Ceritasilat Novel Online

Memburu Iblis 4

Eps 4 Memburu Iblis - Sriwidjono

Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono

Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.

Tiba-tiba Tui Lan berseru girang.

"Ah, kau benar. Mengapa tidak..?"

Liu Yang Kun menyahut dengan gembira pula.

Lalu dengan cekatan Liu Yang Kun membuat obor.

Mula-mula diambilnya empat buah tulang rusuk ular raksasa dan dilobanginya.

Kemudian diambilnya pula sepotong kain dari tali yang mereka pintal dari bekas-bekas pakaian mereka itu untuk sumbunya.

Oleh karena belum ada apinya, maka Liu Yang Kun terpaksa menggosok-gosokkan lemak ular tersebut ke dinding gua untuk mendapatkan minyaknya.

"Wah... kita harus mengeringkan sumbunya terlebih dahulu. Kain itu masih basah terkena air tadi."

Liu Yang Kun bergumam sendiri ketika sudah mendapatkan minyak yang agak lumayan banyaknya.

Begitulah, akhirnya kedua orang suami-isteri itu dapat menyalakan untuk membakar daging dan mengeringkan kulit ular itu.

Sehingga, keesokan harinya mereka bisa melanjutkan perjalanan mereka dengan penutup badan dari kulit ular itu pula.

Malah Tui Lan sempat pula membawa beberapa potong daging untuk bekal mereka.

"Heran! Hari ini tubuhku terasa ringan dan nyaman luar biasa. Kenapa ya...?"

Sambil melangkah Liu Yang Kun berseru. Sebentar-sebentar kaki tangannya ia gerakkan ke kanan dan kiri seperti orang berolah raga. Tui Lan mengerling genit.

"Tentu saja. Habis sekarang tak pernah kambuh lagi penyakitnya,"

Sahutnya cepat seraya tersenyum penuh arti. Wajah Liu Yang Kun menjadi kemerah-merahan. Namun demikian, dipandangnya juga air muka isterinya yang cantik itu dengan perasaan terima kasih.

"Ya. Karena sekarang sudah ada kau disampingku, maka penyakitku tak pernah kambuh lagi,"

Katanya perlahan.

Mereka berjalan terus menyusuri sungai itu.

Kadang-kadang mereka mengerahkan juga Bu-eng Hwe-teng mereka,apabila lorong gua itu menjadi lapang atau datar.

Tapi sering kali pula mereka harus berendam atau berenang di dalam air apabila sungai itu melalui lorong sempit.

Namun demikian masih untung bagi mereka, karena permukaan air sungai tersebut tidak tertutup oleh langit-langit gua.

Karena tidak dapat mengetahui siang atau malam, maka mereka hanya beristirahat jika sudah merasa lelah.

Namun demikian setelah berhari-hari mereka menempuh perjalanan itu, mereka tidak juga melihat ujung dari lorong gua tersebut.

Rasa-rasanya lorong itu memang takkan terputus sampai di Laut Timur nanti.

"Koko...! Sudah berapa jauhkah kita berjalan di dalam lorong ini? Rasanya aku sudah sangat lelah dan bosan melihat dinding-dinding batu ini,"

Pada suatu hari Tui Lan mengeluh setelah hampir sebulan mereka menempuh perjalanan itu.

Perut gadis itu sudah kelihatan menonjol ke depan, meskipun belum begitu besar.

Mendengar keluhan itu Liu Yang Kun lalu memeluk isterinya.

Dengan penuh kasih sayang dituntunnya wanita itu ke sebuah batu untuk beristirahat.

Dan sekejap matanya melirik ke arah perut yang telah mulai membesar itu.

"Menurut perhitunganku, kita te lah berjalan hampir sebulan lamanya. Kalau dalam sehari rata-rata kita menempuh dua puluh atau tiga puluh lie, maka kita sudah berjalan kira-kira lima ratusan lie lebih jauhnya. Dan kalau perkiraanku itu benar, maka kita sudah mendekati Pegunungan Wu-yi atau Wu-yi-san. Sayangnya, di dalam tanah begini kita tak tahu, apakah kita lurus menuju ke arah timur atau berbelok ke arah utara atau selatan."

Pemuda itu memberi keterangan kepada isterinya.

"Pegunungan Wu-yi? Ah, kalau begitu... masih berapa jauh lagi kita sampai di Laut Timur nanti?"

Tui Lan bertanya tanpa semangat.

"Ah, moi-moi... bersabarlah! K ita sudah melalui saat-saat yang sulit berbulan-bulan lamanya. Lalu apa artinya waktu yang tinggal beberapa saat lagi ini...!"

Liu Yang Kun berusaha membesarkan hati isterinya.

"Taruh kata perjalanan ini masih berlangsung sebulan lagi. Hmm... apa artinya sebulan itu bila dibandingkan dengan penderitaan kita yang berbulan-bulan itu? Apakah engkau hendak menyerah setelah tujuan berada di depan mata?"

"Koko, maafkanlah aku..."

Tiba-tiba Tui Lan berdesah seraya menubruk pangkuan suaminya.

"Tak apalah. Akupun bisa memahami perasaanmu. Kadang-kadang aku sendiri juga merasa bosan dan berputus asa pula. Tapi perasaan tersebut segera hilang bila kuingat kau dan anak kita. Nah, kau sudah tidak merasa lelah Iagi bukan? Marilah kita meneruskan perjalanan kita...!"

Mereka saling berpandangan, beribu-ribu macam perkataan yang tak terucapkan di dalam pandangan itu, tapi mereka berdua seolah-olah telah saling mengerti dan memahami artinya, lalu sambil tersenyum dan saling bergandengan tangan mereka melangkah meneruskan perjalanan mereka.

"Koko... Agaknya benar juga dugaanmu itu. Tampaknya kita memang telah berada di bawah Pegunungan Wu-yi. Lihatlah! Dinding-dinding gua di sini telah bercampur dengan kapur, sehingga air yang menetes dari atas membentuk karang-karang lancip yang beraneka-warna. Sungguh indah sekali!"

Liu Yang Kun menjadi lega melihat kegembiraan isterinya. Di dalam hati ia memang mengakui bahwa perjalanan itu betul-betul sangat membosankan, sehingga lambat laun mereka menjadi jenuh juga.

"Kita beristirahat dulu di tempat ini? Rasanya tempat yang indah ini sangat cocok juga untuk berlatih silat. Maukah kau belajar Kim-liong Sin-kun sekarang?"

Liu Yang Kun yang ingin menciptakan suasana baru itu berusaha memancing perhatian isterinya.

Benar juga.

Mendengar tawaran suaminya itu Tui Lan menjadi bersemangat kembali.

Wajahnya tampak berseri-seri, sehingga kecantikannya menjadi semakin mempesonakan.

Liu Yang Kun sampai melongo menyaksikannya.

"Moi-moi... kau sungguh cantik sekali!"

Ia memuji tak habis-habisnya. Tui Lan melengos manja.

"Ah, koko...! Bukankah engkau telah berhasil memilikinya?"

Liu Yang Kun segera memeluknya.

"Benar. Aku memang seorang lelaki yang amat beruntung..."

Demikianlah, untuk beberapa lamanya mereka berhenti di tempat itu.

Liu Yang Kun mengajari Kim-liong Sin-kun yang hebat itu kepada Tui Lan.

Karena jurus-jurusnya banyak mempergunakan perisai mantel pusaka, maka Liu Yang Kun lalu menggunakan kulit ular mereka sebagai gantinya.

Setelah merasa jenuh pula di tempat itu, maka merekapun lalu berlatih sambil meneruskan perjalanan mereka.

Tui Lan memang seorang wanita yang amat cerdas sehingga apa yang diberi oleh suaminya dengan cepat dipahami pula.

Sejurus demi sejurus ilmu Kim-liong Sin-kun warisan Bit-bo-ong almarhum itu ditekuninya.

Melalui petunjuk suaminya, yang telah lebih dahulu memahami ilmu tersebut, dia berusaha keras untuk mencernakannya di dalam dirinya.

"Koko, tampaknya ilmu ini sangat mengandalkan keampuhan mantel pusaka itu. Tanpa mantel itu ilmu Kim-liong sin-kun ini menjadi tidak begitu berguna lagi kelihatannya..."

Pada suatu hari Tui Lan mengatakan pendapatnya.

"Kau salah...!"

Suaminya cepat menjawab.

"Tampaknya memang begitu. Tapi sebenarnya tidak. Anggapan seperti itu akan segera hilang bila kau telah benar-benar mendalaminya. Sebab sepintas lalu ilmu itu tampaknya memang selalu mengandalkan 'kekebalan' mantel pusaka itu. Namun bila kau telah meyakinkannya dengan sempurna, sehingga kau telah bisa mengambil intisari ilmunya, maka kau akan mengetahui bahwa seluruh gerakan di dalam ilmu tersebut hanyalah merupakan pelengkap saja dari keampuhannya. Karena inti dari ilmu tersebut sebenarnya bukan pada gerak lahiriahnya, namun pada... kekuatan batin pemiliknya!"

"Maksudmu...?"

Tui Lan bertanya tak mengerti.

"Maksudku, di dalam puncak kesempurnaannya ilmu itu lebih bertumpu pada keampuhan batin yang dilandasi kekuatan tenaga sakti pemiliknya, dari pada kehebatan gerak jurusnya! Dan... begitu pula halnya dengan ilmu Bu-eng Hwe-teng dan Pat-hong Sin-ciang itu!"

Liu Yang Kun meneruskan keterangannya. Tui Lan masih tetap melongo memandang suaminya. Dia tetap belum bisa menangkap maksud perkataan itu.

"Koko! Aku tetap belum mengerti. Katakanlah yang jelas! Jangan berteka-teki seperti itu...?"

Katanya penasaran. Liu Yang Kun mendekat, lalu merangkul pundak Tui Lan. Bibirnya tersenyum.

"Aku tidak berteka-teki, isteriku. Aku berkata apa adanya. Ilmu warisan Bit-bo-ong ini memang lain dari pada yang lain..."

"Dari mana kau tahu? Apakah dari dalam buku-buku itu juga? Tapi rasanya aku tak pernah melihat atau membacanya?"

Tui Lan masih tetap ngotot dan penasaran.

"Bukan dari buku-buku itu. Dan bukan dari mana-mana pula. Aku mendapatkan pengertian itu dari hasil renunganku sendiri. Di dalam kegelapan, kesepian, kesunyian serta kejenuhan di dalam gua kita dulu, ternyata perasaanku menjadi bertambah peka. Ilmu Lin-cui-sui-hoat yang pernah kuceritakan dulu, rasa-rasanya menjadi bertambah terang di dalam hatiku. Aku lantas seperti mendapat petunjuk tentang rahasia dan inti-sari dari ilmu-ilmu warisan Bit-bo-ong tersebut. Dan agaknya... inilah bagian dari lembaran-lembaran yang disobek oleh Hoa-san Lojin itu."

"Koko... aku semakin tak mengerti kata-katamu."

Tui Lan menyahut kesal dan hampir menangis.

"Marilah aku terangkan sekali lagi agar lebih jelas. Kau tadi mengatakan bahwa ilmu Kim liong Sin-kun itu terlalu mengandalkan mantel pusaka. Tanpa mantel itu ilmu Kim-liong Sin-kun menjadi berkurang kegunaannya. Begitu, bukan?"

"Ya!"

Tui Lan menjawab seret.

"Nah! Itu anggapan yang salah! Itu berarti kau hanya memandang kulitnya saja. Kau tidak akan berkata demikian bila kau sudah benar-benar mendalami inti sari ilmu tersebut. Seperti telah kukatakan tadi, ilmu warisan Bit-bo-ong itu lebih bersifat batiniah dari pada lahiriahnya. Dalam puncak emampuannya ilmu itu akan bisa menguasai lawan tanpa menggerakkan jurus-jurusnya. Dalam puncak kesempurnaannya pemilik ilmu Kim-liong Sin-kun itu akan dapat menguasai pikiran dan batin lawannya, tanpa harus melakukan gerakan-gerakan jurusnya. Seperti halnya seorang ahli sihir yang sudah mahir, dia tidak perlu lagi menggerakkan mulut atau anggota badannya yang lain. Karena semua gerakan itu hanya dilakukan oleh tukang sihir rendahan untuk mengelabui lawan, sekaligus untuk mengumpulkan atau menumbuhkan konsentrasinya sendiri."

"Jadi...?"

Tui Lan mendesak hampir tak percaya mendengar kehebatan ilmu yang dipelajarinya itu.

"Begitu pula halnya dengan ilmu warisan Bit-bo-ong tersebut. Inti dari pada ilmu itu juga terletak pada "kekuatan batin"

Pemiliknya.

Sedangkan jurus-jurus yang kita pelajari itu hanya merupakan gerakan atau alat untuk membantu mengumpulkan konsentrasi kita saja, sekaligus juga untuk menjebak dan mengelabuhi lawan, sehingga lawan dapat kita kuasai jiwa raganya.

Singkatnya, ilmu warisan Bit-bo-ong itu bertumpu pada kekuatan batin untuk menguasai lawan seperti halnya ilmu sihir yang sangat mengerikan itu.

Itulah mungkin sebabnya Hoa-san Lojin mengingatkan bahwa ilmu itu sangat berbahaya..."

"Lalu... bagaimanakah dengan Bu-eng Hwe-teng itu?"

"Sama saja dengan kedua ilmu yang lain itu. Dengan kekuatan batin kita, kita akan dapat membuat tubuh kita jadi seringan kapas. Hembusan angin betapa lembutnyapun akan dapat menerbangkan tubuh kita seperti halnya daun kering yang tertiup angin."

"Demikian dahsyatnya...? Dan engkau...engkau sudah seperti itu pula?"

Tui Lan berseru gagap. Tapi Liu Yang Kun cepat menggelengkan kepalanya.

"Belum. Aku belum sampai di sana. Namun aku telah melangkah ke tingkatan itu. Tunggu saja. Pada suatu saat aku tentu dapat mencapainya juga,"

Katanya yakin.

"Bukan main! Koko... kau benar-benar hebat sekali!"

"Ah! Itu semua juga karena engkau pula..."

Liu Yang Kun menghela napas seraya merangkul pundak isterinya. Matanya memancarkan rasa kasih yang tak terhingga.

"Dan... akupun percaya pula, moi-moi, kaupun akan bisa pula mencapai tingkatan itu."

"Tidak koko. Aku tak mungkin dapat mencapainya. Otakku tak sejernih pikiranmu. Perasaanku juga tidak setajam perasaanmu. Paling-paling aku hanya akan mengerti kulitnya saja. Aku cuma manusia biasa. Tidak mempunyai kelebihan-kelebihan seperti kau. Meskipun kau telah menjelaskannya secara panjang lebar tentang rahasia itu, namun aku tetap belum bisa melihatnya juga. Ibarat seorang yang tak tahu jalan telah kautunjukkan tujuanku, namun masih tetap tak tahu jalannya pula."

"Ah, belum tentu. Kau jangan buru-buru berkata demikian..."

Tui Lan menarik napas panjang dan tidak menanggapi ucapan suaminya, sebaliknya dia segera bangun berdiri dan menuntut kepada Liu Yang Kun.

"Koko..! Maukah kau memperlihatkan kehebatan Kim-liong Sin kun itu kepadaku? Hmmm... maksudku, setelah ilmu itu menginjak ke tingkat yang kau ceritakan itu?"

"Baiklah...!"

Liu Yang Kun terpaksa menyetujuinya.

"Kita sekalian berlatih pula, karena kedahsyatan ilmu itu hanya dapat dirasakan oleh orang yang sedang menghadapinya. Tapi karena kau belum begitu mahir dengan Kim-liong Sin-kun, sebaiknya kita menggunakan Pat-hong Sin-ciang saja. Bagaimana...?"

"Hanya dapat dirasakan oleh orang yang sedang menghadapinya? Mengapa begitu?"

Tui Lan memotong.

"Hei? Bukankah tadi sudah kukatakan bahwa kedahsyatan ilmu warisan Bit-bo-ong itu terletak pada 'keampuhan batin"

Pemiliknya? Bagaimana orang lain akan dapat merasakannya bila dalam pertempuran itu yang kuserang dan kutuju hanya engkau saja?"

Liu Yang Kun mengomel sambil tertawa.

"Oh... jadi orang lain tidak bisa merasakan keistimewaan dan kedahsyatan ilmu itu?"

"Benar. Orang lain hanya dapat melihat gerakan-gerakan dari jurus-jurus yang kukeluarkan saja. Mungkin mereka malah akan mencemoohkan jurus-jurus yang tidak ada keistimewaannya itu."

"Ooooohhh...!"

Tui Lan berdesah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Hei? Kau jadi ingin melihat keampuhan Pat-hong Sin-ciang, tidak?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun mengingatkan.

"Eh, ya... ya! Marilah...!"

Tui Lan tersentak kaget.

Keduanya lalu memasang kuda-kuda.

Tui Lan yang sudah mahir dan menguasai Pat-hong Sin-ciang itu segera mengerahkan lweekangnya.

Tenaga sakti Pat-hong-sinkangnya ia salurkan sepenuhnya ke seluruh tubuhnya.

Kemudian sambil menggeram lirih ia menyerang suaminya.

Tangan kanannya terjulur lurus ke depan dalam jurus Kai-thian-chuo-hong atau Membuka Langit Menangkap Angin, yaitu jurus ke delapan dari Pat-hong Sin-ciang.

"Bagus!"

Liu Yang Kun berseru memuji.

Pemuda itu cepat mengelak.

Kakinya melangkah ke kiri, kemudian tubuhnya berputar ke depan, sehingga angin pukulan isterinya yang keras dan kuat itu lewat di sampingnya.

Lalu dengan separuh tenaga ia balas menghantam punggung Tui Lan yang tak terlindung.

Seperti yang dilakukan isterinya dia juga mempergunakan jurus Kai-thian-chuo-hong pula.

Cuma pada gerakan yang terakhir ia segera menyusuli dengan jurus ke sembilan, yaitu Hoan-hong-pan-san atau Memindahkan Gunung Menukar Angin.

Demikianlah, untuk beberapa waktu lamanya Liu Yang Kun sengaja melayani isterinya tanpa mengerahkan "kekuatan batin"

Seperti yang dikatakannya itu.

Ia memainkan jurus-jurus Pat-hong Sin-ciang dengan baik.

Semakin lama semakin kuat dan gesit, sehingga Tui Lan terpaksa mengerahkan segala kemampuannya pula.

Apalagi ketika ia mulai mengerahkan Bu-eng Hwe-teng serta tenaga sakti Liong-cu i-kangnya.

Tui Lan mulai berkeringat dan bermandikan peluh.

Akhirnya Tui Lan benar-benar kehabisan napas.

Meskipun dia telah mengerahkan seluruh kemampuannya, namun dia tetap tak bisa menandingi kekuatan Liong-cu i-kang yang seolah-olah tak terbatas itu.

Padahal sebenarnya Liu Yang Kun belum mengeluarkan separuh dari tenaga sakti Liong-cu i-kangnya itu.

"Heh-heh...heh-heh, koko! Mengapa aku belum merasakannya juga? Manakah kekuatan batin yang Kau katakan itu? Heh-heh..."

Di dalam kelelahannya Tui Lan menegur suaminya.

Liu Yang Kun tertawa seraya meloncat mundur.

Namun ketika Tui Lan hendak mengejarnya, tiba-tiba tubuh pemuda itu telah melesat ke depan kembali.

Hanya bedanya kali ini Tui Lan merasakan adanya hawa dingin yang sangat aneh menyusup ke dalam tulang sumsumnya.

Malahan tidak Cuma itu saja.

Tiba-tiba saja gadis itu merasakan perubahan yang aneh pula pada wajah suaminya.

Mata itu mendadak seperti memiliki perbawa yang mengerikan dan menakutkan sehingga mendadak pula ia tak berani menatapnya.

Selain itu secara tiba-tiba pula ia seperti kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri.

Hatinya menjadi gemetar ketakutan.

Dan selanjutnya ia seperti tak kuasa untuk mengelakkan serangan suaminya.

Telapak tangan itu berhenti hanya setengah dim saja dari dada Tui Lan.

Sementara wanita itu seperti tertegun dan tak ada usaha untuk mengelak sama sekali.

Dan wanita itu baru tergagap sadar dan melompat menghindar ketika suaminya menegurnya.

Selanjutnya mereka lalu terlibat dalam pertempuran lagi.

Namun hal itu ternyata tidak berlangsung lama pula.

Bagaikan orang yang kehilangan akal tiba-tiba Tui Lan telah berbuat kesalahan lagi.

Tanpa tahu sebab-sebabnya mendadak ia menjadi bingung dan lupa segalanya.

Ia lupa kepada gerakan ilmu silatnya sendiri, sehingga ia menjadi bingung harus berbuat bagaimana untuk mengelakkan serangan suaminya.

Maka sekali lagi jari-jari suaminya telah berhenti beberapa centi saja dari ubun-ubunnya.

"Nah, bagaimana moi-moi... Kau sudah mengaku kalah?"

Liu Yang Kun menggoda seraya menarik tangannya.

"Eh...oh? Ini... ini..."

Seperti orang yang baru bangun dari tidurnya Tui Lan tergagap-gagap sambil mengawasi kedua tangan dan kakinya.

"Hmm, kenapa?"

Dengan tenang suaminya bertanya dan menepuk-nepuk pundaknya.

"Eh, koko... tiba-tiba saja aku lupa pada ilmu silatku sendiri. Mengapa... mengapa aku ini?"

Tui Lan berseru khawatir. Liu Yang Kun tersenyum memandang isterinya.

"Hmm, apakah yang kau rasakan tadi, moi-moi?"

Tanyanya.

"Entahlah. Tiba-tiba saja kau sangat menakutkan. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Tubuhku gemetar. Dan... dan aku menjadi tidak yakin atas kemampuanku sendiri. Aku menjadi... menjadi ketakutan. Lantas... lantas aku tak tahu lagi apa yang harus kulakukan..."

Bercerita Tui Lan dengan suara cemas.

"Hahaha...!"

Liu Yang Kun tertawa.

"Koko! Mengapa kau malah mentertawakanku?"

Tui Lan berseru mendongkol.

"Hei! Apakah kau belum merasakan juga?"

Liu Yang Kun balik bertanya. Tui Lan tertegun.

"Maksudmu...kau telah mempergunakan 'kekuatan batin' itu?"

Desahnya hampir tak bersuara. Liu Yang Kun mengangguk.

"Ya, benar. Aku telah mengerahkan seluruh tenaga dalam melalui sorot mataku untuk menguasai jiwa dan semangatmu. Karena engkau tidak menyangka dan berjaga jaga sebelumnya, maka dengan mudah aku bisa menguasaimu,"

Katanya dengan suara tenang.

"Ohh! Kalau begitu ilmu itu memang benar-benar mengerikan."

Tui Lan berdesah dengan suara ngeri. Keduanya lalu berdiam diri. Masing-masing tenggelam di dalam lamunan mereka sendiri. Tapi beberapa saat kemudian Tui Lan menatap wajah suaminya.

"Hmm... ada apa, moi-moi?"

Liu Yang Kun cepat bertanya kepada isterinya.

"Koko...! Dapat kubayangkan betapa dahsyat dan mengerikan orang yang bergelar Bit-bo-ong itu semasa hidupnya. Tapi, kalau iImunya demikian tinggi, mengapa ia sampai dikalahkan oleh Sin-kun Bu-tek almarhum?"

"Ah, tampaknya kau pernah mendengar pula cerita tentang tokoh-tokoh sakti yang hidup pada se ratus tahun yang lalu,"

Suaminya menjawab.

"Bit-bo-ong memang dikalahkan oleh Sin-kun Bu-Tek setelah mereka bertempur sehari penuh. Tapi kekalahan itu sebenarnya tidak akan terjadi bila pada waktu itu Bit-bo-ong masih segar bugar dan tidak sedang terluka."

"Masih segar bugar dan tidak sedang terluka? Apa maksudmu?"

"Menurut cerita atau kisah lain yang pernah kudengar pula, sebelum bertempur dengan Sin-kun Bu-tek, Bit-bo-ong telah dimarahi dan dihajar oleh suhengnya sendiri hingga terluka dalam."

"Suhengnya? Siapakah suheng dari Bit-bo-ong itu?"

"Suheng dari Bit-bo-ong adalah Souw Lojin (Kakek Souw), yaitu seorang pelukis, penyair dan jago silat sakti yang hidup di Gunung Hoa-san. Kakek itu tidak menyukai sepak terjang suteenya yang jahat dan suka membuat onar di dunia kang-ouw itu."

"Kakek Souw...? Ah, kalau begitu kakek itu tentulah Hoa-san Lo jin yang menyobek lembaran-lembaran terakhir dari buku warisan Bit-bo-ong itu."

Tui Lan memotong.

"Ya, aku mempunyai dugaan demikian pula."

Liu Yang Kun mengiyakan. Keduanya berdiam diri lagi. Namun tidak lama, karena sesaat kemudian Tui Lan telah membuka suara kembali.

"Eh, koko...! Omong-omong, ada hubungan apakah antara kakek Souw itu dengan "sastrawan"

Yang disebut-sebut dalam Buku Rahasia itu?"

"Kau maksudkan... tokoh nomor satu yang tinggal di puncak Gunung Hoa san itu?"

Tui Lan mengangguk.

"Ya...!"

Jawabnya cepat.

"Entahlah. Mungkin memang ada hubungan keluarga atau hubungan perguruan pula. Tapi yang jelas sastrawan bukan kakek Souw yang hidup pada zaman se ratus tahun lalu. Karena tak mungkin orang bisa hidup selama dua ratus tahun, bukan?"

Tui Lan kembali mengangguk angguk menyetujui pendapat suaminya.

"Ah, kalau kita tidak tersekap di dalam gua ini kita tentu dapat menanyakan masalah ini kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai..."

Liu Yang Kun berdesah seraya menghela napas panjang. Liu Yang Kun memandang wajah isterinya.

"Hmmh! Bukankah pendekar itu adalah keturunan langsung dari kakek Souw? Dia tentu tahu siapa 'sastrawan' itu, karena dialah yang paling paham tentang silsilah keluarganya,"

Jawabnya sambil tersenyum.

"Ooooh...!"

Tui Lan ikut tersenyum pula.

"Eh... mengapa tidak kita tanyakan kepada Souw Lian Cu saja?"

Liu Yang Kun terperanjat, kemudian wajahnya menjadi kemerah-merahan. Bibirnya tersenyum kecut, sementara sekilas matanya tampak menerawang jauh.

"Ah, kau ini ada-ada saja. Masakan masih merasa cemburu juga ditempat seperti ini?"

Akhirnya ia menjawab getir.

"Hmm, siapa tahu kau masih memikirkannya?"

Tui Lan masih juga menggoda.

"Ah, sudahlah! Jangan memikirkan yang bukan-bukan!Marilah kita meneruskan perjalanan ini!"

Liu Yang Kun berkata dan menarik lengan isterinya.

Demikianlah mereka meneruskan perjalanan mereka sambil memperdalam ilmu silat mereka.

Dan bila merasa lelah dan menemukan tempat yang baik, mereka lalu berhenti dan beristirahat untuk beberapa hari lamanya.

Sehingga tak terasa sebulanpun sudah berlalu pula.

Sungguh beruntung bagi pasangan suami-isteri itu bahwa selama ini sungai tersebut selalu mengalir melalui lorong-lorong gua yang cukup luas, sehingga mereka tak perlu bersusah-payah berenang ataupun menyelam seperti yang mereka lakukan dahulu.

Hanya tampaknya lorong gua yang mereka lalui sekarang telah mencapai ke dataran yang rendah sebab mereka sekarang banyak menemukan tetesan tetesan air atau pancuran air yang mengalir dari dinding-dinding gua itu.

Sementara itu perut Tui Lan benar benar sudah kelihatan membesar sekarang.

Dengan kandungan yang lebih kurang berumur lima bulan itu bentuk tubuhnya sudah tampak sangat ucu.

Namun demikian, seperti layaknya seorang wanita yang sedang hamil untuk pertama kalinya, wajahnya menjadi kelihatan bersinar cemerlang dan berseri-seri.

Rupa yang sudah sangat ayu itu bertambah semakin cantik jelita pula, sehingga Liu Yang Kun menjadi semakin jatuh cinta dan terpesona melihatnya.

"Koko, sudah lama benar rasanya kita berjalan. Tapi... mengapa kita belum mencapai pantai Laut Timur juga? Sampai dimanakah sebenarnya kita ini sekarang?"

Tui Lan yang sudah mulai jemu dan bosan itu mengeluh.

"Aku sendiri juga merasa heran pula, moi-moi. Menurut perhitunganku, seharusnya kita telah mendekati pantai laut Timur. Kita telah berjalan lebih dari dua bulan, mungkin sudah tiga bulan malah. Rasa-rasanya kita telah menempuh lebih dari seribu lima ratus lie jauhnya. Dan jarak itu rasanya sudah cukup untuk mencapai Laut Timur bila kita berangkat dari daerah Kang Lam apalagi dari kota Soh-ciu. Namun ternyata kita belum membaui amisnya air laut atau asinnya air laut di dalam air sungai itu. Hmm, heran sekali.. Apakah lorong gua kita ini telah membelok ke arah utara atau selatan?" (Lanjut ke

Jilid 10) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 10

"Mungkin benar dugaanmu itu, koko. Mungkin aliran sungai ini memang berbelok sedikit demi sedikit, entah ke utara atau ke selatan, sehingga kita tidak merasakannya. Namun yang terang perjalanan kita akan menjadi bertambah panjang karenanya. Oooh, padahal perutku semakin tak mau diajak berjalan lama-lama."

"Ahh... tenangkanlah hatimu, isteriku... Kita tidak boleh berputus asa karenanya. Ingat nasib anak kita! Dia tidak boleh lahir sebelum engkau keluar dari dalam tanah ini. Kita berpacu dengan waktu. Kita berdua harus sudah mencapai Laut Timur sebelum kandunganmu berumur delapan bulan. Ayoh! Tumbuhkanlah lagi semangatmu! Bayangkan, apa jadinya kelak bila anak itu lahir di tempat seperti ini? Mungkin dia akan menjadi buta selamanya, karena ia tak pernah melihat terangnya sinar matahari. Dan kau juga harus memikirkannya pula, bagaimana repotnya kau merawatnya nanti. Moi-moi, turutlah kata-kataku. Kita harus berusaha hingga titik darah kita yang penghabisan. Lebih baik kita mati bersama anak kita dari pada kita hidup cuma mewariskan penderitaan kepadanya. Bagaimana moi-moi...?"

"Maafkanlah aku, koko..."

Tui Lan menangis dan menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan suaminya.

"Sudahlah! Marilah kita mencari tempat yang baik untuk beristirahat berapa hari lamanya. Tampaknya kau sudah merasa jenuh berjalan terus-menerus."

Tapi keduanya menjadi kaget dan tertegun ketika beberapa waktu kemudian menyaksikan...

lorong gua yang mereka lalui itu menjadi buntu dan tak ada terusannya lagi.

Lorong gua itu menjadi luas dan lebar sekali, sementara air sungai tersebut menjadi terhenti di tengah-tengahnya, membentuk telaga kecil yang cukup dalam.

"Koko...??"

Tui Lan menjerit lirih.

"Gua ini buntu! Tak ada jalan keluar! Oooohh...!"

Liu Yang Kun cepat merangkul isterinya. Namun demikian matanya tampak nyalang mengawasi dinding-dinding gua yang luas di hadapannya.

"Tidak mungkin! Tidak mungkin...! Tentu ada lobang keluar! Tidak mungkin telaga kecil ini bisa menampung tumpahan air sungai tanpa meluap. Tentu ada saluran tersembunyi yang mengalirkan air telaga ini keluar. Marilah kita cari saluran itu...!"

"Koko. lihat...!"

Tiba-tiba Tui Lan berteriak seraya mengacungkan jarinya ke tengah-tengah telaga itu.

Liu Yang Kun mengerahkan sinkang untuk memperlipat-gandakan ketajaman matanya, kemudian mengikuti arah jari telunjuk isterinya.

Dan di dalam keremangan obor yang berkelap-kelip itu me lihat sebuah pusaran air yang sangat mendebarkan ditengah-tengah telaga itu.

Tak terasa Liu Yang Kun mengeluarkan keringat dingin juga.

Pusaran itu berputar dengan cepat dan ganas seperti gasing, sehingga bagian tengahnya kelihatan melesak ke dalam bagaikan lorong air yang berputar-putar masuk ke dasar telaga.

Baru menyaksikan saja kepala rasanya sudah ikut berputar menjadi pusing karenanya.

Apalagi kalau terjun dan ikut berputar bersamanya.

"Ooooh...!"

Liu Yang Kun mengeluh seperti orang kehilangan semangat.

"Koko! Itulah saluran keluarnya...!"

Suara Tui Lan juga mencerminkan rasa ngeri yang amat sangat.

Air muka pun kelihatan pucat tak berdarah sementara matanya yang biasanya sangat indah mempesonakan itu juga tampak kusam dan ketakutan.

Ternyata Liu Yang Kun dapat merasakan pula kecemasan isterinya itu.

Maka sambil menenangkan hatinya sendiri pemuda itu juga berusaha menghibur hati isterinya pula.

"Baiklah! Kita beristirahat dulu beberapa hari di sini. Kita menenangkan perasaan dahulu sambil memikirkan jalan keluar yang sebaik-baiknya. Marilah, isteriku...!"

Katanya lembut.

"Te-terima kasih, koko..."

Tui Lan menjawab lirih.

Kemudian Liu Yang Kun menuntun Tui Lan ke tempat yang agak tinggi dan jauh dari pinggiran telaga itu.

Terlalu dekat dengan pusaran air tersebut membuat hati mereka menjadi kecut dan ngeri, seolah-olah lobang pusaran itu selalu mengeluarkan daya-sedot yang sangat kuat untuk menarik tubuh mereka ke dalamnya.

Hari itu Tui Lan benar-benar tak bisa memicingkan matanya.

Calon ibu muda itu selalu membayangkan pusaran air yang menganga seperti mulut raksasa itu.

Oleh karena itu ketika akhirnya dia bisa memejamkan matanya, maka mimpi yang datangpun juga sangat menakutkan dan mengerikan pula.

Di dalam mimpinya itu Tui Lan melihat ular raksasa yang telah dibunuh suaminya itu hidup kembali.

Ular itu datang menyerang dia dan suaminya.

Entah mengapa, ternyata suaminya kalah melawan ular tersebut.

Suaminya kemudian dimangsa dan ditelan oleh ular raksasa itu.

Tui Lan bermaksud membela kematian suaminya, namun ternyata kalah juga.

Tui Lan lalu melarikan diri.

Dia berlari menyusuri lorong gua itu kembali.

Tapi belum juga sepuluh langkah berlari, tiba-tiba dari arah depan muncul seorang lelaki tinggi jangkung berpakaian hitam-hitam, datang menghalanginya.

Di dalam kegelapan wajah orang itu tidak begitu jelas dilihatnya.

Mau kemanapun ia akan pergi, orang itu selalu bergerak menghadangnya.

Di dalam ketakutan dan kebingungannya ia berteriak sekeras-kerasnya, agar orang itu menyingkir dari depannya.

Tapi orang itu tidak mau pergi juga.

Dia malahan ganti membentak Tui Lan.

"Aku adalah Si Iblis Penyebar Maut. Sudah berhari-hari aku tidak melihat wanita! Hehehe... akan kuperkosa kau!!"

Bukan main kaget dan takutnya Tui Lan! Dari belakang dikejar ular raksasa, di depan ada Si Iblis Penyebar Maut mencegatnya! Semuanya hendak menyerang dan membunuhnya! "Pergi...! Pergiii!"

Pekiknya.

Di dalam kecemasan dan ketakutannya Tui Lan menyerang orang itu dengan ngawur dan membabi buta.

Namun dengan mudah orang itu menangkap kedua lengannya.

Tui Lan meronta dan menjerit-jerit.

Tapi cengkeraman orang itu tetap tak terlepaskan juga.

Maka di dalam keputus-asaannya Tui Lan berusaha menggigit muka orang itu.

Namun tiba-tiba matanya terbelalak!

Wajah yang kini amat dekat dengan mukanya itu ternyata adalah wajah...

suaminya sendiri!

Wajah Liu Yang Kun yang tampan!

"Kokoooooo...?

Kau?"

Pekiknya keras sekali.

Tapi tiba-tiba terdengar suara halus dan lembut di telinganya.

Suara yang sangat dikenalnya.

Suara Liu Yang Kun, suaminya.

Sehingga secara mendadak pula dia tersadar dari mimpinya.

"Moi-moi...,! Kau kenapa? Bermimpi...?"

Tui Lan membuka matanya. Dilihatnya Liu Yang Kun tersenyum di sampingnya. Meskipun demikian ia agak tertegun juga, karena wajah Si Iblis Penyebar Maut itu kembali berkelebat di kelopak matanya.

"Ah...!"

Desahnya, namun cepat ditahannya.

"Hei, kau kenapa?"

Liu Yang Kun yang melihat sinar aneh di mata isterinya itu bertanya kaget. Tapi Tui Lan cepat menyadari keadaannya.

"Oh, koko... aku takut!"

Jeritnya lirih seraya menubruk dada Liu Yang Kun.

"Takut? Apa yang kau takutkan? Hmm... kau telah bermimpi tadi."

Tui Lan mengangguk-angguk di dada Liu Yang Kun.

"Yaa...! Dan mimpiku sangat menakutkan sekali!"

Katanya terengah-engah.

"Tapi kau sekarang sudah sadar bahwa itu hanya... mimpi, bukan? Buat apa dipikirkan lagi?"

"Tapi... tapi... aku tak bisa melupakannya, koko! Mimpi itu seperti benar-benar terjadi."

Tui Lan menyahut sambil menangis malah.

Liu Yang Kun terpaksa tersenyum mendengar ucapan isterinya.

Hmm, ada-ada saja, pikirnya.

Masakan mimpi bisa benar-benar terjadi?

Ah, paling-paling cuma karena pengaruh kehamilannya saja sehingga isterinya itu punya pikiran yang aneh-aneh.

Namun demikian ia juga tak ingin melukai hati isterinya.

Maka dengan suara lembut dia berusaha menghiburnya.

"Kalau kau tak bisa melupakannya, sekarang coba ceritakan kepadaku mimpimu itu. Mungkin aku dapat meringankan beban pikiranmu..."

Tui Lan mendongak dan menatap mata suaminya.

Seolah-olah ia ingin meyakinkan dirinya bahwa Liu Yang Kun benar-benar mau mendengarkan ceritanya bukan hanya sekedar ingin menghiburnya saja.

Melihat mata suaminya itu memancarkan kesungguhan hati, maka iapun segera menceritakan mimpinya.

Selesai bercerita wanita muda itu memandang suaminya lagi.

Matanya bergetar, seakan-akan menuntut keterangan yang jujur tentang mimpinya itu.

Apa sebenarnya yang terjadi di balik mimpinya itu?

Dia yakin bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi.

Tentu ada sesuatu yang telah menyentuh alam di bawah sadarnya, yang akhirnya tercetus ke dalam mimpi.

Sebaliknya, Liu Yang Kun segera terdiam mendengar "mimpi' isterinya itu.

Ia sudah menduga sejak dahulu bahwa suatu saat tentu akan menerima tuntutan seperti itu.

Untunglah sejak semula ia telah berterus-terang serta jujur kepada Tui Lan tentang dirinya.

Sehingga apa yang hendak ia katakan kepada isterinya itu tentu telah diduga oleh isterinya sendiri.

Sekarang secara tidak sadar isterinya itu hanya menuntut pengakuan yang jujur darinya.

"Moi-moi, aku bisa menerangkan arti mimpimu itu. Begini...!"

Katanya perlahan.

"Tentang ular raksasa yang hidup kembali, kemudian menyerang kita serta memakan aku itu, kukira hanya akibat dari rasa takutmu yang berIebih-lebihan terhadap ular itu dahulu, dan rasa takut itu lalu kauhubungkan dengan pusaran air yang menganga seperti mulut ular itu, yang kemudian malah menelan tubuhku pula. Sedangkan tokoh si Iblis Penyebar Maut yang menghadang jalanmu, yang kemudian ternyata wajahnya mirip aku itu, kukira hanya cetusan dari perasaan hatimu sendiri, yang selama ini selalu kaupendam di dalam hati. Karena kau selalu menyimpan dan menekannya, maka 'pendapat hatimu' itu lalu muncul dalam bentuk mimpi tadi..."

Liu Yang Kun mengambil napas sebentar, lalu sambungnya lagi.

"Aku tahu, setelah mendengar cerita tentang sepak terjangku yang jahat dan keji itu, kau tentu sudah mempunyai dugaan atau pemikiran, siapa sebenarnya aku ini. Di dalam hatimu tentu sudah ada bayangan siapa wajah Si Iblis Penyebar Maut yang mengerikan itu. Namun karena kekurangyakinanmu sendiri terhadap dugaan itu, apalagi begitu melihat kau lantas merasa suka dan kasihan, maka dugaan itu lalu kau kubur dalam-dalam di dalam lubuk hatimu sendiri. Padahal setiap saat dugaan itu masih saja menggodamu. Maka akibatnya semua lantas muncul di dalam mimpimu. bukankah begitu... moi-moi?"

"Koko... aku... aku... oh!"

Tui Lan menjadi pucat seperti gadis yang terbuka rahasianya.

"Isteriku...! Aku tahu sejak semula kau telah mempunyai dugaan bahwa aku adalah Si Iblis Penyebar Maut itu. Tapi aku juga tahu bahwa kau tidak sampai hati untuk mengatakan kepadaku""

"Koko, aku tidak berani... Ini..."

"Aku tahu kau tidak berani menuduhku. Kau terlalu cinta kepadaku. Di dalam hati kau justru berusaha membantahnya. Bukankah demikian, moi-moi?"

Tui Lan tertunduk lemah.

"Jadi... jadi"

Kau memang benar Si Iblis Penyebar Maut itu?"

Liu Yang Kun menarik napas panjang. Matanya menatap isterinya tajam-tajam.

"Benar!"

Ucapannya tegas.

"Sejak semula aku memang hendak mengatakannya kepadamu. Tapi aku tak berani. Aku takut kehilangan kau. Selain itu aku juga sudah menyangka bahwa kau telah mengetahuinya."

"Ooooooh!"

Tui Lan tiba-tiba berdesah, dan tiba-tiba pula matanya menatap ke arah suaminya.

"Ada apa, moi-moi?"

"Koko! Kata guruku, kedua orang tuaku mati dibunuh orang di sebuah hutan kecil di luar Gurun Gobi sana. Ayahku disembelih dan ibuku diperkosa sebelum dihabisi nyawanya. Cobalah ingat-ingat, koko! Pernahkah kau membunuh seorang bangsawan yang sedang bepergian dengan keluarganya di tempat itu?"

Liu Yang Kun mengerutkan dahinnya. Tapi dengan tegas pemuda itu menjawab.

"Moi-moi...! Aku tak tahu, mengapa kau menuduhku demikian. Aku juga tak tahu pula, apa alasanmu mencurigai aku. Meskipun demikian aku akan menjawabnya juga. Moi-moi, dengarlah! Aku memang telah banyak membunuh orang dan berbuat jahat di mana-mana. Tapi satu hal yang kuingat betul, yaitu... aku belum pernah keluar dari daerah Tionggoan, apalagi menyeberangi Gobi! Selama hidupku aku belum pernah menginjak gurun yang ganas itu! Nah, kau puas?"

Tiba-tiba wajah Tui Lan menjadi berseri-seri.

"Oh, koko... terima kasih. Aku sangat berbahagia sekali!"

Serunya gembira, lalu berlari ke pelukan Liu Yang Kun.

"Hei! Hei! Nanti dulu! Apakah engkau sudah lupa bahwa aku adalah Si Iblis Penyebar Maut?"

Liu Yang Kun pura-pura berteriak memperingatkan. Tapi Tui Lan justru merangkul semakin kencang malah.

"Huh! Aku tak perduli! Biar jahat, baik atau jelek, yang penting aku cinta kepadamu! Habis perkara!"

Teriaknya lantang.

Diam-diam Liu Yang Kun sangat berbahagia pula melihat kegembiraan isterinya.

Tidak tampak lagi bayangan ketakutan ataupun kengerian di wajah isterinya.

Calon ibu muda itu kelihatan kembali seperti semula.

"Sungguh kasihan sekali dia. Aku harus berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkannya dari neraka di bawah tanah ini. Aku tak boleh mengecewakan harapannya,"

Pemuda itu berjanji di dalam hatinya.

Maka keesokan harinya Liu Yang Kun pergi ke pinggir telaga itu kembali.

Ditelitinya dan dipelajarinya sungguh-sungguh keadaan pusaran air tersebut.

Beberapa kali ia memotong tali pintalannya dan me lemparkannya ke tengah-tengah pusaran itu.

Dan ia lalu menyaksikan benda tersebut hilang lenyap ditelan pusaran air itu.

Tersedot entah kemana.

"Tentu ada lobang besar di dasar telaga ini, di mana air telaga tersedot keluar dari tempat ini. Yang menjadi persoalanku sekarang adalah, apakah lobang itu dapat kulalui bersama Tui Lan nanti? Dan yang kedua ialah, berapa panjang lobang air itu mengalir ke permukaan tanah kembali? Kalau saluran air itu terus memanjang sampai di Laut Timur sana... hmm, terang aku dan Tui Lan akan kehabisan napas di tengah jalan,"

Pikirnya di dalam hati. Pemuda itu lalu melangkah mengelilingi air telaga itu.

"Sayang aku tak bisa menyelam lebih dahulu untuk menyelidikinya. Pusaran ini sangat kuat. Sekali terjun kedalamnya, tubuhku tentu tersedot ke dalam lobang tanpa bisa berkutik lagi. Jangankan untuk kembali, berenang untuk menyelamatkan diripun kiranya sudah amat sulit sekali. Satu-satunya kemungkinan hanyalah pasrah kepada Thian dan membiarkan diri diseret arus air."

Pemuda itu meneruskan lamunannya.

Malamnya Tui Lan bermimpi lagi.

Seperti juga kemarin, ular raksasa itu hidup pula kembali.

Lagi-lagi suaminya dimakan dan ditelannya, sehingga ia menjadi sendirian pula di dalam gua itu.

"Koko, aku takut... Mimpi itu seperti memberi isyarat kepadaku bahwa kau akan pergi meninggalkan aku. Oooh...!"

Setelah sadar kembali Tui Lan menangis di dada suaminya.

"Moi-moi...! Tak ada kekuatan yang bisa memisahkan kita selain kematian. Mengapa kau masih tidak percaya juga?"

Liu Yang Kun menenangkan hati Tui Lan.

"Bukan itu, koko... Tentang kasih sayang kita, aku telah percaya. Namun rasanya ada sesuatu kekuatan lain... yang hendak memisahkan kita."

"Sudahlah! Itu hanya bayanganmu saja! Kita tidak mungkin berpisah lagi. Kita hanya mempunyai dua pilihan saja, yaitu... mati bersama atau hidup bersama! Kemungkinan yang lain tidak ada!"

"Koko...?"

"Maka setelah kupikirkan masak-masak, tiada jalan lain bagi kita untuk keluar dari tempat ini selain... mati bersama di pusaran air itu!"

Liu Yang Kun berkata tegas.

"Koko...?"

Tui Lan berdesah sambil membelalakkan matanya. Takut dan ngeri. Namun Liu Yang Kun tetap pada pendiriannya.

"Bagaimana pendapatmu? Kita tetap bersatu atau...?"

Desaknya. Wanita itu semakin terpaku di tempatnya. Perlahan-lahan mata itu mengucurkan air.

"Koko, impian itu...,"

Katanya mulai menangis.

"Jangan kau pikirkan impian itu. Pikirkanlah nasib anak kita kelak. Nah, bagaimana keputusanmu?"

"Kokooo...!"

Tui Lan mengeluh dan memeluk suam inya semakin erat lagi.

Dan tangisnya tak bisa dibendung pula.

Dia menangis sedih seakan-akan memang hendak berpisah dengan suaminya itu.

Sesungguhnyalah bahwa hatinya merasa sangat takut melihat pusaran air tersebut, apalagi kalau ia harus terjun pula ke dalamnya, namun demikian ia juga akan merasa lebih takut lagi bila harus berpisah dengan suaminya.

Maka ketika suaminya itu terus saja mendesaknya, ia terpaksa memilih untuk ikut terjun saja dari pada harus tinggal sendirian di tempat itu.

"Bagus! Kau bersiaplah sekarang! Kita berangkat..."

Liu Yang Kun berkata sambil tersenyum, lalu bangkit untuk menyiapkan segala sesuatunya, termasuk tali dan kantong udara itu.

"Sekarang...?"

Tui Lan tersentak memandang suaminya. Kulit mukanya pucat tak berdarah.

"Mengapa? Menunda-nunda waktu tak baik buatmu. Selain perutmu sudah semakin besar, kejemuan dan penderitaan akan semakin meruntuhkan semangat jiwamu. oleh karena itu kita harus lekas-lekas pergi dari neraka ini. Hidup atau mati!"

Liu Yang Kun berkata tegas.

Tui Lan tak menjawab.

Bagaikan manusia yang tak memiliki semangat wanita itu bersiap-siap menuruti perintah suaminya.

Karena tak ada barang yang harus ia persiapkan, maka ia hanya bersiap diri menyiagakan tubuh untuk menghadapi keganasan pusaran itu.

Ia mengerahkan tenaga sakti Pat-hong-sinkang sepenuhnya, seolah-olah hendak bertarung mati-matian melawan musuhnya.

Meskipun demikian ketika ia tak berada di tepi telaga bersama suaminya, tak urung matanya kembali berkaca-kaca.

Bayangan impiannya itu seolah-olah berkelebat lagi di depan matanya.

Untunglah Liu Yang Kun segera tanggap akan keadaannya, sehingga lelaki dicintainya itu segera merangkul membesarkan hatinya kembali.

"Kuatkanlah hatimu, isteriku. Ingatlah semua kata-kata yang pernah kuberikan kepadamu. Marilah...,!"

Liu Yang Kun mengikatkan tali ke badan isterinya, kemudian ke badannya sendiri pula.

Setelah itu ia mempersiapkan kantong udara sebagai cadangan untuk bernapas di dalam air nanti.

Sebelum terjun ke dalam air Tui Lan memeluk suaminya kembali.

Diciumnya lelaki itu seakan-akan ia takkan pernah bertemu kembali.

Sebaliknya Liu Yang Kun juga merangkulnya dengan erat.

Lelaki itu berbisik di telinganya agar ia kuat melawan cobaan itu demi anak mereka.

Dengan cepat arus air telaga itu menyeret mereka ke tengah.

Mereka berpelukan erat.

Dan sekejap kemudian tubuh mereka telah ikut berputar di dalam arus air yang melingkar-lingkar itu.

Semakin lama semakin cepat.

Dan akhirnya ketika telah sampai di pusat lingkaran, tubuh mereka lalu tersedot ke bawah bagai gasing yang terbenam ke dalam air.

Ternyata lobang air di dasar telaga itu cukup besar untuk mereka berdua.

Tapi karena mereka lewat dengan tubuh berputar, maka batu-batu di dinding lobang itu menggores juga di badan mereka.

Beruntunglah mereka mengenakan kulit ular yang kuat itu, sehingga cuma kaki dan tangan mereka saja yang terluka.

Itupun juga hanya gores-goresan yang tidak berarti, karena dengan Iweekang mereka yang tinggi batu-batu tajam itu tak mampu menembus kulit daging mereka.

Arus pusaran yang kuat itu menyeret tubuh mereka ke dalam saluran sempit yang panjang dan berbelok-belok, sehingga tubuh mereka bagaikan diputar dan dikocok dengan hebatnya.

Namun demikian mereka tetap berpelukan dengan kokohnya, sementara kantong udara itu tetap mereka gigit dengan kuatnya.

Keduanya tidak tahu lagi, berapa lamanya mereka dikocok dan digulung oleh putaran arus yang ganas itu.

Tetapi yang terang kini mereka mulai megap-megap kehabisan napas dan kepayahan.

Pelukan mereka mulai kendor karena salah satu dari tangan mereka harus memegangi kantong udara mereka.

Tubuh terasa lelah dan sakit semua, sehingga daya tahan merekapun juga semakin turun pula.

Celakanya tali pengikat tubuh merekapun juga semakin kendor, karena benturan dan hempasan yang mereka terima membuat tali itu menjadi rusak berpatahan pintalannya.

Maka tidak mengherankan bila hempasan-hempasan selanjutnya membuat mereka semakin putus asa.

Di dalam hati mereka telah membayangkan kematian.

Apalagi pada benturan berikutnya, kantong udara itu lepas dan hanyut mendahului mereka.

"Haep! Gluk...! Haaaep!"

Keduanya mulai tersedak dan minum air.

Dan ketika keduanya terbanting lagi di dalam sebuah tikungan tajam, tiba-tiba dari tanah lain menggempur pula sebuah arus yang lain.

Arus tersebut terasa lebih kuat dari pada yang sedang menggulung mereka, sehingga tubuh mereka bagai dilemparkan ke dinding saluran itu.

"Breeeessh!"

Tali pengikat mereka putus, pelukan merekapun lantas terlepas.

Dan keduanyapun segera hanyut secara berpisah.

Tui Lan di depan, sedangkan Liu Yang Kun di belakang.

Celakanya di dalam saluran itu sekarang seperti ada dua buah kekuatan arus yang sama-sama kuat.

Dan lebih celaka lagi mereka berada pada arus yang berbeda.

Tui Lan di sebelah kiri, Liu Yang Kun di sebelah kanan.

Dan beberapa tombak kemudian saluran air itu terpecah menjadi dua bagian.

Arus yang pertama, yang membawa tubuh Tui Lan berbelok ke kiri.

Sedangkan arus yang kedua, yang membawa Liu Yang Kun, melaju terus ke depan, ke lorong saluran yang lebih lebar dan luas.

Di dalam keputus asaan mereka itu Tui Lan masih melihat berkelebatnya tubuh suaminya, yang terbawa arus ke arah saluran yang berbeda.

Mulutnya sudah mau berteriak, tapi airpun segera banjir ke dalam perutnya.

Detik-detik selanjutnya Tui Lan sudah tidak dapat memikirkan yang lain-lain lagi, karena ia harus bergulat dengan arus ganas yang menggulungnya.

Tui Lan sudah tidak merasa kalau tubuhnya terangkat naik, karena lobang saluran itu berbelok ke atas.

Malah beberapa saat kemudian tubuhnya seperti dimuntahkan keluar dari suatu lobang kepundan gunung berapi.

Tui Lan merasakan tubuhnya melayang ke atas dengan cepat sekali, terlepas dari libatan arus air yang ganas itu.

Namun demikian wanita muda itu masih merasakan tubuhnya berada dalam kubangan air yang dalam.

"Dugg...!"

Tiba-tiba Tui Lan merasakan tubuhnya membentur papan yang keras, sehingga papan kayu tersebut sampai bergoyang-goyang karenanya.

Dan di lain saat tubuhnya telah timbul di permukaan air!

Namun bersamaan dengan waktu itu pula kesadarannya jadi hilang dan tak ingat apa-apa lagi!

"Kurang ajar...!

Ada orang hendak menggulingkan sampan kita,"

Mendadak terdengar suara parau berteriak. Dan di lain saat punggung Tui Lan telah dicengkeram orang dan ditarik ke atas perahu kecil.

"Brug!"

Kepala Tui Lan membentur papan perahu, sementara kedua kakinya masih tergantung di pagar perahu, sehingga tanpa dapat dicegah lagi semua air yang berada di dalam perutnya tertumpah keluar.

"Bangsat! Dia...? Hei! Twako! Dia seorang wanita!"

Suara parau itu kembali berteriak keras.

"Hah? Eh, benar...! Dia seorang wanita! Dari mana dia? Mengapa pakaiannya aneh benar?"

Sahut suara yang lain, yang tidak kalah kasarnya dari suara pertama.

"Dan... cantik pula! Cantik bukan main! Huh... jangan-jangan, eh... jangan-jangan dia adalah Hantu Penjaga Tai Ouw (Telaga Agung) ini..."

Suara parau yang pertama tadi tiba-tiba berubah menjadi gemetar.

"Maksudmu dia itu Ouw Sian-li (Dewi Telaga). Pemilik Ceng-liong-ong yang sekarang sedang kita tunggu-tunggu kemunculannya itu?"

Suara yang kedua menegaskan. Nadanya juga ikut ragu ragu.

"Ya! Kau lihatlah pakaiannya itu! Bukankah itu kulit ular raksasa? Siapa lagi di dunia ini yang mengenakan kulit ular bersisik besar-besar itu selain Ouw Sian-li?"

Hening sejenak. Suasana menjadi tegang. Sementara kabut malam mulai turun menutupi cerahnya sinar bulan purnama di atas telaga luas itu. Udarapun lalu berubah menjadi semakin dingin pula.

"Bagaimana, Twako...?"

Mendadak kedua buah suara itu meminta pendapat orang yang ketiga secara berbareng. Terdengar orang menghela napas.

"Aku tak pernah percaya pada segala dongeng tentang hantu atau setan di telaga Tai Ouw ini. Aku hanya percaya pada cerita tentang naga raksasa atau Ceng liong ong yang hidup di dalam telaga ini, yang menurut penuturan guruku selalu keluar setiap lima puluh tahun sekali, yaitu pada saat bulan penuh di permulaan musim semi seperti sekarang ini. Tapi bila kulihat keadaan wanita aneh yang muncul secara tiba-tiba ini, hatiku rasanya... menjadi ragu dan berdebar-debar pula! Pikiranku menjadi goyah pula!"

Sementara itu pikiran Tui Lan telah mulai jernih kembali.

Pelan-pelan wanita muda itu membuka matanya.

Dan...

tiba-tiba ia harus menutup matanya kembali!

Sinar bulan yang telah meredup karena kabut itu ternyata masih terlalu tajam untuk matanya yang sudah terbiasa di dalam kegelapan.

Namun demikian pikirannya yang sudah sadar kembali itu segera teringat akan kejadian yang baru saja dia alami bersama suaminya.

"Koko...!"

Rintihnya perlahan seraya mengelus-elus anak yang ada di dalam perutnya.

"Twako, dia bergerak...!"

Orang yang bersuara parau itu kembali berseru dengan nada gemetar.

Dan sampan kecil itu sedikit oleng ketika ia melompat mundur.

Orang yang dipanggil "Twako' itu melangkah maju mendekati Tui Lan.

Kebetulan segumpal awan tebal melintas menutupi bulan.

Dan berbareng dengan itu Tui Lan pun juga telah membuka mata kembali.

Kalau orang-orang di dalam sampan kecil tersebut agak terhalang dengan kegelapan yang mendadak ternyata tidak demikian halnya dengan Tui Lan.

Wanita muda itu justru bisa me lihat dengan jelas keadaan di sekitarnya.

Mula-mula yang tampak adalah sampan kecil dimana ia berbaring.

Setelah itu orang-orang yang sedang mengelilinginya, yaitu tiga orang lelaki kasar yang tadi telah terdengar suaranya.

Mereka adalah orang-orang kang ouw berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun.

Wajah mereka kelihatan beringas dan kejam, sementara di pinggang masing-masing tampak tergantung senjata golok yang besar-besar mengkilap.

Sekejap Tui Lan menjadi beringas pula.

Matanya nyalang mencari suaminya.

Tapi sesaat kemudian ia menjadi sadar pula bahwa suaminya tidak ada di tempat itu.

Yang ada hanya tiga orang kasar yang tidak dikenalnya itu.

Dan ketika ia mencoba mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, ia menjadi terkejut sekali.

Di sekelilingnya terbentang sebuah telaga yang amat luas dan indah sekali!

Pohon-pohon bunga yang beraneka-warna tampak penuh sesak memenuhi tepiannya.

Sementara di atas telaga itu sendiri kelihatan Berpuluh-puluh perahu, besar maupun kecil, hilir-mudik tersebar di segala tempat.

Beberapa buah diantaranya, terutama yang besar-besar, tampak memasang lampu teng yang berwarna-warni pula.

"Oh... aku tidak bermimpi sekarang! Ini betul-betul sebuah kenyataan! Aku telah terbebas dari kurungan gua-gua itu! Tapi... ah, apa gunanya kebebasan ini tanpa adanya Liu Yang Kun di sisiku?"

Tui Lan yang melihat keindahan di sekitarnya itu tiba-tiba justru merintih di dalam hatinya.

"Twako, awas... dia bergerak lagi! Sebaiknya kita ikat saja kaki dan tangannya agar tidak bisa kembali ke dasar telaga. Siapa tahu dia benar-benar Ouw Sian-li, sehingga kita bisa mempergunakannya sebagai perisai kalau Ceng-liong-ong itu benar-benar muncul nanti?"

Orang yang bersuara parau itu memperingatkan kakaknya.

"Hmm... kau benar! Marilah kita ikat dia!"

Sebentar kemudian ketiga orang kasar itu telah mengeluarkan sebuah rantai besi yang tampaknya memang telah mereka persiapkan untuk mengikat Ceng-liong-ong nanti.

Rantai besi itu kemudian mereka pergunakan untuk mengikat Tui Lan.

Tapi orang yang mereka sangka Dewi Penunggu Telaga itu tiba-tiba meronta dan bangkit berdiri, sehingga rantai itu terlepas kembali.

Tui Lan menatap ketiga orang kasar itu dengan marah.

Mata yang telah terisi Pat-hong-sinkang itu tampak mencorong di dalam kegelapan, seperti mata naga yang sedang mereka tunggu-tunggu itu.

"Nah... apa kataku? Dia... dia memang Ouw Sian-li itu! Lihatlah kedua buah matanya! Itu... Itu bukan mata orang biasa!"

Orang yang bersuara parau itu tergagap-gagap ketakutan. Tubuhnya mundur-mundur terus sehingga hampir saja ia terjengkang keluar perahu.

"Huh, pengecut! Mengapa takut! Bukankah kita ke sini untuk menangkap Ceng-liong-ong itu? Mengapa kita mesti takut kepada pemiliknya kalau kita ingin menangkap binatang piaraannya. Ayoh, serbu dia...!"

Orang yang dipanggil dengan sebutan Twako itu menggeram marah. Lalu dia mendahului menyerang Tui Lan.

"Twako benar! Ini justru kesempatan yang baik buat kita. Kita tangkap dulu pemiliknya baru Ceng-liong-ong belakangan. Marilah ji-ko sebelum orang lain mengetahuinya...!"

Orang ketiga mendukung ucapan Twakonya.

"Ah eh...ka-kalian memang benar!"

Akhirnya orang yang bersuara parau itu mendadak sadar kembali pada tujuannya ke tempat itu.

Sambil mencabut goloknya ia ikut menerjang Tui Lan.

Demikianlah, belum juga kekuatan Tui Lan pulih sepenuhnya, ia sudah diharuskan melayani keroyokan tiga orang kasar itu.

Celakanya, ketiga orang itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat juga.

Namun demikian masih beruntung juga bagi Tui Lan, karena perahu tersebut terlalu kecil dan sempit untuk berkelahi mereka berempat, sehingga ketiga orang lawannya itu harus hati-hati dan tak bisa bergerak bebas.

Sebaliknya, dengan Bu-eng Hwe-teng yang hebat itu Tui Lan mampu melenting kesana-kemari dengan lincahnya.

Seperti seekor capung yang sedang bermain main di atas permukaan air, tubuhnya berkelebatan diantara lawannya.

Malahan bila tubuhnya melayang terlalu jauh keluar perahu, dia lalu memperlihatkan ilmu Berjalan di Atas Airnya yang tiada tara itu.

Sekali menepuk permukaan air tubuhnya akan segera terlontar kembali ke dalam perahu.

Tentu saja pameran ginkang yang mentakjubkan itu benar-benar membuat giris lawan-lawannya.

Selama hidup mereka belum pernah menyaksikan ilmu meringankan tubuh yang sedemikian tingginya.

Ketiganya menjadi semakin yakin bahwa mereka memang sedang berhadapan dengan Ouw Sian-li, Dewi Penunggu Telaga Agung itu.

Dan dugaan mereka itu menjadi semakin tebal pula ketika beberapa kali golok mereka tak mampu menembus baju kulit ular yang dikenakan oleh wanita cantik tersebut.

Sementara itu perahu-perahu lain yang berada di sekitar mereka akhirnya mengetahui pula keributan itu.

Mereka menjadi curiga dan berbondong-bondong mendekati.

Karena cuaca masih gelap tertutup awan, maka mereka tidak segera tahu apa yang terjadi di atas perahu kecil tersebut.

"Hei! Apa yang terjadi di situ!"

Seorang lelaki brewok yang berdiri di sebuah sampan kecil berteriak lantang.

Kemudian, sekali dayungnya yang besar itu menghantam air, maka perahunya yang kecil itu melesat ke depan dengan cepatnya.

Tenaga gwa-kangnya sungguh besar sekali, sungguh sesuai dengan bentuk badannya yang tinggi kekar.

"Twako, lihat! Ouw Tiat Gu si Lintah Darat itu datang kemari!"

Lawan Tui Lan yang bersuara parau itu memperingatkan Twakonya.

"Kurang ajar! Lintah Darat memang serakah sekali! Tapi sungguh kebetulan malah! Biarlah dia merampas lawan kita ini, agar tahu rasa...!"

Orang yang sudah merasa sangat kewalahan melawan Tui Lan itu menjawab ucapan adiknya.

Antara ketiga orang kasar itu dengan si Brewok yang baru datang tersebut memang tidak pernah akur.

Mereka sama-sama bertempat tinggal di tepian telaga itu.

Dan mereka juga sama-sama jago kepruk yang suka memeras para nelayan di telaga Tai-Ouw itu.

Tapi mereka selalu bertengkar dan berkelahi bila saling berjumpa.

Celakanya, biarpun bertiga, ketiga orang kasar itu tak pernah menang menghadapi Ouw Tiat Gu.

Demikianlah, ketika Ouw Tiat Gu datang, ketiga orang kasar itupun berlompatan ke dalam air meninggalkan Tui Lan.

Sementara Tui Lan sendiri yang sejak semula memang tak berhasrat melayani mereka, membiarkan saja ketiga lawannya itu melarikan diri.

"Hahaha... ternyata ada bidadari cantik di tempat ini. Makanya ketiga tikus air itu asyik benar sejak tadi. Hahaha...! Malam bulan purnama di atas telaga, wanita cantik, suasana gelap pula.. oh, asyiknya!"

Begitu berhadapan dengan Tui Lan, si Brewok itu membuka mulut seenaknya.

"Tutup mulutmu! Jangan seenaknya menghina orang!"

Tui Lan marah dan membentak.

"Eh? Ouh, hahaha... galak benar!"

Ouw Tiat Gu tersentak kaget. Namun sebentar kemudian telah tertawa kembali.

"Ho-ho-ho, aneh benar pakaianmu! tampaknya kau tadi baru saja dicopot dari panggung sandiwara, hehehe.!"

"Kurang ajar...! Kutampar mulutmu!"

Ouw Tiat Gu yang sangat membanggakan kekuatan tubuhnya itu benar-benar tak memandang sebelah mata kepada wanita cantik seperti Tui Lan itu.

Lelaki kasar seperti dia sudah biasa dikerubut orang setiap harinya.

Dan dia selalu tampil sebagai pemenangnya.

Maka kalau cuma seorang wanita lemah macam Tui Lan itu, apa pula yang harus ia takutkan?

Oleh sebab itu dengan congkaknya ia membiarkan saja Tui Lan menamparnya.

"Plaaaaaaaaak!"

"Hwadouuuuuuuuh...!"

Tiba-tiba Ouw Tiat Gu berteriak setinggi langit.

Tubuh yang sungguh-sungguh besar seperti kerbau itu mendadak terlempar keluar perahu.

Sekilas tampak beberapa buah giginya mencelat keluar, disertai semprotan darah dari mulutnya.

Air muncrat tinggi ke udara, sehingga membasahi badan Tui Lan pula.

Menyaksikan lawannya terlempar kesakitan ke dalam air Tui Lan merasa menyesal juga.

Wanita muda itu merasa terlalu keras memberi hajaran kepada orang yang belum dikenalnya itu.

"Meskipun dia telah menghina aku, tapi tak seharusnya aku membalas sedemikian kerasnya,"

Gumamnya sambil menundukkan mukanya.

Tapi ketika menengadahkan kepalanya kembali Tui Lan menjadi kaget sekali.

Perahu kecilnya telah terkepung oleh belasan perahu lain, sehingga ia tak mungkin bisa mengeluarkan perahunya itu dari sana.

Malah dari jauh masih banyak lagi perahu-perahu besar yang berdatangan pula.

Wajah-wajah keras tampak menatap ke arah perahunya.

Mereka berusaha menembus kegelapan malam yang tertutup awan itu.

Rata-rata mereka berwajah keras dan beringas.

Wajah-wajah orang persilatan yang telah terbiasa menghadapi kekerasan dengan kekuatan.

"Ceng-liong-ong...! Awas...Ceng-liong-ong!"

Tiba-tiba keheningan yang hanya sesaat itu dikejutkan oleh teriakan ketiga orang kasar yang tadi terjun ke dalam air.

Ketiga orang itu muncul di dekat perahu-perahu yang mengepung Tui Lan.

Begitu muncul di atas permukaan air mereka berteriak-teriak seraya menunjuk ke arah Tui Lan.

Suaranya gagap dan kurang jelas.

Tapi orang-orang kang-ouw yang sudah sejak sore tadi menunggu keluarnya Ceng-liong-ong, segera menjadi beringas begitu mendengar teriakan mereka.

Semuanya menyangka bahwa naga dari Telaga Tai Ouw yang mereka tunggu-tunggu itu benar-benar sudah keluar.

Malahan sudah melukai tiga orang itu pula sekarang.

Dan dugaan mereka semua semakin menjadi-jadi ketika tiba-tiba muncul pula wajah Ouw Tiat Gu yang berlumuran darah dari dalam air.

"Bangsat! Ular betina itu telah melukai aku! Kurang... haep...!"

Teriak si brewok itu melengking lengking.

Maka sekejap kemudian, belasan atau bahkan puluhan sampan-sampan kecil itupun lalu berlomba-lomba berebut dulu untuk menyerbu ke depan.

Mereka tak ingin didahului oleh lawannya.

Sehingga sesaat kemudian perahu-perahu itupun lalu saling bertabrakan dengan gaduhnya.

Dan bersamaan dengan waktu itu pula para penumpangnya berloncatan keluar bagai kawanan lebah yang sedang marah.

Sehingga di lain saat tempat itupun lalu menjadi hiruk-pikuk bukan buatan!

Mereka adalah orang-orang kang ouw yang datang dari seluruh pelosok negeri.

Dan mereka itu adalah orang-orang yang percaya pada dongeng tentang Ceng-liong-ong itu.

Y aitu dongeng yang menceritakan bahwa darah naga itu mampu membuat mereka menjadi orang yang tak terkalahkan, kulitnya yang tak mempan senjata, dan mutiara racunnya yang bisa menawarkan segala macam racun di dunia.

Maka tidaklah mengherankan kalau mereka saling berlomba lebih dulu untuk mendapatkan benda-benda langka tersebut.

Mereka tidak lagi menghormati aturan dan sopan-santun.

Yang ada di dalam benak dan hati mereka hanyalah merebut dan memiliki benda-benda itu, apapun caranya.

Sehingga hukum rimbapun lalu berjalan di tempat itu.

Siapa kuat, dialah yang menang.

Oleh karena itu siapapun yang menghalangi jalan, merekapun tak segan-segan untuk membunuh dan menyingkirkannya.

Suara teriakan, jeritan, dan juga suara dentang senjata, terdengar menggema memenuhi tempat itu.

Belum juga mereka tiba di tempat Tui Lan berada, mereka sudah saling berhantam dan saling menyerang dengan brutalnya.

Maka korbanpun segera berjatuhan.

Darah muncrat dan memercik kemana-mana, membasahi perahu dan sampan mereka.

Beberapa orang diantara mereka dapat juga lolos dari keributan tersebut.

Mereka berloncatan dengan garang ke perahu Tui Lan.

Melihat kilatan bayang-bayang kulit ular yang dikenakan oleh Tui Lan, mereka segera menerjangnya dengan segala kemampuan mereka masing-masing.

Kegelapan di tempat itu membuat mereka tidak dapat melihat jelas sasaran mereka.

Mereka hanya melihat gemerlapannya sisik ular yang dikenakan Tui Lan.

Sementara itu Tui Lan yang menjadi bingung dan heran menyaksikan ulah orang-orang di sekelilingnya, terpaksa berloncatan menghindari para penyerangnya itu.

Karena mereka berjumlah banyak, maka dia terpaksa melenting kesana-kemari meninggalkan perahunya.

Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang hebat ia berloncatan diantara sampan dan perahu yang berserakan di tempat itu.

Dan sambil berloncatan dia membagi pukulan dan totokan diantara lawan-lawannya itu, sehingga satu persatu mereka roboh berjatuhan di atas perahu tempat mereka berpijak.

Namun lawan yang datang kemudian seperti tiada habis-habisnya, karena perahu-perahu yang datang dari tempat lainpun juga semakin banyak pula.

Sementara keributan diantara merekapun juga berlangsung semakin dahsyat pula.

Tokoh-tokoh yang baru tiba, yang kemudian melihat berkelebatnya bayangan Tui Lan di antara kerusuhan tersebut, segera melibatkan diri juga.

Darah semakin banyak yang menetes dan mengalir membasahi permukaan air telaga itu.

Sepintas lalu air tampak menjadi kemerah-merahan, sementara udarapun menjadi berbau amis pula.

Pecahan pecahan perahu tampak mengambang berserakan memenuhi tempat pertempuran tersebut.

Namun demikian pertempuran brutal itu tidak menjadi reda juga.

Semakin lama tampaknya justru menjadi semakin dahsyat malah.

Sedangkan Tui Lan yang sebenarnya lagi sedih dan pepat pikirannya itu terpaksa harus melayani orang-orang gila yang tanpa sebab telah mengeroyoknya itu.

Namun karena pikirannya sedang kusut, sedih dan bingung memikirkan suaminya, maka perlawanannyapun juga hanya setengah-setengah pula.

Wanita muda itu lebih banyak melihat-lihat kesana-kemari untuk mencari Liu Yang Kun dari pada harus melayani para pengeroyoknya.

Meskipun demikian karena ilmunya sudah amat tinggi, maka tak seorangpun dari mereka yang bisa menyentuh badannya.

Meskipun di dalam saluran air tadi Tui Lan masih sempat melihat suaminya dibawa arus ke lorong saluran yang lain, tapi dia masih berharap bahwa suaminya itu juga telah dimuntahkan keluar oleh arus yang menghanyutkannya itu melalui lobang sumber air di dasar telaga ini.

Oleh sebab itu Tui Lan tak segera pergi meninggalkan tempat kerusuhan tersebut.

Dia justru melenting kesana kemari mencari wajah suaminya.

"Koko...?"

Sebentar-sebentar ia berdesah pilu.

Tetapi setelah berulang kali menyusup kesana kemari tetap tidak menemukan wajah suaminya, Tui Lan lantas menjadi sadar bahwa usahanya akan sia-sia.

Saluran air yang membawa suaminya kelihatannya tidak bermuara di dasar telaga ini pula.

Tampaknya saluran air itu menuju ke tempat lain, atau bahkan terus langsung ke Laut Timur.

"Oh, Thian...! Ternyata mimpi yang Kau berikan kepadaku itu benar-benar menjadi kenyataan. Dia telah pergi..."

Ratapnya di dalam hati.

Tui Lan benar-benar menjadi putus asa sekarang.

Keinginannya untuk hidup telah hilang.

Dia ingin mati saja menyusul suaminya.

Tapi mendadak berkelebat di dalam pikiran Tui Lan sebuah kemungkinan yang lain.

Benarkah suaminya itu sudah meninggal dunia?

Bagaimana kalau dia dapat meloloskan diri dari arus pusaran air itu?

Dan bagaimana seandainya suaminya kelak mencari dia dan anaknya?

"Ah, aku tidak boleh mati sebelum yakin bahwa dia juga telah meninggalkan aku..."

Sementara terjadi pergolakan batin di dada Tui Lan, maka pertempuran brutal di tengah-tengah kegelapan telaga itupun juga semakin menjadi-jadi pula.

Semuanya menyangka bahwa Ceng-llong-ong itu benar-benar telah keluar dari dasar telaga.

Oleh karena itu, setiap perahu yang datang, maka penumpangnyapun segera berebut dahulu ke depan, ke tempat pertempuran yang telah penuh sesak dengan perahu dan sampan itu.

Mereka berlarian di atas perahu yang berhimpitan itu sambil menyebar kematian.

Tak perduli kenal atau belum, asal ada orang yang menghalangi jalannya, langsung mereka babat tanpa bertanya lagi.

Dan salah seorang dari mereka yang baru datang itu, tampaklah seorang lelaki tua kurus berpakaian mewah, menerobos keributan tersebut dengan tangan kosong.

Meskipun demikian, setiap kedatangannya selalu membuat kocar-kacir orang di sekelilingnya.

Beberapa jago silat berusaha melawannya, namun tanpa kesulitan lelaki kurus itu menghajar mereka.

"Tung-hai Nung-jin...!"

Salah seorang dari pengeroyoknya berseru begitu bisa melihat jelas wajahnya.

"Benar, akulah yang datang. Oleh karena itu menyingkirlah! Biarkanlah aku melihat keadaan di depan itu..."

Orang tua itu menjawab angkuh.

Benar juga.

Mendengar nama besar orang itu, yang lainpun segera menyingkir.

Tapi baru beberapa langkah orang tua itu berloncatan, di depannya telah banyak orang yang menghalangi jalannya lagi.

Malah salah seorang di antaranya terpaksa beradu pukulan dengan dia karena nyaris bertabrakan.

"Plak! Plak!"

Masing-masing terpental hampir jatuh. Keduanya saling melirik dengan hati berdebar kaget.

"Uh! Siapakah kau? Oooh... Tiat-tung Lo-kai (Pengemis Tua Bertongkat Besi) rupanya!"

Tung-hai Nung-jin menggeram.

Tiat-tung Lo-kai adalah ketua Tiat-tung Kai-pang Daerah Utara.

Namanya juga sangat terkenal sejak masih pemerintahan Kaisar Chin Si yang jatuh itu.

Lebih terkenal dari pada nama suhengnya, Tiat-tung Hong-kai (Pengemis Gila Bertongkat Besi), yang menjadi ketua daerah Selatan.

Walaupun demikian, melihat Tung-hai Nung-jin, ketua perkumpulan pengemis daerah utara itu ternyata merasa segan juga.

"Tung-hai Nung-jin! Hmm... tak kusangka kau bisa berkeliaran di daratan juga. Sayang kita tak mempunyai banyak waktu untuk menyambutmu. Maafkanlah...!"

Tiat-tung Lo-kai menggeram pula, kemudian melompat pergi meninggalkan tempat itu.

"Kita...?"

Tung-hai Nung-jin berbisik kaget sambil melirik ke kanan dan ke kiri.

"Apakah dia datang bersama kawan-kawannya? Mengapa aku tak melihat mereka itu?"

Diam-diam Tung-hai Nung-jin merasa gentar juga hatinya.

Dia tahu Tiat-tung Lo-kai mempunyai banyak teman di dunia kang-ouw, termasuk di antaranya yang sangat ia segani adalah Keh-sim Siau-hiap (Pendekar Muda Patah Hati), pemilik Pulau Meng-to yang sangat tersohor itu.

Jikalau benar apa yang dikatakan oleh Tiat-tung Lo-kai itu, maka dia memang harus berhati-hati.

"Siapapun ingin meminum darah Ceng liong-ong dan mengambil mutiara racunnya, maka aku tak perlu heran kalau semua tokoh-tokoh persilatan berkumpul di sini sekarang. Mungkin tokoh-tokoh sakti seperti Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, ataupun pemimpin-pemimpin aliran ternama seperti Beng-kauw, Mo-kauw dan Im-Yang kauw itupun ada di sini pula saat ini..."

Ternyata betul juga dugaan Tung-hai Nung-jin itu.

Belum juga dia beringsut dari tempatnya, mendadak dari arah barat terdengar umpatan dan caci-maki yang amat dikenalnya.

Siapa lagi di dunia ini yang gemar mengumpat dan memaki seenaknya sendiri selain Put-ceng-li Lojin (Orang Tua Yang Tak Tahu Aturan) Ketua Bing-kauw?

"Bangsat kurang ajar...!

Monyet busuk semuanya!

Ceng-liong-ong sudah keluar aku tidak diberi tahu!

Babi Anjing!

Ayoh...

semua menyingkir!"

"Habis susiok baru berak, sih! Masakan Si Monyet Busuk disuruh mendekati? Bukankah bisa kelenger nanti? Mendingan kita menjauh. Bukankah begitu, Sute?"

"Betul, suheng... Apalagi 'anunya' suhu baunya bukan main...!"

"Anunya... apa. heh?"

Terdengar bentakan Put-ceng-li Lojin lagi.

"Kotorannya!"

Suara yang terakhir tadi menjawab cepat sambil tertawa tergelak-gelak.

"Bangsat! Hahahaha, anak konyol! Kutempeleng kau...!"

Lalu tampak tiga buah bayangan berkelebat mendahului Tung-hai Nung-jin. Dan ketika tokoh bajak laut itu mencoba melongok dan memperhatikan mereka, kepalanya segera mengangguk-angguk.

"Nah, apa kataku tadi. Bangsat tua dari Aliran Bing-kauw itu benar-benar datang kemari bersama muridnya dan murid suhengnya yang konyol itu. Aku takkan lupa pada murid suhengnya yang sinting itu..."

Katanya seraya menarik napas panjang.

Pada waktu itu di daerah Tionggoan berkembang banyak aliran kepercayaan.

Tapi yang sudah amat terkenal dan banyak pengikutnya hanya tiga buah saja, yaitu aliran Bing-kauw, Mo-kauw dan Im-yang-kauw.

Selain memiliki pengikut yang banyak, ketiga macam aliran tersebut juga memiliki banyak tokoh-tokoh sakti pula.

Salah satu di antaranya adalah Put-ceng-li Lojin tersebut.

Put-ceng-li Lojin adalah Ketua Aliran Bing-kauw.

Dia menggantikan suhengnya yang mengundurkan diri dua puluh tahun yang lalu.

Dia mempunyai empat orang murid, tiga laki-laki dan satu perempuan.

Mereka bernama Put-sim-sian (Dewa Tak berperasaan), Put-swi-kui (Hantu Tak Berdosa), Put-ming-mo (Setan Tak Bernyawa) dan Put-sia Nio-cu (Perawan Tak Tahu Adat).

Sedangkan suhengnya yang telah mengundurkan diri itu bergelar Put-chien-kang Cin-jin (Pendeta Tak Waras).

Dan suhengnya itu meninggalkan seorang murid, bernama Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Tak Tahu Malu).

Dan yang datang bersama Put-ceng-li Lojin tadi adalah Put-ming-mo dan Put-pai-siu Hong-jin.

Kali ini Put-ceng-li Lojin memang sengaja mengajak murid suhengnya yang agak sinting itu, karena ia membutuhkan pembantu yang lihai.

Sebab biarpun sangat kurang ajar dan ugal-ugalan, tapi murid suhengnya itu sangat lihai.

Lebih lihai dari pada keempat muridnya sendiri malah.

Tapi membawa Put-pai-siu Hong-jin memang harus sabar.

Selain sangat urakan orang itu juga sering membawa adatnya sendiri.

Untunglah, meskipun mempunyai kelakuan yang aneh-aneh, dia masih mau mendengarkan perkataan Put-ceng-li Lojin.

Sementara itu di malam yang amat gelap tersebut Tui Lan masih diincar dan dikejar-kejar oleh orang-orang yang mengira dirinya adalah Si Naga Raksasa Ceng-liong-ong.

Beberapa orang yang berhasil mendekati Tui Lan memang menjadi heran melihat buruannya itu bukanlah seekor naga seperti yang diteriakkan orang, Namun karena mereka sendiri juga belum pernah menyaksikan binatang langka itu, maka mereka juga menjadi ragu untuk menghentikan serangannya.

Alhasil merekapun masih tetap menyerang dan mengejar-ngejar Tui Lan juga.

Namun Tui Lan sudah tak berminat lagi tinggal di situ.

Setelah dia yakin bahwa suaminya tidak muncul di tempat itu, maka dia lalu berusaha keluar dari kepungan orang-orang gila yang tak dimengertinya itu.

Begitu kakinya menjejak perahu yang ditumpanginya,tubuh Tui Lan membubung tinggi ke udara melewati beberapa buah perahu yang berdesakan di sekitarnya.

Kulit ular yang membungkus tubuhnya itu melambai-lambai ditiup angin.

Warnanya mengkilap gemerlapan, sehingga sepintas lalu memang seperti ekor naga yang sedang meliuk-liuk di angkasa.

Dan sebelum tubuhnya meliuk turun ke bawah, Tui Lan telah menekuk kedua buah kakinya, dan berjumpalitan di udara.

Sambil berjumpalitan, beberapa kali telapak tangannya menghantam ke bawah, menangkis serangan orang-orang yang berusaha mencegatnya.

Tapi dengan demikian ia justru dapat meminjam tenaga mereka untuk melenting ke atas kembali, sehingga semakin lama tubuhnya melenting semakin tinggi seperti burung yang terbang mengepakkan sayapnya.

Namun ketika hendak hinggap di atas atap sebuah perahu besar, tiba-tiba dari arah samping kiri tampak berkelebat sesosok bayangan memotong jalannya.

Gerakannya tidak begitu cepat, tapi karena posisi dan waktunya sangat tepat maka ia tidak bisa menghindar lagi.

Terpaksa dia mengerahkan tenaganya untuk menangkis.

"Plak...Plak!"

Ayunan kaki Tui Lan terpaksa sedikit tertahan, sehingga tidak bisa menginjak atap perahu itu.

Dengan enteng kakinya mendarat di geladak perahu tersebut.

Tapi sebaliknya lawannya tampaknya terpelanting di atas geladak itu pula.

Sementara itu dari bawah perahu tiba-tiba melesat pula sesosok bayangan lain mengejar mereka.

"Kau tidak apa-apa, Lam-suheng?"

Orang yang baru datang itu bertanya kepada lawan Tui Lan yang terpelanting itu.

"Tidak! Tapi hati-hatilah...! Binatang ini... eh?"

Orang yang terpelanting itu menjawab sambil bangkit berdiri.

Tapi mendadak orang itu membelalakkan matanya.

Begitu pula orang yang baru datang itu.

Kedua orang yang berpakaian penuh tambalan, yang tidak lain adalah Tiat tung Lo-kai dan suhengnya Tiat-tung Hong-kai itu menatap Tui Lan tanpa berkedip.

Mereka menjadi heran, mengapa Ceng-liong-ong yang dikabarkan telah muncul keluar itu berubah menjadi seorang wanita di hadapan mereka.

Sementara itu tiupan angin malam telah mulai menggeser awan tebal yang menutupi bulan.

Suasana di atas telaga itu juga mulai jelas pula sekarang.

Orang-orangpun menjadi gembira dan mempertajam penglihatan mereka.

Tapi sinar terang yang mulai menyibakkan kegelapan itu ternyata sangat menyilaukan mata Tui Lan malah!

Kalau orang-orang itu mulai bisa memperhatikan keadaan di sekeliling mereka dengan jelas, sebaliknya tidak demikian halnya dengan Tui Lan.

Wanita muda itu malah melindungi matanya yang tiba-tiba menjadi kabur.

"Ah! Karena terlalu lama di dalam gua yang gelap, kini mataku tak tahan melihat sinar terang. Hmm... aku harus lekas-lekas meninggalkan tempat ini, sebelum orang-orang gila ini membunuhku."

Tui Lan berkata di dalam hatinya.

Tui Lan lalu mempersiapkan dirinya kembali.

Matanya ia pejamkan, meskipun tidak terlalu rapat.

Tapi ia menjadi kaget ketika melirik ke arah pintu perahu.

Di sana dilihatnya sepasang lelaki-perempuan berdiri berjajar mengawasi dirinya.

Kedua orang yang kelihatannya adalah suami-isteri itu memandang dengan heran pula kepadanya.

Yang lelaki bertubuh jangkung dan tampak berwibawa, sementara yang perempuan juga kelihatan anggun dan cantik.

Namun bukan kecantikan atau ketampanan laki-wanita itu yang membikin kaget Tui Lan.

Yang mengejutkan Tui Lan adalah sikap kedua pengemis yang berada di hadapannya itu.

Pengemis-pengemis tersebut kelihatan sangat segan dan menghormat sekali kepada mereka.

"Hong-kai! Lo-kai! Siapakah wanita muda ini? Kenapa kalian mengejar-ngejar dia? Apakah kalian bermusuhan?"

Terdengar lelaki berwibawa itu bersuara.

"Ah, Tocu (Majikan Pulau)...! Ternyata Tocu telah tiba pula..."

Kedua pengemis itu menjawab berbareng. Lalu Tiat-tung Hong-kai melanjutkan lagi.

"Begini, Tocu...Kami berduapun juga baru datang pula. Namun kedatangan kami ternyata sudah terlambat. Orang-orang di sini sudah berteriak-teriak mengatakan bahwa Ceng-liong-ong sudah keluar dari sarangnya. Maka kami pun lantas ikut-ikutan memburunya pula. Tapi setelah kami memegangnya, eh... tiba-tiba binatang itu berubah menjadi wanita muda ini! Tentu saja kami berdua menjadi bingung sekali..."

"Jadi wa..."

Lelaki tampan yang ternyata adalah Keh-sim Siau-hiap dari Pulau Meng-to itu hendak berkata lagi, tapi segera terputus dengan tiba tiba karena dari bawah perahu berkelebat pula bayangan Put-ceng-li Lojin dan kawan-kawannya ke atas perahu.

"Hei...????"

Begitu sampai di depan Tui Lan, ketua Bing-kauw itu memekik kaget pula.

"Apa-apaan ini? Bangsat...! Di manakah Ceng-liong-ong tadi?"

Mendengar pembicaraan orang-orang itu tahulah Tui Lan sekarang bahwa mereka semua telah salah sangka terhadap dirinya.

Tampaknya orang-orang yang berada di telaga malam ini sedang menunggu munculnya Ceng-liong-ong.

Maka dari itu begitu melihat dirinya yang berpakaian kulit ular itu muncul di atas permukaan air, mereka lantas menyangkanya Ceng-liong-ong.

"Tapi dugaan mereka itu sebetulnya juga ada sedikit kebenarannya pula. Sebab kulit yang kupakai sekarang ini memang kulit Ceng-liong-ong juga."

Tui Lan membatin seraya bersiap-siap untuk meloncat pergi dari tempat itu.

Sementara itu melihat kedatangan Put-ceng-li Lojin di perahunya, Keh-sim Siau-hiap segera menyambutnya.

Mereka lalu saling memberi hormat dan berbasa-basi menanyakan keselamatan mereka masing-masing.

Dan kesempatan tersebut segera digunakan oleh Tui Lan untuk melesat pergi meninggalkan tempat itu.

"Tungguuuu...!"

Semuanya berteriak dan berusaha menghalang-halangi.

Namun sudah terlambat.

Tubuh Tui Lan sudah terlanjur melesat bagai peluru meninggalkan mereka.

Semuanya hampir tidak menyangka bahwa wanita muda itu mampu bergerak sedemikian cepatnya.

Keh-sim Siau-hiap yang disohorkan orang sebagai jago ginkang nomer wahid di dunia itupun juga tidak menyangka pula sebelumnya, sehingga dia menjadi terlambat pula menyadarinya.

Tahu-tahu wanita muda itu telah melayang keluar dari perahunya.

Tui Lan benar-benar mengerahkan seluruh ginkangnya.

Tiga atau empat loncatan saja dia telah keluar dari kerumunan perahu tersebut.

Tapi berbareng dengan itu awan gelap yang menutupi rembulan benar-benar telah bergeser pergi meninggalkan tempatnya, sehingga bulan itupun lalu bersinar kembali dengan cerahnya.

Seketika pandangan Tui Lan menjadi silau bukan main.

Rasa-rasanya apa yang dilihatnya menjadi putih cemerlang semuanya.

Akibatnya ia tak bisa melihat apa-apa lagi, sehingga pada loncatan yang terakhir kakinya terperosok ke dalam air.

Lebih celaka pula, pada saat yang bersamaan dua buah senjata gelap berbentuk bintang yang dilepaskan oleh Tung-hai Nung-jin mengenai leher dan pundaknya.

Kedatangan bajak laut dari Laut Timur itu benar-benar tepat di saat pandangan Tui Lan menjadi kabur dan terperosok ke dalam air telaga.

Maka tidaklah mengherankan bila Tui Lan tidak berkesempatan untuk mengelaknya sama sekali.

Namun demikian masih untung juga bagi Tui Lan karena dia mengenakan kulit ular yang kebal senjata itu.

sehingga Cuma sebuah dari amgi itu saja yang menembus kulit lehernya.

Amgi yang lain segera runtuh begitu mengenai pundaknya yang terlindung oleh baju kulit ular itu.

(Lanjut ke

Jilid 11) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 11

"Kena...!"

Tung-hai Nung-jin bersorak gembira, kemudian ikut terjun ke dalam telaga untuk mengejar buruannya itu.

Sambil terus menyelam Tui Lan menyeringai kesakitan.

Senjata rahasia itu ternyata cukup dalam menembus daging lehernya, sehingga ia tak bisa segera mencabutnya.

"Aku harus lekas-lekas pergi dari sini. Biarlah amgi ini kucabut belakangan..."

Geramnya menahan sakit, kemudian bergegas berenang menjauhi tempat itu begitu mendengar suara orang mengejarnya.

Ternyata tidak hanya Tung-hai Nung jin yang berusaha mengejar Tui Lan.

Beberapa jago silat yang merasa mahir berenang ternyata ikut pula terjun ke dalam air.

Sedangkan yang lain hanya mengikut saja di atas permukaan air dengan perahunya.

Semuanya berusaha melacak kemanapun Tui Lan pergi.

"Gila...! Semua orang itu sudah gila... ough!"

Tiba-tiba Tui Lan berhenti berenang dan memegangi perutnya yang besar. Mendadak saja anak yang berada di dalam kandungannya itu bergerak-gerak, seolah-olah hendak keluar membantu ibunya.

"Diamlah, anak manis! Diamlah...! Sebentar juga kita akan selamat."

Tui Lan menghibur diri sambil mengelus-elus perutnya.

Benar juga.

Anak itu berhenti bergerak, sehingga ibunyapun segera menyelam kembali untuk meloloskan diri dari tempat itu.

Dan di dalam air yang dalam itu sinar rembulan tidak begitu tajam, sehingga Tui Lan bisa membuka matanya lebar-lebar.

Tapi beberapa puluh tombak kemudian perutnya terasa sakit lagi.

Malah rasa sakit di perutnya itu lalu diikuti pula oleh luka di lehernya.

Otomatis dia tak bisa berenang pula.

Padahal Tung-hai Nung-jin dan yang lain-lain tampak semakin dekat juga dengan dirinya.

Celakanya, rasa sakit itu semakin lama tidak semakin berkurang, tapi justru semakin bertambah malah!

Dan rasa sakit yang tak tertahankan itu membuat Tui Lan hampir berputus-asa.

Mungkin kalau ia berada di daratan, rasa sakit itu bisa dia tahan dengan sekuat tenaganya.

Tapi di dalam air seperti sekarang?

Bagaimana mungkin ia bisa bertahan agar tidak tenggelam?

"Thian...

lindungilah aku dan anakku..."

Rintihnya sambil menahan sakit.

Dan...

permohonan Tui Lan yang hampir berputus-asa itu seolah-olah dijawab oleh kedatangan sebuah perahu besar, yang melintas mendekati dirinya.

Seorang lelaki gagah yang berdiri di pagar perahu tampak mengejap-ngejapkan matanya, seakan-akan ingin meyakinkan apa yang dilihatnya.

Sementara di belakangnya tampak seorang wanita yang luar biasa cantiknya sedang menggendong anaknya.

"Hong-moi...! Kau lihat di depan itu? Rasa-rasanya aku benar-benar melihat sisik ular. Benarkah? Eh... Lihat di sana! Tampaknya orang-orang itu sedang mengejarnya..."

Lelaki gagah itu berkata kepada wanita ayu tersebut.

Wanita ayu yang menggendong anak perempuan berusia dua tahun itu melebarkan matanya.

Wajahnya juga menampilkan perasaan ingin tahunya yang amat sangat.

"Tapi... itu bukan ular, Hai-ko. Dia seorang wanita! Kau lihat rambutnya yang panjang itu?"

Serunya kemudian kepada lelaki itu.

"Ya! Ya, aku melihatnya... Tapi, kenapa orang-orang itu mengejarnya? Jangan-jangan mereka itu juga salah lihat seperti aku tadi?"

"Mungkin juga, Hai-ko. Eh, kalau begitu... tolonglah dia! Agaknya dia telah kehabisan napas,"

Wanita ayu itu berseru tegang dan gelisah.

"Baik!"

Lelaki gagah itu mengiakan, kemudian meminta para pendayung perahunya agar mempercepat kayuh mereka.

Dan perahu besar itu kemudian meluncur dengan cepat, memotong di belakang tubuh Tui Lan, sehingga para pengejarnya menjadi terhalang.

Kemudian kesempatan yang sangat menguntungkan ini dipergunakan oleh lelaki gagah tersebut untuk menolong Tui Lan.

Sebuah tangkai dayung dilemparkan ke bawah, ke dekat Tui Lan.

Lalu dengan cepat dan tangkas luar biasa lelaki gagah tersebut meloncat turun.

Ujung sepatunya menginjak tangkai dayung itu, kemudian tangannya menyambar tubuh Tui Lan dan selanjutnya membawanya 'terbang"

Kembali ke atas perahu.

Dan semuanya itu hanya dilakukan tidak lebih dari sekejap saja, sehingga para pendayung perahu itu sampai melongo dibuatnya!

"Hong-moi, rawatlah wanita ini!

Biarlah aku menemui orang-orang yang mengejarnya itu!"

Setiba di atas perahu lelaki gagah itu menyerahkan Tui Lan kepada wanita ayu tersebut.

Wanita ayu itu mengangguk, kemudian membawa Tui Lan ke dalam bilik perahunya.

Sedangkan lelaki gagah tersebut lalu bergegas ke geladak kembali.

Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, terdengar suara berderak keras membuat perahu besarnya menjadi oleng.

Beberapa buah peralatan dan perabot perahu berjatuhan dari tempatnya.

Ternyata perahu-perahu kecil yang mengejar Tui Lan itu tak bisa menghentikan laju perahu mereka sehingga menabrak perahu besar tersebut.

Beberapa orang penumpangnya tampak ikut berjatuhan ke dalam air.

Sementara beberapa orang yang mempunyai ginkang tinggi cepat menyelamatkan diri dengan terbang ke atas perahu besar itu.

Terdengar sumpah serapah mereka terhadap perahu itu.

Beberapa orang di antara mereka segera berlari ke sisi perahu yang lain untuk melihat buruan mereka.

Namun mereka segera kembali lagi begitu me lihat buruan mereka telah lenyap.

Di antara orang-orang itu tampak Tung-hai Nung-jin.

Dengan pakaiannya yang basah kuyup bajak laut itu mengumpat-ngumpat tiada habisnya.

"Setaaan! Perahu celaka! Huh! Siapa yang mengemudikan perahu ini, he?"

Pekiknya penasaran.

"Benar! Siapakah yang empunya perahu kurang ajar ini? Kurang ajar, sampanku sampai pecah dan tenggelam...!"

Yang lain memaki pula.

"Tenggelamkan juga perahu ini! Habis perkara!"

Teriak yang lainnya lagi.

Beberapa orang yang baru datang segera naik pula ke atas perahu besar itu, sehingga geladaknya menjadi penuh sesak sekarang.

Begitu datang mereka-pun lalu ikut-ikutan mengumpat dan berteriak-teriak pula.

Akibatnya para tukang dayung yang berada di papan bawah menjadi ketakutan.

Sebagian dari mereka cepat-cepat terjun ke dalam air menyelamatkan diri, sementara yang lain justru tidak berani bergerak saking takutnya.

"Hei! Siapakah yang empunya perahu ini? Hayo, keluar...! Atau kami bakar saja perahu ini?"

Sekali lagi terdengar teriakan Tung-hai Nung-jin.

Nadanya persis bila ia memimpin anak buahnya di tengah-tengah lautan.

Tiba-tiba lelaki gagah tadi melangkah keluar dari bilik perahu.

Empat langkah dari pintu ia berhenti.

Matanya menatap orang-orang yang berada di atas geladak perahunya itu dengan tenang.

Mantel hitamnya yang mengkilat seperti sutera itu tampak menutupi sekujur tubuhnya yang tinggi tegap, sehingga kedua buah lengan bajunya tersembunyi di dalamnya.

"Akulah yang menyewa perahu ini, Nung-jin,"

Jawah lelaki gagah itu singkat.

Tapi orang-orang yang sudah mengenal kegarangan Tung-hai Nung-jin di lautan itu menjadi heran sekali.

Tiba-tiba saja bajak laut yang kejam dan garang itu tampak kaget dan pucat wajahnya.

Apalagi ketika terdengar suaranya yang gemetar dan gelisah.

"Ah... Souw Taihiap kiranya. Tak kusangka Taihiap ikut tertarik pula ke tempat ini?"

Sapanya kepada lelaki gagah itu dengan nada segan dan hormat.

Seketika orang-orang yang berada di sekitar Tung-hai Nung-jin mengerutkan kening mereka.

Dengan pandang mata tak percaya mereka mengawasi lelaki gagah yang dipanggil dengan sebutan Souw Taihiap itu.

Lelaki gagah itu tampak tidak terlalu istimewa menurut ukuran mereka.

Wajahnya tampak biasa-biasa saja.

Sikapnyapun juga tidak garang atau menakutkan seperti tokoh-tokoh terkenal lainnya.

Terlalu halus malah.

"Benar... eh , benarkah dia Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor itu?"

Akhirnya satu atau dua orang mulai saling berbisik.

"Huh! Tung-hai Nung-jin itu cuma mau menakut-nakuti kita semua, supaya kita lari meninggalkan tempat ini..."

"Benar juga katamu. Kalau kita semua pergi, bukankah tinggal dia sendiri yang menangkap Ceng-liong-ong itu?"

"Bangsat! Kita keroyok saja bajak laut itu! Huh! Akal busuk! Paling-paling orang itu juga bajak laut yang dibawanya dari Laut Timur sana!"

"Betul! Marilah...! Serbuuu..!"

Tiba-tiba salah seorang memberi aba-aba.

Begitulah, secara mendadak orang-orang itu menyerang Tung-hai Nung-jin dan Souw Thian Hai.

Sebagian menyerang dan mengeroyok Tung-hai Nung-jin, sedangkan yang sebagian lagi langsung menyerbu ke arah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

"Setan busuk! Kalian apakah sudah gila, he? Kenapa mengeroyok aku malah?"

Tung-hai Nung-jin menjerit-jerit marah.

"Persetan dengan mulutmu yang busuk! Kaulah yang hendak memperbodoh kami! Bajak laut kotor...!"

Orang-orang itu balas memaki.

"Bangsat...! Kubunuh kalian semua!"

"Huh! Engkaulah yang hendak kami bunuh!"

Maka pertarungan yang serupun tidak bisa dihindarkan lagi.

Tung-hai Nung-jin yang sangat marah itu mengamuk dengan hebatnya.

Untuk sesaat lawan-lawannya menjadi kocar-kacir.

Tak seorangpun yang mampu menahan pukulannya yang ampuh itu.

Semuanya tercerai-berai menghadapi Ban-seng-kun (Pukulan Selaksa Bintang), ilmu-silat andalannya selama ini.

Sementara itu di arena yang lain ternyata pertempuran belum dimulai juga.

Pada gebrakan pertama tadi ternyata Souw Thian Hai telah menunjukkan kesaktiannya yang menggiriskan hati, sehingga para penyerbunya menjadi ngeri dan ketakutan untuk menyerang lagi.

Semuanya terpaku diam dengan wajah pucat di tempat masing-masing.

Di dalam hati mereka kini mulai percaya kalau lelaki gagah Itu memang benar-benar Hong-Gi-Hiap yang tersohor itu.

Ternyata ketika orang-orang itu tadi berloncatan menyerbu dengan senjata mereka, sama sekali Souw Thian Hai tidak bergerak untuk menghindarinya.

Dibiarkannya saja senjata-senjata lawannya itu menghantami tubuhnya.

Dia hanya menggerakkan tangannya untuk menangkis bila ada senjata yang tertuju ke arah kepalanya.

Satu atau dua kali orang-orang itu tetap belum yakin kalau Hong-Gi-Hiap kebal terhadap senjata mereka.

Namun setelah berulang kali senjata mereka selalu terpental bila mengenal tubuh Hong-Gi-Hiap, maka merekapun lalu menjadi percaya.

Mereka cepat-cepat mundur dengan hati ketakutan.

Sehingga seperti yang tampak di situ, mereka hanya terpaku diam dengan wajah pucat.

"Nah! Apakah kalian tidak mau pergi juga dari Perahuku ini? Ataukah kalian ingin menunggu pukulan tanganku?"

Souw Thai Hai menggertak.

Benar juga.

Jago-jago silat itu lalu membalikkan tubuh mereka dan berloncatan turun meninggalkan perahu itu.

Dan langkah mereka itu ternyata ikuti pula oleh para pengeroyok Tung hai Nung-jin.

Orang-orang itu juga berlarian menyelamatkan diri mereka.

Sehingga akhirnya hanya tinggal Tung-hai Nung-jln dan Hong-Gi-Hiap saja yang tinggal di atas geladak tersebut.

"Hei, kenapa mereka itu? Kenapa mereka tiba-tiba berlarian meninggalkan perahu ini?"

Tung-hai Nung-jin bergumam bingung.

Bajak laut itu cepat melongok ke bawah.

Tapi mendadak ia mundur kembali.

Dari bawah tampak melayang tiga sosok bayangan, naik ke geladak perahu itu sehingga mereka hampir saja menabrak.

"Naga Iblis! Naga Setan Naga... Busuk! Heh, siapa bilang perempuan muda itu menjadi Ceng-liong-ong? Huh! Bangsat keparat... orang tak tahu diuntung! Membuka mulut seenaknya saja... eh, Saudara Souw? Kaukah itu? Kapan kau datang? Mana isteri dan anakmu?"

Orang yang baru datang itu, yang tidak lain adalah Put-ceng-li Lojin, mengomel dan mengumpat.

Tapi begitu berhadapan dengan Souw Thian Hai, sumpah-serapahnya itu kontan berhenti.

Matanya mendelik.

Mulutnya ternganga kaget.

Namun sekejap kemudian wajah itu berubah menjadi girang bukan main.

Seperti dua sahabat lama yang jarang sekali bertemu ia menyambar tangan Souw Thian Hai dan mengguncangnya kuat-kuat.

"Gila kau! Hahahaha...! Mereka adalah teman-teman seperjalanan yang sangat lucu dan menggembirakan. Yang pendek dan masih muda ini adalah muridku sendiri. Namanya Put-ming-mo.."

"Selamat bertemu, Souw Taihiap,"

Put-ming-mo yang diperkenalkan oleh gurunya itu memberi hormat.

"Dan... yang kurus kering berambut jarang itu adalah Put-pai-siu Hong-jin, murid suhengku yang telah mengasingkan diri. Tapi jangan kaget. Meskipun namanya Hong-jin (Orang Gila) tapi dia tidak gila sungguhan. Hanya saja kelakuan dan sifatnya memang sangat konyol. Paling konyol di antara kami semua. Hahahaha. Betul tidak, Hong-jin?"

"Orang bilang memang begitu. Tapi sesungguhnya itu tidak benar, Heh-heh-he... Susioklah sebenarnya orang yang paling konyol dan paling gila di dunia ini!"

Put-pai-siu Hong-jin menjawab seenaknya dengan hidung cengar-cengir.

"Hei! Mengapa begitu?"

Put-ceng-li Lojin membentak.

"Habis, sudah tua begitu susiok masih punyak anak juga. Apa itu tidak lebih konyol dari pada aku?"

"Monyet! Siapa bilang aku punya anak? Mana anakku, hei?"

Put-ceng-li Lojin berteriak semakin marah.

Tapi Put-pai-siu Hong-jin masih tetap pringas-pringis seenaknya.

Sedikitpun tidak ambil pusing terhadap kemarahan susioknya.

Sehingga Souw Thian Hai yang merasa tidak enak hati itu terpaksa melerainya.

"Sudahlah, Bing Kauwcu. Isteriku ada di dalam. Marilah kita masuk menemuinya,"

Pendekar itu berkata halus. Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin itu tertawa gelak gelak.

"Bangsat! Monyet gila keparat! Bisa juga anak sinting itu membakar hatiku! Hong-jin, awas kau...!"

Gertaknya.

"Huh! Susiokpun juga harus awas terhadapku...!"

Put-pai-siu Hong-jin mengancam pula dengan nada menggoda.

"Kurang ajar! Apa lagi! Apanya yang awas...?"

"Wah, susiok ini goblok benar! Tentu saja matanya yang awas. Kalau susiok tidak awas, masakan bisa sampai kemari? Heh-heh-heh..."

Jawab si Kurus Kering yang kepalanya hampir botak itu semakin kurang ajar.

Tak sampai hati juga Souw Thian Hai menyaksikan Ketua Bing-kauw itu dikeroyok terus-menerus oleh keponakan muridnya.

Disambarnya lengan orang tua itu dan dibawanya masuk ke dalam bilik perahu.

"Eh, Souw-heng... kami pun ingin datang bertamu pula!"

Tiba-tiba terdengar pula suara seorang di luar perahu mereka.

Ketika semuanya menoleh, mereka melihat sebuah perahu besar yang lain datang merapat ke perahu mereka.

Keh-sim Siau-hiap bersama isterinya tampak di atas geladak sambil tersenyum.

Dan beberapa saat kemudian mereka telah melompat pula ke dalam perahu itu.

"Ah, Saudara Kwee rupanya...Marilah! Marilah kalian masuk sekalian! Kita duduk-duduk di dalam."

Souw Thian Hai menyambut mereka. Lalu seperti diingatkan oleh sesuatu hal pendekar sakti itu menoleh ke tempat Tung-hai Nung-jin berdiri.

"Eh, maaf. Aku sampai lupa mempersilakan Nung-jin pula. Nung-jin, marilah masuk!"

"Terima kasih. Tapi aku sedang mencari jejak Ceng-liong-ong."

Tung-hai Nung-jin menolak dengan halus. Souw Thian Hai tersenyum.

"Ceng-liong-ong belum keluar dari sarangnya,"

Katanya mantap.

"Tapi aku telah mengejar-ngejarnya tadi..."

"Hmm, kalau itu yang kau maksud dia berada di dalam. Tapi dia bukan Ceng-liong-ong..."

"Benarkah?"

Tung-hai Nung-jin menegaskan.

"Aku berkata sebenarnya. Marilah kau lihat di dalam...!"

"Baik."

Karena ingin mengetahui kebenaran ucapan Souw Thian Hai, maka Tung-hai Nung-jin lalu ikut masuk pula ke dalam bilik perahu. Bilik itu memang amat luas, sehingga bisa memuat belasan orang di dalamnya.

"Hong-moi, lihatlah siapa yang datang mengunjungi kita ini...!"

Begitu berada di dalam Souw Thian Hai berseru kepada isterinya.

Wanita ayu yang baru saja menyelesaikan perawatannya kepada Tui Lan itu segera menoleh.

Mula-mula yang tampak olehnya adalah Put-ceng-li Lojin.

orang yang selama ini sangat ia hormati.

Baru kemudian tampak Keh-sim Siau-hiap dan isterinya, kawan akrabnya selama ini.

Wanita ayu itu segera menyapa Keh sim Siau-hiap dan isterinya kemudian bergegas berlari mendekati Put-ceng-li Lojin.

Tanpa mempedulikan yang lain-lainnya lagi wanita ayu itu bersimpuh di depan Put-ceng-li Lojin.

Suaranya gemetar penuh haru ketika menyapa orang tua itu.

Matanya berlinang-linang.

"Lojin..."

Tiba-tiba saja orang tua itu menitikkan air mata pula, sehingga orang-orang menjadi heran melihatnya.

"Huh! Bangsat keparat! Mengapa pula dengan biji mataku ini? Semakin tua semakin sukar diurus! Oooh... hmm!"

Orang tua itu mengumpati dirinya sendiri.Kemudian sambil menarik napas panjang orang tua itu menyentuh pundak Chu Bwee Hong, isteri Souw Thian Hai tersebut. Ucapannya penuh haru pula.

"Sudahlah! Sudahlah! Jangan menangis lagi, anakku...! Kita justru harus berterima kasih karena kita berjumpa dalam keadaan sehat dan berbahagia."

"Heh-heh-heh... susiok ini ada-ada saja. Kau sendiri yang mengeluarkan air mata, tapi malah menuduh orang lain menangis. Sungguh konyol!"

Tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin membuka mulutnya.

"Ah, suheng ini juga cerewet benar. Suhu itu mengeluarkan air mata bukan karena menangis, tapi karena matanya kemasukan debu."

Put-ming-mo berusaha menolong muka gurunya dengan nada bergurau.

"Kaulah yang cerewet dan goblok! Mana ada debu di atas air telaga ini, heh?"

Put-pai-siu Hong-jin membentak dengan mata mendelik.

Keh-sim Siauw-hiap dan yang lain-lain terpaksa menahan senyum juga melihat adegan konyol itu.

Untunglah mereka sudah mengenal adat kebiasaan para anggota alirang Bing-kau yang urakan dan kurang mengindahkan tata cara itu.

Dan kali ini tampaknya Put-ceng-li Lojin tidak punya nafsu untuk melayani kata-kata keponakan muridnya itu.

Sungguh berbeda dengan adapt kebiasaannya setiap hari ia berbicara dengan suara halus dan urut di depan Chu Bwee Hong.

Ia membawa wanita ayu itu ke kursi dan menyuruhnya duduk.

Beberapa kali ia mengelus-elus pundak wanita itu seperti seorang ayah menghibur hati anaknya.

Memang hubungan mereka berdua tidak hanya sekedar kenalan atau persaudaraan biasa.

Apalagi bagi Chu Bwee Hong.

Wanita ayu itu tidak mungkin akan bisa melupakan kebaikan budi dan jasa Ketua Bing-kauw itu selama hidupnya.

Bagi dia orang tua itu benar-benar sudah ia anggap sebagai pengganti orang tuanya.

Sebab orang tua itu pernah mengangkatnya dari jurang kehinaan dan keputus-asaan.

Karena orang tua itu pulalah ia mempunyai semangat hidup kembali, sehingga bisa bertemu dengan kekasihnya, Souw Thian Hai itu.

Pada waktu masih gadis Chu Bwee Hong pernah diperkosa orang hingga hamil.

Karena malu dan putus asa Chu Bwee Hong bermaksud bunuh diri.

Untunglah Put-ceng-li Lojin datang menolong.

Tanpa memperdulikan pendapat orang tentang dirinya, orang tua itu berpura-pura mengawininya.

Sampai anak haram yang dikandungnya itu lahir, Put-ceng-li Lojin selalu menghiburnya menuntun batinnya, sehingga akhirnya timbul pula semangat hidupnya.

(baca.

Pendekar Penyebar Maut).

Jadi seloroh tentang anak Put-ceng-li Lojin yang dilontarkan oleh Put-pai-siu Hong-jin tadi memang ada benarnya juga, sebab anak haram itu memang dipelihara oleh Put-ceng-li Lojin sekarang.

Setelah keharuan mereka mereda, maka Souw Thian Hai pun lalu mempersilakan tamu-tamunya untuk duduk.

Dan pendekar itu sendiri lalu duduk pula di dekat isterinya.

Mereka lalu berbincang-bincang dengan ramainya.

Terutama antara Chu Bwee Hong dan Ho Pek Lian, isteri Keh-sim Siau-hiap.

Kedua wanita itu memang merupakan sahabat erat sejak masih gadis.

Rupanya Tung-hai Nung-jin tidak sabar menunggu percakapan mereka itu.

Tiba-tiba ia berdiri dan menjura kepada Souw Thian Hai.

"Maaf, Souw Taihiap. Terus terang saja saya ingin meminta keterangan tentang Ceng-liong-ong itu sekarang. Taihiap tadi bilang bahwa binatang langka itu telah berada di sini. Tapi mengapa aku belum melihatnya juga? Apakah Souw Taihiap menyimpannya di tempat lain?"

Souw Thian Hai pun buru-buru berdiri pula. Setelah dia juga meminta maaf atas kelalaiannya, ia lalu menoleh ke arah isterinya.

"Bagaimana dengan perempuan muda itu? Apakah dia baik-baik saja?"

Bisiknya kepada wanita ayu itu.

Chu Bwee Hong agak gugup juga menerima pertanyaan yang sangat mendadak itu.

Sambil melirik ke bangku di pojok ruangan ia berbisik tegang,"Hai-ko, sungguh aneh benar wanita muda itu.

Dia...

dia ternyata sedang hamil tua.

Mungkin sudah tujuh atau delapan bulan umur kandungannya.

Dan dia tidak...

eh, tidak mengenakan apa-apa lagi selain kulit ular itu.

Untunglah aku mempunyai persediaan pakaian..."

"Hamil tua...? Lalu bagaimana dia sekarang?"

Souw Thian Hai tersentak kaget pula.

"Aku telah mengobati luka di lehernya. Senjata rahasia berbentuk bintang telah kukeluarkan dari dalam dagingnya. Sekarang dia sedang memulihkan tenaganya. Lihatlah! Mungkin sebentar juga dia akan selesai. Tapi hati-hati, tampaknya wanita muda itu bukan orang sembarangan. Kulihat Iweekangnya sangat tinggi. Agaknya lebih tinggi dari pada lweekangku..."

"Begitukah...?"

Sekali lagi Souw Thian Hai menjura kepada Tung-hai Nung-jin.

"Maaf, sebelum menjawab pertanyaan Nung-jin aku akan melihat orang yang dirawat oleh isteriku dahulu. Maaf."

Pintanya.

Kemudian pendekar itu bergegas menuju ke bangku di pojok ruangan itu, di mana Tui Lan sedang menggeletak memulihkan tenaganya.

Tapi kedatangannya segera disambut oleh Tui Lan.

Wanita muda itu segera bangkit begitu mendengar langkah kaki Souw Thian Hai yang mendekatinya.

Wanita muda itu cepat memberi hormat kepada pendekar sakti itu.

"Terima kasih atas pertolongan Souw Taihiap kepadaku,"

Katanya pendek, lalu mengawasi orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut satu-persatu.

Dan ketika terpandang olehnya wajah Tung-hai Nung-jin di antara mereka, tiba-tiba wajah Tui Lan menjadi merah.

Perlahan-lahan dia melangkah mendekati tokoh bajak laut dari Laut Timur itu.

"Kaukah yang tadi melukai aku dengan senjata rahasia terbentuk bintang itu?"

Geramnya.

Sementara itu Tung-hai Nung-jin sendiri juga sangat terkejut melihat pakaian dari kulit yang dipakai Tui Lan itu.

Rasa-rasanya seperti itulah benda yang dikejar-kejarnya tadi.

Dan rasa-rasanya juga seperti itu pulalah benda yang dia serang dengan amgi, yang kemudian timbul tengelam di dalam air tadi.

Tapi ia menjadi heran, mengapa tiba-tiba ada seorang wanita muda mengenakan kulit bersisik itu?

Apakah dia tadi telah salah lihat?

"Eh...?

Apa-apaan ini?

Dimanakah Ceng-liong-ong itu?

Souw Taihiap, di mana...?"

Tanpa mengacuhkan pertanyaan Tui Lan, bajak laut itu mendesak kepada Souw Thian Hai.

Di pihak lain ternyata Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lojin menjadi kaget pula melihat Tui Lan.

Kedua tokoh itu telah melihat Tui Lan di perahu Keh-sim Siauw-hiap tadi.

Tadi kedua tokoh tersebut memang merasa curiga me lihat keadaan wanita muda itu.

Apalagi ketika jago-jago silat yang berkumpul di telaga itu memburu dan mengejar-ngejarnya.

Dan karena kecurigaan mereka itu pulalah mereka sekarang berada di tempat itu.

Jadi bukan karena mereka juga ingin memburu Tui Lan seperti yang lain pula.

Mereka hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang telah terjadi, sehingga jago-jago silat yang berada di atas telaga Tai Ouw itu menjadi gaduh dan memburu-buru wanita muda berpakaian kulit ular tersebut.

Souw Thian Hai cepat melesat ke depan dan berdiri di antara Tung-hai Nung-jin dan Tui Lan.

Dengan kata-kata halus pendekar sakti itu menyabarkan hati kedua orang itu, lalu mempersilakan mereka untuk duduk pula.

Dari ucapan-ucapannya kepada Tui Lan dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekar sakti itu sudah lupa kepada Tui Lan.

Memang pertemuan mereka di palung jurang di Luar kota Soh-siu, satu setengah tahun yang lalu, cuma sekejap mata saja.

Tak heran kalau pendekar itu tidak mengenalnya lagi.

Apalagi dengan kehamilan Tui Lan tersebut membuat wanita itu agak sedikit berubah pula.

Tapi Tui Lan justru amat bersyukur karenanya.

Wanita muda itu tak ingin mendapat pertanyaan tentang suaminya.

Sementara itu setelah mempersilakan semua tamunya untuk duduk kembali, Souw Thian Hai lalu menerangkan duduk persoalannya.

Apa yang dilihatnya di atas telaga itu dan bagaimana ia menolong wanita muda yang terluka itu ke atas perahunya.

"Jadi... dia bukan Ceng-liong-ong? Tapi... tapi mengapa dia mengenakan baju kulit ular di tubuhnya? Dan kulit ular itu terang bukan kulit ular biasa. Tidak ada kulit ular selebar dan sebesar itu sisik-sisiknya selain naga raksasa seperti Ceng-liong-ong."

Tung-hai Nung-jin mencoba menutupi kekeliruannya.

Diam-diam semua orang memang sependapat dengan ucapan Tung-hai Nung-jin.

Kulit ular yang dikenakan oleh Tui Lan itu memang sangat mencurigakan.

Oleh karena itu tak seorangpun berusaha membantah atau menengahi pertanyaan bajak laut dari Laut Timur itu.

Semuanya justru menunggu dan mengawasi Tui Lan, seolah-olah mereka juga menantikan jawaban dari mulut wanita muda itu.

"Bagaimana, nyonya...?"

Akhirnya Souw Thian Hai mempersilakan pula kepada Tui Lan untuk menjawab sendiri pertanyaan itu.

"Ini memang kulit... Ceng-liong-ong!"

Tiba-tiba Tui Lan menjawab tegas.

"He...?"

"Ah...?"

"Hei?"

Seketika ruangan itu menjadi tegang luar biasa.

Semua mata tertuju ke baju kulit ular yang dikenakan oleh Tui Lan.

Tak seorangpun yang bersuara ataupun bergerak dari tempatnya.

Semuanya berada di dalam keterpakuan antara perasaan percaya dan tidak percaya.

"Benarkah apa yang telah kaukatakan itu, nyonya?"

Akhirnya Souw Thian Hai membuka mulut untuk mencairkan kebekuan tersebut.

"Aku tidak bohong, Taihiap. Kulit yang kupakai ini memang benar-benar kulit Ceng-liong-ong. Hmm, mengapa semuanya kelihatan kaget, Taihiap? Apakah aku tidak boleh mengenakan baju kulit ular seperti ini?"

Souw Thian Hai tersenyum sambil memandang kearah tamu-tamunya.

Diam-diam hatinya menjadi curiga juga terhadap wanita muda itu.

Kelihatannya wanita muda itu tampaknya juga tidak menyadari bahwa dirinya sedang berada di antara orang-orang yang ingin memburu binatang langka, yang kulitnya kini ia pakai itu.

Dan tampaknya wanita muda itu juga tidak mengerti sama sekali, kenapa ia sampai dikejar dan diburu oleh orang-orang yang berada di atas telaga itu.

"Nyonya, ketahuilah...! Malam ini adalah malam istimewa, karena Ceng-liong-ong atau Raja Naga Hijau yang keluar setiap lima puluh tahun sekali itu, malam ini akan keluar dari liangnya di dasar danau ini. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa darah yang terkumpul di atas kepala ular naga itu merupakan obat mujijat, yang selain dapat menguatkan tubuh juga bisa melipatgandakan tenaga sakti peminumnya. Selain daripada itu, diatas kepala ular naga tersebut juga terdapat mustika racun, yang khasiatnya bisa menawarkan segala macam racun di dunia ini,"

Ujar Souw Thian Hai perlahan.

"Begitukah...?"

Tui Lan tersentak kaget.

Otomatis wanita muda itu teringat akan ular raksasa yang dibunuh suaminya di dalam gua dibawah tanah itu.

Kalau ular raksasa itu memang betul-betul Ceng-liong-ong seperti yang mereka duga selama ini, maka suaminya itu benar-benar amat beruntung sebab selain mendapatkan mustika racun itu, suaminya juga telah meminum darah diatas kepala ular raksasa tersebut.

Cuma sedihnya sekarang, apakah suaminya itu masih hidup dan dapat menyelamatkan diri dari gua dibawah tanah itu.

"Malahan kalau mau, orang dapat mengambil kulit ular naga itu sebagai penutup tubuh mereka. Sebab khabarnya kulit ular naga tersebut juga tidak mempan segala macam senjata tajam pula. Maka... nyonya bisa menduga sendiri, mengapa tiba-tiba orang-orang itu mengejar-ngejar dan mengeroyok nyonya, begitu di dalam kegelapan itu nyonya muncul di permukaan air danau."

Souw Thian Hai melanjutkan keterangannya seraya menudingi baju kulit ular yang dikenakan oleh Tui Lan.

"Oooohh...!"

Tui Lan berdesah mengerti. Otomatis matanya tertunduk mengawasi baju kulit ularnya.

"Nyonya...!"

Akhirnya Souw Thian Hai menghela napas panjang.

"Siapakah sebenarnya kau ini? Mengapa kau tiba-tiba muncul dengan baju kulit ular itu disini? Katakanlah agar semua kesalah-pahaman ini menjadi jelas dan terang!"

Tui Lan menundukkan mukanya.

Sekejap terjadi perang batin di dalam pikirannya.

Kalau ia bercerita tentang hal yang sebenarnya, itu berarti bahwa ia harus bercerita tentang suaminya.

Dan tak luput pula ia harus bercerita tentang buku-buku silat milik Bit-bo-ong itu.

Tapi kalau ia tak menceritakan hal itu bagaimana dia harus bercerita tentang baju kulit ular itu?

"Bagaimana, nyonya?"

Souw Thian Hai mendesak.

"Ini... ini... ah, aku belum bisa menceritakannya sekarang."

Di dalam kebingungannya akhirnya Tui Lan menjawab sekenanya.

"Kau harus menceritakannya sekarang juga!"

Tiba-tiba Tung-hai Nung-jin membentak sambil bangkit berdiri.

"Paling tidak kau harus mengatakan dari mana kau memperoleh kulit ular itu. Dan betulkah itu kulit Ceng-liong-ong seperti katamu tadi?"

Tui Lan cepat berdiri pula dari kursinya. Matanya berkilat-kilat marah. Hatinya tersinggung dibentak-bentak begitu rupa oleh Tung-hai Nung-jin.

"Hmmh... bagaimana kalau aku tak mau menceritakannya juga? Adalah hakku untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaanmu itu!"

Tui Lan menjawab dengan keras pula.

"Kurang ajar! Aku akan memaksamu! Dan aku juga ingin membuktikan kebenaran kulit ularmu itu!"

Tung-hai Nung-jin berteriak lagi dan mencabut senjatanya yang terkenal, sebuah pacul kecil yang tangkainya bisa diperpendek maupun diperpanjang.

Souw Thian Hai berdiri dengan cepat pula dan berusaha melerai mereka.

"Nung-jin, tahan...! Jangan berkelahi! Dia... dia... anu... perutnya... ah!"

Tapi Tung-hai Nung-jin tak mau mundur juga.

"Jangan khawatir, Souw Taihiap! Aku hanya ingin mencoba keampuhan baju kulit ularnya itu. Lain tidak!"

Katanya meremehkan.

Souw Thian Hai tak bisa menahan mereka lagi.

Apalagi dilihatnya tamu-tamunya yang lain juga mendiamkan saja hal itu.

Tampaknya mereka malah menyetujui tindakan Tung-hai Nung-jin tersebut.

Agaknya diam-diam mereka juga ingin membuktikan kebenaran kulit ular yang dikenakan oleh wanita muda itu.

"Sudahlah. Asal tidak membahayakan jiwa wanita muda itu, biarlah Tung-hai Nung-jin membuktikan keinginannya. Malahan dengan demikian akupun bisa lihat ilmu silat wanita muda itu. Siapa tahu aku bisa menebak asal-usulnya,"

Souw Thian Hai berkata di dalam hatinya.

"Hai-ko...?"

Chu Bwee Hong berbisik khawatir di telinga suaminya itu.

"Biarlah mereka saling bergebrak sebentar. Nanti aku yang akan melerainya, bila serangan-serangan Tung-hai Nung-jin terlalu membahayakan wanita muda itu,"

Suaminya menghibur.

Ruangan itu memang besar, tapi tidak cukup untuk berkelahi.

Oleh karena itu selesai menantang, Tung-hai Nung-jin segera melompat keluar.

Tui Lan yang kini menjadi gampang marah dan tersinggung itu segera mengejarnya.

Namun langkahnya segera terhenti di depan pintu.

Lagi-lagi sinar bulan yang jatuh di atas geladak itu sangat menyilaukan matanya.

"Ohh!"

Tui Lan berdesah sambil menutupi kedua buah matanya. Chu Bwee Hong cepat mendatangi.

"Ada apa...?"

Serunya khawatir. Tui Lan menggelengkan kepalanya.

"Aku... aku tidak tahan melihat sinar rembulan. A...Apakah Souw Hujin (nyonya Souw)... mempunyai saputangan hitam? Bolehkah aku meminjamnya?"

"Sapu tangan hitam? Wah, mana ada saputangan hitam di dunia ini? Bagaimana kalau yang biru?"

Chu Bwee Hong menawarkan saputangan birunya dengan wajah heran.

"Ah, terima kasih. Biru juga tidak apa-apa. Cuma untuk menahan cerahnya sinar rembulan itu."

Tui Lan menerima saputangan itu sambil mengucapkan terima kasihnya.

Kemudian mengikatkan saputangan tersebut di kepalanya, sehingga kedua buah matanya menjadi tertutup sekarang.

Ternyata tidak hanya Chu Bwee Hong yang merasa heran melihat keadaan Tui Lan itu.

Put-ceng-li Lojin dan Keh-sim Siau-hiap pun menjadi heran pula melihatnya.

Keduanya saling memandang dengan mengangkat bahu tanda heran dan tak mengerti.

Begitu pula halnya dengan Tung-hai Nung-jin yang telah bersiap-siap di luar bilik itu.

Di dalam keheranannya, tokoh bajak laut yang disegani dan ditakuti orang itu juga merasa terhina karenanya.

"Kurang ajar. Kau budak kecil ini sungguh sangat menghina aku!"

Pekiknya marah seraya menyerang Tui Lan yang belum selesai mengikatkan saputangan itu.

"Ah...!"

Semuanya berdesah kaget melihat kecurangan Tung-hai Nung-jin itu.

Namun kekagetan mereka itu segera berubah menjadi keheranan dan juga ketakjuban yang luar biasa!

Tui Lan yang tak bersenjata dan belum selesai mengikatkan saputangannya itu bisa mengelak dengan manisnya.

Hanya dengan mendengarkan angin serangan lawannya wanita muda itu sudah dapat menentukan arah pacul tersebut.

Dengan melangkah dua tindak ke kiri, lalu mendoyongkan tubuhnya ke belakang, wanita muda itu melompat berjumpalitan me lewati kepala Tung-hai Nung-jin.

Dan semuanya itu dilakukan sambil menyelesaikan ikatan saputangannya.

Dan kaki yang mungil dan tak bersepatu itu mendarat di atas papan geladak tanpa menimbulkan suara sedikit pun!

Kemudian dengan cepat tubuh yang agak gemuk karena hamil itu berbalik menghadapi Tung-hai Nung-jin yang terlongong-longong di tempatnya.

Sepasang matanya telah tertutup oleh saputangan pemberian Chu Bwee Hong tadi.

"Aaaah...!"

Semua orang yang ada di atas perahu itu tertegun menyaksikan ilmu mengentengkan tubuh yang amat tinggi.

Tidak terkecuali Keh-sim Siau-hiap, tokoh yang pada saat itu diagung-agungkan orang karena kehebatan ginkangnya.

"Kau benar, isteriku... Seperti katamu tadi, perempuan muda ini memang bukan orang sembarangan. Ginkang yang baru saja dia perlihatkan itu tadi hanya bisa dilakukan oleh orang-orang setingkat Put-ceng-li Lojin dan aku. Hm... tapi rasa-rasanya aku pernah melihat gerakan seperti itu. Eee... dimana ya?"

Souw Thian Hai berkata pula kepada isterinya seraya mengetuk-ngetuk dahinya.

Di pihak lain, Keh-sim Siauw-hiap dan Put-ceng-li Lojin semakin menjadi bergairah untuk mengetahui asal-usul Tui Lan yang sangat mengejutkan hati mereka itu.

Kecurigaan mereka semakin menjadi-jadi.

Rasanya gatal pula tangan mereka untuk menjajal sendiri kepandaian perempuan muda itu.

Sementara itu dengan saputangan sebagai penutup matanya, pandangan Tui Lan tidak menjadi silau lagi.

Meskipun dengan demikian pandangannya menjadi terhalang oleh kain biru tipis itu, namun hal itu sudah lebih baik daripada tidak dapat melihat sama sekali.

Sekarang dengan jelas ia bisa melihat bentuk tubuh Tung-hai Nung-jin, biarpun ia tidak dapat melihat jelas wajahnya.

"Hei! Mengapa kau tidak lekas-lekas mencabut senjatamu?"

Tung-hai Nung-jin membentak untuk menutupi kekagetannya.

Bajak laut itu menjadi kaget karena lawannya mampu mengelak meskipun matanya tertutup rapat.

Tui Lan yang belum yakin benar akan kemampuan ilmu-ilmu barunya itu segera mencabut pedang pendeknya.

Menghadapi jago silat tinggi semacam Tung-hai Nung-jin dia tak berani berlaku sembrono.

Dahulu saja gurunya selalu menghindar bila berjumpa dengan bajak laut itu.

Dia harus melawannya dengan hati-hati.

Sehingga kalau terdesak, dia masih bisa meloloskan diri mengandalkan ginkangnya.

Melihat lawannya sudah bersiap diri, tokoh dari Lautan Timur itupun lalu membuka serangan.

Pacul yang gagangnya belum diperpanjang itu ia ayunkan dari bawah ke atas, mengarah ke dagu Tui Lan.

Gerakan itu tampaknya sangat sederhana, tapi sebenarnya menyimpan tipuan dan jebakan.

Sedikit saja Tui Lan salah langkah, maka gerakan selanjutnya akan membuat wanita muda itu terjerumus ke dalam kesulitan.

Untunglah sejak semula Tui Lan telah memutuskan untuk bertindak hati-hati.

Ia tidak mau gegabah menangkis atau mengelakkan serangan itu.

Hal itu hanya berarti memberi kesempatan pada lawannya untuk mengembangkan permainannya.

Karena lawannya tentu telah menyiapkan pula kemungkinan-kemungkinan tersebut.

Dari pada menangkis atau mengelak dengan kemungkinan dicecar lagi oleh serangan-serangan berikutnya, maka Tui Lan memilih menghadapi serangan lawannya itu dengan serangan pula.

Jadi, sama-sama repotnya.

Begitulah, melihat berkelebatnya mata pacul ke arah dagunya, Tui Lan tidak berusaha mengelak atau menangkis.

Wanita muda itu justru mengayunkan pedang pendeknya ke lengan lawan yang memegang pacul, sehingga kalau serangan pacul tersebut diteruskan, maka lawan pun akan segera kehilangan lengannya pula.

Tung-hai Nung-jin kaget juga menyaksikan cara lawannya untuk mematahkan serangannya.

Dan nyatanya ia memang tak berani mengambil resiko kehilangan lengannya.

Cepat-cepat ia menarik tangkai paculnya, untuk kemudian ia pergunakan menangkis ayunan pedang wanita muda itu.

"Thaaaak!"

Kedua senjata mereka saling beradu dan terpental, sehingga masing-masing harus mempererat pegangannya agar tidak terlepas dari tangannya.

Namun dengan kecepatannya yang sangat mengagumkan Tui Lan segera mendahului menyerang Tung-hai Nung-jin.

Pedang pendeknya yang terpental itu lalu meliuk ke atas, membabat kearah leher Tung-hai Nung-jin.

Dan serangan itu ia barengi dengan tendangan kaki ke arah tangkai pacul lawannya.

Tung-hai Nung-jin yang tak menduga demikian tangkas dan gesitnya segera menjadi kelabakan.

"Setan laut...!"

Umpatnya kotor sambil menjatuhkan diri dan berguling-guling di atas geladak perahu.

Namun dengan demikian kemarahannya menjadi semakin melonjak.

Sambil menggeretakkan giginya bajak laut yang garang itu menyerbu Tui Lan.

Paculnya berdesing-desing terayun kesana-kemari seakan-akan hendak memotong atau mencacah-cacah tubuh lawannya.

Lebih mengerikan lagi ketika gagang pacul itu bisa memanjang atau memendek sesuka hatinya, sehingga arena pertempuran yang tak begitu luas itu seolah-olah dipenuhi dengan ribuan pacul yang menyambarnyambar kian kemari.

Souw Thian Hai dan para penonton lainnya mulai berdebar-debar juga melihat kehebatan iblis dari Lautan Timur itu.

Memang nama Tung-hai Nung-jin bukan nama kosong belaka.

Sudah selayaknya kalau iblis itu bisa malang-melintang di lautan bebas.

Kepandaiannya memang hebat bukan main.

Meskipun demikian, Souw Thian Hai dan tamu-tamunya tak urung menjadi heran juga.

Walaupun diburu dan didesak terus-menerus oleh pacul lawannya, namun sama sekali wanita muda itu tidak tampak kerepotan atau jatuh di bawah angin.

Dengan sangat lincahnya wanita yang baru hamil itu 'beterbangan"

Kesana-kemari menghindari terjangan pacul lawannya. Tubuhnya seolah-olah menjadi seenteng kapas, sehingga kena tiupan angin sedikit saja telah melayang menjauhi lawannya.

"Bangsat buruk! Siapa sebenarnya perempuan muda itu? Huh, hebat benar ilmu mengentengkan tubuhnya...!"

Tak terasa Put-ceng-li Lojin mengumpat dan memuji kehebatan ginkang Tui Lan.

"Ya! Ginkangnya memang luar biasa. Tapi kurasa... ilmu silatnya pun juga tidak kalah hebatnya. Coba Kauw-cu lihat jurus-jurusnya itu!"

Keh-sim Siau-hiap menyahut pula.

"Hmmh...! Padahal matanya tertutup saputangan. Ah, rasa-rasanya tulang-tulangku yang tua ini takkan mampu pula mengalahkannya."

Put-ceng-li Lojin mengiyakan.

Kalau semuanya itu menonton pertempuran tersebut dengan tegang dan bersungguh-sungguh, tapi tidak demikian halnya dengan Put-pai-siu Hong-jin.

Keponakan murid Put-ceng-li Lojin yang kocak dan konyol itu selalu mondar-mandir sambil terus mengomel tidak keruan di sekitar arena pertempuran.

Kalau tidak ditahan dan dicegah oleh Put-ming-mo, mungkin dia sudah 'merusakkan"

Pertempuran itu dengan kekonyolannya.

Sedangkan Souw Thian Hai yang berdiri di dekat isterinya, semakin lama kelihatan semakin gelisah juga.

Pendekar sakti itu rasa-rasanya semakin mengenal ilmu silat Tui Lan yang hebat itu.

Namun demikian ia tak kunjung bisa mengingatnya juga.

"Hai-ko...? Ada apa? Mengapa kau kelihatan gelisah sekali?"

Chu Bwee Hong bertanya.

"Hong-moi, rasa-rasanya aku pernah melihat ilmu silat wanita muda itu,"

Jawab suaminya.

"Ah... dari tadi kau juga mengatakannya,"

Chu Bwee Hong memotong.

Demikianlah, pertempuran itu kian lama kian seru juga.

Masing-masing semakin meningkatkan ilmunya, sehingga akhirnya Tung-hai Nung-jin telah mengeluarkan segala kemampuannya.

Sementara Tui Lan yang berperut besar itu ternyata tidak mau kalah pula.

Meskipun sedang hamil ternyata hal itu tidak menghalangi kelincahannya.

Begitu hebat ginkangnya sehingga lambat namun pasti ia mulai mengurung lawannya.

"Budak busuk! Budak gila...!"

Bajak laut itu memaki-maki.

"Jangan hanya memaki-maki saja! Ayoh, lekaslah tundukkan aku! Bukankah kau tadi hendak memaksa aku?"

Tui Lan mengejek.

"Kurang ajar! Budak busuk! Kubunuh kau...!"

Tung-hai Nung-jin berteriak marah.

Tiba-tiba paculnya menghujam kebawah, menuju ke tengkuk Tui Lan.

Dan kali ini tampaknya Tung-hai Nung-jin benar-benar mengerahkan semua kekuatannya, sehingga ayunan pacul itu mengeluarkan suara mengaung saking kencangnya.

Malah berbareng dengan itu Tung-hai Nung-jin juga menghamburkan belasan biji senjata-senjatanya yang berbentuk bintang ke seluruh tubuh lawannya.

Tui Lan menjadi kaget juga.

Namun bukan pacul itu yang menggetarkan hatinya, melainkan senjata rahasia yang melesat ke segala arah itu.

Dan kiranya tak mungkin ia bisa menangkis atau mengelakkan semuanya.

Tampaknya lawannya telah menjadi gelap pikiran sekarang.

Ternyata serangan maut yang dilakukan oleh Tung-hai Nung-jin tersebut juga mengejutkan Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap pula.

Keduanya benar benar tidak menduga kalau Tung-hai Nung-jin akan melakukan serangan keji itu didepan mereka.

Keduanya terlalu percaya bahwa bajak laut dari Lautan Timur itu hanya akan membuktikan keampuhan baju kulit ular yang dikenakan oleh wanita muda itu saja.

Mereka berdua benar-benar tidak memperhitungkan, karena marah dan malu tidak bisa membuktikan ucapannya, bajak laut tua dari Lautan Timur itu bisa berubah menjadi mata gelap dan mau membunuh wanita muda tersebut.

Seperti mendapatkan aba-aba kedua pendekar sakti itu melompat ke arena secara berbareng.

Gerakan tubuh mereka hampir tidak dapat dilihat karena cepatnya.

Sepintas lalu orang hanya melihat bayangan hitam yang melesat ke dalam arena bagai peluru.

Dan kedua sosok bayangan itu menerjang tepat ditengah-tengah antara Tui Lan dan Tung-hai Nung-jin.

"Bug! Bug! Traang! Traang!"

Terdengar suara berdebuk dan berdencing beberapa kali, kemudian semuanya berhenti.

Empat orang berdiri tegak di tengah-tengah arena.

Tung-hai Nung-jin berdiri berhadapan dalam jarak lima langkah dengan Tui Lan, sementara Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap berdiri beradu punggung di tengah-tengahnya.

Sesaat masih terlihat oleh semua penonton, belasan biji senjata rahasia berbentuk bintang berjatuhan dari mantel pusaka yang dikenakan oleh Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.

Sementara Tung-hai Nung-jin juga masih meneliti pinggiran paculnya yang somplak (rusak) karena beradu dengan pedang Keh-sim Siau-hiap tadi.

"Bagaimana, nyonya...? Apakah kau terluka?"

Souw Thian Hai yang merasakan kedatangannya agak sedikit terlambat, bertanya kepada Tui Lan.

"Terima kasih, Souw Taihiap. Aku tidak apa-apa,."

Tui Lan menjawab sambil mengambil dua buah senjata rahasia yang menempel pada baju kulit ularnya.

Senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tung-hai Nung-jin tersebut ternyata tidak mampu menembus baju kulit ularnya itu.

"Syukurlah..."

Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap berdesah hampir berbareng.

"Bukan main! Ternyata baju kulit itu benar-benar asli. Kulit itu sungguh sungguh kulit Ceng-liong-ong yang kebal terhadap senjata,"

Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin berseru sambil bertepuk tangan.

"Bagus! Bagus...! Wah, asyik juga kalau aku bisa mendapatkan baju seperti ini, heh-heh-heh...! Susiok pun takkan menang melawan aku! Bukankah begitu, susiok?"

Put-pai-siu Hong-jin yang sinting itupun ikut-ikutan bersorak pula,lalu meloncat ke dekat Tui Lan dan meraba-raba baju tersebut dengan amat gembira.

Put-ceng-li Lojin diam saja tak menjawab.

Justru put-ming-mo-lah yang menyahut ucapan suhengnya itu.

"Siapa bilang suhu tak bisa mengalahkanmu? Bukankah baju kulit itu hanya khusus menutupi badan saja? Bagaimana kalau suhu menyerang kepala dan kakimu terus terusan? Masakan akhirnya tidak kena juga? Maukah suheng menjadi manusia tanpa kepala dan kaki?"

Put-pai-siu Hong-jin mengerutkan dahinya yang luar biasa lebar itu. Beberapa saat lamanya ia mengejap-ngejapkan matanya, seolah-olah memang sedang memikirkan bantahan Sutenya itu.

"Tanpa kepala dan kaki...? Hmmmm... kalau tanpa kaki itu sih belum apa-apa. Suhuku Put-chien-kang Cin-jin, meski lumpuh juga bisa ke mana-mana. Tapi... tanpa kepala? Wah... inilah yang repot! Bagaimana aku harus menyuapkan nasi nanti! Ah, Sute... kau benar! Kalau begitu tak ada gunanya memakai baju kulit itu, hehehe...!"

Akhirnya manusia sinting itu menjawab perkataan Put-ming-mo. Sementara itu Tung-hai Nung-jin yang terganggu maksudnya itu terdengar menggeram menahan marah.

"Souw Taihiap...! Mengapa kau mengganggu pertempuranku?"

"Bersabarlah, Nung-jin! Bukankah engkau tadi cuma ingin menguji kebenaran baju kulit ular itu? Mengapa engkau lantas hendak membunuhnya?"

"Habis dengan paculku saja aku merasa tak mampu mengatasinya. Maka aku terpaksa mempergunakan juga senjata rahasiaku,"

Tung-hai Nung-jin mengaku.

"Ya, tapi kurasa kau tak perlu menghamburkan senjata rahasia itu sedemikian banyaknya, bukan?"

"Hmm... ini... ini..."

Tung-hai Nung-jin tergagap tak bisa menjawab.

"Sudahlah! Sekarangpun kau juga sudah melihat keasliannya, bukan? Kulit itu memang benar-benar kulit Ceng liong-ong."

"Tapi dia belum mengatakan... dimana dia memperoleh kulit ular yang kita damba-dambakan itu!"

Bajak laut yang keras kepala itu masih merasa penasaran.

"Baiklah! Kalau hanya itu yang kau inginkan, kita tak perlu bersikeras mengadu tenaga. Kita bisa menanyakan hal itu dengan baik-baik kepadanya."

"Kalau dia tak mau menjawab juga?"

"Yaah... apa boleh buat, itu memang haknya, kita tak boleh memaksanya,"

Souw Thian Hai menjawab tenang sambil mengangkat pundaknya.

"Huh! Itulah yang tidak aku sukai. Bagaimanapun juga dia harus mengatakannya. Kalau dia tetap membungkam kita harus memaksanya..."

"Begitukah? Apakah Nung-jin merasa mampu memaksanya?"

Akhirnya habis juga kesabaran Souw Thian Hai melihat kebandelan bajak laut tua itu.

"Bukankah Taihiap tadi sudah menyaksikannya? Kalau engkau dan Keh-sim siau-hiap tadi tidak datang membantu., hmm, budak perempuan itu tentu sudah menggeletak mati di atas perahu ini!"

Tiba-tiba Keh-sim Siau-hiap yang sejak tadi hanya berdiam diri itu mendengus keras. Matanya yang mencorong berkilat-kilat itu menatap wajah Tung-hai Nung-jin dengan sangat kesal.

"Kau ini benar-benar orang tua yang tidak tahu diri! Kedatangan kami di arena ini tadi cuma untuk mencegah timbulnya kurban di antara kalian berdua. Yang Kami khawatirkan tadi sebenarnya bukan nasib wanita muda ini, tapi... kau! Kalau kami tidak segera datang melerai kalian tadi, maka bukan wanita muda itu yang menggeletak mati di perahu ini, melainkan...kau! Apakah kau belum juga sadar akan hal itu?"

Pendekar Pulau Meng-to itu membuka mulutnya.

"Apa...? Aku yang kalah? Mana bisa begitu? Apakah kau tadi tak melihat, betapa pucatnya dia karena tak mampu mengelakkan senjata rahasiaku!"

Tung-hai Nung-jin berteriak marah.

"Tentu saja aku melihat semuanya dengan jelas sekali. Kalau tidak, masakan aku dan Souw Taihiap bergegas datang menolongmu?"

Keh-sim Siau-hiap menjawab seenaknya. Lalu.

"Dengarlah, kau tadi merasa yakin dapat membunuh wanita muda itu dengan sebaran senjata rahasiamu. Begitu, bukan?"

"Tentu saja!"

Tung-hai Nung-jin menjawab mantap. Keh-sim Siau-hiap menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Tapi...kau lupa memperhitungkan baju kulit ular yang kebal itu!"

Pendekar itu mengingatkan lawannya.

"Lalu...?"

Tiba-tiba tergetar juga hati bajak laut tua itu mendengar peringatan Keh-sim Siau-hiap. Pendekar dari Pulau Meng-to itu tersenyum dingin.

"Lalu... yah, seharusnya kau sendiri juga bisa menerkanya pula. Apa yang mesti dilakukan oleh wanita muda itu bila dirinya telah terpojok dan tak bisa menghindar lagi? Tak lain yang dilakukannya tentu... mengadu jiwa! Meskipun demikian wanita muda itu tentu akan memperhitungkan baju kulit ularnya pula. Jadi dalam detik-detik mengadu jiwa itu dia akan tetap memikirkan keselamatan jiwanya. Nah, sekarang cobalah kau pikirkan...! Misalkan wanita muda itu nekad mengadu jiwa, dengan membiarkan satu atau dua buah senjata rahasiamu mengenai tangan atau kakinya yang tak terlindung baju kulit ular itu. lalu membarengi seranganmu dengan serangan pedang pendeknya pula, apa yang akan terjadi padamu?"

"Tidak bisa! Dia tak mungkin bisa berbuat demikian! Paculku akan lebih dulu mengenai tengkuknya."

Tung-hai Nung-jin membantah keras. Keh-sim Siau-hiap sekali lagi menggelengkan kepalanya.

"Kau salah perhitungan lagi. Dengan membarengi seranganmu dengan serangan pedang pendeknya, otomatis tubuhnya akan membungkuk ke depan. Nah, bukankah dengan demikian mata paculmu akan mengenai punggungnya yang terlindung kulit ular itu? Lalu bagaimana dengan ulu hati atau tenggorokanmu yang tertusuk pedang pendek itu? Apakah kiranya kau masih bisa hidup?"

Pendekar itu menerangkan.

Tiba-tiba peluh dingin mengucur dari setiap pori-pori tubuh Tung-hai Nung-jin.

Apa yang dikatakan oleh pendekar dari Pulau Meng-to itu memang benar sekali.

Mendadak ulu hati dan tenggorokannya seperti merasa nyeri dan dingin.

"Ya... itu...ini... eh! Ya... kalau dia berpikir seperti yang kau pikirkan itu..."

Bajak laut tua itu masih juga membela dirinya. Keh-sim Siau-hiap dan Souw Thian Hai tertawa bersama-sama.

"Ah, Nung-jin...! Kau ini seperti anak kemarin sore saja. Orang seperti dia, yang bisa membuat dirimu kewalahan, masa kau anggap enteng begitu rupa? Bagaimana pula kau ini...?"

Tegur Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai sedikit keras.

Tung-hai Nung-jin terdiam dan tak bisa berdalih lagi.

Wajahnya menjadi pucat karena malu.

Maka tanpa mengucapkan permisi lagi ia bermaksud meloncat meninggalkan tempat itu.

Namun begitu kakinya mau bergerak, tiba-tiba dari bawah me lompat sesosok bayangan menghadangnya.

"Paman, jangan pergi dulu! Aku yang akan membantumu."

Bayangan itu berseru nyaring.

Tiba-tiba saja di samping bajak laut dari Lautan Timur itu telah berdiri seorang gadis cantik berpakaian bagus gemerlapan.

Sikapnya lincah gembira dan agak genit.

Begitu datang gadis itu lantas tersenyum kepada Tung-hai Nung-jin.

"Hei, paman...! Kenapa kau diam saja? Apa yang kau lihat?"

Serunya genit. Tak lupa tangannya menarik dan menampar lengan bajak laut tua itu. Tung-hai Nung-jin tergagap seperti orang bangun tidur.

"Eh! Kau...? Bukankah kau ini... Tiauw Li Ing itu? Benar, bukan?"

"Ah! Masakan paman sudah lupa kepadaku? Aku memang Tiauw Li Ing, keponakanmu dulu. Lalu... kenapa paman sampai datang kemari? Apakah paman sudah bosan berada di lautan?"

Gadis lincah itu menyahut riang. Tiba-tiba wajah Tung-hai Nung-jin tampak gembira sekali. Tapi hanya sesaat, karena sekejap kemudian suaranya menjadi murung kembali.

"Tentu saja aku hampir tak mengenalmu lagi. Habis hampir empat tahun kau pergi dari Hai-ong-hu (Istana Raja Laut). Dan karena kepergianmu itu pulalah yang menyebabkan aku dan kakakmu Tiauw Kiat Su berkelana di daratan Tiong-kok ini. Hmmm, apakah kau sudah berjumpa dengan kakakmu itu?"

Tiauw Li Ing mengangguk sambil tertawa lebar. Matanya yang kocak itu seolah-olah ikut pula mentertawakan pamannya yang tampak lusuh dan loyo itu.

"Sudah. Mungkin sebentar lagi dia juga akan tiba disini. Dia marah-marah kepadaku, sehingga kami berdua terpaksa berkelahi, hi-hi-hi..."

Tung-hai Nung-jin menarik napas kesal.

"Kau dan kakakmu memang sama saja. Sama-sama senang membawa adatnya sendiri, sehingga orang tua menjadi repot mengurusnya. Dari Hai-ong-hu aku dan kakakmu berangkat bersama-sama. Tapi setelah sampai di daratan dia segera menghilang mencari jalannya sendiri, tahun lalu aku menjumpai dia di kota Soh-ciu. Tapi hanya beberapa hari dia sudah menghilang lagi entah kemana. kalau tak ingat pada ayahmu... sudah kuhajar anak itu!"

"Hi-hi-ha-ha...!"

Gadis itu tertawa lepas. Sama sekali tak memperdulikan pandangan orang yang terheran-heran menyaksikan kelakuannya itu.

"Awas paman! Jangan sekali-sekali kaulaksanakan niatmu itu! Kau bisa mendapat malu nanti! Hi-hi-ha-ha...!"

"Memangnya kenapa, heh?"

Bajak laut tua itu bertanya penasaran.

"Sebab...kepandaiannya sekarang jauh lebih tinggi dari pada kepandaian paman. Bahkan ayahpun bisa kalah olehnya."

"Omong kosong!"

Mendadak gadis itu menghentikan tawanya.

"Terserah kalau paman tidak percaya. Pokoknya aku sudah mengatakannya kepada paman,"

Katanya kemudian dengan bersungguh-sungguh. Namun Tung-hai Nung-jin yang mengira sedang digoda oleh keponakan sendiri itu justru tertawa malah.

"Mengapa tidak kaukatakan sekalian, bahwa kepandaianmu sekarang juga sudah lebih tinggi daripada kepandaian pamanmu,"

Oloknya. Tak terduga gadia cantik itu menganggukkan kepalanya. Wajahnya masih tetap bersungguh-sungguh ketika menjawab ucapan pamannya itu.

"Terus terang kepandaian silatku memang lebih tinggi dari paman sekarang. Cuma aku tak sampai hati mengatakannya sendiri""

Ujarnya tenang.

"Apaa...???"

Tung-hai Nung-jin berteriak seperti orang kebakaran kumis. Matanya yang kecil sipit itu melotot sejadi-jadinya. Tapi yang dipelototi tetap tenang-tenang saja.

"Sudahlah, paman. Akupun sudah menyaksikan pertempuran paman dengan wanita itu sejak tadi. Seperti halnya Hong-Gi-Hiap dan Keh-sim Siau-hiap tadi, akupun hampir meloncat kesini untuk menolong paman pula. Sayang sekali tempatku terlalu jauh, sehingga Hong-Gi-Hiap dan Keh-sim Siau-hiap lebih dulu datang daripada aku."

Katanya pelan seakan-akan tak menyadari kalau ucapannya itu sangat menyakitkan hati pamannya.

"Ling Ing, kau...kau...?"

Tung-hai Nung-jin justru tak bisa berkata-kata saking kesalnya.

"Sudahlah! Paman tak perlu marah-marah lagi! Aku akan membantumu memaksa perempuan itu untuk berbicara tentang Ceng-liong-ong..."

Kata gadis cantik itu dingin.

Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap saling memandang dengan kening berkerut.

Sekali lagi mereka berdua merasa menjumpai seorang wanita muda yang aneh, misterius, cantik, namun juga sangat berbahaya.

Tampaknya gadis yang baru datang ini juga sangat lihai dan sangat percaya kepada kemampuan dirinya sendiri.

Buktinya, meskipun di atas perahu itu berkumpul tokoh-tokoh sakti, dia tak menjadi takut atau segan melihatnya.

Enak saja dia berbicara dan menyombongkan dirinya.

(Lanjut ke

Jilid 12) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 12

"Aku seperti mendapat firasat bahwa perahumu ini akan menjadi ajang pertempuran dahsyat nanti, Saudara Souw,"

Keh-sim Siau-hiap berbisik kepada Souw Thian Hai.

"Ya, akupun merasakannya juga. Tampaknya gadis ini tidak akan datang sendirian saja di sini. Melihat sikapnya yang tenang dan tanpa gentar sedikitpun terhadap kita itu, menandakan bahwa ia mempunyai andalan untuk menundukkan kita semua."

"Benar. Aku juga sependapat denganmu, Saudara Souw.Tak mungkin gadis semuda itu berani meremehkan Jago Silat Nomer Lima di dunia, kalau tak yakin bisa menghadapinya."

Keh-sim Siau-hiap berbisik lagi sambil tersenyum.

"Hei...?"

Souw Thian Hai tersentak kaget.

"Kau juga percaya pada 'Buku Rahasia' yang sedang ramai dibicarakan orang itu?"

Sekali lagi Keh-sim Siau-hiap tersenyum.

"Mengapa tidak?"

Ujarnya.

"Ah, kau...!"

Souw Thian Hai menggerutu kesal.

Ternyata bukan hanya mereka berdua yang merasa risih melihat kesombongan gadis itu.

Put-pai-siu Hong-jin yang konyol dan kocak itupun menjadi gatal pula tangannya untuk mencoba kecongkakan gadis tersebut.

Sudah sejak tadi ia berpikir keras mencari alasan untuk mengganggunya.

Meskipun kelihatan sinting dan konyol, tapi di dalam aliran Bing-kauw Put-pai-siu Hong-jin menduduki tempat ketiga setelah Put-chien-kang Cin-jin dan Put-ceng-li Lojin.

Maka sebenarnyalah kalau kepandaiannya sangat hebat, mungkin tidak berselisih banyak dengan ketua Bing-kauw itu sendiri.

Apalagi dalam ilmu Chuo-mo-ciang (Tangan Menangkap Setan) andalan para pimpinan B ing-kauw itu!

Dan kesintingan atau kekonyolan Put-pai-siu Hong-jin itu sebenarnya sebagian besar juga disebabkan oleh kelatahannya dalam mempelajari ilmu Chuo-mo-ciang itu pula.

Karena di dalam melakukan gerakan ilmu Chuo-mo-ciang tersebut, setiap pelakunya diwajibkan untuk bergaya dan mengumbar mulut sesuka hatinya, seperti layaknya adat kuno di dalam upacara 'mengusir setan"

Itu.

Demikianlah ketika Tiauw Li Ing melangkah mendekati Tui Lan, tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin menjegal Put-ming mo serta mendorong punggungnya ke depan, sehingga tubuh Sutenya itu terhuyung ke arah Tiauw Li Ing, seakan-akan menyongsong kedatangan gadis tersebut.

"Suheng, kenapa kau... oh!"

Put-ming-mo yang sangat terkejut itu berteriak gusar.

Namun mulutnya segera tertutup karena ia harus cepat-cepat mengelak, agar tidak menubruk Tiauw Li Ing.

Tapi gadis yang merasa akan mendapat gangguan itu sudah terlanjur menyambut kedatangannya dengan pukulan dan tendangan, sehingga Setan Tak Bernyawa itu terpaksa mengerahkan tenaga untuk menangkisnya.

"Plak! Plak! Duk!"

"Aaah!"

Put-ming-mo mengeluh ketika sedikit tubuhnya terjengkang ke belakang akibat menahan tendangan gadis itu.

Tapi dengan cepat murid Put ceng-li Lojin itu melenting berdiri kembali.

Wajahnya kelihatan geram karena penasaran.

Tapi bukan disebabkan karena kalah tenaga melawan gadis itu, sebab ia memang tidak bersiap-siap sebelumnya.

"Suheng! Mengapa kau tiba-tiba mendorong aku?"

Teriaknya berang.

"Hei! Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau ingin mencium gadis itu?"

Enak saja Put-pai-siu Hong-jin menjawab.

"Heh...? Bangsat keparat! Monyet tua tak punya bulu! Siapa bilang aku ingin... ingin men-men-men-cium... pedagang keliling itu?"

"Pedagang keliling?"

Put-pai-siu Hong-jin bertanya bingung. Namun begitu menyaksikan pakaian Tiauw Li Ing yang gemerlapan penuh hiasan itu, ia menjadi maklum apa yang dimaksudkan sutenya.

"Ya! Ya! Ya, hahaha...! Kau sungguh pintar memberi julukan kepada calon pacarmu, hehehe-hahaha...!"

"Kurang ajar...!"

Tiauw Li Ing menjadi marah diolok-olok begitu rupa.

Tangannya segera menampar ke arah mulut Put-ming-mo.

Tapi Put-ming-mo yang sudah bersiap-siap itu cepat meloncat menghindarinya.

Dan murid ketua Bing-kauw itu sengaja mendekati suhengnya, Put-pai-siu Hong-jin.

Tiba-tiba kaki kanannya meluncur ke arah punggung manusia sinting itu.

wuuuut!

"Hei!

Hei?

Mengapa kau malah menjadi marah kepadaku?"

Put-pai-siu Hong jin pura-pura marah pula. Badannya membungkuk untuk menghindari tendangan sutenya itu.

"Habis mulutmu kotor benar! Orang tidak apa-apa dibilang mau menciumi"

"Ahh... yang benar saja! Mengapa mesti malu-malu segala? Bukankah kau tadi berbisik kepadaku? Kau katakan bahwa gadis itu luar biasa cantiknya. Kulitnya putih, bibirnya merah, tubuhnya...yahud! Dan... eh, kau malah bilang juga kalau sekali waktu... kau kepingin mengintipnya bila sedang mandi!"

Put-pai-siu membakar lagi.

"Apaaaa...?"

Put-ming-mo menjerit marah.

Tapi Si Setan Tak Bernyawa itu tak bisa melanjutkan kemarahannya, karena Tiauw Li Ing yang telah naik pitam kembali itu telah menyerangnya lagi.

Malahan di dalam tangan gadis itu tergenggam senjata andalannya, yaitu sebuah kipas yang daun-daunnya dibuat dari lempengan-lempengan baja tipis.

Dan kipas yang sangat tajam itu menyodok ke arah perutnya.

Sepintas lalu serangan kipas itu seperti tidak bersungguh-sungguh, karena pada mulanya gerakannya sangat lambat dan amat mudah diikuti oleh mata.

Namun setelah mendekati sasarannya, tiba-tiba kipas itu terbuka lembarannya dan melesat ke atas dengan cepatnya.

Tujuannya berubah ke arah tenggorokan.

Begitu cepatnya sehingga Put-ming-mo menjadi kelabakan dibuatnya.

Setan Tak Bernyawa itu mengumpat kasar dan membanting tubuhnya ke belakang.

Karena terlalu mendadak dan terburu-buru, maka dia tidak berkesempatan lagi untuk melihat bahwa sebenarnya dia telah berada di bibir perahu.

Oleh karenanya, begitu ia membanting tubuhnya ke belakang, otomatis kepalanya menukik ke dalam air danau yang kelam itu.

"Whuuuuuuss!"

Kipas itu gagal menyambar tenggorokan Put-ming-mo.

Dan Tiauw Li Ing segera menutupnya dan menariknya kembali ke s isi tubuhnya.

Setelah itu dia bergegas melongok ke luar perahu untuk menyerang kembali kalau lawannya berusaha naik lagi ke atas perahu.

Namun hampir saja ia bertubrukan dengan tubuh Put-ming-mo, yang tiba-tiba muncul kembali dari bawah perahu!

"Eiitt...!"

Gadis itu memekik kaget seraya menangkis golok kecil yang tiba-tiba juga telah dipegang oleh Put-ming-mo.

"Traaaaaang!"

Tiauw Li Ing tergetar mundur tiga langkah, sementara Put-ming-mo tampak berdiri bergoyang-goyang hampir terjatuh kembali ke dalam air.

Mereka berdua lalu berhadapan kembali dengan kemarahan yang meluap-luap.

Cuma sekarang Tiauw Li Ing tampak semakin berhati-hati setelah menyaksikan kelihaian lawannya yang kurus kecil itu.

Put-pai-siu Hong-jin bertepuk tangan melihat ketangkasan Sutenya itu.

"Bagus! Bagus! Gerakanmu sungguh hebat sekali, Sute! Kau benar-benar sudah mulai menghayati ilmu Chuo-mo-ciang kita! hehehehe-hahaha...!"

"Monyet tua! Monyet busuk! Monyet botak tak berbulu, he-he-he-he...! Aku tahu siasatmu sekarang, kau ingin mengadu aku dengan Pedagang keliling itu, bukan! He-he-he! Monyet Gila... Monyet sinting, maukah kau bertaruh denganku?"

Put-ming-mo yang sudah bersiap dengan ilmu Chuo-mo-ciang itu mulai berceloteh.

"Bertaruh? Apa yang akan dipertaruhkan?"

Put-pai-siu Hong-jin yang kocak itu melayani olok-olok Sutenya.

"Rambutmu!"

Put-ming-mo menjawab seraya menggerakkan golok kecilnya, menyerang pinggang Tiauw Li Ing.

Gerakannya sembarangan saja seperti layaknya seorang tukang kayu menebang pohon.

Tentu saja Tiauw Li Ing semakin merasa dipandang rendah dengan ulah lawannya itu.

Kemarahannya tak bisa dibendung lagi.

Timbul niatnya untuk membunuh saja musuhnya itu.

Maka secepat kilat kedua tangannya dirangkapkan di depan dadanya.

Telapak tangan kiri terbuka, sedang telapak tangan kanan terkepal sambil menggenggam kipas besinya.

Lalu bersamaan dengan datangnya golok Put-ming-mo, gadis itu menggeliatkan badannya seraya meloncat mengikuti arah ayunan golok tersebut.

Sementara itu kipas besi yang berada di dalam tangannya tampak berkelebatan menyambar lengan lawannya yang memegang golok itu.

Sementara itu di luar arena, Put-pai-siu Hong-jin masih tampak penasaran mendengar tantangan Sutenya tadi.

Sambil mendekati Sutenya ia berteriak teriak.

"Rambutku...? Kenapa dengan rambutku? Apanya yang mesti dipertaruhkan?"

Teriaknya seolah tak memperdulikan pertarungan Sutenya itu.

"Hi-ha-ha... hi-ha-ha!"

Put-ming-mo tertawa gelak-gelak.

Namun suaranya itu segera terhenti manakala kipas besi lawannya hampir saja memutuskan pergelangan tangannya.

Dan suara ketawa itupun lantas berubah menjadi sumpah serapah yang sangat jorok dan kasar.

"Pedagang keliling bau kambing! Pedagang pasaran yang tak pernah laku! Kutelanjangi kau...!"

Put-ming-mo cepat-cepat menarik goloknya untuk menangkis sambaran kipas lawannya.

"Traaaaaaang!"

Kedua buah senjata itu saling berbenturan di udara!

Dan Put-ming-mo segera memanfaatkan keunggulan senjatanya dalam benturan itu untuk mendahului menyerang lagi, sebelum lawannya berdiri tegak.

Tapi sebelum niatnya itu ia laksanakan, tiba-tiba matanya terbelalak!

Kipas yang baru saja dibenturnya itu mendadak pecah, sehingga lempengan-lempengannya yang tajam itu bertebaran menyambar ke arah dirinya.

Cepatnya bukan alang kepalang!

Dan jaraknyapun juga sangat dekatnya, sehingga tak mungkin ia bisa menghindar lagi!

"Put-ming-mo!"

Put-ceng-li Lojin menjerit khawatir, namun tak kuasa berbuat apa-apa.

"Sute!"

Ternyata Put-pai-siu Hong jin pun tak bisa menyembunyikan kecemasannya pula.

Mulutnya berteriak.

Lalu seperti orang yang tak memperdulikan keselamatannya lagi Put-pai-siu Hong-jin menghambur ke tengah-tengah arena.

Tubuhnya yang kurus kering dibalik bajunya yang kedodoran itu seolah-olah memang sengaja diumpankan ke arah tebaran lempengan-lempengan kipas Tiauw Li Ing.

Beberapa kali tubuhnya menggeliat di udara ketika baja-baja tipis itu menerjang dirinya.

"Brug!"

Tubuh Put-pai-siu Hong-jin jatuh berdebuk di atas geladak.

"Suheng!"

Put-ming-mo yang lolos dari maut karena pertolongan Put-pai-siu Hong-jin itu menjerit pula.

Tiauw Li Ing melompat mundur dengan senyum puas, meskipun korban keganasan kipasnya itu bukan lawannya bertempur.

Baginya kedua orang itu sama saja.

Mereka adalah orang-orang yang telah menghina dan memperolok-oloknya.

Dan berbareng dengan itu pula tiga sosok bayangan berkelebat menghampiri tubuh Put-pai-siu Hong-jin.

Mereka adalah Hong-Gi-Hiap, Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lojin.

Karena cemas dan khawatir maka mereka benar-benar mengerahkan seluruh kemampuan mereka masing-masing, sehingga tanpa sadar ketiganya seperti berlomba untuk lebih dulu sampai di tujuan.

Dan ternyata dalam hal ginkang, memang Keh-sim Siau-hiaplah yang paling hebat.

Baru kemudian Hong-Gi-Hiap dan Put-ceng-li Lojin yang paling akhir.

Ketiganya segera berjongkok mengelilingi tubuh Put-pai-siu Hong-jin.

Masing-masing bergegas memeriksa tubuh manusia sinting tersebut.

Namun sekejap kemudian ketiganya lalu saling pandang dengan kening berkerut.

Mereka menjadi heran karena tak ada luka sedikitpun di badan Put-pai-siu Hong-jin itu.

Baju itu memang bolong-bolong dan kulit badan manusia sinting tersebut memang juga tampak bergaris-garis merah pula bekas goresan senjata tajam.

Tapi kulit itu sama sekali tak terluka, apalagi mengeluarkan darah.

Dan mereka bertiga menjadi semakin heran ketika menemukan lembaran-lembaran daun kipas itu bergantungan di baju Put-pai-siu Hong-jin yang bolong-bolong tersebut.

Tiba-tiba Put-ceng-li Lojin bangkit berdiri.

Mukanya berubah menjadi kemerahan.

Dan sebelum Hong-Gi-Hiap dan Keh-sim Siau-hiap menyadari apa yang terjadi, ketua Aliran Bing-kauw itu mendadak telah menyepak pinggul Put pai-siu Hong-jin sambil mengumpat.

"Monyet gila! Pandai benar kau main sandiwara. Bangsaaaaat! Ayoh, bangun!"

"Bing Kauw-cu, kenapa kau...?"

Keh-sim Siau-hiap cepat bangkit pula untuk mencegah perbuatan Put-ceng-li Lojin, tapi maksudnya itu segera terhenti di tengah jalan begitu menyaksikan tubuh Put-pai-siu Hong-jin yang menggeletak itu tiba-tiba melenting berdiri menghindari sepakan susioknya.

Manusia Sinting itu berdiri dengan mulut meringis memandang Put-ceng li Lo jin.

Kedua tangannya sibuk melolosi lempengan-lempengan baja tipis yang bergantungan di bajunya.

Dan sebelum yang lain bertanya kepadanya, ia telah lebih dulu membuka mulutnya.

"Susiok...! Bagaimana dengan gerakan 'Menerobos Lobang Pintu Jala' tadi? Hebat dan sempurna sekali, bukan? Hehehe. he-heh! Susiok sendiri belum bisa melakukannya, ho-ho ho..."

Serunya keras sambil tertawa gembira.

"Monyet Gila! Kau memang sangat berbakat! Suheng memang tidak keliru memilih murid!"

Put-ceng-li Lojin menyahut pula dengan suara bersemangat.

Sama sekali tidak merasa tersinggung atau berkecil hati mendengar kata-kata keponakan muridnya itu.

Ternyata gerakan-gerakan di dalam ilmu Chuo-mo-ciang itu demikian aneh dan sulitnya, sehingga ada beberapa gerakan atau jurus yang sulit dipelajari oleh anak murid Aliran Bing-kauw sendiri.

Salah satu diantaranya adalah jurus 'Menerobos Lobang Pintu Jala' itu tadi.

Dan seperti yang telah dikatakan oleh manusia sinting tadi, Put-ceng-li Lojin sendiri ternyata juga belum bisa melakukannya pula.

Sementara itu orang yang sangat kaget melihat kemampuan Put-pai-siu Hong-jin ternyata tidak hanya mereka saja.

Tiauw Li Ing yang semula telah yakin bisa membunuh lawannya itu ternyata juga tidak kalah kagetnya dari pada mereka.

Saking kagetnya gadis itu sampai tertegun diam seperti patung untuk beberapa saat lamanya.

Rasa-rasanya gadis itu tidak yakin dan tidak percaya bahwa lawannya itu bisa lolos dari jurus mautnya itu.

Namun Tiauw Li Ing segera menjadi sadar pula bahwa orang sinting itu memang telah dapat menyelamatkan diri dari taburan daun kipasnya.

Karena itu kemarahannyapun lantas menggelegak kembali.

Tiba-tiba tangannya telah mengambil sebuah kipas lagi dari balik bajunya.

Dan kipas itu jauh lebih besar ukurannya dari pada kipasnya tadi.

"Hei! Ternyata kalian memiliki kepandaian yang hebat juga, ya? Hmmh... jadi itukah sebabnya kalian berdua berani melawanku?"

Serunya melengking. Lalu tambahnya lagi seraya melangkah ke depan.

"Tapi jangan buru-buru bersuka ria dahulu! Kita belum selesai. Majulah kalian berdua bersama-sama! Kita lanjutkan lagi pertempuran kita..."

Semuanya terkejut mendengar tantangan itu.

"Nona..."

Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai mencoba mencegahnya. Tapi Tiauw Li Ing cepat menggoyang-goyangkan telapak tangannya.

"Maaf, Taihiap. Pertempuran ini tak bisa dihentikan sebelum salah seorang di antara kami menggeletak mati di sini!"

Katanya mantap dan tegas.

"Hi-ha-ha-ha...hi-he-ha-ha! Sute, lihat... pacarmu itu benar-benar nekat sekali! Kau dan aku disuruh maju berbareng katanya, heh-he...! Tampaknya dia telah biasa bertarung dengan banyak lelaki, heh-heh-heh...!"

Tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin tertawa dan berseru kepada Put-ming-mo.

"Ah... kau sajalah yang maju, suheng. Lebih baik aku mengurungkan niatku tadi. Aku tak ingin isteri yang galak,"

Enak saja Put-ming-mo menjawab.

Setelah bergebrak beberapa jurus dengan Tiauw Li Ing, murid ketua Bing-kauw ini merasa takkan menang melawan gadis itu.

Dari pada mendapat malu, lebih baik ia menyerahkannya kepada suhengnya.

Mumpung belum terlanjur.

"Ah!"

Hong-Gi-Hiap dan Keh-sim Siau-hiap saling pandang dan berdesah berbareng.

Keduanya tak kuasa lagi mencegah pertempuran itu.

Orang-orang Bing-kauw itu rasanya memang sedikit keterlaluan juga kalau bergurau.

Dan celakanya Put-ceng-li Lojin sendiri seperti membiarkan saja tingkah laku anak muridnya itu.

Sementara itu di sekeliling perahu Hong-Gi-Hiap tersebut telah penuh dengan perahu dan sampan dari orang-orang kang-ouw yang malam itu berniat memperebutkan Ceng-liong-ong.

Karena binatang yang mereka cari itu tidak kunjung keluar juga, mereka lalu mengalihkan perhatian mereka ke perahu Hong gi-hiap tersebut.

Mereka tak peduli lagi bahwa fajar telah mulai menyingsing.

Mereka ingin menyaksikan keributan yang terjadi di atas perahu pendekar yang sangat tersohor itu.

"Hei, kemanakah wanita muda tadi?"

Tiba-tiba Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai berseru kepada Keh-sim Siau-hiap.

"Heh benar...! Dan... eh, dimana pula Pek Lian tadi?"

Keh-sim Siau-hiap berdesah pula dengan kagetnya, melihat isterinya juga tidak ada di dekatnya.

"Hong-moi, dimanakah Kwee Hujin (Nyonya Kwee) dan wanita muda itu tadi?"

Souw Thian Hai bertanya kepada isterinya.

"Aku... aku tak tahu..."

Chu Bwee Hong menjawab terbata-bata, kemudian melongok ke dalam bilik perahu.

"Eeeh...!"

Tiba-tiba ia menjerit kecil. Bagai terbang cepatnya Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap menghampiri wanita ayu itu.

"Ada apa...?"

Keduanya bertanya berbareng.

"Lihat...! Ada... ada coretan pedang di atas meja!"

Chu Bwee Hong berkata gugup.

Souw Thian Hai melompat ke dalam, kemudian diikuti oleh yang lain.

Pendekar itu lalu membaca huruf-huruf yang tercoret di atas meja tersebut.

Sebuah coretan yang sangat dalam, menandakan kalau tenaga dalam yang dipergunakan amat tinggi.

Terima kasih atas kebaikan hati keluarga Souw, kelak Siauwte akan datang kembali untuk membayarnya.

Dan di bawah kedua kalimat itu masih ada pula sebuah kalimat lagi.

Tapi coretan hurufnya berbeda.

Bekasnyapun tidak sedalam kalimat yang ada di atasnya.

Kalimat tersebut berbunyi .

Aku mengejar dia!

"Hei!

Yang ini tulisan Pek Lian...!"

Keh-sim Siau-hiap tiba-tiba berseru. Jarinya menunjuk ke kalimat yang terakhir itu.

"Hmmm...!"

Souw Thian Hai menarik napas panjang.

"Wanita muda itu telah pergi. Dan tampaknya... Kwee Hujin mengetahui, lalu berusaha mengejarnya."

"Sungguh berbahaya! Wanita muda itu sangat lihai. Isteriku bukan tandingannya."

Keh-sim Siau-hiap mencemaskan keselamatan Ho Pek Lian. Diam-diam matanya melirik ke sekeliling perahu itu melalui pintu belakang.

"Kemana mereka pergi?"

Desahnya lirih.

"Saudara Kwee tak perlu khawatir serta cemas. Wanita muda itu bukan orang jahat. Tak mungkin dia mencelakakan Kwee Hujin."

Souw Thian Hai menghibur.

"Traaaaang!"

Terdengar denting suara senjata di luar bilik perahu.

Bergegas mereka kembali ke depan.

Dan di sana tampak Put-pai-siu Hong-jin telah bertanding dengan Tiauw Li Ing.

Gadis itu menyerang dengan ganasnya.

Kipasnya yang besar itu menyambar nyambar dengan galak sekali.

Semuanya mengarah ke tempat-tempat yang mematikan.

Gerakannya tampak amat kejam dan bengis, seakan-akan tidak mengindahkan tata-krama dan peri-kemanusiaan.

Souw Thian Hai menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sungguh sayang sekali. Gadis secantik itu menjadi anak Tung-hai-tiauw."

"Benar, saudara Souw. Tak tega rasanya melihat ilmu silat yang kasar dan brutal seperti itu dima inkan oleh gadis secantik dia..."

Keh-sim Siau hiap berdesah dengan suara kesal.

Tiauw Li Ing memang semakin tampak buas dan keji.

Jurus-jurusnya yang licik, kasar dan tanpa mengindahkan aturan-aturan umum itu ternyata telah membingungkan Put-pai-siu Hong-jin juga akhirnya.

Meskipun telah memegang golok kecil kepunyaan Sutenya tadi, manusia sinting itu masih tampak kewalahan juga.

Malah akhirnya sebuah goresan kecil melintang di atas bahunya ketika kipas Tiauw Li Ing tak bisa dielakkan lagi.

"Hwaduh...! Keparat! Sundal busuk...!"

Pekiknya dengan suara kotor.

Mendadak manusia sinting itu membuang goloknya sehingga menancap di lantai perahu kemudian menubruk ke depan seperti orang gila yang tak memperdulikan lagi keselamatannya.

Malahan dadanya seakan-akan sengaja diumpankan ke arah kipas lawan.

Sambil menubruk mulutnya masih meracau pula.

"Perempuan busuk perempuan murahan. Meski cantik tiada harganya. Bak bunga tumbuh di jalanan. Setiap tangan bisa memetiknya...Huah-ha-ha-ha-ha...! Bangsat kurang ajar! Mati kau!"

Serunya seperti orang membacakan sebuah pantun.

Tingkahnya yang seolah-olah mau bunuh diri itu sesaat justru membingungkan hati Tiauw Li Ing.

Kipas yang hampir mengenai dada lawan itu tiba-tiba terhenti.

Sekejap timbul kecurigaan dan keraguan di dalam hati Li Ing.

Jangan-jangan ada sesuatu di balik gerakan lawannya yang aneh itu.

Oleh karena itu Tiauw Li Ing cepat menarik kipasnya, kemudian mengelak ke samping malah.

Dan kecurigaan gadis itu ternyata benar-benar terjadi.

Bersamaan dengan ditariknya kipas itu ke belakang, Put-pai-siu Hong-jin pun tiba-tiba mengubah gerakannya pula.

Kedua lengan bajunya yang lebar itu tampak menampar ke depan, kemudian membanting tubuh ke lantai perahu.

Persis di tempat manusia sinting tersebut menancapkan goloknya!

Sekali lagi Tiauw Li Ing terperanjat!

Begitu pula halnya dengan orang-orang yang ada di atas perahu itu.

Mungkinkah Put-pai-siu Hong-jin benar-benar telah berputus asa?

Apakah karena merasa gagal menubruk kipas lawan, manusia sinting itu ingin mengakhiri hidupnya dengan goloknya sendiri?

Tapi semua itu berlangsung dengan cepatnya.

Tahu-tahu terdengar suara jeritan.

Namun anehnya bukan Put-pai-siu Hong-jin yang menjerit, tapi...Tiauw Li Ing!

Tentu saja semuanya terkejut.

Baca Juga: Kisah Pendekar Bongkok 11

Baca Juga: Petualang Asmara 16

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert