Ceritasilat Novel Online

Memburu Iblis 11

Eps 11 Memburu Iblis - Sriwidjono

Baca online Memburu Iblis - Sriwidjono

Cersil Memburu Iblis - Sriwidjono.

Sementara itu setelah berada agak jauh dari pasar, Yap Kiong Lee bergegas menarik lengan Liu Yang Kun dan mengajaknya berlari-lari kecil ke arah barat.

Jagoan dari istana itu sengaja menyusup-nyusup diantara lalu lintas para pejalan kaki yang hilir mudik di jalan besar itu.

Bahkan kadang-kadang ia membawa Liu Yang Kun ke tengah jalan, untuk berlindung di belakang kereta atau pedati yang lewat.Tentu saja Liu Yang Kun menjadi heran dan bingung.

Pemuda itu sama sekali tak mengerti maksud dan tujuan Yap Kiong Lee.

Oleh karena itu setelah mereka melangkah di tempat yang agak sepi, Liu Yang Kun lalu menanyakan maksud dan tujuan mereka.

"Maaf, Pangeran. Tampaknya memang ada sesuatu yang akan terjadi di kota ini. saya baru saja melihat seorang tokoh persilatan lagi di dekat pasar tadi."

Yap Kiong Lee menerangkan sambil tetap berjalan cepat.

"Tokoh persilatan lagi? Siapakah dia?"

"Bu-tek Sin-tong! Dia lewat menumpang kereta. Tampaknya dia menumpang dengan cara paksa, karena saya lihat pengendara kereta itu kelihatan ketakutan."

"Bu-tek Sin-tong? Tokoh yang pernah Ciangkun ceritakan kepadaku itu?"

"Benar, Dia memang tokoh ketiga di dalam Buku Rahasia itu. Tadi hanya secara kebetulan saja saya melihatnya. Mula-mula saya merasa kaget ketika mendengar suara tangis bayi dari dalam kereta itu. Ketika saya menoleh, sekilas saya melihat wajah Bu-tek Sin tong di dalamnya."

"Oooh... lalu apa yang hendak Ciangkun kerjakan sekarang? Mengejarnya? Tapi... bukankah Ciangkun tak ingin kita terlibat dalam keributan di sini?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee menghentikan langkahnya. Begitu pula halnya dengan Liu Yang Kun. Mereka berdiri berhadapan di dekat pintu gerbang kota Lai-ying sebelah barat.

"Pangeran... Semula saya memang menginginkan agar perjalanan kita ini tidak terhambat oleh segala macam persoalan yang mungkin timbul di dalam kota ini. Tapi pendapat itu tiba-tiba berubah setelah saya melihat beberapa tokoh persilatan terkemuka berkeliaran di tempat ini. Bagaimanapun juga perjalanan kita ini sangat tergantung kepada nona Souw. Dan perasaan saya mengatakan bahwa urusan yang hendak diselesa ikan oleh nona Souw itu tentu berkaitan dengan kedatangan tokoh-tokoh persilatan terkemuka ini. Oleh sebab itu tidak boleh tidak kita harus ikut campur pula. Hemm... bagaimana pendapat Pangeran?"

Tiba-tiba wajah Liu Yang Kun menjadi berseri-seri. Dengan suara mantap ia menjawab.

"Saya setuju! Marilah kita selidiki urusan yang hendak diselesaikan oleh nona Souw itu! Kalau perlu kita tolong dia, sehingga urusannya menjadi cepat selesai, dan kita dapat cepat-cepat meninggalkan kota ini!"

"Nah! Kalau begitu marilah kita kejar kereta Bu-tek Sin-tong itu! Kereta itu tentu telah keluar melalui pintu-gerbang ini. Marilah, Pangeran...!"

Mereka lalu keluar dari tembok kota.

Mereka lalu berlari menyusuri jalan berdebu yang menghubungkan kota itu dengan kota lainnya.

Namun sampai belasan lie mereka berlari, kereta itu tetap tak mereka ketemukan juga.

Tentu saja mereka berdua menjadi heran.

"Heran. Kemana kereta itu sebenarnya? Tak mungkin ia melaju sedemikian cepatnya."

Yap Kiong Lee berhenti berlari dan bersungut-sungut.

"Jangan-jangan kereta itu masih berada di dalam kota. Siapa tahu kereta itu berbelok ke sebuah gang atau jalan kecil?"

Liu Yang Kun berkata.

"Tapi rasanya... eh, apakah itu?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee tersentak kaget.

Tiba-tiba terdengar suara bunyi-buny ian yang riuh ditabuh orang.

Bahkan diantara hiruk-pikuknya suara tersebut masih terdengar pula suara tangisan yang melengking bersaut sautan.

Dan suara itu berasal dari desa di depan mereka.

"Ah! Tampaknya ada iring-iringan jenazah yang hendak lewat di jalan ini."

Liu Yang Kun bersungut-sungut.

Yap Kiong Lee mengangguk.

Dan tak lama kemudian benar juga dugaan pemuda itu.

Sebuah iring-iringan para pengantar jenazah tampak muncul dari lorong desa tersebut.

Iring-iringan itu melangkah ke jalan raya dan lewat di depan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

"Dua sosok jenazah..."

Liu Yang Kun berbisik perlahan.

"...Jenazah seorang yang telah dewasa dan jenazah anak-anak."

Yap Kiong Lee mengangguk lagi. Mulutnya tetap diam. Dia baru membuka suara ketika iring-iringan itu sudah lewat. Dia bertanya kepada seorang lelaki tua yang ketinggalan langkah di belakang.

"Maaf, Lopek...siapakah yang meninggal dunia itu? Kenapa sekaligus ada dua buah jenazah?"

Lelaki tua itu berhenti dan tertegun untuk beberapa saat lamanya. Matanya memandang dengan curiga. Namun demikian ia tetap menjawab juga, meskipun singkat.

"...Yang meninggal adalah isteri dan anak kepala desa kami. Mereka mati dibunuh... hantu kuntilanak!"

Dan begitu selesai berbicara ia segera berlari menyusul rombongan. Sama sekali ia tak peduli lagi pada Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee yang terbelalak kaget mendengar keterangannya.

"Hantu kuntilanak...?"

Desah Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee gemetar.

Dan untuk beberapa waktu lamanya mereka berdua tak bisa berkata apa-apa.

Mereka baru tersadar dan tersentak kembali dari kebekuan mereka itu tatkala sebuah suara yang lain tiba-tiba berkumandang di belakang punggung mereka.

"Ah, bohong! Ada-ada saja. Mana ada hantu kuntilanak di dunia ini?"

Suara itu terdengar terang dan jelas.

Seperti berlomba Liu Yang Kun, Yap Kiong Lee membalikkan tubuh mereka.

Dan betapa terkejutnya mereka ketika tiba-tiba saja di depan mereka telah berdiri si Kakek Tua yang tadi mereka lihat di warung arak itu.

Dengan tersenyum sabar orang tua itu memandang mereka berdua.

"Selamat bertemu kembali jiwi siauw-heng..."

Orang tua itu menyapa.

"Se-selamat... bertemu..."

Liu Yang Kun menjawab sedikit gugup.

"Ah... tampaknya kedatanganku kali ini sangat mengagetkan jiwi Siauw-heng. Maafkanlah aku...,"

Orang tua itu berkata lagi dengan nada menyesal.

"Ah, tidak apa... tidak apa. Kami berdua memang kaget, karena sedikitpun kami tidak mendengar langkah kaki Lo-Cianpwe tadi. Eem... bolehkah kami berdua mengetahui nama dan gelar Lo-Cianpwe?"

Yap Kiong Lee cepat-cepat menyahut.

Tapi wajah itu tiba-tiba berubah.

Wajah yang tenang dan berseri tadi mendadak berubah menjadi kecut dan hampa.

Bahkan sambil menengadahkan kepalanya orang tua itu tampak menarik napas panjang berulang-ulang.

"Nama...? Apa perlunya 'nama' dan 'gelar' di dunia ini? Nama dan gelar hanya akan membatasi kebebasan hati. Lebih baik tak bergelar dan tak bernama dari pada untuk itu kita harus terbelenggu di dalam ikatan dan kurungannya."

Orang tua itu bergumam perlahan.

Beberapa saat lamanya Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee tertegun mendengar ucapan orang tua itu.

Mereka dapat menangkap makna ucapan tersebut.

Namun demikian mereka tak dapat segera menjawabnya.

Mereka sadar bahwa yang mereka hadapi adalah seorang yang telah menjauhi urusan keduniaan.

"Tapi 'nama' bagi kita, orang-orang yang masih belum bisa melepaskan diri dari pergaulan umum ini. Sebab nama itu sangat memudahkan bagi orang lain untuk membedakan seseorang dengan seseorang lainnya. Lain halnya dengan 'gelar'. Gelar memang sering membuat kita menjadi terpenjara. Banyak contoh yang dapat kita simak di sekeliling kita. Dan saya sendiri juga sependapat dengan Lo-Cianpwe itu. Saya sendiri juga banyak gelar yang seram-seram, sehingga aku justru menjadi sulit bergerak di tempat umum karena gelarku itu..."

Tiba-tiba Liu Yang Kun membuka mulutnya. Orang tua itu tersentak kaget. Dengan wajah tak percaya ia menatap Liu Yang Kun.

"Siauw-heng memiliki gelar yang seram-seram? Bolehkah aku yang tua ini mengetahuinya?"

Desaknya kemudian. Sekarang ganti Liu Yang Kun yang terdiam. Sambil menyembunyikan senyumnya pemuda itu meniru gaya lawannya ketika berbicara tadi.

"Ah...apa perlunya sebuah nama? Nama hanya akan membatasi kebebasan hati. Aku sudah melupakannya..."

Orang tua itu terperangah.

Wajahnya menjadi merah.

Namun demikian sekejap kemudian wajah itu telah berubah menjadi terang kembali.

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya orang tua itu memuji kecerdikan Liu Yang Kun.

"Siauw-heng, kau benar-benar sangat menyenangkan hatiku. Hatimu sangat mudah tersinggung. Tapi kau sangat cerdas dan cerdik. Hmm...kau benar-benar seperti muridku. Sama-sama muda, cerdik dan elok. Dan tentang namaku... emm... sayang... aku benar-benar telah melupakannya. Baiklah kalian panggil dengan sebutan 'Lojin"

Saja. Bagaimana?"

Liu Yang Kun menghela napas.

"Kalau Lo-Cianpwe memang menghendaki demikian apa boleh buat?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee tertawa.

"Wah... sedari tadi kita cuma omong saja tentang 'nama'. Kita sampai lupa bahwa kita berada di jalan raya. Lo-Cianpwe...! Apakah Lo-Cianpwe juga ikut mengantar jenazah itu tadi? Silahkan kalau...!"

"Ah, tidak... tidak! Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan rombongan pengantar jenazah itu. Kedatanganku kemari adalah untuk mencari muridku."

"Mencari murid Lo-Cianpwe?"

Yap Kiong Lee dan Liu Yang Kun menyahut hampir berbareng.

Tiba-tiba orang tua itu tersadar bahwa dia telah terlanjur mengatakan kepentingannya kepada seseorang yang baru dikenalnya.

Tapi karena sudah terlanjur, apa boleh buat, ia terpaksa mengatakannya juga semuanya.

"Benar. Aku sudah menunggunya selama dua hari di kota ini. Tapi dia tak muncul-muncul juga. Tapi secara kebetulan aku keluar di jalan raya. Dan sekilas mataku seperti melihatnya di depan pasar. Namun ketika aku mengejarnya, ia telah menghilang lagi diantara kerumunan orang banyak. Selanjutnya aku lalu mendapatkan kesulitan untuk menemukannya kembali. Itulah sebabnya aku sampai ke sini..."

"Oooooh...? bagaimanakah ciri-ciri murid Lo-Cianpwe itu? Maaf...siapa tahu kami bisa membantu Lo-Cianpwe?"

Yap Kiong Lee menyela. Namun dengan cepat orang tua itu menggoyangkan telapak tangannya. Bahkan seperti orang yang taku ketahuan rahasianya orang tua itu cepat-cepat meminta diri.

"Ah, tak usah... tak usah. Terima kasih. Muridku itu paling tidak suka dikenal orang. Aku tak ingin mengecewakannya. Permisi..."

Dan sekejap saja orang tua itu telah hilang di kelokan jalan.

"Aneh! Orang tua itu benar-benar aneh sekali...!"

Yap Kiong Lee bergumam perlahan.

"Memang benar. Semakin tinggi ilmunya, biasanya orang menjadi semakin aneh pula tingkah lakunya..."

Liu Yang Kun menambahkan.

Keduanya lalu kembali ke kota Lai-yin lagi.

Tetapi di luar pintu gerbang kota lagi-lagi mereka berjumpa dengan pasukan Thio Ciang-bu atau Thio Tek kong itu.

Cuma yang amat mengagetkan mereka ialah keadaan pasukan itu sekarang.

Pasukan yang semula tampak sangat garang dengan seragam dan kuda-kudanya yang bagus itu, kini tiba-tiba telah berubah menjadi tidak keruan dan berantakan.

Mereka seperti sebuah pasukan yang baru saja kalah perang.

Bahkan beberapa orang diantara mereka telah menjadi mayat dan ditumpuk di atas pedati mereka.

Yap Kiong Lee tidak melihat Thio Tek Kong diantara pasukan itu.

Otomatis hatinya menjadi tegang dan gelisah.

"Berhenti...!"

Jagoan dari istana menghentikan mereka.

Pasukan yang kini tinggal delapan atau sembilan orang lagi itu berhenti pula dengan ketakutan.

Mereka menyangka telah berjumpa dengan musuh mereka lagi.Tapi ketika menyaksikan siapa yang datang, tiba-tiba wajah mereka menjadi berseri-seri.

Mereka segera mengenal wajah Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee!

Meskipun Yap Kiong Lee tidak menjadi tentara atau menjabat jabatan apapun di istana, namun setiap orang tahu bahwa pendekar berkepandaian tinggi itu adalah kakak Yap Tai Ciangkun dan orang kepercayaan kaisar mereka.

"Yap Taihiap, celaka...! Thio Cian-bu... Thio Cian-bu... mati dibunuh orang!"

Salah seorang dari para prajurit yang masih tertinggal itu melapor dengan suara gugup.

"Hah? Apa...? Thio Tek Kong mati? Siapakah yang membunuhnya?"

Yap Kiong Lee berseru kaget. Suaranya bergetar menahan marah.

"Kami... kami tak tahu. Ketika kami mengejar bayangan seorang wanita berbaju putih, yang berlari keluar tembok kota, kami menemukan sebuah bangunan kuno di tengah-tengah hutan. Thio Cian-bu... Thio Cian-bu lalu memberi perintah kepada kami untuk mengepung bangunan kuno tersebut, sementara beliau... sementara beliau bersama dua orang pengawal memasukinya. Lalu... lalu... tiba-tiba kami mendengar beliau menjerit keras sekali... dan... dan..."

"Dan ketika kalian masuk, kalian...mendapatkan tubuh Thio Tek Kong telah menjadi mayat! Begitu...?"

Yap Kiong Lee cepat-cepat memotong.

"Be-be-benar! Bahkan... bahkan..."

"Hmm, bahkan kalian semuapun lalu mendapat serangan dari sesosok bayangan yang tidak kalian ketahui wajah maupun bentuknya! Begitu bukan? Dan serangan tersebut demikian dahsyatnya sehingga semua tak kuasa untuk menyelamatkan diri. Sehingga beberapa orang dari kalianpun lalu bergelimpangan pula menjadi mayat! Begitu...?"

Sekali lagi Yap Kiong Lee yang sedang marah itu menukas.

"Be-benar, Taihiap! Mengapa Taihiap mengetahuinya? Apakah... apakah Taihiap berada di tempat itu pula?"

Dengan heran prajurit itu bertanya.

"Goblog! Aku cuma menduga saja!"

Yap Kiong Lee membentak marah. Lalu sambungnya lagi.

"Nah! Sekarang katakan kepadaku, dimanakah bangunan kuno itu berada?"

Dengan agak takut-takut prajurit itu lalu menunjuk ke arah utara, dimana beberapa lie jauhnya dari tempat itu terlihat tanah perbukitan yang diselimuti oleh hutan belukar nan lebat.

"Di sana, Taihiap...!"

"Baik! Sekarang kalian pergilah ke kota! Laporkan kejadian ini kepada wakil Thio Cian-bu!"

"Baik, Taihiap..."

Pasukan berkuda yang sudah tidak karuan bentuknya itu lalu berjalan lagi memasuki kota. Mereka tampak semakin kepayahan terkena sinar matahari yang bergulir ke arah barat.

"Nah! Bagaimana menurut pendapat Pangeran tentang hal ini?"

Yap Kiong Lee kemudian bertanya kepada Liu Yang Kun yang sejak tadi cuma diam saja.

Liu Yang Kun memandang ke arah pasukan yang sedang memasuki pintu gerbang kota itu untuk beberapa saat lamanya.

Setelah itu sambil menarik napas panjang kepalanya tertunduk.

"Kukira pendapat kita tidak akan jauh berbeda..."

Yap Kiong Lee mengerutkan keningnya.

"Jadi Pangeran juga berpendapat bahwa hantu Kuntilanak itu sebenarnya juga seorang manusia biasa? Seorang manusia berwatak aneh dan berkepandaian sangat tinggi?"

Liu Yang Kun mengangguk.

"Ya! Dan hantu itu membunuh Thio Cian-bu beserta anak buahnya, karena mereka telah mengganggu tempat tinggalnya."

"Lalu... bagaimana dengan bayi-bayi yang diculiknya?"

"Diculik? Aku belum mendengar khabar bahwa hantu itu telah menculik bayi. Aku hanya mendengar bahwa ia selalu mengelilingi rumah korbannya di malam hari."

"Dan... bayi si pemilik rumahpun akan mati keesokkan harinya!"

Yap Kiong Lee meneruskan.

"Ya, begitulah... Jadi selama ini orang yang dijuluki 'Hantu Kuntilanak' itu selalu mendatangi rumah penduduk yang ada bayinya. Tak seorangpun yang tahu, apa yang dikerjakan oleh 'hantu' tersebut. Namun yang terang dia tak pernah mengganggu atau menculik bayi. Dia cuma mondar-mandir saja di sekeliling rumah korbannya, sementara bayi yang ada di dalam rumah itu akan menangis terus tiada henti-hentinya."

"Dan bayi itu akan mati keesokan harinya, karena hantu itu telah mengguna-gunainya...!"

Sekali lagi Yap Kiong Lee menandaskan. Liu Yang Kun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Mungkin disinilah perbedaan kita..."

Pemuda itu berkata perlahan.

"Aku sama sekali tak melihat hubungan antara kematian bayi itu dengan kedatangan 'hantu' tersebut. Tapi terus terang saja akupun tak bisa menjelaskan, mengapa aku mempunyai dugaan atau pendapat demikian. Semuanya itu cuma perasaanku saja..."

Yap Kiong Lee tersentak kaget. Dengan kening berkerut jagoan dari istana itu berdesah.

"Aneh! Kenapa Pangeran berpendapat begitu? Apakah tidak terlintas di dalam hati Pangeran bahwa 'hantu' itu sedang mendalami sebuah ilmu hitam yang mempergunakan bayi-bayi sebagai sarananya?"

Sekali lagi Liu Yang Kun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.

"Semula aku memang berprasangka demikian pula. Tapi entah mengapa, perasaanku seperti tidak menyetujuinya. Perasaanku cenderung untuk mengatakan yang lain. Namun seperti yang telah kukatakan tadi,aku tak bisa menjelaskannya..."

"Oooh, lalu...apa yang hendak kita lakukan sekarang?"

Setelah berdiam diri beberapa saat lamanya, Yap Kiong Lee bertanya kepada Liu Yang Kun. Liu Yang Kun terpekur sebentar. Lalu jawabnya.

"Kalau... kalau Ciangkun setuju, aku ingin menyelidiki bangunan kuno itu pula. Tapi...malam nanti saja. Sekarang kita ke rumah Thio Cian-bu lebih dahulu. Kita mencari keterangan yang benar, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah perwira itu malam tadi?"

Liu Yang Kun agak bingung juga untuk menyebut Yap Kiong Lee.

Semula ia menyebut 'Ciangkun' karena menyangka jagoan istana itu sebagai seorang perwira kerajaan pula seperti adiknya, yaitu Yap Tai-Ciangkun itu.

Tapi setelah mendengar sebutan para perajurit berkuda itu tadi, ia menjadi sadar bahwa ia telah salah duga.

Ternyata Yap Kiong Lee bukanlah seorang perwira.

Sebaliknya Yap Kiong Lee sendiri agaknya juga tidak ambil-pusing pada sebutan yang diberikan Liu Yang Kun kepadanya.

"Terserah kepada Pangeran. Apabila Pangeran memang menghendaki demikian, sayapun hanya menurut saja..."

Katanya kemudian dengan mantap.

Demikianlah, seperti halnya pasukan yang kalah perang tadi, mereka berduapun lalu melangkah memasuki pintu-gerbang kota itu pula.

Mereka berjalan menyusuri jalan besar, menuju ke rumah kediaman Thio Tek Kong di tengah kota.

Sekilas mereka masih bisa melihat debu yang ditinggalkan oleh pasukan yang kalah perang itu.

Sementara di kanan-kiri jalan tersebut mereka juga masih bisa menyaksikan para penduduk yang saling bergerombol membicarakan kejadian itu.

Ketika mereka berdua melewati perempatan jalan yang pertama, mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara jerit tangis yang memilukan dari sebuah rumah besar di pinggir jalan.

Otomatis pikiran Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee tertuju pada keluarga para perajurit Thio Cian-bu yang tewas itu.

"Tampaknya khabar tentang kematian para perajurit itu telah sampai pula kepada keluarganya..."

Yap Kiong Lee menghela napas duka.

"Agaknya memang demikian. Tetapi...?"

Tiba-tiba Liu Yang Kun menghentikan langkahnya. Wajahnya menjadi bersungguh-sungguh. Matanya memandang ke rumah besar itu tanpa berkedip.

"Pangeran...? Ada apa?"

Tentu saja Yap Kiong Lee menjadi terkejut sekali.

"Oh, tidak...!"

Liu Yang Kun tersentak sadar.

"Tiba-tiba saja perasaanku menjadi lain. Aku seperti mencium sesuatu yang ganjil di rumah itu. Tangis itu rasanya bukan karena mereka adalah keluarga perajurit yang tewas itu. Rasa-rasanya mereka menangis karena sesuatu hal yang lain. Ciangkun, marilah kita singgah sebentar...!"

Yap Kiong Lee menatap Liu Yang Kun sebentar, kemudian menundukkan mukanya.

Walau merasa sedikit aneh, tapi jagoan dari istana itu tidak berani membantah.

Perlahan-lahan mereka melangkah memasuki halaman luas itu.

Mereka melewati beberapa orang tetangga atau penghuni rumah yang lain, yang juga datang menjenguk ke rumah itu.Beberapa orang pelayan rumah itu cepat menyambut kedatangan Liu Yang Kun.

Namun karena mereka merasa belum pernah melihat wajah Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee, maka mereka tidak segera menyapa atau mempersilakan masuk.

Bahkan mereka menjadi curiga dan agak takut.

Tapi dengan tenang serta tidak memperdulikan kecurigaan mereka, Liu Yang Kun mendekati mereka.

"Maaf, kami berdua adalah petugas dari bagian keamanan kota..."

Liu Yang Kun membohong.

"Bolehkah kami mengetahui, apa yang telah terjadi di rumah ini?"

Mendengar tamu-tamunya adalah petugas keamanan kota, para pelayan itu menjadi lega.Dengan ramah dan hormat mereka mempersilakan Liu Yang Kun masuk.Tapi Liu Yang Kun tidak segera masuk.

Dengan suara perlahan ia bertanya kepada para pelayan itu, apa sebenarnya yang telah terjadi di rumah tersebut.

"Tuan besar baru saja dianiaya penjahat! Dan... dan calon nyonya besar diculik pula!"

Pelayan itu paling tua segera menjawab.

"Hah? Ada penjahat yang berani menganiaya dan menculik orang di siang hari begitu? Kurang ajar...!"

Yap Kiong Lee menggeram marah.

"Be-benar, tuan...! Mari... mari silahkan tuan berdua menyaksikan sendiri keadaan tuan besar kami! Beliau ada di ruang tengah."

Pelayan itu lalu membawa Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee masuk, sementara teman-temannya yang lain segera mendahului dan melapor kepada majikan mereka.

Dan seorang lelaki setengah baya segera keluar pula menyambut kedatangan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

"Terima kasih... terima kasih! Belum juga kami sekeluarga sempat melapor, ternyata jiwi telah sampai di tempat ini. Terima kasih..."

Lelaki setengah baya itu menyambut dengan ramah, meskipun sinar kesedihan tetap memenuhi wajahnya.

"Bolehkah kami berdua menengok..?"

Yap Kiong Lee cepat melangkah ke depan dan menyahut sambutan dari tuan rumah itu.

"Silahkan...silahkan...!"

Lelaki setengah baya itu mempersilakan, kemudian mendahului masuk ke ruang tengah.

Di ruangan tengah telah berkumpul menyaksikan seluruh keluarga penghuni rumah tersebut.

Mereka mengelilingi sebuah pembaringan dengan wajah yang sedih dan diliputi oleh kedukaan yang mendalam.

Seorang lelaki berwajah tampan, namun sudah berusia sekitar lima puluhan tahun, tampak tergolek pucat di atas pembaringan itu.

Sementara di dekat kepalanya tampak duduk seorang nenek tua-renta menangisinya.

"Hek-pian-hok Ui Bun Ting...?"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee berdesah kaget begitu menyaksikan wajah orang yang sakit itu. Dan kekagetan Yap Kiong Lee ini tentu saja juga amat mengejutkan Liu Yang Kun pula.

"Ciang... eh, Twako mengenalnya...?"

Yap Kiong Lee cepat menganggukkan kepalanya.

Namun ketika ia hendak menjawab, tiba-tiba Hek-pian-hok Ui Bun Ting atau orang yang terbaring di atas pembaringan itu membuka matanya.

Agaknya kedatangan Yap Kiong Lee yang menyebut namanya itu telah menyadarkannya.Mula-mula ia hanya memandang saja kepada Yap Kiong Lee.

Bahkan beberapa kali dahinya tampak berkerut menahan sakit.

Namun beberapa saat kemudian ketika kesadarannya mulai penuh, ia mulai mengenal pula wajah Yap Kiong Lee.

"Yap Taihiap...?"

Gumamnya perlahan.

"Ui Ciang-bun (Ketua Partai Persilatan Ui)...? Benarkah ini? Mengapa Ui Ciang-bun berada di tempat ini? Bukankah hari pernikahan itu tinggal sehari lagi?"

Yap Kiong Lee bertanya dengan heran seolah-olah tak percaya bahwa orang yang dihadapinya itu benar-benar ketua persilatan Tiam-jong-pai.

Tapi Ui Bun Ting cuma menyeringai saja kepada Yap Kiong Lee.

Ia tak menjawab pertanyaan itu.

Sebaliknya ia malah memperkenalkan keluarganya kepada Yap Kiong Lee.

"Yap Taihiap, perkenalkanlah ini ibuku..."

Katanya perlahan seraya memandang wanita tua-renta yang duduk di dekat kepalanya.

"Dan... itu adikku."

Lanjutnya lagi sambil menunjuk ke lelaki setengah baya yang tadi menyambut kedatangan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

Kemudian Ui Bun Ting menyebut pula satu-persatu orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Bibinya, adik-adiknya yang lain, keponakannya dan lain-lainnya lagi.

Dan setiap ketua Tiam-jong-pai itu menyebutkan nama keluarganya, Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee terpaksa membungkuk memberi hormat.

Namun ketika ketua Tiam-jong-pai itu hendak berbicara lagi, Yap Kiong Lee cepat mencegahnya.

"Sudahlah Ui Ciang-bun, jangan banyak bicara dahulu! Kau harus beristirahat! Ehm...bolehkah aku memeriksa luka-lukamu?"

Jagoan dari istana itu memotong. Ui Bun Ting menatap tamunya dengan perasaan terima kasih. Namun dengan amat berat kepalanya menggeleng. Tiba-tiba wajahnya sangat sedih.

"Tidak ada gunanya, Taihiap, Lukaku sungguh sangat parah. Selain itu aku juga terkena racun yang mematikan. Rasanya aku sudah tidak mungkin hidup lagi... Tapi aku tidak akan menyesali kematianku. Aku hanya..., ooh..."

Ui Bun Ting tidak kuasa melanjutkan kata-katanya.

Rasa sedih dan rasa sakit mendadak telah menyerang dada dan perutnya.

Otomatis semua keluarganya menjerit dan menangis menyaksikan penderitaannya.

Yap Kiong Lee cepat menyambar lengan Ui Bun Ting.

Diperiksanya denyut nadinya, kemudian detak jantungnya.Lalu yang terakhir Yap Kiong Lee menotok beberapa titik jalan darah di sekitar pusar ketua Tiam-jong-pai itu.

Namun ketika Yap Kiong Lee hendak menyalurkan tenaga saktinya untuk mengurangi beban sakit di dada Ui Bun Ting, tiba-tiba ia meloncat mundur.

Wajahnya mendadak menjadi pucat.

Liu Yang Kun dan lelaki setengah baya itu cepat mendesak maju.

"Twako, ada apa...?"

Liu Yang Kun berseru kaget.

"Bagaimana tuan...?"

Lelaki setengah baya itu ikut berdesah pula. Yap Kiong Lee menatap Liu Yang Kun dengan wajah ngeri.

"Racun!"

Geramnya.

"Sungguh keji sekali orang yang melukainya. Hampir saja racun itu membalik ketika aku tadi mengerahkan tenaga..."

Sambil berbicara Yap Kiong Lee memperlihatkan telapak tangannya yang terbakar. Liu Yang Kun mengerutkan keningnya.

"Biarlah aku yang mengobatinya...,"

Katanya kemudian sambil menggenggam Po-tok-cu di tangan kanannya.

"Ah, tapi...?"

Yap Kiong Lee yang sangat mengkhawatirkan keselamatan Liu Yang Kun itu mencoba mencegahnya. Namun Liu Yang Kun tetap melangkah maju.

"Twako tak usah cemas! Aku dapat menjaga diri. Percayalah..."

Ucapnya seraya memegang urat nadi Ui Bun Ting.

Lelaki setengah baya yang diperkenalkan sebagai adik Ui Bun Ting tadi tiba-tiba juga mendesak maju pula.

Ia tampak sangat mengkhawatirkan keselamatan kakaknya.

Di satu pihak ia ingin agar kakaknya ada yang bisa mengobati tapi di lain pihak ia juga agak ragu terhadap orang-orang yang belum dikenalnya itu.

O leh karena itu ia kelihatan bingung dan salah tingkah di depan Yap Kiong Lee.

"Sudahlah...! tuan tak perlu khawatir. Kami berdua akan berusaha menolong Ui Ciang-bun. Kami berdua adalah sahabat-sahabatnya..."

Yap Kiong Lee yang bisa menduga dan memaklumi hati dan perasaan orang itu cepat menghiburnya.

"Tuan, maafkanlah saya..."

Lelaki setengah baya itu tersipu-sipu.

Sementara itu Liu Yang Kun telah menggores urat nadi Ui Bun Ting dengan kukunya, kemudian menutupi luka kecil itu dengan Po-tok-cu atau Mustika Inti Racunnya.

Lalu dengan perlahan-lahan ia menyalurkan tenaga saktinya melalui mustika itu.

Hawa hangat perlahan-lahan merambat melalui lengan Ui Bun Ting, kemudian menyebar ke seluruh tubuh dan mengusir racun yang mengeram di dalamnya.

Uap seolah-olah keluar dari dalam tubuh ketua Tiam-jong-pai itu.

Uap berwarna kekuningan yang diikuti pula oleh merembesnya keringat berbau amis yang luar biasa banyaknya.

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu terbelalak matanya.

Semuanya merasa kaget dan ngeri.

Apalagi ketika menyaksikan keringat yang mengalir itu berwarna kehitaman dan mengotori pakaian Ui Bun Ting.

Dan beberapa waktu kemudian semuanya menjadi lega ketika Ui Bun Ting membuka matanya.

Wajah orang tua itu telah berubah menjadi kemerah-merahan kembali.

Liu Yang Kun melepaskan tangannya lalu sambil berpura-pura mengusap peluhnya ia menyimpan kembali Po-tok-cunya.

"Sekarang biarlah Ui Ciang-bun beristirahat sebentar sambil memulihkan tenaganya. Racun yang ada di dalam tubuhnya telah hilang..."

Katanya perlahan sambil memandangi keluarga ketua Tiam-jong-pai itu satu-persatu.

"Terima kasih, Taihiap... terima kasih!"

Lelaki separuh baya itu tiba-tiba berlutut di depan Liu Yang Kun seraya menyatakan terima kasihnya yang kemudian diikuti pula oleh seluruh keluarga Ui yang ada di dalam kamar tersebut.

Repot juga hati Liu Yang Kun menerima penghormatan itu.

Sambil menyeringai kikuk pemuda itu menoleh ke arah Yap Kiong Lee.

"Sudahlah...! Marilah kita duduk di ruang depan! Kami berdua ingin mendengar kisahnya, bagaimana asal-mulanya semua kejadian ini..."

Yap Kiong Lee cepat menengahi dan menarik tubuh lelaki setengah baya itu ke atas, kemudian mengajaknya ke ruang depan.

Otomatis yang lain lalu berdiri puIa dan mengikuti langkah lelaki setengah baya tersebut.

Dan Liu Yang Kun pun kemudian me langkah pula mengikuti mereka.

Namun sebelum beranjak dari tempatnya pemuda itu masih mendengar desis ucapan Ui Bun Ting yang ditujukan kepadanya.

"Terima kasih, Taihiap..."

Demikianlah di ruang depan lelaki setengah-baya itu lalu bercerita tentang kakaknya.

Ui Bun Ting sejak kecil memang mempunyai watak dan perangai yang berbeda dengan saudara-saudaranya.

Dia lebih suka ngeluyur dan bermain-main di luar rumah dari pada belajar dan berkumpul dengan saudara-saudaranya.

Ui Bun Ting gemar berkelahi dan sering membuat onar.

Bahkan di dalam usianya yang masih kecil itu ia sudah kerap-kali kabur meninggalkan rumah.

Dan kelakuannya tersebut semakin bertambah menjadi-jadi pula ketika usianya mulai menginjak remaja.Dan puncak dari semua kebengalannya itu adalah ketika ia membunuh orang didalam suatu perkelahian.

Ui Bun Ting yang bengal itu menjadi ketakutan.

Takut kepada ayah ibunya dan juga takut kepada para petugas keamanan yang tentu akan menangkapnya.

Dalam ketakutannya Ui Bung Ting lalu minggat melarikan diri.

Lari meninggalkan kampung-haIamannya.

Kali ini Ui Bun Ting sungguh tidak tanggung-tanggung di dalam minggatnya.

Sepuluh tahun kemudian ia baru pulang ke kampungnya, ke tengah-tengah keluarganya.

Dan saat itu pula Ui Bun Ting telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah.

Bahkan Ui Bun Ting juga telah memiliki ilmu silat yang tinggi pula.

Selain dari pada itu ternyata sifat dan kelakuannya juga telah berubah.

Ui Bun Ting telah menjadi pemuda yang baik, sopan dan lihai.

Tapi ternyata Ui Bun Ting tidak betah tinggal terlalu lama di rumahnya.

Dia lebih suka berada di tempat perguruannya, yaitu perguruan Tiam-jong-pai, Cin-an.

Dia lebih suka berdekatan dan melayani gurunya, ketua Partai Tiam-Jong-pai yang terkenal pada waktu itu.

Hanya kadang-kadang saja Ui Bun Ting pulang untuk menengok ayah ibunya.

Suatu saat Ui Bun Ting pulang membawa seorang wanita, pendekar dari Aliran Im-Yang-kauw.

Namanya adalah Han Sui Nio.

Belakangan dikatakan kepada ayahnya bahwa wanita itu adalah calon isterinya.

Tapi beberapa tahun kemudian ternyata Ui Bun Ting membawa pulang wanita lain.

Bahkan wanita yang bernama Siauw Hong Li itu katanya telah dikawininya.

Tentu saja ayahnya menjadi heran dan menanyakan keadaan Han Sui Nio.

Namun dengan enaknya Ui Bun Ting menjawab bahwa mereka tak jadi menikah.

Setelah itu Ui Bun Ting jarang sekali pulang.

Ui Bun Ting hanya pulang ketika ayahnya meninggal dunia.

Dan saat itu pula seluruh keluarganya tahu bahwa Ui Bun Ting telah berpisah pula dengan Siauw Hong Li, dan kini Ui Bun Ting telah diangkat sebagai Ciang-bun-jin (ketua perguruan) Tiam-jong-pai.

Begitulah, setelah belasan tahun Ui Bun Ting tak pernah menampakkan batang hidungnya pula, tiba-tiba tadi siang telah muncul kembali di rumah itu.

Dan kedatangannya kali ini ternyata juga amat mengejutkan seluruh keluarganya, karena Ui Bun Ting yang kini telah berumur lima puluhan tahun itu datang bersama Han Sui Nio, wanita yang batal ia nikahi dulu.

Dan maksud kedatangannya itu adalah untuk memohon doa dan perkenan dari ibunya untuk menikah dengan kekasih lamanya itu.

Namun belum juga mereka itu selesai berbicara, ternyata datang pula beberapa orang tamu yang tak dikenal.

Begitu datang tamu-tamu yang berperangai jahat itu lalu berselisih dengan Han Sui Nio.

Mereka segera berkelahi.

Tetapi salah seorang dari tamu itu ternyata lihai sekali.

Meskipun Ui Bun Ting datang membantu kekasihnya, keduanya tak mampu mengalahkannya.

Bahkan Ui Bun Ting dapat dilukainya dan Han Sui Nio dibawa pergi.

"Kami sekeluarga tak ada yang berani keluar untuk membantu, karena tak seorangpun diantara kami semua yang dapat bermain silat. Jangankan hendak menolong, sedangkan untuk melihat atau mengikuti gerakan merekapun kami tak bisa. Mereka bergerak seperti baying-bayang yang saling membelit dan berputar cepat sekali..."

Lelaki setengah baya itu menutup ceritanya dengan menghela napas panjang.

"Ah, lihai benar tamu itu, sehingga Ui Ciang-bun pun tak kuasa mengatasinya. Sungguh mengherankan sekali. Siapa sebenarnya mereka itu...?"

Yap Kiong Lee menatap Liu Yang Kun dan bergumam perlahan.

"Dia adalah... Giok-bin Tok-ong!"

Tiba-tiba terdengar suara Ui Bun Ting di belakang mereka.

"Giok-bin Tok-ong...? Eh, Ui Ciang-bun... mengapa kau turun dari pembaringanmu?"

Yap Kiong Lee tersentak kaget.

Benar-benar kaget sekali.

Ternyata semuanyapun menjadi kaget pula melihat kedatangan Ui Bun Ting.

Mereka bergegas menyambutnya dan membawanya duduk diantara mereka.

Dan semuanya memandanginya dengan heran karena saudara mereka itu telah bisa berjalan kembali, walaupun masih lemah.

"Maaf, aku tak tahan untuk berbaring terus. Aku ingin cepat-cepat berkenalan dengan orang yang menolongku. Aku belum sempat mengingat-ingat namanya tadi..."

Ui Bun Ting cepat memberi keterangan. Kemudian ketua Partai Tiam-jong-pai itu berdiri pula kembali. Ia menjura dengan hormat kepada Liu Yang Kun. Ucapnya perlahan namun jelas dan terang.

"Taihiap...? bolehkah aku yang tua ini mengetahui nama dan gelarmu?"

Sekejap Liu Yang Kun menjadi bingung.

Pemuda itu tak tahu harus menjawab bagaimana.

Oleh karena itu matanya segera mengawasi Yap Kiong Lee untuk meminta pertimbangan.

Yap Kiong Lee cepat berdiri di depan Ui Bun Ting.

Dengan sikap yang halus dan cerdik ia menjawab pertanyaan orang tua itu.

"Maaf, Ui Ciang-bun... sahabatku ini menderita penyakit "lupa ingatan". Dia sama sekali sudah lupa masa lalunya. Dia sudah tak bisa mengingat lagi siapa dirinya, ayah ibunya, keluarganya dan semua handai-taulannya. Bahkan ia juga sudah lupa pula akan namanya sendiri. Oleh karena itu... maafkanlah apabila dia tak bisa menjawab pertanyaanmu."

"Haaah...? dia sakit "lupa ingatan"...?"

Semuanya menjadi kaget, ragu dan tak percaya.

Bahkan Ui Bun Ting sendiri juga tertegun pula ditempatnya.

Semuanya baru sekali ini mendengar ada penyakit seaneh itu.

Yap Kiong Lee menarik napas panjang.

Dia bisa memaklumi perasaan mereka, karena dia sendiripun juga berperasaan seperti mereka itu pula ketika mendengar yang pertama kali.

Oleh karena itu dia lalu menjelaskannya dengan hati-hati semua yang terjadi pada sahabatnya itu, tanpa sedikitpun menyebutkan bahwa pemuda itu adalah Pangeran Liu Yang Kun.

"Jadi... Jadi Taihiap itu juga pernah bertarung dengan Giok-bin Tok-ong pula? Aaah...!"

Ui Bun Ting berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Matanya semakin memancarkan sinar kekaguman.

"Sudahlah, Ui Ciang-bun... aku pun tak mengetahui yang lebih banyak lagi tentang dia, karena aku sendiri juga baru mengenalnya kemarin."

"Hah? Jadi...?"

"Sudahlah. Sekarang lebih baik Ciang-bun saja yang ganti bercerita kepada kami, kenapa Ui Ciang-bun sampai bermusuhan dengan Giok-bin Tok-ong..."

Yap Kiong Lee cepat-cepat memotong agar Ui Bun Ting tidak banyak bertanya lagi.

Tiba-tiba ketua Partai Tiam-jong-pai itu terdiam sedih.

Wajahnya tertunduk lesu.

Matanyapun tampak berkaca kaca.

Agaknya bayangan Han Sui Nio yang diculik oleh Giok-bin Tok-ong itu kembali menggoda hatinya.

"Hal ini sebenarnya adalah persoalan pribadi kami. Malu rasanya kalau harus diceritakan kepada orang lain. Tapi... tak apalah kalau harus kuceritakan juga kepada Jiwi Taihiap. Bagaimanapun juga aku sudah berhutang budi kepada Taihiap berdua. Rasanya jiwaku ini sudah tidak tertolong lagi kalau tidak ada jiwi Taihiap..."

Ui Bun Ting berhenti sebentar untuk mengambil napas.

Wajahnya terangkat dan matanya menatap Liu Yang Kun maupun Yap Kiong Lee berganti-ganti.

Kemudian dengan jelas dan tidak tergesa-gesa ia bercerita tentang dirinya, tentang hubungannya yang kurang lancar dengan Han Sui Nio atau Si Pendeta Palsu Dari Teluk Po-hai itu.

Ui Bun Ting berkenalan dengan Han Sui Nio ketika ia ikut gurunya berkunjung ke Gedung Pusat Aliran Im-Yang-kauw di Sian-yang.

Dan perkenalan itu ternyata berkembang menjadi hubungan cinta yang mendalam.

Mereka berdua bercita-cita untuk melanjutkan hubungan mereka itu ke dalam jenjang perkawinan.

Apalagi para orang tua maupun guru dalam perkumpulan masing-masing juga merestui hubungan mereka tersebut.

Tapi memang dasar belum jodoh mereka.

Hubungan batin yang telah mereka pupuk dengan baik itu tiba-tiba seperti dihempas oleh gelombang pasang dengan kedatangan pihak ketiga.

Seorang gadis cantik murid ketua perguruan Ngo bie-pai tiba-tiba muncul di dalam kehidupan Ui Bun Ting.

Gadis yang di dalam segala hal melebihi Han Sui Nio ternyata mampu menjerat dan mengalihkan perhatian Ui Bun Ting.

Segala macam petuah dan nasehat yang diberikan oleh orang-orang tua tidak juga bisa menyadarkan keduanya.

Ui Bun Ting nekad meninggalkan Han Sui Nio dan mengawini Siauw Hong Li, murid NGobie-pai itu.

Di dalam 'kelupaannya' itu Ui Bun Ting sama sekali sudah tak ingat lagi akan nasib Han Sui Nio yang telah dia sia-siakan itu.

Namun mahligai perkawinan yang dibangun di atas puing-puing penderitaan orang lain itu ternyata tidak bisa bertahan lama.

Ternyata Siauw Hong Li memiliki sifat yang liar terhadap lelaki.

Wanita cantik itu mempunyai nafsu yang sangat besar dan tidak puas hanya dengan satu lelaki.

Beberapa bulan saja sejak perkawinannya, ia sudah berani main gila dengan lelaki lain.

Tentu saja Ui Bun Ting menjadi marah sekali.

Lelaki yang berani main gila dengan isterinya itu dibunuhnya dan Siauw Hong Li pun lalu diceraikannya pula.

Di dalam kemarahan dan kesedihannya Ui Bung Ting lalu bertapa mengasingkan diri.

Ia benar-benar malu dan terpukul hatinya, hingga ia menjadi malu pula bertemu dengan orang lain.

Dan ia baru mau keluar dari pertapaannya ketika belasan tahun kemudian disusul oleh adik-adik seperguruannya.

Dia bersedia pulang kembali ke Tiam-jong pai, karena gurunya yang tercinta telah meninggal dunia.

Dan gurunya itu menunjuk dirinya sebagai pewaris kursi ketua Partai Tiam-jong-pai.

Sementara itu karena malu, marah dan dendam, Han Sui Nio juga minggat pula dari Im-Yang-kauw.

Gadis itu berjalan terlunta-lunta seorang diri di dunia persilatan yang kejam dan ganas.

Yang membara di dalam hati gadis itu hanyalah perasaan dendam dan sakit hati karena ditinggalkan kekasihnya itu.

Hanya satu yang menjadi cita-cita gadis itu, yaitu membalas dendam kepada Ui Bun Ting dan Siauw Hong Li.

Api dendam membuat rusak jiwa Han Sui Nio.

la mulai bergaul dengan orang jahat yang sekiranya bisa memberi bekal ilmu kepadanya.

Dan pada saat yang seperti itulah ia berkenalan dengan Ang-leng Kok-jin, dari perguruan Lembah Tak Berwarna.

Dengan hati yang telah berubah menjadi kelam karena dendam itu, maka Han Sui Nio dengan mudah jatuh ke dalam pelukan Ang-leng Kok-jin.

Keduanya menjadi suami-isteri.

Selain ingin berguru, Han Sui Nio memang memiliki maksud tertentu di dalam perkawinannya itu.

Ia ingin mempergunakan kedahsyatan ilmu silat Ang-leng Kok-jin untuk menghadapi Tiam-jong-pai dan NGobie-pai.

Pokoknya ia harus membunuh mati Ui Bun Ting dan Siauw Hong Li, serta membumihanguskan pula seluruh perguruan Tiam-jong-pai dan NGobie-pai.

Namun cita-citanya itu ternyata tak pernah terlaksana.

Ketika pada suatu hari ia dan Ang-leng Kok-jin datang ke Tiam-jong-pai untuk menuntut balas, ternyata Ui Bun Ting sudah tidak ada disana.

Begitu pula halnya ketika mereka mencari Siauw Hong Li di NGobie-pai.

Wanita genit itupun sudah tidak ada pula di tempatnya.

Dan satu-satunya yang dapat mereka lakukan untuk melampiaskan kemarahan dan kemendongkolan mereka hanyalah mengamuk dan menimbulkan kerusakan yang sebesar-besarnya di kedua perguruan itu.

Dan di dalam bidang rusak-merusak ini memang Ang-leng Kok-jin lah jagonya.

Dengan kekejamannya yang tiada tara, serta dengan kemahirannya dalam mempergunakan racun, Ang-leng Kok-jin benar-benar seperti iblis yang haus darah dan mengerikan.

Apalagi di dalam partai persilatan itu tiada seorangpun yang mampu mengungguli ilmu silatnya.

Maka sungguh tidak mengherankan bila korban yang jatuhpun menjadi tidak terhitung pula jumlahnya.

Tapi tindak kebrutalan itu sendiri ternyata menimbulkan gelombang kemarahan di kalangan para pendekar persilatan.

Seperti ada yang memberi komando, maka para pendekar persilatan pun lantas berbondong-bondong mencari An leng Kok-jin dan Han Sui Nio.

Dan dunia kang-ouw pun lalu terjadi peristiwa-peristiwa yang menarik karena ulah mereka.

Han Sui Nio dan Ang-leng Kok-jin tetap mencari dan memburu Ui Bun Ting serta Siauw Hong Li.

Tapi sementara itu setiap saat merekapun harus berlari dan menghindarkan diri pula dari gempuran para pendekar, sebab bagaimanapun juga lihainya Ang-leng Kok-jin, mereka berdua tak bisa terus-menerus melayani serbuan para pendekar itu.

Demikianlah setelah bertahun-tahun mereka mencari, akhirnya Siauw Hong Li dapat mereka ketemukan juga.

Tapi di luar dugaan Han Sui Nio, kali ini jagonya tiba-tiba melempem di hadapan musuh besarnya itu.

Ang-leng Kok-jin yang kejam dan garang itu tiba-tiba tak berkutik ketika berhadapan dengan "jago' Siauw Hong Li!

Ternyata Siauw Hong Li telah mendapatkan seorang pelindung pula, yaitu Giok-bin Tok-ong, guru dari Ang-leng Kok-jin sendiri, sehingga ketika mereka berdua, guru dan murid itu bertarung, maka Ang-leng Kok jinlah yang menderita kekalahan.

Jago Han Sui Nio itu terluka parah di tangan gurunya sendiri!

Terpaksa dengan perasaan sedih dan kecewa Han Sui Nio membawa suaminya menyingkir dari depan lawannya.

Mereka berdua bersembunyi sambil berusaha mencari akal untuk menghadapi lawannya itu.

Ang-leng Kok-jin memang tidak mungkin menang melawan gurunya sendiri, sebab bagaimanapun juga semua ilmunya itu adalah pemberian gurunya.

Tentu saja Giok-bin Tok-ong memiliki ilmu yang lebih lengkap dan lebih banyak dari pada dia.

Satu-satunya jalan untuk memenangkannya hanyalah apabila dia bisa belajar selengkap dan sebanyak gurunya itu.

Oleh karena itu lalu diputuskan oleh Han Sui Nio dan Ang-leng Kok-jin bahwa mereka harus bisa mendapatkan Im-Yang Tok-keng dan Po-tok-cu, pusaka warisan leluhur perguruan Lembah Tak Berwarna.

Namun karena barang itu berada di tangan Giok-bin Tok-ong, maka mereka harus bisa mencari jalan dan siasat untuk mengelabuhinya.

Mereka berdua harus bisa mendekati Giok-bin Tok-ong.

Sukur bisa memperoleh kepercayaannya kembali.

Kalau berdua tidak dapat, maka Han Sui Nio bersedia melakukannya sendirian.

Sebab Han Sui Nio tahu bahwa kelemahan Giok-bin Tok-ong adalah perempuan.

Namun demikian mereka harus menunggu apabila Giok-bin Tok-ong sudah tidak mempunyai kawan wanita lagi.

Dan kesempatan tersebut akhirnya datang juga.

Siauw Hong Li itu akhirnya pergi juga meninggalkan Giok-bin Tok-ong.

Maka Han Sui Nio pun lalu pura-pura datang sendirian mencari Siauw Hong Li.

Kemudian dengan berbagai macam siasat serta bujuk rayu, berhasillah Han Sui Nio mendekati Giok-bin Tok-ong.

Bahkan saking pintarnya melayani kakek iblis itu, maka Han Sui Nio pun segera memperoleh kepercayaannya pula.

Begitulah, dengan segala macam siasat dan tipu-dayanya, akhirnya setahun kemudian Han Sui Nio bisa membawa lari kedua buah pusaka itu.

Betapa marahnya Giok-bin Tok-ong tak bisa dilukiskan lagi.

Dicari dan diburunya terus wanita yang telah memperdayakannya itu, kemanapun juga wanita itu bersembunyi.

Sementara itu Han Sui Nio pun sudah bergabung pula kembali dengan Ang-leng Kok-jin.

Mereka berlari dan selalu berpindah-pindah tempat untuk menghindarkan diri dari kejaran Giok-bin Tok-ong.

Sambil berlari dan bersembunyi Ang-leng Kok-jin mencoba mempelajari buku warisan leluhurnya itu.

Tapi ilmu yang tercatat di dalam buku Im-Yang Tok-keng itu ternyata sukar sekali dipelajari.

Ilmu tersebut harus dipelajari dengan tenang, sabar serta dengan ketekunan yang luar biasa.

Maka dari itu untuk mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, harus dibutuhkan tempat yang sunyi serta jauh dari keramaian dunia.

Oleh karena itu sungguh tidak mungkin sekali bila ilmu tersebut dipelajari sambil berlari-lari seperti Ang-leng Kok-jin itu.

Dan hal ini sebenarnya disadari pula oleh Ang-leng Kok-jin.

Bahkan murid Giok-bin Tok-ong itu sudah mengetahuinya sejak dulu.

Dia memang mempunyai sebuah rencana rahasia di dalam hal ini.

Sebagai murid Giok-bin Tok-ong yang culas dan jahat, wataknyapun memang tidak jauh berbeda pula.

Kalau tidak demikian, masakan ia tega mengumpankan isterinya sendiri ke tangan gurunya?

Demikianlah, setelah waktunya dirasa tepat, maka pada suatu hari Ang-leng Kok-jin kabur meninggalkan Han Sui Nio.

Dan wanita yang selama beberapa tahun menjadi isterinya itu dibiarkannya terlunta-lunta sendirian menghadapi Giok-bin Tok-ong.

Dapat dibayangkan, betapa marah, sakit hati dan sengsara keadaan Han Sui Nio pada waktu itu.

Semua pengorbanan yang telah ia lakukan selama ini ternyata sia-sia belaka.

Akhirnya ia tetap tak bisa membalaskan api dendam yang menyala di dalam hatinya.

Bahkan nasib telah menyeretnya ke dalam lembah kesengsaraan dan penderitaan yang semakin dalam lagi.

Dan semua kepedihan itu menjadi semakin lengkap pula ketika ia ketahui dirinya sedang hamil.

Ternyata ketegangan demi ketegangan yang ia alami selama dalam pengejaran Giok-bin Tok-ong itu telah membuatnya 'lupa' atau kurang perhatian terhadap keadaan tubuhnya sendiri.

Begitulah, semua cobaan itu tampaknya sudah tidak tertahankan lagi bagi Han Sui Nio.

Demikian beratnya sehingga ia memutuskan untuk mati saja dari pada terus-terusan hidup di dalam penderitaan.

(Lanjut ke

Jilid 30) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 30 Tapi ketika Han Sui Nio dalam keadaan sekarat setelah minum racun, tiba tiba Giok-bin Tok-ong muncul dan menolongnya.

Han Sui Nio tidak jadi mati.

Bahkan wanita malang itu dirawat dengan baik oleh Giok-bin Tok-ong, walau pun dibalik semua kebaikan kakek iblis juga terkandung maksud yang tersembunyi pula.

Tapi Han Sui Nio pun sudah tahu dan bisa meraba pula maksud kakek iblis tersebut.

la takkan dibiarkan mati dahulu sebelum memberikan keterangan tentang kedua buah pusaka yang dicurinya itu.

Ia baru akan dibunuh apabila pusaka-pusaka itu telah kembali ke tangan kakek tersebut.

Namun apa lagi yang ditakutkan oleh wanita yang telah berputus asa seperti Han Sui Nio itu?

Bahkan yang amat diingininya pada waktu itu hanyalah kematian.

Lain tidak.

Oleh karena itu ketika kemudian Giok-bin Tok-ong bertanya tentang pusaka itu, iapun segera mengatakan saja apa adanya, dengan demikian Han Sui Nio berharap agar nyawanya segera dikirim ke akherat sehingga maksudnya untuk mati pun segera terlaksana pula.

Tapi ketenangan dan kenekadan wanita itu justru menarik perhatian Giok bin Tok-ong malah.

Tiba-tiba saja kakek iblis itu mengurungkan maksudnya untuk membunuh Han Sui Nio.

Bahkan dengan gencar kakek itu lalu mendesak dan berusaha mengetahui latar belakang kenekadan serta ketenangan Han Sui Nio tersebut.

Namun serentak tahu bahwa Han Sui Nio hamil, Giok-bin Tok-ong menjadi kaget sekali!

Seperti orang yang bingung dan ketakutan kakek iblis itu menanyakan ayah bayi itu.

Sebaliknya dengan tenang dan acuh Han Sui Nio menjawab bahwa dia tak tahu siapa ayah dari bayi yang dikandungnya itu.

Dari semula memang tidak tahu, sejak kapan ia mulai mengandung bayi itu.

Dari bingung dan ketakutan tiba-tiba Giok-bin Tok-ong menjadi berang.

Hampir saja Han Sui Nio dibunuhnya.

Untunglah pada saat itu pula datang pertolongan yang tak disangka-sangka.

Tiga orang tokoh puncak Aliran Im-Yang kauw tiba-tiba datang di tempat itu.

Mereka adalah Lo-sin-ong, Lojin-ong atau Toat-beng-jin, dan Pang Cu-si (Pengurus Perkumpulan) Song Kang.

Lo-sin-ong pada waktu itu belum buta dan masih menjabat sebagai Ketua atau Kepala Kuil Agung Aliran Im-Yang Kauw.

Dan kedatangan Lo-sin ong itu ternyata membuat Giok-bin Tok-ong mengurungkan niatnya untuk membunuh Han Sui Nio.

Bahkan kedatangan Lo-sin-ong dan kawan-kawannya itu membuat Giok bin Tok ong menjadi malu dan salah tingkah, sehingga tanpa banyak bicara lagi ia melesat pergi meninggalkan tempat itu.

Kemudian Lo-sin-ong membawa Han Sui Nio, yang memang bekas murid Im-Yang-kauw itu kembali ke kuil mereka.

Mereka bertiga lalu berusaha membenahi kembali jiwa Han Sui Nio yang telah rusak itu.

Setiap hari mereka bertiga secara bergantian menggojlog Han Sui Nio dengan ajaran-ajaran agama mereka, hingga akhirnya wanita itu menjadi sadar kembali akan dirinya.

Namun ketika wanita itu hendak melahirkan, Lo-sin-ong terpaksa menyembunyikannya di tempat yang terpencil, yaitu di dekat Teluk Po-hai untuk menjaga agar aib yang menimpa Han Sui Nio tersebut tidak menimbulkan citra buruk pada Aliran Im-Yang-kauw.

Begitulah, akhirnya Han Sui Nio yang telah kenyang mereguk pahit-getirnya kehidupan itu lalu mendalami agamanya.

Dia berusaha menjadi pengikut aliran Im-Yang-kauw yang tekun, sehingga akhirnya ia bisa menjadi pendeta dan bahkan mampu menjadi ketua cabang Im-Yang-kauw di teluk Po-hai.

Demikianlah selama hampir dua puluhan tahun kemudian, tak seorangpun dari mereka yang terlibat di dalam urusan "cinta dan dendam' itu saling mengunjungi atau bertemu satu sama lain.

Hubungan antara NGobie-pai dan Tiam-jong-pai pun menjadi retak.

Apalagi sete lah Siauw Hong Li menggantikan gurunya menjadi ketua NGobie-pai.

Pertemuan diantara mereka bertiga baru terjadi satu setengah tahun yang lalu yaitu ketika para pendekar persilatan berkumpul di kota Soh-ciu untuk memburu Iblis Penyebar Maut, yang merajalela menyebar kematian di dunia persilatan.

Tapi di dalam pertempuran sengit di Lembah Dalam, Siauw Hong Li menjadi korban.

Bahkan Ui Bun Ting pun juga terluka parah pula.

Akan tetapi justru karena itu pulalah benang cinta yang dahulu pernah terputus antara Ui Bun Ting dan Han Sui Nio dapat tersambung kembali.

Meskipun mereka telah tua, namun perasaan cinta mereka ternyata tak pernah pudar.

Mereka berdua lalu berniat untuk mengukuhkan kembali hubungan mereka itu ke jenjang perkawinan.

Tiada istilah terlambat bagi mereka berdua.

Tapi hanya sehari sebelum pernikahan itu mereka laksanakan, ternyata siang tadi telah mendapat cobaan kembali.

Secara tak terduga mereka berdua berjumpa dengan Giok-bin Tok-ong di kota Lai-yin ini.

Entah apa maksudnya tiba-tiba saja kakek iblis itu menyerang Ui Bun Ting dan melarikan Han Sui Nio.

"Demikianlah ceritanya, Taihiap..."

Ui Bun Ting menutup kisahnya sambil menarik napas panjang berulang ulang.

"Tampaknya Thian memang tak pernah mengijinkan aku kawin dengan Sui Nio..."

Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee ikut berdesah pula mendengar kisah yang amat menyedihkan itu.

Mereka tak menyangka bahwa Ui Bun Ting yang terkenal di dunia persilatan itu memiliki rahasia cinta yang begitu mengharukan.

"Dan... semua cerita tentang Han Sui Nio itu juga baru kuketahui setahun yang lalu, yaitu ketika hatiku telah dipautkan kembali satu sama lain. Aku sangat menyesal dan merasa berdosa kepada Han Sui Hio, sehingga aku bersumpah akan membahagiakannya di dalam sisa hidupku ini. Tapi tampaknya Thian tetap tak mengijinkan..."

Ui Bun Ting menyesali dirinya.

"Ui Ciang-bun, kau jangan terlalu cepat berputus asa...Kita masih dapat berusaha untuk menemukan kembali Han Lihiap. Aku mempunyai dugaan bahwa Han Lihiap masih tetap sehat dan segar bugar. Giok-bin Tok-ong takkan tega mencelakakannya..."

Tiba-tiba Yap Kiong Lee membujuk dan membesarkan hati Ui Bun Ting.

"Giok-bin Tok-ong tak tega mencelakakannya...? Mengapa...mengapa Yap Taihiap berpendapat demikian?"

Yap Kiong Lee tersenyum. Dipandangnya wajah ketua partai Tiam jong-pai itu dalam-dalam. Lalu ucapnya yakin.

"Kalau Giok-bin Tok-ong bermaksud membunuh Han Lihiap, dia tentu takkan berpayah-payah membawanya dari sini. Dia tentu mempunyai maksud-maksud tertentu kepada Han Lihiap. Bukankah Ui Ciang-bun tadi telah menceritakannya pula, bahwa mereka mempunyai hubungan tertentu di masa silam?"

"Oooh,"

Ui Bun Ting berdesah, lalu mengangguk-angguk. Matanya tertunduk mengawasi lantai di depannya.

"Yaa... mereka memang mempunyai hubungan yang amat akrab di masa silam. Bahkan... bahkan..."

"Nah, itulah Ui Ciang-bun...!"

Yap Kiong Lee cepat memotong, untuk mencegah orang-tua itu berkata lebih lanjut.

"Paling-paling Giok-bin Tok-ong ingin mendapatkan sesuatu keterangan dari mulut Han Lihiap, yang tak ingin didengar oleh siapapun juga""

"Keterangan...? Keterangan tentang apa kira-kira, Taihiap?"

Ketua partai Tiam-jong-pai itu tiba-tiba tersentak. Dahinya berkerut. Yap Kiong Lee menghela napas pendek.

"Bukankah Ui Ciang-bun tadi menceritakan bahwa pada waktu itu Han Lihiap mengandung? Lalu bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungannya itu? Inilah yang tentu akan ditanyakan oleh Giok-bin Tok-ong itu! Sebab... saya pernah mendapat keterangan bahwa Giok-bin Tok-ong sangat takut mempunyai anak."

"Takut mempunyai anak...? Eh, aneh sekali? Tapi kenapa ia justru senang 'main perempuan"?"

Yap Kiong Lee tertawa.

"Itu memang sudah wataknya. Tapi karena takut mempunyai anak, maka ia selalu membunuh mati wanita-wanita yang pernah digaulinya!"

"Kecuali... Han Lo-Cianpwe!"

Liu Yang Kun ikut berbicara.

"Benar. Tapi Han Lihiap pun sebenarnya juga hendak dibunuhnya pula. Namun maksud tersebut menjadi urung karena kedatangan tokoh-tokoh Im-Yang-kauw itu."

"Apakah kakek iblis itu takut kepada tokoh-tokoh Im-Yang-kauw?"

Liu Yang Kun menyahut lagi. Yap Kiong Lee tersenyum dan memandang ke arah Liu Yang Kun.

"Bukan karena itu yang menyebabkan Giok-bin Tok-ong urung membunuh Han Lihiap. Giok-bin Tok-ong sendiri tak pernah takut kepada siapapun juga, apalagi mereka. Meskipun mereka berjumlah tiga orang tak seorangpun yang kepandaiannya melebihi Giok-bin Tok-ong. Bahkan kalau mereka bertiga itu mengeroyokpun juga belum tentu menang. Giok-bin Tok ong merasa segan dan malu terhadap mereka itu..."

"Segan dan malu...? Eh, tampaknya Yap Taihiap justru lebih banyak tahu dari pada saya di dalam urusan ini."

Ui Bun Ting cepat-cepat menukas.

"Kalau begitu... ayolah, Taihiap"

Lekaslah kau ceritakan kepada kami!"

Sekali lagi Yap Kiong Lee tersenyum. Matanya memandang ketua partai Tiam-jong-pai itu dengan gembira. Ui Bun Ting kelihatan bersemangat dan tidak loyo lagi.

"Ui Ciang-bun...! Aku pernah bertemu dengan Toat-beng-jin yang pandai meramal itu. Dia bercerita kepadaku bahwa dia pernah berselisih dengan seorang kakek tampan yang mahir menggunakan racun. Kakek tampan itu sangat lihai, sehingga Toat beng-jin tak bisa menandinginya. Satu-satunya jalan bagi Toat-beng-jin untuk menyelamatkan diri hanyalah dengan cara menunjukkan kelebihannya dibidang ramal-meramal itu kepada musuhnya..."

Semua orang yang ada di dalam ruangan itu memandang dengan heran kepada Yap Kiong Lee.

Mereka semua menjadi heran, bagaimana ilmu meramal bisa untuk menyelamatkan diri dari kebengisan Giok-bin Tok-ong?

Yap Kiong Lee mengetahui keragu-raguan mereka.

Oleh karena itu lanjutnya kemudian.

"Memang demikianlah yang diceritakan oleh Toat-beng-jin kepadaku. Beliau juga tidak menceritakannya sampai ke hal yang sekecil-kecilnya, sehingga sayapun juga tidak mengetahuinya pula, bagaimana ia bisa menyelamatkan dirinya dengan iImu ramalnya itu. Namun yang jelas Giok-bin Tok-ong tidak jadi membunuh Toat-beng jin. Bahkan akhirnya kakek iblis itu menjadi begitu percaya pada ilmu ramal Toat-beng-jin, sehingga ia minta diramalkan nasibnya di kemudian hari..."

"Lalu...?"

Ui Bun Ting mendesak tak sabar.

"Toat-beng-jin meramalkan bahwa Giok-bin Tok-ong besuk akan mati ditangan... menantunya sendiri! itukah sebabnya dia menjadi ketakutan ketika mengetahui Han Lihiap mengandung. Namun ketika ia hendak membinasakan Han Lihiap, tiba-tiba datang Toat beng-jin bersama tokoh Im-Yang-kauw yang lain. Giok-bin Tok-ong menjadi segan dan malu, apalagi ketika diejek Toat-beng-jin bahwa kakek iblis itu takut kepada ramalannya..."

"Oh, jadi itukah sebabnya,"orang-orang yang mendengarkan di dalam ruangan itu berdesah. Tiba-tiba Ui Bun Ting tersentak kaget.

"Eh, kalau begitu...kalau begitu...Sui Nio sekarang berada dalam bahaya! Kini dia tentu benar-benar akan dibunuh oleh iblis itu!"

Serunya gugup.

"Tidak!"

Dengan cepat Yap Kiong Lee menyanggah.

"Sudah kukatakan bahwa Giok-bin Tok-ong takkan segera membunuh Han Lihiap sebelum ia memperoleh keterangan yang dimaksudkan. Nyawa Han Lihiap justru tidak diinginkan lagi oleh iblis itu. Yang diinginkan oleh Giok-bin Tok-ong itu sekarang adalah...anak yang dulu dikandung oleh Han Lihiap itu. Nah... anak itulah yang kini hendak dicari oleh Giok-bin Tok-ong melalui Han Lihiap!"

"Ooooooooh...??"

Semuanya berdesah lagi.

"Nah, Ui Ciang-bun... pernahkah Han Lihiap bercerita tentang anak itu kepadamu? Sebab kalau ia masih hidup, usianya tentu telah menjelang delapanbelas tahun sekarang...,"

Yap Kiong Lee bertanya hati-hati. Tapi Ui Bun Ting tidak segera menjawab. Ketua Partai Tiam-jong-pai itu tiba-tiba terpekur diam memandangi lantai rumahnya.

"Maaf, Yap Taihiap..., aku tak bisa mengatakannya. Sui Nio memang sudah memberitahukannya kepadaku. Tapi juga memintaku untuk tidak mengatakannya kepada orang lain"

Akhirnya ia berkata lirih.

"Ah, maafkanlah aku kalau begitu..."

Yap Kiong Lee cepat-cepat meminta maaf.

Sementara itu udara di luar rumah ternyata sudah menjadi gelap.

Tirai ma lam sudah mulai membungkus bumi.

Para pelayan di rumah itu juga sudah memasang lampu di pojok ruangan.

Bahkan dua orang pelayan tampak membawa tempat lilin besar yang hendak mereka taruh di tengah-tengah ruangan itu.

"Ah... tampaknya hari telah mulai malam,"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee berdesis sambil menoleh ke arah Liu Yang Kun. Kemudian lanjutnya lagi, yang ditujukan kepada Ui Bun Ting dan pula tuan rumah.

"Ui Ciang-bun, perbolehkanlah kami berdua meminta diri lebih dulu. Kami akan ikut berusaha mencari Han Lihiap sampai ketemu."

"Ah, Taihiap...! Saya justru hanya mengandalkan ji wi Taihiap untuk mendapatkan Sui Nio kembali. Aku sendiri sudah tidak bisa apa-apa lagi, padahal besok lusa hari perkawinan kami telah tiba. Dan...celakanya, aku sendiri tidak membawa pembantu atau pengawal dari Tiam-jong-pai!"

Selesai berkata Ui Bun Ting lalu turun dari kursinya dan berlutut di depan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

Begitu pula dengan keluarga Ui Bun Ting yang lain.

Merekapun lalu ikut-ikutan berlutut pula di depan Liu Yang Kun dan Yap Kiong Lee.

Tak enak juga perasaan Yap Kiong Lee diberi hormat sedemikian rupa oleh seorang ketua partai persilatan besar seperti Ui Bun Ting itu.

Oleh karena itu diapun lalu berlutut pula di depan Ui Bun Ting dan kemudian mengajaknya berdiri kembali.

"Aaah... jangan bersikap begitu, Ui Ciang-bun. Diantara kita sudah bukan orang lain lagi. Tanpa kau minta pun kami berdua tentu akan berusaha dengan sekuat tenaga pula. Kau tinggallah baik-baik di sini kami berdua akan mendapatkan kembali Han Lihiap untukmu! Nah... kami mohon diri dulu!"

Setelah memberi hormat kepada tuan rumah, Yap Kiong Lee lalu menarik lengan Liu Yang Kun dan mengajaknya pergi dari tempat itu.

Mereka melesat secepat angin, menerobos daun jendela yang masih terbuka di belakang mereka.

Demikian cepatnya gerakan mereka sehingga seorang ketua persilatan besar seperti Ui Bun Ting pun masih tetap menggeleng-gelengkan kepalanya karena kagum.

"Mereka masih muda-muda, tapi kepandaiannya sudah demikian jauh melampaui aku..."

"Tapi kau pun juga sudah melebihi orang kebanyakan, Twako. Padahal datang dari keluarga yang tak pernah mempelajari ilmu silat, seperti aku adik-adikmu yang lain itu,"

Adik Bun Ting yang berusia setengah baya itu menyahut.Sekali lagi Ui Bun Ting mengangguk-angguk.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi dia melangkah perlahan-lahan ke ruang dalam, diikuti oleh ibu dan adik-adiknya.

Sementara itu di luar rumah Liu Yang Kun bertanya kepada Yap Kiong Lee.

"Kemana kita pergi...?"

"Pangeran...! Giok-bin Tok-ong tidak pernah menyukai tempat-tempat yang ramai. Maka dari itu kita lebih baik pergi keluar tembok kota dan melihat-lihat di tempat yang sepi. Sekalian singgah di bangunan kuno itu. bukankah Pangeran masih berkeinginan untuk pergi ke sana?"

Liu Yang Kun tersenyum.

"Tentu saja. Bukankah sejak semula kita ingin pergi ke sana?"

"Nah! Kalau begitu mau tunggu apalagi? Marilah Pangeran...!"

Yap Kiong Lee berkata, kemudian mendahului melangkahkan kakinya.

"Tapi...ehm, apakah kita tidak singgah dulu di penginapan untuk melihat kalau-kalau nona Souw sudah kembali?"

Liu Yang Kun bertanya ragu.

"Ah... kukira tak perlu, Pangeran. Bukankah dia sudah mengatakan bahwa dia akan pulang agak malam?"

Yap Kiong Lee menjawab tanpa mengendorkan langkahnya.

Liu Yang Kun terpaksa mengejar langkah jagoan istana itu.

Mereka mengambil jalan yang sepi sehingga sebentar saja mereka telah keluar pintu gerbang kota.

Kemudian mereka berjalan menyusuri pinggiran parit yang mengelilingi tembok kota itu.

Bulan belum lagi muncul.

Langit masih tampak geIap.

Hanya bintang-bintang saja yang tampak di sana.

Sedangkan di sekeliling mereka hanya terdengar suara nyanyian binatang malam yang bersautan tiada hentinya.

Mereka berjalan cepat.

Meskipun demikian mereka selalu waspada dan siaga penuh.

Bahkan mereka selalu memperlambat langkah mereka apabila merobos hutan atau melalui tempat-tempat yang gelap dan mencurigakan.

Beberapa kali mereka dibuat kaget oleh munculnya binatang-binatang hutan yang berkeliaran mencari mangsa.

Namun sampai mereka itu berpisah kembali ke pintu gerbang semula, Giok-bin Tok-ong tetap tidak dapat mereka temukan.

"Hmm... kemanakah kita mencari lagi?"

Liu Yang Kun berbisik lesu. Kakinya melangkah ke pintu gerbang, untuk masuk ke dalam kota kembali.

"Maaf, Pangeran... Memang sulit mencari seseorang tanpa mengetahui jejak-jejaknya. Apalagi mencari seorang tokoh sakti seperti Giok-bin Tok-ong itu. Lebih baik kita ke... heiii... Pangeran! lihat!"

Tiba-tiba Yap Kiong Lee berseru tertahan.

Sebuah kereta kecil tampak berpacu keluar dari dalam kota.

Kuda penghelanya yang tidak begitu besar namun tampak kokoh kuat menghelanya di jalan yang berdebu.

Sekilas tampak wajah seorang kakek tua berambut panjang duduk melenggut di dalamnya.

Dan Yap Kiong Lee takkan melupakan wajah kakek tua dan Kereta itu!

"Siapa...???"

Liu Yang Kun berdesah sambil mengerutkan keningnya.

"Bu-tek Sin-tong! Dialah tokoh yang kita cari siang tadi! Mari kita ikuti dia!"

"Bagaimana dengan Giok-bin Tok ong?"

"Sudahlah! Nanti kita cari lagi dia! Yang perlu kita ikuti dulu Jago Silat Nomer Tiga Di Dunia ini! Tapi kita harus hati... eh? Pangeran, lihat...!"

Sekali lagi Yap Kiong Lee berseru tertahan.

Jari telunjuknya menuding ke arah pintu gerbang lagi.

Seorang wanita dengan wajah yang hampir tertutup oleh rambut panjangnya sendiri kelihatan melesat keluar dari dalam pintu gerbang tersebut.

Begitu cepatnya bayangan itu melintas di bawah lampu yang tergantung di atas pintu gerbang, sehingga apabila mereka tidak sedang kebetulan melihat ke sana tak mungkin mereka bisa mengetahuinya.

"Si-siapa... dia...??"

Liu Yang Kun berseru tertahan pula.

"Entahlah! Saya tidak tahu. Tapi yang jelas dia sedang mengejar kereta Bu-tek Sin-tong tadi. Pangeran, marilah kita buntuti mereka...!"

Jawab Yap Kiong Lee tegang.

Kemudian dengan cepat jagoan dari Istana itu meloncat ke dalam gelap mengejar bayangan wanita tadi.

Dan Liu Yang Kun pun tak ada pilihan lagi selain mengikutinya.

Keduanya mengerahkan seluruh kemampuan mereka, sehingga tubuh mereka bagaikan bayangan yang melesat di dalam kegelapan.

Empat atau lima langkah yang pertama Yap Kiong Lee memang dapat membarengi langkah Liu Yang Kun, tapi pada langkah-langkah selanjutnya jagoan dari istana itu menjadi semakin jauh tertinggal di belakang.

Itupun Liu Yang Kun telah sedikit mengendorkan langkahnya, karena bagaimanapun juga pemuda itu masih menghormati perasaan Yap Kiong Lee, Namun setelah jarak itu semakin menjadi jauh dan Yap Kiong Lee sudah tidak dapat menyaksikan lagi gerakan kakinya, Liu Yang Kun lalu betul-betul mengerahkan Bu-eng Hwee-tengnya.

Dan sekejap saja tubuhnya telah lenyap di dalam gelap.

Demikianlah, selagi Yap Kiong Lee menjadi kebingungan karena telah kehilangan jejaknya, Liu Yang Kun sendiri telah berada jauh di tengah-tengah hutan pohon cemara.

Seperti halnya Yap Kiong Lee ternyata pemuda itu juga telah kehilangan jejak kereta Bu-tek sintong dan wanita pengejarnya itu.

"Sungguh mengherankan sekali! Masakan di dunia ini ada seekor kuda yang memiliki ginkang seperti halnya manusia berilmu tinggi? Baru saja kereta itu lewat. Bahkan suara gesekan roda besinyapun juga masih dapat kutangkap dengan telingaku pula. Tapi mengapa tiba-tiba saja aku telah kehilangan jejaknya? Masakan kereta itu bisa menghilang begitu saja bersama penumpangnya? Aneh...?"

Liu Yang Kun lalu melangkah dengan hati-hati di bawah bayang bayang pohon cemara itu.

Dikerahkannya seluruh lwee kangnya untuk mempertajam kemampuan mata dan telinganya, agar ia mampu menangkap suara-suara ataupun benda-benda yang paling lemah sekalipun.

"Krreek! Kresek...!"

Tiba-tiba terdengar suara benda berat bergeser.

Liu Yang Kun cepat melompat dan menyeberangi jalan itu.

Kemudian ia melongok ke dalam jurang dimana suara tersebut terdengar.

Dan betapa terkejutnya hatinya tatkala menyaksikan kereta Bu-tek Sin-tong itu di sana.

Ternyata kereta itu terguling di dasar jurang yang menganga di pinggir jalan tersebut.

Bagaikan seekor kera Liu Yang Kun berloncatan turun dengan tangkasnya.

Walaupun gelap pemuda itu mampu melihat dan memilih tempat berpijak dengan baik.

Bahkan dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sempurna pemuda itu boleh dikatakan 'melayang' dari pada 'berloncatan".

Tapi sampai di dasar jurang pemuda itu tertegun.

Kereta itu memang kereta yang dilihatnya di pintu-gerbang kota tadi.

Dan keadaannya sudah berantakan, sementara kuda penghelanya juga sudah mati pula.

Namun anehnya...

tak seorangpun yang ia jumpai di tempat itu, baik Bu-tek Sin-tong maupun wanita yang mengejarnya itu.

Bahkan kusir atau pengemudi kereta itupun juga tak djumpainya pula.

"Hmm... aneh benar! Dimana orang-orang itu? Apakah Bu-tek tong telah meloncat menyelamatkan dirinya sebelum kereta itu hancur di jurang? Tapi...bagaimana dengan kusirnya? Apakah kusir kereta itu pandai ilmu silat pula?"

Karena penasaran Liu Yang Kun mencoba meneliti keadaan di sekitar.

Ditengoknya tempat-tempat yang mencurigakan yang sekiranya dapat dipergunakan untuk bersembunyi.

Bahkan ia melangkah menyusuri dasar jurang sampai beberapa puluh tombak jauhnya.

Benar juga dugaannya.

Dua puluh tombak jauhnya dari bangkai kereta ia menemukan tubuh kusir kereta tersebut.

Tubuhnya tergolek di atas bebatuan menantikan datangnya ajal yang akan menjemputnya.Liu Yang Kun bergegas memeriksanya.

Namun orang itu memang tidak bisa diselamatkan lagi.

Tubuhnya telah terluka parah.

Bahkan kaki-tangannya juga telah patah pula.

Tampaknya orang itu tidak bisa silat sama sekali, sebab ketika keretanya jatuh dari bibir jurang, ia tidak bisa menyelamatkan dirinya.

Namun sebelum menghembuskan napasnya yang penghabisan, Liu Yang Kun masih sempat memperoleh keterangan tentang Bu tek Sin-tong dan wanita pengejarnya.

"Kakek Iblis... kakek iblis itu... lari ke dalam gua di... didekat pohon Siong itu! Dan... dan"

Kun...kunti-la-nak itu... mengejarnya!"

"Kuntilanak...???"

Liu Yang Kun berseru kaget seraya mengguncang tubuh kusir kereta tersebut, namun nyawa orang itu telah terlanjur pergi meninggalkan jasadnya.

Otomatis Liu Yang Kun memandang ke tempat yang ditunjuk oleh kusir kereta itu.

Dan kebetulan pula bulan yang hanya seiris kecil itu muncul dari balik awan, sehingga jurang yang gelap itu menjadi sedikit terang karenanya.

Liu Yang Kun melihat sebuah lobang tampak di lereng jurang.

Tempatnya tidak jauh dari sebatang pohon Siong tua yang lebat daunnya.

Ada sebuah aliran mata air yang keluar dari lobang itu.

Sebenarnya ada perasaan khawatir juga di hati Liu Yang Kun untuk memasuki lobang gua tersebut, Namun ketika lapat-lapat telinganya mendengar suara pertempuran di dalamnya, hatinya tidak bisa ia kendalikan lagi.

Bergegas ia melompat masuk, setelah tentu saja menyiapkan seluruh kemampuannya.

Semuanya kelihatan gelap gulita.

Tapi dengan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya Liu Yang Kun mampu melihat dan menembus kegelapan itu dengan matanya.

Bahkan dengan tenaga saktinya yang dahsyat itu pula mata Liu Yang Kun menjadi mencorong seperti naga di dalam kegelapan.

Sekilas pandang saja Liu Yang Kun telah melihat dengan jelas semua yang ada di dalam gua tersebut.

Seorang kakek cebol berambut panjang tampak sedang bertarung seru melawan seorang kakek berwajah tampan.

Sementara di pinggir gua itu tampak seorang nenek, masih kelihatan sisa-sisa kecantikannya, sedang menangisi seorang wanita muda yang terkapar pingsan di lantai gua.

Dan juga hanya dalam sekilas pandang pula Liu Yang Kun segera mengenal bahwa wanita yang pingsan tersebut adalah wanita yang tadi mengejar kereta Bu-tek Sin-tong itu.

Liu Yang Kun menggeram.

Ia segera mengenal kakek tampan yang sedang bertempur melawan kakek cebol itu.

"Hmmm... Giok-bin Tok-ong! Jadi kakek inilah yang menurut Lo-sin-ong dan Tiauw Li Ing telah ikut mengeroyok serta melukai aku! Dan... kakek cebol itu tentulah Bu-tek Sin-tong kakek yang ada di dalam kereta itu."

Hanya kedua wanita itu saja yang belum diketahui oleh Liu Yang Kun.

"Kusir kereta tadi menyebut wanita muda itu dengan sebutan... kuntilanak! Hmm... benarkah dia itu kuntilanak yang dikejar-kejar orang selama ini? Lalu siapa pula wanita tua yang menangisinya itu? Eh, jangan-jangan dia adalah Han Sui Nio yang diculik oleh Giok-bin Tok-ong itu? Ah, benar...! Jangan-jangan memang dia. Menilik pakaiannya dia memang seperti seorang pendeta wanita..."

Dengan mengendap-endap Liu Yang Kun lalu bergeser mendekati kedua wanita itu. Tak seorangpun tahu kedatangannya karena semuanya tercekam oleh kesibukan mereka masing-masing.

"Oueek... oouek... ouuuuoeek!"

Tiba-tiba terdengar suara tangis bayi. Liu Yang Kun terkejut. Ternyata wanita muda yang pingsan itu mendekap bayi di dadanya. Dan bayi tersebut ternyata masih hidup pula.

"Ouh... wanita muda itu membawa bayi?"

Pemuda itu berdesah dan otomatis pikirannya teringat pada khabar burung tentang hantu kuntilanak pengganggu anak kecil itu.

Liu Yang Kun lalu mendekat lagi.

Dengan bersembunyi di belakang batu besar yang menjorok keluar dari dinding gua, pemuda itu hanya beberapa langkah saja jaraknya dari kedua orang wanita itu.

Dan dari tempat tersebut Liu Yang Kun benar-benar bisa melihat dengan jelas kedua orang itu.

"Tui Lan... Tui Lan... oough!"

Tiba-tiba terdengar wanita tua itu merintih lemah.

"Kau... kau jangan mati, nak! Lihatlah, ibumu datang!"

Liu Yang Kun mengerutkan dahinya.

Tiba-tiba saja hatinya bergetar dengan keras.

Nama yang disebutkan oleh wanita tua itu bagaikan palu besi yang tiba-tiba menghantam dinding ingatannya, sehingga ingatannya yang tertutup oleh jarum-jarum yang ditanam oleh Lo-sin-ong itu seperti bergetar dengan hebatnya.

"Tui Lan...?! Oh, rasa-rasanya aku pernah mendengar nama itu..."

Pemuda itu tiba-tiba menjambak rambutnya seraya berbisik lemah sekali.

"Oueek... Ouuueek... Oueeeeoek!"

Bayi yang ada di dalam pelukan wanita muda itu menangis lagi.

"Nah, Tui Lan... lihatlah! Anak yang kau perebutkan dengan Bu-tek Sin-tong itu menangis. Sadarlah...Kau bujuklah dia! Aku..., aku tak tahan mendengar tangisnya..."

Wanita tua itu meratap lagi. Liu Yang Kun tertegun.

"Anak yang diperebutkan dengan Bu-tek Sin-tong. Oh, apa artinya ini?"

Desahnya semakin bingung.

"Heii...? Siapa di situ? Ayoh, keluar!!"

Tiba-tiba wanita tua itu menoleh ke tempat persembunyian Liu Yang Kun dan membentak keras.

Ternyata desah napas Liu Yang Kun tadi telah didengar oleh wanita tua itu.

Padahal hanya sekejap saja pemuda itu tadi terguncang perasaannya.

Namun hal itu ternyata telah mempengaruhi pemusatan ilmunya sehingga desah napasnyapun lalu menjadi berat dan akibatnya didengar oleh telinga perempuan tua tersebut.

Karena telah diketahui lawannya maka Liu Yang Kun tak bisa terus bertahan di tempat persembunyiannya.

Pemuda itu terpaksa keluar dari belakang batu besar tersebut.

"Siapakah yang datang itu, Sui Nio?"

Giok-bin Tok-ong tiba-tiba berteriak.

"Alaaa... kau tak perlu mencari-cari alasan untuk menghentikan pertarungan kita! Siapapun yang datang kita tak perlu mempedulikannya! Yang penting kita selesaikan dulu urusan kita! Kaulah tadi yang memulainya. Kaulah tadi yang tiba tiba mencampuri urusanku! Oleh karena itu pula kau tidak boleh menghentikannya begitu saja! Kau harus memikul tanggung jawabnya! Huh!"

Kakek kerdil yang tidak lain memang Bu-tek Sin-tong itu memaki-maki Giok-bin Tok-ong.

"Manusia Kerdil! Manusia Kura-kura...!"

Giok-bin Tok-ong balas mengumpat tak kalah kerasnya.

"Siapa yang hendak mencari-cari alasan, heh? Ou, Monyet Busuk! Kau kira aku takut menghadapi monyet kerdil macam kau ini, heh? Kurang ajar...!"

"Ha-ha... kau menjadi marah, bukan? Nah... itu tandanya kata-kataku tadi benar! Hehehehe...!"

Bu-tek Sin-tong terus saja mengejek dan sama sekali tidak tersinggung oleh sumpah serapah lawannya.

"Keparat! Lihat Cit-hoam-tok-ciamku (Jarum Tujuh Langkahku)...!"

Bu-tek Sin-tong terkejut.

"Apa? Kau mulai mempergunakan senjata-senjata racunmu? Apakah engkau tidak takut kalau racun ganas itu mengenai kekasihmu sendiri, heh?"

Sambil mengolok-olok Bu-tek Sin-tong melayang ke samping, sehingga jarum itu luput mengenai tubuhnya.

Bahkan kemudian dalam waktu yang bersamaan kakek kerdil itu balas menyerang pula dengan lemparan paku-pakunya.

"Gila! Bocah sinting...!"

Dalam kagetnya Giok-bin Tok-ong mengumpat lagi.

Kemudian dengan cepat iblis dari Lembah Tak Berwarna itu mengebutkan lengan bajunya.

Whuuuus!

Serangkum angin yang sangat kuat menghembus ke arah paku-paku itu!

"Ting!

Ting!

Ting!"

Paku-paku itu seperti tertahan oleh sebuah tirai besi yang tak kelihatan, kemudian jatuh berdentangan di lantai gua.

Tapi ketika Giok-bin Tok-ong bermaksud melangkahinya, tiba-tiba paku-paku tersebut meledak dan menyemburkan serbuk besi ke kakinya.

Dan serbuk besi tersebut ternyata juga mengandung racun pula.

"Bangsat...!"

Giok-bin Tok-ong yang tak menduga akan hal itu menjerit kaget dan bergegas menghindarkan diri.

Sementara itu di luar arena tersebut Han Sui Nio sedang berdiri terbelalak mengawasi Liu Yang Kun.

Walaupun suasana amat gelap, tapi tokoh dari Aliran Im-Yang-kauw itu mampu melihat lawannya dengan jelas.

Apalagi jarak mereka cuma empat atau lima langkah saja jauhnya.

"Kau... kau siapa? Le-lekas jawab!"

Pendeta wanita itu membentak lagi.

Namun kini suaranya sudah tidak segarang tadi dan bahkan agak gugup.

Sinar mata lawannya yang mencorong seperti mata naga itu benar-benar mengejutkan hatinya.

Diam-diam Liu Yang Kun menelan ludahnya.

Perasaannya juga tidak kalah tegangnya.

Secara tak sengaja ia justru dapat menemukan persembunyian Giok bin Tok-ong.

"Jadi... Lo-Cianpwe ini benar-benar Han Sui Nio dari Aliran Im-Yang-kauw itu? Aah... sungguh kebetulan sekali. Kedatanganku kemari memang untuk mencari Lo-Cianpwe. Sungguh-sungguh tak terduga..."

Wajah Han Sui Nio menjadi pucat! Bibirnya bergetar. Dan sekilas ia menoleh ke arena, seolah-olah takut kalau kata-kata Liu Yang Kun itu akan didengar oleh Giok-bin Tok ong.

"Le-lekas katakan! Mengapa kau tak mau menjawab juga? Sia-siapa kau... Apakah kau teman Ui Bun Ting? Bagaimanakah keadaannya? Apakah ia masih hidup?"

Desahnya kemudian dengan tegang dan gelisah.

"Benar, saya adalah teman Ui Ciang bun. Beliau selamat. Kini sedang menunggu Lo-Cianpwe di dalam kota. Marilah kita pergi dari tempat ini. Tapi ehm, siapakah wanita muda yang membawa bayi ini? Apakah dia...?"

Liu Yang Kun menunjuk ke arah tubuh Tui Lan yang terbaring diam di lantai gua.

Ada semacam perasaan aneh yang bergejolak di dalam dada pemuda itu.

Namun karena 'ingatan masa lalunya' telah hilang, maka ia tetap tak dapat mengenali wajah Tui Lan.

Cuma nalurinya saja yang tiba-tiba merasa sangat dekat dan ingin sekali mendekati wanita muda itu.

Tapi ketika Liu Yang Kun hendak melangkah mendekatinya, tiba-tiba Han Sui Nio melejit menghalanginya.

"Jangan! Biarlah aku sendiri yang membawanya! Dia terluka dalam oleh pukulan Bu-tek Sin-tong."

Pendeta wanita itu mencegah. Kemudian dengan tangannya sendiri ia mengangkat tubuh Tui Lan beserta bayinya dan membawanya keluar dari dalam gua itu.

"Hei, Sui Nio...! Mau ke mana kau, heh?"

Terdengar suara teriakan Giok bin Tok ong. Han Sui Nio tertegun. Otomatis langkahnya berhenti. Dengan bibir gemetar dia menatap Liu Yang Kun.

"Teruslah! Lo-Cianpwe tak usah takut! Biarlah aku yang menghadapinya nanti. Aku sudah biasa berhadapan dengan kakek iblis itu dan...aku masih tetap segar bugar sampai sekarang!"

Liu Yang Kun membesarkan hati Han Sui Nio.

"Sui Nio...!!! Siapa orang itu?"

Sekali lagi Giok-bin Tok-ong berteriak keras sekali.

"Lo-Cianpwe, lekas...! Engkau sudah ditunggu-tunggu oleh Ui Ciang-bun. Cepat!"

Liu Yang Kun menggeram, dan tiba-tiba saja matanya semakin tampak mencorong menakutkan.

"Ya..., yaa, aku akan keluar..."

Seperti terkena oleh daya magis Han Sui Nio mengangguk dan bergegas keluar.

"Heeii...!!! Mau kemana kau?"

Untuk yang ketiga kalinya Giok-bin Tok ong membentak. Kali ini suaranya benar benar menggeledek memekakkan telinga. Pasir dan kotoranpun sampai berhamburan ke bawah menimpa mereka bertiga.

"Hei... bayi itu jangan dibawa pergi!"

Bu-tek Sin-tong juga berseru pula.

Kemudian seperti berlomba kedua kakek sakti itu saling menahan pukulan mereka lalu bersama-sama menerjang ke pintu gua untuk mengejar Han Sui Nio.

Dengan ginkangnya yang hebat, yang mampu membuat tubuhnya menjadi seringan kapas Bu-tek Sin-tong tampak melayang lebih cepat dari pada Giok-bin Tok-ong.

Namun pada saat yang hampir bersamaan, tubuh Liu Yang Kun juga melesat dengan cepat menghadang mereka.

Dan sedetik kemudian mereka sudah siap untuk saling bertubrukan di dekat pintu gua.

Tapi sebelum saat yang berbahaya itu terjadi, masing-masing secepat kilat telah mengerahkan tenaga dalamnya dan kemudian menghentakkannya ke depan untuk menyingkirkan lawan-lawannya terlebih dahulu.

Dan karena Liu Yang Kun berada di arah yang berlawanan dengan kedua orang lawannya, maka otomatis ia seperti menerima hentakan dua gelombang tenaga sekaligus.

Dan sesaat kemudian Liu Yang Kun seperti diterpa oleh hembusan angin yang maha dahsyat.

Bahkan diantara tiupan angin yang hendak menggulung tubuhnya itu, Liu Yang Kun mencium bau busuk yang memuakkan pula.

"Gila!"

Pemuda itu mengumpat di dalam hati.

Kemudian dengan cepat Liu Yang Kun menggeser kakinya ke samping.

Pemuda itu merasa betapa berat dan kuatnya tenaga gabungan tersebut, sehingga ia tidak berani menghadapinya dari depan.

Terpaksa ia menggeser ke samping dan kemudian baru berani menyongsongnya dengan sekuat tenaganya.

Meskipun demikian akibat dari benturan tersebut ternyata tetap hebat sekali.

"Whuuuaaauuusssh!"

Sekejap tubuh Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong seperti tertahan oleh bentakan tenaga Liu Yang Kun, Bahkan setelah itu tubuh mereka seperti didorong dengan kuatnya ke belakang.

Dan sedetik kemudian tubuh mereka benar-benar terbanting ke samping dengan hebatnya.

Sekilas masih kelihatan wajah Butek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong yang tiba-tiba menjadi pucat pasi.

Bahkan sekilas masih tampak pula matanya yang terbelalak seolah tak percaya.

Namun itu semua segera hilang setelah tubuh mereka terbentur ke dinding gua dengan dahsyatnya!

Tapi pada saat itu pula tubuh Liu Yang Kun yang menerima gempuran tenaga gabungan mereka, juga terlempar dengan kuatnya keluar pintu gua!

"Oooh...?!"

Han Sui Nio yang hampir tertimpa tubuh Liu Yang Kun menjerit kaget. Tapi dengan tangkas Liu Yang Kun berdiri tegak kembali.

"Jangan hiraukan saya! Saya tidak apa-apa! Cepatlah Lo-Cianpwe menghindar dari tempat ini!"

Serunya kemudian dengan tergesa-gesa.

"Tapi...?"

Han Sui Nio menjawab ragu, karena bagaimanapun juga dia tak enak hati untuk meninggalkan orang yang menolongnya di dalam bahaya.

"Percayalah kepada saya! Kedua iblis tua itu tak pernah bisa mengalahkan saya!"

Sekali lagi Liu Yang Kun membesarkan hati pendeta wanita itu.

"Lekaslah! Cuma saya minta tolong, kalau Lo-Cianpwe di jalan nanti berjumpa dengan Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee, harap memberitahukan kepadanya bahwa aku berada di tempat ini. Katakan pula bahwa Giok-bin Tok-ong sudah saya ketemukan..."

"Hong-Lui-Kun Yap Kiong Lee pendekar dari istana itu...?"

Han Sui Nio berdesah kaget.

Tapi dengan cepat Liu Yang Kun mendorong wanita tua itu, karena dari dalam gua telah terdengar sumpah serapah Giok-bin Tok-ong.

Bahkan bersamaan dengan perginya Han Sui Nio, tokoh puncak dari perguruan Lembah Tak Berwarna itu telah muncul pula dengan langkah terhuyung-huyung.

Dan kakek tampan itu tidak dapat segera melihat Liu Yang Kun karena kedua belah tangannya sedang sibuk mengusap dan membersihkan debu serta pasir yang mengotori rambut, wajah dan pakaiannya.

Di belakangnya tampak Bu-tek Sin-tong yang juga sibuk pula membersihkan rambutnya.

Hanya bedanya kakek kerdil itu tidak terhuyung-huyung seperti Giok-bin Tok-ong walaupun sebentar-sebentar ia tak bisa menyembunyikan batuknya.

Ternyata keduanya telah terpengaruh juga oleh pukulan sakti Liu Yang Kun.

"Bangsat kurang ajar! Setan! Demit! Iblisss...! Siapa sebenarnya bocah itu, heh? Berani benar dia melawan Giok-bin Tok-ong! Huh! Akan kucari mayatnya! Lalu akan kucerai-beraikan bangkainya dan kemudian akan kusebar pula tulang belulangnya agar puas hatiku! Bangsat...!"

"Jangan cuma membuka mulut saja! Ayoh... lekas kita cari dia! Dia tentu sedang dalam keadaan sekarat sekarang,"

Bu-tek Sin-tong membentak kesal. Giok-bin Tok-ong menoleh dengan marah.

"Sekarat katamu? Mana ada kesempatan untuk sekarat lagi baginya? Mana ada orang yang mampu menerima tenaga gabungan kita di dunia ini? Jangankan bocah itu, Bun-hoat Sian-seng pun takkan kuat menghadapi tenaga gabungan kita! Huh! Aku tanggung nyawanya tentu sudah lebih dahulu terbang ke langit sebelum ia menerima pukulan kita. he-he-he...! Mungkin kita sekarang justru mendapat kesulitan untuk mencari sisa-sisa tubuhnya. Atau mungkin kita hanya akan... hah???"

Tiba-tiba kakek tampan itu terbelalak. Hampir saja dia menabrak Liu Yang Kun, orang yang dikiranya sudah mati itu.

"Sssssin... Tttttooooong?"

Kakek tampan itu memanggil Bu-tek Sin-tong dengan suara gugup dan ketakutan. Hampir-hampir saja ia lari meninggalkan tempat itu.

"Hei... kenapa kau? Apa kau... hah?"

Tiba-tiba Bu-tek Sin-tong berteriak tinggi pula.

Seketika wajahnya menjadi pucat.

Apa lagi ketika kemudian ia mengenali wajah Liu Yang Kun.

Tapi memang tidak mengherankan bila kedua kakek sakti itu menjadi kaget dan ketakutan ketika melihat wajah Liu Yang Kun.

Selain mereka tidak memiliki bayangan bahwa yang mereka hadapi itu adalah Liu Yang Kun, mereka sendiri juga tidak menyangka pula kalau pemuda itu ternyata masih hidup.

Bagi Bu-tek Sin-tong, pemuda itu sudah lama mati, terkubur di Lembah Dalam satu tahun yang lalu.

Pada waktu itu secara kebetulan dia juga sedang bersama-sama dengan Giok-bin Tok-ong pula.

Bahkan dia juga melihat sendiri, bagaimana pemuda itu tertimbun oleh bukit yang longsor ke bawah.

Adalah tidak mungkin kalau pemuda itu bisa menyelamatkan diri dalam timbunan tanah itu.

Maka dari itu betapa kagetnya dia ketika tiba-tiba melihat wajah Liu Yang Kun di tempat tersebut.

Sebaliknya bagi Giok-bin Tok-ong yang sudah memperoleh kesempatan berjumpa dengan Liu Yang Kun beberapa hari yang lalu, pertemuan yang kedua ini benar-benar menimbulkan rasa takut di dalam hati sanubarinya.

Bagaimana tidak.

Sudah beberapa kali pemuda itu lolos dari maut.

Baik dari timbunan bukit longsor yang maha dahsyat itu maupun dari keganasan peluru pek-lek-tannya.

Bahkan yang terakhir kalinya dia merasa telah menewaskan pemuda itu di dalam ledakan pek-lek-tannya beberapa hari yang lalu.

Maka dari itu sungguh tidak mengherankan bila ia menjadi ketakutan begitu melihat wajah Liu Yang Kun kembali.

Ia merasa seperti berjumpa dengan 'hantu"

Liu Yang Kun.

"Kau... kau... kau masih hidup juga? Kau tidak hancur terkena ledakan peluru pek-lek-tanku itu?"

Giok-bin Tok-ong-berdesah gemetar seraya mundur mundur sehingga hampir menginjak kaki Bu-tek Sin-tong.

"Ba-bagaimana dia keluar dari timbunan bukit longsor itu, Tok-ong? Apakah ia memiliki ilmu tikus tanah?"

Kakek kerdil itu bertanya pula. Nada suaranya juga amat heran dan tak percaya. Liu Yang Kun mengertakkan giginya.

"Hmh... jadi memang benar kau yang melukai aku beberapa hari yang lalu? Bagus! Kalau begitu tak sia-sia aku mencarimu, Giok-bin Tok-ong! Hemmm... manakah temanmu yang lain itu? Dimana pula orang yang bernama Bok Siang Ki itu?"

Giok-bin Tok-ong semakin menjadi gugup.

Ditolehnya Bu-tek Sin-tong yang berdiri di sampingnya, seolah-olah ia ingin mencari bantuan kepada kakek kerdil itu.

Tapi kakek kerdil itu sendiri seakan-akan juga sudah mencium pula bahaya yang akan ia hadapi bila ia ikut-ikutan memusuhi pemuda itu.

Oleh karena itu dengan cerdik ia melangkah ke samping, menjauhi Giok-bin Tok-ong.

"Hmm... tampaknya kau memang suka mencampuri urusan orang, sehingga di mana-mana engkau mendapatkan musuh. Belum juga urusan diantara kita selesai, urusan yang lain telah menghadangmu. Nah, kalau begitu... biarlah aku mengalah dahulu. Kau selesaikan dulu urusanmu dengan pemuda ini, aku akan pergi mengurus masalahku sendiri!"

Kakek kerdil itu cepat-cepat berkata.

Begitulah, selesai berkata Bu-tek Sin-tong segera beranjak dari tempatnya.

Kakek cebol tersebut bermaksud untuk mengejar Han Sui Nio dan merebut kembali bayi yang ada di dalam pelukan Tui Lan.Tapi belum juga dua langkah kakek cebol itu bergerak, Liu Yang Kun sudah lebih dahulu menghadangnya.

"Berhenti! Kau juga tidak boleh pergi dari tempat ini!"

Hardik pemuda itu keras-keras.

"Apa...? Kurang ajar! Kau berani membentak aku?"

Bu-tek Sin-tong tiba-tiba menggeram marah.

Matanya mendelik ganas.

Sebenarnya diantara Liu Yang Kun dan Bu-tek Sin-tong tidak pernah terjadi perselisihan apa-apa.

Mereka sudah beberapa kali bertemu sebelumnya.

Walaupun di dalam setiap pertemuan itu mereka sering berada di pihak yang berlawanan.

Namun demikian di antara mereka tak pernah ada dendam pribadi atau sakit hati.

Dan selama ini Liu Yang Kun selalu bersikap segan dan hormat kepada Bu-tek Sin-tong.

Maka bisa dimengerti kalau kakek Kerdil itu menjadi marah mendengar bentakan Liu Yang Kun tersebut.

Padahal semua itu dilakukan oleh Liu Yang Kun karena ia sudah lupa atau tidak mengenal kakek itu lagi.

"Persetan! Pokoknya tak seorangpun aku perbolehkan mengganggu wanita-wanita itu!"

Liu Yang Kun menggeram pula tak kalah kakunya.

"Huh! Apa hubunganmu dengan mereka? Kenapa kau membelanya?"

"Aku tak punya hubungan apa-apa dengan mereka. Tapi aku merasa berkewajiban untuk melindungi mereka dari gangguan orang-orang jahat seperti kalian ini."

"Kurang ajar! Kau memang sudah bosan hidup! Lihat pukulan...!"

Butek Sin-tong menjerit berang, kemudian menyerang Liu Yang Kun dengan ganasnya.

"Bagus, Sin-tong! Anak itu memang perlu mendapat pelajaran agar tidak menjadi sombong!"

Giok-bin Tok-ong segera bertepuk tangan dan berteriak memanasinya.

"Diam! Tunggulah, kaupun akan kulabrak pula nanti! Kita juga punya urusan yang belum terselesaikan!"

Sambil bertempur Bu-tek Sin-tong masih sempat juga memaki.

"Baik! Apa kau kira aku juga takut kepadamu, Manusia Kura-kura?"

Giok-bin Tok-ong menjawab tantangan itu dengan makian pula.

Sementara itu pertarungan antara Liu Yang Kun dan Bu-tek Sin-tong semakin menjadi seru juga.

Masing-masing segera mengeluarkan ilmu andalan mereka, karena masing-masing sudah pernah melihat mutu kepandaian lawannya.

Mula-mula Liu Yang Kun hanya mengeluarkan ilmu warisan Keluarga Chin.

Tapi ketika ia mulai terdesak oleh ilmu lawannya, maka ia lalu menggantinya dengan salah sebuah dari ilmu warisan Bit-bo-ong almarhum, yaitu ilmu silat Kim-liong Sin-kun.

Namun ilmu yang inipun juga tidak dapat berbuat banyak terhadap lawannya.

Selain ia tak membawa badik pusaka, ia pun juga tidak mengenakan mantel pusaka pula.

Padahal kedua buah pusaka tersebut menjadi inti dari ilmu Kim-liong Sin-kun.

Mungkin untuk menghadapi jago-jago persilatan yang lain ilmu itu sudah lebih dari cukup.

Namun untuk menghadapi Bu tek Sin-tong, tokoh nomer tiga di dunia persilatan, ilmu yang hebat itu menjadi kehilangan keampuhannya.

Walaupun sebenarnya untuk menunjang kekurangannya Liu Yang Kun telah mengerahkan pula tenaga sakti Liong-cu i-kangnya.

"Hehehe...? Ayoh, anak muda! Kau tumpahkanlah semua ilmumu di hadapanku! Aku akan melihat sampai dimana kehebatanmu, hehehe...!"

Kakek kerdil itu tertawa terkekeh-kekeh. Tapi beberapa saat kemudian kakek itu mengerutkan dahinya. Berkali-kali diperhatikannya ilmu Kim-liong Sin-kun yang dimainkan oleh Liu Yang Kun.

"Hei, anak muda! Tampaknya ada sesuatu yang kurang pada ilmu silatmu ini. Kalau tidak karena lweekangmu yang dahsyat itu, ilmu ini benar-benar tidak ada artinya. Dari mana kau memperoleh ilmu ini, heh?"

Katanya kemudian dengan sungguh-sungguh.

"Persetan dengan segala macam ocehanmu. Aku sendiri juga tidak tahu dari mana ilmu ini kuperoleh! Tahu-tahu sudah mendarah daging begitu saja di dalam tubuhku. Hmmh...apa kau ingin minta yang lain? Baik! Lihatlah...!"

Liu Yang Kun menyahut dengan suara penasaran.

Kemudian dengan mengerahkan Bu-eng Hwe-tengnya, Liu Yang Kun mengeluarkan ilmu warisan Bit-bo-ong yang lain, yaitu Pat-hong sin-ciang!

Ilmu Pukulan Sakti Delapan Penjuru yang dilandasi dengan ginkang Bu-eng Hwe-teng ini benar-benar hebat bukan main.

Apalagi Liu Yang Kun telah mempelajarinya sampai ke tingkat puncaknya.

Maka dapat dibayangkan betapa repotnya Bu-tek Sin tong melayaninya.

Udara malam yang amat dingin itu menjadi semakin dingin pula oleh pengaruh ilmu silat Pat-hong Sin-ciang.

Apa lagi ketika pengaruh magis yang diciptakan oleh ilmu tersebut telah diungkapkan pula oleh Liu Yang Kun.

Sedikit demi sedikit Bu-tek Sin-tong merasakan adanya tekanan yang semakin berat terhadap akal dan pikirannya.

Rasanya kakek sakti itu menjadi semakin bingung dan salah tingkah terhadap gerakan yang dikeluarkan Liu Yang Kun.

Bahkan akhirnya kakek itu juga menjadi bingung dan sa lah tingkah pula terhadap dirinya sendiri.

"Berhenti! Eh-eh... tahan! Jangan memukul lagi!"

Sambil menghindar kesana kemari akhirnya Bu-tek Sin-tong berteriak dan menjerit-jerit.

Karena memang tidak merasa bermusuhan dengan Bu-tek Sin-tong, maka Liu Yang Kun mau berhenti pula.

Dengan wajah puas ia memandang kakek kerdil itu.

"Hei, Sin-tong! Kenapa kau minta berhenti, heh? Apakah kau merasa kewalahan menghadapi anak itu?"

Dari luar arena Giok-bin Tok-ong berteriak. Tapi kakek kerdil itu tak mempedulikan seruan Giok-bin Tok-ong. Sebaliknya dengan roman muka bersungguh-sungguh ia menghadapi Liu Yang Kun.

"Anak muda! Rasa-rasanya aku mengenal ilmu silatmu! Coba katakan, siapakah gurumu? Kau mempunyai hubungan apa dengan Perguruan Ui-soa-pai? Ada hubungan keluarga apakah antara kau dengan Bok Siang Ki? Lekas jawab!"

Liu Yang Kun mendengus marah. Namun demikian dahinya juga kelihatan berkerut ketika menjawab pertanyaan kakek kerdil tersebut.

"Aku tak tahu apa yang kau katakan. Aku tidak pernah merasa belajar kepada siapa-siapa. Aku belum pernah mendengar Ui-soa-pai. Dan aku juga tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan orang yang bernama Bok Siang Ki. Bahkan aku merasa belum pernah me lihat atau mengenal orang itu. Hmh, mengapa kau tanyakan semua itu kepadaku? Apakah kau mencurigai ilmu silatku?"

Bu-tek Sin-tong menggeram.

"Benar. Ilmu meringankan tubuh dengan gaya melenting dan melayang itu hanya dimiliki oleh cikal bakal Perguruan Ui-soa pai. Dan ilmu silat yang dilambari dengan ilmu sihir dan ilmu Kebatinan itu juga hanya dimiliki oleh pendiri perguruan Ui-soa-pai pula. Itulah sebabnya mengapa kutanyakan kepadamu semuanya itu."

"Lalu apa hubungannya orang yang bernama Bok Siang Ki itu dengan pertanyaanmu itu?"

"Bok Siang Ki adalah orang yang paling berkuasa di U i-soa-pai sekarang. Hmm, apakah kau belum pernah mendengarnya?"

Liu Yang Kun menggelengkan kepalanya.

"Aku memang belum pernah mendengarnya. Bahkan seperti yang telah kukatakan tadi, aku belum pernah mengenal dia. Melihat wajahnyapun juga belum pernah pula. Aku memang benar-benar bukan orang Ui-soa-pai. Aku adalah aku. Jangan menduga dan berprasangka yang lain-lain!"

"Bohong! Bohong kalau dia bilang belum pernah bertemu dan mengenal Bok Siang Ki! Beberapa hari yang lalu aku dan Bok Siang Ki pernah bertempur dengan dia! Hei, apakah kau sudah lupa?"

Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong berseru memotong pembicaraan mereka.

Liu Yang Kun melirik ke arah Giok-bin Tok-ong sebentar, lalu menatap Butek Sin-tong kembali, ia tak menjawab atau menanggapi ucapan kakek tampan itu, karena ia sudah tak ingat lagi akan kejadian-kejadian itu.

"Hei, benarkah kata-katanya itu? Mengapa kau berkelahi dengan Bok Siang Ki? Hmmh, apakah kau seorang murid murtad yang melarikan diri dari perguruan Ui-soa-pai?"

Bu-tek Sin-tong menyambung perkataan Giok-bin Tok-ong. Tiba-tiba Liu Yang Kun mengertakkan giginya. Dengan marah ia membentak.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan Bok Siang Ki ataupun Perguruan Ui-soa-pai itu! Titik! Kenapa kau belum percaya juga? Apa maumu sebenarnya? Kau ingin berkelahi atau hanya ingin bersilat lidah saja?"

Tersinggung juga hati Bu-tek Sin-tong dibentak-bentak begitu.

"Kurang ajar! Kalau aku menanyakan semua itu kepadamu, itu hanya karena aku tak ingin salah tangan membunuh warga sendiri! Tahu? Akupun juga datang dari perguruan Ui-soa-pai pula! Bahkan kalau diurut-urutkan, aku ini masih supek dari Bok Siang Ki itu, itulah sebabnya aku segera mengenal ciri-ciri dari ilmu silat yang kau mainkan. Karena ciri-ciri ilmu silat yang kau mainkan tadi hampir sama dengan ciri-ciri ilmu silat Ui-soa-pai. Nah, kalau kau ini benar-benar anak murid perguruan Ui-soa-pai, bukankah aku akan menyesal sekali bila nanti terlanjur membunuhmu?"

"Hei...? Jadi kau ini orang dari perguruan Ui-soa-pai, heh? Wah, sungguh tak kusangka. Tapi kenapa kepandaianmu malah berada dibawah kepandaian Bok Siang Ki. su-titmu (keponakanmu) itu? Aneh benar!"

Sekali lagi Giok-bin Tok-ong menyela pembicaraan mereka.

Kulit muka kakek kerdil itu menjadi merah seketika.

Tapi sebelum kemarahannya itu benar benar meledak, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendatangi tempat itu.

Dan di lain saat, di dekat mereka telah berdiri seorang lelaki jangkung berusia lima puluhan tahun, berkumis dan berjanggut panjang teratur rapi.

"Tidak ada yang aneh, Tok-ong. Memang benar apa yang dikatakan oleh Butek Sin-tong itu."

Orang yang baru saja datang, yang tidak lain adalah Bok Siang Ki sendiri itu menyahut ucapan Giok-bin Tok-ong.

"Bok Siang Ki...?"

Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong berdesah berbareng.

"Benar, akulah yang datang..."

Bok Siang Ki mengangguk. Kemudian katanya lagi kepada Liu Yang Kun.

"Ah... tak kusangka kau masih hidup pula. Kukira kau telah hancur berkeping-keping terkena peluru maut Giok-bin Tok-ong itu. hmmm... kepandaianmu benar-benar hebat sekali! Sebagai penguasa tertinggi di Perguruan Ui-soa-pai, aku ikut berbangga pula karenanya..."

Liu Yang Kun menatap Bok Siang Ki lekat-lekat.

"Maksudmu...?"

Tanyanya kemudian dengan suara dingin. Bok Siang Ki tertawa dingin pula.

"Wah... kelihatannya kau sangat sombong dan tinggi hati. Tapi tak apalah. Kau belum mengenal betul siapa aku ini. Dengarlah! Seperti halnya Bu-tek Sin-tong tadi, akupun menjadi curiga pula kepada ilmu silatmu. Bahkan di dalam hati kecilku aku berani memastikan bahwa ilmu silat yang kau mainkan tadi tidak lain adalah ilmu perguruan Ui-soa-pai. Memang di dunia ini banyak ilmu silat yang memiliki kesamaan dan kemiripan di dalam gerakannya. Tapi hal seperti itu takkan terjadi pada ilmu-silat Perguruan Ui-soa-pai. Betul bukan kata-kataku ini, Sin-tong?"

Bu-tek Sin-tong mengangguk-anggukkan kepalanya. Bok Siang Ki tersenyum.

"Wah, kau lihat itu...! Dahulu Bu-tek Sin-tong juga anak murid Perguruan Ui-soa-pai pula. Karena malu atas perbuatan ayahnya yang berkhianat terhadap Perguruan Ui-soa-pai, Bu-tek Sin-tong lalu pergi mengasingkan diri bertapa selama hidupnya."

"Jangan kau ungkat-ungkat lagi peristiwa itu!"

Bu-tek Sin-tong menggeram marah.

"Maaf. Tapi pengkhianatan ayahmu itu telah mencoreng dan menjatuhkan martabat kebesaran Perguruan Ui-soa-pai, karena pengkhianatan ayahmu, maka sejarah kebesaran Ui-soa pai menjadi hancur. Tak seorangpun dari anak murid perguruan Ui-soa-pai, setelah pengkhianatan itu, yang mampu keluar dari pintu perguruan. Selama hampir seabad anak murid perguruan Ui-soa-pai hanya mampu merenungi diri di dalam rumah perguruannya. Coba kalau waktu itu kau mau keluar dari lobang pertapaanmu, kau akan bisa melihat betapa nistanya kehidupan anak murid bekas perguruanmu itu. Selama hampir seabad mereka tak mampu atau tak berani menampakkan dirinya di muka umum, sementara ayahmu malang melintang di dunia persilatan dengan sebutan yang menakutkan. Bit-bo-ong! Betapa menyakitkan..."

Bok Siang Ki menjawab pula dengan tak kalah geramnya.

"Bit bo-ong (Si Raja Kelelawar)...?"

Giok-bin Tok-ong dan Liu Yang Kun mengulang ucapan Bok Siang Ki.

Sekali lagi Liu Yang Kun merasa seperti pernah mendengar atau sangat dekat dengan nama itu.

Tapi seperti biasanya pula pemuda itu tak bisa mempergunakan ingatannya untuk mengingat-ingat atau mengenal nama tersebut.

Sebaliknya bagi Giok-bin Tok-ong bukan nama itu yang mengagetkannya, tapi hubungan yang tak terduga antara nama itu dengan Bu-tek Sin-tong lah yang justru sangat mengejutkannya.

"Hoi, Sin-tong! Jadi kau ini anak Si Hantu Kelelawar yang termashur itu, heh? Oh, bukan main! Benar-benar tak kusangka! Lalu... jika demikian berapa umurmu sekarang?"

"Diam, bangsat! Jangan berani kau mengusik-usik hal itu! Kubunuh kau!"

"Hehaheh...,!"

Giok-bin Tok-ong tetap tertawa tapi tak berani meneruskan godaannya.

"Kalau dihitung-hitung usia Bu-tek Sin-tong tentu sudah lebih dari se ratus tahun. Tapi karena ia tak pernah meninggalkan goa pertapaannya, maka ia tetap awet muda dan segar bugar. Padahal anak murid Ui-soa-pai yang seangkatan dengan dia sudah tiada semua. Bahkan tokoh tua atau 'sesepuh' kami yang seangkatan di bawahnya pun juga telah pergi semua."

Bok Siang Ki menjawab pertanyaan Giok-bin Tok-ong.

"Ya, tapi dengan meringkuk di dalam gua yang pengap selama puluhan tahun, membuat perkembangan tubuhnya menjadi kacau. Dia tidak tumbuh menjadi besar, tapi sebaliknya justru mengkerut menjadi kecil, hahahah...! Lain halnya dengan aku! Meskipun usiaku juga hampir setua dia, tapi karena aku nikmati kehidupan ini dengan sebaik baiknya, maka tubuhku tetap tumbuh dengan subur dan terawat baik..."

Giok-bin Tok-ong tertawa lagi.

"Kurang ajar! Kau tidak juga mau membungkam mulutmu?"

Bu-tek Sin-tong membentak dan berusaha menghajar mulut yang usil tersebut.

"Thaaas!"

Giok-bin Tok-ong menangkis dan keduanya segera terpelanting mundur beberapa langkah.

Cuma Giok-bin Tok-ong tampak lebih jauh dan agak terhuyung, sehingga dengan marah kakek-tampan tersebut merogoh saku bajunya.

Siap dengan segala macam senjata-senjata beracunnya!

Tapi sebelum mereka bergebrak kembali, Bok Siang Ki telah terlebih dahulu menengahinya.

"Jangan berkelahi sekarang! Bukankah kita telah menetapkan diri untuk bertemu tengah malam nanti di bangunan tua itu? Kita bertiga akan menetapkan, siapakah diantara kita bertiga yang lebih banyak kemajuannya setelah mempelajari isi Buku Rahasia yang asli itu? Oleh karena itu tunda dulu perkelahian kalian! Kita lebih baik mengurus dulu anak muda ini...!"

"Baik! Aku memang ingin menghukum anak ini. Dia telah berani menggagalkan keinginanku untuk memelihara bayi sebagai penyambung hidup dan ilmuku besok."

Bu-tek Sin-tong menggeram setuju.

"Benar! Anak itu juga telah mengacaukan urusanku dengan bekas gundikku itu. Aku juga akan minta pertanggungjawabannya pula. Kalau perlu akan kulenyapkan dia...!"

Giok-bin Tok-ong ikut mengancam Liu Yang Kun.

"Bagus! Kalau begitu kita bertiga mempunyai urusan dengan anak muda ini. Kita selesaikan urusan ini satu persatu. Sekarang akulah yang akan lebih dulu mengurusnya..."

Bok Siang Ki berkata tegas. (Lanjut ke

Jilid 31) Memburu Iblis (Seri ke 03 -Darah Pendekar) Karya . Sriwidjono

Jilid 31

"Hei! Mengapa harus kau yang lebih dahulu? Bukankah engkau datang belakangan?"

Giok-bin Tok-ong menyela penasaran.

"Benar! Mengapa kau yang lebih dahulu?"

Bu-tek Sin-tong mengancam pula. Hok Siang Ki tertawa dingin.

"Karena akulah yang paling tinggi tingkatannya diantara kita bertiga. Aku nomor dua di dalam urut-urutan Buku Rahasia itu, sedang kalian nomer tiga dan empat. Bukankah hal ini sudah adil?" '"Adil? Huh! Jangan coba-coba mengelabuhi aku! Paling-paling kau ingin lebih dahulu merampas bukuku yang ada di tangan anak muda itu, bukan?"

Giok-bin Tok-ong yang merasa bahwa buku bagiannya masih berada di tangan Liu Yang Kun itu membantah berang.

"Hei? Apakah anak itu telah merampas Buku Rahasia yang menjadi bagianmu?"

Bu-tek Sin-tong menyela. Matanya yang kecil itu menatap dengan curiga kepada Giok-bin Tok-ong.

"Tutup mulutmu! Kau jangan turut campur dalam urusan ini!"

Hardik kakek tampan itu kesal.

"Bangsat kurang ajar! Kuhancurkan kepalamu!"

Bu-tek Sin-tong menjadi marah juga. Tapi dengan tangkas Bok Siang Ki melerai mereka lagi.

"Tahan! Sudah kukatakan jangan berkelahi dulu! Kita masih cukup waktu untuk melakukannya nanti!"

Penguasa dari Ui-soa-pai itu memperingatkan. Kemudian katanya lagi yang dia tujukan kepada Giok-bin Tok-ong.

"Tok-ong! Kau tak perlu takut aku akan merampas buku yang menjadi bagianmu itu sekarang. Sebab hal itu akan aku lakukan secara terhormat di pertemuan kita tengah malam nanti. Di dalam pertemuan itu aku akan merampas bagian-bagian dari Buku Rahasia yang ada di tangan kalian semua, sehingga buku itu akan menjadi lengkap kumiliki. Setelah itu...hahaha.. baru aku akan menantang Bun-hiat Sian-seng! Akan kubuktikan siapa yang paling jago di dunia ini, haha...!"

Sementara itu Liu Yang Kun yang sejak tadi hanya diam saja, karena bingung dan tak paham apa yang mereka percakapkan, tiba-tiba menggeram marah.

Dari sela-sela bibirnya tiba-tiba juga terdengar desis mengerikan seperti suara desis ular marah.

"Hmmh! Kalau memang semuanya ingin berurusan dengan aku, kenapa kalian hanya berdebat saja tiada hentinya? Ayoh majulah, kalian bersama-sama! Kita selesaikan secepatnya segala macam urusan itu!"

Ketiga orang sakti itu terperanjat bukan main.

Mereka menatap anak muda yang mereka anggap terlalu sombong dan berani itu dengan wajah tegang serta kaku.

Beberapa saat lamanya mereka malah tidak bisa berkata apa-apa.

Mereka seperti tak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut anak muda itu.

"Anak muda...! Aku tahu namamu tercantum pula di dalam daftar Tokoh-tokoh Persilatan terkemuka di Dunia itu. Dan dilihat dari sudut usia, memang kaulah yang termuda di antara tokoh-tokoh itu. Tapi hal itu tampaknya justru membuatmu sombong dan takabur. Sama sekali kau tak memandang sebelah mata kepada kami bertiga, tokoh-tokoh yang kedudukannya jauh berada di atasmu. Kau cuma tertulis di urutan yang ke tujuh, sementara kami bertiga berada di urutan yang kedua, ketiga dan keempat,"

Akhirnya Bok Siang Ki sambil menekan kegeraman hatinya berkata kaku.

"Persetan dengan tokoh-tokoh atau urutan segala macam itu! Aku tak perduli! Yang penting kenyataannya! Habis perkara! Ayoh, majulah...?"

"Kurang ajar! Tampaknya kau memang sudah bosan hidup atau... pikiranmu memang sudah tidak waras lagi! Baiklah, akan kuturuti kemauanmu? Tapi., sebelum kau tewas di tanganku, lebih baik kau berterus terang dahulu kepadaku. Siapa sebenarnya kau ini? Dari mana kau memperoleh ilmu-ilmu yang mirip dengan ilmu-silat perguruan Ui-soa pai itu? Apakah kau memiliki hubungan tertentu dengan mendiang Bit-bo-ong atau Keluarga Souw?"

"Aku tidak tahu-menahu tentang segala macam hantu seperti Bit-bo-ong itu. Dan aku juga tidak mempunyai sangkut-paut dengan... keluarga Souw!"

Tiba-tiba suara Liu Yang Kun menurun ketika menyebut nama keluarga Souw, karena tiba tiba pula melintas di dalam pikirannya wajah Souw Lian Cu, yang juga keturunan keluarga Souw.

"Hmm... mengapa kau sebut-sebut pula nama keluarga Souw dalam urusan ini? Apakah hubungan keluarga Souw dengan ilmu silatku?"

Kemudian pemuda itu menambahkan. Bok Siang Ki mendengus dingin.

"Karena Bit-bo-ong itu sebenarnya juga berasal dari keluarga Souw. Dengan tipu muslihat dan kelicikannya dia berhasil menyelundup ke dalam perguruan Ui-soa pai. Meskipun akhirnya dia juga dibunuh oleh keluarga Souw sendiri, tapi perguruan Ui-soa-pai sudah terlanjur rusak pula oleh ulahnya, ia telah berani membunuh tokoh-tokoh tua yang telah dengan susah payah membimbingnya dalam ilmu silat. Bahkan ia telah berani pula merusak dinding gua semadi perguruan Ui-soa-pai, yang penuh dengan tulisan dan petunjuk-petunjuk rahasia tentang ilmu silat kami, sehingga kami para angkatan yang lebih muda menjadi kehilangan pegangan dalam ilmu-silat kami sendiri. Nah, anak muda... itulah sebabnya hal itu kutanyakan kepadamu. Sebab aku percaya dan yakin bahwa kau tentu memiliki hubungan dengan salah seorang dari nama yang kusebutkan itu, Bit-bo-ong atau keluarga Souw!"

Liu Yang Kun menggeretakkan giginya.

"Tapi aku benar-benar tak merasa memiliki hubungan dengan keduanya!"

Jawabnya keras. Ia yang telah kehilangan 'ingatannya"

Itu memang tak bisa mengingat apa-apa lagi.

"Lalu dari mana kau mempelajari ilmu silatmu itu?"

"Aku tidak tahu! Ilmu itu sudah melekat dan mendarah daging di dalam jiwaku. Mungkin sejak lahir aku sudah menguasainya."

Liu Yang Kun yang telah kehilangan 'masa lalunya' itu menjawab gusar.

"Omong kosong! Mana ada bayi lahir bisa ilmu silat? Kau jangan seenaknya saja berbicara!"

"Persetan! Kaulah yang sedari tadi berbicara seenaknya! Main tuduh dan curiga tanpa alasan!"

"Keparat...! Kau memang sudah bosan hidup!"

Bok Siang Ki berteriak nyaring, kemudian melompat menyerang Liu Yang Kun.

Kedua belah telapak tangannya terpentang lebar, sehingga jari-jarinya membentuk dua buah cakar yang siap untuk meremas kepala lawannya.Dan gerakan kedua cakar itu bukan main cepatnya.

Mungkin lebih cepat dari pada sambaran burung elang di udara, karena perguruan Ui-soa-pai yang pernah menelurkan Bit-bo-ong itu memang jagonya ginkang di dunia.Tapi Bu-eng Hwe-teng juga bersumber pada ilmu meringankan tubuh Ui-soa pai pula.

Bahkan ginkang itu diciptakan Bit-bo-ong dengan gaya yang lebih tangkas karena Bit-bo-ong telah menambah dan memperbaikinya berdasarkan ilmu-ilmu dari perguruan lain yang pernah digelutinya pula.

Maka tidaklah mengherankan bila Liu Yang Kun juga bisa bergerak segesit dan selincah lawannya.

Bahkan dengan gaya yang lebih indah dipandang.

Bit-bo-ong memang seorang seniman silat pada zamannya.

Demikianlah di jurang yang sunyi dan sepi itupun lalu berlangsung sebuah pertandingan ginkang dengan dahsyatnya.

Keduanya mengeluarkan segala macam ilmu yang ada pada dirinya.

Ilmu ilmu yang dahsyat yang jarang terlihat di dunia persilatan.

Liu Yang Kun mengeluarkan ilmu-ilmu warisan Bit-bo-ong, seperti Kim-liong Sin-kun dan Pat hong Sin-ciang.

Sementara Bok Siang Ki sebagai penguasa tertinggi di perguruan Ui-soa-pai juga melepaskan ilmu-ilmu warisan leluhurnya.

Mereka bertarung dengan cepat sekali, karena masing-masing memang mengerahkan seluruh ginkangnya.

Mereka bergumul, berbelit dan saling berpencar kembali dengan cepatnya, sehingga gerakan mereka menimbulkan pusaran angin yang menghantam semak-semak dan pohon-pohon di sekitar mereka.

Daun-daun pun lantas berguguran.

Ranting-ranting serta dahan-dahan yang tidak seberapa kuatpun juga terlepas pula dari tangkainya.

Bahkan semak-semak kering yang tumbuh terlalu dekat pun juga terlepas pula bersama akar-akarnya.

Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong terpaksa melangkah mundur menjauhi arena.

Diam-diam hati mereka merasa kaget dan kagum juga menyaksikan kedahsyatan ilmu kedua orang yang sedang berlaga tersebut.

Dan diam-diam hati mereka juga merasa bergetar pula melihat 'kesaktian' yang benar-benar diluar dugaan mereka itu.

Terasa hati mereka menjadi kecut.

Dan otomatis keberanian dan kegarangan mereka menyusut dengan cepatnya.

Lima puluh juruspun telah berlalu dengan cepatnya.

Liu Yang Kun tetap mempergunakan ilmu warisan Bit-bo-ong.

Dan pemuda itu sudah mulai menyalurkan 'tenaga batin"

Untuk mempengaruhi jiwa dan pikiran lawannya.

Inilah tingkat yang tertinggi dalam buku warisan Bit-bo-ong, yang oleh Hoa-san Lojin telah disobek karena sangat berbahaya untuk dipelajari.

Namun dengan ketajaman indera dan perasaannya, akibat ilmu Lin-cui-sui-hoat yang ada pada dirinya, ternyata Liu Yang Kun mampu mengurai dan mengarang sendiri inti ilmu yang hilang tersebut.

Selanjutnya dengan mulai tersebarnya "tenaga batin' yang dilontarkan oleh Liu Yang Kun, maka suasana alam di sekitar tempat itupun lalu berubah pula dengan perlahan-lahan.

Setiap orang tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh menerkam perasaan mereka, terutama Bok Siang Ki yang langsung berhadapan dengan lontaran ilmu itu.

Perlahan-lahan Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong merasa seperti ada perubahan hawa di sekitar mereka.

Udara malam yang amat dingin itu lambat-laun terasa semakin dingin, sehingga tubuh mereka seolah-olah bergetar kedinginan.

Bahkan langit yang terang berbintang itu sedikit demi sedikit juga berubah pula menjadi gelap, sehingga rasa-rasanya mata mereka semakin terhalang untuk menyaksikan sesuatu di sekitar mereka.

Dan lambat laun pula wajah dan sepak terjang Liu Yang Kun semakin tampak amat garang dan menakutkan hati mereka.

Dan perasaan yang serupa juga mencekam pula pada hati dan perasaan Bok Siang Ki.

Bahkan dalam kadar yang jauh lebih kuat.

"Gila! inilah ilmu perguruan Ui-soa-pai yang hilang dirusak oleh Bit-bo-ong itu. Aku harus cepat-cepat melawannya dengan ilmu itu pula. Selama ini aku telah berusaha sekuat tenaga untuk menggapai dan menemukan kembali ilmu yang hilang itu. Semoga apa yang kucapai selama ini sudah cukup untuk melawannya,"

Katanya di dalam hati.

Sekejap kemudian Bok Siang Ki pun lalu melontarkan pula ilmu puncaknya, yaitu ilmu silat Ui-soa-pai yang telah diisi dengan kekuatan batinnya.

Sebuah kekuatan yang hampir sama dengan kekuatan yang dilontarkan oleh Liu Yang Kun, yaitu semacam ilmu sihir yang dapat mempengaruhi rasa dan pikiran lawannya.

Sehingga apa yang terjadi kemudian benar-benar suatu pertarungan yang dahsyat, ngeri serta menegangkan.

Dan oleh karena pertempuran tersebut adalah pertempuran yang menitik-beratkan pada kekuatan tenaga sakti dan kemampuan tenaga dalam serta tenaga batin mereka maka gerakan-gerakan yang mereka lakukan pun lantas menjadi lambat dan tampak sangat berat sekali.

Namun demikian ternyata pengaruhnya justru lebih berbahaya dari pada tadi.

Selain masing-masing harus menerima dan melayani secara wajar semua serangan-serangan lawannya, merekapun harus menghadapi pula tekanan dan desakan tenaga batin lawan yang hendak merampas serta mempengaruhi perasaan dan pikiran mereka masing-masing.

Begitu hebatnya pengaruh ilmu yang terlontar dari dalam tubuh mereka, sehingga Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong yang berada di luar arena pun kadang-kadang ikut terpengaruh pula.

Beberapa kali mereka berdua secara tak sadar ikut mengelak atau menghindar apabila tokoh yang mereka lihat itu kebetulan juga berkelit atau meloncat.

Keduanya baru sadar kembali setelah tangan atau kaki mereka itu terlanjur bergerak.

Bahkan lebih dari pada itu, pengaruh tenaga batin yang terlontar dari mata Liu Yang Kun dan Bok Siang Ki seringkali membuat Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong terpesona atau terpaku diam di tempat mereka tak tahu apa yang harus mereka perbuat.

Dan yang paling parah, mereka berdua kadang-kadang menjadi kehilangan kesadaran mereka untuk beberapa saat lamanya, sehingga mereka menjadi bingung ketika tiba-tiba kesadaran mereka pulih kembali.

"Gila! Sin-tong...! Ilmu apa ini, heh? Kenapa keduanya sama-sama memiliki ilmu seaneh ini?"

Dengan rasa penasaran Giok-bin Tok-ong bertanya kepada Bu-tek Sln-tong.

"Itulah ilmu yang paling rahasia di perguruan Ui-soa-pai. Huh, semakin yakin aku sekarang. Anak itu tentu memiliki hubungan yang erat dengan perguruan itu."

Demikianlah, dua puluh juruspun telah berlalu pula.

Mereka benar-benar telah bertempur dengan sekuat tenaga mereka.

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri.

Liu Yang Kun tampak lebih tinggi dan lebih kuat tenaga dalamnya, sementara Bok Siang Ki yang memiliki dasar ilmu silat asli U i-soa-pai itu tampak lebih lincah, lebih gesit dan lebih cepat ilmu meringankan tubuhnya.

Namun karena ilmu silat yang mereka pergunakan ternyata memiliki banyak persamaan, maka pertempuran itu seolah-olah tidak pernah mendapatkan lobang atau kunci untuk mencapai kemenangan.

Masing-masing seperti sudah mengenal dan mengerti arah tujuan lawan, sehingga akhirnya mereka seperti sedang berlatih ilmu silat saja.

Meskipun demikian karena semuanya itu dilontarkan dengan pengerahan ilmu puncak, maka pengaruh dan akibat yang ditimbulkannyapun menjadi hebat dan menggiriskan hati.

Keadaan itu tentu saja sangat menggelisahkan hati Bok Siang Ki.

Dia yang sejak melangkah keluar dari pintu perguruannya belum pernah menemukan lawan yang berarti, kini dipaksa untuk bertarung seimbang dengan hanya seorang pemuda yang masih amat muda usianya.

Tentu saja hatinya menjadi penasaran.

Masakan ia harus kalah melawan tokoh yang duduk di nomer ketujuh?

Sebaliknya keadaan itu juga membikin dongkol pula di hati Liu Yang Kun.

Sebagai anak muda yang masih berdarah panas, keadaan tersebut benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran.

Namun karena ia memang telah mengerahkan segala kemampuannya, maka ia tetap tak bisa berbuat apa-apa lagi.

Memang, beberapa kali terlintas di dalam pikiran Liu Yang Kun untuk mempergunakan ilmu silatnya yang lain, misalnya Kim-coa-ih hoat!

Tapi setiap kali pula pemuda itu selalu membatalkan niatnya tersebut.

Kim-coa ih-hoat merupakan sebuah ilmu silat yang gerakan-gerakannya boleh dikatakan amat berlawanan dengan gerakan ilmu silat kebanyakan.

Dan cara penyaluran tenaganya pun juga berbeda pula, yaitu patah-patah dan tidak selalu searah pula.

Pemuda itu menjadi kurang yakin akan bisa menghadapi lawan dengan ilmu itu.

Apalagi untuk itu ia juga harus melepaskan lontaran 'tenaga-batinnya' pula, sebab dengan cara penyaluran tenaga sakti yang patah patah dan tidak selalu searah itu tak mungkin ia memusatkan pikiran untuk membangun tenaga batinnya.

Alhasil pertempuran itu terus berlanjut dengan ramai dan seimbang.

Liu Yang Kun yang merasa memiliki lwee kang lebih kuat, berusaha dengan segala cara untuk menekan lawannya.

Sebaliknya Bok Siang Ki yang agak lebih tinggi ginkangnya berusaha melepaskan diri dan menghindari benturan tenaga secara langsung.

Sehingga dengan demikian pertempuran itu berlangsung semakin seru dan ramai.

Namun juga sangat mengerikan.

Karena dengan kekuatan tenaga batin mereka, banyak hal-hal yang tak masuk akal terjadi di dalam pertempuran itu.

Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong lah yang kemudian menjadi tidak sabar hatinya.

Suasana sudah mendekati tengah malam, tapi pertempuran itu ternyata tidak kunjung selesai juga.

"Hei, Bok Siang Ki...! Lihat! Tengah malam sudah hampir tiba! Apakah pertempuran itu tidak jadi kita laksanakan?"

Kakek kerdil itu berseru keras.

"Benar! Jangan-jangan kau malah tak bisa datang karena pertempuranmu ini!"

Giok-bin Tok-ong ikut membakar pula.

"Huh! Percuma saja ditulis di urutan nomer dua kalau begitu! Masakan menghadapi si Nomer Tujuh saja kewalahan..."

Bu-tek Sin-tong mengejek lagi. Giok-bin Tok-ong tertawa pula.

"Memang urut-urutan itu perlu ditinjau kembali kebenarannya. Siapa tahu Bok Siang Ki sekarang tidak... hei?"

Tiba-tiba baik Giok-bin Tok-ong maupun Bu-tek Sin-tong terbelalak memandang kepada Bok Siang Ki.

Di mata mereka, Bok Siang Ki yang marah itu mendadak berubah menjadi dua kali lipat besarnya.

Kedua buah lengannya yang kini juga menjadi sangat panjang itu tampak menyambarnyambar dengan ganasnya.

Sementara kedua kakinya yang juga membengkak seperti kaki gajah itu juga tampak menghentak kesana-kemari seakan-akan hendak menginjak dan meremukkan tubuh lawannya yang kecil.

Giok-bin Tok-ong dan Bu-tek Sin-tong bersandar di tebing jurang.

Dengan wajah pucat pasi mereka menatap sepak-terjang Bok Siang Ki yang menggiriskan hati itu.

"Sin-tong...? Apa katamu tentang Bok Siang Ki itu? Ilmu apa lagi itu?"

"Tenanglah, Tok-ong! Ini tentu cuma tipuan saja! Tak mungkin manusia bisa berubah menjadi raksasa seperti itu. Mungkin ini... Ini merupakan tambahan ilmu yang didapatkan Bok Siang Ki dari sobekan Buku Rahasia itu."

"Ooooooh. lalu... apa yang mesti kita perbuat?"

"Goblog! Tentu saja kerahkan seluruh tenaga dalammu! Kuasai dengan baik hati dan pikiranmu sendiri. Jangan biarkan perasaan dan pikiranmu itu terbuai oleh mimpi yang diciptakan Bok Siang Ki! Ingatlah! Dia tetap seorang manusia biasa. Tak mungkin dia memiliki tubuh sebesar itu! Itu cuma permainan..."

Bu-tek Sin-tong menggeram sambil memusatkan pikirannya sendiri.

Giok-bin Tok-ong tersadar.

Buru-buru ia memusatkan pikirannya.

Lalu dikerahkannya pula tenaga dalamnya, sehingga beberapa waktu kemudian hatinya menjadi tenang kembali.

Dan ketika ia membuka pelupuk matanya, Bok Siang Ki telah kembali ke ujudnya yang semula.

Bahkan jago nomer dua di dunia persilatan itu tampak memperoleh kesulitan sekarang.Bagaimanakah sebenarnya yang terjadi?

Betulkah Bok Siang Ki mempergunakan ilmu yang diperolehnya dari sobekan Buku Rahasia itu?

Dan bagaimana pula pengaruhnya terhadap Liu Yang Kun?

Seperti telah diketahui bahwa setahun yang lalu Bok Siang Ki, Bu-tek Sin tong dan Giok-bin Tok-ong saling berebut Buku Rahasia, sehingga buku itu terbagi menjadi tiga bagian.

Masing-masing memperoleh satu bagian.

Dan sebelum berpisah mereka berjanji untuk bertemu lagi setahun kemudian, yaitu persis pada malam ini, di luar kota Lai-yin, di sebuah bangunan kuno yang telah rusak dan tak terpakai lagi.

Namun ternyata semuanya menjadi kecewa.

Buku yang sangat tersohor dan diperebutkan orang itu ternyata Cuma berisi catatan-catatan, syair-syair, sejarah, ramalan dan segala macam petunjuk tentang kehidupan manusia di dunia.

Tak secoret pun ulasan atau tulisan tentang ilmu silat, apalagi tentang pelajaran atau jurus-jurus ilmu silat.

Kalaupun dibilang ada, itupun hanya petunjuk-petunjuk tentang kesehatan tubuh dan cara-cara perawatannya.

Meskipun mereka bertiga dapat juga menyadap dan mengambil manfaat dari petunjuk petunjuk tentang kesehatan itu bagi kemajuan ilmu silat mereka masing masing.

Dengan petunjuk-petunjuk itu Giok-bin Tok-ong bisa mengobati salah ilmu yang biasa diderita oleh orang yang bergelut dengan racun seperti dia sehingga dengan demikian ia dapat meningkatkan kemampuan ilmunya lebih tinggi lagi.

Dan berdasarkan pada petunjuk petunjuk tentang kesehatan itu pula Butek Sin-tong mampu meningkatkan ginkangnya sehingga ilmu meringankan tubuhnya sekarang benar-benar amat sempurna.

Lebih sempurna dari pada Bu-eng Hwe-teng maupun ginkang Ui-soa-pai yang tersohor itu.

Demikian pula halnya dengan Bok Siang Ki.

Berpedoman pada petunjuk-petunjuk itu ia mampu pula meningkatkan kemampuan ilmu sihirnya, sehingga ia mampu menciptakan bentuk-bentuk semu yang dapat mengelabui pandangan lawannya.

Jadi selain dapat mempengaruhi perasaan dan pikiran lawannya, Bok Siang Ki juga bisa mengelabuhi pandangan mata orang pula.

Dan kemampuan itu pula yang kini dia keluarkan untuk menghadapi Liu Yang Kun.

Sambil tetap berusaha mempengaruhi pikiran dan perasaan Liu Yang Kun, Bok Siang Ki juga berusaha mengelabuhi penglihatan lawannya tersebut.

Bok Siang Ki membentuk dirinya menjadi raksasa yang tingginya dua kali lipat tinggi manusia biasa, sehingga Liu Yang Kun menjadi kaget dan bingung menghadapinya.Sekejap Liu Yang Kun dapat dipengaruhi oleh bentuk semu itu, sehingga kekuatannya tiba-tiba seperti menyusut dan tak mampu berbuat banyak terhadap kekuatan lawan yang berubah menjadi raksasa.

Namun beberapa waktu kemudian pemuda itu menjadi sadar kembali bahwa dirinya sedang berkelahi dengan seorang lawan yang memiliki kekuatan sihir pula seperti dirinya, walau dalam bentuk lain.

Tanpa berpikir panjang lagi Liu Yang Kun lalu memejamkan matanya.

Entah bagaimana nantinya, tapi pemuda itu berpendapat bahwa tanpa melihat lawan ia tentu terbebas dari bentuk semu itu.

Dengan ketajaman panca inderanya pemuda itu lalu melawan musuhnya dengan mata tertutup.

Dan ternyata itulah awal dari kesulitan Bok Siang Ki!

Seperti telah diceritakan di bagian depan bahwa selain memiliki ilmu silat yang tinggi Liu Yang Kun diam-diam juga memiliki "ketajaman batin"

Yang amat kuat pula. Bila dikehendaki pemuda itu dapat memusatkan pikiran dan batinnya, sehingga dia bisa "melihat"

Atau "membayangkan"

Di dalam otaknya, apa saja yang tergelar dan terjadi disekitarnya tanpa ia harus melihat dengan kedua buah matanya.

Dan kemampuan itu pulalah yang kini dipergunakan oleh Liu Yang Kun untuk menghadapi 'bentuk-bentuk semu' Bok Siang Ki.

Dengan memejamkan matanya dan kemudian membangkitkan 'kemampuannya' tersebut, Liu Yang Kun melayani serangan Bok Siang Ki dengan tangkasnya.

Bahkan beberapa waktu kemudian ketika 'kemampuannya' tersebut sudah berkembang semakin kuat dan mantap, maka pemuda itu dapat pula 'mencium"

Atau 'menduga' apa yang hendak dilakukan oleh lawannya.

Tentu saja cara-cara yang dilakukan oleh Liu Yang Kun itu benar-benar sangat mustajab.

Otomatis kedahsyatan ilmu sihir Bok Siang Ki menjadi hilang dan tidak bermanfaat lagi menghadapi Liu Yang Kun yang telah memejamkan matanya.

Bahkan ketika pemuda itu kemudian mengeluarkan Kim-coa ih-hoatnya, karena pemuda itu sudah tidak takut lagi kepada "kekuatan sihir' lawannya, maka Bok Siang Ki benar-benar jatuh ke dalam kesulitan.

Apalagi ketika kemudian pemuda itu dapat 'menebak"

Pula apa yang hendak dilakukan oleh Bok Siang Ki sebelum tokoh Ui-soa-pai itu sendiri bergerak melakukannya! "Anak iblis! Si-siapa... kau sebenarnya?"

Dalam kekalutan dan kerepotannya Bok Siang Ki berseru dengan suara gemetar.

Penguasa tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu mulai goyah hatinya.

Kemampuan-kemampuan Liu Yang Kun yang amat mentakjubkan itu mulai menurunkan kegarangannya.Bahkan kemudian mulai timbul pula perasaan sangsi dan takut di dalam hatinya.

Apapula ketika menyaksikan Kim-coa ih-hoat yang aneh dan mengerikan itu.

"Dhuuuugh! Plaaaaak! Plak!"

Di dalam kerepotannya Bok Siang Ki terpaksa menangkis dan menyongsong beberapa pukulan dan tebasan tangan Liu Yang Kun!

Dan akibatnya sungguh berat bagi Bok Siang Ki!

Tokoh sakti itu terpental dan terhuyung-huyung hampir jatuh.

Tenaga dalamnya benar-benar tak mampu menandingi tenaga dalam Liu Yang Kun!

Maka ketika sekali lagi Liu Yang Kun menerjang dengan kaki tangannya yang bertambah panjang satu setengah kali lipat panjang aslinya, maka Bok Siang Ki benar-benar tak bisa bertahan lagi.

Tokoh tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu kembali terlempar dengan kuatnya, meskipun ia sudah menangkis dengan siku tangannya.

"Breeeeees!"

Tubuh Bok Siang Ki menabrak pohon siong tua itu dengan kerasnya, sehingga daun-daunnyapun segera berguguran ke bawah.

Namun dengan cepat pula orang itu berdiri tegak kembali menghadapi Liu Yang Kun, walaupun sekejap kemudian tampak darah segar mengalir dari sudut bibirnya.

"Anak Iblis!"

Jago Ui-soa-pai itu mengumpat marah.

Ternyata penguasa tertinggi dari perguruan Ui-soa-pai itu mendapat 'luka dalam' yang cukup parah.

Gempuran tangan Liu Yang Kun yang penuh tenaga sakti Liong-cu i-kang itu benar-benar sangat dahsyat dan tak kuasa ditahannya.

Sementara itu di luar arena, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong pun juga amat kaget pula menyaksikannya.

Selain terkejut mereka juga takjub pula melihat kehebatan ilmu silat Liu Yang Kun.

Keduanya baru sadar sekarang bahwa anak muda itu memang benar-benar hebat luar biasa.

Terutama bagi Giok-bin Tok-ong yang telah beberapa kali bertemu serta menyaksikan sepak terjang Liu Yang Kun!

Kini semuanya menatap Liu Yang Kun dengan tatapan mata yang berbeda.

Ada rasa jeri atau takut di dalam mata itu.

"Nah, Bok Siang Ki...! Apakah kau masih menghendaki pertarungan ini dilanjutkan lagi?"

Tiba-tiba terdengar suara Liu Yang Kun menantang. Dan mendadak pula Bok Siang Ki mengendorkan otot-ototnya. Sambil menghela napas panjang ia menggeram.

"Baiklah, aku mengaku kalah hari ini. Hari telah larut malam dan aku mempunyai urusan yang tidak bisa ditunda lagi. Lain waktu kita berjumpa pula..."

Liu Yang Kun tersenyum dingin. Pemuda itu lalu melirik Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong.

"Bagaimana dengan kalian berdua...? apakah kalian masih menginginkan bayi dan pendeta wanita itu?"

"Bangsat keparat! Mentang-mentang bisa mengungguli kita semua, sikapmu lantas menjadi sombong dan sangat menghina sekali! Kurang ajar..."

Giok-bin Tok-ong menjerit marah, namun tak bisa berbuat apa-apa.

"Huh, bocah sombong! Kau kira aku takut kepadamu? Huh? Kalau aku tak mengingat bahwa malam ini ada urusan penting yang harus kulakukan, aku akan mengadu nyawa denganmu! Biarlah untuk sementara urusan tentang bayi itu kusampingkan dahulu! Tapi... awas! Setelah Semua urusanku itu selesai, aku akan mencarimu untuk membuat perhitungan!"

Bu-tek Sin-tong berseru pula dengan berangnya.

"Benar! Kalau urusanku juga telah rampung, aku akan mencari kau pula! Akan kulihat sekali lagi, apakah kau masih mampu menghindarkan diri dari peluru mautku!"

Giok-bin Tok-ong ikut mengancam pula.

Sekali lagi Liu Yang Kun tersenyum dingin.

Namun sebelum pemuda itu menjawab tiba-tiba terdengar suara tertawa lembut di dalam jurang itu.

Dan ketika semuanya menengadahkan kepalanya, maka mereka melihat seorang sastrawan tua renta di atas cabang pohon siong itu.

Dan bersamaan dengan saat itu pula, tiba-tiba dari arah barat muncul dua sosok bayangan mendatangi.

Bayangan seorang lelaki dan seorang wanita yang kemudian berdiri di dekat Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun sangat kaget, karena kedua orang itu tak lain adalah Yap Kiong Lee dan Souw Lian Cu!

Namun seperti halnya yang lain, rasa kaget itu tidaklah sebesar rasa kagetnya melihat sastrawan tua renta di atas pohon siong tua itu.

Karena sastrawan tua itu tidak lain adalah pemain catur yang tinggal di warung makan itu.

"Lo-Cianpwe...?"

Liu Yang Kun menyapa perlahan.

"Bun hoat Sian seng...!!"

Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong berseru tertahan.

"He-he-he-he...!"

Kakek tua renta yang tidak lain memang Bun hoat Sian-seng itu tertawa panjang.

Suaranya terdengar bening, sebening wajah dan pandang matanya.

Lalu dengan amat ringan, seperti daun kering yang tanggal dari tangkainya, orang tua itu melayang turun ke atas tanah.

Bagaikan sudah berjanji sebelumnya Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong segera melangkah mendekati Bok Siang Ki.

Mereka bertiga tampak siap sedia menghadapi Bun-hoat Sian-seng.

"Hmm, selamat bertemu kembali, Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong...,! Bagaimanakah khabar kalian selama setahun ini? Apakah bukuku itu sudah selesai kalian baca? Eh, kalau sudah...tolong kau kembalikan lagi dia kepadaku! Aku memerlukannya."

Orang tua itu menyapa lebih dulu. Sementara itu Souw Lian Cu cepat melangkah pula menyongsong kedatangan Bun-hoat Sian-seng.

"Suhu...!"

Sapanya gembira.

"Pangeran...?"

Yap Kiong Lee berbisik pula kepada Liu Yang Kun.

"Pangeran berlari cepat sekali. Saya tak bisa mengikuti. Hmm... bagaimana Pangeran tadi bisa menemukan orang-orang itu?"

Liu Yang Kun tersenyum.

"Hanya kebetulan saja. Dan... aku telah berkelahi dengan mereka. Eh, bagaimanakah dengan Han Sui Nio? Apakah Ciangkun bertemu dengan dia tadi?"

"Ya! Dialah yang menunjukkan tempat ini kepadaku. Sementara itu di jalan aku bertemu dengan nona Souw. Dia juga sedang mengikuti jejak Giok-bin Tok-ong."

Liu Yang Kun melirik ke dalam arena kembali.

Dia melihat Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong saling berbisik.

Tampaknya mereka bertiga sedang berunding tentang Buku Rahasia yang ada di tangan mereka.

"Bagaimana...? Apakah kalian mau mengembalikan buku itu kepadaku?"

Bun-hoat Sian-seng mengulangi permintaannya. Bok Siang Ki melangkah maju mewakili teman-temannya.

"Baiklah! Buku itu akan kami kembalikan kepadamu. Tapi sebelum itu... tolong kau terangkan kepada kami tentang isi buku itu. Mengapa buku yang pernah menggegerkan dunia persilatan itu cuma berisi tentang silsilah, ramalan, pantun-pantun dan beberapa buah petunjuk tentang kehidupan dan kesehatan manusia? Mengapa tidak tertulis tentang ilmu silat sedikitpun? Apakah kau telah menipu kami?"

Bun-hoat Sian-seng kembali tertawa panjang.

"Sudah kukatakan sejak semula bahwa buku itu bukan buku pelajaran ilmu silat tapi kalian tak pernah mempercayainya. Namun begitu... kulihat ilmu silat kalian juga bertambah baik tadi. Lebih baik dari pada ilmu silat kalian setahun yang lalu. Bukankah itu sudah lumayan pula?"

Baik Bok Siang Ki, Bu-tek Sin-tong maupun Giok-bin Tok-ong menjadi merah mukanya.

Namun demikian mereka tetap diam dan pura-pura tak mendengar sindiran orang tua itu.

Bahkan Bok Siang Ki melanjutkan lagi kata-katanya tadi.

"Tapi... buku itu pernah tersohor dan menjadi buah bibir kaum persilatan pada beberapa ratus tahun yang silam yaitu jauh sebelum zaman keemasan Bit-bo-ong dan Empat Datuk Persilatan itu. Kasarannya buku itu pernah menelorkan seorang Pendekar Tak Terkalahkan dari Keluarga Souw, sehingga sampai sekarangpun keluarga itu selalu dihormati orang..."

Sekali lagi Bun-hoat Sian-seng tertawa.

"Ya! Tapi buku itu tak pernah membuat heboh dan membuat kacau dunia persilatan seperti sekarang ini. Karena ulah kalian yang memalsu buku itu dan mempertontonkannya di dunia kang ouw, maka dunia kang ouw menjadi gempar dan panas. Orang-orang persilatan menjadi ribut dan saling membunuh hanya karena "soal nama'. Bahkan sebagian besar dari mereka makin berduyun-duyun ke tempat tinggalku di puncak Gunung Hoa-san untuk melihat atau menantang aku. Semua itu terjadi karena di dalam buku palsu kalian itu kalian cantumkan urut-urutan Daftar Tokoh-tokoh Persilatan Terkemuka dewasa ini. Padahal di dalam buku aslinya, daftar itu sama sekali tidak ada..."

Katanya kemudian dengan nada kesal.

"Hmmh, tapi kalau tidak kubuat dengan cara yang demikian itu, kau tentu takkan keluar dengan buku aslimu!"

Bok Siang Ki menjawab tegas.

"Hei? Jadi kau sendiri yang membuat Buku Rahasia palsu itu?"

Tiba-tiba Bu Tek Sin-tong dan Giok-bin Tok ong berseru kaget.nBok Siang Ki menoleh.

"Benar. Semua itu kubuat agar dia mau keluar dari tempat persembunyiannya. Kalau tempat pertapaannya yang tenang dan indah itu tiba tiba dibanjiri orang untuk melihat dan membuktikan kesaktian Si Jago Nomer Satu di dunia persilatan, dia pasti keluar karena penasaran. Dan apabila setiap orang yang datang itu menanyakan tentang urut-urutan Daftar Tokoh-Tokoh Persilatan Terkemuka di Dunia Persilatan itu, dia tentu dengan geram akan menunjukkan buku aslinya! Hehehe...! dan semua rencanaku itu ternyata memang berhasil. Dan kalian berdua ini memang juga kupersiapkan untuk bersama-sama mengeroyok dia. Karena aku sendiri merasa belum dapat menandinginya..."

"Bangsat iblis!"

Giok-bin Tok-ong mengumpat.

"Heh-heh, Tok-ong... kau tak usah mengumpat dia! Bagaimanapun juga kita dapat untung pula. Ternyata Bok Siang Ki juga salah perhitungan. Dia terlalu memandang ringan kepada kita sehingga ia terpaksa melepaskan dua pertiga bagian dari Buku Rahasia asli itu kepada kita berdua, heh-heh-heh!"

Bu tek Sin-tong tertawa terkekeh-kekeh. Sekali lagi wajah Bok Siang Ki menjadi merah.

"Benar. Aku memang telah salah memperhitungkan kemampuan kalian. Aku tak menyangka kalau kalian berdua juga tidak kalah liciknya dengan aku,"

Ia mengakui. Giok-bin Tok-ong mendengus melalui lubang hidungnya.

"Tapi... dengan cara bagaimana kau menyusun urut-urutan daftar jago persilatan itu? Bukankah selama ini kau tak pernah mendatangi mereka itu satu persatu dan mencobai semua kepandaian mereka itu?"

Bok Siang Ki tertawa dingin.

"Hoho... apa sulitnya mengerjakan urutan itu? Siapakah yang bisa menandingi ginkang Ui-soa-pai di dunia ini?"

Giok-Bin Tok-ong mengerutkan keningnya.

"Maksudmu...?"

Desaknya kurang paham.

"Huh, maksudku tentu saja... aku tidak perlu mencobai semua kepandaian mereka itu! Cukup kukarang dan kukira-kira saja tingkat kemampuan mereka itu berdasarkan pengamatan yang amat teliti. Memang sekali waktu aku juga mengerahkan orang-orangku untuk mencobanya apabila aku kurang yakin terhadap pengamatanku itu. Tapi biasanya aku juga hanya memutuskannya sendiri. Aku tak peduli putusan itu benar atau tidak. Bukankah yang perlu dunia persilatan menjadi kacau-balau karena daftar urut-urutan itu? Hohoho...!"

"Gila!"

Liu Yang Kun mengumpat.

"Hehehe... aku memang gila! Gila akan kedudukan dan kehormatan! Aku ingin menjadi jago nomer satu di dunia persilatan demi arwah para leluhur perguruan Ui-soa-pai! Aku ingin menjadi murid yang berbakti terhadap para leluhurku itu! Aku ingin namaku nanti dicatat dan dikenang oleh anak murid perguruan Ui-soa-pai sampai ke anak-cucu mereka!"

Bok Siang Ki menjawab bersemangat.

"Tapi ternyata cita-citamu itu tak terlaksana, Bok Siang Ki."

Bun Hoat Sian-seng berkata perlahan.

"Walaupun kau bisa mengalahkanku pun kau takkan dapat disebut sebagai jago nomer satu di dunia persilatan, karena...ternyata kau telah dikalahkan oleh pemuda di depanmu itu!"

Bok Siang Ki melirik ke arah Liu Yang Kun. Wajahnya menjadi tegang dan merah padam, namun apa daya ia memang telah dikalahkan oleh pemuda itu.

"Sudahlah. Siang Ki..."

Akhirnya Bun-hoat Sian-seng menarik napas panjang.

"...Lupakan saja niatmu untuk menjagoi dunia persilatan itu. Lebih baik kau pulang kembali ke Gurun Gobi untuk membangun Ui-soa-pai. didiklah anak muridmu sebaik-baiknya agar kelak mereka menjadi pendekar-pendekar yang gagah perkasa. Dengan demikian perguruan Ui-soa-pai akan terkenal dan tersohor kembali seperti dahulu kala ketika dipegang oleh nenek moyangmu. Dan dengan demikian namamu juga akan terpateri pula di dalam hati anak muridmu, sehingga otomatis namamu juga akan dicatat pula di dalam sejarah perkembangan perguruanmu."

Ucapan Bun-hoat Sianseng yang panjang lebar itu tampaknya masuk ke dalam hati sanubari Bok Siang Ki.

Beberapa saat lamanya tokoh perguruan Ui-soa-pai itu berdiam diri untuk memikirkannya.

Akhirnya penguasa tertinggi Ui-soa pai itu berdesah perlahan.

"Baiklah, Sian-seng. Aku akan pulang kembali ke Ui-soa-pai. Tapi... benarkah Buku Rahasia itu tak mengandung pelajaran ilmu silat sama sekali? Jawablah yang jujur agar hatiku menjadi lapang, karena buku itu akan kukembalikan lagi kepadamu...!"

"Benar, Sian-seng. Aku pun akan mengembalikan pula bagian Buku Rahasia yang ada padaku bila kau mau menjawab..."

Bu-tek sin-tong bersuara pula.

Tiba-tiba Bun-hoat Sian-seng tersentak diam.

Beberapa saat lamanya ia termangu-mangu dan tak segera menjawab pertanyaan itu.

Tampaknya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya dan sulit untuk memutuskannya.

"Bagaimana, Sian-seng?"

Bok Siang Ki mendesak. Akhirnya orang tua dari Gunung Hoa san itu menghela napas panjang.

"Baiklah, Siang Ki... aku akan berterus terang kepadamu. SebenarnyaIah bahwa bukuku itu tidak memuat sejurus pelajaran ilmu silatpun. Namun demikian apabila orang yang membacanya mau meneliti, menekuni dan mengupas seluruh isinya, tak pelak orang itu akan memperoleh kemajuan di dalam ilmu silatnya. Seperti halnya kalian semua yang telah membawanya selama setahun ini, bukan?"

"Jadi...?"

Bok Siang Ki belum puas juga.

"Aaah, sudahlah. Bukankah aku sudah mengatakannya kepadamu? Sekarang kembalikanlah buku itu kepadaku!"

Bun-hoat Sian-seng memperingatkan. Bok Siang Ki me langkah mundur dua tindak, yang kemudian juga diikuti pula oleh Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong.

"Kalau begitu... perbolehkanlah kami meminjamnya...barang setahun atau dua tahun lagi. Kami akan mempelajarinya dengan lebih tekun, agar kami dapat memperoleh hasil yang lebih baik lagi."

Bok Siang Ki menolak. Tiba-tiba wajah Bun-hoat Sian-seng menjadi keruh.

"Tidak bisa! Buku itu tidak untuk dipinjamkan. Kalau sekarang aku hanya memintanya kembali, tanpa menghukum atau bertindak terhadap kalian bertiga, hal itu karena aku merasa tak perlu berlaku kasar terhadap kalian. Dan juga...aku memang tidak ingin memperpanjang urusan ini dengan pertikaian atau permusuhan di antara kita."

"Jadi...?"

Bok Siang Ki berseru tegang.

"Kembalikanlah sekarang juga, atau...?"

"Bagus! Aku memang ingin mencoba kepandaianmu! Bukumu akan aku kembalikan bila engkau bisa mengalahkanku!"

Bok Siang Ki menantang.

"Setuju...!"

Bu-tek Sin-tong ikut berteriak pula dengan gembira.

"Akupun akan menyerahkannya bila Bun-hoat Sian-seng dapat menundukkan aku, he heh!"

Bun-hoat Sian-seng mengawasi Souw Lian Cu yang ada di sampingnya,kemudian mengangkat bahunya.

"Baiklah... kalau itu yang kalian inginkan. Tapi... bagaimana dengan lembaran buku yang ada padamu, Tok-ong?"

Giok-bin Tok-ong menjadi gugup.

"A-aku... aku... eh, maaf... bukuku berada di tangan pemuda itu!"

Ujarnya kemudian dengan terbata-bata. Jarinya menuding ke arah Liu Yang Kun. Tentu saja Liu Yang Kun tersentak kaget.

"Huh... apa katamu? Jangan main tuduh sembarangan! Kapan aku mengambilnya dari tanganmu, heh?"

Pemuda itu berteriak gusar.

"Bangsat...!"

Giok Bin Tok-ong menjerit pula tidak kalah berangnya.

"Kau jangan berpura-pura lagi! Bukankah kau telah menemukan bukuku di reruntuhan rumah Coa In Lok? Huh! Kau jangan mungkir! Ketiga orang muridku pun telah melihatmu pula! Kau membaca buku itu di dalam hutan!"

"Muridmu...?"

Liu Yang Kun berseru semakin tak mengerti.

Namun demikian pemuda itu tak berani mendesak lagi.Tiba-tiba saja pemuda itu teringat kembali akan 'penyakitnya".

Ia menjadi ragu-ragu.

Jangan-jangan apa yang diucapkan oleh Giok-bin Tok-ong tersebut memang benar adanya.

Bun-hoat Sian-seng cepat menengahi mereka.

"Sudahlah, Tok-ong. Aku tahu kau telah kehilangan buku yang kau bawa karena muridku ini juga sudah melaporkannya kepadaku,"

Katanya perlahan seraya menoleh ke arah Souw Lian Cu.

"Maka dari itu aku memberi kelonggaran kepadamu. Kau boleh mcngembalikan bukumu yang hilang itu setengah tahun lagi. Ingat! Setengah tahun lagi! Lebih dari batas waktu yang kuberikan itu, kau akan memperoleh hukuman..."

"Persetan dengan waktumu! Bangsat...!"

Giok-bin Tok-ong mengumpat. Tapi Bun-hoat Sian-seng tak mempedulikan kegusaran lawannya. Dengan tenang orang tua itu menghadapi Bok Siang Ki kembali.

"Bagaimana, Siang Ki? Kita jadi bergebrak sekarang?"

"Tentu saja! Apa kau kira aku takut kepadamu?"

"Bagus! Mari kita mulai! Anggap saja aku sekalian menjadi juri bagi kalian bertiga. Aku akan menilai, siapa yang lebih banyak memperoleh kemajuan dari Buku Rahasia itu, sehingga kalian tak perlu mengadakan pertemuan di bangunan kuno itu lagi."

"Kurang ajar! Kau jangan terlalu menyombongkan dirimu...!"

Bok Siang Ki menggeram gusar.

Telapak tangannya segera meluncur ke depan, menampar ke arah mulut Bun-hoat Sian-seng.Liu Yang Kun terbeliak kagum menyaksikan kecepatan tangan Bok Siang Ki.

Tangan itu menyambar dengan cepat laksana kilat, sehingga lapat-lapat terdengar suaranya yang mencicit seperti suara desing senjata tajam.

Tadi ketika menghadapi sendiri pemuda itu tak merasakannya.

Kini setelah melihat lagi dari luar arena, barulah hatinya menjadi kagum bukan main.

Memang tidak keliru kalau penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu menyombongkan ginkangnya.

Tapi ternyata Bun-hoat Sian-seng juga tidak kalah gesitnya.

Meskipun tidak selincah Bok Siang Ki namun sebagai jago nomer satu ternyata ginkangnya juga tidak dapat dipandang enteng.

Sambil mendorong tubuh Souw Lian Cu ke luar arena, ia menggeliatkan badannya ke belakang, hingga tamparan itu tak mengenainya.

Kemudian dengan kecepatan yang hampir sama ia balas menyerang dengan cengkeraman jari-jari tangannya.

Tentu saja Bok Siang Ki tak ingin tangannya patah atau hancur diremas jari tangan lawannya.

Oleh karena itu lengannya segera ditarik, dan sebagai gantinya ia menerjang perut Bun-hoat Sianseng dengan ujung sepatunya.

"Plaaak! Plaaaak!"

Bun-hoat Sianseng menekuk lengannya yang terulur itu untuk menghantam ujung sepatu Bok Siang Ki!

Dan benturan tersebut ternyata menimbulkan suara yang amat keras dan nyaring!

Masing-masing segera tergetar mundur empat langkah ke belakang.

Dan setiap langkah mereka selalu meninggalkan bekas tapak sepatu yang dalam di tanah, suatu tanda bahwa mereka berdua benar-benar telah mengeluarkan tenaga dalam yang amat dahsyat!

Namun demikian tampaknya Bok Siang Ki sudah menyadari bahwa tenaga dalamnya masih lebih rendah dari pada lawannya.

Hal itu dapat dilihat dari bekas tapak sepatu itu.

Tapak sepatunya tampak tinggi rendah tak beraturan, sementara tapak sepatu lawannya kelihatan urut dan rapi, baik jarak maupun kedalamannya!

Oleh karena itu Bok Siang Ki segera mengerahkan ilmu puncaknya!

Penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu berpendapat bahwa tak ada gunanya bertempur terlalu lama dengan lawannya!

Dengan sebat kedua lengannya segera bersilang di depan dadanya.

Dan sekejap saja tubuhnya seperti memancarkan hawa dingin ke arah lawannya!

Hawa dingin yang persis seperti hawa dingin dipancarkan Liu Yang Kun apabila pemuda itu mengerahkan tenaga sakti Liong-cu i-kangnya!

Bedanya udara dingin yang terpancar dari dalam tubuh Liu Yang Kun menyebar ke segala penjuru dan benar-benar terasa menggigilkan kulit dan tubuh orang-orang yang ada di sekelilingnya, sedangkan hawa dingin yang keluar dari dalam tubuh Bok Siang Ki cuma tertuju kepada Bun-hoat Sian-seng saja!

Itupun juga hanya terbatas pada perasaan dan pikiran Bun-hoat Sian-seng pula, karena 'hawa dingin"

Yang ditimbulkan Bok Siang Ki tersebut adalah ilmu sihir belaka.

"Bagus, Siang Ki! Ternyata kau langsung mempergunakan ilmu puncakmu! Oleh karena itu akupun juga takkan segan segan pula mengeluarkan segala kemampuanku! Nah, marilah kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita...!"

Bun-hoat Sian-seng berkata tegas.

Kemudian orang tua itu berdiri tegak sambil merangkapkan kedua telapak-tangannya di depan dada.

Dan sesaat kemudian di atas ubun-ubunnya tampak mengepul asap tipis berwarna putih dan merah.

Asap itu kemudian turun dengan cepat membungkus tubuhnya, bagaikan kabut tipis yang menyelimuti bumi.

Hanya yang sangat aneh kedua macam kabut itu tidak mau saling bercampur.

Kabut yang berwarna putih hanya menyelimuti bagian tubuh sebelah kiri, sementara kabut yang berwarna merah juga hanya membungkus tubuh bagian kanan pula.

"Ang-pek Sinkang dari keluarga Souw...!"

Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong berdesis perlahan.

Setelah tubuhnya terbungkus kabut tipis itu, Bun-hoat Sian-seng lalu melangkah maju mendekati Bok Siang Ki.

Dengan berani kakek itu menentang mata Bok Siang Ki, seakan-akan kakek itu tak terpengaruh oleh ilmu sihir lawannya yang menggiriskan itu.

Tentu saja Bok Siang Ki sangat terkejut.

Apalagi ketika pandangannya menjadi silau, seolah-olah kabut yang membungkus tubuh lawannya itu dapat memantulkan cahaya.

"Gila...!"

Bok Siang Ki mengumpat, lalu melesat ke depan menyerang lawannya.

Gerakan Bok Siang Ki benar-benar cepat bukan main!

Demikian cepatnya sehingga tubuhnya seakan-akan menghilang menjadi bayang-bayang yang melesat dibawa angin!

Tampaknya Bok Siang Ki menyadari kalau ilmu sihirnya sudah tidak bisa diandalkan lagi.

Maka seperti halnya ketika melawan Liu Yang Kun tadi, Bok Siang Ki lalu menghentakkan seluruh kemampuan ginkangnya.

Dengan harapan satu-satunya keunggulannya itu bisa untuk mengatasi kesaktian lawannya.

Meskipun ilmu sihirnya juga masih tetap dipakainya pula.

"Oooooooh...???"

Semua orang yang menyaksikan pertempuran tersebut berdesah.

Namun orang orang itu berdesah bukan karena menyaksikan keajaiban kabut merah putih yang diciptakan Bun-hoat Sian-seng ataupun kegesitan yang diperlihatkan oleh Bok Siang Ki tapi mereka berdesah karena merasa kaget dan ngeri melihat keanehan yang terjadi pada diri Bok Siang Ki itu sendiri!

Di mata mereka, tubuh Bok Siang Ki yang sedang melompat menyerang Bun-hoat Sian-seng itu tiba-tiba 'pecah' menjadi beberapa bagian!

Dan anehnya setiap bagian itu tiba-tiba juga menjadi Bok Siang Ki pula, sehingga dalam waktu yang hanya sekejap itu tiba-tiba ada belasan orang Bok Siang Ki yang menerjang ke arah Bun-hoat Sian-seng!

Tapi mereka tidak mempunyai kesempatan lagi untuk berbicara tentang keanehan itu, sebab di lain saat pertempuran tersebut telah berlanjut pula dengan sengitnya.

Bun-hoat Sian-seng telah mengelak dengan memutar tubuhnya kemudian dengan cepat tangannya membalas pula serangan tersebut.

Terdengar suara mencicit ketika dari ujung-ujung jari tangan orang tua itu meluncur angin tajam yang mampu melobangi benda-benda yang dilanggarnya!

"Tai-lek Pek-khong-ciang (Pukulan Udara Kosong Bertenaga Seribu Kati)...!"

Giok-bin Tok-ong bergumam perlahan.

"Benar, Tai-lek Pek-khong-ciang dari keluarga Souw yang tersohor..."

Bu-tek Sin-tong menambahkan.

Demikianlah, meskipun kalah gesit dan kalah cepat, namun Bun-hoat Sian-seng memiliki serangan jarak jauh yang ampuh serta menakutkan.

Sehingga kemanapun tubuh Bok Siang Ki bergerak, pukulan jarak jauh orang tua itu selalu bisa mengejar dan memburunya.

Maka akibatnya bisa diduga.

Sedikit demi sedikit orang tua itu bisa mendesak Bok Siang Ki.

Apalagi penguasa tertinggi Ui-soa-pai itu sama sekali tak berdaya dengan ilmu sihirnya.

Padahal dimata Bu-tek Sin-tong maupun Giok-bin Tok-ong ilmu sihir yang dipergunakan oleh Bok Siang Ki itu benar-benar mengerikan dan membingungkan sekali.

Belasan tubuh Bok Siang Ki yang bertebaran di sekeliling Bun-hoat Sian-seng itu benar-benar memusingkan mereka.

"Setan! Demit! Heh, Sin-tong... bingung aku melihatnya! Kau tahu mana Bok Siang Ki yang asli?"

Giok bin Tok-ong berteriak-teriak bingung.

"Huh! Aku juga tak tahu! Coba kau tanyakan pada anak itu! Dia tentu mengetahuinya, karena dia tadi bisa menghadapi Bok Siang Ki dengan baik..."

Bu-tek Sin-tong menyahut sambil menunjuk ke arah Liu Yang Kun.

Liu Yang Kun tersentak kaget, karena dia sendiri juga tak bisa membedakannya.

Kalau dia tadi bisa mengalahkan Bok Siang Ki, hal itu bukan karena ia tidak terpengaruh oleh ilmu sihir penguasa Ui-soa-pai itu.

Ia bisa melayani Bok Siang Ki karena ia memejamkan matanya, sehingga ia tak melihat keanehan-keanehan yang diciptakan oleh lawannya.

Namun demikian kalau Cuma membedakan mana Bok Siang Ki yang asli saja pemuda itu tidak mendapatkan kesukaran.

Dengan kecerdikannya ataupun dengan ilmunya yang menyerupai Lin-cui-sui-hoat itu Liu Yang Kun mampu menebak dan mengira-ngira Bok Siang Ki yang asli.

"Mengapa mesti sulit membedakan mereka? Asal Lo-Cianpwe mau memperhatikan cara-cara Bun-hoat Sian-seng melawan mereka, Lo-Cianpwe tentu dapat menebak pula mana Bok Siang Ki yang asli..."

Dengan suara dingin pemuda itu berkata.

"Setan Demit! Anak iblis yang tak tahu diri, kubunuh kau...!"

Giok-bin Tok-ong menjerit gusar.

Tangannya terangkat, siap untuk menerjang.

Tapi dengan cepat Bu-tek Sin-tong melompat ke tengah-tengah mereka.

Kedua lengannya terpentang lebar untuk mencegah kawannya bertindak lebih jauh.

"Goblog! Kita memang goblog, Tok ong! Anak itu benar,"

Teriaknya keras.

"Apanya yang benar?"

Giok-bin Tok-ong berteriak pula. Namun demikian tangannya yang terangkat tadi telah diturunkannya lagi.

"Coba kau perhatikan Bun-hoat Sian-seng itu! Aku berani bertaruh dia tentu tidak terpengaruh oleh ilmu sihir Bok Siang Ki ini! Kalaupun dia juga terpengaruh oleh ilmu sihir ini, setidaknya dia tentu bisa mengatasinya. Buktinya ia bisa melawan Bok Siang Ki dengan baik. Bahkan ia seperti tidak terpengaruh sama sekali oleh ilmu sihir itu. Nah, sekarang perhatikan cara-cara Bun-hoat Sian-seng dalam melayani Bok Siang Ki itu! Kau akan mengerti pula nanti!"

Tiba-tiba Giok-bin Tok-ong seperti tersadar dari kebodohannya.

"Benar. Wah, aku memang goblog! Bun-hoat Sian-seng selalu memburu salah seorang dari belasan Bok Siang Ki itu! Hoho..., tentu dialah yang asli! Benar, bukan,"

Serunya kemudian seolah bersorak. Sementara itu Liu Yang Kun sendiri sudah tidak peduli lagi kepada orang tua itu. Dengan langkah seenaknya ia menghampiri Souw Lian Cu dan Yap Kiong Lee.

"Selamat malam, nona Souw. Apakah nona tadi telah kembali ke penginapan?"

Tegurnya ramah.

Gadis itu memandang Liu Yang Kun lalu menggeleng.

Mulutnya tetap terdiam.

Sikapnya masih kelihatan kaku terhadap Liu Yang Kun.

Tapi Liu Yang Kun tidak menjadi tersinggung karenanya.

Dengan sabar pemuda itu tetap juga mengajaknya berbicara.

"Emm... lalu bagaimanakah dengan urusan yang pernah nona ceritakan itu? Apakah urusan itu sudah beres?"

Sekali lagi mata yang bening indah itu menatap kepada Liu Yang Kun. Namun hanya beberapa saat saja, karena beberapa saat kemudian gadis ayu itu telah mengalihkan pandangannya kembali.

"Sudah..."

Bibir itu bergetar pendek, kemudian terdiam pula kembali.

Sungguh mengherankan sekali!

Liu Yang Kun yang biasanya mudah tersinggung itu ternyata tidak menjadi marah atau merasa sakit hati mendapat perlakuan dingin seperti itu.

Pemuda itu justru bertambah banyak bicaranya.

Nada suaranya juga sangat riang, seolah-olah ia memang sangat gembira dapat berdekatan kembali dengan Souw Lian Cu.

Padahal gadis itu sendiri hampir tak pernah menyahut atau menjawab perkataannya.

Paling-paling hanya mengangguk, menggeleng atau bergumam saja.

Tentu saja Yap Kiong Lee lah yang menjadi tak enak hatinya.

Bagaimanapun juga Liu Yang Kun adalah seorang Pangeran.

Putera Hongsiang pula.

Maka sungguh tidak selayaknya kalau dia memperoleh perlakuan seperti itu.

"Pangeran..."

Ia menyela dengan hati-hati sekedar untuk ikut berbicara agar Liu Yang Kun tidak hanya berbicara sendirian.

"Ternyata nona Souw ini memang sedang mengemban tugas dari Bun-hoat Sian-seng untuk melacak Buku Rahasia yang dibawa oleh ketiga orang itu. Itulah sebabnya nona Souw selalu mengikuti jejak mereka selama ini..."

Liu Yang Kun terbelalak sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

Ia memang telah mendengar perdebatan mereka tentang Buku Rahasia itu tadi.

Tapi tak mengira kalau ternyata Souw Lian Cu juga terlibat pula di dalam urusan itu.

Sementara itu pertempuran antara Bok Siang Ki melawan Bun-hoat Sianseng juga telah menampakkan tanda-tanda akan berakhir pula.

Meskipun masing-masing memiliki keistimewaan dan kehebatan sendiri-sendiri, tapi ternyata ilmu kepandaian Bun-hoat Sian-seng masih lebih unggul dari pada Bok Siang Ki.

Pakaian Bok Siang Ki yang longgar itu tampak berlubang di beberapa tempat terkena sambaran Tai-lek Pek-khong-ciang yang memancar dari ujung jari Bun-hoat Sian-seng, walaupun sebenarnya dengan ginkangnya yang maha tinggi itu Bok Siang Ki juga telah berusaha pula untuk mengelakkannya.

Untunglah tokoh Ui-soa-pai itu memiliki juga ilmu kebal atau Tiat-poh-san yang cukup sempurna, sehingga kulitnya tidak menjadi terluka karenanya.

Namun demikian gempuran-gempuran ujung jari yang mengandung tenaga dahsyat itu membuatnya sakit pula.

Bahkan semakin lama gempuran-gempuran itu semakin menggoyangkan benteng ilmu kebalnya, sehingga beberapa saat kemudian kulitnya mulai bisa tergores oleh hentakan-hentakan ujung jari tersebut.

Dan selanjutnya darahpun mulai menetes membasahi bajunya.

"Bok Siang Ki...! Apakah kau tidak juga mengakui kekalahanmu? Apakah kau ingin salah seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa di tempat ini...?"

Tiba-tiba terdengar suara Bun-hoat Sian-seng dari dalam arena itu.

Tapi tak ada jawaban dari Bok Siang Ki.

Tokoh Ui-soa-pai itu masih juga bertempur dengan gigihnya.

Tampaknya ia masih juga belum mau menyadari keadaannya.

Namun, hal itu bisa dimengerti pula, karena bagaimanapun juga tokoh Ui-soa-pai itu merasa telah dapat mengenai tubuh lawannya pula.

Biar pun semua yang telah dilakukannya tersebut hampir tak berarti bagi Bun-hoat Sian-seng yang memiliki tenaga dalam lebih tinggi.

Demikianlah, semuanya itu ternyata tak luput pula dari penglihatan Bu-tek Sin-tong dan yang lainnya.

Bahkan Liu Yang Kun yang sejak semula selalu dapat mengikuti jalannya pertempuran tersebut menjadi berdebar-debar pula hatinya.

Setiap kali tubuh Bok Siang Ki yang asli itu terluka dan mengeluarkan darah, maka pemuda itu juga melihat yang serupa pula pada bentuk-bentuk kembaran Bok Siang Ki yang lain.

Dan sejalan dengan semakin banyaknya luka yang diderita oleh Bok Siang Ki asli itu, maka semakin susut pulalah jumlah bentuk-bentuk semu dari Bok Siang Ki tersebut.

Sehingga beberapa waktu kemudian semua bentuk-bentuk semu itu lenyap dari pandangan.

"Hei, lihat...! Sekarang Bok Siang Ki tinggal seorang saja lagi! Dan... dia telah menderita luka di beberapa tempat!"

Bu-tek Sin-tong tiba-tiba berseru sambil menunjukkan jari telunjuknya ke dalam arena pertempuran.

"Ya! Tampaknya dia telah banyak kehilangan kekuatannya, sehingga kemampuannya untuk membangkitkan ilmu sihirnya juga telah berkurang pula."

Giok-bin Tok-ong menyahut. Bu-tek Sin-tong tiba-tiba menoleh ke arah Giok-bin Tok-ong.

"Tok-ong...! Apa yang harus kita kerjakan sekarang? Membiarkan Bok Siang Ki kalah atau membantunya...?"

Giok-bin Tok-ong melangkah dengan cepat ke depan.

"Kita bantu saja dia...! Sebab setelah Bok Siang Ki kalah, tentu kita pula yang akan menjadi giIirannya. Nah, dari pada menunggu nanti-nanti.. ehm, bukankah lebih baik kita maju sekarang? Kita bisa bertiga malah!"

"Bagus! Kalau begitu tunggu apa lagi? Marilah..."

Bu-tek Sin-tong berkata dengan gembira pula, kemudian bersama-sama dengan Giok-bin Tok ong dia menerjang ke dalam arena pertempuran.

"Cuuus! Cuus! Plaak! Plaaak...!"

Dengan tangkas Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong menangkis sambaran angin tajam yang meluncur dari ujung jari Bun-hoat Sian-seng.

Angin tajam yang mampu menembus atau menggores kulit seperti layaknya sebilah pedang itu hampir saja mengenai dada Bok Siang Ki.

Untunglah pada saat yang tepat Bu tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong datang menolongnya, walaupun akibatnya kedua kakek sakti itu harus menderita kesakitan pula.

"Bangsat!"

Giok-bin Tok-ong mengumpat seraya memandangi kulit lengannya yang lecet ketika membentur "angin tajam"

Itu.

"Bukan main! Tak kusangka Tai-lek Pek-khong-ciang demikian hebatnya...!"

Bu-tek Sin-tong menggeram pula sambil me lihat-lihat telapak tangannya yang kemerah-merahan.

"Hmmh, Sin-tong... Tok-ong! Apa maumu? Mengapa kau ikut-ikutan menangkis seranganku? Apakah kau tak sabar lagi untuk menunggu giliranmu?"

Bun-hoat Sian-seng menegur perlahan.

"Benar. Ini tidak adil...!"

Souw Lian Cu tiba-tiba melompat ke dalam arena dan berdiri di samping gurunya.

"Kalian telah diberi kesempatan oleh suhu untuk mempertahankan buku yang kalian curi. Mengapa kalian masih juga kurang terima? Apakah kalian tidak merasa malu?"

Wajah Bok Siang Ki menjadi merah. Begitu pula dengan Bu-tek Sin-tong dan Giok-bin Tok-ong. Mereka menjadi malu juga mendengar perkataan gadis itu.

Baca Juga: Pendekar Buta 8

Baca Juga: Asmara Berdarah 2

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert