Eps 9 Memburu Iblis - Sriwidjono
Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono
Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.
Kulit tubuh mereka tiba-tiba juga berubah menjadi putih pucat seperti kapur, sementara dari lobang mulut, hidung dan telinga mereka mengalir darah segar.
Mereka tewas dengan mengerikan!
Tentu saja lelaki gagah itu menjadi kaget.
Sambil menggamit lengan pengawalnya ia berbisik.
"Hei, Nyo-Sute...? Kenapa orang itu? Diam-diam kau telah melepaskan Jarum Cit-hoan tok-ciam (Jarum Beracun Tujuh Langkah) ya?"
"Maaf, Kim suheng... aku tak sengaja,"
Bisik orang yang disebut Nyo-sute itu sambil menundukkan kepalanya. Orang yang ketiga dari mereka itu segera menengahi.
"Sudahlah, Kim suheng...Nyo suheng telah terlanjur berbuat dan ia sudah mengakui kesalahannya. Maafkanlah dia,"
Katanya dengan berbisik pula. Kemudian sambungnya lagi.
"Dan...kukira orang-orang itu juga tidak tahu kalau yang membunuh kawan-kawan mereka adalah Nyo suheng."
"Hmmmh...kuharap memang demikian. Tapi siapa tahu ada orang yang bisa melihatnya? Misalnya pemuda jangkung itu?"
Lelaki gagah itu menggeram tertahan seraya melirik Liu Yang Kun.
"Dan sebenarnya aku juga tidak peduli kalau Nyo sute itu suka membunuh orang. Kukira selama ini aku juga tak pernah melarang atau menghalang-halanginya. Tapi saat ini kita sedang bertugas mencari dan melacak tempat tinggal suhu. Kalau belum-belum kita sudah membikin onar di daerah yang kita tuju, bagaimana kita bisa menemukan orang tua itu?"
Sebenarnyalah bahwa orang-orang Coa In Lok itu tiada yang tahu persis siapa yang membunuh teman-teman mereka itu.
Bahkan mereka itu, terutama si tinggi besar bercambang lebat itu cenderung untuk menuduh bahwa Liu Yang Kun lah yang telah menewaskan kawan-kawan mereka tersebut.
"Bangsat pembunuh! Kau memang licik dan kejam luar biasa!"
Teriaknya seraya menyerang Liu Yang Kun dengan golok besarnya.
Tetapi Liu Yang Kun yang tahu siapa sebenarnya pembunuh orang-orang Coa In Lok itu juga tidak mempedulikan tuduhan tersebut.
Bahkan tiba-tiba pemuda itu juga tidak berselera untuk melayani orang-orang kasar itu.
Perhatiannya tiba-tiba terpusat pada tiga orang misterius itu!
Namun karena ia diserang oleh si tinggi besar, bahkan kemudian juga diikuti pula oleh kaki tangan Coa In Lok yang lain, maka pemuda itu terpaksa harus bergerak pula untuk melayani serbuan mereka.
Untunglah kawanan lelaki kasar pimpinan si tinggi besar tersebut tidak banyak bedanya dengan kawanan pengawal yang dibawa oleh Coa In Lok tadi pagi.
Mereka hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuatan otot belaka.
Jikalau mereka memiliki ilmu-silat, itupun juga hanya sekedar ilmu siLat biasa pula, yang tidak mempunyai keistimewaan atau kehebatan yang pantas untuk ditakuti.
Apalagi oleh Liu Yang Kun yang telah mencapai tingkat hampir sempurna itu.
Sebenarnya tanpa menghindarpun senjata orang-orang itu takkan mampu menggores atau melukai kulit daging Liu Yang Kun.
Hanya saja pemuda itu memang tak ingin pakaiannya menjadi rusak oleh sabetan-sabetan senjata mereka.
Demikianlah, sambil melayani keroyokan orang-orang Coa In Lok, diam-diam Liu Yang Kun tak pernah melepaskan perhatiannya kepada tiga orang yang mencurigakan itu.
"Ketiga orang itu tentu memiliki kesaktian yang sangat hebat. Dan yang jelas orang itu suka menggunakan racun pula. Aku harus berhati-hati bila berhadapan dengan mereka. Apalagi kelihatannya mereka bertiga juga bukan orang baik-baik,"
Pemuda itu berkata di dalam hatinya.
Akhirnya pemuda itu menjadi bosan juga melayani orang-orang Coa In Lok itu.
Ketika kemudian ia meningkatkan ginkangnya, maka kawanan manusia kasar itupun segera menjadi bingung dan kehilangan lawan.
Mereka lalu menyerang dengan ngawur sehingga yang terjadi kemudian adalah saling gebuk diantara mereka sendiri.
Korbanpun segera berjatuhan.
Dan pertempuran itupun segera berhenti pula dengan sendirinya.
Ternyata mereka menjadi sadar bahwa mereka telah terhanyut dalam pertempuran diantara mereka sendiri, sementara lawan yang harus mereka hadapi justru telah tiada diantara mereka.
Pemuda yang mereka keroyok itu sudah berdiri tenang di pinggir arena.
Tentu saja kenyataan itu telah membuka pikiran mereka.
Sekarang mereka menyadari bahwa pemuda yang hendak mereka tangkap itu sebenarnya memiliki ilmu s ilat yang sangat tinggi, yang tidak mungkin dapat mereka lawan.
Satu-satunya jalan hanyalah meninggalkan tempat itu dan melaporkannya kepada Coa In Lok, majikan mereka.
"Nah... bagaimana sekarang? Mau tidak mengantarkan aku ke rumah majikanmu? Atau... kalian ingin melanjutkan lagi permainan ini?"
Dari pinggir arena Liu Yang Kun berseru kepada mereka.
"Ba-baiklah...! Marilah tuan kami antar ke sana...!"
Akhirnya si lelaki tinggi besar bercambang lebat itu menjawab lemah.
Segores luka tapak memerah di atas punggungnya, akibat senjata temannya sendiri yang tak sengaja.
Si tinggi besar itu lalu memerintahkan anak-buahnya untuk merawat dan membawa teman-temannya yang mati ataupun terluka beserta mereka.
Kemudian ia berjalan mendahului, setelah lebih dahulu mempersilakan Liu Yang Kun untuk mengikutinya.
Liu Yang Kun melirik sekejap ke arah tiga orang asing yang dicuriganya itu, kemudian melangkah mengikuti rombongan kaki tangan Coa In Lok tersebut.
Dan penduduk yang berada di tepian sungai itupun lantas bubaran pula, sementara yang belum menyelesaikan pekerjaannya segera melanjutkan lagi.
Cuma sekarang mereka tinggal membersihkan bekas-bekas kebakaran itu saja, karena mayat-mayat kaki tangan Coa In Lok sudah dibawa serta kawanan manusia kasar anak-buah tengkulak kaya itu.
"Hei... lalu bagaimana dengan kita bertiga, Kim suheng?"
Salah seorang diantara tiga orang asing itu tiba-tiba berbisik kepada yang lain. Dan orang yang diajak berbicara itu tampak mengerutkan keningnya.
"Hmm... bagaimana, ya? Bagaimanakah kalau menurut pendapatmu, Tang Sute?"
Lelaki gagah itu balik bertanya. Saudara termuda yang dipanggil dengan sebutan 'Tang Sute' itu juga mengerutkan dahinya pula.
"Wah, kalau aku... menurut saja semua keputusan Kim suheng dan Nyo suheng. Uh, bagaimana pendapatmu, Nyo suheng?"
Orang yang tadi telah membunuh beberapa orang kaki-tangan Coa In Lok dengan jarum Ci-hoan-tok-ciam itu juga mengangkat pundaknya.
"Akupun terserah kepada Kim suheng. Dialah yang tertua diantara kita bertiga. Dan dia pula yang menjadi wakil suhu selama beliau pergi."
Jawabnya pelan.
"Baiklah... baiklah! Kalau begitu kita ikuti saja rombongan orang-orang itu tadi. Sambil melihat-lihat keramaian, kita menyelidiki daerah ini. Kata suhu ia berada di sekitar dusun ini,"
Lelaki gagah Itu akhirnya memutuskan.
"Kalau begitu... marilah kita cepat berangkat! Mereka keburu hilang dari pandangan kita,"
Orang yang disebut Tang Sute itu menyahut dengan cepat.
Bergegas ketiga orang asing itu mengejar rombongan Liu Yang Kun.
Seperti yang mereka ucapkan tadi, mereka berjalan sambil me lihat-lihat suasana di sekeliling mereka.
Sungguh sangat kebetulan bagi mereka, karena rombongan Liu Yang Kun itu berjalan dengan lambat.
"Heran benar aku. Mengapa suhu harus pergi jauh-jauh ke sini kalau cuma untuk mengobati luka-lukanya? Mengapa beliau tidak tinggal di rumah saja bersama kita? Bukankah dengan demikian beliau akan mendapatkan pelayanan yang lebih baik?"
Orang yang dipanggil dengan sebutan "Tang Sute"
Itu berkata kepada saudara-saudaranya.
"Benar. Aku sendiri diam-diam juga merasa heran pula di dalam hati. Tidak hanya sekali ini suhu mendapat luka di dalam pertempuran. Tapi baru kali ini aku melihat suhu sampai harus bersembunyi dan merahasiakan tempat tinggalnya hanya untuk mengobati lukanya. Demikian parahkah lukanya?"
Orang kedua yang dipanggil dengan nama Nyo suheng atau Nyo Sute tadi menambahkan pula.
Orang yang tertua, namun justru yang memiliki perawakan paling gagah itu, berpaling ke arah adik-adiknya.
Terdengar tarikan napasnya yang panjang ketika ia menyahut ucapan adik-adik seperguruannya itu.
"Entahlah, Sute... akupun juga tidak bisa menebak maksud suhu. Sejak perselisihan dengan Toa-suheng, sehingga akhirnya Toa-suheng meninggal, watak suhu semakin bertambah aneh. Seakan-akan suhu tidak bisa percaya lagi kepada orang lain. Termasuk kepada kita pula."
"Ya, benar. Seperti yang terjadi sekarang ini. Selama setahun suhu menghilang. Dan selama itu pula beliau hanya mengirim pesan dua kali. Pertama pada setengah tahun yang lalu, ia memberitahukan keadaannya yang gawat dan keinginannya untuk mengobati luka-lukanya. Kedua, pada sebulan yang lalu, dimana beliau memerintahkan kepada kita untuk datang ke dusun ini,"
Orang kedua, yang disebut dengan nama "Nyo Sute"
Itu menyambung perkataan suhengnya.
Demikianlah, sambil menjaga jarak mereka dengan rombongan Liu Yang Kun ketiga orang asing itu berbincang-bincang tentang maksud tujuan mereka ke tempat itu.
Dan sementara itu rombongan yang membawa Liu Yang Kun terus saja menyusuri aliran sungai tersebut ke arah utara.
Mereka melewati perkampungan penduduk yang rumah-rumahnya berderet memanjang di tepian sungai itu.
Ketika aliran sungai itu kemudian menikung dan membuat belokan tajam karena membentur tembok tebing yang agak tinggi, maka kawanan kaki-tangan Coa In Lok itu lalu berhenti persis di atas tebing itu tampak sebuah bangunan gedung yang tinggi dan megah.
Beberapa orang penjaga tampak berdiri di pintu halamannya.
Itulah rumah keluarga Coa In Lok!
Seorang dari penjaga itu segera berlari ke dalam begitu melihat rombongan tersebut, sementara yang lain segera turun ke tepian sungai untuk menyongsong mereka.
Namun para penjaga itu tampak kaget dan tertegun begitu melihat keadaan rombongan itu.
Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam menyaksikan mayat teman-teman yang telah meninggal dunia.
Rasa-rasanya hati mereka tidak mempercayainya karena baru beberapa waktu yang lalu mereka berkumpul dan bersenda-gurau.
Dari kaget para penjaga itu menjadi heran pula melihat pemuda yang hendak mereka tangkap itu kini justru berdiri bebas diantara rombongan tersebut.
Bahkan kalau ditilik dari sikap pemuda itu dan sikap teman-teman sendiri, jelas kalau pemuda tersebut telah menguasai kawan-kawannya malah.
"Hmnmh... itukah tempat-tinggal majikan kalian? Bagus kalau begitu lekaslah kalian beritahu dia, bahwa aku hendak menjumpainya!"
Liu Yang Kun tiba-tiba berseru.
"Benar. Marilah tuan masuk ke dalam. Para penjaga tentu telah melaporkan kedatangan kita kepada Tuan Coa,"
Si tinggi besar menjawab sedikit keras pula.
Keberaniannya pulih kembali setelah berada di sarangnya.
Rumah besar itu memang agak terpisah dengan perumahan penduduk yang lain.
Dan letaknyapun juga di tempat yang lebih tinggi dari pada tanah di sekitarnya.
Sekilas pandang Liu Yang Kun segera memuji letaknya yang strategis.
Apalagi bangunan tersebut menghadap ke arah tikungan sungai, sehingga dari atas pendapa dapat dilihat lalu-lintas perahu dari segala jurusan.
Baik yang datang dari arah hulu, maupun yang datang dari arah hilir.
Sementara di belakang bangunan rumah tersebut adalah lereng bukit yang lebat dengan pepohonan dan semak belukar.
Untuk mencapai bangunan rumah itu mereka harus melangkah melalui trap-trap atau tangga, yang dibangun melingkar lingkar diantara pertamanan penuh bunga.
Indahnya bukan main.
Apalagi ketika Liu Yang Kun sudah menginjak pendapa rumah itu.
Dari sana pemuda itu bisa menyaksikan pemandangan yang amat mempesonakan di bawahnya.
Aliran sungai yang berkelok-kelok berwarna biru kehijauan.
Perahu-perahu yang beraneka-warna bentuk maupun rupanya.
Tebing-tebing sungai yang berbatu karang kecoklatan.
Dan tetumbuhan yang lebat kehijauan di sekitar sungai itu.
Sementara tiupan anginpun terasa semilir menyejukkan.
Sungguh suatu tempat yang lebih pantas disebut sebagai tempat peristirahatan dari pada rumah biasa!
"Silahkan masuk, siauw-hiap (pendekar muda)!
Tuan Coa telah lama menunggumu,"
Tiba-tiba terdengar suara melengking dari dalam pendapa. Liu Yang Kun terkejut.
"Inilah dia orangnya yang betul-betul berisi""
Gumamnya sambil mengerahkan sinkangnya untuk melindungi dadanya, karena suara itu terasa mengalun menggempur pemusatan pikirannya.
"Terima kasih...!"
Pemuda itu menjawab.
Dan pemuda itu sengaja mengerahkan lweekangnya pula untuk melawan getaran suara tersebut.
Bahkan dengan kekuatan ilmu yang telah ia kembangkan sendiri dari lembaran-lembaran yang hilang dari buku peninggalan mendiang Bit-bo-ong, Liu Yang Kun mampu mengembalikan serangan-serangan gelombang suara itu ke arah pemiliknya.
"Aaaaah!"
Terdengar desah kaget dari orang yang berada di dalam pendapa itu.
Liu Yang Kun menaiki tangga dan kemudian melangkah ke dalam pendapa.
Dengan tenang matanya mengawasi deretan pengawal yang berjaga-jaga di dalam ruangan itu.
Ia berhenti di depan Coa In Lok yang telah duduk di dalam ruangan itu pula.
Tengkulak kaya itu berdiri menyambutnya.
Namun pemuda itu tidak begitu mempedulikannya.
Ia sedang mencari orang yang telah menyerangnya dengan gelombang suara tadi.
Gelombang suara yang ternyata mampu menggetarkan isi dadanya.
"Dimanakah dia? Aku tidak boleh lengah menghadapinya. Dia mampu mengembangkan ilmu sejenis ilmu Sai-cu Ho kang (Auman Singa), sehingga ia bisa menyerang lawan tanpa harus berteriak atau menggeram keras-keras. Dia tentu telah memiliki tenaga dalam yang sangat sempurna."
Tiba-tiba Liu Yang Kun menjadi tegang.
Di pojok ruangan tampak seorang kakek tampan sedang duduk melenggut di kursinya.
Matanya yang tajam mengerikan itu memandang tak berkedip kepadanya.
Kelihatannya kakek tampan itu juga terkejut melihat dirinya.
"Giok-bin Tok ong...?"
Liu Yang Kun berbisik seolah tak percaya.
"Kau... kau belum mati juga?"
Kakek tampan yang tak lain adalah Si jago Silat Nomer Empat di dunia itu berdesah parau pula.
Ternyata mereka dengan cepat saling mengenali wajah masing-masing.
Meskipun keduanya cuma pernah bertemu sekali saja, yaitu ketika mereka bertempur di Lembah Dalam setahun yang lalu, namun keduanya tak mungkin bisa melupakan wajah masing-masing.
Giok-bin Tok-ong tak mungkin bisa melupakan wajah Liu Yang Kun, seorang pemuda ingusan yang mampu menandingi bahkan hampir saja mengalahkannya.
Sebaliknya Liu Yang Kun juga tidak mungkin bisa melupakan orang yang membuatnya terkurung dalam tanah selama setahun itu.
Sementara itu melihat tamunya sudah saling mengenal dengan Giok-bin Tok-ong, Coa In Lok diam-diam menjadi bergembira malah.
Dia telah mendapat laporan lengkap tentang Liu Yang Kun dari anak buahnya bahkan sekilas ia telah melihatnya sendiri tadi pagi.
Melihat kesaktian Liu Yang Kun, diam-diam Coa In Lok justru berharap dapat menariknya menjadi pengawalnya malah.
Ia sama sekali tidak peduli bahwa pemuda itu telah membunuh mati belasan anak-buahnya.
"Ah... jadi tuan telah saling mengenal dengan Giok bin Lo-Cianpwe? Maaf...! Maaf...! Kalau begitu kita semua ini masih segolongan. Hmm, kalau kami tahu sebelumnya, takkan terjadi keributan-keributan seperti ini, hi-hi-hi..."
Coa In Lok mulai menjilat dan berusaha mengambil hati Liu Yang Kun.
Tapi tengkulak kaya itu terkejut bukan main ketika kedua orang tamunya tersebut tiba-tiba mendengus berbareng.
Bahkan Liu Yang Kun kemudian menggeram seraya mengepalkan tinjunya.
Pemuda itu tampak menatap Giok-bin Tok-ong dengan sinar mata geram dan benci.
Begitu pula sebaliknya.
Mereka saling pandang bagaikan dua ekor kucing yang hendak berkelahi.
Perlahan-lahan Giok-bin Tok-ong turun dari kursinya, kemudian melangkah mendekati Liu Yang Kun.
Otot-ototnya tegang, siap untuk menerkam.
Begitu pula sebaliknya dengan Liu Yang Kun!
Pemuda itu perlahan lahan juga melangkah ke samping, ke tempat yang lapang.
Dari celah-celah bibirnya yang mulai terdengar suara desisnya yang khas kalau sedang mengerahkan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya.
Yang menjadi sangat cemas dan gelisah justru Coa In Lok sekarang!
"Lo-Cianpwe!
Lo-Cianpwe...!
A-ada apa sebenarnya?
Siapakah dia?
Mengapa Lo-Cianpwe bersikap bermusuhan dengannya?"
Jeritnya kebingungan.
Kakinya melangkah ke depan Giok-bin Tok-ong untuk melerai.
Tapi kakek tampan yang wataknya seperti iblis itu mendadak mengebutkan ujung lengan bajunya.
Dan hembusan angin yang dahsyat tiba-tiba mendorong tubuh Coa In Lok, sehingga tengkulak kaya itu terjengkang ke belakang, kemudian terbanting ke lantai!
Mulutnya mengeluarkan darah segar!
"Lo-Cianpwe...?
Kau...
kau...?"
Lengkingnya parau seolah-olah tak percaya apa yang telah dilakukan orang-tua itu kepadanya.
Kedua telapak tangannya menekan dadanya yang terasa sesak luar biasa.
Meskipun tampak sangat segan dan takut, namun para penjaga yang ada di dalam pendapa itu segera bersiap siap untuk membantu majikan mereka.
Tapi ketika Giok-bin Tok-ong mendelik ke arah mereka, mereka pun segera mundur pula kembali.
Tampaknya mereka benar benar takut dan ngeri kepada orang tua itu.
"Jangan ikut campur! Pemuda itu adalah musuh lamaku! Aku akan membunuhnya!"
Giok-bin Tok-ong membentak. Namun dengan suara garang Liu Yang Kun juga menggeram.
"Nanti dulu, Kakek tua. Persoalanmu dan persoalanku dapat diselesaikan belakangan. Tujuan Utamaku kemari adalah untuk meminta pertanggung-jawaban Coa In Lok dahulu. Setelah itu kita berdua dapat berlaga sepuas hati."
"Bangsat! Persetan dengan urusanmu. Pokoknya..."
Kakek tampan itu mendengus dengan mata merah. Namun tiba-tiba pula mata itu meredup. Agaknya sesuatu telah me lintas di dalam otak orang tua yang kejam, keji dan licik luar biasa itu.
"Hmm... bolehlah! Kau kuberi waktu sebentar untuk menyelesaikan urusanmu dengan manusia goblog tapi rakus itu! Tapi setelah itu..."
Ujarnya kemudian dengan suara sedikit mengendor.
"Hah? Lo-Cianpwe, kau...? Mengapa Lo-Cianpwe berbalik pikiran terhadap aku? Bukankah selama ini kami selalu berbaik-hati kepada lo Cianpwe? Mengapa sekarang Lo-Cianpwe tiba-tiba... tiba-tiba...?"
Coa In Lok memotong dengan suara penasaran. Giok bin Tok-ong tertawa terkekeh-kekeh.
"Heh-heh-heh...! Terima kasih atas bantuanmu selama setengah tahun lebih ini. Kini aku sudah sembuh dari luka-lukaku, dan juga sudah selesai pula mempelajari Buku Rahasia yang kuperoleh dulu itu. Aku sekarang tak memerlukan bantuanmu lagi. Oleh karena itu, heeh-heh-he... persetan dengan urusanmu!"
"Jadi... jadi Lo-Cianpwe telah melupakan janji itu?"
Coa In Lok berseru geram.
"Siapa berjanji kepadamu? Bukankah kita cuma saling bertukar 'kebaikan' saja selama ini? Engkau memberi aku tempat untuk menumpang, sementara aku mengajarimu ilmu tentang racun. Nah, walaupun ilmu racun yang telah kuberikan itu cuma kulitnya saja, tapi hal itu sudah cukup bagimu untuk menggertak orang lain. Bukankah dengan demikian semuanya sudah impas dan tiada utang piutang lagi?"
Enak saja kakek tampan itu menjawab.
Lalu sambil melenggang seenaknya pula kakek itu melangkah kembali ke kursinya.
Sungguh amat geram dan kesal hati Coa ln Lok.
Tapi apa daya?
Dia dan anak-buahnya tak berani berbuat apa-apa terhadap orang tua itu.
Kakek tampan itu memiliki kemampuan seperti Iblis sementara wataknya juga sangat sulit diduga pula.
Salah-salah kakek itu menjadi marah, ia tak bisa membayangkan apa jadinya rumah itu beserta seluruh isinya.
Coa In Lok sudah tahu benar sifat dan perangai Giok-bin Tok ong, karena sudah lebih dari setengah tahun ini ia melayani orang tua aneh itu.
Dahulu kedatangan kakek itu juga disambutnya dengan kekerasan.
Tapi hanya dengan semburan ludahnya saja kakek tampan itu mampu membunuh seluruh pengawalnya.
Padahal waktu itu Giok-bin Tok-ong sedang terluka berat.
"Coa in Lok, bangunlah! Aku akan berbicara kepadamu...!"
Tiba-tiba terdengar suara Liu Yang Kun menyadarkan tengkulak kaya itu dari lamunannya.
"Oh...?!"
Coa In Lok mengeluh, lalu bangkit berdiri dengan tergesa-gesa.
Walaupun orang yang selalu melindunginya selama ini telah cuci tangan dan tak mau ikut campur lagi, tapi Coa In Lok mencoba untuk tetap berlaku garang di depan anak buahnya.
Sambil menyiapkan 'sesuatu' di balik sapu tangannya tengkulak kaya yang sangat disegani dan ditakuti di daerah itu menghadapi Liu Yang Kun.
Namun bagaimanapun juga sikap dan perbawa pemuda itu tetap membuatnya gemetaran jua.
"A-a-apa yang hendak tuan bicarakan dengan aku?"
Tanyanya seraya mengusap keringat dingin yang mendadak membanjiri lehernya.
Liu Yang Kun melirik sekilas kepada Giok-bin Tok-ong.
Melihat kakek sakti itu benar-benar berdiam diri di kursinya, pemuda itu menjadi lega.
"Coa In Lok! kau masih ingat peristiwa di atas sungai pagi tadi?"
Kata pemuda itu kemudian dengan suara yang menggetarkan hati.
Coa In Lok semakin berdebar-debar hatinya.
Tapi ketika para pengawal yang ada di dalam ruangan itu kemudian berkumpul di belakangnya, nyalinya menjadi besar kembali.
"Tuan... tuan maksudkan... perselisihan kami dengan Ciok Kwan itu?"
"Benar. Perselisihan yang mengakibatkan keributan besar, sehingga kau banyak kehilangan pengawal dan penduduk yang tak berdosa banyak kehilangan harta-bendanya itu."
"Tapi... tapi aku tak bermaksud...?"
"Persetan dengan alasanmu! Yang jelas karena ulahmu tadi pagi, tiga orang penduduk telah kehilangan perahunya. Dan duabelas penduduk lainnya juga telah kehilangan sampannya. Semuanya habis terbakar oleh obor-obor yang dibawa para pengawalmu."
"Tapi...?"
Coa In Lok masih mencoba membela diri.
"Lebih dari pada itu, karena ulahmu itu pula... perahuku juga ikut terbakar musnah! Oleh karena itu kau harus bertanggung-jawab terhadap seluruh kerugian ini! Kalau sebuah perahu ditaksir seharga dua ribu tail dan sebuah sampan seharga se ratus tail, maka kau harus mengganti setidaknya sepuluh ribu tail."
"Se-pu-luh ri-bu ta-il...? Oh, mana aku punya uang sebanyak itu! Ka-kalau pun misalnya ada, u-u-uang itu-pun... takkan kugunakan untuk mengganti kerugian itu. Dua ribu tail terlalu tinggi untuk sebuah perahu, sementara se ratus tail juga terlalu banyak untuk mengganti sebuah sampan."
"Punya atau tidak... itu urusanmu! Pokoknya kau harus mengganti semua kerugian itu! Kalau engkau tidak mau, hmmmh... akupun akan membakar pula seluruh bangunan rumahmu ini beserta isinya. Apabila kau melawan, he-he-he... akan kuhabiskan juga kau dan semua anak-buahmu. Habis perkara!"
Liu Yang Kun mengancam dengan gigi terkatup rapat.
"Aku tidak mau menuruti permintaanmu! Tangkap pemuda itu!"
Tiba-tiba Coa ln Lok menjerit keras sekali. Tangannya menggapai anak buahnya supaya mengeroyok Liu Yang Kun. (Lanjut ke
Jilid 24) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 24 Dan para pengawal tengkulak kaya itupun lantas meloncat berserabutan ke depan, menyerang Liu Yang Kun!
Berbagai macam senjata mereka menyambarnyambar ke tubuh Liu Yang Kun seakan-akan hendak mencacah-cacah menjadi beberapa bagian.
Tapi hanya dengan mengerahkan sedikit ilmu mengentengkan tubuhnya yang tinggi, Liu Yang Kun dapat membebaskan diri dari hujan senjata tersebut.
Begitu gesitnya gerakan tubuhnya ketika menghindar atau menyelinap diantara ayunan senjata lawan-lawannya, sehingga mata Giok bin Tok-ong yang tua itupun sampai terbeliak dibuatnya.
"Bangsat! Bocah itu seperti lalat saja gesitnya!"
Orang-tua itu bergumam.
"Aku harus berhati hati terhadap ginkangnya itu...!"
Dan ketika pada suatu saat Liu Yang Kun tidak bisa mengelak atau tidak mempunyai kesempatan untuk menghindari sabetan pedang lawannya, sehingga dengan demikian terpaksa pemuda itu mengerahkan sinkang untuk menangkisnya, Giok-bin Tok-ong semakin menjadi kaget menyaksikannya.
Karena secara tak terduga pedang yang dibuat dari besi-baja itu telah patah menjadi tiga bagian ketika membentur lengan Liu Yang Kun!
"Gila...!
Lweekang bocah itu tampaknya juga telah mencapai kesempurnaannya pula!
Aku...
aku...
benar-benar tak boleh alpa sedikitpun dalam melawannya nanti.
Tampaknya bocah itu telah melonjak pula ilmu kepandaiannya.
Hmm...
untunglah aku juga sudah memperoleh kesempatan untuk mempelajari Buku Rahasia, biarpun hanya sebagian saja."
Ternyata raja-racun yang licik dan keji itu telah mempergunakan kesempatan tersebut untuk menilai kemampuan Liu Yang Kun.
Meskipun di dalam hatinya orang tua itu juga merasa dapat melakukan apa yang telah dilakukan oleh Liu Yang Kun itu, namun diam-diam hatinya juga mengakui bahwa kepandaian pemuda itu tampaknya tidak berada di bawah dirinya.
"Pokoknya aku tidak boleh lengah menghadapinya!"
Gumamnya bersungguh-sungguh.
Sementara itu Coa In Lok dan anak-buahnya menjadi kaget dan ketakutan pula menyaksikan 'kesaktian' Liu Yang Kun.
Kalau senjata mereka tidak bisa melukai pemuda itu, dengan apa lagi mereka melawan?
Tiba-tiba Liu Yang Kun tertawa mengerikan.
Tampaknya pemuda itu tahu pula bahwa lawan-lawannya telah mulai ketakutan menghadapinya.
Oleh karena itu dengan suara berat ia menggertak mereka.
"Huh! Apakah kalian tidak mau juga menyingkir dari depanku? Baiklah! Aku akan mulai bersungguh-sungguh sekarang! Siapa saja yang tidak mau menyingkir dari depanku... tentu mati! Setelah itu... akan kubakar habis rumah ini!"
Ternyata gertakan tersebut benar-benar telah meruntuhkan nyali mereka.
Seperti memperoleh aba-aba saja, mereka segera membuang senjata masing-masing, kemudian lari lintang pukang meninggalkan tempat itu.
Tak seorangpun yang tinggal lagi di pendapa itu selain Coa In Lok dan Giok-bin Tok-ong.
"Berhenti...! Berhenti! Kenapa kalian pergi meninggalkan aku? Oouugh!"
Tengkulak-kaya itu berteriak-teriak memanggil orang-orangnya. Tapi tak seorangpun yang mempedulikannya. Oleh karena itu Coa In Lok semakin menjadi ketakutan hatinya.
"Lo-Cianpwe, toloooong...?"
Pintanya kemudian kepada Giok-bin Tok-ong.
"Huh!"
Kakek tampan itu mendengus dan mendelikkan matanya malah. Sekali lagi Liu Yang Kun tertawa panjang.
"Hahaha... sekarang kau tahu juga, bagaimana rasanya takut itu? Selama ini tentu tidak pernah terbayangkan olehmu, bagaimana penderitaan orang-orang yang telah kau tindas, kau rampas miliknya dan kau aniaya keluarganya itu, bukan?"
"Maafkan aku, tuan. A-a-aku menyesal... Aku akan ber-ber-bertobat. aku takkan... takkan berbuat seperti itu lagi. Tapi... tapi berilah aku hidup. Jangan... jangan tuan bakar rumahku..."
Coa In Lok membentur-benturkan dahinya di lantai dan meratap serta menangis minta pengampunan Liu Yang Kun. Namun dengan suara geram pemuda itu membentak.
"Diam! Kini kau meratap ketakutan di depanku. Tapi kau tak ingat betapa banyak sudah dosa yang telah kau perbuat. Berapa banyak orang yang telah kausiksa, kau bunuh dan kau buat menderita hidupnya. Bagaimana kau hendak membayar semuanya itu? Tidak...! Aku tidak akan mengampunimu! Kau harus mati! Kalau kau masih tetap hidup, kau tetap akan menjadi ular berbisa yang membahayakan orang-orang di sekitarmu! Nah... sekarang bersiaplah untuk mati! Kenangkanlah semua dosa-dosa yang pernah kaubuat lalu mintalah pengampunan dari Thian! Aku akan membunuhmu!"
Lalu Liu Yang Kun pura-pura mengangkat tangannya, karena sebenarnya pemuda itu juga tidak bermaksud untuk membunuh lawannya.
Pemuda itu hanya ingin menggertak saja, agar tengkulak yang telah biasa berbuat jahat terhadap penduduk miskin itu menjadi takut dan sadar akan dosa-dosanya.
Tapi tiba-tiba...
Tak terduga tengkulak kaya itu bangkit berdiri.
Dengan cepat tangannya yang memegang sapu-tangan tadi terayun ke depan, dan...
sebutir benda bulat sebesar telur penyu melesat ke dada Liu Yang Kun!
"Wuuuuuut!"
"Hei? Pek-lek-tan..??"
Giok-bin Tok-ong tiba-tiba menjerit.
"Haaaah...???"
Pekik Liu Yang Kun pula.
Kemudian bagai berlomba, Liu Yang Kun dan Giok-bin Tok-ong berusaha meninggalkan tempat berbahaya itu secepatnya sebelum senjata peledak yang mengerikan itu memusnahkan semuanya.
Liu Yang Kun yang langsung menghadapi peluru itu cepat menjejakkan kakinya ke lantai.
Menjejak dengan sekuat tenaganya, sehingga lantai itu amblong (melesak ke bawah) dan tubuhnya melesat bagai anak panah ke atas, menghantam atap pendapa serta menghancurkan puluhan genting di atasnya.
Dan pek lek-tan itu luput mengenal dirinya.
Sementara itu pada waktu yang bersamaan Giok-bin Tok-ong juga berusaha menghindarkan diri dengan segala kemampuannya.
Karena ia berada di dekat dinding pendapa, maka dengan mengerahkan seluruh lweekangnya ia menerjang dinding tebal itu sekuat tenaganya pula.
"Bhrroooooll...!"
Dinding pendapa yang tebal itu jebol dan roboh dengan suara yang bergemuruh.
Namun suara-suara itu, baik suara hiruk-pikuk yang diakibatkan oleh Liu Yang Kun maupun suara gemuruh yang disebabkan oleh Giok-bin Tok-ong, segera hilang lenyap dalam kedahsyatan suara ledakan pek-lek-tan!
Senjata peledak buatan Giok-bin Tok-ong itu meledak dengan suara dahsyat, menghancurkan dan menerbangkan seluruh isi pendapa itu kemana-mana, termasuk pula di dalamnya Liu Yang Kun dan Giok-bin Tok-ong sendiri.
Meskipun telah berusaha menjauhkan diri dari peluru yang mengerikan itu, namun hembusan angin yang diakibatkan oleh ledakan peluru tersebut ternyata masih tetap saja melemparkan tubuh mereka sekuatnya!
Liu Yang Kun seperti dilontarkan oleh angin puting-beliung jauh tinggi ke udara.
Sementara Giok-bin Tok-ong sendiri juga terlempar jauh ke halaman, dan...
tercebur ke dalam sungai.
Sekejap kemudian hampir seluruh rumah milik Coa In Lok itu telah rata dengan tanah.
Tak seorangpun dari para penghuninya yang bisa lolos dari neraka itu, termasuk Coa In Lok sendiri.
Mereka hancur lebur bersama dengan tempat kediaman mereka itu.
Dan yang tampak sekarang hanyalah puing-puing rumah berserakan, di mana asap dan debu masih tampak mengepul di mana-mana.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya yang telah sempurna Liu Yang Kun bisa mendarat dengan selamat di tengah-tengah puing-puing tersebut.
Pakaiannya tampak terkoyak di beberapa tempat, sehingga baju kulit-ularnya sedikit kelihatan dari luar.
Namun demikian tak segores lukapun yang tampak pada tubuhnya.
"Kurang ajar! Dari mana orang itu memperoleh pek-lek-tan? Tak mungkin kalau Giok-bin Tok-ong yang memberikannya. Tak mungkin kakek sakti itu mau memberikan senjata andalannya itu kepada dia. Tentu Coa In Lok itu yang mencurinya. Hmmh... kurang ajar! Bagaimana aku sekarang harus minta ganti kerugian itu?"
Liu Yang Kun bersungut-sungut sambil mengedarkan pandangannya kesana kemari. Ditatapnya reruntuhan yang berserakan di sekitarnya.
"Hei...?"
Tiba-tiba pemuda itu berseru gembira.
Di bawah reruntuhan almari Liu Yang Kun melihat uang emas dan perak berserakan di atas lantai.
Bahkan di dekatnya masih ada sebuah peti kecil yang tertutup rapat tutupnya.
"Bagus! Akhirnya aku memperoleh uang pengganti pula untuk perahu yang terbakar itu..."
Liu Yang Kun lalu mengumpulkan uang yang berserakan itu ke dalam sobekan kain, kemudian mengikatkannya sekalian di pinggangnya.
Namun ketika tangannya menyentuh peti kecil itu, tiba tiba hatinya menjadi berdebar-debar.
Ia menjadi curiga, jangan-jangan ada perangkap atau jebakan di dalam peti itu.
Siapa tahu peti itu berisi pek-lek-tan pula?
Pemuda itu lalu melompat mundur.
Diambilnya sebutir kerikil, kemudian dari jarak yang cukup jauh ia menimpukkannya ke peti itu.
Thak!
"Bhussssssh...!"
Betul juga.
Ketika kemudian peti itu pecah tiba-tiba dari dalamnya menyembur asap tebal disertai taburan jarum ke segala penjuru.
Bahkan di balik gumpalan asap tebal tersebut masih terdengar pula suara dengungan kawanan lebah yang sedang marah.
Liu Yang Kun cepat berjongkok dan berlindung di belakang reruntuhan tembok.
Setelah asap itu hilang dan kawanan lebah itu pergi, ia baru berani keluar.
Namun tiba-tiba matanya terbeliak.
Keningnya berkerut.
Karena di dalam peti yang pecah itu tampak sebuah buku kumal yang telah menguning saking tuanya.
Sekejap pemuda itu tertegun.
Tapi sesaat kemudian ia telah membungkuk untuk memperhatikan buku kumal tersebut.
"Buku Rahasia...??"
Desahnya kemudian ketika terbaca tulisan pada sampul buku itu.
Tak terasa tangan Liu Yang Kun telah menyentuh buku itu dan mengambilnya.
Tapi sekali lagi pemuda itu menjadi kaget.
Ternyata buku itu sudah tidak utuh lagi.
Di balik kulit muka dari buku kumal itu ternyata cuma ada beberapa lembar saja.Lembar-lembar selanjutnya beserta kulit belakangnya ternyata sudah tiada lagi alias sudah hilang.
Untuk beberapa saat lamanya pemuda itu malah menjadi termangu-mangu dan gelisah memikirkan buku itu.
"Benarkah buku ini Buku Rahasia yang ramai dibicarakan orang itu? Tapi mengapa berada di sini dan sudah tidak utuh lagi? Masakan Coa In Lok yang menyimpannya...? Ah, tak mungkin! Hm... jangan-jangan Giok-bin Tok-ong itu yang menyimpannya."
Begitu teringat akan Giok-bin Tok-ong pemuda itu menjadi berdebar-debar hatinya. Tak terasa kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Eh... kemana orang tua itu tadi? Masakan ia tak bisa menyelamatkan diri dari keganasan senjatanya sendiri?"
"Kresek... kresek!"
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang sangat banyak mendatangi tempat itu. Secepat kilat Liu Yang Kun memungut buku yang sangat menarik hatinya itu dan menyimpannya di balik bajunya.
"Buku ini sangat menarik. Aku akan membacanya."
Gumamnya seraya berdiri.
Beberapa puluh orang penduduk di sekitar tempat itu ternyata telah datang karena mendengar suara ledakan tadi.
Dan mereka benar-benar sangat kaget ketika menyaksikan gedung yang amat besar itu kini hampir roboh semuanya.
Hanya tinggal sebagian kecil saja yang masih tegak, itu pun genting-gentingnya sudah banyak yang rontok pula.
"Eh? A-apa... yang telah terjadi? Rumah... rumah ini disambar petir?"
"Ah, masakan ada petir menyambar di s iang bolong begini? Lihat! Langit bersih, matahari pun bersinar cemerlang!"
"Benar. Tapi... kenapa dengan rumah itu? Dikutuk dewa... barangkali?"
"Ah, tak tahulah. Mungkin benar juga. Siapa tahu dosa Tuan Coa telah sampai ke puncaknya dan tidak dapat diampuni lagi?"
"Dan... Thian telah memusnahkannya! Begitukah?"
Orang-orang itu menjadi ribut dan saling bertanya atau mengutarakan pendapat masing-masing.
Meskipun demikian mereka tetap berada di luar halaman dan saling berdesakan di luar pagar.
Seperti waktu-waktu sebelumnya, tak seorangpun diantara mereka yang berani menginjakkan kaki di halaman Coa In Lok itu.
Begitu takutnya orang-orang itu kepada Coa In Lok, sehingga ketika Liu Yang Kun muncul dari balik reruntuhan tembok mereka hampir saja lari dari tempat itu.
Untunglah beberapa orang di antara mereka segera ada yang mengenali wajah Liu Yang Kun.
"Hei.. nanti dulu! Bukankah dia itu pendekar yang bertempur dengan anak buah tuan Coa di tepian sungai pagi tadi!"
"Ya... ya, benar. Aku juga ikut melihatnya. Dia memang pendekar yang berada di atas perahu Ciok Kwan itu."
"Ooo... diakah? Wah, kalau begitu tentu dia pulalah yang meledakkan tempat ini. Kudengar dia memang telah mengancam tuan Coa dan anak buahnya."
"Agaknya memang demikian. Kalau begitu kita harus mengucapkan terima kasih kepada dia. Dia telah membalaskan sakit hati kita kepada tuan Coa..."
Demikianlah, ketika Liu Yang Kun melangkah mendekati mereka, mereka pun lalu berlutut menyatakan rasa gembira dan terima kasih mereka.
Mereka juga bercerita pula, mengapa mereka berbuat seperti itu.
Betapa selama ini mereka selalu diganggu dan dibuat sangat menderita oleh Coa In Lok beserta anak-buahnya.
Diam-diam Liu Yang Kun merasa lega pula di dalam hati.
Semula ada sedikit penyesalan di dalam hatinya menyaksikan kematian dan kehancuran rumah Coa In Lok itu.
Tapi penyesalan itu, segera hilang dan terhibur me lihat penyataan mereka.
"Apalagi aku juga tak berniat membunuh atau memusnahkan harta benda tengkulak kaya itu. Dia sendiri yang bunuh diri dan meledakkan rumahnya."
Pemuda itu menghibur hatinya sendiri.
Meskipun demikian Liu Yang Kun tak tega juga memikirkan nasib Coa In Lok dan keluarganya yang tertimbun di bawah reruntuhan itu.
Oleh karena itu ia meminta kepada orang-orang itu untuk mencari dan mengubur jenazah Coa In Lok sebaik-baiknya.
"Saya tak mempunyai banyak waktu untuk tinggal di tempat ini. Olah karena itu kuminta kepada cuwi semua untuk membereskan mayat Coa In Lok dan keluarganya yang tertimbun di bawah puing-puing rumahnya ini. Biarlah,meskipun dia itu sangat jahat, tapi kini ia sudah mati..."
"Sudah mati?"
Hampir berbareng orang-orang itu bersorak.
"Benar. Dia tentu sudah mati. Tak mungkin dia bisa hidup dalam ledakan yang maha dahsyat itu. Cari saja mayatnya di bawah puing-puing rumahnya itu!"
Liu Yang Kun tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Orang orang itu tampak begitu gembiranya mendengar berita kematian tengkulak kaya tersebut.
"Ooh... terima kasih, Taihiap. Terima kasih. Kami semua tentu bersedia melakukan perintahmu. Oh, bukan main! Bukan main! Dia sudah mati... a-ha... dia sudah mati!"
Mereka bersorak-sorai sambil berlari-lari memasuki halaman gedung itu.
Sekali lagi Liu Yang Kun tersenyum kemudian perlahan-lahan pergi meninggalkan halaman itu.
Dibiarkannya orang orang itu melakukan perintahnya, membongkar tempat itu dan mengurus mayat Coa In Lok.
Begitulah, ketika orang-orang itu sibuk membereskan puing-puing rumah Coa In Lok, Liu Yang Kun sendiri juga telah berada kembali di tepian sungai dimana terjadi kebakaran pagi tadi.
Pemuda itu telah menemui Ciok Kwan dan orang-orang yang telah kehilangpn perahunya.
Dengan sabar pemuda itu memberi ganti rugi kepada mereka, agar mereka bisa membeli atau membuat perahu yang baru.
Liu Yang Kun sengaja memberi uang lebih kepada mereka, agar supaya mereka bisa hidup sebelum bisa bekerja dengan perahu mereka yang baru.
Dan khusus untuk Ciok Kwan, Liu Yang Kun telah memberikan empat kali taksiran harga perahunya yang lama.
Walaupun demikian ketika semuanya telah beres, Liu Yang Kun masih mempunyai sisa uang yang banyak.
Bahkan masih lebih dari separuhnya.
Terpaksa pemuda itu membagi-bagikannya lagi kepada penduduk yang membutuhkannya.
Pemuda itu baru berhenti bekerja setelah di dalam bungkusannya tinggal beberapa puluh tail lagi saja.
"Biarlah sisa uang ini kusimpan sendiri untuk bekalku. Hitung-hitung sebagai ganti uangku yang hilang."
Pemuda itu membatin.
Hari itu penduduk He-cung dan sekitarnya benar-benar merasa gembira dan bahagia sekali.
Selain sudah terbebas dari cengkeraman Coa In Lok, mereka juga memperoleh pembagian rejeki yang tak tersangka-sangka.
Maka tak mengherankan kalau mereka lalu bersuka-ria dan bergembira di mana-mana.
Dan otomatis Liu Yang Kun pun lalu disanjung dan dipuja-puja seperti dewa.
Untuk beberapa waktu Liu Yang Kun memang tidak tega menolak penghormatan mereka.
Tapi beberapa saat kemudian secara diam-diam pemuda itu pergi meloloskan diri dari perhatian mereka.
Dengan tangkas pemuda itu menyelinap dan pergi meninggalkan tempat itu.
Matahari telah bergulir ke arah barat.
Liu Yang Kun beristirahat di bawah pohon siong yang rindang.
Sejak keluar dari dusun He-cung, pemuda itu sengaja tidak mau lewat di tepian sungai.
Pemuda itu memilih lewat hutan yang agak jauh dari aliran sungai.
Pemuda itu tak ingin berjumpa dengan orang lain, karena ia ingin membaca Buku rahasia yang diketemukannya itu.
"Aku hendak melihat, apakah buku itu benar-benar Buku Rahasia yang dihebohkan orang itu?"
Liu Yang Kun membatin seraya mengeluarkan buku itu.
Sampul buku itu terbuat dari kulit domba yang agak tebal.
Di bagian tengah-tengahnya tertulis dua buah huruf besar, yang artinya adalah 'BUKU RAHASIA".
Huruf itu ditulis dengan warna merah.
Namun karena umurnya, warna itu telah menjadi kabur dan berubah agak kecoklat-coklatan.
Sedangkan di beberapa tempat warna itu justru telah menjadi hilang sama sekali.Liu Yang Kun lalu membuka lembar yang pertama.
Tidak seperti sampulnya, lembaran isi buku itu hanya terbuat dari kertas-kertas yang telah diawetkan.
Dan pada lembar atau halaman yang pertama tersebut tidak ada tulisan apa-apa.
Halaman itu kosong.
Tidak ada keistimewaannya pula selain bagian pinggirnya yang telah rapuh dimakan bubuk.
"Hmmh...!"
Liu Yang Kun mendengus seraya membuka halaman selanjutnya.
Sekali lagi Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.
Lembar yang kedua itu juga kosong, bahkan selain kosong, halaman itu juga telah kotor dan rusak.
Bekas-bekas ceceran tinta yang telah luntur berlepotan di seluruh permukaan kertas itu, sehingga menimbulkan kesan bahwa seseorang telah berusaha menghapuskan tulisan atau gambar-gambar yang ada dengan air.
"Ah...!"
Liu Yang Kun berdesah karena ikut menyayangkan pula.
Tapi Liu Yang Kun segera membuka lagi lembar berikutnya.
Dan kali ini Liu Yang Kun melihat deretan huruf yang disusun dengan baik.
Bahkan di samping susunan-susunan kalimat yang berbentuk seperti syair atau pantun itu terdapat pula gambar-gambar sederhana dalam bentuk yang aneh-aneh seperti gambar-gambar perbintangan lama.
"Hei... ini kalau tak salah adalah gambar-gambar kuno yang selalu dipakai oleh para peramal atau ahli-ahli perbintangan di zaman dulu. Hmm... kalau begitu benar juga kata orang bahwa Buku Rahasia itu hanya berisi ramalan-ramalan kuno."
Liu Yang Kun lalu membuka halaman-halaman selanjutnya.
Pada lembar yang ketujuh Liu Yang Kun berhenti.
Pada halaman itu isinya telah berubah.
Tidak lagi berupa syair atau pantun yang sulit dimengerti artinya, tapi berupa gambar silsilah keluarga yang mudah dibaca maksudnya.
Cuma yang agak aneh dan menggelikan, daftar silsilah keluarga yang memuat puluhan nama, atau bahkan mungkin ada se ratusan nama itu ditulis atau dibuat sedemikian rupa, sehingga deretan-deretan nama itu membentuk sebuah gambar dari tubuh manusia.
Ketika Liu Yang Kun mencoba untuk membaca nama-nama itu, kepalanya segera mengangguk-angguk.
Hampir semua nama itu, dari atas sampai bawah, menggunakan she Souw.
Memang ada beberapa nama yang tertulis dengan she lain, tapi nama-nama itu ditulis dengan warna yang berbeda sehingga mudah dilihat.
"Tampaknya gambar ini adalah silsilah Keluarga Souw yang terkenal itu. Dan nama-nama yang tidak menggunakan she Souw ini tentulah orang-orang luar yang kawin dengan gadis-gadis mereka."
Liu Yang Kun berkata di dalam hatinya. Tiba-tiba Liu Yang Kun teringat kepada Souw Lian Cu, gadis yang pertama kali merampas hatinya, dan yang sampai sekarang pun juga tidak pernah dilupakannya.
"Hmm... dia juga keturunan Keluarga Souw pula. Apakah namanya juga tertulis di dalam silsilah ini?"
Tanyanya di dalam hati.
Lalu Liu Yang Kun mencari-carinya dibagian bawah atau di bagian kaki dari gambar silsilah itu, karena sebagai keturunan keluarga Souw yang paling akhir atau paling baru, namanya tentu berada di urutan yang terbawah pula.
Tapi dugaannya ternyata keliru, bahkan salah.
Tak ada nama Souw Lian Cu disitu.
Bahkan nama Souw Thian Hai juga tidak ada pula di sana.
Nama yang tertera di urutan paling bawah ada Souw Jing Lun dan Souw Bi Li.
Kedua nama itu tertulis sejajar di bagian kaki kiri dan kanan pada silsilah yang menyerupai gambar tubuh manusia.
Liu Yang Kun menjadi penasaran.
Satu persatu ia membaca nama nama itu, dia urutkan dari bawah ke atas.
Perasaannya menjadi tegang.
Apalagi bila ia menemui nama-nama yang hampir mirip.
Ada nama Souw Lian Hoa, Souw Lian Hui, Souw Lian Cing, bahkan ada yang suara lafa lnya hampir sama, yaitu Souw Lian Ci.
Namun sampai di bagian perut atau separuh dari gambar silsilah itu, nama Souw Lian Cu tetap tidak diketemukannya.
Tampaknya nama gadis itu memang belum tercantum di dalam silsilah itu.
Agaknya penulis yang paling akhir pada gambar silsilah itu memang Souw Jing Lun dan Souw Bi Li.
Dan kemungkinan besar Souw Lian Cu dan Souw Thian Hai adalah keturunan dari salah seorang dari mereka sehingga nama Souw Lian Cu dan ayahnya belum tercantum di dalam silsilah tersebut.
"Melihat nama mereka, Souw Bi Li (Bidadari Cantik) itu tentulah seorang wanita. Sedangkan Souw Jing Lun itu tentulah seorang lelaki. Jadi kalau dugaanku itu benar, Souw Thian Hai itu tentu keturunan dari Souw Jing Lun."
Liu Yang Kun menduga-duga di dalam hati.
Tiba-tiba Liu Yang Kun teringat pula akan sebuah nama yang banyak disebut-sebut di kalangan persilatan pada zaman dahulu, bahkan juga tertulis pula di dalam peninggalan Bit-bo-ong, yaitu kakek Souw atau Hoa-san Lojin.
Adakah nama itu juga tertulis di dalam silsilah ini?
Bergegas Liu Yang Kun mencarinya di dalam gambar itu.
Karena kakek sakti itu hidup pada zaman se ratusan tahun yang lalu, Liu Yang Kun mencarinya di bagian tengah dari pada gambar silsilah tersebut.
Sebab di dalam jangka waktu se ratus tahun tersebut tentu paling tidak sudah menurunkan enam atau tujuh keturunan (generasi), mengingat waktu itu Hoa-san Lojin sudah disebut kakek Souw pula.
Namun sekali lagi usaha Liu Yang Kun itu sia-sia pula.
Di antara deretan nama-nama itu tak satupun yang menyebutkan gelarnya, sehingga ia tak tahu, yang manakah di antara nama-nama itu yang bergelar kakek Souw atau Hoa-san Lojin?
Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.
Ditatapnya sebuah nama yang tertulis persis di bagian luar (tan-tian) dari silsilah yang berbentuk tubuh manusia itu.
Disitu tertulis sebuah nama yang coretan-coretan hurufnya sangat kuat dan indah sekali.
Seperti dilukis saja.
Sehingga tulisan itu benar-benar tampak berbeda dengan yang lain.
"Souw Kian Ting..."
Liu Yang Kun membaca nama itu perlahan.
"Mungkinkah Souw Kian Ting ini yang bergelar Hoa-san Lojin? Kudengar kakek sakti itu seorang sastrawan dan pelukis yang hebat..."
Liu Yang Kun lalu membuka halaman selanjutnya.
Halaman kedelapan ternyata kosong lagi.
Baru pada lembar yang kesembilan ada tulisannya.
Itu pun hanya singkat pula.
Cuma ada dua baris kalimat .
DIADAKANNYA UNTUK MENJADI PEGANGAN.
DIKOSONGKANNYA SUPAYA BERGUNA.
Liu Yang Kun tertegun dan termangu mangu untuk beberapa saat lamanya.
Kedua kalimat itu seperti pernah didengarnya tapi ia lupa entah dimana.
"Rasa-rasanya kalimat kalimat ini seperti tidak lengkap, dan hanya merupakan potongan saja dari keseluruhannya. Ehmmmm... tapi nanti dulu! Kalau demikian kalimat-kalimat ini tentu merupakan potongan dari 'sebuah pelajaran' atau 'ujar-ujar' kaum cendikiawan jaman dahulu. Tapi... 'ujar"
Siapa? Atau dari kitab pelajaran mana?"
Liu Yang Kun menghela napas sambil memutar otaknya untuk berpikir dan mengingat-ingat.
Selain pelajaran silat, sejak kecil ia selalu bergelut dengan pelajaran sastra.
Baik oleh didikan ayahnya, maupun oleh didikan guru sastra yang didatangkan ayahnya.
Maka dalam soal ujar-ujar kuno seperti itu otaknya juga memiliki sedikit pegangan pula.
Tapi ada segudang ujar-ujar kuno seperti itu yang pernah dibacanya, sehingga dalam waktu yang singkat sulit untuk menemukannya.
"Huh! Mengapa aku pusing-pusing memikirkannya?"
Akhirnya Liu Yang Kun menjadi kesal.
"Dari mana pun kalimat-kalimat itu dipetik, namun yang terang penulis buku ini tentu mempunyai maksud mengutipnya disini. Cuma... apa maksudnya itu?"
Karena tidak bisa mengupas maksud dan tujuan dua kalimat itu, maka Liu Yang Kun lalu membuka halaman selanjutnya.
Dan lembar yang kesepuluh itu ternyata langsung menarik perhatiannya.
Dalam lembar itu penuh tulisan yang rapat, serta gambar-gambar tentang cara menyempurnakan ilmu pernapasan ke tingkat yang tertinggi.
Diuraikan pula bagaimanakah cara membebaskan rintangan dan keruwetan-keruwetan di dalam jalan darah.
Dan dijelaskan pula, bagaimana bisa 'menembus' dan "menerobos' titik titik jalan darah yang rawan dan berbahaya di dalam tubuh manusia.
Bahkan di dalam lembar-lembar selanjutnya, diungkapkan pula cara-cara 'menyimpan', 'menguasai', serta 'menggunakan' tenaga sakti tersebut secara seksama, agar kedahsyatannya bisa dimanfaatkan menurut keinginan pemiliknya.
Pada lembar yang ketigabelas, Liu Yang Kun mendapatkan uraian tentang cara-cara menghindari dan mengobati 'salah Jalan' yang sering diderita oleh orang yang mempelajari ilmu pernapasan.
Terutama orang-orang yang mempelajari ilmu sesat.
"Wah... kalau isi buku ini sampai ketahuan tekoh-tokoh sesat dari dunia persilatan, tentu ramai sekali. Mereka tentu saling berebutan untuk memilikinya. Tentu orang-orang seperti Giok-bin Tok-ong akan... hei...?"
Begitu teringat Giok-bin Tok-ong, Liu Yang Kun menjadi kaget sendiri. Buku itu justru ia ketemukan dimana Giok bin Tok-ong tadi berada. Jangan-jangan memang Iblis tua itu yang menyimpannya.
"Benar! Tentu orang tua itu yang membawa buku ini. Tidak ada yang patut dicurigai selain dia. Coa In Lok dan anak-buahnya terang tidak mungkin. Hanya iblis tua itu yang bisa mencuri buku penting ini dari tangan keluarga Souw."
Tak terasa Liu Yang Kun menoleh ke kanan dan ke kiri.
Tiba-tiba saja perasaannya menjadi tegang dan berdebar-debar.
Kalau dugaannya itu benar, Giok-bin Tok-ong tentu tidak akan tinggal diam.
Iblis itu tentu akan mencari buku tersebut sampai dapat.
Bergegas Liu Yang Kun menutup buku itu.
Sebenarnya masih ada selembar lagi yang tersisa, tapi ia tak ingin membacanya sekarang.
Entah mengapa, mendadak saja perasaannya seperti menangkap sesuatu yang ganjil dan mencurigakan dibalik semak-semak di sekitarnya.
"Ah... mengapa perasaanku tiba-tiba menjadi ketakutan begini? Kalaupun Giok-bin Tok-ong benar-benar datang, aku toh belum tentu kalah melawan dia? Paling-paling aku cuma harus berhati-hati dengan peluru mautnya itu."
Gerutunya didalam hati.
Namun ketika tangannya hendak memasukkan buku itu ke dalam saku bajunya, tiba-tiba terdengar desir suara angin di belakangnya.
Lembut sekali.
Hampir-hampir tidak terasa bila ia tidak kebetulan sedang mengerahkan kewaspadaannya.
Dengan cepat Liu Yang Kun memutar tubuhnya.
Begitu cepatnya, sehingga seolah-olah pemuda itu tidak bergerak malah.
Hanya tahu-tahu tubuhnya telah berbalik se ratus delapan puluh derajad begitu saja.
"Oh!"
"Aah!"
Terdengar desah kaget, baik dari mulut Liu Yang Kun maupun dari mulut tiga lelaki yang tiba-tiba telah berada di tempat itu.
Mereka sama-sama kaget melihat lawan mereka.
Liu Yang Kun sangat terkejut, karena ketiga orang lelaki yang tiba-tiba telah berada di belakangnya itu ternyata adalah tiga orang lelaki misterius yang dicurigainya di desa He-cung pagi tadi.
Sebaliknya tiga orang lelaki itu juga sangat terperanjat menyaksikan kehebatan ilmu meringankan tubuh Liu Yang Kun yang di luar dugaan mereka itu.
"Hati-hati Nyo Sute! Tang Sute! Tampaknya kita harus bekerja keras sekali ini! Hmmh...dimanakah suhu tadi?"
"Suhu berada di pinggir sungai sejak siang tadi. Suhu memeriksa setiap perahu yang lewat. Beliau takut kalau buruannya meloloskan diri melalui air."
Orang she Tang, yang termuda diantara ketiga orang itu menjawab pertanyaan suhengnya.
"Kalau begitu jemputlah beliau ke sini! Katakan kalau kita telah menemukan buruan itu di sini!"
"Baik!"
Orang she Tang itu melirik sekilas ke arah Liu Yang Kun, kemudian melesat pergi bagai kilat cepatnya.
Sekejap saja tubuhnya telah hilang di balik keremangan senja yang mulai menyelimuti hutan belantara itu.
Liu Yang Kun menarik napas panjang.
Ia tidak mengenal mereka.
Tapi melihat gelagatnya, orang-orang itu telah mengenalnya.
Bahkan memusuhinya.
Oleh karena itu diam-diam ia mengerahkan tenaganya.
Siap untuk menghadapi mereka.
"Gila! Siapakah mereka? Dan siapa pula guru mereka itu? Mengapa mereka mencari aku?"
Desahnya di dalam hati. Meskipun sudah agak gelap, tapi orang-orang itu tampaknya bisa melihat dan menduga apa yang sedang bergejolak di dalam hati Liu Yang Kun.
"Selamat bertemu kembali...! Maafkanlah kami kalau sekiranya kedatangan kami ini telah mengagetkanmu. Kami bertiga datang dari Lembah Tak Berwarna..."
Orang yang pertama berkata kepada Liu Yang Kun.
"Lembah Tak Berwarna?"
Liu Yang Kun bergumam sambil memutar otaknya untuk mengingat-ingat nama yang pernah didengarnya itu. Orang itu mengangguk.
"Saudara pernah melihat atau mendengar tempat tinggal kami?"
Tiba-tiba Liu Yang Kun menghela napas berat.
Ia memang telah teringat kembali akan sebuah pantun yang sering diucapkan orang di dunia persilatan.
Menjadi pendekar gagah perkasa, Ada tiga jalan untuk mencapainya.
Pertama di atas gunung Hoa-san Kedua di tengah gurun Gobi Dan terakhir di Lembah Tak Berwarna.
"Hmm... jadi orang-orang ini datang dari salah satu tempat yang disebut-sebut orang itu. Tak heran kalau kepandaian mereka sangat tinggi."
Pemuda itu berkata di dalam hati. Liu Yang Kun menatap lawannya dengan tajam. Lalu dengan suara tenang ia menjawab.
"Ah... Jadi cu wi semua ini datang dari salah satu tempat yang selalu menjadi buah bibir masyarakat itu? Hmmm... kalau begitu cuwi tentu datang dari Keluarga Tok, karena kudengar lembah itu dikuasai oleh keluarga Tok."
Tiba-tiba kedua orang itu tertawa.
"Hahahaha...! Jadi begitukah berita yang tersiar di dunia persilatan? Wah, kalau begitu berita itu perlu diralat, karena berita seperti itu sudah tidak benar lagi sekarang."
Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.
"Maksud Jiwi?"
Tegasnya heran. Kedua orang itu saling pandang satu sama lain. Mulut mereka tetap tersenyum.
"Semula lembah itu memang dikuasai oleh anak keturunan keluarga Tok. Tapi kejadian itu sudah lama berlalu. Mulai lima puluh tahunan berselang, kekuasaan di lembah itu telah berpindah ke murid lain yang lebih pandai dan berbakat dari pada murid keluarga Tok sendiri."
"Oooh...? Jadi maksud Jiwi...kalian bertiga tadi termasuk dari marga lain yang kini berkuasa di lembah itu?"
Liu Yang Kun menegaskan lagi.
"Betul. Penguasa lembah itu sekarang di tangan Giok-bin Tok-ong. Dan kami bertiga adalah murid-muridnya."
"Ah!"
Liu Yang Kun terperanjat. Benar-benar terperanjat. Sehingga otomatis wajahnya menjadi tegang.
"Nah perkenalkanlah kami..."
Orang itu tidak mempedulikan keheranan dan ketegangan Liu Yang Kun.
"Saya adalah Kim Hong San, murid tertua dari Giok-bin Tok-ong. Dan yang berada di sampingku ini adalah Nyo Kin Ong, adik seperguruanku yang kedua. Sementara yang pergi tadi adalah Tang Hu, adik seperguruanku yang ketiga. Nah, sekarang... bolehkah kami mengetahui nama dan perguruan saudara?"
Liu Yang Kun tersentak kaget.
"Ah... eh, aku yang rendah bernama Liu Yang Kun. Aku... aku tak memiliki perguruan, karena semua ilmu silatku kuperoleh dari belajar sendiri. Dan... hmmm, sudahlah... biarkanlah aku pergi. Masih banyak hal-hal yang harus kukerjakan."
Jawabnya kemudian dengan sedikit gugup. Tapi dengan cepat kedua orang itu berpencar.
"Eit, nanti dulu...! Saudara Liu tidak boleh berlalu begitu saja dari tempat ini!"
Kim Hong San mencegah. Wajah Liu Yang Kun menjadi merah seketika. Hatinya tersinggung.
"Mengapa?"
Tanyanya kaku.
"Maaf, guruku sedang bingung karena telah kehilangan buku. Dan kulihat saudara baru saja membaca buku. Hmm... bolehkah aku melihatnya?"
Kim Hong San berkata pula dengan tidak kalah kakunya. Liu Yang Kun semakin merasa tersinggung.
"Hmm... Jadi kalian anggap aku yang mencurinya?"
Ia menggeram. Tiba-tiba Nyo Kin Ong melangkah maju. Wataknya memang lebih berangasan dan lebih kasar dari pada kakak seperguruannya.
"Persetan! Pokoknya kau mau menyerahkannya atau tidak?"
Bentaknya keras.
Liu Yang Kun benar-benar tidak bisa mengekang dirinya lagi.
Bibirnya berdesis tajam, dan tiba-tiba kulit mukanya juga berubah menjadi kuning pucat berkilauan.
Tangannya yaug memegang buku itu mendadak terayun ke depan, seolah-olah ingin menyerahkan buku tersebut.
Namun berbareng dengan itu pula tiba-tiba dari telapak tangan tersebut meluncur badai udara dingin yang siap untuk menggulung Nyo Kin Ong.
"Sute! Awas...!!"
Kim Hong San berteriak khawatir.
Nyo Kin Ong yang tak menyangka akan memperoleh serangan dahsyat itu cepat mengelak sebisa-bisanya.
Mati-matian ia mengerahkan segala kemampuannya.
Dan beruntung sekali ia bisa menghindari serangan tersebut, meskipun untuk itu ia harus mengorbankan baju-luarnya yang terkoyak-koyak seperti tersayat pisau tajam.
Kim Hong San segera menghampiri Sutenya.
"Ji Sute...? Kau tidak apa-apa, bukan?"
Desahnya lega. Nyo Kin Ong yang wajahnya masih tampak pucat itu menelan ludah.
"Aku... aku tidak apa-apa, suheng. Aku... aku benar-benar tak mengira kalau tenaga dalamnya sedemikian dahsyatnya. Untunglah aku bisa bertahan dan menghindarinya."
Jawabnya kecut.
"Bukankah suhu sudah memperingatkan kita?"
"Ya. Tapi... sejak semula aku memang kurang mempercayainya. Selama ini kita belum pernah dikalahkan orang."
Sementara itu Liu Yang Kun sendiri juga tidak berusaha untuk mengejar atau mendesak lawannya. Untuk sementara pemuda itu sudah merasa cukup memberikan peringatan kepada murid Giok-bin Tok-ong itu.
"Nah! Apakah kalian masih juga mau memaksakan kehendak kalian kepadaku?"
Sindirnya tajam.
Kedua orang itu menggeretakkan giginya.
Mereka sadar bahwa yang mereka hadapi sekarang adalah seorang pemuda yang berkepandaian sangat tinggi.
Namun demikian mereka pun juga tidak lantas menjadi gentar pula karenanya.
Mereka masih tetap yakin pula akan kemampuan mereka.
Apalagi mereka belum pernah dikalahkan orang selama ini.
"Setan keparat! Jangan buru-buru menepuk dada dahulu! Kau pun belum menyaksikan kepandaian kami...!"
Tiba-tiba Kim Hong San mengumpat marah.
Sikapnya yang halus dan sopan tadi seketika hilang.
Muncullah kini wataknya yang asli, yang tidak berbeda jauh dengan guru dan saudara-saudara seperguruannya.
Lalu tanpa memberi peringatan lagi orang itu menerjang Liu Yang Kun.
Bagaikan cakar naga kesepuluh jari-jari tangannya menyambar dada dan wajah Liu Yang Kun.
Sepintas lalu tercium bau wangi dari telapak tangan tersebut.
"Tok-ci-kang (Tenaga Jari beracun)?"
Liu Yang Kun menduga-duga di dalam hati.
Dengan tangkas pemuda itu mengelak.
Tubuhnya yang jangkung itu bergerak bagaikan bayangan hantu.
Tahu-tahu telah berada di tempat lain.
Bahkan dari tempat itu ia balas menyerang pula dengan tidak kalah cepatnya.
"Whhuuuuus...!"
Kembali dari telapak tangan pemuda itu meniup pula badai angin dingin seperti tadi!
Begitu kuatnya sehingga Kim Hong San terpaksa menghindar pula dengan tergesa-gesa.
Bahkan murid pertama Giok bin Tok-ong yang belum pernah dikalahkan orang itu terpaksa harus mengerahkan seluruh kemampuannya agar tidak terbanting jatuh ke atas tanah.
Dapat dibayangkan betapa malu dan marahnya murid Giok-bin Tok-ong itu.
"Gila! Kekuatan apa yang terkandung di dalam tubuh setan alas itu, ah A-apakah aku sedang bermimpi?"
"Suheng...?"
Nyo Kin Ong cepat mendekati kakak seperguruannya itu. Kim Hong San mengibas-ngibaskan kepalanya. Dengan wajah pucat ia memandang Sutenya.
"Nyo Sute...! Bocah itu benar-benar memiliki kekuatan iblis! Lweekangnya telah mencapai tingkat yang sulit diukur lagi. Suhu pun rasanya tak kan menang melawan dia. Kita harus mengeroyoknya..."
Bisiknya perlahan.
"Baik, suheng."
Mereka lalu bersiap-siap.
Masing-masing mengenakan sarung tangan berbulu lebat, yang tampaknya terbuat dari kulit beruang.
Beberapa buah kantong kecil-kecil, yang entah apa isinya, tampak berderet membelit pinggang mereka, ketika mereka menyibakkan baju luar mereka.
Bahkan beberapa buah bumbung bambu yang dipotong pendek-pendek tampak terikat pula di atas perut mereka.
Liu Yang Kun benar-benar mempersiapkan dirinya.
Menghadapi orang-orang dari kalangan hitam seperti orang Lembah Tak Berwarna itu benar-benar membutuhkan kewaspadaan yang berlipat.
Manusia semacam mereka itu bisa berbuat apa saja.
Mereka biasa berbuat licik bermain kotor, bahkan juga tidak segan segan melakukan tindakan yang tidak terpuji.
Dan biasanya mereka juga selalu membawa alat-alat untuk melaksanakan niat jahatnya itu.
"Kantong-kantong kecil dan potongan potongan bambu itu tentu berisi alat-alat pembunuh..."
Liu Yang Kun membatin.
Demikianlah ketika kedua orang itu mulai melangkah mendekatinya, Liu Yang Kun segera mendahului menyerang mereka.
Kedua telapak tangannya merenggut ke depan dalam jurus Raja-Chin-miu Mematahkan-kim-pai, salah sebuah jurus andalan dari ilmu silat keluarga Chin.
Di tangan Liu Yang Kun jurus itu menjadi luar biasa dahsyatnya.
Mungkin tiada seorangpun di dalam keluarga Chin sendiri yang mampu memainkan seperti itu.
Bahkan si penciptanya sendiri mungkin juga akan terkagum-kagum menyaksikannya.
Dan semuanya itu disebabkan karena kedahsyatan lweekang Liu Yang Kun, akibat meminum darah Ceng-liong-ong.
Kim Hong San dan Nyo Kin Ong terperanjat.
Tubuh mereka seakan-akan tersedot kedepan, ke arah tangan kanan yang tertuju kepada mereka.
"Nyo Sute awas...! Kita berpencar! Kerahkan Tok-ci-kang dan... incarlah jalan darah ci-kong-hiat di pergelangan tangannya! Cepat!"
"Baik, suheng! Kau... sebelah kiri, dan aku... sebelah kanan! Lalu kita gunakan Hiat-sian-tok (Racun Darah Dewa) untuk melumpuhkannya."
Sambil berbicara mereka menghindar ke samping, ke kanan dan ke kiri.
Kemudian sambil berputar setengah lingkaran, masing-masing mengambil sesuatu dari tabung bambu mereka dan menaburkannya ke arah Liu Yang Kun.
Setelah itu mereka melenting ke atas untuk mencegat gerakan lawan.
Dan semua gerakan itu mereka lakukan dalam sekejap mata saja.
Sekarang ganti Liu Yang Kun yang kaget dan menjadi berdebar-debar hatinya.
Selain lihai serta berbahaya, ternyata mereka juga amat pintar dan berpengalaman dalam ilmu silat.
Hanya sekilas saja mereka melihat ilmu silatnya, ternyata mereka telah mampu melihat kelemahannya.
Namun Liu Yang Kun tak mempunyai banyak waktu lagi.
Taburan bubuk atau tepung racun berwarna putih itu telah menyerangnya dari arah kanan dan kiri.
Satu-satunya jalan hanya melenting ke atas untuk mengelakkannya.
Tapi kedua lawannya telah lebih dahulu mencegatnya.
Apa akal?
Sekilas melintas di dalam pikiran Liu Yang Kun untuk menerobos saja takaran bubuk beracun tersebut.
Bukankah ia menyimpan mustika racun Ceng-liong-ong?
Kata orang mustika itu mampu menawarkan segala macam racun.
Tapi sekejap kemudian pikirannya menjadi ragu-ragu.
Bagaimana kalau tidak?
"Ah!
Aku belum yakin benar akan keampuhan benda itu.
Lebih baik aku mencoba saja menyongsong mereka.
Biarlah kita lihat nanti hasilnya..."
Akhirnya pemuda itu mengambil keputusan. Begitulah sambil menjejakkan kakinya ke tanah, Liu Yang Kun melenting ke atas dalam jurus "Jenderal Yin Tu Terjatuh Dari Punggung Hong-ma"
Yaitu salah sebuah jurus yang sangat sulit dipelajari di dalam ilmu silat keluarga Chin.
Demikian mulus dan sempurnanya gerakan pemuda itu, sehingga bubuk beracun itu dengan mudah dapat ia elakkan.
Taburan bubuk beracun itu lewat di bawah tubuhnya.
Tapi pada saat itu pula, Kim Hong San dan Nyo Kin Ong datang menerjang.
Dari atas mereka mengayunkan jari-jari tangan mereka ke arah jalan darah cikong-hiat di pergelangan tangan Liu Yang Kun.
Tak ada kesempatan lagi bagi Liu Yang Kun untuk menghindar.
Satu-satunya jalan cuma menangkis sambil menyembunyikan jalan darah Ci-kong-hiat sebisa-bisanya.
Dan hal itu memang dilakukan oleh Liu Yang Kun dengan baiknya.
Pertama-tama pemuda itu membagi tenaga dalamnya menjadi dua bagian.
Sebagian ia kerahkan ke lengan kanan, dan sebagian lagi ke lengan kiri.
Setelah itu ia melipat kedua lengannya untuk menyembunyikan jalan darah ci-kong-hiat.
Dan kemudian dengan kedua sikunya pemuda itu menyongsong ujung jari lawannya.
Dhug!
Dhug!
Terdengar suara nyaring tatkala ketiga kekuatan besar itu bertemu di udara.
Ujung jari telunjuk Kim Hong San menghantam siku kanan Liu Yang Kun, sedangkan ujung jari Nyo Kin Ong membentur siku yang lain.
Masing-masing segera mendorong mundur dengan kuatnya.
Liu Yang Kun yang berada di bawah, segera terbanting ke bawah kembali.
Sementara lawannya yang berada di atas tampak terlempar pula ke arah yang berlawanan.
Masing-masing merasakan betapa hebat tenaga yang melanda mereka.
Namun karena semuanya memiliki ilmu yang tinggi, maka dengan mudah pula mereka mengatasi akibat dari benturan tersebut.
Di dalam posisi yang lebih buruk dari pada lawannya itu, ternyata Liu Yang Kun justru malah memperlihatkan kehebatannya.
Dalam jarak yang amat dekat dengan tanah, pemuda itu menggeliatkan tubuhnya dan kemudian mendaratkan kakinya hampir tanpa mengeluarkan suara sama sekali persis seperti kucing jatuh dari atas atap.
Sebaliknya kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu ternyata juga tidak kalah tangkasnya dari pada Liu Yang Kun.
Bagaikan sepasang tupai mereka berjumpalitan di udara, untuk kemudian bertengger di atas dahan pohon dengan manisnya.
Dan dahan itu hampir-hampir juga tidak bergoyang pula.
Padahal dahan itu tidak lebih besar dari pada lengan mereka.
Demikianlah, mereka pun lalu saling berhadapan pula kembali.
Namun mereka sekarang benar-benar menyadari dengan siapa mereka berhadapan.
Liu Yang Kun yang berhasil meloloskan diri dari kesulitan, dan bahkan bisa dikatakan menang dalam adu tenaga tadi, tampak termangu-mangu menyaksikan pengaruh dari bubuk beracun itu.
Semua benda yang tersentuh oleh bubuk itu berubah menjadi gosong kehitaman.
Rumput, tanah dan dedaunan menjadi layu serta kehitaman seperti bekas terbakar.
"Tampaknya sangat sukar menundukkan mereka. Selain ilmu silat mereka sangat tinggi, mereka juga memiliki alat-alat pembunuh yang sulit diduga."
Ujar pemuda itu di dalam hatinya.
Begitu pula halnya dengan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong.
Kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu juga kelihatan pucat dan ngeri menyaksikan kesaktian Liu Yang Kun.
Jari-jari tangan mereka serasa patah dan lengan merekapun juga masih terasa lumpuh akibat benturan kekuatan tadi.
Begitu sakitnya lengan dan jari-jari mereka, sehingga rangkaian serangan beruntun yang telah mereka persiapkan sebelumnya menjadi urung mereka lakukan.
Sebenarnya mereka berdua telah menyiapkan Jaring pusaka dan getah bunga Hiat-sian-hoa (Bunga Darah Dewa) untuk melumpuhkan perlawanan Liu Yang Kun.
Jaring pusaka adalah jaring yang sangat kuat dan tahan senjata sedangkan getah bunga Hiat-sian-hoa dapat mengakibatkan mata menjadi buta.
"Bagaimana... suheng?"
Nyo Kin Ong berbisik kepada Kim Hong San.
"Kita takkan menang kalau cuma mengandalkan ilmu silat kita. Kita terpaksa mempergunakan kepandaian khusus kita sebagai warga Lembah Tak Berwarna. Kau siap?"
"Tentu saja. Tapi... apa yang harus kita lakukan? Membunuhnya atau cuma menangkapnya saja?"
Nyo Kin Ong bertanya, sambil sesekali mulutnya meringis menahan rasa sakit yang masih mengeram di lengannya. Kim Hong San menghela napas.
"Kalau bisa... kita tangkap saja dahulu. Siapa tahu suhu masih membutuhkannya? Tapi kalau tidak bisa, apa boleh buat. Kita bunuh dia!"
Ternyata tersinggung juga hati Liu Yang Kun mendengar percakapan lawannya.
Tapi dengan kematangan pengalamannya pemuda itu berusaha untuk menahan kemarahannya.
Ia harus tetap tenang dan waspada menghadapi jago-jago dari kalangan hitam itu.
"Aku tidak boleh terpancing dalam kemarahan, karena kemarahan akan membuatku lengah. Dan kelengahan itu akan menjebloskan ke dalam kesulitan. Aku sama sekali tidak boleh lengah menghadapi kelicikan, kecurangan dan tipu muslihat mereka. Sangat mudah menghadapi ilmu silat mereka, tapi tidak mudah menduga apa yang hendak mereka perbuat dengan racun-racun dan alat-alat pembunuh mereka yang lain itu."
Oleh karena itu dengan suara dingin Liu Yang Kun berkata.
"Nah... bagaimana pendapat kalian sekarang? Apakah kalian masih ingin memaksakan aku untuk menyerahkan buku itu? Kalau masih...hmm, marilah kita lanjutkan permainan kita tadi! Ataukah kalian ingin menunggu guru dan saudara seperguruan kalian dulu?"
"Bangsat! Sombong benar kau! Lihat serangan...!"
Nyo Kin Ong tak tahan mendengar olok-olok Liu Yang Kun.
Sambil mengumpat kasar dia menerjang.
Entah dari mana ia mengambilnya, tiba-tiba saja tangannya telah memegang seekor ular kecil panjang berwarna kuning kemerahan.
Ular itu tampak garang dan buas!
Melilit dan mengeliat-geliat di dalam cengkeramannya.
Liu Yang Kun cepat mengelak.
Apalagi ketika ular itu ikut menyambar dan berusaha mematuk lengannya.
Dan sekilas pemuda itu mencium bau yang harum dan manis seperti harumnya bau lebah.
"Gila! Ular itu tampaknya sangat berbisa pula...!"
Keluhnya tertahan.
Demikianlah pertempuran dahsyat pun tak bisa dielakkan lagi.
Melihat adik seperguruannya sudah maju, Kim Hong San pun segera membantu pula.
Kedua belah tangannya tahu-tahu juga telah memegang dua ekor ular eng-leng-coa (Ular lampu merah) yang mengeluarkan sinar di atas kepalanya itu.
ular yang tidak takut terhadap senjata tajam itu juga tampak buas dan ganas di tangan Kim Hong San.
Di antara kesibukannya melawan lawannya Liu Yang Kun sempat menjadi kaget juga melihat ular di tangan Kim Hong San itu.
Tiba-tiba pemuda itu ingat akan sebuah cerita yang pernah didengarnya dari mulut Tui Lan, isterinya.
Isterinya pernah bercerita tentang seorang lelaki tua yang sangat membenci gurunya sendiri, karena guru itu telah mengganggu isteri muridnya tersebut.
Lelaki tua itu bernama Ang-leng Kok-jin, tinggal di Lembah Ang-leng (Lampu Merah), yaitu sebuah lembah terasing yang banyak dihuni ular Ang-leng-coa itu.
Tiba-tiba Liu Yang Kun melompat mundur.
"Eh... tunggu sebentar!"
Teriaknya. Kim Hong San dan adik seperguruannya terpaksa menahan tangannya. Dengan marah mereka menatap Liu Yang Kun.
"Ada apa? Kau telah berubah pikiran?"
Kim Hong San bertanya lantang. Liu Yang Kun tidak mempedulikan pertanyaan tersebut. Sebaliknya dengan tenang dan bersungguh-sungguh ia malah ganti bertanya pula.
"Betulkah ular yang kau bawa itu ular Ang-leng-coa? Kalau benar... hmmh, apakah hubungan kalian dengan mendiang Ang-leng Kok-jin dari Ang-leng-kok (Lembah Lampu Merah) itu?"
Kim Hong San dan Nyo Kin Ong terperanjat dan saling memandang satu sama lain. Kemudian mereka berdua menatap Liu Yang Kun dengan tajamnya.
"Kau mengenal Twa-suheng (Kakak seperguruan yang tertua) kami?"
Kedua orang murid Giok-bin Tok-ong itu menggeram hampir berbareng. Namun kedua orang itu menjadi heran ketika Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.
"Lalu... apa hubunganmu dengan Twa-suheng? Kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang dia?"
Kim Hong San mendesak dengan curiga.
Liu Yang Kun menarik napas panjang.
Untuk yang kedua kalinya pemuda itu tidak menjawab pertanyaan lawannya.
Pikirannya justru melayang-layang jauh ke masa lampau, ketika ia masih berada di dalam lorong gua di bawah tanah bersama Tui Lan.
Bersama Tui Lan ia pernah membaca buku Im-Yang Tok-keng, pemberian Ang-leng Kok-jin itu.
Di dalam buku itu tertulis berbagai macam hal tentang racun yang terdapat di dalam dunia ini.
Baik yang terdapat pada alam, tumbuh-tumbuhan dan hewan, maupun pada manusia sendiri.
Di dalam buku Im Yang Tok-keng itu tertulis pula tentang macam-macam ular berbisa yang hidup di dunia ini.
Dan diantaranya adalah Ang-leng-coa dan ular madu lebah itu.
Kedua ekor ular itu termasuk jenis ular-ular istimewa yang paling berbisa di dunia.
Yang sentuhan dari sisik-sisiknya saja sudah mampu untuk membunuh manusia atau binatang lainnya.
Selain itu kedua ekor ular tersebut memiliki keistimewaan-keistimewaan pula.
Ang-leng-coa selain dapat mengeluarkan sinar di dalam gelap, kulitnya juga mampu bertahan terhadap sabetan senjata tajam.
Sedangkan Ular Madu Lebah yang kini dipegang oleh Nyo Kin Ong itu, selain memiliki bisa atau racun yang sangat ganas, juga memiliki kecerdasan dan perasaan yang peka luar biasa.
Bila dipelihara, binatang itu akan mengabdi dengan tulus seperti halnya kuda, anjing, kucing dan lain sebagainya.
Dan oleh karena itu pula binatang tersebut dapat diajari juga dengan berbagai macam kepandaian oleh manusia.
Namun demikian di dalam buku Im-Yang Tok-keng itu juga disebutkan pula kelemahan-kelemahan dari kedua ekor ular tersebut.
Bahkan disebutkan juga cara-cara menundukkan mereka.
Ular Ang-leng-coa itu akan mati kutu bila diserang atau disentuh pada bagian kepalanya yang mengeluarkan sinar tersebut.
Sementara kekebalan kulitnya ternyata juga cuma di bagian punggung dan sisinya saja, karena di bagian tubuhnya yang menempel tanah sama sekali tidak kebal terhadap senjata tajam.
Demikian pula halnya dengan ular Madu Lebah itu.
Ular itu akan segera kehilangan bisanya bila tubuhnya terendam air.
Sementara kekuatan dan kegesitannya juga akan hilang apabila dicengkeram di bagian duburnya.
Selain dari pada itu, yang jelas semua ular yang ada di dunia ini tentu takut dan tunduk kepada Ceng-liong-ong raja mereka.
Sebab bagaimanapun dahsyat dan hebatnya bisa atau racun mereka, mereka takkan mampu melawan Ceng-liong-ong.
Racun mereka akan segera tawar bila menyentuh kulit raja ular itu, karena raja ular itu memiliki Po-tok-cu (Pusaka Mustika Racun) di dalam tubuhnya.
"Eh...??"
Tiba-tiba Liu Yang Kun tersentak dari lamunannya.
Mendadak Liu Yang Kun ingat akan Po-tok-cu yang didapatnya dari ular raksasa itu.
Tapi bersamaan dengan saat itu pula Kim Hong San telah menyerang kembali.
Murid Giok-bin Tok-ong itu benar-benar marah dan tersinggung melihat sikap Liu Yang Kun terhadapnya.
"Keparat! Kau benar-benar sombong dan terlalu memandang rendah aku! Kubunuh kau!"
Jeritnya seraya mengayunkan Ang-leng-coa yang ada di tangan kanannya.
Dengan tangkas Liu Yang Kun mengelak.
Kaki kirinya melangkah ke samping dalam jurus Berbaring Di Pintu Bulan yaitu jurus yang pertama dari Kim liong Sin-kun warisan Bit-bo-ong almarhum.
Jurus itu memang sangat mudah dilakukan oleh Liu Yang Kun, sehingga serangan ganas Kim Hong San itu gagal mengenai sasarannya.
Namun sayang jurus itu dilakukan dengan kurang lengkap, sehingga kemampuannyapun lalu menjadi kurang pula.
Di dalam Kim-liong Sin-kun sebenarnya harus mengenakan mantel pusaka, karena pada mantel pusaka yang tahan senjata itu pulalah letak kehebatan ilmu tersebut.
Seperti halnya pada jurus Berbaring Di Pintu Bulan tadi, seharusnya Liu Yang Kun tidak hanya bisa mengelak saja karena dengan mantel pusaka yang membungkus tubuhnya ia akan mampu balas menyerang lawannya secara tak terduga.
Bahkan menurut gerakan aslinya, gerakan mengelak itu lalu disusul dengan menggeliat, menebaskan badik (pisau) dari balik mantel pusaka.
Malahan kalau serangan tersebut masih dapat juga dielakkan lawan, maka Liu Yang Kun masih bisa meneruskannya dengan jurus berikutnya, yaitu jurus Menebar Jala di Dalam Gelap.
Tapi karena tidak mengenakan mantel pusaka, maka gerakan yang dilakukan oleh Liu Yang Kun juga cuma mengelak saja.
Begitu lolos dari serangan Kim Hong San, pemuda itu segera mundur dua langkah, untuk kemudian membalas serangan itu dengan ilmunya yang lain.
Pat-hong-sin-ciang!
Ketika Liu Yang Kun mengibaskan kedua buah lengannya dengan disertai tenaga sakti Liong-cu i-kang maka pusaran angin dingin yang maha dahsyat seakan-akan lantas datang menggencet Kim Hong San dari segala penjuru.
Begitu kuat dan dahsyatnya pusaran angin dingin tersebut, sehingga Kim Hong San yang lihai itu tiba-tiba menjadi sesak dan tersengal-sengal napasnya.
Bahkan ketika ingin menghindarpun orang itu tiba-tiba juga merasa kaku dan sulit bergerak pula.
Sekejap Kim Hong San menjadi ketakutan.
Apalagi ketika dia memandang ke arah lawannya, tiba-tiba ia merasa sangat kecil dan lemah di hadapan pemuda itu.
Ia merasa seperti seorang anak kecil yang berhadapan dengan raksasa yang kuat dan berwibawa!
"Gila...!"
Ia mengumpat dan berusaha meronta dari kekuatan yang tak dimengertinya itu.
"Kim suheng, awas...!"
Dalam kekhawatirannya menyaksikan suhengnya tiba-tiba terperangkap ke dalam kesukaran, Nyo Kin Ong lalu melemparkan Ular Madu Lebahnya ke arah Liu Yang Kun.
Dan bersamaan dengan waktu itu pula tangan kirinya juga melontarkan sesuatu ke tengah arena, yaitu diantara kakak seperguruannya dan Liu Yang Kun.
"Wuuuuuah! Taaaaaaaar!"
Bersamaan dengan meletusnya benda yang dilontarkan Nyo Kin Ong itu, tiba tiba Liu Yang Kun merasa lengan kirinya dibelit ular.
Lalu ketika hatinya sangat kaget melihat benda yang meledak itu mengeluarkan asap tebal bergulung-gulung, sekali lagi Liu Yang Kun merasa ular itu memagut lengannya.
"Ah! uh-huk... huk... huk!"
Liu Yang Kun mengeluh kesakitan, kemudian terbatuk-batuk pula.
Pada waktu yang hampir bersamaan ternyata Ular Madu Lebah itu telah menggigit lengannya, sementara asap tebal yang keluar dari benda yang dilemparkan oleh Nyo Kin Ong tadi ternyata juga hampir menggelapkan pula arena yang memang sudah gelap oleh malam itu.
Dan semuanya itu ternyata telah membuyarkan konsentrasi Liu Yang Kun, sehingga otomatis juga menghentikan pemusatan ilmu Pat-hong-sin-ciang yang menggiriskan hati itu.
"Terima kasih Nyo Sute..."
Kim Hong San yang lolos dari maut itu mengucapkan terima kasih kepada adik seperguruannya.
"Uh-huk... huk...!"
Liu Yang Kun yang belum bisa mengelakkan diri dari kurungan asap tebal itu terbatuk-batuk.
"Dia telah digigit Ular Madu Lebah dan mengisap Asap Pengantar Tidur kita, suheng!"
Nyo Kin Ong berseru kegirangan.
"Bagus! Kita tak usah mendekat dulu. Biarlah ia menjadi lemas dan mati dengan sendirinya."
"Apa tidak kita ringkus sekalian dengan Jaring pusaka kita?"
"Tak perlu. Racun ular Madu Lebah itu sudah cukup untuk membunuhnya. Kita nantikan saja dari kejauhan."
Asap tebal yang sangat memabukkan itu akhirnya menghilang juga ditiup angin.
Di tengah arena tinggallah tubuh Liu Yang Kun yang jangkung itu bergoyang-goyang mau jatuh.
Tampak benar kalau pemuda itu sedang berjuang melawan rasa sakit yang menyerang badannya.
"Lihat, Sute! Dia sedang meregang nyawa! Huh...Hebat juga daya tahannya. Orang lain tentu sudah binasa sejak tadi." (Lanjut ke
Jilid 25) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 25
"Heran. Aku juga merasa heran. Biasanya orang akan langsung mati begitu digigit Ular Madu Lebah kita, betapapun lihainya orang itu."
Nyo Kin Ong menyahut sambil menimang-nimang Ular Madu Lebahnya yang telah berada kembali di tangannya.
Asap tipis seperti mengepul dari seluruh tubuh Liu Yang Kun.
Perlahan-lahan wajahnya yang pucat seperti kapas itu berubah kemerah-merahan kembali.
Dan beberapa saat kemudian pemuda itu telah berdiri tegak seperti semula.
Matanya kembali mencorong seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
"Gila! Mengapa dia dapat bertahan terhadap racun yang sangat mematikan itu?"
Kim Hong San tiba-tiba menggeram marah.
Nyo Kin Ong menjadi pucat pula mukanya.
Ia membelalakkan matanya seolah-olah tak percaya.
Dan rasa kagetnya itu seperti menular pula pada ularnya.
Ular Madu Lebah itu seperti ketakutan pula di tangannya.
Sambil melingkar dan bersembunyi di dalam lengan bajunya, terasa tubuh ular itu menjadi dingin gemetaran.
Apa sebenarnya yang terjadi?
Mengapa Liu Yang Kun tidak binasa setelah menerima gigitan ular berbisa itu?
Bahkan, mengapa pula pemuda itu seperti tidak terpengaruh oleh Asap Pengantar Tidur tadi?
Seperti telah diketahui, di dalam tubuh Liu Yang Kun sendiri juga bersemayam kadar racun yang sangat tinggi.
Bahkan racun tersebut telah menyatu dengan darah, sehingga pemuda itu merupakan manusia beracun yang sangat berbahaya pula.
Namun bukan hal itu yang menyebabkan pemuda tersebut lolos dari racun Ular Madu Lebah maupun Asap Pengantar Tidur tadi, karena semenjak meminum darah Ceng-liong-ong, racun itu telah tawar atau telah hilang dari tubuhnya.
Tapi-Po-tok-cu atau Pusaka Mustika Racun-lah yang menyebabkan pemuda itu terhindar dari maut.
Dalam keadaan yang sangat berbahaya tadi, Liu Yang Kun segera teringat akan Po-tok-cu miliknya.
Cepat benda itu dikulum di dalam mulutnya, lalu dikerahkannya pula Liong-cu i-kangnya, sehingga dengan cepat pula khasiat itu menyebar ke dalam tubuhnya.
Dan sebentar saja khasiat dari mustika racun tersebut telah mendesak keluar semua racun yang masuk ke dalam tubuhnya.
Bahkan pengerahan tenaga dalam yang sangat berlebihan itu menyebabkan badan Liu Yang Kun mengeluarkan bau yang khas, yaitu bau amis ular.
Dan bau amis itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat hebat terhadap Ang-leng-coa dan Ular Madu Lebah.
Ketiga ekor ular yang dipegang oleh murid-murid Giok-bin Tok-ong tersebut tiba-tiba terkulai jatuh ke tanah, kemudian merayap dengan ketakutan ke depan Liu Yang Kun.
Seperti pesakitan yang sedang menunggu keputusan hukumannya, ketiga ekor ular itu tergolek lesu di depan Liu Yang Kun.
Tentu saja hal itu sangat mengejutkan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong.
Dan rasa kaget tersebut semakin bertambah menjadi-jadi pula ketika tiba-tiba mereka menyaksikan belasan, bahkan Berpuluh-puluh ekor ular dari berbagai macam jenis, tampak bermunculan dari semak-semak di sekitar mereka.
Ular-ular itu menjalar berbondong-bondong mengelilingi Liu Yang Kun.
puluhan ekor ular itu kelihatan agak segan dan takut kepada pemuda aneh tersebut.
Mereka berderet-deret rapi dengan kepala tertunduk.
"Kim suheng...? A-apa apa apaan ini?"
Nyo Kin Ong berseru gemetar.
Mukanya pucat dan tanpa terasa kakinya melangkah mundur menjauhi arena.
Ternyata Kim Hong San sendiri juga menjadi bingung melihat peristiwa yang tak diduganya itu.
Namun sebagai murid tertua dari Giok-bin Tok-ong, kecerdikannya dalam merangkai sesuatu hal atau sesuatu peristiwa, ternyata juga tidak kalah dengan gurunya.
Sebentar saja ia segera bisa menebak apa yang kiranya telah terjadi.
"Nyo Sute...! Hanya ada dua orang yang mampu berbuat seperti pemuda itu di dunia ini, yaitu suhu sendiri dan... mendiang Ang-leng Kok-jin!"
"Benar, suheng... kau be-benar. Aku pun pernah melihatnya pula. Hanya suhu dan mendiang Ang-leng Kok-jin yang mampu berbuat seperti ini."
"Kau tahu sebabnya mengapa mereka bisa berbuat demikian?"
"Tentu saja, suheng. Suhu ditakuti ular karena beliau memiliki Po-tok-cu. Lalu ketika Po-tok-cu itu dicuri oleh suheng Ang-leng Kok-jin, su heng pun lantas ditakuti pula oleh ular-ular itu."
"Huh... kamu masih saja memanggil suheng kepada pengkhianat itu?"
K im Hong San menghardik Sutenya.
"Maafkan aku, suheng..."
Kim Hong San lalu menghela napas dalam-dalam. Ditolehnya adik seperguruannya itu sambil berdesah perlahan.
"Nah... sekarang apa pikiranmu setelah pemuda itu juga mampu berbuat seperti suhu dan Ang-leng Kok-jin?"
Tiba-tiba mata Nyo Kin Ong terbelalak.
"Hei? Apakah dia... dia... eh? Apakah Ang-leng Kok-jin telah memberikan Po-tok-cu itu kepadanya?"
Desahnya serak seakan mau berteriak. Kim Hong San mengangguk.
"Tampaknya memang demikian. Entah diberikan atau tidak, tapi yang jelas pemuda itu tentu membawa Po-tok-cu sekarang. Dan hal itu berarti segala macam senjata beracun yang kita bawa tidak akan berguna terhadap dia."
"Ooh... jadi apa yang harus kita lakukan sekarang? Lari meninggalkan dia? Lalu...bagaimana dengan buku itu? Bagaimana suhu nanti menanyakannya?"
"Hus! Mengapa kita harus lari? Bukankah kita masih memiliki berbagai macam senjata yang dapat kita andalkan pula? Apa kau lupa pada pek-lek-tan kita?"
Kim Hong San mendengus marah.
"Oh, benar..."
Nyo Kin Ong yang berangasan itu tiba-tiba tersenyum lega.
Tapi senyum segera hilang tatkala matanya memandang ke arah arena lagi.
Ternyata sesuatu telah terjadi pula di dalam arena.
Entah bagaimana asal mulanya, namun sekarang puluhan ekor ular itu tampak mengepung Ular Madu Lebah dan Ang-leng-coa milik mereka.
Bahkan dengan amat sangat garangnya ular-ular itu telah bersiap-siap hendak menyerang ketiga ekor ular mereka itu.
"Suheng! Kita tolong ular-ular peliharaan kita! Mari...!"
Nyo Kin Ong cepat berteriak, kemudian melompat ke dalam arena.
Melihat adik seperguruannya telah terjun ke dalam arena kembali, maka Kim Hong San terpaksa menyusul pula.
Mereka tetap berpasangan melawan Liu Yang Kun, karena dengan jalan demikian mereka bisa saling menolong dan saling melindungi satu sama lain.
Sesekali mereka terpaksa menghindar atau menyepak kawanan ular berbisa yang berseliweran di bawah kaki mereka.
Sementara itu kawanan ular yang baru datang itu benar-benar telah menyerang ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong.
Tampaknya ketiga ekor ular peliharaan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong itu mereka anggap bersalah karena berani menyerang Liu Yang Kun, titisan raja mereka.
Dan sebentar saja telah banyak yang bergelimpangan menemui ajal mereka.
Ketiga ekor ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong itu memang termasuk jenis ular yang amat berbisa.
Di kalangan masyarakat ular sendiri mereka bertiga termasuk dari jenis ular istimewa yang sangat ditakuti oleh jenis-jenis ular yang lain.
Dalam keadaan biasa takkan ada seekor ularpun dari jenis-jenis yang baru datang itu yang berani melawan mereka.
Namun karena mereka sekarang seperti sedang mengemban kewajiban untuk menghukum mereka yang bersalah, maka mereka terpaksa berani melawan tiga ekor ular berbisa itu.
Di dalam masyarakat ular memang ada ketentuan-ketentuan atau kebiasaan kebiasaan yang mereka junjung tinggi sebagai tata aturan di kalangan mereka.
Dan salah satu diantara aturan-aturan tersebut adalah tentang hukuman bagi mereka yang dianggap berani melawan pemimpin kelompok atau berani melawan raja mereka.
Mereka yang dianggap bersalah itu akan dikeroyok beramai-ramai sampai mati.
Meskipun demikian, ular yang mendapat hukuman tersebut juga diberi hak untuk melawan dan membela diri.
Kalau kebetulan ular yang bersalah itu dapat meloloskan diri dari hukuman, maka otomatis nyawa mereka diampuni pula.
Itulah sebabnya mengapa ketiga ekor ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong tersebut berusaha melawan mati matian.
Sungguh beruntung bagi mereka bertiga, karena diantara pengeroyok mereka itu tidak ada seekor ularpun yang setaraf atau sebanding dengan 'kemampuan' mereka.
Kawanan ular yang mengeroyok mereka itu cuma dari jenis ular biasa, yang walaupun berbisa pula, tapi tak sehebat dan sedahsyat racun atau bisa mereka.
Apalagi kulit Ang-leng-coa yang keras itu tak dapat ditembus dengan taring yang bagaimanapun tajamnya.
Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila beberapa saat kemudian banyak diantara kawanan ular tersebut yang binasa oleh serangan mereka bertiga.
Sementara itu pertempuran antara Liu Yang Kun dan Kim Hong San pun berlangsung semakin seru pula.
Dengan senjata jaring atau jala yang dapat dilipat ataupun ditebarkan, Kim Hong San bekerja sama dengan Nyo Kin Ong.
Nyo Kin Ong sendiri juga mengeluarkan senjatanya, yaitu sebuah pipa tembakau atau huncwe, yang panjangnya hampir sepanjang lengannya.
Dan pipa tersebut mengepulkan asap yangsemakin lama semakin tebal pula.
Demikianlah, setelah yakin bahwa Po-tok-cu yang berada di dalam mulutnya itu mampu melindungi tubuhnya, Liu Yang Kun tidak merasa takut atau khawatir lagi terhadap racun lawannya.
Dengan sangat berani ia menangkis atau bahkan menyongsong serangan-serangan lawannya.
Hanya saja ia sangat berhati hati bila harus melayani jaring Kim Hong San itu.
Perasaannya memperingatkan bahwa senjata tersebut sangat berbahaya.
Namun yang ternyata juga tidak kalah berbahayanya adalah senjata di tangan Nyo Kin Ong tersebut.
Senjata aneh yang berwujud hun-cwe atau pipa tembakau itu ternyata diperlengkapi dengan berbagai macam alat rahasia yang mengerikan.
Beberapa kali Liu Yang Kun hampir terkecoh dan celaka oleh senjata-senjata rahasia yang terkandung di dalamnya.
Pipa itu ternyata dapat mengeluarkan jarum-jarum lembut yang bisa menembus daging dan memasuki jalan darah.
Juga dapat menyemprotkan cairan cairan berbahaya yang bisa membakar rambut dan merusakkan kulit.
Bahkan juga dapat menyemburkan asap-asap pembunuh yang bisa membutakan mata dan mencekik pernapasan orang.
Untunglah Liu Yang Kun memiliki Bu eng Hwe-teng dan Po-tok-cu.
Kalau tidak, walaupun ia mempunyai lweekang dan ilmu silat yang tinggi, ia tetap takkan bisa menghindar terus-menerus dari keganasan senjata tersebut.
Dengan Bu-eng Hwe-tengnya Liu Yang Kun mampu bergerak cepat seperti kilat untuk menyelamatkan dirinya.
Sementara dengan Po-tok-cu yang ia kulum di dalam mulutnya ia mampu bertahan menghadapi asap-asap beracun atau cairan-cairan berbahaya yang tersimpan di dalam hun-cwe tersebut.
Begitulah, sepuluh jurus telah berlalu.
Kemudian limabelas jurus.
Dan akhirnya menginjak pula pada jurus yang ke dua puluh.
Namun kedua belah pihak tetap belum juga menunjukkan bahwa mereka lebih unggul dari pada lawannya.
Liu Yang Kun memang belum mengerahkan segala kemampuannya.
Meski telah mempergunakan Pat-hong-sin-ciang, namun ia masih memainkan secara lumrah atau biasa.
Ia belum lagi mengungkapkannya sampai ke puncaknya, yaitu dengan disertai kekuatan atau kemampuan batinnya.
Karena untuk melakukannya ia harus mempergunakan kekuatan yang berlipat, dan hal itu benar-benar amat melelahkannya.
Ya kalau ia dapat segera cepat menaklukkan lawannya.
Kalau tidak?
Ialah yang justru akan terjerumus ke dalam kesulitan nanti.
Selain itu ia memang ingin lebih berhati-hati.
Sementara itu kawanan ular yang membela Liu Yang Kun itu benar-benar telah dibabat habis oleh ular-ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong.
Bangkai mereka berserakan di segala tempat.
Tapi beberapa ekor ular baru masih juga berdatangan ke tempat itu.
Seperti kawanan ular sebelumnya, mereka itu lantas terjun pula ke arena, mengeroyok ular-ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong tersebut.
Namun seperti halnya kawan-kawan mereka yang terdahulu, mereka itu juga bergelimpangan pula menemui ajalnya.
Beberapa waktu kemudian barulah Liu Yang Kun sadar bahwa ular-ular yang membelanya telah habis dibunuh ular-ular Kim Hong San dan Nyo Kin Ong.
Tiba-tiba hatinya merasa sedih.
Dan kesedihan itu akhirnya menyalakan kemarahannya.
Tiba-tiba pemuda itu mengubah cara bersilatnya.
Kalau semula ia bergerak dengan lincah dan gesit, sekarang mendadak pelan namun penuh tenaga.
Kalau semula tubuhnya sering berloncatan dan berkelebat kian kemari seperti burung walet terbang di udara, kini kakinya hampir tidak pernah lepas dari permukaan tanah.
Bahkan ia hanya menggeliat ke sana kemari sambil menggeser kakinya.
Tubuhnya lebih banyak merunduk seperti hendak berbaring, sehingga sepintas lalu ia seperti ular naga yang sedang berkecimpung di permukaan laut.
Kim Hong San dan Nyo Kin Ong menjadi kaget juga menyaksikan perubahan itu.
Namun melihat gerakan lawan justru menjadi lambat dan mudah diikuti, mereka menjadi gembira malah.
Mereka lalu meningkatkan serangan mereka dan berusaha mendesak Liu Yang Kun.
Dengan garangnya Kim Hong San memutar-mutar jaring pusakanya dan setiap kali tampak menukik ke bawah untuk mengurung, membelit atau bahkan untuk menangkap lawannya.
Sementara Nyo Kin Ong dengan hun-cwenya, tampak semakin ganas dan bernafsu pula untuk mengakhiri perlawanan Liu Yang Kun.
Keduanya seolah-olah saling berlomba untuk lebih dulu membunuh lawannya.
Sebaliknya Liu Yang Kun yang sekarang bersilat dengan Kim-coa-ih-coat itu justru lebih banyak menghindar dan mengelak terus menerus.
Melihat lawannya seperti belum mengenal keistimewaan dari ilmunya, Liu Yang Kun seperti sengaja mengalah terlebih dahulu.
Pemuda itu tampaknya ingin menjebak lawannya, sehingga sekaligus dapat meringkus mereka.
Demikianlah beberapa saat kemudian datang pula kesempatan itu.
Kim Hong San dan Nyo Kin Ong menyerang secara bersamaan, dari depan dan dari belakang.
Nyo Kin Ong sambil menyemburkan asap tebal dari pipa tembakaunya menerjang dari depan.
Ujung pipanya tampak bergetar dengan hebat, sehingga sulit untuk diduga arah tujuannya.
Sementara itu pada waktu yang bersamaan, Kim Hong San mencegat pula dari belakang dengan tebaran jaringnya.
Keduanya bekerja sama untuk mendesak Liu Yang Kun ke dalam jeratan jaring mereka.
Sebuah jaring pusaka yang penuh kaitan duri tajam di dalamnya.
Dan mereka berdua telah mulai tersenyum ketika yakin bahwa mereka akan bisa menangkap Liu Yang Kun.
Tapi sekejap kemudian senyum itu tiba-tiba lenyap dari muka mereka.
Dan dalam sekejap pula senyum tersebut berganti dengan rasa kaget, bingung serta tak percaya.
Bahkan rasa kaget itu lalu berganti dengan rasa takut dan ngeri yang tak terhingga.
Di depan mata mereka tiba-tiba Liu Yang Kun seperti berubah menjadi hantu yang sangat menakutkan.Tangan kanannya yang panjang itu mendadak terayun ke belakang dengan gampangnya, seakan-akan sebuah lengan boneka yang tak bersendi.
Bahkan lengan itu kemudian memanjang terus melebihi ukurannya.
Begitu cepatnya lengan itu bergerak, sehingga tahu-tahu ujung jarinya telah menotok jalan darah ci-kong-hiat di pergelangan tangan Kim Hong San.
"Dhug...!!"
Tangan itu terkulai lemas, dan jaring pusaka yang dipegangnya otomatis terlepas.
Dan berbareng dengan saat itu pula Liu Yang Kun menundukkan badannya seraya menyambar ke depan untuk merebut hun-cwe Nyo Kin Ong dengan tangan kirinya.
Gerakannya demikian cepat dan dengan tenaga sepenuhnya, sehingga tak heran kalau mendadak lawannya menjadi bengong dan tersengal-sengal tak berdaya.
Tiba-tiba saja gerakan Nyo Kin Ong itu berhenti di tengah jalan.
Murid Giok-bin Tok-ong yang lihai itu tiba-tiba menjadi lupa akan ilmu silatnya sendiri.
Selain itu dadanya seperti ditindih oleh beban yang sangat luar biasa beratnya.
Pada saat itulah tangan kiri Liu Yang Kun menyambar hun-cwenya.
Wuuut!
Dan pipa tersebut sudah berpindah tangan.
Kemudian masih dengan kecepatannya yang luar biasa Liu Yang Kun menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Aduuuuuh...?"
Tiba-tiba Nyo Kin Ong yang termangu-mangu itu menjerit kesakitan, karena mendadak saja jaring pusaka yang terlepas dari tangan suhengnya tadi me luncur tepat mengenai kepalanya.
"Sute...!"
Kim Hong San berseru kaget.
Tapi jaring pusaka berduri tajam itu sudah terlanjur menjerat kepala dan leher Nyo Kin Ong.
Bahkan kaitan-kaitan bajanya juga sudah terlanjur mencengkeram dan melukai wajah, leher serta kulit kepala orang itu, sehingga untuk melepaskannya lagi benar-benar sangat sulit dan membutuhkan waktu.
Sebab selain amat sakit, kulit dan daging yang terkenapun akan menjadi rusak pula.
"Bukan main! Bukan main! Benar-benar sebuah kepandaian yang hebat luar biasa! Baru setahun lebih tak bertemu, ternyata kepandaian saudara telah meningkat banyak sekali!Selamat...! Selamat!"
Tiba-tiba terdengar suara Giok-bin Tok-ong di pinggir arena. Giok-bin Tok-ong melirik ke arah Kim Hong San dan menggeram marah.
"Sudah kukatakan kalau anak itu lihai sekali, kalian tetap tak mau percaya, Hmmh..., kini menyesalpun tiada guna! Kalian sudah dikalahkan."
"Suhu? Dia...?"
Tang Hu yang tadi menjemput Giok-bin Tok-ong, dan kini berada di belakang gurunya tersebut menyela perkataan itu. Sekali lagi Jago Silat Nomer Empat di Dunia itu menggeram.
"Dia adalah Chin Yang Kun atau Liu Yang Kun, orang yang tertulis diurutan ke tujuh pada Buku Rahasia itu!"
Katanya kemudian dengan kaku.
"Oh... Chin Yang Kun?"
Ketiga orang murid Giok-bin Tok-ong itu berdesah hampir berbareng.
Wajah mereka menunjukkan perasaan kaget dan tak percaya.
Dalam benak mereka memang tak pernah terbayang bahwa Ching Yang Kun itu masih berusia begitu muda.
"Sudahlah. Biarlah aku yang menyelesaikan urusan ini. Kalian katakan tadi bahwa ia benar-benar membawa Buku Rahasia itu?"
Giok-bin Tok-ong memotong. Kim Hong San cepat-cepat menghampiri gurunya.
"Be-benar, suhu... Kami lihat ia membaca buku itu tadi. Kini anak itu telah menyembunyikannya di dalam saku bajunya.Bukankah buku itu sudah tidak lengkap lagi dan tinggal bagian depannya saja?"
Lapornya bersemangat. Tiba-tiba wajah kakek sakti itu menjadi cerah kembali. Berita tentang bukunya yang hilang itu benar-benar sangat menggembirakan hatinya.
"Benar,"
Katanya pendek. Tapi ketika kakek itu hendak maju ke arena, tiba-tiba Kim Hong San memegang tangannya.
"Suhu...?"
Cegahnya perlahan.
"Hmmmh... ada apa?"
Giok-bin Tok-ong menggeram pula.
"Suhu... anak itu lihai sekali!"
Giok-bin Tok-ong mengangguk.
"Aku tahu... Oleh karena itu kau bersiaplah! Kita melawannya berdua. Biarlah Tang Hu yang menolong Nyo Kin Ong membuka jaring itu. Setelah itu dia juga dapat membantu kita pula."
"Jadi... kita mengeroyoknya?"
Kim Hong San berdesah ragu.
"Benar. Kenapa...?"
"Ah... tidak apa apa suhu. Marilah...!"
Kim Hong San tersipu-sipu.
"Cuma... cuma suhu harap berhati-hati menghadapinya. Dia kebal terhadap semua racun kita. Tampaknya... tampaknya dia membawa Po-tok-cu yang dicuri Ang-leng Kok-jin itu."
"Ya... ya... Aku juga sudah melihatnya tadi."
"Sudah melihatnya? Jadi... jadi suhu sudah datang sejak tadi?"
Giok-bin Tok-ong tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan itu. Sebaliknya dengan langkah tenang ia mendekati Liu Yang Kun.
"Jadi selain menemukan Buku Rahasia di reruntuhan rumah Coa In Lok, engkau juga memperoleh Po-tok-cu dari bekas muridku yang sudah meninggal itu?"
Tanyanya kemudian kepada pemuda itu. Tapi dengan suara dingin Liu Yang Kun menjawab.
"Jangan main tuduh secara sembarangan! Kau kira hanya engkau saja yang memiliki Po-tok-cu di dunia ini?"
"Hmmh!"
Giok-bin Tok-ong menggeretakkan giginya. Matanya menyala merah.
"Aku tidak sembarangan menuduh. Para penduduk yang mengurus mayat Coa In Lok itulah yang memberitahukan kepadaku tentang kau. Siapa lagi kalau bukan kau yang mengambil buku itu dari reruntuhan kamarku? Sebab engkau pulalah yang mengambil simpanan emasku dan membagi-bagikannya kepada para nelayan itu! Dan... tentang Po-tok-cu itu? Huh tampaknya kau memang telah mendapatkannya dari tangan Ang-leng Kok-jin. Hayo, kembalikan benda itu kepadaku!"
Ternyata sikap Giok-bin Tok-ong yang kasar itu telah membangkitkan kemarahan Liu Yang Kun pula.
"Bangsat! Sama sekali aku belum pernah bertemu, apalagi mengenal Ang-leng Kok-Jin itu. Apakah kau kira hanya kau dan dia saja yang mempunyai pusaka anti racun itu?"
"Tentu saja! Karena hanya satu Ceng-liong-ong di dunia ini! Dan... akulah yang membunuhnya beberapa puluh tahun yang lalu!"
Hardik Giok-bin Tok-ong tak kalah sengitnya. Tiba-tiba Liu Yang Kun mendengus dan mencibirkan bibirnya.
"Huh... kau salah! Ada sepasang Ceng-liong-ong di dunia ini! Jantan dan betina! Si betina itulah yang kau bunuh dan kau ambil mustikanya! Si jantan masih berada di dalam liangnya, jauh di dasar bumi. Dan bila engkau ingin mengetahuinya...hmmh, akulah pembunuh Si Jantan itu! Dan aku pulalah yang memiliki mustika racunnya! Paham?"
"Oooooh...???"
Ucapan Liu Yang Kun itu benar-benar mengejutkan Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya.
"Ceng-liong-ong jantan...? Jadi... jadi... eh, masih ada Ceng-liong-ong lain di dasar bumi? Dan...kau telah berhasil membunuh dan mendapatkan mustika racunnya? Huh...bohong! Kau tentu berbohong kepadaku!"
Mendadak kakek sakti itu berteriak marah.
Liu Yang Kun cepat mengibaskan tangannya untuk mencegah lawannya bertindak tergesa-gesa.
Kemudian dengan tenang ia mengeluarkan Po-tok-cu dari mulutnya.
Pusaka sebesar telur burung merpati itu ditaruhnya di atas telapak tangannya, sehingga sinarnya yang kehijau-hijauan itu memancar terang di dalam gelap.
"Nah... kau lihat! Berbeda bukan? Apakah Po-tok-cu milikmu itu sebesar dan seterang ini sinarnya?"
Pemuda itu mengejek.
"Oooooh..."
Sekali lagi Giok-bin Tok-ong tersentak kaget.
Lalu tanpa mempedulikan keheranan dan kekagetan lawannya Liu Yang Kun memasukkan kembali mustika itu ke dalam mulutnya.
Tiba-tiba tubuh Giok-bin Tok-ong menyambar ke depan dengan cepatnya.
Begitu cepatnya sehingga rasa-rasanya seperti bayangan yang meluncur di dalam kegelapan.
Namun ternyata Liu Yang Kun masih cepat lagi.
Dengan kecepatan yang hampir tak bisa diikuti mata biasa pemuda itu telah bergerak pergi meninggalkan tempatnya, sehingga sambaran tangan lawannya itu menemui tempat kosong.
Bahkan pada saat yang hampir bersamaan pemuda itu membalas menyerang dari arah samping.
Sasarannya adalah pinggang dan lutut Giok-bin Tok-ong.
"Wuuuuuuus!"
Dengan tangkas pula kakek sakti itu mengelak.
Tubuhnya berputar ke kanan, kemudian melenting ke atas seperti belalang.
Setelah itu tangannya terayun ke arah Liu Yang Kun untuk menyebarkan jarum-jarum kecil yang berwarna keemasan.
Dan di tengah-tengah arena itu pun lantas tercium bau harum yang semerbak kemana-mana.
"Ah... kau masih juga berani main racun di depanku?"
Liu Yang Kun menghindar pula sambil mengejek.
"Racun itu memang tidak akan berpengaruh terhadapmu.Tapi kulitmu juga tidak kebal terhadap tajamnya jarum-jarum emasku. Terutama bagian-bagian tubuhmu yang lemah. Sekali jarum kecilku itu masuk ke jalan darahmu... hehe... nyawamu berada di ujung maut!"
"Kurang ajar! Dasar manusia busuk! Lihat saja... apakah maksud busukmu itu bisa terlaksana atau tidak?"
Liu Yang Kun mengumpat sambil melompat menghindar jarum-jarum halus tersebut.
Sementara itu di pihak lain ular-ular yang ingin membunuh ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong itu benar benar telah habis binasa.
Di dalam arena tinggal ketiga ekor ular piaraan Giok-bin Tok-ong tersebut, Mereka berdiri dengan pongahnya diantara bangkai bangkai korbannya.
Meski tubuh mereka juga terluka pula, namun tidak akan membahayakan jiwa mereka.
Tapi ketika mereka bermaksud pergi meninggalkan Liu Yang Kun yang mereka takuti itu, tiba-tiba dari dalam hutan terdengar suara mendenging tajam seperti denging suara ribuan ekor nyamuk yang mendatangi.
Tapi suara itu sebenarnya juga tidak begitu menarik perhatian, karena sepintas lalu suara itu juga hanya seperti suara angin malam yang meniup diantara dedaunan.
Buktinya suara tersebut juga tidak menarik perhatian Liu Yang Kun, Giok-bin Tok-ong maupun murid-muridnya.
Namun suara itu ternyata mempunyai pengaruh yang lain kepada ular-ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong tersebut.
Suara denging yang menyerupai suara ribuan ekor nyamuk itu ternyata sangat mengejutkan, bahkan sangat menakutkan ketiga ular itu.
Sikap mereka yang pongah tadi tiba-tiba hilang.
Mendadak mereka menjadi lemas.
Bahkan tubuh mereka seolah-olah telah menjadi lumpuh dan tak bisa bergerak sama sekali.
Mereka tergolek lemas di tempat masing-masing.
Dan kemudian seperti halnya ketika muncul tadi, suara itu mendadak juga lenyap begitu saja.
Namun berbareng dengan saat itu pula tiba-tiba di dekat ketiga ekor ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong itu telah ada seekor binatang lain.
Bentuknya mirip ular pula, namun sangat kecil.
Besarnya tak lebih dari seekor induk cacing besar.
Dan panjangnya pun juga tidak melebihi dari sejengkal jari tangan saja.
Tapi yang sangat menakutkan atau sangat mengherankan adalah keadaannya.
Ular kecil itu berwarna merah darah.
Dan di dalam keremangan malam tubuhnya seperti bara api yang menyala di dalam tungku.
Bersinar merah menyala seperti potongan besi terbakar.
Dan asap tipis tampak selalu menyelimuti tubuhnya.
Ketika ular kecil itu bergerak, maka terlihatlah dengan jelas bahwa rumput-rumput yang dilaluinya telah menjadi layu, seolah-olah rumput itu baru saja terbakar atau tersiram air panas saja.
Dan ketika lewat di bagian yang agak basah, ular itu seperti mengeluarkan asap seperti halnya besi panas yang dicelupkan ke dalam air!
Dan ketika ular kecil itu semakin mendekati lawan-lawannya, ular-ular piaraan Kim Hong San dan Nyo Kin Ong itu tampak semakin pasrah dalam ketakutan.
Tubuh mereka menggigil seperti sedang kedinginan.
Sementara dari bawah sisik sisik mereka juga keluar lendir yang membasahi tubuh mereka, seakan-akan keringat dingin telah membanjir keluar dari dalam badan mereka.
Tiba-tiba ular kecil itu melengkungkan tubuhnya melenting cepat sekali ke arah lawan-lawannya.
Mula-mula ekornya menyambar leher Ular Lebah Madu sehingga ular piaraan Nyo Kin Ong itu membuka mulutnya karena kesakitan.
Tapi bersamaan dengan terbukanya mulut ular berbau wangi itu, mendadak ular kecil tersebut menyusup masuk dengan kecepatan yang luar biasa.
Dan sekejap saja tubuhnya yang kecil itu telah menghilang ke dalam perut lawannya.
Ular Madu Lebah itu meronta dan menggeliat kesakitan.
Tapi cuma sekejap pula, karena sesaat kemudian tubuhnya telah terbujur kaku di atas tanah.
Ular kecil berwarna merah itu dengan tenang keluar dari duburnya.
Sepotong hati yang masih segar tampak tergigit di dalam mulutnya yang kecil.
Hati dari si U lar Madu Lebah.
Potongan hati itu kemudian dibuang begitu saja, karena di lain saat tubuh ular kecil tersebut telah melesat pula untuk menyerang lawannya yang lain.
Dan seperti juga halnya dengan Ular Madu Lebah tadi, maka Ang-leng-coa piaraan Kim Hong San itupun juga binasa pula dengan cara yang sama.
Ular kecil yang menggiriskan hati itu masuk ke dalam mulut dan keluar dari lobang dubur sambil menggigit potongan hati lawannya.
Kim Hong San yang sedang asyik mengikuti pertempuran gurunya itu dan Tang Hu yang juga sedang sibuk melepaskan jaring pusaka di kepala Nyo Kin Ong itu baru menyadari keadaan tersebut setelah ular-ular piaraan mereka mati.
Mereka bertiga benar-benar menjadi kaget melihat ular kecil berwarna merah darah itu.
Apalagi ketika mereka menyaksikan ular itu masih menggigit potongan daging hati yang masih meneteskan darah segar.
Sebagai jago-jago racun yang sering dan biasa bergulat dengan binatang-binatang berbisa, maka mereka bertiga segera mengenal ular kecil berwarna merah itu.
"Hwee-coa (Ular Api)...???"
Mereka berdesah dengan mata terbelalak.
Kemudian mereka bertiga saling berpandangan dengan wajah ngeri, seolah tak yakin bahwa mereka benar-benar berhadapan dengan jenis ular yang langka itu.
Selama ini mereka memang belum pernah melihatnya.
Mereka cuma mengetahuinya dari buku atau dari orang-orang yang pernah melihatnya.
Menurut pengetahuan yang mereka terima, di dunia ini ada dua macam golongan ular.
Yaitu golongan ular yang bersisik dan golongan ular yang tak bersisik.
Golongan ular bersisik itu juga terdiri dari dua bagian pula, yaitu ular yang berbisa dan ular yang tidak berbisa.
Dan masing-masing bagian itu juga terdiri dari beberapa jenis pula, yaitu jenis ular yang hidup di darat, di dalam air, dan jenis ular yang hidup di dua tempat, baik di darat maupun di air.
Mereka itu terdiri dari Berpuluh-puluh bahkan mungkin be ratus-ratus macam ular.
Sebaliknya, golongan ular yang tidak bersisik itu cuma mempunyai satu golongan saja, yaitu golongan ular berbisa ganas.
Dan mereka juga hanya terdiri dari tiga jenis ular saja, yaitu Ular Api (Hwee-coa), Ular Berbulu (Mou coa) dan Ular Setan (Kui-coa).
Meskipun cuma tiga jenis dan sangat jarang ditemui, namun ular-ular itu amat ditakuti dan disegani oleh ular-ular bersisik yang banyak jumlahnya itu.
Padahal tiga jenis ular tak bersisik itu rata-rata bentuknya sangat kecil dan jauh lebih pendek dari pada mereka.
"Kim suheng...? Mengapa... mengapa ular itu sampai di tempat ini? B-benarkah dia Hwe-coa...?"
Tang Hu menegaskan dengan suara gugup.
"Tampaknya memang benar, Sute. Tentu ada orang yang membawanya dari luar tembok besar, karena ular itu hanya terdapat di tengah-tengah Gurun Go bi saja."
"Ada yang membawanya? Siapa...?"
Tang Hu bertanya lagi dengan suara yang semakin gemetar.
"Entah, Sute. Aku belum bisa memastikannya. Tapi hatiku merasa berdebar-debar, seakan-akan ada sesuatu yang bakal terjadi. Kalian berhati-hatilah...!"
Sementara itu pertempuran antara Liu Yang Kun dan Giok-bin Tok-ong telah mencapai puncaknya pula.
Kakek sakti berwajah tampan itu telah mengerahkan segala kemampuannya.
Demikian pula halnya dengan Liu Yang Kun.
Di dalam keremangan sinar bulan yang menerobos sela-sela daun, tubuh mereka berkelebatan hampir tidak bisa diikuti oleh mata lagi.
Angin pukulan mereka pun terasa bersiutan menerjang pepohonan yang ada di sekeliling arena mereka.
Ranting-ranting berpatahan dan daun-daun pun jatuh berguguran tanpa tersentuh oleh tangan mereka.
Bahkan dahan-dahan yang agak lebih besarpun ada pula yang retak sehingga dahan-dahan itupun lantas berpatahan pula dengan suara hiruk-pikuk.
Dahan-dahan berdaun rimbun itu berjatuhan menimpa arena pertempuran mereka.
Tapi belum juga dahan-dahan tersebut sampai di bawah, mereka kembali tercerai-berai terkena hantaman atau dorongan angin pukulan kedua jago silat berkepandaian dahsyat tersebut.
Sementara itu Giok-bin Tok-ong pun telah mengaduk dan mengotori arena pertempuran tersebut dengan segala macam peralatan racunnya pula.
Kakek itu telah menaburkan bubuk-bubuk beracunnya, meniupkan asap-asap pembunuhnya serta mengobral berbagai macam senjata-senjata rahasianya yang mematikan.
Bahkan segala macam binatang berbisa yang dimilikinya telah ia keluarkan pula, sehingga arena pertempuran itu benar-benar seperti kubangan neraka yang sangat mengerikan!
Untunglah Liu Yang Kun memiliki Po tok-cu Jantan dan lweekang yang sangat tinggi.
Meskipun ia harus terbatuk-batuk dan merasa mual menghadapi serangan racun-racun itu, tapi ia dapat bertahan dan melawan musuhnya dengan baik.
Walaupun dengan demikian ia juga tidak bisa berkonsentrasi untuk mengerahkan tenaga batinnya, tapi ilmu silatnya juga telah lebih dari cukup untuk menghadapi ilmu silat Giok-bin Tok-ong.
Bahkan ia masih bisa menyisakan tenaga untuk berjaga-jaga terhadap serangan Pek-lek-tan lawan yang ia ketahui sangat dahsyat itu.
Demikianlah lambat-laun dapat pula Liu Yang Kun mengungguli lawannya.
Sedikit demi sedikit Giok-bin Tok-ong mulai kewalahan melayani ilmu silatnya.
Bahkan beberapa waktu kemudian Raja Racun itu hanya bisa bertahan saja.
Segala macam peralatan senjata racunnya sama sekali tidak bermanfaat menghadapi dirinya.
Giok-bin Tok-ong mulai merasa panik.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Hong San, ayo bantu aku! Anak Goblog!"
Teriaknya kemudian dengan suara marah.
Kim Hong San terkejut.
Demikian pula dengan kedua adik seperguruannya.
Dan mereka semakin kaget ketika Hwee-coa tadi sudah tidak ada lagi di tempatnya.
Ular merah itu telah menghilang entah kemana.
Mungkin memang telah pergi, tapi mungkin juga hanya tertutup oleh kepulan asap atau tumpukan dahan dan ranting yang berserakan di arena itu.
Tapi munculnya Hwee-coa itu benar-benar sangat menggiriskan hati Kim Hong San.
Seraya melompat ke arena untuk membantu gurunya, ia berteriak memberi peringatan.
"Suhu, awas...! Siauwte melihat Hwee-coa di tempat ini!"
"Apa kau bilang? Hwee-coa...? Huh... jangan main-main kau! Ayoh ajak semua adikmu untuk membantuku!"
Giok-bin Tok-ong yang tidak percaya akan kata-kata muridnya itu menghardik. Sambil menangkis pukulan Liu Yang Kun dengan kedua buah lengannya Kim Hong San menjawab.
"Be-benar, suhu! Siauwte tidak bohong! Baru saja ular itu membunuh Ang-leng-coa dan Ular Madu Lebah kami!"
Giok-bin Tok-ong yang sedang sibuk melayani serangan Liu Yang Kun itu terdiam. Tampaknya ia mulai percaya pada ucapan muridnya.
"Baiklah. Nanti kita urus binatang langka itu. Sekarang mari kita bereskan dulu bangsat cilik ini!"
Akhirnya kakek itu berseru.
"Baik, suhu! Tang Sute, sudah selesaikah kau melepas jaring itu dari kepala Nyo Sute? Kalau sudah... cepatlah kalian kemari! Kita bersama-sama mengenyahkan bangsat ini!"
Kim Hong San berteriak pula ke arah adik-adiknya.
Begitulah, beberapa saat kemudian Liu Yang Kun telah dikepung beramai-ramai oleh Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya.
Mereka semua adalah jago-jago silat tingkat tinggi, yang rata-rata telah memiliki kemampuan yang boleh dikatakan sempurna dalam perguruan mereka.
Giok-bin Tok-ong sendiri telah memperoleh nama tinggi di dunia persilatan sehingga ia tertulis sebagai jago silat nomer empat di dunia di dalam Buku Rahasia.
Sedangkan ketiga orang muridnya itu juga telah mewarisi hampir semua kepandaiannya, sehingga kesaktian mereka itu pun rasanya juga tidak akan kalah pula bila dibandingkan dengan para ketua persilatan, seperti Pek-i Liong-ong, Put-ceng-li-jin maupun Keh-sim Siau-hiap.
Maka sungguh tidak mengherankan kalau akhirnya Liu Yang Kun menjadi kewalahan menghadapi mereka berempat.
Tak terasa malam semakin larut.
Bulan pun telah mulai condong ke barat.
Dan pertempuran yang sangat dahsyat namun berat sebelah itu tetap berlangsung terus dengan sengitnya.
Liu Yang Kun semakin tercecer.
Meskipun pemuda itu memiliki tenaga dalam yang amat tinggi dan ilmu silat yang hebat-hebat namun lawannya juga, bukan tokoh-tokoh sembarangan pula.
Dengan bekerja sama saling bahu-membahu keempat orang dari Lembah Tak Berwarna itu mampu menahan, bahkan menjinakkan tenaga dalam dan ilmu silat Liu Yang Kun yang dahsyat itu.
Walaupun dalam waktu cepat mereka berempat belum segera bisa menguasai pemuda itu, tapi lambat atau cepat hal itu tentu akan terlaksana juga.
Apalagi sejalan dengan bertambahnya waktu, kekuatan pemuda itu juga semakin tampak berkurang pula.
Sementara itu dibalik rimbunnya semak-semak tempat empat pasang mata menonton pertempuran tersebut.
Mereka terdiri dari empat orang lelaki yang rata-rata berusia empat puluh tahun atau lima puluh tahun.
Wajah maupun air muka mereka kelihatan keras dan kaku, seperti halnya tokoh-tokoh persilatan yang telah biasa berkecimpung di dalam dunia kekerasan.
Namun demikian sinar mata mereka yang mencorong tajam seperti mata harimau di dalam kegelapan itu menunjukkan bahwa mereka adalah tokoh-tokoh sakti yang telah sempurna dalam mempelajari ilmunya.
"Sam-eng (Tiga Garuda), lihat...! Pemuda itulah yang bernama Ching Yang Kun, seorang tokoh muda yang telah menggegerkan dunia persilatan beberapa tahun yang lalu, sehingga namanya ikut tercantum pula di urutan ke tujuh Tokoh-tokoh Persilatan Dunia dewasa ini. Melihat permainan silatnya, tampaknya urut-urutan di dalam Buku Rahasia itu sudah tidak sesuai lagi sekarang. Kau lihat...!"
Seorang diantara mereka yang tampaknya sangat dihormati dan disegani oleh yang lain berbisik pelan.
"Benar, tuanku. Bahkan ilmu silatnya tampaknya juga lebih hebat pula dari pada ilmu silat Bu-tek Sin-tong. Wah... pemuda itu sungguh berbahaya sekali!"
Salah seorang dari tiga orang yang disebut Tiga Garuda itu menjawab.
"Dan... tampaknya kita juga telah keduluan pula olehnya. Pemuda itu telah merampas sebagian dari Buku Rahasia yang dibawa oleh Giok-bin Tok-ong itu. Hmm... tampaknya kita juga harus bekerja keras untuk merebut buku itu kembali. Bagaimana pendapat kalian, sam-eng?"
Orang yang pertama tadi berkata pula.
"Ah... terserah tuanku saja, kami bertiga hanya menurut. Tapi kami rasa sebaiknya kita bantu dulu pemuda itu menghadapi Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya. Setelah itu baru kita hadapi pemuda itu untuk merampas bukunya. Mungkin jalan ini akan lebih baik dari pada kita harus menghadapi Giok-bin Tok ong nanti."
"Benar. Pendapatmu sesuai sekali dengan apa yang terkandung di dalam hatiku. Bersama-sama dengan pemuda itu kita akan lebih mudah menundukkan Giok bin Tok-ong dari pada kita harus berhadapan sendiri dengan lblis-lblls dari Lembah Tak Berwarna itu. Bagus. Kalau begitu marilah kita sekarang terjun ke dalam pertempuran mereka!"
Orang yang paling disegani itu berkata gembira.
"Silahkan, tuanku! Tapi... ehm... bolehkah kami bertiga menggunakan Hwee-coa (Ular Api) lagi untuk melawan mereka?"
"Boleh. Tapi kalian harus berhati-hati. Ular itu sulit didapat dan sulit dijinakkan pula. Dan kalian masing-masing cuma memiliki seekor saja. Oleh karena itu sekali kalian kehilangan dia, maka akan sulit pula bagi kalian untuk mendapatkan gantinya."
"Baik, tuanku."
Tiga orang yang disebut Sam-eng itu menjawab berbareng.
Demikianlah, keempat orang itu lalu menampakkan diri mereka.
Perlahan-lahan kaki mereka melangkah mendekati pertempuran.
Kemudian mereka berpencar untuk mempersiapkan diri mereka dan mencari tempat lowong untuk segera melibatkan diri mereka di dalam pertempuran tersebut.
Namun kehadiran mereka itu tentu saja segera diketahui oleh Liu Yang Kun dan Giok-bin Tok-ong.
Tapi karena suasana pertempuran mereka memang sedang mencapai puncaknya, maka kedua belah pihak sama-sama tidak mau mempedulikannya.
Baik Liu Yang Kun maupun Giok-bin Tok-ong benar-benar tidak mau memecah perhatian mereka.
Apalagi bagi Giok-bin Tok-ong yang sedang berada di atas angin dan tinggal menunggu saatnya saja untuk menyelesaikan pertempuran itu.
Telah beberapa kali pukulan dan tendangan Giok-bin Tok-ong serta murid-muridnya mengenai badan Liu Yang Kun bahkan telah beberapa kali pula jaring pusaka yang ada di tangan Tang Hu menyerempet dan melukai kulit Liu Yang Kun yang tidak terlindung oleh kulit Ceng-liong-ong itu.
Sehingga kekuatan Liu Yang Kun yang telah terperas habis habisan itu menjadi semakin susut pula.
Peluh semakin deras mengalir dari tubuhnya.
Demikianlah, ketika empat orang asing itu mendekati arena pertempuran, keadaan Liu Yang Kun benar-benar sudah terpojok dan tinggal menantikan saatnya saja.
Itulah sebabnya pemuda itu benar-benar sedang mengerahkan segala kemampuannya untuk meloloskan diri dari sergapan musuhnya.
Meskipun tenaganya telah susut banyak sekali, namun Liu Yang Kun masih bisa menghindari sabetan Jaring pusaka Tang Hu.
Bahkan selanjutnya pemuda itu masih mampu pula mengelakkan cakar tangan Kim Hong San dan Nyo King Ong.
Tapi setelah itu ternyata ia tak bisa lagi menahan gempuran lutut Giok-bin Tok-ong yang mendarat di perutnya.
"Duuuuuuk!"
"Uuhh..."
Liu Yang Kun melenguh pendek dan tubuhnya terlempar keluar arena pertempuran. Salah seorang dari empat orang yang baru datang tadi, yang dipanggil dengan sebutan "Tuanku"
Oleh yang lain, bergegas melangkah ke depan untuk menolong dan menangkap tubuh Liu Yan Kun.
Tapi belum juga tangannya dapat menyentuh, ternyata Liu Yang Kun telah lebih dahulu menggeliat di udara dan melesat ke samping dengan manisnya.
Dan kemudian, meskipun dengan terhuyung-huyung, pemuda itu mendaratkan kakinya dengan enteng di tempat yang aman.
Giok-bin Tok-ong dan ketiga orang muridnya tak ingin membuang kesempatan lagi.
Cepat mereka meloncat mengejar Liu Yang Kun.
"Tahan...!"
Orang yang disebut "Tuanku"
Itu membentak dan menghadang di depan Liu Yang Kun.
Dan ketiga orang kawannya yang disebut Sam-eng itu segera melindunginya pula.
Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya tertegun dan otomatis menghentikan gerakan mereka.
Dengan kaget mereka menatap orang-orang yang telah mengganggu pertempuran mereka itu.
"Bok Siang Ki!"
Giok-bin Tok-ong berseru kaget.
Sementara itu Liu Yang Kun tak mau menyia-nyiakan kesempatan tersebut.
Bergegas pemuda itu mengerahkan tenaga sakti untuk mengobati luka dalamnya yang agak parah.
Matanya terpejam dan berkali-kali ia menyedot napas untuk memberi kesegaran pada bagian dada serta perutnya yang terluka.
Hantaman lutut Giok-bin Tok-ong tadi benar-benar sangat keras dan hampir saja merusakkan isi perutnya.
Untunglah dengan sisa-sisa tenaganya dia masih mampu bertahan.
"Huh-huk...huk!"
Liu Yang Kun terbatuk dan beberapa gumpal darah beku ikut tersentak keluar bersama dahak yang keluar dari mulutnya.
Tapi dengan demikian dada dan perutnya menjadi lega.
Untuk sementara waktu lukanya telah terobati dan tidak akan terlalu mengganggunya lagi.
Kemudian pemuda itu mengerahkan pandangannya ke arena kembali.
Tiba-tiba jantungnya tersentak!
Empat orang lelaki yang pernah dilihatnya di dalam perjalanannya kemarin dulu tampak sedang berhadapan dengan Giok-bin Tok ong dan murid-muridnya.
Orang yang kemarin dulu mengaku bernama "Ki"
Itu kelihatannya ingin melindungi dia dari keganasan Giok-bin Tok-ong.
"Bok Siang Ki...!"
Sekali lagi Giok-bin Tok-ong menegur lelaki yang menghadang di depannya itu.
"Ternyata kau sampai di tempat ini pula, huh? Apakah kau sedang mencari aku? Baiklah...akupun ingin bertemu pula denganmu. Tapi...menyingkirlah terlebih dahulu! Aku hendak menyelesaikan urusanku dulu dengan pemuda ini."
"Bok... Siang... Ki?"
Diam-diam Liu Yang Kun berdesah di dalam hatinya.
Orang yang ternyata adalah Bok Siang Ki, tokoh nomer dua di dunia persilatan itu tiba-tiba tersenyum.
Matanya yang mencorong tajam luar biasa itu menatap Giok-bin Tok-ong hampir tak berkedip.
"Hmmh! Tok-ong...! Jangan harap kau bisa membohongi aku dengan tipu dayamu. Sejak kita bertiga dengan Bu-tek sin-tong dapat memancing keluar Ban-hoat Sian-seng dari pertapaannya setahun lalu dan kemudian dengan tipu muslihat kita bertiga bisa mendapatkan Buku Rahasianya yang asli, aku sudah berjanji kepada diriku sendiri bahwa untuk selanjutnya aku harus waspada dan selalu berhati-hati bila berhadapan denganmu. Kau adalah manusia yang tidak bisa dipercaya. Kau tega berbuat licik terhadap kawanmu sendiri. Dengan akal bulusmu kau bermaksud mengelabuhi aku dan Bu-tek Sin-tong. Kau berniat untuk menguasai sendiri Buku Rahasia yang asli itu. Untunglah pada waktu itu aku dan Bu-tek Sin-tong sudah lebih dahulu menaruh curiga kepadamu. Hmm, kalau tidak... kau tentu telah berhasil menguasai sendiri buku itu."
"Hi-ha-ha-hi-ha...!"
Giok-bin Tok-ong tertawa terkekeh-kekeh.
"Bok Siang Ki...! Sebenarnya kau tidak perlu mendongkol atau marah kepadaku. Apa yang telah kulakukan itu merupakan hal yang wajar dalam tata-kehidupan kita. Kita adalah manusia yang memiliki otak untuk berpikir. Dan sudah menjadi kelaziman setiap manusia untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Dan sudah merupakan Hukum Alam bagi kita. Nah... lalu apa salahku kalau pada waktu itu aku berbuat licik kepadamu?Kalianlah yang seharusnya menyesali kebodohan kalian sendiri. Coba kalau kalian pintar, tentu tiada seorangpun yang bisa memperdayakan kalian. Si bodoh memang merupakan makanan si pandai he-he-he-he..."
"Hm... kau anggap aku bodoh?"
Sahut Bok Siang Ki datar, sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan lawannya.
"Jangan takabur! Apa kau lupa bahwa otak rencana untuk mendapatkan Buku Rahasia yang asli itu adalah aku? Sayang aku terlalu jujur dan percaya kepadamu sehingga kau memanfaatkannya untuk mengelabuhi aku. Kau sebenarnya tidak pandai, Giok-bin Tok-ong. Kau cuma licik serta pandai mengambil kesempatan. Itu saja. Sebab kalau engkau pintar, kau pasti berhasil menguasai buku itu sendirian. Nyatanya, kau cuma memperoleh sebagian saja. Sementara sebagian yang lain masih dapat kupertahankan bersama Bu-tek Sin-tong."
Giok-bin Tok-ong menjadi merah mukanya.
"Bangsat! Lalu apa maumu sekarang? Mau mengambil sebagian dari Buku Rahasia yang kubawa itu, hah?"
Bentaknya berang. Tiba-tiba Bok Siang Ki mengedikkan kepalanya. Matanya menyorot tajam.
"Tentu saja, Tok-ong. Aku telah hampir putus asa mencarimu selama setahun ini. Engkau benar-benar pandai memilih tempat persembunyian, sehingga aku benar-benar mengalami kesulitan untuk mendapatkanmu. Kalau tidak karena aku selalu memata-matai murid-muridmu itu, aku tentu belum berhasil juga menemukan tempat ini. Nah, sekarang bersiaplah, aku akan mulai!"
"Kau berani melawan aku?"
Giok-bin Tok-ong masih mencoba untuk menggertak. Bok Siang Ki mendengus dingin.
"Mengapa tidak? Bukankah kau masih belum berubah juga? Bukankah kau masih Giok bin Tok-ong yang dulu itu? Bukankah kedudukanmu masih berada di urutan yang keempat dan masih berada dua tingkat di bawahku? Lalu apalagi yang harus kutakuti? Karena engkau telah mempelajari sebagian dari Buku Rahasia yang kau bawa itu? Huh, jangan congkak! Kita sama-sama mendapatkan sebagian dari buku itu. Dan kulihat tadi kepandaianmu belum bertambah pula. Tampaknya kepandaianmu justru semakin menurun malah. Nyatanya melawan pemuda itu saja kau kalah. Padahal pemuda itu adalah Chin Yang Kun, orang ke tujuh dalam urut-urutan Buku Rahasia itu."
"Kurang ajar! Kau sudah mengenal setan busuk itu?"
Giok-bin Tok-ong meraung marah. Wajahnya benar-benar menjadi merah-padam.
"Sudahlah! Jangan banyak berprasangka. Akupun baru melihatnya sekarang. Yang penting sekarang adalah kau dan aku. Marilah...!"
"Tunggu...! Dengar, buku itu sudah tidak ada padaku lagi sekarang. Buku itu telah berada di tangan pemuda itu!"
Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong menyela.
"Begitukah? Hmm... lagi-lagi kau hendak memperdayakan aku, agar aku bermusuhan dengan pemuda itu, sementara engkau nanti yang akan mengambil keuntungannya. Sungguh licik sekali siasatmu!"
Bok Siang Ki pura-pura tidak tahu agar dengan demikian ia bisa meneruskan rencananya semula, yang menghadapi Giok-bin Tok-ong terlebih dahulu.
"Aku tidak bohong! Tanyakan kepadanya kalau kau tidak percaya!"
"Persetan! Aku tidak peduli! Lihat serangan...!"
Bok Siang Ki membentak, lalu menyerang. Giok-bin Tok-ong cepat menghindar kemudian berteriak ke arah murid muridnya.
"Hong San, jangan hiraukan aku! Cepat kau bereskan pemuda itu! Dia sudah terluka parah!"
Kim Hong San dan adik-adiknya yang bermaksud membantu gurunya itu segera berpaling kepada Liu Yang Kun. Ketika dilihatnya pemuda itu memang sedang berusaha mengobati luka-lukanya, ia mengangguk.
"Baik, suhu,"
Jawabnya sambil melompat dan menerjang Liu Yang Kun.
Liu Yang Kun yang baru saja menyelesaikan pengobatan dirinya itu terpaksa mengerahkan tenaganya lagi untuk menghindar.
Dan serangan tersebut memang dapat ia elakkan, tapi gerakan itu membuat perutnya menjadi pedih kembali.
Rasa-rasanya ada luka yang menganga kembali di dalam perut itu.
"Ouugh!"
Pemuda itu mengeluh pendek.
Kim Hong San menjadi gembira.
Ia menyerang semakin garang.
Dikerahkannya seluruh kekuatan dan kemampuannya.
Bahkan ia masih memberi isyarat kepada Nyo Kin Ong dan Tang Hu untuk membantunya.
Kesempatan tersebut benar-benar tak disia-siakan Nyo Kin Ong dan Tang Hu.
Kedua orang adik seperguruan Kim Hong San itu segera terjun pula ke arena.
Mereka bermaksud menyelesaikan pertempuran itu secepatnya, agar dengan demikian mereka bisa segera menolong guru mereka.
Tetapi tiga sosok bayangan yang lain tiba-tiba memotong gerakan mereka.
Ketiga sosok bayangan itu yang tidak lain adalah Sam-eng, datang bagaikan gulungan angin puting-beliung yang menerjang dengan kuatnya ke arah mereka.
Begitu dahsyatnya kekuatan yang melandasi gerakan ketiga orang itu sehingga mereka berdua sampai terdorong mundur beberapa langkah ke belakang.
Bahkan mereka berdua merasa seperti ikut tergulung dan terseret pula beberapa saat ketika menangkis tadi.
"Gila...!"
Mereka mengumpat dan memaki tiga orang lelaki gagah berpakaian seragam hitam-hitam, kuning kuning dan putih-putih itu. Kini mereka saling berhadapan dalam jarak dua tombak.
"Ji-te! Samte! Kau layani mereka. Aku akan membantu pemuda itu."
Orang pertama dari Sam-eng itu yang mengenakan seragam hitam-hitam, memberi perintah kepada kawan-kawannya. Setelah itu ia melompat dan menyerang Kim Hong San yang sedang sibuk mendesak Liu Yang Kun.
"Kurang ajar!"
Sekali lagi Nyo Kin Ong dan Tang Hu memaki, kemudian menerjang dua orang lawan mereka yang berseragam kuning-kuning dan putih-putih itu.
"Bagus! Ini baru adil dan seimbang! Dua lawan dua!"
Orang yang berseragam kuning-kuning itu berkata dengan bersemangat.
"Benar, Ji suheng. Marilah kita masing-masing seorang lawan, lalu kita buktikan mana yang lebih unggul, perguruan Lembah Tak Berwarna atau Perguruan Pasir Kuning (Ui-soa-pai) dari Gurun Gobi!"
Anggauta Sam-eng yang paling muda, yang mengenakan seragam putih-putih, menyahut perkataan suhengnya dengan suara gembira pula.
"Baik!"
Orang yang berseragam kuning-kuning mengiyakan.
Kemudian dia mengambil Nyo Kin Ong sebagai lawannya, sementara adiknya berhadapan dengan Tang Hu.
Kedua orang murid Giok-bin Tok-onf itu tak bisa mengekang diri lagi.
Mereka merasa ditantang untuk mempertahankan nama perguruan mereka.
Oleh karena itu dengan menggeram keras segera menyerbu lawan-lawannya, sehingga sekejap kemudian mereka berempat telah terlibat dalam pertarungan sengit yang sangat menegangkan.
Sementara itu kedatangan anggauta Sam-eng berbaju hitam itu benar-benar telah menyelamatkan jiwa Liu Yang Kun.
Dengan berani anggauta Sam-eng berbaju hitam itu menyongsong serbuan Kim Hong San yang menggebu-gebu.
Berkali-kali tangan dan kaki mereka bentrok di udara dan menimbulkan suara berdebug dan berdentam pula dengan kerasnya.
Ternyata mereka berdua memiliki tenaga dalam yang berimbang, sementara ilmu silat mereka pun ternyata juga tidak berselisih banyak pula.
Tapi karena Kim Hong San sambil bertempur juga selalu mengobral racun-racunnya, maka anggauta Sam-eng berbaju hitam itu terpaksa harus menyisihkan sedikit tenaga dan kewaspadaannya untuk bertahan dan berjaga-jaga terhadap segala kemungkinan yang ada.
Untung ilmu meringankan tubuhnya agak sedikit lebih tinggi dari pada tokoh Lembah Tak Berwarna tersebut, sehingga sedikit banyak ia juga bisa memanfaatkannya untuk mengambil jarak dari lawannya.
"Bhuuuuussssshhhh...!"
Mendadak arena pertempuran tersebut digelapkan oleh asap tebal berwarna kuning pekat, yang tersebar dari bahan peledak yang dibanting oleh Giok-bin Tok-ong.
Ternyata di dalam pertarungan cepat melawan Bok Siang Ki tadi Giok-bin Tok-ong segera tercecer di bawah angin.
Walaupun ketua Lembah Tak Berwarna itu memiliki ilmu silat yang tinggi, namun lawannya adalah jago silat nomer dua di dunia persilatan.
Di dalam segala hal ketua perguruan Ui-soa-pai itu ternyata memiliki beberapa kelebihan dari pada dia.
Oleh karena itu pula akhirnya Giok-bin Tok-ong memutuskan untuk mempergunakan senjata senjata racunnya.
Demikianlah akhirnya arena pertempuran tersebut menjadi gelap oleh asap beracun yang disebarnya.
Bok Siang Ki yang langsung terserang oleh kepulan asap tersebut cepat menghindar dengan meloncat tinggi ke udara.
Sekejap saja tubuhnya telah bertengger di atas dahan pohon yang tinggi.
Dari atas pohon tersebut ia melihat sekejap ke arah Sam-eng, pembantu pembantunya.
Begitu menyaksikan para pembantunya itu dapat menyelamatkan diri pula, perasaannya menjadi lega.
"Sam-eng! Lekas kalian keluarkan tepung daun coa-tou (kepala ular) itu. Ambillah sedikit, lalu makanlah! Selanjutnya kalian tak perlu takut menghadapi racun-racun mereka! Cepat!"
Teriaknya keras.
Tiba-tiba Bok Siang Ki tersentak kaget.
Ternyata ia telah melupakan Liu Yang Kun.
Ia tidak melihat pemuda itu di luar kepulan asap.
Dan hal itu berarti bahwa si pemuda masih berada di tengah-tengah asap bersama rombongan Giok-bin Tok-ong.
"Kurang ajar! Giok-bin Tok-ong benar-benar licik sekali! Dia menggunakan tabir asap itu untuk berlindung. Dan dengan perlindungan tabir asap itu pula ia dan anak-buahnya menyergap Liu Yang Kun. Bangsat! Hei... Sam Eng! Mari kita terjang tabir asap itu! Kita tidak boleh keduluan oleh iblis-Iblis Lembah Tak Berwarna itu!"
Ternyata benar apa yang diduga oleh Bok Siang Ki itu.
Karena merasa takkan menang melawan Bok Siang Ki dan anak-buahnya, Giok-bin Tok-ong mulai menggunakan siasat dan akal-bulusnya.
Ia meledakkan bahan peledak yang dapat menimbulkan kepulan asap tebal di arena pertempuran tersebut.
Selain juga untuk menyerang lawan-lawannya, asap tebal yang mengandung racun itu juga dapat ia pergunakan untuk berlindung dari sergapan musuh.
Sementara itu dengan perlindungan tabir asap tersebut ia dan murid-muridnya dapat pula melanjutkan niat mereka semula, yaitu mengepung dan menyergap kembali Liu Yang Kun.
Pokoknya Buku Rahasia yang dibawa pemuda itu harus direbut dahulu.
Demikianlah Bok Siang Ki dan tiga orang pembantunya lalu menerjang tabir asap itu.
Hanya dengan mengandalkan ketajaman perasaan mereka saja mereka itu menyerang Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya.
Oleh karena itu pula dalam kemelutnya pertempuran mereka seIanjutnya, mereka semua tak bisa lagi membedakan mana kawan mana lawan.
Bahkan merekapun sudah tidak bisa menentukan lagi, apakah Liu Yang Kun masih berada diantara mereka atau tidak?
Lain dari pada itu kepekatan asap beracun tersebut benar-benar membuat napas mereka menjadi sesak.
Sekali tempo mereka harus keluar dari kepulan asap dahulu untuk menyedot udara segar.
"Siiiing! Siiiing! Siiiing!"
Ternyata tabir asap yang amat pekat itu telah dimanfaatkan pula oleh Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya untuk mengobral senjata-senjata rahasia mereka.
Mereka melepaskan pisau-pisau terbang, jarum-jarum lembut yang bisa menyusup ke dalam daging dan pembuluh darah, dan peluru-peluru beracun yang dapat meletus dan memuntahkan cairan atau tepung berbahaya ke arah lawan mereka.
Sehingga beberapa saat kemudian pertempuran tersebut menjadi semakin ruwet dan simpang-siur oleh desingan senjata-senjata rahasia itu.
Bahkan sekejap kemudian juga digaduhkan pula oleh letupan-letupan peluru yang memuntahkan alat-alat pembunuh berbahaya.
Tentu saja hal itu benar-benar sangat merepotkan Bok Siang Ki dan tiga orang pembantunya.
Bertempur dengan membuta di dalam tabir asap itu saja sudah amat menyulitkan mereka, apalagi harus menghadapi senjata-senjata gelap yang seolah-olah berhamburan menghujani mereka itu.
Sebagian besar dari taburan senjata gelap itu memang dapat mereka hindarkan, tapi beberapa buah diantaranya terpaksa tidak bisa mereka elakkan.
Beberapa buah dari pisau-pisau terbang itu sempat menghujam kedalam daging Sam-eng, sementara sebuah diantara peluru yang meletus itu juga sempat memercikkan cairan berbahaya yang membakar mata kiri dan sebagian pelipis kiri anggauta Sam-eng yang termuda.
Dan Bok Siang Ki sendiri ternyata juga tidak luput dari bencana itu.
Sebuah di antara puluhan jarum yang tersebar di arena itu dapat lolos dari kebutan lengan bajunya dan menembus paha kanannya.
Sekejap saja jarum itu telah masuk ke dalam daging dan seakan akan terus bergerak sesuai dengan gerakan atau menegangnya otot paha itu.
(Lanjut ke
Jilid 26) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono
Jilid 26
"Gila!"
Jago silat nomer dua di dunia persilatan itu menggeram marah.
Dan kemarahannyapun semakin menjadi pula ketika telinganya juga mendengar pekikan dan keluhan para pembantunya yang terkena senjata lawan itu.
"Sam-eng! Lepaskan Hwee-coa! Cepat!"
Lengkingnya meninggi seraya melompat keluar dari kurungan asap beracun itu.
Tiba-tiba tiga buah cahaya berwarna kemerah-merahan tampak melesat di tengah-tengah arena pertempuran tersebut.
Warnanya yang terang bagal bara api di dalam sekam itu seolah-olah dapat mengusir pekatnya asap tersebut.
Cahaya merah itu tampak bergerak dengan cepat sekali, melenting kesana-kemari mengejar Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya.
Dengan segala kelincahannya Giok-bin Tok-ong mencoba menghadapi kegesitan Ular Api itu.
Begitu pula dengan Kim Hong San dan adik-adik seperguruannya.
Meskipun mereka juga merasa sedikit gentar, namun mereka berusaha pula untuk melawan ular kecil itu.
Bahkan mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk membunuh ular yang sangat mengerikan tersebut.
Tapi ular kecil itu benar-benar lincah dan gesit luar biasa.
Berkali-kali ular tersebut berhasil menusup ke dalam pakaian Giok-bin Tok-ong dan muridnya.
Namun setiap kali pula ular kecil itu harus keluar lagi, karena tokoh-tokoh sakti dari Lembah Tak Berwarna itu segera berguling dan bergelundungan di atas tanah.
Ular kecil yang cerdik itu tak mau mati tertindih.
Hwee-coa itu selalu mengincar lobang telinga, mulut atau hidung Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya.
Tapi tentu saja hal itu sangat sulit untuk dilaksanakan.
Mereka adalah tokoh-tokoh silat tingkat tinggi, yang tidak mudah untuk diserang atau dicari kelengahannya.
Namun demikian ular kecil itu melejit kesana-kemari dengan amat gesitnya, diantara tubuh-tubuh lawan mereka tersebut, seolah-olah ular-ular kecil yang ganas itu tidak pernah mengenal lelah maupun putus-asa.
Bahkan ketika Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya telah mulai kelelahan, ular-ular kecil itu tetap tidak kehilangan kegesitannya.
Ular-ular kecil itu bahkan mulai berani menyusup ke dalam pakaian dan menggigit sekenanya.
Tentu saja hal itu sangat mengesalkan hati Giok-bin tok-ong dan murid-muridnya.
Untunglah mereka telah minum obat penawar racun yang paling hebat, sehingga racun Hwee-coa yang sangat dahsyat itu tidak dapat membinasakan mereka.
Walaupun demikian mereka berempat menjadi kesal sekali dan kemudian mulai menyesali asap tebal yang mereka buat sendiri itu.
Asap itu terasa mengganggu pandangan mereka sekarang, sehingga mereka tidak bisa melihat dan tidak bisa melawan ular-ular jahanam tersebut dengan baik.
Tanpa asap itu mereka tentu bisa membinasakan ular-ular itu dengan mudah.
Sementara itu Bok Siang Ki dan keempat pembantunya telah berada di luar tabir asap tersebut.
Sambil berusaha mengobati luka-luka yang mereka peroleh tadi, mereka mencoba mengetahui apa yang telah terjadi di dalam tabir asap yang amat pekat itu.
"Sam-eng...? Dimanakah pemuda itu...? Rasa-rasanya aku tidak pernah beradu tangan ketika berada di dalam tadi,"
Dengan heran Bok Siang Ki bertanya kepada pembantu-pembantunya.
"Entah, tuanku. Hambapun rasa-rasanya juga tak bersinggungan dengannya tadi."
"Jangan-jangan dia telah lari meninggalkan arena pertempuran ini!"
"Tidak mungkin. Kita telah mengepungnya tadi. Kalaupun dia telah lari, Giok-bin Tok-ong dan murid-muridnya itu tentu telah pergi pula. Bocah itu tentu masih ada di dalam asap itu,"
Ujar anggota Sam-eng yang termuda seraya meringis kesakitan. Mata kiri dan pelipis kirinya ternyata telah rusak dan menjadi cacat terkena letusan peluru Giok-bin Tok-ong tadi.
"Benar katamu, Pek eng (Garuda Putih). Akupun masih mempunyai dugaan demikian pula. Pemuda itu tentu masih berada di dalam asap itu! Hmmh...bagaimana dengan luka luka kalian? Bagaimana kalau kita masuk lagi ke dalam arena untuk membantu ular-ular kita?"
Bok Siang Ki menggeram tak sabar.
"Kami telah selesai mengobati luka luka kami, tuanku. Meskipun agak parah, tapi kami sekarang sudah siap untuk bertempur. Kami justru sangat mengkhawatirkan jarum yang menembus paha tuanku itu..."
Hek eng (Garuda Hitam), anggauta yang tertua dari Sam-eng itu menjawab perlahan.
"Bagus! Aku pun tidak apa-apa. Jarum itu telah kukeluarkan pula. Daging pahaku telah kurobek sedikit untuk mengeluarkannya. Kalau begitu mari kita terjun lagi ke arena."
"Marilah, tuanku..."
Demikianlah, masuknya kembali mereka itu ke dalam arena pertempuran ternyata bersamaan pula dengan habisnya kesabaran Giok-bin Tok-ong dalam menghadapi Hwee-coa.
Karena tokoh Lembah Tak Berwarna itu juga sangat mengkhawatirkan Liu Yang Kun, yaitu kalau kalau pemuda itu telah diringkus lebih dahulu oleh lawannya, maka ia telah mengambil keputusan yang tak dapat ditunda lagi.
Kakek tampan itu telah memutuskan untuk mempergunakan Pek-Iek-tan!
Apalagi ketika pada saat itu pula ia mendengar jeritan Nyo Kin Ong, muridnya!
Jerit kematian!
"Nyo Sute...??"
Kim Hong San memekik kaget.
"Nyo suheng...?"
Tang Hu berseru pula.
"Suiiiit! Suiiiiiiiiiiiit...!"
Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong bersiul panjang dua kali, memberi tanda atau isyarat kepada murid-muridnya itu untuk menyingkir dari arena sejauh-jauhnya.
Dan pada detik itu pula kakek tampan itu membanting peluru mautnya!
Kemudian bergegas melesat pergi meninggalkan arena!
Demikian pula dengan Kim Hong San dan Tang Hu meskipun keduanya belum lenyap rasa kagetnya!
Hampir saja mereka bertiga bertubrukan dengan Bok Siang Ki dan pembantu-pembantunya!
Untunglah kedua belah pihak sama-sama lincahnya dan sama-sama tinggi ilmu meringankan tubuh mereka, sehingga dengan tangkas dan gesit, masing-masing cepat menghindarkan diri!
Giok-bin Tok-ong dan kedua muridnya cepat menjatuhkan diri dan menggelundung pergi cepat sekali!
Sedangkan Bok Siang Ki dan para pembantunya cepat pula menggeliatkan tubuh mereka ke samping, kemudian melesat ke belakang menjauhkan diri.
Entah mengapa, mendengar suara siulan Giok-bin Tok-ong dan menyaksikan ketergesaan lawan mereka itu, Bok Siang Ki dan para pembantunya menjadi curiga.
Tiba-tiba saja mereka juga ikut meloncat pergi menjauhkan diri.
Biarpun tidak sejauh lawan-lawan mereka itu.
Dan pada saat itu pula terdengar sebuah ledakan yang maha dahsyat di tengah-tengah arena pertempuran itu!
Sebuah ledakan yang benar-benar mengguncangkan isi hutan tersebut!
Tanah dan pasir berhamburan ke udara.
Empat atau lima batang pohon besar di sekeliling arena itu roboh pula dengan suara yang bergemuruh.
Bok Siang Ki dan para pembantunya yang benar-benar tidak menduga akan hal itu, terlempar pula dengan kuatnya.
Tubuh mereka melanggar pepohonan di belakang mereka, kemudian terbanting jatuh ke dalam semak-semak.
Bok Siang Ki, Hek-eng dan Ui-eng tidak apa-apa.
Mereka itu hanya menderita beberapa goresan luka akibat melanggar pepohonan tadi.
Tapi Pek-eng orang yang termuda diantara mereka menderita patah tulang pada kaki kirinya.
Kaki itu patah ketika melanggar sebatang pohon siong besar.
Meski pohon tersebut juga berderak patah tersabet kakinya.
Sebaliknya Giok-bin Tok-ong dan kedua orang muridnya, Kim Hong San dan Tang Hu, selamat tak kurang suatu apa.
Mereka bertiga bangkit berdiri limabelas atau dua puluh tombak dari tempat ledakan.
Pakaian mereka memang menjadi kotor oleh tanah dan lumpur.
Mereka berdiri mengawasi tempat mereka bertempur tadi, tapi kegelapan malam menghalangi pandangan mereka.
"Suhu...? Nyo Sute... telah...telah tiada!"
Kim Hong San berkata tersendat-sendat.
"Ah, Nyo suheng..."
Tang Hu mengeluh pula dengan sendu. Giok-bin Tok-ong menghela napas panjang.
"Sudahlah kita tak perlu terlalu menyedihkan kematiannya. Dia mati karena Hwee-coa. Dan Hwee-coa itu kini sudah binasa pula mengiringinya. Sekarang Nyo Kin Ong tentu tersenyum gembira di alam baka sana. Sayang Bok Siang Ki dan orang-orangnya sempat menghindar dari neraka itu. Hmmmmh...!"
"Tapi belum tentu mereka selamat, suhu. Paling tidak mereka tentu terluka parah. Mereka berada terlalu dekat dengan tempat ledakan itu."
Tang Hu menyahut.
"Ya. Tapi pemuda yang membawa Buku Rahasia itu tentu hancur pula bersama bukunya. Aku belum me lihat dia keluar dari kurungan asap itu."
Kim Hong San berkata pula.
"Biarlah. Dari pada jatuh ke tangan Bok Siang Ki..."
Giok-bin Tok-ong menghentikan omongan muridnya.
Demikianlah, kedua belah pihak sama-sama beranggapan pula bahwa Liu Yang Kun telah hancur luluh bersama bukunya oleh ledakan itu.
Oleh karena itu pula masing-masing pihak menganggap bahwa perselisihan mereka tidak perlu dilanjutkan lagi.
Apalagi kedua belah pihak sekarang telah sama-sama mengalami kerugian pula.
Giok-bin Tok-ong telah kehilangan salah seorang muridnya, sedangkan Bok Siang Ki walaupun tidak kehilangan salah seorang pembantunya, tapi keadaan Pek-eng itu hampir sama dengan orang mati.
Kalau pun harus ada perang tanding lagi, orang termuda dari Sam-eng tersebut juga tidak bisa berbuat apa-apa pula.
Bahkan sekarang justru Bok Siang Ki lah yang kemudian bergegas mengajak pergi para pembantunya.
Dengan musnahnya buku yang diperebutkan itu, praktis tinggal Bok Siang Ki dan Bu-tek sin-tong-lah yang memiliki bagian dari buku itu.
Jadi kalau ia tidak lekas-lekas pergi, mungkin ganti Giok-bin Tok-ong lah yang kemudian justru akan meminta sebagian dari buku yang lain itu kepadanya.
Sebaliknya Giok-bin Tok-ong yang telah kehilangan salah seorang muridnya itu juga tidak ingin memperpanjang urusan itu lagi.
Dengan wajah lesu kakek tampan itu mengajak kedua muridnya yang masih tinggal untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.
Angin tengah malam mulai meniup membelai bumi.
Anginnya yang dingin bercampur embun itu mulai pula membasahi di dalam hutan itu.
Binatang-binatang malampun telah mulai bernyanyi kembali.
Suara-suara mereka yang khas saling bersahut-sahutan, sehingga membentuk sebuah irama yang khusus pula.
Irama keheningan sebuah hutan di malam hari!
Hening, sunyi, namun juga mencekam hati!
Tapi keheningan dan kesunyian itu mendadak dipecahkan oleh suara bisik-bisik dan langkah kaki manusia.
Seorang kakek buta tampak berjalan bersama seorang pemuda berwajah buruk sekali, menerobos rimbunnya semak-belukar yang tumbuh di tempat itu.
Di atas pundak kakek buta itu tersampir sesosok tubuh manusia pula.
Sebentar-sebentar tubuh itu melorot turun dan hampir jatuh dari punggung kakek buta tersebut sehingga setiap kali pula kakek itu harus membetulkannya.
"Suhu...? Apakah luka-lukanya bisa disembuhkan? Apakah dia bisa menjadi sehat kembali seperti sediakala?"
Pemuda berwajah buruk itu berbisik khawatir.
Suaranya terdengar bening bernada tlnggi seperti layaknya seorang perempuan.
Sungguh sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang mengerikan itu.
Kakek buta itu menarik napas panjang.
Katanya kemudian dengan nada lembut.
"Engkau tidak perlu merasa khawatir. Dia tentu akan sembuh pula nanti. Kau justru harus berterima kasih sekali dengan kejadian ini. Siapa lagi yang akan dapat melukai pemuda ini sedemikian parahnya kalau bukan orang-orang itu? Coba kau bayangkan! Sampai kapan kita harus menunggu pemuda ini menjadi pingsan dan terluka parah, sehingga kita berdua bisa melaksanakan rencana kita, kalau tidak ada orang seperti Giok-bin Tok ong dan Bok Siang Ki itu?"
Pemuda berwajah buruk itu menundukkan mukanya.
"Suhu benar..."
Bisiknya lirih.
"Nah! Oleh karena itu pula kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang amat bagus ini. Mulai detik ini kita harus sudah memulainya. Mulai dengan rencana yang telah kita susun itu. Kau harus melakukannya dengan sungguh-sungguh seluruh petunjuk yang kuberikan kepadamu dulu. Jangan sampai lupa...!"
Sekali lagi pemuda berwajah buruk itu menundukkan kepalanya. Tiada tampak kesan apapun pada wajahnya yang hitam itu. Hanya sikapnya saja yang tiba-tiba berubah menjadi malu-malu.
"Ba-ba-baik... suhu,"
Desahnya gemetar seperti perawan yang sedang malu-malu atau mabuk kepayang.
"Bagus. Kalau begitu marilah kita sekarang mencari rumah penduduk yang terdekat. Dan kau harus lekas-lekas menanggaIkan penyamaranmu itu. Pemuda ini sebentar lagi akan siuman."
Kedua orang aneh yang tidak lain memang kakek Lo dan A Hek itu segera mempercepat langkah mereka.
Ternyata selama ini mereka berdua selalu mengikuti Liu Yang Kun.
Memang, sejak terjadinya huru-hara kebakaran perahu di tepian sungai itu, mereka berdua lalu memisahkan diri.
Tapi walaupun demikian secara diam-diam mereka tetap mengikuti segala langkah Liu Yang Kun.
Dan setiap saat pula mereka berdua selalu mencari kesempatan atau menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana rahasia yang hendak mereka lakukan terhadap Liu Yang Kun.
Demikianlah setelah dengan tekun mereka menanti, akhirnya kesempatan tersebut datang juga.
Mereka berdua sampai di hutan itu malam itu.
Mereka menyaksikan Liu Yang Kun bertempur melawan Giok-bin Tok-ong dan Bok Siang Ki.
Dengan berharap-harap cemas mereka berdua menantikan akhir dari pertempuran tersebut.
Tapi sambil menanti dan berdoa di persembunyian mereka, kakek Lo juga berusaha untuk mencari kesempatan yang baik bagi rencananya.
Tentu saja kakek buta itu juga sadar kalau orang yang dihadapinya adalah tokoh-tokoh sakti yang berada di atasnya.
Ketika menyaksikan Liu Yang Kun tercecer dan terluka oleh serangan Giok-bin Tok-ong, kakek Lo hampir-hampir tidak bisa mengendalikan dirinya.
Untunglah kakek itu cepat menyadari bahwa waktunya belumlah tiba, sehingga ia tidak terlanjur terjun ke arena.
Ternyata kesabaran kakek itu membuahkan hasil juga.Yaitu ketika secara tak terduga Giok-bin Tok-ong meledakkan senjata asapnya.
Asap tebal kuning pekat itu menutup hampir seluruh arena pertempuran, sehingga orang-orang yang sedang berkelahi itu tak bisa melihat apa-apa.
Mereka bertempur secara membuta dan hanya mengandalkan panca-indera mereka yang lain saja.
Pada saat itulah kakek Lo terjun ke dalam pertempuran.
Terjun secara diam-diam, tanpa sepengetahuan orang-orang yang sedang berkelahi.
Demikianlah, dengan matanya yang memang sudah buta itu kakek Lo justru menjadi orang yang paling awas di dalam gelapnya tabir asap tersebut.
Kalau semua orang menjadi bingung dan sulit membedakan lawan, kakek Lo justru dengan mudah mendapatkan Liu Yang Kun.
Dan kemudian dengan perlindungan tabir asap itu pula kakek Lo berusaha melumpuhkan Liu Yang Kun yang sudah terluka parah itu.
Dalam keadaan biasa kakek Lo memang bukan lawan Liu Yang Kun.
Tapi di dalam pekatnya asap yang bergulung-gulung itu, dengan tubuh yang sudah terluka pula, bahkan empat buah pisau terbang tampak menancap di kedua lengannya, Liu Yang Kun benar-benar tidak berdaya melawan kakek Lo yang masih segar-bugar tersebut.
Dalam beberapa jurus saja pemuda itu telah dapat diringkus oleh kakek Lo.
Lalu setelah ditotok pingsan pemuda itu dibawa lari oleh kakek Lo.
Itulah sebabnya pemuda itu terbebas dari ledakan dahsyat pek lek-tan tadi.
Liu Yang Kun memang terbebas dari keganasan Giok-bin Tok-ong, dan juga terhindar pula dari kekejaman Bok Siang Ki.
Namun apa yang hendak terjadi atas pemuda itu sekarang, ternyata justru akan jauh lebih seram dan mengerikan dari pada nasibnya bila jatuh ke tangan Giok-bin Tok-ong atau Bok Siang Ki tadi.
Pemuda itu memang tidak akan mati di tangan kakek Lo, karena kakek Lo memang tidak bermaksud untuk membunuhnya Tapi meskipun tidak mati, keadaan yang diterimanya nanti justru akan lebih hebat dari pada mati.
Embun semakin tebal menyelimuti hutan itu.
Sebaliknya tiupan angin justru semakin hilang dan mereda.
Kakek Lo sengaja membawa Liu Yang Kun menjauhi aliran sungai, karena ia khawatir akan bertemu kembali dengan Giok-bin Tok-ong atau Bok Siang Ki.
Air embun yang menempel di pucuk-pucuk daun menetes membasahi rambut dan pakaian mereka.
Dinginnya bukan alang-kepalang.
Mereka berjalan terus di dalam naungan kegelapan pepohonan yang tumbuh lebat di hutan itu.
Hanya kadang-kadang saja mereka memperoleh secercah sinar rembulan yang menerobos diantara rimbunnya dedaunan.
Meskipun demikian mereka tidak berhenti untuk melepaskan lelah.
Bahkan orang setua kakek Lo itu, yang tubuhnya kelihatan kurus dan kecil, ternyata masih tampak gesit dan lincah memanggul tubuh Liu Yang Kun.
Sedikitpun kakek tua itu tidak kelihatan capai atau kehilangan tenaganya.
Justru muridnya yang masih amat muda itulah yang kemudian tampak kusut dan terengah-engah.
Berkali-kali pemuda berwajah buruk itu hampir jatuh ketika melewati tanah becek atau melompati jurang kecil yang sangat licin.
Beberapa saat kemudian pepohonan yang mereka lalui pun semakin menjadi jarang.
Bahkan semak-semak pun tampak semakin menghilang pula, sehingga akhirnya yang ada hanya satu-dua pohon dengan rumput atau alang-alang di sekitarnya.
"Suhu! Ada sinar lampu di depan sana. Tampaknya kita sudah mendekati sebuah perkampungan penduduk."
Tiba-tiba A Hek berbisik seraya menggamit lengan kakek Lo.
"Bagus. Kalau begitu... marilah kita ke sana!"
Tapi tampaknya saja amat dekat, namun setelah mereka menuju ke tempat itu ternyata cukup jauh juga.
Mereka harus menuruni sebuah jurang dahulu, kemudian harus menyeberangi sungai pula.
Sebuah sungai kecil yang dangkal dan jernih airnya.
Setelah itu masih harus mendaki sebuah lereng bukit lagi.
Dan di lereng bukit itu pulalah sinar lampu tersebut berasal.
Dari jauh tadi sinar lampu itu memang tampak jelas.
Tapi setelah mendaki bukit tersebut, sinar lampu itu tiba-tiba menghilang.
Pandangan A Hek yang menuntun kakek Lo itu mendadak terhalang oleh hutan cemara yang tumbuh lebat di lereng bukit tersebut.
"Ah! Ternyata bukan perkampungan penduduk, suhu. Kita sampai di sebuah hutan pohon cemara. Dan tampaknya sinar lampu itu datang dari tengah-tengah hutan ini. Kalau begitu sinar lampu itu tentu bukan keluar dari rumah orang. Mungkin sinar itu cuma datang dari sebuah obor yang dibawa oleh seseorang di dalam hutan ini. Seorang pemburu barangkali..."
Kakek itu membetulkan tubuh Liu Yang Kun yang ada di atas punggungnya. Kedua belah alisnya yang putih itu tampak berkerut sehingga hampir bertemu satu sama lain. Tiba-tiba kakek itu menggeleng.
"Tentu bukan. Apa yang hendak dicari oleh seorang pemburu di hutan cemara larut malam begini?"
Sanggahnya kemudian.
"Lalu apa menurut pendapat suhu?"
Kakek itu menengadahkan mukanya sebentar ke langit, seolah-olah matanya yang buta itu ingin me lihat bintang-bintang yang bertaburan di sana.
Sesaat kemudian dia kembali menundukkan kepalanya sambil menarik napas panjang.
"Entahlah. Tapi perasaanku mengatakan bahwa kita harus berhati-hati di tempat ini. Hmm... Li Ing! Lebih baik kau lekas-lekas menanggalkan penyamaranmu itu. Kita harus benar-benar mulai dengan rencana kita. Lekaslah...!"
"Di sini, suhu? Ah... aku malu!"
Pemuda buruk rupa yang ternyata adalah penyamaran Li Ing itu berkata kaget.
"Memangnya kenapa? Tiada orang di hutan ini malam-malam begini. Dan kau juga tak perlu menanggalkan pakaianmu. Basuh saja mukamu di sungai tadi sehingga penyamaranmu hilang...!"
"Oh... ba-baik, suhu."
Dengan tersipu-sipu Li Ing menjawab.
Gadis itu lalu berlari kembali ke bawah.
Kemudian setelah yakin bahwa tiada seorangpun yang melihatnya, ia membersihkan tepung dan perekat yang menempel pada wajahnya.
Gigi palsu yang dipakai untuk mengganjal mulutnya pun juga dia tanggalkan pula.
Demikianlah, beberapa waktu kemudian A Hek yang buruk rupa itu telah berubah menjadi Tiauw Li Ing yang cantik jelita kembali.
Gadis itu lalu kembali lagi ke tempat gurunya berada.
Tapi ia menjadi kaget sekali ketika menyaksikan tubuh Liu Yang Kun telah dibaringkan di atas tanah dan gurunya yang tiada lain adalah Lo-sin-ong itu sedang sibuk menusukkan jarum-jarum emasnya ke kepala pemuda itu.
"Eh... suhu? Apa yang sedang kau lakukan?"
Serunya kaget dan khawatir. Tapi dengan tenang Lo-sin-ong menggelengkan kepalanya.
"Sssst! Jangan ribut! Pemuda itu tampaknya sudah akan siuman kembali. Kita tidak boleh terlambat. Kini aku sedang membetulkan letak jarum-jarum itu, agar kalau ia siuman nanti tidak merasakannya. Nah... kau bersiap-siaplah!"
Ujarnya perlahan.
"Dia... dia... oh, dia hendak siuman sekarang?"
Tiba-tiba Tiauw Li Ing yang biasanya lincah dan berani itu berseru gugup.
Pipinya pun mendadak juga menjadi merah.
Lo-sin-ong tersenyum.
Biarpun buta, tapi ia bisa merasakan nada suara muridnya yang gembira, gugup dan tegang itu.
"Tenanglah! Jangan gugup! Bisa berantakan rencana kita itu nanti. Bersikaplah wajar, seakan-akan tidak terjadi apa-apa pada kita! Nah sekarang mari kita bawa dia ke sungai itu! Kita guyur dia dengan airnya yang dingin, biar lekas sadar!"
Lo-sin-ong lalu membawa Liu Yang Kun ke sungai.
Kemudian dicelupkannya telapak tangannya ke dalam air untuk seterusnya ia usapkan ke wajah pemuda itu.
Tiga kali hal itu ia lakukan ketika tiba-tiba pemuda itu sudah membuka matanya.
"Hah...???"
Pemuda itu tersentak kaget lalu bangkit berdiri dengan tiba-tiba.
Sigap dan cepat sekali, sehingga tokoh sakti seperti Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing yang sudah bersiap-siaga sejak semula itu pun tetap ikut kaget pula.
Lo-sin-ong me lompat ke belakang dan berdiri tegak.
Tongkatnya melintang di depan dadanya.
Sedangkan Tiauw Li Ing ikut-ikutan meloncat pula ke belakang, namun wajahnya tampak tegang dan khawatir.
Liu Yang Kun berdiri tegak mengawasi Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing bergantian.
Baca Juga: Pendekar Lembah Naga 15
Baca Juga: Pendekar Bodoh 11