Eps 9 Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Buta - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Buta - Kho Ping Hoo.
"Bun Wan, kaukah orang yang diutus Raja Muda Yung Lo untuk menerima surat rahasia peninggalan mendiang Kaisar tua?"
Bun Wan kaget.
Sebelum pertemuannya dengan Kun Hong sekarang ini, kalau dia ditanya demikian, sudah tentu dia akan menyangkal keras.
Akan tetapi tadi dia sudah mengaku, maka dia menjawab tanpa ragu lagi.
"Betul,"
Kun Hong tersenyum.
"lama sekali aku mencari-cari orangnya, mengharapkan kedatangannya, kiranya engkau malah orang itu. Jangan kau khawatir, Bun Wan. Surat itu selama ini berada di tanganku dan sekarang sudah diantarkan kepada Raja Muda Yung Lo."
Kaget dan herannya Bun Wan tidak kepalang besarnya sampai dia melongo.
"Apa kau bilang? Kau tahu surat wasiat itu?"
"Tentu saja aku tahu. Paman Tan Hok sendiri yang berkata kepadaku sebelum beliau meninggal. Surat itu disimpan secara rahasia di dalam Mahkota kuno dan..."
"Tetapi Mahkota itu terampas oleh nona Loan Ki..."
"Heee? Kau bilang Loan Ki?"
Kini Kun Hong yang terheran-heran.
Bun Wan lalu menceriterakan perebutan Mahkota itu antara dia dan Loan Ki yang dibantu oleh seorang pemuda aneh dan kemudian dibantu pula oleh Hui Kauw sehingga terpaksa dia meninggalkan Mahkota itu kepada mereka.
Kun Hong tersenyum girang, mengangguk-angguk.
"Bagus, Loan. Ki tidak seperti Ayahnya, ada juga jiwa pahlawan di dalam dadanya, ha-ha! Lucunya, kau dan mereka itu memperebutkan Mahkota dengan tujuan yang sama, karena mereka pun tidak rela kalau surat itu terjatuh ke tangan Kaisar yang sekarang. Dan lebih lucu lagi, kalian semua memperebutkan Mahkota yang kosong karena surat itu telah berada padaku. Sekarang telah dibawa oleh Sin Lee dan isterinya ke Utara."
Bukan main girangnya hati Bun Wan dan di samping kegirangan yang luar biasa karena surat rahasia penting itu telah diselamatkan dan dapat dikirimkan ke Utara, juga dia menjadi kagum dan terharu terhadap Kun Hong.
Siapa kira, Kun Hong yang buta dan yang dahulu dia pandang rendah ini tidak saja menjadi penolongnya, malah telah berjasa menyelamatkan surat wasiat itu!
Kekagumannya yang memuncak membuat dia merasa betapa jahat dan rendahnya sikapnya terhadap Kun Hong, betapa besarnya dosanya terhadap orang buta itu.
Penyesalan yang luar biasa menyelubungi hati Bun Wan.
Dia berdiri tegak, tetasan air mata masih membasahi pipinya, dengan perasaan menyesal dia memandang Kun Hong yang masih tersenyum-senyum di depannya itu.
Dalam pandangannya, senyum di wajah yang tidak berbiji mata itu mendatangkan perasaan yang menusuk-nusuk jantungnya, menimbulkan iba yang menjadi-jadi.
Dia teringat akan Kun Hong sebelum buta, seorang pemuda tampan dan halus, seorang pemuda yang dengan gagah berani menghadapi lawan-lawan berat di puncak Thai-San (baca Rajawali Emas).
Dan karena dia tidak mau mengalah, karena dia membeber rahasia di depan orang banyak, Kun Hong yang tampan dan bermata tajam seperti mata Burung Rajawali Emas itu kini menjadi buta!
Bun Wan merasa betapa dadanya perih seperti ditusuk pisau.
"Saudara Kun Hong, kiranya kau seorang pendekar besar yang patut kusembah dan kujunjung tinggi. Ah, selama ini aku benar-benar telah buta. Kedua mataku tidak ada gunanya sama sekali, tidak dapat melihat siapa adanya engkau ini. Apalagi kalau aku ingat bahwa kebutaan kedua matamu adalah karena aku... ah, dan kau sudah menolong keselamatan nyawaku dan nyawa Hui Siang... dan kau sudah menyelamatkan surat wasiat... benar-benar aku menyesal. Tidak patut aku menjadi keturunan Kun-Lun-Pai!"
Suara terakhir ini mengandung isak tertahan.
"Hussshhhhh, jangan bicara seperti itu, Saudara Bun Wan. Tidak perlu kau membongkar-bongkar peristiwa lama. Kebutaanku adalah sudah dikehendaki Thian Yang Maha Kuasa, tidak perlu siapa pun menyesalkan. Kau seorang pendekar, seorang keturunan pahlawan, kau patut menjadi tokoh Kun-Lun-pai."
"Ah, ucapanmu ini menunjukkan kebersihan hatimu, bahwa kau tidak pernah mendendam, dan aku selama ini... ah, Saudara Kun Hong, selama hidupku aku akan terus menyesal dan penyesalanku tidak akan pernah berakhir tanpa pengorbanan!"
"Saudara Bun Wan, jangan...!"
Kun Hong hanya dapat menduga dengan perasaannya yang halus saja bahwa pemuda Kun-Lun yang berhati keras itu akan melakukan sesuatu yang "gila", akan tetapi karena matanya buta, tidaklah dia dapat melihat apa yang akan dilakukannya itu, maka dia hanya dapat mencegah dengan mulut.
Terdengar gerakan cepat disusui pekik Hui Siang.
"Wan-Koko...! Ah, Wan-Koko... kenapa kau lakukan ini...??"
Gadis itu menangis.
Kun Hong hanya berdiri pucat, tidak tahu bahwa dengan nekat untuk menyatakan penyesalan hatinya, Bun Wan telah menggunakan jari tangannya mencokel keluar sebuah biji matanya sebelah kanan!
Darah keluar dari lubang mata kanannya itu, akan tetapi pemuda itu dengan tegak masih berdiri, ditangisi oleh Hui Siang yang menjadi kebingungan tidak karuan.
"Ha-ha-ha, Saudara Kun Hong. Puaslah hatiku sekarang. Untuk membutakan kedua mataku seperti yang telah kau lakukan, aku tidak sanggup karena ilmu kepandaianku tidak mungkin setinggi tingkatmu. Aku masih membutuhkan mataku yang sebelah lagi demi... demi... Hui Siang..."
"Ahhh...!"
Pucat wajah Kun Hong dan sekali berkelebat dia sudah berada di depan Bun Wan, tangannya meraba muka pemuda Kun-Lun-Pai itu dan tahulah dia kini bahwa pemuda itu benar-benar telah melakukan perbuatan gila, telah membutakan mata kanannya sendiri!
"Kau gila...!
Bun Wan, mengapa kau lakukan ini???"
Dengan suara gemetar Bun Wan berkata.
"Kaupun telah membutakan kedua matamu, karena aku! Dan kau berani membutakan mata biarpun kau seorang yang tidak bersalah dan kau masih dapat menjalani hidup ini dengan gagah perkasa, malah masih dapat menolong kami yang bermata! Kalau kau berani sehebat itu, apa artinya aku yang hanya berani membutakan sebelah mata karena penyesalanku dan karena dosa-dosaku...?"
"Gila...! Bocah gila...!"
Kun Hong cepat menotok jalan darah di tengkuk Bun Wan, kemudian dia menggunakan tongkatnya untuk mencoret beberapa huruf di dekat kakinya sambil menahan keharuan hatinya.
Dengan suara serak dia berkata.
"Kau carilah obat yang kutulis ini, kau pakai mengobati matamu... ah, tidak kusangka akan begini... Bun Wan, Hui Siang, selamat tinggal..."
Cepat-cepat Kun Hong membalikkan tubuh dan pergi dari situ agar tidak tampak oleh dua orang itu betapa dua titik air mata menetes turun dari pelupuk matanya yang sudah kosong.
Burung Rajawali Emas mengeluarkan suara merintih panjang, terbang di atasnya dan mengikutinya pergi dari situ, dipandang oleh Bun Wan yang masih berdiri tegak dan yang ditangisi Hui Siang yang memeluknya.
Di bawah, depan kaki pemuda Kun-Lun-Pai itu, di atas batu yang keras, terdapat huruf-huruf coretan dalam, tadi dibuat oleh tongkat Kun Hong, menggores dalam seperti dipahat saja!
Sudah sebulan lebih Kong Bu dan isterinya Li Eng, meninggalkan puncak Min-San.
Sebulan yang lalu, secara tiba-tiba seperti juga ketika perginya, kakek Song-Bun-Kwi muncul di Min-San.
Tadinya Kong Bu dan Li Eng menyambut kedatangannya dengan gembira sekali.
Akan tetapi alangkah kaget dan kecewa hati mereka ketika dengan muka cemberut kakek itu berkata pendek.
"Kalian dengar baik-baik. Thai-San-Pai telah diserbu orang, dirusak binasakan, banyak muridnya yang tewas. Adikmu Cui Sian diculik orang, Sekarang Ayahmu Tan Beng San dan isterinya meninggalkan Thai-San untuk mencari jejak musuh dan Cui Sian. Kau, Kong Bu, sebagai putera tertua Thai-San-Pai, kalau tidak dapat turun gunung membalas sakit hati Ayahmu ini, kau akan menjadi dua kali Puthauw (durhaka), selain goblok tidak mempunyai keturunan juga durhaka tidak tahu budi orang tua."
Hanya demikian saja kakek itu bicara, lalu membalikkan tubuh lari pula turun gunung.
Kong Bu dan isterinya saling pandang dengan muka pucat.
Mereka tahu bahwa kakek itu masih saja penasaran dan marah karena mereka tidak mempunyai turunan.
Sakit hati mereka dikata-katai seperti itu oleh kakek mereka dan Li Eng yang biasanya tabah dan keras hati itu sudah menangis.
"Eng-moi,"
Kong Bu menghIbur sambil memeluk isterinya.
"Sabarlah, sudah tidak aneh lagi kalau kakek bersikap seperti itu. Memang beliau seorang yang berwatak keras dan aneh."
Li Eng menggeleng kepala.
"Bukan itu... bukan itu..."
Katanya menahan isak.
"Aku bersumpah, sebelum dapat melihat adik Cui Sian kembali kepada orang tuanya dan sebelum mampu membalas musuh-musuh Thai-San-Pai, aku tidak akan mau pulang ke Min-San."
Kong Bu mengangguk.
"Baiklah, mari kita turun gunung dan membantu Ayah mencari adik Cui Sian dan membalas musuh-musuh itu."
Demikianlah, sepasang suami isteri ini lalu turun gunung, meninggalkan puncak Min-San dan mulai melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw Baru kali ini semenjak mereka menikah empat tahun lalu, mereka melakukan perjalanan berdua, turun gunung.
Dengan heran mereka mendapatkan kenyataan betapa menyenangkan perjalanan ini, betapa menggembirakan!
Perjalanan ini mengingatkan mereka akan pertemuan pertama mereka dahulu, pertemuan yang aneh, lucu dan mesra.
Pada pertemuan pertama itu keduanya juga masing-masing sedang merantau seperti sekarang ini, begitu bertemu saling bermusuh mengadu ilmu kepandaian sampai berjam-jam lamanya karena ilmu silat mereka memang setingkat.
Akhirnya Li Eng dapat dikalahkan dan dijadikan tawanan oleh Kong Bu, ke mana-mana dipondong di luar kemauan Li Eng.
Kemudian, dengan penggunaan akal, Li Eng dapat merobohkan Kong Bu dan bertukar peranan.
Li Eng yang sekarang menawan Kong Bu dan karena tidak sudi memondong tawanannya, ia lalu menyeretnya di sepanjang jalan (baca Rajawali Emas).
Semua peristiwa ini terbayang oleh sepasang suami isteri itu, menimbulkan kegembiraan besar dan kini mereka saling pandang dengan amat mesra, dengan kasih sayang baru.
Kenangan masa lalu itu membangkitkan kembali kasih mesra di antara mereka.
Memang sesungguhnyalah, amatlah tidak baik kalau suami isteri melupakan hal-hal seperti ini.
Tinggal di rumah saja bertahun-tahun, hidup sebagai alat-alat mati, segalanya Sudah teratur dan selalu begitu-begitu tanpa perubahan, setiap hari terulang kembali tanpa muncul hal-hal baru, tanpa melihat hal-hal baru, akan mudah mendatangkan rasa bosan.
Tanpa disadari akan membuat suami isteri itu merasa bahwa mereka terikat oleh beban rumah tangga yang membuat mereka tunduk terbungkuk-bungkuk, menyeret mereka menjadi hamba daripada keseragaman yang mereka ciptakan sendiri, memaksa mereka menjadi sebagian daripada bangunan mesin rumah tangga yang mereka bentuk sendiri.
Tubuh ini milik dunia, dan sudah menjadi sifat dunia selalu menghendaki yang baru mengubur yang lama.
Oleh karena tubuh ini milik dunia maka tubuh ini pun seperti halnya dunia, menghendaki pula hal-hal yang baru, selalu rindu dan mencari sesuatu yang baru.
Demikian pula dengan suami isteri, karena mereka hanya manusia-manusia yang bertubuh, dengan sendirinya mereka pun membutuhkan hal-hal yang baru untuk mempertahankan kebahagiaan rumah tangganya.
Mereka sendirilah yang harus menciptakan hal-hal baru ini, harus pandai mencari suasana yang baru karena hal ini akan membangkitkan gairah hidup, akan menambah terang cahaya kebahagiaan rumah tangga, akan memperbaru atau mempertebal kasih mesra di antara mereka sendiri (dalam bahasa Jawa disebut ambangun trisno).
Suami isteri harus pandai memilih saat-saat di mana mereka dapat memisahkan diri daripada keseragaman tiap hari itu, berdua saja untuk sementara memisahkan diri daripada suasana sehari-hari yang selalu begitu-begitu saja sehingga membosankan.
Demikianlah, tanpa disengaja, Kong Bu dan Li Eng telah menciptakan suasana baru dengan kepergian mereka turun gunung.
Tidak mengherankan apabila mereka merasakan kebahagiaan dan kegembiraan luar biasa dalam perjalanan ini, seakan-akan mereka memasuki hidup baru yang jauh berbeda daripada kehidupan sehari-hari yang begitu-begitu saja di puncak Min-San.
Biasanya setiap hari mereka hanya mengenal hal seperti ini, yaitu bangun pagi-pagi, melatih para murid, bekerja di ladang, melatih murid-murid lagi, malamnya berlatih sendiri, mengaso, tidur.
Demikianlah acara tunggal tiap hari.
Pemandangan alam yang dilihat pun itu-itu juga.
Kini, begitu turun gunung, mereka memasuki suasana baru.
Hawa baru, pemandangan baru, pendengaran baru dan kesemuanya ini menyiram bunga kebahagiaan yang tadinya agak melayu oleh kebosanan.
Bersinar-sinar mata mereka, tersenyum-senyum Bibir mereka, kemerahan pipi Li Eng kalau memandang suaminya, amat mesra pandang mata Kong Bu kalau menatap wajah isterinya, dan keduanya mendapatkan kebahagiaan baru dalam perjalanan ini.
Seperti juga yang telah dilakukan oteh kakek mereka, juga oleh suami isteri Thai-San-Pai dan oleh Sin Lee dan isterinya, suami isteri Min-San ini pun melakukan penyelidikan di dunia kang-ouw.
Banyak sudah tokoh kang-ouw yang mereka datangi untuk dimintai keterangan, kalau-kalau ada di antara mereka yang mendengar siapa-siapa yang telah menyerbu Thai-San.
Akan tetapi tidak seorang pun di antara mereka yang mengetahui akan peristiwa itu dan karenanya juga tidak dapat menduga siapa yang memusuhi Thai-San.
Malah berita ini mengejutkan dan menggegerkan dunia kang-ouw, karena peristiwa itu sudah pasti akan berekor panjang.
Siapakah mereka yang begitu berani mati mengganggu Thai-San-Pai?
Dengan hati berdebar dan tegang, para tokoh kang-ouw menanti-nanti datangnya ledakan dahsyat akibat kejadian ini, karena tidak boleh tidak tentu fihak Thai-San-Pai akan melakukan pembalasan!
"Tidak ada lain jalan, isteriku,"
Kata Kong Bu ketika mereka berdua sedang mengaso pada tengah hari yang terik di bawah pohon besar.
"Kita harus mendatangi tempat tinggal para musuh Ayah. Penyerbuan di Thai-San itu agaknya dilakukan penuh rahasia sehingga tidak ada yang tahu. Menurut pendapatku, mereka yang menyerbu Thai-San-Pai tentulah keluarga atau handai-taulan daripada musuh-musuh Ayah, tanpa dasar dendam sakit hati siapakah orangnya berani dan mau menyerbu Thai-San-Pai sedangkan Ayah terkenal sebagai seorang pendekar besar?"
Li Eng sedang duduk melonjorkan kedua kakinya dan tubuhnya bersandar pada batang pohon itu, kedua matanya dimeramkan.
Agaknya ia nampak lelah sekali dan mengantuk.
Mendengar ucapan suaminya, ia menjawab.
"Memang agaknya begitu, akan tetapi yang lebih jelas lagi adalah bahwa mereka yang menyerbu itu tentu orang-orang yang memiliki ilrnu kepandaian tinggi. Kalau tidak, mana mampu mereka mengganggu Thai-San-Pai?"
Kong Bu setuju dengan pendapat isterinya ini.
Ayahnya adalah Raja Pedang yang sukar dicari bandingannya di dunia kang-ouw, Ibu tirinya juga seorang pendekar pedang wanita yang berilmu tinggi.
Kalau bukan orang-orang yang sakti, takkan mungkin berani mengganggu kesana, apa lagi sampai berhasil merusak binasakan dan menculik Cui Sian.
Ia mengingat-ingat mereka yang dahulu memusuhi Ayahnya Siauw-Ong-Kwi tokoh utama dan muridnya, Siauw-Coa-Ong Giam Kin, keduanya sudah tewas dalam pertemuan di Thai-San.
Toat-Beng Yok-Mo juga sudah tewas, begitupun Pak Thian Locu dan Hek Hwa Kui-bo.
Tokoh-tokoh utama dunia persilatan sudah banyak yang tewas dan di antara empat besar yaitu Song-Bun-Kwi dari Barat, Swi Lek Hosiang dari Timur, Siauw-Ong-Kwi dari Utara dan Hek Hwa Kui-bo dari Selatan, kini yang masih hidup hanya kakeknya, Song-Bun-Kwi dan Swi Lek Hosiang.
Akan tetapi Tai-Lek-Sin Swi Lek Hosiang bukanlah orang yang termasuk menjadi musuh Ayahnya.
Adapun kakeknya, biarpun dahulu memusuhi Ayahnya, akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, malah membantu.
siapakah pula orang sakti yang dapat menyerbu ke Thai-San?
Terbayang wajah Hek Hwa Kui-bo yang jahat dan dia mengingat-ingat siapa sanak keluarga nenek iblis ini.
Tiba-tiba dia meloncat bangun dan menepuk-nepuk pahanya.
"Wah, kalau bukan mereka siapa lagi?"
Mendengar suara suaminya ini, Li Eng membuka kedua matanya yang mengantuk, terheran-heran melihat sikap suaminya yang seperti keranjingan itu.
"Eh, kau teringat siapakah?"
Tanyanya, terganggu karena tadi ia hampir pulas saking nikmatnya mengaso di bawah pohon yang teduh dan dikipasi angin semilir.
"Ketemu sekarang, Eng-moi! Tentu mereka, wah, siapa lagi kalau bukan mereka?"
Li Eng kini melemparkan punggungnya, duduk tidak bersandar lagi, matanya sudah terbuka lebar menatap wajah suaminya.
"Duduklah yang baik bicara yang benar! Siapa yang kau maksudkan? Kau seperti sedang teringat kepada kekasihmu yang dulu saja."
"Eh, eh, tiada hujan tiada angin tiba-tiba saja kau cemburu?"
Kong Bu segera duduk di dekat isterinya dan merangkul lehernya.
"Sejak dahulu kekasihku hanya kau, ada siapa lagi? Aku bukan sedang teringat akan kekasih, melainkan teringat akan murid mendiang Hek Hwa Kui-bo, yaitu Ketua Ngo-Lian-Kauw yang berjuluk Kim-Thouw Thian-Li. Kau tentu masih ingat akan dia, bukan? Nah, dia sudah tewas tetapi Ngo-Lian-Kauw masih berdiri, kabarnya malah makin kuat. Orang-orang Ngo-Lian-Kauw lihai, juga licin dan curang sekali. Mereka patut dicurigai. Kurasa, setidak-tidaknya mereka tentu bercampur tangan dalam penyerbuan Thai-San-Pai."
Li Eng mengerutkan keningnya yang hitam panjang, lalu mengangguk-angguk.
"Betul juga katamu, kalau mengingat mereka, aku pun curiga. Perkumpulan iblis itu dapat melakukan kejahatan yang bagaimanapun juga."
"Aku tahu sarangnya!"
Kong Bu berkata cepat.
"Ngo-Lian-Kauw (Perkumpulan Agama Lima Teratai) berpusat di lembah Sungai Huai, di sebelah Barat Kota Raja dan sebelah Utara kota Ho-Pei. Li Eng, hayo kita berangkat sekarang juga."
Kong Bu melompat berdiri lagi, akan tetapi dia memandang heran kepada isterinya yang masih saja duduk bermalas-malasan, malah sambil menguap dan mengulet isterinya kembali bersandar kepada batang pohon.
Kong Bu memegang tangan Li Eng, menarik-nariknya mengajak bangun, (lanjut ke
Jilid 24) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 24
"Hayo, bangunlah...!"
Tetapi dia menjadi keheranan. ketika melihat Li Eng sama sekali tidak mau bangun berdiri, malah merenggut tangannya.
"Ihhh, kau kenapakah?"
Kong Bu cepat berlutut lagi dekat isterinya.
"Kenapa malas benar? Atau... tidak enakkah badanmu?"
"Entah, aku malas... ngantuk. Kita mengaso dulu, biarlah aku tidur, hari masih amat panas, aku ogah melakukan perjalanan. Di sini enak sekali, sejuk dan nyaman. Nanti saja kalau sudah teduh kita melanjutkan perjalanan, mengapa sih buru-buru amat?"
Kong Bu memandang terheran-heran.
Ini bukan watak Li Eng sehari-hari, pikirnya.
Biasanya, isterinya adalah seorang wanita yang lincah, yang selalu bergerak seperti Burung Walet, tidak mau diam apalagi bermalas-malasan seperti ini.
Apakah yang terjadi?
Mengapa isterinya mengalami prerubahan watak begini aneh?
"Eng-moi, sakitkah kau...?"
Dengan penuh kasih sayang Kong Bu meraba jidat isterinya. Akan tetapi Li Eng mengipatkan tangan itu dan berkata, suaranya agak kaku.
"Jangan ganggu aku! Aku mau tidur, aku tidak sakit apa-apa!"
Dan ia tidak mau perdulikan lagi pada suaminya karena matanya sudah meram dan ia benar-benar berusaha untuk tidur.
Kong Bu tercengang, lalu duduk termenung menatapi wajah isterinya.
Benar-benar luar biasa.
Kenapa Li Eng jadi berangasan seperti ini?
Tampaknya hendak marah-marah, akan tetapi anehnya, sebentar saja isterinya itu telah pulas, dari pernapasannya yang panjang Kong Bu terpaksa menahan sabar, menunda keberangkatannya ke sarang Ngo-Lian-Kauw untuk menyelidiki perkumpulan itu yang dia duga tentu mempunyai saham besar dalam peristiwa penyerbuan Thai-San-Pai.
Memang panas hawa pada tengah hari amat teriknya, biarpun sinarnya ditangkis oleh dahan-dahan pohon, namun sinar yang menerobos dari celah-celah daun menyilaukan mata.
Nyaman berlindung di bawah pohon itu dan Kong Bu perlahan-lahan mengantuk juga setelah lama memandang wajah isterinya yang sudah tidur pulas dengan aman tenteramnya.
Akan tetapi selagi dia layap-layap hendak pulas, dia bangun lagi.
Cepat dia duduk dan memperhatikan.
Tidak salah, ada orang bernyanyi-nyanyi di tengah hutan.
Suara orang itu makin lama makin jelas, tanda bahwa orang yang bernyanyi itu sedang berjalan menuju ke mari.
Suaranya parau dan keras, akan tetapi kata-kata lagu yang dinyanyikan itu menarik perhatian Kong Bu.
Dia memperhatikan dan diam-diam mendengar suara nyaring itu dia dapat menduga bahwa orang yang lewat di hutan dan bernyanyi ini tentulah seorang berkepandaian.
"Kemenangan melahirkan kesombongan menimbulkan benci permusuhan hidup tak tenteram lagi. Kekalahan melahirkan? penasaran menimbulkan dendam memupuk pembalasan hidup tak tenteram lagi. Yang melempar jauh-jauh kemenangan maupun kekalahan dialah orang bahagia. Yang dikagumi dan dikehendaki para bijak budiman adalah kemenangan batin!"
Suara orang yang bernyanyi itu kini tidak makin dekat, tanda bahwa orang itu agaknya juga berhenti, tetapi terus bernyanyi.
Sehabis bernyanyi dengan suara parau seperti kaleng diseret, terdengar dia terbahak-bahak dan, terkekeh-kekeh tertawa.
"Ha-ha-ha-he-he-he, Pendeta-Pendeta palsu, Hwesio-Hwesio menggelikan! Indah-indah bunyi sajaknya, bagus-bagus pitutur dan ayat-ayat sucinya. Apa yang lebih Suci di antara segala ayat daripada yang terdapat dalam kitab-kitabnya? Tetapi, ayat-ayat tetap suci, pelaku-pelakunya yang kotor, heh-heh-heh, mulut menghambur ayat-ayat Suci tangan melakukan perbuatan-perbuatan kotor!"
Diam-diam Kong Bu terkejut.
Ingin sekali dia melihat macam apa orangnya yang dapat menyanyikan kata-kata sehebat itu lalu bicara seorang diri yang agaknya ditujukan untuk mengejek para Hwesio yang biasa melakukan sembahyang dan berdoa dengan lagu seperti itu.
Akan tetapi dia menunda maksud hatinya karena takut kalau-kalau akan membikin orang itu tidak senang, apalagi pada saat itu dia bernyanyi pula dengan suaranya yang parau dan kacau seperti suara katak buduk di hari hujan.
"Mengenal keadaan orang lain memang bijaksana mengenal diri sendiri barulah waspada. Mengalahkan orang lain memang kuat badannya mengalahkan diri sendiri barulah kuat batinnya."
"Heh-heh-heh, segala Tosu bau, bisa saja menyanyikan ayat-ayat To-Tik-Keng. Tetapi hanya mulut... mulut...! Lidah tidak bertulang, orang tampak manis pada mulutnya, gigi tampak putih berkilat. Tetapi lihat di baliknya! Kotor... kotor... palsu! Ha-ha-ha-heh-heh-heh, Hwesio-Hwesio dan Tosu-Tosu sama saja, setali tiga uang. Mulut dan hati seperti bumi dengan langit, kata-kata dan perbuatan seperti terang dengan gelap!"
Terdengar suara orang itu mendekat lagi.
Entah bagaimana, Kong Bu mendapat perasaan aneh seperti membisikinya bahwa terhadap orang ini dia tidak boleh main-main.
Lebih baik menjauhinya atau lebih baik tidak mengenalnya.
Dia sudah banyak mengenal tokoh aneh, kakeknya sendiri pun seorang yang dijuluki iblis.
Akan tetapi orang ini mencaci dan mengejek para Pendeta, baik Pendeta Hwesio (Buddha) maupun Pendeta Tosu (Agama To) sambil menyanyikan ayat-ayat Suci mereka.
Orang yang sudah membenci semua Pendeta, biarpun mengejek kepalsuan mereka, pastilah bukan orang sembarangan dan dia mendapat firasat bahwa orang ini amatlah berbahaya.
Celakanya agaknya orang itu melangkahkan kaki menuju ke tempat dia dan isterinya mengaso.
Kong Bu bukanlah seorang penakut, jauh daripada itu.
Dia seorang pendekar gagah perkasa yang tidak pernah mengenal arti takut.
Dia seorang asuhan kakek iblis Song-Bun-Kwi.
Akan tetapi pada saat itu dia lalu membaringkan diri di dekat isterinya dan pura-pura tidur pulas ketika orang yang bernyanyi-nyanyi itu sudah makin dekat.
Dia sengaja berbaring miring, matanya mengintai dari balik bulu mata.
Orang ini berhenti dekat tempat suami isteri itu tidur.
Dengan kaget Kong Bu melihat seorang kakek tua yang berpakaian serba kuning, seorang kakek yang kepalanya gundul dan kulitnya hitam seluruhnya!
Sambil menyeret sebatang tongkat panjang berwarna hitam pula, kakek itu tadi melangkah datang dengan langkah lebar dengan kakinya yang telanjang dan hitam sampai ke telapak-telapaknya, sejenak kakek itu berdiri termangu, memandang suami isteri yang masih tidur pulas.
Lama dia menatap wajah Li Eng yang cantik jelita dan tampak manis dalam tidurnya.
Kemudian dia tertawa berkakakan.
"Ha-ha-ha-he-he-heh! Wah, aku benar-benar sudah tua bangka, sudah hampir mati nafsu-nafsu badan yang reyot ini. Kalau dulu, dua puluh tahun yang lalu, tentu takkan kulewatkan saja mereka ini. Yang jantan kubikin mampus, yang betina kuambil. Ha-ha-ha!"
Dia mengamat-amati lagi sambil tertawa ha-ha-he-he, amat menyeramkan.
"Wah-wah, bawa-bawa pedang segala. Jangan-jangan anggauta pemberontak? Hee, bocah, enak saja tidur bermesra-mesraan, mabuk yang-yangan (bercintaan), hayo bangun!"
Ujung kakinya bergerak mencongkel tanah dan bukan main kagetnya hati Kong Bu ketika segumpal tanah melayang dengan kekuatan dahsyat ke arah kepalanya!
Tentu saja dia tidak mau dilukai, tidak sudi dihina seperti itu.
Tubuhnya bergerak melenjit dan tahu-tahu dia sudah berdiri dengan tegak dan gagah, gumpalan tanah itu sama sekali tidak menyentuhnya.
"Ha-ha-he-heh, benar juga! Kiranya memiliki sedikit kepandaian yang jantan ini. Entah bagaimana yang betina!"
Kembali Ibu jari kaki kanannya mencokel tanah dan segumpal tanah melayang ke arah muka Li Eng.
Kong Bu marah sekali, tubuhnya terayun dan dia hendak menyambar tanah yang mengancam muka isterinya itu.
Akan tetapi tiba-tiba Li Eng sudah pula mengulur tangan, tanpa membuka matanya ia telah dapat menangkap gumpalan tanah itu dengan tangan kanannya, kemudian seperti tidak sengaja tangannya bergerak dan...
gumpalan tanah itu melayang cepat ke arah muka kakek itu, senjata makan tuan!
"Ah, lihai...!"
Kakek itu berseru, kaget juga menyaksikan demonstrasi kepandaian wanita muda itu dan cepat dia menundukkan muka untuk membiarkan tanah itu lewat di atas kepalanya.
Tentu saja kakek ini kaget dan heran karena dia tidak tahu bahwa Kui Li Eng adalah puteri tunggal Kui Lok dan Thio Bwee, dua orang tokoh Hoa-San-Pai yang sudah mewarisi ilmu kepandaian aseli dari Hoa-San termasuk ilmu mempergunakan senjata rahasia!
Li Eng memang sudah sadar ketika mendengar suara kakek itu tadi, akan tetapi ia pura-pura masih tidur.
Sekarang ia melompat bangun dan berdiri di samping suaminya, matanya yang jeli dan tajam menatap kakek itu, menaksir-naksir dan mengingat-ingat.
Akan tetapi, seperti juga suaminya, belum pernah ia bertemu atau mendengar akan adanya seorang tokoh kang-ouw seperti kakek ini.
Ia juga tidak berani memandang rendah karena tenaga cokelan Ibu jari kaki kakek itu saja tadi telah menggetarkan tangannya yang menerima tanah, tanda bahwa kakek ini memiliki Lweekang yang tinggi tingkatnya.
"Lo-Cianpwe ini siapakah dan mengapa mengganggu kami berdua suami isteri yang sedang beristirahat?"
Kata Kong Bu sambil menjura.
Sikapnya cukup sopan akan tetapi tidak terlalu merendah.
Kakek itu tidak menjawab, malah matanya tidak berkedip memandang kepada Li Eng bukan memandang wajahnya, melainkan memandang ke arah...
perutnya!
Tentu saja Li Eng merasa mendongkol bukan main berbareng juga ngeri.
Mata dengan manik mata kelihatan terlalu putih di balik wajah hitam itu seakan-akan menelanjanginya dengan pandangannya itu.
"He, Kakek! Kau melihat apa?"
Bentaknya marah.
"Heh-heh-heh, melihat perutmu. Ha-ha-ha, suami isteri yang aneh! Isteri mengandung malah diajak berkeliaran di hutan liar, apakah mengidam binatang hutan?"
"Kakek tua bangka, sudah tua makin kurang ajar! Tutup mulutmu yang kotor itu!"
Li Eng makin marah, memaki-maki.
"Heh-heh-heh, memang begitulah. Kalau belum sebulan, hawanya ingin marah saja, tanda anak perempuan! Ha-ha-ha!"
Li Eng sudah bergerak hendak menyerang kakek ini, akan tetapi Kong Bu memegang lengannya.
Diam-diam ada perasaan aneh menyelinap di hati Kong Bu.
Memang sikap Li Eng aneh, aneh bukan main.
Tadi pun ia sudah terheran-heran menyaksikan perubahan pada sikap isterinya.
Jadi inilah rahasianya?
Benar-benarkah isterinya mengidam, mulai mengandung?
Wah, kalau betul begitu, jangankan harus memarahi kakek itu, malah mau rasanya dia merangkul dan mencium muka tua yang hitam itu!
Perasaan girang luar biasa menyelubungi hati Kong Bu, tanpa terasa lagi dia telah melingkarkan lengan kirinya pada pinggang isterinya dengan mesra, kemudian bertanya "Lo-Cianpwe, siapakah nama Lo-Cianpwe yang mulia?
Dan ada keperluan apakah Lo-Cianpwe dengan kami suami isteri?"
"Kau beruntung, orang muda. Isterimu Cantik jelita, kepandaiannya lumayan, lincah gembira dan sekarang sudah dapat diharapkan akan menghadiahimu seorang bocah perempuan. Ha-ha-ha, kau mau tahu siapa aku? Tua bangka, ini orang tidak terkenal, disebut Hek Lojin dari Go-Bi,"
Kong Bu belum pernah mendengar nama ini, akan tetapi dia cepat menjura dengan hormat lalu memperkenalkan diri.
"Saya bernama Tan Kong Bu dan ini isteri saya. Tidak tahu ada keperluan apakah Lo-Cianpwe menemui kami?"
"Tidak ada apa-apa... kebetulan saja... ah, barangkali kau tadi melihat adanya seorang pemberontak muda yang matanya buta. Aku sedang mencari-cari dia itu. Apakah kalian melihatnya?"
Diam-diam Kong Bu dan juga Li Eng terkejut.
Tidak salah lagi, tentu Kun Hong yang dimaksudkan.
Tetapi mengapa pemberontak?
Ah, jangan-jangan orang lain, di dunia ini banyak orang muda yang buta.
Dengan menekan debaran jantungnya, Kong Bu bertanya.
"Kami tidak melihatnya. Siapakah dia itu, Lo-Cianpwe? Mana ada orang muda buta bisa jadi pemberontak?"
Kakek itu terkekeh-kekeh.
"Ha-ha-ha, memang lucu. Ini tanda bahwa mereka di Kota Raja tidak becus apa-apa. Katanya pemberontak buta itu mengacau Kota Raja, hampir tertawan lalu dapat lolos ditolong seekor Burung Rajawali Emas. Dasar goblok semua yang di Kota Raja. Termasuk Hwesio gundul Siauw-Lim itu hanya lagaknya saja besar. Buktinya dengan mengeroyok pun tidak dapat menangkap seorang muda buta. Padahal... heh-heh-heh, ketika bertemu dengan aku, pemuda buta dan Burungnya itu... ha-ha-heh-he-heh, dia berlutut dan mengangguk-angguk tujuh kali di depanku, malah kulangkahi kepalanya dengan sebelah kakiku. Hah, sayang sekali, kalau aku tahu dia itu seorang pemberontak, sudah tentu tidak akan dapat kulepas dan kuampuni begitu saja!"
Sekarang yakinlah hati Kong Bu dan Li Eng bahwa yang dimaksudkan oleh kakek aneh ini tentulah Kun Hong.
Di dunia ini siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang biarpun matanya buta dapat mengacau Kota Raja?
Siapa lagi kalau bukan Kun Hong yang ditolong oleh Rajawali Emas?
Hati Li Eng sudah panas bukan main, namun ia masih menekan suaranya ketika berkata.
"Kau mencari dia mau apakah, Kakek?"
Tidak bisa ia harus mencontoh suaminya yang menyebut Lo-Cianpwe kepada kakek hitam yang dianggapnya kurang ajar ini.
"Ha-ha-ha-heh-heh, mau apa tanyamu? Matanya sudah buta, tinggal telinganya yang harus dibikin tuli, hidungnya kuhancurkan, mulutnya kurobek, benci aku kepada pemberontak, benci..."
"Keparat jahanam!"
Li Eng tidak dapat menahan kesabarannya lagi dan sekali bergerak, pedangnya sudah berada di tangan.
"Enak saja mulutmu yang busuk itu mengoceh. Bukankah kau maksudkan orang itu bernama Kwa Kun Hong?"
"Heh, benar... kau tahu...?"
"Tentu saja kakek jahanam! Dia adalah pamanku dan tidak usah kau mencari dia, pedang di tanganku sudah sanggup mengirim kau pulang ke neraka jahanam!"
Li Eng tidak memberi kesempatan lagi, cepat ia menerjang dengan pedangnya. Sinar putih bergulung-gulung melayang ke arah kakek itu.
"Ayaaaaaaa, kiranya kalian juga pemberontak-pemberontak, ha-ha-ha-heh-heh-heh!"
Kakek itu cepat mengelak dan diam-diam dia terkesiap juga menyaksikan kilatan sinar pedang yang demikian hebatnya.
"Benar, isteriku, kakek iblis ini harus dibasmi!"
Bentak pula Kong Bu dan kembali sinar pedang yang panjang menyambar.
Kakek ini makin kaget dan tahulah dia bahwa dua orang ini biarpun masih muda-muda, namun ternyata telah memiliki ilmu pedang yang jempolan dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.
Kakek ini memang Hek Lojin adanya, orang tua lihai dari Go-Bi, guru The-Kongcu atau The Sun.
Sudah kita ketahui bahwa kakek ini pernah bertemu dengan Kun Hong dan Rajawali Emas, dan hampir terjadi peristiwa kalau saja Kun Hong tidak bersabar dan mengalah.
Ketika Hek Lojin ini memasuki Kota Raja, dia disambut dengan segala kehormatan oleh The Sun.
Akan tetapi ketika kakek aneh ini mendengar tentang Kun Hong dan Rajawali Emas, dia mengejek dan menceritakan pengalamannya menghina pemuda buta itu kepada The Sun dan para jagoan Istana yang ikut menyambutnya.
"Heh-heh-heh, A Sun, muridku, kenapa kalian begitu goblok? Menangkap pemberontak buta seperti dia saja tidak becus, padahal di Kota Raja ini terdapat banyak orang? Heh-heh, percuma saja kalau begitu. Habis, Thian Te Cu ini apa saja kerjanya?"
Dia menuding adik seperguruannya yang hadir pula di situ, dan mengerling kepada semua yang hadir.
"Suheng, biarpun dia masih muda, si buta itu benar-benar lihai sekali,"
Bantah Thian Te Cu dengan muka merah karena ditegur dan diketawai Suhengnya di depan banyak orang.
"Uuaaah, lihai apanya? Kalau dia lihai kenapa mau berlutut dan mengangguk tujuh kali di depan kakiku, kepalanya kulangkahi kaki dia tidak berani apa-apa. Dasar kalian yang tiada gunanya. Uhh!"
Kakek hitam ini memang sudah terlalu lama meninggalkan dunia ramai, bertapa di dalam hutan di atas gunung sehingga wataknya sudah berubah seperti orang hutan saja.
Dia tidak perduli lagi akan sopan santun dunia ramai, bicara asal membuka mulut saja, tidak perduli apakah kata-katanya menyinggung orang ataukah tidak.
Karena terlalu tua, agaknya dia sudah pikun atau sudah lupa akan tata susila atau tata cara pergaulan.
Bhok Hwesio sebaliknya adalah seorang Hwesio yang menjaga keras peraturan, seperti biasanya Hwesio-Hwesio dari Siauw-Lim-Pai.
Sejak tadi dia sudah mendelik-mendelik memandang kepada kakek hitam itu.
Akan tetapi karena dia tersinggung tidak secara langsung dan kakek hitam itu hanya menegur Sutenya sendiri, dia pun menahan kesabaran dengan muka merah.
Sekarang, mendengar betapa kakek hitam itu berkali-kali menyebut "Kalian"
Goblok, tiada gunanya dan lain-lain, dia menjadi marah sekali.
Terdengar dia mendengus satu kali dan tiba-tiba meja di depannya amblas ke bawah sampai dua puluh senti lebih.
Empat kaki meja itu amblas menembus lantai yang keras dari ruangan itu, amblas tanpa mengeluarkan bunyi seakan-akan empat kaki meja itu menembus agar-agar saja.
Dalam kemarahannya, Hwesio Siauw-Lim ini ternyata telah menggunakan Lweekangnya yang memang amat mengagumkan dan sudah mencapai tingkat tinggi sekali.
Semua orang kaget dan diam-diam merasa tidak enak, maklum bahwa Hwesio ini marah kepada kakek hitam itu.
"Hemmm, sudah pernah Pinceng mendengar nama besar Hek Lojin dari Go-Bi yang tinggi menyundul langit. Dengan adanya Hek Lojin di sini orang-orang macam Pinceng ini apa gunanya lagi? Lebih baik pergi dan membaca doa di kelenteng! Tapi, biasanya kalau geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat."
Hek Lojin pelototkan matanya. Tentu saja dia maklum apa artinya ucapan "geledek menyambar-nyambar hebat, belum tentu hujannya lebat"
Itu yang boleh diartikan, bicara besar, belum tentu kepandaiannya tinggi. Melihat Hwesio Siauw-Lim itu sudah bangkit dari tempat duduknya, dia pun berdiri dan berkata.
"He-heh-heh, Hwesio tukang berdoa. Boleh kita coba-coba!"
"Omitohud, Pinceng ingin sekali menerima petunjuk!"
The Sun menjadi sibuk. Cepat-cepat dia bangkit dan berdiri di antara kedua jago tua yang sudah hendak saling terjang ini.
"Suhu... Lo-Suhu... harap Ji-wi sudi duduk kembali. Harap suka melihat muka Teecu... yang dalam hal ini mewakili Kaisar. Ji-wi dipersilahkan datang untuk menghadapi para pemberontak, bukan untuk saling bermusuhan. Harap suka ingat bahwa para pemberontak belum tertumpas."
Bhok Hwesio menarik napas panjang dan duduk kembali.
"Maaf, Pinceng sampai lupa diri, Omitohud..."
Hek Lojin nampak uring-uringan.
"Apa sih hebatnya si pemberontak buta? Kalian semua lihat saja, aku akan pergi menangkapnya dan menyeretnya ke hadapan kalian!"
Setelah berkata demikian, kakek hitam ini melesat lenyap dari situ tanpa dapat dicegah lagi.
Demikianlah, dengan hati marah Hek Lojin keluar dari Kota Raja untuk mengejar Kun Hong.
Dia hendak membuktikan kesanggupannya, hendak membuktikan omongannya.
Dia yakin bahwa dengan mudah dia akan dapat membunuh Burung Rajawali dan lebih mudah lagi menawan pemberontak buta yang sudah amat takut terhadapnya itu.
Karena mendongkol kepada Sutenya yang menjadi Tosu, mendongkol pula kepada Bhok Hwesio, maka di sepanjang jalan dia menyanyikan sajak-sajak Agama To dan Buddha sambil mengejek dan kebetulan sekali dia bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng.
Suami isteri muda itu menjadi marah sekali setelah mendengar bahwa kakek ini memusuhi Kun Hong.
Setelah mereka berdua serentak maju menyerang menggunakan pedang mereka, barulah Hek Lojin menjadi kaget.
Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ilmu pedang kedua orang muda ini begitu hebat, menyambar-nyambar seperti sepasang Burung garuda sakti.
Gaya permainan kedua suami isteri itu jauh berbeda dan inilah yang membuat dia terheran dan kagum.
Jelas bahwa suami isteri ini memiliki ilmu pedang dari dua macam sumber yang sama tingginya.
Kalau tadinya Hek Lojin bersikap main-main dan bermaksud melayani kedua orang itu dengan memandang rendah, kini dia bersungguh-sungguh.
Cepat dia pun menggerakkan tongkat hitam yang panjang itu, sekaligus menangkis dan balas menyerang dengan hebatnya.
Sekali bertemu senjata, baik Li Eng maupun Kong Bu terkejut karena tenaga kakek hitam ini benar-benar dahsyat bukan main.
Hampir saja pedang mereka terlempar ketika beradu dengan tongkat hitam panjang.
Mereka berlaku hati-hati sekali karena maklum bahwa apabila pertempuran diandalkan tenaga, mereka akan kalah jauh.
Di lain fihak, kakek itu pun kagum ketika pada pertemuan pertama antara senjata mereka tadi, dia masih belum mampu memukul jatuh pedang-pedang lawan.
Ini saja menjadi bukti bahwa kedua orang lawannya yang masih amat muda-muda itu benar-benar murid-murid orang sakti.
Kiranya dalam hal kepandaian, suami isteri ini setingkat dengan muridnya, The Sun.
Padahal, tadinya dia mengira bahwa di dunia ini belum tentu dapat dicari keduanya seorang muda dengan kepandaian setingkat muridnya itu.
Pertempuran itu berjalan cepat sekali.
Dua puluh jurus telah lewat dan masih saja mereka bertempur mempergunakan kecepataan, suami isteri itu memang sengaja mengerahkan Ginkang dan hendak mencari kemenangan mempergunakan kelincahan.
Siapa kira, kakek hitam itu pun ternyata seorang ahli Ginkang yang hebat sehingga ketika kakek ini menandingi mereka, maka bayangan tiga orang itu lenyap terbungkus sinar senjata.
Tiba-tiba Hek Lojin tertawa.
Setelah dua puluh jurus, barulah dia mengenal ilmu pedang Li Eng.
Kiranya ilmu pedang wanita muda ini adalah Ilmu Pedang Hoa-San Kiam-hoat.
Akan tetapi baru sekarang dia menghadapi ilmu pedang Hoa-San-Pai yang sehebat ilmu pedang yang dulu dimainkan oleh mendiang Lian Bu Tojin tokoh Hoa-San-Pai yang mengasingkan diri.
Ia tidak tahu bahwa memang orang tua Li Eng adalah murid Lian Ti Tojin yang telah mewariskan ilmu pedangnya kepada mereka.
"Wah, kau masih apanya Lian Ti Tojin dari Hoa-San-Pai?"
Kakek itu sempat menegur dengan gembira.
"Dan kau ini bocah, dari mana kau memperoleh ilmu pedang aneh ini!"
Tegurnya kepada Kong Bu. Li Eng kaget juga mendengar disebutnya kakek gurunya yang memang menjadi pewaris ilmu pedangnya. Adapun Kong Bu yang ingin menggertak segera menjawab.
"Kakekku Song-Bun-Kwi yang mengajar kepadaku!"
"Wuuuuuttttt...tranggggg...!"
Tidak dapat dihindarkan lagi, pedang Kong Bu bertemu dengan tongkat, sedangkan Li Eng dapat cepat mengelak.
Kong Bu merasa betapa telapak tangannya seperti dibakar, maka cepat-cepat dia mengerahkan Lweekang untuk melawan hawa itu.
Kakek itu sudah berdiri tertawa dan tongkatnya berdiri pula di depannya.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, kiranya kau cucu setan bangkotan itu? Ha-ha-ha, ketika kakekmu masih muda, pernah dia bertekuk lutut di depan kakiku, tahukah kau? Ha-ha-ha, Song-Bun-Kwi, dahulu kau kalah, sekarang kau mewakilkan kepada cucumu untuk menderita kekalahan kedua kalinya. Dan Lian Ti Tojin, dulu belum sanggup mengalahkan aku, apalagi sekarang bocah perempuan yang mengandung ini, heh-heh-heh!"
"Sombong!!"
Li Eng dan Kong Bu berteriak hampir berbareng.
Mereka berdua marah sekali mendengar ejekan-ejekan dan hinaan ini.
Betapapun juga, tadi mereka belum kalah, malah belum terdesak hanya baru kalah tenaga saja.
Mereka tidak takut dan setelah berteriak demikian, keduanya menyerbu lagi mengirimi serangan-serangan maut.
Akan tetapi sekarang kakek itu mengubah gerakannya.
Tongkatnya yang panjang itu terputar seperti kitiran angin, cepat dan mendatangkan angin pukulan yang amat kuat.
Cara kakek itu menyerang bukan seperti ilmu silat lagi, melainkan seperti sebuah kitiran angin besar yang tiada hentinya berputar dan menerjang mereka dengan kekuatan yang dahsyat!
Kong Bu dan Li Eng adalah keturunan orang-orang pandai yang memiliki kepandaian tinggi.
Akan tetapi mereka ini ketinggalan jauh kalau dibanding dengan kakek ini dalam hal pengalaman bertempur.
Menghadapi cara bertempur kakek ini, mereka menjadi repot dan bingung.
Berusaha menangkis dengan pedang, akan tetapi setiap kali bertemu tongkat, pedang mereka terpental dan mereka terpaksa meloncat ke sana ke mari agar jangan terkena sambaran tongkat yang luar biasa itu.
Sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk balas menyerang!
Tiba-tiba, seperti juga mulainya, kakek itu menghentikan pemutaran tongkatnya dan bersilat lagi, malah seperti sengaja memberi lowongan-lowongan kepada dua orang lawannya.
Girang hati Kong Bu dan Li Eng melihat ini, mengira bahwa kakek itu tentu lelah memutar tongkat seperti itu dan kini hendak beristirahat dan bersilat biasa.
Kesempatan baik ini mereka pergunakan dan cepat mereka menyerbu, membalas dengan serangan-serangan maut yang amat berbahaya.
Mendadak kakek itu berseru keras dan tongkatnya kembali diputar secara tiba-tiba dan tidak terduga.
Terdengar suara.
"Trang-trang!"
Keras sekali dan tidak dapat dicegah lagi pedang Kong Bu dan Li Eng terpental, terlepas dari pegangan.
Pedang Kong Bu melesat ke kanan dan pedang Li Eng melesat ke kiri, menancap sampai amblas sebatas gagang pada tanah beberapa meter jauhnya!
"Ha-ha-ha-he-he-he, baru kenal kelihaianku, ya?"
Kakek itu mengejek dan kembali tongkatnya berputaran menerjang suami isteri yang sudah tidak bersenjata lagi itu!
Namun dua orang muda itu bukanlah orang-orang lemah, biarpun mereka sudah tidak bersenjata lagi, tidaklah mudah merobohkan mereka.
Biarpun tongkat itu berputar seperti kitiran, namun tubuh mereka melesat dan menyelinap di antara bayangan tongkat, Ginkang mereka amat hebatnya sehingga tubuh mereka seakan-akan bayang-bayang yang sukar dipukul tongkat.
"Bagus, bagus...! Orang-orang muda cukup mengagumkan... ha-ha, tetapi harus roboh oleh Hek Lojin!"
Kakek itu menerjang terus, kini dia selingi dengan pukulan-pukulan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh.
Memang hebat ilmu tongkat kakek ini.
Tongkat yang diputar oleh kedua tangannya itu, kadang-kadang-kadang bisa dioper dengan tangan kanan saja, Malah ada kalanya tongkat berputar cepat mendesing ke atas, dilepas oleh kedua tangan yang melakukan pukulan-pukulan ke depan dan tongkat itu tanpa dipegang lagi terus berputaran di atas kepala, dan disambut lagi dengan enaknya.
Payah juga Kong Bu dan Li Eng menghadapi penyerangan kakek kosen.
Mereka sudah mengambil keputusan untuk melarikan diri karena tidak sanggup melawan lagi, akan tetapi tiba-tiba kakek itu membentak keras, tongkatnya melayang dan menyerang kedua orang muda itu tanpa dia pegang, sedangkan tubuhnya mengikuti tongkatnya, kedua tangannya melakukan tamparan-tamparan disertai tenaga Lweekang.
Melihat Li Eng terpeleset ketika mengelak tongkat dan terdorong angin pukulan lawan, Kong Bu kaget, cepat dia menghadang desakan kakek itu.
Dengan mengerahkan tenaga dia menangkis dengan tangan kiri.
"Krakkk"
Lengannya patah ketika bertemu dengan tangan si kakek, dan sebuah tendangan membuat Li Eng terjungkal!
Kong Bu marah bukan main, dengan nekat dia, menggunakan tangan kanannya menerjang, tetapi dia pun harus terjungkal ketika kakek itu mendorong dengan kedua tangannya dari samping.
Kepalanya pening sekali, namun Kong Bu masih dapat melompat ke tempat di mana isterinya roboh.
Dengan tubuhnya dia melindungi Li Eng, siap mengadu nyawa dengan kakek sakti itu.
Hek Lojin meringis, terkekeh-kekeh dan menghampiri dua orang itu sambil menyeret tongkatnya.
Tiba-tiba terdengar suara melengking panjang, suara seperti orang menangis terdengar dari jauh.
Mendengar ini, Kong Bu kaget dan juga girang, lalu dia mengerahkan khikang dan mengeluarkan teriakan panjang pula yang bergema di seluruh hutan.
Kakek itu berhenti, menengadah lalu tertawa bergelak.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, itu si tua bangka Song-Bun-Kwi agaknya! Ha-ha-ha, biar dia datang sekalian kubereskan!"
Bayangan putih berkelebat dan benar saja, di situ telah berdiri Song-Bun-Kwi Kwee Lun dengan sikapnya yang garang!
Melihat betapa kedua suami isteri itu rebah di bawah pohon, kemarahannya memuncak.
Dengan sepasang mata seperti berapi-api dia memandang kakek hitam itu lalu memaki.
"Keparat jahanam si tua bangka Hek Lojin! Jadi kau belum mampus? Berpuluh tahun kucari, kau mengumpet, bersembunyi. Sekarang sudah tua bangka mau mampus berani muncul mengantarkan nyawa! Mengapa kau tidak langsung mencariku, tua sama tua, melainkan mengganggu anak-anak muda? Tidak tahu malu!"
"Heh-heh-heh, Song-Bun-Kwi, bagus sekali kau sendiri datang, kau mbahnya (kakeknya) pemberontak! Kau mengajar anak-anak menjadi pemberontak, ya? Dasar iblis! Bagus kau sudah datang, dulu kau pernah kalah tetapi belum mampus, biar sekarang kutamatkan riwayatmu!"
Dua orang kakek itu sudah mulai bertempur sebelum ucapan ini habis.
Song-Bun-Kwi sudah mengeluarkan suling dan pedangnya, menerjang dengan ilmu pedangnya yang paling dia andalkan yaitu Yang-sin Kiam-Sut, sedangkan sulingnya juga mainkan ilmu silatnya sendiri yang luar biasa.
Hek Lojin maklum bahwa lawannya bukanlah orang sembarangan, maklum pula bahwa semenjak kekalahannya puluhan tahun yang lalu, tentu Song-Bun-Kwi telah mempersiapkan diri dan telah mendapatkan ilmu-ilmu baru.
Begitu merasai hawa panas dari pedang kakek Song-Bun-Kwi, dia terkejut dan cepat dia memutar tongkatnya.
Sebaliknya Song-Bun-Kwi juga cukup mengenal Hek Lojin.
Empat puluh tahun yang lalu memang dia pernah bertemu dengan kakek hitam itu dan dalam pertandingan yang hebat, dia telah dilukai dan terpaksa dia mengaku kalah.
Semenjak itu, tidak pernah lagi dia bertemu dengan Hek Lojin yang memang mengasingkan diri karena terlalu banyak musuh.
Sekarang, tidak disangka-sangka dia bertemu dengan musuh lamanya, tentu saja dia lalu ngepia (berusaha sungguh-sungguh) untuk membalas kekalahannya puluhan tahun yang lalu.
Sesungguhnya Hek Lojin masih belasan tahun lebih tua daripada Song-Bun-Kwi, termasuk tokoh lama yang sudah tua sekali.
Akan tetapi karena kakek ini memang luar biasa dan hidup di alam terbuka jauh daripada dunia ramai, agaknya dia memiliki kekuatan yang lebih daripada manusia biasa.
Selain tenaganya tidak normal, juga kepandaiannya aneh dan bersifat liar dan ganas.
Memang dia mempunyai banyak ilmu silat yang dikenal di dunia kang-ouw sebagai ilmu-ilmu silat kelas tinggi, seperti yang dia turunkan kepada The Sun.
Akan tetapi di samping ini, dia masih memiliki ilmu berkelahi yang hanya dia miliki sendiri dan yang jarang dia pergunakan di dalam pertempuran dan tidak pernah dia turunkan kepada siapa pun juga.
Ilmu ini adalah ilmu berkelahi yang menyimpang daripada ilmu silat yang timbul dari perasaan dan naluri, seperti ilmu berkelahi yang dimiliki para binatang buas di dalam hutan.
Oleh karena itu, tadi ketika dia memutar-mutar tongkatnya secara liar, Kong Bu dan Li Eng yang tidak biasa menghadapi ilmu berkelahi seperti ini menjadi kebingungan dan mudah dikalahkan.
Sekarang, menghadapi Song-Bun-Kwi, kakek hitam ini berlaku amat hati-hati dan karenanya dia malah tidak mau ngawur seperti tadi, melainkan menggunakan jurus-jurus ilmu silatnya yang beraneka ragam dan rata-rata dari tingkat tinggi itu.
Hebat pertandingan ini.
Tenaga Lweekang Hek Lojin sudah mencapai tingkat yang sukar diukur tingginya.
Akan tetapi kali ini dia menemukan tandingan, karena Song-Bun-Kwi adalah seorang kakek yang dijuluki iblis dan nama julukan Song-Bun-Kwi saja artinya Setan Berkabung!
Biarpun Song-Bun-Kwi diam-diam harus mengakui bahwa dia masih belum dapat menandingi tenaga kakek tenaga dalam kakek hitam itu, namun setidaknya tingkatnya tidak kalah jauh seperti ketika tadi kakek itu menghadapi Kong Bu dan Li Eng.
Sebetulnya Hek Lojin adalah seorang ahli agama, oleh karena itulah maka tadi Kong Bu dan Li Eng mendengar nyanyian-nyanyian agama yang merupakan ayat-ayat Suci daripada Agama Buddha dan Agama To.
Akan tetapi, agama-agama pada waktu itu banyak disalahgunakan orang.
Banyaklah kaum persilatan yang mempelajari agama bukan karena pelajaran hidupnya yang baik, bukan karena untuk mencari jalan pendekatan dengan Tuhan, melainkan mereka ini bermaksud untuk mengambil bagian-bagian mistik dan gaib daripada agama itu.
Oleh karena inilah maka timbul banyak aliran yang mempergunakan agama itu untuk mempelajari segala macam ilmu gaib yang mereka gabungkan dengan ilmu silat sehingga terkenallah ilmu-ilmu silat yang disebut ilmu silat hitam.
Demikian pula, tenaga mujijat yang dimiliki kakek hitam itu bukan semata-mata tenaga Sinkang murni dari dalam tubuh yang memang dimiliki oleh semua orang, akan tetapi juga diperkuat oleh tenaga dari ilmu hitam yang dia dapatkan dengan cara bermacam-macam dan amat mengerikan.
Kong Bu dan Li Eng melihat pertempuran ini dengan hati khawatir.
Apalagi setelah pertandingan itu berlangsung seratus jurus lebih, mereka merasa gelisah sekali karena tampak oleh mereka betapa keadaan Song-Bun-Kwi mulai terdesak.
Kong Bu ingin membantu kakeknya namun tidak mungkin dia dapat bertempur dengan tangan kiri patah tulangnya dan dadanya masih sesak oleh tenaga dorongan kakek itu.
Juga Li Eng sudah terluka, pahanya terkena tendangan dan terasa sakit sekali.
Tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan hebat dan suara nyaring beradunya senjata-senjata kedua kakek itu.
Kiranya mereka telah menggunakan seluruh tenaga untuk mengadu senjata.
Akibatnya, suling remuk pedang patah, akan tetapi tongkat hitam itu pun terlempar jatuh sampai beberapa meter jauhnya!
Kedua orang kakek itu tertawa saling mengejek, lalu pertandingan dilanjutkan dengan dua pasang tangan kosong.
Akan tetapi, sambaran angin pukulan kedua fihak membuktikan bahwa pertandingan tangan kosong ini tidak kalah, hebatnya daripada pertandingan dengan senjata tadi.
Setiap pukulan yang dilancarkan adalah pukulan maut yang mengandung hawa pukulan dahsyat.
Angin pukulan bersiutan, membuat daun-daun pohon di sekelilingnya rontok dan debu berhamburan dari kedua kaki mereka.
Dalam pertempuran ini, lebih-lebih lagi Song-Bun-Kwi terdesak.
Dengan penggunaan senjata, dia masih dapat mengimbangi lawannya, akan tetapi pertandingan dengan tangan kosong semata-mata mengandalkan kecepatan gerak dan besarnya tenaga dalam.
Dalam kecepatan, Song-Bun-Kwi sebanding dengan lawannya, namun dalam hal tenaga, karena lawannya mempunyai tenaga mujijat, dia terpaksa harus mengakui bahwa tiap kali tangannya bertemu dengan tangan lawan, jantungnya terasa sakit seperti ditusuk!
Namun, kakek ini tidak akan mendapat julukan iblis Song-Bun-Kwi kalau dia mau mengaku kalah.
Dengan semangat menyala-nyala, Song-Bun-Kwi nekat terus menerjang dengan pengerahan seluruh tenaga dan gerakan-gerakannya makin cepat saja.
Kakek hitam tertawa-tawa melayani dan dalam sekejap mata kedua kakek itu lenyap terbungkus debu yang mengebul dari bawah.
Hebat bukan main pertarungan ini, seperti pergumulan dua ekor naga, atau perkelahian dua ekor harimau buas, pantang menyerah, pantang undur.
Kong Bu dan Li Eng makin khawatir, akan tetapi keduanya tidak berdaya karena sebagai ahli-ahli silat tinggi, maklumlah mereka bahwa sekali mereka maju belum tentu mereka dapat menguntungkan Song-Bun-Kwi akan tetapi yang pasti mereka akan celaka.
Hawa pukulan dengan tenaga dahsyat yang menyambar di sekeliling dua orang kakek itu tidak terlawan oleh mereka.
Tiba-tiba kedua orang kakek itu berhenti bersilat dan tubuh mereka mencelat ke belakang, masing-masing dua meter lebih, berdiri saling pandang dengan muka mengerikan.
Hek Lojin tidak tertawa lagi, mukanya yang hitam itu berkilat-kilat penuh peluh, mulutnya menyeringai, matanya berseri-seri.
Song-Bun-Kwi juga penuh keringat mukanya, agak pucat dia, matanya berapi-api penuh kemarahan.
Kemudian keduanya melompat ke depan, saling terjang dan terdengar suara berdebugan dua tiga kali dan akibatnya, tubuh mereka terlempar ke belakang lagi.
Kembali mereka saling terjang dan terdengar pukulan-pukulan yang mengakibatkan mereka terlempar lagi.
Adegan seperti ini terulang sampai empat lima kali, muka Song-Bun-Kwi makin pucat, muka Hek Lojin makin penuh keringat.
Tiba-tiba kakek hitam itu bergelak.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, Song-Bun-Kwi tua bangka iblis! Kau benar-benar berkepala batu, sudah kalah tidak mau mengakui kekalahan. Ha-ha-ha, sudah puas hatiku dengan perkelahian hari ini, aku sudah lelah. Kalau kau masih dapat hidup, lain hari kita lanjutkan, kalau kau mampus karena perkelahian ini, mampuslah dan rasakan hukuman neraka. Ha-ha-ha!"
Kakek hitam itu melangkah mundur ke tempat tongkatnya, mengambil senjata itu dan menyeretnya pergi dari situ.
Masih terdengar suara ketawanya yang bergema dari jauh.
Song-Bun-Kwi masih berdiri tegak dengan kedua kaki dipentang seperti tadi, napasnya tersengal-sengal, mukanya pucat dan hidungnya, kembang-kempis.
Tiba-tiba dia menekan ulu hatinya dan kakek kosen ini muntah-muntah.
Darah segar menyembur keluar dari mulutnya.
"Kakek...!!"
Kong Bu melompat menghampiri, Li Eng juga terpincang-pincang lari menghampiri.
Seakan-akan kehabisan tenaga, Song-Bun-Kwi sudah jatuh terduduk.
Dia berusaha menghapus Bibirnya dengan ujung lengan baju dan terdengar dia bergumam perlahan.
"hebat sekali... Hek Lojin iblis..."
Kong Bu sudah berlutut di depannya, juga Li Eng.
Kagetlah dua orang ini ketika melihat bahwa leher, pundak, dada dan lambung kakek itu terluka oleh pukulan yang meninggalkan bekas membiru Sedangkan baju pada bagian terpukul itu pun berlubang besar seperti bekas terbakar.
Kiranya dalam gebrakan-gebrakan terakhir tadi, kedua kakek sakti itu telah melakukan jurus-jurus mematikan, jurus-jurus nekat yang berdasarkan mengadu tebalnya kulit kerasnya tulang dan ampuhnya pukulan!
Empat kali Song-Bun-Kwi telah menerima pukulan maut Hek Lojin, sebaliknya Hek Lojin juga menerima empat kali pukulan Song-Bun-Kwi yang datangnya hampir pada saat yang sama itu.
Pukulan Song-Bun-Kwi dapat diterima oleh Hek Lojin, menimbulkan luka ringan yang tidak membahayakan nyawanya.
Sebaliknya pukulan-pukulan Hek Lojin demikian hebatnya sehingga membuat Song-Bun-Kwi sekarang muntah-muntah darah dan menderita luka yang amat parah.
Akan tetapi daya tahan Song-Bun-Kwi dan semangatnya memang luar biasa sekali.
Kalau orang lain yang menderita seperti dia, tentu tadi sudah roboh, di bawah kaki lawannya.
Namun Song-Bun-Kwi dapat menahan diri, menahan rasa nyeri dan dengan semangat pantang mundur dia menukar pukulan sampai empat kali.
Hek Lojin menjadi terkejut sekali tadi dan diam-diam merasa jerih.
Dia sendiri, biarpun ringan, telah merasa terluka oleh pukulan-pukulan Song-Bun-Kwi, akan tetapi mengapa Song-Bun-Kwi agaknya tidak merasai pukulannya yang empat kali itu?
Padahal pukulan-pukulannya tadi adalah pukulan maut yang mengandung tenaga mujijat!
Itulah sebabnya mengapa Hek Lojin tadi meninggalkan Song-Bun-Kwi, sama sekali bukan karena merasa menang, melainkan karena jerih!
Setelah lawannya pergi, barulah terasa oleh Song-Bun-Kwi akan kehebatan bekas pukulan lawan dan sekarang dia terkulai tidak berdaya, Dia maklum bahwa dia telah menerima pukulan-pukulan maut yang meremukkan isi dadanya, dan tahu bahwa dia tidak akan tertolong lagi.
Melihat Kong Bu dan Li Eng berlutut di dekatnya, timbul rasa kecewanya terhadap dua orang ini.
Sampai mau mati pun dia masih kecewa karena belum mempunyai cucu buyut.
Dasar kakek ini seorang yang amat aneh wataknya.
Dia menggunakan kedua tangannya untuk mendorong pergi dua orang itu sambil berkata.
"Pergi... pergi... biar aku tidak punya cucu juga tidak apa...!"
Suaranya bernada penuh penyesalan, penuh kekecewaan karena kakek ini merasa tertikam perasaannya ketika teringat bahwa dalam menghadapi saat terakhir dalam hidupnya ini, dia masih dikecewakan oleh Kong Bu yang dia kasihi, dikecewakan karena cucunya ini tidak mempunyai keturunan!
"Kong-kong (kakek)...!"
Kong Bu mendekati kakeknya lagi, suaranya penuh keharuan. Li Eng juga mendekat lagi, air matanya mengalir.
"Sudahlah, biar sampai mati pun aku tetap kecewa padamu...!"
Kata pula Song-Bun-Kwi ketus sambil bangkit berdiri dengan susah payah dan kakek ini sudah siap melangkah maju meninggalkan mereka.
Tiba-tiba Li Eng memegang lengannya dan dengan suara terisak-isak ia berkata.
"Kong-kong... aku... aku... ah, kau sudah akan mempunyai cucu buyut..."
"Haaaaa?? Apa kau bilamg...??"
Mata dan mulut kakek itu terbuka selebar-lebarnya ketika dia menatap wajah Li Eng yang sudah basah air mata karena ia sudah mulai menangis tersedu-sedu, sambil merangkul dan mengganduli pundak kakek itu.
Melihat Li Eng tidak mungkin dapat menjawab karena menangis itu, Kong Bu yang menjawab dengan muka berseri dan mata bersinar.
"Betul, Kong-kong, Li Eng sudah mengandung. Cucu buyutmu pasti bakal terlahir!"
"Wah-wah! Betulkan ini? Li Eng, betulkan ini?"
Kakek ini berteriak-teriak sambi memegang kedua pundak Li Eng dan mendorongnya untuk dapat melihat wajahnya.
Li Eng tersenyum dalam tangisnya, menahan air mata dengan meramkan mata, dan hanya dapat mengangguk dengan gerakan meyakinkan.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Song-Bun-Kwi, kau, tua bangka goblok, kau manusia tolol! Ha-ha-ha-ha, Li Eng, kau anak baik!"
Serentak tubuh Li Eng yang dia pegang pada kedua pundaknya itu dia lontarkan ke atas.
Tubuh itu melayang ke atas kurang lebih tiga meter tingginya, diterima dengan penuh kasih sayang lalu dilontarkan lagi sampai tiga kali.
Kemudian dia memeluk Li Eng dan menciumi rambutnya, membiarkan Li Eng terisak-isak bahagia di dadanya.
"Li Eng, mana dia? Mana cucu buyutku? Tidak bisakah kau lahirkan dia sekarang saja? Aku sudah ingin memondongnya, menimangnya, ha-ha-ha!"
"Iihhh, Kakek ini...!"
Li Eng menundukkan mukanya, jengah.
"Ha-ha-ha, Song-Bun-Kwi tolol, siapa bilang cucuku tidak becus dan goblok? Ha-ha-ha, Kong Bu, kau hebat...!"
Dia sudah melepaskan Li Eng, menghampiri Kong Bu dan menepuk-nepuk pundak cucunya itu. Kalau saja bukan Kong Bu yang ditepuknya, tentu pundak itu akan remuk.
"Ha-ha-ha-ha, aku punya cucu buyut..."
Kakek itu tertawa terus terbahak-bahak, makin lama makin aneh suara ketawanya.
"Kong-kong...!"
Li Eng dan Kong Bu menjerit berbareng sambil menubruk maju.
Akan tetapi Song-Bun-Kwi sudah terguling roboh, terlentang dengan mata melek dan mulut terbuka, wajahnya masih tertawa-tawa akan tetapi napasnya berhenti.
Kakek itu sudah mati dalam keadaan tertawa bahagia.
Kiranya dalam kegirangannya yang melewati batas tadi, dia telah banyak mengerahkan tenaga dan hal ini memperhebat luka-lukanya yang memang sudah parah dan akhirnya merenggut nyawanya sebelum dia sempat menghabiskan ketawanya!
Li Eng dan Kong Bu memeluki tubuh kakek itu sambil menangis.
Angin yang tadi bertiup dan bermain-main di antara daun-daun pohon, sekarang berhenti.
Sunyi senyap di dalam hutan itu, seakan-akan hutan, angin dan penghuni hutan ikut menyatakan bela sungkawa atas kematian kakek sakti yang hidupnya sering kali menggemparkan dunia kang-ouw itu.
"Kim-Tiauw-Ko, aku ingin sekali pergi ke Ching-Coa-To. Ah, alangkah akan mudahnya kalau dapat menerbangkan aku ke pulau itu, kita tidak akan bingung menghadapi jalan-jalan rahasia. Ah, sayang. Tiauw-Ko, kau tidak tahu di mana adanya pulau itu..."
Kata Kun Hong sambil mengelus-elus leher Burung itu.
Betapapun cerdik pandainya, seekor Burung hanyalah seekor binatang biasa saja, tentu saja tidak memiliki akal dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Si Pendekar Buta.
Dia hanya mengeluarkan suara mencicit bingung melihat sahabatnya ini bersikap kecewa dan menyesal.
Mereka masih berada di dalam sebuah hutan dan sudah beberapa hari mereka melakukan perjalanan keluar hutan.
Kun Hong bingung karena tidak bertemu manusia yang dapat dia tanyai jalan.
Sebetulnya sudah banyak hal yang menghilangkan kegelisahannya.
Cui Sian sudah berada di tangan orang yang boleh dipercaya dan anak itu selamat.
Surat Wasiat juga sudah diantarkan ke Utara, dan dia merasa yakin bahwa Sin Lee dan Hui Cu pasti akan dapat melaksanakan tugas itu dengan baik.
A Wan juga berada bersama Paman gurunya, aman dan selamat.
Tinggal dua lagi tugas yang harus dia selesaikan, pertama mencari orang-orang Ching-Coa-To memberi hajaran atas kejahatan mereka terhadap Thai-San-Pai.
Ke dua...
ya, yang ke dua inilah yang membingungkan hatinya.
Tentang Hui Kauw!
Bagaimana baiknya dengan nona itu?
Harus dia akui bahwa dia betul-betul mencinta Hui Kauw.
Cinta kasihnya terhadap Cui Bi sekarang agaknya telah berpindah kepada Hui Kauw seluruhnya.
Dia merasa kesepian, rindu, dan merasa seakan-akan hidupnya tidak lengkap, kehilangan semangat dan kegembiraan hidup, berpisah dari nona bersuara Bidadari itu.
Dia tahu bahwa hidupnya selanjutnya akan merana, akan kosong hampa dan tidak ada artinya tanpa Hui Kauw.
"Uhhh, urusan besar belum selesai, memikirkan yang bukan-bukan..."
Dia menepuk kepala sendiri dan Rajawali Emas itu menggereng perlahan.
"Kim-Tiauw, alangkah tidak enaknya menjadi manusia!"
Kembali Kun Hong mengeluh sambil duduk di atas batu besar dekat Burung itu.
"Tiada hentinya manusia terganggu dalam hidupnya yang terbelit-belit dan terikat oleh segala macam kewajiban, terkacau oleh segala macam perasaan. Kau inilah mahluk bahagia, Kim-Tiauw, karena selama hidupmu kau tidak pernah memusingkan sesuatu."
Burung itu mengeluarkan suara panjang seakan-akan membantah pendapat ini dan sama sekali tidak menyetujuinya.
Kun Hong merenung.
Betulkah seperti yang dia katakan tadi?
Apakah tidak sebaliknya daripada itu?
Bukanlah segala ikatan dalam hidup itulah yang membuat hidup ini berisi dan pantas diderita?
Bukankah kehidupan Burung dan segala macam mahluk selain manusia di dunia ini yang amat menjemukan?
Bayangkan saja.
Hidup tanpa adanya susah, senang, puas, kecewa, dan lain-lain perasaan yang saling bertentangan, apakah tidak akan merupakan siksaan karena tiada perubahan, sunyi sepi dan seakan-akan sudah mati saja?
Bagaikan samudera, apa artinya tanpa gelombang membadai yang membuat samudera nampak hidup?
Apa artinya dunia ini tanpa angin, lelap lengang sunyi mati.
Demikian pula hidup ini, akan sunyi membosankan kalau tidak ada ikatan-ikatan yang mengakibatkan manusia merasakan susah senang, jatuh bangun dan sebagainya.
Teringat dia akan filsafat-filsafat kuno dan dia tersenyum seorang diri.
Memang hebat para budiman dan bijaksana jaman dahulu, telah dapat meneropong isi daripada hidup.
Dia menepuk-nepuk leher Kim-Tiauw, kini wajahnya berseri dan hatinya tenang.
"Kim-Tiauw, alangkah bodohku, sampai lupa akan kenyataan yang tidak terbantah lagi itu. Siapa mencari senang, dia sekali-kali tentu bertemu susah. Siapa mencari untung sekali-kali akan bertemu rugi. Siapa mencari puas, sekali-kali akan ketemu kecewa. Memang sudah semestinya begitu. Kalau tidak ada atas, mana bisa ada bawah? Kalau tidak ada senang, mana bisa bilang ada susah? Manusialah mahluk yang paling bahagia, Kim-Tiauw, karena mengenal keduanya itu, mengenal dan merasakan akibat daripada kekuatan Im dan Yang (Positive dan Negative). Ha-ha-ha, kaulah yang patut dikasihani, Kim-Tiauw."
Kini Kim-Tiauw itu bersuara girang, sekan-akan dia ikut bergembira mendengar sahabatnya sudah bisa tertawa-tawa.
Tiba-tiba mereka berdua serentak diam memperhatikan.
Terdengar suara kaki orang banyak menuju ke arah tempat itu.
Rajawali Emas sudah siap, bulu tengkuk Burung itu sudah mulai berdiri, tanda bahwa dia telah siap menyerang lawan.
"Sssttt, jangan sembrono Kim-Tiauw-Ko, kita lihat dulu mereka itu kawan ataukah lawan."
Betapapun juga, Kun Hong sudah siap pula berdiri di dekat Burung itu, menanti dengan penuh kewaspadaan.
Dia taksir sedikitnya ada tujuh orang yang bergerak makin dekat itu.
Maklum akan watak Burung Rajawali yang mudah curiga itu.
Kun Hong sengaja merangkul lehernya untuk mencegah Burung itu menerjang orang secara sembrono sebelum dia dapat mengetahui siapa mereka itu.
"Pangcu (Ketua)... kami para anggauta Hwa I Kaipang datang menghadap..."
Tiba-tiba seorang di antara mereka berseru dari jauh. Kun Hong bernapas lega.
"Kim-Tiauw-Ko, agaknya teman-teman sendiri mereka itu, jangan kau ganggu."
Tak lama kemudian muncullah delapan orang yang serta merta berlutut di depan Kun Hong.
Pendekar muda ini teringat akan tipuan yang dilakukan The Sun yang mendatangkan beberapa orang anggauta Hwa I Kaipang yang palsu, Orang-orang ini pun juga tidak dia kenal, mana dia tahu kalau mereka betul-betul anggauta perkumpulan pengemis itu?
"Apakah di antara kalian ada yang mengenal Coa-Lokai?"
Dia memancing. Terdengar jawaban dua orang yang berada di sebelah kanan.
"Siauwte adalah murid Suhu Coa-Lokai."
Tiba-tiba Kun Hong bergerak dan tahu-tahu dia telah mengirim dua serangan kepada dua orang itu.
Dua orang itu otomatis, sebagai ahli-ahli silat menggerakkan tangan menangkis, akan tetapi akibatnya, keduanya terjungkal dan terlempar ke belakang sampai tiga meter jauhnya.
Kagetlah semua orang itu, juga Rajawali Emas sudah siap membantu sahabatnya dalam pertempuran.
Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong tertawa bergelak, membuat orang-orang itu, terutama yang tadi dibikin terguling-guling, makin keheranan.
"Ha-ha-ha, maafkan aku, Twa-Ko. Aku pernah dihadapkan kepada orang-orang Hwa I Kaipang yang palsu, terpaksa aku menguji. Kiranya benar Ji-wi adalah murid-murid Coa-Lokai sehingga aku tidak perlu ragu-ragu lagi. Maaf."
Semua anggauta perkumpulan penggemis itu saling pandang dan makin kagumlah mereka.
Tadinya mereka ragu-ragu melihat betapa orang yang amat dipuji-puji oleh para pimpinan Hwa I Kaipang hanya seorang pemuda yang buta lagi.
Akan tetapi, melihat gerakan Kun Hong tadi yang sekali bergerak tidak saja mampu menjungkalkan dua orang, akan tetapi dari gerakan menangkis dua orang itu dia telah mengenal ilmu silat dari Coa-Lokai.
Hebat!
Kembali mereka berlutut.
"Pangcu, kami datang untuk melapor bahwa Lo-Pangcu kami telah tewas dalam pertempuran di Kota Raja."
Kun Hong mengangguk. Dia sudah mendengar akan hal ini dari Hui Kauw.
"Aku sudah tahu dan aku menyesal sekali mengapa Hwa I Lokai sampai mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara Hwa I Kaipang untuk membantuku."
"Bukan begitu, Pangcu. Persoalannya bukanlah semata urusan pribadi, melainkan urusan perjuangan. Hwa I Kaipang dalam hal ini bekerja sama dengan Pek-Lian-Pai, langsung menerima tugas-tugas dari Utara."
"Hemmm, begitukah? Dan sekarang siapa yang menggantikan Hwa I Lokai, dan apa maksud kalian datang menemuiku di sini?"
Orang yang mengaku murid Coa-Lokai tadi menjawab.
"Sementara ini yang memimpin kami adalah Suhu sendiri. Juga Suhu yang menyuruh kami mencari Pangcu dan memberi tahu bahwa nona Kwee Hui Kauw sekarang berada dalam bahaya."
Terkejut hati Kun Hong.
"Eh, siapakah namamu dan bagaimana kalian tahu bahwa nona Hui Kauw dalam bahaya? Apa pula sebabnya hal itu kalian ceritakan kepadaku?"
"Maaf, Pangcu. Siauwte Lauw Kin murid kepala Suhu Coa-Lokai. Siauwte dan semua saudara memang bertugas bergerak di dalam Kota Raja sehingga semua urusan kami ketahui belaka. Juga kami tahu bahwa nona itu adalah sahabat baik Pangcu, karena itulah kami datang menyampaikan warta ini."
"Bagaimana urusannya? Hayo ceriterakan yang jelas!"
Kun Hong tidak sabar lagi setelah dia mengerti duduknya perkara dan menaruh kepercayaan kepada orang yang tadi sudah dia rasakan bahwa gerakannya menangkis memang betul-betul ilmu silat Coa-Lokai.
Dahulu pernah dia menghadapi penyerangan Coa-Lokai, maka dia mengenal gerakan muridnya ini.
"Kami sendiri tidak tahu sebabnya, akan tetapi kami melihat nona itu ditawan oleh The Sun dan Bhok Hwesio. Malah hebatnya, Ayahnya sendiri, pembesar Kwee itu, agaknya juga berfihak kepada The Sun dan sama sekali tidak menolong puterinya."
Kun Hong merasa khawatir sekali, akan tetapi dia menahan tekanan batinnya, dan bertanya tenang.
"Di mana nona itu ditahan? Memang aku harus menolongnya, apakah kalian melihat cara untuk membebaskannya?"
"Harap Kwa-Pangcu jangan khawatir. Kami sudah menyelidiki dengan teliti sekali dan kami yakin bahwa sementara ini mereka tidak akan mengganggu nona Hui Kauw. Ada jalan untuk menolongnya, akan tetapi hal ini membutuhkan tenaga ahli yang berilmu tinggi. Agaknya, kecuali Pangcu sendiri tidak mungkin ada yang akan mampu menolongnya."
"Hemmm, lekas ceriterakan dengan jelas, apa yang kau maksudkan?"
"Begini, Kwa-Pangcu. Kami mendengar bahwa fihak The Sun telah mengadakan hubungan dengan Ching Toa-Nio dan kawan-kawannya. Karena nona Hui Kauw ditangkap dengan tuduhan membantu pemberontak, yaitu memberikan Mahkota kepada puteri Sin-Kiam-Eng untuk dibawa ke Utara, maka sudah semestinya dia dihukum mati. Baiknya mereka itu masih mengingat kepada Ching Toa-Nio yang sudah mengadakan lebih dulu, mereka merasa sungkan terhadap Ching Toa-Nio karena nona Hui Kauw adalah puteri angkatnya. Inilah yang menyelamatkan nona Hui Kauw. Pelaksanaan hukuman tertunda dan malah dia akan dibawa dalam pertemuan yang diadakan antara jagoan-jagoan Istana dan fihak Ching-Coa-To. Mungkin dalam pertemuan itulah nona Hui Kauw akan diberi hukuman."
Kun Hong terkejut sekali.
Sama sekali tidak ada baiknya kalau Hui Kauw dihadapkan dengan Ching Toa-Nio, karena dia tahu betapa nyonya itu benci kepada Hui Kauw.
Pertemuan itu tidak akan memperingan hukuman Hui Kauw, malah mungkin nona pujaan hatinya itu akan mengalami siksaan yang lebih hebat.
"Di manakah pertemuan itu diadakan dan kapan?"
Tanyanya cepat, hatinya kini tidak dapat menahan lagi kegelisahannya.
"Tiga hari lagi, Kwa-Pangcu. Fihak Ching-Coa-To masih belum percaya kepada para jagoan Istana sehingga mereka tidak mau mengadakan pertemuan di Kota Raja, khawatir akan perangkap. Oleh karena itu telah diputuskan oleh kedua fihak untuk mengadakan pertemuan di luar Kota Raja, di lembah Sungai Huai, tempat yang mereka pilih adalah..."
"Pusat perkumpulan Ngo-Lian-Kauw?"
Kun Hong memotong, teringat ketika disebut lembah Sungai Huai.
"Eh, kiranya Kwa-Pangcu juga sudah tahu...!"
Lauw Kin, murid Coa-Lokai itu berseru terkejut.
"Aku hanya menduga saja. Lanjutkan ceritamu dan apa maksud pertemuan itu."
"Memang, mereka memilih tempat Ngo-Lian-Kauw, karena biarpun fihak Ngo-Lian-Kauw selama ini tidak ikut-ikut, namun mereka agaknya mempunyai hubungan dengan perkumpulan sesat itu dan mempercayainya. Adapun menurut hasil penyelidikan kami yang bekerja sama dengan Pek-Lian-Pai, maksud pertemuan itu adalah untuk merundingkan kerja sama menghadapi serbuan dari Raja Muda Yung Lo. Dalam hal ini, fihak Ching-Coa-To minta jaminan dan janji-janji kedudukan yang akan diputuskan dan ditandatangani sendiri oleh Kaisar."
"Hemmm, untuk menghadapi Paman sendiri, menarik bantuan tenaga orang-orang Mongol dan Mancu."
Kun Hong memotong.
"Kalau begitu, kedua fihak tentu akan datang dengan kekuatan besar, belum lagi para anggauta Ngo-Lian-Kauw yang tentu menjaga keamanan di sana sebagai tuan rumah."
"Memang betul, Kwa-Pangcu. Akan tetapi kami dan pihak Pek-Lian-Pai sudah mengadakan persiapan, malah kami sebelumnya telah menghubungi pasukan-pasukan Raja Muda Yung Lo dan mengerahkan para saudara kita. Raja Muda Yung Lo sudah berjanji akan mengirim pasukan dan akan menyerbu, karena orang-orang yang akan berkumpul itu merupakan inti kekuatan pertahanan di Kota Raja. Dalam kerIbutan inilah maka Pangcu dapat menolong nona Hui Kauw yang sudah pasti akan dibawa serta ke tempat itu."
Kun Hong berpikir keras.
Kekuatan fihak Istana dan Ching-Coa-To kalau digabung menjadi satu, merupakan kekuatan hebat yang sukar dilawan.
Apalagi mengingat bahwa di sana ada orang-orang seperti Ka Chong Hoatsu, ketiga Ang Hwa Sam Ci-moi, Ching Toa-Nio sendiri, Souw Bu Lai, dan Bouw Si Ma ditambah fihak Istana yang amat kuat dibantu oleh orang-orang berilmu tinggi seperti Bhok Hwesio, Lui-Kong Thian Te Cu, dan Hek Lojin.
Berat sekali lawan-lawan itu, akan tetapi demi keselamatan Hui Kauw, dia harus datang menolong.
Di luar Istana, memang lebih leluasa dan mudah menolong nona itu, daripada di dalam Istana yang dikurung pagar tembok dan di mana terdapat puluhan rIbu orang tentara yang menjaga.
Di samping menolong Hui Kauw, juga hitung-hitung dia membantu perjuangan mendiang pamannya Tan Hok yang membantu Raja Muda Yung Lo.
"Kalau begitu, mari kita berangkat dan biarlah siasat selanjutnya kita atur di sana,"
Kata Kun Hong.
Dia menepuk-nepuk leher Kim-Tiauw dan berkata "Kim-Tiauw-Ko, kau tidak boleh turut karena kehadiranmu akan membuka rahasia pengepungan.
Kau sekarang pergilah menyusul Susiok, kelak kau boleh cari lagi padaku.
"Pergilah!"
Dia mendorong tubuh Burung itu yang mengeluarkan seruan panjang tanda kecewa, akan (lanjut ke
Jilid 25) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 25 tetapi agaknya dia tidak berani membangkang, buktinya dia lalu melengking keras dan terbang ke angkasa raya, sebentar saja lenyap dari situ, Para anak buah Hwa I Kaipang kagum bukan main melihat Burung sakti itu.
Apa yang diceriterakan oleh Lauw Kin anggauta Hwa I Kaipang itu, memanglah benar.
Pada waktu itu, memang para anggauta Hwa I Kaipang ini bersama para anggauta Pek-Lian-Pai, secara lihai sekali berhasil menyelundup ke Kota Raja dan memasang banyak mata-mata untuk mengetahui gerak-gerik pemerintahan Kaisar baru.
Pemasangan mata-mata ini sampai menembus dinding Istana yang tebal sehingga segala macam peristiwa diketahui belaka oleh mereka.
Kaisar muda itu melalui para penyelidik, telah dapat mengetahui akan adanya persekutuan yang hendak menjatuhkannya.
Tahu pula bahwa persekutuan itu mengadakan kontak dengan Raja Muda Yung Lo, pamannya.
Betapapun juga, dia hendak mempertahankan kekuasaannya dan sengaja ketika penobatannya menjadi Kaisar baru dilaksanakan, dia tidak mengundang pamannya itu.
Sekarang, setelah jelas olehnya bahwa diam-diam mendiang kakeknya (Kaisar lama) menaruh harapan kepada Raja Muda Yung Lo, dia bertekad untuk menumpas pamannya itu.
Dengan bantuan The Sun, Kaisar mengundang orang-orang pandai dan mengulurkan tangan kepada orang-orang kang-ouw yang suka membantunya.
Oleh karena itulah, ketika dia mendengar bahwa para tokoh dari Ching-Coa-To bersama orang-orang sakti menawarkan bantuan mereka, dia menjadi girang sekali.
Akan tetapi di samping kegirangan ini juga terdapat kecurigaan di fihak Kaisar dan para jagoan Istana.
Semenjak dahulu tidak pernah Ching-Coa-To membantu Kaisar dalam urusan negara, sungguhpun harus diakui pula bahwa fihak ini sama sekali tidak ada hubungan dengan para pemberontak seperti Pek-Lian-Pai dan Hwa I Kaipang.
Lebih-lebih lagi The Sun dan jagoan-jagoan lain merasa curiga dan berhati-hati menghadapi Ching-Coa-To, karena mendengar bahwa rombongan itu mempunyai anggauta tokoh-tokoh Mongol, malah yang seorang bekas pangeran Mongol pula.
Jangan-jangan pangeran itu mempunyai niat buruk hendak mengembalikan kekuasaan bangsanya yang telah terusir oleh perjuangan Kaisar pertama dari Kerajaan Beng!
Juga adanya orang Mancu dalam rombongan itu, menambahkan kecurigaan.
"Sukar diduga apa yang tersembunyi daiam maksud bantuan mereka itu,"
Kata The Sun ketika para jagoan diundang oleh Kaisar untuk membicarakan soal ini.
"Akan tetapi, mereka terdiri dari orang-orang sakti yang amat kita butuhkan bantuannya untuk menghadapi musuh-musuh kita."
"Hemmm,"
Kata Kaisar.
"Dengan mengundang mereka ke Kota Raja, apakah tidak berbahaya? Jangan-jangan itu berarti kita memasukan serigala-serigala ke dalam rumah."
"Harap Paduka tidak khawatir,"
The Sun menghibur.
"jika mereka itu mempunyai niat buruk, para pengawal dipimpin oleh para Lo-Cianpwe yang berada di sini pasti akan dapat menghancurkan mereka. Selain itu, jika Suhu telah berhasil mengejar dan menangkap pemberontak Kwa Kun Hong, tentu akan datang lagi dan keadaan kita akan menjadi lebih kuat."
Bhok Hwesio mengerutkan keningnya. Hwesio ini suka kepada The Sun yang pandai mengambil hati dan bersikap halus, akan tetapi dia tidak suka kepada guru pemuda itu yang dianggapnya sombong.
"Tanpa adanya Hek Lojin sekalipun Pinceng masih sanggup mengusir perusuh-perusuh dari dalam Kota Raja. Akan tetapi sungguh amat tidak baik kalau sampai memanggil orang-orang yang masih mencurigakan ke dalam Kota Raja, sama dengan memancing datangnya kekacauan yang akan melemahkan pertahanan. Lebih baik kalau kita mengadakan pertemuan dengan mereka di luar Kota Raja, barulah kita melihat sikap mereka dan mendengarkan kesanggupan mereka."
Setelah ditimbang-timbang oleh Kaisar, usul Bhok Hwesio ini diterima dan diambillah keputusan untuk mengundang orang-orang Ching-Coa-To itu mengadakan pertemuan.
Adapun tempat yang mereka pilih adalah lembah Sungai Huai yang menjadi sarang dari perkumpulan Ngo-Lian-Kauw.
Tentu saja peristiwa penting ini tertangkap oleh telinga para mata-mata Pek-Lian-Pai dan Hwa I Kaipang yang segera mengadakan persiapan dan mengirim surat kepada Raja Muda Yung Lo, malah ada yang mencari Kun Hong dan mengabarkan hal ini.
Dalam pertemuan puncak itulah para penyelidik ini mendengar tentang nasib Hui Kauw yang akan dijadikan tawanan dan dibawa ke pertemuan, dengan orang-orang Ching-Coa-To untuk dimintakan keputusan hukumannya.
Rahasia Hui Kauw terbongkar ketika gadis ini merampas Mahkota dan menyerahkannya kepada Loan Ki dan Nagai Ici tanpa ia sadari bahwa peristiwa itu terlihat oleh seorang mata-mata Istana yang kebetulan berada di tempat itu dan bersembunyi.
Ia segera ditangkap dan dengan gagah berani nona ini mengaku bahwa ia sama sekali tidak perduli akan urusan negara, tidak perduli siapa yang akan menjadi Kaisar, akan tetapi bahwa ia melakukan itu semata-mata untuk membantu Kwa Kun Hong, suaminya!
Ayahnya, bangsawan Kwee, marah-marah dan tidak mengakuinya sebagai puteri lagi.
Ia dijebloskan ke dalam penjara menanti keputusan hukuman, dan akhirnya ia hendak dipergunakan oleh The Sun untuk mengambil hati Ibu angkatnya, Ching Toa-Nio.
The Sun memang cerdik.
Dia cukup mengerti bahwa Hui Kauw bukanlah pemberontak, melainkan seorang yang mencinta Si Pendekar Buta dan perbuatannya itu hanya terdorong oleh cinta dan kesetiaan.
Kalau Hui Kauw dibunuh, bukan saja tidak ada artinya, malah mungkin sekali hal itu akan mematahkan hubungan baik dengan Ching-Coa-To.
Tentu saja dia tidak tahu bahwa Ching Toa-Nio sebetulnya membenci Hui Kauw pula.
Maka dia hendak "Mengambil hati"
Orang-orang Ching-Coa-To dan menyerahkan Hui Kauw kepada mereka, sebagai umpan!
Pada waktu itu, telah terjadi perubahan besar pada perkumpulan Ngo-Lian-Kauw.
Dahulu, lima tahun yang lalu, perkumpulan ini dipimpin oleh Kim-Thouw Thian-Li (Bidadari Kepala Emas) murid Hek Hwa Kui-bo.
Di bawah pimpinan Kim-Thouw Thian-Li yang direstui pula oleh iblis wanita Hek Hwa Kui-bo, perkumpulan itu maju pesat.
Ngo-Lian-Kauw atau perkumpulan Agama Lima Teratai, adalah semacam agama sesat atau agama klenik yang memuja kekuasaan iblis dan mempelajari ilmu-ilmu hitam.
Tidaklah mengherankan apabila pada waktu itu Ketuanya terkenal sebagai seorang ahli racun kembang dan jahatnya malahan melebihi gurunya.
Setelah guru dan murid yang jahat itu tewas (baca Rajawali Emas), perkumpulan Ngo-Lian-Kauw menjadi morat-marit.
Terjadilah perebutan-perebutan kekuasaan, karena Ketua Ngo-Lian-Kauw itu meninggalkan banyak harta benda di samping kedudukan dan pengaruh.
Para anggauta Ngo-Lian-Kauw yang terdiri dari para Pendeta-Pendeta Ngo-Lian-Kauw dan wanita-wanita, terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok untuk memilih Ketua masing-masing dan terjadilah pertempuran-pertempuran.
Akan tetapi kemudian muncullah tiga orang wanita sakti dari Barat, yaitu Ang Hwa Samci-moi, tiga orang kakak beradik Ngo Kui Ciau, Ngo Kui Biauw dan Ngo Kui Siauw yang selalu berpakaian serba merah.
Tiga orang wanita yang usianya baru tiga empat puluh tahun ini adalah adik-adik seperguruan Hek Kwa Kui-bo, jadi masih terhitung Bibi-bibi guru daripada mendiang Kim-Thouw Thian-Li bekas Ketua Ngo-Lian-Kauw.
Tentu saja dengan kepandaian mereka, dengan mudah Ang Hwa Sam Ci-moi ini menundukkan semua anggauta Ngo-Lian-Kauw dan semenjak itu, kurang lebih empat tahun sesudah Ketua Ngo-Lian-Kauw tewas, perkumpulan ini mengakui Ang-Hwa-Sam Ci-moi sebagai Ketua mereka.
Setelah Sam Ci-moi (tiga kakak beradik) ini menjadi Ketua Ngo-Lian-Kauw, terjadilah perubahan hebat.
Tiga orang wanita ini tidak suka akan ilmu klenik, tidak suka akan ilmu sihir dan penggunaan racun.
Mereka tetah mewarisi ilmu silat dan ilmu pedang yang amat lihai, kepandaian mereka semenjak mereka merantau ke Barat telah mengalami kemajuan yang amat hebat sehingga mereka tidak suka mengandalkan diri kepada segala macam ilmu hitam.
Juga, melihat para Pendeta laki-laki yang sudah tua-tua mereka tidak suka melihatnya dan membubarkan para anggauta pria dari Ngo-Lian-Kauw, tidak mengakui mereka sebagai anggauta lagi.
Sebaliknya, mereka menerima anggauta-anggauta baru yang terdiri daripada wanita-wanita muda dan cantik.
Dan semenjak dipimpin oleh Ang-Hwa-Sam Ci-moi inilah perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan wanita cabul!
Kalau ada laki-laki terlihat di situ, sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki ini seorang pemuda tampan yang telah diculik dan orang itu selama hidupnya tidak akan dapat melihat dunia ramai lagi karena begitu dia sudah diapkir (tidak dibutuhkan lagi) dia akan dibunuh!
Ang-Hwa-Sam Ci-moi memilih anggauta-anggauta yang berbakat dan mereka ini tidaklah banyak jumlahnya.
Kalau dulu anggauta Ngo-Lian-Kauw ada ratusan orang, sekarang hanya tinggal kurang lebih lima puluh orang lagi, semua wanita akan tetapi mereka ini rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan, malah tiga orang Ketua baru ini telah memperhebat barisan Ngo-Lian-Tin (Barisan Lima Teratai) yang dahulu diciptakan oleh Kim-Thouw Thian-Li.
Semua anggauta-anggauta itu adalah ahli-ahli barisan Ngo-Lian-Tin sehingga biarpun kini anggautanya hanya lima puluh orang saja dan tidak sebanyak dulu, dan wanita semua, namun apabila dibandingkan dengan dahulu, perkumpulan ini malah lebih kuat!
Seperti telah kita ketahui, Ang-Hwa-Sam Ci-moi juga merupakan orang-orang yang mempunyai ambisi untuk mendapatkan kemuliaan di Kota Raja di samping usaha mereka mencari teman-teman yang pandai untuk membalas dendam mereka atas kematian Hek Hwa Kui-bo di Thai-San.
Oleh karena itu tiga orang saudara ini menjadi tamu-tamu terhormat dari Ching Toa-Nio di Ching-Coa-To.
Seperti telah dapat kita duga, adalah tiga orang wanita sakti inilah yang banyak membantu Ching Toa-Nio dan teman-temannya sehingga siasat mereka di Thai-San berhasil dan mengakibatkan hancurnya perkumpulan Thai-San-Pai yang mereka benci itu.
Dan tidaklah aneh pula kalau fihak Ching-Coa-To mengajukan sarang Ngo-Lian-Kauw sebagai tempat pertemuan dan perundingan antara fihak mereka dan fihak jagoan-jagoan Istana, karena seperti juga fihak Istana, mereka sendiri masih ragu-ragu dan sangsi apakah jagoan-jagoan Istana itu benar-benar mau menerima uluran tangan mereka dan mau memberi janji kedudukan.
Demikianlah, pada hari yang telah ditentukan, orang-orang Ngo-Lian-Kauw telah siap sedia.
Sebagai nyonya rumah, Ang-Hwa-Sam Ci-moi telah mengatur tempat mereka sebaik-baiknya untuk menghormati para jagoan Istana yang akan menjadi tamu-tamu agung.
Semua anggauta Ngo-Lian-Kauw diberi tugas, ada yang mengatur penjagaan di sekeliling tempat itu untuk menjaga keamanan, ada yang bertugas melayani para tamu.
Akan tetapi pada hari itu mereka semua, yang sebagian besar terdiri daripada wanita-wanita muda yang cantik, berdandan dengan mewah, memakai pakaian baru dan muka mereka memakai bedak dan yanci (pemerah) lebih tebal daripada biasanya.
Namun setiap orang anggauta menggantungkan pedang pada punggung masing-masing, sehingga mereka ini kelihatan cantik manis, centil genit, akan tetapi juga gagah.
Untuk menyenangkan hati jagoan-jagoan dari Istana yang akan mewakili Kaisar dalam pertemuan dan perundingan ini, bangunan besar yang biasanya menjadi tempat tinggal Ketua Ngo-Lian-Kauw, kini dikosongkan dan dihias menjadi tempat perundingan yang cukup luas dan menyenangkan.
Para pemasak sudah sejak pagi hari sIbuk di dapur dan banyaklah itik dan ayam dipotong lehernya, di samping dua ekor babi disembelih.
Untuk keperluan ini malah didatangkan dua orang tukang masak pria dari Kota Raja, dua orang laki-laki gemuk bermuka buruk akan tetapi yang sepasang tangannya pandai sekali menyulap masakan-masakan lezat.
Arak wangi tidak ketinggalan, dipilihnya arak tua yang baik.
Pendeknya, fihak Ching-Coa-To melalui Ngo-Lian-Kauw telah mempersiapkan penyambutan hebat dan besar-besaran.
Semenjak kemarin, fihak Ching-Coa-To dan teman-temannya telah hadir di situ.
Mereka ini terdiri dari belasan orang terkenal di dunia kang-ouw, akan tetapi yang penting disebut adalah Ching Toa-Nio, Souw Bu Lai si jago Mongol dan gurunya, si Pendeta Ka Chong Hoatsu pentolan Mongol yang terkenal sakti.
Tampak pula Bouw Si Ma, jagoan Mancu murid tunggal Pak Thian Locu.
Bouw Si Ma ini terkenal dengan julukannya Si Tangan Maut dan tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh Souw Bu Lai maupun Ching Toa-Nio sendiri!
Tentu saja patut disebut Ang-Hwa-Sam Ci-moi, karena tiga orang wanita ini benar-benar sakti dan kepandaian mereka masing-masing jauh melampaui tingkat Ching Toa-Nio dan teman-temannya, kecuali Ka Chong Hoatsu.
Tiga orang Sumoi (adik seperguruan) Hek Hwa Kui-bo ini memang masing-masing tidak setinggi Ka Chong Hoatsu kesaktiannya, akan tetapi kalau mereka itu maju bertiga, kiranya Ka Chong Hoatsu sendiri akan sukar menandingi mereka!
Sesungguhnya mereka ini tidaklah sejujurnya hendak membantu pemerintah Beng-Tiauw.
Seperti telah kita ketahui, mereka ini terdiri dari orang-orang yang berambisi (berpamrih), terutama sekali Souw Bu Lai atau Pangeran Souw Bu Lai yang mengaku masih keturunan dari Jenghis Khan.
Kalau kali ini mereka mengulurkan tangan hendak membantu Kaisar Beng-Tiauw dengan dalih mencari kedudukan dan kemuliaan, sebetulnya adalah karena mereka sekarang belum merasa cukup kuat untuk merampas Kerajaan.
Mereka hendak membaiki pemerintah dan menguasai kedudukan-kedudukan penting sehingga kelak lebih mudah lagi mereka untuk menggulingkan Kerajaan Beng-Tiauw dan membangun kembali Kerajaan Mongol.
Ini termasuk cita-cita Souw Bu Lai yang didukung oleh gurunya, yaitu Ka Chong Hoatsu, dan juga Ang-Hwa-Sam Ci-moi.
Akan tetapi cita-cita Bouw Si Ma si tokoh Mancu lain lagi.
Tokoh ini bercita-cita untuk mempergunakan kekuatan bangsanya untuk mencoba menguasai Kerajaan besar itu, karena sesungguhnya sudah amat lama Bangsa Mancu mengincar untuk berkuasa apabila kesempatan baik tiba.
Dan cita-cita itu disetujui dan didukung oleh Ching Toa-Nio yang diam-diam telah lama mengadakan hubungan rahasia dengan Bouw Si Ma.
Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali rombongan dari Kota Raja sudah memasuki lembah Sungai Huai.
Lima puluh orang perajurit pilihan termasuk pasukan pengawal Kerajaan, berbaris memanjang dipimpin oleh dua orang pengawal Istana, yaitu Ang Mo-Ko dan Bhong-Lokai, mengiringkan para tokoh Istana yang dikepalai oleh The Sun.
Para tokoh Istana itu adalah Lui-Tong Thian Te Cu yang berpakaian kuning, Bhok Hwesio dengan pakaiannya tetap sederhana dengan bagian dada setengah terbuka, Bhewakala si jagoan dari Nepal yang berkulit hitam dengan anting-antingnya yang besar bergantungan di kedua telinganya, It-To-Kiam Gui Hwa yang pendiam dan bersifat galak, dan The Sun sendiri.
Di tengah rombongan berkuda ini juga naik kuda diapit oleh The Sun dan Lui-Tong Thian Te Cu, kelihatan Hui Kauw si gadis muka hitam!
Gadis ini menunggang kuda dengan muka tunduk.
Ia menjadi seorang tawanan yang biarpun ia tidak dibelenggu dan naik kuda sendiri secara bebas, namun ia maklum bahwa di tengah orang-orang sakti ini ia sama sekali tidak berdaya.
Melawan tidak ada artinya.
Ia memang tidak mengharapkan diampuni, tidak mengharapkan diberi hidup oleh mereka ini atau oleh Ibu angkatnya, akan tetapi ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan rasa takut, Tidak sudi pula minta ampun, dan hatinya malah berdebar penuh kebahagiaan kalau ia ingat bahwa semua penderitaan ini ia pikul demi membantu usaha Kun Hong, suaminya.
Mati baginya bukanlah apa-apa asalkan Kun Hong selamat dan tugas yang dipikulnya terlaksana.
Gadis ini ketika ditangkap dan diperiksa, dengan terus terang mengaku bahwa ia sengaja memberikan Mahkota kepada Loan Ki untuk membantu tugas "Suaminya"
Kwa Kun Hong, untuk menyampaikan Mahkota itu kepada Raja Muda Yung Lo di Utara.
Memang sesungguhnya The Sun dan kawan-kawannya tentu saja tidak membutuhkan pengawalan karena mereka terdiri dari orang-orang sakti, akan tetapi pengawalan itu dilakukan bukan sekali-kali untuk menjaga keselamatan mereka melainkan untuk menambah keangkeran mereka sebagai utusan-utusan Kaisar.
Mereka semua datang berkuda dan sebetulnya malam tadi mereka sudah harus sampai di lembah Sungai Huai, akan tetapi oleh karena musim hujan sudah tiba dan malam tadi hujan turun amat lebat, mereka terpaksa menunda perjalanan dalam sebuah hutan dan baru pada pagi hari itu mereka dapat melanjutkan perjalanan ke lembah Sungai Huai.
Setelah hujan semalam, pagi hari itu hawanya amat nyaman dan sejuk, pemandangan segar menyenangkan, akan tetapi sayang, tanah yang mereka lalui becek dan berlumpur.
Pakaian seragam indah barisan itu banyak yang terkena lumpur yang memercik-mercik dari kaki kuda.
Kedatangan rombongan ini disambut penuh hormat dan manis budi oleh Ching Toa-Nio sebagai wakil rombongannya dan oleh Ang-Hwa-Sam Ci-moi sebagai nyonya-nyonya rumah.
Juga para tokoh undangan Ching Toa-Nio yang sudah berkumpul keluar untuk menyambut.
Tokoh berhadapan dengan tokoh, jago dengan jago sehingga pertemuan itu amat menggembirakan, dipenuhi kata-kata saling memuji dan saling merendahkan diri.
Rombongan itu lalu dipersilakan masuk ke dalam bangunan yang sudah disediakan.
Adapun para anggauta pasukan diperbolehkan beristirahat.
Mereka ini pun tidak melewatkan kesempatan baik dan bergembiralah mereka melihat betapa para penyambut mereka adalah wanita-wanita cantik, yaitu para anggauta Ngo-Lian-Kauw.
Suasana menjadi amat meriah, baik di dalam bangunan di mana para tamu terhormat disambut, maupun di luar bangunan dan di tempat-tempat sekelilingnya di mana para anggauta pasukan telah dapat mencari dan memilih pasangan masing-masing.
Karena para anggauta pasukan dari Istana itu bersama para anggauta Ngo-Lian-Kauw bersenang-senang dalam kesempatan yang amat baik ini, maka mereka menjadi lalai dan penjagaan yang seharusnya dilakukan menjadi kurang ketat.
Keadaan inilah yang menguntungkan Kun Hong dan tiga orang pengantarnya, yaitu Lauw Kin dan dua orang anggauta Hwa I Kaipang lain lagi.
Mereka ini adalah murid-murid Hwa I Kaipang yang penuh semangat, gagah dan berani.
Karena mereka tahu bahwa tanpa diantar, sukarlah bagi seorang buta seperti Kun Hong untuk dapat menyelundup masuk ke dalam sarang Ngo-Lian-Kauw, maka tiga orang ini dengan nekat lalu menyediakan diri untuk menjadi pengantar.
Lemahnya penjagaan memudahkan mereka untuk dapat menerobos masuk dan dengan kepandaian mereka, empat orang ini dengan mudah membekuk empat orang anggauta pasukan, merampas pakaian mereka dan di lain saat Kun Hong dan tiga orang pengantarnya telah menyamar sebagai empat orang anggauta pasukan Istana!
Dalam pakaian ini, mereka lebih leluasa sehingga akhirnya mereka berempat dapat menyelinap kedalam bangunan, mencari tempat untuk mengintai dan mendengarkan percakapan.
Di dalam ruangan yang luas itu, kedua fihak telah lengkap untuk mengelilingi meja yang diatur berjajar berbentuk bundar.
Hui Kauw berdiri di tengah-tengah, seakan-akan dijadikan barang tontonan.
Gadis itu sekarang tidak tunduk lagi seperti ketika naik kuda tadi.
Ia berdiri tegak dengan pandang mata berapi-api menyapu para tokoh yang duduk di sekelilingnya.
Dengan sikap gagah dan lantang ia berkata.
"Tidak perlu lagi banyak bicara. Kalian adalah orang-orang terkenal di dunia kang-ouw dan kalau terjatuh ke dalam tangan kalian, sampai mati pun aku tidak penasaran. Ibu angkatku atau penculikku membenciku, Ayah sendiri membenci, Ibu kandung tidak berdaya. Apalagi artinya hidup? Mau hukum boleh hukum, mau bunuh, siapa takut mati? Mau menganggap aku pengkhianat atau pemberontak, terserah, pokoknya bagiku sama saja, aku telah melakukan hal yang kuanggap membantu tugas suamiku, Kwa Kun Hong. Habislah, aku tidak mau bicara lagi dan apa yang kalian hendak lakukan atas diriku, terserah!"
Bukan main terharunya hati Kun Hong mendengar suara ini.
Suara Bidadari yang biasanya halus merdu penuh getaran jiwa kini lantang dan nyaring penuh wibawa sehingga keadaan di ruangan itu seketika hening.
Agaknya semua orang yang berada di dalam ruangan itu terpengaruh oleh sikap yang amat berani dari gadis itu.
Kun Hong sedang memutar otak, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan untuk dapat menolong Hui Kauw.
Dia cukup maklum bahwa keadaan amatlah berbahaya, bahwa di dalam ruangan itu terdapat tokoh-tokoh sakti yang sukar dilawan dan bahwa dia seorang diri tidak mungkin dapat menghadapi pengeroyokan mereka.
Akan tetapi dia pun tidak dapat membiarkan Hui Kauw terancam bahaya maut, dan untuk menolong nona ini dia siap mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ketawa terkekeh-kekeh.
Semua Orang di dalam ruangan itu menengok dan tahu-tahu berkelebat bayangan orang yang setelah tiba di situ berubah menjadi seorang kakek berkulit hitam Hek Lojin.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, The Sun, percuma saja kau membawa puluhan orang pengawal, Mereka itu manusia-manusia tidak becus, datang ke sini bukan melakukan penjagaan melainkan bermain gila dengan perempuan-perempuan tidak tahu malu Ngo-Lian-Kauw, malah ada yang mengintai ke sini seperti mata-mata. Benar-benar tiada guna, ha-ha-ha, heh-heh-heh!"
Sambil berkata demikian, tiba-tiba tubuhnya berkelebat mendekati tempat persembunyian Kun Hong berempat, tongkat hitamnya menyambar empat kali, terdengar suara keras tembok jebol disusul menjeritnya Lauw Kin dan dua orang saudara seperguruannya yang roboh dengan kepala pecah berhamburan!
Kun Hong tadi pun terkejut karena merasa betapa ujung tongkat menembus tembok menghantam kepalanya, maka cepat dia miringkan kepala sehingga tongkat itu tidak mengenai sasaran.
"Iiihhh, kenapa yang seorang tidak roboh?"
Hek Lojin berseru kaget dan heran sambil melompat mundur.
Kun Hong maklum bahwa tempat sembunyinya tidak dapat dirahasiakan lagi.
Dia menyesal bukan main betapa tadi karena tidak menyangka-nyangka, dia tidak sempat menolong tiga orang anggauta Hwa I Kaipang itu sehingga mereka tewas oleh tongkat Hek Lojin yang lihai dan ganas.
Dengan cepat dia lalu merenggut lepas pakaian pengawal yang tadi dirampas dan dipakai di luar bajunya sendiri, kemudian sekali dorong dia telah mendobrak pintu dan melangkah masuk dengan sikap tenang.
Semua mata di dalam ruangan itu kini ditujukan kepadanya.
Beberapa orang di antara mereka yang telah merasai kelihaian Si Pendekar Buta ini berdebar hatinya karena gentar.
Apalagi sikap Kun Hong yang amat tenang dengan langkah-langkah lambat itu benar-benar amat mengecutkan hati, seakan-akan membawa ancaman maut yang hebat.
"Kun Hong...!"
Hui Kauw berseru kaget dan heran bercampur khawatir ketika ia melihat munculnya orang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu.
Tentu saja di tempat dan pada saat lain ia akan merasa bahagia dan gembira sekali berjumpa dengan orang yang dikasihi ini, akan tetapi saat itu dan tempat itu sama sekali tidak tepat untuk mereka saling bertemu.
"Kun Hong, kenapa kau ke sini...??"
Hui Kauw merangkul dan bertanya dengan suara penuh kegelisahan, sama sekali tidak merahasiakan perasaannya lagi.
Betapa jauh bedanya sikap gadis ini tadi dengan sekarang.
Tadi, biarpun ia maklum bahwa ia menghadapi bahaya maut, ia tetap tenang dan tabah, malah sikapnya menantang.
Sekarang, begitu Kun Hong muncul, segera ia menjadi ketakutan, suaranya menggetar penuh kegelisahan.
Tentu saja hal ini tidak terlepas dari telinga Kun Hong yang tajam dan dia merasa tenggorokannya seperti tersumbat.
Alangkah besarnya cinta kasih gadis ini terhadapnya!
Dia melepaskan rangkulan Hui Kauw dan menggandeng tangan gadis itu sambil berkata lirih.
"Hui Kauw, biarlah kita mati bersama..."
Butiran-butiran air mata bening menetes turun dari kedua mata gadis itu, akan tetapi Bibirnya yang manis tersenyum, dan jari-jari tangannya saling remas dengan jari-jari tangan Kun Hong.
Dalam saat menghadapi ancaman maut itu, dua orang muda ini benar-benar merasa betapa teguhnya jalinan cinta kasih murni mengikat hati masing-masing.
Mereka rela berkorban, rela mati bersama.
"Kun Hong, kita melawan. Melawan mati-matian. Mari kita mati bersama, akan tetapi mati sebagai sepasang harimau, bukan sebagai sepasang kelinci..."
Bisik Hui Kauw. Ucapun ini seketika menggugah semangat Kun Hong, tongkat di tangannya mulai menggigil.
"jangan khawatir... aku akan melindungimu, Hui Kauw. Mereka itu tidak akan mampu mengganggu selembar rambutmu tanpa melalui mayatku."
Hek Lojin tertawa nyaring.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh! Betapa romantisnya! Ha-ha-ha, pasangan yang cocok. He, orang buta, namamu Kwa Kun Hong? Ha-ha-ha, inikah yang membikin kecut hati para jagoan? Alangkah lucunya, benar-benar memalukan sekali. He, orang buta, hayo kau berlutut lagi dan mengangguk-angguk tujuh kali di depan kakiku seperti dalam hutan itu. Baru aku mau ampuni kau!"
Panas rasanya telinga Kun Hong.
Dengan tangan kirinya dia menarik Hui Kauw di belakangnya untuk melindunginya, kemudian dia berdiri tegak dengan tongkat di tangan kanan, siap menghadapi kakek lihai ini.
"Hek Lojin, kau amat sombong, tidak tahu orang mengalah karena mengingat usiamu yang sudah lanjut. Kiranya kau hanya seorang kakek yang sudah pikun dan yang tidak patut dihormati oleh orang muda. Tanpa alasan tidak sudi aku berlutut dan minta ampun kepadamu atau kepada siapa pun juga."
"Hua-ha-ha-heh-heh-heh! Benar-benar tabah anak ini. Pantas bikin heboh! The Sun, apakah di antara jagoan-jagoanrnu tidak ada yang berani menangkap dia?"
The Sun dan teman-temannya tidak menjawab, Bhok Hwesio marah sekali, akan tetapi dia tidak begitu bodoh untuk dapat diadu oleh kakek yang tidak disukainya itu, maka dia pun diam saja.
Akhirnya The Sun berkata.
"Suhu, lebih baik kita segera turun tangan membunuhnya sebelum dia membikin kacau pertemuan ini."
"Wah-wah-wah, jadi tidak ada yang berani? Nah, bagaimana dengan tokoh-tokoh yang katanya hendak membantu pemerintah? tentu ada yang berani menawan bocah buta ini. Ataukah juga tidak ada yang berani?"
Pandang matanya menyapu Ching Toa-Nio dan teman-temannya, Ka Chong Hoatsu dan Ang-Hwa-Sam Ci-moi maklum akan kelihaian Kun Hong, akan tetapi mereka tidak takut karena memang belum pernah mengukur tenaga secara sungguh-sungguh.
Mendengar semua itu, otak Kun Hong yang cerdik segera mendapatkan akal.
Terang bahwa kakek yang bernama Hek Lojin ini biarpun sombong dan aneh, ternyata mempunyai sikap yang cukup gagah, yaitu agaknya enggan untuk mengeroyok lawan.
Oleh karena itu, cepat dia berkata.
"Hek Lojin, untuk apa banyak pidato? Terang bahwa semua temanmu tidak ada yang berani maju satu lawan satu. Daripada capek mulutmu, lebih baik kalian semua maju mengeroyokku. Ha-ha-ha, tokoh-tokoh dunia kang-ouw sekarang memang hanya namanya saja yang besar, menghadapi seorang muda buta saja beraninya hanya main keroyokan!"
"Tentu saja, Kun Hong. Siapa di antara mereka ini berani menghadapimu satu lawan satu? Aku berani bertaruh potong kepalaku kalau di antara mereka ada yang dapat menangkan kau!"
Hui Kauw menambahi "Api"
Yang dinyalakan Kun Hong.
Akal ini berhasil membikin panas hati para tokoh itu, terutama sekali The Sun, Lui-Kong Thian Te Cu, Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu dan Ang-Hwa-Sam Ci-moi.
Yang lain-lain biarpun panas namun diam-diam mengaku bahwa mereka tidak akan dapat menangkan Kun Hong kalau seorang lawan seorang.
Hek Lojin paling panas perutnya "Heh, memalukan sekali!
Kita adalah orang-orang yang mengaku gagah.
Masa keroyokan?
Apa sih kepandaian bocah buta ini?
Kita harus bersikap gagah dan tegas.
Tadipun tiga orang pengawal, biar mereka itu anak buah muridku, sekali turun tangan kubunuh karena mereka mengintai.
Yang tidak dapat berlaku tegas dan gagah, percuma saja mengaku orang gagah hendak membantu Kaisar."
"Ha-ha-ha, Hek Lojin, percuma saja kau mendongkol dan uring-uringan seperti ini! Orang-orang dari Ching-Coa-To mana ada yang patut disebut orang gagah? Mereka itu adalah pengecut-pengecut tidak tahu malu, apalagi Ching Toa-Nio yang diam-diam mengajak kawan-kawannya menyerbu Thai-San-Pai. Tanpa keroyokan, mana mereka berani berkelahi? Ha-ha, marilah Hui Kauw, kita keluar saja dari ruangan ini. Terlalu banyak kutu busuk di sini, baunya tidak tertahan, Hek Lojin, aku menanti di luar, di tempat lega kita boleh bertempur sampai mati!"
Sambil menggandeng tangan Hui Kauw, Kun Hong mengajak nona itu keluar dari ruangan.
Hui Kauw maklum bahwa Pendekar Buta ini menghendaki tempat yang lega sehingga leluasa bergerak kalau terjadi pertempuran yang tidak dapat disangsikan lagi tentulah menjadi pengeroyokan.
Hati nona ini menjadi besar.
Kalau tadi ia tidak takut mati, sekarang ia malah bergembira karena berada di samping orang yang dikasihinya.
Mati atau hidup, bersama Kun Hong ia rela.
Maka dialah yang kini menarik tangan Kun Hong diajak ke luar melalui pintu.
Biarpun ia tidak memegang senjata, Hui Kauw siap untuk bertempur dengan tangan kosong, melawan mati-matian.
Ching Toa-Nio marah bukan main mendengar ucapan Kun Hong yang amat menghinanya tadi.
Apalagi melihat Hui Kauw menuntun Kun Hong ke luar dengan sikap begitu mesra, hatinya seperti dibakar.
Ingin sekali bacok ia membikin mampus dua orang yang amat dibencinya itu.
Betapapun juga, ia adalah majikan Pulau Ching-Coa-To yang sudah terkenal.
Ilmu silatnya tinggi dan ia adalah bekas kekasih Siauw-Coa-Ong Giam Kim!
Mana ia sudi dihina begitu saja?
Ia berkedip memberi isyarat kepada Bouw Si Ma sambil melompat ke luar dan berseru.
"Iblis buta, jangan sombong! Hui Kauw perempuan hina, tanganku sendiri yang akan merenggut nyawamu!"
Sambil tertawa-tawa Hek Lojin juga melangkah ke luar menyeret tongkat hitamnya, dikuti semua yang hadir dalam ruangan itu.
Ternyata Kun Hong sudah berdiri di luar bangunan, di tempat yang lega.
Akan tetapi pagi hari itu matahari tidak muncul karena tertutup mendung-mendung tebal yang agaknya memberi tanda bahwa pada hari itu akan terjadi pertempuran hebat dan mandi darah manusia.
Para anggauta Ngo-Lian-Kauw dan para anggauta pasukan Istana tertarik oleh keadaan kacau ini dan berdatangan.
Kun Hong dan Hui Kauw tetap tenang walaupun maklum bahwa mereka telah terkurung banyak orang lawan.
"Siapa berani maju?"
Kun Hong bertanya, suaranya tetap ramah tetapi mengandung ejekan.
"Satu-satu ataukah keroyokan? Terserah kepada kalian! Asal kalian ingat bahwa aku Kwa Kun Hong tidak pernah mencari permusuhan dengan kalian, melainkan kalianlah yang memusuhi aku dan Hui Kauw. Kalau kalian tidak mengganggu kami, kami pun akan pergi baik-baik tanpa mengganggu kalian. Akan tetapi kalau kalian menyerang, sudah barang tentu kami akan membela diri."
"Kun Hong, enak saja kau bicara. Sudah jelas kau pengkhianat, kau pemberontak hendak melawan pemerintah yang sah dan perempuan ini adalah pembantumu, kau masih pandai pura-pura suci!"
The Sun berkata lantang.
Kening Kun Hong berkerut mendengar suara The Sun.
Dia benci orang ini dan biarpun dia bukan seorang yang suka membunuh, rasanya dia akan suka membunuh pemuda ini mengingat akan perbuatannya yang biadab terhadap mendiang janda Yo.
Akan tetapi dia menahan kemarahannya.
Urusan pribadi tidak akan dicampur adukkan dengan urusan sekarang ini.
"The Sun, kau ular belang! Kau tahu dengan baik bahwa aku bukanlah seorang yang mencampuri urusan negara. Memang aku mempertahankan Mahkota kuno dan rahasianya karena aku hendak membantu usaha mendiang Paman Tan Hok, menyelesaikan tugasnya menyampaikan Mahkota kuno dan rahasianya kepada yang berhak. Sayang, Paman Tan Hok yang gagah perkasa itu pun tewas oleh kecurangan orang-orangnya Ching Toa-Nio. Memang pengecut dan curang sekali nenek Pulau Ching-Coa-To itu!"
Ching Toa-Nio menjerit marah.
Dalam kemarahannya mengingat sikap wanita itu kepada Hui Kauw, Kun Hong telah menggunakan makian yang benar-benar menusuk perasaan dan keangkuhan Ching Toa-Nio.
Andaikata ia dimaki iblis wanita sekalipun, kiranya Ching Toa-Nio tidak akan semarah kalau dimaki nenek!
Ia memang sudah tua, namun hatinya melebihi gadis remaja mudanya!
"Kwa Kun Hong pengemis buta.
Kau berani menghina nyonya besarmu?"
Sambil berteriak demikian Ching Toa-Nio sudah melompat maju dengan pedang terhunus. Gerakannya ini diikuti oleh Bouw Si Ma yang juga sudah mencabut pedang yang hitam dan ampuh.
"Kwa Kun Hong, aku pun harus menagih hutang nyawa guruku, Pak-Thian Locu, kepadamu!"
Kata tokoh Mancu ini dengan suara berat.
Kun Hong terkejut.
Kiranya Bouw Si Ma si orang Mancu yang pandai memainkan pedang dan memiliki tenaga Lweekang yang lihai ini adalah murid Pak-Thian Locu.
Agaknya baru sekarang dia ini tahu bahwa gurunya dahulu tewas dalam pertandingan menghadapinya.
Namun dia tidak menjadi gentar karena pernah dia mengukur kepandaian orang Mancu ini, juga pernah dahulu bergebrak dengan Ching Toa-Nio.
Tadi Hui Kauw sudah membisikinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi beberapa orang yang berada di situ, terutama sekali Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu, dan ketiga Ang-Hwa-Sam Ci-moi.
Lima orang itulah yang merupakan lawan berat, sekarang ditambah lagi dengan Hek Lojin yang kiranya tidak kalah lihainya, dibandingkan dengan yang lima orang itu.
"Kalian maju berdua hendak mengeroyokku? Silakan!"
Tantang Kun Hong yang mendengar gerakan Ching Toa-Nio dan Bouw Si Ma. Tiba-tiba Hui Kauw berseru.
"Ching-Toanio, mengingat bahwa kau pernah menjadi Ibu angkatku, lebih baik kau jangan melawan Kun Hong dan pulanglah saja ke Ching-Coa-To dengan aman. Kau tidak akan menang dan aku tidak ingin melihat kau tewas di tangan Kun Hong."
Ucapan Hui Kauw ini keluar dari hati sejujurnya.
Biarpun Ibu angkat ini kerap kali bersikap sewenang-wenang dan tidak baik kepadanya, namun ia masih ingat bahwa ketika kecil ia dirawat dan dididik nyonya galak ini.
Akan tetapi dasar watak Ching Toa-Nio memang sombong dan galak, ucapan ini diterimanya salah dan ia malah menjadi marah sekali.
"Hui Kauw perempuan rendah! Tidak usah banyak cerewet, lihat pedangku akan menembus jantungmu!"
Ucapan ini ia tutup dengan sambaran sepasang pedangnya ke arah Hui Kauw dalam penyerangan maut karena sekaligus sepasang pedang itu menabas leher dan menusuk dada.
Tentu saja Hui Kauw yang sudah mengenal watak Ibu angkatnya ini sejak tadi sudah bersiaga, maka melihat berkelebatnya sepasang pedang itu, cepat ia mengelak dan melompat ke belakang.
Sebelum Ching Toa-Nio sempat menyerang lagi, Kun Hong sudah menghadangnya sambil tersenyum.
"Siapapun juga tidak boleh mengganggu Hui Kauw. Akulah lawanmu!"
"Bangsat buta, apamukah dia itu?"
Bentak Ching Toa-Nio, suaranya menggetar penuh kemarahan.
"Dia... isteriku! Hemmm, kau sendiri yang mengawinkan kami, Ching Toa-Nio. Lupakah kau?"
Ching Toa-Nio mengeluarkan seruan keras dan sepasang pedangnya berkelebat menyambar, dibarengi oleh pedang hitam di tangan Bouw Si Ma yang juga sudah menerjang maju.
Pendekar Buta ini menyontekkan tongkatnya dua kali dan dua orang itu tergetar mundur karena pedang pedang mereka sekaligus sudah kena ditangkis dengan tepat.
Namun mereka cepat menyerang lagi dan terjadilah pertempuran mati-matian.
Girang hati Kun Hong ketika ternyata olehnya betapa mudah dan ringannya menghadapi dua orang ini setelah dia memainkan ilmu silat gabungan Kim-Tiauw-Kun dan Im-Yang Kim-Hoat yang dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-Eng-Cu Lui Bok.
Ketika bertempur di Ching-Coa-To dahulu, biarpun dia dapat juga mengatasi dua orang ini, namun dia masih merasa agak berat.
Sebaliknya, sekarang telinganya dapat menangkap semua gerakan itu seperti menangkap gerakan yang tidak asing karena ilmu silatnya sendiri dapat memecahkan setiap daya serangan lawan.
Dengan ilmu silatnya yang baru dia merasa seakan-akan dirinya terlindung benteng baja daripada serangan dari luar kilat sinar pedang dalam tongkatnya cukup untuk menendang pergi semua ancaman pedang lawan dan dia masih mempunyai waktu dan kesempatan banyak sekali untuk membobolkan pertahanan kedua lawannya dengan jurus-jurus aneh dari tongkatnya ditambah hawa pukulan yang keluar dari tangan kirinya.
Kun Hong menguatkan hatinya, menyingkirkan perasaan yang biasanya pantang membunuh dengan pikiran bahwa dua orang ini adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya disingkirkan dari dunia karena kalau mereka ini dibiarkan hidup, tentu kelak akan menimbulkan banyak malapetaka, terutama sekali terhadap Hui Kauw.
Di samping ini, dia harus pula berusaha mengurangi tenaga para musuhnya yang begitu banyak dan yang tentu harus dia hadapi semua dalam pertempuran-pertempuran berikutnya.
Karena pikiran inilah, tanpa banyak sungkan lagi tongkatnya bergerak, menyambar-nyambar secara aneh sekali, dibarengi gerakan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya melakukan pukulan-pukulan yang mengundang hawa kadang-kadang panas kadang-kadang dingin.
Tangan kirinya ini hebat sekali karena mulai kelihatan uap putih keluar dari sela-sela jari tangannya.
Ching Toa-Nio sesungguhnya seorang ahli pedang yang tidak boleh dipandang ringan.
Gerakannya lincah dan pedangnya memiliki gerakan seperti ular.
Memang sesungguhnya ia telah mewarisi Ilmu Pedang Ular dari mendiang Siauw-Coa-Ong Giam Kin si Raja Ular.
Selain sepasang pedangnya itu ujungnya mengandung racun ular yang amat berbahaya, juga nyonya galak ini selalu siap mencari kesempatan untuk menyerang lawannya secara menggelap, menggunakan jarum-jarum beracun yang juga telah direndam racun ular yang sekali mengenai sasaran sukar diharapkan korban itu akan dapat tertolong.
Adapun Bouw Si Ma si tokoh Mancu adalah murid tunggai Pak-Thian Locu, jadi dia masih terhitung kakak seperguruan dari Giam Kin karena guru Giam Kin, mendiang Siauw-Ong-Kwi adalah adik seperguruan Pak-Thian Locu.
Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Pak-Thian Locu masih lebih tinggi daripada tingkat Siauw-Ong-Kwi namun tidak dapat dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih lihai daripada Giam Kin.
Dalam hal ilmu silat, mereka berdua ini memiliki keistimewaan masing-masing dan boleh dikata mereka setingkat, sungguhpun Bouw Si Ma mungkin lebih unggul dalam hal tenaga dalam, karena Gim Kin menghambur-hamburkan tenaganya dalam mengumbar hawa nafsu.
Akan tetapi Giam Kin jauh lebih berbahaya karena orang ini merupakan iblis muda yang amat ganas dan keji, penuh akal dan tipu muslihat.
Sebaliknya, Bouw Si Ma tidak selicin Giam Kin dan orang Mancu ini dalam setiap pertempuran sepenuhnya mengandalkan kepandaian silatnya yang sudah cukup tinggi.
Betapapun juga, tingkatnya masih melebihi tingkat Ching Toa-Nio dan pedang hitam di tangannya merupakan pedang yang ampuh karena terbuat daripada baja hitam yang hanya terdapat di dekat kutub Utara.
Akan tetapi kali ini kepandaian dua orang itu tidak banyak artinya ketika mereka mengeroyok Kun Hong.
Dua macam ilmu silat yang digabung menjadi satu itu seakan-akan hilang keampuhannya, lenyap keganasannya seperti arus sungai banjir memasuki lautan.
Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian yang kini dimiliki Kun Hong adalah ilmu sakti yang bersumber pada Ilmu Im-Yang Bu-Tek Cin-Keng, peninggalan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su.
Ilmu silat ini berdasarkan Im dan Yang, sepasang tenaga berlawanan atau bertentangan yang menggerakkan seluruh kehidupan di dunia ini.
Ilmu kesaktian ini sudah mencakup seluruh inti silat yang mana pun juga, maka tidaklah mengherankan apabila kedua orang itu seakan-akan merasa bahwa mereka menghadapi lawan yang memiliki tenaga mujijat dan ilmu silat ajaib.
Pedang mereka seperti mental sendiri sebelum terbentur tongkat dan serangan-serangan mereka telah gagal dan buyar sebelum dilancarkan sepenuhnya, seakan-akan tertahan atau terhalang di tengah jalan!
Baru beberapa jurus saja, baik Ching Toa-Nio maupun Bouw Si Ma sudah terdesak hebat.
Pedang mereka tidak mampu lagi melakukan serangan karena harus diputar untuk melindungi tubuh daripada sambaran sinar kemerahan yang keluar dari tangan kanan Kun Hong.
Demikian cepat gerakan tiga orang ini sehingga tubuh mereka tidak tampak lagi oleh mata biasa, tertutup oleh sinar pedang yang berkelebatan dan bergulung-gulung.
Amatlah indah tampaknya bagi mata orang biasa kalau menyaksikan pertempuran itu.
Tiga sinar pedang saling membelit, kemudian sinar pedang merah bergulung-gulung makin lebar dan akhirnya mengurung sinar pedang hitam dan cahaya sinar pedang putih.
Sinar pedang hitam adalah senjata Bouw Si Ma, sedangkan sepasang yang putih adalah pedang-pedang Ching Toa-Nio.
Dua macam sinar pedang ini terkurung sinar merah, makin lama makin ciut karena pergerakan senjata mereka amat terbatas.
Mendadak Ching Toa-Nio berseru keras dan pedangnya yang berada di tangan yang kanan ia sambitkan ke depan.
Pedang itu meluncur cepat bagaikan anak Panah terlepas dari busurnya, menyambar ke arah tenggorokan Kun Hong.
"Singgg!!"
Pedang itu berdesing lewat di atas kepala Pendekar Buta itu ketika dia mengelak dengan merendahkan tubuh.
"Weerrrr"
Serangkum angin halus bertiup menyambar tiga bagian tubuh yang mematikan, yaitu leher, dada, dan lambung.
Kun Hong kaget sekali, begitu halus suara dan angin itu sehingga hampir saja dia celaka.
Namun pendengaran dan perasaan Pendekar Buta ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak lumrah, maka suara sehalus itu dapat juga ditangkapnya.
Dia marah sekali karena dapat menduga bahwa itu tentulah senjata rahasia halus yang amat berbahaya.
Memang tidak salah dugaannya karena Ching Toa-Nio tadi setelah menyambitkan pedangnya, terus saja mempergunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan jarum-jarum halusnya yang beracun.
Sebetulnya, ilmu inilah yang membuat Ching Toa-Nio disegani dan ditakuti.
Jarang ada lawan dapat menyelamatkan diri menghadapi penyerangan hebat ini.
Sambitan pedangnya amat kuat dan cepat.
Andaikata lawan dapat mengelak atau menangkis daripada ancaman pedang terbang itu, agaknya akan sulit sekali dapat menyelamatkan diri kalau dalam posisi berikutnya diancam jarum-jarum beracun yang malah lebih cepat dan lebih berbahaya datangnya daripada pedang tadi.
Jarum-jarum ini amat kecil dan halus, baru ketahuan datangnya kalau sudah amat dekat sehingga sukar untuk dapat dielakkan.
Keadaan Kun Hong lebih sulit lagi pada saat itu.
Baru saja dia mengelak dari sambaran pedang terbang, tubuhnya masih merendah dan pada detik itu pedang hitam Bouw Si Ma membabat ke arah kaki.
Terpaksa dia menangkis dengan pedangnya.
Dalam posisi merendahkan tubuh dan menangkis inilah datangnya sambaran jarum-jarum halus yang hendak merenggut nyawanya itu!
"Keji...!"
Kun Hong berseru keras, tangan kirinya dikibaskan dengan pengerahan tenaga mujijat dan hampir pada detik itu juga, tongkatnya yang tadi menangkis pedang hitam Bouw Si Ma telah berkelebat ke arah dada tokoh Mancu itu.
Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ching Toa-Nio terjengkang ke belakang berbareng dengan robohnya Bouw Si Ma.
Ternyata tokoh Mancu ini tidak dapat mengelak lagi karena sambaran tongkat Kun Hong luar biasa cepatnya, tahu-tahu sudah menusuk dada dan tepat menembus jantung sehingga tokoh Mancu ini memekik, pedang hitamnya terlepas dan dia roboh tidak bernyawa lagi.
Adapun Ching Toa-Nio sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penyerangannya yang amat curang tadi berakibat celakanya diri sendiri.
Uap putih menyambar dari tangan kiri Kun Hong dan tenaga yang amat dahsyat seakan-akan meniup jarum-jarum halus yang menyambar balik ke arah Ching Toa-Nio sendiri.
Wanita ini sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat terjadi hal seperti itu, maka ia tidak sempat menyelamatkan dirinya.
Jarum-jarum itu menembus pakaian, kulit dan langsung memasuki dada dan lambungnya.
Kali ini karena jarum-jarum itu digerakkan oleh tenaga dahsyat yang menyambar dari tangan kiri Kun Hong, bukan main pesatnya sehingga jarum-jarum itu amblas dan lenyap ke dalam tubuh Ching Toa-Nio!
Jarum-jarum beracun itu baru melukai kulit saja sudah dapat merenggut nyawa, apalagi sekarang menembus kulit mengeram ke dalam daging.
Seketika itu juga Ching Toa-Nio terjengkang dan pada detik berikutnya ia telah tewas dengan mata mendelik dan muka membiru!
"Ohhh...!"
Hui Kauw terisak dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
Betapapun juga, hatinya ngeri dan sedih melihat kematian Ching Toa-Nio.
Sudah terlalu lama ia menganggap wanita itu sebagai Ibunya dahulu di waktu ia masih kecil.
Baru ia sadar dan menurunkan kedua tangannya lagi ketika ia merasa betapa Kun Hong memegangnya sambil berkata.
"Hui Kauw, jangan lengah. Kau pergunakan pedang ini..."
Kiranya Kun Hong sudah mengambil pedang hitam milik Bouw Si Ma dan menyerahkannya kepada Hui Kauw.
Pendekar Buta ini amat khawatir akan keselamatan Hui Kauw.
Biarpun dia berada di situ dan siap membela Hui Kauw dengan seluruh jiwa raganya, namun berhadapan dengan begitu banyak orang pandai, masih saja keselamatan Hui Kauw tidak dapat terjamin.
Maka lebih baik gadis itu memegang senjata dan membantunya sehingga kedudukan mereka menjadi lebih kuat.
Setelah Hui Kauw menerima pedang hitam, Kun Hong sengaja berseru, suaranya menantang dan keras.
"Hayo, siapa lagi yang hendak merintangi aku bersama nona ini pergi dengan aman? Kalian adalah jago-jago dan tokoh-tokoh terkemuka, terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti. Kalau sudah begitu tidak tahu malu, boleh maju semua mengeroyok kami berdua. Hayo, majulah!"
Dengan tongkat melintang di depan dada, Kun Hong sengaja membakar hati mereka dengan maksud menyinggung kehormatan mereka agar mereka merasa segan untuk melakukan pengeroyokan.
Biarlah mereka maju seorang demi seorang, pikirnya, dan dia merasa sanggup untuk mengalahkan mereka.
Ka Chong Hoatsu kaget sekali melihat tewasnya Ching Toa-Nio dan Bouw Si Ma.
Juga dia merasa menyesal sekali atas kelancangan dua orang itu.
Dia sudah cukup dapat menduga bahwa orang muda buta itu memiliki ilmu kepandaian tinggi.
Kini dua orang kawan yang dapat diandalkan tewas begitu saja.
Melihat The Sun berbisik-bisik dengan kawan-kawannya, Ka Chong Hoatsu segera berkata lantang.
"Para sahabat dari Kota Raja! Penjahat buta ini adalah seorang pemberontak, demikian pula si nona hitam. Kenapa tidak segera turun tangan membasminya sebelum dia menimbulkan lebih banyak kekacauan? Kalau perlu, kami pun sanggup membantu."
"Aha, Ka Chong Hoatsu, kau tua bangka dari Mongol tidak tahu malu. Bukankah kepandaianmu sendiri terkenal amat tinggi? Kenapa tidak maju sendiri? Hayo, aku siap menghadapimu!"
Kun Hong sengaja membakar, akan tetapi Ka Chong Hoatsu hanya tersenyum mengejek dan berkata acuh tak acuh.
"Belum saatnya... belum saatnya..."
Setelah berkata demikian dia memberi isyarat kepada Ang-Hwa-Sam Ci-moi untuk menyuruh anak buah Ngo-Lian-Kauw menyingkirkan dan merawat jenazah Ching Toa-Nio dan Bouw Si Ma.
Setelah mendapat perintah, delapan orang wanita anggauta Ngo-Lian-Kauw maju cepat dan mengangkat pergi mayat-mayat itu.
Sementara itu, The Sun sejak tadi berunding dengan Hek Lojin yang mengangguk-angguk.
Kemudian The Sun tersenyum mengejek, sekali menggerakkan tubuhnya dia telah melayang ke depan Kun Hong.
"Kwa Kun Hong, kau benar-benar sombong sekali. Kau kira tanpa mengeroyokmu tidak mungkin kami menang? Hemmm, aku sendiri yang akan maju melabrakmu, Kun Hong, kecuali kau suka menyerahkan diri menjadi tawananku untuk diadili di Kota Raja."
Kun Hong melengak, terheran-heran.
Sudah terang bahwa betapapun lihainya, pemuda tokoh Kota Raja itu tidak akan mampu mengalahkannya.
Hal ini The Sun sendiri sudah cukup mengerti.
Dia seorang yang amat cerdik dan penuh tipu muslihat, kenapa sekarang nekat hendak menghadapinya seorang diri?
Diam-diam Kun Hong menjadi waspada, The Sun seorang yang cerdik dan curang sekali.
Tidak mungkin dia hanya maju mengandalkan kepandaian silatnya dan sudah pasti tindakannya ini diikuti tipu muslihat licin.
"Hui Kauw, kau mundurlah dan jaga dirimu baik-baik. Berteriaklah kalau menghadapi bahaya, biar aku membereskan manusia curang dan pengecut ini,"
Demikian kata Kun Hong sambil mendorong Hui Kauw ke belakang. Dia amat khawatir kalau The Sun akan menggunakan siasat keji dan mencelakai Hui Kauw dengan cara lain selagi bertempur melawannya.
"The Sun, kaulah orang yang pertama kuharapkan untuk bertanding denganku pada saat ini. Majulah."
The Sun tertawa mengejek dan.
"Sratt"
Pedangnya telah dia cabut dengan gerakan indah.
Pada saat itu, seakan-akan pencabutan pedang tadi merupakan isyarat, terdengarlah suara tambur dan gembreng dipukul orang, mula-mula lirih dan lambat, makin lama makin keras dan cepat.
Itulah suara tambur dan gembreng perang dan ternyata belasan orang anggauta pasukan dari Istana telah berada di situ membunyikan tambur dan gembreng.
Suara itu amat bising memekakkan telinga.
"Wuuuttttt!"
Kun Hong cepat mengelak dan dia kaget setengah mati ketika angin pedang The Sun terus-menerus menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan laksana kilat menyambar-nyambar dibarengi suara ketawa pemuda yang cerdik itu.
Kun Hong menggertak giginya dan terpaksa memutar tongkat sejadinya sambil mempergunakan langkah-langkah ajaib.
Tahulah dia sekarang akal muslihat yang dipergunakan The Sun dalam melawannya.
Memang seorang pemuda yang cerdik dan penuh akal.
Kiranya pemuda ini maklum bahwa kelihaian Kun Hong terletak pada pendengaran telinganya sebagai pengganti matanya yang buta.
Memang begitulah.
Seorang buta hanya dapat mengandalkan pendengaran, penciuman dan rabaan untuk mengetahui keadaan di sekitarnya.
Terutama sekali pendengaran.
Apalagi dalam ilmu silat.
Tentu saja keawasan mata dipergunakan dan sebagai pengganti mata yang buta, pendengaranlah yang diandalkan.
Kini The Sun mempergunakan suara bising untuk merusak pendengaran Kun Hong!
Hampir saja akal The Sun yang licin ini berhasil kalau saja Kun Hong tidak mewarisi ilmu silat yang benar-benar sakti seperti Kim-Tiauw-Kun dan Im-Yang Sin-Hoat.
Langkah-langkah ajaib dari Kim-Tiauw-Kun menolongnya terhindar dari ancaman pedang The Sun yang ganas dan cepat.
Pada jurus-jurus pertama memang Kun Hong menjadi bingung dan dia tidak dapat berbuat lain kecuali mengelak, menangkis dan memutar tongkat sejadinya untuk melindungi diri.
Akan tetapi lambat laun telinganya mulai dapat menangkap perbedaan-perbedaan antara suara bising tambur gembreng dengan suara bersiut dan berdesingnya pedang di tangan The Sun.
Diam-diam dia menjadi girang sekali.
Masih untung baginya bahwa tingkat kepandaian The Sun masih belum mencapai puncaknya.
Seorang yang ilmu pedangnya sudah mencapai titik puncak, seperti misalnya pamannya, Tan Beng San Ketua Thai-San-Pai, dapat memainkan pedang sedemikian rupa tanpa menimbulkan angin atau suara mendesing dan bersiut.
Memang masih sukar bagi Kun Hong untuk dapat balas menyerang karena dia harus mencurahkan seluruh perhatian untuk menjaga diri jangan sampai menjadi korban pedang The Sun yang cukup berbahaya.
Akan tetapi sedikitnya dengan mendengar suara angin pedang, dia dapat mencari kesempatan baik untuk balas menyerang.
Tentu saja dia tidak mau berlaku sembrono dengan serangan balasannya karena maklum sekali serangannya luput, dia akan terancam oleh pedang lawan karena dalam keadaan menyerang, tentu kedudukan pertahannya menjadi lemah dan lowong.
Tadinya The Sun gembira sekali melihat betapa lawannya Si Pendekar Buta menjadi bingung dan kacau gerakannya.
Akalnya berhasil, lawannya menjadi kacau-balau setelah rusak pendengarannya oleh suara bising!
Inilah yang membuat dia tadi tertawa-tawa mengejek.
Akan tetapi tidak lama, karena dia segera berubah menjadi marah dan penasaran sekali.
Si Buta ini sekarang buta tuli, kenapa masih selalu dapat mengelak daripada sambaran pedangnya?
Kenapa pedangnya belum juga dapat mengenai sasaran, padahal lawannya itu sama sekali tidak mampu balas menyerang?
Dia menjadi jengkel, sejengkel seorang anak kecil yang selalu gagal menepuk lalat yang gesit dengan tangannya.
Lima puluh jurus telah lewat dan jangankan memenggal leher atau menusuk dada, membabat ujung baju saja belum!
Hui Kauw berdiri dengan muka pucat.
Ia sudah mengenal kelihaian pedang The Sun dan sebagai seorang yang cerdik, ia pun maklum apa artinya dibunyikan tambur dan gembreng yang amat bising itu.
Ia pun maklum akan kelemahan Kun Hong, maka melihat betapa kekasihnya itu berloncatan, terhuyung-huyung, jongkok berdiri dan terus-menerus diserang tanpa mampu membalas, hatinya sudah gelisah bukan main.
Untuk menjaga martabat nama Kun Hong sebagai seorang pendekar, betapapun gelisah hatinya, tidak berani ia membantu.
Akan tetapi hati kecilnya mengambil keputusan teguh bahwa begitu Kun Hong tewas dalam pertandingan, ia hendak mengamuk dan tidak akan berhenti sebelum iapun roboh binasa di medan laga!
Pedang hitam telah terpegang erat-erat di tangannya dan ia siap untuk melompat, menggantikan Kun Hong.
Namun ia tetap berdoa semoga kekasihnya itu menang dalam pertandingan yang berat sebelah ini.
Kun Hong seakan-akan seorang yang buta tuli, melawan seorang yang begitu tangkas dan dahsyat ilmu pedangnya seperti The Sun.
Namun Kun Hong bukanlah orang dengan kepandaian biasa.
Berkat ilmu kesaktian yang dia pelajari adalah ilmu yang amat tinggi, kepandaian itu sudah mendarah daging di tubuhnya, setiap gerakannya adalah otomatis didorong oleh naluri yang bukan sewajarnya.
Apalagi setelah dia menemukan ciptaannya terbaru yaitu penggabungan.
dari kedua ilmu silat yang dia ambil inti sarinya saja, dia benar-benar telah memiliki ilmu yang sukar dicari keduanya di dunia persilatan.
Biarpun dia seakan-akan tuli karena kebisingan suara, namun perasaannya masih menuntunnya dan sambaran pedang lawannya masih tertangkap olehnya sehingga dengan langkah ajaibnya dia dapat menyelamatkan diri sambil mencari kesempatan baik.
Sukarnya, The Sun juga seorang yang amat lihai dan cerdik.
Orang muda yang menjadi tokoh di Kota Raja itu pun tidak berani memandang ringan lawannya yang sudah dia ketahui memiliki ilmu silat yang amat luar biasa.
Oleh karena itu, biarpun dia dibantu suara bising yang membuat Kun Hong tidak berdaya, namun dia tidak lengah sedetik pun juga, menyerang terus sambil menutup diri dalam pertahanan yang ketat.
Memang dia amat penasaran karena semua serangannya gagal, selalu mengenai tempat kosong, namun dia tidak pernah mengurangi desakannya dan merasa yakin bahwa sewaktu-waktu tentu akan berhasil.
Payah juga Kun Hong yang mencari kesempatan baik tidak juga dapat menemukan kesempatan ini.
Diam-diam dia kagum dan memuji kecerdikan lawannya yang masih tetap berhati-hati biarpun sudah menyerang dan mendesak terus.
Lain orang tentu akan menjadi sombong dan lengah.
Kemudian Pendekar Buta ini mendapatkan akal.
Ketika untuk kesekian kalinya pedang The Sun menyambar leher, dia mengelak dengan langkah ajaibnya, akan tetapi sengaja bergerak lambat sehingga ujung pedang itu menyerempet pundaknya.
Bajunya robek dan kulitnya terkelupas, darah mengalir.
Terdengar Hui Kauw menjerit ketika Kun Hong berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung.
Hasil yang dinanti-nanti oleh The Sun ini membuat hatinya girang bukan main.
Dia tertawa terkekeh-kekeh dengan nada mengejek sambil mendesak terus menubruk untuk memberi tikaman terakhir ketika dia melihat Kun Hong terhuyung dalam posisi yang buruk sekali.
Pedangnya bergerak seperti kilat menyambar, menusuk dada Kun Hong.
"Traaanggggg! Kraaakkkkk!"
The Sun menjerit, pedangnya terpental dan patah menjadi dua, tubuhnya terlempar seperti layang-layang putus talinya.
Ternyata akal yang dipergunakan Kun Hong berhasil baik sekali.
Dengan membiarkan pundaknya terluka dan sedikit darahnya mengalir, The Sun telah dapat diakali sehingga kegirangan dan untuk beberapa detik mengurangi kewaspadaannya.
Ketika menyerang dengan tusukan maut tadi, dia lengah tidak memperhatikan segi pertahanannya sehingga lowongan ini dipergunakan dengan baiknya oleh Kun Hong.
Sambil mengerahkan tenaga, Pendekar Buta ini menangkis pedang, membuat pedang itu patah dua dan tangan kirinya menampar ke arah pundak.
Sekali tampar saja tulang pundak The Sun patah dan pemuda itu menderita luka dalam yang mengakibatkan dia roboh dan pingsan!
Kun Hong tidak mau berlaku kepalang tanggung.
Tubuhnya sudah menyambar ke depan, tongkatnya bergerak hendak menewaskan The Sun.
orang yang amat dibencinya karena telah menyebabkan kematian janda Yo.
Akan tetapi pada saat itu terdengar suara menggereng menyeramkan dan tongkatnya terbentur oleh tangkisan tongkat hitam di tangan Hek Lojin.
Kiranya kakek ini sudah melompat maju untuk menolong muridnya, kemudian sekaligus bagaikan badai mengamuk kakek ini menerjang Kun Hong.
"Kun Hong, awas...!"
Hui Kauw menjerit ketika melihat betapa tongkat hitam di tangan kakek itu berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung mengancam kepala Si Pendekar Buta.
Tanpa diperingatkan, Kun Hong sudah siap dan tahu akan datangnya ancaman bahaya maut.
Cepat dia menggunakan tongkatnya menangkis.
Untung baginya bahwa kini suara tambur dan gembreng otomatis berhenti setelah The Sun roboh.
Dengan menghilangnya suara bising ini, dia dapat menghadapi Hek Lojin dengan baiknya.
Dia maklum bahwa kepandaian kakek ini luar biasa tingginya, maka dia pun segera menggerakkan tongkatnya, mainkan ilmu silat gabungan yang baru saja dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-Eng-Cu Lui Bok.
Tongkat hitam itu menyambar lagi, mendatangkan suara seperti ada angin topan mulai mengamuk.
Kun Hong mengangkat tongkatnya menangkis.
"Dukkkkk!!"
Dua tenaga mujijat lewat tongkat bertemu tanding.
Tubuh berkulit hitam tinggi besar itu tergetar.
Kun Hong merasakan tubuhnya kesemutan, maka cepat dia menggunakan langkah ajaib, tubuhnya terhuyung-huyung dan lenyaplah pengaruh benturan tenaga dahsyat tadi, Diam-diam dia kagum dan harus mengakui bahwa kakek hitam itu tidak hanya sombong, melainkan betul-betul hebat.
"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, awas kepalamu!"
Kakek itu terkekeh dan kembali tongkatnya menyambar.
Kun Hong maklum bahwa kalau terus menerus dia mengadu tenaga dia akan kalah oleh kakek sakti ini, maka cepat dia mengelak dan kembali dia telah mempergunakan langkah ajaib.
Akan tetapi, kakek itu begitu tongkatnya tidak mengenai sasaran, langsung menerjang dan kini tongkatnya diobat abitkan seperti orang gila mengamuk, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menurut aturan ilmu silat!
Kun Hong terkejut bukan main ketika telinganya menangkap gerakan-gerakan ilmu berkelahi yang liar dan dahsyat ini.
Sukar sekali untuk mengikuti, apalagi menduga perkembangan daripada ilmu silat aneh dan gerakan-gerakannya ada kalanya bahwa bertentangan dengan ilmu silat ini.
Gerakan-gerakan kacau balau akan tetapi justru kekacau balauannya itulah yang membuat penyerangannya menjadi hebat, liar, dahsyat dan amat berbahaya, mengingatkan Kun Hong akan gerakan binatang-binatang liar termasuk gerakan-gerakan Kim-Tiauw!
Maka dia pun cepat mengandalkan langkah-langkah ajaib untuk menghadapi serangan ini.
Langkah ajaib adalah ilmu langkah dalam persilatan yang tercipta berdasarkan gerak dan langkah Rajawali Emas, yang tentu saja juga mengandalkan naluri yang tidak ada pada diri manusia, Atau andaikata adapun tidak sekuat yang ada pada binatang liar seperti Kim-Tiauw.
Mereka yang menonton pertandingan itu memandang dengan mata terbelalak dan bengong, malah ada pula di antaranya yang diam-diam menahan ketawa karena merasa geli dan heran.
Tidak patut pertempuran ini dikatakan pertempuran antara dua orang tokoh pandai atau jago-jago silat ulung, lebih tepat dikatakan pertempuran antara dua orang yang miring otaknya atau dua orang hutan liar yang tidak tahu akan ilmu berkelahi manusia.
Kakek hitam dengan tongkatnya itu mengamuk, memutar-mutar tongkat dan menghantam ke sana ke mari secara ngawur belaka, kadang-kadang bahkan menghantam tempat yang berlawanan dengan adanya si lawan.
Ada kalanya dia menghantam ke kiri selagi Kun Hong berada di kanan, menghantam ke belakang selagi lawan berada di depan dan sebaliknya!
Batu-batu hancur lebur begitu tersentuh ujung tongkatnya dan debu berhemburan menggelapkan sekelilingnya.
Sedangkan Kun Hong berloncat-loncatan, terhuyung-huyung, kadang-kadang jongkok berdiri seperti seorang penari yang terlalu banyak minum arak keras.
(lanjut ke
Jilid 26 -Tamat) Pendekar Buta (Seri ke 03 -Serial Raja Pedang) Karya . Asmaraman S. Kho Ping Hoo
Jilid 26 (Tamat) Kalau di bawah menjadi agak gelap karena debu berhamburan dari amukan tongkat hitam Hek Lojin, adalah di angkasa gelap pula oleh berkumpulnya awan mendung menghitam.
Makih lama menjadi makin gelap keadaannya dan beberapa kali keadaan ini bahkan menarik perhatian orang-orang yang berada di situ, memaksa mereka memandang ke udara yang gelap.
Jelas bahwa hujan akan turun membasahi bumi.
Tiba-tiba terdengar bentakan yang nyaring.
"Hayo tangkap dulu si pemberontak perempuan!"
Kun Hong kaget dan gelisah sekali.
Itulah suara The Sun.
Kiranya pemuda ini sudah sadar dari pingsannya dan melihat betapa Kun Hong sedang didesak secara gencar oleh gurunya dia cepat mengeluarkan aba-aba karena dia maklum bahwa sekali Hui Kauw ditawan, Kun Hong tentu akan tunduk.
Memang cerdik sekali The Sun, biarpun dia sendiri terluka berat, namun kecerdikannya ini berhasil membuat Kun Hong gelisah.
Hui Kauw juga memiliki ilmu silat tinggi, maka ia dapat mengerti akan kegelisahan Kun Hong yang kelihatan dari gerakannya, maka sambil melintangkan pedang hitam di depan dada ia berseru.
"Kun Hong, jangan khawatir, aku dapat menjaga diri, berjuang sampai mati!"
Kata-kata "Berjuang sampai mati"
Ini menambah besar semangat Kun Hong.
Dia tersenyum.
Ternyata gadis itu benar-benar telah mengambil keputusan nekat untuk melawan dan mati bersama dia di tempat ini.
Tidak!
Tidak boleh!
Hui Kauw harus diselamatkan dan untuk itu dia pun harus hidup, harus menang.
Pikiran ini mendatangkan semangat baru yang hebat.
Tongkatnya bergerak hidup dan sinar merah tahu-tahu telah menutup dan melingkari sinar hitam yang menjadi makin ciut.
Dengan ilmunya yang baru, Kun Hong ternyata berhasil menjinakkan keliaran tongkat lawannya dan sekarang sebaliknya Hek Lojin yang menjadi kaget setengah mati.
Dia masih berusaha mengerahkan seluruh kepandaian untuk lolos keluar dari "ikatan"
Sinar merah, namun sia-sia belaka, ke mana pun dia bergerak, ujung tongkat Pendekar Buta ini selalu mengikuti dan mengancamnya.
Dia tahu bahwa sekali dia kena disentuh, akan celakalah dia.
Maka dengan nekat pula dia menggereng-gereng seperti singa, lalu sambil memutar tongkatnya cepat-cepat yang dilepaskan tiba-tiba sehingga tongkat itu berputaran sendiri menerjang Kun Hong, kedua tangannya yang kini bebas itu berbareng mengirim pukulan dengan tenaga sakti sepenuhnya, susul menyusul cepat sekali!
Inilah serangan kilat dan maut yang luar biasa hebatnya.
Si kakek iblis Song-Bun-Kwi sendiri tidak kuat menerima pukulan-pukulan Hek Lojin dan sekarang dia menggunakan pukulan-pukulan maut ini kepada Kun Hong.
Tentu saja Kun Hong kaget ketika mendengar betapa tongkat yang dilontarkan itu berputaran menyambar.
Sekali sampok tongkat itu melayang dan menyeleweng, akan tetapi kini dia menghadapi dua pukulan tangan yang tidak kalah bahayanya daripada sambaran tongkat hitam tadi.
Maklum bahwa untuk menghadapi serangan dahsyat ini amatlah sukar dan berbahaya, Kun Hong memekik dan tahu-tahu dia sudah menggunakan jurus Sakit Hati yang dimasukkan pula ke dalam ilmu silatnya yang baru.
Tongkat berkelebat menjadi sinar merah, tangan kiri menampar dengan pengerahan tenaga yang mengeluarkan uap putih.
"Crakkk... desssss!"
Tubuh Kun Hong terlempar ke belakang sampai lima meter lebih, akan tetapi dia jatuh dalam keadaan berdiri dan tongkatnya masih berada di tangan, hanya mukanya agak pucat dan napasnya terengah.
Hui Kauw cepat berlari menghampirinya, menyentuh lengannya dan suaranya menggetar.
"Kun Hong, kau... terluka...??"
Kun Hong mencoba senyum, menggeleng kepala dan menjawab lirih.
"Hui Kauw, kau lihat dia... hati-hatilah, dia hebat..."
Karena tadi perhatian Hui Kauw seluruhnya tertuju kepada Kun Hong, maka ia tidak memperhatikan orang lain.
Kini melihat bahwa keadaan Kun Hong tidak berbahaya, Ia menengok dan alangkah bangga dan girang hatinya ketika melihat bahwa ternyata keadaan kakek hitam itu lebih parah lagi.
Kakek ini berdiri tegak memandang ke arah lengan kirinya yang sudah buntung!
Ternyata tadi bahwa tangan kiri itu tidak dapat dicegah lagi terbabat oleh pedang Ang-Hong-Kiam yang tersembunyi ke dalam tongkat, sedangkan tangan kanan kakek itu beradu dengan tangan kiri Kun Hong.
Saking tajamnya Ang-Hong-Kiam dan saking hebatnya jurus yang dijalankan oleh Kun Hong, lengan kiri itu terbabat putus sampai sebatas siku tanpa terasa nyeri sama sekali.
Dan dalam pertemuan tenaga tadi, tenaga mujijat dan mengandung hawa ilmu hitam dari kakek itu benar-benar memperlihatkan keampuhannya, karena Kun Hong terlempar dan biarpun tidak berbahaya, telah menderita luka dalam.
"Jahanam, kau berani melukai suhu?"
Terdengar The Sun berseru keras dan tubuhnya melesat ke depan.
Kiranya The Sun yahg biasanya cerdik itu kini tidak dapat menahan kemarahannya dan tadi dia telah mendapatkan sebuah pedang lain.
Biarpun tulang pundak kanannya patah, namun dengan tangan kiri dia sekarang menerjang maju, tapi curangnya, bukan Kun Hong yang dia serang, melainkan Hui Kauw!
Hebat bukan main penyerangan ini, karena didorong nafsu membunuh.
Hui Kauw cepat menangkis dengan pedang hitamnya, namun tangannya tergetar oleh benturan pedang itu dan sebelum ia sempat membalas, kembali pedang di tangan The Sun sudah menyambar.
Memang menghadapi The Sun, gadis ini masih kalah setingkat, apalagi ia baru saja mengalami getaran batin yang membuat seluruh anggauta tubuhnya lemah.
Beberapa kali ia berhasil menangkis, namun pada jurus selanjutnya, ketika ia menangkis sebuah bacokan, pedang The Sun menyelinap dan hendak memasuki bawah lengannya.
Hui Kauw membalikkan pedang ke bawah, namun terlambat dan ujung pedang The Sun berhasil menggurat lengan.
Hampir saja ia mengalami cidera kalau saja guratan itu mengenai urat nadinya.
Untung bahwa guratan itu memanjang, hanya merobek kulit melukai daging.
Namun cukup untuk membuat lengannya lemah sehingga sebuah benturan pedang lawan lagi cukup membuat pedang hitamnya terlepas.
"Pergi...!"
Terdengar Kun Hong berseru dan...
tubuh The Sun terlempar ke arah gurunya.
Kiranya tadi Kun Hong yang maju dan mengirim tendangan kilat yang tak tertahankan oleh The Sun.
Agaknya baru sekarang Hek Lojin sadar bahwa lengan kirinya benar-benar telah buntung.
Dia memekik tinggi, memungut lengan yang buntung, melengking-lengking dan melihat tubuh muridnya melayang, dia cepat menangkap dengan sambaran tangan kanan, lalu dia berlari secepat terbang pergi dari situ tanpa memperdulikan tongkat hitamnya lagi.
Dari jauh terdengar suara pekiknya, entah tertawa entah menangis, amat menyeramkan.
Memang Hek Lojin orangnya licik.
Terbukti ketika dia melawan Song-Bun-Kwi karena mengira bahwa Song-Bun-Kwi memiliki kepandaian yang melebihi dirinya, dia mengundurkan diri mencari selamat.
Kinipun, melihat lengan kirinya buntung dan muridnya terluka, tahulah dia bahwa keadaannya tidak menguntungkan.
Andaikata Kun Hong berhasil dikalahkan, tentu bukanlah oleh dia atau muridnya dan hal ini hanya akan merendahkan namanya belaka.
Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang dia anggap paling baik adalah...
kabur!
Gegerlah di tempat itu setelah Hek Lojin membawa The Sun kabur.
Terutama fihak jagoan-jagoan dari Istana menjadi marah bukan main kepada Kun Hong dan serentak mereka maju, juga Ka Chong Hoatsu, Ang-Hwa-Sam Ci-moi dan Souw Bu Lai sudah mencabut senjata masing-masing.
Hanya Bhok Hwesio dari fihak Istana yang masih tenang berdiri di tempatnya.
Hwesio ini sebagai tokoh dari Siauw-Lim sama sekali tidak sudi kalau harus mengeroyok seorang lawan yang masih muda dan buta lagi.
Sementara itu Kun Hong maklum bahwa lawan yang banyak sudah mulai bergerak hendak mengeroyoknya.
Dia sendiri masih belum terbebas daripada pengaruh benturan tenaga dengan Hek Lojin yang sakti, masih terasa sakit pada pangkal lengannya.
Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi bagaimana ia akan dapat melindungi Hui Kauw kalau dia dikeroyok oleh banyak orang pandai?
Kalau Hui Kauw sampai terjatuh ke tangan mereka, apa artinya semua perlawanannya?
Tiba-tiba sebuah akal berkelebat dalam benaknya dan secepatitu pula tubuhnya melompat ke belakang Hui Kauw.
Sambil menempelkan tangan kepada tengkuk gadis itu dia berbisik.
"Hui Kauw, kau jadilah mataku... kau pergunakan matamu memandang mereka, antara kedua mata mereka, pandang tajam dan pergunakan tenaga yang kusalurkan kepadamu, dengar kata-kataku dan perkuat kata-kata itu dalam hati dan pikiranmu... tak usah bingung, kau menurut saja, barangkali ini akan menolong kita..."
Hui Kauw tadinya bingung dan semua bulu di tubuhnya berdiri ketika ia merasa telapak tangan yang hangat dari Kun Hong menempel di tengkuknya dan mengirim getaran-getaran kuat ke dalam tubuhnya.
Makin lama gelombang hawa yang menggetar-getar itu makin kuat, begitu kuatnya sehingga tak terasa tergetar lagi seakan-akan sudah terbuka jalan saluran hawa sakti itu dari tubuh Kun Hong ke dalam tubuhnya.
Ia merasa betapa dadanya seakan-akan penuh hawa yang panas dan bergerak-gerak lalu teringat akan pesan Kun Hong tadi, maka ia segera pusatkan perhatiannya untuk mengerahkan tenaga sakti ini melalui matanya yang memandang tajam ke depan.
Sementara itu, para jagoan Istana dan Ching-Coa-To berhenti bergerak karena heran dan sangsi menyaksikan tingkah laku Kun Hong yang kini merangkul Hui Kauw sambil menempelkan tangan di tengkuk gadis itu.
Apa kehendak si buta itu?
Mereka ragu-ragu dan curiga.
"Dengarlah kata-kataku!"
Kun Hong mulai bicara, suaranya tenang, dalam, lambat-lambat dan amat berpengaruh.
"Kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang bernama besar. Tentu kalian tidak sudi dan malu untuk bertempur dengan mengeroyok, hal ini akan merendahkan nama kalian, dan akan menghancurkan nama besar yang bertahun-tahun kalian pupuk dengan perbuatan-perbuatan gagah berani. Aku Kwa Kun Hong tidak bermaksud memusuhi kalian, hanya hendak menolong nona Hui Kauw pergi dari sini. Sebagai orang-orang kang-ouw yang gagah, kalian seharusnya membiarkan kami berdua pergi dengan aman,"
Ketika Kun Hong bicara itu, Hui Kauw mentaati perintah Kun Hong tadi, sambil menyalurkan hawa yang memenuhi dada melalui mata, ia pergunakan sepasang matanya memandang para lawan itu seorang demi seorang, menatap tajam di antara kedua mata mereka.
Dan karena Kun Hong sengaja menyembunyikan mukanya di belakang kepala Hui Kauw, mau tidak mau mereka itu terpaksa bertemu pandang dengan Hui Kauw.
Akibatnya aneh!
Mereka itu saling pandang, tersenyum malu-malu dan seperti berlomba mereka lalu melangkah mundur seperti hendak memberi jalan kepada Kun Hong dan Hui Kauw untuk pergi dengan aman!
Sebetulnya hal ini sama sekali tidak aneh.
Karena matanya sudah buta, tentu saja Kun Hong tidak dapat lagi menggunakan ilmu sihir yang dahulu dia pelajari dari Sin-Eng-Cu Lui Bok.
Akan tetapi karena dia masih memiliki ilmu itu, tenaga batinnya masih amat kuat, bahkan lebih kuat daripada dahulu, biarpun dengan cara "Meminjam"
Mata Hui Kauw pengaruh sihirnya menjadi lemah karena gadis itu tidak dapat dengan tepat mempergunakannya, namun ternyata masih ada hasilnya juga.
Hal ini adalah karena apa yang dia ucapkan adalah hal yang menyinggung kehormatan dan perasaan orang-orang gagah di situ.
Tanpa menggunakan tenaga batin sekalipun, ucapan itu akan membuat mereka bermerah muka, apalagi sekarang disertai tenaga batin yang kuat, maka otomatis, di luar kesadaran mereka sendiri, mereka itu serta merta memenuhi permintaan Kun Hong itu tanpa dipikir lagi!
Kun Hong tidak membuang kesempatan ini.
Dia segera menarik tangan Hui Kauw pergi dari situ.
"Mari kita pergi..."
Bisiknya perlahan.
Akan tetapi, di antara orang-orang yang mengurungnya, ada dua orang yang tidak ikut melangkah mundur.
Mereka ini adalah Lui-Kong Thian Te Cu dan Bhewakala si tokoh Nepal.
Yang pertama karena sakit hatinya melihat Suhengnya, Hek Lojin kalah sehingga kata-kata itu tidak mempengaruhi hatinya, adapun yang ke dua, Bhewakala, adalah seorang tokoh Barat yang sudah kenyang akan ilmu-ilmu sihir.
Maka begitu merasakan getaran aneh keluar dari ucapan Kun Hong disertai pandang mata Hui Kauw yang tajam mengikat semangat dan kemauan, dia terkejut dan cepat dia membaca mentera sambil mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh yang keluar dari pandang mata Hui Kauw dan suara Kun Hong itu.
Dua orang inilah yang mengejar ketika Kun Hong lari sambil menarik tangan Hui Kauw.
Akan tetapi agaknya Thian melindungi Kun Hong yang terancam bahaya.
Mendadak langit yang sudah sejak tadi gelap oleh mendung tebal, kini menyiram permukaan bumi dengan air hujan disertai kilat dan angin rIbut.
Mempergunakan kesempatan ini, Kun Hong dan Hui Kauw mempercepat larinya, sedangkan Thian Te Cu dan Bhewakala yang maklum akan kelihaian Kun Hong, menjadi ragu-ragu untuk mengejar terus karena yang lain-lain tidak turut mengejar.
"Eh, Cuwi sekalian ini bagaimanakah? Kenapa tidak mengejar pemberontak itu?"
Lui-Kong Thian Te Cu bertanya dengan nada penasaran.
Setelah Kun Hong dan Hui Kauw lenyap dari pandangan mata dan hujan yang dingin menimpa kepala tubuh mereka, barulah orang-orang itu seakan-akan sadar daripada mimpi.
Diam-diam.
mereka merasa menyesal juga mengapa tadi mereka mendiamkan saja Kun Hong lari.
"Mereka tidak akan lari jauh,"
Kata Kui Ciauw, orang tertua dari Ang-Hwa-Sam Ci-moi.
"Sekeliling lembah ini kalau turun hujan amat berbahaya, banyak timbul rawa berlumpur. Juga sampai beberapa li jauhnya telah terjaga oleh anak buah kami. Kalau kita kejar sekarang masih belum terlambat."
"Ha-ha-ha, sekian banyaknya orang menghadapi seorang bocah buta saja sudah kewalahan, bagaimana kalau menghadapi pasukan musuh yang kuat? Bhok Hwesio, bagaimana pendapatmu? Apakah kita tidak terlalu banyak menimbulkan heboh hanya untuk menangkap seorang bocah buta?"
Mendengar ucapan Ka Chong Hoatsu ini, Bhok Hwesio tertawa juga.
"Omitohud, omongan Hoatsu memang tidak keliru. Marilah kita mengejar dengan cara masing-masing dan kita berlomba, siapa yang lebih dulu membekuk bocah itu, dialah yang terhitung jago."
"Bagus! Memang sudah lama aku mendengar nama besar Bhok Hwesio tokoh dari Siauw-Lim-Si. Mari!"
Ka Chong Hoatsu menggerakkan tongkat Pendeta di tangannya, sambil tertawa-tawa dia berkelebat lenyap dari situ.
Ketika orang-orang menengok ke arah Bhok Hwesio, ternyata Hwesio ini pun sudah lenyap dari situ.
Agaknya dua orang ini dengan hati panas hendak menguji kepandaian masing-masing dengan cara aneh, yaitu berlomba mengejar dan menangkap Kun Hong!
Melihat dua orang tokoh itu sudah pergi yang lain lalu beramai-ramai melakukan pengejaran pula, mengambil cara dan jalan masing-masing.
Terjadilah perlombaan mengejar di dalam hujan rIbut itu.
Para anggauta pasukan dan anggauta Ngo-Lian-Kauw juga sIbuk sendiri, ada yang berlindung dari air hujan yang turun seperti ditumpahkan dari langit, ada yang ikut-ikut mengejar pula.
Keadaan menjadi ramai seperti para pemburu mengejar seekor harimau di dalam hutan.
Memang betul apa yang diucapkan oleh orang tertua dari Ang-Hwa-Sam Ci-moi tadi.
Kun Hong dan Hui Kauw menemui kesukaran dalam usaha mereka melarikan diri.
Air hujan secara mendadak mengubah tempat sekeliling lembah itu menjadi rawa-rawa yang berbahaya.
Hampir saja Hui Kauw terjerumus ketika kakinya menginjak air yang dangkal itu, kiranya di bawahnya mengandung lumpur yang mempunyai daya menghisap sehingga kakinya seakan-akan tersedot ke bawah.
Baiknya Kun Hong cepat menariknya ketika gadis ini menjerit.
Mereka kini berdiri di pinggir rawa, terengah-engah dan sukar bernapas karena serangan air hujan pada muka mereka.
Air hujan itu turun dengan derasnya sehingga titik-titik air itu seperti batu-batu kecil menghantam muka.
"Kun Hong... kenapa kita harus lari? Perlu apa takut...? Bukankah kalau tewaspun kita berdua?"
"Hui Kauw, siapa ingin mati? Aku tidak takut, akan tetapi, kalau ada kesempatan menyelamatkan diri, apa perlunya mengadu nyawa? Hui Kauw, masa depan menanti untuk kita."
Suara Kun Hong terdengar nyaring penuh harapan dan kebahagiaan, jauh bedanya dengan dahulu.
Agaknya pemuda ini sekarang merasa amat berbahagia dapat hidup berdua dengan Hui Kauw.
Gadis ini dapat merasa hal ini dan dengan terharu ia mencengkeram tangan Kun Hong.
"Sesukamulah... Kun Hong, aku menurut saja..."
Katanya lirih.
"Akan tetapi, ke mana kita akan lari?"
Pada saat itu, di antara suara angin dan hujan, terdengarlah suara mereka yang mengejar.
"Wah, mereka mengejar dan sudah dekat!"
Kun Hong berkata dan sambil menarik tangan Hui Kauw untuk lari lagi.
Hui Kauw menjadi penunjuk jalan, akan tetapi ia setengah diangkat oleh Kun Hong yang mempergunakan ilmu lari cepat.
Lebih lima li mereka lari meninggalkan tempat pertempuran tadi.
Akan tetapi karena tidak mengenal jalan dan selalu teralang oleh rawa, mereka hanya berputaran saja di sekitar lembah tanpa mereka sadari.
Mendadak Hui Kauw berkata.
"Kun Hong, di sana ada sebuah pondok kecil menyendiri. Mari kita berlindung ke sana."
Suara Hui Kauw hampir tidak dapat terdengar karena terbawa angin yang makin keras bertiup dan air hujan makin deras menyiram tubuh mereka.
Dengan susah payah akhirnya sampai juga mereka di pondok kecil yang sudah tua dan berdiri miring di luar hutan lebat.
Mereka cepat memasuki pondok yang ternyata kosong.
Agak lega hati mereka karena tidak diserang hujan dan angin.
"Kita berada di mana?"
Tanya Kun Hong.
Hui Kauw memandang ke luar, bergidik melihat hutan yang tampak amat menyeramkan karena pohon-pohonnya bergoyang-goyang seperti mengamuk diserang angin rIbut.
Amat berbahaya memasuki hutan di waktu demikian itu.
Sewaktu-waktu akan ada pohon yang tumbang.
Saking kerasnya angin, banyak pohon kelihatan gundul karena daun-daunnya rontok oleh tiupan angin.
"Di luar sebuah hutan lebat. Kurasa untuk sementara kita bersembunyi di sini, menanti sampai hujan dan angin berhenti,"
Katanya sambil mengusap air dari mukanya.
"Hui Kauw..."
Tiba-tiba Kun Hong memeluk mesra dan mendekap kepala gadis itu di dadanya.
Gadis itupun balas memeluk dan sampai beberapa lama mereka berdiam diri.
Tiba-tiba Kun Hong mendorong tubuh Hui Kauw perlahan ke belakang sambil berkata.
"Kau larilah. Kau masuklah hutan itu, larilah ke Utara dan carilah perlindungan di sana. Carilah Sin Lee dan Hui Cu, atau menggabunglah pada pasukan dari Utara. Kau akan selamat. Aku akan menanti mereka di sini!"
"Tidak! Sekali lagi, tidak!"
Hui Kauw berkata nyaring.
"Aku mau pergi dan lari kalau bersama kau!"
"Jangan Hui Kauw. Percuma kita lari, pasti akan tersusul mereka. Di antara mereka banyak orang sakti. Kalau kau lari sendiri, aku dapat menghalangi mereka di sini dan mencegah mereka mengejarmu. Bukan kau yang mereka kehendaki, melainkan aku. Kau harus selamat."
"Tidak mau! Kun Hong, tidak tahukah kau bahwa mati hidup aku harus bersamamu? Lebih baik mati di sampingmu daripada hidup jauh daripadamu. Aku... aku isterimu, bukan? Seorang isteri harus menyertai suaminya, di manapun suaminya berada."
Kun Hong terharu, membalikkan tubuh membelakangi Hui Kauw.
"Hui Kauw, jangan hancurkan kebahagiaanku. Aku merasa bahagia sekali bahwa pada saat terakhir aku masih sempat melindungimu, membelamu. Akan sia-sia pengorbananku, kalau kau akan tewas juga. Pergilah"
"Tidak, Kun Hong. Aku tidak mau. Kau... kau sudah terluka! Aku tahu... sebaiknya kau sajalah yang bersembunyi di hutan itu, biar aku yang menghadang mereka!"
Suaranya tinggi dan bernada gagah. Kun Hong makin terharu dan kembali mereka berpelukan. Tiba-tiba Kun Hong melepaskan pelukannya.
"Trang-trang...!"
Dua batang pedang terlempar, tongkat itu terus bergerak dan...
dua orang anggauta pasukan Istana jatuh tersungkur, tak bernapas lagi.
Kiranya dua orang ini telah dapat mengejar ke dalam pondok dan langsung menyerang, akan tetapi hal ini hanya menyebabkan mereka mati konyol.
Karena larinya terhalang rawa-rawa dan hanya berputaran saja, maka dua orang sakti seperti Bhok Hwesio dan Ka Chong Hoatsu malah tidak dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw.
Dua orang ini malah lewat jauh dan mencari-cari di dalam hutan itu.
Sebaliknya, dua orang anggauta pasukan yang merasa payah dan melihat pondok itu, hendak mengaso, akan tetapi malah mereka yang dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw tanpa mereka sengaja dan mengakibatkan kematian mereka.
Kun Hong siap dengan tongkatnya.
Hui Kauw memungut sebatang pedang yang tadi terpental jatuh.
Mereka kini memasuki pondok dan Hui Kauw mengintai ke luar dari jendela yang tidak berdaun lagi.
Keduanya menanti dengan tegang.
Hujan muiai berhenti, angin sudah tidak mengamuk lagi dan lapat-lapat terdengarlah suara mereka yang mengejar, makin lama makin dekat.
"Ada dua orang yang menuju ke sini..."
Bisik Hui Kauw kepada Kun Hong, suaranya agak gemetar karena tegang.
"Mereka itu adalah It-To-Kiam Gui Hwa dan yang seorang Bhewakala."
Kun Hong mengangguk.
"Kau berdiam saja di sini, jangan bantu kalau tidak amat perlu. Biar aku menyergap mereka di depan."
Memang betul, It-To-Kiam Gui Hwa yang mengejar berbareng dengan Bhewakala, berlari-lari menuju ke pondok itu.
Bhewakala yang mengajak tokoh Kun-Lun itu, mengatakan bahwa pondok itu mungkin sekali dipergunakan untuk tempat sembunyi.
"Mereka melarikan diri, mana bisa berhenti di tempat itu?"
Bantah Gui Hwa.
"Siapa tahu? Semua orang sudah mengejar ke hutan, tidak seorang pun ingat untuk menengok pondok itu. Biar kita menengok sebentar,"
Kata Bhewakala dan demikianlah, dengan ilmu lari cepat mereka, kedua orang tokoh ini menuju ke pondok.
"Awas...!"
Bhewakala berseru sambil menuding ke arah dua mayat yang menggeletak depan pondok itu.
"Ah, mereka tentu di sini!"
Seru It-To-Kiam Gui Hwa sambil mencabut pedangnya.
"Memang aku berada di sini!"
Dua orang itu terkejut dan cepat menengok.
Eh, tahu-tahu Kun Hong sudah berdiri di belakang mereka dengan tongkat melintang di depan dada!
Sejenak Bhewakala dan It-To-Kiam Gui Hwa meremang bulu tengkuknya.
Bhewakala pernah merasai, kelihaian Pendekar Buta itu, benar-benar amat sakti, maka kini ketika secara tiba-tiba orang yang dikejarnya itu berada di depan mereka, mereka menjadi terkejut setengah mati.
Akan tetapi, sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, hanya sebentar saja mereka terkejut.
Bhewakala sudah mengeluarkan senjatanya yang lihai, yaitu sebuah cambuk hitam yang kecil dan sekali cambuk itu digerakkan, sudah terulur panjang sampai tiga meter.
Dahulu pernah di Kota Raja dia kehilangan cambuknya karena hancur bertemu dengan pedang Kun Hong.
Sekarang dia telah mengeluarkan cambuk simpanannya, terbuat daripada bulu binatang aneh di Pegunungan Himalaya.
"Pemberontak muda, lebih baik kau menyerah. Kau tidak akan dapat melarikan diri!"
Gui Hwa mencoba untuk membujuk karena betapapun juga dia merasa jerih juga.
"It-To-Kiam, hayo kita tangkap dia!"
Bhewakala yang pernah dikalahkan oleh Kun Hong, sebaliknya menjadi penasaran dan marah.
Ingin dia membalas kekalahannya dengan bantuan It-To-Kiam Gui Hwa.
Sambil berkata demikian, cambuknya sudah dia putar-putar di atas kepala sehingga mengeluarkan bunyi mengaung-aung seperti sirene.
Melihat temannya sudah mendesak maju, apa boleh buat It-To-Kiam Gui Kwa juga menerjang dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilat.
Kun Hong sudah siap.
Dia maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat kuat.
Pernah dia menghadapi Bhewakala dan karenanya dia maklum bahwa orang Nepal ini benar-benar memiliki ilmu yang luar biasa.
Kalau dulu itu dalam beberapa gebrakan saja dia mampu mengalahkan Bhewakala, adalah karena orang Nepal ini tadinya memandang rendah kepadanya.
Sekarang, setelah pernah dikalahkan, tentu dia akan berlaku hati-hati dan tidak begitu mudah dikalahkan.
Apalagi di samping orang Nepal ini terdapat seorang ahli pedang seperti It-To-Kiam Gui Hwa yang dia tahu memiliki Ilmu Pedang Kun-Lun Kiam-Sut yang cukup tinggi.
Dia harus hati-hati, maka begitu melihat mereka menerjang maju, dia segera memainkan ilmu silat ciptaannya, tongkatnya berkelebat dan bergulung-gulung sinarnya diseling pukulan-pukulan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih!
Baik Bhewakala maupun It-To-Kiam Gui Hwa mau tidak mau amat kagum dan diam-diam memuji kehebatan ilmu silat Pendekar Buta ini karena mereka berdua sama sekali tidak mampu mendekatinya.
Jangankan sampai terbentur tongkat yang mengeluarkan sinar merah, baru terkena angin pukulannya saja mereka merasa betapa tenaga yang hebat mendorong senjata mereka ke belakang.
Belum lagi pukulan tangan kiri itu yang mendatangkan hawa pukulan ganas dan mujijat membuat mereka sama sekali tidak berani menangkisnya.
Baca Juga: Pendekar Mata Keranjang 8
Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 10