Ceritasilat Novel Online

Pendekar Lembah Naga 12

Eps 12 Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Lembah Naga - Kho Ping Hoo.

"Bagus sekali, Thian Bi Hwesio! Tadinya aku bermaksud belajar dari Thian Khi Hwesio ketua Siauw-lim-pai, akan tetapi karena beliau sedang berada di luar, maka biarlah aku mempelajari beberapa jurus pukulan dari Ji-wi locianpwe. Marilah, locianpwe!"

Menyaksikan kegembiraan pemuda itu, dua prang hwesio itu tersenyum lebar.

Pemuda ini begitu penuh semangat untuk belajar!

Dan seketika itu juga minta diajari, seolah-olah ilmu silat itu adalah ilmu yang dapat seketika lalu bisa!

Akan tetapi karena merekapun menduga bahwa tentu pemuda bangsawan ini sedikit banyak sudah mengenal ilmu silat, maka Thian Bi Hwesio lalu berkata.

"Baik, marilah kita ke lian-bu-thia, pangeran."

Ketika mereka memasuki ruangan belajar silat yang luas itu, di situ terdapat belasan orang hwesio dan murid Siauw-lim-pai yang muda-muda sedang berlatih silat.

Ada pula yang sedang berlatih sendirian, berdua, ada pula yang sedang melatih otot-otot mereka dengan mengangkat benda-benda berat dan sebagainya.

Tubuh atas mereka yang tidak berbaju itu mengkilap oleh keringat.

Melihat datangnya dua orang guru mereka bersama seorang pemuda tampan, mereka semua segera memberi hormat dan berdiri di pinggir, menghentikan latihan mereka.

Dari hwesio penyambut tamu tadi sudah tersiar berita akan datangnya tamu agung, seorang pangeran, maka kini semua mata ditujukan kepada Han Houw dengan penuh perhatian karena mereka semua dapat menduga bahwa agaknya pemuda inilah yang disebut oleh hwesio penerima tamu tadi.

Melihat lian-bu-thia yang lengkap dengan semua alat berlatih silat berikut rak senjata di mana terdapat semua bentuk senjata-senjata kaum persilatan, dinding-dinding yang dihias gambar-gambar tubuh manusia dengan keterangan tentang letak tulang-tulang, otot-otot dan syaraf, Han Houw memandang dengan kagum.

Memang luas dan lengkap sekali lian-bu-thia ini, patut menjadi tempat berlatih silat perkumpulan yang demikian besar dan ternama.

Dengan tangannya, Thian Bi Hwesio memberi isyarat kepada para murid untuk duduk di pinggir dan mereka semua lalu duduk bersila di dekat dinding dengan rapi, siap untuk melihat seperti sikap mereka kalau hendak diberi kuliah tentang ilmu silat oleh guru mereka.

Juga Thian Bun Hwesio sambil tersenyum memandang dan hwesio ini duduk di atas sebuah bangku di sudut ruangan, ingin melihat bagaimana suhengnya akan memberi petunjuk kepada pangeran yang aneh ini.

Mereka saling berdiri berhadapan, Pangeran Ceng Han Houw dan Thian Bi Hwesio, murid ke dua dari Thian Khi Hwesio.

Pangeran itu yang bertubuh cukup jangkung tegap, nampak kecil berhadapan dengan hwesio berkulit hitam dan bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu.

"Pangeran, pernahkah paduka belajar ilmu silat?"

Tanyanya dengan suara nyaring akan tetapi sikapnya hormat. Pangeran itu mengangguk.

"Untuk dapat memberi petunjuk kepada paduka dalam ilmu silat, maka lebih dulu pinceng harus melihat sampai di mana tingkat yang paduka miliki, apakah kedudukan kaki pada pelajaran yang lalu sudah benar. Karena ilmu silat Siauw-lim-pai haruslah murni dan tidak boleh dikacaukan dengan dasar-dasar dari ilmu silat lain, barulah ilmu itu dapat dilatih dengan sebaiknya. Oleh karena itu, harap paduka suka memperlihatkan gerak ilmu silat yang pernah paduka pelajari."

Han Houw tersenyum.

"Locianpwe, tidak enaklah kalau bersilat sendirian saja dan menjadi tontonan, karena ilmu silatku amat buruk, sebaiknya kalau locianpwe memberi pelajaran satu dua jurus kepadaku."

Itulah merupakan tantangan, biarpun nadanya minta diberi pelajaran. Thian Bi Hwesio masih tersenyum.

"Biarlah seorang murid pinceng yang terbaik menemani paduka, dari gerakan padukapun pinceng dapat menilai tingkat..."

"Jangan, locianpwe. Tadinya aku hendak minta pelajaran langsung dari Thian Khi Hwesio, untuk minta beliau menguji kepandaianku, akan tetapi karena beliau tidak ada, harap locianpwe saja yang menguji. Aku datang bukan untuk belajar ilmu silat Siauw-lim-pai, melainkan untuk minta ketua Siauw-lim-pai menguji ilmu silatku, locianpwe."

Kini barulah Thian Bi Hwesio dan Thian Bun Hwesio, juga para murid Siauw-lim-pai yang berada di situ, terkejut bukan main.

Kiranya pemuda tampan yang mengaku pangeran ini bukan ingin belajar silat dari Siauw-lim-pai, melainkan bendak minta Siauw-lim-pai menguji kepandaiannya, atau dengan lain kata, pemuda itu hendak menguji kepandaian ketua Siauw-lim-pai!

"Ah, harap paduka tidak main-main, pangeran.

Paduka adalah seorang pangeran yang harus kami hormati, sedangkan ilmu silat adalah ilmu pukulan yang tidak bermata, maka kalau sampai kesalahan tangan melukai paduka, tentu akan menimbulkan penyesalan hebat!"

Han Houw tertawa dan bertolak pinggang.

"Ha-ha-ha, locianpwe, jangan menganggap aku sebagai anak kecil yang takut terluka. Pula, apakah lodanpwe mengira bahwa aku akan dapat mudah kaukalahkan begitu saja? Kalau aku menganggap bahwa kepandaianku belum cukup, apakah aku berani datang ke Siauw-lim-pai?"

Ucapan yang mulai tekebur ini mengejutkan semua orang dan kedua alis dari Thian Bi Hwesio berkerut.

Dia salah menduga.

Pemuda yang mengaku pangeran ini kiranya seorang pemuda yang tinggi hati dan yang agaknya terlalu mengandalkan kepandaian sendiri sehingga berani berlagak demikian sombongnya.

Hendak mengajak mengadu kepandaian dengan dia!

Bahkan dengan suhunya!

Gila benar!

"Pangeran,"

Katanya dengan nada suara serius dan matanya yang lebar itu memandang tajam.

"hendaknya pangeran tidak mencari perkara, dan pinceng minta paduka menghentikan main-main ini. Kami tidak bersedia melayani permintaan paduka untuk main-main dalam ilmu silat. Ilmu silat Siauw-lim-pai bukan dimaksudkan untuk alat memukul orang atau menyombongkan diri!"

Han Houw memandang hwesio itu dan tersenyum mengejek.

"Apakah dengan lain kata locianpwe hendak menyatakan bahwa locianpwe tidak berani menerima tantanganku untuk saling menguji kepandaian atau pibu?"

Tantangan itu sudah terang-terangan sekarang!

Seorang hwesio muda, tidak lebih dari tiga puluh tahun usianya, yang bertelanjang baju, sudah meloncat ke depan.

Dia ini merupakan murid pertama dari Thian Bi Hwesio dan wataknya keras jujur seperti gurunya.

Matanya lebar bundar.

"Suhu, biarlah teecu mewakili suhu untuk bermain-main sebentar dengan pangeran! Kalau sampai kesalahan tangan, biarlah teecu yang menderita hukuman, bukan suhu!"

Murid ini agaknya maklum mengapa gurunya segan menyambut tantangan pemuda itu.

Kalau gurunya menerima berarti membahayakan Siauw-lim-pai, karena kalau sampai suhunya melukai pangeran itu, bukankah fihak kerajaan akan marah dan sakit hati?

Maka, gurunya meragu.

Akan tetapi dia sendiri tidak sanggup menahan lebih lama lagi mendengar gurunya disebut takut menghadapi pangeran muda yang sombong itu.

"Baiklah, kau berhati-hatilah, jangan kesalahan pukul,"

Kata Thian Bi Hwesio sambil mengangguk, lalu melangkah pergi menuju ke bangku di samping sutenya.

Di situ mereka berdua berbisik-bisik dengan alis berkerut, merasa khawatir melihat seorang pangeran agaknya sengaja hendak mendatangkan keributan.

Hwesio bermata lebar itu kini menghadapi Han Houw sambil tersenyum menyeringai dan berkata.

"Pangeran, hambalah yang mewakili suhu Thian Bi Hwesio untuk menerima tantangan pibu paduka. Nah, paduka mulailah!"

Sambil berkata demikian, hwesio ini sudah memasang kuda-kuda dengan gagahnya.

Kedua kakinya terpentang lebar, dengan kedua lutut ditekuk membentuk segi yang lurus, dengan tubuh tegak dan mata tajam memandang kepada musuh, kedua tangan ditekuk dengan jari-jari terbuka membentuk cakar di bawah dan atas pusar.

Gagah sekali kuda-kuda ini dan memang hwesio itu telah membuka gerakan dengan kuda-kuda ilmu silat harimau.

Akan tetapi Han Houw yang merasa kecewa dan juga diam-diam marah karena Thian Bi Hwesio memandang rendah kepadanya itu, hanya tersenyum.

"Hwesio, percuma saja kalau engkau yang maju. Dalam beberapa jurus saja engkau akan roboh!"

Dia lalu menghampiri hwesio itu dan dengan sembarangan tangannya bergerak menampar sambil berkata.

"Nah, kau terimalah ini!"

Semua orang menahan napas menyaksikan kelancangan ini.

Gerakan pemuda tampan itu sama sekali bukan gerakan silat, melainkan cara menyerang yang amat lemah dan bodoh.

Dengan kepandaian macam itu pemuda bangsawan ini berani menantang Thian Bi Hwesio, bahkan tadinya mencari Thian Khi Hwesio!

Hwesio itu tentu saja bergerak cepat.

Dia masih ingat bahwa pemuda ini seorang pangeran, maka dia hanya ingin mengalahkan tanpa melukai agar Siauw-lim-pai tidak sampai mendapat kesukaran, maka melihat tamparan itu, dia lalu mengelak cepat dan tiba-tiba tangan kirinya meluncur dari bawah, bukan lagi merupakan gerakan cakar harimau karena dia sudah merubahnya menjadi totokan dengan dua jari ke arah jalan darah di bawah lengan tangan Han Houw yang menampar.

Dia ingin dalam segebrakan saja menotok lumpuh pangeran itu, dengan demikian mengalahkannya tanpa melukai.

"Tukkk!"

Totokan itu tepat mengenai jalan darah di dekat ketiak Han Houw, akan tetapi hwesio itu terkejut bukan main ketika kedua jarinya bertemu dengan kulit yang kerasnya seperti baja dan kini tahu-tahu tangan Han Houw sudah menampar lagi ke arah lehernya.

Hwesio itu cepat menggunakan kedua lengannya untuk menangkis dari kanan kiri, dengan jalan menggunting!

Akan tetapi dengan sikap tidak perduli, Han Houw melanjutkan tamparannya dan kedua lengan lawan itu dengan keras menggunting lengannya dari kanan kiri.

Anehnya, kedua lengan hwesio itu terpental dan tangan Han Houw masih terus saja meluncur ke depan karena tangkisan itu sama sekali tidak mempengaruhinya.

"Plakk!"

Tengkuk hwesio itu kena ditampar perlahan saja, dan hwesio itu mengeluh kemudian kaki Han Houw bergerak menendang dan tubuh hwesio yang sudah lemas itu terlempar ke arah Thian Bi Hwesio!

Hwesio tinggi besar ini cepat berdiri dan menerima tubuh muridnya.

Cepat dia memeriksanya dan kagetlah dia melihat betapa muridnya itu telah pingsan tertepuk jalan darahnya secara lihai sekali.

Dia tahu bahwa pemuda itu ternyata seorang yang lihai dan hanya berpura-pura saja tolol.

Diapun tahu bahwa muridnya, yang terhitung pandai, dikalahkan dalam dua gebrakan saja bukan oleh ilmu silat, melainkan oleh tenaga dalam yang berselisih jauh.

Jelas bahwa melihat kehebatan tenaga sin-kang pemuda itu, muridnya sama sekali bukan tandingannya dan tahulah dia bahwa pemuda ini merupakan lawan tangguh.

"Sute, waspada..."

Bisiknya kepada Thian Bu Hwesio dan dia sendiri dengan sekali lompat sudah tiba di depan Han Houw.

"Ah, kiranya paduka adalah seorang yang memiliki kepandaian hebat!"

Thian Bi Hwesio berkata.

"Maafkan pinceng yang tidak mengetahuinya. Tidak tahu dari perguruan manakah paduka dan apa sebabnya paduka mengajak adu kepandaian dengan kami orang-orang Siauw-lim-pai yang tidak pernah menggunakan kepandaian untuk menghina fihak lain?"

"Hemm, Thian Bi Hwesio! Aku tidak terikat oleh partai manapun dan akupun tidak mempunyai permusuhan dengan Siauw-lim-pai. Akan tetapi karena mendengar bahwa Siauw-lim-pai merupakan gudang ahli-ahli silat, maka aku ingin sekali membuktikan. Alangkah akan kecewa hatiku kalau melihat bahwa ahli silat Siauw-lim-pai hanya seperti si lancang tadi! Maka aku ingin sekali mengadu ilmu dengan Thian Khi Hwesio atau setidaknya dengan orang terpandai di sini. Aku ingin melihat siapa di antara kita yang boleh disebut orang terpandai di dunia persilatan! Kalau locianpwe yang mewakili Thian Khi Hwesio tidak berani menghadapiku, akupun tidak akan memaksa, akan tetapi kalau tidak berani, Siauw-lim-pai harus menyatakan secara tertulis dan mengakui saya sebagai jagoan nomor satu di dunia!"

Dua orang hwesio tua itu sampai terbelalak mendengar ucapan yang bernada tinggi hati dan sombong luar biasa itu!

Mana ada ahli silat di dunia ini yang berani mengaku sebagai jagoan nomor satu di dunia?

Akibatnya akan hebat dan tentu seluruh kang-ouw akan bangkit menentangnya!

Di dunia persilatan berlaku istilah bahwa setinggi-tingginya puncak Gunung Thai-san, masih ada langit yang lebih tinggi lagi!

Semenjak dahulu, belum pernah ada atau jarang sekali ada orang yang sedemikian sombongnya hendak mengangkat dirinya sendiri menjadi jagoan nomor satu di dunia, apalagi oleh seorang pemuda seperti ini!

Thian Bi Hwesio adalah seorang hwesio yang jujur dan kasar, maka mendengar ucapan bernada sombong itu wajahnya menjadi semakin hitam.

Dengan mata melotot dia lalu berkata.

"Pangeran, tidak mungkin bagi kami untuk membuat pernyataan apapun, dan memang Siauw-lim-pai tidak pernah takut menghadapi apapun dan siapapun. Kami telah menolak ajakan pibu dari pangeran hanya untuk mencegah terjadinya hal-hal tidak baik menimpa paduka akan tetapi kalau paduka memaksa, kami sebagai wakil suhu tentu saja tidak akan takut."

"Bagus, itu baru suara seorang gagah! Nah, Thian Bi Hwesio, marilah kita main-main beberapa jurus untuk menentukan siapa di antara kita yang lebih pandai!"

Han Houw berkata girang dan dia sudah memasang kuda-kuda.

Melihat kepandaian murid hwesio ini tadi, dia agak memandang rendah dan mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmunya yang pernah dipelajarinya dari subonya melalui sucinya.

Melihat bentuk kuda-kuda pemuda itu, Thian Bi Hwesio makin berhati-hati.

Kuda-kuda itu aneh, dengan kaki kiri diluruskan ke depan dan kaki kanan ditekuk hampir berjongkok, dan kedua lengan bersilang di depan muka, yang satu terkepal yang satu lagi terbuka.

"Silakan, pangeran!"

Katanya sambil memasang kuda-kuda dan hwesio ini yang tidak berani memandang rendah sudah bergerak dan memainkan Ilmu Silat Lo-han-kun.

Dia tidak mau mempergunakan ilmu yang kasar, melainkan ilmu yang halus seperti Lo-han-kun akan tetapi mengerahkan tenaganya sehingga tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan mengerikan ketika dia mengerahkan kedua lengan yang besar berotot itu.

Han Houw girang sekali.

Dia tahu bahwa hwesio ini cukup tangguh, dan makin tangguh lawan, makin gembiralah dia karena lawan itu ada harganya untuk dikalahkan.

Karena dia sebagai tamu dan fihak tuan rumah sudah mempersilakan, tanpa sungkan lagi Han Houw lalu menggeser kakinya dengan ilmu langkah ajaib Pat-kwa-po, kemudian tiba-tiba dia menyerang dengan pukulan tangan kanan ke arah perut lawan dari bawah!

"Hiaaattt...!"

"Wuuuuttt... ah!"

Hwesio itu berseru dan menggunakan lengan menangkis ke bawah dengan pengerahan tenaga karena dia hendak membuat pemuda itu kesakitan dengan mengadu lengan.

Akan tetapi, biarpun dia tidak gentar untuk mengadu tenaga, Han Houw cepat menarik tangannya dan tubuhnya sudah berputar dengan langkah-langkah ajaib itu, kini dia bangkit berdiri dan tangan kirinya menampar.

"Wuuuuutttt...!"

"Ehhh...!"

Thian Bi Hwesio terkejut bukan main melihat tamparan ini.

Sebagai seorang ahli silat tinggi yang sudah banyak pengalamannya, dia mengenal tamparan yang mengandung hawa beracun.

Dan memang Han Houw telah mengerahkan tenaga dan menampar dengan ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang ampuh, ilmu yang dipelajarinya dari Hek-hiat Mo-li.

Hwesio tinggi besar itu mengebutkan ujung lengan bajunya menyambut tamparan ini dengan totokan ujung lengan baju ke arah pergelangan tangan Han Houw.

Pemuda inipun cepat menarik tangannya dan menyerang lagi dengan tonjokan ke arah dada, dibarengi tamparan ke dua ke arah pelipis lawan.

Gerakannya cepat bukan main dan langkah-langkah kakinya amat indah, juga amat cepat dan tidak terduga sebelumnya.

Namun, Thian Bi Hwesio dapat menghindarkan diri dari dua serangan itu dengan jalan mengebutkan ujung lengan baju, bahkan balas menyerang dengan cengkeraman-cengkeraman kuat yang memaksa Han Houw untuk melangkah mundur dan memutar.

Kini baru tahulah semua murid Siauw-lim-pai bahwa pemuda yang mengaku diri sebagai pangeran itu benar-benar lihai bukan main!

Dan jelas bahwa Ilmu Silat Lo-han-kun yang dimainkan sedemikian baiknya oleh Thian Bi Hwesio itu sama sekali tidak dapat mendesaknya!

Pemuda itu mempergunakan langkah-langkah ajaib, langkah-langkah yang membentuk segi delapan dan yang selalu dapat membawa dirinya terhindar dari desakan Ilmu Silat Lo-han-kun, dan pemuda itupun membalas dengan pukulan-pukulan, Tamparan-tamparan dan totokan-totokan yang tidak kalah hebatnya sehingga untuk menyelamatkan diri dari semua itu, agaknya Thian Bi Hwesio harus mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua kepandaiannya!

Seratus jurus telah lewat dan diam-diam Han Houw kagum sekali.

Hwesio ini selain memlliki tenaga yang amat kuat, juga ilmu silatnya demikian bersih dan sempurna, demikian kokoh kuat sehingga dia tidak melihat adanya lubang sedikitpun untuk dapat memasukkan serangannya!

Biarpun dia sendiri selalu dapat menghindarkan diri, namun sebaliknya diapun tidak mampu mendesak lawannya!

Jelaslah baginya bathwa kalau dia hanya mengandalkan ilmu-ilmunya yang dia pelajari dari subonya saja, dia tidak akan mampu mengalahkan tokoh Siauw-lim-pai yang amat tangguh ini.

Maka mulailah dia merubah gerakannya dan kini dia mulai mainkan Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang sambil mengerahkan sin-kang yang dipelajarinya dalam guha menurut kitab Bu Beng Hud-couw itu.

Dan akibatnya hebat!

Beberapa kali Thian Bi Hwesio berteriak kaget ketika pemuda itu mulai melancarkan pukulan aneh yang mendatangkan angin berpusing!

Dia berusaha untuk mengelak atau menangkis, mengerahkan tenaganya, namun pukulan ke tiga yang datangnya amat lambat, terlalu lambat malah itu mendatangkan suara bercicitan seperti seekor tikus terjepit dan hwesio itu berseru kaget karena tangannya yang menangkis terasa perih dan bajunya robek.

Dia cepat melangkah mundur dan melihat betapa lengannya telah terluka seperti disayat pedang tajam!

Sementara itu, kini Han Houw sudah mendesak dengan kedua tangan didorongkan dari bawah.

Kembali terdengar suara bercuitan dan ketika Thian Bi Hwesio mengerahkan tenaga menangkis dan juga mendorongkan kedua telapak tangannya, kembali hwesio ini mengeluh dan tubuhnya terjengkang, terbanting roboh dan dia berguling lalu meloncat bangun di dekat sutenya, berdiri dengan tubuh bergoyang dan muka pucat, napasnya sesak dan dia memejamkan mata, lalu duduk bersila karena hwesio ini telah terluka di bagian dalam tubuhnya!

Bukan main kagetnya Thian Bu Hwesio melihat kakak seperguruannya dikalahkan oleh pemuda itu.

Sejak tadi, dia sudah menonton dengan mata terbelalak, makin lama makin kagum dan heran terhadap pemuda bangsawan yang benar-benar amat lihai itu dan hampir dia tidak percaya melihat betapa suhengnya benar-benar kalah oleh pemuda itu!

Dia menjadi penasaran sekali, akan tetapi sebagai seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, Hwesio ini tidak menuruti rasa penasaran di hatinya dan tetap berdiri dengan sikap tenang.

Sebagai seorang kepala bagian pelajaran silat, tentu saja suhengnya yang baru saja kalah itu lebih kuat daipadanya, akan tetapi Thian Bun Hwesio ini memiliki suatu keistimewaan yang melebihi suhengnya, yaitu dalam hal ilmu gin-kang atau meringankan tubuh.

Setelah memperoleh kemenangan itu dengan amat mudah setelah dia mempergunakan ilmu yang dipelajarinya dari kitab rahasia Bu Beng Hud-couw, Han Houw tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri.

Gembira bukan main rasa hatinya bahwa dengan ilmunya yang hebat itu, dia telah merobohkan hwesio Siauw-lim-pai yang merupakan tokoh besar itu hanya dalam waktu tiga jurus saja!

Padahal ilmu-ilmunya itu belum dilatihnya secara matang.

Makin besarlah kepercayaannya kepada diri sendiri, Akan tetapi juga makin tinggilah dia memandang diri sendiri sehingga menimbulkan kesombongan.

Perasaan sombong dan tinggi hati ini yang membuat dia tertawa dan memandang kepada Thian Bun Hwesio dan timbul pula keinginannya untuk juga mengalahkan hwesio ini!

Dia merasa belum puas kalau hanya mengalahkan seorang hwesio saja, apalagi dia tadi telah mempergunakan waktu seratus jurus lebih karena tadinya dia mempergunakan ilmu-ilmu yang dipelajarinya dari Hek-hiat Mo-li.

Kini dia ingin membuka mata semua hwesio di situ bahwa dia mampu merobohkan guru-guru mereka dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja dan dia merasa yakin akan dapat melakukan hal ini kalau dia langsung memperguna-kan ilmunya yang amat hebat dari Bu Beng Hud-couw.

Maka dia kini tertawa.

"Ha-ha-ha, locianpwe, kalau engkau mau maju, aku berani pastikan bahwa aku akan mampu merobohkanmu dalam waktu kurang dari sepuluh jurus!"

Mendengar ini, hampir semua murid Siauw-lim-pai yang mendengarnya menjadi merah mukanya dan mereka itu marah sekali.

Thian Bi Hwesio, guru dan pelatih mereka sudah kalah dalam pertandingan yang sewajarnya, Dan hal ini bagi mereka tidak menjadikan rasa penasaran karena mereka sudah digembleng lahir batin dan tahu bahwa kalah menang dalam adu silat adalah lumrah dan merekapun tidak berpendapat bahwa guru mereka merupakan orang tak terkalahkan dalam dunia persilatan.

Akan tetapi, mendengar pemuda itu mengatakan akan merobohkan susiok (paman guru) mereka dalam waktu kurang dari sepuluh jurus, sungguh merupakan ucapan yang keterlaluan dan berlebihan!

Mereka tahu akan kelihaian susiok mereka yang dalam hal ilmu silat setingkat atau hanya berselisih sedikit saja dengan suhu mereka, bahkan mereka maklum bahwa susiok mereka ini memlliki kelebihan dalam gin-kang.

Maka pernyataan pemuda bangsawan itu akan merobohkannya dalam waktu kurang sepuluh jurus, sungguh merupakan suatu penghinaan yang keterlaluan.

"Pangeran, harap pangeran menghentikan adu kepandaian yang tiada manfaatnya ini dan suka duduk sebagai tamu terhormat atau paduka pergi saja meninggalkan tempat ini dan tidak mengganggu kami."

Dengan sikap sopan dan lemah lembut Thian Bun Hwesio berkata sambil menjura dengan sikap hormat.

"Ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi bahwa aku ingin menguji sampai di mana kehebatan ilmu silat dari Siauw-lim-pai, locianpwe. Kalau locianpwe tidak mau melayaniku untuk saling menyelami kepandaian masing-masing, akupun tidak memaksa, hanya kuharap locianpwe suka memberi pernyataan tertulis bahwa ilmu silatku lebih tinggi daripada ilmu silat Siauw-lim-pai!"

Berkerut alis pendeta yang bersikap halus itu. Dia menggeleng-geleng kepalanya.

"Omitohud... apa akan jadinya kalau ada orang berkedudukan tinggi bersikap seperti ini? Pangeran, pinceng tidak berwenang untuk memutuskan sesuatu mengenai tindakan yang harus diambil oleh Siauw-lim-pai. Suhu kami sedang tidak berada di sini, dan pinceng tidak berani membuat pernyataan seperti itu."

"Kalau tidak berani, majulah agar aku dapat mencoba tingginya ilmu silatmu, locianpwe,"

Mulutnya saja menyebut locianpwe atau orang tua yang gagah dan dihormati, akan tetapi sikap pangeran itu sungguh memandang ringan sekali.

Hal ini terasa oleh Thian Bun Hwesio dan dia tahu bahwa dia tidak mungkin dapat mengelak lagi, maka dia lalu menarik napas panjang.

"Agaknya paduka belum puas kalau belum merobohkan pinceng. Nah, bersiaplah. Pinceng hendak memperlihatkan kebodohan pinceng!"

Setelah berkata demikian, hwesio itu menekan kedua kakinya di atas tanah dan di lain saat tubuhnya telah melayang naik ke atas, langsung menerjang dari atas ke arah Han Houw.

"Uhhh...!"

Pangeran itu terkejut bukan main.

Tak pernah disangkanya bahwa pendeta itu memiliki gin-kang yang sedemikian hebatnya.

Akan tetapi Han Houw sudah dapat menghindarkan diri dengan jalan merendahkan tubuhnya dan balas mengirim pukulan dari bawah.

Terpaksa Thian Bun Hwesio mengelak dan berjungkir balik lalu turun beberapa meter jauhnya dari pemuda itu, kemudian dia sudah menerjang lagi dengan kecepatan luar biasa.

Kedua lengan bajunya yang panjang lebar itu berkibar dan menyambar-nyambar, merupakan dua buah senjata yang menotok ke arah jalan-jalan darah yang penting dari tubuh Han Houw.

Namun, dengan langkah-langkah Pat-kwa-po yang indah dan lihai itu Han Houw dapat menghindarkan diri dengan amat mudahnya.

Kemudian secara tiba-tiba pemuda ini berjungkir balik, kepala di bawah, kaki di atas dan mulailah dia menyerang dengan kaki tangannya.

Itulah jurus-jurus dari Ilmu Hok-te Sin-kun yang amat hebat itu.

Thian Bun Hwesio mengeluarkan seruan kaget dan biarpun dia sudah berusaha mengelak secepatnya, namun serangan tangan dari bawah oleh pemuda itu masih mengenai pahanya dan saat itu Thian Bun Hwesio meloncat ke belakang, maka loncatannya terdorong oleh pukulan itu menjadi keras sekali dan dia melayang seperti sebuah layang-layang putus talinya, dan dari pahanya nampak darah membasahi celana!

"Omitohud...!"

Terdengar seruan halus dan tahu-tahu ada seorang hwesio tua lain yang menerima tubuh Thian Bun Hwesio denigah sebelah tangannya, lalu menurunkan tubuh Thian Bun Hwesio.

Hwesio yang terluka pahanya itu cepat bersila dan memeriksa lukanya yang terkena pukulan ampuh dari tangan pemuda yang mengandung hawa beracun itu.

Han Houw memandang hwesio yang baru muncul itu dengan penuh perhatian.

Hwesio itu bertubuh gemuk, berwajah halus dan penuh kesabaran, namun sepasang mata yang bersinar lembut itu kelihatan amat berwibawa, usianya beberapa tahun lebih tua daripada Thian Bi Hwesio dan Thian Bun Hwesio.

Hwesio ini melangkah maju menghampirinya lalu menjura dengan penuh hormat, sikapnya halus sekali.

"Omitohud...! Dari laporan anak murid, pinceng mendengar bahwa paduka adalah Pangeran Ceng Han Houw dari kota raja. Perkenankan pinceng menghaturkan maaf sebesarnya atas kekasaran dua orang sute pinceng terhadap paduka."

Han Houw tersenyum.

Dua orang hwesio yang pertama tadi juga bersikap halus dan hormat kepadanya, dan kini sikap amat halus dari hwesio ke tiga ini dianggapnya sebagai sikap takut terhadapnya.

