Ceritasilat Novel Online

Suling Emas 12

Eps 12 Suling Emas - Kho Ping Hoo

Baca online Suling Emas - Kho Ping Hoo

Cersil Suling Emas - Kho Ping Hoo.

Para tokoh yang merasa pernah bermusuhan dengan Kerajaan Tang, yang pernah bermusuhan dengan Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong diam-diam menyembunyikan diri, takut bertemu dengan Kim-mo Taisu yang amat hebat ilmu kepandaiannya itu.

Bu Song juga terpukul hatinya oleh peristiwa kematian Eng Eng.

Akan tetapi ia seorang muda yang kuat menderita.

Agaknya karena banyak menderita semenjak kecil, membuat hatinya menjadi kuat dan kebal.

Tidak mudah ia runtuh semangat.

Agaknya karena tubuh sehat batin kuat inilah yang membuat Bu Song dapat melakukan perjalanan cepat dengan penuh gairah hidup.

Matanya yang tadinya redup sayu mulai bersinar-sinar lagi, kedua kakinya melangkah lebar.

Berhari-hari ia melakukan perjalanan naik turun gunung.

Ia mentaati pesan gurunya dan mulailah ia makan sarang burung rajawali hitam.

Enak rasanya, gurih dan harum.

Juga setiap kali makan perutnya terasa kenyang dan tahan sampai sehari tidak makan.

Pemuda ini sama sekali tidak tahu bahwa benda yang dimakannya adalah obat kuat yang amat langka didapat, obat yang membuat darahnya menjadi bersih dan tulang-tulangnya menjadi kuat.

Setelah melakukan perjalanan lima belas hari, habislah bekal sarang burung itu dan mulailah ia mencari buah-buahan disepanjang jalan dan ada kalanya ia membeli masakan diwarung sebuah dusun yang dilaluinya.

Bekal yang diberikan gurunya cukup banyak.

Pada suatu hari ketika ia melalui sebuah lereng gunung yang terjal, ia mendengar suara orang bertempur.

Suara itu datangnya dari bawah lereng dan yang membikin Bu Song tertarik dan kaget adalah suara melengking tinggi yang aneh, seperti orang tertawa akan tetapi juga seperti suara wanita menangis.

Ia lalu mempercepat langkahnya menuju kearah suara itu.

Benar saja, disebuah tikungan, ia melihat seorang wanita cantik sedang bertanding melayani dua orang laki-laki tua.

Akan tetapi pertandingan itu amat aneh.

Si wanita duduk bersila dibawah pohon, sedangkan dua orang laki-laki itu berdiri didepannya.

Yang seorang adalah kakek berkepala gundul bersenjata toya sedangkan yang kedua seorang kakek tinggi kurus berambut panjang dan berpedang yang berkilauan cahayanya.

Anehnya, kedua orang kakek itu hanya mengancam dengan senjata mereka sedangkan Si Wanita hanya tertawa-tawa mengejek, sama sekali tidak bergerak dari tempat ia bersila.

Pada saat Bu Song tiba ditempat itu dan mengintai dari balik sebuah batu besar, wanita itu berkata, suaranya merdu akan tetapi dingin menyeramkan.

"Sekali lagi kuperingatkan kalian. Jangan ganggu aku dan pergilah. Aku tidak memusuhi Siauw-lim-pai, juga tidak memusuhi Kong-thong-pai. Adalah partai kalian yang selalu memusuhi aku. Aku sudah bosan bertempur, bosan membunuh. Pergilah dan jangan ganggu aku!"

"Siluman betina, dendam diantara kita sedalam lautan. Harus ditebus dengan nyawa!"

Seru kakek itu sambil menggerakkan pedangnya membacok.

"Omitohud, Tok-siauw-kwi, pinceng juga bukan tukang berkelahi, akan tetapi dosamu terhadap Siauw-lim-pai sudah terlalu banyak. Kewajiban pinceng untuk menghukummu!"

Kata Si Hwesio pula sambil melangkah maju.

Tiba-tiba wanita itu mengeluarkan suara lengking tinggi dan rambutnya yang panjang itu bergerak kedepan, berubah menjadi segulung sinar hitam yang menyambar dahsyat.

Dua orang kakek itu terkejut sekali.

sia-sia saja mereka menggerakkan senjata untuk membebaskan diri karena senjata mereka itu tahu-tahu telah terlibat rambut dan tanpa dapat mereka cegah lagi, senjata toya dan pedang itu sudah terbang pergi dari tangan mereka dan terlempar ke dalam jurang!

"Kalian bukan lawanku.

Pergilah, aku beri ampun kalian!"

Wanita itu berkata lagi, tetap masih duduk bersila, bahkan kini meramkan mata seperti orang hendak samadhi.

Akan tetapi dua orang kakek itu kelihatan menjadi makin marah.

"Tok-siauw-kwi siluman jahat! Kami tidak takut mati. Engkau atau kami yang harus mati saat ini juga!"

Hwesio itu menyambar sepotong ranting pohon dan mempergunakannya sebagai tombak yang ia lontarkan sepenuh tenaga ke arah wanita itu.

adapun kakek dari Kong-thong-pai itupun mengeluarkan batang senjata piauw yang ia sambitkan sekuat tenaga kearah tiga bagian tubuh yang berbahaya.

Melihat ini diam-diam Bu Song merasa ngeri.

Jarak antara kedua orang itu dan Si Wanita cantik yang duduk bersila meramkan mata dibawah pohon tidaklah jauh, sedangkan serangan itu luar biasa cepat dan kuatnya.

Ia membayangkan betapa wanita itu akan tewas dalam keadaan mengerikan dan ada juga rasa penasaran didalam hatinya yang menganggap perbuatan dua orang laki-laki itu sama sekali tidak dapat dipuji.

Jelas bahwa wanita itu sudah mengalah, akan tetapi dua orang itu nekat saja, bahkan melakukan penyerangan yang amat curang.

Akan tetapi tiba-tiba mata Bu Song menjadi silau melihat cahaya terang keluar dari kedua tangan wanita itu.

Entah apa yang terjadi ia tidak dapat mengikuti dengan jelas, akan tetapi tahu-tahu kedua orang kakek itu menjerit keras dan...

dada Si Hwesio sudah tertusuk ranting yang ia lontarkan tadi, adapun Si Kakek mendekap dadanya yang dimakan oleh tiga batang piauwnya sendiri.

Hebat sekali luka mereka, dengan mata terbelalak mereka berputaran lalu roboh berkelojotan dan tak lama kemudian tewaslah kedua orang itu.

Wanita itu mengeluarkan suara melengking keras seperti orang menangis.

Ketika Bu Song memandang lagi, ternyata wanita itu sudah lenyap, tidak ada lagi ditempat tadi.

Berdebar jantung Bu Song.

Peristiwa yang amat hebat dan mengerikan terjadi didepan matanya.

Peristiwa pembunuhan, lagi-lagi dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu tinggi.

Ia keluar dari tempat sembunyinya, melangkah lebar menghampiri dua orang yang sudah menjadi mayat itu, lalu menarik napas panjang.

Dengan hati rasa penasaran ia berdongak dan berkata dengan suara keras.

"Dendam! Pembunuhan! Bunuh-membunuh! Apakah hanya untuk ini manusia dilahirkan didunia?"

Kemudian Bu Song turun tangan, menggulung lengan baju dan membongkar batu-batu dibawah pohon, menggali lubang yang cukup lebar untuk mengubur dua jenazah kakek yang tidak dikenalnya itu.

Sambil mengerjakan ini, wajah wanita itu terbayang didepan matanya dan berulang kali Bu Song menarik napas panjang.

Wanita yang patut dikasihani, pikirnya.

Hidup bergelimang dalam gelombang permusuhan yang tak dapat disingkiri dan yang agaknya mengejar-ngejarnya terus.

Kali ia menang.

Apakah lain kali akan dapat menang terus?

Kepandaian tidak ada batasnya dan sekali waktu tentu wanita itu yang menjadi korban, tewas mengerikan seperti keadaan dua orang kakek ini.

Masih baik kedua orang kakek ini tewas didepannya sehingga masih ada yang mengubur jenazah mereka!

Setelah selesai mengubur dua mayat itu, Bu Song mengebut-ngebutkan pakaiannya dari debu, menyandangkan bungkusan pakaian yang tadi ia turunkan, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

matahari sudah condong ke barat dan dengan ujung lengan bajunya Bu Song menghapus peluhnya.

Tiba-tiba ia berhenti dan memandang penuh perhatian kedepan.

Tadi melihat bayangan berkelebat dan kini tahu-tahu didepannya telah berdiri Si Wanita cantik berambut panjang yang tadi membunuh dua orang kakek itu!

Bu Song memandang jantungnya berdebar.

Dilihat sepintas lalu, wanita ini tidak menakutkan sama sekali.

Bahkan amat menarik dan cantik, akan tetapi pandang matanya dingin dan kerut pada mulutnya membayangkan sesuatu yang mengerikan.

"Mengapa engkau mengubur mereka?"

Wanita itu bertanya, matanya tajam memandang penuh selidik.

Bu Song menengok kebelakang, kearah kuburan kedua orang kakek itu, lalu ia balas memandang dan menarik napas panjang.

Sedikit pun ia tidak takut kepada wanita ini dan teguran wanita itu bahkan mendatangkan rasa penasaran didalam hatinya.

Ia maklum bahwa wanita ini menderita batinnya dan berusaha menutupi penderitaan batinnya dengan sikap yang dingin dan keras.

"Bibi, pertanyaanmu itu tidak pada tempatnya. Sepatutnya akulah yang bertanya mengapa Bibi membunuh mereka?"

Wanita itu tercengang, agaknya sama sekali tidak menduga akan mendapat jawaban begini.

"He, orang muda, jawab pertanyaanku. Jangan engkau main-main. Mengapa engkau mengubur mereka? Apamukah mereka itu?"

"Bukan apa-apa, hanya sesama manusia. Melihat dua orang manusia terbunuh dan menjadi mayat di jalan, sudah menjadi kewajibanku untuk mengubur mereka. Aku dan juga Bibi sendiri pun kelak kalau mati membutuhkan bantuan orang lain untuk mengubur mayat kita."

"Apa kau bilang? Orang muda, jaga baik-baik mulutmu. Tahukah kau bahwa sekali aku turun tangan kau takkan hidup lagi?"

Alangkah herannya hati wanita yang ditakuti didunia kang-ouw itu ketika melihat Si Pemuda tertawa geli mendengar ucapannya.

"Bibi hanya membikin lelucon yang tidak lucu!"

"Apa..., apa maksudmu?"

Tanyanya, saking herannya sampai memandang dengan mata terbelalak.

"Bibi ini siapakah sampai dapat menguasai hidup matinya orang lain? Bibi tidak merasa memberi hidup kepadaku, bagaimana Bibi dapat menguasai hidup dan matiku?"

"Apa? Kau menantang?"

Tok-siauw-kwi lebih heran daripada marah.

"Tidak ada yang menantang. Aku hanya mau katakan bahwa kalau DIA yang memberiku hidup menghendaki aku mati, tanpa Bibi turun tangan pun aku akan mati. Akan tetapi kalau DIA tidak menghendaki aku mati, biar ada seribu orang seperti Bibi turun tangan, aku tidak akan mati! Mati hidup berada ditangan Tuhan. Bibi ini siapakah hendak mengalahkan kekuasaan Tuhan? Padahal mati hidup Bibi sendiri berada ditangan-Nya! Dapatkah Bibi melawan maut apabila Tuhan menghendaki nyawa Bibi kembali ke asalnya?"

Seketika pucat wajah Tok-siauw-kwi. matanya terbelalak dan ia meraba pipinya tanpa ia sadari.

"Aku... aku tidak akan mati...!"

Bu Song menggeleng-geleng kepalanya, lalu ia melangkahkan kaki pergi dari situ sambil berkata, (Lanjut ke

Jilid 28) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 28

"Bibi seorang yang patut dikasihani...!"

Angin menyambar keras tahu-tahu wanita itu sudah berdiri menghadang didepannya.

"Eh, bocah lancang. Kau bilang apa tadi?"

"Aku bilang kau patut dikasihani sampai-sampai tidak mau mengakui kekuasaan Tuhan, dan mengingkari kenyataan bahwa semua manusia mesti mati. Bibi takut mati, itu berarti Bibi kehilangan pegangan dalam hidup, bahwa Bibi kehilangan keperibadian, bahwa Bibi menganggap hidup ini dapat kau pegang dan kau kuasai. Itulah sebabnya Bibi terlalu mudah membunuh orang mengira bahwa nyawa Bibi berada ditangan orang lain yang memusuhi Bibi. Ah, betapa sengsara hidup seperti Bibi ini."

Makin pucat muka wanita itu.

"Kau bohong! Aku tidak takut siapapun juga! Kau lihat sendiri tadi. Mereka berdua memusuhiku akan tetapi tidak dapat melawanku. Siapa memusuhiku akan mati!"

"Betulkah itu, Bibi? Mengalahkan orang lain bukan hal aneh, mengalahkan nafsu pribadi barulah perbuatan mulia! Makin banyak Bibi membunuh orang, makin banyak pula menanam bibit permusuhan dan makin sengsaralah hidup. Manusia hidup untuk saling bantu, saling tolong, bukan saling bermusuhan dan saling bunuh."

"Habis, kalau dua orang keparat tadi memaksaku, apakah aku harus menyerahkan diri dibunuh begitu saja?"

"Ah, Bibi kurang akal. Bibi sakti, apa sukarnya menjauhkan diri dari mereka yang memusuhi Bibi? Akan tetapi Bibi memang haus darah, suka membunuh, sungguh keji...!"

Wanita itu marah sekali.

Ia mengeluarkan lengking tinggi dan tangannya.

Sudah diangkat keatas.

Dari tangan kanan itu keluar hawa yang amat panas, sedangkan bunyi melengking hebat itu sudah hampir merobohkan Bu Song yang tiba-tiba merasa dadanya seperti ditusuk-tusuk.

"Keparat bermulut lancang! Siapa kau? Aku takkan membunuh orang tak bernama!"

Bu Song tenang-tenang saja.

Memang ia sendiri memandang hidup ini hampa dan penuh derita kecewa setelah kematian Eng Eng.

Sama sekali ia tidak takut akan kematian yang mengancamnya.

"Kalau Tuhan menghendaki aku mati dan Bibi berhasil membunuhku, berarti Bibi hanya membebaskan aku daripada belenggu hidup. Aku tidak akan rugi apa-apa, akan tetapi kau sendiri yang menambahi mata rantai yang membelenggu kehidupanmu, Bibi. Namaku Bu Song."

"Bu Song...??"

Mata itu terbelalak lebar dan muka yang cantik itu makin pucat.

"Kau... kau... murid Kim-mo Taisu...?"

"Beliau adalah guruku, akan tetapi aku tidak akan menggunakan nama Guruku untuk perisai nyawaku. Guruku sendiri tidak menguasai nyawaku, hanya Tuhan yang berhak akan mati hidupku!"

"Plakkk!"

Tangan itu menampar turun, akan tetapi yang ditampar bukan muka Bu Song, melainkan mukanya sendiri!

wanita itu jatuh terguling, lalu menangis dan akhirnya melompat pergi cepat sekali.

Hanya lengking tangisnya masih terdengar oleh Bu Song yang berdiri bengong, lalu menggeleng-geleng kepalanya.

Kasihan, pikirnya.

Wanita itu terlalu banyak dosa, terlalu banyak membunuh orang sehingga pikirannya tidak waras lagi!

Ia lalu membalikkan tubuh dan melanjutkan perjalanannya menuruni lereng itu dengan langkah lebar.

Tentu saja Bu Song sama sekali tidak pernah menduga bahwa wanita itu bukan lain adalah ibu kandungnya sendiri!

Wanita itu adalah Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian!

Sikap pemuda lemah yang begitu berani menasihati dan menegurnya sudah membuat wanita ini terheran-heran, kemudian, menimbulkan kemarahannya yang luar biasa.

Akan tetapi begitu ia mendengar bahwa pemuda itu adalah Bu Song, putera kandungnya sendiri, ia merasa seakan-akan mukanya ditampar oleh tangannya sendiri.

Hampir saja ia tadi membunuh anak kandungnya sendiri!

Anaknya begitu tampan dan gagah.

Ingin ia memeluknya, mendekap kepala itu didadanya.

Akan tetapi betapa ia dapat melakukan hal itu setelah anaknya mengubur dua orang yang dibunuhnya?

Ibu yang tersesat, seorang manusia iblis yang oleh anak itu sendiri disebut haus darah, suka membunuh dan keji!

Alangkah akan jijik dan bencinya anak itu kepadanya!

Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian menangis sambil berlari cepat seperti terbang meninggalkan tempat itu.

Kemudian ia menjatuhkan diri dibawah pohon besar dalam sebuah tempat ia bertemu anaknya tadi.

Ia menangis menjambak-jambak rambutnya, membentur-benturkan kepalanya pada batang pohon didepannya.

Lu Sian menjadi seperti gila dan pada saat itu ia hanya ingin mati!

Tangisnya menjadi-jadi kalau ia teringat kepada Kwee Seng yang sudah memberi tahu bahwa puteranya itu selain menjadi muridnya juga akan menjadi mantunya.

Bagaimana ia sebagai seorang ibu kandung dapat membiarkan putera tunggalnya menikah tanpa memberi restu dan tanpa menyaksikannya?

Akan tetapi setelah pertemuan ini, betapa ia dapat menjumpai pemuda itu dan mengaku sebagai ibunya?

Tiba-tiba Lu Sian berhenti menangis dan dengan kaget ia mengangkat muka mendengarkan.

Suara yang-khim yang amat merdu bergema didalam hutan itu.

sejenak ia tertegun, timbul kemarahannya.

Siapakah berani mengganggu keasyikannya berduka?

Dia sedang berduka, sedang menangis, eh, orang itu berani membunyikan musik.

Bukankah suara yang-khim tanda orang bersuka dan seakan-akan mengejeknya yang sedang berduka?

Sama artinya dengan mentertawakan orang sedang menangis.

Tok-siauw-kwi menjadi beringas dan sekali tubuhnya bergerak, ia sudah melesat kearah suara, cepat laksana burung terbang.

Pemain yang-khim itu seorang kakek tua renta yang rambutnya sudah putih semua.

Kakek itu duduk bersila memangku sebuah alat musik yang-khim, jari-jari kedua tangannya bergerak-gerak perlahan memainkan tali-tali yang-khim, mulutnya tersenyum dan pandang matanya melayang jauh ke depan dan agaknya seperti hendak menjenguk rahasia dibalik awan.

Melihat cara kakek ini mainkan yang-khim, Lu Sian dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang berilmu tinggi dan tak salah lagi tentulah seorang diantara tokoh-tokoh kang-ouw yang selama ini mengejar-ngejar dan memusuhinya.

Lebih baik turun tangan lebih dulu sebelum kakek itu sempat menyerangnya, ia pikir.

Karena ingin sekali pukul beres, Lu Sian sudah mengeluarkan jarum-jarum merah Sian-tok-ciam dan dengan pengerahan tenaga sin-kang ia melemparkan jarum-jarum itu kearah kakek tua renta yang masih enak-enak main yang-khim.

Dengan jelas Lu Sian melihat betapa tujuh batang jarum-jarumnya mengenai sasaran dengan tepat dan lenyap memasuki tubuh kakek itu melalui jalan darah yang diarahnya.

Akan tetapi ia terbelalak heran melihat betapa kakek itu masih saja enak-enak mainkan yang-khim, hanya kedua matanya kini dipejamkan dan napasnya tertahan.

Tak lama kemudian, uap putih mengepul dari ubun-ubun kepalanya yang sudah berambut putih, disusul dengan uap putih yang keluar dari mulut dan hidungnya ketika kakek itu membuang napas dan...

dari dalam mulut kakek itu keluarlah tujuh batang jarum merahnya, runtuh dan jatuh berhamburan di dekat yang-khim!

Lu Sian tak pernah dapat percaya kalau tidak menyaksikan sendiri hal aneh ini.

Ilmu apakah yang dimiliki kakek itu?

Tadi ia melihat jelas betapa jarum-jarumnya mengenai sasaran dengan tepat!

Lu Sian menjadi kaget dan juga gelisah.

Kalau kakek ini seorang musuh, berarti ia kini bertemu dengan seorang yang memiliki kesaktian luar biasa!

Dan teringatlah ia akan peringatan yang keluar dari mulut puteranya tadi!

Agaknya kali ini ia takkan menang, dan benarkah maut akan menjemput nyawanya melalui tangan kakek yang bermain yang-khim ini?

Tidak, ia tidak boleh menerima kalah begitu saja!

Dengan penuh kegeraman hati Lu Sian melompat dekat dan kini ia menggunakan kedua tangannya berbareng melakukan pukulan maut ke arah kedua pundak kakek tua renta itu.

Pukulan ini akan menghanguskan jantung dan menghancurkan isi dada dan untuk melakukan ini, kedua tangan Lu Sian mengeluarkan asap hitam dan seakan-akan membara saking panasnya.

Dua pukulan yang dahsyat itu tepat mengenai sasarannya, dikedua pundak dekat leher kakek tua renta.

Akan tetapi kakek itu masih tetap enak-enak duduk mainkan yang-khim sedangkan Lu Sian terhuyung-huyung kebelakang seperti orang mabok.

Kedua tangannya tadi jelas mengenai sasaran, akan tetapi semua tenaganya seperti disedot ke dalam samudra yang tak berdasar, membuat ia kehilangan keseimbangan, bahkan akibatnya ia merasa dirinya kosong sama sekali!

ia bengong memandang kakek itu yang jelas mulai tampak terkena akibat pukulannya.

Kulit kakek itu dari pundak terus sampai keleher dan mukanya berubah hitam sekali, penuh hawa beracun dari pukulannya tadi.

Akan tetapi mulut itu masih tersenyum dan kini sepasang mata yang bening seperti mata kanak-kanak memandangnya penuh perasaan iba!

Kemudian terdengarlah nyanyian kakek itu diiringi suara yang-khim.

Kejahatan yang dilakukan terhadap seorang tak berdosa akan berbalik menimpa si dungu yang melakukannya, bagaikan menebarkan debu melawan arah angin yang akan menimpa dirinya sendiri!

Lu Sian masih berdiri bengong memandang kakek itu dan mengira bahwa sebentar lagi kakek itu tentu akan roboh dan tewas akibat hawa pukulannya.

Akan tetapi anehnya, kakek itu masih tersenyum dan warna menghitam itu bahkan perlahan-lahan lenyap dari kulit muka dan lehernya.

Bagaikan dalam mimpi Lu Sian jatuh terduduk dan mendengarkan nyanyian wejangan kakek itu yang serasa meremas-remas jantungnya.

Engkau bagaikan setangkai daun yang mengering layu urusan kematian telah mendekatimu.

Engkau berdiri diambang pintu kematian apakah persiapanmu untuk bekal diperjalanan!

Buatlah pulau perlindungan bagimu, berjuanglah segera penuh bijaksana.

Apabila engkau bersih dari noda dan bebas dari dosa engkau akan mencapai sorga, alam para Ariya!

Berapa lama hidup ini?

Tanpa terasa engkau sudah menghampiri Raja Kematian.

Tiada akan ada tempat untuk istirahat diperjalanan dan engkau belum menyiapkan suatu perbekalan!

Suara itu merayu dan seperti menghimpit perasaan Lu Sian.

Tidak kuat ia menahan lebih lama lagi, maka sambil berlutut didepan kakek itu ia berteriak.

"Orang tua... aku mengaku kalah. Kau bunuhlah aku, tak perlu menyiksaku dengan kata-kata....!"

Lu Sian lalu menangis tersedu-sedu.

Nyanyian kakek itu seakan-akan mendengungkan semua teguran dan peringatan yang keluar dari mulut puteranya tadi dan karenanya membuat hatinya makin hancur.

Teringatlah ia akan kesesatan hidupnya dan sadarlah ia betapa rindu ia akan kehidupan yang wajar dari manusia biasa dalam sebuah keluarga bahagia, selama ini.

Suara yang-khim terhenti.

Dengan gerakan tenang kakek itu menyandangkan alat musiknya di pundak lalu berkata.

"Terasa tersiksa karena sadar akan dosa-dosanya adalah baik. Yang sudah lalu sudahlah, biarlah perbuatan jahat tidak diulangi lagi. Biasakan diri tidak menyenangi perbuatan jahat. Penderitaan dalam hidup adalah buah daripada perbuatan jahat yang menjadi pohon tanaman kita sendiri. Orang yang bersengsara, bukankah engkau yang disebut Tok-siauw-kwi? Tiada permusuhan diantara kita, mengapa kau datang-datang menyerangku dan kini minta kubunuh?"

Lu Sian mengangkat muka memandang, akan tetapi tidak kuat ia menentang pandang mata kakek itu lama-lama, maka ia menunduk lagi dan tetap berlutut.

"Semua orang didunia kang-ouw memusuhiku, mengapa kau tidak? Sudahlah, tak perlu bermain-main denganku, orang tua. Kau terlalu sakti bagiku, aku mengaku kalah. Lekas kau turunkan tangan maut menghabisi riwayatku, aku pun sudah bosan hidup!"

Akan tetapi kakek itu tertawa perlahan.

"Mengatasi kemarahan dengan kesabaran, mengatasi kebencian dengan kasih sayang, mengatasi kesombongan dengan kerendahan hati, mengatasi kebohongan dengan kebenaran, mengatasi kejahatan dengan kebajikan. Ah, Tok-siauw-kwi, penyesalan menyesak dadamu, itu tandanya kesadaran sudah mulai muncul. Tumpahkanlah penyesalanmu dalam pengakuan agar tidak menyesak dada dan menjadi lapang untuk kau bertobat."

Kini Lu Sian memandang penuh perhatian kepada kakek itu dan naiklah sedu sedan dikerongkongannya ketika timbul dugaan hatinya.

"Kau... kau... Bu Kek Siansu...?"

Kakek itu tersenyum dan mengangguk.

"Kau tahu bahwa aku bukan musuhmu, bukan musuh siapapun juga. Anak baik, bersediakah kau kembali ke jalan terang?"

Suara ini demikian tenang dan penuh rasa kasih sayang, seakan-akan suara seorang ayah sendiri yang penuh perasaan iba, Lu Sian menjadi terharu lalu menubruk kaki orang tua itu dan menangis.

Kemudian berceritalah Lu Sian, menceritakan semua pengalamannya yang membuat ia dimusuhi semua orang kang-ouw, semua perbuatannya dalam mengabdi kepada nafsu-nafsunya.

Tanpa malu-malu dan secara terang-terangan ia bukakan semua isi hatinya kepada kakek ini.

Ia bercerita tentang Kwee Seng, tentang Tan Hui, dan tentang partai-partai persilatan besar yang pernah ia datangi.

Ia mengaku telah mencuri kitab-kitab di Siauw-lim-pai, di Go-bi-pai, mencuri pedang di Hoa-san-pai.

Lu Sian bercerita penuh perasaan sesal sambil menangis dan pada akhir ceritanya ia muntah darah dan roboh pingsan didepan kaki Bu Kek Siansu yang mendengarkan penuh kesabaran dan pengertian.

Kemudian Lu Sian merasa seakan-akan ia dituntun ketempat terang, keluar dari tempat yang amat gelap.

Dalam keadaan seperti mimpi ia merasa seperti terbang diantara awan yang menyelubunginya, dan terngianglah ditelinganya suara Bu Kek Siansu yang tenang dan sabar.

"Jauhi segala permusuhan. Jangan layani mereka yang memusuhimu. Bertobat berarti menghentikan semua perbuatan yang keliru. Kampung halaman merupakan tempat yang paling aman."

Ketika Lu Sian sadar kembali, ia mendapatkan dirinya ditempat tadi, akan tetapi Bu Kek Siansu sudah tidak ada disitu.

Hanya suara kakek itu masih terus bergema ditelinganya.

Teringat akan ayahnya, akan Beng-kauw dan kota raja Nan-cao, teringat ketika ia masih kecil ikut ayahnya merantau.

Terbayanglah ia akan istana dibawah tanah yang menjadi tempat rahasia Beng-kauw.

Tempat itukah yang disindirkan oleh Bu Kek Siansu dalam nasihatnya?

Lu Sian bangkit berdiri, tubuhnya terasa lemah dan dengan terhuyung-huyung wanita yang selama bertahun-tahun ini menimbulkan banyak geger di dunia kang-ouw, kini pergi dengan hati perih dan pikiran hampa.

"Kek, apa maksudmu dengan jatuh keatas?"

"Mereka itu orang-orang yang telah naik menempati kedudukan, akan tetapi makin tinggi kedudukan mereka, makin jahatlah sepak terjang mereka. Yang kuat mempergunakan kekuatannya untuk menindas yang lemah. Yang pintar mempergunakan kepintarannya untuk menipu yang bodoh. Yang bodoh dan lemah memang jatuh kebawah akan tetapi yang kuat dan pintar itu bukankah berarti jatuh keatas? Ada dua macam kejahatan, akan tetapi secelaka-celakanya jatuh kebawah, lebih sialan lagi yang jatuh keatas, ha-ha-ha!"

Bu Song sejak kecil dijejali filsafat, maka ia dapat menangkap arti kata-kata sulit kakek itu.

"Kek, jadi menurut keyakinanmu, tidak perlu kita menempuh ujian dan menduduki pangkat?"

"Kalau kau ikut-ikut jatuh keatas...."

"Kau keliru sama sekali, Kek. Kalau semua orang terpelajar seperti engkau ini pendiriannya, hanya mengeluh dan menangis, menyanyikan sajak-sajak kosong, meratapi nasib rakyat dan memaki-maki kelaliman para pembesar, apakah akan jadinya? Keadaan takkan berubah baik, bahkan makin memburuk. Kita harus bergerak. Kita harus bekerja dan berusaha memberantas semua yang buruk, mempergunakan kekuasaan dan kebisaan kita masing-masing! Bahkan dengan kepandaian kita, kita harus dapat menempati kedudukan yang memungkinkan kita menggunakan kekuasaan kita merubah segala hal yang tidak patut. Kek, apakah artinya menghafal sepuluh ribu ujar-ujar baik tanpa melakukannya dalam hidup? Lebih baik mengetahui satu saja akan tetapi betul-betul dijalankan dalam hidup."

Tiba-tiba kakek itu memandang dengan mata terbelalak. Maboknya seperti hilang seketika dan ia memegang pundak Bu Song sambil bertanya.

"Kau... kau siapa...?"

"Sudah kukatakan tadi, Kek, namaku Liu Bu Song."

Pemuda ini tidak mau menggunakan she ayahnya, karena nama Kam Si Ek terlampau terkenal di kota raja, maka ia sengaja menggunakan she ibunya.

"Kau... lain daripada yang lain. Kau masih muda, semangatmu besar. Kau... murid siapakah?"

"Guruku yang terhormat, yang memberi bimbingan kepada saya sejak kecil adalah Kim-mo Taisu."

"Ahhh...! Kiranya dia gurumu! Kalau begitu pantas saja kau bicara besar, kiranya kau seorang ahli silat pula yang dapat mengandalkan kepandaian kasar itu utuk mencari kedudukan!"

"Harap kau orang tua jangan salah duga. Suhu hanya mengajarkan ilmu sastera kepadaku, sama sekali aku tidak pernah mempelajari ilmu silat. Aku benci ilmu itu yang hanya dipergunakan untuk saling bunuh."

Sejenak kakek itu memandang penuh keheranan, kemudian ia merangkul pundak Bu Song.

"Bagus! Kalau begitu kaulah orangnya yang patut mewarisi suling emas!"

"Apa, Kek? Apa maksudmu?"

"Orang muda, pernahkah kau mendengar nama sastrawan Ciu Bun?"

Bu Song menggeleng kepala.

"Kalau nama kakakku Ciu Bun yang amat terkenal saja kau tidak pernah dengar apalagi namaku. Aku adalah Ciu Gwan Liong, adiknya. Akan tetapi biarpun nama kami berdua kau tak pernah dengar, tentu kau sudah mendengar nama besar Bu Kek Siansu."

Bu Song mengangguk.

"Aku pernah mendengar Suhu menyebut-nyebut nama kakek sakti itu."

"Tentu saja. Gurumu mana bisa menjadi begitu lihai kalau tidak bertemu dengan Bu Kek Siansu? Ketika itu di puncak Thai-san, secara kebetulan gurumu dan kami berdua menerima anugerah dari Bu Kek Siansu. Gurumu menerima petunjuk ilmu silat, sedangkan kami orang-orang sastrawan yang lemah, menerima kitab sajak ini dan suling emas. Kitabnya diberikan kepadaku ini dan suling emasnya berada ditangan kakakku Ciu Bun. Akan tetapi terpaksa kami berdua pisah. Kerajaan jatuh bangun, para sastrawan tidak mendapat penghargaan sama sekali. Selain itu juga ternyata suling emas dan kitab ini tidak hanya berguna bagi para sastrawan menghibur diri dan menenangkan hati, malah dijadikan perebutan para tokoh kang-ouw! Kami dikejar-kejar terutama sekali kakakku sehingga terpaksa kakak Ciu bun melarikan diri dan bersembunyi dipulau kosong di Lam-hai. Kami berdua sudah bersepakat untuk mempertahan kan kitab dan suling, dan telah bersepakat pula kelak memberikan kepada orang yang kami pandang tepat. Nah, pilihanku jatuh kepadamu, orang muda. Tidak salah lagi, apalagi engkau murid Kim-mo Taisu. Ah, Thian agaknya sengaja mengirim kau kesini untuk membebaskan aku daripada tugas menyimpan kitab ini. Kau simpanlah kitab ini baik-baik, dan kelak, kau carilah kakakku di Pek-coa-to di Lam-hai, kau perlihatkan kitab ini tentu suling emasnya akan diberikan kepadamu. Kau minta petunjuk dari padanya, kedua benda pusaka itu kelak amat berguna bagimu. Lekas simpanlah...!"

Kakek itu memasukkan kitab kecil ditangan cepat-cepat kedalam saku baju Bu Song sebelah dalam.

"Lindungi kitab ini dengan taruhan nyawamu...!"

Tergesa-gesa kakek itu memberi pesan ini dan tiba-tiba terdengar derap kaki kuda.

Kiranya tujuh orang berkuda tadi sudah kembali lagi dan kini mereka meloncat turun dari atas kuda, lalu langsung menghampiri sastrawan tua Ciu Gwan Liong dan Bu Song.

Sastrawan itu masih duduk bersila akan tetapi Bu Song sudah bangkit berdiri melihat tujuh orang itu datang dengan sikap mengancam.

Si Komandan bermuka hitam lalu langsung menyerbu Ciu Gwan Liong dan menangkap leher bajunya, ditariknya keatas dengan amat mudah sehingga tubuh kakek sastrawan itu tergantung.

"Ah, kiranya kau tua bangka pengemis inilah sastrawan Ciu Gwan Liong! Hayo mengakulah, bukankah kau Ciu Gwan Liong?"

"Aku benar she Ciu bernama Gwan Liong,"

Jawab kakek itu dengan suara angkuh biarpun keadannya amat terhina seperti itu.

"Kalian ini anjing-anjing peliharaan yang hanya mengandalkan sisa makanan pembesar negeri, mengapa bersikap begini kasar dan tidak sopan terhadap orang tak bersalah?"

"Wah, mulut besar! Hayo ikut kami menghadap Taijin!"

Si Muka Hitam lalu melemparkan tubuh kakek itu kepada anak buahnya yang menerima tubuh kakek itu sambil tertawa-tawa.

Dilain saat tubuh kakek itu sudah direbahkan tertelungkup melintang diatas punggung kuda seperti segulung tikar.

"Mana ada aturan begini?"

Bu Song melangkah maju menegur Si Muka Hitam.

"Dengan alasan apakah kalian menangkap orang secara sewenang-wenang?"

"Hushh! Kau pemuda tolol jangan ikut campur! Tidak tahu bahwa kami adalah alat negara?"

Bentak Si Muka Hitam marah sekali. Bu Song sama sekali tidak takut, ia malah melangkah maju dan berkata dengan suara keras.

"Justeru karena kalian alat negara seharusnya menggunakan peraturan dan hukum kesopanan! Bukankah negara itu diatur dengan hukum dan alat-alat negara adalah penegak hukum? Hanya perampok saja yang menindas dan menangkap orang tanpa kesalahan dan kalian sebagai alat negara seharusnya malah memberantas tindakan seperti itu. Hayo bebaskan kakek yang tidak bersalah itu, kalau tidak, aku akan melaporkan kalian kepada pembesar negeri di kota raja, tentu kalian akan dipecat dan dihukum!"

Sesaat Si Muka Hitam tercengang sampai melongo.

Benar-benar belum pernah selama hidupnya ia melihat orang berani berkata-kata seperti itu terhadapnya.

Kemudian ia tertawa bergelak dan sekali kakinya bergerak perut Bu Song sudah tersambar tendangan keras yang membuat tubuh Bu Song terpelanting dan bergulingan.

"Ha-ha-ha, kau boleh melapor, ha-ha! Justeru yang menyuruh tangkap sastrawan ini adalah pembesar negeri, tolol!"

Bu Song masih penasaran dan tendangan itu biarpun membuatnya jatuh terguling akan tetapi tidaklah amat nyeri, maka ia sudah cepat bangun kembali.

"Kalau begitu pembesar negeri yang menyuruhmu itu sewenang-wenang!"

Bentaknya pula.

Si Muka Hitam tertawa dan juga penasaran.

Tendangannya amat keras dan ia terkenal sebagai seorang yang kuat.

Bagaimana orang muda ini masih sanggup bangun dan malah kini membuka mulut menegur pembesar negeri?

"Kau menentang?"

Bentaknya dan kini tangan kanannya bergerak memukul, menyambar kearah muka Bu Song.

Pemuda ini melihat jelas pukulan menyambar.

Ia kaget dan berusaha mengelak, akan tetapi mukanya bertemu dengan pukulan kiri yang menyusul.

"Dessss!"

Pukulan ini keras sekali dan membuat matanya berkunang dan pada saat itu sebuah tinju yang amat keras telah menghantam dadanya, membuat tubuhnya terjengkang dan terbanting keras.

Tujuh orang itu tertawa-tawa, akan tetapi diam-diam Si Muka Hitam heran dan kaget sekali melihat betapa pemuda itu sudah bangun lagi dengan cepat, seakan-akan tidak merasakan pukulan-pukulannya yang dilakukan dengan pengerahan tenaga itu!

Diam-diam ia menaruh curiga dan memandang pemuda yang luar biasa kuat menahan pukulan itu yang sudah berdiri tegak lagi, kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk naik kuda dan membawa pergi tawanan mereka.

Diam-diam ia merasa jerih juga terhadap pemuda aneh itu.

Akan tetapi baru saja ketujuh orang itu meloncat keatas kuda sambil tertawa-tawa, suara ketawa mereka berubah menjadi jerit-jerit mengerikan dan mereka semua termasuk Si Muka Hitam terlempar dari atas punggung kuda dan ketika Bu Song memandang, ternyata mereka bertujuh sudah putus nyawanya.

Darah mengucur dari leher mereka seperti sekawanan lembu dipotong lehernya.

Dua bayangan melompat keluar dari balik pohon dan mereka ini langsung menghampiri kakek sastrawan dan menolongnya turun dari atas punggung kuda.

Dua orang laki-laki ini berkepala gundul, berpakaian ringkas dengan lengan pendek, usia mereka empat puluh tahun lebih dan agaknya mereka adalah sebangsa hwesio.

"Saudara Ciu Gwan Liong harap jangan khawatir. Mari kami kawal Saudara menghadap ketua kami. Biar ada seratus anjing-anjing macam mereka tentu akan kami basmi semua."

Ciu Gwan Liong mengangkat kedua tangan memberi hormat.

"Kehormatan besar! Akan tetapi siapakah Ji-wi Suhu ini dan siapa pula ketua kalian? Aku tidak ada urusan dengan ketua kalian."

"Kami dari Hui-to-pang, dan ketua kami mengundang Saudara untuk diajak berunding."

"Ha-ha-ha, berunding?"

Sastrawan tua itu tertawa bergelak.

"Kalian orang-orang kang-ouw dimana-mana sama saja! Orang lemah macam aku ini mana dibutuhkan kalau tidak karena sebuah kitab kuno? Ji-wi Losuhu ketahuilah bahwa kitab yang dicari-cari itu tidak ada padaku. Aku bersumpah, kitab itu tidak ada padaku!"

Dua orang gundul itu saling pandang, kemudian seorang diantara mereka berkata sambil tertawa dingin.

"Kami hanya melakukan perintah membawa Saudara menghadap Pangcu (Ketua) kami."

"Ji-wi (Tuan Berdua) adalah pendeta-pendeta yang mengutamakan kebajikan, mengapa kini menggunakan kekerasan memaksa orang untuk ikut?"

Tiba-tiba Bu Song mendekati dan membela kakek itu.

"Bukankah dalam kitab sucimu terdapat ujar-ujar Nabi Buddha bahwa seorang bhikku (pendeta) biarpun masih muda asal ia mentaati ajaran Sang Buddha, ia akan menerima penerangan dunia seperti bulan purnama terbebas awan? Kalau dua orang pendeta seperti Ji-wi sudah menggunakan kekerasan, membunuh orang dan memaksa kakek ini untuk ikut, bukankah itu sudah melanggar segala hukum agama kalian sendiri dan berarti memupuk dosa?"

Dua orang hwesio itu saling pandang, muka mereka berubah merah dan sinar mata mereka menjadi bengis.

Melihat pemuda yang telah diserahi kitab ini kembali mencampuri urusan secara berani mati untuk membelanya, sastrawan tua itu cepat-cepat berkata.

"He sastrawan muda yang gila! Kau mau mengikuti ujian, pergilah dan jangan usil mencampuri urusan orang lain! Terhadap Ji-wi Losuhu ini, aku sanggup mengatasi, tidak membutuhkan bantuanmu. Hayo pergi, sikapmu memualkan perutku!"

Bu Song terkejut dan heran.

Masa kakek ini begini tak kenal budi, dibela malah balas memaki?

Akan tetapi kemudian ia ingat bahwa kakek ini telah menyerahkan kitab kepadanya dan agaknya kitab itu yang kini diperebutkan, maka ia lalu mengangkat kedua tangan memberi hormat dan berkata.

"Orang tua, kalau begitu biarlah kita berpisah. Harap kau orang tua suka menjaga diri baik-baik."

Kemudian ia melempar pandang penuh teguran kepada dua orang hwesio itu dan membalikan tubuhnya, melangkah hendak pergi dari situ.

Akan tetapi tiba-tiba Bu Song roboh terguling ketika sebuah tangan seorang hwesio bergerak kedepan dan menyentuh pundaknya.

Bukan main kuat tangan itu sehingga tanpa dapat dicegah lagi Bu Song terpelanting.

"Nanti dulu, orang muda. Kau pun harus ikut kami!"

"Hei, apa-apaan ini? Ji-wi Suhu kalau mau mengajak aku mengunjungi ketua kalian boleh saja, mari kita berangkat biar aku berunding atau berdebat dengannya. Akan tetapi orang muda ini tidak ada sangkut-pautnya dengan urusan ini. Aku tidak sudi kalau pergi bersama dia!"

"Dia sudah melihat kami hendak pergi bersamamu, maka ia tak boleh hidup lagi. Kalau dia tidak boleh ikut, biar dia kita tinggalkan!"

Jawab seorang hwesio dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

Sebuah benda bersinar terang menyambar kearah Bu Song dan pemuda yang tanpa disadarinya sendiri telah memiliki pandang mata yang kuat dan tajam itu dapat melihat sebatang golok kecil melayang menuju kearah lehernya!

Akan tetapi karena ia tidak pernah memperlajari bagaimana cara orang mengelak dari ancaman seperti itu, ia menjadi bingung dan pada saat itu, dari arah yang berlawanan, menyambar sebuah benda kecil yang dengan kecepatan kilat melayang dan membentur hui-to (golok terbang) itu.

"Cringg!"

Golok itu runtuh diatas tanah terpukul oleh sebuah benda yang hanya sebuah batu kerikil saja.

Dua orang hwesio itu mengangkat muka dan ternyata tak jauh dari situ telah berdiri seorang kakek tua yang kedua kakinya lumpuh dan berdirinya diatas kedua tongkat yang dipegangnya.

Kedua kakinya bersila.

Bu Song tentu saja mengenal kakek ini yang bukan lain adalah Kong Lo Sengjin, kakek yang menjadi paman dari ibu gurunya!

Biarpun ia tidak pernah menyukai kakek ini yang ia anggap kasar, galak, aneh dan ganas, namun kini ia harus mengakui bahwa kakek ini telah menyelamatkan nyawanya dari ancaman golok terbang tadi.

"Kong-lo Sengjin!"

Seorang diantara dua hwesio itu membentak.

"Kembali kau hendak memusuhi Hui-to-pang! Belum lama ini seorang saudara kami kau bujuk membunuh isteri Kim-mo Taisu dan kau biarkan ia tewas ditangan Kim-mo Taisu!"

"Ha-ha, salahnya sendiri dia tidak kuat melawan Kim-mo Taisu!"

"Kau yang mengkhianatinya, kau berjanji hendak menghadapi Kim-mo Taisu. Sekarang ternyata kau malah menarik Kim-mo Taisu menjadi sekutumu. Kau curang dan sekarang apalagi yang hendak kau lakukan kepada kami?"

"Hwesio-hwesio tengik. Kau ini orang-orang apa berani bicara seperti itu kepadaku? Aku datang melarang kalian membunuh pemuda ini, dan tentang Ciu Gwan Liong, dia akan ikut bersamaku, bukan bersama kalian! Hayo lekas menggelinding pergi dari sini!"

"Kong Lo Sengjin orang lain boleh takut kepadamu, akan tetapi kami tidak!"

Bentakan ini disusul gerakan kedua tangan mereka dan tampaklah sinar berkelebatan.

Kiranya banyak sekali golok terbang telah menyambar dan melayang ke arah tubuh kakek lumpuh itu bagaikan hujan.

Hebat memang kepandaian yang merupakan keistimewaan tokoh-tokoh Hui-to-pang ini.

Sinar terang golok-golok kecil itu sampai menyilaukan mata, mengeluarkan suara angin besar dan selain cepat melebihi anak panah terlepas dari busur, juga amat kuat karena digerakkan dengan pengerahan tenaga lwee-kang tinggi.

Bu Song yang menonton dari samping merasa ngeri karena ia selain silau memandang sinar berkelebatan, juga tidak tahu bagaimana seorang manusia dapat menyelamatkan diri dari bahaya yang demikian hebatnya.

Tujuh orang penunggang kuda yang lihai-lihai tadi seketika tewas, karena diserang sebuah hui-to setiap orang dan dia sendiri kalau tidak tertolong Kong Lo Sengjin, tentu telah disembilih golok terbang.

Apalagi sekarang kakek lumpuh itu sekaligus diserang dengan hui-to yang sedemikian banyaknya.

Mana mungkin menyelamatkan diri?

Ia sudah membayangkan betapa kakek itu akan roboh dengan tubuh tersayat-sayat menjadi beberapa potong daging kecil-kecil!

Akan tetapi kali ini serangan golok-golok terbang itu ditujukan kepada Kong Lo Sengjin, seorang kakek sakti yang berilmu tinggi.

Memang kakek ini pun terkejut melihat hebatnya serangan kedua orang hwesio itu, dan maklum bahwa benda-benda terbang itu amat kuat dan berbahaya, tidak mungkin dapat ia halau dengan kedua lengan kosong belaka.

Namun kakek ini segera mengayun tubuhnya dan kedua tongkat yang menggantikan kedua kaki itu kini diputar-putar di sekeliling tubuhnya, berubah menjadi segulung sinar yang melingkar-lingkar.

Terdengar suara trang-tring-trang-tring tiada hentinya dan amatlah indah pemandangan diwaktu itu.

Sinar-sinar berkeredepan itu yang melayang kearah kakek lumpuh, kini berpencaran seperti bintang-bintang jatuh dan suara nyaring yang terdengar karena bertemunya golok-golok terbang dengan kedua tongkat seakan-akan menimbulkan semacam musik yang aneh.

Akhirnya habislah puluhan batang golok yang menjadi bekal kedua orang tokoh Hui-to-pang itu.

Mereka berhenti melemparkan golok terbang dan berdiri dengan mata mendelik memandang lawan.

Akan tetapi kini Kong Lo Sengjin pun sudah kehilangan tongkatnya dan tampak ia duduk bersila diatas tanah.

Kedua tongkat yang tadinya mewakili kedua kaki dan kemudian dipergunakan untuk menangkisi golok-golok terbang itu ternyata telah hancur menjadi beberapa potong, menggeletak didepan kakinya yang lumpuh.

Ternyata semua golok terbang dapat ditangkis akan tetapi kakek itupun kehilangan sepasang tongkatnya yang menjadi rusak.

Bu Song kaget dan mengira bahwa kakek itu terluka.

Biarpun ia tidak pernah merasa suka kepada kakek itu, dan tadi hatinya berdebar keras mendengar percakapan antara mereka tentang pembunuhan yang dilakukan atas diri ibu gurunya yang ternyata merupakan persekongkolan antara kakek lumpuh itu dan orang Hui-to-pang, namun melihat kakek itu tak berdaya agaknya, ia merasa kasihan dan melangkah mendekati.

"Locianpwe, apakah kau terluka? Sungguh tak tahu malu kedua hwesio itu, mengeroyok seorang tua yang lumpuh dengan golok terbang!"

Kong Lo Sengjin tertawa.

"Aku hanya kehilangan kedua tongkatku, akan tetapi tidak mengapa, ada engkau disini yang menggantikannya. Hayo, anak tolol, kau Bantu kakekmu mengantar mereka ke neraka!"

Bu Song kaget sekali.

"Apa... apa maksud Locianpwe...?"

Akan tetapi tiba-tiba tubuh kakek itu bergerak, mencelat keatas dan sebelum Bu Song tahu apa yang hendak dilakukan kakek itu, tubuh itu telah menyambar dan tahu-tahu telah berada diatas punggungnya!

Kedua kaki yang lumpuh itu bergantungan dari atas kedua pundaknya dan ternyata kakek itu sudah menduduki tengkuknya!

"Hayo bawa aku mendekati mereka!"

Teriak Kong Lo Sengjin.

Tahulah kini Bu Song maksud kakek itu.

Ia hendak dijadikan semacam kuda tunggang karena kakek itu lumpuh dan tidak dapat berjalan!

Tentu saja ia merasa tidak suka, apalagi kalau disuruh bertempur, akan tetapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya terdorong kedepan dan tanpa dapat ia tahan lagi kedua kakinya sudah melangkah cepat kedepan.

Kiranya kakek sakti itu menggunakan tenaga saktinya untuk memaksa dan mendorongnya.

Kedua orang hwesio Hui-to-pang itu pun marah melihat hui-to-pang mereka tidak berhasil tidak berhasil merobohkan Kong Lo Sengjin, hanya merusak sepasang tongkatnya.

Akan tetapi mengingat bahwa kakek lumpuh itu kehilangan senjatanya, mereka menjadi besar hati dan segera menerjang maju, menyerang Kong Lo Sengjin dan tentu saja karena Bu Song tidak terluput pula dari serangan-serangan!

Dapat dibayangkan betapa kecut hati Bu Song.

Ia merasa angin menyambar-nyambar dari depan dengan dahsyatnya.

Akan tetapi Kong Lo Sengjin juga sudah bergerak, kedua tangannya menyambar-nyambar kedepan dan bukan main hebat dan dahsyatnya angin pukulan yang keluar dari tangan dan lengan bajunya.

Begitu kakek lumpuh ini memutar kedua tangannya, lawan-lawannya terdesak mundur dan mengeluarkan seruan kaget.

"Ha-ha-ha, kalian hendak lari kemana?"

Kong Lo Sengjin berseru dan tubuhnya sampai hampir tergantung dari leher Bu Song saking besarnya nafsu menjatuhkan kedua lawannya yang selalu melompat menjauhkan diri.

Beberapa kali kakek itu menepuk kepala Bu Song sambil menghardik.

"Hayo cepat kejar mereka, tolol!"

Akan tetapi Bu Song yang tidak mempunyai nafsu untuk berkelahi, hanya bergerak seenaknya saja, hanya menurutkan dorongan yang memaksa tubuhnya mendoyong ke depan atau kekanan kiri dan melakukan langkah kalau terpaksa saja.

Ternyata bahwa kedua orang hwesio itu hanya istimewa dalam penggunaan hui-to saja.

Dalam pertandingan tangan kosong, mereka bukanlah lawan Kong Lo Sengjin yang memiliki sin-kang jauh lebih kuat daripada mereka.

Semua serangan mereka, baik yang ditujukan kepada tubuh kakek itu maupun yang mereka arahkan kepada Bu Song membalik oleh dahsyatnya angin gerakan kedua lengan kakek lumpuh.

Mereka menyadari hal ini, maka setelah melawan dengan susah payah selama puluhan jurus, keduanya lalu melompat dan melarikan diri.

"Tolol, kejar mereka!"

Kong Lo Sengjin menjambak-jambak rambut Bu Song. Akan tetapi Bu Song tidak mau, bahkan berdiri tegak.

"Saya tidak bisa lari secepat mereka, pula apa gunanya saya mengejar mereka, Locianpwe?"

"Hayo kejar mereka, kalau tidak kuhancurkan kepalamu!"

Kong Lo Sengjin membentak lagi. Akan tetapi Bu Song tidak menjawab, melainkan memandang kekiri dan berseru.

"Celaka, Kakek itu menggantung diri!"

Amat cepat gerakan Kong Lo Sengjin.

Tubuhnya sudah mencelat dari atas pundak Bu Song dan dalam keadaan melayang ini ia sekali sambar sudah memutuskan tali gantungan dan melempar tubuh Ciu Gwan Liong keatas tanah, sedangkan dia sendiri pun sudah bersila didekatnya.

"Tua bangka sialan!"

Kong Lo Sengjin mengomel, akan tetapi ia tidak pedulikan kakek sastrawan yang sudah megap-megap itu, melainkan cepat ia memeriksa semua pakaian Ciu Gwan Liong dan mengeluarkan isi sakunya.

Akan tetapi benda yang dicari-cari, kitab itu, tidak ada.

Kong Lo Sengjin menjadi marah, ia mencengkeram kedua pundak kakek yang sudah sekarat itu, mengguncang-guncang dan mengangkat tubuhnya sambil berseru.

"Dimana kitab itu? Hayo katakan, dimana kitab itu?"

Suaranya amat menakutkan dan penuh ancaman.

"Locianpwe, jangan siksa dia. Lihat dia sudah payah..."

"Tidak peduli! Heii, Ciu Gwan Liong, hayo bilang, dimana kitab itu kau sembunyikan? Demi iblis, kalau tidak mengaku, kusiksa kau biar mati perlahan-lahan!"

"Locianpwe..."

Bu Song sudah hampir saja mengaku dan menyerahkan kitab itu karena ia tidak tahan menyaksikan kakek yang lemah itu tersiksa, akan tetapi pada saat itu Si Sastrawan tua sudah membuka mata dan berkata lemah.

"Kitab itu kuberikan... kepada... Kim-mo Taisu..."

Setelah berkata demikian, kakek itu menjadi lemas dan ketika Kong Lo Sengjin melepaskannya, ia telah tewas!

Bu Song menundukkan mukanya dan menarik napas panjang.

"Biarkan aku mengubur jenazahnya..."

Katanya perlahan, lalu ia memungut sebatang golok besar dari pinggang mayat seorang diantara tujuh penunggang kuda tadi.

"Dan mayat mereka juga..."

Tambahnya.

"Huh, bocah kurang pekerjaan engkau ini. Eh, mana Gurumu? Dan mengapa engkau berada disini?"

"Saya diutus oleh Suhu untuk menempuh ujian di kota raja, Locianpwe. Adapun Suhu sendiri sudah meninggalkan gunung untuk membalas dendam kematian Subo."

Kong Lo Sengjin termenung sejenak.

"Kau buatkan sepasang tongkat untukku. Hayo lekas! Aku harus segera pergi dari sini!"

Bagi Bu Song, lebih lekas kakek itu pergi lebih baik, maka tanpa membantah ia lalu naik keatas pohon, memilih dua batang cabang pohon dan menebangnya dengan golok.

Setelah membuangi ranting dan daunnya, ia menyerahkan sepasang tongkat itu kepada Kong Lo Sengjin.

Kakek ini menerima sepasang tongkat dan sekali menggerakkan tubuhnya, ia sudah "berdiri"

Diatas kedua tongkat itu.

"Kau dengar baik-baik! Menurut Kakek sastrawan ini, kitabnya diserahkan kepada Suhumu. Hal ini berarti Suhumu akan dimusuhi dan dicari orang seluruh kang-ouw. Maka kau harus tutup mulut, jangan bicarakan hal itu kepada siapapun juga. Awas kalau, kau membongkar rahasia ini, aku akan datang dan menghacurkan kepalamu, mengerti?"

"Mengerti, Locianpwe."

Kong Lo Sengjin tersenyum dan mengangguk-angguk, kemudian ia melesat pergi dengan kecepatan yang membuat Bu Song kagum dan bengong.

Tapi ia lalu tak memperhatikan lagi kakek itu dan segera mulai dengan tugasnya mengubur mayat Ciu Gwan Liong dan mayat ke tujuh orang penunggang kuda tadi.

Matahari telah terbenam kelangit barat ketika ia menyelesaikan tugasnya, kemudian sambil menggendong bungkusan pakaiannya, ia melanjut kan perjalanannya, melangkahkan kaki menuju ke tembok kota raja.

Untung pintu gerbang belum tertutup dan tergesa-gesa ia memasuki kota raja yang amat asing baginya.

Kagum ia melihat gedung-gedung besar akan tetapi juga hatinya kecut ketika ia menyaksikan para pengawal dan orang-orang berpakaian seperti tujuh orang penunggang kuda yang mayatnya ia kubur tadi menjaga ditiap pintu gerbang gedung-gedung besar itu.

Dengan bertanya-tanya, mudah saja ia mencari rumah penginapan Liok-an yang berada diujung kiri jalan raya, dekat pintu gerbang kotaraja sebelah barat.

Rumah penginapan Liok-an ini tidak besar, dan huruf Liok-an yang terpancang diatas papan depan rumah itu sudah tua.

Karena hari sudah menjelang gelap, Bu Song merasa tidak sopan mencari tempat sahabat atau kenalan gurunya, maka ia lalu memasuki rumah penginapan itu dan minta kamar kepada seorang pelayan tua yang menyambutnya.

Losmen ini kecil dan miskin, maka tidak banyak tamunya dan dengan mudah Bu Song mendapatkan sebuah kamar.

Kemudian kepada pelayan tua ia bertanya tentang seorang pengurus rumah gadai bernama Ciu Tang yang katanya tinggal disebelah kiri losmen itu.

"Ciu Tang? Memang ada, dan sore hari begini rumah gadai sudah tutup. Rumahnya disebelah belakang losmen ini. Apakah Kongcu hendak menemuinya?"

"Benar, Lopek. Akan tetapi besok pagi-pagi saja. Saya harap kau suka mengantar saya kesana."

Pelayan itu senang dengan sikap dan kata-kata pemuda yang sopan ini, maka ia segera menyatakan kesanggupannya.

Dan pada keesokan harinya, pagi-pagi ia sudah diantar pelayan itu ke sebuah rumah dalam lorong kecil dekat losmen.

Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, pelayan itu meninggalkannya.

Ciu Tang seorang setengah tua yang tinggi kurus, berjenggot panjang akan tetapi terpelihara dan pakaiannya biarpun tidak mewah cukup rapi.

Bu Song cepat memberi hormat dan berkata.

"Maafkan kalau kedatangan saya mengganggu Paman. Saya Liu Bu Song dan kedatangan saya adalah atas kehendak Suhu yang membawakan sebuah surat untuk Paman."

Ia mengeluarkan surat Kim-mo Taisu dan menyerahkannya kepada laki-laki berjenggot itu.

Begitu menerima surat dan membaca nama pengirimnya, Ciu Tang cepat-cepat mengangkat kedua tangan memberi hormat dan wajahnya berubah penuh hormat.

"Ah, kiranya hiante ini murid tuan penolong kami Kim-mo Taisu? Silakan duduk, silakan..."

Bu Song menghaturkan terima kasih dan mereka duduk diatas bangku menghadapi sebuah meja bundar bentuknya.

Ciu Tang membuka sampul surat dan membaca sambil meraba-raba jenggot dan mengangguk-angguk.

Kemudian ia melipat surat dan menyimpannya dalam saku baju.

"In-kong (Tuan Penolong) sudah mengatakan halmu hendak mengikuti ujian dan mengingat akan budi yang dilimpahkan in-kong kepada kami, maka saya akan berusaha sedapat mugkin menolongmu, Hiante."

Bu Song cepat-cepat memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih atas kesanggupan Paman, dan saya mohon petunjuk."

Orang yang bernama Ciu Tang itu menarik napas panjang.

"Aahhh, dengan adanya perang terus-menerus, perebutan kekuasaan dan penggantian pemerintahan, nasib kita kaum terpelajar sungguh celaka! Karena keadaan tidak pernah aman, maka para pembesar jarang ada yang jujur, bertindak menindas dan korup. Dalam hal ujian juga sama saja. Setiap tahun banyak yang mengikuti ujian, namun yang berhasil dan lulus hanyalah mereka yang dapat menyuap dengan banyak emas! Namun, saya mengenal kepala bagian ujian, yaitu Pangeran Suma Kong. Biarpun belum tentu beliau sudi memandang muka saya, namun setidaknya tentu Hiante akan mendapat perhatiannya dan tidak akan dilewatkan begitu saja."

"Banyak terima kasih, Paman. Sungguh budi Paman amat besar."

"Ah, jangan bicara tentang budi, Hiante. Kalau mau bicara tentang budi, maka gurumulah yang telah melimpahkan budi kepada kami sekeluarga. Kalau tidak Gurumu, tidak hanya perusahaanku bangkrut, akan tetapi mungkin kami serumah tangga sudah binasa semua!"

Lalu tuan rumah itu bercerita betapa dahulu ketika ia diganggu gerombolan penjahat di kota raja dan anak perempuannya hendak dirampas, ia telah ditolong oleh Kim-mo Taisu yang membasmi gerombolan itu sehingga keluarganya selamat dan perusahaannya biarpun kecil masih dapat berjalan sampai sekarang.

Bu Song lalu diperkenalkan dengan nyonya rumah yang amat ramah dan tiga orang anak laki-laki belasan tahun yang semua merupakan anak-anak terpelajar pula.

Puteri sulung keluarga itu sudah menikah dan tinggal di kota An-sui.

Selanjutnya Bu Song diminta tinggal dirumah keluarga Ciu Tang sambil menanti pembukaan waktu ujian.

Memang benar apa yang diceritakan Ciu Tang kepada Bu Song.

Pada waktu itu, yang menjadi kepala bagian ujian adalah Pangeran Suma Kong, seorang pangeran yang menggunakan kedudukannya untuk mencari keuntungan besar bagi dirinya sendiri.

karena dia masih terhitung warga dengan keluarga Raja Cou Muda, maka kekuasaannya besar juga dan biarpun tindakannya yang korup ini bukan rahasia lagi, namun tidak ada yang berani mengganggunya.

Karena ia hanya memperhatikan para pelajar pengikut ujian yang sanggup memberi sogokan besar, maka hasil ujian itu tentu saja bukan didasarkan atas baik buruknya tulisan atau pandai tidaknya si pengikut, melainkan didasarkan atas besar kecilnya uang sogokan!

Tentu saja Pangeran Suma Kong bukan seorang sembrono.

Dia tentu lebih senang kalau mendapatkan penyogok yang memang pintar, karena meluluskan seorang pengikut yang terlalu bodoh juga merupakan hal yang mendatangkan resiko besar baginya.

Maka setiap diadakan ujian, dia sendiri selalu memeriksa hasil para pengikut.

Kurang lebih sebulan setelah Bu Song tiba di kota raja, ujian diadakan.

Dengan hati berdebar Bu Song mengikuti ujian dan alangkah girang hatinya ketika ia mendapat kenyataan betapa mudah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kertan ujias, dan betapa mudah judul-judul yang harus ia buat dalam karangan.

Pada masa itu, ujian didasarkan kepada pengetahuan filsafat-filsafat dan ujar-ujar dari kitab-kitab kuno.

Karena Bu Song memang menggemari hal ini, tentu saja hampir semua telah hafal olehnya dan dengan mudah saja ia memenuhi syarat dan dapat menjawab dengan memuaskan dalam bentuk tulisan yang indah.

Ciu Tang bukanlah seorang kaya raya.

Memang ia pun memberi uang sogokan untuk membela Bu Song, akan tetapi dibandingkan dengan penyogok-penyogok lain, jumlahnya terlalu kecil.

Akan tetapi karena Ciu Tang seringkali menjadi "perantara"

Bagi para penyogok yang tiap tahun membanjiri kota raja, dia sudah dikenal oleh pangeran Suma Kong dan inilah yang memberi harapan kepadanya karena dalam suratnya ia mengaku bahwa Liu Bu Song adalah seorang keponakannya sendiri!

Seperti biasa terjadi tiap tahun, hasil ujian itu menghancurkan harapan puluhan, bahkan ratusan pelajar yang semula datang ke kota raja penuh harapan.

Mereka dinyatakan gagal dalam ujian!

Bertahun-tahun waktu terbuang sia-sia mempelajari puluhan ribu huruf, menghafal ratusan sajak, menelan ribuan bait ujar-ujar kuno!

Hanya beberapa puluh orang yang dinyatakan lulus, yaitu mereka yang membawa bekal cukup tebal.

Diantara mereka yang dinyatakan tidak lulus termasuk nama Liu Bu Song!

"Luar biasa!"

Bu Song berseru heran dan menyesal ketika mendengar pengumuman itu.

"Semua pertanyaan dapat saya jawab dan semua sajak dan karangan saya tulis sebaiknya dalam waktu paling cepat!"

"Tidak aneh... sama sekali tidak aneh!"

Kata Ciu Tang sambil menggerak-gerakkan tangan.

"Kita tidak punya banyak emas, itulah sebabnya kau tidak lulus, Hiante. Saya menyesal sekali, dan merasa malu hati terhadap inkong Kim-mo Taisu, akan tetapi apa mau dikata, saya bukanlah orang kaya..."

"Harap Paman Ciu Tang jangan sesalkan hal itu!"

Cepat Bu Song berkata menghibur.

"Suhu sendiri sudah tahu akan hal ini dan sama sekali bukan kesalahan Paman. Saya yakin bahwa Paman sudah cukup memperjuangkan dan biarpun saya tidak lulus, tetap saja saya takkan melupakan budi kebaikan Paman. Hanya saya merasa penasaran dan heran, mengapa orang-orang terpelajar seperti mereka yang duduk diatas itu sampai hati melakukan hal-hal yang demikian memalukan? Tadinya saya kira hanya ilmu kepandaian bu (silat) saja yang dapat dipergunakan orang untuk kejahatan, siapa orangnya tidak akan merasa heran dan bingung memikirkan betapa orang-orang yang mempelajari segala macam keindahan seni seperti melukis dan membuat sajak, menulis halus, dapat melakukan hal-hal yang hanya patut dilakukan seorang penjahat!"

"Sekarang bagaimana, Hiante? Kemana Hiante hendak pergi? Apakah hendak kembali kepada inkong Kim-mo Taisu?"

Bu Song termenung.

Kemana?

Gurunya pergi entah kemana dan entah bila kembalinya.

Dan untuk apa kembali ke puncak gunung?

Tidak ada siapa-siapa disana, yang ada hanya kuburan Eng Eng!

Yang ada hanya kenangan penuh duka.

Mencari ibunya!

Ya, dia akan mencari ibunya, akan merantau kemana saja.

"Saya akan pergi, Paman. Besok saya pergi, entah kemana belum dapat saya katakan..."

Ciu Tang merasa kasihan kepada pemuda ini.

"Liu-hiante, kalau kau suka tinggal disini, biarlah kau membantu perusahaanku. Bukan pekerjaan yang layak untuk seorang pelajar seperti engkau, akan tetapi lumayanlah sambil menanti kesempatan diadakan ujian lain tahun."

Akan tetapi sama sekali Bu Song tidak tertarik lagi. Ia menggeleng kepala dan menjawab.

"Terima kasih, Paman. Akan tetapi saya lebih suka merantau..."

Pada keesokan harinya, pagi sekali Bu Song sudah siap hendak berangkat.

Tiba-tiba terdengar derap kaki kuda berhenti di depan rumah Ciu Tang dan seorang laki-laki berpakaian gagah turun dari kuda, menghampiri pintu dan langsung bertanya kepada Bu Song yang duduk di luar bersama Ciu Tang.

"Apakah disini tinggal seorang pelajar bernama Liu Bu Song?"

Bu Song cepat bangkit berdiri dan menjura.

"Saya sendiri bernama Liu Bu Song."

Orang itu memandangi Bu Song penuh perhatian, lalu balas menjura.

"Saya diutus sama Suma-ongya menyerahkan sepucuk surat."

Ia mengeluarkan surat itu yang terbungkus sebuah sampul yang gagah tulisannya.

"Ah, kiranya dari Suma-ongya...! Liu-hiante lekas sambut surat ongya dengan penghormatan selayaknya!"

Berkata demikian, Ciu Tang menarik tangan Bu Song untuk menjatuhkan diri berlutut didepan utusan itu dan menerima surat sambil berlutut!

"Silakan Tuan mengambil tempat duduk dan minum sedikit arak kami yang hangat,"

Ciu Tang menawarkan. Orang itu memberi hormat dan berkata.

"Terima kasih, saya ada keperluan lain. Hanya saya mendengar pesan Ong-ya tadi bahwa orang muda ini amat diharapkan kedatangannya menghadap secepatnya!"

Ia menjura lagi lalu keluar dan meloncat keatas kudanya.

Terdengar derap kaki kuda menjauhi rumah itu.

Ciu Tang menarik tangan Bu Song berdiri.

Pemuda itu masih bengong karena ia merasa kurang senang harus menerima surat secara itu, seperti menerima maklumat raja saja!

"Lekas buka dan baca, Hiante.

Siapa tahu engkau mendapatkan keistimewaan, karena surat dari Suma-ongya tentu hanya ada hubungannya dengan hasil ujianmu.

Lekas buka dan baca!"

Suara Ciu Tang gemetar penuh ketegangan.

Akan tetapi Bu Song tenang-tenang saja.

Jari-jarinya tidak gemetar ketika ia membuka sampul surat itu dan mencabut keluar sehelai kertas tipis halus yang penuh tulisan indah.

"Pangeran Suma Kong tertarik akan tulisan pengikut ujian Liu Bu Song dan memerintahkan kepadanya datang menghadap secepatnya ke istana untuk diberi tugas pekerjaan."

"Wah, kionghi..., kionghi... (selamat..., selamat), Liu-hiante!"

Seru Ciu Tang kegirangan.

Akan tetapi Bu Song tidaklah segembira Ciu Tang.

Sesungguhnya bukan pangkat dan kedudukan yang ia harapkan dari hasil ikut ujian ini, apalagi kalau kedudukan itu ia dapatkan seperti seorang pengemis menerima sedekah!

Apa sesungguhnya yang menjadi tujuannya mengikuti ujian, dia sendiri pun tidak tahu.

Semenjak kecil dahulu, ia mempelajari ilmu kesusasteraan adalah karena memang ia suka membaca dan menulis, suka membaca sajak-sajak dan kitab-kitab kuno tentang filsafat hidup.

Dan kini ia mengikuti ujian hanya untuk mentaati perintah suhunya.

Disamping ini, memang ia pun tahu bahwa semua orang mengejar ilmu kepandaian bun akhirnya untuk mengikuti ujian dan mendapat gelar siucai, sungguhpun ia sendiri tidak pernah mengerti apakah artinya mendapatkan gelar itu.

Agaknya oleh karena ia tidak suka mempelajari ilmu silat itulah yang membuat ia lebih condong memperdalam ilmu sastera.

"Paman Ciu, mengapa Paman memberi selamat kepadaku? Bagiku sendiri, aku belum tentu suka menerima penawaran ini."

"Hah? Bagaimana ini, Liu-hiante? Diberi tugas pekerjaan oleh Suma-ongya, hal ini merupakan penghormatan yang amat tinggi! Belum tentu ada seorang diantara seratus yang memiliki nasib sebaik ini. Apalagi kalau diingat bahwa kau dinyatakan tidak lulus ujian!"

"Justeru itulah, Paman, yang membuat hatiku menjadi dingin. Kalau aku dinyatakan tidak lulus, mengapa diberi pekerjaan? Kalau Pangeran itu tertarik akan tulisanku, mengapa pula aku tidak lulus?"

"Ah, engkau masih saja belum dapat melihat kenyataan, Liu-hiante. Suma-ongya tertarik hatinya melihat tulisanmu yang indah lalu ingin memberi pekerjaan, itu berarti jodoh dan memang bintangmu sedang terang. Adapun tentang tidak lulusmu dalam ujian, itu adalah karena kurang syaratnya. Mengapa hal seperti itu masih diherankan pula?"

Bu Song mengangguk.

"Sungguh, Paman. Aku sudah dapat melihat kenyataan, kenyataan yang amat pahit, kenyataan menyedihkan yang membuat aku enggan bekerja pada seorang pembesar yang demikian tidak adilnya. Aku akan pergi saja sekarang juga, Paman."

Ciu Tang melompat bangun dan memegangi lengan pemuda itu, mukanya berubah pucat.

"Liu-hiante... memang saya tidak berhak memaksamu..., akan tetapi apakah kau hendak merusak apa yang pernah dilindungi Suhumu?"

"Apa maksudmu, Paman?"

"Keselamatan keluargaku pernah satu kali diselamatkan Suhumu dan untuk itu aku selamanya takkan melupakan budi Suhumu. Akan tetapi kalau sekarang engkau pergi, berarti keselamatan keluargaku akan hancur. Suma-ongya tentu takkan mau menerima penolakanmu begitu saja. Penolakanmu akan dianggap sebagai penghinaan dan karena aku sudah mengakuimu sebagai keponakanku sendiri, tentu saja kemarahannya akan ditimpakan kepada diriku sekeluarga."

"Ah, begitukah...?"

Bu Song menjatuhkan diri duduk diatas bangku dengan tubuh lemas. Tentu saja ia tidak menghendaki hal itu terjadi.

"Kalau Hiante suka memenuhi undangan dan perintah Suma-ongya, berarti kau telah mengulang perbuatan mulia Suhumu dan telah menolong kami sekeluarga, karena sedikit banyak diterimanya (Lanjut ke

Jilid 29) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 29 engkau disana memberi muka terang kepadaku. Untuk itu sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih!"

Setelah berkata demikian, Ciu Tang menjatuhkan diri berlutut didepan pemuda itu.

Bu Song cepat-cepat dan sibuk mengangkat bangun tuan rumah itu dan ia berkata.

"Harap Paman jangan bersikap seperti ini. Baiklah, saya akan pergi menghadap Suma-ongya sekarang juga dan marilah Paman menemaniku."

"Tentu saja! Tentu saya antar! Tunggu saya berganti pakaian, dan kau pun harus mengenakan pakaian yang paling rapi, Hiante?"

Seperti seorang anak kecil menerima hadiah Ciu Tang berlari-lari memasuki rumahnya dengan wajah amat gembira.

Bu Song menarik napas panjang, termenung sejenak, lalu mengangkat kedua pundaknya dan membuka bungkusan untuk berganti dengan pakaiannya yang bersih.

Tak lama kemudian keduanya telah berangkat menuju ke istana Pangeran Suma Kong.

Di sepanjang jalan, Ciu Tang mengangkat dadanya tinggi-tinggi dan setiap kali ada seorang kenalan bertanya, ia menjawab dengan suara dikeraskan.

"Pergi mengantar keponakanku yang diterima menjadi pembatu Suma-ongya!"

Bu Song yang dapat melihat dan mengenal watak manusia dari pelajaran di kitab-kitabnya, hanya tersenyum dan diam-diam ia merasa kasihan kepada orang baik yang berwatak lemah ini.

Betapapun juga, ia merasa amat kagum ketika ia diterima oleh penjaga dan dibawa masuk keruangan depan istana yang megah itu.

Semua perabot serba indah dan mewah, juga bersih mengkilap.

Pada dinding bergantungan lukisan-lukisan yang amat luar biasa, dihias tulisan-tulisan yang luar biasa indahnya pula.

Bukan main, pikir Bu Song.

Samar-samar ia masih teringat bahwa ketika kecil dahulupun rumah ayahnya merupakan sebuah gedung besar, namun tidaklah sehebat ini.

Istana ini penuh dengan benda-benda seni yang menggetarkan hati setiap orang sastrawan yang suka akan hasil karya yang indah-indah seperti itu.

Mereka disuruh menanti diruangan depan, yaitu ruangan tamu, karena menurut penjaga, Sang Pangeran masih belum bangun dari tidurnya!

Akan tetapi, agaknya maklum bahwa mereka adalah orang-orang yang diundang oleh Pangeran, maka tak lama kemudian seorang pelayan keluar membawa teh wangi yang hangat!

Bu Song tak dapat diam diatas bangku.

Ia menoleh kesana kemari mengagumi dan membaca sajak-sajak pasangan yang menghias dinding, juga kadang-kadang menengok keluar untuk menikmati keindahan taman bunga yang mengelilingi istana itu.

Jauh disamping, agak ke belakang, melalui sebuah pintu berbentuk bulan, ia dapat melihat kolam ikan dengan air mancur tinggi.

Air itu memecah diatas dan karena matahari pagi sudah mulai bersinar, tampaklah air itu menjadi beraneka warna seperti pelangi.

Bukan main!

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh langkah seorang dari luar dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang berpakaian indah dan berwajah tampan, berusia dua puluh tahun lebih, pakaiannya seperti sastrawan pula, akan tetapi begitu bertemu pandang, Bu Song didalam hatinya mendapat kesan tak menyenangkan.

Pada pandang mata itu, dan bentuk hidung itu, membayangkan sesuatu yang tidak baik.

Ia tidak tahu siapa adanya pemuda berpakaian mewah ini, maka ia duduk saja dengan tenang.

Tidak demikian dengan Ciu Tang.

Melihat pemuda ini, segera ia bangkit berdiri menyambut maju dan begitu pemuda itu memasuki ruangan, ia segera menjura dengan dalam sehingga tubunya terlipat dua, mulutnya berkata penuh hormat.

"Suma-kongcu, selamat pagi....! Harap kongcu selalu dalam sehat gembira!"

Pemuda itu berhenti dan membalas penghormatan yang berlebihan itu dengan anggukan kepalanya.

"Ah, bukankah kau Paman Ciu Tang yang membuka pegadaian didekat losmen Liok-an? Ada apa pagi-pagi kesini, dan siapakah Saudara ini?"

Biarpun kata-katanya ramah, namun mengandung ketinggian hati.

Ciu Tang menengok dan berkedip kepada Bu Song, memberi isyarat supaya pemuda itu bangkit berdiri lalu memperkenalkan.

"Begini, Kongcu. Keponakan hamba ini, Liu Bu Song, mengikuti ujian dan agaknya menarik perhatian Suma-ongya maka kini dipanggil menghadap."

Terpaksa Bu Song mengangkat kedua tangan dan memberi hormat selayaknya menurut kesopanan.

Pemuda itupun hanya mengangguk, akan tetapi matanya memandang Bu Song penuh perhatian.

Ia melihat pemuda sederhana itu tubuhnya tinggi besar dan membayangkan tenaga kuat, namun sikapnya sederhana dan sewajarnya, sama sekali tidak memperlihatkan sikap congkak seperti biasa seorang terpelajar, juga tidak membayangkan sikap menjilat seperti orang-orang macam Ciu Tang.

Diam-diam putera pangeran ini tertarik dan senang hatinya.

Ia benci melihat pemuda-pemuda yang tinggi hati, akan tetapi lebih benci lagi melihat mereka yang suka menjilat.

Pemuda ini adalah putera Pangeran Suma Kong.

Namanya Suma Boan dan dia bukanlah seorang pemuda yang tidak terkenal.

Mungkin lebih terkenal daripada ayahnya, karena pemuda ini selain suka bergaul dengan rakyat, juga ia terkenal seorang pemuda yang pandai ilmu silat.

Kesukaannya memang mempelajari ilmu silat dan entah berapa banyaknya guru silat yang pernah mengajarnya dan juga pernah ia robohkan.

Setiap ia mendengar ada seorang guru silat baru, ia tentu mendatanginya dan mengajaknya pibu.

Kalau ia kalah, dia memberi hadiah banyak dan minta diajar ilmu yang telah mengalahkannya, akan tetapi kalau guru silat itu kalah, jangan harap guru silat itu dapat membuka perguruannya.

Wataknya peramah dan pandai bergaul, akan tetapi sayang sekali, pemuda bangsawan ini pun seorang mata keranjang yang suka mengganggu wanita cantik mengandalkan kedudukan dan kepandaiannya.

Akhir-akhir ini kepandaiannya melonjak cepat sekali.

ia menemukan seorang guru yang benar-benar hebat, yaitu Pouw-kai-ong yang sudah kita kenal!

Raja Pengemis she Pouw itu menjadi guru Suma Boan sehingga pemuda bangsawan ini memiliki ilmu silat tinggi dan ia bahkan di dunia kang-ouw mendapat julukan Lui-kong-sian (Dewa Geledek), sebuah julukan yang diberikan orang untuk mengangungkannya dengan maksud menjilat!

"Saudara Liu, apakah kau selain pandai bun juga pernah mempelajari silat?"

Dengan sikap seperti seorang kenalan lama Suma Boan bertanya, matanya mengincar tajam. Bu Song menggeleng kepalanya.

"Tidak pernah, Kongcu. Seorang terpelajar yang tahu bahwa penggunaan kekerasan adalah tidak baik, untuk apa belajar silat? Saya tidak pernah mempelajarinya."

Suma Boan tersenyum mengejek dan pandangannya kini merendahkan.

"Memang jarang ada Bun-bu-coan-jai (pandai silat dan sastera) sekarang ini!"

Ia berjalan keluar lalu berhenti dekat sebuah arca singa barong.

"Kalian lihat, apakah kepandaian seperti ini tidak ada gunanya?"

Tangannya menangkap leher arca itu dan sekali ia berseru, singa-singaan itu terlontar ke atas, lebih tiga meter tingginya, kemudian ia sambut lagi kini terletak diatas telapak tangannya!

Lengan dan tubuhnya tergetar tanda bahwa ia mengerahkan tenaganya, kemudian sekali ia menggerakkan tangan, arca itu terlempar ke depan dan roboh terguling di atas tanah.

"Hebat... sungguh luar biasa kekuatan Suma-kongcu...!"

Ciu Tang bersorak, bukan hanya terdorong sikapnya suka merendah dan menjilat, akan tetapi betul-betul ia kagum.

Singa-singaan dari batu sebesar itu tentulah amat berat.

"Bagaimana, Saudara Liu?"

Suma Boan bertanya, tidak pedulikan pujian Ciu Tang.

"Tenaga Suma-kongcu benar-benar luar biasa. Saya kagum sekali."

Agaknya putera bagsawan itu cukup merasa puas mendengar ini.

Bu Song memang seorang pemuda yang pandai membawa diri.

Tanpa menjilat pun ia sanggup untuk menyesuaikan diri dan menyenangkan hati orang lain.

Suma Boan lalu berteriak memanggil beberapa orang penjaga yang menjaga di gerbang pintu luar.

Empat orang penjaga berlarian datang, siap menangkap atau memukul siapa saja atas perintah putera majikan mereka.

Akan tetapi kali ini tidak ada pekerjaan pukul-memukul bagi mereka.

"Kalian angkat singa-singaan ini dan kembalikan ditempatnya semula!"

Kata Suma Boan, kemudian sambil menepuk-nepuk telapak tangan menghilangkan debu ia melangkah lebar memasuki taman disamping istana dan lenyap kedalam pintu berbentuk bulan.

Empat orang penjaga itu saling pandang.

"Bagaimana bisa pindah kesini?"

Seorang diantara mereka mengomel. Ciu Tang tertawa dan memberi keterangan.

"Baru saja Suma-kongcu mempermainkannya dan melontarkan keatas seperti sebuah singa kertas saja."

Empat orang itu menggoyang-goyang kepala dan seorang diantara mereka mengomel perlahan.

"Ah, kenapa tidak dikembalikan sekalian ketempat semula?"

Biarpun mengomel, mereka lalu menghampiri singa-singaan batu itu dan berempat mereka mengerahkan tenaga.

Singa barong dari batu hanya bergoyang-goyang saja, akan tetapi tidak dapat terangkat oleh mereka!

Ciu Tang meleletkan lidahnya saking kagum.

"Empat orang tak mampu mengangkatnya, tapi Suma-kongcu dapat memainkannya dengan sebelah tangan. Benar-benar seperti dewa!"

"Apa anehnya? Beliau memang Lui-kong-sian, tentu saja kami berempat tidak boleh dibandingkan dengan sebelah lengannya! Hayo kita mencari beberapa orang kawan lagi untuk membantu!"

Empat orang itu lalu berlarian keluar.

"Hebat...!"

Ciu Tang lalu memasuki kembali ruangan tamu.

Akan tetapi Bu Song sejenak memandang singa-singaan batu.

Baginya sukar untuk dipercaya bahwa sebuah benda yang tidak kuat diangkat empat orang, dapat dimainkan dengan sebuah tangan saja.

Memang ia sudah terlalu sering menyaksikan kesaktian-kesaktian tinggi seperti gurunya dan juga orang-orang seperti Kong Lo Sengjin.

Dibandingkan dengan kesaktian yang diperlihatkan gurunya, permainan Suma-kongcu itu hanyalah permainan kanak-kanak.

Akan tetapi ia tidak percaya kalau kongcu itu benar-benar sedemikian kuatnya.

Dengan hati ingin tahu ia lalu menghampiri singa-singaan batu itu, mengulurkan tangan kanan menangkap leher singa-singaan batu lalu menggerakkan tangan sambil mengerahkan tenaga.

Singa barong batu itu tergeser dan terlempar sejauh dua meter!

Bu Song tersenyum, lalu ia mengikuti Ciu Toan masuk kedalam ruangan tamu.

Ternyata empat orang penjaga tadi hanya main-main, mungkin untuk menyenangkan hati Suma-kongcu, pikirnya.

Kalau para penjaga itu mau, jangankan empat orang, satu orang tentu sanggup mengembalikan singa-singaan itu ditempat asalnya.

Bu Song sama sekali tidak tahu bahwa di dalam dirinya terdapat tenaga yang luar biasa pula, tenaga yang terhimpun oleh latihan-latihan samadhi dan pernapasan.

Akan tetapi ia tidak tahu akan hal ini dan tidak pandai mempergunakan tenaga sakti yang terhimpun ini.

Hanya kadang-kadang secara kebetulan saja, seperti tadi tenaga sakti itu memperlihatkan diri tanpa ia sengaja.

Ketika ia tadi mengerahkan tenaga, secara kebetulan saja jalan darahnya terbuka sehingga tenaga sakti dapat menerobos dalam lengannya, maka mudah saja baginya untuk melemparkan singa-singaan itu.

Andaikata tidak secara kebetulan tenaga sakti itu dapat menerobos kedalam lengannya, tentu ia tidak akan mampu menggerak kan singa-singaan batu yang beratnya lebih dari limar ratus kati itu!

Pada saat itu, seorang pelayan mucul dan mereka dipanggil menghadap keruangan samping dimana Pangeran Suma Kong akan menerima mereka.

Mereka mengikuti si pelayan dengan hati berdebar.

Masih terdengar oleh Bu Song teriakan-teriakan kaget dan diluar.

"Eh, kenapa singa-singaan ini sudah pindah lagi lebih jauh? Tadi tidak disini!"

Ia tersenyum menganggap para penjaga yang kini datang delapan orang itu seperti badut-badut yang melawak untuk menyenangkan hati majikan, atau seperti anjing yang merunduk-runduk dan menggoyang-goyang ekor didepan majikan.

Menghadapi seorang pembesar yang berpakaian serba indah dan bermuka keren, Bu Song bersikap hormat.

Diantara pelajaran-pelajaran dalam kitab, orang harus menghormat pembesar dan ini merupakan kewajiban seorang bijaksana.

Pembesar mewakili pemerintah, maka harus dihormati selayaknya.

Maka ia pun ikut berlutut ketika melihat Ciu Tang menjatuhkan diri berlutut ketika pembesar itu mucul diikuti oleh dua orang pengawal.

Agaknya Pangeran Suma Kong juga senang hatinya melihat Bu Song, maka ia lalu mengumumkan bahwa Bu Song diterima bekerja membantunya, sebagai seorang yang mengurus semua surat-surat, membuatkan surat-surat pengumuman, mencatatkan harta yang masuk dan keluar, juga membantu pangeran itu mengurus perpustakaan negara yang menjadi salah satu tugas Pangeran Suma Kong.

Bu Song demikian menarik hati pangeran itu sehingga ia malah diperintahkan tinggal di dalam istana, mendapatkan sebuah kamar disebelah belakang, yaitu dibagian kamar-kamar pelayan dan pegawai.

Bu Song menerima dengan ucapan terima kasih, kemudian ia diperbolehkan mengantar pulang Ciu Tang yang menjadi girang bukan main.

Demikianlah, mulai saat itu Bu Song menjadi pegawai Pangeran Suma Kong.

Ia bekerja dengan giat dan rajin sehingga Pangeran Suma Kong merasa suka kepadanya.

Setelah pemuda ini membantunya, segala pembukuan dan catatan beres, bahkan ia mulai mendapat pujian dari rekan-rekannya tentang kerapian surat-surat yang terkirim dari Pangeran Suma.

Selain rajin, juga Bu Song pandai membawa diri, keatas tidak menjilat, kebawah tidak menekan.

Semua pelayan suka belaka kepadanya, bahkan Suma-kongcu yang terkenal galak itupun suka kepada Bu Song dan seringkali diwaktu malam kalau Bu Song menganggur, Suma Boan suka mengajaknya mengobrol di taman, bermain catur atau membuat syair.

Dalam dua hal ini, Suma Boan boleh berguru kepada Bu Song, akan tetapi Bu Song selalu bersikap merendah, dalam bermain catur sengaja membuat permainan menjadi seru dan banyak ia mengalah.

Hal ini ia lakukan bukan sekali-kali untuk menjilat, melainkan untuk mencegah putera majikan itu menjadi tak senang hati.

Agaknya masa depan Bu Song sudah dapat dipastikan baik dan sesuai dengan cita-cita gurunya kalau saja tidak terjadi beberapa hal yang tak terduga-duga.

Setelah hampir dua tahun Bu Song bekerja disitu, dengan hati kecut ia mendapat kenyataan betapa pangeran itu seorang yang amat korup.

Mengumpulkan harta kekayaan untuk diri sendiri dengan cara yang amat tercela.

Tidak hanya dengan cara menerima sogokan dalam ujian, namun ia masih menggelapkan uang yang seharusnya masuk ke istana raja.

Belum lagi sogokan-sogokan dari para pembesar rendahan jika menghendaki sesuatu yang memerlukan kewibawaan dan kekuasaan Pangeran Suma.

Ini semua masih ditambah pajak-pajak paksa dipungut dari petani-petani diluar kota raja, yaitu mereka yang mengerjakan sawah pangeran itu yang luasnya sukar diukur!

Malam itu terang bulan.

Bulan purnama terapung dilangit biru yang bersih dari awan.

Indah sekali sinar menyinari jagad, dan lebih indah lagi di taman bunga di istana Pangeran Suma Kong.

Suasana seperti ini amat romantis dan tentu akan mendatangkan rasa gembira dalam hati semua orang, terutama orang muda.

Akan tetapi tidak demikian dengan Bu Song.

Semenjak tadi ia duduk termenung di dalam taman bunga yang sunyi.

Disudut taman itu, di bagian yang sunyi dan jauh.

Terdapat sebuah pondok yang disebut Pondok Merah karena dicat merah.

Sebuah pondok kecil dibawah lambaian daun-daun pohon berbunga.

Ia termenung dengan hati duka.

Ia mulai merasa bosan dengan kehidupan di istana Pangeran Suma.

Apalagi kalau ia ingat akan semua keadaan disitu, akan sifat dari majikan yang amat korup.

Tak dapat disangkal bahwa ia amat disayang oleh majikannya, disayang sebagai seorang pegawai yang cakap, disuka oleh para pelayan sebagai seorang teman kerja yang rendah hati dan peramah.

Akan tetapi keadaan itu sungguh berlawanan dengan hatinya.

Biarpun bukan dia yang makan semua uang tidak halal itu, akan tetapi ia merasa seakan-akan membantu orang berbuat jahat.

Andaikata Pangeran Suma seorang perampok atau maling, maka dialah menjadi anak buah atau kaki tangannya!

Alangkah rendahnya!

Dan semua itu ia lakukan hanya untuk makan enak dan pakaian bagus?

Atau untuk hari depan yang gemilang?

Dalam duka Bu Song teringat kepada Eng Eng.

Tak terasa lagi dua butir air mata menitik turun dari sepasang matanya yang terasa panas.

Kalau Eng Eng tidak mati, tentu ia pulang kepada Eng Eng.

Lebih baik hidup sebagai petani di gunung disamping Eng Eng tersayang.

Dan kenangannya berlarut-larut sehingga ia lupa keadaan.

Diambilnya sebuah suling yang belum lama ini dibuatnya, suling bambu yang jarang ia tiup.

Karena malam itu sudah larut dan suasana di istana pangeran sudah amat sunyi, ia mulai meniup sulingnya.

Getaran suara suling keluar dari getaran hatinya.

Teringat ia akan Eng Eng,maka otomatis ia lalu meniup suling itu mainkan lagu kesukaan Eng Eng.

Lagu yang iramanya merayu-rayu kalbu.

Lagu tentang keluh-kesah dan tangis setangkai kembang yang kekeringan, mengeluh dan meratap menanti datangnya hujan yang tak kunjung tiba, menanti tetesnya air embun yang akan memberi air kehidupan padanya.

Berkali-kali lagu ini ia mainkan dan suasana malam indah itu berubah mengharukan.

Suara jengkerik dibawah rumput dan katak diempang seketika berhenti, seakan-akan mereka ini pun terpesona oleh suara suling yang merayu-rayu.

Bulan purnama seakan-akan bergoyang-goyang diangkasa, seakan-akan ikut merana dan rindu kekasih, mencari dan mulai bergerak mengejar kekasihnya yang tak kunjug tiba, kadang-kadang menangis menyembunyikan muka dibalik segumpal awan hitam.

Sambil bersuling itu Bu Song menatap bulan yang bergerak diantara awan, dan menjelang berakhirnya lagu, ia mendengar suara berkeresek didepan, maka ia mengalihkan pandang kedepan.

Suara sulingnya perlahan-lahan melambat dan akhirnya terhenti, matanya bengong memandang kedepan, serasa mimpi.

Mimpikah dia?

Ataukah benar-benar Eng Eng yang datang itu, turun melalui sinar bulan purnama, berpakaian seperti seorang dewi kahyangan?

Wanita yang kini melangkah demikian ringan, demikian lembut seakan-akan tidak menginjak tanah, seakan-akan melayang dibawa sinar bulan mendekatinya, memiliki wajah lembut seperti Eng Eng.

Matanya yang lebar bersinar lembut, hidungnya yang kecil mancung diatas mulut yang kecil mungil, muka yang manis dengan dagu meruncing.

Itulah wajah Eng Eng!

Akan tetapi pakaian itu!

begitu indah, begitu mewah.

Hanya seorang dewi kahyangan saja berpakaian seperti itu.

atau seorang puteri istana.

Lihat rambutnya!

Alangkah indahnya sanggul rambut itu.

dihias dengan hiasan rambut emas permata yang berkilauan terkena sinar bulan.

Puteri istana!

Berdebar jantung Bu Song dan teringat akan ini cepat-cepat ia bangkit berdiri.

Tak salah lagi.

Tentu dia itu puteri majikannya.

Sudah hampir dua tahun dia bekerja di situ, dan sudah terlalu sering ia mendengar dari para pelayan bahwa Pangeran Suma Kong mempunyai dua orang anak.

Yang pertama adalah Suma Boan yang selama ini bersikap cukup baik kepadanya, bahkan seperti menjadi sahabatnya sungguhpun didalam hati ia tidak suka kepada pemuda bangsawan itu karena ia cukup mendengar tentang sepak-terjangnya yang memuakkan, yaitu mengganggu anak bini orang!

Adapun anak kedua Pangeran Suma adalah seorang gadis yang menurut para pelayan cantik seperti bidadari, terpelajar dan halus budi pekertinya, dihormati dan dikasihi semua pelayan, seorang gadis yang sopan santun dan karenanya tak pernah melanggar peraturan dan belum pernah pula selama itu berjumpa dengan dia.

Seorang gadis yang katanya bernama Suma Ceng.

Agaknya tidak salah lagi.

Inilah gadis itu!

raut wajahnya memang mirip Eng Eng, akan tetapi Eng Eng sudah mati, tak mungkin hidup kembali.

Dengan langkah lemah gemulai, sikap tenang sekali dan mata selalu tertuju kepada Bu Song, gadis itu kini menaiki tangga pondok dan menghampiri Bu Song yang sudah duduk kembali dengan tubuh lemas dan dada berdebar.

"Kau... yang bernama Liu Bu Song, pegawai ayah yang baru...?"

Suara itu!

Merdu dan bening seperti suara Eng Eng pula!

Bu Song menjadi panik dan ia memaksa kedua kakinya yang lemas untuk berdiri lagi, menghadapi gadis itu lalu menjura dengan hormat.

Akan tetapi mulutnya tak mampu mengeluarkan kata-kata, hanya matanya yang menatap tajam.

Dua pasang mata bertemu pandang, saling mengikat dan saling menjenguk isi hati masing-masing.

Lama sekali mereka hanya berdiri berhadapan dan bengong saling pandang, disaksikan dan ditertawai oleh bulan purnama yang geli melihat kecanggungan kedua orang muda itu.

Sinar bulan purnama memang penuh racun asmara dan begitu pandang mata kedua orang muda ini bersilang, bertautlah kedua hati mereka yang membuat keduanya berdebar jantungnya, gemetar tubuhnya dan menggigil kakinya.

"Maaf... maafkan saya, Siocia (Nona)... memang betul saya Liu Bu Song seorang pegawai rendah biasa saja..."

Bagaikan baru sadar dari mimpi gadis itu tersenyum.

Gigi putih tersinar bulan berkilat menyambar jantung Bu Song membuat pemuda ini sedetik memejamkan matanya, tak kuat menyaksikan segala keindahan ini.

Gadis itu memang benar Suma Ceng.

Seperti juga Bu Song, sudah lama ia mendengar tentang diri Bu Song yang selalu dipuji-puji oleh para pelayan.

Dipuji ketampanannya, dipuji keramahan dan kelembutannya, dipuji kepandaiannya.

Dan tadi, mendengar tiupan suling, membuat ia seperti mimpi turun dan keluar dari kamarnya, memasuki taman dan memaksa kedua kakinya melangkah kearah suara suling.

Hikmat sang bulan dan sang malam indah membuat ia seperti mabok.

"Benar sekali cerita mereka...."

"Apa maksud Siocia...?"

Akan tetapi Suma Ceng menoleh kearah bulan sehingga mukanya tersinar penuh, dan gadis ini berbisik seperti kepada bulan.

"Benar sekali... sopan, halus, rendah hati..."

"Maaf, Siocia. Bolehkah saya mengetahui..."

"Aku adalah Suma Ceng atau... Ayah, Ibu dan Kakakku menyebutku Ceng Ceng begitu saja. Liu Bu Song Twako, hebat benar kepandaianmu menyuling. Seperti lagu dari sorga..."

Akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa yang berdiri didepannya adalah puteri majikannya, Bu Song sudah menjura dengan dalam dan berkata.

"Kiranya Suma-siocia. Maafkan kalau saya berlaku kurang hormat dan berani mengganggu Siocia dengan suara sulingku yang buruk..."

"Ah, jangan terlalu merendah. Selama hidupku belum pernah aku mendengar suara suling seperti tadi. Twako, maukah kau memainkan lagu tadi lagi untukku...?"

"Siocia..., mana saya berani...? Siocia, tidak pantas bagi saya berada disini... saya... saya..."

"Tidak mengapa. Siapa yang akan menyalahkanmu? Aku yang datang karena tertarik oleh suara sulingmu. Liu-twako, lagu apakah yang kau mainkan tadi?"

"Lagu.... Setangkai Kembang Kekeringan..."

"Ahhhh...! Pantas begitu mengharukan. Twako, mengapa kau berduka dan menyanyikan lagi seperti itu? Tadi aku sampai meruntuhkan air mata mendengarnya..."

"Siocia..."

Mereka kembali berpandangan dan keduanya tak dapat mengeluarkan kata-kata dan kembali dalam pandang mata itu mereka seakan-akan sudah mengenal masing-masing.

Seakan-akan dalam pandang mata itu mereka sudah mengikrarkan janji, saling bertukar hati, bertukar kasih.

Suma Ceng menundukkan muka lebih dulu.

Mukanya menjadi merah sekali, giginya yang kecil-kecil menggigit bibir bawah, ujung matanya yang tajam meruncing itu melempar kerling kearah Bu Song, lalu naik sedu-sedan setengah tawa dari kerongkongannya dan gadis itu membalikkan tubuh, terus berlari kecil meninggalkan pondok, berlari-lari cepat sekali kini dan sebentar saja lenyap dibalik pintu bulan.

Bu Song bengong.

Peristiwa tadi seperti mimpi.

Ia menjambak-jambak rambutnya dan diam-diam menyumpahi hatinya.

Mengapa hatinya begitu tertarik?

Mengapa hatinya begitu penuh cinta birahi?

Gadis itu adalah puteri majikannya!

Dan dia hanyalah seorang juru tulis, seorang pegawai biasa!

Dan gadis itu selain cantik jelita, puteri bangsawan yang kaya raya, pandai, dan juga melihat caranya berlari cepat itu tentulah seorang gadis yang juga memiliki ilmu kepandaian tinggi!

Seperti seekor kumbang merindukan bulan!

Dengan langkah lemas Bu Song lalu menyeret kedua kakinya, kembali kekamarnya yang berada jauh dari pondok kecil taman bunga itu.

Semalam suntuk ia tidak dapat tidur, gelisah dan resah, rindu dan risau sehingga pada keesokan harinya ia bekerja dengan muka pucat dan baru pada hari itu ia merasa betapa pekerjaannya berat dan tidak lancar.

Semenjak terjadi pertemuan dimalam itu, dua orang muda itu merasa tersiksa hidupnya.

Bu Song mengerahkan kekuatan batinnya dan menonjolkan akal sehatnya, memaksa hati mengakui bahwa tak mungkin dia mencinta seorang gadis seperti Suma Ceng.

Persamaan wajah gadis itu dengan Eng Eng sama sekali bukanlah alasan untuk ia membuta.

Kenyataan memisahkan mereka jauh, sejauh bumi dan langit.

Suma Ceng adalah puteri seorang pembesar tinggi yang tinggal dalam istana, berkedudukan tinggi dan seorang bangsawan terhormat, masih keluarga raja!

Dan dia?

Dahulu memang ayahnya jenderal.

Akan tetapi sekarang?

Dia hanya seorang yang hidup sebatang kara, seorang pelajar yang tidak lulus, seorang yang menerima budi Pangeran Suma Kong seperti seorang pengemis kelaparan menerima sumbangan seorang kaya.

Seorang pegawai rendahan, seorang pegawai biasa.

Tidak mungkin terjadi!

Andaikata gadis bangsawan itu tertarik oleh suara sulingnya, tak mungkin sudi merendahkan diri bergaul dengan seorang pegawai rendah seperti dia.

Belum lagi kalau ketahuan Sang Pangeran, tentu dia akan dihukum berat.

Juga Suma Ceng semalam itu dan malam-malam berikutnya tak dapat tidur nyenyak.

Wajah pemuda bersuling itu terbayang terus, suaranya yang halus dan sopan itu mengiang terus di telinganya, sepasang mata lebar tajam yang terhias alis berbentuk golok itu seakan-akan terus membayanginya.

Namun gadis ini pun mengerti bahwa tak mungkin ia dapat membiarkan dirinya bergaul dengan seorang pegawai ayahnya!

Tak mungkin berjodoh dengan seorang pekerja biasa.

Ayahnya tentu akan marah sekali, juga kakaknya.

Kadang-kadang Suma Ceng menangis kalau teringat akan hal ini, kalau teringat betapa kelak ia tentu akan dijodohkan dengan seorang laki-laki bangsawan yang belum tentu dicintanya, bahkan yang mungkin dibencinya.

Namun, cinta adalah perasaan yang aneh, yang amat besar pengaruh dan kekuasaannya.

Cinta kasih mengalahkan segala macam perasaan lain, bahkan mengalahkan akal budi dan kesadaran, membuat orang seakan menjadi buta dan nekat, siap untuk menyerbu lautan api.

Cinta merupakan api yang menyala indah, menari-nari dan meliuk-liuk menimbulkan warna yang cerah dan indah, membelai-belai dan melambai-lambaikan tangan kepada orang-orang yang sudah terkena hikmatnya sehingga mereka itu melangkahkan kaki makin mendekati tanpa menyadari bahwa bahaya mengancam mereka.

Baru akan terbuka mata mereka, baru akan sadar pesona mereka, setelah terlambat dan hanya penyesalan yang tinggal, penyesalan dan luka hangus terbakar.

Akan tetapi, seperti juga api, cinta dapat mendatangkan kesenangan dan kebahagiaan hidup, mendatangkan kehangatan dan mendorong semangat, menimbulkan keindahan dan kenikmatan hidup.

Asal orang pandai menggunakannya.

Asal orang dapat menguasainya.

Cinta itu indah.

Cinta itu nikmat.

Cinta itu anugerah.

Bagi mereka yang dapat menguasainya.

Akan tetapi cinta itu pangkal malapetaka.

Cinta itu pangkal sengsara dan pangkal derita.

Bagi mereka yang mabok dan lemah, yang menjadi permainan cinta.

Cinta antara pria dan wanita memang memiliki dua sifat yang bertentangan seperti juga segala benda di dunia ini.

Namun manusia tetap lebih kuat, asal pandai membawa diri, pandai dan kuat menguasai nafsu liar ganas seperti kuda hutan.

Bahagialah orang muda yang pandai menguasainya, sebaliknya kasihanlah mereka yang menjadi permainannya.

Asal ingat saja bahwa CINTA KASIH dan NAFSU BIRAHI adalah dua sifat yang jauh berbeda akan tetapi bermuka kembar!

Bermuka sama sehingga sukar bagi orang muda untuk memperbedakannya.

Karena keliru mengenal inilah yang suka membawa malapetaka.

Nafsu birahi disangka cinta, maka terseretlah ia ke jurang kehancuran.

Demikianlah pula dengan Bu Song dan Suma Ceng.

Keduanya mabok oleh gelora cinta sehingga semua pengertian tentang perbedaan tempat mereka, pengertian tentang tidak adanya kemungkinan bagi mereka untuk berjodoh, hancur lebur dan terlupa sama sekali.

Hanya tujuh hari mereka dapat bertahan.

Malam kedelapan, lewat tengah malam, Bu Song tak dapat menahan dirinya dan ia sudah berada didalam pondok kecil diujung taman, meniup sulingnya.

Seakan-akan suara suling itu dapat menembusi kamarnya yang amat rapat, Suma Ceng yang juga tidak dapat menahan dirinya lagi sudah menyelinap keluar dan berlari-lari memasuki taman, terus menuju keujung taman, kepondok dari mana kini terdengar jelas alunan suara suling.

Terengah-engah, bukan karena lari tadi melainkan karena debar jantung yang menggelora, Suma Ceng tiba di depan pondok.

Suara suling terhenti karena Bu Song sudah mendengar kedatangannya.

Pemuda itu berlari keluar, mereka berhadapan dan seperti tak kuat menghadapi daya tarik besi sembrani yang memancar dari keduanya, mereka saling tubruk dan saling rangkul!

"Aku tahu kau akan datang..."

"Aku pun tahu kau menanti disini..."

Hanya itu ucapan mereka sebagai pengganti pernyatan bahwa masing-masing tahu hati masing-masing, tahu bahwa mereka saling mencinta.

Sambil bergandeng tangan mereka memasuki pondok merah, duduk di atas bangku dimana tadi Bu Song termenung dan menyuling.

Bu Song merasa seakan-akan Eng Eng hidup kembali.

Ia takut akan kehilangan lagi, seperti seorang kanak-kanak pernah kehilangan benda mainan tersayang kini takut kalau yang telah ketemu akan hilang lagi, didekapnya erat-erat.

Suma Ceng sebaliknya juga masih sadar bahwa sekali waktu ia akan kehilangan pemuda yang telah merampas hatinya ini, pemuda yang sudah merenggut kasih sayangnya.

Kesadaran inilah yang membuat gadis itu nekat, menyerahkan diri dengan tulus ikhlas kepada pemuda yang takkan mungkin menjadi miliknya ini.

Keduanya mabok lupa, dan tanpa mereka sadari mereka menyerahkan diri kepada nafsu berahi.

Nafsu birahi seperti pusingan air yang amat kuat.

Sekali orang terseret, akan dibawa berpusing dan tenggelam, makin lama makin dalam dan takkan timbul kembali, sebelum...

mati!

Hanya bulan dan kadang-kadang malam gelap sunyi yang mengetahui.

Hanya pondok merah di ujung taman menjadi saksi bisu akan pertemuan-pertemuan dua orang muda yang mabok nafsu dibuai gelora cinta kasih.

Nafsu saudara loba, dituruti makin menjadi, diberi sedikit ingin banyak, diikuti sehasta ingin sedepa.

Pertemuan dan hubungan dilanjutkan.

Mesra.

Akhirnya tiba saatnya yang membuktikan bahwa segala sesuatu di dunia ini tidaklah kekal adanya.

Bahwa kesenangan didunia ini tiada lain hanyalah keindahan-keindahan yang dibentuk sekelompok awan diangkasa raya.

Sewaktu-waktu akan buyar kehilangan bentuk oleh tiupan angin.

Bahkan banyak kalanya buyar dan berubah menjadi awan menghitam yang buruk menakutkan!

Malam itulah terjadinya.

Malam yang takkan terlupa oleh Bu Song maupun oleh Suma Ceng.

Malam yang gelap tiada bulan tiada bintang, atau lebih tepat, malam yang terselimut awan.

Malam yang dingin.

Namun didalam pondok merah itu yang ada hanyalah terang dalam dua hati yang berpadu kasih, yang ada hanyalah panas dalam dua tubuh yang dicekam nafsu birahi!

Sesosok bayangan berkelebat didepan pondok.

Gerakannya cepat dan gesit sekali.

bayangan itu mendekam diujung pondok, menanti.

Seperti biasa, Bu Song menggandeng tangan kekasihnya dan berdua mereka bergandengan tangan menuju kepintu bulan.

Sampai disitulah Bu Song megantar kekasihnya.

Kemudian sejenak saling rangkul, saling cium sebagai salam perpisahan malam itu.

Tiba-tiba bayangan yang sejak tadi mengikuti mereka, meloncat dan memukul muka Bu Song.

Bu Song terhuyung dan roboh.

Suma Ceng menjerit tertahan Suma Boan sudah berdiri didepan mereka dengan mata melotot!

"Lekas kembali kekamarmu!"

Bentak Suma Boan kepada adiknya yang berlari sambil terisak menangis.

Bu Song merangkak bangun, akan tetapi ia roboh kembali ketika kaki Suma Boan menendang dadanya.

Kemudian putera pangeran itu mencengkeram rambutnya dan menyeretnya kebelakang istana, seperti seorang jagal menyeret seekor domba dibawa ke penjagalan.

"Bedebah! Anjing tak kenal budi!"

Suma Boan memaki bekas sahabatnya.Bu Song diam saja.

Pikirannya mengakui kesalahannya, akan tetapi hatinya memberontak.

Hatinya tidak mau mengakui salah.

Ia dan Ceng Ceng saling mencinta.

Apa salahnya?

Dibelakang istana, Suma Boan memanggil seorang pengawal.

Ia mendorong tubuh Bu Song sampai terkapar di atas tanah.

"Ikat dia pada pohon itu!"

Perintahnya.

Pelayan itu menyeringai.

Ia mengenal Bu Song dan ia tidak tahu mengapa majikannya marah-marah kepada pegawai muda ini.

Akan tetapi Bu Song bukanlah sahabat para pengawal.

Pengawal-pengawal adalah orang-orang yang mengutamakan kekerasan dan kekuatan.

Seorang pemuda lemah tukang pegang pena dan kertas tentu saja bukan golongan mereka dan mereka menganggapnya rendah.

Dengan kasar ia menarik lengan Bu Song, menelikungnya ke belakang lalu medorong pemuda itu kearah pohon.

Kemudian mengikat kedua tangan Bu Song kebelakang pohon itu dengan sehelai tambang yang besar dan kuat.

Hampir patah rasanya tulang lengan Bu Song.

Ia merasa betapa sambungan tulang pundaknya sakit-sakit dan hampir terlepas.

Namun sedikit pun tidak pernah terdengar keluhan dari mulutnya.

Dia seorang pemuda yang tahan derita, daya tahannya luar biasa berkat gemblengan yang tak diketahuinya sendiri dari suhunya, Kim-mo Taisu.

"Hayo, sekarang kau mau bicara apa? Keparat kurang ajar!"

Suma Boan melangkah maju dan "plak-plak-plak!"

Kedua pipi Bu Song ditampar sekerasnya sampai kepala Bu Song bergoyang-goyang kekanan kiri.

"Suma-kongcu, bicara apa lagi? Aku dan dia saling mencinta, kalau itu kau anggap bersalah, bunuhlah, aku tidak takut mati."

"Setan...!"

Suma Boan marah sekali, tangan kanannya memukul dada dan tangan kiri menghantam kearah perut.

Bu Song maklum akan hebatnya pukulan yang melayang datang.

Ia tidak takut mati, akan tetapi ngeri juga membayangkan rasa nyeri dipukul maka otomatis hawa sakti ditubuhnya berkumpul kearah dada dan perut.

"Dukk! Duukk!"

Dua pukulan hebat itu tentu akan menghabiskan nyawa orang.

Akan tetapi alangkah kaget dan herannya hati Suma Boan ketika pukulannya bertemu dengan kulit yang keras sehingga pukulan-pukulan itu membalik.

Namun Bu Song menjadi sesak napasnya dan terengah-engah.

"Jaga dia disini sampai pagi, kalau banyak cakap boleh pukul mukanya tapi jangan dibunuh!"

Akhirnya Suma Boan meludahi muka Bu Song dan pergi dari tempat itu.

Pengawal itu tertawa ha-ha-hi-hi lalu duduk bersandar batu karang hiasan dibelakang istana.

Kiranya Suma Boan melaporkan kepada ayahnya tentang peristiwa semalam.

Tentu saja Pangeran Suma Kong menjadi kaget bukan main dan marah sekali.

"Keparat, anak setan tidak mengenal budi orang! Bunuh saja dia! Siksa biar tahu rasa!"

Kemudian pangeran ini melangkah lebar menuju kekamar anaknya, Suma Ceng.

Waktu itu matahari telah bersinar terang.

Suma Boan menuju kebelakang istana dan makin gemas hatinya melihat Bu Song terikat dipohon itu.

Alangkah tenang wajah pemuda itu, pikirnya.

Sedikitpun tidak memperlihatkan ketakutan.

Si Pengawal cepat bangkit berdiri ketika melihat majikannya muncul.

"A Piauw, urusan dengan bedebah ini adalah urusan antara dia dan aku. Hanya engkau yang menjadi saksi. Tak perlu kau bicarakan dengan orang lain. Kalau ada yang tanya, bilang saja bahwa kau tidak tahu. Mengerti?"

"Baik, Kongcu."

Bu Song mengangkat mukanya memandang Suma Boan, lalu berkata.

"Suma-kongcu, kau benar, urusan ini adalah urusan antara engkau dan aku. Seperti kukatakan malam tadi, kalau kau menganggap aku telah melakukan sesuatu yang salah dan kau akan menghukumku, lakukanlah. Aku bersedia kau bunuh, akan tetapi jangan kau persalahkan dia."

"Tutup mulut!"

Bentak Suma Boan yang mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya.

"A Piauw, kau ambil secawan arak!"

Pengawal itu tadinya bingung.

Untuk menghukum seorang lawan, mengapa harus mengambil secawan arak?

Akan tetapi ia tidak berani membantah, berlari cepat meninggalkan tempat itu dan kembali lagi membawa sebuah cawan yang terisi arak setengah lebih.

Suma Boan membuka bungkusannya, menuangkan sedikit bubuk hitam ke dalam cawan.

Arak yang tadinya berwarna merah itu lalu berubah menjadi hitam dan mengeluarkan uap!

Tahulah Si Pengawal bahwa arak itu diberi racun.

Ia menyeringai heran.

Untuk membunuh lawan, mengapa tidak sekali pukul atau bacok saja dengan senjata?

Mengapa harus menggunakan arak beracun?

"Bu Song, alangkah inginku menggunakan tanganku sendiri untuk memukulimu sampai pecah kepala dan dadamu, atau menggunakan sebatang golok mencincang hancur tubuhmu.

Akan tetapi mengingat bahwa engkau pernah melayani aku, pernah menjadi seorang yang kuanggap orangku dan sahabatku, biarlah kau menebus dosamu dengan minum racun.

Akan tetapi jangan kira bahwa kau akan cepat terbebas dari racun ini.

Tidak!

Racun ini akan menggerogoti ususmu sedikit demi sedikit, dan kau akan mati dalam keadaan menderita, biar kau mendapat kesempatan untuk menyesali dosa-dosamu!

A Piauw, minumkan arak itu padanya!"

A Piauw yang ingin menyenangkan hati majikannya, mengejek.

"Heh-heh, orang muda. Silakan minum anggur pengantin..."

"A Piauw tutup mulutmu! Apa kau minta kupecahkan kepalamu!"

A Piauw kaget sekali, tidak mengerti mengapa majikannya begitu marah.

Adapun Bu Song tersenyum pahit mendengar ejekan itu, ejekan yang amat tepat.

Ia tidak minum anggur pengantin bersama Suma Ceng, melainkan minum arak beracun untuk menemui maut!

Ia menengadah dan membuka mulutnya.

Akan tetapi A Piauw yang mendongkol oleh bentakan majikannya, menjambak rambut Bu Song dengan tangan kiri, menarik kepala itu kebelakang, lalu dengan tangan kanan ia menuangkan arak beracun itu kedalam mulut Bu Song.

Bu Song merasa kerongkongannya seperti dibakar dan kepalanya pening karena bau arak itu menyengat hidung.

Akan tetapi tanpa takut ia menelan arak itu kedalam perutnya.

Kemudian dengan menundukkan mukanya ia menanti datangnya rasa nyeri yang akan mengerogoti ususnya seperti yang dikatakan Suma Boan tadi.

Aneh, sama sekali tidak ada rasa nyeri itu sungguhpun didalam perutnya mulai bergerak-gerak seperti banyak hawa disitu dan terdengar suara tiada hentinya seperti air mendidih.

Suma Boan yang merasa amat benci mengingat perbuatan Bu Song dengan adiknya, menanti pemuda itu menderita nyeri yang luar biasa.

Akan tetapi ia heran.

Bu Song sama sekali tidak mengeluh, sama sekali tidak menahan nyeri yang hebat, bahkan kelihatan tenang-tenang saja.

Pangkal lengannya yang ditelikung kebelakang dan semalam terasa nyeri seakan-akan terlepas sambungannya, kini malah sudah membaal dan tidak terasa apa-apa lagi.

Suma Boan menanti sampai lama, sampai matahari naik tinggi dan Bu Song kelihatan lemah oleh lelah, lapar dan haus.

Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa racun itu bekerja dan mengamuk di dalam perut Bu Song.

Suma Boan merasa penasaran dan menyuruh pembantunya menelanjangi tubuh atas Bu Song agar pemuda itu tersiksa oleh terik panas matahari.

Memang niatnya ini berhasil dan Bu Song menggeliat-geliat disengat sinar matahari.

Namun pemuda itu tetap saja membungkam, tak pernah mengeluh, tak pernah minta ampun dan tidak pernah minta minum.

Menurut perhitungan Suma Boan, orang yang minum racun tadi, tentu umurnya takkan lewat setengah hari.

Namun sampai matahari condong ke barat.

Bu Song masih segar bugar biarpun amat menderita.

Hal ini membuat Suma Boan menjadi penasaran dan marah sekali.

Ia mengeluarkan sebatang cambuk dan mulailah ia mencambuki tubuh atas yang tak berbaju itu.

Dada, leher, dan muka Bu Song sampai penuh jalur-jalur merah dan biru dan darah mulai bercucuran keluar.

Namun tetap saja Suma Boan sendiri yang kehabisan tenaga saking lelahnya.

Ia telah mencambuki sampai seratus kali dan kini Bu Song tampak menggantung pada pohon itu, agaknya pingsan.

"Kau jaga dia malam ini. Hendak kulihat apakah besok pagi dia masih dapat bertahan hidup. Kalau malam nanti dia mampus, tetap jaga dia. Besok pagi bawa pergi mayatnya,"

Kata Suma Boan kepada pembantunya.

Setelah melepaskan pandang untuk terakhir kalinya dengan senyum mengejek, Suma Boan lalu memasuki istana ayahnya.

Kebetulan sekali seorang pengawal mencarinya karena ayahnya memanggil.

Setelah ayah dan anak ini bertemu, mereka berunding.

"Aku sudah matangkan perjodohan adikmu dengan Perwira Muda Kiang. Sekarang baiknya perjodohan itu dipercepat. Besok kau pergilah kepada keluarga Kiang dan menyampaikan surat desakanku agar pernikahan dapat dilangsungkan dalam bulan ini atau selambatnya bulan depan. Aahhh, sungguh menggelisahkan hati benar anak perempuan itu! Kalau tidak ingat bahwa hanya dia seorang anakku perempuan, lebih baik melihat dia mati di depanku!"

"Ayah, sudah ada jalan terbaik mengapa berpikir demikian? Moi-moi masih terlalu muda dan harus diakui bahwa Bu Song memang tampan dan sikapnya menarik hati. Yang berdosa besar adalah Bu Song. Tentu dia yang memikat Moi-moi sehingga terjerumus...."

"Bagaimana dia? Bagaimana keparat jahanam itu? sudah kau bikin mampus?"

Suma Boan mengangguk.

"Malam nanti tentu dia mati. Aku membiarkan dia mati dalam keadaan menderita untuk menebus dosanya!"

Malam itu gelap gulita.

Apalagi dibagian belakang istana, karena malam itu semua pelayan atau pengawal dilarang memasuki kebun itu.

Keluarga Suma tentu saja ingin menyimpan peristiwa itu, tidak ingin membiarkan orang luar tahu akan hubungan yang terjadi antara puteri Suma dengan seorang pegawai rendahan!

A Piauw si pengawal itu makan dan minum arak dibawah pohon.

Ia dikirim oleh seorang pengawal lain atas perintah Suma Boan.

Sambil minum arak A Piauw memandang kearah tubuh yang masih lemas tergantung pada batang pohon.

Diam-diam ia merasa amat kagum pada pemuda lemah itu.

Seorang pemuda sastrawan yang tentu saja bertubuh lemah, akan tetapi sedikit pun tidak mengeluarkan rintihan atau keluhan, padahal ia telah diberi minum racun yang merusak usus dan dicambuki sampai seratus kali oleh Suma-kongcu yang terkenal mempunyai tangan yang kuat sekali!

A Piauw menggeleng-geleng kepala.

Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, tentu ia tidak akan sudi percaya.

Mana ada seorang pemuda lemah dapat menahan segala derita tanpa mengeluh satu kalipun?

Angin malam bertiup dan daun-daun pohon bergoyang.

A Piauw menarik leher bajunya ke atas.

Entah mengapa, ia merasa bergidik.

Sudah matikah pemuda itu?

Berpikir demikian, ia bangkit berdiri dan menghampiri tubuh Bu Song.

Muka itu masih tunduk, akan tetapi ketika ia mendekat, Bu Song mengangkat muka.

Sepasang matanya masih bersinar tajam.

A Piauw mundur lagi dan makin serem.

Pemuda ini bukan orang sembarangan, pikirnya.

Bagaimana kalau sampai besok pagi belum mati?

Ah, terserah Kongcu saja pikirnya.

Tugasnya hanya menjaga dan apa sukarnya menjaga seorang yang sudah setengah mati dan terikat pada pohon?

Kembali angin membuat daun-daun pohon bergoyang.

Akan tetapi pohon dimana Bu Song terikat, terlampau keras goyangnya.

Keadaan amat gelap dan lampu gantung yang berada di atas kepala A Piauw, tergantung pada batu karang.

A Piauw menjadi curiga dan mendekati Bu Song.

Akan tetapi matanya terbelalak ketika melihat Bu Song sudah terlepas dari ikatan, dan seorang kakek merangkul pundaknya.

"Heee...! Apa... siapa..."

Hanya sekian saja A Piauw mampu mengeluarkan kata-kata karena tubuhya seolah-olah menjadi lumpuh seketika dan ia roboh seperti kain basah jatuh dari sampiran.

Ia tak mampu bergerak maupun mengeluarkan suara, hanya matanya melotot menyaksikan betapa kakek itu berkelebat pergi sambil mengempit tubuh Bu Song.

Penolong Bu Song itu bukan lain adalah Kim-mo Taisu.

Kakek ini bermaksud mencari dan mengunjungi muridnya.

Siang tadi ia mendengar dari Ciu Tiang akan nasib baik Bu Song yang diterima menjadi pegawai Pangeran Suma Kong.

Diam-diam Kim-mo Taisu menjadi tidak senang hatinya.

Ia sudah mendengar siapa adanya Pangeran Suma Kong, seorang bangsawan tinggi tukang korup.

Ia khawatir kalau-kalau Bu Song akan menjadi rusak setelah menjadi kaki tangan pembesar koruptor itu.

Maka sengaja malam itu ia pergi menyelidiki dan memasuki kompleks istana Pangeran Suma Kong melalui tembok belakang.

Dan kebetulan sekali ia melihat betapa muridnya terikat pada pohon dengan tubuh bekas siksaan, maka ia cepat menolongnya dan membawanya pergi keluar dari tembok kebun istana.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Ciu Tang ketika Kim-mo Taisu datang lagi membawa tubuh Bu Song yang lemah dan masih pingsan.

Cepat ia membantu dan setelah tubuh pemuda itu dibaringkan, Kim-mo Taisu segera memeriksanya.

Lega hati kakek ini ketika mendapat kenyataan bahwa muridnya tidak menderita luka hebat, hanya luka dikulit saja.

Akan tetapi melihat keadaannya, hatinya menjadi panas.

Siksaan itu keterlaluan sekali dan kalau saja muridnya tidak memiliki hawa sakti dalam tubuh dan memiliki daya tahan yang luar biasa, tentu Bu Song sudah mati.

Kakek ini sama sekali tidak tahu bahwa Bu Song malah telah diberi racun minum racun hebat yang untung sekali tidak membunuhnya karena tubuh Bu Song sudah kebal setelah pemuda ini menghabiskan obat sarang burung rajawali hitam.

Setelah diberi minum obat penguat, dalam waktu satu jam saja Bu Song sudah siuman.

Ia membuka matanya dan memang tadi ketika tertolong, ia dalam keadaan sadar.

Cepat ia turun dari pembaringan dan menjatuhkan diri berlutut didepan Kim-mo Taisu yang menjaganya disitu.

Kakek ini memberi isyarat kepada Ciu Tang untuk keluar dari kamar, kemudian ia menutup daun pintu dan menyuruh muridnya duduk kembali dipembaringan.

"Ceritakan apa yang terjadi padamu,"

Kata guru ini dengan pandang mata tajam.

Bu Song menjadi rikuh sekali, merasa malu dan tidak enak hati.

Gurunya ini juga bekas calon mertuanya.

Bagaimana hatinya akan merasa enak kalau bercerita bahwa dia mengadakan hubungan dengan puteri Pangeran Suma, ketahuan dan dihajar seperti itu?

Bukankah gurunya akan menganggapnya seorang laki-laki hina dan rendah, bahkan mungkin dianggapnya dia seorang pemuda hidung belang atau mata keranjang?

Akan tetapi, untuk berbohong terhadap suhunya ia tidak mau, maka sambil menundukkan mukanya ia berkata.

"Suhu, murid selayaknya menerima kematian. Agaknya Suhu telah membuang tenaga sia-sia dengan menolong murid yang murtad dan berdosa. Teecu (murid) akan menceritakan segalanya secara terus terang dan andaikata Suhu menjadi marah dan lalu menghukum atau membunuh teecu, teecu akan menerima dengan hati rela."

Kemudian ia menceritakan semua pengalamannya, semenjak ia turun gunung pergi ke kota raja, tentang pertemuannya dengan Kakek Kong Lo Sengjin, tentang ujian dan kemungkinan tentang peristiwa antara dia dan Suma Ceng.

"Suhu, teecu telah berdosa. Teecu telah kehilangan kekuatan batin, tidak kuasa menghindarkan diri daripada perbudakan nafsu seperti yang diajarkan Suhu. Teecu tidak berdaya, bertemu dengan Suma Ceng membuat teecu ingat kepada Eng Eng dan segala sesuatu tidak dapat teecu hindarkan lagi. Teecu menerima salah dan terserah kepada hukuman Suhu."

Bu Song menutup ceritanya sambil menundukkan muka.

Kim-mo Taisu mendengarkan semua penuturan muridnya dengan termenung.

Terbayanglah segala pengalamannya dengan wanita.

Dia pun banyak mengalami malapetaka dan penderitaan karena cinta.

Dalam cinta kasih, ia selalu mengalami kegagalan dan kesialan!

Mengapa hal yang buruk itu agaknya menurun kepada muridnya?

Akan tetapi, ada hal yang membuat ia penasaran dan marah sekali ketika mendengar cerita muridnya.

Yaitu tentang Kong Lo Sengjin tentang percakapan antara Kong Lo Sengjin dan tokoh-tokoh Hui-to-pang.

Kiranya yang menyuruh bunuh isterinya adalah Kong Lo Sengjin, paman isterinya sendiri!

Kiranya pamannya yang terlalu besar nafsunya akan kedudukan dan kemuliaan dunia itu telah sengaja membangkitkan amarah dalam hatinya dengan jalan menyuruh bunuh isterinya dan melakukan fitnah bahwa yang menyuruh bunuh adalah musuh-musuhnya!

"Bu Song, setelah engkau mengalami banyak penghinaan dari orang-orang yang memiliki kepandaian silat, apakah engkau masih menganggap bahwa ilmu silat adalah rendah dan tidak patut dipelajari oleh orang budiman?"

Bu Song diam saja, tidak dapat menjawab. Memang banyak sudah kenyataan menimpa dirinya hanya karena ia seorang lemah.

"Andaikata engkau dahulu belajar ilmu silat dariku, apa kau kira Suma Boan berani menyiksamu? Bahkan mungkin Suma Ceng dapat menjadi jodohmu karena tidak ada orang berani melarangmu! Ilmu adalah ilmu, baik itu ilmu silat (bu) ataukah ilmu surat (bun). Ilmu tetap ilmu, titik. Tidak bisa dibilang baik maupun buruk. Semua benda didunia ini tidak punya sifat baik atau pun buruk. Yang ada hanya wajar, sudah semestinya begitu, tidak baik tidak buruk. Baik buruknya tergantung kepada si manusia yang memanfaatkannya. Karena sesungguhnya, istilah baik dan buruk adalah ciptaan manusia sendiri. Baik buruknya tergantung dari manusia, kalau dipergunakan untuk kebaikan maka itulah ilmu yang baik. Kalau dipergunakan untuk kejahatan, maka buruklah ilmu itu! Seperti halnya semua anggota tubuh, misalnya mulut. Mulut tetap mulut, tidak baik tidak buruk. Kalau dipergunakannya hanya untuk menjadi jalan masuknya makan minum yang enak-enak dan menjadi jalan keluarnya maki-makian, ucapan kurang ajar, fitnah dan tipu, maka buruklah mulut itu! Akan tetapi kalau dipergunakan menjadi jalan masuk minum yang sehat dan jalan keluar omongan yang baik-baik bagi manusia lain, maka baiklah mulut itu!"

Kim-mo Taisu bicara penuh semangat dan Bu Song mendengarkan sambil menundukkan mukanya, namun dengan penuh perhatian.

"Kau dahulu menganggap silat itu ilmu kasar untuk berkelahi dan membunuh orang atau melukainya, maka kau membencinya. Apakah ilmunya yang berkelahi, melukai atau membunuh orang? Bukan! Melainkan orangnya! Biarpun tak pandai silat, apakah tak dapat berkelahi atau membunuh orang? Sebaliknya kalau dipergunakan baik, maka ilmu silat amat berguna. Misalnya, untuk menjaga diri daripada hinaan orang-orang yang merasa dapat berbuat semaunya karena kekuatannya, untuk menolong orang-orang yang mengalami penindasan dari orang-orang jahat, dan masih banyak sekali hal-hal baik yang hanya dapat dilakukan dengan sempurna oleh orang-orang yang pandai ilmu silat. Sekarang kita meninjau ilmu bun (sastra). Kau melihat sendiri keadaan di kota raja. Siapakah yang duduk di istana, menjadi pembesar-pembesar yang berkekuasaan dan berpengaruh besar? Mereka ini tergolong orang pandai sastra, orang-orang pintar dan terpelajar. Akan tetapi, apakah mereka menggunakan kepandaiannya itu untuk kebaikan? Memang ada, akan tetapi hanya beberapa gelintir manusia saja! Yang terbanyak, kepandaiannya itu hanya untuk melakukan kejahatan yang lebih kejam daripada membunuh orang dengan bacokan pedang! Kepintarannya dipergunakan untuk "memintari"

Orang lain yang bodoh. Kau lihat, kalau ilmu bun dipergunakan untuk kejahatan, apakah boleh kau sebut bahwa ilmu bun itu jahat dan buruk?"

Bu Song mengangguk-angguk.

"Dahulu pun teecu sudah pernah Suhu beri wejangan seperti sekarang ini sehingga didalam lubuk hati teecu sudah ada pengertian seperti itu. Namun teecu tidak percaya oleh karena tadinya teecu mengira bahwa orang terpelajar yang mempelajari filsafat hidup dari kitab-kitab kuno tentulah menjalani hidup menurut jejak seorang kuncu (bijaksana/budiman). Maka teecu lebih condong mempelajari bun daripada bu. Akan tetapi siapa kira, setelah teecu berada disini, teecu muak! Semua kata-kata Suhu benar belaka."

"Jadi, sekarang kau mau menjadi muridku, murid ilmu silat?"

Bu Song menjatuhkan diri berlutut.

"Kalau Suhu masih percaya kepada teecu, kalau Suhu mau memberi pelajaran ilmu silat, berarti teecu menerima anugerah yang tiada bandingannya. Tentu saja teecu akan merasa berterima kasih sekali."

"Ha-ha-ha-ha-ha!"

Baru kali ini semenjak bertahun-tahun Kim-mo Taisu dapat tertawa lagi.

"Alangkah lucunya! Padahal didalam dirimu telah terkumpul segala dasar ilmu silat yang hebat! Berlatih setahun kau akan memperoleh hasil sepuluh tahun, berlatih dua tahun akan memperoleh hasil dua puluh tahun! Sekarang mari kita berangkat ke istana Pangeran Suma. Kalau mereka memandang rendah kepadamu, kita bawa kekasihmu itu dengan kekerasan dan kalau perlu, kita bunuh Suma Kong dan puteranya, Suma Boan yang sudah menyiksamu! Pembesar-pembesar korup yang seperti lintah darat, yang telah menghisap darah rakyat sampai perutnya gendut, sudah sepatutnya dibunuh!"

Bu Song menubruk kaki suhunya.

"Tidak..., jangan, Suhu... ampunkan teecu , jangan Suhu lakukan hal itu...!"

"Hemm...!"

Suara Kim-mo Taisu menjadi dingin sekali.

"Kalau kau masih selemah ini, mana patut menjadi pendekar? Seorang pendekar harus berani mengambil tindakan, harus berani berbuat apa saja, kalau perlu kekerasan, asal semua tindakannya itu beralaskan kebenaran dan keadilan!"

"Bukan sekali-kali teecu berlemah hati. Tidak, Suhu. Hanya... teecu menghormat dan menghargai rasa cinta kasih teecu dan Ceng Ceng. Tidak mau teecu memaksakan cinta secara itu, apalagi membawa lari seorang gadis, puteri pangeran pula. Akan kemana larinya nama baik Suma Ceng? Teecu amat mencintanya, tak mungkin teecu berani melakukan hal itu, mencemarkan nama baiknya selama hidup. Juga tentang ayah dan kakaknya, kalau kita membunuh mereka, bagaimana jadinya dengan nasibnya? Teecu teringat kepada Subo..."

Lemaslah seluruh tubuh Kim-mo Taisu mendengar ini.

Muridnya mengingatkan ia akan nasib Khu Gin Lin, puteri bangsawan yang menjadi isterinya.

Seperti juga kekasih muridnya ini, mendiang isterinya itu adalah puteri pangeran yang sekeluarganya terbasmi dan terbunuh.

Ia menarik napas panjang.

"Sesukamulah. Agaknya kau seperti aku, siap menderita karena cinta..."

"Teecu bersumpah takkan menjatuhkan hati cinta kepada wanita lagi, Suhu."

"Ha-ha-ha-ha! Patah hati? Begitu pula aku dahulu, tapi nyatanya..."

"Tidak teecu betul-betul bersumpah, selama hidup teecu tidak akan mencin..."

"Hushhh! Tak perlu bersumpah. Tidak ada yang melarang manusia untuk bercinta muridku. Bahkan Tuhan sendiri pun tidak. Cinta itu anugerah, bahkan hidup ini baru berarti kalau diisi dengan cinta. Akan tetapi, bukan cinta yang digelapkan oleh nafsu. Kelak engkau akan mengerti sendiri!"

Kakek itu menarik napas panjang karena teringat akan pengalamannya sendiri diwaktu muda.

Sampai kini pun ia merasa bahwa cinta kasihnya yang sejati adalah pada diri Tok-siauw-kwi Liu Lu Sian, ibu muridnya ini.

Mungkin karena inilah maka ia menganggap Bu Song seperti puteranya sendiri, dan ada perasaan sayang amat besar dalam hatinya terhadap pemuda ini.

Mereka tidak lama berada di rumah Ciu Tang.

Malam itu juga, menjelang fajar, Kim-mo Taisu mengajak muridnya pergi dan keluar dari kota raja.

Kim-mo Taisu maklum bahwa kalau terlalu lama mereka berada disitu, sudah tentu Ciu Tang akan ikut menderita celaka.

Semenjak saat itu, mulailah Bu Song diajar ilmu silat.

Seperti ketika ia mempelajari ilmu surat, pemuda ini amat tekun dan penuh perhatian.

Dan baru terbukalah matanya bahwa sesungguhnya didalam dirinya selama ini ia telah memiliki tenaga sakti yang hebat!

Beberapa hari kemudian didalam sebuah hutan, ia duduk bersila didepan suhunya yang juga duduk bersila.

Ia disuruh mengatur napas dan mengumpulkan semangat seperti yang ia latih sejak kecil.

Dan seperti biasa, kalau sudah begitu ia akan merasa ada hawa panas berkumpul dipusar.

"Tarik napas dalam-dalam dan tekan hawa panas itu agar naik ke dadamu."

Terdengar suara gurunya.

Bu Song yang memejamkan mata menurut kata-kata gurunya ini, namun hawa panas yang berkumpul di sekitar bawah pusar itu sukar sekali ditekan naik.

Tiba-tiba ia merasa betapa tangan suhunya menempel pada pusarnya dan dari telapak tangan suhunya itu keluar getaran hawa yang luar biasa kuatnya.

Meminjam tenaga ini ia berusaha lagi dan kali ini berhasil.

Hawa panas yang merupakan segumpal tenaga itu bergerak naik kedada, membuat dadanya sesak dan ia terengah-engah hendak muntah.

"Bernapas pula perlahan akan tetapi gunakan perhatian agar hawa jangan turun kembali. Setelah itu, dorong hawa itu kearah pundak kanan."

Demikianlah, sedikit demi sedikit Kim-mo Taisu melatih muridnya sehingga akhirnya, dalam waktu beberapa hari saja, Bu Song sudah berhasil menggunakan kekuatan untuk mendorong hawa panas itu mengitari tubuhnya, kemanapun ia kehendaki.

Dengan totokan-totokan yang tepat Kim-mo Taisu "membuka"

Jalan darah tubuh muridnya, kemudian mulailah ia mengajarkan langkah, kuda-kuda, dan pukulan.

Memang betul apa yang diucapkan Kim-mo Taisu.

Dalam diri Bu Song sudah terdapat tenaga sin-kang yang amat kuat serta semua dasar ilmu silat tinggi memang sudah ia pelajari melalui huruf-huruf yang membentuk sajak-sajak dan ujar-ujar yang sengaja dahulu diselip-selipkan oleh Kim-mo Taisu dalam pelajaran ilmu sastera.

Kini setelah dilatih prakteknya, tentu saja Bu Song cepat sekali dapat menangkap serta didorong bakatnya yang luar biasa, sebentar saja ia dapat menguasai setiap gerakan yang betapa sulit pun.

Dalam waktu setahun saja, dengan petunjuk suhunya, ia mampu sekali dorong merobohkan sebatang pohon sebesar manusia!

Dalam waktu enam bulan, gin-kangnya sudah sedemikian hebat sehingga ia mampu mengikuti suhunya berloncatan diatas pohon seperti seekor tupai, dan merobohkan pohon sebesar manusia dapat ia lakukan dari jarak satu meter tanpa menyentuhnya!

Guru dan murid ini tidak pernah berhenti berlatih silat.

Siang dan malam berlatih terus dan beristirahat pun merupakan latihan samadhi mengumpulkan tenaga sakti.

Kadang-kadang diwaktu malam gelap, mereka berdua sudah berlatih saling serang bagaikan dua setan hutan yang berkelebatan diantara pohon-pohon.

Kim-mo Taisu menggembleng muridnya dan menurunkan seluruh ilmu-ilmunya, tidak ada yang ia sisakan.

Pada waktu itu yang memegang kekuasaan adalah Kerajaan Cou, kerajaan terakhir dari jaman Lima Kerajaan.

Seperti kerajaan-kerajaan yang terdahulu, juga Kerajaan Cou ini tidak lama menguasai pemerintahan (951-960).

Setelah sembilan tahun berdiri, pada tahun 959, raja Cou jatuh sakit berat.

Kekuasaannya ia serahkan kepada putera mahkota yang pada waktu itu baru berusia sebelas tahun!

Sebagai walinya tentu saja adalah ibu ratu.

Semenjak inilah maka Kerajaan Cou menjadi lemah, karena para panglimanya banyak yang merasa tak senang melihat bahwa yang mereka bela hanyalah seorang anak yang manja serta seorang ibu yang ingin berkuasa saja.

Kerajaan Cou mempunyai seorang panglima tinggi yang amat dipercaya dan disayangi oleh Raja Cou.

Panglima ini bernama Cao Kuang Yin, seorang ahli perang yang memang keturunan orang-orang terkenal.

Nenek moyangnya adalah orang-orang yang menduduki jabatan tinggi, menjadi panglima semenjak jaman Kerajaan Tang dan berturut-turut dalam (Lanjut ke

Jilid 30) SULING EMAS (Seri ke 02

"Serial Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 30 jaman Lima Kerajaan itu, nenek moyang Cao selalu menjadi orang-orang penting dalam pemerintahan, terutama dalam ketentaraan.

Seperti juga para panglima dan bangsawan lainnya, diam-diam Cao Kuang Yin tidak senang akan penggantian raja dengan seorang kanak-kanak didampingi ibunya yang tamak itu.

bakan ketika raja kecil atas desakan ibu suri menjatuhkan hukuman kepada seorang pejabat tinggi yang membantah peraturan baru tentang pemungutan pajak yang diperberat, Panglima Cao sendiri menghadap ke istana dan dengan sejujurnya menyampaikan protes!

Peristiwa ini diikuti dengan hati tegang oleh para pembesar.

Perbuatan Cao ini dapat dianggap sebagai sikap memberontak dan sekali raja kecil yang dipengaruhi ibunya itu menjatuhkan hukuman mati, panglima itu tentu takkan tertolong lagi.

Namun, agaknya ibu suri juga dapat melihat bahwa panglima besar ini tidak boleh dipandang ringan.

Dibelakangnya banyak terdapat pasukan besar yang mencintanya.

Maka untuk meredakan ketegangan, ibu suri menerima protes itu dan membebaskan kembali petugas atau pejabat tinggi yang terkenal setia itu.

Namun perisitwa itu tidak berhenti sampai disitu saja.

Pada waktu itu, musuh utama Kerajaan Cou, yaitu bangsa Khitan, selalu membuat kacau di daerah utara dan seringkali menyerbu kota-kota di utara.

Dengan alasan menindas kerusuhan yang dilakukan oleh musuh itu, raja kecil atas desakan ibu suri lalu menjatuhkan surat perintah kepada Panglima Cao Kuang Yin untuk memimpin barisannya ke utara dan memerangi bangsa Khitan.

Sebagai seorang panglima perang yang setia, tentu saja Panglima Cao tidak dapat membantah perintah rajanya untuk menyerbu musuh.

Apa pun alasannya, kalau ia tidak mentaati perintah ini, tentu dia akan menjadi bahan tertawaan orang sedunia sebagai seorang panglima yang takut perang!

Terpaksa Panglima Cao memimpin barisannya bergerak ke utara, sungguhpun ia maklum bahwa bahaya yang mengancam kerajaan bukan hanya dari bangsa Khitan dan penjagaan tidak boleh dipusatkan di utara saja.

Para panglima muda, para perwira sampai para anggota barisan sebagian besar merasa tidak puas dan tidak senang dengan tugas ini.

Bukan saja perjalanan dan tugas di utara itu amat berat, namun juga mereka dapat menduga bahwa perintah ini merupakan "pembalasan"

Dari ibu suri sehingga tak mungkin mereka akan menerima jasa kelak dalam tugas yang mempertaruhkan nyawa ini.

Diam-diam para panglima muda dan perwira mengadakan permufakatan dan persekutuan, diluar tahu Panglima Cao.

Tujuh orang panglima muda dan sebelas orang perwira berkumpul dalam tenda besar pada malam hari itu, ketika barisan berhenti dan beristirahat setelah melakukan perjalanan beberapa hari dari kota raja.

Mereka bermufakat untuk memaksa Panglima Besar Cao Kuang Yin dengan kekerasan agar suka memimpin barisan kembali ke kota raja dan menggempurnya serta mengambil alih kekuasaan.

Pendeknya mereka hendak memaksa Coa Kuang Yin untuk memberontak terhadap raja kecil dan ibu suri!

Tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak, sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu seorang kakek aneh telah berdiri disudut tenda.

Kakek ini sudah tua sekali, kedua kakinya ditekuk bersila, tergantung diantara dua batang tongkat yang menggantikan kakinya.

Tentu saja delapan belas orang komandan itu cepat bangkit dan kaget serta terheran-heran.

Bagaimana tenda yang dijaga sekelilingnya oleh pasukan penjaga dapat kemasukan orang luar tanpa ada yang tahu?

Karena mereka sedang merundingkan urusan rahasia gawat, tentu saja kehadiran seorang luar seperti kakek ini amat mengejutkan dan mereka sudah mencabut pedang dan golok masing-masing.

"Ha-ha-ha-ha! Cu-wi Ciangkun (Para Perwira), harap jangan kaget dan curiga! Aku datang untuk membantu kalian melaksanakan maksud hati kalian yang amat baik ini. Kerajaan Cou yang lapuk harus diruntuhkan!"

Karena yang mengucapkan kata-kata ini seorang luar yang tak dikenal, tentu saja para panglima itu makin kaget dan khawatir.

Dua orang di antara para perwira yang terkenal hebat kepandaiannya dalam ilmu memanah, telah menggerakkan tangan dan "serrr!

serrr!"

Dua batang anak panah dengan kecepatan kilat telah menyambar leher dan perut kakek itu!

Kakek itu sama sekali tidak mengelak atau kelihatan bergerak, agaknya ia tidak melihat bahwa dua batang anak panah seperti dua tangan maut menjangkau hendak mencabut nyawanya.

Ia masih enak-enak berkata.

"Biarlah aku yang akan mengajukan alasan kepada Cao-goanswe (Jenderal Cao), dan kalau terjadi kegagalan sehingga kalian terpaksa melawannya, aku akan membantu kalian!"

Delapan belas orang ahli perang itu berdiri dengan mata terbelalak kagum dan kaget.

Kakek itu masih bicara dan sementara itu, dua batang anak panah seakan-akan telah mengenai dada dan leher, akan tetapi karena kakek itu bicara sambil menggerakkan kedua tangan, mereka tidak melihat bagaimana sekarang tahu-tahu kedua batang anak panah itu telah terjepit diantara jari-jari tangan kakek itu!

Seorang panglima muda melangkah maju dengan pedang ditangan.

"Engkau siapa? Berani memasuki tenda kami tanpa ijin?"

"Ha-ha-ha! Ciangkun (Panglima), engkau masih terlalu muda untuk mengenalku. Akan tetapi diantara kalian yang sudah tua tentu pernah mendengar namaku. Dahulu aku disebut Sin-jiu Couw Pa Ong seorang putera pangeran Kerajaan Tang dan aku masih ingat akan Cao Beng, Jenderal Kerajaan Tang yang menjadi kakek Jenderal Cao Kuang Yin sekarang! Akan tetapi sekarang aku hanya seorang kakek biasa saja yang disebut Kong Lo Sengjin!"

Kagetlah semua orang yang berada di dalam tenda itu. Nama Sin-jiu Couw Pa Ong memang amat terkenal.

"Dengan cara bagaiamana kau hendak mencampuri urusan kami, urusan tentara?"

Kembali kakek itu tertawa.

"Dalam urusan perang memang kalian ahli, dan menghadapi barisan tentu saja aku tidak berarti. Akan tetapi menghadapi kekerasan lawan, kiranya aku dapat banyak membantu. Misalnya, dengan mudah aku dapat melucuti belasan orang lawan. Kalian lihat baik-baik!"

Tiba-tiba tubuh kakek itu berkelebat menyerbu mereka!

Kagetlah belasan orang itu.

Mereka juga bukan orang-orang biasa, melainkan panglima-panglima yang sudah biasa bertempur maka tentu saja mereka itu pandai ilmu silat.

Melihat bayangan kakek itu berkelebat dekat, tanpa ragu-ragu lagi mereka lalu menggerakkan senjata mereka menerjang.

Terdengar suara kaget bergantian dan dalam sekejap mata saja semua panglima dan perwira sudah kehilangan senjata mereka.

Ketika mereka memandang, ternyata pedang dan golok mereka yang terampas secara aneh itu telah tertumpuk diatas meja dan kakek itupun sudah duduk diatas bangku dekat meja sambil tersenyum-senyum.

"Bagaimana? Cukup berhargakah aku menjadi sekutu kalian?"

Mereka lalu duduk kembali mengelilingi meja.

"Mengapa Locianpwe hendak membantu kami? Dengan maksud apa?"

Tanya seorang panglima tua kini menyebut locianpwe karena maklum bahwa kakek lumpuh itu benar-benar sakti luar biasa.

"Dengan maksud apa? Tentu saja dengan maksud menegakkan kembali kekuasaan Tang yang sudah runtuh. Jenderal Cao adalah keturunan dari pembesar tinggi bangsawan Tang, maka sudah sepatutnya jika beliau diangkat. Akan tetapi kalau dia menolak, kita bisa memilih lain orang. Bukan Cao-goan-swe seorang diantara kita yang cakap menggantikan raja kanak-kanak dan ibunya!"

Karena tertarik oleh kesaktian Kong Lo Sengjin yang tentu saja akan dapat merupakan pembantu yang amat berharga, akhirnya belasan orang komandan itu menerima Kong Lo Sengjin menjadi sekutu dan berundinglah mereka tentang niat mereka memaksa Cao Kuang Yin untuk memberontak.

Pada saat itu, Jenderal Cao Kuang Yin sendiri tidak berada dalam tendanya.

Panglima ini keluar seorang diri dan kini ia berdiri termenung diatas sebuah gunung kecil, menatap angkasa yang dihias bintang-bintang gemerlapan.

Bulan seperempat tampak doyong di angkasa.

Berkali-kali panglima ini menarik napas panjang, kemudian ia menengadah kelangit dan keluarlah keluhan hatinya yang tanpa ia sadari terucapkan mulutnya.

"Liang, Tang, Cin, Han Cou... lima kerajaan bermunculan, namun semua tidak berhasil mengamankan negara memakmurkan rakyat jelata. Ahhh, sekian banyaknya bintang bermunculan dan berjatuhan, tiada satu yang menyinarkan cahaya menerangi jagad. Bilakah akan muncul sebuah bintang yang demikian?"

Tba-tiba terdengar keluhan orang lain yang disambung dengan kata-kata seperti sajak.

"Bila kepalanya benar, kaki tangan yang tidak baik pun dapat dimanfaatkan. Bila kepalanya tidak benar, kaki tangan yang betapa baik pun tidak ada manfaatnya! Segala sesuatu memang sudah dikehendaki Tuhan maka dapat terjadi, akan tetapi jika manusia tidak berusaha dan hanya mengandalkan kehendak Tuhan, tiada bedanya ia dengan pohon atau hewan!"

Cao Kuang Yin terkejut, apalagi setelah menengok ia melihat seorang laki-laki gagah perkasa yang berpakaian seperti tosu, berdiri tak jauh dari situ, juga menengadah sambil menuangkan arak dari sebuah guci arak.

Ucapan tadi bukanlah kata-kata biasa, maka Cao Kuang Yin dapat menduga bahwa tentu orang ini bukan orang biasa pula, dan cepat ia menghadapinya sambil menjura dan berkata.

"Saudara yang baik, ucapanmu benar-benar mengagumkan hatiku akan tetapi juga mengherankan hatiku akan tetapi juga mengherankan. Sudilah kiranya memberi penjelasan."

Orang tua gagah itu bukan lain adalah Kim-mo Taisu.

Setelah menurunkan semua ilmunya kepada Bu Song selama hampir tiga tahun, ia lalu berpisah dari muridnya itu yang ia suruh pergi mencari suling emas di Pulau Pek-coa-to seperti yang diceritakan sastrawan Ciu Gwan Liong kepada Bu Song.

Adapun dia sendiri lalu mulai pergi mencari Kong Lo Sengjin inilah maka ia pada saat itu berada diatas bukit kecil, diam-diam membayangi Cao Kuang Yin yang ia kenal sebagai seorang panglima besar Kerajaan Cou.

Kim-mo Taisu sudah mendengar akan semua urusan di kota raja, maka ia pun tahu bahwa jenderal ini memimpin pasukan besar menuju ke utara.

Ia merasa heran ketika dalam penyelidikannya mendapat kenyataan bahwa orang yang dikejar-kejarnya, yaitu Kong Lo Sengjin, berada pula di dalam pasukan itu.

Tentu saja ia tidak berani turun tangan secara sembrono dalam barisan yang begitu besar.

Kini ia sengaja mendekati Cao Kuang Yin dan sengaja menjawab keluhan jenderal itu untuk mengukur isi hatinya.

Kini mendengar pertanyaan komandan itu dan melihat sikapnya yang wajar dan jujur sopan, diam-diam ia merasa kagum sekali.

Segera Kim-mo Taisu menghadapi nya dan membalas hormat selayaknya.

"Cao-goanswe, harap maafkan kalau saya menganggu. Tadi saya mendengar keluhan Goanswe tentang lima kerajaan yang tidak berhasil mengamankan negara dan memakmurkan rakyat jelata. Saya merasa cocok dan tanpa disengaja mengeluarkan kata-kata yang mengagetkan Goanswe. Sesungguhnya, negara kita banyak memiliki patriot-patriot, pahlawan-pahlawan yang cinta tanah air dan bangsa, yang setia kepada negara. Akan tetapi, kalau yang menjabat kaisar tidak bijaksana dan mementingkan kesenangan pribadi, tentu saja para pahlawan itu akan disalahgunakan tenaganya. Akibatnya, pemimpin-pemimpin yang baik akan dikesampingkan, pembesar-pembesar korup penjilat akan terpakai. Turunnya bintang cemerlang sebagai kaisar tentu saja adalah kehendak Thian, akan tetapi semua itu hanya akan terjadi melalui ikhtiar dan usaha manusia sendiri. Inilah pendapat saya pribadi, Goanswe, kalau keliru harap dimaafkan."

Kim-mo Taisu menenggak araknya kembali.

"Ah, tidak... tidak keliru! Benar sekali pendapat Saudara. Ah, bukankah saya berhadapan dengan Kim-mo Taisu...?"

"Cao-goanswe bermata tajam, benar-benar saya kagum sekali,"

Kata Kim-mo Taisu. Jenderal itu tertawa.

"Nama Taisu menjulang setinggi Gunung Thai-san. Kipas dipinggang, pedang dipunggung dan guci arak ditangan, kemudian mengeluarkan pendapat sedemikian bijaksana, siapa lagi orangnya kalau bukan Kim-mo Taisu?"

Tiba-tiba terdengar suara berisik dan muncullah belasan orang yang serta merta menerjang Cao Kuang Yin dengan mereka!

"Bunuh!

Serbu cepat selagi ada kesempatan baik!"

Begitulah teriakan-teriakan mereka.

Gerakan mereka cepat dan ringan tanda bahwa mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.

Cao Kuang Yin kaget sekali, cepat ia mengelak dari dua buah sambaran golok sambil melompat mundur dan mencabut pedangnya.

"Kalian siapakah? Tidak melihat bahwa aku Jenderal Cao? Mundur!!"

"Ha-ha-ha, justeru kami mencari dan harus membunuh Jenderal Cao!"

Seorang diantara mereka berseru.

Mereka semua ada dua belas orang yang kini mengurung.

Ketika jenderal itu hendak menerjang mencari jalan keluar, tibat-tiba Kim-mo Taisu berkata.

"Tenanglah, Goanswe dan serahkan mereka kepadaku!"

Setelah berkata demikian, Kim-mo Taisu yang tadi menenggak araknya, menurunkan gucinya, kemudian tiba-tiba ia menyemburkan arak sambil memutar-mutar tubuhnya.

Terdengar teriakan-teriakan kaget ketika dua belas orang itu merasai sambaran arak yang seperti jarum-jarum disebar.

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert