyum.

Gadis itu menggeleng kepala karena rasa malu membuat dia sukar untuk menjawab dengan mulut.

"Bagus!"

Kata Han Houw sambil tertawa dan mengangkat bangun gadis itu.

Ketika berdiri, ternyata gadis itu hanya setinggi pundaknya.

Gadis dusun itu bertubuh ramping padat dan kini wajahnya yang merah itu kelihatan bertambah manis.

"Sekarang, untuk membuktikan kepada saudaraku bahwa aku tidak memaksamu..."

Pangeran itu mendekatkan mulutnya di telinga dara itu dan berbisik-bisik.

Gadis dusun itu menahan ketawa dan mukanya makin tersipu-sipu, matanya melirik ke arah Sin Liong dan akhirnya, tiba-tiba dia menahan ketawa dan merangkulkan kedua lengannya ke leher Han How, mencium pipi pangeran itu di depan Sin Liong!

Kiranya itulah yang diminta oleh Han Houw kepada dara dusun itu untuk membuktikan kepada Sin Liong bahwa dia tidak perlu memperkosa wanita!

Ketika gadis itu menciumnya, Han Houw tertawa dan menoleh ke arah Sin Liong.

Ketawanya makin kenas ketika dia melihat Sin Liong membuang muka dan cemberut.

"Ha-ha, adikku yang baik, kau tunggulah di situ sebentar!"

Kata Han Houw yang masih tertawa gembira lalu pangeran itu memondong tubuh gadis dusun yang masih merangkul lehernya, dibawanya menghilang ke balik semak-semak tak jauh dari tempat itu!

Sin Liong mendengar suara ketawa tertahan kedua orang itu dan dia merasa muak, lalu dijauhinya tempat itu sampai dia tidak mendengar apa-apa lagi dan dia lalu menghempaskan dirinya duduk di atas tanah berumput sambil termenung.

Dia mengusir bayangan yang muncul dalam benaknya, bayangan Han Houw dan gadis itu dan dia menggigit bibirnya.

Ceng Han Houw bukan manusia baik-baik!

Suara ini terdengar olehnya, seperti dibisikkan oleh hatinya.

Memang benar bahwa Han Houw tidak memperkosa gadis itu dengan kekerasan, akan tetapi apa bedanya pemerkosaan dengan kekerasan kalau dibandingkan dengan bujukan?

Gadis itu memang tidak menyerahkan diri karena paksaan, akan tetapi menyerahkan diri karena silau oleh kedudukan dan ketampanan yang akhirnya toh sama juga!

Dia tahu benar bahwa Han Houw tidak melakukan perbuatan itu karena cintanya kepada gadis yang sama sekali tidak dikenalnya itu, melainkan terdorong oleh nafsu seperti yang sering dilakukannya dengan wanita-wanita muda suguhan para pembesar.

Ceng Han Houw adalah seorang pemuda mata keranjang, seorang laki-laki yang gila perempuan, hamba dari nafsu berahinya sendiri!

Betapapun juga sikapnya amat baik kepadanya!

Dan penyerangan Han Houw tadipun hanya untuk menguji kepandaiannya!

Dan di dalam dasar hatinya memang terdapat rasa suka kepada pangeran itu.

Sin Liong merasa bingung dan penuh keraguan.

Haruskah dia melanjutkan pendekatan diri dengan pangeran itu?

Ataukah seharusnya dia cepat meninggalkannya?

Kesenangan atau kenikmatan, yaitu perasaan menikmati kesenangan, adalah berkah yang dimiliki setiap manusia.

Namun, berkah ini berubah menjadi sumber kesengsaraan kalau kesenangan sudah mencengkeram dan memperbudak kita.

Suatu peristiwa apapun dapat mendatangkan suka cita, mendatangkan kebahagiaan pada saat itu juga.

Akan tetapi kalau pikiran kita mencatat pengalaman itu, mengingatkan dan menginginkan terulangnya kembali pengalaman penuh nikmat itu, maka suka cita itu berubah menjadi kesenangan yang dikejar-kejar dan setelah kita menjadi pengejar kegenangan, muncullah pelbagai konflik dan terseretlah kita ke dalam kesengsaraan.

Memang selera manusia berbeda-beda, tergantung dari lingkungan hidup dan pendidikan masing-masing.

Setiap orang manusia merasa benar dalam pengejarannya masing-masing terhadap sesuatu yang dinamakan cita-cita, yang dianggap benar dan akan mendatangkan kebahagiaan hidup.

Seorang saterawan akan mengejar dan mendewa-dewakan kesusasteraan dan dia menganggap bahwa kesusasteraan itulah yang paling berharga dalam kehidupan, yang dianggapnya merupakan satu-satunya sarana menuju kebahagiaan.

Seorang ahli silat akan mengejar-ngejar ilmu sliat dan menganggap ilmu silat sebagai satu-satunya hal yang terpenting dalam kehidupan.

Seorang hartawan akan mengejar-ngejar harta dan menganggap bahwa hanya hartalah yang akan dapat membahagiakan kehidupan manusia.

Seorang pembesar akan mengejar kedudukan atau nama yang dianggapnya terpenting di dunia ini.

Seorang pendeta akan mengejar-ngejar kedamaian batin, dan sebagainya lagi.

Semua pengejaran itu, biar diselimuti dengan nama apapun, yang rendah atau yang tinggi, yang hina atau yang agung, pada hakekatnya adalah sama saja!

Segala sesuatu yang dikejar-kejar dan diinginkan, atau merupakan suatu hal yang dianggap akan mendatangkan kesenangan, baik kesenangan lahir maupun kesenangan batin yang sesungguhnya sama saja, bagi si pengejar!

Dan karena pandangan setiap orang pengejar terhadap kesenangan itu berbeda-beda, tergantung dari keadaan dirinya yang dibentuk oleh lingkungan dan pendidikan, maka semua pengejaran kesenangan dalam berbagai bentuk itu hanyalah merupakan perpecahan.

Yang dikejar-kejar itu hanya merupakan sebagian saja dari kehidupan, sebagian yang dipentingkan.

Oleh karena itu, akhirnya akan mendatangkan kekecewaan karena tanpa yang lain-lain, maka satu yang dikejarnya itu takkan lengkap!

Si pengejar uang, biarpun berhasil menumpuk uang banyak, Namun kalau tidak memiliki kesehatan, akan merasa kecewa dan sengsara.

Si kaya dan sehat, kalau merasa rendah kedudukannya dan tidak terpandang, akan merasa kecewa juga.

Demikianlah, pengejaran selalu menimbulkan pengejaran akan suatu yang lain dan tidak akan ada habisnya sebelum kita mati!

Kita akan menjadi hamba dari keinginan ini, selama hidup mengejar-ngejar apa yang kita anggap akan membahagiakan kehidupan kita, seperti mengejar bayangan sendiri yang takkan mungkin pernah dapat tertangkap.

Pengejaran menunjukkan adanya ketidakpuasan, dan hati yang tidak puas, mengejar dan memperoleh apapun juga akan tetap tidak puas dan akan terus mengejar yang lain, yang dianggap lebih menyenangkan daripada apa yang telah diperoleh atau dimiliki.

Beginilah kenyataannya dalam kehidupan kita sehari-hari.

Oleh karena itu, timbul pertanyaan yang amat penting bagi kita semua, yaitu .

Apakah mungkin bagi kita untuk hidup tanpa mengejar apapun?

Bukan berarti kita lalu tidur pulas atau bermalas-malasan, bukan berarti kita menjadi tidak perdulian, bukan berarti kita putus asa!

Sama sekali bukan!

Bahkan sebaliknya!

Dengan bebas dari keinginan mengejar kesenangan, kita benar-benar hidup!

Kita benar-benar waspada akan kehidupan saat demi saat, membuka mata melihat segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita, tidak dibuai oleh khayal dan bayangan cita-cita yang abstrak.

Dan kalau kita sudah tidak ingin apa-apa yang tidak ada, maka barulah kita dapat waspada terhadap apa yang ada!

Sesungguhnya, kebahagiaan hanya terdapat dalam apa yang ada!

Dan perhatian terhadap apa yang ada setiap saat ini, Tanpa membiarkan diri diseret oleh lingkaran setan berupa kenangan masa lalu dan bayangan atau harapan masa depan, adalah benar-benar hidup yang sesungguhnya.

Hidup adalah kenyataan setiap saat ini, bukan kenangan masa lalu, bukan pula bayangan khayal masa depan.

Sekali lagi, dapatkah kita hidup tanpa mengejar kesenangan dalam bentuk apapun?

Kalau sudah begitu, mungkin akan nampak oleh kita bahwa kebahagiaan terdapat di mana-mana, dalam segala waktu dan keadaan, karena kebahagiaan bukanlah soal di luar diri, melainkan soal batin, dan mungkin mata kita akan dapat melihat keindahan di mana-mana, dalam senyum seorang manusia lain, dalam pandang mata isteri, suami, anak atau siapa saja, dalam lambaian ujung daun, dalam sinar matahari, dalam awan berarak, dalam air hujan, dalam apa saja!

"Liong-te, apakah engkau sekarang masih menuduhku pemerkosa dan pemaksa wanita?"

Suara ini mengejutkan Sin Liong yang sedang melamun.

Dia bangkit berdiri, membalikkan tubuhnya dan ternyata Ceng Han Houw telah berdiri di situ, wajahnya berseri dan lengan kirinya merangkul leher dan pundak gadis tadi yang berdiri dengan muka merah dan malu-malu namun matanya juga bersinar-sinar dan berseri penuh kegembiraan.

Sin Liong sebentar memandang keduanya dengan sinar mata marah.

Dia merasa jijik terhadap mereka, kemudian dengan bersungut-sungut dia meninggalkan mereka, mencari kudanya.

"Manis, kau pulanglah ke dusunmu. Kelak aku akan datang mencarimu,"

Terdengar Han Houw berkata.

Gadis itu mengeluh, kemudian menangis ingin ikut.

Han Houw membentaknya dan gadis itu diam.

Dari sudut matanya Sin Liong melihat betapa mereka berciuman, kemudian gadis itu pergi dengan muka tunduk.

Dan tak lama kemudian Han Houw juga sudah meloncat ke atas kudanya.

"Ha-ha, Liong-te, jangan murung. Mari kita pergi!"

"Aku juga akan kembali ke selatan!"

Sin Liong berkata, suaranya masih kaku.

"Aku juga akan kembali ke selatan. Ingat, kita akan mencari suhu Bu Beng Hud-couw bersama. Mari kita pergi ke kota Ceng-lun di tepi Sungai Luan, di sana aku akan menyuruh orang mengabarkan kepada ayahku bahwa tugas kita telah selesai dan Jeng-hwa-pang telah kita basmi."

Sin Liong tidak banyak membantah.

Hatinya masih terasa panas dan tidak enak.

Dia masih marah karena urusan gadis dusun tadi.

Akan tetapi Han Houw bersikap ramah sekali dan di sepanjang perjalanan dia bicara dengan gembira, Menceritakan tentang daerah yang mereka lewati.

Sebagai putera raja, tentu saja dia banyak mempelajari tentang daerah-daerah di luar tembok besar dan dengan bangga dia menceritakan betapa ayahnya, Raja Sabutai sudah menjelajahi seluruh daerah itu dan bahkan pernah menaklukkan hampir semua daerah di luar tembok besar.

Karena sikap ramah dan ceritanya menarik, mau tak mau Sin Liong mendengarkan dengan hati tertarik dan sikap kakak angkatnya itu sebentar saja sudah menghapus rasa marah dari dalam hatinya.

Pangeran ini memang mata keranjang dan suka bermain gila dengan wanita, pikirnya, akan tetapi dia melihat pula kenyataan bahwa biarpun pangeran ini mempergunakan kedudukan dan ketampanannya untuk menjatuhkan hati wanita, namun si wanita sendirilah yang salah.

Dia melihat kenyataan bahwa wanita itu memang lemah, mudah terbujuk dan secara murah saja menyerahkan dirinya.

Kalau wanita itu berhati bersih, tidak mungkin mau menyerahkan diri secara sedemikian mudah dan murahnya.

Dan dia berjanji dalam hati bahwa kalau dia bertemu dengan wanita seperti itu, dia akan melindunginya dan kalau perlu dia akan menentang kakak angkatnya!

Beberapa kali Sin Liong menoleh ke arah kakak angkatnya yang menjalankan kudanya perlahan di sampingnya.

Dia heran melihat pangeran ini.

Sekarang kelihatan begitu baik, begitu ramah, dan seolah-olah pengalaman dengan wanita tadi, perkelahiannya dengan dia, hanya merupakan hal remeh yang boleh dilupakan dalam sekejap mata saja!

"Houw-ko..."

"Ada apakah, Liong-te?"

Han Houw menoleh dan tersenyum.

"Siapakah nama perempuan tadi?"

Han Houw terbelalak, senyumnya melebar.

"Ahhh...? Mana aku tahu?"

Sin Liong mengerutkan alisnya, keheranannya membesar.

"Tidak tahu namanya?"

Amat sukar dipercaya bahwa orang yang sudah berhubungan selekat itu masih belum diketahui namanya!

"Ha-ha, Liong-te.

Perempuan seperti itu saja, mana pantas kita ingat namanya?

Di dunia ini terdapat laksaan perempuan seperti itu, yang menyerah dengan mudah karena bangga melayani kita.

Kalau kita memperhatikan mereka, wah, kiranya tidak ada apa-apa lagi yang dapat kita pikir karena sudah penuh dengan nama-nama mereka.

Ha-ha-ha!

Dia tidak ada harganya untuk diingat."

"Tapi... tapi... dia seorang gadis, dan kau... kau sudah... dan kau janjikan dia suruh menanti di dusunnya..."

Kembali pangeran itu tertawa bergelak.

"Wah, adikku yang baik. Engkau sungguh hijau, jujur dan masih polos benar-benar! Kalau aku tidak muncul dalam waktu beberapa bulan saja, dia, gadis seperti itu, tentu sudah memperoleh penggantiku. Eh, Sin Liong, apakah benar-benar engkau tidak suka kepada wanita?"

Sin Liong mengerutkan alisnya, masih terlalu kaget dan terheran mendengar keterangan kakak angkatnya.

Pangeran ini menganggap hubungan antara pria dan wanita sedemikian remehnya!

Kemudian pertanyaan terakhir itu mengejutkannya dan kembali wajahnya menjadi merah.

"Aku bukannya tidak suka atau suka, akan tetapi jelas aku tidak akan melakukan perbuatan seperti yang kau lakukan itu, Houw-ko!"

Katanya tegas dan dia menyuruh kudanya lari congklang.

Han Houw tertawa bergelak dan mengejar.

Kota Ceng-lun adalah sebuah kota di tepi Sungai Luan yang berada di sebelah utara Peking dan berada di luar tembok besar.

Kota ini cukup ramai dan kota ini pernah diduduki pasukan Raja Sabutai, bahkan dijadikan benteng ketika raja ini memimpin pasukannya untuk menyerbu ke dalam tembok besar di selatan.

Biarpun kini daerah itu dikepalai oleh pasukan liar dari bangsa Nomad lain yang bersahabat dengan pemerintah Kerajaan Beng-tiauw pada waktu itu, akan tetapi suku bangsa inipun masih tunduk akan kekuasaan Raja Sabutai yang amat kuat dan yang merupakan bahaya lebih dekat dan lebih besar bagi suku bangsa itu daripada bahaya yang datang dari tembok besar.

Inilah sebabnya maka ketika Pangeran Oguthai atau Ceng Han Houw bersama Sin Liong tiba di kota Ceng-lun, dan para pembesar setempat mengenal pangeran ini, dua orang muda itu disambut dengan hormat dan meriah!

Apalagi ketika Ceng Han Houw membuktikan dirinya sebagai seorang pangeran Kerajaan Beng, dan dapat memperlihatkan tanda kekuasaan yang diperolehnya dari Kaisar Beng yang baru, maka semua orang makin menyembah-nyembahnya!

Kembali Sin Liong melihat dengan hati tidak senang betapa kakak angkatnya itu bersikap congkak dan tinggi hati, menganggap fihak tuan rumah, yaitu para pembesar seperti anak buah saja, dan anehnya, yang diperlakukan seperti itu malah kelihatan senang dan menjilat-jilat!

Lebih lagi ketika mereka berdua dijamu dengan hidangan yang serba mewah dan dilayani makan minum oleh sekumpulan gadis-gadis cantik.

Sin Liong merasa sungkan, malu dan juga muak.

Sejak kecil dia sudah hidup bebas dan seadanya, sederhana namun kebebasannya mendatangkan rasa nikmat dan bahagia yang luar biasa.

Maka kini, keadaan yang mewah dan dikurung kesopanan dan peraturan yang memuakkan hatinya itu, tentu saja dia merasa tidak enak dan tidak senang.

Bagi Sin Liong yang berjiwa bebas, kebebasan yang diperolehnya karena keadaan hidupnya di waktu kecil, tentu saja nampak tidak menyenangkan dan merepotkan malah, semua peraturan dan sopan santun, semua kebudayaan yang jelas kelihatan amat palsu olehnya itu.

Memang, kalau kita mau membuka mata dan melihat apa adanya, akan nampak oleh kita betapa kita ini hidup di alam kepalsuan!

Sikap kita, senyum kita, ucapan-ucapan kita, semua itu terkendali, semua itu munafik dan palsu, tidak sewajarnya, semua itu "demi kesopanan".

Sopankah sikap yang dibuat-buat itu?

Kalau kita bicara dengan orang lain, terutama kalau kita bicara dengan orang yang lebih tinggi kedudukannya daripada kita, atau lebih kaya, atau lebih pintar menurut anggapan kita, maka otomatis muncullah kepalsuan kita, senyum kita, pandang mata kita, kata-kata kita, semua itu "disesuaikan"

Dalam pertemuan itu dan kita menjadi manusia lain, yang berbeda dengan pembantu kita, dengan keluarga kita dan sebagainya!

Sopan santun pura-pura dan palsu!

Beginikah kebudayaan kita?

Beginikah peradaban kita?

Betapa menyedihkan kalau kita namakan kebudayaan, peradaban itu hanya merupakan kepintaran berpura-pura belaka, pandai bermanis selagi perasaan sepahit-pahitnya, Pandai menghormat dan bersikap sopan selagi hati menghina dan membenci!

Dan kita telah terdidik semenjak kecil untuk berpura-pura seperti itu!

Semenjak kecil kita dijejali pelajaran-pelajaran bagaimana harus bersikap sebagai seorang sopan, sebagai seorang berbudaya, terpelajar dan sebagainya!

Kita tidak pernah diperkenalkan kepada apa yang dinamakan kesopanan itu, dalam arti kata menyelami, mendalami, mengerti dan menghayati, bukan sekedar sikap lahiriah yang pura-pura belaka!

Kalau sudah ada rasa hormat dalam batin kita terhadap sesamanya, rasa hormat yang timbul bukan karena pura-pura, bukan karena penjilatan, melainkan rasa hormat yang dengan sendirinya muncul di mana terdapat cinta kasih terhadap sesama, kalau sudah ada rasa cinta seperti itu di dalam batin kita, maka segala kepura-puraan itu, Segala kesopanan hampa, segala kemunafikan, akan sirna dan hubungan antara manusia akan menjadi lain sama sekali!

Kalau segala kepalsuan itu sudah tidak ada, dan kalau hubungan antara manusia didasari cinta kasih, maka barulah akan benar-benar ada hubungan itu!

Sebaliknya, hubungan seperti adanya sekarang ini, hanyalah hubungan semu belaka, hubungan antara dua gambaran dari aku dan engkau yang keduanya palsu, tidak sewajarnya, tidak seadanya, dan dalam hubungan seperti itu, tentu saja muncul pertentangan-pertentangan.

Ketika Han Houw minta kepada pembesar kota Ceng-lung untuk menyampaikan laporannya kepada Raja Sabutai tentang hasilnya membasmi Jeng-hwa-pang, pembesar itu terkejut bukan main, akan tetapi tergopoh-gopoh dia lalu mengutus pasukan kecil untuk menyampaikan berita itu ke utara.

Barulah para pembesar itu tahu bahwa dua orang pemuda ini ternyata memiliki kepandaian luar biasa, karena kalau tidak demikian, mana mungkin dua orang itu mampu membasmi perkumpulan Jeng-hwa-pang yang amat ditakuti itu?

Malam harinya, kembali dua orang muda itu dijamu secara besar-besaran oleh para pejabat di Ceng-lun.

Han Houw nampak gembira bukan main dan minum sampai hampir mabuk.

Malam makin larut dan akhirnya para pembesar itu minta diri, meninggalkan dua orang muda itu melanjutkan bersenang-senang dilayani oleh delapan orang gadis cantik manis yang melayani sambil tersenyum-senyum.

Karena dipaksa dan dibujuk oleh Han Houw, Sin Liong minum arak agak banyak pula.

Biarpun dia tidak sampai mabuk, akan tetapi seluruh tubuhnya terasa panas dan dia mulai pening.

"Houw-ko, akupun hendak mengaso. Biarlah aku kembali ke kamar lebih dulu dan kalau engkau belum puas, kaulanjutkan sendiri pesta ini,"

Katanya sambil bangkit sendiri. Han Houw tertawa bergelak dan mengangkat cawan yang penuh arak.

"Ha-ha-ha, engkau sudah ingin tidur? Bagus, bagus, dan selamat Liong-te, selamat bersenang-senang, ha-ha-ha!"

Sin Liong memandang kakak angkatnya dengan alis berkerut, tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakaknya itu.

Akan tetapi Han Houw hanya tertawa sambil merangkul pinggang seorang di antara empat orang gadis cantik yang berpakaian serba merah, maka diapun mengira bahwa kakak angkatnya itu sudah mabuk.

Dia tersenyum, menggeleng kepala lalu membalikkan tubuhnya meninggalkan ruangan itu untuk pergi ke kamar yang sudah disediakan (Lanjut ke

Jilid 30) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 untuknya.

Dia tidak tahu bahwa empat orang yang berpakaian serba hijau, saling pandang, tersenyum lalu merekapun membayanginya dari jauh.

Karena terlalu banyak minum, Sin Liong segera melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan tanpa membuka pakaian atau sepatunya.

Kepalanya terasa pening dan tubuhnya panas.

Tiba-tiba dia terkejut karena biarpun dia pening dan mengantuk, namun pendengarannya masih tajam sekali dan sedikit gerakan di pintu itu cukup membuat dia terkejut dan menoleh.

Dia terbelalak heran ketika melihat empat orang gadis berpakaian serba hijau yang tadi melayaninya makan minum, kini memasuki kamarnya itu dan gadis terakhir menutupkan pintu kamar.

Mereka itu tersenyum-senyum memandang kepadanya dengan sikap amat genit.

"Hee! Mau apa kalian masuk ke sini...?"

Sin Liong sudah bangkit duduk dan menegur dengan gugup.

Empat orang pelayan yang muda dan cantik-cantik itu amat genit dan tadi ketika melayaninya makan minum sudah membuat dia bingung dan gugup sehingga dia tidak dapat menolak mereka yang ikut Han Houw membujuknya sehingga dia minum terlalu banyak.

Empat orang itu tertawa cekikikan mendengar pertanyaan ini, dan mereka lalu mulai menanggalkan pakaian luar mereka!

Seorang di antara mereka berkata dengan sikap genit.

"Ah, kongcu..., masih bertanya mau apa? Hik-hik, apapun mau asal kongcu yang menyuruh...! Kami berempat memang ditugaskan untuk melayanimu, kongcu..."

Sepasang mata Sin Liong makin terbelalak ketika dia melihat betapa empat orang wanita itu kini memakai pakaian dalam yang tipis berwarna hijau muda sehingga terkena sorotan lampu, nampak lekuk lengkung tubuh mereka membayang di balik pakaian dalam yang tipis itu.

"Tidak..., tidak...! Kalian layani saja Houw-ko..."

"Ahhh, kongcu tidak usah khawatir. Pangeran sudah ada yang melayani, yaitu empat orang gadis berpakaian merah tadi. Kami bertugas melayanimu, kongcu, dan kami beruntung sekali karena kami merasa lebih senang melayanimu..."

"Eh, mengapa?"

Sin Liong merasa heran mendengar bahwa mereka ini lebih senang melayaninya daripada melayani Han Houw.

"Hik-hik, karena... semua orangpun dapat melihat bahwa kongcu adalah seorang perjaka tulen..."

Wajah Sin Liong menjadi merah dan jantungnya berdebar keras ketika melihat empat orang gadis cantik itu dengan langkah memikat menghampirinya, lenggang mereka seperti empat orang penari.

"Mari kubantu kongcu menanggalkan pakaian. Hawanya begini panas..."

"Biar kupijit badanmu, kongcu, engkau tentu lelah..."

"Kongcu hendak minum apa?"

"Aku yang akan mengipasimu, kongcu..."

Akan tetapi Sin Liong meloncat menghindarkan mereka.

"Aku... aku... mau mencari hawa sejuk..."

Katanya gagap dan seperti orang takut setan pemuda ini lari keluar dari kamar itu.

Tentu saja empat orang gadis itu melongo, saling pandang lalu tertawa cekikikan.

Sikap pemuda itu malah menimbulkan gairah di hati mereka karena jelaslah bahwa pemuda itu belum pernah berdekatan dengan wanita, dan hal ini amat menarik hati mereka.

Sambil tertawa-tawa mereka menyambar pakaian luar mereka, memakainya kembali dan mereka lalu keluar dari kamar, cekikikan dan berlumba untuk mencari pemuda itu.

Tiba-tiba muncullah Han Houw dan dia lalu berbisik-bisik dengan mereka, seperti orang yang mengatur siasat dan disambut oleh empat orang pelayan itu dengan tertawa geli.

Sementara itu, Sin Liong melarikan diri ke dalam taman dengan jantung berdebar tegang.

Tubuhnya penuh keringat karena pengalaman tadi membuat dia menjadi tegang sekali, Dia sudah mengenal taman ini siang tadi dan tahu bahwa di situ terdapat sebuah telaga buatan kecil yang airnya jernih.

Taman itu sunyi, dan di bagian telaga kecil itu amat indahnya.

Bulan malam itu bersinar terang dan cahayanya membuat permukaan air telaga kuning keemasan.

Air sedemikian heningnya sehingga bulan seperti tenggelam di dasarnya, tersenyum kepadanya.

Ketika Sin Liong berdiri di tepi telaga memandang, bulan yang bundar itu membentuk wajah.

Wajah yang berubah-ubah, wajah keempat orang pelayan wanita tadi yang kini tersenyum memikat kepadanya.

Dia bergidik, biarpun tubuhnya terasa gerah.

Sin Liong mengusir semua bayangan itu dengan duduk di tepi telaga yang sunyi dan menujukan pikirannya kepada pelajaran ilmu yang pernah dilatihnya di bawah bimbingan dan petunjuk Ouwyang Bu Sek.

Di antara ilmu yang didapatinya di dalam kitab pemberian guru mereka yang pernah dilihatnya, yaitu Bu Beng Hud-couw, terdapat ilmu samadhi untuk menghimpun tenaga Im-kang dan waktunya tepat sekali pada saat itu.

Ilmu itu harus dilakukan dengan cara merendam diri dalam air, di bawah sinar bulan purnama.

Dan saat itu bulan purnama, dan di depannya terdapat air telaga yang bening dan jernih.

Dia akan dapat melakukan ilmu "menyedot dan menghimpun hawa Im"

Dengan sebaiknya.

Apalagi dia memang sedang merasa panas, dan latihan itu dapat mengusir gangguan bayangan empat orang wanita tadi yang telah mengejarnya!

Karena taman itu sunyi dan tidak kelihatan ada seorangpun kecuali dirinya, Sin Liong tidak ragu-ragu lagi lalu menanggalkan semua pakaiannya, dan dengan hati-hati dia lalu turun ke dalam air telaga.

Air yang sejuk sekali menyambutnya dan dia merasa segar sekali.

Dia terus melangkah ke tengah telaga di mana airnya mencapai perutnya dan ketika dia duduk bersila, air merendam tubuhnya sampai ke leher.

Mulailah Sin Liong bersamadhi dan mengatur napas menurut pelajaran dalam kitab ciptaan Bu Beng Hud-couw dan mulailah dia menghimpun tenaga dari hawa Im yang berlimpahan bersama dengan sinar bulan purnama memenuhi telaga itu!

Dia segera merasa betapa hawa yang amat dingin itu meresap ke dalam tubuhnya, bergerak-gerak di dalam pusar karena hawa di dalam tubuhnya siap menolak hawa Im yang amat kuat itu.

Namun dengan menurutkan petunjuk pelajaran itu dia tidak menolak, melainkan menghimpun dan menerima.

Mula-mula memang tubuhnya menggigil, akan tetapi makin lama hawa dingin itu makin berkurang dan dia mulai merasa nyaman sehingga kalau dia tidak waspada, dia dapat tertidur dan akibatnya tentu akan berbahaya sekali baginya.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa cekikikan yang amat mengejutkan hati Sin Liong dan dia terbelalak memandang ke tepi telaga di mana empat orang pelayan cantik tadi telah berdiri sambil tertawa-tawa dan mereka itu mulai menanggalkan pakaian mereka dengan cepat!

Kini bukan hanya pakaian luar yang mereka tanggalkan, melainkan berikut pula pakaian dalam sehingga mereka itu semua berbugil!

"Aihhh, kongcu mandi mengapa tidak mengajak kami?"

"Mari kugosokkan punggungmu, kongcu."

"Kongcu, kau ajari aku renang, hi-hik!"

Tiga orang sudah terjun dan sambil tertawa-tawa, menghampiri dan mengurung Sin Liong, bersiram-siraman air dengan tangan mereka sambil tertawa-tawa.

Orang ke empat sudah tergesa-gesa menanggalkan pakaian untuk terjun pula.

Empat orang wanita itu makin geli tertawa ketika melihat keadaan Sin Liong.

Memang lucu sekali keadaan pemuda ini.

Dia bengong dan tetap mendekam dalam air, tidak berani bergerak sama sekali!

Dia bertelanjang bulat, bagaimana dia berani bergerak?

Kalau dia melarikan diri, tentu ketelanjangannya akan terlihat orang!

Akan tetapi berdiam saja di situ juga tidak mungkin.

Empat orang wanita itu telah mendekatinya, bahkan mulai meraba-raba sambil tertawa-tawa.

"Jangan... pergilah kalian... pergilah..."

Dia berkata gagap, akan tetapi empat orang itu makin geli tertawa-tawa, memperlihatkan dada mereka yang terbuka dan melakukan gerakan-gerakan memikat di depan Sin Liong sehingga pemuda ini memejamkan mata agar tidak melihat semua pemandangan itu.

"Aihh, kongcu, mengapa malu-malu?"

"Malu-malu kucing, hi-hik..."

"Kongcu, berilah cium padaku..."

Sin Liong tidak dapat bertahan lagi.

Dia membuka kedua matanya dan tiba-tiba kedua tangannya bergerak.

Air terpercik ke sekelilingnya.

"Aduhhh...!"

"Ah, mataku..."

Empat orang wanita itu menjerit dan menggunakan kedua tangan menutupi muka dan mereka memejamkan mata karena percikan air itu seperti jarum-jarum saja menusuki muka mereka!

Mereka hanya merasakan air bergerak kuat kemudian sunyi.

Ketika akhirnya mereka berani membuka mata, ternyata pemuda yang tadi merendam diri bertelanjang di antara mereka itu telah lenyap.

Demikian pula tumpukan pakaian pemuda itu di tepi telaga telah lenyap pula!

Dengan kecewa dan juga terheran-heran empat orang gadis cantik itu keluar dari dalam telaga.

Muncullah Han Houw dan dengan kecewa pula dia berkata.

"Ah, kalian sungguh bodoh! Mengapa kalian tidak memeganginya dan tidak berhasil menundukkannya? Tolol!"

Dan dengan gemas pangeran inipun pergi dari situ, kembali ke dalam kamarnya.

Dia merasa amat penasaran karena belum juga dapat berhasil menggoda adik angkatnya itu.

Selama adik angkatnya itu dapat bertahan dan tinggal menjadi seorang perjaka, dia akan selalu merasa "kalah"

Dan hal ini amat tidak enak baginya.

Dia tidak mau kalah, dalam hal apapun juga.

Dan kalau dia sudah berhasil menemukan guru adik angkatnya itu, diapun tidak akan mau kalah dalam hal ilmu silat.

Akan tetapi sekarang, dia tidak saja kalah dalam ilmu silat, bahkan kalah pula dalam keteguhan hati mempertahankan kemurnian dirinya.

Dia hanya menang dalam kedudukan dan pangeran ini mulai merasa menyesal dan kecewa.

Sementara itu, ketika tadi dia menggunakan akal membuat empat orang wanita itu terpaksa menutupi muka mereka, Sin Liong berhasil melarikan diri tanpa mereka lihat dan pada saat dia melarikan diri, dia melihat Han Houw mengintai dari balik sebatang pohon, tidak jauh dari telaga buatan itu!

Hatinya merasa penasaran sekali karena dia dapat menduga bahwa kembali kakak angkatnya itulah yang berusaha untuk menyeret dan menjatuhkannya dalam pelukan wanita-wanita itu!

Mulailah Sin Liong merasa betapa berbahayanya kalau dia melanjutkan perjalanan bersama kakak angkatnya itu.

Ada ketidakcocokan dalam banyak hal di antara mereka, biarpun harus diakuinya bahwa dia merasa suka kepada Han Houw dan mengagumi pangeran itu.

Karena dia merasa marah oleh perbuatan Han Houw yang jelas hendak menyeretnya jatuh ke dalam permainan cinta kotor dengan wanita-wanita itu.

Sin Liong tidak kembali ke dalam kamarnya, melainkan terus melarikan diri pergi dari kota Ceng-lun.

Bahkan kuda tunggangnya tidak diambilnya dan dia melanjutkan perjalanan seorang diri, menggunakan ilmunya berlari cepat melintasi padang pasir dan menyeberangi tembok besar, memasuki daerah selatan.

Dia meninggalkan Han Houw begitu saja!

Sin Liong melakukan perjalanan jauh yang susah payah menuju ke selatan.

Alangkah jauh bedanya dengan ketika dia melakukan perjalanan bersama Han Houw.

Ketika dia melakukan perjalanan bersama pangeran dari selatan, jauh sekali dari selatan, dia dan Han Houw menunggang kuda dan selalu berhenti di kota-kota besar, Disambut dengan penuh kehormatan oleh para pembesar, dijamu dengan hidangan-hidangan lezat, dilayani dan diberi tempat penginapan di kamar istimewa yang bersih dan mewah.

Kini, setelah dia meninggalkan Han Houw di Ceng-lun dan melakukan perjalanan dengan jalan kaki ke selatan, dia melakukan perjalanan seorang diri yang melelahkan, bahkan sering kali kurang makan dan terpaksa dia makan seadanya, malah pernah dia terpaksa minta makan pada keluarga petani yang miskin!

Akhirnya dia tiba di kota raja, tempat yang memang ditujunya.

Dia ingin mencari Kim Hong Liu-nio, wanita yang bukan saja telah membunuh ibu kandungnya, akan tetapi juga yang menyebabkan kematian kakeknya.

Akan tetapi, setelah dia tiba di kota raja, kota yang besar dan ramai itu, mulailah dia merasa bingung.

Ke mana dia harus mencari Kim Hong Liu-nio di tempat ramai dan besar ini?

Dan mulai pula dia bingung karena tidak tahu bagaimana dia harus mencari makan!

Kalau dia berada di dalam hutan, mudah baginya untuk menangkap binatang hutan atau tetumbuhan untuk dimakan, akan tetapi di kota besar seperti kota raja ini, bagaimana dia bisa mendapatkan makan?

Mengemis?

Dia tidak sampai hati untuk mengemis makanan.

Jalan satu-satunya hanyalah bekerja.

Akan tetapi bekerja apakah?

Sin Liong merasa bingung sekali.

Sudah dua hari dia tidak makan dan pagi hari itu, dia berdiri di depan sebuah restoran yang baru saja membuka pintu pintunya.

Dia berdiri di situ karena asap dan uap masakan yang keluar dari rumah makan itu sungguh amat sedap tercium hidungnya, membuat perutnya terasa makin lapar, hampir tak tertahankan lagi.

Sin Liong adalah seorang pemuda yang berwajah tampan.

Pakaiannyapun adalah pakaian yang tadinya amat indah dan mahal, pemberian dari pembesar-pembesar yang menyambut Han Houw.

Biarpun sudah beberapa lama pakaian itu tidak dicuci atau diganti, sudah nampak kotor, namun masih mudah dikenal bahwa pakaian itu tadinya merupakan pakaian mahal.

Oleh karena itu, melihat pemuda ini berdiri bengong di depan rumah makan, majikan rumah makan itu menjadi tertarik.

Dia memandang penuh perhatian dan keheranan.

Kalau pemuda itu seorang kongcu, tentu sudah masuk restoran dan pesan makanan untuk sarapan pagi, akan tetapi kalau seorang tuan muda, biar pakaian dan sepatunya menunjukkan demikian, pakaian itu sudah terlalu kotor.

Sebaliknya, kalau pengemis, tidak pantas pula.

Wajah dan pakaian pemuda itu, juga sikapnya, sama sekali tidak memberi tanda bahwa pemuda itu seorang pengemis.

"Engkau... ada apakah berdiri di situ, orang muda?"

Akhirnya majikan rumah makan itu berdiri di depan pintunya dan bertanya.

Ditegur orang, Sin Liong gelagapan dan dia menelan ludahnya.

"Ah, aku... lapar sekali..."

Hemm, bukan pengemis, pikir majikan rumah makan itu. Kalau pengemis tentu sudah minta-minta.

"Kalau lapar, boleh membeli makanan,"

Pancingnya. Sin Liong makin gelisah.

"Aku... aku tidak punya uang..."

Majikan rumah makan itu mengerutkan alisnya dan memandang dengan teliti dari atas sampai ke bawah.

"Lalu dengan apa engkau akan membayar makanan kalau tidak punya uang?"

Pertanyaan ini seolah-olah membuka kesempatan bagi Sin Liong.

"Lopek, kalau engkau sudi memberi makanan kepadaku, aku dapat membayarnya dengan tenagaku. Aku mau bekerja apa saja untukmu!"

Majikan rumah makan itu mengelus jenggotnya yang jarang dan pendek.

Hemm, orang muda ini tidak kelihatan jahat, sikapnya halus dan tubuhnya kelihatan kuat.

"Kau mau menjadi pelayan?"

"Aku mau!"

"Apakah engkau bisa?"

"Aku dapat mempelajarinya."

"Siapa narnamu, orang muda?"

"Namaku... panggil saja A-sin!"

"Di mana rumahmu?"

"Lopek, harap percaya kepadaku, aku bukan orang jahat. Akan tetapi aku tidak punya rumah, dan akupun tidak mau mengemis. Aku ingin bekerja untuk mendapatkan makan."

Sikap tegas dan gagah ini menarik hati majikan rumah makan itu.

"Sudah berapa hari engkau tidak makan?"

"Sudah dua hari dua malam, dan aku telah melakukan perjalanan jauh sekali."

"Masuklah!"

Sin Liong masuk dan majikan rumah makan itu dengan penuh perhatian memberi hidangan bubur panas kepadanya.

Sin Liong makan dengan lahapnya dan sebentar saja sudah menghabiskan bubur empat mangkok besar!

Setelah selesai makan, pemuda ini lalu bangkit berdiri, menjura kepada pemilik rumah makan sambil berkata lantang.

"Lopek yang baik. Terima kasih atas kebaikanmu, dan sekarang aku mau bekerja untukmu!"

Mulailah Sin Liong bekerja di rumah makan itu.

Mula-mula, dia disuruh membantu tukang masak, mengambil air, membelah kayu, mencuci mangkok piring dan sebagainya.

Karena pemuda itu rajin dan pandai membawa diri, dia disuka dan sebentar saja majikan memberi kepercayaan kepadanya untuk menjadi pelayan.

Wajahnya yang tampan dan usianya yang masih muda itu dianggap memenuhi syarat untuk menjadi pelayan yang baik dan menyenangkan tamu, Dan pekerjaan ini memang menyenangkan hati Sin Liong karena membuka kesempatan baginya untuk bertemu dengan macam-macam orang dan dari percakapan para tamu dia dapat mengetahui keadaan luar dan bahkan dari para tamu yang terdiri dari orang-orang kang-ouw dia mendapat kesempatan untuk mendengar banyak tentang dunia persilatan sehingga dia dapat melakukan penyelidikan mengenai musuh besarnya.

Sampai berbulan-bulan lamanya Sin Liong bekerja sebagai seorang pelayan restoran.

Selama itu, dia tidak pernah lalai untuk melatih ilmu-ilmunya, bahkan dia makin memperdalam ilmu-ilmu aneh yang dipelajarinya dari kitab-kitab ciptaan Bu Beng Hud-couw.

Namun tidak ada seorangpun tahu akan keadaan dirinya ini karena Sin Liong pandai menyembunyikan semua kepandaiannya itu dan dia selalu menjauhkan diri dari urusan yang menimbulkan pertentangan atau keributan.

Dia selalu mengalah sehingga tidak ada orang pernah memusuhinya.

Ketika melayani para tamu yang datang makan di restoran itu, Sin Liong selalu waspada sehingga dia tidak pernah melewatkan percakapan antara tamu yang penting.

Dengan kepandaiannya yang tinggi, dia dapat mempergunakan ketajaman pendengarannya untuk menangkap semua percakapan, biarpun yang dilakukan tamu yang duduk di ujung restoran dan jauh dari tempat dia berdiri sekalipun.

Dengan jalan inilah dia mendengar pula tentang tokoh-tokoh kang-ouw yang berada di kota raja dan sekitarnya.

Bahkan dengan hati kaget dia mendengar pula betapa keluarga mendiang kakeknya di Cin-ling-pai, yaitu Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong telah dicap sebagai pemberontak-pemberontak buruan pemerintah!

Berita ini membuatnya termenung sejenak.

Betapapun juga, seorang diantara mereka, yaitu Cia Bun Houw, adalah ayah kandungnya!

Cerita tentang peristiwa itu selalu memasuki benaknya sungguhpun dia sudah selalu mengusirnya dengan ingatan bahwa ayah kandungnya itu adalah seorang yang tidak baik, yang menyia-nyiakan ibu kandungnya sehingga dia terlahir tanpa ayah dan semenjak lahir tidak pernah ditengok ayahnya!

Pada suatu pagi, rumah makan itu ramai dikunjungi tamu.

Hari itu kebetulan jatuh pada Pik-gwe Cap-go (tanggal lima belas bulan delapan), yaitu merupakan satu di antara hari-hari besar di Tiongkok, karena pada hari tanggal itu orang-orang melakukan sembahyang Tiong-ciu.

Seperti biasa, banyak penduduk di luar kota raja pada hari besar itu berduyun-duyun datang ke kota raja, ada yang hanya berpesiar, Akan tetapi sebagian besar untuk membeli kuih-kuih tiong-cu-pia yang lezat dan juga untuk berbelanja segala macam barang yang tidak bisa mereka dapatkan di dusun-dusun.

Restoran di mana Sin Liong bekerja penuh dengan tamu sehingga semua pelayan menjadi sibuk, bahkan majikan rumah makan itu sendiri ikut pula menyambut tamu di pintu depan dengan wajah berseri gembira karena keramaian itu meramaikan bahwa hari itu akan memperoleh keuntungan yang tidak sedikit.

Empat orang tamu baru memasuki rumah makan itu.

Mereka ini terdiri dari dua orang pemuda dan dua orang gadis, Melihat empat orang muda yang dari pakaiannya saja sudah menunjukkan bahwa mereka orang-orang kaya itu berdiri termangu-mangu dan ragu-ragu karena restoran itu amat penuhnya, majikan restoran itu cepat menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Silakan masuk, ji-wi siocia dan ji-wi kongcu, di dalam masih ada tempat duduk yang kosong. A-sin...! Kau sambutlah tamu-tamu kita ini!"

Teriaknya kepada Sin Liong yang cepat berjalan keluar untuk menyambut tamu-tamu itu seperti yang diteriakkan oleh majikannya.

Begitu melihat empat orang tamu itu, wajah Sin Liong berubah dan jantungnya berdegup tegang.

Cepat dia membungkuk-bungkuk untuk menyembunyikan wajahnya dan dia mempersilakan mereka masuk karena di sudut sebelah dalam memang masih ada meja yang kosong, baru saja ditinggalkan tamu lain dan sudah dibersihkannya.

Dia segera mengenal dua orang gadis itu.

Andaikata dia salah mengenal dua orang gadis itu dan seorang diantara pemudanya, akan tetapi tidak mungkin dia salah mengenal pemuda ke dua itu.

Pemuda itu sudah pasti adalah Beng Sin!

Wajahnya yang bulat, tubuhnya yang gendut, mulut yang seperti selalu tersenyum dan mata yang lucu itu!

Siapa lagi kalau bukan si gendut Beng Sin, seorang di antara keponakan Kui Hok Boan, ayah tirinya?

Dan dua orang gadis itu, yang sukar dibedakan satu antara yang lain, tentulah si kembar Lan Lan dan Lin Lin, adik-adik tirinya!

Dan pemuda tampan gagah itu siapa lagi kalau bukan Siong Bu?

Masih nampak pesolek, angkuh dan gagah saja pemuda itu!

Dan Lan Lan berdua Lin Lin, kini telah menjadi dara-dara remaja yang cantik manis.

Jantung di dalam dada Sin Liong berdebar tegang.

Ingin dia menyapa, akan tetapi teringat bahwa dia hanyalah seorang pelayan restoran, dia menelan kembali seruan yang sudah berada di ujung bibirnya tadi.

Jelas bahwa mereka berempat itu tidak mengenalnya.

Tentu saja tidak mengenalnya.

Dia hanyalah seorang pelayan restoran!

"Tuan-tuan muda dan nona-nona hendak memesan masakan apakah?

Dan minum apa?"

Dia bertanya dengan sikap hormat dan biasa seperti kalau dia melayani para tamu lainnya.

Empat pasang mata memandangnya dan Sin Liong merasa betapa jantungnya makin berdebar.

"Eh, aku pernah melihatmu!"

Tiba-tiba Beng Sin si gendut berseru sambil memandang kepada Sin Liong.

Sin Liong terkejut dan cepat memasang aksi terheran-heran dan segera menekankan gaya bahasa selatan dalam kata-katanya.

"Ah, kongcu tentu keliru mengenal orang. Atau barangkali kongcu pernah makan di sini, tentu saja pernah melihat saya."

"Aku belum pernah makan di sini, baru sekali ini,"

Kata Beng Sin.

"Sudahlah, sekarang hidangkan empat masakan yang paling lezat dari restoran ini!"

"Sin-ko, aku hanya ingin makan bubur ayam saja dan minum secangkir air teh panas,"

Kata Lan Lan.

"Aku juga,"

Sambung Lin Lin.

"Ha-ha, engkau hanya mengingat makanan saja, Sin-te! Kita berangkat dari rumah untuk berbelanja ke pasar kota raja, akan tetapi begitu masuk kota raja engkau memaksa kami masuk restoran untuk makan!"

Siong Bu mencela sambil tertawa.

"Wah, Bu-ko, selagi kita masih hidup, tentu saja kita harus ingat akan makan. Makan merupakan kebutuhan hidup yang pokok, sedangkan berbelanja ke pasar hanya merupakan kesenangan biasa saja. Sesudah makan, baru belanja, dan dapat berbelanja dengan senang karena tidak lagi diganggu perut lapar. Bukankah begitu?"

Lan Lan dan Lin Lin tertawa.

"Bu-ko, sudahlah, berdebat tentang makan melawan Sin-ko, engkau takkan menang!"

Sin Liong melihat dan mendengarkan percakapan antara empat orang muda ini dengan hati berdebar dan penuh keharuan.

Terbayanglah dia akan masak anak-kanak, ketika dia masih berada disamping empat orang ini.

Dia merasa terharu karena ternyata mereka itu tidak berubah, atau yang jelas, Beng Sin sama sekali tidak berubah, masih seperti dulu ketika anak-anak.

Suka makan, jenaka dan gembira!

Dia lalu menyampaikan pesanan mereka ke dapur dan diam-diam dia merasa heran mengapa empat orang itu kini berada di sini.

Agaknya mereka tinggal tidak jauh dari kota raja.

Apakah yang terjadi dengan mereka dan sejak kapan mereka pindah dari utara?

Tentu saja ingin sekali dia bercakap-cakap dengan mereka, akan tetapi karena dia masih menyembunyikan keadaan dirinya, maka dia menahan hatinya dan melayani mereka tanpa membuka suara.

Akan tetapi, setelah empat orang muda itu selesai makan dan meninggalkan restoran dengan sikap gembira, Sin Liong cepat mendekati majikannya dan tiba-tiba dia mengeluh dan terhuyung-huyung.

Majikannya terkejut sekali dan cepat memegang lengannya.

"Eh, kau kenapa, A-sin?"

Tanyanya, akan tetapi melihat A-sin menjadi pucat sekali wajahnya dan tubuhnya terasa panas bukan main, dia segera memanggil pelayan yang lain dan dipapahlah A-sin memasuki kamarnya.

A-sin segera jatuh pingsan!

Majikannya tentu saja menjadi bingung, akan tetapi pada saat majikannya hendak suruhan orang memanggil tabib, Sin Liong "siuman"

Kembali dan berkata lemah.

"Tidak usah memanggil tabib... mungkin hanya masuk angin... asal saya diperbolehkan rebah mengaso, tentu akan segera sembuh..."

Majikannya tentu saja membolehkan dia mengaso dalam kamarnya.

Melihat bahwa Sin Liong tidak begitu payah lagi, majikannya dan pelayan lain lalu keluar lagi karena restoran amat sibuknya pada waktu itu.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Sin Liong yang tadi hanya mempergunakan ilmunya untuk membikin dirinya pucat dan panas, untuk menutupkan daun pintu dari dalam, kemudian dia meloloskan diri tanpa diketahui siapapun melalui genteng rumah!

Tak lama kemudian dia telah berada di dalam pasar dan membayangi empat orang muda tadi yang sedang berbelanja.

Mereka membeli pakaian dan segala macam barang lain, dan lagak mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang muda yang membawa bekal uang cukup banyak.

Seperti biasa di tempat-tempat ramai pada waktu-waktu ramai dikunjungi oleh orang-orang dusun yang hendak berbelanja, di pasar itupun terdapat banyak kaum pencopet!

Mereka inipun "berpesta"

Karena banyak terdapat korban-korban yang berkantong tebal dan yang bersikap agak lalai, yaitu orang-orang dusun yang membawa banyak uang.

Ketika Sin Liong membayangi empat orang muda itu dari jauh, diapun melihat beberapa orang jembel muda berseliweran di tempat itu.

Dia mengenal mereka itu sebagai pengemis-pengemis yang kadang-kadang suka datang ke belakang restoran dan minta sisa-sisa makanan.

Dia selalu merasa kasihan kepada mereka, karena dia menganggap mereka itu sebagai orang-orang muda yang patut dikasihani, yang terlantar dan hidup mengandalkan betas kasihan orang.

Dia kadang-kadang bergidik membayangkan dirinya sampai terpaksa minta-minta makanan seperti mereka itu, maka timbullah rasa iba di dalam hatinya dan kadang-kadang dia rajin mengumpulkan sisa-sisa makanan para tamu untuk dibagi-bagikannya kepada mereka yang sudah menanti di pintu belakang.

Kini Sin Liong menyaksikan kenyataan yang membuatnya terbelalak penuh keheranan!

Sekumpulan pengemis muda itu ternyata kini melakukan pekerjaan yang lain sama sekali.

Mereka kini menggunakan kecepatan gerak tangan dan gerak isyarat memberi tanda satu kepada yang lainnya untuk mencopet!

Dan dia melihat betapa para pengemis yang menjadi "langganan"

Restoran di mana dia bekerja itu kini dipimpin oleh seorang gadis muda berbaju biru yang amat lincah!

Gadis itu usianya baru lima belas atau enam belas tahun, namun jelas kelihatan amat berwibawa di antara para pengemis muda itu!

Biarpun gadis itu sendiri tidak melakukan sesuatu, namun semua pengemis muda taat dan tunduk kepadanya, memperhatikan isyarat-isyarat yang dilakukan gadis ini dengan jari-jari tangan atau kerling matanya!

Dan kini, jelas nampak oleh Sin Liong betapa gadis itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya untuk "mengerjakan"

Beng Sin dan tiga orang temannya!

Gadis itu membawa sebuah keranjang yang penuh sayur-sayuran.

Dengan langkah ringan dan lemah gemulai, gadis itu berjalan dan ketika tiba di rombongan Beng Sin, tiba-tiba saja gadis pembawa keranjang sayuran itu mengeluh dan kakinya tersandung lalu dia terhuyung ke depan, menabrak Beng Sin!

"Eh, eh...

hati-hatilah, nona..."

Beng Sin yang gemuk itu ternyata dapat bergerak cepat sekali dan dia sudah berhasil menangkap lengan nona itu sehingga nona itu tidak sampai jatuh, sungguhpun keranjang sayurannya terlempar dan sayurnya berantakan.

Beberapa orang pengemis muda ikut membantu mengumpulkan sayuran yang berhamburan dan untuk beberapa lamanya tempat itu menjadi ribut karena kerumunan banyak orang.

Sin Liong terkejut sekali ketika melihat betapa gadis yang terjatuh tadi, bersama beberapa orang pengemis mempergunakan kesempatan itu untuk menjambret beberapa buntalan barang belanjaan empat orang muda itu, bahkan gadis baju biru yang mukanya berlepotan lumpur dan yang tadi membawa keranjang dan terjatuh, dengan gerakan lihai bukan main, cepat seperti kilat menyambar telah berhasil menyambar kantung uang dari pinggang Beng Sin!

Sin Liong melihat betapa cepatnya gadis itu menyambar kantung, menggunakan sebatang pisau kecil yang amat tajam memotong tali kantong dari gantungannya dan dalam sekejap mata saja kantung itu telah lenyap ke balik bajunya!

Sin Liong dapat melihat hal ini dengan jelas, dan dia sudah menggerakkan kaki hendak maju dan menangkap para pencopet itu.

Akan tetapi ketika gadis itu menoleh kepadanya dan memandangnya dengan sepasang mata yang bening dan bersinar-sinar, seolah-olah sepasang mata itu bicara kepadanya, mohon agar dia jangan mencampurinya, dan terutama sekali karena teringat bahwa mereka adalah para pengemis yang hidupnya kekurangan, ada sesuatu yang menahan Sin Liong dan membuat dia tidak jadi bergerak.

Apalagi karena diapun tidak ingin memperkenaikan diri kepada empat orang muda itu.

Maka dia hanya memandang dan menahan senyum ketika gadis itu pergi menyelinap di antara orang banyak dalam pasar bersama teman-temannya dan tak lama kemudian terdengar ribut-ribut ketika Beng Sin dan saudara-saudaranya merasa kehilangan.

"Keparat! Berani benar mengganggu kami?"

Beng Sin mencak-mencak dan mengepal tinju, akan tetapi dia hanya menjadi tontonan orang karena dia sendiri tidak tahu kepada siapa dia harus marah-marah.

Akhirnya empat orang muda itu meninggalkan pasar dan kembali ke tempat tinggal mereka.

Mereka tidak tahu bahwa sejak tadi Sin Liong membayangi mereka sampai mereka tiba di sebuah dusun yang terletak tidak jauh dari kota raja, di sebelah barat kota raja.

Setelah mengetahui di mana tempat tinggal mereka, yaitu di sebuah rumah besar di dusun itu, Sin Liong lalu mencari keterangan di dusun itu, dan mendengar bahwa Kui-wangwe (hartawan Kui) telah beberapa tahun tinggal di tempat itu, memiliki banyak sawah dan menjadi tuan tanah paling kaya di dusun itu!

Setelah merasa puas karena dapat menemukan tempat tinggal keluarga Kui itu, Sin Liong lalu cepat kembali ke rumah makan dan siang hari itu juga dia sudah dapat membantu lagi pekerjaan di rumah makan, sehingga majikannya merasa senang.

Beberapa hari kemudian, ketika pada suatu sore Sin Liong sedang mencuci mangkok piring di bagian belakang restoran itu, dan membuangi sisa makanan ke dalam keranjang sampah, terdengar seruan orang dari luar pintu belakang.

"Heh, bung A-sin, kenapa kau buangi sisa makanan itu? Berikan kepada kami...!"

Mendengar suara ini, Sin Liong menengok dan dia melihat tiga orang pengemis muda berlarian mendatangi sambil membawa kaleng mereka yang biasanya mereka pergunakan untuk menampung sisa-sisa makanan yang masih baik.

Akan tetapi sekali ini, tidak seperti biasanya, Sin Liong dengan gerakan marah lalu membuang sisa-sisa makanan ke dalam keranjang sampah sehingga tiga orang pengemis muda itu tertegun dan memandang heran.

"Bung A-sin, kenapa kau buang?"

Mereka terkejut karena biasanya, A-sin ini merupakan seorang di antara pelayan yang bersikap paling ramah dan baik kepada mereka.

Sin Liong mengerutkan alisnya dan memandang mereka dengah sikap marah.

"Perlu apa kalian mencari sisa makanan? Bukankah sekarang kalian mampu membeli masakan-masakan yang mahal?"

Tiga orang pengemis muda itu saling pandang, lalu seorang di antara mereka bertanya.

"Eh, saudara A-sin, apa maksudmu dengan kata-kata itu? Kami tidak mengerti."

"Hemm, perlukah kalian berpura-pura lagi? Atau apakah kalian begitu royal membuang hasil kalian seperti pasir sehingga dalam waktu empat hari saja harus mengemis lagi?"

Tiga orang itu mengerutkan alis.

"Saudara A-sin, apa maksudmu?"

Kini Sin Liong menjadi makin marah dan membentak.

"Sudahlah! Kau kira tidak ada yang tahu ketika kalian melakukan pencopetan-pencopetan di pasar? Tak tahu malu!"

Tiga orang itu saling pandang dan wajah mereka berubah, kelihatan ketakutan dan tanpa berkata apa-apa lagi mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Sin Liong juga diam saja, di dalam hatinya merasa menyesal sekali.

Biasanya dia merasa kasihan kepada pengemis-pengemis muda itu, merasa senasib dengan mereka.

Akan tetapi melihat mereka menjadi pencopet-pencopet di pasar, perasaan kasihan di hatinya kini berubah menjadi sebal dan tak senang.

Keadaan lahir tidak selalu mencerminkan batin, pikirnya.

Pengemis-pengemis muda yang menimbulkan rasa iba itu ternyata hanyalah penjahat-penjahat kecil yang tidak patut dikasihani!

Malam hari itu setelah restoran tutup, Sin Liong rebah di dalam kamarnya dan melamun.

Sudah lama juga dia bekerja di restoran itu, sudah hampir setengah tahun!

Selama itu, tidak pernah dia lalai utnuk melatih ilmu-ilmunya dan dia kini merasa sudah cukup kuat untuk menghadapi orang yang selama ini dicari-carinya, yaitu Kim Hong Liu-nio!

Selama ini dia sudah menyelidiki dan mendengar-dengar berita di antara para tamu restoran dan dia tahu bahwa Kim Hong Liu-nio, sebagai utusan atau wakil dari Raja Sabutai, merupakan orang penting juga di kota raja bahkan kabarnya merupakan orang kepercayaan dalam istana.

Jelaslah bahwa dia akan dapat mencari wanita pembunuh ibunya itu di kota raja ini, dan agaknya di dalam istana.

Kalau perlu dia akan mencari ke dalam istana!

Tiba-tiba Sin Liong bangkit duduk.

Pendengarannya yang amat tajam dan terlatih itu menangkap gerakan kaki manusia di atas genteng rumah!

Gerakan kaki yang ringan terlatih, akan tetapi tidak cukup ringan baginya sehingga masih menimbulkan suara yang terdengar olehnya.

Sekali tiup, lilin di atas mejanya padam dan dengan hati-hati sekali Sin Liong lalu keluar dari dalam kamarnya melalui jendela.

Setelah menyelinap dengan gerakan cepat akhirnya Sin Liong meloncat naik ke atas genteng dan mengintai gerak-gerik bayangan orang yang berada di atas genteng.

Ketika sinar bulan menerangi wajah bayangan yang bertubuh langsing itu, dia terkejut.

Kiranya bayangan itu adalah gadis berbaju biru, pemimpin para tukang copet di pasar!

Atau lebih tepat lagi, gadis yang memimpin para pengemis muda menjadi pencopet!

Mau apa dia berkeliaran di sini?

Apakah selain mencopet, gadis ini juga biasa melakukan pekerjaan sebagai maling?

Akan tetapi, gadis itu tidak kelihatan membawa senjata tajam dan dia kagum juga menyaksikan gerakan yang tetap dan ringan itu, tanda bahwa gadis itu telah mempelajari ilmu silat yang lumayan tingginya.

Dia melihat gadis remaja itu ragu-ragu dan tiba-tiba gadis itu mendekam.

Sin Liong juga menoleh karena pada saat itu terdengar suara orang bernyanyi dengan suara serak, lalu nampak seorang laki-laki gendut berjalan sempoyongan di belakang rumah makan yang sudah tertutup itu.

Sin Liong mengenal laki-laki itu yang bukan lain adalah A-tong, pembantu tukang masak yang perutnya gendut.

Selain ahli masak dan gembul makan sehingga perutnya gendut, A-tong terkenal sebagai seorang laki-laki yang suka berpacaran dan minum sampai mabuk, pikir Sin Liong yang merasa geli melihat gadis itu terkejut mendengar nyanyian serak itu.

Akan tetapi Sin Liong menjadi terkejut ketika melihat gadis itu tiba-tiba bangkit berdiri, kemudian melayang turun dengan gerakan seperti seekor burung kenari saja ringannya.

Sin Liong cepat membayanginya dan siap untuk menolong si gendut karena agaknya gadis itu hendak menyerang si gendut!

Namun, dengan waspada Sin Liong melihat bahwa serangan gadis itu hanya untuk menotok saja, bukan untuk mencelakai, maka diapun diam saja, hanya mengamati dari balik pohon, dia turun tangan kalau gadis aneh itu berniat jahat.

"Uhhh...!"

A-tong tertotok pundaknya dari belakang dan roboh dengan lemas, akan tetapi sebelum roboh, gadis itu sudah mencengkeram pundaknya dan menghardik dengan suara dibesar-besarkan, seperti suara laki-laki akan tetapi kedengarannya lucu sekali.

"Hemmm... aku adalah setan penunggu kebun ini...!"

Hardiknya dengan suara menggeram, Sin Liong yang mendengarkan ini, menjadi geli.

Apa maunya dara itu bermain-main seperti itu?

Apakah gadis itu miring otaknya?

Dan dia makin geli melihat tubuh gendut yang lemas dan tidak dapat menengok ke belakang itu menggigil ketakutan.

"Ampun... ampunkan saya... Pek-kong...!"

A-tong mengeluh, dalam keadaan setengah mabuk dia percaya bahwa dia telah dicengkeram oleh setan!

"Hemm...

aku dapat ampunkan kau akan tetapi beri tahu di mana kamarnya si A-sin pelayan itu?"

Diam-diam Sin Liong makin geli akan tetapi juga terkejut dan heran.

Kiranya gadis itu mencari dia!

"Ehh...

A-sin...

A-sin...

kamarnya di ujung kanan itu...

harap ampun..."

"Plak!"

Gadis itu mengetuk tengkuk A-tong yang mengeluh dan terguling roboh.

Sin Liong makin geli karena dia tahu bahwa tamparan itu tidak melukai, akan tetapi saking takutnya A-tong sudah jatuh pingsan.

Cepat dia meloncat dan di lain saat dia sudah memasuki kamarnya melalui jendela, kemudian dia melepas sepatunya dan rebah di atas pembaringan, terdengar suara dengkurnya tanda bahwa dia sudah tidur pulas!

Dengan menahan geli hatinya, Sin Liong mendengar betapa jendela kamarnya yang tadinya dipalangnya dari dalam itu perlahan-lahan digerayangi dan dibuka orang!

Kagum juga dia karena agaknya tidak makan waktu terlalu lama bagi gadis itu untuk dapat membuka daun jendelanya.

Agaknya gadis inipun ahli dalam ilmu membuka-buka daun pintu dan jendela rumah orang dari luar!

Hening sejenak setelah daun jendela terbuka, kemudian sesosok bayangan yang gesit meloncat masuk.

Kakinya hanya menimbulkan sedikit suara saja ketika menyentuh tanah, seperti lompatan seekor kucing!

Gadis ini mau apa setelah menemukan kamarnya, pikir Sin Liong.

Mau membunuhnya?

Agaknya tidak, karena selain gadis itu tidak kelihatan jahat seperti terbukti ketika memaksa A-tong mengaku, juga tidak membawa senjata.

Lalu mau apa?

Jantung dalam dada Sin Liong berdebar dan tiba-tiba dia memejamkan matanya ketika melihat sinar api.

Gadis itu menyalakan lilin di atas meja!

Dan tiba-tiba, dengan gerakan cepat juga, gadis itu sudah meloncat ke dekat pembaringannya dan dengan tangannya siap untuk menotoknya seperti yang dilakukannya tadi kepada A-tong!

Akan tetapi dia diam saja, pura-pura tidur.

"Heh, A-sin bangun kau!"

Terdengar gadis itu membentak halus dan jari-jari tangan yang kecil halus itu mencengkeram pundak Sin Liong dan mengguncangnya!

Sin Liong pura-pura kaget, akan tetapi tiba-tiba dia kelihatan ketakutan ketika pundaknya dicengkeram makin kuat.

"Diam jangan bergerak atau bersuara! Kalau berteriak, kubunuh kau!"

Bentak gadis itu.

"Eh... ehhh... kabarnya Giam-lo-ong itu pria, akan tetapi... kenapa ada Giam-lo-ong wanita...?"

Sin Liong pura-pura gugup dan terheran-heran, terbelalak memandang wajah yang kini tidak lagi berlepotan lumpur dan kelihatan manis nampak remang-remang di bawah sinar lilin yang lemah.

"Kau ngaco-belo apa? Siapa Giam-lo-ong?"

Gadis itu juga menjadi heran dan membentak lirih.

"Kau bukan Giam-lo-ong? Mengapa mau mencabut nyawaku?"

Sin Liong bersikap ketolol-tololan.

"Huh, ceriwis kau! Cerewet kau! Awas, kau lihat baik-baik ini!"

Setelah berkata demikian, gadis itu menengok ke kanan kiri dalam kamar.

Melihat sebuah sapu dengan gagang kayu sebesar lengan orang, dia lalu mengambil dan dengan sekali tekuk menggunakan kedua tangannya, gagang sapu itupun patah dan dilemparkannya ke atas lantai.

Sin Liong terbelalak dan bersikap ketololan.

"Eh, eh... apa dosanya sapu itu? Kenapa kau patahkan gagangnya? Wah, celaka, kau bikin aku susah, harus membuatkan gagang baru...!"

Gadis itu kelihatan gemas.

Dia mendemonstrasikan kekuatannya untuk membikin takut pemuda tolol ini, si pemuda bukannya takut akan kekuatannya, malah mengomel karena gagang sapunya patah!

"Goblok!

Kau bernama A-sin?"

"Benar, dan kau siapa, kenapa masuk kamarku? Apa kau babu baru di sini?"

"Cerewet! Aku datang untuk memperingatkanmu, mengerti? Dan kau harus taat kepadaku, kalau tidak, lehermu akan kupatahkan seperti gagang sapu tadi!"

"Wahhh... kau galak... mengerikan..."

Sin Liong bangkit duduk dan meraba lehernya.

"Nah, kau takut padaku, bukan?"

Sin Liong menggeleng kepala.

"Apa?"

Gadis itu mengerutkan alisnya dan menarik muka serem, akan tetapi akibatnya menjadi tambah manis dan jauh daripada mengerikan.

"Kau tidak takut padaku?"

Sin Liong menggeleng kepala.

"Ketiapa mesti takut?"

"Karena aku menakutkan!"

"Tidak, kau tidak menakutkan sama sekali..."

"Aku ingin kau takut!"

"Wah, kau ini aneh. Eh, nona cilik..."

"Aku tidak cilik lagi!"

"Baiklah, nona gede, dengarkan. Apa kau suka menggigit?"

"Ehhh? Menggigit...? Wah, kau mau kurang ajar, ya? Porno, ya?"

"Lhoh! Mengapa kurang ajar? Aku tanya apakah kau suka menggigit maka kau ingin aku takut padamu. Kau tidak suka menggigit, bukan?"

"Gila kau! Aku anak perempuan masa menggigit, menggigit apamu?"

Bentak gadis itu jengkel.

"Ya menggigit apaku, boleh kau pilih, akan tetapi aku tidak takut padamu. Habis, kau tidak menakutkan, sih!"

Gadis itu kini menyambar paku yang menancap di dinding, paku yang dipergunakan oleh Sin Liong untuk menggantungkan pakaiannya.

Dicabutnya paku itu dengan jari tangannya, kemudian didepan mata Sin Liong, dia menggunakan jari-jari tangannya untuk menekuk-nekuk paku itu!

Sin Liong memandang dan membelalakkan matanya penuh keheranan.

Dengan puas dan bangga, sedikit membusungkan dadanya yang masih belum terlalu besar itu, gadis itu mendengus.

"Huh, sekarang kau takut padaku? Lihat kekuatan tanganku!"

"Eh, apakah kau main sulap? Wah, kalau kau bermain sulap seperti itu besok siang di depan restoran, tentu banyak orang suka membayar..."

"Sulap hidungmu!"

Gadis itu makin marah.

Kiranya tolol benar orang yang namanya A-sin ini!

Sin Liong yang sudah bangkit duduk itupun pura-pura marah.

"Dengar kau, nona cilik... eh, gede! Mau apa kau memasuki kamarku? Anak perempuan masuk kamar anak laki-laki! Cih, tak tahu malu!"

"Dengarkan kau, bocah tolol! Buka telinga keledaimu lebar-lebar! Aku adalah pimpinan anak-anak miskin di kota raja dan kalau kau banyak membantah, sekali tampar aku akan dapat membikin nyawamu melayang! Sore tadi engkau telah menghina anak buahku, mengatakan mereka mencopet! Awas, kalau kau berani berkata kepada siapapun tentang itu, kalau sampai ada anak buahku yang ditangkap polisi, aku akan datang lagi dan akan kupatahkan batang lehermu. Atau akan kubuat kepalamu seperti ini... crokkk!"

Gadis itu menggunakan tiga jari tangannya menusuk meja dan...

papan kayu meja itu tembus berlubang oleh tiga jari yang kecil mungil itu!

Sin Liong pura-pura terkejut dan membelalakkan matanya, di dalam hatinya dia memang kagum juga, bukan hanya kagum akan kelihaian gadis ini, melainkan akan keberaniannya dan juga sikapnya yang membela kawan.

"Nah, kau mengerti? Jangan bilang siapapun juga atau aku akan kembali!"

"Siapakah namamu, nona?"

Gadis yang sudah hendak pergi itu membalik lagi dan memandang dengan sepasang matanya yang bening dan tajam.

"Mau apa kau tanya-tanya namaku segala?"

"Lhoh, nona sudah tahu namaku, akan tetapi aku belum mengenal nona. Bukankah kita sudah saling mengenal dan sudah sepatutnya aku mengenal namamu?"

Diam-diam gadis itu merasa jengkel akan tetapi juga geli menyaksikan ketololan ini.

Betapapun juga, dia merasa kagum akan keberanian bocah tolol yang wajahnya tampan ini!

"Semua anak miskin di sini mengenal Kim-gan Yan-cu!"

Setelah berkata demikian, dia meloncat keluar dari jendela dan keadaan di situ menjadi sunyi kembali.

Sin Liong masih termenung, duduk di atas pembaringannya.

"Kim-gan Yan-cu (Walet Mata Emas)?"

Dan dia makin geli.

Anak perempuan itu hebat!

Sayang semuda itu sudah menjadi kepala jembel, kepala copet dan agaknya menjadi jagoan penjahat!

Semalam dia tidak dapat tidur lagi.

Wajah anak perempuan itu terus terbayang olehnya dan dia merasa seperti telah mengenal gadis itu semenjak lama sekali.

Wajah itu tidak asing sama sekali!

Sinar mata itu!

Sin Liong masih mengantuk karena kurang tidur ketika pada keesokan harinya dia sudah harus bekerja lagi melayani tamu-tamu yang datang untuk sarapan pagi.

Tiba-tiba muncul beberapa orang perajurit berkuda yang berhenti di depan restoran dan dengan suara galak memerintahkan majikan restoran untuk bersiap-siap melayani seorang pembesar yang ingin sarapan di restoran itu.

Majikan restoran menjadi gugup dan segera mengerahkan anak buahnya untuk membersihkan meja-meja dan siap melayani pembesar dengan para pengikutnya, yang menurut para perajurit pengawal yang datang terlebih dahulu adalah seorang pembesar dari luar kota raja yang datang berkunjung ke kota raja.

Majikan restoran menyuruh para pembantunya untuk cepat-cepat bertukar pakaian bersih dan dia sendiripun sibuk keluar masuk untuk mempersiapkan segala sesuatunya.

Kunjungan seorang pembesar pada sebuah rumah makan merupakan peristiwa besar dan menegangkan bagi pemiliknya, karena peristiwa itu dapat mengakibatkan berbagai kemungkinan, yang baik maupun yang buruk!

Tak lama kemudian, sebuah kereta berhenti di depan rumah makan dan turunlah seorang laki-laki berpakaian pembesar dari kereta itu, kemudian dengan iringan para pembantu dan pengawalnya, rombongan itu memasuki restoran, disambut dengan penuh kehormatan oleh majikan restoran, sedangkan para pelayan, termasuk Sin Liong, hanya berdiri di kanan kiri dengan tubuh membungkuk penuh sikap hormat.

"Eh, Liong-kongcu... kenapa berada di sini...?"

Sin Liong terlonjak kaget mendengar ini dan cepat dia mengangkat mukanya.

Kiranya pembesar yang memasuki restoran dan diiringkan banyak pembantu dan pengawal itu bukan lain adalah Gu-taijin, pembesar dari kota Kiu-kiang!

Tentu saja pembesar Gu ini mengenalnya, karena dia pernah bermalam di rumah gedung pembesar ini, bahkan di rumah pembesar inilah dia mengangkat saudara dengan Han Houw!

"Siapa...

eh, paduka...

salah lihat..."

Dia berkata gagap. Akan tetapi Gu-taijin yang telah mengenalnya, tertawa.

"Aihh, Liong-kongcu harap jangan main-main! Biarpun kongcu menyamar, tetap saja saya akan mengenalmu. Kalau tidak, tentu pangeran akan marah kepada saya. Kongcu adalah tuan muda Liong Sin Liong, mengapa berada di sini dan apakah yang saya lihat ini? Apakah kongcu menyamar sebagai pelayan...? Ha-ha-ha...!"

"Bukan... bukan...! Hamba adalah A-sin... pelayan restoran ini..."

"Ha-ha, saya sudah tahu akan kesenangan pangeran untuk merantau dan menyamar seperti rakyat biasa. Kongcu sebagai adik angkatnya tentu mempunyai kesukaan yang sama. Akan tetapi saya tetap mengenali Liong-kongcu. Marilah, beri kesempatan kepada saya untuk menghormati kongcu dengan tiga cawan arak. Dan saya ingin mohon pertolongan kongcu..."

Pembesar itu mendekatkan mulutnya.

"Mengenai puteriku..."

"Tidak... bukan... aku bukan..."

Sin Liong bingung sekali, apalagi ketika melihat majikannya menjadi pucat dan memandang kepadanya dengan mata terbelalak.

Baru pagi tadi A-tong, pembantu tukang masak bercerita bahwa ada "setan penjaga kebun"

Menangkapnya dan setan itu bertanya tentang A-sin.

Hal itu tentu saja ditertawakan dan orang-orang menganggap A-tong mimpi, sedangkan A-sin yang mendengar itu hanya tertawa saja.

Dan kini, seorang pembesar yang berpakaian indah datang-datang memberi hormat kepada A-sin seolah-olah pelayan itu adalah seorang pemuda bangsawan yang amat tinggi kedudukannya.

Apalagi pembesar itu juga menyebut-nyebut pangeran!

"Ah?

Liong-kongcu menyimpan rahasia?

Kalau begitu biarlah kita bicara di dalam saja..."

"Harap taijin sudi memaafkan hamba, akan tetapi hamba... hamba A-sin... pelayan, bukan orang lain..."

"Hemm, benarkah itu?"

Tiba-tiba terdengar bentakan wanita.

"Akulah yang akan dapat memaksa harimau keluar dari kulit domba!"

Bukan main kagetnya hati Sin Liong ketika dia mendengar suara wanita ini karena wanita itu bukan lain adalah seorang wanita cantik yang sudah amat dikenalnya.

Seorang wanita cantik jelita dengan pakaian mewah dan indah, rambutnya digelung ke atas seperti model gelung rambut seorang puteri istana, wajahnya manis akan tetapi kelihatan angkuh dan dingin, matanya bersinar kejam, lengan kirinya penuh dengan gelang-gelang emas dan di punggungnya tergantung kayu salib sedangkan di pinggangnya tergantung sebatang pedang panjang.

Kim Hong Liu-nio!

Melihat musuh besar yang dicari-carinya ini tahu-tahu berdiri di depannya, tentu saja Sin Liong menjadi terkejut bukan main, girang dan juga gugup karena dia berada di dalam restoran, di tempat ramai sehingga amat berbahaya baginya kalau dia bertanding melawan musuh besarnya ini karena wanita ini merupakan seorang tokoh kepercayaan istana!

Akan tetapi, menghadapi Kim Hong Liu-nio dia tidak mungkin dapat menyangkal keadaan dirinya lagi, dan juga hal itu akan sia-sia karena pada saat itu, Kim Hong Liu-nio sudah menggerakkan tangan kirinya dan dua batang hio (dupa biting) telah meluncur seperti anak panah, menyambar ke arah kedua matanya!

Kiranya wanita itu bukan hanya ingin membuka rahasia, melainkan juga ingin membunuhnya secara keji.

Dan duagan ini memang benar.

Begitu melihat Sin Liong kemarahan Kim Hong Liu-nio bangkit karena dia ingat bahwa anak ini mengaku keturunan Cia Bun Houw.

Sakit hatinya karena kematian kekasihnya, Panglima Lee Siang, membuat dia segera menurunkan tangan kejam, menyerang kedua mata Sin Liong dengan senjata rahasia hionya yang telah banyak merobohkan korban manusia itu.

Diserang sehebat itu, tentu saja Sin Liong tidak dapat menyembunyikan lagi kepandaiannya.

Dia melihat jelas dua batang hio yang menyambarnya itu, maka dia cepat mengerahkan tenaga pada tangan kirinya dan dengan menggunakan tenaga sin-kang dia berhasil memukul patah dua batang hio itu.

Dia tidak mungkin mengelak karena kalau hal ini dilakukan, dua batang hio itu tentu mengambil korban, yaitu mengenai orang-orang yang berada di sebelah belakangnya.

Maka terpaksa dia memperlihatkan kehebatannya dan dua batang hio itu ditangkisnya runtuh.

Hal ini amat mengejutkan Kim Hong Liu-nio karena dia tahu benar bahwa jarang ada tokoh di dunia kang-ouw ini yang berani menangkis sambaran hionya, dan kalau ada yang berani mencobanyapun tentu akan celaka karena hionya itu didorong oleh tenaga sakti yang amat kuat sehingga kalau ditangkis akan dapat melesat dan melanjutkan serangannya.

Akan tetapi, dua batang hionya itu patah dan runtuh begitu bertemu dengan tangan Sin Liong!

Marahlah Kim Hong Liu-nio.

Dia tahu bahwa Sin Liong pernah digembleng oleh kakek Cia Keng Hong, maka diapun tidak heran kalau anak ini telah mewarisi ilmu yang hebat dari ketua Cin-ling-pai itu.

Hal ini mendorongnya untuk cepat membunuhnya, karena kalau tidak, kelak akan menambah deretan musuhnya yang berilmu tinggi.

"Hyaaaaattt...!"

Kim Hong Liu-nio mengeluarkan suara melengking tinggi sehingga mengejutkan semua orang, bahkan ada beberapa orang yang terguling roboh karena jantung mereka tergetar dan membuat kedua kaki mereka lumpuh ketika mereka mendengar suara melengking tinggi itu.

Dan terasa angin menyambar ketika wanita itu sudah menerjang ke depan dan mengirimkan pukulan maut dengan tangan kirinya yang bergelang kerincing, dengan tangan terbuka menghantam ke arah dada Sin Liong.

Sebelum tangan itu tiba, lebih dulu telah terasa angin pukulan dahsyat yang berhawa panas datang menyambar.

"Ehhh...!"

Sin Liong terkejut, maklum akan kehebatan pukulan itu maka diapun cepat mengangkat tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka didorongkannya tangan itu ke depan menyambut pukulan lawan.

"Plakkk!"

Kedua telapak tangan bertemu dan seketika tubuh Kim Hong Liu-nio tergetar hebat dan tenaga sin-kangnya memberobot keluar tersedot melalui telapak tangan pemuda remaja itu.

"Eiiihhhhh...!"

Kim Hong Liu-nio menjerit dan tangan kanannya menyambar dengan totokan ke arah kedua mata Sin Liong!

Wanita ini mengenal Thi-khi-i-beng maka dia merasa ngeri dan cepat mengeluarkan serangan yang dapat menolong dirinya dari ilmu sedot yang hebat itu.

Ketika Sin Liong menggerakkan tangan kanan menangkis, maka wanita itu secepat kilat menarik tangan kirinya yang tersedot melekat pada tangan lawan sambil mengerahkan sin-kangnya dan terlepaslah tangannya.

Dia menjadi marah bukan main.

"Tarrr...!"

Sabuk sutera merahnya telah menyerang, meluncur ke arah leher Sin Liong.

Akan tetapi Sin Liong maklum bahwa dia berada dalam bahaya setelah kini semua orang tahu keadaan dirinya yang sebenarnya.

Dia cepat mengerahkan tenaga lemas untuk menangkis sabuk.

"Prattt!"

Ujung sabuk merah itu membelenggu pergelangan tangannya.

Akan tetapi Sin Liong mengerahkan Ilmu Thian-te Sin-ciang, mengebutkan dengan telapak tangannya ke arah muka lawan.

"Ihhh...!"

Kim Hong Liu-nio kembali menjerit dan dia mengelak, akan tetapi tetap saja pundaknya terdorong angin pukulan Thian-te Sin-ciang yang ampuh dan dia terhuyung, sedangkan pergelangan tangan lawan yang terbelit sabuk sudah terlepas pula.

Kesempatan selagi lawannya terhuyung ini dipergunakan oleh Sin Liong untuk meloncat keluar restoran dan menyelinap di antara penonton yang memenuhi tempat itu karena tertarik oleh kedatangan pembesar, kemudian oleh keributan yang terjadi di restoran itu.

"Tangkap dia! Dia itu putera pemberontak Cia Bun Houw...!"

Kim Hong Liu-nio berteriak sambil mengejar.

Akan tetapi dia terhalang oleh banyak orang, dan melihat para pasukan melakukan pengejaran, wanita ini dengan cemberut lalu masuk kembali ke dalam restoran di mana dia disambut oleh Gu-taijin yang masih terheran-heran.

Sementara itu, melihat dirinya dikejar-kejar pasukan yang makin lama makin banyak jumlahnya, Sin Liong terus melarikan diri.

Dia menjadi bingung.

Kalau dia dikabarkan sebagai anak pemberontak yang melarikan diri, tentu sukar baginya untuk keluar dari kota raja ini.

Tentu pintu-pintu gerbang yang kuat itu telah terjaga dengan ketat, dan ke manapun dia bersembunyi, tentu dia akan terus dicari oleh para perajurit.

Mana mungkin dia dapat melawan pasukan yang banyak jumlahnya?

Dan diapun tidak mempunyai ingatan untuk melawan pemerintah.

Dalam gugupnya dia segera membelok dan masuk ke dalam pasar ketika larinya melewati tempat ini.

Dari belakang terdengar hiruk-pikuk para perajurit yang mengejarnya.

Pasar itu menjadi geger ketika para perajurit memasukinya dan orang-orang berlarian ke mana-mana ketika mendengar betapa para perajurit itu mengejar-ngejar seorang pemberontak!

Makin ribut dan terkejutlah orang-orang itu ketika mendengar bahwa yang dikejar-kejar dan dianggap seorang sebagai pemberontak yang buron itu adalah seorang pelayan rumah makan bernama A-sin!

Ketika Sin Liong sedang kebingungan, berdiri di antara orang-orang pasar yang menyelinap ke sana-sini itu, tiba-tiba tangannya dipegang oleh seorang pengemis muda yang berbisik.

"A-sin... cepat, kau ikut...!"

Melihat bahwa pemuda pengemis itu adalah seorang di antara "langganannya", Sin Liong yang sedang kebingungan itu mengangguk dan cepat dia mengikuti pengemis muda itu menyelinap di antara orang-orang yang sedang panik itu.

Dia dibawa ke bagian belakang pasar, di tempat pengumpulan sampah dan di situ dia melihat empat orang pengemis muda lainnya bersama seorang gadis.

Melihat gadis ini, jantungnya berdebar tegang karena dia segera mengenal yang semalam memasuki kamarnya!

Gadis itu masih memakai baju biru, entah baju yang semalam entah memang bajunya semua berwarna biru, akan tetapi sepasang matanya tetap bening dan bersinar tajam, pantas kalau dijuluki Walet Mata Emas!

Melihat dia, gadis itu tersenyum mengejek.

"Aihh, kiranya si pelayan restoran yang tolol ini seorang pelarian pemberontak?"

"Aku... aku bukan..."

"Ahh, sikapmu yang tolol itu hanya kedok saja. Lekas kau sembunyi ke sini, itu para perajurit sudah (Lanjut ke

Jilid 31) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 31 datang!"

Gadis itu dengan cekatan sudah menyambar tangan Sin Liong dan mendorong pemuda itu ke tempat sampah, kemudian dia bersama teman-temannya lalu menimbuni tubuh Sin Liong yang duduk di atas tanah itu dengan sampah!

Baunya bukan main dan terpaksa Sin Liong mengerahkan tenaganya agar jangan muntah-muntah dan juga agar jangan sesak napas.

Dia tidak dapat melihat keluar, akan tetapi dia dapat mendengar suara para perajurit yang tiba di situ.

"He! Apakah kalian melihat pemberontak yang lari ke sini?"

Terdengar bentakan nyaring.

"He! He! Engkau bicara dengan orang atau setan? Begitukah pendidikan sopan santun yang kau terima ketika menjadi perajurit, menyapa orang hanya dengan he-he saja?"

Tiba-tiba terdengar suara gadis itu marah.

"Apa...? Kalian ini sekumpulan pengemis..."

Suara pertama menghardik.

"Ah, jangan ceroboh, Ciong-ko, dia ini adalah Kim-gan Yan-cu...!"

Terdengar suara orang ke dua, agaknya seorang perajurit lain yang mengenal gadis itu.

"Ahhh... maafkan aku, nona. Aku tidak tahu..."

Kata suara pertama. Terdengar gadis yang berjuluk Walet Mata Emas itu mengomel.

"Hemm, setelah mengenal orang baru bersikap sopan, itu namanya sopan palsu. Biarpun kami orang miskin, apakah para perajurit berhak untuk memandang rendah dan menghina kami? Kalau tidak mampu bertanya dengan sopan, kamipun tidak mampu menjawab!"

"Kim-gan Yan-cu, maafkan kawan kami ini. Dia perajurit baru, pindahan dari luar kota raja. Kami sedang bingung dan sibuk, mengejar-ngejar seorang buronan, seorang pemberontak yang amat berbahaya. Biasanya engkau dan kawan-kawanmu tak pernah mengganggu, bahkan sering kali membantu kami mengamankan daerah-daerah. Maka kini kami mohon bantuanmu dan kawan-kawanmu untuk mencari buronan itu. Dia seorang muda, namanya A-sin, tadinya bekerja sebagai pelayan restoran."

"Hemm, kami tidak melihat dia sekarang."

"Kalau kalian melihatnya, harap suka membantu kami menangkapnya, dan harap kalian menyuruh kawan-kawan kalian yang banyak untuk ikut mencarinya."

"Baik, baik...!"

Tak lama kemudian, para perajurit itu sudah pergi dan Sin Liong disuruh keluar dari tumpukan sampah.

Dia merasa heran sekali.

Ternyata para perajurit itu tidak hanya mengenal gadis ini, bahkan kelihatan takut dan menghormatinya!

Maka diapun cepat menjura.

"Terima kasih atas pertolongan kalian..."

"Pertolongan apa! Engkau masih terancam bahaya. Hayo kerjakan dia!"

Perintah gadis itu.

Empat orang pengemis muda itu lalu beramai-ramai mengenakan pakaian butut kepada Sin Liong dan dengan arang dan lumpur mereka menyulap wajah Sin Liong menjadi wajah yang kotor, wajah seorang pengemis yang terlantar.

Sin Liong tidak sempat menolak karena dia tahu bahwa mereka itu bermaksud baik terhadap dirinya.

"Nah, kau diam saja, pura-pura sakit dan kelaparan. Jangan mengeluarkan suara, kecuali rintihan dan keluhan kalau bertemu perajurit,"

Kata gadis itu dan Sin Liong yang masih keheranan itu hanya mengangguk.

Dia benar-benar merasa canggung sekali berhadapan dengan gadis yang ternyata amat berwibawa ini dan merasa makin canggung lagi ketika empat orang itu menggotongnya, seperti menggotong seekor kerbau yang akan disembelih!

Dan gadis itu berjalan di depan!

Beberapa kali mereka bertemu dengan pasukan dan seperti dipesankan oleh gadis itu, setiap kali ada pasukan berhenti dan memandang kepadanya, dia mengeluh.

"Ini seorang pengemis kelaparan dari luar daerah. Mengotori kota raja saja, dan kami hendak mengirim dia kembali ke tempatnya, biar kalau sampai matipun mati di tempatnya sendiri, tidak di kota raja!"

Demikian gadis itu menerangkan setiap kali ada pertanyaan dari para perajurit yang masih sibuk mencari-cari Sin Liong itu.

Akhirnya, dengan mudah para pengemis muda itu menggotong Sin Liong keluar dari pintu gerbang selatan.

Agaknya mereka itu amat dipercaya oleh para penjaga pintu gerbang, apalagi keterangan gadis lincah itu agaknya tidak pernah diragukan orang.

Setelah keluar dari pintu gerbang kota raja sebelah selatan dan para pengemis yang menggotong tubuh Sin Liong itu sudah tiba jauh dan tidak nampak lagi oleh para penjaga, Sin Liong lalu diturunkan.

"Nah, sekarang kita harus berlari cepat. Hayo ikut dengan kami, A-sin!"

Kata gadis baju biru itu.

Sin Liong hanya mengangguk saja dan dia ikut berlari bersama gadis itu dan empat orang pengemis muda, menuju ke sebuah hutan kecil di lereng bukit yang nampak dari situ.

Ternyata di tengah hutan itu terdapat sebuah kuil rusak yang kosong dan ke tempat inilah mereka menuju.

Agaknya gadis itu dan kawan-kawannya sudah biasa di tempat ini karena mereka langsung masuk dan membersihkan sebuah ruangan yang masih belum begitu bobrok dan dapat dipergunakan untuk tempat bersembunyi yang teduh dan terlindung dari panas atau hujan.

Memang demikianlah, tempat-tempat seperti kuil kosong, kolong-kolong jembatan, emper-emper toko merupakan tempat-tempat yang tidak asing bagi kaum gelandangan seperti mereka itu, yang tidak mempunyai rumah atau keluarga.

Setelah membersihkan ruangan itu dibantu oleh empat orang pengemis muda yang agaknya menjadi anak buah gadis itu, mereka lalu berunding.

"Kalian harus cepat kembali ke kota raja dan menyelidiki keadaan. Kalau ada bahaya mengancam, lekas beri tahu kami di sini. Aku terpaksa harus melindungi si lemah ini!"

Kata gadis berbaju biru itu kepada empat orang anak buahnya yang menyatakan setuju.

Mereka segera berangkat meninggalkan Sin Liong berdua gadis itu.

Diam-diam Sin Liong merasa kagum menyaksikan kesigapan dara itu, kesederhanaannya, kecerdikannya, dan juga wibawanya.

Gadis itu tentu paling banyak lima belas atau enam belas tahun usinya, namun telah dapat memimpin pengemis-pengemis muda yang kelihatan begitu taat kepadanya!

Setelah empat orang pengemis muda itu pergi, gadis baju biru itu keluar dari dalam kuil.

Tanpa diperintah, Sin Liong mengikutinya dan ketika gadis itu duduk di atas sebuah bangku batu rendah yang berada di belakang kuil rusak, Sin Liong hanya berdiri memandang, sinar matanya masih membayangkan kekaguman dan juga keheranan karena kembali ada perasaan mengganggunya bahwa dia pernah bertemu dengan gadis ini!

Wajah gadis ini tidak asing baginya!

Akan tetapi biarpun dia payah mengingat-ingat, dia merasa belum pernah berkenalan dengan seorang gadis pengemis, apalagi pemimpin pengemis!

Tiba-tiba gadis itu menoleh dan memandang kepadanya.

Dua pasang mata bertemu pandang, melekat sebentar.

Gadis itu cemberut.

"Ada apa engkau memandangku seperti itu? Engkau berani mengandung pikiran kurang sopan? Kugampar mukamu nanti!"

Sin Liong menjadi gugup dan mukanya menjadi merah, seperti telah dipukul saja.

Dia cepat menundukkan mukanya dan tidak berani memandang.

Terdengar gadis itu tertawa kecil.

"Hik-hik, aku hanya main-main. Kau mengapa begini pemalu? Eh, A-sin, sungguh tidak kusangka bahwa engkau ternyata bukan sembarang orang, melainkan seorang penting yang menyembunyikan diri dan menyamar sebagai pelayan! Hebat! Semuda ini engkau sudah dijadikan buruan pemerintah. Wah, engkau pasti orang penting yang menyamar. Siapakah sebenarnya engkau dan mengapa engkau dikejar-kejar perajurit kerajaan?"

Sin Liong tidak ingin diketahui sebabnya dia dikejar-kejar para perajurit.

Dia dikejar perajurit karena hasutan Kim Hong Liu-nio bahwa dia adalah putera pemberontak Cia Bun Houw dan dia sama sekali tidak suka mengaku sebagai putera pendekar itu.

Akan tetapi, para pengemis muda pembantu gadis itu pergi menyelidiki ke kota raja.

Mereka itu tentu akan mendengar pula bahwa dia menjadi buronan karena putera pendekar Cia Bun Houw.

Setelah berpikir sejenak dia menemukan akal.

"Ahh, aku adalah orang biasa dan bekerja sebagai pelayan untuk mencari sesuap nasi. Akan tetapi sungguh sial, mungkin karena persamaan wajah, aku dituduh sebagai anak pemberontak dan dikejar-kejar. Kalau tidak ada engkau yang menolongku, tentu aku telah ditangkap dan dihukum mati."

Gadis itu bangkit berdiri, menghadapi Sin Liong dan sepasang matanya yang jeli itu dengan penuh selidik mengamati Sin Liong, dari rambut sampai ke kaki, kemudian dia cemberut, menggeleng kepalanya.

"Tidak, engkau bukan seorang pelayan restoran biasa! Engkau tidak setolol yang ingin kau perliliatkan. Aku lebih percaya kalau engkau benar-benar seorang penting yang menyamar pelayan daripada seorang pelayan tulen dari dusun yang buta huruf dan tolol. Dan... wajahmu ini tidak asing bagiku! Benar, aku pasti sudah pernah melihatmu. Hayo kau mengaku sajalah!"

Sin Liong terkejut dan dia kembali memandang.

Mereka berpandangan dan makin terasa oleh mereka bahwa mereka memang pernah saling jumpa, dan betapa wajah itu tidak asing sama sekali.

Kini, setelah tidak berada dalam keadaan tegang, mereka dapat memperhatikan wajah masing-masing.

Akan tetapi tetap saja Sin Liong tidak ingat pernah berkenalan dengan seorang gadis pemimpin pengemis, sebaliknya gadis itu agaknya juga tidak ingat pernah bertemu dengan seorang pelayan atau buronan pemberontak.

"Nona, siapakah namamu?"

Akhirnya Sin Liong bertanya karena dia yakin kalau dia mengetahui nama gadis ini tentu dia akan teringat.

Kembali sinar mata gadis itu memperlihatkan perasaan tidak senang dan curiga.

"Mau apa kau tanya-tanya nama orang!"

Bentaknya curiga, menduga bahwa pemuda ini, seperti pemuda-pemuda lain berwatak ceriwis.

Galak benar bocah ini, pikir Sin Liong.

Akan tetapi karena gadis ini telah menolongnya, dia tetap bersikap sabar.

"Terus terang saja, nona, akupun merasa seperti pernah bertemu denganmu. Kalau aku mengetahui namamu, mungkin saia aku akan teringat lagi dan kenal padamu."

"Hemm, engkau sudah mendengar bahwa namaku dikenal sebagai Kim-gan Yan-cu!"

Kata nona itu dan mendengar nama julukan ini, mau tidak mau Sin Liong memperhatikan mata gadis itu dan memang pantaslah kalau gadis itu dijuluki Kim-gan (Si Walet Emas) karena sepasang mata itu memang amat indahnya!

"Aku tidak mengenal julukan itu."

"Hemm, kalau tidak mengenal sudah saja!"

Gadis itu mendengus marah karena hatinya merasa tidak senang mendengar ada orang yang tidak mengenal "nama besarnya".

Ketika mendengus marah, dia menggerakkan kepalanya sehingga rambut yang dikucir menjadi dua itu pindah ke depan pundak dan gerakan itu membuat lehemya tersibak.

Nampak kulit tengkuk leher yang amat mulus, akan tetapi bukan kemulusan kulit itu yang membuat Sin Liong terbelalak, melainkan setitik tahi lalat di kulit tengkuk yang putih mulus itu.

Tahi lalat itu!

Kini dia teringat dan matanya terbelalak memandang kepada gadis itu.

Tahi lalat itu membuat sepasang mata yang tajam dan jeli, hidung kecil mancung dan mulut dengan sepasang bibir mungil itu menjadi sama sekali tidak asing lagi baginya.

"Bi Cu...!"

Suara ini hanya terdengar sebagai bisikan saja keluar dari mulut Sin Liong yang masih menatap wajah itu tanpa berkedip.

Kini gadis itu yang kelihatan kaget bukan main.

Selama ini tidak ada orang yang mengenal namanya, dan dia hanya memperkenalkan nama dengan julukannya itu.

"Eh, bagaimana kau bisa mengenal namaku? Kau... kau siapa...?"

Bentaknya, heran, kaget dan curiga.

Mendengar ini, yakiniah hati Sin Liong dan tiba-tiba dia merasa sekali, teringat akan malapetaka yang menimpa keluarga Na yang amat baik kepadanya itu.

"Bi Cu, lupakah engkau kepadaku? Aku Sin Liong...!"

Sepasang mata itu terbelalak lebar, amat indahnya.

"Sin Liong...? Ah, tentu saja...! Akan tetapi siapa sangka engkau menjadi pelayan restoran dan seorang buronan pasukan pemerintah pula?"

Gadis itu juga teringat akan masa lalu, maka menjadi terharu dan juga gembira sekali.

"Sin Liong...!"

Mereka saling berpegang tangan, lalu keduanya berloncatan menari-nari dengan gembira seperti dua orang anak kecil bermain-main.

Kegembiraan meluap di dalam hati mereka karena mereka berdua sama sekali tidak pernah mengira akan dapat saling berjumpa setelah malapetaka itu menimpa mereka dalam rumah keluarga Na Ceng Han atau Na-piauwsu.

Akhirnya keduanya ingat bahwa mereka telah bersikap seperti anak kecil.

Dengan muka berubah merah Bi Cu melepaskan pegangan tangannya, lalu terengah-engah duduk di atas bangku batu tadi.

Wajahnya berseri dan merah sekali, akan tetapi matanya basah air mata.

"Aihh... siapa kira dapat bertemu denganmu lagi, Sin Liong,"

Katanya dan dia terhenti karena lehernya seperti tercekik oleh rasa haru.

Sin Liong tersenyum.

Bukan main gembira rasa hatinya, Bi Cu yang dulu seorang anak perempuan pendiam itu kini telah menjadi seorang gadis remaja yang lincah, cantik dan cerdik.

Teringat akan waktu dulu, dia tertawa dan menudingkan telunjuk kirinya ke arah gadis itu.

"Dan siapa sangka akan dapat bertemu engkau yang kini telah menjadi ratu pengemis? Engkau dahulu begitu pendiam dan pemalu dan sekarang..."

Kegembiraan Sin Liong menular kepada Bi Cu yang kini memang berwatak lincah itu.

Dia membuat gerakan lucu dan bersungut-sungut, tangan kirinya terbentang.

"Dan sekarang kau hendak mengatakan bahwa aku cerewet dan tak tahu malu?"

"Ihh, tentu saja tidak!"

Sin Liong tersenyum.

"Engkau menjadi seorang gadis lincah, cerdas dan berani, sungguh mengagumkan sekali, Bi Cu! Sungguh mati, mana mungkin aku dapat mengenalmu lagi?"

"Tapi toh engkau tadi mengenalku lebih dulu!"

"Atas bantuan tahi lalatmu."

"Eh?"

Bi Cu meloncat bangun dan berdiri menghadapi Sin Liong, menatap wajah pemuda itu dengan tajam.

"Tahi lalat?"

"Ya, tahi lalat di tengkukmu. Tadi tampak ketika engkau memindahkan kuncirmu ke depan. Engkau mempunyai tahi lalat kecil di tengkuk, apakah engkau tak dapat melihatnya?"