Setelah berhasil mengalahkan dua orang hwesio itu dia merasa makin bangga dan angkuh, memandang rendah kepada Siauw-lim-pai.

Setelah dia mampu merobohkan dua orang itu, maka dia pikir bahwa untuk melawan guru merekapun dia tentu akan menang.

Dia memandang hwesio tua yang menyebut sute kepada kedua orang hwesio tadi, lalu bertanya.

"Siapakah locianpwe?"

"Omitohud, paduka masih begini muda dan berkedudukan begitu tinggi akan tetapi paduka sudah pandai bersikap, sebagai seorang gagah yang menghormati orang tua, dan telah memiliki tingkat kepandaian yang demikian tinggi! Pinceng adalah Thian Sun Hwesio, murid tertua dari suhu yang menjadi ketua Siauw-lim-pai di kuil ini. Oleh karena itu, pincenglah yang mewakili suhu menghaturkan maaf sebesarnya kepada paduka."

"Hemm, Thian Sun Hwesio. Kedatanganku ini bukan untuk beramah-tamah, bukah pula untuk menjadi tamu, bukan untuk mengacau atau mencari permusuhan. Akan tetapi, sejak kecil aku suka sekali mempelajari ilmu silat dan aku ingin sekali menguji kepandaian semua tokoh persilatan, untuk melihat apakah aku patut menjadi jagoan nomor satu di dunia! Aku tadinya hendak mencari Thian Khi Hwesio untuk kuuji kepandaiannya, akan tetapi karena dia tidak ada, maka kuharap engkau sebagai murid tertua suka mewakilinya untuk menguji kepandaian denganku."

"Omitohud, mana pinceng berani begitu lancang? Pendeta-pendeta tua yang bodoh seperti pinceng ini mana ada kepandaian untuk memukul orang? Pinceng hanya dapat membaca liam-keng dan kalau paduka minta petunjuk tentang prikemanusiaan dan kehidupan, bolehlah pinceng memberinya sedapat pinceng. Akan tetapi ilmu silat? Pinceng tidak mengenal ilmu silat untuk memukul orang."

"Hemm, Thian Sun Hwesio, tidak perlu locianpwe seperti anda ini menyembunyikan kenyataan. Siapakah yang tidak tahu bahwa di samping ilmu keagamaan, para pendeta di Siauw-lim-si merupakan ahli-ahli silat yang pandai? Aku telah menguji kepandaian kedua orang sutemu yang ternyata tidak berapa tinggi, maka kini aku minta locianpwe suka mewakili Thian Khi Hwesio untuk mengadu kepandaian melawanku."

"Pinceng tidak berani."

"Kalau tidak berani, harap locianpwe suka membuat pernyataan tertulis bahwa Siauw-lim-pai tidak dapat menandingi ilmu silatku!"

"Ah, untuk membuat itupun pinceng mana berani? Sebaiknya kelak kalau suhu sudah pulang saja paduka datang lagi dan bicara sendiri kepada suhu. Tentang kepandaian silat, di dunia ini siapakah yang dapat menentukan atau mengukur?"

"Thian Sun Hwesio, bicaramu bercabang! Kalau memang ada kepandaian, hayo keluarkan untuk kutandingi!"

"Omitohud... harap paduka pangeran jangan salah artikan. Pinceng tidak pernah mempelajari ilmu untuk berkelahi, melainkan hanya belajar sedikit ilmu untuk menjaga kesehatan."

"Hemm, kalau begitu coba locianpwe memperlihatkan ilmu untuk menjaga kesehatan itu!"

Han Houw mendesak dan menantang.

Hwesio ini tentu merupakan tokoh nomor satu di kuil ini sesudah ketuanya yang sedang pergi, maka hatinya belum puas kalau dia belum me-ngalahkan hwesio ini.

Thian Sun Hwesio tersenyum ramah, lalu dia menghampiri sebuah sapu yang bersandar di sudut ruangan itu.

"Beginilah pinceng menjaga kesehatan, yaitu dengan pekerjaan yang bermanfaat, misalnya menyapu lantai."

Sambil berkata demikian, Thian Sun Hwesio menggerakkan sapu tua itu dengan sekali ayun.

Han Houw terkejut bukan main karena dia merasakan adanya sambaran angin yang berputar-putar dan semua debu dan kotoran di dalam ruangan itu ikut berputaran seperti terbawa angin puyuh dan semua kotoran dan debu terkumpul di suatu sudut ruangan itu.

Dengan sekali ayun saja kakek itu telah dapat "menyapu"

Lantai ruangan itu sampai bersih, dan angin yang berputar-putar keluar dari ayunan sapunya tadi saja menunjukkan betapa kuatnya tenaga sin-kang dari Thian Sun Hwesio!

Hwesio ini benar-benar tak boleh dipandang ringan, sama sekali tidak dapat dibandingkan dengah dua orang hwesio pertama tadi, dan dia harus berpikir sepuluh kali lebih dulu untuk dapat memastikan bahwa dia akan menang melawan kakek ini!

"Bagus sekali!

Kekuatanmu demikian hebatnya, Thian Sun Hwesio, marilah kita bertanding mengadu ilmu beberapa jurus!"

Tantangnya dan dia sudah melangkah maju lalu memasang kuda-kuda.

Akan tetapi hwesio itu tersenyum dan menggeleng kepala.

"Omitohud, pinceng sudah menyatakan bahwa pinceng tidak pernah mempelajari ilmu silat untuk berkelahi. Biar pinceng dipukul matipun pinceng tidak berani melawan dengan kekerasan. Pinceng hanya bisa menyapu lantai seperti tadi, tidak bisa berkelahi,"

Jawab pendeta itu.

Han Houw mengerutkan alisnya.

Dia merasa penasaran sekali, akan tetapi diapun tahu bahwa amat tidak baik kalau dia menyerang orang yang tidak akan mau melawan.

Selain hal itu amat tidak baik, terutama bagi namanya yang diharapkan akan dapat disebut jagoan nomor satu di dunia, juga dia tidak sudi dan tidak tertarik.

Maka dia menarik napas panjang, dan untuk melampiaskan rasa penasaran di dalam hatinya, dia lalu menghampiri sapu yang sudah disandarkan di pojok tadi.

Dipegangnya gagang sapu dari kayu itu, ditimang-timangnya, kemudian digerak-gerakkan seperti orang menyapu, lalu diletakkannya kembali menyandar dinding.

"Jelas aku tidak akan mampu menandingi kepandaianmu menyapu lantai, Thian Sun Hwesio! Maafkan aku!"

Han Houw berkata sambil mengangguk dan membalikkan tubuhnya, pergi dari situ, diikuti oleh penghormatan Thian Sun Hwesio yang menjura dan merangkap kedua tahgan di depan dada.

Setelah Han Houw pergi jauh, hwesio muda murid Thian Bi Hwesio yang tadi kalahkan oleh Han Houw berkata.

"Omitohud... baiknya ada supek yang membuat dia jerih dan pergi. Kepandaian supek amat hebat sehingga pemuda sombong itu mundur tanpa berani mendesak!"

Thian Sun Hwesio mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala.

"Pangeran itu benar-benar hebat luar biasa dan dunia kang-ouw tentu akan geger dengan kemunculannya, bukan hanya karena ilmunya amat tinggi, akan tetapi terutama sekali karena dia seorang pangeran. Kau kira dia takut? Kau periksa sapu itu baik-baik."

Mendengar ini, hwesio yang bertubuh tinggi besar itu lalu memandang heran, dan dihampirinya sapu yang dipegang oleh Han Houw.

Kelihatannya sapu itu tidak apa-apa, akan tetapi begitu jari tangan pendeta itu menyentuhnya, sapu yang kelihatan tadi masih utuh itu tiba-tiba hancur berantakan!

Tentu saja hwesio itu terkejut sekali dan mengeluarkan seruan kaget sambil melompat ke belakang.

"Nah, kalian lihat betapa lihai dan berbahayanya tangan pangeran itu. Pinceng sendiripun belum tentu akan mampu menandingi kekuatan sin-kangnya yang mengandung keajaiban. Sute berdua apakah tadi mengenal gerakan-gerakannya, dan dari golongan manakah ilmu silatnya?"

Tanya hwesio ini kepada dua orang sutenya.

Thian Bi Hwesio dan Thian Bun Hwesio saling pandang, kemudian menggeleng kepala dengan pandang mata terheran.

"Gerakannya amat aneh dan selama hidup belum pernah pinceng melihat dasar ilmu silat seperti itu,"

Kata Thian Bi Hwesio.

"Terutama gerakan-gerakannya dengan kepala di bawah dan kaki di atas itu,"

Sambung Thian Bun Hwesio.

"Seperti didasari gerakan yoga dari India, akan tetapi tentu bercampur dengan ilmu kaum sesat."

Setelah kemunculan Han Houw yang seperti badai mengamuk mendatangkan kekalutan di dalam kuil itu, suasananya menjadi sunyi dan tenteram setelah pemuda itu pergi dan para hwesio melanjutkan tugas masing-masing, sungguhpun badai yang baru saja mengamuk itu mendatangkan kesan di dalam hati mereka dan menimbulkan kekhawatiran.

Sementara itu, Han Houw pergi dengan hati yang puas.

Betapapun juga, dia telah mengalahkan dua orang tokoh besar dari Siauw-lim-pai, dan hal ini saja tentu akan mengangkat namanya tinggi-tinggi di dunia kang-ouw!

Dia lalu melanjutkan perjalanannya ke utara, ke kota raja akan tetapi di setiap kota dia tentu berhenti, mencari tokoh-tokoh kang-ouw untuk diajak mengadu ilmu silat!

Banyaklah tokoh-tokoh kang-ouw yang dirobohkannya, sebagian besar dikalahkannya dengan ilmu silatnya yang memang amat tinggi itu, akan tetapi ada pula sebagian tokoh besar dunia kang-ouw yang tidak berani melawan sungguh-sungguh ketika tahu bahwa pemuda yang lihai itu adalah Pangeran Ceng Han Houw, adik dari Kaisar!

Mereka lebib baik mengalah daripada harus melukai atau salah-salah dapat membunuh seorang pangeran karena hal ini akan menimbulkan akibat yang amat hebat sekali!

Maka, kemenangan demi kemenangan diraih oleh Han Houw yang menjadi semakin angkuh dan merasa bahwa sesungguhnya dialah jagoan nomor satu di dunia ini!

Dan tentu saja, sepak terjangnya itu tersiar luas di dunia kang-ouw ketika berita bahwa di dunia persilatan muncul seorang jago muda yang amat lihai, yaitu Pangeran Ceng Han Houw.

Bahkan tersiar pula berita bahwa selain banyak orang kang-ouw di selatan yang sudah kalah oleh pangeran ini, juga tokoh-tokoh Siauw-lim-pai roboh pula oleh jagoan muda ini!

Berita ini tentu saja disiarkan oleh Han Houw sendiri dan para tokoh kang-ouw menjadi semakin ribut dan kagum!

Pemuda itu menghempaskan dirinya di atas rumput hijau di bawah pohon besar yang teduh.

Dia mengeluh panjang, lalu mengambil sehelai saputangan lebar dan menyusuti keringatnya di muka dan lehernya, Membuka kancing bajunya bagian atas untuk merogoh dada dengan saputangannya yang kini menjadi basah kuyup.

Diperasnya saputangan itu sehingga air keringat mengucur dan diusapnya lagi mukanya yang kemerahan.

Dia mengeluh lagi.

Sinar matahari amat teriknya di waktu siang hari itu, lewat tengah hari.

Dan keteduhan di bawah pohon besar itu amat nyaman.

Sehabis tertimpa panas matahari setengah harian lalu duduk berteduh di tempat itu, di tepi hutan, benar-benar menimbulkan rasa nyaman.

Apalagi ketika ada angin berhembus lembut, membuat muka, leher dan dada yang kini terbuka sedikit itu tertiup angin, bukah main nikmatnya.

Kulit yang tadinya gatal-gatal panas itu ditiup angin terasa sejuk nyaman dan pemuda itupun menguap.

Kedua matanya mulai letih dan mengantuk.

"Aihhh... Lan-moi dan Lin-moi, benar-benar membikin sengsara orang...!"

Keluhnya dan dia pun merebahkan tubuhnya yang gemuk itu di atas rumput, berbantal lengan kiri sedangkan lengan kanannya memegangi golok pada gagangnya, golok besar yang diletakkannya di atas rumput di samping tubuhnya yang besar.

Tak lama kemudian diapun mendengkurlah, tidur dengan nyenyaknya!

Pemuda itu bukan lain adalah Tee Beng Sin, keponakan Kui Hok Boan yang tinggal di dusuw Pek-jun dekat kota raja.

Pemuda bertubuh gendut berwajah lucu ini seperti kita ketahui telah meninggalkan dusun Pek-jun bersama Kwan Siong Bu, seorang keponakan lain dari Kui Hok Boan, untuk mencari jejak Lan Lan dan Lin Lin yang melarikan diri karena mereka hendak diberikan kepada Pangeran Ceng Han Houw.

Seperti telah diceritakan di bagian depan dari cerita ini, Beng Sin dan Siong Bu bersimpang jalan dan mereka tidak diperkenankan pulang oleh Kui Hok Boan sebelum menemukan dua orang gadis kembar yang minggat itu.

Sudah berbulan-bulan, kurang lebih enam bulan lamanya, Beng Sin mencari-cari kedua orang adik seperguruan atau adik misan itu, dan akhirnya dia memperoleh jejak mereka di daerah ini.

Dia mencari terus dan siang hari itu, saking lelah dan sedihnya dia jatuh pulas di tepi hutan lebat!

Betapa hati pemuda gendut ini tidak akan berduka?

Dia sudah setengah tahun meninggalkan rumah dan tidak berani pulang karena belum juga berhasil menemukan kembali Lan Lan dan Lin Lin.

Dia amat suka kepada dua orang gadis kembar itu, mencinta mereka seperti adik-adik kandung sendiri, Maka biarpun dia tidak dipesan oleh Kui Hok Boanpun, agaknya dia tidak mau pulang sebelum dapat bertemu dengan mereka.

Kalau dia membayangkan nasib dua orang dara kembar itu, dia merasa kasihan sekali.

Diam-diam dia menyesalkan sikap dan tindakan pamannya yang begitu tega untuk menyerahkan dua orang puterinya kepada pangeran tanpa persetujuan kedua orang dara itu!

Memang menurut pendapat umum, diambil selir oleh seorang pangeran merupakan suatu kehormatan besar bagi seorang gadis, dan Beng Sin tentu saja terseret pula oleh anggapan umum ini, akan tetapi pemuda gendut ini tetap berpendirian bahwa betapa baikpun nasib dua orang dara itu telah dipilih oleh pangeran, namun karena urusan itu mengenai nasib kehidupan dua orang dara itu, maka tentu harus mendapat persejuan dari mereka sendiri.

Saking kesalnya dan juga saking lelahnya, Beng Sin tidur pulas di bawah pohon dengan nyenyaknya sampai dia mendengkur!

Tiba-tiba dia tersentak kaget dan sebagai seorang pemuda yang semenjak kecil belajar silat, begitu terbangun dia sudah meloncat dengan golok di tangan dan waspada, celingukan ke kanan kiri.

Sungguh menyeramkan melihat pemuda yang gendut dan nampak tubuhnya kokoh kuat itu berdiri tegak dengan sebatang golok yang besarnya bukan main itu di tangan kanan, golok besar sekali yang berkilauan tertimpa sinar matahari.

Beng Sin memandang ke kanan kiri dengan alis berkerut.

Biarpun dia tadi tidur pulas, tak salah lagi, telinganya menangkap jeritan nyaring yang membuatnya tersentak kaget.

Akan tetapi mengapa keadaan di situ sunyi saja dan dia tidak melihat atau mendengar apa-apa?

Apakah dia mimpi?

Tak mungkin.

"Tolongggg... ohh, tolonggg...!"

Beng Sin terperanjat, lalu meloncat dan lari ke arah suara itu, yaitu ke dalam hutan.

Dia harus membabat semak-semak belukar dengan goloknya, menyusup-nyusup dan mukanya terasa gatal-gatal karena melanggar ranting-ranting semak-semak.

Akan tetapi dia berlari terus dan akhirnya tibalah dia di tengah hutan.

Nampak sebuah kereta tua yang ditarik oleh dua ekor kuda kurus di tengah hutan itu, di atas jalan hutan yang kasar.

Lima orang laki-laki bertubuh tinggi besar dan bersikap kasar sambil tertawa-tawa sedang menarik-narik seorang gadis cantik sedangkan seorang wanita setengah tua menangis dan berusaha mencegah lima orang laki-laki itu.

"Keparat!"

Beng Sin membentak dan cepat dia meloncat ke dekat kereta itu.

Lima orang laki-laki kasar itu terkejut mendengar bentakan Beng Sin.

Mereka menoleh dan melihat munculnya seorang pemuda gendut yang memegang golok yang bukan kepalang besarnya, mereka lalu melepaskan gadis itu dan mencabut senjata masing-masing dengan sikap mengancam.

"Jangan takut, nona, aku akan membasmi mereka!"

Kata Beng Sin dengan sikap gagah dan dia mendekati gadis dengan ibunya itu yang dengan tubuh gemetar lalu berlindung di belakangnya.

Lima orang perampok kasar itu dipimpin oleh seorang pria setengah tua yang rambutnya riap-riapan dan mukanya bercambang bauk, matanya lebar dan sikapnya amat menakutkan, membayangkan keganasan dan keliaran.

Bajunya terbuat dari kulit harimau yang mem-perlihatkan sebelah pundak dan sebagian dari dada kanannya yang tegap.

Tangan kanannya memegang sebuah penggada yang besar sekali, besar dan berat, seimbang dengan besar dan beratnya golok di tangan Beng Sin.

Empat orang anak buahnya berdiri di belakangnya, masing-masing memegang senjata mereka, ada yang golok, ada yang pedang atau tombak pendek.

Dengan marah Beng Sin bertolak pinggang dan melintangkan golok besarnya di depan tubuhnya.

"Hemm, kalian perampok-perampok laknat berani mengganggu wanita baik-baik di siang hari, ya? Setelah bertemu dengan tuan mudamu, kalian tentu tak dapat diberi ampun lagi!"

Kepala perampok itu adalah seorang yang bertubuh tinggi besar dan kuat.

Ketika dia meliha tubuh Beng Sin yang gendut dan besar, bahkan lebih besar daripada tubuhnya sendiri, dan melihat pemuda itu memegang sebatang golok yang amat besar dan agaknya tidak kalah berat dibandingkan dengan penggadanya, dia terbelalak dan kelihatannya agak jerih.

"Kawan..."

Katanya sambil mengedip-ngedipkan mata seperti memberi isyarat rahasia.

"Kita... kita bagi-bagi rata saja, dah! Berikan barang-barangnya kepada kami dan kau boleh mendapatkan orangnya."

Sejenak Beng Sin melongo, tidak mengerti.

Akan tetapi kemudian dia mencak-mencak dan membanting-banting kaki kanannya.

Celaka, pikirnya.

Dia tentu disangka sebangsa pencoleng oleh kepala perampok itu!

Ingin dia menghadapi cermin untuk melihat wajahnya sendiri.

Benarkah wajahnya seperti wajah pencoleng?

"Bangsat keparat jahanam laknat bermulut busuk!"

Dia memaki-maki saking jengkelnya.

Tangan kiri yang tadinya bertolak pinggang itu kini menuding ke hidungnya sendiri.

"Buka lebar-lebar mata bangsatmu! Kau kira aku ini orang apa? Aku adalah seorang pendekar muda, tahu? Bagi-bagi nenek moyangmu itu! Hayo kalian pergi, kalau tidak, golokku yang sudah haus darah penjahat ini yang akan bicara!"

"Wah, pendekarnya kok gendut amat...!"

Terdengar seorang anak buah perampok berkata lirih.

"Agaknya kurang latihan, sikat saja, twako!"

Kata orang ke dua.

Didorong oleh anak buahnya, kepala perampok itu lalu mengeluarkan suara gerengan dan penggada itu diputar-putar di atas kepala sampai mengeluarkan suara berdesir-desir.

"Taihiap hati-hati...!"

Bisik gadis itu dan Beng Sin yang tadinya merasa gentar juga melihat penggada yang besar itu, tiba-tiba membusungkan dadanya yang memang sudah besar dan lebar itu.

Dia disebut "talhiap".

Dia pendekar besar!

Ha!

Untuk sebutan itu ingin rasanya dia menari-nari dan bermain silat mendemonstrasikan kemahirannya mempermainkan golok besarnya!

Timbul pula keberanian dan kegagahannya, dan dia lalu menggerakkan golok sehingga nampak sinar berkelebat.

"Kalian mau melawan? Bosan, hidup, ya? Nah, sambut ini!"

Dia lalu membacokkan golok besarnya itu ke depan.

Kepala rampok yang lebih biasa menalukkan korban dengan gertakan daripada tindakan ini, cepat menangkis.

Biasanya, orang sudah bertekuk lutut minta ampun kalau dia sudah memutar penggadanya, akan tetapi pemuda gendut ini tidak takut!

"Tranggg...!"

Penggada itu terpental dan terlepas dari pegangan si kepala perampok!

Beng Sin tersenyum-senyum, biarpun senyumnya menjadi agak kecut karena dia harus menahan rasa nyeri pada lengannya yang menjadi kesemutan karena getaran pertemuan senjata tadi.

"Nah, ambil senjatamu, jahanam!"

Katanya dengan lagak gagah, sambil bertolak pinggang lagi.

Tentu saja peristiwa ini mengagetkan semua perampok itu.

Kepala perampok itu memiliki tenaga besar sekali.

Penggada itu dapat menghancurkan batu karang sekali gempur dan dapat menumbangkan sebatang pohon sekali hantam.

Akan tetapi kini bertemu dengan golok pemuda gendut itu, ruyung atau penggadanya itu terlepas dan lengannya terasa lumpuh!

Tentu saja nyalinya terbang seketika dan dia menggeleng-geleng kepalanya, lalu membalikkan tubuhnya dan lari, diikuti oleh empat orang anak buahnya.

Memang mereka itu hanyalah perampok-perampok kasar yang biasanya mengandalkan gertakan saja, sama sekali tidak memiliki kepandaian berarti.

Betapapun juga, kalau mereka itu bukan pengecut dan mengeroyok Beng Sin, tentu pemuda ini akan repot juga!

Bukan main lega hati Beng Sin.

Dia tertawa dan mengamang-amangkan goloknya ke atas.

"Tikus-tikus busuk! Kalau lain kali bertemu denganku, jangan harap golokku akan mengampuni kalian!"

Gadis itu bersama ibunya lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Beng Sin.

"Taihiap, terima kasih atas pertolonganmu..."

Gadis yang manis itu berkata, juga ibunya menghaturkan terima kasih.

Beng Sin menjadi sibuk juga.

Dengan tangan kirinya di menyentuh pundak gadis itu untuk membangunkannya, akan tetapi begitu jari tangannya menyentuh kulit daging yang hangat lunak, dia menggigil dan menariknya kembali.

"Maaf... eh, nona dan bibi... harap bangkit dan mari kuantar kalian..."

Ibu dan anak gadisnya itu lalu bangkit dan celingukan.

"Apa yang kalian cari?"

Tanya Beng Sin ketika melihat mereka celingukan seperti itu.

"Kusir kami... tadi ketika perampok-perampok muncul, dia lari entah ke mana..."

Beng Sin lalu berteriak nyaring.

"Heiii! Kusir kereta! Keluarlah, perampok sudah pergi semua!"

Tak lama kemudian terdengar suara menjawab dan si kusir yang bertubuh kurus tinggi itu muncul dengan tubuh gemetar, muka pucat.

Beng Sin merasa geli sekali, apalagi melihat betapa celana kusir itu basah.

Entah basah terkena air ketika bersembunyi, entah basah ngompol saking takutnya.

"Hayo lekas naik dan antar nona dan bibi ini pulang. Aku akan mengawal mereka!"

Kata Beng Sin dengan gagah.

Gadis dan ibunya itu lalu masuk ke dalam kereta, dan Beng Sin juga masuk ke dalamnya, duduk berhadapan dengan gadis dan ibunya itu.

Kusir kereta segera menjalankan kuda dan kereta itupun membalap keluar dari dalam hutan secepatnya.

Di sepanjang perjalanan ini, ibu si gadis yang kini menjadi malu-malu dan bahkan jarang berani menatap wajah pemuda gendut yang dengan gagah perkasa telah menolongnya itu, menceritakan siapa adanya mereka.

Suami wanita itu adalah seorang piauwsu, yaitu pengawal kiriman barang-barang atau orang-orang yang melakukan perjalanan jauh.

Ciook-piauwsu ini bekerja pada piauwkiok (perusahaan pengawalan) yang bernama Hek-eng-piauwkiok di kota Su-couw di Ho-nan.

"Kami ibu dan anak baru saja pulang dari menengok keluarga ke dusun, taihiap. Biasanya perjalanan ke dusun lewat hutan ini aman saja, tidak nyana hari ini kami mengalami gangguan penjahat. Untung ada taihiap yang menolong kami. Karena biasanya aman, maka suami saya tidak mengantar."

"Kalau ayah mengawal, penjahat-penjahat itu tentu sudah dibunuhnya!"

Kata gadis itu yang oleh ibunya diperkenalkan dengan nama Ciook Sui Lan.

"Eh... nona Ciook adalah puteri seorang piauwsu yang pandai, kenapa tadi tidak melawan penjahat-pejahat itu?"

Tanya Beng Sin.

Nona itu menunduk, tersenyum dan mengerling wajah pemuda gendut itu, membuat hati Beng Sin berdebar tidak karuan!

"Ayah melarangku belajar silat, katanya tidak pantas bagi seorang wanita..."

Jawab gadis itu malu-malu.

"Dan memang benar, aku sendiripun melarangnya, taihiap. Lebih baik seorang wanita mempelajari ilmu-ilmu yang halus, menulis, membuat sajak, menjahit, menari, bernyanyi dan memasak. Lebih berguna kalau kelak menjadi isteri orang."

"Ihhh, ibu...!"

Siu Lan berkata sambil menunduk, mukanya menjadi merah sekali.

"Tentu... tentu paman Ciook lihai sekali ilmu silatnya,"

Beng Sin berkata dan diapun merasa sungkan dan tidak enak ketika ibu itu menyebut-nyebut tentang wanita menjadi isteri orang!

Wanita itu menarik napas panjang.

"Sejak muda, suamiku paling senang dengan ilmu silat. Dia seorang kasar, taihiap, akan tetapi dalam ilmu silat, dia cukup terkenal dan di Hek-eng-piauwkiok dia menjadi piauwsu yang diandalkan oleh majikan piauwkiok."

Ketika mereka tiba di rumah keluarga Ciook yang cukup besar, mereka disambut oleh seorang laki-laki setengah tua yang kelihatan gagah dan bermata tajam.

Dia ini bukan lain adalah Ciook-piauwsu sendiri.

Betapa kaget hati piauwsu ini ketika mendengar penuturan isteri dan puterinya bahwa kereta mereka dihadang perampok dan bahwa puterinya hampir saja celaka kalau tidak ditolong oleh pemuda gendut yang terus mengawal mereka sampai tiba di rumah.

"Ah, sicu muncul seperti dituntun tangan Thian! Betapa besar rasa terima kasih kami kepadamu, sicu!"

Piauwsu itu cepat memberi hormat kepada pemuda itu. Beng Sin cepat membalas dengan menjura.

"Aih, lo-enghiong, aku telah mendengar bahwa engkau juga seorang ahli silat yang pandai. Antara sesama orang yang suka menentang kejahatan, bantu-membantu adalah wajar. Mana bisa bicara tentang budi?"

Piauwsu itu menjadi kagum dan tahulah dia bahwa pemuda ini adalah seorang yang berwatak gagah dan jujur.

Beng Sin lalu dipersilakan masuk dan mereka berkenalan.

Ketika Beng Sin minta diri dan berpamit, piauwsu itu dan isterinya menahan-nahannya.

"Tee-sicu telah menyelamatkan keluargaku, berarti telah menjadi seperti keluarga atau sahabat baik kami sendiri, mengapa begitu tergesa-gesa? Sicu akan mengecewakan hati kami sekeluarga kalau tidak mau tinggal di sini untuk beberapa hari lamanya, sekedar memberi kesempatan kepada kami untuk menyatakan rasa terima kasih kami,"

Ciook-piauwsu berkata dan karena dibujuk-bujuk, akhirnya Beng Sin merasa tidak enak juga dan akhirnya dia menyetujui.

Pada sore harinya, ketika Beng Sin dan tuan rumah bercakap-cakap di kebun belakang, Ciook-piauwsu bertanya dari mana pemuda itu mempelajari ilmu silat dari golongan apa.

"Saya belajar dari paman saya sendiri, lo-enghiong. Saya telah yatim piatu, ayah saya telah tiada dan ibu saya telah masuk menjadi nikouw dan tidak berurusan lagi dengan dunia, dan sejak kecil saya dirawat dan dididik oleh paman saya yang bernama Kui Hok Boan. Karena paman saya pernah menjadi murid Go-bi-pai, maka saya kira ilmu silat yang diajarkan kepada saya tentu dari aliran Go-bi-pai."

Wajah Ciook-piauwsu berseri.

"Ahh, kalau begitu kita orang sendiri!"

Dia berseru girang.

"Ketahuilah, sicu. Aku sendiripun adalah seorang murid Go-bi-pai!"

"Kalau begitu, lo-enghiong mengenal paman saya?"

Piauwsu itu menggeleng kepala.

"Murid Go-bi-pai ribuan orang banyaknya dan berpencar di mana-mana. Menurut penuturanmu, pamanmu datang dari utara dan aku tinggal di selatan, biarpun antara kami memiliki sumber ilmu silat yang sama, namun tentu diajarkan oleh guru-guru yang lain. Sicu, kalau boleh, aku ingin melihat ilmu sliatmu. Harap kauperlihatkan ilmu golokmu, barangkali saja kita dapat saling memberi petunjuk karena sealiran."

Dengan girang Beng Sin lalu bersilat.

Goloknya yang besar dan berat itu diputar sampai mengeluarkan suara berdesing dan nampak gulungan sinar yang besar menyambar-nyambar.

Setelah selesai, piauwsu itu mengangguk-angguk.

"Ilmu golokmu sudah cukup baik, akan tetapi sayang..."

"Bagaimana, lo-enghiong?"

"Masih banyak kekurangannya karena agaknya tercampur dengan ilmu dari sumber lain sehingga agak lemah, terutama sekali di bagian penyerangan. Ilmu golok Go-bi-pai yang aseli banyak menggunakan penyerangan dari bawah yang amat lihai dan berbahaya bagi lawan. Coba kau lihat, akan tetapi golokmu terlampau berat untukku, sicu, biarlah aku memakai golok biasa dan kau lihatlah baik-baik."

Ciook-piauwsu lalu bersilat dengan sebatang golok biasa dan gerakannya memang dikenal oleh Beng Sin sebagai ilmu golok Go-bi-pai, akan tetapi terdapat perbedaan-perbedaan dan terutama sekali ketika kakek setengah tua itu bersilat makin cepat, gerakannya berbeda dan kini dia melihat berkali-kali piauwsu itu bergulingan dan goloknya menyambar-nyambar dari bawah dengan amat cepatnya.

Melihat ini, Beng Sin kagum sekali.

Kiranya benar ucapan Siu Lan dan ibunya bahwa piauwsu ini memang benar memiliki ilmu silat yang tinggi sehingga kalau piauwsu ini mengawal anak isterinya, tentu lima orang perampok itu akan ketemu batunya!

"Lo-enghiong, saya mohon petunjuk!"

Katanya setelah piauwsu itu menghentikan permainan silatnya.

Ciook-piauwsu berdiri sambil tertawa dan mengangguk-angguk.

"Boleh, boleh... akan tetapi untuk itu sicu harus tinggal di sini selama beberapa hari."

Tentu saja Beng Sin setuju dan menghaturkan terima kasih.

Mulai hari itu pemuda gendut ini menerima petunjuk-petunjuk dalam ilmu golek Go-bi-pai dari Ciook-piauwsu.

Kalau dibuat perbandingan, belum tentu Kui Hok Boan kalah oleh Ciook-piauwsu, akan tetapi dalam ilmu golok Go-bi-pai, (Lanjut ke

Jilid 41) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 41 memang ilmu yang dimiliki Kui Hok Boan kalah murni.

Kui Hok Boan adalah murid Go-bi-pai, murid mendiang Kauw Kong Hwesio, akan tetapi dia telah memperdalam ilmu silatnya dengan ilmu-ilmu dari sumber lain sehingga ilmu golok yang diajarkannya kepada Beng Sin sudah tidak aseli lagi.

Sebaliknya, Ciook-piauwsu adalah murid Go-bi-pai yang tidak mencampurkan ilmu golok itu dengan ilmu lain, Dan selain itu, memang dia paling suka dengan senjata ini sehingga dalam hal memainkan golok dia lebih mahir.

Selama kurang lebih sepuluh hari Beng Sin tinggal di situ, setiap hari dengan tekun menerima petunjuk-petunjuk sehingga kepandaiannya dalam hal main golok dalam ilmu golok Go-bi-pai menjadi lebih matang dan dia kini mampu melakukan jurus-jurus bergulingan yang amat lihai itu.

Akan tetapi di samping itu, juga hubungannya dengan keluarga itu menjadi semakin akrab.

Pada hari ke sebelas, ketika Beng Sin bermohon diri dari tuan rumahg Ciook-piauwsu mengajaknya duduk bercakap-cakap di ruangan belakang dan piauwsu yang selama beberapa hari sangat memperhatikan Beng Sin dan merasa suka kepada pemuda gendut yang ramah dan jujur ini, berkata.

"Tee-sicu, ada sesuatu hal yang ingin saya tanyakan kepada sicu, harap sicu tidak menjadi kecil hati."

"Ah, lo-enghiong telah begitu baik kepada saya, seperti seorang guru saya, mengapa masih begitu sungkan? Kalau ada sesuatu, tanyakanlah saja tanpa ragu-ragu."

"Begini, sicu. Hal ini sudah saya bicarakan dengan isteri dan puteri kami, dan kami ingin sekali tahu apakah sicu sudah berkeluarga? Maksud saya, apakah sudah menikah?"

Pertanyaan ini membuat Beng Sin yang jujur terbelalak heran dan cepat dia menggelengkan kepala.

"Dan sudah bertunangan ataukah belum?"

"Belum, lo-enghiong... akan tetapi kenapa...?"

"Bagus! Ketahuilah, sicu, setelah berkenalan dengan sicu, apalagi mengingat betapa sicu telah menyelamatkan puteri kami dari bahaya, kami mengambil keputusan untuk menyerahkan puteri kami kepada sicu, yaitu kami ingin mengikatkan perjodohan antara puteri kami dengan sicu... harapan kami agar sicu tidak menolak maksud baik kami ini."

Tentu saja Beng Sin menjadi kaget dan bingung sekali, tidak tahu harus menjawab bagaimana.

Mukanya yang gemuk menjadi kemerahan karena memang sesungguhnya dia sama sekali belum berpikir tentang perjodohan, sungguhpun diam-diam dia merasa telah "jatuh cinta"

Kepada Lin Lin, adik misannya itu.

"Ini... ini... saya belum pernah berpikir tentang perjodohan, lo-enghiong, dan pula... tentu saya harus bertanya dulu kepada paman saya sebelum memberi keputusan..."

Katanya gagap.

Piauwsu itu tersenyum dan mengangguk-angguk.

Sikap pemuda ini jelas menunjukkan bahwa pemuda ini masih hijau dan polos, masih seorang jejaka tulen sehingga hatinya menjadi semakin suka.

"Tentu saja, sicu. Aku akan mendatangi pamanmu itu sewaktu-waktu untuk minta persetujuannya. Dalam waktu dekat aku akan mengunjungi dusun Pek-jun untuk bicara dengan pamanmu kalau saja engkau sendiri sudah setuju. Kecuali kalau sicu menolak karena anak kami memang buruk rupa dan bodoh..."

"Ah, tidak, tidak demikian, lo-enghiong. Puterimu adalah seorang gadis yang cantik dan baik... akan tetapi harap lo-enghiong tidak tergesa-gesa karena terus terang saja, keluarga kami sedang mengalami persoalan yang menyedihkan. Paman saya sedang dalam duka karena kehilangan kedua orang puterinya, bahkan saya sekarang inipun sedang dalam tugas untuk mencari jejak kedua orang adik misan saya itu. Sudah setengah tahun saya meninggalkan rumah dan belum juga berhasil. Saya telah menemukan jejak mereka ke daerah ini, akan tetapi belum juga berhasil menemukan kedua orang adik misan saya itu."

"Ahh!"

Ciook-piauwsu nampak terkejut.

"Kalau saya boleh tahu, apakah yang terjadi, sicu? Siapa tahu saya dapat membantumu."

Dengan singkat Beng Sin menceritakan peristiwa yang menimpa diri dua piauw-moinya (adik perempuan misan) itu.

Dia sudah percaya kepada piauwsu ini yang dianggap sebagai guru sendiri.

Tentu saja dia tidak bercerita terlalu banyak, hanya menceritakan bahwa dua orang gadis kembar itu melarikan diri karena tidak mau dijadikan selir pangeran dan sekarang dia harus mencari mereka sampai dapat.

Mendengar cerita ini, Ciook-piauwsu terheran-heran.

"Diangkat selir oleh pangeran adik Kaisar! Itu merupakan kehormatan yang amat tinggi! Kenapa mereka melarikan diri... eh, kau bilang mereka itu adalah saudara kembar? Ahh, betapa kebetulan sekali!"

Tiba-tiba piauwsu itu berkata dengan wajah berseri.

"Aku... aku tahu di mana adanya mereka! Ah, kenapa tidak sejak dulu engkau menceritakan padaku, sicu? Mari, mari kau ikut aku!"

Bukan main kagetnya Beng Sin mendengar ini.

Tak disangkanya sama sekali bahwa piauwsu ini justeru tahu tentang Lan Lan dan Lin Lin!

"Benarkan engkau tahu, lo-enghiong?

Di mana mereka?"

"Agaknya tidak salah lagi! Majikanku, yaitu ketua atau pemilik Hek-eng-piauwkiok memungut sepasang gadis yatim piatu sebagai anak-anak angkatnya! Agaknya mereka itulah adik-adikmu itu! Tak salah lagi. Merekapun pandai ilmu silat. Majikanku melihat mereka ketika mereka dibajak di Sungai Huang-ho dan majikanku menolong mereka, lalu membawa mereka pulang dan mereka diambil anak angkat!"

Bergegas mereka pergi ke rumah ketua Hek-eng-piauwkiok yang bernama Ciang Lok, seorang piauwsu kawakan yang tidak mempunyai keturunan dan yang pada beberapa bulan yang lalu telah mengangkat dua orang gadis kembar menjadi anak-anak angkatnya.

Setelah tiba di situ, mereka disambut oleh Ciang Lok sendiri.

Begitu bertemu, Ciook-piauwsu cepat memberi hormat dan berkata.

"Ciang-twako, di mana adanya dua orang anak angkatmu itu? Kalau tidak salah, mereka itu adalah adik-adik piauw dari Tee-sicu ini yang mencari-carinya!"

Mendengar itu, Ciang Lok mengerutkan alisnya dan menarik napas panjang, lalu memandang kepada pemuda gendut itu sejenak, kemudian tanpa menjawab pertanyaan pembantunya itu dia lalu bertanya kepada Beng Sin.

"Apakah engkau mengenal seorang pemuda bernama Kwan Siong Bu?"

"Tentu saja!"

Beng Sin menjawab.

"Dia adalah kakak misanku pula, juga masih kakak misan dari kedua orang adik Lan dan Lin, sepasang gadis kembar yang saya cari, itu!"

Piauwsu berusia lima puluh tahun lebih itu mengangguk-angguk, dan kembali menarik napas panjang.

"Harap kalian suka duduk dan dengarkan ceritaku. Agaknya kedatanganmu terlambat, orang muda."

Tentu saja Beng Sin kaget sekali.

Dia lalu cepat duduk bersama Ciook-piauwsu dan dengan hati tegang dia bertanya.

"Terlambat bagaimana, lo-enghiong?"

"Baru tiga hari yang lalu datang seorang pemuda yang bernama Kwan Siong Bu itu, dan ternyata dua orang anak angkatku itu mengenalnya sebagai kakak misan. Kemudian mereka berpamit karena dua orang anak angkatku itu terpaksa harus pulang ke dusun Pek-jun di utara bersama piauw-ko (kakak misan) mereka. Tentu saja aku, biarpun dengan hati amat berat, tidak berhak untuk melarang mereka."

Wajah Beng Sin berseri.

"Ah, saya girang mendengar hal ini, lo-enghiong. Syukurlah kalau mereka sudah pulang bersama Kwan-twako. Dan saya sebagai kakak misannya menghaturkan beribu terima kasih kepada lo-enghiong yang telah menolong mereka, bahkan bersikap baik kepada mereka, menampung dan memelihara mereka selama ini!"

Beng Sin lalu bangkit berdiri dan memberi hormat. Tuan rumah itu balas menghormat.

"Hemm, engkau baik sekali sicu, jauh lebih baik daripada kakak misanmu itu yang kelihatan angkuh. Sebaiknya kalau sicu cepat menyusul mereka, karena hatiku akan merasa lebih tenang kalau sicu sendiri yang mengantar mereka pulang."

Beng Sin bergegas pamit dan kembali bersama Ciook-piauwsu.

Dia lalu mengemasi pakaiannya dan berangkat hari itu juga setelah berjanji kepada Ciook-piauwsu untuk membicarakan hal usul perjodohan itu kepada pamannya.

Juga dalam kesempatan ini Beng Sin berpamit kepada nyonya Ciook dan kepada Siu Lan yang nampak berduka, akan tetapi dia melihat betapa dara ini makin cantik saja!

Dengan menunggang kuda pemberian Ciook-piauwsu, Beng Sin melakukan perjalanan cepat menuju pulang ke utara.

Di sepanjang jalan dia mencari keterangan dan mendapat petunjuk bahwa memang benar dua orang gadis kembar itu ditemani oteh Kwan Siong Bu melakukan perjalanan, akan tetapi ternyata mereka melakukan perjalanan cepat berkuda pula sehingga dia yang tertinggal selama tiga hari itu sukar untuk dapat menyusul mereka.

Akhirnya, setelah melakukan perjalanan cepat, akhirnya Beng Sin tiba juga di pekarangan rumah pamannya di dusun Pek-jung.

Dia melompat turun dari kudanya yang mandi keringat, membiarkan seorang pelayan merawat kuda itu, dan dia sendiri sudah berlari memasuki rumah pamannya.

Rumah itu sunyi saja!

Hanya ada pelayan-pelayan yang memandangnya dengan kaget karena tuan muda yang baru datang ini kelihatan tergesa-gesa dan begitu tegang.

"Di mana tuan besar? Di mana kedua orang siocia?"

Berkali-kali dia bertanya dan para pelayan hanya menggeleng kepala.

Beng Sin tidak sabar lagi dan berlari mencari ke seluruh kamar di rumah itu.

Akhirnya dia melihat Siong Bu seorang diri di dalam lian-bu-thia (ruangan belajar silat) yang luas, agaknya habis berlatih silat karena pedang telanjang masih di tangannya dan mukanya berkeringat.

Dia sedang mengusap peluhnya dan tersenyum lebar ketika melihat masuknya Beng Sin.

"Ha, kau baru datang Sin-te (adik Sin)? Ha-ha, aku lebih berhasil menemukan Lan-moi dan Lin-moi dan membawa mereka pulang tiga hari yang lalu. Kau tahu di mana mereka itu? Ha, betapa bodohnya kita, mencari ke timur dan ke barat, padahal mereka itu pergi..."

"Aku sudah tahu, Bu-ko. Aku baru saja datang dari Su-couw, bahkan aku lebih dulu dari engkau tiba di Su-couw, hanya tidak kebetulan... ah, sudahlah. Engkau telah berhasil menemukan mereka dan membawanya kembali ke sini, itu yang penting. Tapi di mana mereka sekarang? Dan di mana paman?"

Kembali Siong Bu tertawa dan pemuda ini nampak girang bukan main.

"Duduklah, Sin-te, duduklah di sini. Kita bernasib baik sekarang! Ah, kita akan bisa menjadi orang-orang penting di istana! Pendeknya, kita dapat menjadi pembesar tanpa melalui ujian apapun, dan Pangeran Ceng Han Houw tentu akan menolong kita. Paman juga girang bukah main, dan kemarin paman sendiri pergi ke kota raja untuk menemui pangeran!"

Berubah wajah Beng Sin, alisnya berkerut dan jantungnya berdebar tegang.

"Apa...? Apa maksudmu, Bu-ko? Di mana Lan-moi dan Lin-moi?"

Melihat ini, Siong Bu memandang dengan heran.

"Tentu saja mereka berada di istana Pangeran Ceng Han Houw! Masa engkau masih harus bertanya lagi, Sin-te? Kita disuruh mencari untuk membawa mereka pulang dan untuk diserahkan kepada pangeran, karena kalau tidak, kita sekeluarga tentu akan celaka. Dan begitu berhasil, aku kebetulan bertemu pangeran sebelum tiba di rumah, maka tentu saja menjadi lebih mudah bagiku untuk menyerahkan mereka kepada pangeran dan beliau girang sekali, langsung membawa mereka ke istana dan menjanjikan kepadaku bahwa keluarga kita akan memperoleh kedudukan tinggi! Bukan hanya kemuliaan di istana atau di kota raja, Sin-te, bahkan lebih lagi! Diam-diam pangeran menjanjikan sesuatu yang lebih hebat lagi!"

Pemuda berwajah tampan itu tersenyum-senyum dan wajahnya berseri tanda bahwa dia merasa gembira sekali.

Beng Sin diam-diam merasa terkejut, marah akan tetapi juga heran.

Dia tahu bahwa kakak misannya ini mencinta Kui Lan, akan tetapi mengapa sekarang begitu girang menyerahkan dara yang dicintanya itu kepada pangeran?

Dia masih dapat menahan kemarahannya, dan dengan suara dingin dia bertanya.

"Hemmm, sesuatu apakah yang dijanjikannya itu?"

Dalam kegembiraannya, Siok Bu tidak mendengar betapa suara adik misannya itu dingin sekali dan sinar mata yang biasanya jenaka itu berapi-api.

Sambil tersenyum dia menjawab.

"Ah, hal ini hanya kuberi tahu kepadamu, Sin-te, tentu pamam tidak kuberi tahu karena ini merupakan rahasia kita berdua. Apa yang dijanjikan oleh pangeran itu? Beliau berkata bahwa kelak, kalau dia tidak membutuhkan lagi dia akan menghadiahkan Lan-moi dan Lin-moi kepadaku! Ha-ha, tentu saja Lin-moi akan kuserahkan kepadamu, Sin-te!"

"Plakkk!"

"Hei, gilakah engkau?"

Siong Bu meloncat ke belakang, melintangkan pedangnya dan menggosok-gosok pipinya yang tadi ditampar oleh Beng Sin dengan keras sekali itu.

Ujung bibirnya berdarah.

Dia dapat ditampar karena dia tidak pernah menyangka sama sekali bahwa adik misan yang sejak kecil takut dan taat kepadanya itu tiba-tiba menyerangnya seperti itu.

"Bu-ko, sungguh hatimu busuk dan kotor sekali!"

Beng Sin membentak marah.

Memang sejak kecil dia mengenal Siong Bu sebagai seorang yang nakal, disangkanya bahwa Siong Bu yang amat mencinta Kui Lan itu akan melindungi dara itu.

Siapa kira, dengan keji sekali Siong Bu malah menyerahkan dua orang dara kembar itu kepada pangeran dan merasa girang akan memperoleh hadiah kedudukan, bahkan begitu tak tahu malu untuk bergirang hati oleh janji pangeran bahwa kalau kelak pangeran sudah bosan, dara kembar itu akan dihadiahkan kepadanya!

Memang sejak kecil dia takut dan menurut kepada Siong Bu karena memang dia merasa kalah.

Akan tetapi sekarang, setelah mereka sama-sama dewasa, apalagi demi membela Kui Lan dan terutama Kui Lin yang dicintanya, dia tidak akan takut melawan Siong Bu.

Apalagi Siong Bu, siapapun akan dilawannya demi untuk membela dara kembar itu.

"Sin-te, apakah engkau sudah gila? Kau berani menamparku?"

Siong Bu memandang marah.

"Bu-ko, hatimu busuk! Kusangka engkau menyayang Lan-moi dan Lin-moi, kukira engkau mencari mereka untuk melindungi, akan tetapi siapa kira, engkau malah menyerahkan mereka kepada pangeran, seperti mendorong masuk dua ekor domba ke kandang serigala! Engkau layak ditampar, bahkan patut dibunuh karena engkau jahat!"

"Keparat! Jadi engkau bukan hanya berani menentangku, bahkan engkau hendak menjadi pemberotak menentang pangeran? Jahanam busuk, aku harus membunuhmu!"

Bentak Siong Bu sambil memegang sarung pedang dengan tangan kiri dan pedang di tangan kanannya digerakkan di depan mukanya.

"Hemm, boleh kau coba! Akulah yang akan menamatkan riwayatmu karena engkau busuk dan hina, dan aku harus membalaskan penghinaan yang kau timpakan atas diri Lan-moi dan Lin-moi!"

"Beng Sin, tutup mulutmu yang kotor! Kubunuh engkau!"

Bentak Siong Bu makin marah.

Beng Sin melintangkan golok di depan dada, tangan kirinya memegang punggung golok besar itu dan dengan tenang berseru.

"Majulah, manusia busuk!"

Pada saat itu, terdengar teriakan dari pintu! "Tahan! Jangan berkelahi!"

Suara itu adalah suara Kui Hok Boan yang muncul di pintu dan terkejut melihat dua orang pemuda itu saling berhadapan dengan senjata di tangan, dan kelihatannya bukan seperti sedang berlatih silat seperti biasa karena wajah mereka tegang dan kelihatan marah.

Akan tetapi, begitu melihat munculnya pamannya yang dianggapnya tentu cocok dengan dia mengenai urusan Lan Lan dan Lin Lin, Siong Bu sudah menubruk maju dan berkata.

"Paman, bocah ini hendak memberontak!"

Dan pedangnya sudah menyambar-nyambar ganas.

Beng Sin cepat mengelak dan menangkis dengan penuh kewaspadaan karena diapun maklum betapa kakak misan atau juga suhengnya ini pandai sekali bermain pedang.

"Jangan berkelahi!"

Bentak pula Kui Hok Boan akan tetapi dua orang muda itu sudah begitu marah, dan terutama sekali Beng Sin sudah membenci sekali karena tahu betapa dua orang dara itu seolah-olah disuguhkan begitu saja oleh Siong Bu kepada pangeran itu dan dia dapat membayangkan betapa sengsara dan sedihnya hati dua orang dara kembar itu dan bahwa keadaan mereka sukar ditolong lagi karena sudah berada dalam cengkeraman pangeran itu.

Maka segala kedukaan, penyesalan dan kemarahannya dia timpakan kepada Siong Bu yang dianggap sebagai biang keladinya.

Siong Bu yang merasa bahwa pamannya tentu membenarkannya juga menyerang dengan ganas sekali dan biarpun pamannya sudah berteriak agar mereka jangan berkelahi, dia masih terus menyerang dan tidak mau mengalah, apalagi karena di fihak Beng Sin juga sudah terus menyerangnya dengan nekat.

Kui Hok Boan sendiri sejenak termangu-mangu, tak tahu harus berbuat apa.

Dia baru saja kembali dari kota raja dan bertemu dengan Pangeran Ceng Han How, diterima sebagai tamu terhormat dan diberi janji-janji muluk oleh sang pangeran.

Akan tetapi, dia tidak dapat bertemu dengan dua orang anaknya.

Biarpun dia sudah mohon kepada pangeran itu untuk bertemu dengan mereka, akan tetapi Pangeran Ceng Han Houw tidak mengijinkannya dan hanya berkata bahwa dua orang puterinya itu telah berada di bagian keputren dan tidak bisa sembarangan begitu saja keluar dari istana.

"Harap engkau tidak khawatir, mereka akan baik-baik saja, hidup dalam kemuliaan dan kemewahan,"

Kata Ceng Han Houw sambil tersenyum, kemudian Kui Hok Boan dipersilakan untuk bermalam di dalam istana.

Biarpun dia memperoleh kamar yang amat mewah dan indah, namun Kui Hok Boan merasa gelisah.

Sebagai seorang ayah, betapapun juga dia mengkhawatirkan keadaan dua orang puteri yang dicintanya.

Semenjak Lan Lan dan Lin Lin minggat, selama berbulan-bulan lamanya dia berduka sekali dan setelah kini dua orang puterinya itu ditemukan oleh Siong Bu, Dia belum sempat bertemu karena mereka telah diserahkan kepada Pangeran Ceng Han Houw oleh Siong Bu.

Dia merasa rindu sekaii dan ingin melihat wajah dua orang puterinya, akan tetapi tidak ada kesempatan baginya.

Diam-diam dia mulai menyesal.

Biarpun dia akan mendapatkan hadiah dan mendapat kedudukan, apa artinya kalau dia tidak dapat lagi bertemu dengan mereka dan melihat dengan mata kepala sendiri bahwa mereka itu benar-benar hidup berbahagia?

Karena itu, biarpun dia mendapat pelayanan sebagai tamu agung, Kui Hok Boan merasa tidak betah tinggal di istana dan pada keesokan harinya dia sudah berpamit dan pulang ke rumahnya di dusun Pek-jun.

Dapat dibayangkan betapa kagetnya melihat dua orang keponakan itu sedang saling berhadapan kemudian berkelahi mati-matian.

Hatinya terlalu pedih, terlalu risau untuk dapat bertindak cepat sehingga dia hanya berteriak-teriak melarang mereka berkelahi, seolah-olah tidak tahu harus berbuat apa, bahkan sama sekali tidak turun tangan melerai mereka.

Tiba-tiba Kui Hok Boan terbelalak kaget melihat Beng Sin menjatuhkan diri bergulingan di lantai.

Itulah jurus-jurus Trenggiling dari Go-bi-pai aseli yang tidak sempat dia pelajari!

Heran bukan main hatinya.

Dari mana Beng Sin dapat mainkan jurus-jurus yang berbahaya dan lihai ini?

Juga Siong Bu terkejut sekali dan beberapa kali pedangnya masih mampu melindungi tubuhnya, akan tetapi tiba-tiba tangannya yang memegang pedang kena tendangan dari bawah sehingga pedangnya terlepas dan pada saat itu, golok Beng Sin menyambar.

"Cappp!"

"Ughhh!"

Siong Bu menjerit dan darah bercucuran dari perutnya yang robek.

"Heiiiii...!"

Kui Hok Boan juga berseru dan meloncat ke depan, menendang tangan Beng Sin yang memegang golok, Beng Sin yang berdiri terbelalak memandang kepada kakak misannya yang roboh sambil mendekap perut yang terobek itu, tidak mengelak dan goloknya terlepas ketika tangannya ditendang oleh pamannya.

"Siong Bu...!"

Kui Hok Boan menubruk pemuda yang berkelojotan itu.

Siong Bu merintih-rintih, kedua tangan mendekap perut menahan isi perut yang mau keluar.

"Paman... aduhhh... mati aku, paman..."

Dia merintih dan menangis.

"Siong Bu... ah, Siong Bu, anakku...! Ah, Beng Sin, apa yang kau lakukan ini? Apa yang telah kalian lakukan ini?"

Hok Boan menjerit-jerit dan memukul-mukul tanah dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya merangkul leher Siong Bu.

"Kalian adalah saudara-saudara seayah, kalian adalah anak-anakku sendiri berlainan ibu, dan sekarang kalian saling serang, saling bunuh! Ya Tuhan...!"

Beng Sin terbelalak dan wajahnya menjadi pucat sekali.

Diapun berlutut dan memandang ayahnya dengan bingung.

"Paman... ayahku... bagaimana ini...?"

Dia tergagap.

"Siong Bu, ibumu adalah mendiang Kwan Siang Li, seorang janda... dan akulah ayah kandungmu... dan kau Beng Sin, ibumu yang kini menjadi nikouw bernama Tee Cui Hwa, dan akulah ayah kandungmu pula... dan kau sekarang membunuh saudara tirimu, seayah...!"

Kui Hok Boan tak dapat menahan diri lagi, menangis terisak-isak karena Siong Bu mulai lemas dan kepala pemuda itu terkulai.

Beng Sin memegang tangan yang lemas itu.

"Bu-ko, maafkan aku... aku tidak tahu, bahwa... kita... kita masih seayah..."

Katanya seperti berbisik.

Siong Bu membuka matanya, tersenyum.

Agaknya kini rasa nyeri sudah meninggalkannya.

"Aku... aku... yang salah...!"

Dia memejamkan matanya dan napasnya putus!

Kui Hok Boan menangis dan menjambak-jambak rambutnya.

Kini Beng Sin bangkit berdiri, memandang kepada ayahnya itu dengan sepasang mata berapi-api.

Setelah kini dia mendengar bahwa paman atau juga gurunya ini ternyata adalah ayah kandungnya sendiri, Hatinya merasa makin sedih dan menyesal.

Ayah macam apa yang dimilikinya ini?

Anak-anak sendiri, dia dan Siong Bu tidak diakui sebagai anak, dirahasiakan!

Kemudian, Lan Lan dan Lin Lin, dara kembar yang menjadi puteri kandungnya sendiri, juga secara keji telah diserahkan kepada Pangeran Ceng Han Houw.

Dan teringat dia betapa penakut dan pengecut sikap ayahnya ini ketika muncul musuh-musuh yang tangguh, yaitu Kim Hong Liu-nio dan Pangeran Ceng Han Houw.

Kini, mengingat akan nasib Lan Lan dan Lin Lin, melihat pula akibatnya yang membuat dia sampai membunuh Siong Bu, yang ternyata malah saudaranya sendiri, saudara seayah, Beng Sin merasa menyesal dan semua penyesalan itu ditimpakannya kepada ayahnya yang kini terisak-isak di tempat itu seperti seorang anak kecil yang tidak diberi permen!

"Kau...

kau manusia busuk, manusia tak berperasaan, engkau telah menjual puteri sendiri kepada pangeran!

Engkau manusia terkutuk!"

Setelah berkata demikian, Beng Sin memungut goloknya dan lari meninggalkan tempat itu, tidak memperdulikan suara ayahnya yang berteriak-teriak memanggilnya.

"Beng Sin...! Beng Sin anakku, kembalilah...!"

Hok Boan bangkit berdiri, hendak lari mengejar, akan tetapi teringat kepada Siong Bu, lalu kembali dan menjatuhkan diri berlutut lagi, lalu menangis, meratapi nasibnya yang buruk.

Dua orang puterinya diambil pangeran, Siong Bu tewas, dan Beng Sin melarikan diri!

Dia ditinggal seorang diri saja di dunia ini!

Para pelayan yang mendengar ribut-ribut dan datang ke lian-bu-thia itu terkejut dan segera mundur kembali dengan ngeri melihat majikan mereka meratapi mayat tuan muda yang mandi darah!

Betapa sebagian besar dari kita ini selalu bersikap seperti Kui Hok Boan!

Kita selalu menyesali nasib, menyalahkan segala peristiwa yang kita anggap buruk kepada sang "nasib".

Mengapa kita begitu buta, tidak pernah mau membuka mata untuk memandang dan melihat kenyataan bahwa semua sebab dari segala "nasib"

Berada pada diri kita sendiri?

Kitalah sumber segala penyakit, kitalah sumber segala duka, sumber segala kesengsaraan!

Dan hal ini baru dapat nampak kalau kita memandang diri sendiri setiap saat tanpa membenarkan atau menyalahkan, tanpa pendapat atau kesimpulan, tanpa pamrih!

Segala peristiwa yang terjadi adalah serangkaian yang sambung-menyambung, seperti lingkaran setan dan semua pendapat dan penilaian merupakan hasil pekerjaan dari pikiran kita sendiri.

Pikiran membentuk sang aku yang selalu ingin senang, ingin enak, ingin baik, ingin benar!

