Memburu Iblis 10

Eps 10 Memburu Iblis - Sriwidjono

Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono

Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.

Sinar matanya tampak mencorong mengerikan.

Sementara kulit wajahnya yang pucat itu tampak mengkilat kekuningan.

Seolah-olah sedang menahan marah.

Memang pemuda itu dalam keadaan siap tempur!

Tapi hal itu cuma beberapa kejap saja berlangsung, karena di lain saat pemuda itu tiba-tiba menggeram dengan mulut meringis.

Kepalanya terasa sakit, seperti ada sesuatu yang menyengatnya.

Bahkan beberapa saat kemudian seluruh tubuhnya juga terasa linu dan lemas.

Dan pemuda itu juga terkejut ketika me lihat kedua buah lengannya telah dibalut dengan kain pula.

"Sia... siapa ka-kalian? A-a-apa yang telah kalian perbuat terhadapku?"

Katanya kaget.

"Plong!"

Lega hati Lo-sin-ong sekarang.

Ternyata garapannya berhasil.

Pemuda sakti itu sudah tidak mengenal mereka lagi.

Tidak mengenal dia sebagai kakek Lo dan juga tidak mengenal Tiauw Li Ing pula.

Dan hal itu berarti bahwa pemuda itu telah melupakan masa lalunya.

Oleh karena itu Lo-sin-ong segera memberi isyarat kepada Tiauw Li Ing untuk segera menjalankan rencana mereka.

Tapi untuk beberapa saat gadis itu masih bungkam saking tegangnya.

Gadis yang biasanya lincah dan berani itu hanya mampu memandang kekasihnya dengan mata terbelalak serta dengan bibir yang bergetar pucat.

"Kenapa kalian diam saja? Siapakah sebenarnya kalian berdua ini? A-a-pa yang telah kalian perbuat terhadapku di hutan malam-malam begini?"

Liu Yang Kun berseru pula kembali. Suaranya juga masih terdengar tegang dan curiga.

"Koko...?"

Akhirnya Tiauw Li Ing menegur setelah dengan susah payah dapat menguasai hatinya.

Namun dengan cepat Liu Yang Kun menghindar ketika gadis itu hendak memeluknya.

Dengan air-muka semakin heran ia memandang Tiauw Li Ing.

"Kau...kau siapa? Mengapa kau memanggilku 'koko'? Apakah engkau adikku?"

Tiauw Li Ing kembali terdiam dan menjadi salah tingkah lagi. Semua rencana dan petunjuk yang ia terima dari Lo-sin-ong tiba-tiba juga menghilang dari ingatannya.

"Hmm, Yang Kun... Mengapa kau menjadi lupa kepada isterimu sendiri? Oh, celaka!"

Lo-sin-ong tiba-tiba mengeluh dengan suara keras untuk memancing perhatian Liu Yang Kun. Benar juga. Bagai disengat lebah Liu Yang Kun tersentak menghadapi Lo-sin-ong. Wajahnya semakin bingung.

"Isteriku? Dia... ini...isteriku?"

Desahnya tertahan. Tiauw Li Ing sendiri seperti terlepas dari beban berat yang menindihnya. Sambil menjerit ia menubruk dada Lo-sin-ong dan menangis sepuas-puasnya.

"Suhu. A-aku takut! Aku.. aku malu...! Jangan-jangan... jangan-jangan ia masih tetap sadar! Jangan-jangan dia mencemoohkan aku! Oooh, suhu...!"

Ia mengeluh diantara isaknya.

Sebaliknya tangis Tiauw Li Ing itu ternyata semakin mengalutkan hati dan pikiran Liu Yang Kun.

Pemuda yang kini telah menjadi lupa akan masa lalunya, akibat cekokan-cekokan obat dan jarum-jarum emas yang dimasukkan ke kepalanya oleh Lo-sin-ong itu, semakin menjadi bingung menghadapi hal-hal yang tak dimengertinya itu.

Pikirannya seolah-olah telah buntu dan tak tahu apa-apa.

Rasanya ia benar-benar seperti bayi yang baru saja lahir.

Akhirnya Liu Yang Kun menatap Lo-sin-ong yang ada di depannya.

Dipandangnya orang tua itu dengan wajah sedih dan tertekan.

"Kakek...! Tolonglah aku! Aku benar-benar sangat bingung. Aku sungguh-sungguh tak tahu apa-apa. Siapakah sebenarnya aku ini? Dan siapa pula kakek berdua ini? Mengapa aku berada di tempat ini? Dan mengapa pula kakek berada pula disini bersama aku? Tolonglah, kek...!"

Rintihnya memelas seperti orang yang menderita sakit berat. Lo-sin-ong menundukkan kepalanya dan berbisik pelan kepada Tiauw Li Ing.

"Lihat! Dia benar-benar telah melupakan segalanya. Berarti semua rencana kita berhasil dengan baik. Kau tidak perlu takut lagi. Kau harus melakukan peranmu sebaik-baiknya. Kau masih ingin menjadi isterinya, bukan?"

Tiauw Li Ing menghentikan isaknya.

Masih dengan butir-butir air mata yang menggenangi matanya gadis itu tersenyum.

Pelan-pelan gadis itu menganggukkan kepalanya.

Lo-sin-ong berdesah lega.

Kemudian sambil memiringkan wajahnya ke arah Liu Yang Kun ia berkata.

"Yang Kun...! Sungguh tak kusangka luka-luka yang kau peroleh dalam pertempuran itu telah membuatmu menderita seperti ini. Hmmmh...!"

"Luka-luka dalam pertempuran? Aku baru saja berkelahi? Dengan siapa?"

Liu Yang Kun tersentak kaget.

Otomatis matanya memandang kain pembalut yang melilit lengannya.

Bagaikan seorang pemain sandiwara ulung orang tua itu menunduk sedih.

Dipeluknya kepala Tiauw Li Ing yang bersandar di dadanya.

"Ya! Tak kusangka semuanya berlalu sedemikian cepatnya. Kau yang kemarin masih segar bugar dan tampak mesra dengan isterimu ini, ternyata kini telah berubah sama sekali akibat luka-luka itu. Ooooh...!"

Orang tua itu sengaja menggelitik hati Liu Yang Kun.

Benar saja Liu Yang Kun cepat melompat ke depan dan menyambar lengan Lo-sin-ong.

Cepat bukan main, sehingga Lo-sin-ong yang agak ragu-ragu itu tidak kuasa mengelak lagi.

Lengannya yang memegang tongkat itu telah dicengkeram oleh Liu Yang Kun.

"Kek, katakanlah cepat apa yang terjadi pada diriku? Lekaslah! Jangan kau siksa aku berlama-lama...!"

Pemuda itu memohon dengan sangat. Lo-sin-ong mendorong tubuh Tiauw Li Ing dan menyuruhnya duduk, lalu sambil mempersilahkan Liu Yang Kun pula ia duduk di samping muridnya itu.

"Yang Kun, namamu adalah Liu Yang Kun. Kau memang benar-benar suami dari muridku ini. Namanya...Tiauw Li Ing. Kalian adalah pengantin baru."

Lo-sin-ong memulai cerita palsunya.

"Liu Yang Kun...? Ehm, ya... rasa-rasanya aku juga sangat mengenal nama itu. Hmm... Jadi namaku Liu Yang Kun? Lalu... dia itu isteriku?'* Liu Yang Kun bergumam sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Matanya melirik Tiauw Li Ing yang menjadi merah padam mukanya. Kemudian pemuda itu mengetuk-ngetuk dahinya sendiri dengan jari-jarinya.

"Tiauw Li Ing... isteriku. Benar rasa-rasanya aku memang sudah beristeri. Cuma aku memang lupa nama itu."

"Dia memang isterimu. Dia adalah puteri Tung-hai-tiauw, tokoh besar dari lautan Timur sana."

Lo-sin-ong menerangkan lagi.

"Tung-hai-tiauw? Ah, aku sudah melupakannya pula. Hmm... lalu siapa orang tuaku? Dari mana aku berasal?"

Kini Lo-sin-ong lah yang ganti terdiam menerima pertanyaan pemuda itu.

Sekejap orang tua itu menjadi bimbang untuk menjawabnya.

Apakah ia harus berbohong atau mengatakan yang sesungguhnya?

Namun sekejap kemudian orang tua itu telah mengambil keputusan pula.

Dia harus mengatakan yang sebenarnya, sebab tidak mungkin membohongi orang tentang pemuda itu.

Liu Yang Kun telah terkenal di dunia persilatan.

Bahkan pemuda itu adalah putera Kaisar Han yang sedang dicari-cari oleh para punggawa kerajaan.

Setiap saat pemuda itu akan segera mengetahui siapa dirinya.

Sungguh sangat berbahaya bila ia membohonginya.

"Sebenarnya kau pun juga bukan pemuda sembarangan pula, Yang Kun. Kau adalah seorang Pangeran. Bahkan kau adalah putera Hongsiang sendiri.Tapi kau selalu mengembara di dunia kang-ouw, karena kau tak senang berada di istana yang gemerlapan itu. Dan selama ini Hongsiang selalu mencarimu dan memanggilmu agar kembali ke istana, tapi kau tak mau. Kau justru bersembunyi dan kawin dengan puteri Tung-hai-tiauw ini..."

Liu Yang Kun ternganga. Ia seperti tak percaya kepada cerita orang tua itu. Tapi apa daya? Ia benar-benar tak mengerti apa-apa, sehingga ia juga tidak bisa membantahnya.

"Lalu siapakah yang telah berkelahi dan melukai aku kemarin?"

Tanyanya kemudian.

Lo-sin-ong menghela napas, lalu bercerita dengan singkat pertempuran yang terjadi di tengah-tengah hutan semalam.

Bagaimana pemuda itu berkelahi dengan Giok-Bin Tok-ong dan Bok Siang Ki, tokoh nomer empat dan nomer dua di dunia persilatan.

Tapi tentu saja orang tua itu tidak bercerita tentang sebagian dari Buku Rahasia yang mereka perebutkan itu, karena buku itu kini berada di dalam saku bajunya.

"Giok-bin Tok-ong dan Bok Siang Ki?"

Lagi-lagi Liu Yang Kun merasa belum pernah mengenal nama-nama itu. Dan hal itu benar-benar sangat menyedihkannya.

"Sudahlah, kau tak perlu menjadi sedih karena keadaanmu ini. Yang penting kau selamat lebih dahulu. Suatu saat kau tentu akan sembuh kembali seperti semula. Sekarang marilah kita meneruskan perjalanan kita...!"

Lo-sin-ong pura-pura membujuk dan membesarkan hati Liu Yang Kun.

"Ah... kemana kita akan pergi? Aku sama sekali tak mempunyai tujuan...,"

Liu Yang Kun menjawab hambar.

"Tentu saja kita pulang ke rumah, koko. Kau harus banyak beristirahat agar ingatanmu menjadi segar kembali."

Tiba-tiba Tiauw Li Ing menyela dan menyentuh lengan pemuda itu dengan jari-jarinya.

Liu Yang Kun menoleh dengan cepat.

Ditatapnya wajah Tiauw Li Ing yang cantik itu dengan pandangan asing.

Tapi ia buru-buru menundukkan mukanya lagi ketika menyaksikan pancaran sinar kasih di mata gadis itu.

"Be-benarkah kau isteriku?"

Katanya kemudian seperti tak percaya. Untuk sesaat pipi Tiauw Li Ing menjadi merah. Namun di lain saat gadis itu telah menemukan keberaniannya kembali.

"Ah, koko. Mengapa kau masih belum percaya juga? Kita memang belum resmi dimeriahkan dengan pesta oleh ayahku. Tapi percayalah, Kita memang benar-benar... suami-isteri!"

"Baik... baiklah kalau begitu."

Liu Yang Kun menyahut dengan gugup. Apalagi ketika Tiauw Li Ing merangkul pinggangnya dan menyandarkan kepalanya di pundaknya.

"Sudahlah. Marilah sekarang kita berangkat!"

Lo-sin-ong memotong pula, kemudian mendahului me langkah pergi meninggalkan tempat itu.

Tiauw Li Ing segera mengajak Liu Yang Kun untuk mengikuti orang-tua itu.

Ketika mereka mendaki lereng bukit itu kembali, Lo-sin-ong berkata kepada Liu Yang Kun.

"Yang Kun! Sementara ingatanmu belum pulih kembali, kau lebih baik menurut saja apa perintah isterimu. Biarlah dia yang mengatur dan memberitahukan kepadamu, apa yang seharusnya kau lakukan nanti."

Liu Yang Kun memandang orang tua itu sekejap, kemudian menoleh pula ke arah Tiauw Li Ing.

"Baiklah, aku menurut..."

Jawabnya pelan seperti kepada dirinya sendiri. Lalu ketika pada suatu saat Tiauw Li Ing mendekati gurunya, Lo-sin-ong juga berpesan pula, meskipun dengan perlahan sekali.

"Dan kau juga harus ingat pula akan janjimu. Kau harus mengubah sikap dan kelakuanmu selama ini."

Gadis itu mengerling dan memainkan bibirnya.

"Tentu saja, suhu. Akupun tak ingin kehilangan dia pula,"

Desahnya manja. Demikianlah, mereka bertiga sampai pula ke tempat berhenti mereka semalam.Sementara itu di ufuk timur mulai membersit sinar pagi yang kemerah-merahan.

"Suhu, lihat! Sebentar lagi fajar akan menyingsing..."

Walaupun tidak bisa melihat, namun Lo-sin-ong bisa merasakan nada gembira yang terpancar dalam suara muridnya itu. Diam-diam hatinya juga ikut berbahagia pula.

"Aaoh... moga-moga kebahagiaannya ini benar-benar bisa mengusir kekelaman jiwanya dan menuntunnya ke dalam kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian dosa yang telah kuperbuat ini rasanya menjadi ringan dan tidak sia-sia,"

Ia bersyukur di dalam hati.

Dan ketika matahari benar-benar tersembul di ufuk timur, maka tirai kegelapanpun rasanya seperti terkuak dari muka bumi.

Meskipun masih remang remang, tapi semuanya sudah dapat ditembus dengan penglihatan mereka.

"Mengapa kau diam saja sejak tadi? Lihatlah, pemandangan alam demikian indah dan mempesonakan! Kau pernah menyaksikan panorama seperti ini?"

Tiba-tiba Tiauw Li Ing berkata kepada Liu Yang Kun.

Jari tangannya menunjuk ke lembah di sebelah kiri mereka.

Lembah dlmana sungai kecil tadi mengalir.

Liu Yang Kun mengikuti arah jari telunjuk itu.

Dan matanya segera memancarkan sinar kekaguman pula.

Lembah itu tampak hijau segar, sehingga aliran air jernih yang membelah di tengah-tengahnya itu bagaikan tinta perak yang mengalir gemerlapan di pagi hari.

Bahkan kabut tipis yang kemudian turun dari bukit-bukit di sekitarnyapun semakin menambah keelokan dan keindahannya.

Bagai tirai kain yang sangat tipis, kabut itu membuat tempat-tempat yang dilaluinya menjadi samar-samar.

"Bagaimana...? Pernahkah?"

Tiauw Li Ing mendesak lagi. Liu Yang Kun menatap wajah Tiauw Li Ing, kemudian menggelengkan kepalanya.

"Entahlah, aku sudah tak ingat lagi. Tapi panorama seperti ini rasanya juga tidak asing bagiku. Aku seperti sering melihatnya. Bahkan rasanya aku pernah tinggal pula di tempat seperti ini..."

Tiauw Li Ing meraih lengan Liu Yang Kun. Matanya melirik, sementara bibirnya menyunggingkan senyum manis sekali.

"Ah, mana mungkin? Kau adalah seorang Pangeran. Mana mungkin kau tinggal di tempat sunyi seperti ini?"

Liu Yang Kun tersenyum pula. Entah mengapa hatinya tidak enak untuk terus menerus bercuriga terhadap gadis cantik itu.

"Aku seorang Pangeran? Hmm... aku berani bertaruh kalian keliru dalam hal ini. Aku sama sekali tidak merasa sebagai Pangeran selama ini. Aku memang telah kehilangan seluruh ingatanku, tapi aku tidak kehilangan perasaan dan naluriku. Ketika gurumu itu mengatakan bahwa kau adalah isteriku, naluriku memang merasakan bahwa aku memang sudah beristeri. Ketika orang tua itu juga mengatakan bahwa aku berkelahi dengan tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan, hati dan perasaanku juga tidak membantahnya, karena naluriku juga mengatakan pula bahwa aku memang seorang Jago persilatan berkepandaian tinggi... Eh, maaf, aku tidak bermaksud menyombongkan diri... Tapi kalau kalian katakan bahwa aku seorang Pangeran, hmm... kalian keliru! Sekali lagi kukatakan bahwa aku bukan seorang Pangeran. Sama sekali aku tidak merasakannya. Aku bahkan sangat setuju kalau kau katakan bahwa aku ini seorang dusun atau seorang pengembara, karena naluriku mengatakan bahwa aku sangat akrab dengan lembah dan gunung yang indah seperti ini. Bahkan aku merasa pernah tinggal lama sekali di tempat seperti ini."

Tiba-tiba Tiauw Li Ing tertawa lepas.

Begitu wajar dan segar suaranya.

Dan begitu cantik pula wajahnya, sehingga tak terasa mata Liu Yang Kun seperti terpaku dan terpesona melihatnya.

Dan diam-diam hati pemuda itu merasa tergetar.

Tak terasa Liu Yang Kun meraih jari-jari Tiauw Li Ing.

"Kau... kau sungguh cantik sekali! Be-benarkah kau ini... isteriku?"

Bisiknya gemetar pula.

Tawa itu tiba-tiba terhenti dengan mendadak.

Wajah yang segar dan renyah itu tiba-tiba juga berubah menjadi merah.

Bahkan wajah yang cantik itu kemudian tertunduk pula dalam-dalam.

Sama sekali tidak berani menatap Liu Yang Kun.

Barulah gadis itu menjadi kaget setengah mati ketika tiba-tiba tubuhnya dipeluk.

Bahkan semangatnya seperti melayang pula dengan mendadak ketika tiba-tiba bibirnya juga dicium oleh Liu Yang Kun.

Selanjutnya gadis itu sudah tidak ingat lagi.

Tahu-tahu ia sudah terlena dalam pelukan pemuda yang dicintainya itu.

"Hem... hem...! Kalian kenapa! Ada sesuatu di sekitar kita? Mengapa tiba-tiba kalian terdiam?"

Mendadak Lo-sin ong yang berada jauh di depan mereka itu membalikkan badan dan berseru kepada mereka.

Tergesa-gesa Tiauw Li Ing melepaskan diri dari pelukan Liu Yang Kun.

Mukanya yang cantik itu merah padam bagai udang direbus.

"Ti-tidak a-apa-apa, suhu..., tidak apa-apa!"

Jawabnya gugup seraya membenahi bajunya yang kedodoran.

Yang tidak kalah kagetnya adalah Liu Yang Kun.

Pemuda itu seperti terbangun dari mimpinya.

Wajah dan matanya tampak memerah seperti singa sedang marah, sementara napasnya seperti kuda yang baru saja berjalan jauh.

"Gila!"

Pemuda itu menggeram perlahan sambil mengibas-ngibaskan kepalanya, ke kanan dan ke kiri.

"Kalau begitu marilah kita meneruskan perjalanan kita! Kita capai dulu desa atau kota yang terdekat, baru kemudian kita istirahat sepuasnya nanti."

Lo-sin-ong berkata lagi seolah-olah menyindir mereka. Wajah Tiauw Li Ing semakin merah padam. Begitu pula halnya dengan Liu Yang Kun.

"Huh... kau! Nekad saja!"

Gadis itu menggerutu sambil memukul dada kekasihnya.

"Apakah dia tahu? Bukankah matanya tidak dapat melihat?"

Liu Yang Kun membantah. Tiauw Li Ing melirik. Mulutnya yang runcing itu kemudian mencibir.

"Huh, enak saja! Meskipun buta suhu memiliki perasaan yang peka dan tajam luar biasa! Tahu?"

"Ya, tapi dia juga sudah bilang sendiri bahwa kau adalah isteriku.Apa salahnya kalau aku memeluk dan mmmmmnim...?"

Liu Yang Kun mau membantah lagi, tapi keburu ditutup mulutnya oleh Tiauw Li Ing.

"Li Ing, ayolah...! Ajak suamimu!"

Lo-sin-ong berseru lagi.

"Baik. suhu... Sssst... ayolah, jangan membantah lagi!"

Tapi baru beberapa langkah mereka berjalan, Tiauw Li Ing telah berteriak pula.

"Suhu... Lihat! Aku menemukan bekas tangkai obor di sini! Bahkan tidak cuma satu. tapi... lima buah ah!"

"Benarkah...? Coba kau selidiki, obor itu baru saja dipakai ataukah sudah lama dibuang? Dan apakah ada tanda tanda yang bisa kita pakai untuk mengenali pemiliknya?"

Tiauw Li Ing membungkuk dan mengambil tangkai-tangkai obor-obor itu. Dua diantaranya ia berikan kepada Liu Yang Kun.

"Tolong kau lihat pula...!"

Pintanya.

Liu Yang Kun menerima tangkai obor itu, kemudian mencoba untuk menelitinya.

Tangkai obor itu masih hangat, suatu tanda bahwa obor itu memang baru saja dipergunakan.

Namun selain itu tiada lagi yang istimewa, karena tangkai obor tersebut juga hanya terbuat dari bambu hijau biasa.

Bahkan obor itu agaknya juga dibuat secara darurat dan sembarangan saja.

Buktinya garapannya tampak sangat kasar dan satu sama lain tidak sama panjangnya.

"Ini hanya obor biasa. Tidak ada istimewanya. Memang ada apa? Mengapa tiba-tiba kau tertarik pada benda ini?"

Liu Yang Kun bertanya. Tiauw Li Ing tersenyum, kemudian bercerita tentang sinar lampu yang mereka lihat tadi malam.

"Kami mengira kalau sinar lampu itu datang dari perkampungan penduduk, tapi ternyata bukan. Namun demikian hal ini juga berarti bahwa kita telah dekat dengan tempat tinggal atau perkampungan penduduk. Benar-benar suatu hal yang amat melegakan setelah berjalan semalam suntuk di hutan saja."

"Bagaimana, Li Ing?"

Lo-sin-ong mendesak.

"Hanya tangkai obor biasa, suhu. Tidak ada keistimewaannya."

"Hmmh, masa...? Coba kau lihat di sekitar tempat ini! Adakah bekas-bekas jejak manusia di sana?"

Tiauw Li Ing merengut. Matanya yang bulat bening itu menatap ke sekelilingnya.

"Kenapa suhu menanyakan yang lain? Bukankah suhu tadi... eh, benar suhu! Di sini ada bekas-bekas tapak kaki orang! Tumpukan daun cemara kering ini sampai melesak ke dalam tanah diinjak orang!"

Tiba-tiba gadis itu berseru nyaring. Liu Yang Kun mendekati isterinya. Dia ikut mengawasi bekas-bekas telapak kaki itu.

"Benar. Ini memang bekas kaki orang. Tampaknya tempat ini memang telah dekat dengan tempat tinggal manusia."

"Bagus! Kalau begitu marilah kita ikuti jejak itu! Li Ing, ayoh... kau duluan,"

Lo-sin-ong berseru gembira.

Mereka lalu bergegas mengikuti bekas-bekas telapak kaki itu.

Dan sungguh beruntung bagi mereka, karena jejak-jejak kaki itu tampaknya memang masih sangat baru, sehingga amat jelas dan mudah dilihat oleh mata mereka.

Kalaupun ada yang kurang jelas, mereka segera mencari tanda-tanda lain di sekitarnya.

Beberapa kali mereka melingkari lereng lereng bukit yang banyak terdapat di daerah itu.

Untung pula bagi mereka, tanah yang mereka lewati sedikit berair dan agak becek, sehingga mereka tak pernah kehilangan jejak-jejak tersebut.

"Suhu! Kita telah sampai di jalan besar...!"

Akhirnya Tiauw Li Ing bersorak gembira.

"Betul...? Apa kau melihat rumah penduduk juga?"

Lo-sin-ong menyahut gembira pula.

"Belum! Tapi aku melihat debu mengepul di ujung jalan besar itu. Hmm, tampaknya ada pasukan berkuda yang hendak lewat."

"Pasukan berkuda? Mengapa ada pasukan berkuda lewat pagi hari begini?"

Lo-sin-ong terhenyak kaget. Dahinya yang berlipat-lipat itu semakin berkeriput pula.

"Siapa tahu ada gerombolan perampok atau ada pemberontakan di daerah ini?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun ikut berbicara. Tiauw Li Ing tersenyum.

"Mungkin kau benar, koko. Tapi... sudahlah! Kita tak perlu main tebak-tebakan. Sekarang marilah kita mendekat saja ke jalan itu! Kita lihat... apa sebenarnya yang menyebabkan debu mengepul itu?"

Mereka lalu menuruni lereng bukit itu, kemudian naik lagi ke bukit di depan mereka.

Karena ingin lekas sampai di jalan itu, maka masing-masing tanpa terasa lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuh mereka.

Tiauw Li Ing berada di depan, sementara gurunya yang buta itu mengikutinya dari belakang.

Keduanya berloncatan dengan amat lincah dan ringan luar biasa.

Ujung sepatu mereka seakan-akan tidak pernah menyentuh tanah.

Bahkan kadang-kadang mereka melenting tinggi ke atas, kemudian berjumpalitan melompati semak-semak belukar yang banyak terdapat di lereng itu.

Tampaknya gadis itu sengaja memamerkan kepandaiannya kepada 'suaminya'.

Dan Tiauw Li Ing benar-benar amat puas ketika menginjakkan kakinya di pinggir jalan itu.

Wajahnya atau pipinya tampak memerah, tanda bahwa ia sungguh-sungguh telah mengerahkan tenaganya beberapa saat tadi.

Ketika melirik ke arah gurunya, gadis itu sempat menyaksikan bagaimana gurunya yang amat sakti itu menarik napas panjang.

Suatu tanda juga bahwa gurunya tersebut diam-diam juga telah mengerahkan sedikit tenaganya pula.

Tapi ketika ia menoleh ke belakang, dimana Liu Yang Kun berada, tiba-tiba matanya terbelalak!

Ternyata sikap dan keadaan suaminya itu sama sekali tidak mengalami perubahan.

Air mukanya tetap biasa.

Bahkan pernapasannyapun juga masih tetap teratur pula seperti semula.

Sedikitpun tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda itu baru saja berlari menuruni lereng bukit tersebut.

"Ada apa...? Mengapa matamu terbelalak memandangku? Ada yang salah?"

Liu Yang Kun bertanya kepada Tiauw Li Ing.

"Oh, tidak... tidak!"

Tiauw Li Ing berdesah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekagetan dan kekagumannya.

"Lalu... kenapa kau memandangku seperti itu?"

Liu Yang Kun mendesak. Masih dengan menatap kagum kepada 'suaminya"

Itu Tiauw Li Ing tersenyum. Senyum bangga dan bahagia.

"Koko, ilmu meringankan tubuhmu sungguh luar biasa sekali. Aku sungguh kagum sekali, siapakah sebenarnya gurumu itu? Apa nama ilmu itu?"

Gadis itu bertanya.

Air mukanya tampak berbinar-binar dan bersemangat sekali.

Tiba-tiba wajah Liu Yang Kun tampak keruh dan lesu.

Matanya menerawang jauh tinggi ke angkasa.

Lalu perlahan-lahan kepalanya menggeleng.

"Entahlah, aku sudah lupa pula. Aku tak ingat lagi siapa guruku. Dan... aku juga tak ingat lagi nama ilmu itu. Bahkan aku juga sudah tak ingat lagi bagian-bagiannya. Aku hanya bergerak menurut naluriku saja,"

Jawabnya sedih. Lo-sin-ong mendekati Tiauw Li Ing dan kemudian menyikut lengan muridnya itu.

"Hmmh... Jangan kau usik dia dengan masa lalunya! Semua itu hanya akan membuatnya sedih. Sebab dia sudah takkan bisa mengingatnya lagi. Kalau ia sekarang masih bisa bersilat, itu hanya karena nalurinya saja. Seperti halnya kalau kita berjalan, berbicara atau bernapas. Kalau kau suruh dia mengingat-ingat, hmm... semuanya justru akan menjadi kalut dan kacau malah!"

Orang tua itu berbisik perlahan di telinga Tiauw Li Ing.

"Oooh...!"

"Nah, sudahlah...kalian jangan berisik lagi! Aku sudah mendengar suara gemuruh di balik hutan itu. Marilah kita bersembunyi...!"

Lo-sin-ong kemudian menambahkan dengan suara keras.

Mereka bertiga lalu bergegas menyembunyikan diri.

Mereka berlindung di balik batu-batu karang besar yang banyak terdapat di kanan kiri jalan itu.

Dan mereka tidak usah menunggu lama, karena sebentar kemudian suara gemuruh dan debu yang mengepul tinggi itu telah muncul di balik tikungan jalan.

Suara sepatu kuda segera menghentak-hentak ke telinga mereka.

Dan sesaat kemudian mereka telah melihat serombongan pasukan berkuda yang terdiri dari lima puluhan perajurit lewat di depan mereka.

Sebuah bendera besar berwarna hijau gemerlapan tampak berkibar di depan pasukan itu.

Tiga buah pedati besar yang masing masing ditarik oleh enam ekor kuda beban tampak meluncur pula di belakang pasukan itu.

Dan kemudian agak jauh dari barisan pedati tersebut masih berbaris pula sekelompok pasukan bertombak dan berpedang berjalan kaki.

Kedua buah pasukan ini berjumlah kira-kira se ratusan orang perajurit.

Semuanya masih tampak segar dan bergembira-ria, mungkin mereka semua itu baru saja meninggalkan barak mereka.

Diam-diam dengan wajah tegang Tiauw Li Ing me lirik ke arah 'suaminya'.Tapi ketika ia tidak melihat perubahan di wajah suaminya itu, hatinya menjadi lega.

Apalagi ketika 'suaminya' itu tersenyum kepadanya.

"Nah, apa kataku? Sepasukan prajurit berkuda, bukan?"

Pemuda itu berkata. Tiauw Li Ing mengerling.

"Kau tidak mengenal mereka?"

Tanyanya menguji. Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.

"Mengenal mereka? Apa maksudmu?"

"Aku mengenal mereka,"

Gadis itu menjawab.

"Mereka adalah prajurit-prajurit kerajaan. Kau lihat bendera itu? Dan kau lihat pula panglima yang berkuda di deretan paling depan tadi?"

"Kau maksudkan orang yang berpakaian gemerlapan dan selalu dikawal oleh seorang lelaki yang berseragam tadi?"

Liu Yang Kun menegaskan.

"Ya! Dia itu adalah Panglima Besar Kerajaan. Namanya Yap Khim, tapi orang biasa menyebutnya Yap Tai-Ciangkun. Sedangkan pengawalnya itu bernama Yap Kiong Lee, kakak kandung panglima itu sendiri. Orang kang-ouw biasa menyebutnya Hong-Lui-Kun (si Tinju Petir Dan Badai). Mereka berdua adalah orang-orang kepercayaan Hongsiang. Kepandaian mereka sangat tinggi, terutama Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee itu. Dialah jago silat nomer satu di istana. Eh... masakan kau telah melupakan mereka?"

Tiauw Li Ing masih tetap mencoba juga daya ingatan Liu Yang Kun. Ternyata Liu Yang Kun menjadi tidak senang oleh pertanyaan itu.

"Huh... jadi kau masih menganggap aku ini seorang Pangeran?"

Pemuda itu berkata kesal. Tiauw Li Ing cepat menyambar lengan 'suaminya"

Itu.

"Eeee... jangan lekas menjadi marah! Aku bertanya baik-baik, dan guruku itu memang tidak berbohong ketika mengatakan bahwa kau adalah putera Kaisar Han. Kalau kau memang tidak menyukai pertanyaanku tadi, baiklah... aku takkan mengulanginya lagi. Aku tadi hanya berpikir, kalau-kalau kau ingin menemui mereka, karena mereka itu memang prajurit-prajurit ayahandamu..."

Katanya cepat pula untuk membujuk dan meredakan kemarahan kekasihnya itu. Liu Yang Kun menatap wajah 'isterinya', kemudian menghela napas panjang.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak pernah merasa menjadi seorang Pangeran. Oleh karena itu aku juga tak ingin menemui mereka atau menemui siapa saja yang berbau istana. Bahkan sekarang aku menjadi takut malah. Jangan-jangan cerita kalian itu memang benar, sehingga aku harus... harus kembali ke istana. Hmh... aku benci kehidupan yang berbau gemerlapan dan banyak aturan. Semua itu tidak cocok dengan jiwaku. Aku lebih suka hidup bebas merdeka di alam terbuka, tanpa terikat oleh segala macam aturan dan adat-istiadat."

Pemuda itu berkata dengan berapi-api.

Dan Tiauw Li Ing menyambutnya dengan rasa gembira dan lega.

Karena memang ucapan seperti itu pulalah yang ingin ia dengar dari mulut 'suaminya' itu.

Rasa cintanya yang amat besar membuat gadis cantik itu takut kehilangan Liu Yang Kun.

Maka betapa bahagia hatinya tatkala mendengar kata-kata tersebut.

"Nah... mereka telah lewat. Bagaimana sekarang menurut pendapatmu, Li Ing? Kemanakah kita harus pergi? Mengikuti pasukan itu ataukah mencari jalan yang lain...?"

Tiba-tiba Lo-sin ong menengahi percakapan mereka.

Tiauw Li Ing tersentak kaget.

Untuk sekejap wajahnya menjadi merah.

Tapi sekejap kemudian ia menoleh ke arah 'suaminya'.

Matanya yang bening seolah-olah memancarkan sinar pertanyaan atau meminta pertimbangan kepada Liu Yang Kun.

Tapi Liu Yang Kun diam saja.

Bahkan pemuda itu balas memandangnya dengan tajam, sehingga Tiauw Li Ing terpaksa mengalihkan pandangannya kembali kepada gurunya.

"Bagaimanakah menurut pendapat suhu sendiri? Jalan mana yang sebaiknya harus kita pilih?"

La lalu balas bertanya kepada gurunya. Lo-sin-ong menengadahkan kepalanya sebentar. Setelah menarik napas berulang-kali orang tua itu lalu berkata.

"Pasukan itu tampaknya baru saja berangkat meninggalkan perkemahan tempat mereka melepaskan lelah malam tadi. Hal itu berarti tempat ini jauh dari kota maupun perkampungan penduduk. Oleh karena itu menurut pendapatku kita sebaiknya mengikuti saja pasukan itu dari jauh. Dengan begitu paling tidak kita telah mendapatkan teman seperjalanan. Siapa tahu kita kelaparan atau bertemu dengan perampok di jalan nanti?"

"Ah, suhu...? Masakan kita takut kelaparan dan takut kepada segala macam perampok?"

Tiauw Li Ing cemberut.

"Aha, aku cuma bergurau saja. Bagaimana pendapatmu?"

"Terserah suhu saja..."

Lo-sin-ong mengangguk-angguk.

"Kalau begitu ajaklah suamimu berangkat! Kita ikuti pasukan berkuda itu!"

Tiauw Li Ing menatap Liu Yang Kun.

"Bagaimana pendapatmu, koko? Apakah kau setuju kalau kita berjalan di belakang pasukan berkuda itu?"

Liu Yang Kun mengangkat pundaknya.

"Terserah kepadamu. Asal saja kita tidak sampai ketahuan oleh mereka."

Tiauw Li Ing mengangguk dan tersenyum manis sekali.

Dengan mesra tangannya lalu merangkul dan menggandeng lengan pemuda itu.

Kemudian perlahan-lahan mereka melangkah di belakang Lo-sin-ong.

Belum juga ada lima lie mereka berjalan, di depan mereka telah tampak membentang sebuah tembok kota yang dibangun di kaki bukit.

Bahkan rumah-rumah pendudukpun sudah banyak pula yang dibangun di sekitar tembok kota tersebut.

Sementara sawah dan ladang juga telah mulai bertebaran pula dikerjakan orang di sekitar jalan yang mereka lalui.

Ketika rombongan pasukan berkuda yang ada di depan mereka itu berhenti dan membuat kemah di luar tembok kota tersebut, Lo-sin-ong juga berhenti puIa.

Orang tua itu memanggil Tiauw Li Ing.

"Li Ing, kudengar suara derap di depan itu telah berhenti. Apakah yang telah terjadi pada mereka?"

"Suhu, kita telah sampai di sebuah kota. Pasukan itu berhenti di luar tembok dan membuat kemah di sana. Apa yang harus kita lakukan?"

"Oh... begitu cepatnya kita sampai di sebuah kota? Kota mana itu?"

"Entahlah, suhu. Tembok kota itu masih jauh dari s ini. Aku belum bisa membaca huruf yang tertulis di atas Pintu Gerbangnya."

Lo-sin-ong berdiam diri sebentar. Lalu katanya lagi.

"Baiklah. Marilah kita sekarang mencari jalan lain dengan menjauhi perkemahan para prajurit itu. Lalu secara diam-diam kita menyelinap memasuki pintu gerbang kota."

Demikianlah, dengan jalan melingkar mereka memasuki pintu gerbang kota itu. Mereka lewat di ladang-ladang dan perkampungan penduduk sehingga mereka tidak bertemu dengan para prajurit itu.

"Kota Cia-souw...! Ah, ternyata kita berada di kota Cia-souw di semenanjung Syan-tung, suhu!"

Tiauw Li Ing bergumam sedikit keras ketika membaca huruf yang tertera di atas pintu gerbang yang mereka lalui itu.

"Kota Cia-souw? Ah, kalau begitu kita berada agak jauh di sebelah timur kota Cin-an."

Lo-sin-ong menyahut dengan kening berkerut. Sama sekali tak disangkanya kalau mereka sampai melenceng sedemikian jauhnya dari kota An-lei.

"Benar, suhu. Ternyata malam tadi kita telah menempuh perjalanan yang jauh sekali. Tapi sungguh kebetulan malah, karena ayahku justru banyak mempunyai kaki tangan di daerah ini. Nanti kita bisa menghubungi mereka."

"Cin-an... Cin-an... Cin-an...?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun turut bergumam pula ketika Lo-sin-ong menyebut-nyebut kota Cin-an. Dahinya berkerut seakan-akan sedang mengerahkan semua ingatannya.

"Koko, ada apa...?"

Tiauw Li Ing berdesah khawatir.

"Kau teringat sesuatu?"

"Tidak... tidak. Aku tidak teringat apa-apa. Cuma kota itu rasa-rasanya sudah kukenal. Malahan kota itu seperti... seperti penting bagiku. Hmmm... jangan-jangan aku memang berasal dari kota itu. Ah...! Li Ing, aku harus ke sana! Aku ingin ke kota itu! Siapa tahu ingatanku akan kembali lagi setelah melihat kota Cin-an?"

Liu Yang Kun menatap mata Tiauw Li Ing.

Wajahnya tegang, seolah-olah keinginannya untuk pergi ke kota Cin-an itu sudah tak bisa diganggu-gugat lagi.

Bahkan seandainya dicegah oleh Tiauw Li Ing sekalipun.Tentu saja Tiauw Li Ing menjadi khawatir dan bingung.

Kota itu adalah kota yang sangat besar.

Kota yang dihuni oleh banyak perwira dan prajurit kerajaan.

Bahkan di kota itu juga banyak tinggal tokoh-tokoh persilatan yang terkenal.

Malah diantara mereka itu adalah Hek-pian-hok Ui Bun Ting, Ketua Tiam-jong-pai yang dua atau tiga hari lagi akan melangsungkan perkawinannya.

Tentu akan banyak lagi tokoh-tokoh persilatan yang akan berkunjung ke kota itu.

Lalu bagaimana kalau nanti pemuda itu dikenal orang dan dibawa pergi oleh prajurit-prajurit istana?

"Koko, bukankah kau tidak ingin bertemu dengan...

dengan punggawa punggawa ayahmu?

Di kota itu banyak berkeliaran perwira dan prajurit kerajaan.

Bagaimana kalau kau dikenali mereka nanti?"

"Tapi... tapi aku harus ke sana. Kita... kita bisa menyamar atau pergi secara diam-diam. Tetapi kalau kau takut, biarlah aku pergi ke sana sendirian."

Liu Yang Kun tetap bersikeras untuk melaksanakan keinginannya.

Hampir saja Tiauw Li Ing tak bisa menguasai dirinya.

Kalau saja saat itu mereka tidak sedang berjalan di jalan umum yang penuh orang, mungkin Tiauw Li Ing sudah menangis dan merengek-rengek kepada Liu Yang Kun agar supaya pemuda itu mau membatalkan niatnya.

"Suhu, bagaimana ini? Dia ingin pergi ke kota Cin-an yang banyak prajuritnya itu. Bagaimana nanti kalau ada yang mengenalinya? Ooooh...!"

Gadis itu mengeluh ketakutan.

"Ah, kalian ini seperti anak kecil saja. Berdebat dan bertengkar di muka umum. Ayoh, kita cari dulu tempat untuk beristirahat, baru kemudian kita rundingkan semua persoalan kalian itu!"

Lo-sin-ong membentak perlahan. (Lanjut ke

Jilid 27) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 27 Liu Yang Kun menghela napas sambil memandang ke sekelilingnya.

Ia sedikit tersipu ketika menyadari dirinya telah menjadi perhatian beberapa orang yang lewat.

Oleh karena itu ia tidak membantah ketika tangan Tiauw Li Ing menggandengnya dan cepat-cepat mengajak pergi mencari rumah penginapan.

Hampir saja Tiauw Li Ing meminta kamar sendiri ketika berada di rumah penginapan.

Untunglah gurunya cepat-cepat menyikut lengannya, sehingga ia menjadi ingat kembali akan sandiwara yang telah mereka lakukan.

Namun demikian pipinya menjadi merah juga, sebab bagaimanapun juga ia belum pernah tidur sekamar dengan seorang lelaki.

Bahkan setelah berada di dalam kamar, tiba-tiba saja keringat dinginnya membanjir tanpa terasa.

Dan gadis itu semakin menjadi kikuk dan ngeri menyaksikan mata 'suaminya' itu selalu tertuju kepadanya.

Bahkan semakin lama gadis itu merasa seperti seekor tikus yang berada di dalam cengkeraman seekor kucing liar.

Sehingga niatnya untuk mandi dan berganti pakaian pun menjadi urung pula.

"Koko, kau jangan... jangan memandangku terus-menerus begitu! Aku takut,"

Akhirnya Tiauw Li Ing berkata gemetar.

"Ahhh...!"

Liu Yang Kun tunduk malu. Tiba-tiba hatinya ikut bergetar juga. Gadis yang mengaku sebagai isterinya itu benar-benar cantik bukan main. Entah mengapa tiba-tiba ia ingin memeluknya.

"Tapi... tapi... bukankah kau ini isteriku? Me-mengapa aku tak boleh memandangmu?"

Pemuda itu mencoba membantah.

"Ya... ya! Tapi aku menjadi ngeri melihatmu! Kau... kau keluarlah sebentar! Aku ingin mandi dan berganti pakaian..."

"Hei... mengapa begitu? Masakan suami-isteri masih pakai malu-malu segala?"

Tiba-tiba timbul kembali keberanian Liu Yang Kun.

Bukannya keluar, tapi sebaliknya dia malah menyambar tubuh Tiauw Li Ing dan menciumnya.

Gadis itu segera meronta-ronta dan mendorong tubuh Liu Yang Kun ke belakang.

"Ini... ini... aauph! Lepaskan! Lepaskan...!"

Jeritnya ketakutan sehingga Liu Yang Kun terpaksa melepaskannya.

"Ssssst! Jangan berisik! Memalukan...!"

Liu Yang Kun berbisik kesal seraya menoleh ke arah pintu. Takut kalau ada penghuni kamar lain yang mendengar jeritan gadis itu.

"Habis... kau gila sih! Nekad saja!"

Tiauw Li Ing merengut. Kemudian dengusnya lagi.

"Nah, sekarang kau mau keluar atau tidak? Kalau tidak mau, aku akan menjerit lagi."

Liu Yang Kun yang telah mulai panas itu terpaksa mengalah.

"Baiklah! Baiklah... aku akan keluar,"

Katanya mendongkol, lalu me langkah ke pintu dan keluar dari kamar itu.

Di luar kamar pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, kalau-kalau ada tamu lain yang mendengar jeritan 'isterinya' tadi.

Tapi ternyata tak seorang pun yang mendengarnya.

Semua tamu sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Hanya seorang pelayan saja yang tampaknya bercuriga kepadanya.

Tapi pemuda itu tak peduli.

Dia melangkah ke pendapa, yang dipergunakan juga sebagai restoran atau tempat makan.

"Silakan duduk, Siauwya. Siauwya ingin memesan makanan apa?"

Seorang pelayan cepat mempersilakan dia duduk dan menanyakan makanan yang ia kehendaki.

Liu Yang Kun merogoh sakunya dulu, untuk melihat apakah dia membawa uang atau tidak.

Ketika jari-jarinya menyentuh kantung kecil penuh uang di dalam sakunya, hatinya menjadi lega.

Ia lalu memesan makanan dan minuman yang ia inginkan.

Sekaligus untuk tiga orang.

Dia sendiri, isterinya dan guru isterinya itu.

"Heran. Di sakuku tersimpan uang yang amat banyak. Tampaknya aku memang seorang yang kaya raya. Hmm... jangan-jangan aku ini memang seorang Pangeran,"

Gumamnya sendirian ketika pelayan itu sudah pergi meninggalkannya.

Kemudian sambil menantikan kedatangan Tiauw Li Ing dan Lo-sin-ong, Liu Yang Kun melamun dan merenungkan nasibnya sendiri.

Ia benar-benar merasa sedih dan tak habis mengerti, bagaimana dia sampai bisa menderita sakit "lupa pada masa lalunya' itu.

Padahal ia merasakan tubuhnya dalam keadaan sehat dan kuat.

Otak dan pikirannyapun juga masih terasa terang dan bersih.

Dan sama sekali ia juga tidak merasa kehilangan akal pula.

Bahkan sampai sekarangpun ia juga masih merasa dapat berpikir dengan baik.

Ia tidak gila atau hilang ingatan.

Ia cuma lupa pada masa lalunya.

Itu saja.

Begitu berat tampaknya sakit yang dideritanya itu sehingga ia sampai lupa akan asalnya, keluarganya dan namanya sendiri.

Bahkan iapun sampai lupa pada isterinya pula.

Padahal semuanya itu menurut Lo-sin-ong hanya karena luka-luka yang dideritanya ketika melawan Bok Siang Ki dan Giok-bin Tok-ong, yaitu dua orang tokoh sakti dari dunia persilatan.

"Aku harus mengembalikan semua ingatanku yang hilang. Akan kucari seorang tabib yang pandai, atau akan aku kunjungi tempat-tempat yang sekiranya telah kukenal. Siapa tahu dengan begitu ingatanku bisa kembali normal seperti sediakala?"

Pemuda itu menutup lamunannya.

"Krengkeittt! Brug! Brug!"

Tiba-tiba pemuda itu dikagetkan oleh suara kursi ditarik dan orang duduk dengan kasar di pojok ruangan itu.

Dan ketika pemuda itu melirik ia melihat enam orang lelaki bersenjata duduk di sana.

Mereka tampak lelah dan lesu.

Bahkan empat orang di antaranya seperti sedang menderita sakit.

Sebagai seorang yang memiliki kepandaian silat tinggi Liu Yang Kun segera mengetahui kalau orang-orang itu telah menderita luka dalam.

Bahkan seorang di antaranya benar-benar menderita luka dalam yang amat berat.

Hanya karena semangat dan kekuatannya saja orang itu bisa bertahan.

Belum juga mereka itu sempat membereskan tempat duduk mereka, mendadak dari luar pendapa masuk lagi beberapa lelaki.

Begitu masuk orang-orang itu segera menghampiri enam orang yang datang lebih dahulu itu.

"Bagaimanakah perjalananmu, Ouw Twako? Dapatkah kalian menangkap kuntilanak pemakan bayi itu?"

Salah seorang dari orang-orang yang datang belakangan itu bertanya kepada orang yang datang lebih dulu tadi.

Laki-laki yang menderita luka dalam paling berat itu menengadahkan kepalanya.

Dipandangnya orang yang bertanya kepadanya itu beberapa saat lamanya, baru kemudian kepalanya mengangguk.

"Silakan duduk dulu, Ci Sute! nanti akan kuceritakan semuanya..."

Orang itu menjawab dengan suara agak tersengal-sengal.

Orang-orang itu lalu menarik sebuah meja lagi, kemudian mereka duduk menjadi satu.

Orang-orang yang datang belakangan itu tampak kaget dan heran begitu menyadari kawan-kawan mereka yang datang duluan itu banyak yang menderita luka dalam.

Bahkan mereka semakin menjadi heran ketika mengetahui orang yang mereka sebut Ouw Twako justru menderita luka yang paling berat.

Beberapa orang tamu yang saat itu berada di dalam pendapa pun juga sangat menaruh perhatian pada mereka.

Diam-diam semuanya kelihatan menunggu keterangan yang hendak diberikan oleh orang yang disebut Ouw Twako itu.

Oleh karena itu tanpa terasa Liu Yang Kun juga ikut menunggu pula.

Sebagai jago silat pemuda itu ikut tergelitik juga hatinya untuk mengetahui permasalahannya, mengapa orang-orang itu sampai terluka dalam.

"Makanan dan minuman sudah siap semua, tuan muda. Silahkan...!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun dikagetkan lagi oleh suara pelayan yang telah menyiapkan pesanannya tadi.

"Eh-oh... b-baik, terima kasih!"

Liu Yang Kun mengangguk gugup. Lalu sambil lalu pemuda itu berkata lagi.

"Eh, sebentar dulu! Siapakah mereka itu? Dari mana mereka datang? Tampaknya ada sesuatu hal yang amat penting telah terjadi di kota ini..."

Pelayan itu tak jadi melangkah pergi. Sambil mengawasi wajah Liu Yang Kun pelayan itu mengangguk.

"Memang ada sesuatu yang telah terjadi di kota ini, tuan muda. Sesuatu yang aneh, namun juga sangat menakutkan hati penduduk kota ini. Ehmm, tampaknya tuan muda bukan penduduk daerah ini, sehingga Tuan belum mendengarnya."

"Aku memang bukan orang sini. Aku seorang petualang yang baru saja datang dari daerah lain. Nah... bolehkah aku mengetahui peristiwa yang kalian takutkan itu?"

Pelayan itu menoleh ke kanan ke kiri, seakan-akan ada yang dia takutkan.

Tapi melihat semua perhatian tertuju ke arah orang-orang yang baru datang tadi, pelayan itu menjadi lega.

Keberaniannya timbul kembali.

Dengan suara perlahan ia bercerita.

Telah sepekan ini kota Cia-souw digemparkan oleh munculnya hantu kuntilanak di malam hari.

Hantu yang berwujud sebagai wanita cantik itu selalu gentayangan mencari mangsa di rumah-rumah penduduk yang memiliki anak kecil atau bayi.

Setiap kali hantu cantik itu singgah atau lewat di rumah penduduk yang mempunyai bayi, niscaya bayi itu akan meninggal keesokan harinya.

Dan selama sepekan itu telah ada empat bayi yang menjadi korban.

Jadi setiap malam tentu ada satu bayi yang menjadi korban.

Semuanya mati tanpa diketahui sebab-sebabnya.

Tentu saja penduduk kota Cia-souw menjadi gelisah dan ketakutan.

Terutama bagi keluarga yang memiliki bayi atau anak kecil.

Hati mereka menjadi kecut apabila malam datang.

Mereka berjaga semalam suntuk untuk melindungi anak mereka.

Peristiwa yang sangat menggemparkan itu akhirnya sampai juga di telinga para pembesar di kota Cia-souw itu.

Mereka lalu mengerahkan pasukan keamanan kota untuk mencari dan menangkap "kuntilanak"

Tersebut.

"Menangkap kuntilanak? Eh... mana bisa orang menangkap hantu? Bukankah hantu itu bisa menghilang?"

Liu Yang Kun memotong cerita pelayan itu. Pelayan itu menyeringai kecut.

"Memang tidak... tidak bisa. Jangankan hendak menangkap, sedang melihat bayangannyapun mereka tidak bisa. Oleh sebab itu pulalah Un Taijin lalu minta pertolongan para jago silat di kota ini untuk ikut menyingkirkan hantu itu. Un Taijin berharap, dengan kepandaian mereka yang tinggi para pendekar itu akan mampu mengusir kuntilanak tersebut dari kota ini."

"Ehmmmm...?"

Liu Yang Kun berdesah.

"Siapakah Un Taijin itu?"

"Un Taijin (Pembesar Un) adalah pejabat kota yang menguasai pasukan keamanan. Beliau adalah tangan kanan Liong Taijin (Pembesar Liong), penguasa kota Cia-souw ini."

"Oooo... lalu bagaimana kelanjutannya? Adakah para pendekar silat yang mampu menangkap hantu itu?"

Pelayan itu tidak menjawab. Sebaliknya ia melayangkan pandangannya ke pojok ruangan, dimana rombongan lelaki kasar tadi duduk.

"Tuan lihat orang-orang itu? Mereka adalah sebagian dari jago-jago silat yang diundang oleh Un Taijin itu. Telah dua malam mereka berputar-putar di kota ini. Dan baru tadi malam mereka bisa bertemu dengan hantu itu. Mereka bersama-sama dengan para pendekar silat yang lain mengejar hantu itu semalam suntuk. Dan baru sekarang mereka pulang. Silahkan tuan mendengarkan sendiri pembicaraan mereka...!"

Kata pelayan itu kemudian sambil pergi meninggalkan Liu Yang Kun.

"Terima kasih..."

Ucap pemuda itu.

Tanpa menunggu lagi kedatangan isterinya, Liu Yang Kun mulai menyantap pesanannya.

Sambil menyuapkan makanan itu ke mulutnya ia mendengarkan percakapan orang-orang di pojok ruangan itu.

"Ci Sute...! Untunglah kau dan rombonganmu tidak berjumpa dengan 'hantu wanita"

Itu. Kalau kalian juga bertemu dengan hantu itu, niscaya kalian pun juga akan bernasib sama pula seperti kami. Hantu wanita itu benar-benar lihai bukan main!"

Terdengar suara lelaki yang dipanggil Ouw Twa-ko tadi.

"Lihai...? Jadi kuntilanak itu bukan hantu sungguhan?"

Orang yang disebut dengan sebutan Ci Sute itu bertanya kaget. Orang yang dipanggil Ouw Twako itu mengangguk. Matanya menerawang jauh.

"Mula-mula kami mendapat laporan kalau di dekat kuil Liong-tee-bio ada sesosok bayangan yang mencurigakan. Bayangan itu selalu berputar-putar mengitari rumah pande besi (tukang membuat peralatan dari besi), yang mempunyai anak kecil di rumahnya."

Orang itu menghentikan ceritanya sebentar, seakan-akan ingin mengumpulkan kembali semua ingatan tentang kejadian yang dia alami semalam.

"Karena tempat kami meronda berada paling dekat dengan tempat itu, maka kami pula yang datang paling dulu disana. Namun demikian kami juga hanya bisa melihat bayangannya saja. Hantu wanita itu keburu me larikan diri dari tempat si pande besi."

"Keburu lari...?"

Orang yang dipanggil dengan sebutan Ci Sute itu memotong.

"Benar. Tapi karena hantu itu mengenakan pakaian putih-putih, maka kami dapat melihatnya dengan jelas. Apalagi ketika dia berlari-lari di lereng bukit Cemara yang jarang pepohonannya itu."

"Wah... kalau begitu Ouw Twako berhasil menangkapnya?"

Orang yang disebut dengan sebutan Ouw Twako itu menggelengkan kepalanya sambil menarik napas panjang.

"Tampaknya memang mudah, serombongan lelaki kasar mengejar satu hantu wanita. Tapi dalam pelaksanaannya ternyata sungguh berat dan sulit. Bayangan putih yang selama ini kita anggap sebagai hantu kuntilanak itu ternyata juga manusia biasa seperti kita. Bahkan kesaktiannya benar-benar di luar dugaan kami yang mengejarnya. Hanya dengan sebuah saputangan dan... hanya dalam satu jurus pula, kami semua telah dibuatnya bergelimpangan terluka parah."

"Cuma... satu Jurus?"

Orang yang dipanggil dengan sebutan Ci Sute itu berdesah tak percaya.

"Ya! Untunglah pada saat itu pula dari bawah bukit terdengar langkah kaki orang mendatangi tempat tersebut, sehingga nyawa kami selamat. Wanita itu segera pergi meninggalkan kami, karena dia menyangka kami membawa bala-bantuan yang banyak. Tapi...?"

"Rombongan siapa yang datang menolong Ouw Twako itu?"

Orang yang disebut dengan panggilan Ci Sute tadi mendesak tak sabar.

"Kami tak tahu. Tiba-tiba saja suara langkah kaki itu menghilang kembali. Kami menunggu sampai lama, tapi suara itu tak kunjung datang juga. Akhirnya kami pulang dengan tangan hampa. Dan baru sekarang kami tiba di sini karena kami harus mengobati luka-luka kami..."

Orang yang disebut dengan sebutan Ouw Twako itu mengakhiri ceritanya.

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.

Mendengar kisah orang-orang itu, ingatannya segera melayang ke bekas-bekas tangkai obor dan bekas-bekas jejak yang ia temukan tadi malam.

"Ah, ternyata tangkai obor dan jejak-jejak kaki itu milik mereka..."

Tiba-tiba terdengar suara Tiauw Li Ing di sampingnya. Liu Yang Kun memalingkan mukanya dengan terperanjat. Dilihatnya isterinya dan orang tua buta itu telah berdiri di belakangnya.

"Ah! Sudah selesai kau mandi? Mari silakan duduk! Aku telah memesan makanan dan minuman untuk tiga orang sekaligus. Tapi aku sudah makan lebih dulu karena kau tak kunjung datang juga."

Sambil duduk di kursinya Tiauw Li Ing berkata kepada gurunya.

"Suhu...! Ternyata bekas-bekas obor dan jejak-jejak kaki itu milik macan-macan kampung kota ini. Tuh... mereka sedang duduk-duduk di pojok ruangan!"

"Hmmh! Kalau begitu kita tak usah melibatkan diri dengan urusan mereka. Marilah kita sekarang makan dan minum, lalu istirahat sepuasnya. Besok kita berangkat ke Cin-an untuk mengantarkan suamimu. Nah, Li Ing... mana makanan dan minuman yang harus kumakan? Tolong letakkan di depanku!"

Lo-sin-ong menyahut pelan.

Demikianlah mereka bertiga lalu sibuk menghabiskan masakan dan minuman yang telah dipesan oleh Liu Yang Kun.

Setelah itu mereka kembali lagi ke kamar masing-masing untuk beristirahat.

Lo-sin-ong sendirian di kamarnya, sedangkan Tiauw Li Ing menjadi satu dengan Liu Yang Kun di kamar yang lain.

Hari belumlah terlalu siang.

Matahari baru sepenggalan tingginya.

Namun demikian kota itu telah menjadi sepi.

Satu-satunya pasar yang ada di dalam kota itu pun telah bubar pula.

Para pedagang dan pembelinya telah pulang ke rumah masing-masing.

Dan jalan raya yang membelah di tengah-tengah kota itu pun tampak sepi pula.

Hanya ada satu dua orang yang berjalan melintasinya.

Sementara di kanan-kiri jalan itu banyak pedati, kereta atau kuda yang ditambat dan ditinggalkan pergi oleh pemiliknya.

Suasana memang tampak lesu dan lengang.

Orang lebih suka menghangatkan tubuh di dalam rumah.

Selain udara di daerah mereka itu telah mulai mendingin, angin kencangpun kadang-kadang meniup pula dengan mendadak.

Oleh karena itu penduduk kota tersebut lebih suka berdiam di rumah daripada berada di luar.

Tiauw Li Ing telah merebahkan dirinya di pembaringan.

Gadis itu masih merasa takut dan ngeri kepada "suaminya"

Sehingga tidurnya sengaja terlentang memenuhi seluruh tempat tidur, agar dengan demikian suaminya tidak mendapat tempat di dekatnya.

"Tempat tidur ini tidak cukup untuk dua orang. Lebih baik kita tidur bergantian saja. Atau... kau tidur di meja itu!"

Ujarnya sebelum memejamkan mata. Liu Yang Kun melirik dan mendengus kesal. Perlahan-lahan kakinya melangkah ke pintu.

"Koko, kau mau kemana...?"

Tiba-tiba Tiauw Li Ing berseru.

"Aku tak biasa tidur siang. Dan aku juga tidak merasa lelah. Biarlah aku keluar saja untuk melihat-lihat suasana kota ini. Nanti aku kembali."

Tiba-tiba Tiauw Li Ing meloncat dan menghadang di depan Liu Yang Kun. Kedua tangannya mencengkeram lengan pemuda itu. Matanya memandang gelisah dan serba salah.

"Koko, kau...kau marah kepadaku?"

Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya. Lalu tangannya melepaskan cengkeraman isterinya. Kakinya melangkah ke samping.

"Jangan menduga yang bukan-bukan. Aku sama sekali tidak marah kepadamu. Aku cuma merasa kesal di ruangan yang sempit ini. Bahkan aku bisa menjadi gila kalau tidak lekas-lekas keluar mencari hawa segar."

Namun dengan cepat Tiauw Li Ing menghadang kembali.

"Tapi... tapi di luar banyak prajurit kerajaan. Kau akan segera dikenali oleh mereka. Dan kau tentu akan dibawa oleh mereka."

Liu Yang Kun tersenyum kecut.

"Tidak mudah untuk menangkap aku. Kalau pun mesti tertangkap juga, kukira juga tidak menjadi soal pula. Ayahmu tentu bisa membebaskan aku,"

Jawabnya enak.

"Tapi... tapi... bagaimana dengan maksudmu ke kota Cin-an itu? Kau tidak akan bebas lagi kalau telah ditangkap oleh mereka."

Liu Yang Kun mengibaskan lengan bajunya.

"Sudahlah! Kau tak perlu mengkhawatirkan aku. Berikanlah aku kesempatan untuk mendinginkan hati dan kepalaku di luar sana. Aku bisa gila kalau berdekatan terus denganmu. Nah... aku pergi sebentar."

Tanpa menunggu jawaban lagi pemuda itu bergerak ke samping.

Otomatis Bu-eng Hwe-tengnya keluar.

Tubuhnya menggeliat dua kali kemudian melesat ke pintu, dan sekejap saja dia telah berada di luar kamar.

Tiauw Li Ing hanya bisa terpaku di tempatnya.

Gadis itu benar-benar seperti orang linglung, tak tahu apa yang harus dia lakukan.

Gadis itu baru menangis setelah Liu Yang Kun lenyap dari pandangannya!

Liu Yang Kun bergegas keluar dari rumah penginapan itu.

Tapi ketika kakinya melangkah di halaman, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya.

"Tuan muda, tunggu...!"

Liu Yang Kun cepat membalikkan tubuhnya. Pelayan ruang makan yang melayaninya tadi tampak mengejarnya.

"Bukankah tuan muda yang bernama Liu Yang Kun? Ini ada surat titipan untuk tuan muda!"

Pelayan itu berkata terengah-engah sambil menyerahkan sebuah surat kepada Liu Yang Kun.

"Surat...? Dari siapa?"

Pemuda itu berdesah kaget, lalu menerima surat itu.

"Entahlah, tuan muda. Gadis cantik itu tidak mengatakan namanya."

Pelayan itu menjawab, kemudian kembali lagi ke dalam rumah.

"Gadis cantik...? Siapa dia?"

Liu Yang Kun bergumam seraya merenung. Liu Yang Kun lalu membalik surat itu. Tapi di sana juga tidak dicantumkan nama si pengirimnya. Hanya dua huruf tertulis di situ, yaitu TEMAN LAMA.

"Teman lama...? Ah... siapa dia?"

Akhirnya Liu Yang Kun menjadi tak sabar lagi.

Dibukanya surat itu, kemudian dibacanya pelan-pelan.

Saudara Liu Yang Kun, Bagaimana kau sampai di kota ini?

Bukankah kemarin kau masih di kota An-lei, dan bermaksud pergi ke kota Cin-an?

Apakah ada sesuatu yang terjadi?

Tolong kau pergi ke hutan di sebelah barat kota Cia-souw malam ini.

Aku ingin berbicara kepadamu.

Teman lama.

"Teman lama... teman lama... teman lama...?"

Pemuda itu bergumam dan mengulang kata-kata itu beberapa kali.

Kemudian untuk beberapa saat pula Liu Yang Kun mencoba untuk memeras ingatannya, kalau-kalau ia bisa menduga siapa 'teman lama' yang telah mengirim surat kepadanya itu.

Tapi lagi-lagi dia tak mampu mengingatnya.

Semua masa lalunya benar-benar gelap gulita dan tak bisa dikorek sama sekali.

Akhirnya Liu Yang Kun menyerah.

"Baiklah, akan kutemui dia nanti. Siapa tahu kedatangannya akan bisa menyembuhkan penyakit lupaku ini? Hmm...!"

Liu Yang Kun melangkah kembali ke kamarnya. Dia tak jadi mendinginkan pikirannya di luar. Ia ingin beristirahat saja agar nanti malam bisa menemui wanita yang mengaku sebagai teman lamanya itu.

"Eehmm, bagaimana sebaiknya nanti? Apakah aku harus membawa serta Li Ing? Tapi... bagaimana kalau dia cemburu? Atau... atau biarlah aku pergi sendirian saja,"

Sambil melamun pemuda itu mengetuk pintu kamarnya.

"Siapa...?"

Terdengar suara isak Tiauw Li Ing di dalam kamar.

"Aku. Bukalah...!"

Liu Yang Kun menjawab singkat. Tiba-tiba pintu itu dibuka dengan cepat. Dan di lain saat Tiauw Li Ing telah menghambur ke dalam pelukan Liu Yang Kun.

"Koko, maafkan aku... Marilah, kini aku tidak akan menolak lagi! Maafkanlah aku!"

Gadis itu merintih dan mengeluh di dalam tangisnya.

Tentu saja Liu Yang Kun menjadi kaget setengah mati.

Otomatis pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri.

Untunglah tak seorangpun yang melihat adegan itu.

Tampaknya semua tamu sedang beristirahat di dalam kamar masing-masing.

Bergegas Liu Yang Kun menggendong tubuh Tiauw Li Ing yang menggelendot lemas di dadanya itu ke dalam kamar.

Kemudian dibaringkannya tubuh yang molek itu di atas pembaringan.

Namun ketika pemuda itu hendak turun, gadis itu merangkulnya erat-erat.

"Koko, jangan tinggalkan aku! Kau... kau tidurlah di sini! Peluklah aku erat-erat!"

Gadis itu meminta dengan sangat.

Liu Yang Kun menjadi gelagapan.

Wajahnya yang putih itu menjadi merah padam.

Badannya tiba-tiba juga menjadi panas.

Apalagi ketika kulit tangannya yang kasar itu menyentuh kulit Tiauw Li Ing yang halus dan licin.

Sekejap api yang selama ini telah padam menjadi menyala kembali dengan hebatnya.

"Li Ing... oh, Li Ing... kau? Oh, kau...? Ah!"

Pemuda itu ikut merintih pula.

Demikianlah mereka berdua tidak jadi istirahat siang itu.

Mereka justru bermain cinta sampai malam hari.

Mereka juga lupa makan dan minum.

Bahkan Liu Yang Kun juga lupa pula pada rencananya untuk pergi ke hutan di sebelah barat kota itu.

Dan tampaknya Lo-sin-ong juga memakluminya, terbukti orang tua itu juga tidak mengusik mereka sama sekali.

Keduanya baru terjaga dari dunia impian mereka ketika tiba-tiba di luar terdengar suara riuhnya jeritan dan teriakan orang.

Liu Yang Kun cepat berpakaian kembali.

Dengan tergesa-gesa pemuda itu meloncat ke pintu, meninggalkan Tiauw Li Ing yang masih tergolek kelelahan di tempat tidur.

"Koko, kau mau kemana...?"

Gadis itu berseru lemah sambil membetulkan selimut yang menutupi tubuhnya. Pakaiannya masih tampak berserakan dibawah kakinya.

"Akan kulihat dulu keributan di luar itu. Sebentar saja. Aku akan cepat kembali lagi."

Liu Yang Kun menjawab pendek, kemudian menghilang keluar pintu.

"Hati-hati...!"

Tiauw Li Ing berpesan.

Ternyata hari belum terlalu malam.

Bulan yang sudah tidak bulat lagi itu juga baru saja muncul dan kini masih berada diatas pucuk-pucuk pepohonan yang tinggi.

Liu Yang Kun cepat berlari ke jalan raya, dimana keributan itu berasal.

Disana telah tampak orang-orang yang berkumpul di tepi-tepi jalan.

Semuanya ribut membicarakan sesuatu.

Liu Yang Kun mendekati salah sebuah dari kerumunan orang itu.

Pelan-pelan dia bertanya kepada seorang diantara mereka.

"Apakah yang telah terjadi?"

Orang itu menoleh sekejap, kemudian menjawab.

"Kuntilanak itu muncul lagi. Ia benar-benar semakin nekat.Tempat kediaman Liong Taijin pun berani ia injak pula. Huh...!"

"Tempat kediaman Liong Taijin? Lalu...?"

Liu Yang Kun mencoba mengorek keterangan yang lebih lengkap lagi.

"Tentu saja Liong Taijin menjadi marah bukan main! Semua pasukan keamanan lalu dikerahkan untuk mengejar hantu itu. Itulah sebabnya seluruh kota menjadi gempar!"

"Oooh...!"

Liu Yang Kun berdesah dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian sambungnya lagi.

"Lalu... Kemana larinya hantu wanita itu?"

"Kata orang dia berlari ke hutan di sebelah barat kota ini..."

"Ke hutan di sebelah barat kota ini?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun terpekik dan terperanjat bukan kepalang.

Seketika ia teringat akan undangan si teman lama itu.

Tanpa meminta diri lagi Liu Yang Kun berkelebat pergi dari tempat itu.

Begitu cepatnya pemuda itu bergerak sehingga orang-orang tersebut menjadi kaget.

Mereka seperti melihat hantu pula, karena secara tiba-tiba pemuda tersebut menghilang dari depan mereka.

"Dia... dia... h-han-hantu pula...?"mereka berdesah ketakutan. Sementara itu dengan mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya Liu Yang Kun berlari ke hutan itu. Pikirannya sibuk menduga-duga, jangan-jangan si teman lama itulah yang menjadi kuntilanak selama ini.

"Gila! Aku benar-benar menjadi penasaran. Siapakah sebenarnya orang itu? Benarkah dia teman lamaku?"

Dan pemuda itu menjadi bingung ketika memasuki hutan lebat tersebut. Dimanakah ia harus menemui "teman lamanya"

Itu?

Apakah ia sudah terlambat datang?

Dan dimana pula pasukan-pasukan keamanan kota yang katanya sedang mengejar hantu kuntilanak itu?

Karena ragu-ragu maka Liu Yang Kun tidak berusaha untuk memasuki hutan itu lebih dalam lagi.

Ia hanya termangu-mangu saja dipinggirnya.

"Tampaknya kuntilanak itu berlari memasuki hutan ini dan para pengejarnya juga ikut membuntutinya pula.Hmmm... bagaimana ini? Apakah aku harus ikut masuk kedalam hutan ini juga?"

Pemuda itu berpikir di dalam hati.

Liu Yang Kun menyandarkan punggungnya pada batang pohon siong tua.

Dan angin ma lam pun tiba-tiba bertiup menggoyangkan daun-daun di sekitarnya.

Beberapa lembar daun yang sudah menguning tampak melayang jatuh dari tangkainya.

Pemuda itu tiba-tiba tersentak kaget.

Selembar daun yang masih hijau jatuh menimpa pundaknya.

Terasa ada getaran tenaga yang menyertai gerakan daun itu, sehingga sekejap pemuda itu merasa kesemutan pada lengannya.

Dan tatkala pemuda itu menghentakkan kekuatannya untuk bersiap siaga, hidungnya mendadak mencium bau wangi atau harum khas wanita.Otomatis Liu Yang Kun menengadahkan mukanya.

"Selamat bertemu, Pangeran..."

Dari atas pohon tiba-tiba terdengar suara lembut menyapa.

Liu Yang Kun tertegun.

Hatinya berdesir keras.

Seperti ada sesuatu yang menjamah jantungnya ketika ia memandang seorang gadis ayu seperti bidadari menatap kepadanya.

Gadis ayu itu duduk di atas dahan yang paling rendah, sehingga jaraknya hanya satu setengah tombak saja dari tempatnya berdiri.

Di bawah sinar bulan yang terang wajah gadis itu benar-benar kelihatan cantik bukan main.

Lebih cantik dari pada wajah Tiauw Li Ing yang juga sudah amat cantik itu.

Gadis itu tersenyum manis sekali.

Kedua bola matanya yang bersinar cemerlang bagaikan bintang kejora itu tampak bergetar indah seperti permukaan telaga di bulan purnama.

Sementara pipinya yang halus licin itu tampak kemerah-merahan seperti buah tomat yang mulai masak.

"Kau... kau siapa? Mengapa... mengapa kau menyamar sebagai... kuntilanak?"

Dalam gugup dan kekagetannya Liu Yang Kun menyapa. Tiba-tiba senyum manis itu menghilang. Gadis itu memandang heran, seolah-olah tak percaya apa yang didengarnya.

"Pangeran...? Pangeran bertanya apa?"

Gadis itu berdesah.

"Kau ini siapa? Mengapa kau berada di sini malam begini? Engkaukah yang menyamar sebagai kuntilanak itu? Dan... ehm... jangan panggil aku Pangeran! Aku bukan seorang Pangeran. Mungkin kau telah salah mengenali orang..."

Liu Yang Kun mengulang pertanyaannya tadi.

Sekali lagi mata yang indah itu terbelalak.

Namun kini wajah itu tampak sangat menderita dan terpukul hatinya.

Bahkan seperti terpancar pula perasaan malu dan tersinggung.

"Kau... kau l-l-lupa... Padaku? Oouugh!"

Tiba-tiba gadis ayu itu mengeluh, kemudian meloncat turun dan berlari meninggalkan tempat itu.

Lapat-lapat terdengar suara isaknya yang tertahan.

Liu Yang Kun terperanjat.

Dia baru sadar kalau gadis ayu itu ternyata buntung lengan kirinya.

Lengan baju gadis itu yang sebelah kiri tampak melambai lambai ketika berlari.

"Nona, tunggu...!"

Liu Yang Kun berseru dan mengejarnya.

Tapi gadis berlengan satu itu tak mau berhenti.

Ia berlari terus sambil terisak-isak, sehingga Liu Yang Kun terpaksa mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya untuk mengejar.

Mereka berlari dan berkejaran di pinggiran hutan itu ke arah selatan.

Ternyata gadis itu juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi.

Akhirnya mereka sampai ke perkemahan para prajurit yang dilihat oleh Tiauw Li Ing pagi tadi.

Gadis ayu itu kelihatan terkejut, begitu pula Liu Yang Kun.

Namun ketika mereka hendak menghindar, dari kanan kiri mereka mendadak muncul sepasukan prajurit yang sedang meronda.

"Berhenti!"

Para prajurit itu membentak.

Liu Yang Kun berhenti, tapi gadis itu tidak, sehingga para prajurit itu menyerang dan mengepungnya.

Liu Yang Kun tak tega melihat hal itu, maka lalu membantunya.

Begitulah, mereka lalu bertempur dengan prajurit-prajurit tersebut.

Keributan itu memancing perhatian prajurit-prajurit lainnya.

Semuanya berbondong-bondong keluar, sehingga pertempuranpun menjadi semakin ribut dan ramai.

Namun gadis bertangan buntung itu tampaknya tak berminat untuk melayani mereka.

Begitu pula dengan Liu Yang Kun.

Keduanya hanya mengelak dan menghindar dari serangan mereka.

Keduanya hanya berusaha mencari jalan untuk lolos dari kepungan mereka.

Tapi sungguh tidak mudah untuk meloloskan diri dari kepungan prajurit-prajurit terlatih itu tanpa melukai atau membunuh mereka.

Maka tidak mengherankan kalau keduanya Cuma berputar-putar saja di dalam kepungan itu.

Pada saat itu Liu Yang Kun memang menjadi kesal dan tidak sabar.

Tapi melihat gadis ayu itu juga tidak mau bermain keras dan tetap bermain kucing-kucingan saja dengan pengepungnya, maka ia juga terpaksa mengikutinya.

"Munduuuuuuur...! Tai Ciangkun dataaaaaang...!"

Tiba-tiba terdengar suara aba-aba.

Benar saja.

Bagaikan gelombang pasang yang tiba-tiba kembali menyurut ke laut, para prajurit terlatih itu mundur menjauhi Liu Yang Kun dan gadis ayu itu.

Namun dalam jarak sepuluh langkah mereka berhenti dan membentuk sebuah lingkaran untuk mengelilingi kedua muda-mudi tersebut.

Seorang panglima yang masih muda tampak berjalan memasuki lingkaran.

Ia dikawal oleh seorang lelaki gagah yang agak lebih tua dari padanya.

Para prajurit tampak segan dan memberi jalan kepada mereka berdua.

Panglima muda itu tidak lain memang Yap Tai Ciangkun atau panglima besar Yap Khim.

Sedangkan pengawalnya itu tidak lain juga Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, yang selama ini selalu mengawal adiknya itu bila bepergian atau mendapat tugas ke daerah.

Keduanya hanya mengenakan pakaian ringkas dan sederhana saja, karena mereka tadi sebenarnya sudah beristirahat di tenda masing-masing.

"Lam Ciangkun! Apa yang telah terjadi di tempat ini?"

Panglima itu menoleh dan bertanya kepada seorang perwira bertubuh pendek kekar, yang memiliki pangkat paling tinggi diantara prajurit-prajurit itu. Perwira itu maju ke depan, kemudian memberi hormat.

"Tai Ciangkun, kedua orang anak muda ini telah berani memasuki daerah perkemahan kita. Ketika para pasukan peronda memerintahkan berhenti, mereka justru berusaha melarikan diri. Oleh karena itu para prajurit terpaksa turun tangan untuk menangkap mereka. Tapi ternyata kepandaian mereka sangat tinggi, sehingga kami kewalahan menghadapi mereka."

Yap Tai-Ciangkun mengangguk kaku, kemudian menatap Liu Yang Kun dan gadis ayu yang berada di tengah-tengah lingkaran tersebut.

Tiba-tiba dahinya berkerut.

Meskipun suasana agak gelap oleh temaramnya sinar rembulan, tapi dia seperti mengenal potongan dan wajah kedua orang itu.

Ketika ia ingin meminta pendapat Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, ternyata kakaknya itu sudah keburu melangkah ke depan.

"Eh... bukankah kau nona Souw Lian Cu?"

Kakaknya itu menyapa dengan kaget.

"Siok-hu (paman)..."

Gadis ayu itu menjawab lirih. Kepalanya tertunduk.

"Oh, benar...! Kau memang Souw Lian Cu! Aaaah!"

Hong-Lui-Kun berseru gembira, kemudian melesat menghampiri gadis itu. Telapak tangannya segera menepuk-nepuk pundak Souw Lian Cu.

"Hmmm... Dimana ayahmu? Sudah lama aku tak berjumpa dengan Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai. Beliau baik-baik saja, bukan?"

Tap Tai Ciangkun segera menghampiri gadis itu pula. Wajahnya kelihatan cerah dan gembira pula.

"Hai... benar juga perasaanku! Sejak tadi aku sudah merasa bahwa aku telah mengenalmu. Hmm, ternyata memang benar-benar kau! Apakah kau datang bersama ayahmu?"

Sapanya ramah, namun matanya melirik ke arah Liu Yang Kun dengan curiga.

Yap Khim dan Yap Kiong Lee memang sahabat baik Souw Thian Hai sejak muda dulu.

Mereka mengenal baik pula keluarga Souw Thian Hai, sehingga mereka kenal juga pada Souw Lian Cu.

Bahkan mereka berdua juga tahu pula semua masalah yang terjadi dalam keluarga itu termasuk masalah Souw Lian Cu sendiri.

Apalagi gadis ayu berlengan buntung itu pernah mempunyai hubungan cinta dengan Liu Yang Kun, putera Kaisar Han junjungan mereka.

"Saya... datang sendirian saja, Tai Ciangkun."

Souw Lian Cu menjawab singkat.

Kepalanya tetap tertunduk.

Panglima Besar Yap Khim saling berpandangan dengan kakaknya.

Keduanya segera merasakan adanya rahasia atau sesuatu yang berat untuk diutarakan gadis itu.

Sehingga mereka berduapun segera menghela napas panjang pula.

"Tampaknya masalah di dalam keluarga Souw itu masih berkelanjutan dan belum juga selesai sampai sekarang."

Keduanya berpikir dan menduga-duga di dalam hati.

Sementara itu Liu Yang Kun menjadi serba salah pula.

Ia sama sekali tidak mendapat perhatian dari orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Tapi untuk meninggalkan tempat tersebut ia juga tak bisa.

Selain ia masih mempunyai urusan dengan gadis ayu itu, ia tentu juga tidak gampang pula untuk pergi dari tempat itu.

Tampaknya saja mereka tidak mengacuhkannya, tapi kalau ia bergerak mereka tentu akan segera menyerangnya.

"Lalu... siapakah temanmu ini, Lian Cu?"

Yap Tai Ciangkun lalu mengalihkan pembicaraan mereka.

Yap Kiong Lee yang sejak tadi masih memegangi pundak Souw Lian Cu ikut tersenyum pula dengan sikap yang masih tetap ramah dan simpatik ia juga mendesak.

"Siapakah temanmu itu, nona Souw?"

Bisa dimengerti kalau kedua panglima Kaisar Han itu sampai lupa dan tidak mengenal Liu Yang Kun lagi.

Selain suasana memang agak gelap, pemuda itu sendiri memang telah bertahun-tahun meninggalkan istana.

Apalagi dengan penyakit lupa ingatan yang kini diderita oleh Liu Yang Kun, membuat sikap dan gerak-gerik pemuda itu menjadi berubah pula.

Berbeda dengan Souw Lian Cu.

Selain sikap dan dandanan gadis ayu itu masih tetap seperti dulu, keadaan lengannya yang buntung itu benar-benar sangat memudahkan orang untuk segera mengenalinya.

Maka tidaklah mengherankan bila Yap Khim bersaudara itu cepat mengenalinya.

Tiba-tiba wajah Souw Lian Cu menjadi gelap kembali.

Dengan suara lirih dan agak tersendat gadis itu menjawab.

"Entahlah, paman... aku ber-berjumpa... dengan dia di pinggir hutan. Aku... eh... dia lalu mengejarku... sampai di sini."

"Hah...?"

Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee berdesah berbareng.

Otomatis mereka memandang dengan tajam ke arah Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun sendiri tidak sadar akan bahaya yang bisa menimpanya.

Pemuda itu benar-benar telah lupa kepada Souw Lian Cu maupun para perwira bawahan ayahnya itu.

"Nona...?"

Pemuda itu mengeluh dan memandang Souw Lian Cu dengan pandangan tak bersalah. Sebaliknya Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee yang lihai itu telah melangkah ke samping adiknya dan menggeram curiga.

"Kau siapa? Lekas jawab!"

Liu Yang Kun tiba-tiba tersentak pula dari kebengongannya. Matanya mendadak mencorong pula mengawasi Yap Kiong Lee. Hatinya sedikit tersinggung mendengar bentakan itu.

"Maaf, Ciangkun. Walau kukatakan namaku takkan Ciangkun kenal. Biarlah saya berurusan saja dengan nona Souw itu. Maaf...!"

Pemuda itu menyahut dengan suara dingin pula, lalu bergerak mendekati Souw Lian Cu.

Tapi dengan cepat pula Yap Kiong Lee mencegatnya.Dengan tangkas jago nomer satu dari istana itu mengebutkan lengan bajunya yang lebar.

Wuut!

Serangkum angin yang sangat kuat terasa menyambar ke arah dada Liu Yang Kun.

Begitu kuatnya hembusan angin tersebut sehingga Souw Lian Cu yang ada di dekat pendekar istana itu pun ikut bergoyang-goyang pula karenanya.

"Siok-hu, dia...?"

Gadis ayu itu mencoba untuk mencegah perkelahian itu. Tapi dengan cepat Yap Tai Ciangkun memotong ucapan Souw Lian Cu itu.

"Lian Cu, kau beristirahat sajalah! Biarlah kakakku yang mengusir pemuda itu. Kau tak perlu turun tangan sendiri."

"Tapi dia adalah..."

"Yaaa... ya, aku sudah tahu. Kau telah cukup menceritakannya. Sekarang kau minggir sajalah!"

Yap Tai Ciangkun menukas lagi dengan suara sedikit keras.

Namun matanya tak pernah lepas dari pertempuran kakaknya.

Liu Yang Kun memang amat kaget menerima serangan itu.

Meskipun sebelumnya ia telah menduga dan berjaga-jaga terhadap panglima dan pengawalnya itu, namun bagaimanapun juga serangan yang amat mendadak tersebut benar-benar mengejutkannya.

Apalagi tenaga yang tersembunyi di balik hembusan angin tersebut ternyata bukan main besarnya.

Karena belum mengetahui sampai dimana kekuatan lweekang lawannya, maka Liu Yang Kun juga tidak berani sembrono atau sembarangan.

Bagaimanapun juga ia tak ingin bermusuhan dengan para prajurit kerajaan.

Bahkan di dalam pikirannya masih terngiang-ngiang tadi siang, bahwa sebenarnya dia adalah putera Hongsiang, meskipun dia sendiri tak mempercayainya.

Oleh karena itu dia hanya mengerahkan separuh dari tenaganya ketika menyongsong serangan Hong-Lui-Kun tersebut.

Sambil memiringkan tubuhnya ia juga mengebutkan lengan bajunya ke depan.

"Bhuuug!"

Dua gelombang tenaga dalam yang tidak kelihatan ujudnya berbenturan melalui ujung lengan baju itu!

Dan masing-masing segera terdorong mundur tiga langkah ke belakang.

Hanya bedanya, Liu Yang Kun mundur dengan tegak dan mantap, sedangkan Hong-liu-kun Yap Kiong Lee mundur dengan langkah goyang dan agak terhuyung.

Tentu saja semua yang melihat menjadi kaget, termasuk pula diantaranya Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun sendiri.

Bahkan untuk sekejap wajah jago nomer satu dari istana itu menjadi merah menahan malu.

Dia yang menyangka akan menghadapi perlawanan keras tadi memang Cuma mengerahkan dua pertiga bagian tenaganya.

"Maaf, Ciangkun. Sebenarnya aku tak ingin melawan Ciangkun. Aku hanya ingin berbicara dengan gadis itu,"

Liu Yang Kun meminta maaf. Tapi Hong-Lui-Kun sudah terlanjur tersinggung pernya.Dengan tersenyum dingin jago silat nomer satu dari istana itu menggeram.

"Tak kusangka kau memiliki tenaga dalam sedemikian hebatnya. Tahu begitu... aku sudah berhati-hati sejak tadi. Hmmmm, baiklah! Mari kita bergebrak sekali lagi! Aku ingin lebih banyak belajar lagi darimu!"

Tanpa menunggu jawaban lagi Hong-Lui-Kun menyerang.

Kali ini jago silat dari istana itu menyerang dengan bersungguh-sungguh.

Ia langsung mengerahkan seluruh kekuatannya.

Kekuatan dan kecepatan yang tersembunyi di dalam ilmu warisan keluarganya, yaitu Hong-Lui-Kun-hoat (ilmu pukulan petir dan badai).

Sebentar saja arena pertempuran itu seperti diamuk oleh angin putting beliung.

Debu dan rontokan dedaunan yang ada di tempat itu berhamburan kemana-mana terkena pengaruh angin pukulan Yap Kiong Lee.

Bahkan batu kerikil, pasir dan rerumputanpun ikut tercabut pula dari tempatnya.

Begitu dahsyatnya tenaga dan letupan-letupan yang keluar dari tangan jago silat istana itu, sehingga para prajurit yang melingkari arena tersebut terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang.

Untuk beberapa jurus Liu Yang Kun memang tampak kewalahan menahan angin pukulan lawan yang berputar menderu-deru bagai gelombang topan dan badai itu.

Berkat Bu-eng Hwe-tengnya saja pemuda itu mampu menghindar dan melepaskan diri dari libatan serta cengkeraman angin puting-beliung tersebut.

Namun kalau diterus-teruskan juga tanpa membalas serangan lawan itu, niscaya pemuda itu akan terperangkap juga oleh kedahsyatan Hong-Lui-Kun-hoat.

Apalagi setelah lawannya itu menyerang dengan hentakan-hentakan tenaga dan pukulan-pukulan jarak jauh yang meledak-ledak bagaikan petir menyambar.

"Dhuaar! Whussss! Dhuaaaaar! Daaaar...!"

Para prajurit yang melingkari arena itu mundur semakin jauh menjauhi arena.

Tiupan angin yang menyambarnyambar dan meledak-ledak itu terasa sakit bila menyentuh kulit mereka.

Bahkan beberapa orang prajurit yang berdiri di deret paling depan ada yang jatuh atau terjengkang bila pukulan jarak jauh Yap Kiong Lee meledak di dekat mereka.

Liu Yang Kun merasa kagum juga menyaksikan ilmu silat lawannya yang sangat hebat itu.

Ia benar-benar merasa kewalahan.

Dan tak pelak lagi ia akan mendapat kesulitan kalau tak lekas-lekas membalas serangan itu dengan ilmu yang setingkat pula.

Oleh karena itu dengan sangat terpaksa ia lalu mengeluarkan ilmunya yang lain, yang sekiranya bisa melayani ilmu lawannya yang dahsyat tersebut.

Liu Yang Kun memang sudah lupa nama dan jurus-jurus ilmu silatnya.

Tapi yang terang pemuda itu takkan bisa pula akan gerakan-gerakannya.

Bagaimana juga semua ilmu silat yang dipelajarinya telah mendarah daging di dalam tubuh dan jiwanya.

Ilmu itu akan keluar dengan sendirinya bila ia kehendaki.

Tak usah harus berpikir atau mengingat-ingat gerakan-gerakannya.

Semuanya Cuma naluri saja, seperti halnya kalau ia berjalan, bernapas, mengedipkan kelopak mata atau menggaruk punggungnya yang gatal.

Demikianlah tanpa terasa Liu Yang Kun telah mengeluarkan Kim-coa ih-hoat warisan Nenek Buyutnya dari Keluarga Chin.

Bagaikan seekor ular emas kecil yang lincah ia menggeliat, meliuk dan meluncur atau me lenting di dalam amukan topan badai itu.

Sementara itu tangan dan kakinya yang bisa memanjang atau memendek, selalu bergerak menyerang Yap Kiong Lee.

Sesekali jari tangannya tampak menotok, mematuk atau menebas ke arah lawan, tetapi kadang-kadang tangan atau kakinya yang bisa bergerak secara mustahil itu juga dapat memagut, melilit atau menerjang dengan kekuatan yang maha dahsyat!

Beberapa jurus kemudian keadaan mereka menjadi berbalik.

Liu Yang Kun yang semula berada di bawah angin itu kini ganti mendesak Yap Kiong Lee.

Kedahsyatan Hong-Lui-Kun-hoat yang meledak-ledak dan menderu-deru laksana amukan petir dan badai itu benar-benar tak berdaya menggulung atau melumatkan tubuh Liu Yang Kun yang lemas dan lentur bagaikan tubuh ular itu.

Bahkan dalam hiruk-pikuknya serangan topan dan badai itu Liu Yang Kun mampu meliuk-liuk dan menyusup kesana-kemari memburu lawannya.

Dan kemudian dengan kegesitan dan kecepatannya yang mengagumkan pemuda itu mampu menyerang danmenyengatkan pukulan yang berkekuatan sangat dahsyat itu.

"Dhieeees...!"

Sekali lagi Yap Kiong Lee tidak bisa mengelak dari pagutan jari dari Liu Yang Kun, sehingga jago silat dari istana itu terpaksa menangkisnya!

Dan untuk yang kesekian kalinya pula ia harus terbanting ke tanah karena tak mampu menahan kekuatan pemuda itu.

"Twako...!"

Yap Tai Ciangkun berseru kaget, kemudian berkelebat ke depan untuk menolong kakaknya.

"Dhuk! Dhies...!"

Terjadi lagi benturan kekuatan antara Liu Yang Kun dan Yap Tai Ciangkun yang ingin menyelamatkan jiwa Y p Kiong Lee!

Serangan Liu Yang Kun yang menggebu-gebu itu memang dapat tertahan dan dipatahkan.

Namun untuk itu Yap Tai Ciangkun juga harus membayar mahal.

Tubuhnya yang kokoh-kekar itu ternyata juga harus menggelepar pula di tanah karena tak kuasa menahan gempuran tenaga sakti Liu Yang Kun yang dahsyat seperti ayunan ombak di lautan itu.

"Lee-ko!"

"Khim-te...!"

Yap Kiong Lee dan Yap Tai Ciangkun saling pandang, dan saling berpegangan tangan.

Mereka tidak berbicara satu sama lain, tapi di dalam pandangan mata itu mereka seolah-olah telah saling bertukar kata tentang lawan mereka.

Bahkan kemudian tampak senyum yang merekah di bibir mereka.

Senyum syukur dan kegembiraan, meskipun tubuh mereka terasa linu dan remuk akibat pukulan Liu Yang Kun tadi.

Oleh karena itu ketika para prajurit mereka menjadi marah dan hendak mengerubut Liu Yang Kun, mereka cepat-cepat menahan dan mencegahnya.

"Mundur...! jangan ganggu Pangeran Yang Kun! Cepat kalian memberi hormat kepada beliau!"

Yap Tai Ciangkun berteriak.

Tentu saja para prajurit itu menjadi kaget dan bingung.

Mereka saling pandang pula dengan heran.

Mereka benar-benar tak mengerti dan tak memahami perintah panglima mereka itu.

"Pangeran Yang Kun...?"

Mereka berdesah bingung.

Tapi Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee tak peduli akan keheranan prajurit-prajurit mereka itu.

Mereka segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepada Liu Yang Kun.

Mereka tidak peduli pula pada darah yang menetes dari sudut bibir mereka.

"Pangeran...!"

Mereka menyapa berbareng. Kemudian sambil menoleh kepada Souw Lian Cu, Yap Kiong Lee berkata.

"Ah, mengapa nona Souw tidak memberitahukannya kepada kami tadi?"

Souw Lian Cu tersenyum pahit.

Entah mengapa, pertemuan antara Liu Yang Kun dengan pejabat-pejabat tinggi kerajaan itu semakin membuatnya sedih dan rendah diri.

Ia merasa jaraknya semakin jauh dengan pemuda itu.

"Oh... seharusnya aku ini tahu diri. Aku Cuma seorang gadis piatu biasa. Cacat pula. Sedang dia seorang Pangeran. Putera seorang kaisar yang berkuasa di seluruh negeri ini. Ooooh... tak heran kalau ia telah melupakanku. Akulah yang terlalu berharap dan tak mau berkaca diri. Bagai pungguk merindukan bulan..."

Ratapnya di dalam hati.

"Ah, Lian Cu tidak salah, Twako. Dia telah berusaha memberitahu dan mencegah kita tadi. Kitalah yang tak mau memberi kesempatan kepadanya,"

Tiba-tiba Yap Tai Ciangkun memotong perkataan kakaknya.

Pertemuan yang tak disangka-sangka ini memang sangat menggembirakan hati Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee.

Perjalanan mereka ke daerah pantai timur ini memang untuk mencari Liu Yang Kun.

Mereka mendapat tugas khusus dari Hongsiang, setelah pihak istana mendapat laporan rahasia tentang munculnya Pangeran Yang Kun di daerah pantai timur Kiang-si dan Syan-tung.

Siang malam mereka mengaduk daerah pinggiran Propinsi Kiang-si.

Selain itu Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee juga menyebar puluhan petugas rahasia untuk mencari Liu Yang Kun.

Namun sampai kemarin usaha mereka itu sia-sia.

Pangeran Liu Yang Kun yang diberitakan orang muncul di daerah pantai timur Propinsi Kiang-si itu seolah-olah telah menghilang kembali.

Demikianlah rombongan mereka itu akhirnya pulang kembali dengan tangan hampa.

Namun demikian mereka tak segera pulang ke Kotaraja.

Mereka sengaja mengambil jalan ke utara, dengan maksud untuk singgah di kota Cin-an dahulu.

Mereka mendengar bahwa Ketua Tiam-jong-pai, Hek-pian-hok Ui Bun Ting hendak melangsungkan perkawinannya beberapa hari lagi.

Diam-diam mereka berharap bisa bertemu dengan Pangeran Liu Yang Kun disana.

Paling tidak mereka bisa bertanya kepada pendekar-pendekar persilatan yang hadir dalam pesta perkawinan tersebut.

Ternyata keputusan mereka itu benar-benar membawa keberhasilan.

Sungguh tak terduga mereka justru bisa menemukan Pangeran Liu Yang Kun di tempat ini.

Wa lau hampir saja mereka melepaskan Pangeran itu, karena mereka sudah tak mengenal lagi wajah Pangeran Liu Yang Kun.

Untunglah Pangeran itu mengeluarkan Kim-coa ih-hoat,sebuah ilmu langka yang hanya dimiliki oleh Pangeran itu saja di dunia ini.

"Pangeran...! Kami diutus Hongsiang untuk menjemput paduka. Inilah surat yang dititipkan Hongsiang kepadaku.Surat ini ditujukan kepada Pangeran..."

Yap Tai-Ciangkun berkata kepada Liu Yang Kun yang masih berdiri bengong di tempatnya.

Panglima Pasukan Kerajaan itu mengeluarkan sebuah surat lalu diberikan kepada Liu Yang Kun.

Tapi pemuda itu sendiri ternyata malah mundur ke belakang, seperti orang yang ketakutan.

Matanya menatap bingung ke arah Souw Lian Cu maupun kepada Yap Tai Ciangkun.

"Ini... ini... ah, sebentar dulu! Aku benar-benar bingung..."

Pemuda itu berdesah bingung dan tak mau menerima surat itu.

Tentu saja Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya.

Dengan wajah tak mengerti pula mereka memandangi Liu Yang Kun.

Tiba-tiba timbul dugaan di dalam hati mereka, kalau-kalau Pangeran itu memang sengaja tak mau pulang kembali ke istana.

Otomatis Yap Tai Ciangkun saling melirik dengan kakaknya, Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee.

Akan berat sekali tugas mereka apabila pemuda itu benar-benar tak mau pulang bersama mereka nanti.

Mereka berdua merasa tak sanggup menghadapi ilmu pemuda itu.

"Maaf, jiwi Ciangkun. Aku... aku bukan seorang Pangeran. Kata orang namaku memang Liu Yang Kun, tapi aku... aku tidak merasa menjadi seorang Pangeran. Apalagi kalau Ciangkun katakan saya adalah putera... putera Hongsiang. Aku...aku malah menjadi bingung. Benar-benar bingung. Tadi... tadi nona Souw itu juga... juga menyangka aku sebagai seorang Pangeran. Kini Ciangkun berdua juga menyangka demikian pula. Ini... ini sebenarnya bagaimana? Benarkah aku ini seorang Pangeran? Oh, bisa gila aku kalau seperti ini!"

Liu Yang Kun tampak sedih, bingung dan putus-asa.

Pemuda itu lalu duduk di tanah dan menjambaki rambutnya sendiri.

Sekali lagi Yap Tai Ciangkun saling pandang dengan Hong-Lui-Kun.

Tapi sekarang wajah mereka menjadi pucat.

Tiba-tiba terselip sebuah dugaan yang sangat mengerikan di dalam pikiran mereka.

Jangan-jangan Pangeran yang mereka cari itu telah menjadi gila!

Tak terasa Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menoleh kearah Souw Lian Cu.

Sebenarnya ia ingin bertanya tentang Liu Yang Kun kepada gadis itu.

Tapi niat itu batal ketika ia melihat sikap Souw Lian Cu yang aneh pula.Gadis ayu puteri pendekar besar Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai itu tampak bangkit berdiri dari tempatnya.

Matanya menatap penuh perasaan kepada Pangeran Liu Yang Kun.

Pelan-pelan kakinya melangkah menghampiri.

Kemudian dengan penuh kasih sayang jari-jarinya mengelus dan membelai rambut pemuda itu.

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

Tak seorangpun bersuara.

Semuanya seperti terpaku atau terpesona oleh kejadian yang tak mereka sangka itu.

Liu Yang Kun tersentak dari kesedihannya.

Wajahnya tengadah.

Tiba-tiba ia menubruk dan merangkul kaki Souw Lian Cu.

Air matanya mengalir membasahi celana gadis itu.

"Ibuuuuuu...?"

Pemuda itu berdesah perlahan.

Ia ingat akan ibunya yang sudah meninggal.

Dan sudah lama pula ia tak pernah mendapat belaian seperti itu.

Lama sekali mereka berdekapan.

Liu Yang Kun sambil berjongkok memeluk kaki Souw Lian Cu, sedangkan Souw Lian Cu sendiri sambil berdiri mendekap kepala Liu Yang Kun.

Tetapi akhirnya Liu Yang Kun maupun Souw Lian Cu menjadi sadar pula akan keadaan mereka.

Cepat-cepat mereka saling melepaskan pelukan mereka.

Liu Yang Kun memandang ke arah Souw Lian Cu dengan pandangan terima kasih, sementara Souw Lian Cu sendiri malah tertunduk dalam-dalam dengan muka merah.

"Nona, engkaukah yang mengirim surat padaku tadi siang?"

Pemuda itu berbisik perlahan. Souw Lian Cu mengangguk. Tapi ia tetap berdiam diri dan kepalanya juga tetap menunduk pula. Rasa malu dan seribu rasa lainnya tampaknya masih menguasai hatinya.

"Jadi... jadi engkau pulakah yang menjadi hantu kuntilanak itu?"

Liu Yang Kun berbisik pula sekali lagi.

Tiba-tiba kepala gadis itu tersentak.

Matanya yang bening tajam itu seolah-olah mau mengalahkan terangnya sinar rembulan yang menyoroti mereka.

Dengan galak mata itu memandang kepada Liu Yang Kun.

"Aku tak tahu apa yang kau maksudkan! Aku bukan hantu, apalagi kuntilanak. Darimana kau memperoleh dugaan keji seperti itu?"

Desahnya gemetar.

Mendadak Liu Yang Kun juga menjadi sadar pula akan kesembronoannya.

Belum-belum dia telah menuduh yang bukan-bukan kepada gadis itu.

Padahal ia merasa pula bahwa ia baru sekali ini berjumpa dengan gadis itu.

"Maaf... maaf! aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh-sungguh ceroboh sekali. Padahal aku hanya menduga-duga saja, karena di kota telah tersebar berita tentang "hantu kuntilanak"

Itu. Maafkan aku, nona Souw."

Cepat-cepat pemuda itu memperbaiki ucapannya.

Sekali lagi Souw Lian Cu menatap dengan tajamnya.

Tapi sesaat kemudian mata itu kembali meredup pula.

Lalu perlahan-lahan kepala yang molek itu mengangguk.

Liu Yang Kun menjadi lega.

Sehingga timbul pula keberaniannya.

"Dalam surat nona, nona menyebutkan sebagai "Teman Lama'.Benarkah... benarkah itu? Eh, maksudku... maksudku... benarkah kita dulu merupakan sahabat akrab? Soalnya... hmh, soalnya..."

Sulit juga ia untuk mengutarakan kata hatinya.

Sekali lagi mata yang indah itu terbelalak.

Seperti melihat sesuatu yang aneh gadis itu memandang Liu Yang Kun lekat-lekat.

Bahkan keningnya juga ikut berkerut pula.

Kemudian seperti halnya Yap Tai Ciangkun dan Hong-liu-kun Yap Kiong Lee tadi, gadis itupun menjadi pucat pula.

"Kau... kau...?"

Desahnya serak seperti hendak menangis.

Liu Yang Kun terpaku diam di tempatnya.

Pemuda itu melihat sesuatu yang sama pada pandang mata Souw Lian Cu dan yang lain-lain.

Pandang mata ngeri, aneh dan juga khawatir.

Seperti halnya orang yang memandang kepada orang gila atau orang yang tidak waras otaknya.

Tapi di dalam hati Liu Yang Kun juga memaklumi dan menyadari pula keadaan itu.

Dia te lah lupa pada masa lalunya, sehingga ia juga lupa pula pada orang-orang yang pernah dikenalnya.

Maka sungguh tidak mengherankan bila orang-orang yang pernah dikenalnya itu menjadi heran melihat sikapnya.

Bahkan dia juga tidak menjadi heran pula bila orang-orang itu lalu menganggapnya gila.

"Maaf, nona Souw... aku mengerti keherananmu. Kalau engkau memang benar-benar sahabat lamaku, engkau tentu akan heran dan kaget melihat sikapku ini. Demikian pula dengan jiwi Ciangkun beserta prajurit-prajurit ini. Mereka tentu merasa heran dan kaget pula. Tapi sungguh mati aku tak membuat bingung atau mau mempermainkan kalian semua. Aku benar-benar tak tahu siapa diriku ini. Nona mengatakan bahwa aku ini Pangeran Liu Yang Kun. Begitu pula dengan jiwi Ciangkun dan para prajurit. Bahkan isteriku dan gurunyapun juga berkata demikian pula. Tapi..."

"Isteri...?"

Souw Lian Cu tersedak kaget hampir pingsan. Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee yang selalu mengikuti dan mendengarkan percakapan mereka juga terkejut sekali.

"Pangeran sudah beristeri?' Tai Ciangkun menegaskan dengan suara tinggi.

"Siapakah nama puteri itu? dari mana dia berasal?"

Liu Yang Kun yang terpotong ceritanya dan kemudian malah memperoleh pertanyaan dari Yap Tai Ciangkun itu tidak segera menjawab pertanyaan tersebut.

Perhatiannya sedang tertuju kepada Souw Lian Cu yang tampak sangat terpukul hatinya setelah mendengar ucapannya tadi.

(Lanjut ke

Jilid 28) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 28

"Nona Souw, kau kenapa...? Apakah kau sakit?"

Tanpa menyadari kesalahannya pemuda itu bertanya. Tapi dengan menguatkan hatinya Souw Lian Cu menggelengkan kepalanya. Diam-diam gadis Itu menyembunyikan tetesan air matanya.

"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku... aku... oh!"

Gadis itu berdesah serak hampir tak bersuara.

"Teruskan ceritamu...!"

Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, yang juga pernah mendengar kisah percintaan mereka dulu, hanya dapat menghela napas saja.

Mereka mulai mendapat gambaran tentang hubungan kedua muda mudi itu sekarang.

Tampaknya kisah percintaan kedua orang itu masih tetap kurang mulus seperti dulu.

Bahkan pada pertemuan mereka yang terakhir kali ini, sang Pangeran justru telah memetik gadis yang lain, sehingga kedua muda-mudi itu menjadi cekcok satu sama lain.

Liu Yang Kun menelan ludahnya.

Setelah yakin bahwa Souw Lian Cu memang tidak apa-apa, ia lalu meneruskan ceritanya.

"Tapi... aku sendiri tetap kurang yakin kalau aku ini adalah Pangeran Liu Yang Kun. Entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi lupa pada masa laluku. Bahkan aku sampai lupa pula pada namaku sendiri. Tahu-tahu aku berada bersama seorang kakek buta bernama Lo-sin-ong dan muridnya yang bernama Tiauw Li Ing. Dari mereka itulah aku mendapat keterangan tentang diriku."

"Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing?"

Souw Lian Cu, Yap Tai Ciangkun, maupun Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee berdesah berbareng. Mereka bertiga sangat terkejut karena mereka mengenal sekali nama nama itu.

"Dari kedua orang itulah aku mendapat keterangan bahwa namaku Liu Yang Kun, putera Kaisar Han yang berkuasa saat ini. Dari mereka itu pulalah aku memperoleh keterangan bahwa aku telah kawin dengan gadis itu."

"Oooooh...!?"

Sekali lagi Souw Lian Cu berdesah.

"Bahkan mereka itu pulalah yang memberitahu padaku, mengapa aku sampai menderita sakit 'lupa ingatan' seperti ini."

Liu Yang Kun terdiam lagi.

Matanya melirik ke arah Souw Lian Cu, Yap Tai Ciangkun dan yang lain-lain.

Semuanya kelihatan masih bengong, kaget dan tertegun di tempat masing-masing.

Namun semuanya sudah kelihatan mulai berpikir dan mulai mencernakan kata-katanya.

Tampaknya mereka juga sudah mulai mengerti pula.

Bahkan Souw Lian Cu kelihatan mulai bersemangat dan sangat menaruh perhatian sekali.

"Jadi... jadi kau telah kehilangan 'ingatanmu'? Apa kata mereka?"

Gadis itu mendesak dengan suara tak sabar.

"Yaaa... ya apa kata mereka tentang penyakit Pangeran itu?"

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee ikut mendesak pula. Sekali lagi Liu Yang Kun mengedarkan pandangannya. Lalu katanya perlahan tapi jelas.

"Kata mereka aku telah dikeroyok oleh Giok-bin Tok-ong, Bok Siang Ki dan murid-muridnya sehingga luka parah. Luka-luka itulah yang menyebabkan aku menjadi lupa pada semua 'masa laluku'."

"Giok-bin Tok-ong? Bok Siang Ki?"

Semuanya benar-benar sangat terkejut mendengar nama-nama itu.

Nama-nama yang saat ini menjadi buah bibir yang mengerikan di kalangan orang-orang persilatan.

Baru satu Giok-bin Tok-ong saja sudah merupakan hantu yang sangat menakutkan, apalagi masih ditambah dengan Bok Siang Ki lagi.

Maka tidaklah mengherankan kalau mereka menjadi kaget dan terpaku diam di tempat masing-masing.

Nama-nama itu memang betul-betul menggetarkan hati mereka.

Namun demikian di balik semua itu mereka pun menjadi semakin kagum pula kepada Liu Yang Kun.

Sebab meskipun terluka parah, tapi untuk me lawan pemuda itu ternyata iblis-iblis yang mengerikan itu terpaksa harus berjuang keras dengan mengeroyoknya.

"Pangeran..."

Akhirnya Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee berdesah perlahan.

"Kalau begitu kami sekarang sudah tahu, mengapa sikap Pangeran menjadi demikian anehnya terhadap kami. Ternyata Pangeran telah terkena sebuah musibah sehingga 'menjadi lupa' kepada kami semua."

"Pangeran...?"

Liu Yang Kun berdesah pula dengan termangu-mangu.

"Jadi menurut Ciangkun... aku ini memang benar-benar Pangeran Liu Yang Kun?"

Yap Tai Ciangkun cepat melangkah maju pula.

"Benar, Pangeran,"

Sahutnya tegas.

"Pangeran tak perlu ragu-ragu. Kami berdua juga yakin dan menguatkan keterangan...keterangan Lo-sin-ong itu. Pangeran memang benar-benar Pangeran Liu Yang Kun yang menghilang beberapa tahun lalu."

"Ya! Kami berdua telah membuktikannya tadi. Tiada seorangpun di dunia ini yang memiliki ilmu K im-coa-ih-hoat itu selain Pangeran Liu Yang Kun sendiri."

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee ikut menambahkan pula.

"Ilmu Kim-coa ih-hoat...?"

Liu Yang Kun bergumam sambil mengerutkan dahinya.

"Benar! Ilmu silat yang Pangeran keluarkan untuk melawan kami tadi adalah ilmu yang dahsyat itu. Ilmu silat itu pulalah yang membuat Pangeran menjadi tersohor beberapa tahun yang lalu. Mungkin banyak orang lain yang wajahnya mirip Pangeran, tapi tak mungkin mereka itu memiliki Ilmu Kim-coa ih-hoat seperti Pangeran!"

Sekali lagi Hong-liu-kun Yap Kiong Lee menandaskan.

"Ehmmmmm..."

Liu Yang Kun bergumam dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Dia dapat menerima keterangan yang disodorkan oleh dua orang perwira kerajaan itu.

Keterangan mereka memang masuk akal dan beralasan.

Namun demikian di dalam hati kecilnya masih ada juga sedikit ganjalan untuk menerima kenyataan itu.

Entah mengapa hatinya tetap tak suka pada kedudukan sebagai Pangeran itu.

Tapi apa dayanya lagi.

Semuanya telah meyakinkan dirinya, bahwa ia memang benar-benar Pangeran Liu Yang Kun.

Dia sudah tak bisa ingkar pula.

"Baiklah, Tai Ciangkun. Lalu apa yang mesti kulakukan sekarang?"

Akhirnya ia berkata pasrah.

Yap Tai Ciangkun saling pandang dengan kakaknya.Hatinya menjadi gembira sekali.

Ternyata mereka tidak pulang dengan tangan hampa.

Mereka benar benar dapat membawa pulang Pangeran Liu Yang Kun.

Betapa suka citanya hong siang nanti.

"Terima-kasih, Pangeran. Kami betul-betul merasa lega sekarang. Sungguh, kami tak bisa membayangkan, bagaimana suka-citanya ayahanda baginda nanti? Beliau akan keluar dari penjaranya di Kuil Agung itu..."

Yap Tai Ciangkun berkata dengan gembira. Bersama kakaknya ia memberi hormat kepada Liu Yang Kun.

"Hongsiang...? Dipenjara di Kuil Agung?"

Liu Yang Kun dan Souw Lian Cu berdesah bengong. Sekali lagi Yap Tai Ciangkun saling pandang dengan kakaknya. Mereka tersenyum ketika memandang ke arah Liu Yang Kun lagi.

"Panjang ceritanya, Pangeran... Biarlah kami dan nona Souw Lian Cu nanti yang bercerita tentang masa lalu Pangeran. Termasuk diantaranya, mengapa Hongsiang sampai memenjarakan dirinya sendiri di Kuil Agung istana itu. Dan bagaimana pula sumpah Hongsiang untuk tidak keluar dari halaman Kuil Agung itu sebelum Pangeran kembali ke istana."

Yap Tai Ciangkun menerangkan.

"Aku...? Mengapa aku juga harus bercerita pula?"

Tiba-tiba Souw Lian Cu menyela dengan kaget. Lagi-lagi Yap Tai Ciangkun tersenyum pula.

"Maaf, nona Souw... Kami tidak bermaksud untuk memaksa kepada nona Souw. Kami hanya bermaksud untuk meminta tolong kepadamu, karena kau pun juga paham dan tahu pula akan masa lalu Pangeran Liu Yang Kun. Bahkan mungkin lebih lengkap dari pada pengetahuan kami sendiri. Kami hanya..."

"Aku tidak mau!"

Dengan tegas Souw Lian Cu menolak.

"Tapi...?"

"Tidak! Aku akan pergi dari sini!"

Sekali lagi Souw Lian Cu menolak, kemudian melangkah pergi dari tempat itu.

"Tunggu...!"

Tiba-tiba Liu Yang Kun berteriak dan berkelebat pula mencegat gadis itu.

Souw Lian Cu terpaksa menunda langkahnya.

Dia berdiri tegang di depan Liu Yang Kun.

Matanya yang bulat indah itu menatap dengan tajamnya.

"Pangeran...Pangeran mau apa? Ke-kenapa menghalangi langkahku?"

Katanya kaku. Tiba-tiba Liu Yang Kun menekuk lututnya di depan gadis itu. Dengan suara lembut, seperti ketika dia memeluk kaki gadis itu tadi, ia berkata.

"Nona Souw...! Kuminta dengan sangat kau jangan pergi dulu! Kau tolonglah aku dulu untuk memulihkan 'ingatanku yang hilang' itu. Dan... bukankah nona belum berkata apa-apa kepadaku? Di dalam surat itu nona menyatakan bahwa nona ingin berkata sesuatu kepadaku..."

Pemuda itu memohon sambil menengadahkan mukanya.

Perpaduan antara suara dan tatapan matanya seolah-olah menimbulkan getaran yang menyusup ke dalam hati sanubari Souw Lian Cu, sehingga batu-batu yang tersimpan di dalam dada gadis itu seakan-akan melumer dengan sendirinya.

Wajah yang tegang itu tiba-tiba mengendor, dan mata yang dingin itu tiba tiba juga menghangat kembali.

Lalu dengan suara lirih, sehingga hampir-hampir tak terdengar oleh siapapun, gadis itu berbisik.

"Tapi aku... aku tak bisa... bercerita apa-apa. Dan...dan sebenarnya aku juga tak punya kata kata yang hendak kuucapkan kepadamu..."

Namun dengan suara yang tak kalah lirihnya, Liu Yang Kun tetap memohon pula dengan penuh perasaan.

"Tapi bagaimanapun juga aku tetap memohon pertolonganmu, nona Souw. Janganlah kau biarkan aku terus-terusan menderita seperti ini."

Keduanya lalu terdiam untuk beberapa saat lamanya.Terjadi perang batin di dalam dada gadis ayu itu, antara mengabulkan atau menolak permintaan itu.

"Maukah...? Maukah nona menolong aku?"

Dengan suara bergetar Liu Yang Kun terus mendesak.

Akhirnya getaran batin Souw Lian Cu tak bisa menolak lagi.

Rasa cinta yang selama ini tetap mekar di dalam hati gadis ayu itu telah mengalahkan segalanya.

"Baiklah..."

Bibir itu berbisik pelan seperti kepada dirinya sendiri. Tiba-tiba Liu Yang Kun berlutut. Dengan suara gembira pemuda itu berdesah.

"Terima kasih, Nona Souw. Terima kasih..."

Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun kedua perwira itu menjadi lega dan gembira pula tatkala menyaksikan akhir dari perselisihan itu.

"Nah! Sekarang marilah kami persilahkan nona Souw dan Pangeran Liu Yang Kun untuk memasuki perkemahan kami..!"

Yap Tai Ciangkun mempersilahkan mereka.

Demikianlah, di bawah kawalan para perajurit yang semula telah mengeroyok mereka Souw Lian Cu dan Liu Yang Kun memasuki komplek perkemahan tersebut.

Mereka langsung menuju ke tenda Yap Tai Ciangkun, yaitu tenda yang terbesar dan terletak di tengah-tengah tenda-tenda yang lain.

Demikianlah para perwira dan perajurit yang ada di dalam perkemahan itupun lalu mengadakan pesta sederhana, untuk merayakan keberhasilan tugas mereka, karena telah menemukan kembali Pangeran Liu Yang Kun.

Di dalam tenda Yap Tai Ciangkun pun juga diadakan perjamuan sekedarnya pula untuk menyambut kehadiran Pangeran Liu Yang Kun di antara mereka.

Dan sambil makan-minum sajian sederhana yang mereka suguhkan, Liu Yang Kun mendengarkan cerita Yap Tai Ciangkun tentang dirinya.

Kadang-kadang Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu ikut pula menyela atau memberi tambahan dalam cerita itu.

Pangeran Liu Yang Kun memang mempunyai riwayat hidup yang sangat menarik.

Dia lahir pada saat jaya-jayanya Kaisar Chin Si Hong-te almarhum.

Dan secara kebetulan pula dia dibesarkan di dalam keluarga seorang Pangeran Chin, karena ketika dia berusia dua bulan di dalam kandungan ibunya, ibunya itu diambil isteri oleh salah seorang dari putera Kaisar Chin Si Hong-te.

Ibunya itu diambil secara paksa dari tangan Liu Pang, ayahnya, yang pada waktu itu masih merupakan seorang petani miskin di desanya.

(Baca.

Pendekar Penyebar Maut).

Sekarang Liu Pang telah menjadi Kaisar, bergelar Kaisar Han Ko Co.

Dan ternyata ayah dan anak yang telah ber puluh tahun dipisahkan itu dapat bertemu kembali.

Namun karena sesuatu hal keduanya terpaksa berpisah lagi.

Liu Yang Kun yang menderita penyakit 'tubuh beracun' itu terpaksa pergi meninggalkan istana untuk menyembuhkan penyakitnya.

Sementara sepeninggal puteranya, Hongsiang telah bersumpah untuk tidak meninggalkan halaman Kuil Agung Istana sebelum Liu Yang Kun kembali pulang.

Demikianlah karena sesuatu hal pula Liu Yang Kun baru dapat diketemukan sekarang.

Bahkan setahun yang lalu pemuda itu pernah dikhabarkan mati, sehingga Hongsiang sempat hampir putus-asa karenanya.

Untunglah hati Hongsiang sangat kuat dan tidak mau percaya kalau puteranya sudah mati, sehingga beliau tetap saja mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk mencari Liu Yang Kun.

Lewat tengah malam perjamuan sederhana itu baru selesai.

Selama itu pula Souw Lian Cu tidak berani menyebut-nyebut surat-suratnya yang telah beberapa kali dia titipkan orang untuk Liu Yang Kun.

Gadis itu tahu bahwa Liu Yang Kun yang telah kehilangan ingatannya itu takkan ingat pula pada surat-suratnya yang terdahulu, sehingga ia diam saja dan tak berani mengutik-utik masalah surat itu.

Apalagi gadis itu telah menjadi hambar hatinya begitu mendengar kekasihnya itu telah menikah dengan Tiauw Li Ing, gadis jahat yang telah membunuh keluarga Chu Seng Kun itu.

Ternyata Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee pun tidak berusaha mengorek keterangan tentang perkawinan Liu Yang Kun.

Sebagai seorang perwira kerajaan mereka sudah terbiasa melihat para bangsawan memiliki beberapa orang isteri atau selir di rumahnya.

Selain itu mereka juga ingin menjaga perasaan hati Souw Lian Cu yang mereka tahu pernah memiliki hubungan asmara dengan Pangeran Liu Yang Kun.

'Nah, Pangeran...

kami telah menceritakan riwayat hidup Pangeran.

Dan hanya itu pulalah yang kami ketahui selama ini.

Kalau Pangeran masih belum juga puas, Pangeran bisa bertanya sendiri kepada Hongsiang.

Beliau akan bercerita tentang masa lalu Pangeran sejelas-jelasnya,"

Yap Tai Ciangkun mengakhiri keterangannya.

Liu Yang Kun tidak segera menyahut.

Pemuda itu masih tetap merenung mengawasi tikar tenda yang digelar sebagai alas ruangan itu.

Meskipun ia sudah tak bisa ingkar lagi dan sudah sanggup menerima kenyataan itu, namun di dalam hati kecilnya pemuda itu tetap belum merasa puas juga.

Selain dia tak menyukai kedudukan sebagai Pangeran itu, dia sendiri juga sudah lupa pula kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya dulu.

Jangankan dengan punggawa-punggawa istana lainnya, sedangkan wajah Hongsiang pun ia sudah tak ingat pula lagi.

Bagaimana dia bisa senang dengan keadaan seperti itu?

"Paling tidak aku harus dapat mengembalikan ingatanku yang hilang itu dahulu, baru aku bisa berkumpul dengan Hongsiang di Istana.

Tanpa itu hatiku akan selalu tersiksa.Aku akan seperti orang asing yang terpenjara di sangkar emas..."

Akhirnya pemuda itu bergumam perlahan seperti kepada dirinya sendiri.

"Tapi... dengan beradanya kembali Pangeran di istana, ingatan yang hilang itu kemungkinan besar akan kembali pula dengan sendirinya. Apalagi kalau Pangeran nanti sudah berdekatan dengan ayahanda baginda..."

Yap Tai Ciangkun cepat-cepat memotong takut kalau tiba-tiba Liu Yang Kun membatalkan lagi niatnya untuk pulang kembali ke istana. Perlahan-lahan Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Itu akan memerlukan waktu yang lama, Tai Ciangkun. Aku tidak sabar lagi. Aku tidak tahan terlalu lama begini. Lebih baik aku mencari tabib yang pandai untuk mengobati 'penyakitku' ini. Baru setelah sembuh nanti aku akan kembali ke istana."

Yap Tai Ciangkun memandang kakaknya dengan tegang.Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Membiarkan Liu Yang Kun pergi berarti tugasnya gagal.

Tapi kalau harus mencegah pemuda itu, ia merasa takkan mampu pula melakukannya.

Kalau pemuda itu marah, semuanya akan menjadi runyam nanti.

"Di istana pun banyak tabib yang pandai, Pangeran,"

Akhirnya Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee mencoba untuk mencegah kehendak Liu Yang Kun itu. Namun sekali lagi Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Maaf, Ciangkun... aku agak merasa kurang yakin dengan tabib-tabib istana. Kalau mereka itu benar-benar pandai, tentunya mereka juga bisa mengobati tubuhku yang beracun itu, sehingga aku tak perlu jauh-jauh pergi keluar istana seperti cerita Ciangkun tadi..."

Pemuda itu membantah. Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menghela napas.

"Lalu... apa yang hendak Pangeran lakukan sekarang?"

Desaknya.

"Aku akan mencari tabib yang sekiranya bisa menyembuhkan penyakitku ini dulu..."

"Tapi...?"

Yap Tai Ciangkun hendak memotong, tapi cepat-cepat menutup kembali bibirnya. Yap Kiong Lee tiba-tiba telah menggamit tangannya.

"Ba-baiklah kalau Pangeran memang menghendaki demikian..."

Jago silat nomer satu di istana itu segera meneruskan perkataan adiknya.

"Tapi... tapi untuk itu perbolehkan kami semua membantu Pangeran..."

Liu Yang Kun mengangkat wajahnya dengan kaget.

"Maksud Ciangkun?"

Desahnya.

"Maksud kami ialah agar kami diperbolehkan mengawal Pangeran kemanapun Pangeran pergi. Pangeran adalah putera Hongsiang. Tidak selayaknyalah kalau Pangeran berjalan sendirian. Selain itu kami juga takut akan kemurkaan hong siang pula."

"Benar, Pangeran. Perbolehkanlah kami semua mengantar Pangeran mencari tabib sakti itu."

Yap Tai Ciangkun yang segera memahami maksud kakaknya itu cepat-cepat menambahkan. Namun dengan cepat pula Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Wah, jangan...! Itu akan sangat merepotkan aku malah, Bagaimana aku harus menjelajah desa dan kota dengan pasukan sebanyak ini?"

"Tapi...?"

Yap Tai Ciangkun hendak membantah pula. Untunglah kakaknya cepat menggamitnya lagi. Lalu dengan tenang jagoan istana itu berkata.

"Kalau begitu... biarlah aku sendiri saja yang mengawal Pangeran. Selain tidak merepotkan Pangeran, kami berdua juga tidak akan kena murka pula dari Hongsiang nanti."

Dengan kaget Yap Tai Ciangkun menatap kakaknya.

"Toa-ko, kau...?"

Tegurnya. Tapi dengan tenang pula Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menjawab teguran adiknya itu.

"Biarlah, Khim-te. Inilah jalan tengah yang terbaik buat kita. Dari pada kita kehilangan jejak Pangeran Liu Yang Kun lagi."

"Ah!"

Panglima itu berdesah, memaklumi kebijaksanaan kakaknya.

"Bagaimana, Pangeran? Kalau cuma aku saja yang mengawal, tentu tidak akan merepotkan Pangeran, bukan? Bahkan aku bisa mengurusi segala kebutuhan Pangeran di dalam perjalanan itu."

Yap Kiong Lee mendesak pula. Liu Yang Kun tersenyum kikuk. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak tawaran Yap Kiong Lee itu. Maka dengan sangat berat ia terpaksa menganggukkan kepalanya.

"Terima kasih, Pangeran..."

Jagoan istana itu menyatakan terima kasihnya dengan air muka berseri-seri.

"Tapi... kemanakah Pangeran hendak mencari tabib sakti itu?"

Yap Tai Ciangkun yang tetap tak ingin kehilangan jejak Pangeran Liu Yang Kun itu mencoba untuk mencari tahu tujuan perjalanan tersebut.

Liu Yang Kun menatap wajah panglima itu sebentar, lalu menggeleng pula dengan ragu-ragu.

"Entahlah! Aku tidak tahu..."

Desahnya perlahan.

"Di dunia persilatan pernah hidup seorang tabib sakti yang memiliki ilmu seperti dewa. Tabib itu bergelar Bu-eng-sin-yok-ong. Begitu hebat ilmu pengobatannya sehingga banyak orang yang mengatakan bahwa dia mampu menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Namun sayang sekali... orang itu hidup pada zaman seabad yang lalu."

Yap Kiong Lee tiba-tiba bercerita. Liu Yang Kun menoleh dengan cepat.

"Apakah... apakah dia itu tidak mewariskan ilmunya kepada muridnya!"

Tanyanya bersemangat.

"Sebenarnya ada. Salah seorang cucu muridnya ada yang mewarisi ilmu ketabibannya itu. Namanya adalah..., Chu Seng Kun!"

Tiba-tiba Souw Lian Cu ikut menyela pula pembicaraan itu.

"Chu Seng Kun...?"

Liu Yang Kun, Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee berdesah berbareng.

"Ya!"

Souw Lian Cu mengangguk dengan kaku. Tiba-tiba matanya bersinar tajam penuh kebencian.

"Namun sayang... beliau itu telah mati pula dibunuh orang!"

"Hah...?"

Sekali lagi Liu Yang Kun, Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee berseru berbareng pula.

Terutama yang paling keras adalah Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, karena jagoan istana tersebut sudah sangat mengenal dengan Chu Seng Kun.

"Siapa yang telah berani membunuh tabib yang baik budi itu?"

Tiba-tiba Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menggeram.

Sekejap matanya seperti menyala di dalam terangnya sinar obor yang menyala di dalam ruangan itu.

Souw Lian Cu menggeram pula.

Tiba-tiba matanya menatap ke arah Liu Yang Kun.

"Yang membunuh beliau adalah...orang-orangnya Tung-hai-tiauw! Mereka adalah... Tung-hai Nung-jin, Tiauw Kiat Su dan... Tiauw Li Ing!"

"Haaaah???"

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee dan Yap Tai Ciangkun berseru kaget.

Otomatis pandangan mereka juga tertuju ke arah Liu Yang Kun.

Yang tidak kalah kagetnya pula adalah Liu Yang Kun.

Meskipun dia sudah tidak ingat lagi kepada Chu Seng Kun, namun melihat sikap dan cara mereka berbicara tentang tabib sakti itu ia bisa menggambarkan macam apa orang yang mereka ceritakan tersebut.

Sehingga di dalam hatinyapun diam-diam telah timbul pula dugaan jelek kepada Tiauw Li Ing, wanita yang mengaku sebagai isterinya itu.

"Ayahnya seorang Raja Bajak Laut di Lautan Timur. Seorang bajak laut tentunya juga bukan orang baik-baik. Dia tentu suka merampok dan membunuh orang. Dan tampaknya nona Souw ini juga tidak berbohong pula tentang... tentang tabib sakti Chu Seng Kun. Oooh... aku menjadi bingung dan pusing memikirkannya. Benarkah... benarkah dia itu isteriku?"

Karena itu pula Liu Yang Kun tak berani menatap orang-orang yang duduk di depannya itu.

Tiba-tiba kepalanya tertunduk.

Keningnya berkerut.

Bahkan beberapa kali mulutnya berdesah.

Tak tega juga Yap Tai Ciangkun dan Yap Kiong Lee menyaksikan keadaan itu.

Sambil menghela napas panjang Yap Tai Ciangkun memandang ke arah Souw Lian Cu.

"Benarkah mereka membunuh Chu Seng Kun?"

Katanya kemudian dengan suara agak ragu pula.

Dengan cepat Souw Lian Cu lalu bercerita tentang kejadian yang menyedihkan di rumah keluarga Chu setengah bulan yang lalu.

Bagaimana tabib sakti itu berusaha menolong dan melindungi seorang wanita yang mau melahirkan.

Dan bagaimana pula seluruh keluarga tabib sakti itu dibasmi dan dibakar rumahnya oleh Tiauw Li Ing beserta kawan kawannya itu.

"Sungguh keji..."

Tak terasa mulut Liu Yang Kun bergumam. Namun mulut itu cepat-cepat terkatup kembali ketika teringat bahwa Tiauw Li Ing adalah isterinya.

"Memang sangat keji dan tak berperi-kemanusiaan. Oleh karena itu pula apabila ada kesempatan aku akan menuntut balas atas kejadian itu."

Souw Lian Cu berkata tegas.

"Bagaimanapun juga paman Chu masih terhitung keluargaku pula, karena ibuku adalah adik perempuan paman Chu."

"Ah. benar...!"

Tiba-tiba Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tergagap sadar dari ketermanguannya.

"Souw Hujin (Nyonya Souw) memang adik dari Chu Taihiap. Kalau begitu Souw Hujin tentu mewarisi pula kepandaian kakaknya itu. Ehmmm, Pangeran...! Bagaimana kalau kita menemui Hong-Gi-Hiap Souw Thian Hai dan isterinya saja? Siapa tahu Souw Hujin itu bisa mengobati penyakit Pangeran itu?"

Liu Yang Kun tersentak kaget pula.

Sesaat tampak sinar kegembiraan di matanya.

Tapi di lain saat wajah itu kelihatan sedih dan ragu-ragu lagi.

Apalagi ketika tampak di matanya wajah Souw Lian Cu yang keras dan kaku serta penuh dendam itu.

"Ini... ini... tentu saja terserah kepada nona Souw. Kalau nona Souw mau...mau mengantarkan aku kepada ibunya..."

Akhirnya pemuda itu berdesah perlahan seperti kepada dirinya sendiri.

Dan sama sekali pemuda itu tidak berani menatap Souw Lian Cu.

Yap Tai Ciangkun dan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee segera menjadi maklum dan sadar pula.

Tak terasa mereka lalu memandang kepada Souw Lian Cu dengan sinar mata penuh permohonan.

"Nona Souw...? Maukah nona menolong Pangeran Liu Yang Kun?"

Yap Tai Ciangkun lalu meminta dengan halus. Namun dengan angkuh gadis itu melengos. Suaranya terdengar sangat keras dan kaku ketika menjawab permintaan itu.

"Maaf, Tai Ciangkun. Bagaimana aku bisa berjalan bersama dengan wanita yang telah membunuh keluarga paman Chu? Kalaupun aku mau, masakan ibuku juga mau mengobati suami orang yang telah membunuh kakaknya?"

"Ah... benar juga. Hmm... bagaimana, ya?"

Yap Tai Ciangkun tersipu-sipu. Sementara itu Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee lalu mendekati Liu Yang Kun.

"Pangeran... Bagaimana menurut pendapat Pangeran? Satu-satunya ahli waris Bu-eng Sin-yok-ong sekarang tinggal Souw Hujin saja. Tampaknya hanya dia yang mampu mengobati penyakit Pangeran itu. Tapi... tentu saja Souw Hujin tidak mau dan tidak bersedia mengobati penyakit itu kalau...kalau isteri Pangeran yang bernama Tiauw Li Ing itu ikut serta. Mereka saling bermusuhan."

Tiba-tiba Liu Yang Kun mengangkat wajahnya. Ditatapnya mata Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee lekat-lekat.

"Ciangkun... Menurut pendapat Ciangkun, apakah benar dia itu isteriku...?"

Tanyanya mengagetkan.

Tentu saja ucapan itu terasa aneh di telinga Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, Yap Tai Ciangkun dan Souw Lian Cu.

Begitu anehnya sehingga mereka bertiga menjadi kaget dan ternganga keheranan.

Dan Liu Yang Kun sendiri ternyata dengan cepat juga menyadari keanehannya itu.

"Eh, maksudku... maksudku...aku sendiri juga kurang yakin akan hal itu. Begitu sadar dari pingsanku, dia... dia telah berada di dekatku. Dan dia pula yang mengatakan bahwa aku adalah suaminya. Terpaksa... terpaksa aku pun menerimanya. Aku beranggapan, masakan seorang gadis cantik seperti dia membohongi aku. Tapi di dalam hati kecilku aku agak... agak kurang yakin akan hal itu. Namun untuk membuktikannya aku tak bisa. Selain ingatanku telah hilang, akupun tak punya alasan dan bukti untuk menyanggahnya..."

Katanya kemudian dengan terbata-bata. Sambil berkata matanya tak lepas memandang ke arah Souw Lian Cu.

"Lalu mengapa Pangeran menanyakan hal itu kepada kami? Tentu saja kami-pun semakin tak bisa menjawab pertanyaan itu."

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menjawab pula.

"Bukan begitu, Ciangkun? Maksudku bagaimanakah menurut tanggapan Ciangkun tentang perkawinan itu? Masuk akalkah kalau aku ini kawin dengan Tiauw Li Ing itu? Maksudku... maksudku... kalau aku ini dalam keadaan sehat dan waras... bisakah aku ini kawin dengan wanita itu? Maksudku... dengan puteri seorang raja bajak laut itu?"

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee menghela napas panjang.

Ia tahu Pangeran itu membutuhkan pertolongan orang lain untuk menjawab pertanyaan itu.

Namun bagaimana dia harus menjawabnya?

Semuanya serba mungkin.

Dan dia sendiri tak tahu persis lika-liku perjalanan hidup mereka.

"Ah... sungguh sulit untuk menjawabnya, Pangeran. Semuanya itu memang bisa saja terjadi. Tiada yang tidak mungkin di dunia ini. Memang, kalau dipandang sepintas lalu... perkawinan Pangeran itu seperti tidak mungkin. Sedikit banyak saya sudah mengerti watak dan pribadi Pangeran. Begitu pula dengan watak dan pribadi anak Tung-hai-tiauw itu. Dan kedua watak dan pribadi itu rasa-rasanya sulit dipertemukan. Apalagi Pangeran adalah putera Hongsiang, kaisar yang paling terhormat dan berkuasa di negeri kita ini. Sedangkan gadis itu adalah anak seorang raja bajak laut yang menjadi musuh negara..."

Belum habis perkataan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, tiba-tiba Liu Yang Kun melompat dan mengguncang lengan jago dari istana itu. Wajah pemuda itu tampak lega dan berseri-seri.

"Ciangkun! Itulah jawaban yang kumaksudkan! Rasa-rasanya hatikupun berpendapat begitu! Hanya... hanya aku sendiri tak bisa mengatakan...!"

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tersenyum, walaupun sebenarnya pundaknya terasa sakit.

Selain luka dalam yang dideritanya tadi masih belum sembuh, cengkeraman Liu Yang Kun itu pun memang sangat kuat.

Beberapa saat kemudian Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee lalu bertanya.

"Lalu apa yang hendak Pangeran lakukan setelah mengetahui jawaban saya itu?"

Liu Yang Kun terdiam. Tiba-tiba saja pemuda itu sadar kembali. Dengan wajah agak malu-malu ia melirik ke arah Souw Lian Cu.

"Ciangkun. kalau nona Souw memang menghendaki demikian, akupun takkan membawa Tiauw Li Ing pula. Biarlah untuk sementara ia tinggal bersama gurunya. Aku akan menemui dia lagi setelah penyakitku itu hilang, sehingga aku bisa menentukan sikap terhadapnya. Kalau aku dan dia memang benar-benar sudah kawin dan saling mencinta, yah...apa boleh buat, aku tentu akan kembali kepadanya. Tapi sebaliknya, kalau semua ini hanya lelucon dan sandiwara belaka, hmm... akupun tak mau tinggal diam pula. Aku akan membuat perhitungan dengan mereka!"

"Oooh!"

Hong-Lui-Kun dan Yap Tai Ciangkun berdesah lega.

Kemudian semua pandangan terarah kepada Souw Lian Cu.

Gadis itulah kini yang harus mengambil keputusan.

Tadi dia telah mengajukan alasan dan keberatannya.

Namun kini ternyata Liu Yang Kun sanggup meninggalkan Tiauw Li Ing.

"Nah, nona Souw... kau sekarang tidak berkeberatan lagi, bukan?"

Yap Tai Ciangkun berkata halus.

Souw Lian Cu tidak bisa mengelak lagi.

Selain ia tak punya alasan untuk menolak lagi, sebenarnya hati kecilnya pun merasa tak tega pula melihat penderitaan orang yang dicintainya itu.

Maka tiada jawaban lagi yang harus ia berikan, selain mengangguk.

"Terima kasih, nona Souw..."

Liu Yang Kun hampir saja berteriak saking gembiranya.

Yap Tai Ciangkun saling pandang dengan kakaknya.

Diam-diam mereka tersenyum sambil mengangguk-angguk.

Ternyata jalinan kasih sayang di lubuk hati kedua muda-mudi itu sedemikian kuatnya sehingga masing-masing seperti saling mendekat dengan sendirinya.

Padahal Pangeran Liu Yang Kun dalam keadaan 'hilang ingatan', dan sudah tak ingat lagi bahwa ia pernah mencintai gadis itu.

"Nah, Twako... bagaimana rencanamu sekarang?"

Yap Tai Ciangkun berbisik kepada kakaknya.

"Kau boleh meneruskan perjalananmu ke kota raja besok pagi. Kau beritahukanlah kepada Hongsiang bahwa Pangeran Liu Yang Kun telah kita temukan. Aku sekarang akan mengikuti Pangeran Liu Yang Kun kemanapun dia pergi."

"Kalau begitu... baiklah. Tapi kuharap Twako berhati-hati. Jangan sampai Pangeran itu terlepas lagi."

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tersenyum.

"Jangan khawatir, Khim-te. Aku akan mempertaruhkan seluruh jiwa dan ragaku untuk menjaga Pangeran Liu Yang Kun. Bagaimanapun juga dia harus kembali ke istana."

Demikianlah, malam itu juga Souw Lian Cu mengajak Liu Yang Kun untuk berangkat.

Karena gadis itu juga tidak tahu dimana ayah dan ibu tirinya berada, maka ia memutuskan untuk pergi ke Cin-an saja.

Siapa tahu ayah ibunya juga diundang pada pesta perkawinan Ketua Tiam-jong-pai itu?

Ketika mereka bertiga lewat di tepi hutan dimana Liu Yang Kun dan nona Souw Lian Cu tadi berjumpa, mereka melihat bekas-bekas pertempuran di sana.

Dan tampaknya pertempuran yang terjadi di tempat itu sedemikian hebatnya, sehingga tempat itu seperti habis diamuk oleh kawanan gajah liar.

"Emm... tampaknya baru saja ada pertempuran besar di tempat ini."

Yap Kiong Lee berkata perlahan. Lalu tambahnya lagi dengan dahi berkerut.

"Tapi... siapa saja yang telah bertempur itu? Mengapa suara dentang senjata mereka tidak terdengar sama sekali?"

Souw Lian Cu menoleh sambil mengangkat pundaknya.

"Entahlah, saya juga tidak tahu. Tadi sore aku memang berada di tempat ini pula, tapi waktu itu aku tak melihat apa-apa. Mungkin pertempuran itu terjadi setelah aku meninggalkan tempat ini..."

"Aku juga tidak tahu pula. Namun aku bisa menduganya..."

Tiba-tiba Liu Yang Kun menyela.

"Apa? Pangeran mengetahui siapa mereka...?"

Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu berdesah hampir berbareng. Otomatis keduanya mengawasi Liu Yang Kun dengan nada ingin tahu. Tapi dengan cepat Liu Yang Kun menggoyangkan tangannya.

"Bukan begitu. Saya tidak mengatakan bahwa saya tahu. Saya hanya mengatakan bahwa saya dapat menduga saja..."

Ia menjelaskan. Yap Kiong Lee tersenyum.

"Maaf. Hmm... kalau begitu lekaslah Pangeran mengatakannya,"

Ujarnya kemudian.

"Kedatanganku di tempat ini sore tadi, selain untuk menemui nona Souw Lian Cu juga untuk mengejar hantu kuntilanak yang mengganggu penduduk kota Cia-souw. Namun karena datang terlambat, maka aku telah kehilangan jejak kuntilanak itu bersama para pengejarnya. Oleh karena itu aku mempunyai dugaan bahwa tempat ini digunakan sebagai ajang pertempuran oleh Kuntilanak itu dengan para pengejarnya."

"Oh... jadi itukah sebabnya Pangeran menuduh aku sebagai kuntilanak?"

Souw Lian Cu berkata geram. Liu Yang Kun menyeringai kikuk.

"Benar..."

Desahnya kemalu-maluan.

"Hantu kuntilanak...?"

Sebaliknya Yap Kiong Lee berseru heran.

"Apa itu...?"

Liu Yang Kun memandang Jagoan istana yang kini menjadi pengawalnya itu.

"Ciangkun belum mendengarnya?"

Dengan kening tetap berkerut Yap Kiong Lee menggelengkan kepalanya.

"Bagaimana dengan nona Souw? Apakah nona juga belum mendengar cerita tentang hantu itu?"

Liu Yang Kun bertanya pula kepada Souw Lian Cu.

"Aku pernah mendengarnya. Bahkan tidak cuma di sini. Di kota Lai-couw dan Si-pouw pun aku pernah mendengar tentang kuntilanak itu."

Kota Lai-couw dan Si-pouw adalah kota kecil yang letaknya tidak jauh dari kota Cia-souw itu.

Kedua kota kecil itu terletak agak jauh dari jalan utama yang menghubungkan kota Cia-souw dengan Cin-an, sehingga jarang sekali disinggahi para pelancong maupun pedagang.

Maka sungguh mengherankan sekali kalau gadis itu sampai di sana.

"Apa saja yang nona dengar tentang hantu itu?"

Liu Yang Kun mendesak. Souw Lian Cu mengangkat wajahnya. Matanya yang bening itu menatap Liu Yang Kun sebentar. Setelah itu seraya melangkahkan kakinya ia menjawab.

"Cukup banyak. Tapi sebaiknya kita meninggalkan tempat ini terlebih dahulu. Hutan ini cuma beberapa lie saja dari kota Cia-souw. Kau tidak akan jadi berangkat kalau isterimu menyusul kemari..."

"Ah...!"

Liu Yang Kun berdesah kecut.

Mukanya merah padam.

Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee tersenyum di dalam hati.

Diam-diam ia merasa geli, namun juga bercampur dengan perasaan prihatin pula menyaksikan jalan percintaan mereka.

"Hmm... sungguh mengherankan! Bagaimana sebenarnya hubungan kasih mereka itu? Demikian dekat hati mereka, tapi juga demikian jauh rasanya jarak mereka? Aneh benar...?!"

Jagoan dari istana itu bergumam di dalam hati.

Lalu tangannya menggandeng Liu Yang Kun dan membawanya melangkah mengikuti Souw Lian Cu.

Demikianlah mereka lalu bergegas meninggalkan hutan kecil itu.

Mereka berjalan cepat melewati jalan utama yang menuju ke arah kota Cin-an.

Mereka melangkah tanpa berbicara sama sekali, seolah-olah mereka itu memang berjalan sendiri-sendiri.

Sementara itu di penginapan Tiauw Li Ing tidur pulas sampai pagi.

Permainan cinta yang menggelora sehari penuh bersama Liu Yang Kun itu membuatnya lemah dan lelah luar biasa.

Ia baru bangun ketika gurunya yang buta itu mengetuk pintu kamarnya.

Tapi betapa kagetnya dia ketika Liu Yang Kun tak ada di sampingnya.

Dan hatinya semakin menjadi kaget pula begitu menyadari dirinya juga belum berpakaian sama sekali.

Apalagi ketika dilihatnya pembaringan itu masih kusut dan berantakan seperti kemarin malam.

"Aku... aku telah tertidur malam tadi. Dan... dan... dia belum kembali dari melihat keributan itu! Oh!"

Dia menjerit di dalam hati. Bergegas Tiauw Li Ing mengenakan pakaiannya. Kemudian ia membuka pintu dan melompat keluar.

"Suhu, dia...dia pergi!"

Serunya serak. Matanya yang merah hampir menangis itu menatap kesana kemari dengan liarnya. Tentu saja Lo-sin-ong menjadi bingung dan kaget. Tak tahu apa yang dimaksudkan Tiauw Li Ing.

"Pergi? Siapa yang pergi? Suamimu...?"

"Benar. Suamiku... dia... dia telah pergi tadi malam. Sekarang belum juga kembali."

Tiauw Li Ing menjawab gugup. Dan kini air matanya benar-benar telah menggenangi pelupuk matanya.

"Ooooh...?"

Orang tua itu tersentak dan buru-buru menarik tangan Tiauw Li Ing ke dalam kamar kembali.

"Mengapa? Bagaimana itu bisa terjadi?"

Desaknya sambil menutup pintu kamar.

Sekejap wajah yang cantik itu menjadi merah.

Tapi di lain saat wajah itu kembali tegang dan ketakutan pula.

Dengan suara gugup dan terputus-putus gadis itu lalu bercerita tentang kejadian malam tadi.

Kecuali tentu saja mengenai permainan cintanya yang bergelora itu.

"Hmm... aku memang mendengar pula suara ribut tentang kuntilanak itu. Tapi aku tetap tinggal di dalam kamar. Jadi... anak itu keluar dan belum kembali lagi? Mengapa kau sampai pulas begitu?"

Kakek buta itu akhirnya berkata dengan suara agak menyesal.

Sekali lagi wajah Tiauw Li Ing menjadi merah.

Ia tak bisa menjawab pertanyaan orang tua itu.

Hanya air matanya saja yang mulai turun membasahi pipinya.

"Kalau begitu... bersiaplah! Kita cari pemuda itu!"

"Ba-baik, suhu..."

Demikianlah, sambil mendengarkan cerita orang tentang keributan yang terjadi tadi malam, mereka mencari Liu Yang Kun.

Mereka membaurkan diri diantara orang-orang yang bergerombol di jalan, di warung-warung, yang semuanya rata-rata selalu membicarakan keributan yang dibuat oleh 'hantu kuntilanak' itu.

Dan semakin banyak mereka mendengar serta mengetahui kejadian itu, mereka justru semakin menyesal malah.

Mereka sungguh tak mengira kalau keributan itu ternyata sedemikian hebatnya.

Keduanya benar-benar menyesal tak ikut keluar melihatnya.

"Begitu dahsyat pertempuran yang terjadi di pinggir hutan itu, sehingga pohon-pohon besar bertumbangan. Dan hantu kuntilanak itu sedemikian saktinya, sehingga belasan pasukan keamanan itu terbang berhamburan terkena angin pukulannya. Bahkan Un Taijin yang berkepandaian tinggi itupun ikut terluka parah pula diterjang hantu wanita itu,"

Seorang pemilik warung bercerita kepada para pembelinya.

Tiauw Li Ing dan gurunya sedikit mendongkol juga mendengar kisah yang berlebih-lebihan itu.

Diam-diam mereka pergi meninggalkan warung kecil itu.

Namun sebelum pergi mereka masih sempat mendengar pula pembicaraan di dalam warung itu.

"A Jui...! Apakah tadi malam kau juga berada di pinggir hutan itu?"

"Anu... anu... tidak! Tidak! Aku hanya... hanya diberi tahu oleh keponakanku. Bukankah keponakanku menjadi pengawal Un-Taijin?"

"Ah, A Jui... yang benar saja. Pengawal atau pelayan? Hehehe...!"

Dan warung Itu kemudian dipenuhi oleh gelak tertawa para pengunjungnya.

"Ada-ada saja orang itu. Tapi untuk membuktikan ucapan mereka, marilah kita pergi ke hutan itu,"

Sambil berjalan Lo-sin-ong bergumam.

"Marilah, suhu..."

Walaupun keadaannya tidak seperti yang diceritakan oleh pemilik warung itu, namun bekas-bekasnya memang tampak bahwa tempat itu baru saja dipergunakan sebagai ajang pertempuran yang dahsyat.

Dan Tiauw Li Ing lalu meneliti tempat itu dengan seksama seakan-akan ia ingin menemukan jejak Liu Yang Kun di sana.

Tapi sampai pegal ia berdiri dan berjongkok, tetap saja ia tak bisa menemukan tanda-tanda bahwa Liu Yang Kun pernah ada di tempat itu.

"Li Ing...? Mengapa kau cuma mondar-mandir saja tanpa bicara? Apa saja yang kau lihat di tempat ini? Apakah kau dapat menemukan jejak-jejak 'suamimu"?"

Lo-sin-ong bertanya tak sabar.

"Tidak, suhu. Aku tidak bisa menemukan jejaknya di sini. Tempat ini memang rusak dan berantakan. namun aku tak bisa menemukan senjata, sobekan kain ataupun bekas-bekas mayat di tempat ini..."

"Kalau begitu marilah kita kembali ke kota lagi...! Tapi... tunggu dulu!"

"Ada apa, suhu?"

Tiauw Li Ing berseru kaget melihat gurunya itu tiba tiba berdiri tegang. Kepalanya yang berambut putih itu miring ke kanan, seakan-akan sedang mendengarkan sesuatu.

"Aku mendengar suara barisan itu lagi!"

Orang tua itu menjawab singkat.

"Oh...? Barisan perajurit kerajaan itu? Mengapa mereka lewat di tempat seperti ini? Bagaimana dengan pedati-pedati mereka?" '"Diamlah! Biarlah... ah, ternyata mereka lewat di sana!"

Lo-sin-ong tiba tiba menuding ke arah kota.

"He... benar! Sekarang aku mendengarnya pula. Oh, kalau begitu pasukan itu lewat di jalan yang mengelilingi tembok kota itu. Apa yang hendak kita lakukan, suhu?"

"Marilah kita melihatnya! Siapa tahu 'suamimu"

Ada di sana?"

Tiba-tiba wajah Tiauw Li Ing menjadi pucat.

"Maksud suhu... dia telah dibawa oleh panglima kerajaan itu?"

Serunya khawatir. Lo-sin-ong tidak menjawab. Tapi dengan cepat tangannya menarik lengan Tiauw Li Ing dan mengajaknya melihat barisan itu.

"Li Ing, meskipun aku tidak belajar ilmu meramal seperti halnya Toat-beng jin tapi perasaanku mengatakan bahwa keberangkatan pasukan kerajaan itu ada hubungannya dengan 'suamimu',"

Sambil berlari ia berkata kepada gadis itu.

"Suhu... Mungkin benar juga dugaanmu. Aku tak melihat Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee diantara pasukan itu. Tentu ada apa-apa dengan jagoan dari istana itu. Mungkin dia memang berada bersama-sama dengan Liu Yang Kun. Keduanya sengaja berjalan lebih dulu agar tidak terlalu menyolok mata..."

Sehabis memperhatikan barisan itu dari tempat yang tersembunyi, Tiauw Li Ing mengutarakan pendapatnya.

"Bagus! Akupun berpikir demikian pula. Nah, Li Ing... kalau begitu marilah kita mengejarnya! Jalan manakah menurut pendapatmu yang telah dipilih oleh Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee?"

"Jalan ini menuju ke jalan utama yang menghubungkan kota Cia-souw dengan kota Cin-an. Agaknya Hong-Lui-Kun dan Liu Yang Kun menuju ke kota itu pula..."

"Bagus. Marilah kita berangkat!"

Demikianlah, dengan hanya mengandalkan dugaan mereka saja, Lo-sin-ong bersama Tiauw Li Ing lalu menuju ke kota Cin-an.

Mereka tidak tahu persis, apakah Liu Yang Kun benar-benar pergi ke kota Cin-an atau tidak?

Bahkan mereka juga tidak tahu dengan pasti pula, apakah Liu Yang Kun pergi bersama Hong-Lui-Kun atau tidak.

Lo sin ong hanya mengandalkan pada ketajaman perasaannya saja.

Ketajaman perasaan seorang bekas ketua Im-Yang-kauw yang terkenal dengan ilmu Lin-cui-shui-hoat itu.

Sementara itu Souw Lian Cu bersama Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee telah berada di sebuah kota kecil Lai-ying.

Sebuah kota persinggahan yang cukup ramai karena terletak di persimpangan jalan antara Cia-souw ke Cin-an dan Tung san ke Thian-sin.

Banyak para pedagang dan orang-orang bepergian yang lewat dan kemudian singgah di kota itu.

Selain di kota itu tersedia berbagai macam sarana bagi pengembara yang ingin singgah dan beristirahat sebentar di tempat itu, di kota itupun tersedia pula segala macam hiburan murah yang dapat mereka nikmati selama mereka berada di sana.

Bahkan warung-warung arak dan tempat-tempat judi kecilpun ada pula di kota itu.

"Kita beristirahat dulu di kota ini. Ada sebuah urusan yang hendak kuselesaikan di sini. Silahkan Yap ciang kun mencari tempat beristirahat bersama Pangeran. Aku akan menggabungkan diri lagi nanti malam,"

Begitu memasuki kota itu Souw Lian Cu berkata kepada Yap Kiong Lee.

Tentu saja pendekar dari istana itu terkejut.

Bahkan Liu Yang Kun yang selama perjalanan itu tak berani mengganggu atau mengajak berbicara dengan gadis itupun tampak pucat wajahnya.

"Nona Souw...?"

Yap Kiong Lee berdesah bingung.

"Ini...ini...oh, lalu bagaimana dengan...?"

Liu Yang Kun berseru gugup. Dengan nada tengadah Souw Lian Cu memandang Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun. Wajah yang amat cantik itu tampak keras dan dingin.

"Jangan khawatir, Pangeran. Aku takkan melarikan diri. Percayalah! Aku takkan menjilat ludahku sendiri. Silahkan saja memberi tanda dimana Pangeran menginap, aku tentu datang. Tolong pesankan sekalian sebuah kamar untuk aku nanti."

"Oh! Lalu... kapan kita melanjutkan perjalanan kita lagi?"

Dengan agak tersipu-sipu Liu Yang Kun bertanya.

"Besok pagi! Nah, maafkan...aku permisi dulu!"

Souw Lian Cu menjawab singkat, lalu menyelinap pergi diantara lalu lintas di jalan itu.

"Oooooh..."

Liu Yang Kun menghela napas panjang.

Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.

Rasa-rasanya ada sesuatu yang hilang di dalam dadanya.

Beberapa saat lamanya pemuda itu seperti orang bingung di tempatnya.

Matanya menatap kosong ke depan arah mana Souw Lian Cu tadi menghilang.

Dan tentu saja semuanya itu tak lepas dari perhatian Yap Kiong Lee.

"Pangeran,"

Sapanya hati-hati.

"Biarlah. Marilah kita mencari penginapan dahulu! Kita turuti saja kemauan nona Souw itu."

Liu Yang Kun tersentak kaget.

"Oh,...! Tapi... tapi dia...?"

Sambil menggandeng lengan Liu Yang Kun dan mencari penginapan, Yap Kiong Lee mencoba menyelami lagi keadaan pemuda itu.

"Pangeran, benarkah Pangeran tidak ingat lagi akan hubungan Pangeran dengan gadis itu?"

Sekali lagi Liu Yang Kun tersentak kaget, sehingga ia menghentikan langkahnya. Namun dengan cepat Yap Kiong Lee menarik lengannya dan mengajaknya berjalan lagi.

"Maaf, Pangeran. Tapi kurasa sikap gadis itu adalah akibat dari semua itu. Itulah sebabnya saya bertanya kepada Pangeran..."

Yap Kiong Lee menerangkan. Liu Yang Kun menghela napas panjang. Kemudian sambil menatap wajah dan memegang lengan jagoan istana itu erat-erat pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku benar-benar tidak berbohong, Ciangkun. Aku sama sekali tidak mengenalnya lagi. Ohhh...! Tolonglah. Ciangkun! Apakah sebenarnya yang pernah terjadi antara aku dan dia?"

Yap Kiong Lee balas menatap mata Liu Yang Kun. Melihat sinar kejujuran dan kesungguhan di dalam pandangan pemuda itu ia mengangguk.

"Baiklah, Pangeran. Aku akan bercerita. Tetapi tentu saja sejauh yang aku ketahui selama ini..."

Katanya kemudian dengan suara rendah.

Lalu berceritalah Yap Kiong Lee tentang hubungan Pangeran Liu Yang Kun dengan puteri pendekar besar Souw Thian Hai itu.

Diceritakannya juga tentang hubungan mereka yang kurang begitu lancar, akibat kesalah-pahaman demi kesalah-pahaman, serta akibat kekerasan hati mereka masing-masing, sehingga percintaan mereka menjadi kacau dan tersendat-sendat.

Padahal masing-masing sangat mencintai satu sama lain.

Kemudian Yap Kiong Lee bercerita pula tentang latar belakang dan keadaan keluarga Souw sewaktu gadis itu masih kecil.

Bagaimana keadaan Souw Lian Cu setelah ibu dan kedua kakeknya dibunuh orang.

Dan bagaimana pula keadaan Souw Lian Cu setelah ayahnya menjadi gila dan hilang ingatan karena ulah si pembunuh itu.

"Jadi sejak kecil gadis itu selalu menderita. Bahkan setelah menjelang dewasapun lengannya putus dibabat orang. Maka ketika bertemu dengan Pangeran, gadis itu langsung merasa cocok, karena Pangeran pun mempunyai riwayat hidup yang hampir sama dengan dia."

"Hampir sama dengan dia..?"

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.

"Bukankah Ciangkun mengatakan bahwa aku adalah putera Hongsiang? Mengapa sekarang Ciangkun mengatakan bahwa riwayat hidupku hampir sama dengan dia?"

Yap Kiong Lee menundukkan kepalanya.

Hatinya sedikit menyesal karena terlanjur mengatakan rahasia kerajaan itu.

Tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur, ia sudah terlanjur mengatakannya.

Dan ia sudah tak bisa mengelak lagi.

Oleh karena itu ia terpaksa menceritakannya bagaimana Pangeran itu dipelihara oleh ayah angkatnya, seorang bangsawan Chin, yang menjadi musuh ayahnya sendiri.

Ketika seluruh keluarga bangsawan Chin itu dibunuh orang, maka Liu Yang Kun juga hidup terlunta-lunta pula seperti halnya Souw Lian Cu.

"Oh, kiranya begitu."

Liu Yang Kun berdesah.

"Kalau demikian sungguh patut dikasihani gadis itu. Aku benar-benar tak menyangka kalau aku dan dia pernah menjalin persahabatan yang amat dalam. Itulah agaknya yang menyebabkan hatiku selalu bergetar bila menatapnya. Hmm... ternyata aku tidak kehilangan hati dan perasaanku seperti halnya aku kehilangan semua ingatanku."

Demikianlah, kedua orang itu lalu berbelok ketika melihat sebuah rumah penginapan di pinggir jalan.

Memang cuma itulah rumah penginapan yang ada di jalan itu.

Kota Lai-yin hanya memiliki dua buah rumah penginapan.

Rumah penginapan yang lain ada di dekat pasar, agak jauh dari tempat itu.

Mereka memesan dua buah kamar.

Satu kamar untuk mereka, dan satu kamar lagi untuk Souw Lian Cu nanti.

Sebelum masuk mereka memberi pesan kepada pengurus penginapan, bahwa mereka sedang menunggu seorang gadis yang buntung lengan kirinya.

Mereka meminta agar gadis itu segera dibawa masuk bila datang.

"Mungkin temanku itu datang agak malam..."

Liu Yang Kun menerangkan.

"Baik, Siauwya (tuan muda)...?"

Pengurus penginapan itu menyahut sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Hari masih siang.

Matahari baru saja lewat di atas kepala.

Oleh karena itu Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee keluar lagi untuk mencari makan.

"Baru malam nanti dia kembali. Sungguh lama benar. Kemanakah dia sebenarnya? Dan apa... apa saja yang diurusnya itu?"

Sambil melangkah Liu Yang Kun bergumam perlahan seperti kepada dirinya sendiri.

"Siapakah yang Pangeran maksudkan?"

Yap Kiong Lee menegaskan.

"Nona Souw..."

Liu Yang Kun menjawab tersipu-sipu.

"Ooooo...?"

Yap Kiong Lee mengangguk-angguk.

"Entahlah..."

Mereka masuk ke sebuah warung arak.

Sebuah warung sederhana yang menyediakan belasan meja kursi untuk minum arak.

Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee masuk ke tempat itu karena mereka melihat warung itu juga melayani tamunya dengan berbagai macam masakan pula.

"Wah, tampaknya kita tidak mendapatkan tempat duduk lagi, Ciangkun. Semua meja telah penuh tamu..."

"Ssssst!'"

Yap Kiong Lee berdesis sambil memberi tanda kepada Liu Yang Kun.

"Jangan memanggil dengan sebutan Ciangkun di tempat umum! Lebih baik Pangeran memanggilku Yap Twako saja.."

Liu Yang Kun berpaling, lalu tersenyum.

"Baiklah, Yap Twako. Tapi kuharap kau juga jangan memanggil aku dengan sebutan Pangeran. Cukup Liu Sute atau..."

"Baiklah, Pangeran. Aku juga akan memanggilmu Sute saja."

Yap Kiong Lee berbisik perlahan. Sementara itu pelayan warung arak itu tampak mendatangi mereka.

"Wah, maaf... maaf... Warung kami memang selalu penuh setiap waktu makan siang tiba. Tapi kami masih bisa menyediakan kursi apabila Jiwi mau duduk di ruang dalam,"

Pelayan itu berkata ramah. Liu Yang Kun memandang Yap Kiong Lee.

"Bagaimana, Twako? Kita duduk di dalam?"

"Terserah Sute...di luar dan di dalam sama saja bagiku."

"Baiklah. Biarlah kami duduk di dalam,"

Akhirnya Liu Yang Kun berkata kepada pelayan itu.

"Silahkan, tuan... silahkan!"

Pelayan itu mempersilakan mereka dengan suka cita. Mereka berjalan melewati tamu-tamu yang duduk memenuhi meja makan itu. Beberapa orang tamu tampak mengawasi mereka.

"Lewat pintu ini, tuan..."

Pelayan itu mendahului mereka dan masuk melalui pintu samping.

Mereka sampai di bangunan samping yang menghadap ke arah kebun.

Di sana terdapat beberapa buah meja pula.

Malah satu diantaranya telah ada yang memakainya, yaitu seorang kakek tua berpakaian sederhana.

Jubahnya yang terbuat dari kain kasar berwarna kuning itu sudah kelihatan lusuh.

Dan kakek tua itu asyik bermain catur sendirian.

Di depannya tersedia sebuah guci arak beserta cawannya, sementara di samping kursinya terletak sebatang tongkat kecil untuk membantu dia waktu berjalan.Liu Yang Kun mengangguk hormat ketika melewati orang tua itu.

Begitu pula halnya dengan Yap Kiong Lee.

"Siapakah dia...? Tamu atau... penghuni rumah itu sendiri?"

Yap Kiong Lee berbisik kepada pelayan yang mengantar mereka itu. Pelayan itu melirik sebentar, kemudian tersenyum.

"Tamu juga, tuan. Sejak tiga hari yang lalu dia berada di warung kami. Dia menyewa kamar kami di belakang. Tampaknya dia sedang menunggu keluarganya."

"Ooooh...?"

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Ehm... apakah jiwi ingin memesan makanan juga?"

Pelayan itu akhirnya bertanya.

"Ya. Selain kami minta arak yang enak kami pun minta kau sediakan pula masakan yang paling nikmat di warung ini. Bisa...?"

Dengan cepat Yap Kiong Lee menyahut. Bibirnya tersenyum dan matanya melirik ke arah Liu Yang Kun.

"Tentu... tentu! Masakan kami sudah terkenal di kota ini, tuan. Apakah tuan ingin masakan udang, kepiting atau... ular laut?"

"Ular laut?"

Liu Yang Kun berseru hampir berbareng dengan Yap Kiong Lee.

"Ya, ular laut...! Ular laut dari jenis pemakan penyu putih yang banyak terdapat di Laut Kuning. Tepatnya di Teluk Lai-couw. Ular itu enak sekali dimasak dengan arak wangi dari Hang-couw. Selain rasanya agak manis serta nikmat luar biasa, khasiatnya juga hebat tiada terkira...!"

Pelayan itu memuji masakannya setinggi langit.

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun tak bisa menahan senyum mereka.

Dengan saling mengangguk dan mengedipkan mata mereka, mereka sepakat untuk mencoba daging ular yang dipuji setengah mati itu.

"Kau sungguh pandai menawarkan masakanmu. Cobalah kau berikan kepada kami masakanmu itu. Kami ingin mencicipinya,"

Yap Kiong Lee berkata.

"Benar, tuan. Tuan takkan menyesal nanti. Percayalah...!"

Bergegas pelayan itu kembali ke depan untuk melayani pesanan itu.

Sedangkan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee lalu menarik kursi dan duduk menghadap ke arah kebun.

Sekilas mereka melirik ke meja yang dipakai oleh orang tua tadi.

Namun betapa terkejutnya mereka ketika meja itu telah kosong.

Orang tua berjubah kuning sederhana itu telah tiada lagi di tempat itu.

Bahkan papan caturnya tadi juga sudah tiada pula di sana.

Liu Yang Kun memandang Yap Kiong Lee.

"Kemanakah dia tadi? Masakan dia bisa menghilang begitu saja tanpa kita ketahui gerakannya?"

Pemuda itu berdesah keheranan.

"Entahlah... saya juga tidak tahu. Padahal dia begitu dekatnya dengan kita."

Yap Kiong Lee berbisik pula dengan suara tak percaya. Diam-diam berdesir juga hatinya.

"Hah...???"

Tiba-tiba mereka terperanjat.

Seperti tahu saja kalau dirinya sedang dipercakapkan, orang tua itu tiba-tiba keluar dari kamarnya yang tadi ditunjuk oleh pelayan.

Dengan langkah tertatih-tatih orang tua itu berdiri di depan pintu dengan bantuan tongkatnya.

"Heran. Mengapa sampai sekarang bocah itu belum juga datang!"

Terdengar desahnya yang berat dan agak serak.

Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee terpaku diam seperti patung di tempat masing-masing.

Dan mereka berdua segera membuang muka ketika orang tua itu tiba-tiba menatap ke arah mereka.

Mereka berdua benar-benar seperti tukang intip yang takut ketahuan oleh orang yang mereka intip.

Sungguh sangat menggelikan.

"Gila! Kenapa kita menjadi salah tingkah begini?"

Akhirnya Liu Yang Kun berdesis perlahan tatkala orang tua itu sudah masuk ke kamarnya kembali. Yap Kiong Lee menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Bukan main...!"

Serunya perlahan pula.

"Hah? Apanya yang 'bukan main'?"

"Wibawa orang tua itu! Wibawa orang tua itu benar-benar besar sekali, sehingga orang seperti kitapun masih bisa tercengkam olehnya! Bukan main! Saya berani bertaruh, orang tua itu tentu memiliki kesaktian yang maha hebat!"

Yap Kiong Lee berdecak kagum. Liu Yang Kun tertegun. Tiba-tiba kesadarannya seperti terbangun pula mendengar ucapan Yap Kiong Lee itu.

"Benar,"

Pikirnya.

"Aku memiliki Bu eng Hwe-teng yang boleh dikatakan sudah mencapai ke tingkat yang paling tinggi. Namun demikian ternyata aku tetap tidak bisa menangkap gerakannya. Hemmm... kalau begitu gin kangnya rasa rasanya masih lebih tinggi dari pada ginkangku. Bukan main...!"

Demikianlah, karena mereka selalu memikirkan kejadian itu, maka lidah mereka tidak bisa menikmati kelezatan masakan 'ular laut' itu.

Bahkan kemudian mereka seperti menjadi tergesa-gesa untuk meninggalkan tempat tersebut.

"Bagaimana, tuan? Lezat sekali, bukan?"

Sambil tetap memuji masakan warungnya itu pelayan tadi mengantar mereka sampai ke pintu.

Dengan senyum kecut Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee terpaksa menganggukkan kepalanya.

Mereka lalu bergegas menuju ke jalan raya.

(Lanjut ke

Jilid 29) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 29

"Bagaimana pendapat Ciangkun tentang orang tua itu tadi?"

Sambil melangkah Liu Yang Kun meminta pendapat Yap Kiong Lee. Jagoan dari istana itu menghela napas panjang. Dengan tiada bersungguh-sungguh ia menjawab.

"Saya agak bercuriga kepada orang itu Pangeran. Saya yakin dia tentu bukan orang sembarangan bahkan perasaan saya mengatakan bahwa orang tua itu tentu memiliki kedudukan tinggi di dunia persilatan. Bayangkan saja! Pangeran yang telah memiliki ilmu silat sempurna dan telah tertulis di Buku Rahasia itu saja tak mampu menangkap gerakannya..."

Kening Liu Yang Kun berkerut tatkala Yap Kiong Lee menyebutkan Buku Rahasia.

"Buku Rahasia...? Buku apakah itu? Mengapa namaku juga tertulis di dalamnya?"

Tanyanya bingung.

"Aaah...!"

Yap Kiong Lee berdesah sadar bahwa Liu Yang Kun telah kehilangan semua masa lalunya. Oleh karena itu dengan cepat pula ia bercerita serba sedikit tentang buku yang sangat menghebohkan tersebut.

"Oh... begitu!"

Liu Yang Kun tersenyum seraya mengangguk-angguk kepalanya. Lalu tambahnya pula.

"Jadi... siapakah orang tua itu menurut pendapat Ciangkun? Mungkinkah dia itu termasuk orang-orang yang tertera didalam Buku Rahasia itu?"

Yap Kiong Lee tersenyum. Sambil mengangkat pundaknya Jagoan dari istana itu mengelak.

"Saya tak berani mengatakannya, Pangeran. Demikian banyaknya manusia sakti di dunia ini dan demikian luasnya pula negeri kita ini, sehingga orang tak mungkin bisa menduga apa yang terkandung di dalamnya. Dahulu kala orang menyebut-nyebut bahwa Empat Datuk Persilatan seperti Bu-eng Sin-yok-ong dan kawan-kawannya itu adalah tokoh-tokoh yang tiada tandingannya di dunia ini. Tapi bagaimanakah sekarang? Nyatanya nama-nama mereka masih kalah tersohor dengan tokoh-tokoh yang sekarang tertulis di dalam Buku Rahasia itu. Nah, siapa tahu pula di luar nama-nama yang tertera di dalam buku itu, masih ada lagi tokoh-tokoh terpendam yang kesaktiannya justru lebih dahsyat dan lebih tinggi dari pada mereka? Siapa tahu?"

Liu Yang Kun mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ia memaklumi ucapan dan pemikiran Yap Kiong Lee tersebut.

Dunia memang sangat luas, dan manusiapun juga tak terhitung pula jumlahnya.

Maka bukan tidak mungkin kalau di dunia ini masih banyak tokoh-tokoh terpendam yang sengaja menyembunyikan diri di tempat-tempat sepi serta terpencil, dan tak mau muncul atau melibatkan dirinya dengan segala keramaian dunia.

Ataupun kalau mereka itu berada di tempat umum, mereka sengaja menyembunyikan kepandaiannya, sehingga tak seorangpun tahu bahwa sebenarnya mereka itu memiliki ilmu yang maha dahsyat.

"Benar, Orang-orang yang tersohor di dunia persilatan sekarang ini adalah orang-orang yang sengaja melibatkan dirinya di dunia persilatan, sehingga nama dan kepandaian mereka menjadi terkenal serta ditakuti oleh orang banyak. Tapi selain mereka itu tentu masih banyak pula yang sama sekali tak mau melibatkan dirinya atau memperlihatkan kesaktiannya di muka umum. Mereka ini lebih suka mengasingkan diri bertapa di tempat sunyi, demi untuk kedamaian dan kesempurnaan hidup mereka di dunia akherat nanti."

Liu Yang Kun menyetujui pendapat Yap Kiong Lee.

Mereka berdua lalu berjalan ke pusat kota untuk melihat-lihat keramaian.

Tapi baru saja mereka berbelok ke jalan besar, Yap Kiong Lee telah menggamit lengan Liu Yang Kun.

Sambil berbisik perlahan jagoan dari istana itu menunjukkan jarinya ke seberang jalan.

"Pangeran, lihat...! itu dia si Giok-bin Tok-ong!"

"Ciangkun maksudkan... kakek tua berambut hitam yang berjalan bersama dua orang temannya itu?"

"Benar. Tapi kurasa dua orang itu bukan temannya. Bukankah Lo-sin-ong dan... dan muridnya pernah mengatakan bahwa Giok-bin Tok-ong telah mengeroyok Pangeran bersama murid-muridnya? Kedua orang itu tentulah muridnya."

"Oh...!"

Liu Yang Kun menggeram dan tiba-tiba saja wajahnya menjadi tegang.

Namun dengan cepat Yap Kiong Lee menyentuh lengan pemuda itu kembali.

Dengan nada rendah ia berusaha mendinginkan hati pemuda tersebut.

"Maaf, Pangeran... Kita masih mempunyai banyak urusan. Kita jangan mencari perselisihan dahulu dengan mereka. Biarlah mereka bebas untuk sementara..."

"Baiklah, Ciangkun... Aku... hei??? Lihat! Bukankah gadis itu... nona Souw Lian Cu?"

Liu Yang Kun yang akhirnya bisa mengendalikan dirinya itu tiba-tiba berseru tertahan.

Jari telunjuknya teracung ke arah belakang Giok-bin Tok-ong.

Yap Kiong Lee terperanjat pula.

Beberapa puluh langkah di belakang Iblis dari Lembah Tak Berwarna itu tampak Souw Lian Cu berjalan dengan mengendap-endap dan berhati-hati.

Gadis ayu itu seperti sedang mengikuti langkah Giok-bin Tok ong.

"Ah, benar. Dia memang nona Souw..."

"Hmm, Ciangkun... aku menjadi penasaran. Aku akan mengikuti mereka..."

Tiba-tiba Liu Yang Kun berkata dengan tegas.

Tapi ketika hendak menyeberang jalan mendadak dari arah timur berderap belasan ekor kuda dengan kecepatan tinggi.

Kuda yang paling depan hampir saja menabrak Liu Yang Kun.

Untunglah pemuda itu cepat-cepat melompat mundur kembali.

Sekilas pemuda itu melihat penunggangnya melotot marah kepadanya.

"Kurang ajar! Kalau dia tahu siapa yang hendak ditabraknya, niscaya hatinya menjadi takut dan menyesal bukan main,"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee menggeram marah. Liu Yang Kun menyeringai kaku. Kulit mukanya menjadi merah juga. Namun demikian suaranya tetap tenang ketika menyahut perkataan "pengawalnya"

Itu.

"Ciangkun tahu siapa para penunggang kuda tadi? Kulihat mereka mengenakan seragam prajurit kerajaan."

"Mereka memang sebagian dari perajurit kerajaan yang ditempatkan di daerah ini. Perwira yang hendak menabrak Pangeran tadi adalah Thio Cian-bu (Kapten Thio) namanya Thio Tek Kong. Sebenarnya dia adalah seorang prajurit yang baik. Banyak jasanya di dalam pertempuran. Itulah sebabnya dia dipercaya adikku untuk mengawasi kota-kota yang berada di daerah ini. Tapi... hmmh, mengapa sikapnya menjadi kurang ajar begitu?"

Yap Kiong Lee menerangkan dengan suara sesal. Sekali lagi Liu Yang Kun mencoba untuk tersenyum. Sambil mengebut-ngebutkan lengan bajunya yang kotor terkena debu, ia berkata.

"Sudahlah, Ciangkun. Mungkin mereka sedang tergesa-gesa. Siapa tahu mereka sedang mengurus sebuah keperluan yang sangat penting?"

"Tapi...?"

"Ah, sudahlah! Marilah kita... oh? Dimana dia tadi?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun tersentak kaget. Matanya terbuka lebar ke arah dimana Souw Lian Cu tadi berada.

"Dia...? Siapa!"

Yap Kiong Lee tertegun.

"Nona Souw dan Giok-bin Tok-ong tadi..."

Liu Yang Kun berdesis.

"Ooooh..., mereka sudah menghilang!"

"Kurang ajar!!!"

Liu Yang Kun mengumpat kesal.

Kini ia benar-benar marah.

Marah dan menyesal karena telah kehilangan buruannya.

Kemungkinan ia akan benar-benar menghajar para prajurit berkuda itu kalau mereka sekarang berada di depannya.

Liu Yang Kun lalu bergegas menyeberang jalan, dan Yap Kiong Lee pun dengan cepat mengikutinya.

Mereka mencoba mengejar buruan mereka tadi.

Namun demikian ternyata mereka tetap tak bisa menemukan orang-orang itu.

Bahkan saking kesal serta penasarannya, Liu Yang Kun mengajak Yap Kiong Lee untuk mencari buruan mereka itu keseluruh pelosok kota.

Tetapi usaha mereka itupun tetap sia-sia pula.

Buruan mereka itu seperti lenyap ditelan oleh kesibukan dan keramaian kota.

Mereka berdua justru bertemu lagi dengan rombongan prajurit berkuda itu di dekat pasar.

Para prajurit berkuda itu tampak menyebar dan mengepung pasar tersebut.

Dan Thio Cian-bun yang berseragam lengkap itu kelihatan memberi perintah kepada anak-buahnya.

Mereka menggeledah seluruh penghuni pasar tersebut.

"Hem... ada apa sebenarnya? Mengapa prajurit-prajurit itu tampak sibuk sekali? Kelihatannya ada sesuatu yang dicari oleh mereka."

Liu Yang Kun bergumam perlahan. Mereka berdua lalu melangkah mendekati tempat itu. Kepada beberapa orang penduduk yang menonton kesibukan itu mereka bertanya.

"Maaf, ada apa sebenarnya? Mengapa pasar ini digeledah perajurit-perajurit kerajaan itu?"

Orang-orang itu mengawasi Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee. Hampir serempak mereka menjawab.

"Mereka mencari hantu kuntilanak!"

"Mencari hantu kuntilanak...?"

Liu Yang Kun berseru kaget.

"Ya. Hantu itu telah sampai kemari pula. Bahkan tadi malam telah berani memasuki gedung Thio Cian-bu dan hendak menculik bayinya. Untunglah Thio Cian-bu berada di rumah, sehingga niat buruk Hantu Kuntilanak itu dapat digagalkan. Meskipun demikian Thio Cian-bu tetap menjadi marah dan penasaran. Seluruh kota ini lalu digeledahnya."

Salah seorang dari penduduk itu memberi penjelasan.

"Hemmm..., lagi-lagi Hantu Kuntilanak! Seperti apakah sebenarnya hantu itu? Mengapa dalam sepekan ini hantu itu menghebohkan beberapa kota di daerah Propinsi Santung?"

Yap Kiong Lee berkata dengan suara geram pula. Liu Yang Kun mendekati Yap Kiong Lee.

"Bagaimana Twako...?"

Tanyanya pelan sambil melirik kepada orang-orang itu.

"Mari kita kembali ke penginapan. Kita tak perlu ikut campur urusan negara. Ayoh!"

Seperti orang dusun yang baru saja datang ke kota, Yap Kiong Lee mengajak Liu Yang Kun pergi.

Sekilas tampak matanya berkedip untuk memberi isyarat kepada pemuda itu.

Liu Yang Kun cepat menangkap isyarat itu pula.

Namun sebelum melangkah ia sempat berkata, yang nadanya seperti ditujukan kepada orang-orang disekitarnya.

"Eh, masakan persoalan mencari hantu saja menjadi persoalan negara? Dan... mana ada hantu di siang hari begini? Memangnya hantu itu mau berbelanja juga?"

"Hush"

Yap Kiong Lee pura-pura membentak, lalu menyeret lengan Liu Yang Kun pergi.

Orang-orang tertawa mendengar ucapan Liu Yang Kun.

Tapi suara mereka itu segera terhenti manakala mereka menyadari bahwa ucapan tersebut memang ada benarnya juga.

Mereka berdesah seraya mengerutkan kening mereka, kemudian satu persatu juga meninggalkan tempat itu pula.

Baca Juga: Suling Emas 11

Baca Juga: Kisah Si Naga Langit 7

Related Posts:

Disqus Comments

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert

© 2017 cerita silat online - Template Created by goomsite - Proudly powered by Blogger