"Hik-hik, tolol engkau. Apa kau kira aku sudah menjadi siluman yang mempunyai mata di belakang kepala? Mana bisa melihat tahi lalat di tengkuk sendiri!"

Sin Liong juga tertawa.

"Akan tetapi, sejak dahulu engkau sudah mempunyai tahi lalat itu, apakah kau lupa betapa tahi lalatmu itu dijadikan bahan godaan oleh... Tiong Pek?"

"Ohhh...!"

Mendengar disebutnya nama ini, berubah wajah Bi Cu dan dia duduk kembali di atas bangku, termenung!

Tanpa ragu-ragu Sin Liong juga duduk di atas bangku itu setelah Bi Cu menggeser ke pinggir.

Mereka duduk berdampingan, seperti dulu di waktu mereka baru berusia dua belas tahun.

Sin Liong maklum bahwa tentu gadis ini mengalami banyak sekali hal luar biasa, maka dia sampai menjadi seorang pemimpin kaum jembel di pasar kota raja itu.

"Bi Cu, bagaimana engkau dapat berada di sini dan menjadi pemimpin para pengemis muda itu? Bukankah dahulu engkau masih bersama Tiong Pek dan tinggal di Kun-ting?"

Bi Cu bertopang dagu, mukanya masih muram dan bibirnya cemberut, seolah-olah saat itu dia terkenang akan hal-hal yang tidak menyenangkan hatinya, kemudian dia melirik ke arah muka Sin Liong dan bertanya.

"Engkau sendiri, setelah dulu dibawa pergi oleh wanita itu, bagaimana tahu-tahu muncul di kota raja sebagai pelayan restoran yang kemudian dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah?"

Sin Liong tersenyum dan memandang kagum.

"Ah, engkau benar-benar telah berubah banyak sekali, Bi Cu. Engkau dulu pemalu dan pendiam, kini engkau demikian lincah dan pandai bicara. Belum menjawab pertanyaan orang, engkau sudah menyerang kembali dengan pertanyaanmu."

"Sudah sepatutnya dan selayaknya seorang pria mengalah terhadap wanita, bukan? Nah, kau ceritakan pengalamanmu."

"Seperti engkau ketahui, ketika keluarga paman Na diserbu penjahat dan engkau bersama aku dan Tiong Pek melawan para penjahat, muncul wanita iblis itu dan aku lalu dibawanya pergi..."

"Manusia iblis? Kau maksudkan wanita cantik gagah perkasa yang telah berhasil membunuh semua penjahat keji yang telah menewaskan suhu sekeluarganya itu? Mengapa kau menyebut wanita gagah itu iblis?"

"Engkau tidak tahu, Bi Cu. Memang dia, entah mengapa, telah membunuh penjahat-penjahat yang membasmi keluarga paman Na, dan memang agaknya ada kegagahan tersembunyi dalam dirinya, akan tetapi wanita itu adalah seorang manusia iblis yang amat kejam sekali. Namanya Kim Hong Liu-nio, ah, engkau tidak tahu betapa kejamnya. Aku nyaris tewas disiksa olehnya, untung aku dapat... eh, membebaskan diri, ditolong oleh seorang kakek."

Sin Liong tidak ingin menceritakan tentang kakek Cia Keng Hong yang sesungguhnya adalah kakeknya sendiri itu.

Juga dia tidak ingin menceritakan bahwa dia telah mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, dia ingin dikenal oleh Bi Cu sebagai Sin Liong yang dahulu ketika mereka bersama-sama belajar di bawah bimbingan Na-piauwsu yang baik hati.

"Nona... nona Kim-gan Yan-cu...!"

Sin Liong dan Bi Cu cepat menengok dan mereka melihat dua orang pengemis muda yang tadi membantu datang dengan muka pucat dan penuh keringat, napas mereka terengah-engah.

Semua pengemis muda yang menjadi anak buah Bi Cu memang diharuskan menyebut nona oleh gadis itu.

Melihat keadaan dua orang pembantunya yang dia tahu tidak mudah ketakutan itu, Bi Cu maklum bahwa tentu terjadi hal-hal yang hebat.

"Hem, A-sam dan A-khun, ada apakah?"

Tanyanya dengan alis berkerut sambil bangkit berdiri.

Sin Liong sudah berdiri, memandang penuh perhatian.

A-khun memandang kepada Sin Liong dengan terbelalak, sedangkan A-sam setelah menoleh ke arah Sin Liong berkata.

"Nona, kita telah tertipu... dia... dia ini benar-benar orang yang menyamar..., kabarnya dia... dia ini seorang yang berkedudukan tinggi, masih saudara dengan seorang pangeran, akan tetapi juga kabarnya dia dicari karena dia keluarga pemberontak... wah, celaka, nona, sekarang ada pasukan kerajaan sedang menuju ke sini untuk menangkap dia, dan juga untuk menangkap nona sendiri...!"

"Biar mereka menangkap aku!"

Sin Liong berkata penasaran.

"Akan tetapi mengapa mereka hendak menangkap Kim-gan Yan-cu?"

"Ya, mengapa mereka bendak menangkap aku, A-sam?"

"Karena nona diketahui telah menolong dia melarikan diri. Cepat, nona, itu, sudah terdengar bunyi derap kuda mereka!"

Benar saja dari jauh terdengar derap kaki kuda memasuki hutan.

Sin Liong tidak merasa gentar, akan tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Bi Cu, sementara itu, A-sam dan A-khun sudah menyelinap dan melarikan diri di antara semak-semak belukar.

"Bi Cu, cepat mari ikut aku pergi!"

Dia menggandeng tangan gadis itu dan mengajak lari.

Bi Cu yang biasanya menjadi pemimpin, kini menurut saja karena dia masih terlampau kaget dan bingung.

Dikejar pasukan pemerintah bukan merupakan hal yang remeh, pikirnya.

"Ke mana kita akan pergi, Sin Liong?"

Mereka sudah tiba di luar hutan bagian belakang atau bagian selatan dan derap kaki kuda tidak terdengar lagi.

Agaknya pasukan yang mengejar mereka itu sedang mencari-cari dan berkeliaran di dalam hutan karena memang hutan belukar itu tidak memungkinkan mereka melarikan kuda cepat-cepat tanpa mengetahui ke arah mana mereka harus mengejar.

"Bi Cu, aku menyesal sekali bahwa engkau terseret oleh kesialanku. Akan tetapi, aku sudah mempunyai tempat yang baik sekali untuk melarikan diri. Mari kati ikut bersamaku ke dalam dusun di mana tinggal keluarga Kui...!"

"Siapa itu keluarga Kui?"

Bi Cu bertanya sambil terus melangkah mengikuti Sin Liong.

Mereka tidak lari lagi, hanya berjalan cepat menyusup-nyusup di antara batu-batu besar, pohon-pohon dan semak-semak.

"Sin Liong, engkau ini aneh sekali. Benarkah engkau menjadi saudara seorang pangeran? Dan benarkah engkau keluarga pemberontak?"

Di tengah perjalanan itu Bi Cu bertanya, suaranya penuh keheranan.

Sin Liong mengerutkan alisnya.

Tak salah lagi, tentu Gu-taijin yang mengabar-ngabarkan keadaan dirinya sebagai saudara Pangeran Ceng Han How, dan tentu Kim Hong Liu-nio yang mengabarkan bahwa dia adalah putera pemberontak Cia Bun Houw!

Dia tetap tidak ingin bercerita tentang Cia Bun Houw kepada siapapun juga, apalagi kepada Bi Cu, hanya kenyataan tentang hubungannya dengan Han Houw tentu tidak mungkin untuk dirahasiakannya lagi.

"Baik, kuceritakan semua kepadamu, Bi Cu. Pertama-tama tentang keluarga Kui yang akan kita datangi dan di mana kita akan berlindung dan bersembunyi. Dia... Kui Hok Boan itu adalah ayah tiriku..."

"Ahh...!"

Bi Cu menoleh dan memandang wajah Sin Liong dengan tertarik.

Selama Sin Liong berada di rumah gurunya atau paman Na Ceng Han, belum pernah anak ini menceritakan keadaan keluarganya yang dirahasiakan.

"Dan ibumu masih ada...?"

Sin Liong menggeleng kepala.

"Ibu telah meninggal dunia. Beberapa hari yang lalu aku melihat keluarga Kui di kota raja, bahkan melihat mereka berbelanja di pasar kemudian melihat betapa engkau dan kawan-kawanmu mengganggu mereka dan mencopet barang-barang mereka..."

"Ah, kau maksudkan... pemuda gendut itu?"

"Dia itu keponakan dari Kiu Hok Boan. Dua orang gadis..."

"Dua gadis kembar yang cantik manis itu?"

"Ya, mereka adalah saudara-saudara tiriku."

Bi Cu mengangguk-angguk, kemudian dia kelihatan meragu.

"Kalau si gendut dan yang lain-lain itu mengenali aku, tentu mereka curiga dan mana bisa aku tinggal di tempat orang yang pernah kuganggu?"

"Tidak, Bi Cu. Mereka tidak mungkin mengenailmu. Pula, ada hal lain yang amat perlu bagimu. Kui Hok Boan pernah tinggal lama di utara, dan mungkin dia pernah mendengar tentang ayahmu yang tinggal di utara."

"Ahh...! Bagus sekali kalau begitu, Sin Liong. Sekarang ceritakan tentang pangeran itu."

Dengan hati-hati Sin Liong menceritakan tentang Ceng Han Houw, betapa dia bertemu dengan pangeran ini dan sang pangeran suka kepadanya sehingga mengangkatnya sebagai saudara.

Akan tetapi dia tetap tidak menceritakan tentang kepandaiannya, bahkan tidak menyinggung tentang kelihaian Ceng Han Houw.

Biarpun demikian, Bi Cu tidak mendesak lebih lanjut karena dara ini sudah merasa terlalu heran mendengar betapa Sin Liong menjadi saudara angkat seorang pangeran!

"Sungguh hebat pengalamanmu, Sin Liong.

Akan tetapi engkau yang menjadi saudara angkat pangeran, mengapa lalu tinggal di restoran sebagai pelayan?"

"Aku tidak suka akan cara hidup mewah pangeran itu, disanjung-sanjung dan dihormati orang, dijilat-jilat secara berlebihan. Aku lebih suka menjadi orang biasa, bebas melakukan apa-apa tanpa diperhatikan orang."

"Lalu apa sebabnya engkau yang menjadi saudara angkat pangeran dituduh pemberontak dan dikejar-kejar pasukan? Bukankah engkau dapat mengatakan bahwa engkau adalah saudara angkat pangeran dan pasukan itu tidak akan berani mengganggumu?"

Sin Liong menarik napas panjang.

Bi Cu terlalu cerdik untuk menerima ceritanya yang tidak lengkap itu.

Kalau dia tidak hati-hati, dia tentu akan terpaksa membuka rahasianya bahwa dia adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi, diapun amat cerdik dan cepat dia mengambil keputusan untuk membuka sedikit rahasia pribadinya untuk tetap menutupi rahasia lain.

"Ah, semua itu adalah gara-gara wanita iblis itu, Bi Cu."

"Eh? Kau maksudkan... wanita cantik yang berjuluk Kim Hong Liu-nio itu?"

"Benar."

"Oya, kau pernah diculiknya dan kau bilang nyaris tewas disiksanya, tentu ada apa-apa antara dia dan engkau."

"Memang benar, dan karena itu pula aku berada di kota raja, menyamar sebagai pelayan rumah makan. Aku memang sedang menyelidikinya. Siapa kira dia telah melihat aku lebih dulu dan mengabarkan bahwa aku adalah pemberontak maka aku dikejar-kejar pasukan."

"Mau apa engkau menyelidiki wanita itu?"

"Karena dia musuh besarku. Dialah yang telah membunuh ibu kandungku."

"Ahh...!"

Bi Cu sampai menghentikan langkahnya saking kagetnya.

Sebelum mendengar ini, dia selalu mengenangkan wanita yang telah membunuh para penyerbu dan para pembunuh keluarga Na itu dengan hati penuh kagum dan dia selalu menganggap wanita itu seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan budiman, sungguhpun dia tidak mengerti mengapa pendekar wanita itu melarikan Sin Liong.

Kini, dia mendengar bahwa wanita itu dianggap iblis oleh Sin Liong dan ternyata wanita itulah yang telah membunuh ibu kandung Sin Liong!

Pemuda itu terpaksa berhenti pula.

Sampai lama mereka hanya saling pandang.

"Dan ayah kandungmu, Sin Liong?"

Pemuda itu menggeleng kepala.

"Sudah mati!"

"Kasihan engkau, sudah yatim piatu."

"Sama dengan engkau, Bi Cu."

"Dan engkau menyelidiki wanita itu untuk apa?"

"Untuk apa? Kalau engkau kelak mengetahui siapa pembunuh ayahmu, apa yang akan kau lakukan, Bi Cu?"

"Membunuhnya!"

"Demikian juga aku."

"Tapi, wanita itu demikian lihainya! Apa kau mampu menandinginya?"

"Demi membalas kematian ibuku, akan kucoba."

"Tapi... apakah engkau selama ini mempelajari ilmu-ilmu silat?"

"Hanya dari Na-piauwsu."

"Ah, dengan kepandaiantnu seperti itu, mana mampu engkau menandingi wanita itu? Akan tetapi, biar aku membantumu, Sin Liong?"

"Terima kasih, agaknya engkau sekarang telah memiliki kepandaian tinggi, Bi Cu."

"Cukup lumayan, biarpun aku tidak berani memastikan apakah aku akan mampu menandingi Kim Hong Liu-nio yang kelihatannya amat lihai itu. Sekarang dengarlah ceritaku tentang pengalaman semenjak kita saling berpisah, Sin Liong."

Dengan sikapnya yang polos, gerak-gerik yang lincah dan amat menarik bagi Sin Liong, gerak bibir yang manis dan gerak mata yang menunjukkan kecerdikan, dara remaja itu lalu menceritakan semua pengalamannya selama kurang lebih lima tahun ini.

Seperti telah kita ketahui, kurang lebih lima tahun yang lalu keluarga Na Ceng Han di kota Kun-ting telah diserbu oleh musuh-musuhnya yaitu piauwsu dari Gin-to-piauwkiok bernama Ciok Khun yang dibantu oleh Lu Seng Ok, tokoh Hwa-i Kai-pang yang murtad dan telah diusir dari perkumpulan itu, dibantu oleh lima orang anak buah Ciok Khun.

Penyerbuan hebat ini mengakibatkan matinya Na Ceng Han dan isterinya dan beberapa orang anggauta Ui-eng-piauwkiok yang dipimpin oleh Na-piauwsu itu.

Bahkan putera Na-piauwsu, Na Tiong Pek, bersama Bhe Bi Cu dan Sin Liong nyaris tewas pula oleh para penyerbu itu.

Akan tetapi muncul Kim Hong Liu-nio yang timbul watak gagahnya melihat tiga orang anak-anak bertanding mati-matian melawan para penyerbu itu sehingga wanita sakti ini turun tangan membunuh Ciok Khun dan enam orang pembantunya, kemudian Kim Hong Liu-nio mengenal Sin Liong dan menculiknya lalu membawanya pergi.

Gegerlah kota Kun-ting dengan terjadinya peristiwa ini Tiong Pek dan Bi Cu hanya dapat menangisi jenazah Na-piauwsu dan isterinya.

Kemudian muncul para anggauta Ui-eng-piauwkiok yang segera mengurus mayat-mayat itu.

Ui-eng-piauwkiok berkabung dan untung bagi Tiong Pek dan Bi Cu bahwa para anggauta piauwkiok itu cukup setia dan telah mengurus kedua jenazah itu sebaiknya sampai selesai dimakamkan.

Bahkan setelah selesai pemakaman itu, para tokoh Ui-eng-piauwkiok yang menjadi pembantu-pembantu utama dari mendiang Na Ceng Han, mengadakan rapat dan kemudian diambil keputusan untuk melanjutkan Ui-eng-piauwkiok yang sudah terkenal dan dipercaya oleh para pedagang.

Sebagai pengganti Na Ceng Han diangkat Na Tiong Pek.

Akan tetapi karena anak itu baru berusia tiga belas tahun, dan ilmu kepandaiannya masih jauh untuk dapat diandalkan menjadi piauwkiok, Maka pengangkatan pemimpin ini hanya untuk mempertahankan nama Na-piauwsu saja dan juga rumah keluarga.

Na itu dipakai sebagai pusat, sedangkan yang memimpin adalah para pembantu-pembantu utama mendiang Na-piauwsu itulah.

Mereka bahkan melanjutkan pelajaran Na Tiong Pek dan melatih ilmu silat kepada pemuda remaja ini.

Bi Cu tetap tinggal di rumah Tiong Pek.

Akan tetapi gadis cilik ini merasa kesepian dan kehilangan, dan merasa tidak senang lagi tinggal di rumah besar itu.

Apalagi ketika nampak gejala-gejala betapa Tiong Pek makin tergila-gila kepadanya.

Beberapa kali pemuda ini menyatakan bahwa mereka adalah calon suami isteri!

Pada suatu senja, ketika mereka berdua duduk di dalam taman bunga yang sedang indah-indahnya karena semua bunga sedang mekar di tengah-tengah musim bunga itu, kembali Tiong Pek menyatakan persoalan itu.

"Sumoi, marilah duduk dekat denganku di sini."

Dia menepuk papan bangku di sebelahnya. Bi Cu mengerutkan alisnya dan menjawab.

"Di sinipun sama saja, suheng."

Dia sendiri duduk di atas bangku batu kecil tak jauh dari tempat duduk Tiong Pek.

"Ke sinilah, sumoi, aku mau bicara penting sekali."

"Di sinipun aku sudah dapat mendengarmu, suheng. Mau bicara apakah?"

Diam-diam dara kecil ini merasa khawatir karena selama satu tahun semenjak tewasnya Na-piauwsu dan isterinya, sering kali dia harus menolak kalau Tiong Pek ingin memperlihatkan perasaannya dengan menyentuhnya atau memegang lengannya atau mengeluarkan kata-kata manis merayu!

"Sumoi, kenapa engkau selalu bersikap dingin dan malu-malu terhadap aku?

Bukankah kita ini sudah menjadi calon suami isteri?

Kita tinggal menanti beberapa tahun lagi sampai kita cukup dewasa dan kita akan menikah, menjadi suami isteri."

Bosan sudah Bi Cu mendengar pernyataan-pernyataan seperti itu.

"Suheng, engkau selalu bicara tentang itu. Sudah kukatakan bahwa aku masih terlalu kecil, usiaku baru dua belas tahun, untuk bicara soal pernikahan!"

"Akan tetapi kita telah saling bertunangan!"

"Sejak kapankah kita bertunangan?"

"Eh, semua orang tahu belaka bahwa ayah dan ibuku menghendaki begitu. Semua paman di Ui-eng-piauwkiok juga sudah mendengar sendiri pernyataan mendiang ayahku kepada mereka, yaitu bahwa engkau telah dipilihnya untuk menjadi jodohku."

Bi Cu yang biasanya pendiam itu menjadi khawatir dan bingung.

Dia tahu bahwa dia berhutang budi kepada keluarga Na, semenjak kecil dia telah hidup di dalam lingkungan keluarga itu, diperlakukan dengan baik sekali, seperti anggauta sendiri.

Mendiang ayah dan ibu Tiong Pek amat baik kepadanya, bahkan dia harus mengakui pula bahwa Tiong Pek sendiri selalu bersikap manis dan baik kepadanya.

Agaknya, pengangkatan dirinya sebagai calon isteri Tiong Pek merupakan hal yang wajar, bahkan sudah semestinya, dan tentu akan disetujui oleh semua tokoh Ui-eng-piauwkiok dan mereka tentu menganggap bahwa nasibnya amat baik!

Akan tetapi, dia sendiri merasa tidak suka!

Bukan dia tidak suka kepada Tiong Pek yang amat baik kepadanya, akan tetapi dia sama sekali belum memikirkan soal pernikahan!

Apalagi kalau dia teringat kepada ayah kandungnya yang kabarnya dibunuh orang tanpa dia mengetahui siapa pembunuhnya!

"Akan tetapi, suheng, hal itu belum resmi, jadi tidak semestinya kalau kau mengatakan bahwa kita telah bertunangan."

Sikap dari Bi Cu ini mengecewakan hati Tiong Pek.

Pemuda ini memang sejak masa kanak-kanak sudah merasa suka sekali kepada Bi Cu dan menjelang dewasa dia makin mencinta sumoinya ini.

Melihat sikap Bi Cu, dia merasa kecewa dan juga khawatir, maka pada keesokan harinya dia lalu minta bantuan paman-pamannya.

"Seperti paman sekalian tentu mengetahui, mendiang ayah dan ibu sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan aku dengan Bi Cu, dan karena mereka berdua meninggal dunia tanpa sempat meninggalkan pesan, maka keinginan hati mereka itu bagiku merupakan pesan dan wasiat terakhir. Dan mengingat bahwa kami berdua sudah makin besar dan menjelang dewasa, maka aku minta kepada paman agar suka mengatur persembahyangan dan meresmikan pertunangan kami di depan arwah ayah ibu agar mereka dapat tenang di alam baka."

Para tokoh Ui-eng-piauwkiok itu terdiri dari lima orang, dipimpin oleh pembantu utama mendiang Na-piauwsu yang bernama Louw Kiat Hui, seorang laki-laki tinggi besar, berwatak jujur dan bermata lebar.

Louw Kiat Hui memang masih terhitung sute sendiri dari mendiang Na Ceng Han, yaitu ketika mereka berdua berguru kepada seorang guru silat kenamaan di selatan.

Jadi orang she Louw ini masih terhitung susiok dari Tiong Pek.

Mendengar ucapan keponakannya ini, Louw Kiat Hui mengangguk-angguk dengan girang.

"Memang kami semua sudah mengetahui akan hal itu, Tiong Pek. Dan kalau demikian permintaanmu, memang sebaiknya pertunangan itu diresmikan dan dilakukan sembahyang besar-besaran dan mengundang tamu-tamu sebagai saksi."

"Terserah kepada Louw-susiok untuk mengaturnya,"

Jawab Tiong Pek dengan girang. Louw Kiat Hui adalah seorang gagah yang jujur dan berpandangan luas.

"Perjodohan adalah pertalian hidup antara dua orang manusia,"

Katanya dengan wajah serius.

"oleh karena itu, yang pertama kali tersangkut dan mempunyai kepentingan adalah dua orang yang akan mengikatkan diri dalam pertalian perjodohan itulah. Oleh karena itu, sebelum kita mengambil langkah-langkah selanjutnya, sudah selayaknya kalau kita mendengar dulu pendapat yang bersangkutan, yaitu Bi Cu."

Bi Cu segera dipanggil dan gadis kecil itu menghadap dengan hati menduga-duga, karena dia melihat lima orang penting dari Ui-eng-piauwkiok itu memandang kepadanya dengan wajah berseri dan bibir tersenyum, sedangkan Tiong Pek sudah lebih dulu berada di situ.

"Ada apakah Louw-susiok memanggilku?"

Tanyanya.

Bi Cu, seperti juga Tiong Pek, kini dipimpin oleh Louw Kiat Hui dalam pelajaran ilmu silat dan diapun menyebut susiok kepada tokoh yang kini menggantikan kedudukan mendiang Na-piauwsu memimpin perusahaan itu.

"Duduklah, Bi Cu. Kita akan mengajakmu bicara tentang perjodohanmu dengan Tiong Pek seperti telah berkali-kali dinyatakan oleh mendiang Na-suheng dan isterinya."

Bi Cu mengerling kepada Tiong Pek dan dia dapat menduga bahwa hal ini tentu sengaja diatur oleh suhengnya itu dalam usahanya untuk meresmikan pertunangan mereka.

Jantungnya berdebar keras dan mukanya menjadi merah, hatinya terasa panas dan timbul semacam perlawanan, alisnya berkerut.

"Apakah yang susiok maksudkan? Aku tidak mengerti,"

Jawabnya lirih sambil menunduk.

Lima orang pimpinan Ui-eng-piauwkiok itu tersenyum, dan saling pandang.

Menggelikan dan juga mengharukan melihat seorang dara remaja menundukkan muka kemalu-maluan kalau diajak bicara tentang perjodohan!

"Begini, Bi Cu.

Semenjak engkau dan Tiong Pek masih kecil, mendiang Na-suheng dan isterinya sudah sering kali menyatakan bahwa kalian berdua akan saling dijodohkan, akan tetapi sayang, sebelum niat itu dilaksanakan, mereka telah lebih dulu meninggalkan kita.

Sekarang, karena kalian berdua sudah menjelang dewasa, kami merasa sudah menjadi kewajiban kami untuk melaksanakan cita-cita mereka berdua itu, dan agar arwah mereka tenang di alam baka, maka kami bermaksud untuk mengadakan sembahyang dan meresmikan pertunanganmu dengan Tiong Pek, disaksikan oleh sahabat-sahabat dan para undangan.

Dan sebelum itu, kami sengaja memanggilmu untuk memberi tahu dan mendengar bagaimana pendapatmu tentang maksud kami itu, Bi Cu."

Gadis kecil itu masih menundukkan mukanya dan semua orang memandang kepadanya, menduga bahwa seperti kebiasaan para gadis pada umumnya yang ditanya tentang pernikahan, dia tentu akan menjawab "terserah kepada susiok", atau hanya mengangguk tanpa kata, atau juga lari memasuki kamarnya.

Semua itu akan menjadi tanda bahwa Bi Cu sudah setuju!

Akan tetapi, terkejut dan heranlah semua orang di situ ketika mereka melihat Bi Cu menggeleng kepalanya, mengangkat mukanya yang merah dan menjawab dengan suara gemetar.

"Tidak, susiok, aku masih terlalu kecil untuk bicara tentang perjodohan. Aku belum memikirkan perjodohan dan tidak mau bicara tentang itu."

Dia menundukkan mukanya kembali.

Louw Kiat Hui saling berpandangan dengan teman-temannya, dan mengerling kepada Tiong Pek yang hanya duduk diam sambil menundukkan mukanya pula.

Kemudian orang tinggi besar ini memandang kepada Bi Cu yang menunduk itu dan berkata, suaranya lantang dan mendesak.

"Bi Cu, mengapa engkau menolak? Apakah engkau tidak setuju dijodohkan dengan Tiong Pek? Apakah engkau hendak menentang pesan terakhir dari Na-suheng dan isterinya?"

Di dalam hatinya, Louw Kiat Hui merasa penasaran karena dia tahu benar betapa gadis ini telah menerima budi berlimpah-limpah dari keluarga Na, dan bahwa Tiong Pek adalah seorang pemuda cukup tampan, gagah dan berharta sehingga tidak pantaslah kalau gadis ini menolaknya.

Gadis yang baru berusia dua belas tahun itu mengangkat mukanya dan kini nampak mukanya agak pucat dan kedua matanya basah.

Akan tetapi suaranya cukup tegas ketika terdengar dia berkata.

"Susiok sekalian agaknya hanya mengingat keluarga sefihak saja, mengingat akan pesan dari suhu, yaitu ayah dari suheng. Agaknya sama sekali susiok sekalian tidak pernah mengingat keluargaku, tidak mengingat orang tuaku sendiri sehingga aku diharuskan memutuskan sendiri tentang perjodohanku."

Louw Kiat Hui terkejut.

Kembali dia saling berpandangan dengan para temannya, kemudian dia berkata dengan suara lembut.

"Ah, Bi Cu, jangan engkau beranggapan seperti itu. Andaikata kami tahu bahwa engkau masih mempunyai orang tua, sudah tentu kami tidak akan berani lancang dan tentu kami akan minta pendapat orang tuamu. Akan tetapi, kita semua tahu bahwa ibumu telah tiada, sedangkan ayahmu..."

"Ayah dibunuh orang, dan sampai sekarang aku belum tahu di mana kuburnya! Pantaskah aku sebagai anak tunggalnya kini memutuskan sendiri perjodohan tanpa memperdulikan keadaan ayah? Tidak, susiok, sebelum aku tahu siapa pembunuh ayah, dan sebelum aku dapat bersembahyang di depan makam ayah kandungku, aku tidak mungkin bisa memutuskan tentang ikatan jodoh ini."

Setelah berkata demikian, sambil menangis Bi Cu bangkit berdiri kemudian lari memasuki kamarnya di mana dia membanting dirinya menelungkup dan menangis di atas pembaringan.

"Sudahlah, susiok. Dia memang benar. Kita kurang memperhatikan hal itu. Biarlah pertunangan resmi diundurkan dulu, betapapun juga kami toh sudah dapat dibilang bertunangan, biarpun belum resmi. Dan sebaiknya kalau susiok sekalian mencoba untuk menyelidiki tentang kematian ayah kandung sumoi di utara,"

Kata Tiong Pek yang merasa terharu juga melihat sikap Bi Cu yang dicintanya.

Akan tetapi, para piauwsu yang sibuk dengan pekerjaan itu, mana mempunyai kesempatan untuk menyelidiki tentang kematian ayah Bi Cu jauh di utara, di luar tembok besar?

Memang sekali-kali pernah mereka ini mengawal barang atau orang sampai keluar tembok besar, akan tetapi tidak sejauh tempat yang pernah menjadi tempat tinggal Bhe Coan, ayah kandung dari Bhe Bi Cu itu.

Dan kalau mendiang Na-piauwsu sendiri pernah menyelidiki ke sana dan tidak berhasil mengetahui siapa pembunuh Bhe Coan, apa pula yang bisa mereka lakukan?

Setelah terjadi peristiwa itu, Bi Cu makin merasa gelisah dan tidak kerasan berada di rumah Tiong Pek.

Dia merasa betapa dia telah berhutang budi kepada keluarga Na, betapa pemuda itu memang amat baik kepadanya.

Inilah yang menyebabkan dia makin gelisah.

Tiong Pek amat baik kepadanya dan dia tidak ingin menghancurkan hati pemuda itu, akan tetapi diapun tidak mungkin dapat membalas cinta Tiong Pek.

Setiap hari Bi Cu termenung duka, apalagi setelah lewat berbulan-bulan, belum juga ada berita tentang hasil usaha Louw Kiat Hui dan para paman yang lain mencari atau menyelidiki tentang pembunuh ayahnya.

Sementara itu, sikap Tiong Pek makin hari makin mendesak dan makin mesra, pandang mata pemuda itu seperti hendak menembus hatinya dan senyum yang merayu itu mendatangkan rasa iba dalam hatinya.

Akhirnya Bi Cu tidak kuat menahan lagi dan pada suatu malam, dengan bekal beberapa potong pakaian, larilah dia meninggalkan rumah Tiong Pek untuk pergi ke utara dan melakukan penyelidikan sendiri!

Pada keesokan harinya, Tiong Pek dan para tokoh Ui-eng-piauwkiok menjadi geger melihat kepergian Bi Cu yang tidak meninggalkan pesan apapun.

Mereka menjadi bingung dan segera melakukan pengejaran ke utara karena mereka dapat menduga bahwa tentu gadis kecil itu nekat pergi ke utara untuk menyelidiki tentang pembunuh ayah kandungnya.

Dugaan semua tokoh Ui-eng-piauwkiok ternyata tepat.

Setelah melakukan pengejaran selama sehari penuh, akhirnya pada malam harinya Louw Kiat Hui dan empat orang temannya, bersama Tiong Pek sendiri, telah dapat menyusul Bi Cu yang beristirahat di rumah seorang petani di dusun sebelah selatan kota raja.

Mudah saja mencari jejak seorang gadis kecil yang melakukan perjalanan seorang diri pada waktu itu.

Bi Cu terkejut dan menangis ketika lima orang pamannya itu bersama Tiong Pek muncul.

"Mari kita pulang ke Kun-ting, Bi Cu,"

Kata Louw Kiat Hui dengan sikap halus tanpa banyak kata-kata teguran.

"Tidak, aku tidak mau...!"

Bi Cu menangis.

"Aku hendak pergi mencari pembunuh ayah. Tinggalkan aku sendiri!"

Tiong Pek menghampiri Bi Cu dan memegangi tangannya.

"Sumoi, mengapa engkau hendak meninggalkan aku? Apakah kesalahanku kepadamu?"

"Tidak, suheng, engkau tidak bersalah, kalian semua tidak bersalah. Akulah yang bersalah, akan tetapi... blarkan aku pergi, biarkan aku mencari sendiri pembunuh ayahku, jangan memaksa aku kembali ke Kun-ting."

Louw Kiat Hui memandang gadis yang menangis terisak-isak itu.

"Bi Cu, engkau harus ikut kami kembali ke Kun-ting dan marilah di sana kita bicara."

Mendengar ucapan Louw Kiat Hui agak mendesak karena orang tinggi besar ini memang sudah tidak sabar lagi melihat Bi Cu menangis dan memang diam-diam diapun merasa penasaran dan marah melihat gadis kecil itu nekat melarikan diri tanpa pamit, Bi Cu mengangkat mukanya memandang.

"Louw-susiok, mengapa susiok hendak memaksa aku kembali ke sana? Aku tidak mau kembali! Apakah susiok demikian jahat...?"

Louw Kiat Hui memandang tajam kepada murid keponakan itu.

"Bi Cu!"

Suaranya terdengar tegas dan menunjukkan kemarahan.

"Omongan apa yang kau keluarkan ini? Kalau kami membiarkan engkau pergi, melakukan perjalanan berbahaya seorang diri, sehingga akhirnya engkau pasti celaka, maka barulah kami benar-benar jahat! Sebaliknya, kalau engkau memaksa hendak pergi minggat begitu saja meninggalkan rumah di mana engkau dibesarkan dan dirawat penuh kasih sayang, maka engkau adalah seorang anak yang tak mengenal budi dan jahat!"

Bi Cu adalah seorang anak yang wataknya pendiam dan keras. Mendengar ucapan itu dia lalu membantah.

"Dan kalau aku akan dipaksa menikah hanya untuk membalas budi, apa itu namanya, paman?"

Sejenak Louw Kiat Hui terperanjat, akan tetapi dia lalu berkata, kembali suaranya halus.

"Sudahlah. Mari kita semua pulang ke Kun-ting dan segala sesuatu dapat dibicarakan dengan tenang di sana."

Louw Kiat Hui lalu mengeluarkan uang dan membayar secukupnya kepada pemilik rumah dusun itu yang telah mau menampung Bi Cu, kemudian dengan memaksa dia mengajak Bi Cu untuk kembali ke Kun-ting malam itu juga!

Tindakan Louw Kiat Hui ini dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa dia telah melakukan hal yang benar.

Dia harus melindungi keselamatan Bi Cu, kalau perlu dengan paksaan.

Dia tahu bahwa kalau dia membiarkan Bi Cu melanjutkan perjalanan seorang diri, sudah pasti gadis kecil ini akan mengalami malapetaka di tengah jalan.

Ilmu silat yang dikuasai gadis itu masih terlampau rendah untuk dapat dipakai menjaga diri.

Karena lelah, maka akhirnya mereka bermalam di sebuah kuil di tengah perjalanan.

Kuil itu adalah kuil seorang tosu yang merawat kuil bersama beberapa orang muridnya.

Dengan ramah tosu-tosu itu menerima kedatangan Louw Kiat Hui yang terkenal sebagai seorang piauwsu yang budiman, dan mereka semua mendapatkan kamar.

Untuk mencegah gadis itu nekat melarikan diri lagi, maka Louw Kiat Hui sendiri bersama empat orang pembantunya menjaga di luar, tidur bergiliran, sedangkan Tiong Pek yang kelelahan sudah lebih dulu tidur di atas sebuah pembaringan di kamar sebelah.

Malam itu sunyi sekali.

Semua penghuni dusun di mana kuil itu berdiri sudah tidur karena waktu itu menjelang tengah malam.

Para tosu dan sebagian dari para piauwsu juga sudah tidur nyenyak.

Hanya Louw Kiat Hui sendiri dan seorang piauwsu lain yang bergilir melakukan penjagaan masih duduk di depan kamar Bi Cu.

Di sebelah dalam kamar itu, Bi Cu sendiri juga tidak dapat tidur, masih menangis perlahan karena merasa tidak berdaya.

Dia diharuskan kembali lagi ke rumah itu!

Tiba-tiba kesunyian malam itu terganggu oleh suara batuk-batuk kecil disusul menyambarnya sebuah batu kecil yang tepat mengenai lampu yang tergantung di luar kamar Bi Cu.

Tentu saja tempat itu seketika menjadi gelap dan Louw Kiat Hui cepat meloncat berdiri, diikuti oleh piauwsu lainnya.

"Siapa di situ?"

Bentak Louw Kiat Hui yang sudah mencabut pedangnya, lalu dia meloncat ke arah suara batuk tadi.

Akan tetapi pada saat itu dia merasa ada angin menyambar dan ada orang berkelebat di dekatnya.

Nampak bayangan remang-remang karena cuaca yang gelap dan yang hanya mendapat penerangan dari lampu yang tergantung agak jauh dari situ.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget hati orang she Louw ini ketika melihat betapa bayangan itu telah mendorong daun pintu dan memasuki kamar Bi Cu!

"Heiii...

tahan...!"

Dia meloncat ke kamar, akan tetapi cepat menghindar ketika dari dalam kamar itu meloncat bayangan tadi, kini sudah mengempit tubuh Bi Cu!

"Lepaskan dia!"

Bentak piauwsu yang lain sambil menubruk dengan goloknya.

"Plakk! Tranggg...!"

Piauwsu itu roboh dan goloknya terlempar.

"Berhenti! Siapa engkau berani menculik orang?"

Teriak Louw Kiat Hui sambil mengejar.

Bayangan itu membalik dan Louw Kiat Hui yang tidak dapat melihat jelas muka orang karena cuaca yang gelap, sudah mendorong dengan tangan kirinya.

Dia tidak berani lancang mempergunakan pedangnya.

Akan tetapi bayangan itu tidak mengelak, melainkan menangkis dorongan itu dengan gerakan sembarangan.

"Plakk! Ahhh...!"

Louw Kiat Hui terhuyung dan merasa betapa tangkisan itu membuat lengan kirinya seperti lumpuh rasanya.

Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan tangguh, maka dia sudah menubruk lagi dengan pedangnya, membabatkan pedang ke arah kedua kaki lawan, dilanjutkan dengan tusukan ke arah lambung.

Namun, dengan lincah dan mudahnya, bayangan itu mengelak terus sampai lima jurus.

Kemudian dia membentak dan sebatang tongkat menangkis pedang itu sedemikian kuatnya sehingga pedang terlepas dari tangan Kiat Hui dan sebelum piauwsu ini mampu mengelak, dia sudah roboh tertotok.

Para piauwsu lain terbangun oleh suara gaduh, akan tetapi selagi mereka hendak mengeroyok, bayangan itu telah meloncat ke atas dan lenyap ditelan kegelapan malam sambil membawa pergi tubuh Bi Cu!

Gegerlah para piauwsu.

Setelah Louw Kiat Hui dibebaskan totokannya, dia bersama para piauwsu lainnya mengejar dan mencari-cari, namun tidak berhasil menemukan jejak bayangan tadi.

Mereka menanyakan kepada para tosu, namun para tosu yang lemah itupun tidak dapat memberi keterangan.

Louw Kiat Hui dan teman-temannya lalu mencari terus, sampai beberapa hari mereka mencari di sekitar tempat itu, namun, jangankan menemukan jejak orang itu, bahkan keterangan tentang orang itupun tidak bisa mereka dapatkan.

Mereka tidak tahu siapakah bayangan yang sedemikian lihainya, bayangan yang mempergunakan tongkat!

Louw Kiat Hui menghibur Tiong Pek yang merasa berduka dan khawatir sekali.

Mereka terpaksa lalu kembali ke Kun-ting dengan tangan kosong dan biarpun para piauwsu itu masih selalu mencari-cari, namun mereka tidak pernah berhasil dan Bi Cu tetap lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Siapakah yang menculik Bi Cu?

Mari kita ikuti pengalamannya semenjak malam dia lenyap dari kuil itu.

Ketika itu, Bi Cu masih menangis perlahan ketika tiba-tiba dia mendengar suara gaduh dan pintu kamarnya jebol.

Dia hanya melihat bayangan orang menyerbu masuk dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, bayangan orang itu telah meloncat ke depan pembaringannya dan berkata.

"Mari kau ikut bersamaku melarikan diri dari mereka, anak yang baik."

Bayangan itu lalu menyambar tubuhnya dan Bi Cu tidak mampu bergerak lagi.

Dia merasa bingung harus berbuat apa, menyerah atau melawan.

Kalau menyerah, dia belum tahu siapa adanya orang ini, Kalau melawan, dia merasa tertarik oleh kata-kata yang sifatnya hendak menolongnya membebaskan diri dari Tiong Pek dan para piauwsu itu.

Apalagi ketika orang yang membawanya itu kemudian bertanding, dia makin bingung dan khawatir.

Akan tetapi ketika dia dibawa pergi dengan berloncatan demikian cepatnya ke atas genteng, tahulah Bi Cu bahwa pembawanya adalah seorang yang berilmu tinggi.

Apalagi kini dia sudah melihat orang itu, seorang kakek tua yang berpakaian aneh, bajunya penuh tambalan seperti baju pengemis, namun tambalan-tambalan itu berkembang-kembang, tubuhnya pendek kurus dan mukanya seperti tikus!

Setelah terbebas dari pengejaran para piauwsu, kakek itu menurunkan tubuh Bi Cu dah memegang tangannya, menggandengnya dan mengajaknya berjalan kaki menuju ke kota raja.

"Nah, engkau kini sudah terbebas dari mereka, anak baik. Aku melihatmu dibawa mereka dan engkau menangis di sepanjang jalan, maka aku tahu bahwa engkau tidak suka mereka bawa dan ingin bebas. Siapakah namamu dan mengapa engkau mereka paksa untuk ikut dengan mereka?"

Mendengar keterangan kakek ini, Bi Cu lalu menceritakan keadaan dirinya.

"Aku hendak mencari pembunuh ayah kandungku, akan tetapi mereka melarang, karena itu aku berduka dan menangis, kek."

Dia menutup penuturannya. Kakek itu tersenyum.

"Ha-ha, engkau sungguh keras hati dan berbakti. Akan tetapi engkau hanya seorang anak perempuan yang lemah, mana mungkin sendirian saja pergi ke tempat begitu jauh, di luar tembok besar mencari seorang musuh pembunuh ayahmu? Bagaimana kalau engkau belajar ilmu silat dulu dariku, kemudian setelah pandai baru engkau pergi mencari musuhmu?"

Bi Cu tadi telah menyaksikan kelihaian kakek ini, maka dia menjadi girang dan segera menjatuhkan diri berlutut.

"Terima kasih atas perhatian suhu terhadap diri teecu!"

Katanya. Kakek itu tertawa girang dan segera mengangkatnya bangun.

"Ketahuilah, bahwa gurumu ini dinamakan orang Hwa-i Sin-kai dan aku pemimpin seluruh pengemis Hwa-i Kai-pang di daerah kota raja dan sekelilingnya. Engkau boleh menjadi muridku, akan tetapi Hwa-i Kai-pang mempunyai suatu peraturan yang melarang menerima anggauta wanita. Oleh karena itu, biarpun engkau ini muridku, namun engkau tidak boleh menjadi anggauta perkumpulan Hwa-i Kai-pang. Mengertikah engkau, Bi Cu?"

"Teecu mengerti, dan pula, teecu memang tidak ingin menjadi pengemis!"

Hwa-i Sin-kai tertawa lagi.

"Dan mulai saat ini engkau tidak boleh memperkenalkan namamu, karena para piauwsu dari Ui-eng-piawkiok itu tentu akan mencarimu. Maka kalau sampai ada yang mengenal namamu, tentu akan mudah bagi mereka untuk menemukanmu dan aku merasa tidak enak kalau harus bentrok dengan mereka. Mereka terkenal sebagai piauwsu-piauwsu yang baik. Tadipun untuk menolongmu, aku mempergunakan kecepatan agar tidak sampai dikenal oleh mereka."

"Kalau tidak, memakai nama teecu, habis lalu memakai nama apa, suhu?"

"Sudah kuperhatikan dirimu. Matamu amat tajam dan indah, merupakan ciri khas bagimu, maka sepatutnya kalau engkau memakai julukan Kim-gan (Si Mata Emas) dan mengingat engkau seorang anak perempuan kecil hidup sendirian di dunia ini dan setelah menjadi muridku engkau kelak tentu akan memiliki kegesitan, maka biarlah engkau tambahkan julukan Yan-cu (Burung Walet), jadi mulai sekarang engkau terpaksa memperkenalkan nama, pakailah nama Kim-gan Yan-cu."

Mulai saat itu, Bi Cu menjadi murid Hwa-i Sin-kai, diajak pergi ke dalam hutan di sebelah utara kota raja, tinggal di dalam kuil tua dan di situ dia digembleng ilmu oleh kakek yang lihai itu.

Dan mulai saat itu dia dikenal di antara para anggauta Hwa-i Kai-pang sebagai Kim-gan Yan-cu, murid dari ketua mereka.

Biarpun Bi Cu tidak menjadi anggauta Hwa-i Kai-pang, namun dia dikenal oleh semua anggauta dan disuka oleh para anggauta muda, apalagi karena dia dikagumi sebagai murid sang ketua dan memang Bi Cu berbakat sehingga ilmu silatnya maju dengan pesatnya.

Dan karena pergaulan inilah maka sedikit demi sedikit sifat pendiam dari Bi Cu mulai berubah, menjadi lincah, gembira dan juga cekatan dan cerdas sekali.

Demikianlah riwayat Bi Cu seperti yang diceritakannya kepada Sin Liong dan didengarkan dengan penuh perhatian oleh pemuda remaja itu.

"Menurut ceritamu tadi, engkau tidak boleh menjadi anggauta perkumpulan pengemis itu, akan tetapi mengapa engkau kini malah menjadi pemimpin para pengemis muda di pasar itu, Bi Cu?"

Sin Liong menegur setelah dara itu selesai bercerita.

"Karena terpaksa. Hal ini terjadi setelah Hwa-i Kai-pang bubar!"

"Eh? Bubar? Mengapa?"

"Karena dituduh pemberontak oleh pemerintah dan semenjak suhu tewas."

"Suhumu, kakek pangcu yang lihai itu tewas? Siapa yang membunuhnya?"

"Dikeroyok pasukan pemerintah. Ketika itu suhu sedang menghadiri pesta pernikahan keluarga pendekar sakti Yap Kun Liong, dan entah mengapa aku sendiri tidak tahu, pesta itu diserbu oleh pasukan tentara, dan suhu tewas dalam serbuan itu oleh pengeroyokan pasukan, sedang para pendekar Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw bersama isteri mereka kabarnya ditangkap pasukan."

"Ahhh...?"

Tentu saja Sin Liong terkejut bukan main mendengar berita penangkapan atas diri ayah kandungnya itu.

"Akan tetapi menurut kabar, mereka berempat itu berhasil meloloskan diri lagi dan kini menjadi buronan pemerintah. Pemerintah memang sewenang-wenang, masa suhu dan para pendekar sakti itu dianggap pemberontak! Terpaksa Hwa-i Kai-pang bubar dan karena tidak puas dengan kelaliman pemerintah, maka aku lalu memimpin para pengemis muda itu yang sebagian besar merupakan (Lanjut ke

Jilid 32) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 32 keturunan para anggauta Hwa-i Kai-pang, untuk sekedar mengacau pemerintah!

Dan itu pula sebabnya maka ketika pasukan mengejarmu dan menuduhmu sebagai pemberontak buronan, kami menolongmu mati-matian."

Sin Liong menarik napas panjang.

Ternyata dara remaja inipun mengalami hal-hal yang amat pahit.

Akan tetapi dia mengusir semua itu dari kenangannya dan dia tersenyum memandang wajah yang manis itu.

"Aih, kiranya engkau sekarang telah menjadi seorang pendekar wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi!"

"Tidak berani aku menganggap diri begitu, Sin Liong. Memang benar aku telah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari mendiang suhu sehingga kalau dibandingkan dengan dahulu ketika kita masih sama-sama belajar kepada Na-piauwsu, tentu saja aku telah memperoleh kemajuan pesat sekali. Akan tetapi setelah berkecimpung di dunia kang-ouw, aku tahu benar bahwa kepandaianku masih belum masuk hitungan! Aku harus mematangkan kepandaianku lebih dulu, barulah aku akan berangkat ke utara mencari pembunuh ayah."

"Aku akan membantumu, Bi Cu. Kita akan mencari keterangan dari ayah tiriku, kemudian aku akan menemanimu mencari ke utara. Ingat aku datang dari Lembah Naga dan aku mengenal daerah di utara."

Bi Cu tersenyum.

"Dan akupun tadi telah berjanji untuk membantumu menghadapi musuh besarmu."

Sin Liong mengangguk-angguk.

"Memang sebaiknya kita saling bantu. Kita bersama-sama mencari pembunuh ayahmu dan pembunuh ibuku, kita berdua orang-orang yatim piatu memang sudah selayaknya saling bantu."

"Engkau baik sekali, Sin Liong. Aku girang dapat bertemu denganmu."

"Dan akupun girang sekali. Mari kita percepat jalan kita, itu dusun di mana tinggal keluarga Kui sudah nampak. Hari sudah hampir gelap."

Mereka lalu mempercepat jalan mereka, setengah berlari-larian menuju ke dusun di depan dan waktu itu sudah hampir senja.

Akhirnya mereka berjalan memasuki dusun itu dan mereka berdiri di luar pekarangan sebuah rumah yang cukup besar.

Sampai di sini Bi Cu termangu-mangu.

"Sin Liong, kau masuklah saja dulu,"

Bisiknya.

"Aku merasa malu, karena kalau kuingat betapa aku telah mencopet barang-barang mereka..."

"Ah, mereka tidak akan tahu..."

"Kau masuklah dulu, kalau engkau lihat tidak ada halangan bagiku untuk masuk, baru engkau panggil aku. Kau boleh beritahukan dulu kepada mereka tentang kehadiranku..."

Akhirnya Sin Liong menyetujui juga karena memang dia sendiri baru saja akan bertemu dengan keluarga Kui, maka tidak enaklah kalau datang-datang dia membawa teman.

Lebih baik dia melihat gelagat lebih dulu, kalau sekiranya keluarga itu tidak keberatan menerima Bi Cu, baru dia akan memanggil dara itu.

Andaikata mereka berkeberatan menerima Bi Cu, dia sendiripun tidak akan mau tinggal di situ!

"Baik, kau tunggu di sini sebentar,"

Katanya dan dia lalu melangkah masuk.

Pekarangan rumah itu sunyi saja, bahkan serambi depan juga kelihatan sunyi tidak nampak adanya seorangpun.

Karena merasa bahwa dia adalah seorang anggauta keluarga ini, maka Sin Liong ingin mengejutkan mereka dengan kemunculan yang tiba-tiba melalui pintu belakang.

Dia lalu mengambil jalan memutar, melewati samping rumah di mana terdapat sebuah kebun yang cukup luas.

Selagi dia jalan berindap-indap dengan jantung berdebar tegang penuh kegembiraan dan membayangkan betapa keluarga itu akan kaget sekali melihat kemunculan yang tiba-tiba dan betapa akan gembiranya pertemuan antara dia dan keluarga itu, terutama dengan adik-adiknya, Lan Lan dan Lin Lin, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan halus dan nyaring dan dari ujung tikungan dinding rumah itu berloncatan keluar dua orang gadis remaja yang cantik-cantik dan lincah, yang bukan lain adalah Lan Lan dan Lin Lin.

Dua orang dara remaja kembar ini masing-masing memegang sebatang pedang dan tanpa banyak cakap lagi mereka sudah menyerang Sin Liong dengan ganasnya!

Diserang secara tiba-tiba itu Sin Liong tidak menjadi gugup dan dengan beberapa kali melangkah ke belakang saja dia sudah dapat menghindarkan serangan-serangan pedang itu.

"Eh... oh... nanti dulu...!"

Serunya.

"Maling hina, engkau sudah bosan hidup!"

Bentak seorang di antara sepasang dara kembar itu dan dengan loncatan cepat dia sudah menyerbu dan menusukkan pedangnya ke arah dada Sin Liong!

"Dia tentu kawan-kawan para pencopet itu, enci Lan.

Hajar saja!"

Bentak dara ke dua dan diapun menerjang ke depan dan mengayun pedangnya menyerang ke arah kedua kaki Sin Liong!

"Eittt...

tahan dulu...!"

Sin Liong membuat gerakan kaku menarik tubuh atas ke belakang menekuk lututnya sehingga tusukan pedang Lan Lan tadi luput dan ujung pedang itu berhenti di depan hidunngnya, sedangkan ketika pedang Lin Lin menyambar lutut, dia cepat meloncat ke belakang menghindarkan diri.

Biarpun gerakannya kaku karena memang Sin Liong tidak ingin memamerkan kepandaian, namun tentu saja gerakan ini dengan mudah dapai membebaskan dia dari serangan yang tiba-tiba itu.

"Lan Lan dan Lin Lin, tahan dulu...!"

Teriaknya ketika melihat mereka menyerang lagi sehingga terpaksa dia meloncat ke sana-sini seperti monyet menari-nari, namun semua serangan bertubi-tubi itu luput semua.

Mendengar disebutnya nama panggilan sehari-hari mereka, dua orang dara kembar itu makin marah.

"Kurang ajar kau!"

Bentak mereka hampir berbareng dan kini pedang mereka digerakkan makin gencar, bertubi-tubi mendesak ke arah Sin Liong.

Diam-diam Sin Liong gembira menyaksikan gerakan dua orang adik tirinya itu karena dia memperoleh kenyataan bahwa gerakan mereka cukup gesit dan mengandung tenaga sin-kang yang lumayan.

Diapun tidak mau memperkenalkan diri lebih dulu karena dia ingin menguji lebih jauh sampai di mana tingkat kepandaian dua orang adik kembarnya.

Tentu saja dia selalu membuat gerakan kaku dan terdesak, namun tak pernah ujung kedua batang pedang itu dapat menyentuh ujung bajunya sekalipun.

Tiba-tiba nampak bayangan orang berkelebat dan ternyata Bi Cu sudah meloncat cepat ke tempat itu dan tangan kanannya memegang sebatang rating kayu sebesar lengan.

Dengan gerakan indah dia menangkis dengan ranting kayu itu.

"Trakk! Trakkk!"

Dua batang pedang itu terpukul mundur dan ternyata tangkisan ranting kayu yang digetarkan hebat itu membuat dua orang dara kembar ini terkejut karena mereka merasa betapa pedang mereka tergetar dan tangan mereka nyeri!

"Jangan takut, Sin Liong, biar aku menghadapi mereka!"

Bentak Bi Cu.

Dua orang dara kembar itu terkejut dan heran.

Mereka terbelalak memandang kepada Sin Liong dan dengan berbareng bibir mereka bergerak.

"Sin Liong...?"

"Lan-moi dan Lin-moi, apakah kalian tidak mengenal kakakmu sendiri? Aku adalah Sin Liong..."

Kata Sin Liong dengan suara gemetar karena terharu.

Dua orang gadis itu terbelalak, lalu melemparkan pedang dan mereka berlari menghampiri pemuda itu.

"Liong koko...!"

Lan Lan dan Lin Lin merangkul dengan wajah berseri gembira.

Sin Liong teringat ibunya.

Dia merangkul dua orang dara kembar itu dengan penuh kasih sayang.

"Lan-moi dan Lin-moi, kalian telah menjadi dua orang dara yang amat manis dan cantik jelita, juga kepandaianmu hebat, hampir saja aku kalian jadikan bakso!"

Akan tetapi dua orang dara remaja kembar itu tiba-tiba menoleh dan memandang kepada Bi Cu yang masih berdiri bengong sambil tetap memegang ranting kayu di tangannya yang tadi dipergunakannya untuk melindungi Sin Liong.

Dia memang mempunyai kepandaian istimewa dalam memainkan senjata tongkat, yaitu ilmu Tongkat Ngo-lian Pang-hoat (Ilmu Tongkat Lima Teratai) yang dipelajarinya dari mendiang Hwa-i Sin-kai.

"Liong-ko, siapakah dia?"

Tanya Lan Lan. Sin Liong baru teringat kepada Bi Cu maka cepat-cepat dia memperkenalkan.

"Bi Cu, inilah adik-adikku itu, Kui Lan dan Kui Lin. Lan-moi dan Lin-moi, ini adalah Bhe Bi Cu, yang pernah menjadi sumoiku."

"Ahhh...!"

Dua orang dara kembar itu berseru girang dan mereka segera tersenyum ramah kepada Bi Cu.

Lenyaplah kemarahan Bi Cu tadi ketika melihat dua orang dara kembar itu tersenyum demikian manisnya.

"Liong-ko, engkau mengagetkan orang saja!"

Lan Lan menegur.

"Kenapa tidak langsung masuk dari pintu depan?"

Sin Liong tersenyum.

"Aku memang ingin membikin kaget kalian. Bagaimana keadaan kalian sekeluarga?"

"Ayah pasti akan girang mendengar kedatanganmu. Mari, Liong-ko, ayah berada di dalam. Mari kita temui dia! Enci Bi Cu, mari ikut!"

Kata Lin Lin yang mendahului mereka lari melalui pintu samping ke dalam rumah sambil berteriak-teriak.

"Ayah. Liong-koko telah pulang...!"

Sin Liong hanya tersenyum penuh keharuan ketika dia menggandeng tangan Lan Lan mengikuti Lin Lin dan Bi Cu mengikuti pula dari belakang.

Dia ikut gembira melihat penyambutan dua orang dara kembar itu terhadap kedatangan kakaknya dan diam-diam dia merasa iri hati terhadap Sin Liong.

Biarpun seperti juga dia, Sin Liong sudah yatim piatu, akan tetapi setidaknya Sin Liong mempunyai adik-adik tiri semanis dua orang dara kembar itu!

Sedangkan dia, dia tidak mempunyai siapa-siapa.

Kui Hok Boan tercengang ketika mendengar bahwa Sin Liong muncul secara tiba-tiba di rumahnya.

Diam-diam dia merasa tidak senang dan menganggap kedatangan ini sebagai gangguan.

Selama beberapa tahun ini, semenjak pindah dari Lembah Naga, dia hidup tenteram sebagai seorang hartawan dan tuan tanah yang disegani di dusun itu.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Kui Hok Boan yang tampan dan selalu berpakaian seperti sasterawan ini, semenjak kematian isterinya, yaitu Liong Si Kwi ibu kandung Sin Liong, segera meninggalkan Lembah Naga karena memang hal ini diharuskan oleh Raja Sabutai.

Ketika meninggalkan Lembah Naga, Kui Hok Boan membawa harta bendanya, yaitu harta pusaka yang didapatkannya di Istana Lembah Naga, maka dia dapat hidup sebagai seorang hartawan besar di dusun dekat kota raja itu dan mempunyai sawah yang luas sekali.

Dia hidup dengan tenteram, mendidik dua orang puterinya dan dua orang keponakannya, yaitu Kwan Siong Bu dan Tee Beng Sin.

Selama ini dia mengambil beberapa orang selir, akan tetapi tidak pernah menikah kembali dan di antara selir-selirnya tidak ada yang mempunyai anak.

Dia tidak pernah lagi ingat kepada Sin Liong yang dianggapnya dan diharapkannya telah meninggal dunia.

Maka, tentu saja dia tercengang ketika mendengar suara Lin Lin yang meneriakkan kedatangan Sin Liong.

Betapapun juga, Kui Hok Boan adalah seorang yang cerdik.

Dia dapat menekan perasaan tidak senangnya dan dengan muka berseri dan senyum lebar dia keluar menyambut kedatangan anak tirinya itu.

Alisnya terangkat ketika dia melihat Bi Cu ikut masuk bersama dua orang puterinya dan Sin Liong, Akan tetapi sepasang matanya membuat Bi Cu diam-diam mencatat bahwa tuan rumah ini tergolong seorang laki-laki yang matanya berkilat dan berminyak apabila memandang wanita!

Sebagai seorang dara remaja yang sudah biasa bergaul dan setiap hari berada di pasar, tentu saja Bi Cu dapat mengenal pandang mata para laki-laki yang memandangnya.

Sejenak Kui Hok Boan dan Sin Liong saling pandang dan dalam waktu singkat itu masing-masing telah menilai.

Bagi Sin Liong, ayah tirinya itu nampak lebih kurus dari biasanya, dan kini telah berkumis dan berjenggot pendek.

Di lain fihak, Kui Hok Boan memandang wajah Sin Liong penuh perhatian dan dia harus mengakui bahwa anak tirinya ini telah menjadi seorang pemuda remaja yang tampan dan membawa sifat-sifat gagah yang tersembunyi.

Maka dia bersikap hati-hati sekali dan sambil tersenyum lebar dia maju menghampiri.

"Ahhh, anak Sin Liong, ke mana saja engkau selama bertahun-tahun ini?"

Tegurnya ramah.

"Saya merantau sampai jauh, paman, dan akhirnya saya tinggal di kota raja, bekerja sebagai pelayan rumah makan,"

Jawab Sin Liong yang sampai sekarang tetap tidak mau menyebut ayah kepada ayah tirinya itu, melainkan menyebut paman, Hok Boan agaknya juga tidak perduli akan hal ini dan dia mendengarkan penuturan Sin Liong dengan penuh perhatian.

"Ah, bagus kalau begitu! Dan sekarang engkau datang ke sini, apakah hanya ingin berkunjung ataukah ada keperluan lain? Dan siapakah nona ini?"

Dia memandang kepada Bi Cu dan kembali dara ini melihat sinar mata laki-laki ini berkilat, membuat dia makin tidak senang dan segera menundukkan mukanya.

"Saya datang untuk minta pertolongan dan perlindungan dari paman Kui,"

Sin Liong berkata.

"Saya dituduh pemberontak dan dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah."

Berubah wajah Kui Hok Boan mendengar ini, dan jelas bahwa dia nampak terkejut sekali dan juga terheran.

"Duduklah kalian berdua, dan ceritakan semuanya kepadaku, Sin Liong."

Sin Liong dan Bi Cu duduk berhadapan dengan orang she Kui itu, sedangkan Lan Lan dan Lin Lin duduk di samping ikut mendengarkan dengan penuh perhatian.

Karena memang mengharapkan perlindungan dalam rumah keluarga itu, Sin Liong lalu dengan singkat namun jelas menuturkan keadaannya tanpa menyebut-nyebut tentang hubungannya dengan pemberontak Cia Bun Houw, bahkan dia tidak menyinggung tentang kepandaiannya.

Akan tetapi karena dia tahu bahwa Kui Hok Boan telah mengenal Kim Hong Liu-nio, bahkan menjadi musuh besarnya karena Kim Hong Liu-nio adalah pembunuh ibu kandungnya, juga ibu kandung Lan Lan dan Lin Lin, dia tidak menyembunyikan tentang wanita iblis itu.

"Ketika saya sedang bekerja di rumah makan itu, tiba-tiba muncul iblis betina musuh besar kita itu, paman, dan dia berteriak menuduh saya sebagai pemberontak. Saya melarikan diri dan dikejar-kejar oleh pasukan. Untung ada nona Bhe Bi Cu ini yang menolong saya dan menyembunyikan saya sehingga pasukan itu tidak menemukan saya, kemudian saya mengajaknya untuk melarikan diri ke sini dengan harapan paman akan suka menolong kami dan memberi perlindungan di sini sampai keadaan menjadi aman."

Diam-diam Kui Hok Boan terkejut dan gentar bukan main mendengar penuturan Sin Liong itu.

Mendengar bahwa wanita iblis itu muncul di kota raja dan melakukan pengejaran terhadap Sin Liong saja sudah mendatangkan rasa ngeri di dalam hatinya, apalagi mendengar bahwa Sin Liong kini dianggap pemberontak dan dikejar-kejar oleh pasukan pemerintah.

Tentu saja dia merasa gentar, takut kalau-kalau wanita itu akan terus mengejar dan sampai ke situ, apalagi kalau sampai pasukan pemerintah tahu bahwa Sin Liong tinggal di rumahnya, tentu dia akan dituduh sebagai orang yang melindungi pemberontak dan akan menerima hukuman berat!

Akan tetapi, pada wajahnya tidak kelihatan tanda sesuatu.

"Ayah, kita harus melindungi Liong-koko!"

Tiba-tiba Lan Lan berkata.

"Benar, ayah. Liong-ko dan enci Bi Cu biar tinggal dan bersembunyi dulu di sini!"

Sambung Lin Lin.

Kui Hok Boan memandang kedua orang puterinya itu dan dia makin merasa tidak enak untuk menolak permintaan Sin Liong tadi.

Dia sendiri memang tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Sin Liong karena memang anak ini bukan apa-apanya, hanya anak tiri, akan tetapi bagi Lan Lan dan Lin Lin, Sin Liong merupakan saudara seibu dan sekandung, biarpun berlainan ayah.

"Hemm, tentu saja aku tidak keberatan dan suka melindungimu, Sin Liong, hanya kita harus pikirkan baik-baik akan bahayanya kalau sampai wanita iblis itu mengejar ke sini."

"Kita akan lawan bersama!"

Terlak Lan Lan.

"Apalagi di sini ada enci Bi Cu. Ayah, enci Bi Cu ini lihai sekali, tadi kami salah sangka menyerang Liong-koko, akan tetapi hanya dengan sebatang ranting saja enci Bi Cu dapat menangkis pedang kami!"

Bi Cu tersenyum dan dia tidak pernah bosan memandang dua orang dara kembar itu yang dianggapnya amat manis dan juga demikian serupa bentuk wajah dan gerak-geriknya sehingga biarpun dia tadi sudah diperkenalkan, dia tetap saja tidak mampu membedakan dan tidak dapat mengenal lagi yang mana Lan Lan dan yang mana Lin Lin.

Akan tetapi, tentu saja bagi Sin Liong tidak sukar untuk membedakan kedua adiknya itu karena dia tahu bahwa Lan Lan mempunyai titik kecil merah di leher kirinya, dan yang sikapnya terbuka, lincah dan gembira adalah Lan Lan, sedangkan Lin Lin lebih pendiam.

Mendengar ucapan Lan Lan itu, Kui Hok Boan makin tertarik kepada Bi Cu dan dia memandang penuh perhatian.

Kini sinar kekaguman terpancar dari sepasang matanya tanpa disembunyikan lagi sehingga Bi Cu merasa makin kikuk.

"Ah, kiranya nona memiliki kepandaian silat yang tinggi? Kalau boleh saya bertanya, siapakah guru nona?"

Laki-laki yang usianya kurang lebih empat puluh lima tahun itu tersenyum seramahnya kepada dara remaja yang cantik manis itu.

Bi Cu hanya memandang sejenak lalu menunduk kembali, mengerutkan alisnya karena dia meragu untuk mengaku.

Akan tetapi Sin Liong maklum akan kekerasan hati ayah tirinya, dan ketidak terusterangan Bi Cu akan menimbulkan curiga.

Maka dia lalu cepat menerangkan.

"Paman Kui, Bi Cu adalah murid dari mendiang Hwa-i Sin-kai."

"Ahhh...!"

Kui Hok Boan benar-benar terkejut bukan main mendengar disebutnya nama ini.

Siapa orangnya yang tidak mengenal nama ketua Hwa-i Kai-pang yang tersohor di kota raja dan sekelilingnya itu?

Apalagi setelah perkumpulan itu dianggap pemberontak dan dimusuhi oleh pemerintah!

"Hwa-i Kai-pangcu...?

Bukankah...

bukankah perkumpulan itu..."

Dia tidak melanjutkan dan menatap wajah dara itu dengan tajam.

Bi Cu yang merasa bahwa dia tidak perlu merahasiakannya lagi setelah Sin Liong menceritakan siapa gurunya, dan pula terhadap keluarga ayah tiri Sin Liong memang tidak perlu merahasiakan hal itu karena bukankah dia dan Sin Liong hendak berlindung di sini?

Maka dia mengangguk.

"Benar, paman. Guruku adalah mendiang ketua perkumpulan Hwa-i Kai-pang yang dituduh pemberontak pula. Akan tetapi semua itu adalah fitnah, Hwa-i Kai-pang yang telah dimusuhi dan kini terpaksa dibubarkan itu tidak pernah memberontak, dan akupun sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hwa-i Kai-pang, bahkan bukan menjadi anggautanya biarpun aku menjadi murid mendiang suhu yang menjadi ketua perkumpulan itu."

Selama Bi Cu bicara yang didengarkan dengan penuh perhatian oleh Hok Boan, orang ini telah dapat menekan hatinya yang terkejut tadi dan kini dia tersenyum dan memandang kagum.

"Ah, kiranya nona adalah murid seorang sakti! Tentu ilmu kepandaian nona amat tinggi. Mengingat akan bahaya yang mengancam kalian berdua, biarlah untuk sementara waktu kalian boleh bersembunyi di sini, akan tetapi kuharap kalian tidak memperlihatkan diri keluar karena kalian sendiri tahu bahwa kalau pasukan pemerintah menemukan kalian di sini, berarti keluarga kami akan binasa."

"Baiklah, paman dan banyak terima kasih kami haturkan atas kebaikan paman menolong kami. Kamipun hanya akan bersembunyi sampai keadaan mereda sehingga kami dapat melanjutkan perjalanan kami menuju ke utara."

"Apa? Engkau hendak ke sana...? Ke Lembah Naga...?"

Hok Boan bertanya kaget. Sin Liong menggeleng kepala.

"Bukan ke Lembah Naga, paman, melainkan ke dusun Pek-hwa-cung di kaki Pegunungan Khing-an-san..."

Sin Liong berhenti dan memandang wajah ayah tirinya karena dia melihat perubahan pada wajah itu, yang menjadi agak pucat dan matanya terbelalak, tanda bahwa ayah tirinya itu terkejut dan heran mendengar disebutnya nama dusun itu.

"Pek-hwa-cung...?"

Khi Hok Boan mengulang nama dusun itu dan matanya memandang jauh.

"Benar, paman, dan Bi Cu ingin bertanya sesuatu kepada paman, mengingat bahwa paman sudah banyak menjelajah di sekitar daerah utara."

Ucapan ini memberi kesempatan kepada Kui Hok Boan untuk menenangkan jantungnya yang berdebar karena kaget mendengar nama dusun yang mendatangkan kembali kenang-kenangan hebat yang pernah dialaminya di dusun itu.

Dia tersenyum kembali dengan sikap tenang, menoleh ke arah Bi Cu dan memandang gadis itu dengan sikap ramah, lalu bertanya, suaranya biasa lagi.

"Nona, apakah yang hendak kau tanyakan kepadaku? Memang banyak juga aku mengenal tempat-tempat di sana, dan dusun Pek-hwa-cun tidak asing bagiku."

Berdebar jantung dalam dada Bi Cu, penuh ketegangan dan harapan.

Siapa tahu dia akan berhasil memperoleh keterangan tentang ayahnya dari orang ini.

"Paman Kui, sebelumnya terima kasih atas kebaikanmu. Aku hanya ingin mengetahui apakah paman mengenal seorang laki-laki yang bernama Bhe Coan dan pernah tinggal di dusun Pek-hwa-cung sana?"

Kembali Kui Hok Boan mengalami guncangan batin hebat, namun kini dia sudah siap menghadapi segala sesuatu, maka wajahnya tidak memperlihatkan perubahan sungguhpun dia hampir terlonjak saking kagetnya.

Diam-diam Sin Liong yang sejak tadi mengawasi ayah tirinya itu, merasakan kekagetan ayah tirinya yang ditekan-tekan itu, namun dia diam saja.

"Bhe Coan...?"

Kui Hok Boan pura-pura mengingat-ingat dan mengerutkan alisnya sambil menekan perasaannya yang terlontar melalui pengulangan nama yang amat dikenalnya itu sehingga suaranya tadi terdengar agak sumbang dan gemetar.

"Ya, Bhe Coan, seorang pandai besi, seorang ahli pembuat pedang!"

Bi Cu yang sedang dilanda ketegangan dan harapan itu tidak mendengar getaran suara itu dan melengkapi keterangannya cepat-cepat sambil memandang wajah Hok Boan penuh perhatian dan pengharapan.

"Ah, Bhe Coan...? Bhe Coan si pandai besi, ahli pembuat pedang? Tentu saja aku mengenal mendiang Bhe Coan! Dia telah meninggal dunia..."

Wajah Bi Cu girang sekali.

"Memang dia telah meninggal dunia, paman Kui. Aku tahu bahwa ayahku telah meninggal dunia dan karena itulah maka aku bertanya kepada paman..."

"Ayahmu...? Ah, sungguh tak terduga! Jadi engkau ini anaknya...?"

Hampir saja Kui Hok Boan kelepasan bicara karena memang dia dahulu pernah mendengar dari Bhe Coan bahwa ahli pembuat pedang itu mempunyai seorang anak perempuan yang dititipkan kepada seorang sahabat baiknya ketika dia menikah dengan janda yang bernama Leng Ci.

Menurut penuturan mendiang Bhe Coan, sahabatnya itu adalah seorang piauwsu she Na yang tinggal di kota Shen-yang di Propinsi Liao-ning.

Tentu saja dia tidak tahu bahwa Na-piauwsu semenjak menerima Bi Cu sebagai anak angkat atau muridnya, telah pindah ke kota Kun-ting di Propinsi Ho-pei, sebelah selatan kota raja.

Dia tidak tahu pula malapetaka yang menimpa keluarga Na itu.

"Benar, paman Kui. Aku adalah anak tunggal dari mendiang ayahku itu, dan yang hendak kutanyakan kepada paman adalah tentang kematian ayahku. Paman mengenalnya, tentu paman mendengar pula bagaimana ayah meninggal dunia."

Sepasang mata yang jernih itu memandang dengan penuh perhatian dan juga penuh harapan kepada Kui Hok Boan yang tentu saja amat terguncang batinnya.Segera terbayang semua peristiwa yang dialaminya di dalam rumah Bhe Coan, belasan tahun yang lalu itu.

Seperti telah dituturkan di bagian depan dari cerita ini, Kui Hok Boan yang ketika itu masih merupakan seorang pria berusia tiga puluh tahun yang tampan dan gagah, berpakaian sasterawan dan gerak-geriknya halus, datang bertamu ke rumah pandai besi atau ahli pembuat pedang yang terkenal itu untuk memesan sebatang pedang.

Karena pandainya bersikap manis, Bhe Coan yang jujur tertarik dan mempersilakan Kui Hok Boan untuk bermalam dan tinggal di rumahnya selagi dia membuatkan pedang yang dipesannya.

Dalam kesempatan ini, Kui Hok Boan yang terkenal mata keranjang itu tak dapat melewatkan seorang wanita cantik seperti isteri Bhe Coan begitu saja.

Dirayunya isteri Bhe Coan, bekas janda Leng Ci yang cantik genit itu dan mereka lalu mengadakan hubungan perjinaan di dalam rumah Bhe Coan sendiri!

Akhirnya, setelah pedang selesai, Bhe Coan menangkap basah dua orang yang sedang berjina di dalam kamarnya itu.

Kemarahan yang meluap-luap membuat Bhe Coan menusukkan pedang yang baru selesai dibuatnya itu ke arah Hok Boan.

Hok Boan mengelak dan pedang itu menembus dada Leng Ci!

Kemudian, terpaksa Hok Boan menggunakan kepandaiannya untuk membunuh Bhe Coan, dan tanpa diketahui siapapun dia meninggalkan dua jenazah itu dalam kamar dan melarikan diri!

"Bagaimana, paman Kui?

Maukah paman menceritakan kepadaku tentang kematian ayahku itu?"

Bi Cu mengulangi pertanyaannya ketika dia melihat tuan rumah duduk termenung seperti tidak pernah mendengar pertanyaannya yang pertama tadi.

"Ohh? Tidak... aku tidak tahu, aku hanya mendengar bahwa dia meninggal dunia. Sudah lama aku tidak bertemu lagi dengan dia semenjak aku memesan pedang kepadanya, kau tunggu... pedang itu masih kusimpan sampai sekarang..."

Kui Hok Boan lalu bangkit berdiri dan meninggalkan ruangan itu melalui pintu sebelah dalam.

Melihat sikap tuan rumah yang seperti tergesa-gesa itu, diam-diam Sin Liong merasa heran sekali.

Dia melihat seolah-olah ayah tirinya menjadi gugup dan bingung ketika ditanya tentang kematian ayah kandung Bi Cu!Sementara itu, begitu menutupkan daun pintu yang menembus ke ruangan itu, Kui Hok Boan cepat berlari memasuki kamarnya dengan napas agak memburu.

Celaka, pikirnya, siapa sangka bahwa dia akan bertemu muka dengan puteri Bhe Coan yang dibunuhnya itu!

Dan lebih celaka lagi, dara itu justerubertanya kepadanya tentang kematian ayahnya!

Ini berbahaya!

Kalau dia tidak cepat bertindak, dan rahasia itu sampai terbuka, berarti dara itu merupakan musuh besar yang tentu akan selalu berusaha untuk membalas kematian ayahnya.

Dia menduga-duga sampai berapa jauh dara itu tahu tentang kematian ayahnya.

Sementara itu, otaknya bekerja cepat dalam usahanya merencanakan suatu siasat untuk menyelamatkan dirinya dan menghancurkan orang-orang yang tidak disenanginya.

Di lain saat Kui Hok Boan telah menulis sehelai surat dalam kamarnya.

Jari-jari tangannya yang memang cekatan dan pandai menulls itu bergerak cepat menyelesaikan sebuah surat yang dimasukkannya dalam sampul dan ditutupnya rapat-rapat.

Setelah itu, dengan tergesa-gesa dia mengantongi surat itu dan mengeluarkan seguci arak dari dalam almari, berikut sebungkus obat putih dari saku bajunya.

Dituangkannya sedikit bubuk putih ke dalam guci arak, kemudian setelah menyimpan kembali bungkusan obat bubuk itu, dia memanggil pelayan.

"Sediakan makanan untuk dua orang dan juga arak ini, lalu hidangkan di kamar tamu!"

Perintahnya kepada pelayan wanita yang cepat datang memenuhi panggilannya.

"Dan coba panggil dulu kedua orang nona ke sini!"

Pelayan itu cepat berlalu menuju ke depan, ke ruangan di mana Lan Lan dan Lin Lin sedang bercakap-cakap dengan gembira bersama Sin Liong dan Bi Cu.

"Eh, Lan-moi, di mana adanya Siong Bu dan Beng Sin? Kenapa aku tidak melihat mereka?"

Tanya Sin Liong.

"Mereka disuruh oleh ayah untuk menagih uang sewa tanah, dan sore nanti baru akan pulang,"

Jawab yang ditanya.

Pada saat itu muncullah pelayan yang menyampaikan panggilan Kui Hok Boan kepada dua orang puterinya.

Dua orang dara kembar itu merasa heran, akan tetapi mereka segera minta maaf dan meninggalkan dua orang tamunya, langsung pergi ke kamar ayah mereka bersama pelayan yang juga kembali ke situ untuk mengambil guci arak dan mempersiapkan hidangan untuk dua orang tamu seperti dipesan oleh majikannya.

"Ayah memanggil kami?"

Tanya Lan Lan.

"Ya, ayah mempunyai urusan yang amat penting. Kalian cepat pergilah kepada komandan Kwan di kota raja dan serahkan suratku ini kepadanya. Pergilah cepat-cepat dan kembali cepat."

"Tapi, ayah, di sini ada Liong-koko. Kenapa ayah tidak menyuruh pelayan saja, atau menanti sampai Bu-ko atau Sin-ko pulang?"

Lan Lan membantah.

"Urusan ini penting sekali, kalian harus cepat serahkan surat ini dan jangan membantah!"

Bentak Kui Hok Boan sambil menyerahkan surat itu.

"Kalian naik kuda saja agar cepat!"

"Biar aku yang mengantar surat itu, biar enci Lan menemani Liong-ko dan enci Bi Cu,"

Kata Lin Lin.

"Tidak! Tidak baik seorang gadis pergi sendirian saja. Kalian pergi berdua, jangan khawatir tentang Sin Liong dan Bi Cu, aku yang akan menemani mereka. Aku masih ingin bicara banyak dengan mereka."

Dua orang gadis kembar itu saling pandang.

Lin Lin adalah seorang gadis pendiam, lebih pendiam dibandingkan dengan watak Lan Lan yang lincah jenaka akan tetapi karena pendiam ini dia lebih cerdas.

"Ayah, Liong-ko dan enci Bi Cu sedang dicari-cari pasukan pemerintah. Sekarang ayah mengirim surat kepada komandan Kwan, seorang komandan pengawal istana. Apakah ada hubungannya dengan kedatangan Liong-ko?"

Kui Hok Boan memandang wajah puterinya ini dan mengangguk-angguk.

"Engkau cerdas sekali, Lin Lin. Memang benar dugaanmu. Kalian tahu, mereka berdua itu harus bersembunyi di sini untuk beberapa pekan lamanya sampai keadaan mereda. Bagaimana kalau tiba-tiba Kwan-ciangkun berkunjung ke sini seperti biasanya? Oleh karena itu, aku mengirim surat kepadanya, memberi tahu bahwa aku hari ini akan berangkat pergi ke selatan selama satu bulan sehingga dengan demikian, sebelum lewat sebulan dia tentu tidak akan datang ke sini. Nah, cepat kalian sampaikan surat ini kepadanya!"

Mendengar ini, Lan Lan dan Lin Lin tidak banyak cakap lagi, lalu mereka berganti pakaian dan berangkat meninggalkan rumah mereka, menunggang dua ekor kuda pilihan.

Sementara itu, Kui Hok Boan mengambil sebatang pedang dari dalam almari, kemudian membawa pedang itu ke luar kembali ke ruangan tamu di mana Sin Liong dan Bi Cu menanti dengan tuan rumah pergi begitu lama, dan juga Lan Lan dan Lin Lin tidak nampak kembali, bahkan mereka tadi jelas mendengar derap kaki dua ekor kuda membalap meninggalkan rumah itu.

"Sin Liong, perasaanku tidak enak sekali... aku... aku tidak kerasan tinggal di sini,"

Bisik Bi Cu.

"Sstt, kita terpaksa, Bi Cu. Hanya untuk beberapa hari sampai keadaan mereda. Jangan kahwatir, andaikata ayah tiriku itu kurang begitu suka kepadaku, namun jelas kedua orang adikku Lan Lan dan Lin Lin itu amat sayang kepadaku."

Mendengar jawaban ini, legalah hati Bi Cu karena diapun dapat melihat sendiri betapa sikap kedua orang dara kembar itu amat baik dan ramah.

Mereka segera diam ketika mendengar langkah kaki, dan muncullah Kui Hok Boan dengan wajah berseri dan tangannya membawa sebatang pedang yang sarungnya terukir indah.

"Maaf, karena ada keperluan lain, maka agak lama aku meninggalkan kalian di sini,"

Katanya.

"Paman, di manakah adik Lan dan Lin?"

Sin Liong bertanya, teringat akan bunyi derap kaki dua ekor kuda tadi.

"Ah, mereka sedang pergi, kusuruh menyusul Siong Bu dan Beng Sin,"

Jawab Hok Boan yang memang sudah siap menghadapi pertanyaan itu, Sin Liong menjadi girang dan hilanglah kecurigaannya.

"Nona Bhe, inilah pedang buatan mendiang saudara Bhe Coan itu. Dan hanya satu kali itulah aku bertemu dengan dia ketika aku berkunjung dan memesan pedang ini,"

Hok Boan mengulurkan tangan yang memegang pedang kepada Bi Cu.

Dara remaja ini segera menerima pedang, menghunus pedang itu.

Sebatang pedang yang amat baik.

Tiba-tiba keharuan dan kedukaan menyerang hati Bi Cu dan dara ini tersedu sambil mendekap pedang dan mencium mata pedang buatan ayahnya, merasa seolah-olah dia sedang mencium tangan ayahnya.

Sama sekali dia tidak pernah mimpi bahwa pedang yang diciumnya itu pernah dipergunakan oleh ayah kandungnya untuk menyerang tuan rumah ini dan pedang itu menembus dada ibu tirinya.

Akan tetapi hanya sebentar dia menangis karena Bi Cu sudah dapat mengusai guncangan batinnya, lalu mengembalikan pedang itu kepada pemiliknya.

Pada saat itu, Lan Lan dan Lin Lin sudah pergi jauh dengan kuda mereka yang mereka balapkan menuju ke kota raja.

Debu mengepul tinggi di belakang kaki kuda mereka yang lari kencang.

Akan tetapi ketika mereka berada di jalan di antara sawah ladang yang sepi, tiba-tiba Lin Lin berseru kepada encinya agar berhenti.

"Ada apakah?"

Lan Lan bertanya setelah dia menahan kendali kudanya dan kedua ekor kuda itu berhenti di tengah jalan.

"Enci Lan, hatiku sungguh merasa tidak enak,"

Kata si adik yang biasanya pendiam itu.

"Aihh, jangan bilang bahwa engkau takut untuk melewati hutan di depan itu, Lin-moi. Sudah beberapa ratus kali kita lewat di situ dan tidak pernah terjadi sesuatu. Pula, siapakah yang akan berani mengganggu kita? Andaikata ada yang berani mengganggu kita, kitapun tidak usah takut! Pedang kita akan menghadapi dan menghajar siapa yang berani mengganggu kita!"

Lan Lan menepuk pedang yang tergantung di pinggangnya. Lin Lin menggeleng kepala.

"Hatiku merasa tidak enak bukan mengkhawatirkan diri kita, enci, melainkan diri Liong-koko."

Lan Lan membelalakkan mata dengan heran.

"Eh, apa maksudmu, Lin Lin?"

"Surat yang kau bawa itu, enci. Liong-koko dituduh pemberontak dan berada di dalam rumah kita. Sekarang ayah mengirim surat kepada Kwan-ciangkun. Benar-benar aneh dan mengkhawatirkan."

"Kau mencurigai ayah?"

"Aku tahu bahwa mencurigai ayah sendiri adalah tidak baik, akan tetapi akupun tahu betapa ayah tidak suka kepada Liong-ko, kalau bukannya membenci malah. Lupakah kau akan sikap ayah terhadap Liong-ko dahulu? Aku khawatir, enci."

Lan Lan juga menjadi bimbang.

Diambilnya surat bersampul tertutup rapat itu dari dalam saku bajunya dan ditimang-timangnya.

"Habis, bagaimana?"

Tanyanya bingung.

"Kita buka dan baca dulu isinya!"

"Ahh...!"

Lan Lan meragu.

"Surat ini bersampul dan tertutup rapat..."

"Aku sengaja membawa perekat dari rumah, enci. Kita buka, baca dan tutup lagi dengan perekat ini."

Lin Lin mengeluarkan sebungkus perekat.

Kiranya sejak dari rumah tadi gadis ini sudah menaruh curiga dan sudah merencanakan untuk membuka surat ayahnya itu dan membaca isinya.

"Engkau benar, adikku. Biarpun perbuatan kita ini tidak patut, akan tetapi kita harus mencegah ayah melakukan hal yang jahat."

Mereka berdua lalu turun dari punggung kuda, bersama-sama mereka lalu membuka sampul surat itu dengan hati-hati agar jangan sampai terobek, kemudian bersama-sama pula mereka membaca isi surat dalam sampul.

Kwan-ciangkun yang terhormat Harap segera membawa pasukan untuk menangkap pemberontak-pemberontak Cia Sin Liong dan Bhe Bi Cu yang berada di rumah saya.

Cepat agar jangan terlambat!

Hormat saya.

yang setia kepada negara, Kui Hok Boan Wajah kedua orang dara kembar itu menjadi pucat seketika.

"Celaka, kiranya dugaanmu benar, Lin-moi!"

Seru Lan Lan dengan gemas.

"Ayah telah mengkhianati mereka! Ah, sungguh celaka!"

Lin Lin juga menjadi bingung sejenak, akan tetapi gadis yang cerdik ini lalu berkata.

"Kita harus menggunakan akal, enci."

"Bagalmana akalnya? Ah, betapa jahatnya ayah...!"

"Ssst, jangan berkata demikian, enci! Mungkin ayah melakukan hal itu terdorong oleh rasa setia kepada negara, atau juga karena tidak sukanya kepada Liong-koko. Betapapun juga, kita harus menolong Liong-ko."

"Engkau benar, akan tetapi bagaimana caranya? Kalau kita tidak menyampaikan surat ini, tentu ayah akan marah sekali kepada kita dan hal itupun bukan berarti menolong Liong-ko terbebas dari ancaman bahaya."

"Kita harus cerdik, enci Lan. Surat itu harus kita sampaikan kepada alamatnya, akan tetapi tidak perlu kita berdua yang ke kota raja. Sebaiknya engkau saja melanjutkan perjalanan ke kota raja untuk menyampaikan surat ini kepada Kwan-ciangkun, dan aku sendiri akan kembali ke rumah dan aku akan memberi tahu kepada Liong-ko agar dia dan enci Bi Cu dapat melarikan diri sebelum pasukan itu datang."

"Bagus! Akan tetapi bagaimana kalau ayah curiga dan marah melihat engkau pulang sendiri dan tidak menemaniku ke kota raja?"

"Jangan khawatir, hal itu dapat kuatur. Pula, setelah tiba di rumah, tentu malam telah tiba dan aku dapat secara diam-diam melakukan hal itu. Engkau sendiri harap melakukan perjalanan lambat saja, makin lambat makin baik, enci Lan. Atau, engkau dapat menyerahkan surat itu besok pagi-pagi saja, dengan alasan bahwa tidak enak malam-malam datang berkunjung ke rumah Kwan-ciangkun. Sementara itu, malam ini Liong-koko dan enci Bi Cu sudah dapat menyelamatkan diri."

Lan Lan merangkul dan mencium pipi adik kembarnya.

"Engkau hebat! Nah, kita berpisah di sini dan membagi tugas masing-masing."

"Surat itu harus direkat kembali lebih dulu, enci,"

Kata Lin Lin.

Mereka berdua lalu merapatkan kembali sampul surat dan setelah Lan Lan memasukkan sampul surat itu ke dalam sakunya, keduanya lalu meloncat ke atas punggung kuda masing-masing, akan tetapi mereka berpisah jalan.

Lan Lan melanjutkan perjalanan ke kota raja sedangkan Lin Lin kembali ke dusun.

Lan Lan menjalankan kudanya lambat-lambat akan tetapi Lin Lin membalap.

Di sepanjang perjalanan, Lan Lan termenung sedih.

Biarpun ada kemungkinan ayahnya melakukan pengkhianatan terhadap Sin Liong itu karena terdorong oleh keinginan berbakti kepada negara dan membantu penangkapan orang yang dituduh pemberontak, namun perbuatan itu kejam dan jahat.

Betapapun juga, Sin Liong adalah putera ibu kandungnya, dan anak tiri dari ayahnya, semenjak kecil tinggal serumah.

Mengapa ayahnya begitu tega dan kejam untuk melakukan siasatpenangkapan terhadap Sin Liong itu?

Pula, siapa mau percaya bahwa Sin Liong adalah seorang pemberontak?

Itu hanya tuduhan keji, fitnah keji.

Tak terasa lagi kedua mata Lan Lan menjadi basah karena hatinya amat sedih melihat kenyataan betapa ayahnya adalah seorang yang kejam dan jahat.

Kenyataan ini membuat dia makin rindu kepada ibu kandungnya, dan teringat olehnya betapa ibu kandungnya adalah seorang yang gagah perkasa.

Dan hal ini membuat dia teringat pula akan kematian ibunya itu, dan membuat hatinya makin sakit dan mendendam kepada wanita iblis yang telah membunuh ibunya.

"Kim Hong Liu-nio iblis betina! Sekali waktu aku akan memenggal batang lehermu!"

Teriaknya dan dia mencabut pedangnya, diputar-putar di atas kepalanya sehingga kudanya menjadi terkejut dan berlari kencang.

Peluapan rasa marah dan dendam di hati Lan Lan ini sedikit banyak menghapus kedukaan dan kekecewaan hatinya melihat sikap ayahnya yang kejam terhadap Sin Liong.

Malam itu Lan Lan menginap dalam kamar sebuah hotel di kota raja dan pada keesokan harinya, setelah matahari naik tinggi, barulah dia mengunjungi rumah komandan Kwan yang telah dikenalnya karena komandan itu merupakan sahabat ayahnya.

Sudah beberapa kali dia mengunjungi rumah keluarga komandan Kwan itu, dan sering pula komandan Kwan datang berkunjung ke rumah mereka.Kwan-ciangkun sendiri yang menyambut kedatangannya dan kebetulan Kwan-ciangkun bertemu dengan dara ini di depan rumah karena komandan itu hendak pergi ke tempat kerjanya.

"Eh, nona Kui Lin..."

"Aku Kui Lan, ciangkun."

"Ah, ha-ha-ha, maaf, sudah beberapa tahun berkenalan, tetap saja aku masih belum mampu membedakan antara kalian berdua."

Komandan yang bertubuh tinggi besar itu tertawa.

"Dengan siapa nona datang? Dan bagaimana kabar ayahmu?"

"Aku datang sendirian saja, ciangkun. Dan aku disuruh oleh ayah untuk mengantarkan sebuah surat untuk Kwan-ciangkun."

"Ah, agaknya penting. Untung aku belum pergi, mari silakan duduk di dalam nona."

"Terima kasih, ciangkun. Aku hanya mengantar surat saja dan akan terus kembali, karena banyak pekerjaan menanti di rumah."

"Kalau begitu, biar kubaca dulu surat ayahmu, barangkali membutuhkan balasan."

Komandan itu lalu merobek sampul dan mengeluarkan isinya, membaca surat itu.

Wajahnya berubah, matanya terbelalak dan dia memandang kepada Kui Lan dengan mata bersinar-sinar.

"Ah, kiranya urusan yang amat penting sekali! Aku harus segera melaporkan ke atasan dan mengumpulkan pasukan! Dan kebetulan sekali dia berada di kota raja..."

"Kwan-ciangkun, kalau tidak ada balasannya, aku minta pamit sekarang saja."

"Baik, baik... tidak perlu balasan, hanya katakan kepada ayahmu bahwa aku telah menerima suratnya dan semua akan beres! Begitu saja...!"

Perwira itu kelihatan gugup dan tergesa-gesa.

Lan Lan juga tidak mau ambil pusing lagi siapayang dimaksudkan "dia"

Oleh perwira itu, dia memberi hormat lalu keluar dari pekarangan rumah itu, Kembali ke hotelnya dan tak lama kemudian dia sudah membedal kudanya keluar kota raja, kembali menuju ke dusun tempat tinggalnya.

Kwan-ciangkun itu adalah seorang kepala atau komandan dari pasukan pengawal istana.

Dia bersahabat dengan she Kui ini adalah orang yang terkaya di dusunnya, dan selain itu, juga komandan ini tahu bahwa Kui Hok Boan adalah seorang hartawan yang memiliki ilmu silat tinggi.

Persahabatan antara mereka itu mendatangkan keuntungan timbal balik.

Bagi Kwan-ciangkun tentu saja dia mendapat untung berupa pemberian hadiah-hadiah di samping dia mendapatkan seorang kawan yang pandai dalam ilmu silat maupun ilmu surat, sehingga enak untuk diajak berbincang-bincang, bahkan dalam ilmu silat, dia banyak memperoleh petunjuk dari hartawan she Kui itu.

Di fihak Kui Hok Boan, tentu saja dia merasa bangga mempunyai seorang sahabat yang menjadi komandan pasukan pengawal istana karena selain hal ini mendatangkan kehormatan baginya, juga dia akan mudah memperoleh bantuan seorang "dalam"

Apabila terjadi sesuatu atau apabila dia membutuhkan sesuatu dari fihak yang berkuasa.

Maka, begitu menerima surat dari sahabatnya itu, Kwan-ciangkun mempercaya sepenuhnya dan dia merasa girang sekali karena menangkap pemberontak buronan itu, atau lebih tepat lagi, putera dari pemberontak terkenal Cia Bun How, berarti dia akan membuat jasa yang besar.

Cepat dia berlari-lari melapor ke atasannya, yaitu panglima pasukan keamanan di kota raja dan gegerlah keadaan di dalam benteng itu.

Panglima itu segera menghubungi Kim Hong Liu-nio karena wanita ini yang pertama kali menyiarkan bahwa bocah yang tadinya bekerja sebagai pelayan di rumah makan itu adalah putera pendekar sakti Cia Bun Houw yang menjadi buronan dan bocah itu bernama Cia Sin Liong.

Pemilik rumah makan telah ditangkap, disiksa untuk mengaku dan menceritakan keadaan Sin Liong, akan tetapi majikan rumah makan yang sial itu dalam keadaan setengah mati tetap mengatakan bahwa dia mengenal pemuda itu sebagai A-sin.

Pasukan besar yang dipimpin sendiri oleh Kwan Heng Lai atau Kwan-ciangkun, ditemani pula oleh Kim Hong Liu-nio, segera berangkat melakukan pengejaran ke dusun kecil itu, dengan menunggang kuda.

Orang-orang di sepanjang perjalanan memandang dengan takut-takut dan heran melihat pasukan yang bersenjata lengkap, berwajah serius dan melakukan perjalanan tergesa-gesa ini.

Tentu ada sesuatu yang tidak beres, pikir mereka dan mereka merasa ngeri membayangkan dusun yang dijadikan sasaran oleh pasukan itu.

Biasanya, setiap kali ada pasukan melakukan pembersihan di suatu dusun, akan terjadi hal-hal yang mengerikan.

Apakah yang terjadi dengan Sin Liong dan Bi Cu di rumah keluarga Kui?

Seperti kita ketahui, setelah Lan Lan dan Lin Lin pergi memenuhi perintah ayah mereka untuk menyerahkan surat malam itu juga kepada komandan Kwan di kota raja, Sin Liong dan Bi Cu dilayani oleh Kui Hok Boan sendiri yang memperlihatkan pedang buatan mendiang Bhe Coan kepada Bi Cu.

Selagi mereka bercakap-cakap, muncullah pelayan wanita yang membawa hidangan.

Melihat ini, Sin Liong dan Bi Cu menjadi sungkan dan kikuk.

"Ah, harap paman tidak usah repot-repot,"

Kata Sin Liong melihat betapa Kui Hok Boan sendiri yang menemani mereka untuk makan minum.

"Sama sekali tidak. Hari sudah malam, sudah tiba waktunya makan malam. Mari silakan, aku sendiri sudah makan tadi. Mari silakan, nona Bhe."

Melihat dua orang muda itu kelihatan sungkan-sungkan dan kikuk, Kui Hok Boan lalu bangkit berdiri dan berkata.

"Harap kalian berdua makan yang enak, aku akan pergi dulu melakukan sesuatu di dalam. Silakan dan harap makan secukupnya, yang kenyang dan jangan malu-malu. Itu araknya harap diminum, arak wangi yang tidak keras."

Dengan ramah Kui Hok Boan mempersilakan dua orang tamunya, kemudian dia mengangguk dan meninggalkan dua orang muda remaja itu.

Setelah Kui Hok Boan pergi, barulah Sin Liong dan Bi Cu tidak merasa kikuk lagi dan karena perut mereka memang sudah lapar, mereka berdua lalu mulai makan.

"Kau suka minum arak?"

Tanya Sin Liong sambil mengangkat guci untuk dituangkan ke dalam cawan yang tersedia.

Bi Cu menggeleng kepalanya.

"Kami kaum pengemis, mana biasa minum arak?"

Kata Bi Cu tersenyum.

"Pula, mendiang suhu mengatakan bahwa arak berhawa panas, hanya tepat untuk orang-orang tua yang memerlukan bantuan hawa panas memperlancar jalan darah mereka. Tidak, aku tidak biasa minum."

Sin Liong meletakkan kembali guci arak itu di atas meja.

"Aku sendiripun tidak begitu suka minuman arak. Terlalu banyak arak bisa memabukkan, dan saat-saat seperti ini kita berdua perlu selalu waspada dan sadar."

Mereka makan secukupnya dan minum air teh, sama sekali tidak menyentuh arak di dalam guci.

Selagi makan minum, diam-diam Sin Liong memperhatikan ke arah pintu yang menembus ke dalam.

Biarpun matanya tidak dapat menembus daun pintu, namun pendengarannya yang amat tajam berkat kepandaiannya yang tinggi dan sin-kangnya yang kuat, dapat menangkap suara orang di balik daun pintu.

Mula-mula dia mengira bahwa tentu orang itu adalah pelayan yang siap untuk melayani mereka, akan tetapi makin lama dia makin merasa curiga.

Kalau pelayan, mengapa bersembunyi di balik pintu?

Dan orang itu memiliki kepandaian tinggi, ketika mendekati pintu, langkah kakinya demikian ringan dan ketika kini bersembunyi di balik pintu, tidak mengeluarkan suara apa-apa kecuali pernapasannya.

Dan pernapasan ini cukup bagi pendengaran Sin Liong untuk mengetahui bahwa di balik pintu itu ada orang bersembunyi, agaknya mengintai dan mendengarkan.

Akan tetapi dia pura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan makan minum dengan tenang.Bi Cu yang tidak begitu banyak makannya telah meletakkan mangkok dan sumpit di atas meja ketika Sin Liong masih melanjutkan makan.

Pada saat itu, pintu terbuka dan sambil makan bakso dari mangkoknya Sin Liong melirik.

Kiranya orang yang bersembunyi di balik daun pintu tadi adalah Kui Hok Boan sendiri!

Orang ini masuk sambil mencoba tersenyum, akan tetapi pandang matanya nampak kecewa.

"Silakan makan sekenyangnya, nona. Mengapa nona tidak makan?"

Dia berkata mempersilakan sambil menghampiri meja.

"Terima kasih, aku sudah makan cukup,"

Kata Bi Cu sedangkan Sin Liong masih melanjutkan makannya. Kui Hok Boan duduk.

"Ah, nona Bhe, kenapa makan hanya sedikit? Dan ini... ah, kenapa arak dalam guci masih penuh? Apakah kalian tidak mau minum arak yang kusuguhkan?"

"Terima kash paman, kami berdua tidak biasa minum arak,"

Jawab Sin Liong sambil meletakkan sumpit dan mangkoknya yang kini telah kosong.

Baca Juga: Jodoh Rajawali 11

Baca Juga: Bu Kek Siansu 9

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert