Eps 11 Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Baca online Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo
Cersil Kisah Pendekar Bongkok - Kho Ping Hoo.
Gadis itu menubruk, merangkul leher Sie Liong dan roboh pingsan dalam pelukan lengan kanan Sie Liong yang memangkunya.
"Ling-moi, ah, Ling-moi.... kaumaafkan aku, Ling-moi....!"
Sie Liong merangkul dan mencium pipi yang kotor dengan lumpur itu, dan air matanya pun jatuh membasahi pipi itu.
Kecerdikannya membuka pikirannya dan dia dapat menduga apa yang terjadi.
Ling Ling yang ditinggalkan pada bibi Cili, dan baru hari ini hal itu teringat olehnya lebih dari satu bulan, kurang lebih dua bulan yang lalu, tentu telah pergi meninggalkan rumah bibi Cili dan nekat pergi hendak mencarinya.
Dan agaknya, dangan cerdik Ling Ling telah menyamar sebagai seorang jembel gila untuk menghindarkan godaan para pria yang jahat dan kurang ajar.
Akan tetapi, mengapa tadi nyaris ia diperkosa tiga orang laki-laki muda, hal itu tidak dapat dia menduganya.
Dengan perlahan dan hati-hati, setelah merebahkan tubuh Ling Ling di atas rumput, Sie Liong mengurut tengkuknya.
Ling Ling siuman kembali dan begitu membuka kedua matanya dan dapat bergerak, ia sudah berseru gelisah.
"Liong-ko, di mana engkau....?"
Dan ia pun serentak bangkit duduk. Sie Liong merangkulnya dari samping.
"Aku di sini, Ling Ling...."
Ling Ling menoleh.
"Aihhh, Liong-koko.... engkau benar Liong-koku....!"
Ia merangkul dan menangis seaunggukan di atas dada pemuda bongkok itu.
Sie Liong membiarkan gadis itu menangis, membiarkan ia melepaskan semua kegelisahan dan kedukaan yang diderita selama ini agar larut bersama tangisnya.
Setelah tangisnya mereda karena kehabisan air mata, Ling Ling mengangkat mukanya dari dada Sie Liong dan memandang wajah pemuda itu.
Wajahnya tidak begitu pucat lagi dan matanya kini bersinar, tidak layu dan muram seperti tadi.
"Liong-koko, kenapa engkau pergi begitu lama? Ah, Liong-koko, jangan kau tinggal aku lagi. Lebih baik aku mati saja daripada harus kau tinggalkan lagi, Liong-koko...."
Tiba-tiba in teringat, lalu memandang ke arah lengan kiri pemuda itu.
Wajahnya pucat kembali, matanya terbelalak dan dengan kedua tangannya ia menangkap lengan baju kiri yang kosong, meraba-raba, mencari-cari isi lengan baju itu.
"Liong-ko.... di mana lengan kirimu? Liong-koko, apa yang terjadi....? Engkau.... lengan kirimu.... buntung....?"
Sie Liong mengangguk, akan tetapi dia tersenyum.
Dia tahu bahwa dia kehilangan lengan kiri, akan tetapi diapun sebagai gantinya mendapatkan ilmu yang amat hebat, sehingga kini dia memiliki tenaga yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelum kehilangan lengan kirinya.
"Aku terjebak oleh musuh ketika melakukan penyelidikan. Mereka jahat dan kejam. Lengan kiriku buntung dan aku bahkan nyaris tewas. Tuhan masih melindungiku, Ling Ling, sehingga aku masih dapat bertemu denganmu."
"Liong-koko.... ah, Liong-koko, kasihan sekali engkau...."
Gadis itu meraba-raba, lalu menyingkap baju pemuda itu.
Melihat betapa lengan kiri itu buntung sampai dekat pundak, dan bekas tempat lengan itu kini merupakan luka yang berkeriput, ia merangkul dan menangis sambil menciumi pundak yang tanpa lengan itu, menciumi bekas luka itu.
Ia seolah hendak membersihkan luka itu dengan air matanya.
Sie Liong merangkulnya dengan terharu.
"Ling-moi, kenapa engkau masih selalu mengharapkan aku, ingin hidup bersamaku? Lihat baik-baik, aku seorang laki-laki yang cacat ganda, ya bongkok ya buntung lengan kiriku. Apa yang kau lihat pada diri seorang cacat seperti aku? Apa yang kau harapkan dari seorang seperti aku?"
"Liong-koko, aku.... aku cinta padamu, koko. Biar, aku tidak malu mengaku bahwa aku cinta padamu. Aku memujamu, dan engkaulah satu-satunya laki-laki yang kucinta, bahkan satu-satunya manusia yang kumiliki. Engkau memang cacat, cacat tubuhmu, akan tetapi engkaulah orang yang sebaik-baiknya bagiku. Engkau matahari hidupku. Tanpa engkau, hidupku akan gulita. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku di sampingmu koko, tentu saja.... kalau.... kalau engkau sudi menerima aku, seorang gadis yang bodoh dan buruk, yatim piatu pula."
"Ling Ling...."
Sie Liong merangkul dan mendekap muka itu pada dadanya penuh kebahagiaan.
Baru sekarang dia bertemu dengan seorang manusia lain yang demikian mencintanya.
Dia dapat merasakan benar curahan kasih sayang Ling Ling melalui pandang matanya, melalui sikapnya, melalui suaranya, melalui sentuhannya.
"Ling Ling, akupun cinta padamu. Aku.... aku ingin memperisterimu...."
"Liong-koko! Betapa bahagia hatiku. Aku mau melakukan apa saja asal boleh mendampingimu selama hidupku!"
Sie Liong tersenyum.
"Sekarang yang paling penting engkau membersihkan dirimu dulu dari lumpur itu, bereskan rambutmu dan pakaianmu. Nah, cepat, aku tunggu di sini. Setelah itu, kita pergi ke rumah bibi Cili dan bercakap-cakap."
Ling Ling telah memperoleh kembali kegembiraannya.
Ia bangkit, tersenyum penuh kebahagiaan, menatap wajah Sie Liong dengan sinar mata membayangkan cinta kasih sepenuhnya, kemudian ia berlari-lari menuruni tepi telaga, dan membersihkan muka dan leher, dan tangannya dari lumpur.
Juga rambutnya.
Tak lama kemudian, mereka sudah pergi dari tempat itu.
Biarpun pakaian Ling Ling masih butut, akan tetapi tidak terlalu kotor karena tadi sudah dicucinya, juga rambutnya disanggul.
Karena Sie Liong sendiri juga belum sempat berganti sejak keluar dari dalan kuburan, maka keduanya kelihatan seperti dua orang petani yang baru kembali dari sawah ladang, dengan pakaian ternoda lumpur.
Sambil berjalan menuju ke rumah bibi Cili di Lasha sambil bercakap-cakap Ling Ling menceritakan semua pengalamannya, betapa karena gelisah memikirkan Sie Liong yang tak kunjung pulang, akhirnya ia melarikan diri meninggalkan rumah bibi Cili untuk mencari Sie Liong.
Ia terpaksa menyamar sebagai seorang jembel gila untuk menghindarkan diri dari gangguan pria-pria jahat, presis seperti yang telah diduga oleh Sie Liong.
Sampai kemudian dia diganggu tiga orang pemuda itu dan nyaris diperkosa.
"Akan tetapi, engkau sudah menyamar sebagai seorang jembel gila, bagaimana tiga orang itu masih ingin mengganggumu?"
Sie Liong bertanya heran. Ling Ling tersipu.
"Salahku sendiri. Tadi malam aku bermimpi bertemu denganmu, Liong-ko. Karena itu, aku merasa yakin bahwa hari ini aku akan bertemu denganmu. Pagi tadi, melihat bayanganku di air, aku merasa terkejut dan khawatir membayangkan bertemu denganmu dalam keadaan seperti jembel gila yang kotor. Karena keadaan sunyi, aku lalu mandi bersih dan mencuci pakaianku, lalu memasuki guha. Agaknya, ketika mandi itu, mereka telah melihatku, dan ketika aku memasuki guha, mereka lalu menyerangku dan hendak memaksaku...."
"Ah, kita harus berterimakasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya kepada kita!"
Seru Sie Liong dan gadis itu demikian terheran sehingga ia berhenti melangkah dan memandang wajah Sie Liong dengan heran.
"Berkah? Koko, engkau nyaris tewas, lengan kirimu buntung, dan aku menderita sengsara, menjadi jembel gila kemudian nyaris diperkosa orang, dan engkau mengatakan bahwa kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala berkah-Nya?"
Sie Liong juga memandang kepada kekasihnya dan tersenyum sambil mengangguk.
"Benar, Ling-moi. Itulah berkah-Nya. Bagaimanapun juga ternyata kita berdua masih selamat dan masih dapat saling bertemu, dan yang lebih membahagiakan lagi bagiku, biarpun kini lengan kiriku buntung, engkau masih tetap mencintaku."
"Liong-koko...."
Ling Ling berkata penuh haru.
"Sampai matipun cintaku kepadamu tidak akan pernah berkurang, apalagi hilang. Akan tetapi pendapatmu tentang berkah Tuhan itu sungguh membingungkan hatiku. Jelas bahwa kita berdua baru saja tertimpa kesengsaraan, dan engkau masih menganggapnya sebagai berkah."
"Betapa tidak, Ling-moi? Kita hidup di dunia inipun merupakan berkah Tuhan! Lihat saja sinar matahari yang menghidupkan, hawa udara untuk bernapas, lihat air, angin dan tanah yang menumbuhkan segala keperluan hidup kita! Lihat panca indria kita, mata, telinga, hidung, mulut dan segala perasaan, masih dilengkapi lagi dengan hati akal pikiran. Semua itu berlimpah dengan berkah-Nya. Apapun yang terjadi kepada diri kita sudah dikehendaki oleh Tuhan! Dan segala kehendak Tuhan pun terjadilah! Dan segala kehendak Tuhan merupakan berkah. Otak kita tidak mempunyai kemampuan untuk mengukur, untuk menilai, untuk membuka tabir rahasia yang menyelubungi pekerjaan yang dilakukan kekuasaan Tuhan. Akal pikiran kita bergelimang nafsu daya rendah, maka apabila kita menilai, penilaian itupun bergelimang nafsu dan tentu saja hanya ingin senang sendiri. Penilaian seperti itu menimbulkan baik buruk, untung rugi. Kita tidak tahu apakah artinya suatu peristiwa yang menimpa diri kita. Yang nampak buruk belum tentu buruk, mungkin mengandung hikmah, mengandung berkah tersembunyi. Yang nampak baik belum tentu seperti yang dinilainya, mungkin mengandung ancaman. Jadi, apapun yang terjadi pada diri kita, mari kita serahkan kepada kekuasaan Tuhan dengan penuh kepasrahan, dan mari kita bersukur dan berterimakasih kepada Tuhan."
Ling Ling hanya mengangguk, akan tetapi ia masih bingung untuk dapat menerima maksud dari ucapan itu.
Bibi Cili menerima mereka dengan gembira, akan tetapi juga dengan khawatir, takut kalau-kalau pemuda bongkok yang kini buntung pula lengan kirinya itu menjadi marah.
Ia sudah tahu bahwa pemuda bongkok itu adalah Pendekar Bongkok yang lihai sekali.
Walaupun kini lengan kirinya buntung, ia masih merasa takut.
"Aih, taihiap, nona Ling ini membikin saya bingung setengah mati. Ia pergi tanpa pamit dan saya tidak tahu ke mana ia pergi. Sekarang, tahu-tahu telah kembali dengan taihiap, dan.... ih, pakaiannya seperti ini...."
Sie Liong tersenyum.
"Kami tidak menyalahkan engkau, bibi. Bahkan aku berterimakasih sekali kepadamu. Kedatangan kami ini pertama untuk minta bantuan agar mencarikan pakaian untuk kami, ke dua kalinya sekali lagi aku akan menitipkan Ling-moi di sini, hanya untuk beberapa hari saja."
"Liong-koko! Apa artinya kata-katamu ini? Engkau.... hendak menitipkan aku.... hendak meninggalkan aku lagi?"
Suara itu sudah mengandung isak dan wajah itu berubah pucat, matanya terbelalak penuh protes. Sie Liong tersenyum dan berkata kepada bibi Cili.
"Pergilah, bibi. Carikan beberapa pasang pakaian untuk aku dan Ling-moi. Jangan khawatir, kalau urusanku sudah selesai, pasti harganya akan kuganti, juga akan kuberi imbalan tinggalnya Ling-moi di sini."
"Aih, tidak usah sungkan, taihiap. Keponakanku pemilik rumah makan itu akan memberikan uang berapa saja yang kubutuhkan untuk keperluanmu."
Bibi Cili lalu pergi meninggalkan mereka.
Setelah nyonya rumah pergi, barulah Sie Liong menarik tangan Ling Ling, dirangkulnya gadis yang masih nampak gelisah itu.
"Ling-moi, dengarkan baik-baik. Engkau tahu bahwa kita menghadapi orang-orang yang selain amat jahat akan tetapi juga lihai bukan main. Aku tidak mungkin dapat mendiamkan saja segerombolan manusia itu mengumbar nafsu melakukan kejahatan. Sudah menjadi tugasku untuk menentang mereka yang melakukan kejahatan. Oleh karena itu, aku harus menemui Kim Sim Lama dan membasmi gerombolannya. Dan sungguh tidak mungkin kalau aku harus membawamu serta. Amat berbahaya bagimu. Nah, karena itulah terpaksa aku harus meninggalkanmu lagi di sini, bukan untuk waktu bulanan atau berhari-hari. Aku berangkat pagi, sorenya tentu kembali."
"Akan tetapi, Liong-ko.... setelah apa yang kita alami selama ini, tegakah engkau untuk meninggalkan aku lagi? Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan dirimu?"
"Aku dapat menjaga diri, Ling Ling. Andaikata terjadi apa-apa dengan diriku, hal itu tentu sudah dikehendaki oleh Tuhan dan engkau atau aku atau siapapun juga tidak akan mampu mencegahnya."
"Biarpun aku tidak dapat menolongmu, akan tetapi aku dapat melihatmu, koko! Biar aku harus matipun, kalau bersamamu, aku tidak takut dan aku rela! Koko, jangan tinggalkan aku, bawalah aku...."
Pada saat itu, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun masuk ke dalam rumah itu dengan muka pucat dan napas memburu.
Ling Ling mengenalnya sebagai anak laki-laki yang suka disuruh suruh bibi Cili, yaitu anak tetangga sebelah.
"A-kian, ada apakah?"
Tanyanya melepaskan rangkulan Sie Liong dari pundaknya.
"Ci-ci.... celaka, cici.... bibi Cici.... bibi.... Cili...."
"Ada apa dengan bibi Cili?"
Sie Liong bertanya kepada anak itu.
"Ia.... ia tadi ditangkap oleh beberapa orang dan dipaksa naik sebuah kereta dan dilarikan keluar kota...."
Sie Liong segera dapat menduga siapa yang melakukan hal itu.
Tentu anak buah Kim-sim-pang yang agaknya tahu akan hubungan antara dia dan bibi Cili, maka wanita itu ditangkap.
"Ling-moi, aku harus menyelamatkan bibi Cili...."
Katanya dan sebelum Ling Ling mampu menjawab, Sie Liong sudah meloncat keluar dari rumah itu.
Dia tahu ke mana harus mengejar.
Tak salah lagi, wanita malang itu tentu akan dibawa ke sarang Kim-sim-pang!
Sementara itu, anak yang membawa kabar segera meninggalkan Ling Ling karena dia ketakutan dan bersembunyi ke dalam rumahaya sendiri.
Ling Ling duduk termenung.
Ucapan terakhir Sie Liong masih terngiang di telinganya.
Bagaimanapun juga, ia harus mengakui kebenaran ucapan itu.
Bahkan kini sudah nampak bukti kebenarannya.
Gerombolan penjahat itu telah menculik bibi Cili!
Kalau Sie Liong diikutinya, tentu pendekar itu tidak akan mampu bergerak dengan leluasa.
Ia harus tahu diri.
Ia harus dapat memaklumi tugas seorang pendekar!
Ia telah terlalu mementingkin diri sendiri.
Tidak mungkin seorang pendekar menjadi miliknya sendiri.
Seorang pendekar adalah milik masyarakat, milik mereka yang tertindas, mereka yang lemah dan sengsara karena kejahatan orang lain.
Tiba-tiba ia dikejutkan oleh berkelebatnya bayangan orang.
Tadinya dengan girang dan penuh harap ia bangkit menyambut karena disangkanya Sie Liong yang datang.
Akan tetapi ternyata yang datang adalah seorang pemuda yang sama sekali tidak dikenalnya.
Seorang pemuda yang tampan dan memiliki sinar mata tajam dan aneh.
Ling Ling hendak menjerit akan tetapi sekali pemuda itu menggerakkan tangan, ia roboh terkulai dalam keadaan tertotok lemas dan tidak mampu bersuara.
Di lain saat, tubuhnya sudah dipondong oleh pemuda itu yang membawanya lari melalui pintu belakang dengan gerakan cepat sekali.
Sie Liong melakukan pengejaran dengan cepat keluar kota.
Tak lama kemudian, tepat diduganya, dia melihat sebuah kereta kecil yang ditarik dua ekor kuda dilarikan keluar kota.
Dia mempercepat larinya dan sebentar saja dia sudah berhasil menyusul dan sekali dia melompat, dia telah berada di depan kuda yang menarik kereta dan biarpun dia hanya mempunyai sebuah tangan saja, namun tangan yang mengandung tenaga dahsyat itu sekali tangkap telah membuat kuda terbesar berhenti dan meringkik ketakutan.
Dari dalam kereta berlompatan keluar empat orang laki-laki, juga kusir kereta itu melompat turun.
Mereka barlima sudah memegang senjata golok dan tanpa banyak cakap lagi, mereka sudah menyerang dan mengeroyok Sie Liong!
Akan tetapi, pendekar ini menggerakkan lengan baju kiri yang kosong, tubuhnya berputar seperti sebuah gasing.
"Plak-plak-plak-plak-plak....!"
Lima orang itu bergelimpangan dan roboh tak mampu bangkit kembali.
Sambaran ujung lengan baju tadi telah membuat mereka mengalami patang tulang pundak atau rahang.
Golok mereka beterbangan dan mereka hanya mengaduh-aduh dan tidak mampu atau tidak berani bangkit lagi.
Sie Liong tidak memperdulikan mereka, lalu menghampiri kereta dan membuka pintunya.
Bibi Cili duduk di dalam kereta ketakutan dan menangis.
Sie Liong membimbingnya turun dari kereta.
(Lanjut ke
Jilid 25 -Tamat) Kisah Pendekar Bongkok (Serial 06 -Bu Kek Siansu) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 (Tamat) "Jangan takut, bibi. Mari kita pulang,"
Katanya.
Wanita itu hanya mengangguk, dan berjalan secepatnya untuk meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumahnya.
Sie Liong mengikutinya.
Mereka tidak bercakap-cakap.
Bibi Cili masih ketakutan, dan Sie Liong menduga-duga, mengapa gerombolan itu hendak menculik bibi Cili.
Setelah mereka memasuki rumah bibi Cili, barulah Sie Liong tahu bahwa dia telah tertipu!
Ling Ling telah lenyap!
Dan sebagai gantinya, dia mendapatkan sehelai kertas di atas meja, tertancap sebatang pisau belati.
Cepat direnggutnya kertas itu dan dibaca tulisannya.
Pendekar Bongkok!
Kalau engkau menghendaki kekasihmu selamat, datanglah ke kuil kami!
Kim Sim Lama Sie Liong mengepal surat itu dalam tangan kanannya.
Matanya mengeluarkan sinar mencorong dan dia berkata lirih.
"Kim Sim Lama, kalau engkau mengganggu Ling Ling, demi Tuhan, kubunuh engkau!"
Dan tubuhnya berkelebat lenyap dari depan bibi Cili yang menjadi semakin ketakutan.
"Omitohud.... sampai sedemikian jauhkah tindakan yang dilakukan oleh Kim Sim Lama? Kalau begitu, demi keamanan dan ketertiban dalam kehidupan rakyat di Tibet, terpaksa kami harus mengambil tindakan."
Dalai Lama bicara dengan nada suara serius, setelah dia mendengarkan pelaporan Lie Bouw Tek yang datang menghadap bersama Sie Lan Hong.
Setelah mereka meninggalkan kuburan, di mana mereka melihat kuburan Sie Liong meledak dan melihat Sie Liong yang kini buntung lengan kirinya itu membunuh Thai-yang Suhu kemudian melarikan diri, Lie Bouw Tek mengajak Sie Lan Hong untuk pergi menghadap Dalai Lama kembali.
Dalai Lama adalah seorang pendeta kepala yang tentu saja tidak menuruti gejolak hati yang dikuasai amarah.
Akan tetapi mendengar laporan dari Lie Bouw Tek tentang perbuatan Kim Sim Lama yang sengaja melempar fitnah kepadanya, apa lagi mendengar betapa Kim Sim Lama kini membentuk gerombolan pemberontak dan barbuat kejam terhadap rakyat, dia tidak dapat tinggal diam saja.
Dalal Lama lalu memerintahkan Kong Ka Lama untuk memanggil semua tokoh Lama yang berkedudukan dan berkepandaian tinggi.
Berkumpullah puluhan orang Lama dan diam-diam Lie Bouw Tek kagum.
Ternyata Dalai Lama memiliki banyak orang pandai.
Dia dan Sie Lan Hong mendapat kehormatan untuk ikut dalam perundingan itu, karena pendekar Kun-lun-pai ini telah dianggap berjasa besar memberi keterangan tentang sepak terjang Kim Sim Lama.
Tidak kurang dari duapuluh empat orang pimpinan Lama, dikepalai oleh Konga Sang sendiri, memimpin kurang lebih seratus orang pendeta Lama pilihan dan mereka lalu berangkat menuju ke sarang Kim-sim-pai.
Lie Bouw Tek dan Sie Lan Hong juga berada di antara para pimpinan.
Dan di belakang, menyusul kemudian lima ratus orang pasukan bergerak menuju ke sarang itu pula, mengambil jalan lain untuk melakukan pengepungan.
Di pihak Kim-sim-pang juga para pimpinannya membuat persiapan, akan tetapi persiapan untuk menghadapi Pendekar Bongkok.
Ketika Kim Sim Lama mendengar dari para penyelidik bahwa Thai-yang Suhu tewas dan berada di dalam kuburan Pendekar Bongkok yang sudah kosong, sedangkan Pendekar Bongkok tidak nampak di sana, dia menyebar para penyelidik untuk mencari di mana adanya Pehdekar Bongkok.
Para penyelidik ini yang melihat kemunculan Pendekar Bongkok ketika dia menolong wanita jembel gila dari gangguan tiga orang nalayan.
Mereka melaporkan hal ini kepada Kim Sim Lama yang cepat mengatur siasat bersama para pembantunya yang lihai.
Dia marah sekali mendengar bahwa Pendekar Bongkok masih hidup dan dapat keluar dari dalam kuburan!
Bahkan telah membunuh Thai-yang Suhu!
Tadinya, ketika mendengar bahwa mayat Thai-yang Suhu berada di dalam kuburan dan mayat Pendekar Bongkok lenyap, dia manduga bahwa tentu tokoh Kun-lun-pai itu yang melakukan pembunuhan terhadap pembantunya itu dan melarikan mayat Pendekar Bongkok.
Akan tetapi, ketika dia mendengar laporan para anak buahnya tentang kemunculan Pendekar Bongkok yang menolong gadis jembel gila, dia terkejut bukan main.
Dia segera memanggil semua pembantunya untuk merundingkan hal itu.
"Ahh, bagaimana mungkin dia hidup kembali?"
Thai Hok Lama, orang ke empat Tibet Ngo-houw dan ahli racun itu berseru.
"Mungkin saja dia dapat disembuhkan dari pengaruh racun, akan tetapi bagaimana mungkin dia hidup kalau dikubur dan tidak dapat bernapas selama beberapa hari? Ini tentu ada yang menolongnya ketika dia dikubur. Dan yang tahu akan hal itu tentu Camundi Lama!"
"Hemmm, benar sekali!"
Kata pula Ki Tok Lama, sute dari Lima Harimau Tibet itu.
"Kami memang sejak dahulu tidak percaya kepadanya. Dia seorang yang setia kepada Dalai Lama. Hanya karena dia pandai ilmu pengobatan saja kita tidak membunuhnya."
Kim Sim Lama mengangguk-angguk. Diapun curiga kepada Camundi Lama.
"Panggil Camundi Lama ke sini!"
Teriaknya kepada pengawal.
Sementara itu, mendengar akan lolosnya Pendekar Bongkok, bukan main kaget dan marahnya hati Coa Bong Gan.
Lolosnya Pendekar Bongkok bukan saja membahayakan Kim Sim Lama karena rahasianya tentu akan bocor, akan tetapi juga amat berbahaya baginya sendiri.
Dia telah membacok buntung lengan kiri pendekar itu, dan tentu dia tidak akan tinggal diam saja, dan tentu akan membalas dendam.
Pendekar Bongkok harus didahu-lui!
"Locianpwe, Pendekar Bongkok harus dapat dibasmi, dan saya tahu bagaimana caranya!"
Kata Coa Bong Gan.
Yauw Bi Sian yang hadir di situ tidak banyak bicara.
Memang ia masih merasa menyesal bahwa calon suaminya membuntungi lengan kiri Sie Liong, akan tetapi kini ia semangatnya lemah, dan pula bagaimanapun juga, Pendekar Bongkok adalah pembunuh ayah kandungnya.
"Bagaimana cara itu?"
Tanya Kim Sim Lama, tertarik.
"Dia harus dipaksa datang ke sini. Saya akan memancingnya keluar dari rumah pondokannya, kemudian saya akan menculik gadis jembel gila itu, dan kalau dia sudah tiba di sini, mudah saja untuk membunuhnya!"
Kim Sim Lama tersenyum cerah.
"Bagus sekali! Lengan kirinya sudah kaubuntungi, betapapun lihainya, dia tidak ada artinya lagi. Lakukanlah siasat itu sekarang juga!"
Coa Bong Gan cepat pergi sambil mengajak empat orang pendeta Lama, membawa pula sebuah kereta kecil.
Untuk memancing Sie Liong keluar meninggal-kan rumah bibi Cili, dia menyuruh empat orang pembantunya itu menculik bibi Cili di tempat ramai.
Hal ini disengajanya agar Sie Liong diberitakan orang tentang penculikan itu.
Dan tepat seperti yang telah dia perhitungkan, Sie Liong berlari cepat sekali dari dalam rumah ketika mendengar bahwa bibi Cili diculik orang.
Kesempatan itulah yang dipergunakan Bong Gan untuk memasuki rumah dan menculik Ling Ling, sambil meninggalkan surat tantangan dari Kim Sim Lama kepada Sie Liong, Si Pendekar Bongkok.
Ketika Camundi Lama dihadapkan kepada Kim Sim Lama, pendeta ahli pengobatan itu menghadap sambil tersenyum.
Dia sudah mendengar berita tentang lolosnya Pendekar Bongkok dari dalam ku-buran.
Tidak sia-sialah usahanya menyelamatkan pendekar itu dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukan kalau Kim Sim Lama mencurigainya.
"Camundi Lama!"
Bentak Kim Sim Lama dengan sinar mata tajam mencorong.
"Engkau pengkhianat! Apa yang telah kaulakukan ketika engkau memimpin penguburan Pendekar Bongkok?"
Camundi Lama tersenyum dan merangkap kedua tangan di depan dadanya.
"Omitohud.... pinceng (aku) hanya melakukan yang benar. Kim Sim La-ma, engkau telah menjadi hamba kemurkaan dan kejahatan. Engkaulah yang menjadi pengkhianat, mengkhianati Dalai Lama, mengkhianati kebenaran, mengkhianati manusia dan Tuhan! Pinceng hanya mencegah terjadinya pembunuhan keji terhadap diri Pendekar Bongkok. Pinceng memasang tabung ketika dia dikubur hidup-hidup sehingga dia dapat bernapas melalui tabung."
"Keparat jahanam!"
Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw berseru marah. Kim Sim Lama juga marah sekali mendengar pengakuan Camundi Lama itu.
"Tangkap dia! Akan kusiksa sendiri dia sampai mati!"
Akan tetapi, ketika para pembantu Kim Sim Lama bangkit hendak bergerak, Camundi Lama tertawa.
"Ha-ha-ha, tidak perlu kalian repot-repot. Sekarangpun pinceng akan meninggalkan kalian orang-orang yang menjadi hamba nafsu sendiri. Kim Sim Lama, engkau telah menyebar benih kejahatan yang kelak hanya akan meracuni dirimu sendiri lahir batin."
Setelah berkata demikian, Camundi Lama roboh dan ketika semua orang memeriksanya, dia telah tewas!
Ternyata ketika dipanggil menghadap, kakek ahli pengobatan ini telah mengambil keputusan untuk menelan racun yang kerjanya halus namun pasti.
Ketika Coa Bong Gan datang memondong Ling Ling, Kim Sim Lama menjadi girang sekali.
"Ah, pantas kalau Pendekar Bongkok mencinta gadis ini,"
Katanya sambil memandang Ling Ling yang nampak ketakutan.
"Kiranya gadis ini bukan jembel gila, melainkan seorang gadis yang cantik dan manis. Coa-sicu, biar kami serahkan gadis ini dalam pe-ngawasanau. Jangan sampai ia dapat lolos sebelum Pendekar Bongkok datang memenuhi tantangan kami."
Coa Bong Gan mengangguk girang dan membawa Ling Ling pergi ke kamarnya.
Yauw Bi Sian hanya memandang dengan alis berkerut, namun tidak perduli.
Kini ia tidak perduli apa-apa lagi, tidak perduli apa yang dilakukan Coa Bong Gan.
Ia tidak tahu bahwa semangatnya menjadi lemah karena ia selalu dikuasai oleh kekuatan sihir dari para pendeta Lama pengikut Kim Sim Lama yang selain ahli dalam ilmu silat, juga ahli dalam ilmu sihir.
Sebetulnya, sebagai murid terkasih dari Koay Tojin tidak mudah gadis perkasa ini dikuasai ilmu sihir.
Akan tetapi, pada saat itu, hatinya sedang risau dan bimbang, perasaannya kacau balau.
Sebagian ia merasa dendam dan benci kepada Sie Liong, akan tetapi sebagian pula dari perasaannya ia merasa iba.
Juga perasaannya terhadap Bong Gan bercampur aduk dengan kacau.
Ada rasa suka yang tim-bul dari nafsu berahinya sendiri, akan tetapi juga perasaan muak dan benci, bukan saja melihat bahwa Bong Gan seorang pria yang cabul dan khianat, bermain gila dengan Pek Lan.
Dan perasaan benci ini semakin kuat karena melihat kecurangan Bong Gan yang menyerang dan membuntungi lengan kiri Sie Liong selagi pemuda itu berada dalam keadaan tidak berdaya sama sekali.
Kini Kim Sim Lama, dan para pembantunya, juga Bi Sian, menanti dengan hati diliputi ketegangan.
Beranikah Pendekar Bongkok datang memenuhi tantangan Kim Sim Lama untuk menyelamatkan Ling Ling?
Agaknya, Kim Sim Lama yakin akan hal ini.
Akan tetapi Bi Sian sendiri diam-diam meragukannya.
Bagaimana Sie Liong akan berani datang?
Selain Kim Sim Lama dan para pembantunya terlampau kuat bagi Sie Liong, juga kini Pendekar Bongkok telah buntung lengan kirinya sehingga tentu saja kelihaiannya berkurang banyak!
Selain itu, mengapa pula pamannya itu akan mati-matian mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan seorang gadis peranakan Tibet yang juga tidak amat cantik itu, bahkan kulitnya agak gelap?
Bagaimanapun juga, ia ikut merasa tegang menanti kemunculan Sie Liong, Si Pendekar Bongkok.
Akhirnya, saat menegangkan yang mereka tunggu-tunggu itupun tibalah.
Dan munculnya Pendekar Bongkok sungguh mengejutkan semua orang, termasuk Kim Sim Lama sendiri.
Semenjak penculikan terhadap Ling Ling dilakukan dan semenjak kemunculan Sie Liong si Pendekar Bongkok dinanti, kuil Kim-sim-pang ditutup untuk sementara.
Semua anak buah pendeta Lama dikerahkan untuk melakukan penjagaan ketat.
Akan tetapi betapa mengejutkan!
Ketika Kim Sim Lama dan para pembantunya sedang duduk di dalam ruangan belakang, ruangan luas yang juga dipergunakan sebagai ruangan berlatih silat, duduk berunding untuk mengatur siasat kalau Pendekar Bongkok berani muncul, tiba-tiba saja terdengar suara keras pecahnya genteng di atas ruangan itu dan sesosok bayangan melayang turun dari atas, melalui atap yang berlubang.
Dan bayangan ini bukan lain adalah Pendekar Bongkok yang sudah buntung lengan kirinya!
Sie Liong kini yakin bahwa pengalamannya di dalam kuburan telah mendatangkan suatu tenaga sakti yang luar biasa baginya.
Dia telah dapat menyerap tenaga sakti Intisari Bumi!
Dengan tenaga sakti yang dahsyat itu, dia mampu bergerak dangan kecepatan yang berlipat ganda dibandingkan sebelum dia menguasainya.
Karena itu, maka dia merasa yakin akan dirinya karena walaupun sebelah lengannya telah buntung, namun keadaannya jauh lebih kuat daripada sebelum lengan kirinya buntung.
Dengan tenaga sakti dahsyat itu, dia dapat bergerak ringan bagaikan burung sehingga dia mampu menyelinap cepat memasuki sarang para pemberontak itu tanpa diketahui para penjaga dan setelah mengetahui bahwa Kim Sim Lama dan para pembantunya berada di ruangan silat, diapun meloncat naik ke atas genteng, lalu memasuki ruangan itu memalui atap yang dijebolnya.
"Kim Sim Lama, aku telah datang memenuhi undanganmu. Harap segera kau bebaskan Ling Ling!"
Kata Sie Liong, suaranya juga mengandung wibawa dan karena suara itu dikeluarkan dengan pengerahan tenaga sakti, maka suara itu melengking dan bergema di ruangan itu, mengandung tenaga yang menggetarkan isi dada Kim Sim Lama dan para pembantunya.
Sikapnya tenang saja walaupun dia melihat hadirnya Bi Sian dan Bong Gan di situ.
Dan karena dia belum sempat berganti pakaian, maka pakaian yang melekat di tubuhnya masih pakaian ketika dia dikubur hidup-hidup, dan pakaian itu sudah kotor terkena lumpur.
Lengan baju sebelah kiri tergantung lemas dan kosong.
Sejenak, ucapannya itu bergema di dalam ruangan dan setelah gema itu menghilang, suasana menjadi sunyi sekali, sunyi yang menegangkan.
Akhirnya Kim Sim Lama dapat menguasai kekagetannya dan diapun mengeluarkan suara tertawa untuk mengusir ketegangan dan wibawa Pendekar Bongkok.
Ketika tertawa, Kim Sim Lama bukan sembarang tertawa, melainkan mengisinya dengan khi-kang, sehingga suara ketawanya juga bergema dan menggetarkan jantung.
"Ha-ha-ha-ha, Pendekar Bongkok, atau sekarang menjadi Pendekar Buntung atau Pendekar Bongkok Buntung? Bagus sekali, engkau datang menyerahkan nyawamu. Sekarang hatiku akan yakin bahwa engkau akan benar-benar mati, karena sekali ini kami tidak ingin gagal. Engkau akan mati di tanganku sendiri!"
Biarpun menghadapi ancaman dan berhadapan dengan Kim Sim Lama bersama banyak sekali pembantunya, belum lagi anak buahnya yang puluhan orang banyaknya di luar ruangan, namun Sie Liong masih bersikap tenang.
"Kim Sim Lama, engkau telah menculik Ling Ling, menggunakannya sebagai umpan untuk memancing aku datang. Nah, aku sudah datang memenuhi undanganmu. Bersikaplah sebagai laki-laki sejati, keluarkan Ling Ling!"
"Orang she Sie yang sombong!"
Tiba-tiba Thay Bo Lama, orang termuda Tibet Ngo-houw yang terkenal berangasan itu sudah moloncat dan memaki.
"Tidak perlu engkau menjual lagak. Bukankah engkau datang ke Tibet untuk mencari Tibet Ngo-houw? Nah, kami berlima sudah berada di depanmu. Tidak perlu pemimpin kami yang maju. Hayo kami Tibet Ngo-houw yang mempertanggung jawabkan semua perbuatan kami. Engkau mau apa? Sekali ini engkau tentu akan mati, bahkan tidak kebagian kuburan lagi!"
Empat orang saudaranya sudah pula bangkit.
Mereka semua setuju dengan sikap Thay Bo Lama.
Biarpun pernah mereka berlima mengeroyok namun tidak dapat memperoleh kemenangan, dan baru setelah Kim Sim Lama yang maju mereka semua berhasil menangkap Sie Liong, akan tetapi kini mereka sama sekali tidak takut.
Mereka bahkan memandang rendah pendekar itu dan mereka ingin menebus kekalahan mereka.
Kini setelah pendekar itu kehilangan lengan kiri, mereka yakin bahwa mereka akan mampu merobohkan dan membunuh Pendekar Bongkok.
Sie Liong memandang kepada mereka sejenak, kemudian dia menoleh kepada Kim Sim Lama.
"Kim Sim Lama, apakah omongan Tibet Ngo-houw dan engkau sendiri dapat kupercaya? Tibet Ngo-houw hendak mengeroyok aku, apakah engkaupun akan turun tangan lagi membantu mereka? Lebih baik dari sekarang berterus terang apakah engkau ingin maju sendiri dan mengeroyokku dengan semua pembantumu yang berada di sini? Dan mengerahkan pula semua anak buahmu!"
Sie Liong kini menyapa semua orang dengan pandang matanya dan sejenak pandang matanya hinggap di wajah Bi Sian.
Wanita itu menundukkan mukanya yang berubah agak pucat.
Nyeri rasa hati Sie Liong melihat kehadiran keponakannya sebagai seorang di antara anak buah Kim Sim Lama!
Ucapan ini mengobarkan kemarahan dalam hati Thay Ku Lama, orang pertama dari Tibet Ngo-houw.
Memang dia harus mengakui bahwa seorang diri saja, dia pernah dikalahkan Pendekar Bongkok.
Akan tetapi sekarang, Pendekar Bongkok kehilangan lengan kirinya!
Jangankan dia maju berlima, bahkan seorang diripun agaknya dia akan mampu merobohkan Pendekar Bongkok!
"Pendekar Bongkok, dengarlah!
Kami, Tibet Ngo-houw, akan membunuhmu tanpa bantuan siapapun!
Biarlah kami berlima mampus di tanganmu kalau sampai ada yang membantu kami.
Kau yang sudah hampir mampus ini masih berani bertingkah dan mengeluarkan omongan besar!
Nah, terimalah....!"
Thay Ku Lama meloncat ke depan, dan tiba-tiba dia merendahkan tubuhnya sampai hampir berjongkok.
Terdengar suara berkokokan dari dalam perutnya yang gendut itu.
Kedua lengannya digerakkan menyilang dan selain perutnya yang gendut, juga kedua kakinya mengeluarkan suara berkerotokan kemudian tiba-tiba saja dia meloncat ke depan, kedua lengannya menyerang dengan dorongan kedua telapak tangan ke arah dada Sie Liong!
Sesungguhnya, orang-orang dengan kepandaian setingkat Tibet Ngo-houw ini sudah langka sekali dan sukar dicari tandingan mereka.
Tingkat ilmu mereka, baik ilmu silat atau ilmu batin, sudah amat tinggi.
Dan ilmu pukulan yang dipergunakan Thay Ku Lama itu adalah Hek-in Tai-hong-ciang (Tangan Awan Hitam dan Badai).
Kekuatan yang luar biasa terkumpul di dalam perutnya yang gendut dan seperti seekor katak beracun, begitu kekuatan dari perut itu dilepaskan, maka terciptalah gerak serangan yang amat dahsyat.
Seketika angin menyambar dahsyat dibarengi uap hitam mengepul ketika dua tangan yang terbuka itu meluncur ke arah dada Sie Liong.
Sejak tadi Sie Liong dapat menduga bahwa orang pertama Tibet Ngo-houw itu menyerangnya dengan pengerahan tenaga sakti yang hebat.
Dia tidak merasa takut, bahkan tanpa mengelak dia lalu mendorongkan tangan kanannya menyambut.
"Desss....! Plakkk!"
Lengan baju kiri itu menyusul dengan kecepatan kilat ketika tangan kanannya menyambut serangan lawan.
Pertemuan tenaga sakti yang amat hebat terjadi ketika tangan kanan Pendekar Bongkok bertemu dengan kedua tangan Thai Ku Lama, dan pada saat itu, Thay Ku Lama terkejut sekali, wajahnya seketika pucat dan mulutnya menyeringai kesakitan.
Dia merasa seolah semua tenaganya membalik dan menghantam isi perutnya sendiri.
Pada saat itu, nampak sinar putih menyambar dan mengenai tengkuknya.
Itulah sambaran lengan baju yang kosong, dan begitu terkena lecutan ujung lengan baju ini, Thay Ku Lama terjungkal dan muntah darah!
Ketika empat orang adiknya memeriksa, ternyata orang pertama Tibet Ngo-houw itu telah tewas!
Dalam segebrakan saja, Thay Ku Lama, orang pertama Tibet Ngo-houw, telah tewas di tangan Pendekar Bongkok yang hanya memiliki tangan tunggal, yaitu yang kanan saja.
Empat orang pendeta Lama itu selain terkejut, juga marah bukin main.
They Si Lama sudah mencabut cambuknya, Thay Pek Lama mencabut sepasang pedang.
Thay Hok Lama melolos rantai bajanya, dan Thay Bo Lama juga menyambar tombaknya.
Mereka berempat lalu mengepung dan menerjang dengan ganas.
Somentara itu, Kim Sim Lama memandang dengan wajah agak berubah.
Apa yang baru saja terjadi sungguh mengejukan hatinya bukan main.
Dia tahu betapa lihainya Thay Ku Lama, orang pertama Tibet Ngo-houw dangan ilmu pukulan Hek-in Tai-hong-ciang itu.
Akan tetapi dalam segebrakan saja, Thay Ku Lama tewas di tangan Pendekar Bongkok.
Padahal, Pendekar Bongkok sudah tidak berlengan kiri lagi.
Bagaimana hal ini mungkin terjadi, pikirnya.
Sebelum lengan kirinya buntungpun, Pendekar Bongkok tidak mungkin dapat menewaskan Thay Ku Lama seperti itu.
Mungkinkah dia mendapatkan ilmu baru?
Rasanya hal itu tidak mungkin terjadi.
Baru beberapa hari saja lewat sejak Pendekar Bongkok buntung lengan kirinya.
Sagaimana mungkin dalam waktu beberapa hari saja sudah memperoleh ilmu yang demikian dahsyatnya!
Akan tetapi, kini sepasang matanya terbelalak penuh kekagetan dan keheranan.
Pendekar Bongkok memang jelas bukan Pendekar Bongkok yang tempo hari sebelum lengan kirinya buntung!
Menghadapi hujan serangan empat orang yang sedang marah dan sakit hati itu, Pendekar Bongkok hanya menggerakkan tangan kanan yang mendorong-dorong, dan lengan baju kirinya menyambar-nyambar.
Hebatnya, semua senjata empat orang Harimau Tibet itu selalu terdorong membalik sebelum bertemu dengan tangan kanan, Dan setiap kali bertemu ujung lengan baju kiri, seolah-olah dari tubuh Pendekar Bongkok keluar semacam tenaga sakti yang dahsyat dan yang merupakan perisai yang melindungi tubuhnya.
Setelah Pendekar Bongkok selalu menangkis pengeroyokan lawan seolah hendak menguji tenaga mereka, tiba-tiba Pendekar Bongkok mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya membungkuk ke depan, kaki kanan ditarik ke belakang dan tubuh atasnya yang bongkok itu lurus ke depan.
Tangan kanannya mencengkeram ke depan, dan lengan baju kiri yang tadinya ditarik ke belakang, membentuk garis lurus seperti seekor naga meluncur, tiba-tiba ujung lengan baju kiri yang agaknya membentuk ekor naga itu menyambar ke depan.
Terdengar suara bersiutan dan di-susul pekik dan robohnya ernpat orang pendeta Lama itu susul menyusul.
Kim Sim Lama terbelalak ketika melihat betapa empat orang pembantunya itu roboh untuk tidak bangun kembali karena ternyata mereka telah tewas!
Juga para pembantunya yang lain terbelalak, hampir tidak percaya akan apa yang mereka lihat.
Betapa mungkin pemuda bongkok yang lengan kirinya sudah buntung itu mampu membunuh lima orang Tibet Ngo-houw yang terkenal sakti itu dalam waktu demikian singkatnya?
Kim Sim Lama sendiri menjadi gentar melihat kesaktian luar biasa yang dimiliki Pendekar Bongkok.
Kalau Tibet Ngo-houw roboh dalam waktu demikian singkatnya, dia sendiripun akan sukar untuk dapat menandingi Pendekar Bongkok.
Maka tanpa malu-malu lagi dia lalu mengeluarkan aba-aba, memerintahkan para pembantunya untuk maju mengeroyok.
Juga dia berseru agar pasukan yang berada di luar bersiap-siap mengepung!
"Kim Sim Lama, bebaskan Ling Ling dan aku tidak akan mencampuri urusanmu!"
Bentak Sie Liong, bukan khawatir akan pengeroyokan terhadap dirinya melainkan khawatir akan nasib Ling Ling yang terjatuh ke dalam tangan para pemberontak Tibet ini.
Akan tetapi tentu saja Kim Sim Lama tidak memperdulikan permintaan ini.
Pemuda ini terlalu berbahaya baginya, apalagi sudah membunuh Tibet Ngo-houw, pembantu-pembantu utamanya yang merupakan tangan kanan baginya.
Pendekar Bongkok harus dibasmi!
"Bunuh dia!"
Perintahnya sambil menggerakkan tangan, matanya berkilat marah.
Semua pembantunya sudah menghunus senjata, kecuali Yauw Bi Sian.
Ia hanya duduk termenung.
Ia terkejut dan kagum bukan main melihat pamannya yang dapat membunuh Tibet Ngo-houw sedemikian mudahnya.
Pamannya yang telah buntung lengan kirinya itu ternyata menjadi semakin sakti!
Diam-diam ada perasaan girang menyelinap di hatinya.
Ah, kalau saja pamannya itu tidak membunuh ayah kandungnya, ingin rasanya ia mencabut senjata untuk membantu pamannya menghadapi pengeroyokan semua orang itu!
Ia akan rela mengorbankan nyawanya untuk membela pamannya yang dikasihinya itu.
Akan tetapi, pamannya telah menjadi musuh besarnya, telah membunuh ayahnya, kini ia termangu.
Tidak mau ia ikut mengeroyok.
Memang, ia telah bersumpah untuk membunuh Sie Liong, untuk membalaskan dendam ayahnya, akan tetapi ia tidak sudi mengeroyok Pendekar Bongkok bersama orang-orang yang sesat itu.
Akan tetapi pada saat Sie Liong menghadapi pengepung para pembantu Kim Sim Lama yang terdiri dari orang-orang pandai, di antaranya terdapat Coa Bong Gan, Pek Lan, Ki Tok Lama, dan belasan orang pendeta Lama lain, tiba-tiba terdengar sorak sorai gegap gempita di luar sarang gerombolan pemberontak itu, disusul suara pertempuran besar.
Kim Sim Lama terkejut, apalagi ketika seorang perajurit tergopoh-gopoh melapor bahwa sarang mereka diserbu oleh pasukan yang dipimpin oleh para pendeta anak buah Dalai Lama, Kim Sim Lama cepat melompat keluar dari ruangan itu, diikuti oleh para pendeta Lama lainnya!
Keadaan menjadi geger dan orang-orang agaknya demikian bi-ngung dan panik mendengar bahwa tempat itu diserbu pasukan Dalai Lama sehingga mereka seperti telah melupakan Pendekar Bongkok.
Sie Liong juga tidak tahu harus berbuat apa.
Orang-orang itu berlompatan pergi, juga Coa Bong Gan dan yang tinggal di situ akhirnya hanya dia dan Yauw Bi Sian!
Mereka berdiri saling pandang, dan melihat pandang mata penuh kebencian dari gadis itu, Sie Liong menghela napas panjang.
"Bi Sian...."
Kata Sie Liong lirih.
Akan tetapi, saat itu, ketika mereka berdiri hanya berdua saja di dalam ruangan yang luas itu, Bi Sian teringat akan nasibnya, teringat betapa ayahnya terbunuh oleh pemuda bongkok ini.
Bahkan pemuda bongkok ini yang membuat ia meninggalkan ibunya, merantau sampai bertemu dengan Song Gan dan akhirnya ia ternoda oleh Coa Bong Gan, sutenya sendiri.
Semua ini membuat hatinya terasa perih, dan semua ini gara-gara Sie Liong!
Kalau saja pamannya itu tidak membunuh ayahnya, tentu tidak akan sampai terjadi semua ini!
"Sie Liong, akhirnya kita dapat berhadapan satu lawan satu.
Engkau harus menebus nyawa ayah, Bersiaplah!"
Bi Sian mencabut pedang Pek-lian-kiam.
Akan tetapi, Sie Liong mengerutkan alisnya dan menggeleng kepala dengan sinar mata duka.
Dia maklum bahwa Bi Sian masih menuduh dia sebagai pembunuh Yauw Sun Kok, ayah gadis itu, suami encinya.
Percuma saja dia menyangkal.
"Bi Sian, tolonglah aku. Katakan di mana Ling Ling. Aku akan membebaskannya kemudian pergi dari sini."
Pada saat itu, Bong Gan memasuki ruangan sambil berseru.
"Suci, mari kita pergi!"
Melihat betapa pemuda itu memegang lengan Ling Ling, Sie Liong segera menghampirinya.
"Lepaskan Ling Ling....!"
Bong Gan tersenyum mengejek.
"Mundur kamu, bongkok! Atau.... akan kubunuh gadis ini di depan matamu!"
Mendengar ancaman itu, Sie Liong terkejut dan diapun menahan langkahnya.
Dia dapat menyerang Bong Gan, akan tetapi dia khawatir kalau-kalau pemuda jahat itu akan lebih dulu membunuh Ling Ling.
Melihat sutenya hendak menjadikan gadis peranakan Tibet itu menjadi sandera, Bi Sian mengerutkan alisnya.
"Sute, lepaskan gadis itu!"
"Aih, tidak bisa, suci! Dia lihai sekali, kalau dia bergerak, aku akan bunuh gadis ini lebih dulu!"
Tanpa malu-malu Bong Gan berseru.
"Pengecut!"
Bi Sian memaki.
"Akupun tidak membutuhkan bantuanmu kalau engkau takut kepada Sie Liong. Biar aku sendiri yang akan menuntut balas atas kematian ayahku. Bebaskan gadis itu kataku!"
Bong Gan memandang dengan bingung. Dia menoleh ke luar dan mendengarkan suara pertempuran yang tengah berlangsung di luar.
"Baiklah. Pendekar Bongkok, Sie Liong, janjilah lebih dahulu bahwa engkau tidak akan menyerangku kalau aku bebaskan gadis ini!"
Tentu saja dia merasa takut karena tadi dia melihat sendiri betapa Pendekar Bongkok telah dapat membunuh lima orang Tibet Ngo-houw dengan mudahnya.
Dia tahu bahwa dia bukanlah lawan Pendekar Bongkok yang kini menjadi amat sakti itu.
Dan dia sudah membuntungi lengan kiri Pendekar Bongkok, maka dia merasa jerih kalau-kalau Pendekar Bongkok akan membalas dendam dan membunuhnya.
Sie Liong menatap wajah Coa Bong Gan dengan sinar mata mencorong.
"Kalau engkau tidak mengganggu gadis itu dan membebaskannya, aku tidak akan menyerangmu. Akan tetapi kalau engkau mengganggunya atau membunuhnya, demi Tuhan, lari ke manapun engkau, akan kukejar sampai dapat!"
Bong Gan bergidik melihat mata yang mencorong itu dan dia mendorong tubuh Ling Ling ke arah Sie Liong.
Gadis itu yang sejak tadi diam saja, hanya memandang kepada Sie Liong dengan suka pucat, terhuyung ke arah Sie Liong yang segera menyambut dengan rangkulan penuh kasih sayang.
"Ling Ling...."
"Liong-koko.... ahh, Liong-koko....!"
Dan tiba-tiba saja Ling Ling menangis tersedu-sedan di atas dada Sie Liong.
Air matanya membanjir seperti bendungan pecah.
Kalau tadi ia hanya diam saja dengan muka pucat, kini tangisnya tak dapat ditahan lagi, membuatnya sesenggukan dan tersedu-sedu.
"Suci, mari kita pergi. Pertempuran terjadi di luar. Dalai Lama dan pasukannya telah menyerbu. Kalau terlambat, kita celaka!"
Kata Bong Gan.
"Pengecut, engkau boleh pergi. Aku tidak akan pergi, aku harus membalaskan kematian ayahku. Dia telah membunuh ayah, maka dia harus menebus nyawa ayah, aku akan mati pula di tangannya!"
"Bi Sian, aku tidak membunuh ayahmu...."
Sie Liong yang masih mendekap Ling Ling yang menangis itu, membantah lemah.
"Tidak perlu bohong! Tidak perlu menyangkal, Apakah engkau juga ingin menjadi pengecut yang tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu? Sie Liong, engkau pembunuh ayahku, maka bersiaplah, mari kita selesaikan dengan mengadu nyawa!"
"Sie Liong bukan pembunuh ayahmu, Bi Sian!"
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita dan muncullah Sie Lan Hong bersama Lie Bouw Tek di pintu ruangan itu! "Ibuuu....!"
Bi Sian berseru, memburu kepada ibunya. Mereka saling rangkul.
"Ibu, apa artinya ucapanmu tadi?"
"Bi Sian, anakku. Percayalah, Sie Liong bukan pembunuh ayahmu! Aku yakin akan hal itu!"
"Ibu....!"
Bi Sian memandang kepada ibunya penasaran.
"Kalau bukan dia yang membunuh ayah, habis siapa?"
"Engkau mau tahu siapa pembunuh ayahmu? Dialah orangnya!"
Sie Lan Hong menunjuk ke arah Coa Bong Gan yang seketika pucat dan terbelalak.
Karena semua mata kini ditujukan kepadanya, dia menjadi gentar dan tanpa disadarinya, dia melangkah mundur sampai mepet ke dinding.
"Ibu, apa artinya ini? Sute Coa Bong Gan yang membunuh ayah? Bagaimana pula ini? Ibu, aku bingung, aku tidak mengerti...."
Bi Sian masih meragu karena hal itu dianggapnya tidak masuk akal.
"Tidak benar, suci, itu fitnah saja!"
Bong Gan mencoba untuk membantah, walaupun wajahnya sudah menjadi pucat sekali.
"Diam kau!"
Bentak Bi Sian.
"Ibu tidak akan menuduh dengan fitnah! Ibu, jelaskanlah agar aku dapat mengerti."
"Bi Sian, setelah engkau pergi, aku lalu melakukan penyelidikan tentang kematian ayahmu. Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Malam itu, ayahmu pergi ke rumah pelesir, tempat para pelacur dan ayahmu di tempat itu minum sampai mabok. Akan tetapi, menurut keterangan para pelacur di sana, sebelum ayahmu tiba, di sana ada seorang tamu lain. Ayahmu melihat tamu itu, dan tamu itu-lah yang telah membunuh ayahmu."
"Siapa...., siapa dia, ibu?"
"Tamu itu adalah dia, Coa Bong Gan ini!"
"Bohong!"
Teriak Bong Gan.
"Apa perlunya aku membunuh ayahmu, suci?"
"Hemm, apa perlunya?"
Sie Lan Hong berkata.
"Suamiku telah melihatmu di rumah pelacuran. Dan engkau tentu merasa takut kalau sampai suamiku menceritakan kelakuanmu yang hina itu kepada puteriku. Engkau jatuh cinta kepada puteriku ini, bukan? Tentu engkau tidak ingin puteriku mendengar bahwa engkau berkeliaran dan bermain gila di rumah pelacuran, maka engkau membunuh suamiku yang sedang mabok. Dan untuk menghilangkan jejak, engkau menyamar sebagai adikku dan melempar kedok itu di dekat kamar Sie Liong!"
"Aihh, pantas dia bersikeras untuk membunuhku, dan telah berhasil membuntungi lengan kiriku. Tentu untuk menghilangkan sama sekali jejaknya."
Kata Sie Liong yang masih merangkul Ling Ling.
Bi Sian kini menjadi pucat, sepasang matanya terbelalak memandang kepada Bong Gan, saking kagetnya, herannya dan marahnya ia sampai merasa hampir pingsan.
Ling Ling meronta lepas dari rangkulan Sie Liong ketika mendengar ucapan Sie Liong.
"Liong-koko, jadi dia itulah yang telah membuntungi lenganmu? Keparat jahanam....!"
Ling Ling berlari menghampiri Bong Gan dengan sikap seperti seekor singa betina yang hendak menyerang dengan cakaran dan gigitan.
"Ling Ling, ke sinilah....!"
Namun, seruan Sie Liong itu terlambat.
Bong Gan secepat kilat sudah menyambar lengan Ling Ling dan menelikungnya.
Dia kini tersenyum menyeringai dan memandang kepada semua orang dengan sikap menantang.
"Kalian semua mundur! Kalau ada yang berani maju, akan kubunuh gadis ini!"
Melihat betapa Ling Ling kembali menjadi tawanan Bong Gan, tentu saja Pendekar Bongkok tidak berani berkutik.
Juga Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek yang keduanya sudah memegang pedang masing-masing, tidak berani maju.
Akan tetapi, Bi Sian tidak perduli.
Ia melangkah mnju menghampiri sutenya, pedang Pek-lian-kiam masih di tangannya, matanya tak pernah berkedip, terbelalak memandang kepada pemuda itu.
"Coa Bong Gan.... kau.... kau..... yang telah membunuh ayah?"
Katanya lirih, seperti orang bertanya juga seperti orang meragu dan tidak per-caya.
"Suci, mundur kau! Akan kubunuh gadis ini kalau engkau tidak mau mundur!"
Bentak Bong Gan.
"Bunuh aku! Keparat jahanam kau! Bunuh aku!"
Ling Ling meronta, lalu setelah lengan sebelah terlepas, ia nekat meneakar dan menggigit.
"Hayo bunuh aku! Jahanam busuk kau, bunuh aku! Engkau telah membuntungi lengan Liong-koko! Hayo kau bunuh aku....!"
Dan bagaikan gila Ling Ling menubruk ke arah pedang yang dipegang Bong Gan.
Pemuda ini kewalahan juga ketika Ling Ling meronta, mencakar dan menggigit.
Ketika dia hendak menggerakkan tangan kiri untuk menotok, hal yang tidak mudah karena tubuh gadis itu meronta dan menggeliat-geliat, tiba-tiba Ling Ling de-ngan nekat menubruk ke arah pedang.
Pedang yang runcing itu memasuki perutnya dan darah muncrat ketika dengan lunglai, Ling Ling roboh.
Bong Gan terbelalak dan meloncat ke belakang sambil menarik pedangnya.
"Ling-moi....!"
Secepat kilat Pendekar Bongkok meloncat dan menyambar tubuh Ling Ling yang mandi darah.
Sekali memeriksa, tahulah dia bahwa sia-sia saja menolong gadis itu.
Gadis itu dalam sekarat!
"Ling Ling....
ahhh, Ling Ling....
kenapa kau lakukan itu....?"
Sie Liong menangis, mengguncang tubuh gadis itu dan menciumi mukanya. Ling Ling menggerakkan bibirnya, berkata lirih.
".... aku.... aku lebih baik mati.... koko.... aku tidak berharga lagi.... dia.... dia telah menodaiku...."
Dan iapun terkulai, tewas dan tak bernyawa lagi.
"Ling-moi.... Ling-moi....!"
Sie Liong mendekap mayat yang masih hangat itu dan menangis sesenggukan di atas muka dan lehernya yang basah oleh air matanya.
Dia tidak perduli betapa pakaian dan tubuhnya penuh darah yang mengalir keluar dari luka di perut Ling Ling.
Dia merasa seolah-olah nyawanya sendiri yang melayang.
Baru dia menyadari betapa dia amat menyayang gadis ini, betapa amat berat berpisahan dengannya.
"Jahanam engkau, Coa Bong Gan!"
Sekali meloncat, Bi Sian telah berada di depan pemuda itu, sepasang matanya seperti dua bola api yang bernyala.
"Engkau sungguh seorang manusia berhati iblis! Aku yang dahulu membujuk suhu untuk menolongmu dan mengambilmu sebagai murid! Ternyata engkau lebih rendah daripada seekor binatang! Eagkau telah membunuh ayahku, engkau telah membuntungi lengan kiri tangan kiri paman Sie Liong! Engkau telah menodai aku dengan tipu muslihat, kini aku tahu! Dan engkau masih begitu keji untuk menodai Ling Ling yang menjadi tawanan. Coa Bong Gan, kalau aku tidak membunuhmu, aku akan menjadi setan penasaran!"
Kini Bong Gan kelihatan ketakutan sekali.
Dia tadi hendak mempergunakan Ling Ling sebagai sandera untuk menyelamatkan diri, akan tetapi tak disangkanya, Ling Ling dengan nekat membunuh diri.
Dia menolch ke arah satu-satunya pintu di ruangan itu.
Di situ telah berdiri Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek dengan pedang di tangan, siap untuk menghadangnya dan mencegah dia melarikan diri.
Dan Pendekar Bongkok yang ditakutinya itu masih menangis sambil mendekap mayat Ling Ling!
Kalau saja dia dapat merobohkan sucinya, masih ada harapan baginya untuk menyelamatkan diri selagi Pendekar Bongkok asyik menangisi kematian kekasihnya.
Yang ditakuti hanya Pendekar Bongkok.
Biarpun dia tahu akan kelihaian sucinya, bagaimanapun juga dia sanggup menandinginya.
"Bi Sian, ingat, engkau sudah menjadi isteriku! Mari kita pergi dari sini, melupakan segalanya dan hidup sebagai suami isteri yang berbahagia berdua...."
Dia masih mencoba untuk membujuk, akan tetapi pada saat itu, pedangnya bergerak menusuk ke arah dada Bi Sian.
Memang pemuda ini curang sekali, dan amat licik.
Dia sengaja bicara untuk membuat Bi Sian lengah dan hampir dia berhasil.
Bi Sian yang mendengar ajakannya itu merasa begitu muak sehingga ia menjadi lengah dan ketika Bong Gan menusukkan pedangnya secara tiba-tiba, ia terkejut.
Tidak ada kesempatan lagi untuk menangkis dan ia segera melempar diri ke samping untuk menghindar.
Akan tetapi ujung pundak, pada pangkal lengan, masih tercium mata pedang yang membuat baju dan kulit di bagian itu terobek dan berdarah.
"Jahanam!"
Bi Sian memaki dan kini ia menyerang dengan pedangnya.
Demikian marahnya Bi Sian sehingga serangannya amat ganas dan dahsyat.
Bong Gan yang sebetulnya jerih itu, menangkis dan balas menyerang.
Terjadilah pertandingan pedang yang seru dan mati-matian antara suci dan sute ini, antara dua orang muda yang tadinya akan menjadi suami isteri.
Bi Sian menggerakkan pedangnya penuh semangat dan penuh kebencian, dengan nafsu membunuh berkobar-kobar.
Sebaliknya Bong Gan melawan dengan peraaaan gentar dan bingung.
Dia mengharapkan dapat bertahan cukup lama agar memberi kesempatan kepada kawan-kawannya untuk datang membantunya.
Bong Gan sama sekali tidak tahu bahwa keadaan Kim Sim Lama dan anak buahnya tidak lebih baik daripada keadaannya.
Mereka itu sudah terkepung dan kini Kim Sim Lama bahkan sudah dikeroyok oleh Kong Ka Lama sendiri yang dibantu banyak pendeta Lama yang berkepandaian tinggi.
Dan anak buah pemberontak itupun sudah terhimpit oleh pasukan Dalai Lama, banyak yang roboh dan banyak pula yang terpaksa menyerah karena tidak mampu melawan lagi.
Sie Liong telah mampu menguasai dirinya lagi.
Dia masih memangku mayat Ling Ling, dan kini dia tidak lagi menangis.
Dia mengangkat muka memandang perkelahian yang terjadi antara Bi Sian dan Bong Gan.
Dia merasa iba sekali kepada Bi Sian.
Dia tadi mendengar pula pengakuan Bi Sian bahwa keponakannya itu telah pula dinodai oleh Bong Gan.
Betapa jahatnya pemuda itu.
Kalau saja pemuda itu tidak sedang berkelahi mati-matian melawan Bi Sian, tentu dia sudah menerjangnya.
Pemuda itu terlampau jahat untuk dibiarkan hidup.
Akan terlalu banyak orang yang akan menjadi korban kejahatannya.
Akan tetapi, dia tidak bergerak untuk membantu Bi Sian.
Dia dapat melihat betapa pemuda itu tidak akan mampu mengalahkan Bi Sian.
Biarlah, biarlah Bi Sian yang akan menghukumnya.
Gadis itu lebih berhak.
Sie Lan Hong yang berdiri di ambang pintu untuk menghadang larinya Bong Gan, ditemani oleh Lie Bouw Tek, memandang ke arah perkelahian itu dengan mata basah dan wajah pucat.
Iapun merasa iba kepada puterinya.
Puterinya telah ditipu oleh sutenya sendiri yang jahat, bukan hanya puterinya memusuhi Sie Liong yang tidak berdosa, bahkan puterinya telah dinodai pemuda itu yang ternyata adalah pembunuh suaminya.
Ia dapat merasakan betapa pedih hati puterinya.
Tadi ia hendak meloncat dan membantu puterinya, akan tetapi lengannya dipegang oleh Lie Bouw Tek.
Ketika ia menoleh, pendekar Kun-lun-pai itu menggeleng kepalanya.
"Tingkat kepandaian mereka terlalu tinggi. Berbahaya bagimu dan bagi puterimu sendiri kalau engkau membantu. Kulihat puterimu tidak akan kalah,"
Demikian kata Lie Bouw Tek.
Dia sendiri juga tidak berani membantu karena kalau hal ini dia lakukan, dia bukan membantu Bi Sian, sebaliknya malah akan menjadi penghalang gerakan gadis yang amat lihai itu.
Namun dia tetap berjaga-jaga dan tentu akan membantu kalau sampai puteri wanita yang dicintainya itu terancam bahaya kekalahan.
Pertempuran antara Bi Sian dan Bong Gan kini sudah mencapai puncaknya.
Sudah empat puluh jurus mereka saling serang, dan walaupun Bi Sian selalu berada di pihak yang mendesak, namun Bong Gan masih mampu mempertahankan diri dan belum juga roboh walaupun paha kirinya telah terobek kulitnya, dan juga pangkal lengan kanannya sudah tersayat.
Bi Sian sendiri hanya mengalami luka yang pertama tadi, ketika pangkal lengan kirinya robek kulitnya oleh serangan pertama yang curang.
Kini pedang Pek-lian-kiam lenyap bentuknya, berubah menjadi sinar putih bergulung-gulung dan yang menghimpit lawan sehingga sinar pedang yang dimainkan Bong Gan semakin menyempit.
Pemuda itu didesak terus, berputar-putaran di da-lam ruangan yang luas itu.
Dia maklum bahwa tidak ada jalan keluar melarikan diri, maka diapun melawan mati-matian dan dengan nekat.
"Haiiiittt....!"
Untuk ke sekian kalinya, pedang Pek-lian-kiam yang bergulung-gulung sinarnya itu meluncur dan mencuat ke arah leher Bong Gan, kemudian bertubi-tubi pedang itu menusuk ke arah dada pemuda itu.
Dasar ilmu pedang yang dimainkan Bi Sian adalah ilmu tongkat Ta-kui tung-hoat (Ilmu Tongkat Pemukul Setan) dari Koay Tojin.
Dan jurus yang dimainkannya itu adalah jurus yang disebut Menghitung Tulang Iga.
Tentu saja Bong Gan juga mengenal jurus ini, dan dia sudah memutar pedangnya untuk melindungi bagian dada yang dihujani pedang suci-nya yang ditangkisnya, pada saat itu, Bi Sian menggerakkan tangan kirinya dan dengan jurus pukulan Menghancurkan Kepala Setan, tangan kiri gadis itu dengan tenaga sepenuhnya menghantam ke arah kepala Bong Gan!
"Plakkk!"
Biarpun Bong Gan sudah miringkan kepalanya, tetap saja pelipisnya terkena hantaman itu.
Dia mengeluarkan jerit mengerikan dan tubuhaya terpelanting.
Saat itu, Bi Sian menubruk dan melihat ini, Sie Liong berseru kaget dan heran.
"Bi Sian, jangan....!"
Namun terlambat, ketika Bi Sian menubruk, Bong Gan yang matanya melotot besar itu menusukkan pedangnya.
"Cappp....!"
Pedang itu menembus dada Bi Sian dan keduanya lalu roboh terkulai. Bong Gan tewas seketika, dan Bi Sian merintih-rintih.
"Bi Sian....!"
Sie Lan Hong lari menubruk puterinya yang tidak merintih lagi, melainkan memandang kepada ibunya.
"Ibu.... maafkan.... aku...."
"Bi Sian.... anakku....!"
Sie Lan Hong menjadi lemas dan ia pun pingsan dalam rangkulan Lie Bouw Tek.
Sie Liong juga sudah berlutut di dekat Bi Sian dan kini ia memangku kepala Bi Sian seperti yang dilakukan kepada Ling Ling tadi.
Setelah dia memeriksa, diapun menarik napas panjang.
Pedang di tangan Bong Gan tadi telah masuk terlalu dalam dan sukar menyelamatkan nyawa gadis itu.
"Bi Sian, kenapa kaulakukan itu?"
Tegur Sie Liong.
Dia tahu bahwa gadis itu sengaja membiarkan dadanya ditusuk pedang.
Gerakan gadis yang tadi menubruk merupakan bunuh diri dan dia melihatnya dengan jelas.
"Aku.... untuk apa aku.... hidup lebih lama....? Paman.... kau.... kau mau memaafkan aku....?"
Sie Liong menunduk dan mencium dahi itu.
"Tentu saja.... engkau keponakanku tersayang...."
Bi Sian tersenyum walaupun wajahnya pucat sekali. Terlalu banyak darah membanjir keluar dari dadanya.
"Paman.... kalau aku hidup.... aku hanya akan menderita siksa batin.... menyesali kebodohanku.... aku.... aku ingin mati.... akan kuceritakan kepada ayah.... engkau tidak membunuhnya, engkau.... engkau pamanku yang baik...."
"Bi Sian...."
Sie Liong memeluk dan mendekap kepala keponakannya itu.
"Sudahlah.... jangan banyak cakap.... aku memaafkanmu, engkau keponakanku yang baik...."
"Paman, engkau amat mencinta.... Ling Ling....?"
Diingatkan kepada Ling Ling yang menggeletak tak bernyawa di dekat situ, Sie Liong menoleh lalu memejamkan mata.
Beberapa butir air mata mengaliri kedua pipinya.
Dia mengangguk.
"Aku.... cinta padanya, Bi Sian. Aku.... aku cinta...."
"Dan.... aku? Kau.... sayang padaku, paman....? Bukan? Kau sayang kepadaku....?"
Dalam ucapannya itu terkandung permohonan yang demikian mendalam sehingga bagi Sie Liong merupakan tusukan pedang yang membuatnya tak dapat menahan tangisnya.
Dia mengangguk-angguk saja mengangguk-angguk tanpa mampu menjawab.
"Bi Sian anakku....!"
Sie Lan Hong yang baru saja siuman, mengeluh dan menubruk Bi Sian yang masih dirangkul Sie Liong. Wanita ini menangis terisak-isak.
"Ibu.... katakanlah, engkau.... memaafkan aku, ibu. Paman.... paman Liong juga.... sudah memaafkan aku...."
Bi Sian merangkul di antara isaknya ia berbisik.
"Ibu memaafkanmu.... nak...."
Dan terdengar Bi Sian melepas napas panjang seperti orang yang merasa lega, akan tetapi itu merupakan nafas terakhir.
"Bi Sian....!"
Sie Lan Hong kembali jatuh pingsan.
Pertempuran telah selesai.
Kim Sim Lama dalam keadaan luka-luka berat menjadi tawanan.
Dia akan menjalani hukuman di dalam tempat hukuman khusus di Tibet.
Dihukum dan dikeram sampai akhir hidupnya.
Dalai Lama sendiri datang melayat ketika jenazah Bi Sian dan Ling Ling sudah dimasukkan peti mati dan disembahyangi.
Juga para pendeta Lama datang melayat ketika dua buah peti itu dimakamkan.
Setelah semua pendeta Lama yang melayat berpamit dan meninggalkan ta-nah kuburan, yang tinggal di situ hanya Sie Liong, Sie Lan Hong dan Lie Bouw Tek.
Mereka masih duduk di atas tanah, di depan kedua makam itu.
Mayat para pemberontak yang tewas dalam pertempuran ditanam di sarang mereka yang kini berubah menjadi kuburan yang menyeramkan.
Kini tiga orang itu duduk, tak berani mengeluarkan suara, tidak berani mengganggu keheningan saat itu, setelah semua orang yang berlayat pergi.
Mereka melamun dalam alam pikiran masing-masing.
Sie Lan Hong melamun dan mengenangkan semua riwayat hidupnya yang penuh duri.
Sejak ia seorang gadis remaja, dipaksa menjadi isteri Yauw Sun Kok, sampai melahirkan Bi Sian.
Hidupnya hampir tak pernah bahagia.
Bahkan akhir-akhir ini hidupnya menderita sengsara.
Suaminya kembali ke dalam kehidupannya yang sesat.
Kemudian suaminya terbunuh.
Puterinya yang tadinya lenyap dan kembali menjadi gadis perkasa, menuduh Sie Liong menjadi pembunuh ayahnya dan gadis itu minggat untuk mencari Sie Liong dan membalas dendam.
Betapa ia selalu gelisah dan berduka.
Sampai ia berjumpa dengan Lie Bouw Tek dan timbul harapan baru dalam hidupnya.
Akan tetapi, perjumpaannya dengan puterinya hanya untuk melihat puterinya tewas!
Begitu pahit dan penuh kesengsaraan batin.
Akan tetapi, kini ia hidup sebatangkara, dan ada Lie Bouw Tek di sampingnya.
Akan datangkah masa bahagia dalam hidupnya?
Ia melirik ke arah pria itu.
Lie Bouw Tek juga tengah melamun.
Alangkah jantannya pria itu.
Dan ia tahu betapa pendekar Kun-lun-pai itu amat menyayang dan mencintanya.
Semoga jalan hidupnya di depan akan lancar dan mulus, penuh kebahagiaan untuk menebus masa lalu yang penuh derita.
Lie Bouw Tek juga melamun.
Dia juga membayangkan keadaan Sie Lan Hong, janda menarik yang dicintanya.
Sungguh malang nasibnya, dan dia merasa semakin sayang karena timbul iba hati terhadap wanita itu.
Seorang wanita yang tabah, bertanggung jawab.
Seorang wanita yang akan menjadi isteri yang amat baik.
Dan sudah terlalu lama ia hidup menyendiri.
Dia juga membutuhkan kelembutan seorang wanita, membutuhkan perhatian dan sentuhan cinta kasih seorang wanita.
Selama ini dia tidak pernah tertarik kepada wanita, dan baru setelah bertemu Sie Lan Hong, dia bukan hanya tertarik, bahkan jatuh cinta.
Pada diri Lan Hong dia menemukan segala syarat bagi seorang calon isteri!
Dia ingin membahagiakan hidup wanita itu!
Hidupnya kini mempunyai suatu arah, suatu tujuan.
Ada seseorang yang membutuhkan dirinya!
Dia merasa ada gunanya hidup di dunia ini!
Betapa setiap orang manusia selalu INGIN menjadi sesuatu, ingin ada artinya, ingin menonjol, ingin diakui keadaan dan kepribadiannya.
Betapa setiap orang manusia haus akan hal ini.
Dari seorang kanak-kanak sampai tua renta, semua membutuhkan perhatian, membutuhkan pengakuan.
Semua orang takut akan kehilangan arti dirinya, takut untuk menjadi sesuatu yang BUKAN APA-APA.
Semua orang berlumba untuk menjadi apa-apa, menjadi yang terpenting, terpandai, terkuasa, tertinggi, terbesar.
Justeru keinginan inilah yang menimbulkan konflik dalam kehidupan, menimbulkan konflik dan perebutan, persaingan dan permusuhan antara manusia.
Justeru keinginan untuk menjadi yang "ter"
Inilah yang menjauhkan manusia dari Tuhannya.
Ingin menjadi sesuatu yang berarti ini pekerjaan nafsu daya rendah.
Keinginan nafsu daya rendah ini bagaikan air kotor yang memenuhi botol, sehingga air suci tidak dapat memasukinya.
Mungkinkah selagi hidup ini tidak ingin menjadi sesuatu yang menonjol, tidak menginginkan sesuatu yang tidak ada, melainkan menerima apa adanya sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kasih?
Mungkinkah membiarkan diri kosong dan bersih sehingga cahaya kekuasaan dan cinta kasih Tuhan dapat memenuhinya?
Dengan penyerahan diri, menyerah dengan penuh keikhlasan, penuh kesabaran dan penuh ketawakalan?
Mungkinkah selagi hidup ini memiliki kerendahan hati yang membuat kita sadar sepenuhnya bahwa kita ini sesungguhnya "bukan apa-apa", bahwa yang kita manjakan ini, yang kita namakan "aku"
Ini hanyalah segumpal darah daging penuh nafsu daya randah?
Mungkinkah membersihkan semua kotoran itu dari jiwa yang ditimbuninya, agar jiwa yang berasal dari Tuhan itu dapat memperoleh kembali hubungan kontak dengan Tuhan?
Kecerdikan pikiran jelas tidak akan mampu melakukan ini, karena pikiran hanyalah alat, alat untuk kehidupan jasmari, dan alat inipun sudah bergelimang nafsu daya rendah!
Sie Liong juga termenung.
Selesailah sudah, pikirnya.
Habislah sudah.
Demikianlah hidup.
Semua itu hanya bayangan, seperti awan berarak di angkasa, hanya selewat saja.
Segala cita, segala harapan, segala kesenangan, hanya selewat.
Bukan, bukan itulah hakekat hidup.
Semua yang terjadi itu hanyalah permainan nafsu atas badan.
Akhirnya, semua itu akan musna, seperti gelembung-gelembung udara dalam air.
Apa yang dicarinya dalam hidup ini?
Dan apa yang telah diperolehnya selama ini?
Hanya kepahitan, hanya penderitaan lahir batin.
Dia tidak perlu mencari apa-apa.
Yang dicari itu semua bukan, hanya khayalan kosong belaka.
Bayangan kesenangan hanyalah muka kembar ke dua dari kesusahan, mereka nampaknya bertolak belakang, namun tak terpisahkan.
Apakah dia harus menjadi patah semangat, menjadi mandeg dan mogok, malas melanjutkan kehidupan?
Tidak, sama sekali tidak!
Bahkan dia harus dapat menikmati kehidupan ini, saat demi saat.
Dia harus hidup sepenuhnya, selengkapnya, seutuhnya.
Dia akan berjalan terus dengan tegak dan mantap, tak mengharapkan apa-apa di luar jangkauannya, menikmati setiap langkah hidupnya.
Apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan, patut disyukuri, tak perlu dikeluhkan.
Kehendak Tuhan jadilah!
Dia melangkah terus dalam kehidupan, dengan batin sepenuhnya menyerah kepada Tuhan.
Kekuasaan Tuhan akan menggantikan hati dan akal pikirannya.
Kekuasaan Tuhan yang akan membimbingnya, dan kekuasaan Tuhan yang akan membebaskannya dari pada kekuasaan natsu daya rendah.
Kekuasaan Tuhan yang akan membangkitkan jiwanya, sehingga dia akan hidup sebagai seorang manusia yang seutuhnya, bukan sekedar segumpal darah daging yang dijadikan boneka oleh nafsu daya rendah.
"Sie-taihiap!"
Panggilan itu menariknya kembali dari alam lamunan.
Dia monoleh dan memandang.
Lie Bouw Tek yang memanggilnya.
Dia mengerutkau alisnya, tidak mengenal siapa laki-laki gagah perkasa ini.
Dia hanya tahu bahwa pria ini datang bersama enci-nya, dan melihat pula betapa pria itu akrab dengan enci-nya, bersikap mencinta dan melindungi.
"Maaf, aku belum mengenal siapa toako...."
Katanya ragu. Enci-nya menghampirinya, dan duduk di dekatnya, memegang lengan kanannya sambil mengamati pundak kiri yang tak berlengan itu.
"Adikku, aku tadi belum sempat minta maaf kapadamu. Maafkan encimu ini yang pernah meragukan kebersihan hatimu, Liong-te. Aku pernah meragukan engkau yang kusangka telah membunuh ayah Bi Sian untuk membalas dendam kematian orang tua kita...."
Sie Liong menarik napas panjang dan seketika manghalau semua kenangan itu.
Tidak ada gunanya!
"Sudahlah, enci Hong.
Tidak perlu kita membicarakan hal yang telah lalu.
Bagaimana engkau bisa sampai ke tempat sejauh ini dan siapa pula toako ini?"
Dengan singkat Lan Hong menceritakan tentang penyelidikannya kemudian tentang perjalannya ke Tibet untuk mencari adiknya dan puterinya.
"Dalam perjalanan itu, ketika diserang oleh segerombolan penjahat, Lie-toako ini menyelamatkan aku, Liong-te. Bahkan kemudian Lie-toako mengantar aku sampai ke Lasha dan membantuku untuk mencari engkau dan Bi Sian. Lie-toako mewakili Kun-lun-pai untuk melakukan penyelidikan mengapa Tibet Ngo-houw memusuhi Kun-lun-pai dan selanjutnya kita bertemu di sini."
Sie Liong mengangguk-angguk, tidak tertarik lagi akan cerita mesa lalu yang hanya terisi banyak kenangan yang menyedihkan hatinya.
Dia lalu bangkit dan memberi hormat kepada Lie Bouw Tek sambil berkata.
"Kalau begitu terimalah hormatku dan Terimakasihku bahwa engkau telah menolong enciku, Lie-toako."
"Ah, jangan sungkan, taihiap. Sebagai seorang pendekar besar tentu engkau tahu bahwa tidak ada pertolongan, yang ada hanyalah pelaksanaan tugas menentang kejahatan dan membantu yang menjadi korban kejahatan."
"Lie-toako, setelah apa yang kaulakukan kepada enciku, harap jangan lagi menyebut taihiap kepadaku. Namaku Sie Liong."
"Baiklah, adik Liong, dan terina kasih atas keramahanmu. Kalau boleh aku bertanya, setelah semua peristiwa ini lewat, engkau lalu hendak pergi ke manakah?"
"Liong-te, mari kita pulang saja ke timur. Sudah terlalu lama kita enci dan adik berpisah, dan terlalu banyak kita berdua menderita kesengsaraan. Sudah tiba waktunya bagi kita berdua untuk hidup bersama dengan bahagia, adikku,"
Kata pula Sie Lan Hong dengan suara lembut membujuk. Akan tetapi Sie Liong menggeleng kepala dan manghela napas panjang.
"Maafkan aku, enci. Akan tetapi, aku ingin bebas. Aku ingin manuruti suara hatiku, aku ingin mengikuti gerak langkahku, aku pasrah kepada Tuhan ke manapun aku akan dibimbing."
"Akan tetapi, adikku. Aku ingin berdekatan denganmu. Aku ingin mencurahkan kasih sayangku sebagai enci-mu, ingin menghiburmu...."
Sie Liong tersenyum, bukan senyum bahkan wajahnya nampak cerah.
"Pandanglah aku, enci. Apakah aku membutuhkan hiburan? Semua telah terjadi dan aku tidak merasa menyesal. Kehendak Tuhan terjadilah! Aku tidak tahu mengapa semua ini terjadi kepadaku, akan tetapi Tuhan sudah menghendaki demikian dan aku hanya dapat menerima, penuh keikhlasan dan ketawakalan. Enci Lan Hong, aku tidak khawatir meninggalkan engkau, karena aku melihat bahwa ada seorang yang patut kausayangi, kau hormati, dan kau harapkan perlindungannya."
Sie Liong menatap wajah Lie Bouw Tek yang menjadi kemerahan.
Pendekar Kun-lun-pai ini tersenyum malu-malu, lalu menarik napas panjang dan diapun kini menatap wajah Sie Liong dengan sinar mata jujur.
"Liong-te, sungguh aku kagum sekali. Engkau selain memiliki ilmu yang amat hebat, juga memiliki kewaspadaan. Baiklah, aku ingin berterus terang saja. Tepat seperti yang agaknya telah dapat kauduga, aku jatuh cinta kepada enci-mu. Dan mengingat bahwa ia tidak memiliki anggauta keluarga lainnya, maka aku ingin menggunakan ke-sempatan terakhir ini untuk minta persetujuanmu. Setujukah engkau jika aku melamar adik Sie Lan Hong menjadi isteriku?"
Sie Liong tersenyum gembira dan diam-diam dia semakin suka dan kagum kepada Lie Bouw Tek.
Seorang laki-laki yang jantan.
Seorang pendekar yang gagah perkasa dan jujur.
Cepat dia memberi hormat kepada pendekar itu.
"Lie-toako, aku akan merasa berbahagia sekali kalau engkau menjadi cihu-ku (kakak iparku). Tentu saja aku merasa setuju sepenuhnya. Akan tetapi, semua keputusan kuserahkan kepada enci Lan Hong. Harap engkau ajukan sendiri lamaranmu kepada enci Lan Hong."
Biarpun dia merasa rikuh bukan main, namun sebagai seorang laki-laki yang gagah dan jujur, Lie Bouw Tek lalu menghadapi Lan Hong yang sejak tadi menundukkan mukanya yang menjadi kemerahan.
"Hong-moi, engkau sudah mendengar sendiri percakapan antara aku dan adikmu. Nah, biar aku mempergunakan kesempatan ini, disaksikan oleh adikmu, untuk mengajukan pinangan kepadamu. Hong-moi, sudikah engkau menjadi isteriku?"
Kepala itu semakin menunduk, dan muka itu menjadi semakin kemerahan.
Kemudian, ia mengangkat muka, memandang sedetik kepada Lie Bouw Tek, lalu ia menoleh kepada Sie Liong.
Akhirnya, wanita itu lari dan menubruk Sie Liong sambil menangis!
Sie Liong merangkul dan menepuk-nepuk pundak encinya, tanpa bicara.
Dia membiarkan encinya menangis di pundaknya, pencurahan dari semua keharuan dari hati encinya.
Setelah tangis itu mereda, dia berbisik dekat telinga encinya.
"Enci Hong, aku percaya bahwa sekali ini engkau tidak salah pilih. Kionghi (selamat), enciku yang baik."
Lan Hong mengusap air matanya.
"Liong-te, marilah engkau ikut bersama kami, hidup berbahagia bersama kami..."
Biarpun Lan Hong belum menjawab lamaran Lie Bouw Tek, namun ucapan "hidup bersama kami"
Itu saja sudah merupakan jawaban yang jelas. Dengan lembut Sie Liong melepaskan rangkulan encinya.
"Terimakasih, enci Hong. Aku harus melanjutkan perjalanan hidupku. Kuharap kalian dapat mengerti. Biarlah aku menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat kepada kalian. Semoga Tuhan selalu memberi berkah dan bimbingan kepada kalian. Cihu (kakak ipar), harap jaga baik-baik enciku yang kusayang ini, Enci Hong, selamat tinggal. Aku harus pergi sekarang."
"Liong-te....!"
Lan Hong berseru akan tetapi ia dan Bouw Tek hanya melihat bayangan berkelebat dan Pendekar Bongkok sudah lenyap dari depan mereka.
"Liong-te....!"
Lan Hong berseru dengan isak, dan Bouw Tek sudah merangkul pundaknya.
"Sudahlah, Hong-moi. Biarkan dia menikmati kebebasannya dan jangan memberati dia dengan tangis. Mari, mari kita menyongsong hidup baru. Engkaupun berhak untuk menikmati kebahagiaan hidup, Hong-moi, bersamaku."
Mereka lalu perlahan-lahan melangkah pergi meninggalkan kuburan itu.
Masa depan mereka terbentang luas di mana mereka dapat hidup berbahagia setelah masa lalu yang suram mereka lewati.
Pemberontakan yang dipimpin Kim Sim Lama itupun habis riwayatnya.
Kim Sim Lama ditawan dan menjalani hukuman.
Semua pembantunya, termasuk pula Pek Lan, tewas dalam pertempuran melawan para pendeta Lama dan pasukan pengikut Dalai Lama.
Juga pasukan Dalai Lama menyerang dan memukul mundur pasukan pemberontak Nepal yang dipimpin Pangeran Maranta Sing dan mengusir mereka dari daerah Tibet.
Daerah Tibet seluruhnya menjadi aman dan rakyat mulai dapat hidup tenteram.
Di lembah bukit-bukit yang sunyi, berjalanlah Pendekar Bongkok Sie Liong seorang diri.
Keheningan menyelimuti seluruh alam di sekitarnya, namun Sie Liong tidak merasa kesepian.
Hening akan tetapi tidak kesepian.
Dia merasa menyatu dengan alam sekitarnya.
Kekuasaan Tuhan berada di mana-mana, di dalam dan di luar dirinya sehingga dia tidak merasa terpisah, tidak merasa kesepian.
Nama Pendekar Bongkok kemudian dikenal di seluruh dunia persilatan, walaupun jarang ada yang pernah bertemu dengan dia.
Hal ini adalah karena Pendekar Bongkok tidak pernah mau kembali ke selatan.
Dia merantau di sepanjang gurun Gobi dan di manapun dia berada, dia selalu menentang kejahatan, membela yang benar dan lemah.
Para pedagang dan mereka yang melakukan perjalanan di daerah Gobi, yang pernah mendapatkan pertolongan Pendekar Bongkok ketika mereka mengalami marabahaya, ketika mereka diancam gerombolan perampok, mereka itulah yang mengabarkan nama besar Pendekar Bongkok di dunia kang-ouw di selatan.
Namun Pendekar Bongkok sendiri tidak pernah mau meninggalkan Gurun Gobi, bahkan dia tidak pernah mau memperkenalkan diri atau namanya sehingga orang-orang yang tidak mau mempergunakan julukan ejekan Pendekar Bongkok itu lalu menyebutnya Gobi Bu-beng Lojin (Orang Tua Tanpa Nama dari Gobi).
Sie Liong memang maklum sepenuhnya akan keadaan dirinya.
Dia bukan saja bongkok, akan tetapi juga lengan kirinya buntung.
Orang tapadaksa seperti dia hanya akan menerima ejekan dan penghinaan saja di dunia ramai.
Juga dia tidak lagi mengharapkan kasih sayang wanita, karena dia maklum sepenuhnya bahwa cinta antara pria dan wanita adalah cinta nafsu, cinta berahi yang selalu menuntut keindahan rupa, daya tarik lahiriah.
Dan untuk itu, dia sudah tidak mempunyai daya tarik sama sekali.
Tidak mudah menemukan seorang wanita seperti Ling Ling, atau seperti Bi Sian, yang tidak begitu terpengaruh oleh keindahan rupa.
Tidak, dia tidak akan melibatkan diri dengan seorang wanita!
Tentu saja lain halnya kalau memang Tuhan menghendaki lain.
Dia hanya pasrah.
Hanya kalau nafsu daya rendah yang membentuk si-aku tidak lagi menguasai diri, hanya kalau hati dan akal pikiran tidak lagi bersimaharajalela, jiwa akan mendapatkan kembali kontaknya dangan kekuasaan Tuhan!
Dan kalau sudah begitu, kekuasaan Tuban akan bekerja dalam diri.
Keadaan seperti ini tidak mungkin dapat ditimbulkan karena usaha pikiran, karena pikiran adalah si-aku, yang lapuk, si-aku yang mengaku-aku.
Hanya dengan melenyapkan diri yang mengaku-aku, merendahkan dan mengecilkan diri, hanya dengan pasrah yang tulus ikhlas, maka diri lahir batin akan dibersihkan oleh kekuasaan Tuhan, kemudian kekuasaan Tuhan akan bersemayam, membangkitkan jiwa.
Hanya kalau sudah demikian, maka kita dapat htdup seutuhnya, bebas daripada cengkeraman nafsu daya rendah yang telah kembali kepada kedudukan dan tugasnya semula, yaitu menjadi alat dan pelayan.
Demikianlah, kisah ini ditutup dengan harapan pengarang, semoga ada suatu manfaat yang dapat dipetik, dan semoga Tuhan memberkahi dan membimbing kita sekalian.
Sampai jumpa di lain kisah.
TAMAT