Eps 8 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.
Dengan terharu dia berbisik.
"Tiauw-Ko... ah, kau baik sekali, terima kasih, Tiauw-Ko..."
Burung itu mengeluarkan bunyi perlahan seakan-akan dapat menerima ucapan Kun Hong, dan terbangnya makin pesat membubung tinggi di udara sampai kelihatan kecil sekali, kemudian menukik ke Barat dengan kecepatan kilat.
Belasan li di sebelah Barat, di luar tembok Kota Raja, terdapat sebuah hutan besar.
Daerah ini termasuk kaki Pegunungan Tapie-San.
Burung Rajawali Emas yang membawa terbang Kun Hong itu menukik ke bawah, ke arah hutan ini dan tak lama kemudian dia sudah turun ke atas tanah di antara pohon-pohon besar di tengah hutan itu, lalu mendekam.
Kun Hong segera melompat turun dari punggung Kim-Tiauw.
"Bagus, A-Tiauw, kau berhasil menolong Kun Hong!"
Terdengar suara orang, halus dan tenang. Kun Hong tercengang, mengingat sebentar kemudian dengan girang dia menjatuhkan diri berlutut sambil berseru.
"Susiok (Paman Guru)..."
Kakek itu tertawa.
Memang dia ini bukan lain adalah Sin-Eng-Cu Lui Bok, adik seperguruan manusia sakti Bu Beng Cu, guru Kwa Kun Hong yang tak pernah dia lihat orangnya itu.
Dalam cerita Rajawali Emas dituturkan bahwa Kun Hong dahulu sebelum buta, pernah dibawa oleh Rajawali Emas ini ke puncak Gunung Liong-Thouw-San (Gunung Kepala Naga) dan di tempat rahasia inilah dia menemukan kitab Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng yang ditinggalkan oleh Bu Beng Cu sehingga dengan bantuan Rajawali Emas, pemuda ini dapat mewarisi ilmu silat yang dia namakan Kim-Tiauw-Kun (Ilmu Silat Rajawali Emas).
Dalam ceritera Rajawali Emas pula, pernah dia bertemu dengan adik seperguruan Bu Beng Cu, seorang aneh yang sakti pula, yaitu bukan lain adalah Sin-Eng-Cu (Si Garuda Sakti) Lui Bok inilah yang pernah mengajarnya ilmu sihir yang disebut ilmu merampas semangat.
Pada saat itu, selagi Kun Hong berlutut penuh keharuan karena tidak mengira bahwa yang menyuruh Rajawali Emas menolongnya ternyata adalah Susioknya sendiri ini, terdengar kaki-kaki kecil berlari mendekati dan suara yang amat dikenalnya berseru.
"Suhu...!"
"A Wan, kau di sini?"
Kun Hong memeluk anak itu, girang dan juga heran.
"Dan anak ini... siapakah?"
Dia menoleh ke kiri karena telinganya dapat menangkap gerakan seorang anak kecil lagi yang agaknya tadi digandeng oleh A Wan dan sekarang duduk pula di dekatnya.
"Suhu, dia adalah Cui Sian, adik kecil yang baik dan lucu..."
"Cui San? Anak Paman Beng San...??"
Kun Hong sampai berteriak keras saking heran dan kagetnya sehingga A Wan yang tidak tahu apa-apa menjadi bingung.
Dengan penuh keharuan tangannya meraih dan di lain saat anak perempuan berusia empat tahun itu telah dipeluknya.
Terdengar suara anak perempuan itu, nyaring dan jelas suaranya, tidak seperti anak-anak kecil lain yang sebaya.
"Paman buta, kau ini menangis ataukah tertawa? Karena aku tidak dapat membedakannya."
Kun Hong tertawa, pertanyaan kanak-kanak yang bodoh tetapi mengandung makna demikian dalamnya, sedalam lautan, meliputi rahasia hidup karena kehidupan di dunia ini memang hanya berisi dua hal, tangis dan tawa!
"Anak baik...
anak baik...
aku menangis dan juga tertawa saking girangku mendengar kau selamat..."
Tiba-tiba dia teringat dan setelah melepaskan Cui Sian dari pelukan, dia bangkit berdiri, menoleh ke arah Sin-Eng-Cu Lui Bok. Keningnya berkerut-kerut ketika dia berkata.
"Susiok... Cui Sian di sini bersama Susiok...? Bagaimanakah ini? Bukankah Cui Sian diculik orang dari Thai-San? Apakah Susiok..."
Dia tidak berani melanjutkan kata-katanya sungguhpun hatinya penuh kecurigaan yang bukan-bukan. Kakek itu tertawa lembut.
"Kenapa tidak kau lanjutkan, Kun Hong? Tak baik mengandung curiga di dalam hati, karena kecurigaan yang dipendam dapat menimbulkan fitnah tanpa disengaja. Kecurigaanmu keliru, Kun Hong. Aku bersama Kim-Tiauw ingin menjengukmu di Thai-San dan kulihat Thai-San diserang banyak orang. Di puncak kulihat nyonya Ketua Thai-San yang gagah perkasa dikeroyok dan bangunan dibakar. Karena anak ini terancam bahaya, maka aku berlancang tangan membawanya pergi dari sana."
Mendengar ini, merah muka Kun Hong.
Tak dapat disangkal lagi, sebelum mendengar penjelasan ini, tadi dia telah menaruh curiga kepada Susioknya.
Dia segera menjatuhkan diri berlutut lagi sambil berkata, nada suaranya penuh permohonan dan juga penuh dendam.
"Siapakah mereka itu, Susiok? Si...siapakah mereka yang menyerang Thai-San?"
Kembali kakek itu tertawa geli seakan-akan mendengar sesuatu yang amat lucu.
"Susiok, kenapa Susiok mentertawakan Teecu (murid)?"
Kun Hong merasa heran dan penasaran.
Apakah pertanyaannya itu dianggap lucu?
Tak mengerti dia mengapa dalam urusan yang demikian pentingnya, orang tua itu malah tertawa-tawa dan seakan-akan mentertawakannya.
"Kau hendak apakah menanyakan mereka yang menyerang Thai-San?"
"Keparat-keparat itu telah berlaku keji terhadap Paman Beng San, tentu saja Teecu harus membalas dendam sakit hati ini!"
"Ha-ha-ha, sudah kuduga! Sudah kukhawatirkan akan beginilah jadinya. Sayang..."
Kakek itu tertawa lagi.
"Balas-membalas, dendam-mendendam, roda karma berputar tiada hentinya..."
Kun Hong terkejut, lalu cepat bertanya.
"Susiok, salahkah sikap Teecu ini?"
Setelah berpikir sebentar dia melanjutkan.
"Susiok sudah sampai di Thai-San dan melihat semua itu, sudah berhasil menyelamatkan adik Cui Sian, kenapa Susiok tidak membantu Paman Beng San membasmi orang-orang jahat itu?"
"Hemmm, aku tidak mempunyai urusan dengan mereka, sudah terlalu lama aku membebaskan diri daripada libatan karma, Anakku. Sikapmu ini tidaklah salah, hanya aku menjadi geli hatiku mendengar kata-kata dan melihat sikapmu ini. Agaknya kau sudah lupa sama sekali beberapa tahun yang lalu ketika kau menasehati seorang kakek seperti aku ini ketika aku hendak mencari dan membunuh Sin-Chio The Kok atau Hwa I Lokai. Ha-ha-ha!"
Kun Hong tertegun dan seketika dia termenung.
Terbayanglah sekarang semua pengalamannya dahulu, ketika dia masih belum buta.
Pertemuannya pertama dengan Sin-Eng-Cu Lui Bok terjadi amat aneh, yaitu kakek itu menyatakan hendak mencari dan membunuh musuh besarnya, Sin-Chio The Kok yang menyembunyikan diri dan mengubah nama menjadi Hwa I Lokai.
Dialah yang menasehati orang tua ini agar jangan membalas dan membunuh, agar jangan terikat oleh tali-temali yang amat kusut dan sulit, yaitu tali dendam-mendendam.
Dan sekarang, persis seperti beberapa tahun yang lalu (baca Rajawali Emas), sekarang di depan kakek itu dia bersikeras hendak membalas dendam Thai-San-Pai kepada orang-orang yang menyerbu Thai-San.
Seketika mukanya menjadi merah dan dia tidak dapat berkata sesuatu.
Kakek itu menarik napas panjang, maklum akan isi hati Kun Hong.
"Kau masih ingatkah, Kun Hong, betapa dahulu aku pernah datang ke Thai-San dan membujuk kau supaya ikut dengan aku menjadi pertapa, hidup bahagia membebaskan diri daripada ikatan karma? Kau tidak mau dan aku hanya dapat tunduk akan kehendak Thian (baca Rajawali Emas). Aku tidak menyalahkan engkau. Pengertianmu tentang rahasia hidup memang sudah cukup, akan tetapi pengertian itu hanya menjadi pengetahuan dari teori buku-buku lama, namun kau belum dapat menguasai ilmu yang kau ketahui teorinya itu. Betapapun juga, teori yang kau nasehatkan kepadaku dahulu itu telah menolongku, sebaliknya tak mampu menolong dirimu sendiri. Ini tidak aneh karena kau memang masih muda, masih suka melibatkan diri dengan dunia beserta sekalian isi dan peristiwanya, kau masih belum mampu menguasai perasaan muda."
Kun Hong menunduk dan diam-diam dia dapat menangkap kebenaran kata-kata kakek ini. (lanjut ke
Jilid 21) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 21
"Kau masih terlalu muda untuk dapat menyelami semua teori tentang filsafat dan rahasia kehidupan, Anakku. Karena jiwamu belum masak, belum cukup kuat menghadapi gejolak perasaan sehingga mudah terpengaruh keadaan dan hawa nafsu. Sekarangpun karena bertemu dengan anak pamanmu, seluruh perasaanmu terpenuhi oleh urusan Thai-San-Pai sehingga kau lupa akan tugas yang kau ikatkan dengan dirimu, mengenai Mahkota..."
Kakek itu tertawa lagi. Suara ketawanya lebih keras ketika tiba-tiba Kun Hong seperti orang tersentak kaget meraih A Wan dan serta merta bertanya.
"A Wan, di mana adanya Mahkota itu? Sudah dapat kau ambilkah?"
Suaranya penuh harapan dan seperti yang tadi dikatakan oleh Sin-Eng-Cu Lui Bok, kini seluruh perhatiannya terpusat kepada benda rahasia itulah sehingga boleh dibilang dia lupa sama sekali akan urusan Thai-San-Pai!
Sambil berlutut anak itu berkata, suaranya takut-takut.
"Ampun, Suhu, Mahkota itu... benda itu... telah dirampas orang..."
"Apa katamu??"
Kun Hong marah dan kecewa sekali, kemudian sambungnya agak tenang setelah dia ingat bahwa seorang anak kecil seperti A Wan, mana sanggup melindungi Mahkota itu? "Siapakah yang merampasnya?"
Dengan suara mengandung takut kalau-kalau gurunya akan marah kepadanya, A Wan menuturkan pengalamannya.
"Tadinya benda itu Teecu sembunyikan dan kubur di belakang rumah dekat sumur. Ketika Suhu menyuruh Teecu mengambilnya, Teecu segera pergi ke tempat itu dan menggalinya. Akan tetapi baru saja Teecu mengambil benda itu dan Teecu bersihkan dari tanah lumpur yang masuk ke dalam Mahkota, Teecu dibentak orang dan Mahkota itu hendak dirampas."
"Hemmm, siapa dia? Laki-laki atau wanita?"
Tanya Kun Hong.
"Seorang laki-laki, akan tetapi karena keadaan gelap, Teecu tidak mengenal wajahnya. Teecu mempertahankan Mahkota itu, akan tetapi dia menggunakan kekerasan, Teecu didorong dan benda itu dapat dirampas. Pada saat itu muncul pula seorang wanita muda dan seorang laki-laki gagah dan masih muda pula. Serta merta orang muda itu menyerang orang yang tadi merampas Mahkota tadi, adapun wanita muda itu menolong Teecu. Akan tetapi segera Teecu ditinggalkan seorang diri ketika wanita itu melihat Teecu tidak apa-apa, kemudian wanita itu membantu temannya mengeroyok laki-laki yang merampas Mahkota. Entah bagaimana jadinya karena mereka bertempur sambil berlari dan berkejaran. Teecu ikut mengejar sambil berteriak-teriak minta dikembalikan benda itu. Tiba-tiba muncul banyak orang yang galak-galak. Teecu ditangkap dan dipaksa menyerahkan Mahkota. Untung segera datang Kakek perkasa (Lo-Cianpwe) ini yang menolong Teecu dan membawa Teecu pergi seperti terbang cepatnya."
Kun Hong termenung mendengar ini. Kembali Paman gurunya yang menolong A Wan, akan tetapi kenapa tidak sekalian merampas Mahkota itu? Dia menjadi amat kecewa.
"Jadi Mahkota itu dirampas orang?"
Katanya lambat-lambat dengan nada sedih.
"Suhu, apa sih gunanya benda mengkilap itu? Kalau memang amat perlu dan amat berharga bagi Suhu, biarlah Teecu menyelundup masuk Kota Raja lagi dan pergi menyelidikinya."
A Wan berkata dengan suara sedih pula melihat suhunya demikian kecewa. Kata-kata ini menyadarkan Kun Hong dan seketika mukanya berubah biasa lagi.
"Ah, kau mana tahu, A Wan? Bukan benda emas itu yang berharga, melainkan surat yang tersembunyi di dalamnya..."
"Surat? Bertulis? Wahhh, kebetulan sekali Suhu! Teecu sudah menduga-duga surat apa ini. Surat yang disembunyikan di dalam Mahkota ada pada Teecu."
Sambil berkata demikian A Wan mengeluarkan segulung surat kekuning-kuningan dari dalam saku bajunya.
Kun Hong cepat menyambar surat itu dan meraba-raba dengan jari-jari tangannya, wajahnya berseri gembira dan Bibirnya tersenyum.
"Bagaimana kau bisa mendapatkan ini? Di dalam Mahkota katamu?"
"Benar, Suhu, Ketika Teecu membersihkan Mahkota itu, Teecu menggosok-gosok sebelah dalamnya yang kotor. Tiba-tiba terdengar bunyi berdetak dan tersembullah kertas di sudut dalam Mahkota. Kemudian ketika Mahkota itu hendak dirampas orang dan Teecu pertahankan, tanpa sengaja Teecu yang memegangi Mahkota dengan sebelah tangan di dalamnya, mencengkeram keluar kertas ini. Baru Teecu ketahui bahwa kertas ini berada dalam genggaman Teecu setelah Mahkota itu dibawa lari orang."
Kun Hong mengangguk-angguk, meraba-raba kertas bergulung yang kecil itu, kemudian dia menoleh ke arah Sin-Eng-Cu Lui Bok yang semenjak tadi hanya berdiri sambil membelai leher Burung Rajawali, sama sekali tidak memperdulikan percakapan antara Kun Hong dan A Wan.
"Susiok, tolonglah Susiok periksa gulungan kertas ini. Betulkah ini berisi perintah rahasia mendiang Kaisar?"
Terdengar kakek itu tertawa lirih, lalu bergumam.
"Terlalu dalam kau terjerumus ke dalam persoalan dunia."
Akan tetapi diterimanya juga gulungan kertas kecil itu, dibukanya dan dibacanya sebentar, lalu digulung kembali dan diangkatnya tinggi-tinggi surat itu di atas kepala sambil berkata.
"Memang betul dan mendiang Kaisar adalah seorang manusia yang telah berbuat banyak jasa selama hidupnya untuk bangsa. Seorang pejuang perkasa, seorang manusia berjiwa besar."
Dia mengembalikan gulungan kertas itu kepada Kun Hong yang segera menyimpannya di saku baju sebelah dalam.
Lenyap semua kekecewaannya.
Mahkota kuno itu sendiri baginya tidak mempunyai harga, yang penting adalah surat rahasia inilah.
"A Wan, kau anak baik! Kau telah berjasa besar..."
Akan tetapi A Wan yang dipuji gurunya hanya sebentar saja merasa girang karena dia teringat akan Ibunya dan bertanya.
"Suhu, bagaimana dengan... Ibu? Siapa yang merawat jenazahnya?"
Atas pertanyaan ini Kun Hong tidak mampu menjawab.
Terang tidak mungkin baginya untuk ke rumah mendiang janda Yo yang menjadi pusat perhatian para pengawal Istana.
Akan tetapi dia percaya bahwa Hui Kauw tidak akan membiarkan jenazah janda itu terlantar.
Dia percaya bahwa Hui Kauw yang dapat bergerak leluasa di Kota Raja akan dapat mengatur sehingga jenazah itu dapat dikubur baik-baik.
"Jangan khawatir, A Wan. Cici Hui Kauw tentu akan mengatur penguburan jenazah Ibumu."
"Teecu hendak ke sana, Suhu! Teecu harus menunggu Ibu..."
Dan sekarang anak itu mulai menangis. Kun Hong mengerutkan keningnya dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak bisa, A Wan. Kau sudah dikenal, kau terlibat dalam urusan perebutan surat rahasia, kalau kau muncul pasti kau akan ditangkap."
"Biar Teecu ditangkap, biar Teecu dibunuh, Teecu tidak takut. Teecu harus merawat jenazah Ibu...!"
Kun Hong amat bingung mendengar tangis muridnya yang amat menyedihkan itu. Karena tidak tahu bagaimana harus menghIburnya, dia membentak keras.
"Diam kau, A Wan! Muridku tidak boleh berhati lemah seperti ini! Pantang laki-laki menangis!"
Seketika A Wan berhenti menangis, air matanya masih bercucuran ke luar dari sepasang matanya, akan tetapi mata itu kini dibuka terbelalak lebar memandang gurunya dan dia menggigit Bibirnya menahan tangis.
Hanya pundaknya saja yang digoyang-goyang oleh isak tangis yang tak mungkin ditahan itu.
Kalau saja Kun Hong dapat melihat sikap muridnya ini, tentu dia akan menjadi terharu dan bangga.
Ketaatan bocah itu bukan sekali-kali karena takut, Semenjak kecil A Wan mendapatkan cinta kasih dari Ibunya yang berwatak halus, tidak pernah dia mendapat perlakuan kasar sehingga dia tidak mempunyai sifat takut-takut.
Ketaatannya kepada Kun Hong berdasarkan keseganan dan kepercayaan bahwa segala apa yang diperintahkan oleh gurunya yang dicintanya sebagai Ibunya sendiri itu, pastilah benar dan baik serta harus ditaatinya.
"A Wan, muridku yang baik. Pergilah kau ke sana, ajaklah adikmu Cui Sian itu mencari kembang, aku hendak bicara dengan Susiok-Couwmu (Paman kakek gurumu),"
Kata Kun Hong, kemudian A Wan segera berdiri, menuntun tangan Cui Sian dan pergilah mereka menjauh dan hanya terdengar suara ketawa Cui Sian yang nyaring ketika A Wan mengajaknya menangkap kupu-kupu yang bersayap indah.
Kini kakek itu berhadapan dengan Kun Hong.
Pendekar Buta ini merasa lemah seluruh anggauta tubuhnya, terbawa oleh derita batin yang ditanggungnya selama ini.
Semua tugasnya belum terpenuhi dan dia menjadi bingung menghadapinya.
Bagaimana dia akan dapat menunaikan semua tugas itu dengan sempurna?
"Susiok, bagaimanakah pendapat Susiok?
Teecu merasa bingung...
Teecu yang buta ini benar-benar kehabisan akal, mohon petunjuk, Susiok."
Kembali Sin-Eng-Cu Lui Bok tertawa geli.
"Duduklah, Kun Hong, dan mari kita bercakap-cakap."
Kun Hong lalu duduk di atas tanah, bersila di depan kakek itu yang sudah duduk bersila di atas rumput tebal.
"Kun Hong, kalau aku dahulu membujukmu supaya ikut denganku ke puncak gunung dan bertapa, sekarang tidak mungkin lagi. Kau telah mengikatkan dirimu dengan pelbagai urusan dunia dan sebagai seorang yang menjunjung tinggi kegagahan kau harus melanjutkan semua tugasmu sampai selesai. Selama ini aku selalu mengikuti sepak terjangmu, dan jurus yang kau mainkan untuk membunuhi lawan-lawanmu itu sungguh-sungguh keji!"
Kun Hong terkejut sekali, mengeluh dan menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
"Ah, Susiok... berilah petunjuk..."
Diam-diam dia merasa malu kepada diri sendiri. Kiranya Susioknya ini sekarang sudah menjadi seorang yang demikian saktinya sehingga dapat mengikuti semua pengalamannya. Benar-benar hebat.
"Dahulu Teecu pernah berlancang mulut memberi nasehat kepada Susiok agar jangan membunuh Hwa I Lokai, sekarang Teecu sendiri malah telah banyak membunuh orang."
"Kun Hong, aku tidak menyalahkan kau, karena perbuatanmu itu semata-mata hanya dalam tugas membela diri, sama sekali tidak ada niat sebelumnya dalam hatimu untuk membunuh. Kau masih muda, banyak kali hatimu terluka, terutama oleh peristiwa di puncak Thai-San di mana kau kehilangan kekasih dan sekaligus kehilangan sepasang mata. Semua itu terjadi karena kau terlalu diperhamba oleh perasaan dan sekarang pun masih menjadi hamba perasaanmu sendiri sehingga tanpa kau sengaja kau telah menghancurkan pengharapan dan kebahagiaan seorang wanita mulia seperti nona muka hitam itu."
Kakek itu menarik napas panjang dan Kun Hong tiba-tiba menjadi merah mukanya. Bukan main kakek ini. Sampai urusannya dengan Hui Kauw sekalipun sudah diketahuinya.
"Susiok, mohon petunjuk..."
Dia hanya dapat mengulang kata-kata ini.
"Sudah menjadi kehendak alam agaknya bahwa manusia ini hidupnya dipengaruhi dan dibimbing oleh rasa. Rasa menimbulkan kehendak dan kehendak melahirkan perbuatan. Jadi setiap perbuatan adalah pelaksanaan daripada kehendak yang akan menuruti dorongan rasa. Rasa ini halus sekali dan karenanya sering sekali dipermainkan oleh nafsu. Nafsu inilah pokok-pangkal segala peristiwa di dunia, karena nafsulah yang mendorong segala sesuatu di dunia ini sehingga dapat berputar. Nafsu ini besar kecilnya tergantung kepada fihak ke "aku"
An yang ada pada diri setiap manusia.
Orang yang selalu memikirkan diri sendiri, orang yang selalu mementingkan diri pribadi, dialah seorang hamba nafsu dan sering sekali melakukan perbuatan yang menyeleweng daripada kebenaran."
Kun Hong adalah seorang pemuda yang semenjak kecil banyak membaca filsafat, dan filsafat di atas sudah pula diketahuinya.
Akan tetapi, selama ini tidak pernah dia mendapatkan seorang teman untuk diajak berdebat tentang kebenaran filsafat-filsafat itu, maka saat ini berhadapan dengan seorang sakti, dia sengaja hendak memperdalam arti pengetahuannya dan minta petunjuk agar tidak terlalu risau hatinya.
"Susiok, kalau begitu, apakah sebaiknya kita membunuh saja nafsu diri sendiri sehingga terhindar daripada penyelewengan dalam hidup?"
Sin-Eng-Cu Lui Bok tertawa.
"Aku tahu bahwa kau sudah mengerti akan hal ini akan tetapi agaknya menghendaki keyakinan. Baiklah, akan kucoba untuk menjelaskan. Ada orang-orang bertapa dan sengaja berusaha untuk membunuh nafsunya sendiri. Sudah tentu bagi orang-orang yang melakukan hal demikian usaha ini benar. Akan tetapi bagi aku pribadi, usaha seperti itu bukanlah merupakan jalan untuk mencapai kesempurnaan. Nafsu tidak boleh dibunuh. karena seperti telah kukatakan tadi, nafsu adalah pendorong hidup, pendorong segala di dunia ini sehingga dapat berputar dan berjalan sebagaimana mestinya menurut hukum alam. Tanpa adanya nafsu, dunia akan sunyi, akhirnya segala akan mati dan diam tidak berputar lagi. Karena itulah maka kuanggap keliru ada yang berusaha mencari kesempurnaan dengan jalan membunuh nafsu-nafsunya sendiri."
Kun Hong mengangguk-angguk.
Dia pun pernah membaca tentang orang-orang yang berkeyakinan bahwa jalan ke arah keutamaan dan kesempurnaan adalah membunuh nafsunya sendiri.
Dan dia dapat menerima pendapat Paman gurunya ini.
"Kalau begitu, bagaimana seyogyanya menghadapi nafsu-nafsu sendiri yang kadangkala menyeret kita dalam perbuatan-perbuatan maksiat itu, Susiok?"
"Nafsu adalah pelengkap yang lahir bersama hidup itu sendiri. Tubuh manusia kalau boleh diumpamakan sebuah kereta yang lengkap, maka nafsu adalah kuda-kudanya yang dipasang di depan kereta. Si kereta tidak akan dapat bergerak maju sendiri tanpa tarikan tenaga kuda-kuda nafsu itu. Kuda-kuda nafsunya memang liar dan binal, kalau dibiarkan saja kuda-kuda itu tentu meliar dan membedal semauaya sendiri, tentu ada bahayanya kuda-kuda itu, akan menjerumuskan keretanya ke dalam jurang kesengsaraan hidup, mungkin berikut kusirnya sekali karena kereta itu juga ada kusirnya, yaitu si aku yang sejati, jiwa yang menguasai seluruh kereta. Kalau kusir itu pandai mengendalikan kuda-kuda liar itu dengan tali-temali berupa kesadaran, maka kuda-kuda nafsu yang liar dan binal itu dapat dipergunakan tenaganya untuk menarik maju si kereta menuju ke jalan yang benar, sesuai dengan kehendak alam, segala sesuatu harus bergerak maju, namun kemajuan yang lurus dan benar, karena siapa yang maju dalam keadaan menyeleweng pasti akan hancur ke dalam jurang kesengsaraan. Mengertikah kau, Kun Hong?"
Kun Hong mengangguk-angguk.
"Teecu mengerti, Susiok. Sungguh tidak Teecu sangka bahwa Susiok tahu akan segala kejadian yang menimpa Teecu, malah Susiok secara kebetulan menyaksikan pula diserbunya Thai-San-Pai oleh orang-orang jahat sehingga Susiok berhasil menyelamatkan Cui Sian. Akan tetapi, Susiok, bolehkah Teecu bertanya mengapa Susiok tidak membantu Paman Beng San menghadapi orang-orang jahat yang merusak Thai-San-Pai?"
"Aku tidak perlu mencampuri urusan pertempuran-pertempuran orang lain, hal itu bukan urusanku. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan seorang anak kecil seperti Cui Sian menjadi korban pertentangan orang-orang tua itu."
Kun Hong merasa tidak puas, mengerutkan keningnya.
"Maaf, Susiok, terpaksa Teecu harus membantah. Sungguhpun pertempuran itu bukan urusan Susiok, namun kiranya Susiok dapat membela kebenaran. Bukankah sikap seorang gagah harus selalu membela kebenaran dan keadilan di dunia ini?"
Sin-Eng-Cu Lui Bok tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-ha-ha, Kun Hong, kau bilang kebenaran dan keadilan, akan tetapi kebenaran yang mana dan keadilan yang mana? Kebenaran untuk siapa dan keadilan untuk siapa? Anakku, tahukah kau bahwa dunia ini menjadi kacau, manusia saling bermusuhan, tak lain dan tak bukan hanya karena mereka itu saling memperebutkan kebenaran? Kebenaran itu hanya SATU, akan tetapi menjadi banyak sekali sifatnya karena setiap orang mempunyai kebenarannya sendiri-sendiri! Benar dan adil bagi yang satu, belum tentu benar dan adil bagi yang lain. Kalau ada dua orang saling bermusuhan untuk memperebutkan kebenaran, katanya, maka jelaslah bahwa keduanya sudah menyeleweng daripada kebenaran sejati dan yang mereka perebutkan itu adalah kebenaran palsu, karena kebenaran untuk dirinya sendiri, kebenaran dan keadilan demi kepentingan masing-masing. Kalau di waktu itu aku membantu Thai-San-Pai, apa kau kira mereka yang memusuhi Thai-San-Pai menganggap aku benar dan adil? Ha-ha-ha, kurasa tidak, muridku."
Tentu saja Kun Kong dapat menerima ini karena dia pun sudah tahu akan filsafat tentang kebenaran ini. Akan tetapi dia masih penasaran karena dia yakin bahwa kebenaran berada di fihak pamannya.
"Maaf, Sosiok. Memang tepat apa yang Susiok uraikan itu, akan tetapi, Susiok, Teecu yang bodoh berpendapat bahwa dengan melihat watak orangnya, mudah ditarik kesimpulan siapa yang benar di antara dua orang yang bermusuhan. Juga dengan akal dan pertimbangan, dapat pula kita menilai dari urusan-urusannya, siapa yang patut disebut berada di fihak kebenaran. Saya kira, tak mungkin kalau Paman Tan Beng San yang terkenal sebagai seorang pendekar yang gagah perkasa dan luhur budi pekertinya, tidak berada di fihak benar."
"Belum tentu, Kun Hong. Yang datang menyerbu adalah orang-orang yang hendak membalas dendam atas kematian orang-orang yang mereka kasihi dan dalam hal ini, isi hati mereka sama sekali tiada bedanya dengan isi hatimu sekarang yang hendak membalas dendam Thai-San-Pai terhadap mereka yang telah merusaknya."
"Ah... begitukah kiranya...??"
Kun Hong tercengang.
"Bagaimana, Susiok apakah yang Teecu harus lakukan? Harap beri petunjuk."
"Kau masih muda, Kun Hong. Kau sudah melibatkan dirimu dalam tali-temali karma, tak mungkin kau membebaskan dirimu sekarang. Akan tetapi, jalan satu-satunya untuk mendapatkan karma yang baik, adalah bertindak selaras dengan kebajikan. Dengan dasar kebajikan dan kesadaran, kau boleh menentukan sendiri yang mana harus kau bela. Engkau berbeda dengan aku, engkau seorang pendekar muda, harus melangkah atas dasar jejak satria. Aku seorang pertapa yang sudah mencuci tangan, sudah bebas daripada ikatan duniawi, atau setidaknya, yang sedang berusaha untuk pembebasan itu. Kau lanjutkan pelaksanaan tugas-tugasmu karena semua itu tidak menyeleweng daripada kebenaran. Kalau kau menimbang bahwa menyampaikan surat rahasia itu kepada raja muda yang berhak menerimanya itu sudah benar dan patut, kau lakukanlah itu. Kalau kau merasa bahwa orang-orang yang menyerbu Thai-San-Pai itu berada di fihak keliru, kau boleh mencari dan mengajar mereka. Mereka adalah orang-orang Ching-Coa-To bersama teman-temannya, hampir semua mempunyai dendam kepada Thai-San-Pangcu (Ketua Thai-San-Pai). Adapun tentang diri nona muka hitam itu, dialah wanita satu-satunya yang tepat untuk menggantikan kedudukan mendiang nona Tan Cui Bi di sampingmu."
Muka Kun Hong menjadi merah mendengar kata-kata ini dan hatinya berdebar tidak karuan. Disinggung-singgungnya Hui Kauw dalam percakapan ini membuat dia tak dapat membuka mulut lagi.
"Sekarang perhatikan nasehatku yang terakhir, Kun Hong. Aku sudah melihat sebuah jurusmu yang hebat dan keji itu, jurus perkawinan antara Im-Yang Sin-Hoat dan Kim-Tiauw-Kun. Dua macam ilmu kesaktian yang amat lurus dan bersih, mengapa dapat dicipta menjadi sebuah jurus yang demikian keji? Siapa yang memberi petunjuk kepadamu?"
"Lo-Cianpwe Song-Bun-Kwi"
"Ha-ha-ha, pantas, pantas saja kalau dia, si tua bangka dimabuk nafsunya sendiri itu! Kun Hong, seandainya gurumu, Bu Beng Cu masih hidup dan dapat melihat jurusmu itu, sudah pasti beliau akan merasa sedih dan malu sekali. Juga kalau pamanmu Tan Beng San melihatnya, kau tentu akan mendapat marah. Jurus apa itu namanya?"
Dengan perasaan sungkan dan malu Kun Hong menjawab lirih.
"Lo-Cianpwe Song-Bun-Kwi yang memberi nama... eh, jurus Sakit Hati..."
"Ha-ha-ha, namanya sama jahatnya dengan jurusnya. Tepat, tepat!"
Dia terkekeh-kekeh geli.
"Tahukah engkau untuk apa gunanya, orang mempelajari ilmu silat?"
"Untuk membela diri, menjaga diri daripada serangan dari luar, dan untuk membela fihak yang tertindas, kaum lemah yang membutuhkan pertolongan, juga untuk menundukkan fihak yang mempergunakan kekuatan untuk berbuat sewenang-wenang, untuk membela kebenaran dan keadilan."
"Hemm, kalau sudah tahu ini, mengapa menciptakan jurus yang khusus hanya untuk membunuh orang?"
Suara kakek ini demikian bengis sehingga buru-buru Kun Hong berkata.
"Teecu salah... selanjutnya tidak akan berani menggunakan jurus sesat itu lagi..."
Suara kakek itu lunak kembali ketika berkata.
"Bukan begitu maksudku. Kau berhak menggabungkan Im-Yang Sin-Hoat dengan Kim-Tiauw-Kun, apalagi kalau diingat bahwa kedua ilmu silat itu sumbernya sama, yaitu peninggalan dari Sucouw Bu Pun Su. Tanpa dasar dendam dan sakit hati kau akan dapat menciptakan jurus-jurus sakti dari kedua ilmu itu, malah tidak terbatas hanya satu jurus saja. Biarlah aku menggunakan kesempatan sekarang ini untuk memberi petunjuk kepadamu. Nah, kau bersilatlah dengan Im-Yang-Sin Kiam-Sut kemudian Kim-Tiauw-Kun agar dapat kulihat kemungkinan dan letak rahasia penggabungannya nanti."
Dengan girang Kun Hong lalu bersilat, mainkan tongkatnya dengan Ilmu Pedang Im-Yan-Sin Kiam-Sut yang dia pelajari dari Tan Beng San.
Kemudian dia bersilat lagi dengan Kim-Tiauw-Kun dengan langkah-langkahnya yang ajaib dan gerakan-gerakarnnya yang aneh.
Berkali-kali Sin-Eng-Cu Lui Bok berseru menyatakan kekagumannya dan pada akhirnya dia berkata.
"Hebat sekali! Aku tua bangka Lui Bok benar-benar berbahagia sekali, mata tua ini dapat menyaksikan kedua ilmu silat sakti dimainkan olehmu begitu baiknya. Gurumu, mendiang Suheng Bu Beng Cu tentu akan bangga kalau dapat melihatmu, malah Sucouw Bu Pun Su sendiri tentu tidak pernah mengira bahwa ilmu ciptaannya akan dapat dimainkan sehebat ini oleh seorang cucu murid yang buta."
Selanjutnya kakek yang sakti ini, yang selama berdiam di puncak Gunung Liong-Thouw-San telah memperdalam ilmunya, memberi petunjuk-petunjuk kepada Kun Hong bagaimana caranya menggabungkan kedua ilmu kesaktian itu menjadi sebuah ilmu silat gabungan yang luar biasa, hebatnya ilmu ini masih menggunakan tenaga yang bertentangan, yaitu tenaga Im dan tenaga Yang seperti dalam ilmu sakti Im-Yang Sin-Hoat, Akan tetapi gerakan-gerakannya dicampur dengan Kim-Tiauw-Kun sehingga boleh dikatakan bahwa kalau tangan kanan yang memegang tongkat pengganti pedang mainkan Im-Yang-Sin Kiam-Sut, adalah kedua kaki mainkan langkah ajaib dari Kim-Tiauw-Kun dan tangan kiri juga mainkan jurus-jurus serangan Kim-Tiauw-Kun.
Malah jurus yang disebut jurus Sakit Hati dapat dimasukkan dalam ilmu silat gabungan ini, hanya sekarang lain sifatnya, tidak seganas tadinya yang sekali bergerak tentu merupakan jurus maut.
Biarpun daya serangannya masih hebat, namun sekarang gerakannya dilakukan dengan penuh kesadaran sehingga dapat dipergunakan menurut ukuran, tidak seperti tadinya yang gerakannya dipengaruhi perasaan sakit hati dan kemarahan sehingga dilakukan secara membuta dengan tujuan membunuh untuk memuaskan nafsu belaka.
Dengan amat tekun Kun Hong menerima petunjuk teori penggabungan itu dan diam-diam dia mencatat kesemuanya dalam ingatan.
Malah dia lalu bersilat dengan gerakan gabungan ini, disaksikan oleh Sin-Eng-Cu Lui Bok yang memberi petunjuk-petunjuk di bagian yang kurang tepat.
Sementara itu, A Wan dan Cui Sian sudah kembali ke tempat ini dan dua orang bocah itu dengan bengong duduk di atas tanah sambil menonton Kun Hong bersilat.
Cui Sian adalah puteri suami isteri pendekar besar sehingga semenjak kecil ia sudah sering kali melihat orang bersilat, maka tidak mengherankan apabila sekarang ia amat tertarik dan gembira menyaksikan Kun Hong bergerak-gerak seperti itu.
Yang mengherankan adalah A Wan.
Bocah ini tidak pernah melihat seorang bersilat, akan tetapi sekarang amat tertarik hatinya dan hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang berbakat dan berminat.
"Nah, sekarang kita harus berpisah, Kun Hong. Aku akan kembali ke Liong-Thouw-San. A Wan akan kubawa serta karena selama kau melanjutkan usahamu menyelesaikan tugas-tugas yang amat penting dan berat itu, A Wan hanya akan menjadi penghalang bagimu. Pula, tidak baik kalau anak ini kau bawa menempuh bahaya-bahaya dan pertempuran, karena dia belum memiliki dasar batin yang kuat sehingga aku khawatir kalau-kalau kelak akan menjadi tukang pukul yang kerjanya hanya memperlihatkan kepandaian untuk memukul orang. Juga Cui Sian kubawa, kelak kalau sudah tiba saatnya akan kukembalikan kepada orang tuanya."
Kun Hong membungkam.
Hatinya terasa sunyi mendengar ucapan ini.
Semua akan meninggalkannya, orang-orang yang dikasihinya ini.
Terdengar suara Burung Rajawali Emas merintih perlahan.
Makin sedih hatinya dan tiba-tiba dia berkata.
"Susiok, ijinkahlah kepada Kim-Tiauw-Ko (kakak Rajawali Emas) untuk menemani Teecu beberapa waktu lamanya. Teecu masih amat rindu kepadanya."
Sin-Eng-Cu Lui Bok tertawa.
"Dia bebas, kalau dia mau boleh saja. Nah, selamat berpisah, Kun Hong."
Kakek itu menggandeng tangan kedua orang anak itu dan mengajaknya pergi.
A Wan beberapa kali menengok kepada gurunya, hanya sepasang matanya saja memandang sedih, akan tetapi dia tidak berani membantah kehendak kakek itu.
Luar biasa sekali adalah Burung Rajawali Emas.
Agaknya dia dapat menangkap arti percakapan tadi.
Buktinya setelah dia diberi kebebasan, agaknya dia suka memenuhi permintaan Kun Hong.
Matanya memandang ke arah Lui Bok yang pergi bersama dua orang bocah itu, akan tetapi dia tidak kelihatan bergerak hendak pergi.
Kun Hong bangkit berdiri dan merangkul lehernya.
"Tiauw-Ko, kau tentu suka menemaniku, bukan? Aku kesepian sekali, Tiauw-Ko..."
Burung itu mengeluarkan suara perlahan, paruhnya yang besar mengkilap dan kokoh kuat itu membelai jari tangan Kun Hong.
Tiba-tiba dia lalu mengeluarkan suara aneh lalu mendorong Kun Hong dengan sayapnya.
Kun Hong terpental dan Burung itu sudah menyerbu dan menyerangnya!
"Ha-ha-ha, Tiauw-Ko, kau mengajak latihan?"
Kun Hong tertawa-tawa gembira, teringat akan kebiasaan mereka dahulu di puncak Bukit Kepala Naga.
Dahulu pun Burung inilah yang menjadi teman berlatih, malah boleh dibilang Burung inilah yang menjadi guru pertama dalam ilmu silat!
Dia sudah mengenal suara Burung itu kalau mengajak berlatih dan dia tahu pula bahwa Burung ini kalau mengajak latihan berkelahi, selalu berkelahi seperti sungguh-sungguh dan tidak boleh dipandang ringan sedikit pun juga!
Timbul kegembiraannya dan mendadak dia teringat akan usahanya yang dibantu oleh Sin-Eng-Cu Lui Bok tadi, yaitu menggabung kedua ilmu silat sakti.
Segera dia bergerak menghadapi dengan ilmu silat gabungan ini, menggunakan tongkatnya yang ampuh.
Kim-Tiauw memang hebat.
Dari gerakan-gerakannya tahulah Kun Hong bahwa selama beberapa tahun ini, Kim-Tiauw telah memperoleh kemajuan pesat dan hebat.
Gerakan-gerakannya lebih cepat, lebih matang dan pancingan-pancingannya lebih bertambah.
Namun harus dia akui dengan hati iba bahwa dalam hal tenaga, Burung ini sudah mundur banyak sekali, tanda bahwa dia sudah mulai tua!
Sebaliknya, Kim-Tiauw beberapa kali mengeluarkan seruan-seruan yang bagi telinga Kun Hong terkejut dan kadang-kadang kagum.
Memang baginya, dengan ilmu silat gabungan ini, amatlah mudah menghadapi Kim-Tiauw.
Langkah ajaibnya dapat mengimbangi gerakan Kim-Tiauw itu, tongkatnya mampu menandingi paruh dan tangan kirinya dapat membalas semua serangan sayap.
Malah, dengan amat mudahnya dapatlah dia berkali-kali menampar Burung itu sebagai pengganti tusukan atau hantaman maut.
Girang hatinya bahwa kini dia dapat mempergunakan jurus Sakit Hati dengan berhasil baik tanpa membinasakan lawan.
Hal ini adalah karena dia dapat menimbang tenaganya, biarpun tenaga sakti yang amat hebat dan dahsyat itu tersalur dari dalam melalui setiap pukulannya, namun dia dalam keadaan sadar dan dapat mengurangi atau menambah tenaga, bahkan dapat menariknya kembali setiap saat dia kehendaki.
Karena inilah maka kini dengan mudah dia dapat mengganti pukulan maut dengan tepukan atau tamparan tak berarti pada semua bagian tubuh Rajawali Emas itu tanpa melukainya.
Setelah berlatih ratusan jurus, akhirnya Rajawali Emas merintih perlahan lalu mendekam di atas tanah, berkali-kali mulutnya mengeluarkan suara pujian.
Kun Hong merangkulnya dan tertawa-tawa gembira.
"Wah, Tiauw-Ko, dengan adanya kau di sampingku, teringat aku akan masa lalu yang amat menggembirakan. Dengan kau di sini aku tidak akan merasa kesepian lagi!"
Sehari itu Kun Hong bermain-main dengan Rajawali Emas yang mencarikan buah-buahan untuknya, setelah beristirahat lalu berlatih kembali.
Burung itu selalu memenuhi permintaannya untuk berlatih dan makin lama makin payahlah Kim-Tiauw melawannya.
Bukan main girangnya hati Kun Hong dan dia amat berterima kasih kepada Sin-Eng-Cu Lui Bok karena berkat petunjuk kakek sakti itu, dia benar-benar telah menciptakan ilmu silat yang luar biasa, yang kehebatannya setingkat dengan jurus Sakit Hati akan tetapi tidak sekeji itu.
Sehari suntuk dia berlatih dan menciptakan jurus-jurus baru yang sekiranya cocok, diambil daripada gabungan dua ilmu silat sakti itu.
Malah sedikit banyak terdapat pula unsur saripati Ilmu Silat Hoa-San-Pai yang dia masukkan ke dalam ilmu silat ini bilamana terdapat kecocokan.
Betapapun juga, Hoa-San-Pai adalah partai yang dipimpin Ayahnya, maka dia tidak mau meninggalkan ilmu silat partai ini.
Setelah malam tiba, Kun Hong yang semenjak sore tadi beristirahat sambil bersamadhi, duduk bersila mengheningkan cipta untuk menyempurnakan hasil ciptaan ilmu silat gabungan itu sambil memulihkan tenaga dan sekalian menyembuhkan luka-lukanya, kini bangkit dari duduknya.
Telinganya mendengar suara mengiang-ngiang dan kiranya di tempat itu terdapat banyak sekali nyamuk yang mulai beroperasi setelah sinar matahari menghilang.
Kun Hong membuat api dengan jalan mencetuskan ujung tongkatnya kepada batu hitam, membakar daun-daun kering dan sebentar kemudian di situ telah menyala api unggun.
Kim-Tiauw sudah biasa pula dengan pekerjaan ini, maka tanpa diperintah Burung sakti ini mengumpulkan kayu-kayu kering dengan paruhnya dan menjajarkan dekat api unggun.
Setelah itu, dua orang mahluk yang bersahabat itu melayang ke atas pohon.
Kun Hong duduk bersila di atas sebuah cabang pohon besar, sedangkan Kim-Tiauw mendekam di dekatnya.
Kehangatan bulu Burung itu membuat Kun Hong lebih cepat dapat terlena dalam samadhinya.
Tanpa terasa malam merayap cepat dan bulan purnama mulai muncul di ufuk Timur.
Api unggun masih bernyala mengeluarkan bunyi gemeretak memakan kayu-kayu dan daun-daun kering.
Nyanyian Burung malam yang menyambut munculnya bulan purnama, menyadarkan Kun Hong dari samadhinya.
Dia lalu termenung dan diam-diam dia memikirkan keterangan Sin-Eng-Cu Lui Bok tentang orang-orang yang menyerbu Thai-San-Pai.
Jadi ternyata musuh-musuh Thai-San-Pai itu adalah Ching Toa-Nio dan teman-temannya?
Pantas saja mampu menyerbu Thai-San-Pai, kiranya orang-orang sakti yang berada di Ching-Coa-To itu adalah musuh-musuh Thai-San-Pai.
Dia mengingat-ingat.
Menurut keterangan Hui Kauw, memang ada permusuhan antara mereka dengan Thai-San-Pai.
Ching Toa-Nio sendiri adalah kekasih Siauw-Coa-Ong Giam Kin yang tewas di Thai-San-Pai, tentu nyonya galak itu memusuhi Thai-San-Pai, terutama memusuhi Tan Beng San.
Orang ke dua adalah Bouw Si Ma, murid Pak Thian Locu yang juga tewas di Thai-San ketika bertanding melawannya (baca Rajawali Emas).
Adapun Ang Hwa Sam Ci-moi, tiga orang wanita sakti yang juga menjadi tamu dan sahabat Ching Toa-Nio, adalah adik-adik seperguruan dari Hek Hwa Kui-bo yang merupakan musuh besar Tan Beng San pula.
Hanya Ka Chong Hoatsu dan Pangeran Souw Bu Lai yang tidak mempunyai permusuhan secara langsung dengan Thai-San-Pai, akan tetapi menilik hasil yang dicapai para penyerbu, bukanlah hal yang dapat disangsikan lagi bahwa kakek Mongol itu tentu ikut pula membantu.
Bagaimana dengan Bun Wan putera Ketua Kun-Lun-Pai yang dahulu juga berada di Ching-Coa-To?
Apakah ia ikut pula membasmi Thai-San-Pai?
Tak mungkin dan Kun Hong menjadi lega hatinya ketika teringat bahwa ketika dia merampas kembali Mahkota di Pulau Ching-Coa-To bcrsama Hui Kauw, pemuda Kun-Lun-Pai itu berada di sana sedangkan Ching Toa-Nio dan semua orang kosen tidak berada di pulau itu.
Ini hanya berarti bahwa mereka sedang pergi menyerbu ke Thai-San-Pai dan pemuda Kun-Lun itu tidak ikut.
"Hemmm, sewaktu-waktu aku akan membalaskan penasaran ini dan akan menghadapi mereka seorang demi seorang."
Pikirannya mengingat tokoh-tokoh tadi.
Akan tetapi sekarang dia tidak lagi dipanaskan oleh dendam dan sakit hati, kalau dia berniat melawan mereka, adalah karena dia yakin bahwa mereka itu bukanlah orang baik-baik.
Hal ini dapat dibuktikan daripada sepak terjang mereka terhadap dirinya ketika di Pulau Ching-Coa-To, juga mengingat akan tokoh-tokoh yang mereka balaskan sakit hatinya adalah tokoh-tokoh jahat seperti Hek Hwa Kui-bo dan Siauw-Coa-Ong Giam Kin, maka tak perlu diragukan lagi bahwa mereka tentu termasuk golongan hitam yang selalu ditentang oleh para pendekar yang menjunjung tinggi kegagahan, kebenaran dan keadilan.
Bulan purnama sudah mulai naik ke atas puncak pohon-pohon di sebelah Timur dan hawa malam makin dingin.
Api unggun yang tadi masih bernyala gembira itu mendatangkan kehangatan yang nikmat selain mengusir nyamuk.
Tiba-tiba Rajawali Emas mengeluarkan suara melengking.
Kun Hong kaget dan biarpun dia masih duduk bersila di atas cabang, namun seluruh perhatiannya dia tujukan kepada pendengarannya.
Suara Burung itu menandakan bahwa dia marah dan curiga, dan hal ini hanya bisa terjadi kalau Burung itu melihat orang asing mendatangi tempat itu.
Anehnya, Burung itu tiba-tiba mengubah suaranya seperti merintih dan ragu-ragu, kini berdiri di atas cabang, tidak mendekam lagi dan kedua sayapnya bergerak-gerak.
Kun Hong juga sudah dapat menangkap langkah-langkah kaki dua orang mendekati tempat itu, langkah-langkah dua orang yang mempergunakan ilmu meringankan tubuh.
Burung Rajawali makin aneh sikapnya, sebentar marah sebentar ragu-ragu, dan pada saat itu terdengar seruan seorang wanita.
"Paman Hong...!"
Suara seorang laki-laki yang nyaring menyusul.
"Betul, Paman Kun Hong dan Kim-Tiauw...!"
Bukan main girang dan kagetnya hati Kun Hong.
Dia mengenal baik suara dua orang itu.
Sin Lee dan Hui Cu!
Saking girangnya Kun Hong lalu melompat turun diikuti melayangnya Burung Rajawali itu dari atas cabang pohon.
Rajawali itu masih kelihatan curiga dan marah, akan tetapi dia tidak bergerak menyerang, apalagi melihat betapa Kun Hong segera berangkulan dengan Sin Lee dan memegangi tangan Hui Cu dengan girang sekali.
Tan Sin Lee, laki-laki yang tegap dan tampan ini adalah keponakannya sendiri, karena Ibu Sin Lee adalah mendiang Kwa Hong, kakak perempuan lain Ibu tunggal Ayah.
Sin Lee adalah putera tunggal Kwa Hong dan Tan Beng San.
Sedangkan Thio Hui Cu adalah puteri tunggal Paman gurunya, Thio Ki dan Bibi Lee Giok.
Telah kurang lebih lima tahun dia tidak bertemu dengan mereka, semenjak dia menghadiri pernikahan mereka di Hoa-San dahulu (baca Rajawali Emas).
Rajawali Emas ketika melihat betapa Kun Hong bersikap ramah terhadap dua orang itu, segera menghampiri Sin Lee dan mengeluarkan suara lirih sambil menggosok-gosokkan kepalanya pada pundak orang gagah itu.
Sin Lee merangkulnya dan suaranya terharu ketika berkata.
"Kim-Tiauw-Ko, ternyata kau tidak lupa kepadaku..."
Di dalam suaranya ini terkandung penyesalan besar mengingat akan sikapnya yang buruk terhadap Burung ini dahulu.
Dahulu, di waktu masih kecil, Burung ini adalah teman bermain Sin Lee, malah sebelum Kun Hong bertemu dengan Rajawali Emas ini, lebih dulu Sin Lee telah menjadi teman bermain-main dan berlatih silat.
Akan tetapi karena Sin Lee bersikap keras, Burung ini akhirnya meninggalkannya (baca Rajawali Emas).
"Sin Lee, Hui Cu, benar-benar amat mengejutkan kedatangan kalian ini! Sama sekali tidak pernah aku mimpi bertemu dengan kalian di tempat seperti ini. Kalian hendak ke manakah dan dari mana? Dan sudah berapa orangkah anak kalian?"
Sin Lee tertawa dan Hui Cu menjadi merah mukanya.
"Ah... Paman Hong...!"
Cela Hui Cu.
"Ha-ha-ha-ha, Hui Cu, kau masih seperti dahulu, pemalu sekali. Apa salahhya bertanya keturunan? Sudah jamak, sanak keluarga maupun handai taulan, kalau saling bertemu setelah berpisah lama, tentulah anak yang ditanyakan, bukannya harta benda. Anak-anaklah harta benda dunia akhirat yang paling berharga. Bukahkah begitu?"
"Ha-ha-ha, Paman Hong betul sekali. Anak kami hanya seorang, baru berusia empat tahun, laki-laki dan sehat."
"Wah, bagus! Tetapi kenapa masih begitu kecil sudah kalian tinggalkan?"
Dia cepat menegur.
"Kami titipkan kepada para inang pengasuh yang sudah kami percaya penuh."
Jawab Hui Cu.
"Terpaksa ditinggalkan setelah kami mendengar berita buruk dari Lo-Cianpwe Song-Bun-Kwi..."
Wajah Kun Hong menjadi sungguh-sungguh.
"Hemmm, jadi kalian sudah mendengar akan peristiwa di Thai-San itu?"
"Betul, Paman Hong. Setelah mendengar peristiwa yang menimpa keluarga Ayah, kami segera meninggalkan Lu-Liang-San. Aku berpendapat bahwa yang melakukan perbuatan biadab itu adalah musuh-musuh Ayah dahulu dan agaknya untuk mencari jejak mereka, tempat yang paling baik adalah di Kota Raja. Maka kami akan menuju ke Kota Raja. Sungguh tidak kami sangka akan bertemu dengan Paman Hong di sini."
"Berbesar hatilah kalian. Adikmu Cui San sudah tertolong, baru siang tadi aku bertemu dengannya."
"Benarkah? Di mana dia? Bersama siapa?"
Sin Lee cepat mendesak.
Kun Hong lalu menceriterakan pertemuannya dengan kakek Sin-Eng-Cu Lui Bok dan Cui Sian.
Dia hanya menceriterakan yang penting saja, yaitu tentang diselamatkannya Cui Sian, tidak menceriterakan tentang hal A Wan dan lain-lain.
"Cui Sian sudah selamat dan sekarang sementara dibawa pergi oleh Susiok. Kelak tentu akan dikembalikan kepada Ayahmu."
Lega rasa hati Sin Lee dan Hui Cu, tetapi Sin Lee dengan penasaran bertanya.
"Dan siapakah orang-orang yang menyerbu ke Thai-San?"
Kun Hong mengerutkan kening.
Dia maklum akan kepandaian dan watak Sin Lee.
Orang ini kepandaiannya cukup tinggi, akan tetapi agaknya akan berbahaya sekali kalau diberitahu bahwa musuh-musuh itu adalah orang-orang di Ching-Coa-To, karena di sana terdapat banyak sekali orang pandai.
Apalagi Sin Lee pergi bersama Hui Cu yang dia tahu tingkat kepandaiannya tidak setinggi suaminya.
Watak Sin Lee amat keras, kalau sudah tahu tentu tidak akan mau sudah kalau belum dapat membalas dendam.
Maka dia segera berkata.
"Sin Lee dan Hui Cu, tentang itu, untuk sementara ini kiranya tidak perlu kalian ketahui. Serahkan saja hal itu kepadaku karena aku pun tidak akan tinggal diam sebelum memberi hajaran kepada mereka. Soalnya memang berbelit-belit, berpangkal pada balas membalas urusan dahulu! Sekarang, ada tugas yang amat penting yang hendak kuserahkan kepada kalian, tugas yang lebih penting daripada urusan balas membalas ini. Cui Sian sudah selamat, malah Ayah dan Ibumu sudah pergi meninggalkan Thai-San-Pai, tentu akan mencari orang-orang jahat itu pula. Kebetulan sekali kalian datang sehingga dapat mewakili aku melakukan tugas ini. Bersediakah kalian?"
Semenjak dahulu, Sin Lee sudah mempunyai hati kagum dan tunduk kepada Pendekar Buta ini.
Dia maklum bahwa Pendekar Buta ini biarpun sikapnya seperti orang lemah dan bodoh, namun memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, yang sudah dia saksikan dahulu ketika terjadi adu kepandaian di Thai-San.
Pula, dia meninggalkan Lu-Liang-San memang karena terdorong kekhawatirannya akan keselamatan Cui Sian, sekarang setelah Cui Sian berada dalam keadaan selamat, memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi.
"Baiklah, Paman Hong. Urusan apakah itu, lekas beritahukan kepada kami, pasti akan kami laksanakan,"
Jawabnya.
Dengan singkat namun jelas Kun Hong menceriterakan tentang surat rahasia dari mendiang Kaisar untuk disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo di Utara, menceriterakan pula betapa surat rahasia ini dijadikan perebutan karena amatlah penting artinya.
"Mengingat akan perjuangan Paman Tan Hok yang sampai mengorbankan nyawanya itu, aku sudah mengambil keputusan akan melindungi surat ini dan menyampaikannya kepada yang berhak, biarpun untuk itu aku harus mempertaruhkan nyawa. Akan tetapi aku seorang buta, agaknya lebih sukar bagiku untuk dapat menyampaikannya kepada yang berhak. Oleh karena itu, aku minta bantuan kalian, bawalah surat ini dan sampaikanlah kepada Raja Muda Yung Lo di Utara. Tugasmu ini tidaklah ringan dan kalau sampai terpenuhi, jasamu untuk negara bukanlah kecil. Kiranya surat wasiat ini akan banyak mengurangi pertumpahan darah kalau sampai terjadi perang saudara, karena tentu para pembesar di Selatan yang masih setia kepada mendiang Kaisar, akan tunduk terhadap isi surat wasiat ini dan tidak akan membantu Kaisar muda."
Sin Lee menerima surat itu, menyimpannya dan menyanggupi untuk melaksanakan tugas itu.
"Setelah selesai tugasmu, kalian kembalilah saja ke Lu-Liang-San. Kasihan anak kalian ditinggal Ayah bundanya terlalu lama. Kelak aku pasti akan datang ke Lu-Liang-San, ingin aku memondong anakmu itu!"
Malam itu mereka bermalam di hutan, semalam suntuk tidak dapat tidur karena mereka bercakap-cakap menceriterakan pengalaman masing-masing.
Apalagi Hui Cu yang merasa amat kasihan kepada pamannya ini, membujuk-bujuk agar Kun Hong kembali ke Hoa-San dan suka memilih jodoh.
Bujukan ini hanya disambut dengan senyum pahit oleh Kun Hong yang sama sekali tidak berani berceritera tentang Hui Kauw.
Sementara itu, Sin Lee melepaskan rindunya kepada Rajawali Emas dengan mengajak Burung itu bercakap-cakap seperti dahulu ketika dia masih kecil.
Banyak dia bicara dengan Burung itu yang mendengarkan dengan terharu karena memang sudah bertahun-tahun Burung ini hidup di samping Sin Lee maka dia dapat mengerti banyak apa yang dibicarakan pendekar ini.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Sin Lee dan Hui Cu berangkat meninggalkan Kun Hong.
Tujuan mereka adalah Ibu kota di Utara.
Dengan terharu Hui Cu memegang tangan Kun Hong dan berkali-kali ia berkata dengan suara penuh permohonan agar sang Paman ini benar-benar akan segera datang menjenguk anaknya di Lu-Liang-San.
Akhirnya mereka berpisah, suami isteri itu ke Utara, sedangkan Kun Hong bersama Rajawali berjalan perlahan keluar dari hutan, hendak pergi ke Ching-Coa-To, karena Kun Hong ingin menghadapi orang-orang yang telah merusak Thai-San-Pai.
Loan Ki dan Nagai Ici dengan mudah dapat memasuki Kota Raja.
Gadis ini adalah seorang yang berwatak jujur, juga memang sedikit banyak ia membanggakan Ayahnya, maka siapa yang bertanya, ia akan mengaku terang-terangan bahwa ia adalah puteri tunggal Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui!
Justeru sikapnya ini menguntungkannya, karena begitu para penjaga pintu gerbang Kota Raja mendengar bahwa gadis itu puteri Sin-Kiam-Eng dan pemuda tampan itu seorang sahabat baiknya, tanpa banyak cerewet lagi mereka mempersilakan mereka berdua masuk tanpa diperiksa lagi.
Siapa orangnya di antara para penjaga tidak mengenal tokoh besar yang sekarang sudah menjadi seorang di antara para tokoh undangan The-Kongcu itu?
Para mata-mata dan penyelidik pun setelah tahu bahwa gadis ini adalah puteri Sin-Kiam-Eng, otomatis tidak berani sembarangan melakukan pengintaian sehingga Loan Ki dan Nagai Ici menjadi bebas dapat berkeliaran di Kota Raja tanpa ada yang mencurigainya.
Setelah melakukan perjalanan bersama Nagai Ici selama beberapa pekan ini, Loan Ki merasa makin tertarik kepada pemuda perkasa dari Jepang itu.
Memang harus diakui bahwa pemuda itu adalah seorang ksatria Jepang yang berwatak gagah dan berperibudi luhur.
Biarpun dia seorang kesatria Samurai, namun dia tidak seperti sebagian besar golongannya yang suka menghambakan diri sebagai tukang-tukang pukul bayaran.
Dia betul-betul seorang pemuda berwatak pendekar pembela kebenaran dan keadilan.
Dia banyak berceritera kepada Loan Ki tentang negerinya sehingga gadis lincah ini tertarik sekali dan beberapa kali menyatakan keinginan hatinya hendak menyeberangi lautan menyaksikan negeri aneh itu dengan matanya sendiri.
Tentu saja diam-diam Nagai Ici merasa berbahagia sekali.
Dia sudah jatuh cinta betul-betul kepada gadis yang demikian gagahnya, yang dapat mainkan pedang sedemikian hebat, mampu melawan Samurai merahnya!
Juga di sepanjang perjalanan, di waktu beristirahat, keduanya bertukar ilmu dan saling mengisi sehingga bagi Nagai Ici, mulailah dia melihat kehebatan ilmu silat yang tentu saja dapat dia jadikan bahan untuk mempertinggi ilmu pedangnya.
Kedatangan Loan Ki di Kota Raja itu terutama sekali hendak mencari Ayahnya karena ia bermaksud untuk memperkenalkan Nagai Ici kepada Ayahnya dan ingin minta kepada, Ayahnya agar supaya suka menerima pemuda Jepang itu sebagai murid.
Ketika pada hari itu ia tiba di Kota Raja dan mencari kamar di rumah penginapan, pelayan yang menyambut mereka dengan manis budi menyuruh mereka mengisi nama pada buku daftar tamu.
Dengan lagak gagah Loan Ki menuliskan namanya, ditambah "Puteri Sin-Kiam-Eng dari Pek-Tiok-Lim", sedangkan nama Nagai Ici ia tuliskan sebagai nama Han, yaitu Na Gai It!
Girang hatinya karena pengurus rumah penginapan itu serta merta memberi hormat dan berkata manis penuh hormat.
"Ah, kiranya puteri dari Tan-Taihiap (pendekar besar Tan)!"
Lalu pengurus ini membentak pelayan.
"He, mengapa kamu begini sembrono, tidak cepat-cepat menyambut kedatangan Tan-Lihiap (Pendekar Wanita Tan)? Hayo lekas antar Lihiap ke kamar yang paling besar! Totol kalian ini, apakah tidak tahu bahwa Lihiap adalah puteri Tan-Taihiap yang menjadi jagoan undangan Kaisar?"
Kalau tadinya hati Loan Ki merasa girang dan bangga, adalah kalimat terakhir itu menimbulkan penasaran dan tidak enak di hatinya.
Ayahnya menjadi jagoan undangan Kaisar.
Menjadi hamba Kaisar yang begitu buruk wataknya?
Ia masih teringat betapa orang-orang jahat menangkap-nangkapi gadis-gadis cantik untuk dijadikan selir Kaisar baru.
Malah ia bersama Nagai Ici telah membasmi orang-orang jahat yang menawan gadis-gadis itu.
Di dalam hatinya, ia sudah menjadi tidak senang kepada Kaisar baru, kenapa sekarang Ayahnya malah membantu Kaisar itu?
Akan tetapi tentu saja ia tidak menyatakan sesuatu, hanya mengikuti para pelayan dan ia minta disediakan dua buah kamar.
Malam harinya, ia bersama Nagai Ici melakukan perjalanan berkeliling Kota Raja.
Setelah mendengar bahwa Ayahnya menjadi hamba Kaisar, ia merasa ragu-ragu untuk menemuinya di Kota Raja ini.
Kebetulan sekali malam hari itu ia mendengar tentang kerIbutan yang terjadi pada hari kemarin, tentang seorang penjahat buta yang dikejar-kejar dan dikeroyok oleh para pengawal Istana.
Hatinya menjadi berdebar.
Teringat ia akan Kun Hong.
Kalau bukan Kun Hong, siapa lagi di dunia ini ada seorang buta yang demikian perkasa sehingga dikeroyok oleh pengawal-pengawal Istana?
"Wah, agaknya gawat di Kota Raja ini,"
Bisiknya kepada Nagai Ici.
"Kalau benar Hong-Ko (kakak Hong) orang buta yang dikeroyok itu, kita harus menyelidikinya dan kalau perlu menolongnya."
Dengan singkat ia, lalu menuturkan kepada Nagai Ici tentang orang buta itu.
Pemuda Jepang ini bangkit semangatnya mendengar tentang diri Pendekar Buta yang gagah perkasa itu, tidak hanya ingin membantu, malah ingin bertemu dan bersahabat.
Selama ini, baru sekali dia bertemu orang pandai, bukan lain gadis lincah inilah.
Demikianlah, pada keesokan malamnya, kembali Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelidiki sampai jauh malam.
Kemudian secara kebetulan ia mendengar rIbut-rIbut pertempuran di pondok janda Yo karena ia dan Nagai Ici berada di dekat tempat itu.
Cepat ia bersama pemuda Jepang itu lari mendekati dan alangkah terkejut hati Loan Ki ketika dia melihat bahwa orang yang dikeroyok benar-benar adalah Kun Hong sendiri.
Lebih kaget lagi hatinya ketika ia melihat Ayahnya adalah seorang di antara mereka yang mengeroyok Kun Hong.
"Kita bantu dia... wah, dia hebat...!"
Bisik Nagai Ici.
"Sssttt..."
Loan Ki menarik tangan pemuda itu dan mengajaknya menyelinap ke tempat gelap.
"jangan..."
Nagai Ici terheran-heran dan Loan Ki menjadi pucat wajahnya.
Tentu saja tidak mungkin ia membantu Kun Hong kalau Ayahnya pun berada di situ melawan Kun Hong.
Mana mungkin ia melawan Ayahnya sendiri?
Pula, ia dapat melihat betapa orang-orang yang mengeroyok Kun Hong terdiri dari orang-orang yang luar biasa tinggi kepandaiannya.
Pemuda berpedang itu, Hwesio tinggi besar itu.
Hebat mereka, tidak kalah oleh Ayahnya!
Membantu Kun Hong pun tidak akan ada gunanya.
"Wah-wah... celaka..."
Katanya, wajahnya yang pucat itu tampak bingung.
"Kenapa? Nona, kenapa kita tidak cepat membantunya? Dia hebat... luar biasa, hampir tidak dapat aku percaya seorang buta sehebat itu gerakannya..."
"Sssttttt... mari ikut aku..."
Loan Ki mengajak Nagai Ici menyelinap mengitari pondok itu.
Ia adalah seorang gadis cerdik dan ia ingin mencari kesempatan membantu secara menggelap.
Kalau perlu, dari dalam pondok itu atau dari samping pondok ia akan menggunakan senjata rahasia menyerang orang-orang yang mengeroyok Kun Hong biarpun ia tahu hal ini tidak akan banyak berarti karena musuh-musuh Kun Hong amat sakti, namun sedikitnya dapat menganggu mereka dan dapat merupakan hIburan hatinya bahwa ia sudah menolong.
Kalau saja di situ tidak ada Ayahnya, sudah pasti ia akan menyerbu dan nekat serta mati-matian mengajak Nagai Ici membantu Kun Hong.
Dengan adanya Ayahnya di situ, nyalinya kuncup dan ia tidak berani lagi!
Ketika ia menyelinap di belakang pondok, ia melihat bayangan seorang laki-laki sedang merampas sebuah benda dari tangan seorang anak laki-laki kecil yang mempertahankannya sambil berteriak-teriak.
"Lepaskan... ini punyaku, lepaskan!"
Loan Ki memandang penuh perhatian.
Waktu itu fajar hampir menyingsing dan di dalam keadaan gelap, Loan Ki serasa mengenal laki-laki yang sedang berusaha merampas benda di tangan anak itu.
Timbul amarahnya ketika orang itu mendorong si anak sampai terguling roboh.
"Serang dia, rampas benda itu!"
Katanya kepada Nagai Ici yang tidak menanti komando ke dua lagi, serta merta memekik dan menyerbu.
Loan Ki sendiri meloncat ke dekat anak itu.
Lega hatinya ketika melihat bahwa anak itu tidak terluka hanya lecet-lecet saja.
Perhatiannya kembali kepada Nagai Ici yang menyerbu orang itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan herannya ketika melihat betapa orang itu ternyata bukanlah orang sembarangan.
Buktinya Nagai Ici tidak mampu merampas benda tadi.
Jangankan merampas benda, malah sekarang mereka telah bertempur menggunakan pedang dan Si Samurai Merah nampaknya terdesak!
"Keparat, lihat pedangku!"
Loan Ki marah dan serta merta mencabut pedangnya sambil menyerbu.
Orang itu kaget menyasikkan berkelebatnya pedang di tangan Loan Ki yang amat gesit.
Dia bergerak miring, menyambut pedang Loan Ki dengan tangkisan.
"Traaanggggg!"
Loan Ki merasa tangannya tergetar dan lebih kagetlah ia ketika mengenal muka orang itu setelah kini berdekatan.
Kiranya orang itu adalah Bun Wan, pemuda Kun-Lun-Pai yang pernah ia lihat ketika ia menjadi tawanan di Ching-Coa-To!
Ia makin marah ketika sekarang mengenal pula bahwa benda yang dirampas Bun Wan dari tangan anak itu adalah Mahkota kuno yang dahulu diperebutkan di Ching-Coa-To.
"Eh, kiranya kau, keparat! Kembalikan Mahkota itu!"
Ia menerjang marah, pedangnya menjadi sinar bergulung-gulung.
Nagai Ici juga memekik dengan penasaran, menggerakkan pedang samurainya mengeroyok laki-laki itu.
Orang itu memang Bun Wan adanya, putera Ketua Kun-Lun-Pai!
Ketika dia mengenal Loan Ki dia terkejut dan tanpa banyak cakap lagi dia lalu melompat ke belakang, menggunakan Ginkangnya terus melarikan diri!
"Keparat, jangan lari!"
Loan Ki membentak dan mengejar.
Nagai Ici ikut pula mengejar.
Pemuda Jepang ini tertinggal jauh karena dalam hal ilmu lari cepat, dia kalah jauh oleh Bun Wan maupun Loan Ki.
Hal ini menyulitkan Loan Ki karena ia tidak ingin meninggalkan Nagai Ici di tempat asing dan berbahaya itu.
"Hayo, cepat kita kejar dia!"
Loan Ki menanti Nagai Ici, kemudian setelah temannya itu dekat, ia menyambar tangannya dan diajaknya membalap untuk mengejar Bun Wan.
"Wah, hebat sekali larinya. Kau kejarlah dulu, Nona, biar aku mengejar di belakang. Jangan biarkan dia minggat!"
Akan tetapi Loan Ki terpaksa memperlambat larinya.
Memang ia harus mengejar Bun Wan dan merampas kembali Mahkota itu yang amat penting Bagi Kun Hong agaknya, akan tetapi sekali-kali ia tidak mau membiarkan Nagai Ici tertinggal di tempat ini, salah-salah bisa ditangkap dan didakwa mata-mata oleh para pengawal Istana!
Karena waktu itu sinar matahari pagi sudah mulai mengusir kegelapan malam, maka biarpun tertinggal jauh, dapat juga Loan Ki melihat ke mana arah larinya Bun Wan.
Ia terus mengajak Nagai Ici mengejar dan dengan kagum ia melihat betapa Bun Wan secara nekat sudah menerjang para penjaga pintu gerbang dan pemuda Kun-Lun-Pai yang berilmu pedang lihai sekali itu ternyata berhasil lolos dari pintu gerbang dan kabur keluar Kota Raja dengan cepat!
Ketika Loan Ki dan Nagai Ici mengejar sampai di situ, gadis ini cepat berteriak membentak para penjaga yang agaknya hendak menghalangi mereka berdua.
"Tolol kalian semua! Tidak tahu aku puteri Sin-Kiam-Eng? Aku dan temanku bertugas mengejar bangsat yang kalian lepaskan tadi. Minggir, keparat!"
Para penjaga ada yang mengenal gadis ini ketika kemarin berjaga di pintu gerbang di mana Loan Ki masuk, maka mereka cepat memberi jalan Loan Ki bersama Nagai Ici mengejar terus.
Belum lama mereka mengejar, ada bayangan berkelebat dari sebelah kanan.
Loan Ki memandang dan kagetlah ia melihat bahwa bayangan itu bukan lain adalah Hui Kauw, nona muka hitam yang pernah dilihatnya di Ching-Coa-To.
Wah, agaknya orang-orang Ching-Coa-To sudah menyelundup ke Kota Raja, pikirnya.
Tentu nona itu bersekongkol dengan Bun Wan.
Tanpa banyak cakap lagi ia lalu melompat dan menerjang dengan pedangnya.
"Perempuan berhati palsu!"
Bentaknya karena ia teringat akan semua pengalamannya ketika di Ching-Coa-To, di mana wanita ini hampir dijadikan pengantin dengan Kun Hong.
Hui Kauw memang sedang mengejar Bun Wan.
Seperti telah dituturkan di bagian depan, gadis ini meninggalkan Kun Hong untuk mencari A Wan yang terlalu lama tidak juga kembali.
Ketika ia mencari di belakang pondok, ia tidak dapat menemukan A Wan karena tidak tahu di mana anak itu menyimpan Mahkota kuno.
Ia berputar-putar mencari, lalu mendengar suara rIbut-rIbut dan masih sempat melihat A Wan dikurung beberapa orang pengawal.
Hatinya kebat-kebit penuh kekhawatiran, kemudian terjadilah hal yang amat luar biasa.
Seorang kakek entah darimana datangnya, dengan gerakan ringan seakan-akan bayangan sehingga bukan merupakan manusia lumrah lagi, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah tempat itu dan sekali menggerakkan tangan dan kaki, A Wan telah disambarnya dan dibawanya pergi seakan-akan melayang!
Para pengawal melongo menyaksikan ini, kemudian maklum bahwa kakek itu tentulah seorang sakti, mereka melakukan pengejaran, namun kakek itu sudah lenyap dari pandangan mata.
Hui Kauw mengerahkan kepandaiannya, berlari cepat mengejar pula.
Ia dapat mendahului para pengawal dan dengan cepatnya ia mengejar sampai ke luar pintu gerbang.
Kakek itu seperti bukan manusia, melarikan diri bukan melalui pintu gerbang, melainkan melayang naik ke atas tembok kota yang luar biasa tinggi itu!
Dia sendiri dengan mudah dibiarkan lewat pintu gerbang oleh para penjaga.
Akan tetapi setibanya di luar tembok kota, ia tidak melihat lagi bayangan kakek aneh itu.
Selagi ia kebingungan, ia melihat seorang laki-laki berlari tergesa-gesa keluar dari pintu gerbang.
Ketika ia mengenal bahwa orang itu adalah Bun Wan dan gerak-geriknya mencurigakan, ia cepat mengejar, tidak memperhatikan lagi dua orang yang sudah mengejar lebih dahulu.
Maka dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tahu-tahu Loan Ki memaki dan menerjangnya.
"Aiihhhhh, kiranya kau di sini?"
Tegurnya seraya mengelak.
"Kau dan manusia she Bun itu bersekongkol, ya? Awas, hari ini aku tidak akan ampunkan kalian berdua!"
Seru Loan Ki mendongkol.
Memang sudah menjadi kebiasaannya untuk bersikap menang-menangan sendiri sehingga ucapannya pun jumawa sekali, padahal ia tahu bahwa baik Bun Wan maupun Hui Kauw ini, memiliki kepandaian yang melebihi dirinya!
"He, jangan sembarangan menuduh!"
Seru Hui Kauw mendongkol.
"Siapa sudi bersekongkol dengan dia itu? Aku pun hendak mengejarnya, karena dia kelihatan mencurigakan."
Sambil berkata demikian, tanpa memperdulikan Loan Ki lagi, Hui Kauw cepat mengejar Bun Wan.
Loan Ki dan Nagai Ici juga mengejar.
Dalam ilmu lari cepat, ternyata Bun Wan masih kalah setingkat oleh Hui Kauw.
Memang Ibu angkat nona ini, Ching Toa-Nio, terkenal lihai ilmu lari cepatnya yang disebut Chouw-siang-hui (Terbang di Atas Rumput) dan ilmu lari cepat yang luar biasa ini telah pula diturunkan kepada Hui Kauw.
Maka setelah lewat sepuluh li jauhnya, Hui Kauw sudah dapat menyusul Bun Wan.
Sambil mencabut pedangnya Hui Kauw berseru keras.
"Berhenti dulu!"
Nona ini sudah melihat betapa tangan kiri Bun Wan memegang Mahkota kuno itu.
"Kembalikan Mahkota itu kepadaku!"
Bun Wan memandang heran dan penasaran.
"Nona Hui Kauw, ketahuilah, aku merampas Mahkota ini untuk Ibumu!"
"Tidak perduli, kau harus serahkan kepadaku dan pergilah dengan aman." (lanjut ke
Jilid 22) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 22
"Tapi... bagaimanakah kau ini? Mahkota ini hendak kuserahkan ke Ching-Coa-To..."
"Berikan kepadaku!"
"Nona, apakah kau sekarang membalik dan memusuhi Ibumu sendiri!"
"Tak usah banyak cakap, kembalikan kepadaku!"
Bangkit kemarahan Bun Wan.
Kesempatan berhenti lari ini dia pergunakan untuk memasukkan Mahkota kuno yang tidak besar itu ke dalam saku bajunya, kemudian dia menggerakkan pedang yang sejak tadi sudah berada di tangan kanan.
"Heemmm, banyak sekali aku mengalah kepadamu. Sekarang terpaksa aku tidak dapat menyerahkan Mahkota itu kepadamu, apa yang hendak kau lakukan terhadapku?"
"Pedangku akan memaksamu!"
Bentak Hui Kauw dan pedangnya langsung bergerak melakukan penyerangan kilat.
Bun Wan cepat menangkis dan pemuda ini maklum akan kepandaian nona yang ternyata lebih lihai daripada Hui Siang ini, maka dia pun mengerahkan tenaga dan mainkan Ilmu Pedang Kun-Lun Kiam-Sut yang kuat.
Dia maklum bahwa dirinya menjadi kejaran para pengawal Kerajaan, maka dia tidak mau membuang banyak waktu lagi.
Semua jurus yang dimainkannya adalah jurus pilihan dari Kun-Lun Kiam-Sut sehingga lihainya bukan kepalang.
Dia mengira bahwa dalam beberapa jurus saja, paling banyak dalam sepuluh atau belasan jurus, dia akan sudah mampu menundukkan lawannya ini.
Akan tetapi alangkah heran, kaget dan penasarannya ketika dia menghadapi ilmu pedang yang aneh dan kuat bukan main, ilmu pedang yang jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dia kenal dimiliki oleh Hui Siang dan Ching Toa-Nio.
Hebat ilmu pedang gadis muka hitam ini, malah agaknya tidak kalah oleh kepandaian Ching Toa-Nio sendiri.
"Kau benar-benar tidak tahu orang mengalah!"
Bentaknya dan pedangnya kini melakukan penyerangan kilat yang mematikan, karena dia tidak mau memberi hati lagi, apabila setelah melihat betapa dari jauh datang berlarian dua orang yang tadi di Kota Raja sudah mengeroyoknya, yaitu nona lincah galak yang dahulu pernah dia lihat di Ching-Coa-To bersama Kun Hong, dan seorang pemuda yang dia tidak kenal, Akan tetapi yang mempunyai pedang panjang aneh serta ilmu pedang yang ganjil pula.
Menghadapi dua orang yang pernah mengeroyoknya tadi itu, dia tidak merasa gentar, akan tetapi ilmu pedang Hui Kauw ini benar-benar membuat dia pusing.
Hendak lari, selain malu, juga akan percuma saja karena tadi sudah ternyata olehnya betapa hebat ilmu lari cepat nona ini, sama dengan Hui Siang hebatnya.
Dengan seluruh kepandaiannya, Bun Wan menyerang Hui Kauw dan terasalah oleh nona ini betapa kuat ilmu pedang pemuda Kun-Lun-Pai itu.
Ia mulai terdesak, karena sungguhpun ilmu pedang rahasia yang ia pelajari itu merupakan ilmu pedang yang aneh dan luar biasa, namun selama ini ia hanya berlatih seorang diri saja, tidak pernah ia pergunakan untuk bertempur sehingga kurang berhasil sekarang.
Betapapun juga, daya pertahanan ilmu pedang ini jauh lebih kuat daripada ilmu pedang yang ia pelajari dari Ching Toa-Nio.
Sungguhpun sekarang ia mulai terdesak dan jarang dapat membalas serangan lawan, namun kiranya untuk mengalahkan ilmu pedangnya ini, membutuhkan waktu yang tidak pendek.
Sementara itu, Loan Ki dan Nagai Ici yang mengejar cepat, kini telah tiba di tempat pertempuran.
Melihat betapa Hui Kauw benar-benar bertempur melawan Bun Wan, Loan Ki segera dapat cepat mengambil fihak.
Ia memberi tanda kepada Nagai Ici dan menyerbulah mereka berdua, mengeroyok Bun Wan!
Tentu saja pemuda Kun-Lun-Pai itu menjadi repot bukan main, apalagi ilmu pedang Loan Ki terhitung ilmu pedang yang tinggi juga, gayanya indah membingungkan karena ilmu pedang ini adalah Ilmu Pedang Sian-Li Kiam-Sut.
Hanya saja nona ini belum matang betul kepandaiannya, karena memang ia anak manja yang sering kali malas-malasan untuk berlatih.
Juga ilmu pedang pemuda tampan gagah yang amat aneh itu membingungkannya, karena ilmu pedang pemuda itu memiliki daya serang yang luar biasa kuat dan berbahayanya, biarpun jarang sekali menyerang karena gayanya banyak diam menanti saat dan kesempatan, namun sekali menyerang amat mengagetkan dan membahayakan.
Pedang panjang itu lalu berkelebat seperti halilintar menyambar dan sekali terkena sabetan, tentu tubuh akan putus menjadi dua potong!
Apalagi pekiknya yang amat nyaring dan mengandung tenaga dalam, benar-benar menambah ampuhnya serangan itu.
Bun Wan mulai gelisah dan akhirnya dia dikurung rapat, menangkis kanan kiri, mengelak ke sana ke mari tanpa mampu balas menyerang.
Akhirnya dia berkata dengan suara keras.
"Kalian bertiga ini apakah sudah menjadi anjing-anjing Istana pula? Nona Hui Kauw, apakah kau selain memusuhi Ibu sendiri juga menghambakan diri kepada Kaisar?"
Marah sekali Loan Ki karena ia dibawa-bawa dalam tuduhan ini.
"Tutup mulutmu yang rusak! Siapa menjadi anjing Istana? Kembalikan Mahkota itu kepadaku. Benda itu milikku dahulu sebelum dirampas di Ching-Coa-To!"
"Hemm, manusia-manusia goblok yang hanya mengejar harta benda!"
Sambil menangkis pedang Loan Ki, Bun Wan kembali berteriak.
"Kalau kalian, menghendaki Mahkota ini, aku pun tidak membutuhkan. Akan tetapi tunggulah aku mencari sesuatu di dalamnya, setelah benda tersembunyi itu kuambil, biarlah Mahkota ini kuberikan kepadamu. Bagaimana?"
Memang yang dia perebutkan adalah surat rahasia, bukan Mahkota, maka setelah dia terdesak hebat, Bun Wan mencari akal dengan jalan damai.
Kalau surat itu sudah dapat dia temukan, untuk apakah baginya Mahkota emas ini?
Loan Ki dan Nagai Ici tidak tahu-menahu tentang surat rahasia, maka mendengar ini mereka meragu dan mengendurkan penyerangan, Loan Ki masih ingat betapa di Ching-Coa-To, pemuda Kun-Lun-Pai ini telah menolong Kun Hong dan minta kepada orang-orang Ching-Coa-To untuk membebaskan Kun Hong.
Oleh karena itu, ia pun tidak berniat membunuhnya dan kalau tidak terpaksa karena memperebutkan Mahkota emas, ia pun tidak akan memusuhi pemuda ini.
Akan tetapi tidak demikian dengan Hui Kauw.
Mendengar omongan Bun Wan itu, ia terkejut sekali.
Ia mempertahankan Mahkota kuno itu demi kepentingan Kun Hong dan ia sudah mendengar dari Kun Hong bahwa Pendekar Buta itu sama sekali tidak menghendaki Mahkota, melainkan surat rahasia yang tersembunyi di dalamnya.
Apapun juga jadinya, ia harus membantu Kun Hong, dan surat itu harus dapat ia berikan kepada Kun Hong, kalau bisa tentu saja berikut Mahkotanya.
"Tak usah banyak cakap, berikan Mahkota itu kepadaku atau... mampuslah!"
Pedangnya menyambar hebat sehingga terpaksa dengan gugup dan cepat Bun Wan menangkis sekuatnya.
"Traaaannnggggg...!!"
Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua batang pedang itu bertemu dengan kerasnya.
Alangkah kagetnya hati Bun Wan ketika tiba-tiba pedang di tangan Hui Kauw itu begitu bertemu, terus saja menyelinap dari samping dan langsung mengirim bacokan ke arah pundaknya.
Dia segera menjatuhkan diri ke kiri dan bergulingan.
Maksudnya dia hendak menggunakan cara ini untuk menjauhkan diri, dan mencari kesempatan untuk meloncat dan melarikan diri.
Akan tetapi tiba-tiba menyambar angin disusul bersiutnya sambaran pedang bersinar merah.
Dia lebih kaget lagi, cepat melompat bangun sambil menggerakkan pedang menangkis.
Itulah pedang samurai merah dari Nagai Ici yang sudah menerjangnya, disusul pedang Loan Ki.
Dalam sekejap mata saja Bun Wan sudah dikurung dan dikeroyok tiga lagi.
"Baiklah, aku akan mengadu nyawa!"
Teriak Bun Wan dan dia menjadi nekat, membalas serangan tiga orang pengeroyoknya dengan jurus-jurus terlihai.
Namun kenekatannya tiada guna, malah membahayakan karena memang tiga orang pengeroyoknya itu berada di fihak yang jauh lebih kuat.
Lewat belasan jurus, pedang Hui Kauw berhasil melukai pundaknya yang sebelah kanan.
Pada saat itu, pedang samurai merah di tangan Nagai Ici menyambar ganas ke arah lehernya.
Bun Wan tidak sempat lagi mengelak, pundaknya terasa sakit dan menghadapi berkelebatnya samurai merah itu, dia menangkis dan pedangnya terlepas dari tangan.
Tenaga Nagai Ici amat besar dan pada saat itu, pundak kanan Bun Wan sudah terluka sehingga tangan kanannya berkurang tenaganya sehingga ketika menangkis, tidak dapat dia pertahankan lagi terlepasnya pedang dari tangan.
Secepat kilat Hui Kauw menyambar dengan pedangnya, terdengar kain robek dan di lain saat Mahkota itu sudah berada di tangan si nona muka hitam dan baju Bun Wan sudah terobek ujung pedang.
Loan Ki dan Nagai Ici berbareng mengirim tusukan.
Bun Wan maklum bahwa tidak mungkin dia dapat menghindarkan dua tusukan ini, maka dia meramkan mata menanti maut.
"Traaanggg! Traanngggg!!"
Loan Ki dan Nagai Ici cepat menarik pedang masing-masing dan tangan mereka tergetar. Kiranya Hui Kauw yang menangkis senjata mereka tadi.
"Jangan bunuh dia!"
Kata Hui Kauw, suaranya gemetar.
"Dia calon suami Hui Siang..."
Loan Ki memandang tajam kepada Hui Kauw, dapat mengerti perasaan nona ini dan tidak terus menyerang.
Hui Kauw yang melihat Bun Wan menundukkan kepala akan tetapi sepasang mata pemuda itu melirik dengan penuh kekecewaan, berkata perlahan.
"Pergilah!"
Bun Wan membanting kakinya.
"Kalian tidak tahu apa yang kalian lakukan!"
Akan tetapi karena dia tidak berdaya lagi, dia memungut pedangnya lalu pergi dari tempat itu dengan cepat.
"Berikan benda itu kepadaku!"
Loan Ki berkata, kini menghadapi Hui Kauw dengan sikap mengancam.
Nagai Ici juga sudah berdiri di sampingnya, siap untuk membantu nona kekasih hatinya ini menghadapi siapa pun juga.
Hatinya mulai kagum.
Dalam waktu singkat dia telah menyaksikan banyak orang yang memiliki kepandaian hebat.
Pemuda yang dikeroyok tadi juga amat mengagumkan hatinya.
Luar biasa ilmu pedangnya.
Lalu nona muka hitam ini, bukan main.
Apalagi Si Pendekar Buta tadi yang dikeroyok banyak orang pandai.
Mulai dia merasa girang, timbul harapannya mendapatkan guru sakti seperti yang dicita-citakannya.
Melihat sikap Loan Ki, Hui Kauw tersenyum.
Ia maklum bahwa Loan Ki ini adalah sahabat baik Kun Hong, maka tentu saja ia tidak mau memusuhinya.
Dengan halus ia berkata.
"Adik Loan Ki, ketahuilah, Mahkota ini kuperebutkan untuk kuserahkan kepada Kun Hong."
Tiba-tiba mukanya yang menghitam itu menjadi gelap karena ia merasa jengah menyebutkan nama ini di depan Loan Ki yang dahulu menyaksikan peristiwa pengantin gagal di Ching-Coa-To.
"Kau bohong! Kulihat tadi Kun Hong dikeroyok dan hampir celaka oleh banyak orang pandai, kau tidak membantunya malah memperebutkan Mahkota."
Kaget sekali hati Hui Kauw mendengar ini.
"Betulkah itu? Siapa yang mengeroyoknya?"
"Kulihat seorang Hwesio kosen, seorang laki-laki hitam, seorang pemuda berpedang dan... dan..."
Loan Ki tergagap karena berat rasa lidahnya untuk menyebut nama Ayahnya.
"Dan Ayahmu juga?"
Hui Kauw menegas dengan muka berubah pucat dan hati berdebar penuh kecemasan.
Celaka kalau Kun Hong sudah dilihat musuh dan dikeroyok.
Pantas saja A Wan juga diganggu, kiranya para jagoan Istana sudah datang.
Ia tahu bahwa pasti Ayah Loan Ki, Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui juga ikut pula mengeroyok, biarpun Loan Ki diam saja namun sinar mata gadis lincah itu nampak gugup dan malu.
"Adik Loan Ki, kau berfihak siapakah? Kun Hong atau Ayahmu?"
Tiba-tiba Hui Kauw bertanya dengan sungguh-sungguh. Bingunglah Loan Ki ditanya begini oleh Hui Kauw.
"Ah... aku tidak bisa memilih..."
Akhirnya ia menjawab juga.
"Kalau tadi aku tidak melihat Ayah di sana, pasti aku ajak temanku ini membantu Kun Hong..."
Hui Kauw segera mengambil keputusan cepat.
"Bagus, adikku."
Katanya sambil memegang tangan Loan Ki yang menjadi kaget melihat perubahan sikap ini.
"Kau terimalah Mahkota ini dan kau wakililah Kun Hong. Kau tentu mau membantunya, bukan?"
Melihat Loan Ki mengangguk tanpa menjawab, Hui Kauw cepat menyambung.
"Tidak ada banyak waktu lagi. Mahkota ini mengandung sebuah surat rahasia yang menjadi perebutan. Kau wakili Kun Hong, bawa Mahkota ini ke Utara dan berikan kepada Raja Muda Yung Lo. Dengan begini tidak akan sia-sia Kun Hong mempunyai sahabat yang dia aku sebagai adik seperti kau ini, Maukah kau?"
Loan Ki adalah seorang yang jujur, ia percaya kepada Hui Kauw.
"Dan kau sendiri?"
Tanyanya.
"Kenapa bukan kau sendiri yang mewakilinya?"
"Bodoh kau! Bukankah Kun Hong dikeroyok di sana? Aku harus membantunya, aku harus menolong... suamiku...!"
Berkata begini, Hui Kauw melepaskan Mahkota di tangan Loan Ki, lalu melesat pergi dengan kecepatan kilat.
Loan Ki melongo sampai lama.
Ketika Nagai Ici menegurnya, barulah ia sadar.
Cepat-cepat Mahkota itu ia simpan dalam buntalan pakaian.
"Jadi Pendekar Buta yang gagah itu adalah suami nona muka hitam ini, nona Loan Ki?"
"Bukan... bukan... oh... begitulah agaknya..."
Jawabnya tidak karuan. Kemudian ia memandang tajam kepada jago muda Jepang itu.
"Nagai Ici, aku akan memenuhi permintaannya. Aku akan membawa Mahkota ini ke Utara, akan kusampaikan kepada Raja Muda Yung Lo. Apakah kau suka ikut denganku?"
Serta merta Nagai Ici mengangguk.
"Tentu saja, Nona, Ke mana pun kau pergi, kalau kau menghendaki, tentu aku menyertaimu. Malah... kalau kau mengijinkan, aku... aku akan membantumu dalam segala hal, biar kupertaruhkan nyawaku, selamanya..."
Kaku dan tidak karuan kalimat yang keluar dari mulut Nagai Ici, karena sukar sekali dia mengeluarkan isi hatinya yang berdebar-debar itu dengan bahasa yang belum dikuasainya benar-benar.
Sepasang mata yang jeli itu melebar, kemudian meledaklah ketawa dari mulut yang berbibir manis mungil dan merah segar itu, yang segera ditutupnya dengan tangan.
"Kau lucu... hi-hik. Tapi kau baik sekali, Nagai Ici. Mulai sekarang, jangan sebut aku dengan nona-nonaan segala, cukup sebut namaku saja."
Dengan hati penuh kebahagiaan, Nagai Ici mengangguk-angguk. Akan tetapi mukanya berubah ketika dia melihat ke belakang Loan Ki dan cepat dia menuding.
"Lihat, siapa mereka?"
Loan Ki cepat membalikkan tubuh dan melihat beberapa orang berlari cepat sekali dari arah Kota Raja. Ada empat orang yang berlari cepat ini dan melihat cara mereka berlari, kagetlah Loan Ki.
"Cepat, kita harus segera pergi. Mereka itu jagoan-jagoan Istana yang mengejar!"
Para pengejar itu masih terlalu jauh sehingga Loan Ki tidak dapat melihat siapa adanya mereka.
Akan tetapi dengan hati kebat-kebit ia menduga apakah Ayahnya juga terdapat di antara mereka yang mengejarnya itu.
Tanpa banyak cakap lagi ia menyambar tangan Nagai Ici dan berlari-larilah kedua orang muda itu menuju ke Timur.
Celakanya, empat orang itu kini memutar arah dan jelas bahwa mereka itu mengejar dua orang muda ini.
Lebih payah lagi, jalan menuju ke Timur ini melalui tegal rumput yang gundul, tidak ada pohonnya sama sekali sehingga mereka berdua mudah tampak dari jauh.
Di depan, kurang lebih lima li dari situ, kelihatanlah sebuah hutan yang hijau tebal.
Melihat hutan di depan ini Loan Ki mengajak Nagai Ici mempergunakan seluruh kekuatan untuk berlari cepat karena kalau sampai mereka berdua dapat mencapai hutan sebelum tersusul, mereka akan mendapatkan tempat bersembunyi.
Sampai tersengal-sengal napas kedua orang muda itu karena mereka menggunakan tenaga melewati ukuran dalam usaha mereka membalap ini.
Nagai Ici agaknya kurang setuju dan beberapa kali sambil terengah-engah dia berkata.
"Kenapa kita harus berlari-lari seperti dikejar setan? Empat orang itu, kita lawan saja, takut apa?"
Memang, sebagai seorang pendekar, pantang baginya berlari-lari seperti ini, melarikan diri dari hanya empat orang yang mengejar mereka.
Loan Ki tadi sudah menengok beberapa kali dan jantungnya serasa hampir copot ketika ia mengenal bahwa seorang di antara empat pengejar itu adalah...
Ayahnya!
Mendengar ucapan Nagai Ici, dengan tersengal-sengal ia menjawab.
"Kau tahu apa...? Seorang di antara mereka adalah Ayah!"
Nagai Ici terkejut, akan tetapi anehnya, dia malah mengendurkan larinya.
"He, hayo lari cepat. Bagaimana sih engkau ini?"
Nagai Ici tersenyum, tampan sekali.
"Kau aneh, Nona... eh, Loan Ki. Kalau dia Ayahmu, mengapa takut setengah mati? Bukankah kita pergi ke Kota Raja justeru untuk mencari beliau?"
Dengan habis sabar Loan Ki menggoyang-goyang kepalanya sehingga rambutnya yang awut-awutan karena dipakai berlari itu kini sebagian menutupi pipinya, manis sekali.
Ia menyambar tangan Nagai Ici lagi dan ditariknya untuk berlari lebih cepat.
"Kau tidak tahu...! Ayah membantu mereka, membantu Kaisar..."
Nagai Ici tidak mengerti.
"Biarpun begitu, masa hendak menyerang anak sendiri? Takut apa?"
"Iiihhhhh, bodohnya! Aku tidak takut mereka menyerangku, tetapi aku takut mereka merampas Mahkota ini. Hayo!"
Nagai Ici mulai mengerti dan dia mau berlari lebih cepat lagi.
Diam-diam dia bingung juga.
Benar-benar kacau-balau.
Sang Ayah membantu Kaisar, si anak memusuhinya.
Bagaimana ini?
Mana yang benar?
Apapun juga jadinya, dia akan membantu dan membela Loan Ki, salah atau benar!
"Heeeiiiii...
Loan Ki...!
Berhenti...!!"
Tiba-tiba terdengar suara bentakan Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui.
Loan Ki pucat.
Mereka sudah tiba di pinggir hutan, tetapi suara Ayahnya sudah dekat di belakang.
Ketika ia menengok ternyata empat orang pengejar itu sudah dekat.
Tak mungkin dapat bersembunyi lagi, biarpun sudah tiba di pinggir hutan.
Loan Ki putus asa dan terpaksa ia berhenti, membalikkan tubuh, tangan Nagai Ici ia lepaskan, sepasang matanya yang jeli bersinar-sinar memandang ke depan.
Nagai Ici juga berdiri tegak, dadanya yang bidang turun naik karena napasnya memburu.
Dia pun bersiap-siap membela nona itu, mempertaruhkan segalanya.
Empat orang pengejar itu bukan lain adalah tokoh-tokoh Istana, Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui, Lui-Kong Thian Te Cu, Bhok Hwesio dan It-To-Kiam Cui Hwa!
Cepat sekali gerakan mereka dan dalam beberapa menit saja mereka sudah tiba di situ, dan tidak seorang pun di antara mereka yang terengah-engah seperti halnya Loan Ki dan Nagai Ici.
Empat orang ini tadinya mengejar keluar Kota Raja ketika melihat Rajawali Emas membawa lari Kun Hong.
Sebelum keluar dari Kota Raja, mereka mendengar pula dari beberapa orang pengawal Istana tentang Mahkota kuno yang katanya dirampas oleh seorang laki-laki tidak dikenal dan yang dikejar oleh sepasang orang muda, yaitu puteri Sin-Kiam-Eng dan temannya.
Mendengar ini, Tan Beng Kui terkejut.
Tak disangkanya bahwa Loan Ki sudah berada di Kota Raja, bersama seorang pemuda tampan gagah, siapakah pemuda itu?
Karena khawatir akan keadaan anaknya, maka dia lalu mengejar, bersama tiga orang itu yang juga ingin mengejar Kun Hong.
"Loan Ki, kenapa engkau berlari-lari?"
Ayahnya bertanya, suaranya bengis dan matanya menatap wajah puterinya dengan tajam, lalu mengerling penuh curiga kepada pemuda tampan di sebelah puterinya.
Diam-diam dia harus mengakui bahwa pemuda itu tampan dan gagah, dengan pedang panjang yang melengkung dipinggang.
Pemuda yang sama tidak dikenalnya.
"Ayah... aku... aku menyusul Ayah ke Kota Raja dan..."
"Omitohud, kiranya puteri Tan-Sicu? Benar-benar hebat, Ayah harimau anak pun harimau pula. Nona, apakah kau sudah berhasil merampas Mahkota kuno itu?"
Tanya Bhok-Hwesio sambil tertawa bergelak dan matanya yang lebar memandang ke arah buntalan pakaian di punggung Loan Ki.
Buntalan itu menjendol dan mencurigakan.
Loan Ki tidak menjawab, pura-pura tidak mendengar pertanyaan ini, matanya menatap wajah Ayahnya, penuh permohonan dan pengharapan.
Akan tetapi wajah Tan Beng Kui dengan bengis tidak memberi hati kepadanya, malah terdengar orang tua itu bertanya.
"Loan Ki kau dengar pertanyaan Bhok Lo-Suhu? Mana Mahkota itu, apakah kau sudah merampasnya?,"
Biarpun ia sudah biasa dimanja, namun Loan Ki selamanya tak pernah berbohong kepada Ayahnya karena Ayahnya amat benci kepada kebohongan dan semenjak kecil menanamkan dalam hati anaknya agar tidak suka berbohong.
"Sudah, Ayah. Akan tetapi Mahkota kuno ini adalah milikku. Dahulu akulah yang merampasnya dari tangan para perampok, dan kini sudah kembali kepadaku. Benda itu punyaku, Ayah. Sungguh, punyaku dan tidak boleh diminta orang lain!"
Sin-Kiam-Eng cukup mengenal watak puterinya. Jujur dan keras hati. Sekali berkata tidak boleh, tentu akan mempertahankannya! Dia menjadi ragu-ragu dan berkata kepada Bhok Hwesio.
"Ada betulnya juga ucapan anak ini. Benda itu dahulu lenyap, lalu terjatuh ke tangan perampok dan anakku yang merampasnya."
Bhok Hwesio tertawa pula.
"Menurut The-Kongcu, yang penting bukanlah Mahkotanya, melainkan surat yang tersimpan di dalamnya. Nona, biarkan Pinceng (aku) memeriksa sebentar Mahkota itu, untuk mencari surat rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Pinceng hanya membutuhkan surat itu, kalau sudah terdapat, biarlah benda emas itu Pinceng berikan kepadamu untuk main-main. Ha-ha-ha!"
Loan Ki mengerutkan kerungnya.
Ia pun bukan seorang bodoh.
Ia tahu bahwa Kun Hong mempertahankan Mahkota itu bukan semata-mata karena emasnya, melainkan karena rahasia yang dikandungnya itulah.
Susah payah Mahkota itu hendak disampaikan kepada Raja Muda Yung Lo, tentu saja bukan karena benda itu terbuat daripada emas berharga, melainkan karena hendak menyampaikan surat rahasia itulah.
Sekarang surat itu hendak diambil, habis untuk apa Mahkota itu dibawa-bawa ke Utara?
Apa kepentingannya lagi kalau suratnya sudah diambil?
"Siapa percaya omonganmu?
Aku tidak mengenalmu!"
Jawabnya sambil memandang Hwesio itu dengan sinar mata berapi, sedikit pun juga tidak memperlihatkan rasa takut.
"Ha-ha-ha, betul-betul anak harimau! Nona, Pinceng adalah sahabat baik Ayahmu, masa kau tidak percaya?"
Kata Hwesio itu.
"Loan Ki, kau berikan Mahkota itu untuk diperiksa oleh Bhok-Lo-Suhu."
Loan Ki merengut dan menepuk-nepuk buntalan di punggungnya.
"Ayah, aku mendapatkan ini dengan susah payah, dengan pedang dan dengan bahaya maut. Masa sekarang orang lain begini mudah hendak menerimanya dariku? Aku mendapatkannya mengandalkan kepandaian, masa orang lain tanpa mengandalkan kepandaian boleh mengambil begitu saja? Ayah, di mana kehormatan kita?"
"Omitohud, benar-benar cerdik dan gagah anakmu, Tan-Sicu. Eh, saudara Lui-Kong Thian Te Cu, maukah kau mewakili kita memperlihatkan sedikit kepandaian kepada Nona ini untuk memindahkan Mahkota itu ke tangan kita?"
Lui-Kong Thian Te Cu terkekeh ketawa, kemudian melangkah maju.
Loan Ki memandang tajam.
Kalau saja keadaannya tidak begitu menegangkan hati, tentu ia sudah tertawa geli melihat orang ini.
Seorang kakek bertubuh pendek gemuk tetapi tangannya panjang sekali sampai hampir mencapai tanah, mukanya bulat seperti muka kanak-kanak.
Mau apakah badut ini, pikirnya.
"Nona, kepandaian manusia tiada batasnya, tetapi kau hendak main-main, dengan kepandaian. Jangan katakan aku orang tua keterlaluan terhadapmu kalau terpaksa aku menggunakan kebodohan untuk mengambil Mahkota itu dari punggungmu. Tan-Sicu, maafkan aku, bukan maksudku menghina puterimu. Nona, awas!"
Tiba-tiba tangannya yang kanan terulur panjang, tangan itu bergerak cepat dan tahu-tahu sudah melewati kepala Loan Ki dan melengkung hendak merenggut buntalan dari punggung!
Loan Ki terkejut sekali dan cepat ia menggerakkan kaki mengelak.
Berkat ilmu langkah ajaib yang ia pelajari dari Kun Hong, dengan tiga kali gerakan kaki ia dapat berhasil membebaskan diri dari kurungan lengan panjang itu.
"Ho-ho-ho, kau hebat, Nona!"
Kata Thian Te Cu yang kini tidak berani memandang rendah lagi, tubuhnya berkelebat dan bagaikan seekor Burung menyambar-nyambar, dia berusaha merenggut buntalan dari punggung Loan Ki.
"Jangan kurang ajar!"
Tiba-tiba Nagai Ici membentak dan sekali dia menggerakkan kedua tangannya, dia sudah berhasil menangkap kakek itu dan di lain saat kakek itu sudah terlempar ke udara oleh ilmu gulatnya.
Hebat kejadian ini, sampai-sampai membuat Bhok Hwesio, Tan Beng Kui dan Gui Hwa melongo saking kaget dan herannya, mengira bahwa pemuda teman Loan Ki itu sedemikian saktinya sehingga Thian Te Cu yang demikian lihai itu dalam segebrakan saja dapat dilempar ke udara!
Padahal kejadian itu bisa timbul karena Thian Te Cu terlalu memandang rendah kepada pemuda ini dan tidak mengenal keanehan ilmu gulat Jepang sehingga tanpa dapat dia pertahankan lagi, kakek gemuk pendek ini melayang ke udara seperti sebuah peluru kendali.
Akan tetapi segera Thian Te Cu dapat menguasai kekagetannya dan dengan cekatan dia dapat melayang turun kembali lalu tiba-tiba dia menyerang Nagai Ici.
Pemuda Jepang ini karena marah hendak melindungi Loan Ki, menyambut serangan si kakek dengan kepalan tangannya.
Akan tetapi kali ini dia kaget, karena begitu kepalan tangannya bertemu dengan telapak tangan kakek itu, dia berteriak kesakitan dan menarik kembali tangannya yang sudah menjadi bengkak.
Sambil meringis kesakitan Nagai Ici memegangi kepalan tangan kiri itu dengan tangan kanannya.
"Kakek jahat, berani kau melukai temanku!"
Loan Ki berseru dan kini ia sudah mencabut pedang, langsung ia menerjang Thian Te Cu.
Namun kakek yang lihai ini sudah bersiap sekarang.
Dengan gerakan aneh dia miringkan tubuhnya, tangan kirinya diulur mencengkeram tangan Loan Ki yang memegang pedang.
Gadis itu kaget, cepat menarik kembali pedangnya, akan tetapi tiba-tiba ia merasa betapa buntalan di punggungnya sudah direnggut orang.
Ketika ia menoleh, kiranya tangan kanan yang panjang dari Thian Te Cu sudah berhasil merampas buntalan itu.
Kini kakek itu sambii terkekeh-kekeh menyerahkan Mahkota kepada Bhok Hwesio dan melemparkan buntalan pakaian kembali kepada Loan Ki yang menyambutnya dengan uring-uringan.
"Bagaimana tanganmu?"
Ia menghampiri Nagai Ici yang memperlihatkan kepalan tangan kiri yang membengkak.
Loan Ki mengurut pergelangan lengan itu beberapa kali dan sebentar saja bengkak itu mengempis.
Memang tangan Nagai Ici itu tidak terluka, hanya keseleo saja ketika bertemu dengan telapak tangan Thian Te Cu yang mengandung tenaga Lweekang amat kuat.
Diam-diam Sin-Kiam-Eng menyaksikan semua peristiwa itu dan jantungnya serasa tertikam ketika dia menyaksikan sikap mesra Loan Ki terhadap si pemuda, dan dia pun terharu menyaksikan betapa pemuda aneh itu tadi tanpa mengukur kepandaian sendiri sudah berani membela Loan Ki mati-matian.
Sementara itu, Bhok Hwesio sudah mulai memeriksa Mahkota.
Diputar-putar ke sana ke mari, lalu diperiksa sebelah dalamnya.
Dipencet sana, pencet sini, akan tetapi tidak dapat dia menemukan sesuatu.
Dengan kening berkerut Hwesio itu lalu menggunakan tenaga tangannya yang luar biasa, sekali dia berseru keras, kedua tangannya sudah mematahkan Mahkota menjadi dua!
Dia memeriksa secara teliti dan tampaklah olehnya tempat rahasia di dalam Mahkota yang sudah kosong!
"Omitohud...
orang muda hendak mengakali orang tua!"
Dia melemparkan potongan Mahkota ke atas tanah dan kini memandang kepada Loan Ki dengan muka merah.
"Nona, di dalam Mahkota ini terdapat surat rahasianya, sekarang ternyata sudah kosong. Harap kau jangan main-main dan lekas serahkan surat itu kepada Pinceng."
Loan Ki sendiri heran dan penasaran ketika melihat bahwa Mahkota itu ternyata tidak mengandung sesuatu.
Hampir saja ia melakukan perjalanan jauh dengan sia-sia.
Apa artinya ia membawa benda itu jauh-jauh ke Utara kalau ternyata tidak ada apa-apanya?
Siapakah yang telah mengambil isi Mahkota itu?
"Aku tidak tahu tentang surat-surat segala,"
Katanya. Bhok Hwesio menoleh kepada It-To-Kiam Gui Hwa.
"It-To-Kiam Lihiap, sepantasnya kau seorang wanita yang menggeledah Nona ini. Tentu surat itu telah diambil dan disimpannya."
It-To-Kiam Gui Hwa adalah seorang wanita berusia lima puluh tahun lebih, tubuhnya kecil kurus, gerak-geriknya gesit.
Ia melangkah maju dan siap menggeledah tubuh Loan Ki.
Nona ini mengerutkan keningnya.
"Jangan sentuh aku!"
Bentaknya.
"Nona cilik, harap kau jangan mempermainkan kami orang-orang tua. Serahkan saja surat itu daripada aku terpaksa harus menggunakan kekerasan."
Gui Hwa mengancam.
"Ayah, apakah kau membiarkan saja anakmu dihina orang?"
Loan Ki menjerit sambil memandang Ayahnya. Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui bingung. Tentu saja dia pun tidak senang melihat puterinya didesak begitu rupa dan diperlakukan dengan cara menghina.
"Loan Ki, kalau kau memang mengambil surat itu, kau serahkan saja, jangan kau mencampuri urusan negara ini,"
Katanya dengan suara bengis dan berpengaruh.
"Aku tidak tahu menahu tentang surat, Ayah,"
Kata Loan Ki, suaranya tegas karena memang ia tidak membohong.
"Lebih baik kau berterus terang, Nona. Jangan main-main!"
It-To-Kiam Gui Hwa mengancam.
"Nenek buruk, aku sudah berterus terang, tidak tahu-menahu tentang surat itu. Kau mau apa?"
Bentak Loan Ki.
"Baik, kalau begitu jangan salahkan aku kalau pedangku akan merobek-robek bajumu dan menelanjangimu di sini."
Gui Hwa berseru marah sambil mencabut pedangnya yang tipis dan panjang.
"Srattttt!"
Loan Ki juga mencabut pedangnya dan berkata kepada Ayahnya dengan suara getir.
"Ayah, kalau kau membiarkan anakmu dihina orang, biarlah sekarang pedangku yang akan melindungiku, lihatlah betapa anakmu tidak akan membiarkan begitu saja dihina orang!"
Tan Beng Kui bingung, akan tetapi tidak tahu harus berbuat apa.
Sementara itu, Gui Hwa sudah menerjang maju menggerakkan pedangnya dengan maksud merobek-robek pakaian Loan Ki agar surat yang disembunyikan dapat dirampas, karena kalau digeledah begitu saja gadis ini tentu tidak akan mau menyerah.
Loan Ki dengan marah juga menggerakkan pedang sehingga dua orang wanita tua dan muda ini sudah bertempur dengan hebat, seru dan mati-matian.
"Jangan hina Loan Ki!"
Nagai Ici yang sudah sembuh tangan kirinya, ternyata sudah mencabut pedang samurainya dan kini maju hendak membantu Loan Ki. Sikapnya garang dan bersemangat seperti seekor singa muda.
"Ho-ho-ho, pemuda sombong, jangan bergerak!"
Lui-Kong Thian Te Cu melompat ke depan, menghadang gerakan Nagai Ici dan dia pun sudah mengeluarkan senjatanya yang aneh, yaitu sebatang tanduk seperti tanduk rusa yang panjangnya kurang lebih empat kaki, runcing dan bengkok-bengkok.
Dengan gerakan cepat dia mendahului pemuda ini, mengirim pukulan dengan senjata aneh ini ke arah pundak kanan untuk membuat tangan pemuda itu lumpuh.
Dia pun sama sekali tidak berniat membunuh pemuda ini, hanya untuk merobohkan dan mengalahkannya.
"Trrraaanggg... singgg... Hiaaaaattttt!!"
Kaget bukan main Lui-Kong Thian Te Cu.
Seperti juga tadi, kali ini dia dibikin kaget oleh gerakan aneh pemuda ini karena begitu menangkis, pedang panjang itu langsung saja menyambarnya dengan kecepatan luar biasa dan tenaga yang amat kuat.
Hampir saja dia celaka oleh serangan balasan yang otomatis dari Nagai Ici ini, karena kalau dia tidak cepat-cepat membuang diri ke belakang dan lehernya terkena sambaran pedang panjang itu, tentu sekarang dia sudah menjadi setan tanpa kepala.
"Wah-wah, ilmu pedang ganas seperti iblis mengamuk! Kau ini orang apakah?"
Bentak kakek itu yang cepat menerjang kembali, kini dengan hati-hati sekali mainkan senjatanya yang aneh.
Karena memang tingkat kepandaian kakek ini jauh lebih tinggi daripada Nagai Ici, sebentar saja jago muda Jepang itu sudah menjadi repot sekali, terpaksa menggerakkan pedang samurainya ke sana sini untuk menangkis tanduk rusa yang lagaknya sudah berubah menjadi puluhan batang banyaknya, mengurung dirinya dari segala penjuru.
Juga Loan Ki amat repot menghadapi pedang It-To-Kiam Gui Hwa.
Nenek ini adalah seorang tokoh Kun-Lun-Pai dan dalam hal ilmu pedang, kepandaiannya malah lebih matang daripada kepandaian Bun Wan.
Tentu saja tingkatnya jauh lebih tinggi daripada Loan Ki dan dengan mudah saja nenek ini mempermainkan Loan Ki yang terpaksa mempergunakan langkah ajaib untuk menyelamatkan diri.
Namun, mana bisa orang bertempur hanya main tangkis dan kelit saja?
Kalau diteruskan, akhirnya ia tentu akan celaka, akan terobek bajunya dan mengalami hinaan yang hebat.
Melihat keadaan itu, Tan Beng Kui menjadi lemas kaki tangannya, jantungnya berdebar dan kerongkongannya terasa kering.
Tiba-tiba terdengar suara keras dan...
pedang samurai di tangan Nagai Ici sudah terlempar ke atas dan jatuh menancap tanah, sedangkan pangkal lengan kanan pemuda itu sendiri sudah terluka oleh pukulan senjata Thian Te Cu.
Pukulan keras yang membuat lengan itu serasa lumpuh dan pemuda ini hanya berdiri memegangi lengannya, tidak dapat berdaya lagi menghadapi kakek yang lihai itu.
Thian Te Cu tertawa-tawa bergelak atas kemenangannya.
Akan tetapi, melihat betapa Loan Ki didesak hebat oleh Gui Hwa, Nagai Ici mengeluarkan pekik menyeramkan dan dengan tangan kosong dia maju menyerbu, menerkam Gui Hwa tanpa memperdulikan keselamatannya sendiri!
Gui Hwa terkejut sekali, cepat menghindar, namun ujung bajunya kena dipegang oleh Nagai Ici dan terdengar suara keras ketika baju itu terobek oleh cengkeraman pemuda ini.
Baju robek menjadi dua sehingga tampaklah pakaian dalam nenek itu.
Dasar Loan Ki seorang yang nakal.
Melihat ini, saking girangnya karena Nagai Ici ternyata berani mati membelanya, ia mengejek.
"Hi-hik, nenek buruk, baju siapakah yang robek?"
Gui Hwa menjerit marah, pedangnya berkelebat ke arah dada Nagai Ici merupakan tusukan maut.
Kini ia tidak main-main lagi.
Tadi sengaja ia tidak mau melukai Loan Ki, hanya berusaha mendesaknya dan mencari kesempatan Untuk merobek-robek pakaiannya.
Sekarang dalam kemarahannya, ia menggunakan jurus mematikan untuk membalas perbuatan Nagai Ici yang ia anggap penghinaan besar itu.
Agaknya pemuda ini tidak akan mampu mempertahankan dirinya lagi.
Baiknya Loan Ki yang melihat bahaya ini, cepat menangkis pedang Gui Hwa sehingga Nagai Ici terlepas daripada bahaya maut.
"Minggirlah, kau sudah terluka..."
Pinta Loan Ki sambil mendorong pemuda itu ke pinggir.
Ia sendiri menghadapi Gui Hwa yang kini menyerangnya tanpa sungkan-sungkan lagi.
Semua jurus yang ia lancarkan dalam penyerangan ini adalah jurus yang mengandung hawa maut, tidak main-main lagi seperti tadi.
Loan Ki berusaha mempertahankan diri, namun pada suatu saat ia kurang Cepat dan.
"Breett!"
Ujung bajunya terbabat putus sebagai pengganti lengannya!
Ia menjadi pucat, tetapi tetap melawan terus, biarpun ia didesak hebat.
Kembali Nagai lci meloncat dan menerkam Gui Hwa karena melihat betapa Loan Ki hampir kalah.
Dia khawatir sekali kalau-kalau gadis pujaan hatinya itu akan terluka hebat, maka dengar nekat dia menerjang lagi tanpa memperdulikan larangan Loan Ki.
Gui Hwa sudah siap, begitu melihat tubuh pemuda itu maju selagi pedangnya bertemu dengan pedang Loan Ki, ia memapaki dengan tendangan.
"Bleeeggg!"
Tubuh Nagai Ici terjengkang dan pemuda ini muntahkan darah segar.
Namun dia bangkit lagi, menekan dada dan dengan nekat dia hendak maju menerjang lagi untuk membantu Loan Ki.
Sementara itu Loan Ki yang melihat Nagai Ici tertendang, kaget dan marah sehingga perasaan ini membuat langkah-langkah ajaibnya menjadi kacau.
Pedang Gui Hwa menyambar, tak dapat ia mengelak lagi, terpaksa menerima dengan pedangnya.
Dua pedang menempel dan kedudukan Loan Ki sudah terjepit.
Gui Hwa sudah mengulur tangan kiri hendak merobek pakaian gadis itu.
"Tahan...!"
Terdengar bentakan mengguntur dan tiba-tiba Gui Hwa terjengkang ke belakang, terhuyung dan cepat menarik pedangnya bersiap-sedia.
Kiranya Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui yang mendorongnya tadi untuk menolong puterinya.
Semua orang memandang ke arah Ayah dan anak yang kini berhadapan muka.
"Ayah, kau membiarkan anakmu dihina orang, sekarang kau mau apa? Aku tidak tahu menahu tentang surat, dan aku tidak sudi digeledah, lebih baik mati!"
Loan Ki berkata dengan sikap menantang, lehernya tegak, kepala dikedikkan, sepasang mata bersinar-sinar akan tetapi air mata mengalir turun ke atas kedua pipinya, Bibirnya pucat tetapi digigitnya sendiri untuk memperkuat kenekatan hatinya.
"Loan Ki, berani kau bersumpah bahwa kau tidak tahu menahu akan surat rahasia itu?"
Bentak Ayahnya.
"Aku bersumpah, demi arwah Ibu!"
Terpukullah hati Beng Kui mendengar sumpah ini, diingatkan dia bahwa puterinya ini semenjak kecil tidak lagi ditunggui Ibunya.
Hatinya perih sekali dan tiba-tiba dia menoleh kepada Nagai Ici yang masih berdiri tegak dengan muka pucat, tetapi dengan sikap nekat membela Loan Ki.
"Siapa dia?"
Tanya Sin-Kiam-Eng.
"Dia sahabat baikku, Ayah, tadinya hendak kubawa kepadamu agar menjadi muridmu. Dia bernama Nagai Ici."
"Apa...? Seorang Jepang? Bajak laut...?"
Tan Beng Kui kaget sekali, kaget dan kecewa.
"Siapa bilang dia bajak laut?"
Loan Ki juga berteriak, tidak kalah nyaringnya dengan suara Ayahnya.
"Dia adalah seorang pendekar, berjuluk Samurai Merah! Dia seorang gagah yang datang ke sini dengan maksud mencari guru yang pandai. Dia sahabatku, Ayah, dan buktinya tadi, kalau Ayahku sendiri tidak perduli akan keadaanku, dia membantuku mati-matian!"
Tan Beng Kui menundukkan kepala, menarik napas panjang, lalu berpaling kepada Bhok Hwesio.
"Bhok-Lo-Suhu, anakku tidak membawa surat itu. Aku minta supaya dia dan sahabatnya dilepas dan jangan diganggu lagi."
"Hemmm, mana mungkin begitu, Sicu? Pinceng pernah mendengar dari pengawal Istana Tiat-Jiu Souw Ki bahwa yang merampas Mahkota dahulu dari tangannya adatah puterimu inilah, dibantu oleh Kun Hong si pemberontak buta. Jelas bahwa anakmu ini membantu para pemberontak. Mana bisa Pinceng percaya bahwa surat itu tidak berada padanya? Kalau memang sudah digeledah tidak ada, biarlah Pinceng memandang persahabatan di antara kita dan Pinceng perbolehkan dia pergi."
"Bhok-Lo-Suhu, apakah kau tidak percaya kepadaku?"
Kembali Hwesio itu tertawa dengan tenang.
"Tan-Sicu, memang biasanya, seorang gagah di dunia kang-ouw paling memegang teguh kata-kata yang keluar dari mulutnya. Akan tetapi sekarang kedudukan kita lain lagi. Kita bekerja demi keselamatan negara, dan karenanya peraturan yang berlaku juga peraturan negara, bukan peraturan kang-ouw. Sebagai petugas, mau tidak mau Pinceng harus mendahulukan kepentingan negara. Pinceng kira bagimu juga seharusnya demikian, kepentingan tugas lebih tinggi daripada kepentingan antara Ayah dan anak. Biarkan It-To-Kiam Gui Hwa memeriksanya, kalau memang dia tidak membawa surat, itu, boleh dia pergi."
"Aku tidak sudi! Lebih baik mati daripada menyerah di bawah penghinaan kalian!"
Loan Ki berseru marah.
"Jangan takut, Loan Ki. Aku membantumu, kalau perlu kita mati bersama!"
Kata pula Nagai Ici dengan tabah dan gagah. Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui kembali menghadapi puterinya, memandang tajam kepada dua orang muda itu sampai lama, kemudian suaranya terdengar menggetar.
"Nagai Ici, kau siap melindunginya dengan jiwa ragamu?"
"Siap!"
Seru Nagai Ici dengan sikap tegak.
"Kau... kau mencinta Loan Ki dengan seluruh jiwa ragamu?"
"Ya!"
Jawab pemuda itu pula, tanpa ragu-ragu.
"Aku siap mati untuk Loan Ki!"
Tan Beng Kui tersenyum getir, kemudian berkata kepada Loan Ki.
"Anakku, kau merasa bahagiakah di samping Nagai Ici?"
Merah muka yang pucat itu seketika dan air matanya deras mengalir.
"Ayah... dia baik sekali..."
Jawabnya perlahan.
"Cukup! Nagai Ici, mulai saat ini aku menyerahkan keselamatan anakku ke tanganmu. Nah, pergilah jauh-jauh dan jangan mencampuri urusanku, jangan mencampuri urusan negara lagi. Pergilah! Cepat!"
Agaknya Nagai Ici maklum akan isi hati pendekar pedang ini, dia lalu menggandeng tangan Loan Ki dan diajaknya gadis itu pergi dari tempat itu.
"He, jangan pergi dulu!"
Seru Lui-Thian Te Cu.
"Sing!!"
Sinar pedang berkelebat dan tahu-tahu Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui sudah menghadang Thian Te Cu dengan pedang di tangan dan sikapnya keren serta gagah menantang.
Sepasang matanya menyala-nyala ketika dia menatap tiga orang di depannya, Bhok Hwesio, Thian Te Cu dan Gui Hwa.
"Aku mengganti mereka dengan nyawaku! Siapa yang mengejar mereka akan berhadapan dengan pedangku."
Suaranya nyaring dan bergema, terdengar pula oleh Loan Ki yang menoleh dan menoleh lagi sambil terisak menangis, akan tetapi Nagai Ici terus menyeretnya pergi.
"Omitohud! Tan-Sicu apakah hendak memberontak?"
"Bhok Hwesio, baru kali ini kau muncul dalam urusan negara, tetapi sudah hendak membuka mulut besar bicara tentang pemberontakan? Huh, kau mau bersikap sebagai pahlawan? Dengarlah kalian bertiga!! Di jamannya mendiang Kaisar ketika masih menjadi pejuang Ciu Goan Ciang, aku Tan Beng Kui sudah menjadi pejuang mengusir penjajah Mongol. Kalian tahu apa tentang perjuangan? Sekarang kalian hanya datang dan enak-enak mendapatkan kedudukkan tinggi dan kemuliaan, sudah akan bersikap sombong menganggap diri sendiri benar? Menjemukan sekali!"
"Tan Beng Kui, kau bicara apa ini?"
Bhok Hwesio marah.
"Kalau kau memang tidak mempunyai hati memberontak terhadap Kaisar kiranya kau akan mementingkan urusan tugas, tidak memberatkan anakmu. Kau membiarkan anakmu terlepas, apa kau kira Pinceng tak dapat mengejarnya?"
"Harus melalui pedang dan mayatku!"
Teriak Tan Beng Kui marah.
"Anakku sudah bersumpah demi arwah Ibunya. Ini jauh lebih kuat, lebih penting daripada segala urusan tetek-bengek. Selama aku masih dapat menggerakkan pedang, jangan harap kalian akan dapat mengganggu Loan Ki!"
"Kau memang pemberontak! Dahulu pun pernah menjadi pemberontak, siapa tidak tahu?""
Lui-Kong Thian Te Cu berseru marah dan senjatanya tanduk rusa sudah bergerak menyerang.
Juga It-To-Kiam Gui Gwa sudah menerjang dengan pedangnya.
Sambil memutar pedang, Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui maju menghadapi dua orang itu.
Ilmu pedangnya bukan main hebatnya.
Ilmu Pedang Sin-Li Kiam-Sut yang sudah dikuasainya benar sehingga baik It-To-Kiam Gui Hwa mau-pun Lui-Kong Thian Te Cu yang lihai merasa terkesiap dan terdesak oleh sinar pedang yang bergulung-gulung itu.
"Omitohud, semua pemberontak harus dibasmi, baru aman negara!"
Seru Bhok Hwesio sambil melangkah maju.
Dia bertempur dengan tangan kosong saja, akan tetapi jangan dikira bahwa dia boleh dipandang ringan karena tidak bersenjata.
Sepasang ujung lengan bajunya merupakan sepasang senjata yang amat ampuh, kalau digunakan memukul melebihi kerasnya Ruyung baja dan kalau menotok tiada ubahnya senjata Toya.
Juga kibasan kedua tangannya sama ampuhnya dengan tabasan pedang tajam, baru angin pukulannya saja sudah mendatangkan angin dingin dan terasa tajam menusuk kulit.
Sesungguhnya ilmu pedang dari Tan Beng Kui amat hebat.
Hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dia adalah murid tertua dari mendiang Raja Pedang Cia Hui Gan yang berjuluk Bu-Tek Kiam-Ong (Raja Pedang Tanpa Tanding).
Kalau mau bicara tentang ilmu pedang, kiranya tiga orang lawan yang mengeroyoknya ini tidak akan mampu menandinginya, biarpun It-to-klam Gui Hwa juga memiliki ilmu pedang tingkat tinggi dari Kun-Lun-Pai.
Akan tetapi, ilmu pedang saja bukan merupakan ilmu yang mutlak dapat menentukan kemenangan, karena dalam banyak hal lain, dia kalah ampuh oleh tiga orang lawannya.
It-To-Kiam Gui Hwa memiliki Ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, setingkat lebih tinggi daripada ilmunya sendiri sehingga dengan keringanan tubuhnya itu, It-To-Kiam Gui Hwa dapat menutupi kekurangannya dalam hal ilmu pedang.
Lui-Kong Thian Te Cu memiliki khi-kang yang hebat, sehingga tiap kali mengeluarkan bentakan dalam pertempuran, membuat jantung Sin-Kiam-Eng Tan Beng Kui tergetar dan mengacaukan permainan pedangnya.
Lebih hebat lagi adalah Bhok Hwesio karena Hwesio ini benar-benar kosen dan gagah sekali.
Hwesio Siauw-Lim ini memiliki tenaga dalam yang hebat.
Dorongan kedua tangannya mengeluarkan angin pukulan yang selalu dapat memukul miring pedang di tangan Tan Beng Kui.
Tan Beng Kui mempertahankan diri mati-matian.
Dia maklum bahwa kalau dia terlalu cepat jatuh, keselamatan Loan Ki masih terancam bahaya besar.
Dia rela mengorbankan diri asal anaknya itu sudah lari jauh dan tidak akan dapat dikejar lagi oleh tiga orang ini.
Dia tadi sudah menyaksikan kesetiaan dan kecintaan hati pemuda Jepang itu dan hatinya lega.
Betapapun juga, dia merasa yakin bahwa sepeninggalnya, Loan Ki sudah terjamin hidupnya, sudah ada orang yang menggantikan kedudukannya, bahkan yang agaknya lebih mencintainya dengan segenap jiwa raganya.
Kenyataan bahwa pemuda itu seorang Jepang tidak mengecewakan hatinya, karena dia sudah sering kali mendengar betapa bangsa di seberang lautan itu dahulunya juga serumpun dengan bangsanya, malah dia mendengar bahwa bangsa itu memiliki kecerdikan tinggi.
"Ciaaattttt!"
Ujung lengan baju sebelah kiri dari Bhok Hwesio menghantamnya dari pinggir, biarpun dia sudah berhasil mengelak, namun angin pukulannya memanaskan telinga membuat dia agak nanar.
Pada saat itu, pedangnya beradu dengan pedang It-To-Kiam Gui Hwa dan pada detik berikutnya, tanduk rusa di tangan Thian Te Cu sudah menusuk ke arah perut.
"Siiiinggggg!"
Tarikan pedang Tan Beng Kui membuat It-To-Kiam menjerit kesakitan karena pedangnya sendiri tergetar hebat dan telapak tangannya terasa panas sehingga dia terpaksa melompat mundur.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Tan Beng Kui untuk membabat ke depan menangkis tanduk rusa, kemudian mementalkan pedangnya ke kanan untuk mengirim tusukan maut ke arah leher Bhok Hwesio yang sudah mendekatinya.
"Omitohud, kau bosan hidup..."
Seru Hwesio itu.
Ujung lengan bajunya yang kanan menyambar, bertemu dengan ujung pedang, membuat Tan Beng Kui kaget sekali karena tahu-tahu ujung lengan baju itu sudah melibat pedangnya, tidak dapat dia tarik kembaii.
Dia masih mampu merendahkan tubuh mengelak daripada sambaran pedang Gui Hwa yang mengarah lehernya, juga serangan Thian Te Cu dia gagalkan dengan sebuah tendangan kilat ke arah pergelangan tangan yang memegang tanduk rusa.
Namun pada saat itu, tangan kiri dengan telapak tangan yang besar lebar dari Bhok Hwe-sio sudah menyambar dan tidak dapat dia hindari lagi punggungnya kena ditampar.
"Plaakkkk...!"
Tan Beng Kui mengaduh, pedangnya terlepas dari tangan dan tubuhnya terhuyung-huyung ke belakang, mukanya pucat sekali.
Dia telah menerima tamparan maut yang mengandung tenaga Lweekang dan yang telah merusak isi dadanya.
Akan tetapi dia benar-benar gagah perkasa karena begitu merasa bahwa dadanya terluka hebat sebelah dalam, dengan nekat dia lalu menerjang maju, mengirim pukulan dengan tangan kanan ke arah Bhok Hwesio sambil mengerahkan seluruh tenaganya.
Bhok Hwesio tersenyum mengejek, menerima pukulan ini dengan tangan yang dibuka.
Kedua tangan itu bertumbukan di udara, akibatnya tubuh Tan Beng Kui kembali mental ke belakang, akan tetapi Bhok Hwesio juga terhuyung-huyung ke belakang.
Kagetlah Hwesio ini, tidak disangkanya bahwa dalam keadaan terluka hebat, lawan itu masih memiliki tenaga demikian besarnya.
Tan Beng Kui roboh dan bangkit lagi sambil muntahkan darah segar dari mulutnya, malah masih sempat mengelak dari sambaran tanduk rusa dan membalas serangan Thian Te Cu ini dengan sebuah pukulan tangan kiri.
Namun tenaganya sudah hampir habis sehingga begitu Thian Te Cu menangkisnya, dia kembali roboh.
Pada saat itu It-To-Kiam Gui Hwa sudah meloncat maju dan pedangnya berkelebat menusuk dada.
"Criiiinggggg...!"
Gui Hwa menjerit sambil meloncat mundur ketika terlihat berkelebatnya sinar kilat disusul suara keras dan patahnya pedang di tangannya.
Tiga orang itu terkejut memandang dan tahu-tahu di situ sudah berjongkok seorang laki-laki gagah perkasa yang memeluk leher Beng Kui dengan tangan kiri, sedangkan sebatang pedang yang berkilauan terpegang di tangan kanan.
"Omitohud... bukankah Ciang-Bunjin (Ketua) Thai-San-Pai, Tan Beng San Taihiap yang datang ini...?"
Seru Bhok Hwesio terkejut ketika mengenal laki-laki itu.
Memang tidak salah.
Laki-laki itu adalah Tan Beng San, Ketua dari Thai-San-Pai yang tadi menggunakan pedang Liong-Cu-Kiam menyelamatkan Tan Beng Kui dari tusukan It-To-Kiam Gui Hwa sehingga sekaligus mematahkan pedang nyonya itu.
Dia tidak menjawab kata-kata Bhok Hwesio, melainkan cepat mengangkat kepala Beng Kui dan dipangkunya.
Dengan sedih dia mendapat kenyataan bahwa keadaan kakaknya ini sudah tidak dapat ditolong lagi karena menderita luka dalam yang amat parah.
Beng Kui membuka matanya, terbelalak seperti orang terheran-heran dan tidak percaya, kemudian dia tersenyum dan mengedipkan mata lalu merangkul Beng San.
"Aduh, kau Beng San... kau adikku... siapa kira kau malah orangnya yang akan menunggui kematianku..."
Dia lalu tertawa terbahak-bahak dan terpaksa berhenti ketawa karena kembali dia muntahkan darah.
Beng San cepat mengurut dadanya dan menotok beberapa jalan darah untuk menghentikan muntah darah ini dan mengurangi rasa nyeri.
Mendadak Beng Kui mendapatkan kembali tenaganya dan dia mendorong Beng San minggir, lalu berdiri dengan susah payah.
Kembali dia tertawa menghadapi tiga orang lawannya itu.
"Beng San, adikku, terima kasih... jangan kau mencampuri urusanku."
"Kui-Koko, mereka ini orang-orang tak tahu malu, melakukan pengeroyokan atas dirimu..."
"Tidak! Mereka adalah orang-orang Kaisar yang hanya melakukan tugas dan aku... ha-ha-ha, aku sekarang berani menentang mereka, demi anakku... ahh... Beng San, aku titip Loan Ki kepadamu... dia dan sahabat baiknya, pemuda perkasa Jepang, Nagai... eh, Nagai Ici, ha-ha-ha! Hayo, Bhok Hwesio, Thian Te Cu, dan It-To-Kiam, aku bilang tadi, kalian baru dapat mengejar Loan Ki melalui mayatku. Aku belum menjadi mayat dan... anakku sudah pergi jauh... tidak mungkin kalian kejar, ha-ha-ha!"
Mendadak dia menubruk maju, mengirim pukulan kilat kepada tiga orang itu secara mengawur.
Melihat adegan itu, tiga orang tokoh ini sudah merasa tidak enak hati.
Kini serangan Tan Beng Kui tentu saja tidak mereka layani, berbereng mereka melompat mundur dan Beng Kui terjungkal dengan sendirinya, tidak mampu bangun kembali.
Beng San cepat menghampirinya, berlutut.
"Beng San... kau melupakan semua kesalahanku dahulu... bagus, beginilah adikku sejati... huh... aku titip Loan Ki... Loan... Ki..."
Dan pendekar pedang ini menghembuskan napas terakhir dalam rangkulan adik kandungnya yang sejak dahulu dimusuhinya (baca cerita Raja Pedang dan Rajawali Emas).
Sambil menghela napas panjang Beng San meletakkan tubuh kakak kandungnya di atas tanah, kemudian dia bangkit perlahan, berdiri sambil menatap wajah tiga orang itu berganti-ganti.
Kemudian terdengar suaranya, jelas, lambat-lambat, namun nyaring berwibawa.
"Aku mentaati permintaan terakhir kakakku, tidak mencampuri urusan kalian bertiga dengannya. Akan tetapi, aku melarang kalian melanjutkan pengejaran kepada Loan Ki puteri kakakku. Kalau kalian tidak terima, hayo kalian maju mengeroyokku seperti yang kalian bertiga lakukan kepadanya!"
Dengan pedang melintang di depan dada, Beng San menantang, sikapnya garang, kemarahannya ditahan-tahan.
"Omitohud...!"
Bhok Hwesio merangkapkan kedua tangannya di depan dada.
"Selamanya Siauw-Lim tidak pernah bermusuhan dengan Thai-San..."
"Lo-Suhu tidak usah membawa-bawa nama partai. Ini urusan pribadi antara Tan Beng San dan tiga orang tokoh yang baru saja mengeroyok dan membunuh kakakku!"
Lui-Kong Thian Te Cu dan It-To-Kiam Gui Hwa nampak ragu-ragu, jelas bahwa mereka merasa jerih terhadap Ketua Thai-San-Pai ini.
Sudah sering kali mereka mendengar nama besar Raja Pedang ini, apalagi tadi sekali gebrak saja Raja Pedang ini berhasil mematahkan pedang It-To-Kiam Gui Hwa.
Hanya Bhok Hwesio yang masih tenang, lalu dia tersenyum tawar.
"Tugas Pinceng adalah mengamankan negara, membasmi para pemberontak yang membikin kacau negara, sama sekali bukan menanam permusuhan dengan siapa pun juga, Tan-Taihiap, selamat berpisah."
Dia lalu membalikkan tubuhnya, mengambil dua keping potongan Mahkota lalu meninggalkan tempat itu, diikuti oleh kedua temannya.
Beng San masih berdiri tegak dengan pedang melintang di dada.
Besar keinginan hatinya untuk melompati mereka, untuk menyerang mereka, mengajak mereka memperhitungkan kematian kakak kandungnya.
Biarpun kakak kandungnya ini selalu memusuhinya, banyak sudah mendatangkan derita dalam hidupnya, namun dia tetap mengasihi kakak kandungnya.
Akan tetapi perasaan itu dia tahan-tahan karena masih berdengung di telinganya pesan terakhir kakaknya itu, pula, ia pun meragu apakah orang sakti seperti Bhok Hwesio itu berada di fihak yang salah.
Setelah tiga orang itu tidak tampak bayangannya lagi, kembali ke jurusan Kota Raja, dia lalu berjongkok dan dengan perasaan berat sekali dia lalu memondong jenazah kakaknya, mencarikan tempat yartg baik tanahnya di dalam hutan sebelah Timur Kota Raja, lalu menguburnya dengan penuh hormat dan khidmat.
Tubuh pendekar pedang ini tampak kurus dan agak pucat.
Memang dia telah menderita tekanan batin yang hebat.
Anaknya, Cui Sian, diculik orang, Thai-San-Pai dirusak binasakan musuh, banyak anak murid yang tewas, isterinya marah-marah dan melarikan diri mencari Cui Sian.
Dia sendiri sudah berkelana mencari jejak isteri dan menyelidiki tentang musuh-musuh yang telah menyerbu Thai-San dan yang telah menculik anaknya.
Dari beberapa orang kenalan di dunia kang-ouw, dia dapat mendengar bahwa tiga orang wanita yang berilmu tinggi itu sangat boleh jadi adalah Ang Hwa Sam Ci-moi yang belum pernah dia dengar namanya karena tiga orang tokoh ini baru beberapa tahun saja memasuki pedalaman, datang dari See-Thian.
Akan tetapi ketika mendengar bahwa tiga orang kakak beradik ini adalah para Sumoi (adik seperguruan) Hek Hwa Kui-bo, kecurigaannya menebal.
(lanjut ke
Jilid 23) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 23 Kalau mereka itu Sumoi-Sumoi dari Hek Hwa Kui-bo, Sangat boleh jadi mereka melakukan perbuatan itu untuk membalas dendam terhadap Suci (kakak seperguruan) mereka.
Akan tetapi kiranya mereka tidak bekerja bertiga saja, tentu ada orang-orang lain.
Sukarnya, tidak seorang pun tahu di mana adanya Ang Hwa Sam Ci-moi itu.
Dia seakan-akan meraba di dalam gelap dan perantauannya membawanya ke Kota Raja karena dia berpendapat bahwa segala sesuatu mengenai keadaan orang-orang besar di dunia kang-ouw, lebih mudah diselidiki di Kota Raja.
Apalagi karena urusan di Thai-San ini agaknya ada hubungannya dengan kematian Tan Hok, berarti ada hubungan urusan Kerajaan, karena semenjak dahulu Tan Hok adalah seorang pejuang dan bahkan akhir-akhir ini menjadi pembesar yang dipercaya oleh Kaisar pertama Ahala Beng.
Demikianlah, secara kebetulan sekali, di luar Kota Raja dia melihat pengeroyokan atas diri Tan Beng Kui.
Sayang dia terlambat sehingga kakak kandungnya itu tewas dalam pertempuran.
Setelah dia selesai mengubur jenazah kakaknya, Beng San ragu-ragu untuk memasuki Kota Raja.
Kemudian dia teringat akan Loan Ki.
Setelah pertemuan terakhir dengan kakak kandungnya, timbullah secara tiba-tiba kerinduan hatinya untuk bertemu dengan keturunan kakaknya ini, dengan keponakan tunggalnya.
Semenjak berpisah dengan kakaknya belasan tahun yang lalu, dia tidak pernah bertemu lagi dan tidak tahu keadaan kakaknya itu.
Sekarang pertemuan terakhir membangkitkan kembali kasih sayang lama.
Loan Ki, Tan Loan Ki, demikian nama keponakannya.
Dengan pemuda Jepang?
Pesan terakhir kakaknya terngiang di telinganya.
Lebih baik sekarang menyusul Loan Ki.
Mengapa tidak?
Selain dia dapat bertemu dengan keponakannya itu dan dapat menjaganya serta memberi petunjuk, juga dari keponakannya itu dia dapat mendengar banyak tentang kakaknya, tentang keadaan Kota Raja.
Siapa tahu keponakannya itu akan mendengar pula tentang Thai-San-Pai.
Maklumlah puteri seorang pendekar seperti kakaknya tentu tidak asing pula dengan keadaan dunia kang-ouw.
Berpikir demikian, Beng San lalu melompat dan berlari cepat sekali, menyusul keponakannya yang agaknya lari ke arah Timur seperti yang tadi ditunjuk oleh kakaknya.
Ilmu lari cepat yang dipergunakan oleh Beng San ini adalah Ilmu Lari Cepat Liok-Te Hui-Teng Kang-Hu, ilmu lari cepat yang dilakukan sambii melompat-lompat dan kecepatannya seperti terbang saja.
"Kanda Bun Wan...!"
Seruan girang ini mengagetkan Bun Wan yang sedang berjalan dengan kepala tunduk dan hati penuh kekecewaan.
Dia mengangkat mukanya dan kaget meiihat bahwa yang memanggilnya dengan suara merdu dan gembira itu bukan lain adalah Giam Hui Siang, gadis dari Pulau Ching-Coa-To itu!
Pertemuan ini sama sekali tidak pernah diduga-duganya.
Dia berada jauh dari Ching-Coa-To, di sebuah hutan di luar Kota Raja.
Baru saja dia mengalami kekecewaan dan penyesalan karena dia kalah dalam perebutan Mahkota kuno.
"Hui Siang! Kau dari mana, bagaimana bisa berada di sini?"
Tanyanya, tersenyum dan mengusap rambut kepala gadis yang telah merangkulnya dengan sikap manja dan penuh cinta kasih itu.
"Kanda Bun Wan, kau benar-benar tidak tahu dicinta orang."
Hui Siang berkata manja.
"Kenapa kau tinggalkan aku di Ching-Coa-To? Kenapa kau pergi secara diam-diam? Aku kesepian di sana, Ibu belum pulang dan karena kau bilang ingin pergi ke Kota Raja, aku lalu menyusulmu. Sungguh kebetulan sekali kita bertemu di sini, bukankah ini tanda bahwa kita benar-benar berjodoh, kanda Bun Wan?"
Bun Wan menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik napas panjang.
"Hui Siang, kau seperti anak kecil saja. Apakah kau tidak percaya bahwa aku akan datang kembali ke sana menjemputmu?"
Hui Siang merengut dan mukanya yang cantik itu kelihatan susah.
"Wan-Koko, banyak sudah kudengar laki-laki yang tidak memegang teguh janjinya dalam hubungan mereka dengan wanita. Hanya bermanis mulut menjual madu di Bibir kalau berhadapan, akan tetapi begitu berpisah lalu bercabang hati dan lupa akan sumpah dan janji. Banyak sudah contohnya. Ibu sendiri bertahun-tahun menderita karena Ayah. Kata Ibu, di dunia ini tidak ada lelaki yang beleh dipercaya janjinya terhadap wanita."
"Hui Siang, kau kira aku ini laki-laki macam apa?"
Bun Wan berseru keras dan penasaran.
"Sungguhpun hubungan kita ini tadinya kuanggap karena kau yang membujuk, akan tetapi akhirnya aku insyaf bahwa aku pun bersalah terlampau menuruti nafsu hati. Aku seorang laki-laki, aku keturunan tunggal dari Kun-Lun-pai, tidak mungkin aku menyia-nyiakan wanita yang sudah kujatuhi cinta, tidak mungkin aku mengingkari pertanggungan jawabku. Hui Siang, sudah kukatakan kepadamu bahwa apapun yang terjadi, kau tetap akan menjadi isteriku, hanya aku harus menyelesaikan lebih dulu tugasku yang maha penting."
"Kanda Bun Wan, bukan sekali-kali aku tidak percaya kepadamu. Akan tetapi setelah kau meninggalkan aku, aku kesepian dan amat khawatir. Biarkan aku ikut denganmu, Koko, dan biarlah aku membantu tugasmu sampai selesai."
"Tugasku berat, mungkin mempertaruhkan nyawa, Moi-moi,"
Kata Bun Wan halus karena dia terharu pula menyaksikan besarnya cinta kasih gadis jelita ini.
"Apalagi kalau harus mempertaruhkan nyawa, tidak boleh aku melepaskan kau, Koko. Biarlah pertanggungan itu kita pikul berdua, akan lebih ringan."
Bun Wan menggandeng tangan Hui Siang, dituntunnya gadis itu dan diajak duduk di tempat teduh, di bawah pohon yang tinggi dan besar.
Mereka duduk bersanding di atas akar pohon itu dan dengan sikap manja dan mesra Hui Siang tidak pernah melepaskan tangan kekasihnya.
"Hui Siang, lebih baik kau pulang ke Ching-Coa-To dan kau tunggulah aku di sana. Hatiku akan lebih tenteram mengingat bahwa kekasihku menanti di sana, daripada harus melihat kau terancam bahaya bersamaku."
"Tidak, aku tidak mau. Biar bahaya atau mati sekali pun asal bersamamu,"
Kata gadis itu dengan nekat.
"Wah, repot kalau kau rewel begini,"
Bun Wan menggerutu, lalu berkata lagi sambil memandang wajah yang cantik itu.
"Hui Siang, ketahuilah bahwa tugasku ini bertentangan sama sekali dengan Ibumu, malah mungkin sekali aku akan menjadi lawan Ibumu."
Agak kaget Hui Siang mendengar kata-kata ini. Ia balas memandang, agaknya tidak percaya, akan tetapi melihat kesungguhan wajah Bun Wan, ia pun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh.
"Kalau sampai Ibu memusuhimu, aku pun akan berada di fihakmu."
Kembali Bun Wan menarik napas panjang.
"Kau mana tahu urusannya? Tidak ada urusan pribadi yang membuat Ibumu mungkin memusuhiku. Akan tetapi, semata-mata urusan tugas. Ketahuilah, Hui Siang, aku yang kau jadikan pilihan hatimu, aku adalah seorang utusan Raja Muda Yung Lo di Utara."
Sambil berkata demikian, pemuda itu dengan penuh selidik menatap wajah kekasihnya.
Sejenak Hui Siang terpukul.
Inilah hebat.
Kalau begitu, kekasihnya ini adalah seorang mata-mata pemberontak!
Betapa beraninya, sudah menggabungkan diri pula dengan Ching-Coa-To.
Betapa berani, pandai dan sama sekali tidak disangka-sangka.
Akan tetapi ia segera menjawab mesra.
"Kau adalah laki-laki pilihanku, kau suamiku. Andaikata kau ternyata seorang utusan dari neraka sekali pun, aku akan tetap menyertai dan membantumu. Aku tidak perduli urusan negara."
Bun Wan terharu dan merangkul leher Hui Siang.
Hatinya mulai besar dan bangga.
Tidak keliru dia mencintai gadis ini.
Kecantikan Hui Siang luar biasa dan jarang bandingannya.
Kepandaiannya lumayan dan ternyata sekarang memiliki kesetiaan pula.
"Hui Siang, aku girang mendengar pernyataanmu ini. Ketahuilah, semenjak dahulu aku adalah keturunan orang-orang pejuang. Kun-Lun-Pai terkenal sebagai sumber pahlawan-pahlawan pejuang dan dahulu banyak tokoh-tokoh Kun-Lun-Pai membantu perjuangan mendiang Kaisar pendiri Kerajaan Beng. Oleh karena itu, Raja Muda Yung Lo yang menjadi keturunan Kaisar menaruh kepercayaan penuh kepada Kun-Lun-Pai. Sekarang sedang terjadi pergolakan setelah Kaisar tua meninggal dunia. Kaisar muda agaknya tidak benar dan Raja Muda Yung Lo merasa lebih berhak untuk menggantikan kedudukan Kaisar daripada keponakannya, Kaisar muda sekarang ini. Aku dipilih sebagai orang kepercayaan dan utusan untuk menyelidiki keadaan di Selatan dan mengadakan hubungan dengan Paman Tan Hok. Sebetulnya aku harus mendapatkan surat wasiat yang kabarnya oleh mendiang Kaisar diberikan kepada Paman Tan Hok yang sudah meninggal pula. Kuduga surat itu berada di dalam Mahkota kuno itu, maka aku ikut pula memperebutkan. Sayang gagal..."
Tiba-tiba pemuda ini berhenti bicara, menarik tangan Hui Siang dan cepat melompat dari tempat yang tadi diduduki itu sambil mengangkat muka memandang ke atas.
Hui Siang juga memandang dan...
alangkah kaget hati mereka melihat seorang laki-laki tua berkulit hitam seluruhnya, duduk di atas cabang pohon itu dengan kedua kaki tergantung.
Kakek ini sudah tua sekali, wajahnya penuh keriput, pakaiannya sederhana berwarna kuning sehingga kehitaman kulitnya makin nyata.
Muka yang hitam itu hampir tidak kelihatan di antara daun-daun pohon, yang tampak jelas hanyalah biji matanya.
Kakek tua renta berkulit hitam itu kini terkekeh-kekeh dan tiba-tiba tubuhnya melayang ke bawah.
Kagetlah hati Bun Wan dan Hui Siang ketika melihat betapa kakek itu jatuh seperti sebatang balok.
Terpelanting dan kaku dengan kepala lebih dahulu!
Akan tetapi, kekagetan hati mereka berubah kagum dan terheran-heran ketika kepala itu menyentuh tanah dengan enaknya, sama sekali tidak bersuara seakan-akan kepala yang ternyata gundul pacul itu terbuat daripada karet yang lembek dan lunak.
Sejenak kakek itu berjungkir seperti itu, kemudian dia tertawa pula dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas dan kini dia berdiri di atas kedua kakinya.
Kiranya dia seorang yang tinggi dan kulitnya memang hitam semua, memegang sebatang tongkat yang berwarna hitam pula, lucunya, biarpun usianya sudah ada tujuh puluh tahun, namun mulutnya masih bergigi penuh, gigi yang putih berkilau di balik kulitnya yang kehitaman itu.
"Heh-heh-heh, orang-orang Kun-Lun-Pai memang semenjak dahulu pemberontak semua! Mendiang Pek Gan Siansu juga pemberontak, cucu-cucu muridnya sekarang juga pemberontak. Heh-heh-heh!"
Bun Wan cukup maklum bahwa kakek hitam ini adalah seorang yang memiliki kesaktian seorang yang berilmu tinggi.
Akan tetapi mendengar betapa Kun-Lun-pai dicela, betapa kakek gurunya dimaki pemberontak, dia menjadi penasaran dan mendongkol juga.
Namun dia mempertahankan kesabarannya dan dengan hormat dia menjura dan bertanya.
"Lo-Cianpwe ini siapakah, dan apa dosanya Lo-Cianpwe memaki Kun-Lun-Pai sebagai pemberontak?"
"Heh-heh-heh, bocah berlagak pahlawan, mana kau tahu namaku. Aku orang biasa saja, bukan pahlawan macam orang-orang Kun-Lun-Pai, dan aku dipanggil orang Hek Lojin dari Go-Bi-San. Heh-heh-heh, kau penasaran karena kukatakan bahwa Pek Gan Siansu dan semua anak murid Kun-Lun adalah pemberontak hina? Hemmm, bocah berlagak patriot. Setiap orang yang melawan kekuatan pemerintah yang ada dialah pemberontak! Dahulu melawan kekuasaan Pemerintah Goan (Mongol), kakek-kakekmu adalah pemberontak. Kau sekarang hendak melawan kekuasaan Kaisar yang berkuasa, kau pun pemberontak. Dan akulah orang yang paling benci kepada pemberontak. Hayo kalian berdua pemberontak cilik ini menyerah, menjadi tawananku dan kubawa ke Kota Raja."
Sekarang Bun Wan marah sekali.
Dia memang tidak pernah mendengar nama Hek Lojin, karena memang tokoh sakti dari Go-Bi-San ini jarang muncul di dunia kang-ouw dan sudah mengasingkan diri.
Biarpun dia tahu bahwa yang dia hadapi adalah seorang sakti, mana dia sudi dijadikan tawanan?
Sementara itu, Hui Siang sudah tidak dapat menahan kemarahannya karena kekasihnya dimaki-maki.
Ia seorang gadis manja yang selalu mengandalkan kepandaian sendiri.
Begitu melihat gelagat tidak baik, diam-diam ia sudah menyiapkan jarum-jarum beracun, senjata rahasia yang amat diandalkan karena mengandung racun ular di Ching-Coa-To.
Jarum ini amatlah ganas dan jahat, sedikit saja mengenai kulit lawan tentu akan mengancam keselamatan nyawanya.
"Kakek hitam sombong, makanlah ini!"
Bentaknya dan sekali kedua tangannya bergerak, puluhan batang jarum melesat keluar dari kedua tangannya, menyerang tubuh kakek itu dari kepala sampai kakinya.
"Ihh, ilmu keji!"
Tiba-tiba kakek itu lenyap dari situ, kiranya dia tadi menggunakan tongkat hitamnya untuk menjejak tanah sehingga tubuhnya melesat ke atas, tangan kirinya menyambar beberapa barang jarum dan dari tengah udara dia berseru.
"Nih, kau makan sendiri jarum-jarum racunmu!"
Bukan main kagetnya hati Hui Siang ketika serangkum hawa yang amat dahsyat menyambarnya.
Ia dapat menduga bahwa itulah pukulan jarak jauh yang amat kuat, pula disertai sambitan jarum-jarumnya sendiri.
Ia cepat menjatuhkan diri ke belakang, namun terlambat, masih ada tiga batang jarum dengan tepat sekali menancap di atas dadanya.
Gadis itu menjerit dan roboh, tak berkutik lagi karena seketika ia menjadi pingsan.
Dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Bun Wan.
Dia mengira bahwa kekasihnya sudah terpukul tewas, maka sambil mengeluarkan bentakan nyaring, dia menerjang kakek itu dengan pedangnya.
Hek Lojin tertawa bergelak, melayani pedang Bun Wan dengan tongkat hitamnya yang ternyata amat kuat dan setiap kali bertemu pedang, Bun Wan merasa betapa tangannya tergetar dan sakit-sakit.
Namun kemarahannya melihat Hui Siang roboh membuat dia menjadi nekat dan dengan kemarahan meluap-luap dia mainkan Ilmu Pedang Kun-Lun Kiam-Sut dan menyerang sepenuh tenaga.
"Bagus!! Kun-Lun Kiam-Sut ternyata masih ampuh. Akan tetapi melawan aku si tua bangka dari Go-Bi, tiada artinya, heh-heh-heh!"
Memang sesungguhnyalah, Bun Wan merasa betapa sinar pedangnya yang dia dorong dengan sepenuh semangatnya, seakan-akan menghadapi benteng hitam dari tongkat itu, malah beberapa kali membalik dengan keras sehingga pedang itu hampir terlepas dari pegangannya.
Setelah lewat tiga puluh jurus, dia menjadi pening karena benteng hitam itu makin melebar dan makin mendesak sehingga akhirnya mengurungnya, membuat pandang matanya gelap dan bayangan kakek itu sendiri sudah lenyap tertelan gulungan sinar hitam.
Akhirnya dia tidak tahu lagi di mana adanya kakek itu dan tahu-tahu tengkuknya telah kena tampar tangan kiri kakek itu.
Perlahan saja tamparan itu, namun cukup membuat Bun Wan berteriak keras, terguling roboh pingsan di dekat tubuh Hui Siang yang juga belum dapat bergerak sama sekali.
"Heh-heh-heh, segala pemberontak hijau. Biarlah mati di sini, tidak perlu kubawa lagi, membikin repot saja."
Sambil berkata demikian, Hek Lojin menyeret tongkat hitamnya yang panjang, hendak pergi dari tempat itu.
Akan tetapi tiba-tiba terdengar lengking panjang yang memekakkan telinga, dari atas datangnya.
Dia kaget dan cepat berdongak.
Mulutnya yang hitam melongo terbuka, matanya terbelalak ketika dia melihat seekor Burung Rajawali Emas yang besar sekali menukik ke bawah ditungganggi oleh seorang laki-laki muda yang agaknya buta kedua matanya.
"Kim-Tiauw-Ko, jangan serang orang!"
Kun Hong, pemuda yang menunggang Rajawali Emas itu, berseru ketika mendengar gerakan Kim-Tiauw, dan dia pun melompat turun ke atas tanah.
Seperti kita ketahui, selama beberapa hari ini Kun Hong berada di dalam hutan bersama-sama Kim-Tiauw, menghIbur diri dan kadang-kadang dia menunggang punggung Burung itu dan menyuruhnya terbang berputaran di atas hutan.
Pagi hari itu, entah mengapa Kim-Tiauw menukik ke bawah dan kiranya hendak menyerang orang, maka cepat dia mencegahnya dan meloncat ke atas tanah karena hidungnya mencium bau daun dan tanah, tanda bahwa Burung itu sudah turun dan mendekati tanah.
Namun Burung Rajawali Emas itu tetap saja marah-marah, memekik-mekik dan mengeluarkan suara melengking tinggi, siap untuk menyerang Hek Lo jin yang sudah hilang kagetnya dan kini kakek itulah yang berbalik menjadi marah.
Dia adalah seorang sakti, biasanya ditakuti orang.
Melihat mukanya yang hitam saja, orang-orang sudah pada takut, apalagi menyaksikan sepak terjangnya yang sakti.
Kini ada seorang bocah buta dan Burung Rajawali datang-datang menimbulkan kekagetannya, tentu saja dia marah.
"Burung keparat, kau kira kau ini luar biasa gagahnya maka berani membikin kaget Hek Lojin. Apa kau sudah bosan Keparat!"
Rajawali Emas adalah seekor Burung sakti, yang sudah banyak bergaul dengan orang-orang sakti.
Andaikata dia tidak dapat menangkap ucapan kakek itu, setidaknya, dia dapat merasa bahwa kakek, itu marah dan memaki-maki serta menantangnya.
Maka dia pun lalu membuka sepasang sayapnya, matanya memandang berapi-api, siap untuk menerjang.
Mulutnya mengeluarkan pekik tantangan mengagetkan Kun Hong.
"Kim-Tiauw-Ko, sabarlah. Lo-Cianpwe, harap suka mengalah terhadap Burung sahabat baikku ini..."
"Burung jahat ini harus dibunuh, kalau tidak hanya akan mendatangkan kekacauan belaka!"
Hek Lojin yang merasa ditantang oleh Burung itu, sudah menggerakkan tongkatnya memukul.
Hebat pukulan ini, mendatangkan angin berdesir, agaknya dia hendak menewaskan Burung itu sekali pukul!
Rajawali Emas itu agaknya tahu pula akan kehebatan pukulan ini, maka dia cepat melejit dan mengelak, Kun Hong yang dapat menangkap angin pukulan, dia terkejut bukan main, maklum bahwa kakek yang berangasan ini memiliki ilmu kepandaian tinggi, bukan lawan Burungnya.
Tahu pula bahwa kakek itu benar-benar hendak membinasakan Rajawali maka cepat dia menjura dan berkata.
"Lo-Cianpwe, sudahlah. Biarlah aku yang mintakan maaf kalau Burungku bersalah, dan biarlah kami pergi tidak mengganggumu lagi."
Akan tetapi Hek Lojin sudah semakin panas perutnya.
Dia seorang ahli silat kelas tinggi, seorang yang kesaktiannya sudah menggemparkan Go-Bi-San, masa sekarang sekali pukul tidak dapat mengenai tubuh Burung celaka itu?
Apalagi melihat kini Kim-Tiauw lincak-lincak (berloncatan) seakan-akan mengejek, hawa amarah sudah naik ke ubun-ubunnya.
"Burung iblis, mampuslah!"
Tongkatnya kini diputar cepat dan sekali terjang dia sudah mengirim belasan jurus.
Kagetlah Kun Hong.
Lebih kaget lagi Burung itu sendiri, karena biarpun dia sudah mengibaskan sayap, sudah mengelak dan menangkis dengan cakarnya, namun tetap saja punggungnya terkena gebukan satu kali, membuat dia terlempar beberapa meter dan banyak bulunya yang kuning emas rontok.
Akan tetapi dasar Burung sakti, pukulan itu biarpun mendatangkan rasa nyeri, namun tidak melukainya.
Hai ini membuat Hek Lojin kaget dan heran, akan tetapi malah makin marah.
Ketika dia menerjang lagi, ternyata Kun Hong sudah berdiri menghadangnya.
Pemuda ini maklum bahwa Burungnya tidak mungkin dapat melawan kakek ini dan kalau dia diamkan saja, berbahayalah bagi Kim-Tiauw.
"Lo-Cianpwe, sekali lagi, harap kau suka maafkan kami. Di antara kita tidak ada permusuhan, maka untuk apakah urusan kecil ini dibesar-besarkan dan pertempuran yang tidak ada gunanya dilanjutkan?"
Melihat sikap pemuda buta ini, Hek Lojin menahan kemarahannya.
Dia dapat menduga bahwa kalau Burungnya demikian hebat, pemiliknya tentu bukan orang lemah pula.
Hanya saja orang ini masih sangat muda, apalagi buta, kepandaian apakah yang dimilikinya?
Maka dia memandang rendah dan berkata.
"Kalau kau pemiliknya dan mintakan maaf, aku mau memberi ampun asal kau bisa menyuruh dia berlutut dan mengangguk tujuh kali di depanku untuk minta ampun."
Kun Hong kaget dan bingung.
Dia cukup mengenal watak Kim-Tiauw.
Burung itu angkuh sekali, mana sudi merendahkan diri dan berlutut minta ampun seperti itu?
Tidak mungkin!
"Menyesal sekali, hal itu tidak mungkin dapat kulakukan, Lo-Cianpwe, karena Burung itu tidak pernah diajar berlutut, tentu tidak bisa dan tidak mengerti kalau kusuruh berlutut."
Dalam hal ini Kun Hong membohong, karena kalau dia mau, Burung itu akan melakukan ini dengan amat mudahnya. Soalnya, Burung itu tentu tidak sudi berlutut di depan orang tua galak ini.
"Hemm, Burungnya jahat dan sombong, pemiliknya amat baik,"
Kakek itu menggerutu.
"Sudahlah, kalau dia tidak bisa disuruh berlutut, biar kau yang mewakili juga tidak apa."
Hebat kesombongan Kakek ini.
Akan tetapi, memang pada dasarnya Kun Hong adalah seorang yang amat penyabar dan luas pandangannya.
Apa salahnya berlutut di depan seorang kakek yang memiliki kepandaian tinggi ini, pikirnya.
Kalau dia tidak mau memenuhi permintaan ini tentulah terjadi pertempuran hebat yang sama sekali tidak ada sebabnya, pertempuran yang tiada gunanya.
Maka dia tersenyum dan segera menjatuhkan diri berlutut sambil mengangguk-anggukkan kepala tujuh kali.
Kakek itu girang dan agaknya hendak menguji kelihaian Kun Hong karena dia segera mengangkat sebelah kakinya dan dilayangkan ke atas kepala Kun Hong.
Penghinaan yang hebat!
Kun Hong menggigit Bibirnya karena biarpun matanya buta, tentu saja telinganya dapat menangkap gerakan ini dan kalau dia mau, sekali menggerakkan tangan tentu dia mampu merobohkan kakek sombong itu ketika si kakek melakukan gerakan yang menghina dan juga berbahaya bagi diri kakek itu sendiri.
Dia pura-pura tidak tahu dan kakek itu tertawa bergelak-gelak sambil menyeret tongkatnya, pergi dari situ.
Masih terdengar suaranya dari jauh terkekeh-kekeh dan berkata.
"Ajaib sekali, Burung demikian kuatnya memiliki majikan begitu lemah, heh-heh-heh!"
Setelah suara kakek itu tidak terdengar lagi, Kun Hong bangkit dan menggerutu.
"Berbahaya sekali..."
Dia maksudkan berbahaya kalau dia tidak mampu mempertahankan kesabarannya tadi, tentu akan terjadi pertempuran hebat karena dia dapat menduga bahwa ilmu kepandaian kakek itu memang amat tinggi.
"Kim-Tiauw-Ko, kenapa kau mencari gara-gara?"
Dia menegur Burung itu, Burung Rajawali meloncat ke dekatnya, menyambar ujung lengan bajunya dan dengan suara menggerang panjang Burung itu menariknya dari situ.
Kun Hong heran dan mengikuti.
Burung itu berhenti dan menarik dia supaya berjongkok.
Dengan hati mengandung penuh pertanyaan Kun Hong berjongkok, tangannya meraba dan...
jari-jari tangannya menyentuh tubuh seorang laki-laki yang pingsan dan menderita luka dalam yang hebat.
Tangannya meraba lagi ke kiri dan...
kali ini menyentuh tubuh seorang wanita.
Dia berseru kaget karena wanita ini malah lebih hebat lagi keadaannya.
Tubuhnya panas membara seperti terbakar, napasnya sesak, tanda bahwa ia menderita luka yang hampir mencabut nyawanya.
"Celaka... ah, Kim-Tiauw-Ko, kiranya aku benar-benar buta!"
Dia menyumpahi diri sendiri karena sekarang mengertilah dia bahwa Burung itu tadi menyerang seorang kakek yang baru saja merobohkan dua orang muda secara ganas dan keji!
Cepat dia memeriksa laki-laki itu.
Tahu bahwa laki-laki itu menderita pukulan dengan tenaga Lweekang yang hebat pada punggungnya, dia cepat mengurut dan menotok beberapa jalan darah.
Hatinya lega karena dia mendapat kenyataan bahwa orang ini tidak berbahaya lagi sekarang keadaannya.
Dia cepat mengalihkan perhatian pada wanita itu.
Hatinya berdebar karena sungkan dan ragu ketika jari-jari tangannya meraba tubuh seorang wanita yang masih muda.
Apalagi setelah dia melakukan pemeriksaan teliti, dia mendapat kenyataan bahwa wanita ini terkena senjata rahasia halus di dadanya dan berada dalam keadaan yang membahayakan keselamatan nyawanya.
Dia bingung dan ragu.
"Apa boleh buat, demi menolong nyawanya."
Akhirnya dia menggerutu seorang diri.
Cepat diturunkannya buntalannya dan digeledahnya saku-saku bajunya, lalu dia mengeluarkan sebatang jarum perak.
Tanpa ragu-ragu lagi karena maklum bahwa kelambatan akan berbahaya bagi wanita ini, dia lalu merobek baju wanita itu di bagian dadanya.
Rabaan jari-jari tangannya menyatakan bahwa kulit dada itu ditembusi tiga batang jarum kecil yang rupanya mengandung bisa yang mendatangkan hawa panas.
"Hemmm, agaknya racun ular,"
Gumamnya sendiri setelah dia memencet luka itu, mengeluarkan sedikit darah dan diciumnya darah di jarinya.
Cepat dia mengerahkan kepandaiannya, menusuki beberapa jalan darah dengan jarum peraknya untuk mencegah racun itu menjalar.
Dari detak jantung dia mendapat kenyataan yang menimbulkan harapan bahwa racun itu belum menjalar sampai ke dalam jantung.
Pada tusukan terakhir di dekat leher, tubuh wanita itu bergerak dan terdengar ia mengeluh perlahan sekali, akan tetapi disusul suaranya penuh kekagetan.
"Aduhhhh... tua bangka keparat... eh... heeeee, siapa kau, lepaskan aku...!"
Berdebar jantung Kun Hong karena telinganya serasa mengenal suara ini, akan tetapi dia lupa lagi siapa dan di mana.
"Tenanglah, Nona, aku berusaha mengobatimu,"
Katanya dengan suara dingin dan halus.
"Kau...? Ah, kau... Kwa Kun Hong Pendekar buta..."
Kini teringatlah Kun Hong. Kiranya nona ini adalah Giam Hui Siang.
"Siocia"
Yang amat galak dari Ching-Coa-To.
Kalau begitu, apakah laki-laki yang pingsan ini pemuda Kun-Lun-Pai, Bun Wan itu?
Ah, apa bedanya?
Hal itu tidak penting baginya, yang penting hanya bahwa dia harus mengobati dua orang yang terancam bahaya maut ini, siapa pun juga mereka.
"Harap kau diam, jangan bergerak, Nona. Kau telah terkena senjata rahasia yang mengandung racun ular,biar kukeluarkan tiga batang jarum ini."
Hui Siang mengeluh, akan tetapi ia benar-benar tidak bergerak sekarang.
Kedua tangannya ia pergunakan untuk menutupi mukanya karena biarpun ia tahu bahwa Kun Hong adalah seorang buta dan tidak dapat melihatnya, namun sebagai seorang gadis tentu saja ia menjadi jengah dan malu sekali karena bajunya terobek seperti itu dan Kun Hong meraba-raba kulit tubuh bagian dada!
Karena maklum bahwa dia berlomba dengan waktu untuk menolong gadis ini, Kun Hong lalu mengerahkan tenaga Lweekangnya, menggunakan hawa Sinkang disalurkan ke telapak tangan, kemudian telapak tangannya dia tempelkan ke atas luka-luka di dada itu dengan tenaga "Menyedot".
Dia menekan perasaan hatinya untuk melupakan perasaan tangannya yang meraba bagian tubuh yang dirahasiakan itu, membekukan perasaan ini dengan keyakinan bahwa dia tidak memiliki kehendak lain kecuali sebagai ahli obat hendak menolong nyawa seseorang.
Usahanya berhasil baik.
Tiga batang jarum yang sudah menancap sampai tidak kelihatan lagi di dalam dada itu, kini tersembul dan sempat Kun Hong menjepit dan mencabuti keluar ketiganya.
Akan tetapi tidak ada darah mengucur keluar.
Kagetlah Kun Hong.
Hal ini hanya menjadi bukti bahwa racun itu telah bekerja, darah telah membeku dan tidak dapat keluar karena tertutup oleh gumpalan darah matang yang kotor oleh racun.
Kalau saja dia bisa mendapatkan beberapa macam daun obat yang mempunyai sifat menghisap, nona ini akan cepat tertolong.
Akan tetapi dia tidak mempunyai daun itu dan untuk mencarinya, tidaklah mudah, apalagi dia seorang buta.
"Nona, kau maafkanlah aku, tidak ada jalan lain mengeluarkan racun dari dalam luka di dadamu kecuali dihisap dengan mulut. Kau diam sajalah, tidak lama tentu sembuh."
Terpaksa sekali, tanpa memperdulikan apa-apa lagi karena khawatir kalau-kalau racun akan makin meresap ke dalam, Kun Hong menundukkan mukanya dan menggunakan mulutnya menyedot luka-luka di dada itu sambil mengerahkan tenaga Sinkang.
Andaikata seorang biasa yang melakukan hal ini, kiranya akan makan waktu lama sekali.
Akan tetapi Kun Hong bukanlah orang biasa, tenaga Sinkangnya hebat sekali sehingga sekali sedot saja dia sudah menghisap bersih racun pada satu luka.
Setelah meludahkan darah segar sudah mulai keluar dari luka kecil pertama itu, dia menyedot luka ke dua, kemudian ke tiga.
Dapat dibayangkan betapa jengah dan malunya Hui Siang.
Tentu saja ia mengenal kehebatan jarum-jarumnya sendiri dan andaikata ia membekal obat penawarnya, tentu ia tidak sudi diobati secara demikian oleh Kun Hong.
Akan tetapi apa daya, ia lupa membawa obat bekalnya, dan ia pun tahu bahwa jalan satu-satunya untuk menolongnya memang seperti yang dilakukan Kun Hong itulah.
Teringat ia akan keadaan Cici angkatnya dahulu ketika diobati oleh Kun Kong dan hatinya tertusuk.
Mulailah timbul penyesalannya akan sikap-sikapnya dahulu terhadap Hui Kauw dan Kun Hong.
Pendekar Buta ini kiranya benar-benar seorang manusia yang berbudi luhur, yang mengobati siapa saja tanpa pamrih sesuatu.
Buktinya, sebelum ia sadar, tentu si buta ini tidak mengenalnya siapa.
Betapapun juga, merasa betapa muka dan mulut orang buta itu menempel pada dadanya, Hui Siang tidak dapat menahan rasa malunya dan ia menutupi muka dengan kedua tangan, mukanya yang tadinya pucat sekarang menjadi merah seperti udang rebus.
Ketika Kun Hong sedang menghisap luka ke tiga atau yang terakhir, dan tubuhnya sedang berlutut itu, tiba-tiba terdengar bentakan keras dan...
sebuah tendangan kilat yang amat kuat membuat tubuh Kun Hong terlempar beberapa meter jauhnya dan jatuh terguling-guling.
Baiknya Kun Hong keburu mengerahkan Lweekangnya sehingga dia tidak terluka, hanya terlempar dan bergulingan saja.
Tadi dia hanya mendengar bentakan itu, akan tetapi karena seluruh perhatian sedang ditujukan kepada pengobatan, sedang Sinkangnya pun sedang disalurkan kepada mulut yang menyedot, dia tidak sempat membela diri.
Ketika dia cepat melompat bangun, Kun Hong mendengar suara Bun Wan yang penuh kemarahan.
"Kwa Kun Hong jahanam besar! Dahulu kau telah menghancurkan hubunganku dengan perbuatanmu yang tidak tahu malu terhadap Cui Bi, sekarang kembali kau melakukan penghinaan terhadap Hui Siang! Kun Hong kau benar-benar seorang berhati binatang, sampai matamu menjadi buta masih saja kau merupakan manusia iblis. Kali ini aku tidak akan suka menerima penghinaan begitu saja. Keparat!"
"Wan-Koko... jangan menuduh yang bukan-bukan...!"
Suara Hui Siang lemah dan tercampur isak.
Nona ini sudah dapat bangun dan tadi saking kagetnya ia tidak mampu bicara, hanya cepat-cepat menutup bajunya yang robek.
Dadanya masih terasa nyeri, akan tetapi tidak sesak lagi dan kekuatannya sudah pulih.
Dengan mata terbelalak ia melihat betapa Kun Hong terguling-guling dan begitu mendengar suara Bun Wan, baru ia sadar kembali bahwa kekasihnya itu telah salah duga.
Akan tetapi Bun Wan tidak mendengar ucapan Hui Siang ini karena pada saat itu dia sedang marah bukan main.
Siapa orangnya yang tidak akan marah kalau begitu dia sadar dari pingsannya melihat apa yang dilakukan Kun Hong terhadap kekasihnya tadi?
Dengan amarah meluap-luap dia sudah melompati Kun Hong dan mengirim serangan mati-matian, tidak memperdulikan punggungnya yang masih terasa ngilu dan nyeri.
Tiba-tiba terdengar lengking tinggi dan Rajawali Emas telah menerjang Bun Wan, menggantikan Kun Hong yang masih berdiri termangu-mangu.
Burung itu marah sekali.
Biarpun hanya seekor binatang, dia tadi mengerti bahwa sahabatnya sedang mengobati atau menolong dua orang yang menjadi korban keganasan Hek Lojin, akan tetapi mengapa yang ditolong oleh sahabatnya itu kini berbalik menyerang Kun Hong?
Maka marahlah dia dan serta merta gerakan Bun Wan tadi dia sambut dengan kepakan sayap dan cengkeraman kukunya yang runcing.
Bun Wan kaget sekali, namun dia tidak kehilangan akal.
Melihat bahwa gerakan Burung ini mengandung kekuataan luar biasa besarnya, dia segera menjejak tanah dan tubuhnya melayang ke belakang, terluput daripada serbuan Burung itu.
Rajawali Emas memekik lagi dan menerjang maju, lebih hebat daripada tadi.
"Kim-Tiauw-Ko, jangan...!!"
Kun Hong berseru dan tubuhnya mencelat ke arah Burung Rajawali. Burung itu meragu ketika mendengar teriakan Kun Hong, menunda serbuannya dan di lain saat lehernya telah dirangkul oleh Kun Hong.
"Jangan serang dia..."
Kata pula Kun Hong, suaranya sedih.
"Kun Hong, kau manusia tidak tahu malu!"
Kembali Bun Wan memaki dengan dada turun naik saking marahnya.
"Apakah kau tidak bisa mendapatkan lain wanita kecuali calon-calon isteriku? Apakah karena matamu menjadi buta maka tidak ada wanita sudi kepadamu? Kami sedang pingsan dan engkau hendak menggunakan kesempatan ini berlaku hina kepada Hui Siang, benar-benar iblis berujud manusia, jahanam! Kalau memang laki-laki, hayo kita mengadu nyawa, seorang di antara kita harus menggeletak mampus di sini!"
Kun Hong hanya tersenyum sedih dan menundukkan mukanya.
Sementara itu wajah Hui Siang menjadi pucat sekali ketika mendengar ucapan kekasihnya ini.
Cepat ia memegang lengan Bun Wan dan diguncang-guncangkan seperti seorang membangunkan seseorang daripada mimpi buruk.
"Wan-Koko, diamlah...! Sudah, diamlah jangan bicara...!"
Setelah Bun Wan selesai memaki-maki Kun Hong, baru ia berkata.
"Wan-Koko, kau salah duga... ah, bagaimana kau bisa menjatuhkan tuduhan sekeji itu kepadanya? Wan-Koko, kau lihat ini..."
Ia membuka bajunya yang robek itu sehingga tampaklah luka bekas jarum-jarum itu pada kulit dadanya yang putih halus.
"Aku tadi terluka oleh tiga batang jarumku sendiri, aku pingsan dan pasti aku tidak akan dapat berkumpul lagi dalam keadaan hidup denganmu kalau tidak ada dia yang menolongku. Dia tidak berlaku kurang ajar, Koko... ah, jangan salah duga... dia tadi berbuat begitu untuk menghisap keluar darah yang sudah terkena racun. Tanpa usahanya itu, darah beracun akan menjalar terus dan merusak jantung. Wan-Koko... kau sadarlah..."
Bun Wan merasa seakan-akan mendengar halilintar menyambar di hari terang.
Matanya berkedip-kedip, mulutnya melongo ketika dia mendengar ini sambil menatap Kun Hong yang membelai-belai leher Kim-Tiauw.
Dia tadi merasa kepalanya nanar dan pening, sekarang dia menggoyang-goyang kepalanya untuk mengusir kepeningan itu.
Kemudian dia merangkul leher Hui Siang, mendekap kepala gadis itu pada dadanya, matanya dimeramkan dan ketika dibuka kembali tampak dua butir air mata menitik turun.
"Kun Hong..."
Suaranya serak, hampir tidak terdengar.
"Kun Hong... ternyata biarpun aku melek ternyata aku lebih buta daripadamu. Maafkan aku, Kun Hong..."
Kun Hong tersenyum, bukan senyum sedih lagi, dia gembira dan juga terharu.
Sekaligus dia melupakan sikap Bun Wan yang menyakitkan hati tadi, dan untuk melenyapkan suasana tidak enak, serta merta dia bertanya.
"Bun Wan, siapakah kakek keji yang merobohkan kalian tadi?"
Bun Wan masih dalam keadaan terpukul dan terharu, maka jawabnya masih dengan suara menggetar.
"Aku... aku tidak kenal, dia mengaku bernama Hek Lojin."
Diam-diam Kun Hong terkejut. Pernah dia mendengar ceritera Hui Kauw bahwa The Sun pemuda cerdik dan sakti itu adalah murid Hek Lojin. Hemm, pantas begitu lihai, kiranya guru The Sun, pikirnya.
"Kenapa dia menyerang kalian dan merobohkan secara keji?"
Orang yang merasa telah melakukan sesuatu yang salah, dan merasa amat menyesal akan kesalahannya yang membuat dia nampak tidak baik itu, akan selalu berusaha mengemukakan alasan segi baiknya untuk menutupi kesalahannya tadi, atau setidaknya mengurangi kesan-kesan buruk akibat kesalahannya.
Apalagi kalau orang itu memang memiliki watak yang angkuh.
Demikian pula dengan Bun Wan, dia seorang pemuda keturunan Ketua Kun-Lun-pai, selamanya menjunjung tinggi kegagahan, merasa bahwa dia sebagai keturunan pendekar dan patriot, maka kesalahan tadi amat memalukan dan membuatnya menyesal.
Sekarang mendengar pertanyaan Kun Hong, terbukalah kesempatan untuk menonjolkan diri, untuk menonjolkan segi-segi baik dari dirinya.
"Karena... agaknya dia berfihak kepada Kaisar dan membenciku karena mendengar bahwa aku adalah utusan raja muda di Utara. Dia menghina Kun-Lun-Pai, memaki-maki mendiang kakek guru dan para tokoh Kun-Lun yang dikatakannya pemberontak. Aku marahi tetapi dia lihai... bukan lawan aku dan Hui Siang."
Berubah wajah Kun Hong mendengar ucapan ini, hatinya berdebar keras dan dia menjadi amat terharu.
Alangkah jauh menyeleweng pikirannya terhadap Bun Wan selama ini.
Kiranya pemuda ini adalah seorang pejuang pula, malah seorang yang amat penting, yaitu utusan Raja Muda Yung Lo!
Inilah malah orangnya yang dimaksudkan untuk menerima surat rahasia itu.
Dalam sekelebatan saja otaknya mengingat-ingat dan bekerja.
Ah, tidak aneh, semenjak dahulu memang orang-orang Kun-Lun-Pai membantu perjuangan dan sudah terkenal kecerdikan mereka melakukan pekerjaan penyelidik atau mata-mata.
Masih teringat dia akan ceritera Ayahnya tentang diri Pek-Lek-Jiu Kwe Sin, bekas tunangan Ibunya, tokoh Kun-Lun-Pai yang juga menjadi tokoh mata-mata amat lihai dan cerdik (baca Raja Pedang).
Kiranya pemuda ini menyelundup ke Ching-Coa-To hanya untuk mempelajari keadaan, untuk menyelidiki keadaan para tokoh kang-ouw sampai kepada tokoh-tokoh jahatnya!
Dan agaknya dalam menjalankan tugasnya ini, pemuda gagah itu tersandung batu asmara dan terlibat tali-talinya yang ruwet dengan Hui Siang!
Dia menjadi terharu lalu cepat-cepat dia mengulurkan tangan memegang tangan Bun Wan.
"Wah, aku sampai lupa. Saudara Bun Wan, kau duduklah bersila. Kau harus mendapat pengobatan cepat-cepat karena lukamu di dalam akibat pukulan pada punggung cukup parah."
Ucapannya kini terdengar halus dan penuh sayang.
Bun Wan merasa akan hal ini, akan tetapi dia tidak membantah karena dia pun maklum akan bahayanya luka oleh tamparan tangan kakek sakti tadi.
Cepat dia duduk bersila dan membiarkan Kun Hong mengobatinya.
Pendekar Buta, itu bersila pula di belakangnya, menempelkan kedua telapak tangan di punggung dan leher sambil mengerahkan Sinkangnya.
Bun Wan merasa betapa dari kedua telapak tangan itu menjalar hawa yang panas dan dingin, hawa panas dari telapak tangan kanan dan hawa dingin dari yang kiri.
Diam-diam dia kagum bukan main dan menjadi terharu.
Alangkah hebat dan baiknya Pendekar Buta ini dan alangkah buruk nasibnya.
Diam-diam dia melamun.
Urusan dahulu dengan Cui Bi terbayang dalam benaknya.
Dan teringatlah dia akan urusannya sendiri dengan Hui Siang.
Seperti juga dia dan Hui Siang, Pendekar Buta ini dahulu terlibat oleh tali asmara dengan Cui Bi, tanpa diketahui bahwa Cui Bi telah ditunangkan dengannya sehingga percintaan itu berakhir amat menyedihkan.
Sekarang, kembali dia tadi telah mendatangkan penghinaan, menuduhnya yang bukan-bukan.
Padahal Kun Hong hanya menolong Hui Siang, mungkin merenggut nyawa kekasihnya itu daripada tangan maut.
Dan dia sudah menghinanya, menuduh yang bukan-bukan seperti yang pernah dia lakukan beberapa tahun yang lalu di puncak Thai-San, seperti yang dia lakukan pula belum lama ini di Ching-Coa-To, menuduh Kun Hong mempermainkan Hui Kauw.
Kiranya hanya sakit hati karena urusan Cui Bi saja yang mendatangkan pikiran yang bukan-bukan terhadap diri Pendekar Buta ini, membuat Pendekar Buta ini selalu salah dalam pikiran.
Ternyata semua itu tidak benar.
Kun Hong benar-benar seorang pendekar yang bersih dan sekarang ditambah lagi dengan bukti bahwa betapapun sudah berkali-kali dihina olehnya kini Pendekar Buta itu duduk berada di belakangnya mengerahkan tenaga dalam untuk menyembuhkannya!
Tidak terasa lagi bebetapa butir air mata mengalir turun dari pelupuk mata Bun Wan.
Kalau dia ingat sekarang, dengan pikiran baru karena kesadarannya, dialah orangnya yang tanpa disengaja telah menggagalkan hubungan antara Kun Hong dan Cui Bi, dialah orangnya yang tanpa disengaja telah menghancurkan kebahagiaan Kun Hong.
Semua itu masih dia tambah dengan sengaja untuk menghinanya, mendakwanya yang bukan-bukan, menanam Bibit kebencian didalam hatinya.
Dan Kun Hong membalasnya dengan kebaikan, dengan pertolongan besar, mungkin dengan penyelamatan nyawa dia dan Hui Siang karena siapa tahu kalau-kalau dia dan kekasihnya tidak dibunuh kakek sakti itu karena kedatangan Kun Hong!
Dia akan segera bertanya tentang ini setelah selesai pengobatan itu.
Sekarang tidak mungkin Pendekar Buta itu diajak bicara karena dia tahu bahwa Kun Hong tengah mengerahkan tenaga Sinkang untuk menyembuhkannya.
Makin lama hawa panas itu makin membakar di samping hawa dingin terasa menusuk-nusuk.
Kedua hawa itu berputaran di sekitar punggungnya dan mendatangkan rasa nikmat luar biasa, mengusir rasa pegal dan sesak di dadanya.
"Untung Lweekangmu sudah kuat sekali,"
Akhirnya Kun Hong berkata sambil melepaskan kedua tangannya.
"Sehingga pukulan itu dapat tertahan olehmu."
Dia bangkit berdiri dan menarik napas panjang.
Bun Wan juga berdiri dan selagi dia hendak menghaturkan terima kasih sambil bertanya tentang munculnya Kun Hong, Pendekar Buta itu sudah mendahului berkata.
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 5
Baca Juga: Petualang Asmara 3