Eps 10 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
"Aahh, kalau terlalu banyak minum arak memang bisa mabuk dan tidak baik untuk kesehatan. Akan tetapi kalau hanya dua tiga cawan saja, bahkan amat baik bagi kesehatan. Orang bijaksana selalu berkata bahwa sedikit arak menjadi obat, terlampau banyak arak menjadi racun. Nah, sekarang, mengingat akan kegembiraan pertemuan antara kita, apa salahnya kalian minum barang dua tiga cawan? Nona, engkau adalah seorang murid dari mendiang Hwa-i Sin-kai yang sejak dahulu kukagumi. Kini, bertemu dengan muridnya, perkenankan aku mengucapkan selamat datang dan hormatku kepada mendiang gurumu dan engkau sebagai wakil beliau!"
Kui Hok Boan menuangkan secawan arak di dalam cawan depan dara remaja itu.
Bi Cu merasa bingung, akan tetapi tentu saja sukar baginya untuk menolak.
Menolak berarti tidak menghormati tuan rumah yang sudah begitu baik hati.
"Aku tidak biasa minum arak, paman, kalau hanya secawan saja bolehlah,"
Jawabnya dan dia lalu mengangkat cawan itu dan meneguk arak dalam cawan sedikit demi sedikit, khawatir tersedak.
Akhirnya arak itupun habis dan Kui Hok Boan tertawa gembira.
"Secawan tadi adalah selamat datang, kini secawan arak penghormatanku kepada mendiang suhumu belum kauminum."
Dia menuangkan lagi secawan. Bi Cu tersenyum.
"Ah, paman terlalu mendesak. Akan tetapi aku hanya mau minum secawan lagi kalau paman berjanji tidak akan menambahkan lagi. Yang secawan ini tadi saja sudah membuat perut terasa panas."
"Baik, cukup secawan lagi, minumlah, nona Bhe."
Bi Cu menerima secawan arak itu dan minum lagi.
Sin Liong memandang penuh perhatian ketika Bi Cu minum arak itu dan hatinya merasa lega ketika dara remaja itu menghabiskan dua cawan tanpa ada terjadi sesuatu yang mencurigakan.
Wajah yang manis dan berkulit halus putih itu kini mulai menjadi kemerahan, menambah cantiknya Bi Cu.
"Dan untuk kembalimu kepada keluarga kita, Liong-ji, untuk pertemuan yang amat menggembirakan ini, aku ingin menyampaikan selamat kepadamu dengan tiga cawan arak, harap kau suka menerimanya!"
Kui Hok Boan lalu menuangkan arak ke dalam cawan Sin Liong sampai tiga kali, dan tanpa ragu-ragu Sin Liong meneguk tiga cawan arak itu ke dalam kerongkongannya.
Dia merasa ada hawa aneh bersama arak itu, dan cepat dia lalu mengerahkan sin-kang Thi-khi-i-beng, dengan hawa yang amat kuat dari Thi-khi-i-beng dia dapat menekan dan menguasai hawa asing itu di dalam perutnya schingga hawa itu tidak menjalar ke mana-mana!
Penggunaan ilmu yang luar biasa ini tentu saja tidak diketahui oleh Bi Cu atau Kui Hok Boan sendiri.
Tak lama kemudian Bi Cu kelihatan mengantuk sekali, beberapa kali dia menutupi mulut dengan punggung tangan ketika dia menahan kuapnya.
"Ah, nona Bhe kelihatan sudah lelah. Kalau mau tidur, silakan, nona, telah dipersiapkan dua buah kamar untuk kalian. Mari ikut bersamaku, mari Sin Liong, engkaupun agaknya perlu mengaso."
Sebetulnya Sin Liong belum merasa lelah atau mengantuk, akan tetapi melihat keadaaan Bi Cu diapun pura-pura mengantuk dan menguap.
Dua orang muda itu lalu mengikuti Hok Boan masuk ke dalam dan diam-diam Sin Liong memperhatikan Bi Cu.
Sungguh tidak wajar kalau Bi Cu demikian mengantuk dan lelah, padahal tadi masih segar-bugar.
Kini dara remaja itu hampir tidak kuat melangkah lagi sehingga terpaksa dia memegangi tangannya.
Begitu tiba di depan pintu kamar dan ditunjukkan oleh Kui Hok Boan bahwa itu adalah kamar untuknya, Bi Cu terus lari masuk dan menjatuhkan diri di atas pembaringan, dan terus saja dia pulas!
Melihat ini, Kui Hok Boan tertawa.
"Ah, kasihan, dia sudah amat lelah,"
Katanya sambil menutupkan daun pintunya.
"Kaupun tentu amat lelah, Sin Liong."
Sin Liong mengangguk, masih terheran-heran melihat keadaan Bi Cu.
"Aku mengaso juga, paman,"
Katanya sambil memasuki kamarnya yang berada di sebelah kamar Bi Cu.
Dia mendengar betapa langkah kaki pamannya meninggalkan kamar itu, maka Sin Liong cepat menutupkan pintu kamarnya, duduk bersila dan mengerahkan hawa sakti di dalam tubuhnya yang telah menekan dan menguasai hawa aneh yang masuk melalui arak tadi, kini memaksa hawa itu keluar dari mulutnya.
Setelah semua hawa asing itu habis, barulah dia berani bernapas seperti biasa dan dia mencium bau harum yang aneh.
Diam-diam dia terkejut dan curiga sekali.
Benarkah dugaannya bahwa pamannya bermain curang dan membius dia dan Bi Cu melalui arak tadi?
Melihat keadaan Bi Cu, sudah jelas tentu demikian, dan hawa aneh tadi tentu akan membuat dia pulas pula seperti Bi Cu kalau saja tidak dikuasainya dengan Thi-khi-i-beng.
Dia lalu menghampiri dinding pemisah kamarnya dan kamar Bi Cu, menempelkan telinganya pada dinding itu dan mengerahkan tenaga saktinya untuk mendengarkan.
Dia dapat menangkap lapat-lapat suara pernapasan Bi Cu dan tahulah dia bahwa gadis itu masih tidur pulas.
Hatinya merasa lega dan diapun lalu duduk bersila, sama sekali tidak berani tidur, hanya mendengarkan keadaan di sekitarnya, terutama dari arah kamar Bi Cu.
Kurang lebih satu jam kemudian dia mendengar suara bisik-bisik dari luar kamarnya, suara bisik-bisik dari tiga orang laki-laki.
Dia tidak dapat menangkap kata-kata mereka karena mereka itu berbisik-bisik lirih sekali, akan tetapi dia tahu bahwa yang bicara itu adalah Kui Hok Boan bersama dua orang laki-laki yang tidak dikenalnya.
Mendengar nada suara mereka, tentu dua orang itu adalah laki-laki yang masih muda.
Akan tetapi, sebentar saja mereka itu berbisik-bisik, lalu keadaan menjadi sunyi lagi dan terdengarlah bunyi langkah seorang diantara mereka menjauh.
Hanya seorang saja yang pergi!
Berarti bahwa ada dua orang lain yang tadi datang bersama Kui Hok Boan, tinggal di sekitar luar kamarnya dan kamar Bi Cu!
Hati Sin Liong terguncang dan dia makin bercuriga.
Apakah artinya semua ini?
Sin Liong tetap duduk bersila dengan penuh perhatian ke arah sekelilingnya, namun tidak terjadi sesuatu.
Menjelang tengah malam, tiba-tiba seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang.
Ada suara langkah orang berindap-indap ke arah jendela kamarnya yang berada di belakang, berlawanan dengan pintu kamar.
Kemudian, langkah orang ini berhenti di luar jendela kamarnya, kemudian terdengar daun jendela kamar itu bergerak dibuka orang dari luar!
Sin Liong tetap diam saja, menanti sampai daun jendela itu terbuka dan orang yang membongkar daun jendela itu masuk.
Begitu dia melihat bayangan hitam meloncat dan berkelebat masuk dari jendela yang sudah terbuka, diapun meloncat dan sebelum orang itu mampu bergerak, dia sudah menangkap lengannya.
Lengan yang kecil halus!
"Siapa kau...?"
"Sssttt... Liong-ko, aku Lin Lin...!"
Bisik orang itu yang menyeringai karena lengannya yang dipegang itu terasa nyeri sekali.
"Eh, adik Lin...? Mengapa kau...?"
"Ssttt, jangan keras-keras... dengarlah baik-baik, Liong-ko. Kau harus cepat pergi dari sini bersama enci Bi Cu, sekarang juga. Cepat... akan datang pasukan dari kota raja untuk menangkap kalian...!"
Suara itu terisak dan ditahannya. (Lanjut ke
Jilid 33) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 33
"Hemm, dari mana kau tahu? Siapa yang memberi tahu kepada pasukan kota raja bahwa kami berada di sini?"
Sin Liong berbisik masih memegang lengan adik tirinya itu akan tetapi dia tidak mempergunakan tenaga lagi.
"...ayah..."
Sin Liong melepaskan pegangannya dan melangkah mundur, menatap wajah adik tirinya di dalam gelap remang-remang itu.
"Dan kalian disuruh ke kota raja melaporkan kehadiran kami...?"
Dia berhenti sebentar masih tidak mau percaya.
"Kenapa kau... kau sekarang memberi tahu kepadaku...?"
Lin Lin menjadi tidak sabar atas sikap Sin Liong yang tidak cepat-cepat pergi melarikan diri itu.
"Dengar, Liong-ko,"
Bisiknya sambil mendekat.
"Kami disuruh antar surat kepada Kwan-ciangkun di kota raja. Karena curiga, kami membukanya di jalan dan baru kami tahu bahwa ayah melaporkan engkau. Kami tidak berani membangkang, maka enci Lan melanjutkan perjalanan ke kota raja sedangkan aku diam-diam kembali untuk memberi tahu kepadamu. Nah, kau cepat ajak enci Bi Cu pergi sebelum terlambat!"
"Bi Cu... ah, kamipun tadi telah disuguhi arak yang agaknya mengandung obat bius..."
"Ahhh... aku menyesal sekali, Liong-ko, ayahku..."
Lin Lin tidak melanjutkan kata-katanya. Sin Liong merangkulnya dan mencium pipinya.
"Lin Lin, kalian baik sekali, aku cinta kepadamu dan kepada Lan-moi..."
Dia melepaskan rangkulannya.
"Aku akan pergi sekarang juga, akan kuambil Bi Cu dari kamarnya."
Dia lalu melangkah hendak keluar melalui jendela itu.
"Liong-ko...!"
Lin Lin berbisik. Sin Liong menoleh.
"Kau... harap kau maafkan ayahku...!"
"Hemmm...!"
Sin Liong mendengus marah, teringat akan pengkhianatan ayah tirinya.
"Demi aku, demi enci Lan...!"
Hening sejenak, kemudian terdengar Sin Liong menarik napas panjang.
"Baiklah, Lin-moi, jangan khawatir, akan kulupakan saja apa yang diperbuat oleh ayahmu malam ini."
"Nanti dulu, Liong-ko. Di depan pintu kamar enci Bi Cu dan di depan kamar ini terdapat penjaga-penjaga, mungkin Bu-ko dan Sin-ko juga diperintah oleh ayah untuk melakukan penjagaan. Biar kupancing mereka agar melepaskan perhatian dari kamar enci Bi Cu. Kalau engkau nanti sudah mendengar suara kami bercakap-cakap, nah, kau boleh memasuki kamar enci Bi Cu dari jendela belakang."
"Baik, Lin-moi, dan terima kasih."
"Tapi, bagaimana selanjutnya engkau akan melarikan diri membawa enci Bi Cu? Bagaimana kalau engkau dikejar-kejar dan tertawan?"
Suara Lin Lin terdengar penuh kegelisahan.
"Serahkan saja kepadaku...!"
Sin Liong lalu ke luar dari jendela, didahului oleh Lin Lin.
Dara itu lalu menyelinap melalui jalan memutar sedangkan Sin Liong berindap-indap mendekati kamar Bi Cu.
Memang benar, dia melihat beberapa bayangan orang bergerak dan menjaga di sekitar kamarnya dan kamar Bi Cu, maka dia mendekam di tempat gelap, mendengarkan.
Tak lama kemudian dia mendengar suara seorang laki-laki, suara seorang muda yang dia tahu tentu seorang di antara keponakan Kui Hok Boan, menegur Lin Lin.
"Heiii, Lin-moi... engkau sudah pulang? Mana Lan-moi?"
"Aku... aku pulang lebih dulu, perutku sakit, enci Lan melanjutkan perjalanan seorang diri..."
Terdengar suara Lin Lin menjawab.
"Mengapa engkau belum tidur, Sin-ko? Mana ayah?"
"Ayah sudah tidur, aku dan Bu-ko ditugaskan menjaga..."
"Lin-moi, kenapa engkau pulang malam-malam? Bukankah engkau dan Lan-moi ke kota raja?"
Terdengar suara laki-laki lain dan tahulah Sin Liong bahwa laki-laki ini tentu Kwan Siong Bu dan yang tadi adalah Tee Beng Sin.
Betapa inginnya untuk keluar dan menjumpai mereka, akan tetapi teringat akan keadaan dirinya yang terancam, Apalagi Bi Cu yang mungkin masih tidur nyenyak karena obat bius, dia menekan keinginan ini dan selagi mereka bercakap-cakap, cepat dia menyelinap menghampiri jendela kamar Bi Cu.
Mudah saja baginya membuka daun jendela tanpa mengeluarkan suara dan dia cepat meloncat ke dalam.
Kamar itu remang-remang gelap seperti kamarnya tadi, namun matanya yang tajam dapat melihat Bi Cu rebah miring di atas pembaringan dengan pakaian masih lengkap seperti ketika makan minum tadi.
Dia menghampiri dan ternyata dara itu masih tidur nyenyak.
Dia mengguncangnya beberapa kali, namun Bi Cu seperti dalam keadaan pingsan saja, sama sekali tidak bergerak.
Maka tanpa ragu-ragu dia lalu memanggul tubuh Bi Cu di pundak kirinya, merangkul dengan lengan kiri dan dibawanya ke luar dari dalam kamar melalui jendela!
Sin Liong mempergunakan kesempatan selagi Lin Lin mengalihkan perhatian dua orang muda dan para penjaga itu, menjauhi kamar ke sebelah belakang bangunan, kemudian dengan kepandaiannya yang tinggi dia meloncat ke atas genteng tanpa menimbulkan sedikitpun suara, dan berlarilah Sin Liong membawa tubuh Bi Cu yang masih belum sadar itu, menjauhi dusun itu.
Karena dia tahu bahwa pasukan kerajaan tentu akan melakukan pengejaran, maka dia melarikan diri menuju ke barat di mana nampak pegunungan dari jauh.
Dia harus pergi bersama Bi Cu ke utara, akan tetapi tidak boleh sekali-kali melalui kota raja, maka dia mengambil jalan memutar, melalui sebelah barat kota raja di mana terdapat banyak pegunungan liar, kemudian baru ke utara.
Biarpun Sin Liong telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan dia dapat mempergunakan gin-kangnya untuk berlari cepat sekali, Namun malam itu gelap hanya diterangi bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Apalagi dia harus memanggul tubuh Bi Cu, dan dia lari melalui jalan-jalan liar, maka tentu saja dia harus berhati-hati dan tidak dapat berlari cepat.
Betapapun juga, karena pandainya Lin Lin memancing perhatian para penjaga, tidak ada seorangpun dalam rumah keluarga Kui yang mengetahui bahwa dua ekor burung itu telah terbang dari sarangnya!
Pada keesokan harinya pagi-pagi sekali Kui Hok Boan sudah bangun dari tidurnya dan segera dia pergi menuju ke kamar dua orang "tamu"
Itu.
Hatinya lega melihat betapa Siong Bu dan Beng Sin bersama para penjaga masih berada di depan kedua kamar itu, akan tetapi Kui Hok Boan merasa heran melihat Lin Lin ikut pula menjaga di situ!
"Eh, engkau sudah pulang?
Mana Lan Lan?"
"Ayah, aku pulang lebih dulu. Di tengah perjalanan aku merasa sakit perut dan terpaksa aku kembali malam tadi, sedangkah enci Lan seorang diri melanjutkan perjalanan ke kota raja."
"Hemm, dan sekarang bagaimana sakit perutmu?"
Tanya ayah ini sambil memandang wajah puterinya itu yang agak pucat, dan hal ini adalah karena semalam suntuk Lin Lin tidak tidur dan juga diam-diam merasa gelisah.
"Mengapa engkau tidak tidur semalam dan ikut berjaga di sini kalau perutmu sakit?"
"Sekarang sudah sembuh, ayah dan aku memang ikut berjaga bersama Bu-ko dan Sin-ko."
Ayah itu termenung dan mengerutkan alisnya.
"Kenapa Lan Lan belum juga pulang? Kalau dia langsung ke rumah Kwan-ciangkun, seharusnya dia sudah pulang bersama pasukan..."
"Mungkin enci Lan lelah dan bermalam di kota raja, ayah,"
Kata Lin Lin dan Hok Boan mengangguk.
Akan tetapi tetap saja dia tidak merasa puas karena dianggapnya pengiriman pasukan dari kota raja amat lambat.
Mestinya pagi-pagi sudah tiba di sini.
Kalau pasukan sudah datang dan menangkap Sin Liong dan Bi Cu, baru dia merasa lega.
Makin diperpanjang waktunya, makin gelisahlah dia.
Tentu saja dia tidak takut dua orang itu akan mampu melarikan diri, karena kepandaian dua orang muda seperti itu tentu tidak ada artinya baginya, akan tetapi betapapun juga dia merasa sungkan dan tidak enak terhadap Sin Liong.
Maka makin cepat perkara ini selesai, makin baiklah.
Untuk menenangkan hatinya, dia menghampri kamar Sin Liong lalu mengetuk daun pintu kamar itu.
"Liong-ji...! Sin Liong...! Tuk-tuk-tukk! Sin Liong...!"
Tidak ada jawaban dari dalam kamar dan Kui Hok Boan menoleh sambil menyeringai, lalu berkata kepada para penjaga itu.
"Dia masih tidur nyenyak!"
Kembali dia mencoba dengan ketukan dan panggilan di depan pintu kamar Bi Cu, akan tetapi hasilnya sama saja, tidak ada jawaban dari balik kamar yang tertutup pintunya itu.
"Biarkan mereka tidur, kalian jaga di sini jangan lengah sampai pasukan datang,"
Kata Kui Hok Boan dengan hati lega.
"Lin Lin, kau agak pucat, hayo kau mengaso ke kamarmu sana. Atau sebaiknya kau makan pagi dulu, baru mengaso."
"Aku ingin ikut berjaga di sini, ayah. Nanti kalau sudah lelah, aku akan pergi mengaso. Aku menanti kembalinya enci Lan."
Kui Hok Boan mengangguk dan memasuki kamarnya kembali.
Hatinya lega.
Betapapun juga, dua orang bocah itu tidak akan melarikan diri.
Kalau perlu, sebelum pasukan datang, dan mereka itu akan melarikan diri, dia dapat menggunakan kekerasan untuk menahan atau menangkap mereka.
Sungguhpun kalau dapat, jangan dia yang melakukan penangkapan, biar Kwan-ciangkun bersama pasukannya agar jangan terlalu kentara dia memusuhi mereka itu.
Matahari telah naik tinggi ketika terdengar derap kaki kuda dan Lan Lan muncul dengan muka agak pucat.
Kui Hok Boan cepat menyambut kedatangan puterinya ini dan langsung bertanya.
"Bagaimana?"
Lin Lin juga sudah menyambut kakaknya dan kini mereka berdua berdiri berdampingan di depan ayah mereka dan keduanya memandang kepada Kui Hok Boan dengan sinar mata mengandung kemarahan.
"Ayah sungguh keterlaluan!"
Tiba-tiba Lan Lan berkata.
"Bagaimana ayah sampai dapat bertindak sekejam itu?"
Kata pula Lin Lin yang kini berubah sikapnya, tidak pendiam dan pura-pura tidak tahu seperti malam tadi ketika pulang sendirian.
Kini dia bersikap seperti Lan Lan, menentang ayah mereka.
"Eh, eh, mengapa kalian ini? Apa maksud kalian?"
Kui Hok Boan membentak, pura-pura tidak mengerti.
"Ayah mengirim surat kepada Kwan-ciangkun selagi Liong-ko berada di sini. Apa maksud ayah?"
Kata Lin Lin.
"Ahh... bukankah kalian sudah kuberi tahu? Agar Kwan-ciangkun tidak datang ke sini dan..."
"Ayah tidak perlu membohongi kami!"
Teriak Lan Lan marah.
"Ayah melaporkan kehadiran Liong-koko dan menyuruh Kwan-ciangkun membawa pasukan datang ke sini untuk menangkap Liong-ko dan enci Bi Cu!"
Kui Hok Boan menarik napas panjang dan tersenyum, mengangguk-angguk.
"Ah, kiranya Kwan-ciangkun telah memberi tahu kepadamu, Lan Lan? Itu lebih baik lagi. Memang kalian harus tahu, kita tidak mungkin dapat melindungi pemberontak-pemberontak! Selain hal itu amat membahayakan kita, juga memberontak merupakan perbuatan yang amat berdosa. Kita sebagai rakyat yang baik harus menentang pemberontak-pemberontak, dan mengingat bahwa Sin Liong dan Bi Cu adalah keturunan dan murid pemberontak dan menjadi buronan pemerintah, sudah seharusnya kalau kita melaporkan agar mereka ditangkap."
"Ayah sungguh kejam! Betapapun juga Liong-koko adalah saudara kami, saudara seibu, sekandung! Kami tak dapat membiarkan dia celaka oleh ayah!"
Lan Lan berseru.
"Kami tidak bisa mendiamkan saja ayah melakukan tindakan rendah dan kejam!"
Lin Lin menyambung.
"Lan dan Lin! Tahan mulut kalian itu! Ini adalah urusan pribadiku, kalian tidak usah ikut campur. Aku tidak ingin kalian ikut campur, karena itu aku tidak memberi tahu kepada kalian ketika aku mengutus kalian mengirim surat kepada Kwan-ciangkun. Akan tetapi Kwan-ciangkun telah memberi tahu kepadamu, Lan Lan, dan engkau harus mengerti bahwa perbuatan ayahmu ini..."
"Kami tidak tahu dari Kwan-ciangkun! Kami tahu sendiri!"
Potong Lan Lan dengan berani.
"Dan aku telah membebaskan Liong-ko!"
Sambung Lin Lin.
Mendengar ini, terkejutlah Kui Hok Boan.
Sejenak dia memandang kepada kedua orang puterinya dengan mata terbelalak dan bingung, kemudian dia berlari ke tempat kedua orang tamu itu tidur.
Siong Bu, Beng Sin dan para penjaga terkejut melihat Hok Boan datang berlari-lari diikuti oleh dua orang dara kembar itu, lebih terkejut lagi melihat Hok Bean mendobrak pintu kamar Sin Liong.
"Krakkkk!"
Pintu itu jebol dan terbuka memperlihatkan kamar yang kosong!
Kui Hok Boan berlari ke kamar Bi Cu, dibukanya daun pintu dengan kasar dan ternyata kamar itupun telah kosong.
"Keparat...!"
Kui Hok Bean menyumpah-nyumpah, lalu membalikkan tubuhnya menghadapi dua orang puterinya dengan mata mendelik saking marahnya.
"Hayo kalian katakan, apa artinya semua ini!"
Bentaknya marah.
Akan tetapi dua orang dara itu menentang pandang, mata ayah mereka dengan berani, kemudian Lan Lan berkata lantang.
"Kami tidak ingin melihat ayah melakukan perbuatan yang khianat dan kejam, maka kami berdua lalu berpisah, membagi tugas. Aku melanjutkan perjalanan ke kota raja, dan baru pagi tadi aku menyampaikan surat ke Kwan-ciangun..."
"Dan aku kembali ke sini untuk memperingatkan Liong-ko sehingga dia dapat pergi melarikan enci Bi Cu!"
Sambung Lin Lin. Kemarahan Kui Hok Boan mencapai puncaknya mendengar ucapan dua orang puterinya itu.
"Keparat! Kalian anak-anak durhaka!"
Bentaknya dan tangannya bergerak cepat menampar ke depan dua kali.
"Plak! Plak!"
Tubuh Lan Lan dan Lin Lin terpelanting dan pipi mereka menjadi biru membengkak oleh tamparan ayah mereka yang amat keras tadi.
"Ayah boleh membunuh kami!"
Teriak Lan Lan sambil bangun kembali.
"Lebih baik mati daripada menjadi pengkhianat kejam!"
Teriak Pula Lin Lin.
"Jahanam, kalian berani melawan ayah sendiri? Kalian sudah bosan hidup?"
Kemarahan Kui Hok Boan membuat dia mata gelap.
Dia sudah melangkah maju lagi, siap untuk menghajar.Akan tetapi pada saat itu, dua orang pemuda cepat maju menghadang dan berlutut di depan Hok Boan.
Yang seorang adalah Kwan Siong Bu yang berwajah tampan dan berpakaian rapi, sedangkan pemuda yang ke dua adalah Tee Beng Sin yang berwajah ramah dan bertubuh gendut.
"Harap paman sudi mengampuni adik Lan dan adik Lin, dan... saya bersedia menerima hukuman mewakili mereka..."
Kata Tee Beng Sin, pemuda gendut itu dengan gerak-gerik dan suara yang lucu sungguhpun dia tidak bermaksud untuk melucu.
"Saya mintakan ampun untuk Lan-moi dan Lin-moi. Harap paman jangan khawatir, sekarang juga saya akan mengejar mereka berdua. Agaknya mereka belum lari jauh!"
Kwan Siong Bu penuh semangat. Tiba-tiba terdengar suara ketawa dan disusul kata-kata nyaring.
"Wah, sungguh mengagumkan sekali dua tangkai bunga kembar itu, demikian cantik dan gagah perkasa, pantas menjadi adik-adik Liong-te!"
Semua orang terkejut dan menengok.
Betapa kaget dan heran hati mereka ketika mereka semua melihat adanya dua orang yang tahu-tahu telah berdiri di situ, padahal mereka tadi tidak mendengar suara apapun.
Dari mana datangnya dua orang ini, dan bagaimana me-reka bisa masuk tanpa menimbulkan suara sedikitpun.
Yang seorang adalah pemuda tampan sekali, tampan dan gagah, pakaiannya juga amat indah dan mewah, kepalanya terlindung topi bulu burung berwarna kuning emas.
Pemuda inilah yang tadi mengeluarkan suara dan sikapnya amat berwibawa dan angkuh.
Orang ke dua adalah seorang wanita yang juga amat cantik jelita, pakaiannya mewah, kedua lengan tangannya memakai gelang emas, pedang panjang tergantung di pinggang kiri sedangkan di punggungnya tergendong papan kayu salib.
Kui Hok Boan terkejut setengah mati ketika mengenal wanita itu yang bukan lain adalah Kim Hong Liu-nio, sedangkan pemuda tampan gagah itu adalah Pangeran Ceng Han Houw!
Juga Lan Lan dan Lin Lin mengenal wanita ini.
Mana mungkin mereka dapat melupakan wanita yang telah membunuh ibu kandung mereka itu?
Maka, dengan kemarahan yang meluap-luap, dua orang dara kembar ini mengeluarkan teriakan nyaring dan seperti menerima komando saja, keduanya itu dengan berbareng telah melencat ke depan sambil mencabut pedang mereka dan serentak mereka menyerang Kim Hong Liu-nio dengan pedang!
Serangan mereka dilakukan dengan ganas karena terdorong oleh kemarahan melihat musuh besar ini.
"Lan dan Lin, jangan...!"
Kui Hok Boan berseru kaget, akan tetapi dua orang anak perempuan itu tidak memperdulikan seruan ayah mereka.
Bahkan mereka makin gemas mendengar larangan ayah mereka itu, teringat betapa dahulupun ayah mereka ini sama sekali tidak pernah berdaya upaya untuk membalas kematian ibu kandung mereka.
Dengan nekat mereka menyerang terus biarpun serangan pertama mereka tadi dengan amat mudahnya telah dielakkan oleh Kim Hong Liu-nio.
"Iblis betina keji!"
Bentak Lan Lan.
"Kau harus menebus kematian ibu!"
Bentak Lin Lin.
"Ha-ha, bagus, bagus! Sungguh bersemangat dan menarik sekali!"
Ceng Han Houw tertawa girang melihat keganasan dua orang dara kembar itu yang menyerang sucinya.
"Hemm, pergilah kalian!"
Bentak Kim Hong Liu-nio, kedua tangannya bergerak cepat, lengan kiri yang dihias banyak gelang itu menangkis dua kali ke arah pedang dan dua batang pedang itu terlepas dari pegangan pemiliknya dan terpental jauh, sedangkan tamparan perlahan dengan tangan kanan membuat dua orang dara kembar itu terpelanting ke kanan kiri!
"Berani kau merobohkan mereka!"
Bentak Kwan Siong Bu marah.
"Engkau wanita kejam!"
Bentak pula Tee Beng Sin.
Dua orang pemuda ini sudah menerjang maju untuk membela Lan Lan dan Lin Lin.
Siong Bu telah mencabut pedangnya, sedangkan Beng Sin juga sudah mengayun golok besar di tangannya.
"Siong Bu! Beng Sin! Mundur kalian!"
Bentak Kui Hok Boan dan dua orang pemuda itu terkejut, meragu saling pandang, kemudian melangkah mundur, tidak jadi melanjutkan serangan mereka.Akan tetapi Lan Lan dan Lin Lin sudah bangkit lagi dan biarpun mereka sudah tidak memegang senjata, mereka masih nekat, maju menerjang dan menyerang dengan tangan kosong.
"Lan dan Lin, jangan kurang ajar kalian!"
Kembali Kui Hok Boan membentak, akan tetapi dua orang dara itu sama sekali tidak memperdulikannya, melainkan terus menyerang dengan pukulan-pukulan yang dahsyat.
"Heiiitttt!!"
Lan Lan menghantamkan kepalan kanannya ke arah muka musuh besarnya itu.
"Hiaaaaattt!"
Lin Lin juga menyerang, menonjok ke arah ulu hati dengan sekuat tenaga.
"Hemm, menjemukan kalian!"
Bentak Kim Hong Liu-nio sambil menggeser kaki miringkan tubuhnya.
"Plak! Plak!"
Dua kali tangannya bergerak dan ternyata dia telah menotok pundak kedua orang lawan itu.
Lan Lan dan Lin Lin mengeluh dan roboh terguling, tidak mampu bergerak lagi.
"Kalian ini bocah-bocah lancang berani menyerangku? Nah, bersiaplah untuk mati!"
"Kouwnio... harap ampunkan mereka...!"
Kui Hok Boan meratap!
Laki-laki ini memang mempunyai watak pengecut.
Karena tahu bahwa wanita itu lihai sekali dan dia tidak akan mampu menandinginya, maka dia tidak berani berkutik dan hanya meratap minta ampun melihat nyawa dua orang puterinya terancam bahaya.Kim Hong Liu-nio menoleh dan ter-senyum mengejek.
"Orang she Kui, engkau hendak membela mereka? Majulah!"
"Tidak... tidak... harap kouwnio ampunkan kami..."
Akan tetapi Kim Hong Liu-nio yang merasa dihina oleh dua orang dara kembar itu tidak memperdulikan ratapan ini, dia melangkah maju mengangkat tangan kirinya ke atas dan menampar ke arah kepala Lan Lan dan Lin Lin.
"Plakk!"
Sebuah tangan menangkis tamparannya.
"Aih, suci, jangan bunuh mereka! Mereka ini menarik sekali, sayang kalau dibunuh. Wah, sungguh manis dan serupa benar. Amat menarik! Sukar mengenal mana enci mana adik, dan andaikata diberitahupun aku akan lupa lagi, ha-ha-ha! Kelak aku akan minta kepada Sin Liong agar kedua adiknya ini diserahkan kepadaku."
Aneh sekali, Kim Hong Liu-nio tidak jadi melanjutkan niatnya membunuh kedua orang dara kembar itu setelah dicegah oleh sutenya.
Dan pada saat itu terdengar derap kaki banyak kuda, dan muncullah Kwan-ciangkun memasuki ruangan itu.
"Hee, Kui-sicu, mana buronan-buronan itu?"
Begitu memasuki ruangan, Kwan-ciangkun berseru kepada Kui Hok Boan.
"Ah, kiranya paduka sudah mendahului ke sini, pangeran?"
Dia memberi hormat kepada Ceng Han Houw, kemudian memberi hormat pula kepada Kim Hong Liu-nio sambil berkata.
"Dengan adanya lihiap dan pangeran di sini sebetulnya tidak perlu mengerahkan pasukan menangkap dua orang buronan pemberontak kecil, ha-ha-ha!"
Melihat munculnya sahabatnya ini, legalah hati Kui Hok Boan.
"Wah, celaka, Kwan-ciangkun, kedua orang itu telah berhasil meloloskan diri dan melarikan diri semalam!"
"Ahhh...?"
Kwan-ciangkun berseru kaget.
"Ha-ha, berkat ketangkasan dua orang dara kembar yang cantik dan gagah ini!"
Kata Han Houw.
"Orang she Kui, ke mana larinya mereka?"
Pertanyaan yang diajukan oleh Kim Hong Liu-nio dengan suara dingin ini membuat Kui Hok Boan gelagapan.
"Mereka... saya kernarin bicara tentang Lembah Naga, sudah pasti mereka itu menuju ke utara. Saya... saya berani bertaruh nyawa mereka pasti melarikan diri ke utara."
"Kalau lari ke utara, tentu bertemu dengan pasukan kami di jalan!"
Bantah Kwan-ciangkun.
"Hemm, mereka itu tentu tidak berani melalui kota raja! Kenapa engkau begitu bodoh? Hayo, coba engkau pergunakan pikiranmu, ke mana kiranya dua orang buronan itu lari, Kwan-ciangkun?"
Han Houw bertanya sambil mentertawakan perwira itu.
Perwira she Kwan itu kelihatan bingung, mukanya berubah merah dan sikapnya gugup.
"Menurut penuturan Kui-sicu, agaknya mereka melarikan diri ke utara, akan tetapi kalau ke utara tentu bertemu dengan pasukan kita... maka agaknya... eh, mereka itu tidak lari ke utara, pangeran."
"Ha-ha-ha, jawabanmu itu bodoh sekali, Kwan-ciangkun. Dan aku tahu bahwa Sin Liong amat cerdik. Coba bayangkan seandainya engkau menjadi dia. Engkau tahu bahwa dari utara datang serombongan pasukan seperti diceritakan oleh adik tiri yang manis itu, padahal engkau hendak melarikan diri ke utara, maka jalan mana yang akan kauambil? Melarikan diri ke utara sudah pasti tidak mungkin melalui selatan, hanya bisa melalui barat atau timur. Dan karena engkau tahu bahwa pasukan tentu akan melakukan pengejaran, maka jurusan mana yang akan kauambil? melalui timur berarti melalui dusun-dusun dan kota-kota terbuka, sedangkan melalui barat berarti melalui daerah pegupungan dan hutan-hutan."
Wajah Kwan-ciangkun berseri.
"Ah, kalau begitu mereka tentu lari menuju ke barat!"
Pangeran Ceng Han Houw juga tertawa mengejek.
"Kalau begitu, mengapa engkau tidak lekas mengejarnya?"
Perwira itu memberi hormat.
"Terima kasih, pangeran!"
Lalu dia mengeluarkan aba-aba dan tak lama kemudian terdengar derap kaki kuda pasukan itu membalap ke arah barat.
Kim Hong Liu-nio menghampiri Kui Hok Boan, memandang sejenak lalu berkata dengan suara dingin.
"Hemm, orang she Kui, kembali engkau melibatkan dirimu, dulu dengan isteri orang she Cia dan kini malah dengan puteranya."
"Akan tetapi, kouwnio, saya telah berusaha menghubungi Kwan-ciangkun untuk menangkap mereka..."
Kui Hok Boan membantah dengan wajah pucat.
"Dan siapa yang memberi tahu mereka sehingga lolos? Dua orang puterimu, bukan? Seharusnya kubunuh mereka, akan tetapi karena pangeran sayang kepada mereka, maka engkau ayahnya yang sepatutnya menjadi gantinya!"
Wajah Kui Hok Boan makin pucat, dan terdengar Ceng Han Houw tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha, suci, hayo potong saja hidungnya atau sepasang telinganya!"
Orang she Kui itu makin ketakutan.
Dia tahu bahwa melawan wanita itu akan sia-sia belaka, kepandaiannya masih terlalu jauh untuk dapat menandinginya, dan dia tidak melihat jalan lain untuk menyelamatkan dirinya, apalagi setelah melihat betapa Kwan-ciangkun tadi amat takut kepada pemuda tampan yang disebut pangeran ini.
Kedua kakinya menjadi lemas dan dia menjatuhkan dirinya, berlutut di depan dua orang itu!
"Ampunkan hamba...
ampunkan hamba..."
Ratapnya.
Tiba-tiba Lan Lan dan Lin Lin yang sudah mengambil kembali pedang mereka yang tadi terlempar, melompat ke depan ayah mereka dengan pedang di tangan.
"Jangan membunuh ayah kami!"
Bentak Lan Lan.
"Kalau kami yang bersalah, hukumlah kami, ayah kami tidak bersalah!"
Bentak Lin Lin.
Dua orang dara kembar itu berdiri berdampingan dengan pedang di tangan, wajah mereka yang cantik itu memerah dan mereka siap bertanding mati-matian untuk melindungi ayah mereka.Melihat betapa sang ayah berlutut minta ampun dengan wajah pucat sebaliknya dua orang anak kembar itu berdiri menentang dan melindungi ayah mereka dengan wajah merah.
Ceng Han Houw bertepuk tangan memuji.
"Ha-ha, sungguh mengherankan sekali seekor ular tanah yang merayap dapat mempunyai dua orang anak seperti sepasang naga terbang di angkasa! Betapa gagahnya, betapa cantiknya. Suci, biarkan aku menghadapi mereka!"
Sambil tersenyum manis pangeran itu melangkah maju mendekati sepasang dara kembar itu, memandang mereka penuh kagum.
"Nona berdua sungguh manis dan gagah sekali, benarkah kalian hendak melindungi ayah kalian?"
"Akan kami bela sampai mati!"
Jawab Lan Lan tegas sambil meniandang pangeran itu dengan mata bersinar penuh ketekadan.
"Hemm, kalian hebat! Daripada menggunakan kekerasan, bukankah lebih baik kalian ikut bersamaku menjadi kekasihku dan kami akan mengampuni ayah kalian?"
"Tidak sudi!"
Bentak Lin Lin marah.
"Lebih baik kami mati!"
Teriak pula Lan Lan. Han Houw menoleh kepada sucinya yang memandang dengan wajah dingin saja.
"Lihat, suci, betapa gagahnya mereka ini! Sayang masih terlampau muda, bagaikan bunga belum mekar benar. Beri waktu satu dua tahun lagi dan mereka akan menjadi sepasang bunga yang semerbak harum dan hebat!"
Kemudian pangeran ini kembali menghadapi Lan Lan dan Lin Lin.
"Engkau belum tahu aku siapa dan biarlah kita saling berkenalan melalui pertandingan. Nah, aku akan membunuh ayah kalian, kalian boleh membelanya!"
Dengan tertawanya yang memikat Han Houw lalu menggertak hendak memuKui Kui Hok Boan.
Melihat ini Lan Lan dan Lin Lin cepat menerjangnya dan menyerang dengan pedang mereka, bukan hanya untuk mencegah pangeran itu mengganggu ayah mereka melainkan juga untuk merobohkan pangeran yang ceriwis itu.
Akan tetapi, dengan amat mudahnya Han Houw menghindarkan sambaran dua batang pedang itu sambil tertawa-tawa menggoda.
Lan Lan dan Lin Lin menjadi makin marah dan mereka sudah nekat untuk mengadu nyawa.
Hati kedua orang dara kembar ini sudah merasa sakit bukan main, bukan hanya sakit karena melihat penghinaan-penghinaan dua orang ini, terutama sekali sakit melihat sikap ayah mereka yang mereka anggap amat pengecut dan memalukan itu.
Melihat ayahnya berlutut dan meratap-ratap minta ampun, mereka tak dapat menahan rasa jijik dan malu, maka mereka nekat maju menentang dua orang itu biarpun mereka cukup maklum bahwa mereka, terutama wanita iblis musuh besar mereka itu, memiliki kepandaian yang amat lihai.
Kini, melihat pangeran itu bermaksud kurang ajar terhadap mereka, Lan Lan dan Lin Lin sudah menyerangnya dengan nekat dan mati-matian, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga mereka.
Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa pangeran ini memiliki kepandaian yang amat hebat pula!
Betapapun mereka menyerang dengan ganasnya, tidak pernah ujung pedang mereka dapat menyentuh tubuh pengeran itu yang hanya berloncatan ke sana-sini sambil tersenyum girang seperti seekor harimau mempermainkan dua ekor kelinci sebelum diterkamnya!
"Ha-ha-ha, cukuplah, kalian benar-benar mempunyai semangat berkobar-kobar, kelak akan menjadi kekasih yang menyenangkan sekali!"
Kata pangeran itu.
Akan tetapi ucapan ini bahkan makin mengobarkan api kemarahan di hati sepasang dara kembar itu, dan sambil berseru nyaring mereka menusukkan pedang mereka ke arah dada pangeran itu dengan kekuatan sepenuhnya.
Tiba-tiba dua tangan pangeran itu bergerak mendahului.
"Tuk! Tukk!"
Jari tangan kanan kiri telah berhasil menotok pundak kiri dua orang dara itu dan di lain saat dia sudah menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang sehingga Lan Lan dan Lin Lin tidak mampu berkutik lagi.
Ketika mereka hendak menggerakkan tangan kiri, ternyata lengan kiri mereka sudah lumpuh tertotok, dan pada saat itu, sambil tersenyum Han Houw lalu melangkah maju dan mencium pipi dua orang dara kembar itu bergantian.
Lan Lan dan Lin Lin hanya mampu menarik muka mereka untuk mengelak, akan tetapi tetap saja pipi mereka kena dicium!
"Lepaskan mereka!"
Siong Bu meloncat ke depan diikuti oleh Beng Sin.
"Siong Bu! Beng Sin, jangan lancang. Mundur kalian!"
Bentak Kui Hok Boan yang masih berlutut dan dua orang muda itu kembali menahan kemarahan mereka dan tidak jadi bergerak, mundur kembali.
Sementara itu, Han Houw sudah menepuk pundak kanan Lan Lan dan Lin Lin.
Dua orang dara itu mengeluh lirih dan roboh dengan tubuh lemas!
"Ha-ha-ha, menyenangkan sekali!
Eh, orang she Kui, aku mengampunkan engkau, akan tetapi engkau harus berjanji bahwa setahun lagi engkau akan menyerahkan dua orang puterimu ini kepadaku.
Antarkan saja ke istana, cari aku, Pangeran Ceng Han Houw.
Mengertikah engkau?"
Kui Hok Boan yang masih berlutut itu mengangguk-angguk.
"Hamba mengerti dan hamba menghaturkan terima kasih atas anugerah ini, pangeran!"
Dan memang orang she Kui itu girang bukan main.
Kalau dua orang puterinya menjadi isteri pangeran, tentu saja derajatnya akan naik tinggi sekali!
"Suci, hayo kita cepat mengejar Sin Liong!"
Han Houw berkata dan sekali berkelebat, dia lenyap dari situ.
Kim Hong Liu-nio mendengus ke arah Kui Hok Boan, lalu berkelebat pula dan lenyap!
Kui Hok Boan, Siong Bu dan Beng Sin melongo keheranan dan bergidik melihat kelihaian dua orang yang seperti iblis itu.Kui Hok Boan lalu menghampiri dua orang puterinya dan membebaskan totokan atas diri mereka.
Setelah dua orang puterinya itu bangkit berdiri, Kui Hok Boan mengelus jenggotnya memandang kepada mereka.
"Baik sekali nasib kita, terutama sekali nasibmu, Lan dan Lin, kalian menjadi tunangan seorang pangeran"
Lan Lan dan Lin Lin memandang kepada ayah mereka dengan mata terbelalak, seolah-olah ditampar karena mereka sungguh tidak mengerti mengapa ayahnya bersikap serendah itu.
Mereka mengeluh dan berlari memasuki rumah sambil menangis!
Kui Hok Boan mengira bahwa mereka itu seperti biasanya anak-anak perawan kalau mendengar tentang perjodohan mereka, merasa malu dan menangis, maka dia mengikuti mereka dengan suara ketawa puas.
"Paman, sebaiknya paman membawa Lan-moi dan Lin-moi dan cepat pergi dari sini!"
Tiba-tiba Kwan Siong Bu berkata. Kui Hok Boan menghentikan tawanya dan memandang heran.
"Eh, kenapa?"
"Bu-ko benar, paman. Sebelum mereka itu datang lagi, sebaiknya paman dan kedua adik sudah pergi dari sini dan Lan-moi berdua Lin-moi tidak akan menjadi korban!"
"Eh, eh, apakah kalian sudah menjadi gila? Lan Lan dan Lin Lin akan menjadi isteri atau setidaknya selir-selir pangeran! Itu merupakan suatu kehormatan besar! Mereka akan hidup mulia dan mewah di dalam istana, dan aku... aku akan disebut mertua pangeran. Ha-ha-ha, siapa kira kemuliaan akan kudapatkan melalui kedua anak kembarku itu!"
Siong Bu dan Beng Sin saling pandang dan muka mereka menjadi pucat.
"Akan tetapi, paman! Lan-moi dan Lin-moi akan menjadi permainan pangeran keparat itu!"
Siong Bu berseru.
"Dan mereka berdua tidak sudi menjadi permainan pangeran itu!"
Sambung Beng Sin. Kui Hok Boan memandang kepada mereka berdua dengan alis berkerut.
"Hal ini bukan urusan kalian dan kalian tidak usah mencampuri! Dan lain kali, tanpa perintahku, kalian tidak boleh lancang hendak turun tangan. Apa kalian kira kalian akan dapat menang melawan pangeran dan sucinya itu? Mereka adalah orang-orang sakti, selain sakti juga ber-kedudukan tinggi di istana! Menjadi musuh pangeran jelas celaka, sama dengan bunuh diri. Akan tetapi menjadi mertuanya, hemmm, bahkan kalian sendiri akan ikut terangkat derajat kalian! Pergilah!"
Dua orang pemuda itu dengan wajah pucat lalu pergi meninggalkan Kui Hok Boan yang masih berseri-seri membayangkan betapa bahaya maut yang baru saja mengancam dia sekeluarga berubah menjadi berkah yang sama sekali tak pernah dimimpikannya!
Menjadi mertua pangeran!
Bayangkan saja!
Akan tetapi, bayangan-bayangan muluk dari Kui Hok Boan ini pada keesokan harinya berubah menjadi kebingungan dan kemarahan ketika melihat dua orang puterinya tidak berada di dalam kamar mereka.
Kamar itu telah kosong dan dua orang puterinya telah lolos dan pergi meninggalkan rumah sambil membawa beberapa potong pakaian dan uang bekal, Tanpa meninggalkan surat atau jejak.
Lan Lan dan Lin Lin telah lolos dan pergi dari rumah itu karena mereka merasa muak dengan sikap ayah mereka, dan terutama sekali karena mereka tidak sudi diserahkan oleh ayahnya kepada pangeran itu!
Mereka berdua mengambil keputusan untuk minggat dan mencari Sin Liong karena daripada ikut ayah mereka yang berwatak pengecut, pengkhianat dan penjilat itu, mereka lebih suka ikut merantau bersama kakak tiri mereka!
Tentu saja Kui Hok Boan menjadi bingung dan panik seperti kebakaran jenggot!
Bukan saja dia kehilangan dua orang puteri yang dicintanya, akan tetapi juga kehilangan bayangan muluk itu, dan terutama sekali dia akan terancam bahaya dari pihak pangeran itu dan sucinya kalau sampai dia tidak dapat menemukan kembali dua orang puteri mereka.
"Siong Bu! Beng Sin! Apa kerja kalian ini sampai tidak tahu mereka itu melarikan diri? Hayo kalian pergi cari mereka sampai dapat! Dan jangan pulang kalau belum berhasil menemukan mereka!"
Bentaknya dengan marah kepada dua orang pemuda itu.
Kwan Siong Bu dan Tee Beng Sin lalu membawa senjata dan pakaian, berangkat mencari dua dara kembar itu dan agar lebih cepat bisa berhasil, mereka berpencar, Siong Bu mengejar ke barat dan Beng Sin mengejar ke timur.
Tinggal Kui Hok Boan seorang diri dan dia duduk termenung di depan rumah, wajahnya muram membayangkan kedukaan, kekecewaan dan kekhawatiran.
Setiap keinginan untuk menyenangkan diri sendiri SELALU mendatangkan pertentangan, kebencian dan kesengsaraan!
Keinginan untuk menyenangkan diri sendiri ini dapat saja berselubung dengan pakaian atau istilah yang lebih tinggi, lebih halus atau lebih mulia, seperti "demi kebahagiaan anak", demi kemajuan golongan, demi partai, demi agama, atau demi bangsa.
Padahal, semua itu hanya berintikan "demi aku"
Yang berarti pengejaran keinginan untuk senang pribadi itulah!Di mana terdapat pamrih menyenangkan diri sendiri, di situ sudah pasti TIDAK ADA cinta kasih!
Pamrih menyenangkan diri pribadi meniadakan cinta kasih, karena demi untuk mencapai kesenangan itu segala sesuatu adalah benar atau salah disesuaikan dengan tujuan mencapai kesenangan itu.
Dan siapapun juga orangnya, yang menjadi perintang untuk mencapai kesenangan bagi diri sendiri, sudah pasti akan ditentang, dibenci dan dimusuhi.
Maka terjadilah pertentangan, permusuhan, kebencian, yang semua itu merupakan pintu-pintu yang lebar menuju jurang kesengsaraan.
Seperti juga Kui Hok Boan dalam menghadapi perkara itu.
Bisa saja dia mengemukakan alasan bahwa kalau sampai kedua orang puterinya menjadi isteri atau selir pangeran, tentu dua orang puterinya itu akan berbahagia hidupnya.
Seolah-olah kebahagiaan kedua orang puterinya itu dialah yang menentukan!
Dan kalau dua orang puterinya itu menentang, dia lalu menjadi marah, benci, duka, kecewa!
Inikah yang dinamakan cinta kasih orang tua terhadap anaknya?
Betapa banyaknya orang tua yang baik disadarinya maupun tidak, bertindak seperti Kui Hok Boan ini, dan toh masih merasa benar selalu.
Benarnya sendiri!
Orang tua seperti ini selalu menganggap bahwa dia LEBIH MENGERTI, lebih berpengalaman, lebih ini dan itu sehingga dia berhak menentukan jalan hidup anaknya menurut dia, tentu akan berbahagia!
Semua diaturnya, dengan alasan demi anaknya demi kebahagiaan anaknya, akan tetapi kalau si anak menolak dia menjadi marah dan membenci anaknya!
Inikah cinta kasih?
Yang setiap saat berubah menjadi benci kalau keinginannya dibantah?
Betapa bodohnya, betapa butanya!
Bukankah orang yang mencinta akan merasa ikut bahagia kalau melihat orang yang dicintanya itu berbahagia dan ikut berduka kalau melihat orang yang dicintanya itu sengsara?
Cinta yang menuntut kesenangan untuk diri pribadi sama sekali bukan cinta, melainkan nafsu memuaskan diri sendiri belaka.
Orang bisa saja, dan semua ini adalah lihainya sang pikiran, lihainya si aku, menyelubungi pula si aku yang ingin senang sendiri itu dengan istilah yang muluk-muluk, seperti pengorbanan.
Cinta adalah pengorbanan, katanya.
Padahal, orang yang merasa bahwa dia telah berkorban diri demi cinta juga menginginkan kesenangan melalui pengorbanan itulah, yang menimbulkan bangga diri merasa suci, dan sebagainya lagi yang tak lain tak bukan juga merupakan kesenangan, yang dikejar.
Dan semua bentuk kesenangan, yang kasar, yang halus, yang rendah, yang tinggi, selalu pasti dibayangi oleh kekecewaan, kebosanan dan kedukaan.
Orang tua yang bijaksana tidak akan mengekang anaknya, tidak akan menekan anaknya, tidak akan mempergunakan anaknya untuk menyenangkan diri sendiri, membanggakan diri sendiri, tidak akan memperalat si anak untuk mendatangkan kepuasan, kebanggaan, atau kesenangan bagi diri sendiri.
Tidak mengekang, bukanlah berarti acuh tak acuh, bukan berarti tidak perduli kepada si anak.
Sebaliknya malah.
Cinta kasih selalu diikuti perhatian yang menyeluruh!
Perhatian terhadap si anak, bukan terhadap keinginan diri sendiri!
Kalau ada keinginan di sini, satu-satunya keinginan hanyalah melihat anaknya menjadi seorang manusia yang bahagia, benar dan bajik, di samping pelajaran-pelajaran yang menjadi syarat dalam kehidupan di dunia ramai.
Sungguh patut disayangkan betapa hampir saja sebagian orang tua hanya ingin melihat anaknya menjadi orang yang berhasil, dalam arti kata menjadi kaya raya, berkedudukan tinggi, dihormati, tidak kalah oleh orang-orang lain, dan sebagainya lagi.
Padahal, jelas nampak bahwa kebahagiaan bukan terletak dalam kesemuanya itu.
"Eh, di manakah aku...?"
Bi Cu membuka matanya dan ketika dia melihat bahwa dirinya berada dalam pondongan Sin Liong, dia cepat meronta.
Sin Liong melepaskannya dan mereka berdiri saling pandang.
Malam telah berganti pagi biarpun sang matahari sendiri masih belum nampak cahayanya telah menciptakan sinar kuning keemasan yang cerah di permukaan bumi.
"Di mana kita...? Dan kenapa kau memondongku ke tempat ini, Sin Liong?"
Kalimat terakhir ini diucapkan dengan nada menegur dan pandang matanya penuh tuntutan.
"Ah, engkau tidak tahu, Bi Cu. Semalam suntuk aku terpaksa berlari-lari memondongmu sampai ke sini, dikejar-kejar orang!"
Sin Liong pura-pura mengomel dan memijit-mijit lengan kirinya yang memondong tadi.
"Semalam suntuk dikejar-kejar orang? Dan aku terus kau pondong? Aih, sungguh luar biasa sekali! Kenapa aku tidak terbangun? Padahal, biasanya biarpun aku sedang tidur nyenyak sekali, sedikit suara nyaring saja cukup membangunkan aku, apalagi sampai dipondong dan dibawa lari semalam suntuk! Aneh sekali!"
Dara remaja itu memijit-mijit pelipisnya.
"Dan aku masih merasa pening..."
"Tidak aneh karena engkau telah menjadi korban minuman yang mengandung obat bius."
"Aku? Dibius? Ah, Sin Liong, apakah yang telah terjadi? Bukankah kita tadinya menjadi tamu dari ayah tirimu... ah, kini ingat aku! Apakah kau maksudkan arak itu mengandung obat bius?"
Sepasang mata itu terbelalak dan bersinar-sinar demikian tajamnya seolah-olah dapat menembus dada Sin Liong.Sin Liong menarik napas panjang, teringat akan pengkhianatan Kui Hok Boan dan juga pertolongan kedua orang adik tirinya.
Sepanjang malam ketika dia melarikan diri, dua hal ini selalu terbayang dalam ingatannya, membuat dia terheran-heran dan bingung.
Ayah tirinya mengkhianatinya, akan tetapi puteri-puteri ayah tirinya itu demikian baik kepadanya.
Tidak tahu dia apakah hal itu akan membuat dia menangis atau tertawa!
"Bi Cu, dugaanmu benar.
Arak yang disuguhkan kepada kita itu mengandung obat bius, maka setelah minum beberapa cawan engkau lalu terbius dan tidur nyenyak semalam suntuk sehingga engkau bahkan tidak merasa bahwa engkau kubawa lari sepanjang malam."
"Akan tetapi... engkau sendiri kulihat juga minum arak itu, kenapa engkau tidak terbius?"
Gadis ini terlampau cerdas, kalau dia tidak berhati-hati, mana dia dapat menyembunyikan kepandaiannya?
Matanya terlalu awas, otaknya terlalu tajam!
"Ah, akupun tadinya sudah terbius dan sudah merasa pening ketika kita bersama menuju ke kamar kita masing-masing, akan tetapi belum kuceritakan kepadamu bahwa dalam perantauanku, aku pernah bekerja kepada toko obat sehingga aku tahu gejalanya ketika itu.
Karena pening itu aku dapat menduga bahwa aku minum obat bius, maka, aku cepat menelan pel penawar racun yang kebetulan hanya tinggal sebuah dan selama itu kusimpan dalam saku baju.
Pel itu menawar racun obat bius itu sehingga aku tidak sampai tidur nyenyak seperti engkau, Bi Cu."
"Ah, engkau licik akan tetapi ceroboh, Sin Liong. Semestinya dalam keadaan seperti itu, engkau memberikan obat itu kepadaku sehingga bukan aku yang terbius, melainkan engkau."
"Eh? Kenapa begitu?"
"Kalau engkau yang terbius dan aku masih sadar, bukankah aku dapat melindungimu kalau ada bahaya mengancam? Dalam keadaan seperti itu yang lebih kuat berkewajiban menghadapi bahaya yang mengancam."
Sin Liong tersenyum.
"Baiklah, lain kali akan kuingat kata-katamu itu, Bi Cu."
"Sudahlah, buktinya engkau juga dapat menyelamatkan diri kita, hanya kasihan, engkau harus memondongku semalam suntuk, tentu pegal-pegal rasa lenganmu."
Sin Liong memijit-mijit lengannya.
"Seperti hampir patah rasanya!"
Akan tetapi sekarang teringat olehnya betapa hangat dan lunak tubuh yang dipondongnya semalam itu, biarpun ketika melarikan diri dia tidak ingat sama sekali akan hal itu, dan baru sekarang dia teringat yang membuat jantungnya berdebar aneh.
"Akan tetapi... mengapa ayah tirimu itu membius kita, Sin Liong? Padahal dia begitu baik dan ramah..."
Bi Cu tiba-tiba menahan kata-katanya karena teringat kini betapa sinar mata tuan rumah itu amat kurang ajar seperti hendak menelanjanginya, sinar mata yang seperti dapat dia rasakan menjelajahi tubuhnya, sinar mata cabul!
Kembali Sin Liong menarik napas panjang.
Inilah bagian-bagian yang paling sulit dalam pertanyaan-pertanyaan Bi Cu, dan dia tidak boleh berbohong.
"Bi Cu, Kui Hok Boan itu hendak menangkap kita, hendak menyerahkan kita kepada pasukan pemerintah, bahkan dia telah mengirim surat kepada seorang perwira di kota raja, memberitahukan tentang adanya kita di rumahnya."
"Ah, sungguh jahat!"
Teriak Bi Cu.
"Sungguh sikap manisnya itu hanya sebagai topeng domba di balik muka srigala! Akan tetapi... bagaimana engkau bisa tahu akan pengkhianatannya itu dan dapat melarikan diri, bahkan membawa aku yang masih terbius nyenyak?"
Gadis itu memandang penuh perhatian kepada wajah Sin Liong, seperti hendak menyelidiki keadaan pemuda itu.
"Kalau tidak ada Lan-moi dan Lin-moi, tentu sekarang kita sudah tertawan pasukan kerajaan, Bi Cu. Semalam, tanpa diketahui orang, Lin-moi memasuki kamarku lewat jendela dan dia menceritakan semuanya. Dia bersama Lan-moi disuruh mengantarkan surat oleh ayah mereka kepada seorang perwira di kota raja. Karena curiga mereka berdua membuka surat itu di tengah jalan dan tahulah mereka bahwa surat itu berisi pemberitahuan bahwa kita berada di rumah mereka. Karena tidak berani membangkang, Lan-moi melanjutkan perjalanan ke kota raja, akan tetapi surat itu pagi hari ini baru akan diserahkan, sedangkan Lin-moi bertugas pulang untuk memberi tahu kepada kita. Nah, mendengar penuturan Lin-moi, aku lalu memasuki kamarmu lewat jendela dan membawamu kabur dari sana, dibantu oleh Lin-moi yang memancing perhatian para penjaga sehingga mudah bagiku untuk berlari keluar."
"Hebat sekali! Adik-adik tirimu itu benar manis dan gagah, Sin Liong, aku makin suka kepada mereka! Sungguh aneh, ayah tirimu itu demikian curang, akan tetapi sebaliknya anak-anaknya demikian baik. Bagaimana ini?"
Sin Liong menggeleng kepala.
"Aku sendiripun tidak mengerti, semalam suntuk dua hal yang berlawanan itu menghantui pikiranku."
"Aihh, aku tahu! Tentu saja begitu..."
Tiba-tiba Bi Cu berseru dan wajahnya berseri, sikapnya seperti orang yang baru saja dapat memecahkan suatu teka-teki yang sulit.
"Apa yang kau tahu? Bagaimana?"
"Tentu saja! Ayah tirimu itu seorang yang curang dan khianat, pendeknya seorang yang jahat! Akan tetapi Lan Lan dan Lin Lin tidak menuruti watak ayah mereka, melainkan mewarisi watak gagah dan baik dari mendiang ibumu! Tentu saja begitu, maka mereka demikian baik."
Sin Liong mengangguk-angguk, dan dia dapat percaya pendapat ini, juga hatinya girang karena ucapan Bi Cu itu sekaligus memuji-muji ibunya yang dikatakannya gagah dan baik, padahal Bi Cu belum pernah bertemu dengan ibunya.
"Sin Liong, marilah kita kembali ke sana. Aku harus menghajar ayah tirimu yang curang dan jahat itu!"
Tiba-tiba Bi Cu berkata sambil mengepal tinjunya.
Diam-diam Sin Liong tersenyum dalam hati melihat lagak ini.
Dia tahu bahwa kepandalan Bi Cu masih jauh untuk dapat menandingi kepandaian ayah tirinya.
"Mana mungkin itu, Bi Cu? Sekarangpun agaknya sudah ada pasukan yang menuju ke dusun itu, bahkan setelah menerima penjelasan, tentu akan mengejar kita ke sini."
"Ohh! Kalau begitu, bagaimana baiknya? Di mana kita ini sekarang, dan hendak pergi ke mana?"
"Aku sengaja mengambil jalan pegunungan yang penuh hutan liar ini, Bi Cu. Aku lari menuju ke barat dan setelah tiba di sini, kita menyusuri pegunungan ini membelok ke utara. Kita pergi ke Lembah Naga dan ke tempat tinggal mendiang ayahmu untuk menyelidiki kematian ayahmu, tanpa melewati kota raja."
"Baik, dan aku berterima kasih kepadamu, Sin Liong,"
Bi Cu memegang lengan pemuda itu.
"Percayalah, kalau ada kesempatan, aku akan membalas pertolonganmu itu, dan aku tidak akan ogah untuk menggendongmu semalam suntuk!"
"Wah, kalau bisa jangan terjadi hal itu. Aku tentu akan ditertawakan orang, sebagai seorang laki-laki digendong seorang wanita."
Sin Liong menjawab.
"Mari kita melanjutkan perjalanan. Di depan itu ada hutan besar, kita memasuki hutan dan mencari sesuatu yang dapat dimakan."
Demikianlah, pemuda dan pemudi remaja ini melanjutkan perjalanan mereka, masuk keluar hutan, naik turun gunung dan jurang-jurang karena mereka melalui jalan liar yang sama sekali tidak mereka kenal.
Penunjuk jalan mereka hanyalah matahari.
Mereka tahu arah utara, yaitu jika pagi hari matahari berada di sebelah kanan mereka dan pada sore hari matahari berada di sebelah kiri mereka.
Kadang-kadang mereka melewati dusun pegunungan dan di setiap dusun mereka diterima dengan ramah dan baik oleh para penghuni dusun yang rata-rata berwatak polos, jujur dan penuh perikemanusiaan itu.
Akan tetapi, Sin Liong dan Bi Cu yang masih hijau dan belum berpengalaman dalam taktik sebagai buronan itu tidak tahu bahwa justeru di dusun-dusun inilah mereka meninggalkanjejak yang jelas sekali!
Para pemburu mereka tentu akan dapat mencari keterangan tentang mereka di dusun-dusun ini, dan tentu para penghuni dusun yang jujur itu akan menceritakan kepada siapapun juga tentang mereka berdua!
Setelah melakukan perjalanan beberapa hari lamanya, mereka telah melewati batas Propinsi Ho-pei dan Shen-si, melalui kaki Pegunungan Tai-hang-san.
Pada hari itu, pagi-pagi sekali mereka telah tiba di depan sebatang sungai yang besar dan karena, pada waktu itu banyak turun hujan, maka air sungai meluap dan membanjir!
Tidak nampak sebuahpun perahu di sekitar tempat itu dan dua orang muda itu berdiri di tepi pantai dengan bimbang ragu dan bingung.
"Wah, mengapa sungai ini menghalangi perjalanan kita?"
Bi Cu mengomel dan bersungut-sungut.
"Aih, Bi Cu, engkau sungguh tidak adil kalau menyalahkan sungai ini. Sudah beratus tahun, mungkin ribuan tahun lamanya, sungai ini tentu sudah ada di sini dan mengalir tiada hentinya. Dan hari ini, kita yang, muncul di sini. Mengapa kau menyalahkan dia yang tidak berdosa? Lebih tepat menyalahkan kita yang mengambil jalan sampai di sini."
Bi Cu makin cemberut.
"Menyalahkan sungai tidak benar, menyalahkan diri sendiripun apa gunanya? Sekarang ini bagaimana? Menyeberang sungai ini tanpa perahu, sungguh tidak mungkin!"
"Heran mengapa ada perahu di sini?"
Sin Liong menoleh ke kanan kiri.
"Tidak heran! Sungai banjir begini, tentu para nelayan sudah pergi. Mau apa berperahu di tempat berbahaya begini? Ikan-ikanpun tentu pada sembunyi, dan tidak ada pelancong yang begitu gila untuk menyeberang. Tentu perahu-perahu itu telah ditarik ke darat oleh para nelayan agar jangan diseret pergi oleh air bah."
"Wah-wah, agaknya engkau mengerti betul tentang kehidupan nelayan."
"Tentu saja! Suhu pernah mengajakku hidup beberapa bulan di perkampungan nelayan dan aku malah pernah membantu mereka mencari ikan."
"Kalau begitu engkau tentu pandai berenang?"
"Tentu saja!"
"Wah, engkau ini gadis si segala bisa!"
"Apa engkau tidak pandai berenang, Sin Liong?"
Tentu saja Sin Liong dapat berenang dengan baik, karena ketika dia hidup secara liar di dalam hutanpun dia sudah sering kali mandi di telaga kecil dalam hutan yang cukup dalam.
Akan tetapi dia menggeleng kepala dan merenungi sungai itu, seperti hendak mengukur dan menaksir dengan pandang matanya apakah mungkin menyeberangi sungai lebar yang sedang banjir itu dengan cara berenang.
"Bi Cu, apakah engkau dapat berenang menyeberangi sungai ini?"
"Hanya orang gila yang akan berenang menyeberangi sungai banjir seperti ini! Dia tentu akan hanyut dan tewas. Tidak, kurasa aku tidak akan mampu menyeberanginya, Sin Liong. Lebih baik kita mencari perahu. Kalau kita menyusuri tepi sungai, tentu akhirnya kita akan bertemu orang yang mempunyai perahu."
Sin Liong setuju dan mereka berdua lalu berjalan mengikuti aliran sungai yang menuju ke timur itu.
Setelah matahari naik tinggi, mereka tiba di sebuah perkampungan nelayan dan benar seperti diduga oleh Bi Cu tadi, perahu-perahu nelayan itu mereka ungsikan sampai jauh ke daratan agar jangan terseret oleh banjir, dan setiap perahu dicancang pada sebatang pohon.
Giranglah hati mereka berdua melihat ini dan dengan wajah berseri mereka berlari-lari menghampiri sebuah rumah yang berada di barisan pertama.
Sin Liong menghampiri daun rumah dan mengetuknya.
Ketukan itu seperti aba-aba saja karena serentak muncullah banyak orang dengan pakaian seragam.
Pasukan tentara kerajaan!
Melihat ini, Bi Cu mengeluarkan jerit tertahan.
"Ha, inilah mereka, buronan-buronan itu!"
Teriak seorang anggauta pasukan.
"Tangkap mereka!"
Bentak seorang perwira.
"Bi Cu, lari...!"
Sin Liong berseru, menggandeng tangan gadis itu dan melarikan diri menjauhi dusun.Hanya sebentar saja Bi Cu menjadi gugup.
Dia lalu teringat bahwa dialah yang lebih kuat daripada Sin Liong, maka dialah yang sepatutnya memimpin untuk menyelamatkan diri mereka berdua.
"Lekas... ke sungai...! Tak mungkin lari...!"
Katanya dan memang kini terdengar derap kaki kuda yang ditunggangi para anggauta pasukan itu.
Kini Bi Cu yang berbalik menarik tangan Sin Liong diajak lari menuju ke sungai.
Setelah tiba di tepi sungai Sin Liong berkata.
"Tapi... tapi... mana mungkin kita berenang di air yang deras itu...?"
"Kita terpaksa, hanya jalan satu-satunya. Lihat, mereka sudah dekat! Hayo cepat!"
Bi Cu menarik tangan Sin Liong dan keduanya terjun ke dalam air sungai!
Gelagapan juga Sin Liong ketika terseret arus air yang amat kuat.
Bi Cu menggerakkan kaki tangan melawan arus dan berusaha menarik pundak baju Sin Liong.
Akan tetapi pada saat itu, beberapa orang tentara telah meloncat turun dari atas punggung kuda mereka, memegang busur dan anak panah, lalu mereka menyerang dua orang yang melarikan diri itu dengan anak panah.Melihat ini, Sin Liong cepat menggerakkan tangan dan kaki untuk menangkis dan setiap anak panah yang menyambar tepat ke arah mereka, dapat diruntuhkannya dengan gerakan ini.
Akan tetapi, gerakannya itu membuat Bi Cu menjadi sibuk.
Dara ini tidak melihat adanya serangan itu karena dia sibuk melawan arus.
"Ah... eh... jangan meronta-ronta... kau menurut sajalah kutarik... aku akan menyelamatkanmu, Sin Liong...!"
Kata Bi Cu sambil terengah-engah dan menarik Sin Liong makin ke tengah.
Arus air sungai itu makin deras dan kuat bukan main.
Sin Liong merasakan hal ini dan dia terkejut bukan main.
Bahaya di air ini ternyata lebih besar daripada bahaya yang menanti di darat.
Kenapa dia tadi menurut saja ketika ditarik oleh Bi Cu?
Kenapa dia masih bersikeras untuk menyembunyikan kepandaiannya?
Kalau dia tadi berada di darat, dia masih mampu memanggul Bi Cu melarikan diri dan serangan-serangan anak panah itu tidak ada artinya baginya.
Namun, kini telah terlanjur dan dia harus melawan arus air yang amat kuat itu.
"Menyelamlah... kita menyelam... itu mereka membawa anak panah...!"
Baru sekarang Bi Cu melihat pasukan anak panah itu berjajar di tepi sungai.
Bi Cu berusaha untuk menarik Sin Liong menyelam, (Lanjut ke
Jilid 34) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 34 dan Sin Liong tetap meronta untuk menangkisi anak panah yang menyambar-nyambar.
Rontaannya ini membuat Bi Cu kewalahan dan akhirnya mereka terseret oleh arus air yang kuat, bergulingan dan gelagapan!
Sin Liong timbul kembali dan melihat seorang pemuda berpakaian mewah di pantai.
Agaknya pemuda itu mencegah pasukan anak panah melakukan serangan, karena pemuda itu bukan lain adalah Ceng Han Houw dan tak jauh dari pemuda itu berdiri Kim Hong Liu-nio!
"Sin Liong...
ah...
hauppp...!"
Bi Cu meraih-raih dan akhirnya mereka dapat saling berpegangan.
"Jangan pergunakan anak panah! Tangkap mereka hidup-hidup!"
Terdengar Han Houw berseru. Kemudian dia berteriak pula.
"Liong-te, mengapa membunuh diri? Aku akan menolongmu, jangan khawatir, tidak akan ada yang mengganggumu. Kau tangkaplah tali ini!"
Han Houw melontarkan sehelai tali panjang dan tali itu meluncur cepat sekali, ujungnya terjatuh di dekat Sin Liong.
"Tidak... jangan pegang... mereka akan membunuhmu...!"
Bi Cu membantah dan merangkul Sin Liong, mencegah pemuda itu memegang ujung tali.
Karena ini, ujung tali itu terbawa hanyut oleh air sehingga terpaksa Han Houw menariknya kembali, menggulungnya dan kembali dia memutar-mutar tali di atas kepalanya "Liong-te, kau tangkap ujung tali, jangan khawatir, aku akan melindungimu!"
Tali itu dilemparkan dengan amat kuatnya dan kini tepat mengenai tubuh Sin Liong yang cepat menangkapnya.
"Jangan, Sin Liong...!"
"Tidak apa-apa, Bi Cu. Dia itu kakak angkatku, lebih baik kita di darat daripada mati konyol di air. Di darat, setidaknya kita dapat membela diri."
Lalu ditambahnya sambil tersenyum, sengaja memanaskan hati gadis yang wataknya keras ini.
"Apakah engkau takut menghadapi mereka di darat?"
"Aku? Takut?"
Bi Cu membentak.
"Hayo kita mendarat!"
Sin Liong saling berpegang tangan dengan Bi Cu, dan tangannya yang sebelah lagi memegangi ujung tali yang dia libatkan pada lengannya.
Tali itu kini ditarik oleh Han Houw ke pinggir.
Akan tetapi saking derasnya air, dua orang muda itu masih terbanting-banting dan terguling-guling.
Setelah mereka tiba dalam jarak tiga meter dari tepi sungai, tiba-tiba Han Houw mengeluarkan seruan keras dan membetot tali itu sekuat tenaga.
Karena tali itu melibat lengan Sin Liong, maka pemuda ini tertarik dan melayang ke atas bersama Bi Cu yang saling berpegang tangan dengan dia!
Sin Liong berjungkir balik ketika turun ke atas tanah, akan tetapi dia melihat betapa Bi Cu sudah ditolong oleh Han Houw yang dengan cekatan tadi telah menyambut tubuh dara itu dengan tangkas.
Sin Liong merasa bersyukur, akan tetapi betapa kaget hatinya ketika dia melihat Han Houw menangkap kedua lengan dara itu dan ditelikungnya ke belakang.
"Houw-ko... apa yang kau lakukan itu...?"
Bentaknya.
Para anggauta pasukan segera mengurungnya dengan senjata ditodongkan, akan tetapi Han Houw membentak mereka, menyuruh mereka itu mundur.
Kim Hong Liu-nio hanya memandang dengan senyum dingin, agaknya wanita ini membiarkan saja segala yang dilakukan oleh sutenya yang juga merupakan junjungannya.
"Pangeran, sebaiknya kita bunuh saja bocah keparat ini!"
Katanya perlahan sambil memandang kepada Sin Liong.
Semenjak Han Houw menjadi pangeran dalam istana Kerajaan Beng, suci ini menyebut pangeran terutama sekali di tempat umum.
Sambil tersenyum Han Houw menoleh kepada perempuan cantik itu.
"Eh, suci, apa kau lupa bahwa dia itu adik angkatku yang tercinta? Siapa yang berani membunuhnya akan berhadapan dengan aku sendiri! Bukankah begitu, Liong-te? Bukankah kita telah bersumpah sebagai kakak beradik?"
"Memang benar, Houw-ko, akan tetapi sikapmu ini sungguh tidak dapat dinamakan sikap seorang kakak angkat yang baik. Hayo kau lepaskan Bi Cu."
"Nona ini? Ha-ha, dia ini cantik dan gagah pula, pantas kalau engkau jatuh cinta padanya, Liong-te..."
"Jangan bicara yang tidak-tidak!"
Sin Liong cepat memotong dan wajahnya berubah merah sekali, sedangkan Bi Cu meronta-ronta hendak melepaskan kedua tangannya, akan tetapi tangan yang memegang kedua pergelangan tangannya itu terlalu kuat baginya.
"Ha-ha, engkau masih seperti dulu, Liong-te, kokoh kuat seperti batu karang, dingin beku seperti es di musim salju. Akan tetapi sekali api cinta membakar hatimu, engkau akan berkobar seperti lautan api. Ha-ha-ha! Liong-te, aku terpaksa menawan dia ini agar engkau tidak melakukan kenekatan yang bukan-bukan. Kalau engkau menyerah baik-baik, aku tidak akan mengganggu dia ini."
Sin Liong mengerutkan alisnya.
Dia memang suka kepada Han Houw dan dia percaya kepada pangeran ini, akan tetapi dia juga tahu bahwa pangeran ini mempunyai watak aneh luar biasa dan kalau sudah hendak membunuh orang, agaknya sama seperti kalau membunuh ayam saja.
"Kau berjanji akan membebaskan dia?"
"Aku berjanji, asal engkau menyerah dan engkau penuhi pula permintaanku yang patut."
"Permintaanmu yang patut?"
Sin Liong tersenyum mengejek.
"Benar-benar patut dan sudah semestinya. Akan kukatakan kepadamu nanti, akan tetapi agar tetap aman, engkau menyerah. Suci, totok dia dan Sin Liong, kalau engkau melawan, nona ini akan kubunuh lebih dulu!"
Kim Hong Liu-nio tersenyum mengejek.
"Merobohkan setan cilik ini apa sukarnya, pangeran?"
Setelah berkata demikian, wanita itu menghampiri Sin Liong dan tangan kirinya bergerak cepat sekali.
Kalau Sin Liong mau, tentu saja dia akan dapat mengelak atau menangkis, akan tetapi dia melihat sinar mata dari Han Houw dan dia tidak berani berkutik.
Dia tahu betul bahwa sekali dia melawan, sekali pukul saja Han Houw akan mampu membunuh Bi Cu!
Maka dia menyimpan tenaganya dan membiarkan dirinya ditotok.
Begitu jari tangan Kim Hong Liu-nio mengenai tubuhnya, robohlah Sin Liong dalam keadaan lumpuh, tidak mampu menggerakkan kaki tangannya.
"Ha-ha-ha, mari kita bicara baik-baik dalam rumah, Liong-te. Ringkus dia dan belenggu baik-baik, juga nona ini!"
Tiba-tiba Bi Cu merasa pundaknya ditekan dan diapun mengeluh lirih, lalu terguling dan lumpuh karena dia telah ditotok pula oleh Han Houw.
Para perajurit cepat mengikat kedua kaki tangan Sin Liong dan Bi Cu, mengikat kedua tangan ke belakang tubuh, kemudian beramai-ramai mereka menggotong dua orang tawanan itu memasuki sebuah rumah yang paling besar di antara rumah-rumah nelayan itu, karena ini adalah rumah kepala dusun itu.
Atas perintah Han Houw, Bi Cu yang dibelenggu kaki tangannya itu dibawa ke dalam sebuah kamar dan direbahkan ke atas pembaringan, sedangkan Sin Liong didudukkan di atas sebuah bangku ruangan luar, di mana terdapat sebuah meja dan Han Houw duduk di atas kursi di belakang meja itu dengan lagak seorang hakim yang hendak mengadili seorang pesakitan.
Pangeran ini lalu melepaskan topinya karena hawa dalam rumah itu agak panas, Bahkan melepaskan baju bulunya dan memakai pakaiah biasa dari sutera tipis sehingga dia nampak lebih tampan.
Sambil tersenyum dia lalu memandang kepada Sin Liong dan memberi isyarat dengan tangan agar para pengawal yang menjaga di ruangan itu pergi semua.
Tanpa diminta, Kim Hong Liu-nio yang tadinya duduk pula di sudut, mengangkat pundak dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Wanita ini maklum pula bahwa sang sute yang menjadi junjungannya itu ingin bicara berdua saja dengan tawanannya, maka sebelum sute itu minta dia pergi, dia telah mendahuluinya meninggalkan ruangan.
Biarpun Ceng Han Houw seorang pangeran yang sudah sepantasnya memerintah dia, namun dia selalu merasa tidak enak kalau diperintah pangeran yang menjadi sutenya ini, apalagi di depan para perajurit atau orang-orang lain.
Sin Liong masih dalam keadaan terbelenggu dan tertotok.
Kalau dia menghendaki, agaknya dia akan mampu membebaskan diri dari totokan itu, apalagi dari belenggu yang baginya tidak banyak berarti itu.
Akan tetapi Sin Liong bukanlah orang bodoh untuk bertindak ceroboh.
Dia tahu bahwa keselamatan Bi Cu terancam bahaya, maka dia berpura-pura tidak berdaya sambil memikirkan bagaimana cara sebaiknya untuk menolong Bi Cu dan pergi membebaskan diri dari Han Houw dan pasukannya.
Untuk melawan dengan kekerasan, amat berbahaya bagi keselamatan Bi Cu.
Dia sendiri tidak takut menghadapi Han Houw, Kim Hong Liu-nio dan pasukannya, akan tetapi bagaimana dengan Bi Cu?
Apa artinya dia dapat lolos kalau dara itu tertawan!
Han Houw kini tertawa dengan sikapnya yang khas, tertawa dan tersenyum lepas sehingga wajahnya makin menarik dan tampan.
Sepasang matanya yang tajam itu memandang wajah Sin Liong ketika dia tertawa.
"Ha-ha, sungguh tak kusangka kita akan saling berhadapan seperti ini, engkau terbelenggu seperti seorang musuh! Rasanya seperti mimpi saja, atau seperti main sandiwara!"
Kembali pangeran itu tertawa seperti orang yang merasa amat geli melihat peristiwa yang lucu.
"Hemm, aku sendiri juga merasa heran, Houw-ko, mengapa engkau melakukan hal seperti ini kepadaku setelah dahulu engkau mengajakku untuk bersembahyang dan bersumpah menjadi kakak dan adik angkat,"
Kata Sin Liong dengan suara dan sikap dingin.
Han Houw mengangkat alis, membelalakkan mata dan mengembangkan kedua lengannya.
"Aih, kenapa engkau malah menyalahkan aku, Liong-te? Aku selalu baik kepadamu, akan tetapi pada suatu waktu yang lalu engkau malah pergi moninggalkan aku tanpa pamit! Kemudian engkau merendahkan namaku dengan menjadi seorang pelayan restoran di kota raja. Adik angkatku menjadi pelayan restoran, bukankah itu berarti engkau hendak menyeret namaku ke dalam lumpur? Bukan itu saja, malah keluarga Cia, termasuk ayah kandungmu, Cia Bun Houw itu, semua menjadi pemberontak, melawan pemerintah dan membunuh banyak orangnya pemerintah sehingga tentu saja engkau sebagai keluarga dari Cia Bun Houw itu ikut terseret! Dan setelah engkau dikepung dan nyaris tenggelam akulah yang menolongmu! Nah, katakan salah siapa semua ini?"
Sin Liong tahu akan kelihaian kakak angkatnya ini memutar lidah, maka dia merasa tidak perlu untuk menanggapi.
"Sudahlah, Houw-ko, sekarang katakan apa kehendakmu setelah engkau menawan kami berdua?"
Dia tahu bahwa tentu Han Houw ingin minta dia melakukan sesuatu yang amat penting bagi pangeran itu, dan sebagai sandera atau cara untuk memaksanya maka Bi Cu ditawan.
"Hemm, agaknya engkau tergesa-gesa ingin melihat dara itu bebas, Liong-te! Ah, sebagai kakak angkatmu, aku berhak mengetahui apakah dia itu pantas menjadi calon iparku? Memang dia cantik manis, akan tetapi aku mendengar bahwa dia itu berjuluk Kim-gan Yan-cu dan menjadi pemimpin para pengemis! Engkau memilih seorang wanita pengemis untuk menjadi jodohmu? Ah, apakah tidak ada wanita lain di dunia ini, Liong-te? Biarpun dia cantik manis, akan tetapi..."
"Sudahlah, Houw-ko, aku tidak mau berbantahan lagi. Dia bukan apa-apaku, dan karena bukan apa-apa itulah maka aku tidak ingin dia celaka karena aku. Kau bebaskan dia dan mari kita bicara baik-baik."
"Ha-ha-ha, engkau cinta kepadanya! Benar, aku dapat melihat ini! Sungguh heran, padahal kalau engkau menginginkan seorang isteri, aku dapat memilihkan seorang di antara puteri-puteri istana yang cantik-cantik. Akan tetapi kata orang, cinta memang buta! Dan karena engkau mencinta gadis itulah maka dia kutawan, karena hendak kutukar dengan sesuatu darimu."
"Lekas kau katakan, apa kehendakmu, Pangeran Ceng Han Houw?"
Sin Liong membentak marah. Pangeran itu mengerutkan alisnya mendengar sebutan itu.
"Liong-te, apakah engkau telah melupakan dan hendak melanggar sumpah kita bahwa kita telah mengangkat saudara? Seorang gagah tidak akan melanggar janji dan sumpahnya sendiri!"
"Baikiah, Houw-ko, nah, lekas katakan, apakah kehendakmu sebenarnya?"
"Liong-te, kita adalah kakak dan adik angkat, maka sepatutnya harus suka sama dinikmati, dan duka sama dipikul. Bukankah begitu? Nah, aku amat tertarik akan kepandaianmu yang amat hebat itu, Liong-te. Maka, aku minta agar engkau suka menceritakan semua rahasia kepandaianmu itu, karena menurut pengakuanmu, engkau adalah murid Ouwyang Bu Sek, akan tetapi kepandaianmu malah melebihi tingkat kepandaian Ouwyang Bu Sek, ini menurut penuturan Lam-hai Sam-lo. Nah, sekarang ceritakan terus terang kepadaku, dari mana engkau memperoleh kepandaian hebat itu? Kuharap engkau bersikap jujur!"
Sin Liong mengerutkan alisnya.
Tentu saja dalam keadaan biasa dia tidak akan mau membuka rahasia ini.
Akan tetapi dia tahu bahwa keselamatan Bi Cu tergantung dari pertanyaan ini agaknya, maka dia menjadi bimbang.
"Dan engkau akan membebaskan gadis itu kalau aku menceritakannya kepadamu?"
"Tergantung dari sikapmu, Liong-te. Kalau engkau jujur, tentu saja akan kubebaskan dia. Aku tidak begitu gila untuk mengganggu gadis yang kau cinta."
Sin Liong marah mendengar ini, akan tetapi dia merasa tidak perlu untuk berbantah tentang hal itu.
"Baiklah, aku percaya bahwa engkau masih memiliki kegagahan untuk memegang janjimu."
Ketika dulu melakukan perjalanan bersama pangeran itu, Sin Liong pernah bercerita bahwa dia dibimbing ilmu silat oleh Ouwyang Bu Sek, suhengnya itu, dan bahwa dia tidak pernah bertemu dengan gurunya yang disebut Bu Beng Hud-couw itu, akan tetapi dia tidak memberi penjelasan selanjutnya tentang cara dia mempelajari ilmu-ilmu yang aneh itu.
Dia tahu bahwa pangeran itu amat tertarik, dan sudah menyatakan ingin berguru kepada manusia dewa yang disebut Bu Beng Hud-couw yang belum pernah dilihatnya sendiri itu, dan kini pangeran itu minta penjelasan.
"Seperti sudah kuceritakan kepadamu dahulu, Houw-ko, aku mempelajari ilmu silat di bawah bimbingan dan petunjuk suheng Ouwyang Bu Sek. Sebetulnya dialah guruku, akan tetapi dia tidak mau disebut guru, minta disebut suheng karena katanya aku sebetulnya juga murid Bu Beng Hud-couw seperti dia! Akan tetapi, seperti telah kuceritakan kepadamu, aku sendiri selama hidupku belum pernah bertemu atau melihat suhu Bu Beng Hud-couw itu."
"Hemm...!"
Han Houw mengerutkan alisnya karena merasa tidak puas dengan keterangan yang memang pernah didengarnya ini.
"Tentu ada sesuatu yang menyebabkan Ouwyang Bu Sek tidak mau disebut guru, dan kenyataannya, kepandaianmu lebih tinggi daripada dia. Sebagai sutenya, apalagi muridnya, tidak mungkin kepandaianmu dapat melampaui dia. Ceritakan terus terang, Liong-te."
Sin Liong menarik napas panjang.
Tak mungkin dia menyembunyikan lagi.
Pangeran ini terlampau cerdik, dan Bi Cu berada di tangannya.
"Baiklah, Houw-ko. Sesungguhnya hal ini merupakan rahasia, akan tetapi apa boleh buat, kepadamu akan kuceritakan terus terang. Suheng Ouwyang Bu Sek mempunyai simpanan kitab-kitab dari suhu Bu Beng Hud-couw dan aku telah mempelajari kitab-kitab itu, sedangkan suheng yang sudah tua tidak mempelajarinya, akan tetapi tentu saja aku mempelajarinya atas petunjuk dan bimbingannya."
"Ahhh...! Begitukah?"
Teriak Han Houw dengan girang.
"Di mana adanya kitab-kitab itu?"
"Kitab-kitab itu telah dibakar oleh suheng."
"Ahhh...! Akan tetapi Ouwyang Bu Sek tentu masih menyimpan kitab-kitab lain atau minta kitab-kitab lain dari suhunya yang luar biasa itu! Liong-te, sekarang engkau harus membawaku kepada Ouwyang Bu Sek dan membujuknya agar dia suka menerimaku sebagai muridnya atau sutenya, mempelajari ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw!"
Sin Liong terkejut bukan main dan menggeleng kepalanya.
"Hal itu tidak mungkin, Houw-ko!"
Wajah yang tampan itu menjadi muram.
"Liong-te, engkau lupa bahwa aku adalah kakak angkatmu sendiri? Engkau tidak ingin membantuku untuk memenuhi cita-citaku, yaitu menjadi jagoan nomor satu di dunia ini?"
"Bukan begitu, Houw-ko. Akan tetapi aku tidak berani, karena suheng sudah memesan agar jangan bicara dengan orang lain tentang suhu dan kitab-kitab itu."
"Akan tetapi aku bukan orang lain! Aku adalah kakak angkatmu!"
"Houw-ko, mintalah yang lain akan tetapi jangan itu. Bagaimana kalau sampai suheng marah kepadaku?"
"Aku hanya ingin mewarisi ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw, mengapa dia akan marah? Dan engkau akan membantuku sampai berhasil, sampai mau menerimaku dan memintakan limu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw, engkau harus membantuku!"
"Eh, maksudmu?"
Sin Liong memandang tajam melihat sikap keras dan suara penuh ancaman itu.
"Mari kaulihat sendiri!"
Han Houw lalu mengangkat tubuh Sin Liong, dibawa-nya masuk ke dalam kamar di mana terdapat Bi Cu yang masih terlentang dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya.
Dara itu memandang dengan mata terbelalak ketika melihat Han Houw membawa Sin Liong masuk kemudian membelenggu kedua tangan Sin Liong pada tiang yang berada di dalam kamar itu.
Gadis itu masih dalam keadaan setengah lumpuh karena tertotok dan hanya dapat menggerakkan tubuhnya sedikit saja, sedangkan kedua pergelangan tangannya masih dibelenggu ke belakang punggungnya, demikian pula kedua pergelangan kakinya telah dibelenggu, sedangkan sepatunya telah dicopot dari kedua kakinya.
"Houw-ko, apa yang hendak kau lakukan ini?"
Sin Liong bertanya dengan wajah mengandung kekhawatiran.Han Houw tersenyum dan menengok ke arah pembaringan di mana tubuh Bi Cu rebah terlentang.
"Kau tentu tidak ingin melihat dia terganggu, bukan?"
"Maksudmu?"
Sin Liong membentak.
"Berjanjilah bahwa engkau akan membantuku sampai aku diterima oleh Ouwyang Bu Sek!"
"Sudah kukatakan bahwa hal itu tidak mungkin dapat kulakukan!"
Kata Sin Liong memancing, untuk melihat apa yang akan dilakukan pangeran itu kalau dia menolak.
"Kalau engkau menolak, terpaksa engkau akan melihat dia ini kuperkosa di depan matamu!"
Sin Liong terbelalak.
"Tidak, tidak mungkin engkau mau melakukan itu! Aku tidak percaya, hanya gertak kosong belaka!"
"Gertak kosong, ya? Nah, kau boleh lihat!"
Pangeran itu dengan senyum lalu melangkah menghampiri pembaringan di mana Bi Cu rebah terlentang dengan mata terbelalak dan muka pucat.
Kemudian setelah dekat, dengan cepat tangannya meraih ke arah dada Bi Cu.
Dara ini menjerit dan menggulingkan tubuhnya.
Biarpun tubuhnya masih setengah lumpuh, namun rasa takut mendatangkan tenaga tambahan dan tubuhnya dapat bergulingan menelungkup sehingga cengkeraman Han Houw kini mengenai leher bajunya.
"Breeetttt...!"
Sekali renggut saja baju Bi Cu terobek berikut pakaian dalamnya sehingga nampak punggungnya yang telanjang, putih mulus.
"Jangan...! Houw-ko, jangan...! Aku menerima permintaanmu!"
Sin Liong berseru dan sekali renggut, kedua tangannya telah terlepas dari belenggu, demikian pula kedua kakinya.
Akan tetapi, Han Houw sudah menubruk Bi Cu dan menaruh cengkeraman tangannya ke arah ubun-ubun kepala dara itu.
"Kau maju, dia mati!"
Katanya tenang.
Diam-diam pangeran ini terkejut dan kagum sekali melihat betapa pemuda itu sekaligus dapat membebaskan totokan dan juga dapat mematahkan belenggu kaki tangannya.
Sin Liong tersentak kaget dan berdiri tak bergerak.
"Aku sudah berjanji kepadamu maka kau lepaskan gadis itu, Houw-ko!"
"Tidak, kau harus bersumpah dulu bahwa engkau akan berusaha sampai aku berhasil diterima oleh Ouwyang Bu Sek menjadi muridnya."
"Baiklah, aku bersumpah untuk berusaha sampai engkau diterima menjadi muridnya dan sekarang kau lepaskan dia."
"Demi nama baik ayah dan ibu kandungmu!"
Pangeran itu menyambung.
Sin Liong merasa penasaran sekali.
Pangeran itu tidak percaya kepadanya!
"Baik, demi nama baik ayah dan ibu kandungku!"
Han Houw tertawa girang dan turun dari atas pembaringan.
"Terima kasih, Liong-te. Aku memang sudah yakin engkau akan memenuhi permintaanku!"
"Dan sekarang, kau bebaskan dia!"
Han Houw bertepuk tangan dan muncullah lima orang pengawal.
"Carikan pakaian untuk nona ini. Cepat!"
Lima orang pengawal itu memberi hormat dan cepat keluar.
Tak lama kemudian mereka telah datang kembali membawa pakaian yang diminta itu, kemudian mereka keluar lagi.
"Nah, kau boleh bebaskan dia dan memberi pakaian ini untuk kekasihmu itu, Liong-te. Aku menanti di luar."
Setelah berkata demikian.
Han Houw tersenyum dan melangkah keluar dari dalam kamar, sengaja menutupkan daun pintu, membiarkan Sin Liong berdua saja dengan Bi Cu di dalam kamar itu.
Bi Cu tadi mendengarkan semua percakapan itu akan tetapi dia tidak tahu betapa Sin Liong telah membikin putus semua belenggu kaki tangannya.
Kini, dia merasa betapa Sin Liong melepaskan ikatan kedua tangan dan kakinya dan tiba-tiba dia merasa jalan betapa jalan darahnya mengalir kembali dengan normal dan dia dapat menggerakkan kaki tangannya.
Dia tidak tahu bahwa ketika melepaskan ikatan kedua pergelangan tangan tadi, seperti tidak sengaja jari tangan Sin Liong menekan punggung dan membebaskan totokan yang membuat Bi Cu lumpuh.
"Apa yang kau janjikan tadi, Sin Liong?"
Bi Cu berbisik ketika dia sudah terlepas dari ikatan dan kini memakai baju yang diberikan oleh Han Houw tadi.
Hanya bajunya saja yang dipakainya, karena celananya sendiri tidak terobek.
Dia tidak perduli betapa pakaian dalamnya juga ikut robek, dan dia hanya menutupi tubuhnya dengan baju itu yang cukup tebal, baju seorang wanita petani yang kuat.
"Tidak apa-apa, Bi Cu. Engkau sudah bebas maka cepatlah engkau pergi jauh-jauh dari tempat ini."
"Dan kau?"
"Aku tidak dapat ikut pergi."
"Kalau begitu aku tidak mau! Kita berdua mengalami malapetaka, kita senasib, mana mungkin sekarang aku harus menyelamatkan diri sendiri dan meninggalkan engkau di tangan mereka yang jahat? Tidak, kita harus lari berdua, atau mati berdua. Mari kau ikut lari bersamaku!"
Bi Cu menengok ke arah jendela dan memegang tangan Sin Liong hendak ditariknya untuk diajak lari.
"Engkau tidak mungkin bisa melarikan diri seperti itu, Bi Cu. Tempat ini terkurung oleh pasukan. Engkau harus ambil jalan dari pintu, dan pergi biasa. Mereka tidak akan mengganggumu karena sudah berjanji kepadaku."
"Tapi..."
Bi Cu membantah dan dia meloncat ke tepi jendela, membuka daun jendela dan memandang keluar.
Benar saja, di sana berdiri pasukan yang berbaris rapi dan ketat, dengan senjata di tangan.
"Ihhh...!"
Dia menjerit lirih dan menutupkan kembali daun jendela.
"Kau benar, banyak pasukan menjaga di sana."
"Sudahlah, Bi Cu, kau pergilah, mari kuantar keluar. Kita harus berpisah di sini sekarang, berpisah sementara. Aku harus ikut dengan mereka."
"Tapi..."
Bi Cu kini memegang kedua tangan Sin Liong dan memandang wajah pemuda itu.
"Kapan kita dapat saling jumpa kembali...?"
Sin Liong tersenyum.
"Kita pasti berjumpa kembali kelak. Nah, kau pergilah dan hati-hatilah, Bi Cu, jangan bertualang dengan para pengemis itu, jangan mencari permusuhan karena di dunia ini banyak orang jahat yang lihai sekali. Mari kuantar kau keluar."
Mereka lalu melangkah keluar, dan ternyata Han Houw telah menanti di luar.
Melihat pangeran ini, sepasang mata Bi Cu bersinar penuh kemarahan dan kedua pipinya menjadi merah.
Han Houw tersenyum, lalu menjura dengan lembut.
"Nona, harap kau maafkan segala yang telah terjadi tadi, percayalah aku tetap menghormatmu sebagai kekasih adik angkatku..."
"Houw ko! Hentikan ucapan seperti itu!"
Sin Liong berseru marah.
Pangeran itu hanya tersenyum dan mengantar mereka keluar sampai di depan rumah, baru Bi Cu melihat bahwa di situ banyak sekali perajurit yang telah mengepung rumah sehingga kalau menggunakan kekerasan untuk melarikan diri jelas amat sukar.
"Nah, pergilah engkau, Bi Cu dan selamat jalan,"
Kata Sin Liong sambil melirik ke arah Kim Hong Liu-nio yang berdiri di samping.
"Tapi... tapi engkau..."
Bi Cu berkata lirih.
"Jangan hiraukan aku, kita kelak akan saling jumpa kembali. Selamat jalan."
"Ha-ha-ha, perpisahan antara dua orang yang diam-diam sudah saling mencinta, betapa mengharukan!"
Kata Han Houw.
Hampir saja Sin Liong lupa diri dan kedua tangannya sudah terkepal.
Dia mendengar gerakan di sebelah kiri dan tahulah dia bahwa Kim Hong Liu-nio sudah siap untuk menerjang apabila dia menyerang sang pangeran.
"Houw-ko, engkau harus berjanji dulu bahwa engkau dan anak buahmu tidak akan mengganggu Bi Cu, kalau engkau tidak mau berjanji, sampai bagaimanapun aku tidak akan membawamu kepada Ouwyang Bu Sek!"
Melihat sikap pemuda ini dan mendengar suaranya yang keras dan mengandung ancaman, Han Houw lalu tersenyum dan berkata, mengangkat tangan kanannya dengan penuh lagak.
"Baik, aku berjanji bahwa aku dan anak buahku tidak akan mengganggu nona ini."
Suaranya lantang sehingga terdengar oleh semua perajurit. Barulah lega hati Sin Liong mendengar ini.
"Nah, pergilah, Bi Cu."
Nona itu nampak ragu-ragu, memandang kepada Sin Liong dengan khawatir, kemudian dia mengangguk dan berlari dari situ melalui jalan di mana berbaris pasukan di kanan kirinya.
Setelah jauh, sebelum membelok, dia berhenti dan menengok, melihat Sin Liong masih berdiri mengikutinya dengan pandang matanya, dan di sebelah Sin Liong berdiri pangeran itu dan wanita cantik yang lihai itu.
Kemudian dia melanjutkan larinya dan membelok di tikungan jalan, lenyap dari pandang mata Sin Liong yang menarik napas panjang karena hatinya merasa lega.
Yang penting adalah keselamatan Bi Cu dan setelah dara itu bebas, barulah hatinya lega.
"Nah, kapan kita berangkat ke selatan?"
Tanyanya kepada Han Houw.
"Besok pagi-pagi, aku harus membereskan urusan di kota raja dulu dan berunding dengan suci."
Sin Liong tidak perduli lagi dan memasuki kamar untuk beristirahat dan mencari jalan bagaimana sebaiknya menghadapi Ouwyang Bu Sek, karena dia telah berjanji dan dia harus berhasil membuat Han Houw diterima sebagai murid suhengnya itu.
Setelah Kaisar Ceng Hwa naik tahta, keadaan di Kerajaan Beng-tiauw kelihatan tenang dan tenteram, atau setidaknya demikianlah laporan-laporan yang diterima oleh Kaisar Ceng Hwa dari para bawahannya.
Kaisar Ceng Hwa masih terlalu muda ketika naik tahta, masih hijau dan kurang pengalaman sungguhpun dia berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjadi Kaisar yang baik.
Memang, semenjak para thaikam tidak lagi berkuasa di kota raja dan terutama di istana, yaitu semenjak Kaisar Ceng Tung kembali menduduki tahta kerajaan, keadaan di istana tidaklah seburuk ketika para thaikam masih merajalela.
Namun, setelah Kaisar Ceng Hwa menduduki tahta kerajaan, para thaikam kecil yang tadinya hanya bertugas sebagai pelayan-pelayan dalam istana, terutama di dalam bagian-bagian di mana hidup para puteri, Mulai beraksi mendekati raja muda itu.
Kaisar Ceng Hwa memang masih hijau dan mudah tergelincir oleh sikap dan kata-kata yang manis menjilat-jilat.Kim Hong Liu-nio yang dianggap sebagai seorang wanita yang berjasa besar di istana, telah menyelamatkan Kaisar Ceng Hwa ketika masih menjadi pangeran, kini merupakan seorang tokoh yang amat disegani dan juga dihormati di istana.
Bahkan wanita ini, seperti juga Pangeran Ceng Han Hom, memperoleh kekuasaan istimewa untuk memasuki istana setiap waktu, bahkan diperbolehkan pula untuk menghadap Kaisar tanpa dipanggil!
Kesempatan ini sekarang dipergunakan sebaiknya oleh Kim Hong Liu-nio.
Seperti telah diketahui, wanita yang usianya sudah tiga puluh lima tahun itu akhirnya jatuh cinta kepada seorang pria yang tadinya selalu dipandang rendah.
Dia jatuh cinta kepada Panglima Lee Siang, bahkan dengan suka rela telah menyerahkan diri, menyerahkan kehormatannya kepada pria yang dicinta itu.
Namun, seperti yang telah diceritakan di bagian depan, kekasihnya itu, Panglima Lee Siang, tidak dapat lama menjadi pria pertama yang berada dalam pelukannya.
Lee Siang tewas di tangan Lie Seng!
Semenjak saat itulah, bukan saja Kim Hong Liu-nio mendendam sakit hati yang amat besar terhadap keluarga Cin-ling-pai, yang tadinya hanya ditentangnya karena dia diperintah oleh gurunya.
Kini dia sendiri mempunyai dendam pribadi atas kematian kekasihnya.
Di samping dendam ini, juga ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya.
Kalau dahulu bersikap dingin dan benci pria, semenjak dia menyerahkan dirinya kepada Lee Siang, Semenjak dia menikmati belaian dan pencurahan kasih sayang seorang pria, sesudah dia merasakan permainan cinta antara dia dengan Lee Siang, wataknya ternyata telah berubah sama sekali.
Sikap dan pandang matanya terhadap kaum pria telah mengalami perubahan besar, terutama terhadap pria-pria muda dan tampan, dan di dalam sinar mata itu terkandung gairah nafsu yang amat besar!
Wanita ini merasa amat tersiksa oleh gairah yang mendesak-desak ini, membuatnya selalu kehausan, haus akan belaian dan kasih sayang seorang pria!
Padahal, melihat kenyataan betapa kalau tadinya wanita ini hanya merupakan seorang dayang di kerajaan kecil pimpinan Raja Sabutai, kini telah menjadi seorang wanita terhormat di istana Kerajaan Beng yang amat besar, hidup terhormat dan mulia, segala kehendaknya tentu terlaksana, Tentu orang condong mengatakan bahwa dia telah mendapatkan kemuliaan dan kebahagiaan hidup!
Namun nyatanya tidaklah demikian keadaannya!
Memang merupakan kenyataan seperti terbukti dari catatan sejarah jaman dahulu sampai keadaan hidup di dalam masyarakat modern sekarang ini, manusia selalu menilai kebahagiaan hidup manusia dengan ukuran harta benda, kedudukang nama besar, dan lain-lain nilai yang dianggap menyenangkan jasmani dan perasaan belaka.
Sudah menjadi pendapat umum yang telah diterima bahwa orang yang berhasil mengumpulkan harta benda disebut "maju".
"mulia", senang, bahagia dan sebagainya. Kalau seorang mengatakan bahwa si Polan kini sudah maju, sudah mulia hidupnya, sudah senang, dan se-bagainya, tidak salah lagi bahwa yang dimaksudkannya itu adalah bahwa si Polan telah berhasil mengumpulkan harta benda, Telah menjadi kaya, atau disebut pula telah makmur hidupnya! Bahkan perkumpulan-perkumpulan, baik perkumpulan sosial, budaya, politik, agama sekalipun, disebut "maju"
Kalau gedungnya bertambah gagah.
Pendeknya, semua penilaian diukur dari dasar harta benda!
Akan tetapi benarkah kenyataannya demikian, yaitu bahwa manusia akan hidup bahagia kalau sudah berhasil mengumpulkan banyak harta benda?
Berbahagiakah manusia kalau sudah memiliki kedudukan tinggi?
Berbahagiakah manusia kalau sudah memperoleh ke-kuasaan besar atas manusia-manusia lain, kalau sudah tenar namanya, dan sebagainya lagi itu?
Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataannya dan tidak membuta mengikuti dan menerima saja anggapan dan pendapat umum yang sudah lapuk dan berkarat itu, Kita akan melihat keadaan yang sama sekali tidak demikian!
Memang harus diakui bahwa semua kemuliaan duniawi itu, harta benda, nama besar, kedudukan, kekuasaan, dapat mendatangkan kesenangan, namun, setiap kesenangan itu selalu tak terpisahkan dari kesusahan.
Demikian pula, semua itu kalau dianggap sebagai sumber kesenangan, maka kenyataannya menjadi pula sumber kesusahan!
Ada yang mengatakan tidak mungkin!
Marilah kita melihat kenyataannya!
Harta benda, kedudukan, nama tenar, dan sebagainya itu hanya menyenangkan nampaknya saja bagi yang belum memilikinya.
Namun bagi yang memilikinya, kesenangannya sudah hambar dan tidak terasa lagi.
Kalau yangbelum memilikinya hanya membayangkan segi senangnya saja, maka yang memilikinya yang telah bosan dengan segi senangnya, Merasakan pula secara langsung segi kebalikannya, yaitu segi susahnya.
Misalnya yang mempunyai harta bisa saja sewaktu-waktu kehilangan hartanya itu, yang berkedudukan kehilangan kedudukannya, yang namanya tenar kehilangan ketenarannya, dan membayangkan semua kehilangan ini saja sudah merupakan siksaan batin terhadap si pemilik.
Hal ini tentu saja tidak dapat dirasakan oleh mereka yang belum memilikinya, akan tetapi akan terasa kebenarannya oleh mereka yang telah memilikinya.
Memiliki sesuatu itu, yang nampaknya menyenangkan, merupakan ikatan, dan yang memiliki selalu akan menjaga miliknya itu, karena hanya yang memilikinya sajalah yang akan dapat kehilangan!
Apakah dengan kenyataan ini, lalu kita harus menyingkirkan semua milik itu, menolak harta benda, kedudukan, ketenaran dan sebagainya?
Tentu saja tidak!
Melainkan kita harus mengerti dan sadar bahwa semua itu hanya merupakan semacam pakaian saja bagi manusia, bukan merupakan keperluan mutlak bagi kehidupan!
Sadar dan mengerti pula dengan membuka mata memandang penuh kewaspadaan bahwa semua itu, kalau sampai menjadi ikatan di mana kita melekatkan batin, akan berbalik menjadi siksaan karena menimbulkan rasa takut akan kehilangan, menimbulkan duka kalau semua itu sampai terlepas dari tangan kita!
Pengertian inilah yang akan membebaskan kita dari ikatan, sehingga biarpun kita memiliki harta benda, memiliki kedudukan, atau memiliki nama yang tenar, kita tidak akan mabok, tidak akan terikat, mengerti bahwa semua itu hanyalah sesuatu yang tidak abadi, sesuatu yang fana, yang sekali waktu dapat saja terlepas dari kita.
Pengertian ini yang membebaskan, sehingga kita tidak terikat oleh semua itu, tidak lagi semua yang dianggap sumber kesenangan itu berakar di dalam hati sanubari kita.
Karena, kalau sampai berakar segala sumber kesenangan itu dalam batin kita, kemudian suatu waktu semua itu dicabut, maka akar-akarnya akan tercabut dan membuat batin kita terluka dan berdarah sehingga timbuilah duka!
Tak mungkin ada kebahagiaan tanpa adanya kebebasan!
Bebas bukan berarti kita lalu menjadi apatis, menjadi lemah, menjadi pessimis, atau menjadi pemurung yang putus asa.
Sama sekali bukan!
Bebas berarti tidak terikat oleh apapun juga!
Tentu saja yang dimaksudkan adalah ikatan batin!
Sekali kita terikat, maka muncullah duka.
Kita bisa saja menjadi seorang berharta, bisa saja menjadi seorang berkedudukan tinggi, menjadi seorang yang tenar namanya.
Namun semua itu kita punyai tanpa kita miliki, atau lebih jelas kita mempunyai semua itu hanya lahir belaka, tidak mendalam menjadi ikatan batin.
Dapatkah kita membebaskan diri seperti ini?
Jawabannya hanya dapat ditemukan di dalam penghayatan, karena jawaban tanpa penghayatan dalam hidup kita sehari-hari hanya akan menjadi teori kosong belaka, menjadi bahan perdebatan untuk menonjolkan diri sebagai orang yang sok tahu!
Kim Hong Liu-nio memang cerdik.
Dia tahu bahwa dia telah memiliki kedudukan yang tinggi dan terhormat, maka diapun tidak mau merendahkan diri menuruti gairah rangsangan nafsu yang dibangkitkan oleh mendiang Panglima Lee Siang dan kemudian dipelihara dan dipupuk oleh pikirannya sendiri yang menghidupkan kembali kenikmatan itu melalui kenang-kenangan.
Dia dapat menahah diri dan menanti saat yang baik.
Kemudian, setelah dia melihat kelemahan Kaisar muda yang tampan itu, wanita ini berlaku amat cerdik dan mulailah dia mendekati Kaisar dan mempergunakan kecantikannya untuk memikat Kaisar muda itu melalui lirikan matanya yang jeli, senyuman bibirnya yang merah merekah, dan melalui suaranya yang merdu merayu!
Pada jaman itu, kehidupan kaum bangsawan, terutama sekali Kaisar, memang pada umumnya tidak terpisahkan dari kehidupan bersenang-senang, terutama sekali kehidupan sex bagi kaum prianya.
Bagi kaum pria bangsawan ini, kaum wanita dianggap sebagai benda hidup yang kedudukannya hanya sebagai penghibur kaum pria, Sebagai hal yang selain menjadi sumber kesenangan juga menjadi sumber kebanggaan.
Pada jaman itu, agaknya kaum wanita menyadari dan menerima saja kedudukan itu, dan pada sebagian kaum wanita, yang terpenting bagi mereka hanyalah mendapatkan suami yang berkedudukan tinggi atau yang kaya raya!
Bagi sebagian besar di antara kaum wanita di jaman itu, lebih baik menjadi bini muda yang ke sekian belas atau ke sekian puluh dari seorang pria tua bangsawan atau hartawan daripada menjadi isteri tunggal seorang pria muda yang miskin tanpa kedudukan!
Inilah sebabnya mengapa kaum pria tua yang bangsawan atau hartawan, amat mudahnya mempunyai koleksi kaum wanita yang menjadi bini-bini mudanya, menjadi pelayan-pelayan yang setiap waktu dapat saja memperpanjang deretan bini muda!
Terutama sekali Kaisar!
Bagi hampir semua wanita di jaman itu, menjadi selir Kaisar merupakan anugerah seperti bintang jatuh dari langit!
Bahkan menjadi dayang saja sudah merupakan kehormatan besar yang diimpikan oleh hampir setiap orang dara!
Ini adalah akibat dari pemujaan yang melampaui batas terhadap sang Kaisar, sehingga setiap orang ibu menggambarkan kehebatan Kaisar dan kehidupan di istana itu kepada puteri-puterinya semenjak mereka masih kecil, menjejalkan kesenangan-kesenangan yang tak mungkin mereka dapat rasakan, seperti kesenangan-kesenangan dalam sorga saja, ke dalam kepala-kepala kecil itu sehingga tentu saja, makin dewasa anak-anak perempuan itu, makin menariklah gambaran tentang kehidupan yang amat mulia itu.
Dari dalam kamar-kamar indah mewah istana Kaisar inilah mengalirnya perkembangan kehidupan sex yang kemudian menjadi kitab-kitab ilmu sanggama yang tersebar luas sampai ke seluruh dunia!
Kaisar Ceng Hwa pun tidak terkecuali.
Dia menjadi Kaisar dalam usia sembilan belas tahun, sedang menginjak usia remaja yang berkembang sehingga mudah saja dia diperhamba oleh kesenangan-kesenangan sex yang seolah-olah didorong-dorongkan kepadanya oleh para pejilat dalam istana.
Bahkan ibunya sendiri, ibu suri, mendatangkan guru-guru yang bertugas mengajarkan hal-hal mengenai hubungan pria dan wanita kepada Kaisar muda ini, dan beberapa orang wanita muda yang cantik dan berpengalaman dipilih untuk mengajarkan hal-hal itu dalam praktek kepada sang Kaisar muda.
Hal seperti ini bukan merupakan dongeng, melainkan merupakan kenyataan yang tercatat dalam sejarah.
Demikianlah, tidak mengherankan apabila dalam waktu singkat saja Kaisar Ceng Hwa, seperti juga para Kaisar ratusan atau ribuan tahun sebelumnya, telah jatuh menjadi seorang hamba nafsu berahinya sendiri!
Mulailah dia mencari-cari, memilih-milih di antara para puteri dayang-dayang dan dara-dara yang cantik jelita untuk mengisi haremnya, untuk secara bergilir atau berkelompok menghiburnya, melayaninya, baik di taman maupun di dalam kamar tidurnya.
Kemudian muncullah Kim Hong Liu-nio!
Pada suatu senja, wanita ini dilaporkan oleh pengawal kepada Kaisar yang sedang bersenang-senang di dalam taman dan ditemani oleh lima orang selirnya yang paling disukanya.
Kaisar itu duduk di tepi kolam ikan, memberi makan ikan-ikan emas, dibantu oleh dua orang selirnya sedangkan yang tiga orang lagi memainkan alat musik yang-khim dan suling, melagukan nada-nada merdu dari lagu yang romantis sehingga suasana menjadi romantis sekali.Mendengar bahwa Kim Hong Liu-nio minta menghadap, Kaisar cepat memberi tahu kepada para pengawal agar wanita perkasa itu langsung saja memasuki taman, dan dia melepaskan rangkulannya kepada dua orang selirnya, bahkan memberi isyarat kepada selir lain untuk menghentikan permainan mereka.
Lima orang selir itu mengenal pula siapa adanya Kim Hong Liu-nio, maka merekapun duduk dengan tenang dan hormat karena mereka tahu bahwa wanita ini mempunyai kedudukan yang tinggi dan terhormat, dikenal sebagai penyelamat nyawa Kaisar!
Biasanya Kaisar memandang Kim Hong Liu-nio sebagai seorang wanita yang gagah perkasa dan menimbulkan kagum dan hormat.
Belum pernah selama ini dia menggambarkan Kim Hong Liu-nio sebagai seorang wanita dengan daya tarik kewanitaannya, melainkan sebagai seorang pendekar wanita yang serba keras dan kokoh kuat di balik kecantikannya.Akan tetapi ketika itu dia belum begitu "matang"
Dalam penilaiannya terhadap wanita dan sudah lama dia tidak berjumpa dengan wanita itu.
Maka kini, ketika melihat Kim Hong Liu-nio me-masuki pintu taman dan melangkah menghampiri tempat itu, sepasang matanya yang sudah terbiasa menilai wanita, kini memandang penuh perhatian dan penilaian!
Bukan hanya wajah yang cantik segar dihias rambut yang disanggul tinggi itu, melainkan juga pandang matanya menurun ke leher, ke arah dada yang membusung angkuh, kepada tubuh yang tegak namun tinggi semampai, pinggang yang amat ramping dan pinggul yang mem-besar, kemudian langkah yang begitu tegap namun mengandung kelembutan dan daya tarik yang menjanjikan kemesraan.
Kaisar muda itu tertegun dan kagum!
Kiranya Kim Hong Liu-nio ini bukanlah seorang yang seperti yang digambarkan semula, seorang wanita penyembelih musuh yang kejam dan berdarah dingin, melainkan di samping itu juga seorang wanita cantik yang memiliki kecantikan, kelembutan dan kehangatan dengan ben-tuk tubuh yang menggairahkan!
Begitu menghadap, Kim Hong Liu-nio lalu memberi hormat, berlutut dan berkata.
"Perkenankanlah hamba membicarakan sesuatu dengan paduka tanpa didengar oleh orang lain."
Kaisar Ceng Hwa tersenyum dan matanya tak pernah meninggalkan wajah dan tubuh wanita yang berlutut di depannya itu.
Nampak leher yang berkulit putih mulus dan berbentuk panjang seperti leher angsa yang jenjang.
Lalu dia memberi isyarat kepada para selirnya untuk meninggalkan taman.
Para selir itu tidak berani membantah, dengan sikap hormat mereka lalu meninggalkan taman, berlari-lari kecil dengan langkah seperti penari-penari yang lemah gemulai, meninggalkan bau semerbak harum.
Kini mereka tinggal berdua saja.
Para pengawal hanya menjaga di sebelah luar taman, sama sekali tidak berani memperlihatkan diri atau mengganggu Kaisar.
"Nah, sekarang kita hanya berdua saja di sini, lihiap. Apa yang hendak kau bicarakan?"
Kaisar berkata halus.
"Ampunkan hamba yang berani minta untuk bicara empat mata dengan paduka, akan tetapi karena yang hamba hendak bicarakan ini mengenai para pemberontak yang amat berbahaya, maka amat tidak baik kalau sampai terdengar orang lain. Hamba hendak membicarakan tentang empat orang pemberontak yang berhasil lolos itu, Sri Baginda, yaitu pemberontak Cia Bun Houw, Cia Giok Keng, Yap Kun Liong, dan Yap In Hong."
"Oohh, tentang mereka?"
Kaisar yang muda itu tidak begitu tertarik.
Tentu saja dia sudah mendengar tentang adanya para pemberontak yang kabarnya telah melawan pasukan kerajaan, membunuh banyak pasukan termasuk Panglima Lee Siang.
Akan tetapi dia yang setiap harinya hanya bersenang-senang, mana sempat memikirkan soal pemberontakan kecil yang lebih patut disebut pengacau-pengacau itu saja?
Kalau yang memberontak itu merupakan pasukan besar, tentu saja persoalannya menjadi lain.
Dia lebih tertarik memandang ke arah dada yang menonjolkan dua bukit tertutup baju sutera dari wanita di depannya itu, dan ketika wanita itu bicara sambil menengadah, dia melihat wajah cantik dengan bibir yang amat manis bergerak-gerak terbuka, kadang-kadang sedikit memperlihatkan sebelah dalam mulut kecil yang merah.
Hatinya tergerak dan darahnya bergolak.
Kim Hong Liu-nio dapat melihat keadaan Kaisar yang muda dan tampan itu.
Wanita ini melihat kesempatan baik sekali dan dia lalu menangis dalam keadaaan masih berlutut dan tanpa dapat dilihat Kaisar saking cepatnya, dia telah melonggarkan bagian atas tubuhnya sehingga Kaisar yang duduk itu dapat melihat dari atas melalui celah baju itu sedikit bagian dari dadanya, lereng dua buah bukit yang membusung.
"Ah, kenapa kau menangis, lihiap?"
Kaisar itu terkejut juga karena sama sekali tak pernah dia dapat membayangkan bahwa wanita yang gagah perkasa ini dapat menangis!
Makin kelihataniah sifat kewanitaan pendekar wanita ini, apalagi melihat celah baju bagian atas itu.
"Hamba... hamba teringat akan kematian tunangan hamba, Panglima Lee Siang di tangan para pemberontak itu, Sri Baginda... maafkan hamba... hamba merasa berduka karena kini hamba menderita kesepian yang menyesak di dada..."
Kaisar Ceng Hwa memang sudah mendengar dari para pengawal penyelidik akan adanya hubungan antara wanita perkasa ini dengan Panglima Lee Siang, dia tahu bahwa "ada main"
Antara mereka berdua, akan tetapi mendengar pengakuan wanita itu, dia pura-pura kaget dan bertanya.
"Ah, jadi engkau telah menjadi isteri mendiang Lee-ciangkun?"
Wajah Kim Hong Liu-nio menjadi kemerahan, terutama sekali kedua pipinya.
Sama sekali bukan karena malu atau jengah, melainkan karena pengerahan sin-kangnya yang mendorong darah lebih banyak naik ke mukanya dan hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang telah memiliki kepandaian tinggi.
"Belum, Sri Baginda... hamba belum menikah, akan tetapi dia telah menjanjikan hal itu kepada hamba..."
Biarpun matanya masih agak basah air mata, namun dia tersenyum malu-malu dan sepasang mata itu mengerling tajam.
Melihat ini, Kaisar muda itu makin tertarik.
"Sudahlah, jangan kau menangis, lihiap, dan kau ke sinilah, duduklah di sini agar lebih enak kita bicara."
Jantung Kim Hong Liu-nio berdebar keras, bukan karena takut melainkan karena tegang gembira melihat ada tanda-tanda usahanya menarik perhatian Kaisar itu berhasil agaknya!
"Hamba...
hamba mana berani...?"
"Aku yang memerintahkan, mengapa tidak berani? Ke sinilah!"
"Ba... baik, Sri Baginda..."
Kim Hong Liu-nio bangkit berdiri, memberi hormat dan dengan kedua kaki jelas nampak gemetar dia melangkah maju ke depan Kaisar, sampai dekat sekali.
Kaisar lalu memegang tangan wanita itu dan menariknya duduk di atas bangku bertilamkan kasur dan beledu lembut itu.
Kaisar merasa betapa tangan itu selain gemetar, juga amat hangat dan mengeluarkan getaran yang amat terasa sampai ke seluruh lengannya.
Dia makin tertarik, apalagi mencium bau harum yang keluar dari tubuh wanita itu.
"Hemmm, engkau sungguh cantik, lihiap..."
Bisik Kaisar.
"Aihhh... Sri Baginda..."
Kim Hong Liu-nio mengeluh dan menunduk, nampak takut-takut seperti seekor kelinci dalam dekapan harimau.
Kaisar makin tertarik, dia meraih dan merangkul, kemudian memaksa wanita itu menoleh kepadanya dan mencium mulut Kim Hong Liu-nio.
Beberapa lamanya Kaisar menciumnya, kemudian Kaisar melepaskan ciumannya dan terbelalak.
Belum pernah selama dia mengenal wanita dia merasakan ciuman sehebat itu!
Bukan saja wanita ini membalas ciumannya dengan penuh api menggelora, juga dia merasakan getaran yang menggoncangkan jantungnya.
Tanpa banyak cakap lagi, Sri Baginda Kaisar bangkit dan menggandeng tangan wanita itu, diajak meninggalkan taman dan langsung masuk ke dalam kamar.
Para selir yang melihat ini saling pandang dan diam-diam merekapun merasa heran mengapa Kaisar kini bersikap demikian mesra dengan pendekar wanita itu!
Namun, tentu saja tidak ada seorang di antara mereka berani membuka mulut, bahkan lalu berlutut membiarkan mereka berdua lewat, dan para pengawal yang terdiri dari orang-orang kebiri karena mereka adalah pengawal-pengawal di bagian keputren itu juga menunduk saja dengan sikap tegak.
Mulai saat itu, Kaisar yang muda itu mengangkat Kim Hong Liu-nio sebagai kekasihnya yang baru dan dari wanita ini dia memperoleh pengalaman yang amat hebat dan belum pernah dia dapatkan dari wanita lain.
Memang, dengan tenaga sin-kangnya yang amat kuat, mudah bagi Kim Hong Liu-nio untuk mempermainkan Kaisar muda itu sehingga menjadi tergila-gila kepadanya, biarpun usianya sudah tiga puluh lima tahun dan jauh lebih tua dibandingkan dengan para selir yang usianya belum ada dua puluh tahun itu.
Dan semenjak hari itu, Kim Hong Liu-nio memperoleh ijin dari Kaisar, untuk memimpin pasukan-pasukan pilihan untuk mengejar-ngejar dan mencari musuh-musuhnya, yaitu keluarga Cia dan Yap yang menjadi buronan itu.
Bahkan dia menyebar mata-mata untuk menyelidiki di mana mereka itu bersembunyi.
Untuk memperkuat dirinya karena dia tahu bahwa musuh-musuhnya itu memiliki kepandaian tinggi, Kim Hong Liu-nio mendatangkan gurunya, Hek-hiat Mo-li, yang menanti di kota raja dan siap untuk turun tangan apabila tempat sembunyi para pemberontak itu sudah dapat ditemukan.
Memang kekuasaan inilah yang diinginkan oleh Kim Hong Liu-nio.
Dia tidak berambisi untuk memikat Kaisar untuk selamanya.
Dia tahu bahwa Kaisar masih amat muda dan dia sendiri sudah jauh lebih tua sehingga tidak mungkin dia akan dapat terus mempertahankan Kaisar dalam pelukannya.
Maka setelah dia berbasil memperoleh kepercayaan Kaisar dan diberi kekuasaan mempergunakan pasukan untuk menghadapi para musuh yang dicap pemberontak itu, dia sudah puas dan hanya kadang-kadang saja dia memenuhi panggilan Kaisar dan melayaninya.
Namun wanita ini lebih banyak pergi keluar kota raja sehingga akhirnya Kaisar kembali kepada para selirnya yang muda-muda dan hal ini tentu saja menggirangkan hati para selir muda itu.
Di dalam keluarga Kaisar terdapat seorang pangeran, kakak tiri dari Kaisar muda itu.
Pangeran ini sudah berusia hampir tiga puluh tahun, bernama Pangeran Hung Chih dan dia amat populer di antara para menteri-menteri tua yang setia.
Pangeran ini merupakan calon Kaisar ke dua setelah Ceng Hwa, Dan memang dibandingkan dengan Kaisar muda itu, dia lebih menaruh perhatian terhadap pemerintahan.
Pangeran Hung Chih inilah yang didukung oleh para menteri tua yang merasa tidak setuju ketika pemerintah memusuhi keluarga Cia di Cin-ling-pai.
Mereka tahu bahwa keluarga itu sejak dahulu adalah keluarga pendekar-pendekar yang setia kepada Kaisar.
Mereka tahu pula bahwa keluarga itu dimusuhi gara-gara Kim Hong Liu-nio yang berhasil memikat Kaisar, padahal wanita itu adalah seorang kepercayaan raja liar Sabutai!
Dengan jujur dan halus Pangeran Hung Chih sendiri yang mendekati Kaisar yang menjadi adik tirinya itu dan memperingatkan Kaisar agar tidak terlalu memberi kebebasan kepada Kim Hong Liu-nio yang mungkin saja menjadi mata-mata Raja Sabutai dan yang kelak hanya akan merugikan kerajaan sendiri.
"Ah, dia adalah seorang pendekar wanita yang amat gagah, bahkan pernah menyelamatkan nyawaku, mana mungkin dia mempunyai niat buruk? Pula, dia minta pasukan untuk menangkap para pemberontak yang telah melawan pasukan kerajaan dan telah membunuh Lee-ciangkun, bukankah hal itu baik sekali?"
Demikian antara lain Kaisar membantah dan Pangeran Hung Chih tidak berani mendesak.
Betapapun juga, peringatan dari pangeran ini telah membuat Kaisar lebih berhati-hati dan kini jarang dia memanggil wanita itu untuk melayani dia bermain asmara.
Pagi yang cerah indah di lereng Bukit Bwee-hoa-san.
Bukit ini, sesuai dengan namanya, penuh dengan bunga Bwee yang sedang mekar karena musim semi menjelang tiba.
Memang amat sedap dipandang dan terasa nyaman di hati melihat bunga-bunga mekar di lereng yang subur dan berhawa sejuk itu, dengan ratusan ekor kupu-kupu beterbangan di sekitar bunga-bunga, menggelepar-geleparkan sayap yang beraneka warna itu dengan sibuknya.
Di antara kupu-kupu yang memiliki warna bermacam-macam ini nampak pula beberapa ekor lebah yang gerakannya gesit sekali terbang menyusup di antara daun-daun dan bunga sibuk mencari atau mengumpulkan madu.
Terdapat dua buah pondok kecil di lereng yang sunyi itu, agak terlindung oleh pohon-pohon besar di tepi hutan.
Dua pondok kecil inilah yang menjadi tempat tinggal sementara, atau tempat bersembunyi dari dua pasang suami isteri kakak beradik, yaitu Yap Kun Liong bersama Cia Giok Keng, dan Cia Bun Houw bersama Yap In Hong!
Semenjak mereka melarikan diri dari penjara kota Po-teng di mana mereka ditawan, empat orang pendekar ini melarikan diri dan tinggal berpindah-pindah dari satu ke lain tempat sembunyi karena mereka maklum bahwa mereka terus dikejar-kejar pasukan pemerintah.
Akhirnya, mereka tiba di lereng Bukit Bwee-hoa-san ini dan bersembunyi di tempat sunyi ini.
Sudah dua bulan mereka tinggal di tempat ini, dan mereka, terutama sekali Yap In Hong, merasa khawatir dengan keadaan mereka sebagai buronan itu karena kini nyonya muda ini telah mengandung lima bulan!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, biarpun sudah belasan tahun dia melarikan diri bersama Cia Bun Houw dan sudah dianggap isteri pendekar itu, namun karena belum mendapat restu dari orang tua, kedua orang pendekar ini selalu tinggal terpisah, yaitu tidak pernah berkumpul sebadan seperti layaknya suami isteri.
Kemudian, setelah lewat belasan tahun menahan derita ini, mereka menghadap ketua Cin-ling-pai ayah Cia Bun Houw dan memperoleh restu dari kakek Cia Keng Hong yang telah menginsyafi kesalahannya dan merasa menyesal bahwa dia dengan kekerasan hatinya telah menyiksa batin puteranya sendiri dan mantunya.
Barulah mereka menjadi suami ister!
dalam arti yang sebenarnya, dan baru sekarang Yap In Hong mengandung untuk pertama kalinya.
Namun, dalam keadaan mengandung dia kini harus menjadi buronan, gara-gara fitnah yang dijatuhkan oleh Lee Siang yang ingin memenuhi permintaan Kim Hong Liu-nio, kekasihnya!
Pada pagi hari yang cerah itu, seperti biasa pendekar Yap Kun Liong dan pendekar Cia Bun Houw sedang bekerja di ladang sayur mereka tak jauh dari kedua pondok mereka itu.
Untuk menghindarkan banyak hubungan dengan orang lain, kedua orang pendekar ini menanam sayur-sayur sendiri untuk kebutuhan makan sehari-hari mereka, sehingga mereka tidak perlu sering berbelanja ke bawah bukit, dan cukup hanya sebulan sekali saja berbelanja beras, bumbu, teh dan beberapa keperluan lain.
Untuk lauk pauk cukup dengan tanaman sayur mereka sendiri dan daging binatang yang dapat mereka tangkap di dalam hutan-hutan di sekitar tempat itu.
Pendekar Yap Kun Liong sudah berusia lima puluh dua tahun, namun masih nampak muda dan gagah penuh semangat, sedangkan pendekar Cia Bun Houw yang berusia tiga puluh enam tahun itu kelihatan sehat gagah, walaupun ada bayangan kekhawatiran membayang di wajahnya yang tampan.
Tentu saja pendekar ini merasa gelisah kalau mengingat akan keadaan isterinya yang mengandung pertama sudah harus menjadi buronan seperti itu.
Suara derap kaki kuda tunggal memecahkan kesunyian pagi hari yang tenteram itu.
Dua orang pendekar itu terkejut, menunda cangkul masing-masing, saling pandang, kemudian mereka menoleh ke arah suara datangnya derap kaki kuda itu.
Nampaklah oleh mereka seorang laki-laki berpakaian petani membalapkan kuda menuju ke situ, melalui sebuah lorong atau jalan setapak dengan cepat.
Tentu saja dua orang pendekar ini menjadi curiga karena walaupun orang itu berpakaian petani, namun cara orang itu duduk di atas kuda membuktikan bahwa orang itu adalah seorang ahli menunggang kuda dan tubuh orang itu yang duduk tegak jelas mengandung kekuatan terlatih.
Maka begitu penunggang kuda itu melewati tempat kerja mereka dan terus membalap menuju ke arah pondok, dua orang pendekar inipun meninggalkan cangkul mereka di atas ladang, kemudlan berlari mengejar.
Tentu saja mereka tidak begitu khawatir karena isteri mereka bukanlah orang-orang lemah, apalagi yang datang berkunjung secara mencurigakan ini hanya satu orang saja.
Baru saja penunggang kuda itu meloncat turun dari kudanya di depan dua buah pondok itu, dia sudah berteriak dengan suara lantang.
"Cia-taihiap! Yap-taihiap! Harap lekas keluar!"
Yang keluar adalah Cia Giok Keng dan Yap In Hong, dua orang pendekar wanita itu yang tadi sudah mendengar suara derap kaki kuda dan sudah siap-siap.
Dan pada saat itu juga, Cia Bun Houw dan Yap Kun Liong juga sudah berada di situ.
"Siapakah engkau dan mau apa?"
Yap Kun Liong berkata dengan suara halus namun penuh wibawa.
Orang itu sejenak memandang kepada dua orang pendekar ini.
Dia belum pernah bertemu muka dengan mereka, namun dia sudah memperoleh gambaran jelas tentang wajah kedua orang pendekar itu, maka kini dia mengenal mereka dan cepat menjura dengan hormat.
"Harap ji-wi taihiap sudi memaafkan saya kalau saya mengganggu dan mengejutkan ji-wi. Kedatangan saya ini membawa berita penting, yaitu bahwa dalam hari ini juga akan ada pasukan yang menyerbu ke sini, maka harap ji-wi taihiap dan ji-wi lihiap dapat bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini."
Sekali menggerakkan tubuh dan tangan, Cia Bun Houw telah mencengkeram leher baju orang itu tanpa orang itu mampu mengelak lagi.
Tentu saja Bun Houw menggunakan gerakan ini untuk menguji dan dia tahu bahwa orang ini tidak memiliki ilmu silat yang tinggi, karena reaksinya ketika dia bergerak jauh kurang dan amat terlambat.
Maka dia lalu menghardik dengan suara mengancam untuk menibikin takut orang itu agar jangan membohong.
"Siapa engkau?"
Orang itu kellhatan tenang saja dan ini sudah membuktikan bahwa dia tidak mempunyai iktikad buruk.
"Nama saya Lie Tek."
Jawabnya cepat.
"Mengapa engkau datang memperingatkan kami dan bagaimana engkau dapat mengenal kami?"
Tanya Bun Houw lagi tanpa melepaskan cengkeramannya.
"Harap Cia-taihiap tidak salah sangka. Biarpun belum pernah bertemu dengan ji-wi taihiap, namun kami semua telah memperoleh gambaran cukup jelas tentang ji-wi. Saya adalah seorang di antara banyak mata-mata yang disebar oleh Pangeran Hung Chih untuk membantu ji-wi taihiap dari pengejaran pasukan yang dipimpin oleh Kim Hong Liu-nio dan sekarang saya datang untuk memberi peringatan kepada ji-wi karena sudah pasti hari ini pasukan itu akan datang menyerbu karena tempat ini telah mereka ketahui."
Cia Bun Houw melepaskan cengkeramannya, dan dengan tenang Yap Kun Liong lalu minta kepada orang yang mengaku bernama Lie Tek itu untuk menceritakan selengkapnya tentang mereka yang mengaku mata-mata yang disebar oleh Pangeran Hung Chih.
Lie Tek, mata-mata itu, lalu (Lanjut ke
Jilid 35) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 35 menceritakan secara singkat tentang diri Pangeran Hung Chih.
Ternyata pangeran yang tidak setuju dengan sikap Kaisar mengenal keluarga Cin-ling-pai yang dianggap pemberontak, ketika melihat betapa Kim Hong Liu-nio berhasil merayu Kaisar dan memperoleh kekuasaan untuk mengerahkan pasukan mencari para pendekar yang buron itu dan diperkenankan menumpasnya, diam-diam telah berunding dengan para menteri tua dan akhirnya mereka mengambil keputusan untuk secara diam-diam membantu para pendekar itu agar jangan sampai terdapat oleh para pengejarnya.
"Pangeran Hung Chih dan para menteri tua yakin akan kesetiaan keluarga Cia dan Yap, oleh karena itu beliau berusaha melindungi, sungguhpun tentu saja tidak berani secara berterang, karena Kim Hong Liu-nio memperoleh dukungan dari Sri Baginda sendiri."
Demikian Lie Tek mengakhiri penuturannya secara singkat.
Empat orang pendekar yang mendengarkan menjadi terharu dan diam-diam mereka mencatat nama Pangeran Hung Chih sebagai seorang pangeran yang bersahabat.
"Kalau begitu, kami berterima kasih sekali dan maafkan sikapku, Lie-twako,"
Kata Cia Bun Houw. Mata-mata itu menjura dan berkata.
"Saya telah menyampaikan tugas, harap ji-wi berdua dan lihiap berdua suka cepat meninggalkan tempat ini sebelum terlambat, dan sayapun tidak berani lama-lama tinggal di sini. Saya mohon diri, ji-wi taihiap!"
Cia Bun Houw dan Yap Kun Liong membalas penghormatan itu.
Lie Tek lalu meloncat ke atas punggung kudanya, kemudian membalapkan kuda itu menuju lereng melalui arah yang berlawanan dengan ketika dia datang diikuti pandang mata keempat orang pendekar itu yang masih bersikap tenang.
Empat orang pendekar ini tidak tahu bahwa ketika Lie Tek tiba di sebuah tikungan di balik bukit, tiba-tiba muncul belasan orang mata-mata musuh, yaitu mata-mata dari pasukan Kim Hong Liu-nio.
Dia ditangkap dan tidak mungkin dapat melawan menghadapi belasan orang itu.
Dia disiksa agar mengaku, namun Lie Tek tetap menutup mulutnya sampai akhirnya dia mati dalam siksaan!
Kemuthan para mata-mata ini cepat mengirim berita kepada Kim Hong Liu-nio yang mengerahkan seratus orang lebih pasukan untuk mengepung dan menyerbu!
Kita tinggalkan dulu keadaan empat orang pendekar yang terancam bahaya maut itu, dan mari kita mengikuti perjalanan Lie Ciauw Si.
Kita hanya mengetahui bahwa gadis puteri Cia Giok Keng atau adik dari Lie Seng ini telah meninggalkan Cin-ling-pai beberapa tahun yang lalu karena melihat kakeknya berduka saja dan dia mengambil keputusan untuk mencari pamannya, Cia Bun Houw yang dia tahu menjadi penyebab dari kedukaan kong-kongnya.
Pada waktu itu, Cia Bun Houw berdua Yap In Hong masih mengasingkan diri dalam kedukaan akibat kemarahan Cia Keng Hong yang tidak menyetujui perjodohan di antara mereka sehingga usaha Lie Ciauw Si mencari kedua orang ini sama sekali tidak pernah berhasil.
Ciauw Si yang keras hati itu tidak mau kembali ke Cin-ling-pai sebelum bertemu dengan orang yang dicarinya.
Dia merantau sampai jauh ke barat, kemudian pada akhir-akhir ini dia pergi merantau ke selatan.
Dia telah menjelajahi dunia kang-ouw, bertanya-tanya ke sana-sini, Namun tidak ada seorang pun tokoh kang-ouw yang dapat memberi keterangan kepadanya di mana gerangan adanya pendekar Cia Bun Houw, sungguhpun mereka itu tahu belaka siapa adanya pendekar putera ketua Cin-ling-pai itu.
Pada suatu hari, secara kebetulan Ciauw Si yang tiba di kota Yen-ping, berjalan-jalan di sepanjang tepi Sungai Min-kiang di Propinsi Hok-kian, dia tiba di dekat sarang perkumpulan Sin-ciang Tiat-thouw-pang dan dia melihat empat orang sedang ribut mulut.
Dia tidak me-ngenal empat orang itut namun amat tertarik karena melihat bahwa empat orang laki-laki tua itu bukanlah orang-orang biasa, hal ini dapat dilihat jelas dari sikap dan gerak-gerik mereka, sedangkan di situ terdapat dua kelompok orang-orang yang menonton, kesemuanya memperlihatkan sikap orang-orang yang ahli dalam ilmu silat, akan tetapi agaknya mereka merasa takut dan segan untuk mencampuri percekcokan itu.
Empat orang itu memang bukan orang-orang sembarangan.
Yang sedang marah-marah adalah dua orang kakek yang usianya sudah enam puluh tahun lebih, yang seorang tinggi besar dan mukanya brewok menyeramkan, tangannya memegang sebatang tongkat dan dengan tongkatnya ini beberapa kali dia menuding ke arah muka dua orang kakek yang dimarahi dan yang usianya kurang lebih lima puluh tahun.
Kakek ke dua yang marah juga berusia enam puluh tahun lebih, tubuhnya kecil pendek akan tetapi kepalanya gundul lonjong dan matanya tajam.
Kakek ini menyeramkan sekali karena dia hanya memakai celana hitam sampai ke bawah betis, sedangkan tubuh atasnya yang kurus itu telanjang sama sekali, seperti juga kedua kakinya.
Suaranya lantang dan nyaring.
Kakek muka brewok itu bukan lain adalah Hai-liong-ong Phang Tek, sedangkan kakek ke dua yang tak berbaju adalah Kim-liong-ong Phang Sun.
Seperti telah kita ketahui, mereka ini adalah tokoh-tokoh besar di selatan yang terkenal dengan julukan Lam-hai Sam-to (Tiga Orang Tua Laut Selatan), tadinya mereka bertiga bersama dengan Hek-liong-ong Cu Bi Kun, akan tetapi orang ini seperti telah diceritakan di bagian depan, telah tewas oleh Pangeran Ceng Han Houw ketika Cu Bi Kun bermaksud membunuh Sin Liong.
Dan seperti yang telah diputuskan oleh Pangeran Ceng Han Houw, Lam-hai Sam-lo yang kini tinggal dua orang itu kini menjadi tokoh terbesar di selatan, dan menjadi bengcu (pemimpin) dari dunia sesat di selatan!
Adapun dua orang kakek berusia lima puluh tahun yang sedang menghadapi kemarahan dua orang bengcu ini adalah ketua dari Sin-ciang Tiat-thouw-pang, yaitu Sin-ciang Gu Kok Ban dan Tiat-thouw Tong Siok.
Telah kita ketahui ketika dalam pemilihan bengcu di selatan, memang telah terjadi bentrok antara kedua orang tokoh ini dengan Lam-hai Sam-lo, akan tetapi karena fihak Sin-ciang Tiat-thouw-pang merasa kalah kuat, maka mereka ini lalu mundur dan mengalah.
Akan tetapi mengapakah kini dua orang bengcu itu marah-marah kepada pemimpin Sin-ciang Tiat-thouw-pang ini?
Biarpun dia tidak mengenal empat orang itu, namun Ciauw Si amat tertarik, menduga bahwa tentu mereka itu merupakan tokoh-tokoh penting dalam dunia kang-ouw, maka diam-diam iapun mendengarkan dengan penuh perhatian.
Tiat-thouw Tong Siok yang bertubuh tinggi besar, kepalanya botak dan mukanya bopeng terkenal lebih keras wataknya daripada suhengnya.
Dengan mata terbelalak lebar dan kemarahan yang tidak disembunyikan lagi dia berteriak.
"Semenjak dahulu semua perkumpulan memberi sumbangan suka rela kepada bengcu sekuat kemampuan masing-masing. Sekarang bengcu menentukan jumlah seenak perut sendiri. Peraturan manakah ini?"
Kim-liong-ong Phang Sun yang kecil pendek dan bertelanjang baju itu tertawa mengejek dan berkata.
"Eh-eh, Tong Siok, berani engkau mengeluarkan suara macam itu? Setiap orang raja baru berhak menjatuhkan keputusan baru dan mengubah peraturan lama dengan peraturan baru! Kamipun demikian. Sebagai bengcu baru kami telah menjatuhkan keputusan bahwa setiap perkumpulan yang berlindung di bawah kami harus mengeluarkan pembayaran sesuai dengan yang sudah kami taksirkan dan keputusan kami inilah peraturan baru!"
Sebelum sutenya sempat mengeluarkan kata-kata keras, Sin-ciang Gu Kok Ban sudah cepat berkata.
"Harap ji-wi bengcu suka bersabar. Terus terang saja, perkumpulan kami agak mundur dan lemah dalam hal keuangan, maka harap ji-wi suka menerima seadanya dulu menurut kemampuan kami. Lain kali tenti kami akan berusaha memenuhi permintaan ji-wi seperti jumlah yang telah ditentukan itu."
"Pangcu,"
Kata Hai-liong-ong Phang Tek.
"Keputusan bengcu mana boleh diganggu gugat dan ditawar-tawar lagi? Kalau kami tidak melaksanakan keputusan kami sendiri, hal itu sungguh akan menurunkan wibawa kami dan mengacau ketertiban."
"Habis, kalau kami tidak mampu membayar iuran paksaan ini, kalian mau apa?"
Bentak Tiat-thouw (Kepala Besi) Tong Siok penuh kemarahan, toya besinya sudah tergetar dalam genggaman tangannya.
"Heh-heh-heh!"
Kim-liong-ong (Raja Naga Emas) Phang Sun, adik dari Phang Tek, tertawa mengejek.
"Kalau kalian tidak mau bayar, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Sin-ciang Tiat-thouw-pang harus mengganti ketuanya yang lebih bijaksana dan dapat mentaati peraturan kami. Ke dua, bubarkan saja perkumpulan Sin-ciang Tiat-thouw-pang agar tidak membikin kacau!"
"Kami tidak mau mengganti ketua, tidak mau membubarkan perkumpulan, tidak mau membayar uang paksa, kalian mau apa!"
Tiat-thouw Tong Siok membentak, tidak keburu dicegah oleh Sin-ciang (Tangan Sakti) Gu Kok Ban.
"Bagus! Kalau begitu kami akan mengirim kalian ke neraka!"
Kata Hai-liong-ong (Raja Naga Laut) Phang Tek yang juga sudah marah menyaksikan sikap bandel dari dua orang ketua perkumpulan yang memang sejak dahulu menentangnya itu.
Kim-liong-ong Phang Sun sudah menerjang si muka bopeng Tong Siok.
Kakek bertubuh kecil pendek ini bergerak dengan kecepatan kilat, tahu-tahu tubuhnya sudah melayang dan tangannya yang kecil itu sudah bergerak menyambar ke arah kepala lawan.
Ciauw Si yang menonton terkejut sekali karena dia mengenal gerakan yang amat lihai dan pukulan si kakek kecil itu mengeluarkan suara bercuitan!
Tong Siok adalah wakil ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang berjuluk Si Kepala Besi, maka tentu saja kepandaiannya cukup hebat dan lebih dari itu, dia telah mengenal kesaktian lawan, maka dia tidak berani ceroboh, cepat dia melempar tubuh ke belakang, berjungkir balik dan toya besinya diputar dalam serangan balasan yang dahsyat pula.
Namun, sambil tertawa mengejek si kakek kecil itu menggerakkan tangan kiri menangkis.
"Ting-ting-cringgg...!"
Tiga kali tongkat besi bertemu dengan tangan kiri yang terlindung gelang emas sehingga terdengar suara berdencing nyaring dan tubuh wakil ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu terhuyung.
Sementara itu, Hai-liong-ong Phang Tek juga sudah menyerang Gu Kok Ban dengan tongkatnya.
Gu Kok Ban maklum akan kesaktian lawan, diapun mencabut sepasang siang-kiamnya dan menyambut tongkat itu.
Terjadilah pertandingan yang amat seru dan hebat, karena Gu Kok Ban dan Tong Siok yang maklum bahwa tingkat kepandaian dua orang lawan itu masih lebih tinggi, tetap melawan dan tidak mau mundur, bertekad untuk membela nama perkumpulan sampai napas terakhir!
Betapapun nekatnya mereka itu, tetap saja mereka tidak mampu membendung datangnya serangan lawan yang bertubi-tubi.
Dua orang kakek yang memakai julukan raja naga itu memang memiliki gin-kang yang amat tinggi tingkatnya sehingga gerakan mereka jauh lebih cepat, membuat Gu Kok Ban dan Tong Siok menjadi repot dan harus memutar senjata mereka cepat-cepat untuk melindungi tubuh sendiri.
"Cinggg-cinggg... wuuuutttt...!"
Tong Siok terkejut bukan main.
Selain toya besinya kena ditangkis, juga jari tangan kanan kakek kecil itu hampir saia menusuk pelipis kepalanya.
Kalau dia tidak cepat melempar tubuh ke belakang dan jari telunjuk itu mengenal pelipis, tentu kepalanya sudah berlubang dan nyawanya melayang.
Akan tetapi si kecil tertawa dan menendang.
Tanpa dapat dihindarkan lagi tubuh Tong Siok yang tinggi besar itu mencelat dan bergulingan sampai beberapa meter jauhnya.
Namun dia tidak terluka, hanya terkejut dan meloncat bangun lagi dengan muka pucat!
Akan tetapi, sebelum dia menerjang lagi, tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang dara yang cantik telah menyerang kakek kecil itu dengan hebatnya!
Begitu menyerang, jari-jari tangan dara ini bercuitan menusuk dengan bertubi-tubi ke arah tujuh jalan darah di bagian depan tubuh Kim-liong-ong!
"Ehhh...
ehhhh...!"
Kim-liong-ong Phang Sun terkejut bukan main karena semua tangkisannya luput karena jari tangan itu sudah ditarik kembali dan dengan kecepatan kilat sudah menusuknya lagi.
Terpaksa dia meloncat ke belakang, maklum akan bahayanya serangan nona yang baru datang ini.
Ternyata Ciauw Si begitu menerjang telah mempergunakan jurus Ilmu Silat San-in-kun-hoat yang ampuh.
San-in-kun-hoat (Ilmu Awan Gunung) ini hanya mempunyai delapan jurus, namun setiap jurus merupakan gerakan yang amat hebat dan berbahaya sekali bagi lawan.
Tadi Ciauw Si telah menyerang dengan jurus ke lima yang disebut San-in-ci-tian (Awan Gunung Mengeluarkan Kilat), maka tentu saja Kim-liong-ong menjadi terkejut bukan main.
Sebaliknya, Ciauw Si tidak heran melihat lawannya dapat menghindarkan diri karena memang dia maklum bahwa kakek pendek kecil ini amat lihai, maka diapun lalu menerjang lagi, Sekali ini mengatur langkah menurut Ilmu Thai-kek Sin-kun dan terus mengejar dan menghujankan serangan kepada Kim-liong-ong Phang Sun!
Terjadilah perkelahian yang lebih seru lagi dan diam-diam kakek kecil pendek itu terkejut bukan main karena dara cantik ini benar-benar memiliki dasar ilmu silat tinggi yang amat kokoh kuat dan bersih!
Selagi dia menduga-duga siapa adanya dara ini, Tong Siok yang merasa beruntung sekali memperoleh bantuan seorang dara yang lihai sudah menerjangnya lagi dengan tongkat besi.
Tentu saja Kim-liong-ong menjadi sibuk juga dikeroyok dua oleh lawan yang pandai ini dan dia banyak main mundur, mengelak dan kadang-kadang mempergunakan gelang emasnya untuk menangkis.
Kedua tangannya kini mengeluarkan hawa dingin yang berbau amis karena kakek ini sudah mengerahkan ilmunya yang keji, yaitu pukulan-pukulan beracun!
Betapapun juga, karena kini Ciauw Si yang melihat penggunaan ilmu pukulan beracun telah mencabut pedangnya, kakek kecil itu tetap terdesak hebat.
Sinar pedang ber-gulung-gulung seperti seekor naga putih ketika Ciauw Si memutar pedang Pek-kang-kiam.
Sesuai dengan namanya, pedangnya ini terbuat daripada baja putih, pemberian dari kakeknya.
Di lain fihak, melihat datangnya bantuan seorang dara lihai di fihak musuh, Hai-liong-ong Phang Tek menjadi marah dan juga khawatir melihat adiknya terdesak.
Dia mengeluarkan teriakan nyaring dan mendesak Gu Kok Ban dengan tongkatnya.
Didesak secara hebat itu, Gu Kok Ban menjadi gugup dan kakinya kena ditendang, membuat dia terguling.
Dengan girang Hai-liong-ong menubruk dengan tongkatnya, mengirim pukulan maut ke arah kepala lawan.
"Tranggg!"
Tongkatnya terpental dan ternyata yang menangkisnya adalah sinar putih yang diikuti pedang Pek-kang-kiam di tangan Ciauw Si.
Dara yang bermata tajam ini melihat bahaya mengancam ketua pertama dari Sin-ciang Tiat-thouw-pang, maka dengan kecepatan kilat dia telah menyelamatkan nyawa orang itu.
Gu Kok Ban meloncat bangun dan membalas serangan lawan dengan senjata siang-kiamnya, kini dibantu oleh dara itu sehingga Hai-liong-ong terpaksa harus memutar tongkat agar lolos dari ancaman maut.
Kini Hai-liong-ong yang dikeroyok dua itu terdesak hebat, akan tetapi sebaliknya Tong Siok yang ditinggalkan Ciauw Si terancam dan terdesak hebat oleh Kim-liong-ong, sampai Ciauw Si meloncat lagi membantu wakil ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang ini!
Demikianlah, perkelahian itu menjadi seru sekali di mana Ciauw Si berloncatan ke sana-sini untuk membantu jika seorang di antara dua ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu terdesak!
Munculnya dara ini benar-benar membuat para penonton, yang terdiri dari orang-orang Sin-ciang Tiat-thouw-pang dan banyak pula orang-orang dari golongan sesat yang menyaksikan pertandingan itu, menjadi gempar!
Mereka belum pernah melihat dara ini, dan sekali muncul dara ini telah berani main-main dengan Lam-hai Sam-lo.
Dan ternyata dara ini memiliki tingkat kepandaian yang hebat!
Akan tetapi, mereka tidak berani turun tangan, karena mereka semua merasa jerih terhadap Lam-hai Sam-lo yang kini tinggal dua orang itu.
Karena Ciauw Si harus membantu dua orang, maka tentu saja keadaan mereka bertiga tetap terdesak oleh dua orang kakek sakti itu, dan kalau dilanjutkan, agaknya tentu akhirnya seorang di antara mereka akan roboh oleh Lam-hai Sam-lo.
Pada saat perkelahian sedang memuncak serunya, tiba-tiba terdengar teriakan halus.
"Lam-hai Sam-lo, kalian bikin ribut lagi? Mundurlah!"
Dua orang kakek itu memandang dan kaget bukan main melihat pemuda yang menegur mereka itu.
Cepat mereka meloncat mundur kemudian menghampiri pemuda yang berpakaian indah itu, lalu menjatuhkan diri berlutut.
"Harap paduka mengampuni hamba, pangeran. Bukanlah hamba berdua, melainkan dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang inilah yang membikin kacau!"
Kata Hai-liong-ong Phang Tek dengan muka ketakutan.
Yang muncul itu bukan lain adalah Ceng Han Houw dan Sin Liong!
Seperti kita ketahui, dua orang muda ini melakukan perjalanan ke selatan untuk mencari Ouwyang Bu Sek, sesuai dengan janji Sin Liong untuk membawa Han Houw kepada suhengnya itu untuk dapat ber-guru kepada kakek cebol botak itu.
Mereka singgah di Yen-ping dan kebetulan melihat perkelahian itu.
Biarpun ada orang berlutut kepadanya dan minta ampun namun pada saat itu sang pangeran sama sekali tidak memandang kepada mereka, melainkan memandang kepada Lie Ciauw Si yang berdiri dengan pedang Pek-kang-kiam di tangan, berdiri dengan sikap gagah.
Keringat yang membasahi dahi dan lehernya, dan rambut yang kusut terjurai di atas dahinya itu menambah manis dara ini, sehingga Han Houw memandang seperti orang terkena pesona, penuh kagum.
Ciauw Si sendiri terkejut melihat munculnya dua orang pemuda remaja itu dan terheran-heran ketika melihat dua orang lawan tangguh itu berlutut dan menyebut pangeran kepada pemuda yang mengenakan topi bulu indah dan berpakaian mewah itu.
Akan tetapi ketika melihat pemuda yang tampan gagah ini memandang kepadanya, dia merasa jantungnya berdebar dan cepat menundukkan mukanya.
Begitu dara itu menundukkan mukanya, barulah Han Houw menyadari bahwa dia tadi telah memandang kepada gadis itu secara berlebihan.
Cepat dia menarik napas panjang dan kini mengalihkan pandang matanya kepada Hai-liong-ong dan Kim-liong-ong.
"Hemm, Ji-lo, apalagi yang terjadi di sini? Kulihat engkau menyerang kedua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang."
"Pangeran, mereka itu melanggar peraturan yang telah hamba tetapkan sebagai bengcu baru atas pengangkatan paduka."
Kata pula Hai-liong-ong dengan harapan untuk mendapatkan dukungan dari pangeran ini.
Ceng Han Houw menoleh kepada Sin-ciang Gu Kok Ban dan Tiat-thouw Tong Siok.
Dua orang itu berdiri dengan sikap hormat.
"Benarkan ji-wi sengaja melakukan pengacauan dan menentang bengcu?"
"Sama sekali tidak, pangeran!"
Jawab Gu Kok Ban tegas.
"Biasanya, semenjak dahulu, perkumpulan kami selalu memberi sumbangan secara suka rela kepada bengcu, sesuai dengan kemampuan kami. Akan tetapi, sekarang kedua orang bengcu baru menentukan jumlah sumbangan yang terlalu besar bagi kami sehingga tidak dapat terbayar. Kami sudah minta kelonggaran, akan tetapi mereka malah marah dan mengandalkan kepandaian untuk menyerang kami. Untung ada lihiap ini yang datang menolong, kalau tidak tentu kami berdua telah tewas di tangan mereka."
"Hemm, benarkah itu, Ji-lo?"
Bentak pangeran.
"Mereka... mereka sengaja tidak mau taat..."
Hai-liong-ong mencoba untuk membantah.
"Hemm, seorang pemimpin barulah dapat disebut baik, kalau dia itu tidak hanya mementingkan diri sendiri belaka, akan tetapi memperhatikan keluh-kesah dan kesulitan anak buahnya! Kalian menyalahkan anak buah hanya karena urusan uang, apakah kalian masih kurang memperoleh upah dari kerajaan?"
"Ampun, pangeran... hamba hanya ingin menjalankan tertib..."
"Diam! Kalian tidak boleh menjatuhkan keputusan dan peraturan seenak kalian sendiri saja. Setiap peraturan baru haruslah diundangkan dan disetujui oleh semua anggauta dan semua perkumpulan yang berada dalam lingkungan kita. Mengertikah kalian?"
"Hamba... hamba mengerti!"
Jawab Hai-liong-ong.
"Syukur... kalau tidak, tentu kalian berdua akan mengalami nasib seperti Hek-liong-ong! Nah, lekas minta maaf kepada pimpinan Sin-ciang Tiat-thouw-pang!"
Dua orang kakek itu tidak berani membantah dan mereka lalu bangkit berdiri dan menjura kepada Gu Kok Ban dan Tong Siok yang cepat membalas pula penghormatan itu.
"Juga kepada nona itu!"
Kata pula Han Houw.
Dua orang kakek itu menjadi merah mukanya.
Mereka tidak mengenal nona ini, akan tetapi karena takut kalau-kalau pangeran menjadi semakin marah, mereka lalu menjura kepada Ciauw Si dan minta dimaafkan.
Ciauw Si juga membalas penghormatan itu, karena dia sendiri tidak tahu bagaimana duduknya perkara, hanya tadi dia membela dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang karena melihat mereka didesak dan ditindas.
"Sekarang pergilah dan tunggu perintahku,"
Kata Han How.
Dua orang kakek itu mengangguk, memberi hormat lagi dan tanpa sepatahpun kata mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu seperti dua ekor anjing yang dibentak oleh majikannya.
Melihat ini semua, Ciauw Si menjadi terkejut dan terheran-heran, juga amat kagum.
Pemuda yang disebut pangeran itu masih demikian muda, akan tetapi dua orang seperti dua orang kakek tadi yang memiliki kepandaian hebat sekali, setingkat dengan kepandaian tokoh-tokoh terbesar di dunia kang-ouw, bersikap demikian takut-takut dan tunduk kepada pangeran muda ini!
Betapa besar pengaruh dan kekuasaan pangeran ini, pikirnya.
Akan tetapi dia tidak berani bertemu pandang secara langsung dengan Han Houw, Karena setiap kali bertemu pandang dia melihat pandang mata pemuda bangsawan ini seolah-olah menembus dan menjenguk ke dalam hatinya.
Ciauw Si merasa jantungnya berdebar aneh, dan tanpa disadarinya, kedua pipinya menjadi merah sekali.
Biarpun dia telah berusia dua puluh empat tahun dan merupakan seorang gadis yang cantik sekali, namun belum pernah dia jatuh cinta, belum pernah dia tergila-gila kepada seorang pria, dan baru sekali ini dia mempunyai perasaan yang aneh sekali ketika berhadapan dengan Pangeran muda ini!
Kini Han Houw menghadapi dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang dan Ciauw Si yang masih berdiri menundukkan muka dan pedang tadi telah disimpannya kembali ke dalam sarung pedang yang tergantung di punggungnya.
Sejenak Han Houw memandang wajah yang menunduk itu, kemudLan berkata sambil tersenyum kepada Gu Kok Ban.
"Aih, ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang boleh merasa beruntung sekali telah memperoleh seorang pembantu seperti nona ini yang amat lihai."
"Maaf, pangeran, sesungguhnya kami selamanya belum pernah bertemu dengan lihiap ini, sama sekali tidak pernah mengenalnya dan baru sekarang kami bertemu dengan lihiap ini yang datang-datang terus menolong kami. Bahkan kami belum sempat menghaturkan terima kasih kepadanya."
"Ahhh... sungguh mengagumkan! Kalau begitu nona tentu seorang pendekar wanita yang gagah perkasa dan budiman!"
Han Houw memuji, sikapnya seperti orang yang lebih dewasa, padahal usia pangeran ini baru kira-kira delapan belas atau sembilan belas tahun saja sedangkan nona itu sudah berusia dua puluh empat tahun.
Melihat betapa nona yang cantik dan gagah perkasa itu makin menunduk mendengar pujian ini, Han Houw lalu berkata lagi.
"Bolehkan kami mengetahui siapakah nama nona dan mengapa nona turun tangan membantu kedua ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang tidak nona kenal ini?"
Dengan jantung berdebar karena merasa amat malu terhadap pangeran ini, suatu hal yang amat mengherankan bagi Ciauw Si sendiri, gadis ini mengangkat mukanya yang menjadi kemerahan dan menjura kepada mereka semua dengan sekali gerakan saja, lalu berkata, suaranya halus.
"Namaku adalah Lie Ciauw Si dan maafkanlah kalau aku lancang men-campuri urusan orang-orang lain yang sama sekali tidak kukenal. Kalau aku sampai turun tangan membantu ji-wi pangcu ini, adalah aku melihat mereka diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh dua orang yang menyebut diri mereka bengcu tadi."
Ciauw Si semenjak kecil ikut kakeknya dan hidup di kalangan orang-orang gagah, maka dia tidak biasa terikat oleh segala peraturan sopan santun, dan wataknya terbuka dan jujur.
Itulah pula sebabnya mengapa di depan seorang pangeran, dia masih bersikap demikian bersahaja dan seolah-olah tidak menghormati pangeran itu yang biasanya selalu dihormati dan dijilat oleh sikap orang-orang di sekitarnya.
Sikap dara ini saja sudah menimbulkan perasaan suka yang besar dalam dada Han Houw.
Sikap seperti itu pulalah yang diperlihatkan Sin Liong maka pangeran itupun merasa suka kepadanya, dan kini, begitu berjumpa, memang hatinya sudah amat tertarik oleh wajah, tubuh, dan kegagahan Ciauw Si, maka sikap terbuka ini makin memperbesar rasa sukanya.
Dengan wajah berseri Han Houw berseru.
"Ah, ternyata nona seorang pendekar yang gagah perkasa dan budiman, yang tanpa memandang bulu selalu akan membantu fihak tertindas. Sungguh kami merasa kagum sekali, nona Lie!"
"Dan kami berdua bersama seluruh anggauta Sin-ciang Tiat-thouw-pang menghaturkan banyak terima kasih atas budi pertolongan lihiap,"
Kata Gu Kok Ban sambil menjura, kemudian dia mempersilakan pangeran bersama Sin Liong yang telah mereka kenal sebagai seorang pemuda luar biasa berilmu tinggi, juga Ciauw Si, untuk duduk di dalam.
Mula-mula Ciauw Si menolak.
"Terima kasih, aku hanya kebetulan lewat saja dan setelah urusan ini selesai aku hendak melanjutkan perjalananku."
"Aih, Lie-siocia, mengapa begitu sungkan? Setelah pertemuan yang amat kebetulan ini, agaknya kita telah ditakdirkan untuk menjadi sahabat, apalagi mengingat bahwa baru saja nona telah menyelamatkan nyawa ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang, maka aku ikut mengharap agar nona sudi memenuhi undangan kami, dan bicara di dalam untuk mempererat persahabatan,"
Kata Han Houw.
Ciauw Si tersenyum dan tidak mampu menolak lagi.
Gu Kok Ban dan Tong Siok dengan sibuk lalu memerintah anak buahnya untuk mempersiapkan pesta kecil untuk menghormati pangeran, Sin Liong dan Ciauw Si.
"Perkenalkanlah, Lie-siocia, aku adalah Ceng Han Houw, adik tiri dari Sri Baginda Kaisar dan aku adalah kuasanya yang melakukan pemeriksaan ke daerah-daerah. Dia ini bernama Sin Liong, adik angkatku yang lihai!"
Han Houw tidak mau menyebutkan nama keturunan Sin Liong, sesuai dengan keinginan Sin Liong.
Dia sedang berusaha mengambil hati dan menyenangkan Sin Liong, maka dia tidak mau menyinggung perasaannya.
Kemudian dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang juga memperkenalkan diri kepada Lie Ciauw Si yang dijamu dengan segala kehormatan itu.
Semenjak tiba di tempat itu, Sin Liong tidak pernah membuka mulut dan dia tidak begitu memperdulikan nona yang gagah perkasa itu karena memang tidak mengenalnya.
"Kalau boleh kami mengetahui, Lie-lihiap murid dari perguruan manakah? Ilmu silatmu sungguh amat lihai dan mengagumkan sekali, bahkan kami orang-orang tua yang bodoh tidak dapat mengenalnya,"
Kata Tong Siok dengan suaranya yang parau dan besar, sesuai dengan tubuhnya yang tinggi besar, kepala botak dan mukanya yang bopeng kasar.
"Ah, ji-pangcu, ilmu silatku hanya hasil kupelajari dari sana-sini, tidak ada harganya untuk disebut,"
Jawab dara itu secara sembarangan saja, dan jelas bahwa gadis ini memang tidak ingin memperkenalkan perguruannya.
Melihat ini, Pangeran Ceng Han Houw tertawa.
"Hemm, pangcu, banyak pendekar yang tidak ingin diketahui asal-usulnya, dan Lie-siocia ini agaknya termasuk seorang di antara para pendekar budiman yang penuh rahasia, maka janganlah bertanya tentang sumber kepandaiannya yang tinggi."
Mereka makan minum dan seperti biasa, Han Houw pandai sekali bersikap ramah dan menyenangkan.
Ada saja bahan percakapan bagi pangeran yang memang cerdik ini, apalagi karena hatinya memang amat tertarik kepada gadis itu, maka dia bersikap manis sekali sehingga diam-diam Ciauw Si makin tertarik.
Secara memutar dan tidak langsung, seolah-olah bercerita sambil lalu saja, pangeran yang masih amat muda ini menyatakan betapa dia amat dikasihi oleh Sri Baginda, dipercaya besar sehingga memiliki kekuasaan besar di istana.
Lalu diceritakannya tanpa disengaja agaknya bahwa dia masih belum menemukan seorang wanita yang dianggapnya patut untuk mendampinginya.
"Sebagai seorang pangeran yang dekat dengan Kaisar, tentu saja banyak gadis diberikan kepadaku,"
Katanya sambil tersenyum dan menggerakkan pundak seolah-olah dia "terpaksa"
Oleh keadaan itu.
"Akan tetapi sesungguhnya aku sudah merasa muak dengan wanita-wanita yang hanya pandai bersolek, bernyanyi atau menari itu, karena mereka itu adalah orang-orang lemah. Padahal aku sejak kecil paling suka akan kegagahan!"
"Ilmu kepandaian silat dari Pangeran Ceng Han Houw amat tinggi, lihiap,"
Kata Tong Siok, bukan untuk menjilat melainkan berkata dengan sejujurnya karena diapun sudah tahu bahwa pangeran ini memiliki kepandaian yang amat lihai.
Mendengar ini, makin kagumlah hati Ciauw Si.
Hebat pemuda bangsawan ini, pikirnya.
Begitu tampan dan ganteng, gagah perkasa, berkedudukan tinggi, manis budi bahasanya pandai bergaul dan tidak sombong, Dapat menguasai orang-orang kang-ouw yang gagah dan lihai, dan ternyata malah memiliki kepandaian yang tinggi pula!
Jarang menjumpai seorang pria seperti ini memang!
Agaknya Han Houw dapat menyelami isi pikiran gadis itu melalui sinar mata mereka yang saling bertemu.
Kini Ciauw Si lebih berani menentang pandang mata pangeran itu, dan beberapa kali dia merasa betapa pandang mata yang bersinar tajam itu penuh arti ketika bertemu dengan pandang matanya.
Juga sang pangeran merasa betapa gadis itu tidak mengelak lagi kini, bahkan berusaha untuk menyatakan perasaan melalui sinar mata dan senyum bibirnya yang indah itu.
Maka bangkitlah Han Houw, menjura ke arah Ciauw Si dan berkatalah pangeran ini dengan suaranya yang halus dan kata-katanya yang teratur seperti layaknya seorang pangeran yang berpendidikan tinggi.
"Lie-siocia, sudah semenjak jaman dahulu para pendekar selalu mengutamakan perkenalan melalui ilmu silat yang menjadi kebanggaannya dan yang dilatihnya semenjak kecil. Kini, biarpun kita telah saling berkenalan, namun rasanya masih belum puas hati ini kalau aku belum mengenal ilmu kepandaian nona secara langsung. Maka, berilah kehormatan dan kebahagiaan kepadaku untuk mengenal ilmu silatmu, nona!"
Ini merupakan tantangan untuk adu ilmu, tantangan yang amat halus dan sopan.
Wajah Ciauw Si kembali menjadi kemerahan.
Dia cepat membalas penghormatan pangeran itu, berdiri dengan sikap lemah gemulai.
"Ah, mana aku berani, pangeran? Kepandaianku biasa saja, sebaliknya pangeran tentu memiliki kepandaian yang amat hebat, karena dengan kedudukan pangeran yang begitu tinggi, apa sukarnya mencari guru yang amat pandai! Pula, ilmu pukulan adalah permainan berbahaya, maka aku khawatir kalau-kalau tangan kita yang tidak bermata akan mendatangkan malapetaka."
Ini bukan penolakan mutlak, bukan pula tanda takut, bahkan mengandung kekhawatiran kalau sampai mencelakakan pangeran itu.
Han Houw tersenyum.
"Nona, jangan mengira aku tidak tahu bahwa nona sudah mencapai tingkat yang sedemikian tingginya sehingga di setiap ujung jari nona seakan-akan telah bermata, mana mungkin melukai orang kalau tidak dikehendaki oleh nona sendiri? Marilah, harap nona tidak sungkan karena sungguh aku ingin sekali menyaksikan kelihaian nona."
"Kamipun berharap agar lihiap sudi membuka mata kami dengan ilmu lihiap yang tinggi dan agar pertemuan ini makin menggembirakan,"
Kata pula Sin-ciang Gu Kok Ban memuji.
Diam-diam ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang inipun ingin sekali menyaksikan sendiri kelihaian sang pangeran yang hanya pernah didengarnya saja.
Karena memang pada dasarnya Ciauw Si ingin menguji kepandaian silat dari pangeran yang amat menarik hatinya ini, akhirnya setelah semua orang, kecuali Sin Liong, membujuknya, dia lalu berkata.
"Baiklah, pangeran, akan tetapi kuharap pangeran suka menaruh kasihan dan jangan menurunkan tangan besi."
"Ha-ha-ha, nona bisa saja merendah. Akulah yang mohon kemurahan nona agar jangan sampai aku roboh mengukur tanah dalam beberapa jurus saja. Nah, silakan, nona."
Han Houw sudah menjauhkan diri dari meja kursi, berdiri di tengah ruangan yang lebar itu menanti Ciauw Si.
Dua orang ketua itu memandang penuh perhatian, sedangkan Sin Liong yang tidak merasa tertarik karena dia sudah mengenal betul watak pangeran yang mata keranjang dan pandai merayu wanita itu merasa jemu dan juga tidak senang, melanjutkan makan minum dan nampaknya tidak mengacuhkan pertandingan adu ilmu itu.
"Mulailah, pangeran,"
Ciauw Si berkata setelah berhadapan dengan pangeran itu, memasang kuda-kuda dengan gagahnya dan tersenyum manis, matanya menyambarkan kerling maut yang membuat jantung Han Houw makin terguncang.
Sungguh mengherankan memang kekuasaan cinta asmara.
Sekali Ciauw Si terpikat, secara otomatis muncullah sifat-sifat kewanitaan yang penuh pikatan dalam dirinya, terbawa oleh naluri kewanitaannya!
Padahal biasanya, gadis pendekar ini lebih dikenal sebagai seorang wanita yang keras dan agak dingin menghadapi kaum pria, bahkan mudah marah kalau mendengar mulut pria me-ngeluarkan kata-kata yang sifatnya menggoda, atau melihat pandang mata yang penuh kagum ditujukan kepadanya.
Kini, dia memasang kuda-kuda dengan gerakan indah dan mempersilakan lawannya sambil tersenyum manis!
"Ah, engkau terlampau sungkan, Lie-siocia.
Biarlah aku bergerak lebih dulu, maafkan,"
Tiba-tiba Han Houw lalu bergerak maju dan mengirim serangan yang cukup cepat dan dia menggunakan tenaga sin-kangnya yang kuat.
Memang pangeran ini ingin sekali menguji sendiri kepandaian dara yang telah menjatuhkan hatinya ini.
"Hiaattt...!"
Dia menyusulkan serangan sehingga secara bertubi-tubi pangeran ini telah mengirim empat kali pukulan yang susul menyusul, amat cepat dan angin pukulan sampai terasa oleh mereka yang duduk di depan meja.
Dua orang ketua itu terkejut bukan main karena serangan pertama ini saja sudah membuktikan bahwa nama besar pangeran muda ini bukanlah nama kosong belaka.
"Haaaiiitttt...!"
Ciauw Si bergerak dengan amat indah, langkah-langkahnya teratur dan tubuhnya seperti menari-nari ketika dia mengelak secara beruntun dengan amat mudahnya, seolah-olah serangan yang amat cepat dan bertenaga itu bukan apa-apa baginya, dan dia masih sempat melempar kerling dan senyum.
Akan tetapi pada saat itu, Sin Liong tertegun di atas kursinya.
Dia mengenal ilmu sliat yang dimainkan oleh gadis itu!
Itulah langkah-langkah Thai-kek-sin-kun!
Tidak salah lagi!
Thai-kek-sin-kun yang dimainkan dengan amat baiknya oleh gadis itu.
Mudah diduga bahwa tentu gadis itu menerima pelajaran Thai-kek-sin-kun dari tangan pertama!
Ada hubungan apakah antara gadis ini dengan mendiang kakeknya, atau dengan ayah kandungnya?
Mulailah Sin Liong tertarik sekali dan kini diapun mengikuti jalannya pertandingan itu dengan penuh perhatian.
Diam-diam Ceng Han Houw juga girang dan kagum sekali.
Tepat dugaannya.
Nona ini bukanlah seorang gadis kang-ouw biasa, bukan seorang ahli silat biasa.
Jelas bahwa ilmu silatnya bersumber dari ilmu silat yang tinggi sekali!
Makin hebatlah dia melancarkan serangannya.
Akan tetapi semua serangan Han Houw dapat dielakkan atau ditangkis dengan baiknya oleh gadis itu!
Bahkan ketika pangeran itu sengaja mengerahkan tenaga dan mengadu lengan untuk menguji tenaga lawan, dia merasakan lengannya tergetar, tanda bahwa tenaga sin-kang pula!
Makin kagumlah hati tertarik pula dia.
Benar-benar seorang dara yang jarang terdapat, seorang gadis pilihan!
Di lain fihak, Ciauw Si juga terkejut dan kagum bukan main.
Biarpun dia mengenal ilmu silat pangeran ini sebagai ilmu silat tingkat tinggi yang bersumber dari ilmu silat golongan sesat, namun harus diakuinya bahwa ilmu silat yang dimiliki pangeran itu amat hebat, dan tenaga sin-kangnya juga amat kuat!
Kiranya pangeran ini benar-benar seorang yang lihai!
Karena ingin memamerkan kepandaiannya, gadis itu tiba-tiba mengubah gerakannya dan tiba-tiba tubuhnya berputaran seperti gasing dan dengan gerakan ini dia menyerang lawan!
"Ehhh...!"
Pangeran Ceng Han Houw terkejut dan terpaksa dia main mundur dan bersikap waspada, dan karena tubuh gadis itu berpusing sedemikian cepatnya sambil keempat kaki tangannya kadang-kadang menyerang secara tiba-tiba, Han Houw tidak dapat mengandalkan kelincahan tubuh mengelak, melainkan menjaga diri dengan tangkisan-tangkisan cepat.
Kembali Sin Liong menahan napas.
Itulah In-keng-hong-wi (Awan Mencipta Angin dan Hujan), jurus ke delapan dari San-in Kun-hoat!
Jelaslah bahwa gadis ini memang ada hubungannya dengan Cin-ling-pai, tidak salah lagi!
Dengan jurus yang hebat ini, Pangeran Han Houw terdesak dan pangeran ini cepat menggunakan langkah-langkah Pat-kwa-po dan barulah dia berhasil menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu.
"Hebat...!"
Serunya kagum ketika nona itu menghentikan serangannya dengan jurus luar biasa itu dan tiba-tiba Ceng Han Houw melakukan dorongan kedua tangannya ke depan.
Melihat betapa dahsyatnya serangan ini, dan terutama karena ingin menguji tenaga lawan, juga ada dorongan dari hatinya untuk mengadu telapak tangan dengan pangeran yang makin menarik hatinya itu, Ciauw Si cepat mendorongkan kedua tangannya pula.
"Plakk!"
Dua pasang telapak tangan saling bertemu dan untuk beberapa detik lamanya mereka saling dorong.
Ciauw Si merasa betapa kuatnya lawan dan dia hampir tidak dapat menahan ketika tiba-tiba pangeran itu mengurangi tenaganya sehingga kekuatan mereka berimbang.
Tentu saja Ciauw Si merasakan hal ini dan kini mereka merasakan betapa ada getaran-getaran halus menjalar melalui kedua telapak tangan mereka yang saling melekat, getaran yang aneh dan terus menjalar sampai ke jantung dan membuat pipi mereka berwarna merah sekali dan kedua mata mereka saling pandang seperti tidak mau berpisah lagi.
Pandang mata yang mengandung kemesraan, dan getaran dari sentuhan telapak tangan itu berubah hangat dan nikmat, mendatangkan rasa malu kepada Ciauw Si yang cepat menarik kedua tangannya sambil berseru.
"Aku mengaku kalah..."
Ceng Han Houw tertawa.
"Ha-ha-ha, sungguh nona terlalu merendah! Selama hidupku belum pernah aku Pangeran Ceng Han Houw bertemu dengan seorang yang demikian lihai seperti nona. Sungguh aku merasa takluk dan kagum sekali, Lie-siocia!"
"Pangeran terlalu memuji..."
Ciauw Si tersipu malu, akan tetapi hatinya hanya dia yang tahu, girang dan bangga bukan main!
Mereka melanjutkan makan minum dan Sin Liong hanya mendengarkan saja ketika Han Houw dan dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang memuji-muji Ciauw Si.
Akan tetapi kini diapun mulai memperhatikan nona itu karena dia amat tertarik melihat ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai dimainkan secara demikian baiknya oleh nona ini.
Dia teringat akan cucu perempuan yang meninggalkan Cin-ling-pai untuk mencari Cia Bun Houw, ayahnya!
Gadis inilah cucu kakeknya itu, keponakan dari ayah kandungnya?
Agaknya, melihat ilmu silatnya, tidak akan salah lagi kalau gadis ini menerima semua ilmu yang dimainkannya tadi dari kakeknya secara langsung, melihat betapa sempurna dan baiknya dia memainkannya.
Sayang bahwa dia dulu tidak begitu memperhatikan sehingga sama sekali lupa akan nama cucu kakeknya atau saudara misannya itu ketika kakeknya menyebutkan nama itu secara sambil lalu.
Benarkah nona Lie Ciauw Si ini keponakan ayah kandungnya?
Akan tetapi, karena dia sendiri hendak menyembunyikan hubungan keluarga dengan fihak Cin-ling-pai, maka diapun diam saja, hanya dia berkeputusan untuk memperhatikan gadis ini dan melindunginya dari marabahaya!
"Eh, Liong-te, kenapa sejak tadi kau diam saja?
Apakah engkau tidak kagum melihat ilmu kepandaian Lie-siocia yang demikian hebatnya?"
Sin Liong terkejut dan mukanya berubah merah ketika semua orang, juga nona cantik itu memandang kepadanya.
"Lie-siocia, engkau tidak tahu bahwa adik angkatku ini memiliki ilmu silat yang amat tinggi, jauh lebih tinggi daripada tingkatku sendiri!"
Kata pula sang pangeran sambil tertawa kepada Ciauw Si.
Mendengar ini, terkejutlah Ciauw Si.
Dia tadi sudah melihat pemuda remaja yang tampan dan pendiam itu, dan sama sekali tidak memperhatikannya.
Akan tetapi sekarang pangeran itu menyatakan bahwa adik angkat pangeran ini memiliki kepandaian lebih tinggi lagi!
Padahal pangeran itu sendiri sudah memiliki kepandaian hebat!
Maka gadis ini memandang dengan kaget dan penuh keheranan kepada Sin Liong, kemudian dia berkata.
"Ah, pengertianku dalam ilmu silat masih amat dangkal..."
Mendengar ini, Sin Liong merasa kasihan kepada nona ini.
Seorang nona yang gagah perkasa, namun di balik pandang mata yang membayangkan kekerasan hati itu terkandung keramahan dan agaknya nona ini telah terdidik baik untuk merendahkan diri, maka dia cepat bangkit berdiri dan menjura.
"Ilmu silat Lie-lihiap sungguh amat tinggi sekali! Sungph aku merasa kagum."
Ciauw Si balas menjura dah mengucapkan terima kasih atas pujian itu.
Kemudian atas bujukan fihak tuan rumah yang diperkuat oleh Pangeran Ceng Han Houw, akhirnya Ciauw Si merasa sungkan untuk menolak ketika dia dipersilakan untuk tinggal selama beberapa hari di situ.
Selain fihak tuan rumah amat ramah dan baik kepadanya, juga adanya pangeran itu di situ merupakan daya tarik yang amat kuat karena diam-diam gadis ini ingin berkenalan lebih akrab dengan Han Houw.
Sementara itu, diam-diam Sin Liong selalu mengamati dan menjaga agar dara itu jangan sampai diganggu siapapun juga.
"Nona Lie Ciauw Si, aku tidak perlu menyembunyikan perasaanku kepadamu lagi, aku jatuh cinta kepadamu, nona."
Hening sekali dalam taman itu mengikuti ucapan Han Houw ini.
Mereka duduk berdampingan di atas bangku panjang dalam taman di belakang rumah ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang.
Semenjak tadi mereka duduk dalam taman bercakap-cakap dan setelah tinggal dua hari di situ, Ciauw Si sudah menjadi sahabat baik Han Houw.
Mereka makin saling tertarik dan akhirnya, pada senja itu, ketika mereka duduk bercakap-cakap dalam taman, Han Houw dengan terus terang menyatakan cintanya!
Mendengar ucapan itu, Ciauw Si mengangkat muka memandang wajah pangeran itu dengan sinar mata tajam penuh selidik.
Dia kini telah dapat menguasai rasa malu dan sungkan terhadap pangeran yang selalu ramah dan manis budi kepadanya itu, dan mendengar pengakuan hati ini, dia ingin sekali meyakinkan dirinya bahwa pangeran itu bicara dari lubuk hatinya.
"Jangan kau ragu-ragu, nona, aku sungguh telah jatuh cinta kepadamu semenjak pertama kali bertemu, aku kagum melihat kepandaian, kagum melihat kegagahanmu, dan kagum melihat kecantikanmu. Aku cinta padamu dan aku ingin dapat hidup bersamamu sebagai suami isteri."
Biarpun usianya baru sembilan belas tahun, namun Han Houw telah memiliki banyak pengalaman dengan wanita, maka mengaku cinta secara terang-terangan seperti itu bukan merupakan hal yang aneh baginya dan dapat dilakukannya dengan tenang-tenang saja!
Tidak demikian dengan Ciauw Si.
Walaupun usianya sudah dua puluh empat tahun, namun pengalaman ini merupakan yang pertama kali dalam hidupnya!
"Pangeran, sesungguhnyakah apa yang kauucapkan itu?"
Akhirnya terdengar Ciauw Si bertanya, suaranya halus tergetar karena hatinya merasa terharu.
Pangeran itu memegang tangan Ciauw Si dan kembali dari pertemuan antara kedua tangan itu terdapat getaran halus yang langsung keluar dari perasaan hati mereka.
"Ciauw Si, apakah engkau tidak percaya kepadaku? Pandanglah mataku dan engkau tentu dapat menjenguk hatiku melalui mataku. Sungguh mati, selama hidupku baru sekali ini aku jatuh cinta, sungguhpun telah banyak wanita diberikan kepadaku sebagai selir. Belum pernah aku jatuh cinta kepada wanita seperti sekali ini, Ciauw Si. Aku cinta padamu, perlukah aku bersumpah?"
"Mungkinkah itu? Engkau adalah seorang pangeran yang berkedudukan tinggi sekali, sedangkan aku... aku hanyalah seorang gadis..."
"Yang cantik manis, yang gagah perkasa, yang budiman, dan aku percaya dan yakin bahwa engkau adalah keturunan keluarga yang amat gagah perkasa!"
Sambung pangeran itu dan dengan penuh perasaan dia menggenggam tangan yang kecil hangat itu.
Namun Ciauw Si dengan lembut menarik tangannya dari genggaman sang pangeran, kemudian menunduk dan alisnya berkerut.
"Tapi, pangeran... hendaknya kau ingat baik-baik bahwa aku tentu jauh lebih... tua dari padamu! Ingat, usiaku sekarang telah dua puluh empat tahun dan engkau tentu paling banyak dua puluh... dan..."
Akan tetapi Han Houw sudah merangkulnya dan membiarkan Ciauw Si terisak menangis di pundaknya.
Dia mengelus rambut yang halus itu, mulutnya berbisik mesra dekat telinga Ciauw Si.
"Ciauw Si... mengapa engkau meragukan semua itu? Cinta kasih tidak mengenal usia, tidak mengenal kedudukan, bukan? Aku cinta padamu, berikut keadaanmu, kedudukanmu, usiamu. Aku mencinta engkau, karena engkau adalah engkau! Nah, masih ragukah engkau, Ciauw Si? Aku akan mengawinimu, bukan hanya menjadi selirku, aku akan mengambilmu sebagai isteri!"
"Tapi... tapi..."
Tiba-tiba Han Houw memegang kedua pundak gadis itu, mendorongnya halus ke belakang sehingga mereka kini saling berhadapan, beradu pandang.
"Dengar baik-baik, Ciauw Si! Aku cinta kepadamu, dan tidak ada hal-hal yang akan dapat menahan cintaku kepadamu, kecuali satu, yaitu kalau engkau tidak dapat menerimanya! Akan tetapi, dari sikapmu, dari pandang matamu, dari suaramu, aku yakin bahwa engkaupun cinta kepadaku, bukankah benar dugaanku, Ciauw Si?"
Sejenak mereka saling memandang dan perlahan-lahan ada dua butir air mata mengalir turun di atas kedua pipi yang agak pucat itu.
Ciauw Si mengangguk, dan bibirnya berbisik lirih.
"Aku... aku cinta padamu, pangeran..."
Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya, tidak dapat karena dengan cepat dan dibarengi seruan tertahan saking gembiranya Han Houw sudah menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya, kemudian dia mencium bibir gadis itu dengan sepenuh hatinya!
Ciauw Si tersentak kaget.
Selamanya baru sekarang dia mengalami ini dan kekagetan membuat tubuhnya menegang kaku, akan tetapi ketika dia merasakan ciuman mesra dari pria yang telah menjatuhkan hatinya itu, Dia menjadi terharu dan diapun balas merangkul dan membiarkan dirinya hanyut dalam kemesraan yang timbul karena ciuman mesra itu.
Seperti dalam keadaan mimpi atau setengah sadar, Ciauw Si menyerah saja dipeluk, dibelai, diciumi seluruh mukanya dan dia tenggelam ke dalam kemesraan yang membuatnya seperti mabuk.
Setelah gelombang kegairahan yang menggelora itu agak mereda, Ciauw Si merebahkan kepala di atas dada pangeran itu dalam keadaan lemas seperti kehabisan tenaga.
Dia mendengarkan suara jantung pangeran itu berdentaman keras di dekat te-linganya dan dia merasa berbahagia sekali, perasaan yang selama hidupnya baru sekarang dirasakannya.
Jari-jari tangan yang membelai rambutnya itu amat mesra, membuatnya memejamkan mata dengan hati merasa tenteram dan damai.
"Yakinkah engkau kini akan cinta kasih antara kita berdua, Ciauw Si? Lenyapkah sudah keraguanmu bahwa aku mencintamu dengan seluruh jiwaku, dan bahwa engkaupun mencintaku?"
"... aku yakin... demi Tuhan, aku yakin dan bahagia... aku tidak ragu-ragu lagi, pangeran..."
Bisik gadis itu dengan suara menggetar dan bibir tersenyum penuh kebahagiaan.
Ciuman-ciuman tadi masih membuatnya pening, namun kepeningan yang penuh nikmat, seperti orang mabuk arak yang baik.
"Kekasihku... calon isteriku yang baik, kalau begitu, marilah kau ikut bersamaku kekamarku, akan kubuktikan kepadamu cinta kasihku yang mendalam, Ciauw Si..."
Akan tetapi, begitu mendengar kata-kata ini, secepat kilat Ciauw Si menarik tubuhnya dari pelukan pangeran itu, meloncat ke belakang dan memandang dengan mata berkilat kepada pangeran itu.
"Kau... kau..."
Pangeran Ceng Han Houw terkejut bukan main melihat perubahan pada diri kekasihnya ini.
"Ciauw Si, mengapa kau? Kau kelihatan marah, kenapa?"
"Pangeran, seperti itukah cintamu?"
"Eh...? Kenapa? Apa salahku kepadamu, Ciauw Si?"
Wajah itu menjadi merah dan suaranya terdengar kaku dan dingin.
"Hemm, engkau masih bertanya lagi? Engkau... mengajakku ke kamarmu! Patutkah itu? Begitu kotor dan rendah cintamu?"
Kini pangeran itu yang terbelalak.
"Ahhh? Bagaimana ini? Apa salahnya bagi kita yang saling mencinta untuk menumpahkan dan membuktikan cinta kasih antara kita di dalam kamar? Apa kotornya dan apa rendahnya hal itu, Ciauw Si? Sungguh aku tidak mengerti..."
"Hemm, jangan pura-pura tidak mengerti, pangeran! Kau kira aku semacam perempuan yang mudah saja kaurayu kemudian kaubujuk untuk menyerahkan kehormatanku? Aku bukan perempuan murah seperti itu!"
"Eh, eh... nanti dulu, Ciauw Si, mengapa engkau berpandangan demikian? Aku cinta padamu... dan kalau aku mengajakmu ke kamarku, itu adalah karena cintaku kepadamu, sama sekali bukan dengan maksud tidak baik. Apa salahnya kalau kita mengadakan hubungan, setelah kita saling mencinta?"
Kini Ciauw Si yang menjadi bingung.
Benar-benarkah pangeran itu tidak menganggap hal seperti itu kotor, rendah dan menghina wanita?
"Pangeran, seorang wanita yang sopan dan bersih sampai mati tidak akan mau menyerahkan kehormatannya kepada pria manapun, kecuali kepada suaminya yang telah resmi menjadi suaminya!"
"Ahhh...!"
Kini wajah pangeran itu berseri.
"Ah, maafkan aku, Ciauw Si! Engkau benar, sungguh aku sampai lupa diri. Hal ini adalah karena setiap kali orang menyerahkan wanita untuk menjadi selirku, tidak pernah ada upacara apa-apa. Maka akupun menjadi terbiasa dan bebas! Aku girang, aku bangga bahwa engkau berbeda dengan mereka! Tentu saja! Dan aku bersumpah tidak akan menjamahmu lagi sebelum kita menjadi pengantin! Kaumaafkanlah aku, Ciauw Si, bukan maksudku untuk menghinamu, sungguh mati, bukan..."
Perlahan-lahan muka yang merah padam itu mulai menjadi normal kembali dan kemarahannya mereda, akhirnya wanita itu lalu duduk lagi di samping pangeran dan memegang tangannya.
"Kaulah yang harus memaafkan aku, pangeran. Aku tadi terkejut sekali maka aku menjadi marah ah, engkau memang mengejutkan aku dengan ajakan itu. Syukur engkau tidak berniat buruk, engkau tidak sengaja... percayalah, setelah kita resmi menjadi suami isteri, aku bersedia menyerahkan segala-galanya kepadamu dengan tulus ikhlas dan rela, pangeran."
Sang pangeran merangkul dan kembali Ciauw Si merebahkan kepalanya di atas dada pangeran itu.
Perasaannya nyaman sekali, makin besar kebahagiaannya bahwa pangeran ini sungguh-sungguh amat mencinta padanya, bukan sekedar hendak mempermainkannya!
Mereka berdua tidak tahu bahwa tidak jauh dari situ, sepasang mata selalu mengintai dan mata ini adalah mata Sin Liong!
Pemuda inipun selalu mendengarkan percakapan mereka.
Dia mengalami ketegangan tadi, namum akhirnya dia merasa lega dan dia merasa heran mengapa pangeran itu sekali ini benar-benar jatuh cinta dan tidak mempunyai niat buruk terhadap dara itu.
Diapun tidak mengintai lebih jauh karena tahu bahwa gadis itu tidak memerlukan perlindungannya lagi.
Maka pergilah dia dari tempat sembunyinya.
"Ciauw Si, sungguh sikapmu tadi juga amat mengejutkan dan mengkhawatirkan hatiku, akan tetapi akhirnya aku malah merasa bangga sekali! Engkau adalah gadis idamanku, cantik, gagah perkasa, budiman, dan juga bukan wanita murahan! Ah, sungguh aneh sekali. Kita saling mencinta seperti ini namun aku belum pernah mendengar riwayat dirimu! Ciauw Si, ceritakanlah tentang keluargamu agar aku tahu kepada siapa aku harus meminangmu kelak."
Dengan hati terasa nyaman gadis itu lalu menceritakan keadaannya, bahwa ibunya telah menjadi janda dan bahwa ibunya adalah puteri ketua Cin-ling-pai dan dia sendiri dididik ilmu silat oleh ketua Cin-ling-pai yaitu kakeknya.
Bahwa dia pergi meninggalkan Cin-ling-pai untuk mencari pamannya, yaitu Cia Bun Houw yang amat dirindukan kakeknya.
Dapat dibayangkan betapa kaget hati Pangeran Ceng Han Houw mendengar bahwa gadis yang dicintanya itu adalah keponakan dari pendekar Cia Bun Houw, dan puteri dari pendekar wanita Cia Giok Keng yang pada saat itu sedang menjadi buronan!
Akan tetapi hatinya terasa lega karena betapapun juga, secara pribadi dia sama sekali tidak mempunyai permusuhan apapun dengan para pendekar itu.
Yang memusuhi para pendekar she Cia dan Yap adalah Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio, gurunya dan kakak seperguruannya, akan tetapi dia sendiri secara pribadi sama sekali tidak pernah bermusuhan dengan mereka.
Apalagi, gadis ini biarpun masih keluarga dari pendekar itu, nyatanya she Lie, bukan she Yap atau she Cia atau Tio!
Maka tenanglah hatinya, bahkan dia merangkul dan berkata dengan suara penuh kebanggaan.
"Aihh! Kiranya engkau adalah cucu ketua Cin-ling-pai, bahkan muridnya! Pantas saja ilmu kepandaianmu demikian hebat, kekasihku,"
Dan dia mencium Ciauw Si yang merasa girang akan pujian itu.
Biarpun melakukan hubungan kelamin merupakan pantangan keras bagi Ciauw Si sebelum dia menikah, namun dia tidak dapat menolak ketika pangeran itu kembali mendekapnya, membelai dan menciuminya.
Betapapun juga, harus diakuinya bahwa ada gairah di dalam hatinya yang bernyala, bergelora dan yang mendorongnya untuk membalas penumpahan kasih sayang dari pangeran ini.
Sampai senja terganti malam gelap dan terdengar suara ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang mencari mereka, barulah mereka bangkit dan sambil berpegangan tangan mereka meninggalkan taman itu.
Sambil melangkah perlahan-lahan, pangeran itu bertanya ke mana kekasihnya hendak pergi dan bagaimana dia dapat mengajukan pinangan.
"Aku telah terlalu lama meninggalkan Cin-ling-pai,"
Jawab Ciauw Si.
"Dari sini aku akan kembali ke Cin-ling-san, kemudian aku akan pulang ke rumah ibuku di Sin-yang dan aku... aku akan menanti kunjunganmu di sana, pangeran."
Diam-diam hati pangeran itu terharu.
Dia tidak berani menceritakan, akan tetapi dia dapat membayangkan betapa hati kekasihnya ini akan merana dan menderita pukulan hebat kalau mengetahui bahwa kakeknya, ketua Cin-ling-pai, telah meninggal dunia dan betapa ibunya kini telah menjadi buronan pemerintah!
"Baiklah, kekasihku, engkau tunggu saja.
Akan tiba saatnya aku mencarimu dan meminangmu dari ibumu.
Sementara itu, kalau engkau membutuhkan bantuanku, atau kalau hendak mencariku, datanglah saja ke istana.
Kalau engkau mengaku sebagai tunanganku atau sahabatkut dan memperlihatkan cincin ini, tentu engkau akan diterima dengan kehormatan sebagai tamu agung."
Setelah berkata demikian, Pangeran Ceng Han Houw mencabut cincin yang dipakainya di jari manis kirinya, sebuah cincin bermata mutiara yang indah, kemudian dia memegang tangan kanan Ciauw Si dan memasangkan cincinnya itu ke jari telunjuk Ciauw Si.
Pas sekali!
Ciauw Si mencium cincin di jari tangannya itu dan mereka lalu memasuki ruangan di mana dua orang ketua telah menanti dan mereka itu memandang dengan wajah berseri.
Sebagai orang-orang tua berpengalaman mereka maklum akan apa yang terjadi antara dua orang muda itu.
Sin Liong juga sudah menanti mereka di situ dan mereka lalu makan malam dengan penuh kegembiraan.
Pada keesokan harinya, Lie Ciauw Si melanjutkan perjalanannya, atau lebih tepat lagi, mengakhiri perjalanannya untuk kembali ke Cin-ling-san dengan hati ringan dan penuh kebahagiaan.
Sedangkan Pangeran Ceng Han Houw bersama Sin Liong lalu melanjutkan perjalanannya mencari Ouwyang Bu Sek.
Sementara itu, dua pasang suami isteri pendekar di lereng bukit Bukit Bwee-hoa-san, Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong menjadi terkejut sekali ketika mereka mendengar suara bising dari pasukan kerajaan yang menyerbu ke lereng itu.
Terlambat, pikir mereka dan diam-diam mereka merasa kasihan kepada mata-mata yang menyampaikan berita kepada mereka tadi.
Tentu telah tertangkap.
Akan tetapi, mereka tidak sempat memikirkan nasib mata-mata itu karena pasukan telah muncul dan mereka harus cepat bertindak.
Kun Liong yang mengingat akan keadaan adiknya yang sedang mengandung, lalu menyuruh isterinya, Cia Giok Keng, menemani In Hong untuk lebih dulu melarikan diri ke utara, sedangkan dia sendiri bersama Bun Houw akan menghadapi pasukan yang menyerbu dari selatan itu.
Dua orang wanita pendekar itu mula-mula tidak setuju dan mereka ingin menghadapi musuh di samping suami mereka.
"Apa artinya empat orang dari kita menghadapi musuh yang ratusan orang, bahkan ribuan orang banyaknya?"
Bantah Kun Liong.
"Tidak, kalian berdua harus pergi lebih dulu, apalagi Hong-moi sedang mengandung, tidak baik untuk menggunakan tenaga melakukan pertempuran."
"Apa yang dikatakan oleh Liong-ko sungguh tepat, dan kita tidak boleh ragu-ragu lagi,"
Sambung Bun Houw.
"Apalagi kita bukanlah pemberontak, dan sama sekali tidak pernah terkandung dalam hati kita untuk menentang pemerintah, apalagi melawan pasukan kerajaan. Kita hanya membela diri, maka biarlah kalian melarikan diri lebih dulu, kami berdua akan menahan mereka kemudian setelah mendapat kesempatan, kamipun tentu akan melarikan diri."
"Akan tetapi ke mana kami harus pergi?"
Cia Giok Keng, nyonya muda yang masih benemangat itu membantah.
In Hong yang di dalam hatinya juga tidak setuju, namun karena maklum bahwa dalam keadaan mengandung tidak mungkin baginya untuk dapat mengerahkan tenaga sepenuhnya tanpa membahayakan kandungannya, hanya diam saja.
"Kau ajaklah Hong-moi lari ke rumah anak kita di Yen-tai, dan untuk sementara bersembunyi di sana, kami akan menyusul kalian secepatnya,"
Kata Kun Liong tergesa-gesa karena suara bising kini makin mendekat.
"Jangan lupa, hati-hatilah agar jangan sampai ada yang tahu bahwa kalian memasuki Yen-tai agar anak kita tidak sampai terbawa-bawa."
Karena kini pasukan kerajaan sudah datang dekat, dua orang nyonya itu tidak membuang waktu lagi dan cepat mereka melarikan diri ke utara, Berlawanan dengan pasukan yang naik ke bukit dari selatan.
Biarpun sedang mengandung, namun karena tingkat kepandaiannya memang sudah amat tinggi, In Hong dapat melarikan diri dengan cepat tanpa membahayakan dirinya, tanpa pengerahan tenaga banyak-banyak.
Dengan cepat dua orang wanita perkasa ini sudah turun dari lereng Bukit Bwee-hoa-san.
Akan tetapi ketika mereka tiba di kaki bukit itu, tiba-tiba saja dari balik semak-semak dan pohon-pohon berlompatan keluar pasukan pemerintah yang agaknya sudah berjaga-jaga di tempat itu!
Dalam waktu cepat sekali telah muncul puluhan orang perajurit, bahkan agaknya tidak kurang dari seratus orang!
Dan seorang perwira sudah bergerak meneriakkan aba-aba kepada mereka untuk bergerak menangkap dua orang pendekar wanita itu!
Yap In Hong adalah seorang wanita yang cantik jelita biarpun dalam keadaan sedang mengandung lima bulan, sedangkan Cia Giok Keng, biarpun usianya sudah mendekati lima puluh tahun, juga masih tampak cantik, maka para perajurit itu tersenyum dan menyeringai girang ketika menerima perintah yang dianggapnya amat ringan dan menyenangkan itu.
Mereka seperti segerombolan serigala yang hendak berebut dulu menerkam dua ekor kelinci.
Akan tetapi begitu orang-orang pertama (Lanjut ke
Jilid 36) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 36 menerjang, ternyatalah bahwa yang disangka kelinci-kelinci gemuk itu adalah dua ekor singa betina yang amat liar dan hebat!
Dua orang wanita itu menggerakkan kaki tangan dan dalam segebrakan saja empat orang perajurit telah terlempar dan mengaduh-aduh, tidak mampu bangkit berdiri lagi!
Gegerlah para pasukan itu dan baru teringat oleh mereka bahwa dua orang wanita ini adalah pemberontak-pemberontak, buronan yang memiliki kepandaian tinggi!
Maka mereka lalu mengurung dan menerjang dari semua jurusan.
Terjadilah pertempuran yang hebat karena betapapun juga, dua orang itu tidak mau menyerah begitu saja.
Sayang bahwa Yap In Hong sedang mengandung sehingga dia tidak berani mengerahkan tenaga sin-kang terlalu kuat.
Andaikata tidak demikian, tentu amukannya akan membuat seratus orang pasukan itu tidak berdaya, apalagi ada Cia Giok Keng yang membantunya.
Kini, mereka dikepung rapat dan terdesak oleh serangan bertubi-tubi, biarpun tidak mudah pula bagi para perajurit itu untuk dapat merobohkan dua orang wanita perkasa ini.
"In Hong, larilah, biar aku menahan tikus-tikus ini!"
Kata Cia Giok Keng.
"Tidak, kita lari berdua, atau tinggal berdua!"
In Hong berkata.
Tiba-tiba Cia Giok Keng membentak ke arah para pengeroyoknya dengan suara lantang dan melengking tinggi.
"Mundurlah kalian! Kami tidak ingin membunuh kalian! Akan tetapi kalau kalian mendesak, apa boleh buat, kami harus mempertahankan diri!"
Setelah berkata demikian, nyonya yang perkasa ini telah mencabut pedangnya dan nampaklah sinar berkilauan putih.
Nyonya itu telah mencabut pedangnya yang sejak tadi tak pernah dipergunakan, yaitu Gin-hwa-kiam.
Memang kedua orang nyonya ini telah menerima pesan berkali-kali dari suami-suami mereka bahwa mereka itu bukanlah pemberontak-pemberontak, maka tidak boleh membunuh pasukan kerajaan yang hanya menerima perintah atasan.
Maka ketika dikeroyok tadi, mereka hanya mengandalkan kaki tangan untuk menjaga diri.
Menghadapi ancaman itu, tentu saja para perajurit tidak mau mundur, bahkan mereka kinipun mengeluarkan senjata masing-masing dan mengurung dua orang wanita itu dengan ketat.
"Lebih baik kalian menyerah saja daripada harus menghadapi kekerasan!"
Bentak seorang perwira.
"Majulah! Siapa maju lebih dulu akan mampus lebih dulu,"
In Hong yang sudah marah itupun membentak.
Empat orang perajurit menyeringai dan dengan tombak di tangan mereka menubruk ke arah nyonya cantik yang sedang mengandung ini.
Akan tetapi nampak sinar hijau dan empat orang itu memekik ngeri dan roboh, tewas seketika karena mereka itu menjadi korban serangan Siang-tok-swa (Pasir Harum Beracun) yang dilepas oleh Yap In Hong tadi.
Gegerlah para perajurit dan mereka itu segera menerjang dengan senjata mereka.
Cia Giok Keng memutar pedangnya dan Yap In Hong juga melawan sambil kadang-kadang merobohkan beberapa orang dengan pasir beracun itu.
Tiba-tiba terdengar bentakan halus dari luar kepungan.
"Ibu, jangan takut, aku datang membantumu!"
"Ciauw Si...!"
Cia Giok Keng berseru dengan isak tertahan ketika dia mengenal suara puterinya yang telah pergi untuk bertahun-tahun itu.
Dan kepungan itu mulai bobol dan rusak oleh mengamuknya Lie Ciauw Si dari sebelah luar.
Dara ini marah sekali melihat ibunya terkepung, dan dia melempar-lemparkan para perajurit seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja!
Tingkat kepandaian Lie Ciauw Si memang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ibunya, dan biarpun dia tidak dapat dikatakan selihai In Hong, namun nyonya ini sedang mengandung sehingga tidak dapat mengeluarkan kepandaiannya.
Munculnya dara yang mengamuk hebat itu membuat para perajurit yang tadinya memang sudah gentar menghadapi dua orang nyonya yang benar-benar lihai itu menjadi kalang kabut.
"Ibu... bibi... lari...!"
Ciauw Si berseru setelah berhasil membuka kepungan itu.
Mereka lalu melarikan diri, In Hong di depan, dan Giok Keng bersama puterinya di belakang sambil menahan para perajurit yang mengejar mereka.
Dengan menggunakan ilmu berlari cepat, dan ditambah lagi karena para pengawal pengejar itu sudah merasa gentar dan mereka menanti bala bantuan, akhirnya tiga orang wanita ini dapat melarikan diri dan tidak dapat disusul lagi oleh para perajurit.
Sementara itu, Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw juga sudah mengamuk ketika mereka dikurung oleh banyak sekali perajurit.
Mereka tidak mau membunuh, hanya merobohkan para pengeroyok tanpa mengakibatkan luka parah dan memang mereka sengaja mengamuk untuk menahan mereka agar tidak melakukan pengejaran kepada isteri-isteri mereka.
Mereka melihat seorang nenek muka hitam dan seorang wanita cantik yang berdiri di belakang pasukan dan tahulah dua orang pendekar ini bahwa yang memimpin pengepungan ini bukan lain adalah musuh-musuh lama mereka, yaitu Hek-hiat Mo-li dan muridnya, Kim Hong Liu-nio yang lihai!
Melihat mereka, dua orang pendekar ini menjadi marah, akan tetapi juga terkejut dan khawatir akan keselamatan isteri mereka yang telah lebih dulu melarikan diri.
Dua orang wanita itu adalah orang-orang yang kejam dan cerdik, maka sebaiknya kalau mereka itu dipancing agar makin menjauhi arah larinya isteri mereka.
Kun Liong lalu berteriak nyaring dan meloncat jauh sambil berseru.
"Bun Houw, lari...!"
Bun Houw tidak membantah dan meloncat, mengikuti kakak iparnya dan mereka berdua melarikan diri ke barat.
Memang sejak tadi Kim Hong Liu-nio sudah merasa heran melihat bahwa dua orang wanita isteri dua orang pendekar tidak nampak.
Tak mungkin dua orang wanita itu bersembunyi karena keduanya adalah wanita-wanita yang berkepandaian tinggi.
Tentu mereka itu kebetulan sedang pergi, pikirnya.
Maka ketika melihat dua orang pendekar itu melarikan diri, Kim Hong Liu-nio mengeluarkan aba-aba untuk melakukan pengejaran.
Dia maklum akan kelihaian dua orang pendekar itu, maka biarpun dia dibantu oleh gurunya, dia tidak berani ceroboh turun tangan sendiri tanpa bantuan pasukan yang besar jumlahnya.
Kim Hong Liu-nio menyangka bahwa tentu dua orang pendekar itu akan memberi tahu isteri-isteri mereka untuk bersama-sama melawan pasukan atau bersama melarikan diri, maka dia mengajak gurunya untuk melakukan pengejaran.
Tentu saja Kun Liong dan Bun Houw bukan melarikan diri karena takut, melainkan untuk memancing mereka itu mengejar agar isteri-isteri mereka sempat melarikan diri dari Bwee-hoa-san.
Mereka sama sekali tidak pernah mimpi bahwa isteri-isteri mereka itu kini sedang menghadapi pengeroyokan para perajurit yang oleh Kim Hong Liu-nio memang sudah ditugaskan untuk melakukan penjagaan di sekeliling bukit itu!
Setelah merasa cukup jauh meninggalkan Bwee-hoa-san dan tidak berlari terlalu cepat sehingga pasukan itu dapat mengikuti mereka terus, dua orang pendekar itu berhenti di luar sebuah hutan.
Dengan bertolak pinggang mereka menanti datangnya pasukan yang masih dipimpin oleh nenek muka hitam dan muridnya itu, setelah mereka tiba dekat, Cia Bun Houw lalu membentak dengan suara lantang berwibawa.
"Berhenti kalian! Sebagai perajurit-perajurit kerajaan, apakan kalian lupa bahwa keluarga Cin-ling-pai semenjak dahulu adalah keluarga pendekar yang selalu membantu pemerintah menghadapi para pemberontak? Mendiang ayahku, Cia Keng Hong, bahkan adalah sahabat baik mendiang Panglima The Hoo! Kalau sekarang kami sekeluarga dianggap pemberontak, hal itu hanyalah fitnah semata! Dan kami pasti pada suatu hari akan dapat membongkar rahasia fitnah busuk ini!"
Melihat sikap pendekar itu yang amat gagah dan mendengar ucapan itu, para perajurit, terutama mereka yang sudah lama mengenal nama besar keluarga Cin-ling-pai, kelihatan gentar, dan mereka benar saja berhenti bergerak hanya berdiri memandang kepada dua orang pendekar itu.
Melihat ini, Bun Houw dan Kun Liong cepat melompat ke depan dan masing-masing sudah menerjang Kim Hong Liu-nio dan Hek-hiat Mo-li!
Dua orang wanita itu cepat menyambut serangan mereka dan dari mulut Hek-hiat Mo-li keluar suara meringkik aneh seperti seekor kuda marah, padahal nenek ini bermaksud tertawa karena hatinya girang sekali memperoleh kesempatan untuk bertanding melawan seorang musuh-musuhnya!
Memang nenek ini sudah pikun, namun dia masih lihai sekali ketika menyambut terjangan Yap Kun Liong.
Kun Liong yang sudah maklum akan kelihaian nenek bermuka hitam ini, begitu melihat si nenek menangkis pukulannya dengan tangan kiri, sengala dia mengadukan lengannya dan seketika dia mengerahkan tenaga Thi-khi-i-beng!
Memang ilmu ini tidak boleh sembarangan dipergunakan, namun menghadapi seorang tokoh besar selihai nenek ini, dia tidak ragu-ragu lagi untuk mempergunakannya.
"Dukk!"
Dua lengan bertemu dan menempel ketat karena Kun Liong sudah menggunakan tenaga menyedot.
"Iihhh-heh-heh-heh!"
Hek-hiat Mo-li terkekeh dan tiba-tiba Kun Liong merasa betapa kini tenaga yang seketika tadi membanjir dari nenek itu telah berhenti sama sekali dan sebaliknya jari-jari tangan berkuku panjang yang hitam dan mengeluarkan bau busuk telah menyerang dengan gerakan menggores ke arah nadi pergelangan tangannya!
Inilah serangan berbahaya sekali dan terpaksa dia menyimpan tenaga Thi-khi-i-beng dan menarik kembali lengannya!
Ternyata Ilmu Thi-khi-i-beng telah dapat dipunahkan secara demikian mudah dan licik oleh nenek itu, yaitu dengan menyimpan sin-kang dan menyerang tempat berbahaya yang berdekatan dengan bagian tubuh yang menempel!
Dan memang selama ini, nenek itu telah mempelajari semua ilmu-ilmu para musuhnya yang lihai untuk mencari jalan menghadapi ilmu-ilmu itu, termasuk Ilmu Thi-khi-i-beng yang ditakuti!
Setelah tahu bahwa Thi-khi-i-beng tidak akan dapat memenangkannya melawan nenek ini, Yap Kun Liong lalu bersilat dengan gaya yang aneh sekali dan inilah ilmu silat aneh yang didapatkannya dengan mengambil inti sari kitab Keng-lun Tai-pun ciptaan Bun Ong!
Terdengar nenek itu berkali-kali berseru "ah"
Dan "oh"
Karena heran dan bingungnya menghadapi ilmu silat aneh ini yang memang tidak pernah dikenal di dunia kang-ouw, merupakan ilmu silat tunggal dari Kun Liong.
Namun, nenek itupun hebat bukan main.
Biarpun semua serangannya gagal menghadapi perlawanan Kun Liong, namun diapun selalu dapat menghindarkan diri dari pukulan-pukulan ampuh pendekar itu.
Keanehan ilmu sitat Kun Liong memang kadang-kadang menghasilkan satu dua kali pukulan, namun semua pukulan yang mengandung hawa sin-kang amat kuat itu tidak melukai tubuhnya yang dilindungi kekebalan yang luar biasa.
Sementara itu, pertandingan antara Cia Bun Houw melawan Kim Hong Liu-nio juga amat seru dan mati-matian.
Akan tetapi, jelaslah bahwa tingkat Cia Bun Houw masih lebih tinggi, terutama dalam kekuatan sin-kang.
Pendekar ini maklum bahwa lawannya amat lihai dan mahir ilmu silat bermacam-macam, sehingga kalau hanya mengandalkan ilmu silat, Agaknya akan sukar baginya untuk memperoleh kemenangan.
Maka, Bun Houw lebih mengandalkan tenaga Thian-te Sin-ciang yang amat kuat dan memang benarlah, begitu dia mengerahkan seluruh tenaganya, Kim Hong Liu-nio tidak kuat menghadapinya dan hanya main mundur terus, sama sekali tidak berani mengadu lengan.
Kalau dilanjutkan pertempuran dua lawan dua itu, agaknya sudah dapat dipastikan bahwa Kim Hong Liu-nio akan roboh lebih dulu, dan kalau sudah demikian, tentu Hek-hiat Mo-li yang agaknya tidak akan mungkin dapat mengalahkan Yap Kun Liong itupun akan celaka kalau dikeroyok dua!
Kim Hong Liu-nio dapat melihat kenyataan ini, maka dia lalu berteriak memerintahkan pasukan untuk ikut mengeroyok!
Majulah seratus lebih perajurit itu mengepung dan mengeroyok Kun Liong dan Bun Houw.
"Bun Houw, mari kita pergi!"
Yap Kun Liong berseru nyaring karena mereka maklum bahwa dikeroyok demikian banyak orang amat berbahaya, apalagi karena mereka tidak ingin membunuh para perajurit itu.
Keduanya lalu mengirim serangan yang dahsyat ke arah dua orang wanita itu, Memaksa mereka itu mundur dan menggunakan kesempatan itu untuk meloncat tinggi ke atas, melampaui kepala para pengeroyoknya dan mereka terus berloncatan pergi dari tempat itu memasuki hutan.
Pasukan itu mengejar sambil berteriak-teriak, namun sekali ini dua orang pendekar itu memang sengaja hendak melarikan diri, maka tentu saja dengan ilmu berlari cepat, pasukan itu tidak mungkin dapat menyusul mereka, sedangkan guru dan murid yang kalau mau dapat menyusul itupun merasa jerih untuk menghadapi mereka berdua saja.
Dengan jalan memutari hutan itu, akhirnya dua orang pendekar inipun melakukan perjalanan secepatnya untuk menyusul isteri-isteri mereka menuju ke kota pelabuhan Yen-tai, tempat tinggal Souw Kwi Beng dan isterinya, Yap Mei Lan, puteri dari pendekar Yap Kun Liong.
"Suheng, aku sutemu Sin Liong datang menghadap!"
Sudah tiga kali Sin Liong berteriak sambil berdiri di depan guha-guha besar itu bersama Han Houw, dan belum juga ada jawaban.
Seperti telah dijanjikannya, Sin Liong mengajak Ceng Han Houw mendaki puncak Bukit Tai-yun-san di sebelah selatan Propinsi Kwang-tung dan tiba di depan guha-guha puncak itu yang menjadi tempat tinggal suhengnya atau lebih tepat gurunya, yaitu Ouwyang Bu Sek.
Namun, sampai tiga kali dia berteriak, suhengnya itu tidak pernah menjawab atau muncul.
"Jangan-jangan suhengmu itu tidak berada di sini, sedang pergi,"
Kata Han Houw dengan suara bernada kecewa.
"Dia pasti ada, Houw-ko, tadi aku melihat bayangannya berkelebat ketika kita tiba di puncak."
"Kalau begitu, mengapa dia tidak keluar?"
Han Houw bertanya heran, tidak enak dan juga kagum bagaimana Sin Liong dapat melihat berkelebatnya bayangan itu sedangkan dia tidak.
Sin Liong kembali menghadap ke guha, mengerahkan khi-kang dan berseru dengan amat nyaring, sampai gemanya terdengar dari empat penjuru.
"Suheng Ouwyang Bu Sek! Aku Sin Liong datang untuk bicara dengan suheng, urusan penting sekali!"
Setelah gema suara itu lenyap, tiba-tiba terdengar suara dari...
atas!
Pangeran Ceng Han Houw terkejut dan memandang ke atas, akan tetapi tidak ada apa-apa di atas, biarpun dia berani bersumpah, bahwa suara itu memang terdengar dari atas, seolah-olah turun dari langit!
Itulah ilmu mengirim suara dari jauh yang sudah mencapai tingkat tinggi, sehingga dengan kekuatan khi-kang pemilik ilmu itu dapat mengirim suaranya dari manapun.
"Sute, mau apa engkau bawa-bawa orang asing ke sini?"
Biarpun suara itu datangnya dari atas, namun Sin Liong tahu bahwa suhengnya itu memang bersembunyi di dalam guha di depannya.
Maka dia menjura ke arah guha itu dan berkata.
"Suheng yang baik, dia ini bukanlah seorang asing, melainkan kakak angkatku bernama Ceng Han Houw! Keluarlah, suheng, dan mari kita bicara dengan baik."
"Kalau aku tidak mau keluar kau mau apa?"
Sin Liong tidak merasa heran dengan anehnya watak suhengnya itu.
Diapun tahu bagaimana harus menanggulangi watak aneh itu, maka dengan suara dingin dia berkata.
"Aku tidak mau apa-apa, hanya aku tahu bahwa suheng Ouwyang Bu Sek bukanlah orang yang berwatak bong-im-pwe-gi (orang tidak ingat budi)!"
Tiba-tiba nampak bayangan hitam berkelebat dan tahu-tahu di depan dua orang muda itu telah berdiri seorang kakek yang membuat Han Houw terkejut bukan main.
Kakek itu cebol dengan tubuh seperti kanak-kanak, akan tetapi kepalanya besar sekali botak dan wajahnya yang sama sekali bukan kanak-kanak lagi, melainkan wajah seorang kakek tua renta yang amat lucu.
Pakaiannya sederhana dan kedua kakinya telanjang.
Dengan sepasang matanya yang agak menjuling itu dia menghadapi Sin Liong sambil bertolak pinggang dan berkata penuh teguran.
"Kalau engkau hendak mengatakan aku bong-im-pwe-gi, sungguh engkau terlalu sekali, sute! Heh, satu kali engkau menyelamatkan aku dari tangan Sam-lo, apakah selamanya aku harus ingat budi itu terus?"
"Maaf, suheng, bukan maksudku begitu. Akan tetapi aku sungguh ingin bertemu dan bicara denganmu,"
Kata Sin Liong sungguh-sungguh.
Memang ucapannya tadi hanya dipergunakan untuk memancing keluar kakek cebol yang berwatak aneh ini, dan dia telah berhasil.
"Ho-ho, sejak dulu engkau pintar bicara. Mau apa kau ingin bertemu dengan aku? Ha-ha, bocah nakal, jangan kau bilang bahwa engkau merasa rindu kepada kakek buruk macam aku ini!"
Ouwyang Bu Sek tertawa bergelak dan mulut yang terbuka lebar itu sudah tidak ada giginya sama sekali.
"Tidak, suheng, aku tidak rindu kepadamu,"
Jawab Sin Liong sejujurnya karena akan percuma saja membohongi suhengnya ini.
"Akan tetapi aku datang karena aku perlu sekali memperkenalkan kakak angkatku Ceng Han Houw ini kepada suheng."
Kini kakek itu menghadapi Han Houw, bertolak pinggang dan matanya yang menjuling itu memandang penuh perhatian.
Dia melihat seorang pemuda remaja yang tampan dan gagah sekali, yang berdiri sambil menjura kepadanya, yang mempunyai sepasang mata amat tajam dan dari gerak-geriknya dia dapat menduga bahwa pemuda remaja ini tentu memiliki kepandaian yang lumayan.
"Hemmm, aku tidak suka kepadanya, dia terlalu tampan... hemm, dan dia she Ceng lagi, seperti she bangsawan istana raja! Mau apa kau bawa dia berjumpa denganku?"
"Suheng, karena dia ini adalah kakak angkatku, maka dengan sendirinya diapun terhitung sutemu sendiri. Houw-ko ingin sekali belajar ilmu yang tinggi di bawah pimpinan suheng."
"Wah, aku tidak mau menerima murid, apalagi setampan ini!"
"Bukan murid suheng, melainkan sutemu! Dia ingin belajar ilmu dari suhu kita."
"Ah, mana bisa itu?, Sute, kenapa kau ceritakan tentang suhu...?"
"Ingat, suheng, dia ini kakak angkatku, bukan orang lain. Dan percayalah, dia ini seorang yang bercita-cita besar, lebih besar daripada cita-citaku. Dia ingin menjadi orang terpandai di kolong langit, ingin menjadi jagoan nomor satu!"
"Uwah, mana bisa? Orang yang halus seperti ini mana tahan uji? Mana tahan derita? Aku tidak mau...!"
Semenjak tadi Han Houw diam saja bukan karena dia tidak bisa bicara, melainkan karena dia mengikuti setiap gerak-gerik kakek itu dan mendengarkan setiap omongan, dan pangeran yang amat cerdik ini sudah dapat menduga akan kelemahan dari kakek aneh ini, maka kini dialah yang berkata.
"Locianpwe, menilai orang lain jangan melihat keadaan luarnya saja. Melihat keadaan luar locianpwe ini, siapa orangnya yang akan dapat menilai bahwa locianpwe memiliki ilmu kepandaian hebat? Demikian pula dengan aku, biarpun aku kelihatan begini, jangan dikira bahwa aku tidak tahan uji! Dan adikku Sin Liong ini sudah berjanji akan membawaku kepada locianpwe untuk diterima sebagai murid atau sute, terserah. Kalau sampai hal itu tidak terlaksana, apakah bukan berarti bahwa locianpwe menjadi suheng dari orang yang tidak dapat memegang janji?"
Sejenak kakek itu tertegun, kemudian membanting kakinya yang kecil.
"Wah-wah, kakak angkatmu ini malah lebih pintar lagi bicaranya daripada engkau, sute! Dan lagaknya seperti dia ini seorang bangsawan tinggi saja! Apa artinya bagiku menjadi guru atau suheng dari seorang bangsawan kecil?"
Han Houw sudah dapat menduga isi hati kakek ini yang ternyata diam-diam merupakan seorang yang agaknya amat mengagungkan kedudukan tinggi, maka tanpa meragu lagi dia berkata.
"Locianwe, harap jangan memandang rendah kepadaku! Aku memang seorang bangsawan tinggi karena aku adalah seorang pangeran, adik Kaisar yang sekarang ini!"
Benar saja.
Kakek itu undur dua langkah dan memandang dengan mata terbelalak kepada pemuda tampan itu, kemudian menoleh kepada Sin Liong dengan mata mengandung penuh pertanyaan.
Sin Liong mengangguk dan berkata.
"Memang benar apa yang dikatakannya itu, suheng."
Sejenak kakek itu melongo, kemudian dia mengerutkan alisnya dan bertanya kepada Han Houw, suaranya kasar seolah-olah dia tidak tahu bahwa pemuda ini seorang pangeran!
"Hei, apa kamu bisa berdiri jungkir balik dengan kepala di bawah, kaki di atas dan kedua lengan bersedakap?"
Han Houw tersenyum mengejek.
Matanya yang cerdik dapat menangkap kepura-puraan kakek itu yang agaknya tidak menghargai kedudukannya akan tetapi dia dapat menduga bahwa kakek itu amat terkesan, dan kini hendak mengujinya.
"Apa sih sukarnya begitu saja?"
Katanya dan dia memilih sebuah batu halus di depan guha, kemudian sekali menggerakkan kakinya, dia sudah jungkir balik, dengan kepala yang bertopi itu di atas batu, dan kakinya di atas, kedua lengannya bersedakap.
"Hemm, jangan turunkan kaki sebelum kuperintahkan!"
Kata Ouwyang Bu Sek, kemudian dia menggandeng tangan Sin Liong.
"Hayo sute, aku mau bicara denganmu!"
Keduanya lalu memasuki guha dan tidak nampak lagi, juga tidak terdengar suara mereka.
Namun Han Houw yang berkemauan keras untuk memperoleh ilmu-ilmu tinggi sehingga akan terpenuhi cita-citanya menjadi jagoan nomor satu di dunia, tetap dalam keadaan jungkir balik, bahkan memejamkan matanya untuk memusatkan perhatian dan mematikan semua panca inderanya!
Ouwyang Bu Sek mengajak Sin Liong ke dalam guha dan di sini dengan suara berbisik agar jangan sampai terdengar oleh Han Houw, kakek cebol ini berkata kepada Sin Liong.
"Hayo ceritakan siapa dia sebetulnya dan mengapa engkau bersusah payah membujukku untuk menerimanya sebagai murid, sute!"
Walaupun kadang-kadang dia merasa tidak cocok dengan watak Han Houw yang curang dan kejam, namun sesungguhnya Sin Liong merasa suka sekali kepada pangeran itu, apalagi mengingat bahwa mereka telah bersumpah mengangkat saudara.
Maka sedikitpun juga dia tidak ingin menjerumuskan Han Houw ke dalam malapetaka dan sekarangpun dia maslh ingin melindunginya, biarpun apa yang pernah dilakukan oleh Han Houw terhadap Bi Cu untuk memaksanya.
Oleh karena itulah ketika ditanya oleh suhengnya ini, dia masih hendak menutupi pemaksaan yang dilakukan oleh Han Houw dengan cara mengancam Bi Cu tempo hari.
"Kami telah saling bersumpah mengangkat saudara, suheng, dan seperti telah diceritakannya tadi, dia adalah adik tiri seayah dengan Sri Baginda Kaisar yang sekarang. Dia amat disayang oleh Kaisar dan memiliki kedudukan tinggi sekali di istana. Dia bercita-cita tinggi, ingin memiliki ilmu silat yang paling lihai, ingin menjadi jagoan nomor satu di dunia."
Wajah kakek itu berseri.
"Engkau tidak membohongi aku, bukan sute? Aku sudah tua sekali, aku sudah tidak kuat lagi mengajarkan ilmu-ilmuku kepada seorang murld, engkaupun tahu akan hal ini, mengapa engkau memaksa dia berguru kepadaku di sini?"
"Aku bersumpah bahwa apa yang kuceritakan kepadamu tidak bohong, suheng. Dan akupun tidak mengharapkan engkau berpayah-payah mengajarnya sendiri. Bagaimana kalau suheng mengajarkan ilmu-ilmu dari suhu kepadanya? Dia sudah kuceritakan tentang suhu Bu Beng Hud-couw, dan dia ingin sekali menjadi murid beliau."
Kakek itu nampak terkejut.
"Hemm, ah, kau lancang, sute. Tidak mudah menjadi murid suhu, harus kulihat dulu orang itu..."
"Terserah kepada suheng, aku hanya telah berjanji membawanya ke sini dan mempertemukannya dengan suheng dan agar suheng menerimanya."
"Nanti dulu..., bagaimana wataknya? Apakah dia seorang yang mengenal budi?"
Sin Liong berpikir sejenak lalu tanpa ragu-ragu ia mengangguk.
Dia mengenal watak pangeran itu.
Memang Han Houw mengenal budi, sungguhpun agaknya juga tidak akan mudah melupakan kesalahan orang kepadanya.
Pendeknya, pendendam dan pembayar budi yang kuat!
"Jangan khawatir, suheng.
Dia seorang pangeran yang mengerti akan kedudukannya, dan dia tidak akan melupakan orang yang telah menolongnya."
Memang benar dugaan Sin Liong ini.
Akan tetapi dia tidak tahu bahwa biarpun Han Houw suka membalas budi yang dilimpahkan kepadanya, namun dia lebih pendendam dan takkan pernah melupakan kesalahan orang kepadanya.
Watak seperti ini merupakan watak umum dari manusia!
Agaknya kita akan cepat-cepat menolak dan membantah kalau kita dikatakan berwatak seperti Pangeran Ceng Han Houw itu!
Akan tetapi maukah kita membuka mata memandang diri sendiri dengan sejujurnya?
Bukankah kita ini merupakan orang-orang yang ingin membalas budi orang lain namun di samping itu ingin pula membalas perbuatan orang lain terhadap kita yang kita anggap jahat dan merugikan?
Kita condong untuk membalas kebaikan orang dengan kebaikan yang lebih besar lagi, menghadapi keramahan orang dengan keramahan yang lebih besar lagi, namun kitapun ingin membalas kejahatan orang lain dengan kejahatan yang lebih merugikan lagi!
Kalau kita diberi sejengkal kita ingin membalas sedepa, kalau kita dicubit kita ingin balas memukul.
Tidakkah semua ini digerakkan oleh si aku yang ingin di atas selalu?
Karena aku lebih dibaiki orang, aku ingin memperlihatkan bahwa aku lebih baik lagi dari dia, dari siapapun juga.
Pendeknya, agar dilihat bahwa akulah yang terbaik!
Sebaliknya kalau si aku diganggu, aku pula yang ingin membalas dengan gangguan yang lebih kejam lagi agar hati yang mendendam, hati ialah si aku itu pula, menjadi puas.
Si aku ingin selalu menang, ingin selalu serba lebih, tidak mau kalah baik, tidak pula mau kalah berani, biasanya si aku tidak mau menyebut lebih kejam, melainkan lebih berani!
Inilah sebabnya mengapa di antara suami isteri, di antara saudara, di antara sahabat baik, sering kali terjadi pertentangan dan percekcokan.
Seribu satu kali kebaikan dari isteri, suami, saudara atau sahabat akan lenyap tanpa bekas oleh adanya satu kali saja kesalahan!
Pikiran ini, si aku ini, selalu mengejar kesenangan, maka apa yang menyenangkan aku, itulah baik, sebaliknya apa yang tidak menyenangkan aku, itu adalah buruk!
Kalau setiap perbuatan didasari atas penilaian baik dan buruk yang pada hakekatnya adalah menyenangkan atau tidak menyenangkan aku, maka perbuatan yang berpusat pada diri sendiri itu sudah pasti akan menimbulkan pertentangan!
Ini sudah jelas!
Setelah kita membuka mata memandang dengan waspada dan kita dapat melihat semua ini, melihat berarti mengerti, mengerti berarti bertindak, apakah kita tidak dapat bebas dari penilaian baik buruk yang menimbulkan tindakan yang mengandung pertentangan ini?
Setelah dia merasa yakin akan keadaan Ceng Han Houw, Ouwyang Bu Sek lalu mengajak Sin Liong keluar.
"Kau boleh pergi sekarang, sute, kalau engkau mau meninggalkan bocah itu di sini, terserah. Akan tetapi kalau ternyata dia tidak ada gunanya, dia akan kulemparkan ke dalam jurang!"
Kata kakek itu dengan lantang karena memang disengaja agar dapat didengar oleh Han Houw yang ternyata masih berdiri dengan jungkir balik di atas batu yang rata dan licin itu.
"Didik dia baik-baik, suheng, ingat, dia itu kakak angkatku. Katakan kepada Houw-ko bahwa kelak kami akan dapat saling jumpa lagi. Selamat tinggal, suheng."
"Selamat jalan, sute."
Han Houw mendengar ini semua akan tetapi dia diam saja, tidak membuka kedua matanya.
Dia maklum bahwa kakek cebol itu sedang mengujinya, maka diapun ingin memperlihatkan bahwa dia adalah seorang calon murid yang baik!
Bagi seorang yang belum pernah berlatih ilmu silat tinggi, berdiri berjungkir balik seperti itu tentu saja merupakan siksaan, bahkan tidak mungkin dapat bertahan sampai lama.
Akan tetapi, Han Houw adalah murid Hek-hiat Mo-li, sudah memiliki kepandaian yang cukup tinggi, sehingga berdiri jungkir balik seperti itu hanya merupakan permainan kanak-kanak saja baginya.
Dia mendengar semua percakapan antara adik angkatnya dan kakek itu setelah mereka keluar dari dalam guha, dan mendengar langkah kaki Sin Liong pergi dari situ.
Kemudian dia mendengar kakek itu pergi pula meninggalkan tempat itu sehingga keadaan di sekeliling tempat itu sunyi sekali.
Han Houw masih tetap berdiri jungkir balik.
Sejam, dua jam, tiga, empat, lima jam!
Celaka, pikirnya.
Kalau hanya berjungkir balik seperti itu sampai beberapa jam saja dia masih kuat, Akan tetapi kalau dilanjutkan tanpa ada ketentuan kapan kembalinya kakek itu, benar-benar merupakan siksaan hebat.
Celaka!
Dia merasa serba salah!
Kalau terus berjungkir balik seperti itu, setelah lewat lima jam, kepalanya mulai pening dan terutama sekali lehernya mulai terasa pegal-pegal dan lelah.
Akan tetapi kalau menyudahi jungkir balik itu dan menurunkan kaki, tentu akan kesalahan oleh kakek cebol tadi.
Ini merupakan ujian!
Bukankah kakek cebol tadi mengatakan bahwa dia tidak boleh menurunkan kedua kakinya sebelum diperintah oleh si kakek itu?
Dan sekarang kakek itu tidak pernah muncul!
Agaknya hendak menyiksanya atau mempermainkan, atau menjebaknya.
Kalau dia menurunkan kaki, tentu si kakek itu akan muncul dan menyatakan dia tidak memenuhi syarat sebagai murid!
Celaka, kakek cebol itu sungguh sadis!
Han Houw mempertahankan diri, memejamkan mata dan menutup panca inderanya untuk melakukan ujian itu sekuatnya.
Kembali waktu merayap lewat dengan amat melelahkan.
Hari sudah menjadi gelap!
Biarpun dia tidak membuka mata, namun dia dapat merasakan perbedaan antara terang dan gelap dari balik pelupuk matanya.
Hari sudah menjadi gelap dan kakek itu masih juga belum datang membebaskannya!
Bukan main hebatnya penderitaan yang dirasakan Han Houw pada saat-saat itu.
Dan malam terus merayap tanpa ada perubahan pada dirinya.
Dia merasa betapa kepalanya sudah menjadi besar, sebesar gantang, sebesar kepala kakek cebol itu!
Bermacam warna menari-nari di depan matanya.
Kedua pundak dan lehernya seperti sudah berubah menjadi batu, kaku dan tidak dapat merasakan apa-apa lagi!
Celaka, akan matikah dia?
Namun, Han Houw adalah seorang pemuda yang keras hati dan penuh semangat, apalagi dalam mengejar ilmu yang dicita-citakannya ini.
Baca Juga: Suling Naga 7
Baca Juga: Suling Emas 12