Eps 6 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Kemudian guci-guci tersebut mereka tanam di bawah pohon siong yang tumbuh di halaman rumah.
Matahari telah memanjat tinggi ketika mereka berdua menyelesaikan upacara penanaman abu tulang tersebut.
Souw Lian Cu lalu bersiap-siap untuk kembali ke Puncak Gunung Hoa-san, untuk melaporkan tugas yang diberikan Ban-hoat Sian-seng kepadanya.
"Cici, aku harus lekas-lekas kembali ke Gunung Hoa-san sekarang. Bagaimana dengan engkau? Apa rencanamu selanjutnya? Apakah engkau akan kembali ke Teluk Po-hai?"
Tui Lan menundukkan mukanya.
Dipandangnya wajah bayi dalam pelukannya.
Untuk sesaat hatinya terasa bimbang kembali.
Namun ketika terpandang olehnya wajah Souw Lian Cu yang berbudi itu, seketika keraguannya lenyap pula.
Timbul lagi maksudnya semula, untuk pergi jauh mengasingkan diri di tempat yang sunyi.
"Souw Lihiap! Aku memang bermaksud untuk pulang kembali ke Teluk Po-hai. Akan merawat dan kubesarkan anakku ini di sana, di tempat orang tuaku berasal."
"Ah! Kalau begitu tempat tujuan kita tidak searah, Cici. Kau menuju ke utara, sedangkan aku ke barat."
Souw Lian Cu berkata kecewa, menyesali perpisahan yang takkan dapat mereka elakkan itu.
Tui Lan juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Bagaimanapun juga ia beserta anaknya sangat berhutang budi kepada gadis ayu itu.
Malahan dengan mengalirnya sebagian darah gadis itu di tubuhnya, berarti gadis itu juga telah ikut memiliki sebagian dari jiwanya dan jiwa anaknya pula.
"Souw Lihiap...! Kita memang takkan dapat berkumpul selamanya. Kita berasal dari tempat yang berlainan. Dan kita juga mempunyai urusan dan persoalan sendiri-sendiri pula. Kalau sekarang kita bisa bertemu dan bersahabat, hal itu karena takdir telah mempertemukan kita di sini. Namun demikian pertemuan kita ini, dan juga pertemuanku dengan keluarga Chu in-kong di sini, benar-benar telah membuka mata hati dan pikiranku, bahwa masih banyak orang berbudi luhur di dunia ini. Aku merasa seperti tergugah karenanya. Aku lantas ingin mencontoh perbuatan-perbuatan mereka. Aku ingin mengabdikan sisa-sisa hidupku, yang dapat dikatakan merupakan pemberian orang-orang berbudi luhur itu, untuk ketentraman dan kedamaian hidup sesama manusia di dunia. Nah, Souw In-kong...! Terimalah sekali lagi rasa terima kasihku dan rasa hormatku kepadamu!"
Selesai berbicara panjang lebar dengan nada berkhotbah, Tui Lan berlutut bersama bayinya di depan Souw Lian Cu.
Matanya kembali berkaca-kaca.
Malah sebentar kemudian menetes satu demi satu di atas tanah.
Souw Lian Cu cepat berlutut di depan Tui Lan.
Tangan tunggalnya menyentuh pundak Tui Lan.
Suaranya terdengar sedih juga ketika berkata.
"Cici...! Aku sebenarnya tak tega melepaskanmu sendirian. Kau membawa bayi yang masih merah, sementara engkau sendiri baru saja melahirkan. Padahal perjalanan ke Teluk Po-hai amat jauh sekali, ada ribuan lie dari s ini. Bagaimana kau akan ke sana? Apakah Cici mempunyai bekal uang untuk menginap dan membeli makanan di jalan?"
Tui Lan menengadahkan mukanya. Ditatapnya penolongnya itu dengan perasaan terima kasih. Kemudian dengan ragu-ragu ia menggelengkan kepalanya.
"Ohh!"
Souw Lian Cu berdesah perlahan. Lalu.
"Kalau begitu, biarlah kau pakai dahulu uangku. Aku masih menyimpan beberapa tail perak di kantungku. Kau bisa mengembalikannya lagi kepadaku besok..."
"Tidak usah, Lihiap! Aku bisa bekerja dan mencari uang di jalan nanti."
Tui Lan mencoba menolak, tapi Souw Lian Cu tetap memaksanya juga, sehingga akhirnya Tui Lan terpaksa menerimanya, karena tidak enak hati untuk terus menolak pemberian itu.
"Ah, aku sampai lupa menanyakan kepadamu, Cici. Siapakah nama anak ini? Lelaki atau perempuankah dia? Hmm, siapa tahu aku bisa berjumpa dengan dia kelak?"
Tiba-tiba Souw Lian Cu bertanya. Mendadak Tui Lan menjadi merah pula mukanya. Saking tegang dan gelisahnya dia selama ini, sehingga ia sampai lupa pula melihat jenis kelamin anaknya.
"Ini... ini... wah, ternyata akupun belum sempat melihatnya!"
Katanya tersipu-sipu. Kemudian dengan sangat hati-hati Tui Lan membuka selimut tebal yang membungkus bayinya. Souw Lian Cu ikut berdebar-debar pula melihatnya.
"Ooooh... perempuan!"
Keduanya berdesah hampir berbareng.
"Lalu... siapa namanya, Cici?"
Tui Lan lalu membungkus kembali bayinya. Dibuatnya sedemikian rupa sehingga hanya wajahnya saja yang kelihatan. Anak kecil itu harus berada di dalam keadan hangat selalu.
"Sebenarnya aku ingin meminjam nama Chu Hujin (Nyonya Chu) sebagai kenang-kenangan atas budinya. Demikian pula aku ingin memberikan she Chu kepada puteriku ini sebagai tanda hormatku kepada Chu in-kong. Sebab anak ini boleh dikatakan anak pemberiannya juga. Tanpa pertolongan Chu in-kong, anak ini mungkin takkan bisa lahir di dunia ini. Mungkin dia akan ikut terkubur dengan jasad ibunya."
Tui Lan menjawab hati-hati.
"Setuju, Cici! Aku setuju dengan maksudmu!"
Souw Lian Cu berseru gembira.
"Tapi...mengapa kau tampaknya agak ragu-ragu? Apanya yang kurang?"
Tui Lan menghela napas.
"Aku takut arwah beliau tidak menyukai maksudku ini."
Sahutnya perlahan.
"Siapa bilang? Mereka justru akan gembira sekali bila mendengarnya! Oh, jangan takut, Cici! Aku berada di belakangmu dalam hal ini. Sudahlah...! Marilah kita bersembahyang sekali lagi di depan makamnya! Kita meminta ijln beliau tentang nama ini..."
Souw Lian Cu lalu menarik lengan Tui Lan menuju ke makam Chu Seng Kun suami-isteri.
Dipaksanya Tui Lan untuk bersembahyang dan meminta ijin untuk memakai nama keluarga (she) dan nama penolongnya itu bagi anaknya.
"Nah! Sekarang puterimu ini bernama Chu Siok Eng, karena nama keluarga pamanku adalah Chu, sedangkan nama bibiku adalah Siok Eng! Bagus bukan?"
Souw Lian Cu berkata dengan wajah berseri-seri.
"Terima kasih, Souw Lihiap. Engkau memang baik sekali..."
Sekilas terbayang wajah Liu Yang Kun di benak Tui Lan.
Namun bayangan itu segera dihapuskannya dengan cepat.
Sebaliknya lalu dipandangnya wajah Souw Lian Cu yang baik budi itu lekat-lekat.
Mereka lalu saling memandang dengan perasaan gembira.
Namun kegembiraan tersebut segera hilang kembali begitu teringat akan perpisahan mereka nanti.
"Ah! Tampaknya kita memang harus berpisah juga, Cici. Aku akan berangkat lebih dahulu..."
Souw Lian Cu mendahului. Tui Lan mengangguk.
"Silakan, Souw Lihiap...!"
Souw Lian Cu lalu mencium Chu Siok Eng yang tertidur lelap di pelukan ibunya, kemudian beranjak pergi. Tapi baru beberapa langkah ia berjalan, mendadak badannya membalik.
"Cici...! Masih ada satu pertanyaan lagi yang belum kukeluarkan kepadamu. Dan aku akan selalu merasa cemas dan tak bisa tidur memikirkan keselamatanmu kalau belum memperoleh jawabannya."
Gadis itu berkata. Sekejap Tui Lan menjadi berdebar-debar.
"Per...pertanyaan tentang apa, Lihiap?"
Sahutnya gugup.
"Cici, engkau pandai bermain silat bukan?"
"Ah...!"
Tui Lan bernapas lega.
"Mengapa Lihiap bertanya demikian?"
Souw Lian Cu tersenyum manis.
"Karena aku agak merasa curiga kepadamu..."
Katanya berterus terang.
"Curiga...? Apa yang Lihiap curigai?"
Tui Lan kembali berdebar-debar.
"Pertama, mengapa Cici sampai bentrok dengan kawanan bajak laut Tung-hai-tiauw itu, kalau Cici bukan dari kalangan persilatan juga? Kedua, Cici baru saja melahirkan kemarin. Tapi mengapa sekarang Cici sudah kelihatan sehat sekali? Padahal kalau tidak mendapatkan pertolongan Chu siok-siok, Cici tentu takkan bisa hidup lagi kemarin. Ketiga, pada permulaan aku menyaIurkan darahku melalui jarum panjang itu, darahmu seperti mengeluarkan daya tolak yang sangat kuat, sehingga tenaga saktiku hampir-hampir tak kuat menahan dan membalik menyerang diriku sendiri. Namun ketika akhirnya darahku bisa mengalir ke urat nadimu, akupun hampir-hampir tak kuasa menghentikannya. Tubuhmu seperti mengeluarkan daya sedot yang luar biasa besarnya. Cici, aku berani bertaruh... tentu ada apa apa di dalam aliran darahmu. Mungkin kau memang memiliki lweekang yang amat tinggi, atau... kau menyimpan sesuatu di dalam tubuhmu. Sebuah mustika misalnya... Dan yang keempat, sebenarnya aku kemarin terkena racun pada lututku. Biarpun luka itu tak seberapa besar, namun karena racunnya sangat keras, maka aku hampir tak bisa berdiri maupun berjalan. Hanya karena kekerasan hatiku aku bisa membawa bayimu ke ruang bawah tanah itu. Sebetulnya aku sangat takut untuk menyalurkan darahku kepadamu, karena aku merasa bahwa darahkupun telah terkena racun pula. Tapi ketika aku nekat menyalurkannya, bukan saja kau tidak mati keracunan, ternyata racun yang ada di dalam darahku pun menjadi punah pula secara aneh. Sehingga ketika aku bangun tidur tadi, badanku terasa sehat dan segar. Lututku menjadi sembuh kembali secara mendadak! Nah, Cici... berterus teranglah kepadaku, agar aku tidak menjadi penasaran karenanya!"
Tui Lan benar-benar tertegun mendengar uraian Souw Lian Cu yang panjang lebar itu.
Sesaat hatinya menjadi bimbang dan ragu-ragu pula kembali.
Bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu?
Apakah ia harus berterus terang atau berbohong kembali?
Tui Lan menelan ludahnya.
"Sebaiknya aku tak membohonginya. Tapi aku juga harus tetap menyimpan rahasiaku pula. Hmm, baiklah... aku akan berterus terang, namun... terbatas!"
"Bagaimana, Cici?"
Souw Lian Cu mendesak.
"Lihiap, aku memang bisa bersilat. Aku adalah murid Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai, seorang tokoh Aliran Im-Yang-Kauw di Teluk Po-hai. Ilmu silat guruku hanya biasa-biasa saja, oleh karena itu apa yang dia ajarkan kepadaku juga tidaklah seberapa. Tapi menurut seorang ahli racun yang kini telah meninggal dunia, aku memiliki jenis 'darah bening', yaitu istilah untuk orang-orang yang memiliki kekebalan terhadap racun. Mungkin karena jenis darahku yang aneh inilah yang menyebabkan hal-hal aneh yang Lihiap ceritakan itu."
Akhirnya Tui Lan menjawab juga pertanyaan Souw Lian Cu.
Tui Lan memang tidak berbohong.
Namun apa yang ia ceritakan itu ternyata hanya sebagian kecil saja dari alasan-alasan yang sebenarnya.
Ia sama sekali tak bercerita tentang Po-tok-cu (Pusaka Mustika Racun) pemberian Ang-leng Kok-jin.
Padahal mustika itulah yang sebenarnya menawarkan racun di dalam darah Souw Lian Cu.
Dan Tui Lan juga tidak bercerita tentang tenaga sakti Pat-hong-sinkangnya.
Padahal tenaga sakti warisan Bit-bo-ong itulah yang kemarin mengeluarkan daya tolak maupun daya sedotnya sebelum ia kendalikan.
"Ah? Begitukah...? Hmmmh, kalau begitu Cici bukanlah orang lemah, karena Cici adalah murid Aliran Im-Yang kau. Hatiku merasa lega sekarang. Bisa melepas cici pergi dengan hati tenteram..."
Souw Lian Cu menyahut dengan perasaan gembira. Lalu sambungnya lagi sambil beranjak pergi.
"Nah, Cici... aku pergi sekarang! Selamat bertemu kembali kelak!"
Tui Lan melambaikan tangannya, lagi-lagi air matanya keluar menggenang pelupuk matanya.
Dan air mata itu lalu mengalir, setetes demi setetes mengiringkan kepergian orang yang telah membuang banyak budi kepadanya.
Orang yang seharusnya menjadi saingan atau lawannya dalam memperebutkan cinta Liu Yang Kun.
Orang yang seharusnya ia benci atau tidak ia sukai di dalam hidupnya.
Tapi takdir ternyata telah menyuratkan lain.
Dia justru sangat menghargai dan menghormati orang itu.
"Kehidupan manusia di dunia memang aneh. Sulit untuk dijangkau ataupun diraba dengan pikiran lumrah,"
Tui Lan berkata kepada dirinya sendiri kemudian melangkah kembali ke reruntuhan rumah Chu Seng Kun.
Tui Lan mencoba mencari baju kulit ularnya di antara reruntuhan tersebut, namun tak berhasil.
Barang itu telah tiada lagi.
Mungkin ikut terbakar atau mungkin juga telah diambil oleh kawanan bajak laut itu.
Tui Lan hanya menemukan beberapa potong pakaian dari ruang bawah tanah.
Pakaian Kwa Siok Eng dan pakaian Chu Seng Kun.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian Kwa Siok Eng, Tui Lan lalu membawa anaknya pergi dari tempat itu.
Tapi ketika ia melangkah melewati makam para penolongnya itu, hatinya menjadi kaget bukan main.
Di dekat makam itu berdiri seorang kakek kurus memegang tongkat!
Kakek itu mengenakan pakaian serba putih.
Rambutnya yang panjang berwarna putih itu digelung ke atas seperti layaknya seorang pendeta dari Aliran Im-Yang-kauw.
Kedua biji matanya sudah hilang, sehingga lobang matanya kelihatan terbenam ke dalam.
Namun demikian kakek itu bersikap biasa, seperti layaknya seorang yang masih awas matanya.
"Nyonya...! Berhentilah sebentar, aku ingin bertanya sedikit kepadamu!"
Seperti orang yang bisa melihat orang tua itu menyapa Tui Lan.
Tui Lan tertegun.
Hatinya benar-benar merasa heran sekali.
Kakek itu buta kedua biji matanya, namun mengapa bisa menebak dengan tepat keadaan dirinya?
Dan kelihatannya kakek itu merasakan keheranan Tui Lan terhadap dirinya.
"Jangan heran, nyonya. Aku tidak buta sejak lahir, sehingga aku juga mengenal keadaan di dunia ini dengan baik. Meskipun demikian akupun sudah mengalami kebutaan ini selama belasan tahun pula, sehingga jangan heran kalau aku dengan "modal' dan 'pengalaman"
Pada masa-masa yang telah kujalani itu aku cukup mampu untuk menilai keadaan di sekitarku."
"Oh, maafkan aku, Lo-Cianpwe."
Tui Lan tersipu-sipu.
"Nah... betul dugaanku, bukan? Kau seorang wanita muda. Dari suara langkahmu saja, aku sudah bisa menebak kalau kau seorang wanita dan... sedang menggendong sesuatu. Dan setelah dekat, aku segera bisa mencium bau bayi yang belum lama dilahirkan. Kemudian dari suaramu ketika menjawab tadi, aku juga bisa menerka kalau usiamu belum lebih dari delapan belas tahun. Nah... apa yang perlu diherankan dalam hal ini?"
"Ah, Lo-Cianpwe... Lo-Cianpwe sungguh hebat! Terimalah hormatku! Nama Siauwte adalah Tui Lan, datang dari Teluk Po-hai... eeem, bolehkah Siauwte mengenal nama Lo-Cianpwe?"
Tui Lan memperkenalkan dirinya.
"Ehmm..."
Kakek itu tertawa perlahan.
"Aku menyukai suaramu. Suaramu terdengar segar dan jernih, suatu tanda bahwa hatimu tentu lapang dan bersih pula. Nah,dengarlah... Aku sudah lupa siapa namaku yang sebenarnya. Aku hanya ingat sebuah sebutan yang sering diberikan orang kepadaku, yaitu... Lo-sin-ong."
"Lo-sin-ong...?? Lo-sin-ong dari Kuil Agung Im-Yang-kauw di Kota Sin yang?"
Tui Lan tiba-tiba berseru kaget.
"Eh? Kau mengenal sebutanku itu? mm... tapi aku sudah tidak berdiam di Kuil itu sekarang! Aku lebih senang mengembara ke mana-mana..."
"Lo-sin-ong...!"
Sekali lagi Tui Lan berseru lirih, kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu. Sekarang ganti kakek itulah yang menjadi kaget.
"Hei? Kenapa kau berlutut di depanku?"
"Lo-sin-ong, maafkanlah Siauwte yang tidak mengetahui kedatanganmu, sehingga Siauwte tidak segera menyambut dan memberi hormat kepada Lo-sin-ong."
"Hmm... apa-apaan ini? Ayoh... lekas terangkan! Jangan membuat bingung aku!"
Lo-sin-ong berkata penasaran, lalu tangannya mengangkat pundak Tui Lan.
Sekali lagi Tui Lan menjura, kemudian menundukkan kepalanya.
Bagaimanapun juga Tui Lan sudah biasa menghormati tokoh-tokoh Im-Yang-kauw yang lebih tinggi dan lebih tua dari pada dirinya.
Sejak kecil ia diberi pelajaran oleh gurunya di Kuil Im-Yang-kauw Cabang Teluk Po hai, karena gurunya adalah Ketua Cabang Im-Yang-kauw di daerah itu.
Dari kecil ia sudah mengenal nama-nama tokoh Im-Yang-kauw Pusat, seperti halnya Lo-sin-ong, Lojin-ong, Toat-beng-jin, Kauw Cu-si (Pengurus Keagamaan) Tong Ciak dan lain sebagainya.
"Maafkanlah Siauwte Lo-sin-ong! Siauwte adalah murid Aliran Im-Yang-kauw pula. Guru Siauwte adalah Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai, ketua Cabang Im-Yang-kauw di daerah itu. Subo sering bercerita tentang Lo-Cianpwe. Namun karena Siauwte belum pernah berjumpa, maka Siauwte juga tidak tahu kalau berhadapan dengan Lo-sin-ong."
"Hei? Jadi engkau ini murid Han Sui Nio yang di waktu gadisnya mengalami duka nestapa itu? Oho, ketahuilah Tui Lan...! Akulah yang dulu menempatkan gurumu itu di sana. Dia kutempatkan di tempat terpencil itu untuk menggantikan Ketua Cabang lama yang telah meninggal dunia, sekalian untuk merenungkan kesalahan dan kebengalannya di waktu muda. Hmmh... lalu sudah seberapa besar anaknya sekarang?"
Seketika Tui Lan terlongong-longong mengawasi Lo-sin-ong.
Gurunya yang menjadi pendeta itu mempunyai anak?
Anak siapa?
Sudah dua kali ini ia mendengar berita tentang hal itu.
Yang pertama ialah ketika setahun yang lalu gurunya bertemu dengan Ketua Ngo-bi-pai, Siau Hong Li.
Ketua Ngo bi pai itu juga mengatakan bahwa gurunya pernah bunting.
Benarkah gurunya mempunyai anak?
Yang ia ketahui subonya itu belum pernah kawin.
Dulu memang pernah memadu cinta dengan Ui Bun Ting, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Tiam jong-pai.
Tapi mereka tak jadi menikah karena Siau Hong Li berhasil mengganggu hubungan cinta mereka.
Masakan mereka telah mempunyai anak?
"Hei, Tui Lan...?
Mengapa kau diam saja?
Sudah seberapa besar anak subomu itu?
Kalau tak salah sudah hampir seumurmu, bukan?"
"Lo-sin-ong, yang Siauwte ketahui subo itu belum pernah menikah. Oleh karena itu beliau juga tidak mempunyai anak sampai sekarang. Dan beliau juga mempunyai seorang murid, yaitu... Siauwte ini."
Tiba-tiba Lo-sin-ong mengerutkan dahinya. Lobang matanya yang tak berisi lagi itu bergerak-gerak seperti orang mau membuka kelopak matanya.
"Hei? Sejak kapan kau menjadi murid Han Sui Nio? Mengapa kau tak tahu riwayat kehidupan gurumu?"
"Se... sejak kecil. Sejak masih bayi Siauwte dipungut oleh subo, karena orang tua Siauwte mati dibunuh orang."
Tui Lan menjawab sedikit gugup. Otomatis pikirannya menjadi bingung pula mendengar cerita-cerita itu.
"Sejak kecil? Kalau begitu... mengapa kau tak mendengar cerita tentang subomu itu? Apakah selama ini tak pernah ada orang yang bercerita kepadamu? Huh... aneh benar! Mengapa soal perkawinannya juga tak pernah dikatakan kepada muridnya? Dan... kemana pula anaknya itu? Apakah diambil oleh ayahnya?"
Lo-sin-ong menggerutu dan bergumam sendiri.
Ternyata Tui Lan sendiri menjadi bingung dan risau pula hatinya.
Baru kali ini ia mendengar cerita tentang gurunya itu.
Dan cerita itu datang dari Lo-sin-ong, tokoh puncak Aliran Im-Yang, yang tak mungkin berbohong atau mengada-ada.
"Lo-sin-ong...! Siauwte benar-benar bingung mendengar cerita Lo-sin-ong tadi. Sesungguhnyalah Siauwte belum pernah mendengar sebelumnya. Emmmm... bolehkah... bolehkah Siauwte mendengar cerita itu selengkapnya?"
Tapi Lo-sin-ong menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Lebih baik engkau bertanya sendiri kepada gurumu. Dia tentu mempunyai alasan, mengapa riwayatnya itu tak diceritakan kepadamu. Kalau kau ingin mengetahuinya juga, maka kau harus pandai membujuknya. Namun yang jelas gurumu itu pernah kawin, dengan orang jahat lagi."
"Dengan orang jahat...?"
Tui Lan memekik lirih, matanya terbelalak.
"Sudahlah, kau jangan banyak bertanya lagi! Aku malah sampai melupakan kepentinganku sendiri... Eh, Tui Lan! Apakah kau pernah melihat seorang gadis sebayamu datang kemari? Namanya Tiauw Li Ing. Dia adalah puteri Tung-hai-tiauw, raja bajak laut dari Lautan Timur. Gadis itu selalu mengenakan pakaian serba bagus dan..."
"Oh dia...! Dia memang telah datang kemari kemarin. Bersama kakak dan pamannya, Tiauw Kiat Su dan Tung-hai Nung-jin. Mengapa Lo-sin-ong mencarinya?"
Lo-sin-ong menghela napas panjang sekali.
"Nah... apa kataku! Dia memang benar-benar datang ke tempat ini. Dan... Tui Lan, coba katakan yang sebenarnya! Gadis itu membuat onar dan membunuh orang di tempat ini, bukan? Aku menemukan makam yang masih baru di sini."
Tui Lan mengangguk dan membenarkan ucapan kakek itu.
Lalu serba sedikit ia menceritakan kejadian menyedihkan yang menimpa keluarga Chu Seng Kun kemarin.
Sambil bercerita tak terasa air matanya kembali berlinang-linang, mengenangkan kebaikan budi para penolongnya itu.
"Hmmh! Anak itu semakin brutal dan sulit diperbaiki! Sungguh sayang...!"
Lo-sin-ong tiba-tiba berdesah sedih, sehingga wajahnya yang berkeriput itu semakin tampak memilukan.
"Mengapa Lo-sin-ong mencari gadis itu? Apakah Lo-sin-ong bermaksud untuk mendidiknya di jalan yang baik?"
Lo-sin-ong berdesah lagi dengan sedihnya.
"Aku telah mencobanya, namun tak berhasil. Semula aku berharap dia akan bisa berpaling dari kebiasaan yang buruk itu, apalagi ia masih sangat muda. Tapi ternyata harapan tinggal kosong belaka. Namun demikian aku masih mempunyai satu harapan lagi yang mungkin masih bisa mengangkatnya dari jurang kegelapan. Tapi aku juga sangsi, apakah orang yang kuharapkan bisa menolong dia itu masih hidup atau sudah mati sekarang?"
Tui Lan menarik napas pendek.
Sama sekali ia tak tertarik lagi membicarakan gadis jahat yang telah ikut mencelakakan keluarga Chu Seng Kun itu.
Oleh karena itu ia hanya berdiam diri dan tak menanggapi cerita Lo-sin-ong itu lebih lanjut.
Tapi Lo-sin-ong yang buta itu tak bisa melihat sikap Tui Lan.
Kakek itu masih saja meneruskan ucapannya.
"Sebab tak seorangpun yang bisa membelokkan hatinya, selain orang yang dicintainya. Ayahnya, saudaranya, gurunya, sudah tidak dia indahkan lagi nasehatnya."
Tui Lan tetap diam saja tak menyahut. Tangannya malah asyik menimang-nimang bayinya.
"Tapi... kemana aku harus mencari pemuda yang dicintainya itu?"
Lo-sin-ong akhirnya menutup kata-katanya. Tui Lan menengadahkan kepalanya. Sambil lalu ia menyahut.
"Ah... mengapa Lo-sin-ong menjadi repot benar memikirkannya? Mengapa tidak dibiarkan saja semuanya berjalan menurut keyakinan mereka masing-masing? Kalau toh gadis itu akan menjadi sadar karena orang yang dicintainya, niscaya mereka akan dipertemukan juga oleh Thian nanti. Lo-sin-ong atau orang lain tak perlu kesana-kemari mencarinya."
Lo-sin-ong tersentak heran dan kaget mendengar ucapan Tui Lan yang masih amat muda itu. Ucapan itu terdengar sangat sederhana, namun bila dikupas akan terasa sekali kedalamannya.
"Hmm... bagaimana kalau pemuda yang dicintainya itu telah mati atau tidak bisa dipertemukan dengannya?"
"Ah, Lo-sin-ong...! itu berarti bahwa gadis itu memang telah ditakdirkan sebagai orang jahat yang tak bisa kembali ke jalan benar. Habis perkara! Tapi... eh, omong-omong... siapa sih orang yang dicintainya itu?"
Lo-sin-ong menghela napas, kemudian menghembuskannya perlahan-lahan. Mukanya tertunduk dalam-dalam seperti orang sedang bersedih.
"Itulah sulitnya! Orang yang dicintainya itu ternyata pemuda berkedudukan tinggi, yang tak mungkin diraih oleh puteri bajak laut seperti dia. Orang yang dicintainya itu adalah seorang Pangeran, putera Kaisar Han sekarang, yaitu... Pangeran Liu Yang Kun!"
Hampir saja bayi yang berada di dalam pelukan Tui Lan itu terlepas dari tangannya.
Untunglah Tui Lan cepat mendekapnya kembali.
Meskipun demikian bayi itu sudah terlanjur kaget dan menangis dengan kerasnya.
"Hei? Kenapa dengan bayimu itu?"
Lo-sin-ong berseru kaget.
"Tidak apa-apa...! Mungkin cuma terkejut saja..."
Tui Lan menjawab gugup. Sama gugupnya ketika mendengar nama suaminya disebut Lo-sin-ong tadi.
"Ahh... sungguh mengagetkan benar. Kukira telah terjadi sesuatu dengan dia. Hmm, kalau begitu aku akan pergi dahulu. Terima kasih atas bantuanmu."
Bekas Ketua Im-Yang-kauw itu berkata kemudian meminta diri. Tui Lan menelan ludah, kemudian mengawasi kepergian orang tua itu dengan pikiran risau.
"Lo-sin-ong! Apa Lo-sin-ong masih tetap mau mencari Pangeran Liu Yang Kun itu?"
Tanpa terasa mulutnya berseru ke arah bayangan yang hampir lenyap ke dalam hutan itu.
"Tentu saja! Aku sudah terlanjur menyukai dan merasa kasihan kepada muridku itu! Oleh karena itu aku akan selalu berusaha menyadarkannya, bagaimanapun juga sulitnya! Aku harus menemukan Pangeran itu! Aku tak percaya bahwa Pangeran itu telah terkubur mati di Lembah Dalam setahun yang lalu!"
Lapat lapat masih terdengar suara jawaban Lo-sin-ong di balik hutan.
"Oooooh...!"
Tui Lan mengeluh panjang dengan pikiran yang semakin ruwet.
"Koko, benarkah kau masih hidup...?"
Dengan hati kusut Tui Lan lalu mendekap bayinya. Perlahan-lahan ia melangkah meninggalkan tempat yang takkan bisa ia lupakan itu.
"Maaf, Chu in-kong... aku memohon diri dahulu, kelak aku dan anakku akan selalu datang mengunjungi makammu..."
Ucapnya lirih.
Angin bertiup sepoi-sepoi, mengiringkan kepergian Tui Lan dengan bayinya.
Matahari pun tampak memanjat semakin tinggi pula, melewati pucuk-pucuk pohon di dalam hutan itu, seolah-olah tak tega melepaskan kepergian ibu dan anak itu.
Demikianlah dalam waktu sehari semalam saja, sejak kemunculannya di danau Tai Ouw malam itu, Tui Lan telah mengalami berbagai macam hal dan peristiwa yang sangat mendebarkan hati.
Malahan kemarin sore hampir saja wanita muda itu kehilangan nyawa akibat kelahiran bayinya yang belum cukup umur itu.
Bayi hasil hubungan cinta-kasihnya dengan Pangeran Liu Yang Kun, suaminya.
Dua malam yang lalu Tui Lan dan Liu Yang Kun masih bersama-sama mengarungi lorong-lorong gua di dalam tanah itu.
Tetapi ketika mereka sampai di bawah danau Tai-Ouw, pusaran air yang deras telah memisahkan mereka.
Tui Lan diseret oleh arus-air yang muntah keluar ke dasar danau, sementara Liu Yang Kun dihanyutkan terus oleh arus-air yang menuju ke laut.
Berbeda dengan isterinya yang lantas bisa keluar dari dalam perut bumi, ternyata Liu Yang Kun masih harus mengembara lagi di dalam lorong-lorong gelap sendirian.
Jikalau arus air yang menyeret Tui Lan itu muntah ke alam bebas, sebaliknya arus-air membawa Liu Yang Kun cuma muntah kembali ke dalam lorong gua yang lain.
Meskipun demikian masih beruntung juga bagi Liu Yang Kun, karena dengan demikian ia bisa bernapas lagi.
Dengan tersedak dan terbatuk tiada hentinya, Liu Yang Kun mencoba untuk berenang ke tepi.
Tubuhnya terasa remuk-redam, lemah-lunglai.
Sementara perutnya bagaikan sebuah balon yang penuh dengan air, pedih dan mual.
Dengan sisa-sisa tenaga yang masih dipunyainya, Liu Yang Kun merangkak naik ke tepian.
Kemudian bersamaan dengan tersungkurnya dia di atas pasir, keluar pulalah semua isi perutnya melalui mulut dan hidungnya.
"Moi-moi... oh, di-dimanakah... kau?"
Ucapnya gemetar seperti mengigau.
Karena mencemaskan nasib isterinya, maka Liu Yang Kun tak mau menjadi pingsan.
Pemuda itu berjuang terus melawan rasa pusing, lemah, mual, pedih dan sakit yang menyerang tubuhnya.
Diangkatnya badannya untuk duduk, kemudian dicobanya mengerahkan tenaga-sakti Liong-cu i-kangnya.
Sungguh mengherankan sekali!
Sekejap saja tenaga-sakti itu telah bergolak dengan hebatnya!
Sangat dahsyat malah!
Rasa rasanya tubuhnya seperti hendak meledak saking banyaknya muatan yang berjejalan di dalam badannya!
Liu Yang Kun sendiri menjadi takjub dan ngeri pula melihat perubahan itu.
Kemarin saja belum sedahsyat itu lweekangnya.
Sebelumnya, dia memang merasa memperoleh banyak kemajuan selama berdiam di dalam gua-gua itu.
Terutama setelah membunuh mati ular raksasa Ceng-liong-ong itu.
Hari demi hari dia merasakan lweekangnya menjadi semakin hebat saja.
Meskipun demikian dia masih menganggap bahwa kemajuannya tersebut adalah wajar, karena setiap hari ia memang selalu tekun berlatih dan berusaha memperdalam ilmunya.
Tetapi apa yang dirasakannya sekarang benar-benar di luar bayangannya.
Dia merasa ilmunya sekarang telah meloncat terlalu jauh, sehingga dia sendiri menjadi takjub dan ngeri malah!
"Ini...
ini...
heh-heh...
ho-hoh-hoh...!"
Liu Yang Kun terengah-engah dan tersengal-sengal seperti layaknya seorang yang sedang menahan beban berat.
Semakin lama semakin berat juga, sehingga pemuda itu menjadi bingung dan cemas bagaimana harus mengatasinya.
Saking bingungnya pemuda itu lalu meloncat dan memekik sekuat-kuatnya!
Dengan harapan semua beban dan tenaga yang berdesak-desakan di dalam tubuhnya itu dapat ia usir dan ia lemparkan sejauh jauhnya!
"Hhhhhuuuuuuuahhhhhhh...!!"
Lorong gua yang amat luas itu seolah-olah bergetar mau runtuh.
Debu dan pasir yang menempel di langit-langit dan di dinding-dinding gua itu berhamburan ke bawah.
Sementara batu-batu besar atau kecil, yang kurang kuat menempelnya, juga tampak berjatuhan pula dengan suara gemuruh.
Sepintas lalu gua itu bagaikan sedang digoncang oleh gempa yang hebat!
Sementara itu Liu Yang Kun sendiri telah lupa memperhitungkan kepandaiannya.
Loncatan sekuat tenaga yang dilandasi ilmu Bu-eng Hwe-teng tadi benar-benar membuat tubuhnya melesat tinggi bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busurnya.
Tiba-tiba saja ia menghantam langit-langit gua dengan kuatnya!
"Breeeesh!"
Pecahan batu dan kerikil berhamburan pula kembali. Kali ini bersamaan jatuhnya dengan tubuh Liu Yang Kun yang terpental menimpa air deras di bawahnya.
"Byuuuuur...!"
"Haaep...! Haaaaep...!"
Untuk yang kedua kalinya Liu yang Kun harus berenang pula ke tepian.
Namun kali ini dengan badan yang sehat dan segar.
Hilang rasa pedih, sakit mual ataupun pusing, yang menyerangnya tadi.
Dan semuanya itu tentu saja sangat mengherankan hati pemuda itu sendiri.
Ternyata Liu Yang Kun sendiri tidak menyadari perubahan hebat yang terjadi sewaktu ia diseret oleh arus-air dalam lorong sempit tadi.
Di dalam keadaan antara mati dan hidup karena tak bisa bernapas di dalam air itu, tiba-tiba tenaga sakti Liong-cu i-kangnya bergolak dengan hebatnya!
Sejalan dengan napasnya yang tersumbat di dalam perutnya, tenaga sakti itu juga mencari jalan keluar dari kurungannya!
Jikalau napas tersebut seolah-olah ingin menjebol paru-paru dan dada Liu Yang Kun, sebaliknya tenaga sakti itu segera memencar ke seluruh tubuh menjebol semua jalan darah yang tersumbat, untuk segera menemukan lobang pori-pori di permukaan kulit!
Tetapi dengan demikian pemuda itu secara tak sengaja telah memaksa diri dalam penyempurnaan ilmunya.
Waktu puluhan tahun yang biasa dipergunakan oleh orang lain untuk membebaskan titik-titik jalan darah tersulit di dalam tubuh manusia itu, ternyata hanya dilakukan dalam beberapa saat saja oleh Liu Yang Kun.
Namun semuanya itu bisa terlaksana karena pengaruh darah Ceng-liong-ong juga.
Tanpa bantuan darah berkhasiat tinggi tersebut, tak mungkin rasanya Liong-cu i-kang mampu menembusnya.
Untuk beberapa saat Liu Yang Kun termangu-mangu memikirkan keanehan yang terjadi di dalam tubuhnya.
Dia sadar sekarang bahwa tenaga sakti Liong cu-i-kang yang berada di dalam tubuhnya telah mencapai tingkat kesempurnaan.
Namun ia tetap tidak tahu, bagaimana hal itu bisa terjadi.
Padahal selama ini ia selalu gagal bila mencobanya.
Sampai kemarinpun ia masih sukar menembus titik-titik jalan darah tersulit tersebut.
"Ah!"
Liu Yang Kun ingat kembali kepada isterinya.
Matanya yang mencorong seperti mata naga itu segera menembus kegelapan untuk mencari Tui Lan.
Setelah lweekangnya kini mencapai kesempurnaannya, lorong gua yang gelap pekat rasanya tidak menjadi gelap lagi.
Dengan gampang sorot matanya dapat melihat benda-benda yang ada di sekelilingnya.
Namun sampai beberapa kali ia bolak-balik di tempat itu, Tui Lan tetap tidak diketemukannya juga.
Liu Yang Kun mulai panik.
"Dimanakah dia...? Apakah ia tak ikut terseret arus-air bersamaku tadi? Oh... ataukah dia langsung dihanyutkan oleh aliran sungai ini?"
Gumamnya cemas.
Pemuda itu lalu berlari-lari menyusuri aliran sungai tersebut.
Tapi sampai seharian penuh ia berjalan, Tui Lan tetap tidak kelihatan.
Ia mulai putus asa.
Pikirannya sudah mulai membayangkan yang bukan-bukan.
Jangan-jangan wanita yang dicintainya itu telah pergi mendahului dia menghadap Giam-ong (Dewa Kematian).
"Moi-moi..."
Berkali-kali bibirnya menyebut nama isterinya.
Liu Yang Kun menjatuhkan dirinya di atas pasir yang bertumpuk di tepian sungai itu.
Sambil telentang menatap langit-langit gua ia mengenangkan saat saat manis bersama Tui Lan, isterinya.
Saking lelahnya kedua biji matanya terpejam tanpa terasa.
Entah berapa lama ia tertidur, tapi yang jelas ketika ia membuka matanya lagi, badannya terasa segar dan ringan luar biasa.
Perlahan-lahan ia bangkit, kemudian memandang sekelilingnya.
Tapi matanya tiba-tiba terbelalak!
Berpuluh-puluh, bahkan mungkin malah be ratus-ratus ekor ular dari berbagai macam jenis tampak berkumpul mengelilinginya.
Ular-ular itu berada di segala tempat, di atas pasir, di atas batu-batu, di dinding-dinding gua, bahkan di dalam lobang-lobang di langit-langit gua pula.
Mereka berdesis-desis dengan riuhnya, seolah-olah mereka semua bergembira berada di dekat Liu Yang Kun.
Beberapa ekor diantara mereka malah ada yang datang mendekat dan menjilati kaki pemuda itu.
Mula-mula Liu Yang Kun merasa kaget dan ngeri juga.
Namun ketika teringat kembali pengalamannya beberapa bulan yang lalu, ketika ia dan Tui Lan dikepung oleh ratusan ular berbisa, hatinya segera menjadi tenang kembali.
Tangannya lalu merogoh sakunya, meraba mustika racun yang diperolehnya dari jengger Ceng-liong-ong itu, kemudian mengeluarkannya di atas telapak tangannya.
Benda itu memancarkan sinar kehijauan dalam gelap.
Dan anehnya, ratusan ekor ular yang berdesis riuh dan bergerak kesana-kemari tadi, tiba-tiba diam tak bergerak dan tak bersuara, semuanya tertunduk ketakutan dan me letakkan kepala mereka masing-masing di tanah, sehingga dilihat sepintas lalu mereka seperti kumpulan bangkai yang berserakan di atas tanah.
Demikian takutnya mereka, sehingga untuk menggerakkan lidah mereka yang biasa bergerak keluar-masuk itu saja mereka tak berani.
Padahal banyak di antara mereka terdapat jenis-jenis ular yang terkenal ganas dan pemarah, seperti halnya ular hijau berbuntut merah, ular karang, ular api, ular pengisap darah dan sebagainya.
Liu Yang Kun bangkit berdiri, lalu melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Dan ular-ular itupun segera menyibak memberi jalan pula.
Tapi demikian kaki pemuda itu melewati barisan yang paling belakang, ular-ular itu segera bergerak mengikutinya.
Mereka bergerak berbondong bondong seperti pasukan semut yang meninggalkan sarangnya.
Pemuda itu kembali menyusuri lorong-lorong gua itu, mengikuti aliran air sungai, dengan harapan bisa menemukan isterinya.
Karena tidak tahu waktu maka dia hanya beristirahat atau tidur bila telah merasa lelah.
Begitu pula ia hanya mencari makan seperti biasanya, bila ia telah merasa lapar.
Dan ular-ular itu ternyata masih juga mengikutinya.
Malahan semakin lama semakin banyak, karena di setiap daerah yang mereka lalui, rombongan mereka akan selalu bertambah dengan ular-ular baru lagi.
Dan lucunya, setiap pemuda itu beristirahat, tidur, atau mencari ikan, ular-ular itupun segera berbuat yang serupa pula.
Mereka makan, istirahat, tidur mengelilingi Liu Yang Kun.
Karena terlalu memikirkan isterinya, maka Liu Yang Kun tak mengacuhkan tingkah laku ular-ular itu.
Dibiarkannya saja mereka berbuat sesuka hati mereka.
Hanya kadang-kadang ia merasa ngeri dan risih bila sedang tidur atau beristirahat.
Kalau ia lupa mengeluarkan mustika racunnya itu, niscaya tubuhnya akan penuh dengan ular-ular tersebut.
Seperti sedang menggeluti induknya saja ular-ular itu melilit-lilit dan bermain-main di atas tubuhnya.
Demikianlah, berhari-hari Liu Yang Kun berjalan menerobos lorong-lorong gua itu tanpa mengenal lelah.
Sekarang hati pemuda itu sudah benar-benar putus asa.
Ia sudah merasa yakin bahwa isterinya telah tiada.
Mungkin sudah terseret ke laut lepas dan dimakan hiu di sana.
Akhirnya setengah bulan pun sudah berlalu pula.
Keadaan Liu Yang Kun sudah seperti orang kurang waras.
Pakaian yang dia kenakan cuma sebuah kulit ular.
Wajah kusut kurang tidur.
Ditambah pula dengan rambutnya yang dibiarkan tergerai awut-awutan.
Semuanya itu masih ditambah lagi dengan sikapnya yang acuh dan tanpa semangat.
"Tui Lan...!?!"
Kadang-kadang bibirnya menggumamkan nama isterinya.
Lorong gua itu semakin lama semakin menurun, sehingga aliran sungai itu menjadi semakin deras pula arusnya.
Malahan di beberapa tempat arus air itu membentuk jeram-jeram kecil yang bergemuruh suaranya.
Di tempat-tempat seperti itulah jalan menjadi sulit untuk dilewati.
Namun dengan kemampuannya sekarang, jalan seperti itu bukan menjadi masalah lagi buat Liu Yang Kun.
Dengan mudah jeram yang curam dan licin itu dilewatinya.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang sudah mencapai tingkat tertinggi tubuhnya melayang-layang seperti capung di atas air.
Begitu pula dengan rombongan ular ular yang mengikuti pemuda itu.
Bagaikan guguran daun kering yang jatuh di atas permukaan air, ratusan ekor ular itu berjatuhan menghanyutkan diri di dalam arus air jeram tersebut.
Demikianlah, pada hari yang ke limabelas sejak perpisahannya dengan Tui Lan, tanda-tanda berakhirnya lorong gua itu sudah mulai terasa oleh Liu Yang Kun.
Udara di dalam gua itu mulai berbau amis, sementara hawanya pun juga sudah mulai terasa segar pula, suatu tanda bahwa tempat tersebut sudah dekat dengan lautan.
Bahkan ketika Liu Yang Kun menangkap ikan, ikan-ikan yang diperoleh juga sudah berbeda.
Ikannya sudah mulai besar-besar dan banyak yang tak memiliki sisik lagi.
"Tampaknya gua ini sudah mendekati pantai..."
Pemuda itu berdesah perlahan.
Ada juga sepercik kegembiraan di dalam hatinya.
Meskipun kegembiraan itu tidak terasa mutlak lagi baginya.
Bagaimana ia bisa benar-benar bergembira bila Tui Lan tidak ikut menikmatinya?
Oleh karena itu ketika akhirnya terdengar suara debur ombak di kejauhan, pemuda itu justru menitikkan air-matanya malah.
Berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun ia menderita sengsara di dalam gua itu bersama-sama Tui Lan.
Mereka bersama-sama melewatkan hari-hari yang menjemukan.
Mereka bersama-sama menghadapi bahaya ketika berusaha mencari kebebasan.
Dan masih banyak lagi penderitaan dan kesengsaraan yang mereka peroleh selama ini.
Namun ketika kebebasan itu telah berada di depan mata, wanita tangguh yang banyak memberi semangat hidup kepada dirinya itu justru telah tiada lagi.
Wanita ayu yang telah banyak melepas budi dan amat dicintainya itu hilang bersama anak yang dikandungnya.
Anak dari buah cinta kasih mereka.
Begitulah, ketika tiba-tiba lobang keluar ke alam bebas itu menganga di depannya, Liu Yang Kun justru menjadi sedih dan tertegun menatapnya.
Semangatnya seolah-olah menjadi hilang malah.
Bayangan Tui Lan seperti datang menggodanya.
Isterinya itu seperti datang menggendong anak mereka dan melambai-lambaikan tangan untuk melepas kepergiannya ke alam bebas.
Liu Yang Kun menoleh dengan cepat, dan kakinya sudah melangkah mundur, seakan-akan hendak kembali memasuki gua itu.
Tapi berbareng dengan itu pula, tiba-tiba terdengar suara desis riuh dari mulut ular-ular yang mengikuti perjalanannya!
Ular-ular itu mendadak menjadi buas dan garang!
"Ah...!?"
Pemuda itu berdesah kaget, kemudian bersiap-siaga menjaga segala kemungkinan.
Tapi kecemasan pemuda itu segera hilang tatkala dari jauh terdengar suara percakapan manusia, yang memantul dan bergema di dalam gua itu.
Tampaknya ular-ular itu telah mencium kedatangan orang-orang itu dan menganggap musuh kepada mereka.
Oleh karena itu Liu Yang Kun lalu mengeluarkan mustika racunnya untuk menenangkan ular-ularnya itu.
ratusan ekor ular itu terdiam seketika.
Semuanya tertunduk ketakutan di tempat masing-masing, sehingga Liu Yang Kun menjadi lega hatinya.
Pemuda itu lalu bersembunyi di balik sebongkah batu karang besar dan mengintai ke mulut goa.
Mulut goa itu kira-kira masih ada lima puluhan tombak jauhnya dari tempat persembunyian Liu Yang Kun.
Dan lobang itu tidak begitu besar ukurannya.
Mungkin cuma ada dua tombak tingginya maupun lebarnya.
Itupun pada bagian bawah dipergunakan sebagai jalan keluar oleh aliran sungai di bawah tanah itu.
Lama benar rasanya Liu Yang Kun menantikan kedatangan orang itu.
Hampir saja ia tak sabar menunggunya lebih lama lagi, ketika secara mendadak orang yang bercakap-cakap tersebut telah berada di depannya.
Mungkin cuma belasan tombak saja dari tempatnya berlindung.
Sekejap Liu Yang Kun merasa seperti manusia yang baru saja lolos dari kematian.
Setelah sekian lamanya tersekap di tempat gelap bersama Tui Lan ia hampir-hampir tidak percaya bahwa orang-orang yang dilihatnya itu adalah seorang manusia pula seperti dirinya.
Apalagi ia tak melihat dari mana orang orang itu masuk ke dalam gua itu tadi.
Seperti siluman saja mereka itu.
Tahu-tahu sudah di depannya.
Pemuda itu mencoba melongok mereka.
Dilihatnya dua orang lelaki, yang seorang berusia sekitar enam puluh tahun dan yang seorang lagi kira-kira berumur empat puluh lima tahunan, berdiri me lihat-lihat dinding gua itu.
Jarak mereka tinggal sepuluhan tombak saja daro tempatnya bersembunyi.
Dan diam-diam pemuda itu melirik ke arah ular-ularnya.
Ia merasa khawatir juga kalau-kalau ular-ular tersebut tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Supek, benarkah gua ini yang dimaksudkan oleh nelayan itu?"
Orang yang lebih muda itu bertanya kepada orang yang lebih tua.
"Ya! Kukira memang inilah Gua Siluman itu. Sesuai dengan petunjuk yang kita peroleh, gua ini dialiri oleh sungai di bawah tanah dan mempunyai banyak pintu masuk. Nah, bukankah kita tadi selalu berputar-putar dari lorong pintu gua yang satu ke lorong pintu gua yang lain? Liu yang Kun terkejut juga. Orang yang lebih tua itu tampak sangat tenang, berwibawa dan bersuara mantap. Hal tersebut menandakan bahwa dia adalah orang yang memiliki kepandaian tinggi.
"Aku rasa-rasanya pernah mengenalnya..."
Liu Yang Kun berkata di dalam hatinya. Kedua orang itu lalu meraba-raba dinding gua yang gelap itu. Dan mereka segera menemukan sebuah lobang gua lagi.
"Lihat, Supek...! Di sini ada sebuah lobang lagi! Apakah kita akan masuk melihatnya?"
"Ya! Kita lihat semuanya! Tapi.. kita juga harus berhati-hati! Kita sedang berhadapan dengan bajak-laut, golongan manusia yang tak pernah mengindahkan tata-cara maupun sopan-santun. Siapa tahu mereka telah memasang perangkap untuk kita?"
"Baik, Supek. Kita memang wajib bercuriga dengan keadaan yang sepi ini..."
Kedua orang itu lalu menghilang lagi ke dalam gelap.
Dan Liu Yang Kun menjadi tahu sekarang, bahwa pada dinding-dinding gua yang gelap itu ternyata banyak lorong-lorong gua yang lain, Itulah sebabnya ia tak tahu dari mana kedua orang itu tadi datang.
Untuk sesaat pemuda itu menjadi ragu-ragu, ditengoknya ratusan ular yang tertunduk ketakutan di belakangnya.
Ingin sebenarnya ia mengikuti kedua orang itu untuk melihat siapa sebetulnya mereka.
Tapi bagaimana dengan ular-ularnya itu?
Bagaimana kalau mereka nanti menjadi ribut dan menyerang orang-orang itu?
Liu Yang Kun menarik napas panjang.
Kasihan rasanya kalau harus membubarkan ratusan ular yang telah berhari-hari mengikutinya itu.
"Biarlah mereka ikut. Nanti kalau mereka membikin ribut aku akan membubarkannya. Hmm... sekalian belajar mengendalikan ular-ular beracun!"
Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan.
Oleh karena itu Mustika racun yang berada di tangannya segera dimasukkannya kembali ke dalam kantungnya, kemudian berlari mengejar orang-orang itu.
ratusan ekor ular itu seperti terbangun dari tidurnya.
Bergegas mereka merayap pula mengikuti Liu Yang Kun.
Benar juga.
Pada dinding gua yang gelap itu terdapat sebuah lobang gua yang lain.
Liu Yang Kun cepat memasukinya.
Dan sebentar kemudian rombongan ular-ular beracun itu berbondong-bondong pula mengikutinya.
Mereka berbelok kesana kemari menurutkan lorong gua itu.
Turun naik dan sering kali Liu Yang Kun harus memilih jalan ketika lobang gua tersebut tiba-tiba pecah menjadi dua atau tiga bagian.
Namun telah sejauh itu ia berjalan, kedua orang yang dikejarnya itu belum kelihatan juga.
Malahan karena secara tidak sengaja ia berputar-putar saja di dalam lorong gua tersebut, maka ratusan ekor ular yang mengikutinya itu menjadi bingung dan ribut.
Barisan ularnya mencapai puluhan meter panjangnya itu menjadi terpecah-belah dan tersesat kesana-kemari di dalam lorong-lorong yang banyak jumlahnya itu.
Akhirnya Liu Yang Kun menjadi kesal tatkala kakinya tiba-tiba menginjak lorong gua yang pertama lagi.
Gemerciknya aliran air sungai itu segera memberi kesadaran pada dirinya bahwa ia hanya membuang-buang waktu saja di tempat itu.
Sementara rombongan ular-ularnya justru menjadi susut jumlahnya.
"Persetan dengan orang-orang itu. Lebih baik aku keluar dari dalam gua ini."
Geram pemuda itu di dalam hatinya, lalu melangkah menuju ke mulut gua yang terang benderang itu.
Beberapa saat lamanya pemuda itu silau dan tak bisa melihat apa-apa.
Namun setelah mengerahkan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya, rasa silau itu segera hilang.
Dan kemudian dipandangnya keindahan alam di pantai karang yang indah luar biasa itu.
"Bukan main! Betapa indahnya! Betapa leganya...!"
Liu Yang Kun menengadahkan kepala seraya merentangkan lengannya, mensyukuri kebebasannya.
Namun sesaat kemudian wajahnya tertunduk kembali.
Matanya terasa menjadi pedas.
Tiba-tiba ia teringat kepada isterinya lagi.
"Sayang... Tui Lan tak ikut merasakannya..."
Dengan kepala tertunduk Liu Yang Kun melangkah perlahan-lahan meninggalkan tempat yang sangat bersejarah baginya itu.
Kakinya menginjak hamparan pasir yang terbentang di depan mulut gua itu.
Semakin jauh ia berjalan semakin heran ia me lihat lobang-lobang gua yang banyak terdapat di tebing pantai karang itu.
Demikian banyaknya lobang gua itu sehingga ia sudah tak bisa Iagi menentukan, mana lobang gua tempat ia keluar tadi.
Hari masih pagi.
Matahari belum terlalu tinggi mendaki langit.
Burung burung camar tampak terbang berseliweran di atas pantai tersebut.
Mereka selalu berebutan menyambar ikan-ikan kecil yang terdampar ombak ke tepian.
(Lanjut ke
Jilid 16) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 16 Mendadak Liu Yang Kun melihat sebuah perahu layar datang mendekati pantai itu.
Perahu itu tidak begitu besar bentuknya, namun dipasangi layar-layar yang besar dan lebar sehingga di tengah laut perahu itu tentu sangat laju jalannya.
Dan awak perahu itu kelihatan menggulung layarnya begitu mendekati pantai.
Karena hatinya masih diliputi kecurigaan, maka Liu Yang Kun cepat mencari tempat persembunyian.
Pemuda itu ingin me lihat apa yang hendak dikerjakan oleh awak perahu tersebut?
Apakah mereka adalah teman kedua orang yang dilihatnya di dalam gua tadi?
Ataukah mereka justru para bajak laut yang disebut-sebut oleh kedua orang itu?
Sebentar kemudian perahu itu telah membuang sauhnya tidak jauh dari pantai.
Kemudian belasan orang tampak menurunkan sampan dan mengayuhnya ke pinggir.
Mereka mempergunakan empat buah sampan kecil-kecil, yang masing-masing mengangkut empat atau lima orang di dalamnya.
Setelah menyeret sampan-sampan itu ke tepian, para penumpangnya segera berkumpul di tempat yang berpasir.
Semuanya tampak tegap-tegap dan kasar-kasar suatu tanda bahwa mereka benar-benar para pelaut yang biasa bersikap buas dan kasar.
"Hai... awaaaaaaass!? banyak ular di sini!"
Tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak ketakutan. Liu Yang Kun terperanjat! "Wah.., aku sampai melupakan ular-ular itu,"
Sesalnya.
Tapi apa daya, mereka telah melihatnya ia tak mungkin mencegahnya lagi.
Orang-orang kasar itu menjadi ribut.
Apalagi ketika ular-ular Liu Yang Kun semakin banyak yang keluar menampakkan diri.
Mereka cepat mencabut senjata masing-masing dan membabati ular-ular yang datang itu.
Ular-ular yang lain segera menjadi marah pula.
Mereka berbondong-bondong keluar menyerang rombongan orang kasar tersebut.
Sehingga sebentar saja tempat itu menjadi ajang pertempuran aneh yang amat mengerikan!
Manusia melawan ular!
Korban pun segera berjatuhan.
Pasukan ular itu susut dengan cepatnya.
Meskipun demikian dari pihak orang-orangkasar itu pun mulai jatuh korban pula.
Beberapa orang yang tidak mampu menghindar dari pagutan ular-ular berbisa itu mulai kejang-kejang, untuk kemudian jatuh tersungkur di atas pasir dan menjadi santapan pasukan ular yang sudah marah itu.
Dan korban dari pihak orang-orang kasar itu ternyata semakin lama semakin bertambah banyak juga.
Bagaimana pun juga mereka tak bisa terus-menerus menghindar dari pagutan ratusan ular berbisa itu.
Walaupun masing-masing dari mereka itu dapat membunuh empat puluh atau lima puluh ekor di antara penyerbunya, namun seekor atau dua ekor di antaranya tentu berhasil dan menggigit dirinya.
Oleh karena tidaklah mengherankan bila beberapa saat kemudian orang-orang tersebut mulai ngeri dan ketakutan.
"Tolong! Toloongggggg...,"
Satu atau dua orang dari mereka mulai berlari-lari menyelamatkan diri sambil menjerit-jerit m inta tolong ke arah perahu yang ada di tengah laut itu.
Sementara itu kawan-kawan mereka yang berada di atas perahu tampaknya juga sudah melihat keributan tersebut.
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan urat-urat yang membengkak di tiap bagian badannya, terutama di bagian dada, bahu dan lengannya, terdengar menggeram sambil memilin-milin kumis serta jenggotnya yang lebat luar biasa.
Sebuah rantai besi panjang tampas melilit di pinggangnya.
"Setan laut! Huh! Kenapa mereka itu? Kenapa mereka menjadi ribut tak karuan seperti itu?"
"Mereka seperti diserang orang. Mungkin dengan anak-panah atau sambitan batu. Kita tak bisa melihatnya dari sini..."
Salah seorang pengawalnya menyatakan pendapatnya.
"Heii...? Lihat! Kelinci-kelinci tak berguna itu banyak yang roboh.. dan berusaha melarikan diri! Bangsat! Kelinci Busuk keparat...!"
Lelaki berotot kekar itu berteriak marah.
"Be-benar...wah! A-apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Pegawainya berkata pula dengan cemasnya.
"Turunkan sekoci! Kita kesana melihatnya! Bangsat tak berguna!"
Begitu sekoci diturunkan, lelaki kekar itu meloncat ke bawah dengan tangkasnya.
Meskipun sampan kecil itu langsung ambles dan hampir terbenam menerima beban tubuhnya, tapi sampan itu sama sekali tak bergoyang karenanya.
Para pengawal atau pembantu dari Laki kekar itu lalu membagi tugas, sebagian menjaga perahu, sebagian lagi mengikuti pemimpin mereka itu.
Pengawal yang mendapat bagian menjaga perahu segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk menjaga hal-hal yang tak mereka duga sebelumnya, sementara para pengawal yang memperoleh bagian mengikuti pemimpin mereka segera menurunkan beberapa buah sekoci lagi untuk mengangkut mereka ke daratan.
Di tengah jalan mereka bertemu dengan kawan-kawan mereka yang melarikan diri dari pantai itu.
"Ulaaaar...! Ulaaaaaaar...!"
Orang-orang yang datang dari darat itu menjerit-jerit.
"Pengecut... Mengapa dengan ular saja kalian takut? Setan busuk!"
Lelaki kekar itu marah-marah.
"Tapi... tapi ularnya tidak hanya seekor, Twako!"
Orang yang melarikan diri itu menjawab ketakutan.
"Tidak hanya satu? Lalu...berapa, heh?"
"Lebih dari se-se-seribu ekor!"
"Apa...? Seribu?"
Lelaki kekar itu tersentak kaget, lalu bergegas mengayuh sampannya ke pinggir.
Sementara itu pertempuran antara pasukan ular dan rombongan orang-orang kasar itu telah selesai.
Di antara belasan orang kasar yang mendarat tadi ternyata hanya enam orang saja yang mampu meloloskan diri dari sergapan ular-ular berbisa itu.
Sisanya tergeletak berserakan di atas pasir itu dalam keadaan tewas.
Namun demikian pihak pasukan ular pun tinggal beberapa puluh ekor saja yang hidup.
Yang lain telah menemui ajalnya di tangan senjata orang-orang kasar itu.
Tubuh mereka terpotong-potong, berceceran memenuhi arena pertempuran itu.
Baunya jangan dikata lagi.
Amis dan memuakkan!
Salah seorang dari orang-orang kasar itu mati di depan tempat persembunyian Liu Yang Kun.
Semula orang itu mencoba melarikan diri setelah mendapat gigitan di kakinya.
Tapi baru beberapa langkah ia berlari, tubuhnya telah kejang kejang dan jatuh tersungkur di depan Liu Yang Kun.
Liu Yang Kun lalu menarik tubuh orang itu.
Melihat orang itu telah tewas, ia lalu mengambil pakaiannya.
Liu Yang Kun tak ingin dilihat orang dengan pakaian kulit ularnya itu.
Dan beruntung juga buat dia, karena orang itu berperawakan tinggi besar, sehingga pakaian itu dapat menutupi pakaian kulit ularnya.
"Kurang ajar...! Bagaimana tempat yang sepi ini mendadak menjadi demikian banyak ularnya, heh?"
Begitu melompat turun dari sampannya lelaki kekar itu berteriak marah.
Tapi teriakannya itu segera disambut oleh serbuan ular-ular yang masih tersisa.
puluhan ekor ular yang masih hidup itu segera menyerang dengan ganasnya.
"Setan laut! Setan busuk...!"
Lelaki kekar itu mengumpat seraya mengerahkan tenaganya ke arah lengannya yang berotot.
Lalu sekali sambar tangannya telah meraup lima atau enam ekor ular sekaligus dan kemudian meremasnya sehingga hancur.
Demikianlah, berkali-kali lelaki kekar itu berbuat serupa.
Bergantian sambil menghindarkan serbuan ular-ular itu, kedua belah tangannya menyambar ke depan, menangkapi ular-ular tersebut dan meremasnya sampai hancur.
Sebentar saja korbannya telah bertumpuk-tumpuk.
Dan korban itu pun semakin bertambah lagi dengan cepat, ketika orang itu sudah mulai bosan dengan caranya tersebut.
Orang itu lalu mengeluarkan gulungan rantai besinya yang panjang.
Dan rantai besi yang berat itu diayun dan diputarnya kesana-kemari, membabat ular ular yang menyerangnya.
Sekejap saja pasukan ular itu terpental kesana-kemari dengan tubuh hancur.
Bahkan tidak cuma ular-ular itu saja yang menjadi korban amukan besi itu.
Pasir, tanah dan batu karang di sekitar arena itu pun menjadi porak poranda bertaburan kemana-mana.
Begitu hebatnya tenaga gwa-kang lelaki kekar itu sehingga batu karang sebesar kerbau pun menjadi retak dan berguguran tersapu rantai besinya.
"Huh! Melawan ular-ular macam itu saja sudah lari terbirit-birit! Kelinci-kelinci tak berguna. Huoaaaaiii... ayoh kemari semua...!"
Lelaki kekar itu bersungut-sungut, kemudian berteriak kepada anak-buahnya yang masih berada di atas sekoci mereka.
Dan ketika orang-orang itu telah mendarat, lelaki kekar itu segera memerintahkan mereka untuk membereskan kawan-kawan mereka yang tewas.
"Goblog semua! Huh! Belum belum sudah membuang nyawa secara percuma.! Hee... kemana orang-orang Mo-kauw itu...? Apakah mereka tidak berani datang, heh?"
Lelaki kekar itu mengumpat dan mengedarkan pandangannya ke tebing-tebing pantai yang banyak lobang guanya itu.
Salah seorang dari orang-orang kasar yang tadi bisa melepaskan diri dari keroyokan pasukan ular itu segera maju ke depan.
"Kami... kami belum sempat menemui utusan dari Mo-kauw, Twako. Begitu kami menginjakkan kaki di pantai ini, ular-ular itu langsung menyerbu..."
Lapornya sedikit gugup. Sementara itu ditempat persembunyiannya Liu Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benar! Hmm... Ingat aku sekarang. Kedua orang yang kutemui di dalam gua itu adalah anggota aliran Mo-kauw. Aku pernah melihatnya di Kuil Delapan Dewa beberapa tahun yang lalu. Kalau tak salah orang yang dipanggil supek itu adalah tokoh tingkat tiga di dalam Aliran Mo-kauw. Dia adalah murid Bhong Kim Cu, salah seorang dari Siang-Kauw Tai-shih (Sepasang Utusan Agama) Aliran Mo-kauw."
"Huh...!"
Lagi-lagi lelaki kekar itu mendengus. Lalu.
"...Kalau begitu... mengapa utusan Mo-kauw itu belum datang juga? Apakah nelayan-nelayan yang dititipi oleh Hai-ong kita itu belum sempat menyampaikan pesan itu? Hmm... apabila demikian halnya, maka kedatangan kita ini sungguh sia-sia. Sudah banyak kehilangan kawan, masih tidak bisa bertemu dengan orang yang dicari lagi... hmmmh!" (Hai-ong Raja Laut/Raja Bajak Laut) Tapi sebelum gema suara lelaki kekar itu hilang tertiup angin, tiba-tiba dari sebuah mulut gua muncul dua orang laki-laki yang dilihat oleh Liu Yang Kun.
"Ah, maafkanlah kami bila kami tidak lekas-lekas menemui cuwi di sini. Karena belum pernah memasuki Gua Siluman ini, maka kami terpaksa berputar putar kebingungan di dalamnya. Sebenarnya kami telah sejak tadi berada tempat ini."
Utusan Mo-kauw yang berusia lebih tua itu cepat memberi keterangan atas keterlambatannya.
Sambil memberi hormat kedua orang utusan Mo-kauw itu melirik ke arah mayat-mayat yang berserakan di depan mereka.
Diam-diam mereka menjadi bingung juga menyaksikan keadaan itu.
Apalagi ketika mereka lihat bangkai-bangkai ular yang luar biasa banyaknya itu.
Sekejap lelaki kekar itu tertegun juga melihat kedatangan orang yang dicarinya.
Namun kematian anak-buahnya itu segera membuatnya malu dan marah.
Apalagi kemudian timbul kecurigaan di dalam hatinya, kemungkinan keterlibatan mereka didalam peristiwa ini.
"Hee? Apakah kalian utusan dari Mo-kauw, hah? Siapakah kalian? Mengapa Pek-i Liong-ong (Raja Naga Berbaju Putih -Ketua Aliran Mo-kauw) sendiri yang datang?"
Sapanya kasar. Wajah kedua orang utusan Mo-kauw itu menjadi merah. Mereka merasa tersinggung. Meskipun demikian orang yang lebih tua itu segera menahan lengan kawannya.
"Jangan terpancing dengan api yang disulutnya! Kita harus tetap tenang dan waspada, agar urusan kita dengan bajak laut itu cepat selesai dan menjadi jelas. Persoalan Mo-kauw dengan Tung-hai-tiauw itu akan semakin ruwet dan berlarut-larut apabila kita berkelahi sekarang. Kau masih ingat pesan Mo-cu (Ketua Aliran agama Mo), bukan?"
Bisiknya perlahan untuk menenangkan hati kawannya itu.
"Maafkanlah teecu, Supek..."
Orang yang dipanggil supek itu mengangguk, lalu melepaskan lengan yang dipegangnya. Perlahan-lahan ia melangkah maju. Dengan amat hati-hati menjawab perkataan lelaki kekar tadi.
"Kami mohon maaf yang sebesar besarnya karena Mo-cu kami tidak bisa hadir sendiri menemui cuwi (saudara). Meskipun demikian Mo-cu telah memberi kepercayaan kepada kami berdua untuk menjumpai saudara, sesuai dengan undangan yang kami terima lewat nelayan itu..."
Dan ketika lawannya tidak segera menanggapi ucapannya, maka tokoh Aliran Mo-kauw itu lalu Meneruskan perkataannya.
"Dan... perkenalkan, Siauwte bernama Ouw Lam Cu. Dan keponakan muridku ini bernama Tan Bing Cu. Lalu siapakah nama besar ci-su? Bolehkah kami berdua mengetahuinya?"
Tapi lelaki kekar itu tetap pada sikapnya. Sedikitpun tidak mau merubah sikapnya yang kurang bersahabat itu. Dengan suara yang masih menunjukkan kecurigaannya lelaki itu menggeram.
"Hmmh! Apakah kalian berdua masih memerlukan namaku pula setelah kejadian ini? Baiklah! Aku pun tidak akan mundur menghadapinya. Sebut saja aku Tiong Pan Kang Si Gajah Laut. Kedatanganku kemari juga diutus Tung-hai-tiauw untuk menjemput Pek-i Liong-ong, ketua kalian. Tapi karena Pek-i Liong-ong tidak datang, maka kami akan menangkap kalian sebagai gantinya. Bersiaplah! Kami tidak segan-segan untuk membunuh, karena kawan kami pun telah banyak yang terbunuh pula oleh ular-ular itu."
Ternyata kedua orang tokoh Aliran Mo-kauw itu dapat menangkap kecurigaan lawan mereka.
Tapi karena mereka memang tidak mempunyai sangkut-paut dengan pasukan ular itu, maka mereka pun lantas menyanggahnya.
"Saudara Tiong...! Kau tak perlu berputar-putar mencari alasan untuk menangkap kami. Kami berdua sama kali tak tahu-menahu tentang ular-ular itu. Kedatangan kami kemari hanya untuk menemui utusan Tung-hai-tiauw. Kami mendapat tugas untuk menanyakan pada utusan itu, apa sebabnya Tung-hai-tiauw dan anak buahnya memusuhi Aliran Mo-kauw tanpa sebab. Malahan beberapa hari yang lalu Mo-cu kami telah menerima pula laporan dari cabang cabang kami di daerah, yang mengatakan bahwa tokoh-tokoh cabang kami banyak yang diculik oleh kaki tangan Tung-hai-tiauw."
"Ho-ho-ho-ho...! Jadi kalian sudah mendengar pula berita itu? Bagus...! Bagus... ho-ho-ho! Kalau begitu kalian pun akan mengalami nasib yang sama pula sekarang! Ayoh, sekarang menyerahlah!"
Tiong Pan Kang menggertak. Tapi dengan tenang Ouw Lam Cu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ooh... jadi itukah sebenarnya maksud kalian mengundang kami ke tempat sepi seperti ini? Jadi kalian juga akan meringkus aku? Begitukah? Ehm... hebat juga rencana Tung-hai-tiauw ini. Tapi... coba katakan kepada kami, apakah sebabnya Tung-hai-tiauw berbuat demikian? Bukankah selama ini Mo-kauw tak pernah bermusuhan dengan Tung-hai-tiauw?"
"Jangan banyak bicara, itu urusan Hai-ong kami dengan Mo-cu kalian! Kita tak usah mempermasalahkannya? Pokoknya kami mendapat perintah, sebelum Pek-i Liong-ong menyerahkan diri, kami akan menangkap semua tokoh Mo-kauw kalian!"
"Kurang ajar! Kalian memang bukan manusia baik-baik! Tak tahu aturan, sombong, kejam dan hanya ingin menang sendiri! Hmmh Kalian kira kami takut kepada Tung-hai-tiauw? Silahkan menangkap kalau mampu,"
Ternyata Ouw Lam Cu tak bisa mengekang diri pula akhirnya.
"Bagus! Lihat serangan...!"
Tiong Pan Kang membentak seraya melompat ke depan.
Rantai besi yang ada di dalam genggamannya menyambar ke arah lawannya.
Suaranya berdentangan, seolah-olah lingkaran besi yang saling bertautan itu secara tiba-tiba berlaga pula satu sama lain.
Melihat itu kawanan bajak laut yang sedang mengumpulkan mayat-mayat temannya itu segera menyingkir.
Mereka tak ingin menjadi korban senjata mengerikan itu.
"Wuuuuuuut!"
Ouw Lam Cu cepat mengelak, sehingga ujung rantai besi itu menghantam pasir dengan dahsyatnya! "Bhhhhuuuuuuum!"
Tanah dan pasir muncrat berhamburan kemana-mana.
Sekejap tempat itu menjadi gelap oleh taburan pasir dan tanah!
"Bukan main!
Gwa-kang si Bajak laut itu benar-benar luar biasa!
Kalau tokoh Mo-kauw itu tak berhati-hati, badannya bisa lumat dihantam senjata berat itu."
Liu Yang Kun berkata di dalam hatinya.
Memang benar.
Tiong Pan Kang yang bertubuh besar dan kekar itu memang memiliki tenaga luar (gwa-kang) yang hebat sekali.
Rantai besi sepanjang dua depa itu seperti benda mainan saja ditangannya.
Terayun kesana-kemari seakan-akan tidak berbobot sama sekali.
Padahal bila menyentuh tanah, padas, pasir atau batu-batu karang, semuanya seolah-olah lalu meledak dengan dahsyatnya.
Untunglah Ouw Lam Cu mempunyai ginkang yang baik.
Meskipun terus-menerus terdesak dan tak bisa membalas sedikit pun, namun ia masih mampu menyelamatkan diri dari kejaran rantai besi tersebut.
Hanya saja keadaan itu tentu takkan bisa berlangsung lama.
Dengan berloncatan begitu, tenaganya akan lebih cepat habis.
Sementara lawannya yang hanya memutar-mutarkan rantainya itu akan tetap segar bukan seperti sedia-kala.
Ternyata Liu Yang Kun merasakan juga ketimpangan itu.
"Heran. Mengapa Pek-i Liong-ong cuma mengirimkan orang seperti Ouw Lam Cu untuk menemui utusan Tung-hai-tiauw. Apakah Aliran Mo-kauw sudah kehabisan jago-jagonya? Mengapa bukan Bhong Kim Cu atau Leng Siauw, kedua orang Utusan Agamanya yang lihai itu?"
Pemuda itu membatin.
Sementara itu Tan Bing Cu benar-benar sangat mencemaskan keadaan supeknya.
Semakin lama rasa cemasnya itu semakin menjadi-jadi.
Apalagi ketika rantai-besi itu mulai menyentuh tubuh supeknya.
Oleh karena itu tanpa memikirkan akibatnya ia segera terjun menolong supeknya.
Tapi ternyata langkahnya itu justru mengundang bahaya lain yang lebih besar lagi malah!
Melihat pemimpinnya dikeroyok lawan, kawanan bajak-laut yang berada di tempat itu segera turun pula ke arena.
Bagaikan kawanan serigala haus darah mereka menyerbu Tan Bing Cu.
Demikianlah bukannya dia bisa menolong supeknya, tapi ia sendiri justru terjerumus ke dalam lobang kesulitan pula malah!
Sekarang Liu Yang Kun lah yang menjadi gelisah.
Pemuda itu menjadi bingung, tak tahu apa yang mesti ia lakukan.
Menolong kedua tokoh Mo-kauw itu atau membiarkan saja mereka menerima nasibnya?
Begitulah, di saat pemuda itu masih disibukkan oleh keragu-raguannya maka pertempuran itu sendiri sudah sampai pada akhirnya.
Tanpa memakan banyak waktu kedua orang tokoh Mo-kau itu telah dapat diringkus oleh Tio Pan Kang dan anak buahnya.
Malah Lam Cu sendiri terpaksa harus menderita patah tulang pada lengan kirinya, akibat menangkis sambaran rantai besi Tiong Pan Kang.
"Ah! Tampaknya para bajak-laut itu memang tidak bermaksud membunuh mereka. Mereka benar-benar hanya ditangkap saja..."
Liu Yang Kun bernapas lega.
Oleh karena itu Liu Yang Kun tidak jadi keluar dari tempat persembunyiannya.
Dibiarkannya saja kawanan bajak laut itu mengurus kawan-kawan mereka yang tewas.
Dan dibiarkannya pula mereka pergi membawa tawanan mereka ke atas perahu yang berlabuh di tengah-tengah laut itu.
Ia baru keluar ketika tempat itu benar-benar telah menjadi sepi.
Pemuda itu menengadahkan kepalanya.
Dilihatnya matahari telah naik tinggi.
Perlahan-lahan kakinya melangkah meninggalkan tempat itu.
Disusurinya pantai tersebut ke arah utara.
Dibiarkannya angin laut yang mengandung air itu menerpa tubuhnya.
Dingin, namun malah membuatnya segar.
Tapi dengan demikian perutnya yang kosong justru terasa lapar sekarang.
"Ah, ingin benar rasanya aku mencicipi masakan yang enak-enak setelah setahun hanya makan ikan bakar terus-menerus. Cuma...?"
Pemuda itu tak meneruskan ucapannya mengingat dirinya tak memiliki uang sama sekali untuk membeli makanan itu.
Pantai itu semakin jauh semakin sulit dilewati.
Selain berbatu-batu karang besar, tebingnya pun semakin bertambah curam dan licin pula.
Sehingga beberapa lie kemudian Liu Yang Kun tak bisa berjalan di bibir pantai lagi.
Pemuda itu terpaksa harus naik ke atas tebing, dan berjalan menerobos lebatnya hutan perdu yang memadati pantai tersebut.
Semakin ke utara hutan itu semakin lebat.
Dan pepohonannya pun juga semakin bertambah tinggi pula, sehingga akhirnya beberapa lie kemudian hutan tersebut benar-benar telah berubah menjadi rimba-raya yang sulit diterobos lagi.
Liu Yang Kun terpaksa semakin menjauhi pantai.
Ia mulai melewati daerah daerah yang telah dijamah oleh tangan manusia, jalan setapak, ladang-ladang, kebun, dan akhirnya melewati pula dusun-dusun kecil yang masih jarang didatangi orang kota.
"Ah, tampaknya aku tadi telah salah memilih tujuan. Seharusnya aku tadi menuju ke selatan atau ke barat saja, sehingga kemungkinan besar aku tidak terlunta-lunta ke daerah yang masih perawan seperti ini."
Pemuda itu menggerutu, karena sudah sekian lamanya ia berjalan, belum juga bertemu dengan kota.
Tapi hati pemuda itu sedikit terobati pula ketika akhirnya dia bisa menjumpai sebuah dusun yang agak besar dan ramai.
Dusun itu berada di tepi sebuah sungai yang cukup lebar.
Penduduknya ramah-tamah dan mereka banyak dijumpai Liu Yang Kun di sawah sawah atau ladang-ladang mereka.
"Lopek, dusun apakah ini namanya?"
Pemuda itu bertanya kepada seorang petani yang dijumpainya di tengah jalan.
Petani tua itu tersenyum.
Sambil meletakkan paculnya ke tanah, matanya menatap Liu Yang Kun dengan pandangan aneh.
Meskipun demikian mulutnya menjawab dengan ramah.
"Apakah Siau-heng (saudara muda) belum pernah lewat di sini? Dusun kecil ini bernama Kee-cung. Masih termasuk wilayah kabupaten An hui. Ehmm... Siau-heng hendak pergi kemana?"
"Ah...!"
Liu Yang Kun berdesah gugup.
"Saya... saya cuma seorang petualang yang biasa berjalan kemana saja. Saya tak mempunyai tujuan yang pasti. Tapi... tapi eh, dimanakah kota yang terdekat dari sini, lopek?"
Mendengar Liu Yang Kun memperkenalkan dirinya sebagai petualang, petani tua itu mengernyitkan dahinya.
Tampak sinar kecurigaan membayang di matanya.
Walaupun begitu ia tak bertanya apa-apa.
Ia tetap menjawab pertanyaan Liu Yang Kun dengan sopan.
"Siau-heng maksudkan... kota kecil atau kota besar? Kalau yang Siau-heng maksudkan adalah kota kecil, tempatnya memang tidak terlalu jauh dari dusun ini. Tapi kalau yang Siau-heng maksudkan itu adalah sebuah kota yang besar, Siau-heng terpaksa harus menempuh sehari perjalanan lagi untuk mencapainya."
"Ohh...?"
Liu Yang Kun berdesah sambil mengangguk anggukkan kepalanya.
"Pertama, Siau-heng bisa mengambil jalan darat ke arah barat daya. Siau-heng menerobos hutan itu, kemudian melewati bukit panjang sejauh empat atau lima lie. Nanti Siau-heng akan sampai di sebuah kota kecil, bernama Yun-ceng. Dari kota itu Siau-heng bisa mendapatkan kuda atau kereta, sehingga bisa meneruskan perjalanan ke kota Si-hwee atau Kuo-cui di pinggir telaga Tai Ouw."
"Jalan yang lain...?"
Petani tua itu membalikkan badannya, lalu menunjuk ke arah sungai.
"Jalan yang kedua adalah melalui sungai itu. Kalau Siau-heng mengikuti aliran sungai itu ke arah utara, Siau-heng akan sampai ke kota kecil An-lei nantinya. Di kota kecil itu Siau-heng bisa memperoleh tumpangan perahu ke kota-kota yang lain di sepanjang sungai itu. Malahan bila Siau-heng mau terus menyelusuri sungai itu jauh ke utara, maka sebelum mencapai sungai besar Yang-ce, Siau-heng akan sampai di kota besar Cin-an. Nah, sekarang Siau-heng bisa memilih, jalan mana yang hendak Siau-heng lalui..."
"Terima kasih, Lopek. Tetapi... jalan manakah sebaiknya yang harus kutempuh, Lopek? Maksudku, jalan mana yang lebih mudah dan enak untuk ditempuh?"
Petani tua itu tertawa.
"Wah, Siau-heng ini sungguh lucu sekali. Siau-heng yang hendak berjalan, masakan Lopek yang disuruh memilih."
Liu Yang Kun terpaksa ikut tertawa pula.
"Manakah yang lebih mudah, Lopek?"
Pemuda itu tetap mendesak. Masih dalam keadaan tertawa, petani tua itu menjawab.
"Yaaah... tentu saja melalui air lebih enak dari pada melalui jalan darat. Selain tidak panas dan banyak melewati rumah-rumah atau perkampungan penduduk, bisa juga menumpang perahu yang lewat, sehingga badan lebih banyak beristirahat di dalam perjalanan."
"Ah, Lopek benar. Bodoh benar aku ini."
Liu Yang Kun ikut pula mentertawakan dirinya sendiri.
Sementara itu beberapa orang petani yang lain, yang baru pulang dari sawahnya, ikut berhenti pula di dekat mereka.
Mereka mengawasi Liu Yang Kun dengan wajah ingin tahu, sehingga pemuda itu rikuh dan merasa risih.
"Terima kasih, Lopek. Kalau begitu aku mohon diri sekarang."
Pemuda itu cepat cepat meminta diri.
"Ah, mengapa tergesa-gesa? Apakah siau-heng tidak beristirahat dulu di dusun kami? Marilah, kalau Siau-heng mau... singgah dulu di gubugku!"
Petani tua itu mengundang dengan ramah.
"Tidak usah, Lopek. Terima kasih... Saya ingin lekas-lekas sampai di kota sore ini. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih atas keterangan Lopek ini."
Liu Yang Kun cepat-cepat memberi hormat, lalu pergi meninggalkan petani yang baik hati itu.
Sementara yang ditinggalkan masih saja berdiri mengawasi dengan pandang mata aneh, seakan-akan ada sesuatu yang dipikirkannya.
"Sinar matanya tajam luar biasa. Hampir-hampir aku tak kuasa menentang tatapan matanya. Hmm... aku berani bertaruh pemuda itu tentu memiliki kesaktian yang luar biasa dahsyatnya!"
Petani tua itu berkata didalam hatinya. Lalu sambil menarik napas panjang ia menambahkan.
"Dan... rasa-rasanya aku pernah melihat atau bertemu dengan dia. Hmmmmm..."
"Kam Lojin, siapakah dia...? Apakah yang dikatakan kepadamu tadi?"
Para petani yang berkumpul di dekat mereka tadi segera mendekat dan bertanya. Petani tua itu mengangkat pundaknya. Lalu sambil meraih paculnya kembali dia menjawab.
"Aku tak tahu. Dia hanya memperkenalkan diri sebagai petualang. Begitu saja. Dia menemui aku untuk menanyakan jalan menuju ke kota."
Orang-orang dusun itu mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Kemudian sambil masih mempercakapkan Liu Yang Kun mereka berjalan pulang bersama-sama.
Seorang demi seorang mereka lalu memisahkan diri pulang ke rumah masing-masing.
Sehingga akhirnya tinggal petani tua itu sendiri yang melangkah pulang ke rumahnya, yaitu sebuah rumah kecil di pinggir desa itu.
"Benar. Rasa-rasanya aku memang pernah bertemu dengan pemuda itu. Tapi dimana...?"
Sambil berjalan petani tua itu masih disibukkan oleh bayangan Liu Yang Kun. Tapi belum juga petani tua itu memasuki halaman rumahnya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar teriakan para tetangganya.
"Kam Lojin... Kam-Lojin... Ada sesosok mayat lagi yang hanyut di sungai itu!"
"Hah! Apa...? Mayat lagi...?"
Petani tua itu tersentak kaget. Belasan orang penduduk segera datang mengelilingi petani tua tersebut.
"Benar, Kam Lojin. Sesosok mayat wanita tampak terapung-apung lagi di sungai kita. Tampaknya masih baru. Kini sedang diambil oleh beberapa orang kawan kita..."
Salah seorang dari mereka melapor.
Berbondong-bondong mereka pergi ke sungai.
Di sana telah berkerumun para penduduk desa itu.
Beberapa orang pemuda tampak membawa galah panjang untuk mengambil mayat itu.
Mayat itu masih sangat muda.
Mungkin belum ada dua puluh tahun umurnya.
Tidak ada tanda-tanda luka pada tubuhnya yang hampir tak berpakaian sama sekali.
Wajahnya cukup manis.
Dan yang jelas bukan penduduk desa itu.
"Hmmh... keadaan mayat ini persis dengan mayat-mayat yang telah kita ketemukan selama ini. Terbunuh oleh racun yang sangat keras setelah diperkosa kehormatannya. Dan wanita ini belum lama mati. Tampaknya baru saja terjadi..."
Kam Lojin berkata kepada seorang lelaki tua yang hampir sebaya dengan dirinya, setelah memeriksa mayat wanita muda itu.
Lelaki tua yang tidak lain adalah kepala desa dari dusun itu menghela napas panjang.
Air mukanya tampak geram, karena sudah beberapa kali desanya menemukan mayat wanita tanpa bisa mengungkapkan siapa pembunuhnya.
"Selama sebulan ini saja kita telah menemukan empat mayat wanita tak dikenal. Dan semuanya adalah korban lelaki hidung belang. Huh... pusing aku!"
Dengusnya kesal.
"Cungcu (Kepala Kampung), agaknya penjahatnya juga sama. Mungkin seorang jai-hwa-cat (penjahat-pemetik-bunga) yang suka mengganggu dan memaksa wanita muda."
Salah seorang penduduk desa itu menyatakan pendapatnya.
"Benar, Cungcu. Mungkin di daerah hulu sungai sana berkeliaran seorang jai-hwa-cat, sehingga korban-korbannya banyak yang hanyut sampai ke sini..."
Yang lain ikut bicara.
"Kukira memang demikian..."
Kam Lojin menyetujui pendapat itu.
"Hanya saja..."
Tapi belum juga kata-kata Kam Lojin itu habis, tiba-tiba dari arah hilir sungai terdengar jeritan wanita meminta tolong.
"Tolooooong! Toloooong...!"
Semuanya terkejut dan menoleh ke arah suara itu berasal.
Seorang gadis manis, cucu kepala desa itu sendiri, muncul dari balik pepohonan sambil menjerit-jerit dan berlari-lari.
Gadis itu hanya mengenakan pakaian dalam saja sehingga ketika menyadari keadaannya ia langsung menubruk dan berlindung di belakang kakeknya.
Tangisnya tak bisa dibendung lagi.
Saking kagetnya Kepala-desa itu menjadi pucat pasi wajahnya.
Namun melihat keadaan cucunya dia cepat melepas pakaian luarnya dan kemudian menyelimutkan kepada tubuh cucunya itu.
"Ceng Ceng, ada apa? Ada apa? Le-lekas... katakan!"
Serunya gagap.
"Pemuda itu... pemuda itu... oh... dia... dia hendak... hendak berbuat kurang ajar kepada... kepadaku!"
Ceng Ceng menjerit-jerit lagi seperti orang ketakutan.
"Apaaa...????"
Sekian banyak orang yang berada di tempat itu berseru berbareng.
Otomatis semuanya memandang ke tempat dimana gadis itu tadi muncul.
Dan semuanya berwajah berang.
Belum juga hilang rasa geram mereka menyaksikan korban kekejaman lelaki hidung belang, kini malah ada orang yang berani berbuat kurang ajar di depan hidung mereka.
Terhadap cucu kepala desa mereka lagi!
Maka dapat dibayangkan betapa marahnya orang-orang itu.
Sekali lagi penduduk Kee-cung itu berbondong-bondong ke tempat di mana Ceng Ceng tadi diganggu orang.
Dan kali ini dengan kemarahan yang meluap-luap.
Beberapa orang malah mengambil senjata seadanya, seperti pacul, sabit, pisau, tongkat dan lain sebagainya.
Kam Lojin yang mencoba menahan dan mendinginkan hati orang-orang itu ternyata tidak berhasil.
Orang-orang itu sudah terlanjur marah.
Oleh karena itu untuk menjaga segala kemungkinan Kam Lojin lalu mengawal saja penduduk yang sedang marah itu.
Siapa tahu akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan nanti?
Dan ternyata apa yang dikhawatirkan oleh Kam Lojin itu memang benar-benar terjadi.
Begitu sampai di tempat yang dituju, petani tua itu melihat pemuda yang dijumpainya tadi sedang duduk bersamadi mengheningkan pikirannya.
Tampaknya ada sesuatu yang telah terjadi pada diri pemuda itu.
"Itu dia penjahatnya! Bunuh saja!"
Para petani itu berteriak-teriak.
"Jai-hwa-cat keparat! Tentu dia pula yang membunuh dan memperkosa mayat-mayat yang kita ketemukan itu! Bunuh dia!"
Yang lainnya menyambung pula.
"Benar! Bunuh saja lelaki hidungbelang itu! Mungkin dia pulalah si Iblis Penyebar Maut yang mengganas di propinsi Kang Lam setahun yang lalu!"
Salah seorang penduduk yang mempunyai saudara di Kota Soh-ciu, Kang Lam, berseru pula dengan kerasnya.
Demikianlah, sebelum Kam Lojin yang disegani penduduk Kee-cung itu berkesempatan mencegah mereka, mereka telah lebih dulu menyerang Liu Yang Kun.
Berbagai senjata yang mereka pegang tadi terayun bersama-sama ke tubuh pemuda yang kini sedang duduk memusatkan pikiran itu.
"Jangaaaaan...!"
Kam Lojin masih sempat berteriak cemas.
Tapi bukan cemas pada keselamatan pemuda itu.
Sebaliknya justru mencemaskan keselamatan orang-orang desanya itu.
Namun semuanya telah terjadi!
puluhan senjata tumpul maupun tajam itu sudah terlanjur mengenai tubuh Liu Yang Kun!
Dan pemuda itu seakan-akan tidak berusaha untuk mengelak sama sekali!
Dia hanya mengangkat tangannya untuk melindungi wajahnya!
Dan yang terjadi kemudian benar-benar tidak masuk di akal sama sekali!
Memang selanjutnya terdengar suara berdebug dan berdentang berkali-kali, serta diikuti pula suara jeritan kesakitan di tempat itu.
Namun bukan pemuda itu yang berteriak-teriak dan terkapar di atas tanah.
Sebaliknya justru orang orang kampung itulah yang berteriak dan bergelimpangan di atas tanah.
Tentu saja orang-orang yang belum sempat mengayunkan senjatanya menjadi kaget dan bingung menyaksikan kejadian itu.
Mulut mereka ternganga mengawasi kawan-kawan mereka yang bergelimpangan kesakitan itu.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah dilakukan pemuda itu terhadap kawan-kawan mereka itu.
Tapi yang jelas mereka menjadi ngeri dan takut kepada pemuda itu sekarang!
Dan rasa ngeri dan takut itu segera terbukti ketika Liu Yang Kun bangkit dari duduknya.
Bagaikan sekelompok kijang yang bertemu dengan singa, tiba tiba mereka membuang senjata di tangannya, lalu lari lintang-pukang menyelamatkan diri.
Saking takutnya mereka lari tanpa melihat jalan.
Mereka saling tabrak dan saling tubruk, sehingga banyak di antara mereka yang terluka karenanya.
Sekejap saja mereka itu telah hilang dari pandangan.
Sekarang tinggal Kam Lojin dan orang-orang yang terluka saja yang masih berada di tempat itu.
Petani tua itu tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah itu ia menghampiri kawan-kawannya yang terluka akibat serangan mereka sendiri tadi.
Serangan yang ditujukan kepada pemuda asing itu, namun ternyata malah membalik mengenai diri mereka sendiri.
"Lopek...!"
Liu Yang Kun menyapa petani tua itu.
"Sudahlah! Maafkanlah mereka! Mereka adalah orang-orang desa yang bodoh."
Kam Lojin menyahut tanpa memalingkan mukanya. Ia asyik mengobati kawan-kawannya. Tangan dan jari-jarinya sungguh cekatan sekali.
"Siauwte inilah yang seharusnya meminta maaf, bukan mereka. Siauwte lah yang bersalah, karena tak tahan melihat... melihat gadis yang baru mandi di sungai itu..."
Kam Lojin menoleh dengan cepat. Dipandangnya wajah Liu Yang Kun seakan akan tak percaya.
"Jadi... kau benar-benar mengganggu gadis itu, Siau-heng?"
Liu Yang Kun menarik napas panjang, lalu dengan sangat berat ia menganggukkan kepalanya. Wajahnya tampak sedih dan amat tertekan sekali.
"Lopek...! Setelah bertemu dengan engkau tadi aku lantas pergi menyusuri sungai ini. Sambil berjalan aku memikirkan Lopek, karena...karena aku merasa seperti pernah mengenal Lopek. Tapi aku lupa, dimana aku pernah bertemu dengan Lopek. Karena melamun terus, maka tak merasa kalau sampai di tempat...di tempat gadis itu mandi. Aku menjadi kaget setengah mati. Celakanya... celakanya... aku ini mempunyai penyakit...penyakit..."
"Penyakit hidung belang maksud Siau-heng?"
Kam Lojin meneruskan dengan sedikit tersenyum. Liu Yang Kun menjadi merah-padam mukanya.
"Bukan! Bukan! Bukan itu..."
Sergahnya cepat.
"Penyakit itu... penyakit itu... ahh...!"
Pemuda itu tak bisa menerangkan penyakitnya. Oleh karena itu dengan senyum di kulum Kam Lojin memotong.
"Sudahlah, Siau-heng... kau tak perlu menerangkannya. Aku pun pernah menjadi muda pula. Tapi aku percaya kepadamu, Bahwa sebenarnya engkau tidak jahat. Aku pun merasa seperti pernah mengenal Siau-heng pula."
"Hah? Jadi Lopek merasa pula kalau kita pernah bertemu dan saling berkenalan?"
Liu Yang Kun berseru girang.
"Benar. Tapi seperti halnya Siau-heng, aku yang tua ini telah lupa pula. Hm, siapakah nama Siau-heng sebenarnya?"
"Yang Kun, Lopek... Liu Yang Kun! Lopek siapakah?"
"Penduduk Kee-cung ini menyebutku... Kam Lojin. Tapi... sebentar, ehm... Liu Yang Kun... Liu Yang Kun...! Rasanya aku pernah mendengar nama itu..."
Kam Lojin mengeryitkan dahinya sambil berpikir keras.Tapi sebelum petani tua itu menemukan jawabannya, Liu Yang Kun sudah keburu ingat siapa sebenarnya petani tua dihadapannya itu.
Sambil menjura dalam-dalam, pemuda itu berseru.
"Kam-Lo-Cianpwe, kita pernah bertemu di dusun Ho-ma-cun beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu Siauwte datang mengunjungi Lo-Cianpwe bersama-sama dengan Toat-beng-jin dan Kauw Cu-si Tong Ciak dari Aliran Im-Yang-kauw."
Tiba-tiba Kam Lojin berseru girang pula.
"Hei, benar! Ingat aku sekarang. Liu-heng datang bersama-sama dengan puteri Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu, bukan? Aku ingat benar pada gadis ayu berlengan satu itu. Eh, dimanakah dia sekarang? Apakah anak itu sudah kawin?"
Sekali lagi Liu Yang Kun menjadi merah pada mukanya.
Sekejap ia seperti diingatkan kembali kepada gadis yang pernah merampas hatinya itu.
Dan tiba-tiba pula hatinya terasa sangat pedih.
Tentu saja perubahan air muka Liu Yang Kun itu tak luput dari pandangan Kam Lojin.
Sebagai orang tua yang telah banyak makan garam kehidupan, ia segera bisa meraba apa yang kira-kira bergejolak di dalam hati pemuda itu.
Oleh karena itu ia pun segera terdiam dan tak mau mendesak pula terlebih lanjut.
"Tampaknya ada sesuatu yang tak beres di dalam hubungan mereka. Dahulu pun mereka kelihatan tak akur. Dan keadaan tersebut agaknya berlarut-larut pula hingga sekarang. Malahan siapa tahu ketidak akuran mereka itu berkembang menjadi permusuhan yang hebat di antara mereka kini?"
Ia menduga-duga di dalam hati.
Maka untuk menghilangkan kesan yang kurang menyenangkan itu Kam Lojin lalu mengalihkan pembicaraan mereka.
Tapi Liu Yang Kun yang masih merasa bersalah dan ingin menjelaskan persoalannya itu cepat mengembalikan lagi pokok permasalahan mereka semula.
"Kam Lo-Cianpwe, Siauwte benar-benar ingin meminta maaf kepada warga desa Kee-cung ini, terutama kepada gadis itu beserta keluarganya. Aku telah khilaf tadi, dan untunglah semuanya belum terjadi. Namun demikian Siauwte ingin menjelaskan semua ini kepada mereka..."
Kam Lojin menatap wajah Liu Yang Kun dengan tajamnya.
Senyumnya merekah tanda ia semakin menyukai pemuda itu.
Dan keyakinannya juga semakin tebal bahwa pemuda dihadapannya itu memang bukanlah orang jahat.
"Tapi... bagaimana Siau-heng hendak menjelaskan kepada mereka? Bukankah Siau-heng tadi benar-benar telah mengganggu gadis itu?"
Liu Yang Kun terdiam pula termangu mangu.
"Ini... ini... ah, bagaimana sebaiknya Lo-Cianpwe? Siauwte... Siauwte memang sulit menjelaskannya. Tapi... tapi Siauwte merasa kurang enak pula kalau tidak menjernihkannya di hadapan mereka."
Kam Lojin mengerutkan dahinya sambil mengusap jenggotnya yang panjang.
"Wah, repot juga kalau begitu. Bagaimana mereka mau mengerti kalau Siau-heng tidak bisa menjelaskan sebab-sebabnya? Siau-heng harus menjelaskan sebab-sebab perbuatan Siau-heng itu! Kalau tidak, mana mereka mengerti?"
"Ah!"
Liu Yang Kun berdesah semakin gelisah.
Beberapa saat lamanya ia tidak segera bisa mengambil keputusan.
Bolak-balik matanya menatap Kam Lojin.
Namun bila hendak membuka mulut, tidak jadi.
Kam Lo jin menengadahkan kepalanya.
Sambil menghela napas panjang ia berkata.
"Sebenarnya Siau-heng bisa saja meninggalkan desa ini tanpa harus menjelaskan persoalan kecil ini kepada mereka Tak seorangpun bisa mencegah kepergian Siau-heng. Tapi... aku juga lebih menyetujui keinginan Siau-heng tadi. Soalnya... di desa ini sedang ada persoalan gawat, yang akan bisa merugikan nama baik Siau-heng bila persoalan Siau-heng sekarang tidak segera dijernihkan dulu."
"Persoalan gawat? Oh, persoalan apakah itu?"
Liu Yang Kun tersentak kaget.
"Sudah sebulan ini kami menemukan mayat-mayat gadis muda di sungai ini. Gadis-gadis itu dibunuh orang setelah diperkosa kehormatannya. Nah, kalau Siau-heng tidak segera menjelaskan persoalan Siau-heng itu selekasnya, maka tidak urung mereka akan menganggap bahwa Siau-heng lah pelakunya. Mereka akan menyebarkan berita ini kemana-mana, sehingga Siau-heng pun akan dicari orang untuk dibunuh. Kehidupan Siau-heng pun lalu menjadi terkekang dan tidak bebas lagi. Semua orang ingin menjauhi Siau-heng, karena semua orang menganggap bahwa Siau-heng sangat berbahaya."
"Oh? Begitukah? Kalau begitu siau te semakin bernafsu untuk menjelaskannya kepada mereka. Kalau tidak... wah!"
Pemuda itu lantas teringat kembali akan tingkah laku dan pengalamannya beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika dirinya masih meraja lela menjadi Si Iblis Penyebar Maut di daerah Kang Lam itu.
Sebuah pengalaman yang amat mengerikan, yang sangat bertentangan dengan hati-nuraninya sendiri, namun terpaksa ia lakukan karena ia tak kuasa mencegahnya.
Oleh karena itu ia tak ingin mengulanginya lagi sekarang.
Ia harus mencegahnya, karena selama menikah dengan Tui Lan ia merasa telah sembuh dari penyakit anehnya itu.
"Aku baru saja keluar dari gua di bawah tanah itu. Jadi tidak mungkin kalau aku yang membunuh dan memperkosa gadis-gadis itu. Tentu ada orang lain yang melakukannya. Aku harus membersihkan diriku. Aku tak ingin didakwa lagi sebagai Si Iblis Penyebar Maut seperti dulu. Apalagi sekarang aku tak merasa berbuat..."
Katanya di dalam hati. Sementara itu Kam Lojin telah selesai mengobati orang-orang yang terluka. Orang itu telah bisa bangkit berdiri kembali. Tapi mereka tampak ketakutan memandang Liu Yang Kun.
"Saudara-saudara, kalian telah mendengar pula pembicaraanku dengan pemuda ini tadi. Dia bukanlah pelaku dari serangkaian kejahatan yang menimpa gadis-gadis muda yang mayatnya kita ketemukan di sungai ini. Dia telah menyanggahnya, dan aku percaya kepadanya. Memang dia telah berusaha menganggu Ceng Ceng, cucu Kepala Desa kita. Tapi semua itu disebabkan oleh... oleh... oleh..."
Kam Lojin tak bisa melanjutkan keterangannya.
"Maaf. Biarlah Siauwte sendiri yang menjelaskannya."
Liu Yang Kun cepat memotong seraya tampil ke depan.
"Begini saudara-saudara sekalian...! Mungkin saudara sekalian tak percaya kalau kukatakan bahwa aku mempunyai sebuah penyakit yang aneh. Aneh sekali malah. Yaitu, aku tak kuasa mengekang diri bila melihat wajah cantik. Sehingga akibatnya kadang-kadang aku berbuat yang kurang senonoh tanpa sadar. Namun terus terang, aku belum berbuat apa-apa terhadap gadis itu tadi. Aku tadi baru dalam taraf melihat dan datang mendekati tempatnya mandi. Dan ia telah berteriak-teriak ketakutan sambil berlari meninggalkanku. Itu saja. Dan seperti yang dikatakan oleh Kam Lo-ci-anpwe ini, aku benar-benar tidak tahu-menahu tentang mayat-mayat yang kalian ketemukan itu. Aku baru saja datang dari pantai. Aku berani bersumpah untuk meyakinkan kata-kataku ini..."
Penduduk desa Kee-cung yang terluka itu hanya ternganga sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di dalam hati mereka belum percaya se ratus persen pada pernyataan pemuda itu, namun karena mereka takut pada kesaktian pemuda itu, maka mereka tidak berani menyanggahnya.
Mereka hanya memandang kepada Kam Lojin, warga desa mereka yang mereka anggap pintar serta berilmu itu dengan hati pasrah.
"Nah, Kam Lo-Cianpwe... marilah kita menemui Kepala Desa untuk menjernihkan perkara ini...!"
Liu Yang Kun akhirnya berkata.
"Baiklah, Siau-heng..."
Demikianlah, orang-orang itu lalu berjalan mengantarkan Liu Yang Kun ke Balai Desa.
Ketika sampai di tempat pengambilan mayat tadi, mereka tidak menemukan siapapun di sana.
Warga desa yang berkumpul di tempat itu telah pergi pula menyelamatkan diri.
Mereka membawa juga mayat gadis itu.
Di sepanjang jalan menuju ke Balai Desa suasananya seperti kuburan.
Tak seorangpun tampak berkeliaran di luar rumah.
Pintu dan jendela rumah tak ada yang terbuka.
Semuanya tertutup.
Anak-anak kecil yang biasa terlihat di mana-mana itu pun tak ada yang keluar pula.
"Ah! Tampaknya kesaktian yang Siau-heng perlihatkan tadi benar-benar menggiriskan para penduduk di sini. Lihat tak seorangpun kelihatan batang hidungnya! Semuanya menutup diri di dalam rumah. Hmm... betul bukan ucapanku tadi, Siau-heng? Mereka menganggapmu sebagai manusia yang sangat berbahaya, yang harus disingkirkan atau., dijauhi!"
"Benar, Lo-Cianpwe. Oleh karena itu pula Siauwte harus cepat-cepat memberikan penjelasan kepada mereka. Bila terlambat, dan mereka mendapat kesempatan untuk menyebar-luaskan anggapan yang keliru ini, maka tamatlah riwayatku. Aku tak bisa hidup aman, tenteram dan bebas lagi seperti dulu..."
Tak berbeda dengan yang lainnya, rumah Kepala Desa itu juga tertutup rapat semua pintu dan jendelanya.
Halamannya yang luas dimana Balai Desa itu didirikan, juga kelihatan sepi seolah-olah tak berpenghuni.
Meskipun demikian Kam Lojin tetap membawa Liu Yang Kun ke atas pendapa dan mengetuk pintunya.
Beberapa orang yang mengikuti mereka tadi segera duduk beristirahat di emperan pendapa.
"Cungcu, bukalah pintumu...! Aku Kam Lojin datang untuk berbicara sedikit denganmu."
Kam Lojin berseru.
Hening sejenak.
Tak seorangpun menjawab.
Namun telinga Kam Lojin dan Liu Yang Kun dapat mendengar suara banyak orang di dalam rumah itu.
Kedua orang itu saling memandang, seakan-akan meminta pendapat masing-masing, apa yang sebaiknya mereka lakukan.
"Kita buka dengan paksa pintu itu, Lo-Cianpwe?"
Liu Yang Kun mendesak.
"Ya, tapi jangan kau yang melakukannya. Mereka akan menjadi semakin ketakutan kepadamu. Biarlah aku saja yang membukanya."
Petani tua itu mengiyakan, kemudian serunya lagi ke arah dalam.
"Cungcu... Maaf, aku hendak membuka pintumu secara paksa! Aku...!"
Tapi belum juga habis kata-kata Kam Lojin itu, tiba-tiba pintu tersebut telah bergerit.
Dari sela-sela daun pintu yang belum sepenuhnya terbuka, Kepala Desa itu menjengukkan kepalanya.
Matanya nanar, wajahnya pucat.
"Kam... Kam Lojin... Di-dimanakah... pemuda... pemuda setan itu...?"
Bisiknya gagap dan terengah-engah seperti dikejar setan.
"Dia berada di belakangku."
Kam Lojin menjawab seraya menggerakkan kepalanya ke belakang.
"Hah...?"
Kepala Desa itu terhenyak kaget, lalu buru-buru hendak menutup kembali pintunya, tapi dengan tangkas Kam Lojin menahannya.
"Cungcu, jangan takut! Aku ada di sini. Lihat, kawan-kawan kita yang terluka itu juga ada di sana! Mereka juga tidak apa-apa..."
"Heh? Mereka tidak mati terkena tenaga-setan pemuda itu?"
"Tenaga-setan? Tidak ada tenaga setan di dunia ini!"
Kam Lojin membujuk.
"Tidak ada? Ah, Kam Lojin jangan membohong! Bukankah pemuda iblis itu tidak mempan senjata tajam? Bukankah hanya jeritannya saja pemuda iblis itu mampu melontarkan belasan kawan kita? Apakah itu bukan tenaga-setan?"
"Ah... Cungcu! Itu tadi bukan tenaga-setan. Setiap ahli-silat tingkat tinggi tentu bisa melakukannya pula. Aku pun juga bisa. Mengapa harus ditakutkan?"
Petani tua itu berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkan kepala desanya.
"Sungguh...?"
"Cungcu ingin bukti? Baiklah... aku akan melemparkan Cungcu dari belakang pintu itu hanya dengan hentakan kakiku di lantai. Bersiaplah!"
Dengan cepat Kam Lojin mengerahkan tenaga-dalamnya.
Lalu sebelum kepala desanya itu menyadari keadaannya, tiba-tiba kaki kanannya menghentak lantai dengan kerasnya.
Hup!
Dan di saat itu juga kepala-desa itu terlempar ke belakang dengan kuatnya.
"Brussh!"
"Aduuuuh!"
Di lain saat di dalam rumah itu terjadi kegaduhan.
Beberapa orang warga desa Kee-cung yang ikut bersembunyi di dalam rumah itu berteriak-teriak kesakitan ketika tubuh kepala-desa mereka itu menimpa mereka.
Kam Lojin cepat membuka pintu tersebut.
Bersama sama dengan Liu Yang Kun ia memasuki rumah besar itu.
Keduanya tersenyum geli melihat belasan orang yang jatuh tunggang-langgang di atas lantai.
Semuanya tampak ketakutan ketika melihat kedatangan Liu Yang Kun.
Kam Lojin cepat membangunkan kepala-desanya.
"Bagaimana, Cungcu? Tidak ada yang aneh, bukan?"
"Ini... ini... eh! A-apa maksud... maksudnya datang kemari?"
Kepala desa itu masih saja ketakutan melihat Liu Yang Kun.
Kam Lojin lalu mengumpulkan orang-orang yang ada di dalam rumah itu dan mengajak mereka keluar ke pendapa.
Di depan mereka Kam Lojin menerangkan bahwa Liu Yang Kun bukanlah orang jahat.
Kalau tadi pemuda itu me lukai kawan-kawan mereka, hal itu dilakukannya karena terpaksa.
Hanya untuk membela diri.
"Lihatlah! Kalau dia itu memang bermaksud jahat, apa perlunya dia datang kesini untuk meminta maaf? padahal kalau ia mau, kalian semua ini bisa saja dibunuhnya?"
"Tapi... tapi dia hendak menggangguku!"
Tiba-tiba gadis cucu kepala-desa itu berteriak dari belakang punggung kakeknya.
"Oh, Ceng Ceng!"
Kam Lojin berdesah dengan mulut tersenyum.
"Hal itu memang telah diakuinya pula. Tapi kau pun juga harus memakluminya. Hmm, siapakah orangnya yang bisa tahan melihat gadis secantik kau mandi di sungai? Apalagi seorang yang masih sangat muda seperti dia? Tapi yang jelas... dia belum berbuat apa-apa kepadamu, bukan?"
Gadis itu tersipu-sipu malu. Mukanya bagai udang direbus.
"Ini... ini... ah... Lojin ini bisa saja."
Gumamnya tak jelas. Tiba-tiba Liu Yang Kun melangkah ke depan.
"Benar, Siocia (Nona)... Aku sungguh-sungguh merasa bersalah dan meminta maaf kepadamu. Kuharap Siocia mau memaafkannya..."
Gadis itu semakin merasa malu sekali, la bersembunyi di belakang kakeknya dan tak berani menatap wajah Liu Yang Kun.
Tiba-tiba saja gadis manis itu merasa suka terhadap sikap Liu Yang Kun yang terbuka dan ksatria itu.
Sementara itu satu dua orang penduduk di sekitar Balai Desa itu mulai keluar dari rumahnya.
Melihat banyak orang berkumpul di Balai Desa bersama-sama dengan Kam Lojin dan Kepala Desa mereka, mereka lalu mendekat dan ikut berkumpul pula.
Sedikit demi sedikit rasa takut mereka menjadi hilang.
Apalagi ketika tampak oleh mereka, pemuda yang sangat berbahaya itu tidaklah segarang atau sebuas yang mereka bayangkan.
"Cungcu, dimanakah mayat yang kita ketemukan tadi?"
Setelah semuanya beres Kam Lo jin lalu bertanya tentang mayat gadis muda itu.
"Dia telah kami kuburkan. Mengapa Kam Lojin?"
"Tidak apa-apa. Syukurlah kalau sudah dikuburkan. Aku merasa kasihan melihatnya. Hmm... sungguh keji penjahat itu. Sudah memperkosa masih membunuh juga."
Kam Lo jin menggeram.
Orang orang yang berkumpul di tempat itu pun kelihatan geram dan penasaran pula.
Malah beberapa orang wanita tampak menitikkan air-mata, seakan-akan musibah tersebut datang pada diri keluarga mereka.Otomatis Liu Yang Kun merasa terpukul juga.
Meskipun tidak ia kehendaki sendiri, namun ia pernah berbuat seperti itu pula.
Terbayang di otaknya sekarang, betapa sedih dan pilu keluarga dari gadis-gadis yang menjadi korbannya dulu.
"Ooooh, peristiwa seperti itu tak boleh terulang kembali. Aku harus mencegahnya sekuat tenaga."
Pemuda itu merintih di dalam hati.
"Siau-heng, kau kenapakah? Apakah badanmu sakit?"
Kam Lojin yang merasa heran menyaksikan perubahan wajah pemuda itu bertanya.
"Oh... eh... eh, tidak apa-apa. Siauwte tidak apa apa, Lo-Cianpwe."' Liu Yang Kun menjawab gugup.
"Tapi... mengapa mukamu menyeringai seperti orang menahan sakit?"
"A-a-aku ikut merasakan betapa sedihnya keluarga gadis yang mati itu.."
Liu Yang Kun menjawab sekenanya. Kam Lojin mengerutkan keningnya, lalu mengangguk.
"Benar, Siau-heng. Akupun akhirnya menjadi penasaran pula. Sungguh kejam dan keji sekali penjahat itu. Ingin benar rasanya mencari dan menangkapnya. Tapi sayang aku sudah terlalu tua untuk me lakukannya. Tulangku sudah rapuh, ototku pun juga sudah kendor pula..."
"Ah... Kam Lo-Cianpwe ini suka benar merendahkan diri. Siapakah orangnya di dunia ini yang tidak mengenal Kam Song Ki, murid bungsu mendiang Bu-eng Sin-yok-ong? Dan siapa pula yang tak tahu bahwa Kam Lo-Cianpwe adalah guru dari Keh-sim Siau-hiap yang terkenal itu?"
Liu Yang Kun cepat memotong. Tapi dengan cepat pula Kam Lojin menepuk pundak Liu Yang Kun. Sambil mendekatkan mulutnya orang tua itu berbisik.
"Hei... jangan sebut sebut nama itu di sini! Di dusun ini hanya seorang petani tua yang suka menolong untuk mengobati anak-anak. Lain tidak."
Liu Yang Kun tertegun.
Dan ketika matanya memandang ke arah orang-orang dusun itu, memang tampak benar kalau mereka itu sangat asing dengan nama-nama yang dia sebutkan tadi.
Semuanya, termasuk kepala desa mereka, kelihatan bingung dan termangu-mangu mendengar perkataannya itu.
Demikianlah sete lah persoalannya dengan warga dusun Kee-cung itu telah selesai, Liu Yang Kun lalu meminta diri.
Namun dengan cepat Kam Lojin menahannya.
Orang tua itu memintanya dengan sangat agar ia mau singgah dulu di rumahnya.
"Aku mau berbincang-bincang sedikit dengan Siau-heng."
Kata orang tua itu dengan wajah bersungguh-sungguh.
Liu Yang Kun menoleh, dan jantungnya berdebar-debar melihat kesungguhan Kam Lojin.
Pemuda itu seperti melihat sesuatu yang gawat pula di balik ucapan orang tua tersebut.
Tapi karena dia tak mempunyai rencana atau tujuan yang pasti juga, maka dia tak bisa menolak undangan itu.
Begitulah dengan diantar oleh puluhan pasang mata warga dusun Kee-cung yang berkumpul di Balai Desa itu, Liu Yang Kun melangkah pergi mengikuti Kam Lojin.
Walaupun kecil tapi rumah Kam Lojin sangat bersih dan teratur rapi.
Di halamannya pun banyak ditumbuhi pohon-pohon penyegar, sehingga tempat itu terasa nyaman dan sejuk.
Setelah menikmati makanan seadanya, mereka lalu duduk di depan untuk berbincang-bincang seperti yang diinginkan oleh Kam Lojin tadi.
Percakapan mereka yang semula amat santai itu tiha-tiba berubah menjadi tegang dan bersungguh-sungguh.
"Liu Siau-heng...? Bolehkah aku bertanya tentang sesuatu hal kepadamu...?"
Kam Lojin memulai pembicaraannya dengan bersungguh-sungguh.
"Ah! Silahkan, Lo-Cianpwe...!"
Liu Yang Kun menjawab dengan suara bergetar. Wajahnya kelihatan tegang pula.
"Liu Siau-heng, baru dua kali ini aku bertemu denganmu. Pertama di desa Ho-ma-cun beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika Liu Siau-heng datang mengunjungi pondokku bersama Toat-beng-jin, Tong Ciak Cu-si dan Souw Lian Cu itu. Dan yang kedua adalah sekarang ini. Tapi... aku menjadi heran mendengar namamu. Kalau tak salah dulu kau memakai she Chin (marga Chin), bukan she Liu seperti yang kau sebutkan sekarang. Eh... maaf, manakah yang benar? She Chin ataukah she Liu? Soalnya... akupun pernah mendengar pula nama Liu Yang Kun yang lain, yang memiliki riwayat amat menarik dan amat terkenal di negeri kita ini..."
Sekilas Liu Yang Kun menatap Kam Lojin.
Jantungnya berdebar keras.
Sementara keringat dingin seperti membanjir pula dengan tiba-tiba.
Laksana seorang pesakitan yang tidak bisa mengelak lagi dari tuduhan jaksa, Liu Yang Kun termangu-mangu mendengarkan pertanyaan orang tua itu.
"Bagaimana Liu Siau-heng? Manakah yang benar? She Chin ataukah she Liu?"
Kam Lojin mendesak lagi. Liu Yang Kun mengusap keringat dengan ujung lengan bajunya. Lalu dengan hati-hati ia bertanya.
"Apa saja yang telah Lo-Cianpwe dengar tentang nama Liu Yang Kun yang lain itu, Lo-Cianpwe?"
Kam Lojin tersenyum penuh arti.
"Banyak. Banyak sekali, Siau-heng. Diantarannya adalah... dia itu putera Hongsiang yang bertakhta sekarang. Dan dia itu telah bertahun-tahun pergi meninggalkan istana. Entah kemana. Namun yang terang Hongsiang telah memerintahkan pembantu-pembantunya untuk mencarinya. Dan lagi, berita terakhir yang kudengar, Pangeran itu telah meninggal dunia setahun yang lalu. Tepatnya di Lembah Dalam, di dekat Kota Soh ciu, karena tertimbun oleh bukit yang longsor. Hmmm... ada apa, Siauw-heng? Apakah Siauw-heng juga sudah kenal dengan Pangeran itu? Ataukah... Ataukah... hmm?"
Kam Lojin tidak meneruskan kata-katanya.
Sebaliknya orang tua itu memandang Liu Yang Kun dengan tajamnya.
Dan sekali lagi mulutnya tersenyum penuh arti, seakan-akan ia memang sudah tahu siapa sebenarnya Liu Yang Kun itu.
"Be-berita apa lagi... yang Lo-Cianpwe dengar tentang dia?"
Liu Yang Kun masih mencoba untuk meyakinkan dirinya, meskipun tampaknya ia sudah takkan bisa menyembunyikan diri lagi. (Lanjut ke
Jilid 17) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 17
"Sudah kukatakan tadi. Banyak sekali. Di antaranya lagi ialah... berita tentang masa kecil dari Pangeran Liu Yang Kun. Menurut berita yang kudengar, sejak kecil Pangeran itu tidak mengikuti ayahnya, tapi ikut keluarga lain. Dan kalau aku tak salah dengar, keluarga yang diikuti Pangeran itu adalah keluarga bangsawan Chin..."
Liu Yang Kun semakin tak berkutik. Kepalanya tertunduk dalam-dalam. Berkali-kali bibirnya berdesah.
"Dan setelah tumbuh dewasa, Pangeran itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat luar biasa. Entah dari mana dia mendapatkan kesaktian itu, namun yang terang dalam usianya yang masih sangat muda itu dia telah mampu mengalahkan tokoh tokoh puncak di dunia persilatan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila namanya ikut tercantum pula di dalam Buku Rahasia yang diributkan orang itu..."
"Aaaah...?"
Liu Yang Kun tersentak.
"Buku Rahasia? Buku apakah itu?"
Lagi-lagi Kam Lojin tersenyum.
"Entahlah. Aku pun belum pernah melihatnya. Berita itu kudengar dari muridku, Keh-sim Siau-hiap Kwee Tiong Li. Katanya di dunia persilatan telah muncul sebuah buku, yang disebut Buku-Rahasia. Selain memuat syair-syair yang berisi ramalan dan petunjuk-petunjuk, buku itu juga mencantumkan Daftar Tokoh-tokoh Terkemuka dewasa ini."
"Daftar Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini? Ah...? Siapakah yang memiliki buku itu? Dan... siapa pula yang menulisnya?"
Liu Yang Kun bertanya. Tapi Kam Lojin cepat menggoyangkan telapak tangannya.
"Eeit,nanti dulu...! Siau-heng belum menjawab pertanyaanku tadi. Lebih baik Siau-heng menjawab dulu, baru nanti bertanya lagi. Jadi percakapan kita ini menjadi enak dirasakan. Bukan hanya aku saja yang harus bercerita dan selalu menjawab pertanyaan Siau-heng..."
Katanya dengan tertawa.
"Oooh...!"
Liu Yang Kun berdesah dan tersipu-sipu. Dan tiba-tiba keringatnya mengalir kembali dengan derasnya.
"Bagaimana, Siau-heng...?"
Liu Yang Kun menatap Kam Lojin sebentar, lalu menunduk kembali. Sebelum membuka mulut ia mengambil napas dulu untuk menenangkan hatinya.
"Baiklah, Lo-Cianpwe. Siauwte akan menjawab pertanyaanmu tadi, biar perasaan Lo-Cianpwe menjadi lega. Menjadi yakin. Sebab bagaimanapun juga aku takkan dapat bersembunyi terus menerus dari kenyataan, apalagi kalau aku sudah bertemu dengan orang-orang yang telah mengenalku."
"Jadi...?"
Sekarang ganti Kam Lojin yang mendesak. Liu Yang Kun mengangguk.
"Dugaan Lo-Cianpwe memang benar. Siauwte memang putera Hongsiang yang bernama Liu Yang Kun itu yang telah bertahun-tahun meninggalkan istana dan yang setahun lalu telah dikhabarkan mati tertimbun bukit longsor di Kota Soh-ciu."
Katanya seraya menyingsingkan lengan bajunya dan memperlihatkan guratan huruf Chin Yang Kun di pangkal lengannya. Tiba-tiba Kam Lojin turun dari kursinya dan membungkuk di depan Liu Yang Kun.
"Ah, maafkanlah orang tua yang tak tahu sopan-santun ini, Pangeran..."
Katanya meminta maaf. Namun dengan cepat Liu Yang Kun menahannya.
"Lo-Cianpwe, kau jangan bersikap seperti itu! Sikap orang-orang Istana yang seperti itulah yang dahulu membuatku tak kerasan berada di samping Hongsiang. Aku telah terbiasa hidup di antara rakyat miskin. Bersama keluarga Chin yang mengasuh aku sejak kecil, aku selalu hidup berpindah-pindah untuk menghindari kejaran musuh. Oleh karena itu aku telah terbiasa hidup menderita. Aku muak terhadap kehidupan istana yang serba gemerlapan dan tata-cara, sementara di luar istana kehidupan rakyat banyak yang sengsara dan menderita. Maka sudah aku putuskan sejak dahulu, bahwa aku akan hidup di luar istana. Aku tak ingin bergelimang kemewahan, sementara hatiku menangis melihat rakyatku hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan."
Mendadak Kam Lojin berdiri tegak di depan Liu Yang Kun. Matanya mencorong menatap wajah pemuda itu.
"Maaf, Pangeran. Pangeran tadi mengatakan bahwa sikapku salah. Tapi ternyata sikap Pangeran itupun juga salah pula..."
Orang tua itu berkata tegas. Liu Yang Kun berdiri pula dengan cepat. Dengan wajah keheranan iapun menatap Kam Lojin.
"Sikapku juga salah? Bahagian manakah yang salah? Mengapa Lo-Cianpwe dapat berkata demikian?"
"Dilihat dari sudut pribadi Pangeran sendiri, sikap itu memang mulia dan baik. Dengan demikian Pangeran adalah seorang yang sederhana, berbudi luhur, jujur dan suka menolong manusia yang menderita. Tapi kalau dilihat dari kedudukan dan pangkat Pangeran sekarang, maka sikap itu bisa dikatakan terlalu mementingkan diri sendiri."
"Mementingkan diriku sendiri? Maaf, Lo-Cianpwe jangan bicara sembarangan. Mengapa Lo-Cianpwe menuduhku seperti itu? Bukankah aku malah mengorbankan segala-galanya? Kutinggalkan seluruh kemewahan. Kutinggalkan pula semua kedudukan dan semua hak-hakku di lstana. Kini aku rela hidup miskin dan menderita. Mengapa Lo-Cianpwe masih berani menuduhku terlalu mementingkan diriku sendiri?"
Liu Yang Kun berseru penasaran. Lagi-lagi Kam Lojin membungkuk dengan hormatnya di depan Liu Yang Kun. Dengan suara tenang orang tua itu berkata.
"Maaf, Pangeran... Sekali lagi aku yang telah tua ini memohon maaf kepadamu bila ada kata-kataku yang salah. Tapi aku yang sudah pikun ini memang mengatakan yang sebenarnya. Cobalah Pangeran renungkan! Pangeran adalah satu-satunya putera resmi Baginda Kaisar Han, yang diakui oleh Baginda sendiri dan rakyat banyak. Bagindapun sangat sayang kepada Pangeran. Maka tidaklah mengherankan bila takhta kerajaan ini besuk akan jatuh kepada Pangeran pula."
"Aku tidak ingin menjadi Kaisar,"
Liu Yang Kun memotong dengan cepat.
"Nanti dulu! Harap Pangeran dengarkan dulu perkataanku ini. Dengan kedudukan Pangeran sekarang, ataupun dengan kedudukan Pangeran besuk, Pangeran bisa mendarma-baktikan kesederhanaan, keluhuran budi serta hasil-hasil pemikiran Pangeran yang mulia itu untuk rakyat banyak. Karena Pangeran telah terbiasa menderita dan merasakan kemiskinan rakyat, maka Pangeran tentu akan bisa menolong mereka pula. Karena Pangeran telah terbiasa mengalami kesengsaraan dan penderitaan, maka Pangeran tentu tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang sekiranya membuat rakyat sengsara dan menderita. Nah...bukankah dengan demikian Pangeran akan membahagiakan dan menyenangkan rakyat? Tidak cuma menyenangkan dan membahagiakan diri Pangeran sendiri? Mungkin dengan meninggalkan semua kedudukan dan kemewahan itu Pangeran menjadi lega dan bahagia. Tetapi... bukankah hal itu terlalu mementingkan diri sendiri? Padahal dengan kemampuan, kedudukan dan jabatan Pangeran itu Pangeran bisa berbuat lebih banyak untuk rakyat yang miskin dan sengsara? Apakah sikap Pangeran itu tidak sama dengan sikap seorang Panglima Perang yang meninggalkan pasukannya hanya karena tidak suka perang dan kekerasan? Apakah sikap Panglima Perang yang berbuat seperti itu justru tidak akan menjerumuskan pasukannya ke lembah kehancuran?"
"Ouooh...!"
Bagaikan air es kata-kata Kam Lojin yang panjang lebar itu mendinginkan hati Liu Yang Kun.
Perlahan-lahan pemuda itu duduk kembali.
Wajahnya tertunduk.
Tiba-tiba hatinya menjadi sadar akan kekeliruannya selama ini.
Dia memang terlalu mementingkan dirinya sendiri.
Dia telah menyia-nyiakan harapan rakyat.
Dia juga telah menyakiti dan menyengsarakan hati ayahnya.
Dia memang seperti Panglima Perang yang meninggalkan pasukannya di medan perang, hanya karena tidak menyukai peperangan dan kekerasan.
"Oh, Lo-Cianpwe... maafkanlah kebodohanku. Aku mengaku salah. Hatiku memang terlalu mementingkan diri sendiri. Jiwaku sungguh kerdil."
Pemuda itu merintih. Tapi dengan cepat, Kam Lojin menghiburnya. Dengan gaya seorang tua yang telah amat kenyang dengan pahit-getirnya kehidupan, Kam Lojin menepuk-nepuk pundak Liu Yang Kun.
"Maaf, Pangeran... Pangeran tidak perlu berkecil hati. Pangeran masih amat muda, maka tak mengherankan kalau hati dan pikiran belum sepenuhnya terbuka. Dalam hal lain, misalnya dalam hal ilmu silat, Pangeran memang telah cukup mendapatkan ujian dan tempaan, sehingga dalam hal ini Pangeran boleh dikatakan telah lulus dan mencapai tingkat yang tertinggi. Namun dalam hal kematangan jiwa, pikiran dan kehidupan, Pangeran masih harus belajar banyak. Semuanya itu membutuhkan waktu..."
Liu Yang Kun menengadahkan mukanya. Sambil menarik nafas panjang ia bertanya.
"Lalu... apa yang harus saya kerjakan, Lo-Cianpwe?"
"Tentu saja Pangeran harus selekasnya pulang ke istana, menemui Baginda Kaisar Han, dan memohon maafnya.."
"Tapi..."
Liu Yang Kun memotong, namun tak kuasa melanjutkannya.
"Tapi Pangeran belum merasa siap dan masih enggan untuk melakukannya?"
Kam Lojin yang arif itu menebak hati Liu Yang Kun. Pemuda itu cepat mengangguk.
"Benar, Lo-Cianpwe. Tapi bukannya aku tak mau melakukannya. Aku hanya belum siap sekarang."
Kam Lojin menghela nafas.
"Baiklah. Hal itu memang tidak dapat dipaksa. Terserah kepada Pangeran sendiri. Namun aku sangat bergembira atas kesediaan Pangeran untuk pulang itu. Terima kasih."
Demikianlah, untuk beberapa waktu lamanya mereka tidak berbicara lagi.
Masing-masing disibukkan oleh pikiran dan perasaan mereka sendiri.
Baru beberapa waktu kemudian Liu Yang Kun seperti tersentak dari ketermenungannya.
"Eh, Lo-Cianpwe... Lo-Cianpwe tadi mengatakan bahwa di dunia persilatan telah muncul sebuah buku yang disebut orang Buku Rahasia. Malah Lo-Cianpwe tadi juga mengatakan bahwa di dalam buku tersebut juga dicantumkan nama-nama Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini... Ehm, siapakah pemilik sebenarnya dari buku itu? Dan siapakah penulisnya?"
"Haha... tampaknya Pangeran menjadi tertarik juga akan buku itu. Menurut berita yang kudengar, buku itu adalah milik Ban-hoat Sian-seng dari Puncak Gunung Hoa-san. Tapi entah bagaimana caranya, buku itu jatuh ke tangan Bok Siang Ki yang tinggal di tengah gurun Gobi. Dan entah bagaimana pula caranya, buku itu lalu muncul di dunia persilatan, sehingga banyak tokoh yang mengetahuinya. Kemudian dari mulut ke mulut isi buku itu diceritakan pula kepada orang lain, hingga sebentar saja berita itu telah membikin gusar dan penasaran banyak orang, karena di dalam salah satu bagiannya buku itu menuliskan urutan Daftar Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini. Mereka menjadi penasaran karena nama mereka tertulis pada nomer-nomer yang paling akhir, sementara pada nomer-nomer paling atas banyak tercantum nama-nama yang sama sekali belum dikenal di dunia persilatan."
"Eh, tadi Lo-Cianpwe mengatakan bahwa namaku juga ikut tertulis pula di dalam daftar itu. Apakah... apakah Lo-Cianpwe tahu nomer urutanku?"
Kam Lojin tersenyum.
"Nah! Bukankah Pangeran ikut menjadi penasaran pula seperti yang lain?"
"Ah!"
Liu Yang Kun berdesah dan tersipu-sipu.
"Tapi tak apa. Sudah wajar kalau Pangeran menjadi penasaran pula. Sebab bagaimanapun juga Pangeran masih sangat muda. Darah masih panas. Apalagi dalam urusan Ilmu silat seperti ini.."
"Ah, Lo-Cianpwe."
Sekali lagi Kam Lojin tersenyum.
"Maaf, Pangeran... Aku sendiri juga hanya mendengar dari orang lain, sehingga aku juga tidak tahu persis urut urutannya. Menurut apa yang kudengar, pada urutan yang pertama sampai ke lima tertulis nama-nama Ban-bok-bu-giok-hong, yaitu singkatan nama dari Ban-hoat Sian-seng, Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong, Giok-bin Tok-ong dan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai. Sedangkan urutan yang keenam sampai dengan kesepuluh aku tak begitu jelas urut-urutannya. Kalau tak salah, yang berada di urutan yang keenam ada dua orang, yaitu Lo-sin-ong dan... aku. Lalu di urutan yang ketujuh juga ada dua orang, yaitu Toat-beng-jin atau Lojin-ong dari Im-Yang-kauw dan... Pangeran sendiri."
"Ohh?!"
"Kemudian di urutan yang ke delapan malah ada tiga nama, yaitu Keh-sim Siau-hiap, muridku sendiri, Pek-i Liong-ong, bekas suhengku juga, dan Put Chien-kang Cin-jin, dari aliran Bing kauw. Dan yang tertulis di urutan yang kesembilan dan kesepuluh adalah Put-ceng-li Lojin dan Tung-hai-tiauw."
"Lalu...? Urutan-urutan selanjutnya?"
Liu Yang Kun bertanya pula.
"Wah... aku tak bisa menghapalnya, Pangeran. Banyak sekali. Mungkin sampai nomor yang ketiga puluh. Dan kadang-kadang setiap nomer tertulis dua nama atau lebih. Tapi... yang jelas Pangeran termasuk dalam Bu-lim Cap-hiong (Sepuluh Jago Persilatan)."
Kam Lojin mengakhiri keterangannya dengan tersenyum. Liu Yang Kun ikut tersenyum pula. Sambil menghela napas pemuda itu memberi komentar.
"Ah... ada-ada saja! Enak saja menuliskan urut-urutan kesaktian orang di dalam buku. Tak heran kalau banyak yang marah dan penasaran. Hmmh...! Siauwte sendiri belum pernah berjumpa, apalagi sampai dicoba oleh penulisnya. Masakan dengan begitu ia sudah bisa mengukur kemampuanku?"
Kam Lojin mengangkat pundaknya.
"Yah, setiap orang memang berkata begitu pula. Terutama yang berada di urutan belakang. Mereka menjadi marah. Apa lagi yang merasa kemampuannya tidak kalah dengan orang yang tertulis di atasnya. Perselisihan dan bentrokan pun lantas timbul di antara mereka. Dan akibatnya dunia persilatan menjadi resah dan panas. Setiap orang ingin memperbaiki kedudukannya.Mereka menantang orang-orang yang berada di urutan atasnya."
"Oh... sampai demikian hebat pengaruhnya?"
Liu Yang Kun menyela. Kam Lojin mengangguk.
"Ya. Dan mereka pun lalu berlomba-lomba pula untuk meningkatkan ilmu mereka. Berbagai macam cara mereka lakukan. Ada yang menempa diri dengan lebih tekun mendalami ilmunya. Ada yang menambah ilmunya dengan mempelajari ilmu silat lain yang lebih tinggi. Dan ada pula yang mencari obat-obat atau mustika-mustika berkhasiat tinggi, yang dapat melipatgandakan kesaktian mereka."
"Mustika berkhasiat tinggi?"
Liu Yang Kun yang merasa memiliki mustika racun itu menyela.
"Benar. Mungkin Pangeran telah pernah mendengar pula tentang mustika atau pusaka yang mampu menambah atau melipat-gandakan kesaktian pemiliknya seperti misalnya... darah ular-raksasa Ceng-liong-ong di danau Tai Ouw yang mampu melipat-gandakan Iwe-kang orang yang meminumnya."
"Darah ular raksasa Ceng-liong-ong?"
Liu Yang Kun tersentak kaget.
"Ya! Pangeran pernah mendengarnya pula, bukan? Atau... Pangeran malah ikut memperebutkannya juga setengah bulan yang lalu?"
"Setengah bulan yang lalu? Apa maksud Lo-Cianpwe?"
Kam Lojin mengerutkan dahinya.
"Ah! Apakah Pangeran tidak ikut menyaksikan keramaian di atas danau Tai Ouw pada malam bulan purnama setengah bulan yang lalu itu?"
Serunya heran. Liu Yang Kun cepat menggelengkan kepalanya. Dengan air muka keheranan dia memandang orang tua itu.
"Aku sama sekali tak mengetahuinya. Apakah Lo-Cianpwe juga menonton keramaian itu?"
Pemuda itu balik bertanya. Ternyata Kam Lojin juga menggelengkan kepalanya.
"Tidak Pangeran. Aku sudah merasa terlalu tua untuk ikut memperebutkannya. Aku hanya menyuruh Keh-sim Siau-hiap Kwee Tiong Li untuk mewakiliku. Ia masih muda, sehingga mustika itu sangat penting buat dia. Tapi katanya ular raksasa Ceng-liong-ong tidak muncul pada malam itu. Entah mengapa...?"
Liu Yang Kun terhenyak untuk beberapa saat lamanya.
Sadarlah ia sekarang mengapa mendadak Liong-cu i-kangnya bertambah dahsyat.
Ternyata semua itu karena khasiat darah ular raksasa Ceng-liong-ong yang telah diminumnya.
Dan tentu saja ular raksasa itu tak muncul di atas Danau Tai Ouw karena telah mati dibunuhnya.
Malahan mustika racun ular itu telah berada di tangannya pula.
"Kalau begitu antara lorong di bawah tanah itu dengan Danau Tai Ouw memang ada hubungannya..."
Pemuda itu membatin.
Tapi pemuda itu tidak mengatakan apa-apa.
Apalagi tentang peristiwa yang dia alami di dalam lorong gua itu.
la hanya mengangguk-angguk mendengar cerita orang tua itu.
Setelah saling berdiam diri beberapa saat lamanya, Kam Lojin lalu buka pembicaraan lagi.
Kali ini nada suaranya terdengar bersungguh-sungguh kembali.
"Maaf, Pangeran... Pangeran tadi belum bercerita tentang cara bagaimana... Pangeran menyelamatkan diri dari timbunan tanah longsor itu. Hmm, bolehkah aku mendengarnya?"
Liu Yang Kun tersentak kaget dari lamunannya.
Pertanyaan yang tiba-tiba tentang tanah longsor itu benar-benar membuatnya berkeringat.
Beberapa saat lamanya ia berdiam diri untuk mencari jawaban yang tepat, namun tidak menyinggung keadaan atau pengalamannya di dunia bawah tanah itu.
"Ah...! Sebenarnya aku tidak tertimbun oleh bukit yang longsor itu, Lo Cianpwe. Aku masih terlindung oleh celah-celah batu di mana aku berada, sehingga aku bisa keluar melalui sela-sela atau lorong-lorong kecil yang kudapati di tempat itu."
"Begitukah? Wah, kalau begitu Thian benar-benar masih melindungimu, Pangeran."
Kam Lojin berkata hampir tak percaya.
Tapi Liu Yang Kun tak menyahutnya lebih lanjut.
Entah mengapa pemuda itu tak ingin menceritakan pengalamannya di gua-gua di dalam tanah itu.
Pemuda itu tak ingin bercerita tentang perkawinannya dengan Tui Lan dan tak ingin bercerita pula tentang buku-buku Bit-bo-ong maupun perkelahiannya dengan Ceng-liong-ong itu.
"Lalu... apa rencana Pangeran selanjutnya? Kemana sebenarnya tujuan Pangeran sekarang?"
Pemuda itu menatap wajah Kam Lojin lalu menggeleng.
"Entahlah, Lo-Cianpwe. Aku sama sekali tak mempunyai tujuan yang pasti. Aku hanya ingin berjalan terus, sampai akhirnya aku menjadi bosan sendiri. Setelah itu mungkin aku akan kembali ke istana, untuk menghadap Hongsiang dan memohon maaf atas kesalahanku."
"Hmmm... Dan Pangeran benar-benar akan menempuh jalan sungai itu ke arah utara?"
"Ya!"
Keduanya lalu berdiam diri kembali. Tapi kesunyian itu tidaklah lama karena dari jalan tampak seorang gadis memasuki halaman rumah Kam Lojin itu.
"Lojin...! Aku membawakan lauk kesukaanmu!"
Dari jauh gadis itu telah berseru sambil mengangkat tempat sayur yang dijinjingnya.
"Ah, Ceng Ceng... repot benar kau ini! Bukankah aku sudah bisa memasaknya sendiri?"
Kam Lojin pura-pura menggerutu.
"Tapi kan tidak seenak masakanku..."
Ceng Ceng membantah.
"Ya, tentu saja..."
Kam Lojin menjawab dengan tersenyum. Lalu.
"Tapi... mengapa kau hanya sendirian saja? Dimanakah tunanganmu? Mengapa dia tidak mengantarkanmu?"
Tiba-tiba wajah yang manis itu merengut. Apalagi ketika Liu Yang Kun ikut menatapnya pula, seolah-olah juga menunggu jawabannya.
"Mengapa aku harus membawanya pula. Huh! Lojin memang suka mengganggu aku. Kalau begitu aku mau pulang lagi saja."
Katanya kesal seraya membalikkan tubuhnya.
"Eee... eeee... nanti dulu! Kenapa menjadi marah? Bukankah aku hanya bergurau?"
Kam Lojin cepat-cepat berseru pula seraya menepuk pundak gadis itu.
"Habis, Lojin juga keterlaluan..."
Gadis itu berhenti dan merengut.
Matanya mengerling dengan wajah dongkol.
Namun kepalanya segera tertunduk begitu bertatapan dengan Liu Yang Kun.
Air mukanya berubah menjadi merah.
Sebaliknya Kam Lojin yang sudah tua itu segera maklum menyaksikan sikap si gadis yang kemalu-maluan itu.
Dengan menghela napas panjang ia memandangi wajah Pangeran Liu Yang Kun yang tampan itu.
Dan hatinya diam-diam menjadi kasihan kepada Ceng Ceng.
"Ceng Ceng, apakah pekerjaanmu sudah selesai semua? Hmm... jangan-jangan kakekmu mencarimu nanti."
Sambil menerima kiriman itu Kam Lojin mencoba untuk menyuruh pergi gadis itu dengan halus.
Tapi tampaknya kedatangan Ceng Ceng kesitu memang ingin bertemu dengan Liu Yang Kun.
Entah bagaimana terjadinya, namun panah asmara tampaknya telah mengenai cucu Kepala Desa itu.
"Ah, pekerjaanku sudah beres semuanya. Kakek takkan mencariku lagi."
Gadis itu cepat mengelak.
"Aaaaa...!"
Kam Lojin berdesah panjang.
Sekilas wajahnya suram.
Dan perasaan Liu Yang Kun yang tajam agaknya juga merasakan pula sikap kedua orang itu.
Oleh karena itu untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan, ia segera mohon diri kepada Kam Lojin.
Meskipun sebenarnya orang tua itu belum puas bertemu dan berbincang-bincang dengan Liu Yang Kun, tapi ia terpaksa membiarkan anak muda itu pergi meninggalkan rumahnya.
Lebih baik pemuda itu pergi dari pada nanti terjadi persoalan-persoalan lain dengan gadis cucu kepala desanya itu.
Di lain pihak keberangkatan Liu Yang Kun yang mendadak dan seolah-olah menghindari dirinya itu benar-benar sangat mengecewakan dan melukai hati Ceng Ceng.
Dengan cepat gadis itu melangkah keluar pula, lalu tanpa pamit kepada Kam Lojin dia pulang ke rumahnya.
Kam Lo Jin menghembuskan napas dalam-dalam.
Ia tak tahu harus berbuat bagaimana, karena semuanya berlangsung dengan cepat dan tak terencana.
Namun demikian di dalam hati orang tua itu cukup bersyukur dengan keadaan tersebut.
Hal itu akan lebih baik dari pada terjadi hal-hal yang sebaliknya karena bagaimana pun juga kedua anak muda itu tidak mungkin bisa bersatu.
Liu Yang Kun adalah seorang Pangeran, putera tunggal Kaisar Han, sementara Ceng Ceng hanya seorang gadis dusun dan juga sudah bertunangan pula.
"Aaaaah...,!"
Kam Lojin berdesah panjang sambil mengelus-elus jenggotnya.
Matanya suram mengawasi punggung Liu Yang Kun dan Ceng Ceng yang telah jauh meninggalkan halaman rumahnya.
Perlahan-lahan orang tua itu membalikkan tubuhnya, kemudian melangkah memasuki rumahnya.
Tapi sebelum ia menutup pintunya kembali, dari arah kemana Ceng Ceng tadi pergi tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita.
"Toloooooong...!"
"Perampok! Perampok...! Perampok...!"
"Penculik! Awaaas... Tangkap!"
Sebentar saja dusun itu menjadi gempar luar biasa.
Kam Lojin tidak jadi menutup pintunya.
Sebaliknya dengan kecepatan tinggi tubuhnya melesat ke luar halaman.
Tubuh yang tua dan kelihatan lemah itu mendadak berubah menjadi tangkas dan beringas bukan main.
Kakinya berloncatan ke tempat keributan dengan gesitnya, laksana seekor kijang muda mencari induknya.
Dan orang tua itu segera terkesiap menyaksikan keributan yang terjadi di tengah tengah jalan desanya.
Belasan orang asing bersenjata lengkap tampak bertempur dalam suasana tidak seimbang dengan penduduk desa Kee-cung itu.
Bahkan pertempuran itu lebih tepat disebut pembantaian dari pada pertempuran yang sesungguhnya.
Bagaikan kelompok kambing yang ketakutan di padang perburuan, penduduk desa itu tercerai-berai dan bergelimpangan diterjang oleh belasan orang asing yang kejam dan buas seperti serigala.
Kemarahan Kam Lojin tak bisa dibendung lagi.
Mulutnya menggeram dengan dahsyatnya.
Begitu kuat getarannya, sehingga orang-orang yang berada di dalam arena itu merasa bagai diguncang isi dadanya.
Dan sebelum orang-orang asing itu menyadari apa yang telah terjadi, tubuh mereka telah jatuh tunggang-langgang pula diterjang oleh angin pukulan orang tua itu.
Untunglah meskipun marah orang tua itu bukanlah manusia yang suka membunuh orang, sehingga pukulannya tidak bermaksud untuk melenyapkan jiwa lawannya.
Walaupun demikian orang-orang yang bermaksud buruk di desa itu menjadi ketakutan melihat Kam Lojin.
Sambil tertatih-tatih dan terpincang-pincang mereka melarikan diri dari tempat itu.
Mereka berlari ke arah sungai.
Kam Lojin lalu bergegas menolong penduduk yang menjadi korban.
Tapi baru saja orang tua itu berjongkok, tiba-tiba datang Kepala Desa berlari-lari dari arah sungai.
Orang yang umurnya juga hampir sebaya dengan Kam Lojin itu berteriak-teriak bagai orang kesurupan.
"Lojin...! Lojin...! Tolong... tolonglah, cucuku! Ceng Ceng di-diculik... pen"penjahat!"
"Apa"? Ceng Ceng diculik orang? Dia... dia tadi baru saja dari rumahku..."
Kam Lojin berseru pula tak kalah kagetnya.
"Benar...! Dia... dia baru saja diculik oleh pimpinan para penjahat yang menyerbu desa kita! Dia...dia dibawa naik kuda!"
"Naik kuda? Kurang ajar...! Cung cu, kalau begitu tolong kau urus kawan kawan kita yang terluka ini! Aku akan mengejar cucumu!"
"Ba-baik, Lojin! Orang... orang itu berlari ke arah Utara!"
Kepala Desa itu memberi keterangan.
Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi Kam Lojin melesat ke arah sungai.
Di tempat itu Kam Lojin bertemu dengan rombongan penjahat yang lain.
Dan mereka memiliki kepandaian yang lumayan juga, sehingga orang tua itu terpaksa turun tangan pula untuk menjaga agar mereka tidak mengumbar kekejamannya di kalangan penduduk.
"Dari mana sebenarnya penjahat-penjahat ini? Mengapa demikian banyak jumlah mereka?"
Orang tua itu membatin.
"Heiiii, awaaas! Disini ada ikan hiu besar!"
Salah seorang berteriak begitu menyaksikan kehebatan Kam Lojin.
"Siapkan jaring...!"
Yang lain menyambung.
Orang-orang itu lalu bertebaran mengelilingi Kam Lojin.
Masing-masing menggenggam tali panjang, yang ujungnya dikaitkan dengan sebuah jangkar kecil terbuat dari besi tajam.
Mereka lalu berputaran sambil sesekali menyabitkan jangkar-jangkar kecilnya ke arah Kam Lojin.
"Hmm, agaknya mereka bajak laut dari laut timur. Tapi sungguh mengherankan sekali, bagaimana mereka bisa sampai di tempat ini? Dusun ini cukup jauh dari pantai."
Sambil mempersiapkan dirinya Kam Lojin berkata di dalam hati.
Demikianlah, beberapa saat kemudian orang-orang itu benar-benar menyerang Kam Lojin.
Jangkar-jangkar kecil itu bertebaran bagai hujan ke tubuh orang tua itu.
Namun dengan ginkangnya yang hebat tiada tara Kam Lojin mengelak, menangkis dan menyambar besi-besi berkait itu dengan amat mudahnya.
Kakinya bergeser, melangkah, melompat dan melejit dengan ringannya dalam ilmu Ban-seng-po Lian-hoan (Langkah Selaksa Bintang Beralih), sebuah ilmu meringankan tubuh yang selama ini menjadi kebanggaan Kam Lojin dan muridnya, Keh-sim Siau hiap Kwee Tiong Li.
Tentu saja para penjahat itu menjadi gugup dan bingung sekali.
Tiba-tiba saja lawan mereka yang telah tua itu seperti lenyap terbungkus asap.
Dan asap itu berkelebatan di sekitar mereka, beralih ke sana kemari, sambil membentur dan merebut senjata mereka.
"Gilaaa...!"
Salah seorang diantaranya mengumpat ketika jangkarnya terlepas dari tangannya, sedangkan tubuhnya terbanting di atas tanah.
Dan kejatuhan orang itu segera diikuti pula oleh kawan-kawannya.
Mereka bergelimpangan tanpa mengerti sebab-sebabnya.
Mereka hanya melihat gulungan asap itu menerjang mereka, dan tahu-tahu mereka terdorong atau terlempar jatuh begitu saja.
"Nah, kalian mau pergi dari sini atau tidak? Kalau tidak mau, hemm...baiklah, aku akan membunuh kalian semua!"
Kam Lojin dengan berdiri tegak membentak penjahat-penjahat yang sudah tidak berdaya itu.
"Badai topan! Lariii...!"
Salah seorang berseru kuat-kuat, kemudian lari mendahului kawan-kawannya.
Dan sekejap kemudian yang lainpun segera ikut melarikan diri pula.
Dengan tangkas mereka menceburkan diri kesungai dan berenang ke arah perahu mereka yang menunggu di tengah sungai.
Di sana mereka telah ditunggu pula oleh teman-teman mereka yang tadi dihajar Kam Lojin di tengah jalan desa itu.
"Sungguh mengherankan sekali. Apakah di tengah lautan sana sudah tidak ada perahu yang dapat mereka rampok lagi, sehingga mereka berkeliaran sampai di daratan terpencil seperti ini?"
Kam Lojin menggerutu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah dapat mengusir para penjahat itu, Kam Lojin lalu meneruskan langkahnya untuk mengejar pemimpin penjahat yang melarikan Ceng Ceng.
Karena jaraknya sudah agak lama, apalagi pemimpin penjahat itu mempergunakan kuda maka Kam Lojin mengalami kesulitan dalam melacaknya.
Sampai matahari turun ke barat, Ceng Ceng serta penculiknya tidak dapat ia ketemukan.
Padahal orang tua itu sudah sampai di kota An lei pula.
O leh karena itu dengan wajah lesu orang tua itu kembali ke desa kee-cung.
Sementara itu desa Kee-cung seolah-olah dalam keadaan muram dan berkabung.
Hampir seluruh penduduknya berkumpul di Balai Desa.
Mereka membawa obor untuk menerangi halaman rumah kepala desa, yang kini diubah untuk sementara menjadi tempat menyimpan dan merawat para korban kekejaman penjahat tadi siang.
Sedang kepala desa itu sendiri tampak gelisah bukan main.
Bolak-balik ia mondar-mandir dari rumahnya ke jalan, untuk melihat kedatangan Kam Lojin.
Wajahnya yang telah berkeriput itu tampak lesu dan kusut, sekusut pakaian yang dikenakannya.
Dan hampir saja dia tak kuasa mengendalikan dirinya ketika dilihatnya orang yang ditunggunya itu kembali tanpa membawa cucunya.
"Ba-bagaimana Lo...Lojin? dimanakah cucuku?"
Desahnya terengah engah seperti orang yang baru saja dikejar hantu.
Kedua tangannya mencengkeram dan mengguncang-guncang tubuh Kam Lojin dengan kerasnya.
Kam Lojin menatap kepala desanya itu dengan pandang mata kasihan dan penuh penyesalan.
Kemudian dengan sangat berat ia menggelengkan kepalanya.
"Aku... aku tak bisa menemukannya, Cungcu. Maafkanlah aku..."
"Ooooooh...?!"
Kepala desa itu menjerit, lalu tak sadarkan diri. Seorang pemuda berkulit hitam, namun tampak gagah dan gesit, cepat datang menolong kepala kampung itu.
"Kakek...!"
Serunya khawatir. Dan orang-orang yang berada ditempat itupun lalu menjadi gempar dan ribut. Tapi dengan cepat Kam Lojin menenangkan hati mereka.
"Sudah! Kalian semua harap tenang! Cungcu tidak apa-apa. Dia hanya pingsan karena kaget mendengar cucunya tak bisa kuselamatkan. Sudahlah! Harap kalian duduk kembali dengan tenang. Nanti kita pikirkan lagi cara yang lain untuk mencari gadis itu."
Orang tua itu berseru.
Lalu katanya kepada pemuda berkulit hitam itu,"Cong Tai!
Marilah kita bawa Cungcu ini ke dalam rumah.
Kau pun tak perlu bersusah hati.
Nanti kita cari lagi tunanganmu itu.
Marilah...!"
"Ba-baik, Lojin..."
Pemuda itu menyahut dengan suara sedih pula.
Demikianlah semua orang di Balai Desa itu dengan hati sedih membayangkan kesengsaraan yang kini tentu sedang dialami oleh Ceng Ceng.
Mereka membayangkan bahwa gadis itu tentu sedang disiksa dan dihina me lampaui batas kemanusiaan oleh penjahat yang menculiknya.
Atau mungkin gadis itu sudah dibunuh mati oleh penjahat itu setelah diperkosanya.
Tak seorangpun dari penduduk Kee-cung itu yang membayangkan, apalagi mengetahui bahwa bayangan atau dugaan mereka tersebut adalah salah.
Pada waktu itu sama sekali Ceng Ceng tidak disiksa atau diperlakukan secara tidak manusiawi oleh penculiknya, apalagi sampai menderita sengsara atau dibunuh seperti bayangan mereka itu.
Tapi sebaliknya saat itu Ceng Ceng sedang berada di puncak kebahagiaannya malah!
Seperti telah diceritakan di bagian depan, gadis itu dengan perasaan malu dan tersinggung meninggalkan rumah Kam Lojin.
Entah mengapa, sikap Liu Yang Kun yang tak peduli dan acuh terhadap dirinya itu membuat hatinya merasa panas dan tersinggung.
Sambutan yang dingin dari pemuda yang tiba-tiba sangat menarik perhatiannya itu benar-benar jauh di luar dugaannya.
Semula, menilik sikap dan kelakuan Liu Yang Kun ketika mengganggu dia di tepi sungai itu, Ceng Ceng merasa yakin bahwa pemuda itu amat tertarik kepada dirinya.
Oleh karena itu ketika dia berkunjung ke rumah Kam Lojin, yang saat itu sedang menjamu Liu Yang Kun, hatinya benar-benar merasa yakin pula kalau pemuda itu tentu akan merasa sangat bergembira melihat dirinya.
Bahkan mungkin pemuda itu akan mengulangi lagi sikapnya di tepi sungai itu.
Dan bila memang demikian halnya, Ceng Ceng sudah mempersiapkan pula jawabnya.
Gadis itu akan bersikap jinak jinak merpati sehingga pemuda itu akan bertambah gemas dan penasaran terhadapnya.
Tetapi apa yang ada didalam bayangannya itu ternyata jauh sekali bedanya dengan kenyataannya.
Ternyata pemuda itu tidak menyambutnya dengan gembira seperti dugaannya.
Sebaliknya pemuda itu pergi begitu saja, seakan-akan belum pernah mengenal dirinya.
Begitulah, dalam keadaan kesal dan penasaran, Ceng Ceng berjalan tergesa-gesa menuju ke rumahnya.
Karena kesal maka pikirannya menjadi kusut dan pepat, sehingga kewaspadaannya pun menjadi hilang pula.
Dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi pucat ketika empat orang lelaki kasar mencegat jalannya.
"Twako, lihat...! Ternyata ada juga perawan cantik di dusun terpencil ini!"
Salah seorang dari empat orang kasar itu berkata sambil menunjuk ke arah Ceng Ceng.
"Bagus! Kalau begitu gadis ini untukku! Akan kubawa gadis ini ke An-lei. Nah, beritahukanlah kepada teman-teman kita nanti, bahwa aku akan mendahului pergi ke An-lei! Kutunggu kalian semua di sana!"
Orang yang disebut Twako yang tampaknya adalah pimpinan mereka berteriak gembira.
"Twako hendak menggendong gadis ini sampai di An-lei?"
"Tentu saja tidak, goblog! Bukankah kita tadi melihat seekor kuda di rumah dekat sungai itu? Aku akan membawanya dengan kuda itu."
"Bagus, Twako! Bagus...! Silakanlah kalau begitu! Kami akan mencari mangsa juga di dusun ini, hehehe.!"
Sementara itu Ceng Ceng segera sadar bahwa ia sedang menghadapi penjahat.
Cepat ia membalikkan tubuhnya, dan bermaksud kembali ke rumah Kam Lojin.
Tapi penjahat yang dipanggil Twako itu ternyata lebih cepat lagi.
Dengan menyeringai kotor penjahat itu menubruk Ceng Ceng.
Gadis itu menjerit ketakutan, dan berusaha mengelak!
Tapi apa dayanya!
Menghadapi lelaki kasar itu ia tak bisa berbuat banyak.
Dengan mudahnya ia diringkus.
Meskipun ia berusaha meronta dan melawan dengan sekuat tenaganya, tapi penjahat itu benar-benar sangat kuat.
Terlalu kuat baginya.
Sehingga akhirnya ia hanya bisa menjerit-jerit dan me lolong-lolong.
Tapi sebelum penduduk desa itu datang menolong dia, penjahat itu buru-buru membawanya pergi dari tempat itu.
Di dekat sungai penjahat itu mencuri kuda milik seorang penduduk, kemudian dengan kuda curian tersebut penjahat itu membawanya lari meninggalkan desa Kee-cung.
"Toloooooooong...!"
"Huah-ha-ha-ha-ha...! Tak ada gunanya berteriak-teriak lagi, manis! Warga dusun itu sedang gempar dan ribut menghadapi anak-buahku, huah-ha-ha ha!"
Lalu dengan tertawa puas penjahat itu memacu kuda curiannya. Dan sambil memegang kendali tak lupa ia menggerayangi tubuh korbannya. Tentu saja Ceng Ceng menjerit dan meronta-ronta semakin kuat lagi.
"Huah-ha-ha-ha-ho-ho! Kau benar benar seekor kijang yang masih segar dan lincah! Bukan main...! Sungguh gembira sekali hatiku, huah-ha-ha-ha...!"
Kuda itu berlari semakin cepat menerobos semak belukar dan hutan lebat yang memadati tepian sungai itu.
Untunglah biarpun cuma jalan setapak, namun ada juga jalan yang biasa dilalui orang di sepanjang sungai tersebut sehingga perjalanan mereka tidak begitu terhambat karenanya.
Tetapi dengan demikian harapan Ceng Ceng untuk memperoleh pertolongan justru menjadi semakin jauh malah.
Apalagi ketika akhirnya udara menjadi gelap karena matahari telah terbenam di balik gunung.
Sementara itu Liu Yang Kun yang juga berjalan menerobos hutan dalam tujuannya ke kota An-lei itu terpaksa kemalaman pula di perjalanan.
Sambil menggerutu dan mengumpat-umpat di dalam hati pemuda itu lalu mencari tempat yang cocok untuk tidur.
Setelah mendapatkan dahan pohon yang cocok untuk beristirahat nanti, maka ia lalu mengumpulkan ranting-ranting kering untuk mengusir nyamuk, sekalian untuk menghangatkan badannya.
"Huh, gara-gara gadis desa itu aku terpaksa tidur di hutan ini. Karena tergesa-gesa aku menjadi tak sempat un tuk mencari tumpangan perahu ke kota An-lei. Hmmmnmhh!"
Setelah membakar kayu-kayu kering itu Liu Yang Kun lalu naik ke atas pohon dan mencoba untuk beristirahat. Namun pikirannya selalu resah. Bayangan wajah Ceng Ceng masih terus menggodanya juga.
"Ahh, penyakitku ternyata masih belum sembuh juga. Melihat Ceng Ceng mandi, nafsuku hampir tak bisa dibendung lagi. Untunglah semuanya belum terjadi.
"Toloooooong...! Toloongggg...!"
Tiba-tiba terdengar jeritan wanita.
"Huah-ha-ha-ha... diam anak manis! Kau jangan banyak bertingkah lagi Tak seorangpun yang akan mendengar suaramu di tempat sepi ini, ho-ho-ha-ha!"
Terdengar pula suara yang serak disertai suara ketawa jorok dan kasar.
"Uh... tolong! Penjahat! Toloong...!"
Liu Yang Kun menjadi tegang luar biasa!
Suara jeritan dan derap kuda itu semakin mendekati tempatnya, Dan be berapa saat kemudian terdengar pula suara gemerasak dedaunan dan ranting-ranting berpatahan ketika seekor kuda bersama dua orang penunggangnya lewat di tempat itu.
Demikian cepat kuda itu melesat melewati tempat tersebut sehingga Liu Yang Kun tidak sempat memperhatikan kedua penunggangnya.
Namun yang sekilas itu sudah cukup bagi Liu Yang Kun untuk mengambil kesimpulan bahwa seorang lelaki telah membawa dengan paksa seorang wanita di atas punggung kudanya.
Tanpa membuang waktu lagi Liu Yang Kun melenting ke depan dengan Bu-eng Hwe-tengnya.
Tubuhnya melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya.
Begitu cepat gerakannya, sehingga sepintas lalu tubuhnya seperti terbang melayang di atas semak-semak dedaunan dan batang-batang ilalang yang banyak tumbuh di hutan itu.
Bu-eng Hwe-teng (Loncat Terbang Tanpa Bayangan) warisan Bit-bo-ong memang sebuah ilmu meringankan tubuh yang hebat tiada tara, apalagi ditunjang oleh Liong-cu i-kang yang telah mencapai tingkat yang sempurna pula.
Maka sungguh tidak mengherankan bila kuda yang berlari cepat itu segera bisa terlampaui dengan mudahnya!
"Berhenti!!!!"
Pemuda itu menghardik sambil menghadang di tengah jalan. Kedua buah tangannya siap untuk menyerang bila lawannya tidak mau menurut perintahnya.
"Bangsat keparat...! Pergi dari jalan ini!"
Penunggang kuda yang tidak lain adalah penjahat yang menculik Ceng Ceng itu berteriak berang seraya menghentikan kudanya.
"Tolong...! Tolooooooong!"
Ceng Ceng yang berada di dalam dekapan lelaki kasar itu menjerit-jerit. Pakaian yang melekat di badannya sudah tidak karuan lagi letaknya. Liu Yang Kun terbelalak memandang gadis itu.
"K...kau...?"
Serunya hampir tak percaya.
Sebaliknya Ceng Ceng sendiri kaget pula memandang Liu Yang Kun.
Meski pun demikian hatinya lantas menjadi gembira dan penuh harapan.
Ia benar-benar mengharap agar pemuda itu dapat membebaskannya dari cengkeraman penjahat yang menculiknya.
"Tuan... to-tolong... tolonglah saya!"
Ia merintih.
"Diam!"
Penjahat itu menghardik dengan bengisnya. Tak lupa tangannya yang kuat seperti capit besi itu mencengkeram lengan Ceng Ceng, sehingga gadis itu menjerit kesakitan. Liu Yang Kun terbakar hatinya.
"Kurang ajar! Lepaskan dia...!"
Bentaknya menggeledek.
"Persetan! Jangan ganggu urusanku! Kubunuh kau nanti!"
Penjahat itu berteriak pula tak kalah berangnya.
"Kau tak mau juga melepaskan gadis itu?"
Liu Yang Kun masih memberi kesempatan.
"Bangsat! Kaulah yang harus enyah dari mukaku! Jangan coba-coba mengusik kawanan bajak laut dari Lautan Timur! Huh In "Oooooo... jadi kau ini sebagian dari kawanan bajak laut itu? Apakah kau ini juga utusan Tung-hai-tiauw? Apa hubunganmu dengan Si Gajah Laut Tiong Pan Kang itu ?"
Liu Kun menyebut nama bajak laut yang berkelahi dengan utusan Mo-kauw di pantai itu.
Ternyata bajak laut yang hampir tak bisa mengendalikan kemarahannya itu tertegun mendengar ucapan Liu Yang Kun.
Matanya memandang curiga.
"Huh? Siapakah kau? Mengapa kau tahu tentang kami? Tahu tentang adikku Tiong Pan Kang pula?"
Tanyanya mulai berhati-hati dan waspada.
"Namaku Liu Yang Kun. Kau tidak perlu curiga ataupun takut, asalkan... gadis itu kau lepaskan! Aku cuma seorang pengembara yang kebetulan melihat pula tingkah-laku adikmu Si Gajah Laut Pan Kang itu. Hmm apakah kau juga mendapat tugas dari Tung-hai-tiauw untuk menculik dan menangkap orang-orang Mo-kauw?"
Bajak laut itu menggeram marah.
Namun ia semakin berhati-hati dan tidak berani sembrono lagi.
Hatinya mulai curiga, jangan-jangan pemuda di hadapannya itu salah seorang tokoh Aliran Mo-kauw pula.
Dan jangan-jangan adiknya yang mendapatkan tugas di pantai Gua Siluman itu telah gagal, dan tertangkap atau terbunuh oleh lawannya.
"Katakanlah dulu kepadaku, apakah engkau ini seorang tokoh Aliran Mo-kauw juga? Dan apa pula yang terjadi dengan adikku itu?"
Liu Yang Kun tertawa dingin.
"Sudah kukatakan bahwa aku hanya seorang pengembara yang kebetulan melihat adikmu Si Gajah Laut Tiong Pan Kang itu. Lain tidak, Aku sama sekali tidak mempunyai hubungan, apalagi campur-tangan dengan urusan kalian kakak beradik."
Pemuda itu menjawab kaku.
"Jadi adikku itu tidak apa-apa? Lalu mengapa kau menghadang jalanku?"
Bajak laut itu bertanya lega.
Namun sebelum pertanyaannya itu terjawab, Ceng Ceng yang berada di dalam pelukannya tiba-tiba memberontak dan mencakar mukanya.
Ternyata kesempatan sedikit itu benar-benar hendak dipergunakan oleh gadis itu untuk melepaskan diri dari cengkeraman penculiknya.
"Perempuan binal, kubunuh kau..!"
Bajak laut yang tercakar mukanya itu menjadi marah.
Jari-jarinya yang besar besar itu mencengkeram dada Ceng Ceng.
Tapi Liu Yang Kun yang melihat gadis itu dalam bahaya, cepat bertindak.
Tubuhnya melesat bagai kilat ke depan kemudian tangannya menyambar tubuh Ceng Ceng dengan ilmunya Kim-coa ih-hoat!
Wuuut!
Lengan pemuda itu bertambah panjang hampir dua kali lipat panjangnya.
"Brrrrrrrt!"
"Aaauuuuu...?!"
Ceng Ceng menjerit keras ketika pakaiannya yang sudah tidak keruan letaknya itu terenggut lepas dari tubuhnya, dan ia sendiri terbanting jatuh dari punggung kuda itu.
Untung dengan cepat pula Liu Yang Kun menyambar tubuhnya.
"Bangsat! Kubunuh kau!"
Bajak laut itu berteriak marah, lalu menjejak perut kudanya dan menerjang ke arah Liu Yang Kun.
Tapi dengan Bu-eng Hwe-tengnya Liu Yang Kun segera menyelinap ke samping dengan tangkasnya.
Walaupun harus menggendong Ceng Ceng, namun pemuda itu sama sekali tidak kehilangan kelincahannya.
Bagaikan bayang-bayang hitam ia terus berputar pula ke belakang lawannya, kemudian tangannya yang bebas terayun ke tengkuk bajak laut itu dengan hebatnya.
Bajak laut yang mendadak merasa kehilangan lawannya itu tiba-tiba terkesiap.
Bergegas ia meloncat turun dari punggung kudanya.
Dia merasa ada gelombang udara dingin bertiup ke arah punggungnya.
Begitu dingin udara itu sehingga punggungnya terasa tebal dan kaku.
"Gila...!"
Bajak laut itu mengumpat seraya mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir serangan hawa dingin itu.
Sementara itu Liu Yang Kun tidak meneruskan serangannya.
Melihat lawannya meloncat turun dan membiarkan kuda tunggangannya pergi, ia tak mau mengejar lagi.
Dibiarkan orang itu mengambil napas.
Bahkan ia sendiri lalu menurunkan pula tubuh Ceng Ceng ke atas tanah.
Entah karena takut atau kaget ketika terbanting dari punggung kuda tadi, ternyata Ceng Ceng telah pingsan dalam pondongannya.
"Ooooooh!"
Sekejap Liu Yang Kun tertegun melihat tubuh Ceng Ceng yang hampir tak berpakaian sama sekali itu.
Untuk sedetik darahnya bergolak, namun cepat ditahannya.
Matanya segera dipejamkannya.
Ia takut pemandangan itu akan menggugah penyakit lamanya.
Lalu dengan terhuyung-huyung ia mundur menjauhinya.
Tapi kesempatan itu tak disia-siakan oleh lawannya.
Bajak laut itu segera menarik rantai besi yang membelit pinggangnya lalu menyabetkannya ke punggung Liu Yang Kun sekuat-kuatnya.
Walaupun tubuhnya tidak sebesar dan sekuat adiknya Si Gajah Laut Tiong Pan Kang, namun tenaga yang ia keluarkan ternyata sungguh mengejutkan!
Kalau ayunan rantai Tiong Pan Kang menimbulkan suara gemerincing yang riuh disertai angin menderu-deru,sebaliknya ayunan rantai bajak laut itu tak menimbulkan suara apa-apa selain suara anginnya yang mencicit tajam!
Namun akibat dan pengaruhnya terasa lebih berbahaya bagi lawan.
Desir angin tajam yang melanda punggungnya itu cepat menyadarkan pikiran Liu Yang Kun!
Bayangan dan keinginan buruk yang tadi hampir menguasai otaknya segera sirna oleh bahaya yang tiba-tiba mengancamnya!
Namun sebaliknya seperti seekor binatang buas yang kehilangan mangsanya, tiba-tiba segala kemarahannya meluap dengan hebatnya!
Mata yang biasa bersinar lembut itu tiba-tiba berubah mencorong mengerikan!
Dan berbareng dengan itu pula mulutnya berdesis keras seperti ular marah!
Kemudian seperti hantu saja mendadak tubuh pemuda itu lenyap!
Hilang dari sasaran rantai besi itu!
Dan ketika bajak laut itu menjadi kebingungan mencarinya, tiba-tiba dari belakang punggungnya terdengar suara desis yang mendirikan bulu romanya.
Seketika bajak laut itu menjadi gemetar ketakutan!
Dalam takutnya bajak laut itu cepat membalikkan tubuh seraya menyabetkan rantainya ke belakang!
Namun sekali lagi bajak laut itu membelalakkan matanya.
Ayunan rantainya terhenti dengan mendadak, sehingga ujungnya menukik turun menghantam tanah.
"K-k-k-kau...? Si-si-sia...siapa?"
Desahnya gugup dan ketakutan.
Ternyata Liu Yang Kun yang sedang marah itu telah menghentakkan seluruh kemampuannya dalam ilmu warisan Bit-bo-ong!
Matanya yang mencorong itu tampak buas dan berwarna kemerahan, seperti mata iblis di dalam kegelapan!
Begitu mencekam dan mengerikan, sehingga mempengaruhi jiwa dan perasaan bajak laut itu!
Dan demikian tergoncangnya jiwanya, sehingga melemaskan seluruh otot dan kekuatannya!
Oleh karena itu ketika tangan Liu Yang Kun yang marah itu menyambar dadanya, bajak laut itu sama sekali tak mampu bergerak untuk mengelakkannya.
Dia hanya bisa mengeluh panjang ketika pukulan Liu Yang Kun itu mengenai dadanya.
Dan selanjutnya tubuhnya terlempar jauh dengan isi dada yang nyaris hancur!
"Buuuuuuk!"
"Aarrrrgghhhh...!"
Mata bajak laut itu mendelik.
Mulutnya terbuka.
Napasnya tersengal-sengal dan sebentar-sebentar menyemburkan darah dari lubang mulut dan hidungnya.
Kaki dan tangannya meregang seperti ayam disembelih.
Namun demikian nyawanya belum juga mau meninggalkan raganya.
Beberapa kali mata itu berkedap-kedip, seolah-olah amat penasaran, bingung dan tak mengerti, kenapa tiba-tiba dirinya menjadi lemas tak bisa bergerak, seakan-akan tercekam oleh pengaruh sihir yang maha dahsyat?
Sementara itu pemandangan yang sangat mengerikan tersebut ternyata disaksikan pula oleh Ceng Ceng yang sudah siuman dari pingsannya.
Dengan tubuh gemetar gadis itu menatap darah yang menyembur-nyembur dari mulut bajak laut itu.
Hampir saja gadis itu menjadi pingsan kembali melihat pemandangan yang belum pernah ia saksikan selama hidupnya itu.
Namun gadis itu tetap bertahan jangan sampai pingsan kembali.
Ia harus cepat berlalu dari tempat berbahaya itu.
Ia harus cepat pulang kembali ke desanya.
Tetapi apa yang dilihatnya kemudian, benar-benar sangat menggoncangkan jiwanya, sehingga akhirnya ia tak kuasa bertahan lagi.
Ia pingsan untuk yang kedua kalinya.
Apa sebenarnya yang menyebabkan gadis itu pingsan kembali?
Ternyata Liu Yang Kun yang telah menjadi marah itu benar-benar seperti orang kemasukan setan atau iblis!
Bajak laut yang sudah sekarat tapi belum juga mau mati itu, tiba-tiba ditubruknya, lalu diangkatnya, kemudian dibantingnya lagi, sehingga mengeluarkan suara berderakan seperti tulang yang berpatahan.
Tidak cuma itu.
Tubuh yang sudah remuk itu masih diinjaknya, kemudian diangkat lagi dan disabetkan ke sebuah pohon besar!
Bruees!
Dengan suara gemuruh pohon tersebut tumbang dan patah di tengah-tengahnya, sementara tubuh bajak laut itupun juga hancur lumat pula seperti cacahan daging yang berserpihan kemana-mana!
Tak secuilpun bagian tubuhnya yang bisa dikenali lagi.
"Oooouuuggh...?!?"
Setelah menjadi sadar kembali Liu Yang Kun mengeluh kaget, seperti orang yang tiba-tiba merasa sakit di dalam badannya.
Apalagi ketika telah menyadari pula apa yang baru saja ia lakukan terhadap bajak laut itu, seketika Liu Yang Kun menjadi lemas.
Sambil menjatuhkan dirinya di atas pohon yang tumbang itu ia duduk merunduk.
Kedua beIah tangannya menutupi wajahnya, seolah-olah ia sangat menyesali perbuatannya.
Dan dari sela-sela jari itu mengalir air mata kesedihannya.
"Ya, Thian... kenapa tiba-tiba aku menjadi sedemikian buas dan kejamnya, sehingga aku seakan-akan telah melupakan diriku sendiri? A-apa sebenarnya yang telah terjadi di dalam diriku? Ooooh... apakah karena... karena ilmu warisan Bit-bo-ong itu?"
Pemuda itu mengeluh dan berdesah sambil menjambaki rambutnya.
Lalu terlintas di dalam benak Liu Yang Kun kata-kata tulisan tangan Hoa San Lojin yang tertulis di setiap halaman terakhir pada buku-buku warisan Bit-bo-ong itu.
Orang Tua dari Gunung Hoa-san itu memperingatkan bahwa halaman-halaman terakhir dari buku warisan B it-bo-ong tersebut benar-benar sangat berbahaya, oleh karena itu telah dirobeknya agar tidak dibaca orang lagi.
Namun dengan ketajaman pikiran dan perasaannya, ternyata Liu Yang Kun mampu mengendalikan dirinya lagi.
Tiba-tiba ia seperti orang yang kehilangan kepribadiannya sendiri dan berubah menjadi iblis yang kejam dan buas luar biasa.
Kemudian Liu Yang Kun teringat pula akan kata-kata terakhir dari Paman Bungsunya, yaitu ketika menyerahkan buku-buku warisan B it-bo-ong itu kepadanya.
"Anakku, kembalikanlah buku-buku ini kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai! Kalau engkau tidak bisa melakukannya, hmm... lebih baik kau musnahkan saja! Jangan sekali-kali kau miliki atau kaupelajari isinya, karena hal itu benar-benar sangat berbahaya sekali! Ilmu yang tertulis di dalam buku-buku ini tampaknya memang benar-benar diciptakan oleh seorang manusia iblis, sehingga ilmu yang dahsyat itupun seolah-olah mempunyai pengaruh buruk, kotor dan jahat terhadap orang yang mempelajarinya."
Dan buku-buku itu memang dikembalikannya kepada Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai.
Tapi dalam perjalanan hidupnya, buku itu ternyata jatuh kembali kepadanya.
Dan semua itu benar-benar tak disengajanya.
Semuanya seperti telah diatur oleh Thian.
"Oooh... apakah aku ini memang telah ditakdirkan untuk menjadi orang jahat...? Mengapa semua keburukan, kejelekan dan kesengsaraan seolah-olah ditumpukkan Thian di tubuhku? Dan mengapa pula selama ini aku seperti tak mampu mengelak maupun menghindarkannya?"
Liu Yang Kun mengeluh dan mengutuki dirinya sendiri.
"Tuan...?"
Tiba-tiba terdengar suara perlahan, namun benar-benar amat mengejutkan pemuda itu.
"Apaaa...?"
Liu Yang Kun berdesah dan bangkit dengan tergesa.
Di hadapannya telah berdiri Ceng Ceng, gadis yang telah ditolongnya itu.
Kini gadis itu telah menutupi kembali badannya dengan pakaiannya yang terlepas tadi, meskipun sudah sobek-sobek.
Gadis itu menundukkan kepalanya kembali.
Kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya tiba-tiba tertelan lagi.
Sebaliknya dengan sibuk tangannya merapihkan pakaiannya yang sudah bolong dan sobek itu.
Wajahnya berubah menjadi merah kemalu-maluan.
Karena gadis itu menundukkan wajahnya, maka Liu Yang Kun menjadi lebih berani.
Namun demikian melihat sikap Ceng Ceng yang gemetar dan kemalu-ma luan itu hatinya menjadi berdebar debar pula.
Otomatis pemuda itu teringat lagi akan sikap Ceng Ceng di rumah Kam Lojin tadi siang.
"Ah... jangan-jangan dia telah jatuh hati kepadaku. Hmm... bisa repot aku nanti,"
Keluhnya di dalam hati. Tapi Liu Yang Kun segera menghapuskan bayangan itu. Ia harus cepat-cepat bertindak sebelum terlanjur. Oleh karena itu dengan menguatkan hatinya ia menyapa lebih dahulu.
"Nona Ceng Ceng...? Kau sudah siuman kembali? Hmm, kalau... kalau begitu marilah kau kuantar pulang ke rumah kakekmu lagi!"
Ucapnya singkat agar ia tak menjadi gemetar pula menghadapi gadis manis itu.
Namun gadis itu cepat mengangkat wajahnya.
Matanya yang bening itu menatap Liu Yang Kun dengan tajamnya.
Ada sesuatu yang aneh di dalam sinar mata itu.
Sesuatu yang membikin Liu Yang Kun menjadi berdebar-debar, panas dingin dan serba salah.
Apalagi ketika bibir yang tipis itu tampak terbuka dan bergetar seakan-akan hendak memohon sesuatu kepadanya, Liu Yang Kun semakin bingung dan salah tingkah.
"Saya... saya tak mau kembali!"
Mendadak bibir itu menjawab. Jawaban yang benar-benar sangat mengejutkan Liu Yang Kun.
"A-apa...? Nona... nona tak mau kembali? Mengapa?"
Pemuda itu berseru saking herannya.
Lenyaplah semua kerisauan dan kebingungannya tadi.
Matanya melotot ke arah Ceng Ceng.
Tiba-tiba gadis itu menjadi murung dan ketakutan.
Wajahnya tertunduk kembali.
Tapi mulutnya terkatup rapat tak menjawab.
"Me-mengapa nona tak mau kembaIi?"
Liu Yang Kun berseru pula. Mendadak gadis itu menutupi wajahnya dan menangis terisak-isak.
"A-apaa guna... gunanya saya kembali! Hkk...! Saya telah dilarikan oleh penjahat selama setengah hari. Apa kata orang kampungku nanti? Apakah mereka masih bisa menerimaku kembali? Bagaimana tanggapan tunanganku nanti? Hk...hkk! Oh, semuanya tentu akan mencemoohkan aku. Apalagi kalau mereka melihat pakaianku ini..."
Liu Yang Kun menghela napas. Diam-diam dia membenarkan juga ucapan gadis itu. Orang desa memang masih terlalu kolot dan menjunjung tinggi kesucian dan martabat mereka.
"Ah... bukankah kita bisa memberi keterangan kepada mereka? Dan tentang pakaian itu, hmm...nona bisa mencari ganti sebelum menemui mereka nanti."
Pemuda itu mencoba memberi saran.
"Tidak bisa! Kampungku masih sangat kuat menjaga martabat dan adat istiadat! Mungkin mereka masih merasa kasihan dan memaafkan aku, tapi di dalam hati mereka tetap akan memandang rendah kepadaku... hkk...kk!"
"Huh, gila! Sungguh gila kalau mereka masih berpandangan seperti itu."
Liu Yang Kun tiba-tiba berseru marah.
Ceng Ceng menangis semakin keras.
Selain menangisi nasibnya sendiri gadis itu juga menjadi ketakutan me lihat kemarahan Liu Yang Kun.
Walaupun sangat kagum dan tertarik kepada pemuda itu, tapi gadis itu juga tak lupa pada kebuasan dan keganasan Liu Yang Kun ketika membunuh penculiknya tadi.
Tiba-tiba Ceng Ceng bangkit berdiri.
Sambil membetulkan pakaian dan mengusap air matanya gadis itu memohon diri.
"Maaf, Tuan... Biarlah aku pergi saja agar tidak menyusahkanmu. terima kasih atas pertolonganmu..."
Katanya serak, lalu memberi hormat dan melangkah pergi.
"Hei! Heii...! Nona hendak pergi kemana?"
Liu Yang Kun berteriak kaget.
"En-entahlah...! A-aku hanya i-ngin pergi... Entah kemana... Pokoknya... jauh dari tuan..."
Gadis itu menjawab di antara isaknya, dan sama sekali tak menoleh ataupun berhenti melangkah.
Liu Yang Kun lah yang kini menjadi bingung dan serba salah.
Mau menyusul ia takut urusan di antara mereka akan semakin bertambah runyam tapi kalau tidak menyusul ia mengkhawatirkan keselamatan gadis itu.
Bagaimana gadis itu akan mencari jalannya di dalam kegelapan malam di hutan yang lebat ini?
"Nona...?"
Liu Yang Kun berdesah memanggil, tapi keraguan dan keenggannya memaksanya tak bergerak dari tempatnya.
"Aaaaiiiiih...!"
Mendadak terdengar suara jeritan Ceng Ceng.
Gadis itu terperosok ke dalam jurang.
Liu Yang Kun melesat bagai terbang cepatnya.
Begitu melihat Ceng Ceng terguling-guling di lereng jurang, pemuda itu lalu terjun memburunya.
Kemudian bagaikan elang menyambar ia menangkap gadis itu.
Baca Juga: Pendekar Bodoh 1
Baca Juga: Suling Naga 7