Ceritasilat Novel Online

Dewi Sungai Kuning 3

Eps 3 Dewi Sungai Kuning - Kho Ping Hoo

Baca online Dewi Sungai Kuning - Kho Ping Hoo

Cersil Dewi Sungai Kuning - Kho Ping Hoo.

Dia dapat mencengkeram lengan pangeran yang tampan itu.

Akan tetapi sebelum ia turun tangan lebih lanjut, tiba-tiba terdengar Thian Hwa berseru keras.

"Twako, jangan bunuh dia!"

Yan Bun melepaskan lengan pemuda itu dan memandang kepada Thian Hwa dengan heran.

"Bukankah dia majikan mereka?"

Tanya Yan Bun.

Akan tetapi Thian Hwa tidak menjawab, hanya melompat ke depan Pangeran Cu Kiong dan menatap wajah pangeran itu.

Pemuda bangsawan itu menjadi pucat sekali, tubuhnya menggigil ketakutan, sedangkan Thian Hwa memandang dengan kedua mata penuh air mata dan ia menggigit bibir sendiri menahan tangis.

Kemudian, setelah memandang lama sekali, ia lalu membalikkan tubuh dan meloncat ke atas genteng sambil berkata dengan suara terisak.

"Twako... hayo... kita pergi!"

Mendengar ini, Yan Bun segera melompat dan mengikuti gadis itu dengan hati menduga-duga.

Thian Hwa dan Yan Bun berdiri di atas air Sungai Huang-ho.

Mereka seakan-akan berdiri di atas air, padahal sebenarnya mereka menginjak sepasang papan terompah air.

Thian Hwa, seperti biasa mengenakan pakaian serba putih seperti pakaian berkabung.

Biarpun ia sudah bertemu dengan ayah kandungnya, namun ia masih menganggap dirinya yatim piatu sehingga ia akan berkabung selama hidupnya.

Yan Bun mengenakan pakaian serba biru, warna kesukaannya sejak dulu.

Wajah Thian Hwa yang cantik jelita itu muram, diliputi kesedihan.

Memang hati gadis itu mengalami kenyataan yang menyedihkan.

Pertama ia sudah menemukan ayah kandungnya, akan tetapi ayah kandung macam apa!

Ayah kandungnya adalah seorang pangeran, namun seorang laki-laki yang menyia-nyiakan ibunya sehingga ibunya diusir dan hanyut di Sungai Huang-ho!

Dan kini ayah kandungnya itu malah menjadi gila!

Pukulan batin ini ditambah pukulan lain yang lebih menyakitkan hatinya.

Ia jatuh cinta kepada Pangeran Cu Kiong yang ternyata merupakan laki-laki yang sama palsunya dengan Pangeran Ciu Wan Kong, ayah kandungnya yang telah menyia-nyiakan ibunya!

Pangeran Cu Kiong yang dicintanya itu pun ternyata hanya ingin memanfaatkan dirinya, untuk dijadikan seorang selir yang tenaganya dapat membantunya untuk bersaing dan saling berebut kekuasaan dengan para pangeran lain.

Ia merasa terhina sekali dan terjadi pertentangan hebat dalam hatinya antara cinta dan benci terhadap Pangeran Cu Kiong.

Dalam usianya yang delapan belas tahun ini, baru pertama kalinya ia jatuh cinta, yaitu kepada Pangeran Cu Kiong, namun ternyata ia telah salah pilih dan kegagalan cintanya ini sungguh menyakitkan sekali!

"Hwa-moi (Adik Hwa), benar-benarkah engkau akan meninggalkan aku dan tidak akan kembali?"

Tanya Yan Bun dengan alis berkerut membayangkan kekecewaan dan kedukaan atas keputusan gadis yang dicintanya itu. Thian Hwa mengangguk.

"Benar, Bun-ko, aku hendak mencari Kong-kong (Kakek) Thian Bong Sianjin dan mengajak dia merantau sepanjang Sungai Huang-ho."

"Hwa-moi... maafkan kalau aku bicara lancang, akan tetapi... sesungguhnya... aku dan Ayahku mengharapkan agar engkau... dapat menjadi... kawan hidupku untuk selamanya."

Thian Hwa memandang wajah pemuda itu dengan terharu.

Dalam hatinya ia harus mengakui bahwa Yan Bun adalah seorang pemuda yang baik sekali.

Sulitlah mencari seorang pemuda sebaik dia.

Akan tetapi luka di hatinya karena kegagalan cinta pertama masih terasa nyeri dan ia tidak ingin mengulang kesalahannya telah jatuh cinta kepada seorang pemuda kepada seorang laki-laki setelah melihat betapa palsunya cinta laki-laki seperti cinta ayah kandungnya terhadap ibunya dan cinta Pangeran Cu Kiong terhadap dirinya.

"Maafkan aku, Twako. Menyesal sekali bahwa terpaksa aku tidak dapat menerimanya. Bun-twako, engkau adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah dan berbudi mulia, sedangkan aku... aku tidak berharga... aku yatim piatu, tidak pantas menjadi pendampingmu..."

"Ah, jangan merendahkan diri seperti itu, Hwa-moi. Kata-katamu menikam perasaanku. Bagiku, engkau adalah seorang gadis yang paling mulia di dunia ini. Dan engkau tentu mengetahui dan merasakan bahwa aku... aku mencintamu, Hwa-moi."

"Ah, Twako. Harapanku, agar engkau jangan berpikir tentang itu karena aku... aku sama sekali belum berpikir tentang cinta dan jodoh, Twako. Maafkan aku."

"Hwa-moi, harap engkau suka berterus terang. Apakah engkau... mencinta pangeran muda itu? Katakanlah terus terang, aku akan dapat memaklumi dan tidak menyalahkanmu!"

Wajah pemuda itu berubah agak pucat ketika dia menyambung.

"Maaf, Hwa-moi, aku tidak bermaksud menyinggung perasaanmu,"

Thian Hwa tersenyum getir, menghela napas lalu berkata dengan suara tegas.

"Memang benar, Twako. Aku cinta padanya, akan tetapi aku juga benci padanya! Nah, selamat tinggal, Twako!"

Thian Hwa menggerakkan tubuhnya dan papan terompah yang menjadi semacam papan selancar itu meluncur dengan cepatnya, mengikuti aliran Sungai Huang-ho dan sebentar saja sudah jauh dan hanya tampak seperti sebuah titik putih.

Yan Bun berdiri memandang ke arah titik putih itu sampai akhirnya titik itu menghilang.

Ketika dia membalikkan tubuhnya untuk kembali ke perkampungan ayahnya, kedua mata pemuda itu basah dan mukanya pucat!

TAMAT JanTena,

http.//indozone.net

/literatures/literature/1029 29 Mei 2011 jam 7.08pm

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 7

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert