Eps 7 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Dan keduanya segera tersangkut di atas pohon besar yang tumbuh di lereng tersebut.
(Lanjut ke
Jilid 18) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 18 Sambil menarik napas lega Liu Yang Kun lalu me letakkan gadis itu di tanah yang agak datar.
"Ah... dia pingsan lagi!"
Gumamnya perlahan.
Lalu dicobanya untuk menyadarkannya.
Namun sekali lagi hatinya terkesiap melihat keadaan pakaian Ceng Ceng yang tidak karuan macamnya itu.
Karena terguling dan tersangkut beberapa kali di bebatuan dan semak-semak, maka pakaian itu hampir-hampir tak berbentuk lagi.
Dan biar pun kulit gadis itu banyak yang lecet dan berdarah, namun benar-benar tidak mengurangi daya tariknya.
Bahkan bagi Liu Yang Kun hal itu semakin kelihatan merangsang malah.
"Gila! Kalau terus menerus berdekatan dengan gadis ini, aku benar-benar bisa gila nanti! Huh...! Dan.. pikiranku tampaknya juga semakin kotor dan jahat pula. Selain merasa kasihan aku juga merasa tertarik dan terangsang melihat darah pada kulit wanita... Ah!"
Liu Yang Kun lalu mengurungkan maksudnya untuk mengobati dan menyadarkan Ceng Ceng.
Sebaliknya pemuda itu lalu duduk bersemadi, mengumpulkan seluruh kekuatan batinnya untuk melawan pengaruh buruk itu.
Pengaruh buruk yang sejak lama telah bercokol di dalam dirinya, dan kini tampaknya semakin parah dan menjadi-jadi setelah ia mempelajari ilmu warisan Bit-bo-ong yang dirahasiakan itu.
Sambil mengerahkan seluruh kekuatan batinnya, pemuda itu berdoa semoga ia bisa tetap menguasai dirinya, sehingga kekuatan buruk itu tidak dapat mengalahkannya.
Pemuda itu juga berharap agar penyakit aneh yang sangat berbahaya bagi gadis-gadis korbannya itu tidak muncul pada saat itu.
"Aku tak ingin si Iblis Penyebar Maut itu muncul lagi di tempat ini..."
Gumamnya dengan perasaan prihatin.
"Dengan tubuhku yang sangat beracun ini ia akan segera mati bila aku sampai.."
Demikianlah malam merangkak semakin larut dan angin dingin pun bertiup pula semakin kencang.
Karena berada di lereng jurang yang cukup dalam dan juga sedang asyik melawan pengaruh kekuatan buruk yang mau mencengkeram dirinya, maka Liu Yang Kun sama sekali tidak mengetahui atau melihat bahwa Kam Lojin dan beberapa orang penduduk Kee-cung telah lewat di atas jurang itu dalam usaha mereka melacak kembali kehilangan Ceng Ceng.
Dengan obor di tangan mereka mencari-cari kalau-kalau Ceng Ceng ditinggalkan oleh penculiknya di hutan itu.
Mereka juga menemukan bekas api yang tadi dibuat oleh Liu Yang Kun.
Tapi mereka justru menyangka bahwa tempat tersebut telah dipergunakan oleh penjahat itu untuk mencelakai Ceng Ceng.
Apalagi ketika mereka menemukan bekas-bekas sobekan pakaian Ceng Ceng, mereka semakin yakin kalau gadis itu benar-benar telah disiksa oleh penculiknya.
Namun karena mereka tidak menemukan siapapun di tempat tersebut, maka mereka menduga bahwa Ceng Ceng masih dibawa pergi oleh penjahat itu.
Oleh karena itu mereka lalu meneruskan pencarian mereka di kota An-lei.
Sungguh sayang, tak seorangpun antara penduduk dusun Kee-cung yang mencoba melongok ke jurang.
Andai kata mereka itu mau melongok, dan bisa melihat apa yang terjadi di lereng jurang tersebut, maka kemungkinan besar nasib Ceng Ceng benar-benar dapat mereka selamatkan, atau setidak-tidaknya mereka bisa menolong Liu Yang Kun dalam menghadapi 'penyakit anehnya'.
Namun sungguh sayang bahwa tak seorangpun yang melakukannya, sehingga tak seorang pun pula yang dapat mencegah pengaruh iblis yang pada saat ia sedang menggempur sisa-sisa pertahanan Liu Yang Kun.
Entah karena suasana lereng jurang yang sunyi dan romantis itu yang menyebabkannya, atau karena suasana malam yang gelap dan dingin itu yang menyebabkannya, tapi yang jelas sedikit demi sedikit pertahanan terakhir Liu Yang Kun telah bobol.
Usaha pemuda itu untuk melawan dan mencegah amukan iblis yang bercokol di dalam tubuhnya tak berhasil.
Sejalan dengan tumbuhnya kekuatan iblis yang semakin mencengkeram batinnya, maka terlepas pulalah kesadarannya.
Mata yang perlahan-lahan menjadi beringas itu tiba-tiba menoleh ke arah Ceng Ceng.
Dan secara kebetulan pula hembusan angin yang agak kencang menyingkapkan pakaian Ceng Ceng yang nyaris hancur itu.
Wajah itu mendadak menjadi merah bagai terbakar api, sementara mata yang melotot itu seakan-akan juga mengeluarkan api pula.
Dan sekejap saja kesan sebagai seorang pemuda baik-baik telah lenyap dari wajah Liu Yang Kun.
Pemuda itu kini tampak kejam, buas dan mengerikan!
Wajahnya persis ketika membunuh bajak laut tadi.
Begitulah, ketika Ceng Ceng siuman dari pingsannya, dan mendapati dirinya dalam pelukan pemuda yang dicintainya, hampir-hampir ia tak percaya.
Tapi ketika kenyataan tersebut memang benar-benar ia alami, maka ia menjadi gembira bukan main.
Dia lalu membalas pelukan itu dengan tidak kalah hangatnya.
Hatinya sungguh menjadi berbahagia sekali sehingga ia membiarkan saja semua perlakuan Liu Yang Kun terhadapnya.
Bahkan ia melayaninya dengan penuh gairah pula.
Sama sekali ia telah lupa atau tidak merasakan bahwa badannya penuh luka-luka goresan akibat terjerumusnya dia ke dalam jurang tadi.
Yang ada di dalam hati sekarang cuma rasa bahagia.
Bahagia yang tiada taranya.
Demikianlah, malam itu iblis benar-benar berpesta-pora di lereng jurang itu.
Apalagi dengan keadaan Liu Yang Kun yang telah berhari-hari berpisah dengan isterinya itu, maka pesta pora tersebut benar-benar menjadi sangat ganas dan hebat luar biasa.
Demikian dahsyatnya pengaruh iblis itu berkecamuk di dalam dada mereka masing-masing, sehingga pesta itu baru selesai menjelang pagi.
Keduanya tergolek di tanah dan kemudian tertidur karena kelelahan.
Begitu nyenyak tidur Liu Yang Kun sehingga ia baru terbangun kembali ketika matahari telah menyorot mukanya.
Begitu membuka mata pemuda itu cepat melompat bangun.
Dengan wajah cemas karena sadar apa yang telah ia lakukan terhadap Ceng Ceng, ia mengawasi gadis yang masih tergolek disampingnya itu.
"Oooh... iblis... iblis itu telah menang lagi! Aku,.. aku telah memperkosa gadis ini. Oughh dia... dia tentu telah mati keracunan pula! Ah...tampaknya... tampaknya Si Iblis Penyebar Maut itu sudah mulai akan timbul dan meraja-lela di dunia kang-ouw lagi setelah... setelah terpendam selama setahun lebih... ooh! Dan... dan gadis ini adalah korbanku yang pertama! Oooh, Thian... ambil sajalah nyawaku, agar tidak semakin rusak dunia ini oleh ulahku!"
Pemuda itu merintih, kemudian menjatuhkan diri menelungkup di samping Ceng Ceng. Air matanya deras mengalir membasahi tanah di bawahnya.
"Tuan...?"
Liu Yang Kun tersentak kaget bukan alang-kepalang!
Begitu kagetnya pemuda itu sehingga tubuhnya meloncat bangun tanpa terasa.
Sambil sebentar-sebentar mengusap-usap matanya, pemuda itu menatap wajah Ceng Ceng seolah tak percaya.
"Nona...? Kau... k-kau tidak m-mati keracunan?"
Desahnya gagap seperti orang bingung.
Tentu saja Liu Yang Kun menjadi kaget dan bingung.
Baru sekali ini, selain Tui Lan, ada wanita yang tidak mati oleh daya racun di tubuhnya.
Apakah Ceng Ceng juga memiliki darah bening atau mustika penangkal racun seperti halnya isterinya itu?
Sebaliknya, Ceng Ceng sendiri juga menjadi kaget pula melihat sikap Liu Yang Kun yang tiba-tiba seperti orang keheranan itu.
Apalagi ketika pemuda itu mengucapkan kata-kata yang tidak dimengertinya.
"Keracunan...? Mengapa aku harus mati keracunan? Apakah..., apakah tempat ini mengandung racun? Ohh, Tuan... Mengapakah engkau ini? Apakah engkau sakit? Eh... eh, malam tadi kau tampak bersemangat sekali. Lalu bangun tidur tadi kau menangis sedih dan kelihatan amat menderita serta tersiksa batinmu. Kini me lihat aku bangun tidur kau tampak kaget sekali. Dan... kau pun tiba-tiba berbicara hal-hal yang aneh pula. Ehmm, tuan... mengapa kau ini sebenarnya?"
Sekejap Liu Yang Kun menjadi gugup juga menerima pertanyaan itu.
Tak mungkin kiranya ia menjawabnya.
Sebab hal itu berarti ia harus menceritakan keadaan dirinya.
Rahasia hidupnya.
Rahasia Si Iblis Penyebar Maut yang mengerikan dan menggemparkan itu.
Padahal ia tak ingin orang lain tahu tentang hal itu.
la ingin melawannya sendiri.
Menundukkannya sendiri.
Atau kalau bisa, melenyapkan sendiri Si Iblis Penyebar Maut itu dari dalam dirinya.
Sampai sekarang ia memang belum mampu mengalahkan iblis itu.
Tapi ia yakin tentu bisa, sebab ia telah merasakan tanda-tandanya.
Dahulu, apabila 'penyakit' itu datang, ia sama sekali tak bisa berbuat apa-apa.
Tapi sekarang, bila 'penyakit"
Tersebut menyerang dirinya, ia sudah mampu berontak dan melawan untuk beberapa waktu lamanya.
Bahkan kadang-kadang ia merasa seperti akan berhasil mengatasinya, lagi sekarang sudah ada dua wanita yang tidak mati oleh racunnya, yaitu Tui Lan dan Ceng Ceng.
Apapun yang menyebabkan kedua wanita itu menjadi kebal terhadap racunnya, tapi hal itulah membuatnya berbesar hati.
Harapannya untuk sembuh semakin bertambah besar pula.
"Tuan...?"
Ceng Ceng berdesah dengan mata berkaca-kaca.
Gadis itu lalu menyentuh lengan Liu Yang Kun.
Wajahnya yang pucat menampakkan perasaan khawatir yang sangat.
Khawatir akan keadaan Liu Yang Kun yang ia rasakan sangat aneh itu.
Dan otomatis ia juga mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri.
Jangan-jangan sikap pemuda itu disebabkan oleh peristiwa semalam.
Jangan-jangan pemuda yang sangat menarik hatinya itu menyesal akan kejadian tersebut.
Tiba-tiba Ceng Ceng menangis.
Gadis yang sudah terlanjur menyukai Liu Yang Kun itu mendadak menyesali diri sendiri.
Menyesali nasibnya.
Kenapa ia tidak bertemu dengan pemuda tampan ini jauh-jauh sebelumnya?
Kenapa ia telah bertunangan dengan Cong Tai, pemuda desa berkulit hitam itu?
Dan kenapa dulu ia juga bisa tertarik dan tergila-gila kepada pemuda desa yang buruk rupa itu?
Dan yang tidak bisa dimengertinya pula, kenapa sebelum bertunangan ia juga rela menyerahkan kehormatannya kepada pemuda desa berkulit hitam itu?
"Oooh...!"
Gadis itu terisak-isak menyesali nasibnya.
"Apakah..., apakah dia menyesal karena aku sudah tidak suci lagi?"
Tangis Ceng Ceng itu segera menyadarkan Liu Yang Kun dari lamunannya.
Seperti halnya Ceng Ceng, pemuda ini pun menjadi salah tafsir pula me lihat tangis tersebut.
Pemuda itu menyangka kalau Ceng Ceng menangis karena peristiwa memalukan semalam.
"Maafkanlah aku, nona...! Aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Dan aku juga tidak bermaksud membuatmu bingung dengan ulah tingkahku tadi. A-aku...tadi memang menangis, karena kukira engkau... engkau telah mati. Mati keracunan. Habis, tanpa sebab apa-apa engkau tidak mau bangun-bangun. Apalagi kalau tidak karena racun? Siapa tahu disini ada racun? Lihatlah, tempat ini sangat menyeramkan...!"
Pemuda itu mencoba memberi keterangan tentang sikapnya tadi. Keterangan yang amat singkat, sekedar untuk memuaskan hati Ceng Ceng.
"Lalu...lalu kenapa setelah melihatku segar bugar engkau masih saja termenung dan kelihatan sedih? Apakah... apakah...?"
"Maafkanlah aku, nona Ceng Ceng. Aku sungguh sangat berdosa kepadamu. Perbuatanku semalam benar-benar terkutuk dan sangat keterlaluan. Tidak seharusnya aku berbuat demikian kepadamu. Engkau telah bertunangan dan aku sendiri juga..."
Ceng Ceng cepat menutup bibir Liu Yang Kun dengan telapak tangannya. Sambil tersenyum manis gadis itu bernapas lega, karena pemuda itu bukan menyesali keadaannya yang sudah tidak suci lagi itu.
"Sudahlah, tuan...! Kau tak perlu menyesalkan peristiwa itu karena akupun... tak menyalahkan perbuatanmu pula. Kita sama-sama menikmatinya. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana menyelesaikan urusan kita ini sebaik-baiknya."
Katanya renyah, tapi wajahnya segera tertunduk dengan maIu-malu. Tapi ucapan gadis itu benar-benar menyibukkan hati Liu Yang Kun.
"Menyelesaikan urusan kita dengan sebaik-baiknya? Apa maksud nona?"
Sergahnya dengan suara gemetar. Wajah yang manis itu tiba-tiba menjadi muram. Dengan sorot mata cemas gadis itu menatap Liu Yang Kun. Mulutnya sudah siap untuk menangis kembali.
"Mengapa... eh, mengapa Tuan masih bertanya pula? Tentu saja... tentu saja tentang urusan kita setelah kejadian malam tadi. Ooooh... apakah... apakah tuan tidak bersungguh-sungguh denganku?"
Liu Yang Kun terhenyak.
Itu yang ditakutkan.
Gadis itu meminta tanggung-jawabnya sebagai akibat pergaulan mereka tadi malam.
Padahal sama sekali tidak mencintai gadis itu.
Apalagi ia sudah beristeri.
Meski pun sekarang ia tidak tahu, apakah Tui Lan itu masih hidup atau sudah mati.
"Bukankah... bukankah nona sudah mempunyai tunangan?"
Liu Yang Kun mencoba menolaknya dengan hati-hati.
"Ah! Aku dengan Cong Tai belum resmi bertunangan. Kami berdua baru dijodohkan oleh orang tua kami masing-masing,"
Ceng Ceng menukas dengan cepat.
"Ya...ya, meskipun demikian nona tidak boleh meninggalkannya begitu saja. Kalian berdua sudah lama saling mengenal. Orang tua pun juga sudah saling setuju. Begitu pula dengan orang-orang kampung. Mereka telah merestui dan mengetahui jalinan kasih sayang kalian berdua. Apalagi yang harus dipikirkan...? Mengapa hubungan yang sudah sedemikian baiknya itu harus diputuskan atau diurungkan oleh orang asing yang baru beberapa jam lewat dikenal nona? Bukankah nona belum tahu, orang macam apakah aku ini? Jangankan hal-hal yang lain, sedangkan namaku pun nona juga belum tahu, bukan? Bagaimana kalau aku ini juga seorang penjahat seperti halnya orang yang menculik kemarin?"
Sekali lagi Liu Yang Kun mencoba berdalih.
Seketika Ceng Ceng tak bisa menjawab.
Apa yang diucapkan oleh Liu Yang Kun itu memang benar sekali.
Jangankan yang lain, nama pemuda itu pun ia tidak tahu.
Tapi entah mengapa, hatinya sudah terlanjur bertekuk lutut pada pandangan pertama terhadap pemuda itu.
Dan sejak semula ia memang telah memikirkan akibatnya.
Itulah sebabnya ia membiarkan pemuda itu menggagahinya semalam.
"Tapi... tapi... bukankah aku belum resmi menikah dengan tunanganku. Aku... aku masih bebas. Aku masih dapat memutuskan ikatan pertunangan itu,"
Ceng Ceng membantah namun suaranya sudah mulai tersendat-sendat karena hatinya juga sudah mulai ragu pula akan niat baik Liu Yang Kun.
Liu Yang Kun sendiri terpaksa menarik napas panjang menghadapi kekerasan hati gadis itu.
Sesungguhnyalah, dalam hati pemuda itu merasa sangat berdosa dan bersalah kepada Ceng Ceng.
Keputusan yang terbaik dalam peristiwa ini memang hanya mengawini gadis itu.
Ia pun menyadari hal itu.
Tapi bagaimana ia bisa mengawini gadis yang tidak dicintainya?
Gadis yang baru dikenalnya dari satu hari itu?
Masakan hanya karena 'kecelakaan"
Yang memang benar-benar tak bisa ia hindari itu ia harus mengorbankan seluruh kehidupannya di kemudian hari?
Akan tetapi bagaimana ia harus menerangkan hal itu kepada Ceng Ceng?
Namun belum juga mulutnya terbuka untuk memberi jawaban, gadis itu sudah lebih dahulu menangis.
Ternyata melihat keraguan Liu Yang Kun, gadis itu semakin bertambah yakin akan maksud dan kehendak pemuda yang dicintainya itu.
Tampaknya Liu Yang Kun merasa berat untuk mengawininya.
"Uh-huuu... uh-huuu..."
Ceng Ceng terisak-isak semakin keras.
Tentu saja Liu Yang Kun menjadi kelabakan malah.
Maksudnya untuk memberi keterangan secara halus dan hati-hati menjadi gagal.
Dalam keadaan demikian gadis itu takkan bisa menangkap dan mencerna semua pertimbangannya.
Dan Jalan yang terbaik hanyalah berterus terang.
Oleh karena itu dengan hati berat Liu Yang Kun terpaksa menempuh jalan yang sedikit menyakitkan itu.
Ia mengutarakan semua isi hatinya kepada Ceng Ceng.
"Nona. Terus terang aku mengaku bersalah dan berdosa besar kepadamu. Dan untuk semua itu aku bersedia menerima hukumanmu. Kau boleh melakukan apa saja kepadaku.Bahkan aku bersedia menyerahkan nyawaku bila kau ingin membunuhku. Tapi... kalau disuruh mengawinimu, ehm... maaf, aku tidak bersedia. Selain aku tidak mencintaimu,aku... akupun juga telah beristeri pula. Dan...dan isteriku itu malah sedang hamil tua sekarang."
"Ooough-hhuuu... huu!"
Ceng Ceng tersentak kaget dan menangis semakin keras.
"Maaf, nona Ceng Ceng... Selain aku juga tak ingin melukai tunanganmu, kakekmu dan orang-orang Kee-cung semua. Aku bukanlah pemuda baik baik seperti yang kau kira..."
"Tapi... tapi mengapa tuan memperkosa aku tadi malam? Uh-huu..."
"Itulah kesalahanku! Aku tak tahan melihat keadaan nona. Nah! Terserah kepada nona! Aku siap menerima hukuman apa saja darimu..."
Liu Yang Kun menundukkan kepalanya.
Tak sampai hatinya melihat kesedihan Ceng Ceng.
Tapi apa boleh buat, ia juga tak ingin melawan hati nuraninya sendiri.
Dan untuk itu ia sanggup menerima hukumannya.
Ia takkan melawan seandainya gadis itu ingin membunuh atau mencabutnyawanya.
Demikianlah, Liu Yang Kun lalu berdiri di atas lututnya di depan Ceng Ceng.
Kepalanya tertunduk dalam-dalam, seperti seorang pesakitan yang sedang menantikan hukumannya.
Namun sudah sedemikian lama ia menanti, hukuman tersebut ternyata tidak kunjung tiba juga.
Gadis itu masih saja berdiam diri di tempatnya.
Hanya isaknya saja yang semakin lama semakin jarang terdengar.
Meskipun demikian Liu Yang Kun tetap menepati janjinya.Sama sekali ia tak beranjak dari tempatnya.
Pemuda ini benar-benar rela menebus dosanya, walaupun ia harus mati karenanya.
"Tidaaak! Tidak! Aku tidak mau menghukummu...!"
Tiba-tiba Ceng Ceng bangkit dan berteriak, kemudian merambat naik ke atas jurang dengan tergesa-gesa.
"Nonaaa...?"
Liu Yang Kun tersentak kaget, tapi sama sekali tak beranjak dari tempatnya.
Entah mengapa ia seperti terbengong dan tak kuasa menggerakkan kakinya untuk mengejar.
Baru setelah gadis itu mencapai di atas bibir jurang, Liu Yang Kun bangkit untuk mengejarnya.
Sekali mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya, tubuhnya segera melesat ke atas bagai burung terbang dari sarangnya.
Sekejap saja dia telah berada di samping Ceng Ceng.
Namun bersamaan dengan waktu itu pula, dari arah utara terdengar langkah dan percakapan orang ke tempat itu.
Ceng Ceng dan Liu Yang Kun sama-sama kagetnya.
Sehingga untuk sesaat keduanya juga sama-sama melupakan urusan mereka.
Seketika Ceng Ceng menghentikan tangisnya, sedangkan Liu Yang Kun juga menunda niatnya untuk membujuk gadis itu.
Glodag...
glodag...
glodak!
Terdengar pula suara pedati di antara percakapan orang itu.
Dan tidak lama kemudian muncullah sebuah pedati kecil disurung orang, dimana di dalamnya tergolek seorang lelaki berkulit hitam, yang kelihatannya sedang menderita luka-luka.
Di belakang pedati itu mengiringkan belasan orang lelaki pula, yang beberapa orang di antaranya juga dibalut dengan kain akibat luka-lukanya, hanya beberapa orang saja yang tampak sehat tak kurang suatu apa.
Dan di antara mereka itu adalah seorang kakek tua berpakaian sederhana, namun kelihatan gesit dan tangkas sekali.
"Kam Lojin...?"
Tak terasa bibir Liu Yang Kun memanggil nama orang tua tersebut.
"Pangeran... eh, anu... Liu Siau-heng? Kaukah itu? Heii..? Ceng Ceng...? Kau juga?"
Kakek tua itu tersentak kaget apalagi ketika melihat Ceng Ceng yang nyaris telanjang itu. Dengan cepat kakek itu membuka jubahnya dan menyelimutkannya di badan Ceng Ceng.
"Hei, Ceng Ceng? Wah, kau selamat?"
Yang lain ikut menyapa.
"Ceng Ceng! Kami semua ini mencarimu! Lihat, Cong Tai terluka!"
Orang-orang itu segera mengelilingi Ceng Ceng.
Mereka kelihatan gembira bukan main.
Tapi sebaliknya Ceng Ceng sendiri masih tampak bengong dan gugup.
Gadis itu sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan.
Liu Yang Kun lah yang kemudian maju untuk memberi keterangan.
"Cuwi...! Secara kebetulan aku berjumpa dengan bajak laut yang menculik nona Ceng Ceng. Dan sungguh beruntung pula aku bisa membunuh penjahat itu dan membebaskan nona Ceng Ceng."
Belasan orang penduduk Kee-cung itu mengangguk-angguk kepala mereka.
Mereka yang semula kurang senang kepada Liu Yang Kun itu tampak sangat bersyukur dan berterima kasih kepada pemuda itu.
Kecuali Kam Lojin.
Meskipun orang tua itu juga ikut bergembira dengan keadaan Ceng Ceng itu, namun beberapa kali matanya menatap wajah Liu Yang Kun dengan curiga.
Tampaknya orang tua yang arif itu mencium sesuatu hal tidak beres atau kurang wajar antara Ceng Ceng dan Liu Yang Kun.
Tapi karena orang tua itu tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, maka ia pun tetap berdiam diri pula.
Apalagi Ceng Ceng sendiri juga tak berkata apa-apa.
"Terima kasih, Siau-heng. Kami sungguh bergembira sekali kau dapat menyelamatkan Ceng Ceng. Lihatlah, kepergian kami sampai di sini inipun juga mau mencari Ceng Ceng,"
Akhirnya orang tua itu menjawab perkataan Liu Yang Kun.
"Benar, tuan. Bahkan kami sudah sampai di kota An-lei tadi malam. Di sana kami malah berjumpa lagi dengan kawanan penjahat... eh, bajak laut yang menculik Ceng Ceng itu. Kemudian karena tidak dapat menguasai hatinya, Cong Tai berkelahi dengan mereka. Cong Tai kalah, sehingga kami terpaksa membantunya. Dan selanjutnya dapat tuan lihat sendiri, banyak di antara kami yang terluka, terutama Cong Tai. Itu pun karena jasa Kam Lojin. Coba tidak ada dia, kami semua yang tidak bisa silat ini tentu akan dibantai habis oleh penjahat itu."
Kepala Desa Kee-cung yang juga ikut dalam rombongan itu menambahkan.
"Ah... aku pun hampir dibunuh pula oleh mereka."
Kam Lojin merendah!
Tentu saja Liu Yang Kun tersenyum mendengar ucapan orang tua itu.
Masakan Kam Song Ki, guru dari Keh-sim Siau hiap itu, hampir dibunuh oleh bajak laut rendahan semacam anak buah Tung-hai-tiauw itu?
Jangankan hanya belasan orang bajak laut itu yang datang, meski Tung-hai-tiauw sendiri yang memimpin seluruh anak buahnya, belum tentu mereka bisa menangkap orang tua itu, apalagi membunuhnya.
Sementara itu seperti orang bingung Ceng Ceng yang menjadi pusat perhatian mereka justru hanya diam saja di tempatnya.
Seperti orang yang telah kehilangan akal gadis itu hanya terlongong-longong diam seperti patung.
Matanya menatap pedati yang berisi tubuh tunangannya itu.
Gadis itu baru sadar ketika kakeknya menepuk pundaknya.
"Ceng Ceng! Lihatlah Cong Tai itu! Dia terluka parah karena mencarimu. Kenapa kau diam saja?"
"A-a-apa...?"
Ceng Ceng tiba-tiba berseru. Matanya terbelalak.
"Cong Tai terluka parah karena ingin menyelamatkanku?"
Sambungnya.
Dan secara tiba-tiba pula gadis itu merasa sangat bodoh dan berdosa sekali.
Kenapa ia yang selama ini telah menyanding intan permata, masih juga mencari-cari intan permata itu di tempat lain?
"Cong Taiii...!?"
Ceng Ceng memekik, lalu berlari ke pedati.
Dipeluknya kepala tunangannya itu dengan deraian air matanya.
Wajah yang pucat pasi itu membuka matanya.
Dan mata itu segera bersinar lega begitu me lihat siapa yang sedang memeluk dirinya.
"Ceng Ceng...? K-kau... kau tidak apa-apa? Oh, syukurlah..."
Pemuda berkulit hitam itu berbisik sambil menyeringai kesakitan.
"Ouuuh, Cong Taiiiiiii...Maafkanlah aku!"
Ceng Ceng menjerit lalu menangis seperti anak kecil di dada tunangannya.
Semuanya menghela napas terharu.
Demikian pula dengan Liu Yang Kun.
Selain merasa lega, pemuda itu juga merasa semakin berdosa pula terhadap sepasang merpati itu.
Hatinya menjadi malu.
Oleh karena itu diam-diam ia me langkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Demikianlah, Liu Yang Kun lalu meneruskan perjalanannya ke kota An lei.
Dan dia tetap mengambil jalan di sepanjang sungai itu.
Selain pemandangannya indah, di sepanjang sungai itu juga banyak perkampungan penduduk, sehingga sewaktu-waktu ia lapar atau ingin beristirahat, dengan mudah ia mendapatkannya.
Menjelang lohor pemuda itu sampai di sebuah desa yang agak besar.
Mungkin lebih besar dari pada Kee-cung.
Dan seperti halnya di desa Kee-cung, rumah-rumah penduduk di desa itu pun menggerombol pula di tepian sungai.
Tapi berbeda dengan penduduk desa Kee-cung yang rata-rata bertani, penduduk desa itu banyak yang lebih menyukai sebagai nelayan.
Maka tak mengherankan kalau di pinggir sungainya banyak terdapat perahu kecil atau sampan untuk mencari ikan.
"Ah, andaikata aku bisa menyewa atau menumpang perahu itu ke An-lei.."
Pemuda itu bergumam dengan hati kecewa, sebab ia tahu bahwa ia tak mungkin bisa melaksanakannya.
Selain di kantongnya tidak ada uang, perahu-perahu kecil itu tidak akan pernah dibawa oleh pemiliknya sampai di An-lei.
Kota itu sangat jauh, dan di beberapa tempat terdapat pusaran-pusaran air yang sangat berbahaya.
Begitulah, sambil menarik napas panjang Liu Yang Kun melangkahkan kakinya memasuki dusun itu.
Dan jalan yang membujur di sepanjang sungai itu kelihatan ramai sekali.
Beberapa orang nelayan yang baru saja menambatkan perahunya tampak berlalu-lalang di jalan itu.
Sementara wanita dan anak-anak juga kelihatan sibuk pula di antara mereka.
Ada yang membawa hasil tangkapan ikan suami atau ayah mereka.
Ada pula yang menjinjing bakul makanan untuk makan siang suami atau ayah mereka itu.
Dan ada pula yang hanya berhilir-mudik menawar ikan atau membawa barang dagangan mereka.
"Mayat...! Mayaaaaaatt...! Ada mayat terapung di sungaiiiiii...!"
Tiba-tiba seorang nelayan yang baru saja datang dari sungai berteriak sambil berlari-lari.
Wajahnya pucat, napasnya tersengal-sengal.
Seketika tempat itu menjadi gempar luar biasa.
Semua orang, lelaki maupun wanita, segera berlarian ke tepi sungai.
"Mayat...? Mayat siapa?"
"Wanita atau lelaki?"
Mereka berlari sambil bertanya-tanya, tapi tak seorangpun yang menjawab, karena yang lain juga tidak tahu pula.Mereka segera berdiri berdesakan di tepi sungai itu.
Empat orang nelayan cepat melepaskan sebuah sampan ke dalam air, lalu mendayungnya ke tengah sungai.
Mereka bergegas menuju ke arah mayat yang terapung di tengah-tengah aliran sungai itu.
Namun karena sungai tersebut amat lebar, mungkin lebih dari lima puluh atau enam puluh tombak lebarnya maka mereka berempat terpaksa mendayung sampan itu untuk beberapa waktu lamanya.
Dan dengan perasaan tegang para penonton yang berada di tepi sungai itu juga ikut berdebar-debar pula menantikannya.
"Ah, ternyata kedatanganku di dusun ini pun telah disambut pula oleh sesosok mayat yang terapung di atas sungai. Persis seperti di desa Kee-cung kemarin. Hmm...jangan-jangan di sini pun aku akan memperoleh kesulitan pula seperti kemarin."
Liu Yang Kun mengeluh.
Meskipun demikian pemuda itu tetap mendekat dan ikut berdesakan pula di antara mereka.
Mula-mula orang yang ada di dekatnya memang tidak bereaksi atas kedatangannya.
Seluruh perhatian mereka hanya tertuju ke arah kawan mereka yang sedang mendayung perahu di tengah-tengah sungai.
Tetapi ketika secara tidak sengaja mereka menoleh dan melihat wajah Liu Yang Kun yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, maka satu-persatu lalu beringsut menjauhinya.
Dusun itu meskipun luas dan besar, tapi terletak di tempat yang terpencil dan jarang didatangi orang luar.
Mereka hanya terbiasa melihat wajah-wajah mereka sendiri, dan hampir tak pernah melihat wajah orang lain selain penduduk dusun itu sendiri.
Hanya kadang-kadang saja mereka menerima penduduk dari dusun yang lain.
Itupun orang orang yang telah mereka kenal pula, seperti halnya penduduk Kee-cung!
Maka tidaklah mengherankan bila kedatangan Liu Yang Kun yang belum pernah mereka lihat sebelumnya itu, membuat mereka agak takut dan curiga.
Satu persatu menyingkir dari dekat pemuda itu, sehingga akhirnya Liu Yang Kun terpaksa berdiri sendirian di tempatnya.
"Nah, tampaknya hawa permusuhan sudah tertiup kepadaku..."
Pemuda itu akhirnya menghela napas panjang.
Sambil menundukkan mukanya, Liu Yang Kun lalu melangkah pergi dari tempat itu.
Ia tak jadi melihat mayat yang terapung di atas sungai tersebut.
Ia tak ingin mendapatkan kesukaran seperti di desa Kee-cung kemarin.
Tapi belum juga sepuluh langkah pemuda itu berjalan, tiba-tiba para penonton yang berdiri di pinggir sungai itu menjerit keras sekali.
Beberapa orang segera berlarian ke arah perahu mereka.
Otomatis Liu Yang Kun menghentikan langkahnya dan menoleh dengan cepat.
Dan pandangannya segera terpaku ke tengah sungai, di mana keempat orang nelayan yang ingin mengambil mayat itu sedang timbul tenggelam dipermainkan arus air.
Ternyata perahu mereka telah terbalik.
Sekejap Liu Yang Kun menjadi ragu-ragu.
Menolong mereka atau tidak?
Dan sementara itu para nelayan lain yang ingin menolong kawan-kawan mereka itu telah mengayuh sampan mereka dengan sekuat tenaga.
Namun untuk mencapai tempat kecelakaan itu memang membutuhkan waktu yang lama.
Padahal keempat orang nelayan tadi semakin kepayahan dipermainkan arus air.
Sekali lagi Liu Yang Kun menjadi ragu-ragu.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang ampuh sebenarnya ia mampu menolong mereka dengan cepat.
Tapi ia merasa ragu-ragu, apakah maksud baiknya itu akan memperoleh tanggapan yang baik pula dari penduduk desa itu?
Jangan-jangan ia malah dituduh sebagai pembunuh dari mayat itu nanti?
Demikianlah, selagi hati pemuda itu masih tercekam oleh keragu-raguannya, maka dari kerumunan penonton yang memadati pinggiran sungai itu tiba-tiba melesat sesosok bayangan ke tengah-tengah sungai.
Bayangan itu meluncur di atas permukaan air beralaskan dua potong bambu yang diikatkan di bawah sepatunya.
Gerakannya demikian ringan dan tangkasnya, sehingga sepintas lalu seperti seekor capung yang baru bercanda di atas permukaan telaga.
"Aaaaa...!"
Hampir semua orang berdesah kagum menyaksikan kesaktian itu.
Demikian pula halnya dengan Liu Yang Kun.
Meskipun belum sedahsyat Bu-eng Hwe-tengnya namun ilmu mengentengkan tubuh orang itu benar-benar hebat tiada terkira.
Mungkin cuma ada beberapa orang saja di dunia persilatan ini yang memiliki ginkang setinggi itu.
Hampir saja Liu Yang Kun menyangka bahwa orang itu adalah Kam Lojin.
Tapi begitu melihat perawakannya yang jangkung, pemuda itu segera menghapuskan dugaannya itu.
Kam Lojin tidaklah sejangkung dan setinggi bayangan itu.
"Heran! Mengapa di daerah yang sepi dan terpencil ini bermunculan jago-jago silat kelas satu?"
Pemuda itu bergumam di dalam hati.
Bayangan itu cepat mengangkat kembali perahu yang terbalik tadi.
Kemudian dengan cepat pula tangannya menyambar para nelayan yang tercebur ke dalam air itu dan meletakkannya di dalam perahu.
Pekerjaan yang sulit itu ternyata dia kerjakan dengan gampang dan cepat luar biasa.
Malahan yang terakhir kali ia mencongkel mayat yang terapung tadi dengan ujung bambu yang terikat pada sepatunya.
Dan sekejap saja mayat itu telah berada di dalam perahu pula.
Kemudian bayangan itu ikut masuk ke dalam perahu, dan selanjutnya membawa perahu tersebut ke pinggir.
Beberapa orang nelayan yang tadi bermaksud hendak menolong kawan-kawan mereka segera menyongsong kedatangannya.
Mereka mengambil alih perahu tersebut.
Dan kedatangan perahu itu segera disambut oleh penduduk yang memadati pinggiran sungai itu.
Sebagian dari mereka segera mengurus kawan-kawan mereka yang mengalami kecelakaan, sementara yang sebagian lagi cepat mengurusi mayat yang terapung di sungai tadi.
"Mayat seorang wanita muda...!"
Beberapa orang di antara mereka berdesah dengan suara gemetar.
"Tampaknya... korban kekerasan! Lihat... ia hampir tak mengenakan pakaian sama sekali!"
Yang lain menyahut.
"Benar. Agaknya seseorang telah menggagahinya dengan paksa. Kemudian membunuhnya dan membuang jasadnya ke dalam sungai..."
"Sungguh kejam dan keji sekali."
Demikianlah, semua perhatian hanya tercurah kepada mayat yang diketemukan itu.
Kecuali Liu Yang Kun.
Diam-diam pemuda itu mengawasi tokoh sakti yang memiliki ilmu mengentengkan tubuh yang amat luar biasa itu.
"Hmm, siapakah dia? Kepandaiannya amat sangat tinggi. Mungkin lebih tinggi dari ketua-ketua persilatan yang kukenal. Tapi mengapa aku belum pernah melihatnya? Sungguh mengherankan sekali. Ada apa sebenarnya di dunia persilatan sekarang ini? Mengapa tiba-tiba bermunculan tokoh-tokoh sakti yang memiliki kesaktian tidak lumrah manusia? Setahun yang lalu aku terjebak di dalam tanah karena ulah Giok bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong, dua orang tokoh sakti yang mempunyai kesaktian seperti iblis. Dan sekarang... ah, siapa tahu masih ada lagi tokoh tokoh lain yang muncul pada saat aku terkurung di dalam tanah itu?"
Kalau pemuda itu masih disibukkan oleh berbagai macam pikiran tentang orang yang baru saja memperlihatkan kesaktiannya itu, maka penduduk kampung itu pun masih digemparkan pula oleh berbagai macam dugaan tentang mayat yang mereka ketemukan tersebut.
"Ah, seperti halnya orang-orang Kee-cung kemarin, ternyata kita pun telah menemukan pula mayat yang hanyut disungai ini. Mungkin memang benar juga dugaan orang-orang Kee-cung itu, yang mengatakan bahwa di hulu sungai ini telah berkeliaran seorang jai-hwa-cat keji, yang suka membunuh korbannya setelah berhasil menggagahinya."
Seorang nelayan muda mengatakan pendapatnya.
"Agaknya memang demikian halnya. Tak kulihat segores luka pun di tubuhnya,..."
Yang lain menyambung.
Mendadak orang yang memiliki gin kang tinggi itu tertawa dingin.
Suaranya amat bening dan nyaring, suatu tanda bahwa tenaga dalamnya juga telah mencapai kesempurnaan.
Dan sekali lagi kenyataan itu benar-benar mengejutkan hati Liu Yang Kun.
"Ah, tampaknya orang ini benar-benar sulit dijajaki ilmunya..."
Pemuda itu berdesah di dalam hati.
Sementara itu semua orang yang berkerumun di tempat tersebut terkejut pula mendengar suara itu.
Tapi mereka cepat menyadari pula bahwa mereka tadi belum menyatakan terima kasih kepada orang itu.
Begitu sibuknya mereka, sehingga mereka menjadi lupa kepada orang yang telah membantu dan menolong kawan-kawan mereka itu.
"Taihiap, maafkanlah kami. Kami semua sampai lupa menyatakan rasa terima kasih kami kepada Taihiap."
Salah seorang di antara orang-orang itu mewakili teman-temannya.
Sekali lagi orang itu tertawa dingin.
Dan diam-diam Liu Yang Kun memperhatikan wajahnya.
Sungguh sulit menentukan umurnya.
Mukanya masih tampak segar seperti halnya anak muda belasan tahun.
Namun kalau melihat raut-mukanya yang kokoh keras dengan garis-garisnya yang tajam dan kuat, orang tentu menyangka kalau usianya sudah lebih dari lima puluh tahun.
Apalagi kalau dilihat rambut alis matanya yang sudah bercampur dengan warna putih itu.
"Hmm... kukira dugaan kalian tentang jai hwa-cat tadi memang tidak salah. Aku telah mendengar pula, bahwa akhir-akhir ini Si Iblis Penyebar Maut yang menghilang di Kota Soh-ciu setahun yang lalu telah muncul kembali di dunia persilatan."
Orang itu berkata.
Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Liu Yang Kun!
"Gila!
Bagaimana hal itu bisa terjadi!
Aku toh baru keluar dari lorong gua di bawah tanah itu.
Dan aku belum sempat pergi kemana-mana pula.
Huh!
Bagaimana dia bisa mengatakan kalau Si Iblis Penyebar Maut telah muncul kembali di dunia persilatan?
Apakah orang itu sedang menyindir aku?
Ataukah di dunia persilatan memang benar-benar muncul Si Iblis Penyebar Maut yang lain?
Kurang ajar!"
Pemuda itu mengumpat-umpat di dalam hati.
Liu Yang Kun benar-benar menjadi penasaran.
Meskipun demikian pemuda itu juga tidak mengurangi kewaspadaannya.
Siapa tahu orang itu memang sudah mengetahui keadaannya dan kini memang sedang menyindir dirinya?
Diam-diam pemuda itu mengerahkan seluruh himpunan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya!
Urat-uratnya pun tampak menegang!
Kalau memang benar dugaannya, maka lawannya kali ini benar-benar lawan yang paling berat yang pernah ia hadapi.
Tapi orang itu tak menunjukkan sikap yang mencurigakan.
Sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia sedang menyindir dirinya.
Bahkan orang itu seperti tidak tahu kalau sedang ia awasi.
Malahan beberapa waktu kemudian terdengar suaranya meminta diri.
"Ah, tampaknya aku terlalu mencurigai orang..."
Akhirnya Liu Yang Kun menarik napas panjang.
"Taihiap, bolehkah kami mengetahui nama besarmu?"
Masih terdengar suara seorang nelayan menanyakan nama orang berkepandaian sangat tinggi itu. Orang itu kembali tertawa dingin.
"Sebutnya saja aku dengan nama Ki. Tanpa tambahan apa-apa lagi, karena aku memang tidak mempunyai she atau sebutan yang lainnya."
Jawabnya acuh tak acuh.
Tentu saja para nelayan itu menjadi bingung dan tak mengerti.
Bagaimana mungkin seseorang tidak memiliki she atau nama keluarga di negeri mereka ini?
Masakan orang itu lahir begitu saja, tanpa ayah dan ibu?
Namun untuk menanyakan sebab-sebabnya, mereka tidak berani.
Mereka takut kalau orang yang memiliki kesaktian seperti dewa itu menjadi marah karenanya.
Demikanlah, tanpa berkata-kata lagi orang yang bernama Ki itu berkelebat pergi meninggalkan tempat itu.
Dia melesat ke arah utara, mungkin bermaksud ke Kota An-lei pula.
Gerakannya cepat bukan main, sehingga sekejap saja bayangannya telah hilang dari pandangan.
Melihat orang itu juga menuju ke arah utara, Liu Yang Kun menjadi gembira sekali.
Hatinya yang masih diliputi rasa penasaran terhadap orang itu bagai didorong untuk lekas-lekas mengejarnya.
"Heran! Siapa sebenarnya orang itu? Mengapa ia berkata bahwa Si Iblis Penyebar Maut telah muncul lagi?"
Sambil mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya untuk mengejar orang itu Liu Yang Kun menduga-duga di dalam hati.
Maka mereka berdua pun lalu saling berkejaran di tepian sungai itu.Mereka menerobos hutan, berlompatan di atas bebatuan dan berlari-lari di tebing sungai dalam kecepatan tinggi.
Karena masing-masing mengerahkan ginkangnya maka tubuh mereka seperti lenyap dari pandangan mata.
Tubuh mereka berubah seperti bayang-bayang yang berkelebatan di antara batu-batu, pohon atau dedaunan.
Sama sekali orang itu tidak mengetahui kalau dirinya sedang diikuti oleh Liu Yang Kun.
Hal itu disebabkan karena Bu-eng Hwe-teng yang dipelajari Liu Yang Kun memang telah mencapai puncak kesempurnaannya, sementara orang itu sendiri juga terlalu percaya dan membanggakan kepandaiannya sehingga kurang berwaspada dan kurang bercuriga terhadap keadaan sekelilingnya.
Apalagi sepanjang aliran sungai itu lebat dengan batu-batu dan pepohonan, sehingga memudahkan bagi Liu Yang Kun untuk menyelinap dan bersembunyi bila diperlukan.
Ternyata orang itu berlari terus bagaikan sedang mengejar sesuatu.
Satu jam.
Dua jam.
Dan orang itu tetap belum mengendorkan larinya.
Gerakannya masih cepat, lincah dan gesit bukan main!
Sedikitpun tidak kelihatan lelah atau menurun kemampuannya.
Napasnya pun masih tetap halus dan teratur, seakan-akan ia tak pernah mengeluarkan tenaga sedikitpun.
Liu Yang Kun semakin merasa kagum sekali.
Selain ginkangnya sangat tinggi, orang yang bernama Ki ini ternyata memiliki Iweekang yang amat luar biasa pula.
Untunglah dia telah mendapatkan kemajuan yang dahsyat pula ketika berada di dalam lorong-lorong gua itu.
Coba kalau ia tidak memperoleh kemajuan-kemajuan itu, tak mungkin rasanya dia bisa mengikuti orang itu.
Akhirnya matahari pun bergulir semakin rendah ke arah barat.
Dan sinarnya yang panas terasa mulai meredup pula.
Namun demikian orang yang bernama Ki itu tetap saja berlari ke arah An-lei, sehingga lambat-laun timbul juga perasaan bosan di hati Liu Yang Kun.
"Huh! Mengapa ia tak kunjung berhenti juga?"
Pemuda itu menggerutu.
Hampir saja Liu Yang Kun menghentikan langkahnya.
Tapi niat itu segera ia urungkan karena orang itu tiba-tiba juga mengendorkan larinya.
Malah sesaat kemudian orang itu berlari-lari kecil menjauhi aliran sungai, dan selanjutnya melangkah memasuki hutan.
Liu Yang Kun cepat bersembunyi.
Lalu dengan mengendap-endap ia mengikuti langkah orang itu.
Di tempat yang agak lapang orang itu berhenti, kemudian bersiul panjang.
Suaranya nyaring melengking, seperti suara suling yang ditiup sekeras-kerasnya.
Terdengar desir angin yang sangat halus.
Dan tiba-tiba saja dari balik rimbunnya dedaunan berkelebat tiga orang lelaki datang menghadap di depan orang itu.
Biarpun tidak setinggi orang bernama Ki tersebut, namun ginkang orang-orang itu juga hebat bukan main.
Gerakan mereka hampir tidak mengeluarkan suara, walaupun kaki mereka menginjak daun-daun kering yang menumpuk di tempat itu.
Untuk sesaat Liu Yang Kun menjadi berdebar-debar hatinya.
Jangan-jangan kedatangannya telah diketahui oleh orang-orang itu.
"Sam-eng (Tiga Garuda)...!"
Orang yang bernama Ki itu memangggil.
"Ya, Tuanku...!"
Ketiga orang yang baru datang itu menyahut berbareng.
Kepala mereka tertunduk dalam-dalam seakan-akan mereka sangat takut dan sangat hormat kepada orang yang bernama Ki itu.
Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.
la sangat heran mendengar sebutan yang ditujukan kepada orang yang bernama Ki itu.
Mengapa orang itu disebut Tuanku?
Apakah ia seorang raja atau bangsawan tinggi?
Kalau memang demikian halnya, lalu bangsawan atau raja dari manakah dia itu?
Liu Yang Kun mencoba untuk mengingat-ingat.
Saat itu di Negeri Tiongkok memang banyak sekali bekas raja-raja kecil, atau bangsawan-bangsawan muda, yang sejak ditaklukkan oleh mendiang Kaisar Chin Si, praktis tidak mempunyai kekuasaan lagi.
Mungkin orang yang bernama Ki itu juga termasuk salah satu di antara mereka.
Namun untuk mengingat-ingatnya tentu saja sangat sulit bagi Liu Yang Kun.
Selain jumlah mereka sangat banyak, pemuda itu sendiri juga tidak begitu banyak mengenal mereka.
"Sam-eng! Bersiaplah! Kita menuju ke Cin-an sekarang. Dimanakah kuda kalian?"
Orang yang bernama Ki itu berkata lagi. Ketiga orang yang dipanggil dengan sebutan Sam-eng itu menengadahkan mukanya. Ada terbersit rasa heran di wajah mereka, namun mereka tak berani bertanya.
"Baik, tuanku. Biarlah kami mengambil kuda itu dahulu. Mereka kami ikat didalam hutan."
Salah seorang dari ketiga orang itu menjawab.
Ketiga orang itu lalu menyelinap kembali ke dalam hutan.
Dan tidak lama kemudian mereka telah kembali lagi dengan kuda tunggangan mereka masing-masing.
Salah seorang di antaranya malah menuntun pula seekor kuda lagi untuk tuannya itu.
Demikianlah, beberapa saat kemudian mereka berempat telah pergi meninggalkan tempat itu.
Tinggallah kini Liu Yang Kun sendirian di sana.
Pemuda itu sudah merasa segan untuk mengikuti mereka lagi.
Apalagi mereka kini menunggang kuda.
"Heran. Siapakah sebenarnya orang itu? Namanya sangat aneh dan kepandaiannya pun sangat tinggi. Dan tampaknya juga mempunyai pengaruh atau kedudukan yang tinggi pula. Wah, kelihatannya dengan munculnya Buku Rahasia itu tokoh-tokoh yang selama ini tak mau memperlihatkan jejaknya, telah ikut terjun pula ke dunia kang-ouw..."
Sambil berjalan kembali ke tepian sungai pemuda itu memutar pikirannya.
Kemudian pemuda itu melanjutkan langkahnya ke kota An-lei yang tak begitu jauh lagi.
la sengaja berjalan seenaknya untuk memulihkan kembali tenaganya.
Sebab meskipun ia juga tidak merasa lelah seperti halnya orang yang diikutinya itu, tetapi bagaimanapun juga ia telah mengerahkan lweekang dan ginkangnya secara berlebihan pula.
Dan sambil melangkah Liu Yang Kun masih meneruskan lamunannya tentang orang-orang yang baru dijumpainya tadi.
"Mereka akan langsung pergi ke Cin-an dengan naik kuda. Tampaknya mereka sangat tergesa-gesa pula, sehingga mereka tidak sempat singgah bermalam di Kota An-lei. Hmm... ada apa di Kota Cin-an? Apakah yang hendak mereka kerjakan di sana?"
Akhirnya Liu Yang Kun memasuki kota An-lei bersamaan dengan terbenamnya matahari di balik gunung.
Orang-orang telah mulai menyalakan lampu rumahnya.
Mereka juga telah menutupi daun-daun jendela mereka.
Meskipun demikian keramaian kota itu tidak menjadi berkurang karenanya.
Orang-orang justru banyak yang keluar untuk menikmati kehidupan malam kota itu ma lah.
Terutama para tamu atau pendatang, yang datang dari daerah lain.
Mereka berjalan-jalan, hilir-mudik menikmati udara malam, di jalan utama yang membentang di tengah-tengah kota tersebut.
Mereka melihat-lihat keramaian warung-warung, toko-toko atau tempat-tempat hiburan yang banyak terdapat di kanan-kiri jalan itu.
"Tuan Chin...? Bukankah Siauw ya (Tuan muda) ini adalah Chin ln-kong (Tuan penolong Chin)?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun dikejutkan oleh teguran seseorang.
Cepat pemuda itu menoleh.
Dicarinya orang yang menyapa dengan She atau nama keluarganya yang lama itu.
Dan tidak jauh dari tempatnya tampak seorang lelaki berusia setengah baya tersenyum kepadanya.
Lelaki itu mengenakan pakaian yang bersih dan ringkas seperti layaknya seorang pengawal atau pelatih silat.
Di atas ikat-pinggangnya juga terlihat gulungan cambuk yang melilit pinggangnya.
Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun memeras otaknya untuk mengingat-ingat, tapi ia tetap tak bisa mengenal orang itu.
"Siapakah... Tuan ini? Mengapa telah mengenal namaku?"
"Aha! Jadi tuan-muda ini betul-betul tuan Chin? Terima kasih... terima kasih! Sungguh aku tak menyangka kalau aku bisa bertemu dengan Tuan Chin di kota ini, hahaha..."
Orang itu kembali tertawa dengan suka-citanya.
"Tuan Chin, agaknya kau telah lupa kepadaku. Tapi aku tak mungkin lupa kepada Tuan Chin, karena Tuan Chin pernah menyelamatkan nyawaku dan nyawa sebagian besar anggota perkumpulan Kim-liong Piauw-kiok (Perusahaan Ekspedisi Naga Emas) kami. Tuan Chin, aku adalah... Toan Hoa, pengurus dari Kim-liong Piauw-kiok."
Liu Yang Kun menghela napas lega.
Selain merasa lega karena ia telah mengingat kembali orang itu, ia juga merasa lega karena tampaknya orang itu tidak mengenalnya sebagai Liu Yang Kun putera dari Kaisar Han.
"Ah, saudara Toan rupanya... Mengapa saudara Toan ada di sini? Apakah ada tugas mengawal barang?"
La balas menyapa orang itu.
"Benar. Tapi kami sudah menyelesaikannya siang tadi. Kini aku dan anak buahku tinggal bersenang-senang menikmati malam di Kota An-lei ini, sebelum kami pulang besok pagi."
"Lalu... bagaimana khabarnya Kim-liong Lojin? Apakah beliau masih memimpin perusahaan Kim-liong Piauw-kiok?"
Tiba-tiba wajah Toan Hoa menjadi sedih.
"Ah, beliau sudah menutup mata tiga tahun yang lalu. Sekarang aku sendiri yang memimpin perusahaan itu, karena semua murid beliau telah tiada pula."
"Eh, Jadi...?"
"Sudahlah, Tuan Chin. Tak enak berbicara sambil berdiri begini. Marilah kita omong-omong sambil meminum arak hangat untuk memeriahkan pertemuan yang tak terduga ini! Bagaimana...?"
Toan Hoa mengundang dengan bibir tersenyum.
"Wah, ini... ini...?"
Liu Yang Kun menjawab kikuk karena merasa tak membawa uang sama sekali. Tapi Toan Hoa tampaknya memaklumi keadaannya.Dengan setengah memaksa orang itu menarik lengan Liu Yang Kun.
"Marilah, Tuan Chin! Kau jangan menolak undanganku. Aku benar-benar ingin memeriahkan pertemuan ini dengan makan minum ala kadarnya."
Liu Yang Kun tak bisa menolaknya lagi. Ia menurut saja ketika dibawa ke sebuah rumah makan yang besar. Dan ia terpaksa merapihkan pakaiannya karena rumah makan itu ternyata penuh dengan tamu.
"Tuan Chin menginap di mana?"
Toan Hoa bertanya setelah mereka mengambil tempat di sebuah meja kosong.
"Ah, aku baru saja datang di kota ini. Aku belum sempat kemana-mana..."
"Kalau begitu, Tuan Chin menginap saja di tempat ini. Selain mengusahakan rumah makan, tempat ini memang sebuah penginapan pula."
"Tapi..."
Liu Yang Kun mencoba mencegah.
"Maaf, kuharap Tuan Chin jangan menolak maksud baikku ini. Aku benar benar ingin menjamu Tuan Chin malam ini..."
Toan Hoa memohon dengan sangat. Lalu serunya kepada pelayan yang kebetulan lewat di samping mereka.
"Pelayan...! Apakah kamar yang berada di samping kamarku itu masih tetap kosong?"
"Oh, masih tuan..."
Pelayan itu menjawab dengan amat hormat.
"Kalau begitu siapkanlah kamar itu untuk tamuku ini! Kemudian tolong kau katakan pula kepada pengurus restoran untuk menghidangkan masakannya yang paling istimewa dan arak Hang-ciu di meja ini!"
"Baik, tuan..."
"Ah, saudara Toan... kau menjadi repot benar!"
Liu Yang Kun berdesah.
Demikianlah, keduanya lalu makan dan minum sepuas-puasnya.
Masakan dari restoran itu memang enak sekali.
Apalagi minumannya adalah arak dari Hong-ciu yang telah disimpan selama bertahun-tahun di dalam gudang di bawah tanah.
Rasanya benar-benar keras, segar dan harum luar-biasa.
Tak heran kalau akhirnya Toan Hoa mulai terpengaruh oleh "panasnya"
Arak istimewa itu.
"Tuan Chin, dimana... dimanakah kau selama empat atau lima tahun ini? Aku tak pernah mendengar namamu selama ini.Apakah... apakah engkau telah menyepi dan mengasingkan diri di tempat yang sunyi?"
Liu Yang Kun yang melihat kawannya telah terpengaruh oleh minuman keras mengiyakan saja pertanyaan itu.
"Saudara Toan, kau jangan minum lagi! Lihat, mukamu sudah mulai kemerah-merahan...!"
Tambahnya seraya mencegah Toan Hoa menuangkan lagi arak ke cawannya.
Tapi Toan Hoa tak peduli.
Sambil tersenyum lebar ia tetap saja menuangkan araknya.
Matanya yang sudah mulai kocak dan berair itu menatap Liu Yang Kun dengan senangnya.
"Ah, kalau begitu... kalau begitu Tuan Chin tak tahu sama sekali peristiwa-peristiwa menggemparkan yang telah terjadi di dunia kang-ouw kita selama ini? Uh!"
Sekali lagi Liu Yang Kun yang tak ingin kawannya itu menjadi mabuk hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebaliknya ia berkeras mencegah agar kawannya itu tidak menambah lagi minumannya.
Dan Toan Hoan memang menurut.
Namun karena orang itu memang telah terlanjur minum terlalu banyak, maka bicaranya pun juga sudah mulai melantur.
"Wah, rugi...! Tuan Chin benar benar rugi kalau begitu! Coba kalau tuan Chin tidak menyepi dan ikut memeriahkannya, waah... dunia persilatan benar-benar akan lebih gempar lagi, he hehe!"
Toan Hoa mulai mengoceh.
"Saudara Toan...?"
Liu Yang Kun mencoba mencegah kawannya, agar tidak berbicara yang lebih melantur lagi, karena ia takut kawannya itu akan membuka kedoknya sebagai putera Kaisar Han.
Tapi mulut Toan Hoa sudah tidak bisa dihentikan lagi.
Mulut yang sudah terpengaruh oleh arak itu mengoceh terus.
Hanya saja suaranya tidak keras lagi.
Ia hanya berbisik-bisik saja seperti sedang membicarakan rahasia orang.
Dan Liu Yang Kun terpaksa tak tega untuk melarangnya lebih keras lagi.
"Tuan Chin...! Mula-mula dunia persilatan digemparkan oleh munculnya sebuah buku, yang disebut orang Buku Rahasia. Selain berisi ramalan-ramalan dan petunjuk-petunjuk yang sulit dimengerti, buku itu juga memuat daftar urutan TOKOH-TOKOH PERSILATAN TERKEMUKA dewasa ini. Dan daftar itu ternyata telah mengundang kerusuhan dan kegemparan di mana-mana. Tokoh-tokoh persilatan yang semula tidak pernah menampakkan dirinya di dunia Kang-ouw, tiba-tiba ikut pula keluar dari tempat pertapaannya. Mereka menjadi penasaran pada daftar urut-urutan yang mereka anggap kurang benar itu."
Toan Hoa berhenti mengoceh sebentar. Tangannya berusaha meraih guci arak yang ada di depan Liu Yang Kun, tapi pemuda itu cepat menyingkirkannya.
"Sudah kukatakan, saudara Toan tak boleh minum lagi."
Liu Yang Kun memperingatkan. Toan Hoa tersenyum kemalu-maluan, namun ia tak tersinggung karenanya. Sebaliknya mulutnya yang berbau arak itu malah melanjutkan lagi ocehannya.
"Kudengar nama Tuan Chin ikut tertulis pula di dalam Buku Rahasia itu, yaitu pada urutan yang ke-tujuh. Sungguh hebat sekali! Sayang tuan tak pernah menampakkan diri selama ini. Padahal yang lain-lain sudah saling bermunculan untuk mengukur kesaktian mereka masing-masing. Rata-rata mereka merasa penasaran pada urutan-urutan nama yang tertulis di dalam buku itu."
"Jadi semua tokoh yang tertulis di dalam daftar itu telah muncul dan menampakkan diri mereka di dunia persilatan?"
Liu Yang Kun memotong.
"Sebagian besar... sudah! Hanya satu atau dua orang saja yang belum. Tampaknya orang-orang itu masih menunggu saat yang tepat untuk memunculkan diri. Termasuk Tuan Chin sendiri misalnya..."
"Ah, aku toh hanya orang biasa, yang tak seharusnya ditulis di dalam daftar itu. Mungkin bukan aku yang dimaksudkan oleh penulisnya, karena aku belum pernah merasa dicoba atau dinilai ketinggian ilmuku."
Liu Yang Kun cepat merendahkan diri.
"Wah, Tuan Chin suka benar merendahkan diri. Siapakah yang tak tahu kehebatan ilmumu selama ini? Malahan aku sendiri pernah menyaksikannya, yaitu ketika Tuan Chin mampu menahan ilmu Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dulu."
Toan Hoa mengingatkan kembali peristiwa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, yaitu ketika Toan Hoa dan rombongan para piauwsunya dicegat perampok di dekat Kota Poh-yang.
"Hmm... itu karena Hong-Gi-Hiap yang mau mengalah kepadaku."
Liu Yang Kun tetap merendah.
"Tapi... eh, siapa sajakah tokoh-tokoh yang telah muncul itu?"
Toan Hoa tersenyum gembira melihat perhatian Liu Yang Kun.
"Banyak sekali. Beberapa orang di antaranya adalah... Bu-tek Sin-tong, Giok-bin Tok-ong, dan Lo-sin-ong!"
Jawabnya sambil menghitung jarinya.
"Bu-tek Sin-tong... Giok-bin Tok-Ong... Lo-sin-ong...?"
Liu Yang Kun mengulang dengan kening berkerut, seolah-olah ia pernah mendengar pula nama-nama itu.
"Ya! Tuan Chin pernah mengenal mereka?"
Toan Hoa mendesak. Namun Liu Yang Kun segera menggelengkan kepalanya.
"Entahlah...! Aku sudah lupa lagi. Mungkin aku memang pernah mendengarnya, tapi...hmm, entahlah!"
Jawabnya kurang yakin. Tiba-tiba Toan Hoa mengacungkan ibu jarinya.
"Tokoh-tokoh itu benar-benar memiliki kesaktian yang hebat luar biasa! Terutama yang disebut Bu-tek Sin-tong itu! Meskipun tubuhnya kerdil seperti anak lelaki berusia sepuluh tahun tapi kesaktiannya benar-benar seperti dewa!"
Pujinya setinggi langit. Liu Yang Kun tersentak kaget, sehingga cawan arak yang dipegangnya hampir lepas dari tangannya.
"Kerdil? Oh... apakah dia mempunyai jenggot dan rambut yang putih panjang...serta dibiarkan terurai sampai di telapak kakinya?"
Bisiknya sedikit keras.
"Betul!"
Toan Hoa bersorak seraya menepuk meja, sehingga tamu-tamu yang lain menjadi kaget dibuatnya.
"Ah...!"
Liu Yang Kun menjadi kaget dan tegang pula.
Apalagi ketika semua mata tertuju ke arah mejanya.
Untuk menjaga segala kemungkinan terpaksa Liu Yang Kun menarik tangan kawannya, dan membawanya pergi ke kamar yang telah mereka pesan tadi.
Kepada pelayan restoran, Liu Yang Kun meminta agar semua rekening dibebankan kepada temannya yang sedang mabuk itu.
Pelayan itu mengiyakan dengan hormat, lalu mengantarkan mereka ke kamar.
"Hoa! Siapa bilang aku mabuk! Wah... kita belum selesai minum, nih?"
Toan Hoa masih mencoba menyangkal.
Tapi Liu Yang Kun cepat mencengkeram lengannya dan setengah menyeret kawannya itu ke kamarnya.
Apalagi ketika sekilas matanya melihat dua orang lelaki yang duduk di pojok ruangan menatap tajam ke arahnya.
"Siapakah mereka...?? dua orang lelaki itu bertanya kepada pelayan, setelah pelayan itu kembali dari mengantarkan Liu Yang Kun.
"Oh, mereka adalah para piauw-su dari Kim-liong Piauw-kok. Yang mabuk tadi adalah Toan Hoa, pengurus Kim-liong Piauw-kok yang sekarang. Tuan berdua telah mengenal mereka?"
Kedua orang itu saling memandang satu sama lain, kemudian menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Belum..."
Mereka menjawab hampir berbareng. Namun setelah pelayan itu pergi, kedua orang itu saling berbisik.
"Bhong suheng, aku seperti telah mengenal pemuda yang bertubuh jangkung itu."
"Benar, Leng Sute. Aku pun seperti pernah melihatnya pula. Tapi aku lupa, entah di mana..."
"Hmm... aku agak curiga kepadanya. Kulihat matanya bersinar cemerlang serta berkilat-kilat ketika mengawasi kita tadi. Aku berani memastikan bahwa lweekangnya tentu tinggi sekali. Ah... Jangan-jangan dia bukan orang Kim-liong Piauw-kok, tapi...?"
"...Orangnya Tung-hai-tiauw maksudmu?"
Orang yang disebut suheng itu melanjutkan. Dan orang yang dipanggil Sute itu mengangguk. Tapi mulutnya tak menjawab. (Lanjut ke
Jilid 19) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 19
"Huh, peduli amat! Bukankah kita telah mendapat mandat dari Mo-cu untuk menyelesaikan masalah ini? Jangankan Cuma dia, biarpun Tung-hai-tiauw sendiri yang datang, kita tak perlu cemas."
Su hengnya menambahkan.
Sementara itu Liu Yang Kun dan Toan Hoa yang telah berada di kamarnya, segera mengambil tempat duduk dan meneruskan pembicaraan mereka.
Karena kamar mereka hanya berbataskan dinding dengan ruang restoran itu, maka pembicaraan kedua orang tamu itu, lapat-lapat masih bisa didengar oleh telinga Liu Yang Kun yang tajam.
"Ah... ingat aku sekarang! Ya... mereka Bhong Kim Cu dan Leng Siauw! Tokoh-tokoh puncak dari Aliran Mo-kauw yang terkenal itu!"
Pemuda itu berdesah di dalam hatinya.
"Kalau begitu... permusuhan mereka dengan Tung-hai-tiauw memang sudah mencapai puncaknya."
"'Hei, Tuan Chin! Mengapa kau termenung saja? Apakah kau sedang memikirkan Bu-tek Sin-tong itu?"
Tiba-tiba Toan Hoa berseru sehingga mengagetkan Liu Yang Kun.
"Eh-oh... bu-bukan! Aku sedang memikirkan tokoh yang satunya lagi. Apakah Giok-bin Tok-ong itu seorang kakek berwajah tampan dan memiliki senjata peledak yang sangat mengerikan?"
Dengan gugup Liu Yang Kun mencoba menjawab. Tak terduga Toan Hoa kembali bersorak dan menggebrak meja.
"Betul! Betul! Oh... apakah Tuan Chin sudah pernah berkenalan dengan dia?"
Liu Yang Kun menghela napas panjang.
"Aku belum sempat berkenalan dengannya, sebab begitu berjumpa kami lalu saling mengukur kepandaian."
"Apa...? Tuan Chin sudah pernah berkelahi dengan tokoh sakti itu? Bagaimana kesudahannya?"
Toan Hoa mendesak penuh perhatian.
"Sudahlah, hampir saja aku mati berkeping-keping oleh senjata peledaknya itu."
Liu Yang Kun menjawab pendek.
"Oooooh!"
"Tapi untung aku masih bisa menghindarinya. Tapi...eh, apakah hanya mereka itu saja yang sudah muncul?"
Mendadak Liu Yang Kun mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ya...ya... memang baru mereka itu yang muncul. Tapi sebenarnya masih ada satu lagi yang kemunculannya sempat menggemparkan dunia persilatan. Namun karena namanya tidak tercantum di dalam daftar urutan itu, maka aku tidak menyebutkannya. Padahal begitu muncul, dunia persilatan menjadi gempar. Namanya dikenal dimana-mana. Kepandaiannya pun sangat luar biasa pula. Hanya sayang, perbuatannya buruk dan tidak terpuji, sehingga orang menjadi takut dan benci terhadapnya."
Liu Yang Kun menjadi berdebar-debar mendengar cerita itu.
"Siapakah tokoh yang kau maksudkan itu?"
Tanyanya dengan suara gemetar.
"Si Penyebar Maut!"
Toan Hoa menjawab mantap. Lalu.
"Sayang kemunculannya tidak lama. Mungkin cuma setahun ia meraja-lela mengumbar kekejaman dan keganasannya.Setelah itu ia menghilang dan tidak terdengar lagi kabar beritanya.Namun sebelum menghilang ia sempat menggegerkan dunia persilatan, yaitu membunuh ribuan pendekar di luar Kota Soh-ciu!"
"Bohong!"
Tiba-tiba Liu Yang Kun berseru. Wajahnya merah. Matanya melotot. Tapi sesaat kemudian pemuda itu menjadi sadar pula, bahwa tak seharusnya ia marah atau tersinggung mendengar cerita tersebut.
"Eh-uh...Tuan Chin? Ke-kenapa...? Apa... apa salahku?"
Toan Hoa yang masih dalam keadaan mabuk itu menjadi ketakutan. Liu Yang Kun cepat merangkul pundak Toan Hoa.
"Tidak apa-apa. Aku cuma bergurau kepadamu. Aku hanya ingin mengetahui, apakah kau masih mabuk atau tidak?"
Katanya sambil tertawa.
"Ah, Tuan Chin sungguh membuat hatiku berdebar-debar saja. Siapa bilang aku mabuk, huh?"
"Nah, kalau begitu... lanjutkan ceritamu tadi!"
"Sudah selesai. Apa yang mesti kuceritakan lagi?"
Toan Hoa mengangkat pundaknya sambil tersenyum.
"Hei! Masakan cuma sekian saja ceritanya? Apakah tidak ada cerita tentang tokoh yang lain? Tentang Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai atau Lo-sin-ong misalnya?"
Liu Yang Kun mencoba mengorek lagi cerita dari mulut Toan Hoa.
Siapa tahu ada cerita tentang orang lihai yang ditakutinya sejak ia pergi meninggalkan dusun Kee-cung itu?
Toan Hoa mengerutkan dahinya seperti seorang yang sedang berpikir keras.
Namun perlahan-lahan kepalanya menggeleng.
"Tidak ada lagi. Kalau pun ada, itu hanya merupakan peristiwa-peristiwa kecil yang tak patut dijadikan cerita. Misalnya tentang permusuhan yang tiba-tiba terjadi antara Aliran Mo-kauw dengan Tung-hai-tiauw dari Lautan Timur. Atau... peristiwa yang agak menghebohkan di Danau Tai-Ouw sebulan yang lalu. Y aitu kerusuhan kecil yang terjadi di atas danau itu, akibat memperebutkan mustika dan darah naga Ceng-liong-ong."
Sekali lagi hati Liu Yang Kun menjadi berdebar-debar. Tiba-tiba ia teringat pada ular raksasa yang dibunuhnya dulu, yang menurut Tui Lan bernama Ceng-liong-ong itu.
"Memperebutkan... mustika dan darah Ceng-liong-ong?"
Pemuda itu mencoba menegaskan.
"Ya. Mustika dan darah Ceng-liong-ong, yang khabarnya bisa membuat orang menjadi sakti luar biasa."
Liu Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya dan pura-pura merasa heran mendengar cerita tersebut.
"Begitukah? Hmm... lalu ada cerita tentang apa lagi?"
Tanyanya pula setelah Toan Hoa mengakhiri ceritanya.
"Wah, Tuan Chin ini mendesak terus...?"
Pengurus Kim-liong Piauw-kok itu menggerutu. Tapi sekejap kemudian ia berdesah.
"Eh, ya... nanti dulu! Masih ada khabar baru..."
"Apakah itu? Coba ceritakan!"
Liu Yang Kun berbisik pula dengan gairah.
"Anu... Si Iblis Penyebar Maut telah muncul kembali di dunia kang-ouw!"
"Apaaa...?"
Liu Yang Kun tersentak kaget. Matanya menatap Toan Hoa dengan curiga. Namun seperti juga tadi, pemuda itu segera sadar pula akan dirinya.
"Aaaah..."
Desahnya panjang.
Untuk sesaat Toan Hoa juga menjadi ragu-ragu melihat perubahan wajah Liu Yang Kun.
Tapi begitu melihat senyum telah mengembang kembali di bibir pemuda itu, maka ia menjadi tenang pula.
"B-benar, Tuan Chin... Aku memang mendengar berita tentang munculnya iblis itu lagi. Sudah lebih dari sebulan ini Si Iblis Penyebar Maut dikhabarkan orang berkeliaran mencari mangsa di daerah pantai timur sana. Kata orang sudah banyak korban yang jatuh di tangannya..."
Toan Hoa meneruskan ceritanya.
"Begitukah?"
Liu Yang Kun menggeram tanpa terasa. Bagaimana pun juga berita tentang munculnya Si Iblis Penyebar Maut itu benar-benar membuatnya penasaran.
"Groubyaaaag!"
Tiba-tiba terdengar suara gaduh di ruang restoran! Liu Yang Kun cepat bangkit berdiri, kemudian bergegas melangkah keluar dari kamar itu.
"Saudara Toan! Kau tunggulah sebentar! Aku akan melihat ke depan."
Pesannya kepada Toan Hoa.
"Alaaa...! Paling-paling cuma orang mabuk, hehehe..."
Toan Hoa meringis, lalu merebahkan dirinya di atas meja.
Liu Yang Kun meloncat ke jendela yang menembus ke ruang restoran.
Pelan pelan disingkapnya kain menutup jendela itu.
Dan matanya segera menyaksikan seorang lelaki kurus kerempeng dan seorang pemuda halus tampan, sedang berdiri berhadapan dengan kedua tokoh Aliran Mo-kauw itu.
Dan meskipun sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi Liu Yang Kun masih tetap ingat kepada lelaki kerempeng itu, karena orang itu tidak lain adalah Tung-hai Nung-jin, pembantu Tung-hai-tiauw.
"Dan pemuda yang datang bersamanya itu tentulah Tiauw Kiat Su, kakak dari Tiauw Li Ing. Aaah..."
Tiba-tiba Liu Yang Kun teringat akan gadis binal yang pernah mengejar-ngejar dirinya dulu.
Liu Yang Kun lalu mengedarkan pandangannya.
Dilihatnya ruangan yang luas itu telah kosong.
Semua tamu telah pergi.
Yang ada tinggal beberapa orang pelayan yang berdiri gemetar di pojok ruangan.
"Oh, kami berdua benar-benar tak menyangka bisa berjumpa dengan Tung-hai Nung-jin di tempat ini. Hmm, apa khabar Nung-jin?"
Bhong Kim Cu menyapa ramah. Tapi Tung-hai Nung-jin membalasnya dengan tertawa dingin. Begitu pula dengan Tiauw Kiat Su. Pemuda tampan itu malah mendengus dengan acuh tak acuh.
"Hmm, aku pun juga tak mengira akan bertemu dengan Bhong Lo-heng dan Leng Lo-heng di sini. Tadi siang aku hanya memperoleh laporan dari anak buahku, bahwa dua orang tokoh Aliran Mo-kauw sedang berada di kota ini. Uh, ternyata orang itu adalah Lo-heng berdua."
"Wah... kalau demikian pertemuan ini benar-benar sangat kebetulan sekali, bukan?"
Leng Siauw menyela dengan wajah berseri-seri."
Dan kemungkinan besar kita semua bisa menyingkat waktu di sini, sehingga aku dan suhengku tak perlu jauh-jauh datang ke istana Tung-hai-tiauw nanti."
Tung-hai Nung-jin mengerutkan alisnya.
"Hmm... jadi Jiwi Lo-heng ini bermaksud mengunjungi kami di Hai-ong-hu (Istana Raja Laut)? Bolehkah aku mengetahui maksud kunjungan Jiwi Lo-heng itu?"
Orang tua itu bertanya. Bhong Kim Cu saling pandang dengan Sutenya, kemudian mereka tertawa lepas.
"Ah... kita toh bukan anak-anak lagi, Nung-jin. Apa perlunya kita orang tua ini saling berpura-pura lagi? Kita toh sudah sama-sama maklum, apa yang terjadi di antara kita akhir-akhir ini. Mengapa kau masih bertanya pula...?"
"Bagus! Kalau begitu... apa mau mu, heh?"
Tiba-tiba Tung-hai Nung-jin membentak.
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw terperangah.
Namun sebagai tokoh aliran terkemuka, mereka segera bisa menguasai diri.
Sambil tersenyum kecut Leng Siauw melangkah ke depan mewakili suhengnya.
"Sabar, Nung-jin. K ita tak perlu bersitegang leher dalam hal ini. Kalau toh harus marah, sebenarnya bukan kau yang harus marah kepada kami. Sebaliknya kami berdualah yang seharusnya marah kepadamu!"
"Heh-he-heh-he! Jangan memutar-balikkan kenyataan! Mengapa kaukatakan bahwa aku tidak boleh marah kepadamu Dan sebaliknya justru kalian lah yang seharusnya menjadi marah kepadaku?"
Leng Siauw menarik napas panjang.
"Nung-jin! Sudah kukatakan bahwa kita tak perlu berpura-pura lagi. Oleh karena itu kau tak perlu menutup-nutupi pula semua sepak-terjang kalian selama ini. Nah, sekarang katakan kepada kami! Apa maksud kalian memusuhi dan menangkapi orang-orang Mo-kauw kami akhir-akhir ini? Bukankah kami tak pernah memusuhi atau bermusuhan dengan pihakmu?"
Tak terduga Tung-hai Nung-jin tertawa tergelak-gelak mendengar ucapan Leng Siauw itu. Sambil menoleh ke arah Tiauw Kiat Su, bajak laut tua itu mengejek.
"Kau dengar ucapannya itu, Kiat Su? Dia bilang tak pernah memusuhi kita selama ini, heh-he-heh-he! Sungguh tidak tahu malu..."
Tiauw Kiat Su tertawa dingin.
"Mengapa Paman mesti heran? Bukankah sudah biasa kalau orang itu tidak bisa melihat kesalahannya sendiri? Justru keburukan atau kesalahan orang lain-lah yang akan nampak jelas di matanya."
Pemuda itu menyahut pendek, namun sangat pedas serta menyakitkan.
Bhong Kim Cu menggeram, tapi ia tetap berusaha untuk mengendalikan dirinya.
Sedangkan Leng Siauw yang tak kurang tersinggungnya mendengar ucapan Tiauw Kiat Su itu hanya melirik saja kepada pemuda tampan itu.
Diam-diam tokoh dari Aliran Mo-kauw itu menilai pemuda yang sombong dan bermulut tajam tersebut.
"Tampaknya pemuda ini lebih berbahaya dan lebih buruk perangainya dari pada Tung-hai Nung-jin. Aku harus berhati-hati kepada pemuda ini."
Dengusnya di dalam hati.
"Tung-hai Nung-jin! Tampaknya kau tidak mau mengakui kesalahanmu, dan justru melemparkan kesalahan itu kepada kami. Hmmmh...! Cobalah kau jelaskan kepada kami sikapmu itu! Jangan berteka-teki lagi!"
Bhong K im Cu akhirnya berseru penasaran.
"Benar. Pihak kalian-lah yang secara mendadak mengobarkan permusuhan kepada kami. Tanpa sebab dan alasan, kalian telah menangkapi orang-orang Mo kauw kami."
Leng Siauw menambahkan. Tiba-tiba air-muka Tung-hai Nung-jin menjadi gelap. Dahinya berkerut, sehingga kedua alis-matanya hampir bertemu satu sama lain.
"Hmmh! Benarkah kalian tidak tahu kesalahan yang telah kalian lakukan terhadap kami?"
Hardiknya keras.
"Kurang ajar! Apakah kami berdua harus bersumpah di hadapanmu?"
Bhong Kim Cu berteriak marah pula. Tung-hai Nung-jin menatap tajam.
"Baiklah. Kalau begitu... ikutilah aku! Akan kubawa kalian ke hadapan Hai ong (Raja Laut) untuk memperoleh penjelasan."
Katanya kaku. Bhong Kim Cu dan Leng Siauw terperanjat.
"Kau maksudkan... kami akan kau bawa ke depan Tung-hai-tiauw di Lautan Timur sana?"
Mereka berdesah hampir berbareng. Sekali lagi Tung-hai Nung-jin tertawa dingin.
"Tidak perlu ke Hai-ong hu. Hai-ong kami sedang berada di kota ini pula sekarang."
Kata bajak laut tua itu tidak kalah kerasnya.
"Begitukah...? Hmmh bagus! Kami memang ingin sekali bertemu muka dengan Tung-hai-tiauw."
Bhong Kim Cu berseru gembira.
"Aaah... mengapa Paman harus repot-repot membawa mereka ke hadapan ayah? Mengapa mereka tidak kita bereskan saja di tempat ini?"
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su mencela Tung-hai Nung-jin.
"Jangan bertindak sembrono! Mereka adalah tokoh-tokoh utama di dalam Aliran Mo-kauw. Kita tidak boleh gegabah menghadapi mereka, agar tujuan atau harapan kita tidak menjadi berantakan karenanya. Biarlah ayahmu yang mengurusnya."
Tung-hai Nung-jin menjelaskan.
"Hmmh...!"
Tiauw Kiat Su mendengus kurang senang, kemudian mendahului melangkah keluar dari restoran.
Tung-hai Nung-jin mengawasi punggung Tiauw Kiat Su dengan perasaan kurang senang pula.
Semenjak menjadi murid Giok-bin Tok-ong, sikap pemuda itu terasa semakin sombong dan kurang ajar.
Tapi apa boleh buat, kepandaian pemuda itu memang lebih tinggi dari padanya sekarang.
"Nah, marilah kalian ikuti aku!"
Akhirnya bajak laut tua itu berseru pula dengan suara kaku kepada Bhong Kim Cu dan Leng Siauw.
Kedua orang tokoh Aliran Mo-kauw itu tak menjawab.
Dengan tenang mereka melangkah keluar mengikuti Tung-hai Nung-jin.
Mereka adalah tokoh-tokoh tingkat dua setelah Mo-cu atau Ketua mereka, Pek-i Liong-ong, maka tidak mengherankan bila nyali mereka amat besar dan sangat percaya kepada kemampuan mereka sendiri.
Liu Yang Kun pun cepat keluar dari persembunyiannya.
Pemuda itu bergegas pula mengikuti mereka.
Ia ingin tahu apa yang akan terjadi dengan para tokoh Aliran Mo-kauw itu nanti.
"Tolong katakan kepada Tuan Toan Hoa bahwa aku sedang keluar sebentar!"
Katanya kepada para pelayan yang merasa lega kembali sete lah empat orang itu meninggalkan restoran mereka.
"Tu-tuan hendak pergi kemana...?"
Salah seorang pelayan itu bertanya dengan kening berkerut.
Liu Yang Kun tidak menjawab.
Ia cepat menyelinap keluar dan menghilang di dalam kegelapan.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya ia melejit dan menyelinap di antara rumah-rumah penduduk, mengikuti ke mana saja rombongan Tung-hai Nung-jin itu pergi.
Di tempat-tempat yang ramai pemuda itu berjalan biasa, membaurkan diri dengan para pejalan kaki yang lain.
Tapi bila berada di tempat sepi, pemuda itu terpaksa berloncatan di atas genting-genting rumah atau pepohonan yang rimbun, agar supaya jejaknya tidak ketahuan oleh mereka.
Untunglah, di tempat-tempat yang sepi biasanya juga gelap atau kurang penerangannya, sehingga langkah pemuda itu tidak gampang terlihat oleh siapapun juga.
Apa lagi ginkang pemuda itu memang telah mencapai kesempurnaannya.
Gerakannya yang cepat dan gesit itu benar-benar sulit diikuti oleh pandangan mata.
Tung-hai Nung-jin membawa tamunya ke pinggir kota sebelah timur.
Di sebuah jalan yang gelap dan sepi, mereka berbelok ke halaman yang amat luas dan banyak pepohonannya.
Mereka masuk ke dalam rumah besar yang terang benderang penerangannya.
Beberapa orang penjaga tampak keluar dari dalam kegelapan dan menyambut mereka.
Liu Yang Kun cepat berlindung di tempat yang gelap.
"Hmm... inilah tampaknya gedung dimana Tung-hai-tiauw tinggal di kota ini. Sungguh angker dan lepas dari perhatian sekelilingnya. Tapi aku harus berhati-hati memasukinya. Kulihat banyak sekali penjaga yang berkeliaran di dalam kegelapan."
Pemuda itu membatin. Liu Yang Kun lalu mengawasi pepohonan tinggi dan rimbun yang banyak terdapat di halaman itu.
"Kukira ada juga penjaga yang bertengger di atas dahan-dahan sana. Namun didalam rimbunnya dedaunan itu tampaknya aku juga akan lebih aman dari pada harus berjalan di atas tanah."
Pemuda itu berpikir pula.
Demikianlah setelah memutuskan diri untuk mendekati gedung tersebut dengan cara berloncatan di atas pohon, maka Liu Yang Kun lalu mempersiapkan seluruh kemampuannya.
Dikerahkannya seluruh tenaga sakti Liong-cu i-kangnya, agar supaya sewaktu-waktu bisa ia pergunakan dengan sesuka hatinya.
Pemuda itu lalu melesat ke atas pohon yang terdekat.
Beberapa orang penjaga yang ada di dalam halaman itu hanya melihat berkelebatnya sebuah bayangan, yang mereka sangka adalah seekor kelelawar atau burung malam saja.
"Gila! Tung-hai-tiauw benar-benar menjaga rumah ini seperti menjaga sangkar emas saja. Dimana-mana ada penjaga."
Sambil beringsut dan berlompatan dari dahan ke dahan, Liu Yang Kun menghitung jumlah penjaga yang dilewatinya.
Tiba-tiba pemuda itu me lihat sesosok bayangan melesat di atas pohon di depannya.
Bayangan hitam itu hanya tampak sekilas saja, karena untuk selanjutnya lalu hilang ditelan kegelapan malam atau rimbunnya daun yang menutupi pohon tersebut.
Liu Yang Kun menjadi tegang dan berdebar-debar.
Apalagi ketika lapat-lapat terdengar suara keluhan di dalam rimbunnya daun itu.
"Siapa itu? Kaukah, Houw Ti?"
Seorang penjaga yang berada di bawah pohon itu menyapa dan menengadahkan kepalanya.
"Benar! Ssst... jangan berisik!"
Terdengar suara jawaban dari atas pohon.
"Bangsat! Kaulah yang berisik! Kalau kau tidak berisik lebih dulu, masakan aku mengerti tempatmu, huh?"
Penjaga yang ada di bawah itu mengumpat.
Orang yang ada di atas pohon itu tidak melayani umpatan itu.
Liu Yang Kun melihat orang itu telah melesat pergi meninggalkan pohon tersebut.
Gerakannya demikian ringannya sehingga ranting-ranting pohon itu tidak tergoncang ataupun bergoyang karenanya.
"Agaknya memang betul apa yang dikatakan oleh Toan Hoa tadi. Banyak jago-jago silat sakti, yang semula tak pernah terdengar namanya, kini tampak terjun berkeliaran di dunia kang-ouw, hanya karena munculnya Buku Rahasia. Baru sehari aku keluar dari gua di bawah tanah itu, ternyata sudah ada tiga orang berkepandaian tinggi yang kutemui. Kam Lojin, orang yang kuikuti siang tadi, dan... orang ini! Dan ketiga-tiganya memiliki ginkang yang hebat sekali! Hmm! Coba aku tidak memiliki Bu-eng Hwe-teng, niscaya aku tak bisa berkutik di depan mereka."
Perlahan-lahan Liu Yang Kun mengintip penjaga yang berdiri di bawah pohon itu.
Ketika penjaga itu lengah, Liu Yang Kun segera melesat ke pohon tersebut.
Dan pohon itu juga tidak bergoyang sedikitpun, seolah-olah loncatan pemuda itu cuma loncatan seekor belalang kecil yang tak berbobot sama sekali.
"Ah...!"
Tiba-tiba Liu Yang Kun berdesah perlahan ketika ia mendapatkan sesosok tubuh manusia terikat di sebuah dahan.
Orang itu tidak mati, tapi lumpuh karena ditotok urat darahnya.
Dan Liu Yang Kun semakin menjadi kaget begitu menyaksikan pakaian seragam orang itu.
Karena pakaian itu sama warna dan potongannya dengan pakaian yang dikenakan di bawah pohon itu.
"Oh, kalau demikian...orang inilah yang dipanggil dengan nama Houw Ti tadi. Jadi bayangan yang kulihat itu bukanlah teman atau anak buah Tung-hai-tiauw. Tampaknya orang itu juga orang luar yang sedang menyelidiki tempat ini, seperti aku pula."
Pemuda itu membatin.
Begitulah, semakin mendekati gedung itu, Liu Yang Kun semakin sering mendapatkan penjaga yang telah dilumpuhkan atau ditotok urat darahnya.
Mereka disembunyikan di tempat-tempat yang terlindung agar tidak diketahui oleh penjaga yang lain.
Meskipun demikian ketika telah mencapai tembok gudang itu, ternyata Liu Yang Kun telah kehilangan jejak orang yang sangat lihai tersebut.
"Kemanakah larinya orang itu? Apakah dia telah masuk ke dalam gedung itu?"
Dengan sangat berhati-hati Liu Yang Kun lalu merayap ke atas genting.
Perlahan-lahan ia menuju ke atas pendapa, dimana ia perkirakan Tung-hai-tiauw sedang menjumpai kedua tokoh Aliran Mo-kauw itu.
Dibukanya sebuah genting untuk mengintip ke dalam.
"Hai Ong dataaaaang...!"
Tiba-tiba terdengar teriakan seorang penjaga.
Liu Yang Kun cepat melongok ke bawah.
Matanya melihat seorang lelaki tinggi besar, berjenggot lebat, sedang memasuki pendapa itu dari pintu tengah.
Beberapa orang pengawal tampak berbaris di kanan-kirinya.
Gayanya dan caranya berjalan kelihatan angkuh dan berwibawa seperti seorang raja.
"Ah... itulah agaknya yang bernama Tung-hai-tiauw, Raja Bajak Laut yang tersohor itu. Tampaknya ia juga baru saja keluar menemui tamunya itu. Bukan main...!"
Liu Yang Kun berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ia benar-benar seperti seorang raja.Pakaiannya gemerlapan. Pengawalnya banyak serta garang-garang. Dan pasukan atau anak-buahnya pun tak terhitung pula jumlahnya. Hmmm..."
Tung-hai-tiauw lantas duduk di kursinya.
Sama sekali ia tak menyapa atau menengok ke arah tamunya, padahal kedua orang tokoh Aliran Mo-kauw itu juga ikut berdiri pula di samping Tung hai Nung-jin untuk menghormati kedatangannya.
Meskipun demikian kedua tokoh Aliran Mo-kauw itu tak menjadi tersinggung karenanya.
Wajah kedua orang itu tetap tenang.
"Hai-ong...! Inilah tokoh Mo-kauw yang kulaporkan itu. Mereka adalah tangan kanan Pek-i Liong-ong. Nama mereka adalah Bhong Kim Cu dan Leng Siauw. Keduanya menduduki jabatan sebagai Siang-kauw Tai-shih (Sepasang Duta Agung) di dalam Aliran Mo-kauw. Mereka berdua kubawa menghadap kemari agar Hai-ong dapat menjelaskan persoalannya. Sebab mereka ini merasa tidak bersalah. Bahkan mereka merasa penasaran karena kita telah menangkapi kawan kawannya selama ini."
Tung-hai Nung-jin membuka laporannya.
"Benar, Hai-ong..."
Tiba-tiba Bhong Kim Cu berdiri dan memberi hormat.
Matanya memandang tajam dan sedikitpun tidak kehilangan ketenangannya.
Sikapnya benar-benar menunjukkan bahwa ia tidak terpengaruh oleh kegarangan ataupun keangkeran lawannya.
"Apanya yang benar, heh?"
Raja bajak laut yang kasar itu tiba-tiba membentak dengan suara menggeledek.
Sesuai dengan jabatannya sebagai pemimpin para perompak, ternyata Tung-hai-tiauw itu juga berwatak kasar dan kurang mengindahkan sopan-santun.
Meskipun Bhong Kim Cu dan Leng Siauw telah bersikap hormat kepadanya, namun ternyata Tung-hai-tiauw tidak mengacuhkannya.
Padahal kedua tokoh Aliran Mo-kauw tersebut mempunyai kedudukan tinggi dan amat dihormati di dunia persilatan.
Untunglah sebagai seorang tokoh agama, apalagi umur mereka juga sudah tidak muda pula, mereka berdua bisa menguasai diri.
Mereka tidak merasa tersinggung, karena mereka juga menyadari dengan siapa mereka berhadapan.
"Seperti yang telah dikatakan oleh Tung-hai Nung-jin tadi, kami orang orang Mo-kauw benar-benar merasa penasaran. Orang-orang kami yang selama ini merasa tidak pernah bermusuhan atau berselisih dengan Hai-ong, tiba-tiba diserang dan ditangkapi. Beberapa orang utusan kami, yang bermaksud meminta keterangan kepada Hai-ong, juga tidak pernah kembali. Sehingga dengan berat hati kami berdua terpaksa meminta kepada Mo-cu, untuk berangkat sendiri ke hadapan Hai-ong. Dan sungguh beruntung sekali kami dapat menghadap Hai ong di sini, sehingga kami berdua tak perlu jauh-jauh pergi ke Hai-ong-hu. Nah, sekarang kami mohon penjelasan kepada Hai-ong. Apa sebabnya Hai-ong memusuhi kami dan menangkapi anggota kami? Dan dimanakah kawan-kawan kami itu sekarang?"
Dengan tenang dan jelas Bhong Kim Cu berkata kepada Tung-hai-tiauw.
"Braaaak!"
Tung-hai-tiauw menggebrak meja.
"Hah! Kalian benar-benar tidak tahu atau cuma berpura-pura saja?"
Hardiknya seraya berdiri. Leng Siauw cepat bangkit pula dari kursinya. Sambil berdiri di samping suhengnya tokoh ketiga dari Aliran Mo-kauw itu menggeram.
"Kami bukan anak kecil lagi. Apa perlunya bagi kami bergurau dalam suasana yang gawat seperti ini?"
"Bagus! Nah, sekarang jawablah! Kalian sudah pernah melihat dan mendengar tentang baju-mustika Kim-pauw-san atau belum?"
Seketika Bhong Kim Cu dan Leng Siauw saling pandang dengan wajah kaget.
Tentu saja mereka tahu sekali tentang baju mustika yang tak mempan senjata itu, karena secara kebetulan memang mereka berdualah yang dulu mendapatkannya.
Hanya saja benda mustika tersebut kini telah menjadi barang pusaka Aliran Mo-kauw, dan yang berhak memakai hanyalah Mo-cu seorang.
Dahulu benda mustika itu mereka dapatkan dari seorang tokoh hitam, bernama Song-bun-kwi (Si Mayat Berkabung) Kwa Sun Tek.
Penjahat itu mereka bunuh, dan baju mustika yang dikenakan oleh penjahat tersebut mereka ambil.
Mereka berdua merasa bahwa tak seorang-pun yang mengetahui perbuatan mereka itu.
Tapi, mengapa sekarang secara tiba tiba Tung-hai-tiauw menanyakan tentang hal itu?
Apakah raja Bajak Laut itu hendak merebut dan memiliki benda pusaka itu?
Beberapa saat lamanya Bhong Kim Cu dan Leng Siauw tak bisa menjawab pertanyaan Tung-hai-tiauw tersebut.
"Hei! Mengapa kalian tidak menjawab? Kalian pernah melihat atau belum?"
"Ayoh! Lekaslah Jiwi menjawabnya! Mengapa diam saja?"
Tung-hai Nung-jin ikut mendesak pula.
Bhong Kim Cu menoleh sekilas.
Sebenarnya ia sudah tak bisa membendung kemarahannya.
Belum pernah ia selama ini dibentak-bentak orang sedemikian rupa.
Tapi karena ia sedang mengemban perintah ketuanya, maka terpaksa ia menahan hati sebisa-bisanya.
"Hmm... mengapa Hai-ong menanyakan hal itu kepada kami? Apakah Hai ong menginginkan benda itu dan... bermaksud untuk memilikinya?"
Dengan berani Leng Siauw mendahului suhengnya.
"Bangsat benda itu milikku! Bukan m ilik siapa-siapa! Karena keteledoran puteriku benda itu hilang dicuri orang! Tahu...?"
Tung-hai-tiauw mengumpat kasar.
Melihat kemarahan pemimpinnya, otomatis para pengawal dan anggota bajak laut yang berada di ruangan itu segera bersiap-siaga.
Mereka berjaga-jaga kalau tamu-tamu itu menjadi marah pula dan menyerang pemimpin mereka.
Sebaliknya Bhong Kim Cu dan Leng Siauw juga sudah habis kesabarannya.
"Jangan asal bicara! Benda pusaka itu adalah milik kami. Kami berdualah yang memperolehnya dari tangan Song-bun-kwi Kwa Sun Tek!"
Bhong Kim Cu berteriak pula tanpa terasa.
"Bagus! Kau tahu dari mana orang itu mendapatkannya? Uh, ia mencuri pusaka itu dari tangan puteriku! Sudah bertahun-tahun aku menyelidikinya. Dan ternyata benda itu kemudian jatuh ketangan kalian. Itulah sebabnya kami memusuhi Aliran Mo-kauw. Kami menangkapi orangmu sebanyak-banyaknya, dengan harapan pada suatu saat kelak bisa kami tukarkan dengan baju Kim-pauw-san itu."
Tung-hai-tiauw tertawa lega mendengar pengakuan Bhong Kim Cu itu. Bhong Kim Cu agak menyesal juga te lah kelepasan omong. Namun ia juga tak percaya pula pada omongan raja bajak laut itu.
"Hmm... siapa percaya, pada ucapanmu? Kau hanya mencari alasan saja untuk memiliki benda pusaka itu!"
Katanya keras.
"Apa? Kau katakan bahwa kami cuma mencari-cari alasan saja! Bangsat setan laut keparat...! Dengarlah! Apakah kalian masih ingat pertempuran hebat di atas bukit kecil di dekat kota Poh-yang enam tahun yang lalu? Pertempuran hebat yang terjadi antara pasukan pemberontak dibawah pimpinan Song-bun-kwi itu dengan pasukanku yang kukirim dari lautan Timur? Kau tahu apa sebabnya pertempuran itu berlangsung?"
Tung-hai-tiauw menghentikan kata-katanya sebentar. Matanya melotot, seakan-akan ingin melihat reaksi tamu-tamunya. Lalu sambung lagi.
"Pertempuran tersebut herlangsung karena Song-bun-kwi telah berani menculik puteriku. Tiauw Li Ing. Bangsat itu menculik puteriku agar supaya bisa memiliki baju Kim-pouw-san yang dipakai oleh puteriku. Sayang dalam pertempuran besar itu Song-bun-kwi dapat melarikan diri, sehingga baju itupun ikut lenyap bersamanya. Nah... itulah kisahnya. Dan dalam pelariannya itu mungkin Song-bun kwi lalu bertemu dengan kalian. Dan mungkin juga kalian telah membunuhnya."
Tapi Bhong Kim Cu dan Leng Siauw tetap tak mempercayai cerita Tung-hai-tiauw itu.
"Kau boleh bercerita tentang berbagai macam kisah tentang baju pusaka itu, tapi kami tetap tidak mempercayainya."
Kata Leng Siauw dingin.
"Kurang ajaaaar...!"
Tung-hai-tiauw mengumpat dan menggebrak meja dengan keras sekali. Matanya berubah menjadi merah saking marahnya.
"Jadi... kalian ingin agar permusuhan kita ini diteruskan? Kalian benar-benar tidak memikirkan anggota kalian yang berada di penjara kami? Heh?"
Tiba-tiba saja pendapa yang luas itu telah dikepung oleh anak buah Tung-hai-tiauw. Mereka telah siap sedia dengan berbagai macam senjata untuk mengeroyok tokoh-tokoh Aliran Mo-kauw itu.
"Ah, kenapa ayah sekarang menjadi sabar amat? Mengapa sejak tadi cuma berbicara saja? Kenapa mereka tidak segera dibunuh dan diambil baju Kim pouw sannya?"
Mendadak terdengar suara Tiauw Kiat Su dari ruang dalam.
"Benar bunuh saja mereka. Habis perkara."
Terdengar pula suara Tiauw Li Ing di belakang pemuda itu.
Sekejap kemudian seorang pemuda dan seorang gadis telah berada dipendapa itu pula.
Keduanya memandang Bhong Kim Cu dan Leng Siauw dengan pandang mata dingin.
"Li Ing...?"
Liu Yang Kun menyebut nama gadis itu dengan bibir gemetar.
"Ternyata dia semakin cantik dan matang sekarang. Tapi sifat buruknya yang suka membunuh orang itu tampaknya tidak mau hilang juga..."
Liu Yang Kun yang mengintip dari atas genting itu lalu terkenang kembali akan semua pengalamannya dengan Tiauw Li Ing beberapa tahun yang lalu.
(Baca.
Pendekar Penyebar Maut).
Sering kali ia bertengkar dan bercekcok dengan gadis itu, hanya karena ulah Tiauw Li Ing yang kejam, sombong dan ganas terhadap sesama manusia.
Ternyata keadaan di dalam pendapa semakin bertambah panas dengan kedatangan putera-puteri Tung-hai-tiauw itu.
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang merasa terdesak dan tak mungkin bisa mengelakkan diri dari bentrokan dengan lawannya itu, segera mempersiapkan diri mereka.
Namun sebelum pertempuran itu dimulai, Bhong Kim Cu masih sempat berkata kepada Tung-hai-tiauw.
"Hai-ong! Kau jangan terburu-buru menjadi marah dulu! Biarkanlah kami pergi dari tempat ini untuk melaporkan pembicaraan kita tadi kepada Mo-cu kami. Biarlah Mo-cu kami yang menyelesaikannya nanti."
"Heh-heh... enak benar. Ikan yang sudah masuk perangkap tak mungkin kami lepaskan lagi. Ayoh...! Katakan terus terang! Siapa di antara kalian berdua yang membawa Kim-pouw san? Mungkin kami akan memberi ampun apabila kalian mau menyerahkannya tanpa perlawanan."
Tung-hai-tiauw tertawa dingin.
"Ah, engkau telah salah duga. Tak seorangpun dari kami berdua yang mengenakan baju mustika itu. Baju itu kami simpan di gedung pusaka kami."
Leng Siauw menjawab.
"Begitukah? Bagus! Kalau begitu kami tidak akan membunuh kalian sekarang. Kalian hanya akan kami tangkap untuk melengkapi jumlah tawanan kami. Biarlah ketua kalian itu yang membuat perhitungan dengan kami nanti. Apakah dia merelakan kalian semua, atau dia mau menukarkannya dengan Kim-pouw-san itu?"
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw menggeretakkan giginya.
"Kau licik!"
Leng Siauw menggeram.
Seluruh urat-uratnya telah menegang, siap untuk menerjang.
Tapi sebelum kedua orang tokoh Aliran Mo-kauw itu mendahului menyerang Tung-hai-tiauw, tiba-tiba seorang penjaga tampak menerobos masuk dengan tergesa gesa.
Wajahnya pucat dan nafasnya tersengal-sengal.
Dan ia segera menjatuhkan dirinya di depan pemimpinnya itu.
"Lapor ke-ke-kepada Hai-ong! Pa... para penjaga kita...ba-banyak yang lumpuh dan tak berdaya, karena... karena ditotok 'hantu"
Pada jalan darahnya! Mereka...mereka...?"
Laporannya dengan gugup dan takut.
"Tutup mulutmu! Mana ada hantu di sini? Ha? Goblog! Bicaralah yang benar!"
Hardik Tung-hai-tiauw.
"Be-be-benar, Hai-ong. Se-semuanya... tidak...tidak ada yang bisa melihat, siapa... siapa yang telah menotok mereka. Tahu-tahu mereka menjadi lemas dan tak sadarkan diri. A-apalagi kalau bukan han-hantu...?"
Penjaga itu semakin gemetar ketakutan.
"Goblog! Tolol! Tidak ada di sini! Tahu? Dia juga seorang manusia biasa! Cuma kepandaiannya yang sangat tinggi! Huh! Hei Nung-jin...Kiat Su! Cari orang yang berani bermain-main dengan kita itu sampai ketemu! Ringkus dia dan bawa kesini!"
Di dalam kemarahannya itu Tung-hai-tiauw memberi perintah kepada Tung-hai Nung-jin dan puteranya untuk mencari penyelundup yang mengganggu para penjaganya itu.
"Baik, Hai-ong!"
"Baik, ayah!"
Kedua orang itu lalu melesat keluar.
Gerakan mereka gesit luar biasa, terutama putera Tung-hai-tiauw yang bernama Tiauw Kiat Su itu!
Dan diam-diam Bhong Kim Cu dan Leng Siauw tergetar juga hatinya.
Tiba-tiba Tiauw Li Ing maju ke depan pula.
"Ayah, bolehkah aku ikut keluar mencari penyelundup itu?"
Katanya kepada Tung-hai-tiauw.
"Jangan! Kau di sini membantu ayah!"
Sementara itu Liu Yang Kun yang bersembunyi di atas genting menjadi kaget dan bingung juga me lihat perubahan suasana yang amat mendadak itu.
Sebentar lagi tentu ada penjaga atau anak-buah Tung-hai-tiauw yang datang ke tempat itu.
Bahkan seluruh bangunan itu tentu akan diteliti dan diperiksa dengan cermat oleh mereka.
"Gila! Kemana aku harus menyembunyikan diri?"
Pemuda itu mengasah otaknya seraya merayap turun dari atas genting.
Liu Yang Kun urung menurunkan kakinya di atas tanah ketika sesosok bayangan melesat lewat di bawah genting itu.
Malahan bayangan itu kemudian menyusup ke dalam semak-semak pohon bunga yang tumbuh lebat di bawahnya.
"Kurang ajar...!"
Liu Yang Kun memaki di dalam hatinya.
Otomatis pemuda itu tidak berani bergerak.
Meskipun tubuhnya terlindung di dalam kegelapan, namun bila ia bergerak, orang yang bersembunyi di bawahnya itu akan segera tahu.
Sementara itu Berpuluh-puluh obor telah disulut untuk menerangi halaman yang luas tersebut.
Dan anak buah Tung-hai-tiauw pun telah bertebaran pula di mana-mana memenuhi halaman itu.
Beberapa orang yang memiliki ginkang yang lumayan pun telah naik ke atas genting pula untuk memeriksa atap gedung yang amat besar itu.
"Wah, tampaknya aku akan memperoleh kesulitan di tempat ini. Orang lain yang berbuat, aku yang ketangkap. Seperti ma ling lagi! Kurang ajar! Beginilah orang kalau suka iseng dan ingin mencampuri urusan orang lain..."
Liu Yang Kun menggerutu penasaran, menyalahkan dirinya sendiri.
Di dalam pendapa, ternyata pertempuran telah berlangsung dengan hebatnya!
Tung-Hai-tiauw telah memerintahkan anak buahnya untuk menangkap Bhong Kim Cu dan Leng Siauw, sehingga puluhan penjaga yang ada di dalam pendapa tersebut lalu meloncat maju, mengeroyok kedua orang tokoh Aliran Mo-kauw itu.
Sedangkan bajak laut itu sendiri masih menonton di pinggir arena didampingi puterinya.
"Ah! Mengapa ayah membuang-buang waktu dengan membiarkan ikan-ikan teri ini untuk melawan kedua ekor ikan paus itu? Mengapa tidak kita sendiri yang menghadapi mereka? Percuma...!"
Tiauw Li Ing bersungut-sungut menyaksikan anak buahnya yang banyak itu tak mampu menahan amukan kedua orang jago Aliran Mo-kauw itu.
"Biar saja dahulu. Aku ingin melihat ilmu silat mereka."
"Ooo... ayah ingin melihat ciri ciri ilmu silat mereka? Mengapa ayah tidak membiarkan saja aku melawannya? Untuk mendapatkan ikan yang besar, kita juga harus mempergunakan jala yang kuat dan besar. Untuk memancing agar mereka mau mengeluarkan ilmu mereka yang sejati, kita juga harus mampu memberi umpan yang bisa menarik perhatian mereka."
Tung-hai-tiauw menoleh dengan cepat. Dia memandang wajah puterinya lekat-lekat. Air mukanya yang tegang itu tiba-tiba mengendor, lalu tersenyum kagum.
"Katamu memang benar, anakku. Ayah pun tahu akan hal itu. Tapi...apakah engkau mampu melakukannya? Kudengar kepandaianmu melonjak hebat setelah berguru kepada orang lain. Tapi selama ini aku belum pernah menyaksikannya. Berbeda dengan kakakmu. Aku pernah menyaksikannya, bahkan telah mencobanya malah."
Tiauw Li Ing membelalakkan matanya yang lebar dan indah itu.
"Ayah pernah mencobanya sendiri? Bagaimana kesudahannya?"
Tung-hai-tiauw tertawa bangga dan puas.
"Aku benar-benar puas melihat kepandaiannya. Kini ayah takkan merasa khawatir akan masa depan Hai-ong-hu. Ayah telah memiliki penggantinya kelak."
"Ah! Ayah belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana kesudahannya?"
Tung-hai-tiauw tersenyum. Ia tidak segera menjawab pertanyaan puterinya itu. Sebaliknya ia malah bertanya kembali.
"Kau sendiri bagaimana? Pernahkah kau mencoba kepandaian kakakmu? Kira-kira bagaimana kepandaianmu sekarang bila dibandingkan dengan dia?"
"Aaah... ayah!"
Tiauw Li Ing cemberut manja.
"Aku memang belum bisa mengalahkan Kiat koko. Tapi diapun tak mudah menundukkan aku pula. Kepandaiannya cuma berada sedikit di atasku. Asal dia tak menggunakan... senjata pamungkasnya."
"Senjata pamungkas?"
Tung-hai-tiauw tertegun heran.
"Apakah itu?"
"Pek-lek-tan (Peluru Petir)! Senjata rahasia sebesar telur penyu yang memiliki daya ledak seperti petir!"
"Ohh...?"
Tung-hai-tiauw bergumam dengan kening berkerut.
"Dia belum menceritakannya kepadaku."
"Kata Kiat Su koko, pek-lek-tan itu adalah pemberian suhunya. Dia hanya diberi tiga buah saja, sehingga ia sangat berhati-hati dan tak mau sembarangan mempergunakannya."
"Oooh...?"
Sekali lagi Tung-hai-tiauw berdesah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah, mengapa ayah cuma... ah-oh-ah-oh saja? Mengapa tidak lekas-lekas menjawab pertanyaan tadi? Bagaimana kesudahan dari cobaan ayah terhadap ilmu Kiat Su koko itu?"
"Ah...?"
Tung-hai-tiauw menarik napas panjang, lalu tersenyum.
"Sama seperti kau pula. Persis. Aku tidak bisa mengalahkan kakakmu. Tapi kakakmu pun juga sulit untuk menundukkan aku. Cuma selama ini aku memang tidak tahu kalau kakakmu memiliki pek-lek-tan itu..."
"Nah! Kalau begitu ayah bisa menilai sekarang, bagaimana kepandaianku kini. Paling tidak adalah setingkat dengan kepandaian ayah sendiri. Bagaimana...? Apakah ayah masih menyangsikan kemampuanku untuk melawan kedua orang Aliran Mo-kauw itu?"
Akhirnya Tiauw Li Ing mendesak ayahnya. Masih ada juga keraguan di hati Tung-hai-tiauw. Tapi akhirnya raja bajak laut itu mengangguk.
"Baiklah! Kau boleh maju menghadapi mereka. Tapi... Berhati-hatilah! Mereka berdua bukan tokoh sembarangan. Coba kau lihat...! Kemampuan mereka benar-benar menggiriskan!"
Tung-hai-tiauw menunjuk ke arah arena.
Dan memang benar apa yang dikatakannya.
puluhan anggota bajak laut yang ada di dalam pendapa itu benar-benar tak berdaya menghadapi tokoh Aliran Mo-kauw tersebut.
Korban telah berserakan.
Beberapa orang thouw-bak (pemimpin regu atau kelompok) yang juga memiliki kepandaian tinggipun telah banyak menjadi korban pula.
Malah sesaat kemudian pengepungan mereka sudah mulai kendor.
Para anggota bajak laut yang mengeroyok itu mulai jeri dan ketakutan.
Mereka mulai menjauh dan mundur-mundur.
"Kalian mundurlah!"
Tiba-tiba Tiauw Li Ing meloncat maju sambil berteriak garang.
"Biarlah aku sendiri yang melawan mereka!"
Tubuh Tiauw Li Ing yang kecil langsing itu melenting tinggi, lalu berjungkir balik di udara, untuk kemudian mendarat di depan Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang sedang berusaha menerobos keluar.
Gadis itu berdiri tegak di ambang pintu.
Matanya yang bulat jeli itu menatap dingin ke arah lawannya.
Sementara di masing-masing telapak tangannya telah tergenggam sepasang kipas besi, berukuran besar dan kecil.
Dengan hati lega kawanan bajak laut yang mengeroyok Bhong Kim Cu dan Leng Siauw itu mundur.
Mereka membiarkan lawan yang sangat lihai itu berhadapan dengan puteri Hai-ong mereka.
Beberapa orang di antara mereka malah meletakkan senjata mereka, dan menolong kawan-kawan mereka yang terluka.
Dan otomatis Bhong Kim Cu dan Leng Siauw juga menghentikan perlawanan mereka.
Keduanya memandang Tiauw Li Ing dan Tung-hai-tiauw berganti-ganti.
Mereka menjadi curiga, mengapa raja bajak-laut yang lihai dan kejam itu membiarkan gadis muda itu menghadapi mereka.
"Tung-hai-tiauw! Sekali lagi kami berdua meminta kepadamu. Lepaskanlah kami, agar kami bisa memberi laporan ketua kami. Dan urusan di antara kita ini bisa diselesaikan dengan baik."
Bhong Kim Cu berseru. Tung-hai-tiauw tertawa menghina.
"Tidak bisa! Kalian berdua tetap akan kami tangkap. Hal ini sudah menjadi keputusanku. Sejak semula aku sudah tidak percaya kalau urusan ini bisa diselesa ikan dengan musyawarah. Apapun yang terjadi, pihak kalian tentu akan mempertahankan baju mustika itu. Sehingga kalau pihak kami menyerbu dan meratakan gedung perkumpulan kalianpun kalian tentu takkan mau menyerahkan pusaka itu. Maka kucari jalan lain untuk mendapatkan benda itu, yaitu menangkap dan menculik anggota perkumpulan kalian sebanyak-banyaknya. Terutama tokoh-tokohnya. Setelah itu baru kami akan berbicara dengan Pek-i Liong-ong, ketua kalian. Biarlah nanti ketua kalian itu memilih, kehilangan seluruh jago-jagonya atau menyerahkan baju mustika itu kepada kami. Hahahahaha...!"
"Penjahat licik! Kalau begitu lakukanlah niatmu itu kalau bisa! Tangkaplah kami!"
Bhong Kim Cu berseru marah.
"Benar! Majulah! Kami siap me layanimu!"
Leng Siauw menggeram pula.
"Ee-ee... jangan tergesa-gesa menantang ayahku! Hadapilah aku dulu, baru kemudian ayahku!"
Tiba-tiba Tiauw Li Ing menyela. Bhong Kim Cu mengerutkan dahinya. Dengan nada kesal ia berkata kepada Tung-hai-tiauw.
"Tung-hai-tiauw! Majulah! Kau jangan menghina kami. Kami toh bukan anak kemarin sore yang baru terjun di dunia persilatan. Kami berdua adalah kakek-kakek yang sedikit banyak telah punya nama juga di kalangan persilatan. Mengapa kau membiarkan anakmu, yang pantas menjadi cucu kami itu, maju menghadapi kami? Apakah engkau memang sengaja hendak mempermalukan kami?"
"Hua-ha-hahaha...!"
Raja Bajak Laut itu tertawa lepas.
"Aku tidak peduli kau tersinggung atau tidak. Aku hanya ingin membuktikan kepadamu bahwa namamu yang tersohor itu bukan merupakan jaminan di tempatku. Kau boleh membuktikannya sekarang. Melawan puteriku pun kalian belum tentu menang. Apalagi melawan aku, hua-ha-hahaha..."
Sambil tertawa panjang, Tung-hai-tiauw melangkah mundur dan duduk di atas kursi.
Sedikitpun raja bajak laut itu tidak memandang sebelah mata kepada lawannya.
Bukan main marahnya Bhong Kim Cu dan Leng Siauw.
Mereka benar-benar merasa terhina.
"Bhong suheng, biarlah kuhadapi bajak laut sombong itu! Tolong, kau awasi saja gadis cilik itu!"
Leng Siauw berbisik.
Kemudian tanpa menunggu jawaban suhengnya lagi, tokoh ketiga dari Aliran Mo-kauw itu me lompat ke depan.
Tubuhnya melesat tinggi di udara, kemudian menukik ke depan bagaikan burung walet menyambar mangsanya.
Gerakannya cepat bukan main.
Begitu cepatnya sehingga tubuhnya seperti berubah menjadi bayang-bayang hitam yang meluncur dengan cepatnya.
Sungguh suatu pertunjukan ginkang yang hebat sekali.
Namun bersamaan dengan waktu itu pula, tiba-tiba Tiauw Li Ing mengebutkan dua buah kipasnya.
Terdengar suara berdesing ketika dari dalam kipas-kipas tersebut melesat belasan batang paku panjang.
Bhong Kim Cu yang berada di depan gadis itu terkejut.
Namun terlambat, belasan batang paku itu telah terlanjur melewatinya.
Semuanya melesat bagai kilat cepatnya, seakan-akan saling dahulu-mendahului, untuk mengejar tubuh Leng Siauw.
"Leng Sute, awas...!"
Bhong Kim Cu memekik.
Siing!
Siing!
Wuut...!
Thingg!
Tiiing!
Leng Siauw berjumpalitan di udara.
Lengan bajunya yang besar dan lebar itu berputar dengan cepat melindungi badannya.
Dan belasan paku itu pun lantas berjatuhan ke bawah tersapu oleh lengan bajunya.
Tak satu pun bisa mengenai kulit-dagingnya.
Tapi ketika tokoh Aliran Mo-kauw itu hendak mendaratkan kakinya di atas lantai, mendadak paku-paku yang jatuh itu melenting kembali begitu menyentuh lantai.
Belasan batang paku itu menyerang kaki Leng Siauw, seperti sepasukan ulat yang melejit-lejit, untuk menggapai dan menggigit kakinya.
"Auuuh...?"
Tokoh Aliran Mo-kauw itu menjerit kecil ketika sebuah dari paku itu mampu menembus sepatunya dan melukai ibu-jari kakinya.
Untunglah paku-paku yang lain dapat ia tepiskan dengan kibasan sepatunya.
Sambil terpincang-pincang Leng Siauw memandang Tiauw Li Ing.
Tokoh Aliran Mo-kauw yang memiliki nama besar di dunia kang-ouw itu hampir tak percaya kalau gadis muda yang belum dikenalnya itu mampu menggagalkan niatnya untuk menyerang Tung-hai-tiauw, Bahkan dapat melukai dirinya pula.
Pandangan Leng Siauw mulai berubah terhadap gadis itu.
"Bukan main! Nona, ilmumu melempar senjata rahasia benar-benar hebat sekali! Hmm... siapakah gurumu?"
Tokoh Aliran Mo-kauw itu berdesis. Sementara itu Bhong Kim Cu menjadi marah sekali menyaksikan Sutenya terluka. la juga tak menyangka kalau puteri Tung-hai-tiauw itu memiliki ilmu sedemikian hebatnya.
"Bocah licik! Pengecut! Mengapa kau menyerang lawan dari belakang?"
Geramnya. Namun sambil tertawa cekikikan Tiauw Li Ing menjawab.
"Hihihihi...! Sudah kukatakan tadi, kalian hadapi dulu aku... baru kemudian ayah! Mengapa kalian tak mau mendengarkannya juga? Huh...! Setelah kini menerima akibatnya, kalian lantas mencak-mencak. Bilang aku pengecut, licik, menyerang lawan dari belakang...! Huh!"
"Baik, kau bersiaplah! Tampaknya kau memang patut diberi pelajaran supaya sedikit berkurang kecongkakanmu."
Bhong Kim Cu membentak.
"Rewel! Huh! Kaulah yang harus berhati-hati! Karena akulah yang akan memberi pelajaran pahit kepadamu!"
Tiauw Li Ing berteriak tidak kalah garangnya.
"Kurang ajar! Lihat serangan..!"
Akhirnya Bhong Kim Cu tak kuasa menahan kemarahannya.
Dengan jurus Burung-Hong-merentangkan-Sayap Bhong Kim Cu menubruk Tiauw Li Ing.
Sepasang lengan bajunya yang panjang dan amat longgar itu menampar dari kanan dan kiri, seolah-olah mau menjaring atau mengurung Tiauw Li Ing di tengah-tengah.
Sementara gelombang udara hangat terasa menyertai serangan itu.
Tiauw Li Ing terperanjat.
Hembusan udara hangat itu terasa menggencet tubuhnya ke bawah.
Semakin lama semakin kuat, sehingga gadis itu merasa seperti ada beban berat yang hendak menindihnya ke atas lantai.
Untunglah di dalam kekagetannya Tiauw Li Ing tidak cuma terpaku diam menantikan datangnya serangan tersebut.
Dengan ilmu silatnya yang tinggi gadis itu cepat bereaksi.
Sebelum lengan baju yang mengandung tenaga mukjijat itu benar-benar mengurung dan menindihnya ia buru-buru membungkukkan badan serendah-rendahnya.
Kemudian sambil me lemparkan telapak tangannya ke lantai beberapa kali, ia menggeliat ke samping tiga atau empat kali.
Dengan demikian ia bisa meloloskan diri dari kurungan lawannya.
Kini ganti Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang terkejut.
Sebagai tokoh yang memiliki banyak pengalaman mereka segera 'melihat"
Sesuatu yang aneh di dalam ilmu silat lawannya.
Mereka seperti mengenal gaya dari ilmu silat tersebut.
Yaitu gaya dari sebuah ilmu yang mendasarkan ilmunya pada dua inti sekaligus.
Inti Im dan Inti Yang (Positif dan Negatif).
Namun mereka juga merasa ragu-ragu pula, karena hanya Aliran Im-Yang kauw lah yang memiliki gaya seperti itu.
Masakan anak bajak laut yang kejam itu menjadi anak murid Aliran Im-Yang-Kauw?
"Oouugh!"
Tiba-tiba Leng Siauw meringis kesakitan sambil memegang kakinya yang tertusuk paku tadi.
Darah sudah berhenti menetes dari luka itu.
Tapi ketika Leng Siauw memeriksanya sekali lagi tiba-tiba matanya melotot.
Ibu-jari kakinya itu kini telah berubah menjadi hitam seluruhnya.
Dan tampaknya malah akan merembet ke atas.
Leng Siauw cepat mengeluarkan pisau kecilnya.
Sekali tabas, ibu jari itu dipotongnya.
Darah merah mengucur seperti pancuran.
Namun dengan cepat pula Leng Siauw menghentikannya.
Ujung jari telunjuknya menotok beberapa jalan darah di sekitar luka tersebut.
"Awas, suheng! Anak itu ternyata suka bermain-main dengan racun!"
Leng Siauw memberi peringatan kepada suhengnya.
"Keji sekali!"
Bhong Kim Cu mengumpat. Tiauw Li Ing tertawa cekikikan lagi. Sambil menimang-nimang kedua buah kipasnya gadis itu mengejek.
"Apakah kalian berdua takut? Kalau takut...hi-hi, lekaslah menyerah! Aku takkan membunuhmu."
"Huah-haha-haha...! Bagus! Bagus!"
Tung-hai-tiauw tertawa puas pula menyaksikan kehebatan puterinya.
"Hmmh, jangan cepat merasa puas! Kita belum benar-benar bertarung tadi! Kini kau betul-betul harus waspada! Aku tidak akan main-ma in lagi."
Bhong Kim Cu menggeram.
Tokoh kedua dari Aliran Mo-kauw itu lalu merangkapkan kedua buah telapak tangannya di depan dada.
Setelah tenaga saktinya terkumpul, kaki kanannya lalu melangkah ke depan sambil mendorongkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah.
Masing-masing tertuju ke arah kepala dan pusar Tiauw Li Ing.
Dan udara hangat pun terasa menyambar pula ke depan.
Tapi Tiauw Li Ing juga tidak mau kalah gertak.
Sama sekali ia tidak mau mengelak dari serangan yang penuh dengan tenaga-sakti itu.
Kedua buah kipas besi yang ada di tangannya itu segera direntangkannya ke atas dan ke bawah untuk menyongsong pukulan lawannya.
Dan kedua buah kipas itu juga tampak bergetar pula, suatu tanda bahwa gerakannya juga disokong oleh sebuah tenaga raksasa.
Sekali lagi gerakan gadis itu sangat mengagetkan lawannya, karena seperti tadi pula, gerakan tersebut juga mencerminkan sebuah ilmu yang berintikan Im dan Yang!
Akibatnya, untuk sesaat Bhong Kim Cu menjadi bimbang.
Di kebimbangan ini ternyata malah menyelamatkan nyawanya.
Sebab pada saat-saat terakhir, tokoh kedua dalam Aliran Mo kauw itu cepat menarik kembali serangannya, dan kemudian menggantinya dengan serangan yang berbeda.
Dan bersamaan dengan itu pula, tiba-tiba kedua buah kipas itu menghamburkan puluhan jarum halus ke arahnya.
Untuk yang kedua kalinya Bhong Kim Cu menarik kembali serangannya.
Bergegas dia membanting tubuhnya ke lantai, kemudian menggelundung pergi dengan muka merah.
Hampir saja ia termakan oleh jarum-jarum halus yang berhamburan seperti hujan itu.
Coba pada saat terakhir tadi ia tak menarik serangannya, niscaya kedua lengannya telah penuh dengan jarum-jarum beracun!
Demikianlah, untuk selanjutnya Bhong Kim Cu tidak berani memandang enteng gadis itu lagi.
Ternyata kepandaian puteri Tung-hai-tiauw itu benar-benar di luar dugaannya.
Oleh karena itu pada gebrakan-gebrakan selanjutnya ia sungguh-sungguh mengerahkan semua kemampuannya.
Dan ternyata gadis itu dapat melayaninya dengan baik.
Sementara itu di luar gedung telah terjadi pertempuran yang tidak kalah serunya.
Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su yang memimpin pencarian terhadap orang yang berani mengganggu kawan-kawan mereka itu, ternyata tidak segera dapat menemukannya.
Halaman yang luas itu telah mereka periksa dengan teliti, namun orang itu tetap belum mereka ketemukan juga.
Akibatnya Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su menjadi marah.
Kedua tokoh bajak laut itu segera memanggil para touw-bak, dan memerintahkan mereka untuk segera memeriksa kembali halaman itu.
"Bongkar saja semua tempat yang sekiranya dapat dipakai untuk bersembunyi Si Penyelundup itu!"
Tiauw Kiat Su yang kejam dan berangasan itu berteriak.
Tapi dengan cepat Tung-hai Nung jin melunakkan perintah itu.
Orang tua yang memiliki banyak pengalaman itu tidak ingin suasana menjadi bertambah ribut dan kalut, sehingga justru memberi banyak peluang bagi buruan itu untuk meloloskan diri.
"Cobalah kalian periksa saja sekali lagi yang lebih teliti! Jangan sampai ada tempat sejengkal pun yang terlampaui!"
Katanya tegas dan berwibawa.
"Baik!"
Para thouw-bak itu mengiyakan, kemudian membawa pasukan masing masing untuk melaksanakan perintah itu.
"Kiat Su, kita pun harus membagi tugas. Kita berkeliling mengawasi mereka. Kau ke utara, aku ke selatan. Kita bertemu di tembok sebelah timur nanti. Bagaimana?"
Setelah semuanya berpencar pergi, Tung-hai Nung-jin berkata kepada Tiauw Kiat Su. Tiauw Kiat Su menghela napas panjang.
"Baik, Paman..."
Desahnya.
Demikianlah, halaman gedung yang luas itu sekali lagi diperiksa oleh kawanan bajak laut itu.
Kini mereka benar-benar memeriksa dengan teliti setiap jengkal tanah yang mereka injak.
Mereka meneliti sedemikian seksamanya sehingga tak mungkin rasanya buruan itu bisa meloloskan diri.
Bahkan beberapa anggota bajak laut yang mempunyai ginkang agak lumayan pun telah naik ke atas genting pula.
Mereka memeriksa dengan cermat semua tempat yang mereka curigai.
"Gila! Apa yang mesti kulakukan? Bangsat-bangsat itu tentu akan sampai ditempat ini pula nanti."
Liu Yang Kun mengumpat umpat ketika orang-orang itu mulai mendekati persembunyiannya.
Pemuda itu lalu melirik ke bawah, ke tempat dimana bayangan yang dilihatnya tadi bersembunyi.
Ternyata orang yang berlindung di semak-semak itu juga berada dalam bahaya pula.
Sekelompok bajak laut telah mendekati tempat itu.
Sungguh mengherankan!
Liu Yang Kun yang sedang berada di dalam bahaya itu justru menjadi tegang menyaksikan pemandangan di bawahnya.
Sama sekali pemuda itu telah lupa akan keadaannya sendiri.
Perhatiannya justru tercurah kepada orang yang bersembunyi di dalam semak-semak itu.
"Sebentar lagi orang itu tentu keluar. Hmm... akan dapat kulihat nanti, siapa sebenarnya dia?"
Bisiknya dengan hati tegang.
"Heeei... lihat! Dia berada di sini!"
Tiba-tiba salah seorang dari kawanan bajak laut itu berteriak begitu menyibakkan semak tersebut.
Dan teriakan itu segera disambut dengan gegap-gempita oleh yang lain, sehingga sebentar saja semuanya berlarian ke tempat itu.
Mereka berteriak dan menjerit-jerit dengan ributnya.
"Awaaaaaas...! Jangan biarkan lolos!"
"Bunuh dia!"
"Mana...? Di manakah dia?"
Namun beberapa saat kemudian mereka menjadi heran dan bingung! Demikian pula halnya dengan Liu Yang Kun yang menonton dari atas genting.
"Eh...? Mengapa orang itu tak kunjung keluar juga dari persembunyiannya? Apakah yang terjadi dengan dia?"
Pemuda itu terheran-heran.
"Hei... cepat! Dimanakah orang itu? Mengapa tidak lekas-lekas ditangkap?"
Kawanan bajak laut itu berteriak-teriak. Mereka tidak mengerti, terutama yang berdesakan di belakang kepungan, mengapa kawan-kawan mereka yang berada di depan tidak lekas-lekas menangkap buruan itu.
"Ya! Mengapa cuma diam saja? Bunuh orang itu!"
Yang lain ikut berteriak.
"Bunuh..."
"Tangkap...!"
Dan mereka pun lantas berteriak-teriak dengan ributnya. Mereka mendesak maju dengan paksa. Namun yang berada di depan tiba-tiba berseru.
"Tahaaan...! Dia... Dia bukan buruan kita! Dia... Tang Hun, kawan kita sendiri! Dia pingsan ditotok orang! Pakaiannya dirampas...!"
"Hah?"
Kawanan bajak laut itu terdiam seketika!
Mereka terbelalak dan termangu mangu di tempat masing-masing!
Tapi hanya sesaat saja.
Karena sedetik kemudian mereka telah berteriak dan menjerit jerit kembali.
Namun kini dengan kemarahan yang meluap-luap.
(Lanjut ke
Jilid 20) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 20
"Bangsat itu telah lolos! Keparat!"
"Dia menyamar dengan pakaian Tang Hun!"
"Ayoh, cari dia sebelum pergi dari tempat ini!"
"Setan busuk! Tangkap orang yang mengenakan pakaian Tang Hun!"
"Bunuuuuh...!"
Dan kepungan itupun lantas bubar kembali.
Mereka menyebar untuk mencari buruan mereka yang kini mengenakan pakaian Tang Hun.
Tetapi sekali lagi mereka dikejutkan oleh teriakan dari atas genting.
Kali ini adalah teriakan kawan-kawan mereka yang menemukan persembunyian Liu Yang Kun.
"Awas! Dia bersembunyi di sini!"
"Cepat kemari semua! Dia ada di s ini!"
Kawanan bajak laut yang berada di atas genting itu berteriak-teriak, sehingga kawanan bajak laut yang berada di bawah itu tidak jadi bubaran. Semuanya berlarian kembali ke tempat itu.
"Hei? Kalian mengatakan apa? Buruan kita berada di atas genting?" 'Mana dia...? Tangkap saja!"
"Bunuuuuh...!"
Mereka berteriak dan menjerit-jerit lagi.
Bagi yang mempunyai ginkang lumayan segera ikut naik ke atas genting, sedangkan yang tidak mampu lantas menggerombol berdesakan di bawah.
Mereka mengumpat-umpat sambil mengacung-acungkan senjata mereka.
Di dalam kekecewaannya, karena tidak jadi bisa melihat orang yang bersembunyi di dalam semak itu, Liu Yang Kun sampai lupa akan keadaan dirinya sendiri.
Sehingga ketika kawanan bajak laut itu menemukannya, ia sudah tidak bisa lari bersembunyi lagi.
"Kurang ajar! Kini aku lah yang menjadi kambing hitamnya! Huh...!"
Geramnya mendongkol.
"Menyerahlah! Jangan bertindak bodoh. Lihatlah di bawah itu! Engkau telah dikepung."
Kawanan bajak laut yang berada di atas genting itu membentak, ketika menyaksikan Liu Yang Kun bangkit untuk melawan. Tapi dengan suara kaku pemuda itu menjawab.
"Persetan... Aku tidak takut! Kerahkanlah semua kawan kawanmu! Tangkaplah aku kalau kalian bisa!"
"Bangsat busuk! Sombong benar kau! Terimalah pedangku ini...!"
Kawanan bajak laut yang berada di atas genting itu berseru marah, kemudian berloncatan menyerang Liu Yang Kun.
"Bunuh orang sombong ini!"
"Cincang tubuhnya..!"
Yang lain pun segera berteriak-teriak pula.
Sekejap kemudian tempat itu telah menjadi ajang pertempuran yang kasar dan tak beraturan.
Genting-genting yang mereka injak pun segera berpecahan dan melorot turun pula.
Banyak yang terperosok kakinya dan jatuh tunggang langgang ke bawah, karena ginkangnya yang buruk.
Liu Yang Kun tertawa dingin, dia itu sama sekali belum menggerakkan tangannya.
Dia hanya melangkah dan meloncat kesana-kemari untuk mengelakkan serangan lawannya.
Mereka terlalu empuk baginya.
Liu Yang Kun baru terpancing untuk menggerakkan lengannya ketika beberapa orang thouw-bak mulai datangi tempat itu.
Dengan kepandaiannya yang tinggi pemuda itu berloncatan, menghindar dan menangkis serbuan para pengepungnya.
Namun karena para thouw-bak itu rata-rata juga memiliki kepandaian tinggi, maka serangan mereka semakin lama semakin merepotkan pula.
Seringkali karena tak sempat untuk mengelak lagi, Liu Yang Kun terpaksa membiarkan punggung, dada atau perutnya yang terlindung oleh kulit ular Ceng-liong-ong itu dihantam atau ditusuk oleh senjata lawannya.
Akibatnya para thouw-bak itu menjadi jerih, karena senjata mereka terpental dan tak bisa melukai kulit pemuda itu.
"Awas... dia kebal!"
"Ya... dia tak mempan senjata! Cepat laporkan kepada Hai-ong...!"
Mereka berseru gusar.
"Tak usah! Aku sudah ada di sini! Tak perlu melapor kepada ayah! Semuanya minggir...!"
Tiba-tiba terdengar suara Tiauw Kiat Su membentak.
"Benar! Semuanya minggir! Biarlah kami yang menghadapi bangsat itu!"
Terdengar pula suara Tung-hai Nung-jin. Para thouw-bak itu mundur ke belakang, dan membiarkan Tung hai Nung-jin dan tiauw Kiat Su menghadapi lawan mereka.
"Cuh!"
Tiauw Kiat Su meludah, kemudian melangkah maju bersama sama Tunghai Nung-jin.
Sikapnya benar-benar amat memandang rendah kepada Liu Yang Kun.
Namun ketika mereka sudah berhadapan muka, tiba-tiba pemuda itu terbelalak kaget.
Begitu pula halnya dengan Tung-hai Nung-jin.
"Kau...?"
Desahnya pendek.
"Kau...?"
Tung-hai Nung-jin tersentak hingga terbatuk-batuk. Liu Yang Kun tersenyum dingin, lalu meludah pula di depan lawannya.
"Benar! Akulah yang datang. Kalian masih mengenal aku?"
Katanya tenang.
Sama sekali tidak peduli melihat lawan sedemikian banyaknya.
Tiauw Kiat Su terperangah.
Hatinya tersinggung.
Sikap Liu Yang Kun yang seenaknya itu benar-benar membakar jantungnya.
Diam-diam ia membatin.
"Kurang ajar! Ia masih menyangka aku seperti dulu. Hmm... akan kuringkus dia. Akan kubeset kulit mukanya. Akan kucongkel biji matanya. Biar dia tahu siapa aku sekarang. Bangsat!"
Tetapi Tiauw Kiat Su tidak menunjukkan kemarahannya itu dihadapan Lawannya. Sambil menahan kegeramannya dia berkata.
"Huh... Jadi kau tidak mati tertimbun bukit longsor itu? Lalu... dimanakah gadis cantik yang kau bela mati-matian itu?"
Untuk sekejap mata Liu Yang Kun seperti menyala di dalam kegelapan. Bayangan wajah Tui Lan yang sedang hamil tua itu kembali menggoda hatinya.
"Aah...?"
Pemuda itu berdesah panjang sekali.
Suaranya terdengar sedih.
Tiauw Kiat Su menjadi salah tafsir.
Ia mengira kalau Liu Yang Kun telah mulai sadar akan kedudukannya sekarang.
Dan pemuda itu mulai merasa ketakutan melihat lawan yang sedemikian banyaknya.
Sementara itu diam-diam Tung-hai Nung-jin menggamit lengan Tiauw Kiat Su.
"Hati-hati! Kudengar pemuda ini lihai sekali. Kalau tak salah dia lah yang dulu dikejar-kejar adikmu."
Bisiknya perlahan.
"Apa? Dia...?"
Tiauw Kiat Su tersentak kaget.
"Bangsat. Kalau begitu akan kubunuh dia! Dia bukan tandinganku sekarang!"
Sejak Tiauw K iat Su mendengar adiknya tergila-gila kepada manusia yang bernama Chin Yang Kun, bahkan khabarnya adiknya itu sampai mengejar-ngejarnya pula, maka Tiauw Kiat Su merasa malu dan juga sangat benci kepada Chin Yang Kun.
Tapi karena belum pernah melihat wajah Chin Yang Kun, maka Tiauw Kiat Su tidak mengenalnya ketika berjumpa di kota Soh-ciu setahun yang lalu.
"Hmh! Apakah kau yang bernama Chin Yang Kun itu?"
Tanyanya menahan gusar. Liu Yang Kun tersentak kaget dari lamunannya. Dengan wajah kaku ia menatap mata Tiauw Kiat Su.
"Kau sudah mengenal namaku!"
Katanya serak.
"Tentu saja. Aku sudah lama mencarimu. Aku ingin membunuhnya agar kau tidak bisa mengganggu adikku lagi. Oleh karena itu bersiaplah sekarang..!"
Liu Yang Kun mengerutkan dahinya. Namun akhirnya ia tak mau berpikir banyak lagi. Sambil mengepalkan tinjunya ia menggeram.
"Persetan! Majulah...!"
Dan ternyata Tiauw Kiat Su juga tidak mau membuang-buang waktu lagi.
Langsung saja ia mengeluarkan ilmu barunya yang didapatkannya dari Giok-bin Tok-ong.
Ia ingin segera memperlihatkan ilmunya itu kepada Liu Yang Kun agar pemuda yang dibencinya itu tahu bahwa ilmunya sekarang telah jauh melampaui ilmu pemuda itu.
Dan setelah lawannya itu kalah dan menjadi ketakutan nanti, ia akan mempermainkannya dan menyiksanya lebih dulu, sebelum akhirnya ia serahkan kepada Tiauw Li Ing untuk dibunuh.
Dengan demikian semua hati dan dendam keluarganya terhadap pemuda itu telah terlampiaskan.
Begitulah, ketika Tiauw Kiat Su mengerahkan tenaga saktinya, maka di seputar arena itu lalu tercium udara busuk yang menyesakkan napas.
Kawanan bajak laut yang tidak segera mundur menjauhkan diri, atau meloncat turun ke bawah, segera menjadi pening dan mau muntah.
"Semuanya mundur! Jangan dekat-dekat!"
Tung-hai Nung-jin cepat berteriak.
"Hei... ada apa? Apakah yang terjadi?"
Kawanan bajak laut yang berdesakan di bawah genting menjadi ribut dan berteriak-teriak.
Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kawan-kawan mereka di atas genting.
Dan beberapa orang kawan mereka yang turun ke bawah segera memberi tahu apa yang terjadi di atas.
Sehingga kawanan orang kasar itu merasa ngeri tapi sekaligus juga merasa kagum dan bangga terhadap putera Hai-ong mereka.
"Begitukah...? Wah, hebat betul!"
Mereka berseru.
"Kalau begitu sungguh malang benar nasib buruan kita itu. Sebentar lagi dia akan disiksa dan menjadi tontonan yang mengasyikkan buat kita, hahaha..."
"Biar tahu rasa dia! Mentang-mentang memiliki kepandaian tinggi enak saja dia mempermainkan kawan-kawan kita. Dikiranya kita ini tidak memiliki jago pula?"
Salah seorang bajak laut yang tadi ditotok lemas berseru pula dengan gemasnya.
Demikianlah, pertempuran di atas genting itu berlangsung semakin hebat dan seru.
Ilmu yang diturunkan Giok-bin Tok-ong kepada Tiauw K iat Su memang dahsyat sekali.
Ganas dan mengerikan.
Selain hawa pukulannya mengandung racun, gerakan-gerakannya pun amat ganas dan mematikan.
Sungguh sangat cocok dan serasi dengan watak dan ilmu yang pernah diwariskan oleh ayah Tiauw Kiat Su sendiri.
Jadi, sesungguhnyalah bahwa ilmu kepandaian Tiauw Kiat Su sekarang benar-benar hebat sekali.
Tak heran kalau Tung-hai Nung-jin yang lihai itu sampai kalah.
Sayang sekali yang dihadapi pemuda itu sekarang adalah Liu Yang Kun, seorang pemuda yang secara tak terduga juga mempunyai nasib baik dan pengalaman yang menguntungkan dalam ilmu silat.
Maka sungguh tidak mengherankan bila ilmunya yang ganas dan mengerikan itu hampir menjadi tidak berarti berhadapan dengan ilmu Liu Yang Kun yang dahsyat dan aneh luar biasa.
Baru menghadapi ginkang Liu Yang Kun saja Tiauw Kiat Su sudah kewalahan, apalagi menghadapi ilmu-ilmu Yang Kun yang lain.
Meskipun demikian karena ilmu Tiauw Kiat Su juga bukan ilmu sembarangan, maka dalam waktu singkat Liu Yang Kun juga sulit untuk mengatasinya.
Cuma yang sangat mengherankan Tiauw Kiat Su adalah mengapa lawannya seolah-olah kebal terhadap racun yang sebarkannya?
Lima puluh jurus telah berlalu.
Dan selama itu pula hati Tiauw Kiat Su semakin menjadi kecut, gelisah, namun juga...
heran, penasaran dan bingung!
Kesombongan hatinya yang meledak-ledak tadi berangsur-angsur menghilang, dan selanjutnya berganti dengan kecemasan serta keputus-asaan.
"Sungguh gila! Manusia atau setan-kah pemuda ini? Mengapa ilmuku tidak mampu mengatasinya? Apakah aku harus mempergunakan pek-lek-tan untuk menundukkannya...?"
Di dalam keputus-asaannya Tiauw K iat Su mulai berpikir tentang senjata pamungkasnya.
Kesulitan Tiauw Kiat Su itu dapat dilihat dan dirasakan pula oleh Tung-hai Nung jin.
Diam-diam orang tua itu merasa kaget dan heran juga menyaksikan kehebatan ilmu silat Liu Yang Kun.
Padahal beberapa tahun yang lalu dia pernah mengalahkan pemuda itu.
(baca Pendekar Penyebar Maut).
Lalu dari manakah pemuda itu memperoleh kesaktiannya ini?
"Tampaknya aku harus turun tangan untuk membantu Kiat Su..."
Bajak laut tua itu bergumam.
Tangannya mulai menyentuh senjata paculnya yang terkenal itu.
Sementara itu Liu Yang Kun sendiri ternyata belum sepenuhnya mengeluarkan ilmunya.
Pemuda itu baru mengerahkan Bu-eng Hwe-teng dan sebagian saja dari ilmu Bit-bo-ong yang lain.
Itu pun belum ia kerahkan sampai ke puncaknya.
Meskipun demikian ternyata Tiauw Kiat Su yang kini kepandaiannya sudah melampaui ayahnya itu tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapinya.
"Ilmu silat pemuda ini sangat mirip dengan ilmu silat Giok-bin Tok-ong yang memiliki senjata peledak amat dahsyat itu. Hmmh... apakah pemuda ini murid kakek tua pesolek itu? Kalau dia benar-benar murid orang tua itu, ah... aku harus berhati-hati menghadapinya. Siapa tahu dia juga mewarisi senjata peledak itu?"
Liu Yang Kun berkata dalam hatinya.
Demikianlah, meskipun berada diatas angin, namun Liu Yang Kun masih tetap waspada dan berhati-hati.
Pemuda itu juga masih tetap menyisakan tenaganya untuk sewaktu-waktu menghadapi hal-hal yang luar biasa.
Ia hanya mengerahkan separuh dari tenaga sakti Liong-cu i-kangnya yang maha ampuh itu, sementara ilmu silat Kim-coa ih-hoatnya belum ia keluarkan sama sekali.
Liu Yang Kun baru mengeluarkan ilmu silat warisan Keluarga Chin, yang merupakan dasar ilmu kepandaiannya semenjak kecil.
Hanya kadang-kadang saja ia menyelipkan beberapa jurus ilmu silat warisan Bit-bo-ong yang hebat itu.
Namun karena semuanya itu ditunjang oleh ginkangnya yang sempurna serta tenaga dalamnya yang dahsyat, maka sungguh tidak mengherankan bila pengaruhnya benar-benar menjadi hebat tiada terkira.
Walaupun demikian, ternyata masih sulit juga bagi Liu Yang Kun untuk mengalahkan Tiauw Kiat Su, yang kepandaiannya sudah melebihi ayahnya itu.
Maka dengan sangat terpaksa Liu Yang Kun lalu mengeluarkan Pat-hong Sin-ciang secara utuh.
Perlahan-lahan ilmu warisan Bit-bo-ong itu ia mainkan dengan konsentrasi penuh.
Oleh karena pemuda itu telah menguasai ilmu iblis tersebut dengan sempurna, sesempurna penciptanya sendiri, maka akibat dan pengaruhnya pun benar-benar luar biasa hebat dan mengerikan!
Malahan kalau mau diperbandingkan dengan Bit-bo-ong asli, yang hidup pada zaman se ratus tahun yang lalu, kedahsyatan ilmu itu sekarang justru melebihi dalam segala-galanya.
Hal itu disebabkan oleh karena lweekang Yang Kun sekarang jauh lebih tinggi dan lebih sempurna dari pada lweekang mendiang Bit-bo-ong asli dahulu.
Begitulah, tanpa mengetahui sebab-sebabnya, tiba-tiba saja kawanan bajak laut itu merasakan sesuatu yang aneh di sekitar mereka.
Udara tiba-tiba menjadi gelap.
Dan hawa pun mendadak berubah menjadi dingin mencekam.
Hati dan perasaan merekapun tiba-tiba menjadi kecut dan ngeri pula.
Kawanan bajak laut itu masih memegang obor di tangan mereka.
Namun api obor yang menjilat-jilat ke udara itu rasa-rasanya tidak memiliki sinar terang yang bisa menerangi udara di sekitar mereka.
Nyala api itu rasa-rasanya hanya seperti bara api yang memerah tanpa sinar sama sekali.
Dan ketika mereka mencoba mendongak ke atas mereka itu pun lantas menjadi kaget pula.
Bintang yang semula bertaburan di atas langit itu mendadak lenyap.
Yang mereka lihat sekarang cuma kekelaman, seolah-olah di atas mereka telah terbentang sebuah tabir hitam yang hendak mengurung mereka.
"Gila...!"
Mereka mengumpat dengan tubuh gemetar, karena mendadak saja gelombang udara dingin telah mengurung mereka pula.
Perubahan suasana yang tidak wajar itu ternyata dapat dicium dan dirasakan pula oleh K iat Su dan Tung-hai Nung-jin.
Terutama sekali oleh Tiauw Kiat Su, yang sedang bertempur langsung dengan Liu Yang Kun.
Pemuda itu merasa seperti ada getaran aneh di dalam dadanya.
Di dalam hatinya.
Getaran getaran aneh yang membuat perasaannya menjadi kecut dan ngeri tanpa sebab.
Malah beberapa saat kemudian hatinya merasa resah dan takut pula.
Apalagi kalau ia terlalu lama sering menatap mata lawannya.
Di dalam pandangan atau pun perasaan Tiauw Kiat Su, roman muka dan perbawa Liu Yang Kun itu semakin menakutkan serta mengerikan.
Lambat laun ia merasa seperti tidak sedang berhadapan dengan manusia lumrah, tetapi sedang bertempur dengan Raja Iblis atau Raja Kegelapan yang sangat mengerikan hati.
"Aaah... ilmu sihir!"
Pemuda itu berdesah panjang.
Sebagai pemuda berkepandaian tinggi Tiauw Kiat Su cepat menebak bahwa ketidak-wajaran suasana itu disebabkan atau diakibatkan oleh ilmu lawannya.
Oleh karena itu untuk menjaga hal-hal yang tidak ia inginkan, ia sengaja mengelak dan menghindar terus dari benturan tenaga lawan.
Sebaliknya ia berusaha untuk tidak selalu berhadapan langsung dengan lawannya.
Terutama sekali ia harus menghindari tatapan mata lawan yang mengeluarkan getaran-getaran mengerikan itu.
Dan untuk itu ia mengeluarkan senjata andalannya, yaitu sepasang kipas besi yang penuh jebakan dan senjata rahasia.
Tetapi dengan caranya itu Tiauw Kiat Su semakin terjeblos ke dalam kesulitan.
Karena ia mengambil sikap bertahan, maka Liu Yang Kun semakin bebas dan leluasa menentukan serangannya.
Apalagi bagaimana Tiauw Kiat Su mampu mengimbangi kedahsyatan Bu-eng Hwe-teng yang amat luar biasa itu?
Dengan kehebatan dan keanehan senjata kipasnya, memang beberapa kali Tiauw Kiat Su bisa menyelamatkan dirinya.
Tapi setelah Liu Yang Kun juga semakin meningkatkan ilmunya, maka keadaannya pun semakin menjadi parah pula.
Dengan demikian semakin terusik pula hati pemuda itu untuk mempergunakan senjata pamungkasnya.
Pek lek-tan!
Namun sebelum Tiauw Kiat Su mengeluarkan senjata peledaknya itu, tiba-tiba Tung-hai Nung-jin telah terjun ke dalam arena untuk membantunya.
Dengan garangnya orang tua itu mengayunkan pacul-panjangnya ke arah Liu Yang Kun.
Karena orang tua itu sengaja mengerahkan seluruh tenaga-dalamnya, maka pacul itu pun juga menyambar pula dengan dahsyatnya.
Terdengar suara mengaung tajam ketika mata-pacul tersebut membelah udara dingin yang tersebar dari tubuh Liu Yang Kun.
"Siiiiiing! Wuuuuuuut!"
Bagaikan hantu atau siluman, tiba-tiba saja Liu Yang Kun menghilang dari tempatnya. Tahu-tahu pemuda itu telah berpindah tempat, sehingga pacul itu menyambar udara kosong.
"Keparat! Ilmu... ilmu meringankan tubuhnya benar-benar hebat!"
Tung-hai Nung-jin menggeram dengan mulut melongo.
Hampir saja orang tua itu lupa meneruskan serangannya kalau tiba-tiba tidak datang sebatang paku yang menyambar dadanya.
Paku itu meluncur dari dalam kipas Tiauw Kiat Su.
Paku itu gagal menyambar Liu Yang Kun, sehingga meluncur terus ke arah dirinya.
Tapi dengan demikian orang tua itu justru menjadi sadar kembali kalau dirinya sedang membantu kerepotan Tiauw Kiat Su.
Demikianlah, setelah menghindari paku tersebut Tung-hai Nung-jin lantas maju lagi untuk membantu Tiauw Kiat Su.
Mereka berdua bekerja-sama menghadapi Liu Yang Kun.
Mereka berdua saling membelakangi agar mereka tidak terlalu di kocok oleh ginkang Liu Yang Kun yang sangat luar biasa itu.
Dan kerja-sama itu ternyata dapat menahan gempuran lawan untuk sementara waktu.
Tapi cuma untuk sementara waktu saja.
Sebab bagaimanapun juga ilmu warisan Bit-bo-ong itu, yang kemudian ditunjang dengan tenaga-dalam Liu Yang Kun sendiri yang maha dahsyat, benar-benar merupakan sebuah ilmu silat yang tak terukur tingginya.
Sementara itu pertempuran di dalam pendapa pun ternyata telah meningkat menjadi semakin menarik pula.
Tiauw Li Ing yang masih muda belia itu ternyata mampu mengimbangi permainan Bhong Kim Cu yang sangat lihai dan banyak pengalaman itu.
Meskipun Iweekang gadis itu masih berada setingkat di bawah lweekang Bhong Kim Cu, namun permainan kipasnya yang aneh dan penuh muslihat itu ternyata mampu membendung serangan lawannya.
Bahkan ilmu meringankan tubuh Bhong Kim Cu yang tinggi itu sering tersendat-sendat oleh cegatan-cegatan Tiauw Li Ing, yang ternyata memiliki langkah-langkah ajaib dan membingungkan.
Lambat laun Bhong Kim Cu menjadi kewalahan menghadapi permainan kipas Tiauw Li Ing yang diselang-seling dengan taburan senjata rahasia itu.
Beberapa kali tokoh Aliran Mo-kauw itu berada di dalam bahaya.
Taburan senjata rahasia yang dilemparkan secara khusus itu benar-benar sulit dihadapi dan sukar dielakkan.
"Gila! Sungguh memalukan sekali! Apakah aku harus mengaku kalah kepada gadis kecil yang patut menjadi cucuku ini?"
Bhong Kim Cu mengeluh sambil mengeluarkan senjatanya.
Sebatang cambuk panjang bergerigi yang amat jarang sekali ia keluarkan.
Kemudian dengan cambuknya itu Bhong Kim Cu berusaha memperbaiki keadaannya.
Cambuknya yang bergerigi tajam itu menyambarnyambar bagaikan ekor naga yang berkelebatan di udara.
Dengan cambuk itu pula Bhong Kim Cu mencoba menjinakkan langkah-langkah ajaib Tiauw Li Ing yang sangat membingungkan itu.
Namun usahanya itu tetap juga mengalami kesulitan.
Sebab begitu ia mengeluarkan cambuk, gadis itu lalu meningkatkan serangannya pula.
Lontaran-lontaran senjata rahasia yang sulit di tebak arah dan tujuannya itu ternyata juga semakin sering pula dilakukan oleh lawannya.
Alhasil ia tetap saja terdesak di bawah angin.
Bahkan beberapa waktu kemudian jiwanya pun sudah mulai terancam pula.
"Oooh, gila...! Tak kusangka nama yang telah kupupuk selama puluhan tahun itu akan hancur di tempat ini..."
Diam-diam Bhong Kim Cu menyesali nasibnya.
Melihat suhengnya di dalam bahaya, Leng Siauw tidak mau tinggal diam.
Ia juga mengeluarkan senjatanya, kemudian perlahan-lahan ia melangkah mendekati arena.
Tapi sebelum ia turun tangan, tiba-tiba terasa hembusan angin di sampingnya.
"Hahaha-heheh...!"
Tung-hai-tiauw yang semula duduk di kursi itu mendadak telah berdiri didekatnya.
"Kulihat kau juga sudah gatal tangan pula. Tapi tak baik mengganggu pertempuran mereka. Marilah kita membuat arena sendiri, hahahaha!"
Raja bajak laut itu menantang.
"Bagus! Memang inilah yang kuharapkan. Bukankah sudah sejak tadi aku menantangmu?"
Leng Siauw menggeram sambil menyerang pula.
Tung-hai-tiauw cepat berkelit.
Kemudian tangannya mencabut golok emas yang terselip di pinggangnya dan balas menyerang lawannya.
Dan sebentar saja mereka telah terlibat dalam pertempuran yang seru serta menegangkan.
Masing masing mengeluarkan ilmu kepandaian mereka yang tinggi.
Kepandaian Leng Siauw tidak jauh bedanya dengan Bhong Kim Cu.
Mereka sama-sama murid Pek-i Liong-ong.
Dan Ilmu silat mereka banyak bersumber pada ilmu silat warisan mendiang Bu-eng Sin yok-ong, karena sebelum menjadi Mo-cu dari Aliran Mo-kauw, Pek-i Liong-ong yang bernama Ouw-yang Kwan Ek itu adalah murid dari Bu-eng Sin-yok-ong.
Maka tidaklah mengherankan bila kepandaian mereka sangat tinggi.
Namun yang dihadapi Leng Siauw sekarang adalah Tung-hai-tiauw, Si Raja Bajak Laut dari Lautan Timur, yang memiliki kepandaian luar biasa pula.
Apalagi raja bajak laut itu sekarang memegang sebuah golok mustika yang mampu memotong besi dengan mudahnya.
Maka seperti halnya Bhong Kim Cu, Leng Siauw pun akhirnya harus mengakui keunggulan lawannya pula.
Sedikit demi sedikit sambaran cambuknya terdesak dan terkurung oleh ayunan golok lawannya.
Anak buah Tung-hai-tiauw yang berada di dalam ruangan itu bersorak-sorak gembira.
Meskipun tidak bisa mengikuti jalannya pertempuran, namun mereka tahu kalau pemimpin mereka berada di pihak yang menang.
Hanya seorang yang tidak ikut bersorak-sorak seperti yang lain, yaitu seorang bajak Iaut tua-renta berjenggot putih panjang sebatas dada.
Orang tua itu berdiri menyendiri di pojok ruangan.
Pakaian seragamnya tampak serabutan dan kurang cocok untuk ukurannya.
Selain menyendiri bajak laut tua renta itu tampak menghela napas panjang bila menyaksikan Bhong Kim Cu dan Leng Siauw berada dalam kesulitan sedang menghadapi bahaya.
Bahkan sesekali orang itu menyeka keringat dingin yang mengalir di lehernya.
"Aaah...?!"
Sesekali pula mulutnya yang tertutup kumis dan jenggot panjang itu berdesah cemas dan gelisah. Tiba-tiba seorang bajak laut muda datang mendekati orang tua itu.
"Hei? Mengapa kau tidak ikut bergembira melihat keunggulan Hai-ong kita? Apakah kau...kau...eh-oh..? Siapakah kau?"
Serunya terputus. Bajak laut muda itu terbeliak matanya. Dan mata itu hampir tak berkedip mengawasi orang tua renta itu.
"Kau... kau... si-si-siapa? Mengapa k-k-kau berada disini... dan... dan mengenakan seragam ka-kami?"
Desisnya kemudian dengan bibir gemetar.
Orang tua renta itu menarik napas panjang kembali, lalu perlahan-lahan menanggalkan seragamnya yang kebesaran itu.
Dan sebentar kemudian ia telah mengenakan jubahnya sendiri yang berwarna putih bersih.
"Aku adalah Pek-i Liong-ong, ketua Aliran Mo-kauw."
Jawabnya perlahan pula. Tapi nama itu ternyata sangat mengejutkan bajak laut muda itu.
"Kau...kau...?"
Serunya tertahan sambil mundur-mundur.
"Benar. Akulah penyelundup yang kalian cari-cari itu. Aku memang sengaja merampas pakaian seragam dari salah seorang kawan kalian agar dapat lebih leluasa memasuki gedung ini. Dan kini aku sudah tidak membutuhkannya lagi, karena aku harus membantu muridku..."
Orang tua itu berkata lagi dengan tenangnya. Namun bajak laut muda itu segera menjerit dan berteriak begitu sudah mendekati teman-temannya kembali.
"Itu dia penyelundupnya! Itu dia penyelundupnya! Dialah yang merampas pakaian Tang Hun! Tangkaaaap...!"
Kawanan bajak laut yang berada di ruangan itu seketika menjadi gempar.
Semuanya buru-buru berlari ke tempat Pek-i Liong-ong berada.
Bagaikan kawanan pemburu yang menemukan binatang buruannya, mereka mengangkat senjata dan siap menghunjamkannya.
Tapi dengan sangat tenangnya Peki Liong-ong mengibaskan kedua lengan bajunya yang lebar itu ke arah mereka.
Dan hembusan udara yang sangat kuat tiba-tiba telah melemparkan kawanan bajak laut itu ke pinggir.
"Kalian menyingkirlah! Biarlah pemimpinmu saja yang menghadapi aku!"
Ketua Aliran Mo-kauw itu berseru.
Kemunculan Pek-i Liong-ong yang tak terduga itu ternyata juga amat mengejutkan orang-orang yang sedang bertempur.
Tung-hai-tiauw dan puterinya cepat meloncat mundur.
Begitu pula dengan Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang hampir dikalahkan itu.
Semuanya mengawasi kedatangan Pek-i Liong-ong yang tak terduga itu.
"Pek-i Liong ong...!"
Tung-hai-tiauw menyapa kaku.
"Mo-cu...?"
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw membungkuk ragu seakan belum percaya bahwa ketuanya telah benar-benar datang.
Pek-i Liong-ong mengangguk ke arah Tung-hai-tiauw untuk membalas sambutan raja bajak laut itu.
Setelah itu Pek-i Liong-ong menoleh ke arah murid-muridnya.
"Kalian berdua mengasolah! Biarlah aku sendiri yang menyelesaikan masalah ini."
Katanya berwibawa.
"Harap Mo-cu berhati-hati. Puteri Tung-hai-tiauw itu sangat lihai. Terutama senjata rahasia dan langkah-langkah ajaibnya..."
Bhong Kim Cu melaporkan.
"Jangan takut! Aku telah melihatnya juga."
Sementara itu Tung-hai-tiauw juga berbisik kepada puterinya.
"Li Ing, awas! Orang tua ini ditulis pada urutan yang kedelapan di dalam Buku Rahasia itu. Jadi berada dua tingkat di atasku. Kepandaiannya tentu amat luar biasa."
Tiauw Li Ing mencibirkan bibirnya yang mungil.
"Ah? ayah...! Aku tidak takut! Bukankah dia cuma sendirian saja! Masakan dia menang melawan kita berdua?"
"Lalu bagaimana dengan kedua bekas lawan kita tadi? Kepandaian mereka pun sangat tinggi."
"Bukankah kita masih mempunyai paman Tung-hai Nung-jin dan engkoh Kiat Su pula? Sebentar juga mereka akan kembali ke ruangan ini. Hmm... nanti ayah tinggal menonton saja kalau engkoh Kiat Su telah datang. Aku dan engkoh Kiat Su yang... eh! Ayah! Kudengar di atas genting ini ada pertempuran juga. Apa yang terjadi di luar?"
Tiba-tiba Tiauw Li Ing berseru kaget. Tung-hai-tiauw mendongakkan kepalanya. Dan sekejap kemudian Si Raja Bajak Laut itu ganti mengawasi Pek-i Liong-ong.
"Entahlah, aku tak tahu. Hmm"
Mungkinkah bangsat tua dan Mo-kauw ini masih membawa teman yang lain lagi?"
Geramnya.
"Ayah...! Itu seperti suara paman Tung-hai Nung-jin dan Engkoh Kiat Su! Tampaknya mereka...mereka seperti sedang marah-marah. Apakah... apakah...?"
Tiauw Li Ing tidak berani meneruskan kata-katanya. Pek-i Liong-ong melangkah setindak ke depan.
"Tung-hai-tiauw! Di luar memang sedang terjadi pertempuran. Seorang pemuda sakti telah masuk pula ke halaman gedungmu ini, dan anak buahmu telah mencegatnya. Tapi harap engkau ketahui pula bahwa kami tidak mempunyai sangkut-paut dengan pemuda itu. Aku datang hanya sendirian..."
"Bagus! Kalau begitu kita tak usah menghiraukan pertempuran di luar. Kita menyelesaikan urusan kita sendiri. Bagaimana...?"
Tung-hai-tiauw berkata kasar.
"Benar. Kita menyelesaikan urusan kita sendiri."
Pek-i Liong-ong mengiyakan.
"Bagus! Nah, silakan duduk! Penjaga...! Ayoh, atur kembali kursi dan meja ini!"
"Ayah...! Mengapa pakai duduk-duduk segala? Hantam saja. habis perkara!"
Tiauw Li Ing bersungut-sungut. Tung-hai-tiauw tertawa.
"Jangan khawatir! Kita gebuk juga mereka nanti. Tapi siapa tahu mereka mau memberikan pusaka itu secara suka-rela! Haha-hah...??"
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw menggeram, tapi tidak berani membuka mulut di depan ketuanya.
Mereka tetap berdiam diri karena ketua mereka juga berdiam diri.
Tapi keduanya tidak ikut duduk di kursi yang disediakan.
Mereka memilih berdiri di belakang kursi Pek-i Liong-ong sekalian berjaga-jaga keselamatan ketuanya itu.
"Praaaaak! Krosaaak...! Plok! Plok!"
Tiba tiba sebuah genting di atas mereka pecah dan berjatuhan ke bawah karena terinjak sepatu dari orang-orang yang sedang bertempur di atas genting itu.
Hampir saja pecahan genting tersebut mengenai kepala Tiauw Li Ing.
"Kurang ajar!"
Gadis itu memaki, lalu bangkit dari kursinya. Namun dengan cepat Tung-hai-tiauw menahan lengannya.
"Biarkan saja! Kau tetap disini menemani ayah. Kita tak perlu mengurusi orang-orang di luar itu. Bukankah begitu, Liong-ong?"
Pek-i Liong-ong menengadahkan mukanya ke atas sebentar, kemudian mengangguk.
"Kau benar, Hai ong. Nah, silakan kau berbicara...!"
Sekali lagi Tung-hai-tiauw tertawa puas. Sambil mengelus-elus golok pusakanya si Raja Bajak Laut yang ganas itu berkata.
"Hahaha...! Mengapa aku harus mengulangi lagi kata-kataku? Bukankah Liong-ong juga sudah mendengarnya tadi? Bukankah Liong-ong sudah berada di pendapa ini semenjak utusanmu itu datang?"
Ek-i Liong-ong menatap mata lawannya dengan tajam.
"Baiklah, aku tak tahu, apakah kau benar-benar mengetahui kedatanganku atau cuma menduga-duga saja. Yang jelas aku memang telah mendengar seluruh ucapanmu tentang baju mustika Kim-pouw-san itu."
Ketua Aliran Mo-kauw itu berhenti untuk mengambil napas sebentar. Setelah itu ia melanjutkan lagi perkataannya.
"Cuma yang menjadi masalahnya sekarang adalah... hmm...?"
"Apakah masalahnya, hei? Ayoh, lekaslah kau sebutkan,"
Tung-hai-tiauw yang kasar itu mendesak.
"Hmm... betulkah engkau ini pemiliknya yang asli? Apakah buktinya? Siapa tahu kau hanya mengaku-aku saja?"
"Bangsat!"
Tung-hai-tiauw menggebrak meja dengan kerasnya.
Wajahnya yang kasar itu menjadi merah padam.
Matanya melotot buas sehingga Bhong Kim Cu dan Leng Siauw buru-buru berdiri di samping Pek-i Liong-ong.
Mereka bersiap siaga kalau-kalau raja bajak laut itu menjadi kalap dan menyerang ketuanya.
"Bangsat! Kau kira aku cuma mengaku-aku saja, heh? Bagaimana kami sampai tahu kalau pusaka itu berada di tangan kalian, kalau kami cuma mengaku-aku saja? Sudah sejak lama kami mencari-cari dan menyelidiki hilangnya pusaka itu, tahu? Baju pusaka itu semula dipakai oleh puteriku ini lalu dirampas oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek dari perguruan Tai-bong-pai. Nah, bagaimana aku harus membuktikannya kalau Song bun kwi itu telah dibunuh oleh kedua utusanmu itu?"
Pek-i Liong-ong lalu berdiri pula dari kursinya. Walaupun lawannya mengumpat-umpat dan membentak-bentak namun orang tua itu tetap tenang dan tidak menjadi marah.
"Maaf, Hai-ong. Kalau hanya itu alasanmu, terus terang aku tak bisa memberikannya."
"Apa? Apakah kau tak memikirkan nasib orang-orangmu yang ada di dalam penjara kami? Apakah kau tega membiarkan mereka terbunuh hanya karena kau ingin mempertahankan benda itu?"
Tung-hai-tiauw masih mencoba mempengaruhi lawannya. Tiba-tiba Pek-i Liong-ong menarik napas panjang sekali. Perlahan-lahan orang tua itu menoleh ke arah muridnya.
"Bagaimana pendapatmu, Bhong Kim Cu?"
Bisiknya perlahan.
"Mhhmm... memang sangat berat untuk memutuskannya, Mo-cu. Tapi... terserahlah bagi Mo-cu untuk memutus kailnya. Saya selalu siap menerima perintah Mo-cu."
Bhong Kim Cu menjawab.
"Ehmm... lalu menurut engkau bagaimana, Leng Siauw?"
Pek-i Liong-ong ganti menanyakan pendapat Leng Siauw, muridnya yang banyak akal dan pandai.
Murid kedua dari ketua Aliran Mo-kauw itu menatap wajah Tung-hai-tiauw dengan sinar mata geram.
Sambil mengepalkan tinjunya ia menjawab.
"Mereka memang sangat licik, Mo-cu. Tapi apa boleh buat, semuanya telah terjadi. Kita harus bisa mengatasinya dengan kepala dingin."
"Benar. Itulah yang hendak kuketahui darimu. Nah, coba katakan pendapatmu!"
Peki Liong-ong mengangguk-angguk.
"Mo-cu, maafkanlah kalau pendapatku nanti salah."
"Jangan takut! Katakanlah!"
"Begini. Mo-cu. Dalam hal bagaimanapun kukira kepentingan Mo-kauw harus diutamakan. Benda itu kukira tidak begitu penting bila dibandingkan dengan nyawa orang-orang kita yang dipenjara oleh mereka..."
"Sute...?"
Bhong Kim Cu memotong dengan suara kaget.
"Maafkan aku, suheng..."
"Bhong Kim Cu, biarkan Sutemu berbicara!"
Pek-i Liong-ong menegur muridnya. Setelah mengangguk ke arah suhengnya, Leng Siauw meneruskan pendapatnya.
"Mo-cu, agama kita tidak memerlukan baju mustika itu. Agama kita lebih memerlukan orang-orang yang sanggup mendalaminya, menganutnya dan sekaligus juga mengamalkannya. Apalagi baju mustika itu cuma sebuah benda mati, sementara orang-orang kita itu adalah makhluk-makhluk hidup yang perlu dihormati dan dilindungi. Oleh karena itu, kalau kita dipojokkan dalam suatu pilihan, kita lebih baik memilih orang-orang kita dari pada baju mustika itu. Meskipun demikian...hal itu juga tidak berarti kalau kita takut kepada mereka!"
Pek-i Liong-ong mengangguk-angguk memahami ucapan muridnya.
"Jadi maksudmu?"
Orang tua itu bertanya.
"Kita membuat perjanjian dengan mereka. Kita menyerahkan baju mustika itu kepada mereka. Tapi mereka juga harus melepaskan semua orang kita."
"Tapi, mereka akan beranggapan bahwa kita takut kepada mereka!"
Bhong Kim Cu menyela lagi.
"Tidak, suheng. Setelah semua perjanjian itu dilaksanakan dengan baik oleh mereka, baru kita nanti menunjukkan taring kita kepada mereka. Kita tantang mereka, agar supaya mereka tahu bahwa sebenarnya kita tidak takut menghadapi mereka. Kita kalahkan mereka, supaya mereka tahu bahwa kita ini lebih baik dari pada mereka!"
Leng Siauw berbisik semakin lama semakin perlahan. Pek-i-Liong-ong bertepuk tangan gembira.
"Bagus. Aku setuju dengan pendapatmu, Leng Siauw. Biarlah sekarang kurundingkan dengan mereka."
Tung-hai-tiauw yang sudah tidak merasa sabar lagi itu bertepuk tangan pula.
"Hei? Apakah kalian sudah selesai berunding? Hmm, Liong-ong... apakah keputusanmu?"
Pek-i Liong-ong tersenyum, kemudian mengangkat kedua telapak tangannya di dada.
"Baiklah, Hai-ong... aku akan menyerahkan baju Kim pouw-san itu. Tapi dengan syarat."
"Hahaha..., apa syaratmu, heh?"
"Kau juga harus melepaskan semua orang-orangku yang telah kau penjara. Bagaimana...?"
Bukan main senangnya Tung-hai-tiauw.
"Bagus! Bagus! Hahaha... kuterima syaratmu! Nah, dimanakah baju itu! Lekas kau serahkan kepadaku!"
Tapi dengan cepat Pek-i Liong-ong menggoyang-goyangkan telapak tangannya.
"Kita berbareng menyerahkannya. Kau keluarkan dulu orang-orangku. Setelah itu aku juga akan mengeluarkan baju Kim-pouw-san itu. Kemudian kita menukarkannya bersama-sama."
Tung-hai-tiauw terperangah.
"Bangsat! Baiklah, aku akan memenuhi permintaanmu. Tapi... awas kalau kau berbohong, aku akan mencincangmu sampai lumat!"
Pek-i Liong-ong tersenyum.
Sama sekali orang tua itu tidak tersinggung mendengar bentakan-bentakan yang menyakitkan itu.
Dengan tenang ia duduk kembali di kursinya.
Demikianlah, beberapa waktu kemudian pendapa itu menjadi sibuk dengan kawanan bajak laut yang membawa keluar para tawanan mereka.
Lebih kurang dua puluh orang anggota Aliran Mo-kauw yang masih dalam keadaan terikat kedua kaki dan tangannya, mereka dorong dan mereka kumpulkan di ruangan tersebut.
Para tawanan itu tampak amat lelah dan menderita.
Sebagian dari mereka malah tampak sedang menderita sakit atau menderita luka-luka di tubuhnya.
Mereka rata-rata sangat terkejut begitu melihat Mo-cu atau ketua mereka.
"Nah, lihat mereka itu, Suheng! Apakah kita akan tega melihat kesengsaraan orang-orang kita itu? Apa gunanya benda mati itu bila dibandingkan dengan nyawa mereka?"
Leng Siauw berbisik dengan nada geram kepada suhengnya. Bhong Kim Cu menjadi sadar pula.
"Kau benar, Sute."
Desahnya perlahan.
"Nah, Pek-i Liong...! Coba kau lihat orang-orangmu ini! Sudah cocok atau belum? Kalau sudah... hehehe... ayoh, kau keluarkan baju Kim-pouw-san itu di hadapanku!"
Setelah selesai semuanya Tung-hai-tiauw berseru kepada Pek-i Liong-ong.
"Mo-cu...!"
Para tawanan itu berbisik gemetar menyebut ketua mereka.
"Baiklah...?"
Pek-i Liong-ong berseru pula, kemudian membuka jubahnya dan melepaskan baju Kim-pouw-san yang melekat di dadanya.
Tung-hai-tiauw terbelalak gembira.
Si Raja Bajak Laut itu lalu melangkah ke depan seakan sudah tidak sabar lagi melihat mustika yang diimpi-impikannya itu.Tapi dengan tangkas Pek-i Liong-ong meloncat mundur pula.
"Jangan tergesa-gesa Hai-ong!Kau belum memerintahkan anak buahmu untuk melepaskan tali-tali pengikat itu!"
Katanya keras.
"Bangsat...!"
Tung-hai-tiauw menggeram marah.
"Masakan aku mau berbuat demikian bodohnya dengan melepaskan ikatan mereka? Bukankah dengan demikian sama saja aku melepaskan kawanan singa di rumahku, heh? Ayoh, serahkan baju mustika itu, dan aku akan menyerahkan orang-orangmu dalam keadaan masih terikat begitu! Kalian sendirilah yang harus melepaskan ikatan itu! Cepat...!"
Pek-i Liong-ong memandang Leng Siauw sekejap.
"Bagaimanakah pendapatmu, Leng Siauw?"
Bisiknya perlahan. Leng Siauw menghela napas panjang.
"Apa boleh buat... Kita terpaksa menurutinya. Silahkan Mo-cu memberikan benda itu kepadanya. Biarlah teecu dan Bhong suheng yang melepaskan ikatan tali itu."
Katanya perlahan pula.
"Liong-ong! Kau menunggu apalagi? Bukankah aku sudah menyerahkan semua tawananku?"
Tung-hai-tiauw membentak lagi.
"Baiklah, Hai-ong. Tapi... apakah aku benar-benar bisa memegang janjimu tadi...?"
Pek-I Liong-ong masih mencoba untuk mengulur waktu. Sementara itu Bhong Kim Cu dan Leng Siauw bergegas menghampiri para tawanan untuk melepaskan ikatan mereka.
"Persetan! Kau boleh percaya, boleh tidak! Pokoknya aku telah meluluskan permintaanmu untuk melepaskan tawanan-tawanan itu! Habis perkara!"
Terpaksa Pek-i Liong-ong tak bisa menundanya lagi.Seakan-akan dengan berat hati ia menyerahkan baju pusaka itu kepada lawannya.
Sementara hatinya agak sedikit terhibur tatkala dengan sudut matanya melihat sudah ada lima atau enam orang tawanan yang dilepaskan ikatannya.
Di pihak lain Tung-hai-tiauw tampak sangat bergembira sekali.
Baju mustika Kim-pouw-san itu dibolak-balik dan dipandanginya sambil tertawa-tawa.
"Li Ing, lihatlah! Baju Kim-pouw san yang kau hilangkan itu telah kita ketemukan kembali. Hahahaha...!"
"Tapi... bagaimana dengan orang-orang Mo-kauw ini, ayah?"
Tiauw Li Ing tetap cemberut.
"Hahaha... biarkan mereka pergi!"
"Tapi mereka tahu tentang baju mustika kita, ayah."
Tung-hai-tiauw menghentikan tawanya secara tiba-tiba.
"Maksudmu...?"
Serunya tertahan.
"Ayah tentu bisa membayangkan, bagaimana repotnya kita nanti bila khabar tentang Kim-pouw-san ini tersebar di dunia persilatan."
Tung-hai-tiauw terdiam. Matanya yang besar kemerahan itu terbelalak memandang puterinya. Dan perlahan-lahan ia mulai mengerti maksud puterinya itu.
"Lalu...?"
Desahnya perlahan dan hampir tak terdengar. Gadis yang cantik itu menyeringai kejam.
"Habisi saja semuanya!"
Cetusnya dingin.
"Tapi aku telah berjanji kepadanya."
Tung-hai-tiauw berkata ragu.
"Persetan dengan janji itu. Sejak dahulu golongan kita juga tak pernah disebut sebagai kesatria yang selalu memegang janji. Apalagi ayah tadi tak menjanjikan keselamatan kepada mereka. Ayah hanya berjanji untuk menukar pusaka itu dengan para tawanan. Dan janji itu telah ayah penuhi."
Tung-hai-tiauw tertawa bengis.
"Bagus! Bagus! Kau benar, haha...! Kalau begitu... mari kita basmi mereka!"
"Marilah, ayah!"
Demikianlah, setelah mengenakan baju Kim-pouw-san itu di badannya, Tung-hai-tiauw lalu menerjang Pek-i Li ong kembali.
Golok pusakanya yang tajam luar biasa itu menyambarnyambar laksana burung garuda mengejar mangsanya.
Sementara di tempat lain Tiauw Li Ing menyerang Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang sedang sibuk melepaskan tali-tali pengikat anak buahnya.
"Panggil beberapa orang touw-bok kemari untuk membantu aku!"
Sambil menyerbu lawannya gadis cantik itu masih sempat berteriak kepada anak buahnya pula.
"Kurang ajar! Mengapa nona menyerang kami? Bukankah kita telah...?"
"Persetan! Pokoknya kalian semua harus mati! Habis perkara!"
Tiauw Li Ing memotong perkataan Bhong Kim Cu.
"Gila! Kalian memang manusia-manusia kasar yang tak mengenal tata-tertib dan sopan-santun!"
Bhong Kim Cu mengumpat, kemudian melayani serangan gadis cantik itu dengan kemarahan yang meluap-luap.
Sementara itu Pek-i Liong-ong dan Tung-hai-tiauw telah terlibat dalam pertarungan yang sengit pula.
Meskipun di dalam Buku Rahasia itu nama Pek-i Liong-ong ditulis dua tingkat di atas Tung-hai-tiauw, namun karena Tung-hai-tiauw sekarang mempergunakan dua pusaka sekaligus, yaitu baju Kim-pouw-san dan golok emas Toat-beng-to, maka perbedaan tingkat kepandaian tersebut menjadi tidak berarti lagi.
Bahkan di dalam beberapa kesempatan golok pusaka itu justru menjadi sangat berbahaya bagi keselamatan Pek-i Liong-ong.
"Tak kusangka tokoh tersohor semacam ini masih suka menjilat ludah sendiri. Dasar..."
Pek-i Liong-ong mendengus gusar.
"Hahaha...! Jangan berang, Liong-ong! Apakah kau telah lupa siapa aku ini, heh? Aku adalah Raja Perompak Lanun! Apa yang hendak kau harapkan dari orang seperti aku ini? Apalagi aku tadi tak merasa menjanjikan keselamatan bagi kalian semua, hahahah...!"
"Baik! Kalau begitu aku memang tidak mempunyai pilihan lain lagi."
Peki Liong-ong berdesah seraya mengeluarkan cambuk bergeriginya yang berwarna putih.
Dan sementara itu kawanan bajak laut yang berada di luar pendapa tampak berbondong-bondong masuk memenuhi panggilan Tiauw Li lng tadi.
Tiga atau empat orang touw-bak yang memiliki kepandaian tinggi tampak memimpin mereka.
Dan kedatangan mereka segera disambut oleh tokoh-tokoh Aliran Mo-kauw yang telah dilepaskan tali pengikatnya.
Mereka bertempur secara serabutan seperti layaknya dua pasukan musuh di medan laga, sehingga semua perabotan di dalam ruangan itu menjadi porak-poranda.
Bhong Kim Cu yang berhadapan dengan Tiauw Li Ing terpaksa harus mengakui keunggulan gadis itu lagi.
Selain kipasnya yang hebat, gadis itu mahir sekali melontarkan senjata rahasia.
Berkali-kali tokoh Aliran Mo-kauw itu harus berjumpalitan jatuh bangun untuk menyelamatkan dirinya.
Leng Siauw sendiri tak bisa membantu suhengnya, karena dia juga harus menghadapi tiga orang touw-bak sekaligus.
Dan para pengeroyoknya itu ternyata memiliki kepandaian yang hebat-hebat, sehingga untuk sementara waktu dia juga sulit untuk menundukkan mereka.
Sedangkan tokoh-tokoh Aliran Mo-kauw yang sudah dilepaskan tali pengikatnya itu juga harus menghadapi kepungan bajak laut yang memenuhi ruangan tersebut.
Meskipun mereka itu rata-rata juga berkepandaian tinggi, namun karena lawan berjumlah banyak, apalagi banyak di antara mereka yang telah terluka ataupun letih, maka keadaan mereka itu juga sama saja.
Alhasil nasib para tokoh Aliran Mo-kauw yang bertempur di dalam pendapa itu benar-benar seperti telur di ujung tanduk.
Mundur atau maju akan sama saja.
Setiap saat tentu akan hancur di tangan lawan.
Sementara itu di atas genting Liu Yang Kun benar-benar telah menguasai lawannya pula.
Tiauw Kiat Su dan Tung-hai Nung-jin yang sangat lihai itu betul-betul tidak berdaya melawan ilmunya.
Dan kenyataan tersebut sungguh sangat memukul batin Tiauw Kiat Su yang sombong dan merasa tak terkalahkan itu.
Demikianlah, di dalam keputus-asaannya tiada jalan lain bagi Tiauw Kiat Su selain mengeluarkan senjata pamungkasnya.
Sebuah pek-lek-tan segera digenggamnya.
Pemuda itu sudah tidak peduli lagi bila senjata peledaknya nanti akan memusnahkan tempat itu.
Baca Juga: Istana Pulau Es 9
Baca Juga: Si Kumbang Merah Penghisap Kembang 2