Eps 8 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
"Wuuuuut!"
Dalam keadaan terpojok dan tak bisa mengelak lagi, tiba-tiba Tiauw Kiat Su me lemparkan senjata peledaknya.
Setelah itu dengan tergesa-gesa ia menjatuhkan diri di atas genting dan menggelundung ke bawah dengan cepatnya.
"Paman, lariii...!!?"
Teriaknya kepada Tung-hai Nung-jin. Tung-hai Nung-jin terperanjat. Dia yang kebetulan sedang berada jauh dari Liu Yang Kun itu cepat melemparkan dirinya ke bawah genting pula.
"Dhuuuuuuuuuuaaaaaaaarrrr...!"
Udara malam yang dingin itu tiba tiba disentakkan oleh suara ledakan yang maha dahsyat!
Begitu dahsyatnya suara tersebut sehingga gedung yang megah itu bagai digoncang oleh gempa!
Tembok gedung yang kokoh itu tampak merekah di beberapa tempat, sementara genting-gentingnya pun banyak yang melorot berhamburan ke bawah!
Asap debu mengepul tinggi, seolah-olah di tempat itu baru saja terjadi ledakan gunung berapi.
Begitu dahsyatnya letusan itu, sehingga suaranya benar-benar menggoncangkan udara malam di kota kecil itu.
Penduduk di sekitar tempat itu segera berlarian keluar dari rumah mereka.
Tapi serentak mereka tahu bahwa suara letusan itu datang dari rumah luas, yang selama ini mereka anggap angker serta dihuni oleh sekelompok orang-orang aneh, mereka tidak berani datang mendekatinya.
Mereka hanya berdiri bergerombol di kejauhan.
Sementara itu pertempuran seru di dalam pendapa gedung itu menjadi bubar dengan sendirinya.
Semuanya berlarian keluar menyelamatkan diri.
Mereka mengira kalau gedung itu hendak roboh.
Beberapa orang yang telah terluka terpaksa diseret keluar oleh kawannya.
Pek-i Liong-ong, Bhong Kim Cu, Leng Siauw, dan tokoh-tokoh Aliran Mo-kauw yang lain terpaksa menjebol pintu dan jendela agar dapat dengan segera meninggalkan ruangan tersebut.
Tung-hai-tiauw dan puterinya tidak ketinggalan pula.
Kedua orang ayah dan anak itu telah lebih dulu keluar untuk kemudian mencegat lawan-lawan mereka itu di halaman.
Sebab meskipun mereka bingung dan heran atas kejadian yang mendadak itu, mereka tetap tak ingin kehilangan lawan-lawan mereka.
Di lain pihak, walaupun Tiauw Kiat Su dan Tung-hai Nung-jin telah berusaha dengan sekuat tenaganya untuk menghindari daya ledakan tersebut, tetapi mereka berdua tetap saja terhempas ke tanah dengan kuatnya.
Mereka berdua jatuh berguling-guling dengan pakaian yang compang-camping.
Dan secara kebetulan mereka jatuh terhempas di dekat Tung-hai-tiauw dan Tiauw Li Ing berdiri.
"Koko...?"
Tiauw Li Ing menjerit kaget.
"Nung-jin...?"
Tung-hai-tiauw berseru kaget pula. Meskipun macamnya sudah tidak keruan lagi, tapi Tiauw Kiat Su masih juga bisa tersenyum kepada ayah dan adiknya.
"Jangan khawatir, kami tidak apa apa. Ledakan itu aku sendiri yang membuat. Terpaksa kulakukan untuk membunuh penyelundup itu."
Katanya puas dan bangga.
"Penyelundup? Jadi kau benar-benar mempunyai lawan lain selain orang-orang ini?"
Tukas Tung-hai-tiauw seraya menoleh ke arah Pek-i Liong-ong dan kawan-kawannya.
Ternyata Tiauw Kiat Su dan Tung hai Nung-jin pun menjadi kaget pula melihat kehadiran Pek-i Liong-ong di tempat itu.
Apalagi ketika melihat beberapa orang tawanan mereka telah dibebaskan pula.
Tung-hai-tiauw bisa menebak apa yang dipikirkan oleh Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su.
Oleh karena itu ia segera menceritakan dengan singkat apa yang telah terjadi.
Raja Bajak Laut itu juga menerangkan pula maksudnya untuk membasmi tokoh-tokoh Aliran Mo-kauw itu.
"Bagus, ayah. Aku pun telah membunuh penyelundup itu pula. Kuhantam dia dengan peluru peledakku, sehingga hancur-lebur menjadi abu."
Tiauw Kiat Su menyombongkan diri pula. Sambil berkata pemuda itu melirik Tiauw Li Ing, adiknya.
"Kau hantam dia dengan peluru pemberian gurumu itu?"
Gadis cantik itu bertanya keheranan.
"Mengapa? Apakah kepandaiannya sangat tinggi sehingga koko terpaksa mengeluarkan senjata ampuh itu? Siapakah dia?"
Tiba-tiba Tiauw Kiat Su menjadi gugup. Pemuda itu tak mau adiknya tahu bahwa yang datang adalah Liu Yang Kun. Tapi bagaimana ia harus menjawabnya? "Paman...?"
Pemuda itu meminta pertimbangan Tung-hai Nung-jin.
"Entahlah. Kami belum pernah mengenalnya."
Akhirnya orang tua itulah yang menjawab pertanyaan Tiauw Li Ing.
Gadis itu mengerutkan keningnya.
Hatinya merasakan adanya keganjilan pada sikap kakaknya dan Tung-hai Nung-jin, Mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu terhadapnya.
Tapi ketika ia hendak bertanya lagi, tiba-tiba terdengar suara Pek-i Liong-ong kepada ayahnya.
"Tung-hai-tiauw...! Apa maumu sekarang? Kita lanjutkan lagi pertempuran kita?"
"Hahahaha... tentu saja. Tanpa kau ingatkan pun kami akan tetap meneruskannya. Pokoknya kalian semua harus mati. Tak boleh ada yang hidup hahahaha..."
"Hmmh, kalau begitu kita harus menunggu apa lagi? Marilah...!"
Untuk sekejap Tung-hai-tiauw merasa kaget juga melihat ketenangan lawannya.
"Hahaha... kau sungguh bernyali besar! Lihat golokku...!"
Bentaknya.
Penasaran juga hati Tung-hai-tiauw menyaksikan ketenangan lawannya.
Oleh karena itu ia tidak mau membuang-buang waktu lagi.
Begitu menyerang langsung saja ia menggunakan seluruh tenaganya.
Wuuuuut!
Ayunan golok mustika itu menimbulkan hembusan angin yang luar biasa kuatnya.
Begitu kuatnya sehingga pengaruhnya terasa pula oleh orang-orang yang ada di sekitarnya.
Taaaar!
Pek-i Liong-ong meledakkan cambuknya untuk mengurangi perbawa kehebatan lawannya.
Kemudian dengan kelincahan kakinya ketua Aliran Mo-kauw itu melangkah dengan cepat ke samping.
Setelah itu dengan kekuatan penuh pula cambuknya ia sabetkan ke lengan Tung-hai-tiauw yang memegang golok.
"Sinnnnnng...!"
Tung-hai-tiauw buru-buru menghindari pula.
Lengannya ia tekuk ke bawah, kemudian ia putar ke depan menuju ke dada lawan yang terbuka.
Namun Pek-i Liong-ong dengan gesit meloncat ke belakang, sehingga ujung golok itu juga menemui tempat kosong.
Demikianlah, kedua tokoh tingkat tinggi itu lalu terlibat kembali dalam pertarungan yang sengit.
Masing-masing mengerahkan segala kemampuannya.
Dan karena masing-masing juga memiliki kelebihan dan kekurangannya, maka pertempuran merekapun menjadi amat sulit untuk segera diketahui hasilnya.
Sementara itu Leng Siauw dan Bhong Kim Cu juga tidak mau tinggal diam pula.
Melihat ketuanya telah turun tangan, mereka lantas maju ke depan pula.
Dan langkah mereka segera dicegat oleh Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su.
Demikian pula halnya dengan para anggota Aliran Mo-kauw yeng baru saja dibebaskan dari penjara itu.
Mereka segera menceburkan diri ke dalam arena pula.
Mereka langsung berhadapan dengan para touw-bak dan anak-buah bajak laut yang luar biasa banyaknya itu.
Sehingga untuk yang kedua-kalinya tempat tersebut menjadi ajang pertempuran seru dan kacau-balau.
Tapi seperti yang telah terjadi tadi, pihak Mo-kauw lah yang kemudian menjadi repot dan terdesak oleh kerubutan lawan mereka.
Jumlah mereka memang tidak banyak, apalagi kondisi badan mereka juga kurang baik selama di dalam penjara.
Meskipun demikian mereka tidak mau menyerah begitu saja.
Mereka tetap saja bertarung dengan segala kemampuan mereka.
Di lain pihak, dengan masuknya Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su didalam arena, maka perimbangan kekuatan pun menjadi semakin berat sebelah.
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw yang harus menghadapi kedua tokoh bajak laut itu terpaksa harus memeras keringat pula.
Masih beruntung yang dihadapi oleh Bhong Kim Cu adalah Tung-hai Nung-jin, sehingga sedikit banyak tokoh Mo-kauw itu masih memiliki beberapa keunggulan.
Tapi bagi Leng Siauw yang kebetulan harus berhadapan dengan Tiauw Kiat Su, benar-benar harus menguras segala kemampuannya.
Itu pun ternyata juga tidak banyak menolongnya, karena bagaimana pun juga ilmu kepandaian Tiauw Kiat Su masih beberapa tingkat di atasnya.
Begitulah, beberapa waktu kemudian perimbangan kekuatan yang tidak sebanding itu mulai menampakkan hasilnya.
Satu demi satu orang-orang Mo-kauw yang berhadapan dengan para touw-bak itu mulai berjatuhan.
Mereka tergeletak mandi darah di atas tanah.
Tubuh mereka seolah hancur terkena amukan senjata para pengeroyoknya.
Pek-i Liong-ong bukan tidak melihat musibah yang menimpa anak buahnya itu.
Tapi apa dayanya?
Dia sendiri juga sudah terikat dengan lawannya.
Sementara kedua pembantunya.
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw, juga telah disibukkan oleh musuh mereka sendiri-sendiri.
Bahkan korban yang berjatuhan di pihaknya itu tampaknya juga sangat mempengaruhi perlawanan pembantunya itu.
Mereka berdua tampak sangat terpukul batinnya, sehingga beberapa kali mereka membuat kesalahan dan hampir celaka karenanya.
Demikianlah, dalam saat-saat yang menegangkan itu tiba-tiba terdengar bentakan yang sangat keras, yang disertai tenaga dalam yang amat tinggi, sehingga rasa-rasanya semua isi dada dari orang-orang yang berada di halaman itu menjadi tergoncang karenanya.
Begitu dahsyatnya pengaruh suara bentakan tersebut, sehingga beberapa orang bajak laut tampak terhuyung-huyung dan kehilangan keseimbangan.
Otomatis pertempuran itu terhenti.
Semua mata mencari sumber suara itu.
Mereka mengawasi tempat-tempat yang gelap, yang sekiranya dipergunakan untuk bersembunyi orang yang mengeluarkan suara itu.
Tung-hai-tiauw juga terpaku diam di tempatnya.
Raja Bajak Laut itu merasa berdebar-debar hatinya.
Suara bentakan itu ternyata mampu menggoyahkan pemusatan tenaga dalamnya.
Begitu pula dengan Pek-i Liong-ong dan pembantu-pembantunya.
Suara bentakan yang dilontarkan dengan kekuatan lweekang tinggi itu ternyata juga mampu menggetarkan isi dada mereka.
"Siapa...? Ayoh...keluarlah! Jangan bersembunyi di tempat gelap...!"
Tiauw Li Ing yang belum kebagian lawan itu berseru sambil bertolak-pinggang.
Meskipun bersuara lantang, namun tampak pula bahwa gadis itu sangat gelisah dan tegang hatinya.
Hal itu bisa dilihat pada matanya yang nanar serta jari-jari tangannya yang gemetar ketika menggenggam erat kedua buah kipasnya.
Dan bagaimana halnya dengan Tiauw Kiat Su dan Tung-hai Nung-jin?
Ternyata kedua orang itu pun tidak kalah kagetnya dari pada yang lain.
Malah boleh dikatakan rasa terkejut mereka jauh melebihi orang-orang yang ada di halaman itu.
Suara bentakan itu seolah-olah suara petir yang meledak di telinga mereka karena suara itu adalah suara yang belum lama mereka kenal namun sudah membuat mereka ketakutan setengah mati.
"Aku tidak bersembunyi di tempat gelap, nona Tiauw. Aku berada di sini..."
Tiba-tiba terdengar suara itu lagi. Kali ini suara itu justru terasa sangat dekat dengan mereka. Bahkan suara itu seperti berada di tengah-tengah mereka. (Lanjut ke
Jilid 21) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 21
"Hei... han-han-han... tu! Hantu!"
Mendadak seorang touw-bak menjerit seraya menuding lelaki di sampingnya.
Kontan semua orang yang berdiri di tempat itu menyibak dengan cepatnya, sehingga lelaki itu menjadi terpencil sendirian di tengah-tengah mereka.
Dan orang pun segera bisa melihat wajahnya yang masih muda dan tampan.
Dan orang pun juga segera bisa menyaksikan pula pakaiannya yang hangus di sana-sini.
"Chin... Yang... Kun..?!?"
Terdengar desah kaget dari mulut Tiauw Kiat Su, Tiauw Li Ing, Tung-hai-tiauw, Tung-hai Nung-jin dan lain-lain.
Dan sekarang justru Tiauw Li Ing lah yang paling kaget di antara orang-orang itu.
Kemunculan yang amat mendadak dan tak terduga dari orang yang selama ini selalu dia kenang dan dia puja di dalam hati, membuat gadis itu terpaku diam seperti patung di tempatnya.
Untuk beberapa saat lamanya gadis itu cuma termangu mangu bengong seperti orang linglung.
"Ouuuhhhh...!"
Dan akhirnya gadis itu tak kuasa menahan goncangan perasaannya, sehingga tiba-tiba tubuhnya terhuyung-huyung kemudian jatuh pingsan.
Untunglah Tung-hai-tiauw cepat menyambarnya dan membawanya masuk ke dalam pendapa.
"Nung-jin! Urus lawan kita ini! Aku akan mengobati Li Ing lebih dahulu."
Sebelum pergi Raja Bajak Laut itu memberi pesan kepada Tung-hai Nung-Jin.
"Ba-baik, Hai-ong..."
Orang tua itu menjawab gugup.
Dan hal itu ternyata juga menyadarkan pula pikiran Tiauw Kiat Su dari perasaan ngerinya.
Pikirannya yang semula menyangka ia telah berhadapan dengan 'hantu' Liu Yang Kun kini telah hilang.
Lawannya itu benar-benar belum mati terkena senjata peledaknya.
Bahkan pemuda itu masih tampak segar-bugar, meskipun sebagian dari pakaiannya telah menjadi hangus.
"Gila!"
Tiauw Kiat Su menggeram marah.
"Ternyata kau belum lumat oleh senjata peledakku itu! Hmmh... sungguh mengherankan sekali! Bagaimana kau bisa menyelamatkan diri tadi?"
Liu Yang Kun tersenyum.
"Apa anehnya dengan senjata peledakmu itu? Paling-paling cuma membikin aku kaget sedikit. Lain tidak. Lihat...! Justru anak-buahmu sendiri yang menjadi korban,"
Katanya mencemooh.
"Setan busuk!"
"Jangan mengumpat!"
Liu Yang Kun tertawa. Kemudian pemuda itu menoleh kepada Pek-i Liong-ong.
"Ah, jadi yang masuk ke halaman, dan kemudian memperdayai para penjaga itu Lo-Cianpwe kiranya. Tak heran kalau aku sampai tak bisa mengikutinya..."
Pek-i Liong-ong mengerutkan dahinya.
"Maaf, bolehkah Lohu (aku orang tua) mengetahui nama Siauw-heng (saudara muda)? Mungkin aku sudah pikun, tapi rasa-rasanya Lohu belum pernah berkenalan dengan Siauw-heng."
Ketua Aliran Mo-kauw itu bertanya dengan hati-hati. Tapi sebelum Liu Yang Kun menjawab, tiba-tiba Bhong Kim Cu berbisik di telinga Pek-i Liong-ong.
"Para bajak laut itu tadi menyebutnya Chin Yang Kun. Kalau memang benar demikian dia tentu pemuda sakti yang pernah menggegerkan dunia kang-ouw itu."
Pek-i Liong-ong terkejut.
"Hah.. Kalau begitu... dia membunuh Hek eng cu pada lima tahun yang lalu?"
Desahnya heran.
Tak heran kalau Pek-i Liong-ong sampai kaget begitu mengetahui siapa pemuda di hadapannya itu.
Dahulu ia pernah mengukur kepandaian dengan Hek-eng-cu, dan ia kalah.
Tak tersangka Hek-eng-cu yang lihai luar biasa itu dapat dikalahkan oleh Chin Yang Kun, yang ternyata usianya masih sangat muda sekali.
"Namaku... Yang Kun, Lo-Cianpwe."
Liu Yang Kun menjawab pertanyaan Pek-i Liong-ong.
Ia sengaja tidak menyebutkan shenya, karena untuk menyebutkannya kadang-kadang ia merasa bingung harus menyebutkannya yang mana.
Chin atau Liu.
Sebab dua-duanya adalah benar.
"Oh, Chin Siauw-heng kiranya. Sungguh tak kusangka Lohu bisa bertemu dengan Siauw-heng di tempat ini. Sudah lama Lohu mendengar namamu yang tersohor..."
"Ah, Lo-Cianpwe terlalu memuji. Namaku tak pernah dikenal orang."
Liu Yang Kun cepat memotong. Pek-i Liong-ong tersenyum.
"Pandai benar Chin Siauw-heng merendahkan diri..."
Katanya kagum. Kikuk juga rasanya hati Liu Yang Kun. Oleh karena itu untuk mengalihkan pembicaraan tersebut Liu Yang Kun lantas bertanya.
"Lo-Cianpwe...? Ada urusan apakah sebenarnya sehingga Lo-Cianpwe membawa banyak orang ke tempat tinggal Tung-hai-tiauw ini? Apakah..?"
Tiba-tiba Pek-i Liong-ong menghela napas panjang.
Urusan itu sebenarnya adalah urusan pribadinya.
Urusan antara Mo-kauw dan Tung-hai-tiauw.
Tapi apa boleh buat, keadaan anak buahnya sekarang tidak menguntungkan.
Dan pemuda itu ternyata telah menyelamatkan mereka.
Oleh karena itu tak enak juga hati Pek-i liong-ong untuk berdiam diri terhadap pertanyaan pemuda itu.
Maka dengan singkat Pek-i Liong-ong terpaksa bercerita tentang sebab-musabab perselisihan tersebut.
"Bohong! Engkau jangan mencoba untuk memutar-balikkan kenyataan!"
Tung-hai Nung-jin berteriak.
"Baju mustika itu memang milik kami! Kalianlah yang mencurinya!"
"Mana buktinya! Kalianlah yang mengaku-aku, lalu mencari seribu macam alasan dan tipu daya untuk memilikinya."
Bhong Kim Cu berseru pula untuk menangkis tuduhan Tung-hai Nung-jin.
"Aaaah...?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun berdesah panjang.
"Jadi hanya urusan Kim-pouw-san itukah yang menjadi pokok persoalannya? Kalau begitu... urusan ini sudah benar dan tak perlu diperpanjang lagi. Kim-pouw-san sudah kembali ke tangan Tung-hai-tiauw. Masing-masing tak perlu bersitegang lagi."
"Urusannya sudah benar? Apakah maksud perkataan Chin Siauw-heng itu?"
Bhong Kim Cu melangkah ke depan sambil menggeram penasaran.
"Benar. Mengapa Chin Siauw-heng berkata demikian?"
Leng Siauw menyambung ucapan suhengnya. Liu Yang Kun cepat merangkapkan kedua tangannya di depan dada untuk menghormati Bhong Kim Cu dan Leng Siauw.
"Maaf, apakah Siauwte berhadapan dengan Siang-kau Tai-shih (Sepasang Utusan Agama) dari Aliran Mo kauw?"
Pemuda itu menyapa. Kedua orang murid Pek-i Liong-ong itu terpaksa membalas penghormatan itu.
"Benar..."
Mereka menjawab berbareng.
"Begini, Jiwi Lo-Cianpwe... Siauwte tidak bermaksud berbohong atau mengada-ada. Tapi sungguh kebetulan sekali di dalam urusan Kim-pouw-san ini Siauwte juga ikut mengetahuinya pula. Baju mustika itu memang kepunyaan Keluarga Tiauw. Dan yang biasa memakai adalah nona Tiauw Li Ing. Kira-kira lima tahun yang lalu, nona Tiauw diculik dan disandera oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek di puncak bukit di sebelah selatan kota Poh-yang. Nona Tiauw ditempatkan di sebuah ruangan di bawah tanah. Di dalam ruangan itu nona Tiauw hendak diperkosa oleh Song-bun-kwi Kwa Sun Tek. Dan ketika melepaskan pakaian nona Tiauw itulah Song-bun-kwi Kwa Sun Tek memperoleh baju mustika itu. Semua kejadian itu dapat Siauwte saksikan, karena pada waktu itu Siauwte berada di ruangan itu pula. Malah kemudian Siauwte lah yang menolong dan membebaskan nona itu. Sayang Song-bun-kwi Kwa Sun Tek melarikan diri..."
"Benar. Aku ingat sekarang. Pemuda inilah yang kutemui di puncak bukit itu dahulu. Dialah yang telah membebaskan Tiauw Li Ing dari cengkeraman Song bun-kwi Kwa Sun Tek."
Tiba-tiba terdengar suara Tung-hai-tiauw dari arah pendapa dan sekejap kemudian orangnya telah berada di tempat itu pula. Tiauw Li Ing tidak ikut serta.
"Nah, bagaimana sekarang? Apakah kalian masih belum percaya juga?"
Tung hai Nung-jin mengolok-olok Pek-i Liong ong. Pek-i Liong-ong saling pandang dengan kedua pembantunya. Mereka mulai percaya pada kisah yang diceritakan Liu Yang Kun.
"Maaf, apakah Siauw-heng berkata yang sebenarnya?"
Akhirnya Pek-i Liong ong menegaskan. Liu Yang Kun tersenyum, lalu mengangguk.
"Siauwte berkata yang sebenarnya. Buat apa Siauwte berbohong? Siauw te tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Lo-Cianpwe maupun Tung-hai-tiauw."
Pek-i Liong-ong menundukkan mukanya, lalu menarik napas panjang.
"Baiklah. Kalau memang demikian halnya aku pun tidak keberatan pula untuk melepaskan Kim-pouw-san itu..."
"Tapi...?"
Bhong Kim Cu yang masih merasa penasaran itu mencoba mencegah.
"Kim Cu, sudahlah... aku percaya kepada Chin Siauw-heng ini. Biarlah benda itu lepas dari tangan kita. Toh sejak semula benda itu memang bukan milik kita."
"Tapi banyak saudara-saudara kita yang telah menderita dan menjadi korban karena benda itu."
Pek-i Liong-ong berdesah pendek.
"Memang. Tapi hal itu juga karena kesalahan kita. Kitalah yang harus bertanggung-jawab atas musibah dan penderitaan mereka. Coba, kalau kita tidak menjadi serakah dan bisa menghilangkan nafsu angkara-murka kita untuk memiliki benda temuan itu, niscaya semua itu tidak akan terjadi. Mengertikah kau.."
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw cepat menundukkan mukanya.
"Teecu mengerti, Mo-cu..."
Bisik mereka dengan bibir gemetar.
"Nah, kalau begitu uruslah saudara-saudara kita yang mati dan terluka! Kita pulang kembali ke Gedung Pusat!"
"Eeit, enaknya...! Nanti dulu!"
Tung-hai-tiauw tiba-tiba berseru sambil meloncat ke depan Pek-i Liong-ong. Pek-i Liong-ong cepat memberi hormat.
"Maaf! Apakah Hai-ong masih mempunyai pesan yang lain?"
Katanya kaku.
"Hmmh! Kalian mau kemana? Siapakah yang mengijinkan kalian pergi dari tempat ini, hah?"
Tung-hai-tiauw membentak tak kalah kasarnya. Wajah Pek-i Liong-ong dan pembantunya menjadi merah-padam. Hampir saja mereka tidak bisa menahan amarah mereka.
"Kami telah memutuskan untuk merelakan baju mustika Kim-pouw-san itu. Dan selanjutnya kami takkan mengutik-utik atau mengganggu-gugat hal itu lagi. Oleh karena itu kami sekarang akan pulang kembali ke Gedung Pusat kami."
Leng Siauw menjawab dengan suara dingin pula.
"Tidak boleh! Kalian semua telah terlanjur melihat barang pusaka kami. Oleh karena itu kami akan membunuh kalian semua!"
Tung-hai-tiauw berteriak.
"Kurang ajar! Jadi kalian tetap ingin melanjutkan pertempuran kita?"
Bhong Kim Cu ikut berteriak pula.
"Bangsat! Jangan banyak bicara! Ayoh... Kiat Su, Nung-jin! Basmi mereka!"
Tung-hai-tiauw menjerit marah.
Sekejap saja para bajak laut itu telah menyerbu lawan mereka kembali.
Dan pertempuran kasar dan brutal pun lalu berlangsung pula dengan riuhnya.
Pek-i Liong-ong kembali berhadapan dengan Tung-hai-tiauw, sementara Bhong Kim Cu dan Leng Siauw juga bertempur dengan Tung-hai Nung-jin dan Tiauw Kiat Su lagi.
Liu Yang Kun tak bisa mencegah lagi.
Semuanya berjalan begitu cepatnya sehingga ia tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Ia hanya bisa berdiri termangu-mangu menyaksikan pertempuran semrawut di sekelilingnya.
Namun ketika perimbangan kekuatan itu mulai goyah, sehingga korban mulai berjatuhan kembali di pihak Mo-kauw, Liu Yang Kun tak bisa berdiam diri lagi.
"Berhenti...!"
Serunya keras mengatasi kebisingan dan keributan di dalam arena perang-tanding itu.
Oleh karena Liu Yang Kun menghentakkan suaranya itu dengan enam bagian dari seluruh kekuatan tenaga dalamnya, maka akibatnya pun sungguh hebat sekali!
Semua anak buah Tung-hai-tiauw yang kelas rendahan pun segera terjungkal berjatuhan, bagaikan pohon tumbang dilanda angin topan.
Sementara para touw-bak yang rata-rata memiliki kepandaian tinggi itu juga terhuyung-huyung seperti kawanan pemabuk yang terlalu banyak minum arak!
Sedang Tung-hai-tiauw, Pek-i Liong-ong dan yang lain-lain, meskipun tidak menderita seperti anak buah mereka itu, tapi mereka juga terpaksa menghentikan pertempuran mereka.
Dinding dada mereka seperti dihantam oleh gelombang kekuatan yang maha dahsyat, sehingga mereka juga dipaksa untuk bertahan agar tidak terpengaruh oleh kekuatan yang sangat luar biasa itu.
"Bukan main...!"
Pek-i Liong ong berdecak kagum setelah dapat mengatasi benturan gelombang suara itu.
"Bangsat...!"
Tung-hai-tiauw mengumpat pula sambil mengerutkan keningnya, seperti orang yang sedang menahan sakit.
"Uuuuh...?!?"
Tung-hai Nung-jin, Bhong Kim Cu dan Leng Siauw mengeluh sambil mencengkeram dada mereka masing-masing.
"Gila! Betul-betul gila! Kubunuh kau...!"
Tiauw Kiat Su menggeram marah. Tangannya segera merogoh saku dan mengeluarkan pek-lek-tan kebanggaannya. Tapi dengan cepat Liu Yang Kun menghardiknya.
"Tahan senjata itu. Apakah kau ingin membunuh ayahmu sendiri! Apakah engkau belum jera juga menggunakan bahan peledak itu! Lihatlah pakaianmu itu? Apakah engkau ingin mengulanginya lagi? Huh...!"
"Persetan! Aku ingin melumatkanmu!"
Tiauw Kiat Su semakin meradang.
"Hahahaha...!"
Tiba-tiba Liu Yang Kun tertawa.
"Kau ingin membunuh aku? Hahaha... tampaknya kau belum sadar juga akan kelemahanmu. Apakah kau rasa kau bisa membunuh aku dengan pelurumu itu? Ah... yang benar saja! Coba lihat sendiri pakaianmu itu! Kulihat kau lebih parah dari pada aku. Setidak-tidaknya pakaianku masih utuh. Cuma hangus sedikit. Sebaliknya bagaimana dengan pakaianmu yang compang-camping itu? Apakah engkau juga belum bisa melihat kenyataan ini? Apakah engkau memang ingin membunuh diri secara massal dengan ayahmu dan semua anak buahmu?"
Betapapun besarnya rasa marah dan rasa tersinggung di hati Tiauw Kiat Su namun pemuda itu tak bisa mengingkari kenyataan tersebut.
Kenyataannya peluru pek-lek-tan itu memang tidak bisa melukai Liu Yang Kun.
Justru dirinya sendirilah yang hampir menjadi korban ledakan peluru itu.
"Coba kau pikirlah sekali lagi. Jangan sembarangan mempergunakan senjata mengerikan itu! Kau tidak akan bisa membunuh aku dengan senjata itu. Jangankan kau, gurumu sendiri juga tak bisa membunuh aku dengan peluru itu! Kau masih ingat peristiwa di Lembah Dalam setahun yang lalu?"
Tiauw Kiat Su semakin tak berkutik.
Apa yang dikatakan lawannya itu memang benar semuanya.
Kalau dia tetap nekad juga melepaskan senjata peledaknya, hal itu memang sama saja hendak membunuh ayah, paman dan anak-buahnya sendiri.
Bahkan mungkin juga semua orang yang berada di tempat itu, termasuk dirinya pula.
"Bocah sombong! Lalu... maksudmu menghentikan pertempuran kami?"
Tung-hai-tiauw berseru kesal. Liu Yang Kun menoleh, kemudian mendengus.
"Hmmh...! Aku hanya ingin mencegah pertumpahan darah di antara kalian. Lain tidak. Karena Ketua Aliran Mo kauw sudah mau mengembalikan baju mustika itu, maka kalian juga harus mau berlapang dada melepaskan mereka pergi."
"Apa pedulimu? Jangan turut campur dalam urusan kami!"
Tung-hai-tiauw membentak gusar.
"Tidak bisa!"
Liu Yang Kun berkata tegas.
"Aku tidak ingin melihat kekejaman dan ketidak-adilan berlangsung di depan mataku. Kalau kau tetap ingin mengumbar keangkara-murkaan, aku akan mencegahnya. Apapun yang terjadi."
"Bangsat! Kalau begitu terimalah golokku ini!"
Tung-hai-tiauw meraung, kemudian menyerang dengan golok emasnya.
Liu Yang Kun mengelak, lalu ganti menyerang pula dengan cepatnya.
Dan mereka pun lantas terlibat dalam pertarungan yang seru dan cepat luar biasa, masing-masing mencoba mengungguli kecepatan lawannya, sehingga tubuh mereka seakan lenyap di dalam keremangan cahaya obor.
Mereka seolah-olah telah berubah menjadi bayang-bayang hitam, yang kadang kadang saling membelit dan saling berpencar di dalam arena.
Dan semakin lama kecepatan mereka pun semakin bertambah pula.
sepuluh jurus telah berlalu.
Sebelas juruspun juga telah berlangsung pula.
Akhirnya lima belas jurus pun juga sudah mereka lampaui.
Tung-hai-tiauw mulai tersengal-sengal, sementara Liu Yang Kun masih tetap segar dan terus mengikuti perkembangan ilmu s ilat lawannya dengan sabar.
"Hanya sampai sekiankah ilmu mengentengkan tubuhmu? Kau sudah tidak bisa menambahnya lagi?"
Pemuda itu bertanya tenang.
Sebenarnya tidak ada maksud di hati Liu Yang Kun untuk mengolok-olok atau mengejek lawannya.
Namun karena hati Tung-hai-tiauw telah diliputi oleh rasa marah dan penasaran, maka ucapan itu ditangkap sebagai suatu penghinaan bagi Raja Bajak Laut itu.
Dengan teriakannya yang keras dan kasar Tung-hai-tiauw memerintahkan para pembantunya untuk ikut membereskan lawannya.
Dan tanpa diperintah untuk yang kedua kalinya, Tung-hai Nung-jin, Tiauw Kiat Su, serta seluruh anak-buahnya segera meloncat berhamburan menyerang orang-orang Mo-kauw.
Dan dalam pertempuran yang kacau balau itu Tung-hai-tiauw bisa sedikit berlindung dan bersembunyi di antara anak buahnya.
Sebab di antara orang-orang yang bertempur secara semrawut itu Liu Yang Kun tak bisa seenaknya menggunakan kesaktiannya.
Salah-salah bisa mengenai orang yang tak bersalah nanti.
Tentu saja Liu Yang Kun menjadi gemas melihat kelicikan lawannya.
Namun pemuda itu juga tidak kekurangan akal pula.
Karena takut pukulannya yang beracun itu dapat mencelakakan orang-orang yang tak berdosa, maka pemuda itu sengaja mengerahkan ginkangnya saja untuk mengungguli lawannya.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang telah mencapai puncak kesempurnaan, mudah saja bagi Liu Yang Kun untuk mengejar Tung-hai-tiauw, biarpun raja bajak laut itu berusaha berlindung dan memanfaatkan suasana yang kisruh dan semrawut itu.
Tubuh Liu Yang Kun yang seringan kapas itu 'terbang melayang' meliuk-liuk, menerobos kesana-kemari di antara ributnya manusia yang berseliweran di arena itu.
Bahkan dengan kehebatan ginkangnya itu Liu Yang Kun mampu mendahului, mencegat dan menyongsong semua gerakan Tung-hai-tiauw!
Untunglah bagi raja bajak laut itu, bahwa ia mengenakan baju Kim-pouw-san dan senjata mustika golok Toat-beng-to, sehingga beberapa kali ia bisa menyelamatkan diri dengan perlindungan kedua buah mustika itu.
"Gila! Bocah ini manusia atau setan, huh!"
Tung-hai-tiauw mengumpat-umpat di dalam hatinya.
Sementara itu dengan masuknya Liu Yang Kun ke dalam arena, membuat perimbangan kekuatan di dalam arena itu menjadi berubah.
Otomatis Pek-i Liong-ong menghadapi Tiauw Kiat Su, orang terlihai di antara kawanan bajak laut itu.
Leng Siauw langsung mengurung Tung-hai Nung jin dengan cambuk geriginya.
Sementara Bhong Kim Cu membantu anak buahnya melawan keroyokan para touw-bak yang masih hidup.
Mula-mula Tung-hai Nung-jin lah yang mengalami kesulitan.
Menghadapi cambuk Leng Siauw paculnya benar-benar tak berkutik.
Beberapa kali senjata itu hampir terlepas disambut cambuk lawannya.
"Bangsat! Keparat! Aduuh...I"
Orang tua itu menjerit-jerit gusar.
Dan jeritan Tung-hai Nung-jin itu lalu diikuti pula oleh pekikan-pekikan Tung-hai-tiauw.
Raja Bajak Laut itu mulai merasa kesakitan pula oleh pukulan pukulan Liu Yang Kun.
Sungguh beruntung baginya karena Liu Yang Kun belum mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, sehingga ia masih bisa bertahan, meski pun untuk itu ia harus jatuh bangun mempertahankan diri.
Dan umpatan-umpatan ayahnya itu juga didengar pula Tiauw Kiat Su.
Tapi karena ia sendiri sedang menghadapi desakan Peki Liong-ong yang semakin lama terasa semakin berat, maka terpaksa tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan ia sendiri merasa semakin repot menghadapi serangan-serangan Pek-i Liong-ong, yang di dalam Buku Rahasia tercantum pada nomer delapan itu.
Yang benar-benar sangat payah adalah para touw-bak itu.
Menghadapi Bhong Kim Cu yang dibantu oleh tokoh-tokoh Mo-kauw bekas tawanan itu, mereka benar-benar tak berkutik.
Satu persatu mereka terbabat roboh oleh cambuk Bhong Kim Cu yang lihai itu.
Demikianlah, perlahan tapi pasti kawanan bajak laut itu mulai terdesak.
Meskipun mereka berjumlah banyak, tapi sebagian besar cuma tenaga-tenaga kasar yang hanya tahu sedikit dalam ilmu silat, sehingga menghadapi tokoh seperti Bhong Kim Cu yang berkepandaian sangat tinggi itu mereka benar-benar kepayahan.
Mereka betul-betul seperti batang ilalang yang mudah saja dibabat.
Sebentar saja arena itu telah dipenuhi tubuh-tubuh mereka yang bergelimpangan.
"Aduuuuuh... b-b-be-bangsat!"
Tiba-tiba Tung-hai-tiauw berteriak kesakitan, kemudian terhuyung-huyung jatuh.
Sebuah totokan jari tangan Liu Yang Kun telah mengenal jalan darah teng-go-hiat di lehernya.
Belum juga hilang rasa kaget dari kawanan bajak laut itu, mendadak mereka dikejutkan lagi oleh suara pekikan panjang Tung-hai Nung-jin.
Tangan kanan Tung-hai-tiauw yang lihai itu tampak terpelanting ke udara bagai layang layang putus.
Kaki kanannya terbelit ujung cambuk Leng Siauw, sementara paculnya telah terlempar pula entah kemana.
Sekejap Tiauw Kiat Su tertegun, sehingga tendangan kaki Pek-i Liong ong yang keras itu nyaris meremukkan tulang tempurung kepalanya.
Untunglah dia cepat menjatuhkan diri dan berguling-guling menjauh.
Wajahnya tampak putih pucat, sedangkan bibirnya tampak bergetar, namun matanya bagaikan menyala di dalam kegelapan!
Beberapa orang Mo-kauw yang ada di dekatnya segera menjadi korban kemarahannya.
Mereka jatuh bergelimpangan akibat pukulan dan tendangannya.
Di lain saat pemuda itu telah berdiri kembali.
Di dalam tangannya telah tergenggam kembali senjata mautnya itu!
Pemuda itu benar-benar tidak bisa mengendalikan dirinya lagi!
Namun sebelum senjata peledak itu dilemparkan, Liu Yang Kun lebih dahulu mencegahnya!
"Tahaaaaaaan!!!"
Lalu tampak bayangan Liu Yang Kun berkelebat ke depan pemuda itu.
Begitu cepatnya, seperti kilat menyambar, padahal kedua tangannya menjinjing tubuh...
Tung-hai-tiauw dan Tung-hai Nung-jin!
"Tahan!
Apakah kau ingin melumatkan ayah dan pamanmu pula?"
Liu Yang Kun menggertak.
"Persetan! Aku...?"
"Kiat Su, jangan...!"
Tung-hai-tiauw yang sudah tidak berdaya itu tiba-tiba ikut berteriak pula. Wajahnya tampak ketakutan.
"Kiat Su...! Si-sim-simpan kembali pelurumu itu! Jangan...jangan membunuh diri. Jangan kau bunuh ke-keluarga kita! Anak buah kita! Kau...kau akan menyesal nanti. Gunakan otakmu! Biarlah kita mengalah sekali ini."
Tung-hai Nung-jin turut mencegah pula.
Suaranya terdengar gugup dan gemetaran saking tegang dan cemasnya.
Mata yang merah menyala itu tiba-tiba meredup kembali.
Urat-urat yang menegang itu juga tampak mengendor lagi.
Lalu perlahan-lahan pemuda itu menarik napas panjang.
Tapi pada saat itu juga tiba-tiba muncul Tiauw Li Ing menubruknya!
"Kokooooo...
jangan!"
Gadis itu memekik kuat-kuat.
Tiauw Kiat Su berusaha mengelak, namun terlambat.
Gerakan adiknya itu juga cepat bukan main, dan mendadak pula!
Akibatnya Tiauw Li Ing persis menubruk pinggangnya, sehingga ia terpelanting ke depan.
Tepat ke arah di mana Liu Yang Kun berada!
Semua orang menjerit!
Peluru pek-lek tan yang sangat menakutkan itu terlepas dari genggaman Tiauw Kiat Su!
Dan meluncur atau terbanting ke tanah dengan cepat sekali!
"Kiat Suuu...?!"
Tung-hai-tiauw melolong ketakutan.
Tapi secepat itu pek-lek-tan terlepas dari tangan Tiauw Kiat Su, secepat itu pula Liu Yang Kun menyambarnya!
Begitu cepatnya pemuda itu bergerak, yaitu melepaskan kedua orang yang dijinjingnya dan menyambar benda maut yang hampir menyentuh tanah itu, sehingga tak seorangpun di dekatnya yang tahu bagaimana pemuda itu tadi bergerak.
Tahu-tahu pemuda itu telah berdiri memegang pek-lek-tan yang sangat menakutkan itu.
"Ooooooooh...!"
Semuanya menghembuskan napas lega.
Termasuk juga Tung-hai-tiauw dan Tung-hai Nung-jin, meski pun mereka harus meringis kesakitan karena dilepas begitu saja oleh Liu Yang Kun.
Dan yang tidak kalah leganya adalah Tiauw Kiat Su sendiri.
Pemuda yang pada saat-saat terakhir telah menjadi sadar untuk tidak menggunakan pek-lek-tan untuk melawan musuhnya itu, semula sangat kaget dan cemas bukan main ketika menyadari pek-lek-tan terlepas dari tangannya.
Semula pemuda itu sudah membayangkan bahwa dirinya bersama orang-orang yang berada di sekitarnya itu akan lumat menjadi bubur.
Termasuk ayah, paman dan adiknya.
Maka begitu menyaksikan benda maut itu berhasil ditangkap orang, dan tidak jadi me letus, hatinya benar-benar menjadi lega sekaIi.
Namun kelegaan itu segera sirna begitu menyadari siapa yang telah menangkap senjata mautnya itu!
Dan kelegaan itu segera berubah menjadi kecemasan dan kegelisahan lagi!
Pemuda itu cepat mendorong adiknya.
"Kembalikan pek-lek-tan itu kepadaku!"
Serunya kepada Liu Yang Kun. Namun dengan tenangnya Liu Yang Kun melangkah mundur.
"Aha... nanti dulu! Jangan tergesa-gesa!"
Serunya pula sambil menggoyang-goyangkan peluru maut di tangannya.
"Haii...! Jangan main-main dengan pek lek tan itu! Meskipun belum kutarik sumbunya, tapi kuncinya sudah kulepaskan. Dia bisa meledak bila terjatuh ke tanah!"
Tiauw Kiat Su berteriak semakin ketakutan. Liu Yang Kun cepat menggelengkan kepalanya. Bibirnya tersenyum.
"Jangan khawatir! Peluru ini tidak akan kujatuhkan ke tanah apabila kau mau... melepaskan orang-orang Mo-kauw itu. Bagaimana...?"
Tiauw Kiat Su tertegun. Beberapa kali matanya melirik ke arah ayahnya.
"Koko...! Biarkan mereka pergi,"
Tiauw Li Ing yang belum bisa menghilangkan kekalutan hatinya itu memohon kepada kakaknya.
Ternyata selain mengkhawatirkan nasib ayah dan dirinya sendiri, gadis itu juga mengkhawatirkan keselamatan Liu Yang Kun, pemuda yang dicintainya.
Gadis itu benar-benar takut kalau kakaknya menjadi nekad.
"Nona Tiauw, biarkan kakakmu berpikir dulu..."
Liu Yang Kun berkata.
"Pangeran...?"
Tiauw Li Ing berbisik dengan air mata bercucuran.
"Kiat Su! Biarkan mereka pergi!"
Tung-hai-tiauw yang masih menggeletak di atas tanah itu tiba-tiba berteriak. Tiauw Kiat Su menundukkan kepalanya.
"Baiklah, mereka boleh pergi. Tapi peluru harus kau kembalikan kepadaku,"
Katanya lemah.
Sekarang ganti Liu Yang Kun yang menjadi ragu-ragu untuk memenuhi syarat lawannya.
Sebenarnya ia bermaksud untuk memusnahkan saja benda berbahaya itu.
Tampaknya Tiauw Kiat Su dapat membaca pikiran Liu Yang Kun.
Matanya yang telah meredup itu tiba-tiba tampak menyala kembali.
Tangannya bergegas merogoh kantongnya dan mengeluarkan satu satunya pek-lek-tan yang tertinggal.
"Hmmh! Kalau kau tidak mau mengembalikan pek-lek-tan itu, aku juga tidak mau hidup lagi! Lebih baik kita bunuh diri saja secara massal di sini!"
Geramnya sambil menimang-nimang senjata peledaknya.
Suasana menjadi tegang kembali!
Kedua pemuda lihai yang saling berhadapan itu sama-sama memegang pek-lek tan!
Diam-diam Liu Yang Kun menjadi kaget juga.
"Mengapa kau memilih mati cuma karena satu pek-lek-tan ini? Bukankah kau masih mempunyai banyak lagi?"
Tanya pemuda itu berhati-hati. Tiauw Kiat Su mendengus.
"Huh? Apa gunanya aku hidup kalau pek-lek-tan itu sampai jatuh ke tangan orang lain. Suhu tentu akan membunuh aku pula. Nah, dari pada kalian semua masih tetap hidup sementara aku nanti dibunuh guruku, lebih baik aku mati saja sekarang bersama-sama kalian semua.Hatiku puas."
"Koko...?"
Tiauw Li Ing berbisik.
"Kiat Su...!"
Tung-hai-tiauw berdesah pula dengan bingungnya. Tiba-tiba Liu Yang Kun menghela napas panjang.
"Baiklah! Baiklah... Aku setuju pada syaratmu. Biarlah mereka pergi, aku akan mengembalikan pek lek-tan ini kepadamu,"
Katanya mantap. Tiauw Kiat Su mengatupkan bibirnya.
"Bagaimana aku dapat mempercayai kata-katamu?"
Ucapnya curiga.
"Kurang ajar! Jangan samakan aku dengan perompak-lanun seperti kau! Apa yang sudah kujanjikan tentu aku tepati apapun rintangannya!"
Liu Yang Kun naik pitam.
"Bagus! Nah, silahkan mereka pergi, aku percaya kepadamu...!"
Tiauw Kiat Su berkata lega. Bukan main mendongkolnya hati Liu Yang Kun. Meskipun demikian ia selalu berusaha untuk menahannya. Sambil menggigit bibirnya ia menoleh kepada Pek-I Liong-ong.
"Lo-Cianpwe. Silahkan Lo-Cianpwe membawa teman-temanmu pergi,"
Katanya pendek.
"Terima kasih, Chin Siauw heng. Tapi... bagaimana dengan kau sendiri?"
"Lo-Cianpwe tak usah merasa khawatir. Siauwte bisa menjaga diri. Nah, silahkan berangkat...!"
Tak enak sebetulnya hati Ketua Mo-Kauw itu meninggalkan Liu Yang Kun sendirian.
Namun orang tua itu sangat percaya kepada kemampuan pemuda sakti itu.
Ia telah menyaksikan tadi.
Dan ia pun juga sangat percaya bahwa pemuda itu takkan kalah, walaupun harus menghadapi keroyokan bajak-laut itu.
"Baiklah...!"
Akhirnya orang tua itu berkata. Kemudian sambungnya kepada anak buahnya.
"Kim Cu! Leng Siauw...! Urus teman-temanmu! Utamakan bagi yang sakit atau terluka! Kita pergi dari sini!"
Demikianlah untuk beberapa saat terjadi kesibukan di tempat itu.
Bhong Kim Cu dan Leng Siauw mengumpulkan anak buahnya, baik yang sakit atau terluka maupun yang masih sehat.
Yang masih sehat segera membantu kawan-kawannya yang terluka, kemudian secara bersama-sama mereka pergi meninggalkan halaman rumah itu.
Mereka melewati kawanan bajak laut yang tadi bertempur dengan mereka.
Mereka saling melotot dan saling menatap dengan sinar mata dendam.
Tapi karena masing-masing merasa takut kepada pimpinan mereka, maka semuanya tak berani bertindak lebih lanjut.
"Terima kasih, Chin Siauw-heng. Kami dari Aliran Mo-kauw takkan pernah melupakan pertolonganmu ini. Bersama ini pula kami mengundangmu. Kapan saja Chin Siauw-heng ada waktu, datanglah ke Gedung Pusat kami. Kami akan menyambutmu seperti menyambut seorang kawan atau sahabat-karib."
Setelah seluruh anak buahnya pergi Pek-i Liong-ong memberi hormat kepada Liu Yang Kun.
Pemuda itu cepat membalas penghormatan Pek-i Liong-ong kemudian mengawasi ketua Mo-kauw itu sampai hilang dari pandangannya.
"Nah... mereka sudah pergi. Kini cepat kau serahkan pek-lek-tan itu kepadaku!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan Tiauw Kiat Su. Liu Yang Kun membalikkan tubuhnya.
"Baik! Nih, ambillah...!"
Pemuda itu berseru. Kemudian secara tiba-tiba pemuda itu melemparkan pek-lek-tan itu tinggi-tinggi ke udara. Dan bersamaan dengan waktu itu pula ia melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"Nah, selamat berjumpa pula...!"
Dari jauh ia masih mengucapkan kata-kata perpisahan.
"Yang Kuuuuuun...!"
Tiauw Li Ing tersentak kaget, kemudian meloncat mengejar seraya berteriak.
"Li Ing...!"
Tung-hai-tiauw memanggil puterinya. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa karena tubuhnya masih lumpuh ditotok Liu Yang Kun tadi. Demikian pula halnya dengan Tung-hai Nung-jin, tangan kanannya.
"Bangsat pengecut...!"
Tiauw Kiat Su, satu-satunya orang yang dapat bergerak bebas, juga tak bisa berbuat apa-apa, karena ia harus menangkap dan mengamankan senjata peledak yang dilemparkan Liu Yang Kun itu.
"Kiat Su! Cepat kau bebaskan kami! Kita kejar adikmu dan orang-orang Mo-kauw itu! Mereka tentu belum berapa jauh dari s ini..."
Tung-hai-tiauw berkata kepada anaknya.
Tapi sampai berkeringat Tiauw Kiat Su tak mampu membebaskan totokan Liu Yang Kun.
Biarpun telah ia urut dan ia totok disana-sini, Tung-hai-tiauw dan Tung-hai Nung-jin tetap lumpuh.
"Gila! Anak muda itu benar-benar bukan manusia! Ilmunya seperti setan! Bangsat keparat...!"
Tung-hai-tiauw mengumpat tiada habisnya.
"Wah... kita terpaksa menunggu sampai totokan ini punah dengan sendirinya, Hai-ong."
Tung-hai Nung-jin menggeram pula.
"Biarlah aku mengejar sendiri ayah."
Tiauw K iat Su berkata penasaran.
"Jangan! Mereka terlalu kuat untuk kau hadapi sendiri!"
"Aku tidak takut!"
"Tentu! Tapi itu bunuh diri namanya. Sudahlah... lebih baik kau bawa aku ke rumah, kemudian kau beri perintah kepada anak buah kita untuk mengurusi kawan-kawannya yang terluka!"
Tung-hai-tiauw menasehati anaknya.
"Tapi... bagaimana dengan Si Bengal Li Ing itu?"
Tiauw Kiat Su bertanya kesal. Tung-hai-tiauw menggeram dengan kesal pula.
"Bocah ini memang bandel dan sukar diurus. Baru saja pulang sudah pergi lagi. Biarkan saja dia. Aku juga sudah bosan menasehatinya."
Begitulah, dengan tetap bersungut sungut Tiauw Kiat Su lalu melakukan semua perintah ayahnya.
Pemuda itu benar benar kesal terhadap adiknya, sementara rasa bencinya kepada Liu Yang Kun juga semakin menjadi-jadi pula.
Sementara itu dengan perasaan puas Liu Yang Kun berlari kembali ke dalam kota.
Cuma hatinya agak sedikit berdebar ketika mendengar suara panggilan Tiauw Li Ing tadi.
Oleh karena itu ia terpaksa mengerahkan seluruh kemampuan Bu-eng Hwe-tengnya untuk cepat cepat pergi dari tempat itu.
Dia benar benar takut berurusan dengan gadis cantik itu.
Demikian terburu-burunya pemuda itu sehingga hampir saja ia menabrak seorang kakek buta di depan rumah penginapannya.
"Eh-oh... maaf, kek. Aku terburu-buru. Aku tak sengaja. Nih., tongkat kakek!"
Pemuda itu meminta maaf seraya mengembalikan tongkat yang tersangkut di bajunya.
"Eh-eh... k-kau? Anu... ya-ya... terima kasih!"
Sekilas kakek tua itu seperti kaget mendengar suara Liu Yang Kun.
Tapi karena pemuda yang menabraknya itu segera meninggalkannya setelah memberikan tongkatnya, kakek buta itu tak mempunyai kesempatan untuk berkata-kata selain mengucapkan terima kasihnya.
Namun beberapa saat kemudian kakek buta, yang tidak lain adalah Lo-sin-ong itu, merasa menyesal bukan main.
"Dia... dia itu... eh, bukankah dia tadi Pangeran Chin... eh. Pangeran Liu Yang Kun? Oh... kemana dia?"
Tiba-tiba kakek Lo-sin-ong itu terbang ke arah mana Liu Yang Kun tadi pergi.
Gerakannya benar-benar sangat mengagumkan.
Cepat luar biasa.
Sungguh tidak sesuai dengan tubuhnya yang sudah reyot seperti orang berpenyakitan itu.
Apalagi dengan matanya yang buta itu.
Tapi kakek itu segera mengeluh dan menyesali dirinya kembali.
Ia benar-benar telah kehilangan jejak Liu Yang Kun, pemuda yang dicarinya selama ini.
"Ah... kemana dia tadi? Rasa-rasanya ia cuma masuk ke halaman ini. Hmmmm..."
Kakek buta itu berdesah.
Waktu memang telah larut, sehingga tempat itu telah menjadi sepi dan tak seorang pun melihat gerak-gerik kakek buta tersebut.
Selangkah demi selangkah kakek itu lalu berjalan kembali keluar halaman.
Dan sambil melangkah tak habis-habisnya kakek itu menyesali dirinya sendiri.
"Tempat apa sebetulnya rumah ini? Mengapa tiada seorangpun di luar rumah?"
Ujarnya perlahan seraya melangkah tersaruk-saruk di tepi jalan raya kembali.
Pada saat yang sama, dari ujung jalan itu melangkah pula Tiauw Li Ing dengan terhuyung-huyung.
Gadis itu telah kehilangan jejak Liu Yang Kun.
Wajahnya kelihatan sangat pucat dan pilu.
Sementara pelupuk matanya juga kelihatan membengkak penuh air mata.
Sebentar-sebentar langkahnya terhenti, dan kepalanya yang awut-awutan itu menoleh kesana-kemari.
Beberapa kali tangannya yang menggenggam saputangan itu mengusap pipinya, sementara dadanya yang montok itu selalu tersentak oleh desah sedu-sedannya.
Namun malam memang telah sangat larut, sehingga jalan itu benar-benar sangat sepi.
Tak sesosok bayangan manusiapun yang tampak berada di luar rumah.
Satu-satunya tempat yang masih kelihatan hidup hanyalah sebuah warung arak di pinggir jalan itu.
Itupun pintunya juga tertutup pula.
Cuma suara senda gurau dan kelakar para tamunya saja yang terdengar dari luar.
Tampaknya selain minum arak orang-orang di dalam warung itu juga sedang bermain judi.
Ketika berada di depan warung itu Tiauw Li Ing kelihatan ragu-ragu.
Langkahnya terhenti.
Berkali-kali ia menoleh ke warung itu, seakan-akan matanya ingin mengintip atau menjenguk ke dalamnya.
Tiba-tiba terdengar suara ribut di dalam warung itu.
Beberapa buah suara terdengar saling bertengkar dan maki.
Selanjutnya terdengar juga suara gedubrakan seolah-olah ada yang sedang berkelahi.
Kemudian terdengar pula dentang suara senjata beradu.
Dan akhirnya pintu yang tertutup itu tampak terbuka dengan paksa.
Grobyag!
Belasan orang lelaki tampak berloncatan keluar dari pintu itu.
Mereka saling menyerang dan bertebaran di jalan raya di depan warung tersebut.
Tapi mereka semua segera tertegun ketika menyaksikan Tiauw Li Ing yang cantik molek itu.
Otomatis keributan mereka menjadi terhenti.
Semuanya memandang Tiauw Li Ing seolah tak percaya.
"Gila! Ini... ini... oh, siapakah dia?"
"Ya, ampun... cantiknya. Ma manusia a-a-atau bukan.?"
"Wadhuuuh... dapat rejeki nomplok, nih!"
Belasan orang lelaki itu masih tampak muda-muda, diantara dua puluh sampai dua puluh lima tahun.
Dan tampaknya mereka juga hanya terdiri dari satu golongan saja.
Tegasnya mereka semua adalah kawan atau sahabat sendiri, yang bertengkar karena terlalu banyak minum arak dan berjudi.
Hal itu dapat dilihat pada kulit muka dan mata mereka yang kemerah-merahan.
Tiauw Li Ing yang sedang berduka dan putus-asa itu tidak mempedulikan sikap mereka.
Dengan wajah penuh harap gadis itu meneliti belasan lelaki itu satu persatu.
Dan semangatnya segera terkulai begitu tidak mendapatkan wajah kekasihnya diantara mereka.
Gadis itu lalu beranjak pergi, langkahnya semakin terhuyung-huyung.
Dan ia benar-benar tak peduli pada belasan pemuda yang mengelilinginya itu.
Ia baru menaruh perhatian ketika lelaki yang berdiri di depannya tidak mau menyingkir.
"Mau kemana, nona manis...?"
Lelaki itu menyeringai kurang ajar.
Tangannya terjulur ke depan untuk mencubit dagu Tiauw Li Ing.
Tapi gadis itu segera menghindar.
Dan tidak seperti biasanya gadis itu tidak menjadi marah karenanya.
Padahal dalam keadaan biasa, jangankan berbuat demikian kurang ajar terhadapnya, baru melotot atau berkata jelek saja sudah menjadi alasan bagi gadis itu untuk membunuh orang.
Ternyata derita asmara yang sedang menghinggapi gadis itu telah membuatnya berubah.
"Hehehe... apakah kau penghuni baru di rumah hiburan Hui Hiang itu? Kapan kau datang? Mengapa...?"
Lelaki muda yang tak tahu diri itu mendesak terus.
"Mungkin baru siang tadi dia datang. Dan ia langsung dipesan orang saking cantiknya, hi-hihi..."
Temannya menyahut sambil tertawa jorok.
"Ya! Tampaknya memang begitu. Dan akibatnya dia kini... pulang kemalaman, ho-ho ha-haaaaa!"
Yang lain menambahkan pula.
"Wah, kalau begitu... sebaiknya sekalian tak pulang saja. Lebih baik menghibur dan menemani kita semua sampai pagi. Bagaimana kawan-kawan?"
"Setuju! Setujuuuuuuu!"
Belasan pemuda iseng itu bersorak gembira.
Tampaknya sikap Tiauw Li Ing yang acuh, diam dan selalu menghindar itu semakin mengobarkan nafsu mereka.
Tanpa menyelidiki lebih lanjut siapa sebenarnya gadis cantik yang mereka ketemukan itu, mereka lalu saling berlomba untuk meraih dan memeluknya.
Pada waktu itulah sebenarnya kakek buta itu datang.
Namun karena ia tak dapat dengan segera mengetahui apa yang terjadi, maka ia juga tidak dapat dengan segera mengambil keputusan untuk mencegah tindakan para pemuda yang sangat berbahaya itu.
Bahkan kakek buta itu juga tidak mengetahui kalau yang menjadi pusat keributan tersebut adalah Tiauw Li Ing, muridnya.
Barulah kakek itu menjadi kaget dan terkejut bukan main ketika secara mendadak terdengar suara keluhan dan jeritan ngeri di dalam arena keributan itu.
"Ah...? A-ap-apa... yang terjadi?"
Desahnya kebingungan.
Namun semuanya memang sudah terlambat.
Tiauw Li Ing yang semula kelihatan mengalah serta takut-takut itu mendadak berubah menjadi buas begitu terpojok.
Wajahnya yang pucat itu berubah menjadi beringas.
Dan tangannya yang gemetaran itu tiba-tiba juga telah memegang kipas besinya pula.
Dan apa yang terjadi selanjutnya benar-benar merupakan bencana bagi kawanan lelaki muda itu.
Demikianlah, ketika Lo-sin-ong atau kakek buta itu bergegas memasuki arena, ternyata semuanya telah selesai.
Belasan anak muda itu telah bergelimpangan di jalan raya dengan keadaan yang sangat mengerikan.
Separuh di antara mereka telah tewas, sementara yang separuhnya lagi dalam keadaan terluka parah.
"Oh, siapa... siapakah yang main bunuh di tempat ini?"
Serunya tertahan. Tapi jawaban dari pertanyaannya itu benar-benar sangat mengejutkan Lo-sin-ong sendiri! "Suhu...!"
Tiauw Li Ing menjerit kaget begitu menyaksikan kedatangan gurunya.
"Hei? Li Ing... kau? Oooohh!"
Kakek buta itu mengeluh pula dengan suara gemetar.
Tiauw Li Ing lalu menubruk kaki Lo-sin-ong dan menangis seperti anak kecil.
Gadis itu bagaikan memperoleh tempat untuk menumpahkan seluruh kepepatan hatinya.
"Suhu, oh... uh-huuuu...!"
"Li Ing! Mengapa sifatmu belum juga berubah? Mengapa kau bunuh mereka? Oh... apa sebenarnya yang terjadi padamu?"
Ada nada sedih, kesal dan rasa amat bersalah pada suara orang tua itu.
Sebab bagaimanapun juga Lo-sin-ong amat sayang serta sangat kasihan kepada Tiauw Li Ing.
Dikarenakan olah sebab itu pulalah dahulu ia mengambil Tiauw Li Ing sebagai murid.
Selain untuk mengembalikan semangat hidup gadis itu, Lo sin-ong juga bermaksud menghibur dan mengusir rasa putus asa di hati Tiauw Li Ing akibat cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Pangeran Liu Yang Kun.
Lo-sin-ong menemukan Tiauw Li Ing ketika gadis itu ditinggalkan oleh Liu Yang Kun.
Di dalam kesedihan dan keputus-asaannya Tiauw Li Ing mencoba untuk bunuh diri.
Untunglah kakek buta itu segera mencegahnya, sehingga niat gadis itu menjadi gagal.
Lo-sin-ong itu menghiburnya, dan kemudian mengambilnya menjadi murid, dengan harapan bisa mengobati luka dan kesedihan di hati gadis itu.
Dan tampaknya usaha Lo-sin-ong itu memperoleh hasil.
Sedikit demi sedikit awan mendung yang menyelimuti batin Tiauw Li Ing bisa hilang.
Dan selanjutnya kegembiraan gadis itu seperti telah pulih kembali.
Namun yang kemudian menjadi sangat menyusahkan hati Lo sin ong adalah...
watak gadis itu!
Semula Lo-sin-ong tak menyangka kalau Tiauw Li Ing adalah puteri Tung-hai-tiauw, raja bajak laut yang kejam dan buas itu.
Baru setelah ia menyaksikan watak dan perangai Tiauw Li Ing yang buruk, kejam dan suka membunuh orang itu, Lo-sin-ong menjadi sedih dan menyesal bukan main.
Tapi apa boleh buat, Lo-sin-ong juga sudah terlanjur merasa kasihan dan menyayangi gadis itu.
Oleh karena itu diam-diam Lo-sin-ong berusaha dengan berbagai macam cara untuk memperbaiki perangai dan kelakuan muridnya yang buruk itu.
Tapi hal itu ternyata tidak mudah.
Dimisalkan sebatang pohon, watak gadis itu sudah tumbuh subur dan berakar di dalam dirinya.
Sulit untuk mencabutnya.
Sehingga sampai gadis itu menamatkan pelajaran silatnya, Lo-sin-ong belum bisa mengubah wataknya.
Malahan gadis itu tampak semakin berbahaya dengan ilmunya yang tinggi.
"Li Ing, kau benar-benar membuatku sedih. Ah, Li Ing... Li Ing! Mengapa watakmu yang buruk itu belum juga berubah? Mengapa kau masih suka bunuh orang juga? Oooooooh!"
"Maafkan teecu, suhu. Sebenarnya... sebenarnya teecu tidak bermaksud membunuh mereka. Merekalah yang terlalu menghina dan mendesak aku. Mereka bermaksud...bermaksud memperkosa aku. Oh, suhu... terpaksa teecu membunuh mereka!"
Tiauw Li Ing membela diri sambil menangis. Lo-sin ong menarik napas panjang seraya mengusap-usap jenggotnya yang putih.
"Ya... ya, tapi tidak seharusnya kau membunuh mereka. Itu terlalu kejam namanya. Bukankah kau bisa membuat jera mereka, tanpa harus menghilangkan nyawa mereka?"
Tiauw Li Ing menangis semakin sedih. Kepalanya mengangguk-angguk, sementara pelukannya di kaki orang itu juga semakin bertambah erat pula.
"Teecu bersalah, suhu... teecu bersalah... uh-huuuuuuuu...! bunuh saja muridmu ini! Teecu... teecu juga tak ingin hidup lagi! Teecu ingin mati saja... uhuuuu... teecu ingin mati saja!"
"Ah...!"
Orang tua itu terdiam seketika. Pikirannya segera melayang kepada Liu Yang Kun yang baru saja menabraknya tadi.
"Ah... tampaknya peristiwa lama telah terulang kembali di tempat ini. Li Ing tentu telah berjumpa kembali dengan Pangeran Liu Yang Kun itu, dan akibatnya luka di hatinya menjadi kambuh lagi. Hmmh... kapan semua ini bisa berakhir?"
Sementara itu keributan tadi ternyata telah membangunkan penduduk di sekitar itu.
Mereka berbondong-bondong keluar rumah dan berkumpul di tepi jalan tersebut.
Yang berhati kecil tidak berani mendekat, sedangkan yang bernyali besar segera melihat bangkai atau mayat-mayat yang bergelimpangan itu.
Malah sebagian ada pula yang langsung menghampiri Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing.
"Apa yang terjadi, Lopek?"
Salah seorang dari mereka bertanya kepada Lo sin-ong. Kakek buta itu pura-pura kaget.
"Oh...? Kami... kami telah bertemu dengan orang-orang itu tadi. Dan mereka...mereka lalu saling berebut untuk mengganggu cucuku ini. Mereka saling berkelahi sendiri... dan... cucuku juga berusaha membela diri. Lalu...lalu terjadilah semuanya ini... oh!"
"Hei, lihat!"
Tiba-tiba salah seorang penduduk yang memeriksa mayat-mayat itu berteriak.
"Mereka adalah bangsat-bangsat perusuh yang sering mengganggu jalan ini! Mulut mereka berbau arak! Huh... ini dia pemimpinnya!"
"Betulkah...?"
Orang yang berada di depan Lo-sin-ong itu menoleh dan bertanya kepada kawannya.
"Benar! Lihat! Inilah orang yang membunuh pedagang ikan itu!"
Yang lain menyahut. Tiba-tiba wajah orang yang ada di depan Lo-sin-ong itu menjadi gembira.
"Terima kasih, Lopek. Ternyata kau dan cucumu telah membantu kami untuk mengenyahkan mereka. Jangan takut, kami yang akan mengurus mereka. Hmmmmh... eh, siapakah sebenarnya Lopek ini. Dari mana dan mau kemana sebenarnya? Mengapa malam-malam begini masih berada di jalan pula?"
Lo-sin-ong menghela napas lega. Bagaimanapun juga ternyata orang-orang yang dibunuh Tiauw Li Ing itu adalah para penjahat yang sering mengganggu penduduk.
"Kami memang sedang dalam perjalanan ke Cin-an. Karena kami terburu-buru, maka kami telah memberanikan diri untuk berjalan malam pula. Tak tahunya kami telah menemui halangan di tempat ini. Untunglah kami selamat..."
Lo-sin-ong berbohong.
"Ah, kalau begitu... marilah Lopek singgah dulu di rumahku. Besok pagi saja Lopek meneruskan perjalanan. Biarlah kami yang mengatur dan mengurus para penjahat ini.Lopek tak usah khawatir dengan mereka, karena para petugas keamanan di kota ini pun telah dibuat pusing oleh tingkah-laku mereka."
Lo-sin-ong pun menjadi semakin lega.
"Terima kasih... terima kasih. Tapi kami benar-benar terburu-buru. Sungguh menyesal kami tidak bisa menerima undangan itu. Lain kali saja kami akan singgah. Maafkanlah kami..."
Katanya menolak.
Demikianlah, setelah meminta diri kepada orang-orang yang ada di tempat itu, Lo-sin-ong mengajak muridnya pergi.
Semula Tiauw Li Ing menolak.
