Eps 5 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Apalagi ketika terlihat oleh mereka Tiauw Li Ing terhuyung ke belakang seraya mencengkeram lengan kirinya, yang tergores ujung golok Put-pai-siu Hong-jin.
Namun ketika semuanya masih tertegun melihat keanehan itu, tiba-tiba Put-ming-mo telah bertepuk tangan dengan kerasnya.
"Bagus... bagus! IImu Chuo-mo-ciang suheng memang sangat sempurna! Hah-ha-hah-hah...!"
Soraknya gembira.
"Tapi... kurang cepat sedikit! Seharusnya lengan gadis itu sudah terpotong oleh mata golok itu! Tidak cuma tergores oleh ujungnya..."
Put-ceng-li Lojin menyambung.
Tampaknya Put-pai-siu Hong-jin sendiri juga menyadari kalau serangannya sedikit mengalami kegagalan.
Namun karena sabetan goloknya yang tak terduga itu dapat juga melukai lengan lawannya, maka ia tidak terlalu merasa menyesal karenanya.
Sebaliknya mulutnya yang lebar itu malah tertawa gembira karena keadaan mereka menjadi berimbang sekarang.
Yaitu sama-sama tergores pada bagian lengan mereka.
"Hah-heh-hah...! Kuntilanak busuk! Tampaknya kau lihai juga, karena bisa mencium bahaya yang diakibatkan oleh jurusku tadi. Coba kau tadi tidak lekas-lekas menarik kipasmu.. he-he-he akan ada kuntilanak buntung di sini."
Hampir saja Tiauw Li Ing tak bisa mengendalikan lagi kemarahannya.
Tapi gadis itu segera teringat bahwa lawan yang ia hadapi kali ini benar-benar di luar dugaannya, dan hampir saja ia tadi terjerumus ke dalam kesukaran.
Oleh karena itu dengan sangat hati-hati ia mempersiapkan dirinya.
Demikianlah, pertempuran selanjutnya sungguh-sungguh merupakan pertarungan yang sangat seru, aneh, namun juga sangat menggelikan!
Masing-masing memiliki ilmu silat yang amat aneh dan menggiriskan hati.
Meskipun demikian dengan kekonyolan dan kekocakannya Put pai-siu Hong-jin sering kali membuat gerakan dan tingkah laku yang mengundang senyum dan tawa para penontonnya.
Apalagi mulutnya yang lebar dan berbibir tebal itu tak henti-hentinya 'berkicau' dengan segala macam pantun dan syair yang tak keruan artinya.
"Hei! Hei, tahannn...! Berhenti dulu!"
Mendadak Manusia Sinting itu menjerit-jerit sambil memegangi perutnya.
"Ada apa...?"
Lawannya berhenti menyerang dan berteriak.
"Aku... aku...perutku tiba-tiba terasa sakit. Sudah tiba saatnya bagiku untuk... untuk berak di pagi hari. Lihat...! Matahari telah terbit! Ouuhh...perut bangsat..perut celaka! Beginilah kalau sudah terbiasa berak di pagi hari."
Put-pai-siu Hong-jin meratap sambil memilin-milin perutnya. Lalu tanpa mempedulikan orang-orang yang melihatnya, Put-pai-siu Hong-jin 'menarik"
Celananya ke bawah dan berlari ke pinggir perahu.
Namun belum sampai ia berjongkok, Tiauw Li Ing sudah keburu menyerangnya dengan jarum-jarum beracunnya.
Tampaknya arena merasa jijik, malu dan amat terhina dengan tingkah laku Put-pai-siu Hong-jin tersebut Tiauw Li Ing lalu bermaksud membunuh saja lawannya dengan taburan jarum beracunnya itu.
"Hei-hei! jangan serang dulu! Wah... wah, bagaimana ini?"
Put-pai-siu Hong-jin berjingkrakan sambil memegangi pantatnya. Otomatis celananya melorot ke bawah. Tempat itu seketika menjadi riuh dengan gelak dan tawa.
"Benar-benar gila! Orang itu sungguh tidak punya rasa malu sama sekali, ah-ah-ah...!"
Keh-sim Siau-hiap yang jarang sekali tertawa itu ternyata tak kuasa menahan senyumnya pula.
"Itulah sebabnya dia disebut Put-pai-siu Hong-jin (Si Gila Yang Tak Punya Malu). Bukankah demikian, Lojin?"
Hong-Gi-Hiap menyahut pula sambil tertawa.
Matanya melirik ke arah Put-ceng li Lojin, Ketua Aliran Bing-kauw.
Put-ceng-li Lojin mendengus, namun tak menjawab.
Seluruh perhatian Ketua Aliran Bing-kauw itu sedang tertuju kepada keponakan muridnya.
Tapi sementara itu di pihak lain, Tiauw Li Ing menjadi semakin marah dan jijik menghadapi lawannya.
Tanpa berani melihat langsung ke arah lawannya dia tiba-tiba menyerang lagi dengan senjata rahasianya.
Namun kali ini caranya lain.
Dan senjata rahasia yang dipakainyapun juga lain pula.
Amgi atau senjata rahasia yang dilontarkan oleh Tiauw Li Ing sekarang berwujud pisau kecil-kecil sebesar jari tangan.
Jumlahnya tujuh batang.
Dilemparkan secara berurutan, susul-menyusul dalam kecepatan tinggi.
Hanya saja tenaga yang dipergunakan tidak sama, sehingga kecepatannyapun tidak sama pula.
Semuanya menebar seolah-olah mengurung tubuh Put-pai-siu Hong-jin.
Put-ceng-li Lojin terloncat saking kagetnya.
Ilmu melempar pisau itu sungguh hebat bukan main, dan rasa-rasanya ia pernah melihat cara-cara melempar pisau seperti itu.
Tapi untuk sesaat ia lupa di mana ia melihatnya.
Ternyata tidak cuma Put-ceng-li Lojin yang terkejut menyaksikan cara gadis itu melemparkan pisaunya.
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap pun ternyata tidak kalah pula kagetnya.
Sebagai seorang datuk-datuk persilatan merekapun segera mengenali pula kehebatan ilmu melempar pisau tersebut.
Dan ternyata keduanya cepat mengenali pula asal-usul ilmu melempar pisau yang dahsyat tersebut.
Sudah sejak be ratus-ratus tahun yang lalu hidup semacam legenda atau dongeng di kalangan rakyat, yaitu tentang kehidupan orang-orang sakti yang pernah hidup di negeri mereka.
Begitu populernya nama-nama orang sakti itu sehingga meskipun mereka hidup di zaman yang berbeda-beda, nama mereka diungkapkan di dalam sebuah sanjak atau nyanyian rakyat yang sangat terkenal.
Menjadi pendekar gagah perkasa.
Ada tiga jalan untuk mencapainya.
Pertama di atas Gunung Hoa-san Kedua di tengah Gurun Gobi Dan terakhir di Lembah Tak Berwarna.
Walaupun di dalam nyanyian tersebut tak disebutkan nama-nama orang sakti yang bertempat tinggal di tiga tempat itu, namun setiap orang sudah tahu bahwa yang dimaksudkan adalah Keluarga Souw beserta anak-keturunannya di Gunung Hoa-san, Keluarga Bok turun-temurun yang bertempat tinggal di tengah-tengah Gurun Gobi dan terakhir adalah keturunan Keluarga Tok yang berdiam di Lembah Tak Berwarna.
Ketiga buah keluarga atau marga itu menjadi tenar pada waktu atau zaman yang berlainan.
Namun demikian kemashuran mereka benar-benar membekas dan dicatat di dalam hati setiap orang turun-temurun hingga sekarang.
Keluarga Souw menjadi tersohor dan terkenal di mana-mana pada lebih kurang se ratus lima puluhan tahun yang lalu, yaitu ketika salah seorang di antara keluarga mereka sekaligus mengalahkan empat orang Datuk Persilatan yang termashur pada waktu itu.
Padahal keempat orang itu sudah dianggap sebagai tokoh besar yang tak terkalahkan di sepanjang zaman, (Baca.
Darah Pendekar).
Itulah pula sebabnya sampai sekarang Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang juga keturunan Keluarga Souw sangat dihormati orang karena kesaktiannya.
Sedangkan Keluarga Bok yang tinggal di tengah-tengah Gurun Gobi menjadi buah bibir di seluruh negeri pada zaman yang lebih tua lagi, yaitu pada zaman Chan Kuo atau Zaman Peperangan Antar Negara di masa Kerajaan Chuo Timur.
Pada zaman itu muncullah seorang pendekar besar yang mahir segala macam kepandaian, baik ilmu silat, ilmu perang, ilmu perbintangan, ilmu melempar senjata rahasia, ilmu sastra dan segala macam ilmu kepandaian lainnya.
Pendekar itu bermarga Bok dan digelari orang Pendekar Serba Bisa.
Di dalam kemelut peperangan yang melibatkan beberapa negara itu nama Pendekar Serba Bisa sangat tersohor dan ditakuti orang.
Kepandaiannya yang aneh-aneh di luar jangkauan otak manusia yang hidup pada zaman itu sungguh membuat lawan-lawannya merasa segan dan ngeri menghadapinya.
Dan biarpun selama be ratus-ratus tahun kemudian tiada seorangpun diantara keturunan keluarga itu yang menonjol, namun nama keluarga tersebut telah terlanjur terpateri di dalam hati sanubari rakyat sampai sekarang.
Dan yang terakhir adalah Keluarga Tok.
Keluarga Tok hidup di lembah Tak Berwarna, yaitu sebuah lembah terpencil di kaki Pegunungan Kun lun-san yang maha luas itu.
Di dalam Lembah yang luas dan penuh rawa-rawa ganas tersebut hidup sebuah keluarga besar bermarga Tok.
Begitu besar jumlah mereka sehingga tempat tinggal mereka tak ubahnya dengan sebuah perkampungan penduduk yang luas.
Selain berkepandaian sangat tinggi rata-rata mereka mahir membuat racun dan membikin alat-alat pembunuh yang lain, sehingga anak-keturunan mereka selalu ditakuti orang dimana mana.
Begitu mahirnya keluarga itu membuat alat-alat pembunuh, hingga orang yang memiliki kesaktian dan kekuatan yang maha besarpun harus berpikir seribu kali untuk berhadapan dengan mereka.
Untunglah para anggota keluarga itu sangat suka menyendiri serta tidak suka berkelana atau keluar dari dalam lembah mereka.
Demikianlah, ketika Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan Keh-sim Siau-hiap melihat cara-cara Tiauw Li Ing melemparkan pisaunya, mereka segera teringat akan dongeng Keluarga Bok yang serba pandai itu.
Cara-cara melemparkan pisau tersebut tentulah ilmu melempar pisau dari keluarga Bok itu.
Tapi yang menjadi pertanyaan di dalam hati mereka adalah, dari mana gadis itu memperoleh pelajaran tersebut?
Apakah gadis itu telah menjadi anak-murid Keluarga Bok yang sudah be ratus-ratus tahun tidak terdengar beritanya itu?
Sementara itu ketujuh batang pisau yang dilemparkan oleh Tiauw Li Ing tadi telah mendekati sasarannya.
Lima jengkal dari tubuh Put-pai-siu Hong-jin tiba-tiba terjadi letupan kecil di masing-masing ekor pisau tersebut.
Dan selanjutnya pisau-pisau itu seperti berloncatan berganti arah, sementara kecepatannya juga bertambah menjadi berlipat-ganda.
Put-pai-siu Hong-jin yang sedang berjingkrakan karena celananya melorot turun itu menjadi kaget setengah mati.
Sekejap ia menjadi bingung melihat gemerlapannya sinar pisau yang menyambar ke arah tubuhnya itu.
Dengan cepat ia membanting tubuhnya ke belakang.
"Brroooooott...!"
Disertai dengan suara kentut yang keras, segumpal kotoran terjatuh dari pantatnya! "Plok!"
Baunya jangan ditanya lagi. Dan pantat yang tipis itu persis jatuh, menimpa kotoran itu pula.
"Ceprot!"
"Bangsat... keparaaaaaat!"
Manusia sinting itu mengumpat dengan hidung cengar-cengir.
Namun betapa kagetnya dia tatkala pisau-pisau yang dihindarinya itu masih mengejarnya juga!
Di dalam kebingungannya Put-pai-siu Hong-jin berguling ke kiri, sehingga tubuhnya tercebur ke dalam air telaga.
Tapi dengan demikian ia bisa terhindar dari keganasan pisau-pisau terbang itu.
"Aaaah...!"
Tanpa terasa Hong gi-hiap, Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lojin berdesah lega bersama-sama.
Selanjutnya mereka bertiga mengawasi Tiauw Li Ing yang masih sangat muda itu dengan kening berkerut.
Mulut mereka berdecak menyaksikan kedahsyatan ilmu si gadis yang sangat berbahaya itu.
"Hei... dimanakah perempuan berkulit ular tadi?"
Tiba-tiba si gadis yang merasa telah memperoleh kemenangan itu berseru. Tangannya bertolak pinggang.
"Ah, benar! Dimanakah dia?"
Tung-hai Nung-jin yang sekarang seperti terbuka matanya melihat kelihaian Tiauw Li Ing, tiba-tiba tersentak kaget pula.
"Dia sudah pergi..."
Dengan halus Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai memberi keterangan. Tapi keterangan tersebut tak dipercaya oleh Tiauw Li Ing.
"Apa? Dia sudah pergi? Huh... bohong! Tentu kalian sembunyikan di dalam perahu!"
Bentaknya keras tanpa merasa takut atau hormat sama sekali kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Merah juga muka pendekar besar itu dibuatnya.
Namun dengan kebesaran jiwanya pendekar yang telah kenyang makan asam-garam kehidupan itu menahan hatinya.
Sekali lagi dengan tenang ia menjawab.
"Buat apa kami menyembunyikannya?"
"Buat apa? Huh... jangan berlagak bodoh! Tentu saja untuk memiliki keterangan tentang Ceng-liong-ong itu! Apa lagi?"
Sergap gadis itu dengan suara tetap tinggi.
Ternyata Chu Bwee Hong lah yang tak tahan melihat suaminya dibentak-bentak sedemikian rupa.
Sambil menggendong anaknya wanita ayu itu me langkah ke depan.
Wajahnya yang cantik itu tampak kemerah-merahan.
"Gadis tak tahu diri! Kau jangan sembarangan menuduh dan membentak-bentak orang! Kau kira siapa suamiku itu? Hmmh... bocah yang tak tahu tingginya langit!"
Geramnya marah. Tapi ternyata gadis itu tak menjadi gentar karenanya. Sambil bertolak-pinggang ia menyongsong kedatangan Chu Bwee Hong.
"Memangnya kenapa kalau aku membentak-bentak Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Kau kira aku ketakutan mendengar namanya? Huh... cuma sebuah nama kosong belaka!"
Dapat dibayangkan betapa marahnya Chu Bwee Hong mendengar perkataan itu. Sambil melemparkan anak yang digendongnya itu kepada suaminya ia membentak pula.
"Anak yang tak tahu adat! Kau memang layak untuk diberi pelajaran agar tahu sopan sedikit!"
"Hah... jangan terlalu besar kepala! Lebih baik Hong-Gi-Hiap saja yang maju! Kau bukan lawanku!"
Tiauw Li Ing menjawab dengan suara di hidung.
"Tutup mulutmu...!"
Chu Bwee Hong berteriak lalu menyerang.
"Hong-moi!"
Souw Thian Hai berusaha mencegah isterinya, tapi tak berhasil.
Kedua wanita itu sudah terlanjur berkelahi dengan sengitnya.
Chu Bwee Hong yang masih cucu-murid Bu-eng Sin-yok-ong, datuk persilatan yang tersohor itu, menyerang lawannya dengan Kim hong-kun-hoat yang dilandasi dengan tenaga sakti Pai-hud sinkang.
Dan ilmu warisan Bu-eng Sin-yok-ong itu menjadi semakin dahsyat di tangannya karena ia mengerahkan pula Pek-in Ginkangnya.
Tiauw Li Ing masih tetap memainkan ilmu silatnya yang kasar dan buas.
Ia tidak perduli lawannya bertangan kosong.
Kipasnya yang besar itu menyambarnyambar dengan ganasnya.
Sesekali terdengar teriakannya yang keras dan nyaring.
Meskipun ilmu silat Chu Bwee Hong lebih halus dan kurang garang, namun lambat laun ternyata dapat mengatasi ilmu silat Tiauw Li Ing yang garang dan bengis itu.
Tapi hal itu justru sangat menggelisahkan hati Souw Thian Hai.
Pendekar sakti itu malah mengkhawatirkan nasib isterinya bila pada suatu saat nanti Tiauw Li Ing menjadi marah dan mengeluarkan pula senjata-senjata rahasianya.
Tapi apa yang dilakukan oleh Tiauw Li Ing selanjutnya ternyata sangat mengejutkan pendekar sakti tersebut.
Ketika menyadari bahwa dirinya terdesak, gadis itu ternyata tidak mengeluarkan senjata-senjata rahasianya.
Sebaliknya gadis itu hanya mengubah cara bersilatnya saja.
Namun bentuk ilmu silat si gadis itulah yang justru mengejutkan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai!
IImu silat tersebut jauh berbeda dengan ilmu silat yang buas dan kasar tadi.
Ilmu silat yang dikeluarkan oleh gadis itu sekarang amat indah, gagah dan tangkas.
Gerakan-gerakannya sangat kuat dan mempesonakan.
Sepintas lalu saja Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai segera mengenalnya.
Meskipun tak paham tapi pendekar itu sudah sering melihatnya, karena ilmu silat tersebut adalah ilmu silat andalan Aliran Im-Yang-kauw.
Hanya yang sangat mengherankan hatinya, mengapa gadis itu juga bisa memainkan ilmu silat Aliran Im-Yang-kauw pula?
Diam-diam Souw Thian Hai menjadi curiga kepada gadis itu.
Ilmu silat andalan Im-Yang-kauw itu tak sembarang diberikan kepada orang lain selain kepada para anggauta aliran itu sendiri itupun dibatasi, yaitu hanya diberikan kepada para anggota yang telah memenuhi syarat-syarat tertentu.
Lalu mengapa sekarang gadis itu bisa memainkannya juga?
Apalagi dilihatnya gadis itu mampu mengerahkan Im-Yang Sinkang (tenaga sakti Im dan Yang) dalam takaran yang mendekati kesempurnaan pula.
Bukankah hal itu sangat mengherankan sekali?
Seperti yang telah diduga oleh Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai sebelumnya, isterinya segera ganti terdesak oleh ilmu silat Tiauw Li Ing tersebut.
Ilmu silat warisan Bu-eng Sin-yok-ong yang hebat itu ternyata tak mampu membendung ilmu silat andalan Im-Yang-kauw tersebut.
Namun seperti yang telah diduganya pula, isterinya segera mengubah juga cara bersilatnya.
Kali ini isterinya memainkan ilmu silat andalannya pula, yaitu Ilmu Silat Bidadari Bersedih.
Seperti telah diketahui bahwa semua ilmu warisan keluarga Souw itu hanya bisa diberikan dan dipelajari oleh anak keturunan keluarga itu sendiri.
Maka dari itu meskipun telah menjadi isteri Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai, Chu Bwee Hong tidak dapat memainkan ilmu silat keluarga Souw yang terkenal itu.
Namun demikian wanita ayu tersebut juga memiliki sebuah ilmu silat yang tak kalah hebatnya pula, yaitu Ilmu silat Bidadari Bersedih.
Sebuah ilmu silat yang diciptakan oleh Put-ceng-li Lojin ketika wanita ayu itu sedang dirundung duka nestapa serta putus asa di tempat kediamannya dahulu.
Sebenarnya Ilmu Silat Bidadara Bersedih tersebut diciptakan berdasarkan tingkah laku, gerak gaya dan pengamatan yang dilakukan oleh Put-ceng-li Lojin terhadap kesedihan Chu Bwee Hong ketika berputus asa dahulu.
Oleh karena itu gerakannya atau jurus-jurusnya tampak sangat sederhana dan lamban.
Namun dibalik kesederhanaan dan kelambanannya itu ternyata berisi kepekaan yang dalam serta tanggapan yang tinggi terhadap ilmu silat lawan.
Bagaimanapun hebat dan dahsyatnya serangan Tiauw Li Ing, Chu Bwee Hong seperti telah merasa dan mengetahui terlebih dahulu arah serangan itu.
Sehingga akibatnya semua serangan Tiauw Li Ing selalu gagal serta dapat dipunahkan oleh Chu Bwee Hong.
Tapi karena Ilmu Silat Bidadari Bersedih itu sifatnya juga hanya bertahan, maka pertempuran itupun tidak kunjung selesai pula.
Dan hal itu benar-benar sangat mengesalkan hati Tiauw Li Ing yang garang itu!
Gadis yang merasa telah mengerahkan segala kemampuannya itu ternyata belum juga bisa mengalahkan lawannya.
Di dalam kemarahannya gadis itu lalu mengeluarkan lagi pisau terbangnya.
Pisau terbang yang tadi mampu membuat Put-pai-siu Hong-jin tercebur ke dalam air.
Otomatis hati Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menjadi tegang.
Tanpa terasa kakinya melangkah mendekati pertempuran.
Seluruh urat-uratnya menegang.
Dengan tangan kiri tetap menggendong anaknya pendekar sakti itu mengerahkan tenaga dalamnya.
Sekilas tampak uap tipis mengepul di atas ubun-ubunnya.
Uap tipis yang berwarna putih dan merah!
"Seperti halnya Put-pai-siu Hong-jin tadi, Hong-moi juga tidak akan dapat bertahan bila menghadapi lemparan-lemparan pisau gadis itu.
Aku harus.."
Pendekar sakti itu berkata di dalam hatinya.
Namun belum juga ia menyelesaikan kata-katanya, gadis itu sudah menggerakkan tangannya.
Tiga batang pisau kecil tampak melesat menyerang Chu Bwee Hong.
Tiga-tiganya berjajar membentuk segi-tiga dan semuanya menuju ke arah perut Chu Bwee Hong.
Pisau-pisau itu meluncur seperti biasa, seolah-olah tidak menunjukkan keanehan-keanehan.
Tapi Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang sangat mengkhawatirkan keselamatan isterinya itu tidak mempercayainya.
Tentu ada apa-apa dibalik lemparan yang sangat sederhana itu.
Oleh karena itu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai cepat melompat pula ke depan, siap menolong isterinya.
Dan apa yang ditakutkan oleh pendekar sakti itu ternyata benar-benar terjadi.
Tiba-tiba terjadi letupan kecil di masing-masing pisau tersebut, dan selanjutnya pisau tersebut terbelah menjadi dua bagian.
Masing-masing meluncur ke arah yang berbeda, sehingga gerakannya menyerupai bunga teratai yang sedang mekar.
Indah dan mentakjubkan gerakannya namun juga sangat berbahaya serta mematikan!
Jarak antara Tiauw Li Ing dan Chu Bwee Hong hanya empat atau lima langkah saja, maka tidaklah mengherankan kalau wanita ayu itu sangat terkejut me lihat serangan pisau yang amat mendadak tersebut.
Apalagi ketika pisau tersebut terbelah dan memencar menjadi enam bagian, sehingga pisau-pisau itu seperti mengurungnya dari segala jurusan.
"Celaka...!"
Chu Bwee Hong menjerit di dalam hati, lalu mengibaskan kedua buah lengan bajunya yang lebar ke depan untuk menangkis pisau-pisau tersebut.
"Ting! Ting! Ting!"
Lima buah pisau berhasil ditangkisnya.
Tapi sebuah di antaranya ternyata mampu menerobos di sela-sela lengan bajunya dan meluncur ke arah dadanya.
Tak ada kesempatan untuk mengelak lagi.
Namun di dalam keadaan yang gawat tersebut tiba-tiba Chu Bwee Hong merasa tubuhnya didorong orang ke samping, sehingga pisau yang sedianya akan merenggut nyawanya itu luput mengenai dirinya.
Dan ketika ia kembali berdiri tegak, dilihatnya suaminya telah berada di sisinya.
"Kau tidak apa-apa, bukan?"
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai bertanya penuh perhatian. Anak yang berada di dalam pelukannya tersenyum gembira melihat ibunya.
"Ti... tidak, koko. Terima kasih."
Chu Bwee Hong menjadi gagap, karena belum hilang rasa terkejutnya.
"Sudahlah. Tidak usah kita layani perempuan muda itu."
Souw Thian Hai berkata lagi.
"Tapi... dia...?"
"Sudahlah! Tak ada salahnya kita mengalah kepadanya, bukan? Lihatlah anakmu ini! Dia minta digendong lagi oleh ibunya."
"Ba... baiklah, Hai-ko."
Chu Bwee Hong menghela napas seraya menerima kembali anaknya.
"Hi-hi-hi... ternyata Souw Taihiap yang tersohor itu tak sampai hati juga melihat kematian isterinya. Dan sekarang tampaknya ingin menggantikan kedudukan isterinya untuk melawanku."
Tiba-tiba Tiauw Li Ing berseru dengan pongahnya.
"Hai-ko, dia... menghinamu!"
Chu Bwee Hong yang sudah melangkah mundur itu tiba-tiba berhenti dan siap untuk melabrak Tiauw Li Ing kembali.
"Hong-moi, tenanglah! Biarlah aku saja yang menghadapinya. Kau jangan terpancing oleh mulutnya yang tajam itu! Nah, bawalah anak kita ini ke pinggir!"
Dengan hati berat terpaksa Chu Bwee Hong menuruti perintah suaminya.
Matanya tampak berkilat-kilat menahan marah.
Sebaliknya Tiauw Li Ing yang selalu merasa memperoleh kemenangan itu semakin menjadi sombong dan pongah.
Dengan sangat berani ia berdiri menghadapi Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
"Bagaimana, Souw Taihiap? Apakah sekarang Souw Taihiap sudah mau menyerahkan perempuan berbaju kulit ular itu?"
Tanyanya sambil menimang-nimang sebuah benda bulat sebesar telur penyu di tangannya.
Sekejap Souw Thian Hai merasa terkejut melihat benda tersebut.
Benda bulat itu mengingatkannya kepada peluru Giok-bin Tok-ong yang bisa meledakkan bukit itu.
Tapi setelah ia meneliti pula beberapa saat lamanya, hatinya menjadi tenang kembali.
Benda bulat tersebut berbeda dengan peluru Giok-bin Tok ong.
Benda yang dipegang Tiauw Li Ing itu agak kecil dan bentuknya sedikit lonjong (oval).
Namun karena ia tak bisa menduga apa kegunaannya, maka ia juga tidak berani meremehkannya.
Siapa tahu benda itu juga tidak kalah berbahayanya dari pada peluru Giok-Bin Tok-ong itu?
"Nona, kau jangan menuduh orang secara sembarangan.
Perempuan muda itu benar-benar telah pergi.
Kami tidak menyembunyikannya..."
Souw Thian Hai masih berusaha menahan hatinya. Tetapi Tiauw Li Ing mencibirkan bibirnya.
"Huh!"
Dengusnya. Tangannya berhenti menimang benda bulat itu. Urat-uratnya menegang, jari-jarinya menggenggam erat benda tersebut.
"Kalau begitu aku yang rendah ingin meminta pelajaran kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor!"
Sambungnya dengan nada menantang.
"Eh, nona... nanti dulu!"
"Hmmmh! Lihat serangan...!"
Gadis itu tidak memberi kesempatan lagi kepada Hong-Gi-Hiap untuk memberi keterangan.
Benda bulat itu ia pindahkan ke tangan kiri, kemudian dengan tangan kanannya ia menghantam dada lawannya.
Seperti pemain sulap saja tangan itu telah menggenggam sebuah kipas baja, senjata khususnya.
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai masih berusaha menghindari pertempuran, tapi mendadak kipas yang terarah ke dadanya itu terbuka, dan dari dalamnya melesat jarum-jarum kecil ke arah wajahnya.
Maka tiada pilihan lagi selain menangkis dan meruntuhkannya dengan ujung lengan bajunya yang lebar.
Setelah itu jari-jari tangan pendekar sakti itu menyambar ke depan untuk merampas kipas lawannya.
Tapi Tiauw Li Ing telah lebih dulu menariknya ke belakang, kemudian menutup lembaran kipas tersebut dan menotokkan ujungnya ke depan, ke arah pergelangan tangan Souw Thian Hai yang datang.
Berbareng dengan itu dari dalam kipas itu melesat lagi belasan batang jarum halus.
Diam-diam Hong-Gi-Hiap terkejut juga.
Usia gadis itu masih sangat muda, namun ternyata kepandaiannya benar benar hebat.
Sama sekali ia tidak diberi kesempatan untuk mundur atau menghindari pertempuran.
Serangannya datang beruntun bagaikan ombak yang bergulung-gulung memecah karang.
"Tak heran kalau sikapnya sedemikian berani dan pongahnya. Kepandaiannya memang luar biasa. Apalagi bila dibandingkan dengan usianya yang masih sangat muda."
Souw Thian Hai membatin.
"Mungkin... lebih lihai dari pada Souw Lian Cu. Hmmmmmm..."
Pendekar sakti itu menarik napas panjang.
Diam-diam dia membandingkan gadis tersebut dengan puterinya sendiri, yang dalam beberapa tahun ini telah menghilang entah kemana.
Sebelum kawin dengan Chu Bwee Hong, Souw Thian Hai memang seorang duda muda yang telah beranak satu.
Dan sekarang anaknya itu telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang amat cantik seperti mendiang Ibunya.
Hanya sayang sekali ketika masih kecil puterinya tersebut mendapat musibah sehingga tangan kirinya putus sebatas siku.
Karena angan-angannya melayang ke mana-mana, maka perlawanan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menjadi agak kendor.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila Tiauw Li Ing semakin banyak memperoleh kesempatan untuk menyerang dan mendesaknya.
Dan hal itu menimbulkan kesalah-sangkaan di dalam hati gadis tersebut.
Tiauw Li Ing mengira kalau kepandaian Souw Thian Hai ternyata tidaklah sehebat yang dibicarakan orang.
Dan gadis tersebut menjadi semakin pongah karenanya.
"Nah, Souw Taihiap... bagaimana? Apakah Souw Taihiap masih juga tidak mau mengatakan dimana perempuan itu berada? Atau tetap kita teruskan pertempuran ini sampai...seorang pendekar besar seperti Souw Taihiap kehilangan muka karena dikalahkan oleh seorang gadis muda tak dikenal seperti saya ini? Heh?"
"Ah?"
Souw Thian Hai tergagap kaget seperti orang yang dibangunkan dari tidurnya.
Ejekan gadis itu telah menyadarkan dirinya bahwa ia sedang bertempur dengan seseorang.
Sambil mengelak kesana-kemari pendekar sakti itu mengurut dadanya.
Ia benar-benar menyayangkan sikap gadis muda yang amat lihai itu.
Sikap yang sangat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain.
Timbullah niatnya untuk memberi pelajaran kepada gadis congkak itu.
Sementara itu para penonton menjadi heran menyaksikan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor itu mundur dan mengelak terus dari serangan gadis muda tersebut.
Keh-sim Siau-hiap dan Put ceng-li Lojin yang tahu bagaimana dahsyatnya ilmu kepandaian Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hal menjadi heran dibuatnya.
Namun rasa heran mereka tersebut segera lenyap begitu melihat Souw Thian Hai tiba-tiba mulai membuka serangan.
Bagaikan seekor banteng jinak yang tiba-tiba diganggu orang, pendekar itu menerjang Tiauw Li Ing dengan hebatnya.
Mantel hitam yang semula menutup hampir seluruh tubuhnya itu tampak menyabet ke depan, seolah-olah hendak menggulung atau menjaring badan lawannya.
Terdengar suara angin bersiutan seperti hembusan badai yang mendadak bertiup dengan kencangnya!
Tiauw Li Ing terkejut bukan buatan.
Belum juga mantel Souw Thian Hai itu tiba, tubuhnya seakan-akan sudah digulung oleh pusaran angin yang dahsyat.
Seketika dadanya menjadi sesak dan sulit untuk bernapas.
Namun di lain saat ia segera menjadi sadar bahwa dirinya berada di dalam bahaya.
Maka dengan amat tergesa-gesa dia mengerahkan seluruh sinkangnya untuk bertahan kemudian meliukkan pinggangnya ke belakang, sehingga sambaran mantel Souw Thian Hai itu lewat di depan hidungnya.
Setelah itu dengan tidak kalah garangnya ia melompat ke atas untuk balas menyerang musuhnya dengan kipas bajanya.
Tapi Souw Thian Hai segera berputar dengan cepat pula.
Sekilas terlihat kepulan asap tipis berwarna merah di atas kepalanya, dan lagi-lagi mantel pusakanya menyambar ke atas, menyongsong kedatangan kipas Tiauw Li Ing.
Sekali lagi Tiauw Li Ing terkesiap.
Sama sekali gadis itu tak menyangka kalau lawannya bisa bergerak sedemikian cepatnya.
Apalagi dengan tenaga yang luar biasa dahsyatnya seperti itu.
Tiada jalan lain baginya selain membentur mantel pusaka tersebut dengan seluruh kekuatannya pula.
Namun demikian sambil membenturkan kekuatannya ia melemparkan benda bulat yang dipegangnya itu ke arah lawan!
"Dhieeeeeeees!
Taaaaas!"
Tubuh Tiauw Li Ing yang berada di udara itu tiba-tiba terlempar ke samping dengan kuatnya.
Tapi berbareng dengan itu pula benda bulat yang dilontarkannya tadi meletus nyaring, dan jaraknya hanya beberapa jengkal dari muka Souw Thian Hai.
puluhan jarum kecil-kecil berhamburan keluar disertai asap hitam yang tebal!
Dan semuanya itu seakan-akan mengurung Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai!
Sejak semula pendekar sakti itu telah berhati-hati dan bersiap-siaga menghadapi benda bulat yang belum pernah dilihatnya itu.
Namun demikian ketika benda itu dilemparkan Tiauw Li Ing dan meletus di depan hidungnya, sekejap ia menjadi kaget juga.
Untunglah ia cepat menyadari bahaya itu dan berputar lagi dengan cepatnya sehingga mantelnya yang lebar itu segera melilit dan membungkus seluruh badannya!
"Cus!
Cus!
Cus!
Plok!
Plok!"
Puluhan jarum kecil-kecil itu berjatuhan ketika mengenai mantel pusaka tersebut, sementara yang meluncur ke arah kepala segera bersarang dan bergantungan di dalam gumpalan rambut Souw Thian Hai yang gemuk.
Tak sebuahpun di antara jarum-jarum tersebut yang berhasil mengenai kulit dan daging Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Hanya kepulan asap hitam sajalah yang sempat tersedot oleh pendekar itu.
Itupun juga cuma sedikit pula.
Namun asap yang cuma sedikit itu ternyata telah membuat pening kepala Souw Thian Hai.
Sekejap pendekar Sakti itu berdiri bergoyang-goyang di atas kakinya.
Tapi tak seorangpun mengetahuinya, karena pada saat itu perahu besar tersebut juga bergoyang pula dengan kerasnya.
Dan bersamaan waktunya dengan goncangan tersebut, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat naik ke atas perahu itu untuk menangkap tubuh Tiauw Li Ing yang hampir jatuh terbanting ke geladak perahu itu.
Bayangan tersebut melesat ke samping Tung-hai Nung-jin dan menurunkan tubuh Tiauw Li Ing di sana.
"Ing Ing, berdiri sajalah kau di dekat paman Tung-hai Nung-jin! Biarlah aku saja yang menghadapi orang itu,"
Ucap bayangan yang tidak lain ternyata seorang pemuda tampan itu kepada Tiauw Li Ing.
"Kiat Su...!"
Tung-hai Nung-jin berdesah.
Pemuda tampan yang usianya tidak terpaut banyak dengan Tiauw Li Ing itu tersenyum.
Sikapnya ternyata juga tidak jauh berbeda dengan Tiauw Li Ing.
Angkuh dan congkak.
Malah dari sorot matanya dapat ditebak bahwa pemuda itu lebih bengis dan ganas dari pada adiknya.
Tiauw Li Ing cepat menahan lengan kakaknya.
Wajahnya kelihatan pucat sekali, karena terluka dalam akibat benturan tadi.
"Koko, hati-hati! Dia adalah Hong gi-hiap Souw Thian Hai!"
Katanya memperingatkan kakaknya.
Suaranya gemetar seperti sedang menahan perasaan sakit.
Tiauw Kiat Su tersentak kaget, lalu menoleh dengan cepat ke arah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Pendekar Sakti itu tampak berdiri tegak menghadapi mereka.
Namun pemuda itu menjadi heran ketika melihat pendekar yang tersohor itu beberapa kali memejamkan matanya serta mengibas-ngibaskan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Koko, Ceng-liong-ong itu ada padanya. Mintalah, mumpung dia belum bisa membebaskan diri dari pengaruh asap Hok-liong-hio yang kutaburkan tadi!"
Tiauw Li Ing berkata lagi. Lalu diceritakannya juga tentang keadaan Tui Lan tadi.
"Asap Hok-liong-hio (Asap Penakluk Naga)?"
Tiauw Kiat Su berdesah gembira.
"Ya. Tapi hati-hati! Ternyata kesaktiannya benar-benar hebat sekali!"
Tetapi Tiauw Kiat Su mendengus, seolah-olah meremehkan peringatan adiknya.
"Aku tak percaya. Kau belum melihat, macam apa kakakmu itu sekarang. Lihatlah baik-baik! Akan kutaklukkan pendekar yang diagung-agungkan orang itu!"
Katanya mantap seraya mengeluarkan kipas bajanya. Pemuda itu lalu maju ke depan.
"Souw Taihiap...! Kau telah melukai adikku, maka akupun akan meminta pelajaran darimu pula!"
Tantangnya dengan suara keras. Souw Thian Hai tampak memejamkan matanya kembali, kemudian memandang Tiauw Kiat Su dengan tajamnya.
"Hmm, nanti dulu...! Kau siapa? Apakah kau juga putera Tung-hai-tiauw dari Lautan Timur?"
"Benar!"
"Nanti dulu! Aku tidak bermaksud melukai adikmu itu. Dialah yang mendesak aku. Aku telah berusaha mencegahnya tadi. Tapi dia tak mau mendengar perkataanku. Kau jangan ikut-ikutan melawan aku. Lebih baik kau pikirkan lukanya itu."
"Hmm... apakah dengan demikian Souw Taihiap hendak menyerahkan perempuan berbaju kulit ular itu kepada kami?"
Tiauw Kiat Su mendesak. Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai menjadi merah mukanya. Sambil menggeram pendekar itu menatap wajah Tiauw Kiat Su.
"Kalian berdua memang terlalu sombong dan keras kepala. Sama sekali tidak mau menghargai orang lain. Sudah kukatakan bahwa wanita muda itu telah pergi, kalian tidak mau percaya juga. Tampaknya kalian ini memang ingin mencari gara-gara..."
Tiauw Kiat Su tertawa panjang. Nadanya sangat menyakitkan hati.
"Haha... kaulah yang sombong dan keras kepala! Kenapa tidak kau katakan juga dimana perempuan itu berada? Kau kira cuma engkau saja yang berhak memiliki Ceng-liong-ong itu?"
"Hmmh!"
Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai mendengus.
Ternyata habis juga kesabaran pendekar sakti itu.
Wajahnya menjadi merah.
Tapi dengan demikian pengaruh asap hitam yang diisapnya tadi justru semakin menjadi-jadi malah.
Matanya terasa berkunang-kunang, sehingga tubuhnya yang tinggi besar itu tampak bergoyang-goyang mau jatuh.
Namun pendekar sakti itu bertahan sekuat tenaga.
"Kurang ajar! Asap hitam itu mengandung racun..."
Umpatnya di dalam hati. Keadaan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai tersebut tak luput dari pengamatan Keh-sim Siau-hiap. Pendekar dari Pulau Meng-to itu memandang dengan curiga.
"Saudara Souw, ada apa...?"
Tanyanya perlahan. (Lanjut ke
Jilid 13) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 13 Souw Thian Hai mengibas-ngibaskan kepalanya lagi, seolah-olah ingin membuang rasa pening itu dari kepalanya.
"Ah, tidak apa-apa...!"
Jawabnya tegas untuk menjaga perasaan isterinya.
Tapi kesempatan itu tak disia-siakan oleh Tiauw Kiat Su.
Kipas bajanya yang tajam bagai pisau cukur itu terbuka dan menyambar ke depan dengan dahsyatnya.
Yang dituju adalah perut dan dada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Meskipun belum hilang rasa peningnya, tapi Souw Thian Hai masih bisa mengelak dan menghindar dengan tangkasnya.
Malahan untuk mempersingkat waktu pendekar sakti itu segera membalas pula dengan tak kalah sengitnya.
Langsung dengan salah sebuah ilmu warisan Keluarga Souw yang terkenal, yaitu Tai kek Sin-ciang!
Kedua buah tangan pendekar sakti itu bergantian menyerang.
Dan masing-masing tangan bergerak dan bersilat dengan cara yang berbeda, seakan-akan satu sama lainnya tidak ada hubungannya sama sekali.
Malahan tenaga sakti yang keluarpun juga tidak sama pula.
Tangan sebelah kiri mengeluarkan hembusan hawa dingin, sementara tangan yang sebelah kanan memancarkan udara panas.
Keduanya bergantian berhembus di dalam arena, sehingga Tiauw Kiat Su menjadi repot melayaninya.
"Bangsat benar Souw Thian Hai itu! Masakan dua buah ilmu yang berlainan dimainkannya secara berbareng! Hemm...!"
Put-ceng-li Lojin mengumpat-umpat saking kagumnya.
"Ya! Ilmu Keluarga Souw memang sangat hebat...!"
Keh sim Siauw-hiap mengiyakan.
"Hebat? Oho...! Ilmu seperti itu saja dibilang hebat? Huh! Picik benar!"
Tiba-tiba sebuah suara menyela pembicaraan mereka dengan ilmu Coan-im-jib-bit (Mengirim suara dari Jarak jauh).
Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lojin berputar dengan cepat.
Tapi tak seorangpun berada di dekat mereka.
Begitu pula ketika keduanya melemparkan pandang mata mereka ke sekeliling perahu besar itu.
Tak seorangpun dari para penonton itu yang patut mereka curigai.
"Tampaknya ada lagi orang yang hendak ikut meramaikan keramaian ini, Bing Kauw-cu,"
Keh-sim Siau-hiap berbisik kepada Put-ceng-li Lo jin.
"Kau benar, Kwee Tai-hlap. Tapi..bangsat busuk, heh-heh-heh... hal itu justru sangat kebetulan bagi kita. Tak enak rasanya kalau hanya menonton pertempuran orang. Rasanya gatal juga tanganku untuk ikut meramaikannya. Syukurlah kalau ada yang datang. Kalau tidak... he-he-he. tak tahulah aku... dimana aku harus mencari musuh!"
Ketua Aliran Bing-kauw yang suka berkelahi itu tertawa gembira malah.
"Apa? Kau cacing tua dari Bing-kauw ini hendak melawan aku? Hahaha... sungguh menggelikan sekali! Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tercantum namanya di dalam Buku Rahasia saja tak mampu melawan aku, apalagi...kau, cacing kecil yang tak punya nama! Hahahaha!"
Tiba-tiba suara itu berkumandang lagi di telinga mereka.
Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Put-ceng-li Lojin.
Tapi seperti biasanya orang tua Itu selalu menyembunyikan perasaannya di balik suara ketawa dan sumpah serapahnya!
"Monyet!
Setan!
Pengecut keparat!
Hahahaha...
kaulah yang seperti cacing kecil!
Bisanya cuma bersembunyi dan ketakutan di dalam tanah!
Mengapa kau tidak lantas keluar ke sini dan...
bertanding dengan aku?
Hehe-hehe...
monyet...
eh cacing keparat!"
Tentu saja teriakan dan makian Put-ceng-li Lojin itu sangat mengejutkan dan mengagetkan orang-orang yang sedang asyik menonton pertempuran.
Namun orang-orang itu segera tenggelam kembali ke dalam pertempuran Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Beberapa orang diantaranya terdengar menggerutu begitu melihat Put-ceng-li Lojin.
Tapi sekali lagi orang-orang itu dikejutkan oleh sesosok bayangan yang melesat ke atas perahu besar tersebut.
Bayangan itu mendarat dengan tergopoh-gopoh di depan Put-ceng-li Lojin.
Dan di depan ketua Bing Kauw tersebut bayangan itu masih sibuk menaikkan celananya yang belum terpakai secara benar.
"Susiok, kau memanggil aku?"
Bayangan yang tidak lain adalah Put-pai-siu Hong-jin itu bertanya kepada Put-ceng-li Lojin.
"Heh? Kurang ajar...! siapakah yang memanggilmu? Aku tak menyebut namamu?"
Put-ceng-li Lojin yang sudah bersiap siaga menghadapi lawannya itu berteriak kecewa begitu melihat siapa yang datang.
"Bukankah susiok tadi bilang tentang...monyet?"
Manusia sinting itu bertanya ketolol-tololan. Ketua Bing-kauw itu tak bisa menahan senyumnya. Begitu pula dengan Put ming-mo dan Keh-sim Siauw-hiap yang berada di dekatnya.
"Whah... bukan kau yang kumaksudkan! Aku memang menyebut tentang monyet, tapi bukan Monyet Tua Tak Berbulu macam kau ini, heh-heh-heh!"
"Hei? Bukan aku? Huh, bangsat! Monyet tua bau terasi! Hmm... tahu begini... huh! Orang baru enak-enaknya memberi santapan pagi kepada ikan ikan di telaga... eeeee, tahu tahu diganggu orang!"
Put-pai-siu Hong jin memaki paman-gurunya. Tapi ketua aliran Bing-kauw itu tidak menjadi marah karenanya. Sebaliknya mulutnya justru tertawa semakin lebar malah.
"Hehehe..., apa maksudmu dengan memberi makan kepada ikan-ikan itu?"
"Ah, suhu ini seperti tidak tahu saja! Bukankah suheng tadi hendak.. hendak berak! Maka begitu tercebur dalam air, maksud itu segera dilanjutkannya! Bukanlah hal itu sama saja dengan memberi sarapan pagi kepada ikan-ikan itu?"
Put-ming-mo menyahut pertanyaan gurunya.
"Oh-hi...ho-ha-ha! Bangsat keparat! Monyet tua tak berbulu! Ha-ha-ha!"
Put-ceng-li Lojin tak bisa menahan ketawanya.
Ternyata Put-pai-siu Hong-jin sendiri juga tak bisa menahan ketawanya pula.
Bibirnya yang lebar dan tebal itu terbuka lebar-lebar.
Namun suara ketawanya tiba-tiba berhenti lagi, seakan-akan ada sesuatu hal yang mendadak melintas di dalam otaknya.
"Tapi... eh... di antara ikan-ikan itu ada seekor yang bentuknya sangat aneh! Ikan itu bentuknya lebih besar dari pada yang lain. Mempunyai tangan dan kaki... rambutnya panjang...!"
Katanya kemudian dengan tersendat-sendat. Matanya yang kocak itu memandang Put-ceng-li Lojin dan Keh-sim Siau-hiap bergantian.
"Berambut panjang? Eh, masakan di dalam danau ini ada ikan Duyung?"
Put-ming-mo memotong dengan mulut meringis. Sama sekali tak mempercayai perkataan suhengnya.
"Kau tak percaya?"
Put-pai-siu Hong-jin berseru penasaran.
"Alaaa... suheng tentu membual lagi! Danau ini tak ada Ikan Duyungnya. Misalnya ada juga takkan mau menyantap sarapan pagimu itu. Mungkin justru engkau sendirilah yang malah diseretnya ke dasar danau ini."
"Siapa bilang Ikan Duyung? Ikan Duyung kan perempuan? Ikan yang kulihat itu pakai kumis dan jenggot, Tolol! Dan ikan itu memang berusaha menyeret aku ke dasar danau ini! Untung aku cepat berontak dan... dan mengencinginya! Kalau tidak, aku mungkin sudah betul-betul diseretnya!"
Put-pai-siu Hong-jin yang sangat penasaran itu mendamprat Sutenya.
Kalau Put-ming-mo tetap tidak percaya akan kata-kata suhengnya, ternyata tidak demikian halnya dengan gurunya.
Put-ceng-li Lojin yang baru saja diganggu orang dengan ilmu Coan-im-jib bit itu mempunyai tanggapan lain atas cerita keponakan muridnya tersebut.
"Hong-jin...! Dimanakah kau melihat ikan aneh itu?"
Tanyanya.
"Suhu, kau percaya akan cerita suheng itu?"
Put-ming-mo menyela dengan dahi berkerut. Ketua Aliran Bing-kauw itu tersenyum.
"Biarlah suhengmu berceritera!"
Katanya.
"Nah... apa kataku! Susiok lebih pintar darimu, Babi Tolol! Kau memang tidak pernah percaya kepadaku! Itulah sebabnya kau tak pernah maju dalam ilmu silat kita...!"
"Hong-jin, dimana kau melihat ikan aneh itu?"
Ketua Bing Kauw itu membentak.
"Uh! Di belakang perahu ini..."
Put-pai siu Hong-jin menjawab sambil bersungut-sungut.
"Monyet! Kalau begitu mari kita lihat ke sana!"
Keh-sim Siau-hiap mendekati Put-ceng-li Lojin.
"Bing Kauw-cu, apakah kau mencurigai sesuatu?"
Bisiknya.
"Ya! Mungkin benda yang disebut ikan aneh oleh Bocah Sinting itu adalah orang yang berbicara dengan ilmu Coan-im-jib-bit itu. Marilah...!"
Keh-sim Siau-hiap berpaling ke arah pertempuran.
"Bagaimana dengan pertempuran mereka?"
"Ah... kita tak perlu mencemaskannya. Jangankan hanya pemuda congkak itu, biarpun mereka bertiga maju semuanya, Souw Taihiap takkan kalah! Percayalah!"
Put-ceng-li Lojin mendengus. Pendekar dari Pulau Meng-to itu menghela napas.
"Baiklah, mari...!"
Bing-kauw-cu meloncat ke belakang perahu, diikuti oleh Keh sim Siau-hiap, Put-pai-siu Hong-jin dan Put-ming-mo.
"Hong-jin! Dimana tempatnya?"
Put ceng-li Lojin berseru ketika telah berada di buritan.
"Di sana...! Di belakang sampan kecil itu!"
Put-pai-siu Hong-jin mengerahkan ginkangnya, lalu mendahului me lompat ke sampan tersebut.
Yang lainpun mengikutinya.
Mereka berkelebat berurutan seperti empat ekor burung yang terbang keluar dari sarangnya.
Tapi ketika Put-pai-siu Hong-jin yang berada di depan sendiri hendak mendaratkan kakinya di sampan tersebut, mendadak sampan itu...meluncur pergi!
Sebaliknya di tempat sampan tadi berada, tiba-tiba muncul...kepala manusia dari dalam air!
"Hei...?
Ini...
ini?
Wah...
bangsat keparat!
Susiok...!
itu, itu dia ikannya!"
Tiba-tiba Put-pai-siu Hong-jin yang kebingungan itu menunjuk ke bawah, ke arah kepala orang yang mendadak muncul dari dalam air itu.
Demikianlah, di satu pihak mereka menjadi lega dan bergembira karena secara tak diduga ikan aneh itu telah muncul dengan sendirinya, namun di lain pihak mereka juga menjadi kelabakan karena beberapa saat lagi mereka akan tercebur ke dalam air!
Tapi di dalam keadaan yang kritis dan mencemaskan tersebut tiba-tiba datang sebuah pertolongan yang tak disangka-sangka pula.
lsteri Keh-sim Siau hiap yang pergi tanpa pamit malam tadi, mendadak muncul membawa sebuah sampan.
Sampan kecil itu meluncur dengan cepat untuk menggantikan sampan yang pergi tadi.
"Li koko, aku yang datang...!"
Ho Pek Lian berseru dari dalam sampan tersebut.
"Bagus!"
Keh-sim Siau-hiap berteriak gembira pula.
Lalu seperti telah saling berjanji terlebih dahulu, mereka berempat berbareng menyerang orang yang muncul di atas permukaan air tersebut.
Mereka bermaksud mengalihkan perhatian orang itu dari sampan Ho Pek Lian.
Berurutan mereka melancarkan pukulan jarak jauh (Pek-khong-ciang) mereka masing-masing.
"Whuuus! Whuusssss! Wuuuuuuush!"
Bagaikan gelombang air laut angin pukulan mereka datang menderu-deru, susul-menyusul, menyibakkan permukaan air danau dimana orang itu berada.
Begitu dahsyatnya tenaga gabungan mereka, sehingga orang yang muncul di atas permukaan air tersebut tidak berani menyambutnya.
Bergegas orang itu menyelam kembali.
Byuur!
Air yang menyibak tadi berdebur kembali dengan kuatnya, sehingga gelombangnya hampir menumpahkan sampan Ho Pek Lian yang datang.
Untunglah keempat orang itu segera mendaratkan kaki mereka di sana, sehingga sampan itu dapat mereka kuasai.
"Kwee Hujin, kedatanganmu sungguh tepat sekali. Hampir saja kami berempat jatuh ke dalam air, heh-heh-he.?"
Put-ceng-li Lojin menyatakan terima kasihnya.
"Ya, hampir saja kami bersama suamimu menjadi ikan di danau ini, hahe-he! Kurang ajar sekali orang itu! Memindahkan sampan orang seenaknya! Bangsat busuk!"
Put-pai-siu Hong-jin menyambung perkataan susioknya.
"Huh, kemana orang itu tadi?"
Put ming-mo mendengus marah.
"Aku ada di sini!"
Terdengar suara orang menyahut, dan tiba-tiba sampan kecil itu oleng dengan hebatnya.
"Setan keparat! Dia ada di bawah perahu! Ayoh, kita tinggalkan perahu ini!"
Put-ceng-li Lojin berteriak.
Kelima orang itu lalu berloncatan pergi meninggalkan sampan tersebut.
Bersama dengan Put-ming-mo, Keh-sim Siau-hiap melesat kembali ke perahu Souw Thian Hai sambil menggandeng lengan isterinya.
Sedangkan Put-ceng-li Lojin dan Put-pai-siu Hong-jin melompat ke sebuah perahu kecil yang kebetulan meluncur lewat di dekat mereka.
Sementara itu sampan yang mereka tinggalkan berguncang semakin hebat, sehingga akhirnya terbalik dengan menimbulkan suara yang bergemuruh.
Seorang kakek pendek kecil, berambut putih panjang, tiba-tiba muncul dari dalam air.
Sambil terkekeh-kekeh kakek tersebut me lompat ke atas perahu yang terbalik itu dan duduk dengan riangnya.
Kakek cebol itu hanya mengenakan cawat saja.
Apalagi dengan bentuknya yang kecil itu, tak heran kalau di dalam air seperti ikan yang sedang berenang saja.
Namun demikian ternyata kepandaiannya sangat tinggi, terbukti dapat membalikkan perahu yang panjangnya hampir sepuluh kali panjang tubuhnya itu.
Keh-sim Siau-hiap terkesiap kaget.
Pendekar dari Pulau Meng-to itu teringat akan penuturan Souw Thian Hai beberapa bulan yang lalu.
Menurut cerita sahabatnya itu, didunia kang-ouw telah bermunculan tokoh-tokoh sakti yang kepandaiannya sangat menakjubkan.
Dan salah seorang diantaranya adalah seorang kakek cebol berambut panjang seperti yang dilihatnya sekarang ini.
"Bing Kauw-cu, awas...!"
Pendekar itu memperingatkan ketika dilihatnya Put-ceng-li Lojin yang masih tampak penasaran itu meloncat kembali untuk menyerang kakek cebol tersebut.
"Heeeit!"
Kakek cebol itu berseru nyaring seraya bergeser ke belakang sehingga pukulan Put-ceng-li Lojin tidak mengenai sasarannya.
Sebaliknya kaki kakek cebol tersebut dengan cepat melayang ke atas untuk mencegah lawannya mendaratkan kakinya di perahu itu.
Siiiiing!
Kaki yang pendek kecil itu berdesing bagaikan suara pedang membelah angin!
Put-ceng-li Lojin terkejut!
Bagaimana mungkin ayunan kaki bisa berdesing seperti itu?
Demikian sempurnakah tenaga-dalam kakek cebol itu, sehingga dia bisa membuat kakinya itu sekeras besi baja?
Ketua Aliran Bing-kauw itu cepat menekuk kedua buah kakinya untuk menghindari terjangan kaki lawan.
Setelah itu ujung sepatunya menotol papan perahu, sehingga tubuhnya melenting ke atas kembali, untuk kemudian menyerang lawannya lagi.
Kali ini ia menghantam kepala kakek cebol itu!
Namun kakek cebol itu mengelak pula dengan manisnya, lalu ganti menerjang dengan kedua kepalan tangannya.
Mereka bertarung dengan cepat sekali, seolah-olah keduanya tak ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk mengambil napas.
Sementara itu Put-pai-siu Hong-jin telah memaksa perahu yang ditumpanginya untuk mendekati tempat itu, Manusia sinting yang lihai itu bersiap-siap untuk membantu paman-gurunya.
Keh-sim Siau-hiap tak ingin berpangku tangan pula.
Setelah berpesan agar isterinya menantinya di tempat itu, dia berpindah pula ke perahu Put-pai-siu Hong-jin.
"Hati-hatilah, Hong-jin! Kalau tak salah kakek cebol ini adalah Butek Sin-tong. Salah seorang dari tokoh tokoh sakti yang kini khabarnya telah bermunculan di dunia persilatan."
Bisiknya kepada Put-pai-siu Hong-jin.
"Benarkah...?"
Manusia sinting itu tersentak kaget.
"Mungkin. Aku sendiri juga belum pernah bertemu sebelumnya. Namun ciri ciri orang itu persis seperti yang telah kudengar selama ini."
"Bangsat! Kalau begitu aku ingin mencobanya. Kudengar orang yang seperti kura-kura itu disebut-sebut sebagai jago nomer tiga di dunia persilatan, hehehe"
"Tapi kau jangan terlalu sembrono, Hong-jin. Kalau Hong-gi hiap Souw Thian Hai saja berada di urutan kelima, apalagi dia yang berada di urutan ketiga. Hmm... maaf, bukannya aku.. meremehkan kepandaianmu. Tapi... kita juga harus menyadari bahwa dibandingkan dengan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai saja kita belum menang."
Keh-sim Siauw-hiap berusaha mengekang kesembronoan manusia sinting itu.
Put-pai-siu melirik sekejap ke arah Keh-sim Siau-hiap.
Matanya yang liar itu tampak meredup, suatu tanda kalau kata-kata pendekar dari Pulau Meng to itu berhasil memasuki hatinya.
Namun demikian mulutnya tetap berkata dengan suaranya yang serak dan kasar.
"Jangan khawatir, Saudara Kwee! Aku akan selalu menjaga diri. Tapi kesempatan ini benar-benar sulit diketemukan, hehehe...bertarung dengan kura-kura Nomer Tiga di dunia persilatan!"
Selesai berbicara Put-pai-siu Hong jin lalu mengerahkan sinkangnya, kemudian menyalurkannya ke seluruh tubuhnya.
Keh-sim Siau-hiap menghela napas serta menggeleng-gelengkan kepalanya.
Terpaksa dia ikut bersiap-siaga pula untuk menjaga segala kemungkinan.
Dan pertarungan antara Put-ceng-li Lojin me lawan Kakek cebol itupun semakin bertambah seru pula.
Di atas perut sampan yang sempit itu mereka mengadu ilmu dengan dahsyatnya.
Masing-masing telah mengeluarkan ilmu andalan mereka.
Dan tampaknya Put-ceng-li Lojin juga telah sampai ke puncak kemampuannya.
Gerakannya cepat sekali, hingga sulit diikuti oleh mata biasa.
Peluh telah membasahi seluruh pakaiannya.
"Anak Setan... Demit... Gendruwo! Sulit benar mengalahkan Bocah Tua ini! Bangsat! Keparat! Kau ini manusia atau... Hantu! Heh! Heh! Heh!"
Seperti biasanya bila Ketua Bing-kauw itu memainkan Chuo-ming-ciang mulutnya mengoceh tak putus-putusnya.
Namun kali ini suaranya tampak serak dan kelelahan.
Sebaliknya Kakek Cebol yang tidak lain memang Bu-tek Sin-tong itu masih kelihatan segar dan cerah.
Meskipun keringatnya juga mengalir di tubuhnya, tapi mukanya masih tetap segar, dan napasnyapun juga tetap teratur.
Tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa ia telah lelah.
"Ayoh! Keluarkan seluruh kepandaianmu! Ilmu Silatmu sungguh hebat, aneh dan mengasyikkan, ho-ho-ho...! Sayang mulutmu sangat ceriwis dan tak mau berhenti mengoceh!"
Bu-tek Sin-tong tertawa nyaring.
Tubuhnya yang pendek kecil itu bergerak cepat sekali, tanpa banyak menggerakkan kaki dan tangannya seolah-olah dia bisa menghilang dan berpindah tempat begitu saja.
Otomatis Chuo-ming-ciang yang ampuh itu tak berdaya menangkapnya.
Sekali lagi Keh-sim Siau hiap menarik napas panjang.
"Bukan main! Ginkangnya telah mencapai kesempurnaannya. Tubuhnya benar-benar telah menjadi seringan kapas, sehingga hembusan angin yang amat kecilpun sudah bisa menerbangkan tubuhnya. Hmmm... semakin kuat Put-ceng-li Lojin mengerahkan lweekangnya, orang itu menjadi semakin sulit ditangkapnya."
Demikianlah, semakin lama pertempuran itu menjadi semakin kelihatan hasilnya. Put-ceng-li Lojin semakin tampak kelelahan. Semakin kuat ia mengerahkan tenaganya, semakin sulit ia menyentuh lawannya.
"Anak Setan! Babi! Anjing...!"
Ketua Bing-kauw itu mengumpat tiada habisnya.
"Susiok, jangan putus-asa! Biarlah kita keroyok bersama Kura-kura Kerdil ini...!"
Akhirnya Put-pai-siu Hong-jin berseru dan terjun ke dalam pertempuran. Manusia Sinting inipun lantas mengeluarkan Chuo-mo-ciangnya pula.
"Bulat panjang bentuknya! Tak berbulu kulitnya! Binatang apa itu! He heh-heh...!"
Mulutnya mulai berceloteh.
Bu-tek Sin-tong tidak menjadi marah dikeroyok dua, sebaliknya kakek cebol itu menjadi senang malah.
Meskipun dengan demikian ia menjadi bertambah repot menghadapi lawannya, namun dengan ginkangnya yang hebat itu tubuhnya tetap sukar disentuh oleh tangan-tangan lawannya.
Sedangkan Put-ceng-li Lojin sendiri ternyata juga tidak merasa berkeberatan dibantu oleh keponakan muridnya.
Malahan mereka berdua segera dapat bekerja sama dengan baik.
Walaupun kerja-sama mereka itu ternyata masih juga belum dapat membendung ginkang Bu-tek Sin-tong yang sangat hebat tersebut.
Meskipun demikian, kerja-sama itu paling tidak bisa menahan desakan Kakek Cebol itu terhadap Put ceng li Lojin.
Alhasil pertempuran mereka itu benar-benar dahsyat tiada terkira.
Di satu pihak, dengan ginkangnya yang amat tinggi Bu-tek Sin-tong tak bisa disentuh oleh Put-ceng-Ii Lojin dan Put-pai-siu Hong-jin.
Tapi di lain pihak, Bu-tek Sin-tong juga tak kuasa menembus benteng pertahanan dan kerjasama yang rapi dari kedua lawannya.
Justru Keh-sim Siau-hiap lah yang akhirnya menjadi tidak sabar melihat pertempuran tersebut.
Pendekar itu sungguh tidak mengerti, mengapa Ketua Bing-kauw itu belum bisa melihat juga letak rahasia kehebatan ginkang lawannya?
Haruskah dia ikut terjun juga ke dalam arena pertempuran itu?
"Kalau diteruskan, lambat-laun Bing Kauw-cu akan kehabisan napas juga.
Mereka berdua mati-matian mengerahkan seluruh kemampuan mereka, sementara Bu-tek Sin-tong cuma menghindar kesana-kemari membonceng angin pukulan mereka.
Ahh...!"
Agaknya sambil bertempur Bu-tek Sin-tong masih sempat melihat-lihat keadaan di sekelilingnya.
Terbukti ia sempat melihat juga wajah Keh-sim Siau-hiap yang sedang geram dan penasaran itu.
Dan agaknya ia sangat percaya dan yakin pula bahwa dia tentu akan bisa menundukkan lawan-lawannya itu, buktinya dengan suara lantang ia masih berani menantang kepada Keh-sim Siau-hiap.
"Hei, kenapa temanmu itu tidak mau sekalian saja mengeroyok aku? Tampaknya dia juga berminat pula untuk berkelahi melawan aku...! Hei... kau! Majulah sekalian kau ke sini!"
"Lo-Cianpwe menantang saya?"
Keh sim Siau-hiap pura-pura bertanya, padahal hatinya bersorak gembira menerima tantangan tersebut.
"Ya! Ayolah! Aku tidak mempunyai banyak waktu untuk melayani kalian satu-persatu! Majulah...!"
"Wah... Lo-Cianpwe ini suka benar bergurau. Melawan Bing Kauw-cu saja belum tentu menang, kini masih menantang yang lain lagi."
Keh-sim Siau hiap yang merasa sungkan kepada Ketua Aliran Bing-kauw itu pura-pura menolak. Namun di luar dugaan, Put-ceng-li Lojin justru berteriak ke arah Pendekar dari Pulau Meng-to tersebut.
"Saudara Kwee, majulah! Marilah kita lumatkan Bocah Tua yang sombong ini!"
Ternyata biarpun dia seorang tua sebuah aliran yang sangat ternama, namun sesuai dengan gelarnya, Put-ceng li Lojin benar-benar tidak peduli akan nama dan kedudukannya sebagai tokoh yang dihormati orang.
Sama sekali dia tak merasa malu mengajak orang untuk mengeroyok lawannya.
Tentu saja ajakan tersebut sangat menggembirakan hati Keh-sim Siau-hiap.
Apalagi pendekar itu merasa bisa mengatasi kedahsyatan ginkang lawannya.
Maka tanpa diminta sekali lagi pendekar itu meloncat ke dalam arena pertempuran.
Dan loncatannya yang cepat dan gesit tanpa mengeluarkan suara itu, ternyata sangat mengejutkan lawannya.
"Hei, ginkangmu hebat sekali! Siapa... siapa sebenarnya kalian ini? Tadi kudengar kau menyebut orang-tua itu dengan Bing Kauwcu. Sekarang kulihat kau... eh, tahan dulu!"
Dalam kekagetannya Bu-tek Sin-tong berteriak. Keh-sim Siau-hiap menurut dan menghentikan serangannya. Sambil tersenyum dia menjawab.
"Lo-Cianpwe, ketahuilah...! Orang tua yang berhadapan dengan Lo-Cianpwe itu adalah Put-ceng-li Lojin, ketua aliran Bing-kauw yang besar. Sementara yang berada disampingnya itu adalah Put-pai-siu Hong jin, keponakan muridnya. Sedangkan aku sendiri cuma seorang pemalas yang tinggal di Pulau Meng-to."
"Heh...?"
Bu-tek Sin-tong terpekik dan membelalakan matanya.
"Jadi... kalian ini tokoh-tokoh yang dikagumi orang itu? Wah... celaka! Tak kusangka kalian bisa berkumpul menjadi satu di sini! Kalau begini... rasa rasanya aku bisa kalah nanti..."
"Hmm, jadi Lo-Cianpwe bersedia menghentikan perkelahian kita ini? Bagus!"
Keh-sim Siau-hiap tersenyum semakin lebar. Tapi Bu-tek Sin-tong cepat menggoyang-goyangkan tangannya.
"Eeit, nanti dulu! Jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan! Pertempuran kita tetap harus dilanjutkan. Tidak boleh berhenti sebelum salah satu mengakui kalah. Aku tadi cuma agak merasa kaget karena tidak menyangka kalau akan berkelahi dengan tokoh-tokoh ternama di tempat seperti ini. Namun demikian tidak berarti aku lantas takut kepada kalian. Tidak! aku justru sangat gembira sekali, karena hal itu berarti bahwa aku akan mendapatkan lawan-lawan yang bermutu, hehehe...! Ketahuilah, selama ini aku belum pernah menjumpai orang yang bisa mengalahkanku. Maka jika kalian nanti bisa menundukkan, aku akan memberikan sebuah hadiah kepada kalian masing-masing..."
"Apa...? Kura-kura Kerdil tak tahu diri! Lihat serangan!"
Put-pai-siu Hong-jin berteriak marah, kemudian menyerang lawannya. Bing Kauwcu pun segera ikut menyerang pula.
"Heh-hehe-he, bangsat cebol! Kau sungguh congkak sekali!"
Umpatnya. Tapi dengan tangkas Bu-tek Sin-tong me layang ke perahu besar Souw Thian Hai, dan mendarat di depan Ho Pek Lian. Dengan tenangnya Kakek Cebol itu menuding kearah Ho Pek Lian dan Put-ming mo.
"Nah, engkau berdua pun majulah pula!"
Tantangnya.
"Hmmmh. Kakek Cebol ini memang terlalu sombong!"
Keh-sim Siau-hiap yang merasa khawatir lawannya itu akan mengganggu isterinya cepat mengejarnya. Tangannya memukul punggung kakek itu.
"Biar kulayani dia. Akan kulihat, macam apa ginkangnya itu."
Gumamnya di dalam hati.
Put-ceng-li Lojin dan Put-pai-siu Hong-jin juga tidak mau ketinggalan pula.
Kedua orang itu segera melesat mengejar lawannya.
Masing-masing segera mengirimkan pukulannya juga.
Maka sekejap kemudian Bu-tek Sin-tong itupun telah dikepung oleh lima orang tokoh berkepandaian tinggi.
Meski pun buritan perahu Souw Thian Hai tersebut sangat sempit, namun karena ginkang mereka amat tinggi maka hal itu tidaklah mengganggu gerakan atau sepak terjang mereka.
Mereka bergulat dan bertempur dalam tempo yang sangat cepat serta dalam jarak yang amat dekat, sehingga tubuh mereka berkelebatan seperti rombongan lebah yang sedang berebut mangsa di udara.
Mula-mula Kakek Cebol itu memang selalu berhasil meloloskan diri dengan caranya tadi.
Tapi dengan adanya Keh sim Siau-hiap diantara pengeroyoknya, maka akhirnya dia tak bisa terus-menerus menghindari serangan mereka.
Ternyata ginkang Keh-sim Siau-hiap juga sama baiknya dengan dirinya, sehingga kemanapun dia pergi, pendekar muda dari Pulau Meng-to itu selalu dapat menempelnya.
Malahan ketika lawannya itu mulai mempergunakan siasat dan kecerdikannya dalam menyerang, dia menjadi kalang kabut dan terdesak di bawah angin.
Selain menempel terus, Keh-sim Siau-hiap juga menyerang dengan kaki dan tangannya.
Namun untuk menjaga agar lawannya tidak mengambil keuntungan dengan cara membonceng hembusan angin pukulannya, maka Keh-sim Siau-hiap sengaja tidak mengisinya dengan tenaga dalam.
Baru setelah serangannya menyentuh pakaian atau kulit lawannya, pendekar muda itu melepaskan tenaga-dalamnya.
Dan hasilnya memang sangat menggembirakan.
Serangan tersebut dengan tepat mengenai sasarannya.
Untunglah ilmu kepandaian Bu-tek Sin-tong benar-benar telah mencapai puncak kesempurnaannya, sehingga semua serangan Keh-sim Siau-hiap yang mengenai tubuhnya itu masih bisa ditahannya.
Apalagi dengan caranya tersebut Keh-sim Siau-hiap tidak bisa mengerahkan seluruh lweekangnya.
Meskipun demikian cara itu ternyata telah menyadarkan pula kepada para pengeroyoknya yang lain.
Sehingga ketika mereka itu ikut menyerang seperti Keh-sim Siau-hiap, dia menjadi semakin kelabakan dan tak bisa berbuat apa-apa.
"Wah...licik! Kurang ajar! Kenapa kalian menyerang aku seperti ini? Ayoh, kalian pergunakan lweekang kalian secara baik!"
Kakek Cebol berteriak penasaran.
"Jangan cerewet kau, Kura-kura kecil! Menghindarlah lagi kalau bisa,heh-he-heh...!"
Put-pai-siu Hong-jin yang beberapa kali dapat mengenai tubuh lawannya itu menjadi gembira sekali.
"Licik! Busuk! Awas kalian..."
Bu-tek Sin-tong menjerit-jerit, kemudian secara tiba-tiba tubuhnya terjun ke dalam danau dan... menghilang.
"Hei! Hei! Pengecut...! Kenapa kau melarikan diri? Bagaimana dengan hadiah yang hendak kau berikan kepada kami itu?"
Put-pai-siu Hong-jin mengejar sampai di tepi perahu dan berseru.
"Tidak ada hadiah! Kalian licik! Huh!"
Tiba-tiba terdengar jawaban tanpa terlihat orangnya.
Put-ceng-li Lojin tertawa.
Demikian juga dengan Keh-sim Siau-hiap dan Put-ceng-li Lojin.
Mereka sangat puas meskipun di dalam hati memuji kesaktian Kakek kerdil yang luar biasa itu.
"Dhuuuuuuaaaaar!"
Tiba-tiba terdengar suara ledakan dahsyat dan perahu tersebut bergoncang dengan hebatnya.
Bilik perahu yang memisahkan bagian depan dan bagian belakang perahu itu sampai terguncang roboh, sementara atapnya terbang berhamburan diterjang angina yang dihembuskan oleh ledakan tersebut.
Permukaan air danau itupun bergelombang pula dengan kuatnya, sehingga beberapa buah sampan yang berada di dekat perahu itu bagaikan dilemparkan oleh sebuah tenaga raksasa, untuk kemudian saling menjadi satu sama lain dan tenggelam karenanya.
"Hai-ko...!"
Tiba-tiba terdengar pula suara teriakan Chu Bwee Hong.
Orang-orang yang baru saja bertempur dengan Bu-tek Sin-tong itu terkejut.
Bergegas mereka menepiskan serpihan-serpihan kayu yang beterbangan ke arah mereka, kemudian meloncat ke geladak depan.
Namun hampir saja mereka tercebur ke dalam danau, karena bagian depan dari perahu tersebut ternyata telah hancur, sehingga kaki mereka telah mendarat di bagian yang kosong.
Untunglah mereka memiliki ginkang yang tinggi, sehingga dengan segala kemahiran mereka, mereka bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Mereka berloncatan ke atas pecahan-pecahan kayu yang mengambang di atas permukaan air untuk kemudian melompat ke atas sampan atau perahu yang terdekat dengan mereka.
Dan mereka segera tertegun ketika menyaksikan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai duduk di atas pecahan perahu sambil mendekap dadanya.
Sedangkan Chu Bwee Hong sambil menggendong anaknya, merangkulnya dari belakang.
Wanita ayu itu tampak cemas sekali.
Keh-sim Siau-hiap dan yang lain-lain bergegas menghampiri mereka.
Mereka berloncatan kembali di atas pecahan pecahan kayu, sementara Ho Pek Lian yang telah mengambil perahunya segera mengayuhnya pula ke arah mereka.
"Saudara Souw, ada apa...?"
Keh-sim Siau-hiap berseru cemas.
"Bangsat! Apakah engkau terluka...?"
Put-ceng-li Lojin bertanya pula. Souw Thian Hai menatap sahabat-sahabatnya. Wajahnya tampak pucat sekali meskipun demikian mulutnya tampak tersenyum.
"Hei... dimanakah kedua anak muda itu? Dan...apakah sebenarnya yang telah terjadi?"
Put-pai-siu Hong-jin berteriak seraya menoleh kesana kemari.
"Me...mereka telah pergi. Seorang kakek bernama Giok-bin Tok-ong tiba-tiba datang menolong putera Tung-hai-tiauw itu. Kakek itu bertempur dengan Hai-ko. Kemudian ketika ia hampir kalah, kakek itu melemparkan senjata peledaknya. Dan Hai-ko... Hai-ko ohh!"
Chu Bwee Hong tidak bisa meneruskan kata-katanya. Tapi dengan penuh kasih Souw Thian Hai menepuk-nepuk pundak isterinya.
"Jangan menangis! Aku tidak apa-apa. aku hanya sedikit terluka dalam. Nanti juga akan sembuh. Hmm... Kau dan anak kita tidak apa-apa, bukan?"
Chu Bwee Hong menatap suaminya. Ia meragukan kata-kata itu. Suaminya tentu hanya ingin menghibur hatinya saja. Oleh karena itu air matanya tetap saja mengalir membasahi pipinya.
"Hmm... Giok-bin Tok-ong! Dia pun telah datang pula ke tempat ini,"
Keh-sim Siau-hiap bergumam perlahan.
"Saudara Kwee, kudengar kalian tadi juga bertempur dengan seseorang, siapakah dia?"
Souw Thian Hai bertanya seraya bangkit berdiri di atas pecahan perahu itu. Chu Bwee Hong segera membantunya. Pendekar dari Pulau Meng-to itu menarik napas panjang.
"Tampaknya tokoh-tokoh sakti yang tercantum di dalam Buku Rahasia itu memang benar-benar ada. Dan kalau semula aku agak meragukan kesaktiannya, kini aku benar-benar mula percaya. Kami berlima tadi baru saja bertempur dengan salah seorang dari mereka. Orang itu adalah Bu-tek Sin-tong, tokoh yang pernah kauceritakan dulu itu. Dan...kami berlima hampir saja tak kuasa menahan amukannya!"
"Ah... dia juga datang?"
Souw Thian Hai tersentak kaget.
"Benar..."
"Manusia sesakti dia masih juga menginginkan Ceng-liong-ong?"
"Mengapa tidak? Saudara Souw pun juga berada di sini. Tiga orang dari tokoh tokoh yang tertulis di dalam Buku Rahasia itu ternyata telah muncul di Tai Ouw ini..."
Keh-sim Siauhiap menjawab dengan tersenyum.
"Ah... Saudara Kwee masih juga mengolok-olok aku. Apa sebenarnya kebiasaanku? Saudara Kwee bisa melihat sendiri sekarang. Aku telah dilukai orang dengan mudah."
Souw Thian Hai bersungut-sungut.
"Tentu saja, karena yang melukai adalah Giok-bin Tok-ong, tokoh nomer empat di dalam Buku Rahasia itu..."
"Ah, koko... kenapa kalian masih sempat berdebat pula? Lihatlah, wajah Saudara Souw sangat pucat! Marilah dia kita bawa dahulu ke perahu kita untuk diobati!"
Tiba-tiba Ho Pek Lian menengahi percakapan mereka.
Demikianlah, mereka lalu beramai-ramai membawa Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai ke atas perahu Keh-sim Siau-hiap.
Dan ketika perahu tersebut dikayuh pergi, para penonton pun lalu bubar pula.
Masing-masing mengayuh sampan atau perahu mereka meninggalkan tempat itu.
Sehingga sebentar kemudian danau yang amat luas itu menjadi sepi kembali seperti biasanya.
Hanya di beberapa tempat terlihat perahu-perahu nelayan yang sedang mencari ikan.
Dan mereka tak pernah berpikir tentang Ceng-liong yang diributkan orang itu.
Sebenarnya Tui Lan belum juga meninggalkan Danau Tai Ouw itu.
Begitu lolos dari perhatian orang-orang di atas perahu besar itu, dia segera mengerahkan ginkangnya, dan diam-diam pergi meninggalkan tempat tersebut.
Namun karena ia masih selalu memikirkan nasib suaminya, maka ia tak berhasrat meninggalkan danau itu.
Sampai matahari benar-benar keluar dari peraduannya ia tetap berputar-putar saja di sekitar danau itu.
Dan Ho Pek Lian yang mencoba membuntutinya telah kehilangan jalan.
Namun karena dia terlampau lelah setelah bertempur semalaman, apalagi selama di dalam gua itu ia kurang makan, ditambah pula dengan gangguan kesehatannya, maka tidaklah mengherankan bila daya tahan tubuh Tui Lan semakin lama semakin menurun.
Biarpun berkepandaian tinggi, tapi dia tetap seorang manusia juga.
Setelah berputar-putar hampir seharian penuh, akhirnya Tui Lan jatuh pingsan.
Rasa sakit di dalam kandungannya itu kambuh kembali dengan hebatnya.
Untung dia pingsan.
Sementara itu matahari telah jauh condong ke barat.
Sinarnya yang panas sudah mulai memudar, sehingga hutan cemara itu sudah mulai redup pula.
Sebaliknya angin sore justru mulai berhembus semakin kencang.
Bertiup di antara rimbunnya daun-daun cemara yaug berwarna kecoklat-coklatan, dan merontokkan sebagian yang telah mengering ke atas tanah.
Seorang kakek tua renta tampak berjalan perlahan-lahan melewati tempat itu.
Di atas pundaknya yang bungkuk terletak seikat besar ranting-ranting kayu cemara yang telah kering.
Meskipun kelihatan sangat berat, namun mulut kakek itu masih sempat bersenandung.
Suaranya bening dan tak kelihatan terengah-engah ketika mengambil napas.
Langkahnya tampak mantap, walaupun harus berjalan atau melompat di tempat yang tidak rata.
Namun senandungnya segera terhenti tatkala pandangannya terbentur pada tubuh Tui Lan yang tergolek pingsan di bawah pohon cemara itu.
Bergegas kakek itu membuang kayunya dan cepat-cepat menghampiri Tui Lan.
Dengan tangkas, seperti layaknya seorang tabib pandai, tangannya memeriksa tubuh wanita muda tersebut.
Dan hatinya segera menjadi kaget begitu mengetahui keadaan Tui Lan.
"Dia sedang hamil tua. Dan... kini ia pingsan karena terlampau lelah. Agaknya dia telah berbuat sesuatu yang melampaui batas-batas kemampuannya. Ooh... lehernya ada bekas luka. Tampaknya dia baru saja berkelahi dengan musuh-musuhnya. Hmm... mungkinkah dia ikut dalam pertempuran seru di atas Tai Ouw tadi malam?"
Kakek tua itu lalu mengangkat tubuh Tui Lan dan membawanya pulang.
Kayu yang dibawanya tadi dibiarkannya saja di tempat itu.
Dan tubuh Tui Lan yang hamil besar itu ternyata tidak menyulitkan langkahnya.
Malah beberapa saat kemudian kakinya berlari cepat sekali.
Kakek itu menerobos hutan perdu yang menutupi tepian Danau Tai Ouw bagian timur.
Tempat tersebut hampir tak pernah diinjak orang karena tanahnya yang terjal dan sulit dilalui manusia.
Kemudian di tengah-tengah hutan tersebut, di tanah yang agak lapang namun terlindung dari pandangan orang karena dikelilingi oleh tebing-tebing curam kakek itu berhenti.
Matanya memandang rumah kecil yang dibangun di sana dengan ragu-ragu.
Tapi sekejap kemudian kakek itu melangkah kembali menuju ke rumah tersebut.
Kakek itu lalu mengetuk pintu.
"Masuklah, Kakek Hoat! Pintu tidak terkunci..."
Terdengar suara lelaki mempersilakannya.
Suara yang sangat tenang dan sabar.
Kakek tua itu lalu mendorong pintu dan melangkah masuk.
Namun langkahnya segera terhenti tatkala dilihatnya si Pemilik Rumah sedang menerima tamu, seorang gadis ayu berlengan satu.
Sebaliknya si Pemilik Rumah yang berusia sekitar tiga puluh lima tahunan itu cepat bangkit pula dari kursinya begitu menyaksikan kakek Hoat masuk membawa tubuh Tui Lan yang pingsan tersebut.
Isteri si Pemilik Rumah, yang cantik dan jauh lebih muda dari pada suaminya, kelihatan kaget pula.
Hanya gadis berlengan satu itu saja yang tampak acuh tak acuh dan masih tetap duduk di tempatnya.
"Hei, Lo Hoat (Kakek Hoat)! Siapakah yang kau bawa itu?"
Si Pemilik Rumah itu bertanya.
"Kenapa dia? Apakah dia sakit?"
Isterinya menyambung.
Kakek Hoat itu menarik napas panjang.
Dipandangnya suami-isteri yang masih muda itu beberapa saat lamanya.
Dia sangat mengenal mereka, karena ia sering membantu membawakan keperluan mereka sehari-hari.
Termasuk kayu bakar yang dibuangnya tadi.
Dan dia juga sering membantu menjualkan ramuan obat obatan yang dibuat oleh suami-isteri itu ke kota.
Dan sebenarnya dia amat segan mengganggu ketenangan mereka, karena ia tahu bahwa tinggalnya mereka di tempat yang sepi dan terasing ini karena mereka sengaja menyepi dan mengasingkan diri dari dunia ramai.
Mereka tak ingin dikenal dan bertempat tinggal di kota atau di dusun yang banyak orangnya.
"Lo Hoat, kenapa kau diam saja? Apakah kau merasa segan terhadap tamuku ini? Ah, jangan begitu. Dia masih keponakanku sendiri. Dia adalah puteri sahabat dekatku...kau tentu mengenal nama besar ayahnya, karena ayahnya adalah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang tersohor itu."
Si Pemilik Rumah itu mendesak lagi.
"Ah... siok-hu (paman)! Mengapa nama ayah harus dibawa-bawa kemari?"
Gadis ayu berlengan satu itu bersungut-sungut tidak senang. Si Pemilik Rumah itu tersenyum.
"Hmm... aku hanya ingin memperkenalkan dirimu kepadanya, agar dia mempercayaimu. Bukankah begitu, Eng-moi"
Katanya seraya menoleh ke arah isterinya.
Wanita cantik itu mengangguk sambil tersenyum pula, sehingga kakek Hoat itu menjadi hilang juga rasa kikuknya.
Dengan hati lega kakek tua itu lalu meletakkan tubuh Tui Lan yang lemas tersebut di atas bangku.
Kemudian katanya kepada si pemilik rumah itu.
"Tuan Chu, saya menemukan wanita muda ini di hutan cemara itu. Kulihat dia dalam keadaan pingsan di atas tanah. Lehernya ada bekas luka yang telah diobati. Tapi aku sangat mengkhawatirkannya, karena dia... dia..."
Kakek itu tak bisa melanjutkan ceritanya.
Dia hanya menunjuk ke arah perut Tui Lan yang besar dan kemudian mengawasi darah yang merembes keluar dari bagian bawah perut wanita yang ditolongnya itu.
Si pemilik rumah yang dipanggil dengan sebutan Tuan Chu itu cepat menghampiri bangku itu.
Dia juga menjadi kaget begitu menyaksikan keadaan Tui Lan.
"Baik! Lian Cu, tolonglah aku...!"
Isterinya menjawab seraya menarik lengan gadis bertangan tunggal itu. Setelah isterinya itu masuk ke ruang dalam, maka si Pemilik Rumah tersebut lalu berkata kepada Kakek Hoat.
"Lo Hoat, marilah kita angkat wanita muda ini ke dalam! Hati-hatilah! Tampaknya ia hendak melahirkan. Keadaannya sangat mencemaskan."
Kakek Hoat mengangguk-anggukkan kepalanya, sehingga rambutnya yang putih mengkilap itu melambai-lambai ke kanan dan ke kiri.
Untuk pertama kalinya mulutnya yang sudah ompong tak bergigi lagi itu tersenyum.
"Kalau begitu sungguh beruntung dia, karena telah kubawa ke dalam perawatan seorang tabib nomer satu di dunia."
Desahnya dengan nada bersyukur. Lalu "...Biarpun mula-mula aku merasa ragu-ragu juga untuk membawanya ke sini."
"Nah, kau telah melupakan pesanku lagi!"
Hardik si Pemilik Rumah perlahan.
"Habis, apa yang mesti kukatakan? Siapa lagi di dunia ini yang memiliki ilmu pengobatan nomer satu selain anak murid keturunan Bu-eng Sin-yok-ong? Padahal satu-satunya pewaris beliau hanyalah Tuan Chu Seng Kun seorang, Siapa lagi?"
Kakek Hoat membantah.
"Ya. Tapi... bukankah kau sudah kupesan untuk tidak mengungkit-ungkit lagi hal itu? Aku diam di tempat ini untuk menyepi dan mengasingkan diri. Aku sudah bosan berurusan dengan orang orang persilatan seperti halnya kakek guruku itu."
"Maaf, Tuan Chu. Bukankah di sini tidak ada orang lain yang mendengarkan kata-kataku tadi?"
"Ah... sudahlah! Kau memang sulit diajak bicara."
Chu Seng Kun si Pemilik Rumah itu memotong gemas.
"Nah marilah kita angkat dia!"
Kakek Hoat tertawa kecil.
"Terima kasih. Tuan Chu."
Ujarnya. Di dalam kamar pengobatan telah dipersiapkan oleh isteri Chu Seng Kun. Setelah membaringkan tubuh Tui Lan diatas tempat tidur, tabib muda itu lalu menyuruh Souw Lian Cu dan kakek Hoat keluar.
"Biarlah aku dan Siok Eng saja yang memeriksanya. Hanya tolong kau siapkan air hangat di tempayan, Lo Hoat! Maaf Lian Cu, kami terpaksa menelantarkan kau."
Katanya sambil menyeka keringat yang mulai mengalir di dahinya. Setelah Souw Lian Cu dan kakek Hoat keluar, Kwa Siok Eng mendekati suaminya.
"Kau kelihatan tegang sekali, Kun-ko. Apakah ada yang tak beres dengan wanita muda ini?"
Sambil bergegas mempersiapkan peralatannya Chu Seng Kun mengangguk.
"Tadi sudah kuperiksa barang sedikit keadaan tubuhnya. Tampaknya belum saatnya dia melahirkan. Namun darahnya sudah mulai keluar. Aku... aku takut... ah, marilah kita periksa dia. Tanggalkan semua pakaiannya!"
Jawabnya cemas.
"Baik! Eh...! Di bawah pakaiannya ia mengenakan baju kulit ular!"
Tiba-tiba Kwa Siok Eng menjerit kecil. Sekejap Chu Seng Kun juga kaget. Namun dengan cepat ia menjadi sadar kembali.
"Sudahlah! Jangan hiraukan itu! Kita harus cepat-cepat mengurusnya!"
Demikianlah, sementara Chu Seng Kun dan isterinya sibuk mengurusi Tui Lan, Souw Lian Cu dan Lo Hoat juga sibuk pula menjerang air di dapur.
Dan kesempatan itu ternyata juga mereka pergunakan untuk saling mengenal lebih lanjut.
"Apakah nona ini benar-benar keponakan Tuan Chu? Mengapa selama ini aku tidak pernah melihat nona? Sudah lebih dari tiga tahun aku membantu Tuan Chu disini."
Souw Lian Cu menggerakkan kepalanya, sehingga segumpal rambut yang menutupi dahinya tersibak ke samping.
Matanya yang bulat lebar itu menatap wajah kakek Hoat.
Bibir mungil yang tak pernah terbuka itu tiba-tiba tersenyum.
Manis sekali, sehingga kakek Hoat yang telah tua renta itupun masih tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.
Belum pernah rasanya selama ini ia menyaksikan seorang gadis sedemikian cantiknya.
"Aku memang keponakannya, Kek. Adik perempuan dari paman Chu itu adalah ibu tiriku."
Gadis ayu itu menjawab.
"Hei? Tuan Chu itu masih mempunyai seorang saudara perempuan? Dan saudara perempuannya itu sekarang telah menjadi ibu tiri nona? Lalu dimanakah ibu nona sendiri? Apakah Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu mempunyai dua isteri?"
Lagi-lagi Souw Lian Cu tersenyum.
"Tidak. Ayahku hanya mempunyai seorang isteri saja. Ibuku telah meninggal puluhan tahun yang lalu, ketika aku masih berusia dua tahun."
"Ooooh...!"
Kakek Hoat berdesah, kemudian terdiam.
"Lalu... Siapakah kau ini sebenarnya, Kek? Kulihat engkau memiliki keanehan tersendiri. Tak mungkin kau cuma seorang pembantu seperti yang dikatakan oleh Cici Siok Eng tadi."
"Hei? Apakah anehnya orang seperti aku ini? Aku memang pembantu dari Tuan Chu..."
Kakek Hoat menjawab cepat.
"Kek, kau jangan berbohong kepadaku. Bukankah aku juga sudah menjawab semua pertanyaanmu dengan baik?"
Kakek tua itu menjadi merah wajahnya.
"Ah, kau benar, nona... Apakah perlunya orang tua seperti aku ini masih juga bersembunyi dari kenyataan?"
Katanya seraya menarik napas panjang.
"Dengarlah! Dahulu aku adalah seorang pengawal rahasia Kaisar Chin Si. Karena kaisar Chin jatuh, maka aku menjadi pelarian. Untuk melampiaskan dendamku kepada Kaisar Han, maka aku menjadi perampok dan membuat kerusuhan dimana-mana. Tapi akhirnya aku tertangkap juga oleh pasukan Kaisar Han. Aku dikepung beramai-ramai sehingga tubuhku penuh luka. Waktu itu aku sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup. Tapi ternyata Thian menentukan lain. Tuan Chu tiba-tiba menolongku. Seperti memiliki mujijat saja aku yang sudah tiga-perempat mati itu dihidupkannya kembali. Aku menjadi sadar akan kekeliruanku. Aku lantas bertekad untuk menebusnya. Aku membantu Tuan Chu mengamalkan kepandaiannya mengobati orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Kadang-kadang aku juga ikut menjuaIkan atau membagi-bagikan obat-obatan hasil ramuannya ke tempat-tempat yang membutuhkan."
"Ah, kalau begitu kepandaian silat kakek tentu hebat sekali. Kudengar para pengawal mendiang Kaisar Chin memiliki kesaktian yang tinggi, seperti misalnya... mendiang Hek-mou-sai Wan It dan Siang-houw Nio-nio."
Tiba-tiba Lo Hoat tertawa terkekeh-kekeh.
"Ah! Nona sungguh membuatku malu saja. Kalau dibandingkan dengan keroco-keroco jalanan, ilmuku memang boleh dibilang tinggi. Tapi kalau dibandingkan dengan ilmu keluarga Souw, wah...rasanya tubuhku yang tua ini harus membanting-tulang seribu tahun lagi untuk belajar silat, eh-eh-eh-eh..."
"Ah, Kakek ini bisa saja..."
"Tapi eh... omong-omong, kenapa nona sendiri saja kemari? Di manakah ayahmu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu? Apakah beliau tidak ikut datang ke sini?"
Tiba-tiba Lo Hoat menghentikan tawanya dan bertanya serius.
Tak terduga pertanyaan Lo Hoat itu justru membuat pudar kegembiraan Souw Lian Cu.
Wajah yang ayu itu tiba-tiba menjadi gelap.
Suasana mendadak menjadi kaku.
Gadis itu tak menjawab untuk beberapa saat lamanya.
Tentu saja keadaan itu membuat heran hati Lo Hoat.
Dengan pandang mata bingung orang tua itu mengawasi Souw Lian Cu.
"Nona Souw, kenapa tiba-tiba kau terdiam? Apakah ada sesuatu yang salah?"
Desaknya cemas. Souw Lian Cu tersentak kaget, lalu menghela napas panjang sekali.
"Ah, maaf aku tidak apa-apa. Aku memang datang sendirian ke sini, karena aku mengunjungi Paman Chu bukan sebagai wakil dari keluarga Souw, tapi sebagai utusan Ban-hoat Sian-seng (Pelajar Selaksa Ilmu atau Pelajar Serba Bisa) yang berdiam di Puncak Hoa-san."
Sebaliknya kini ganti Lo Hoat yang menjadi kaget mendengar ucapan Souw Lian Cu tersebut.
"Ban-hoat Sian-seng dari Puncak Hoa-san? Nona Souw, aku pernah mendengar tentang adanya seorang tokoh sakti di Puncak Gunung Hoa-san, yang memiliki sebuah buku yang disebut Buku Rahasia. Khabarnya tokoh sakti itu juga disebut-sebut sebagai Tokoh Nomer Satu di dunia persilatan dewasa ini. Hmm... apakah beliau itu yang kau sebutkan sebagai Ban-hoat Sian-seng tadi?"
Souw Lian Cu menatap Lo Hoat lekat lekat, kemudian mengangguk.
"Benar. Memang beliaulah pemilik dari buku Rahasia itu. Dan... kedatanganku kemari ini juga berkenaan dengan buku tersebut. Sebab buku itu telah hilang beberapa tahun yang lalu."
"Oh, jadi buku itu telah dicuri orang? Wah, hebat benar orang yang mencurinya. Tapi... mengapa engkau yang diutus untuk melacak buku itu? Ada hubungan apa antara keluarga Souw dengan Ban-hoat Sian-seng?"
Wajah Souw Lian Cu yang semula menjadi gelap itu tiba-tiba menjadi terang kembali.
"Ban-hoat Sian-seng adalah guruku. Dan kedatanganku kemari bukan untuk melacak Buku Rahasia itu. Hmm, kakek ini main tebak sekenanya saja..."
Katanya sambil tersenyum.
"Oooooooh...I"
Lo Hoat tersipu-sipu.
Lo Hoat melirik sekejap ke arah Souw Lian Cu.
Hatinya terasa belum puas.
Masih banyak pertanyaan yang tersimpan di dalamnya, namun ia merasa segan untuk mengeluarkannya.
Ia takut dikira terlalu mencampuri urusan orang.
"Ooo-eeeek! Ooo-eek! Ooo-eek...!"
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh suara tangis bayi dari kamar pengobatan. Dan bersama itu pula air yang mereka jerang juga telah mendidih, keduanya saling berpandangan dengan hati was-was.
"Lo Hoat! Mana air hangat itu? Cepat bawa kemari!"
Terdengar suara Kwa Siok Eng dari dalam.
Lo Hoat bergegas membawa air mendidih itu ke dalam, sementara Souw Lian Cu cepat menyambar tempayan berisi air dingin dan mengikutinya dari belakang.
Di ruang tengah mereka berpapasan dengan Kwa Siok Eng atau Nyonya Chu yang menggendong orok yang masih baru dan berlepotan darah segar.
Orok yang masih saja menangis keras itu diletakkannya di atas meja kecil.
"Lo Hoat? Tolong kau taruh tempayan air mendidih itu di bawah meja, lalu buatkan campuran air hangat sedikit saja untuk memandikan bayi ini! Dan., Lian Cu! Tolong kau ambil lilin di almari itu dan nyalakanlah sebanyak-banyaknya, kemudian taruhkanlah di sekitar meja ini!"
Kwa Siok Eng membagi-bagi pekerjaan dengan tergesa-gesa, sementara dia sendiri sibuk mempersiapkan pakaian dan selimut untuk si bayi.
Sambil menyerahkan nampan kecil berisi air hangat Lo Hoat bertanya.
"Bagaimana dengan ibunya?"
"Dalam keadaan berbahaya. Kun Koko sedang berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan jiwanya. Dia telah kehilangan banyak darah, karena kandungannya ternyata belum cukup umur. Mungkin baru tujuh bulan..."
"Lalu...?"
Lo Hoat mendesak lagi.
"Ah! Jangan banyak bicara dulu! Nanti saja! Anak ini juga memerlukan perawatan khusus. Jiwanya tak kalah gentingnya dengan ibunya, sebab belum saatnya dia lahir di dunia... Ayoh! Dekatkanlah sedikit lilin-lilin itu, agar udaranya menjadi hangat!"
Tapi baru saja mereka bergerak, tiba-tiba dari dalam terdengar suara Chu Seng Kun memanggil Kwa Siok Eng.
"Eng-moi, bagaimana dengan anak itu? Kalau sudah baik, biarlah ditangani oleh Lian Cu! Kau cepat-cepatlah ke sini! Wanita ini sudah sulit diselamatkan! Dia terlalu banyak kehilangan darahnya! Harus diusahakan penambahan darah buat dia! Cepatlah kau periksa, siapa di antara kita yang cocok untuk menambah darahnya!"
"Oh, begitu payahkah keadaannya?"
Kwa Siok Eng berdesah cemas pula. Lalu katanya kepada Souw Lian Cu.
"Lian Cu, Tolong kau jaga anak ini baik-baik! Aku hendak membantu Kun Koko sebentar. Awas! Jangan sampai lengah! Lilin-lilin ini tidak boleh mati. Tidak boleh terlalu dekat, tapi juga jangan terlalu jauh. Setelah sepeminuman teh nanti tempayan air mendidih di bawah meja itu boleh disingkirkan!"
Kwa Siok Eng lalu berlari ke ruang pengobatan. Namun baru tiga langkah ia berjalan, tiba-tiba sudah berbalik kembali.
"Oh, ya... bolehkah aku mengambil sedikit saja darahmu? Dan... kau juga, kakek Hoat! Siapa tahu di antara kalian ada yang cocok untuk menambah darahnya?"
"Silakan!"
Kakek Hoat dan Souw Lian Cu menjawab hampir berbareng.
Kwa Siok Eng lalu bergegas mengambil cawan kecil yang sering ia pakai untuk meramu obat.
Kemudian dengan torehan kecil di ujung jari Souw Lian Cu dan Lo Hoat, ia mengambil beberapa tetes darah mereka.
Setelah itu ia berlari ke dalam kamar pengobatan.
Di dalam kamar ia menyaksikan suaminya sedang mati-matian bertarung dengan maut yang hendak merenggut jiwa Tui Lan.
Dengan peluh yang bercucuran di seluruh tubuhnya, suaminya tampak sedang mengerahkan segala kemampuannya untuk menyelamatkan jiwa wanita yang baru melahirkan tersebut.
Dengan mengatur serta mengendalikan tenaga saktinya, suaminya menusukkan beberapa buah jarum emas dan perak di atas perut dan dada wanita itu.Kwa Siok Eng lalu membuka almari obat-obatan.
Diambilnya beberapa buah botol berisi cairan-cairan bening yang sering dipergunakan oleh suaminya kalau sedang memeriksa jenis darah orang yang ditolongnya.
"Inikah cairan yang harus kupergunakan untuk memeriksa darah mereka, koko?"
"Ya! Cepatlah...!"
Chu Seng Kun menjawab singkat.
Kwa Siok Eng lalu meletakkan botol-botol dan cawan-cawan yang dipegangnya diatas meja.
Kemudian sambil membawa sebuah cawan kecil lagi ia mengambil darah Tui Lan.
Wanita muda itu masih belum sadarkan diri.
Itulah sebabnya kelahiran bayinya mengalami kesulitan dan harus dibantu oleh Chu Seng Kun.
"Koko, kau dan aku juga harus diperiksa darahnya. Siapa tahu justru darahmu atau darahku yang cocok untuk menambah darahnya?"
Siok Eng berkata kepada suaminya.
"Baik! Ambillah!"
Sementara itu selagi semua penghuni rumah tersebut sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Tui Lan dan anaknya, diluar rumah tampak tiga orang lelaki dan perempuan sedang mengendap-endap mendekati rumah itu.
Mereka adalah Tung-hai Nung-jin dan dua orang keponakannya, Tiauw Li Ing dan Tiauw Kiat Su.
"Benarkah kakek tua yang kita lihat itu masuk ke rumah ini?"
Tiauw Li Ing berbisik kepada kakaknya.
"Tentu. Akan kemana lagi? Inilah satu-satunya rumah yang ada di tempat ini."
Tiauw Kiat Su menjawab mantap.
"Hati-hatilah! Rumah ini sangat mencurigakan. Penghuninya tentu bukan orang sembarangan. Hatiku merasa berdebar-debar."
Tung-hai Nung-Jin memperingatkan keponakannya.
"Ah, paman... Apa yang mesti kita takutkan?"
Tiauw Li Ing menggerutu.
"Benar, Paman. Paman tidak usah cemas. Kalau ada apa-apa, serahkan saja kepada kami berdua. Tanggung beres!"
Tiauw Kiat Su menyambung perkataan adiknya. Tung-hai Nung-jin menghela napas.
"Beres? Hmmh! Kalian ini masih tetap saja seperti dulu. Meremehkan orang lain, sombong dan kurang perhitungan. Bagaimana kalau orang yang mempunyai rumah ini seorang tokoh sakti yang sedang mengasingkan diri? Apakah peristiwa dengan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu belum membuat jera juga?"
"Jera...! Hahaha! Bukankah pendekar yang diagung-agungkan orang itu akhirnya terluka di tangan guruku, Giok-bin Tok-ong?"
Tiauw Kiat Su menyahut dengan tertawa. Sekali lagi Petani Dari Lautan Timur itu menarik napas panjang.
"Hmm, sejak dulu sifatmu selalu begitu. Bersandar pada kekuatan orang lain. Dulu kalian selalu mengandalkan kekuatan ayahmu, sekarang kalian mengandalkan kekuatan gurumu. Ya... kalau orang yang kalian pakai untuk bersandar itu selalu berada di dekatmu. Kalau tidak?"
"Paman maksudkan kalau tiba-tiba di rumah itu muncul tokoh sakti semacam Hong-Gi-Hiap, padahal sekarang guruku tidak ada, begitu?"
Tiauw Kiat Su mendengus.
"Ya! Lalu yang hendak kau andalkan untuk melawannya?"
Tiauw Kiat Su tersenyum.
Tiba-tiba pemuda itu mengeluarkan sebuah benda bulat sebesar telur penyu, yang tidak lain adalah pek-lek-tan, senjata peledak kepunyaan Giok bin Tok-ong!
Dengan senyum kemenangan pemuda itu menimang-nimang peluru maut tersebut di tangannya.
ukan main kagetnya Tung-hai Nung jin melihat itu!
"Hati-hati!"
Teriaknya.
"Hahaha...! Bagaimanakah Paman? Apakah paman masih menyangsikan kemampuanku? Paman telah melihat sendiri kedahsyatan peluru ini. Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang disohorkan orang itupun tak kuasa melawan senjata ini, apalagi orang lain. Apa yang mesti ditakutkan lagi?"
"Bagus! Kalau begitu... marilah kita masuki rumah itu! K ita cari kakek tua yang mencurigakan itu!"
Tiauw Li Ing berseru gembira.
Tung-hai Nung-jin terpaksa tidak bisa membantah lagi.
Diikutinya saja kedua orang keponakannya itu dari belakang.
Tangannya tak pernah lepas dari tangkai paculnya.
Tiba-tiba suara tangis bayi terdengar sampai di telinga mereka.
"Hei! Aku mendengar suara tangis bayi."
Tiauw Kiat Su berdesah kaget.
"Ah, peduli amat! Mari kita masuk!"
Tiauw Li Ing menggeram, lalu mendorong pintu rumah itu. (Lanjut ke
Jilid 14) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 14
"Gerrrrtttt...!"
Pintu terbuka.
Tanpa mengendorkan kewaspadaan mereka masuk.
Oleh karena ruang depan tidak ada orangnya, maka mereka bertiga lalu masuk ke ruang dalam.
Dan...
mereka segera berhadapan dengan Souw Lian Cu dan Lo Hoat yang sedang sibuk merawat orok yang baru lahir itu.
Sementara itu di dalam kamar pengobatan keadaannya juga tidak kalah tegangnya.
Tui Lan mulai sadar dari pingsannya.
Namun karena tubuhnya sangat lemah, maka dia hanya bisa membuka matanya saja.
Bibirnya yang kering dan pucat itu tampak bergetaran menahan sakit.
"Tenanglah nyonya. Kau dan bayimu selamat. Sekarang berusahalah untuk mengerahkan tenaga saktimu, aku akan membantumu dari luar!"
Chu Seng Kun berkata dengan suara bergetar pula.
Seluruh kekuatannya juga hampir terkuras habis untuk menolong persalinan yang sulit itu.
Mata Tui Lan tampak terbelalak mendengar tentang kelahiran bayinya.
Ada terpancar perasaan gembira dan bahagia di dalam pandang matanya.
Namun sinar kebahagiaan itu segera lenyap kembali tatkala ia menyadari keadaan tubuhnya yang tak berpengharapan lagi itu.
Sekejab malah terbayang kembali tubuh suaminya yang terseret arus air di bawah tanah itu.
"Koko..."
Bisiknya perlahan hampir tak terdengar sama sekali. Chu Seng Kun melepaskan kedua telapak tangannya yang menempel di atas perut Tui Lan.
"Eng-moi! Bagaimanakah pekerjaanmu? Ada yang cocok untuknya?"
Desaknya kepada Kwa Siok Eng, isterinya.
"Oh... sungguh beruntung sekali dia! darah Lian Cu ternyata cocok dengan darahnya!"
Siok Eng menjawab hampir bersorak.
"Bagus! Kalau begitu panggil Lian Cu kemari...!"
Siok Eng cepat melesat keluar dan berlari ke ruang tengah.
"Lian Cu, kau di...?"
Serunya terputus begitu menyaksikan apa yang terjadi di ruangan tersebut.
Ternyata tempat itu telah menjadi ajang pertempuran yang seru.
Lo Hoat yang tua itu bertempur dengan seorang lelaki kurus bersenjata pacul sedangkan Souw Lian Cu menghadapi seorang gadis cantik membawa kipas besi.
Mereka berkelahi dan bertarung dengan hebatnya, sementara di dekat pintu masih terlihat seorang lagi yang masih menganggur.
Sekilas pandang saja Kwa Siok Eng sudah bisa melihat bahwa orang-orang yang datang itu rata-rata memiliki kepandaian di atas suaminya dan dirinya sendiri.
Dan Kwa Siok Eng segera dapat mengenali pula lelaki kurus bersenjata pacul tersebut.
"Tung-hai Nung-Jin! Oh, kenapa bajak laut itu sampai berada di tempat yang terpencil seperti ini? Dan... siapa pula gadis lihai yang bertempur dengan Lian Cu itu? Celaka...!"
Siok Eng berdesah cemas. Kedatangan Siok Eng itu segera diketahui oleh pemuda yang berdiri di dekat pintu.
"Ahaaa! Ternyata masih ada penghuni lain di rumah ini!"
Pemuda yang tidak lain adalah Tiauw Kiat Su itu tertawa gembira sambil melangkah menghampiri Siok Eng.
Siok Eng mundur kembali.
Namun begitu teringat akan suaminya yang sedang mengobati orang, langkahnya segera terhenti.
"Mereka tidak boleh ke kamar pengobatan."
Desahnya di dalam hati.
Apa sebenarnya yang telah terjadi?
Mengapa begitu datang rombongan Tung-hai Nung-jin itu langsung bergebrak dengan kakek Hoat dan Souw Lian Cu?
Ternyata begitu berhadapan muka, Souw Lian Cu dan kakak-beradik She Tiauw langsung saling mengenal.
Mereka semua pernah berjumpa beberapa tahun yang lalu di dusun Ho-ma-cun meskipun hanya sebentar.
(Baca.
Pendekar Penyebar Maut).
Pada waktu itu Tiauw Kiat Su mulai menaruh perhatian kepada Souw Lian Cu yang buntung lengan kirinya, walaupun di dalam pertemuan tersebut sama sekali ia tak mengerti kalau gadis yang menarik hatinya itu adalah puteri Hong gi-hiap Souw Thian Hai.
"Hei, koko! Aku ingat gadis buntung ini! Kita pernah menjumpainya di desa Ho-ma-cun beberapa tahun yang lalu, ketika kita berdua baru pertama kalinya menginjakkan kaki di dunia kang-ouw..."
Tiauw Li Ing berseru seraya mengacungkan jarinya ke arah Souw Lian Cu, yang sedang sibuk menjaga orok itu.
"Kau... kau benar, Ing-moi! Ooh... selamat bertemu kembali, nona."
"Hei! Hei! Jangan ngawur kau! Masih saja panggil nona nonaan seperti dulu. Lihat bayi yang di dekatnya itu!" '"Eh...!?!"
Tiauw Kiat Su tersentak kaget. Sementara itu Tung-hai Nung-jin tampak mendekati kakek Hoat.
"Aha... akhirnya ketemu juga kau! Kenapa kau tadi berlari sambil mengendap-endap di dalam hutan itu? Dan apa yang kaubawa tadi? Kau seperti menggendong orang. Mana orang itu, heh?"
Katanya dengan suara dingin.
Lo Hoat menatap wajah lawannya.
Hatinya sedikit bergetar juga melihat senjata pacul di tangan orang itu.
Soalnya tiada seorangpun di dunia persilatan saat itu yang bersenjatakan pacul selain bajak laut Tung-hai Nung-Jin di Lautan Timur.
Padahal ia menyadari bahwa ia takkan mampu menjinakkan pacul tersebut.
Oleh karena itu ia berusaha untuk tidak membuat onar terlebih dulu.
"Maaf, apakah aku yang tua ini berhadapan dengan Tung-hai Nung-jin dari Lautan Timur itu?"
Sapanya halus. Tung-hai Nung-jin mendengus melalui lobang hidungnya.
"Tidak salah! Nah, lekaslah kau jawab pertanyaanku tadi!"
Lo Hoat menghela napas. Bagaimana pun juga ia adalah bekas pengawal kaisar yang disegani orang. Sikap dan ucapan Tung-hai Nung-jin yang kurang bersahabat itu lambat laun memanaskan hatinya juga.
"Maaf, apa peduli Tuan dengan semua yang kulakukan di hutan itu? Bukankah aku tidak mengganggu kepentingan Tuan?"
Katanya sedikit keras.
"Setan! Kau tidak mau menjawab pertanyaanku? Apakah kau ingin dipaksa dahulu untuk menjawabnya?"
"Tuan jangan terlalu kasar di rumah orang! Tuan adalah tamu di sini."
Lo Hoat masih tetap berusaha mencegah pertumpahan darah. Akhirnya Souw Lian Cu maju ke depan. Ditariknya lengan Lo Hoat ke belakang. Lalu katanya kepada tamu-tamu yang tak diundangnya itu.
"Harap cuwi duduk dahulu yang baik. Kita bisa berbicara tentang maksud cuwi datang ke sini nanti...kita tak perlu bersitegang leher tanpa alasan yang pasti. Nah, silakan...!"
Sebenarnya hati Souw Lian Cu sendiri juga sudah mulai terbakar melihat tingkah laku tamu-tamunya.
Sejak Tiauw Kiat Su menyebutnya gadis buntung tadi, hatinya sudah mulai tersinggung.
Apalagi ketika ia disangka telah kawin dan mempunyai anak.
Namun semuanya itu ditelannya saja di dalam hati, karena ia mengingat sesuatu yang lebih penting, yaitu keselamatan bayi itu dan ibunya.
Tapi keinginannya tersebut agaknya tidak terkabul.
Tung-hai Nung-jin yang sudah terlanjur bersikap garang itu tampaknya malu untuk mengubah sikapnya.
Apalagi bajak laut yang sudah terbiasa bersikap kejam dan sewenang-wenang itu melihat tiada orang yang perlu ditakuti di dalam rumah tersebut.
"Tak perlu! Kami datang tidak untuk bertamu. Kami datang untuk mencari orang tua itu! Nah, kau tidak perlu ikut campur agar kami tak usah membunuhmu!"
Bentaknya dengan suara bengis.
"Benar, nona... eh, nyonya. Kau tak perlu ikut campur dalam urusan ini. Sayangilah kecantikanmu. Kau... eh, dimanakah suamimu?"
Tiauw Kiat Su tiba-tiba melangkah maju dan mencoba untuk menggoda Souw Lian Cu. Ternyata Souw Lian Cu juga tak kuasa mengendalikan kemarahannya.
"Tutup mulutmu! Kalian semua memang manusia tak punya aturan dan sopan-santun sama sekali! Seenaknya saja masuk ke rumah orang! Masih pula berlaku kurang ajar, membentak-bentak dan main paksa lagi! Huh! Ayoh, sekarang pergi dari sini! Pergi!"
Hardiknya dengan suara menggeledek.
Karena marah, otomatis tenaga dalamnya bekerja, sehingga suaranya benar-benar seperti petir yang meledak di telinga para pendengarnya.
Tung-hai Nung-jin dan keponakannya tersentak kaget.
Mereka sama sekali tidak mengira kalau gadis buntung itu memiliki lweekang sedemikian tingginya.
Namun hal itu justru mengelitik hati Tiauw Li Ing malah!
Sebagai gadis yang congkak dan gemar membuat kerusuhan, tantangan Souw Lian Cu itu segera ditanggapi dengan gembira sekali.
"Bagus! Kalau kami tidak mau pergi, kau mau apa? Main paksa juga? Hihi hihii...!"
Saking marahnya Souw Lian Cu tak bisa berkata-kata lagi.
Langsung saja ia menyerang gadis congkak itu.
Telapak tangan tunggalnya mendorong lurus ke depan, ke arah ulu hati lawannya.
Sederhana saja gerakannya, namun dari telapak tangan itu tiba-tiba mengeluarkan asap kemerah-merahan, seperti halnya kayu bakar yang baru dikeluarkan dari tungku api.
Dan pengaruh yang ditimbulkannya ternyata juga sangat hebat.
Udara panas terasa membakar ke tubuh Tiauw Li Ing.
Mengetahui lawannya memilik ilmu silat tinggi, Tiauw Li Ing semakin menjadi bersemangat lagi.
Gadis yang selalu menyombongkan kepandaiannya itu segera mengerahkan ilmu andalannya pula.
Sambil berputar ke samping ia menghantam pergelangan tangan Souw Lian Cu.
Dan serangkum udara dingin segera menerjang ke depan, memotong pancaran hawa panas yang ditimbulkan oleh serangan Souw Lian Cu.
"Ceeeeeeeeeeeeess...!"
Belum juga tangan mereka bertemu, udara panas dan udara dingin yang mereka timbulkan telah bentrok terlebih dahulu.
Dan bentrokan tersebut menimbulkan suara berdesis seperti api tersiram hujan.
Plaaak.
Dan kedua buah telapak tangan itu akhirnya bertemu pula.
Selanjutnya, masing-masing telapak tangan tersebut terpental kembali.
Tiauw Li Ing meringis kesakitan.
Telapak tangannya seperti menyentuh lidah api.
Sementara Souw Lian Cu sendiri juga tampak menggigit bibirnya pula, karena tangannya seperti terperosok ke dalam lobang es yang dingin luar biasa.
Keduanya lalu berdiri berhadapan.
Masing-masing merasa terkejut atas kedahsyatan ilmu lawannya.
Terutama Tiauw Li Ing.
Gadis itu sama sekali tak menyangka kalau gadis buntung yang dianggapnya lemah itu ternyata menyimpan kekuatan yang luar biasa.
Malahan pada benturan mereka yang pertama tadi, kekuatannya masih terasa sedikit kalah dibandingkan dengan kekuatan lawannya itu.
Dan hal itu semakin menambah kegusarannya.
Dikerahkannya seluruh kekuatannya kemudian menyerang kembali dengan dahsyatnya.
Souw Lian Cu pun tidak mau tinggal diam pula.
Dikerahkannya tenaga sakti Ang-pek Sinkang warisan ayahnya, kemudian menyambut serangan lawannya itu dengan tidak kalah garangnya.
Demikianlah, mereka pun lalu terlibat dalam pertempuran yang hebat dan seru.
Tentu saja keributan tersebut menyebabkan bayi yang sedang berada di dalam perawatan khusus itu menjadi gelisah dan menangis keras.
Lo Hoat tak tega mendengarnya.
Bergegas ia menghampiri.
Namun Tung-hai Nung-jin cepat mencegatnya.
Tanpa memberi peringatan terlebih dahulu iblis dari Lautan Timur itu menyerang dengan paculnya.
"Yiuuss...!"
Mata pacul yang tajam itu menyambar leher Lo Hoat.
Lo Hoat dengan tangkas mengelak.
Tiba-tiba tangannya sudah memegang ruyung berantai, yaitu tiga potong besi pendek yang masing-masing dihubungkan dengan rantai pendek pula.
Ruyung tiga ruas itu segera menyambarnyambar dengan dahsyatnya mengurung pacul lawannya.
Dan keadaan yang seperti itulah yang kemudian disaksikan oleh Kwa Siok Eng!
Kwa Siok Eng menjadi kaget dan bingung.
Sekejap ia tak tahu apa yang mesti dia lakukan.
Semuanya berlangsung dengan mendadak dan tak disangka-sangka sebelumnya.
Dan pada saat itulah tiba-tiba Tiauw Kiat Su datang mendekatinya.
Dengan mulut meringis itu menegurnya.
"Ahaa... ternyata masih ada penghuni lain di rumah ini!"
Kwa Siok Eng melangkah mundur, namun segera berhenti tatkala teringat keadaan di kamar pengobatan.
"Kalian siapa...? Mengapa tiba-tiba membuat onar di rumahku ini?"
Sapanya pura-pura tidak mengenal mereka. Tiauw Kiat Su tertawa.
"Ah, nyonya tidak mengenal kami? Hahaha... dengarlah! Kami datang dari Lautan Timur. Kami berdua adalah putera Tung-hai-tiauw. Dan orang tua itu adalah pamanku, Tung-hai Nung-jin. Masakan nyonya belum mendengar nama pamanku itu?"
Katanya seraya menunjuki ke arah Tung-hai Nung-jin.
"Tung-hai Nung-jin...? Mengapa dia sampai datang kemari? Ada urusan apa sebenarnya?"
Kwa Siok Eng pura-pura terkejut.
"Ketahuilah, nyonya. Kami bertiga sedang mencari seorang wanita muda berwajah cantik. Wanita itu mengenakan baju kulit ular. Dia berada di sekitar tempat ini. Tadi secara tidak sengaja kami melihat kakek tua itu berlari mengendap-endap menuju ke rumah ini. Dia menggendong sesosok tubuh manusia. Tapi ketika kami tanyakan, kakek tua itu tidak mau berterus terang. Itulah sebabnya kami menyerang..."
"Ahh...!"
Kwa Siok Eng berdesah.
Serba sedikit nyonya rumah ini mulai mendapat gambaran tentang wanita muda yang kini sedang dirawat oleh suaminya itu.
Tampaknya wanita muda itu adalah musuh keluarga Tiauw, dan sekarang sedang dikejar-kejar sampai di tempat ini.
"Hmm, siapakah nama nyonya? Apakah kakek tua itu ayahmu? Siapakah dia? Kulihat kepandaiannya juga tidak rendah. Bisa melayani pamanku sedemikian lamanya."
Tiauw Kiat Su bertanya kepada Kwa Siok Eng lalu mengalihkan pandangannya ke arena pertempuran.
"Dan.. gadis buntung itu! Siapakan dia? Benarkah bayi yang ada di tengah-tengah barisan lilin itu anaknya?"
Kwa Siok Eng tidak segera menjawab.
Pikirannya sedang bingung memikirkan kemelut yang kini sedang dihadapinya.
Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menolong jiwa wanita muda dan bayinya yang kini sedang berjuang untuk hidup itu.
Apa lagi keduanya harus lekas-lekas mendapatkan pertolongan sekarang.
"Tapi... tapi rumah ini sedang kedatangan perusuh. Dan Souw Lian Cu yang seharusnya menyumbangkan darahnya kini sedang bertempur dengan musuh. Oh... bagaimana ini?"
Pikirnya dengan gelisah.
"Huh! Mengapa nyonya diam saja?"
Tiba-tiba Tiauw K iat Su membentak tak senang.
"Aku... oh... ini..."
Kwa Siok Eng menjadi semakin gugup dan berkeringat. Apalagi ketika suaminya tiba tiba berseru dari dalam.
"Eng-moi! Suara apakah itu? Mengapa ribut benar? Dimanakah Souw Lian Cu? Mengapa lama sekali? Lekaslah...!"
Tiauw Kiat Su terperanjat, dan Kwa Siok Eng pun menjadi pucat pula.
"Siapakah dia? Suamimu? Kenapa dia tak keluar menemui kami?"
Pemuda itu menggeram, lalu melangkah ke ruang pengobatan.
"Berhenti!"
Kwa Siok Eng menjerit keras, kemudian melesat ke depan, menghalang di muka Tiauw Kiat Su. Tiauw Kiat Su tersenyum dingin. Wajahnya berubah menjadi kejam dan haus darah.
"Hahaha... agaknya ada sesuatu yang kalian sembunyikan. Apakah itu? Wanita yang sedang kucari-cari itu? Bagus! Akan kucari dia!"
"Jangan!"
Tanpa terasa Kwa Siok Eng berteriak pula.
"Eng-moi! Kenapa kau berteriak-teriak? Ada apa di situ?"
Chu Seng Kun berseru lagi.
Sama sekali tak menyangka kalau di ruang tengah telah terjadi pertempuran yang menegangkan.
Seluruh perhatiannya hanya tercurah kepada Tui Lan yang sedang meregang nyawa menghadapi maut.
"Rumah kita kedatangan rombongan bajak laut dari Lautan Timur!"
Kwa Siok Eng menjawab.
"Tapi kau tak perlu khawatir. Kami bertiga sanggup menghalau mereka."
"Rombongan bajak laut dari Lautan Timur?"
Chu Seng Kun mengulang tak percaya.
"Tempat ini ada ratusan lie jauhnya dari pantai. Bagaimana mereka bisa sampai kemari?"
Tiauw Kiat Su tertawa terbahak-bahak.
"Lihat! Suamimu tak percaya kalau kami bisa sampai di tempat ini. Hahaha...! Hayolah, sebutkan namamu sebelum mati! Aku akan mengguratkan nama itu di batu nisanmu nanti, hahaha!"
Kulit muka Siok Eng yang putih halus itu menjadi merah padam.
Dan hatinya tiba-tiba menjadi muak pula menghadapi sikap Tiauw kiat Su yang sombong dan kurang ajar itu.
Mata yang semula tampak ketakutan karena harus memikirkan nasib sang suami dan orang-orang yang ditolongnya itu kini tampak kaku dan dingin.
Dan itulah sebenarnya watak asli dari Kwa Siok Eng, karena jelek-jelek dia adalah puteri K wa Eng Ki Ketua Tai-bong-pai (Partai Kuburan Besar) yang terkenal itu.
"Hemmh... tidak mudah membunuh aku. Cobalah!"
Geramnya seraya mengerahkan tenaga sakti Hio-yen-sinkangnya (Tenaga Sakti Asap Hio), yaitu tenaga sakti andalan kaum Tai-bong-pai.
Kabut tipis berbau wangi tiba-tiba menyelimuti tubuh Kwa Siok Eng.
Kabut itu tercipta dari lapisan keringat Siok Eng yang menguap karena adanya perubahan suhu badan secara mendadak.
Oleh sebab itu kabut tersebut segera hilang dengan sendirinya.
Tiauw Kiat Su melangkah mundur setindak.
Ilmu yang diperlihatkannya oleh lawannya itu mengingatkannya kepada cerita yang pernah didengarnya dari ayahnya.
Yaitu cerita tentang sebuah partai persilatan besar di daerah See-hek, yang pada se ratus tahun yang lalu didirikan oleb Cui-beng Kui-ong, salah seorang dari Empat Datuk Besar Persilatan zaman itu.
Maka pemuda itupun tak mau berlaku sembrono lagi.
Langsung saja ia mengerahkan ilmu yang didapatnya dari Giok-bin Tok-ong, gurunya yang baru.
Mendadak serangkum bau busuk yang sangat memuakkan tersebar dari dalam tubuhnya membuyarkan bau wangi yang tadi berhembus dari dalam tubuh Kwa Siok Eng.
Begitu busuknya bau itu sehingga orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut terasa mau muntah karenanya.
"Awas, udara beracun!"
Kwa Siok Eng yang sedikit banyak sudah hapal akan ciri-ciri racun itu berteriak memperingatkan kawan-kawannya, kemudian cepat menerjang sumber racun tersebut untuk menghentikannya.
Tiauw Kiat Su melenting pergi, mencari tempat yang luang di dalam ruangan itu.
Kwa Siok Eng segera mengejarnya.
Dan mereka pun lalu terlibat dalam pertarungan sengit dan mendebarkan.
Masing-masing memiliki ilmu yang aneh dan mengerikan, sehingga untuk beberapa saat lamanya belum dapat dipastikan, ilmu siapa yang lebih tinggi.
Sementara itu pertempuran antara Souw Lian Cu melawan Tiauw Li Ing sudah mulai merayap ke tingkat yang paling tinggi pada ilmu mereka.
Dan pada puncak ilmu mereka ternyata ilmu mereka mempunyai banyak kemiripan.
Ternyata masing masing memiliki tenaga dalam yang bersifat Im dan Yang secara berbareng.
Hanya bedanya, kalau Tiauw Li Ing harus mengeraskannya secara berbareng, yaitu sekaligus yang bersifat Im dan Yang.
"Hmm...aku mengenal ilmu yang kau pakai ini! Coba katakan, apa hubunganmu dengan Aliran Im-Yang-kauw! Mengapa seorang puteri bajak laut seperti kau ini memiliki ilmu silat Im-Yang-kun-hoat dari Aliran Im-Yang-kauw?"
Di dalam kesibukannya Souw Lian Cu masih sempat menilai ilmu silat lawannya. Ternyata Tiauw Li Ing pun masih sempat menjawab pula.
"Apa yang perlu diherankan? Apakah seorang keturunan bajak laut seperti aku ini tidak boleh mempelajarinya? Hi-hi-hi-hi...!"
"Jadi kau benar-benar menguasai Im-Yang-kun-hoat dari Im-Yang-kauw? Lalu... siapakah suhumu?"
Souw Lian Cu mendesak penasaran.
"Kalau kukatakan siapa guruku, kau tentu kaget atau... mengatakan bahwa aku seorang pembual. Hi-hi-hi..."
"Begitukah? Hmmh! Coba katakan!"
Lian Cu mendesak dan berhenti menyerang. Tiauw Li Ing tertawa melengking sebelum menjawab. Lalu katanya mantap.
"Guruku adalah tokoh terlihai di dalam Aliran Im-Yang-kauw. Kau tahu siapa yang terlihai di dalam aliran itu?"
"Kau maksudkan... Toat-beng-jin (Manusia Pencabut Nyawa)? Tai-si-ong (Kepala Kuil Agung)...? Atau... Kauw Cu-si (Pengurus Agama) Tong Ciak?"
Souw Lian Cu menyebutkan beberapa orang tokoh Im-Yang-kauw yang dikenalnya.
"Ah, pengetahuanmu benar-benar dangkal sekali. Kenapa kau sebut nama-nama itu? Mereka hanya merupakan tokoh tokoh kelas dua di dalam aliran itu."
"Tokoh kelas dua? Kurang ajar! Mereka adalah tokoh-tokoh puncak aliran itu. Kenapa mereka kau katakan sebagai tokoh-tokoh kelas dua?"
Souw Lian Cu membentak gemas.
"Dibandingkan dengan guruku mereka memang termasuk kelas dua? Mau apa lagi? Apakah aku harus mengatakan yang tidak benar?"
"Baiklah! Baiklah! Kau boleh mengatakan sesuka hatimu! Sekarang sebutkan siapakah gurumu itu?"
Tiauw Li Ing tertawa gembira me lihat kegusaran lawannya.
"Kau tahu... siapakah pemimpin aliran Im-Yang-kauw yang lama? Yang mengundurkan diri karena cacat matanya akibat pibu dengan Put-chien-kang Cin-jin dari Bing-kauw itu?"
Katanya berteka-teki. Souw Lian Cu terperanjat.
"Kau maksudkan... bo-sin-ong yang telah mengasingkan diri itu?"
Desahnya kemudian seperti tak percaya.
"Nah, kau tak percaya dan menganggapku pembual, bukan?"
Souw Lian Cu terdiam tak bisa menjawab.
Di dalam benaknya segera terbayang seorang Kakek buta yang amat sakti, yang di dalam Buku Rahasia tercatat sebagal tokoh keenam pada urutan Pendekar Terkemuka dewasa ini.
Setingkat di bawah ayahnya, Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Tapi yang ia tahu, orang tua itu sangat baik, seorang pendekar tulen, yang menjunjung tinggi kebajikan dan keluhuran budi.
Maka dari itu sungguh amat mengherankan bila orang tua itu sampai bisa mengambil murid gadis binal seperti Tiauw Li Ing.
"Lo-sin-ong memang buta matanya akibat pibu melawan Put-chien-kang Cin-jin belasan tahun yang lalu. Tetapi... masakan pendekar sakti itu juga buta hatinya, sehingga ia tak bisa merasakan macam apa sebenarnya gadis puteri bajak laut Tung-hai-tiauw itu?"
Pikirnya di dalam hati.
"Nah... kau tak mempercayai kata-kataku, bukan? Huh, aku tahu itu!"
Tiba-tiba Tiauw Li Ing mendengus keras, sehingga Souw Lian Cu tersentak kaget dari lamunannya.
Dan sekejap kemudian puteri bajak laut dari Lautan Timur itu telah menggenggam kipas besinya serta menerjang Souw Lian Cu kembali.
Gadis berlengan tunggal itupun segera mengelak menjauhinya, oleh karena tidak membawa senjata, maka dia cepat mengubah cara bersilatnya.
Kali ini ia mengeluarkan ilmu warisan keluarganya yang lain, yang khusus untuk melawan musuh-musuh bersenjata, yaitu Tai-lek Pek-khong-ciang (Pukulan Tangan kosong Bertenaga Mukjijat).
Dengan ilmu yang dahsyat ini Souw Lian Cu dapat melukai lawannya dari jarak jauh, tanpa harus menyentuh tubuh musuhnya itu.
Dalam jarak tertentu angin tajam yang meluncur dari telapak tangan atau ujung-ujung jari Souw Lian Cu, bisa melukai kulit dan daging lawannya seperti halnya pukulan tangan atau tajamnya ujung pedang biasa.
"Cussss! Cussss! Cussss!"
Angin tajam melesat ke depan menyerang jalan darah su-ki-hiat dan po ki-hiat di dada Tiauw Li Ing ketika ujung jari Souw Lian Cu menotok dari jarak jauh.
Dalam kagetnya Tiauw Li Ing cepat membuang dirinya ke samping sambil mengayunkan kipasnya untuk menangkis.
Tak!
Tak!
Cuuuus!
Kipasnya tergetar mundur seperti dihantam ujung pedang, sedangkan tubuhnya terdorong ke belakang seperti didesak oleh sebuah tenaga yang maha besar, sehingga Tiauw Li Ing menjadi pucat dan mengumpat-umpat tiada habisnya.
Apalagi ketika sudah bisa berdiri tegak kembali, dilihatnya ujung lengan bajunya tampak berlobang seperti bekas disundut api.
"Gila! Perempuan Gila! Ilmu apakah yang kau keluarkan itu?"
Jeritnya.
"Apakah kau takut? Inilah Tai-lek Pek-khong-ciang warisan keluargaku,"
Souw Lian Cu mengejek.
"Tai-lek Pek-khong-ciang dari keluarga Souw? Hei... apakah kau mempunyai hubungan keluarga dengan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai?"
Tanya Tiauw Li Ing dengan suara semakin kaget.
"Beliau adalah... ayahku!"
Dengan tenangnya Souw Lian Cu menjawab.
Tapi jawaban itu bagaikan petir siang bolong bagi Tiauw Li Ing dan kawan-kawannya.
Sama sekali tak mereka sangka kalau gadis buntung tersebut adalah puteri Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai yang mereka segani itu.Tung-hai Nung-Jin yang sudah mulai bisa mendesak Lo Hoat itu tiba-tiba meloncat mundur.
Sambil mengawasi Tiauw Kiat Su ia berkata.
"Nah... apa kataku? Tampaknya kita telah membentur batu karang lagi hari ini."
Sungutnya kesal. Sebaliknya Tiauw Kiat Su yang masih bertarung ramai dengan Kwa Siok Eng itu malah tertawa terbahak-bahak untuk menutupi keterkejutannya.
"Hahaha...! Apa bedanya kalau dia itu anak Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai? Apakah paman sudah lupa pada senjata pek-lek-tanku? Kalau ayahnya saja bisa disingkirkan, maka apa sukarnya melenyapkan anaknya? Hahahaha...!"
Diam-diam tersentak juga hati Souw Lian Cu mendengar perkataan Tiauw Kiat Su itu.
Benarkah mereka telah menyingkirkan ayahnya?
Di mana mereka bertemu dengan ayahnya itu?
"Bertahun-tahun aku tak berjumpa dan mendengar tentang ayah.
Kini ada orang yang berkata bahwa ia telah disingkirkannya.
Hmm...
benarkah kata-kata orang ini?"
Pikirnya gelisah.
Karena gelisah otomatis serangan Souw Lian Cu menjadi kendor.
Dan kesempatan itu benar-benar tak disia-siakan oleh lawannya.
Dengan menghentakkan seluruh kemampuannya Tiauw Li Ing menerjang Souw Lian Cu.
Tiba-tiba saja kipasnya ia lemparkan ke perut Souw Lian Cu seperti layaknya seorang suku bangsa liar melemparkan pisaunya.
"Thaaaaar!"
Tiba-tiba kipas besi itu meledak sebelum mencapai sasarannya, lembaran-lembaran daun kipasnya terlepas dari tangkai pegangan, melesat terus ke depan, bagai belasan anak panah, menyerang seluruh bagian depan tubuh Souw Lian Cu yang terbuka!
Bersamaan dengan itu pula Tiauw Li Ing masih melepaskan lagi belasan batang paku beracun untuk mencegat gerakan Souw Lian Cu kalau mau mengelakkan diri!
"OeekK...!
Ooeek...!
Oooooek...?"
Mendadak bayi yang berada di dalam lingkaran api lilin itu tersengal-sengal. Ternyata separuh dari api lilin tersebut telah padam akibat angin pukulan yang berseliweran di tempat itu.
"Aaaa!"
Lo Hoat yang berada paling dekat dengan bayi itu berdesah cemas. Namun sebelum ia beranjak untuk menolong bayi tersebut, Tung-hai Nung-jin sudah menyerangnya kembali dengan paculnya.
"Jangan hiraukan bayi itu! Mari kita lanjutkan pertarungan kita!"
Lo Hoat cepat mengelak.
"Tapi... bayi itu! Dia... dia tersengal sengal kedinginan! Dia bisa mati!"
Teriaknya.
"Persetan dengan bayi itu! Nyawamu sendiri juga berada di ujung paculku!"
"Iblis kejam! Iblis tak punyai hati!"
Lo Hoat memekik marah, lalu mengayunkan ruyungnya.
"Oeeeek! Oeeek! Oeeek...!"
Bayi itu semakin tersengal-sengal.
Ternyata tangis bayi itu terdengar pula oleh Kwa Siok Eng yang sedang bertempur melawan Tiauw Kiat Su.
Dan seperti juga kawan-kawannya, ia menjadi kaget dan cemas memikirkan bayi yang sedang menghadapi maut tersebut.
"Oh... anak itu!"
La menoleh dan menjerit.
Wajahnya pucat pasi.
Tapi sekejap saja perhatiannya terpecah, sebuah totokan Tiauw Kiat Su telah menerobos pertahanannya dan tepat mengenai jalan darah Ki-hu-hiat di pundak kirinya.
"Aduuuuh!"
Ia mengeluh dan cepat-cepat meloncat mundur untuk menghindari serangan Tiauw Kiat Su yang lain.
Namun dengan demikian tangan kirinya telah menjadi lumpuh untuk sementara waktu.
Sakitnya pun tiada terkatakan lagi.
"Kau dengar ucapan pamanku tadi? Hahaha... jangan hiraukan bayi celaka itu! Pikirkanlah saja dulu jiwamu!"
Tiauw Kiat Su tertawa.
"Setan! Kalian memang setan, bukan manusia! Ooough...!"
Kwa Siok Eng menggigit bibirnya, lalu menyerang lawannya dengan kemarahan yang meluap-luap.
Karena lengan kirinya lumpuh, maka ia menggunakan lengan kanannya untuk memukul.
Dalam kemarahannya Siok Eng melepaskan seluruh tenaga saktinya.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan kalau pengaruhnya benar-benar hebat luar biasa.
Serangkum udara dingin berembus mengiringi pukulannya, bagaikan badai salju yang bertiup membekukan.
Belum juga pukulan itu menyentuh dada Tiauw K iat Su, pemuda itu sudah menggigil kedinginan.
"Gila! Ternyata kau masih menyimpan ilmu yang hebat juga!"
Pemuda itu cepat menggeram sambil mengerahkan lwee kangnya, lalu meronta untuk membebaskan dirinya dari pengaruh udara dingin tersebut.
Namun untuk selanjutnya pemuda itu menjadi kaget dan terheran-heran ketika menyaksikan lawannya bersilat dengan cara yang aneh serta mengerikan.
Lawannya itu meloncat-loncat dengan tubuh lurus kaku seperti mayat, tapi dengan gerakan yang gesit dan cepat luar biasa.
Begitu tangkas gerakannya, baik ketika berputar, membalik, melenting ataupun meliukkan tubuh, sehingga ia menjadi bingung dan sulit menentukan, yang mana bagian kepala atau bagian kaki dari lawannya itu.
"Perempuan gila! Siapakah kau sebenarnya? Mengapa kau mahir memainkan Ilmu Silat Mayat Mabuk dari Tai-bong-pai?"
Tiauw Kiat Su yang terheran-heran itu menjerit marah.
"Jangan hiraukan siapa aku! Lihat serangan!"
Kwa Siok Eng membentak.
"Bagus! Aku memang tidak peduli siapapun kau ini! Kalau aku tadi bertanya kepadamu, hal itu hanya karena aku ingin mengetahui siapa yang telah kubunuh di rumah ini!"
Tapi Kwa Siok Eng tak mau melayani kata-kata pemuda itu.
Sebaliknya ia benar-benar melepaskan seluruh kemampuannya untuk melawan pemuda lihai itu.
Sayang lengan kirinya telah lumpuh sehingga kehebatan ilmunya itu menjadi berkurang pula karenanya.
Sementara itu Souw Lian Cu yang berada dalam keadaan yang sulit karena terancam oleh pecahan kipas dan sambaran paku-paku beracun itu tak mampu berbuat banyak lagi.
Kemana pun ia bergerak akan tetap terancam oleh senjata rahasia lawan.
Oleh karena itu ia segera membulatkan hatinya untuk mengadu jiwa dengan musuhnya.
Mula-mula dikerahkannya seluruh tenaga sakti yang diyakininya selama ini untuk melindungi tubuhnya.
Kemudian dengan sekuat tenaga ia mengayunkan lengan baju kirinya yang kosong ke depan, untuk menangkis senjata rahasia yang berhamburan ke arah dirinya itu sedapat dapatnya.
Setelah itu dengan sisa-sisa tenaganya ia menotok tiga kali ke arah perut, paha dan dada Tiauw Li Ing dengan Tai-lek Pek-khong-ciangnya.
"Plaaak! Thaakk! Thmgg! Cuuus!"
Lengan baju Souw Lian Cu yang berubah keras bagai besi itu menghantam hampir sebagian besar pecahan kipas yang melesat ke arah dirinya.
Sedangkan pecahan kipas yang lolos dari tangkisan lengan bajunya terpaksa ia biarkan menghunjam ke dalam dagingnya.
Sementara itu paku-paku beracun yang dilontarkan oleh Tiauw Li Ing menjadi hilang kegunaannya karena ia sama sekali tak bergerak untuk mengelak dari serangan beruntun tersebut.
Souw Lian Cu mengeluh panjang dan jatuh pingsan karena terkena dua buah pecahan kipas di kedua lututnya.
Namun bersamaan dengan itu juga lawannya pun terjerembab ke lantai pula, karena bagian paha dan perutnya terluka mengucurkan darah akibat totokan jarinya yang ampuh.
Sehingga dengan demikian mereka berdua sama-sama terluka cukup parah.
Di dalam arena yang lain, Tung-hai Nung-jin telah mengurung Lo Hoat dengan senjata paculnya.
Bajak laut yang lihai itu telah sampai pada ilmu puncaknya pula.
Ia telah mencopot semua pakaiannya, sehingga ia hanya mengenakan cawat kecil saja.
Namun dengan demikian ia justru menjadi lebih berbahaya, karena hal itu berarti dia telah mengetrapkan ilmu andalannya, yaitu Ban-seng-kun (Ilmu Selaksa Bintang).
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba tubuh Tung-hai Nung-jin yang terbuka itu mengeluarkan keringat yang bukan main banyaknya.
Dan keringat itu lalu mengalir, menetes dan kemudian memercik berhamburan ke mana-mana.
Terkena pantulan sinar matahari yang masuk melalui lobang jendela, percikan air keringat itu menjadi gemerlapan seperti kunang-kunang yang berterbangan di sawah pada malam hari.
Bedanya, selain berbau dan sangat menjijikkan, percikan keringat itu dapat menyakiti atau bahkan dapat melukai kulit lawannya.
Sudah terkurung oleh pacul lawan, masih juga harus menghadapi percikan-percikan air keringat yang berbahaya itu.
Maka sungguh tidak mengherankan kalau sebentar saja Lo Hoat sudah berada di ujung maut.
Praktis senjata ruyung yang dipegangnya itu tak bisa dipakai untuk bertahan lagi.
Sedikit demi sedikit percikan keringat lawannya mulai melukai kulit dagingnya.
Malah beberapa saat kemudian ruyungnya terlempar jatuh oleh gebrakan pacul Tung-hai Nung-jin.
Sehingga untuk selanjutnya ia hanya menantikan saat kematiannya saja.
Namun demikian ia telah bertekad untuk mati dengan cara ksatria, yaitu berjuang sampai titik darah penghabisan.
Sementara itu di arena yang lain lagi, Kwa Siok Eng sebentar-sebentar menoleh ke arah bayi yang tersengal-sengal menghadapi maut itu.
Dilihatnya lilin-lilin yang menghangatkan bayi tersebut sudah banyak yang padam, sehingga bibir dan kulit muka bayi itu telah menjadi biru kedinginan.
Dan Siok Eng yang sudah lama mendambakan seorang anak di dalam keluarganya itu tampak semakin tersentuh hatinya.
Akibatnya konsentrasinya menjadi sering terpecah karenanya.
Sudah lengan kirinya lumpuh, kini masih sering terpecah pula konsentrasinya.
Maka tidaklah mengherankan juga apabila daya perlawanannya semakin lemah pula akhirnya, biarpun ilmu silat Mayat Mabuk itu merupakan ilmu yang mengiriskan, namun Tiauw Kiat Su pun juga memiliki ilmu yang hebat pula.
Itulah sebabnya semakin lama ia menjadi semakin terdesak di bawah angin.
Malah beberapa saat kemudian lengan kanannya pun juga terpukul lumpuh oleh pukulan lawannya.
"Aaaaah...!"
Pekiknya kesakitan.
"Aaaaaaargh...!?!"
Terdengar pula raungan Lo Hoat karena perutnya terhunjam oleh pacul Tung-hai Nung-jin.
Lo Hoat dan Kwa Siok Eng terlempar ke atas lantai dalam waktu bersamaan.
Kwa Siok Eng segera bangkit duduk, namun Lo Hoat tak bisa.
Kakek tua itu malah terlentang mendekap perutnya.
Darah mengucur tak henti-hentinya dari lukanya yang menganga.
Namun demikian kakek itu masih tetap sadar dan terang pikirannya.
Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su tertawa gembira atas kemenangan mereka.
Tapi mereka segera terdiam kembali ketika melihat Tiauw Li Ing terkapar kesakitan di atas lantai.
Bergegas keduanya menghampiri.
Tapi pada saat itu pula Chu Seng Kun memasuki ruangan tersebut.
Dengan badan yang masih tampak lemah sekali karena baru saja mengerahkan segala kemampuannya untuk menolong jiwaTui Lan, lelaki ahli obat itu ternganga menyaksikan keadaan ruang tengah tersebut.
"Eng-moi...! Kau... kau kenapa?"
Serunya kaget. Lalu ketika tampak pula olehnya keadaan Souw Lian Cu.
"Hei? Lian Cu? Dia... dia?"
Sementara itu melihat munculnya seorang lawan lagi, Kiat Su tak jadi mendekati adiknya. Dengan garang ia justru menghadapi Chu Seng Kun. Tangan kanannya telah bersiap-siap dengan kipas besinya.
"Paman, tolong kau lihat Li Ing itu! Biar kuhadapi sendiri orang ini!"
Bisiknya kepada Tung-hai Nung-jin. Tapi Chu Seng Kun tak mempedulikan sikap Tiauw Kiat Su tersebut. Seluruh perhatiannya sedang terpusat kepada isterinya.
"Eng-moi...! Siapakah yang melukaimu? Apakah pemuda itu yang membuat onar di rumah kita? Siapakah dia?"
Desaknya kepada Kwa Siok Eng. Kwa Siok Eng tidak menjawab. Sebaliknya ia bertanya kepada suaminya itu.
"Koko, bagaimana dengan wanita yang kau tolong itu? Apakah ia masih kuat menunggu tambahan darah dari Souw Lian Cu?"
Chu Seng Kun mengangguk.
"Jangan khawatir. Aku baru saja selesai memberikan tambahan tenaga kepadanya. Ia masih bertahan beberapa waktu lagi untuk menunggu tambahan darah dari Lian Cu. Eh, tapi...kenapakah dengan gadis itu? Ia... ia kelihatan terluka dan tak bisa bangun."
Katanya seraya menoleh ke tempat Souw Lian Cu terbaring.
"Dia telah bertempur melawan puteri Tung-hai-tiauw, dan tampaknya mereka sama-sama terluka. Koko, berhati-hatilah. Mereka adalah Tung-hai Nung-jin dan anak-anak Tung-hai-tiauw. Pemuda itu sangat lihai. Dialah yang melukai aku. Sedangkan Lo Hoat dilukai Tung-hai Nung-jin..."
Kwa Siok Eng berdesah menahan sakit.
"Kurang ajar! Mengapa mereka memusuhi kita? Bukankah kita tidak mempunyai masalah atau dendam-kesumat dengan mereka?"
Chu Seng Kun menggeram marah. Tapi Kwa Siok Eng cepat mencengkeram lengan suaminya.
"Koko, kau bersabarlah! Kau baru saja kehilangan banyak tenaga. Keadaanmu tidak baik untuk berkelahi. Jangan kau paksakan dirimu. Biarlah kita mengalah saja kali ini. Lebih baik kau selamatkan dulu bayi itu."
Bujuknya perlahan.
"Ya... tapi kenapa mereka memusuhi kita? Apa persoalannya?"
Chu Seng Kun tetap meradang. Kwa Siok Eng menghela napas.
"Ketahuilah, koko. Mereka datang ke sini untuk mencari wanita yang kau tolong itu!"
Bisiknya.
"Hahaha..! Baiklah, kalian berdua kuberi waktu untuk saling memberi pesan sebelum mati. Tapi setelah itu kalian akan kukirim ke neraka."
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su tertawa mengejek.
"Bajak laut keparat...!"
Chu Seng Kun mengumpat dan bangkit berdiri dengan marah.
"Koko...!"
Kwa Siok Eng mencoba untuk mencegah,namun tak berhasil. Suam inya sudah terlanjur marah melihat keganasan para bajak laut itu. Chu Seng Kun mengepalkan tangannya di depan Tiauw Kiat Su.
"Anak muda! Sungguh kejam sekali hatimu! Kita semua belum pernah saling bertemu sebelumnya. Tapi apa sebabnya kau mengumbar kekejaman di rumahku ini?"
Sekali lagi Tiauw Kiat Su tertawa terbehak-bahak.
"Hahaha... agaknya kau sudah mulai pikun, ya? Bukankah pihakmu dulu yang memulainya? Kami datang untuk menanyakan orang yang kami cari. Tapi isterimu berusaha untuk menutupi dan menyembunyikannya. Malah orangmulah yang lebih dahulu menyerang kami..."
Kilahnya.
"Tapi tak seharusnya kau berbuat begitu kejam. Semuanya bisa diurus dan diselesaikan dengan baik, tanpa harus bergelimang dengan darah."
"Tutup mulutmu! Lihat! Pihak kami pun ada yang terluka pula! Persoalan ini sudah tidak bisa didamaikan lagi, meskipun orang yang kalian sembunyikan itu kalian serahkan kepada kami!"
Tiauw Kiat Su berteriak.
"Baik! Kalau begitu marilah kita selesaikan sekarang juga!"
Chu Seng Kun berteriak pula dengan marahnya.
"Kokoooo...?"
Kwa Siok Eng masih juga mencoba untuk melunakkan hati suaminya.
Tapi Chu Seng Kun sudah terlanjur menyerang lawannya.
Meskipun sudah hampir kehilangan sebagian besar tenaga dalamnya, namun serangannya masih tetap berbahaya.
Udara hangat terasa menebar menyertai gerakan kaki dan tangannya.
"Bagus!"
Tiauw Kiat Su memuji sambil menghindar.
Melihat serangannya dengan mudah dapat dielakkan oleh lawannya, Chu Seng Kun yang telah banyak kehilangan tenaga itu semakin menjadi gusar.
Dengan sisa sisa kekuatannya ia terus mengejar Tiauw Kiat Su.
Sambil meloncat kedua telapak tangannya menyambar ke depan dalam jurus Kim-hong-pao-geat (Burung Merak memeluk bulan), yaitu salah sebuah jurus dari Kim-hong Kun-hoat (Pukulan Burung Merak) warisan perguruannya.
Tapi Tiauw Kiat Su dengan tangkas membungkukkan badannya, kemudian menyelinap di bawah lengan, terus berputar ke belakang Chu Seng Kun.
Semua itu dilakukan sambil membabatkan kipasnya ke pinggang lawan.
Dari menyerang kemudian balik mendapatkan serangan, membuat Chu Seng Kun menjadi kelabakan setengah mati.
Apalagi dengan kekuatannya yang telah jauh menyusut itu Chu Seng Kun juga telah kehilangan pula sebagian besar kecepatannya.
Untunglah dengan sisa-sisa kekuatannya dia masih mampu menghindarinya juga.
Namun bagaimanapun juga akhirnya ia tak mampu memperbaiki kedudukannya lagi.
Serangan-serangan beruntun dari Tiauw Kiat Su membuatnya jatuh bangun untuk mempertahankan diri.
Sehingga akhirnya dia tak dapat mengelak pula dari beberapa goresan kipas besi lawannya.
Darah mulai mengucur dari luka-luka yang diperolehnya.
Chu Seng Kun benar-benar berada di ujung maut sekarang.
Ilmu silatnya yang tinggi tidak dapat menolongnya lagi.
Begitu pula dengan ginkangnya yang terkenal hebat itu.
Semuanya terasa mengendor dan hilang kegarangannya akibat terkurasnya tenaga ketika ia menolong persalinan Tui Lan tadi.
"Hahaha...berdoalah sebelum nyawamu kukirim ke akherat!"
Tiauw Kiat Su mengejek, lalu mengirimkan lagi pukulan mautnya dengan tangan kiri.
"Duuuuk!"
"Huaakh..."
Sekali lagi Chu Seng Kun menerima pukulan di perutnya sehingga muntah.
Keadaannya semakin mengkhawatirkan.
Mukanya pucat pasi, sedangkan pakaiannya telah penuh dengan noda darah.
Dapat dibayangkan betapa cemas gelisahnya Kwa Siok Eng.
Dia sendiri masih lumpuh kedua buah lengannya, sementara kawan-kawannya yang lain justru lebih parah dari pada dirinya.
Souw Lian Cu belum bisa bangun karena kedua lututnya terluka, sedangan Lo Hoat malah tinggal menunggu saat kematiannya saja.
Oleh karena itu ketika sekali lagi suaminya menerima sebuah tendangan keras dari musuhnya, Kwa Siok Eng tak kuasa menahan diri lagi.
Dengan nekat ia bangun, dan kemudian melompat menerjang Tiauw Kiat Su.
Karena kedua lengannya tak bisa untuk menyerang, maka ia menerjang dengan kedua kakinya.
"Wuuuut!"
Tapi dengan mudah Tiauw Kiat Su menghindarinya.
Malah tampaknya pemuda itu tak ingin memperpanjang waktu lagi.
Dengan bengis kipasnya menyambar dua kali ke depan.
Yang pertama luput, namun yang kedua dengan tepat menyambar leher Kwa Siok Eng!
"Aaaaaah...I"
Wanita itu menjerit keras, kemudian jatuh terbanting ke atas lantai.
Sebuah goresan yang dalam melintang di leher sebelah kirinya, sehingga memutuskan urat nadinya.
Sekejap ia masih bisa menoleh ke arah suaminya, yang kebetulan juga menggeletak di dekatnya, namun sebentar kemudian kepalanya terkulai lemas tak berdaya.
Darah mengalir seperti pancuran dari lehernya.
"Eng-moi? Oh, Eng-moi...!"
Chu Seng Kun memekik sekuat-kuatnya, kemudian merangkak mendekati tubuh isterinya.
Wanita itu sudah tak bisa bergerak lagi.
Sinar matanya sudah memudar.
Namun demikian ia masih merasakan kedatangan suaminya.
Jari-jarinya tampak bergetar ketika lengannya disentuh oleh suaminya.
"Ko...ko...?"
Bibir itu berdesah lirih untuk yang terakhir kalinya, lalu diam. Diam untuk selama-lamanya.
"Eng-moiiiiiii..."
Chu Seng Kun menjerit serak.
Dipeluknya tubuh isterinya seperti tak hendak dilepaskannya kembali.
Mendadak, seperti ada tambahan tenaga baru.
Chu Seng Kun bangkit berdiri.
Matanya nyalang seperti orang yang telah hilang kesadarannya.
Giginya terdengar gemeretak menahan saluran sisa-sisa lweekangnya, kemudian bagaikan seekor singa terluka ia menubruk Tiauw Kiat Su!
Pemuda itu terperanjat, la tak menduga kalau korbannya itu masih bisa bangun, bahkan melompat menyerangnya.
Bergegas ia melangkah ke samping tiga kali untuk mengelakkannya, kemudian membuka kipas mautnya untuk menghabisi sekalian jiwa lawannya itu.
Namun pada saat yang bersamaan tiba-tiba Lo Hoat menerkam kedua kakinya!
Kakek tua yang belum juga menemui ajalnya itu ternyata benar-benar memanfaatkan kesempatan yang tiba-tiba berada di depannya.
Melihat Tiauw Kiat Su melangkah dan berdiri di dekatnya, ia langsung mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk menerkam pemuda itu.
Kesepuluh jari tangannya mencengkeram paha sehingga berdarah!
"Bangsat Tua Bangka...!"
Tiauw Kiat Su mengumpat kotor sebelum ia jatuh tertelungkup bersama-sama dengan Lo Hoat.
Dan kesempatan itu cepat dipergunakan pula oleh Chu Seng Kun.
Lelaki ahli obat itu cepat menubruk kembali untuk mengadu nyawa.
Tapi Tiauw K iat Su ternyata lebih cepat lagi.
Sambil meronta untuk melepaskan kedua kakinya, pemuda itu mengecutkan lembaran kipas besinya.
"Whuuuut! Singgggggg! Singggg!"
Puluhan batang jarum menyongsong Chu Seng Kun.
"Aeaaauuuuuh!"
Ahli obat itu mengeluh keras ketika jarum-jarum beracun tersebut menancap semua ke dalam tubuhnya.
Dan suara keluhannya itu segera diikuti pula oleh suara jeritan maut Lo Hoat, yang remuk kepalanya dihantam kaki Tiauw Kiat Su!
Tiauw Kiat Su cepat membebaskan kakinya dari cengkeraman Lo Hoat dan mengobati luka-lukanya.Sedangkan Chu Seng Kun yang tertembus puluhan batang jarum itu tampak terhuyung-huyung jatuh di samping tubuh Souw Lian Cu.
Sepintas lalu sudah dapat dilihat bahwa jiwanya tidak bisa ditolong lagi.
"Tua Bangka keparat!"
Tiauw Kiat Su mengumpat tiada habisnya.
"Sudah mau mati saja masih bisa melukai kakiku! Kurang ajar...!"
Tung-hai Nung-jin datang mendekat bersama Tiauw Li Ing. Gadis itu masih kelihatan pucat wajahnya, meskipun luka-lukanya telah diobati oleh pamannya.
"Sudah kau bereskan semuanya Kiat Su?"
Orang tua itu bertanya.
"Sudah. Tapi si Tua-renta yang berkelahi dengan paman tadi sempat melukai pahaku juga. Aku terkecoh. Kukira dia sudah mati tadi. Huh!"
"Kalau begitu... marilah kita cari orang yang digendong Bangsat Tua itu! Siapa tahu orang itu benar-benar wanita yang kita cari?"
"Marilah, paman!"
Tiauw Kiat Su menyahut, lalu mendahului menyelinap ke pintu belakang.
Berhati-hati Tung-hai Nung-jin menuntun Tiauw Li Ing, mengikuti langkah pemuda itu.
Sebentar kemudian ruangan itu menjadi sepi pula.
Semuanya tampak diam tak bergerak, kecuali orok kecil di atas meja itu.
Biarpun sudah tak bisa menangis lagi, namun orok itu belumlah mati, Sebentar-sebentar masih tampak gerakan kaki atau kepalanya, walaupun sangat lemah sekali.
Air mendidih yang ditaruh Lo Hoat di bawah meja itu ternyata masih mampu menolong bocah itu dari kebekuan.
Souw Lian Cu yang pingsan itu tersentak kaget sehingga siuman dari pingsannya ketika lengan Chu Seng Kun tiba tiba bergerak menyentuhnya.
Dan gadis itu segera terkejut setengah mati menyaksikan keadaan di sekelilingnya!
"Chu siok-siok (paman Chu)...?"
Bibirnya bergetar lirih hampir menangis.
"Apa... apa yang telah terjadi? Ba-bagaimana bi-bisa... sampai terjadi begini...? Paman? Paman...?"
Chu Seng Kun yang kulitnya sudah membiru karena terkena racun itu ternyata juga belum mati.
Lelaki ahli obat itu tampaknya masih menyimpan sesuatu yang hendak ia sampaikan kepada Souw Lian Cu, sehingga ia masih mampu bertahan untuk beberapa saat lamanya.
Dan kini melihat keponakannya itu sudah siuman pula, ia segera mengerahkan sisa-sisa kekuatannya.
"Lian Cu...? Kaukah itu? Ah, benar! Terima kasih... oh, Thian... terima kasih."
Bisiknya perlahan, hampir-hampir tidak terdengar oleh Lian Cu. Lalu.
"Lian Cu, dengarlah...! Sampaikan permintaan maafku kepada Ban-hoat Sian-seng, karena aku ternyata tak bisa memenuhi permintaannya. Dan katakan juga kepada Ban-hoat Sian-seng bahwa aku sama sekali tak tahu-menahu tentang Buku Rahasia itu."
"Paman...?"
"Sudahlah! Jangan banyak memotong kata-kataku! Kita tak mempunyai banyak waktu lagi. Dengarlah... pesanku! Khabarkanlah kematianku ini kepada Chu Bwee Hong...! Dan... dan kau jangan terlalu menyusahkan ayahmu! Kembalilah kepadanya. Ayahmu sangat mencintaimu. Ia... pernah mengatakannya kepadaku. Hatinya sa... Sangat sedih memikirkanmu...!"
"Paman...!"
Souw Lian Cu tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis terisak-isak.
"Selain dari pada itu... Lian Cu, aku masih mempunyai sebuah permintaan lagi kepadamu. Yaitu... lanjut... lanjutkanlah usaha pamanmu untuk menolong wanita itu! Selamatkanlah wanita itu beserta bayinya...!"
"Tapi, paman... bagaimana aku harus menyelamatkan mereka? Aku..."
"Jangan khawatir, aku telah mempersiapkan segalanya.n Aku telah membawa wanita itu ke ruangan bawah tanah tadi. Dan..., kau dapat membawa pula bayi itu ke sana... karena... karena salah satu pintunya... ada disini. Kau putarlah tiang besar di dekatmu itu, nanti... kau akan melihat lobang di lantai pojok ruangan itu! Kau masuklah! Dan kemudian tutuplah kembali pintu lobang itu dengan menarik sebuah tangkai besi yang ada di dekat lobang itu! Kau... kau... bersedia Lian Cu?"
Souw Lian Cu menghapus air matanya, lalu mengangguk.
"Baik paman..."
"Bagus! Nah, sekarang... te-terimalah jarum panjang ini! Ja-ja-jarum i-ini... berlobang di tengah-tengahnya. Setelah kau merawat bayi itu nanti, kau... kau ha-harus lekas-lekas... menyumbangkan beberapa cangkir darahmu kepada wanita itu. Sebab... sebab cuma darahmulah yang... yang kebetulan cocok dengan darahnya. Tusukkanlah jarum ini ke urat-nadimu dan urat-nadinya, kemudian... ouuuugh... ouuuuugh..."
"Paman...?"
Souw Lian Cu berdesah memanggil pamannya.
"...Kemudian... kerahkanlah tenaga saktimu untuk mengalirkan darahmu ke... ke tubuhnya! Mudah-mudahan... kau berhasil... berhasil menyelamat... hkk!"
Kepala Chu Seng Kun tiba-tiba terkulai dan tak bisa meneruskan ucapannya. Nyawanya telah melayang meninggalkan raganya.
"Oh, pamaaaaan...!"
Souw Lian Cu menjerit kecil dan segera terisak-isak kembali.
Tapi begitu ingat akan pesan pamannya, Souw Lian Cu segera mengeraskan hatinya.
Dia harus cepat-cepat melaksanakan pesan itu sebelum lawan-lawannya kembali ke ruangan tersebut.
Souw Lian Cu cepat mengerahkan lweekangnya, lalu ditotoknya beberapa buah jalan darah di-atas lututnya untuk menghilangkan rasa sakit.
Setelah itu ia lalu beringsut mendekati tiang besar yang ditunjuk oleh pamannya tadi dan memutarnya sekuat tenaganya.
Terdengar suara bergerit ketika tiang itu berputar setengah lingkaran, dan di pojok ruangan tiba-tiba menganga sebuah lobang kecil, yang cukup untuk lewat satu orang.
Souw Lian Cu bergegas menyeret kakinya untuk mengambil bayi itu, dan membawanya ke dalam lobang tersebut.
Lapat-lapat telinganya masih mendengar cacian dan umpatan Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su yang datang kembali ke ruangan itu.
Souw Lian Cu cepat-cepat menutup pintu lobang tersebut dan turun ke bawah.
Dan kemudian ia pun telah berada di dalam sebuah kamar yang bersih dan teratur.
Sebuah kamar yang cukup luas dengan perabotannya yang cukup lengkap pula.
Ada meja, almari, tempat tidur, rak buku dan sebagainya.
Seperti yang dikatakan oleh pamannya, Souw Lian Cu menemukan wanita yang baru melahirkan itu di atas tempat tidur.
Dilihatnya wanita itu sudah siuman dan menatap ke arahnya.
Bibirnya yang pucat seperti kapas itu bergetaran, seolah-olah akan berbicara kepadanya, namun tak kuasa.
Kemudian mata yang bening itu tampak menitikkan air ketika bayi itu ia letakkan di sisinya.
Dan air mata itu terus saja mengalir, semakin lama semakin deras begitu ia berusaha menyelamatkan bayi yang kedinginan itu dengan saluran lweekangnya.
"Oeeeek! Oeeeek! Oeeeeek...!"
Akhirnya bayi tersebut dapat menangis lagi setelah ia pijat dan ia gosok beberapa saat lamanya.
Souw Lian Cu pun merasa sangat lega.
Lalu diambilnya selimut tebal dari dalam almari untuk menghangatkan bayi itu.
Sekilas dilihatnya wanita muda itu memandang dengan sinar mata berterima kasih kepadanya.
"Tenanglah! Anakmu selamat..."
Katanya membesarkan hati wanita muda itu.
Souw Lian Cu lalu mengambil sebuah kursi, kemudian duduk melepaskan lelah.
Kepalanya mulai terasa pusing sekarang.
Agaknya racun yang melekat pada kipas yang melukai lututnya itu mulai menunjukkan pengaruhnya lagi.
Tapi ketika ia membungkuk melihat luka itu, tiba-tiba jarum panjang pemberian pamannya tadi terjatuh ke lantai.
"Ahhh...??"
Souw Lian Cu berdesah kaget, teringat akan pesan pamannya tadi. Cepat jarum tersebut diambilnya, lalu menghampiri Tui Lan.
"Maaf, aku hendak memberi tambahan darah kepadamu. Kata paman Chu, darahku cocok dengan darahmu, sehingga kau akan selamat pula bila dapat ditambah dengan darahku..."
Ujarnya memberi keterangan.
Kemudian seperti yang diperintahkan oleh pamannya, Souw Lian Cu lalu menusukkan jarum panjang itu ke urat nadinya sendiri.
Dan ujung jarum yang lain segera ia masukkan pula ke urat nadi Tui Lan.
"Kau bersiaplah, aku akan mengerahkan tenaga untuk mengalirkan darahku ke urat nadimu!"
Katanya tegas.
Demikianlah, beberapa saat kemudian darah Souw Lian Cu mengalir dengan derasnya ke badan Tui Lan.
Lambat laun wajah Tui Lan yang pucat itu kembali memerah.
Sinar kehidupan pun mulai tampak memancar di matanya.
Dan napas yang semula sangat lemah itu pun kembali normal pula akhirnya.
Setelah dianggap cukup Souw Lian Cu pun lalu menghentikan penyaluran darahnya.
Matanya terasa mengantuk sekali.
Selain amat lelah dan kehilangan banyak darah, badannya pun terasa linu-linu akibat luka di lututnya itu.
"Ah... tampaknya aku pun akan mati keracunan pula. Hmmmm...!"
Souw Lian Cu menghembuskan napas sambil memejamkan matanya.
Dan sekejap kemudian iapun lalu tertidur.
Ketika membuka matanya kembali, Souw Lian Cu terperanjat.
Dia yang semula duduk di kursi itu kini sudah tidur terlentang di atas pembaringan.
Badan yang tadi amat lemas dan kepala yang semula amat pusing itu kini tiba-tiba telah berubah menjadi ringan dan segar kembali.
Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah wanita muda yang ditolongnya itu kini telah menjadi sehat dan berdiri menungguinya di samping tempat tidur.
Begitu melihat dirinya sadar, wanita muda itu bergegas menjatuhkan badannya, berlutut di atas lantai.
Suaranya serak ketika berkata.
"Li in-kong (Dewi Penolong), sungguh besar budi yang kauberikan kepada aku dan anakku. Rasanya tak mungkin aku bisa membalasnya dalam kehidupanku yang sekarang ini. Oleh karena itu aku akan merasa rela andaikata di penjelmaan yang akan datang menjadi anjing penjagamu..."
"Ehh... ini? Kenapa aku tidak jadi mati keracunan tadi? Atau... ataukah ini cuma mimpi?"
Sebaliknya Souw Lian Cu menjadi bingung melihat keadaannya sendiri. Souw Lian Cu lalu meloncat turun dari pembaringan. Dan ia segera menjadi sadar kembali ketika melihat bayi yang ditolongnya itu.
"Ahhh, aku tidak sedang bermimpi..."
Desahnya perlahan seraya duduk di tepi pembaringan.
"Li in-kong memang tidak bermimpi..."
Tui Lan menyahut tanpa bergerak dari posisi berlututnya. Souw Lian Cu tersentak berdiri.
"Ah, Cici... bangunlah! Jangan berlutut di situ! Aku menjadi tak enak rasanya."
Katanya dengan memanggil Cici kepada Tui Lan, meskipun tampaknya ia lebih tua dari pada ibu muda itu.
"Terima kasih in-kong."
"Ah, jangan panggil aku in-kong! Panggillah aku... Lian Cu saja, Souw Lian Cu!"
Souw Lian Cu memperkenalkan dirinya.
"Cici, siapakah namamu...?"
Tapi nama itu ternyata bagaikan halilintar yang menyambar kepala Tui Lan!
Semenjak ia mengangkat tubuh Souw Lian Cu yang tertidur semalam suntuk itu ke pembaringannya, Tui Lan sudah merasa berdebar-debar hatinya.
Melihat wajah yang ayu lengan kiri yang buntung itu, ia hampir memastikan bahwa gadis itu tentu kekasih suaminya yang pernah diceritakan kepadanya itu.
Meskipun demikian ia juga belum merasa yakin, karena ada beribu-ribu gadis buntung di dunia ini.
Tapi keraguan itu segera sirna manakala gadis yang menolongnya itu benar-benar menyebut namanya!
"Oooooh...!"
Tui Lan merintih perlahan sambil memegangi kepalanya. Tiba-tiba semua yang dilihatnya seperti berputar dengan cepat sekali.
"Cici, kau kenapa? Apakah sakitmu kambuh lagi?"
Souw Lian Cu cepat merangkul Tui Lan dengan kaget, lalu membawanya ke pembaringan dan menidurkannya.
Tui Lan melelehkan air mata.
Untuk sesaat terjadi perang batin di dalam dadanya.
Ternyata kekasih suaminya itu benar-benar orang yang sangat baik.
Baik dan berbudi luhur.
Dan ia telah berhutang nyawa pula.
Nyawanya dan nyawa anaknya.
"Koko, kau memang tidak salah memilih dia. Dia sangat baik, lebih baik di dalam segala-galanya dari pada aku. Dia sangat cantik, puteri seorang pendekar ternama pula. Ah... dia benar benar seorang wanita pilihan. Tak seharusnya aku merebutmu dari tangannya. Apalagi setelah dia menyelamatkan jiwaku dan jiwa anakmu."
Tui Lan merintih di dalam hatinya.
"Cici, mengapa kau diam saja? Apakah yang kau rasakan?"
Souw Lian Cu bertanya lagi penuh perhatian. Jari-jari tangannya meremas jari tangan Tui Lan, seolah-olah hendak memberi tambahan kekuatan kepada wanita muda itu. Lalu sambungnya lagi.
"Semuanya telah berlalu. Kau dan anakmu selamat. Musuh pun telah pergi pula..."
"Souw Lihiap...!"
Tiba-tiba Tui Lan menjerit serak dan menubruk pangkuan Souw Lian Cu. Tak tahan hatinya melihat perhatian yang begitu besar dari orang yang seharusnya tidak disukainya.
"Maafkan aku, Souw Lihiap... maafkanlah aku."
Tangisnya tak bisa dibendung lagi. (Lanjut ke
Jilid 15) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 15 Souw Lian Cu pun lalu merangkul pundak Tui Lan.
Dipandangnya kepala yang menelungkup di pakuannya itu dengan penuh tanda tanya.
Sedikitpun ia tak bisa menerka apa yang terkandung di dalam hati wanita muda itu.-"Tampaknya ia mempunyai persoalan rumit yang sulit dia pecahkan.
Mungkin persoalan keluarga, suaminya, atau rombongan bajak laut dari Lautan Timur itu."
Ia menduga-duga di dalam hati.
Oleh karena itu dibiarkannya saja Tui Lan menangis sepuas-puasnya.
Dan dibiarkannya pula air mata wanita muda itu membasahi pangkuannya.
Ia menunggu saja sambil mengedarkan pandangannya, meneliti keadaan kamar itu.
Dan matanya segera berhenti pada lilin yang menyala di tengah-tengah kamar.
Lilin itu dinyalakan di atas cawan besar.
Dan cawan tersebut diletakkan di atas meja.
Beberapa buah botol kecil-kecil terbuat dari tanah liat tampak berjejer-jejer pula di sana.
Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Souw Lian Cu.
Yang menarik perhatiannya justru lilin-lilin bekas, yang sudah tidak dipergunakan lagi di dalam cawan itu.
Ada tiga atau empat buah lilin bekas di tempat tersebut.
Padahal Souw Lian Cu masih ingat bahwa cawan itu hanya memiliki sebuah lilin saja ketika ia masuk ke kamar itu.
"Hei? Berapa lama sebenarnya aku tertidur tadi?"
Gadis itu membatin.
Namun sebelum ia bertanya kepada Tui Lan, wanita muda itu telah bangkit dari pangkuannya.
Setelah meminta maaf atas kelakuannya dan mengeringkan air mata yang mengalir di atas pipinya, wanita muda itu menatap tajam kepadanya.
Pandangannya sungguh sangat berbeda dengan tadi.
Kini terasa mantap dan teguh.
Tidak bingung atau ragu seperti semula.
Tampaknya wanita itu telah menentukan sikap dan menemukan dirinya kembali.
"Souw Lihiap, namaku adalah Tui Lan. Aku berasal dari Teluk Po-hai. Suamiku... suamiku... seorang nelayan! Dia telah mati... mati tenggelam lima bulan yang lalu."
Tiba-tiba wanita itu berkata.
Dalam waktu singkat tadi ternyata Tui Lan telah mengambil keputusan untuk tetap merahasiakan dirinya.
Dan ia juga memutuskan untuk pergi jauh mengasingkan diri bersama anaknya.
Meskipun ia juga belum tahu nasib suaminya sekarang, namun ia telah berketetapan hati untuk tidak mengganggu hubungan Souw Lian Cu yang baik budi itu dengan suaminya.
Ia akan pergi jauh dan tidak akan kembali lagi ke dunia ramai.
Dia akan menyendiri di tempat sepi bersama anaknya.
Biarlah semua orang menganggap bahwa dirinya telah mati.
"Suami Cici sudah meninggal?"
Souw Lian Cu berdesah.
Kaget juga Souw Lian Cu mendengar ucapan Tui Lan itu.
Selain amat mengejutkan, Souw Lian Cu juga merasakan sesuatu yang aneh pada ucapan wanita muda itu.
Tapi tentu saja ia tak berani menanyakannya.
Ia hanya merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh wanita muda tersebut.
"Benar, Souw Lihiap."
"Lalu... mengapa para bajak laut itu mengejar-ngejarmu sampai di tempat ini? Apakah putera Tung-hai-tiauw itu ingin memaksamu menjadi isterinya?"
Tui Lan tergagap diam.
Dia tak tahu harus menjawab bagaimana, karena sebenarnya ia juga tak tahu masalah yang terjadi.
Tahu-tahu ia telah berada di tempat ini, dan dalam perawatan seorang tabib pula, karena ia harus melahirkan anaknya yang belum cukup bulan itu.
Dia hanya memperoleh sedikit keterangan dari tabib yang menolongnya itu, bahwa ia dibawa ke tempat ini oleh pembantu tabib tersebut.
Karena terjadi gangguan pada kandungannya, maka ia terpaksa harus melahirkan anak yang belum cukup umur itu di tempat ini.
Namun di tengah-tengah berlangsungnya kelahiran anaknya yang sulit itu, katanya Tung-hai Nung-jin dan keponakannya datang mengganggu.
Terpaksa ia dibawa ke ruang bahwa tanah ini agar aman.
Dan sebelum pergi meninggalkannya, tabib itu memberi pesan, bahwa sebentar lagi akan datang keponakannya untuk memberi tambahan darah kepadanya.
Dan benar juga, karena beberapa waktu kemudian Souw Lian Cu datang membawa bayinya.
Dan seperti yang telah terjadi pula, gadis itu lalu memberi tambahan darah kepadanya.
Darah yang membuat ia bisa hidup lagi di dunia, sehingga ia bisa merawat dan membesarkan anaknya nanti.
Tui Lan lalu menarik napas panjang.
Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan penolongnya itu?
Apakah ia harus bercerita tentang pertempuran di atas danau ma lam itu?
Bahwa kemungkinan besar kedatangan Tung-hai Nung-jin itu juga berkaitan dengan pertempuran mereka di atas danau tersebut?
Tapi bagaimana kalau penolongnya itu terus mengejar lagi dengan pertanyaan yang lain?
Misalnya, bagaimana la memperoleh kulit ular Ceng-liong-ong itu?
Teringat akan kulit ular itu, Tui Lan menjadi kaget.
Kulit ular itu sekarang tidak berada di badannya.
Tampaknya kulit ular itu masih berada di kamar pengobatan.
Ia sekarang hanya mengenakan selimut besar yang dililitkan pada tubuhnya.
"Cici, mengapa kau diam kembali? Benarkah putera Tung-hai-tiauw itu hendak memaksamu?"
Tiba-tiba Souw Lian Cu mengulangi pertanyaannya lagi.
"Be-be... benar, Souw Lihiap."
Tui Lan yang tak ingin memperpanjang lagi pertanyaan itu terpaksa berbohong pula. Malahan untuk mengalihkan perhatian Souw Lian Cu, ia segera menyambunginya.
"Souw Lihiap, bagaimana dengan keadaan Tuan Tabib itu? Mengapa sudah semalam suntuk beliau belum kembali juga? Apakah para perusuh itu belum pergi dari tempat ini?"
"Hah? Semalam suntuk? Cici, bukankah aku baru saja masuk ke kamar ini? Kenapa kau bilang sudah semalam suntuk?"
Souw Lian Cu berseru kaget. Tui Lan mengerutkan keningnya. Ditatapnya wajah penolongnya itu lekat lekat.
"Souw Lihiap, kau masuk ke sini kemarin sore. Dan kau telah tertidur semalam suntuk di pembaringan ini. Lihat lilin di atas meja itu! Aku telah empat kali menggantinya."
"Eh...? Jadi...?"
Tiba-tiba Souw Lian Cu meloncat dari tempat tidur dan berlari menaiki tangga kamar.
Dibukanya pintu rahasia kamar itu dengan tergesa-gesa, lalu melompat keluar.
Namun apa yang dilihatnya benar-benar sangat melukai hatinya.
Darahnya seakan-akan mendidih!
Rumah kecil itu telah rata dengan tanah.
Seluruh perabotan rumah itu telah musnah menjadi abu.
Bekas-bekas kobaran api masih tampak dimana-mana.
Asap tipis masih tampak mengepul di beberapa tempat.
Ternyata rumah itu telah dibakar mereka.
"Oooooh...!"
Souw Lian Cu seolah-olah terpaku di tempatnya. Dia seperti tak percaya pada matanya. Dia baru sadar ketika Tui Lan menyusul di sampingnya. Wanita itu membawa serta bayinya.
"Oh! Kemana gerangan Tuan Tabib itu? Mengapa rumah ini terbakar habis?"
Tui Lan ternganga kaget.
Souw Lian Cu tidak menjawab.
Sebaliknya gadis itu malah menghampiri onggokan abu di tengah-tengah ruangan.
Di situ ada tiga buah gundukan abu berwarna keputihan, yang jaraknya satu sama lain tidak berjauhan.
"Chu siok-siok! Cici Siok Eng!"
Gadis itu tiba-tiba menjerit pilu di depan abu Chu Seng Kun dan isterinya.
Air matanya tak bisa dibendung lagi.
Bukan main terkejutnya Tui Lan!
Bergegas ia membawa anaknya mendekat.
Ia lalu berlutut pula di samping Souw Lian Cu.
"Lihiap...? Apa... apakah Tuan Tabib itu telah meninggal dunia? Apakah... apakah ini abu beliau?"
Desaknya gagap kepada Souw Lian Cu.
"Benar. Cici. kalau kau ingin mengetahui siapa sebenarnya orang yang menolong dan menyelamatkanmu dari kematian, beliau inilah orangnya... Bukan aku.. Aku hanya melakukan perintahnya. Beliau dan isterinyalah yang mengatur semuanya. Dan untuk menyelamatkanmu, beliau berdua rela mati di tangan Tung-hai Nung-jin dan keponakannya. Beliaulah yang berhak kau sebut "in-kong"..."
Tui Lan terhenyak di tempatnya.
Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
Ternyata tabib yang baik itu telah mati bersama isterinya.
Demikian besar pengorbanan mereka terhadap dirinya.
Padahal dia adalah orang asing yang belum pernah dikenal oleh mereka.
"Ya, Thian... mengapa kau ambil juga orang yang sebaik itu?"
Rintihnya di dalam hati.
Perlahan-lahan Tui Lan meletakkan bayinya di dekat onggokan abu para penolongnya itu.
Kemudian secara bergantian ia berlutut dan menyatakan perasaan terima kasihnya di masing-masing gundukan abu itu.
Selesai berlutut ia lalu meraup segenggam abu pula di masing-masing gundukan itu dan mencampurnya menjadi satu.
Dan campuran abu tulang para penolongnya itu lalu ia masukkan ke dalam guci kecil bekas tempat obat yang kebetulan tergeletak di dekatnya.
Setelah itu Tui Lan lalu mengambil kembali bayinya dan menghampiri Souw Lian Cu.
"Souw Lihiap...? Bolehkah aku mengetahui, siapa sebenarnya Tuan Tabib dan isterinya ini? Siapa pula pembantu Tuan Tabib yang membawaku ke sini itu...?"
Souw Lian Cu menghapus sisa air mata yang menempel di pipinya. Lalu jawabnya dengan suara masih terharu.
"Ketahuilah, Cici. Kau memang benar-benar beruntung sekali mendapatkan perawatan beliau. Kalau bukan beliau yang menolongmu, mungkin jiwamu dan jiwa anakmu takkan tertolong lagi. Beliau adalah Chu Seng Kun, satu-satunya ahli waris Bu-eng Sin-yok-ong dalam ilmu pengobatan. Kukira tiada seorang pun tabib di dunia ini yang mampu melebihi kepandaian Paman Chu Seng Kun."
"Ooooh...?"
Tui Lan ternganga kaget.
Kaget sekali!
"Dan isteri Paman Chu itu pun bukan orang sembarangan pula, karena beliau adalah puteri Ketua Tai-bong-pai.
Sedangkan pembantu beliau itu adalah Lo Hoat, bekas pengawal rahasia Kaisar Chin Si di masa jayanya dahulu."
Tapi Tui Lan sudah tidak mendengarkan lagi.
Seluruh semangatnya seperti hilang ketika mendengar nama Chu Seng Kun tadi.
Bayangan wajah suaminya yang juga membutuhkan pertolongan tabib sakti itu kembali terbayang di depan matanya.
Setelah dapat menguasai diri mereka kembali, Souw Lian Cu lalu mengajak Tui Lan mengumpulkan abu tulang dari orang-orang yang sangat mereka hormati itu.
Dan abu tersebut lalu mereka masukkan ke dalam guci bekas tempat arak.
Baca Juga: Pedang Naga Kemala 5
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 14