Eps 11 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.
Dia berkeras tidak akan menyerah sebelum tubuhnya yang menyerah dan roboh dengan sendirinya!
Maka dikeraskanlah hatinya dan dia terus berjungkir balik seperti itu sampai semalam suntuk lewat!
Menjelang pagi, dengan hati penuh dendam Han Houw sudah membayangkan kakek itu sebagai iblis jahat yang sengaja menyiksanya.
Berbagai umpat dan caci dan kutuk memenuhi benaknya, dilontarkan kepada penyiksanya.
Namun mulutnya tetap terkatup dan kedua matanya terpejam.
Setelah matanya yang terpejam kembali melihat cahaya di luar pelupuk matanya, telinganya mendengar langkah kaki dan tahulah dia bahwa kaki telanjang kakek botak cebol itulah yang mendekatinya lalu terdengar suara kakek itu mengomel.
"Masih bertahan juga? Hemm, menjemukan benar anak ini? Aku masih belum memerintahkanmu menurunkan kaki, akan tetapi coba sekarang kautaati perintahku. Nah, kautahan pernapasanmu setelah menyedot sebanyak mungkin hawa. Nah, dorongkan hawa itu ke pusar, kemudian tarik naik ke kepala, ya... ya... teruskan lagi...!"
"Brukkkk!"
Tubuh Han Houw terguling seperti sebatang balok, kepalanya terasa nyeri bukan main, terputar-putar rasanya dan matanya berkunang-kunang, seluruh tubuhnya bagian atas nyeri semua!
"Ha-ha-ha, heh-heh-heh, engkau kena kuakali!
Ha-ha, bagaimana rasanya?
Sakit?
Hayo katakan, apakah engkau masih ingin belajar dari aku?
Akan kuajarkan lain ilmu yang lebih menyakitkan lagi!
Hayo katakan, masih terus ingin belajar?"
Han Houw memejamkan kedua matanya, berusaha mengusir kepeningan yang membuat kepalanya seperti dipukuli palu besar, dan dadanya sesak.
Namun dia mempertahankan, bahkan menekan semua ini, lalu dia bangkit duduk dan menjawab.
"Aku masih ingin belajar dari locianpwe, biar sampai matipun aku tidak gentar!"
Diam-diam Ouwyang Bu Sek merasa heran dan juga girang.
Tadinya dia tidak percaya bahwa seorang pangeran akan dapat bertahan menghadapi siksaan seperti itu.
Akan tetapi ternyata anak ini keras hati, tidak kalah dibandingkan dengan Sin Liong!
"Engkau benar-bener ingin belajar?"
Tanyanya, mulai merasa kalah.
"Benar, locianpwe."
"Dan engkau mau membayarku dengan selaksa tail perak?"
"Hal itu mudah dilaksanakan."
"Bagaimana kalau membayarku dengan kedudukan yang tinggi di kota raja?"
"Kedudukan yang tinggi sudah sepantasnya bagi locianpwe yang berilmu tinggi. Kalau dikehendaki, tentu dapat kulaksanakan pula."
Tiba-tiba kakek itu tertawa dan merasa sudah cukup menguji.
Memang dia telah menguji pangeran ini dan andaikata pangeran itu tidak memuaskan hatinya, bukan hal tidak mungkin kalau dia melaksanakan kata-katanya di depan Sin Liong kemarin, yaitu melemparkan pemuda ini ke dalam jurang!
Akan tetapi, sikap Han Houw yang demikian keras hati, tahan uji, dan juga janji-janji yang diberikan oleh pangeran ini kepadanya, membuat hatinya puas sekali.
Dia membandingkan pemuda ini dengan Sin Liong dan menganggap bahwa pangeran ini malah lebih baik, lebih berguna baginya, daripada sutenya itu!
Kakek ini sama sekali tidak pernah menduga bahwa terdapat perbedaan besar sekali antara Sin Liong dan Han Houw.
Sin Liong memiliki kesederhanaan wajar dan juga memiliki kejujuran, sebaliknya, pangeran ini angkuh dan tidak pernah mau kalah oleh siapapun juga, di samping itu, juga di sudut hatinya terkandung kekejaman dan kebuasan, namun semua itu ditutup oleh sikapnya yang ramah dan ini membuktikan betapa cerdik dan berbahaya dia.
Di lubuk hatinya, Han Houw merasa sakit hati dan benci sekali kepada kakek ini yang bukan hanya telah mempermainkannya, bahkan telah menyakitinya dan me-nyiksanya.
Namung kebenciannya itu sedikitpun tidak nampak pada wajahnya yang tampan!
"Heh-heh-heh, baik, baik!
Engkau akan menjadi muridku, pangeran.
Ha-ha-ha!"
Sambil berkata demikian tangannya bergerak dan Han Houw merasa betapa leher dan punggungnya tertotok dan kesehatannya pulih kembali, peningnya lenyap, bahkan dia merasakan sesuatu kenyamanan yang aneh pada tubuhnya.
"Tubuhku terasa nyaman sekali, locianpwe!"
"Tentu saja, heh-heh. Apa kau kira jungkir balik hampir sehari semalam itu tidak ada gunanya?"
Han Houw merasa tidak puas ketika kakek itu menyatakan bahwa dia akan menjadi muridnya.
Bukan itulah yang dikehendakinya.
Dia harus dapat menjadi murid guru mereka, yaitu Bu Beng Hud-couw!
Akan tetapi Han Houw amat cerdik, maka dia tidak menyatakan hal ini secara berterang, takut kalau-kalau kakek itu menjadi tidak senang hatinya.
"Locianpwe, aku adalah seorang pangeran dan kakak dari Liong-te, akan tetapi ilmu silatku kalah jauh dibandingkan dengan dia. Mana mungkin aku dapat memenuhi cita-citaku sebagai jagoan silat nomor satu di dunia ini kalau oleh adik angkatku sendiri saja aku masih kalah lihai!"
"Ha-ha-ha! Heh-heh! Tentu saja engkau tidak menang melawan sute, sedangkan aku sendiripun tidak akan mampu mengalahkannya!"
Han Houw mengerutkan alisnya, lalu menggeleng-geleng kepalanya dan seperti bicara kepada diri sendiri.
"Aihhh, pantas... pantas... Liong-te kadang-kadang besar kepala dan menyombongkan kepandaiannya! Kiranya dia demikian lihai sehingga locianpwe sendiri yang menjadi suhengnya masih kalah lihai olehnya! Sungguh penasaran dan sukar dipercaya bagaimana seorang suheng yang menurut Liong-te bahkan telah membimbingnya dapat dikalahkan oleh sute sendiri yang dibimbingnya ini!"
"Aha, mana kau tahu, pangeran? Benar aku yang telah membimbingnya, akan tetapi kalau aku menjadi murid suhu hanya berhasil menafsirkan isi kitab-kitab suhu saja, sebaliknya sute telah melatih ilmu-ilmu yang amat sukar itu."
"Maksud locianpwe, gurunya dan guru locianpwe yang bernama Bu Beng Hud-couw?"
"Ha, engkau sudah tahu?"
"Liong-te pernah menceritakan kepadaku, bahkan Liong-te yang merasa paling pandai itu menyombongkan diri mengatakan bahwa setelah dia mempelajari semua kitab dari Bu Beng Hud-couw, jangankan hanya locianpwe yang menjadi suhengnya, biar Bu Beng Hud-couw sendiri tidak akan mampu menandinginya!"
"Omong kosong! Sombong dia!"
Kakek itu membentak marah dan diam-diam Han Houw merasa girang bahwa dia mulai berhasil membakar hati kakek aneh ini.
"Dan buktinya locianpwe mengaku sendiri tidak mampu menandinginya!"
"Memang benar karena aku tidak mempelajari ilmu-ilmu itu, akan tetapi akulah yang membimbingnya, dan mana mungkin dia dapat menandingi suhu? Berani benar dia bicara seperti itu!"
"Jalan satu-satunya bagi locianpwe adalah mempelajari sendiri kitab-kitab itu kemudian menunjukkan bahwa locianpwe sebagai suhengnya tidak benar kalah oleh sutenya!"
Kakek itu menarik napas panjang, lalu duduk di atas tanah, kelihatan makin pendek dan sepasang matanya makin menjuling, wajahnya kelihatan berduka.
"Tidak mungkin... aku telah terlalu tua untuk mempelajari..."
"Kalau begitu, Liong-te akan tetap menyombongkan diri ke mana-mana, mengabarkan kepada seluruh dunia kang-ouw bahwa suhengnya yang sakti, yang amat terkenal bernama Ouwyang Bu Sek itu, juga suhunya yang maha sakti Bu Beng Hud-couw tidak akan mampu menandinginya."
"Tidak boleh... ini sama sekali tidak boleh dan harus dicegah!"
Kakek yang sudah panas hatinya itu kini meloncat dan berjingkrak seperti cacing terkena abu panas, mukanya kemerahan dan dia sudah menjadi marah sekali.
"Sebaiknya dilaporkan saja kepada locianpwe Bu Beng Hud-couw."
Han Houw memancing karena dia ingin sekali dapat bertemu dengan manusia dewa yang ilmu-ilmunya telah dipelajari oleh adik angkatnya itu.
"Tidak bisa... tidak mungkin... beliau tidak mungkin mau mengurus keramaian dunia... ah, tidak mungkin itu."
"Kalau begitu masih ada lain jalan untuk menundukkan kesombongan Liong-te dan mencuci bersih nama baik locianpwe dan nama baik Bu Beng Hud-couw."
"Eh? Kau ada jalan, pangeran? Bagaimana?"
"Biarlah aku yang mempelajari ilmu-ilmu dari locianpwe Bu Beng Hud-couw, dan akulah yang akan mewakili locianpwe dan Bu Beng Hud-couw untuk mengalahkan dia!"
Wajah kakek itu berseri, akan tetapi hanya sebentar.
"Hemm, kitab-kitab itu sudah kubakar..., sungguhpun masih ada kitab-kitab yang belum pernah dipelajari orang, akan tetapi... ah, kurasa tidaklah mudah mempelajari kitab-kitab itu... dan sute Sin Liong memang lihai sekali..."
"Ilmu apakah yang telah dipelajarinya dari kitab Bu Beng Hud-couw?"
"Hanya tiga belas jurus Hok-mo Cap-sha-ciang, akan tetapi ilmu ini hebat bukan main dan sukar dikalahkan."
"Bukankah locianpwe yang membimbingnya? Tentu locianpwe dapat mengajarkan kepadaku, dan aku akan berlatih sebaik mungkin agar dapat mengatasi Liong-te."
Kembali kakek itu menggeleng kepalanya.
"Tidak mungkin... sudah kubakar kitab-kitab itu dan aku tidak hafal semua isinya, hanya sebagian saja dan tentu tidak cukup untuk dilatih sempurna dan tidak akan dapat mengalahkan dia."
Akan tetapi Han Houw tidak putus asa.
Dia tahu bahwa kakek di depannya ini lihai bukan main, mungkin lebih lihai daripada sucinya atau subonya, akan tetapi kalau dia hanya menerima bimbingan dari kakek ini tentu tidak akan dapat mengalahkan Sin Liong!
Dia harus mempelajari ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw!
"Locianpwe, bagaimana kalau aku mempelajari kitab-kitab yang lain, itu?"
"Wah, sukar sekali... sukar sekali... baru menafsirkan isinya saja aku sendiri sudah pening. Tulisan-tulisan kuno itu sukar sekali dan aku..."
"Harap locianpwe tidak memandang rendah kepadaku. Semenjak kecil aku hidup di istana yang penuh dengan simpanan tulisan-tulisan kuno dan aku sudah banyak mempelajari isinya. Barangkali aku dapat membantu locianpwe, kemudian aku melatih ilmu-ilmu itu di bawah bimbingan locianpwe."
Kakek itu berseru girang.
"Benarkah? Wah, kalau begitu engkau lebih hebat dari Sin Liong, pangeran! Hayo, kita melakukan upacara pengangkatan guru dan engkau menjadi suteku pula, jangan banyak membuang waktu!"
Bukan main girangnya hati Han Houw.
Dia telah berhasil!
Maka dengan taat dia lalu mengikuti kakek itu memasuki sebuah guha besar yang gelap.
Guha ini berbeda dengan guha di mana dahulu kakek itu membawa Sin Liong masuk.
Memang, dia selalu memindah-mindahkan kitab-kitab pusaka yang disembunyikannya.
"Berlututlah, sute, dan ikuti kata-kataku."
Han Houw berlutut di samping kakek itu, menghadap ke dalam guha.
Dia mencoba untuk menembus kegelapan itu dengan matanya, namun dia tidak melihat apa-apa, hanya melihat dinding batu yang gelap.
Namun, tiba-tiba dia merasa bulu tengkuknya meremang dan dia merasa seram, seolah-olah ada hawa aneh berada di dalam guha itu, dan cepat-cepat diapun mengikuti kakak seperguruan yang aneh ini memberi hormat dengan berlutut delapan kali dan menirukan kata-kata sumpah yang diucapkan oleh Ouwyang Bu Sek.
"Teecu (murid) bersumpah untuk mempelaiari ilmu-ilmu dari kitab-kitab pusaka suhu Bu Beng Hud-couw dengan tekun dan mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk menjunjung tinggi nama suhu, dan tidak akan menurunkan kepada siapapun tanpa ijin dari suhu."
Demikianlah Han Houw mengucapkan sumpah tanpa dia mengerti isinya.
Apa artinya "menjunjung tinggi nama suhu"
Itu?
Dan kalau dia tidak akan pernah bertemu dengan Bu Beng Hud-couw, bagaimana mungkin dia bisa memperolch ijin suhu itu kalau hendak menurunkan ilmu-ilmu itu kepada orang lain?
Akan tetapi dia tidak perduli akan ini semua karena hatinya berdebar girang karena usahanya sudah hampir berhasil.
Kakek itu lalu mengeluarkan sebuah peti hitam setelah dia melumuri tangan, muka dan leher juga kakinya, pendeknya semua bagian tubuh yang nampak, juga tubub Han Houw yang tidak tertutup pakaian, dengan bubuk putih.
"Racun yang dioleskan pada peti ini dapat membunuh seketika kalau tersentuh tangan yang tidak memakai obat penawar ini, pangeran,"
Kata kakek itu dan Han Houw bergidik ngeri.
Diam-diam dia memperhatikan bahwa biarpun dia telah bersumpah menjadi murid Bu Beng Hud-couw, berarti dia telah menjadi sute dari kakek ini, Ouwyang Bu Sek masih tetap menyebutnya "pangeran", hal ini berarti bahwa kakek ini tetap menghargainya dan tentu mempunyai pamrih dalam cara sebutan yang menjilat itu!
Ouwyang Bu Sek membuka tutup peti dan muncullah seekor ular merah.
Han Houw mengenal jenis ular yang amat berbisa.
Ular macam ini jarang ada, dan di daerah utara memang kadang-kadang muncul ular seperti ini, namun kemunculannya tentu selalu menggemparkan karena banyaklah manusia atau binatang lain yang jauh lebih besar, mati berserakan di mana ular itu muncul!
"Kim-coa-ko, tenanglah, aku hendak mengambil tiga kitab terakhir itu."
Kata Ouwyang Bu Sek dan ular itu setelah "berdiri"
Dan menggerak-gerakkan kepalanya, lalu melingkar lagi seperti tidur.
Ouwyang Bu Sek mengambil tiga buah kitab kuno yang lapuk dari dalam peti, kemudian dia menutupkan kembali petinya.
Peti itu telah diberinya lubang kecil di belakangnya sehingga ular itu sewaktu-waktu dapat keluar kalau lapar, untuk mencari makanan.
Akan tetapi, biarpun peti itu sudah kosong, dia tidak mau membuangnya, membiarkan peti itu di situ agar kelak kalau ada orang yang hendak mencuri kitab, hanya akan menemukan peti kosong yang mengandung racun, ditambah lagi penjaganya yang berbahaya itu!
Mereka lalu keluar membawa tiga buah kitab itu.
"Pangeran, tiga buah kitab inilah yang masih belum selesai kuterjemahkan. Kalau engkau mampu membantuku, kemudian kau latih isinya, hemm, engkau tentu akan mendapatkan ilmu aneh yang tidak kalah oleh Hok-mo Cap-sha-ciang yang dikuasai oleh sute Sin Liong."
Han Houw menyembunyikan kegirangan hatinya.
"Akan kucoba, suheng. Akan tetapi, apakah hanya ini sisa kitab dari suhu? Bukankah peti itu besar sekali dan baru sebuah kitab saja yang diambil untuk Liong-te?"
"Bukan hanya sebuah, melainkan sute Sin Liong juga mempelajari sampai tiga buah kitab. Sedangkan kitab-kitab lain... ah, yang tiga ini saja sudah cukup, pangeran. Terlalu banyak, kita tidak akan mempunyai waktu, selain melatihnya, juga harus mentafsirkannya. Ini saja kalau sudah kau kuasai dengan baik, agaknya akan sukar engkau mencari orang yang akan mampu menandingimu."
"Akan tetapi, tentu masih ada kitab-kitab lain itu, bukan suheng? Kita adalah saudara seperguruan, tentu suheng percaya kepadaku, bukan?"
"Tentu saja! Ada kitab-kitab itu, kusimpan baik-baik agar jangan sampai diambil oleh orang yang tidak berhak. Jangan khawatir, kalau memang kelak engkau masih ada waktu, engkau dapat saja menambah ilmumu dari kitab-kitab yang lain itu, pangeran."
Han Houw tidak berani mendesak lagi, takut kalau-kalau kakek itu curiga dan menjadi tidak suka kepadanya.
Dia membuka-buka lembaran kitab-kitab itu dan mulai hari itu, bersama Ouwyang Bu Sek, Han Houw mulai membantu subengnya itu menyelesalkan penterjemahan.
Dan memang Han Houw tidak membobong atau membual ketika dia mengatakan bahwa dia sanggup membantu tadi.
Bahasa yang dipergunakan dalam kitab itu adalah bahasa kuno, dan bahasa suku pedalaman di utara masih dekat dengan bahasa ini sehingga Han Houw yang sejak kecil banyak mempelajari bahasa-bahasaku di utara, benar saja dapat membantu banyak sehingga menggirangkan hati Ouwyang Bu Sek.
Mulailah Pangeran Ceng Han Houw mempelajari ilmu-ilmu silat aneh-aneh dari tiga buah kitab itu di bawah bimbingan Ouwyang Bu Sek.
Pangeran ini amat tekun.
Memang dia keras hati dan besar keinginannya untuk menjadi jagoan nomor satu di dunia, di samping memang dia berbakat baik sehingga makin sukalah Ouwyang Bu Sek kepada pangeran ini.
Hampir tidak ada waktu terluang begitu saja oleh Han Houw, selalu diisinya dengan berlatih silat menurut kitab itu atau berlatih sin-kang menurut petunjuk kitab pula.
Secara kebetulan sekali, di dalam kitab itu terdapat pelajaran semacam yoga dari India yang mengharuskan dia berjungkir balik seperti yang dilakukannya pada hari pertama ketika diuji oleh Ouwyang Bu Sek, maka kini sering kali pemuda bangsawan ini berdiri dengan kaki di atas kepala di bawah, kadang-kadang dia sanggup berlatih seperti ini sampai tiga hari tiga malam!
Kemajuan yang diperolehnya pesat sekali.
Harap-harap cemas memenuhi hati Lie Seng ketika pemuda itu memasuki hutan itu.
Sudah diperhitungkannya benar-benar, bahkan semenjak hari itu setahun yang lalu, dia boleh dibilang setiap saat menghitung hari.
Dia tidak akan salah hitung.
Hari itu adalah genap setahun dari janjinya dengan Sun Eng untuk saling berjumpa di hutan itu!
Tidak akan keliru hitungannya, akan tetapi bagaimana kalau wanita itu lupa akan hari itu, keliru hitung, atau lebih celaka lagi kalau...
telah lupa kepadanya?
Ah, tidak mungkin!
Dia yakin akan cinta kasih dalam hati Sun Eng terhadap dirinya.
Dan dia lebih yakin lagi akan cinta kasih dalam hatinya terhadap gadis itu.
Dia sadar bahwa Sun Eng bukanlah seorang gadis lagi, melainkan seorang wanita yang sudah banyak melakukan penyeleweng dalam hidupnya sehingga sudah mengalami banyak penderitaan batin.
Kenyataan ini bukan membuat muak atau membenci, sebaliknya malah, makin diingat akan semua penderitaan yang dialami gadis itu, makin besar rasa belas kasih dalam hatinya terhadap Sun Eng, dan belas kasih ini agaknya memperdalam cintanya.
Dia harus melindungi Sun Eng, harus menunturinya dan menunjukkan bahwa hidup bukanlah seburuk yang pernah dialaminya, bahwa tidak semua pria yang mendekatinya hanya mengaku cinta semata-mata untuk menikmati tubuhnya belaka!
Pagi hari itu cerah, bahkan sinar matahari pagi yang berkilauan berhasil menerobos masuk ke dalam hutan, melalui celah-celah daun pohon.
Pagi yang cerah, secerah hati yang penuh harapan itu, penuh keyakinan dan penuh cinta!
Dengan langkah ringan Lie Seng menuju ke tempat di mana setahun yang lalu dia bertemu dan mencurahkan kasih sayang dengan Sun Eng, Kemudian membuat janji untuk saling bertemu pula di situ setahun kemudian.
Ini adalah kehendak Sun Eng, gadis yang merasa rendah diri itu, yang masih juga belum percaya betul bahwa orang seperti Lie Seng dapat mencinta gadis yang pernah menyeleweng seperti Sun Eng!
Ah, kerendahan hati ini amat mengharukan hati Lie Seng.
Itu saja sudah merupakan tanda betapa Sun Eng telah menyesali semua perbuatannya dan orang yang telah menyesali semua perbuatannya jauh lebih baik daripada orang yang selalu membanggakan perbuatannya sebagai orang yang bersih!
Sun Eng minta waktu setahun untuk menguji perasaan kasih sayang di antara mereka, pertama karena merasa rendah diri, ke dua mungkin untuk menguji Lie Seng setelah berulang kali dia dikecewakan oleh kaum pria.
Akan tetapi kecerahan pagi itu tetap saja tidak dapat mengusir bayang-bayang hitam gelap yang diciptakan oleh pohonpohon yang rindang daunnya.
Bayang-bayang panjang yang rebah ke barat.
Bayangan-bayangan gelap berupa kecemasan juga mengganggu kegembiraan hati Lie Seng.
Dia cemas dan gelisah membayangkan bagaimana kalau Sun Eng sampai tidak datang!
Ke mana dia harus mencari gadis itu?
Dia cemas sekali membayangkan ini dan kakinya yang melangkah terasa amat berat.
Akhirnya tibalah dia di depan pohon.
Dia tidak pernah melupakan pohon itu dan huruf-huruf yang setahun lalu diukirnya pada batang pohon itu masih ada!
Akan tetapi, Sun Eng tidak ada!
Dia memandang ke sekeliling, lalu duduk di atas akar pohon itu.
Mungkin dia datang terlalu pagi!
Dan hatinya mulai cemas.
Mengapa dia begitu bodoh ketika dulu mereka saling janji?
Mengapa yang dijanjikan hanya harinya saja, dan jamnya tidak dijanjikan?
Bagaimana kalau Sun Eng baru akan datang pada sore hari nanti?
Tidak apa!
Dia akan menanti, biar sampai sore, sampai malam sekalipun!
Dia sudah bertahan menanti selama setahun, dan apa artinya ditambah sehari atau dua hari?
Lie Seng duduk termenung di bawah pohon itu.
Dia merenungi perjalanan hidupnya, terutama sekali tentang cintanya dengan Sun Eng.
Usianya kini sudah dua puluh tujuh tahun, sudah cukup dewasa.
Namun, selama ini belum pernah dia jatuh cinta kepada seorang wanita.
Hatinya selalu merasa dingin terhadap wanita, dan dia seolah-olah merasa ngeri kalau memikirkan pernikahan.
Mungkin karena dia melihat begitu banyak kepahitan terjadi dalam kehidupan rumah tangga, banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi akibat cinta dan pernikahan.
Dia melihat atau mendengar tentang kehidupan paman Yap Kun Liong, tentang kehidupan ibunya sendiri yang kini menjadi isteri paman Yap Kun Liong, melihat akibat cinta kasih dari pamannya yang lain, adik kandung ibunya, yaitu Cia Bun Houw.
Banyak sudah dia mendengar tentang kegagalan cinta dan rumah tangga dan mungkin hal-hal inilah yang mendatangkan kesan mendalam sehingga dia merasa ngeri untuk jatuh cinta dan menikah.
Akan tetapi sungguh luar biasa, begitu dia bertemu dengan Sun Eng seketika dia jatuh cinta!
Bahkan setelah mendengar penuturan gadis itu tentang riwayat Sun Eng yang tidak harum, cintanya bahkan makin mendalam!
Bagi orang yang sedang menantikan sesuatu, waktu berjalan melebihi lambatnya seekor siput merayap.
Terlalu lama waktu merayap, seakan-akan tidak pernah maju!
Memang demikianlah anehnya waktu.
Kalau dilupakan, dia meluncur seperti pesatnya anak panah dilepas dari busur, sebaiknya kalau diperhatikan, dia merayap amat lambat!
Tentu saja bukan sang waktu yang bertingkah seperti ini, melainkan pikiran!
Pikiran selalu mgng-inginkan hal-hal yang lain daripada apa yang ada, sehingga apa yang ada itu selalu nampak tidak menyenangkan, selalu berlawanan dengan apa yang dikehendaki agar waktu segera berlalu dan dia dapat bertemu dengan yang dinantikannya itu secepat mungkin, dan tentu saja, kenyataan yang ada amat berlawanan dengan keinginannya sehingga terasa amat menyiksa.
Konflik batin memang selalu menyiksa diri!
Lie Seng merasa amat tersiksa.
Sampai siang dia menanti, waktu merayap terus dan yang dinanti-nantinya belum juga muncul!
Dia sampai lupa akan waktu, tidak sadar bahwa hari telah siang, hanya dia merasakan betapa lamanya sudah dia menanti.
Serasa sudah bertahun-tahun!
Waktu dari pagi sampai siang itu dirasakannya malah lebih menyiksa, lebih lama daripada waktu setahun yang telah lalu!
Namun, dia masih terus menanti di bawah pohon itu.
Bayang-bayang pohon yang tadinya panjang rebah ke barat itu kini menjadi semakin pendek, sampai kemudian hanya berada di bawah pohon, tanda bahwa matahari telah berada di atas benar.
Perlahan-lahan, bayangan pohon itu menggeser ke timur dan mataharipun mulai turun ke barat.
Sebentar lagi, senjapun tibalah!
Lie Seng tak sabar lagi.
Jangan-jangan Sun Eng lupa, atau salah hitung!
Mungkin baru besok dia datang!
Jangan-jangan...
tiba-tiba Lie Seng menjadi pucat dan cepat dia menggoyang kepalanya membantahnya sendiri.
Tidak, tidak ada apa-apa yang buruk terjadi atas diri wanita yang dikasihinya itu.
Atau mungkin sengaja tidak mau datang?
Bermacam bayangan pikiran inilah yang menyiksa batin Lie Seng, membuatnya semakin gelisah dan akhirnya dia tidak kuat bertahan lagi.
Dia bangkit berdiri, dan mulailah dia berjalan-jalan, mula-mula hanya di bawah pohon, mengelingi batang pohon, kemudian makin menjauh seolah-olah dia hendak mencari Sun Eng diantara semak-semak dan pohon-pohon.
Tiba-tiba dia mendengar suara isak tangis di sebelah kiri.
Cepat Lie Seng meloncat ke arah suara itu dan bukan main kagetnya ketika dia melihat seorang wanita duduk di atas rumput di balik semak-semak sambil menangis, menutupi muka dengan kedua tangannya, terisak-isak.
"Eng-moi...!"
Dia meloncat, menubruk dan merangkul.
Akan tetapi Sun Eng terus menangis, bahkan kini mengguguk dalam rangkulan pemuda itu.
"Eng-moi, ada apakah? Apa yang terjadi? Kenapa kau di sini dan bersembunyi, dan menangis?"
Akan tetapi Sun Eng tak mampu menjawab, tangisnya mengguguk membuatnya tidak mungkin bicara, hanya kedua lengannya balas merangkul leher pemuda itu dan dia menyusupkan muka di dada yang bidang itu.
Lie Seng mengelus rambut itu, membiarkan Sun Eng menangis karena diapun maklum bahwa dalam keadaan seperti itu tak mungkin bagi gadis itu untuk bicara.
Akhirnya Sun Eng mulai dapat menguasai hatinya, tangisnya mereda.
Lie Seng mengangkat muka yang basah itu, lalu menggunakan saputangan mengusap air mata yang membasahi pipi, kemudian dia mencium dahi yang halus putih itu dengan sepenuh hatinya.
Hati yang lega seperti bunga kering tertimpa tetesan embun setelah dia bertemu dengan orang yang dinanti-nantinya sejak pagi tadi dengan gelisah.
"Nah, sekarang hentikanlah tangismu dan ceritakan mengapa engkau bersembunyi di sini dan mengapa engkau menangis?"
"Aku... aku tidak berani keluar..."
Jawabnya di sela isak.
"Eh, kenapa? Sejak kapan engkau berada di sini, Eng-moi?"
"Sejak kemarin pagi!"
"Hahh?"
Lie Seng terkejut sekali.
"Akan tetapi... salahkah hitunganku? Setahun sejak dahulu itu adalah hari ini! Salahkah aku...?"
"Tidak, memang hari ini, koko. Akan tetapi aku... aku tidak dapat menahan lagi, aku ingin cepat-cepat ke sini..."
"Lalu mengapa engkau bersembunyi di sini? Apakah engkau tidak melihat aku datang pagi tadi di bawah pohon kita itu?"
Gadis itu mengangguk dan sesenggukan.
"Aku... aku melihatmu... aku takut untuk keluar, ah, kau ampunkan aku, koko..."
Lie Seng memandang dengan mata terbelalak dan mulut tersenyum.
"Betapa anehnya engkau ini, Sun Eng! Engkau datang lebih pagi sehari karena engkau ingin cepat-cepat ke sini, bertemu dengan aku, kemudian setelah aku datang engkau malah sembunyi! Apa artinya ini?"
"Entah, koko, aku... selama setahun ini... setiap hari aku rindu kepadamu, ingin sekali aku cepat-cepat bertemu denganmu..."
"Eng-moi kekasihku..., percayalah bahwa akupun demikian..."
Lie Seng mendekap kepala gadis itu penuh kasih sayang.
Sejenak mereka berdekapan tanpa mengeluarkan kata-kata, demikian ketat mereka saling dekap sampai keduanya dapat saling merasakan denyut jantung masing-masing.
"Akan tetapi... begitu melihatmu... ah, aku takut, koko. Engkau demikian mencintaku, engkau memenuhi janji, engkau datang dan melihat betapa engkau menanti di sana dengan wajah berseri, wajah yang kurindukan selama ini... aku makin merasa betapa aku terlalu rendah untukmu, koko, bahwa engkau tidak patut menjadi..."
Sun Eng tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena mulutnya sudah ditutup oleh bibir Lie Seng yang menciumnya dan mata pemuda ini menjadi basah.
Sun Eng meronta lembut, akan tetapi kemudian dia merangkulkan kedua lengan ke leher pemuda itu dan membalas ciuman itu dengan penuh penyerahan dan kasih sayang, juga dengan air mata bercucuran!
Akhirnya mereka memisahkan muka mereka, saling pandang melalui air mata, dan Lie Seng mendekap lagi, berbisik di dekat telinga gadis itu.
"Eng-moi, jangan kauulangi lagi ucapan seperti itu. Aku cinta padamu, engkau adalah seorang wanita yang paling mulia di dunia ini untukku! Jangan kau selalu merendahkan diri, kita lupakan saja segala hal yang telah lalu, maukah engkau?"
Sun Eng mengangguk, mengangguk berkali-kali di atas pundak (Lanjut ke
Jilid 37) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 37 pemuda yang mendekapnya itu, air matanya bercucuran membasahi pundak Lie Seng.
Hampir dia tidak percaya bahwa hidupnya menjadi begini bahagia, bahwa ada pria yang dapat mencintanya seperti ini!
Hampir dia tidak percaya bahwa semua ini bukan mimpi belaka!
"Koko..."
"Ya...?"
"Aku bersumpah..."
"Tak perlu bersumpah..."
"Aku bersumpah bahwa aku akan setia selama hidupku kepadamu, bahwa baru sekali ini aku jatuh cinta dalam arti yang sedalam-dalamnya kepada seorang pria, yaitu engkau, dan hidupku selanjutnya hanyalah untukmu, koko, untuk membahagiakanmu, mengawanimu, membantumu..."
"Cukup, moi-moi, aku percaya padamu, kita saling mencinta, mengapa engkau harus bersumpah seperti itu?"
"Karena aku berhutang budi kepadamu, koko."
"Ah, menyelamatkanmu ketika engkau terluka merupakan kewajiban, tidak layak disebut budi..."
"Bukan itu, koko. Pertolongan seperti itu memang sudah wajar di antara orang-orang kang-ouw, apalagi seorang pendekar sepertimu. Akan tetapi maksudku budi yang lebih mulia lagi, yaitu bahwa... engkau telah sudi mencintaku, koko..."
"Hushh...! Aku cinta padamu dan engkau cinta padaku, mana ada hutang budi segala? Kalau engkau hutang budi, akupun hutang budi kepadamu. Nah, kita saling hutang, sudah lunas, bukan?"
"Tidak, belum lunas, sampai matipun belum lunas, kita harus saling membayar selama kita hidup."
"Kau benar..."
Mereka kembali saling pandang dan sekali ini, atas kehendak berdua karena dorongan hati yang penuh gelora asmara, muka mereka saling mendekat sampai bibir mereka saling bertemu dalam kecup cium yang mesra dan dengan sepenuh perasaan kasih mereka.
Dunia seakan-akan berhenti berputar dan mereka berdua seperti tenggelam dalam lautan madu asmara, mabuk dan lupa segala, seolah-olah di dunia ini hanya ada mereka berdua dan cinta kasih mereka.
Akhirnya, karena senja mulai gelap, Lie Seng menarik kekasihnya bangkit berdiri, menggandeng tangannya dan berkata.
"Mari, Eng-moi, mari kita sahkan ikatan jodoh kita."
"Mau... mau kau bawa ke mana aku ini...?"
Sun Eng bertanya khawatir, namun hatinya ikhlas mau diajak ke manapun oleh kekasihnya.
"Kepada keluargaku! Akan kuperkenalkan engkau kepada mereka sebagai calon isteriku agar kita memperoleh doa restu mereka."
Tiba-tiba wajah gadis itu menjadi pucat sekali.
"Tapi... suhu dan subo..."
Lie Seng mencium kening di antara kedua mata yang menakutkan itu.
"Eng-moi, setelah engkau menjadi calon jodohku, setelah aku mencintamu dengan sepenuh jiwaku, apalagi yang engkau khawatirkan? Katakanlah bahwa engkau pernah bersalah dalam pandangan paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, akan tetapi semua itu adalah hal yang telah lalu, dan sekarang setelah kita saling mencinta dan telah mengambil keputusan untuk menjadi suami isteri, tidak ada seorangpun di dunia ini yang boleh mencelamu! Siapa yang mencelamu akan berhadapan dengan aku, Eng-moi, karena engkau dan aku tidak akan terpisahkan lagi selama masih hidup!"
"Ah, koko..."
Sun Eng merangkul dan sesenggukan, merasa terharu sekali akan tetapi juga bahagia.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka keluar dari hutan yang mulai gelap itu.
Dalam perjalanan, Sun Eng menyatakan kekhawatirannya karena ibu dari kekasihnya itu termasuk seorang di antara mereka dianggap pemberontak buronan oleh pemerintah.
"Ke mana kita harus mencari ibumu?"
"Ibu dan ayah tiriku, juga paman Cia Bun Houw dan isterinya, telah menyembunyikan diri di Bwee-hoa-san. Aku pernah pergi ke sana, akan tptapi aku belum bicara tentang dirimu, karena kupikir belum tiba saatnya sebelum ada ketentuan antara kita seperti yang kita janjikan akan diandalkan dalam pertemuan kita hari ini. Akan tetapi, kurasa amat berbahaya kalau kita ke sana. Tempat itu harus dirahasiakan, dan mengunjungi mereka di sana amat berbahaya, apalagi kita berdua telah dikenal pula oleh fihak musuh."
"Siapakah fihak musuh itu, koko? Dan kenapa suhu dan subo ditangkap dan dituduh pemberontak?"
"Hemm, ini adalah fitnah, merupakan siasat dari musuh keluarga kami, keluarga Cin-ling-pai. Sudah kuselidiki dan ternyata yang melakukan siasat ini adalah musuh-musuh lama dari keluarga Cin-ling-pai."
"Siapakah mereka?"
"Hek-hiat Mo-li dari utara. Dia pernah sakit hati terhadap keluarga Cin-ling-pai, terutama kepada paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong, juga kepada mendiang Tio Sun yang telah dapat terbunuh. Pula, Hek-hiat Mo-li dibantu oleh muridnya yang lihai, bernama Kim Hong Liu-nio. Bahkan kematian kong-kong Cia Keng Hong juga setelah dia diserang oleh guru dan murid itu sehingga mengalami luka."
"Ah, jahat benar mereka. Bagaimana kalau kita langsung mencari mereka dan membasmi guru dan murid itu? Aku akan membantumu dengan taruhan nyawaku, koko!"
Kata Sun Eng dengan sikap gagah. Lie Seng tersenyum pahit.
"Aih, Eng-moi, gampang saja engkau bicara. Kepandaian Hek-hiat Mo-li dan Kim Hong Liu-nio itu amat tinggi, dan agaknya yang akan dapat menanggulangi mereka itu hanyalah orang-orang yang tingkat kepandaiannya sudah tinggi sekali seperti paman Yap Kun Liong. Kalau hanya kita berdua, walaupun aku tidak takut, namun melawan mereka sama halnya dengan membunuh diri tanpa guna. Tidak, kita harus lebih dulu menyelesaikan urusan kita di depan keluargaku, dan mengingat bahwa pernah ada sesuatu yang kurang enak antara engkau dan paman Bun Houw serta bibi In Hong, maka sebaiknya kalau kita pergi menemui suciku dan minta dia yang menjadi penengah agar lebih mudah bagiku untuk menghadapi mereka tanpa ada kesalahpahaman antara keluarga."
"Sucimu? Siapakah dia itu, koko?"
"Dia adalah suci Yap Mei Lan, puteri dari paman Yap Kun Liong. Dia telah menikah setahun yang lalu dengan Souw Kwi Beng dan kini tinggal di Yen-tai. Dia itu suciku, akan tetapi juga dapat disebut saudara tiri, karena ayah kandungnya, Yap Kun Liong, kini telah menjadi suami dari ibu kandungku. Nah, dengan perantaraan dia, maka agaknya akan lebih mudah menyelesaikan urusan kita di depan ibu. Yang penting bagiku adalah ibu kandungku. Kalau beliau sudah setuju dengan perjodohan antara kita, orang lain perduli apa? Kalau setuju syu-kur, kalau tidakpun tidak apa-apa!"
Bukan main besar dan lapang rasa hati Sun Eng mendengar ucapan kekasihnya ini dan dia menaruh kepercayaan penuh, menyerahkan jiwa raganya ke tangan pria yang amat dicintanya dan dikaguminya ini.
Mereka bermalam di dalam sebuah rumah penginapan kecil dalam dusun di depan, dan diam-diam Lie Seng makin kagum ketika melihat kekasihnya itu berkeras minta agar mereka menggunakan dua buah kamar.
Biarpun dengan latar belakang riwayat seperti itu, ternyata kini Sun Eng benar-benar telah insyaf dan tidak mau menjadi budak nafsu berahi, pandai menjaga diri dan pandai pula memasang batas-batas di antara mereka, biarpun dia sudah pasrah dan rela kepada Lie Seng yang dicintanya.
"Percayalah, koko, aku berkeras melakukan ini demi engkau. Aku tidak ingin melihat engkau menjadi seorang pria yang merusak kepercayaan kita masing-masing. Pelanggaran yang terjadi karena tidak kuat menahan nafsu berahinya menunjukkan tipisnya cinta."
Demikian katanya dan Lie Seng merasa terharu sekali, berjanji dalam hati bahwa dia tidak akan menjamah kekasihnya, sebelum mereka menikah dengan resmi!
Pada suatu hari mereka memasuki kota besar Cin-an di Propinsi Shan-tung.
Mereka bermalam di kota ini, berbelanja dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali mereka berangkat menuju ke timur, ke kota Yen-tai yang berada di tepi Lautan Po-hai.
Akan tetapi, baru saja mereka keluar dari pintu gerbang kota Cin-an, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dan ketika mereka menoleh, nampik pasukan besar menunggang kuda keluar dari pintu gerbang itu, dipimpin oleh seorang panglima tua yang gagah didampingi oleh seorang kakek tinggi besar dan seorang kakek pendek kecil yang juga masing-masing menunggang seekor kuda yang besar.
Lie Seng dan Sun Eng cepat minggir dan memalingkan muka.
Mereka sudah dikenal, biarpun hanya sepintas lalu, oleh pasukan yang dahulu menangkap dua pasang suami isteri pendekar, maka Lie Seng kini tidak ingin dikenal dan memalingkan muka.
Akan tetapi, tiba-tiba pasukan itu berhenti di dekat mereka, bahkan panglima dan dua orang kakek itu sudah meloncat turun dari atas kuda dan menghampiri mereka!
Berdebar jantung Lie Seng.
Dia memberi isyarat dengan kerling mata kepada Sun Eng agar kekasihnya itu bersiap-siap namun agar jangan membuka mulut dan membiarkan dia yang bicara kalau datang pertanyaan.
Dan ketika dia akhirnya terpaksa membalikkan tubuhnya karena komandan pasukan dan dua orang kakek itu telah berdiri dekat, Lie Seng terkejut sekali, kekejutan yang ditekannya dan tidak diperlihatkan pada wajahnya.
Dia mengenal komandan itu, seorang komandan tua, seorang panglima pasukan pengawal Kaisar, pasukan Kim-i-wi, yaitu pasukan pengawal baju sulam emas, dan komandan itu bernama Lee Cin, seorang komandan yang gagah perkasa dan lihai, juga dulu sering bekerja sama dengan keluarga Cin-ling-pai!
Komandan itu kini sudah tua, sedikitnya tentu enam puluh lima tahun usianya, namun masih nampak gagah dan gerak-geriknya halus dan sabar.
Lie Seng pura-pura tidak mengenalnya dan dia hanya berdiri dengan hormat, seolah-olah tidak tahu atau tidak mengerti bahwa mereka itu berhenti untuk menemuinya!
Akhirnya, setelah memandang dengan tajam beberapa saat lamanya, terdengar komandan itu berkata dengan suara halus.
"Harap ji-wi (anda berdua) suka menyerah saja untuk kami tangkap!"
Barulah Lie Seng tahu bahwa memang dia dan Sun Eng yang diincar, maka dia mengangkat muka, tidak pura-pura lagi walaupun dia tidak mau memperkenalkan diri.
"Apakah kesalahan kami berdua maka hendak ditangkap? Kami tidak merasa melakukan kejahatan apapun!"
Komadan Lee Cin tersenyum getir.
"Lie Seng taihiap, jangan mengira bahwa kamipun senang menerima tugas ini. Taihiap adalah cucu dari ketua Cin-ling-pai yang gagah perkasa, dan ibu kandung taihiap, Cia Giok Keng, merupakan seorang di antara para buronan. Semenjak taihiap berdua muncul di Cin-an, gerak-gerik ji-wi telah diawasi."
"Tapi... tapi kami berdua tidak melakukan pelanggaran apa-apa!"
Bantah Lie Seng.
"Biarlah hal itu pengadilan kelak yang akan memutuskan. Kami hanya mentaati perintah dan amat tidak baik kalau taihiap menambah dosa keluarga dengan membangkang pula. Menyerahlah ji-wi!"
Bujuk Lee Cin yang benar-benar merasa canggung sekali bahwa dia kini harus mengejar-ngejar keluarga Cin-ling-pai, padahal semenjak dahulu keluarga itu amat berjasa kepada kerajaan dan sering kali dia bekerja sama menghadapi pemberontak dengan para pendekar Cin-ling-pai itu (baca cerita Dewi Maut).
"Baik, aku menyerah, akan tetapi nona ini tidak ada sangkut-pautnya, maka kuminta agar dia dibebaskan!"
"Koko, tidak...! Aku tidak mau kita saling berpisah!"
Teriak Sun Eng dengan mata terbelalak.
"Perintah yang diberikan kepada kami adalah menangkap kalian berdua tidak dapat ditawar-tawar lagi!"
Kata pula Lee Cin yang mulai hilang sabar karena sebetulnya dia amat tidak menyukai tugas ini, akan tetapi dia tadi telah bersikap terlalu manis terhadap orang-orang yang dianggap pemberontak ini, sehingga dia merasa tidak enak dan malu kepada dua orang kakek itu.
Dua orang kakek ini adalah dua orang tokoh dari selatan yang sengaja dikirim oleh Pangeran Ceng Han Houw untuk membantu kerajaan menangkap para pemberontak buronan.
Mereka ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi, dua orang "bengcu"
Atau pemimpin kaum kang-ouw di selatan yang bernama Hai-liong Phang Tek yang tinggi besar dan Kim-liong-ong Phang Sun yang kecil pendek.
Karena membawa surat pribadi dari Pangeran Ceng Han Houw, tentu saja dua orang kakek ini diterima dengan hormat oleh komandan di kota raja, dan kini dibantukan kepada Panglima Lee Cin yang diserahi tugas menangkap para pemberontak buronan membantu Kim Hong Liu-nio.
Panglima ini selain merupakan kakak kandung dari mendiang Panglima Lee Siang yang tewas oleh para pemberontak, juga dianggap mengenal baik wajah-wajah para keluarga pemberontak, maka dianggap tepat untuk memimpin pasukan membantu Kim Hong Liu-nio, kini ditemani oleh dua orang kakek lihai itu.
Dan memang Lee Cin mengenal mereka semua bahkan Lie Seng yang jarang dijumpainya karena pemuda ini lama pergi menjadi murid Kok Beng Lama, dikenalnya, apalagi setelah dia mendengar bahwa adik kandungnya itu tewas di tangan seorang pemuda lihai yang diduganya tentu Lie Seng adanya.
Lie Seng merasa bimbang.
Dia tidak takut ditangkap, akan tetapi dia mengkhawatirkan keselamatan Sun Eng!
Tiba-tiba kakek pendek kecil yang tubuh bagian atasnya tertutup jubah perajurit lebar akan tetapi di balik baju yang tidak dikancingkan ini ternyata telanjang sama sekali, kakinya juga telanjang, terkekeh aneh dan kedua tangannya menyambar ke arah beberapa orang perajurit, tahu-tahu dia telah merampas empat batang tombak yang dilemparkannya ke depan.
"Cep-cep-cep-cep!"
Empat batang tombak itu meluncur seperti anak panah ke arah Lie Seng dan Sun Eng, akan tetapi ternyata tidak menyerang tubuh mereka, melainkan menancap sampai lenyap setenganya di empat penjuru, mengurung dua orang muda itu!
Benar-benar demonstrasi yang mengejutkan, membayangkan kekuatan sin-kang yang hebat dan juga kepandaian tinggi karena empat batang tombak itu dilontarkan berbareng akan tetapi mengenai sasaran empat macam sekaligus!
Panglima Lee Cin berkata, suaranya berwibawa.
"Sebaiknya ji-wi menyerah saja. Kami tahu bahwa taihiap seorang yang lihai sekali, akan tetapi kami sudah siap-siap dan dua orang locianpwe inipun memiliki kepandaian tinggi. Daripada kami harus..."
"Eng-moi, larilah, biar kutahan mereka!"
Tiba-tiba Lie Seng berteriak dan dia sudah menerjang ke depan, menangkap dua orang perajurit dan melemparkan mereka ke arah dua orang kakek tinggi besar dan pendek kecil itu.
Dua orang kakek ini tidak mengelak, melainkan menggerakkan kaki menendang sehingga tubuh dua orang perajurit malang itu terlempar dan terbanting tanpa bangkit kembali!
"Mati hidup di sampingmu, koko!"
Teriak Sun Eng pula dan dengan sigapnya diapun menerjang ke depan merobohkan dua orang perajurit lain dengan pukulan dan tendangan kakinya.
Gegerlah para perajurit mengeroyok, akan tetapi Lee Cin berseru menyuruh mereka mundur.
"Biarkan ji-wi locianpwe menangkap mereka!"
Teriaknya dan ini merupakan permintaan pula kepada dua orang kakek itu untuk membantu.
Dengan lagak angkuh, Hai-liong-ong Phang Tek menghadapi Lie Seng, sedangkan Kim-liong-ong Phang Sun cengar-cengir menghadapi Sun Eng.
"Nona manis, mari kita main-main sejenak!"
Sun Eng marah sekali.
Dia tidak mengenal si kecil pendek ini, dan melihat bahwa tubuh kakek ini seperti tubuh kanak-kanak saja, dia agak memandang rendah.
Tubuhnya menerjang ke depan dan tubuh itu menjadi bayangan merah karena pakaiannya yang berwarna merah, didahului oleh sinar pedangnya yang membuat ke leher, seolah-olah dengan satu sabetan saja dia hendak membuntungi leher kecil dari Kim-liong-ong Phang Sun!
"Cringgg!"
Sun Eng terkejut dan meloncat mundur, pedangnya telah terlepas ketika bertemu dengan gelang di lengan kiri kakek itu!
"Awas, Eng-moi!"
Lie Seng yang belum bergebrak dengan lawan, kini meloncat ke kiri dan dia masih sempat menangkis pukulan tangan kakek pendek yang menampar ke arah kepala Sun Eng.
"Dukk!"
Akibat benturan kedua lengan ini, Lie Seng terhuyung akan tetapi Kim-liong-ong juga terpental ke belakang!
"Eh, kau boleh juga...!"
Kakek kecil pendek ini berseru.
"Serahkan dia padaku, Sun-te, kau tangkap saja nona itu!"
Setelah berkata demikian, Hai-liong-ong Phang Tek sudah melompat ke depan dan menyerang Lie Seng dengan tongkatnya yang diputar secara hebat.
Memang tenaga kakek ini besar sekali maka tongkat yang diputar itu mengeluarkan suara angin mengerikan dan nampak gulungan sinar tongkat seperti seekor naga bermain-main.
Melihat itu, Lie Seng terkejut bukan main.
Maklumlah dia bahwa dia menghadapi lawan tangguh, akan tetapi yang dikhawatirkannya Sun Eng yang terpaksa harus menghadapi kakek kecil pendek yang lihai itu dengan tangan kosong.
Tanpa dia menggerakkan kedua tangan untuk menangkis serangan-serangan tongkat lawan, menggunakan tenaga Thian-te Sin-ciang, akan tetapi dia terus melirih ke arah kekasihnya yang benar saja, telah dipermainkan oleh Kim-liong-ong Phang Sun.
Kakek kecil pendek ini sengaja tidak mau cepat merobohkan gadis itu, akan tetapi menghujankan serangan-serangan berbahaya yang mengerikan menusuk mata, mencengkeram buah dada, menotok jalan darah maut dan lain-lain serangan mengerikan yang selalu ditahannya dan tidak dilanjutkan setelah mendekati sasaran!
Repotlah Sun Eng harus mempertahankan diri dan akhirnya dengan langkah-langkah Thai-kek-sin-kun yang lihai barulah dia dapat selalu mengelak dan mempertahankan diri walaupun sama sekali tidak sempat lagi membalas karena memang tingkat kepandaiannya jauh di bawah kalau dibandingkan dengan orang ke dua dari Lam-hai Sam-lo ini.
Selagi dua orang muda ini terdesak dan terhimpit, tiba-tiba terdengar teriakan tinggi melengking dan nampak berkelebat bayangan orang didahului segulung sinar putih diputar cepat!
"Tahan!
Atas nama Pangerang Ceng Han Houw, mundurlah kalian!"
Hai-liong-ong Phang Tek dan Kim-liong-ong Phang Sun menoleh dan terkejutlah mereka ketika mengenal nona muda yang pernah membantu dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang tempo hari!
"Eh, kau mau apa?
Mengantar nyawa?"
"Hemm, nyawa kalian yang berada di tanganku!"
Bentak Lie Ciauw Si, dara itu.
"Si-moi...!"
Lie Seng berseru kaget dan girang melihat adiknya, akan tetapi Ciauw Si menghampiri Panglima Lee Cin.
"Ciangkun, apakah engkau komandan pasukan ini?"
"Benar, nona. Siapakah nona, dan... eh, bukankah nona ini nona Lie Ciauw Si cucu ketua Cin-ling-pai...?"
Kini dia mengenalnya dan merasa heran.
"Benar, dan demi nama Pangeran Ceng Han Houw, kuperintahkan engkau membawa pasukanmu dan dua orang tua bangka ini mundur, dan jangan mengganggu kepada kakakku! Lihat, siapakah berani menentang aku yang telah memperoleh kekuasaan dari Pangeran Ceng Han Houw?"
Sambil berkata demikian, Ciauw Si memindahkan pedang Pek-kang-kiam ke tangan kirinya, lalu dia mengangkat tangan kanan, memperlihatkan cincin yang melingkari jari tengah tangan kanannya.
Cincin bermata biru itu adalah cincin tanda kekuasaan Pangeran Ceng Han Houw yang diperolehnya dari Kaisar sendiri dan semua pejabat tinggi tentu saja mengenal cincin ini!
Maka Lee Cin lalu memberi hormat sambil menjura.
"Maafkan kami, kami mentaati perintah,"
Katanya lalu dia memberi aba-aba kepada para perajurit untuk mundur.
Semua perajurit, biarpun terheran-heran, tentu saja tidak berani membangkang dan mereka itu terpaksa mundur, dan terus menjauhkan diri dari tempat itu sesuai dengan perintah yang dikeluarkan oleh Panglima Lee Cin.
Dua orang bengcu selatan yang dipilih oleh Ceng Han Houw itu, ialah Phang Tek dan Phang Sun, terpaksa ikut pula mengundurkan diri, akan tetapi setelah pasukan bergerak meninggalkan tempat itu, Hai-liong-ong Phang Tek yang merasa amat penasaran berkata.
"Tapi... tapi, ciangkun...! Kita sudah hampir dapat menguasai dan menangkap mereka...!"
Tanpa menghentikan langkahnya memimpin para pasukan yang meninggalkan tempat itu, Lee Cin berkata.
"Apakah locianpwe berani membantah dan membangkang terhadap kekuasaan Pangeran Ceng Han Houw?"
"Tapi... tapi gadis itu..."
"Locianpwe, cincin yang diperlihatkan oleh nona itu adalah cincin kekuasaan beliau!"
Mendengar ucapan ini, dua orang kakek itu bungkam dan diam-diam terkejut dan heran.
Bukankah menurut Panglima Lee Cin ini, dara itu adalah cucu ketua Cin-ling-pai?
Keluarga Cin-ling-pai dianggap pemberontak dan buronan yang dikejar-kejar, bahkan mereka berdua itu dipanggil ke kota raja untuk membantu Kim Hong Liu-nio menangkap para pemberontak dan buronan ini, maka dengan sendirinya seorang cucu ketua Cin-ling-pai tentu menjadi buronan pula.
Akan tetapi mengapa nona itu tadi malah memiliki cincin tanda kekuasaan dari Ceng Han Houw?
Mereka bingung akan tetapi menghadapi cincin kekuasaan pangeran yang mereka takuti itu, tentu saja mereka tidak berani membantah lagi, apa pula melihat sikap Panglima Lee yang begitu takut menghadapi cincin tadi.
Sementara itu, setelah para pasukan itu mundur, barulah Ciauw Si yang berdiri tegak dengan gagah memandang kakaknya sambil tersenyum dan mengembangkan kedua lengannya.
"Koko...!"
Pemuda dan pemudi itu berlari saling menghampiri lalu saling berangkulan.
Suasana menjadi amat mengharukan ketika kakak beradik ini berangkulan ketat tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, dan dara yang gagah perkasa itu tidak dapat menahan air matanya yang mengalir turun.
"Seng-ko... betapa rinduku kepadamu...!"
"Ah, Ciauw Si, engkau adikku yang nakal...!"
Mereka melepaskan rangkulan, saling pandang dan keduanya tersenyum lebar walaupun wajah Ciauw Si masih basah air mata dan dua titik air mata juga membasahi bulu mata pemuda perkasa itu.
"Engkau... sungguh cantik dan gagah, adikku!"
"Dan engkaupun tampan dan gagah koko. Engkau tadi mengamuk seperti seekor naga sakti!"
"Ha-ha, kalau engkau tidak keburu datang aku sudah menjadi naga tanpa nyawa!"
"Koko, siapakah enci yang manis itu?"
Wajah Lie Seng berubah merah, akan tetapi karena merasa sudah cukup dewasa, dia tidak mau menyembunyikan lagi persoalannya dengan Sun Eng.
Dia menggapai Sun Eng dan gadis ini melangkah maju mendekat, saling berpandangan dengan Ciauw Si.
"Eng-mol, ini adalah adik kandungku, seperti pernah kuceritakan kepadamu. Adikku, dia ini bernama Sun Eng, dia adalah... ehh... calon sosomu (kakak iparmu)!"
"Aihhh...!"
Ciauw Si berseru girang dan dia cepat memberi hormat yang dibalas oleh Sun Eng dengan muka merah, kemudian Ciauw Si memegang lengan calon kakak iparnya itu.
"Engkau sungguh cantik, so-so...!"
"Ihh, Si-moi, belum waktunya engkau menyebut so-so. Kami belum menikah!"
Kata Sun Eng tertawa.
"Maaf, Eng-cici, aku hanya bergurau. Akan tetapi aku ingin segera memanggilmu so-so. Seng-koko, engkau sekarang telah menjadi seorang pendekar perkasa setelah engkau belajar kepada locianpwe Kok Beng Lama! Hayo ceritakan semua pengalamanmu semenjak engkau meninggalkan kami, koko!"
Mereka bertiga lalu duduk di atas rumput dan berceritalah Lie Seng tentang semua pengalamannya semenjak dia meninggalkan rumah untuk ikut belajar kepada Kok Beng Lama sampai dia kembali, sampai dia bertemu dengan Sun Eng dan sampai perjumpaan mereka pada saat itu.
Semua dia ceritakan secara singkat, akan tetapi tentu saja dia tidak pernah menyinggung tentang riwayat atau asal-usul Sun Eng, bahkan dia tidak menceritakan kepada adiknya bahwa calon isterinya itu adalah murid dari paman mereka Cia Bun How.
"Sekarang engkau harus ceritakan semua pengalamanmu, adikku yang nakal. Aku hanya bisa ikut merasa gelisah ketika tidak melihatmu di Cin-ling-san dan hanya mendengar bahwa engkau minggat dari Cin-ling-san! Ke mana saja engkau pergi?"
Ciauw Si menarik napas panjang.
Dia sudah merasa menyesal sekali ketika mendengar penuturan ibu kandungnya yang telah diselamatkannya dari kepungan pasukan kerajaan, mendengar bahwa kong-kongnya telah tewas dan bahwa ibunya, ayah tirinya, dan pamannya serta isteri pamannya telah menjadi orang-orang buronan, dianggap pemberontak oleh kerajaan.
Dengan singkat diapun menceritakan semua pengalamannya, dan Lie Seng merasa girang sekali mendengar bahwa adiknya ini telah menyelamatkan ibu kandungnya dan isteri pamannya yang sedang mengandung.
"Dan ke mana sekarang perginya ibu dan bibi In Hong?"
Tanyanya.
"Apakah mereka bersembunyi di rumah suci di Yen-tai?"
Ciauw Si menggeleng kepalanya.
"Memang tadinya ibu dan bibi Hong hermaksud untuk pergi mengungsi ke sana, akan tetapi kemudian kami berpendapat bahwa hal itu akan amat membabayakan keselamatan keluarga enci Mei Lan sendiri. Tentu para penyelidik akan mudah diketahui orang. Maka, untuk sementara ini kutitipkan ibu dan bibi Hong ke tempat tinggal seorang sahabat baikku di Yen-ping."
"Di Yen-ping? Siapakah dia?"
"Ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang. Kebetulan aku pernah menyelaniatkan dia dan kurasa tempat itu aman bagi ibu untuk menjadi tempat tinggal atau tempat bersembunyi sementara, sambil menanti bibi Hong melahirkan."
"Dan bagaimana dengan... paman Kun Liong dan paman Bun Houw?"
Sampai sekarang sukarlah bagi Lie Seng untuk menyebut ayah kepada Kun Liong yang telah menjadi ayah tirinya, maka dia masih menyebutnya paman.
"Setelah aku menitipkan ibu dan bibi Hong kepada perkumpulan itu, aku lalu pergi ke Yen-tai untuk mengabarkan hal itu kepada enci Mei Lan. Dan di sana aku bertemu dengan mereka berdua. Malah bersama mereka aku kembali lagi ke Yen-ping, dan kini mereka semua berkumpul di sana."
"Kau sekarang ini sedang hendak ke sana, Si-moi?"
"Tadinya aku hendak pergi ke kota raja..."
"Kau? Ke kota raja? Keluarga kita dituduh memberontak dan kau malah ke kota raja? Apakah mencari celaka?"
"Tidak, aku hendak mencari Pangeran Ceng Han Houw..."
"Ah, pangeran yang cincinnya engkau bawa dan telah menjadi jimat yang menyelamatkan kami tadi? Eh, Si-moi, bagaimana engkau bisa memperoleh cincin pangeran itu?"
Jantung Ciauw Si berdebar kencang dan mukanya menjadi merah, akan tetapi cepat dia menekan perasaannya yang terguncang.
"Aku bertemu dengan dia di selatan dan kami telah menjadi sahabat baik. Dia memberikan cincin ini kepadaku sebagai tanda persahabatan dan agar mudah bagiku kalau hendak mencarinya di kota raja. Sungguh tidak kusangka cincin ini dapat kupergunakan untuk mengundurkan semua pasukan itu. Baru kuketahui bahwa kekuasaan pangeran itu benar-benar tinggi."
"Lalu mau apa engkau mencarinya di kota raja?"
"Aku dapat menduga niat yang bijaksana dari adik Ciauw Si,"
Tiba-tiba Sun Eng ikut bicara.
"Setelah mempunyai sahabat seorang pangeran yang demikian tinggi kedudukannya, yang memiliki cincin kekuasaan yang mampu mengundurkan pasukan kerajaan itu, tentu adik Ciauw Si ingin minta bantuan pangeran itu untuk membersihkan nama Cin-ling-pai, bukan?"
Ciauw Si memandang kepada wanita cantik itu dengan kagum, lalu mengerling kepada kakaknya dan berkata.
"Wah, calon so-so rupanya jauh lebih cerdik daripada engkau, Seng-ko! Memang dugaannya itu tepat sekali!"
Lie Seng tersenyum bangga.
"Kalau tidak cerdik, masa dia menjadi pilihanku?"
Mereka tertawa gembira.
"Karena pertemuan ini, biarlah kuantar kalian ke Yen-ping lebih dulu menjumpai ibu sebelum aku melanjutkan perjalananku ke kota raja. Marilah koko, mari enci Eng."
Akan tetapi Ciauw Si merasa heran sekali melihat mereka berdua itu saling pandang penuh keraguan, apalagi Sun Eng yang memandang calon suaminya dengan wajah berubah agak pucat.
"Kau... kau bilang yang di Yen-ping itu... ibu kandungmu dan... dan..."
Sun Eng tidak melanjutkan kata-katanya.
"Yang berada di rumah ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang adalah ibu, ayah tiriku, paman Cia Bun Houw dan bibi Yap In Hong. Tidak ada siapa-siapa lagi,"
Sambung Ciauw Si.
Sun Eng kelihatan ngeri mendengar dua nama terakhir itu.
Akan tetapi tiba-tiba Lie Seng berkata penuh semangat.
"Mari kita pergi! Memang aku ingin sekali bertemu dengan ibu dan membicarakan urusan perjodohanku!"
Dengan kata-kata ini dia memandang kepada Sun Eng dan seolah-olah berjanji dengan pandang matanya bahwa dialah yang akan menanggung semua urusan yang mungkin timbul kalau calon isterinya itu bertemu dengan Cia Bun Houw dan Yap In Hong.
Melihat sinar mata calon suaminya ini, Sun Eng menunduk dan mengangguk.
Maka berangkatlah mereka bertiga menuju ke Yen-ping dan di sepanjang perjalanan, kakak dan adik ini tiada hentinya saling menceritakan pengalaman mereka masing-masing lebih lanjut.
Sun Eng tidak banyak bicara karena wanita itu tenggelam dalam lamunannya sendiri, lamunan penuh penyesalan karena kini dia akan dijumpakan dengan bekas suhu dan subonya, dan mengingat mereka maka teringat pula dia akan segala penyelewengannya yang amat memalukan.
Akan tetapi kalau dia menoleh kepada Lie Seng, dan calon suaminya itupun menoleh kepadanya, dia memperoleh sandaran yang kuat karena dia maklum bahwa yang terpenting baginya adalah Lie Seng dan orang lain tidak masuk hitungan lagi!
Kalau sudah begini, kuatlah hatinya dan dia sanggup menghadapi apapun juga di samping Lie Seng, satu-satunya pria di dunia ini yang masih sanggup mencintanya dengan tulus ikhlas sungguhpun telah mendengar semua penuturannya tentang penyelewengan di masa lampau.
Mereka berempat itu, Yap Kun Liong, Cia Giok Keng, Cia Bun Houw dan Yap In Hong dua orang kakak beradik yang menjadi dua pasang suami isteri itu, pendekar-pendekar sakti yang menjadi tokoh-tokoh utama dari Cin-ling-pai yang kini telah bubar setelah pendekar Cia Keng Hong meninggal, kini menjadi buronan-buronan yang terpaksa harus menyembunyikan diri di dalam sebuah di antara rumah-rumah di pusat perkumpulan Sin-ciang Tiat-thouw-pang.
Mereka berempat jarang keluar dari rumah, dan mereka dilayani sebagai tamu-tamu agung oleh dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang, yaitu Gu Kok Ban dan Tong Siok.
Tentu saja dua orang ketua inipun merasa amat gelisah dengan adanya empat orang pendekar sakti itu yang menjadi orang-orang buronan pemerintah.
Akan tetapi karena mereka merasa berhutang budi kepada Ciauw Si, apalagi karena mereka memang merasa kagum kepada para pendekar Cin-ling-pai yang sakti itu, mereka berdua menerima mereka dengan penuh kehormatan dan menyatakan tidak keberatan melindungi mereka sampai nyonya muda yang mengandung itu melahirkan.
Kandungan Yap In Hong telah delapan bulan dan mereka berempat itu selalu menyembunyikan diri, tidak pernah berhubungan dengan orang luar kecuali hanya dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu saja.
Bahkan para anggauta perkumpulan itu hanya tahu bahwa ketua mereka menerima tamu-tamu yang terhormat, akan tetapi merekapun tidak diberi tahu siapa adanya tamu-tamu itu.
Ketika Ciauw Si datang kembali bersama Lie Seng dan Sun Eng, dua orang ketua itu menyambut dengan girang.
Mereka selalu merasa kagum dan penuh hormat kepada Ciauw Si, maka ketika nona itu memperkenalkan Lie Seng sebagai kakak kandungnya dan Sun Eng sebagai calon kakak iparnya, dua orang ketua itu memberi hormat kepada mereka.
Kemudian, tiga orang muda ini langsung memasuki rumah yang menjadi tempat persembunyian dua pasang suami isteri pendekar itu.
Empat orang itu telah duduk di ruangan lebar dan mereka sudah merasa girang sekali mendengar akan kedatangan kembali Ciauw Si bersama Lie Seng.
Ketika tiga orang muda itu memasuki rumah ruangan, serta-merta Lie Seng dan Ciauw Si menghampiri ibu mereka dengan girang, dan Sun Eng yang masuk pula dengan wajah pucat, lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap Bun Houw dan In Hong sambil berkata lirih.
"Suhu... subo...!"
Suami isteri ini terbelalak memandang ketika mereka mengenal Sun Eng.
Berubahlah wajah Bun Houw dan In Hong, menjadi kemerahan.
Mereka tidak ingin orang lain, apalagi keluarga mereka, mendengar tentang diri murid murtad yang memalukan ini, dan siapa kira, murid ini sekarang berani mati muncul di depan mereka, di tempat persembunyian dan di depan para keluarga!
"Mau apa kau ke sini?"
Bentak Bun Houw.
"Hayo pergi! Pergi kau dari sini cepat, atau... kuhajar engkau!"
Bentak In Hong pula sambil bangkit berdiri.
Suami isteri itu dengan wajah merah dan sepasang mata menyinarkan cahaya kemerahan sudah berdiri menghadapi Sun Eng yang masih berlutut.
Melihat ini, tiba-tiba Lie Seng meloncat dan dia sudah berdiri di depan Sun Eng, melindungi dara itu dan menghadapi paman dan bibinya dengan mata bersinar-sinar.
"Paman dan bibi, harap sabar dan mundur dulu...!"
Katanya sambil mengangkat kedua tangannya.
"Minggir kau, Seng-ji, biar kami hajar bocah murtad ini!"
Bentak Bun Houw yang semakin marah melihat keponakannya hendak melindungi gadis yang dianggap telah mencemarkan nama baiknya itu!
Mendengar ini, habislah kesabaran Lie Seng dan sikapnya menentang.
"Paman dan bibi, siapapun juga di dunia ini tidak boleh menyentuh Eng-moi, apalagi hendak menghajarnya! Kalau paman dan bibi hendak memukulnya, kalian harus lebih dulu membunuh aku!"
Cia Bun Houw dan Yap In Hong terkejut setengah mati mendengar ini.
Mereka berdua terbelalak memandang wajah Lie Seng, dan Cia Bun Houw berseru.
"Apa yang kaukatakan ini, Lie Seng? Jangan kau mencampuri, dia itu adalah bekas murid kami yang murtad dan..."
"Aku tahu, paman. Akan tetapi hendaknya paman dan bibi juga mengetahui bahwa dia ini adalah calon isteriku yang tercinta!"
"Apa...?"
Bun Houw dan In Hong berseru hampir berbareng.
Sementara itu, Cia Giok Keng yang merasa terkejut sekali menyaksikan sikap tiga orang itu terhadap gadis cantik yang berlutut itu, sudah hangkit pula dan bertanya dengan gelisah.
"Apakah artinya semua ini?"
"Cici, perempuan ini adalah murid kami yang murtad!"
"Ibu, nona Sun Eng ini adalah calon isteriku yang hendak kuperkenalkan kepada ibu..."
"Tidak boleh jadi! Aku tidak sudi membiarkan keponakanku menikah dengan perempuan hina..."
"Paman! Harap paman jangan melanjutkan kata-kata itu!"
Bentak Lie Seng dengan marah.
Melihat suasana yang panas itu, Yap Kun Liong cepat bangkit berdiri dan menghampiri mereka, berdiri di tengah-tengah, kemudian dengan suara halus namun berwibawa dia berkata.
"Hentikan semua kekerasan ini! Kita adalah di antara keluarga sendiri, kalau ada urusan dapat dibicarakan dengan tenang dan dengan kepala dingin. Agaknya terdapat perbedaan faham antara adik-adikmu dan puteramu, mari kita bicara baik-baik,"
Sambung Kun Liong kepada isterinya yang menjadi bingung dan yang sudah pucat wajahnya itu.
Giok Keng mengangguk lalu dia menoleh kepada Ciauw Si sambil berkata.
"Engkau pergilah keluar dulu, Ciauw Si."
Ciauw Si mengerti bahwa ada apa-apa yang tidak beres dengan tunangan kakaknya itu, dan sebagai seorang gadis dia agaknya tidak diperbolehkan ikut mendengarkan perkara yang hendak dibicarakan, maka diapun mengangguk dan bangkit, hendak meninggalkan ruangan itu.
"Si-moi, jangan pergi!"
Lie Seng berkata, dan pemuda ini nampak marah.
Memang dia sudah menduga bahwa urusannya dengan Sun Eng akan mendatangkan keributan dalam keluarganya, apalagi guru-guru kekasihnya berada di situ pula, dan akan terjadi dan keadaan betapa pahitpun yang akan dihadapinya.
Engkau sudah dewasa dan engkaupun anggauta keluarga kita, maka biarlah engkau ikut mendengarkan dan mempertimbangkan.
Apa yang dikatakan oleh paman Yap Kun Liong benar.
kita harus berterus terang dan membuka kartu, dan blarlah nasib perjodohanku dibicarakan antara keluarga kita sampai selesai!"
Mendengar ucapan kakaknya dan melihat sikap yang keras itu, Ciauw Si menunduk dan tidak jadi pergi, diam-diam dia merasa khawatir sekali.
Suasana menjadi hening sekali setelah Lie Seng mengeluarkan kata-katanya terhadap adiknya ini, hening yang amat menegangkan hati.
Sejenak mereka semua hanya saling pandang, terutama sekali Cia Giok Keng yang masih bingung menghadapi peristiwa yang tidak disangka-sangkanya itu.
Dalam beberapa saat ini hatinya mengalami guncangan-guncangan hebat.
Tadinya, ketika dia mendengar puteranya memperkenalkan wanita yang cantik gagah ini sebagai calon isterinya dia girang, akan tetapi ketika mendengar bahwa wanita inilah murid dari adiknya yang murtad, dia terkejut dan bimbang.
"Seng-ji, apakah artinya semua ini?"
Akhirnya dia bertanya dengan suara gemetar dan biarpun pertanyaan ini diajukannya kepada puteranya, namun pandang matanya diarahkan kepada Sun Eng yang masih berlutut.
"Ibu, sebetulnya tidak ada apa-apa yang aneh. Anakmu ini sudah berusia dua puluh enam tahun lebih, dan sekarang aku datang memperkenalkan calon isteriku kepada ibu. Ibu, aku dan Sun Eng sudah saling mencinta dan kami berdua telah saling mengikat janji untuk menjadi suami isteri."
Menurut pandangan Giok Keng, wanita muda yang menjadi pilihan puteranya itu sudah tepat memang, cantik manis dan memiliki sifat gagah, akan tetapi tentu saja dia terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa wanita itu adalah murid adiknya, murid yang murtad, bahkan pernah melakukan penyelewengan hebat seperti yang pernah didengarnya dari cerita adiknya ketika mereka berempat berada di dalam kamar tahanan dan ketika gadis itu berusaha untuk menolong mereka.
"Cici, Lie Seng sama sekali tidak boleh menikah dengan perempuan ini! Inilah murid kami yang murtad itu, yang tak tahu malu, yang hina dan kotor..."
"Murid durhaka!"
In Hong membentak Sun Erg.
"Berani engkau memikat hati keponakan kami? Apakah engkau tidak ingat akan semua perbuatanmu yang hina dan engkau berani merayu mendekatinya?"
Dengan muka pucat yang selalu menunduk, Sun Eng berkata lirih.
"Subo... teecu sudah... sudah menceritakan semua riwayat teecu kepada kakanda Lie Seng..."
"Heh?"
Bun Houw berteriak dan memandang kepada Lie Seng dengan mata terbelalak.
"Benarkah itu, Seng-ji? Engkau sudah tahu akan riwayatnya yang busuk?"
Lie Seng mengangguk gagah.
"Benar, paman. Aku sudah tahu dan aku tidak perduli! Aku cinta padanya, dan cintaku tidak membiarkan aku mengingat-ingat akan hal lalu! Kami saling mencinta dan apapun yang telah, sedang dan akan terjadi, kami tetap saling mencinta. Kami sudah mengambil keputusan untuk hidup bersama, untuk menjadi suami isteri!"
"Tidak! Tidak mungkin itu, Cici, engkau harus melarang dia untuk menikah dengan perempuan rendah ini!"
Cia Giok Keng menjadi semakin bingung, apalagi melihat sikap adiknya dari puteranya makin berkeras itu.
Wajahnya menjadi pucat dan lesu, pandang matanya sayu.
"Houw-te, belum tentu keponakanmu telah mengetahui semua riwayat muridmu yang murtad, maka sebaiknya kau ceritakan kembali agar dia mendengar sendiri bagaimana perbuatan dari wanita yang dicintanya itu."
Suara nyonya ini cemas agar puteranya dapat melepaskan wanita yang sama sekali tidak patut menjadi calon isterinya itu.
Sun Eng menangis.
Lie Seng mendekatinya dan merangkulnya sambil berlutut pula.
"Tenangkan hatimu, Eng-moi, aku akan melindungimu..."
Bisiknya.
"Ahh... koko... aku tidak tega melihat engkau direndahkan... biarlah aku pergi saja... aku... aku memang tidak pantas menjadi... menjadi..."
Dia sesenggukan.
"Houw-te, lekas ceritakan agar urusan ini menjadi terang, biar Seng-ji mendengarnya sendiri!"
Kata Cia Giok Keng.
Bun Houw masih merasa tidak enak dan dia memandang kepada Lie Seng, lalu berkatalah dia kepada keponakannya itu.
"Seng-ji, engkau tentu tahu bukan sekali-kali kami ingin menghalangi kebahagiaanmu, akan tetapi kami malah melakukan ini demi kebahagiaanmu. Kami terpaksa membongkar rahasia perempuan ini untuk mencegah agar engkau tidak sampai terjebak dalam perangkapnya."
"Paman Bun Houw, kebahagiaan seseorang mana mungkin bisa diatur oleh orang lain? Tentang riwayat Eng-moi yang lalu, aku tidak perduli dan kalau engkau mau menceritakan hal itu kepada siapapun juga, terserah, karena hal itu tidak akan merubah cintaku kepadanya."
Lie Seng merangkul kekasihnya dengan erat, seolah-olah untuk memberi kekuatan kepada wanita itu untuk menghadapi penghinaan ini.
Kembali Bun Houw meragu.
Betapapun juga dia merasa sayang kepada keponakannya dan dia merasa tidak enak untuk membongkar rahasia orang, apalagi orang itu adalah bekas muridnya yang dulu amat disayangnya.
Dia pernah menceritakan tentang Sun Eng secara singkat kepada cicinya dan kepada Yap Kun Liong, dan sebagai seorang gagah, berat rasa hatinya untuk mengulang-ulang kebusukan orang lain.
Mellhat keraguan adiknya, Giok Keng berkata.
"Houw-te, lekas ceritakanlah. Ini menyangkut perjodohan puteraku, maka segala sesuatunya harus jelas agar dia mengerti!"
Bun Houw menarik napas panjang, menelan ludah beberapa kali lalu berkata, suaranya lirih.
"Seng-ji, dengarlah baik-baik. Perempuan ini pernah menjadi muridku, dan dia... perempuan cabul ini... dia pernah memasuki kamarku untuk menggodaku... secara tak tahu malu! Bukan itu saja, dia bahkan bukan perawan lagi, dia telah menyerahkan diri kepada banyak orang, seperti seperti pelacur saja..."
Dia berhenti sebentar.
"aku pernah menceritakan ini kepada ibumu..."
"Cukup!"
Cia Giok Keng membentak "Nah, sudah dengarkah engkau, Lie Seng?"
Dia mengharapkan puteranya itu akan insyaf, akan tetapi betapa gelisahnya melihat puteranya itu nampaknya tidak kaget mendengar cerita Bun Houw itu!
"Aku sudah tahu, ibu, Eng-moi telah menceritakan segalanya kepadaku..."
"Dan engkau masih nekat hendak mengambil dia sebagai isterimu?"
"Ibu, kami saling mencinta..."
"Tidak! Bohong! Dia tentu telah merayumu, menggunakan ilmu sihir... engkau tidak boleh menikah dengan seorang pelacur!"
"Ibu...!"
"Cukup! Dia... biar aku sendiri yang menghajarnya!"
Cia Giok Keng maju dengan kedua tangan dikepalkan.
"Tidak, enci, biar aku yang menghajarnya. Dia itu bekas muridku, dan kini dia berani menggoda puteramu!"
Kata In Hong yang juga bergerak maju ke depan, siap untuk menghajar bekas muridnya yang dianggap telah menimbulkan banyak sengketa ini dan dia merasa bahwa sebagai bekas guru dia harus bertanggung jawab.
Akan tetapi Lie Seng bangkit berdiri dan sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi.
"Siapapun tidak boleh menyentuhnya! Siapa yang hendak mengganggu Eng-moi, harus membunuh aku lebih dulu!"
Bentaknya. Tentu saja In Hong mundur kembali dan Giok Keng menghadapi puteranya dengan marah.
"Seng-ji, butakah engkau? Ibumu dan pamanmu, juga bibimu berbuat begini demi kebahagiaanmu! Aku tidak rela melihat anakku tergoda dan terpikat oleh rayuan seorang pelacur!"
"Ibu! Itukah perbuatan yang membahagiakan? Tidak, ibu malah akan menghancurkan kebahagiaanku. Kalau ibu ingin membahagiakan aku, jangan halangi perjodohanku dengan Eng-moi. Akan tetapi kalau ibu dan paman hendak menentang, lebih baik bunuh saja aku lebih dulu sebelum menyentuh selembar rambut dari Eng-moi!"
Wajah Cia Giok Keng makin pucat dan kata-kata itu seolah-olah merupakan pukulan sehingga dia mengeluh dan terhuyung.
Suaminya, Yap Kun Liong, cepat merangkulnya dan berbisik.
"Kau tenanglah..."
"Lie Seng!"
Bun Houw membentak keponakannya.
"Begitukah sikap seorang gagah? Engkau hendak mencemarkan nama keluarga, hendak menghancurkan hati ibu kandungmu, hendak membela seorang perempuan hina macam Sun Eng?"
"Paman, cukup segala omong kosong ini!"
Lie Seng membentak, mukanya merah, matanya liar.
"Apakah paman hendak mengulangi lagi riwayat menyedihkan dari keluarga kita? Lupakah paman betapa mendiang kong-kong juga pernah melarang paman menikah dengan bibi In Hong? Dan bagaimana sikap paman sendiri? Paman rela meninggalkan keluarga demi bibi In Hong karena paman mencintainya! Sekarang mengapa paman begitu tidak mau melihat kenyataan dan hendak bersikap tidak adil, menentang perjodohanku dengan wanita yang kucinta?"
"Anak bodoh! Dengan aku urusannya lain sama sekali! Bibimu In Hong adalah seorang wanita suci, baik-baik dan gagah! Tentu saja aku melindunginya dan rela meninggalkan keluarga..."
"Itu adalah karena paman mencintainya! Paman menganggap bibi In Hong wanita paling baik di dunia! Akupun demikian. Aku menganggap Eng-moi wanita paling baik di dunia karena aku mencintanya dan siapapun tidak boleh mengganggunya, seperti paman dahulu membela dan melindungi bibi In Hong! Ahhh, betapa kalian telah kehilangan keadilan! Ibu, kalau ibu tidak setuju aku berjodoh dengan Eng-moi, biarlah aku pergi saja!"
"Seng-ji... apakah engkau mengira ibumu tidak ingin melihat anaknya bahagia hidupnya? Engkau keliru, nak. Aku melihat bahwa engkau akan melakukan keputusan yang keliru, engkau akan menderita dan sengsara kalau engkau mengambil seorang wanita yang hina sebagai isterimu! Maka aku melarang. Ibu mana yang benar-benar mencinta anaknya tidak akan melarang kalau melihat anaknya itu mendekati tempat berbahaya yang mungkin akan mencelakakannya? Menurut cerita pamanmu tadi, wanita itu tidak patut menjadi colon isterimu. Dia pernah menyeleweng, tidak saja secara tidak tahu malu menggoda guru sendiri, akan tetapi juga telah hidup sebagai seorang pelacur, menjadi kekasih banyak orang! Bagaimana mungkin aku mempunyai mantu seperti itu?"
"Tapi ibu! Mengapa ibu memandang Eng-moi dengan bayangan riwayat yang lalu itu? Pandanglah Eng-moi sekarang ini sebagai calon mantu ibu, sebagai kekasihku, sebagai wanita yang saling cinta denganku. Eng-moi yang dahulu sama sekali tidak sama dengan Eng-moi sekarang!"
"Tidak... tidak... aku tidak bisa merestui..."
Giok Keng makin pucat dan dia tentu sudah roboh kalau tidak dirangkul suaminya.
"Kalau begitu, selamat tinggal, ibu. Aku lebih baik memilih hidup bersama dengan Eng-moi daripada harus hidup di dekat keluarga akan tetapi yang jauh dari orang yang kucinta!"
Lie Seng lalu bangkit berdiri sambil merangkul pinggang kekasihnya.
"Eng-moi, mari kita pergi!"
Sun Eng melangkah dengan tubuh lemas dan kaki gemetar, mukanya ditundukkan.
Terlalu hebat dan menegangkan peristiwa yang dihadapinya dan diam-diam dia merasa amat terharu atas sikap Lie Song yang benar-benar telah membelanya seperti itu.
Dia menangis sambil berjalan terhuyung dalam rangkulan Lie Seng.
"Seng-ji... ah, Seng-ji...!"
Cia Giok Keng menjerit don ibu yang terguncang batinnya ini menjadi lemas.
Melihat isterinya pingsan, Yap Kun Liong segera memondongnya dan merebahkannya di atas kursi panjang dan mengurut punggung dan tengkuknya sehingga nyonya itu mengeluh dan siuman kembali.
Bun Houw meloncat dan sekali bergerak saja dia sudah menghadang Lie Seng.
Dengan alis berkerut dan mata bersinar tajam dia berkata.
"Seng-ji, aku tidak ingin melihat keponakanku menjadi anak durhaka! Lihat, ibumu sampai menderita hebat karena ulahmu. Hayo kau kembali kepada ibumu dan biarkan perempuan ini pergi sendiri!"
Lie Seng yang sudah marah itu memandang pamannya dengan bengis.
"Paman Cia Bun Houw, engkau dahulu tidak takut akan ancaman mendiang kong-kong, apa kau kira aku kini takut menghadapi ancamanmu untuk melindungi kekasihku? Kalau engkau mau bunuh, majulah, dan jangan engkau mengeluarkan kata-kata kasar terhadap calon isteriku!"
Bun Houw sudah bergerak hendak menyerang.
Dia bermaksud turun tangan membunuh Sun Eng yang menjadi biang keladi keributan itu.
Akan tetapi nampak berkelebat bayangan dan Ciauw Si sudah berdiri di samping kakaknya.
"Paman, jangan...!"
Seru dara ini.
Melihat keponakannya yang perempuan ini juga membela Lie Seng, Bun Houw tertegun dan bingun.
"Houw-ko...!"
Tiba-tiba terdengar keluhan panjang.
Bun Houw terkejut dan cepat menengok, dia melihat isterinya memejamkan mata, memegangi perutnya dan keliatan limbung.
"Hong-moi...!"
Bun Houw meloncat mendekati isterinya dan merangkul.
"Kau... kau kenapa, Hong-moi...?"
"Aku... perutku...ah, sakit...!"
Cia Giok Keng cepat menghampiri.
"Bawa dia masuk... jangan-jangan dia akan melahirkan...!"
Bun Houw terkejut dan cepat memondong isterinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sementara itu Lie Seng sudah menggandeng tangan Sun Eng dan mengajaknya lari pergi dari tempat itu.
"Seng-ji...!"
Cia Giok Keng berseru, kemudian menangis dalam rangkulan suaminya ketika puteranya itu tidak mau menoleh dan berlari terus di samping kekasihnya.
Ciauw Si lalu mendekati ibunya dan memegang lengan ibunya, diapun menangis menyaksikan kedukaan ibunya.
Dara ini sejak tadi mendengarkan semua peristiwa itu dengan bingung, tidak tahu harus berbuat apa.
Diam-diam dia teringat kepada Pangeran Ceng Han Houw dan hatinya terasa ngeri.
Betapapun juga, ibunya telah dituduh pemberontak dan menjadi orang buruan pemerintah, maka sedikit banyak ibunya tentu membenci para pangeran dan keluarga Kaisar.
Kalau dia kelak menghadap ibunya bersama Pangeran Ceng Han Houw dan memperkenalkannya sebagai calon suaminya, dia ngeri membayangkan apa yang akan menjadi sikap ibunya.
Demikianlah, pertemuan keluarga yang tadinya diharapkan akan mendatangkan rasa gembira bahagia itu berubah menjadi suasana yang amat menyedihkan.
Peristiwa semacam ini akan selalu terjadi apabila manusia terlalu mementingkan diri sendiri masing-masing.
Betapa banyaknya orang-orang tua yang berkeras dengan sikap mereka yang menolak pilihan calon isteri atau suami dari anak mereka.
Tentu saja mereka ini, orang-orang tua ini, merasa yakin bahwa sikap mereka itu terdorong oleh perasaan ingin membahagiakan anak, seperti juga Cia Giok Keng yang merasa yakin bahwa puteranya akan celaka, akan cemar, akan sengsara apabila melanjutkan perjodohannya dengan Sun Eng yang dianggap tidak patut menjadi isteri puteranya!
Namun, sesungguhnya, di dasar lubuk hati orang-orang tua seperti ini terdapat perasaan mementingkan diri sendiri yang amat besar!
DIA lah yang akan merasa sengsara, kecewa dan tidak puas kalau perjodohan itu dilanjutkan, DIA lah yangakan merasa terhina, tercemar, dan malu!
Sesungguhnya, perjodohan adalah urusan antara dua orang yang hendak menjalaninya, urusan dua orang yang terikat oleh rasa kasih sayang, dan orang lain sama sekali tidak berhak mencampurinya!
Orang-orang tua yang bijaksana, yang benar-benar mencinta anaknya, tidak akan mementingkan perasaan hatinya sendiri, tidak akan menuruti seleranya sendiri saja.
Namun bukan berarti bahwa orang tua harus tidak peduli, bersikap masa bodoh, bukan demikian.
Orang tua sudah selayaknya kalau memperingatkan anaknya agar anaknya jangan salah pilih, agar anaknya itu memilih dengan dasar cinta kasihnya, bukan hanya dorongan nafsu berahi yang tertarik oleh lahiriah belaka.
Namun, semua ini dilakukan demi si anak, bukan demi kepentingan perasaan sendiri dan lepas daripada selera sendiri.
Dan semua keputusan terakhir haruslah diberikan kepada si anak yang hendak menjalani perjodohan itu!
Si anaklah yang memilih calon jodohnya, si anak sendiri pula yang kelak langsung menghadapi segala akibatnya!
Kita sudah condong untuk menganggap bahwa orang yang pernah melakukan penyelewengan dalam hidup itu adalah orang yang selamanya tidak akan baik!
Kita begitu pendendam terhadap orang lain, sebaliknya begitu murah hati kepada diri sendiri sehingga semua kesalahan sendiri akan mudah saja dimaafkan dan bahkan dibela dengan berbagai alasan!
Kesalahan diri sendiri berarti kesalahan keluarga sendiri pula, yang bisa dikembangkan menjadi kelompok sendiri, teman sendiri, sekaum, sesuku, sebangsa dan sebagainya.
Semua itu bersumber kepada pemusatan kepada si aku.
Mengapa kita tidak ingat bahwa setiap orang manusia di dunia ini sudah pasti pernah melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri?
Kenapa kita tidak mau membuka, mata melihat kenyataan bahwa hidup ini adalah suatu gerakan terus menerus, Sehingga kita tidak mungkin bisa menilai kehidupan seseorang dari satu peristiwa atau satu perbuatan saja?
Orang-orang tua yang terlalu mementingkan dirinya sendiri tidak merasakan ini, dan mereka itu beranggapan bahwa mereka menoleh atau memilih calon jodoh anaknya demi untuk kebahagiaan anaknya!
Betapa piciknya anggapan seperti ini!
Orang-orang tua yang beranggapan seperti itu agaknya menganggap kehidupan anaknya itu sebagai sesuatu yang mati, sesuatu yang tidak berubah-ubah lagi, sesuatu yang sudah dapat dirumuskan dan dipastikan!
Maka mereka ini merasa dapat menentukan bahwa kalau anaknya berjodoh dengan orang ini kelak akan hidup sengsara dan kalau berjodoh dengan orang itu barulah akan berbahagia!
Betapa picik dan dangkalnya pendapat seperti ini!
Perjodohan, seperti urusan apapun juga di mana terdapat hubungan antar manusia, seperti persahabatan dan sebagainya, sudahlah tepat dan benar di mana ada landasan cinta kasih!
Dan cinta kasih sama sekali bukanlah pementingan diri sendiri!
Bahkan di mana ada keinginan menyenangkan diri sendiri, di situ tidak mungkin ada cinta kasih, yang ada hanyalah cinta kepada diri sendiri untuk mencari kesenangan, dan segala sesuatu di luar dirinya hanya akan diperalat untuk mencapai kesenangan diri sendiri itulah!
Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa orang tua hanya akan memejamkan mata saja.
Tidak, orang tua haruslah mengamati dan memperingatkan, menunjukkan apablia anaknya memilih dengan membuta, apabila anaknya hanya terbuai oleh nafsu berahi semata, terbuai oleh kemilaunya emas atau kedudukan atau keelokan rupa belaka.
(Lanjut ke
Jilid 38) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 38 Namun, apabila orang tua melihat cinta kasih yang menghubungkan anaknya dengan orang yang dipilihnya, maka orang tua yang bijaksana akan menyetujui tanpa memasukkan pendapat-pendapatnya sendiri tentang pilihan anaknya itu!
Beberapa hari kemudian setelah terjadinya peristiwa yang menimbulkan kedukaan di antara keluarga pendekar itu, Yap In Hong melahirkan seorang anak laki-laki dengan selamat.
Dan atas usul para pimpinan Sin-ciang Tiat-thouw-pang, yang lama-lama merasa khawatir juga kalau-kalau akan ketahuan dan akan dianggap menyembunyikan buruan pemerintah, juga atas persetujuan para pendekar yang maklum bahwa mereka menaruh perkumpulan itu di tempat yang berbahaya, mereka lalu pindah dan tinggal di sebuah lereng bukit di seberang Sungai Min-kiang.
Di lereng sunyi itu didirikan dua buah rumah kecil, di tepi sebuah dusun yang menjadi tempat tinggal para petani yang merangkap pula sebagai nelayan-nelayan Sungai Min-kiang, dan di situlah mereka tinggal.
Lie Ciauw Si membantu ibunya dan pamannya pindah, dan sepekan kemudian setelah mereka pindah, dia berpamit untuk mengulang lagi perjalanamya yang tertunda karena pertemuannya dengan Lie Seng, yaitu ke kota raja.
Dia akan mencari Phngeran Ceng Han Houw untuk minta pertolongan pangeran itu, agar ibu dan pamannya sekeluarga dapat dibebaskan dari tuduhan memberontak.
Tinggal mondok di rumah orang lain, betapapun baiknya orang yang mempunyai rumah itu, memang merupakan hal yang amat tidak enak.
Apalagi bagi suami isteri, dua pasang pendekar itu.
Bahkan makin baik pemilik rumah, makin sungkanlah hati mereka.
Oleh karena itu, setelah kini pindah dan tinggal di dalam dusun kecil di lereng bukit itu, Yap Kun Liong yang tinggal serumah dengan isterinya, dan Cia Bun Houw yang tinggal dalam rumah lain bersama isterinya dan anaknya, merasa gembira dan tenteram.
Dua orang pendekar sakti itu berpakaian seperti para petani, bahkan mereka juga bertani, bahkan kadang-kadang juga ikut pula mencari ikan seperti para penduduk dusun itu.
Akan tetapi mereka tidak tahu bahwa musuh besar mereka tidak pernah mengenal lelah dalam mencari jejak mereka.
Kim Hong Liu-nio, wanita yang tadinya memusuhi keluarga Cin-ling-pai terutama orang-orang she Yap dan Cia hanya karena tugasnya sebagai murid dari Hek-hiat Mo-li, dan dia menganggap para pendekar Cin-ling-pal itu sebagai musuh-musuh gurunya yang harus dibasminya.
Akan tetapi sekarang, wanita cantik ini mencari-cari musuh-musuhnya bukan hanya demi membalas sakit hati gurunya, melainkan terutama sekali karena dendam pribadinya atas kematian kekasihnya, yaitu mendiang Panglima Lee Siang.
Setelah dia mempergunakan kecantikannya dan berhasil memikat hati Kaisar sehingga dia selain menjadi wanita gagah penyelamat Kaisar juga kini menjadi wanita cantik penghibur Kaisar, dia memperoleh kekuasaan memimpin pasukan besar untuk mencari musuh-musuh yang telah berhasil dicapnya sebagai pemberontak dan buronan itu.
Kim Hong Liu-nio tidak pernah berhenti mencari dan menyebar mata-matanya dan akhirnya tahulah dia di mana tempat sembunyi para musuhnya yang amat dibencinya itu!
Yap In Hong, ibu muda yang baru satu bulan melahirkan, dengan wajah berseri pulang dari pasar.
Wajahnya cantik jelita dan gilang-gemilang seperti biasanya wanita muda yang menyusui anaknya dan belum lama melahirkan.
Memang ada cahaya yang aneh selalu nampak pada wajah wanita yang mulai mengandung tua dan sampai dia melahirkan dan menyusui bayinya, cahaya berseri yang membuat wajahnya cantik menarik dan gemilang.
In Hong baru saja kembali dari pasar.
Dia tadi berangkat pagi sekali membawa hash ikan yang diperoleh suaminya semalam bersama para nelayan lain.
Memang kadang-kadang dialah yang membawa ikan hasil tangkapan suaminya itu ke pasar, untuk dijual dan dibelikan bahan-bahan atau bumbu-bumbu masak lainnya.
Hidup sebagai seorang dusun, yang bebas dan tenang ini, benar-benar amat disukainya, dirasakannya begitu aman dan jauh sengketa, Tidak seperti kehidupan wanita kang-ouw yang selalu harus menggunakan kekerasan karena dunianya adalah dunia kekerasan.
Begitu ringan langkah In Hong, seringan hatinya yang riang sekali di pagi hari itu sehingga hampir dia bernyanyi-nyanyi kalau saja dia tidak merasa malu karena kadang-kadang dia bertemu dengan penduduk dusun yang pergi ke ladang.
Ketika dia tiba di luar dusun, dari jauh dia melihat seorang wanita yang berjalan perlahan dengan tenang.
Dari jauh saja In Hong sudah merasa tertarik dan terheran.
Dia dapat melihat bahwa wanita itu memakai pakaian yang indah, jelas bukan seorang wanita dusun.
Sama sekali bukan, karena dari jauh saja sudah kelihatan betapa rambut wanita itu digelung indah dan di rambut itu nampak kilauan permata dan kedua lengannya juga memakai gelang emas yang berkilauan.
Setelah mereka saling berhadapan, barulah hati In Hong terkejut bukan main!
Dari jauh tadi dia tidak mengenal wanita cantik ini, akan tetapi setelah dekat, melihat pedang yang tergantung di pinggang ramping itu, melihat kayu salib tergantung di punggung, barulah dia teringat bahwa wanita ini adalah musuh besar keluarga Cin-ling-pai Kim Hong Liu-nio!
Juga Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main setelah dia berhadapan dengan In Hong, karena diapun tidak mengira bahwa wanita dusun yang cantik dan kelihatan riang itu bukan lain adalah Yap In Hong, seorang di antara musuh-musuhnya yang paling lihai!
Baru satu kali dia bertemu dengan pendekar wanita gagah perkasa ini, maka tadi diapun tidak mengenal In Honf, apalagi karena pendekar itu memakai pakaian seorang wanita dusun.
Begitu mengenal musuh besar ini, giranglah hati Kim Hong Liu-nio.
Memang dia memperoleh berita dari seorang di antara para penyelidik yang disebarnya di seluruh daerah bahwa empat orang musuh besar yang telah dicapnya sebagai pelarian dan buronan pemberontak itu berada di dusun itu.
Mendapat berita ini dia langsung pergi sendiri mengadakan pe-nyelidikan.
Sungguh tak disangkanya bahwa dia akan bertemu dengan Yap In Hong di luar dusun.
Tadinya dia sudah merasa putus asa karena tidak ada seorangpun penduduk dusun yang sederhana itu yang mengenal nama-nama pendekar yang dicarinya itu.
Hal ini adalah karena memang dua pasang suami isteri pendekar itu menggunakan nama palsu dan memang kehidupan mereka sebagai petani-petani dan nelayan-nelayan biasa, sama sekali tidak seperti pendekar.
"Bagus, kiranya para pemberontak bersembunyi di sini!"
Katanya sambil tersenyum mengejek.
Kim Hong Liu-nio adalah seorang wanita yang tinggi sekali ilmu silatnya, bahkan dia sudah mewarisi hampir semua kepandaian subonya, maka bertemu dengan hanya seorang saja di antara musuh-musuhnya, dia tidak merasa gentar.
Apalagi dia memang telah mempersiapkan pasukan yang setiap waktu akan dapat membantunya, yang kini sudah memasang barisan pendam di sekitar tempat itu, sudah mengurung dusun itu dengan ketat!
Kekagetan hati In Hong juga hanya sebentar saja.
Mendengar ucapan Kim Hong Liu-nio, dia sudah menjadi marah sekali.
Tentu saja dia tidak takut menghadapi musuh ini.
Yap In Hong adalah seorang pendekar wanita yang sakti, yang sukar dicari tandingannya.
Biarpun semenjak dia mengalami guncangan batin akibat kemunculan Lie Seng yang hendak memperisteri Sun Eng, muridnya yang murtad itu kemudian dia melahirkan anak agak di bawah waktu, membuat kesehatannya terganggu dan dia belum boleh terlalu banyak mengerahkan tenaga, namun dia sama sekali tidak menjadi jerih.
"Iblis betina, kalau engkau tidak menemukan kami akhirnya akulah yang akan mencarimu untuk membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
Kim Hong Liu-nio tersenyum mengejek dan kedua tangannya yang kecil dan yang memakai sarung tangan tipis, yang tidak kentara karena warnanya sama dengan kulitnya itu bergerak perlahan mengeluarkan beberapa batang hio.
Sekali jari yang kecil-kecil itu memegang tangkai hio dan kedua tangannya bergerak, terdengar benturan dua buah gelangnya, terdengar nyaring dan nampak api bernyala dan...
seperti main sulap saja, hio-hio di tangannya itu telah terbakar ujungnya dan terciumlah bau harum!
In Hong tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi, akan tetapi dia tidak merasa heran.
Sebagai seorang pendekar wanita yang sudah banyak menjelajah di dunia kang-ouw, dia sudah banyak melihat hal-hal yang aneh.
Biarpun dia tidak tahu bagaimana akal musuh itu membakar hio, namun dia mengerti bahwa tentu ada cara tertentu dan dia tidak perlu merasa heran.
Memang benarlah dugaannya, dan di ujung hio-hio yang istimewa itu memang telah dipasangi obat bakar.
Sekali terkena sentuhan benda keras, ujung-ujung hio itu akan terbakar.
Semua ini dilakukan oleh Kim Hong Liu-nio untuk mengikat perhatian lawan, karena tiba-tiba saja kedua tangannya bergerak dan nampak sinar-sinar terang meluncur seperti kembang-kembang api ke arah jalan-jalan darah di bagian depan tubuh In Hong!
Inilah keistimewaan Kim Hong Liu-nio, dan itulah bahayanya hio-hio itu.
Pertama-tama dia bermain sulap dengan pembakaran hio sehingga calon korbannya menjadi lengah karena perhatiannya tertarik kepada sulapan itu sehingga kalau tiba-tiba diserang dengan sambitan hio-hio itu lawan terkejut dan sukar menyelamatkan diri.
Namun, In Hong bukanlah seorang pendekar biasa.
Dari tadipun dia sama sekali tidak merasa heran, maka dia masih terus bersikap waspada dan kedua matanya dapat menangkap dengan mudah sekali gerakan tangan lawan dan luncuran hio-hio itu.
Memang serangan itu berbahaya sekali, maka In Hong juga tidak berani bersikap lambat.
Dia tidak berani pula menangkis karena dia belum mengenal sifat hio-hio yang dipergunakan oleh lawan sebagai senjata-senjata rahasia itu.
Maka dia sudah mengenjotkan kakinya ke atas tanah dan tiba-tiba tubuhnya sudah mencelat ke atas, berjungkir balik dan hio-hio itu lewat di bawah tubuhnya.
Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio masih menyambitkan sisa-sisa hio mengejar tubuh In Hong sehingga kini pendekar wanita itu terpaksa harus melayang lagi ke bawah dengan kepala lebih dulu dan dia menggunakan kedua tangannya untuk menyampok dan menggunakan hawa pukulannya membuat hio-hio itu runtuh ke atas tanah.
Di lain saat In Hong sudan turun lagi ke atas tanah dengan sikap tenang, namun wajahnya agak pucat dan napasnya agak memburu, tanda bahwa gerakan-gerakan tadi membuat tubuhnya yang belum sehat benar itu menjadi lelah.
Dia marah sekali melihat kesombongan dan kecurangan wanita iblis itu, maka kini tiba-tiba tangannya bergerak dan sinar hijau yang mendatangkan hawa dingin sudah melesat dan menyambar ke arah muka dan dada lawannya.
Kim Hong Liu-nio juga cepat meloncat ke kiri untuk menghindarkan dirinya dan wanita ini tersenyum lebar.
Dia dapat melihat dengan pandang matanya yang tajam itu betapa wajah lawannya pucat dam napasnya memburu, juga serangan dengan Siang-tok-swa (Pasir Beracun Wangi) itu dilakukan tidak dengan tenaga sepenuhnya.
Tahulah dia bahwa wanita cantik yang wajahnya berseri gemilang ini sebenarnya sedang dalam keadaan tidak sehat benar.
Maka diapun cepat menubruk maju.
Dia harus dapat membunuh wanita musuh besar gurunya dan juga musuh pribadinya ini sebelum yang lain-lain muncul!
"Cring-cringgg...!"
Gelang-gelang yang menghias pergelangan tangan Kim Hong Liu-nio mengeluarkan suara nyaring dan kedua tangannya membuat gerakan-gerakan bersilang.
Telapak tangan yang putih halus itu perlahan-lahan berubah kemerahan, dan makin lama makin menghitam ketika wanita itu mulai melancarkan pukulan-pukulan dengan tamparan-tamparan tangan terbuka.
Terdengar suara angin bersuitan tanda bahwa tamparan-tamparan itu mengandung tenaga dahsyat dan melihat warna kedua telapak tangan itu, In Hong maklum bahwa lawannya telah menyerangnya dengan pukulan beracun!
Namun dia tidak menjadi gentar.
Dengan lincah dia menggeser kaki, membiarkan tamparan-tamparan itu lewat dan yang terlalu dekat lalu ditangkisnya dengan gerakan tangan yang mengandung tenaga Thian-te Sin-ciang.
"Plak-plak-plakk!"
Pertemuan dua pasang tangan yang sama kecil dan halus kulitnya itu merupakan pertemuan dua tenaga dahsyat yang mengakibatkan tubuh Kim Hong Liu-nio terdorong ke belakang.
Namun In Hong merasa betapa kulit tangan yang bertemu dengan lawan itu panas dan nyeri sehingga perasaan nyeri ini nampak pada wajahnya yang pucat, atau nampak pada bibirnya yang bergerak.
Hal ini dapat dilihat oleh Kim Hong Liu-nio.
Wanita ini tertawa merdu dan kembali menubruk dengan pukulan-pukulan yang lebih hebat lagi.
In Hong kembali mengelak dan kini diapun membalas dengan pukulan-pukulan Thian-te Sin-ciang yang tidak kalah dahsyatnya.
Sebenarnya, kalau saja In Hong tidak sedang dalam keadaan lemah, Kim Hong Liu-nio tentu akan menghadapi lawan luar biasa kuatnya karena nyonya muda ini bahkan pernah mengalahkan subonya, Hek-hiat Mo-li.
Biarpun Kim Hong Liu-nio telah mewarisi ilmu kepandaian nenek bermuka hitam itu, namun dasar ilmu silatnya dari golongan sesat itu tidak mungkin dapat mengatasi dasar ilmu silat In Hong yang kuat dan murni.
Akan tetapi, ibu muda itu sedang lemah, dan kini Kim Hong Liu-nio telah memperoleh kemajuan pesat karena dia selalu menggembleng diri dengan ilmu-ilmu silat tinggi, maka perkelahian ini membuat In Hong cepat merasa lelah dan gerakan-gerakannya kurang kokoh.
Beberapa kali ibu muda ini terhuyung kalau mereka saling mengadu tenaga dengan pertemuan tangan.
"Plak! Plakk!"
Kembali dua tangan mereka bertemu dua kali dan akibatnya, In Hong yang terhuyung.
Kalau dalam pertemuan pertama kali tadi Kim Hong Liu-nio yang terhuyung, kini keadaan menjadi membalik, tanda bahwa ibu muda itu makin berkurang tenaganya atau tidak berani mengerahkan seluruh tenaga karena begitu dia mengerahkan tenaga, perutnya terasa sakit dan kepalanya pening.
"Hik-hik, mampuslah engkau!"
Kim Hong Liu-nio yang melihat lawan terhuyung lalu menerjang, mengirim tamparan cepat ke arah kepala lawan.
Melihat ini, kembali In Hong menangkis sambil mundur dan dia tidak tahu bahwa di belakangnya terdapat sebuah batu.
Maka kakinya menginjak permukaan batu licin dan diapun tergelincir dan jatuh!
Terdengar suara ketawa merdu dan wanita iblis itu sudah menubruk dan menghantamkan kakinya ke arah kepala In Hong!
Namun ibu muda yang sudah dalam keadaan berbahaya ini, cepat menggulingkan tubuhnya sehingga terluput dari injakan kaki lawan.
Kim Hong Liu-nio merasa penasaran, meloncat dan menendang sambil terus mengejar ke mana tubuh lawan bergulingan.
Setiap kali In Hong hendak meloncat bangun, dia menghantam dengan kedua tangannya yang ditangkis oleh In Hong dan kembali ibu muda ini terguling.
Keadaan Yap In Hong sungguh terancam bahaya maut!
Namun pada saat itu nampak bayangan putih berkelebat dan tiba-tiba muncullah pendekar Cia Bun Houw di tempat itu.
Dapat dibayangkan betapa marahnya pendekar ini melihat isterinya yang dia tahu masih belum sehat benar itu didesak hebat oleh wanita yang dikenalnya sebagai musuh besar keluarganya.
"Hong-moi, mundurlah dan serahkan iblis ini kepadaku!"
Bentaknya dan sekali dia meloncat, dia sudah berada di depan Kim Hong Liu-nio dan mengirim pukulan dengan tangan kirinya.
Hebat bukan main pukulan yang datang ini, mengandung tenaga dahsyat sekali.
Kim Hong Liu-nio terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi pukulan aneh itu terus mengejarnya schingga terpaksa dia menangkis.
"Dukkk!"
Tubuhnya tergetar dan Kim Hong Liu-nio terpaksa meloncat ke belakang untuk mematahkan tenaga dahsyat yang mendorongnya secara hebat itu.
Hatinya merasa menyesal sekali.
Mengapa dia tidak cepat-cepat menewaskan Yap In Hong tadi?
Harus diakuinya bahwa dia tadi sengaja hendak mempermainkan nyonya itu lebih dulu untuk memuaskan hatinya.
Kalau dia tadi menghendaki, tentu sudah dapat membunuh musuh besar itu.
Kini muncul suami wanita itu, Cia Bun Houw yang memiliki kepandaian hebat sekali sehingga kini dialah yang terancam bahaya.
"Siluman betina, engkaulah biang keladi kematian ayah! Bersiaplah untuk mati di tanganku!"
Kata Bun Houw yang tidak mau memberi kesempatan kepada lawan, kini pendekar itu sudah menyerang lagi dengan pukulan-pukulan dahsyat yang membuat Kim Hong Liu-nio terdesak hebat.
Wanita itu sama menyesal tidak sempat untuk melarikan diri, karena pendekar itu sudah menerjangnya dan mengirim pukulan bertubi-tubi, setiap pukulan merupakan serangan maut yang hebat sekali sehingga diam-diam Kim Hong Liu-nio terkejut bukan main.
Dia pernah berhadapan dengan ketua Cin-ling-pai, yaitu pendekar sakti Cia Keng Hong yang amat sakti, dan kini puteranya ini ternyata memiliki kelihaian yang agaknya tidak kalah oleh ayahnya itu!
Celaka, pikirnya, mengapa dia begini ceroboh, berani datang sendiri saja menghadapi orang-orang yang sakti seperti ini?
Belum lagi kalau muncul pendekar Yap Kun Liong dan isterinya!
Maka diapun menggerakkan kaki tangannya dan menghadapi desakan Cia Bun Houw sambil mengeluarkan semua kepandaiannya dan mengerahkan seluruh tenaga, mengandalkan keampuhan sarung tangan yang melindungi kedua tangannya.
Memang, tanpa perlindungan sarung tangan itu, tentu kedua tangannya tidak kuat menghadapi sepasang tangan Cia Bun Houw yang ampuh.
Sementara itu, ketika melihat suaminya muncul tadi, Yap In Hong yang tadinya masih bergulingan, lalu bangkit duduk dan bersila, mengatur napas mengumpulkan hawa murni, selain untuk menjaga agar di sebelah dalam tubuhnya tidak sampai terluka, juga untuk me-mulihkan tenaganya.
Karena dia memang belum pernah terkena pukulan yang langsung, maka dia tidak menderita luka dan sebentar saja keadaannya sudah pulih kembali.
Dia membuka mata, melihat betapa suaminya mendesak wanita iblis itu.
Dia tahu bahwa tidak lama lagi suaminya tentu akan mampu merobohkan Kim Hong Liu-nio.
Timbul perasaan ma-rah di hatinya.
Wanita itu tadi nyaris membunuhnya, mempergunakan kesempatan selagi dia dalam keadaan tidak sehat.
Hal ini dianggapnya sebagai penghinaan dan menimbulkan kemarahan di hatinya.
Dia lalu bangkit dan menghampiri tempat perkelahian itu.
"Jangan bunuh dia dulu, aku harus memberi satu dua pukulan dulu kepada iblis betina ini!"
Katanya dan nyonya muda ini lalu ikut menerjang ke depan, menghantamkan kedua tangannya dengan pengerahan Thian-te Sin-ciang, akan tetapi tentu saja dia tidak berani mempergunakan seluruh tenaga, hanya seperempat bagian saja.
Kim Hong Liu-nio tentu saja makin terdesak.
Baru melawan sang suami itu saja dia telah kewalahan, apalagi kini sang isteri maju mengeroyoknya!
Dia berusaha untuk menangkis, tahu akan kelemahan In Hong, akan tetapi tangkisannya itu terhenti oleh tangan Bun Houw dan pukulan In Hong datang menuju ke dadanya.
Dia miringkan tubuh tetapi tidak mampu menghindarkan diri.
"Bukk!"
Pundaknya kena pukulan In Hong itu.
Memang tidak dengan tenaga sepenuhnya, namun cukup hebat tenaga Thian-te Sin-ciang yang hanya seperempat bagian itu dan Kim Hong Liu-nio merasa dedanya sesak, tubuhnya terjengkang!
Namun dia sudah meloncat lagi dan ketika dia hendak melarikan diri, Cia Bun Houw sudah menghadangnya!
Agaknya pendekar ini yang tahu akan kemarahan isterinya, ingin memuaskan hati isterinya itu, maka dia tidak merobohkan wanita ini dan kembali dia menahan dengan tangannya ketika isterinya melakukan tamparan keras.
Kim Hong Liu-nio berusaha mengelak, akan tetapi kembali gerakannya tertahan oleh tangan Bun Houw sehingga dia tidak mampu menghindarkan diri ketika tamparan nyonya muda itu mengenai punggungnya.
"Plakkk!"
Kim Hong Liu-nio kembali terpelanting dan kini dia muntahkan darah segar, lalu dia bangkit sambil mengeluarkan teriakan melengking berkali-kali dan mempergunakan seluruh tenaganya untuk menangkis pukulan-pukulan suami isteri yang terus mendesaknya itu.
Dia tahu bahwa kalau tidak segera datang bala bantuan yang sudah dipanggilnya melalui suara lengkingan tadi, tentu dia akan binasa.
Melarikan diripun tidak ada gunanya karena pendekar Cia Bun Houw itu benar-benar hebat!
Kembali suami isteri itu memukul dari depan.
Kim Hong Liu-nio menyilangkan kedua tangannya, mengandalkan gelang-gelangnya untuk menangkis.
Pada saat itu terdengar teriakan.
"Jangan bunuh dia...!"
Dan nampaklah seorang pemuda remaja datang berlari-lari dengan cepat sekali ke tempat itu.
Pemuda ini bukan lain adalah Sin Liong!
Seperti kita ketahui, Sin Liong yang ingin melindungi Bi Cu terpaksa mengantar Ceng Han Houw bertemu dengan Ouwyang Bu Sek sesuai dengan janjinya.
Setelah suhengnya menerima pangeran itu, Sin Liong lalu meninggalkannya dan pemuda ini lalu mencari musuh besarnya, yaitu Kim Hong Liu-nio.
Dia mendengar bahwa musuh besarnya itu kini memimpin pasukan dan melakukan pencarian untuk memburu keluarga Cin-ling-pai yang dituduh memberontak.
Maka tidak begitu sukar baginya untuk mengikuti jejak wanita itu dan akhirnya dia mendengar bahwa wanita itu berada di pegunungan dekat Sungai Min-kiang Propinsi Hok-kian itu.
Ketika dia tiba di luar dusun dan melihat betapa Kim Hong Liu-nio dikeroyok oleh pendekar Cia Bun Houw dan isterinya, dan keadaan wanita iblis yang menjadi musuh besarnya itu terdesak hebat dan robohnya sudah boleh dipastikan akan terjadi tak lama lagi, terjadi hal aneh dalam hati Sin Liong yang mendorongnya untuk berteriak mencegah suami isteri itu membunuh wanita iblis itu!
Ada dua hal yang menimbulkan perasaan ini di hati Sin Liong.
Pertama-tama, melihat wanita itu dikeroyok dan didesak hebat, teringatlah dia akan peristiwa beberapa tahun yang lalu ketika dia, Bi Cu dan Tiong Pek putera mendiang Na Ceng Han terancam bahaya didesak oleh musuh-musuh yang menyerbu rumah keluarga Na itu.
Ketika itu muncul pula Kim Hong Liu-nio ini yang membunuh para musuh itu sehingga betapapun juga, wanita iblis ini pernah menyelamatkan nyawanya.
Teringat akan hal itu, timbullah niatnya untuk sekali ini menolongnya pula dari ancaman kematian sebagai pembalasan atau pertolongannya dahulu itu!
Dan ke dua, ada rasa tidak rela di hatinya melihat wanita iblis ini akan terbunuh orang lain, sungguhpun orang lain itu adalah ayah kandungnya sendiri dan ibu tirinya!
Dia ingin agar kematian wanita pembunuh ibu kandungnya dan pembunuh kakeknya itu di tangannya, bukan di tangan orang lain.
Dialah yang harus menuntut balas kepada Kim Hong Liu-nio.
Inilah sebabnya mengapa Sin Liong berteriak melarang mereka membunuh wanita iblis itu.
Akan tetapi Bun Houw dan In Hong yang tidak ingat siapa adanya pemuda remaja itu, melihat pemuda itu berlari cepat sekali, mereka maklum bahwa pemuda itu memiliki kepandaian pula dan menyangka bahwa pemuda itu tentulah kawan dari wanita iblis ini.
Maka Bun Houw dan In Hong memperhebat desakannya sehingga ketika Kim Hong Liu-nio menangkis dengan kedua tangannya dia terjengkang!
Melihat ini, Bun Houw segera menggerakkan tangannya, melakukan pukulan maut untuk membunuh wanita yang menjadi musuh keluarganya itu.
"Dukk!"
Tangan pendekar itu bertemu dengan tangan Sin Liong dan Bun Houw merasa betapa lengannya tergetar keras.
Dia terkejut, namun dia menggerakkan tangan kirinya, memukul lagi ke arah Kim Hong Liu-nio.
"Desss!"
Kembali Sin Liong menangkis dan sekali ini pertemuan tenaga antara mereka sedemikian kuatnya sehingga keduanya terdorong ke belakang!
Kim Hong Liu-nio mempergunakan kesempatan ini untuk meloncat ke belakang dan melarikan diri!
Bukan main marahnya hati Bun Houw ketika dia memandang kepada Sin Liong dan mengenal pemuda remaja ini sebagai anak yang pernah dipelihara dan dididik oleh mendiang ayahnya di Cin-ling-san.
"Engkau...?"
Bentaknya.
"Engkau melindungi iblis itu...?"
"Aku tidak ingin orang lain membunuhnya..."
Jawab Sin Liong.
Sejenak kedua orang ini saling pandang dengan tajam.
Jantung Sin Liong berdebar rasanya.
Inilah ayah kandungnya!
Namun Bun Houw sama sekali tidak tahu akan hal ini dan dia hanya menganggap pemuda ini seorang yang tidak tahu diri, yang kini malah membela musuh padahal anak ini tahu bahwa wanita tadi adalah biang keladi kematian ketua Cin-ling-pai!
"Bocah keparat, kau harus dihajar!"
Bentaknya dan dim sudah mengirim pukulan ke arah dada Sin Liong.
"Desss...!"
Tubuh Sin Liong terlempar bergulingan.
"Houw-ko, jangan...!"
In Hong berseru kaget, karena diapun mengenal Sin Liong sebagai anak yang dulu dicinta oleh mendiang Cia Keng Hong dan karena pernah menjadi murid ketua Cin-ling-pai itu, maka sebenarnya masih terhitung sute dan masih saudara seperguruan.
Dia khawatir kalau-kalau pukulan tadi menewaskan Sin Liong, karena dia tahu betapa hebatnya pukulan dari suaminya.
Akan tetapi, Sin Liong sama sekali tidak mati, bahkan tidak terluka oleh pukulan tadi.
Dia tadi sudah mengerahkan sin-kangnya untuk melindungi dada sehingga tubuhnya menjadi seperti sebuah bola penuh hawa saja yang dapat dipukul sampai terpental dan bergulingan, namun tidak sampai melukainya, baik luka di luar maupun di dalam.
Kini Sin Liong sudah meloncat bangun dan sepasang matanya memandang tajam, penuh rasa penasaran kepada Bun Houw.
Ayah kandungnya ini telah memukulnya, memukul anak kandung sendiri!
Betapa kejamnya!
Bun Houw menjadi semakin marah dan penasaran ketika melihat betapa pukulannya tadi tidak merobohkan Sin Liong.
Dia adalah seorang pendekar besar dan tentu saja hatinya bukan kejam.
Dia tadi memukul dengan perhitungan yang masak sehingga pukulan itu tidak akan membunuh dan yang dipukulnya bukan tempat berbahaya, namun cukup untuk merobohkan bocah itu.
Akan tetapi nyatanya bocah itu sama sekali tidak roboh bahkan terluka sedikitpun tidak.
Dengan marah dia lalu menerjang lagi dan sekali ini dia memperkuat tenaga dalam pukulannya.
"Dukk!"
Sin Liong sekali ini menangkis dengan pengerahan tenaga pula, dan karena dia mengerahkan tenaga yang lebih besar, maka akibatnya tubuh Bun Houw yang terjengkang ke belakang!
Baiknya pendekar ini sudah cepat berjungkir balik sehingga tidak sampai terbanting roboh.
Matanya terbelalak karena dia tidak mengira bahwa Sin Liong akan memiliki tenaga sekuat itu!
"Bocah setan...!"
Dia memaki dan menyerang lagi. Sin Liong cepat menggerakkan kaki mengelak dan menangkis.
"Aku tidak ingin berkelahi denganmu!"
Katanya berkali-kali sambil terus mengelak den menangkis, main mundur.
Bun Houw makin penasaran.
Bocah ini hebat benar, semua serangannya dapat dilumpuhkan dengan elakan cepat dan tangkisan kuat!
Pada saat itu, datang Yap Kun Liong dan Cia Giok Keng berlari-larian.
"Tahan, jangan berkelahi...!"
Yap Kun Liong berseru ketika dia mengenal Sin Liong sebagai anak yang pernah diambil murid ayah mertuanya.
Dia pun mengenal gerakan kaki anak itu yang bergerak dengan langkah-langkah Thai-kek Sin-kun, akan tetapi dia tidak mengenal gerakan tangan ketika melancarkan tangkisan-tangkisan itu.
Dia merasa heran melihat betapa Bun Houw yang sudah mengerahkan tenaga sepenuhnya itu ternyata tidak mampu merobohkan Sin Liong, dan setiap kali kedua tangan mereka saling bertemu, keduanya tergetar dan sama sekali tidak kelihatan anak itu kalah kuat!
Karena penasaran dan marah, Bun Houw tidak menghentikan serangan-serangannya biarpun sudah diteriaki oleh Kun Liong.
Dan pada saat itu, terdengar suara gemuruh dan datanglah pasukan besar yang dipimpin oleh Kim Hong Liu-nio!
Melihat munculnya pasukan besar ini, empat orang pendekar itu terkejut bukan main dan otomatis Bun Houw menghentikan serangannya dan Sin Liong juga sudah melompat jauh ke belakang.
Bagaikan banjir yang datang mengamuk, pasukan itu lalu menyerbu, dipimpin oleh Kim Hong Liu-nio yang tadi merasa terheran-heran melihat Sin Liong bertanding melawan Cia Bun Houw.
"Larilah kalian! Lekas, larilah!"
Tiba-tiba Sin Liong berseru, seruan yang ditujukan kepada empat orang pendekar itu dan dia sendiri lalu berlari ke depan, menyambut datangnya para perajurit yang menyerbu!
Sejenak empat orang pendekar itu tertegun menyaksikan pemuda remaja itu mengamuk seperti seekor naga sakti.
Sekali bergerak, kedua kakinya merobohkan empat orang perajurit dan kedua tangannya menangkap masing-masing seorang perajurit, diputar-putarnya lalu dilemparkan kepada para perajurit yang datang seperti air bah menyerang itu.
"Mari kita pergi cepat!"
Yap Kun Liong berkata dan empat orang itu lalu berlari cepat memasuki dusun untuk mengambil anak bayi putera Bun Houw yang dititipkan kepada seorang wanita tua petani ketika ibunya pergi ke pasar tadi.
Kemudian, In Hong menggendong anaknya melarikan diri keluar dari dusun itu dikawal oleh suaminya dan oleh Yap Kun Liong bersama isterinya.
Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, mereka dapat berlari cepat sekali dan tentu saja pasukan itu tidak dapat menyusul mereka, sedangkan Kim Hong Liu-nio yang juga memiliki gin-kang yang tinggi tidak berani melakukan pengejaran seorang diri saja karena empat orang buruan itu terlalu lihai baginya dan dia sendiri tidak mempunyai pembantu yang cukup pandai.
Diam-diam dia menyesal mengapa dia tidak mengajak subonya.
Sementara itu, Sin Liong mengamuk sampai lama untuk mencegah pasukan itu melakukan pengejaran.
Setelah merasa cukup lama dan dia sudah terlalu banyak merobohkan perajurit tanpa membunuh mereka, Sin Liong lalu meloncat jauh dan hendak melarikan diri.
Akan tetapi, Kim Hong Liu-nio menghadangnya bersama beberapa orang perwira yang memiliki kepandaian lumayan.
"Engkau hendak lari ke mana?"
Kim Hong Liu-nio menubruk dan menggunakan kedua tangannya menyerang.
"Plak! Plak!"
Tubuh Kim Hong Liu-nio terpelanting dan para perwira itu cepat menyerang dan menghujankan senjata mereka kepada Sin Liong sehingga pemuda remaja itu tidak sempat lagi untuk melanjutkan serangannya kepada wanita iblis yang menjadi musuh besarnya itu.
Dia lalu meloncat lagi dan dengan beberapa kali loncatan jauh dia lalu menghilang di balik hutan yang lebat.
Kim Hong Liu-nio bangkit berdiri dan memandang ke arah hutan itu, alisnya berkerut dan dia terheran-heran.
Bocah itu kini lihai bukan main, pikirnya.
Akan tetapi dia tidak mengerti bagaimana pendirian anak itu!
Ketika dia terancam bahaya maut di tangan Cia Bun Houw dan Yap In Hong tadi, jelas bahwa anak itu melindunginya dan bahkan menyelamatkannya dari ancaman maut, sampai anak itu bertanding melawan pendekar sakti Cia Bun Houw.
Padahal, menurut pengakuan anak itu dahulu, bukankah anak itu adalah putera sendiri dari pendekar Cia Bun Houw?
Mengapa anak itu menyelamatkan dia dan melawan ayah sendiri?
Dan yang lebih aneh lagi, setelah bocah itu melakukan hal yang luar biasa itu, mengapa tiba-tiba anak itu berbalik melindungi empat orang pendekar buronan itu dan mengamuk, melawan pasukan kerajaan?
Sunguh anak yang amat luar biasa sekali!
"Aku harus waspada terhadap dia...
bocah itu berbahaya...!"
Kim Hong Liu-nio mengepal tinju dan dia terpaksa lalu memerintahkan pasukannya untuk kembali dan tetap menyebar mata-mata untuk mengikuti jejak empat orang pendekar yang lolos itu.
Sementara itu, Bun Houw, In Hong, Kun Liong dan Giok Keng yang melarikan diri juga terheran-heran melihat sikap Sin Liong.
Mereka sudah dapat membebaskan diri dari pengejaran, dan kini mereka berjalan biasa karena In Hong masih terlalu lemah untuk melakukan perjalanan jauh sambil berlari cepat terus.
"Sungguh aku tidak mengerti anak itu!"
Kata Bun Houw sambil menggeleng kepalanya.
"Mula-mula dia melindungi iblis betina itu dan melawan kami, kemudian dia berbalik melindungi kita dan melawan pasukan yang mengepung kita."
Yap Kun Liong menarik napas panjang.
"Anak itu luar biasa sekali. Sekecil dia telah dapat mainkan Thai-kek-sin-kun dengan begitu baiknya, dan gerakan tangannya amat aneh, entah ilmu apa yang dipergunakannya ketika menangkis pukulan-pukulanmu tadi, Houw-te."
"Dia memiliki tenaga yang amat hebat pula...! Rasanya... rasanya... aku sendiri tidak akan mampu menandingi kekuatannya!"
Ucapan Bun Houw ini membuat yang lain-lainnya terbelalak keheranan.
Mereka semua tahu bahwa Bun Houw memiliki tenaga yang amat dahsyat dan di jaman itu sukarlah mencari tokoh yang akan dapat menandinginya, akan tetapi sekarang pendekar ini mengaku bahwa dia kalah oleh seorang pemuda remaja!
Tentu saja mereka menjadi terheran-heran akan tetapi juga bukan tidak percaya karena Bun Houw bicara dengan serius.
"Betapapun juga, kita harus berhati-hati kalau lain kali berjumpa dengan Sin Liong. Anak itu aneh dan kita tidak tahu bagaimana isi hatinya, sebentar menjadi lawan dan sebentar menjadi kawan,"
Kata Yap In Hong.
Empat orang ini lalu pergi menuju ke Propinsi Ce-kiang.
Atas usul Yap In Hong dan suaminya, mereka akan bersembunyi di Bun-cou, yaitu di kota yang dahulu menjadi tempat tinggal dia dan suaminya semenjak mereka berdua meninggalkan Cin-ling-san.
Mereka pergi melakukan perjalanan seenaknya karena terdapat di antara mereka Cia Kong Liang, bayi yang baru berusia sebulan itu, putera dari Cia Bun Houw dan Yap In Hong.
Biarpun sikap Sin Liong yang aneh itu mendatangkan keheranan dan dugaan-dugaan dalam hati empat orang pendekar ini, namun diam-diam mulai tumbuh kebencian terhadap pemuda remaja itu.
Terutama sekali dalam hati Bun Houw dan In Hong, karena bukankah anak itu yang mencegah mereka membunuh Kim Hong Liu-nio, musuh besar mereka, dan perbuatan anak itu mengakibatkan mereka harus lari lagi dari tempat tinggal mereka, karena Kim Hong Liu-nio masih hidup dan masih mengerahkan pastikan untuk mengejar mereka?
Sin Liong dianggap sebagai anak selain aneh akan tetapi juga merugikan, bahkan di lubuk hatinya, Bun Houw masih selalu berpendapat bahwa gara-gara Sin Liong inilah maka ayahnya sampai meninggal dunia.
Maka biarpun kini di dalam sikap dan perbuatan Sin Liong itu terdapat dua hal yang berlawanan, di satu fihak merugikan karena pemuda itu menyelamatkan Kim Hong Liu-nio dan di lain fihak menguntungkan karena pemuda itu telah melindungi mereka dengan melawan pasukan, namun segi buruknya lebih menonjol dan ini menimbulkan rasa tidak suka kepada anak itu.
Terutama sekali karena dalam diri pemuda remaja itu Bun Houw melihat seorang lawan yang amat berbahaya.
Kita tinggalkan dulu empat orang pendekar bersama bayi yang melarikan diri dan mencari tempat persembunyian baru itu, dan meninggalkan Sin Liong yang kini kembali mulai membayangi Kim Hong Liu-nio untuk mencari kesempatan menjumpai wanita itu sendirian saja tanpa adanya pasukan yang melindunginya, untuk diajak bertanding dan membuat perhitungan.
Mari kita mengikuti perjalanan Ceng Han Houw, pangeran berdarah campuran yaitu ibunya Puteri Khamila adalah seorang puteri berbangsa Khitan sedangkan ayahnya, ayah kandungnya adalah mendiang Kaisar Ceng Tung.
Seperti telah kita ketahui, Pangeran Ceng Han Houw atau yang oleh ayahnya yang sah, Raja Sabutai, diberi nama Pangeran Oguthai, dengan bantuan Sin Liong telah berhasil menarik hati orang aneh yang sakti Ouwyang Bu Sek dan diangkat menjadi sutenya, menjadi murid Bu Beng Hud-couw yang dianggap sebagai guru besar di Himalaya, guru Ouwyang Bu Sek yang menulls kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi itu.
Dengan amat tekunnya Ceng Han Houw membantu Ouwyang Bu Sek menterjemahkan kitab-kitab kuno yang tiga
Jilid banyaknya itu, menuliskannya menjadi belasan
Jilid dalam bahasa sekarang, Kemudian di bawah bimbingan Ouwyang Bu Sek mulailah Han Houw mempelajari kitab-kitab itu yang ternyata memang mengandung pelajaran ilmu-ilmu yang aneh dan mujijat.
Berkat otaknya yang cerdas, sebentar saja Han Houw telah berhasil menghafal isi kitab-kitab itu dan kini dia tekun sekali bersamadhi menurutkan petunjuk kitab-kitab itu, di dalam sebuah guha besar yang kosong.
Setelah dia mulai melatih, maka Ouwyang Bu Sek sendiri tidak lagi mampu membimbingnya.
Seperti diketahui, kakek ini hanya membimbing teorinya saja, sedangkan untuk membimbing prakteknya tentu saja dia tidak mampu.
Kakek ini sudah terlalu tua untuk melatih diri dengan ilmu-ilmu yang amat sukar itu, maka untuk latihan prakteknya, dia menyerahkan sang sute itu bergantung kepada semangat dan kemauannya sendiri karena dia sama sekali tidak mampu memberi petunjuk lagi.
"Suheng,"
Pada suatu hari, setelah dia benar-benar sudah hafal akan isi seluruh kitab yang belasan
Jilid banyaknya sebagai terjemahan dari tiga kitab aseli itu.
"Aku telah menjadi murid dari suhu Bu Beng Hud-couw, akan tetapi bagaimana aku dapat bertemu dengan beliau? Apakah suheng mengetahui di mana beliau tinggal sehingga aku dapat pergi mencarinya di Himalaya sana?"
Ouwyang Bu Sek, si kakek cebol yang tubuhya seperti kanak-kanak akan tetapi kepalanya besar seperti orang dewasa itu terkekeh genit "Heh-heh-heh-heh, sute, engkau ini lucu sekali!
Mencari tempat tinggal suhu kita adalah hal yang mustahil selama kita masih hidup!
Engkau harus mati dulu untuk dapat mencari tempat tinggal suhu, heh-heh-heh!"
Tentu saja hati pangeran itu sebal sekali mendengar ini.
Kebenciannya terhadap sang suheng itu masih menebal, apalagi karena sikap suhengnya yang sama sekali tidak menghargai atau menghormatinya itu membuat dia makin benci.
Semua orang selalu menghormatinya dan menyembah-nyembahnya.
Biarpun Sin Liong tidak menyembahnya, namun pemuda itu sedikitnya masih bersikap halus dan jujur, tidak seperti kakek ini yang kadang-kadang sikapnya menghina sekali!
Hanya karena maklum akan kelihaian Ouwyang Bu Sek, dan karena kecerdikannya, maka Han Houw selalu bersikap lembut dan taat kepada suhengnya ini.
"Akan tetapi, suheng. Bukankah suheng sendiri dapat berhubungan dengan beliau? Andaikata kita tidak dapat mencari beliau di tempat tinggalnya, aku ingin sekali dapat berhubungan dengan beliau dan berjumpa dengan beliau."
"Heh-heh-heh, orang setingkat engkau ini mana mampu untuk berjumpa dengan beliau? Hanya orang setingkat akulah yang dapat bertemu dengan beliau."
"Harap suheng sudi memberi petunjuk, aku akan berusaha untuk memungkinkan perjumpaanku dengan beliau."
"Guru kita itu sewaktu-waktu dapat saja berhubungan dengan kita kalau memang kita mampu mengirim getaran yang kuat, sute. Akan tetapi, untuk apa engkau ingin bertemu dengan suhu?"
"Agar hatiku tenang dan puas, suheng, dan juga aku ingin bertanya sesuatu tentang pelaksanaan latihan ilmu-ilmu yang kuterima dari kitab-kitab suhu."
"Hemm... tidak mudah, dan kalau batinmu tidak kuat, dalam usaha mendatangkannya itu salah-salah engkau bisa gila atau mampus!"
Akan tetapi Ceng Han Houw adalah seorang pemuda yang berhati keras seperti baja, dan memiliki keberanian yang amat luar biasa.
Maka, ancaman mati itu sama sekali tidak membuat dia jerih, tidak membuat dia mundur.
"Aku akan menghadapi bahaya itu kalau suheng sudi memberi petunjuk."
"Heh-heh, kalau gila atau mati jangan salahkan aku, ya?"
Kalau saja dia tidak merasa yakin bahwa ilmunya belum dapat mengatasi kakek itu, tentu Han Houw sudah memakinya atau menyerangnya.
Namun, dengan tenang dia berkata.
"Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa, juga menyalahkan suheng."
Kini kakek itu kelihatan serius. Sejenak dia menentang tajam pandang mata sutenya, lalu berkata.
"Kalau engkau sampai bisa bertemu dengan suhu, hal itu sungguh amat menguntungkanmu, sute. Ketahuilah bahwa sute Sin Liong sendiri tidak pernah bertemu dengan suhu."
Mendengar ini, tentu saja hati Han Houw merasa girang bukan main dan makin besar keinginan hatinya untuk dapat bertemu dengan orang tua yang disebut Bu Beng Hud-couw itu.
"Aku akan berterima kasih sekali kepada suheng kalau aku sampai dapat bertemu dengan suhu."
"Dengarlah baik-baik, sute. Untuk dapat bertemu dengan suhu, pertama-tama engkau harus mengenal baik bagaimana bentuk bayangan beliau. Beginilah gambaran suhu itu. Beliau itu sudah tua sekali, tidak dapat ditaksir berapa usianya, mungkin tiga ratus tahun atau lebih. Rambutnya dan jenggotnya sudah putih semua, panjang sekali sampai ke pinggul dan perut, wajahnya penuh wibawa, pakaiannya serba putih dan sederhana, kakinya telanjang dan beliau selalu memegang sebatang tongkat bambu kuning. Nah, itulah gambaran beliau. Kalau engkau ingin bertemu, engkau harus bersamadhilah menurut petunjuk dalam kitab itu, akan tetapi tujukan seluruh panca inderamu kepada bayangan beliau dan sebutlah namanya terus menerus sampai beliau datang. Jangan lupa buat api unggun di dalam guha, karena beliau biasanya datang melalui api dan asap. Nah, aku tidak bisa memberi penjelasan lebih jauh, lakukan saja apa yang kukatakan tadi, sute."
Setelah berkata demikian, Ouwyang Bu Sek meninggalkan sutenya.
Ceng Han Houw menjadi girang bukan main.
Cepat dia membuat persiapan, memasuki guha kecil mana dia biasa berlatih samadhi, membawa semua kitab-kitab terjemahannya, meletakkan kitab-kitab itu di dekatnya dan membuka halaman-halaman di mana dia masih merasa kurang mengerti dan hendak ditanyakannya secara langsung kepada suhunya karena suhengnya sama sekali tidak dapat memberi petunjuk kepadanya dalam latihan praktek.
Dia membuat api unggun kecil di depannya, kemudian mulailah dia bersamadhi menurut petunjuk kitab, mengatur pernapasannya dan menyatukan panca indera merangkap kedua tangannya seperti menyembah di depan dada.
Karena sudah biasa berlatih samadhi seperti ini menurut petunjuk kitab-kitab yang sedang dipelajarinya, maka sebentar saja Han Houw sudah tenggelam dan pikirannya sudah dapat dikumpulkan menjadi satu dengan panca inderanya, Mulutnya berbisik-bisik menyebut nama Bu Beng Hud-couw berulang-ulang.
Suara bisikan menyebut nama ini perlahan sekali, hampir tidak terdengar di luar dirinya, namun suara itu terdengar jelas oleh telinganya dan suara ini terdengar aneh dan bergulung-gulung, seolah-olah merupakan sesuatu yang sambung-menyambung dan membubung ke atas, merupakan tangga yang menuju ke tempat yang tak pernah dikenalnya.
Suara yang berulang-ulang ini membuat dia merasa seperti melayang-layang, terdengar makin lama makin aneh.
Dia tidak tahu lagi berapa lama dia sudah tekun bersamadhi seperti itu.
Dia tidak merasakan apa-apa lagi, tidak mendengar apa-apa lagi kecuali suaranya yang menyebut-nyebut nama Bu Beng Hud-couw, yang seolah-olah bukan suaranya sendiri lagi, seolah-olah merupakan sesuatu yang terpisah darinya.
Dia sama sekali tidak tahu apakah dia bersamadhi sudah satu jam, satu hari ataukah sudah sebulan!
Tiba-tiba tubuhnya terasa tergetar hebat dan dia merasa seperti membuka matanya karena ada sesuatu di depannya.
Han Houw terkejut melihat bahwa di depannya, atau di atas api unggun yang masih bernyala kecil dan mengeluarkan asap putih, kini telah berdiri seorang kakek tua renta, persis seperti yang tergambar di dalam otaknya menurut penuturan Ouwyang Bu Sek!
Kakek tua renta itu berdiri tak bergerak, tangan kanannya memegang sebatang tongkat bambu kuning, persis seperti yang digambarkan oleh suhengnya.
Dalam kagetnya, Han Houw girang bukan main dan dia masih duduk bersila dengan kedua tangan dirangkap di depan dada, kemudian dia berkata dengan suara halus.
"Suhu, teecu mohon petunjuk...!"
Dia lalu menyebutkan soal-soal dalam praktek latihannya yang mengalami kesukaran.
Kakek yang seperti bayangan, yang berdiri seperti menjadi sambungan asap putih yang mengepul dari api unggun itu, kelihatan diam saja.
Han Houw mengulang kata-katanya sampai tiga kali.
Kini kakek itu mengangkat tangan kirinya ke atas, seperti orang yang mempersilakan, mengangguk-angguk dan perlahan-lahan lenyap membuyar seperti asap tertiup angin.
Han Houw terkejut dan gelagapan seperti orang baru bangun dari tidur dan mimpi.
Matanya mencari-cari namun tidak lagi nampak kakek itu, padahal tadi kakek itu berdiri jelas di depannya.
Dia menegok ke arah kitab-kitabnya dan cepat dia mengamati halaman-halaman kitab di mana terdapat bagian-bagian yang sukar baginya.
Di bawah sinar api unggun dia meneliti dan membaca dan...
betapa girang hatinya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa kini dia dipat mengerti hal-hal itu dengan jelasnya!
Keadaan seperti yang dialami oleh Han Houw ini bukanlah dongeng kosong belaka.
Kiranya setiap orangpun akan dapat memperoleh pengalaman seperti itu, kalau saja dia memang percaya penuh dan tekun.
Orang yang mengosongkan pikirannya dengan jalan mengulang-ulang sesuatu yang disebutnya dengan penuh pujaan akan berada dalam keadaan tersihir atau terpesona.
Suara sendiri yang diulang-ulang itu mendatangkan pengaruh yang amat kuat menyihir diri-sendiri dan mengikat seluruh perhatian sendiri sehingga dirinya dalam keadaan "kosong"
Sungguhpun kekosongan yang dipaksakan.
Dalam keadaan seperti ini, maka sesuatu yang dipujanya, yang diharapkan dan dipercayanya, tidak mengherankan kalau benar-benar muncul di depannya, merupakan bayangan yang bukan lain adalah pemantulan dari dalam batinnya sendiri.
Orang yang memuja Sang Buddha mungkin saja bertemu dengan bayangan yang sesungguhnya merupakan pemantulan dari dalam hatinya, karena kepercayaan yang penuh, karena pemujaan yang tulus ikhlas ini membentuk bayangan atau gambaran di dalam batin.
Bayangan apapun yang nampak oleh manusia, baik bayangan yang dinamakan setan maupun bayangan dewa, nabi dan sebagainya, Adalah bayangan yang terpantul dari dalam batin sendiri yang membentuk dan menyimpan gambaran bayangan itu.
Hal ini amat jelas dan mudah dimengerti.
Seseorang yang mengaku pernah melihat setan umpamanya, pasti melihat setan seperti yang pernah didengarnya dari dongeng, dari buku dan dari cerita orang lain, atau dari khayalnya sendiri tentang setan.
Demikian pula, seseorang yang mengaku pernah "bertemu"
Dengan orang suci atau nabi, sudah pasti yang ditemuinya itu adalah orang suci atau nabi dari agamanya, atau dari kepercayaannya, seperti yang pernah didengarnya dari dongeng, atau dilihatnya dalam gambar, dan sebagainya lagi.
Namun kita, yang haus hal-hal yang aneh, yang haus akan sesuatu yang dapat dijadikan pegangan, merasa sayang dan enggan melepaskan kepercayaan ini dan tidak mau atau tidak berani melihat kenyataan ini!
Setelah merasa "bertemu"
Dengan gurunya.
Han Houw dengan mudah dapat mengerti pelajaran yang sedang dilatihnya.
Hal inipun tidak aneh karena pikiran yang kosong memang amat mudah menerima sesuatu dan pada saat itu Han Houw benar-benar dalam keadaan kosong sehingga begitu dia melihat halaman-halaman pelajaran yang tadinya dianggap sukar dimengerti itu, kini amat jelas dan mudah baginya.
Tentu saja dia menghubungkan ini dengan "kemunculan"
Bayangan suhunya yang, secara gaib telah membimbingnya! Dia tidak sadar bahwa "bayangan"
Bu Beng Hud-couw yang dijumpainya itu belum tentu sama dengan "bayangan"
Yang dilihat oleh Ouwyang Bu Sek, karena batin masing-masing membentuk bayangan yang tentu saja berbeda menurut selera masing-masing.
Keinginan akan sesuatu, betapapun "sesuatu"
Itu dapat diberi sebutan luhur, suci, tinggi, sempurna dan sebagainya, tetap saja merupakan suatu keinginan yang timbul dari pikiran atau si aku yang ingin senang, ingin selamat, ingin terjamin dan tercapai keinginannya, baik keinginan dalam bentuk keenakan badan maupun keenakan batin!
Keinginan tetap merupakan keinginan dan keinginan ini lahir bermacam hal yang menjadi sumber segala konflik.
Keinginan berpusat pada pementingan diri, penonjolan si aku dan karenanya merupakan pengasingan diri yang picik.
Semenjak kecil sampai tua, kita selalu diperhamba oleh keinginan-keinginan kita.
Yang berbeda hanyalah obyek dari keinginan-keinginan kita, Kalau masih muda tentu keinginannya ditujukan kepada benda-benda duniawi untuk menyenangkan jasmani, setelah tua dan bosan dengan semua kesenangan duniawi atau kenikmatan jasmani lalu berpindah kepada tujuan yang dinamakannya lebih tinggi, yaitu benda-benda rohani untuk menyenangkan batin, untuk menenteramkan batin, untuk keselamatan jiwa.
Namun, pada hakekatnya sama, yaitu si aku yang senang, ingin tenteram, ingin enak dan ingin terjamin!
Dan selama batin dipenuhi keinginan ini, padahal keinginan ini hidup di alam khayal, sedangkan hidup ini berada di alam nyata maka kita akan terbuai terus oleh keinginan-keinginan itu yang melahirkan bermacam-macam khayal.
Yang akan kita jumpai hanyalah bayangan-bayangan khayal kita sendiri belaka dan kita tidak akan pernah dapat bersua dengan kenyataan yang suci murni!
Seorang tua akan mengatakan.
"Aku tidak butuh lagi dengan kesenangan dunia, aku ingin ketenangan batin, aku ingin kesempurnaan jiwa, aku tidak butuh apa-apa lagi!"
Kata-katanya demikian, akan tetapi sebenarnya pada dasarnya, keinginan itu masih menebal di dalam batin, yang berubah hanyalah tujuan keinginan itu saja.
Kalau dulu yang dikejar adalah uang, kedudukan, kemuliaan, kesenangan jasmani, sekarang yang dikejar adalah kesenangan rohani atau apa yang dinamakan "yang lebih tinggi".
Hasilnyapun akan sama saja!
Di waktu mengejar uang, kedudukan dan sebagainya itu dia selalu bertemu dengan konflik, permusuhan, kepalsuan, kekecewaan, dan keserakahan yang tak kunjung habis, sekarangpun dia akan bertemu dengan semua itu!
Karena yang dikejar adalah bayangannya sendiri!
Oleh karena itu, pertanyaan yang amat gawat dan penting perlu kita ajukan kepada diri sendiri masing-masing, yaitu .
Dapatkah kita hidup bebas, dari segala macam keinginan?
Dapatkah kita menghadapi apa adanya tanpa menginginkan hal-hal atau benda-benda yang tidak atau belum ada?
Segala sesuatu sudah ada pada apa adanya, Namun mata kita seolah-olah buta, tidak melihat akan semua itu karena mata kita selalu ditujukan kepada hal-hal atau benda-benda yang tidak ada, kepada khayal-khayal kita, kepada gambaran-gambaran dari keinginan kita!
Sama butanya dengan seorang penduduk pegunungan yang tidak dapat melihat keindahan di pegunungan karena dia gandrung akan bayangan keindahan lautan, dan sebaliknya seorang penduduk tepi laut yang tidak dapat melihat keindahan pemandangan tepi laut karena dia gandrung akan bayangan keindahan pemandangan di pegunungan!
Sama butanya seperti seorang pemilik apel yang tidak dapat menikmati kelezatan buah apel itu karena dia membayangkan kenikmatan buah jeruk, dan pemilik jeruk yang tidak dapat menikmati kelezatan buah jeruknya karena dia membayangkan kelezatan buah apel!
Kita hidup dibuai lamunan, dibuai khayal belaka sehingga keadaan nyata tak nampak lagi, tak dapat dinikmati lagi, dan inilah yang menyebabkan mengapa kita selalu mengeluh dan mengatakan bahwa hidup adalah penuh derita dan kesengsaraan!
Maka, dapatkah kita bebas dari segala macam keinginan itu dan hidup dalam saat ini, saat demi saat, menghadapi apa adanya dari saat ke saat penuh kewaspadaan?
Semenjak "pengalamannya"
Yang dianggapnya amat membahagiakan itu, Han Houw berlatih amat tekunnya dan setiap kali menemui kesulitan dia lalu "memanggil"
Datangnya sang guru sehingga lama-kelamaan dia sudah menjadi terbiasa.
Karena ketekunannya inilah maka tak lama kemudian, hanya dalam waktu beberapa bulan saja Han Houw telah dapat menguasai latihan ilmu-ilmu silat dari kitab-kitab yang diterimanya dari Ouwyang Bu Sek itu.
Dan memang hebat sekali hasilnya!
Bukan saja pemuda bangsawan ini telah menguasai ilmu-ilmu silat tinggi yang amat aneh, namun dengan latihan-latihan siulian dan penghimpunan tenaga sakti yang amat kuat, jauh lebih kuat daripada sebelum dia tekun belajar di dalam guha itu!
Berbedalah pemuda bangsawan ini dengan keadaannya beberapa bulan yang lalu ketika akhirnya dia mengambil keputuon untuk keluar dari tempat pertapaannya itu, dengan wajah yang agak pucat karena banyak berpuasa, akan tetapi dengan sepasang mata yang mencorong aneh penuh kewibawaan, kekuatan!
Berjilid-
Jilid kitab salinan dari tiga buah kitab itu dikempitnya dan dia lalu mencari-cari dengan matanya, karena dia ingin menemui suhengnya Ouwyang Bu Sek.
Namun sunyi sekali di sekitar puncak Bukit Tai-yun-san itu.
Guha-guha yang banyak berjajar di tempat itu, seperti mulut ternganga yang hitam gelap, atau seperti sarang lebah besar, tidak menampakkan kehidupan sama sekali.
Sunyi dan mati.
Han Houw menggunakan ta-ngannya melindungi kedua matanya dari sinar matahari yang menyilaukan.
Setelah terlalu lama berada di dalam guha yang gelap, maka matanya tidak biasa menghadapi cahaya kemilauan yang amat terang itu sehingga menjadi silau.
Dengan mata setengah terpejam dia meneliti ke seluruh penjuru.
Tidak nampak bayangan suhengnya.
Han Houw merasa jengkel.
Tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya ke kiri, tangan kirinya menghantam, otomatis dia mengeluarkan jurus yang telah dilatihnya di dalam guha.
"Cuiiittt...!"
Angin yang keluar dari tangan kirinya itu hebat bukan main, sampai dia sendiri terkejut mendengar suara bercuit nyaring itu.
"Byarrrr...!"
Batu besar yang berada di sebelah kirinya ambyar dan hancur lebur terkena pukulannya yang ampuh itu.
Debu beterbangan dan Han Houw memandang dengan mata terbelalak, namun wajahnya berseri dan mulutnya tersenyum.
Bukan main girangnya.
Dia lalu bersilat, mengeluarkan jurus-jurus yang selama ini dilatihnya, dan akibatnya hebat bukan main.
Bukan hanya terdengar suara bercuitan nyaring, akan tetapi juga angin menyambar-nyambar, menggerakkan daun-daun pohon yang jauh, dan beberapa batang pohon sebesar orang, batu-batu sebesar kerbau, tumbang dan pecah terkena hantaman kedua tangannya yang mempergunakan tenaga dahsyat itu.
Makin tebal debu beterbangan di tempat sunyi itu.
"Desss...!"
Sebongkah batu sebesar kerbau bunting ditendangnya, dan batu besar itu terlempar sampai jauh kemudian terbanting dan menggelundung turun ke dalam jurang, sampai lama sunyi ketika batu ini meluncur ke bawah, kemudian terdengar suara keras sekali di bawah jurang ketika batu itu menimpa dasar jurang.
Suara keras ini disusul gema suara panjang, seolah-olah setan penjaga gunung menjadi marah oleh gangguan manusia itu.
Han Houw merasa girang dan bangga bukan main, dia lalu mempergunakan ilmunya meringankan tubuh, mengerahkan tenaga yang selama ini dihimpunnya dalam samadhi menurut petunjuk ilmu-ilmu dalam kitab dan tubuhnya melesat dengan cepatnya ke depan.
Han Houw terus berlari cepat ke arah puncak gunung yang tertinggi, kemudian dia sudah berdiri di atas batu besar di puncak gunung itu, dengan penuh kebanggaan dan dengan dada dibusungkan dia memandang jauh ke bawah.
Dia merasa seolah-olah telah menjadi seorang raja besar, atau menjadi dewa yang berkuasa penuh di gunung itu sedang memandang ke bawah, ke dunia yang akan berlutut di depan kakinya!
Dia membayangkan betapa dia telah menjadi jagoan nomor satu di dunia ini dan seluruh dunia kang-ouw akan menyembahnya, seluruh dunia kang-ouw yang dianggap sebagai datuk-datuk persilatan, baik dari golongan hitam maupun putih, berlutut menyembahnya sebagai jagoan nomor satu!
Bangga bukan main rasa hatinya, merasa seolah-olah dia menjadi seekor naga sakti yang beterbangan di atas bumi yang penuh dengan orang-orang yang kepandaiannya jauh berada di bawahnya!
Akan tetapi dia harus lebih dulu membuktikan keunggulannya, dan dia akan menghidapi setiap orang yang dianggap terpandai di dunia ini!
Tiba-tiba dia tertawa bergelak, wajahnya yang tampan dan agak pucat itu menentang langit, kedua tangannya dikepal dan kedua kakinya terpentang lebar di atas batu itu.
"Ha-ha-ha-ha! Sin Liong, aku akan membuktikan bahwa engkaupun tidak akan mampu menandingiku! Ha-ha-ha-ha!"
Suara ketawanya mengandung kekuatan khi-kang yang amat hebat sehingga bergema di bawah puncak.
Mengerikan sekali pada saat itu wajah yang tampan ini, yang agak pucat dengan sepasang mata mencorong liar, Seperti bukan mata orang waras lagi!
Dia sudah memakai topinya, topi bulu yang indah, dan bulu burung penghias topinya itu bergerak-gerak tertiup angin.
Tiba-tiba wajah yang berseri itu nampak berubah.
Matanya menjadi liar, alisnya yang tebal hitam itu berkerut dan bergerak-gerak, mulutnya yang manis itu cemberut dan dia menoleh ke belakang.
Han Houw teringat akan tiga buah kitab itu!
Tiga buah kitab masih berada di tangan Ouwyang Bu Sek!
Padahal, seluruh ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu-ilmu yang terkandung dalam tiga buah kitab itu.
Selama ini dia hanya membawa kitab-kitab terjemahan dari tiga buah kitab aselinya.
Ini berarti bahwa seluruh kepandaiannya berada di tangan suhengnya!
Kalau ada orang lain yang kelak mempelajari ilmu-ilmu dari kitab itu, berarti kepandaiannya dapat ditandingi lain orang!
Dia harus merampas kitab-kitab itu, dan menghancurkannya agar tidak ada orang lain yang akan dapat mengetahui rahasia dari ilmu-ilmunya.
Teringat ini, dia lalu mengambil kitab-kitab terjemahan yang tadi dibawanya lari ke puncak gunung itu, dan satu demi satu kitab-kitab itu dicenkeramnya dengan kedua tangan dan dengan pengerahan sedikit tenaga saja kitab-kitab itu robek-robek dan remuk!
Pecahan-pecahan kecil diterbangkan angin ketika Han Houw melemparkan remukan kitab itu ke udara, tersebar ke mana-mana dan andaikata ada orang menemukan secuwil robekan, tak mungkin dia dapat membacanya.
Setelah mengikuti cuwilan-cuwilan kertas terakhir dengan pandang matanya dan merasa puas, Han Houw lalu melompat turun dari batu itu dan berlari seperti terbang cepatnya menuruni puncak tertinggi itu untuk kembali ke puncak di mana suhengnya tinggal.
"Suheng...!"
Han Houw berteriak dan suaranya melengking tinggi, penuh getaran, disambut oleh gema suara di empat penjuru.
"Suheng Ouwyang Bu Sek...!"
Untuk kedua kalinya suaranya mendatangkan gelombang udara yang besar dan mencapai tempat jauh sekali.
Tak lama kemudian, sebelum gelombang suara itu habis, terdengar jawaban dari jauh, namun suara itu tordengar dekat sekali.
"Aku datang, sute...!"
Han Houw merasa girang karena dia mengenal suara kakek cebol itu.
Dia lalu menanti sambil berdiri tegak dan memasang wajah gelisah.
Tak lama kemudian, berbareng dengan menyambarnya angin, muncullah kakek cebol lucu itu di depan Han Houw.
Ouwyang Bu Sek sejenak memandang sutenya, melihat wajah yang agak pucat itu diam-diam dia terkejut dan kagum, karena dari wajah agak pucat kehijauan itu dia sudah dapat melihat adanya tenaga mujijat di dalam diri sutenya ini.
Maka sambil tersenyum menyeringai sehingga memperlihatkan dua buah gigi besar di bagian atas mulutnya, dia bertanya.
"Bagaimana, sute? Engkau sudah berhasil...?"
Han Houw adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.
Dia maklum bahwa suhengnya ini bukan seorang bodoh dan sudah memiliki ilmu yang tinggi sekali sehingga tidak mungkin dapat membohonginya dengan mengatakan bahwa dia tidak berhasil.
Maka dia menarik napas panjang dan berkata.
"Dengan petunjuk suhu yang mulia, aku telah berhasil, suheng. Akan tetapi ada beberapa bagian yang masih memusingkan aku, dan aku ingin sekali melihat catatan dalam kitab aselinya karena aku khawatir kalau-kalau terjemahan itu kurang cocok. Kuharap suheng suka memperlihatkan kitab aselinya sekali lagi kepadaku untuk dapat kuperiksa kembali agar dapat kuatasi kesukaran itu, suheng."
Kakek itu terkekeh girang.
"Aha, dari cahaya di wajahmu dan sinar matamu saja aku sudah melihat perubahan besar atas dirimu, sute. Akan tetapi kalau memang ada kesukaran, sebaiknya sekali lagi meneliti isi kitab, akan tetapi ingat, hanya satu kali lagi saja, sute. Mari kuambilkan..."
"Aku tidak mau membuatmu lelah, suheng. Biarlah aku yang mengamblinya sendiri, katakan saja di mana suheng menyimpan kitab-kitab itu."
"Oho-ho, kalau tidak aku sendiri yang mengambil, siapapun tidak boleh, sute, dan pula terlalu berbahaya untukmu... heh-heh, mari kau ikut..."
Han Houw tidak mau membantah lagi dan dia menggunakan kekuatan batinnya untuk menekan kelegaan dan kegirangan hatinya sehingga pada wajahnya yang tampan itu tidak nampak perubahan sesuatu.
Namun Han Houw terlalu memandang rendah kepada suhengnya itu.
Sedikit kilatan sinar matanya sudah cukup bagi kakek itu untuk menaruh curiga kepada sutenya ini.
Akan tetapi kakek itu tidak berkata apa-apa, melainkan menyeringai dan berlari terus, cepat sekali dengan langkah-langkah kecil dari dua buah kakinya yang kecil telanjang itu Han Houw mengikuti dari belakang dan dengan girang dia memperoleh kenyataan bahwa dia dapat mengikuti suhengnya itu dengan amat mudahnya, berloncatan dari batu ke batu, melewati jurang-jurang menuju ke sebuah guha yang berada di lereng.
Di depan guha besar sekali, kakek itu berhenti dan berkata.
"Di dalam guha inilah kusembunyikan kitab-kitab itu."
"Biar aku yang mengambilnya, suheng!"
"Ihh, jangan! Berbahaya sekali. Kau tunggu di sini, biar aku yang mengambilnya."
Tanpa menanti jawaban, kakek itu menyelinap masuk ke dalam guha.
Han Houw menanti di luar guha sambil menahan senyum.
Perduli amat dia, malah kebetulan kalau kakek itu yang mengambilkan untuknya, pikirnya.
Tak lama kemudian nampak kakek itu berjalan keluar sambil membawa sebuah peti hitam.
Akan tetapi ketika kakek itu dari tempat gelap memandang wajah sutenya dan melihat sinar mata sutenya, tiba-tiba dia berhenti melangkah dan nampak terkejut.
Pada saat itu, terdengarlah suara orang dari jauh.
"Ouwyang locianpwe, kami datang memenuhi undangan!"
"Celaka, ada orang datang! Kita tunda dulu urusan kita ini!"
Kata kakek itu dan bagaikan setan dia sudah menghilang lagi ke dalam guha yang gelap.
Han Houw membalikkan tubuhnya dengan cepat (Lanjut ke
Jilid 39) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 39 memandang ke arah datangnya suara, akan tetapi belum nampak orang yang datang.
Dia merasa ada angin menyambar dari dalam guha dan cepat dia menoleh.
Kiranya suhengnya sudah berada di sampingnya.
"Dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang sudah datang, mari kita temui mereka lebih dulu!"
Kata Ouwyang Bu Sek.
Mendengar disebutnya dua orang ini, Han Houw terkejut dan wajahnya berseri karena dia teringat Lie Ciauw Si, wanita yang telah menjatuhkan hatinya itu, yang ditemuinya di rumah dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu sebelum dia pergi menemui suhengnya ini beberapa bulan yang telah lalu.
Maka tanpa banyak cakap dia mengikuti suhengnya menuju kembali ke puncak, ke tempat pertapaan suhengnya, di mana banyak terdapat guha-guha itu.
Mereka tidak menanti lama karena kembali terdengar suara, kini lebih dekat lagi dari tempat itu.
"Ouwyang locianpwe, kami dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang telah menghadap!"
Ouwyang Bu Sek lalu membuka mulutnya yang lebar.
"Aku telah menanti di sini, harap ji-wi pangcu naik saja dan jangan sungkan-sungkan!"
Dari bawah puncak nampaklah bayangan dua orang berlari naik, dan dari gerakan mereka saja mudah diketahui bahwa kedua orang itu memiliki kepandaian yang lumayan dan setelah dekat dengan Han Houw dapat mengenal dua orang itu.
Mereka adalah Sin-ciang Gu Kok Ban dan Tiat-thouw Tong Siok, Dua pimpinan dari perkumpulan Sin-ciang Tiat-thouw-pang di kota Yen-ping.
Ketika dua orang gagah itu melihat Han Houw berada di situ, berdiri di samping Ouwyang Bu Sek, mereka terkejut, heran akan tetapi juga girang.
Cepat mereka itu memberi hormat kepada pangeran yang dikenalnya baik itu.
Akan tetapi kedua orang inipun merasa khawatir juga karena mereka teringat bahwa betapapun baiknya, pangeran ini adalah adik Kaisar, dan mereka berdua ingat bahwa mereka telah melakukan kesalahan terhadap kerajaan dengan melindungi dan menyembunyikan empat orang pendekar Cin-ling-pai yang menjadi buronan.
Melihat dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang yang gagah perkasa itu berlutut di depannya, Han Houw tersenyum dan mengangguk-angguk.
Kemudian, dia menoleh kepada Ouwyang Bu Sek sambil berkata.
"Kalau suheng ada urusan dengan mereka, silakan."
Sejak tadi Ouwyang Bu Sek sudah melotot memandang kepada dua orang yang berlutut itu, kemudian dia membentak.
"Kalian berdua berdirilah!"
Dua orang ketua itu lalu bangkit berdiri dengan sikap hormat, kemudian Sin-ciang Gu Kok Ban berkata.
"Semalam locianpwe telah mengundang kami berdua untuk datang ke sini, nah, kami telah datang menghadap, tidak tahu ada urusan apakah locianpwe memanggil kami?"
Suara Ouwyang Bu Sek terdengar bengis ketika dia membentak.
"Ji-wi pangcu adalah orang-orang gagah dan Sin-ciang Tiat-thouw-pang terkenal sejak dahulu sebagai perkumpulan orang gagah, maka harap suka bersikap jujur dan tidak membohong!"
Dua orang setengah tua yang gagah perkasa itu saling pandang, kemudian Tiat-thouw Tong Siok yang bertubuh tinggi besar, kepala botak dan muka bopeng, menggerakkan sebatang toya besinya yang berat itu sambil menegakkan kepalanya, menjawab dengan suaranya yang besar.
"Ouwyang locianpwe harap jangan memandang rendah kepada kami. Belum pernah kami membohong, apalagi bersikap tidak jujur!"
"Bagus, bagus! Nah, kalau begitu lekas katakan ke mana larinya Yap Kun Liong dan Cia Bun Houw bersama isteri-isteri mereka?"
Seketika pucatlah wajah dua orang ketua itu.
Mereka menatap wajah Ouwyang Bu Sek dan sejenak mereka tidak mampu menjawab.
"Kami... kami tidak tahu..."
Akhirnya Sin-ciang Gu Kok Ban berkata.
"Ha-ha-ha, berbulan-bulan mereka tinggal di sarang Sin-ciang Tiat-thouw-pang, dan kini kalian menyatakan tidak tahu di mana adanya mereka. Aha, sejak kapankah Sin-ciang Tiat-thouw-pang menjadi pelindung para pemberontak buronan?"
Kakek itu berkata mengejek.
Dua orang itu terkejut dan keduanya otomatis memandang kepada Pangeran Ceng Han Houw.
Pangeran muda itupun memandang kepada mereka dengan sinar mata yang dimikian tajam mencorong sehingga amat menyeramkan.
Maka kini jawaban yang keluar dari mulut Gu Kok Ban bukan ditujukan kepada Ouwyang Bu Sek, melainkan kepada sang pangeran itu.
"Tidak, mereka bukan pemberontak buronan. Bagi kami mereka adalah orang-orang gagah perkasa, pendekar-pendekar budiman dari Cin-ling-pai!"
"Hemm, dan sejak kapan kalian bersahabat dengan orang-orang Cin-ling-pai?"
Kakek itu mendesak dengan suara mengandung kemarahan. Kini Tiat-thouw Tong Siok yang menjawab.
"Ouwyang locianpwe, kami bersahabat dengan orang-orang gagah di dunia kang-ouw, siapakah yang boleh mengatur dan menentukan? Apa salahnya kalau kami bersahabat dengan mereka?"
Mata yang lebar itu makin terbelalak.
"Hayo jawab, sejak kapan kalian bersahabat dengan orang-orang Cin-ling-pai?"
Ouwyang Bu Sek mengulang pertanyaannya, kini suaranya terdengar lambat-lambat penuh ancaman.
Sin-ciang Gu Kok Ban adalah seorang yang cerdik.
Dalam saat terdesak itu dia telah memperoleh akal, maka dengan wajah terang dia lalu menjawab.
"Ouwyang locianpwe, ketahuilah bahwa kami menganggap keluarga Cin-ling-pai sebagai sahabat-sahabat baik semenjak kami menerima pertolongan dari nona pendekar Lie Ciauw Si, cucu dari mendiang ketua Cin-ling-pai. Di antara empat orang itu, nyonya Yap Kun Liong adalah ibu kandung nona Lie Ciauw Si! Setelah kami menerima budi Lie-lihiap yang menyelamatkan kami tentu saja kami menganggap keluarganya sebagai sahabat-sahabat kami."
Tentu saja ucapan itu ditujukan kepada Pangeran Ceng Han Houw.
Ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang ini tentu saja dapat menduga bahwa ada hubungan cinta kasih mesra antara pangeran itu dengan Lie Ciauw Si, maka dia sengaja menyinggung-nyinggung nama nona itu di depan sang pangeran, Dan, sepasang matanya yang berpengalaman itu sudah dapat melihat perubahan pada wajah pangeran itu ketika dia menyebut nama Lie Ciauw Si.
Akan tetapi, Ouwyang Bu Sek membanting kakinya yang telanjang.
"Kalian bersahabat dan melindungi orang-orang Cin-ling-pai! Sebaliknya, aku memusuhi orang-orang Cin-ling-pai, mereka semua itu adalah musuh-musuh besarku! Dan karena kalian melindungi musuh-musuhku, berarti kalian juga menjadi musuhku!"
"Ouwyang locianpwe..."
"Hayo cepat katakan, di mana adanya keluarga Cin-ling-pai itu sekarang?"
"Kami tidak tahu, locianpwe, bahkan andaikata kami tahu juga, kami tidak mengatakan kepada siapapun juga. Kami bukanlah pengkhianat-pengkhianat yang suka membikin celaka orang-orang gagah, apalagi kami telah berhutang budi. Lebih baik mati daripada mengkhianati mereka!"
Jawab Gu Kok Ban dengan sikap gagah. Kakek yang cebol seperti kanak-kanak itu berjingkrak marah.
"Setan! Kalau begitu kalian sudah bosan hidup!"
Kakek itu melangkah maju dengan sikap mengancam dan dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu tentu saja sudah siap-siap untuk membela diri.
Biarpun mereka maklum bahwa mereka berdua bukan tandingan kakek Ouwyang Bu Sek yang mereka tahu amat lihai itu, namun tentu saja mereka tidak mau mati konyol begitu saja tanpa melawan.
Sin-ciang Gu Kok Ban sudah melolos siang-kiam dari sarung pedangnya, melintangkan sepasang pedang itu di depan dada, sedangkan Tiat-thouw Tong Siok juga sudah melintangkan toya besinya dengan sikap gagah.
"Bagus, ha-ha-ha, memang aku ingin melihat kalian melawan, aku tidak suka membunuh orang yang tidak melawan!"
Kakek cebol itu tertawa dan tiba-tiba tubuhnya sudah menerjang ke depan.
Tiat-thouw Tong Siok memapaki tubuh kakek cebol ini dengan toya besinya yang dihantamkan ke arah kepala yang besar itu.
Pukulan toyanya mendatangkan angin dahsyat dan jangankan hanya kepala orang, biar batu gunung yang keraspun akan hancur tertimpa toya besi yang digerakkan dengan kekuatan gajah itu.
Namun, kakek cebol itu sama sekali tidak mengelak atau menangkis, dan agaknya memang sengaja menerima hantaman toya itu dengan kepalanya yang besar den botak kelimis.
"Takkkk!"
Toya besi itu terpental, seolah-olah mengenai bola baja yang jauh lebih keras daripada toya itu!
Dan si cebol itu hanya terkekeh memperlihatkan mulutnya yang ompong dan dua buah giginya di bagian atas.
Tong Siok terkejut dan juga penasaran, toyanya diputar cepat dan mengirim serangan bertubi-tubi ke arah tubuh lawan.
Terdengar suara bak-bik-buk seperti orang memukuli kasur yang dijemur ketika beberapa kali toya itu menghantam ke tubuh Ouwyang Bu Sek, akan tetapi kakek itu enak-enak saja dan setiap hantaman toya selalu membuat toya itu sendiri terpental!
"Heh-heh, terima kasih untuk pijatan-pijaten itu, memang tubuhku beberapa hari ini pegal-pegal minta dipijati!"
Ouwyang Bu Sek berkata.
Pada saat toya itu terpental, Sin-ciang Gu Kok Ban sudah menerjang dengan siang-kiamnya.
Nampak sinar berkilat ketika sepasang pedang itu menggunting ke arah leher dan pinggang.
"Ehh... ohhh... pedangmu bisa merusak pakaianku!"
Ouwyang Bu Sek berseru, dan tiba-tiba tubuhhya mencelat ke atas terbebas dari guntingan sepasang pedang itu, kemudian dari atas dia menukik dengan kepala di bawah dan dua kali dia membuang ludah.
"Cuhh! Cuhhh!"
Dua sinar putih menyambar ke bawah cepat sekali.
Biarpun Sin-ciang Gu Kok Ban sudah mengelak, tetap saja pundaknya terkena ludah dan bajunya berlubang dan kulit pundaknya terasa nyeri sekali karena lecet dihantam air ludah itu!
Hal ini tentu saja mengejutkan Gu Kok Ban yang cepat memutar sepasang pedangnya dibantu oleh Tong Siok yang menggerakkan toya besinya.
Terjadilah perkelahian yang amat hebat dan seru, akan tetapi juga lucu.
Dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu bukanlah orang-orang sembarangan.
Nama mereka di dunia kang-ouw sudah amat terkenal dan keduanya merupakan orang-orang pandai yang ditakuti karena memang mereka telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Namun, kali ini mereka berdua merasa dipermainkan oleh Ouwyang Bu Sek!
Biarpun keduanya memainkan senjata-senjata andalan mereka dan mengeroyok kakek cebol itu, namun si kakek cebol sama sekali tidak pernah terdesak, bahkan tertawa-tawa sambil mengelak ke sana-sini, kadang-kadang berloncatan seperti kera menari-nari, kadang-kadang menggelinding dan bergulingan ke sana-sini, kemudian meloncat dan membalas dengan tangkisan atau tamparan-tamparan yang membuat dua orang lawan itu repot karena setiap tangkisan tentu membuat senjata mereka terpental dan setlap tamparan harus mereka elakkan karena tidak mungkin ditangkis tanpa membahayakan diri mereka!
Setelah lewat lima puluh jurus yang penuh dengan main-main di fihak Ouwyang Bu Sek, tiba-tiba kakek itu meloncat jauh ke belakang sambil berkata.
"Nah, cukuplah bagi kalian sehingga kalian akan mati sebagai orang-orang gagah yang mempertahankan diri! Bersiaplah untuk mampus!"
Tiba-tiba tubuh pendek kecil itu lenyap berubah menjadi bayangan yang cepat bukan main.
Dua orang ketua itu cepat menyambut bayangan ini dengan senjata mereka.
"Plakkk! Wuuuttt... cring-cringgg!"
Tahu-tahu toya besi itu sudah dirampas, demikian pula sepasang siang-kiam itu!
Dengan lagak seperti anak kecil main-main, Ouwyang Bu Sek saling mengadukan kedua pedang itu.
Terdengar suara nyaring dan sepasang pedang itu patah menjadi empat potong dan dilemparkan ke arah kaki Gu Kok Ban.
Sedangkan toya besi itu dia belit-belitkan ke lengan kirinya sampai melingkar-lingkar seperti ular, kemudian dilemparkannya pula di atas tanah, depan kaki Tong Siok.
Kakek cebol itu lalu menyeringai, memandang mereka berdua yang berdiri dengan muka pucat.
"Heh-heh, kalian masih belum mau memberi tahu di mana adanya orang-orang Cin-ling-pai itu?"
Tanya Si Cebol yang amat lihai ini.
Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian terdengar Gu Kok Ban berkata dengan tarikan napas panjang.
"Kami sudah kalah, mau bunuh lakukanlah!"
"Kami lebih baik mati daripada mengkhianati mereka!"
Sambung Tong Siok.
Biarpun mereka sudah merasa kalah, namun keduanya masih memasang kuda-kuda dan siap untuk membela diri sampai napas terakhir.
"Hemm, tolol kalian! Kalau tidak mengingat kegagahan kalian, apakah sekarang ini kalian belum menjadi bangkai? Kalian masih berkeras, terpaksa aku orang tua minta kalian yang muda-muda mendahului aku untuk mati!"
Ouwyang Bu Sek sudah mengepal kedua tinjunya dan alisnya berkerut, sikapnya mengancam.
"Tidak ada pilihan lain bagi kami!"
Kata Gu Kok Ban dengan sikap gagah.
"Keparat, kalau begitu mampuslah!"
Kembali tubuh kakek itu menerjang dengan cepat bukan main.
Gu Kok Ban dan Tong Siok sudah siap-siap untuk membela diri mati-matian, akan tetapi tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan tubuh kakek cebol itu terhenti di tengah-tengah, bahkan terpental kembali ke belakang karena dorongan tangan Han Houw yang sudah menghadang.
"Suheng, jangan bunuh mereka!"
Teriak pemuda ini sambil berdiri di antara mereka, bertolak pinggang menghadapi kakek cebol itu.
Sejenak Ouwyang Bu Sek memandang terbelalak kepada sutenya itu.
Sutenya itu telah berani menentangnya, bahkan tadi mendorongnya sehingga dia terjengkang ke belakang!
Hampir dia tidak dapat percaya akan hal ini!
Pangeran itu yang telah diterimanya sebagai sute, yang telah dibimbingnya dengan susah payah untuk dapat menguasai ilmu-ilmu tinggi dari Bu Beng Hud-couw, kini berani mencampuri urusannya!
"Sute!
Biarpun engkau seorang pangeran, engkau tidak boleh mencampuri urusan pribadiku!"
Bentaknya dengan penuh rasa penasaran melihat sikap sutenya yang berdiri tegak dan tenang penuh keangkuhan itu.
"Bukan urusan pribadimu lagi, suheng!"
Jawab Han Houw dengan tenang dan tegas, sikapnya penuh wibawa dan sepasang matanya mencorong, mengeluarkan sinar aneh yang bahkan Ouwyang Bu Sek sendiri menjadi terkejut melihatnya.
"Aku adalah seorang pangeran, maka tidak mungkin aku membiarkan saja rakyatku dibunuh oleh siapapun, termasuk engkau!"
"Eh, sute...!"
Ouwyang Bu Sek hampir tidak percaya sutenya akan berani menentangnya, kemudian dia melanjutkan.
"Ingatlah, justeru karena engkau pangeran maka engkau harus tahu bahwa musuh-musuhku, orang-orang Cin-ling-pai itu, adalah musuh-musuhmu juga, musuh negara, pemberontak-pemberontak buronan!"
"Diam! Tentang pendirianku dalam menilai seseorang, tidak perlu dengan nasihatmu!"
"Sute! Bagaimana engkau berani bicara seperti itu terhadap aku? Aku suhengmu, juga aku pembimbingmu..."
"Engkau seorang kakek tua bangka, dan aku pangeranmu, engkau harus taat kepadaku!"
Bentak Han Houw.
Kini marahlah Ouwyang Bu Sek.
Selamanya belum pernah dia dihina orang seperti itu, apalagi yang menghinanya itu adalah sutenya, bahkan seperti juga muridnya sendiri!
"Keparat, engkau murid murtad!
Hayo kembalikan semua ilmu yang telah kau pelajari dariku!
Aku harus membuntungi kedua tanganmu agar engkau tak dapat mempergunakan ilmu-ilmu itu!"
Bentak Ouwyang Bu Sek dan seperti seekor katak melompat, dia telah menyerang Han Houw.
Hebat bukan main serangan Ouwyang Bu Sek ini!
Dari kedua tangannya yang dipentang itu menyambar hawa pukulan yang amat dahsyat dan angin pukulan berputar menggerakkan daun-daun pohon, bahkan banyak daun pohon yang rontok, Sedangkan dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu terpaksa harus mundur karena mereka merasakan sambaran angin yang dingin dan seperti dapat mengiris kulit mereka!
Angin yang berputar ini mengelilingi Han Houw seolah-olah menutup semua jalan keluar pemuda ini yang dipaksa harus menghadapi serangan langsung dari kakek yang sakti itu.
Han Houw terkejut bukan main.
Dia terlalu mengandalkan kepandaiannya sendiri setelah dia berhasil menguasai ilmu-ilmu dari dalam kitab-kitab itu dan menyaksikan kedahsyatan serangan kakek itu, dia merasa ngeri juga.
Cepat dia mempergunakan gin-kangnya untuk mengelak ke kiri, akan tetapi "pagar"
Hawa pukulan itu menahannya dan terpaksa dia lalu menggerakkan kedua tangannyap mendorong ke depan menyambut kedua tangan kakek itu yang sudah bergerak menghantam ke depan.
"Dess...!"
Pertemuan dua tenaga dahsyat ini membuat tubuh Ouwyang Bu Sek terpelanting dan tubuh Han Houw terlempar dan terjengkang ke belakang sampai beberapa kaki jauhnya!
Dada pemuda itu terasa sesak, akan tetapi dia dapat cepat melompat bangun lagi, dengan kepala agak pening dia menghadapi kakek yang juga terbelalak karena tidak menyangka bahwa pemuda itu selain mampu menahan serangannya, Bahkan telah membuatnya terpelanting, tanda bahwa pemuda ltu telah memperoleh tenaga dahsyat dan tidak kalah kuat olehnya!
Tahulah dia bahwa pemuda ini sudah berhasil pula, seperti Sin Liong, mewarisi ilmu sakti dari Bu Beng Hud-couw.
Dia merasa menyesal bukan main.
Menyesal mengapa dia mempercaya pemuda bangsawan ini yang baru saja selesai belajar sudah berani menentangnya!
Kemarahan membuat wajah kakek itu menjadi merah sekali seperti udang direbus, dan sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar mengerikan, wajahnya menjadi berubah menyeramkan.
Biasanya kakek ini tertawa-tawa dengan lucu jenaka, menganggap segala peristiwa seperti lelucon saja, akan tetapi sekali ini dia benar-benar marah dan sinar matanya mengandung ancaman maut bagi Han Houw.
"Sekarang aku akan membunuhmu!"
Bentaknya dan suaranya yang agak parau saking marahnya itu mengandung getaran yang membuat dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang menggigil.
Dua orang ketua yang gagah perkasa ini masih berdiri di situ seperti patung, tidak kuasa untuk bergerak karena merasa tegang dan khawatir terhadap pangeran itu, juga mereka merasa terheran-heran bagaimana pangeran ini tiba-tiba menjadi sute kakek sakti itu, dan kini bahkan berani menentang suhengnya.
Mereka merasa bahwa sepatutnya mereka membantu pangeran itu untuk mengeroyok Ouwyang Bu Sek, akan tetapi karena pertentangan itu adalah urusan antara suheng dan sute, berarti urusan dalam kekeluargaan perguruan mereka, tentu saja mereka tidak berani lancang mencampuri, Apalagi mereka tahu sekarang bahwa kakek itu luar biasa lihainya dan bahwa kalau tadi dikehendaki, dalam beberapa jurus saja mereka tentu sudah roboh dan tewas, maka bantuan merekapun tidak akan banyak gunanya.
Oleh karena itu, mereka kini hanya berdiri memandang saja dengan hati penuh ketegangan.
Dapat dibayangkan betapa ngeri rasa hati mereka ketika mereka melihat kakek cebol itu telah mengangkat sebongkah batu gunung yang besar sekali, kemudian dengan gerakan dahsyat kakek itu sudah menerjang maju dan menimpakan batu sebesar gajah itu ke arah kepala sang pangeran yang masih berdiri dengan sikap tenang.
Mereka terbelalak da membayangkan betapa tubuh pangeran itu akan remuk-remuk, karena selain batu itu besar dan amat berat, juga ditambah lagi dengan tenaga kakek itu yang amat kuat.
"Blarrrrr...!"
Debu mengepul tebal sehingga menutupi pandangan mata.
Setelah debu lenyap, nampak oleh kedua orang ketua itu bahwa batu besar itu hancur berantakan, akan tetapi sang pangeran masih berdiri tenang seperti tadi!
Ternyata hantaman batu besar itu telah disambut dengan pukulan kedua tangannya yang menghancurkan batu!
Hampir saja kedua orang itu bersorak saking gembira dan kagumnya.
Mereka tahu bahwa pangeran ini memang seorang pemuda yang lihai, akan tetapi sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa pemuda itu ternyata adalah sute dari Ouwyang Bu Sek dan memiliki kehebatan seperti itu!
Kini Ouwyang Bu Sek menjadi semakin marah.
Banyak batu-batu dilontarkan, ditendang ke arah sutenya, namun dengan sikap tenang Han Houw memapaki semua serangan batu-batu besar itu dengan tendangan atau hantaman kedua tangannya sehingga batu-batu itu ada yang pecah berantakan ada pula yang terlempar kembali ke arah penyerangnya.
Kemudian dengan lengking parau yang menggetarkan, Ouwyang Bu Sek menerjang ke depan, mulai menyerang dengan pukulan-pukulan kedua tangannya yang pendek namun yang mendatangkan desir angin bercuitan mengerikan.
Han Houw juga bergerak dan pemuda ini mainkan ilmu sliat yang aneh, dengan langkah-langkah panjang dan kedua kaki ringan sekali karena dia hanya menggunakan ujung-ujung jarinya untuk melangkah, dengan tumit terangkat, seperti seorang penari.
Gerakan-gerakannya aneh, namun selalu dapat membawa tubuhnya terhindar dari pukulan-pukulan kakek itu, bahkan diapun lalu membalas dengan pukulan-pukulan yang berupa tamparan-tamparan dengan lengan dilengkungkan.
"Buk! Bukk!"
Dua kali kedua tangan pemuda itu tepat mengenai sasaran, pukulan pertama mengenai lambung dan pukulan kedua mengenai dada, akan tetapi kakek itu agaknya sama sekali tidak merasakan pukulan itu!
Padahal, Han Houw telah mengerahkan tenaganya memukul tadi.
Tentu saja Han Houw terkejut bukan main dan barulah dia tahu bahwa suhengnya itu memiliki ilmu kekebalan yang amat luar biasa dan dapat diandalkan.
Ouwyang Bu Sek malah tertawa mengerikan ketika menerima pukulan-pukulan itu dan dia menubruk ke depan.
Han Houw yang agak terperanjat melihat pukulannya tidak terasa oleh lawan, menjadi gugup sehingga kurang cepat bergerak, maka pundaknya kena disambar.
Hanya keserempet saja, namun akibatnya membuat dia terpelanting dan pundaknya terasa nyeri bukan main, sampai menyusup ke tulang-tulang rasa nyeri itu!
Namun, dia sudah dapat meloncat memperbaiki kedudukannya sehingga desakan kakek itu dapat dipatahkannya.
Han Houw mainkan ilmu silat yang dilatihnya dari kitab pertama, ilmu silat aneh yang dimainkan dengan kedua kaki berdiri di atas jari-jari kaki dengan tumit terangkat, dan karena kitab-kitab itu tidak mempunyai nama, maka Han Houw memilih sendiri dan menamakan ilmu silat ini Hok-liong Sin-ciang (Tangan Sakti Menalukkan Naga), karena dia menganggap dirinya lebih lihai daripada naga!
Dialah Pendekar Lembah Naga, dan teringat akan Sin Liong yang namanya berarti Naga Sakti, maka diapun memilih nama itu untuk ilmu silatnya yang baru, tentu saja dengan maksud agar ilmu ini dapat mengalahkan Sin Liong!
Dari kitab ke dua dia memperoleh ilmu bersamadhi dan melatih pernapasan untuk mengumpulkan tenaga sakti, Dan dari kitab ke tiga dia mendapatkan ilmu yang aneh, yang dimainkan dengan kepala di bawah, dan dia memberi nama Hok-te Sin-kun (Ilmu Silat Membalikkan Bumi) kepada ilmu ini.
Dengan ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang dia sudah menghadapi suhengnya itu selama lima puluh jurus dan ilmu ini ternyata cukup tangguh sehingga dengan ilmu ini dia selalu dapat menghindarkan semua serangan Ouwyang Bu Sek, akan tetapi semua pukulannya yang mengenai tubuh lawan tidak membuat lawannya roboh, bahkan agaknya kakek itu tidak merasakan sama sekali!
Dan dia malah terancam, karena dia tahu bahwa dalam hal tenaga sin-kang, dia masih kalah jauh dan sekali dia terkena pukulan yang tepat, dia akan roboh!
Maka dicarinyalah akal, dan pemuda bangsawan yang cerdik ini tiba-tiba meloncat jauh ke belakang sambil berseru.
"Tua bangka, kalau engkau berani hayo kau kejar aku!"
Ouwyang Bu Sek sudah hampir tidak dapat menahan kemarahannya.
Sampai lima puluh jurus dia tidak mampu merobohkan sutenya ini!
Sungguh hal yang amat mengejutkan dan memalukan, apalagi pertandingan itu ditonton oleh dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang!
Rusaklah nama besarnya, apalagi kalau didengar oleh Lam-hai Sam-lo yang menjadi musuh lamanya, tentu dia akan ditertawakan untuk ketololannya, yaitu selain menerima sute yang durhaka, juga kini malah tidak mampu mengalahkan sutenya sendiri itu!
Maka, begitu pangeran itu melarikan diri, tanpa banyak cakap lagi dia sudah melakukan pengejaran!
Mereka berdua itu bergerak cepat sekali sehingga sebentar saja mereka sudah lenyap dan hanya nampak bayangan mereka berkejaran ke puncak bukit di sebelah barat.
Gu Kok Ban dan Tong Siok saling pandang, menghapus keringat dingin dan mereka itu merasa tertarik sekali, tanpa bicara mereka seperti sudah tahu dan keduanyapun lalu lari mengejar karena mereka ingin sekali melihat bagaimana kesudahan dari pertandingan yang amat seru dan hebat itu.
Ketika dua orang itu tiba di atas puncak di tepi sebuah jurang yang amat dalam, mereka melihat pangeran itu telah bertanding lagi dengan amat seru dan hebatnya melawan kakek cebol itu.
Dua orang ketua itu melongo saking herannya melihat cara pangeran itu bersilat karena kini pangeran itu telah berdiri jungkir balik dengan kepala di bawah dan kedua kakinya di atas!
Kedua kakinya itu melakukan gerakan tendangan dan tangkisan, dibantu oleh kedua tangan dari bawah yang menyerang ke arah kaki dan perut Ouwyang Bu Sek.
Itulah ilmu silat aneh yang diberi nama Hok-te Sin-kun (Silat Sakti Membalikkan Bumi) oleh Han Houw.
Dan memang ilmu ini aneh dan dahsyat bukan main.
Setelah dalam keadaan jungkir balik seperti itu, ternyata tenaga yang keluar dari kaki dan tangan pangeran itu jauh lebih besar daripada tadi sehingga Ouwyang Bu Sek sendiri terkejut karena setiap kali tangannya bertemu dengan kaki pemuda itu, dia merasa tubuhnya tergetar hubat.
Namun, biar dia lebih sering menerima tendangan aneh dari kaki yang berada di atas itu, dengan mengandalkan kekebalannya yang luar biasa, dia selalu dapat menahan diri sehingga tidak sampai terluka, biarpun kini kekuatan aneh dari kedua kaki itu dapat membuatnya terhuyung, bahkan kadang-kadang terpelanting.
Perkelahian itu seru bukan main.
Terdengar kakek tua renta itu sudah terengah-engah karena dia merasa lelah sekali.
Betapapun juga, dia harus mengakui bahwa sutenya ini memiliki ilmu-ilmu aneh dari kitab-kitab yang hanya dia ketahui teorinya belaka, sedangkan dia sama sekali tidak pernah ikut melatihnya sehingga ketika sekarang sutenya mempergunakan ilmu-ilmu itu untuk menyerangnya, dia menjadi repot sekali.
Lebih dari itu, usianya yang amat tua membuat daya tahannya banyak berkurang, terutama sekali napasnya.
Dia sudah mandi keringat dan napasnya memburu sedangkan sutenya itu masih segar dan serangan-serangannya semakin hebat saja.
Akan tetapi, dengan mengandalkan ilmu kekebalannya, kakek itu masih terus dapat mendesak Han Houw dan sudah beberapa kali pemuda ini terkena pukulannya sehingga pemuda itupun menderita luka-luka yang biarpun tidak berbahaya namun cukup membuat gerakannya makin lemah.
Setiap pukulan pemuda itu tidak mendatangkan bahaya bagi kakek yang terlindung kekebalan hebat itu, sebaliknya pukulan kakek itu selalu membuat Han Houw menderita, maka kalau dilanjutkan agaknya Han Houw yang akhirnya akan harus mengakui keunggulan lawan.
Hal inipun diketahui dengan baik oleh pangeran itu sebelum dia melarikan diri ke puncak ini tadi.
Maka pangeran yang cerdik itu sengaja memancing suhengnya sehingga mereka mengadakan pertempuran di tepi jurang yang amat dalam, di mana tadi dia menyebarkan robek-robekan kitab terjemahannya.
Semenjak tadi dia memang sudah mengatur siasat dan tidak cepat-cepat menjalankan siasatnya itu agar kakek itu lengah.
Setelah di tempat ini mereka melakukan perkelahian mendekati seratus jurus lamanya, barulah diam-diam Han Houw menanti kesempatan baik.
Dengan ilmu silat aneh Hok-te Sin-kun, dia masih terus melakukan perlawanan dan diam-diam dia mendesak kakek itu mendekati jurang.
Setelah memperhitungkan dengan matang, tiba-tiba terdengar pemuda itu mengeluarkan seruan lengkingan panjang dan menggetarkan, sehingga dua orang ketua Sin-ciang Tiat-touw-pang yang nonton sambil bersembunyi di balik batu terkejut bukan main dan otomatis mereka menutupi kedua telinga dengan telapak tangan sambil memandang dengan mata terbelalak.
Dan tiba-tiba tubuh yang berjungkir balik dari pangeran itu membuat loncatan kilat ke samping!
Dengan gerakan indah, kakinya meluncur dan selagi tubuhnya masih melayang, kaki kirinya menendang secepat kilat, tepat mengenai dada Ouwyang Bu Sek yang berdiri membelakangi jurang.
"Blukkk!"
Kaki itu mengenai dada sedemikian kerasnya sehingga tubuh kakek itu terjengkang.
"Hukkkk... crotttt...!"
Dari mulut kakek yang terbuka itu menyembur darah segar.
Kakek itu terkejut dan dengan tubuh terjengkang dia menggunakan kakinya yang pendek dan telanjang untuk melangkah mundur dan tentu saja tubuhnya terguling ke belakang karena kakinya menginjak tempat kosong.
Terdengar teriakan mengerikan menyayat hati ketika tubuh kakek cebol itu melayang ke dalam jurang yang luar biasa dalamnya itu, Han Houw cepat lari mendekati tepi jurang dan menjenguk ke bawah.
Dia masih sempat melihat tubuh suhengnya itu sudah terbanting ke dasar jurang, terguling-guling makin ke bawah, lalu diam menelungkup.
Biarpun dari tempat yang tinggi itu tidak dapat dilihat jelas, namun tak dapat disangsikan lagi bahwa tubuh itu tentu telah remuk-remuk terjatuh dari tempat setinggi itu.
Han Houw menarik napas lega dan baru terasa olehnya betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit sebagai akibat hantaman-hantaman yang telah diterimanya dalam perkelahian yang amat seru itu tadi.
"Pangeran, kepandaian paduka sungguh amat hebat mengagumkan!"
"Dan hamba berdua berterima kasih atas pertolongan paduka tadi."
Han Houw membalikkan tubuhnya memandang.
Dua orang ketua itu telah berlutut menghadapnya dengan sikap hormat dan memandang dengan penuh kekaguman.
Sejenak dia merasa bangga sekali.
Memang patut dibanggakan bahwa dia telah berhasil mengalahkan Ouwyang Bu Sek yang dianggapnya sebagai manusia sakti sukar dicari tandingannya, bahkan Lam-hai Sam-lo sendiripun pernah kalah oleh kakek itu.
Akan tetapi tiba-tiba dia mengerutkan alisnya, lalu dia melangkah maju.
"Gu-pangcu dan Tong-pangcu, berdirilah, aku ingin bertanya kepada kalian."
Dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu bangkit berdiri dan memandang pangeran itu dengan wajah berseri dan penuh kagum.
Mereka sama sekali tidak mengira, bahkan hampir tidak dapat percaya betapa seorang pemuda bangsawan seperti ini telah berhasil memiliki ilmu kepandaian sehebat itu sehingga mampu mengalahkan seorang datuk persilatan seperti Ouwyang Bu Sek.
Setelah dua orang itu berdiri di depannya, Han Houw lalu bertanya.
"Bagaimana kabarnya dengan nona Lie Ciauw Si? Di manakah dia sekarang?"
Berseri wajah dua orang ketua itu.
Memang mereka sudah dapat menduga apa yang terjadi antara pangeran yang tampan ini dengan pendekar wanita muda yang cantik itu.
"Sudah lama hamba tidak berjumpa dengan Lie-lihiap, pangeran. Akan tetapi yang terakhir hamba mendengar bahwa Lie-lihiap hendak pergi ke kota raja untuk mencari dan menghadap paduka,"
Kata Gu Kok Ban sambil tersenyum. Senang hati Han Houw mendengar ini, kemudian dia bertanya.
"Dan benarkah seperti yang dikatakan oleh Ouwyang Bu Sek bahwa empat orang pendekar Cin-ling-pai bersembunyi di tempat kalian?"
Terkejut hati dua orang itu mendengar pertanyaan ini, akan tetapi ketika mereka memandang wajah pangeran itu, nampak pangeran itu bersikap biasa saja, tidak kelihatan marah sehingga hati mereka menjadi besar kembali.
"Memang benar, pangeran. Untuk beberapa bulan mereka menjadi tamu hamba, karena isteri dari Cia Bun Houw taihiap sedang mengandung dan setelah melahirkan, mereka itu lalu pindah."
"Tidak tahukah kalian bahwa mereka adalah orang-orang yang dianggap pemberontak-pemberontak yang menjadi buruan pemerintah?"
Gu Kok Ban memandang kepada Tong Siok dengan muka pucat, kemudian dia menghadapi pangeran itu sambil berkata cepat.
"Hamba tahu... akan tetapi sesungguhnya mereka itu bukan pemberontak, pangeran. Justeru untuk inilah maka Lie-lihiap pergi ke kota raja untuk menghadap paduka, untuk mohon kebijaksanaan paduka untuk menolong empat orang pendekar itu agar terbebas dari tuduhan memberontak. Mereka itu hanya difitnah, karera semua orang kang-ouwpun tahu belaka betapa semenjak dahulu, semenjak ketua Cin-ling-pai mendiang pendekar sakti Cia Keng Hong, Cin-ling-pai adalah perkumpulan orang-orang gagah yang selalu membantu pemerintah membasmi para pemberontak."
Disebutnya nama Lie Ciauw Si membuat wajah Han Houw kembali nampak berseri sehingga melegakan hati dua orang itu.
Kini dengan halus Han Houw bertanya.
"Sekarang di manakah adanya empat orang pendekar itu?"
Kembali Gu Kok Ban memandang khawatir.
"Pangeran... seorang di antara mereka adalah... ibu kandung dari Lie-lihiap..."
Han Houw mengerutkan alisnya dan berkata tidak sabar.
"Aku tahu, dan akupun bertanya untuk pergi menemui mereka dengan baik-baik dan mengusahakan kebebasan untuk mereka..."
"Ah, terima kasih, pangeran...!"
Mereka berdua berkata dengan girang sekali.
"Katakanlah, di mana adanya mereka kini?"
"Tadinya mereka meninggalkan tempat hamba dan pindah ke dalam sebuah dusun di lereng sebuah bukit, tidak jauh dari tempat kami. Akan tetapi, entah bagaimana, sebulan kemudian ada pasukan menyerbu tempat mereka sehingga mereka itu terpaksa melarikan diri lagi..."
Ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang itu kelihatan berduka.
"Ke mana mereka melarikan diri? Di mana mereka sekarang?"
"Tadinya hamba juga tidak mengetahuinya, pangeran. Akan tetapi dari para penyelidik, yaitu para anggauta yang hamba suruh mencari keterangan, hamba..."
"Suheng...!"
Tiba-tiba terdengar Tong Siok memanggil kakaknya dengan nada suara memperingatkan sehingga Gu Kok Ban tidak berani melanjutkan keterangannya, memandang kepada pangeran itu dengan keraguan yang mulai timbul.
Han Houw mengerutkan alisnya, dan menoleh kepada Tong Siok, sepasang matanya mencorong mengeluarkan sinar berkilat.
"Ji-wi pangcu! Apakah kalian masih tidak percaya kepadaku? Aku telah membunuh suheng sendiri karena dia memusuhi mereka! Aku ingin melindungi ibu kandung nona Lie Ciauw Si!"
Dua orang ketua itu saling pandang, kemudian Gu Kok Ban melanjutkan keterangannya, kini tidak perduli lagi akan pandangan mata sutenya yang masih merasa khawatir itu.
"Menurut keterangan para penyelidik, mereka melarikan diri ke Propinsi Ce-kiang dan tinggal di kota Bun-cou..."
Tiba-tiba sepasang mata Gu Kok Ban terbelalak lebar, mukanya pucat melihat sepasang mata yang mencorong aneh itu dan begitu tangan Han Houw bergerak memukul, Gu Kok Ban yang mencoba menangkis itu masih tidak mampu menghindarkan hantaman itu.
"Desss...!"
Dadanya terpukul dan tubuhnya terlempar ke dalam jurang.
Teriakannya yang menyayat hati bergema sampai lama ketika tubuhnya melayang turun ke bawah seperti yang dialami oleh Ouwyang Bu Sek tadi.
Wajah Tong Siok menjadi pucat sekali, akan tetapi perlahan-lahan kulit mukanya yang bopeng itu berubah merah, matanya mengeluarkan sinar kebencian dan telunjuknya menuding ke arah muka Han Houw.
"Manusia iblis berhati keji! Ternyata kecurigaanku benar, engkau adalah seorang manusia laknat! Bukan hanya membunuh suheng sendiri, akan tetapi juga membunuh suhengku, dan hatimu palsu. Manusia macam engkau ini kelak akan menjadi hantu neraka...!"
Han Houw tersenyum.
"Engkaulah yang akan pergi ke neraka!"
Katanya sambil melangkah maju hendak memukul.
Akan tetapi Tiat-thouw Tong Siok sudah nekat dan dia sudah mendahului gerakan pangeran itu.
Sambil berteriak dahsyat dia lalu menerjang ke depan dengan kepala lebih dulu, seperti seekor lembu jantan yang marah menyerang harimau.
Serudukan kepalanya ini tidak boleh dipandang ringan, karena ini merupakan serangan andalan ketua nomor dua dari Sin-ciang Tiat-thouw-pang ini.
Julukannya adalah Tiat-thouw atau Si Kepala Besi dan serudukan kepalanya itu dapat menghancurkan batu!
Namun, Han Houw yang percaya akan kepandaian dan kekuatannya sendiri tidak menjadi gentar, bahkan tidak mengelak, melainkan berdiri tegak sambil tersenyum mengejek, kemudian tangan kirinya meluncur ke depan, menyambut kepala botak yang menyeruduk ke arah perutnya itu.
"Desss...!"
Terdengar suara keras seperti benda keras pecah dan tubuh Tiat-thouw Tong Siok itu terlempar ke belakang, langsung melayang turun ke dalam jurang dengan kepala retak-retak sehingga sebelum tubuhnya terbanting ke dasar jurang, dia telah tewas dan tidak terdengar jeritan mengerikan ketika dia terpelanting itu.
Sejenak Pangeran Ceng Han Houw berdiri dan memandang ke bawah jurang.
Dia tidak merasa menyesal telah membunuh tiga orang itu.
Pertama, dia harus membunuh Ouwyang Bu Sek untuk menguasai kitab-kitab peninggalan Bu Beng Hud-couw itu.
Ke dua, dia harus membunuh dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang karena mereka ini telah menyaksikan betapa dia telah membunuh suheng sendiri sehingga kelak mereka dapat menyebar berita yang amat tidak baik untuknya itu ke dunia kang-ouw, dan selain dari itu, dua orang itu telah memperlihatkan sikap tidak setia kepada pemerintah sehingga berani melindungi orang-orang buruan pemerintah.
Mereka itu patut dihukum!
Setelah merasa yakin bahwa tiga tubuh yang rebah di dasar jurang itu telah tewas dan tidak bergerak-gerak lagi, Han Houw lalu membalikkan tubuhhya, meninggalkan puncak bukit itu menuju ke guha di mana Ouwyang Bu Sek menyimpan peti hitam tempat tiga buah kitab yang ingin diambilnya agar jangan sampai terjatuh ke tangan orang lain itu.
Guha yang besar dan gelap itu nampak menyeramkan, seolah-olah di dalamnya terdapat bahaya yang mengintai keselamatan siapa saja yang berani memasukinya.
Namun dengan kepandaiannya yang tinggi, Ceng Han Houw tidak ragu-ragu lagi melangkah masuk dan dengan hati-hati dia menggerakkan kedua kakinya, perlahan-lahan dan berindap-indap penuh kewaspadaan memasuki sebelah dalam yang gelap.
Kalau suhengnya dapat memasuki guha itu untuk mengambil peti hitam, mengapa dia tidak?
Tiba-tiba dia mendengar suara mendesir dari kanan kiri dan secepat kilat dia menggerakkan kedua tangannya ke kanan kiri untuk melindungi diri dan mengerahkan sin-kang di tubuhnya.
Bagaikan bermata, kedua tangannya itu dengan cekatan telah menangkap dua batang anak panah yang menyambar dari kanan kiri dan mengeluarkan suara mendesir tadi!
Kiranya dia telah menginjak alat rahasia yang dipasang sehingga anak panah dari kanan kiri itu meluncur sendiri menyerang siapa saja yang berani masuk guha dan menginjak jebakan yang tidak nampak itu!
Han Houw mendengus dan melemparkan dua batang anak panah itu keluar, kemudian dia melangkah terus dengan beraninya.
Setelah agak dalam, nampak cahaya menembus dari celah terbuka di atas guha.
Remang-remang nampaklah olehnya sebuah peti hitam di sudut ruangan guha itu setelah berbelok ke kiri.
Hatinya girang, namun dia tetap berhati-hali, tidak mau menjadi lengah karena kegirangannya.
Dengan waspada dia melangkah terus mendekati tempat peti itu terletak.
Han Houw lalu menggosok-gosok kedua telapak tangannya.
Kedua telapak tangan itu mengeluarkan hawa panas sampai mengepulkan uap, barulah dia mengambil peti itu dengan kedua tangannya.
Ternyata tidak terjadi sesuatu dan cepat dia membawa peti itu ke luar guha.
Setelah tiba di luar, di tempat yang terang, dia menurunkan peti dan melihat betapa kedua telapak tangannya penuh hangus.
Untung dia tadi telah melindungi kedua telapak tangannya dengan hawa panas dari pengerahan sin-kangnya, kalau tidak tentu kedua telapak tangannya akan terkena racun jahat yang dioles-oleskan pada peti itu.
Kini racun itu menjadi hangus karena hawa panas yang melindungi kedua telapak tangannya.
Setelah membersihkan kedua telapak tangannya, Han Houw lalu membuka tutup peti itu.
"Sssssttt...!"
Sinar merah menyambar dan seekor ular merah telah meloncat keluar dan langsung menyerang ke arah lehernya!
Namun, dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya, dia sudah menyumpit leher ular itu, sekali kerahkan tenaga pada kedua jari itu terdengar suara "krekk"
Dan tulang leher ular itupun patah.
Dia melemparkan bangkai ular yang masih berkelojotan dan melingkar-lingkar, kemudian memandang ke dalam peti yang telah dibukanya.
"Jahanam!"
Dia mengutuk karena ternyata peti sama sekali kosong!
Dia merasa tertipu dan dengan marah dia masuk lagi ke dalam guha, mencari-cari.
Namun guha itu kosong tidak ada apa-apanya lagi.
Dengan hati penasaran Han Houw lalu membuat obor dan memeriksa seluruh bagian dalam guha.
Namun hasilnya nihil, tidak ada apapun di dalam guha itu.
Dia memeriksa peti, menghantamnya sampai berkeping-keping, namun juga selain ular merah yang kini telah mati, peti itu tidak berisi apa-apa lagi.
"Ouwyang Bu Sek tua bangka keparat!"
Dia memaki-maki dan mencari-cari keluar masuk semua guha di tempat itu.
Tetap tidak ada hasilnya.
Tiga buah kitab kuno itu ternyata hilang!
Tentu disembunyikan oleh Ouwyang Bu Sek di suatu tempat, akan tetapi setelah kakek itu tewas, siapa pula yang mengetahui di mana adanya kitab-kitab itu?
Sampai sore dia mencari-cari tanpa hasil dan menjelang senja dia melihat beberapa belas orang menuruni jurang di mana terdapat mayat Ouwyang Bu Sek, Gu Kok Ban dan Tong Siok.
Dari tempat yang tidak nampak oleh mereka, Han Houw mengintai dan mendapat kenyataan bahwa mereka itu adalah para anggauta Sin-ciang Tiat-thouw-pang.
Diam-diam dia tersenyum mendengar kata-kata mereka.
Mereka itu tentu mengira bahwa dua orang ketua mereka telah bertanding melawan Ouwyang Bu Sek dan akibatnya mereka bertiga tewas semua atau mati sampyuh.
Lebih baik begitu, pikirnya dan diam-diam dia meninggalkan puncak pegunungan itu.
Kuil di puncak bukit itu amat besar, dikelilingi pagar tembok tebal yang berlapis-lapis seperti benteng saja kuatnya.
Memang, kuil Siauw-lim-si adalah sebuah kuil yang amat besar dan kokoh kuat lagi kuno sekali.
Kuil Siauw-lim-si amat terkenal semenjak jaman dahulu karena inilah yang menampung para pendeta Buddha dari See-thian (India), dan kuil ini pula yang menyebarluaskan pelajaran Agama Buddha ke seluruh Tiongkok.
Selain sebagai tempat perkumpulannya para tokoh Buddha dan menjadi pusat keagamaan itu, juga Siauw-lim-si mempunyai nama yang amat terkenal sebagai perkumpulan agama yang menghasilkan banyak sekali ahli-ahli silat yang pandai, dan nama Siauw-lim-pai (partai Siauw-lim) amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai gudang ilmu silat dan para pendekar Siauw-lim-pai memiliki ilmu silat murni yang amat kuat dan disegani.
Bahkan sumber dari segala ilmu silat, menurut dongeng dari mulut ke mulut, berasal dari kuil Siauw-lim-si, Yaitu ketika Tat Mo Couwsu, seorang pendeta Agama Buddha menciptakan gerakan-gerakan yang semula hanya ditujukan untuk menyehatkan tubuh namun kemudian berkembang menjadi gerakan-gerakan ilmu bela diri yang amat hebat.
Sumber ilmu menggerakkan tubuh sebagai seni bela diri ini kemudian berkembang luas sekali, Mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan keadaan setempat dan tumbuhlah bermacam-macam ilmu silat yang sebetulnya bersumber satu.
Namun, yang dianggap paling aseli sampai sekarang adalah ilmu silat yang diajarkan oleh Siauw-lim-pai sehingga nama ini selalu didengung-dengungkan sebagai gudangnya ahli silat yang paling kuat.
Memang patutlah Kuil Siauw-lim-si itu kalau dikabarkan sebagai tempat orang-orang pandai.
Bangunannya kuno dan kokoh kuat sehingga menimbulkan suasana keramat dan angker.
Apalagi karena sebagai pusat keagamaan di kuil itu setiap hari diadakan upacara-upacara keagamaan dan hio mengepul terus setiap saat sehingga dari jarak jauh saja sudah tercium bau harum dupa, maka suasana menjadi semakin agung dan mendatangkan perasaan hormat akan sesuatu yang penuh rahasia bagi manusia.
Tidak pernah sunyi kuil besar itu.
Kalau tidak suara orang membaca doa atau membaca ayat-ayat suci dari kitab, tentu ada nyanyi-nyanyian pujian.
Ini di bagian kuilnya.
Sedangkan di bagian belakang atau samping kanan kiri, selalu terdengar bentakan-bentakan orang yang berlatih silat!
Kompleks kuil itu memang luas sekali.
Kuilnya sendiri berada di tengah depan sebagai bangunan induk, akan tetapi di kanan kiri dan belakang terdapat bangunan-bangunan kecil lainnya yang menjadi tempat tinggal para hwesio dan para murid Siauw-lim-pai.
Tidak kurang dari lima puluh orang pendeta dant murid-murid Siauw-lim-pai yang se-tiap hari berada di tempat itu.
Sedangkan murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah keluar dari tempat penggemblengan ini dan tersebar di seluruh negeri berjumlah ratusan, bahkan ribuan orang.
Ada yang mengepalai kuil-kuil kecil, ada yang menjadi pendeta-pendeta pengembara untuk menyebarkan keagamaan, ada pula yang menjadi orang-orang biasa, pedagang, sasterawan, buruh-buruh kasar, petani atau nelayan.
Mereka ini adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang tidak masuk menjadi hwesio dan tidak bertugas mengembangkan agama, melainkan terikat oleh peraturan Siauw-lim-pai yang mengharuskan para murid itu untuk hidup sebagai orang-orang gagah yang menjunjung tinggi nama baik Siauw-lim-pai dan dilarang keras mempergunakan kepandaiannya yang didapatkan dari Siauw-lim-pai untuk melakukan kejahatan.
Dan memang pada waktu itu jarang sekali menemukan seorang murid Siauw-lim-pai menjadi penjahat.
Kalau sampai terdengar seorang murid Siauw-lim-pai menyeleweng, maka perguruan ini sudah pasti akan mengutus murid yang lebih pandai untuk menangkap dan menghukum, kalau perlu membunuh murid yang me-nyeleweng.
Sedikitnya, seorang murid yang menyeleweng tentu akan dikeluarkan dari perguruan itu, tidak diakui sebagai murid lagi dan kalau ketahuan mempergunakan ilmu dari Siauw-lim-pai untuk melakukan kejahatan, tentu akan ditentang dan dimusuhi.
Karena peraturan yang keras inilah maka nama Siauw-lim-pai amat disegani oleh kawan dan ditakuti oleh lawan.
Namanya tetap bersih, bahkan dalam pergolakan-pergolakan antara golongan-golongan yang memperebutkan kekuasaan di kota raja, Siauw-lim-pai selalu menjauhkan diri dan tidak mau tersangkut.
Pagi hari itu cerah sekali.
Matahari berseri di angkasa timur, melimpahkan cahaya kehidupan ke permukaan bumi.
Di pagi hari seindah itu nampak wajah para hwesio yang serius namun berseri, seolah-olah mereka ini dapat merasakan kecerahan pagi yang sehat itu.
Beberapa orang hwesio hilir-mudik melakukan tugas pekerjaan masing-masing di kuil, ada yang membersihkan semua perabot dan alat sembahyang, ada yang membersihkan lantai, menyapu halaman depan, pekarangan, menyirami bunga-bunga dan tumbuh-tumbuhan yang mereka tanam di sekitar bangunan, ada yang sibuk menimba air dari sumber di bawah puncak dan memikul air itu ke dalam kuil melalui pintu samping agar tidak membasahi lantai kuil, ada pula hwesio-hwesio tingkatan tua yang sepagi itu sudah melakukan upacara sembahyang, ada pula yang membaca kitab dengan suara yang meng-getar penuh penghambaan diri, akan tetapi ada pula yang sedang bersamadhi di sebelah dalam, mengheningkan cipta, Sama sekali tidak bergerak seolah-olah telah menjadi arca seperti yang banyak terdapat di dalam kuil.
Di samping kesibukan yang tenang dan tenteram ini, terdengar pula suara murid-murid yang sedang berlatih silat, bertelanjang dada membiarkan sinar matahari memandikan tubuh mereka karena cahaya itu amat berguna bagi kesehatan tubuh mereka.
Ada yang bergerak silat dengan pengerahan tenaga sehingga otot-otot tubuh mereka menggembung dan nampak kuat bukan main penuh kejantanan, ada pula yang gerakannya lemah gemulai seperti seorang penari dan agaknya sama sekali tidak mengandung tenaga.
Memang Siauw-lim-pai ini gudang ilmu silat, dari ilmu silat yang sifatnya keras sampai yang sifatnya lunak, dan ilmu-ilmu silat yang gerakannya diilhami oleh gerakan binatang-binatang buas.
Setiap pagi para anak murid tingkat terendah tentu berkumpul di taman itu, di mana terdapat lapangan yang luas dan memang diadakan untuk tempat berlatih silat di bawah sinar matahari.
Di sebelah dalam terdapat pula ruangan belajar silat, yaitu di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) dan di sini diajarkan jurus-jurus yang lebih tinggi dan di lian-bu-thia ini lengkap pula terdapat senjata-senjata yang delapan belas macam banyaknya.
Pagi hari itu, seperti biasa, sudah mulai nampak beberapa orang tamu yang datang melakukan sembahyang.
Bermacam-macam keperluan pribadi masing-masing yang datang bersembahyang.
Ada yang bermaksud untuk minta sesuatu, agar sesuatu yang mereka citakan akan segera terkabul, di antaranya, ingin mempunyai anak, ingin segera memperoleh jodoh, ingin agar dagangannya laris, ingin agar mendapatkan kenaikan pangkat, ingin agar ujiannya lulus, dan sebagainya.
Ada pula yang datang dengan wajah berseri untuk membayar kaul seperti yang dijanjikan.
Banyak di antara mereka para peminta-minta ini yang dalam permintaannya selalu diberikuti janji-janji kepada yang mereka minta, janji-janji bahwa kalau sampai permintaan mereka berhasil, mereka akan melakukan ini atau itu, pendeknya melakukan sesuatu untuk menyenangkan yang diminta, sebagai semacam imbalan!
Memang demikianlah keadaan hidup kita semenjak kuno dahulu sampai pada jaman modern sekarang ini!
Segala macam hubungan kita dengan apapun dan dengan siapapun, selalu didasari jual beli, rugi untung seperti itulah!
Tidak ada lagi sinar cinta kasih di dalam batin kita, yang ada hanyalah perhitungan jual beli seperti itu.
Kita bersikap baik kepada sesama manusia hanya dengan dasar jual beli pula, Kita baik sebagai pemberian sesuatu untuk memperoleh kebaikan pula yang lebih besar daripada yang kita berikan sehingga hal itu akan menguntungkan!
Kita menyembah seseorang atau sesuatu yang kita anggap lebih tinggi hanya dengan dasar keuntungan ini pula!
Kita menyembah-nyembah sesuatu yang baik atau yang kita anggap baik kepada kita, dan kita mengutuk atau membenci sesuatu yang kita anggap tidak baik kepada kita!
Inilah kenyataannya dalam kehidupan kita yang serba palsu ini.
Sinar matahari itu memberkati dan menghidupkan bagi siapanpun juga, tanpa memilih apakah yang menerima itu baik atau buruk, tinggi atau rendah, agung atau hina!
Juga sinar matahari itu mendatangkan panas terhadap siapapun juga, dari raja sampai pengemis tanpa pandang bulu!
Akan tetapi, kita kehilangan sinar cinta kasih itu!
Kita hanya suka dan cinta kepada orang-orang tertentu saja, yang menyenangkan kita, yang kita anggap baik kepada kita.
Sebaliknya kita membenci kepada orang-orang tertentu yang kita anggap merugikan lahir atau batin kepada kita.
Di antara para tamu yang memasuki kuil dengan membawa alat-alat sembahyang, terdapat seorang pemuda tampan.
Pakaiannya sudah kumal, tanda bahwa lama dia tidak berganti pakaian, namun jelas nampak bahwa pakaian itu adalah pakaian yang mahal dan indah, juga topinya dan jubahnya yang terbuat dari kulit binatang berbulu itu menunjukkan bahwa pemakainya adalah seorang hartawan.
Tidak seperti para tamu lainnya, pemuda ini tidak membawa apa-apa, bertangan kosong saja dan dia memasuki halaman kuil dengan langkah-langkah tenang dan sikap yang agung, bahkan dia tidak perdulian terhadap orang-orang lain yang memasuki halaman itu.
Pemuda ini adalah Ceng Han Houw.
Mau apa pangeran ini muncul di Kuil Siauw-lim-si?
Setelah Ceng Han Houw berhasil membunuh Ouwyang Bu Sek dan dua orang ketua Sin-ciang Tiat-thouw-pang, memang tadinya dia hendak cepat-cepat pergi ke kota raja kembali ke istana yang sudah terlalu lama ditinggalkannya itu, apalagi dia sudah merasa rindu sekali kepada Lie Ciauw Si dan hendak mencari dara yang dicintainya itu.
Akan tetapi, di samping itu timbul keinginannya untuk mulai memperkenalkan diri kepada dunia kang-ouw bahwa dialah satu-satunya jagoan tanpa tanding di dunia ini!
Dia ingin menguji kepandaian para tokoh kang-ouw dan hatinya belum puas kalau dia tidak dapat merobohkan mereka semua satu demi satu sehingga akhirnya dunia akan mengakui bahwa dialah juaranya!
Dan untuk menguji diri sendiri, juga sebagai langkah pertama, yang paling tepat adalah mendatangi Siauw-lim-pai dan menantang ketuanya untuk mengadu ilmu silat!
Dia tahu bahwa Siauw-lim-pai merupakan mercu suar bagi dunia persilatan, maka menjatuhkan Siauw-lim-pai tentu akan membuat namanya terkenal dan dunia persilatan akan geger karenanya.
Jadi kedatangannya pagi hari ini, bersama dengan para tamu yang hendak bersembahyang ke kuil itu, adalah untuk mencari dan menantang ketua Siauw-lim-pai untuk mengadu ilmu!
Melihat pemuda ini keadaannya lain daripada para tamu yang sudah biasa bersembahyang, tidak membawa apa-apa, dan kelihatan mencari-cari dengan pandang matanya, seorang hwesio tinggi kurus yang bertugas melayani para tamu cepat menghampirinya dan memberi hormat sambil bertanya.
"Apakah kongcu hendak bersembahyang ataukah ada keperluan lain?"
Han Houw memandang wajah hwesio ini dan melihat bahwa pada wajah itu terdapat ketenangan besar.
Dia merasa kagum.
Hwesio ini tentu kedudukannya rendah saja namun ada ketenangan yang mengagumkun pada dirinya.
Maka diapun cepat membalas penghormatan itu dan berkata.
"Saya datang bukan untuk bersembahyang, melainkan untuk minta bertemu dengan ketua Siauw-lim-pai."
Hwesio yang usianya tiga puluh tahun itu kelihatan tercengang.
Jarang ada orang datang dengan maksud bertemu dengan ketua Siauw-lim-pai, apalagi yang datang hanya seorang pemuda seperti ini, bukan seorang tokoh kang-ouw yang terkenal.
Dia memandang penuh sangsi, akan tetapi akhirnya menjawab juga.
"Kongcu, tidak mudah untuk dapat bertemu dengan ketua, untuk itu kongcu harus mendaftarkan diri dan menyebutkan nama, tempat tinggal dan maksud kedatangan kongcu."
Han Houw mengerutkan alisnya, hatinya tidak senang.
Kadang-kadang dia lupa bahwa tidak semua orang tahu bahwa dia adalah seorang pangeran yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi sehingga sikap seorang yang kurang menghormatinya mendatangkan perasaan tidak senang di dalam hatinya.
Ingin dia membentak dan memaki hwesio itu, akan tetapi dia tahu bahwa dia berada di tempat yang berbahaya, bahwa dia telah memasuki guha naga dan harimau, maka dia harus bersikap hati-hati.
"Hwesio, katakanlah bahwa aku Pangeran Ceng Han Houw dari kota raja ingin bertemu dengan ketua Siauw-lim-pai."
Biarpun ucapan ini dikeluarken dengan suara haluss namun seketika wajah hwesio itu menjadi pucat, ketenangannya membuat sejenak dia hanya melongo memandangi tamu itu dari kepala sampai ke kaki, agaknya sukar baginya untuk percaya, akan tetapi juga timbul semacam perasaan gelisah dan takut kalau-kalau pemuda ini benar-benar seorang pangeran dan dia telah bersikap kurang selayaknya!
Kalau benar pangeran, mengapa datang sendirian tanpa pengawal dan pakaiannya sudah agak kotor begitu?
Mungkin dalam penyamaran, pikir hwesio itu dan karena dia tidak tahu bagaimana harus bersikap, maka dia hanya memberi hormat dengan membungkuk dan berkata dengan suara ragu-ragu.
"Baiklah, akan pinceng laporkan ke dalam... silakan duduk menanti di ruang tamu..."
Han Houw mengangguk, mengikuti hwesio itu pergi memasuki ruang tamu, lalu duduk di atas sebuah bangku menanti kembalinya hwesio tadi yang bergegas pergi untuk melaporkan kedatangan pemuda yang mengaku pangeran itu.
Han Houw memandangi tulisan-tulisan dengan huruf-huruf indah, dan gagah, juga lukisan-lukisan yang menghias dinding ruangan tamu itu.
Di istana Kaisar dia sudah melihat banyak lukisan dan tulisan indah, namun baru sekarang dia melihat lukisan dan tulisan dan suasana yang kesemuanya membayangkan kegagahan dan juga kedamaian seperti di ruangan tamu itu.
Diam-diam dia kagum.
Tidak bohonglah suara di dunia kang-ouw yang mengatakan bahwa Siauw-lim-pai adalah gudangnya ilmu silat, sastera dan agama.
Makin besar keinginan hatinya untuk menundukkan ketua Siauw-lim-pai, karena sekali dia berhasil mengalahkan ketua Siauw-lim-pai, namanya tentu akan menjulang tinggi sekali!
Akan tetapi terlalu lama hwesio tadi pergi.
Kesabaran Han Houw hampir habis.
Dia tidak tahu betapa berita tentang kedatangannya itu menimbulkan kehebohan di sebelah dalam kuil, di antara para pimpinan Siauw-lim-pai.
Pada waktu itu, yang menjadi ketua dari Siauw-lim-pai adalah Thian Khi Hwesio, seorang kakek berusia enam puluh tahun lebih.
Akan tetapi kakek ini tidak banyak mencampuri urusan dari kuil karena dia sibuk mengembangkan agama Buddha dengan jalan merantau, mendatangi kuil-kuil Siauw-lim-si di seluruh negeri, selain untuk mengamati perkembangan agama juga untuk melihat sendiri agar tidak ada anak murid Siauw-lim-si yang menyelewengkan pelajaran.
Dan urusan di kuil, baik mengenai agama maupun mengenai pelajaran sastera, silat dan hubungan dengan orang luar, diserahkan kepada tiga orang murid utamanya.
Yang pertama adalah Thian Sun Hwesio, yang bertubuh gemuk seperti patung Ji-lai-hud, dengan muka yang bulat lebar, sepasang mata yang lebih banyak menunduk setengah terpejam, gerak-gerik yang halus pendiam.
Sesuai dengan sifatnya, Thian Sun Hwesio ini mewakili suhunya untuk mengepalai bagian keagamaan, selain menjadi ketua kuil juga dialah yang menjadi guru besar pelajaran agama.
Yang ke dua adalah Thian Bi Hwesio, berusia lima puluh tahun, beberapa tahun lebih muda dibandingkan Thian Sun Hwesio, dan hwesio ini bertubuh menyeramkan, tinggi besar dan berkulit hitam, nampak kokoh kuat seperti batu karang, dengan mata yang lebar memandang tajam, sikapnya kaku dan kata-katanya parau nyaring, wataknya jujur dan penuh disiplin.
Hwesio inilah yang diserahi tugas mengajar ilmu silat kepada para murid.
Adapun hwesio ke tiga adalah Thian Bun Hwesio, berusia lima puluh tahun pula, bertubuh tinggi kurus, sikapnya ramah sekali dan gerak-geriknya halus.
Hwesio ini mengepalai bagian pelajaran sastera dan dia pula yang bertugas menerima tamu dan berhubungan dengan orang luar.
Sebagai murid-murid utama dari Thian Khi Hwesio, tentu saja ilmu kepandaian silat dari tiga orang hwesio ini sudah tinggi dan mereka itu memiliki keistimewaan masing-masing.
Di samping tiga orang hwesio sebagai murid utama ini tentu saja masih terdapat belasan orang hwesio pandai yang setingkat lebih rendah daripada mereka bertiga, namun bagi orang luar, setiap orang hwesio Siauw-lim-si, dari tukang kebun sampai tukang membersihkan lantai, rata-rata memiliki ilmu silat yang tangguh.
Ketika hwesio yang tadi menerima Han Houw melapor ke dalam, para hwesio yang tadinya seperti biasa dalam keadaan tenang itu menjadi panik.
Siapa orangnya tidak menjadi panik kalau mendengar bahwa pangeran istana kerajaan menjadi tamu secara begitu tiba-tiba?
Seorang pangeran adalah seorang yang amat tinggi kedudukannya, tidak boleh disamakan dengan pembesar-pembesar biasa setempat.
Maka para hwesio itu langsung melapor kepada Thian Bun Hwesio.
Hwesio tinggi kurus ini juga terkejut dan karena Thian Sun Hwesio pada saat itu sedang bersamadhi dan tidak boleh diganggu, maka Thian Bun Hwesio lalu mengajak suhengnya, Thian Bi Hwesio yang tinggi besar untuk menemaninya menyambut tamu agung itu.
Han Houw sudah hampir bilang sabar dan dia merasa jengkel juga ketika akhirnya pintu sebelah dalam itu terbuka dan muncul dua orang hwesio tua dari dalam.
Dia tinggal duduk saja dengan sikap angkuh, matanya yang mencorong memandang kepada dua orang hwesio itu.
Thian Bun Hwesio dan Thian Bi Hwesio juga memandang dan diam-diam mereka terkejut melihat mata yang mencorong dari pemuda itu.
Sebagai ahli-ahli silat kelas tinggi tentu saja mereka mengerti apa artinya sepasang mata yang mengeluarkan sinar mencorong itu dan mereka terheran-heran, juga menduga-duga.
Mungkinkah ada seorang pangeran istana yang memiliki sin-kang sedemikian kuatnya sehingga kekuatan itu sampai nampak pada sepasang matanya yang mencorong seperti mata naga?
Ataukah hanya kebetulan saja?
Dua orang hwesio itu lalu memberi hormat dengan membungkukkan tubuh, dan dengan suara halus dan muka ramah Thian Bun Hwesio lalu berkata.
"Harap paduka sudi memaafkan pinceng sekalian karena tidak tahu akan kunjungan yang terhormat ini, maka pinceng terlambat menyambut dan tidak ada persiapan. Tentu saja pinceng sekalian merasa terkejut dan heran mendengar kunjungan seorang pangeran yang mulia tanpa pengiring dan berita terlebih dahulu."
Dalam kata-kata ini terkandung pertanyaan-pertanyaan karena keganjilan kunjungan itu.
Han Houw juga mengerti akan keanehan kunjungannya sebagai seorang pangeran ini, akan tetapi dia tidak perduli dan dia langsung bertanya, (Lanjut ke
Jilid 40) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04
"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 40
"Siapakah di antara ji-wi locianpwe ini yang menjadi ketua Siauw-lim-pai? Aku hanya ingin bertemu dan bicara kepadanya."
Dua orang hwesio itu saling lirik.
Pemuda ini menyebut mereka "locianpwe", sebutan yang biasanya hanya dilakukan di kalangan persilatan sebagai tanda menghormat orang yang tingkat tinggi, orana-orang biasa tentu akan menyebut mereka "losuhu"
Saja, sebutan bagi para pendeta.
Hal ini tentu saja makin membingungkan dan menimbulkan banyak dugaan.
Apakah pangeran ini seorang ahli silat?
Melihat sepasang matanya yang mencorong dan melihat sebutan itu, sangat boleh jadi.
Thian Bun Hwesio menjura dengan penuh hormat.
"Harap paduka sudi memaafkan kami, pada saat ini, suhu kami tidak berada di sini."
"Bukankah ketua Siauw-lim-pai bernama Thian Khi Hwesio? Ke manakah beliau pergi?"
Tidak mengherankan kalau orang mengenal nama ketua Siauw-lim-pai atau guru mereka.
Akan tetapi pemuda yang mengaku pangeran ini berkeras hendak menemui guru mereka, inilah yang mengherankan.
Akan tetapi, benarkah pemuda ini seorang pangeran?
Hal ini harus dibuktikannya lebih dulu.
"Suhu Thian Khi Hwesio sedang mengadakan perjalanan ke selatan, akan tetapi setahu kami, suhu tidak pernah berurusan dengan fihak istana kerajaan. Oleh karena itu, kalau memang ada urusan dari istana, kiranya paduka dapat mengurusnya dengan pinceng sebagai murid dan sebagai wakilnya. Pinceng Thian Bun Hwesio dan ini suheng Thian Bi Hwesio adalah murid-murid beliau yang sudah diberi wewenang untuk mewakili beliau mengurus segala sesuatu atas nama Siauw-lim-pai. Tidak tahu ada urusan penting apakah seorang pangeran kerajaan saperti paduka sampai datang mencari suhu?"
Ucapan yang panjang lebar itu jelas berbau kecurigaan namun dia tidak perduli.
Dengan nada suara dingin dia berkata.
"Aku Pangeran Ceng Han Houw adalah adik Kaisar Ceng Hwa. Ji-wi locianpwe mau percaya atau tidak terserah. Akan tetapi kedatanganku ini tidak membawa urusan kerajaan, melainkan urusan pribadi dengan ketua Siauw-lim-pai, Thian Khi Hwesio."
Lega rasa hati Thian Bun Hwesio mendengar ini.
Tadinya dia khawatir kalau-kalau ada urusan dengan pemerintah dan ini tentu akan melibatkan Siauw-lim-pai dalam urusan yang amat tidak enak.
Kiranya pemuda tampan yang mengaku pangeran ini datang untuk urusan pribadi dan melihat keadaan dan sikapnya, sangat boleh jadi kalau pangeran ini hendak minta belajar silat dari ketua Siauw-lim-pai!
Tentu itulah kehendaknya, karena memang tidak jarang ada putera-putera bangsawan, bahkan dari istana, yang datang untuk mempelajari ilmu silat dari Siauw-lim-pai.
Sikapnya menjadi makin ramah karena kelapangan hatinya.
Pada saat itu, seorang hwesio yang memang tadi telah dipesan, datang membawa cangkir-cangkir teh yang dihidangkannya ke atas meja.
Thian Bun Hwesio dengan ramah mempersilakan tamunya minum.
Kemudian dia berkata dengan wajah berseri.
"Kalau paduka mempunyai urusan pribadi, dapat paduka sampaikan kepada pinceng. Andaikata ada suhu di sinipun, tentu pelaksanaannya akan suhu berikan kepada pinceng. Ada keperluan apakah gerangan yang membuat paduka jauh-jauh datang ke Siauw-lim-si kami?"
Mendengar ini, Han Houw yang telah minum teh yang dihidangkan itu, kini memandang kepada mereka berdua penuh perhatian, terutama Thian Bi Hwesio yang bertubuh tinggi besar dan bersikap keren dan pendiam itu.
Kemudian dia mengajukan pertanyaan yang membuat dua orang hwesio itu terkejut.
"Apakah ji-wi locianpwe yang mewakili ketua Siauw-lim-pai merupakan murid-murid utama?"
Thian Bun Hwesio hanya mengangguk.
"Ah, kalau begitu tentu ji-wi memiliki ilmu silat yang paling tinggi di antara semua murid Siauw-lim-pai?"
Thian Bun Hwesio tersenyum.
"Ah, orang-orang lemah seperti kami ini mana berani mengatakan memiliki kepandaian tinggi? Siauw-lim-pai amat luas dan memiliki ribuan orang murid yang tersebar di seluruh negeri dan sukar untuk mengukur siapa yang lebih tinggi kepandaiannya. Bahkan suhu sendiri tentu tidak berani menganggap diri terpandai di antara para murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi kalau di kuil ini, tentu saja suhu yang paling pandai dan pinceng sekalian adalah murid-murid utamanya."
"Bagus sekali! Kalau begitu ji-wi locianpwe yang merupakan orang terpandai di sini sesudah ketua Siauw-lim-pai!"
Han Houw berkata girang.
Kenyataan ini menggirangkan hatinya yang tadi kecewa mendengar bahwa ketua Siauw-lim-pai sedang pergi.
Setidaknya kalau dia sudah dapat menghadapi murid-murid utama Siauw-lim-pai, sudah cukuplah sebagai langkah-langkah pertama menuju kepada sebutan Jagoan Nomor Satu di dunia!
Thian Bi Hwesio juga menyangka bahwa pangeran ini tentu ingin belajar silat, maka kini dialah yang bicara dengan suaranya yang nyaring, parau dan jujur.
"Pangeran, ketahuilah bahwa pinceng yang mewakili suhu di sini untuk memimpin para murid belajar ilmu silat. Kalau paduka berniat hendak belajar..."
Wajah Han Houw berseri dan mulutnya tersenyum, lalu dia bangkit berdiri.
Baca Juga: Suling Emas Dan Naga Siluman 16
Baca Juga: Petualang Asmara 13