Gadis yang telah menjadi putus-asa karena kesedihan hatinya itu benar-benar tak ingin hidup lagi.
Gadis itu merasa bahwa hidupnya benar-benar sudah tidak berguna lagi.
Ia lebih baik mati dari pada tidak bisa hidup bersama Liu Yang Kun.
Gadis itu baru mau diajak pergi setelah dalam kejengkelannya Lo-sin ong berjanji akan mempertemukan gadis itu dengan Pangeran Liu Yang Kun.
Barulah kakek buta itu merasa menyesal setelah di sepanjang jalan Tiauw Li Ing selalu merengek terus.
Kakek buta itu baru menyadari betapa sulitnya melaksanakan janjinya itu.
Bagaimana dia bisa mempersatukan mereka kalau cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan?
Masakan sebuah perkawinan itu harus diwujudkan dengan paksaan?
Oleh karena itu ketika mereka singgah untuk sarapan pagi di sebuah warung di luar kota, Lo-sin-ong mencoba untuk menasehati muridnya.
"Li Ing...! Bukankah masih banyak pemuda lain yang lebih baik dari pada Pangeran Liu Yang Kun? Mengapa kau tetap tidak bisa melupakannya?"
"Entahlah, suhu. Teecu juga telah berusaha pula dengan sekuat tenaga tapi tetap tidak bisa. Semakin keras teecu berusaha, justru semakin lekat pula ingatan teecu kepadanya. Memang kadang-kadang teecu bisa melupakannya, tapi hal itu juga tidak berlangsung lama, karena dalam waktu yang tidak lama teecu tentu akan mengingatnya kembali."
"Tapi... bukankah kau bisa menahannya sampai bertahun-tahun? Lalu mengapa sekarang kau tiba-tiba menjadi parah lagi sedemikian rupa? Apakah kau telah berjumpa lagi dengan pemuda itu?"
Mendadak mata Tiauw Li Ing menjadi merah lagi. Kemudian setetes demi setetes air matanya turun membasahi pipinya.
"Benar, suhu. Semalam dia telah berkunjung ke rumah teecu..."
Gadis itu mulai terisak.
Kemudian sambil menangis gadis itu menceritakan kejadian malam tadi kepada gurunya.
Bagaimana pemuda itu melawan keluarganya untuk membantu orang-orang Mo-kauw, bagaimana pemuda itu tidak mempedulikan dirinya, serta bagaimana pemuda itu meninggalkan dirinya begitu saja.
Sekali lagi Lo-sin-ong menarik napas sedih.
Matanya telah buta, namun dengan demikian hatinya justru menjadi peka dan perasa sekali.
Diam-diam hatinya tersentuh oleh kisah yang diceritakan muridnya itu.
Rasanya dia ikut merasakan pula penderitaan hati Tiauw Li Ing itu.
Lama sekali mereka terdiam.
Semakin dipikirkan Lo-sin-ong semakin menjadi kasihan kepada muridnya.
Sehingga akhirnya timbul niat di dalam hati orang tua itu untuk membantu Tiauw Li Ing, bagaimanapun caranya.
Pokoknya asal gadis itu bisa terlaksana menjadi isteri Pangeran Liu Yang Kun.
"Siapa tahu hal itu justru akan bisa mengubah wataknya yang buruk itu nanti?"
Orang tua itu berkata di dalam hatinya. Sementara itu Tiauw Li Ing menatap gurunya dengan pandang mata penuh harapan.
"Benarkah suhu hendak membantu teecu?"
Tanyanya ragu ketika melihat Lo-sin-ong berdiam diri sekian lamanya. Nada suaranya terdengar sedih dan memelas. Hati kakek buta itu semakin pedih dan iba.
"Tentu... tentu, anak manis. Kau tidak perlu khawatir. Kau akan berhasil mendapatkan dia. Percayalah,"
Katanya yakin.
Tiauw Li Ing tersenyum.
Dan bukan main cantiknya gadis itu.
Walau air mata masih tetap mengalir di atas pipinya, namun wajah itu benar-benar telah berubah menjadi segar kembali.
Dan Lo-sin-ong juga ikut merasakan getaran kegembiraan itu melalui genggaman tangan Tiauw Li Ing.
"Nah,.. sekarang habiskan makan pagimu! Kita pergi menemui dia."
Orang tua itu berkata mantap.
"Hah...?"
Tiauw Li Ing terbelalak dengan mulut ternganga.
"Menemui dia sekarang? Dimana...? Apa... apakah suhu tahu dimana dia sekarang?"
Lo-sin-ong mengangguk. Hampir saja gadis itu bersorak kegirangan. Tapi sekejap kemudian kegembiraan itu seperti hilang dengan tiba-tiba.
"Tapi... tapi bagaimana kalau ia tetap tidak mau dengan teecu,"
Ujarnya kemudian seperti akan menangis.
"Jangan bersedih. Suhu mempunyai akal. Apakah kau mau melakukannya?"
Tiauw Li Ing menatap gurunya. Ia kelihatan tak mengerti maksud gurunya.
"Apa yang mesti teecu lakukan, suhu?"
Bisiknya ragu. Lo-sin-ong tersenyum.
"Kemarilah, akan kubisikkan rencana itu kepalamu!"
Tiauw Li Ing mendekat. Lo-sin-ong lalu membisikkan rencananya ke telinga gadis itu. Dan beberapa saat kemudian wajah Tiauw Li Ing berangsur-angsur menjadi cerah kembali.
"Tapi bagaimana kalau siasat itu tak mempan? Bagaimana kalau dia menjadi marah nanti?"
Ujar gadis itu setelah mendengarkan semua rencana gurunya.
"Hemmm, jangan takut! Apa kau lupa bahwa ilmu silatku masih lebih tinggi dari pada dia? Dia cuma tertulis pada urutan yang ke tujuh, sedangkan aku berada satu tingkat di atasnya. Apa yang mesti ditakutkan?"
"Tapi... tapi...?"
Tiauw Li Ing menyela, tapi tak jadi.
Sebenarnya gadis itu agak kurang yakin atas urut-urutan di dalam Buku Rahasia itu, karena ia telah menyaksikan sendiri bagaimana lihainya Liu Yang Kun sekarang.
Tapi tentu saja gadis itu tak berani mengatakannya di depan gurunya.
Lo-sin-Ong mengerutkan keningnya.
"Bagaimana, Li Ing? Apakah kau masih sangsi dan belum yakin akan keberhasilan rencana kita itu?"
"Tidak, suhu. Aku percaya bahwa rencana itu tentu akan berhasil."
"Bagus! Kalau begitu mau tunggu apa lagi? Marilah kita berangkat sekarang!"
"Kita berangkat? Sekarang? Kemana...?"
Tiauw Li Ing menyahut dengan suara bersemangat.
"Kembali ke dalam kota!"
Sekejap Tiauw Li Ing tertegun kaget.
"Kembali ke dalam kota? Mengapa, mengapa... eh, apakah d-dia masih berada di sana?"
Pekiknya tak percaya.
"Benar! Marilah..."
Jawab Lo sin-ong tenang.
"Oooh!"
Tiauw Li ing berdesah bingung malah.
Demikianlah dengan hati berdebar debar Tiauw Li Ing mengikuti gurunya.
Mereka melangkah kembali ke dalam kota.
Walaupun sebenarnya ada juga kesangsian dan keraguan di dalam hati Tiauw Li Ing, namun gadis itu tetap saja berhasrat melaksanakan siasat dan rencana gurunya.
Siapa tahu siasat gurunya itu benar-benar akan berhasil nantinya?
Bukankah lebih baik berusaha dari pada tidak sama sekali?
Sementara itu di dalam kamarnya Liu Yang Kun sama sekali juga tidak tidur pula.
Setelah tadi malam hampir menabrak Lo-sin-ong di depan rumah penginapannya, pemuda itu langsung menuju kamarnya.
Ketika melewati kamar Toan Hoa pemuda itu mendengar kawannya mendengkur dengan kerasnya.
Maka Liu Yang Kun juga tidak ingin mengganggunya.
Apalagi malam memang telah sangat larut.
Pemuda itu ingin beristirahat pula.
Tapi ternyata Liu Yang Kun tak bisa memicingkan matanya.
Bayangan wajah Tiauw Li Ing selalu menghantuinya.
Pemuda itu merasa khawatir bila Tiauw Li Ing dapat menemukan tempat tinggal nanti, sebab sekilas pemuda itu melihat ada sesosok bayangan wanita yang mengejarnya ketika keluar dari rumah Tung-hai-tiauw itu.
Oleh karena itu Liu Yang Kun memilih untuk bersamadi saja di kamarnya sekalian berjaga-jaga kalau-kalau ada sesuatu yang tak diingininya.
Siapa tahu gadis itu benar-benar akan datang.
Siapa tahu bahwa kedatangannya nanti akan membawa juga seluruh kekuatan ayahnya?
Tetapi semua kecurigaannya itu ternyata meleset.
Sampai terang tanah tak mengalami gangguan apapun.
Gadis itu tidak datang.
Begitu pula dengan para pengawal dan anak buah Tung-hai-tiauw.
Sebaliknya yang mengganggu semadinya justru kawannya sendiri.
Toan Hoa!
"Hmm, Tuan Chin...!
Apakah kau sudah bangun?"
Pengurus Kim-liong Piauw-kok itu menyapa dari luar pintu. Liu Yang Kun tertawa perlahan.
"Aku sama sekali tidak tidur, saudara Toan. Masuklah...dan duduklah! Aku akan mandi lebih dahulu."
Toan Hoa membuka pintu, kemudian melangkah masuk.
Pakaiannya sudah berganti, dan dandanannya juga sudah tampak rapi dan bersih.
Tampaknya pengurus Kim-liong Piauw-kok itu telah mandi dan berganti pakaian sebelum datang ke kamar Liu Yang Kun.
Wajahnya juga kelihatan segar.
Sama sekali sudah tidak tampak sisa-sisa mabuknya tadi malam.
Toan Hoa lalu mengambil kursi dan duduk di dekat pintu.
Sementara Liu Yang Kun malah melangkah keluar ke kamar mandi.
"Kau duduklah dulu! Aku akan sekalian memesan kepada pelayan untuk mengirimkan sepoci teh hangat ke sini."
Pemuda itu berkata. Toan Hoa merengut.
"Masakan cuma teh saja? Kurang nyaman...ah!"
Sungutnya. Liu Yang Kun berhenti di depan pintu. Sambil menoleh ia berkata.
"Lalu... apa yang saudara Toan inginkan? Katakan! Nanti aku akan katakan pula kepada pelayan."
Toan Hoa segera tersenyum.
"Nah begitu! Akulah yang seharusnya memilih minuman kita ini, karena akulah yang menjadi tuan rumah di dalam perjamuan kita. Hahahah...!"
"Ya. Tapi ada syaratnya..."
Liu Yang Kun memotong. (Lanjut ke
Jilid 22) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 22
"Syarat?"
"Ya! Asal tidak memesan arak keras lagi!"
"Uuuuuu...!"
Liu Yang Kun lalu melangkah kembali dengan tertawa. Di depan kamar Toan Hoa dia berpapasan dengan pelayan.
"Hm... kebetulan sekali! Coba kau datang ke kamarku! Temanku ada di sana. Dia ingin memesan makanan dan minuman"
Katanya kepada pelayan itu.
"Baik, tuan. Tapi maaf, apa-apakah tuan yang bernama Tuan Chin atau Tuan Liu?"
Pelayan itu bertanya. Liu Yang Kun mengerutkan keningnya. Matanya menatap pelayan itu dengan curiga.
"Benar. Ada apa...?"
Jawabnya hati-hati. Tiba-tiba wajah pelayan itu menjadi berseri-seri. Tangannya segera merogoh lipatan bajunya dan mengeluarkan secarik kertas.
"Tuan Chin...! Ada seorang tamu yang menitipkan surat ini tadi pagi. Ia meminta kepadaku agar surat ini disampaikan kepada tuan, sebab dia tidak mempunyai banyak waktu untuk menemui tuan sendiri."
"Surat? Untukku...? Siapakah orang itu? Wanita atau... laki-laki?"
Liu Yang Kun bertanya kaget seraya menerima surat itu. Pelayan itu menggelengkan kepalanya.
"Entahlah, tuan... saya juga belum pernah mengenalnya. Dia seorang lelaki tampan. Sikapnya halus. Bertubuh jangkung dan mengenakan pakaian seperti sastrawan."
Liu Yang Kun membuka lipatan surat itu.
"Seorang sastrawan...? Siapakah dia?"
Gumamnya perlahan sambil membaca surat itu.
Saudara Chin atau Saudara Liu Aku menunggu kedatanganmu di bekas reruntuhan Kong-tee-bio malam ini.
Waktunya tepat ketika bulan muncul dari balik Kapur.
Teman lama.
"Teman lama...?"
Pemuda itu bergumam lagi.
Wajahnya kelihatan bingung.
Pelayan itu mengangkat pundaknya, lalu melangkah pergi sambil tersenyum.
Ditinggalkannya tamunya yang tampak bingung dan sibuk memikirkan surat yang dibawanya itu.
Ia menuju ke kamar Liu Yang Kun untuk menerima pesanan makanan seperti yang telah diperintahkan oleh pemuda itu tadi.
Demikianlah, karena pikirannya selalu tercekam oleh isi surat yang amat membingungkan itu, maka Liu Yang Kun menjadi lebih banyak melamun dari pada mengguyurkan air ke badannya.
Sehingga otomatis pula ia menjadi sangat lama di dalam kamar mandi itu.
"Huh! Jangan-jangan Tuan Chin ini tidur di kamar mandi."
Toan Hoa bersungut-sungut sambil berjalan mondar-mandir menggendong tangan di dalam kamar Liu Yang Kun.
Tiba-tiba pengurus Kim-liong Piauw kiok itu memandang terbeliak ke tempat tidur Liu Yang Kun!
Di atas pembaringan itu tergeletak sebuah rompi atau baju pendek beserta cawat atau celana pendek, terbuat dari kulit ular, yang berbelang-belang mengkilap kehijau-hijauan!
Sekejap Toan Hoa menjadi heran, sehingga kakinya tanpa terasa telah melangkah mendekati pembaringan itu.
Namun sebelum tangannya meraih benda itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pada pintu kamar.
Cepat Toan Hoa kembali ke kursinya.
"Siapa?"
Serunya.
"Pelayan, tuan. Pesanan tuan tadi telah siap "
Terdengar jawaban dari luar pintu. Toan Hoa menghela napas.
"Masuklah,"
Ia memerintahkan.
Sambil menunggu selesainya pelayan itu menurunkan hidangan yang telah dipesannya, Toan Hoa melangkah ke jendela.
Dipandangnya orang-orang yang sibuk berlalu-lalang di jalan raya.
Kemudian diawasinya pula kumpulan kuda yang ditambatkan tamu di halaman depan rumah penginapan tersebut.
"Hmm... banyak benar tamu yang berdatangan hari ini. Ada apa gerangan di dalam kota ini?"
Tanyanya kepada pelayan itu.
"Ah mereka cuma lewat. Bukankah dua pekan lagi di kota Cin-an akan ada perayaan pernikahan? Tamu-tamu telah mulai berdatangan sejak kemarin."
"Perayaan pernikahan? Pernikahan siapa?"
"Wah masakan tuan belum mendengarnya juga? Ketua Tiam-jong-pai, Hek-pian-hok Ui Bun Ting, akan melangsungkan pernikahannya dengan bekas kepala kuil cabang Im-Yang-kauw di Teluk Po-hai,"
Jawab pelayan itu sambil tersenyum menahan tawa. Toan Hoa membalikkan tubuhnya. Keningnya berkerut melihat senyum pelayan itu.
"Mengapa kau tertawa?"
Tegurnya tak mengerti. Pelayan itu menjadi kaget. Namun dengan mulut yang masih tersenyum ia menjawab.
"Ah, masakan tuan juga belum pernah melihat ketua Tiam-jong-pai yang sudah banyak ubannya itu? Dalam umurnya yang telah mulai lanjut itu ternyata ia masih ingin kawin juga. Dan wanita pilihannya ternyata juga tidak tanggung-tanggung pula, yaitu seorang bekas pendeta wanita dari Aliran Im-Yang-kauw. Hehe-haha... apakah tuan juga tidak merasa aneh dan lucu mendengar berita itu?"
Sekali lagi Toan Hoa mengerutkan keningnya, lalu ditatapnya pelayan itu lekat-lekat.
"Eh... apanya yang lucu dan aneh? Bukankah mereka juga manusia? Apalagi usia mereka juga belum lebih dari lima puluh tahun. Nah, apanya yang lucu dan aneh? Apakah karena pengantin wanitanya adalah bekas pendeta itu? Hmm... kudengar tiada larangan bagi pendeta Aliran Im-Yang-kauw untuk kawin. Apalagi pengantin wanita itu sudah tidak menjadi pendeta Im-Yang-kauw lagi sekarang..."
Pelayan itu tidak berani membantah lagi. Begitu selesai dengan tugasnya ia lalu bergegas keluar. Di depan pintu ia berpapasan dengan Liu Yang Kun yang telah selesai membersihkan badannya.
"Hei... lengkap benar pesanannya? Ini mau pesta atau... mau makan pagi?"
Liu Yang Kun berseru ketika memandang meja yang penuh sesak dengan segala macam masakan enak-enak itu.
"Hahaha...! Marilah, Tuan Chin... kita meneruskan pesta kita yang belum selesai tadi ma lam! Aku berjanji untuk tidak mabuk lagi, sehingga pesta kita dapat berlangsung hingga selesai. Hahaha..."
Toan Hoa tertawa. Setelah merapikan pakaiannya, Liu Yang Kun lalu ikut duduk pula menghadapi meja itu. Tapi Toan Hoa segera menepuk lengannya.
"Eee...Tuan Chin tidak mengenakan baju rompi itu dahulu?"
Tanyanya.
Seraya menunjuk ke arah pembaringan Liu Yang Kun.
Ada nada ingin tahu dalam suaranya.
Liu Yang Kun agak kaget juga.
Namun dengan cepat ia bisa menguasai dirinya kembali.
Dipandangnya temannya itu dengan tenang.
"Saudara Toan telah melihatnya?"
"Ya, maafkanlah... aku tidak sengaja melihatnya. Semula aku kaget melihatnya. Kukira benda apa, tak tahunya sebuah rompi dari kulit ular. Eh, sebenarnya pakaian apakah itu? Dan dimana Tuan Chin bisa memperoleh kulit ular sedemikian lebarnya itu? Jangan jangan Tuan Chin mendapatkannya dari kulit ular raksasa Ceng-liong-ong itu..."
Dengan nada bergurau Toan Hoa menjawab.
Diam-diam Liu Yang Kun menyesali keteledorannya.
Tapi semuanya memang telah terjadi dan tak bisa disesali lagi.
Cuma yang menjadi persoalannya sekarang adalah sampai sejauh mana temannya tersebut tahu tentang baju kulit ularnya itu.
Jangan-jangan temannya itu juga telah memeriksa dan mengetahui tentang rahasianya pula.
Oleh karena itu jawabnya kemudian dengan hati-hati.
"Entahlah, saudara Toan. Aku tak tahu, apakah itu kulit Ceng-liong-ong atau bukan, namun yang terang benda itu memang kudapatkan dari seekor ular raksasa. Ular itu telah kubunuh, karena aku juga hampir dibunuhnya pula."
"Dan... ternyata kulit ular itu bisa melindungi kulit tuan dari tajamnya senjata musuh, bukan?"
Toan Hoa menyelidik. Liu Yang Kun terpaksa mengangguk.
"Hah? Kalau begitu... ular yang kau bunuh itu memang Ceng-liong-ong! A-ha... itulah sebabnya ular keramat itu tak muncul di Danau Tai-ouw tempo hari! Binatang itu telah mati sebelumnya, hahaha...!"
Toan Hoa yang merasa dapat membongkar suatu misteri atau rahasia di dalam dunia persilatan itu tertawa gembira.
Namun mendadak pula tawanya itu terhenti.
Seperti orang yang tiba-tiba teringat akan sesuatu hal ia menatap wajah Liu Yang Kun.
"Tapi... eh, sebentar...! Waktu itu para pendekar persilatan yang berkumpul di Danau Tai-ouw telah digegerkan pula oleh munculnya seseorang yang mengenakan baju kulit ular seperti itu. Malahan khabarnya baju itu juga terbuat dari kulit Ceng-liong-ong dan kebal terhadap senjata tajam."
Katanya kemudian sambil mengetuk-ngetuk dahinya sendiri.
Dheg!
Berdegup hati Liu Yang Kun mendengar ucapan itu.
Entah mengapa tiba-tiba hatinya seperti diingatkan kepada isterinya.
Tapi hanya sesaat, karena sesaat kemudian ia telah menjadi sadar pula kembali.
"Bagaimana mungkin Tui Lan berada di sana sebulan yang lalu? Dan bagaimana mungkin pula dia berada di danau itu kalau dia masih berada bersama aku di terowongan bawah tanah itu? Ah... Tui Lan... Tui Lan!"
Keluhnya di dalam hati. Liu Yang Kun lalu memandang Toan Hoa. Dicobanya untuk menghapuskan kesan bahwa ia te lah terpengaruh olah ucapan Toan Hoa tadi.
"Seseorang telah mengenakan baju kulit ular pula? Siapakah dia?"
Tanyanya hati-hati.
Tetapi jawaban yang dikeluarkan Toan Hoa justru lebih mengejutkan lagi malah!
"Entahlah, Tuan Chin.
Tidak seorangpun yang mengenalnya.
Semua orang hanya tahu kalau dia adalah seorang wanita muda, berparas cantik dan..."
"...Dan sedang hamil! Begitukah?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun memotong dengan suara tegang.
Lagi-lagi pemuda itu tercekam oleh ingatan kepada isterinya.
Toan Hoa meringis kesakitan karena di dalam ketegangannya Liu Yang Kun telah mencengkeram lengannya.
"Oh, maaf... aku tak sengaja."
Liu Yang Kun cepat menyadari kekasarannya dan melepaskan cengkeramannya.
"Hmm... lagi-lagi pikiranku telah melayang ke Tui Lan kembali!"
Pemuda itu membatin. Sambil mengusap-usap lengannya yang sakit Toan Hoa menyeringai. Dipandangnya wajah Liu Yang Kun yang pucat itu dengan perasaan bingung.
"Be-benar, Tuan Chin. Semua orang memang mengatakan demikian. Wanita cantik itu sedang hamil,"
Katanya agak takut-takut.
"Ooooooh...!"
Liu Yang Kun berdesah lemas.
Jawaban Toan Hoa itu ternyata semakin menambah keresahan dan kegalauan di hati pemuda itu.
Wajah Tui Lan kembali menggoda hatinya.
Sementara itu Toan Hoa semakin menjadi bingung menyaksikan sikap Liu Yang Kun.
"Tuan Chin? Ada apa...?"
Bisiknya khawatir.
"Eh-oh... tidak! Aku tidak apa-apa!"
Dengan sangat gugup Liu Yang Kun menjawab.
Tentu saja Toan Hoa semakin bertambah curiga melihat kegugupan kawannya itu.
Masakan seorang pendekar sakti seperti Liu Yang Kun masih bersikap sedemikian gugupnya?
Tentu ada apa-apanya.
Tapi tentu saja Toan Hoa tidak berani menanyakannya.
"Eh... apakah Tuan Chin telah mengenal wanita itu?"
Tanyanya dengan sangat hati-hati sekali, Liu Yang Kun tampak tertegun sebentar. Namun sesaat kemudian kepalanya menggeleng dengan cepat.
"Tidak... eh, belum. Aku belum mengenalnya,"
Bantahnya, padahal hatinya semakin yakin bahwa wanita yang diceritakan itu tentu Tui Lan, isterinya.
Memang terjadi pertentangan di dalam hati dan pikiran Liu Yang Kun!
Di satu pihak pemuda itu merasa yakin bahwa Tui Lan tidak mungkin muncul di Danau Tai ouw sebulan yang lalu, tapi di lain pihak pemuda itu juga merasa bahwa data-data atau ciri-ciri yang diceritakan oleh Toan Hoa tersebut benar-benar semakin mengarah kepada isterinya.
Dan semuanya itu sungguh-sungguh sangat menyiksa dan membuat penasaran hati Liu Yang Kun.
Benarkah isterinya masih hidup?
Kalau benar, lalu dimanakah ia sekarang?
Dan kalau wanita itu memang benar Tui Lan, lantas bagaimana ia bisa keluar dari dalam tanah dan kemudian muncul di Danau Tai ouw?
Apakah terowongan itu juga berhubungan dengan danau tersebut?
Demikianlah, Liu Yang Kun semakin tenggelam ke dalam bayangan isterinya.
Antara rasa percaya dan tidak percaya, ia mulai berpikir bahwa Tui Lan memang masih hidup.
"Oh... aku benar-benar sangat penasaran. Jangan-jangan wanita hamil itu memang Tui Lan. Aku harus mencari dan menyelidikinya. Tapi...dimana aku harus mencarinya? Hmm... eh, benar... aku akan ke Teluk Po-hai menemui gurunya. Kalau Tui Lan benar-benar selamat, ia tentu pulang ke rumah gurunya itu,"
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
"Lalu..."
Toan Hoa hendak bertanya lagi, tapi tak jadi.
Tak enak rasa hatinya mendesak terus menerus.
Begitulah, meskipun cerita tentang wanita berbaju kulit ular itu telah menghilangkan sebagian besar nafsu makannya, tapi Liu Yang Kun tetap berusaha untuk menyenangkan hati Toan Hoa.
Apalagi setelah mengetahui bahwa Toan Hoa akan pulang hari itu.
"Saudara Toan, terima kasih atas semuanya ini..."
"Alaa... Tuan Chin, kau jangan membuat aku menjadi malu. Apa yang kulakukan ini belum apa-apa bila dibandingkan dengan budi baikmu kepadaku dahulu. Akulah yang seharusnya berterima kasih kepadamu. Ah, sudahlah... Aku juga sudah berpesan kepada pengurus penginapan ini, bahwa seluruh biaya penginapan dan makanan Tuan Chin selanjutnya adalah tanggungan Kim-liong Piauw-kiok. Tuan Chin dapat tinggal disini selama Tuan Chin suka..."
"Terima kasih. Saudara Toan. Tapi aku juga akan berangkat pagi ini. Aku..."
"Hei, mengapa tergesa-gesa! Aku... aku tidak bermaksud mengusir Tuan Chin. Aku dan anak buahku memang harus pulang hari ini, karena tugas yang lain telah menantikan kami."
Liu Yang Kun tersenyum.
"Ah... tidak! Saudara Toan jangan berpikir yang bukan-bukan. Aku memang mempunyai kepentingan juga. Aku harus lekas-lekas berangkat hari ini pula."
"Oh, apakah Tuan Chin hendak menghadiri pesta pernikahan Ketua Tiam-jong-pai di Kota Cin-an?"
Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.
"Pesta pernikahan? Ah, tidak...! Aku belum kenal dengan Ketua Tiam-jong-pai. Aku memang hendak menuju ke Cin-an, tapi tidak untuk melihat pernikahan itu."
"Lalu... apa tujuan Tuan Chin di sana?"
Liu Yang Kun menghela napas.
"Ah., aku cuma lewat saja. Aku bermaksud pergi ke Teluk Po-hai."
"Teluk Po-hai...? Oh... apakah Tuan Chin berasal dari daerah itu? Tuan Chin kenal dengan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai?"
Tiba-tiba Toan Hoa berseru. Liu Yang Kun menatap wajah Toan Hoa dengan hati berdebar, lalu perlahan-lahan kepalanya mengangguk.
"Sudah kenal? Hei... kalau begitu mengapa Tuan Chin tidak diundangnya?"
Liu Yang Kun menjadi tegang.
Pemuda itu mulai digoda oleh bayangan Tui Lan lagi.
Mengapa Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu harus mengundangnya?
"Me-mengapa...
bekas pendeta itu harus mengundangku?"
Tanyanya agak gemetar.
"Dialah pengantin wanitanya! Dialah yang hendak menikah dengan Hek-pian-hok Ui Bun Ting, ketua Tiam-jong-pai itu."
"Hah...?"
Liu Yang Kun benar-benar kaget setengah mati. Guru Tui Lan itu hendak kawin dengan Ketua Tiam-jong-pai? Berapa umur orang tua itu sebenarnya? Sungguh aneh sekali.
"Hei! Berapa usia mereka sebenarnya?"
Tanyanya terheran-heran. Tapi ternyata Toan Hoa pun juga terheran-heran pula melihat Liu Yang Kun.
"Usia mereka? Eh...bukankah Tuan Chin sudah mengenal Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu? Tentu saja umur mereka telah cukup tua, karena rambut mereka pun sudah mulai memutih. Bahkan Hek-pian-hok Ui Bung Ting sudah hampir putih semuanya."
"Oh! Kalau begitu aku akan melihat pesta itu,"
Mendadak Liu Yang Kun berkata pendek.
"Tuan Chin hendak menghadiri pesta pernikahan itu? Lhoh... mengapa Tuan Chin tiba-tiba berubah haluan? Bukankah Tuan Chin tadi mengatakan kalau tidak memperoleh undangan? Mengapa sekarang...?"
Liu Yang Kun bangkit berdiri dari kursinya, lalu cepat mengemasi barang-barangnya. Diambang pintu ia menoleh.
"Karena memang Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itulah yang hendak kujumpai di Teluk Po-hai! Nah... Saudara Toan, aku pergi dahulu! Terima kasih atas keteranganmu."
Toan Hoa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang akan dilakukan pemuda itu di pesta pernikahan Ketua Tiam-jong-pai nanti.
Baginya, kelakuan dan sikap Liu Yang Kun selama itu betul-betul sulit diduga.
"Ia masih sangat muda, tapi kesaktiannya sangat luar biasa, sehingga namanya ikut tercantum di dalam Buku Rahasia yang menghebohkan itu. Entah apa hubungannya dengan Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu sehingga dia hendak menemuinya."
Demikianlah kedua sahabat itu lalu berpisah jalan.
Toan Hoa dan anak buahnya pulang ke kota Sin-yang, sedangkan Liu Yang Kun meneruskan perjalanannya ke kota Cin-an.
Toan Hoa dan anak buahnya melaju dengan kuda dan gerobak-gerobak mereka, sementara Liu Yang Kun melangkah ke tepian sungai untuk mencari tumpangan perahu nelayan.
"Aku tidak memiliki uang sepeserpun. Lalu... bagaimana aku harus membujuk para nelayan itu agar mereka mau membawa aku ke kota Cin-an?"
Pemuda itu memutar otaknya.
"Aoaah, aku akan mengatakan kepada mereka bahwa aku bersedia membantu apa saja asal mereka mau membawa aku ke kota Cin-an."
An-lei memang hanya kota kecil, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama Liu Yang Kun telah sampai di perkampungan nelayan.
Sebuah perkampungan yang padat penghuninya.
Jorok dan kotor.
Sungguh berlawanan sekali dengan keadaan di dalam kota yang bersih dan rapi.
Liu Yang Kun terpaksa mengernyitkan hidungnya, karena bau amis dan busuk menyengat jalan napasnya, sementara ribuan lalat tampak berterbangan di sekelilingnya.
Dan pemuda itu segera menghela napas pula ketika terlihat olehnya beberapa orang anak kecil mengais-ngais sisa makanan di sebuah warung kecil.
Wajah mereka tampak sangat menderita, dengan tubuh kurus dan baju yang sudah tak layak lagi untuk dipergunakan sebagai penutup tubuh mereka.
Salah seorang diantaranya mereka tampak berlari mendekat ketika melihat Liu Yang Kun.
Tangannya segera teracung untuk minta sedekah.
"Berilah kami sekeping uang, tuan... sudah dua hari kami tak makan..."
Rintihnya memelas.
Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun tak bisa berkata-kata.
Matanya memandang termangu-mangu kepada bocah cilik bernasib ma lang itu.
Tapi apa dayanya kalau ia sendiri juga tidak punya uang sepeserpun?
"Ah, maafkan aku, dik...
Aku sendiri..."
Desahnya berat seraya merogoh kantung bekalnya yang ia tahu tidak ada apa-apanya itu.
Tapi betapa kagetnya pemuda itu ketika jari-jarinya menyentuh sebuah kocek uang diantara lipatan baju kulit ularnya.
Bahkan kocek uang itu tidak cuma sebuah, tapi dua buah malah.
Dan setiap koceknya penuh dengan uang logam, sehingga terdengar gemerincing ketika tersentuh tangannya.
"Hah...?"
Pemuda itu berseru kaget.
Karena merasa penasaran maka Liu Yang Kun segera membuka buntalannya.
Dan matanya segera terbelalak.
Diantara lipatan baju kulit ularnya tampak dua buah kocek uang dan...
surat yang diterimanya dari pelayan penginapan itu!
"Oh, ini...
ini...?"
Gumamnya bingung. Tentu saja anak kecil itu menjadi terheran-heran pula melihat tingkah laku Liu Yang Kun yang kebingungan itu.
"Tu-tuan...?"
Ujarnya serak, namun sudah cukup untuk menyadarkan Liu Yang Kun.
"Ah, ya... ya... nih, terimalah!"
Pemuda itu cepat menyahut serta mengambil dua keping uang tembaga untuk diberikan kepada anak kecil itu.
Setelah itu Liu Yang Kun cepat-cepat pergi meninggalkan tempat itu.
Sambil me langkah ia tak henti-hentinya berpikir tentang uang dan surat tersebut.
"Hmm... tentu Toan Hoa yang menaruh uang itu di kantung bekalku. Siapa lagi kalau bukan dia? Dialah yang berada di kamarku sewaktu aku mandi pagi tadi,"
Gumamnya. Lalu sambil menarik napas panjang ia meneruskan kata-katanya.
"...Tapi dengan demikian aku bisa membayar perahu untuk mengantar aku ke Cin-an sekarang. Ah! Cuma... bagaimana dengan surat yang kuterima melalui pelayan rumah penginapan tadi? Ehmm... Kong-tee-bio... ketika bulan mulai muncul."
Liu Yang Kun berhenti melangkah, lalu mendongak ke atas. Ia mencari Bukit Kapur itu.
"Dimanakah bukit itu berada?"
Gumamnya lagi perlahan-lahan.
Seorang lelaki kurus kering tampak melintas di samping Liu Yang Kun.
Di atas punggungnya ertumpuk onggokan jala dan peralatan untuk mencari ikan yang lain.
Begitu beratnya beban itu sehingga langkahnya terhuyung-huyung seperti orang mabuk.
Kebetulan ketika melewati Liu Yang Kun, kaki orang itu terantuk batu.
"Eeiit...!"
Orang itu menjerit.
Tubuhnya terpelanting, sehingga barang bawaannya juga terlempar dari punggungnya.
Hup!
Otomatis Liu Yang Kun melompat menangkap barang-barang itu.
Juga sekalian menyambar pula baju orang itu agar tidak terjatuh.
"Hati-hati, paman... Beban ini sebenarnya terlalu berat bagimu. Hmm...marilah kutolong membawanya. Kemanakah paman hendak membawanya? Ke sungai?"
Tegurnya bersahabat. Lelaki itu mengangguk dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat, sementara rasa kagetnya juga kelihatan belum hilang dari hatinya.
"Te-terima kasih, t-ttuan!"
Bisiknya dengan bibir gemetar.
Sambil berjalan membawakan alat perlengkapan perahu itu, Liu Yang Kun mengajak lelaki kurus itu bercerita.
Ternyata orang itu memang seorang nelayan.
Seorang nelayan miskin yang menggantungkan kehidupannya hanya pada mata-pencahariannya mencari ikan.
Maka sudah biasa bagi nelayan kurus itu untuk meninggalkan keluarganya selama berhari-hari di rumah, sementara dia sendiri menyusuri sungai itu sampai di kota Cin-an.
Demikian pula yang hendak dilakukannya sekarang.
Semua perlengkapan perahu itu akan dipasangnya di perahu kecilnya, karena malam nanti ia akan berangkat pula ke Cin-an.
"Ke Cin-an...? Oh... sungguh kebetulan sekali! Akupun hendak mencari tumpangan perahu pula ke sana. Paman, bolehkah aku menumpang perahumu? Jangan khawatir, aku akan membayar ongkosnya...!"
Liu Yang Kun hampir bersorak saking gembiranya.
"Ah... tentu saja boleh. Tapi tuan tak perlu membayarnya. Aku sudah cukup uang untuk memberi bekal kepada keluargaku nanti,"
Nelayan kurus itu cepat menolak pemberian Liu Yang Kun.
"Tapi...?"
Ketika Liu Yang Kun hendak memaksa agar nelayan itu mau menerima uangnya, tiba-tiba seorang anak lelaki berlari menubruk nelayan tersebut. Kemudian terdengar bocah itu menangis terisak-isak.
"Ayah... huk... uang itu... huk... uang itu..."
Nelayan kurus itu terkejut. Tangannya mencengkeram pundak bocah itu.
"Cepat katakan! Ada apa dengan uang itu? Hilang?"
Hardiknya dengan suara cemas. Bocah kecil itu mengangkat wajahnya. Dipandangnya mata ayahnya dengan sinar mata yang terus mengalir di pipinya. Tampak benar kalau bocah itu sangat ketakutan.
"Uang itu... uang itu di-di-di-rampas... oleh kawanan Si Bongkok!"
Anak itu melapor dengan terbata-bata.
"Oooh... habis sudah semuanya! Gagal lagi rencanaku malam ini..."
Nelayan kurus itu tiba-tiba meratap.
Badannya terhuyung-huyung dan tentu akan segera jatuh kalau tidak disambar oleh Liu Yang Kun.
Pemuda itu cepat meletakkan barang bawaannya, kemudian menolong si nelayan kurus yang hendak pingsan itu.
Penduduk yang melihat kejadian itu segera berdatangan pula.
Mereka ikut menolong nelayan itu.
Beberapa orang di antara mereka segera menanyakan sebab-sebabnya.
"Uang tabungan ayahku telah dirampas oleh kawanan Si Bongkok. Padahal ayah telah mengumpulkannya selama sebulan ini."
Anak kecil itu bercerita.
"Siapakah Si Bongkok itu?"
Liu Yang Kun ikut bertanya pula. Namun tiba-tiba kata-katanya terhenti. Dengan mata terbeliak kaget ia berseru.
"Hei... kau? Bukankah kau anak yang kuberi uang tembaga tadi?"
Anak kecil itu menjadi kaget pula. la juga tidak menyangka bahwa orang yang bersama ayahnya itu adalah orang yang telah memberinya uang tadi.
"Si Bongkok adalah pemimpin kawanan perusuh yang sering berkeliaran di kota An-lei ini. Bahkan gerombolannya itu sering mengganggu para penduduk di sekitar kota ini pula. Dan pagi ini tampaknya Si Bongkok benar-benar amat parah. Sejak terang tanah tadi telah kudengar ia menyebar keonaran dimana-mana. Mungkin ia mau membalas dendam."
Salah seorang dari orang-orang yang berkumpul di tempat itu memberi jawaban.
"Balas dendam...?"
Liu Yang Kun menegaskan.
"Ya! Tadi malam belasan orang kawan mereka telah dibunuh mati oleh seorang kakek tua beserta cucu perempuannya."
Orang itu menjawab pula.
"Mengapa para petugas keamanan tidak mau memberantas si Bongkok dan gerombolannya itu?"
"Petugas keamanan? Ah... jumlah mereka tidak cukup banyak untuk melawan gerombolan itu. Para petugas keamanan cenderung untuk membiarkan saja tingkah laku kawan perusuh itu, asalkan para perusuh itu tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat keterlaluan, seperti membunuh, merampok dan mengganggu anak bini orang."
"Kalau mereka itu ternyata membunuh orang juga? Apa yang akan dilakukan oleh para petugas keamanan itu?"
"Pejabat keamanan di kota ini akan meminta bala bantuan dari kota Cin-an. Tapi hal yang demikian itu jarang sekali terjadi, karena si Bongkok itu sedikit-sedikit juga punya otak pula. Dia tak mau menjadi buronan selama berbulan-bulan hanya karena salah tangan membunuh orang."
Demikianlah, beberapa waktu kemudian si nelayan kurus itu telah pulih kembali kesehatannya.
Dia tidak jadi membawa barang-barangnya ke sungai, sebaliknya dia minta diantar kembali ke rumahnya.
Liu Yang Kun yang sudah terlanjur membawakan barang-barangnya itu terpaksa ikut pula mengantarkannya.
Rumah si nelayan kurus itu sungguh mengenaskan sekali.Gubug reyot itu lebih tepat disebut kandang kelinci dari pada rumah tempat tinggal untuk manusia.
Sedangkan isteri si nelayan kurus tampak lebih tua dari pada usia sebenarnya.
Kurus dan menderita.
Sementara anaknya yang berjumlah lima orang itu juga kelihatan pucat dan kekurangan pula.
Isteri si nelayan kurus itu sangat terkejut melihat kedatangan suaminya.
Tapi para tetangganya segera memberi tahu apa yang telah terjadi pada suaminya.
"Oooooooh...!"
Wanita itu berdesah sedih.
Otomatis lengannya memeluk anak-anaknya.
Tampak benar kalau hatinya sangat terpukul oleh berita itu.
Dipandangnya anak-anaknya yang terbesar, yang telah menghilangkan uang tabungan keluarganya itu dengan mata berkaca-kaca.
Setelah memberikan kata-kata hiburan mereka satu persatu orang-orang yang mengantarkan si nelayan kurus itu meninggalkan gubug reyot tersebut.
Mereka itu sama miskinnya dengan si nelayan kurus, sehingga mereka juga hanya bisa menghibur saja.
"Paman...? Apakah kau tidak jadi berangkat malam nanti?"
Setelah semuanya pergi Liu Yang Kun mendekat dan bertanya kepada si nelayan kurus.
Dengan wajah sedih dan putus asa nelayan kurus itu menggelengkan kepalanya.
Matanya tampak berlinang-linang ketika memandang isteri dan anak-anaknya.
"Maaf, Tuan... Bagaimana aku bisa pergi kalau uang itu sudah hilang? Apa yang hendak dimakan keluargaku kalau aku pergi selama berhari-hari nanti? Aku harus mengumpulkan uang dulu bila hendak meninggalkan mereka."
Liu Yang Kun menghela napas panjang. Hatinya terharu melihat penderitaan keluarga miskin itu.
"Sungguh tak kusangka masih demikian banyak orang yang menderita di negeri ini. Hmmm... tampaknya masih banyak pula yang harus dikerjakan oleh Hongsiang untuk memperbaiki nasib rakyat."
Pemuda itu berkata di dalam hati.
"Lebih baik tuan mencari tumpangan perahu yang lain saja..."
Terdengar si nelayan kurus itu memberi saran kepadanya.
"Tidak, paman. Kalau cuma uang yang menjadi masalahmu, aku dapat menggantinya. Kita akan tetap berangkat malam ini. Eh, berapa uang yang hilang itu, dik?"
Liu Yang Kun tersenyum, lalu berpaling kepada bocah yang telah menghilangkan uang itu dan bertanya ramah.
"S-satu tail, Tuan..."
Anak kecil itu menjawab agak takut.
"Heh? Cuma setail...?"
Liu Yang Kun berseru kaget.
"Be-benar..."
Si nelayan kurus dan anaknya menjawab berbareng.
Liu Yang Kun betul-betul tidak habis mengerti.
Satu tail untuk menghidupi enam jiwa manusia selama lebih dari sepekan?
Bagaimana mungkin itu?
Lalu apa yang harus mereka makan dengan uang sekecil itu?
Masakan mereka harus makan rumput seperti binatang piaraan mereka?
Tetapi dengan demikian Liu Yang Kun semakin merasa kasihan terhadap keluarga itu.
Diambilnya sebuah dari kantong uang pemberian Toan Hoa itu.
Di dalamnya ada puluhan keping uang perak dan tembaga, yang jumlahnya tentu lebih dari se ratus tail.
"Paman, uang ini kuberikan kepadamu. Pergunakanlah dia untuk memperbaiki nasib keluargamu."
Liu Yang Kun berkata seraya menyerahkan kantung uang tersebut.
Si nelayan kurus dan isterinya terbelalak.
Apalagi ketika mereka menerima kantung uang itu dan membukanya.
Mereka justru menjadi gemetar karena kaget.
Mereka mengawasi tumpukan uang perak dan tembaga itu seakan-akan tak percaya.
"T-t-t... tuan? Eh-oh... eh-oh... ini... ini... Uang ini... uang ini tuan berikan kepada kami semua?"
"Ya! Apakah belum cukup?"
Tiba-tiba si nelayan kurus dan isterinya menjatuhkan diri berlutut di depan Liu Yang Kun.
"Ah... ini... ini justru terlalu banyak buat kami. Kami belum pernah melihat uang sebanyak ini dalam hidup kami."
Suami-isteri itu menyahut dengan suara gemetar.
"Nah... kalau begitu terimalah! Dan jangan lupa, nanti malam kita jadi berangkat ke Cin-an. Tapi sebelum berangkat aku ingin kau mengantar aku ke suatu tempat..."
"Terima kasih, tuan... Terima kasih. Tapi kemana tuan hendak pergi?"
Si nelayan kurus bertanya dengan wajah cerah.
Tampak benar kalau hatinya menjadi sangat bergembira.
Liu Yang Kun menatap wajah isteri nelayan kurus itu untuk beberapa saat lamanya.
Kemudian katanya perlahan, namun sangat jelas.
"Aku hendak pergi ke bekas reruntuhan kuil Kong-tee-bio. Kau tahu tempat itu?"
Tak terduga wajah si nelayan kurus itu tiba-tiba menjadi pucat kembali.
"Ja-jangan... tuan! Tuan jangan ke sana! Temannya banyak sekali, tuan akan dikeroyok nanti."
Katanya ketakutan. Kini ganti Liu Yang Kun yang terperanjat.
"Eh... apa maksudmu? Siapakah yang temannya banyak sekali itu?"
Serunya tak mengerti. Si nelayan kurus melongo.
"Si Bongkok...! Bukankah tuan hendak bertemu dengan Si Bongkok itu?"
Serunya pula.
"Si Bongkok? Apakah Si Bongkok itu tinggal di Kuil Kong-tee-bio?"
Si nelayan kurus itu cepat mengangguk.
"Benar, tuan. Dia dan anak buahnya memang tinggal di sana,"
Jawabnya semakin heran.
Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.
Dia yang semula tidak ingin campur tangan di dalam urusan Si Bongkok itu justru menjadi heran mendengar keterangan si nelayan kurus itu.
Ada hubungan apa antara Si Bongkok dengan orang yang mengundangnya itu?
Apakah orang yang menamakan dirinya 'teman lama' itu Si Bongkok pula?
Tapi siapakah Si Bongkok itu?
Rasa-rasanya ia tidak mempunyai kenalan atau teman yang bertubuh bongkok atau bernama Si Bongkok selama ini.
Tapi dengan demikian urusan tersebut justru semakin menambah perasaan ingin tahunya malah.
Hal yang sangat kebetulan itu sungguh amat menggelitik hatinya.
Ia ingin segera melihat, siapa sebenarnya Si Bongkok atau orang yang menyebut dirinya 'teman lama' itu?
"Bagaimana, paman?
Kau sanggup mengantarkan aku ke sana, bukan?
Jangan takut, karena aku takkan mengajakmu memasuki kuil itu!
Kau boleh kembali setelah menunjukkan tempat itu kepadaku.
Aku sendiri yang akan pergi ke sana."
Akhirnya ia berkata.
Demikianlah setelah seharian penuh membantu si nelayan kurus mempersiapkan perahunya, maka sore harinya Liu Yang Kun lalu berangkat ke kuil Kong-tee-bio.
Di sepanjang jalan si nelayan kurus selalu mencoba membujuk dia agar ia mau mengurungkan niatnya untuk menjumpai Si Bongkok.
"Sudahlah, paman... engkau tak perlu mencemaskan aku. Aku akan berusaha menjaga diri sebaik-baiknya. Dan boleh kau ketahui pula, bahwa kedatanganku ke sana bukan untuk berurusan dengan Si Bongkok, melainkan dengan seorang teman. Teman lamaku sendiri."
Liu Yang Kun menenangkan hati kawannya.
"Teman lama...? Oooh... tuan mempunyai teman diantara kawanan perusuh itu...?"
Liu Yang Kun tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan itu.
Pemuda itu justru me lihat ke arah langit sebelah timur, dimana bulan purnama nanti akan muncul.
Terdengar suara napasnya yang panjang ketika pemuda itu menyadari bahwa hari masih terlalu siang.
Matahari bahkan belum seluruhnya tenggelam, sinarnya yang kemerahan masih tampak menyala di sebelah barat.
Mereka berdua terus saja melangkah ke arah timur menjauhi kota An-lei.
Mereka menerobos perkampungan-perkampungan penduduk yang padat di luar kota itu.
Dan beberapa waktu kemudian mereka telah melewati dusun yang terakhir, untuk kemudian mereka mulai melangkah di atas tanah persawahan yang diselang-seling dengan padang rumput dan pegunungan.
Dan haripun telah menjadi gelap ketika mereka memasuki tanah-tanah yang berbukit.
Tiba-tiba si nelayan kurus berhenti.
"Kenapa, paman? Kita telah sampai di tempat itu?"
Liu Yang Kun bertanya. Si nelayan kurus mengangguk.
"Y-y-a...! Itu di... di lereng Bukit Kapur! Tuan lihat bangunan kuil yang sudah rusak itu? Itulah bekas Kuil Kong-tee-bio!"
Bisiknya serak seraya menunjuk ke arah kejauhan, dimana terlihat tanah berbukit-bukit berwarna keputihan.
Liu Yang Kun memandang ke tempat yang ditunjuk si nelayan kurus.
Dengan ketajaman matanya pemuda itu bisa melihat sebuah bangunan kuil yang besar dan luas, namun sudah separuhnya yang rusak.
Bangunan itu dapat dilihat dengan jelas karena terletak di tempat yang tinggi, sementara di sekitarnya hanya ada batu-batu kapur yang berserakan.
Tempatnya sangat lapang dan sama sekali tiada pepohonan, sehingga bangunan itu tampak seperti sebuah puri yang angker dan menakutkan.
Sekali lagi Liu Yang Kun memandang ke langit.
Dilihatnya sinar rembulan mulai mengintip di balik bukit.
"Waktunya sudah akan tiba. Aku datang tepat pada waktunya,"
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
"Tuan...? Apa... apakah tuan tetap akan pergi ke sana?"
Si nelayan kurus bertanya pula. Suaranya mulai gemetar, suatu tanda bahwa rasa gentar juga sudah mulai merayap pula di hatinya. Liu Yang Kun tersenyum.
"Tentu saja. Paman boleh pulang sekarang. Nantikanlah aku di atas perahu paman! Setelah urusanku di kuil itu selesai, aku akan cepat-cepat kembali. Kita terus berangkat ke kota Cin-an."
"Baiklah, tuan... aku akan kembali. Tapi kumohon tuan mau berhati-hati. Saya tidak ingin menunggu tuan dengan sia-sia di atas perahuku."
Liu Yang Kun mengangguk dengan perasaan berterima kasih atas perhatian si nelayan kurus kepadanya.
Setelah itu dia me langkah menaiki tanah berbukit kapur itu dengan waspada.
Siapa tahu orang yang mengundangnya itu telah berada di sekitar tempat tersebut dan sekarang sedang mengawasi dirinya?
Suasana di tempat itu benar-benar sangat lengang, sunyi dan gelap.
Jalan pun juga tidak rata, sehingga Liu Yang Kun harus sering berloncatan dari batu ke batu untuk mendekati bangunan kuil itu.
"Tampaknya dulu juga dibangun jalan menuju ke kuil itu. Tapi jalan itu sudah rusak sekarang. Bahkan di beberapa tempat tadi telah berubah menjadi jurang, tempat air hujan mengalir dari atas bukit."
Kira-kira empat puluh tombak dari bangunan kuil itu Liu Yang Kun berhenti.
Bangunan itu benar-benar besar dan luas.
Tetapi temboknya sudah banyak yang roboh, terutama tembok halamannya sehingga bangunan pendapanya yang megah itu tampak jelas dari tempatnya berdiri.
"Kata nelayan tadi Si Bongkok dan anak buahnya tinggal di sana. Tapi mengapa aku tidak melihat bayangan seorang manusiapun di tempat itu? Mengapa mereka juga tidak memasang lampu penerangan barang sebuahpun? Apakah mereka benar-benar telah menunggu kedatanganku di sana? Hmmm... aku harus berhati-hati. Aku mencium sesuatu yang kurang beres di tempat ini."
Tiba-tiba Liu Yang Kun teringat pada 'kemampuan anehnya"
Yang selama ini jarang sekali ia pergunakan.
Yaitu kemampuan yang setarap dengan ilmu Lin-cui-sui-hoat (ilmu tidur di atas permukaan air) milik Toat-beng-jin, seorang tokoh Aliran Im-Yang-kauw.
Kemampuan yang ia maksudkan itu adalah kemampuan untuk 'melihat' sesuatu yang belum tampak oleh matanya, yaitu dengan mempergunakan ketajaman hati, perasaan, pendengaran dan penciumannya.
Sebuah ilmu tingkat tinggi yang hanya dapat dipelajari oleh seorang pertapa yang telah benar-benar mengesampingkan urusan duniawinya.
Liu Yang Kun lalu menyilangkan kedua tangannya di dadanya.
Matanya terpejam.
Pikiran dan perasaannya terpusat menjadi satu.
Perlahan-lahan ia mengerahkan kemampuan dan kekuatan batinnya untuk 'melihat' sesuatu yang mencurigakan di sekitarnya.
Mula-mula semuanya tampuk gelap gulita.
Tapi sejalan dengan terkumpulnya kekuatan yang ia miliki, bayangan yang tercipta di dalam batinnya pun juga semakin terang pula.
Sedikit demi sedikit ia memperoleh gambaran tentang bangunan kuil yang telah mulai rusak itu.
"Oooooh...!"
Pemuda itu tiba-tiba berdesah.
Tidak tampak sesosok bayangan manusiapun di dalam reruntuhan kuil itu.
Semua ruangannya kosong melompong.
Hanya ada bekas-bekasnya saja bahwa tempat itu sering dipakai orang.
Belasan tempat tidur darurat seperti tikar, tumpukan jerami dan papan kayu tampak berserakan di segala tempat.
Sementara beraneka macam bentuk senjata juga tampak bergantungan pula di atas dinding-dindingnya.
"Mengapa tak seorangpun yang bersiap untuk menyambutku di kuil itu? Dimanakah orang yang mengundang aku itu? Dan kemana pula orang-orang Si Bongkok yang katanya bertempat tinggal di reruntuhan kuil itu? Heran...!"
Mendadak Liu Yang Kun terkejut. Ketika ia memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya ke bagian belakang kuil itu, ia 'melihat"
Belasan orang lelaki tertumpuk di dalam gudang bekas tempat menyimpan kayu bakar. Semuanya dalam keadaan lemas dan tak berdaya. Malah beberapa orang di antaranya tampak terluka.
"Ooooh!"
Liu Yang Kun lalu menghentikan pemusatan ilmunya.
Bergegas ia melangkah menuju ke kuil itu.
la menjadi penasaran dan ingin segera membuktikan apa yang tampak di dalam pemusatan ilmunya tadi.
Benar juga.
Tak seorangpun tampak di dalam kuil itu.
Pemuda itu hanya menemukan secarik kertas di atas meja reyot yang berada di tengah-tengah pendapa tersebut.
Di atas kertas itu tertulis beberapa huruf, yang berbunyi.
Maaf, saudara Chin, aku terpaksa mengingkari janji.
Sesuatu yang sangat gawat telah terjadi di dunia persilatan kita.
Aku sedang berusaha untuk menyelidikinya.
Kau pergilah ke kota Cin-an.
Mungkin kita bisa bersua di sana.
Sekali lagi aku minta maaf.
Teman lama.
"Sesuatu yang gawat...? Apakah itu?"
Liu Yang Kun bergumam.
Karena tak bisa menduga apa yang dimaksudkan oleh orang misterius itu, maka Liu Yang Kun lalu melangkah ke halaman belakang.
Ia langsung menuju ke bekas gudang penyimpanan kayu itu.
"Ohhhhh...! "
Pemuda itu tertegun.
Benar juga apa yang tersirat di dalam ilmunya tadi.
Gudang yang sudah rusak itu penuh dengan tubuh manusia yang saling bertumpang tindih.
Semuanya di dalam keadaan lemas tak berdaya.
Dan salah seorang diantaranya, yang berada di dekat pintu, adalah seorang lelaki separuh baya.
Tubuhnya agak gemuk, kakinya pendek-pendek dan punggungnya bongkok.
"Si Bongkok dan anak buahnya..."
Liu Yang Kun berdesah kaget. Kemudian dengusnya pula.
"Siapakah yang telah menghajar kawanan penjahat ini? Apakah orang yang mengaku sebagai teman lamaku itu pula?"
Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun tertegun di tempatnya.
Ia tak tahu, apa yang harus ia kerjakan terhadap kawanan penjahat tersebut.
Apakah ia harus menolong mereka atau membiarkan saja mereka itu di sana?
"Hmm, baiklah...
Aku akan membebaskan Si Bongkok itu.
Siapa tahu dia bisa memberi keterangan kepadaku, siapa sebenarnya 'teman lamaku' itu?"
Akhirnya pemuda itu memutuskan.
Liu Yang Kun lalu berjongkok di dekat Si Bongkok.
Jari-jarinya yang penuh tenaga itu menotok beberapa titik jalan darah di tubuh pimpinan penjahat tersebut.
Setelah itu tangannya dengan cepat mengurut pula di beberapa bagian tubuh yang lain.
"Uh!"
Si Bongkok mengeluh, kemudian bergerak. Jalan darahnya telah kembali normal seperti sediakala.
"Bangkitlah!"
Liu Yang Kun berdesah.
Pimpinan penjahat yang sering mengganggu penduduk kota An-lei itu lalu menggeliatkan badannya, kemudian berdiri.
Wajahnya yang pucat itu menengadah, matanya tampak gelisah ketika memandang Liu Yang Kun.
Memang di dalam pantulan cahaya bulan yang terang benderang itu perbawa Liu Yang Kun tampak angker dan berwibawa.
"Terima kasih, Taihiap,"
Desisnya gemetar, lalu menundukkan kepalanya seperti orang yang telah mengakui segala kesalahannya. Liu Yang Kun menarik napas panjang. Matanya meredup.
"Kau Si Bongkok yang sering mengganggu penduduk di sekitar tempat ini, bukan? Dengarlah...! Sebenarnya aku tak peduli apa yang telah terjadi padamu dan pada kawan-kawanmu ini. Tetapi aku sependapat dengan orang yang telah menghukum kalian seperti ini. Orang itu tidak membunuh kalian, tapi hanya memberi peringatan agar kalian tidak melakukan tindakan-tindakan yang tercela lagi. Dan orang itu cuma akan membunuh bila di kelak kemudian hari ia mendengar engkau dan kawan-kawanmu melakukan kejahatan kembali."
Liu Yang Kun menghentikan kata-katanya sebentar.
Kemudian sambil membalikkan badannya pemuda itu mengerahkan tenaga dalamnya.
Tiba-tiba dengan telapak tangan terbuka ia mendorong ke arah dinding halaman yang jaraknya ada lima tombak dari tempatnya berdiri itu.
"Whuuuuuuuus...!"
"Brrooooooool!"
Tembok itu terguncang dan berderak runtuh oleh angin pukulan itu.
Si Bongkok ternganga.
Dan otomatis hatinya semakin menjadi ciut.
Apa yang dilakukan oleh Liu Yang Kun itu memang sebuah pameran kekuatan yang tiada tara.
Hanya orang-orang yang memiliki tenaga dalam sempurna saja yang bisa berbuat seperti itu.
"Lihatlah! Akupun dapat berbuat seperti itu pula kepadamu apabila pada suatu saat menjumpai engkau berbuat kejahatan lagi,"
Pemuda itu mengancam.
Si Bongkok cepat-cepat menjatuhkan dirinya di depan Liu Yang Kun.
Dengan suara ketakutan ia berjanji untuk tidak mengulangi semua perbuatan jahatnya lagi.
Ia berjanji akan membubarkan kawan-kawannya dan kembali hidup baik-baik di tempat asalnya.
"Baiklah untuk sementara aku percaya kepadamu. Tapi semuanya itu masih harus dibuktikan dulu. Sekarang aku hendak bertanya tentang hal lain. Ehm... apakah kau mengenal orang yang telah menangkap kau dan kawan-kawanmu itu?"
Si Bongkok menengadah. Mula-mula matanya memancarkan sinar bingung dan tak mengerti. Namun sesaat kemudian kepalanya lalu menggeleng lemah.
"Maaf, Taihiap... aku be-belum mengenalnya. Aku dan kawan-kawanku juga baru melihatnya siang tadi. Dia..., dia masih muda, bertubuh tinggi dan berpakaian seperti sastrawan..."
Jawabnya gemetar. Tampak benar kalau penjahat itu sangat ketakutan ketika bercerita tentang sastrawan yang menghukumnya siang tadi, sehingga Liu Yang Kun memperoleh kesimpulan bahwa 'teman lamanya"
Itu tentulah seorang yang sangat hebat dan mengerikan pula kepandaiannya.
Apalagi menyaksikan sikap Si Bongkok yang selalu tampak cemas dan gelisah begitu selesai memberikan jawabannya.
Beberapa kali orang itu menoleh ke kanan dan ke kiri, melirik ke arah kegelapan malam di sekitarnya, seakan-akan dia merasa takut kalau-kalau lawannya itu akan datang kembali.
Liu Yang Kun tersenyum.
"Hmm...apa sebenarnya yang telah ia lakukan kepadamu?"
Katanya kepada penjahat itu.
"Jangan takut...!"
Tambahnya pula ketika dilihatnya orang itu semakin menjadi ketakutan.
"Orang itu... orang itu... eh, kelihatannya seperti bukan manusia. Dia... dia bisa menghilang seperti hantu. Tahu-tahu... kami semua roboh di atas lantai pendapa!"
Ucap Si Bongkok kemudian dengan suara gugup.
"Hmmmh!"
Liu Yang Kun mendengus penasaran karena ia semakin tak bisa menerka, siapa sebenarnya orang yang mengaku sebagai teman lamanya itu.
"Taihiap...?"
Si Bongkok berdesah parau. Matanya memandang Liu Yang Kun, kemudian berpaling ke arah kawan-kawannya. Sekali lagi Liu Yang Kun mendengus.
"Aku takkan menolong kawan-kawanmu itu. Biarlah mereka terbebas dengan sendirinya. Kau tunggulah saja mereka sampai tengah malam nanti. Tapi kau harus ingat janjimu tadi. Kalau kelak aku masih menjumpaimu melakukan kejahatan lagi, hmm... aku benar-benar tidak akan memberi ampun!"
Setelah merasa cukup memberi peringatan kepada Si Bongkok, Liu Yang Kun segera melesat pergi dari tempat itu.
Pemuda itu sengaja mengerahkan Bu-eng Hwe-teng sepenuhnya, untuk memberi kesan bahwa ia pun sanggup 'menghilang' pula seperti sastrawan itu.
Memang benar.
Si Bongkok itu tiba-tiba melongo ketakutan tatkala melihat Liu Yang Kun lenyap begitu saja dari depannya!
"Oh!
Han...
hantu...?"
Bibirnya berbisik parau.
Demikianlah, setelah batal bertemu dengan orang yang mengundangnya, Liu Yang Kun lalu kembali ke perahu si nelayan miskin lagi.
Dari jauh pemuda itu telah melihat si nelayan miskin berdiri menantikannya.
"Tuan...? Tuan telah kembali? Oh, betapa gembiranya hatiku...! Bagaimana dengan kawanan Si Bongkok itu?"
Hampir bersorak si nelayan itu menyambut kedatangan Liu Yang Kun.
"Paman...?"
Pemuda itu berseru pula.
Tiba-tiba pemuda itu menghentikan kata-kata yang hendak diucapkannya ketika mendadak matanya melihat dua orang asing di atas perahu si nelayan miskin itu.
Dua orang lelaki, yang satu sudah tua bermata buta, sedang yang lain masih muda namun buruk rupa.
Begitu buruk wajah si anak muda itu sehingga Liu Yang Kun cepat-cepat melengos dan tak tahan untuk menatapnya berlama lama.
Tampaknya si nelayan miskin itu memaklumi kecanggungan hati Liu Yang Kun.
Bergegas ia memperkenalkan kedua orang asing itu kepada Liu Yang Kun.
"Tuan, perkenalkan kedua orang tamu kita ini. Mereka juga akan ikut kita ke kota Cin-an. Mereka adalah kakek dan cucu dari Keluarga Lo di kota Cin-an..."
Liu Yang Kun terpaksa mengangguk untuk membalas penghormatan kedua orang itu, namun di dalam hatinya pemuda itu sudah merasa curiga kepada mereka.
Perasaannya mengatakan bahwa mereka itu tidak beres dan sedang melakukan sesuatu yang tersembunyi.
Tapi tentu saja Liu Yang Kun tidak mau memperlihatkan kecurigaannya tersebut.
Pemuda itu cuma diam saja dan pura-pura tidak menaruh perhatian kepada mereka.
Bulan telah berada hampir di atas kepala mereka.
Angin bertiup perlahan, mengusap layar perahu yang telah dipasang oleh si nelayan miskin, sehingga perahu itu melaju pula dengan perlahan.
Suara kecipak air yang menghantam dinding perahu terasa lembut pula di telinga, membuat Liu Yang Kun tak tahan untuk tidak memejamkan matanya.
Perahu itu tidak begitu besar, sehingga ruangannyapun juga tidak seberapa luas pula.
Lebarnya tidak lebih dari dua meter, sementara panjangnya juga tidak lebih dari pada tujuh atau delapan meter.
Namun demikian perahu itu tampak ramping dan gesit bila dibandingkan dengan perahu-perahu lain yang rata-rata berbentuk besar dan gemuk.
Si nelayan miskin kelihatan sibuk mempersiapkan jaring-jaringnya di haluan, sementara Liu Yang Kun yang ingin beristirahat itu tampak merebahkan dirinya di atas tumpukan kain layar yang belum terkembang.
Pemuda itu sama sekali tak peduli kepada kakek Lo dan cucunya yang duduk di belakang kemudi.
Dibiarkannya kedua orang itu mengemudikan jalannya perahu itu.
Hanya kadang-kadang saja pemuda itu melirik ke arah mereka.
Namun lirikan itupun hanya sekejap pula, karena pemuda itu benar-benar tak tahan menyaksikan 'wajah yang rusak"
Dari cucu kakek Lo itu.
Di dalam keremangan malam yang sunyi seperti saat itu, wajah anak muda tersebut benar-benar lebih menyeramkan dari pada hantu sendiri.
Bukan cuma gigi-giginya yang besar dan mencuat lebih panjang dari pada bibirnya itu saja yang sangat menakutkan, tapi juga separuh wajahnya yang menghitam seperti jamur bangkai itu pula yang membuat hati Liu Yang Kun menjadi seram.
Oleh karena itu Liu Yang Kun lebih suka memandang ke sekitar perahu, dimana beberapa buah perahu yang lain tampak melaju pula ke arah utara, seakan-akan perahu-perahu itu saling berlomba untuk lebih dahulu tiba di kota Cin-an.
Sedangkan para penumpangnya, yang semuanya juga nelayan pencari ikan, tampak sibuk pula mempersiapkan alat-alat penangkap ikan mereka.
Liu Yang Kun menarik napas panjang, kemudian memejamkan matanya.
Pemuda itu merasa mengantuk dan ingin tidur barang sebentar, udara basah yang tertiup disela-sela pakaiannya membuat pemuda itu segera terlena ke dalam mimpi, sehingga si nelayan miskin yang hendak memasang layarnya itu terpaksa mengurungkan niatnya.
Orang tua itu tak ingin mengusik tamunya yang baik hati itu.
Ketika angin bertiup agak kencang, maka perahu-perahu yang lainpun segera melaju meninggalkan perahu si nelayan miskin.
"Paman...! Mengapa kau tidak memasang layar seperti mereka?"
Tiba-tiba cucu kakek Lo yang buruk rupa itu menegur.
"Ah... nanti saja! Biarlah mereka itu berangkat lebih dulu. Lebih baik kita mengambil jarak dengan mereka. Peralatan mereka lebih baik dari peralatanku. Aku tidak akan memperoleh hasil seekor ikanpun bila menjala ikan di dekat mereka. Lagi pula...ehm...aku tak tega membangunkan tuan pendekar yang baik hati itu."
Si nelayan miskin itu menjawab seraya melirik Liu Yang Kun. Si buruk muka itu mendengus tak senang.
"Siapa bilang engkau tak akan mendapatkan hasil yang banyak bila berdekatan dengan mereka? Peralatanmu tidak terlalu kalah dengan mereka. Asalkan kau lebih pandai menebarkan dan menarik jalamu, kutanggung hasilmu justru akan lebih banyak dari pada mereka. Ayoh, jangan takut! Aku akan membantumu. Bangunkan saja tuan pendekar itu! Suruh dia tidur di tempat lain!"
Geramnya bersemangat sehingga air ludahnya menyembur kesana kemari.
"Wah... mana aku berani? Tuan itu sangat baik kepadaku. Lagi pula keberangkatanku ke kota Cin-an ini juga atas kehendak dan jasa baik tuan pendekar itu pula. Bagaimana aku berani mengusik dia?"
Si nelayan miskin membantah tak senang.
"Huh! Apakah karena dia telah membayarmu? Bukankah sejak semula aku juga bersedia membayarmu berapa saja? Mengapa...?"
Si buruk rupa itu menggeram lagi.
"A Hek... sudahlah! Mengapa kau selalu tidak bisa menyabarkan hatimu?"
Tiba-tiba kakek Lo menegur cucunya.
Si nelayan miskin itupun lalu mendengus pula.
Hatinya semakin tidak suka kepada Si Buruk Rupa yang ingin memaksakan kehendaknya itu.
Padahal sejak semula ia tidak mau ditumpangi mereka.
Tapi Si Buruk Rupa itu tetap memaksanya juga, sehingga akhirnya ia terpaksa memperbolehkan mereka menumpang perahunya.
Dan ia menolak pemberian mereka.
Bahkan ia mengajukan syarat kepada mereka, yaitu mereka tidak boleh menganggu pekerjaannya.
Tapi sekarang Si Buruk Rupa itu mulai mengganggunya!
"Bukankah tuan telah berjanji untuk tidak menggangguku?"
Si Nelayan Miskin mencoba mengingatkan janji mereka.
"Persetan dengan janjimu! Bangunkan orang itu dan pasanglah layarnya! Apakah engkau ingin melihat aku menyeret dia dari tempatnya itu?"
Si Buruk rupa itu membentak dengan suaranya yang parau.
"A Hek...! Mengapa kau tidak mau bersabar juga?"
Kakek Lo memperingatkan cucunya lagi. Kali ini suaranya agak sedikit keras.
"Kakek...?"
Si Buruk Rupa itu mencoba membantah kata-kata kakeknya.
"Hmh!"
Tiba-tiba Liu Yang Kun terbatuk.
"Tuan...?"
Si Nelayan Miskin berdesah kaget lalu bergegas menghampiri pemuda itu. Liu Yang Kun menggeliatkan tubuhnya, kemudian bangkit berdiri.
"Pasanglah layarmu, paman! Aku sudah cukup beristirahat. Biarlah aku ke haluan untuk membantu kau memasang jaring."
"Tuan...! Kau... kau... beristirahatlah! Aku... aku... tidak..."
"Sudahlah! Tidak baik berbantah di atas perahu ini.Memang benar sekali apa yang dikatakan oleh kakek itu. Kita harus bisa menyabarkan hati kita sendiri."
Liu Yang Kun bergumam seperti kepada dirinya sendiri.
"Huh... lagaknya! Mentang-mentang bernama besar, lalu bersikap acuh dan meremehkan orang lain."
Si Buruk Rupa bersungut-sungut mendengar sindiran itu.
Liu Yang Kun tertegun.
Kakinya berhenti melangkah.
Namun demikian pemuda itu tidak menjawab atau menoleh sama sekali.
Pemuda itu cuma menghela napas berat seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Di dalam hatinya pemuda itu memahami situasi yang dihadapinya.
"Benar juga dugaanku tadi. Orang itu sedang melakukan sesuatu yang tersembunyi. Mungkin mereka sedang memata matai aku. Mereka tahu siapa aku. Sebaliknya... aku tidak tahu siapa mereka. Hmmh! Aku harus meningkatkan kewaspadaanku."
Sementara itu kakek Lo telah menarik lengan cucunya. Orang tua itu tampak menjadi marah sekali karena peringatannya tidak diindahkan oleh Si Buruk Rupa.
"A Hek! Kau masih mau mendengarkan kata-kataku tidak? Kalau tidak... hmmhh, aku akan pergi! Kita berpisah saja sampai disini!"
Dampratnya gusar. Di dalam kemarahannya kakek Lo tampak membuka kelopak matanya, sehingga kedua lobang matanya yang kosong melompong itu kelihatan sangat mengerikan.
"Kakek...!"
Tiba-tiba Si Buruk Rupa itu menjerit dan menghambur ke dalam pelukan kakeknya.
Untuk sesaat Liu Yang Kun menjadi kaget mendengar jeritan A Hek.
Mengapa suara Si Buruk Rupa itu menjadi sangat nyaring?
Demikian hebat dan tinggikah Iweekangnya?
Otomatis pemuda itu membalikkan tubuhnya.
Dipandangnya kedua orang cacat itu baik-baik.
Terutama Si Buruk Rupa yang bernama A Hek itu.
Tapi pemuda itu tidak menemukan keanehan pada diri mereka.
Selain cacat muka pada diri A Hek dan cacat mata pada kakek Lo, semuanya tampak biasa-biasa saja.
Oleh karena itu Liu Yang Kun lalu membalikkan badannya lagi dan meneruskan langkahnya ke haluan.
Pemuda itu lalu membantu si nelayan miskin memasang jalanya.
"Tuan...?"
Nelayan itu mencoba mencegahnya.
"Sudahlah, paman. Kau pasanglah layarnya! Biarlah aku yang mengerjakan jala-jala ini..."
Demikianlah, malam semakin larut.
Tengah malam pun telah berlalu pula.
Angin semakin kencang bertiup, sehingga perahu kecil itu pun juga semakin cepat pula menyibakkan gelombang air sungai tersebut.
Akibatnya jaring mereka juga mengembang dengan baik, sehingga ikan pun juga mulai banyak yang terjaring dan terperangkap di dalam jala mereka.
Si nelayan miskin menjadi heran, tapi juga sangat bergembira pula.
Belum pernah selama ini ia memperoleh hasil sedemikian cepat dan mudahnya seperti sekarang.
Kali ini seolah-olah ia ditolong oleh Dewa Keberuntungan dengan menggiring semua ikan-ikan di sungai itu ke dalam jaringnya.
"Bukan main... oh... bukan main! Tuan, lihatlah! Banyak benar ikan yang kita peroleh malam ini, hehehe!"
Si nelayan miskin bersorak gembira seraya menumpahkan isi jalanya ke dalam lantai perahu.
Ikanpun segera berserakan, menggelepar dan berloncatan di lantai perahu.
Ada yang kecil, tapi ada juga yang besar.Semuanya tampak segar-segar, sehingga menimbulkan selera untuk memakannya.
"Paman...! Aku menjadi lapar melihatnya. Bagaimana kalau kita menyiapkan makan dengan lauk ikan itu?"
Liu Yang Kun mengajukan usul sambil menelan ludahnya. (Lanjut ke
Jilid 23) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 23
"Setuju!"
Mendadak A Hek berseru tak terasa, sehingga semuanya tersenyum di dalam hati.
"Baik tuan. Kalau begitu aku akan memasaknya. Tapi tolonglah awasi jaringku! Angkat saja kalau sudah banyak isinya!"
Si nelayan miskin berseru pula.
Demikianlah, malam itu mereka makan bersama dengan lauk ikan hasil tangkapan mereka sendiri.
Rasa-rasanya perut Liu Yang Kun menjadi lapar sekali sehingga ia dan si Nelayan Miskin seperti berlomba menghabiskan hasil masakan sederhana itu.
Sedangkan Si Buruk Rupa yang semula juga kelihatan bernafsu itu ternyata hanya makan sedikit saja.
Bahkan lebih sedikit dari pada kakeknya malah.
Keesokan harinya perahu mereka tiba di sebuah dusun besar yang sangat ramai, yang kesibukannya hampir menyamai kota kecil.
Dusun itu disebut orang dusun He-cung atau Dusun Ikan, karena dusun itu menjadi pusat penjualan ikan di daerah itu.
Dan sepagi itu pula pasar ikan yang berada di tepian sungai tersebut telah ramai dengan pedagang-pedagang yang datang dari luar daerah.
Mereka memang telah biasa datang sepagi mungkin.
Bahkan mereka kadang-kadang telah bermalam di pasar ikan tersebut, agar dengan demikian mereka bisa memperoleh hasil ikan dari tangan pertama.
Sebab kedatangan para nelayan pencari ikan itu juga tidak bersamaan.
Mereka bisa singgah atau datang ke pasar itu setelah merasa cukup mendapatkan hasil.
Ada yang datang setelah matahari terbit, tapi ada yang datang juga pada hari menjelang fajar.
Bahkan yang memiliki nasib baik kadang-kadang malah sudah kembali di tengah malam.
Beberapa buah perahu yang tadi malam berlayar di dekat perahu Si Nelayan Miskin juga sudah tampak berlabuh di pasar ikan tersebut.
Perahu-perahu itu juga sudah dikerumuni para tengkulak ikan.
Seperti halnya perahu Si Nelayan Miskin, tampaknya mereka juga mendapatkan hasil yang melimpah pula malam tadi.
Dan kedatangan perahu Si Nelayan Miskin pun segera disongsong pula oleh para tengkulak itu.
Bahkan seorang diantaranya malah telah mengayuh sampannya yang kecil, mendahului yang lain, merapat di sisi perahu Si Nelayan Miskin.
Seorang lelaki kurus kecil namun berperut buncit segera menggapai pinggiran perahu Si Nelayan Miskin dan meloncat naik.
Sedangkan temannya yang bertugas sebagai pengayuh sampan, segera mengambil tali pengikat sampannya dan menambatkannya pada perahu Si Nelayan Miskin.
"Ah, Tuan Coa...?"
Si Nelayan Miskin menyambut kedatangan lelaki kurus itu dengan suara kurang senang sehingga Liu Yang Kun yang sedang tiduran di bangku perahu tertarik untuk melihatnya.
"Oho... apa kabar Ciok Kwan? Lama benar kau tak muncul? Kukira kau sudah tidak berani lagi datang kesini. Apakah kau sudah menyiapkan uang untuk melunasi hutangmu? Heheheh..."
Lelaki kurus berperut buncit itu menyahut. Suaranya terdengar acuh dan menjengkelkan.
"Hutang? Siapakah yang masih berhutang kepadamu?"
Si Nelayan Miskin yang ternyata bernama Ciok Kwan itu tersentak marah.
"Bukankah Tuan Coa sudah mengambil seluruh hasil penangkapan ikanku yang terakhir itu? Tuan pun tahu bahwa hasil itu sebenarnya terlalu banyak untuk melunasi hutangku kepada Tuan..."
Tengkulak kurus berperut buncit itu tertawa dingin.
"Sudah lunas? Kau anggap hasil penangkapan ikanmu dulu sudah cukup untuk membayar hutangmu? Hihihi... enak benar! Apa kau lupa bahwa hutang itu harus membayar bunga? Kau sangka hasil penangkapan ikanmu dulu itu sudah cukup untuk melunasi hutangmu kepadaku?"
Si nelayan miskin atau Ciok Kwan terbelalak matanya. Tampak benar kalau hatinya sangat penasaran mendengar perkataan tengkulak ikan itu.
"Bukankah Tuan dulu bilang kalau uang itu bukan hutang, tapi... uang muka? Dan uang muka itu Tuan berikan kepadaku, sebagai ikatan bahwa aku harus menjual semua hasil penangkapan ikanku kepada Tuan? Mengapa uang muka itu tiba-tiba berubah menjadi hutang? Bahkan kemudian... berbunga pula? Dimana ada peraturan seperti itu?"
"Hihi-hihi..."
Tengkulak itu tertawa semakin menyakitkan.
"Apa bedanya uang muka dan hutang? Pokoknya hasil penangkapan ikanmu dulu itu belum cukup untuk membayar hutangmu. Kau baru membayar pokok hutang dan... separuh bunganya. Sedang separuh bunganya yang lain kini telah beranak-pinak pula dalam beberapa bulan ini. Dan... hmmm... kelihatannya hasil ikanmu sekarang juga belum cukup untuk melunasinya, hi-hi-hiiii..."
Wajah Ciok Kwan menjadi pucat seketika. Air matanya mulai menggenang dan hampir menangis.
"Kau... kau memang bangsat! K-kau memang bukan manusia!"
Jeritnya serak.
"Jangan merajuk! Aku akan memberikan keringanan kepadamu. Biarlah semua hutang itu kuanggap lunas dengan hasil ikanmu kali ini. Lain kali kita bisa mengadakan perhitungan lagi."
"Oh... jangan!"
Ciok Kwan berteriak seraya meloncat menghalang-halangi tengkulak itu.
Tapi dengan sekali hentakan saja Ciok Kwan telah terpelanting menabrak pagar perahunya.
Dan tengkulak itu lalu menoleh kepada tukang dayung atau pengawalnya.
"Ambil semua ikan Ciok Kwan ini. Masukkan ke dalam sampan kita!"
Serunya.
"Jangan! Oh, jangan ambil ikanku...!"
Ciok Kwan merintih sambil memegangi kepalanya yang berdarah akibat membentur lantai perahu.
Dengan terhuyung-huyung Ciok Kwan berdiri dan berusaha mencegah pembantu tengkulak yang bertubuh kokoh kekar itu mengambil ikan-ikannya.
Tapi tentu saja usahanya itu sia-sia saja.
Baru dengan si tengkulak yang berperut buncit saja ia sudah kalah tenaga, apalagi berhadapan dengan si pengawal yang berotot kekar itu.
Dengan mudah si pengawal itu mengangkat tubuhnya dan membantingnya di lantai perahu.
"Aouuuugh...!"
Ciok Kwan menjerit, kemudian pingsan.
Darah semakin banyak mengalir dari kepalanya.
Bahkan dari lobang hidungnya pula.
Peristiwa yang berlangsung dengan cepat di atas perahu itu dapat dilihat dengan jelas oleh setiap orang.
Tapi apa daya mereka?
Setiap orang di tempat itu tahu belaka, siapakah tengkulak ikan she Coa itu?
Meskipun mereka merasa kasihan kepada Ciok Kwan, namun mereka juga tidak berani menghalang-halangi tindakan orang she Coa itu.
Orang she Coa itu bernama Coa In Lok.
Dia merupakan seorang tengkulak kaya yang licik dan sering menjerumuskan nelayan ke dalam perangkapnya.
Pengawalnya sangat banyak, terdiri dari orang-orang kasar yang suka membuat onar dan kerusuhan.
Hampir semua nelayan di daerah itu telah berada di dalam cengkeraman tangannya, sehingga boleh dikatakan bahwa para nelayan di daerah itu hanya merupakan orang-orang yang pekerjaannya mencari ikan, sementara hasilnya adalah Coa In Lok yang berkuasa.
Nelayan-nelayan itu hanya sekedar memperoleh upah atau imbalan, padahal mereka itu mempergunakan peralatan dan perahu mereka sendiri.
"Hi-hihi-hi... orang lemah seperti kau masih berani melawan aku. Huh!"
Coa In Lok mencemooh seraya menendang punggung Ciok Kwan yang tak berdaya itu. Lalu serunya kembali kepada pengawalnya.
"Cepat kuras ikan-ikan ini...!"
"Baik, Tai-ya (Tuan Besar)...!"
Tapi tiba-tiba terdengar suara nyaring yang mencegah mereka.
"Tunggu!"
Coa In Lok dan pengawalnya terperanjat.
Mereka menoleh ke arah suara itu berasal.
Seorang pemuda bertubuh tinggi namun agak kurus tampak berdiri bertolak pinggang di haluan perahu.
Matanya yang mencorong dingin itu seolah-olah menyaingi sorot matahari yang baru saja terbit di ufuk timur.
Tajam menyilaukan!
Sekejap bergetar juga perasaan Coa In Lok dan pengawalnya.
Namun ketika tampak belasan orang kawan mereka di atas sampan di sekitar perahu itu, hati mereka menjadi besar kembali.
Dengan perasaan ditenang-tenangkan Coa In Lok balas memandang Liu Yang Kun dan kemudian juga...
kakek Lo serta A Hek yang berwajah mengerikan itu!
Liu Yang Kun memang tidak tahan menyaksikan kekejaman dan keserakahan Coa In Lok.
Dialah yang mengeluarkan suara tadi.
Ia memang terlambat tampil ke depan, karena di dalam hatinya ia berharap agar supaya kakek Lo dan cucunya itulah yang tampil ke depan menolong Ciok Kwan.
Namun ternyata harapannya itu sia-sia belaka.
Kedua orang itu ternyata Cuma diam saja di tempatnya.
Mereka juga menunggu dan melirik saja kepadanya.
"Hi-hihi-hi... kau siapa? Mengapa kau mencegah maksud kami untuk mengambil ikan-ikan ini? Apakah kau keluarga dari Ciok Kwan?"
Coa In Lok bertanya dengan suara yang dibesar-besarkan agar tidak kentara rasa ketakutannya.
"Aku bukan apa-apanya orang itu, tapi aku muak melihat kelakuanmu. Tampaknya kamu dan kawan-kawanmu memang telah biasa bertindak sewenang-wenang begitu. Hmmmh... awas kalau nelayan itu sampai mati karena ulah kalian!"
Liu Yang Kun menggeram seraya melangkah ke tempat Ciok Kwan menggeletak.
"Hi-hihi-hi... lagaknya! Lalu... apa maumu?"
Liu Yang Kun yang hendak lewat di depan Coa In Lok dan pengawalnya itu mendelik.
"Minggir!"
Bentaknya. Coa In Lok melirik pengawalnya. Meskipun sedikit gemetar tapi ia tak beranjak dari tempatnya.
"Jangan berlagak di depanku...!"
Katanya.
"Bangsat!"
Liu Yang Kun mengumpat marah.
Lalu tiba-tiba saja tangan Liu Yang Kun menyambar ke depan dan setengah detik kemudian pengawal yang hendak berlagak melindungi Coa In Lok itu telah terangkat tinggi-tinggi di udara.
Selanjutnya sekali tangan Liu Yang Kun dikibaskan, tubuh pengawal itu terlempar jauh keluar perahu.
Byuuur!
Pengawal itu tercebur ke dalam air.
"Ooh...???"
Coa In Lok terpekik ketakutan.
Otomatis ia melangkah mundur untuk memberi jalan kepada Liu Yang Kun.
Pada saat yang sama di pinggir sungai terdengar tepukan riuh para penonton yang menyaksikan peristiwa tersebut.
Rata-rata para penonton itu sangat bergembira melihat orang yang mereka benci itu dihajar orang.
Tapi tepuk tangan itu segera terhenti pula ketika tiba-tiba muncul beberapa orang kaki-tangan Coa In Lok di tepi sungai itu.
Orang-orang itu mendelik ke arah penonton, lalu bergegas mengambil sampan dan bergabung dengan teman-teman mereka di sekitar perahu Ciok Kwan.
Dua orang diantara mereka lalu meloncat ke atas perahu Ciok Kwan dan menolong majikan mereka turun ke sampan, setelah itu mereka memberi aba-aba untuk mengepung perahu Si Nelayan Miskin itu.
Sekarang para penonton menjadi cemas memikirkan keselamatan Liu Yang Kun.
Semuanya terdiam sambil berdoa agar supaya orang yang belum mereka kenal itu dapat menyelamatkan diri dari kekejaman anak-buah Coa In Lok.
Kalau semua orang pada mencemaskan dirinya, sebaliknya Liu Yang Kun sendiri justru bersikap acuh tak acuh malah.
Sama sekali pemuda itu tak mempedulikan keadaan sekitarnya.
Perhatiannya hanya tercurah kepada Ciok Kwan yang pingsan.
"Paman...! Paman...! Sadarlah! Ikanmu ada di sini..."
Pemuda itu berbisik sambil memijit dan mengurut beberapa jalan darah di dada dan di leher Ciok Kwan.
"Oooooooh...?"
Ciok Kwan mengeluh dan tersadar dari pingsannya.
"Paman...? Apakah yang kau rasakan? Katakan! Jangan takut! Aku ada di dekatmu. Aku siap membantu paman..."
Ciok Kwan membuka matanya. Begitu tahu Liu Yang Kun ada di sampingnya, tangannya segera mencengkeram lengan pemuda itu. Matanya memandang dengan penuh harapan.
"Tuan... oh... Jangan biarkan bangsat itu merampas ikanku! Aku tak merasa berhutang kepadanya. Manusia serakah itu hanya ingin menguasai hasil ikanku,"
Ciok Kwan merintih.
"Jangan khawatir, paman. Aku akan membantumu. Aku takkan membiarkan mereka mengambil ikanmu. Akan kubunuh siapa saja yang berani menyentuhnya."
"Te-terima kasih, tuan. Bangsat itu... bangsat itu memang sudah selayaknya mati. Sudah banyak orang yang dibunuhnya. Sudah banyak orang yang dibuatnya menderita. Sudah banyak keluarga nelayan yang menjadi korbannya. Dia... dia memang patut mati."
Liu Yang Kun menggeretakkan giginya.
Wajahnya terangkat dan matanya yang mencorong mengerikan itu mencari Coa In Lok.
Namun keningnya segera berkerut.
Ia tidak mendapatkan si tengkulak busuk itu di tempatnya.
Sebaliknya pemuda itu malah melihat belasan manusia kasar mengepungnya.
Mereka berada di atas sampan sampan kecil di sekeliling perahunya.
Sekali lagi Liu Yang Kun menggeretakkan giginya.
"Benar, paman. Tampaknya orang itu memang sudah ingin mati. Dia mengerahkan orang-orangnya untuk membakar perahu kita. Tapi paman tak usah khawatir. Mereka takkan bisa berbuat apa-apa kepadamu. Di atas perahu ini banyak orang yang mampu mengusir dan... bahkan memusnahkan mereka itu,"
Katanya sambil melayangkan pandangannya ke arah kakek Lo dan cucunya yang diam saja sejak tadi.
Ciok Kwan membelalakkan matanya ketika menyaksikan belasan lelaki kasar mengepung perahunya dengan obor yang siap untuk dilontarkan.
"To-tolonglah, tuan..."
Bisiknya ketakutan.
"Heii... Ciok Kwan! Suruh kawanmu itu menyerahkan diri, lalu tinggalkan perahumu! Kau akan memperoleh pengampunan dari Tuan Coa!"
Tiba-tiba terdengar salah seorang diantara lelaki kasar itu berseru.
Dan ketika Liu Yang Kun memandang, dilihatnya pengawal yang ia lemparkan ke sungai tadi telah ditolong kawan-kawannya.
Tampaknya dia adalah kepala dari kawanan lelaki kasar itu.
Meskipun pakaiannya basah kuyup, namun wajahnya tampak merah padam menahan marah.
"Ba-ba bagaimana ini... tuan? Me-mere-mereka... hendak membakar kita semua."
Ciok Kwan semakin pucat dan gugup. Bibirnya gemetaran. Liu Yang Kun menghela napas panjang, lalu bangkit berdiri. Otaknya sibuk mencari jalan yang baik untuk mengatasi keadaan yang dihadapinya.
"Aku memang bisa saja menghabisi mereka. Tapi kalau mereka benar-benar mau membakar perahu ini memang sulit bagiku untuk menyelamatkannya. Kecuali kalau kakek Lo serta cucunya itu mau turun tangan membantuku,"
Pikir pemuda itu seraya melirik teman seperahunya yang cacat itu.
"Ciok Kwan...! Ayo cepat! Apa kau ingin melihat berkobarnya api dulu di perahumu, heh?"
Pengawal Coa In Lok itu mengancam lagi. Liu Yang Kun menggeram kemudian dengan sangat terpaksa ia menoleh ke arah kakek Lo dan A Hek.
"Nah... kita tak mempunyai banyak waktu lagi. Mereka akan segera membakar perahu kita ini. Terserah kepada jiwi (tuan berdua) untuk mengambil sikap. Jiwi akan tetap berdiam diri saja, atau... ikut membantu aku menyelamatkan perahu ini,"
Katanya dingin.
A hek tetap berdiam diri.
Cuma matanya saja yang melirik ke arah kakeknya.
Tampaknya hatinya tetap tak tergoyahkan juga menyaksikan kekejaman Coa In Lok terhadap Ciok Kwan tadi.
Tampaknya perasaannya juga sekejam wajahnya yang buruk itu.
"Baiklah, siauw-hiap. Kami berdua akan membantumu menyelamatkan perahu ini. Bagaimanapun juga kami masih membutuhkan perahu ini sampai di Cin-an nanti,"
Akhirnya kakek Lo yang menjawab.
"Bagus. Kalau begitu kuserahkan keselamatan perahu ini kepada jiwi. Aku akan menghadapi orang-orang itu,"
Sahut Liu Yang Kun lega.
"Bagaimana, Ciok Kwan...? Kuhitung sampai lima, kalau kau tetap berdiam diri... aku akan memerintahkan untuk membakar perahumu. Nah, satu... dua... tiga...?"
Pengawal itu mulai menghitung.
"Bangsat! Pergi kalian dari sini!"
Liu Yang Kun memotong dengan suara menggeledek. Lalu kakinya menjajal lantai dan tiba-tiba saja tubuhnya 'terbang' menyerang.
"Aaaaah...??"
Untuk sekejap semua orang tertegun dan berdesah kaget menyaksikan kehebatan ginkang Liu Yang Kun itu.
Namun bagi orang-orang Coa In Lok rasa kaget itu segera berubah menjadi rasa cemas yang luar biasa pula.
Dalam sekejap itu juga mereka segera menyadari bahaya yang hendak mengancam mereka.
Terutama si pimpinan pengawal Coa In Lok yang secara langsung mendapat serangan Liu Yang Kun tersebut.
"Cepat menghindar...!!"
Tangan kanan Coa ln Lok itu berteriak parau seraya bergegas melompat ke sampan yang lain.
Orang-orang yang satu sampan dengan dia pun cepat melompat pula ke sampan yang lain.
Meskipun demikian sambil melompat tidak lupa mereka menyambut kedatangan Liu Yang Kun dengan melemparkan obor yang ada di tangan mereka pula.
"Wuuuut! Wuuuut! Braaaak!"
Dengan mudah obor-obor itu ditepiskan Liu Yang Kun sehingga obor tersebut pecah dan apipun bertebaran kemana mana membakar minyak yang tertumpah dari dalamnya!
Sebaliknya di dalam kemarahannya Liu Yang Kun segera mengerahkan lweekang ke kakinya, sehingga ketika ia mendarat di atas sampan si pengawal yang kosong itu, maka tiada ampun lagi sampan tersebut hancur berantakan!
Belasan anak buah Coa In Lok itu semakin merasa kaget dan cemas menyaksikan kelihaian Liu Yang Kun.
Mereka benar-benar tidak menyangka kalau pemuda itu sedemikian hebat kepandaiannya.
"Lemparkan obor...!"
Dalam ketakutannya pemimpin pengawal Coa In Lok itu berteriak.
Sesaat kemudian, bersamaan dengan melentingnya kembali tubuh Liu Yang Kun dari sampan yang pecah itu, maka belasan atau bahkan puluhan buah obor pun segera berterbangan di atas permukaan sungai yang amat lebar tersebut.
Sebagian diantaranya tampak melayang ke perahu Ciok Kwan, sementara yang sebagian lagi tampak menyerang tubuh Liu Yang Kun.
Tapi baik Liu Yang Kun maupun kakek Lo segera beraksi pula.
Mati-matian mereka menghalau obor itu.
Dengan kaki dan tangannya, atau kadang-kadang dengan pukulan jarak jauhnya Liu Yang Kun meruntuhkan obor-obor itu, sementara kakek Lo mengayunkan tongkatnya kesana-kemari menghalau obor-obor yang hendak menimpa perahunya.
Meskipun buta ternyata kakek tua itu hampir bisa menangkis semua obor yang datang.
Sementara obor yang dapat lolos dari tongkatnya segera dipungut oleh A Hek untuk dilempar kembali kepada pemiliknya.
Alhasil di atas sungai itupun segera berlangsung perang obor yang sangat mengasyikkan!
Para penonton yang memadati pinggiran sungai itu segera bersorak-sorak riuh.
Apalagi ketika mereka menyaksikan orang-orang Coa In Lok yang tak mereka sukai itu tampak kewalahan menghadapi Liu Yang Kun yang "beterbangan"
Seperti burung walet diatas sampan-sampan itu.
Bahkan sambil menyambarnyambar Liu Yang Kun dapat melumpuhkan lawannya satu persatu.
Beberapa buah sampan tampak pecah atau terbalik ketika dilewati pemuda itu.Namun kegembiraan para penonton segera berubah menjadi ketegangan yang luar biasa ketika "perang api"
Itu berubah menjadi "pesta kebakaran"
Diatas sampan-sampan tersebut, yang kemudian bahkan ke sampan-sampan dan perahu-perahu yang sedang berlabuh di tepi sungai tersebut.
Penonton pun segera bubar berlarian menyelamatkan diri.
Penonton yang merasa memiliki perahu atau sampan di tepian sungai itu pun bergegas pula dengan sekuat tenaga untuk menyelamatkan miliknya tersebut dari kobaran api.
Tak seorang pun lagi yang memperhatikan atau menonton pertempuran diatas sungai.
Semua perhatian hanya tertuju kepada api yang mengamuk di tepian sungai tersebut.
"Gila! Tak kusangka semuanya akan jadi begini! Tak kusangka tumpahan dan percikan minyak obor itu bisa menimbuIkan kebakaran besar seperti ini."
Liu Yang Kun mengeluh kesal sambil berloncatan menyelamatkan dirinya.
Tangan kanannya tampak menjinjing tubuh Ciok Kwan yang juga telah berhasil ia selamatkan dari kobaran api itu pula.
Namun pemuda itu tak tahu bagaimana nasib kakek Lo dan A Hek.
Demikianlah, sepagi itu penduduk dusun tersebut telah disuguhi "pesta api"
Yang sangat menggemparkan.
Ternyata tak seorangpun yang mampu menjinakkannya, meskipun kebakaran itu berlangsung diatas sungai yang berlimpah airnya.
Hanya beberapa buah perahu saja yang selamat.
Itupun karena mereka ditambatkan agak jauh dari tempat kebakaran, sehingga lidah api yang berkobar-kobar itu tak kuasa menjilatnya.
Dari belasan anak buah Coa In Lok itu ternyata hanya empat orang yang bisa menyelamatkan diri.
Itupun dengan luka-luka bakar yang hampir menghancurkan seluruh kulit tubuh mereka.
Sedangkan pengawal-pengawal yang lain telah tewas dan tenggelam bersama sampan-sampan mereka.
Dan kini diatas sungai tersebut tinggallah bekas-bekas rongsokan perahu dan sampan, yang terapung berserakan diantara genangan minyak yang belum terbakar.
Perlahan-lahan mereka hanyut didorong aliran air sungai.
Di beberapa tempat masih tampak asap mengepul dari kayu-kayu yang belum sepenuhnya padam dari cengkeraman api.
Liu Yang Kun membawa Ciok Kwan ke pinggir.
Diletakkannya tubuh nelayan yang pingsan itu di bawah sebuah pohon yang rindang.
Pemuda itu sengaja mencari tempat yang agak jauh dari tempat kebakaran tadi.
"Tuan...? Apakah tuan yang bernama Tuan Chin atau Tuan Liu?"
Tiba-tiba seorang nelayan setengah baya muncul dari balik semak-semak dan menegur Liu Yang Kun.
Dengan agak takut-takut nelayan itu mendekat.
Otomatis Liu Yang Kun meningkatkan kewaspadaannya.
Matanya menatap nelayan itu dengan tajamnya.
"Benar. Lopek siapa...? Mengapa mengetahui namaku?"
Liu Yang Kun menjawab hati hati.
"Ooh...!"
Nelayan yang baru datang itu berdesah lega.
"Aku sudah menduganya sejak tadi. Sejak tuan mulai datang dan berselisih paham dengan tuan Coa itu. Apalagi seseorang telah mengatakan ciri-ciri tuan..."
Nelayan itu lalu mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya.
"Tuan Chin... Seseorang telah menitipkan surat kepadaku. Dia minta agar aku mau menyerahkan surat itu kepada tuan. Dan... inilah surat itu!"
Katanya sambil menyerahkan kertas surat itu kepada Liu Yang Kun.
Dengan agak ragu-ragu Liu Yang Kun menerima kertas itu, kemudian membukanya.
Hatinya segera berdesir keras ketika terbaca tulisan 'Teman Lama' di akhir surat itu.
"Ah... si sastrawan itu lagi!"
Liu Yang Kun berdesah seraya membaca isi surat tersebut.
Saudara Chin, Berhati-hatilah di dusun yang tampaknya kecil ini!
Jangan sekali-kali berurusan dengan Coa In Lok, seorang tengkulak kaya yang amat berpengaruh di daerah ini!
Maaf, terus terang aku belum bisa menjelaskan alasan-alasannya, karena aku sendiri juga belum sempat menyelidikinya.
Namun yang terang orang itu sangatlah berbahaya.
Dia sendiri tidak bisa silat, tapi dia mempunyai hubungan dengan seorang tokoh yang sangat berbahaya dari dunia persilatan!
Teman Lama "Hmm...
sudah terlambat!
Aku sudah terlanjur berurusan dengan tengkulak kaya itu.
Bahkan aku sudah mengobrak-abrik para pengawalnya."
Liu Yang Kun bergumam begitu selesai membaca surat itu. Lalu katanya kepada nelayan yang membawa surat itu,"Lopek! Kapan surat ini dititipkan kepadamu? Kau kenal siapa nama orang itu?"
Nelayan setengah baya itu menggelengkan kepalanya.
"Saya belum pernah melihat atau mengenalnya, tuan. Saya baru melihatnya ketika dia datang menitipkan surat itu di pagi-pagi buta tadi,"
Jawabnya perlahan.
"Di pagi buta? Apakah dia juga naik perahu?"
"Ya. Tapi perahu itu hanya singgah sebentar. Cuma menambah perbekalan dan menjual hasil ikannya yang tidak begitu banyak. Tampaknya pemilik perahu itu sangat tergesa-gesa. Dan sementara para pekerja menurunkan ikan dari perahu, nona itu datang mendekati aku dan... menitipkan surat itu."
"Nona...?"
Liu Yang Kun tersentak kaget.
"Dia... seorang gadis? Dia bukan seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan?"
Saking kagetnya mendengar penuturan nelayan itu, Liu Yang Kun sampai lupa diri.
Tangannya mencengkeram pundak nelayan tersebut, sehingga orang itu sampai menjerit kesakitan.
Untunglah pemuda itu tidak mengerahkan tenaga saktinya.
"Eh-oh... maaf, Lopek... aku tak sengaja. Aku betul-betul kaget ketika kau katakan bahwa orang yang menitipkan surat itu adalah seorang gadis. Aku benar-benar tak menyangkanya."
Sambil mengusap-usap pundaknya yang masih terasa sakit, nelayan itu mengangguk-angguk.
"Tak apa, tuan, tampaknya tuan memang betul-betul terkejut mendengar keteranganku tadi. Dan agaknya tuan juga belum mengenal nona cantik itu."
"Nona cantik...?"
Liu Yang Kun menegaskan.
"Benar. Nona itu memang cantik sekali..."
"Oooooh...!"
Liu Yang Kun berdesah.
Pemuda itu lalu duduk lemas di tanah.
Pikirannya menjadi kacau.
Benar-benar kacau.
Manakah sebenarnya keterangan yang betul?
Keterangan yang diberikan oleh pelayan rumah penginapan itu atau keterangan nelayan separuh baya ini?
Mengapa keterangan mereka tentang 'teman lama' itu sangat berbeda?
Manakah yang benar, seorang pemuda tampan berpakaian sastrawan ataukah seorang gadis muda yang cantik sekali?
Si nelayan pembawa surat itu menjadi kikuk juga menyaksikan Liu Yang Kun hanya terdiam dan termenung saja setelah membaca surat yang dibawanya itu.
Oleh karena itu diam-diam ia melangkah mundur dan pergi dari tempat tersebut.
"Uuuuuuh...?!"
Tiba-tiba Ciok Kwan yang pingsan itu mengeluh sadar.
Liu Yang Kun tersentak kaget dari lamunannya.
Matanya nyalang mencari nelayan yang membawakan surat untuknya itu.
Tapi ia tak menemukannya.
Orang itu telah pergi.
Sebaliknya ia melihat Ciok Kwan telah siuman dari pingsannya.
Nelayan miskin yang kini juga telah kehilangan perahunya pula itu tampak bangkit dari tidurnya.
Dan begitu sadar orang itu segera teringat perahunya.
"Oh... oh... perahuku? Perahuku...? di-di-dimana... dia?"
Jeritnya parau dengan wajah pucat pasi.
Matanya tampak melotot memandang Liu Yang Kun dengan sinar mata putus-asa.
Liu Yang Kun tak kuasa menatap wajah itu lama-lama.
Ia mengerti perasaan nelayan miskin itu.
Hatinya ikut menyesal pula.
Dan ia merasa turut bertanggung-jawab atas hilangnya harta-benda satu-satunya dari keluarga miskin itu.
"A-a-apa... apakah ia turut terbakar...?"
Orang tua itu berkata pula hampir menangis.
Liu Yang Kun terdiam bingung serta tak tahu harus menjawab bagaimana.
Ia tak ingin melihat sinar penderitaan dan keputus-asaan di wajah orang yang telah kenyang dengan kesengsaraan hidup itu.Tapi bagaimana ia harus mengembalikan perahu yang sudah musnah terbakar itu?
Tak terasa pemuda itu menggeram.
"Aku harus mendapatkan gantinya! Persetan dengan peringatan 'Teman Lama' itu. Aku akan menuntut Coa In Lok! Dialah biang keladi semua kejadian ini! Huh!"
"Tu-tuan bilang a-a-apa...?"
Ciok Kwan tergagap meminta penjelasan. Sekali lagi Liu Yang Kun menggeram. Kini lebih keras.
"Paman, kau tak usah khawatir karena...kehilangan perahumu. Aku akan mencarikan gantinya! Kau tunggulah disini, aku akan ke rumah tengkulak busuk itu!"
Bukan main terkejutnya Ciok Kwan! "Ja-ja-jangan... tuan! Dia... dia...?"
Tapi sambil mendengus dingin Liu Yang Kun telah berkelebat pergi dari tempat itu.
Lapat-lapat masih terdengar suara ancamannya!
"Paman tak usah takut!
Lihat saja!
Kalau bangsat busuk itu tak mau mengganti semua kerugianmu, hmmh...
seluruh harta bendanya juga akan terbakar musnah seperti perahumu itu!"
"Ooooh!"
Ciok Kwan berdesah ngeri.
Sekejap saja Liu Yang Kun telah berada di tepian sungai itu kembali.
Dan dilihatnya orang-orang masih ribut mengurusi bekas-bekas kebakaran tadi.
Sebagian dari mereka tampak mengangkuti barang-barang yang masih dapat diselamatkan dari amukan api.
Sementara yang lain lagi tampak sibuk mengumpulkan dan merawat mayat-mayat yang terapung di atas sungai.
Mereka kelihatan sibuk dan bekerja tanpa pamrih, seakan-akan mereka semua telah melupakan kebencian mereka kepada orang-orang yang sering berlaku kejam terhadap mereka itu.
Dan semuanya segera terperanjat serta berdebar-debar hatinya begitu melihat Liu Yang Kun!
Sama sekali mereka tak menyangka kalau pemuda itu kembali lagi.
Mereka mengira kalau pemuda itu telah jauh meninggalkan dusun mereka.
"Tuan...? Eh... mengapa tuan kembali lagi ke sini?"
Seorang nelayan tua segera menegurnya. Wajahnya tampak cemas.
"Benar! Mengapa tuan kembali lagi! Pergilah cepat! Sebelum Tuan Coa datang lagi dengan se luruh kekuatannya!"
Yang lain datang pula memperingatkan.
"Betul, tuan. Tuan jangan membahayakan diri tuan sendiri. Kami seluruh penduduk desa ini sudah sangat berterima kasih sekali melihat sepak terjang tuan tadi. Sekarang tuan harus lekas-lekas meninggalkan dusun ini! Tuan tak usah menentang seluruh kekuatan Tuan Coa yang amat kuat itu. Tengkulak busuk itu sudah cukup mendapat pengajaran..."
Seorang nelayan berambut putih ikut pula memberi peringatan.
Liu Yang Kun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ia mengucapkan rasa terima kasih atas perhatian mereka.
Namun demikian ia juga menyatakan bahwa dirinya tak berniat untuk pergi meninggalkan desa itu sebelum semuanya menjadi beres.
Bahkan dengan suara tegas ia menanyakan tempat tinggal Coa ln Lok.
"Biarlah kuselesaikan sekalian urusanku dengan dia itu agar dia tak membalas dendam kepada penduduk yang tak bersalah! Kalau perlu akan kubasmi habis semua kaki-tangannya, sehingga dusun yang ramai ini menjadi aman...!"
Katanya menambahkan.
Ucapan pemuda itu segera disambut dengan gembira oleh orang-orang itu.
Mereka telah menyaksikan sendiri kehebatan dan kesaktian pemuda itu.
Meskipun demikian ada juga diantara mereka yang merasa sangsi atas keberhasilannya, karena bagaimanapun juga mereka telah menyaksikan kekuatan Coa In Lok dan anak-buahnya yang banyak itu.
Setelah puluhan tahun keluarga tengkulak kaya itu berkuasa di daerah mereka.
Tapi sorak-sorai gembira itu segera terdiam ketika belasan orang lelaki kasar mendatangi tempat itu.
Bahkan beberapa orang yang berhati kecil telah berlari lintang-pukang menyelamatkan diri.
Sementara yang lain, yang tak sempat lari, tampak gemetaran kakinya.
Mereka memandang kedatangan lelaki-lelaki kasar itu dengan wajah pucat seperti mayat.
Liu Yang Kun membalikkan tubuhnya.
Dipandangnya belasan lelaki yang datang itu, dan ia segera bisa menebak siapa yang telah datang.
Otomatis tangannya terkepal.
Matanya menyala.
Seorang diantara kawanan lelaki kasar itu maju ke depan.
Wajahnya yang tinggi besar, dengan cambang dan jenggotnya yang lebat itu sungguh membuat orang menjadi segan dan takut.
Dan perhatian orang itu segera tertuju kepada Liu Yang Kun, karena sikap dan penampilan pemuda itu sama sekali lain dengan orang-orang yang ada di tempat itu.
Kalau semua orang tampak pucat ketakutan, sebaliknya pemuda itu kelihatan tenang-tenang saja.
Bahkan pada raut mukanya menampakkan wibawa atau perbawa yang menggetarkan hati siapapun yang menghadapinya.
Tak terkecuali si tinggi besar yang berjenggot lebat itu!
Sementara itu hari telah semakin siang.
Matahari telah merangkak semakin tinggi.
Perahu pun semakin banyak yang berdatangan pula.
Dan rata-rata semuanya menjadi kaget dan heran menyaksikan bekas-bekas kebakaran di tempat itu.
Apalagi ketika melihat mayat mayat yang bertebaran di segala tempat.
Diantara perahu-perahu yang datang tampak pula sebuah perahu penumpang yang tiba dari arah hilir atau dari kota Cin-an.
Kelihatannya perahu penumpang itu hendak singgah dulu sebelum melanjutkan perjalanannya ke kota An-lei.
Seorang lelaki gagah berusia empatputuh lima tahunan ikut turun dari atas perahu tersebut.
Di belakangnya berjalan juga dua orang pengawal yang umurnya juga sebaya dengan lelaki itu.
Yang agak mengherankan pada orang-orang itu adalah kulit mereka.
Ketiga-tiganya memiliki kulit yang amat pucat seolah-olah tak berdarah.
Sementara sinar mata mereka tampak ganjil dan mengerikan.
Seperti halnya para penumpang yang turun dari perahu itu, maka ketiga orang itu pun juga berjalan mendekati Liu Yang Kun yang sedang menantikan kedatangan lelaki-lelaki kasar tersebut.
"Hmmh... kaukah yang telah membikin onar dan membunuh beberapa orang teman kami?"
Si tinggi besar bercambang lebat itu menghardik Liu Yang Kun. Liu Yang Kun menyeringai dan menganggukkan kepalanya.
"Benar! Dan sungguh kebetulan sekali kalian datang kesini, sehingga tak perlu berpayah-payah mencari rumah majikanmu,"
Jawab pemuda itu tak kalah kakunya.
"Maksudmu...?"
Si tinggi besar itu tersentak kaget dengan suara bergetar.
"Maksudku? Hmmh! Antarkan aku ke rumah Coa In Lok keparat itu! Aku hendak membuat perhitungan dengan dia!"
Liu Yang Kun menggeram dengan suara menggeledek.
"Bangsat...!!"
Si tinggi besar itu mengumpat.
Tiba-tiba kawanan lelaki kasar itu menebar dan masing-masing juga telah mencabut senjatanya.
Mereka mengepung Liu Yang Kun.
Dan orang-orang yang berada di tempat itupun segera berlarian menyingkir.
Begitu pula dengan tiga orang lelaki pucat itu.
Mereka juga menyingkir, meskipun tidak berlarian seperti yang lain.
Mereka melangkah dengan tenang.
Bahkan di wajah mereka tersungging senyuman gembira melihat tontonan kekerasan yang hendak berlangsung di depan mereka itu.
"Minggir...!"
Beberapa orang diantara lelaki kasar itu menggertak melihat langkah mereka yang pelan itu.
"Kurang..."
Salah seorang dari kedua pengawal lelaki gagah itu hendak mengumpat, tapi cepat dicegah oleh lelaki gagah tersebut.
"Ssssst... biarkan saja! Kita lihat dulu keramaian ini!"
Lelaki gagah itu berkata, lalu menarik lengan kedua pengawalnya ke pinggir.
"Maaf, suheng... dia...?"
Pengawal itu mencoba membela diri.
Tapi belum juga pengawal itu menyelesaikan kata-katanya, beberapa orang lelaki kasar yang membentaknya itu tiba-tiba mendelik dan kemudian jatuh tertelungkup diatas tanah.
Baca Juga: Sepasang Pedang Iblis 3
Baca Juga: Pendekar Bodoh 13