Kita membenci seseorang.

Mengapa!

Demikian pikiran bekerja.

Karena orang itu jahat, karena orang itu merugikan aku, baik merugikan secara lahiriah maupun batiniah.

Pendeknya, orang itu merugikan aku, tidak menyenangkan aku, maka aku membencinya.

Kebencian ini adalah buatan pikiran yang menilai dengan dasar untung rugi bagi sang aku, dan kebencian ini menimbulkan scrangkaian perbuatan kekerasan, seperti memaki orang itu atau memukulnya dan sebagainya, pendeknya untuk melampiaskan dendam dan kebencian kita terhadap orang itu.

Apakah perbuatan ini dapat menghilangkan kebencian tadi?

Tidak sama sekali tentunya, bahkan perbuatan ini akan menimbulkan serangkaian akibat-akibat lain yang berupa kekerasan-kekerasan.

Ada kalanya, kita merasa menyesal karena kita ingat, baik melalui orang lain ataupun diri sendiri, bahwa kebencian adalah tidak baik.

Kini kita membalik pandangan kita kepada diri sendiri.

Tadinya, kita menujukan pandangan kita kepada orang lain, pandangan dengan penuh penilaian pikiran, pertimbangan untung rugi sehingga menimbulkan kebencian.

Kini, setelah kita memandang kepada diri sendiri, kita memandang pula dengan penilaian pikiran.

Ada kalanya pikiran menganggap bahwa kebencian ini tidak baik, dan harus disingkirkan, dilenyapkan.

Di lain saat pikiran membela diri sendiri, perbuatannya sendiri, menganggap bahwa kebencian kita itu tepat dan benar karena memang orang itu jahat dan layak dibenci, dan sebagainya.

Jelaslah, bahwa yang menimbang, yang menilai ini, juga masih si pikiran atau sang aku itu tadi.

Yang menilai ini tidak ada bedanya dengan yang menilai orang yang dianggap jahat tadi, yang menilai kebencian baik atau buruk inipun adalah sang kebencian itu sendiri, tiada bedanya dengan si pikiran itulah.

Dengan demikian, pikiran kadang-kadang berubah menjadi ini dan menjadi itu, namun kesemuanya itu merupakan lingkaran setan yang masih terjadi dalam lingkungan pikiran.

Dengan demikian, kebencian itu akan tetap ada, bahkan makin diperkuat, makin diperbesar karena dipupuk oleh pikiran sendiri yang menilai-nilai.

Dapatkah kita memandang tanpa penilaian?

Baik memandang kepada orang yang kita lalu nilai sebagai jahat itu, maupun memandang kepada kebencian kita yang kita nilai pula sebagai benar atau salah itu?

Kalau kita dapat memandang tanpa ada sesuatu yang memandang, tanpa ada sesuatu yang menilai, melainkan memandang dengan penuh kewaspadaan dan kesadaran, tanpa ada yang waspada atau sadar, karena kalau ada berarti akan timbul pula penilaian-penilaian, maka dengan sendirinya kebencian itupun akan kehilangan tenaganya, akan lenyap dengan sendirinya karena tidak ada lagi pemupukan.

Kita sadar bahwa ada kebencian dalam hati kita, akan tetapi kita tidak menilai, tidak membenarkan atau menyalahkan, kita pandang saja!

Kita dalam hal ini, adalah sang pikiran itu, dan kebencian adalah sang pikiran itu pula.

Biarkan pikiran memandang pikiran sendiri, tanpa ada kesatuan lain yang menilai atau menimbang, tanpa ada sesuatu yang membenarkan atau menyalahkan.

Kui Hok Boan terguncang batinnya oleh semua peristiwa itu, terhimpit oleh penyesalan, kedukaan, ketakutan dan akhirnya semua pelayan melihat orang yang dianggap pandai, baik dalam kesusasteraan maupun dalam ilmu silat, juga kaya raya ini, menangis dan tertawa, menjambak-jambak rambut sendiri dan bersikap seperti orang yang miring otaknya atau gila!

Dengan muka merah karena marah, Beng Sin terus lari meninggalkan dusun itu dan di sepanjang perjalanan banyak hal memenuhi pikirannya.

Kui Lin ternyata adalah adiknya sendiri, adik tiri seayah!

Dia merasa heran sekali mengapa Kui Hok Boan, paman yang ternyata adalah ayah kandungnya sendiri itu merahasiakan bahwa dia dan Siong Bu adalah anak anak kandungnya sendiri.

Tentu ada rahasia di balik semua ini!

Dan dia harus dapat mengetahui rahasia itu.

Dia harus dapat bertemu dengan ibu kandungnya.

Bukankah ibu kandungnya telah menjadi nikouw?

Pernah Kui Hok Boan yang ketika itu sebagai pamannya, menjawab pertanyaan tentang ibunya, yaitu bahwa ibunya kini telah menjadi nikouw dalam Kelenteng Kwan-im-bio di tepi Sungai Fen-ho di kaki Pegunungan Lu-liang-san, di luar sebuah dusun bernama Kwan-si-men.

Dia akan mencari ibunya, untuk bertanya tentang riwayat ibunya agar tabu siapa sebetulnya Kui Hok Boan yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu!

Dan setelah itu, barang kali, dia akan pergi ke selatan, mencari keluarga Ciook yang telah berlaku baik kepadanya dan yang mengusulkan perjodohan antara dia dan Ciook Siu Lan.

Pemuda gendut yang pergi tanpa membawa pakaian, hanya membawa golok dan sisa bekal uang yang masih ada padanya, melanjutkan perjalanan menuju ke Pegunungan Lu-liang-san yang terletak di barat daya.

Perjalanan yang amat sukar, melalui daerah-daerah yang liar, pegunungan dan hutan-hutan lebat, namun pemuda yang sudah merasa bahwa kini dia hidup seorang diri itu dengan tabah menempuh segala kesukaran itu, mengandalkan golok besarnya, melanjutkan perjalanannya tanpa mengenal lelah.

Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan lamanya, akhirnya dia sampai juga di daerah kaki Pegunungan Lu-liang-san.

Pegunungan itu nampak dengan puncak-puncaknya yang menjulang tinggi menembus awan, nampak seperti raksasa tidur yang angker dan menyeramkan.

Senja itu indah sekali.

Matahari telah bersembunyi di balik puncak Lu-liang-san, akan tetapi cahayanya masih membakar langit di barat, Menciptakan warna-warna yang sukar dilukiskan dengan kata-kata karena indahnya.

Ada warna merah yang aneh, merah bercampur kuning dan biru, dan di bagian agak ke utara nampak awan bergumpal-gumpal dengan bentuk-bentuk yang beraneka macam, bentuk-bentuk yang luar biasa anehnya dan yang tak mungkin ada yang sama.

Awan-awan itu bergerak perlahan dan setiap saat berubah bentuk, akan tetapi di sisi agak ke selatan nampak lautan hitam dari awan yang kokoh dan tak pernah bergerak nampaknya, seolah-olah selamanya takkan berubah.

Puncak-puncak gunung mulai kelihatan kehitaman dan pohon-pohon juga kelihatannya mulai tenang dan siap untuk mengundurkan diri ke dalam kegelapan malam di mana mereka akan beristirahat dalam kegelapan dan kesunyian.

Melihat keadaan di sekeillingnya pada saat itu, yang menciptakan ketenangan dan keheningan, sejenak Beng Sin lupa akan diri sendiri, lupa bahwa dia ada dan merasa betapa dia telah dilebur menjadi satu dengan segala yang nampak itu.

Akan tetapi, begitu pikirannya masuk memecahkan keheningan itu, lenyaplah keheningan dan datanglah iba diri karena dia merasa betapa dia hidup seorang diri dan betapa dia terpencil dan sunyi seperti sebatang pohon pek di kejauhan yang tumbuh terpencil di tepi sebuah jurang.

Maka datanglah kedukaan.

Tak lama kemudian, ketika kegelapan mulai menyelubungi bumi, pemuda itu sudah duduk bersandar pada sebatang pohon.

Didekatnya bernyala api unggun dan dia termenung memandang api yang bergerak-gerak, Satu-satunya yang nampak hidup di saat itu, dengan lidah-lidah api merah kekuningan yang seperti menari-nari dengan gembira.

Akan tetapi, api yang indah bercahaya itupun akhirnya akan padam dan lenyap, yang tinggal hanyalah abu dan asap yang kemudianpun akan menghilang tanpa bekas.

Pada keesokan harinya, Beng Sin mulai mencari keterangan.

Akan tetapi para petani dan penghuni gunung yang ditemuinya, tidak seorangpun di antara mereka yang mengenal nama dusun Kwan-si-men atau Kuil Kwan-im-bio.

Mereka hanya tahu di mana letaknya Sungai Fen-ho dan akhirnya Beng Sin mencari sungai ini.

Setelah bertemu dengan sungai ini, dia mulai menyusuri sungai itu karena dia yakin bahwa dengan cara ini akhirnya dia akan bertemu dengan dusun yang dimaksudkan karena bukankah dusun itu terletak di tepi Sungai Fen-ho, di kaki Pegunungan Lu-liang-san?

Perhitungannya itu ternyata tepat karena beberapa hari kemudian, dari seorang nelayan, dia mendengar bahwa dusun Kwan-si-men terletak di depan, hanya belasan li lagi jauhnya dan bahwa memang di luar dusun itu terdapat sebuah kuil yaitu kuil di mana dipuja Dewi Kwan Im maka dinamakan Kwan-im-bio.

Mendengar ini, berdebar rasa jantung dalam dada Beng Sin dan dia mempercepat langkahnya menuju ke dusun itu.

Kuil itu kecil saja, merupakan beberapa buah bangunan kecil dengan bangunan pusat di depan, yang dipergunakan sebagai tempat sembahyang.

Halamannya cukup luas dan melihat halaman yang bersih itu menunjukkan bahwa kuil itu terurus baik-baik dan setiap hari halaman itu tentu disapu.

Dari jauh sudah terdengar suara ketukan kayu yang mengiringi suara wanita berdoa.

Setelah dekat orang akan melihat asap hio mengepul, dan makin dekat lagi orang akan mencium bau harum dupa.

Biarpun para pengurus Kwan-im-bio adalah wanita-wanita yang telah menjadi nikouw, namun pengunjungnya tidak terbatas golongan wanita saja.

Oleh karena itu, munculnya Beng Sin di kuil itu tidak membuat heran para nikouw yang melayani para pengunjung yang hendak bersembahyang.

Hanya keadaan pakaian dan sikap pemuda itulah yang mendatangkan rasa heran.

Biasanya, para pengunjung kuil itu hanya terdiri dari orang-orang dusun, petani-petani yang minta berkah agar hasil sawah ladang mereka baik, dan para nelayan yang juga minta berkah agar hasil penangkapan ikan mereka baik.

Ada juga orang kota yang kadang-kadang datang, yaitu mereka yang mendengar berita dari bibir ke bibir bahwa kuil itu terkenal murah hati dan suka memenuhi atau mengabulkan doa-doa dan permintaan mereka yang datang bersembayang.

Akan tetapi pemuda ini selain jelas bukan petani atau pemuda nelayan, melainkan orang kota yang agaknya datang dari jauh, melihat pakaiannya yang agak kotor dan dapat diduga bahwa pemuda ini seorang ahli silat, melihat dari golok besar mengerikan tergantung di punggung.

Para nikouw itu adalah orang-orang yang hidup dengan bersih, yang menjauhi segala macam kekerasan, apalagi yang mereka puja adalah Dewi Kwan Im yang terkenal sebagai Dewi Welas Asih, maka tentu saja melihat seorang pemuda gendut yang membawa-bawa golok besar yang berkilauan saking tajamnya itu, mereka merasa ngeri!

Seorang nikouw tua cepat maju menghampiri dan mengangkat kedua tangan depan dada dengan jari-jari terbuka dan dimiringkan.

"Omitohud..., agaknya sicu mempunyai kepentingan sehingga jauh-jauh datang mengunjungi kuil ini. Apakah sicu hendak bersembahyang kepada Hud-couw?"

Beng Sin cepat memberi hormat dan berkata sejujurnya.

"Maaf kalau saya mengganggu, akan tetapi kedatangan saya bukan untuk bersembahyang, melainkan untuk mencari seorang nikouw..."

Wajah halus nikouw itu kelihatan meragu dan pandang matanya penuh selidik, kemudian dia menarik napas panjang dan berkata.

"Harap sicu maafkan. Para nikouw di sini adalah orang-orang yang telah mengundurkan diri dari dunia ramai, berarti sudah tidak mempunyai keluarga dan handai-taulan lagi, seluruh hidupnya telah diserahkan untuk mengabdi kepada Kwan Im Hud-couw dan kepada prikemanusiaan, tidak terikat lagi oleh ikatan keluarga atau sahabat."

"Saya tahu, akan tetapi yang saya cari adalah... ibu kandung saya sendiri yang menjadi nikouw di sini..."

Kembali nikouw tua itu menarik napas panjang.

"Yang dimaksud keluarga juga termasuk anak, sicu, maka semua nikouw yang berada di sini sudah tidak ada ikatan lagi dengan dunia, tidak ada ikatan dengan keluarga, termasuk anak. Maka, kalau sicu bukan bermaksud untuk sembahyang, pinni mohon agar sicu suka meninggalkan kuil ini dan harap jangan mengganggu ketenteraman kehidupan para nikouw."

Beng Sin mengerutkan alisnya.

Dia sudah melakukan perjalanan jauh dan susah payah akan tetapi setelah tiba di tempat yang dicarinya, dia disuruh pergi begitu saja tanpa diberi kesempatan untuk bertemu dengan ibunya, bahkan untuk sekedar mendapat keterangan apakah ibunya masih hidup ataukah sudah mati!

"Hemm, beginikah yang dinamakan prikemanusiaan dan mengabdi prikemanusiaan?"

Dia berkata penasaran.

"Agaknya para pendeta hanya mementingkan diri para pendeta sendiri, akan tetapi sama sekali tidak memperdulikan perasaan hati orang-orang biasa! Apakah suthai tidak merasakan betapa rindu hati seorang anak terhadap ibu kandungnya? Apakah suthai hendak membiarkan seorang anak menjadi kecewa dan berduka karena tidak diperbolehkan berjumpa dengan ibu kandungnya yang selamanya belum pernah dikenalnya karena sejak kecil telah dipisahkan? Bukankah itu merupakan perbuatan yang amat kejam, bertentang dengan sifat welas asih dari Kwan Im Hud-couw sendiri?"

Nikouw tua itu menarik napas panjang.

"Ahhh, sicu tidak tahu tentang belas kasih! Belas kasih adalah cinta kasih, dan cinta kasih tidak lagi membeda-bedakan antara anak atau orang lain, tidak lagi mementingkan diri pribagi, tidak ada lagi iba diri. Kami para nikouw memandang semua orang seperti anak sendiri, seperti diri sendiri, dan pemisah-misahan antara anak dan orang lain itu hanya mendatangkan ikatan belaka dan mengembalikan kami kepada asal semula, yaitu dunia yang penuh dengan ikatan-ikatan. Harap sicu me-maklumi keadaan kami dan sudilah sicu meninggalkan kami, dan tidak lagi menganggap bahwa ada ibu kandung di tempat ini. Tempat ini tiada bedanya dengan tanah kuburan dan yang tinggal hanya namanya saja. Cukuplah, sicu, semoga Hud-couw memberkahimu."

Setelah berkata demikian, nikouw itu menjura dan pergi meninggalkan Beng Sin yang masih berdiri termangu-mangu di tempat itu.

Akhirnya dia tahu bahwa berdebatpun tidak akan ada gunanya, dan untuk memaksapun selain dia tidak berani dan tidak mau, juga apa hasilnya?

Dia tidak akan dapat mengetahui yang mana ibu kandungnya.

Dia tidak mungkin dapat bertemu dengan ibu kandungnya kecuali kalau ibu itu sendiri yang memperkenalkan diri.

Dengan kedua kaki lemas Beng Sin keluar dari kuil itu dan akhirnya dia menjatuhkan diri di bawah pohon tak jauh dari kuil.

Baru sekarang terasa olehnya betapa seluruh tubuhnya lemas dan lelah sekali.

Tadinya dia masih penuh semangat dan bayangan kegembiraan bertemu dengan ibu kandungnya membuat dia lupa akan segala kesengsaraan perjalanan jauh itu.

Akan tetapi setelah kini dia kehilangan harapan dan semangat, lemaslah dia dan terasalah semua kelelahannya.

Mengingat akan semua itu, kalau saja dia tidak memiliki kekerasan hati ingin rasanya dia menangis!

Selagi dia duduk dengan muka pucat dan berulang kali menarik napas panjang, hatinya penuh kekecewaan dan kedukaan, tiba-tiba terdengar suara halus menegurnya.

"Sicu, bukankah engkau she Tee bernama Beng Sin?"

Beng Sin terkejut dan melompat berdiri, lalu membalikkan tubuhnya.

Dilihatnya seorang nikouw yang agak gemuk berdiri di depannya, seorang nikouw yang usianya kurang lebih tiga puluh lima lebih, masih nampak muda karena wajahnya terang dan bibirnya selalu mengandung senyuman biarpun sepasang matanya lembut sekali.

Sejenak mereka berdua berdiri berhadapan dan saling pandang dengan penuh perhatian.

Jantung Beng Sin berdebar penuh ketegangan, akan tetapi dia ragu-ragu dan dengan lirih dia bertanya sambil menjura.

"Benar sekali, bagaimana suthai mengetahuinya?"

"Tentu saja aku tahu, karena wajahmu dan tubuhmu persis sekali, seperti kembar saja kalau dibandingkan dengan pamanmu yang tiada,"

Jawab nikouw itu.

Beng Sin menatap wajah nikouw itu, melihat betapa bibir dan pelupuk mata nikouw itu gemetar, biarpun pandang matanya tetap lunak dan lembut.

"Suthai... siapakah...?"

"Pinni Thian Sin Nikouw, seorang anggauta kuil ini..."

"Suthai... suthai mengenal Tee Cu Hwa yang saya cari-cari...?"

Beng Sin bertanya dan sepasang matanya menatap tajam.

Nikouw itu mengangguk dan matanya berkejap dua kali, alisnya agak berkerut.

"Tee Cui Hwa telah mati, tidak ada lagi di dunia ini... apa yang kau kehendaki?"

Beng Sin tidak terkejut mendengar in akan tetapi dia menatap wajah itu makin tajam, wajah yang mendatangkan rasa anch dalam hatinya, seolah-olah dia selama hidupnya pernah mengenal wajah ini.

"Saya... saya hanya ingin mengetahui apakah benar saya adalah anak kandung dari Kui Hok Boan, dan agaknya hanya ibu kandung saya yang dapat menceritakannya kepada saya. Maka saya harap ibu... saya harap suthai sudi membebaskan saya dari kegelisahan dan keraguan ini, sudi menceritakan kepada saya tentang riwayat ibu kandung saya dan juga ayah kandung saya!"

Sepasang mata itu terpejam rapat-rapat seolah-olah hendak mencegah mengalirnya air mata dan menekan perasaan haru yang menghimpit, akan tetapi ketika kedua mata itu dibuka, biarpun tidak ada air mata mengalir tetap saja kedua mata itu basah.

"Benar, Kui Hok Boan adalah ayah kandungmu. Akan tetapi perlukah sicu mengetahui riwayat yang tidak baik itu? Perlukah segala kekotoran dibongkar kembali? Tidak ada manfaatnya bagimu, sicu."

"Tidak, saya harus mengetahuinya! Lebih tidak baik lagi kalau kekotoran itu dirahasiakan dan ditutup-tutupi karena saya telah mencium baunya yang busuk! Demi Tuhan, demi segala dewa, demi Kwan Im Pouwsat, harap suthai suka menaruh kasihan kepada saya, seorang yang ayah bundanya masih hidup dan segar-bugar, akan tetapi yang merasa telah menjadi yatim piatu, karena baik ayahnya maupun ibunya sudah lama sekali tidak memperdulikan lagi kepada saya!"

"Sicu! Jangan kau keluarkan kata-kata seperti itu,"

Nikouw itu menunduk, dan dengan halus dia menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus dua titik air mata yang turun dari kedua matanya.

"Sicu tidak tahu betapa mendiang Tee Cui Hwa menderita dengan hebat, menderita lahir batin, jauh lebih hebat daripada perasaan yang sicu derita sekarang ini."

"Akan tetapi saya sebagai anak kandung ibu dan ayah, berhak sepenuhnya untuk mengetahui riwayat mereka, suthai!"

Beng Sin mendesak.

"Baiklah, baiklah, mari kita masuk ke ruangan tamu di kuil, nanti pinni ceritakan semua kepadamu, sicu."

Setelah berkata demikian, nikouw itu lalu berjalan menuju ke kuil dengan kepala tunduk, diikuti oleh Beng Sin dari belakang.

Nikouw yang mengaku bernama Thian Sin Nikouw itu memasuki ruangan tamu kuil dari pintu samping, kemudian dia duduk sambil mempersilakan pemuda itu duduk di depannya.

Sejenak mereka yang duduk saling berhadapan itu saling pandang dan akhirnya nikouw itu menarik napas panjang.

"Omitohud... sama sekali bukan maksud pinni untuk membongkar kebusukan orang, akan tetapi memang benar seperti ucapan sicu tadi, sebagai putera mereka, sicu berhak mendengar dan mengetahui kesemuanya itu."

Dia berhenti sejenak, memejamkan mata seolah-olah sedang berdoa mohon pengampunan kepada Dewi Kwan Im Pouwsat yang dipujanya atas kelancangannya membongkar kebusukan orang.

Kemudian dia membuka matanya yang menjadi jernih dan tenang, lalu berceritalah dia dengan suara datar dan halus tanpa disertai ketegangan atau keharuan hati, seolah-olah hanya mulutnya saja yang bergerak akan tetapi hatinya tidak ikut bicara.

Belasan tahun yang lalu, hampir dua puluh tahun yang lalu, gadis Tee Cui Hwa yang berusia tujuh belas tahun hidup berdua saja dengan Tee Kang, yaitu kakaknya yang berusia dua puluh lima tahun.

Kakak beradik ini sudah yatim piatu, dan mereka hanya hidup berdua saja dari hasil pekerjaan Tee Kang sebagai seorang penjaga keamanan sebuah rumah judi yang besar.

Tee Kang adalah seorang pemuda yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat lumayan, Maka dia dapat bekerja sebagai penjaga keamanan rumah perjudian itu.

Biarpun hidup sederhana, namun kakak beradik ini tidak kekurangan dan mereka hidup saling menyayangi karena hanya berdua saja mereka di dunia ini.

Pada suatu hari, Tee Kang pulang membawa seorang tamu.

Tamu ini adalah sahabatnya yang bernama Kui Hok Boan, seorang pemuda yang tampan dan menarik sekali, pandai dalam ilmu sastera dan ilmu silat, akan tetapi pemuda ini juga menjadi langganan setia dari rumah perjudian itu sehingga kenal dengan Tee Kang.

Tee Kang yang diam-diam hendak mencarikan jodoh untuk adik perempuannya, tertarik melihat teman ini dan dia membayangkan betapa akan bahagianya adiknya dan dia kalau Kui Hok Boan yang disebut Kui-siucai ini dapat berjodoh dengan Cui Hwa!

Setelah Kui Hok Boan bertemu dengan Cui Hwa, Pemuda tampan ini segera tertarik, bukan oleh kecantikan Cui Hwa karena sesungguhnya gadis itu bukan tergolong gadis yang terlalu cantik sungguhpun wajahnya bersih dan tubuhnya montok.

Akan tetapi memang Kui-siucai adalah seorang pemuda mata keranjang dan hidung belang, hanya semua watak ini tertutup oleh sikapnya yang halus sebagai sasterawan sehingga Tee Kang terkelabui dan mengira bahwa pemuda itu adalah seorang yang baik budi!

Melihat seorang gadis bagi Kui Hok Boan tiada bedanya dengan melihat seekor daging segar bagi seekor serigala kelaparan, maka tentu saja dia diam-diam sudah mengilar!

Hubungannya dengan Tee Kang menjadi makin erat sehingga akhirnya kadang-kadang Kui Hok Boan sampai bermalam di rumah kakak beradik itu.

Pada suatu sore, ketika Tee Kang pulang dari tempat kerjanya, dia terkejut melihat adiknya menangis di dalam kamarnya.

Ketika ditanya, Tee Cui Hwa mengaku bahwa siang tadi, ketika Tee Kang sedang bekerja, Kui Hok Boan datang dan memaksanya menuruti kehendaknya.

Dia menolak, karena mereka belum menikah, akan tetapi Kui Hok Boan memaksa dan dengan kejam telah memperkosanya!

Mendengar ini, Tee Kang menjadi marah bukan main.

Memang benar dia ingin sekali agar adiknya menjadi isteri Kui Hok Boan, akan tetapi tidak secara dipaksa dan diperkosa!

Maka dia cepat pergi lagi mencari Kui Hok Boan dan setelah bertemu, dia minta pertanggungan jawab Kui Hok Boan untuk segera mengawini adiknya.

Akan tetapi, Kui Hok Boan menolak, bahkan menantangnya.

Tee Kang menjadi marah sekali dan mereka lalu berkelahi.

Akan tetapi akhirnya Tee Kang roboh dan tewas di tangan Kui Hok Boan yang lebih lihai.

Nikouw itu menghentikan ceritanya dan memejamkan kedua matanya.

"Demikianlah, sicu, pamanmu itu tewas di tangan pria yang jahat itu..."

"Dan ibuku? Apa jadinya dengan dia?"

Beng Sin mendesak, mukanya menjadi merah karena diam-diam dia marah sekali kepada Kui Hok Boan.

"Dia telah kehilangan satu-satunya orang yang dapat dijadikan pelindungnya, satu-satunya keluarganya di dunia ini. Orang she Kui itu lalu datang dan memaksanya ikut pergi, memperkosanya dan mempermainkan sesuka hati sampai dia mengandung, lalu ditinggal pergi..."

"Keparat jahanam Kui Hok Boan!"

Beng Sin berseru sambil mengepal tinjunya.

"Omitohud... semoga Pouwsat menerangi batinmu, sicu. Tidak boleh memaki dan mengutuk orang yang menjadi ayah kandungmu sendiri."

"Lalu bagaimapa dengan ibuku, suthai?"

"Dia melahirkan engkau, sicu... kemudian setelah menitipkan atau memberikanmu kepada sebuah keluarga dusun yang baik hati, dia lalu masuk menjadi nikouw..."

"Dan orang bernama Kui Hok Boan itu lalu mengambilku dan mengakuinya sebagai keponakannya!"

Nikouw itu mengangguk.

"Pinni mendengar bahwa sicu telah diambilnya dan tadinya hati pinni ikut merasa gembira karena agaknya ayah kandung itu ingat kepada anaknya sendiri..."

"Tapi dia tetap jahat! Dan ibu... ibuku adalah engkau, suthai...! Ibu...!"

Beng Sin lalu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki nikouw itu.

Nikouw itu bangkit berdiri, memejamkan mata dan merangkap kedua tangan di depan dada.

"Tidak...! Ibumu, Tee Cui Hwa telah mati bagimu dan bagi dunia, sicu. Pinni adalah Thian Sin Nikouw..."

"Ibu... tidak kasihankah engkau kepadaku, anakmu?"

Beng Sin meratap, masih berlutut.

"Pinni kasihan kepadamu seperti kepada semua orang yang menderita, sicu. Pouwsat tidak memilih-milih orang dalam belas kasihan beliau! Ibumu telah mati dan pinni adalah seorang nikouw..."

Nikouw itu menyentuh kedua pundak Beng Sin, sejenak kedua tangannya menyentuh mesra dan jari-jari tangan itu gemetar, akan tetapi tak lama kemudian seperti ada tenaga baru yang menghilangkan getaran itu, lalu dia membangkitkan Beng Sin.

"Bangkitlah dan jangan menuruti hati yang lemah, sicu."

Beng Sin bangkit berdiri, memandang kepada nikouw itu dengan mata basah.

"Baiklah, suthai, akan tetapi tentu suthai sudi untuk menggantikan kedudukan ibuku dan memberi kepastian dan pendapat suthai tentang perjodohanku."

"Perjodohan? Sicu hendak menikah? Ah, baik sekali itu, tentu saja pinni merasa bersyukur dan akan pinni doakan selalu kepada Pouwsat agar hidupmu penuh dengan kebahagiaan, sicu, tidak seperti kehidupan ibumu dahulu!"

Beng Sin lalu menceritakan tentang usul yang diajukan keluarga Ciook kepadanya, dan menceritakan pula semua peristiwa yang terjadi di dalam keluarga Kui Hok Bean, betapa dia hendak membela dua orang gadis kembar yang ternyata masih adik-adik tirinya sendiri seayah itu, dan betapa dalam perkelahian dia telah membunuh kakak tirinya.

Nikouw itu mendengarkan dengan alis berkerut.

Kemudian dia berkata setelah pemuda itu menghabiskan ceritanya.

"Sicu, biarlah pinni mewakili ibumu dan menasihatimu. Sebaiknya engkau jangan kembali lagi kepada ayah kandungmu yang ternyata sampai sekarang masih belum juga insaf dari kesesatannya itu. Sebaiknya, mulai sekarang sicu tidak mendekatinya agar tidak timbul segala urusan yang tidak baik dan pergilah engkau kepada keluarga Ciook itu, terimalah usul mereka untuk menjodohkan sicu dengan gadis she Ciook itu. Pinni akan selalu berdoa untuk keselamatan dan kebahagiaanmu, sicu. Nah, sekarang terpaksa pinni mempersilahkan sicu pergi."

Beng Sin merasa girang sekali mendengar betapa nikouw ini, yang dia yakin adalah ibu kandungnya, telah menyetujui perjodohannya, dia merasa girang dan terharu sekali, maka dia lalu kembali menjatuhkan diri berlutut.

"Ibu... suthai... terima kasih atas segala nasihatmu... kelak pada suatu hari... aku akan mengajak isteriku untuk datang menghadap ibu...!"

Sejenak nikouw itu berdiri seperti patung, dua matanya menjadi basah dan cepat-cepat dia mengusapnya dnegan ujung lengan bajunya, lalu dia tersenyum.

"Bangkitlah, Beng Sin! Pouwsat akan selalu melindungimu, nak. Dan selamat jalan, doa restuku selalu menyertaimu!"

Dan dia lalu membalikkan tubuh, mengucapkan doa sambil pergi dari ruangan tamu itu.

Beng Sin juga bangkit berdiri lalu melangkah keluar dari kuil, hatinya kini terasa lapang.

Dia dapat memaklumi akan sikap ibu kandungnya.

Dapat dia membayangkan betapa sengsara ibu kandungnya ketika diperkosa oleh Kui Hok Boan, dipermainkan bahkan dipisahkan dari kakak kandungnya yang terbunuh, kemudian, setelah mengandung lalu ditinggalkan oleh pria yang jahat itu.

Dan pria itu adalah ayah kandungnya sendiri!

Betapa benci hatinya terhadap orang itu, ingin dia kembali ke dusun Pek-jun dan membunuh Kui Hok Boan, atau terbunuh olehnya!

Akan tetapi dia teringat akan semua kata-kata nikouw itu, ibu kandungnya, dan semua kebenciannya itupun dilupakannya.

Memang tidak benar kalau dia akan memusuhi, apalagi membunuh ayah kandungnya sendiri.

Kalau begitu, maka dia akan menjadi seorang manusia durhaka dan keji, bahkan mungkin lebih keji daripada ayah kandungnya itu sendiri!

Maka, memang tepat nasihat ibunya, lebih baik dia tidak lagi mendekati manusia itu, dan menerima saja usul Ciook-piauwsu yang gagah dan baik budi itu untuk menjadi suami Ciook Sui Lan yang manis dan halus budi pula.

Maka berangkatlah Beng Sin langsung menuju ke Su-couw dan dia melihat cahaya hidup baru membentang luas di depannya.

Apakah sesungguhnya yang terjadi pada diri Kui Lan dan Kui Lin, dua orang dara kembar puteri dari Kui Hok Boan itu?

Seperti telah kita ketahui, dua orang dara kembar yang tidak sudi dijadikan selir pangeran seperti yang telah dijanjikan oleh ayah mereka kepada Pangeran Ceng Han Houw, diam-diam melarikan diri dan mereka pergi ke selatan, tidak tahu harus pergi ke mana, pokoknya meninggalkan ayah mereka yang membuat mereka merasa penasaran itu.

Hampir mereka tidak percaya betapa ayah mereka itu seolah-olah hendak menjual mereka kepada pangeran yang sombong itu!

Sukar mereka dapat menerima kenyataan betapa ayah mereka itu mempuhyai watak yang demikian pengecut dan palsu!

Begitu kejam dan jahatnya pula telah membius Sin Liong dan Bi Cu untuk menyerahkan mereka kepada pangeran yang mengejar-ngejar Sin Liong!

Padahal, Sin Liong adalah saudara mereka, anak ibu kandung mereka pula!

Dapat dibayangkan betapa sengsaranya keadaan dua orang gadis remaja yang selama hidupnya belum pernah melakukan perjalanan sejauh itu, tanpa tujuan pula.

Untung mereka sejak kecil telah mempelajari ilmu silat sehingga mereka memiliki tubuh yang kuat dan tahan menderita, di samping ini mereka membawa semua perhiasan mereka sehingga mereka tidak khawatir kehabisan bekal untuk keperluan makan dan lain-lain di sepanjang perjalanan.

Kurang lebih empat bulan kemudian, pada suatu senja Lan Lan dan Lin Lin tiba di tepi Sungai Hoang-ho.

Ketika melihat sebuah perahu besar, mereka berseru memanggil tukang perahu untuk ikut menyeberang.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa perahu itu adalah milik bajak sungai!

Maka ketika mereka ikut dalam perahu itu dan perahu sudah bergerak ke tengah, mereka berdua dikurung bajak!

Terjadilah perkelahian seru dan andaikata pada saat itu tidak sedang lewat perahu yang ditumpangi oleh Ciang Lok atau Ciang-piauwsu, ketua dari Hek-eng-piauwkiok, entah bagaimana nasib sepasang dara kembar itu.

Ciang-piauwsu menyelamatkannya dan para bajak itu takut dan segan terhadap piauwsu ini, maka mereka melepaskan Lan Lan dan Lin Lin.

Ciang-piauwsu yang merasa kagum kepada dua orang dara kembar, Juga karena dia sendiri tidak mempunyai anak, ketika mendengar bahwa dua orang dara itu terlunta-lunta tanpa keluarga, segera mengajak mereka ke Su-couw dan mereka berdua itu dianggapnya anak sendiri.

Isterinyapun suka sekali kepada Lan Lan dan Lin Lin.

Seperti telah diceritakan, dua bulan setelah mereka itu tinggal di rumah Ciang-piauwsu, pada suatu hari muncullah Kwan Siong Bu yang dapat menemukan jejak mereka setelah pemuda ini juga dihadang bajak sungai, menundukkan bajak dan mendengar keterangan dari bajak bahwa dua orang dara kembar itu pergi ikut Ciang-piauwsu di kota Su-couw.

Kedatangan Siong Bu disambut oleh Lan Lan dan Lin Lin dengan gembira.

Apalagi ketika dua orang gadis itu mendengar dari Siong Bu bahwa ayah mereka telah berubah pendirian, menyuruh Siong Bu mencari dan mengajak mereka pulang.

Siong Bu bercerita bahwa ayah mereka merasa menyesal dan kini hendak mengajak dua orang puterinya itu untuk pindah secara diam-diam agar jauh dari jangkauan Pangeran Ceng Han Houw.

Lan Lan dan Lin Lin girang sekali dan mereka berhasil terbujuk dan ikut pergi bersama Siong Bu.

Tentu saja pemuda yang cerdik ini telah membohong.

Dia tahu bahwa kalau dia berterus terang, dua orang dara itu tidak akan mau ikut pulang, dan diapun tidak mungkin dapat memaksa mereka.

Setelah berhasil membujuk dua orang dara kembar itu, mereka bertiga lalu diberi tiga ekor kuda yang baik oleh Ciang-piauwsu dan berangkatlah mereka meninggalkan kota Su-couw menuju ke kota raja, diantar dengan pandang mata duka oleh Ciang Lok dan isterinya yang merasa seperti kehilangan anak sendiri.

Setelah tiba di kota sebelah selatan kota raja, mereka bertiga bermalam dalam sebuah rumah penginapan.

Lan Lan dan Lin Lin menggunakan sebuah kamar dan Siong Bu berada di kamar lain.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Siong Bu untuk keluar dan kebetulan sekali dia mendengar bahwa Pangeran Ceng Han Houw baru tiba dari selatan dan berada di kota itu.

Maka cepat-cepat dia menemui pangeran ini dan memberi tahu tentang dua orang dara kembar yang baru saja dapat digiringnya kembali untuk diserahkan kepada sang pangeran!

Pada waktu itu, memang Han Houw baru saja kembali dari selatan.

Tadinya dia merasa heran dan tidak mengenal pemuda yang mohon menghadap padanya di gedung pembesar setempat, akan tetapi ketika Siong Bu memperkenalkan diri sebagai keponakan Kui Hok Boan, dia segera teringat.

Alis tebal pangeran ini berkerut karena dia ternyata sudah lupa lagi bahwa dia mempunyai urusan dengan keluarga Kui itu.

"Hemm, Kwan Siong Bu, sekarang aku ingat, engkau adalah keponakan orang she Kui itu. Dan ada perlu apakah engkau mengganggu waktuku?"

Melihat sikap angkuh dan ucapan yang mengandung nada tidak senang ini, Siong Bu menjadi ketakutan.

Dia cepat memberi hormat sambil berkata.

"Harap paduka maafkan kalau hamba mengganggu, kedatangan hamba ini adalah untuk menyerahkan kedua orang adik misan hamba yaitu Lan-moi dan Lin-moi, dua orang dara kembar itu."

"Dua orang gadis kembar? Ahhh...! Benar! Mereka yang manis-manis itu!"

Wajah pangeran itu berseri dan hati Siong Bu seketika merasa lega.

"Di mana mereka? Apakah sudah kau bawa ke sini?"

"Itulah sebabnya hamba memberanikan diri menghadap paduka, pangeran. Kalau tidak paduka sendiri turun tangan, akan sukarlah bagi hamba untuk dapat menghaturkan mereka kepada paduka."

Kemudian dengan singkat namun jelas Siong Bu lalu menceritakan kepada Han Houw akan semua yang telah terjadi, yaitu bahwa dua orang adik misannya itu telah melarikan diri dan betapa dengan susah payah akhirnya dia dapat menemukan mereka dan membujuk mereka sampai tiba di kota ini.

"Hamba telah berhasil membujuk mereka sampai ke sini, dan kalau paduka tidak segera menguasai mereka, kalau sampai mereka lari lagi, akan sukarlah untuk menangkap mereka kembali. Mereka adalah dua orang dara yang berhati keras, pangeran. Hamba kini menyerahkan mereka kepada paduka dengan penuh kerelaan hati."

Wajah yang berseri itu nampak makin gembira, akan tetapi suaranya yang terdengar secara tiba-tiba itu mengejutkan Siong Bu.

"Kwan Siong Bu, apa maksudmu begini baik engkau hendak menyerahkan dua orang adik misanmu kepadaku?"

Akan tetapi Siong Bu segera dapat menguasai kekagetan hatinya.

"Tidak ada lain maksud hati kecuali hendak berbakti kepada paduka, pangeran. Hamba hanya mengharapkan kemurahan hati paduka untuk keluarga kami."

Han Houw mengangguk-angguk, maklum bahwa dia berhadapan dengan pemuda yang gila kedudukan dan pahala!

Akan tetapi, pemuda semacam ini memang amat berguna bagi orang-orang besar seperti dia, kareha pemuda atau orang yang gila akan kedudukan akan dapat mudah menjadi hamba-hamba yang setia.

"Bagus, mari antar aku kepada mereka!"

Dengan girang Siong Bu lalu mengantar Han Houw ke rumah penginapan di mana dua orang adik misannya sedang tidur.

Ketika kereta yang membawa pangeran dan Siong Bu tiba di depan rumah penginapan, dan melihat pangeran itu turun, semua orang yang berada di depan cepat berlutut menghaturkan hormat karena mereka mengenal siapa (Lanjut ke

Jilid 42) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 42 adanya pemuda tampan yang berpakaian indah itu.

Siong Bu langsung membawa sang pangeran sampai ke depan pintu kamar dua orang dara kembar itu, kemudian dia mengetuk pintu.

"Lan-moi! Lin-moi!"

Setelah beberapa kali mengetuk, terdengar jawaban Lin Lin dari dalam.

Dua orang dara itu telah melakukan perjalanan jauh dan mereka lelah sekali maka tadi telah tidur nyanyak.

Mereka kini terkejut mendengar ketukan pada pintu kamar mereka.

"Siapa di luar?"

Tanya Lin Lin.

"Aku, Lin-moi. Bukalah pintu kamarnya, aku mau bicara, penting sekali!"

Kata Siong Bu mendesak dan Han Houw sudah tersenyum gembira ketika mendengar suara gadis yang merdu dari dalam kamar itu.

"Tunggu sebentar, Bu-ko!"

Terdengar Lin Lin berkata.

Dua orang dara ini terkejut dan menduga tentu ada bahaya, maka mereka cepat turun dari tempat tidur dan tergesa-gesa mengenakan pakaian mereka, pakaian ringkas dan memakai sepatu, siap untuk segera pergi kalau keadaan memaksa.

Setelah selesai, barulah Lin Lin dan Lan Lan menghampiri pintu kamar dan membukanya.

"Lan-moi dan Lin-moi, ini pangeran sudah datang menyambut kalian!"

Kata Siong Bu sambil moloncat ke belakang, membiarkan Han Houw memasuki pintu kamar itu.

Dua orang dara itu terkejut bukan main dan mereka mundur kembali ke dalam kamar dengan mata terbelalak dan muka pucat, menatap wajah pangeran yang tampan dan tersenyum-senyum itu.

Han Houw melangkah masuk dengan gayanya.

"Selamat malam dan selamat berjumpa kembali, dua orang nona kembar yang manis. Ah, kini kalian nampak semakin manis saja. Keretaku telah menanti di luar, marilah kalian kuantar pulang..."

"Pu... pulang...?"

Kui Lan bertanya, penuh harap.

Benarkah pangeran hendak mengantar mereka pulang ke dusun Pek-jun?

"Ha-ha, tentu saja.

Pulang ke istanaku sayang, dan kita akan bersenang-senang, pesta menyambut kedatangan kalian berdua, nona-nona manis."

"Tidak sudi!"

Tiba-tiba Kui Lin membentak dan dia sudah mencabut pedangnya, diikuti pula oleh Lan Lan.

Seperti dua ekor singa betina, dua orang dara kembar ini dengan pedang di tangan sudah menghadapi sang pangeran, sedikitpun tidak gentar dan mereka memandang penuh kebencian.

Melihat sikap mereka ini, Han Houw menjadi semakin gembira dan kagum!

Belum pernah ada wanita berani atau mau menolak cintanya, akan tetapi dua orang dara kembar ini menentangnya dengan penuh kegagahan, dan hal ini merupakan permainkan baru baginya!

"Ha-ha-ha, kalian masih sama gagahnya seperti dulu.

Bahkan lebih gagah!

Akan tetapi, enam bulan yang lalu kalian bukan lawanku, apalagi sekarang setelah aku menjadi jagoan nomor satu di dunia!

Ha-ha, kalian boleh menyerangku sesuka hati kalian, nona-nona manis!"

"Hemm, kedudukanmu saja tinggi, engkau seorang pangeran, akan tetapi watakmu rendah, engkau hendak memaksa gadis-gadis yang tidak sudi menjadi permainanmu!"

"Lebih baik mati!"

Lin Lin membentak dan dia sudah menerjang maju dan menyerang dengan pedangnya, diikuti oleh lan Lan.

Dua orang dara itu menggerakkan pedang mereka dengan ganas dan kini gerakan mereka memang lebih hebat daripada enam bulan yang lalu.

Hal ini adalah karena mereka selama dua bulan telah menerima pelajaran ilmu pedang dari Ciang Lok, ketua Hek-eng-piauwkiok.

Akan tetapi tentu saja berhadapan dengan Han Houw, mereka itu tidak ada artinya.

Han Houw hanya tersenyum-senyum saja menghadapi serangan mereka dan begitu tangannya bergerak cepat, tahu-tahu dua orang dara itu melongo dan memandang pedang mereka yang telah pindah ke dalam kedua tanga Han Houw!

Kiranya pangeran yang amat lihai itu tadi telah memapaki serangan mereka dengan dorongan kedua tangan yang mendatangkan hawa pukulan kuat, membuat tangan mereka yang memegang pedang tertahan, kemudian dalam satu detik itu, tangan kanan dan kiri dari pangeran itu telah berhasil merebut pedang!

Akan tetapi hanya sejenak saja dua orang dara kembar itu tertegun, karena di lain saat mereka telah menyerbu lagi dengan nekat, menggunakan kepalan tangan mereka!

Terdengar suara bak-bik-buk ketika empat buah kepalan kecil itu menghujankan pukulan ke tubuh Han Houw, akan tetapi pangeran itu hanya tersenyum saja, bahkan lalu berkata.

"Lain kali kalau memijiti tubuhku bukan begini caranya, sayang!"

Tentu saja dua orang dara itu terkejut dan makin marah.

Kini mereka menyerang ke arah kedua mata pangeran itu!

Han Houw melangkah mundur dan dua kali tangannya bergerak dan dua orang dara itu terkulai lemas karena sudah kena ditotoknya.

"Kwan Siong Bu! Bawa mereka ini ke dalam kereta!"

Perintah Han Houw.

Siong Bu masuk dan dia melihat betapa kedua orang piauw-moinya itu sudah rebah di atas lantai dengan lemah lunglai.

Dia lalu memanggul tubuh dua orang adik misannya itu dan membawa mereka ke dalam kereta.

Pangeran Ceng Han Houw mengikutinya dari belakang dan setelah mereka masuk ke dalam, kereta lalu dijalankan menuju ke istana di mana Han Houw tinggal kalau dia berada di kota raja.

Semua orang yang melihat peristiwa ini hanya tertawa dan menganggapnya lucu sekali bahwa ada dua orang dara yang diambil oleh pangeran bersikap demikian aneh dan berani menentang, juga berita tentang kebolehan pangeran itu menundukkan dua orang gadis itu segera tersiar di mana-mana dan orang-orang memuji kelihaian pangeran itu.

Setibanya di istana, Han Houw lalu menjanjikan kedudukan kepada Siong Bu, dan pemuda yang sejak tadi dalam kereta tidak berani menatap wajah dua orang piauw-moinya yang memandangnya penuh kebencian itu, menjadi girang bukan main.

Apalagi ketika pangeran itu mengatakan bahwa kelak kalau dia sudah bosan, dia akan menyerahkan kembali dua orang gadis itu kepada Siong Bu!

Dan seperti telah diceritakan di bagian depan, Siong Bu bertemu dengan Beng Sin, terjadi perkelahian yang mengakibatkan tewasnya Siong Bu sehingga pemuda ini tidak sempat menikmati semua yang telah dijanjikan oleh pangeran kepadanya.

Sementara itu, biarpun sudah tertawan, kedua orang dara kembar itu tetap menolak dengan keras segala bujuk rayu Pangeran Ceng Han Houw!

Mereka bertekad lebih baik mati daripada harus menuruti kehendak pangeran itu, yaitu menyerahkan diri secara suka rela kepadanya.

"Hemm, kalian benar-benar dua orang dara yang keras hati dan keras kepala!"

Han Houw berkata sambil memandang dua orang dara yang masih lemas tertotok dan rebah di atas pembaringan kamamya itu.

"Kalian telah memperoleh derajat tinggi menjadi pilihanku, dan kalian berani menolak? Hemm, kalau sekarang juga aku memperkosa kalian, apakah kalian dapat mengelak?"

Biarpun masih dalam keadaan tertotok dan tidak mampu bergerak, Kui Lan yang memandang dengan penuh kebencian itu berkata.

"Manusla rendah! Apa kau kira kami tidak akan mampu bunuh diri kelak? Kami telah tertawan, mau bunuh, mau apakan terserah, akan tetapi untuk menyerah dengan suka rela, jangan harap!"

Ceng Han Houw adalah seorang pemuda yang angkuh dan terlalu percaya kepada diri sendiri.

Dia anggap dirinya terlalu tinggi.

Sebagai seorang putera tunggal Raja Sabutai, kemudian sebagai putera Kaisar Kerajaan Beng-tiauw, bahkan kemudian diakui sebagai adik Kaisar Ceng Hwa yang amat menyayanginya, Han Houw menganggap dirinya seperti seorang pria yang tidak akan mungkin ditolak oleh wanita!

Semenjak masih di utara dulu, wanita manapun akan berlutut dan menyerahkan diri kepadanya secara suka rela dan penuh pasrah, Bahkan penuh gairah.

Dia amat membanggakan diri sendiri, kedudukannya, ketampanannya, kepandaiannya dan yang terakhir ini kepandaian silatnya.

Setiap orang wanita, tidak perduli siapa, tentu akan berlutut dan siap melayaninya dengan gembira sekali begitu dia mengejapkan mata memberi isyarat, demikianlah anggapannya selalu.

Maka, dapat dibayangkan betapa marah dan penasaran, juga terhina dan tersinggung keangkuhannya ketika dia menghadapi dua orang dara kembar yang berani menolaknya ini!

Padahal dua orang dara kembar itu hanyalah puteri seorang manusia rendah macam Kui Hok Boan!

Dan juga dua orang dara kembar itu bukanlah wanita-wanita secantik bidadari, sungguhpun mereka itu amat manis.

Dan mereka berani menampik dia!

Hal ini benar-benar amat menyakitkan hati Ceng Han Houw.

Entah sudah berapa banyak wanita, baik perawan, janda maupun isteri orang, yang dengan suka rela jatuh ke dalam pelukannya dan melayaninya dengan senang hati.

Pernah ada seorang wanita, ketika dia baru berada di istana Kerajaan Beng, yaitu puteri seorang pembesar kota raja yang menggerakkan berahinya, bersikap agak "jual mahal"

Pula terhadap dirinya.

Dia merayunya dan setelah dia berhasil menundukkan wanita itu, yang kemudian berbalik malah amat mencintanya, untuk memperlihatkan kekuasaannya terhadap wanita, dia menyuruh wanita cantik ini menjilati sepatunya dan mengemis cintanya!

Demikian sombong watak Han Houw yang terdorong oleh kebanggaannya akan diri sendiri.

Dan kini dua orang dara kembar itu menampiknya, bahkan berani memaki dan mengutuknya.

Kebanggaannya, yang telah dibangunnya semacam benteng awan itu kini hancur oleh penolakan dua orang dara ini!

Dia tidak sudi untuk melakukan perkosaan kepada wanita, karena perkosaan membuktikan bahwa wanita itu tidak mau kepadanya!

Dan ini jelas merupakan pengakuannya bahwa dia kalah oleh wanita itu, bahwa wanita itu tidak mau tunduk kepadanya.

Maka, dia tidak sudi memperkosa, dia masih belum putus asa.

Dengan uring-uringan pangeran ini lalu keluar dari kamar itu, mtmerintahkan dua orang wanita pembujuk memasuki kamar itu untuk membujuk agar dua orang dara kembar itu suka melayaninya dengan suka rela.

Akan tetapi, begitu dua orang dara kembar itu terbebas dari totokan setelah jalan darahnya dengan sendirinya mengalir lancar, mereka mengamuk dan dua orang wanita tukang bujuk yang sedang membujuk-bujuk mereka, menggambarkan betapa enak dan senangnya menjadi selir-selir pangeran itu, lari sambil mengaduh-aduh, keluar dari kamar itu dengan mulut berdarah dan beberapa buah gigi mereka copot!

Kini marahlah Han Houw.

Dia sendiri memasuki kamar itu dan ketika Lan Lan dan Lin Lin menyambutnya dengan serangan nekat, kembali dengan mudah dia merobohkan mereka dengan totokan.

Dipanggilnya pengawal yang segera datang berlari-lari.

Dua orang pengawal itu bersikap hormat dan menanti perintah.

"Belenggu kaki tangan mereka, akan tetapi perlakukan mereka dengan halus dan masukkan mereka ke dalam kamar tahanan di belakang!"

Perintahnya.

Dua orang pengawal itu cepat mengambil tali sutera dan membelenggu kaki tangan due orang gadis yang lumpuh tertotok itu, kemudian dengan hati-hati mereka memanggul dua orang gadis itu keluar kamar.

Mereka adalah pengawal-pengawal yang taat karena takut terhadap pangeran itu dan karena maklum bahwa dua orang gadis cantik ini adalah calon selir-selir pangeran, tentu saja mereka tidak berani bersikap kasar dan kurang ajar.

Kepala pengawal yang dipanggil segera menghadap.

"Jaga mereka baik-baik jangan sampai lolos. Akan tetapi jangan ada yang bersikap kasar, biarkan mereka berdua sendiri saja di kamar tahanan dan jangan beri makan atau minum sampai mereka minta. Kalau mereka minta makan atau minum, jangan beri akan tetapi beri tahu padaku!"

Kepala pengawal memberi hormat dan menyatakan baik, kemudian pergi meninggalkan Han Houw yang masih panas hatinya.

Sungguh dua orang dara kembar itu membuat dia kecewa dan marah sekali, juga amat tersinggung hatinya.

Dua orang bocah dusun itu berani menampiknya!

Setiap malam Han Houw sengaja makan minum di dalam kamar tahanan itu untuk menyiksa dua orang dara yang tentu saja kelaparan itu!

Dia sengaja melakukan ini tanpa bicara apa-apa, hanya makan dan minum dengan lahapnya.

Maksudnya agar dua orang gadis itu tidak kuat bertahan lagi dan bertobat, tunduk dan menyerah kepadanya karena kehausan dan kelaparan memaksa mereka.

Namun, sejak malam pertama, Lan Lan dan Lin Lin selalu memandang kepada pemuda yang makan minum itu sama sekali bukan dengan mata penuh keinginan untuk makan dan minum itu, melainkan sebaliknya pandang mata mereka itu penuh dengan kebencian!

Mereka berdua sudah saling bermufakat untuk mempertahankan diri sampai mati, selagi masih hidup tidak akan menyerahkan diri kepada pangeran yang hanya tampan wajahnya namun buruk sekali wataknya itu.

Dan andaikata mereka akhirnya diperkosa di luar kehendak mereka, mereka sudah bermufakat pula untuk membunuh diri begitu terbuka kesempatan!

Pendeknya, jangan harap pangeran itu akan dapat membuat mereka menyerahkan diri secara suka rela!

Penyerahan diri seorang wanita memang terdorong atau didasari bermacam pamrih!

Akan tetapi selama didasari pamrih, penyerahan diri itu adalah kotor dan rendah.

Ada wanita menyerahkan diri kepada seorang pria karena menginginkan harta kekayaan, atau karena menginginkan kedudukan tinggi, ada pula yang menyerahkan diri kepada seorang pria karena dorongan nafsu berahi semata.

Hubungan badan dengan dasar seperti ini adalah kotor.

Hanya kalau ada cinta kasih, maka segala perbuatan, termasuk hubungan badan antara wanita dan pria, adalah indah dan wajar dan benar.

Ceng Han Houw adalah seorang pemuda yang memiliki segala-galanya dalam keduniawian.

Berkedudukan tinggi, kaya raya, tampan, masih muda, dan memiliki kepandaian tinggi, baik dalam hal bun (sastera) dan bu (silat).

Akan tetapi semua itu tidak ada artinya, bahkan hanya mendatangkan kerusakan dan kekacauan belaka, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, Selama dia tidak memiliki batin yang bersih.

Batinnya kotor oleh nafsu-nafsu keinginan yang berupa nafsu ingin menang sendiri!

Ingin tinggi sendiri, nafsu berahi dan sebagainya.

Dia begitu sombong sehingga dia menganggap semua wanita pasti akan bertekuk lutut di depannya, bahwa semua wanita pasti akan dengan senang dan suka rela menyerahkan diri kepadanya kalau dia menghendakinya!

Sungguh suatu pandangan yang sesat karena keangkuhan!

Sekali ini dia kecelik, karena sampai tiga hari tiga malam, biarpun setiap malam dia menggoda dengan makan minum di depan dua orang dara kembar itu, Lan Lan dan Lin Lin tetap saja tidak mau tunduk, tidak pernah minta-minta air atau makan, biarpun tubuh mereka sudah mulai lemas dan setengah pingsan setelah lewat tiga hari tiga malam!

Sin Liong merasa bingung sekali.

Perasaan hatinya terpecah menjadi dua, sebagian dia ingin mencari-cari musuh besarnya, yaitu Kim Hong Liu-nio, dan sebagian lagi dia ingin mencari Bi Cu.

Setelah dia mencegah terbunuhnya Kim Hong Liu-nio di tangan ayah kandung, yaitu Cia Bun Houw yang mendesak wanita iblis itu bersama isterinya, Sin Liong lalu pergi dan diam-diam mengikuti jejak Kim Hong Liu-nio.

Hatinya merasa lega bahwa dia telah mencegah Kim Hong Liu-nio tewas di tangan ayah kandungnya dan ibu tirinya!

Pertama, berarti dia telah membalas budi Kim Hong Liu-nio ketika iblis betina itu menyelamatkan dia, Bi Cu, dan Tiong Pek pada waktu keluarga Na Ceng Han diserbu musuh.

Ke dua, dia tidak ingin wanita iblis itu terbunuh orang lain kecuali oleh tangannya sendiri untuk membalas kematian ibu kandungnya.

Dan ke tiga, dia telah berhasil memperlihatkan kepada ayah kandungnya dan isteri ayah kandungnya itu bahwa dia bukanlah seorang bocah yang lemah!

Akan tetapi, ketika dilihatnya jejak Kim Hong Liu-nio akhirnya menuju ke utara, dia dapat menduga bahwa iblis betina itu tentu kembali keluar tembok besar, maka dia.

tidak melanjutkan pengejarannya.

Dia harus menemukan dulu Bi Cu karena dia mengkhawatirkan keselamatan dara itu.

Bi Cu adalah seorang dara sebatang kara.

Hidup sendirian tidak ada yang melindunginya.

Maka dia tidak mungkin membiarkan Bi Cu hidup terlantar seperti itu.

Kalau dia ingat akan semua yang telah dialaminya bersama Bi Cu, hatinya tidak tega dan tidak dapat membiarkan dara itu hanyut dibawa nasibnya sendiri.

Tidak, dia harus dapat menemukan Bi Cu, dia harus melindungi dara itu.

Ada sesuatu yang mendorongnya untuk melindungi dara itu.

Maka, melihat Kim Hong Liu-nio ke utara, dia lalu kembali ke kota raja.

Dia tidak akan ke utara lebih dulu kalau tidak bersama Bi Cu, karena bukankah dara itu hendak menyelidiki kematian ayahnya?

Akan tetapi dia tidak tahu ke mana harus mencari Bi Cu.

Setibanya di kota raja, Sin Liong lalu menghubungi para pengemis di pasar dan bertanya-tanya tentang Bi Cu yang terkenal dengan sebutan Kim-gan Yan-cu di antara mereka.

Namun, para pengemis muda itu hanya menggeleng kepala dengan sikap duka.

Mereka semua mencinta Kim-gan Yan-cu dan setelah pemimpin wanita ini tidak ada, kehidupan merekapun kocar-kacir dan cerai-berai, tidak ada lagi pengatur siasat yang pandai.

Karena tidak berhasil mendapatkan keterangan tentang dara itu di kota raja, akhirnya Sin Liong lalu mengambil keputusan untuk pergi saja ke dusun Pek-jun.

Dia hendak bertanya kalau-kalau Lan Lan atau Lin Lin atau siapa saja dari keluarga Kui itu mengetahui tentang Bi Cu.

Selain itu, dia kini juga hendak secara langsung menegur Kui Hok Boan, dan kalau perlu memberi hajaran kepada orang yang hatinya kejam ini.

Sin Liong tiba di dusun itu di waktu senja.

Dia sengaja menanti sampai malam tiba, baru dengan hati-hati dia menghampiri rumah yang nampak sunyi itu.

Sungguh amat mengherankan hatinya, rumah itu sunyi bukan main dan biarpun malam sudah tiba, akan tetapi tidak nampak ada lampu penerangan di rumah itu.

Apakah keluarga Kui sudah pindah, pikirnya.

Dia terus memasuki pekarangan dan akhirnya tiba di halaman rumah itu.

Ah, ternyata rumah itu kosong.

Tidak ada sepotong pun perabot rumah di halaman depan.

Dia terus masuk karena pintu depan terbuka, akan tetapi di dalam yang gelap itupun kosong saja, tidak ada sepotongpun perabot rumah.

Tentu sudah pindah.

Dia terlambat datang.

Akan tetapi ketika Sin Liong hendak keluar, dia mendengar suara orang menangis di sebelah dalam rumah yang gelap kosong itu.

Hampir Sin Liong lari, bulu tengkuk itu bangkit berdiri karena seremnya.

Rumah kosong gelap dan ada suara orang menangis!

Tentu setan, pikirnya.

Akan tetapi, penggemblengan dirinya semenjak kecil membuat Sin Liong seorang pemberani.

Biarpun permainan pikiran yang membayangkan hal yang ngeri-ngeri dan bukan-bukan itu mendatangkan rasa takut, namun dia nekat memasuki rumah kosong itu, biarpun hatinya kebat-kebit, akan tetapi seluruh panca inderanya waspada dan siap meng-hadapi apapun juga.

Berindap-indap dia menghampiri suara tangis itu dan ternyata suara itu datang dari sebuah kamar dan dari luar kamar itu sudah nampak cahaya penerangan kecil keluar dari kamar itu.

Bukan setan, pikirnya.

Kalau setan apakah perlu membuat api penerangan?

Bukan, bukan setan, melainkan manusia yang sedang dirundung susah hati.

Dengan hati-hati Sin Liong mendekati pintu kamar itu.

"Huuu-hu-huuu... anak-anakku... anak-anakku... kalian di mana saja...? Hu-huuu, mengapa aku kalian tinggal sendirian?"

Orang itu menangis terguguk dengan amat menyedihkan.

Tergerak hati Sin Liong oleh rasa iba dan dia sudah menyentuh daun pintu hendak membukanya, akan tetapi tiba-tiba dia terkejut bukan main karena suara menangis itu kini berubah sama sekali, menjadi tertawa terbahak-bahak!

"Ha-ha-ha-ha!

Kalian hendak menghalangi aku?

Ha-ha-ha, aku suka dia, dia manis cantik, hemmm...

Tee Kang, kau hendak menghalangi aku?

Ha-ha-ha, kau bosan hidup!

Aku suka kepada Cui Hwa, dia manis, ha-ha-ha...!

Aku memang suka wanita cantik, siapa perduli?

Siang Li, kau janda manis dan pandai merayu...

ha-ha, dan kaupun hebat sekali, Liong Si Kwi!

Sayang tanganmu buntung, tapi kau memang pandai bercinta, ha-ha-ha!

Eh, Bhe Coan, kau hendak menghalangi aku bermain cinta dengan isterimu?

Ah, kau bosan hidup, harus kubunuh kau agar binimu dapat menemaniku setiap malam, ha-ha-ha...!"

Wajah Sin Liong berubah pucat mendengar ini semua.

Hampir dia tidak percaya akan telinganya sendiri.

Itulah suara Kui Hok Boan!

Jelas, apalagi telah menyebut-nyebut nama ibunya segala.

Dan nama Bhe Coan, ayah dari Bi Cu!

Karena tidak percaya kepada telinganya sendiri, Sin Liong cepat membuka pintu untuk melihat dengan mata sendiri.

Dan apa yang dilihatnya membuat dia terbelalak seperti melihat setan!

Di situ, di dalam kamar kosong itu, yang sama sekali tidak ada perabotnya, Kui Hok Boan duduk di atas lantai, di atas sehelai tikar butut dan pakaian orang inipun butut seperti pakaian pengemis, wajahnya kotor tak terpelihara, matanya liar dan merah, mata orang gila!

Di sudut kamar itu terdapat sebatang lilin bernyala.

"Paman Kui...!"

Sin Liong berseru memanggil.

Kui Hok Boan yang sudah gila itu menengok, memandang kepadanya lalu tertawa lagi, tertawa bergelak, lalu berkata.

"Ha-ha, kau mau mengambil Lan Lan dan Lin Lin? Ha-ha, mereka telah menjadi kekasih-kekasih pangeran, dan aku menjadi mertua pangeran! Ha-ha, aku adalah mertua pangeran, dan kau harus berlutut menyembahku!"

Kui Hok Boan tertawa-tawa lagi dan Sin Liong memandang dengan muka pucat.

Pamannya ini, suami mendiang ibu kandungnya, telah menjadi orang gila!

Betapapun penasaran dan marahnya terhadap orang ini atas semua kecurangan dan kejahatannya, kini melihat dia menjadi orang gila dengan pakaian seperti jembel itu, terharu dan kasihan juga rasa hati Sin Liong.

"Paman Kui, ini aku, Sin Liong...!"

Orang yang sedang tertawa-tawa itu tiba-tiba memandang.

Sin Liong melihat betapa sepasang mata yang liar itu kemerahan di bawah sinar api lilin, dan mulut yang menyeringai itu berbusa.

Sungguh mengerikan keadaan orang ini, pikirnya.

"Sin Liong? Kau... kau setan cilik, engkau layak mampus!"

Tiba-tiba Kui Hok Boan menubruk seperti seekor harimau kelaparan dan gerakannya kacau-balau, caranya menyerang seperti binatang buas dan agaknya dia sudah lupa akan ilmu silatnya!

Tentu saja Sin Liong tidak mau melayaninya, dengan mudah mengelak sehingga tubrukan orang gila itu mengenai dinding, membuatnya terguling dan kembali Kui Hok Boan menangis dan menjambak-jambak rambutnya sendiri.

"Siong Bu... anakku... Siong Bu, kenapa kau mati meninggalkan aku? Siong Bu, anakku...! Beng Sin, engkau anakku, kenapa kau bunuh saudaramu sendiri...? Hu-hu-hu... kau minggat kemana, anakku? Lan Lan dan Lin Lin... kalau engkau sudah resmi menjadi permaisuri kelak, jangan lupa beri sebuah mahkota untukku, ha-ha-ha!"

Mendengar semua ini, diam-diam Sin Liong terkejut bukan main.

Siong Bu mati?

Dan Beng Sin yang membunuhnya?

Tapi...

kenapa pamannya ini menyebut mereka itu anak-anaknya?

Dan Lan Lan berdua Lin Lin ke mana?

"Paman Kui!"

Bentaknya keras.

"Di mana Lan-moi dan Lin-moi?"

Dibentak keras begitu, Kui Hok Boan menjawab dengan cepat pula.

"Di mana lagi kalau tidak di kamar Ceng Han Houw? Ha-ha, mereka itu, anak-anakku yang cantik manis, pantas menjadi selir-selir pangeran..."

Sin Liong sudah tidak mendengarkan lagi karena dia sudah berkelebat cepat meninggalkan rumah itu, kemudian dia langsung pergi menuju ke kota raja.

Lan Lan dan Lin Lin tentu telah ditangkap oleh Ceng Han Houw, pikirnya.

Entah bagaimana caranya karena dia tidak pernah mendengar tentang hal itu semenjak dia melarikan diri bersama Bi Cu.

Bagaimanapun juga, dia harus mencari Ceng Han Houw, dia harus menyelamatkan kedua orang adik tirinya itu dari malapetaka!

Dengan cepat karena dia mempergunakan gin-kangnya, Sin Liong menuju ke kota raja dan malam itu juga dia mengunjungi istana Pangeran Ceng Han Houw!

Para perajurit pengawal tentu saja mengenal Sin Liong yang mereka tahu adalah adik angkat dari sang pangeran, saling pandang dengan bingung dan ragu melihat kunjungan yang dilakukan di waktu tengah malam ini!

Akan tetapi dengan sikap hormat mereka mempersilakan Sin Liong untuk menanti di ruangan tamu dan mereka lalu mengabarkan tentang kedatangan pemuda ini kepada pengawal yang bertugas di dalam.

Akan tetapi karena sang pangeran telah berada di dalam kamar dan mungkin sudah tidur, tidak ada seorangpun di antara para pengawal dan pelayan yang berani mengganggunya.

Maka pengawal itu kembali keluar menemui Sin Liong dan mengatakan bahwa sang pangeran telah berada di dalam kamar dan tidak ada yang berani mengganggu untuk membangunkannya dan memberi laporan.

"Antarkan aku ke kamarnya, biar aku sendiri yang memberitahukan kedatanganku!"

Kata Sin Liong yang tidak ingin menunda lagi pertemuannya dengan kakak angkat itu.

"Akan tetapi... kongcu..."

"Sudahlah!"

Sin Liong berseru tak sabar.

"Aku mempunyai urusan yang penting sekali untuk disampaikan kepadanya! Biar aku yang membangunkannya dan kalau dia marah, akulah yang bertanggung jawab, bukan kalian!"

Melihat sikap ini, para pengawal merasa khawatir sekali, akan tetapi karena Sin Liong sudah berkata demikian dan mereka memang tahu bahwa pemuda ini adalah adik angkat sang pangeran, akhirnya mereka mengantarkan Sin Liong sampai ke depan kamar Ceng Han Houw.

Tanpa ragu-ragu, terdorong oleh panasnya hati dan kekhawatirannya akan nasib Lan Lan dan Lin Lin, Sin Liong mengetuk pintu kamar yang terbuat dari kayu terukir indah itu, disusul suaranya yang lantang karena dia mengerahkan khi-kang agar suaranya menembus ke dalam kamar di balik daun pintu itu.

"Houw-ko...! Ini aku Sin Liong datang menghadap dan ingin bicara dengan Houw-ko...!"

Semua pengawal diam-diam gemetar ketakutan karena mereka menduga bahwa tentu sang pangeran akan menjadi marah sekali diganggu tidurnya seperti itu.

Akan tetapi tak lama kemudian terdengar seruan dari dalam, seruan girang!

"Liong-te...!"

Daun pintu segera terbuka dan muncullah sang pangeran dengan rambut kusut dan pakaian dalam setengah terbuka.

Melihat para pengawal, pangeran itu segera menggerakkan tangan dan mengusir mereka pergi.

"Liong-te, kau baru datang? Masuklah, masuklah saja!"

Sin Liong mengangguk dan memasuki pintu kamar itu.

Dia melihat dua orang wanita cantik dengan pakaian dalam tidak karuan bangkit dan bergerak di balik kelambu tempat tidur.

Sedetik jantungnya berdebar, akan tetapi setelah dia melihat bahwa mereka itu bukan Lan Lan dan Lin Lin, legalah rasa hatinya dan dia cepat membuang muka agar jangan melihat kulit putih membayang keluar dari pakaian dalam mereka itu.

"Kalian keluarlah...!"

Kata Han Houw dengan suara lembut dan mulut tersenyum.

Dua orang wanita muda itu cepat mengenakan pakaian dan keluar dari kamar itu meninggalkan bau harum semerbak yang keluar dari minyak wangi yang mereka pakai.

Setelah dua orang selir itu keluar dan daun pintu kamar itu tertutup lagi, Han Houw tertawa gembira dan dia mengamati Sin Liong dari kepala sampai ke kaki, seperti menaksir-nakair dengan pandang matanya.

"Ha-ha-ha, girang sekali bertemu dengan adikku yang gagah perkasa! Engkau memang hebat, adikku, dan setengah tahun yang lalu, memang pantaslah engkau disebut Pendekar Lembah Naga! Akan tetapi sekarang... ha-ha, sekarang ada aku di sini, Liong-te! Dan akupun telah menerima petunjuk-petunjuk langsung dari suhu kita, yaitu Bu Beng Hud-couw sendiri! Aku telah mewarisi ilmu-ilmu yang malah lebih tinggi daripada ilmu silat yang pernah kaupelajari."

Diam-diam Sin Liong terkejut dan heran.

Dia sendiri, biarpun menguasai ilmu-ilmu dari Bu Beng Hud-couw, namun dia mempelajari kitab-kitab itu hanya di bawah petunjuk Ouwyang Bu Sek, dan selamanya dia belum pernah bertemu dengan manusia dewa yang disebut Bu Beng Hud-couw itu, bahkan dalam mimpipun belum pernah.

Akan tetapi pangeran ini mengatakan menerima bimbingan langsung!

Membualkah dia?

"Kalau begitu, aku mengucapkan selamat, Houw-ko!"

Katanya dengan wajar karena betapapun juga, dia merasa girang bahwa kakak angkatnya ini dapat mencapai apa yang telah diinginkannya.

Han Houw tertawa.

"Akan tetapi aku belum merasa puas kalau belum membuktikan apakah ilmu-ilmuku dapat mengatasi ilmu-ilmumu, Liong-te. Betapapun juga, biar engkau adalah adik angkatku, namun engkau lebih dulu mewarisi ilmu dari suhu Bu Beng Hud-couw sehingga menurut tingkat, engkau adalah suhengku! Hanya kalau kita sudah saling mengukur kepandaian, baru dapat ditentukan siapa yang lebih unggul dan patut menjadi suheng. Maka, aku ingin sekali mengadu ilmu melawanmu, Liong-te!"

Sin Liong terkejut dan cepat dia menggeleng kepalanya.

Dia tahu betapa hausnya pangeran ini akan kemenangan.

"Tidak, biarlah tanpa diujipun aku menyerahkan gelar suheng itu kepadamu, Houw-ko. Kedatanganku ini hanya untuk bertemu denganmu dan bertanya tentang Lan-moi dan Lin-moi."

Dia menatap tajam wajah pangeran yang masih tersenyum itu.

"Houw-ko, di manakah adanya Lan-moi dan Lin-moi? Aku tahu bahwa mereka telah kautawan. Kuharap dengan mengingat akan hubungan antara kita, engkau suka membebaskan mereka. Biarkan aku membawa mereka pergi Houw-ko."

Han Houw mengerutkan alisnya, kelihatan tidak senang, akan tetapi dia lalu menutupi ketidaksenangan itu dengan senyum lebar.

Memang hatinya tidak senang sekali begitu Sin Liong menyebut nama dua orang dara itu.

Dia diingatkan lagi akan kekalahannya menghadapi dua orang dara kembar itu!

Sampai sekarang, dua orang dara kembar itu masih belum sudi menyerahkan kehormatan mereka, tidak sudi menerima cintanya.

Untuk menghilangkan rasa kesal, kecewa dan marahnya, dia menenggelamkan diri dalam pelukan selir-selir lain, namun tetap saja dia masih tidak puas dan merasa penasaran.

Kini, Sin Liong muncul dan minta agar dua orang dara itu dibebaskan!

Hal ini menambah kekesalan dan kemarahan hatinya, namun pangeran yang pandai menguasai perasaan ini tersenyum lebar dengan ramahnya.

"Mengapa engkau bertekad benar untuk minta aku membebaskan mereka, Liong-te?"

"Houw-ko! Tentu engkau tahu bahwa Lan-moi dan Lin-moi adalah saudara-saudaraku sekandung, seibu! Karena aku adalah adik angkatmu, maka mereka itu pun tentu saja bukan merupakan orang-orang lain bagimu. Mengapa engkau memilih mereka kalau di dunia ini masih banyak gadis lain yang akan suka menjadi selir-selirmu? Harap kausuka bebaskan mereka, Houw-ko, demi hubungan persaudaraan kita!"

"Hemm... bebaskan sih mudah, Liong-te. Akan tetapi hal itu harus kupikirkan baik-baik. Karena itu, kau pergilah dan tiga hari kemudian, pagi-pagi hari tunggulah aku di tengah hutan di sebelah selatan kota raja. Aku akan menemuimu di sana untuk membicarakan pembebasan Lan Lan dan Lin Lin."

"Tapi, Houw-ko..."

Melihat sepasang mata adik angkatnya itu mencorong, Han Houw terkejut.

Bukan main pemuda ini, pikirnya, dan merupakan lawan berbahaya.

"Liong-te, apakah engkau tidak percaya lagi kepadaku? Kalau aku bilang tiga hari kita bicara, hal itu akan terjadi, dan jangan khawatir, aku yang menjamin keselamatan dua orang adik kembarmu itu."

Lega hati Sin Liong.

Dia tahu benar bahwa betapapun kejamnya kadang-kadang kakak angkatnya ini, namun satu hal adalah pasti, yaitu bahwa pangeran ini tidak akan pernah menjilat ludahnya sendiri, tidak akan pernah mengingkari janji.

Maka dia lalu mengangguk dan berkata.

"Tiga hari lagi, pagi-pagi aku menantimu di hutan itu, Houw-ko."

Dengan cepat dia lalu melangkah keluar kamar itu dan langsung keluar dari istana.

Para pengawal memberi hormat dengan tubuh tegak terhadap pemuda yang menjadi adik angkat pangeran itu.

Sin Liong sama sekali tidak tahu bahwa Han Houw memberi waktu tiga hari itu adalah untuk membuat persiapan untuk mengadu kepandaian dengan Sin Liong.

Pada keesokan harinya, Han Houw sudah mengutus orang-orangnya untuk menyebar berita di kalangan tokoh-tokoh kang-ouw di kota raja dan sekitarnya bahwa pada tiga hari mendatang, pagi-pagi di hutan di sebelah selatan kota raja akan diadakan pertandingan adu ilmu antara tokoh-tokoh kang-ouw terbesar untuk menentukan siapa yang patut digelari jagoan nomor satu di kota raja!

Han Houw kini tidak mau bertindak tergesa-gesa memperebutkan gelar jagoan nomor satu di dunia, melainkan hendak bertindak dari pusat, dari kota raja lebih dulu baru kemudian nama dan gelarnya diperluas sampai ke seluruh dunia kang-ouw.

Boleh jadi Sin Liong belum memiliki nama besar di dunia kang-ouw, akan tetapi dia tahu betul bahwa pemuda itu adalah lawan tangguh dan tidak sembarang orang kang-ouw akan mampu mengalahkannya!

Karena itulah dia ingin semua orang kang-ouw melihat dia mengajak Sin Liong mengadu ilmu.

Itulah sebabnya ketika pada tiga hari berikutnya pagi-pagi sekali Sin Liong pergi ke dalam hutan yang dimaksudkan oleh Han Houw, dia tidak hanya melihat pangeran itu berdiri dengan angkuhnya di suatu tempat terbuka dalam hutan itu, Akan tetapi juga terdapat banyak sekali orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh kang-ouw di kota raja dan sekitarnya.

Pangeran Ceng Houw berdiri dengan sikap angkuh, pakaiannya indah dan bajunya ditutup dengan jubah kulit, sepatunya mengkilap baru, kepalanya memakai topi bulu yang baru pula, dengan bulu burung berwarna biru di atas.

Targan kirinya bertolak pinggang dan tangannya memegang sebatang cambuk kuda.

Kuda itu sendiri, seekor kuda pilihan yang amat besar dan baik, berdiri tidak jauh di belakangnya.

Pada saat Sin Liong datang, pangeran itu sedang bercakap-cakap dan didengarkan oleh banyak tokoh kang-ouw.

Pangeran itu agaknya menceritakan tentang Sin Liong, karena pemuda ini masih dapat menangkap beberapa kata-kata dalam kalimat terakhir.

"...dia putera dari pendekar besar Cia Bun Houw..."

Akan tetapi pangeran itu menghentikan kata-katanya ketika melihat Sin Liong datang.

Sin Liong mengerutkan alisnya, tak senang hatinya mendengar pangeran itu membuka rahasianya di depan orang banyak!

Akan tetapi hal itu telah dilakukannya, maka diapun tidak banyak bicara lagi, melainkan segera menghampiri Han Houw dan memandang dengan sinar mata tajam mencorong.

"Aha, Liong-te, engkau benar gagah dan memenuhi janji! Nah, mari kita lekas memulai saja, Liong-te!"

"Mulai apa, Houw-ko?"

Kata Sin Liong dan para orang kang-ouw yang mendengarkan percakapan itu diam-diam merasa heran sekali akan cara bicara kedua orang itu.

Pemuda sederhana itu bicara terhadap sang pangeran dengan sikap begitu seenaknya tanpa hormat seperti bicara terhadap kakaknya sendiri saja!

Diam-diam, di samping kekaguman mereka, juga terdapat perasaan iri hati yang amat besar.

Pemuda sederhana ini sungguh beruntung, sudah menjadi cucu ketua Cin-ling-pai yang ternama kemudian menjadi keluarga yang dianggap pemberontak, masih diaku adik oleh Pangeran Ceng Han Houw yang memiliki kedudukan demikian tingginya!

"Eh, mulai apalagi, Liong-te?

Kita datang ke sini untuk menguji kepandaian masing-masing, bukan?

Hayo mulailah agar semua saudara kang-ouw ini tahu siapa di antara kita yang patut dijuluki Pendekar Lembah Naga!"

Sin Liong terkejut sekali.

Tak disangkanya bahwa Han Houw akan berbuat seperti itu, sengaja mengumpulkan orang kang-ouw dan mendesaknya agar saling mengadu ilmu kepandaian.

Tentu saja dalam hatinya dia merasa penasaran dan menolak keras.

"Houw-ko! Engkau tahu benar bahwa aku datang ke sini atas undanganmu untuk bicara tentang dua orang adikku, sama sekali bukan untuk mengadu ilmu kepandaian!"

"Akan tetapi aku ingin mengadu kepandaian denganmu, Liong-te. Urusan dua orang adikmu itu boleh nanti kita bicarakan. Sekarang, kautandingilah aku, biar semua orang tahu siapa di antara kita yang lebih unggul!"

"Tidak, Hauw-ko, aku tidak akan mengadu ilmu silat, apalagi terhadap engkau yang menjadi kakak angkatku sendiri. Harap engkau tidak memaksaku, Houw-ko!"

"Liong-te! Apakah engkau hendak membikin malu kepadaku? Masa adik angkatku seorang pengecut dan mau menjadi buah tertawaan orang-orang lain? Hayo mulailah, kauseranglah aku dengan ilmu silatmu yang tinggi!"

"Tidak, Houw-ko. Aku datang untuk minta engkau membebaskan Lan-moi dan Lin-moi."

"Aku akan membebaskan mereka, bukankah aku sudah memberi janjiku? Tapi, kita bertanding dulu."

"Maaf, aku tidak dapat, Houw-ko."

"Kalau aku memaksamu?"

"Apa maksudmu?"

"Kalau aku menyerangmu?"

"Aku tidak percaya bahwa seorang gagah seperti engkau akan menyerang orang lain yang tak mau melawan!"

Kata Sin Liong dengan tenang karena dia merasa yakin bahwa kakak angkatnya ini tidak mau bersikap curang seperti itu.

"Kalau engkau tetap tidak mau, berarti engkau menghinaku dan aku akan menghajarmu dengan cambuk ini!"

Han Houw mengangkat cambuknya ke atas, memutarnya di atas kepala lalu menggerakkan pergelangan tangannya yang mengandung tenaga amat kuat itu.

"Tar-tar-tarrr!"

Tiga kali cambuk itu meledak di udara dan suaranya sedemikian nyaring mengejutkan semua orang, juga nampak asap mengepul dari ujung cambuk !

Akan tetapi Sin Liong tetap tenang saja.

"Kalau Houw-ko menganggap aku bersalah dan hendak menghukum, silakan. Akan tetapi aku sama sekali bukan bermaksud menghinamu,"

Sin Liong berkata.

Dia adalah seorang pemuda yang tenang dan juga cerdik.

Dia tahu bahwa kalau dia kena dipancing lalu menjadi marah sehingga terjadi adu tenaga yang sesungguhnya tiada bedanya dengan perkelahian, maka makin jauhlah harapan untuk menolong Lan Lan dan Lin Lin.

Dua orang adiknya itu berada di tangan Han Houw, maka sebelum mereka itu bebas, dia terpaksa harus mengalah dalam segala hal.

"Liong-te, kau sungguh-sungguh terlalu dan membuatku marah! Hendak kulihat apakah benar engkau tidak akan mau menyerangku kalau kupaksa!"

Katanya dan kembali dia menggerakkan cambuknya ke atas, kemudian cambuk itu meluncur ke bawah mengeluarkan bunyi amat nyaring.

"Tar-tar-tarrr!!"

Tiga kali cambuk itu menyambar, pertama ke arah mata Sin Liong, kemudian ke arah leher dan ke tiga ke arah pundak.

Sin Liong tetkejut.

Kiranya pangeran itu bukan hanya menggertak saja dan benar-benar menyerangnya.

Akan tetapi Sin Liong tidak melawan, hanya mengangkat tangan menangkis sambaran ke arah mata dan leher, kemudian membiarkan cambuk mengenai pundaknya.

Baju pundaknya robek oleh lecutan ujung cambuk yang menggigit seperti patuk ular itu, akan tetapi karena Sin Liong mengerahkan sin-kang, kulitnya tidak terluka, lecetpun tidak.

Cambuk itu terus meledak-ledak dan menyambar-nyambar, Mengikuti gerak tangah Han Houw yang hendak memancing kemarahan Sin Liong agar pemuda itu membalas serangannya.

Namun Sin Liong sama sekali tidak pernah membalas, juga tidak mengelak, hanya melindungi bagian-bagian tubuh lemah.

Bajunya robek-robek, di pundak, di lengan, di paha, namun dia tidak pernah menderita nyeri dan tubuhnya tidak ada yang lecet.

Diam-diam Han Houw terkejut dan kagum juga penasaran sekali akan keteguhan batin adik angkatnya itu yang terus mandah saja dicambuki sehingga akhirnya dia merasa jengah dan malu sendiri!

Di lain fihak, Sin Liong diam saja dan di dalam hatinya dia sengaja tidak melawan, pertama sekali untuk melindungi keselamatan Lan Lan dan Lin Lin, dan kedua kalinya karena dia pernah berhutang budi kepada kakak angkatnya ini, maka biarlah dia menerima cambukan yang hanya merusak pakaian itu.

"Sin Liong, apakah engkau demikian pengecut sehingga menerima cambukan-cambukan tanpa berani membalas sama sekali? Apakah engkau takut kepadaku? Hayo katakan bahwa engkau takut kepadaku!"

Han Houw membentak marah dan penasaran sekali karena semua mata orang kang-ouw memandang peristiwa itu dengan penuh perhatian dan dari pandang mata mereka itu dia tahu bahwa para tokoh kang-ouw itu tidak dapat menyetujui perbuatannya yang menyerang dan mencambuki orang yang tidak mau melawan.

Sin Liong memeluk dada dengan kedua lengannya.

Wajahnya tenang dan sepasang matanya mencorong.

Dia menggelengkan kepalanya.

"Tidak, Houw-ko, aku tidak takut kepadamu, akan tetapi aku tidak mau melawan karena memang aku tidak ingin bertanding dengan kakak angkatku. Aku hanya ingin menuntut agar engkau suka membebaskan Lan-moi dan Lin-moi, lain tidak."

"Jadi engkau tidak mau menandingi ilmu silatku?"

"Tidak, Houw-ko."

"Jadi dengan demikian engkau tidak mengakui bahwa aku adalah Pendekar Lembah Naga, dan jagoan nomor satu di kota raja?"

"Hemm, engkau boleh saja memakai julukan Pendekar Lembah Naga dan jagoan nomor satu di kota raja atau di dunia. Aku tidak perduli, Houw-ko. Aku hanya minta agar engkau suka membebaskan Lan-moi dan Lin-moi, lain tidak."

Pangeran itu tersenyum.

Girang juga hatinya karena pengakuan ini sudah cukup dan telah didengar oleh semua orang kang-ouw.

Betapapun juga, dia harus dapat memperlihatkan kekuasaannya terhadap pemuda yang dia tahu amat lihai ini.

"Kau ingin Lan Lan dan Lin Lin bebas? Baik, akan kubebaskan mereka, akan tetapi engkau harus berlutut dan memberi hormat tiga kali kepadaku!"

Sin Liong terkejut.

Ini penghinaan namanya!

Apalagi hal itu harus dilakukan di depan banyak orang kang-ouw, sungguh merupakan hinaan yang cukup berat.

Hampir dia marah dan memang inilah yang dikehendaki oleh Han Houw.

Akan tetapi Sin Liong teringat akan hal ini dan dia tahu bahwa pangeran itu memang memancing-mancing kemarahannya dan dia harus ingat pula akan keselamatan Lan Lan dan Lin Lin yang telah dijanjikan kebebasan mereka oleh pangeran ini.

Maka tanpa ragu-ragu lagi diapun lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pangeran itu, lalu memberi hormat tiga kali!

Melihat ini, diam-diam Han Houw makin kagum dan juga khawatir.

Pemuda ini benar-benar memiliki kekerasan hati yang luar biasa, dan ketenangan yang amat kuat sehingga mampu menahan segala penghinaan dan tidak mudah terpancing.

Menghadapi lawan seperti ini benar-benar amat berbahaya!

Maka dia lalu sengaja tertawa bergelak, memegangi cambuknya dan berdiri dengan angkuhnya.

"Ha-ha-ha, cu-wi sekailan telah melihat dan mendengarnya. Bocah ini telah mengakui saya sebagai jagoan nomor satu di kota raja! Dan karena kami tahu betul bahwa kepandaiannya amat tinggi, maka pengakuannya itu mengokohkan kedudukanku sebagai Pendekar Lembah Naga dan jagoan nomor satu di kota raja yang kelak akan menjadi jagoan nomor satu di dunia setelah kami mempunyai kesempatan untuk mencoba dan merobohkan pendekar-pendekar besar seperti Yap Kun Liong, Cia Bun Houw dan lain-lain."

Tiba-tiba terdengar suara beberapa orang tertawa.

Seorang gendut pendek dengan kepala bulat tanpa leher karena kepalanya seperti menempel di atas pundak tanpa leher, yang berdiri dengan kedua tangan di belakang tubuh, terkekeh lalu berkata.

"Heh-heh-heh, pemuda ini paduka katakan amat lihai? Kalau menurut pendapat kami, dia ini tidak lain hanya seorang bocah yang penakut dan pengecut, mana bisa dimasukkan dalam kelompok orang-orang besar di dunia kang-ouw? Kalau paduka memang sudah kami ketahui kelihaiannya, akan tetapi bocah ini...?"

"Ha-ha-ha, seperti jembel!"

"Lihat wajahnya sudah pucat begitu, mana ada tenaga dia?"

Tujuh orang jagoan yang berada di belakang Sin Liong itu tertawa-tawa dan mengejek, sedangkan tokoh-tokoh lain hanya ikut tertawa saja.

Mereka mentertawakan Sin Liong, akan tetapi hal ini juga merupakan protes halus bahwa pangeran itu mengangkat diri sendiri se-telah menundukkan seorang bocah seperti itu yang mereka anggap pengecut dan tidak punya harga diri sebagai sebrang gagah di dunia kang-ouw.

Sejak tadi Sin Liong sudah menahan diri.

Api kemarahan terhadap semua penghinaan Han Houw telah berkobar di dadanya dan hanya karena ingin menyelamatkan dua orang adiknya itu saja, maka dia selalu bertahan diri dan menerima semua itu dengan tenang.

Akan tetapi kini terdengar kata-kata menghina dan suara ketawa menghina dari orang-orang di belakangnya, tentu saja dia tidak mau menerima penghinaan ini dari orang-orang lain.

Dengan tenang namun sepasang matanya makin tajam mencorong dia lalu membalikkan tubuhnya dalam keadaan masih berlutut.

Dipandangnya tujuh orang yang masih tertawa-tawa sambil menuding-nuding kepadanya itu dan tiba-tiba Sin Liong lalu mengeluarkan bentakan nyaring, tubuhnya bergerak ke depan dengan kedua tangan digerak-gerakkan.

Tujuh orang itu terkejut dan mereka sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang kenamaan dan memiliki kepandaian tinggi tentu saja tahu bahwa mereka diserang dengan pukulan yang mengandung sin-kang kuat maka mereka cepat bergerak untuk menangkis atau mengelak.

Akan tetapi sungguh aneh sekali, tetap saja hawa pukulan yang amat kuat itu menembus semua tangkisan dan terus mengejar biarpun ada yang telah mengelak dan akibatnya, berturut-turut tujuh orang itu terjengkang dan terpental, terbanting keras dan tak bergerak lagi karena mereka semua telah roboh pingsan!

Seketika keadaan menjadi lengang, semua mata terbelalak memandang kepada tujuh orang itu dengan terkejut, kemudian memandang Sin Liong dengan muka pucat, penuh kagum, heran dan jerih.

Sin Liong bangkit perlahan-lahan menghadapi mereka semua.

Perlahan-lahan kepalanya bergerak memandangi mereka semua dengan sepasang mata seperti mata naga sehingga mereka yang bernyali kecil bergidik melihat sinar mata ini dan otomatis kaki mereka me-langkah mundur.

Kemudian terdengar suara pemuda itu, tenang namun terdengar oleh semua telinga, suara yang keluar satu-satu.

"Aku tidak mau melawan pangeran adalah urusanku sendiri! Akan tetapi kalau di antara kalian ada yang mau mengujiku silakan maju!"

Suasana menjadi sunyi setelah Sin Liong mengeluarkan kata-kata ini, semua orang kelihatan jerih.

Melihat ini Han Houw mengerutkan alisnya.

Sekumpulan manusia apakah yang diundang oleh para utusannya ini?

Tokoh-tokoh kang-ouw kota raja dan sekitarnya ataukah hanya sekumpulan gentong kosong tempat nasi belaka?

"Sin Liong telah mengajukan tantangan kepada cu-wi sekalian.

Apakah benar-benar di antara cu-wi tidak ada yang berani menandinginya?

Cu-wi yang terkenal sebagai tokoh-tokoh kang-ouw tidak berani menghadapi pemuda remaja ini?

Betapa menggelikan dan memalukan!"

Han Houw benar-benar merasa penasaran sekali.

Karena, biarpun Sin Liong tidak mau melayaninya, namun dia ingin melihat gerakan-gerakan Sin Liong kalau menghadapi lawan tangguh sehingga dia sendiri dapat menilainya.

"Maaf, pangeran. Sesungguhnya bukan kami takut, akan tetapi kami merasa sungkan dan segan karena bukankah sicu yang muda ini adalah adik angkat paduka sendiri?"

Tanya seorang di antara mereka, yang bermuka hitam dan bertubuh tinggi besar dan berpakaian sebagai seorang ahli silat, pakaian yang ringkas, dan sepatunya memakai lapis baja.

"Hemmmm, apakah kalau begitu kalian juga mengakui keunggulanku karena aku seorang pangeran? Itu penghinaan namanya!"

Bentak Han Houw.

"Tidak, pangeran,"

Kata Si Muka Hitam.

"Hamba Twa-to Hek-houw (Macan Hitam Bergolok Besar) telah mengenal semua tokoh kang-ouw, dan hamba tahu benar siapa adanya paduka dan sampai di mana kelihaian paduka. Hamba tahu bahwa paduka adalah masih sute dari Kim Hong Liu-nio penyelamat Kaisar, dan bahwa paduka telah memiliki nama besar di utara. Akan tetapi sicu muda ini... betapapun juga dia adalah adik angkat paduka, maka kami..."

"Tidak perlu sungkan! Dunia kang-ouw tidak mengenal kedudukan dan pangkat, melainkan mengenal kekerasan kepalan dan kelihaian kaki tangan. Kalau ada yang berani, hayo maju dan lawanlah dia, aku tidak akan menganggap dia sebagai adik atau apapun juga. Kalah me-nang dan mati hidup dalam sebuah pibu tidak ada dosanya!"

"Kalau begitu, maafkan, biarlah hamba yang mencoba kelihaiannya!"

Twa-to Hek-houw berseru dan dia sudah meloncat ke depan, tangan kanannya bergerak dan dari punggungnya dia sudah mencabut sebatang golok besar yang berkilauan saking tajamnya.

Golok itu besar dan berat, namun dia dapat menggerakkannya seperti sebuah benda yang ringan saja.

Sambil tertawa lebar, Si Muka Hitam itu berkata.

"Orang muda, marilah kita main-main sebentar dan kau boleh keluarkan senjatamu!"

Macan Hitam ini memang licik.

Dia tadi sudah melihat betapa dengan tangan kosong Sin Liong mengalahkan tujuh orang dengan satu kali gebrakan saja.

Maka dia dapat menduga bahwa pemuda itu adalah seorang ahli silat tangan kosong yang amat lihai, dan memiliki tenaga sin-kang yang kuat.

Maka dia tidak mau sembrono, menghadapinya dengan tangan kosong, melainkan mengandalkan goloknya yang telah mengangkat namanya itu.

Sin Liong merasa sebal sekali.

Semua rasa mendongkol dan marahnya terhadap Han Houw kini ditujukan semua kepada orang-orang yang memandang rendah dan meremehkan serta menghinanya.

Dia melangkah maju dan berkata.

"Untuk melawanmu tak perlu aku bersenjata. Majulah!"

Tantangnya.

Memang Si Muka Hitam itu sudah merasa jerih, maka kini giranglah hatinya mendengar jawaban Sin Liong yang tentu juga didengar oleh semua orang.

Dia tidak akan tercela kalau menyerang pemuda ini dengan goloknya karena bukankah pemuda itu sendiri yang menantangnya?

Maka sambil mengeluarkan seruan nyaring dia sudah menyerang dengan senjata tajam itu.

Terdengar suara mengaung ketika golok itu menyambar.

Sin Liong kelihatan tidak bergerak, hanya sedikit miringkan badan dan menggeser kaki, dan ketika golok itu menyambar lewat dekat sekali dengan telinganya, tangannya menyambar seperti kilat dari samping, dengan tangan terbuka dan miring dia menghantam ke arah punggung golok.

"Krekkk!"

Golok itu patah menjadi dua, dan orang itu kena ditampar dan orangnya roboh terpelanting dengan tulang pundak patah!

Si Macam Hitam itu mengaduh-aduh dan cepat ditarik mundur oleh teman-temannya!

Melihat betapa Twa-to Hek-houw yang sebenarnya bukan tokoh sembarangan melainkan seorang jago silat yang amat disegani di kota raja itu roboh dalam segebrakan saja menghadapi pemuda itu, barulah semua tokoh yang berada di situ terkejut dan tahu benar sekarang bahwa pemuda yang menjadi adik angkat pangeran itu benar-benar memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan hebat.

"Hayo, siapa lagi yang hendak maju? Siapa yang tidak mau maju boleh pergi karena kami bukantah tontonan!"

Sin Liong berkata, suaranya keren dan sepasang matanya menyapu dengan sinar mata yang mencorong.

Di antara para tokoh kang-ouw itu tentu saja banyak terdapat orang pandai, akan tetapi mereka ini adalah orang-orang yang segan untuk mencampuri urusan pangeran dan adik angkatnya itu.

Tanpa ada alasannya, tentu saja bagi orang-orang kang-ouw itu tidak ingin melibatkan diri dengan urusan pangeran karena hal ini amatlah berbahaya, maka mendengar ucapan Sin Liong, mereka yang benar-benar tokoh kang-ouw dan bukan penjilat-penjilat pangeran, segera meninggalkan tempat itu.

Perbuatan ini diturut oleh yang lain sehingga akhirnya tempat itu menjadi sunyi, hanya Pangeran Ceng Han Houw dan Sin Liong saja masih berada di situ.

"Nah, sekarang kuharap engkau suka memenuhi janjimu, Houw-ko. Di mana adanya Lan-moi dan Lin-moi? Aku minta agar mereka segera kau bebaskan."

Diam-diam Han Houw merasa mendongkol dan kurang puas.

Biarpun di depan banyak orang kang-ouw dia sudah memperlihatkan kekuasaannya dan adik angkatnya ini sama sekali tidak membalas penghinaannya, namun ternyata Sin Liong dapat memperlihatkan sikap gagah yang tentu menimbulkan kesan dalam hati para orang kang-ouw itu.

Akan tetapi dia tersenyum dan mengangguk, lalu menuding dengan cambuknya ke arah utara.

"Sebentar lagi mereka datang."

Benar saja, terdengar suara kaki kuda dan roda kereta, dan tak lama lagi muncullah sebuah kereta indah yang ditarik oleh dua ekor kuda.

Kereta yang dikendarai oleh perajurit pengawal itu berhenti di situ, dan seorang pengawal lain yang tadi berdiri di belakang kereta cepat melompat turun dan membukakan pintu kereta.

Dua orang gadis turun dari kereta itu dan girang bukan main rasa hati Sin Liong mengenal dua orang dara kembar itu dengan pakaian indah turun dari kereta.

Mereka itu bukan lain adalah Lan Lan dan Lin Lin!

Dua orang dara ini turun dari kereta dengan wajah berseri dan begitu melihat Han Houw berada di situ, mereka lalu cepat berlutut di depan pangeran itu!

Tentu saja melihat hal ini, Sin Liong mengerutkan alisnya!

"Kami menghaturkan terima kasih bahwa paduka telah memegang janji,"

Kata Kui Lan.

"Terima kasih bahwa kami benar-benar telah ditemukan dengan Liong-koko,"

Sambung pula Kui Lin.

Pangeran Ceng Han Houw hanya mengangguk-angguk saja sambil tersenyum.

Akan tetapi Sin Liong yang mengenal senyum itu, senyum yang mempunyai daya pikat dan daya tarik yang banyak menjatuhkan hati wanita, dan dia tahu pula orang macam apa adanya kakak angkatnya yang tampan ini, pemikat dan pemuda mata keranjang yang tentu akan merusak hati wanita-wanita yang jatuh hati kepadanya, sudah melangkah maju dan memegang tangan dua orang adiknya.

"Lan-moi dan Lin-moi, hayo kita pergi sekarang dari sini!"

Dan dia lalu menarik mereka bangkit.

"Akan tetapi, Liong-ko... pangeran telah memberi kereta itu kepada kami..."

Kui Lan membantah karena merasa tidak enak kalau harus meninggalkan kereta pemberian itu begitu saja!

"Sudahlah, mari kita pergi...

ayahmu menanti-nanti kalian,"

Kata pula Sin Liong dan dia menarik dua orang adik tirinya itu cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit lagi kepada Han Houw yang hanya memandang sambil tersenyum lebar.

Setelah tiga orang itu lenyap di balik pohon-pohon, sang pangeran lalu masuk ke dalam kereta dan memerintahkan orang-orangnya untuk membawanya kembali ke istana.

Seorang pengawal menunggangi kuda pangeran itu dan mengawal di belakang kereta yang dijalankan dengan cepat menuju ke utara.

Sementara itu, sambil berjalan menuju ke dusun tempat tinggal keluarga Kui, Sin Liong bertanya apa yang telah terjadi dengan kedua orang dara kembar itu.

Mereka itu secara bergilir lalu bercerita tentang pengalaman mereka.

Betapa mereka berdua melarikan diri ketika ayahnya menerima pinangan pangeran dan hendak dijadikan selir pangeran itu.

"Kami melarikan diri ke selatan, tadinya hendak mencarimu, Liong-koko, akan tetapi tidak berhasil. Kami terlunta-lunta dan hampir celaka, tapi ditolong oleh Ciang-piauwsu di Su-couw."

Dan selanjutnya Kui Lin menceritakan tentang keadaan mereka selama berbulan-bulan tinggal di Su-couw, sampai kemudian muncul Kwan Siong Bu secara tidak disangka di Su-couw dan mengajak mereka pulang ke dusun Pek-jun.

"Tidak disangka, Kwan Siong Bu itu seorang manusia yang berhati keji,"

Kui Lin berkata dan diam-diam dia merasa menyesal sekali mengingat betapa dahulu dia merasa tertarik kepada kakak misan ini yang disangka mencintainya.

"Kiranya dia telah menjadi kaki tangan Pangeran Ceng Han Houw dan dia menyerahkan kita kepada pangeran itu!"

Kini Kui Lan yang bercerita tentang pengalaman mereka schingga mereka terjatuh ke tangan Pangeran Ceng Han Houw dan mengalami siksaan tidak diberi makan minum dan betapa mereka dibujuk-bujuk oleh sang pangeran untuk suka menjadi selir-selirnya.

Sin Liong mengepal tinjunya.

"Hemm, memang sejak dahulu Siong Bu mempunyai watak yang kurang baik! Akan tetapi pangeran itu... setelah apa yang dia lakukan terhadap kalian, mengapa tadi kulihat kalian bersikap demikian hormat dan bahkan berterima kasih kepadanya?"

Ucapan terakhir ini terdengar penuh rasa penasaran.

Pangeran itu telah bersikap buruk, tidak saja terhadap dirinya, bahkan telah menyiksa dua orang adiknya ini, menawan mereka, membuat mereka kelaparan bahkan digoda secara hebat agar mereka itu menderita dan mau menyerahkan diri akan tetapi dua orang dara ini malah menghormatinya dan berterima kasih!

"Ah, engkau tidak tahu, Liong-ko!

Pangeran itu ternyata baik sekali dan semua perlakuan yang dia perbuat di istana terhadap kami itu hanyalah ujian belaka!"

Kui Lin berseru.

"Hemm... ujian bagaimana maksudmu?"

"Begini, Liong-ko,"

Kata Kui Lan.

"Baru kemarin pangeran itu membebaskan kami dari belenggu, bahkan membawa obat untuk mengobati luka-luka kecil di kaki dan tangan kami karena belenggu itu, membawakan makanan dan minuman, lalu dia minta maaf kepada kami, menyatakan bahwa semua itu hanya merupakan ujian belaka darinya untuk mengetahui watak dan sifat kami. Katanya, sebagai adik-adikmu, kami berdua haruslah merupakan dua orang wanita yang gagah dan tidak menyerah terhadap bujukan dan siksaan, maka dia sengaja menguji kami dan kami lulus! Dia menyatakan kekagumannya dan memberi kami pakaian, lalu mengantar kami dengan kereta..."

"Sudahlah, kalian tidak tahu betapa jahat sesungguhnya dia itu! Yang penting, kalian sudah terbebas, maka kita harus cepat pulang, ayah kalian amat membutuhkan kalian berdua..."

"Ayah? Ah, dia hendak menjerumuskan kami!"

Kata Kui Lan.

"Apa yang terjadi dengan ayah?"

Tanya Kui Lin.

"Terjadi banyak sekali hal dalam keluarga kalian semenjak kalian ditangkap oleh pangeran. Banyak sekali hal! Pertama-tama, harap kalian tidak kaget, menurut apa yang kudengar dari ayahmu, Siong Bu dan Beng Sin adalah saudara-saudara tiri kalian, seayah berlainan ibu."

"Ahhh!"

"Ihh...?"

"Dan sekarang Siong Bu telah tewas, terbunuh oleh Beng Sin sendiri."

Dua orang dara itu melongo, mata mereka terbelalak memandang Sin Liong.

"Dan... dan... ayah kalian sakit berat... aku tak dapat menceritakan, baik kalian lihat sendiri."

Dua orang dara kembar itu betapapun juga tentu saja menjadi terkejut bukan main mendengar bahwa ayah mereka sakit berat.

Memang perbuatan ayah mereka amat menyakitkan hati mereka, akan tetapi betapapun juga rasa kasihan dan sayang dalam hati mereka terhadap ayah kandung masih ada, maka kini mereka segera mempercepat jalan mereka, setengah berlari-lari menuju ke dusun Pek-jun.

Kalau di waktu malamnya rumah kosong itu nampak menyeramkan sekali, kini di waktu siang tempat itu nampak amat menyedihkan.

Melihat keadaan rumah mereka, begitu tiba di halaman Lan Lan dan Lin Lin tertegun, lalu mereka berlari-lari memasuki rumah kosong itu.

Mereka makin terkejut dan khawatir sekali ketika melihat bahwa keadaan dalam rumah itupun sama saja, kosong tidak ada secuwilpun perabot rumah yang dulu amat mewah dan lengkap!

"Apa yang telah terjadi?"

Teriak Kui Lan.

"Di mana ayah?"

Kui Lin berseru. Tiba-tiba mereka terkejut mendengar suara tangis orang. Cepat (Lanjut ke

Jilid 43) Pendekar Lembah Naga (Seri ke 04

"Serial Pedang Kayu Harum) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo

Jilid 43 mereka berlari ke kamar ayah mereka, mendorong pintu dan keduanya berdiri dengan muka pucat sekali, memandang kepada ayah mereka yang berpakaian seperti jembel itu menangis tersedu-sedu di atas lantai kamar yang kosong itu.

"Ayaaahhh...!"

Jerit ini keluar berbareng dari dua mulut dara kembar itu dan mereka lalu menubruk ayah mereka.

Kui Hok Boan mengangkat muka dan melihat dua orang anaknya, tangisnya makin menghebat.

Dia merangkul dua orang anaknya itu sambil menangis.

"Ya Tuhan... Lan Lan dan Lin Lin... kalian hidup lagi...? Ahh... ampun... ampunkan ayahmu ini... ampunkan ayahmu ini...!"

Dan orang tua itu lalu terkulai lemas dan roboh pingsan, pertama karena memang tubuhnya tidak terawat selama beberapa lama ini, dan keduanya karena batinnya terguncang melihat dua orang puterinya.

Sin Liong lalu membantu Hok Boan dengan pengerahan sin-kang sehingga orang tua itu siuman kembali.

Agaknya pertemuan dengan dua orang puterinya membuat dia sadar kembali dan menangislah orang tua ini.

Kemudian, Lan Lan dan Lin Lin mencari keterangan kepada pada tetangga dan berceritalah para tetangga bahwa setelah menguburkan jenazah Siong Bu, Kui Hok Boan menjadi berubah ingatannya.

Dia membagi-bagikan seluruh barangnya kepada para tetangga dan siapa saja yang mau sampai rumah itu kosong sama sekali.

Kini, para tetangga yang baik hati mengembalikan barang-barang yang pernah diterimanya dari Kui Hok Boan.

Akan tetapi, atas usul Sin Liong, dua orang dara itu hanya menerima kembali barang-barang berharga dan uang, den meninggalkan atau memberikan semua perabot-perabot rumah kepada para tetangga, kemudian pemuda itu mengajak mereka berunding.

"Sebaiknya, kalian jangan tetap tinggal di tempat ini,"

Katanya.

"Karena aku masib belum yakin benar bahwa Ceng Hen Houw akan memegang janji dan tidak akan mengganggu kalian. Sebaiknya kalian membawa ayah kalian pergi mengungsi dari tempat ini."

"Ke mana kami harus pergi...?"

Kui Lan bertanya khawatir.

"Menurut penuturan kalian tadi, Ciang-piauwsu di Su-couw itu adalah orang yang baik sekali,"

Kata Sin Liong.

"Bagaimana kalau kalian membawa ayah ke sana? Dengan uang dan benda-benda berharga yang kalian bawa, ayah kalian memiliki modal yang cukup besar untuk memulai dengan kehidupan baru di sana."

Setelah dibujuk oleh Sin Liong, akhirnya dua orang adik kembar itu setuju den mereka lalu membawa ayah mereka yang kini keadaannya seperti seorang manusia tanpa semangat itu untuk melarikan diri ke selatan.

Sin Liong merasa tidak tega kepada dua orang adik tirinya itu, maka diapun lalu mengawal sampai mereka tiba di Su-couw.

Dan, tepat seperti dugaan Sin Liong, Ciang-piauwsu menerima dua orang dara kembar itu dengan riang gembira.

Dia dan isterinya memang sudah menganggap Lan Lan dan Lin Lin sebagai anak mereka sendiri, maka tentu saja mereka menerima dua orang dara kembar itu dengan gembira dan keluarga Ciang-piauwsu ini bahkan menerima Kui Hok Boan sebagai saudara angkat.

Setelah melihat betapa dua orang adik tirinya memperoleh tempat yang aman, Sin Liong lalu berpamit dan mulailah dia pergi mencari Bi Cu.

Ke manakah Sin Liong harus mencari Bi Cu?

Apa yang terjadi dengan dara itu semenjak dia berpisah dari Sin Liong?

Seperti telah kita ketahui Bi Cu tadinya tertawan oleh Pangeran Ceng Han Houw dan hanya setelah Sin Liong memberikan janjinya untuk membawa pangeran itu kepada suhengnya sehingga pangeran itu akhirnya diterima menjadi murid Bu Beng Hud-couw, Maka Bi Cu dibebaskan oleh sang pangeran.

Tentu saja diam-diam pangeran ini meninggalkan pesan kepada orang-orangnya agar mengamat-amati dara itu karena betapapun juga, Bi Cu adalah murid mendiang Hwa-i Kai-pang, dan karenanya dianggap sebagai musuh pemerintah pula.

Semenjak berpisah dari Sin Liong, Bi Cu merasa betapa hidupnya menjadi lain sama sekali.

Kalau tadinya sebagai Kim-gan Yan-cu, pemimpin para pengemis muda, biasa hidup lincah dan gembira, kini dia merasa betapa hidupnya sunyi dan tidak ada kegembiraan lagi.

Dia tidak berani kembali ke kota raja setelah dia dianggap pemberontak pula.

Kini, dia terlunta-lunta, mencoba untuk mencari-cari Sin Liong, berkelana dengan hati duka ke barat dan ke selatan.

Semenjak berpisah dari Sin Liong, terasa lagi kesengsaran yang menindih hatinya semenjak dia masih kecil, bahkan kini makin parah kedukaan melukai hatinya.

Semenjak kecil, Bi Cu merindukan kasih sayang orang tuanya.

Sejak kecil dia telah kematian ibu kandungnya, kemudian oleh ayah kandungnya dia diberikan kepada orang lain!

Hal inilah, setelah dia agak besar mulai mengerti, yang mencabik-cabik perasaan hatinya, kedukaan yang pertama kali terasa olehnya.

Dia merasa dikesampingkan, bahkan merasa dibuang, merasa diremehkan sekali oleh orang yang menjadi ayah kandungnya sendiri, satu-satunya orang tuanya, setelah ibu kandungnya meninggal!

Ayah kandungnya, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi darah dagingnya, telah menyingkirkan ia karena hendak menikah dengan wanita lain setelah ibunya meninggal!

Hatinya terasa perih, bukan karena ayahnya menikah dengan wanita lain, melainkan karena dia merasa telah dibuang oleh ayahnya!

Kadang-kadang, dia merasa penasaran, dia merasa kesepian dan marah, sehingga ada kalanya, timbul perasaan benci kepada ayah kandungnya.

Dalam keadaan seperti itu, kadang-kadang dia merasa betapa dunia ini merupakan tempat yang gelap pekat, sempit dan tidak menyenangkan.

Apalagi setelah kehidupannya mulai terhibur karena kebaikan Na-piauwsu, kemudian piauwsu ini tewas oleh musuh-musuhnya di depan matanya.

Dia merasa seolah-olah dunia kiamat.

Satu-satunya pengganti orang tuanya, Na-piauwsu yang demikian baik kepadanya, telah tewas dalam keadaan menyedihkan, dan putera piauwsu itu, Na Tiong Pek, agaknya hendak memaksa hasrat hatinya, hendak memperisterinya di luar kehendak hatinya.

Dalam keadaan seperti itu, dia terlunta-lunta dan akhirnya dia memperoleh penerangan jiwa lagi ketika dia menjadi murid Hwa-i Sin-kai, ketua Hwa-i Kai-pang yang juga amat baik kepadanya dan kemudian dia masih dapat hidup gembira ketika gurunya ini meninggal dunia dan dia memimpin para pengemis muda.

Akan tetapi, sedikit sinar terang inipun padam dan dia menjadi buronan pemerintah!

Namun, hidupnya mengalami perubahan besar, kegembiraan mulai memenuhi batinnya ketika dia bertemu dengan Sin Liong, dan ternyata kebahagiaan bersama Sin Liong inipun direnggut orang dari tangannya!

Dia kini terpisah dari pemuda itu, dan dia hidup terlunta-lunta, seorang diri saja di dunia ini, kesepian, dan kekeringan!

Mau rasanya dia mati saja daripada hidup dalam penderitaan batin tiada hentinya itu.

Dia haus akan cinta kasih, dan sikap Sin Liong membayangkan cinta kasih yang dapat memenuhi hatinya, sebagai pengganti cinta kasih ayah bundanya.

Namun, kini dia tidak tahu apakah Sin Liong masih hidup dan dapat menyelamatkan diri dari tangan pangeran yang amat dibencinya itu.

Bi Cu menjatuhkan dirinya duduk di bawah pohon besar dan tak tertahankan lagi dia menangis.

Air matanya bercucuran tak dapat ditahannya, dan diapun tidak berusaha menahannya.

Dia merasa amat lelah, lelah lahir batin.

Kakinya lelah karena sehari penuh dia berjalan kaki, seluruh tubuh lelah karena sehari itu tak pernah ada makanan memasuki perutnya dan diapun tidak ada nafsu makan sama sekali.

Batinnya juga lelah, karena digerogoti kesepian dan kerinduan akan kasih sayang.

Dia merasa pada saat itu betapa sia-sia hidupnya, betapa kosong tiada artinya sama sekali.

Bi Cu menangis mengguguk.

Air matanya bercucuran, ujung hidungnya menjadi merah dan dia tersedu-sedu.

Iba diri makin menggerogoti hatinya, iba diri yang datang dari pikiran membayangkan kesengsaraan yang dideritanya, menciptakan tangan maut yang mencengkeram hatinya dan meremas-remas hatinya sehingga berdarah!

Bukan hanya Bi Cu yang mendambakan cinta kasih, merindukan kasih sayang dilimpahkan kepadanya.

Kita semua rindu akan kasih sayang.

Kita semua menghendaki agar semua orang di dunia ini suka dan cinta kepada kita!

Kita haus akan cinta kasih!

Dari manakah datangnya kehausan ini?

Mengapa kita dahaga akan cinta kasih orang lain terhadap diri kita.

Kita tidak pernah mau sadar melihat kenyataan bahwa yang terpenting daripada segala keinginan dicinta orang itu adalah pertanyaan .

apakah KITA suka atau mencinta kepada SEMUA orang?

Sesungguhnya di sinilah letak sumber daripada segalanya.

Tanpa adanya cinta kasih dalam batin kita sendiri terhadap semua orang dan segala sesuatu, kita akan selalu haus akan cinta kasih lain orang!

Akan tetapi apabila hati ini penuh cinta kasih, maka kita tidak lagi akan kehausan.

Karena batin tidak ada cinta kasih inilah maka kita selalu dahaga akan cinta kasih terhadap diri kita, seperti sumur kering merindukan air.

Kalau su-mur itu penuh air, dia tidak akan lagi rindu akan air, bahkan airnya yang berlimpah-limpah itu menghilangkan dahaga SIAPA SAJA!

Sungguh sayang, kita tidak pernah mengamati apakah ada cinta kasih dalam diri kita terhadap sesama manusia atau sesama hidup.

Sebaliknya malah, kita selalu mengamati apakah ada cinta kasih dari orang lain untuk kita!

Kalau ada maka kita merasa senang dan kalau tidak, kita merasa sebaliknya.

Kita baru dapat bicara tentang cinta kasih kalau batin ini sudah kosong dan bersih daripada kebencian, iri hati dan pementingan diri sendiri.

Selama semua ini ada di dalam batin, jangan harap akan ada sinar cinta kasih dalam diri kita.

Dan kalau semua itu sudah bersih, lalu ada cinta kasih di dalam hati, jelaslah bahwa kita tidak MENGHARAPKAN lagi cinta kasih orang lain terhadap kita, bahkan kita TIDAK MENGHARAPKAN APA-APA LAGI!

Hati yang penuh cinta kasih tidak mengharapkan apa-apa lagi, seperti cawan yang penuh anggur tidak menghendaki apa-apa lagi.

Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi rasa khawatir tidak akan dicinta orang, tidak ada lagi rasa takut akan dibenci orang.

Yang takut tidak dicinta, yang takut dibenci, adalah si aku, yaitu pikiran yang mengaung-ngaungkan si aku, yang memupuk iba diri.

Akan tetapi, kalau hati penuh dengan cinta kasih, tidak ada lagi si aku yang ingin ini dan itu.

Bi Cu masih menangis sesenggukan.

Tangisnya mulai mereda, hanya tinggal isak-isak pelepas ganjalan hati.

Suka maupun duka ada batasnya.

Permainan pikiran selalu terbatas.

Penghamburan tenaga sakti berupa senang dan susah mendatangkan kelelahan dan biasanya orang akan merasa lelah dan lemah setelah penumpahan rasa duka maupun suka ini.

Demikian pula dengan Bi Cu.

Setelah air matanya dikuras, seolah-olah hendak mencuci bersih hal-hal yang mengganjal hatinya, dia merasa lelah dan dia rebah di atas rumput, berbantal kedua lengannya, merenung dan melamun menatap langit.

Dengan pesona yang aneh matanya mengamati dan mengikuti gerakan awan-awan putih berarak di langit biru, seperti sekumpulan domba-domba yang bulunya tebal dan lunak.

Ketika ada segumpal awan memanjang dan khayalnya membentuk gumpalan awan itu sebagai seorang anak laki-laki penggembala domba-domba itu, teringatlah dia kembali kepada Sin Liong dan dia mengeluh lirih.

Dia tidak tahu betapa dalam waktu beberapa menit tadi dia mengamati awan berarak, pikirannya kosong sama sekali, maka semua duka lenyap tanpa bekas dan pada saat itulah dia berada dalam keadaan kosong dan bersih!

Namun, begitu pikirannya teringat kembali, bekerja kembali, diapun dilontarkan kembali ke dunia penuh pertentangan antara suka dan duka ini.

Bentuk itu mengingatkan dia kepada Sin Liong dan dia termenung.

Semenjak dia bertemu kembali dengan Sin Liong, dia merasakan sesuatu yang hanya dapat dirasakan olehnya sendiri saja.

Dia tidak tahu apakah adanya perasaan itu.

Cinta kasihkah?

Atau apa?

Yang jelas, dia selalu terbayang-bayang kepada Sin Liong, wajahnya, gerak-geriknya, bahkan pakaiannya, dan suaranya seperti selalu bergema di dalam telinganya.

Dan semua ini menimbulkan kerinduan yang amat sangat, kerinduan terhadap Sin Liong.

Dia tahu bahwa Sin Liong telah mengorbankan diri untuknya, dia tahu bahwa pemuda itu telah menolongnya bebas dari tangan pangeran yang dibencinya itu.

Akan tetapi dia tidak tahu apakah adanya urusan antara Sin Liong dan pangeran itu.

Teringat akan pengorbanan pemuda itu, dia menjadi semakin rindu kepadanya.

Terbayang betapa gembiranya ketika dia melakukan perjalanan di samping Sin Liong, bahkan teringat betapa mesranya ketika mereka bersama-sama menghadapi maut, ketika mereka hanyut dalam arus air dan menghadapi maut di ujung anak-anak panah yang dilepas oleh para perajurit.

Bayangan Sin Liong ini mendatangkan keharuan, kerinduan, akan tetapi juga membangkitkan semangatnya kembali.

Aku harus mencarinya, aku harus menemukannya, demikian pikiran yang mendatangkan semangat itu.

Aku tidak boleh mati sebelum bertemu kembali dengan Sin Liong!

Dara itupun bangkit berdiri dan memandang ke depan.

Di atas lereng bukit berdiri di depan nampak genteng-genteng rumah dusun.

Dia harus mencapai dusun itu sebelum gelap menyelubungi bumi.

Perutnya lapar dan di mana ada genteng rumah, tentu ada manusia dan di mana ada orang tentu ada makanan.

Diapun lalu berlari ke depan, menuju ke dusun di lereng bukit itu.

Sampai berbulan lamanya Bi Cu berkelana ke barat, berputar-putar kemudian ke selatan.

Di setiap tempat yang dilaluinya, dia selalu mencari keterangan tentang Sin Liong, akan tetapi agaknya orang di dunia ini tidak ada yang mengenal nama Sin Liong dan dia tidak pernah menemukan jejaknya.

Bi Cu sama sekali tidak tahu betapa ketika dia memasuki dusun itu dan langsung menuju ke sebuah kedai makanan, ada beberapa pasang mata memandangnya dengan penuh perhatian.

Beberapa pasang mata ini makin lama makin bertambah banyak dan belasan orang itu mengintainya dari jauh.

Bahkan mereka selalu membayanginya ketika dia sehabis makan mondok di rumah sekeluarga petani yang ramah.

Malam itu Bi Cu tidur dengan nyenyaknya setelah perutnya diisi.

Dia merasa tenaganya pulih kembali dan dia mengambil keputusan untuk besok pagi-pagi mulai lagi dengan pencariannya.

Dia akan mencari Sin Liong sampai jumpa, biar ke ujung dunia sekalipun!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bi Cu sudah sarapan di warung makanan dan karena dia hendak pergi melintasi bukit-bukit di depan, maka dia memesan roti kering untuk bekal di jalan, kalau-kalau dia tidak akan bertemu dengan dusun hari itu.

Kemudian Bi Cu berangkat meninggalkan dusun itu, sama sekali tidak tahu betapa tak lama setelah dia pergi, ada lima belas orang perajurit menunggang kuda membalapkan kuda keluar dari dusun itu dan melakukan pengejaran kepadanya.

Bi Cu masih belum sadar akan datangnya bahaya ketika dia mendengar derap kaki kuda di sebelah belakangnya.

Dia hanya menduga ada serombongan orang berkuda hendak lewat, maka dia cepat minggir di tepi jalan dan menundukkan mukanya agar jangan terlihat oleh rombongan itu.

Dia sudah sering kali mengalami hal-hal tidak enak kalau memperlihatkan muka dan bertemu dengan kaum pria di tempat sunyi.

Hanya karena mengandalkan kepandaian silatnya maka selama ini dia dapat menghindarkan segala bencana yang mungkin datang dari pria-pria hidung belang atau mata keranjang.

Akan tetapi ketika rombongan berkuda itu lewat, dia terkejut melihat bahwa mereka itu berpakaian seragam, dan baru dia tahu akan bahaya ketika mereka berturut-turut berloncatan turun dari atas kuda dan sudah mengepungnya dengan wajah bengis!

Tahulah dia bahwa para perajurit ini telah mengenalnya dan tentu hendak menangkapnya!

Seorang di antara mereka berpakaian komandan, sambil tersenyum lebar melangkah maju.

Pria ini usianya tiga puluh tahun lebih, kumisnya tebal dan matanya lebar.

Sambil tersenyum mengejek komandan itu berkata.

"Kim-gan Yan-cu, susah payah kami mencari-carimu, kiranya engkau berada di sini. Ha-ha, engkau hendak lari ke mana sekarang?"

Disebut nama julukannya, timbul semangat dalam diri Bi Cu.

Ketika dia masih menjadi pemimpin para pengemis, hidupnya penuh petualangan dan dia tidak pernah takut terhadap apapun juga.

Berkelahi merupakan "pekerjaan"

Sehari-hari, maka kini begitu dia disebut Kim-gan Yan-cu, semangatnya terbangun dan biarpun dia dikepung oleh lima belas orang perajurit, dia bersikap tenang saja dan memanggul buntalan terisi pakaian dan bekal roti kering.

"Hemm, kalian ini perajurit-perajurit kerajaan, apakah tidak malu mengganggu seorang wanita di tengah jalan sunyi dalam hutan? Kalian mau apakah?"

"Ha-ha-ha, tak perlu kau berpura-pura lagi, Kim-gan Yan-cu. Engkau adalah seorang pemberontak, dan kami adalah perajurit-perajurit kerajaan maka kalau kami bertemu dengan seorang pemberontak, lalu mau apa? Tentu saja hendak menangkap dan meringkusmu untuk kami bawa ke kota raja dan dijebloskan ke dalam penjara!"

Kata komandan itu.

"Biarkan aku menangkapnya!"

"Aku saja!"

"Aku saja!"

Di antara empat belas orang perajurit itu beramai-ramai hendak berebut.

Mereka tentu saja tidak berani bertindak lebih sebelum memperoleh ijin komandan mereka, pula mereka tahu bahwa dara ini pernah berurusan langsung dengan Pangeran Ceng Han Houw, maka tentu saja mereka tidak berani mencoba untuk melakukan hal yang berlebihan.

Namun, kalau diperbolehkan menangkap, setidaknya mereka memperoleh kesempatan untuk sekedar merangkul, meraba dan mencolek tubuh dara remaja yang sedang mekarnya ini!

Melihat kegairahan anak buahnya, komandan itu tersenyum.

"Kalian semua boleh maju dan coba tangkap dia, akan tetapi jangan sampai dia terluka. Ingat, dia itu seorang buronan yang penting dan beliau telah memesan khusus kepadaku agar berusaha menangkapnya tanpa mengganggunya!"

Empat belas orang perajurit itu bersorak dan tiba-tiba mereka itu saling bergerak berlumba untuk lebih dulu meraba tubuh Bi Cu yang memang mulai dewasa seperti buah meranum atau bunga, sedang terbuka kuncupnya.

Seorang perajurit tinggi kurus menubruk dari depan.

Akan tetapi Bi Cu sudah menggerakkan kakinya.

"Dukkk! Waaahhh!"

Orang itu terjengkang karena perutnya kena ditendang ujung sepatu Bi Cu.

Orang ke dua dari kiri juga disambar tendangan, tepat mengenai lututnya sehingga orang itu jatuh berlutut.

"Wah, A-piauw, begitu hebatkah engkau tergila-gila kepadanya sampai berlutut?"

Komandan itu mengejek anak buahnya ini.

Maka terjadilah perkelahian yang ribut dan Bi Cu mengamuk dengan pukulan-pukulan, tamparan dan tendangan-tendangan.

Akan tetapi para pengeroyoknya terdiri dari orang-orang yang bertubuh kuat dan karena jumlahnya banyak, dia kewalahan juga.

Tiba-tiba, selagi dia menghadapi lawan yang mendesak dari depan, seorang perajurit berhasil me-nubruk dan menyikapnya dari belakang dan kedua tangan dengan jari-jari yang panjang itu mencengkeram ke arah dadanya!

Bi Cu menjerit lirih.

"Heh-heh, lihat, aku berhasil menangkapnya!"

Seru perajurit itu sambil tertawa-tawa.

"Ngekk!"

Tiba-tiba dia meringis dan kedua tangannya yang nakal itu terlepas dari pegangannya karena hidungnya pecah dan berdarah ketika dibantam oleh siku kanan Bi Cu.

"Desss... auuuughh...!"

Kini dia terhuyung lalu roboh terjengkang, kedua tangan memegangi bawah pusarnya karena tadi dengan kemarahan meluap-luap Bi Cu telah menyepakkan kakinya ke belakang, Seperti seekor kuda betina yang diganggu dari belakang.

Tumit sepatu dengan tepat mengenai anggauta tubuh bawah pusar sehingga laki-laki itu kini mengaduh-aduh seperti seekor babi disembelih.

Hanya mereka yang pernah merasakannya sajalah yang mampu menggambarkan betapa nyeri, kiut-miut rasanya kalau bagian itu kena tendang!

Bi Cu sudah marah sekali.

Kini dia bukan sekedar membela diri, melainkan balas menyerang untuk membunuh!

Dia seperti seekor harimau betina yang sudah tersudut dan menjadi buas dan liar!

Kedua tangannya menampar dengan pemgerahan seluruh tenaga, dan ketika ada seorang perajurit menjerit kesakitan dan sebuah biji matanya copot kena ditusuk jari tangan Bi Cu, kaget dan marahlah komandan pasukan kecil itu.

"Robohkan dia!"

Bentaknya dan kini para perajurit yang juga marah melihat betapa seorang teman mereka cedera demikian parah, lalu mendesak maju dan mulai menyerang dengan pukulan-pukulan dan tendangan-tendangan, tidak seperti tadi yang hanya sekedar ingin menangkap dan meraba saja!

Dan mulailah Bi Cu kewalahan!

Beberapa pukulan dan tendangan telah mengenai tubuhnya, membuat dia terhuyung-huyung.

Namun dia sama sekali tidak mau menyerah, bahkan mengamuk seperti seekor harimau memukul, mencakar, kalau perlu menggigit!

"Hantam perempuan liar ini!

Baru kita ringkus!"

Bentak lagi komandan yang juga pernah kebagian tendangan kaki Bi Cu yang mengenai betisnya dan menimbulkan kenyerian yang cukup membuat dia semakin marah.

Para perajurit itu, seperti sekumpulan serigala mengeroyok seekor harimau betina, kini menubruk dari empat jurusan, menampar, menjambak dan akhirnya robohlah Bi Cu karena kakinya kena ditangkap dan ditarik.

Begitu dia roboh, para perajurit itu bersorak dan mereka berlumba untuk menubruk dan meringkus Bi Cu.

"Siancai...! Aniing-anjing pemerintah lalim menghina rakyat lagi!"

Suara ini tiba-tiba saja terdengar, disusul teriakan dua orang perajurit yang terpelanting ke kanan kiri dengan kepala pecah karena ada tongkat butut yang menyambar dan menghantam kepala dua orang itu secara cepat sekali.

Tongkat itu berada di tangan seorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih, berpakaian jubah pendeta berwarna putih kumal dan rambutnya yang sudah putih digelung ke atas, seperti seorang tosu yang baru saja keluar dari tempat pertapaannya.

Melihat robohnya dua orang teman mereka yang tewas dengan kepala pecah itu, semua perajurit terkejut bukan main dan mereka segera mengurung pertapa itu, meninggalkan Bi Cu yang masih rebah.

Bi Cu bangkit duduk, mengelus-elus kaki kirinya yang terasa nyeri sekali terkena tendangan keras dari si komandan, dan dengan heran dia memandang kepada kakek yang tak dikenalnya itu.

"Pertapa jahat!"

Komandan itu membentak dan menundingkan telunjuknya ke arah muka kakek itu.

"Berani engkau membunuh dua orang perajurit kerajaan?"

"Huh, siapa yang tidak berani? Kalau bisa aku akan membunuh seluruh perajurit kerajaan yang lalim dan menindas rakyat!"

Jawab pendeta itu.

"Kakek pemberontak!"

Komandan itu berteriak lalu dia memberi aba-aba.

"Tangkap atau bunuh dia!"

Komandan itu sendiri kini mencabut pedangnya, dan semua anak buahnya juga mencabut golok masing-masing.

Ketika mereka mengeroyok Bi Cu tadi, tidak seorangpun di antara mereka yang mempergunakan senjata, karena mereka hendak menangkap Bi Cu hidup-hidup, pula mereka agak memandang ringan kepada dara muda remaja itu.

Akan tetapi sekarang, melihat betapa kakek itu telah membunuh dua orang kawan mereka, tentu saja mereka menjadi marah dan sinar kejam dalam mata semua perajurit itu.

"Ha-ha-ha, marilah kuantar nyawa kalian ke neraka!"

Kakek itu tertawa dan si komandan sudah menerjang dengan pedangnya, diikuti oleh anak buahnya.

Tiba-tiba terdengar suara angin bercuitan dan tongkat itu lenyap berubah menjadi sinar bergulung-gulung yang menyambar semua perajurit yang telah menyerang.

Terdengar teriakan-teriakan mengerikan disusul robohnya para perajurit itu seorang demi seorang!

Golok beterbangan dan akhirnya, dalam waktu yang amat singkat, seluruh perajurit termasuk komandannya telah roboh dan tewas karena semua roboh dengan kepala pecah!

Melihat ini, diam-diam Bi Cu terkejut dan juga merasa ngeri sekali.

Dia hanya duduk dan terbelalak memandang kepada kakek yang kini berdiri tegak dengan tongkat butut di tangan kanan, tangan kiri bertolak pinggang dan kakek itu tertawa menyeramkan.

Betapapun, karena mengingat bahwa kakek yang kejam dan menyeramkan ini telah menyelamatkanya, Bi Cu lalu bangkit dan terpincang-pincang menghampiri kakek itu sambil berkata.

"Terima kasih atas pertolongan locianpwe."

Kakek itu sudah berhenti tertawa, lalu membersihkan ujung tongkatnya yang berlumuran darah itu pada baju yang menutupi tubuh seorang di antara para korbannya yang terdekat.

Kemudian dia menunduk dan memandang kepada dara remaja itu, berkata lirih.

"Anak yang baik, kau angkatlah mukamu dan pandang aku."

Biarpun merasa serem, Bi Cu mengangkat muka memandang.

Kakek itu sudah tua namun mulutnya yang selalu tersenyum itu membayangkan ketampanan, dan terutama sekali sepasang matanya mencorong menakutkan.

Bi Cu terkejut dan ingin mengalihkan pandang matanya, akan tetapi dia tidak sanggup!

Sinar matanya seperti melekat atau tertangkap oleh sinar mata kakek itu, membuat dia tidak mampu menggerakkan mata untuk mengalihkan pandangan!

Kakek itu mengangguk-angguk.

"Bagus, engkau seorang perawan remaja yang cantik manis, berdarah bersih dan bertulang baik. Engkau patut menjadi muridku. Siapakah namamu?"

Dengan suara gemetar dan yang keluar seolah-olah di luar kehendaknya, Bi Cu menjawab.

"Nama saya adalah Bhe Bi Cu..."

"Bagus! Nah Bi Cu, mulai sekarang engkau kuambil sebagai muridku."

Di dalam batinnya Bi Cu menolak, akan tetapi anehnya, dia tidak kuasa untuk menolaknya!

Dia sudah ditolong, diselamatkan nyawanya, bagaimana mungkin dia menolak kehendak kakek sakti ini yang hendak mengangkatnya sebagai murid?

Selain dia tidak mempunyai kekuatan untuk menolak, juga dia tidak akan berani!

Dia lebih aneh lagi, seperti digerakkan oleh tenaga yang tidak nampak, dia lalu memberi hormat dan berkata.

"Suhu...!"

Bi Cu merasa heran sendiri mengapa dia melakukan hal ini.

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Bi Cu. Engkau akan hidup senang menjadi murid Kim Hwa Cinjin! Hayo, kau ikutlah bersamaku."

Kakek itu tertawa girang dan Bi Cu bangkit berdiri dengan taat.

Dia telah terlanjur mengangkat kakek ini sebagai guru, kakek yang namanya Kim Hwa Cinjin!

Tentu saja dia sama sekali tidak pernah menduga bahwa kakek ini adalah seorang tokoh besar, ketua dari perkumpulan Pek-lian-kauw di selatan!

Pek-lian-kauw adalah perkumpulan yang menentang pemerintah, oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau Kim Hwa Cinjin membunuh semua perajurit kerajaan itu, bukan semata-mata untuk menyelamatkan Bi Cu.

Dan Bi Cu juga sama sekali tidak tahu bahwa Kim Hwa Cinjin dahulu di waktu mudanya adalah seorang penjahat cabul yang amat ditakuti semua wanita.

Lebih lagi dia tidak pernah mimpi bahwa biarpun pada lahirnya dia diambil murid, namun istilah mengambil murid dari ketua Pek-lian-kauw ini mengandung maksud yang lebih buruk lagi, bahkan maksud yang amat keji terhadap diri Bi Cu.

Tanpa disadarinya, dara remaja ini terjatuh ke dalam tangan ketua Pek-lian-kauw yang telah mempergunakan kekuatan sihirnya membuat dara itu tunduk dan kehilangan kekuatan dan kemauan untuk menolak ketika diambil sebagai murid.

Seperti telah kita kenal cerita ini bagian depan, juga dalam cerita Dewi Maut, Kim Hwa Cinjin dahulunya adalah seorang jai-hwa-cat.

Setelah usianya menjadi amat lanjut, kecabulannya berubah dan kini dia mencari kenikmatan dengan menonton kecabulan berlangsung, bukan melakukannya sendiri.

Sudah biasa bagi tokoh ini untuk menghadiahkan wanita-wanita cantik kepada para muridnya yang dianggap berjasa, dan diam-diam dia mengintai bagaimana para muridnya itu menikmati hadiah yang diberikannya kepada mereka itu.

Kini setelah melihat Bi Cu sebagai seorang dara remaja yang cantik manis dan bertulang baik, dia tertarik sekali.

Kalau dara seperti ini meniadi muridnya dan dihadiahkan kepada para murid terbaik, kelak kalau sampai dara ini melahirkan keturunan, Maka keturunan itu tentu dapat diharapkan menjadi anggauta Pek-lian-kauw yang hebat!

Inilah yang terutama mendorongnya untuk menolong Bi Cu dan mengambilnya sebagai murid.

Baik itu dinamakan kecabulan, kemaksiatan, yang menjurus kepada perbuatan kejahatan, maupun yang dinamakan pengejaran cita-cita, ambisi yang menjurus kepada persaingan dan perebutan kedudukan sampai kepada perang, sampaipun kepada pengejaran terhadap apa yang dianggap murni dan agung, seperti daya upaya untuk menjadi orang baik, orang suci, atau tempat yang damai di alam baka, semua itu mempunyai dasar dan sifat yang sama, yaitu pamrih untuk menyenangkan diri sendiri!

Mengejar dan memperebutkan uang, kedudukan, wanita, nama besar, kehormatan dan sebagainya itu dapat mendatangkan kesenangan!

Demikian pula, orang mengejar kedamaian di alam fana maupun baka karena mengganggap bahwa kedamaian itu menyenangkan.

Boleh saja dipakai kata lain untuk kesenangan, misalnya kebahagiaan.

Karena menganggap bahwa semua yang dikejar itu akan mendatangkan kebahagiaan, maka terjadilah pengejaran-pengejaran itu.

Jadi, semua tindakan itu didasari oleh keinginan memperoleh sesuatu!

Yaitu pamrih!

Kita lupa bahwa segala sesuatu yang didorong oleh pamrih sudah pasti akan mendatangkan konflik dan pertentangan.

Pamrih adalah pementingan diri pribadi, dan pementingan diri pribadi inilah yang menimbulkan konflik, baik konflik dalam batin sendiri maupun konflik dengan orang lain.

Orang yang mengejar-ngejar uang akan menyamakan diri dengan uang itu dan uang dianggap lebih penting daripada apa saja.

Sama pula dengan pengejaran terhadap kedudukan, dan sebagainya.

Jadi bukan si kedudukan, si uang, si kehormatan, si keluarga, si bangsa, yang penting, melainkan si aku!

Maka terjadilah demikian .

Yang dibela mati-matian adalah uangku, kedudukanku, kehormatanku, keluargaku, bangsaku, agamaku dan selanjutnya yang berpusat kepada si aku.

Uang orang lain, kehormatan orang lain, bangsa orang lain, agama orang lain, sama sekali tidak masuk hitungan!

Tentu saja sikap ini memancing datangnya pertentangan.

Ini sudah amat jelas, bukan?

Dapatkah kita hidup tanpa pamrih ini, tanpa adanya si aku yang mendorong segala perbuatan kita menjadi tindakan pementingan si aku?

Hanya kalau sudah begini, maka uang, kedudukan, kehormatan, keluarga, bangsa, agama dan lain-lain memiliki arti dan nilai yang sama sekali berbeda!

Orang semacam Kim Hwa Cinjin semenjak kecil telah menjadi budak daripada nafsu-nafsunya sendiri, yaitu selalu mengejar kesenangan!

Kesenangan itu dapat berbentuk seribu satu macam, tercipta dari keadaan lingkungan, tradisi, pendidikan, kebiasaan dan sebagainya.

Sampai setua itu, Kim Hwa Cinjin masih saja diperhamba oleh akunya yang selalu mendambakan kesenangan.

Sifat kesenangan sama saja, hanya bentuknya berubah menurut perubahan usianya.

Dari pengejaran-pengejaran kesenangan inilah timbullah segala macam maksiat, kejahatan dan kekacauan di dunia ini!

Bi Cu yang berada di bawah pengaruh sihir itu seperti seekor domba dituntun ke tempat jagal.

Dia menurut saja diajak ke sarang Pek-lian-kauw yang pada waktu itu berada di puncak pegunungan di depan.

Ada juga naluri sehat yang membuat dara ini meragu, dan ketika mereka mendaki sebuah bukit, dara itu berkata.

"Suhu...!"

"Eh, ada apakah, Bi Cu yang manis?"

Kim Hwa Cinjin berhenti dan menoleh kepada dara itu yang berdiri dengan muka pucat dan pandang mata meragu.

"Teecu... teecu tidak ingin naik ke sana... teecu ingin... pergi mencari Sin Liong..."

"Sin Liong? Siapa itu?"

"Dia... dia seorang sahabatku yang amat baik..."

"Hemm, engkau adalah muridku, Bi Cu, maka engkau harus ikut denganku dan menurut semua perintahku."

"Tapi, suhu..."

"Agaknya engkau belum yakin akan kemampuan gurumu, ya? Nah, kau lihatlah ini!"

Kim Hwa Cinjin menghampiri sebongkah batu yang besarnya seperti kerbau bunting.

Dengan kakinya dia mengungkit batu itu dan melontarkannya ke atas, kemudian dengan tongkatnya dia menerima batu itu, diputar-putar di atas ujung tongkat.

Melihat permainan sulap ini, Bi Cu menjadi bengong dan kagum.

"Hiyaaat!"

Kim Hwa Cinjin melontarkan batu dengan ujung tongkat.

Batu melambung tinggi dan turun menimpa kepala kakek itu.

Bi Cu hampir menjerit, akan tetapi ketika batu itu tiba di atas kepala, Kim Hwa Cinjin menggerakkan tangan kirinya menampar.

"Blaaarrr...!"

Batu besar itu pecah berkeping-keping.

"Dan kau lihat pukulan api dari tanganku ini!"

Katanya pula menghampiri sebatang pohon.

Dengan tangan kirinya dia menampar ke arah batang pohon.

Terdengar suara keras seperti ledakan dan...

pohon itu terbakar dan api menyala tinggi!

Tentu saja Bi Cu makin terbelalak kagum.

Dia tidak tahu bahwa yang dipertunjukkan itu bukanlah ilmu pukulan yang sesungguhnya, melainkan ilmu sihir!

Demikian kagum rasa hati dara itu sehingga dia menjatuhkan diri berlutut dengan hati penuh takluk dan kagum.

"Nah, apakah engkau ingin mempelajari semua kesaktian itu, Bi Cu?"

"Tentu saja, suhu, teecu ingin sekali."

"Kalau begitu, mulai saat ini engkau harus mentaati segala perintahku."

"Baik suhu, teecu akan taat."

Girang bukan main hati Kim Hwa Cinjin dan dia lalu mengajak dara itu melanjutkan perjalanan menulu ke sarang Pek-lian-kauw, sebulan lagi, Pek-lian-kauw akan mengadakan pesta ulang tahun, dan dalam pada itulah dia akan menghadiahkan Bi Cu kepada beberapa orang muridnya yang berjasa.

Sambil melangkah, diikuti oleh muridnya yang baru, kakek ini tersenyum-senyum, mengelus jenggotnya dan memilih-milih, siapa di antara muridnya akan dihadiahi dara ini!

Bi Cu, tak sadar akan bahaya yang mengancam dirinya, seperti seekor domba dituntun oleh harimau ke dalam sarangnya!

Sin Liong mendaki bukit yang nampak sunyi itu dengan hati-hati.

Dia telah menemukan jejak Bi Cu!

Di dusun terakhir di kaki pegunungan ini, dia mendengar dari seorang petani bahwa hampir sebulan yang lalu ada seorang dara remaja yang wajahnya mirip dengan yang dia gambarkan datang ke dusun itu, bahkan bermalam di dalam rumah keluarga petani itu.

Dari penuturan mereka, dia tidak ragu-ragu lagi bahwa tentu dara itu Bi Cu.

Yang meyakinkan dia adalah karena Bi Cu juga bertanya-tanya tentang dia, mencari-cari dia!

Hatinya berdebar girang dan penuh harapan ketika dia mendaki bukit itu.

Biarpun dia sudah ketinggalan hampir sebulan, akan tetapi kini dia telah menemukan jejaknya dan tentu akan bisa memperoleh keterangan lebih lanjut di sana, atau di balik pegunungan itu.

Akan tetapi, timbul kekhawatiran di dalam hatinya ketika dia mendengar keterangan seorang pemburu yang dijumpainya di dalam hutan di lereng gunung, bahwa daerah pegunungan itu termasuk wilayah yang dikuasai secara diam-diam oleh perkumpulan Pek-lian-kauw yang membuka sarang di puncak pegunungan.

Mendengar disebutnya nama Pek-lian-kauw dia merasa khawatir.

Bi Cu telah tiba di wilayah ini, daerah kekuasaan Pek-lian-kauw dan dia tahu betapa berbahayanya bagi dara itu melewati daerah ini.

Maka timbullah kecurigaannya dan dia harus lebih dulu menyelidiki sarang Pek-lian-kauw.

Kalau di sana tidak terdapat Bi Cu, baru dia akan meninggalkan tempat itu karena dia sendiri tidak ingin berurusan dengan fihak Pek-lian-kauw.

Mudah-mudahan saja Bi Cu tidak bertemu dengan fihak mereka, pikirnya.

Setelah tiba di lereng gunung itu, nampaklah olehnya bangunan-bangunan Pek-lian-kauw yang merupakan perkampungan tersendiri, terletak di dekat puncak.

Dan mulai terdengar olehnya suara musik yang membuatnya merasa heran sekali.

Pek-lian-kauw adalah perkumpulan agama, mengapa kini terdengar suara musik seolah-olah di sana diadakan pesta, di mana orang bergembira ria?

Melihat betapa tempat pendakian itu sunyi saja, Sin Liong lalu mempercepat pendakiannya menuju ke perkampungan di dekat puncak itu.

Setelah melewati daerah yang berbatu-batu lalu dia tiba di padang rumput yang penuh dengan rumput tebal dan subur.

Rumput itu sampai setinggi lututnya dan Sin Liong berlari terus karena dusun Pek-lian-kauw itu berada di ujung padang rumput itu.

Tiba-tiba kakinya tersangkut semacam tali halus yang tidak nampak karena tersembunyi di dalam rumput.

Begitu kakinya tersangkut, terdengar suara berdesir dan bercuitan dari bawah.

Sin Liong terkejut sekali, maklum bahwa ada penyerangan gelap dari bawah maka seketika dia sudah meloncat ke atas lalu berjungkir balik di udara sampai tiga kali.

Benar saja, dari bawah menyambar empat batang tombak dari depan, belakang, kanan dan kiri.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 4

Baca Juga: Pendekar Super Sakti 10

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert