Eps 8 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
Melihat ini, Hek-hiat Mo-li terkekeh dan terus menantang-nantang.
"Heh-heh, pengecut-pengecut hina. Siapa berani melawanku? Heh-heh, agaknya tidak ada seorangpun yang berani melawan Hek-hiat Mo-li!"
Rombongan tosu dan rombongan Lama sudah mengangkat jenazah kawan masing-masing dan siap pergi pula dari tempat yang mulai kosong itu, sama sekali tidak memperdulikan ulah nenek gila di atas panggung.
"Hayo, siapa yang berani, siapa berani melawan Hek-hiat Mo-li! Apakah tidak seorangpun di dunia ini yang berani melawanku?"
"Aku yang berani! Aku berani melawanmu!"
Semua orang yang masih belum meninggalkan tempat itu terkejut bukan main dan memandang ke arah panggung di mana seorang pemuda berdiri tegak menghadapi nenek gila itu.
Pemuda ini bukan lain adalah Sin Liong!
Pemuda ini sejak tadi sudah terbakar hatinya melihat musuh besarnya itu, apalagi menyaksikan kekejamannya, kemudian melihat kesombongannya menantang-nantang semua orang itu, dia tidak tahan lagi dan di luar kesadarannya dia sudah meloncat ke depan nenek itu dari menyambut tantangannya.
Bukan hanya para sisa tamu yang memandang dengan terkejut dan heran, juga Raja Sabutai, keluarga dan panglima-panglimanya terkejut sekali dan memandang dengan mata terbelalak ke arah pemuda tanggung yang begitu berani mati menyambut tantangan Hek-hiat Mo-li yang sedang keranjingan itu.
"Liong-te, jangan...!"
Han Houw juga terkejut sekali dan berteriak, akan tetapi terlambat karena pada saat itu, nenek Hek-hiat Mo-li telah melakukan serangan maut setelah sesaat dia terbelalak kaget dan heran.
"Heh-heh, mampuslah, bocah!"
Bentaknya dan tongkatnya sudah menyambar, disusul tamparan tangan kirinya.
Dua serangan ini hebat sekali, keduanya mengandung hawa panas dari pukulan Hwi-tok-ciang (Tangan Racun Api) dan bahkan lebih hebat daripada ketika nenek tadi menyerang tosu dan Lama.
Hal ini adalah karena nenek itu marah sekali ditantang oleh seorang bocah, suatu hal yang dianggap amat merendahkan dan menghinanya di depan orang banyak.
Maka dia menyerang hebat, dengdn maksud untuk menghancurkan kepala dan memecahkan dada bocah yang lancang dan berani menghinanya itu.
"Krekk...! Plakk...!"
Pertemuan dua pasang tangan dan lengan itu akibatnya cukup mengejutkan.
Keduanya terdorong ke belakang, bahkan nenek itu terhuyung dan tongkat bututnya patah menjadi dua potong!
Pada saat itu, Han Houw sudah meloncat dan menghadang di depan Sin Liong sambil berkata kepada Hek-hiat Mo-li yang masih terbelalak memandang kepada tongkatnya yang patah.
"Subo... tahan... jangan serang dia, dia adalah adik angkatku sendiri!"
Hek-hiat Mo-li tercengang.
Dia merasa seperti mimpi.
Ada bocah yang masih ingusan bukan saja telah berani dan kuat menahan pukulan-pukulannya, bahkan mematahkan tongkatnya dan membuatnya terdorong mundur dan terhuyung, dadanya terasa sesak tanda bahwa lawan itu memiliki sin-kang yang luar biasa kuatnya!
"Adik angkatmu...?
Heh, adik angkat macam apa ini...!"
Dia mengomel, akan tetapi nenek itu meloncat jauh dan sebentar saja dia sudah lenyap dari pandangan mata, entah pergi ke mana.
"Maaf, Houw-ko, kesombongannya membuat aku lupa diri..."
Sin Liong berkata kepada Han Houw, tidak perduli akan pandang mata pangeran itu yang penuh kekaguman dan keheranan.
"Oguthai, siapakah dia itu?"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan ternyata Raja Sabutai telah berdiri di belakang pangeran itu.
"Ayah, ini adalah Liong Sin Liong, adik angkatku."
"Adik angkat? Dia... dia hebat sekali..."
Raja Sabutai memandang penuh keheranan dan kekaguman.
Sebagai murid tersayang dari Hek-hiat Mo-li dan mendiang Pek-hiat Mo-ko, tentu saja dia mengenal pukulan subonya tadi.
Melihat betapa pemuda tanggung ini tidak hanya kuat bertahan terhadap pukulan itu, bahkan dapat menangkis sehingga tongkat subonya patah dan subonya terdorong mundur, dia benar-benar merasa takjub sekali.
Dan kini mendengar bahwa bocah luar biasa ini adalah adik angkat dari puteranya, dia makin terheran-heran.
"Memang hebat dia, ayah. Dia adik angkatku dan juga suhengku."
"Hee? Bagaimana ini?"
Raja itu bertanya heran.
"Kami sudah mengangkat saudara, dan karena dia lebih muda, maka dia adalah adik angkatku, akan tetapi karena aku akan belajar kepada gurunya, seperti kukatakan tadi bahwa aku telah mendapatkan seorang guru, maka diapun terhitung suhengku."
"Ah, bagus sekali!"
Raja itu berseru girang.
Melihat kelihaian pemuda tanggung itu yang sudah kuat melawan subonya, dia percaya bahwa guru yang didapatkan oleh puteranya itu tentu seorang yang sakti luar biasa.
"Siapakah gurumu itu?"
"Aku belum diterima menjadi muridnya, akan tetapi aku ingin berguru kepadanya, ayah. Namanya adalah Bu Beng Hud-couw..."
"Ahh...?"
Raja Sabutai terbelalak dan memandang kepada puteranya seperti orang melihat setan di tengah hari.
"Bu Beng Hud-couw? Akan tetapi... itu adalah nama tokoh dalam dongeng..."
"Akan tetapi buktinya, Liong-te telah memperoleh ilmu yang hebat, bukan?"
Bantah Han Houw.
"Orang muda, benarkah..., benarkah engkau murid tokoh dongeng Bu Beng Hud-couw?"
Raja Sabutai bertanya, suaranya mengandung ketidakpercayaan. Sin Liong menjura.
"Begitulah menurut keterangan suheng Ouwyang Bu Sek, Sri Baginda. Akan tetapi terus terang saja, saya sendiri belum pernah jumpa dengan suhu."
Kemudian dia menoleh kepada Han Houw dan berkata.
"Houw-ko, maafkan aku, kalau engkau masih banyak urusan di sini, aku hendak kembali dulu ke selatan."
"Ah, kenapa begitu tergesa-gesa, Liong-te? Aku mau minta bantuanmu,"
Kata Han Houw sambil memegang lengan adik angkatnya.
"Bantuan apakah itu, Houw-ko?"
"Engkau tentu tahu bahwa selama ketua Jeng-hwa-pang masih berkeliaran, maka keselamatanku terancam. Karena itu, aku sendiri akan mencarinya dan harap kau suka membantuku."
"Hemm... kalau begitu baiklah."
Kata Sin Liong tidak mampu menolak karena dia tahu bahwa ketua Jeng-hwa-pang adalah seorang manusia keji, tidak kalah kejinya dibandingkan dengan Hek-hiat Mo-li atau Kim Hong Liu-nio, dan bahwa kegagalan utusan tadi tentu membuat ketua Jeng-hwa-pang itu penasaran dan akan turun tangan sendiri.
Terpaksa malam itu Sin Liong bermalam di Istana Lembah Naga, membiarkan Han Houw bertemu dengan ayah bundanya dan menceritakan segala pengalamannya.
Raja Sabutai, terutama permaisurinya, Ratu Khamila, merasa girang dan bangga bukan main mendengar bahwa Ceng Han Houw kini secara resmi telah menjadi pangeran Kerajaan Beng-tiauw, menjadi saudara yang terkasih dari Kaisar yang baru, yaitu Kaisar Ceng Hwa.
Bahkan putera mereka itu menjadi utusan pribadi Kaisar untuk mengadakan pemeriksaan ke daerah selatan dengan kekuasaan penuh!
Akan tetapi, lebih girang lagi hati Raja Sabutai mendengar bahwa putera mereka akan dapat berguru kepada seorang tokoh dongeng yang memiliki kepandaian demikian hebatnya, terbukti dari kelihaian Sin Liong yang masih begitu muda.
Dua hari kemudian, berangkatlah Han Houw dan Sin Liong meninggalkan Lembah Naga untuk pergi mencari Tok-ong Gak Song Kam, ketua dari Jeng-hwa-pang.
Ketika Raja Sabutai hendak memberi pengawal sepasukan tentara, Han Houw menolak dan mengatakan bahwa dia, dengan bantuan Sin Liong, sudah cukup kuat untuk menghadapi Jeng-hwa-pang.
Dia hanya memilih dua ekor kuda yang amat baik untuk mereka berdua, Kemudian setelah membawa bekal secukupnya, berangkatlah dua orang muda ini menuju ke selatan kembali karena Han Houw tahu bahwa Jeng-hwa-pang selalu bersarang di daerah perbatasan tembok besar.
Lega rasa hati Sin Liong telah dapat meninggalkan tempat yang banyak menimbulkan kenangan sedih itu.
Akan tetapi diam-diam dia merasa penasaran bahwa dia belum sempat untuk menemui Hek-hiat Mo-li sendirian saja untuk dilawan sebagai musuhnya yang telah menyebabkan tewasnya Cia Keng Hong, kakek dan gurunya yang disayangnya itu.
Dan diapun masih penasaran tidak melihat adanya Kim Hong Liu-nio, wanita iblis yang menjadi musuh besarnya pula, pembunuh dari ibu kandungnya.
Dia berjanji dalam hati bahwa kalau dia sudah dapat memisahkan diri dari Han Houw, dia akan kembali dan mencari kedua orang musuh besar itu.
Di sebuah rumah besar yang sederhana di kota Leng-kok, terdapat suatu perayaan pesta pernikahan yang cukup sederhana, namun amat meriah karena banyaknya tamu yang berdatangan.
Tidaklah mengherankan kalau yang datang banyak terdiri dari orang-orang kang-ouw, bahkan wakil-wakil dari perkumpulan-perkumpulan besar, karena yang punya kerja adalah seorang pendekar yang namanya sudah terkenal di seluruh dunia kang-ouw, seorang pendekar sakti yang pernah menggegerkan dunia persilatan.
Pendekar itu bukan lain adalah Yap Kun Liong.
Biarpun pendekar ini tidak pernah menonjolkan diri, tidak pernah memperlihatkan kepandaian silatnya yang amat tinggi kalau keadaaan tidak memaksanya, namun setiap orang mengenal belaka siapa adanya pendekar sakti Yap Kun Liong.
Dalam cerita Petualang Asmara dan Dewi Maut, kita telah cukup lama berkenalan dengan Yap Kun Liong, mengikuti riwayat hidupnya yang penuh suka duka seperti juga riwayat hidup setiap manusia!
Akhirnya, dengan berkah dan restu dari mendiang Cia Keng Hong, pendekar ini berani menempuh hidup berdua bersama wanita yang dikasihinya, yaitu puteri ketua Cin-ling-pai itu, Cia Giok Keng.
Mereka hidup sebagai suami isteri yang saling mencinta, dua orang yang keadaannya tidak jauh bedanya.
Yap Kun Liong adalah seorang duda, ditinggal mati isterinya, sedangkan Cia Giok Keng adalah seorang janda pula, ditinggal mati suaminya dan keadaan kematian isteri dan suami merekapun sama, yaitu dibunuh orang.
Biarpun Yap Kun Liong tidak mendapatkan anak dari isterinya yang terbunuh, yaitu Pek Hong Ing, akan tetapi dia mempunyai seorang puteri dari wanita lain sebelum dia menikah dengan Pek Hong Ing, yaitu Yap Mei Lan yang lahir dari ibunya yang bernama Liem Hwi Sian (baca Petualang Asmara).
Adapun Cia Giok Keng ditinggal mati suaminya dengan dua orang anak, yaitu yang pertama adalah Lie Seng, sedangkan yang ke dua adalah Lie Ciauw Si.
Pesta pernikahan siapakah yang dirayakan di rumah pendekar Yap Kun Liong itu?
Pesta pernikahan yang selama ini telah ditunda sampai tiga tahun berhubung dengan perkabungan atas kematian kakek Cia Keng Hong, yaitu pernikahan antara Yap Mei Lan dan Souw Kwi Beng!
Antara dua orang muda yang sudah cukup dewasa ini, bahkan sudah terlalu dewasa, timbul perasaan saling cinta yang mendalam dan Souw Kwi Eng, yaitu janda Tio Sun, yang menyampaikan permohonan saudara kembarnya itu untuk meminang Yap Mei Lan kepada Yap Kun Liong.
Karena memang sudah ada kontak antara kedua orang itu, Yap Kun Liong menerimanya dengan baik, akan tetapi terpaksa pesta pernikahan harus diundur sampai selesai perkabungan atas kematian kakek Cia Keng Hong, yaitu selama tiga tahun.
Sepasang pengantin itu memang sudah agak kasip.
Usia Souw Kwi Beng sudah tiga puluh tiga tahun, sedangkan usia Yap Mei Lan sudah dua puluh sembilan tahun!
Akan tetapi, cinta tidak mengenal usia, dan bahkan dalam usia sedemikian itu keduanya sudah cukup matang, sudah hilang sifat kekanak-kanakan mereka lagi.
Pendekar Yap Kun Liong sudah berusia lima puluh dua tahun, namun dia masih nampak gagah dan tampan dalam pakaiannya yang baru ketika dia kelihatan menyambut para tamu dengan wajah berseri gembira.
Hati siapa yang tidak akan gembira menghadapi pesta pernikahan puterinya, untuk pertama kali?
Dalam keadaan seperti itu, seorang pria akan merasakan sesuatu yang istimewa, yang memberi tahu kepadanya bahwa dia telah memasuki lapisan usia yang tertentu, yaitu mulai mempunyai mantu dan besar kemungkinan dalam waktu satu atau dua tahun dia akan menjadi kakek, mempunyai cucu!
Melihat pria ini menyambut tamu dengan senyum ramah dan sikap lembut, tentu tidak akan ada yang mengira bahwa dia adalah seorang pendekar yang sukar dicari bandingnya di waktu itu!
Di sampingnya, nampak seorang wanita cantik sekali juga menyambut para tamu dengan ramah.
Wanita ini adalah isteri pendekar itu, Cia Giok Keng, yang sebetulnya sudah berusia lima puluh satu tahun, akan tetapi sukar dipercaya kalau dia sudah berusia setengah abad lebih karena melihat wajahnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang masih ramping padat, orang akan menyangka bahwa usianya tentu jauh kurang dari empat puluh tahun.
Biarpun Yap Mei Lan hanya anak tirinya, namun nyonya yang di waktu mudanya merupakan seorang gadis yang berhati baja dan berkepala batu ini menganggapnya sebagai seorang anak sendiri.
Terjadi perubahan besar sekali setelah Cia Giok Keng menjadi isteri Yap Kun Liong.
Suami isteri ini amat terkenal.
Sang suami adalah pendekar besar di masa itu sedangkan sang isteri juga seorang pendekar wanita, puteri dari kakek Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai yang ditakuti lawan disegani kawan.
Maka, para tamu yang menerima penyambutan mereka semua tersenyum ramah, menghaturkan selamat dan memandang kagum kepada pasangan ini.
Di antara para penyambut, yang sibuk membantu fihak tuan rumah yang punya kerja, nampak terutama sekali Cia Bun Houw dan Yap In Hong.
Suami isteri yang berbahagia ini, yang sesungguhnya baru beberapa tahun menjadi suami isteri dalam arti yang sesungguhnya, tidak kalah terkenalnya dibandingkan dengan Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng.
Pada waktu itu, Cia Bun Houw sudah berusia tiga puluh enam tahun dan Yap In Hong berusia tiga puluh lima tahun dan keduanya adalah adik-adik kandung dari tuan dan nyonya rumah.
Cia Bun Houw adalah adik kandung Cia Giok Keng, sedangkan Yap In Hong adalah adik kandung Yap Kun Liong!
Dalam hal ilmu kepandaian silat, kedua orang suami isteri ini bahkan tidak kalah dibandingkan dengan Yap Kun Liong dan isterinya!
Apalagi setelah kedua suami isteri ini berhasil menggabungkan tenaga Thian-te Sin-ciang, mereka telah mencapai tingkat yang amat hebat dalam tenaga peninggalan dari Kok Beng Lama itu.
Para tokoh kang-ouw yang datang juga memandang kepada suami isteri muda itu dengan sinar mata kagum.
Selain Cia Bun Houw dan isterinya, masih terdapat pula Souw Kwi Eng, janda Tio Sun yang merupakan adik kembar dari mempelai pria, dan Lie Seng, yaitu putera Cia Giok Keng yang masih sute dari mempelai wanita.
Sebagai murid mendiang Kok Beng Lama, tentu saja Lie Seng juga merupakan seorang pemuda yang amat lihai, seperti sucinya yang kini duduk sebagai mempelai wanita.
Pendeknya, yang punya kerja dan yang menikah adalah keluarga pendekar-pendekar yang memiliki tingkat kepandaian amat tinggi, tergolong pendekar-pendekar kelas satu!
Maka tidaklah mengherankan apabila pesta perayaan itu biarpun sederhana namun menjadi meriah dengan hadirnya tokoh-tokoh kang-ouw yang kenamaan dan bahkan wakil-wakil dari partai-partai persilatan yang besar.
Hanya ada satu hal yang merupakan ganjalan di dalam hati keluarga itu, terutama dalam hati Cia Giok Keng, yaitu tidak hadirnya Lie Ciauw Si.
Seperti telah diceritakan di bagian depan dara ini meninggalkan Cin-ling-san untuk pergi menyusul pamannya, Cia Bun Houw yang kepergiannya mendukakan hati kong-kongnya.
Dan semenjak dara itu pergi, sampai sekian lamanya belum juga kembali dan tidak diketahui ke mana perginya.
Inilah yang merupakan ganjalan di hati keluarga itu.
Para tamu mulai memenuhi ruangan tamu yang dihiasi dengan bunga-bunga, kertas dan kain beraneka warna, sebagian besar adalah warna merah yang diutamakan, dan meja-meja mulai penuh dikelilingi tamu yang semua memperlihatkan senyum dan wajah berseri seperti biasa nampak dalam suatu pesta pernikahan.
Suasana gembira mempengaruhi semua orang dan hampir semua tamu membicarakan keluarga tuan rumah, dan memuji ketampanan mempelai pria yang berdarah campuran barat itu.
Kini tamu yang berdatangan mulai berkurang dan ruangan itu sudah hampir penuh.
Tiba-tiba Souw Kwi Eng yang sedang sibuk mengurus dan mengepalai para pelayan itu menahan seruannya, dan matanya yang bersinar tajam dan agak kebiruan itu terbelalak memandang ke depan, ke arah seorang tamu tua yang diiringkan dua orang lagi, dan wajah nyonya muda ini menjadi marah, matanya berkilat-kilat tanda bahwa hatinya menjadi panas dan marah sekali.
Melihat keadaan nyonya janda ini, Lie Seng cepat memandang dan terkejutlah dia ketika mengenal siapa orangnya yang datang itu.
Pantas nyonya janda Tio Sun itu kelihatan marah karena yang muncul sebagai tamu, diiringkan oleh dua orang pembantunya itu, bukan lain adalah seorang kakek yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi semua tambalannya terbuat dari kain baru, kakek yang usianya enam puluh tahun lebih, bertubuh pendek kurus dan mukanya sempit kaya muka tikus, kakek yang bukan lain adalah Hwa-i Sin-kai, ketua dari Hwa-i Kai-pang!
Kakek yang dituduh sebagai pembunuh suami nyonya janda ini!
Betapa beraninya Hwa-i Sin-kai datang ke sini, pikir Lie Seng yang juga memandang penuh perhatian ke arah ketua Hwa-i Kai-pang yang diikuti oleh dua orang kakek tokoh Hwa-i Kai-pang tingkat dua itu.
"Bedebah... kubunuh dia..."
Desis Souw Kwi Eng, akan tetapi Lie Seng cepat menyentuh lengan janda muda ini.
"Enci... harap tenang dan sabarlah,"
Bisiknya.
"Serahkan saja kepada ibu dan ayah sebagai tuan rumah, tidak baik kalau kita membikin kacau pada hari baik ini. Ingat, hari ini adalah hari pernikahan saudaramu, yaitu suami dari suciku."
Souw Kwi Eng mengangguk dan menggunakan punggung lengan baju untuk menghapus dua titik air mata dengan cepat, kemudian menyibukkan dirinya dengan pekerjaan, sungguhpun perhatiannya tak pernah lepas dari kakek pengemis yang disambut oleh Yap Kun Liong dan isterinya.
Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng menyambut dengan wajah berseri dan mulut tersenyum ramah seperti ketika menyambut para tamu lainnya, akan tetapi mereka saling bertukar pandang dengan cepat dan sebagai suami isteri yang saling mencinta, Yang seolah-olah mempunyai hubungan yang lebih mesra dan lebih dekat daripada pandang mata dan kata-kata biasa, mereka telah saling mengerti dan keduanya merasa heran akan kunjungan ketua perkumpulan pengemis ini.
Mereka telah mendengar penuturan Cia Bun Houw, bahkan penuturan mantu mereka tentang ketua pengemis ini yang disangka adalah pembunuh dari Tio Sun.
Mengapa sekarang kakek ini berani datang?
Akan tetapi, Yap Kun Liong adalah seorang pendekar yang luas pengetahuannya dan juga tajam pandangannya.
Melihat pandang mata dan sikap pengemis tua itu, Yap Kung Liong sudah mengerti bahwa kedatangan kakek ini bukan semata-mata untuk menghadiri perayaan, melainkan mengandung maksud lain yang mendalam.
Oleh karena itu, ketika menerima ucapan selamat, dia berbisik.
"Apakah pangcu mempunyai sesuatu untuk disampaikan kepada kami secara rahasia?"
Kakek pengemis itu tersenyum dan memandang kagum.
"Ah, Yap-taihiap memang hebat, saya akan senang sekali kalau dapat terpenuhi keinginan saya itu."
"Silakan, pangcu, silakan...!"
Yap Kun Liong lalu mendahului tamunya itu, bersama isterinya memasuki ruangan dalam.
Dengan isyarat matanya Yap Kun Liong menyuruh isterinya dan Yap In Hong adiknya untuk mewakilinya menyambut tamu, kemudian dia bersama tamunya itu memasuki ruangan dalam.
Tak lama kemudian muncul pula Souw Kwi Eng, Lie Seng, dan Cia Bun How.
Dua orang kakek pengemis tingkat dua sudah dipersilakan duduk di ruangan tamu, karena kalau mereka dibiarkan ikut masuk, akan terlalu menarik perhatian orang.
Melihat wajah Souw Kwi Eng yang merah dan matanya yang memandang dengan sinar mata penuh kebencian kepadanya, ketua Hwa-i Kai-pang cepat menjura dan berkata kepada nyonya janda muda itu.
"Percayalah, nyonya muda, kegelisahan dan kedukaanku tidak lebih kecil daripada yang kau derita. Kedatanganku ini untuk menceritakan keadaan yang sebenarnya."
"Duduklah, pangcu dan mari kita bicara dengan terbuka,"
Kata Yap Kun Liong mempersilakan semua orang duduk.
"Saya tidak akan mengganggu terlalu lama karena taihiap sekeluarga sedang sibuk, dan maafkan kedatanganku mengganggu. Memang saya sengaja datang pada saat ini agar tidak menarik perhatian orang. Nah, harap taihiap sekalian suka mendengarkan penuturanku baik-baik."
Hwa-i Sin-kai lalu mulai menceritakan tentang asal mula sebab permusuhan antara Hwa-i Kai-pang dan seorang wanita yang bernama Kim Hong Liu-nio.
"Seorang anggauta kami, pengemis she Tio yang berada di Hua-lai telah dibunuh oleh wanita iblis itu tanpa sebab, tanpa kesalahan. Oleh karena itu, fihak kami terus membayanginya sampai dia berada di kota raja dan di sana para tokoh perkumpulan kami minta pertanggungan jawabnya karena membunuh seorang anggauta kami tanpa sebab. Wanita iblis itu tidak mempertanggungjawabkan, bahkan merobohkan beberapa orang di antara kami. Itulah asal mula permusuhan antara kami dengan Kim Hong Liu-nio."
Lalu dia menceritakan tentang kekalahan berturut-turut dari para pembantunya, dan betapa ketika mereka berhasil mengepung wanita itu di luar kota raja, muncul Panglima Lee Siang yang menyelamatkan wanita itu dan membawanya ke gedungnya.
"Karena wanita itu bersembunyi di gedung Lee-ciangkun, maka saya terpaksa menantangnya. Dan (Lanjut ke
Jilid 26) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 ternyata wanita itu menjawab bahkan menantang agar saya suka datang ke gedung itu pada watu malam yang ditentukan untuk bertanding.
Tentu saja saya penuhi permintaannya itu, dan ketika saya tiba di sana pada malam hari itu, yang muncul bukan wanita iblis itu melainkan Panglima Lee yang segera menyerang saya.
Kemudian, sungguh di luar dugaan saya, muncul pula Tio Sun taihiap yang agaknya membela Lee-ciangkun.
Padahal Lee-ciangkun adalah orang yang melindungi wanita iblis itu, maka saya menjadi marah dan terjadi perkelahian antara saya dan Tio-taihiap.
Dan dalam pertandingan itu, entah bagaimana, tahu-tahu Tio-taihiap roboh dan tewas!
Saya terkejut sekali, apalagi ketika muncul wanita itu dan Lee-ciangkun juga mempersiapkan penjaga-penjaga, maka saya lalu melarikan diri membawa keheranan mengapa Tio-taihiap tewas dalam perkelahian melawan saya, padahal saya tidak merasa menjatuhkannya."
"Seorang gagah tidak akan mengelak dari akibat perbuatannya!"
Tiba-tiba Souw Kwi Eng berseru.
"Jelas bahwa kematian suamiku adalah dalam pertandingan melawanmu, padahal dia bukan hendak memusuhimu, hanya hendak mendamai ciangkun kepadanya. Akan tetapi kau... kau membunuhnya, tentu dengan kecurangan."
"Tenanglah, dan biarkan pangcu menjelaskan. Bagaimana selanjutnya, pangcu?"
Tanya Yap Kun Liong. Kakek pengemis itu menarik napas panjang.
"Sudah puluhan tahun saya malang melintang di dunia kang-ouw, biarpun menjadi pengemis akan tetapi belum pernah melakukan hal-hal yang memalukan dan pengecut. Juga belum pernah menghadapi urusan yang begini memusingkan dan mendatangkan duka, karena saya dituduh membunuh seorang pendekar tanpa sebab. Banyak memang saya membunuh orang, akan tetapi tidak pernah tanpa sebab seperti yang terjadi atas diri Tio-taihiap. Saya merasa penasaran, apalagi setelah tempat kami diserbu oleh sepasang suami isteri yang kini menjadi pengantin, oleh janda Tio-taihiap dan oleh pendekar muda yang lihai ini. Mulailah saya melakukan penyelidikan dan akhirnya terbuka juga semua rahasia itu."
"Apa yang sesungguhnya terjadi?"
Yap Kun Liong bertanya, merasa tertarik.
"Semua adalah gara-gara perempuan iblis busuk itu! Dia bukan hanya bersembunyi dalam gedung Lee-ciangkun, bahkan dia menjadi kekasih gelapnya. Celakanya, selain menjadi kekasih Lee-ciangkun, juga wanita itu pernah berjasa kepada Kaisar dan dilindungi oleh istana Kaisar. Menurut penyelidikan yang saya peroleh dengan menyebar mata-mata di luar dan dalam gedung Lee-ciangkun, dengan menyogok pelayan-pelayan dan perajurit-perajurit pengawal, saya memperoleh keterangan yang amat jelas bahwa ketika saya datang ke sana memenuhi tantangan wanita iblis itu, memang sebelumnya Lee-ciangkun telah menghubungi Tio-taihiap dan memang hal itu merupakan jebakan bagi Tio-taihiap. Wanita iblis itu memang ingin membunuh Tio-taihiap dan untuk keperluan itu saya dijebak pula agar kelihatannya saya yang menjadi pembunuhnya."
"Tidak masuk akal,"
Souw Kwi Eng membantah.
"Suamiku tidak pernah mengenal wanita bernama Kim Hong Liu-nio itu, mengapa dia hendak membunuh suamiku?"
"Harap nyonya muda berlaku tenang dan sabar,"
Pengemis tua itu berkata.
"tadinya sayapun beranggapan demikian, akan tetapi kemudian setelah saya selidiki, saya teringat pula bahwa wanita itu ke manapun dia pergi selalu membawa salib kayu yang bertuliskan tiga huruf, yaitu nama keturunan tiga keluarga, keluarga Cia, Yap dan Tio. Dan diapun pernah mengaku bahwa ketika dia membunuh anggauta kami she Tio di Huai-lai, yang dimusuhinya bukan Hwa-i Kai-pang, melainkan she Tio itulah. Jadi anggauta kamipun dibunuh karena she Tio. Jelas bahwa itulah sebab pembunuhan atas diri Tio-taihiap dan dalam hal ini dibantu oleh Lee-ciangkun yang sengaja memancing datangnya Tio-taihiap bersamaan waktunya dengan kedatanganku memenuhi tantangan Kim Hong Liu-nio."
"Ah, keteranganmu memang cocok sekali, pangcu! Kini mengertilah aku!"
Bun Houw berkata sambil mengepal tinjunya.
"Kiranya nenek tua bangka itu memasukan nama Tio-twako dalam daftar musuh-musuhnya! Jelas bahwa she Cia itu dimaksudkan adalah aku sendiri, she Yap tentu Yap-twako dan isteriku. Karena memang tiga she itulah yang pernah menggempur Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko di Lembah Naga! Dan Kim Hong Liu-nio itu adalah murid Hek-hiat Mo-li, maka tentu saja dia sengaja hendak membunuh Tio-twako atas perintah gurunya, dan dia telah dibantu oleh Lee-ciangkun untuk melaksanakan hal itu, bahkan lalu melemparkan kesalahannya kepada Hwa-i Sin-kai yang juga menjadi musuhnya, untuk mengadu domba!"
Semua orang mengangguk mendengar ini, dan Souw Kwi Eng terisak.
"Aku harus membalas dendam! Iblis betina itu tidak saja telah membunuh suamiku, akan tetapi juga menyebabkan kematian Cia-locianpwe..."
"Tidak, aku sendiri yang harus mencarinya, membunuh iblis betina itu dan gurunya!"
Kata Bun Houw marah.
"Dan pembesar Lee yang curang dan pengecut itupun harus diberi hukuman yang setimpal!"
Kata pula Lie Seng.
"Pembesar Lee itu amat berpengaruh dan kekuasaannya di kota raja cukup besar maka akan sukarlah untuk mengganggunya,"
Kata Hwa-i Sin-kai.
"Kalau kita menyerang gedungnya, tentu dapat dicap pemberontak, maka sebaiknya harus memancing keluar iblis betina itu. Panglima Lee Siang adalah adik Panglima Lee Cin, kepala Kim-i-wi, pasukan pengawal Kaisar yang terkenal..."
"Ah, adik dari Panglima Lee Cin?"
Bun Houw dan Kun Liong berseru kaget.
Tentu saja mereka mengenal Lee Cin, kepala pasukan yang memimpin pasukan Lembah Naga belasan tahun yang lalu itu.
"Lebih baik lagi kalau begitu,"
Yap Kun Liong berkata.
"biar kutemui Panglima Lee Cin yang kita mengenalnya sebagai seorang panglima yang gagah dan jujur, dan kita ceritakan tentang perbuatan adiknya agar dia yang memaksa Kim Hong Liu-nio keluar."
"Akan tetapi, hal ini kiranya tidak perlu merepotkan Yap-twako. Biarlah aku sendiri pergi bersama isteriku, kami berdua kiranya sudah cukup untuk membasmi iblis macam Kim Hong Liu-nio dan gurunya."
Kata Bun Houw dan Yap Kun Liong mengangguk menyetujui karena diapun maklum akan kelihaian Bun Houw dan In Hong yang pernah mengalahkan Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko.
Tiba-tiba terdengar suara hiruk-pikuk di sebelah luar.
Suara gaduh dari banyak sekali orang, bahkan terdengar derap kaki kuda yang banyak sekali dan suara bentakan-bentakan nyaring.
Mereka yang sedang bercakap-cakap di dalam ini menjadi terkejut dan heran, akan tetapi tiba-tiba Cia Giok Keng dan Yap In Hong menerobos masuk ke dalam kamar itu, wajah mereka membayangkan ketegangan den kekhawatiran.
"Ada pasukan pemerintah datang untuk menangkap kita!"
Kata Cia Giok Keng kepada suaminya.
"Ah, apa sebabnya?"
"Entah, akan tetapi komandannya membawa surat perintah untuk menangkap kita berdua, Bun How, dan In Hong!"
Jawab Giok Keng, mukanya menjadi pucat.
"Kita serbu saja dan usir mereka!"
Kata Yap In Hong, akan tetapi suaminya memegang lengannya, menyuruh isterinya bersikap sabar.
Tiba-tiba terdengar suara lantang di luar.
"Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng, atas nama Kaisar, menyerahlah kalian berempat dan ikut bersama kami ke kota raja sebagai tawanan!"
Yap Kun Liong mengerahkan khi-kangnya dan berseru dari dalam ruangan itu.
"Apakah alasannya kami hendak ditangkap?"
Suaranya mengatasi semua kegaduhan dan terdengar bergema sampai di luar ruangan pesta.
Suasana menjadi sunyi sekali setelah terdengar bentakan nyaring ini, dan semua tamu yang tadinya gaduh dan merasa tegang dan khawatir, kini mendengarkan penuh perhatian, semua mata memandang keluar dan hampir semua pandang mata membayangkan penentangan terhadap pasukan pemerintah itu.
Kemudian terdengar suara nyaring menjawab, sungguhpun getaran dan gemanya tidak sekuat suara Yap Kun Liong tadi, namun suara inipun cukup nyaring melengking didorong oleh tenaga khi-kang yang kuat.
"Kami membawa perintah Sri Baginda Kaisar untuk menangkap Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng yang dituduh bersekutu dengan para pemberotak Hwa-i Kai-pang dan Pek-lian-kauw. Oleh karena itu menyerahlah kalian bereimpat dengan baik-baik sebelum kami serbu!"
"Keparat!"
Hwa-i Sin-kai berteriak dan tubuhnya sudah melesat keluar.
Kakek ini marah sekali mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang dituduh sebagai pemberontak, disamakan dengan Pek-lian-kauw.
Memang dia dan anak buahnya tidak pernah merasa tunduk dan suka kepada pemerintah karena melihat para pembesarnya hampir sebagian besar terdiri dari pemeras-pemeras rakyat dan orang-orang yang korup, akan tetapi mereka tidak pernah memberontak.
Kini, mendengar ada pasukan hendak menangkap para pendekar dengan tuduhan bersekutu dengan Hwa-i Kai-pang yang dicap pemberontak, tahulah dia bahwa tentu perkumpulannya di kota raja telah diserbu dan dibasmi oleh pasukan pemerintah.
Dan diapun dapat menduga bahwa hal ini tentu ada hubungannya dengan Kim Hong Liu-nio dan Lee-ciangkun.
Maka kemarahannya meluap dan dia sudah berlari keluar dan mengamuk, merobohkan beberapa orang perajurit dengan tongkatnya yang digerakkan secara lihai bukan main.
Gegerlah para perajurit yang mengepung tempat itu.
Kakek yang berpakaian tambal-tambalan itu adatah ketua Hwa-i Kai-pang dan dia adalah seorang tokoh yang terkenal memiliki ilmu kepandaian amat tinggi.
Maka ketika kakek ini mengamuk, dalam waktu singkat robohlah dua puluh orang, lebih kena disambar tongkatnya yang berubah menjadi sinar berkelebatan itu.
Akan tetapi, komandan pasukan memberi aba-aba dan kakek inipun dikeroyok oleh banyak sekali perajurit.
Juga sang komandan berikut para pembantunya yang memiliki kepandaian silat lumayan sudah bergerak pula ikut mengepung.
Bagaikan seekor jangkerik yang dikeroyok ratusan ekor semut, Hwa-i Sin-kai mengamuk.
Makin banyak lagi perajurit roboh oleh amukan tongkatnya, akan tetapi kini para perajurit mempergunakan senjata panjang, yaitu tombak dan bahkan mulai melepaskan anak panah.
Dihujani serangan tombak dan anak panah, walaupun pada mulanya Hwa-i Sin-kai dapat menangkis runtuh semua senjata, namun lambat-laun tenaganya yang sudah tua itupun berkurang dan mulai ada anak panah yang mengenai tubuhnya dan menancap menembus kulit dagingnya.
Kalau dia menghendaki, agaknya kakek ini masih akan mampu untuk melarikan diri mempergunakan gin-kangnya.
Akan tetapi agaknya dia sudah terlampau marah.
Selama tiga tahun lebih dia menanggung dendam kepada Kim Hong Liu-nio karena perbuatan wanita itu dan Lee Siang telah menempatkan dia dalam kedudukan tidak enak sekali, yaitu bermusuhan dengan keluarga pendekar Tio, Cia dan Yap, bahkan anak buahnya banyak yang menjadi korban dalam pertempuran dan dia sendiri selalu menyembunyikan diri, khawatir bertemu dengan keluarga pendekar itu.
Sekarang, setelah dia berhasil membongkar rahasia Kim Hong Liu-nio dan Lee Siang, setelah dia mulai akan berbaik kembali dengan keluarga pendekar itu, tiba-tiba muncul pasukan pemerintah yang hendak menangkap para pendekar dan menuduh Hwa-i Kai-pang memberontak.
Kemarahan yang meluap-luap membuat kakek ini tidak ingin untuk lari menyelamatkan diri, melainkan mendorongnya untuk mengamuk dan membasmi pasukan yang amat kuat dan besar jumlahnya itu.
Akhirnya kakek itu roboh juga dengan tubuh penuh luka.
Dia telah merobohkan lebih dari empat puluh orang, ada yang tewas dan ada pula yang terluka, akan tetapi untuk itu dia sendiri harus menebus dengan nyawanya!
Para tamu tidak ada yang berani ikut mencampuri, apalagi mendengar bahwa pasukan itu datang untuk menangkap tuan rumah dan melihat bahwa yang mengamuk itu adalah Hwa-i Sin-kai yang dianggap pemberontak oleh permerintah!
Urusan pemberontakan bukan urusan kecil dan mereka tidak berani tersangkut.
Setelah Hwa-i Sin-kai roboh dan tewas, komandan pasukan kembali berteriak dengan nyaring.
"Yap Kun Liong! Kalau engkau dan tiga orang lain tidak menyerah, terpaksa kami akan menyerbu!"
Yap Kun Liong dan keluarganya sudah keluar semua.
Akan tetapi dengan isyarat tangannya Kun Liong mencegah keluarganya untuk melakukan kekerasan, bahkan dia lalu mengangkat tangan kanan ke atas, lalu berkata kepada komandan yang sudah turun dari kudanya dan menghampirinya, suaranya lantang dan tenang, namun berwibawa.
"Siapakah yang memimpin pasukan ini?"
"Saya Ma Kit Su adalah panglima yang menjadi komandan pasukan ini."
"Harap Ma-ciangkun suka memperlihatkan tanda kekuasaan dan surat perintah itu!"
Kata pula Yap Kun Liong.
Seorang pemuda maju dan mengangkat tinggi sebuah bendera leng-ki, yaitu bendera kekuasaan seperti yang biasa dibawa oleh utusan Kaisar, kemudian komandan yang bertubuh gemuk pendek itu mengeluarkan pula segulung, kain bertuliskan perintah penangkapan itu, dibubuhi cap dari istana kalsar.
Setelah melihat semua itu, Yap Kun Liong menarik napas panjang, tidak sangsi lagi bahwa memang Kaisar mengutus pasukan itu untuk menangkap dia berempat.
"Baiklah, kami berempat akan menyerah dan ikut sebagai tawanan ke kota raja untuk minta keadilan, akan tetapi hanya dengan jaminan bahwa kalian tidak akan mengganggu pernikahan anakku,"
Kata Yap Kun Liong dengan suara lantang.
"Kami setuju! Memang kami hanya diperintahkan untuk menangkap kalian berempat, bukan untuk mengganggu pesta pernikahan!"
Jawab Ma-ciangkun.
"Ayah...!"
Yap Mei Lan, pengantin wanita itu, menangis dan memegangi lengan ayahnya.
"Mengapa begitu? Apa sukarnya melawan pasukan ini?"
Isaknya.
"Sttt, jangan, anakku. Lanjutkan pernikahan ini, jangan membikin rusak pesta pernikahanmu. Kami berempat akan minta keadilan dan percayalah, karena kami tidak berdosa, maka Sri Baginda Kaisar akan dapat melihat kenyataan dan akan membebaskan kami. Kau dan suamimu kembalilah duduk di tempat kalian."
Sambil menangis Yap Mei Lan dituntun oleh Souw Kwi Beng, kembali ke tempat duduk mempelai, sedangkan Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong membiarkan diri mereka dibelenggu, kemudian mereka dinaikkan ke atas kereta kerangkeng yang kokoh kuat, lalu dibawa pergi meninggalkan tempat itu.
Yap Mei Lan menangis terisak-isak dan Souw Kwi Beng juga memandang isterinya dengan muka pucat.
Lie Seng mendekati sucinya, menghibur dan berbisik.
"Harap suci tenangkan diri agar tidak membikin canggung para tamu dan lanjutkan pesta ini. Jangan khawatir, aku akan membayangi pasukan itu dan aku akan nwnjaga dan menolong kalau sampai mereka berempat itu terancam. Jangan kau gelisah, suci, yang ditawan adalah ibuku dan ayahku sendiri, aku akan melindungi mereka dengan taruhan nyawaku."
Yap Mei Lan menghapus air matanya dan memegang lengan adiknya, adik seperguruan dan juga adik tiri itu dengan erat-erat, lalu bisiknya.
"Sute, terima kasih dan hati-hatilah."
Lie Seng mengangguk, kemudian dia memberi hormat kepada cihunya (kakak ipar) yang juga memesan agar dia berlaku hati-hati, kemudian pemuda ini meninggalkan rumah itu melalui pintu belakang.
Pesta pernikahan dilanjutkan akan tetapi tentu saja suasananya sudah tidak lagi meriah seperti tadi, bahkan para tamu kelihatan gelisah sekali, terheran-heran mengapa keluarga pendekar itu ditangkap dengan tuduhan memberontak, padahal keluarga pendekar itu selalu menentang penjahat-penjahat dan pemberontak-pemberontak.
Karena suasananya sudah tidak menyenangkan dan menegangkan, maka akhirnya para tamu minta diri dan pesta itu bubar sebelum waktunya.
Pengantin pria lalu membawa pengantin wanita pulang ke Yen-tai, kota tempat tinggal Souw Kwi Beng, di pantai Lautan Po-hai di timur.
Di sepanjang perjalanan, mempelai wanita menangis terus, dan kalau saja tidak ingat bahwa dia adalah seorang pengantin yang tidak pantas untuk meninggalkan suami melakukan perjalanan, tentu dia sudah menyusul ayahnya yang tertawan.
Kwi Beng berusaha menghiburnya dan orang muda ini memang sudah menyuruh beberapa orang untuk memata-matai keadaan empat orang yang tertawan itu, sekalian membantu Lie Seng dan secepatnya memberi kabar ke Yen-tai kalau para tawanan sudah tiba di kota raja.
Sebetulnya, apakah yang terjadi di kota raja dan mengapa Kaisar mengutus pasukan untuk menangkap empat orang itu?
Untuk mengetahui rahasia ini sebaiknya kita mengikuti perjalanan Kim Hong Liu-nio, wanita cantik murid Hek-hiat Mo-li dan orang kepercayaan yang juga menjadi sumoi dari Raja Sabutai itu.
Telah diceritakan di bagian depan bahwa biarpun sejak muda Kim Hong Liu-nio dididik oleh Hek-hiat Mo-li, seorang nenek iblis, dan dia menjadi seorang wanita yang berhati dingin dan kejam, namun betapapun juga Kim Hong Liu-nio hanyalah seorang wanita biasa saja dari darah dan daging yang tidak terlepas dari nafsu-nafsu dan ingin menikmati kesenangan dalam hidupnya.
Maka ketika dia berjumpa dengan Panglima Lee yang tampan, gagah perkasa dan sudah berpengalaman, pandai merayu wanita itu, mencairlah kebekuan dan kedinginan hati wanita ini, hatinya tertarik dan dia jatuh kepada Lee-ciangkun.
Rayuan maut dari panglima yang belum tua itu menjatuhkan hatinya, akan tetapi dia belum dapat menyerahkan dirinya karena ancaman subonya, Hek-hiat Mo-li bahwa kalau dia menyerahkan diri kepada pria sebelum melaksanakan tugasnya membasmi musuh-musuh besar gurunya itu, dia akan dihukum mati oleh Hek-hiat Mo-li dan ancaman ini akan dilanjutkan oleh Raja Sabutai sendiri.
Mendengar sumpah itu, Panglima Lee Siang lalu membantunya untuk membasmi musuh-musuh itu dan seperti telah kita ketahui, musuh pertama yang menjadi korban adalah Tio Sun!
Makin mendalam rasa cinta Kim Hong Liu-nio kepada Panglima Lee Siang dan boleh dibilang hampir setiap hari dan setiap malam dia berpacaran dengan panglima itu, Walaupun dia masih belum berani menyerahkan diri karena masih banyak musuh yang belum dibasmi, yaitu Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng!
Lee Siang atau Lee-ciangkun adalah seorang pria yang usianya empat puluh tahun dan sekali ini dia betul-betul jatuh cinta kepada Kim Hong Liu-nio yang memang cantik jelita.
Dia melihat bahwa dalam diri wanita yang kelihatannya dingin ini terdapat api yang panas dan gairah yang menyala-nyala, yang dapat dirasakannnya ketika mereka saling berpelukan dan berciuman.
Oleh karena itu, mana mungkin dim mampu menanti sampai semum musuh wanita itu habis?
Akan berapa lamakah sampi wanita itu selesai membunuh musuh-musuhnya yang terdiri pendekar-pendekar sakti yang ilmunya amat tinggi itu?
Maka, Lee Siang tidak dapat tahan lagi dan pada suatu malam, dengan rayuan-rayuan yang membuat Kim Hong Liu-nio hampir gila, akhirnya Lee Siang dapat meruntuhkan pertahanan wanita itu yang manyerahkan diri pada malam yang dingin itu.
Dengan berahi yang memuncak keduanya bermain cinta, dengan gairah yang tak kunjung padam sampai pagi mereka melampiaskan gairah nafsu masing-masing.
Dan setelah keesokan harinya sinar matahari yang menerobos masuk melalui kaca di atas jendela kamar itu membangunkannya dari tidur nyenyak karena kelelahan, tiba-tiba Kim Hong Liu-nio teringat akan semua yang terjadi malam tadi.
Dia mengeluarkan seruan lirih, meloncat turun, menyambar selimut untuk menutupi tubuhnya dan dia sudah lari ke depan cermin di sudut kanan, mencari-cari tahi lalat di dagunya akan tetapi dagunya itu putih halus, Tidak ada tahi lalatnya lagi karena tahi lalat buatan dari subonya itu telah lenyap tanpa bekas, tepat seperti yang dikatakan oleh subonya bahwa kalau dia menyerahkan diri kepada seorang pria, tahi lalat itu akan lenyap!
Lee Siang masih tidur dengan senyum di bibir.
Dia merasa puas, dan gembira sekali.
Wanita yang ternyata masih perawan itu akhirnya menyerahkan diri kepadanya dan tepat seperti dugaannya, wanita itu adalah seorang wanita yang penuh gairah, hangat dan luar biasa.
Tiba-tiba Lee Siang terkejut dan terbangun karena pundaknya diguncang keras dan ketika dia membuka matanya, dia melihat wanita itu sudah berdiri di depan pembaringan, tubuhnya hanya dibalut selimut dan wanita itu menodongkan sebatang pedang yang ujungnya menempel di dadanya, bahkan kulit dadanya yang telanjang terasa nyeri oleh runcingnya pedang!
"Hong-moi!
Apa...
apa artinya ini...?"
Tanyanya dengan mata terbelalak, memandang wajah wanita yang pucat itu.
Wajah yang pucat dan rambutnya kusut, namun bahkan menonjolkan kecantikannya.
"Bersiaplah untuk mati. Engkau harus mati, kemudian aku. Kita berdua harus mati sekarang, dan jauh lebih baik mati di tangan sendiri daripada mati di tangan orang lain!"
Bukan main kagetnya hati Lee Siang.
Tidak terlintas dalam pikirannya untuk melawan dan mencoba meloloskan diri karena dia maklum betapa lihai wanita ini.
"Akan tetapi, Hong-moi... kau tahu... aku cinta padamu, aku cinta padamu dengan seluruh jiwa ragaku, kenapa... kenapa kau hendak membunuhku, sayang? Lupakah engkau akan cinta kasih kita semalam...?"
Wanita itu mengejapkan mata dan dua titik air mata menetes di atas pipinya.
"Aku tahu... dan engkaupun tahu betapa besar cintaku kepadamu, Lee-ko. Akan tetapi justeru karena cinta kita, maka kita harus mati saat ini juga, mati bersama agar kita dapat melanjutkan hubungan kita di alam baka."
"Tapi... tapi, tunggu dulu... setidaknya katakan dulu mengapa?"
Lee Siang berteriak ketika merasa betapa dadanya nyeri dan kulitnya sudah tertusuk sedikit sehingga mengeluarkan darah.
"Kau lihat daguku! Di mana adanya tahi latat di daguku?"
Lee Siang memandang dan memang benar.
Tahi lalat yang berada di dagu wanita itu, yang menambah kamanisannya, yang semalam diciuminya dan dipujinya kini telah lenyap!
Teringat dia akan cerita wanita itu tentang sumpahnya kepada subonya, dan tentang tanda perawan yang dibuat subonya, yaitu tahi lalat itu yang kini lenyap bersama lenyapnya keperawanannya semalam!
Lee Siang sudah mencari akal sebelum dia berhasil merayu sampai wanita itu menyerahkan diri.
"Hong-moi, kasihku, sayangku, kau dengarkan aku. Aku mempunyai akal untuk menghadapi subomu, akan tetapi kalau engkau memaksa hendak membunuhku, nah, tusuklah ini... aku terlalu cinta padamu, aku tidak ingin melihat engkau menderita, sayangku, akan tetapi sebelum engkau membunuhku, aku... aku minta... sukalah engkau menciumku sekali lagi... agar dapat kubawa mati..."
Lee Slang membuka selimut yang menutupi tubuhnya membiarkan tubuhnya yang telanjang itu terbuka sama sekali dan dia mengembangkan kedua lengan dengan sikap merayu.
"Ahhh...!"
Kim Hong Liu-nio tidak dapat menahan keharuan hatinya.
Pedangnya terlepas dan dia menubruk, merangkul dan menciumi pria yang dicintanya itu, satu-satunya pria yang pernah dicintainya dan pernah menyentuh tubuhnya.
"Ah, Lee-ko... Lee-ko... bagaimana aku dapat membunuhmu...?"
Lee Siang balas memeluk dan mencium, hatinya lega karena baru saja dia terlepas dari cengkeraman maut.
"Adindaku yang terkasih, dengarlah. Bukankah engkau sudah menceritakan bahwa subomu itu sudah tua renta dan sudah pikun? Biarpun ilmu kepandaiannya setinggi langit, akan tetapi kalau pandang matanya sudah kurang awas seperti yang kaukatakan, apa sukarnya untuk mengelabuhi pandang matanya? Buat saja tahi lalat palsu dengan tinta hitam, apa sih sukarnya menaruh titik kecil di dagumu yang manis? Tentu dia tidak akan pernah tahu, sayangku, apalagi kalau engkau jarang sekali bertemu muka dengan dia. Selagi masih ada jalan, mengapa kita harus mengambil jalan pendek? Bukankah kita berdua berhak menikmati hidup, berhak menikmati cinta kasih kita?"
Lee Siang mencium lagi dengan sepenuh hatinya dan nafsu berahinya sudah berkobar lagi.
Melihat ini, Kim Hong Liu-nio memeluknya.
"Ah engkau cerdik, koko, dan aku... aku yang bodoh... ah, dadamu sampai terluka, berdarah..."
Dia lalu mengecup darah di dada itu, menjilati luka kecil di dada kekasihnya.
Mereka berpelukan dan tenggelam lagi dalam madu asmara yang tidak kunjung puas dan padam.
Setelah terhibur dan dapat melupakan ancaman bahaya, Kim Hong Liu-nio menjadi penuh semangat kembali.
Setiap saat dia menuntut pernyataan kasih sayang dari Lee Siang yang membuat panglima itu kewalahan juga dan akhirnya tibalah saatnya Kim Hong Liu-nio harus meninggalkannya untuk sementara.
Wanita itu harus pergi ke utara berkunjung kepada subonya dan suhengnya yang mengadakan sayembara pemilihan guru silat untuk Pangeran Oguthai.
Ketika hendak berangkat, Kim Hong Liu-nio kembali menyatakan kekhawatirannya tentang tahi talat yang hilang itu.
Akan tetapi Lee Siang menghiburnya, bahkan membuatkan titik hitam sebagai pengganti lahi lalat itu dengan tinta hitam yang tidak mudah luntur, lalu mencium dagu yang manis itu.
"Ah, tidak ada bedanya seujung rambutpun, Hong-moi. Jangan khawatir, apalagi subomu yang tidak awas lagi matanya, sedangkan aku sendiri tidak dapat membedakan mana yang tulen dan mana yang palsu. Berangkatlah, sayang, dan ingatlah bahwa aku selalu menantimu dengan hati penuh rindu."
Kim Hong Liu-nio telah berubah menjadi seorang wanita yang wajahnya periang ketika dia berangkat meninggalkan kota raja.
Setelah dia mengenal Lee Siang, kehidupan ini sama sekali berubah baginya, penuh dengan kegembiraan dan kelembutan, bahkan selama ini dia sama sekali tidak pernah memikirkan adanya orang-orang she Tio, Cia dan Yap yang menjadi musuh gurunya!
Dia ingin hidup selama-lamanya di dalam kamar bersama Lee Siang, bermain cinta sampai dunia kiamat!
Dan memang benar seperti dugaan Lee Siang, tidak ada seorangpun yang tahu akan kepalsuan tahi lalat di dagu wanita cantik ini.
Bahkan Hek-hiat Mo-li, begitu bertemu dengan muridnya itu, yang pertama-tama dilihatnya adalah tahi itu dan nenek ini berkata.
"Bagus, tahi lalatmu masih ada! Akan tetapi sayang, selama ini baru Tio Sun saja yang berhasil ditewaskan, juga si kakek Cia Keng Hong. Bilakah aku akan dapat mendengar akan tewasnya Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng?"
"Harap subo suka bersabar, teecu tidak pernah berhenti berusaha,"
Kata Kim Hong Liu-nio dan saat itu dia baru ingat bahwa selama ini dia tidak pernah mencari musuh-musuh itu, dan diapun tidak perduli lagi!
Dia bahkan mulai merasa jemu dengan perintah subonya.
Setelah memberi hormat kepada subonya dengan berlutut dan memberi hormat kepada Raja Sabutai, Kim Hong Liu-nio lalu bangkit dan berjalan perlahan untuk duduk di sudut.
Dia tidak tahu betapa Raja Sabutai memandangnya penuh perhatian, terutama memandang ke arah pinggulnya yang menonjol dan bergoyang-goyang ketika dia melangkah tadi.
Juga Kim Hong Liu-nio tidak tahu bahwa malam itu Raja Sabutai menemui Hek-hiat Mo-li dan bicara empat mata dengan guru itu, pembicaraan yang membuat Hek-hiat Mo-li marah bukan main.
Kiranya, pandang mata Raja Sabutai yang tajam, yang sudah banyak pengalaman memandang perbedaan antara wanita-wanita tua muda, perawan atau bukan, sudah dapat menduga bahwa sumoinya itu bukan perawan lagi hanya dengan melihat bayangan pinggulnya!
Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Hek-hiat Mo-li memanggilnya dengan wajah bengis.
"Kim Hong, lekas kau cuci titik hitam di dagumu itu!"
Bentak sang guru.
Seketika wajah Kim Hong Liu-nio menjadi pucat dan tubuhnya gemetar, akan tetapi dia mempertahankan hatinya dan pura-pura memandang gurunya dengan heran.
"Apa maksud subo? Mana mungkin tahi lalat ini dicuci?"
"Hemm, masih hendak mengelabuhi gurumu, ya? Tahi lalat di dagumu itu palsu, dan engkau bukan perawan lagi! Berani engkau menyangkal?"
Maklumlah kini Kim Hong Liu-nio bahwa rahasianya telah terbuka, bahwa entah dengan cara bagaimana gurunya telah tahu bahwa tahi lalat di dagunya itu palsu dan bahwa dia bukan perawan lagi, bahkan dia telah melanggar sumpahnya.
Maka dia hanya berlutut, dan menangis!
"Keparat, berani engkau mengelabui gurumu sendiri?
Hayo ceritakan, mengapa engkau melanggar sumpahmu?"
Dengan terisak-isak Kim Hong Liu-nio mengaku terus terang bahwa dia jatuh cinta dengan Panglima Lee Siang.
"Dia telah menyelamatkan teecu ketika teecu dikeroyok oleh pengemis-pengemis Hwa-i Kai-pang, dan teecu bersama dia saling mencinta subo, dan... dan... teecu telah menyerahkan diri kepadanya. Dia pula yang membantu teecu dan sute menghadap Kaisar dan... dan..."
"Perempuan hina!"
Hek-hiat Mo-li membentak, tangannya menampar dan tubuh Kim Hong Liu-nio terpelanting ketika pundaknya kena dihantam gurunya.
Nyeri sekali rasanya, akan tetapi tidak mendatangkan luka hebat.
Tahulah Kim Hong Liu-nio bahwa dia akan mati di tangan subonya, akan tetapi tentu saja dia tidak berani melawan, hanya menangis dan membayangkan kekasihnya karena dia ingin mati dengan bayangan Lee Siang di depan matanya.
Hek-hiat Mo-li memang sudah marah sekali dan dia sudah mengangkat tongkatnya sambil berkata.
"Murid durhaka, bersiaplah untuk mati!"
"Subo, tahan dulu!"
Tiba-tiba terdengar suara keras dan muncullah Raja Sabutai yang memasuki ruangan itu.
Nenek itu menoleh dan memandang Sabutal dengan wajah makin berkerut menyeramkan.
"Murid tak tahu malu ini sudah sepatutnya mampus!"
Raja Sabutai tersenyum.
"Subo, apa sih anehnya kalau sumoi ini tidak dapat menahan gelora nafsunya? Memang dia telah melanggar sumpahnya, akan tetapi masih ada kesempatan baginya kalau dia menebus dosa. Berilah dia waktu tiga bulan untuk dapat membunuh empat orang musuh besar subo itu, dan kalau dia berhasil, biarlah dosanya diampuni dan biar dia hidup bahagia bersama kekasihnya. Akan tetapi kalau tidak berhasil, baru subo membunuh diapun belum terlambat."
Hek-hiat Mo-li mengomel.
"Kalau bukan engkau yang menyadarkan aku bahwa bocah ini bukan perawan lagi, tentu aku kena dikelabuhi, maka biarlah aku setuju usulmu, Sri Baginda. Nah, kau dengar sendiri, murid durhaka. Bunuh atau tangkap empat orang musuhku itu, seret mereka atau mayat mereka ke sini, baru aku akan mengampunimu. Aku memberimu waktu tiga bulan lamanya mulai hari ini!"
Kim Hong Liu-nio menghaturkan terima kasih dan pada hari itu juga dia berpamit untuk melaksanakan perintah itu.
Itulah sebabnya maka ketika di Lembah Naga diadakan pemilihan guru silat, dia tidak hadir, dan itu pula sebabnya mengapa Hek-hiat Mo-li marah-marah ketika Sabutai mengadakan pemilihan guru silat untuk pangeran.
Kemarahannya karena kecewa terhadap Kim Hong Liu-nio itu membuat dia menantang semua peserta dan mengacaukan pemilihan guru silat itu.
Ketika Kim Hong Liu-nio tiba di dalam gedung Panglima Lee dan bertemu kekasihnya itu, dia menubruk Lee-ciangkun sambil menangis.
Dengan terisak-isak diceritakannya pertemuannya dengan Raja Sabutai dan Hek-hiat Mo-li, kemudian betapa rahasianya telah ketahuan dan kemudian betapa subonya dan suhengnya itu memberi waktu tiga bulan kepadanya untuk dapat membunuh atau menangkap empat orang pendekar itu.
"Ah, betapa mungkin aku menundukkan empat orang yang berilmu tinggi itu? Lee-koko, lebih baik kau membunuh aku saja. Aku lebih senang mati di tanganmu, daripada di tangan subo atau suheng!"
Wanita itu menangis dalam rangkulan Lee Siang.
Tentu saja hati panglima ini menjadi tidak karuan rasanya.
Dia juga mencinta wanita ini dan akan dibelanya dengan seluruh jiwa raganya.
"Jangan khawatir, kekasihku. Aku masih mempunyai akal dan harapan untuk menangkap empat orang itu,"
Katanya.
Panglima muda itu lalu mencari akal, dan akhirnya dia memperoleh akal yang sangat nekat dan berani.
Dia lalu memalsukan cap dari Kaisar, membuat surat perintah penangkapan yang palsu, bahkan membuat bendera kekuasaan yang palsu pula, kemudian dia mempersiapkan pasukan yang kuat dan mengutus seorang pembantunya dengan hadiah besar untuk pergi membawa pasukan dan menggunakan perintah palsu dari Kaisar itu untuk menangkap Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng.
Perwira yang menjadi pembantunya itu adalah perwira Ma Kit Su dan seperti telah diketahui, Ma-ciangkun ini berhasil dalam tugasnya, selain membunuh Hwa-i Sin-kai dengan keroyokan, juga berhasil menangkap empat orang pendekar itu yang menyerahkan diri karena selain tidak ingin memberontak terhadap perintah Kaisar, juga tidak ingin mengacaukan pesta pernikahan Yap Mei Lan dan Souw Kwi Beng.
Memang, kalau orang sudah tergila-gila apapun sanggup dilakukannya.
Baik dia itu seorang laki-laki yang tergila-gila kepada seorang wanita, atau sebaliknya seorang wanita yang tergila-gila kepada seorang pria, dia akan melakukan segala hal demi orang yang dicintanya, atau demi memelihara dan mempertahankan kenikmatan yang didapatkannya dari hubungan cintanya itu.
Demikian pula dengan halnya Panglima Lee Siang.
Tentu dia sendiri tidak pernah bermimpi bahwa dia pada suatu hari akan melakukan hal yang demikian gila dan nekat.
Kalau bukan untuk Kim Hong Liu-nio, sampai matipun kiranya dia tidak akan berani main-main seperti itu terhadap kekuasaan Kaisar yang dipalsukannya, apalagi berani mengatur siasat untuk mencelakakan dua pasang suami isteri pendekar seperti Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw bersama isteri-isteri mereka.
Dia tahu bahwa perbuatannya itu akan membawa akibat yang amat besar dan luas.
Apalagi peristiwa penangkapan itu terjadi ketika pendekar Yap Kun Liong sedang merayakan pernikahan puterinya sehingga peristiwa penangkapan itu disaksikan oleh ratusan orang tokoh kang-ouw yang berkedudukan tinggi.
Dua kang-ouw akan menjadi geger karenanya dan hal ini diketahui benar oleh Lee Siang.
Namun, kalau orang sedang tenggelam dalam buaian asmara seperti Lee Siang, biar dunia kiamatpun takkan terasa olehnya.
Kalau dia sedang tenggelam dalam pelukan wanita yang dicintanya, biar apapun terjadi, dia tidak takut bahkan matipun bukan apa-apa baginya asal saja dihadapinya bersama wanita yang dicintanya itu.
Dan memang peristiwa itu benar-benar menimbulkan kegemparan besar.
Para tamu yang hadir dalam pesta pernikahan itu, yang tergesa-gesa pulang ke tempat kediaman masing-masing, Segera menyebarluaskan berita tentang penangkapan itu dan seluruh dunia kang-ouw menjadi gempar.
Kalau yang ditangkap itu seorang atau beberapa orang tokoh sesat yang suka menimbulkan kekacauan dan kejahatan, hal itu tentu saja dianggap lumrah dan tidak akan ada yang merasa heran.
Akan tetapi apa yang tersiar menjadi berita itu sungguh sebaliknya, Kaisar menangkap keluarga pendekar Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw!
Betapa aneh dan janggalnya berita ini.
Banyak di antara para tokoh kang-ouw yang merasa penasaran sekali dan mereka sudah mencari-cari daya upaya harus bertindak bagaimana menghadapi peristiwa aneh itu, dan tentu saja banyak para tokoh liok-lim dan kaum sesat yang bersorak gembira karena pembasmian setiap orang pendekar penegak keadilan dan kebenaran berarti hilangnya seorang perintang dan musuh bagi mereka.
Akan tetapi ternyata Lee Siang adalah seorang panglima perang yang pandai menyusun siasat.
Setelah menurut perhitungannya yang ternyata tepat sekali bahwa para pendekar yang terkenal setia kepada pemerintah itu menyerah karena melihat "surat perintah"
Kaisar.
Lee-ciangkun sudah mempersiapkan pasukan pengawal yang amat kuat, bahkan di setiap kota selalu siap serombongan pasukan yang akan memperkuat pengawalan itu.
Dia maklum bahwa penawanan empat orang pendekar itu tentu menimbulkan kegemparan dan untuk menjaga agar tawanan itu jangan sampai terlepas atau dibebaskan orang, maka pengawalan dilakukan amat kuat, bahkan dia mengumpulkan jagoan-jagoan di kota raja yang dapat disogok dan dibelinya untuk membantu dalam pengawalan itu.
Inilah sebabnya maka para pendekar yang berusaha turun tangan menyelamatkan empat orang tawanan itu selalu menemui kegagalan.
Apalagi ketika pada suatu malam rombongan dari Siauw-lim-pai yang hendak menggunakan kekerasan untuk membebaskan tawanan itu dan mengalami perlawanan hebat, lalu mendengar teriakan pendekar Yap Kun Liong sendiri yang minta kepada kawan?kawan di dunia kang?ouw agar jangan melawan pemerintah.
karena dia yakin akan diadakan pengadilan yang adll di kota raja, maka tidak ada lagi kaum kang-ouw yang berani menggunakan kekerasan untuk mencoba membebaskan empat orang itu.
Pada suatu senja, rombongan pasukan yang mengawal kereta kerangkeng tawanan ini memasuki kota Po-teng yang ramai.
Kota ini berada di sebelah selatan kota raja dan rombongan pasukan yang dipimpin oleh perwira Ma Kit Su segera membawa tawanannya ke penjara untuk menitipkan tawanan itu di tempat yang terjaga kuat itu, kemudian dia mengunjungi pembesar Ciong di kota Po-teng yang juga menjadi sahabat baik dari Lee Siang.
Kereta kerangkeng itu dimasukkan dalam penjara, dalam sebuah ruangan yang dijaga ketat oleh selosin perajurit.
Kerangkeng itu sendiri amat kuat, terbuat dari baja yang dikunci dari luar, dan kedua tangan para tawanan itu dirantai, sedangkan ruangan itu sendiri berjeruji baja dan dikunci dari luar, di luarnya masih dijaga oleh selosin perajurit pilihan!
"Hemm, kalau mengingat betapa kita dikerangkeng seperti binatang-binatang buas, ingin aku mematahkan semua ini dan mengamuk!"
Cia Giok Keng berkata, muncul kembali kekerasannya karena mengalami penghinaan yang luar biasa ini.
"Tenanglah, kota raja sudah dekat dan setelah dihadapkan pengadilan, aku yakin kita akan dibebaskan. Dibebaskan setelah diadili jauh lebih terhormat daripada bebas menggunakan kekerasan."
"Aku heran sekali, mengapa kita berempat disuruh tangkap oleh Kaisar?"
Bun Houw berkata.
"Ini tentu fitnah, maka aku sebetulnya setuju dengan pendapat enci Keng untuk lolos dan mengamuk. Biarpun Kaisar sendiri, kalau melakukan fitnah dan tindakan sewenang-wenang, haruslah ditentang!"
Kata Yap In Hong.
"Hong-moi, simpan kembali kemarahanmu itu,"
Kata Kun Liong kepada adiknya.
"Kalau Kaisar melakukan tindakan ini, pasti ada sebabnya. Andaikata difitnah sekalipun, tentu Kaisar tidak tahu bahwa beliau dibohongi atau ditipu orang. Kalau kita menggunakan kekerasan, hal itu bahkan memperkuat bukti bahwa kita memang suka memberontak. Sabarlah, mungkin dalam dua hari lagi kita sampai di kota raja dan akan menerima keputusan. Kalau kemudian ternyata bahwa Kaisar bertindak sewenang-wenang dan lalim, masih belum terlambat bagi kita untuk memberontak."
Mereka berempat lalu duduk diam, melakukan samadhi seperti biasa sehingga mereka tidak merasa menderita apa-apa sama sekali.
Menjelang tengah malam, ada suara yang mencurigakan dan mereka berempat membuka mata.
Dengan heran mereka melihat para penjaga di luar ruangan beruji baja itu tertidur semua, ada yang duduk yang bersandar dinding sambil memegangi tombak, ada yang malang melintang saling tindih.
Mereka saling pandang dengan penuh keheranan dan tiba-tiba Kun Liong mengeluarkan suara lirih.
"sssttt...!"
Karena dia mendengar sesuatu yang juga sudah didengar oleh tiga orang lainnya.
Tak lama kemudian, berkelebat bayangan merah dan dengan gerakan yang ringan sekali melayanglah sesosok tubuh wanita yang berpakaian serba merah, turun di luar ruangan itu.
Seorang wanita muda yang cantik manis, pakaiannya serba merah, pedangnya tergantung di punggung, rambutnya tergulung rapi dan pakaiannya juga indah bersih, wajahnya yang cantik itu dihias rapi.
Seorang wanita muda cantik manis yang pesolek, dan senyum bibirnya serta kerling matanya membayangkan kegenitan yang panas!
Selagi Kun Liong dan Giok Keng merasa heran melihat wanita muda yang tidak mereka kenal itu, tiba-tiba Bun Houw dan In Hong mengeluarkan seruan marah ketika mereka melihat wanita itu.
"Mau apa kau ke sini?"
Bun Houw membentak.
"Pergilah kau!"
In Hong juga membentak.
Suara kedua orang suami isteri ini jelas membayangkan kemarahan besar sehingga Yap Kun Liong dan isterinya merasa makin heran lagi.
Tiba-tiba wanita muda itu menjatuhkan diri berlutut di luar ruangan itu sambil menangis.
"Suhu... subo... masih begitu bencikah ji-wi kepada teccu? Suhu dan subo kena fitnah, harap ji-wi perkenankan teecu untuk membantu suhu dan subo."
"Tidak. Pergilah, kami tidak ingin kau bebaskan!"
Bentak In Hong.
"Kalau suhu dan subo tidak menghendaki kekerasan, biariah teecu membujuk Ciong-taijin, pembesar Po-teng ini untuk membebaskan ji-wi. Teecu kenal baik padanya dan teecu pasti dapat mempengaruhinya..."
"Sudahlah, kami bukan guru-gurumu lagi. Pergilah, jangan membikin aku marah!"
Kata Bun Houw.
"Suhu, demi keselamatan suhu dan subo, teccu rela mengorbankan nyawa teecu..."
Gadis itu memohon.
"Diam! Pergi kau! Pergi, wanita tak tahu malu!"
In Hong berseru marah sekali, mengepal tinjunya dan Kun Liong khawatir kalau-kalau adiknya itu akan mematahkan rantai dan membobolkan kerangkeng.
"Pergilah, kami tidak ada sangkut paut lagi denganmu,"
Kata Bun Houw.
"Suhu... subo..."
Wanita itu menangis, kemudian bangkit berdiri, dengan mata merah dan bercururan air mata dia memandang lagi kepada wajah Bun Houw, kemudian meloncat dan berkelebat pergi dengan cepat sekali.
Bun Houw dan In Hong saling pandang lalu menarik napas panjang, agaknya merasa lega bahwa gadis itu telah mau pergi dari situ.
Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan lain berkelebat, gerakannya lebih cepat daripada gadis tadi dan tahu-tahu Lie Seng telah berada di luar ruangan itu.
"Seng-ji...!"
Cia Giok Keng berseru ketika mengenal puteranya.
"Ooh, ibu dan yang lain-lain tidak apa-apa, bukan? Hatiku khawatir sekali melihat wanita baju merah tadi menggunakan bubuk racun obat bius membikin semua penjaga pingsan. Tadinya kusangka dia berniat jahat atau mungkin juga hendak menolong, maka aku ragu-ragu dan hanya membayangi. Siapakah dia? Kulihat dia pergi lagi sambil menangis."
"Tidak ada apa-apa, jangan khawatirkan kami."
Kata Bun Houw kepada Lie Seng, agaknya merasa tidak suka untuk bicara tentang wanita cantik itu.
Yap Kun Liong maklum akan sikap Bun Houw ini dan karena dia tidak ingin datang penjaga baru dan melihat Lie Seng di situ, maka dia berkata.
"Seng-ji, kau tinggalkanlah tempat ini. Baik sekali engkau selama ini membayangi kami, dan lakukan itu terus, akan tetapi hati-hati jangan sampai ketahuan oleh fihak pengawal dan jangan melakukan apa-apa sebelum ada tanda dari kami. Kami tidak menghendaki kekerasan."
"Benar kata ayahmu, Seng-ji. Kau pergilah dan bayangi saja dari jauh. Kami berempat sanggup menjaga diri."
Kata Giok Keng kepada puteranya, hatinya girang dan bangga melihat puteranya itu ternyata terus membayangi mereka.
"Jangan khawatir, ayah dan ibu. Akan tetapi harap ayah dan ibu, paman dan bibi berhati-hati dan periksa baik-baik dulu sebelum makan hidangan yang mereka suguhnya. Saya merasa curiga terhadap penangkapan ini."
Setelah meninggalkan pesan itu, Lie Seng lalu berkelebat pergi dan untung dia bergerak cepat karena para penjaga sudah mulai ada yang siuman dari pingsannya, bergerak dan menguap seperti orang baru bangun tidur.
"Bun Houw, siapakah wanita tadi dan benarkah dia itu murid kalian berdua?"
Cia Giok Keng tidak dapat menahan keinginan tahunya untuk bertanya kepada adiknya tentang gadis yang hendak menolong mereka, akan tetapi ditolak dengan kasar oleh adiknya itu.
"Akupun heran mengapa engkau bersikap sedemikian kaku dan penuh benci kepadanya, Hong-moi?"
Kata Yap Kun Liong kepada adiknya.
"Siapakah dia?"
Bun Houw dan In Hong saling pandang dan di dalam pandang mata ini terjalin saling pengertian mendalam.
Bun Houw menarik napas panjang, lalu berkata sebagai jawaban kepada Yap Kun Liong dan isterinya.
"Sesungguhnya, kami berdua tadinya hendak merahasiakan tentang gadis itu selamanya, akan tetapi siapa sangka malam ini dia muncul, dan tidak perlu lagi kiranya kami menyimpan rahasia ini setelah diketahui oleh Liong-ko dan Keng-cici. Baiklah, akan kuceritakan semua tentang dia."
Pendekar ini lalu bercerita, dengan suara bisik-bisik agar jangan terdengar oleh para penjaga yang mulai sadar, dan hanya terdengar oleh mereka berempat saja.
Beginilah ceritanya.
Seperti telah diceritakan di bagian terakhir dari cerita Dewi Maut, Bun Houw dan Yap In Hong terpaksa meninggalkan ayah pendekar itu, yaitu Cia Keng Hong karena ketua Cin-ling-pai ini tidak menyetujui perjodohan antara mereka.
Hati mereka sedih, akan tetapi karena cinta kasih mereka yang mendalam, mereka siap meninggalkan keluarga dan hidup berdua saja.
Hal itu terjadi kurang lebih enam belas tahun yang lalu, dan keduanya lalu pergi menuju ke Kiang-shi untuk mengambil seorang anak perempuen bernama Sun Eng.
Di dalam cerita Dewi Maut diceritakan bahwa Bun Houw pernah dalam penyelidikannya terhadap musuh-musuh besar keluarganya, Bersahabat dengan seorang bekas penjahat yang telah menjadi seorang pemilik rumah judi, bernama Sun Bian Ek, kepala Hok-pokoan di Kiang-shi.
Sun Bian Ek ini sengaja mengganti nama karena dia menjadi orang buruan, berganti nama Liok Sun dan berjuluk Kiam-mo (Setan Pedang).
Kiam-mo Liok Sun atau Sun Bian Ek ini suka kepada Bun Houw dalam penyelidikannya terhadap musuh-musuhnya sampai Kiam-mo Liok Sun akhirnya tewas di tangan musuh Bun Houw.
Sebelum tewas, Liok Sun atau Sun Bian Ek ini meninggalkan pesan kepada Bun Houw agar suka memelihara dan mendidik puteri satu-satunya yang berada di Kiang-shi dan bernama Sun Eng.
Demikianlah, setelah dia melakukan perantauan dengan Yap In Hong, Cia Bun Houw tidak melupakan janjinya dan bersama In Hong yang sudah diceritakannya tentang janji itu, Mereka berdua pergi ke Kiang-shi dan menemui anak perempuan yang pada waktu itu baru berusia sepuluh tahun, seorang anak perempuan yang cantik manis.
Kemudian, setelah merantau sampai jauh dan memilih-milih tempat, akhirnya Bun Houw dan In Hong memilih kota Bun-cou di sebelah selatan Propinsi Ce-kiang sebuah kota yang cukup ramai tak jauh dari pantai timur.
Mereka sengaja menjauhkan diri agar tidak lagi bertemu dengan keluarga mereka, dan mereka seolah-olah mengubur diri jauh di timur.
Sun Eng menjadi murid mereka, akan tetapi karena kedua orang pendekar ini masih amat muda, mereka menganggap Sun Eng seperti adik sendiri den mereka berdua secara bergantian mendidik den memberi pelajaran surat dan silat kepada gadis itu.
Sun Eng semenjak kecil memiliki watak yang periang dan lincah jenaka, Sehingga keriangan anak itu merupakan sinar yang menerangi kehidupan sepasang kekasih yang merasa prihatin karena jauh dari keluarga ini.
Sayang sekali mereka terlampau muda dan kesayangan mereka terhadap Sun Eng mereka perlihatkan sedemikian rupa sehingga Sun Eng menjadi manja sekali.
Makin besar, Sun Eng makin menjadi cantik dan pesolek, akan tetapi dalam kelincahannya terdapat sifat-sifat genit yang mengkhawatirkan hati In Hong dan Bun Houw.
Namun mereka berdua terlampau sayang kepada Sun Eng, maka mereka membiarkan saja Sun Eng bertingkah genit, dan juga tidak melarang ketika Sun Eng mulai berkenalan dengan anak-anak tetangga.
Setelah lewat tujuh tahun, Sun Eng menjadi seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang cantik manis, pesolek dan pandai berias, murah senyum dan kerling matanya amat tajam memikat.
Disamping ini, juga ilmu silatnya telah mencapai tingkat tinggi karena memang dia berbakat sekali sehingga apa yang diajarkan oleh suhu dan subonya dapat dia kuasai dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Setelah berusia tujuh belas tahun, mulai nampak gejala-gejala tidak baik yang mulai terasa oleh Bun Houw, yaitu bahwa muridnya itu agaknya mempunyai kecondongan hati kepadanya!
Dari sinar matanya, dari sikapnya, dari gayanya kalau sedang dilatihnya silat semua itu menunjukkan bahwa dara cantik manis ini berdaya upaya memikatnya dengan berbagai cara.
Bahkan kalau sedang berlatih silat di depannya, Sun Eng sengaja menonjolkan bagian-bagian tubuhnya yang menggairahkan, seperti bagian dadanya dan pinggulnya, sedemikian rupa untuk menarik perhatiannya!
Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan menghibur hatinya sendiri dan memaki-maki diri sendiri sebagai mata keranjang dan tak tahu malu, menuduh murid sendiri yang dianggapnya seperti adik sendiri itu sedemikian rupa!
Setelah dewasa, Sun Eng mulai mengerti bahwa antara suhu dan subonya ini tidak ada hubungan jasmani.
Belum pernah dia melihat suhu dan subonya yang mengaku suami isteri ini tidur sekamar, apalagi sepembaringan!
Mulailah dia tertarik dan bertanya-tanya, bahkan dengan cerdik dia memancing-mancing kenapa suhu dan subonya tidak pernah menjenguk keluarga sehingga akhirnya subonya menceritakan kepadanya karena menganggap dia sebagai keluarga sendiri yang dipercaya, tentang perjodohan mereka yang ditentang oleh orang tua Bun Houw.
"Kami sudah berjanji tidak akan menjadi suami isteri dalam arti sesungguhnya sebelum mendapat restu orang tua,"
Subonya mengakhiri ceritanya sebagai jawaban pertanyaan mengapa suhu dan subonya belum juga mempunyai keturunan!
Maka tahulah Sun Eng bahwa suhunya masih perjaka dan subonya masih perawan.
Dia makin tertarik dan merasa kasihan kepada suhunya.
Memang dia amat kagum dan cinta kepada Bun Houw, maka mendengar penuturan ini, dia menjadi makin berani kepada gurunya yang masih muda itu, yang hanya lebih tua sepuluh tahun dari padanya.
Watak Sun Eng ini ditambah oleh pergaulannya dengan segala orang, mendengar cerita-cerita cabul dan melihat tindak-tanduk mereka yang tidak memperdulikan susila sehingga dia sendiri terseret dan menjadi seorang wanita yang mendambakan cinta berahi.
Pada suatu malam, selagi Bun Houw tidur di dalam kamarnya seorang diri seperti biasanya, Sun Eng yang sudah tidak dapat menahan gelora hatinya yang dihantui oleh bayangan pikirannya sendiri tentang adegan-adegan mesra seperti yang pernah didengarnya dari penuturan kenalan-kenalannya, dengan nekat memasuki kamar gurunya itu.
"Seorang pria yang usianya hampir tiga puluh tahun seperti gurumu itu dan tidak pernah tidur dengan isterinya, tentu nafsunya besar sekali, seperti air terbendung dan sekali bersentuhan dengan seorang wanita, tentu dia akan runtuh, seperti air bah yang menjebol bendungannya!"
Kata seorang di antara wanita tetangga, seorang janda yang terkenal nakal dan mata keranjang sambil tertawa penuh arti ketika Sun Eng menceritakan keadaan gurunya.
"Sayang, dia begitu tampan dan gagah, sayang seorang pria seperti dia tersia-sia."
Malam itu Sun Eng gelisah di pembaringannya.
Ucapan-ucapan seperti itu terngiang di telinganya dan dia membayangkan, betapa akan mesranya kalau gurunya memeluk, menciuminya, bermain cinta dengan dia yang sudah sejak lama tergila-gila kepada gurunya yang dia tahu merupakan seorang pendekar sakti yang amat hebat itu.
Betapa kaget rasa hati Bun Houw ketika dia merasakan sesuatu yang lembut menindihnya, dua lengan yang mulus merangkulnya dan wajah yang terengah-engah menempel di wajahnya, sebuah mulut yang lembut menciuminya!
Syaraf-syarafnya yang terlatih segera menanggapi dan hampir saja dia menggerakkan tangan menyerang, akan tetapi dia segera melihat bahwa wajah yang terengah-engah itu, yang kemerahan dan penuh dicengkeram nafsu berahi, adalah wajah cantik manis dari Sun Eng!
Kekagetan berganti keheranan luar biasa.
"Suhu... ah, suhu... aku cinta padamu..."
Bisikan di antara napas terengah-engah ini, ciuman pada pipinya, bibirnya, membuat Bun Houw yang tadinya terheran-heran menjadi marah bukan main.
Dia sudah menggerakkan tangan, akan tetapi kesadarannya masih membuat dia dapat merubah pukulan itu menjadi dorongan sehingga tubuh dara itu terlempar dari atas tubuhnya, bahkan terus terbanting ke bawah pembaringan.
Bun Houw sudah bangkit duduk.
Akan tetapi, Sun Eng tidak menjadi takut, bahkan kini dara itu cepat membuka pakaiannya, memperlihatkan dadanya yang muda dan mempesonakan.
"Suhu... suhu... lihatlah aku cinta padamu, suhu... aku hendak mempersembahkan tubuh ini kepadamu..."
Dan dara itu lalu merangkul lagi, mendekap kepala gurunya yang masih muda itu ke dadanya, kemudian mengangkat muka itu, menciumnya penuh nafsu berahi.
Bun Houw memejamkan matanya dan seperti orang kehilangan dirinya sendiri, dia tenggelam dan terseret, kedua lengannya memeluk pinggang ramping itu, jari-jari tangannya bertemu dengan bukit-bukit pinggul dan diapun balas mencium bibir yang menantang itu.
Akan tetapi, tiba-tiba seperti sinar terang yang berkilat menerangi kegelapan, kewaspadaannya membuat Bun Houw melihat betapa gilanya dia menyambut bujukan iblis yang berupa pikirannya sendiri yang ingin mereguk kepuasan dengan melayani muridnya itu, biarpun peristiwa yang amat kotor.
Tiba-tiba dia mendorong tubuh Sun Eng, sedemikian kuatnya sehingga tubuh dara itu terlempar menabrak pintu kamarnya!
Bun Houw sudah bangkit berdiri, matanya berkilat-kilat, dan pada saat itu terdengar suara In Hong dari luar.
"Houwko, ada apakah?"
Secepat kilat Sun Eng sudah membereskan bajunya dan meloncat keluar dari jendela.
Ketika In Hong memasuki kamar, dia cepat berkata dari luar jendela itu.
"Subo, teecu tadi seperti mendengar suara mencurigakan, teecu mengira maling maka teecu hendak memberitahukan suhu, celakanya, dalam kagetnya suhu malah mengira teecu malingnya!"
Cia Bun Houw menekan perasaannya yang tidak karuan, jantungnya berdebar penuh ketegangan dan dia tahu bahwa kalau dia banyak bicara dalam saat itu, tentu In Hong akan menjadi curiga.
"Ah, aku hanya melihat bayangan di luar jendela, maka aku segera menyerang. Untung Eng-ji dapat mengelak,"
Katanya.
"Sun Eng, hati-hatilah kau kalau mendekati kamar gurumu. Engkau tentu tahu bahwa seorang ahli silat yang sudah matang ilmunya dan sudah mendarah daging ilmu silat dalam dirinya, syaraf-syarafnya selalu siap untuk menjaga diri dan dalam keadaan terkejut terbangun dari tidurnya dapat menyerang dengan tiba-tiba."
"Maaf, subo... teecu khawatir mendengar bunyi itu, mungkin saja hanya kucing..."
"Hemm, betapapun, harus kuselidiki sendiri,"
Kata In Hong yang cepat melayang naik ke atas genteng dan setelah merasa yakin bahwa tidak ada orang lain dia lalu turun kembali dan memasuki kamarnya.
Sedikitpun dia tidak menaruh curiga atas terjadinya peritiwa itu.
Akan tetapi tentu saja Bun Houw tak dapat tidur memikirkan keanehan dari muridnya itu.
Dia melihat bahaya yang amat besar mengancam dirinya dan dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Akan tetapi, melihat betapa suhunya tidak membuka rahasianya terhadap subonya, hal ini diterima salah oleh Sun Eng yang mengira bahwa suhunya "melindungi"
Dan bahwa diam-diam suhunya itu menanggapi pencurahan cintanya, maka dia bukannya mundur malah sikapnya menjadi makin mendesak.
Sikapnya bukan hanya makin berani, bahkan di depan subonya, dia tidak dapat menyembunyikan kerling matanya yang penuh daya pikat dan penuh kasih mesra terhadap suhunya.
Tentu saja Bun Houw merasakan ini dan dia menjadi semakin gelisah dan tidak enak, apalagi setelah dia mengerti bahwa isterinya mulai memandang kepadanya dengan sinar mata aneh penuh kecurigaan yang makin lama menjadi kecurigaan yang mengandung cemburu!
Cemburu adalah suatu di antara perasaan-perasaan manusia yang amat aneh dan amat kuatnya mencengkeram batin manusia.
Banyak orang mengira, bahkan berpendapat bahwa cemburu adalah tanda cinta, bahkan cemburu tidak terpisahkan dari cinta!
Benarkah perkiraan atau pendapat demikian itu?
Kalau kita tanggapi dengan perkiraan atau pendapat yang lain, Maka akan terjadi pertentangan pendapat yang ribuan macam banyaknya dan tiada habisnya, pula tidak ada gunanya.
Sebaliknya kalau kita masing-masing menghadapi perasaan cemburu itu sendiri apabila ia timbul, mengamatinya dengan penuh kewaspadaan sehingga kita dapat menyelidikinya, mempelajarinya dan mengerti dengan sepenuhnya akan susunan cemburu, bagaimana munculnya, apa sebabnya dan apa pula akibatnya.
Karena hanya pengertian yang mendalam, yang timbul dari pengamatan waspada ini sajalah yang akan menciptakan perubahan sehingga kita tidak lagi disentuh oleh racun cemburu.
Dengan memandang kepada diri sendiri, kita bersama dapat melakukan penyelidikan apakah sebenarnya cemburu itu sehingga bukan hanya menjadi semacam pengetahuan teoritis yang hampa.
Pengetahuan seperti itu tidak akan melenyapkan cemburu.
Kita semua, tentu saja yang sudah pernah mengalaminya, tahu belaka apakah akibat dari perasaan cemburu ini.
Cemburu menimbulkan derita batin, merasa sengsara, nelangsa, kecewa, berduka, kesepian, murung dan banyak pula yang menjadi marah dan dicengkeram kebencian sehingga menimbulkan tindakan-tindakan kekerasan.
Oleh karena itu, kita semua tahu betapa buruknya akibat dari cemburu, dan tentu saja sebaiknya kalau kita tidak pernah lagi disentuh oleh racun cemburu ini.
Dari manakah timbulnya cemburu?
Hendaknya jangan tergesa-gesa menjawab dari cinta!
Cemburu mendatangkan penderitaan dan kekerasan, oleh karena itu amatlah tidak tepat kalau menghubungkan cemburu dengan cinta kasih!
Bukanlah cinta kasih kalau mendatangkan kedukaan dan kebencuan!
Cemburu muncul KARENA KITA TAKUT KEHILANGAN APA YANG MENDATANGKAN KESENANGAN KEPADA KITA!
Cemburu baru timbul kalau kita merasa adanya bahaya bahwa sesuatu yang kita anggap milik kita yang kita pergi, baik itu merupakan benda, sahabat atau pacar atau suami atau isteri, akan terpisah dari kita dan menjadi milik orang lain.
Jadi cemburu datang karena kita ingin mempertahankan sesuatu atau sesuatu yang mendatangkan kesenangan kepada kita itu dan yang ingin kita monopoli atau miliki sendiri saja itu.
Cemburu adalah kekecewaan dan kemarahan yang timbul karena PUNYAKU diganggu, karena milikKU diambil orang lain, atau, lebih tepat karena takut atau khawatir milikKU diambil orang lain.
Jadi cemburu bersumber dari si aku yang ingin senang sendiri, dan barang atau orang yang kita "cinta"
Itu menjadi sumber atau alat dari mana kita memperoleh kesenangan, maka kalau sumber atau alat itu diambil orang lain, kita menjadi sedih, marah atau cemburu namanya.
Cinta kasih tidak ada sangkut-pautnya dengan cemburu.
Cinta kasih bukan berarti aku ingin senang, aku ingin mengusai, justeru aku ingin senang dan aku ingin menguasai ini meniadakan cinta kasih!
Cinta kasih tidak dapat dipaksakan, cinta kasih tidak mungkin dapat diikat.
Kalau kita sayang kepada sebuah benda, tentu kita akan merawatnya baik-baik, menjaganya dengan hati-hati agar tidak rusak atau pecah, bukan?
Dan kita melakukan semua itu karena benda tadi mendatangkan rasa senang kepada kita.
Demikian pula kepada seorang pacar.
Rasa senang itulah yang membuat kita menjaganya, agar dia tidak sampai dipisahkan dari kita, karena hal itu berarti bahwa kita kehilangan itu!
Padahal, kalau bisa dinamakan keinginan, kiranya satu-satunya keinginan dari seorang yang mencinta adalah ingin melihat orang yang kita cinta itu berbahagia!
(Lanjut ke
Jilid 27) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 27 Akan tetapi pengejaran kesenangan membuat kita berpendapat bahwa orang yang kita cinta itu HANYA BISA BERBAHAGIA kalau menjadi milik kita!
Betapa picik pendapat seperti ini, bukan?
Demikianlah, Yap In Hong mulai dicengkeram perasaan cemburu, ketika dia melihat sikap muridnya yang terlalu manis terhadap Bun Houw.
Sebagai seorang wanita yang keras hati, In Hong tidak pernah dapat menyimpan rasa penasaran, setiap ganjalan hati tentu akan dikeluarkan melalui perbuatan dan kata-kata.
Oleh karena itu, setelah melihat jelas sikap muridnya yang ditangkapnya dengan ketajaman naluri kewanitaannya, pada suatu malam setelah beberapa hari lewat semenjak peristiwa malam itu, In Hong menemui Bun Houw dan dengan suara dingin dan sikap tegas dia berkata.
"Houw-ko, sekarang ceritakanlah apa artinya sikap Sun Eng yang demikian manis dan memikat kepadamu!"
Bukan main kagetnya hati Bun Houw mondengar ini, saking kagetnya karena hal yang mengganjal hatinya selama beberapa hari ini secara tiba-tiba disentuh oleh kekasihnya, dia menjawab dengan gagap.
"Apa... apa yang kau maksudkan, Hong-moi...?"
"Houw-ko, bukankah sudah tidak ada rahasia lagi di antara kita? Engkaupun tahu akan sikap aneh dari Sun Eng kepadamu, sikap manis memikat yang tidak wajar. Apa artinya itu?"
Kini Bun Houw sudah dapat menenangkan hatinya lagi, maka dia sudah siap dan setelah menarik napas panjang dia lalu berkata.
"Aahhh, hal ini menggangguku dalam beberapa hari ini, Hong-moi, membuatku sukar tidur nyenyak dan merasa gelisah karena aku selalu meragu apakah hal ini akan kuceritakan kepadamu secara terus terang atau tidak. Aku tadinya khawatir kalau-kalau engkau akan marah besar dan melakukan hal-hal yang mencelakakan kalau aku berterus terang. Akan tetapi melihat sikap anak itu yang makin menjadi, yang tentu menimbulkan kecurigaanmu, sebaiknya aku berterus terang saja. Hanya sebelumnya, harap engkau bersabar hati, Hong-moi, dan jangan bertindak keras, karena kasihan anak itu yang selain menjadi murid, juga seperti adik kita sendiri."
Biarpun alisnya berkerut tanda kemarahan, In Hong mengangguk karena dia sudah dapat menduga bahwa tentu murid itu jatuh cinta kepada kekasihnya ini.
Maka dia dapat mendengarkan dengan sabar ketika Bun Houw menceritakan semua yang terjadi pada beberapa malam yang lalu, Ketika Sun Eng memasuki kamarnya dan memperlihatkan sikap yang amat tidak patut, merayunya.
Tentu saja dia tidak menyebut-nyebut tentang betapa dia hampir terseret oleh rayuan Sun Eng, betapa dia bahkan sudah membalas pelukan dan ciuman dara remaja itu.
Memang, pekerjaan yang paling sukar di dunia ini bagi manusia adalah membuka rahasia kekotoran dirinya sendiri!
Semua manusia ingin dan berdaya upaya sekuat tenaga untuk menutupi kekotoran dirinya, akan tetapi di samping itupun, berdaya upaya sekuat tenaga untuk membuka dan mengungkap rahasia kekotoran orang lain!
Hanya dengan pengamatan waspada saja maka akan timbul kesadaran dan pengertian akan kepalsuan yang menyesatkan ini.
Wajah In Hong menjadi merah, sinar matanya berkilat penuh api kemarahan ketika dia mendengarkan penuturan kekasihnya sampai selesai.
"Hemm, bocah itu sungguh tak tahu diri dan tak tahu malu!"
Gumamnya.
"Memang dia telah melakukan hal yang tidak sopan sama sekali, Hong-moi. Akan tetapi kasihanilah dia, dia masih kanak-kanak dan perlu bimbingan dan nasihat kita. Kukira sebaiknya kalau dia mengerti bahwa engkau sudah tahu akan perbuatannya itu agar dia menjadi takut. Bagaimana kalau kita panggil dia dan kita bersama menasihatinya dan memarahinya agar dia sadar kembali dari kesesatannya itu?"
In Hong menarik napas panjang untuk menekan kepanasan hatinya, lalu dia mengangguk.
"Kurasa sebaiknya demikian. Kalau dipikir mendalam, memang kitapun bersalah, koko. Kita bertanggung jawab. Ketika dia kita bawa, dia adalah seorang anak perempuan yang belum tahu apa-apa dan masih bersih. Kalau dia sekarang ternoda oleh pikiran penuh gejolak nafsu itu, adalah karena dia terlalu banyak bergaul dengan orang-orang luar yang menghambakan diri kepada nafsu. Dan ini tentu saja tidak terlepas dari tanggung jawab kita yang agaknya kurang keras terhadap Sun Eng."
Bun Houw mengangguk.
"Engkau benar, Hong-moi. Mudah-mudahan saja kita belum terlambat untuk mendidiknya kembali ke jalan benar agar kelak aku tidak usah merasa malu terhadap Kiam-mo Sun Bian Ek di alam baka."
Maka dipanggillah Sun Eng.
Ketika dara itu melihat wajah suhu dan subonya, wajahnya menjadi agak pucat.
Dari sinar mata kedua orang gurunya yang seperti pengganti orang tuanya sendiri itu, tahulah dia bahwa ada hal yang amat panting terjadi dan dia dapat meraba apa adanya hal penting itu.
Maka setelah memberi hormat, dia lalu duduk dan menundukkan mukanya.
Sejenak lamanya kedua orang pendekar itu menatap wajah yang menunduk itu, kemudian terdengar In Hong berkata, suaranya angker dan penuh wibawa, dingin akan tetapi juga mengandung rasa sayang.
"Sun Eng, engkau adalah murid kami, dan juga seperti keluarga kami sendiri, oleh karena itu, mengingat bahwa engkau kini sudah mulai dewasa, kukira sebaiknya kalau kita bicara dari hati ke hati secara terbuka."
Ucapan ini membuat Sun Eng makin gelisah dan tegang karena dia masih belum dapat meraba ke mana dia hendak dibawa oleh subonya dalam percakapan ini, maka dia hanya mengangguk, dan menjawab.
"Baik, subo."
"Sun Eng, aku telah tahu akan perbuatanmu beberapa malam yang lalu, terhadap suhumu."
"Aihh...!"
Sun Eng mengangkat mukanya yang berubah merah dan memandang kepada wajah Bun Houw.
Pendekar ini mengangguk.
"Aku menceritakan hal itu kepada subomu, Sun Eng, demi kebaikan kita bersama dan agar engkau mengerti benar betapa tidak benar dan tidak patut adanya sikap dan tindakanmu itu."
Sun Eng mengeluh kecil dan menunduk kembali.
"Eng-ji, engkau tentu sudah cukup dewasa untuk mengetahui bahwa sikapmu terhadap suhumu, terutama tindakanmu malam itu, sungguh amat tidak patut dan tersesat sekali. Suhumu adalah gurumu yang menjadi pengganti ayah, atau seorang kakak yang membimbingmu. Bagaimana mungkin engkau merubah pandanganmu dari ketaatan dan kehormatan sebagai seorang murid terhadap guru, menjadi cinta berahi seorang wanita terhadap pria? Kau tahu bahwa suhumu adalah seorang pendekar yang tentu tidak akan mau terperosok ke dalam perbuatan hina seperti itu! Pula, engkau adalah seorang dara remaja, bagaimana engkau akan merendahkan diri sedemikian rupa? Di manakah kesopananmu? Apakah engkau sudah tidak mempunyai rasa malu lagi?"
Suara In Hong meninggi terbawa oleh perasaan marahnya.
"Dan engkau harus tahu bahwa sikap dan perbuatanmu itu merupakan suatu hal yang paling menyakitkan dan menghancurkan hatiku, Eng-ji. Engkau kuanggap sebagai adik sendiri, atau anak sendiri, dan sekarang engkau melakukan hal seperti itu kepadaku! Ah, hal itu lebih mencelakakan daripada kalau engkau menyerangku dengan pedang di tangan!"
Bun Houw menambahkan.
Kepala itu terangkat dan menjadi pucat sekali, air matanya bercucuran dan dengan terisak-isak Sun Eng berkata.
"Harap suhu dan subo mengampunkan teecu, atau kalau suhu dan subo menjadi marah dan hendak menghukum teecu, biar teecu dibunuh sekalipun teecu tidak akan merasa penasaran. Teecu tidak sadar bahwa perbuatan teecu itu menghancurkan hati suhu dan menyedihkan hati subo. Sebenarnya, teecu kasihan kepada suhu, kasihan mendengar riwayat suhu dan subo, dan teecu... teecu hanya bermaksud ingin menghibur hati suhu..."
"Hemm, menghibur dengan jalan menyerahkan diri seperti itu?"
In Hong berkata.
"Ampun, subo... teecu pikir... jangankan hanya menyerahkan diri... jangankan hanya mengorbankan badan... biar menyerahkan nyawa berkorban jiwapun teecu rela untuk membalas budi kebaikan suhu dan subo..."
In Hong dan Bun Houw saling pandang kemudian memandang pula kepada Sun Eng yang sudah menunduk dan menangis lagi.
"Sudahlah, kami hanya ingin agar engkau mengerti bahwa perbuatanmu itu tidak pantas kau lakukan dan agar mulai detik ini engkau merubah pandanganmu terhadap suhumu, menjadi seperti dahulu, ketika engkau masih kecil, pandangan seorang murid terhadap gurunya dan agar perasaan yang bukan-bukan itu kau enyahkan dari hatimu. Mengerti?"
Sun Eng mengangguk berkali-kali dan bibirnya menggumam di antara isaknya.
"...teccu salah... teecu salah..."
Melihat itu, Bun Houw merasa kasihan sekali.
"Sun Eng, sadarlah bahwa aku dan subomu menyayangmu sebagai guru-guru terhadap murid, atau sebagai kakak terhadap adik, maka jangan engkau menafsirkan secara keliru dan sesat. Yang sudah lalu biarlah lalu dan kita lupakan bersama, mulai detik ini engkau harus kembali ke jalan benar."
Demikianlah, sepasang pendekar itu mengampuni murid mereka.
Akan tetapi semenjak hari itu, terdapat suatu kerenggangan dan kecanggungan antara murid dan kedua orang gurunya itu, suatu celah dan batas yang membuat guru dan muridnya itu tidak dapat sedekat dan seakrab dahulu lagi.
Pandang mata antara mereka terselubung, dan senyum mereka dibuat-buat.
Agaknya peristiwa itu telah menimbulkan luka yang cukup mendalam, baik bagi si murid maupun dua orang gurunya.
Dan karena kerenggangan ini, Maka Sun Eng makin mendekatkan diri dan bergantung kepada teman-temannya, kepada para tetangganya.
Dan di dalam hati Bun Houw dan In Hong juga timbul semacam kehambaran dan kehampaan terhadap murid mereka, membuat mereka bersikap tidak begitu memperdulikan lagi.
Bahkan ketika mereka melihat dan mendengar betapa Sun Eng sering bergaul dengan pemuda-pemuda yang suka berkeliaran dengan pakaian-pakaian indah, pemuda-pemuda hartawan dan bangsawan yang pekerjaannya setiap hari hanya mengincar gadis-gadis cantik untuk dijadikan teman, sepasang pendekar ini yang tadinya kadang-kadang menegur dan menasihati, akhirnya juga diam saja.
Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa mereka membenci Sun Eng, melainkan karena tidak ingin dianggap terlalu mengekang oleh gadis yang bukan keluarga mereka itu.
Beberapa bulan kemudian sepasang pendekar ini merasa terkejut ketika menerima serombongan tamu yang ternyata adalah utusan dari keluarga Auw, seorang pembesar yang kaya raya di kota itu.
Utusan ini datang untuk meminang Sun Eng, untuk menjadi jodoh Auw-kongcu, putera tunggal pembesar Auw itu.
Auw-kongcu adalah seorang pemuda yang amat terkenal di kota itu sebagai pemuda mata keranjang, berandalan dan terkenal pengganggu wanita-wanita di daerah itu, mengandalkan ketampanannya, hartanya dan kedudukan orang tuanya.
Oleh karena itu, ketika mendengar bahwa murid mereka dilamar oleh pemuda yang tersohor buruk watak ini, tentu saja Bun Houw dan Yap In Hong menjadi marah dan serta merta menolak pinangan itu.
Apalagi In Hong!
Pendekar wanita ini pada dua tahun yang lalu pernah menghajar Auw-kongcu, bahkan kalau tidak dicegah oleh Bun Houw tentu sudah membunuhnya karena Aw-kongcu berani main gila kepadanya, berani mengeluarkan kata-kata tidak sopan dan hendak menggodanya di depan kuil ketika dia melakukan sembahyang seorang diri.
Dan kini pemuda kurang ajar itu telah mengirim utusan melamar Sun Eng!
Maka, tidaklah mengherankan kalau pendekar wanita yang berwatak keras ini seketika mengusir utusan-utusan itu dengan jawaban sejelas-jelasnya bahwa mereka menolak pinangan itu.
Para utusan itu pergi dengan ketakutan, akan tetapi Bun Houw dan In Hong melihat betapa wajah murid mereka membayangkan kemarahan dan ketidaksenangan hatinya oleh penolakan itu.
"Eng-ji, yang meminangmu adalah seorang pemuda yang tersohor jahat dan busuk namanya di kota ini, karena itu kami menolaknya dengan keras,"
Kata In Hong.
"Terserah suhu dan subo,"
Jawab dara itu dengan singkat lalu meninggalkan kedua gurunya, jelas nampak bahwa dia merasa tidak senang.
Bun Houw menarik napas panjang.
"Aihh, untung dia bukan adik atau anak kita, kalau demikian halnya, tentu benar-benar mengesalkan hatiku bukan main."
"Betapapun juga, dia adalah murid kita dan sudah sepatutnya kita jaga agar jangan memperoleh suami yang brengsek,"
Kata In Hong.
Peristiwa penolakan pinangan Aw-kongcu itu agaknya makin merenggangkan hubungan antara kedua orang guru dan muridnya itu.
Atau lebih tepat lagi, Sun Eng kini makin menjauhkan diri, dan kalau berada di hadapan kedua orang gurunya, dia selalu cemberut.
Bahkan kini, dia tidak pernah lagi bertanya-tanya tentang ilmu silat kepada mereka, lebih banyak pergi ke tetangga daripada berlatih silat, setelah selesal membantu subonya di dapur.
Bahkan beberapa hari kemudian sepasang pendekar itu melihat perubahan besar pada diri murid mereka.
Wajahnya agak pucat dan sepasang matanya banyak melamun.
Hal ini mencurigakan hati In Hong dan pendekar wanita ini membisiki kekasihnya bahwa mereka harus lebih memperhatikan Sun Eng.
Demikianlah, pada suatu malam, ketika mereka menaruh perhatian, mereka mendengar jendela kamar murid mereka terbuka perlahan dan mereka melihat berkelebatnya bayangan murid mereka itu meninggalkan kamarnya, lalu meninggalkan rumah itu.
In Hong dan Bun Houw cepat membayangi dari jauh dan dengan penuh keheranan mereka melihat murid mereka itu memasuki sebuah hutan kecil di pinggir kota.
Ketika tiba di padang rumput yang diterangi bulan purnama, di situ mereka melihat seorang laki-laki telah menanti kedatangan Sun Eng dan begitu mereka bertemu, keduanya saling rangkul dan saling berciuman dengan penuh gelora nafsu!
"Ah, kau datang juga...
betapa aku sudah khawatir kau tidak dapat datang,"
Terdengar pria itu berkata dan dengan hati mendongkol sekali Bun Houw dan In Hong mengenal bahwa pria itu bukan lain adalah Auw-kongcu!
"Aku tentu datang, kongcu, akupun rindu sekali padamu."
"Ah, Eng-moi, engkau memang manis, sayang,"
Kata Auw-kongcu dan kini sepasang pendekar itu memandang dengan mata terbelatak ketika mereka melihat betapa murid mereka mandah saja dirangkul dan direbahkan di atas rumput, digumuli pemuda itu dan bahkan tertawa cekikikan ketika tangan pemuda itu meraba-raba lalu mulai membukai pakaiannya!
"Keparat!"
In Hong memaki dan dia sudah meloncat ke depan, tubuhnya melayang seperti seekor burung garuda menyambar dan di lain saat tubuh Aw-kongcu sudah diangkat dan dibantingnya, seperti membanting seekor anjing saja.
Auw-kongcu berteriak kaget dan kesakitan.
"Anjing hina-dina!"
In Hong membentak lagi ketika melihat muridnya dengan pakaian setengah terbuka itu menatapnya dengan mata terbelalak.
"Manusia she Auw keparat, engkau memang sudah layak dibunuh!"
Akan tetapi tiba-tiba Sun Eng menubruk dan dara ini sudah berdiri menghadang subonyap melindungi tubuh Aw-kongcu yang sudah merangkak bangun dengan muka ketakutan itu.
Dengan muka merah sekali karena malu, akan tetapi sepasang matanya bersinar penuh keheranian Sun Eng menghadapi subo dan suhunyap lalu berkata dengan suara lantang.
"Subo tidak berhak membunuhnya! Subo tidak berhak memukulnya. Apa kesalahan Ang-kongcu terhadap subo maka subo menyerangnya?"
Hampir In Hong tidak percaya mendengar pertanyaan itu.
"Tidak berhak...? Dan dia... dia dan kau..."
"Memang! Aku telah menyerahkan diriku kepadanya! Aku telah menjadi... isterinya. Sudah lima kali aku menyerahkan diriku kepada laki-laki yang kucinta. Apa hubungannya ini dengan subo?"
Teriak Sun Eng menantang dan In Hong merasa mukanya seperti ditampar oleh tangan yang tidak nampak, juga Bun Houw mengeluarkan seruan tertahan.
Dara yang sejak kecil mereka pelihara, mereka didik dan mereka sayang itu kini berdiri tegak, menentang mereka bahkan bicara dengan kasar, ber-aku dan tidak lagi menyebut teecu (murid) untuk diri sendiri!
"Sun Eng!
Kau...
kau..."
Saking marahnya, In Hong tak mampu melanjutkan kata-katanya, dan tangannya menyambar, mengirim pukulan maut ke arah kepala muridnya itu.
"Plakk!"
Tangan Bun Houw menahan lengannya.
"Sabarlah, Hong-moi, tak perlu kita menggunakan kekerasan."
In Hong terengah-engah saking marahnya.
"Suhu dan subo harus mengerti bahwa kami sudah saling mencinta. Aku rela menyerahkan diri dan kehormatanku kepada orang yang kucinta, mengapa suhu dan subo hendak menghalangi kami? Bahkan suhu dan subo telah menolak pinangannya. Apakah suhu dan subo hendak mengulangi sikap dan perbuatan ayah suhu yang menolak dan tidak menyetujui perjodohan antara suhu dan subo yang saling mencinta?"
Ucapan-ucapan itu seperti ujung-ujung pedang berkarat yang menusuk hati sepasang pendekar itu.
Wajah mereka menjadi pucat dan sejenak mereka tak mampu berkata-kata.
"Perbandinganmu tidak tepat, Sun Eng!"
Bun Houw menahan kemarahannya.
"Kalau engkau memilih pemuda yang tepat, kami tentu tidak akan mencampuri dan akan setuju saja. Akan tetapi, pilihanmu keliru. Yang kau pilih adalah pemuda yang berwatak busuk, seorang pemuda pemogoran, mata keranjang dan..."
"Suhu, selera orang memang tidak sama. Suhu mencinta subo dan tentu menganggap subo wanita yang paling baik di dunia ini, akan tetapi bagaimana pandangan ayah suhu yang tidak menyetujui subo menjadi isteri suhu? Tentu berbeda antara selera suhu dan ayah suhu, seperti juga selera antara aku dan suhu juga berbeda. Bagiku, Aw-kongcu adalah pria yang paling baik di dunia."
Mendengar ini, sambil meringis menahan takut dan kaget, pemuda itu menggandeng tangan Sun Eng yang tersenyum kepadanya.
"Hemm, pilihanmu yang kau lakukan dengan mata buta itupun bukan soal yang terlalu berat, akan tetapi engkau telah menyerahkan kehormatan diri di luar pernikahan sah, apakah hal itu patut dilakukan seorang gadis yang mengenal susila?"
Tanya In Hong dengan sepasang mata bersinar-sinar.
"Subo, kalau aku menyerahkan kehormatan diriku kepada orang yang kucinta, itu tandanya aku cinta padanya! Auw-kongcu menghendaki bukti dari cintaku, dan bukti yang paling utama adalah penyerahan diri dan kehormatan. Maka aku menyerahkan, karena memang aku cinta padanya. Kami saling mencinta, maka apalagi halangannya bagi kami untuk bermain cinta?"
"Bodoh! Orang macam dia mana bisa dipercaya? Engkau akan disia-siakan setelah engkau dinodainya, akan dibuang setelah habis manis dan tinggal sepahnya. Butakah engkau tidak melihat bahaya itu?"
Bentak In Hong.
"Memang pendirian subo demikian, maka sampai kinipun subo tidak rela menyerahkan diri kepada suhu. Itu tandanya subo kurang mencinta suhu. Akan tetapi aku mencinta dan percaya kepada Auw-koko..., koko, bukankah engkau tidak akan pernah menyia-nyiakan diriku, bukan?"
Auw-kongcu merangkul.
"Tentu saja tidak, sayang, aku bersumpah..."
Sungguh kasihan sekali Sun Eng.
Dara remaja yang telah dibutakan oleh nafsunya sendiri itu dengan mudah tunduk dan menyerah, percaya akan bujukan manis seorang pria.
Dia tidak tahu bahwa pria macam Auw-kongcu ini hanya mengutamakan pemuasan birahi belaka.
Bagi pria macam ini, seperti kebanyakan pria di dunia ini, cinta adalah hubungan kelamin, cinta adalah pemuasan nafsu berahi!
Jadi cinta bagi mereka ini, bukti cinta adalah penyerahan diri seorang gadis kepadanya!
Kalau tidak mau menyerahkan diri, berarti tidak cinta!
Betapa banyaknya gadis-gadis yang menyerahkan diri sebelum resmi menjadi isteri, sehingga mengandung dan membawa akibat-akibat yang amat menyedihkan.
Tentu saja ada pula pria yang bertanggung jawab, namun hal ini tidak banyak dan lebih banyak yang melarikan atau menjauhkan diri karena memang cintanya hanya terletak dalam pemuasaan nafstu berahi belaka.
Dan gadis-gadis yang dungu itu tidak mau membuka mata melihat kenyataan bahwa dalam hubungan di luar nikah ini, yang terancam adalah si wanita.
Terancam keadaan jasmani dan keadaan rohaninya, terancam lahir batinnya.
Tentu saja hal ini ada hubungannya dengan kebudayaan masyarakat setempat.
Karena itu, betapa pentingnya untuk mempelajari dengan sesungguhnya apa yang oleh kita dinamakan cinta itu!
Cinta yang hanya mengejar pemuasan nafsu berahi belaka, adakah itu yang dinamakan cinta?
Dan yang amat menyedihkan, betapapun kita selubungi dengan berbagai istilah muluk, namun pada dasarnya banyak di antara kita, juga para wanita, yang mempunyai anggapan bahwa hubungan kelamin adalah tanda cinta!
Itu saja!
Ini bukanlah berarti bahwa kita menentang hubungan kelamin, bukan berarti kita menganggap bahwa cinta menolak hubungan kelamin.
Sama sekali bukan, dan kita TIDAK BERPENDAPAT APA-APA, hanya mengajak kita semua untuk menyelami, untuk menyelidiki secara mendalam akan apa yang dinamakan cinta oleh kita semua itu.
Cinta kasih tidak bersifat merusak, baik merusak badan maupun batin.
Maka setelah melakukan hubungan badan lalu meninggalkannya dan merusak batinnya, jelas bahwa di situ sama sekali tidak terkandung cinta kasih, dan sepenuhnya hanya terisi oleh nafsu berahi belaka.
Mengapa orang-orang muda buta terhadap hal yang gamblang ini?
Demikian pula dengan halnya Sun Eng.
Dia percaya sepenuhnya akan bujuk rayu Auw-kongcu, didorong oleh rangsangan dan dorongan nafsu birahinya sendiri, menyerahkan dirinya karena Auw-kongcu menuntut penyerahan diri sebagai bukti cintanya.
Bun Houw dan In Hopg merasa sedih bukan main, sedih dan marah.
"Sun Eng, kelak engkau akan menyesal! Bedebah ini menipumu, biar kubunuh dia!"
"Jangan subo bergerak! Kalau subo hendak membunuhnya, bunuhlah dulu aku! Dan kalau subo membunuh kami berdua, itu hanya berarti bahwa subo merasa iri hati terhadap kami!"
Kata Sun Eng.
Sampai puyeng rasa kepala In Hong mendengar kalimat terakhir itu.
Dia membelalakkan mata, wajahnya berubah beringas dan Bun Houw melihat sinar maut di dalan pandang mata kekasihnya.
Cepat dia merangkulnya dan dengan marah dia berkata.
"Sun Eng, mulai saat ini, detik ini, engkau bukan murid kami lagi dan kami bukan guru-gurumu lagi! Biarlah kelak akan kupertanggungjawabkan hal ini dengan roh ayahmu yang dahulu menitipkan engkau padaku. Mulai saat ini segala perbuatanmu adalah menjadi tanggung jawabmu sendiri. Marilah, Hong-moi!"
Kata Bun Houw dan dia setengah memaksa kekasihnya meninggalkan hutan itu.
Setelah tiba di luar hutan, tak tertahankan lagi In Hong menangis tersedu-sedu!
Bun Houw merangkulnya dan In Hong menumpahkan semua rasa duka, penasaran dan marah itu melalui air matanya yang membasahi baju di dada Bun Houw.
Bun Houw merangkul dan mengelus rambut kepala kekasihnya menguras semua perasaannya.
Setelah tangis itu reda, In Hong mengangkat mukanya yang kini menjadi pucat dan basah air mata, memandang wajah Bun Houw.
"Houw-ko, aku tahu betapa sedih dan kecewa hatimu... ah, Houw-koko yang malang, betapa buruk nasib kita..."
Bun Houw menunduk dan dalam keadaan berduka membutuhkan hiburan itu mereka menemukan hiburan dalam diri masing-masing, dan tanpa mereka sengaja, kedua mulut itu bertemu dalam ciuman yang amat mendalam, Penuh kemesraan, penuh permohonan untuk dihibur, untuk dilindungi, dan juga penuh kerinduan yang ditahan-tahan.
Malam itu bulan purnama, dan karena memang keduanya sudah bertahun-tahun menanggung rindu dendam yang amat mendalam, yang mereka jaga dengan segala kekuatan batin mereka, kini setelah mereka berpelukan dan berciuman di dalam cahaya bulan, dan mungkin pula karena peristiwa tadi, melihat murid mereka dan kekasihnya sating menumpahkan rasa cinta mereka melalui hubungan badan, maka pelukan mereka menjadi makin ketat dan ciuman mereka makin hangat.
Akhirnya In Hong terengah-engah melepaskan ciuman dan pelukannya, lalu terisak melarikan diri pulang ke rumah, diikuti oleh Bun Houw yang juga agak terengah napasnya dan panas dingin seluruh tubuhnya.
Mereka tiba di dalam rumah, di ruangan dalam.
Pintu dua buah kamar masing-masing masih terbuka.
Mereka saling pandang, lalu seperti ada daya tarik luar biasa, keduanya saling tubruk, saling rangkul dan saling berciuman lagi.
Akhirnya, Bun Houw memondong kekasihnya itu melangkah menuju ke pintu kamarnya.
Akan tetapi ketika tiba di depan pintunya, tiba-tiba In Hong meronta, melepaskan diri dan melangkah mundur.
Mereka saling berpandangan dan dari pandang mata mereka itu terpancar suara hati yang lebih jelas daripada suara melalui kata-kata.
Bun Houw menatap wajah yang cantik itu, melihat sinar mata kekasihnya yang harap-harap cemas dan bingung.
Dia sadar lalu menunduk dan pada saat itu keduanya sudah mengeluarkan kata-kata yang sama dalam saat yang sama pula.
"Maafkan aku..."
"Maafkan aku..."
Keduanya saling pandang lagi, merasa lega setelah saling minta maaf, kemudian Bun Houw memegang kedua pundak kekasihnya, memandang dengan tatapan penuh kasih sayang, lalu berbisik.
"Sudah terlalu lama kita menanggung derita... bagaimana kalau kita... eh, menengok ayah di Cin-ling-san...?"
Tentu saja dengan ucapan ini Bun Houw membayangkan harapannya bahwa ayahnya kini sudah tidak marah lagi dan akan merestui perjodohan mereka setelah lewat sepuluh tahun lebih.
Juga dia sudah merasa rindu kepada ibunya.
Akan tetapi In Hong mengerutkan alisnya.
"Koko, selama ini, biarpun kita menanggung rindu dan tertekan derita batin, namun kita telah kuat bertahan. Kalau... kalau seandainya kita ke Cin-ling-san hanya untuk mendengar ayahmu masih menentang kita, kehancuran hati yang lebih hebat tentu akan kita derita dan belum tentu kita kuat bertahan seperti sekarang. Mengapa tidak menanti saatnya yang baik dan kita menyerahkan diri saja kepada kehendak Tuhan?"
Bun Houw maklum betapa berat rasa hati kekasihnya itu untuk menghadap ayah bundanya setelah ditolak sebagai mantu!
Dia hanya mengangguk, menarik napas, mencium dahi In Hong, kemudian membalikkan tubuh dan memasuki kamarnya, menutupkan daun pintu kamarnya, diikuti oleh pandang mata In Hong.
Wanita ini melinangkan air mata dan hatinya merasa kasihan sekali.
Betapa besar keinginan hatinya untuk menghibur hati Bun Houw, untuk melayaninya, untuk menyenangkannya, untuk menyerahkan dirinya!
Tiba-tiba dia teringat kepada Sun Eng dan dengan cepat diapun memasuki kamarnya, merasa ngeri akan bayangan pikirannya sendiri karena kini dia dapat merasakan apa yang diperbuat oleh Sun Eng di dalam hutan, tadi!
Namun, dia mengerti benar bahwa hal itu adalah tidak benar, oleh karena itu, sampai bagaimanapun dia tidak akan melakukan apa yang diperbuat oleh Sun Eng!
Beberapa bulan semenjak peristiwa di dalam hutan itu yang mengakibatkan Sun Eng tidak pernah kembali lagi ke rumah kedua orang gurunya, meninggalkan semua barang dan pakaiannya karena kekasihnya yang kaya raya itu membelikan pakaian baru sebanyaknya untuknya.
Bun Houw dan In Hong mendengar berita mengejutkan.
Mereka mendengar bahwa Auw-kongcu kedapatan tewas di dalam hutan di mana dia dahulu mengadakan pertemuan dengan Sun Eng dan menurut berita itu, pemuda Auw ini tewas dalam keadaan mengerikan karena leher dan mukanya berlubang-lubang, berwarna kehijauan dan berbau wangi.
Tentu saja suami isteri ini terkejut bukan main karena luka-luka di leher dan muka seperti itu hanya dapat diakibatkan oleh senjata rahasia Siang-tok-swa (Pasir Beracun Wangi), yaitu senjata rahasia dari In Hong yang sudah diajarkan pula kepada Sun Eng!
Mereka depat menduga bahwa tentu Sun Eng yang telah membunuh Auw-kongcu itu.
Mereka menyelidiki dan tahulah mereka bahwa memang Sun Eng yang membunuh pemuda itu karena mereka mendengar keterangan bahwa Auw-kongcu tidak mau mengawini gadis itu.
Bun Houw dan In Hong hanya dapat merasa berduka dan kasihan kepada murid mereka itu, akan tetapi di samping perasaan duka dan kasihan, terdapat perasaan marah yang besar terhadap murid yang dengan perbuatannya berarti juga menodakan nama mereka yang menjadi gurunya.
Biarpun mereka berdua sudah tidak mengakuinya sebagai murid, namun baru penggunaan Siang-tok-swa ini saja sudah merupakan bukti langsung bahwa gadis itu adalah murid mereka.
Apalagi ketika mereka mendengar berita bahwa kini setelah terlepas dari Auw-kongcu, Sun Eng bergaul dengan segala macam pemuda bangsawan mata keranjang yang kaya raya dan hidup berfoya-foya, Terkenal sebagai seorang gadis yang mempunyai banyak pacar, hati sepasang pendekar ini menjadi semakin marah.
Mereka memutuskan untuk tidak memusingkan lagi soal Sun Eng dan mencoba untuk melupakan bekas murid itu dengan tak pernah membicarakannya satu sama lain dan juga mengambil keputusan untuk tidak menceritakan tentang diri gadis itu kepada siapapun juga.
Demikianlah, ketika Sun Eng tiba-tiba muncul di waktu sepasang pendekar ini bersama sepasang pendekar Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng berada dalam penjara, dan gadis itu hendak menolong mereka, tentu saja Bun Houw dan In Hong menjadi marah dan mengusir bekas murid itu.
Dan peristiwa itu tentu saja memaksa mereka berdua untuk menceritakan tentang diri bekas murid itu kepada Yap Kun Liong dan isterinya.
"Tidak disangka perempuan hina itu muncul di sini, sungguh hanya untuk membikin kami berdua malu dan penasaran!"
Kata In Hong dengan gemas, menutup penuturan Bun Houw yang kini telah menjadi suaminya.
Yap Kun Liong mendengarkan penuturan itu dan mengerutkan alisnya, berulang kali menarik napas panjang.
"Ah, anak itu patut dikasihani..."
"Tapi, Liong-ko, dia tak berahlak, tak tahu malu, merusak nama kami!"
In Hong berkata marah.
"Itulah, kalian hanya mengingat nama kalian saja, mengingat kepentingan kalian sendiri dan tidak pernah mengingat kebutuhan anak itu. Memang harus diakui bahwa anak itu lemah menghadapi nafsunya sendiri, akan tetapi jahatkah hal itu? Ataukah hal itu merupakan hal yang patut dikasihani dan tidak terlepas daripada pendidikan dan lingkungan? Kalian masih terlalu muda untuk mendidik, mungkin dia terlalu dimanja. Dia tidak jahat, buktinya, biarpun kalian sudah membencinya, dia masih ingat budi, masih berani menempuh bahaya untuk menolong kalian. Hal ini saja membuktikan bahwa anak itu bukan orang yang tak ingat budi, bukan orang yang jahat. Dia hanya menjadi korban salah didik, salah asuhan sungguhpun kalian berdua tidak insyaf akan kesalahan kalian yang tidak disengaja."
Mendengar ini, In Hong dan Bun Houw tidak membantah lagi karena mereka dapat melihat kebenaran dalam ucapan Yap Kun Liong itu.
Akan tetapi tentu saja In Hong tidak dapat menerima kesalahannya secara rela dan diam-diam dia masih penasaran dan masih belum lenyap rasa bencinya kepada Sun Eng.
Sementara itu, di dalam gedung tempat tinggal Ciong-taijin, jaksa kota Po-teng di mana Ma-ciangkun bermalam, yaitu pembesar yang menjadi sahabat Lee-ciangkun, yang membantu Ma Kit Su dalam menjaga para tahanan itu, datang beberapa orang tamu.
Kedatangan mereka itu secara rahasia, tidak diketahui orang lain kecuali tuan rumah yang menyambut mereka dengan penuh hormat.
Tamu ini adalah Lee Siang atau Lee-ciangkun dari kota raja, Kim Hong Liu-nio, dan nenek Hek-hiat Mo-li.
Ciong-taijin sendiri sampai merasa ngeri dan serem ketika dia bertemu dengan nenek muka hitam yang amat tua itu, dan memandang dengan penuh curiga kepada nenek itu, kemudian memandang dengan sinar mata penuh tanda tanya kepada sahabatnya dari kota raja itu.
Di samping tiga orang ini, masih ada belasan orang tinggi besar, dan mereka ini adalah orang-orang yang menjadi pengikut Hek-hiat Mo-li, datang dari utara dan merupakan jagoan-jagoan dari utara yang oleh Raja Sabutai diberikan kepada gurunya untuk membantunya menghadapi musuh-musuhnya.
Belasan orang ini diterima oleh para pembantu Ciong-taijin di tempat tersendiri dan dijamu oleh mereka.
Bagaimanakah Hek-hiat Mo-li dapat muncul di Po-teng?
Seperti kita ketahui, penangkapan atas diri empat orang pendekar itu adalah pelaksanaan siasat yang dilakukan oleh Lee Siang yang berdaya upaya untuk menyelamatkan kekasihnya dari ancaman hukuman mati oleh guru kekasihnya itu, yaitu waktu tiga bulan yang diberikan kepada Kim Hong Liu-nio untuk menangkap Yap Kun Liong, Yap In Hong, Cia Bun Houw dan Cia Giok Keng, hidup atau mati.
Maka setelah mereka mendengar berita bahwa siasat itu telah dilaksanakan dengan hasil baik, Kim Hong Liu-nio cepat menghadap gurunya dan melaporkan bahwa empat orang musuh besar itu telah ditawan dan kini sedang menuju ke kota raja.
"Mengingat lihainya mereka, sebaiknya kalau subo sendiri yang turun tangan membunuh mereka yang sudah ditawan dalam kerangkeng dan sedang dikawal menuju ke kota raja,"
Kata Kim Hong Liu-nio. Nenek itu terkekeh girang.
"Bagus, begitu baru engkau muridku yang baik!"
Raja Sabutai juga merasa girang dan raja ini lalu memilih tiga belas orang jagoan di antara para pengawal pribadinya dan memerintahkan mereka mengawal dan membantu gurunya yang hendak menewaskan musuh-musuh besar yang lihai itu.
Dengan cepat berangkatlah mereka, menjemput Lee-ciangkun dan bersama-sama lalu menuju ke selatan untuk menyambut tawanan itu.
Kebetulan mereka bertemu dengan rombongan tawanan yang sedang berhenti di Po-teng dan Lee Siang lalu langsung membawa rombongannya itu ke gedung Ciong-taijin dan mereka berempat lalu mengadakan perundingan rahasia.
"Ciong-taijin, empat orang tawanan itu adalah orang-orang yang amat lihai dan berbahaya sekali. Sri Baginda sendiri telah memberi perintah rahasia kepadaku bahwa mereka itu harus dapat dibunuh secepat mungkin, karena kalau mereka sampai lolos, mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin pemberontak yang amat membahayakan keamanan negara. Mengingat akan lihainya mereka itu, maka kami menunjuk locianpwe ini untuk melaksanakan perintah rahasia Kaisar itu, dibantu oleh murid beliau ini."
Dia memperkenalkan Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio kepada Jaksa Ciong.
Karena menganggap bahwa nenek dan muridnya yang cantik itu adalah pelaksana-pelaksana dari perintah rahasia Kaisar, maka tentu saja Ciong-taijin memandang kepada mereka dengan penuh hormat dan juga takut karena memang wajah dan sikap nenek itu amat menakutkan.
Sambil duduk di atas bangku dengan tegak dan kedua lengannya disilangkan di depan dada, mukanya seperti topeng yang sama sekali tidak pernah bergerak, nenek itu tanpa memandang kepada Ciong-taijin berkata dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh pembesar itu.
Setelah berkata-kata agak lama, nenek itu diam dan muridnya yang cantik lalu berkata sambil memandang kepada tuan rumah.
"Ciong-taijin, guruku berkata bahwa untuk melaksanakan perintah Kaisar membunuh empat orang itu tidaklah mudah kalau tidak memperoleh bantuan taijin. Maka subo mengusulkan untuk membakar penjara di mana empat orang itu terkurung. Hal ini untuk mencegah agar mereka jangan sampai lolos, karena kalau sampal lolos, tentu Kaisar akan marah dan taijin juga ikut bertanggung jawab."
Mendengar ini, wajah pembesar itu berubah pucat dan keringat dingin membasahi lehernya.
"Akan tetapi... membakar penjara...? Lalu... bagaimana dengan para tahanan yang lain? Tentu akan jatuh korban, mereka akan terbakar hidup-hidup!"
Agaknya untuk mendengarkan omongan pembesar itu, Hek-hiat Mo-li tidak memerlukan terjemahan muridnya.
Memang sesungguhnya dia pandai bicara dalam bahasa Han, akan tetapi dasar wataknya agaknya aneh, dia terlalu memandang rendah kepada para pembesar, dan tidak mau bicara secara langsung kepada pembesar Ciong itu.
Kini mendengar ucapan Ciong-taijin, dia cepat bicara dalam bahasanya sendiri yang kemudian disalin pula oleh muridnya.
"Menurut subo, tidak mengapa kalau sampai jatuh beberapa orang korban karena bukankah mereka itu orang-orang berdosa yang layak mati? Juga, yang dibakar hanya sekeliling ruangan di mana empat orang tahanan itu berada, jadi tidak akan membakar seluruh penjara, maka, andaikata ada orang tahanan yang ikut tewas, kami rasa tidak akan begitu banyak jumlahnya."
Akhirnya Ciong-taijin terpaksa menyetujui juga dan menyerahkan semua pelaksanaannya kepada Lee-ciangkun.
"Jangan khawatir, Ciong-taijin, saya yang bertanggungjawab akal hal ini!"
Kata Lee Siang dengan girong, karena kini terbuka harapan besar baginya untuk dapat memiliki Kim Hong Liu-nio secara resmi dan keselamatan kekasihnya itu tidak akan terancam lagi.
Siang hari itu juga mereka sudah melakukan persiapan.
Tanpa diketahui orang, secara rahasia, ruangan penjara di mana empat orang pendekar itu dikurung ditimbuni kayu-kayu dan bahan bakar lainnya, dan dari ruangan itu hanya ada satu jurusan saja terbuka, yaitu di pintu yang akan dijaga ketat oleh Hek-hiat Mo-li dan orang-orang Mongol yang sudah mempersiapkan segalanya untuk mencegah empat orang pendekar itu keluar dari tempat tahanan dan akhirnya dapat mati terbakar di sebelah dalam.
Tidak ada orang tahu bahwa diam-diam ada dua orang yang mengikuti semua kesibukan itu dari jauh.
Dua orang yang melakukan kegiatan secara terpisah ini bukan lain adalah Sun Eng dan Lie Seng.
Biarpun sudah diusir oleh suhu dan subonya, namun Sun Eng yang benar-benar mengkhawatirkan keselamatan kedua orang gurunya itu tidak pergi benar-benar, melainkan berkeliaran di sekitar tempat itu, di kota dan akhirnya kembali lagi ke dekat penjara.
Dia melihat kesibukan penuh rahasia itu, melihat pula belasan orang tinggi besar yang biarpun mengenakan pakaian penjaga penjara namun gerak-geriknya mencurigakan.
Selain mereka itu semua tinggi besar dan memiliki bentuk muka asing, juga gerak-gerik mereka menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.
Sun Eng merasa makin gelisah.
Dia melihat seorang komandan jaga yang nampak lelah dan kurang tidur, siang hari itu keluar dari lingkungan penjara, meloncat ke atas kudanya dan agaknya hendak pulang, karena di pintu penjara dia memesan kepada para penjaga agar berhati-hati dan menyatakan bahwa dia hendak beristirahat dan pulang sebentar.
Ketika komandan jaga ini melarikan kudanya tiba di sebuah tikungan, tiba-tiba seorang wanita muda menyeberang jalan dengan tak terduga-duga.
Komandan itu terkejut sekali, berusaha menahan namun terlambat karena kaki depan kudanya sudah menerjang wanita itu yang terpelanting dan terbanting ke atas tanah.
Komandan itu menghentikan kudanya dan lari menghampiri.
Wanita itu masih muda dan cantik sekali, dan kini terlentang pingsan, pakaiannya agak tersingkap sehingga memperlihatkan sebuah betis yang berkulit putih mulus!
Wanita itu mengeluh, lirih, merintih dengan mata masih terpejam.
"Aauhhhh... tolonglah aku..."
Komandan itu menelan ludahnya.
Melihat wanita itu mengeluh dan mengeliat, dia terpesona, kemudian setelah melihat bahwa di situ tidak ada orang lain, dia lalu mengangkat tubuh yang setengah pingsan itu, lalu membawanya ke atas kuda dan melarikan kudanya, bukan pulang ke rumahnya melainkan menuju ke tepi kota di mana terdapat sebuah pondok kosong, pondok ini adalah pondok tempat dia bersenang-senang dengan kawan-kawannya, jauh dari rumah dan isterinya!
Ketika komandan itu membaringkan tubuh yang hangat dan menggairahkan ketika berada dalam pelukannya tadi di atas dipan, wanita itu kembali mengeluh dan mencoba untuk duduk.
"Auuuh.. kakiku..."
Keluhnya.
"Kenapa kakimu, nona? Sakitkah? Coba kuperiksa."
Komandan itu menghampiri dan duduk di atas pembaringan.
Nona itu tidak membantah dan melonjorkan kaki kirinya.
Sang komandan yang mata keranjang itu lalu menyingkapkan celana kaki kiri, dan terus membukanya sampai ke lutut.
Kembali dia mendan ludah melihat sebuah kaki yang bentuknya indah dan kulitnya putih halus dan hangat.
Diusapnya kaki itu seperti orang memeriksa, akan tetapi usapannya itu makin kurang ajar, merupakan belaian dari tangannya yang gemetar.
"Aduh, sakit di situ... di bawah lutut...!"
Wanita cantik itu mengeluh lagi.
Mengira bahwa lutut itu terkilir, sang komandan lalu mengurutnya dan menaruh obat, kemudian dibalutnya.
"Tulangnya tidak patah, hanya terkilir, nona. Dalam waktu sehari saja akan sembuh kembali. Kau mengapa lari-lari menyeberang jalan sehingga tertabrak oleh kuda?"
Nona itu mengerling tajam lalu tersenyum malu-malu.
"Aku... aku memang ingin melihatmu, ciangkun. Engkau begitu sering lewat dengan kudamu, dan aku... aku kagum melihat engkau begini gagah..."
Hampir komandan yang usianya sudah empat puluh tahun ini tidak percaya akan apa yang didengarnya.
Matanya terbelalak dan mulutnya menyeringai.
"Benarkah, nona? Dan setelah sekarang kita berhadapan, engkau mau apa?"
Tanyanya nakal, penuh pancingan dan bujukan, kemudian dia hendak merangkul.
Akan tetapi nona itu mencegahnya dengan kedua tangannya.
"Ah, kakiku masih sakit sekali, ciangkun. Nanti kalau sudah sembuh, tentu boleh..."
"Boleh apa...?"
Wanita itu tersenyum malu, mengerling tajam seperti kilat.
"Ihhh, engkau tentu mengerti sendiri. Sekarang, dipakai bergerak saja kakiku sakit, mari kita omong-omong saja dulu. Kalau tidak salah, ciangkun bekerja di penjara sana, bukan?"
"Benar, aku seorang di antara komandan penjara!"
Komandan itu menjawab bangga.
"Pantas pakaianmu begitu mentereng! Aku sudah menduga bahwa engkau tentu seorang perwira tinggi. Aku sering lewat dekat penjara hanya untuk dapat melihatmu, ciangkun."
"He-he-he, benarkah?"
Komandan itu menyeringai dan menelan ludah, lalu dia mendekatkan hidungnya untuk mencium.
Wanita itu memalingkan mukanya, memberikan pipinya yang dikecup dengan bernafsu oleh sang komandan.
"Engkau manis, he-he, engkau cantik manis!"
Wanita itu mendorong dada komandan itu dengan kedua tangannya, dengan gerakan halus.
"Sabarlah, ciangkun, kakiku tak dapat digerakkan. Biarlah nanti... eh, beberapa hari ini aku melihat kesibukan di dalam penjara, ada apakah? Apakah ada hubungannya dengan kereta kerangkeng di mana terdapat empat orang penjahat itu?"
Secara sambil lalu wanita itu bertanya.
"Ha-ha, rahasia manis, rahasia besar yang hanya diketahui oleh orang-orang penting macam aku ini. Tak boleh kuceritakan kepada siapapun..."
Wanita itu cemberut dan berusaha turun dari pembaringan, mukanya membayangkan kekecewaan dan kemarahan.
"Eh, engkau mau ke mana?"
"Biarlah aku pergi. Biarpun engkau gagah dan tampan menarik, akan tetapi engkau tidak percaya kepadaku! Aku begini percaya kepadamu, mau kaubawa ke pondok ini, akan tetapi engkau menganggap aku orang asing yang tak boleh dipercaya. Untuk apa persahabatan berat sebelah ini dilanjutkan? Biarkan aku pergi!"
Wanita itu terpincang-pincang hendak pergi.
"Eh-eh, nanti dulu... sayang, jangan marah. Aku hanya main-main. Siapakah namamu, manis?"
"Namaku Ang Bwee Hwa."
"Ang Bwee Hwa (Bunga Bwee Merah)? Heh-heh, nama yang bagus, sebagus orangnya. Dan aku bernama Ciok Kwan."
"Apa artinya perkenalan ini kalau kau tidak percaya..."
"Siapa bilang tidak percaya? Aku percaya padamu seratus prosen, manis."
"Kenapa kau tidak mau menceritakan rahasia orang tawanan itu?"
"Stt, jangan keras-keras, aku takut terdengar orang. Dengar, mereka itu orang-orang penting dan berbahaya sekali sehingga Sri Baginda Kaisar sendiri berkenan mengeluarkan perintah rahasia untuk membunuh mereka di sini..."
"Ohhh...?"
Wanita itu terkejut dan sang komandan tersenyum karena tidak heran melihat seorang wanita lemah terkejut mendengar tentang pembunuhan.
"Mengapa?"
"Aku sendiri tidak tahu, hanya menurut perintah atasanku, kami harus siap, dan karena empat orang itu amat lihai, maka pelaksanaan pembunuhan itu dilakukan dengan membakar ruangan tahanan di mana mereka dikurung."
"Ahhh...!"
Kembali wanita itu terkejut dan membelalakkan mata.
"Dan untuk menjaga agar mereka jangan lolos, kota raja telah mengirim jagoan yang mengerikan. Engkau akan takut kalau melihatnya, dia seorang nenek bermuka hitam seperti iblis, bersama seorang muridnya yang cantik sekali akan tetapi kabarnya murid itupun lihai bukan main. Selain itu, masih ada belasan orang jagoan yang mengawal dan membantu mereka."
"Ihh, mengerikan sekali. Kapan pembakaran itu akan dilaksanakan?"
"Sekarang juga, setelah lewat senja ini, untung aku sudah bebas tugas, karena tugasku hanya menjaga sampai sore ini, lalu diganti oleh petugas-petugas dari kota raja itu... eh, ada apa?"
Komandan itu terkejut karena tiba-tiba berubahlah sikap wanita cantik itu.
Tadi kelihatan begitu lemah ketakutan dan menderita nyeri, akan tetapi kini wajah yang manis itu kelihatan keras dan pandang matanya berkilat.
Akan tetapi wanita cantik yang bukan lain adalah Sun Eng itu kini sudah meloncat turun dari pembaringan.
Ketika komandan Ciok itu mengulurkan tangan hendak meraih, tiba-tiba Sun Eng menampar dengan tangan kirinya dengan kecepatan seperti kilat menyambar.
Komandan Ciok menjerit satu kali dan roboh dengan kepala retak-retak dan tewas seketika!
Dengan jantung berdebar tegang penuh kegelisahan mendengar berita itu, Sun Eng lalu berlari secepatnya menuju ke penjara.
Senja telah mendatang dan cuaca mulai gelap.
Dia khawatir kalau-kalau datangnya terlambat, maka dia mengerahkan seluruh kepandaiannya berlari cepat.
Sementara itu, di luar dan dalam penjara terjadi kesibukan-kesibukan ketika Kim Hong Liu-nio sendiri bersama Lee Siang menyusun pasukan untuk menjaga dan mengeroyok empat orang pendekar yang hendak dibunuh itu.
Juga Hek-hiat Mo-li bersama tiga belas orang pembantunya telah siap di pintu depan.
Lampu-lampu sengaja belum dipasang oleh para penjaga sehingga keadaan di situ mulai gelap dan remang-remang.
Para penjaga telah diganti dengan tenaga-tenaga baru yang pilihan.
Tiba-tiba di dalam kegelapan yang mulai menyelimuti bumi itu terdengar teriakan melengking, teriakan seorang wanita dengan suara yang dikeluarkan melalui tenaga khi-kang sehingga terdengar menembus cuaca remang-remang itu.
"Suhuuuu...! Suboooo...! Keluarlah cepat, penjara hendak dibakar! Suhu dan subo terjebak oleh musuh!"
Dan dari pintu depan penjara itu, muncul seorang wanita yang bukan lain adalah Sun Eng.
Para penjaga menjadi gempar dan cepat mereka menerjang dan mengurung, akan tetapi dengan Siang-tok-swa, pasir beracun harum yang digenggamnya, Sun Eng menyambut mereka sehingga dua orang penjaga memekik dan roboh menutupi muka mereka.
Berbareng dengan itu, Sun Eng sudah mengelebatkan pedangnya dan roboh pula dua orang penjaga lain.
Keadaan menjadi makin geger, dan kini para penjaga mengurung rapat, belasan batang senjata ditujukan ke arah bayangan wanita yang mengamuk itu.
Namun Sun Eng tidak menjadi gentar, pedangnya digerakkan dengan dahsyat dan yang nampak hanya sinarnya saja bergulung-gulung.
Akhirnya, empat orang pengeroyok kehilangan senjata mereka, ada yang patah, ada pula yang terlempar entah ke mana!
"Suhuuu!
Subooo!
Keluarlah sebelum terlambat!"
Teriak lagi Sun Eng sambil mengamuk dan amukannya membuat para pengeroyoknya menjadi gentar juga.
Melihat ini, Kim Hong Liu-nio menjadi marah.
"Dari mana datangnya bocah yang bosan hidup?"
Bentaknya dan dengan gerakan yang dahsyat dan cepat sekali murid Hek-hiat Mo-li ini sudah meloncat dan menyerang Sun Eng dengan tangan kirinya.
Sebelum tangan kiri mengenai sasaran, telah menyambar hawa panas dan terdengar suara berkerincingnya gelang-gelang emas di pergelangan tangan itu.
Sun Eng terkejut menyaksikan serangan yang dia tahu amat ampuh ini, maka cepat ia mengelebatkan pedangnya menangkis ke arah pergelangan tangan yang bergelang itu untuk membacoknya buntung.
"Trikkk!"
Sun Eng terkejut bukan main karena wanita cantik yang berpakaian indah itu berani menangkis pedangnya dengan tangan kosong dan ketika tangan itu bertemu dengan pedangnya, mucrat bunga api dan telapak tangannya terasa panas!
Tahulah dia bahwa dia menghadapi seorang lawan tangguh yang tangannya terlindung benda kebal, maka dia sudah memutar pedangnya dah mengirim serangan bertubi-tubi ke arah lawan yang lihai itu.
Namun, dengan lincah dan ringannya, Kim Hong Liu-nio mengelak dan kadang-kadang menangkis dengan tangannya yang terlindung oleh sarung tangan tipis itu.
"Suhuuu! Subooo! Lekas keluar...!"
Akan tetapi Sun Eng menahan teriakannya karena pada saat itu ada sinar merah menyambar ke arah matanya.
Dia cepat mengelak mundur dan mengelebatkan pedangnya, namun sinar merah itu tidak takut pada pedangnya dan ternyata itu adalah sehelai sabuk merah yang kini langsung menotok ke arah lehernya.
Dia terkejut, miringkan tubuh, akan tetapi tetap saja pundaknya kena tertotok ujung sabuk yang biarpun kehilangan sasaran leher, namun masih amat kuat sehingga Sun Eng terhuyung ke belakang.
"Cepppp!"
Pada saat itu, dari belakang menyambar tusukan tombak dan serangan ini yang dilakukan selagi tubuh Sun Eng terhuyung tak dapat ditangkis atau ditolak oleh dara itu yang hanya mampu membuang diri ke samping sehingga tetap saja belakang pundak kirinya tertusuk tombak.
Darah mengucur keluar dan Sun Eng menahan rasa nyeri yang menyengat-nyengat, memutar pedang dan mengamuk.
Akan tetapi sinar merah dari sabuk di tangan Kim Hong Liu-nio menahan semua gerakannya, membuatnya tidak berdaya dan kembali dia yang kini terdesak dan terkurung oleh para penjaga yang mendapat hati kembali melihat betapa Kim Hong Liu-nio dapat menguasai amukan wanita muda itu.
Betapapun lihainya Sun Eng yang telah mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu yang pernah dipelajarinya dari Cia Bun Houw dan Yap In Hong, akan tetapi karena memang tingkatnya kalah tinggi oleh Kim Hong Liu-nio, apalagi karena dia sudah terluka dan dikeroyok oleh banyak penjaga, akhirnya kembali gadis itu terluka oleh bacokan golok yang merobek celana dan kulit paha kanannya, membuat gerakannya makin kacau dan pakaiannya penuh dengan darah.
Namun, seperti singa betina dia mengamuk terus dan setiap ada kesempatan, tentu dia meneriaki suhu dan subonya untuk segera melarikan diri!
"Perempuan sial!"
Kim Hong Liu-nio marah karena dia khawatir kalau-kalau empat orang tawanan itu benar-benar dapat meloloskan diri oleh teriakan-teriakan itu.
Maka dia segera melengking nyaring dan tiba-tiba ada sinar api meluncur ke arah dahi Sun Eng.
Itulah senjata rahasia berupa hio menyala yang amat hebat.
Sun Eng terkejut dan membuang diri ke belakang, akan tetapi tiba-tiba kaki kirinya terlibat ujung sabuk merah dan di lain saat dia sudah roboh terjengkang karena sabuk itu ditarik oleh Kim Hong Liu-nio.
Mellhat robohnya gadis ini, dua orang penjaga menubruk dengan golok mereka dan Sun Eng sudah tidak berdaya lagi untuk mengelak atau menangkis.
Akan tetapi dia membuka mata lebar-lebar, menyambut maut dengan mata terbuka!
"Trang-trang...!"
Pandang mata Sun Eng silau oleh berpijarnya bunga api dan dua orang penjaga itu bersama golok mereka terjengkang ke kanan kiri dan tubuhnya disambar orang yang memiliki tangan kiri kuat bukan main sehingga sekali tarik saja dia sudah bangkit berdiri kembali.
Ketika dia melirik, ternyata yang menolongnya adalah seorang pemuda tampan yang bertubuh tegap dan berwajah gagah.
Pemuda itu bukan lain adalah Lie Seng!
Seperti kita ketahui, Lie Seng juga selalu membayangi keadaan ibunya, ayahnya dan dua orang paman dan bibinya itu, dan dia selalu mengamati keadaan penjara di mana keempat orang itu ditawan.
Diapun terheran-heran melihat kesibukan para penjaga, tidak tahu apa yang akan terjadi.
Ketika dia melihat ada wanita mengamuk dan dikeroyok, terutama ketika wanita itu berteriak-teriak menyebut suhu dan subo ke dalam, dia sama tidak mengerti dan tidak tahu siapa wanita itu, siapa pula yang disebut suhu dan subo.
Tentu saja dia tidak pernah menduga bahwa yang disebut suhu dan subo oleh wanita cantik itu adalah paman dan bibinya.
Juga dia tidak tahu bahwa ayah tiri dan ibu kandungya tidak pernah mempunyai murid seperti ini, maka Lie Seng menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Akan tetapi dia merasa kagum akan kegagahan wanita itu dan baru setelah dia melihat gerakan wanita itu, dia terkejut.
Dia mengenal dasar gerakan Thai-kek Sin-kun dalam langkah-langkah wanita itu dan hal ini berarti bahwa wanita ini memang masih ada hubungan perguruan dengan keluarganya!
Maka melihat wanita itu terluka dan terancam bahaya maut, dia lalu meloncat turun tangan dan menolongnya, juga ingin tahu apa yang dimaksudkan oleh wanita itu ketika berteriak-teriak ke dalam.
Melihat munculnya seorang pemuda gagah perkasa yang sekali berkelebat dan sekali tangkis merobohkan dua orang pembantunya, Kim Hong Liu-nio menjadi marah bukan main.
"Tarr-tar-tar!"
Tiga kali sinar merah sabuknya menyambar, melakukan totokan ke tiga jalan darah maut.
Akan tetapi dengan tenangnya Lie Seng mengangkat lengan menangkis dan setiap kali ditangkis, sinar merah sabuk itu terpental, dan untuk yang terakhir kalinya hampir saja Lie Seng berhasil menangkap ujung sabuk, akan tetapi dengan sentakan halus ujung sabuk itu melejit dan terlepas lagi dari pegangan Lie Seng seperti seekor ular bernyawa saja!
Keduanya menjadi terkejut dan maklum akan kelihaian masing-masing.
"Terima kasih, aku berhutang nyawa padamu!"
Kata Sun Eng dengan halus dan wanita ini sudah bangkit lagi dengan pedang di tangan, menyambut serbuan tiga orang pengeroyok dari samping.
Lie Seng juga menggerakkan kaki dan tangan, merobohkan dua orang pengeroyok lain.
Dua orang muda ini segera dikurung dan dikeroyok, akan tetapi Lie Seng menyambut mereka seenaknya dan masih sempat bertanya-tanya kepada wanita gagah yang ditolongnya itu.
"Siapa yang kau sebut suhu dan subomu?"
"Cia Bun Houw dan Yap In Hong!"
Lie Seng terkejut.
Kiranya wanita muda ini adalah murid paman bibinya!
Dia sungguh merasa terheran-heran, akan tetapi karena dia tidak pernah mendengar tentang riwayat paman dan bibinya yang telah menghilang selama belasan tahun, maka diapun percaya akan hal ini.
"Apa artinya teriakanmu bahwa mereka terjebak dan tempat ini akan dibakar?"
"Memang mau dibakar. Lihat di sana itu mereka sudah mulai membakar. Celaka, lekas minta suhu dan subo keluar!"
Teriak Sun Eng.
Melihat ini, Lie Seng terkejut sekali.
Benar saja, di sebelah kiri ruangan penjara di mana ibunya dan yang lain-lain dikurung itu mulai berkobar api yang amat besar, tanda bahwa api itu bukan sembarangan kebakaran, melainkan kebakaran yang diatur dan diberi bahan bakar dan minyak.
"Ibu...! Ayah...! Paman dan bibi...! Lekas keluar, ruangan itu dibakar orang!"
Dia berteriak dan karena Lie Seng mengerahkan khi-kangnya, maka suaranya terdengar amat nyaring.
Kini giliran Sun Eng yang kaget setengah mati mendengar bahwa pemuda ini masih keluarga dari empat orang pendekar yang ditawan, dan menyebut paman dan bibi kepada suhu dan subonya!
Sementara itu, di dalam ruangan penjara itu, Bun Houw dan In Hong sama sekali tidak memperdulikan teriakan-teriakan Sun Eng tadi.
Bahkan ketika Yap Kun Liong menyatakan keheranan dan kecurigaannya, Bun Houw berkata.
"Harap Liong-ko jangan menghiraukan anak durhaka itu."
Ketika di luar terdengar ribut-ribut, empat orang pendekar ini hanya mendengarkan dan karena memang mereka tidak ingin memberontak, maka mereka diam saja.
Biarpun ada golongan yang hendak menolong mereka lolos, mereka tidak akan mau meloloskan diri karena sebagai orang-orang gagah mereka hendak memperlihatkan kepada Kaisar bahwa mereka itu bukanlah pemberontak-pemberontak seperti yang difitnahkan orang kepada mereka.
Akan tetapi, ketika mereka berempat mendengar suara Lie Seng itu, mereka terkejut sekali.
"Celaka, kita benar-benar terjebak. Jadi penangkapan ini benar-benar hanya tipuan belaka dari musuh-musuh yang menghendaki kematian kita!"
Kata Yap Kun Liong.
"Hayo kita loloskan diri dan bantu Lie Seng yang agaknya terkepung!"
Mereka lalu mengerahkan sin-kang dan karena keempatnya adalah pendekar-pendekar sakti yang memiliki kepandaian tinggi, begitu mereka mengerahkan sin-kang dan menggerakkan kedua tangan, belenggu-belenggu di tangan mereka itu patah-patah semua dan terdengar suara pletak-pletok.
Yap Kun Liong sedikit membantu isterinya karena di antara mereka berempat, hanya Cia Giok Keng yang tidak begitu kuat sin-kangnya.
Setelah bebas dari belenggu, mereka berempat lalu menerjang pintu ruji baja itu dengan pengerahan tenaga.
Karena pintu itu kuat bukan main, setelah empat kali menerjangnya, barulah pintu itu jebol.
"Awas senjata gelap!"
Kun Liong berteriak dan mereka berempat cepat mengelak dan menangkis anak panah yang datang berhamburan seperti hujan.
Mereka meloncat keluar dan melihat serombongan orang yang dipimpin Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio.
Wanita cantik ini ternyata telah bergabung dengan subonya untuk membantu subonya membunuh empat orang musuh besar itu!
Kini mengertilah empat orang pendekar itu mengapa mereka ditangkap.
Kiranya semua itu adalah tipuan belaka dan di balik semua itu berdiri musuh besar mereka ini!
Teringat mereka akan cerita dari mendiang Hwa-i Sin-kai dan mereka mengerti bahwa tentu fitnah ini dilaksanakan oleh Panglima Lee Siang yang tergila-gila kepada Kim Hong Liu-nio yang juga telah menjebak sampai tewasnya Tio Sun.
"Ah, kiranya engkau iblis betina yang mengatur semua ini!"
In Hong berteriak marah ketika melihat musuh besarnya itu.
"Heh-heh-heh, senang sekali melihat kalian akan mampus semua di tanganku, heh-heh!"
Hek-hiat (Lanjut ke
Jilid 28) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 28 Mo-li tertawa dan Kim Hong Liu-nio cepat mengeluarkan aba-aba dalam bahasa Mongol.
Tiga belas orang Mongol itu berbaris rapi dan menghadang sambil memasang kuda-kuda, tangan mereka memegang golok besar dan perisai.
Sedangkan di belakang mereka masih berdiri puluhan orang perajurit yang dikerahkan oleh Panglima Lee untuk membantu kekasihnya.
Jelaslah bagi empat orang pendekar itu bahwa mereka tidak mungkin dapat lolos begitu saja dan jalan satu-satunya hanyalah membuka jalan berdarah.
Di belakang mereka ruangan mulai terbakar, di depan mereka menjaga nenek iblis itu bersama muridnya dibantu begitu banyak perajurit.
Kembali Kim Hong Liu-nio mengeluarkan aba-aba dan empat orang pendekar itu terpaksa harus bergerak cepat, mengelak dan menangkis karena kembali datang hujan anak panah.
Kun Liong selalu melindungi isterinya, sedangkan Bun Houw dan In Hong tidak khawatir karena dengan Thian-te Sin-ciang mereka memperoleh kekebalan sehingga kedua lengan mereka berani menangkis anak-anak panah itu.
Dan pada saat itu, Hek-hiat Mo-li, Kim Hong Liu-nio dan tiga belas orang Mongol itu sudah menerjang dengan hebatnya menyerang empat orang pendekar yang tidak bersenjata itu.
Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di mana empat orang pendekar itu mengamuk untuk menyelamatkan diri mereka.
Sementara itu, setelah Kim Hong Liu-nio kini membantu gurunya untuk menghadapi empat orang musuh mereka yang amat lihai, pimpinan para perajurit penjaga yang mengeroyok Lie Seng dan Sun Eng diambil alih oleh panglima Lee Siang sendiri.
Panglima ini berteriak marah.
"Kalian berani memberontak terhadap pasukan pemerintah? Hayo menyerah sebelum menerima hukuman berat!"
Akan tetapi Sun Eng yang juga marah sekali dan tidak memperdulikan luka-lukanya itu menerjangnya sambil berteriak.
"Engkau hanya menggunakan nama pemerintah untuk menipu dan mencelakakan orang!"
Pedang di tangan Sun Eng menusuk dengan cepat.
Lee Siang menangkis dengan pedangnya, akan tetapi dengan putaran tangannya, begitu pedangnya tertangkis, wanita yang sudah luka-luka itu dapat meneruskan pedang yang tertangkis itu menjadi sabetan yang menyerempet pundak Lee Siang.
"Ahhh!"
Lee Siang berteriak kesakitan dan bersama empat orang pengawalnya dia menubruk ke depan.
Lie Seng hendak melindungi Sun Eng, akan tetapi dia sendiri dikepung oleh banyak perajurit sehingga dia terpaksa mengamuk menggunakan kaki tangannya, melempar-lemparkan dan merobohkan banyak orang yang mengepungnya seperti serombongan semut.
Sebetulnya, tingkat kepandaian Sun Eng masih jauh lebih tinggi dari tingkat kepandaiannya Lee Siang dan beberapa orang pengawalnya.
Akan tetapi gadis ini sudah luka-luka dan banyak mengeluarkan darah maka gerakannya menjadi lemah dan tenaganya juga sudah banyak berkurang.
Setelah dia berhasil membunuh dua orang pengeroyok pula, akhirnya dia terdesak hebat sekali.
Lie Seng juga terkepung ketat dan sibuk menghadapi para pengeroyoknya.
Melihat ini, Sun Eng segera berseru.
"Taihiap, kau larilah cepat, biar aku mencegah mereka menghalagimu! Cepat sebelum terlambat!"
Sun Eng mengerahkan tenaga terakhir untuk membuka jalan mendekati Lie Seng, tanpa memperdulikan luka baru di pangkal lengan kiri yang mengucurkan banyak darah.
Melihat keadaan gadis itu yang pakaiannya telah berlepotan darah, bahkan dari luka-lukanya mengucur banyak darah dan mukanya pucat sekali, Lie Seng terkejut, kagum dan juga terharu.
"Kau suruh aku lari? Dan kau sendiri?"
Tanyanya sambil menendang roboh seorang pengeroyok.
"Aku...? Biarlah, aku girang dapat membalas budimu dan budi suhu serta subo! Kau larilah... selamat jalan...!"
Sun Eng berkata dan karena bicara ini maka dia kurang waspada.
"Nona, awas...!"
Lie Seng berteriak akan tetapi terlambat, tusukan pedang dari Lee Siang itu mengenai punggung Sun Eng.
Gadis ini menggeliat miringkan tubuhnya, dan biarpun dengan jalan itu pedang lawan tidak menembus punggungnya, namun tetap saja punggungnya terluka parah dan dia roboh terguling.
"Keparat curang!"
Lie Seng berteriak marah dan menjadi beringas, cepat menubruk ke depan dan melancarkan pukulan dengan tenaga Thian-te Sin-ciang ke arah Lee Siang.
Panglima ini mencoba untuk mengelak, namun dia kalah cepat dan pukulan itu menyambar pelipisnya.
Terdengar suara keras karena kepala panglima ini retak-retak dan tubuhnya roboh ke atas tanah, tewas seketika!
Lie Seng menyambar tubuh Sun Eng dan mengamuk, membuka jalan berdarah.
Ketika dia melihat betapa empat orang pendekar dari dalam penjara sudah menerjang keluar, hatinya lega dan diapun lalu meloncat, merobohkan setiap orang penghalang, sambil memondong tubuh Sun Eng yang pingsan dan berlumuran darah itu, terus melarikan diri meninggalkan tempat berbahaya itu.
Dia merasa yakin bahwa orang-orang seperti ibunya, ayah tirinya, paman dan bibinya itu pasti akan dapat meloloskan diri dari kepungan musuh.
Dugaan Lie Seng memang tidak berlebihan.
Tingkat ilmu kepandaian empat orang pendekar itu sudah tinggi sekali, terutama sekali Yap Kun Liong, Cia Bun Houw,dan Yap In Hong.
Seorang demi seorang, ketiga belas orang Mongol yang diandalkan sebagai pembantu-pembantu Hek-hiat Mo-li sendiri bersama Kim Hong Liu-nio, terdesak mundur dan mundur terus, apalagi para pengawal penjaga, setiap kali empat orang pendekat itu bergerak, tentu ada yang terjungkal!
Hal ini sama sekali tidak pernah dapat disangka oleh Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio, yang sudah merasa yakin akan dapat membunuh empat orang itu.
Dan suasana menjadi geger ketika ruangan itu terbakar hebat.
Akan tetapi, empat orang itu telah keluat dari ruangan dan kini mengamuk di depan penjara.
Terdengar jerit mengerikan dari mulut Kim Hong Liu-nio ketika dia melihat kekasihnya telah menggeletak tewas dengan kepala pecah!
Dia menubruk kekasihhya dan menangis, tidak memperdulikan lagi kepada empat orang musuhnya.
Mundurnya Kim Hong Liu-nio dari pertempuran ini membuat Hek-hiat Mo-li makin lemah dan akhirnya empat orang pendekar itu dapat meloloskan diri dari kepungan dan secepat kilat mereka lenyap dari tempat itu mempergunakan gin-kang dengan loncatan-loncatan jauh.
Hek-hiat Mo-li menyumpah-nyumpah dan malam itu juga nenek ini pergi meninggalkan kota itu, kembali ke utara dengan wajah muram, diikuti muridnya yang menangis sepanjang jalan!
"Sudah, apa perlunya menangis lagi?
Engkau kini sudah bukan perawan lagi, dan dia sudah mampus.
Di dunia ini masih banyak laki-laki, mengapa kau tangisi seorang laki-laki yang mampus?"
Hek-hiat Mo-li membentak.
Bentakan ini membuat Kim Hong Liu-nio menangis makin sedih sehingga gurunya menjadi makin marah dan meninggalkannya.
Kim Hong Liu-nio mengikuti gurunya dengan terisak-isak, bersumpah dalam hati untuk mencari jalan membunuh keluarga pendekar yang telah menewaskan kekasihnya itu!
Dendam, sakit hati, kemarahan dan kebencian meracuni kehidupan manusia.
Dari mana timbulnya dendam yang melahirkan kebencian ini?
Dendam-mendendam hanya merupakan rangkaian akibat dari tindakan-tindakan kekerasan, permusuhan dan kebendan itu pasti selalu timbul karena pementingan diri sendiri, karena merasa bahwa kesenangan dirinya terganggu oleh orang atau golongan lain.
Jadi jelaslah bahwa di mana ada pengagungan si aku, di sana pasti timbul tindakan kekerasan yang dianggap sebagai tindakan pembelaan si aku atau pengejaran cita-cita dan kesenangan untuk si aku.
Mengejar kesenangan seperti yang dicita-citakan untuk diri sendiri tak dapat tidak menimbulkan tindakan kekerasan terhadap siapa saja yang dianggap merintangi tercapainya kesenangan yang dicita-citakan itu.
Dan semua cita-cita adalah bayangan kesenangan yang diharapkan akan diperoleh, baik kesenangan untuk diri sendiri atau untuk keluargaNya, kelompokNya, bangsaNya dan lain-lain yang kesemuanya hanya merupakan perluasan dan pembesaran daripada si aku juga.
Dan bagaimana terjadinya si aku, baik dalam keadaan tipis maupun tebal, dalam batin kita?
Si aku tercipta oleh pikiran yang menimbulkan pengalaman dan ingatan tentang yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan, yang enak dan tidak enak.
Pikiran mengenangkan pengalaman-pengalaman itu, membayangkan semua itu, sehingga timbullah keinginan untuk mengulang yang enak dan membuang yang tidak enak.
Begitu pikiran bekerja mengenangkan itu semua, si akupun muncullah.
Si aku sebagai pemikir, si aku sebagai yang ingin mengulang, si aku yang ingin menghindarkan yang tidak enak.
Makin lama si aku ini makin menebal dan akhirnya manusia menjadi hamba dari nafsu-nafsunya sendiri yang selalu ingin menikmati yang dianggapnya menyenangkan dan menjauhi yang dianggap tidak menyenangkan.
Dan dalam pergulatan ini terjadilah konflik-konflik di dalam batin yang mencetus keluar menjadi konflik antara manusia karena masing-masing hendak memperebutkan kesenangan bagi dirinya sendiri, dan kalau perlu menyingkirkan orang lain yang menjadi penghalang, dengan kekerasan tentu saja!
Oleh karena kenyataan itu, maka timbullah pernyataan yang harus kita ajukan kepada diri kita sendiri, yaitu.
Dapatkah kita terbebas dari pikiran yang selalu mengenangkan yang enak-enak dan yang tidak enak-enak sehingga tidak timbul si aku yang selalu mengejar-ngejar kesenangan dan karenanya menimbulkan konflik dan kekerasan?
Pertanyaan ini penting sekali bagi kehidupan kita dan sudah selayaknya kalau diajukan oleh setiap orang manusia hidup kepada dirinya sendiri!
Kalau sudah begitu, barulah hidup ini mempunyai arti, bukan hanya menjadi ajang kesengsaraan dan penderitaan yang timbul dari konfilk dan permusuhan setiap hari.
Melihat keadaan Sun Eng yang mandi darah, Lie Seng menjadi gelisah sekali.
Dia melarikan Sun Eng yang pingsan itu jauh meninggalkan Po-teng dan memasuki daerah pegunungan yang sunyi, karena khawatir kalau-kalau ada pasukan yang mengejarnya, padahal dia membutuhkan tempat sunyi untuk dapat menolong gadis yang penuh luka.
itu.
Fajar telah menyingsing ketika akhirnya dia menghentikan larinya dan dia berada di atas puncak bukit yang lengang, di padang rumput yang luas dengan pohon-pohon tua di sana-sini.
Sinar matahari pagi menyinari wajah cantik manis yang pucat itu.
Lie Seng cepat menurunkan tubuh itu ke atas tanah bertilamkan rumput hijau di bawah pohon besar, lalu memeriksa keadaan gadis itu.
Tubuhnya penuh luka, di punggung, pundak dan paha.
Cepat Lie Seng menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan darah yang masih menetes-netes.
Kemudian dia pergi mencari sumber air yang bening, mengambil air dengan daun dan mencuci luka-luka yang parah itu, terutama di paha dan punggung.
Untuk ini terpaksa dia merobek celana di bagian paha dan baju di punggung.
Dia tidak lagi ingat bahwa matanya melihat kulit paha yang putih mulus dan kulit punggung yang halus, melainkan sibuk mencuci luka itu penuh perhatian.
Untung bahwa luka-luka itu diakibatkan senjata yang tidak beracun, pikirnya.
Dengan mencuci bagian-bagian terluka itu, tentu saja jari-jari tangannya menyentuh dan mengusap kulit halus mulus itu, namun hal ini sama sekali tidak disadari olehnya.
Memang demikianlah!
Selama pikiran tidak mengenang dan membayangkan apa-apa, selama pikiran kosong tidak sibuk dengan ingatan-ingatan masa lalu, dengan bayangan-bayangan kenikmatan dan kesenangan, maka segala sesuatu adalah bersih dan wajar.
Biarpun kita melihat manusia dengan kelamin lain dalam keadaan telanjang bulat umpamanya, kalau pikiran ini tidak diisi dengan bayangan-bayangan kotor, maka keadaan telanjang dari manusia lain itu sama sekali tidak menimbulkan apa-apa, seperti kalau kini melihat ketelanjangan seekor kucing saja.
Akan tetapi, begitu pikiran kita terisi oleh bayangan-bayangan yang muncul dari kenangan, Bayangan-bayangan yang dianggap menyenangkan, mendatangkan nikmat, maka mulailah nafsu bangkit, baik itu merupakan nafsu berahi, nafsu amarah, dan segala macam nafsu lagi.
Jelas bahwa nafsu-nafsu itu diciptakan oleh pikiran yang mengenangkan segala yang enak-enak dan yang tidak enak, yang menyenangkan dan sebaliknya.
Jadi pikiran yang mengingat-ingat inilah sumber segala konflik batin yang akhirnya pasti akan tercetus keluar dan menjadi konflik lahir antara manusia.
Sun Eng mengeluh lirih kemudian merintih.
Barulah lega hati Lie Seng karena hal ini menandakan bahwa dia telah berhasil menyelamatkan dara itu.
Setelah menaruh obat bubuk pada luka-luka itu dan membalutnya, dia lalu mengangkat tubuh baglan atas dari Sun Eng dengan memangkunya dan memberinya minum air jernih.
"Aaahhh...!"
Kembali Sun Eng mengeluh setelah minum beberapa teguk air dan dia membuka matanya.
Melihat betapa dia dipangku oleh seorang pemuda tampan dan gagah, sepasang mata yang jeli itu terbelalak, akan tetapi dia segera teringat bahwa pemuda ini adalah pemuda perkasa yang telah membantunya menghadapi pengeroyokan pasukan ketika dia berusaha menyelamatkan suhu dan subonya.
Sungguh aneh sekali.
Mengapa pemuda ini memangkunya dan memandangnya demikian mesra?
"Apakah...
apakah aku sudah mati?"
Dia bertanya dengan suara berbisik karena merasa tegang dan takut.
Membayangkan bahwa dia sudah mati dalam usia semuda itu, hatinya merasa ngeri.
Sejak tadi, setelah berhasil mengobati dara itu sehingga siuman, Lie Seng mulai memperhatikan wajah gadis yang dipangkunya itu dan dia terpesona.
Bagi dia, wajah itu sedemikian cantik jelitanya, sedemikian lembut dan mendatangkan perasaan iba dan suka.
Rasanya belum pernah dia bertemu dengan seorang gadis seperti ini, apalagi tadi dia melihat betapa gadis ini telah berusaha menyelamatkan keluarganya, dengan taruhan nyawa.
Hal ini saja sudah membuat dia merasa herhutang budi, kagum dan suka.
Dia seperti tenggelam ketika memandangi wajah dari gadis yang dirangkunya itu, maka ketika melihat mata dan bibir yang manis itu mengajukan pertanyaan seperti itu, dia tersenyum.
Hatinya girang karena dia yakin bahwa gadis itu akan selamat.
"Jangan khawatir nona. Engkau telah terhindar dari bahaya dan luka-lukamu tentu akan sembuh."
"Luka-luka...?"
Sun Eng seperti baru teringat dan merasa terkejut.
Tadi dia tidak merasa apa-apa, hanya lemas dan terasa demikian nikmat rebah di atas pangkuan pemuda itu yang merangkul pundak dan menyangga tubuhnya.
Kini, diingatkan akan luka-luka, tiba-tiba dia tersentak dan ingin duduk, akan tetapi terasa seluruh tubuhnya sakit-sakit, terutama sekali punggungnya.
"Aduhhhh... punggungku..."
Dia menggeliat. Lie Seng cepat membantunya duduk.
"Maaf, aku... aku lupa dan menyentuh punggungmu yang terluka. Sebaiknya engkau duduk di atas rumput ini. Nah, begitu lebih enak, bukan? Engkau menderita banyak luka, nona, terutama yang agak parah adalah luka-luka di paha, pundak dan punggung."
Sun Eng meraba paha dan pundaknya, melihat betapa pakaiannya di bagian luka-luka itu robek dan lukanya telah diobati dan dibalut.
Dia mengangkat muka memandang pemuda yang duduk di depannya itu dan tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali, jantungnya berdebar tegang.
"Kau... kau yang mengobati luka-lukaku...?"
Tanyanya dan sepasang matanya memandang penuh selidik. Lie Seng mengangguk.
"Bisa berbahaya kalau tidak cepat dicuci dan diobati. Maafkan aku yang telah lancang..."
"Maafkan? Ahh, engkau telah menolongku, menyelamatkan nyawaku, mengobatiku dan masih minta maaf? Engkau tentu seorang sagah perkasa yang sakti maka engkau dapat menyelamatkan aku dari kepungan begitu banyak lawan tangguh. Taihiap, aku berhutang nyawa padamu. Siapakah engkau?"
"Aku she Lie, bernama Seng. Engkau tidak perlu bersikap sungkan karena menurut pengakuanmu, engkau adalah murid dari Paman Cia Bun Houw. Dia adalah pamanku, karena dia adik kandung ibuku yang juga ikut tertawan bersama paman dan bibi. Maka, kalau engkau murid mereka, berarti kita masih ada hubungan dan bukan orang lain."
"Ahhh...!"
Sun Eng terbelalak dan wajahnya agak berubah, tidak lagi merah seperti tadi, melainkan agak kepucatan.
"Mengapa? Apakah luka-luka itu amat menyiksamu...?"
Lie Scng mendekat dan pandang matanya penuh iba.
Melihat ini, Sun Eng menggeleng kepala menunduk dan memejamkan matanya, berusaha mengusir perasaan nyeri yang menikam hatinya.
Teringat dia betapa suhu dan subonya amat membencinya, bahkan tidak sudi ketika dia berusaha menolong mereka.
Dan pemuda perkasa yang telah menyelamatkan nyawanya ini, adalah keponakan suhunya!
Dan hubungan antara dia dan kedua gurunya telah putus, kelak pemuda ini tentu akan mendengar tentang dia, suhu dan subonya tentu akan bercerita banyak tentang dia!
Hal ini mendatangkan rasa nyeri di jantungnya, serasa tertusuk pedang berkarat.
Dan takkan ada harganya lagi dalam pandang mata pemuda ini.
Pandang mata yang kini demikian penuh dengan kehalusan, iba dan mesra, tentu akan berubah menjadi jijik, marah dan benci.
Lie Seng memandang dengan alis berkerut, penuh dengan perasaan iba.
Ingin dia menyentuhnya, ingin dia menghiburnya, ingin dia membantu penanggungan rasa nyeri dari gadis itu, akan tetapi kini dia tidak berani menyentuh, bahkan jantungnya berdebar aneh ketika dia teringat betapa tadi dia telah melihat dan menyentuh paha dan punggung dara itu!
"Nona...
eh, siapakah namamu?"
"Aku she Sun, namaku Eng."
"Namamu bagus sekali. Sungguh aku merasa heran mengapa aku tidak pernah mendengar namamu dari paman dan bibi, nona Sun Eng..."
"Lie-taihiap, kalau engkau keponakan dari suhu, mengapa masih bersikap sungkan dan menyebutku nona?"
"Engkaupun menyebutku taihiap (pendekar besar)..."
"Engkau memang seorang pendekar yang sakti dan hebat, mana bisa aku menyebut lain? Akan tetapi aku..."
"Engkau seorang gadis yang hebat, gagah perkasa dan berani, juga setia dan berbakti sehingga hampir saja engkau mengorbankan nyawa untuk paman dan bibi, juga untuk ibu kandungku, dan ayah tiriku yang ikut tertawan."
"Ahhh... jadi engkau putera dari enci suhu, pendekar wanita Cia Giok Keng, dan pendekar sakti Yap Kun Liong itu ayah tirimu?"
Lie Seng mengangguk.
"Jadi engkau ini cucu mendiang pendekar sakti Cia Keng Hong, ketua Cin-ling-pai yang terkenal itu?"
Kembali Lie Seng mengangguk.
"Ah, dan aku hanya... seorang gadis bodoh dan sesat... ah, dan aku tentu lebih tua darimu, taihiap. Usiaku sudah dua puluh lima tahun..."
Sun Eng seperti mengomel dan bicara pada diri sendiri, suaranya penuh penyesalan dan kekecewaan akan kenyataan-kenyataan yang pahit ini.
"Kita sebaya. Aku berusia dua puluh empat, hanya selisih setahun denganmu."
"Nah, apa kataku? Aku lebih tua, sepatutnya menyebutku cici kepadaku."
Melihat wajah yang cantik itu tidak begitu pucat lagi dan sepasang mata yang tadinya membayangkan kedukaan dan kemuraman itu agak berseri, Lie Seng tersenyum, bangkit berdiri dan menjura.
"Baiklah, cici Sun Eng. Mulai sekarang aku menyebutmu cici yang baik, dan aku..."
"Engkau tetap Lie-taihiap bagiku! Engkau keturunan keluarga yang amat besar dan agung, sebaliknya aku..."
"Engkau seorang dara yang cantik jelita, cici. Jangan kau terlampau merendahkan dirimu. Aku masih terheran-heran mengapa paman Bun Houw dan bibi sama sekali tidak pernah bercerita tentang dirimu. Aku akan menegur mereka kalau sempat bertemu kelak."
"AH, jangan...!"
Sun Eng berseru dan dengan nekat dia bangkit berdiri, biarpun dia harus menyeringai kesakitan.
Dia mengangkat kedua tangan ke atas.
"Jangan tegur mereka... bahkan jangan sebut-sebut tentang diriku... ah, Lie-taihiap, engkau tidak tahu... aku sama sekali tidak berharga engkau tolong, bahkan tidak berharga untuk berhadapan dan bicara denganmu. Ah, sebaiknya engkau tinggalkan aku sekarang juga, taihiap..."
Dan wanita itu tak dapat menahan kedukaan hatinya lagi, menangis terisak-isak, teringat betapa bencinya suhu dan subonya kepadanya, betapa dia telah dianggap sebagai seorang wanita yang sudah rusak akhlaknya, dan betapa tidak mungkinnya dia berkenalan dengan seorang pemuda seperti Lie Seng ini, pemuda yang amat menarik hatinya, yang amat mengagumkan hatinya.
"Eh, cici Sun Eng... kenapa engkau? Apa artinya semua ucapanmu itu?"
Lie Seng tentu saja terkejut bukan main dan memandang dengan penuh kekhawatiran.
"Tidak perlu engkau tahu... taihiap... hanya ketahuilah bahwa aku... aku tidak berharga... kau pEngilah, tinggalkan aku seorang diri..."
Melihat dara itu menangis mengguguk dan berdiri dengan kedua tangan menyembunyikan mukanya, pundaknya tEnguncang-guncang dalam tangisnya, Lie Seng tak dapat menahan keharuan hatinya.
Dia melangkah maju dan menyentuh kedua lengan dara itu.
"Enci Eng... jangan begitu... mengapa engkau merendahkan diri seperti ini...? Aku tidak akan mau meninggalkan engkau seorang diri dalam keadaan terluka seperti ini."
"Kalau begitu... biarlah aku... aku yang pergi, taihiap."
Dara itu lalu membalikkan tububnya dan mencoba untuk meloncat pEngi.
Akan tetapi dia mengaduh dan tEnguling roboh, bangkit lagi, merangkak, bangun dan mencoba untuk lari lagi, akan tetapi terhuyung-huyung dan dia tentu akan roboh lagi kalau tidak cepat dipegang oleh Lie Seng yang merangkulnya.
"Enci Eng, jangan engkau bersikap seperti itu. Mengapa engkau sengaja hendak menghancurkan hatiku? Apakah salahku maka engkau hendak pergi begitu saja?"
Gadis itu menangis makin mengguguk dan membiarkan dirinya didekap oleh pemuda itu.
Setelah dia dapat menguasai keharuan hatinya, dengan lembut dia melepaskan rangkulan itu, merighapus air matanya, memandang kepada pemuda itu dan berkata.
"Ah, engkau tidak tahu, taihiap. Aku tidak berharga untukmu, bahkan untuk berkenalan atau bercakap-cakap denganmu sekalipun..."
"Siapa bilang demikian? Akan kuhancurkan mulutnya kalau ada yang berani mengatakan demikian kepadamu!"
Lie Seng mengepal tinju, penasaran.
"Aku kasihan kepadamu, enci Eng, aku.... suka padamu, engkau seorang gadis yang baik, yang gagah, berbudi, siapa bilang tidak berharga menjadi sahabatku? Dan mengapa?"
"Engkau tidak tahu, taihiap... ah, lebih baik kita berpisah seperti ini, sekarang sebelum engkaupun membenciku. Aku... aku takkan dapat tahan lagi. Semua orang boleh membenciku, akan tetapi kalau engkau... ikut pula membenciku, aku lebih baik mati saja. Biarlah kita berpisah dalam keadaan begini, sebelum engkau membenciku pula."
"Tidak! Aku tidak mau meninggalkanmu, enci Eng. Apapun yang terjadi denganmu, aku tidak mungkin akan membencimu. Aku... aku cinta padamu. Dengarkah engkau? Aku cinta padamu begitu aku bertemu denganmu, enci Eng!"
Pemuda itu berkata penuh semangat karena dia tidak lagi meragukan perasaan hatinya terhadap gadis ini.
Ucapan pemuda itu demikian mengejutkan hati Sun Eng sehingga dia terlonjak kaget dan meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan.
Akan tetapi Lie Seng tidak mau melepaskannya sehingga akhirnya Sun Eng mengguguk lagi, menangis dan membiarkan kepalanya didekap pada dada pemuda yang amat dikaguminya itu.
Dia memejamkan mata ketika merasa betapa pemuda itu menciumi rambutnya, kemudian dahinya dan tiba-tiba dia meronta.
"Tidak... tidak pantas itu...!"
Dia meronta sekuatnya dan Lie Seng melepaskan pelukannya. Wajah pemuda itu menjadi merah sekali.
"Maaf... kau maafkanlah aku, enci Eng. Aku telah lupa diri dan berlaku tidak sopan padamu, maafkan aku."
"Bukan itu maksudku, taihiap. Bukan engkau yang berbuat tidak pantas, melainkan tidak pantaslah bagiku untuk menerima cintamu, untuk kau perlakukan sebaik ini. Aku tidak pantas kau cinta, aku... aku..."
"Jangan berkata demikian, enci Eng. Aku jatuh cinta padamu, mengapa tidak pantas? Engkau seorang gadis yang cantik dan gagah, dan... ahh!"
Pemuda itu nampak terkejut.
"Apakah... aku hendak maksudkan bahwa engkau telah... bersuami?"
Tentu saja ingatan ini membuat dia terkejut dan wajahnya menjadi pucat seketika.
Gadis itu bersikap demikian sungkan, jangan-jangan dia itu bukan seorang gadis yang masih bebas, melainkan seorang wanita yang sudah bersuami!
Celaka kalau begitu!
Berarti dia telah melakukan hal yang benar-benar tidak patut!
Akan tetapi hatinya menjadi lega seketika melihat dara itu menggeleng kepalanya.
"Tidak, taihiap. Aku tidak menikah, akan tetapi... malah lebih baik tidak kau dengarkan. Aku tidak akan dapat tahan kalau melihat engkau membenciku, taihiap. Biarlah kita berpisah dalam keadaan begini, berarti aku masih akan kuat mempertahankan hidup dengan bayanganmu sebagai kenangan indah. Aku akan selalu ingat bahwa betapapun juga adanya diriku yang hina ini, di dunia masih ada orang yang mencintaku... selamat tinggal, taihiap..."
"Sun Eng...!"
Lie Seng meloncat dan menubruk, dan kembali dia telah merangkul gadis itu.
"Enci Eng, engkau menyiksa diri sendiri. Ceritakanlah kepadaku semuanya, dan jangan takut!"
"Tidak... tidak mungkin... engkau akan membenciku...!"
"Enci Eng, kau anggap aku ini orang apakah? Aku cinta padamu karena engkau, karena keadaanmu, dan aku tidak akan terpengaruh oleh cerita yang bagaimanapun tentang dirimu! Demi Tuhan, ceritakanlah, dan itu hanya merupakan satu-satunya jalan untuk menyembuhkanmu dari cengkeraman siksaan batin yang kau derita ini."
Beberapa lama Sun Eng memejamkan mata dalam pelukan Lie Seng, kemudian dia menarik napas panjang dan melepaskan diri dari pelukan itu.
"Baiklah, memang agaknya engkau benar. Aku tidak boleh lari dari kenyataan hidup, taihiap. Biarlah ceritaku ini merupakan keputusan terakhir dalam hidupku, tEngantung dari anggapanmu terhadap ceritaku ini. Aku siap untuk menghadapi yang terburuk, siap menghadapi kiamat dan maut karena hanya itulah bagiku kalau engkaupun membenciku. Nah, kaudengarkan baik-baik, taihiap."
Dara itu dengan tubuh lemas menjatuhkan diri duduk di atas rumput dan Lie Seng juga duduk di depannya.
Jantung pemuda ini berdebar tegang dan pandang matanya makin mesra dan lembut karena dia merasa amat kasihan kepada dara ini yang dia duga tentu mempunyai latar belakang kehidupan yang amat pahit.
Sun Eng menarik napas panjang berulang kali, agaknya untuk mencari kekuatan dari hawa udara sejuk yang disedotnya.
Dia mengambil keputusan untuk menceritakan segala-segalanya tentang dirinya, tanpa menyembunyikan apa-apa karena dia tidak ingin kelak pemuda yang mengagumkan hatinya ini akan menemukan sesuatu yang belum diceritakannya.
Pendeknya dia ingin berdiri telanjang di depan pemuda yang luar biasa ini, tanpa mempunyai rahasia sedikitpun juga.
Tinggal terserah kepada pemuda itu, apakah cintanya masih akan utuh, ataukah berbalik menjadi benci setelah mendengar ceritanya.
Kalau pemuda itu berbalik membencinya, dia tidak akan menyalahkan Lie Seng, sungguhpun dia tahu bahwa dia tidak akan kuat hidup menghadapi pukulan batin ini.
"Lie-taihiap, mendiang ayahku adalah seorang yang bernama Sun Bian Ek, berjuluk Kiam-mo dan dia dulu sebagai seorang perampok besar, kemudian sampai dia meninggal dunia dia hidup sebagai pemilik sebuah rumah perjudian di kota Kiang-shi."
Dara itu berhenti sebentar untuk meneliti wajah pemuda itu setelah terus terang menceritakan keadaan mendiang ayahnya yang tidak dapat dibanggakan itu.
Akan tetapi wajah yang tampan dan gagah itu tidak berubah, hanya mengandung kesungguhan dan penuh pengertian, dan di balik kesungguhan itu Sun Eng masih dapat melihat cahaya gemilang dari kasih sayang dan kemesraan yang ditujukan kepadanya, membuat dia merasa betapa kedua pipinya menjadi panas dan jantungnya berdegup kencang.
"Mendiang ayahku bersahabat dengan pamanmu, yaitu suhu Cia Bun Houw ketika beliau masih muda dan sedang menyelidiki musuh-musuh keluarganya. Ayah membantunya mencari jejak musuh-musuh itu, dan ketika suhu menyerbu bersama ayah, maka ayahku itu gugur, tewas oleh musuh-musuh suhu."
"Hemm, ayahmu ternyata merupakan seorang sahabat sejati dan setia,"
Lie Seng memuji dengan setulusnya hati.
Pujian ini tidak mendatangkan rasa girang di hati Sun Eng akan tetapi bahkan memberatkan perasaannya karena dia harus menceritakan keadaaan dirinya sendiri yang sama sekali tidak boleh dibuat bangga!
"Sebelum meninggal dunia dalam pangkuan suhu, ayah pesan kepada suhu agar kelak suhu suka merawat dan mendidik aku yang masih kecil ketika ditinggal ayah, baru berusia sepuluh tahun.
Suhu memenuhi permintaan itu, dan ketika suhu pEngi merantau bersama subo, suhu mengambilku dan semenjak itu aku ikut bersama suhu dan subo, dirawat dan dididik oleh mereka berdua dengan penuh kasih sayang seperti anak mereka sendiri."
Kembali dara itu berhenti dan menarik napas panjang, wajahnya yang cantik itu agak pucat dan kelihatan berduka sekali.
Lie Seng mengargguk-angguk.
"Sudah sepatutnya itu karena engkau adalah seorang anak dan murid yang amat baik dan berbakti."
"Jauh daripada itu, Lie-taihiap. Beberapa tahun yang lalu, ketika aku berusia kurang lebih delapan belas tahun... suhu dan subo mengusirku dan tidak mau lagi mau mengaku sebagai murid..."
Ucapan ini benar-benar amat mengejutkan hati Lie Seng.
Dia menjadi pucat dan memandang dengan mata terbelalak.
"Apa...? Mengapa begitu? Apa yang terjadi...?"
Sun Eng menundukkan mukanya yang pucat.
Jantungnya berdebar penuh rasa tegang dan takut.
Ya, dia amat takut.
Beranikah dia mengakui kesemuanya itu?
Beranikah dia menelanjangi dirinya sendiri di depan pemuda yang telah menarik hatinya ini, memperlihatkan segala kebusukannya?
Beranikah dia menempuh bahaya dibenci oleh pria hebat ini?
Tidak ada jalan lain, dia harus berani menempuhnya, dengan taruhan nyawa!
Akan tetapi tetap saja dia tidak kuasa untuk mengangkat muka, tidak berani menentang pandang mata pemuda itu dan dengan suara lirih dia melanjutkan ceritanya.
"Aku... aku telah jatuh cinta kepada suhu!"
"Ahhh...!"
Lie Seng melongo, pandang matanya yang terbelalak itu menyelidiki wajah yang menunduk.
"Ya, aku telah seperti gila. Aku kasihan melihat betapa suhu tidak hidup sebagai suami isteri dengan subo, tidurnya terpisah dan mereka berdua itu menderita tekanan batin yang hebat. Aku lalu... merayu suhuku sendiri! Ah, mau aku rasanya mati kalau mengingat itu semua. Kau dengar baik-baik, taihiap. Pada suatu malam aku memasuki kamar suhu di mana suhu yang gagah perkasa dan budiman itu tentu saja menolakku! Masih baik bagiku bahwa beliau tidak memukul mampus saja kepada muridnya yang murtad dan tidak tahu malu ini!"
Hening sekali setelah Sun Eng menghentikan ceritanya.
Dara itu masih menunduk, tidak berani mengangkat muka, bahkan tidak berani bergerak, seluruh perhatiannya ditujukan ke arah pemuda itu, menduga bahwa pemuda itu akan marah, akan memakinya dan dia sudah siap menerima hal yang seburuk-buruknya.
Dan Lie Seng duduk termenung, apa yang diceritakan oleh dara itu membayang di depan matanya seperti lukisan.
Dia melihat penyelewengan dara itu, akan tetapi dia tidak merasa marah, tidak pula merasa cemburu, tidak merasa benci.
Bagi orang yang sadar akan dirinya sendiri, orang yang mengenal dirinya sendiri, akan melihat bahwa dirinya sendiri juga kotor, juga lemah, seperti orang-orang lain sehingga dia tidak mungkin bisa mencela orang lain yang melakukan penyelewengan akibat kelemahannya.
Kehidupan manusia tidak mungkin dapat tetap selalu, melainkan berubah setiap saat.
Orang yang melakukan penyelewengan dalam kehidupannya sama halnya dengan orang yang sedang dihinggapi suatu penyakit.
Hanya saja, bukan badannya yang sakit, melainkan batinnya.
Dan orang yang sakit itu tidak selamanya sakit, tentu bisa sembuh.
Sebaliknya, orang yang sedang waras belum tentu selamanya sehat, tentu bisa sakit sewaktu-waktu.
Oleh karena itu, orang yang sadar tidak akan mengejek atau mencela orang yang sedang menderita sakit batinnya dan melakukan perbuatan yang menyeleweng, sebaliknya malah akan merasa kasihan.
Sudah sepatutnyalah kalau kita mengulurkan tangan kepada yang sedang sakit, agar dia sembuh kembali.
Mengejek atau mencela orang yang sedang sakit batinnya sama saja dengan mendorong orang yang sedang terjeblos dalam lumpur!
Setiap orangpun tentu akan melihat pada dirinya sendiri bahwa diapun pernah melakukan dosa, melakukan penyelewengan, atau pernah menderita sakit batin seperti itu.
Oleh karena itu, orang yang mencela atau mengejek orang lain yang sedang sesat, sedang sakit batinnya, adalah orang yang tak tahu diri, dan orang seperti ini akan selalu merasa dirinya bersih walaupun pada suatu waktu dia bEngelimang lumpur.
Sebaliknya, orang yang setiap saat mau waspada membuka mata, memperhatikan dirinya sendiri lahir batin, akan terbuka mata hatinya dan akan dapat melihat lebih mendalam akan segala peristiwa dalam kehidupan ini.
Lie Seng membuyarkan awan yang menyelubungi dirinya dan membuatnya termenung.
Terlalu hebat berita yang didengarnya dari mulut dara yang menarik hatinya dan yang dicintanya itu.
"Taihiap..."
Terdengar suara Sun Eng yang kini sudah memandang kepadanya dengan sinar mata penuh iba.
Dia melihat pemuda itu bengong dengan wajah pucat, dan dia tahu atau menduga bahwa pemuda itu tentu hancur hatinya, tentu kecewa sekali mendengar akan kebusukannya, maka dia merasa amat kasihan.
"Taihiap, sudah kukatakan bahwa aku tidak berharga..."
Lie Seng menggeleng kepala dan tersenyum, pandang matanya tidak berubah, masih lembut dan penuh kasih mesra.
"Enci Eng, siapa bilang engkau tidak berharga? Paman Bun Houw adalah seorang pendekar yang hebat, maka kalau sampai engkau jatuh cinta kepadanya, apakah anehnya hal itu? Seorang seperti dia tentu dengan mudah akan menjatuhkan hati gadis yang manapun juga, maka kalau engkau jatuh cinta padanya, hal itu lumrah dan engkau tidak boleh disalahkan."
Sepasang mata yang masih basah itu terbelalak menatap wajah yang tampan itu, seolah-olah tidak percaya akan pendengarannya sendiri.
Ah, untuk itu saja, untuk kata-kata itu saja, mau rasanya dia berlutut menyembah dan menciumi telapak kaki pria ini!
Tak pernah dia dapat membayangkan ada orang yang sama sekali tidak menyalahkannya, Bahkan menghiburnya dengan kata-kata seperti itu, padahal pria ini menyatakan cinta kepadanya!
Akan tetapi, rasa bahagia ini segera berubah menjadi kegelisahan yang teramat besar.
Dia masih harus menceritakan terus, dan makin berat rasanya kini kalau kebahagiaan itu tEnganti oleh malapetaka melihat pria ini nanti membencinya, muak kepadanya setelah mendengarkan semua penuturannya.
Ah, betapa ingin dia untuk lari, untuk terbang ke angkasa, atau kalau bumi di depan kakinya terbuka, rela dia untuk terjun ke bawah daripada harus menceritakan kesemuanya kepada pemuda ini!
Akan tetapi, tidak terdapat jalan lain baginya.
Lie Seng tidak tega menyaksikan gadis itu seperti tersiksa, seperti cacing terkena abu, atau seperti ikan kekeringan di darat.
Dia tahu bahwa di dalam batin dara itu terjadi pertentangan hebat.
"Enci Eng, sudahlah. Kalau engkau merasa tidak perlu dilanjutkan, akupun tidak ingin mendengarkan kelanjutan ceritamu. Betapapun juga, pandanganku terhadap dirimu tidak berubah. Aku... aku tetap cinta padamu."
Mendengar ini, Sun Eng memejamkan kedua matanya dan air matanya menetes-netes dari sepasang mata yang dipejamkan itu.
Belum pernah selama hidupnya dia bertemu dengan seorang pria seperti ini!
Betapa hebat dan mulianya.
Dan betapa agungnya.
Pria seperti ini boleh dia agungkan, boleh dia sembah-sembah dan boleh dipakai untuk menyandarkan dirinya selama hidup!
Akan tetapi dia ragu-ragu.
Lie Seng belum mendengar semuanya dan kalau sudah mendengar semuanya tentu akan berbalik muka.
Akan tetapi lebih baik begitu daripada kelak terjadi hal yang sama.
Biarlah dunia hancur karenanya, karena memang dia sudah merasa bersalah.
"Dengarkan, taihiap, dengarkan baik-baik. Suhu dan subo mengampuniku, akan tetapi hubungan di antara kami menjadi renggang. Aku merasa betapa suhu dan subo marah dan membenciku, maka aku merasa seperti kehilangan pegangan. Mereka itu adalah pengganti orang tuaku, merupakan dua orang yang kumiliki satu-satunya di dunia ini. Setelah hubungan kami renggang, aku lalu mencari pegangan ke luar... aku bertemu dengan seorang laki-laki, seorang pemuda laknat..."
Melihat muka yang makin pucat dan kedua mata masih dipejamkan itu, Lie Seng merasa kasihan sekali.
Dia memang sudah menduga bahwa latar belakang kehidupan dara ini tentu gelap dan penuh kepahitan.
"Sudahlah, enci Eng..."
Akan tetapi, karena merasa sudah tiba di tepi jurang, sudah terlanjur melangkah, Sun Eng ingin cepat menyelesaikan hal yang menegangkan hatinya itu.
"Pemuda itu menjadi tumpuan harapanku. Suhu dan subo sudah melarang karena mereka mengenal pemuda laknat itu, pemuda mata keranjang yang menganggap wanita-wanita hanya merupakan alat untuk bersenang-senang, untuk menghibur diri dan melampiaskan nafsu-nafau berahinya..."
"Cukup, enci Eng..."
"Akan tetapi aku nekat. Bahkan aku melarikan diri dengan pemuda itu..."
Lie Seng menunduk.
Terlalu hebat cerita itu.
Sakit rasanya jantungnya membayangkan semua peristiwa yang dilakukan dan dialami oleh wanita yang dicintanya ini dan dia tidak ingin mendengar lagi.
Akan tetapi Sun Eng sudah merasa melewati jurang yang paling dalam.
Kini dia membuka mata, dan mata itu bersinar-sinar ketika dia melanjutkan, seolah-olah menantang maut, menantang kiamat.
"Benar seperti yang dikatakan suhu dan subo, laki-laki itu hanya mempermainkan diriku. Setelah dia puas menikmati diriku, dia lalu menjadi bosan dan hendak meninggalkan aku, tidak mau mengawiniku. Maka aku lalu membunuh si keparat itu!"
"Sun Eng..."
Lie Seng mengeluh.
"Dan setelah itu, suhu dan subo tidak lagi mau mengakui aku. Aku lalu merantau, pindah dari pelukan satu kepada lain pria, mencari-cari, aku haus akan cinta kasih pria yang sejati, mencari pengganti pria seperti suhu. Namun, yang kutemui hanya pria-pria yang kejam, pria-pria yang hanya ingin menikmati tubuhku belaka, hendak menjadikan aku sebagai alat pemuas nafsu binatang mereka..."
"Cukup...!"
Lie Seng membentak dan meloncat berdiri.
Mengerikan sekali wajahnya, pucat dan matanya terbelalak, mulutnya menyeringai seperti orang menderita kenyerian hebat.
Lemah lunglai rasanya seluruh tubuh Sun Eng setelah dia menceritakan semuanya.
Kini dia siap menerima hukumannya yang paling hebat.
Dia berlutut dan menyembah kepada Lie Seng.
"Perempuan macam ini engkau cinta? Ah, taihiap, sudah kukatakan aku tidak berharga, aku tidak patut menerima cinta dan kebaikanmu. Nah, sekarang sudah kau dengar semua. Itulah sebabnya mengapa suhu dan subo tidak lagi mau mengakui muridnya ini, bahkan tidak sudi menerima ketika aku datang hendak menolong mereka. Dan kau... silakan kalau hendak mengutuk, memaki dan boleh juga memukulku, taihiap. Aku akan rela dan puas mati di tanganmu..."
Sejenak Lie Seng berdiri seperti patung, tegak dan tidak bergerak, menunduk dan memandang kepala yang rambutnya awut-awutan itu.
Dia bertanya-tanya kepada diri sendiri memeriksa hatinya sendiri.
Heran!
Dia memang menyesal sekali, berduka sekali, akan tetapi dia makin kasihan kepada wanita ini, makin mencintanya!
Dia merasa berkewajiban untuk melindunginya, untuk menghiburnya, untuk membantunya melupakan semua peristiwa yang pahit itu!
Cinta memang aneh sekali!
Akan tetapi, barulah patut dibicarakan sebagai cinta kalau di situ tidak ternoda oleh cemburu, oleh marah, oleh benci!
Cinta tidak mengenal baik buruk, cinta bukanlah sama dengan senang akan yang indah-indah, suka akan bersih-bersih.
Cinta adalah cinta, di atas baik buruk!
Karena sampai lama dia menanti dengan pasrah dan pemuda itu tidak bergerak, tidak berkata apa-apa lagi, perlahan-lahan Sun Eng mengangkat mukanya yang basah air mata.
Air matanya masih turun menetes-netes dan dia melihat pemuda itu berdiri dengan muka menunduk, sepasang mata itu memandang kepadanya dengan lembut dan penuh iba, sama sekali tidak marah seperti yang diduganya.
Sejenak mereka berpandangan dan air mata itu makin deras menetes turun.
Tiba-tiba, seperti digerakkan oleh tenaga gaib, keduanya saling turun.
Hanya ada keluhan tertahan keluar dari dada Lie Seng, dan Sun Eng merintih, membiarkan dirinya dipeluk, ditarik berdiri dan diapun hanya merintih dan merasa seperti tenggelam dalam lautan yang tak berdasar ketika merasa betapa pemuda itu menciuminya di antara bisikan-bisikan yang terdengar seperti suara gaib baginya.
"Sun Eng... aku cinta padamu... apapun yang terjadi, sedang terjadi atau akan terjadi... demi Langit dan Bumi, aku cinta padamu..."
Sun Eng adalah seorang wanita yang telah matang dalam hubungan asmara antara pria dan wanita.
Bahkan selama dia mencari-cari pengganti gurunya, di antara banyak kaum pria, dia terkenal pandai membujuk, pandai merayu dan ahli dalam permainan cinta.
Namun, sekali ini, dalam dekapan Lie Seng, pemuda yang masih hijau dan canggung, dalam hujan ciumannya, Sun Eng hanya gemetar, setengah pingsan dan tidak dapat apa-apa seperti seorang anak perawan yang masih belum tahu apa-apa!
Terasa olehnya betapa api nafsu membakar dan berkobar di antara mereka, perlahan-lahan menghangatkan dan membakar dirinya pula, Sun Eng meronta dan melepaskan diri.
"Tidak...! Jangan lakukan itu, taihiap!"
Dia terengah di antara ciuman Lie Seng yang terkejut dan melepaskannya dengan lembut, memandangnya dengan heran.
"Aku cinta padamu, enci Eng..."
"Demi Tuhan, terkutuklah aku kalau tidak mempercayai cinta kasihmu, taihiap. Aku percaya dan engkau telah mengangkatku dari jurang maut, engkau telah mendatangkan cahaya terang dalam hidupku yahg gelap gulita. Dan demi Langit dan Bumi, akupun cinta padamu, taihiap, aku memujamu, menjunjungmu seperti dewaku, pelindungku, dan aku rela menyerahkan jiwa dan ragaku kepadamu. Akan tetapi... ah, betapa aku masih muak dengan segala cinta nafsu berahi... aku mengganggapnya begitu kotornya, menjijikkan... semua itu karena selama ini aku haus akan cinta kasih yang murni dan hanya mendapatkan cinta nafsu. Sekarang... aku tidak ingin mengotori cinta kasihmu yang demikian suci itu dengan nafsu berahi. Taihiap, berilah waktu kepadaku, kepada kita berdua. Aku tidak ingin gagal lagi dalam hubungan antara kita, akan tetapi akupun tidak ingin engkau tergesa-gesa dan kemudian kecewa. Engkau telah mendengar riwayatku, engkau tahu betapa busuk dan kotornya aku, namun engkau masih menyatakan cinta. Ya Tuhan, terima kasih, taihiap! Terima kasih, dan jangan memberi bayangan kegagalan dalam hubungan ini! Biarlah engkau berpikir sampai masak benar untuk menyelidiki apakah benar cinta kasihmu ini murni. Aku tidak ingin melihat engkau kelak sengsara, lebih baik aku mati daripada melihat engkau menderita, taihiap. Oleh karena itu, biarlah kita berpisah selama satu tahun. Dan setahun kemudian, aku akan menantimu di sini, tepat di tempat ini, dan kita akan sama-sama melihat apakah benar-benar ada cinta kasih di antara kita. Nah, jangan bantah dan jangan halangi aku, taihiap, selamat berpisah, sampai setahun lagi... ingat, setahun tepat di tempat ini..."
Setelah berkata demikian, Sun Eng lalu membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu tanpa menengok lagi karena dia maklum bahwa sekali dia menengok dan memandang pemuda itu, tidak akan ada kekuatan yang dapat memisahkannya lagi dari pemuda itu!
Lie Seng tertegun, berdiri seperti patung.
Kata-kata yang panjang lebar itu menimbulkan kesan mendalam di hatinya.
Dia melihat kebenaran dalam ucapan itu.
Dia tidak boleh tergesa-gesa menurutkan perasaan hati di saat itu.
Akan tetapi dia hampir yakin akan cinta kasihnya kepada Sun Eng.
Hampir dia mengejar, menghalangi gadis itu pergi.
Akan tetapi diapun harus mengingat perasaan gadis itu.
Apakah gadis itu ragu-ragu akan cintanya?
Apakah gadis itu tidak percaya kepadanya, ataukah tidak percaya kepada dirinya sendiri?
Sun Eng memiliki kekerasan dan keteguhan hati.
Mengapa dia tidak?
"Enci Eng, engkau lihat, satu tahun kemudian aku akan berada di sini!"
Dia berteriak ke arah bayangan gadis yang sudah pergi jauh itu.
Dia tidak mendengar jawaban, akan tetapi dia tahu bahwa gadis itu terisak-isak dan berjalan terhuyung-huyung, tanda bahwa gadis itu mendengar ucapannya.
Setelah bayangan Sun Eng lenyap, sampai lama Lie Seng berdiri di tempat itu, kemudian dia menghampiri sebatang pohon besar dan menggunakan jari telunjuknya untuk mencorat-coret di batang pohon besar itu.
Karena jari telunjuk itu terisi hawa Thian-te Sin-ciang, maka seperti pisau yang tajam saja jari itu membuat coretan huruf-huruf yang indah di batang pohon, mengiris kulit batang pohon itu.
Bertemu dan berpisah bagai mimpi Lie dan Sun membuat janji suci akan bertemu di awal musim semi!
Setelah puas dengan coret-coretan yang merupakan perluapan perasaannya dan juga dipakai untuk menandai tempat pertemuan itu, Lie Seng lalu meloncat dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Dia tidak mengkhawatirkan keadaan ibu kandungnya, ayahnya, paman dan bibinya.
Akan tetapi biarpun dia percaya bahwa mereka tentu dapat lolos, ada kekhawatiran bahwa mereka selanjutnya tentu akan dikejar-kejar sebagai musuh negara, sebagai pemberontak-pemberontak yang buron.
Dan memang dugaan ini tepat.
Kota raja menjadi gempar dengan adanya peristiwa itu.
Biarpun istana tidak tahu-menahu tentang penangkapan atas diri empat pendekar itu dan tidak tahu pula mengapa mendiang Panglima Lee Siang melakukan penangkapan, Namun pembunuhan terhadap panglima itu dan perlawanan terhadap pasukan yang mengakibatkan tewasnya banyak pengawal, cukup menggegerkan.
Apalagi Kim Hong Liu-nio yang menyebarkan fitnah bahwa empat orang pendekar itu memang bermaksud memberontak, tentu saja omongan wanita yang pernah berjasa terhadap istana ini dipercaya oleh Kaisar yang segera memerintahkan agar empat "pemberontak"
Yang buron itu ditangkap dan dihukum!
Karena itu, terpaksa empat orang pendekar itu bersembunyi untuk menghindarkan diri dari penangkapan dan pengejaran pemerintah!
Tembok besar raksasa yang melintang di sebelah utara Tiongkok yang memisahkan Tiongkok dengan daerah luar, dinamakan Tembok Besar Selaksa Mil.
Tembok itu merupakan keajaiban hasil karya tangan manusia, selain amat kokoh kuat, tinggi dan besar, juga melintasi gunung-gunung, jurang-jurang, Dan dipandang dari jauh mirip seekor ular raksasa berliku-liku antara pegunungan dan daerah liar itu.
Daerah seperti itu tentu saja merupakan tempat persembunyian yang baik sekali bagi gerombolan-gerombolan jahat.
Dan di antara gerombolan-gerombolan penjahat di sepanjang tembok besar itu, yang paling terkenal, ditakuti oleh para pelancong dan pedagang yang melintasi tembok besarg adalah perkumpulan Jeng-hwa-pang.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, Jeng-hwa-pang dipimpin atau diketuai oleh Gak Song Kam, seorang ahli racun yang telah berani menggunakan julukan Tok-ong (Raja Racun) dan memiliki kepandaian tinggi karena dia adalah seorang di antara murid-murld terlihai dari mendiang Jeng-hwa Sian-jin, seorang jagoan Pek-lian-kauw yang terkenal.
Akan tetapi semenjak muncul Kim Hong Liu-nio, wanita luar biasa dari utara, Jeng-hwa-pang menemui hari naasnya dan perkumpulan itu pernah diobrak-abrik oleh wanita sakti itu.
Banyak anak buah Jeng-hwa-pang yang tewas di tangan Kim Hong Liu-nio, bahkan Tok-ong Gak Song Kam sendiri nyaris tewas kalau saja dia tidak cepat-cepat melarikan diri.
Akan tetapi semenjak itu, Gak Song Kam telah menghimpun lagi anak buahnya, bahkan kini dia memperkuat kedudukannya dengan mengundang seorang tokoh hitam yang sudah terkenal di dunia kang-ouw, yaitu Bouw Song Khi yang berjuluk Jai-hwa Sin-to Si Maling Sakti Pemetik Bunga.
Bouw Song Khi ini berusia empat puluh enam tahun, seorang pria yang tampan dan pesolek, bersikap ramah dan menarik, akan tetapi sesungguhnya dia adalah maling tunggal yang lihai, dan seorang tukang memperkosa dan mempermainkan wanita yang keji.
Karena Bouw Song Khi ini pernah berguru kepada mendiang Jeng-hwa Sian-jin, maka dia terhitung masih sute dari Gak Song Kam sendiri, sungguhpun dalam hal ilmu kepandaian, dia tidak kalah lihai dari suhengnya itu.
Karena Jeng-hwa-pang merupakan perkumpulan yang sudah kuat keuangannya, maka dengan menggunakan simpanannya, Gak Song Kam berhasil membangun kembali perkumpulan itu, bahkan mendatangkan banyak orang untuk menjadi anak buahnya, pengganti anak buah yang roboh dan tewas ketika Kim Hong Liu-nio mengamuk.
Kini, dua tahun lebih kemudian, perkumpulannya telah bangkit kembali menjadi perkumpulan yang kuat dan menguasai daerah di luar tembok besar.
Hasil pemungutan "pajak jalan"
Dari mereka yang lewat saja sudah lebih dari cukup, Belum lagi sumbangan-sumbangan paksa dari para penghuni di luar tembok besar atau dari rombongan yang lewat.
Jai-hwa Sin-to Bouw Song Khi suka sekali tinggal bersama suhengnya itu, karena suhengnya mampu menyediakan wanita-wanita cantik yang cukup banyak untuk dapat menghibur hatinya setiap hari siang malam.
Pekerjaannya ringan sekali, hanya tinggal di tempat itu menjaga keamanan Jeng-hwa-pang dan kadang-kadang ikut pula melatih kepada anak buah Jeng-hwa-pang, membanggakan kepandaiannya di antara para anak buah yang memuji dan mengaguminya.
Akan tetapi, kadang-kadang Bouw Song Khi terserang penyakit yang kumat kembali, yaitu penyakit yang timbul dari kebiasaan lamanya.
Dia ingin sekali mendapatkan gadis atau wanita hasil culikan seperti yang sering dia lakukan sebelum dia tinggal di luar tembok besar dahulu.
Kebiasaan menculik dan memperkosa wanita ini menjadi semacam penyakit sehingga kini persediaan wanita-wanita yang dengan suka rela mau melayaninya itu mendatangkan bosan kepadanya dan dia merasa rindu untuk memperoleh wanita yang harus melayaninya secara paksa!
Sungguh keji sekali penyakit macam ini!
Orang semacam Bouw Song Khi sudah sedemikian bejat moralnya sehingga memperkosa wanita, melihat wanita itu melawan, meronta dan menangis ketika diperkosanya, merupakan kesenangan dan kenikmatan tersendiri yang tidak bisa diperoleh dari para wanita yang disuguhkan oleh suhengnya kepadanya.
Karena itulah, maka dia merasa gelisah dan pada suatu malam, begitu matahari tenggelam, jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa) ini sudah meninggalkan sarang Jeng-hwa-pang untuk pergi ke sebuah dusun yang terdekat dan di situ, setelah memilih-milih, akhirnya dia berhasil menculik seorang gadis petani yang manis.
Dengan kepandaiannya yang tinggi, dia dapat melarikan gadis ini tanpa ada yang mengetahui dan tanpa gadis itu dapat berteriak sedikitpun karena telah ditotoknya, kemudian gadis itu dilarikannya ke sarang Jeng-hwa-pang.
Para anak buah Jeng-hwa-pang bersorak gembira menyambut kedatangan jagoan ini, dan hebatnya, Gak Song Kam sendiri hanya tertawa melihat tingkah laku sutenya, sama sekali tidak menegurnya karena dia menganggap diculiknya seorang perawan dusun itu hanya merupakan soal kecil yang tidak perlu diributkan dan dianggapnya sebagai hal remeh.
Demikianlah, tanpa ada gangguan apapun Bouw Song Khi si penjahat cabul itu lalu membawa perawan dusun yang diculiknya itu ke dalam kamarnya, memaksanya untuk melayaninya makan minum dengan gembira.
Biarpun dia telah memerintahkan beberapa orang wanita untuk memandikan dara desa itu secara paksa dan memberinya pakaian indah dan baru sehingga perawan dusun itu nampak makin manis, namun gadis itu selalu menangis dan hanya karena takut maka dia mau duduk semeja dengan penculiknya tanpa menjamah masakan yang dihidangkannya.
Dia gemetar ketakutan dengan wajah pucat dan mata terbelalak, seperti seekor kelinci yang dipermainkan oleh seekor harimau yang menangkapnya.
Inilah keadaan yang dirindukan oleh Bouw Song Khi.
Kalau gadis dusun itu menurut dan mau melayaninya dengan suka rela, agaknya diapun akan merasa jemu karena biarpun gadis itu manis, namun dibandingkan dengan wanita-wanita yang disediakan oleh suhengnya di tempat itu untuknya wanita-wanita yang berpengalaman dan pandai bersolek, pandai pula merayu, tentu dara dari desa ini kalah jauh.
Akan tetapi gadis itu gemetar ketakutan, dan inilah yang menimbulkan gairahnya!
Maka dia makan minum sambil tertawa-tawa, menikmati keadaan itu di mana gadis itu duduk dengan seluruh tubuh menggigil, ngeri membayangkan apa yang akan menimpa dirinya.
Bouw Song Khi ingin menikmati keadaan ini perlahan-lahan, tidak tergesa-gesa, untuk memperpanjang keadaan tegang bagi gadis itu yang amat menyenangkan hatinya.
Agaknya seperti inilah seekor kucing menikmati permainannya dengan seekor tikus, lebih dulu mempermainkannya, membiarkannya lari lalu ditangkap kembali, menikmati tikus itu dalam ketakutan hebat selama mungkin sebelum akhirnya mengganyangnya.
Pada saat Bouw Song Khi makan minum dengan gembira itu, dua orang muda nampak memasuki pintu gerbang sarang Jeng-hwa-pang!
Sungguh mengejutkan dan mengherankan sekali bagaimana ada dua orang asing berani datang memasuki sarang itu.
Dua orang pemuda yang berjalan masuk dengan langkah ringan dan lenggang seenaknya, seolah-olah mereka itu tidak sedang memasuki sarang Jeng-hwa-pang yang ditakuti orang, melainkan sedang memasuki pintu halaman rumah mereka sendiri saja.
Dan dua orang muda ini bukan lain adalah Pangeran Oguthai atau Pangeran Ceng Han How, dan Sin Liong!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, dua orang muda ini berangkat meninggalkan istana Raja Sabutai untuk memberi hajaran kepada Jeng-hwa-pang yang telah berani mengirim orangnya untuk mencoba melakukan pembunuhan terhadap Ceng Han Houw.
Mereka berdua melakukan perjalanan menunggang kuda, tanpa diiringkan seorangpun pengawal.
Setelah di luar daerah yang menjadi sarang Jeng-hwa-pang, keduanya lalu meninggalkan kuda mereka, dicancang di dalam hutan lalu melanjutkan perjalanan memasuki daerah musuh itu dengan jalan kaki dan akhirnya mereka memasuki pintu gerbang sarang Jeng-hwa-pang dengan tenang.
Tentu saja kedatangan dua orang muda ini segera ketahuan dan gegerlah Jeng-hwa-pang.
Dalam waktu singkat saja sudah ada belasan orang anggauta Jeng-hwa-pang yang datang mengurung kedua orang pemuda itu begitu mereka meliwati pintu gerbang.
Obor dipasang dan dipegang tinggi-tinggi sehingga tempat itu menjadi terang.
Namun, para anggauta Jeng-hwa-pang menjadi terheran-heran melihat bahwa yang datang itu hanya dua orang pemuda remaja yang bersikap sedemikian tenangnya walaupun mereka telah dikurung banyak orang.
"Hai, dua bocah lancang! Siapa kalian berani datang ke tempat ini tanpa ijin, apakah kalian sudah bosan hidup?"
Bentak seorang di antara mereka.
Marahlah Han Houw mendengar ini.
Dia seorang pangeran.
Di kerajaan ayahnya, dia dihormati secara berlebihan, bahkan di kerajaan selatan, diapun seorang pangeran yang pernah menjadi kuasa Kaisar dan di mana-manapun dia dihormati.
Kini, teguran itu tentu saja membuat dia marah sekali.
Ceng Han Houw bertolak pinggang dan dengan suara lantang dia berkata.
"Huh, kalian ini tikus-tikus busuk kecil tidak berharga bicara dengan kami. Hayo suruh tikus besar Gak Song Kam keluar untuk menemui kami!"
Tentu saja ucapan yang bernada angkuh ini membuat semua anggauta Jeng-hwa-pang menjadi marah sekali.
Seorang di antara mereka, yang tadi menegur, seorang yang bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal, yang terkenal pemarah dan terkenal pula memiliki tenaga besar seperti kerbau, melangkah ke depan, menghampiri Ceng Han Houw dan membentak.
"Bocah bermulut kotor! Berani engkau memaki kami? Kuhancurkan mulutmu!"
Dia sudah mengulurkan tangannya yang besar dengan jari-jari tangan yang kuat untuk mencengkeram ke arah mulut Han Houw!
Pemuda ini berdiri tegak, sedikitpun tidak menangkis.
Akan tetapi sebelum jari-jari tangan itu menyentuh mukanya, kurang beberapa sentimeter lagi, tiba-tiba si kumis tebal itu memekik keras dan roboh terjengkang.
Darah muncrat-muncrat keluar dari ulu hatinya yang telah berlubang karena tadi secara kilat cepatnya ditusuk oleh Han Houw yang telah mengeluarkan sebatang anak panah.
Anak panah itu adalah anak panah yang dahulu dipergunakan oleh tokoh Jeng-hwa-pang untuk menyerangnya, dan ujung anak panah itu mengandung racun yang amat berbahaya, maka begitu ditusukkan ke ulu hati si kumis tebal, seketika orang ini terjengkang dan berkelojotan, terus tewas tak lama kemudian.
Semua anggauta Jeng-hwa-pang terbelalak, apalagi ketika mengenal anak panah itu.
Anak panah itu adalah anak panah Jeng-hwa-pang yang hanya dipergunakan oleh orang-orang yang sudah memiliki kedudukan tinggi di Jeng-hwa-pang.
Dan pemuda ini mempergunakan anak panah Jeng-hwa-pang untuk membunuh seorang di antara mereka!
"Siapa dia...?"
"Itu anak panah Jeng-hwa-pang kita!"
Ramailah orang-orang itu berteriak dan kini tidak ada lagi yang berani lancang turun tangan karena selain kelihaian pemuda remaja yang angkuh ini, juga anak panah itu membuat mereka ragu-ragu.
"Lekas suruh Gak Song Kam menghadap ke sini sebelum kalian semua mampus oleh anak panah ini!"
Han Houw kembali membentak, suaranya nyaring sekali dan penuh wibawa sehingga suasana menjadi lucu dan aneh karena begitu banyaknya anak buah Jeng-hwa-pang yang biasanya ditakuti orang-orang seperti takut setan, kini nampak jerih menghadapi gertakan seorang pemuda remaja yang nampaknya begitu lemah lembut!
"Pemuda sombong, aku telah berada di sini!"
Tiba-tiba terdengar suara keren dan semua anggauta Jeng-hwa-pang merasa lega, lalu bersibak dan memberi jalan masuk kepada Gak Song Kam dan Bouw Song Khi yang telah datang karena diberi tahu oleh seorang anggauta Jeng-hwa-pang.
Secara terpaksa dan penasaran, marah kepada si pengganggu, terpaksa Bouw Song Khi meninggalkan perawan dusun yang belum sempat diganggunya itu karena dia belum habis makan minum ketika dipanggil oleh suhengnya untuk diajak menanggulangi pengacau yang berani datang membikin ribut di Jeng-hwa-pang.
Ketika dua orang tokoh besar ini melihat bahwa yang mengganggu hanyalah dua orang pemuda remaja, tentu saja mereka memandang rendah dan merasa penasaran sekali, apalagi melihat betapa seorang anak buah mereka telah menggeletak dan tewas.
Han Houw dan Sin Liong cepat membalikkan tubuh memandang.
Sin Liong segera mengenal laki-laki bertubuh tegap, bermuka merah dan amat gagah itu.
Dia pernah ditawan oleh ketua Jeng-hwa-pang ini dan nyaris tewas disiksa oleh pria ini, ketika dia dilempar ke dalam lubang ular!
Akan tetapi begitu dia melihat kakek berpakaian rapi dan pesolek yang datang bersama ketua Jeng-hwa-pang itu dia terkejut dan mengenal pula kakek ini sebagai seorang di antara para calon pemilihan bengcu yang beberapa waktu yang lalu diadakan di selatan!
(Lanjut ke
Jilid 29) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 29 Dia mengenal Jai-hwa Sin-to Bouw Song Khi yang merupakan kaki tangan atau sahabat dari Lam-hai Sam-lo dan biarpun dia sendiri belum pernah bentrok dengan orang ini, dia dapat menduga bahwa tentu kepandaian si maling tunggal ini lihai sekali.
Juga Si Maling Sakti itu segera mengenal Sin Liong, bocah yang pernah menggegerkan pemilihan bengcu di selatan, maka kagetlah dia dan mukanya sudah berubah.
Apalagi diapun mengenal Ceng Han Houw, utusan Kaisar yang amat ditaati oleh Lam-hai Sam-lo dan biarpun dia sendiri tidak mempunyai hubungan dengan pemuda bangsawan itu, namun diapun sudah merasa jerih.
Tidak demikian halnya dengan suhengnya, ketua Jeng-hwa-pang.
Dia ini sudah lupa kepada dua orang pemuda remaja itu, biarpun keduanya pernah dia jumpai.
Melihat betapa seorang anggautanya tewas, dia sudah marah sekali.
"Siapakah kalian dan mengapa kalian datang membunuh seorang anggauta kami?"
Bentaknya sambil melangkah maju.
Han Houw tersenyum mengejek dan mengacungkan anak panah di tangannya yang tadi dipergunakan untuk membunuh Si Kumis Tebal itu.
"Gak Song Kam, buka matamu yang lamur itu lebar-lebar! Aku pernah datang bersama suci Kim Hong Liu-nio membasmi sarangmu ini! Sudah lupa lagikah engkau? Dan buka matamu, lihat anak panah siapa ini? Utusanmu yang hendak membunuhku telah mampus dan ini, anak panahnya kuantarkan kembali kepadamu, harus kau tukar dengan kepalamu! Dan kau tidak mengenal saudaraku ini?"
Han Houw menoleh kepada Sin Liong.
"Houw-ko, tentu saja dia mengenalku. Tentu engkau tidak lupa ketika melemparku ke dalam lubang ular itu, pangcu!"
Kata Sin Liong.
Sepasang mata itu terbelalak dan muka yang merah itu makin merah.
Kini Gak Song Kam mengenal dua orang pemuda remaja ini dan kemarahannya makin memuncak.
"Pasukan Api, maju!"
Teriaknya.
Tiba-tiba nampak sinar terang dan dua belas orang laki-laki yang bertubuh tegap berloncatan ke depan.
Mereka itu masing-masing memegang sebatang obor, namun bukanlah sembarang obor karena obor itu gagangnya terbuat dari baja dan tempat apinya besar sehingga apinya berkobar besar.
Gagangnya cukup panjang, dapat dipergunakan sebagai pedang atau juga sebagai toya pendek.
Cara mereka memegang gagang obor menunjukkan bahwa mereka itu sudah mahir sekali memainkan obor ini sebagai senjata dan gerakan mereka teratur rapi ketika mereka maju mengurung.
Kaki mereka bergerak perlahan dan mereka melangkah mengelilingi tempat itu, makin lama makin menyempit dan mereka menggerak-gerakkan obor di tangan dengan teratur pula dan berbareng sehingga nampak indah karena mereka itu seolah-olah sedang mainkan tari obor.
"Houw-ko, mundurlah, biar aku menghadapi badut-badut ini!"
Kata Sin Liong yang dapat menduga akan kelihaian pasukan obor itu.
Diam-diam Han Houw memang merasa ngeri melihat pasukan obor itu, dan karena dia tahu betapa lihainya Sin Liong, maka diapun mengangguk dan dengan sikap angkuh dia mundur dan berdiri tenang dengan anak panah rampasan itu masih di tangan kanannya.
Diam-diam dia mempersiapkan anak panah itu untuk membantu saudara angkatnya bilamana keadaan memerlukannya.
Pasukan obor yang terdiri dari dua belas orang itu kini mengurung Sin Liong.
Setiap kali obor digerakkan, muncratlah bunga api dan terdengar suara mendesis disusul asap hitam bergulung-gulung.
Cahaya api obor yang dimainkan itu membuat pemandangan yang indah sekali memecah kegelapan malam.
Dengan latar belakang malam gelap, nampak cahaya-cahaya dua belas obor itu saling berkejaran dan asap hitam bergumpal-gumpal membubung tinggi ke angkasa yang kemerahan oleh sinar api obor.
"Sam-kak-tin...!"
Terdengar seorang di antara mereka membentak.
Dengan teratur sekali dua belas orang itu bergerak dan terbentuklah empat pasukan Sam-kak-tin (Pasukan Segi Tiga) yang rapi dan kini pasukan demi pasukan yang terdiri dari tiga orang mulai menyerbu dan menyerang Sin Liong secara bertubi-tubi!
Ceng Han Houw terkejut bukan main.
Serangan-serangan itu amat teratur, dilakukan secara berturut-turut dan hampir berbareng oleh setiap regu dari tiga orang, dari arah tiga jurusan yang membentuk segi tiga dan karena ada empat regu segi tiga, maka serangan-serangan itu hebat bukan main.
Sinar-sinar obor menyilaukan mata, seolah-olah ada lautan api bergelombang hendak menelan Sin Liong!
Sin Liong juga terkejut.
Dia telah menguasai ilmu amat tinggi dan luar biasa, akan tetapi bagaikan seekor burung, dia baru saja meninggalkan sarangnya dan pengalamannya bertanding masih sempit sekali.
Kini, menghadapi serangan bertubi-tubi dari api-api yang menyilaukan mata ini, tentu saja dia terkejut.
Namun, kepercayaannya kepada diri sendiri yang timbul semenjak dia masih kecil dan banyak menghadapi bahaya maka dia bersikap tenang sekali.
Dengan penuh kewaspadaan dia menghadapi semua serangan itu dan cepat mempergunakan gerakan ajaib dari Thai-kek Sin-kun.
Dengan langkah-langkah ajaib yang dipelajarinya dari kakeknya, maka Sin Liong dapat menghindarkan diri dari setiap sambaran sinar api, menyelinap ke kanan kiri di antara sambaran obor-obor itu sehingga sampai barisan ke empat melakukan serangan, tetap saja tidak ada sebuahpun obor mengenai tubuhnya!
Gak Song Kam dan sutenya, Bouw Song Khi, terkejut dan kagum bukan main.
Gak Song Kam merasa panasaran sekali.
"Ngo-heng-tin...!"
Dia berseru nyaring dan dua belas orang itu bergerak otomatis, empat barisan Sam-kak-tin tadi kini bergabung dan membentuk dua barisan Ngo-heng yang terdiri dari masing-masing lima orang berjumlah sepuluh orang dan dua orang yang tersisa kini bertugas sebagai pemimpin pasukan dan berdiri di kanan kiri memberi aba-aba kepada musing-masing pasukan.
Berbeda dengan Pasukan Segi Tiga tadi yang menyerang secara susul-menyusul, kini pasukan Lima Unsur atau Ngo-heng ini bekerja sama saling membantu sesuai dengan aba-aba yang dikeluarkan oleh seorang pemimpin.
Dua pasukan Ngo-heng itu menyerbu dan berputar-putar, kadang-kadang berbareng dan merupakan kerja sama yang amat baik dan rapi.
"Ehhh...?"
Sin Liong terkejut sekali karena biarpun dia masih mempergunakan langkah Thai-kek Sin-kun, tetap saja pundaknya sudah hangus!
Untung belum terbakar dan dia sudah menggerakkan tangannya dengan kibasan yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang sehingga api itu seperti tertiup membalik dan si pemegang obor sampai terhuyung ke belakang.
Maklum akan kelihaian pasukan Ngo-heng ini, Sin Liong tidak berani bersikap lambat.
Di antara kepungan obor-obor itu yang menyambar-nyambar, dia berloncatan dan kini mengerahkan gin-kang untuk menghindarkan diri.
Bagaikan seekor naga sakti mengamuk di antara gumpalan awan, tubuh Sin Liong berkelebatan di antara asap-asap hitam dan api-api obor.
Para pemegang obor menyerangnya seperti orang-orang yang mainkan pedang dan toya, gerakan mereka selain teratur rapi, juga cepat dan rata-rata mereka memiliki tenaga yang cukup kuat.
Namun, kelincahan pemuda itu benar-benar membuat mereka tidak berdaya.
Biarpun mereka telah mengerahkan seluruh kemampuan dari dua pasukan Ngo-heng-tin, tetap saja mereka tidak berhasil menyentuh tubuh Sin Liong.
"Pat-kwa-tin...!"
Gak Song Kam berteriak marah.
Kini pasukan itu membentuk pasukan delapan orang yang membentuk pat-kwa (segi delapan) dan menyerang Sin Liong dari delapan penjuru angin.
Empat orang yang lainnya siap menggantikan anggauta pasukan yang terdesak!
Ternyata pasukan ini lebih lihai daripada Ngo-heng-tin dan kini Sin Liong nampak terdesak!
"Celaka...!"
Pikir pemuda itu.
Kini dia tidak boleh hanya mengelak, harus membalas kalau dia tidak mau bajunya atau rambutnya terbakar.
Mulailah Sin Liong menggerakkan kaki tangannya dan begitu dia mengeluarkan lengking panjang dan tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan terpentang mendorong ke kanan kiri, terdengar pekik nyaring dan dua orang pengeroyok roboh bergulingan karena obor tadi membalik, Yang satu mengenai mukanya sendiri yang penuh brewok sehingga rambut-rambut muka itu terbakar sedangkan yang ke dua terbakar pakaiannya, sehingga dia bergulingan pula sambil berteriak-teriak.
Itulah satu di antara pukulan sakti Hok-mo Cap-sha-ciang yang terpaksa dikeluarkan oleh Sin Liong karena dia amat terdesak tadi.
Melihat akibat pukulannya, Sin Liong menjadi ngeri sendiri, maka kembali dia lalu menggunakan kegesitannya untuk mengelak dan meloncat ke sana ke mari, karena dua orang yang roboh itu kini telah digantikan oleh orang lain.
Namun, dengan tamparan yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang, Sin Liong dapat merobohkan mereka seorang demi seorang sehingga akhirnya dua belas orang itu roboh semua, obor-obor mereka padam, ada yang patah, dan ada pula yang mengenai badannya sendiri sehingga dua belas orang itu kini hanya mampu merintih-rintih dan merangkak-rangkak mundur!
"Ha-ha-ha, hanya begitu sajakah barisanmu?
Mana lagi ilmu-ilmu ampuh dari Jeng-hwa-pang?
Dengan kepandaian serendah itu sudah berani menentang kami?
Ha-ha-ha, adik Sin Liong, engkau sudah cukup bermain-main, mundurlah!"
Kata Han Houw sambil mentertawakan Gak Song Kam.
Melihat kesempatan ini, Bouw Song Khi meloncat ke depan.
Dia memang sudah merasa jerih terhadap Sin Liong yang pernah dilihatnya menimbulkan kegemparan ketika diadakan pemilihan bengcu.
Dia tahu bahwa pemuda remaja itu memang luar biasa sekali, dan yang diperlihatkan oleh Sin Liong ketika menghadapi pasukan obor tadi membuat hatinya makin gentar lagi.
Oleh karena itu, begitu melihat Han Houw maju, dia segera mengambil kesempatan ini untuk turun tangan.
Lebih baik melawan pangeran ini daripada menghadapi pemuda perkasa yang luar biasa itu.
Memang sesungguhnya dia merasa sungkan pula untuk melawan pangeran yang ditakuti oleh Lam-hai Sam-lo ini, akan tetapi tentu saja dia tidak dapat tinggal diam tanpa membantu suhengnya setelah untuk beberapa bulan lamanya dia tinggal di Jeng-hwa-pang dan hidup bersenang-senang.
"Wuuuut, ting-tinggg...!"
Senjata rantainya bergerak mengeluarkan suara berdenting nyaring.
Melihat ini, Ceng Han Houw tersenyum dan dengan gerakan halus tangannya meraba pinggang dan dia sudah melolos sebatang pedang.
"Hemm, kalau tidak salah aku pernah melihat mukamu ini di selatan. Apakah engkau juga anggauta Jeng-hwa-pang?"
Tanyanya sambil memperhatikan wajah Maling Sakti itu di bawah sinar obor yang banyak, dipegang oleh para anggauta Jeng-hwa-pang yang mengurung tempat itu.
Bouw Song Khi merasa enggan untuk menjawab dan mukanya berubah merah.
Sin Liong segera berkata.
"Han Houw-ko, aku masih ingat. Dia bernama Bouw Song Khi, dahulu menjadi seorang di antara calon-calon bengcu, akan tetapi lalu mundur dan mendukung Lam-hai Sam-lo!"
"Pemuda sombong, lihat senjata!"
Bouw Song Khi membentak karena dia tidak ingin banyak cakap lagi.
Senjatanya, rantai yang terbuat daripada baja dan panjangnya sampai satu setengah meter itu menyambar ganas mengeluarkan suara angin berdesing dan menjadi sinar yang mengerikan mengancam kepala pangeran itu.
"Wuuuttt!"
Dengan sedikit menundukkan kepala dan menekuk lututnya, tubuh pangeran itu merendah dan sinar rantai itu menyambar lewat di atas kepalanya.
Dari bawah, pedang di tangan Han Houw meluncur seperti anak panah menusuk ke arah perut lawan.
Bouw Song Khi menyondongkan tubuhnya ke kiri sehingga tusukan pedang itu luput, rantainya yang tadi gagal menyambar kepala lawan sudah membuat gerakan memutar dan kini menyambar turun ke arah lambung pangeran itu.
Gerakannya cepat dan berbahaya sekali.
Rantai di tangannya itu seperti hidup, begitu luput mengenai sasaran dapat membalik dan langsung membuat serangan lanjutan.
Kaget juga Han Houw melihat kecepatan gerakan lawan ini, maka diapun lalu memutar pedangnya ke bawah untuk menangkis sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
"Cring...!"
Bunga api berpijar dari pertemuan rantai dan pedang.
Baca Juga: Jodoh Rajawali 14
Baca Juga: Kisah Para Pendekar Pulau Es 3