Ceritasilat Novel Online

Pendekar Mata Keranjang 8

Eps 8 Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.

Sepasang lengan pemuda itu tadi bergerak sedemikian cepatnya seperti dua ekor ular saja, mendahului serangannya.

Serangannya disambut oleh serangan pula dan tahu-tahu kedua pergelangan tangannya sudah di pegang dan ia tidak berdaya!

Ki Liong memperlebar senyumnya.

"Aku bukan musuhmu! Aku tidak mungkin mau bermusuhan dengan orang secantik engkau, lebih suka kalau bersahabat denganmu, Toanio."

Ki Liong melepaskan pegangannya dan Ji Sun Bi yang merasa terkejut, heran dan juga girang mendapat kenyataan bahwa pemuda ini lihai bukan main dan juga ingin bersahabat, lalu sengaja terhuyung dan terpincang lalu rebah pula, seolah-olah kaki kanannya menjadi lumpuh.

"Aduuuh..!"

Kembali Ki Liong sudah berlutut di dekatnya.

"Engkau kenapakah, Toanio? Apanya yang sakit?"

Ji Sun Bi berlagak menahan sakit, mengigit bibirnya kemudian berkata dengan alis berkerut.

"Aku dan kawan-kawan. baru saja berkelahi dengan musuh, dan aku terluka.. pada paha kananku, aduuhh...!"

Dan ia memijit paha kananya. Ki Liong merasa kasihan.

"Bolehkah aku memeriksanya, Toanio? Mungkin aku dapat menolongmu karena aku membawa obat yang manjur sekali untuk menyembuhkan luka."

Ji Sun Bi mengangguk dan Ki Liong lalu memeriksa paha kanan itu.

Dia membuka kain celana yang terobek cukup lebar sehingga nampaklah paha yang mulus karena kulitnya putih mulus, akan tetapi ada nampak biru kemerahan bekas cubitan.

Setelah memeriksa dengan teliti, Ki Liong hampir tertawa, akan tetapi dia cukup cerdik untuk menahannya.

Paha itu tidak apa-apa, hanya kulit paha yang halus hangat itu saja yang membiru bekas cubitan.

Akan tetapi, dia mengelus paha itu dan jantungnya berdebar penuh gairah.

Wanita ini cantik sekali, tubuhnya padat dan pahanya demikian mulus!

"Lukanya tidak parah, Toanio, akan segera sembuh setelah kuurut dan kupijit,"

Kata Ki Liong sambil mengelus-elus kulit paha yang membiru itu.

Diam-diam Ji Sun Bi merasa girang sekali.

Jelas ada tanda-tanda bahwa pemuda ini menyambut dan suka kepadanya, seorang pemuda yang tampan dan gagah, bahkan ia menduga pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi!

Ketika pahanya dielus seperti itu, ingin ia langsung saja merangkul pemuda itu, akan tetapi ditahannya karena ia tidak mau gagal, seperti yang pernah terjadi dengan Hay Hay.

"Terima kasih, ahh. terasa nyaman sekarang.."

Ki Liong tersenyum, elusan tangannya semakin berani.

"Enak.?"

"Enak sekali, terima kasih, nyerinya hampir hilang.. ah, sobat yang baik, engkau tadi demikian mudah menangkap kedua pergelangan tanganku. Engkau yang lihai dan baik hati ini, siapakah engkau?"

Tanpa melepas jari-jari tangannya yang mengelus dan membelai, Ki Liong memandang wajah manis itu dan menjwab.

"Namaku Sim Ki Long, aku seorang perantau yang kebetulan lewat di sini dan bertemu denganmu, Toanio."

Dia memandang paha itu dan melihat kulit paha yang demikian putih mulus, demikian hangat terasa di tangannya, Ki Liong lalu menunduk dan mencium paha itu.

Makin keras jantung Ji Sun Bi berdegup dan mukanya menjadi kemerahan, tanda bahwa nafsunya telah naik ke kepala.

Sungguh beruntung, pikirnya, sekali ini ia menemukan seorang pemuda yang begini hebat dan menyenangkan!

"Sim-kongcu..

engkau tentu seorang pemuda bangsawan atau hartawan, jangan menyebut Toanio kepadaku karena aku belum..

belum menikah, eh, namaku Sun Bi, Ji Sun Bi.."

Suara Sun Bi sudah tidak karuan karena napasnya semakin memburu.

"Baiklah, Enci Sun Bi. Wah, engkau cantik sekali.."

Sun Bi tidak dapat menahan dirinya lagi dan tiba-tiba ia memeluk dan mencium pemuda itu.

Makin gembira hati Sun Bi ketika pemuda itu membalas ciumannya, Ia mendapat kenyataan betapa canggung pemuda ini melakukan hal itu, menandakan bahwa pemuda yang menarik hatinya ini adalah seorang pemuda yang sama sekali belum berpengalaman.

Ia lalu menarik pemuda itu rebah di atas rumput dan kegembiraannya makin besar ketika ia mendapat kenyataan bahwa ia bertemu dengan seorang perjaka tulen!

Dengan penuh gairah dan kesukaan hati ia pun lalu mengajar dan membimbing pemuda itu untuk memuaskan berahi dan gairah mereka.

Dan dalam hal ini, tentu saja Sun Bi merupakan seorang guru yang amat pandai dan berpengalaman bagi Ki Liong!

Tak lama kemudian, dengan hati yang girang sekali, seperti menemukan sebuah mustika yang hebat, Ji Sun Bi sudah menggandeng tangan Ki Liong dan diajaknya pemuda ini menemui Min-san Mo-ko dan yang lain-lain, memperkenalkan pemuda itu sebagai sahabat barunya, sebagai kekasihnya!

"Suhu, Sim Ki Liong ini adalah sahabat baikku yang boleh dipercaya dan jangan pandang rendah, Suhu, dia amat lihai.

Ilmu kepandaiannya tidak kalah dibandingkan dengan siapapun juga, dan andaikata dia membantu ketika kita menghadapi dua orang musuh itu, tentu pihak kita tidak akan kalah!"

Ji Sun Bi adalah murid merangkap kekasih Min-san Mo-ko, akan tetapi Iblis dari Min-san ini tidak merasa cemburu melihat Sun Bi yang gila lelaki itu mendapatkan kekasih baru.

Akan tetapi, diam-diam dia merasa tidak senang mendengar ucapan Sun Bi yang memuji-muji Ki Liong dan mengatakan bahwa pemuda ini tidak akan kalah dibandingkan dengan siapapun juga.

Ucapan itu seperti merendahkan dirinya, seolah-olah dia sendiri pun tentu kalah oleh pemuda yang menjadi kekasih Sun Bi ini.

Dia merasa penasaran dan ingin menguji sampai di mana kebenaran pujian Sun Bi.

"Benarkah demikian? Kalau memang Sim-kongcu benar lihai dan dapat menahanku sampai sepuluh jurus, sungguh aku merasa girang sekali karena kita mendapatkan seorang sekutu baru yang boleh diandalkan."

Ki Liong memang memiliki watak yang tinggi hati.

Merasa bahwa dia adalah murid Pendekar Sadis dan isterinya, dia merasa seolah-olah kepandaian silatnya sudah paling tinggi dan tidak ada lawannya!

Maka, kini dia pun memandang rendah kepada orang tua yang diperkenalkan oleh Sun Bi sebagai gurunya dan yang bernama Min-san Mo-ko itu.

Kini semua orang telah berkumpul disitu, ingin sekali melihat pimpinan mereka menguji kepandaian pemuda yang baru tiba, juga anak buah gerombolan itu berkumpul di situ dengan hati tegang.

Setelah memandang ke sekeliling, Ki Liong menghampiri Min-san Mo-ko dan dengan lantang berkata.

"Mo-ko, aku pun ingin sekali melihat apakah engkau dapat mengalahkan aku dalam sepuluh jurus, karena kalau begitu halnya, engkau bukan hanya pantas menjadi pimpinan kelompok ini, bahkan pantas menjadi guruku!"

"Bagus!"

Min-san Mo-ko menggerakkan tubuhnya dan tahu-tahu dia sudah berdiri di depan Ki Liong.

"Orang muda, sambutlah seranganku!"

Dan dia pun sudah menyerang dengan amat ganasnya, menyambung suaranya yang melengking tadi.

Tangannya bergerak cepat sekali mencengkeram ke arah kepala Ki Liong, disusul tendangan ke arah pusar.

"Hemmm..!"

Ki Liong tenang saja dan dengan amat mudah dia miringkan tubuh mengelak, sedangkan tendangan itu ditangkisnya dengan tangan terbuka.

Tendangan itu mental dan kedua pihak kini maklum bahwa lawan memiliki tenaga yang amat kuat!

Jurus pertama gagal, disusul jurus kedua dan makin lama, serangan Min-san Mo-ko menjadi semakin dahsyat dan berbahaya.

Namun, bukan saja Ki Liong mampu mengelak dan menangkis, bahkan tiga kalidia mampu membalas dengan serangan yang tentu akan mencelakakan diri Min-san Mo-ko kalau saja Ki Liong tidak menahan dan menarik kembali serangannya sambil tersenyum.

Jurus kesepuluh merupakan serangan paling hebat.

Tubuh Min-san Mo-ko melayang ke depan, tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah pelipis kanan lawan, sedangkan tangan kanannya mencengkeram ke bawah pusar, kebagian tubuh yang paling lemah dan berbahaya bagi seorang pria.

Ji Sun Bi sampai mengeluarkan jerit tertahan melihat kekasihnya terancam demikian hebatnya!

Namun, Ki Liong masih tersenyum saja, kakinya bergeser dan lutut kirinya terangkat melindungi bawah pusar, tangan kanannya meluncur bagaikan ular mematuk menyambut totokan pelipisnya, dan tangan kirinya sudah menyelinap masuk dan tahu-tahu sudah menyentuh ulu hati di dada Min-san Mo-ko!

Tentu saja Min-san Mo-ko terkejut bukan main dan dia pun sudah meloncat jauh ke belakang, mukanya agak pucat karena dia maklum bahwa kalau pemuda itu menghendaki, sekarang dia sudah menjadi mayat atau setidaknya akan terluka parah.

Tak disangkanya bahwa bukan saja pemuda itu menahan sepuluh jurus serangannya, bahkan berkali-kali mampu membalas dan yang terakhir kalinya malah memperlihatkan keunggulannya!

Dia pun mengangguk-angguk.

"Sim-kongcu memang hebat! Sun Bi tidak salah memilih kawan dan kami merasa girang sekali mendapatkan seorang sekutu seperti Sim-kongcu. Lam-hai Giam-lo tentu akan girang pula menerimamu, Sim-kongcu."

Tentu saja Ji Sun Bi girang dan bangga sekali dan di depan demikian banyaknya orang, wanita ini segera merangkul dan mencium mulut Ki Liong begitu saja!

Tentu saja Ki Liong gelagapan dan mukanya menjadi merah, akan tetapi Sun Bi menarik tangannya diajak keluar dari kuil, diikuti suara ketawa para anggauta gerombolan itu.

Seperti mendapatkan barang mainan baru yang amat menarik hatinya, Ji Sun Bi mengajak Ki Liong menjauhi kuil dan bersenang-senang sepuas hatinya dengan pemuda itu.

Di lain pihak Ki Liong baru saja terjun ke dalam dunia yang baru ini, merasa senang sekali memperoleh seorang kawan, kekasih dan juga guru dalam permainan cinta yang demikian pandai dan berpengalaman seperti Ji Sun Bi.

Baru ketika senja hari itu Hay Hay dan Hui Lian menyerbu kuil dan Hay Hay berhasil merampas mustika batu giok, Ji Sun Bi dan Ki Liong muncul dan mereka segera membantu sehingga dua orang lawan itu akhirnya melarikan diri.

Ki Liong berjanji akan menghadiahkan cawan arak pusaka itu untuk diberikan kepada Lam-hai Giam-lo sebagai pengganti mustika batu giok yang telah lenyap dirampas lawan.

Memang pemuda ini memiliki beberapa benda pusaka yang langka, yaitu yang dicurinya dari Pulau Teratai Merah.

Dengan munculnya Sim Ki Liong maka pihak gerombolan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo menjadi semakin kuat, dan hal ini merupakan ancaman bagi keamanan, juga bagi para pendekar.

Sim Ki Liong sendiri mengharapkan untuk mendapatkan bantuan kawan-kawan barunya dalam mencari musuh besarnya, yaitu Siangkoan Ci Kang Guha itu lebar sekali, tidak kurang dari sepuluh tombak lebarnya dan empat tombak dalamnya, walaupun bagian depannya tertutup batu-batu besar dan jalan masuk ke dalam guha itu hanya sebesar tubuh orang saja, itu pun masih tertutup semak-semak sehingga jarang ada orang luar yang mengetahui bahwa di balik semak-semak itu terdapat sebuah guha yang demikian lebarnya.

Juga guha itu tidak gelap karena bagian atasnya terdapat lubang besar dari mana sinar matahari dapat masuk.

Tidak mengherankan apabila gerombolan Min-san Mo-ko tidak mampu menemukan dua orang buronan yang menyembunyikan diri di dalam guha itu.

Sebelum kini terpaksa melarikan diri bersama Hui Lian, dalam perantauannya, secara kebetulan Hay Hay pernah menemukan guha ini, oleh karena itu ketika mereka melarikan diri membawa luka yang cukup parah karena mengandung racun, dia mengajak Hui Lian memasuki guha itu dan tersembunyi.

Malam itu tentu saja di dalam guha amat gelapnya.

Mereka tidak dapat saling memeriksa luka, dan begitu masuk ke dalam dan membetulkan lagi semak-semak dari sebelah dalam agar menutupi lubang guha, Hay Hay bertanya.

"Bagaimana, Enci Hui Lian, parahkah luka yang kauderita?"

Dalam suara Hay Hay terkandung kekhawatiran besar karena ketika melarikan diri tadi, wajah Hui Lian nampak pucat dan larinya kadang terhuyung.

Di dalam kegelapan guha itu, Hui Lian meraba pinggul kanannya dan ia menahan rintihannya.

Pinggul kanan itu membengkak dan rasanya panas, gatal dan sakit bukan main.

"Pinggul kananku. agaknya terkena jarum-jarum berbisa,"

Katanya, akan tetapi ia pun teringat akan keadaan Hay Hay sendiri yang juga terluka dadanya.

"Dan bagaimana dengan luka di dadamu, Hay-te?"

Hay Hay merasa betapa luka di dadanya juga amat parah, walaupun ujung pedang itu hanya menggores dan merobek kulit dan daging, tidak sampai memasuki rongga dada, namun karena ujung pedang itu mengandung racun, kini lukanya membengkak dan rasanya panas bukan main, sampai menembus ke seluruh tubuhnya!

Akan tetapi, kawannya itu sedang terluka parah, tidak baik kalau dibuat khawatir pula.

"Ah, hanya tergores sedikit kulit dadaku, tidak apa-apa, Enci Lian. Akan tetapi luka di pinggulmu itu... ah, apakah jarum-jarum itu sudah kaucabut?"

"Mana bisa mencabutnya? Jarum-jarum itu masuk ke dalam!"

Kata Hui Lian agak khawatir juga karena ketika meraba dengan jari-jari tangannya, ia tidak merasakan adanya gagang jarum di permukaan kulit pinggul.

"Agaknya ada tiga batang yang menembus kulit.."

"Ingatkah engkau siapa di antara mereka yang melepas jarum-jarum itu?"

"Ketika aku membalik, kulihat perempuan bermuka mayat yang pakaiannya serba hitam itulah."

"Celaka!"

Seru Hay Hay.

"Ia adalah Tong Ci Ki, Si Jarum Sakti! Jarum-jarumnya mengandung racun yang amat berbahaya, tidak kalah jahatnya dibandingkan jarum-jarum dari Ma Kim Li! Mari, Enci, aku harus membantumu mengeluarkan jarum-jarum itu!"

"Tapi. begini gelap, biarlah kulawan dengan samadhi dan mengerahkan sinkang. Besok kalau sudah terang baru kita."

"Besok bisa terlambat, Enci. Biar kubuat api unggun!"

Kata Hay Hay lalu membuat api unggun dan tak lama kemudian, sinar api unggun mengusir kegelapan dalam guha dan mereka dapat saling pandang.

Keduanya terkejut ketika melihat betapa wajah masing-masing pucat kehijauan tanda bahwa hawa beracun mulai menguasai mereka!

"Bagaimana kalau mereka melihat api unggun dan datang menyerbu?"

Tanya Hui Lian.

"Mereka tidak akan melihatnya, sinar api tertutup sama sekali. Dan pula, tidak perlu kita memikirkan itu, yang penting sekarang harus mengeluarkan jarum-jarum itu."

"Tapi. tapi.."

Tentu saja Hui Lian merasa rikuh bukan main.

Bagaimana mungkin ia dapat membiarkan pemuda ini mengeluarkan jarum-jarum dari pinggulnya?

Mengeluarkannya sendiri, tentu saja tidak mungkin karena kedua tangannya hanya mampu menjangkau tempat itu, juga tangannya hanya mampu meraba-raba saja dan ia tidak dapat melihatnya.

Kalau dibiarkan Hay Hay melakukannya, berarti membiarkan Hay Hay melihat pinggulnya!

Bukan hanya melihat, bahkan meraba dan menyentuhnya!

Bagaimana mungkin ini?

"Kenapa engkau masih ragu-ragu, Enci?

Bukankah berbahaya sekali kalau dibiarkan saja?

Marilah, biarkan aku memeriksa luka itu!"

Hay Hay mendekati Hui Lian yang duduk bersandar dinding guha dan dia pun berlutut, tangannya diulur ke arah pinggul.

"Tidak.. Jangan...!"

Hui Lian membentak dan terkejutlah Hay Hay mendengar kemarahan dalam bentakan ini.

Ketika dia memandang, Hui Lian sedang memandang kepadanya dengan mata mencorong dan mendelik marah!

"Eh, kenapa Enci Lian?"

"Bagaimana.. bagaimana engkau berani kurang ajar kepadaku?"

Hay Hay melongo.

"Wah, kurang ajar? Apa maksudmu, Enci Lian? Aku tidak pernah kurang ajar kepadamu."

"Engkau hendak melihat pinggulku, bahkan mungkin memeriksa dan merabanya, dan engkau bilang tidak kurang ajar?"

Gadis itu kini marah sekali dan ingin ia menampar muka pemuda itu, kalau saja ia tidak melihat betapa wajah pemuda itu pun pucat dan nampak kesakitan.

Hay Hay tersenyum karena tiba-tiba dia mengerti dan melihat kelucuan dalam keadaan mereka itu.

"Wah, Enci Lian, pikirkan baik-baik sebelum engkau menuduh aku yang bukan-bukan. Pinggulmu terluka oleh jarum beracun, bukan? Nah, bagaimana aku tidak akan melihat pinggulmu kalau hendak menolongmu dan memeriksa pinggul itu? Dalam keadaan seperti ini, di waktu engkau terancam bahaya maut, mengapa memikirkan soal kecil itu, Enci? Baiklah, biarkan aku memeriksa dan mengobati pinggulmu, lupakan kekurangajaranku, dan nanti setelah aku berhasil mengeluarkan jarum-jaurm itu dan mengobati lukamu, engkau boleh menghukum aku karena kekurangajaranku. Aku tidak akan melawan. Bagaimana, akur?"

Lega hati Hui Lian. Bagaimanapun juga, ia akan dapat membalas "kekurangajaran"

Itu nanti.

"Akur, akan tetapi engkau tidak boleh berbohong dan melanggar janji."

"Aku tidak pernah berbohong."

"Hemm, laki-laki paling pandai berjanji, akan tetapi paling pandai pula melanggar janji sendiri!"

"Tapi aku tidak. Nanti boleh kau hukum aku sesuka hatimu, Enci Lian. Akan tetapi sekarang biarkan aku memeriksa lukamu."

Dan kini Hui Lian rebah menelungkup, memejamkan mata dan menyembunyikan muka di atas kedua lengannya, membiarkan Hay Hay memeriksa lukanya.

Seluruh bulu di tubuhnya meremang ketika ia merasa betapa Hay Hay menyentuh lembut pinggulnya di luar celana.

"Enci Lian, celanamu harus dilepas.. eh, maksudku, harus diturunkan agar aku dapat memeriksa keadaan luka di pinggulmu."

"Kurang ajar engkau..!"

Hui Lian membantak dan ia merasa malu bukan main, akan tetapi jari tangannya melepaskan tali celana itu dan dengan hati-hati ia menurunkan bagian belakang celana itu agar pinggul yang terluka itu nampak.

Ia menggigit bibir menahan rasa nyeri dan malu.

Akan tetapi, pada saat itu, seluruh perhatian Hay Hay ditujukan untuk memeriksa keadaan luka.

Dia melihat betapa pinggul kanan itu membengkak, merah kebiruan dan tiga titik hitam sejajar di situ.

Dia meraba dengan hati-hati, akan tetapi jari-jari tangannya tidak merasakan adanya ujung gagang jarum, maka tahulah dia bahwa jarum-jarum itu terbenam ke dalam daging pinggul!

"Enci Lian, tahankanlah, tentu agak sakit, akan tetapi satu-satunya jalan untuk mengeluarkan jarum hanya begini."

Dan tiba-tiba tanpa memberi kesempatan kepada gadis itu untuk membantah karena Hay Hay tahu bahwa gadis itu tentu akan keberatan, dia cepat menundukkan mukanya dan menempelkan mulutnya di atas tiga titik hitam itu!

"Aihh.

kau..

kau...

keparat..!"

Hui Lian berseru, akan tetapi rasa sakit yang luar biasa kini menggantikan rasa malu ketika Hay Hay mengerahkan tenaga khikang untuk menyedot dengan mulutnya.

Hui Lian mengaduh dan merintih, lupa akan rasa malu betapa mulut pemuda itu menempel dipinggulnya.

Hay Hay melepaskan kecupannya dan meludahkan tiga batang jarum kecil hitam ke atas tanah.

"Sudah keluar jarum-jarum itu, akan tetapi racunnya harus diketuarkan sampai bersih, Enci Lian."

Katanya dan kembali dia menyedot dengan mulutnya melalui tiga lubang kecil bekas jarum.

Nyeri bukan main rasanya bagi Hui Lian, akan tetapi rasa malu bersaing dengan rasa nyeri sehingga ia mampu menahan keduanya!

Setelah berkali-kali menyedot dan meludahkan darah hitam, akhirnya Hay Hay melihat darah merah keluar dari lubang-lubang kecil itu dan dia pun menghentikan penyedotannya.

"Semoga racunnya sudah keluar, Enci. Kini tinggal memberi obat luka."

Dia mengambil obat luka berupa bubukan putih yang dibuatnya dari kulit pohon yang dikeringkan, dan menaburkan bubukan itu pada luka di pinggul, lalu memijit-mijitnya sehingga bubukan putih memasuki lubang dan menutupnya.

"Nah, selesailah sudah, Enci Lian."

Katanya.

Ketika dia hendak membantu menaikkan celana itu, Hui Lian merenggutnya dan menaikannya sendiri, lalu mengikatkan kembali tali celana.

Ia lalu bangkit duduk dan tiba-tiba saja tangannya menampar muka Hay Hay sampai tiga kali.

"Plak! Plak! Plak!"

Dua kali tangan kanan menampar pipi kiri dan satu kali tangan kirinya menampar pipi kanan pemuda itu.

Demikian tiba-tiba dan keras sehingga terdengar suara nyaring dan tubuh Hay Hay terguncang ke kanan kiri, kemudian roboh!

Hui Lian yang merasa malu dan marah, melihat wajah pemuda itu dan dia pun terkejut sekali.

Pemuda ini seperti orang pingsan, atau setengah pingsan, nampak lemah sekali dan mukanya menjadi kehitaman, juga kedua ujung bibirnya (Lanjut ke

Jilid 26) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 26 berdarah.

"Hay-te...!"

Hui Lian berseru memanggil dan mengguncang-guncang pundak pemuda itu, namun Hay Hay kelihatan semakin lemah.

Hui Lian semakin terkejut dan gelisah.

Apakah tamparannya tadi demikian kuatnya?

Kalau bibir pemuda itu berdarah, hal ini tidak aneh, akan tetapi mengapa Hay Hay sampai pingsan?

"Hay-te, maafkan aku...

ah, engkau sadarlah..!"

Katanya lagi dan kini ia cepat melakukan pemeriksaan.

Denyut nadi pemuda itu lemah sekali, dan napasnya juga memburu!

Ah, ingatlah dia bahwa pemuda ini pun terluka parah.

Cepat Hui Lian merobek baju di bagian dada pemuda itu, dan nampak betapa di dada sebelah kanan terdapat luka yang cukup lebar dan luka itu melepuh, membengkak dan kehitaman!

Racun yang jahat telah membuat luka itu menjadi parah dan berbahaya sekali!

Ia harus cepat menolongnya.

Dengan cekatan, jari-jari tangan Hui Lian membuka kancing-kancing baju itu, dengan maksud membuka baju agar lebih mudah ia berusaha mengobati.

Ketika ia hendak menanggalkan baju itu, tiba-tiba ada sebuah benda terjatuh keluar dari saku baju dan kebetulan sekali benda itu terjatuh ke atas dada Hay Hay, tepat di atas luka di dadanya.

Hui Lian hendak mengambil benda itu dan ia mengeluarkan seruan kaget, menahan tangannya.

Benda itu adalah sebuah batu giok berwarna belang-belang merah dan hijau dan kini benda yang berkilauan terkena sinar api unggun itu perlahan-lahan berubah menjadi menghitam, dan warna hitam pada luka di dada itu perlahan-lahan menghilang!

Teringatlah Hui Lian akan mustika batu giok milik Jaksa Kwan yang dirampas penjahat dan agaknya Hay Hay telah dapat merampasnya kembali dan ia pun teringat akan kata-kata jaksa tinggi itu bahwa mustika itu merupakan benda langka penawar racun!

Dengan hati girang Hui Lian memegang benda itu dan kini sengaja menggosok-gosokkan perlahan-lahan ke atas luka dan tepat seperti yang diduganya, makin digosokkan, benda itu berubah makin menghitam dan luka itu pun dengan cepat sekali mengempis dan kehilangan warna hitamnya.

Hay Hay bergerak dan mengeluh.

"Wah, apa dingin-dingin sekali di atas dadaku itu, Enci Lian?"

Melihat keadaan Hay Hay telah sembuh secara cepat itu, Hui Lian merasa lega bukan main dan ia pun tersenyum.

Hay Hay sampai melongo melihat Hui Lian tersenyum.

Bukan main cantiknya gadis ini kalau tersenyum, senyum wajar pertama kali yang dilihatnya.

"Enci Lian, engkau... cantik sekali kalau tersenyum."

Kata Hay Hay dan kembali berkerut alis Hui Lian.

Bocah ini sungguh perayu benar, baru saja sadar dari pingsan, pertama kali yang dilakukan adalah memuji kecantikannya!

"Hay-te, engkau membawa mustika batu giok ini yang dengan mudah menyedot semua racun dari dadamu, kenapa tidak kau pergunakan ketika engkau menolong aku?"

Hay Hay bangkit duduk, memeriksa dadanya sendiri dan dia menjadi kagum.

Dilihatnya batu giok itu yang kini sudah diletakkan di atas lantai guha oleh Hui Lian dan perlahan-lahan, dari batu giok itu menetes cairan hitam, dan perlahan-lahan batu giok itu memperoleh kembali cahaya dan warnanya merah hijau, warna hitam makin lenyap bersama cairan yang keluar.

Benar-benar benda mustika yang langka dan mujijat!

"Ah, sungguh...

aku lupa sama sekali tentang batu giok ini, Enci Lian.

Aku...

ahhh..."

Tiba-tiba Hay Hay memegang kepala dengan kedua tangannya karena kepala itu terasa pening dan bumi seperti terputar, akan tetapi dia memaksa diri melanjutkan.

"Aku terlalu khawatir setelah memeriksa pinggulmu... eh, pinggulmu itu indah sekali dan membengkak merah kehitaman... dan keringatmu harum sekali, Enci.."

"Gila..!"

Hampir saja Hui Lian menampar muka Hay Hay, akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat pemuda itu terkulai dan roboh pingsan!

Tentu saja Hui Lian menjadi terkejut.

"Hay-te, ada apakah....?"

Ia mendekat dan lebih kaget lagi ketika ia menyentuh dahi pemuda itu terasa panas.

Kiranya racun dari pedang Min-san Mo-ko amatlah jahatnya sehingga tadi telah menimbulkan hawa beracun dalam tubuh Hay Hay sehingga walaupun racunnya sudah tersedot oleh batu giok, namun kini meninggalkan demam yang cukup hebat pada diri Hay Hay.

Hal ini adalah karena tadi Hay Hay mengerahkan khikang ketika menyedot racun dan jarum dari pinggul Hui Lian sehingga pengerahan khikang ini membuat hawa beracun terdorong semakin dalam ke dadanya.

Maklum bahwa Hay Hay terserang demam, Hui Lian lalu menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Hay Hay dan dengan pengerahan hawa sakti dari tubuhnya, ia membantu pemuda itu mengusir hawa beracun itu.

Lambat laun, terjadi perubahan pada diri Hay Hay.

Napasnya normal kembali, mukanya menjadi merah biasa dan panasnya menurun.

Hui Lian melepaskan tangannya dan membiarkan pemuda itu tertidur.

Sampai lama ia mengamati wajah pemuda itu dan hatinya semakin tertarik.

Terngiang di telinganya kata-kata Hay Hay yang memuji-mujinya, memuji betapa cantiknya kalau ia tersenyum, bahkan sebelum pingsan tadi memuji bahwa pinggulnya indah dan keringatnya harum!

Teringat hal ini, Hui Lian tersenyum.

Bocah kurang ajar, pikirnya sambil tersenyum memandang wajah itu.

Wajah yang masih kekanak-kanakan, namun sungguh amat menarik hatinya.

Jantungnya berdebar dan bergeloralah gairahnya terhadap Hay Hay.

Seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa, pandai merayu dan menarik hati walaupun sikapnya agak nakal dan kurang ajar.

Tanpa disadarinya lagi, tangan kirinya bergerak menyentuh dan meraba wajah pemuda itu, mengusap dagunya, bibirnya yang tadi tanpa ragu-ragu menyedot luka beracun di pinggulnya, mulut yang tadi sampai berdarah karena ditamparnya.

Ia telah menamparnya dengan keras setelah pemuda itu menyelamatkan nyawanya dan setelah pemuda itu tanpa rasa jijik sedikit pun menyedot luka beracun di pinggulnya.

Ia merasa terharu dan kedua matanya basah.

"Hay Hay, kau maafkan aku.."

Bisiknya.

Hay Hay membuka matanya, berkejap lalu bangkit duduk setelah melihat bahwa dia rebah di atas lantai guha dan gadis itu duduk bersimpuh di dekatnya.

"Enci Lian, apakah aku tertidur? Aku seperti dalam mimpi mendengar engkau bicara padaku, seperti maaf-maaf begitu. Apa sih yang kau katakan, Enci Lian?"

Hui Lian tersenyum.

Kadang-kadang Hay Hay bersikap kekanak-kanakan dan ia merasa seperti bicara dengan adiknya sendiri, apalagi mendengar pemuda itu menyebutnya "Enci Lian"

Secara demikian akrabnya.

"Tidak apa-apa, Hay-te. Tidurlah, biar aku menjagamu...!"

"Tidak, Enci Lian. Aku tidur enak-enakan dan engkau yang berjaga kalau ada musuh datang? Wah, itu terbalik namanya, Enci. Engkau seorang perempuan dan aku seorang laki-laki. Engkaulah yang tidur dan aku yang berjaga."

"Akan tetapi engkau baru saja pingsan dan demam, juga biarpun perempuan aku lebih tua, engkau kanak-kanak."

Hay Hay yang sudah pulih kembali kesehatannya memandang wajah Hui Lian sambil tersenyum.

"Enci yang baik, jangan katakan aku kanak-kanak, aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran sekalipun!"

"Ih, engkau memang ceriwis, mata keranjang, tak senonoh kata-katamu!"

Hay Hay membelalakkan matanya.

"Wah, seenaknya engkau memaki aku, Enci Lian. Di bagian mana kata-kataku yang tidak senonoh?"

Dia mengingat-ingat, alisnya berkerut.

"Belum banyak aku bicara padamu, hemm... tadi, aku memuji bahwa engkau cantik, dan keringatmu berbau harum dan... dan pinggulmu indah.."

"Nah, itulah! Tutup mulutmu, Hay Hay, engkau sungguh lancang dan tak tahu malu!"

"Eihhh? Kenapa, Enci? Apa salahnya kalau aku memuji sesuatu yang memang indah dan pantas dipuji? Bukankah pujian itu menunjukkan kejujuranku dan tidak pura-pura? Memang mataku melihat sesuatu yang indah, mulutku langsung memuji, salahkah itu?"

"Tapi bukan... eh, pinggul! Tidak sopan itu menyebut-nyebutnya juga sudah tidak sopan dan harus malu!"

Hay Hay menggaruk-garuk belakang telinganya.

"Lhoh! Kenapa tidak sopan? Apa salahnya kalau aku menyebut pinggul, pinggul, pinggul! Bukankah memang kita manusia ini semua berpinggul? Apa bedanya kukatakan pinggulmu indah, dengan matamu indah, tanganmu indah dan sebagainya?"

"Cukup! Jangan membikin marah padaku! Engkau masih kanak-kanak, aku lebih tua darimu dan tidak pantas kalau engkau merayuku dengan kata-kata manis dan pujian-pujian muluk dan kotor!"

"Aku semakin penasaran, Enci. Maafkan, aku bukan bermaksud menghinamu. Engkau memang lebih tua, akan tetapi hanya satu dua tahun saja dan itu sama sekali tidak ada artinya. Dan aku bukan kanak-kanak! Usiaku sudah dua puluh satu tahun dan banyak pria berusia dua puluh satu sudah mempunyai dua tiga orang anak! Aku sudah cukup dewasa untuk berpacaran. Dan aku memujimu dengan jujur, sama sekali bukan merayu, aku hanya mengatakan apa adanya saja menurut penglihatanku!"

Melihat pemuda itu berkata keras penuh rasa penasaran, Hui Lian berbalik menjadi geli.

"Hemm, kalau menurut penglihatanmu bagaimana?"

Tanyanya, tertarik juga karena pemuda ini jelas tidak bermaksud kurang ajar kepadanya.

Dengan sepasang matanya yang tajam mencorong itu Hay Hay memandang seluruh bagian tubuh Hui Lian dari kepala sampai ke kaki, kemudian memandang wajah gadis itu dan berkata ragu.

"Kalau aku bicara terus terang, apakah engkau tidak akan marah lagi, Enci Lian?"

Gadis itu menggeleng kepala tanpa menjawab.

"Baiklah, aku bicara menurut hasil penglihatanku. Engkau seorang gadis yang sudah matang, beberapa tahun lebih tua dariku, jiwamu sederhana dan engkau suka akan kebersihan, wajahmu cantik menarik dan manis, dengan sepasang matamu yang indah, jeli dah tajam, hidungmu yang kecil mancung dan mulutmu yang menggairahkan, dengan bibir merah basah, barisan gigi putih rapi, dagu meruncing manis, rambutmu hitam panjang dan berombak, lehermu berkulit putih mulus dan panjang, tubuhmu padat dan memiliki lekuk lengkung yang sempurna, dengan pinggang ramping, dada membusung dan pinggul penuh, kedua lenganmu bulat penuh dan jari-jari tanganmu panjang kecil lembut, kakimu kecil mungil dengan paha dan betis panjang. Engkau cantik manis, jiwamu gagah perkasa biarpun ada suatu kedinginan dan kegalakan tersembunyi di balik gerak bibirmu, dan yang amat mengagumkan adalah keringatmu yang berbau harum, engkau seperti setangkai bunga yang indah, semerbak harum..."

"Sudah... sudah cukup.. Wah, Hay-te, sungguh engkau seorang perayu besar! Kalau kau lanjutkan jangan-jangan kepalaku akan menjadi besar kemasukan angin dan tubuhku akan dibawa melambung ke udara, kemudian meletus di atas sana!"

Hui Lian berseru sambil mengangkat kedua tangan menutupi kedua telinganya dan tertawa.

Baru sekarang gadis itu mampu tertawa gembira, terbawa oleh kegelian hati mendengar pujian yang dihujankan oleh pemuda itu kepadanya.

"Aku bicara sejujurnya, Enci.."

"Tidak, engkau mata keranjang. Seorang laki-laki mata keranjang selalu melihat wanita dari segi keindahannya saja, sehingga setiap orang wanita muda akan nampak secantik bidadari baginya. Engkau perayu wanita yang berbahaya karena wanita-wanita mudah runtuh pertahanan dirinya kalau menghadapi rayuan laki-laki. Jangan-jangan kelak engkau akan menjadi penakluk wanita!"

"Tidak, Enci Lian. Engkau memang cantik jelita dan.."

"Cukup, Hay-te, jangan memuji lagi."

"Dan aku heran sekali, justeru karena engkau begini cantik, kenapa ergkau berkeliaran sendiri saja di dunia kang-ouw? Padahal sepatutnya, seorang wanita secantik engkau ini tentu sudah menjadi seorang isteri, bahkan mungkin seorang ibu yang baik, yang hidup penuh dengan kasih sayang dan kemuliaan, dalam sebuah rumah tangga yang berbahagia.."

"Hay-te.. jangan teruskan.."

Hui Lian yang duduk bersandar dinding guha, menutupi muka dengan kedua tangannya dan wanita yang gagah perkasa ini, wanita yang keras hati dan galak, sekali ini menangis!

Kedua pundaknya terguncang dan walaupun ia menahan diri sehingga tidak mengeluarkan suara, namun ia sesenggukan dan air ma tanya mengalir melalui celah-celah jari kedua tangannya.

Hay Hay terbelalak, sama sekali tidak mengira bahwa seorang wanita seperti Hui Lian itu dapat juga menangis, menjadi seorang wanita biasa yang lemah dan mudah mencucurkan air mata.

Dia tidak tahu betapa semua kedukaan semenjak kegagalan pernikahannya yang sudah dua kali itu selama ini ditahan-tahan oleh Hui Lian, dan ucapan Hay Hay itu sebagai pembuka bendungan sehingga kini tercurahlah semua kedukaan yang menumpuk di dalam batinnya melalui tangis.

Melihat gadis itu demikian nelangsa, Hay Hay merasa kasihan sekali.

Dia dapat menduga bahwa tentu masa lalu gadis ini amat suram dan menyedihkan, maka dia pun mendekat dan menyentuh pundak gadis itu.

"Enci Lian, kau maafkanlah aku, Enci. Aku tidak sengaja hendak menyakiti hatimu, akan tetapi kalau kata-kataku tadi menyinggung perasaanmu, sungguh, engkau boleh memukulku lagi, Enci. Akan tetapi jangan menangis, hatiku terasa pilu dan ikut sakit melihat engkau menangis begini sedih..."

Merasakan sentuhan tangan Hay Hay yang lembut dan hangat di pundaknya, mendengar ucapan itu, bukannya terhibur hati Hui Lian, bahkan ia menangis semakin sedih.

Ia merasa nelangsa, merasa betapa dirinya sebatang kara dan bernasib buruk, disakiti hatinya dan dikecewakan dalam dua kali pernikahan, dan betapa hidupnya terasa kosong dan kesepian.

"Adik Hay... uuhuuhuu.. Adik Hay...!"

Ia mengguguk dan merangkul pemuda itu, menjatuhkan mukanya di atas dada Hay Hay.

Pemuda ini merangkulnya, dan mengusap-usap rambut kepala hitam halus itu untuk menghiburnya.

"Tenanglah, Enci Lian, kuatkan hatimu. Tidak ada masalah yang tidak dapat diatasi di dunia ini."

Kata Hay Hay, sungguh-sungguh, nadanya menghibur.

Dia merasa betapa air mata membasahi bajunya dan menembus baju, membasahi dadanya.

Dan jantungnya berdegup keras, seolah-olah menjadi segar terkena pula siraman air mata itu.

Tubuh yang dipeluknya itu demikian lunak dan lembut, dan keharuman yang halus keluar dari tubuh Hui Lian, memabokkan dan menggairahkan.

"Aih, Hay-te... engkau tidak tahu, aku... aku adalah wanita yang paling sengsara di dunia ini... sebatang kara, tidak mempunyai siapa pun.."

Hay Hay mempererat pelukannya dengan sikap menghibur.

"Enci Lian, mengapa engkau berkata demikian? Ada aku di sini, bukan? Engkau memiliki aku, jangan merasa kesepian, Enci..."

Ucapan Hay Hay itu hanya untuk menghibur dan setengah berkelakar, akan tetapi sama sekali tidak disangkanya bahwa ucapannya itu membangkitkan keharuan dan gairah dalam hati Hui Lian.

Sambil tersedu Hui Lian merangkul leher Hay Hay dan mencium mulut yang mengucapkan kata-kata demikian manisnya sebagai ucapan terima kasih.

Perbuatan Hui Lian ini sebetulnya hanya terdorong luapan perasaan saja, akan tetapi begitu ia mencium Hay Hay, gairahnya berkobar tanpa dapat ditahannya lagi.

Sambil setengah menangis dan merintih Hui Lian menciumi Hay Hay, mencurahkan seluruh kerinduan dalam hatinya, seluruh kehausan akan kemesraan seorang pria yang selama ini ditahannya, demikian bernafsunya sehingga Hay Hay jatuh telentang dan tertindih oleh Hui Lian!

Hay Hay adalah seorang manusia biasa, dari darah daging, bahkan seorang pemuda yang mulai dewasa, bertubuh sehat, bahkan mempunyai watak romantis sekali, suka akan keindahan bahkan pemuja keindahan.

Oleh karena itu, kini dia digeluti seorang wanita seperti Hui Lian, yang dirangsang berahi, yang haus akan kasih sayang, penuh kerinduan akan belaian dan kemesraan seorang pria, seorang wanita yang bagaimanapun juga sudah berpengalaman karena sudah dua kali menjanda, tidak mengherankan kalau Hay Hay juga menjadi kebakaran oleh nafsu berahinya sendiri.

Bau keringat yang sedap harum seperti bunga dari tubuh Hui Lian, menambah rangsangan dan dia pun balas merangkul, balas mencium, balas membelai sampai Hui Lian terengah-engah dan mengeluarkan rintihan-rintihan kecil.

Belaian dan ciuman itu menambah berkobarnya api nafsu berahi masing-masing sehingga mereka lupa diri, lupa keadaan dan yang ada hanyalah pasrah, siap menyerahkan dirinya lahir batin demi untuk pemuasan hasrat nafsu, terseret oleh gelombang badani yang memabokkan.

Akan tetapi, pada saat mereka telah bergulingan sampai ke tepi jurang, hampir mencapai puncak pemuasan gairah mereka, ketika Hui Lian yang memejamkan mata terengah-engah dan berbisik-bisik lirih, ketika Hay Hay membalikkan tubuh wanita itu sehingga kini dia yang menindihnya, dia membuka mata dan melihat wajah Hui Lian yang berkeringat, matanya yang hampir terpejam, mulutnya yang ditarik seperti orang yang sedang menderita nyeri hebat, tiba-tiba saja Hay Hay sadar!

"Aihhh..!"

Dia melepaskan rangkulannya, dengan lembut melepaskan kedua lengan Hui Lian yang merangkul lehernya, dan dia pun menjauhkan diri, menatap wajah Hui Lian yang kini juga membuka matanya yang sayu.

Hui Lian mengembangkan kedua lengannya, dengan sikap mengajak, hendak merangkul kembali.

"Hay Hay aku... aku... ahhh, aku..."

"Tidak, Enci Lian!"

Tiba-tiba Hay Hay berseru dengan keras dan di dalam seruannya ini dia mengerahkan tenaga batinnya.

Seruan ini dapat mengusir semua kekuasaan sihir, dan amat berwibawa sehingga dapat pula menyadarkan Hui Lian yang sedang mabok oleh gairah nafsu berahi itu.

Gadis itu bangkit duduk, matanya terbelalak dan mukanya pucat memandang Hay Hay.

Hay Hay merasa kepalanya pening dan seperti ada suara berbisik-bisik di belakangnya.

"Bodoh kau... ia begitu cantik manis, begitu hangat tubuhnya, ia begitu menantang, begitu mesra dan penuh api nafsu ciumannya. Ia ingin cintamu, bodoh. Lekas peluk dan cium ia, tidak ada orang melihatnya di sini... lekas, tolol...!"

Sejak tadi bisikan-bisikan ini memenuhi kepalanya, bisikan iblis yang seolah-olah berada di belakangnya.

"Keparat!"

Hay Hay melayangkan tangannya ke belakang sambil mengerahkan tenaganya.

"Prakk!"

Sebuah batu menonjol di dinding guha itu remuk oleh tamparannya.

"Hay-te... engkau... engkau kenapakah...?"

Hui Lian bertanya, masih merah sekali wajahnya, membuat sepasang bibir itu merah basah dan matanya sayu sekali seperti mata orang mengantuk.

Tiba-tiba Hay Hay berlutut di depan Hui Lian.

"Enci Lian, ampunkan aku, Enci.. Ah, aku layak dipukul mampus, aku benar-benar telah menjadi hamba iblis. Enci, marilah kita berdua sadar. Perbuatan kita ini tidak boleh dilanjutkan. Enci Lian, bereskanlah pakaianmu dan kita bicara yang benar."

Dia sendiri lalu mengancingkan kembali kancing-kancing baju yang tadi sudah hampir terlepas semua.

Kini sepasang mata Hui Lian terbuka lebar dan ia pun baru sekarang melihat keadaan mereka.

Setelah ia dapat menguasai batin sendiri sepenuhnya, ia melihat betapa ia telah melakukan hal yang amat memalukan.

Dengan tubuh menggigil ia bangkit duduk dan jari-jari tangannya gemetar ketika membereskan pakaiannya, kemudian tiba-tiba ia menampar muka sendiri dengan tangan kirinya.

"Plakk!"

Ujung bibir sebelah kiri pecah dan berdarah ketika menampar, dan ia pun menggerakkan tangan kanan untuk menampar lagi mukanya yang sebelah kanan.

Akan tetapi dengan cepat Hay Hay menangkap pergelangan tangan kanan itu dan suaranya menggetar penuh keharuan ketika dia berkata.

"Enci Lian... jangan lakukan itu! Kalau engkau mau menampar, tamparlah aku, Enci..!"

Hui Lian merenggut lepas tangannya dan ia pun kini meloncat berdiri, mukanya masih merah sekali, akan tetapi sekali ini bukan merah oleh gairah nafsu berahi, melainkan merah karena merasa malu dan marah.

Matanya tidak sayu seperti mata yang mengantuk lagi, melainkan terbuka lebar dan memancarkan sinar berkilat.

Tangannya bergerak dan tahu-tahu ia telah menyambar pedangnya yang berada di atas buntalan pakaian dan dihunusnya pedang itu.

Pedang Kiok-hwa-kiam mengeluarkan sinar berkilat tertimpa cahaya api unggun.

"Bangkitlah..!"

Katanya dengan suara menggetar pula.

"bangkitlah dan mari lawan aku. Seorang di antara kita harus mati di sini!"

"Enci Lian..!"

Hay Hay berseru, terkejut sekali.

"Hal yang memalukan telah terjadi, satu di antara kita harus mencucinya, satu di antara nyawa kita harus menebusnya!"

Kata pula Hui Lian.

"Tidak, Enci Lian! Aku tidak mau membunuhmu, engkau tidak bersalah, aku pun tidak bersalah. Kita berdua telah menjadi korban bisikan iblis.."

"Kalau begitu, engkau harus mati!"

Dan Hui Lian sudah menyerang dengan hebatnya.

Hay Hay terkejut dan cepat mengelak.

Namun wanita itu sudah melanjutkan serangannya dan melihat ini, Hay Hay cepat mempergunakan ilmunya Jiau-pou-poan-soan, yaitu langkah ajaib yang berputar-putaran untuk selalu mengelak dan menghindarkan diri dari sambaran pedang Kiok-hwa-kiam.

Akan tetapi, betapa hebatnya langkah-langkah ajaib itu, kini yang dihadapinya adalah serangan Ilmu Pedang In-liong-kiam-sut (llmu Pedang Naga Awan) yang amat hebat maka maklumlah Hay Hay bahwa tidak mungkin dia akan dapat menyelamatkan diri kalau hanya mengelak terus.

Dia pun cepat mengeluarkan sulingnya dan kini menggunakan benda itu untuk kadang-kadang menangkis, dan terpaksa juga membalas dengan serangan untuk membendung gelombang serangan yang dilakukan Hui Lian.

Terjadilah perkelahian yang amat seru dan hebat di dalam guha itu!

Sekali ini Hui Lian yang sudah dikuasai kemarahan dan kenekatan saking malunya, menyerang dengan sepenuh tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya.

Ilmu pedang In-Iiong-kiam-sut amatlah hebatnya, peninggalan dari mendiang In Liong Nio-nio, seorang di antara Delapan Dewa.

Pedang Kiok-hwa-kiam lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar yang amat luas, dan dari dalam gulungan sinar ini mencuat sinar-sinar berkelebatan yang menghujankan serangan-serangan maut ke arah tubuh Hay Hay!

Menghadapi ilmu yang hebat ini, diam-diam Hay Hay merasa terkejut dan kagum bukan main.

Agaknya kini Hui Lian benar-benar marah, dan baru sekarang dia melihat Hui Lian mengeluarkan kemampuannva yang dahsyat.

Hanya dengan mengerahkan sinkang dan memainkan suling seperti yang pernah dipelajarinya dari Ciu-sian Lo-kai, dibarengi gerakan kaki dalam langkah ajaib yang dipelajarinya dari See-thian Lama, Hay Hay mampu menandingi kehebatan ilmu pedang Hui Lian.

Di samping kekagumannya, Hay Hay juga merasa berduka sekali.

Sungguh menyedihkan betapa baru saja mereka saling mencurahkan kasih sayang dan kemesraan, bahkan hampir saja terjadi hubungan yang lebih mendalam antara mereka, kini mereka telah saling serang dan agaknya berusaha sungguh-sungguh untuk saling membunuh!

"Enci Lian, engkau tidak adil...

hentikanlah seranganmu...!"

Berkali-kali Hay Hay memohon, akan tetapi Hui Lian tidak mempedulikan semua ucapannya, bahkan memperhebat serangannya.

"Cappp..!"

Ujung pedang Kok-hwa-kiam berhasil melukai pangkal lengan kiri Hay Hay.

Robeklah baju di bagian itu dan segera nampak darah membasahi kain yang terobek.

Hay Hay terhuyung dan jatuh terduduk, bersandar dinding guha.

Dia lalu menancapkan suling di atas lantai.

"Enci Lian, kalau engkau memang menghendaki nyawaku. Bunuhlah aku! Aku tidak akan melawanmu lagi."

Dia pun bersedakap dan pasrah.

Hui Lian menahan pedangnya, berdiri dan menodongkan pedangnya, napasnya terengah, matanya berkilat memandang pemuda itu.

"Hay Hay, bangkitlah! Demi Tuhan, kubunuh engkau kalau tidak bangkit melawan!"

"Hemm, mengapa kita harus saling membunuh?"

"Keparat! Engkau... engkau telah menghinaku, menolakku, setelah menggodaku... engkau... sungguh memandang rendah padaku!"

Hay Hay menarik napas panjang.

"Enci Lian, aku kagum padamu, aku... amat suka padamu, bagaimana mungkin aku menghinamu? Enci Lian, bukankah kita berdua telah membuktikan bahwa kita saling suka? Kalau bicara tentang kesalahan, maka kita berdualah yang bersalah, kita berdua yang lemah. Bahkan menurut aku, kita berdua tidak bersalah, yang bersalah adalah iblis dalam guha ini yang telah membuat kita lupa diri. Enci Lian, aku tidak menghinamu, melainkan memperingatkanmu bahwa kita telah salah tindak, kita hanya menuruti nafsu berahi belaka... kalau hal itu kau anggap bersalah, nah, kau bunuhlah aku..!"

Kemarahan sudah menipis menyelubungi batin Hui Lian dan kini ia pun mulai dapat menembus seluruh selubung kemarahan itu dan melihat keadaan yang sebenarnya.

Pemuda ini bukan mempermainkannya, bahkan mengingatkan!

Hay Hay tidak menghinanya, sama sekali tidak.

Lemaslah seluruh tubuhnya.

"Tranggg...!"

Pedang Kiok-hwa-kiam terlepas dari tangannya dan jatuh ke atas lantai batu.

Tubuhnya terhuyung ke depan dan ia pun sudah menubruk Hay Hay, merangkul dan menangis terisak-isak!

Legalah rasa hati Hay Hay.

Dia pun merangkul, membelai rambutnya dan dengan rasa sayang dia mencium dahi yang halus itu dan kembali dia dibikin kagum oleh keharuman ketika hidungnya menjadi agak basah oleh keringat di dahi itu.

Luar biasa, pikirnya.

Gadis ini benar-benar memiliki keringat yang harum!

"Enci Lian, tenangkanlah hatimu!"

Hay Hay menghibur dengan ramah sekali.

"Engkau tentu dapat merasakan betapa aku sayang padamu, aku suka padamu dan engkau adalah seorang wanita yang hebat, yang paling hebat di antara semua wanita yang pernah kujumpai. Akan tetapi, kita berdua harus waspada, Enci dan sebagai orang-orang yang menjunjung tinggi kegagahan kita harus kuat menahan dorongan gairah dan nafsu yang akan menyeret kita ke dalam perbuatan yang akhirnya hanya akan menimbulkan penyesalan belaka."

Kagum bukan main hati Hui Lian mendengar ucapan pemuda ini.

Seorang pemuda yang masih begini muda, namun memiliki pandangan yang demikian luasnya.

"Hubungan badan hanya patut dilakukan oleh dua orang yang saling mencinta, Enci yang baik, dan hanya baik dilakukan oleh sepasang suami isteri. Kita bukan suami isteri, dan biarpun ada rasa suka dan kagum, harus diakui bahwa tidak ada perasaan cinta seperti itu di dalam hatiku. Aku hanya mau melakukan hal itu dengan seorang wanita yang kucinta, sebagai isteriku. Nah, engkau tahu bahwa aku sama sekali tidak menghinamu, bahkan menghormati dan menghargai dirimu, Enci, agar kita tidak sampai mabok dan tenggelam ke dalam jurang kehinaan dengan melakukan perbuatan aib."

Hui Lian menghentikan tangisnya.

Dengan pengerahan sinkangnya, ia tadi telah berhasil mengusir pula gairah nafsu yang menguasai batinnya.

Kini ia dapat melihat dengan jelas betapa mulia hati pemuda ini yang tidak ingin menyeretnya ke dalam perbuatan tercela.

Ia pun tahu bahwa ia tidak mencinta pemuda ini, melainkan tadi hanya terdorong oleh nafsu berahi belaka.

"Terima kasih, Hay-te... terima kasih, dan kau maafkan aku..."

"Aih, akulah yang harus minta maaf, Enci. Atau kita berdua tadi telah menjadi lemah dan kita berdua yang bersalah. Sudahlah, Enci, kita tetap menjadi sahabat baik dan selamanya aku akan mengenangmu sebagai seorang gadis yang luar biasa, cantik menarik dan gagah perkasa, juga berhati mulia..."

"Jangan terlalu memuji Hay-te, aku hanya seorang perempuan yang bernasib malang. Engkau tidak tahu bahwa semuda ini aku telah menjanda sampai dua kali..."

"Ahhh... Aku tidak percaya, Enci!"

Hay Hay benar-benar terkejut dan heran, tidak percaya.

Bagaimana mungkin seorang wanita sehebat ini sampai menjanda dua kali?

Laki-laki tolol barangkali yang menjadi suami-suaminya itu.

Hui Lian tersenyum, senyum pahit akan tetapi senyum itu menunjukkan bahwa keadaan batinnya telah normal kembali, semua sisa penyesalan karena peristiwa tadi agaknya sudah dapat dilenyapkan.

"Tidak percaya namun kenyataannya demikian, Hay-te."

Ia lalu menceritakan tentang perkawinannya dengan Tee Sun, putera kepala daerah dusun Hek-bun yang amat pencemburu itu.

Betapa pernikahan pertama ini, yang hanya dilakukan untuk menyenangkan hati suhengnya yang menjadi pengganti orang tuanya, telah gagal dan berakhir dengan perceraian karena suami pertama itu terlalu pencemburu sehingga hal itu menyiksa batinnya.

Kemudian ia jatuh oleh rayuan seorang laki-laki lain, yaitu Su Ta Touw yang menjadi suaminya ke dua.

Betapa kemudian ternyata bahwa suaminya itu seorang mata keranjang, perayu dan perusak wanita termasuk wanita isteri orang sehingga kembali ia terpaksa bercerai dari suaminya yang ke dua itu.

"Sejak itu, aku tidak ingin menikah lagi, Hay-te, bahkan aku mulai menaruh rasa tidak suka kepada kaum pria yang kuanggap palsu dan perayu belaka. Akan tetapi ketika bertemu denganmu, aku... aku telah lupa diri.."

Hay Hay tersenyum.

"Laki-laki mana pun akan terpesona oleh kecantikanmu, Enci Lian. Engkau cantik jelita dan yang istimewa padamu adalah bau harum keringatmu. Aku sendiri pun terpesona dan tergila -gila."

"Ihh, engkau mencoba untuk merayu lagi? Dasar engkau perayu!"

Kata Hui Lian, akan tetapi sekali ini sambil tersenyum.

"Tidak merayu, Enci. Terus terang saja, aku amat suka akan keindahan, dan wajah seorang wanita, juga bentuk tubuhnya merupakan suatu keindahan luar biasa bagiku. Kalau aku memujimu, itu bukan merayu, melainkan dengan sejujurnya!"

Hui Lian bangkit berdiri.

"Sudah, Hay-te, kalau engkau memuji terus, aku akan keluar dari guha ini dan pergi sekarang juga. Pujian-pujianmu ini merupakan godaan yang akan dapat membuat aku mabok lagi."

Hay Hay cepat berdiri dan memberi hormat.

"Maafkan, maafkan aku, Enci Lian. Aku berjanji, aku bersumpah, tidak akan memujimu lagi dengan mulut, melainkan di dalam hati saja."

Hui Lian tersenyum lagi.

"Tidak perlu engkau bersumpah, anak nakal! Cukup berjanji saja, dan mulai saat ini aku menganggap engkau sebagai adikku sendiri!"

"Terima kasih, Enciku yang baik. Nah, engkau tidurlah. Luka-luka itu baru saja sembuh, engkau perlu beristirahat."

"Engkau juga baru saja sembuh dari lukamu. Biarlah engkau yang tidur dulu dan aku yang berjaga, nanti bergantian."

"Engkau dulu, Enci."

"Tidak! Engkau adikku bukan? Nah, seorang Enci harus mengalah dan biarlah Si Adik tidur dulu dan Si Enci menjaganya."

"Tapi aku bukan adik yang masih kecil. Dan biarpun engkau lebih tua, engkau adalah wanita. Tidurlah, Enci dan jangan sungkan. Nanti boleh kita berganti tugas."

Akhirnya Hui Lian yang memang merasa lelah sekali itu mengalah, dan ia pun tidur di dekat api unggun, sedangkan Hay Hay duduk bersila dan berjaga.

Sebentar kemudian Hui Lian telah tidur pulas.

Napasnya halus dan panjang tanda bahwa tidurnya nyenyak sekali.

Hay Hay mengambil sehelai selimut dari buntalan pakaiannya dan menyelimuti tubuh wanita itu, kemudian dia duduk termenung sambil memandang wajah yang manis itu.

Dia menarik napas panjang.

Sudah dua kali dia mengalami hal yang sama.

Pertama kali dengan Ji Sun Bi.

Akan tetapi ketika dia bermesraan dengan Ji Sun Bi, dia tergoda oleh rayuan wanita iblis itu dan mudah dia menyingkir ketika Ji Sun Bi memperlihatkan sikap hendak bertindak lebih daripada sekedar cumbuan belaka.

Akan tetapi ketika tadi dia bercumbuan dengan Hui Lian, keadaan mereka berdua sama saja, sama-sama tenggelam dan terseret oleh gairah nafsu berahi mereka.

Sungguh berbahaya, pikirnya, membayangkan betapa mereka tadi sudah berada di tepi jurang dan nyaris keduanya terjerumus ke dalam jurang.

Bagaimana seandainya tadi terjadi?

Dia tentu harus menjadi suami Hui Lian!

Kalau tidak, mereka berdua tentu akan selalu dibayangi perasaan kotor dan hina!

Celaka kalau sudah begitu, pikirnya, bergidik.

Sudah menjadi pendapat umum bahwa cinta antara pria dan wanita harus dibuktikan dengan sex.

Akan tetapi, tepatkah pendapat ini?

Memang harus diakui bahwa hubungan sex HARUS didasari cinta kasih, karena kalau tidak demikian, maka hubungan sex menjadi semacam pengejaran kenikmatan belaka, menjadi pemuasan dan pemanjaan nafsu berahi belaka.

Hubungan sex tanpa cinta kasih seperti itu terjadi di dalam pelacuran, dalam perkosaan, dan jelaslah bahwa hubungan semacam itu hanya akan menimbulkan duka sebagai imbalan daripada kesenangan yang diperoleh darinya.

Hubungan sex tanpa cinta kasih menjadi suatu hubungan yang kotor.

Sebaliknya, hubungan sex yang dilandasi cinta kasih merupakan sesuatu yang indah dan bersih, merupakan pencurahan kasih sayang antara dua orang manusia yang saling mencinta, dan hubungan seperti ini menjadi sarana penciptaan manusla baru yang sempurna.

Jelaslah bahwa sex bukanlah cinta!

Ada cinta kasih yang sama sekali tidak mengandung gairah sex, misalnya cinta kasih antara saudara, antara anak dan orang tua, antara sahabat.

Lewat tengah malam, Hui Lian terbangun dari tidurnya dan ia berganti jaga, menyuruh Hay Hay beristirahat.

Karena dia pun merasa amat lelah, sebentar saja Hay Hay tertidur pulas dan kini giliran Hui Lian duduk termenung dekat api unggun sambil mengamati wajah Hay Hay.

Teringat akan peristiwa yang baru saja terjadi, wajah Hui Lian menjadi merah dengan sendirinya.

Ia memang haus akan belaian seorang pria, rindu kepada seorang pria yang mencintanya.

Biarpun Hay Hay seorang pemuda yang tampan gagah dan menarik hati, namun kini ia merasa yakin bahwa bukan Hay Hay orang yang dirindukannya itu!

Pemuda ini jauh lebih muda darinya, dan ia tidak dapat membayangkan kebahagiaan hidup dengan seorang suami yang masih demikian muda, sepuluh tahun lebih muda darinya!

Tak dapat disangkal bahwa ia suka kepada Hay Hay, karena dia tampan, gagah dan lucu, suka mempunyai Hay Hay sebagai sahabat, sebagai adik, bukan sebagai suami!

Diam-diam ia bersyukur bahwa Hay Hay yang tadi juga sudah terseret arus memabokkan, dapat sadar dan mencegah terjadinya hubungan badan yang tentu akibatnya hanya akan membuat mereka berdua merasa malu dan menyesal.

Ia mengenang kembali pernikahannya dengan dua orang pria itu.

Pernikahan yang pertama terjadi karena ia ingin berbakti kepada suhengnya.

Dan pernikahan tanpa cinta itu gagal.

Kemudian muncul Su Ta Touw, dan ia pun jatuh oleh rayuan pemburu yang tinggi kurus dan pincang itu.

Su Ta Touw tidak tampan, namun pandai merayu dan ia pun jatuh dan menjadi isterinya.

Tanpa cinta pula, hanya sekedar nafsu yang dibangkitkan oleh rayuan pria itu.

Gagal lagi!

Ah, betapa ia merindukan seorang laki-laki yang benar-benar dicintanya!

Dan yang benar-benar mencintanya!

Akhirnya perasaan kesepian dan duka membawa Hui Lian tidur pulas dan di dalam tidurnya, beberapa kali ia mengerang dan mengeluh sehingga Hay Hay dari tempat duduknya dekat api unggun memandang dengan perasaan iba.

Dia kagum sekali kepada wanita ini, dan betapa mudahnya jatuh cinta kepada seorang wanita seperti Hui Lian.

Heran sekali dia memikirkan bagaimana seorang wanita seperti Hui Lian sampai dua kali gagal dalam membina rumah tangga.

Tentu dua orang laki-laki, yang pernah menjadi suaminya itu merupakan orang-orang yang tidak benar dan agaknya memang tidak secara murni mencinta wanita ini.

Betapa pun cantiknya seorang wanita, kalau tanpa cinta di dalam hati, maka setelah menjadi milik seorang pria, maka wanita itu lambat laun akan kehilangan daya tarik kecantikannya.

Nafsu mendatangkan kebosanan, dan nafsu selalu haus akan yang baru.

"Kasihan engkau, Enci Lian. Semoga engkau akan segera bertemu dengan seorang pria yang benar-benar mencintamu dan dapat hidup berbahagia bersamanya."

Diam-diam dia mengeluh dan berdoa.

Hari telah terang ketika Hui Lian terbangun.

Tubuh mereka sudah segar kembali.

Ia menggeliat dan membuka mata, melihat Hay Hay masih duduk di dalam guha, akan tetapi api unggun telah padam dan pemuda itu duduk di mulut guha, menghadap keluar.

Ketika ia bergerak, agaknya Hay Hay mendengar dan menengok.

Kiranya pemuda itu sudah nampak segar dengan rambut masih basah.

"Wah, engkau sudah mandi rupanya! Di mana ada air di tempat ini, Hay-te?"

"Di luar guha, tidak jauh dari sini, di sebelah kiri guha."

"Aku hendak mandi!"

Kata Hui Lian sambil melompat bangun dan keluar dari dalam guha.

Hay Hay menunjukkan sumber air itu, kemudian dia pun kembali ke guha, menanti Hui Lian yang membersihkan badan dengan air sumber yang dingin sejuk itu.

Mendengar suara air ketika wanita itu mandi, tidak jauh dari situ, hanya terhalang oleh batu-batu besar, berdebar rasa jantung Hay Hay.

Dia membayangkan wanita yang cantik dan harum keringatnya itu mandi bertelanjang bulat di bawah air jernih yang menyiram seluruh tubuhnya yang indah!

Gairahnya timbul dan hanya dengan pengerahan tenaga batinnya saja dia dapat menahan diri untuk tidak mendekat dan mengintai!

Nafsu berahi, seperti segala nafsu yang selalu silih berganti menguasai diri manusia seperti kita ini, selalu ditimbulkan oleh ingatan.

Pikiran mengingat-ingat, membayangkan segala hal yang pernah dialami atau didengar dari orang lain, segala hal yang menyenangkan dan nikmat.

Ingatan inilah bayangan-bayangan yang diciptakan oleh pikiran inilah sesungguhnya yang menimbulkan gairah nafsu!

Untuk membebaskan diri dari perbudakan nafsu, kita diajar untuk mengekang dan mengendalikan nafsu!

Bagaimana mungkin akan berhasil kalau yang mengendalikan itu pun pikiran kita sendiri?

Nafsu merupakan hasil pemikiran dan keinginan mengendalikan juga timbul dari pikiran setelah melihat akibat nafsu yang merugikan, dan pada hakekatnya, pengendalian itu pun didorong oleh keinginan pula, keinginan untuk bebas dari nafsu.

Kalau dikendalikan maka akan terjadi lingkaran setan.

Nafsu timbul dikendalikan, tidur sebentar, bangkit lagi dikendalikan lagi, demikian tiada habisnya sampai kita mati!

Setelah tahu bahwa sumber nafsu adalah pikiran, mengapa kita tidak melenyapkan sumbernya saja?

Bukan berarti mematikan pikiran, karena pikiran memang penting bagi hidup, melainkan mempergunakan pikiran untuk hal-hal yang bermanfaat dan membiarkan pikiran bersih dari ingatan-ingatan tentang hal-hal yang akan menimbulkan gairah nafsu, menimbulkan dendam, duka, iri, dan sebagainya.

Bukan timbul dari keinginan membersihkan pikiran, melainkan membiarkan pikiran bersih sendiri dengan pengamatan penuh kewaspadaan terhadap pikiran sendiri, terhadap nafsu yang timbul dalam pikiran.

Pengamatan saja tanpa usaha pengekangan, tanpa usaha merobah, tanpa menilai.

Pengamatan ini yang akan menimbulkan suatu kesadaran, yang akan mendatangkan perobahan.

Pengamatan dengan waspada akan membebaskan pikiran menyeleweng, perhatian setiap saat terhadap segala yang terjadi di dalam dan luar diri akan mendatangkan kesegaran baru.

Hui Lian keluar dari balik batu-batu besar.

Segar, bersih, masih basah rambutnya yang terurai lepas.

Sinar matahari pagi menimpanya, menerangi wajahnya, dan Hay Hay terpesona.

Wanita itu demikian cantiknya, kedua pipinya yang agaknya tadi digosok keras ketika mandi, pada tonjolan pipi di bawah mata, menjadi kemerahan seperti diberi pemerah kulit saja, namun segar tidak seperti kalau dirias, bibirnya segar merah membasah, dan kulit muka dan lehernya demikian putih bersih, rambutnya demikian hitam dan seolah-olah ada sinar cerah mengelilingi seluruh kepada wanita itu.

"Haiiii... engkau kenapa, Hay-te? Kenapa engkau memandangku seperti itu? Dengan mata terbelalak dan mulut celangap, melongo seperti orang keheranan. Ada apa sih?"

Hay Hay menarik napas panjang.

"Aduhhh, Enci Lian. Kalau aku belum mengenalmu, tentu engkau kukira Dewi Pagi sendiri yang baru turun dari langit!"

"Eh? Apa maksudmu? Aneh-aneh saja engkau ini!"

"Engkau demikian cantik, demikian anggun, demikian agung! Wahai.... sungguh mati, Enci Lian, engkau wanita paling cantik yang pernah kulihat di dunia ini...!"

Sepasang mata itu terbelalak, kedua pipinya menjadi semakin merah, akan tetapi Hui Lian tidak marah, bahkan tertawa terkekeh geli sampai ia menutupi mulut dengan tangannya.

"Hayaaaa, wanita yang menjadi isterimu tidak perlu lagi kau beri makan Hay-te."

"Eh, kenapa begitu?"

"Cukup dengan pujian dan sanjunganmu saja. Pagi sarapan pujian, siang makan sanjungan, malam makan rayuan, dan kenyanglah ia! Engkau sungguh seorang laki-laki mata keranjang dan perayu wanita nomor satu di dunia ini!"

Hay Hay tersenyum.

"Enci, salahkah itu kalau aku memuji sesuatu yang memang amat indah? Aku suka akan keindahan dan aku melihat keindahan di mana-mana, terutama sekali dalam diri dan wajah seorang wanita. Demikian sempurna, lekuk-lengkungnya, garis-garisnya, demikian... ah, sukar aku menceritakan dengan kata-kata..."

Sejenak Hui Lian menatap wajah pemuda itu, sambil melangkah dekat, kemudian ia pun duduk di depan Hay hay, di atas batu di luar guha dan sikapnya menjadi serius.

"Hay-te, kalau boleh aku menasihatimu, sebaiknya kalau engkau lekas mencari jodoh dan kawin saja."

Hay Hay yang melihat sikap serius juga mendengarkan dengan serius dan dia terkejut, memandang dengan heran.

"Mengapa begitu, Enci Lian?"

"Karena kalau tidak, akan berbahaya jadinya."

"Eh? kenapa?"

"Engkau seorang pemuda yang berwajah tampan, ganteng, akan tetapi yang paling berbahaya adalah watakmu yang demikian pandai merayu wanita. Setiap orang wanita akan jatuh hati kalau bertemu dan berkenalan denganmu, dan hal ini amat tidak baik karena akhirnya akan timbul kesalahpahaman dan engkau disangka orang penggoda wanita. Kalau engkau sudah kawin, berarti akan ada seorang wanita di sisimu, dan mungkin hal itu akan dapat mengobatimu dari penyakitmu itu."

"Penyakit? Aku tidak sakit!"

"Maksudku, penyakit mata keranjang itulah."

Hay Hay yang tadinya memandang serius dan agak khawatir, kini tertawa geli dan gembira.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh aneh, Enci Lian. Bagaimana orang kawin dapat didorong-dorong? Kawin haruslah berdasar cinta, dan sampai saat ini, belum ada wanita yang kucinta. Mengenai penyakit itu, ah, aku tidak menganggapnya sebagai penyakit. Salahkah kalau aku suka kepada wanita, kagum dengan tulus hati, bukan karena pengaruh nafsu? Siapa dapat menyalahkan orang yang suka akan kembang yang indah? Bagiku, wanita bagaikan bunga. Seperti engkau ini, Enci. Engkau seperti setangkai bunga teratai yang amat indah, lihat sepasang matamu, demikian jernih dan jeli seperti mata seekor burung merpati, wajahmu berbentuk demikian manisnya memiliki daya tarik yang amat kuat, terutama sekali bibirmu yang segar merah membasah, kedua pipimu kemerahan seperti kelopak teratai bermandi embun, rambutmu..."

"Stop! Stop!"

Hui Lian berseru sambil menutupi kedua telinganya dengan kedua tangan, akan tetapi sambil tertawa.

"Lihat itu! Setiap kali membuka mulut, terus saja memuji-muji! Engkau benar-benar pria mata keranjang nomor satu di dunia, belum pernah aku bertemu dengan laki-laki seperti engkau, Hay-te. Biasanya kalau seorang memuji wanita, maka tentu ada udang di balik batu, ada maunya. Pria merayu untuk menjatuhkan hati wanita, akan tetapi engkau tidak demikian. Engkau memuji-muji karena memang engkau mengagumi wanita, akan tetapi pujianmu mengalahkan segala perayu-perayu wanita yang berpamrih menjatuhkan dan menguasai."

"Kenapa engkau menutupi telingamu tadi, Enci Lian? Apakah... apakah kata-kataku tidak menyenangkan? Apakah engkau tidak senang kalau kecantikanmu kugambarkan dengan sejujurnya?"

Kembali Hui Lian tertawa.

"Tidak senang? Hi-hik, hati wanita manakah di dunia ini yang tidak senang mendengar pujian, apalagi kalau pujian itu diucapkan sedemikian indahnya, oleh seorang pemuda seganteng engkau? Aku hanya takut kalau-kalau akan jatuh pingsan dan menjadi lemas karena pujianmu yang melangit itu. Sudahlah, Hay-te, kini tiba saatnya kita berpisah."

"Berpisah? Kenapa Enci?"

Hay Hay terbelalak memandang seperti orang terkejut.

Demikian menyenangkan keadaan wanita itu sehingga ketika mendengar bahwa mereka harus saling berpisah, dia terkejut.

Melihat keadaan pemuda itu, Hui Lian tersenyum.

"Anak bodoh, kita bukan apa-apa, hanya kebetulan bertemu di jalan dan menjadi sahabat. Apa Kau kira kita harus terus begini dan tidak pernah saling berpisah? Kita masing-masjng mempunyai urusan sendiri dan aku harus melanjutkan perjalananku. Sudah terlalu lama perjalananku tertunda oleh ulah gerombolan penjahat itu."

"Akan tetapi, Enci Lian."

Hay Hay yang masih ingin terus bersama wanita itu membantah.

"urusan kita dengan gerombolan itu belum selesai! Kita telah mereka lukai, dan mereka itu jahat sekali. Apakah engkau tidak ingin menyerbu lagi ke sana dan membasmi orang-orang jahat itu? Kalau mereka itu dibiarkan merajalela, tentu mereka hanya akan mendatangkan kekacauan dan mengganggu rakyat yang tidak berdosa."

"Engkau benar, Hay-te, dan memang sudah sepatutnya kalau kita membasmi gerombolan itu. Akan tetapi ketahuilah bahwa pada waktu ini, aku mempunyai urusan pribadi yarig amat penting, yang harus kuselesaikan lebih dulu. Oleh karena itu, selamat berpisah, Hay-te, dan terima kasih atas segalanya. Mudah-mudahan kelak kita akan dapat saling bertemu pula."

Setelah berkata demikian, Hui Lian meloncat ke dalam guha, mengambil buntalan pakaiannya, menggendongnya di punggung, kemudian ia pun keluar pula dan setelah memandang kepada Hay Hay yang sudah bangkit berdiri sejenak, ia pun meloncat pergi.

"Enci Lian...!"

Hay Hay memanggil sambil mengejar.

Hui Lian berhenti dan membalikkan tubuh.

Mereka berdiri saling pandang dan Hay Hay melangkah menghampiri.

"Ada apakah, Hay-te?"

Hui lian bertanya manis, diam-diam ia pun merasakan kekecewaan bahwa ia harus berpisah dari pemuda yang amat menyenangkan hatinya ini.

"Enci, setelah apa yang kita alami bersama, walaupun dalam waktu singkat, sejak dari sayembara suku bangsa Miao itu sampai kita dikeroyok oleh gerombolan penjahat dan hampir kita tewas, setelah semua itu, apakah kini kita harus saling berpisah begini mendadak? Enci, hatiku terasa sedih dan seperti terbetot ketika engkau pergi meninggalkan aku."

"Hay-te, ada pertemuan dan ada perpisahan, hal seperti itu sudah lumrah bukan? Kita dapat bersyukur bahwa kita berpisah sebagai dua orang sahabat yang baik dan aku yakin bahwa kelak kita pasti akan dapat saling berjumpa pula."

Wanita itu menarik napas panjang dan menyentuh lengan Hay Hay.

"Nah, selamat tinggal Hay-te, jangan murung seperti anak kecil. Ingat, engkau telah dewasa dan engkau pemuda ganteng mata keranjang perayu wanita nomor satu di dunia!"

Hui Lian berkelakar untuk menggembirakan sahabat barunya itu, sambil membalik lagi untuk pergi.

Hay Hay memegang tangannya sehingga wanita itu kembali membalik dan memandang heran.

"Enci, sebelum kita berpisah, sebelum engkau meninggalkan aku, aku... ingin... aku ingin minta sesuatu darimu, bolehkah?"

Hui Lian memandang sambil tersenyum manis, giginya mengintai dari balik bibir yang merah.

"Minta apakah, adikku yang baik?"

"Aku... aku ingin... menciummu untuk kujadikan kenangan tentang dirimu, Enci. Bolehkah? Jangan... jangan marah lagi..."

Hay Hay kelihatan khawatir kalau-kalau wanita itu menjadi marah.

Akan tetapi Hui Lian tidak marah.

Ia sudah mulai mengenal watak pemuda ugal-ugalan ini, Seorang pemuda romantis sekali, namun berhati baja dan kuat mempertahankan kebenaran, tidak mudah tersesat.

Ia tersenyum dan mengajukan pipinya.

"Tentu saja boleh. Nah, ciumlah!"

Katanya.

Melihat wanita itu menyerahkan atau menyodorkan pipinya yang kemerahan itu, Hay Hay girang sekali, maju merangkul dan mencium pipi yang hangat itu.

Diciumnya kedua pipi Hui Lian, kemudian bibirnya dan terdengar Hui Lian merintih kemudian wanita ini balas merangkul dan mencium Hay Hay penuh nafsu bernyala.

Mula-mula ia seperti berkelakar menyodorkan pipinya, akan tetapi ciuman-ciuman Hay Hay itu ternyata secara wajar membangkitkan gairahnya dan kini ialah yang menyerang.

Hay Hay mencium leher Hui Lian dan menghisap keharuman keringat di leher itu.

"Sudah... cukup... cukup!"

Hui Lian terengah-engah, kedua matanya terpejam dan biarpun ia membisikkan kata-kata itu, tetap saja kedua lengannya merangkul.

Hay Hay dengan lembut melepaskan pelukannya dan melepaskan lingkaran kedua lengan Hui Lian yang bagaikan ular-ular membelit lehernya.

"Terima kasih, Enci Hui Lian. Selama hidup, aku tidak akan melupakan engkau, Enci. Engkau sahabatku yang paling baik dan semoga Thian memberkahimu, semoga engkau akan memperoleh seorang jodoh yang benar-benar mencintamu dan semoga engkau hidup berbahagia."

Sampai beberapa saat lamanya Hui Lian masih memejamkan mata dan terengah-engah, kemudian ia dapat menguasai dirinya dan membuka mata, memandang wajah Hay Hay.

"Aihhh, Hay-te, engkau sungguh seorang laki-laki berbahaya sekali. Selamat tinggal, Hay-te, aku pun selamanya takkan pernah melupakanmu. Selamat tinggal!"

Wanita itu meloncat dan berkelebat lenyap, diikuti pandang mata Hay Hay yang menjadi agak basah.

Entah bagaimana, dia merasa kasihan sekali kepada wanita itu, dan harus diakuinya bahwa berdekatan dengan wanita itu pun merupakan ancaman bahaya yang amat besar baginya.

Setiap kali menyentuh Hui Lian, dia diserang oleh gairah yang amat kuat, dan hanya dengan pengerahan seluruh tenaganya saja dia mampu mempertahankan diri.

Malam tadi dia nyaris tergelincir, bahkan ketika mereka berciuman tadi, nyaris dia tidak kuat bertahan!

Memang sebaiknya kalau mereka saling berpisah!

Dia pun mengambil buntalan pakaiannya dan meninggalkan guha itu.

Di puncak sebuah di antara bukit-bukit Pegunungan Cin-ling-pai berdiri megah bangunan-bangunan yang dikenal sebagai pusat perkumpulan Cin-ling-pai.

Seperti telah kita ketahui, terjadi perubahan besar dalam keluarga Cia, yaitu keluarga yang menjadi pimpinan perkumpulan Cin-ling-pai.

Di dunia persilatan, perkumpulan Cin-ling-pai amat terkenal sejak puluhan tahun yang lalu, maka tidak aneh kalau perkembangan dan perubahan dalam perkumpulan ini diikuti orang-orang kang-ouw dan merupakan berita yang menarik bagi mereka.

Walaupun tidak ada orang yang dapat mengetahui sebabnya, namun dunia kang-ouw mendengar bahwa mantu dari Ketua Cin-ling-pai, yaitu pendekar wanita Ceng Sui Cin puteri dari Pendekar Sadis, telah meninggalkan Cin-ling-pai, Meninggalkan keluarga suaminya dan pergi bersama puterinya, anak tunggalnya, yaitu Cia Kui Hong.

Sejak itu, tidak ada lagi yang mendengar berita tentang ibu dan anak ini, akan tetapi keadaan keluarga Ketua Cin-ling-pai selalu diperhatikan orang.

Tahulah dunia kang-ouw bahwa Cia Hui Song, putera tunggal Ketua Cin-ling-pai, kini menikah lagi dengan seorang gadis berusia delapan belas tahun yang bernama Siok Bi Nio, seorang gadis biasa, dan isteri baru ini setahun kemudian melahirkan seorang anak laki-laki bernama Cia Kui Bu.

Dan sejak isteri barunya melahirkan seorang putera, Ketua Cin-ling-pai yang bernama Cia Kong Liang menyerahkan kedudukan ketua perkumpulan itu kepada puteranya, pendekar Cia Hui Song.

Pendekar Cia Hui Song berusia empat puluh dua tahun ketika dia diserahi tugas sebagai Ketua Cin-ling-pai oleh ayahnya.

Biarpun di perguruan silat atau perkumpulan silat itu terdapat peraturan bahwa yang berhak menjadi ketua haruslah tokoh terlihai dari Cin-ling-pai, namun ketika Cia Kong Liang mengundurkan diri, dan mengumumkan bahwa Cia Hui Song menjadi ketua baru, tidak ada yang berani maju untuk menguji kepandaian Cia Hui Song.

Semua tokoh dan murid Cin-ling-pai tahu belaka siapa adanya Cia Hui Song.

Dalam ilmu silat, pendekar ini bahkan jauh melampaui kelihaian ayahnya, maka siapakah yang berani mengujinya?

Selain mewarisi semua ilmu silat Cin-ling-pai dengan baiknya, juga pendekar ini mewarisi banyak ilmu kesaktian dari mendiang Siang-kiang Lojin, seorang di antara tokoh atau datuk sakti yang terkenal sebagai Delapan Dewa!

Maka, pengangkatan Cia Hui Song sebagai Ketua Cin-ling-pai disambut gembira oleh para murid, karena tentu ketua baru ini akan mengajarkan pula ilmu-ilmu silatnya yang tinggi demi kemajuan perkumpulan dan kemajuan para murid pula.

Pada waktu isterinya yang amat dicintanya, Ceng Sui Cin, pergi meninggalkan Cin-ling-san bersama puteri tunggal mereka, pendekar Cia Hui Song tenggelam dalam penyesalan dan kedukaan yang hebat, yang membuatnya jatuh sakit sampai lebih dari satu bulan lamanya.

Namun, sebagai seorang anak tunggal yang berbakti, dia mentaati kehendak ayahnya dan dia pun tidak membantah ketika dinikahkan dengan Siok Bi Nio, seorang gadis muda yang usianya separuh usianya sendiri.

Duka dan penyesalan, seperti semua perasaah timbul dari pikiran dan apa yang timbul dari pikiran tidaklah bertahan lama.

Sang Waktu akan melahapnya, akan menenggelamkannya.

Demikianlah dengan kedukaan yang meliputi hati Cia Hui Song ketika dia ditinggal pergi oleh isterinya dan puterinya.

Selama berbulan-bulan dia memang selalu nampak melamun dalam duka, akan tetapi lambat laun, apalagi setelah isteri barunya melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat, luka di hatinya oleh kepergian Ceng Sui Cin dan Cia Kui Hong menipis, mengering dan sembuh.

Bahkan kini hanya kadang-kadang saja dia teringat kepada isteri dan anaknya itu, yang dia tahu tentu kembali ke Pulau Teratai Merah, dan kalau teringat dia nampak melamun.

Akan tetapi, lebih sering dia kelihatan tenang.

Satu-satunya perubahannya diketahui oleh orang yang mengenal sejak muda, yaitu bahwa kini dia kehilangan wataknya yang lincah gembira dan amat ramah, juga agak ugal-ugalan.

Betapapun juga, kedukaannya lenyap dan yang tinggal hanyalah garis-garis di antara kedua alisnya, di tepi matanya dan di kanan kiri ujung bibirnya.

Duka selalu ditimbulkan oleh ikatan batin.

Ikatan batin dengan keluarga, dengan orang yang dicinta, dengan harta benda, dengan kedudukan, dengan ketenaran, dengan kepandaian, dan dengan apa saja.

Ikatan menimbulkan rasa takut pula, takut akan kehilangan dan setelah tiba saatnya ketika kehilangan sesuatu yang mengikat batin kita, timbullah duka.

Tentu saja kita yang hidup di dalam masyarakat, tidak mungkin bebas sama sekali daripada segala macam kewajiban dengan keluarga, dengan masyarakat dan sarana-sarana hidup bermasyarakat.

Namun, semua itu hanyalah urusan lahiriah, oleh karena itu ikatannya pun seharusnya lahiriah, bukan batiniah.

Pada lahirnya, memang kita berkeluarga dan kita mempunyai keluarga, bekerja untuk kepentingan keluarga, membinanya, mendidik anak-anak dan sebagainya lagi.

Akan tetapi, sekali batin kita terikat, maka timbullah rasa takut, takut akan masa depan keluarga, takut akan kehilangan dan takut akan masa depan, takut tidak akan memenuhi kebutuhan keluarga.

Dan kalau semua yang kita takutkan itu terjadi, timbullah duka karena kehilangan.

Ini bukan berarti bahwa kita harus acuh terhadap keluarga atau segala hal yang kita punyai, sama sekali tidak!

Cinta kasih bukan berarti harus ada ikatan batin!

Lahiriah kita boleh mempunyai apa saja, namun batin seharusnya bebas, batin tidak memiliki apa-apa!

Mempunyai namun tidak memiliki!

Lahiriah mempunyai, batiniah tidak memiliki atau bebas.

Cinta kasih yang menimbulkan semua perbuatan seperti memelihara, membimbing dan sebagainya, bukan ikatan!

Kalau batin terikat oleh sesuatu, maka yang sesuatu itu melekat dan berakar di dalam hati, tentu saja sekali waktu tiba saatnya harus berpisah, sesuatu itu seperti dicaput dan akarnya akan membuat hati berdarah dan terluka!

Sekali lagi, bukan berarti acuh dan masa bodoh, bukan berarti tidak mencinta kalau tidak ada ikatan.

Sebaliknya malah, cinta kasih tidak membutuhkan ikatan.

Yang membutuhkan ikatan hanyalah si Aku, hanyalah nafsu, dan si-aku akan merasa takut dan kosong kalau tidak memiliki sesuatu.

Memiliki sesuatu ini menambah "isi"

Dan arti dari si-aku, membesarkan si-aku.

Kini Cia Hui Song, Ketua Cin-ling-pai, hidup bersama isteri barunya dan puteranya yang baru berusia dua tahun, nampaknya hidup dengan tenteram dan Cin-ling-pai menjadi semakin maju setelah dia menjadi ketuanya.

Ayahnya Cia Kong Liang, yang usianya sudah mendekati tujuh puluh tahun, kini tidak mau mencampuri urusan dunia lagi melainkan setiap hari tekun bersamadhi di dalam sebuah kamar yang sunyi di belakang.

Ketika masih dipegang ayahnya, Cin-ling-pai dikenal orang sebagai perkumpulan yang keras dan tanpa mengenal ampun terhadap kejahatan.

Dan para murid Cin-ling-pai sendiri merasakan kekerasan yang menjadi sikap ketua mereka.

Cia Kong Liang keras hati dan memegang teguh peraturan tanpa mengenal kebijaksanaan dan pertimbangan lagi, juga agak tinggi hati, terlalu mengangkat tinggi nama sendiri dan nama Cin-ling-pai.

Akan tetapi kini, di bawah pimpinan Cia Hui Song, terjadi perubahan besar pada perkumpulan itu.

Cia Hui Song bersikap bijaksana, dapat lembut dan dapat pula tegas, mudah memaafkan dan menghargai pendapat orang lain.

Dan seperti yang diharapkan oleh para murid Cin-ling-pai, Hui Song mulai mengajarkan ilmu-ilmu yang dianggapnya praktis untuk menambah ketangguhan para murid Cin-ling-pai.

Pada pagi hari itu, (Lanjut ke

Jilid 27) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 27 Cia Hui Song sedang duduk di beranda rumahnya ketika seorang murid datang menghadap dan memberitabukan bahwa di luar pintu gerbang yang mengelilingi perkampungan Cin-ling-pai muncul seorang wanita yang menyatakan ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai.

Untuk beberapa detik lamanya jantung dalam dada Hui Song berdebar tegang.

Seorang wanita?

Ceng Sui Cin, isterinya yang pertamakah yang datang?

Ataukah Cia Kui Hong, puterinya?

Akan tetapi tidak mungkin.

Kalau seorang di antara mereka yang datang, tentu murid ini mengenal mereka.

Dia lalu menyerahkan Cia Kui Bu yang tadinya dipangkunya, kepada ibu anak itu.

"Siapa namanya dan ada keperluan apakah ia hendak bertemu dengan aku?"

Tanyanya.

"Ia tidak mau memperkenalkan namanya dan keperluannya, hanya berkeras mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai."

Murid itu menerangkan.

Cia Hui Song mengerutkan alisnya dan hatinya tertarik sekali, akan tetapi, dia pun merasakan sesuatu yang tidak enak.

Mudah diduga bahwa tentu ada urusan pribadi antara wanita itu dan dia, dan sukarlah menduga siapa orangnya, karena banyak sekali pengalaman sudah dilalui dalam hidupnya.

Sebagai seorang pendekar yang selalu menentang kejahatan, dia pun tahu bahwa banyak sekali terdapat orang dari golongan hitam yang menaruh dendam kepadanya, oleh karena itu, dia harus selalu siap siaga menghadapi segala bentuk ancaman.

Akan tetapi, pengunjungnya adalah seorang wanita, dan sebagai seorang yang sopan dia harus menyambutnya dengan hormat.

"Baiklah, persilakan ia masuk dan menanti di ruang tamu."

"Aku sudah berada di sini, harap Pangcu (Ketua) suka keluar!"

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari luar beranda.

Hui Song terkejut ketika mengangkat muka dan melihat seorang wanita cantik sudah berdiri di pekarangan.

Empat orang murid Cin-ling-pai datang berlari-lari ke pekarangan itu.

"Heiii! Engkau tidak boleh masuk begitu saja!"

Teriak mereka dengan sikap marah.

Cia Hui Song memberi tanda kepada isterinya agar masuk.

Siok Bi Nio, wanita muda yang menjadi isterinya itu, sambil menggendong anaknya, berjalan masuk.

Hui Song lalu melangkah lebar keluar beranda, menghadapi wanita itu.

"Apa yang terjadi?"

Tanyanya kepada empat orang murid yang nampak hormat ketika melihat ketua mereka.

"Pangcu, wanita ini kami suruh menunggu karena belum ada keputusan Pangcu, akan tetapi tiba-tiba ia melompati pintu gerbang dan berlari masuk. Kami mengejarnya dan.."

"Sudahlah, kalian kembali ke pintu gerbang dan berjaga baik-baik."

Kata Hui Song kepada para muridnya dan ketika mereka semua sudah pergi, dia menghadapi wanita itu, mengamati penuh perhatian.

Seorang wanita yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun, berwajah cantik, dengan sepasang pipi kemerahan dan mulut indah yang membayangkan kemarahan, sepasang mata yang berkilat mengamatinya pula.

"Aku ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai!"

Wanita itu berkata, suaranya tegas dan galak. Hui Song tersenyum sabar dan menjiura.

"Akulah Ketua Cin-ling-pai. Silakan masuk dan kita bicara di dalam."

Wanita itu terbelalak.

Ia adalah Kok Hui Lian dan kini ia pun teringat.

Seperti kilat menyambar ingatannya membayangkan peristiwa yang terjadi kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.

Ia baru berusia sepuluh tahun ketika gedung ayahnya, yaitu Kok Taijin yang menjadi gubernur kota San-hai-koan diserbu pemberontak.

Orang tuanya terbunuh, gedungnya dibakar dan ia sendiri tentu telah tewas kalau tidak ditolong oleh seorang pendekar yang gagah perkasa.

Ia digendong keluar dari keributan itu oleh penolongnya, kemudian penolongnya dikeroyok oleh musuh sehingga terpaksa ia dilepaskan.

Kemudian ia ditangkap penjahat dan di saat itulah muncul suhengnya, Ciang Su Kiat yang kemudian menjadi gurunya, juga suhengnya, juga pengganti orang tuanya.

Dan pendekar yang gagah perkasa itu bukan lain adalah pria yang kini berdiri di depannya dan mengaku sebagai Ketua Cin-ling-pai!

"Tidak, bukan engkau...

aku ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai yang tua, yang bernama Cia Kong Liang."

"Ah, kiranya engkau ingin bertemu dengan Ayahku. Sayang, sudah sejak dua tahun lebih Ayah tidak lagi mencampuri urusan dunia, dan selalu bertapa. Kalau ada urusan, harap sampaikan saja kepadaku, karena akulah yang berkewajiban untuk menanganinya."

"Tidak, aku tidak ada urusan dengan engkau, aku hanya mau bertemu dan bicara dengan Cia Kong Liang!"

Hui Song menggeleng kepala, masih tersenyum ramah walaupun sinar matanya berkilat.

"Tidak mungkin, Nyonya. Dia sedang bertapa dan tidak boleh diganggu siapa pun. Kalau ada urusan dengan Ayahku, biarlah aku yang akan membereskan semua perhitungan. Silakan."

"Tidak... tidak..!"

Hui Lian tentu saja tidak mau berurusan dengan orang yang pernah menyelamatkannya ini dan ia pun membalikkan tubuh dan dengan beberapa loncatan saja tubuhnya melayang ke atas pagar tembok dan lenyap.

Diam-diam Hui Song terkejut bukan main melihat kecepatan gerakan wanita itu.

Jelaslah bahwa wanita muda itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali, terutama memiliki ilmu ginkang (meringankan diri) yang hebat.

Dia mengingat-ingat, akan tetapi tidak pernah mengenal wanita itu.

Dia merasa khawatir, dan memerintahkan para murid untuk melakukan penjagaan yang lebih ketat.

Sementara itu, Kok Hui Lian meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai dengan hati tegang.

Ia harus menemui Cia Kong Liang, ketua lama Cin-ling-pai untuk menegurnya dan kalau mungkin membalaskan penderitaan suhengnya yang telah dibuntungi lengannya oleh ketua yang kejam itu!

Akan tetapi, sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa pendekar yang dulu menyelamatkannya dari maut adalah putera ketua itu, bahkan kini telah menggantikan ayahnya menjadi Ketua Cin-ling-pai.

Suhengnya, Ciang Su Kiat, tidak pernah menceritakan tentang putera ketua itu.

Adanya kenyataan bahwa pendekar penolongnya itu berada di situ sebagai putera musuhnya, sebagai Ketua Cin-ling-pai, mendatangkan keraguan dan kebimbangan dalam hatinya.

Bagaimana mungkin ia memusuhi pendekar itu?

Ia sudah berhutang budi, bahkan berhutang nyawa!

Akan tetapi, penderitaan suhengnya juga harus dibalas, Walaupun hanya berupa teguran keras terhadap ayah pendekar itu yang telah bertindak kejam, membuat lengan suhengnya buntung sebagai hukuman.

Malam nanti ia akan berusaha menyelundup, mencari tempat kakek itu bertapa, akan ditemuinya dan akan ditegurnya.

Setelah menegur keras, tanpa menimbulkan bentrokan dengan pendekar penolongnya itu, baru akan puas hatinya.

Baru beberapa jam Kok Hui Lian meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai ketika para murid yang berjaga di pintu gerbang, menyambut datangnya seorang wanita lain dengan pandang mata penuh kecurigaan.

Baru saja pagi tadi datang seorang wanita cantik yang masuk dengan memperlihatkan kepandaiannya, dan setelah wanita itu pergi lagi, ketua mereka berpesan agar mereka berjaga lebih ketat dari biasanya.

Dan kini muncul lagi seorang wanita lain.

Wanita ini jauh lebih muda dibandingkan wanita pertama, seorang gadis yang berusia kurang, lebih tujuh belas tahun, berpakaian sederhana sekali, namun wajahnya yang tidak memakai perhiasan, juga tidak memakai bedak itu nampak halus dan mengandung daya tarik yang amat kuat.

Yang paling menarik adalah mata dan mulutnya yang membayangkan watak yang lembut, kesabaran dan ketenangan yang jarang terdapat pada diri seorang gadis yang demikian muda.

Ia tidak dapat dinamakan gadis yang cantik, walaupun ia tidak buruk rupa pula, melainkan manis karena kelembutannya terutama sekali.

Biarpun demikian, bagaikan sekelompok kijang yang baru saja dikejutkan oleh serangan harimau, para murid Cin-ling-pai yang masih merasa tegang itu segera menghadang di depan pintu gerbang dengan sikap galak.

"Berhenti! Siapakah engkau, Nona dan ada keperluan apa mengunjungi Cin-ling-pai?"

Tanya seorang di antara para murid itu dengan suara galak.

Akan tetapi gadis yang bermata lembut itu tersenyum, nampaknya girang biarpun ia dibentak orang.

Ia memandang kepada enam orang murid Cin-ling-pai yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun itu dan berkata.

"Ah, benar ini perkampungan Cin-ling-pai! Syukurlah, akhirnya dapat juga aku sampai ke sini. Namaku Ling Ling dan aku ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai."

Biarpun cara gadis itu memperkenalkan diri masih seperti seorang gadis remaja, akan tetapi mendengar ia ingin bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai, para murid itu saling pandang dengan penuh arti.

Sama benar keinginan gadis ini dengan wanita pagi tadi!

"Hemm, siapakah nama Ketua Cin-ling-pai yang kau ingin temui itu?"

Seorang murid bertanya lagi, memancing.

"Namanya... Kakek Cia Kong Liang. Bukankah beliau yang menjadi Ketua Cin-ling-pai?"

Kembali para murid itu saling pandang.

Tepat, sungguh sama dengan wanita pagi tadi!

Sekali ini mereka tidak ingin menerima teguran, mereka harus menghalangi gadis ini untuk mengacau ke dalam.

Tidak perlu sampai ketua mereka yang turun tangan mengusir, seperti wanita pagi tadi.

"Hemm, engkau ini masih kanak-kanak berani hendak membikin ribut di sini. Pergilah sebelum kupukul kau!"

Kata murid yang memakai kumis tebal, bermaksud untuk menakut-nakuti agar gadis itu pergi tanpa banyak ribut lagi.

Gadis yang mengaku bernama Ling Ling itu mengerutkan alisnya.

"Aih, kenapa? Harap kalian tidak membikin susah padaku. Aku datang dari tempat yang jauh sekali, melakukan perjalanan sampai berbulan! Dan setelah tiba di tempat yang kutuju, kalian hendak menyuruh aku pergi begitu saja? Aku hanya ingin menghadap Kakek Cia Kong Liang, Ketua Cin-ling-pai, tidak membikin ribut."

"Sudahlah, tidak mudah untuk menghadap beliau. Setidaknya engkau harus melalui barisan tiga lapis dari Cin-ling-pai!"

Kata seorang murid kepala yang baru muncul dari dalam dan kini banyak murid Cin-ling-pai keluar dan ikut menghadang.

Cin-ling-pai terkenal sebagai perkumpulan silat yang besar dan kuat, tentu saja terdapat peraturan-peraturan yang ketat dan tidak sembarang orang boleh masuk tanpa ijin.

Karena itu, di situ memang terdapat tiga lapis barisan yang berjaga dan selama ini belum pernah ada orang dari luar yang mampu menembusnya!

Jadi, ucapan mereka itu bukan sekadar menakut-nakuti saja.

Kalau pagi tadi, mereka sama sekali tidak mengira bahwa seorang wanita yang cantik itu akan mempergunakan ilmu kepandaiannya, meloncati mereka dan meloncati tembok begitu saja!

Kalau mereka mengetahui lebih dulu, tentu mereka akan menahannya dengan pasukan tiga lapis itu.

Kini mereka sudah siap siaga, setelah mendapat peringatan dari ketua mereka untuk melakukan penjagaan ketat.

Wajah yang lembut itu masih tersenyum, akan tetapi sepasang matanya mengeluarkan kilauan penuh semangat kegembiraan.

Menghadapi tantangan itu, gadis ini merasa gembira untuk mencobanya!

Ia bukan seorang gadis sembarangan walaupun usianya baru tujuh belas tahun.

Gadis ini adalah puteri dan anak tunggal dari pendekar Cia Sun yang amat lihai karena Cia Sun adalah putera dari Pendekar Lembah Naga yang bernama Cia Han Tiong, seorang pendekar yang menjadi ketua perkumpulan Pek-liong-pang.

Murid-murid Pek-liong-pang banyak yang kini menjadi pendekar-pendekar yang tersebar di mana-mana dan nama Pek-liong-pang amat terkenal sebagai pusat orang-orang gagah.

Selain menerima ilmu-ilmu dari Pendekar Lembah Naga, juga Cia Sun menjadi murid dari Go-bi Sian-jin, seorang di antara Delapan Dewa yang juga disebut See-thian Lama.

Adapun isteri dari Cia Sun juga seorang wanita sakti yang bernama Tan Siang Wi di waktu mudanya ia terkenal dengan julukan Toat-beng Sian-li (Dewi Pencabut Nyawa)!

Tentu saja sebagai puteri dan anak tunggal dari ayah ibu pendekar, gadis yang mengaku bernama Ling Ling itu telah digembleng sejak kecil dan kini telah mewarisi ilmu-ilmu yang paling hebat dari ayah ibunya.

Dan sebagai seorang yang berangkat dewasa dalam gemblengan ilmu silat, menghadapi tantangan seperti sekarang, ia merasa gembira sekali.

Ingin ia mencoba sampai di mana kehebatan Cin-ling-pai yang demikian disohorkan, dan ia pun ingin menguji kemampuan diri sendiri.

"Boleh kalian pasang barisan tiga lapis, aku ingin memasukinya!"

Katanya gembira, sedikit pun tidak memperlihatkan kemarahan karena di dalam hatinya pun tidak terdapat permusuhan terhadap Cin-ling-pai, melainkan kegembiraan untuk menguji kepandaian.

Ayahnya sendiri memiliki hubungan yang amat dekat dengan Cin-ling-pai, bagaimana mungkin ia akan memusuhinya?

Menurut ayahnya Cin-ling-pai masih merupakan perguruan yang menjadi sumber ilmu yang dimiliki kakeknya, bahkan ayah dan ibunya ketika melangsungkan pernikahan, dilakukan di Cin-ling-san ini, Bersamaan waktunya dengan pernikahan antara putera Ketua Cin-ling-pai sendiri, yaitu paman Cia Hui Song dan Bibi Ceng Sui Cin yang belum pernah dijumpainya.

Mendengar ucapan itu dan melihat sikap Ling Ling seperti mentertawakan dan memandang rendah, para murid Cin-ling-pai menjadi penasaran.

Seorang murid kepala cepat mengumpulkan teman-temannya dan pasukan tiga lapis itu pun disusunlah.

Pasukan pertama terdiri dari lima orang dan mereka sudah membentuk barisan menghadapi gadis itu di luar pintu gerbang.

Ling Ling memandang penuh perhatian.

Lima orang itu adalah murid yang lebih muda, berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun dan mereka berdiri di depannya, membentuk setengah lingkaran sehingga ia dihadapi lawan dar depan dan kanan kiri.

Akan tetapi, walaupun lima orang itu membawa pedang di punggung masing-masing, Mereka tidak mencabut pedang dan agaknya hendak menghadapinya dengan tangan kosong.

Mereka bersikap gagah dan nampak kuat dan terlatih, bermata tajam dan tak seorang pun di antara mereka yang memperlihatkan sikap tidak sopan atau mata jalang seperti yang sering kali dilihatnya membayang pada mata laki-laki yang dijumpainya dalam perjalanannya.

Juga semenjak ia meninggalkan rumah kediaman orang tuanya di dusun Ciang-si-bun dekat kota raja sampai ke Pegunungan Cin-ling-san, sudah seringkali ia digoda laki-laki tidak sopan sehingga beberapa kali ia harus turun tangan menghajar mereka.

Lima orang itu berdiri setengah mengepungnya dengan pasangan kuda-kuda yang kokoh kuat, dengan kedua kaki terpentang lebar, kuda-kuda Menunggang Kuda, dengan kedua lengan bersilang di depan dada.

"Aku akan menerobos masuk!"

Tiba-tiba Ling Ling berseru dan ia pun melangkah maju, seolah-olah tidak peduli akan adanya lima orang yang menghadang di depannya.

Ia ingin tahu apa reaksi mereka dan bagaimana cara mereka menyerang atau menghalanginya.

Akan tetapi belun juga ia mendekati orang yang menghadang di depannya, dari kiri datang serangan.

Orang yang berdiri paling ujung sebelah kirinya telah mencengkeram ke arah pundaknya.

Ia mengenal gerakan itu sebagai jurus Awan Berarak Tertiup Angin dari Ilmu Silat San-in Kun-hwat, maka dengan mudahnya ia mengelak dengan menggeser kaki ke kanan, bermaksud menerobos di antara orang ke dua dan ke tiga di depan arah kanannya.

Akan tetapi, dari kanan datang pula serangan sebagai susulan serangan pertama tadi dan ia pun mengenal Pukulan ke arah lambungnya itu, karena itu adalah jurus Awan Gunung Turun ke Bumi.

Seperti serangan pertama, serangan ke dua ini pun dilakukan dengan cepat dan kuat.

Akan tetapi Ling Ling ingin menguji tenaganya, maka sekali ini ia tidak mengelak, membiarkan kepalan lawan menyambar ke arah lambungnya, kemudian secara tiba-tiba dan cepat sekali, lengan kanannya bergerak ke bawah menangkis.

"Dukkk!"

Tangkisan itu perlahan saja, akan tetapi Ling Ling telah mengerahkan sinkangnya dan lengan lawan itu pun terpental dan orangnya meringis kesakitan.

Kesempatan ini dipergunakan oleh Ling Ling untuk menerobos ke depan.

Kini, lima orang itu mulai mengeroyoknya dengan cepat, menggunakan Pukulan-Pukulan dan tendangan-tendangan untuk mencegah gadis itu menerobos barisan mereka.

Dan tiba-tiba Ling Ling bergerak cepat sekali, mengelak dan rnenangkis dan terus menerobos.

Lima orang itu terkejut melihat gadis itu hendak lolos ke dalam.

Mereka menubruk dari kanan kiri, dan tiba-tiba Ling Ling mengeluarkan bentakan halus, Kedua tangannya mendorong ke kanan kiri dan lima orang itu pun terpelanting seperti terdorong angin yang amat kuat.

Tentu saja mereka tidak mampu lagi mencegah gadis itu meloncat memasuki pintu gerbang!

Akan tetapi kini ia berhadapan dengan tujuh orang yang sudah siap menantinya di belakang pintu gerbang!

Dan tujuh orang itu kini bergerak mengepungnya, membuat lingkaran sambil terus melangkah maju, masing-masing dalam jarak dua meter darinya.

Seperti pada barisan pertama, tujuh orang ini membawa pedang di punggung, namun mereka tidak mencabut pedang hanya bergerak membuat langkah-langkah maju mengelilinginya dengan sikap penuh kewaspadaan.

Ling Ling dapat menduga bahwa tentu para anggauta barisan ke dua ini memiliki tingkat yang lebih tinggi daripada barisan pertama, dan jumlah mereka juga lebih banyak.

Ia seorang gadis yang cerdik dan biarpun ia tidak bergerak, matanya melirik ke kanan kiri mencari bagian yang lemah.

Namun, tujuh orang itu membuat langkah-langkah yang rapi dan teratur, dan kedudukan tangan mereka siap siaga dan saling melindungi.

Setelah membuat perhitungan, Ling Ling membalikkan tubuhnya menghadap ke luar pintu gerbang dan ia pun mengeluarkan suara bentakan, lalu menyerang dua orang yang berada di depannya.

Dua orang itu mengelak dan menangkis, dua orang lain di kanan kiri mereka siap membalas serangan.

Akan tetapi Ling Ling sudah memperhitungkan ini dan tiba-tiba sekali ia membalik lagi dan kini menyerang bagian yang tadi berada di belakangnya sambil membentak nyaring.

"Biarkan aku masuk!"

Kedua tangannya menampar dua orang untuk membuka jalan.

Dua orang itu terkejut, tak menyangka bahwa gadis itu akan membalik dan mengirim serangan sedemikian cepatnya.

Ketika mereka hendak menangkis, kedua tangan gadis itu berubah gerakannya, yang kiri menusukkan dua jari ke arah mata, yang kanan menyerang lawan ke dua dengan tusukan ke arah dada dengan tangan miring.

Dua serangan yang amat berbahaya bagi dua orang lawannya, sehingga mereka itu dengan kaget melangkah mundur menghindarkan diri dari serangan, sambil memutar lengan ke depan bagian tubuh yang diserang untuk melindungi.

Kesempatan ini yang sudah diperhitungkan Ling Ling dan ia pun cepat menerobos di antara dua orang yang melangkah mundur itu.

Dan ia pun sudah berada di luar lingkaran!

Akan tetapi, betapa herannya ketika ia memandang, ternyata ia telah dikepung pula dan lingkaran tujuh orang itu pun kembali sudah mengelilinginya.

Kiranya, lingkaran itu dapat bergerak dengan teratur sekali sehingga begitu ia menerobos keluar, lingkaran itu telah bergerak cepat membuat lingkaran lain sehingga ia tetap saja berada dalam kepungan tujuh orang.

Kini, tujuh orang itu melakukan serangan dan bukan main hebatnya!

Mereka bergerak menyerang susul-menyusul, bukan secara kacau melainkan dengan teratur sekali dan serangan susulan orang berikutnya merupakan lanjutan dari serangan orang pertama!

Orang pertama menghantam dari atas, turun ke arah kepalanya, ketika Ling Ling menangkis dari samping, orang ke dua menyerang ke lambung, ke bawah lengan kanannya yang terbuka untuk menangkis tadi dan pada saat ia mengelak, orang ke tiga sudah menendang ke arah lututnya dan begitu ia meloncat ke atas menghindar, orang ke empat menyambutnya dengan tusukan jari tangan ke arah jalan darah di punggung!

Serangan itu susul-menyusul dan bertubi-tubi datangnya.

Terpaksa Ling Ling menggerakkan tubuh dengan kelincahannya, menangkis kanan kiri sambil berlompatan menghindar, menyelinap di antara sambaran banyak kaki tangan tujuh orang lawannya.

Dan setiap kali ia menerobos keluar, ia hanya memasuki lain lingkaran yang dibuat mereka secara otomatis.

Ling Ling terus menangkis dan mengelak sambil memutar otaknya.

Kalau ia menghendaki, tentu saja dia dapat bertindak dengan kekerasan, merobohkan mereka.

Akan tetapi ia tidak mau melakukan hal itu karena ia tidak ingin melukai murid-murid Cin-ling-pai yang kalau diingat hubungan antara ayahnya dan Cin-ling-pai, para murid ini masih terhitung saudara-saudaranya seperguruan pula.

Baru melihat gerakan silat mereka saja sudah menjadi bukti bahwa ia dan mereka sealiran, memiliki dasar gerakan yang sama.

Kalau tadi ia membuat lima orang dari pasukan pertama terpelanting, ia pun tidak melukai mereka dan hanya mempergunakan angin Pukulannya saja membuat mereka terpelanting.

Akan tetapi, ia tidak akan mampu merobohkan tujuh orang ini dengan cara seperti tadi karena mereka ini memiliki tingkat yang lebih tinggi dari pasukan pertama.

Tiba-tiba, setelah mendapatkan akal, Ling Ling mencabut pedangnya yang selalu tersembunyi di balik buntalan pakaian yang digendongnya dan dengan pedang itu, ia lalu membuat gerakan ke bawah menyerang ke sekelilingnya dengan babatan pedang!

Tentu saja semua lawan menjadi terkejut dan untuk menyelamatkan kaki, mereka itu membuat gerakan mundur, memperlebar lingkaran.

Akan tetapi, sungguh di luar dugaan Ling Ling, kini tujuh orang itu pun sudah mencabut pedang masing-masing dan mereka kini menyerang lagi seperti tadi, walaupun dalam lingkaran yang lebih lebar, menggunakan pedang secara susul-menyusul, menyerang gadis itu.

Inilah peraturan dari pasukan Cin-1ing-pai yarig gagah.

Mereka akan mengepung seorang dengan tangan kosong dan baru kalau orang itu mempergunakan senjata, mereka akan mencabut senjata mereka pula.

Tentu saja Ling Ling menjadi semakin repot!

Tadinya, ia ingin para pengepungnya itu melonggarkan kepungan agar ia dapat menerobos keluar tanpa dapat terkepung lagi.

Siapa kira, penggunaan pedang olehnya seperti memancing mereka mempergunakan pedang pula, dan kini ia dikeroyok dengan serangan-serangan pedang yang tentu saja lebih berbahaya daripada serangan kaki tangan mereka tadi.

Akan tetapi kegembiraannya timbul karena kini ia dapat menguji dirinya dalam menghadapi pengeroyokan bersenjata.

Ia memutar pedangnya dan nampaklah sinar putih bergulung-gulung yang amat rapat menyelimuti tubuhnya sehingga semua serangan lawan tertangkis begitu bertemu dengan gulungan sinar pedangnya.

Akan tetapi, dengan sendirinya ia pun tidak sempat lagi untuk balas menyerang, apalagi karena ia tidak ingin melukai lawan dengan pedangnya, berbeda dengan tujuh orang itu yang menyerang dengan sungguh-sungguh dan kalau gadis itu tidak cepat dapat menangkis, tentu nyawanya terancam bahaya.

Tiba-tiba sekali, Ling Ling mengeluarkan jerit melengking tinggi yang menggetarkan jantung tujuh orang pengeroyoknya dan pada saat tujuh orang murid Cin-ling-pai itu terkejut dan mereka mengerahkan sinkang untuk melawan pengaruh lengkingan itu, tubuh gadis ini telah melayang tinggi dan berhasil keluar dari kepungan tujuh orang itu ketika ia melayang turun ke arah dalam, di pekarangan rumah induk perkampungan.

Akan tetapi begitu kedua kakinya sudah menginjak tanah, tahu-tahu ia telah dikepung oleh sembilan orang laki-laki yang sikapnya tenang akan tetapi berwibawa dan mereka telah membentuk barisan segi tiga yang mengepungnya.

Di depannya bediri berjajar empat orang, di kanan kiri masing-masing dua orang dan di belakangnya satu orang.

Mereka tidak membuat gerakan langkah seperti barisan kedua tadi.

Teringat akan pengeroyokan dengan pedang, cepat ia menyimpan pedangnya karena menghadapi pengeroyokan dengan senjata ternyata lebih berbahaya baginya.

Inilah pasukan ke tiga, pikirnya.

Ia harus berhati-hati karena dari sikap mereka saja dapat diduga bahwa mereka tentulah murid-murid pilihan dari Cin-ling-pai dan sama sekali tidak boleh dipandang ringan.

Usia mereka pun tentu lebih dari tiga puluh tahun.

Maka, Ling Ling menjura dengan sikap hormat.

"Harap Cu-wi (Anda Sekalian) berbaik hati dan membiarkan aku masuk dan mengharap Ketua Cin-ling-pai."

"Nona, engkau masuk dengan kekerasan dan sudah dapat melampaui dua pasukan. Untuk dapat menghadap Pangcu (Ketua), engkau harus dapat lolos dari kepungan kami."

Kata seorang di antara mereka dengan suara tenang dan sikap yang sungguh-sungguh, sedikit pun mereka ini tidak memandang rendah kepada Ling Ling walaupun ia hanya seorang gadis remaja.

Ling Ling menarik napas panjang.

"Apa boleh buat, terpaksa aku bersikap kurang ajar. Bukan aku takut, melainkan aku tidak ingin membikin ribut, akan tetapi kalian yang menghalangiku menghadap Ketua Cin-ling-pai!"

Setelah berkata demikian, ia menerjang di antara dua orang yang berada di depannya, untuk menerobos keluar dari kepungan.

Akan tetapi, dua orang itu menyambutnya dengan tangkisan dan cengkeraman.

"Duk! Duk!"

Kedua lengan Ling Ling bertemu dengan lengan dua orang lawan itu dan ia merasa betapa mereka itu memiliki sinkang yang kuat juga dan gerakan mereka dengan kedua tangan menyerang dan menangkis satu ke atas satu ke bawah membuat ia mengenal ilmu silat yang mereka pergunakan.

"Thian-te Sin-ciang..!"

Katanya dan ia pun menerjang lagi dengan gembira, mempergunakan Thian-te Sin-ciang dan karena memang gadis ini memiliki simpanan tenaga sinkang yang amat kuat, maka terjangannya membuat dua orang pengepung lain terdesak mundur.

Akan tetapi, segera teman-temannya sudah menerjang dari kanan kiri, membuat Ling Ling terpaksa menyambut mereka dengan kelincahan gerakannya.

Kini, sembilan orang itu menyerangnya bergantian dan biarpun gerakan mereka nampak lambat, namun mengandung kekuatan dahsyat.

"Thai-kek Sin-kun..!"

Ling Ling berseru pula ketika mengenal gerakan mereka.

Pada saat itu, dari dalam rumah muncul Cia Hui Song, Ketua Cin-ling-pai.

Dia tertarik mendengar betapa gadis itu mengenal ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai, apalagi ketika melihat bahwa gadis itu masih demikian muda dan ilmu silatnya demikian lihai.

"Tahan...!"

Serunya dan mendengar suara ketua mereka, sembilan orang murid itu cepat berlompatan mundur dan berdiri di kanan kiri dengan sikap hormat.

Ling Ling mengangkat muka memandang.

Laki-laki yang berdiri di depannya itu berusia empat puluh tahun lebih, tampan dan gagah, pakaiannya sederhana dan sepasang matanya amat tajam dan mencorong seperti mata ayahnya sendiri.

Timbul perasaan hormat dalam hati Ling Ling karena dia dapat menduga bahwa tentu orang ini merupakan tokoh penting di Cin-ling-pai yang mampu membuat pasukan sembilan orang itu demikian taat.

Ia pun lalu menjura dan berkata dengan suara sopan.

"Maafkan saya yang tidak sengaja hendak membikin ribut di Cin-ling-pai, akan tetapi saya mohon dapat bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai."

Cia Hui Song tersenyum.

"Anak yang baik, akulah Ketua Cin-ling-pai."

Gadis itu memandang dengan mata terbelalak, tidak percaya.

"Akan tetapi Ayah... Ayah bilang bahwa Ketua Cin-ling-pai sudah tua... ah, kalau begitu, apakah Ketua Cin-ling-pai sekarang bukan Kakek Cia Kong Liang lagi?"

Hui Song semakin tertarik.

"Cia Kong Liang adalah Ayahku yang sudah mengundurkan diri dan aku sebagai penggantinya."

"Kalau begitu engkau tentu Paman Cia Hui Song!"

Ling Ling berseru girang.

"Dan engkau tentu puteri Cia Sun, dan namamu... Cia... eh, siapa aku lupa lagi."

"Cia Ling, panggilan sehari-hari Ling Ling!"

"Benar, engkau masih kecil sekali ketika aku berkunjung ke rumah orang tuamu. Aih, engkau sudah begini besar dan lihai. Ling Ling, mari masuk dan kita bicara di dalam."

Ajak Hui Song dengan girang sekali.

Gadis itu pun tersenyum, mengangguk dan melirik ke arah para murid Cin-ling-pai, lalu bersoja memberi horrnat.

"Kuharap kalian suka memaafkan aku!"

Para murid itu pun tersenyum dan membalas penghormatannya.

"Nona masih begini muda sudah lihai bukan main!"

Kata seorang di antara mereka memuji.

Ling Ling lalu mengikuti Hui Song masuk ke dalam ruangan tamu.

Mereka duduk berhadapan dan seorang Cin-ling-pai yang hari itu bertugas di dalam segera menyuguhkan air teh.

"Paman Cia Hui Song, di manakah adanya Kakek Cia Kong Liang dan di mana pula keluarga Paman?"

"Ayahku semenjak mengundurkan diri, lebih banyak bertapa di dalam kamarnya dan keluargaku... ah, nanti dulu, Ling Ling, engkau jangan menyebut aku paman. Apakah Ayahmu tidak pernah menceritakan tentang silsilah keluarga kita? Ayahmu itu masih terhitung keponakanku, maka seharusnya engkau menyebut kakek kepadaku."

Ling Ling mengangguk.

"Pernah Ayah bercerita, akan tetapi saya sudah lupa lagi. Usia paman sebaya dengan Ayah, sudah sepantasnya kalau disebut Paman."

Cia Hui Song adalah seorang yang berbeda sekali sikap dan wataknya dibandingkan ayahnya, Cia Kong Liang yang selalu memegang teguh peraturan tradisi dan kuno.

Mendengar kata-kata gadis remaja itu, dia pun tersenyum.

"Baik-baik saja kalau engkau hendak menyebut Paman, akan tetapi ketahuilah bahwa Ayahmu itu masih terhitung keponakanku dan silsilahnya seperti berikut. Kakekku, yaitu Cia Bun Houw, di masa mudanya telah mempunyai seorang putera, yaitu yang bernama Cia Sin Liong yang kemudian berjuluk Pendekar Lembah Naga. Setelah agak tua, beliau mempunyai seorang putera lagi, yaitu Cia Kong Liang, Ayahku. Uwa Cia Sin Liong mempunyai seorang putera, yaitu Kakak Cia Han Tiong yang hanya tiga tahun lebih muda dari Ayahku. Ayah mempunyai putera aku, maka Kakak Cia Han Tiong, yaitu Kakekmu, adalah kakak sepupuku. Dengan demikian, Ayahmu, Cia Sun, terhitung keponakanku dan engkau adalah cucu keponakanku!"

Ling Ling mengangguk-angguk.

"Sekarang saya ingat, Paman... eh, Cek-kong (Kakek Paman).."

Melihat kekikukan gadis itu, Hui Song tertawa.

"Sudahlah, engkau mau menyebut apa pun terserah. Paman pun baik saja bagiku."

"Akan janggal rasanya kalau saya menyebut kakek dan terima kasih kalau saya boleh menyebut Paman. Paman, di mana adanya Bibi? Bukankah Bibi bernama Ceng Sui Cin dan memiliki ilmu kepandaian lihai sekali? Menurut cerita Ayah, Bibi adalah puteri dari Pendekar Sadis! Dan kata Ayah, Paman mempunyai pula seorang puteri yang hanya sedikit lebih tua dari saya. Di mana mereka, Paman?"

Di dalam hatinya Hui Song mengeluh, akan tetapi tidak nampak perubahan pada wajahnya.

"Mereka sedang pergi berkunIjung ke Pulau Teratai Merah, ke rumah mertuaku. Yang berada di rumah sekarang adalah Bibi mudamu dan anak kami. Tunggulah, kupanggilkan mereka."

Hui Song keluar sebentar dari kamar itu dan tak lama kemudian dia pun sudah kembali bersama seorang wanita yang usianya baru sekitar dua puluh tahun, yang menggendong seorang anak laki-laki kecil berusia dua tahun.

Diam-diam Ling Ling merasa heran, akan tetapi sebagai seorang gadis yang tahu sopan-santun, ia tidak banyak bertanya, melainkan memberi hormat ketika diperkenalkan kepada wanita muda yang menjadi isteri muda pamannya itu.

Dengan ramah Siok Bi Nio, isteri ke dua dari Hui Song, menerima penghormatan Ling Ling dan mempersilakannya duduk lagi.

Mereka lalu bercakap-cakap, di mana Ling Ling menceritakan bahwa ia datang atas perintah ayahnya, Cia Sun, yaitu menyuruh puterinya untuk melakukan perjalanan meluaskan pengalaman dan pergi berkunjung ke Cin-ling -pai.

"Saya mohon maaf kalau kedatangan saya ini mengganggu dan merepotkan Paman Cia Hui Song dan Bibi."

Katanya menutup ceritanya. Hui Song merasa senang melihat kesopanan gadis ini.

"Ah, tidak sama sekali, Ling Ling. Kami merasa gembira sekali menerima kunjunganmu, tanda bahwa Ayahmu masih ingat kepadaku dan engkau boleh tinggal di sini selama yang engkau kehendaki dan anggaplah di sini sebagai rumahmu sendiri. Tentang peristiwa tadi, tidak mengapalah. Memang baru saja muncul seorang wanita yang agaknya membawa niat yang kurang baik, maka penjagaan diperketat dan engkau dicurigai. Akan tetapi, kulihat ilmu kepandaianmu sungguh hebat, engkau dengan mudah mampu melampaui dua lapisan pasukan penjaga. Ayahmu tidak menyia-nyiakan kepandaiannya dan telah mendidikmu dengan baik sekali."

"Ah, Paman terlalu memuji."

Kata Ling Ling dengan muka agak merah.

"Saya masih harus banyak belajar dan mengharapkan petunjuk Paman selama saya berada di sini."

Kembali diam-diam Hui Song memuji dalam hatinya.

Puteri Cia Sun ini sungguh seorang gadis yang pandai membawa diri, sopan dan rendah hati, kelihatan sudah matang dan berpemandangan luas walaupun usianya masih demikian muda.

Hui Song lalu menanyakan keadaan Cia Sun yang dijawab oleh gadis itu bahwa ayahnya dan ibunya dalam keadaan sehat.

"Ayah selalu sibuk dengan pekerjaan bertani. Selain menggarap sawah ladang sendiri yang cukup luas dan mempergunakan banyak tenaga petani, juga Ayah suka membeli hasil pertanian dan menjualnya ke kota."

Antara lain Ling Ling bercerita.

Keluarga ayahnya memang selama ini hidup di dusun Ciang-si-bun dengan aman dan tenteram, dalam keadaan sederhana saja namun cukup makan pakai, bahkan keluarga ayahnya terkenal sebagai dermawan yang suka mengulurkan tangan membantu para penduduk yang miskin dan kekurangan.

Sudah beberapa kali, di waktu musibah karena musim kering terlampau panjang atau musim hujan terlampau berat sehingga terjadi banjir, keluarga Cia ini tanpa ragu-ragu menguras semua tumpukan dan cadangan gandum dan beras di gudang mereka untuk membantu penduduk agar tidak sampai kelaparan.

Karena itu, nama keluarga Cia ini terkenal sekali di sekitar daerah Ciang-si-bun, bahkan sampai jauh ke luar daerah itu.

Apalagi, semua orang tahu belaka bahwa keluarga yang terdiri dari ayah dan ibu dan puteri itu, kesemuanya merupakan pendekar-pendekar silat yang amat lihai sehingga daerah itu pun aman, tidak ada penjahat yang berani memperlihatkan aksinya.

Setelah menceritakan keadaan orang tuanya, Ling Ling lalu berkata.

"Paman Cia Hui Song, saya ingin sekali menghadap Kakek Cia Kong Liang. Di manakah dia dan bolehkah saya menghadap untuk memberi hormat?"

Cia Kong Liang selain masih terhitung paman kakek buyutnya, juga sukong (kakek guru) karena ibunya, Tan Siang Wi, adalah murid dari kakek itu.

Mendengar permintaan Ling Ling, wajah Hui Song berseri.

Seorang gadis yang amat pandai membawa diri, pikirnya.

"Kakekmu itu kini lebih suka berada di dalam kamarnya, setiap hari hanya bersamadhi saja, tidak lagi mau mencampuri urusan dunia. Akan tetapi, dia tentu akan senang sekali melihatmu, puteri Cia Sun yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang amat lihai. Mari kuantar engkau menemuinya."

Kamar di mana Kakek Cia Kong Liang melewatkan sebagian besar waktunya untuk samadhi itu cukup luas, dengan dua buah jendela besar menghadap ke taman sehingga hawanya segar dan cukup menerima sinar matahari.

Tidak banyak perabot kamar di situ, kecuali sebuah dipan dan dua buah kursi dengan meja kecil, juga sebuah rak kecil penuh dengan kitab-kitab kuno.

Ketika Hui Song membawa Ling Ling masuk, kakek itu sedang duduk di atas kursi menghadapi sebuah kitab yang terbuka dan dibacanya, di atas meja.

Dia menoleh ketika melihat puteranya masuk, dan mengerutkan alisnya ketika melihat seorang gadis.

Tadinya, dengan penuh harap dia menyangka gadis itu Kui Hong, cucunya yang amat disayangnya dan sudah lama dirindukannya, akan tetapi setelah mendapat kenyataan bahwa gadis itu bukan cucunya, dia memandang dengan heran mengapa puteranya mengajak seorang gadis asing memasuki kamarnya.

Akan tetapi Ling Ling sudah menjatuhkan dirinya berlutut menghadap kakek itu sambil berkata.

"Sukong, teecu Cia Ling menghaturkan hormat."

Mendengar gadis itu menyebut sukong kepadanya, dan mengaku memiliki she (marga) Cia pula, kakek itu menjadi semakin heran.

Dia bangkit berdiri, memandang kepada gadis itu, kemudian kepada puteranya yang berdiri dengan hormat, lalu bertanya.

"Hui Song, siapakah gadis ini?"

"Ayah, dia bernama Cia Ling dan disebut Ling Ling, puteri dari Cia Sun dan Sumoi Tan Siang Wi."

Wajah kakek itu yang penuh dengan garis-garis penderitaan hidup dan yang dibayangi ketenangan mendalam, kini tiba-tiba saja mengeluarkan cahaya berseri, sepasang matanya bersinar-sinar dan pada mulutnya membayang senyum gembira.

Dia memandang kepada gadis itu.

"Aha, kiranya engkau puteri mereka! Bangkitlah, Cucuku, dan duduklah di kursi ini. Engkau juga duduklah, Hui Song, dan ceritakan keadaan orang tuamu, Ling Ling."

Gadis itu pun bangkit setelah memberi hormat lagi, dan duduk di atas kursi dengan sikap sopan akan tetapi tidak malu-malu.

Juga Hui Song duduk di kursi ke dua, bersama Ling Ling menghadap ke arah kakek itu yang kmi duduk bersila di atas dipan.

Dengan suara halus namun jelas, Ling Ling menceritakan keadaan orang tuanya, mengulang kembali apa yang sudah diceritakannya tadi kepada Cia Hui Song.

Kakek itu mendengarkan dengan gembira dan beberapa kali mengangguk-angguk ketika mendengar akan kebiasaan keluarga itu yang suka mengulurkan tangan membantu para penduduk dusun.

Dia mengenal benar watak Cia Sun yang amat baik hati, dan girang bahwa muridnya yang disayangnya, Tan siang Wi, setelah menjadi isteri Cia Sun ternyata dapat merobah wataknya.

Baru akhir-akhir ini dia menyadari betapa muridnya itu berwatak keras, angkuh dan tidak mau kalah.

Untunglah Siang Wi mendapatkan seorang suami seperti Cia Sun yang sabar dan halus, pandai membimbingnya.

Setelah gadis itu selesai bercerita, kakek itu bertanya.

"Tentu engkau menerima latihan-latihan ilmu silat dari Ayah bundamu, bukan? Kalau belum cukup kepandaianmu, tidak mungkin orang tuamu menyuruh engkau seorang gadis yang belum dewasa benar melakukan perjalanan seorang diri."

"Sukong, teecu masih bodoh dan berpengetahuan dangkal, mohon banyak petunjuk dari Paman Cia Hui Song dan Sukong selama teecu berada di sini."

"Ayah, Ling Ling telah mendapatkan pendidikan ilmu silat yang cukup hebat sehingga ia mampu melewati lapisan pasukan penjaga dengan amat mudahnva. Hanya sebentar saja ia dapat lolos dari kepungan barisan pertama dan ke dua tanpa melukai seorang pun, dan agaknya lapisan ke tiga pun tentu akan dapat dilaluinya dengan baik. Ia hebat, Ayah dan sungguh tidak mengecewakan menjadi puteri Cia Sun dan Tan Siang Wi!"

Kata Hui Song dengan bangga. Kakek itu mengangguk-angguk, akan tetapi kembali alisnya berkerut.

"Hui Song, bagaimanakah sampai lapisan penjaga mengeroyok cucuku Cia Ling ini?"

Hui Song tersenyum.

"Harap Ayah ketahui bahwa pagi tadi, sebelum Ling Ling tiba, di sini muncul seorang pengunjung yang aneh. Saya sama sekali tidak mengenalnya. Ia seorang wanita muda yang memaksa hendak bertemu dengan Ayah. Karena belum mengenalnya, terpaksa saya menolaknya dan tanpa memperkenalkan diri atau memberitabukan kepentingannya, ia pergi begitu saja. Ketika masuk, ia pun melompati para penjaga yang menghadangnya, sikapnya mencurigakan sekali. Oleh karena itu, penjagaan diperketat dan ketika Ling Ling muncul, tentu saja ia di curigai dan dihalangi. Untung saya keluar dan mengenal gerakan-gerakannya."

"Bagus sekali, aku ikut bangga dengan kepandaianmu, Ling Ling. Akan tetapi, siapakah wanita muda yang mencariku itu?"

"Entahlah, saya belum pernah melihatnya dan sikapnya sungguh mencurigakan, dan melihat gerakannya, agaknya ia memiliki ilmu ginkang yang luar biasa sekali, Ayah. Saya merasa curiga melihat sikapnya, mungkin ia mempunyai niat yang buruk terhadap Ayah, oleh karena itu, saya menyuruh para murid melakukan penjagaan dengan ketat."

"Hemm, sudah setua ini, sudah mengundurkan diri, masih saja ada yang mencari dengan niat buruk. Mungkin itu merupakan buah dari pohon yang kutanam dahulu. Kalau ia datang lagi, biarlah kau beritahu aku, aku akan menemuinya,"

Kata kakek itu setelah menarik napas panjang, wajahnya membayangkan penyesalan.

Malam itu Ling Ling tinggal di kamar yang dahulu ditinggali Kui Hong.

Ling Ling melamun dan biarpun Hui Song tidak bercerita banyak tentang bibinya, Ceng Sui Cin dan Cia Kui Hong, hanya mengatakan bahwa ibu dan anak itu sedang pergi berkunjung ke Pulau Teratai Merah, ke tempat Pendekar Sadis, ayah bibinya itu, namun ia merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dari itu telah terjadi dalam keluarga pamannya ini.

Kalau ia bertanya tentang bibinya atau tentang puterinya, selalu pamannya memberi jawaban singkat dan menyimpang.

Bahkan tidak menjawab ketika ia bertanya kapan mereka kembali!

Juga isteri muda pamannya itu selalu nampak gelisah dan tidak enak kalau mendengar ia bertanya tentang mereka.

Apakah yang telah terjadi dalam keluarga pamannya?

Selagi ia termenung di dalam kamarnya, tiba-tiba ia rnendengar suara wanita berkata keras di sebelah luar, arah ruangan dalam di mana dipergunakan sebagai ruangan duduk oleh keluarga itu.

Ia tertarik sekali dan setelah membereskan pakaiannya, ia pun keluar dari dalam kamarnya, menuju ke ruangan itu.

Dan ia melihat dan mendengar hal-hal yang sejak tadi menjadi renungannya.

Ia berhenti di balik pintu dan memandang ke dalam.

Nampak Cia Hui Song berdiri di situ, di sampingnya duduk Kakek Cia Kong Liang.

Pamannya itu berdiri sambil menundukkan mukanya, dan kakek Cia Kong Liang duduk dengan lemas dan mukanya agak pucat, berulang kali menarik napas panjang.

Dan di depan mereka berdiri tegak dengan sepasang mata mencorong marah, seorang gadis yang berwajah manis dan cantik sedang marah-marah dan menegur dua orang itu dengan suara lantang!

"Ayah mau menang sendiri, mau enak sendiri saja!

Apa kesalahan Ibu maka Ayah menyakiti hatinya dan menikah lagi, sehingga Ibu terpaksa meninggalkan tempat ini dan terlunta-lunta pulang ke Pulau Teratai Merah?

Ibu menderita batin karena perbuatan Ayah itu, Ayah telah menghina Ibu, menyakiti hati Ibu dan menghancurkan kebahagiaan rumah tangga kita, berarti menghancurkan kebahagiaanku sendiri!

Aku minta pertanggungan-jawab dari Ayah!"

Wajah Cia Hui Song sebentar merah sebentar pucat, kadang-kadang dia mengangkat muka memandang gadis itu, kemudian menunduk kembali dan agaknya sukar baginya untuk melakukan atau mengatakan sesuatu di bawah serangan kata-kata puterinya itu.

Kakek Cia Kong Liang yang sejak tadi juga nampak sedih sekali, mencoba untuk membela puteranya.

"Kui Hong, cucuku yang baik, jangan engkau bersikap seperti itu terhadap Ayahmu sendiri! Dia tidak bersalah.."

"Aku tahu, kalau Ayah tidak bersalah, ini berarti Kong-kong yang bersalah! Ya, aku tahu bahwa Ayah menikah lagi karena dia dipaksa oleh Kong-kong! Kong-kong hanya mau menang sendiri saja, ingin cucu laki-laki alasannya! Apakah seorang cucu perempuan seperti aku ini tidak ada harganya? Kong-kong dan Ayah hanya ingin senang sendiri, di atas penderitaan Ibuku! Juga di atas penderitaan batinku! Kong-kong dan Ayah sungguh berdosa besar, melakukan kejahatan terhadap Ibuku dan aku. Akan tetapi aku datang ini bukan untuk membela diri sendiri, melainkan membela Ibuku! Ia telah menjadi sengsara, menderita karena perbuatan kalian! Karena itu, aku datang utuk menuntut pertanggungan jawab dari Kong-kong, terutama dari Ayah! Ayah adalah seorang laki-laki jantan, seorang pendekar, seorang Ketua Cin-ling-pai, pantaskah melakukan perbuatan seperti itu, menyakiti hati Ibuku, isterinya sendiri?"

Mendengar semua ini, melihat wajah kedua orang laki-laki itu pucat dan bingung, Ling Ling merasa penasaran sekali.

Ia kini tahu siapa adanya gadis cantik itu.

Tentulah Cia Kui Hong, puteri pamannya yang dikatakan pergi bersama ibunya berkunjung ke Pulau Teratai Merah itu.

Kiranya bukan pergi berkunjung, melainkan Bibi Ceng Sui Cin pergi bersama Kui Hong ini karena pamannya Cia Hui Song menikah lagi dengan Bibi Siok Bi Nio!

Kalau begitu, melihat usia Cia Kui Bu yang kini sudah dua tahun, tentu ibu dan anak itu telah pergi sedikitnya tiga tahun dari Cin-ling-san!

Kini gadis itu agaknya pulang hanya untuk marah-marah dan menegur ayahnya dan kakeknya, dengan kata-kata keras yang dianggap oleh Ling Ling sudah melampaui batas.

Mukanya menjadi merah mendengar semua ucapan Kui Hong yang mencela ayah sendiri dan kakek sendiri itu.

Ling Ling lalu melangkah memasuki ruangan itu.

"Maaf, engkau tentu Enci Cia Kui Hong,"

Katanya lembut dan mendengar ini gadis itu ternyata memang Cia Kui Hong, membalikkan tubuhnya menghadapi Ling Ling.

Sebelum ia membuka mulut, Ling Ling sudah mendahului dan melanjutkan kata-katanya yang dikeluarkan dengan nada lembut dan sikap sabar dan ramah, mulutnya dihias senyuman.

"Enci Cia Kui Hong, aku mohon padamu, ingatlah siapa yang berada di depanmu, siapa yang kau cela dengan kata-kata keras itu. Enci, mereka itu adalah Ayah kandungmu sendiri dan Kakekmu sendiri. Engkau akan menyesal sendiri kelak, Enci, ingatlah bahwa tidak semestinya kita bersikap seperti itu terhadap Ayah sendiri dan Kakek sendiri. Segala persoalan dapat dirundingkan dengan hati dan kepala dingin, dengan kata-kata yang halus dan penuh damai.."

Sejak tadi alis Kui Hong sudah berkerut dan sinar matanya menyambar-nyambar marah.

Sikap dan ucapan gadis yang tidak dikenalnya itu dianggap membela dan membenarkan ayah dan kakeknya, dan menyalahkannya!

Tentu saja hal ini membuat hatinya menjadi semakin panas.

Bagaimanapun juga, ia masih belum berani untuk menggunakan kekerasan menyerang ayahnya sendiri atau kakeknya.

Akan tetapi gadis ini tidak dikenalnya dan berani menyalahkannya, maka semua kemarahannya kini ditumpahkan kepada gadis itu.

"Berani engkau mencampuri urusan antara aku dan Ayahku sendiri? Siapakah engkau begini lancang?"

Bentaknya sambil melangkah maju mendekati Ling Ling bagaikan seekor singa betina yang marah.

Namun Ling Ling tetap tenang menghadapinya.

"Enci, aku adalah Cia Ling, Ayahku adalah Cia Sun dan Ibuku Tan Siang Wi. Aku baru datang siang tadi dari dusun Ciang-si-bun, tempat tinggal kami untuk berkunjung kepada keluarga Cin-ling-pai dan..."

"Cukup! Kau kira karena itu engkau berhak mencampuri urusanku? Engkau manusia lancang patut dihajar!"

Bentak Kui Hong.

Semua rasa penasaran dan kemarahan yang membakar dirinya, yang membuat ia ingin sekali menyerang orang dan ditahan-tahannya karena ia tadi berhadapan dengan ayahnya dan kakeknya, kini ditumpahkan kepada Ling Ling dan ia pun menerjang maju menyerang gadis itu!

Tentu saja Ling Ling cepat mengelak dan menangkis ketika melihat betapa Kui Hong menyerangnya dengan gerakan dahsyat sekali.

Melihat ini, Cia Kong Liang diam saja dan menyerahkan saja urusan ini kepada puteranya, akan tetapi Cia Hui Song juga tidak segera melerai.

Pendekar ini adalah seorang yang suka sekali akan ilmu silat, dan biarpun hatinya seperti ditusuk-tusuk oleh sikap puterinya tadi, bagaimanapun juga dia merasa gembira melihat munculnya Kui Hong dan kini dia ingin melihat sampai di mana pula kelihaian Ling Ling puteri Cia Sun!

Maka dia pun diam saja, walaupun dengan penuh perhatian dia mengikuti setiap gerak perkelahian itu sambil berjaga-jaga agar jangan sampai seorang di antara mereka terluka parah Mula-mula Ling Ling, yang sama sekali tidak menghendaki adanya perkelahian di antara mereka, hanya membela diri saja dengan elakan dan tangkisan.

Akan tetapi, ia terkejut sekali menghadapi serangan-serangan yang makin lama semakin dahsyat dan berbahaya.

Apalagi karena di pihak Kui Hong, gadis ini merasa penasaran bukan main ketika beberapa kali serangannya dapat dihindarkan lawan dengan gesitnya.

Penasaran mendatangkan kemarahan dan Kui Hong memperhebat serangannya dengan jurus-jurus pilihan.

Harus diketahui bahwa Kui Hong telah digembleng oleh kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah selama beberapa tahun ini sehingga ia menjadi lihai bukan main.

Dibandingkan dengan tingkat Ling Ling, ia jauh lebih lihai, bahkan kini ia tidak kalah lihai dibandingkan ibunya sendiri.

Maka, ketika ia mendesak dengan jurus-jurus pilihan, Ling Ling menjadi repot dan terpaksa gadis ini pun selain mengelak, juga membalas untuk menghindarkan dirinya dari desakan.

Terjadilah perkelahian yang seru.

Dua orang gadis yang sama gesitnya, kini saling serang dengan hebat di ruangan yang 1uas itu,hanya ditonton oleh Cia Hui Song dan Cia Kong Liang.

Tidak ada murid Cin-ling-pai yang berani ikut menonton.

sejak tadi, mereka tidak berani mendekat.

Ketika Kui Hong muncul di depan pintu gerbang, para murid sudah terkejut dan girang bukan main.

Mereka menyapa dengan hormat dan manis, bahkan segera memberitabukan ke dalam bahwa "Nona Kui Hong"

Telah pulang.

Mendengar ini, maka Cia Hui Song dan Cia Kong Liang keluar pula dari kamar mereka sehingga mereka bertemu dengan Kui Hong yang sudah memasuki ruangan itu.

Tak seorang pun murid atau pelayan di situ berani mendekat, apalagi mendengar terlakan-teriakan Kui Hong yang marah-marah tadi.

Mereka takkan muncul tanpa dipanggil.

Akhirnya ling Ling harus mengakui kelihaian Kui Hong.

setelah dua puluh lima jurus, mulailah ia terdesak hebat oleh jurus-jurus aneh yang dipergunakan Kui Hong dalam penyerangannya, yaitu jurus-jurus yang dipelajarinya dari Pulau Teratai Merah.

Gadis ini tentu akan roboh dan mungkin terluka hebat kalau perkelahian itu dilanjutkan.

Melihat ini, diam-diam Hui Song terkejut, juga bangga akan kelihaian puterinya.

Dia pun dapat menduga bahwa tentu puterinya itu menerima gemblengan dari kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, maka dia pun cepat meloncat ke depan dan menengahi perkelahian itu.

"Sudah cukup, kalian tidak boleh berkelahi lagi!"

Melihat pamannya maju melerai, tentu saja Ling Ling cepat mundur.

Akan tetapi Kui Hong menjadi semakin penasaran.

Ia berdiri menghadapi ayahnya dengan mata mencorong.

"Hemm, agaknya Ayah bahkan hendak membela orang luar dan memusuhi aku?"

Cia Hui Song menarik napas panjang.

Dia merasa berduka sekali mellnat sikap puterinya ini, puteri yang amat dicintanya dan dia dapat mengerti akan sakit hati yang diderita dalam batin puterinya.

Dia tidak menyalahkan sikap itu, melainkan menyesali nasib sendiri.

Sejenak dia memandang wajah puterinya dan terbayanglah semua kebahagiaan dan kemesraan bersama dengan ibu gadis ini, terbayanglah dia betapa sayangnya ketika dia membelai dan menimang gadis ini di waktu kecilnya dahulu, betapa tekunnya dia melatih silat kepada Kui Hong.

Anak yang amat mungil dan amat sayang kepada ayahnya pula.

Dan sekarang?

Anak ini berdiri bagaikan seekor singa kelaparan, dengan sinar mata mencorong penuh penasaran dan kebencian kepadanya.

Tak terasa lagi, sepasang mata pendekar ini terasa panas dan menjadi basah.

"Kui Hong, engkau tentu sudah tahu mengapa Ibumu meninggalkan aku. Karena aku menikah lagi. Dan engkau tentu tahu pula mengapa aku menikah. Karena Kakekmu menghendaki aku mempunyai keturunan seorang anak laki-laki. Kui Hong, di dalam kehidupan ini ada suatu kewajiban yang amat penting, yang harus dilaksanakan laki-laki, yaitu memenuhi harapan utama seorang ayah. Ayahku menghendaki aku mempunyai keturunan laki-laki penyambung nama keturunan, hal itu adalah wajar. Hidup memang kadang-kadang pahit, dan seorang gagah harus berani mengorbankan diri sendiri demi kebaktiannya kepada orang tua. Kini, aku telah memenuhi kewajibanku, aku telah memperoleh seorang anak laki-laki seperti yang diharapkan Ayahku. Kewajibanku terhadap Ayahku telah kuselesaikan dengan baik. Aku menikah lagi bukan karena bosan kepada Ibumu. Ah, aku mencinta Ibumu, Kui Hong, juga mencintamu, dan engkau dan Ibumu tentu saja tahu akan hal itu. Kalau engkau masih merasa penasaran, biarlah kutebus dengan nyawaku agar kalian puas. Nah, engkau bunuh saja aku kalau engkau anggap Ayahmu ini orang yang tidak pantas hidup di dunia ini!"

Hebat bukan main kata-kata yang dikeluarkan oleh mulut Cia Hui Song ini, seorang pendekar besar dan seorang ketua Cin-ling-pai, dan semua ucapannya itu sudah menunjukkan betapa tersiksa rasa hatinya menghadapi tuntutan puterinya.

Ling Ling sampai menangis mendengar ucapan itu, dan Kakek Cia Kong Liang menjadi pucat wajahnya, diam-diam menyesal mengapa permintaannya yang sudah sepatutnya itu untuk memperoleh penyambung nama keluarga, ternyata mendatangkan akibat yang demikian pahit.

Kui Hong berdiri terbelalak, wajahnya yang tadinya merah berubah pucat, jantungnya seperti ditusuk-tusuk ketika didengarnya ucapan ayahnya itu, kata demi kata seperti meremas batinnya.

Apalagi melihat Ling Ling menangis, tak dapat ditahannya lagi ia lalu lari ke depan dan menubruk ayahnya sambil menjerit.

"Ayaaaahhh...!"

Dan menangislah gadis ini sesenggukan di dada ayahnya dengan pencurahan seluruh rasa rindunya.

Cia Hui Song juga merangkul dan menciumi puterinya itu dengan air mata bercucuran!

Selama hidupnya, baru kali ini ia menangis demikian sedihnya.

Cia Kong Liang merasa terharu juga, akan tetapi girang melihat betapa kekerasan hati cucunya sudah dapat mencair.

Dia membiarkan ayah dan anak itu bertangisan sejenak, kemudian dia pun berbatuk-batuk dan berkata.

"Ayahmu benar, cucuku Kui Hong. Dia hanya ingin menyenangkan hati Ayahnya. Akulah yang bersalah, kalau saja keinginan seorang kakek tua memperoleh cucu laki-laki penyambung nama keturunan dapat disalahkan. Kalau saja Ibumu tidak terlalu menurutkan kekerasan hatinya, kalau saja ia dapat menerima kenyataan hidup ini, tentu ia tidak akan pergi dan tidak terjadi keretakan dalam keluarga kita. Ah, betapa dalam usia tuaku ini aku selalu menyesali sebab daripada perbuatan-perbuatanku sendiri."

Kui Hong melepaskan rangkulannya pada ayahnya, lalu ia pun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki kakeknya.

Ia teringat betapa orang tua ini sejak ia masih kecil, amat menyayangnya dan setelah kini ia sadar akan segala hal yang terjadi, ia pun dapat melihat betapa ibunya juga terlalu keras hati.

Ia pun merasa menyesal atas sikapnya terhadap kakeknya tadi.

"Kong-kong, maafkanlah aku, Kong-kong. Aku telah bersikap kurang ajar terhadap Kong-kong."

"Sudahlah, Cucuku yang manis. Bangkitlah, bukan kesalahanmu, melainkan Kakekmu ini yang bersalah, terlalu menuruti keinginannya sendiri."

Pada saat itu terdengar suara halus.

"Bagus sekali, baru sekarang kakek tua Cia Kong Liang dapat melihat kesalahannya yang telah mendatangkan korban pada banyak orang!"

Semua orang terkejut dan memandang gadis yang tiba-tiba saja muncul dari ambang pintu itu.

Hui Song segera mengenal gadis itu, gadis yang pagi tadi datang minta bertemu dengan ayahnya!

Gadis itu memang Kok Hui Lian!

Sudah sejak tadi ia mengintai ke dalam ruangan itu.

Dengan ilmu ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat hebat, gadis ini berhasil meloncati pagar tembok tanpa diketahui oleh para anak murid Cin-ling-pai yang berjaga.

Para murid itu memang agak lengah karena kedatangan Kui Hong yang membuat mereka merasa gembira dan mereka beramai-ramai membicarakan kemunculan Kui Hong yang kini telah menjadi seorang gadis dewasa yang cantik jelita.

Setelah berhasil memasuki gedung itu, Hui Lian menyelinap dan mencari kamar Cia Kong Liang, akan tetapi ia mendengar ribut-ribut di dalam ruangan itu maka ia oun mengintai dan melihat segala yang terjadi di situ.

Melihat betapa cucu sendiri mencela ayah dan kakeknya, diam-diam ia merasa gembira dan menonton saja.

Andaikata tadi Kui Hong kalah oleh Ling Ling, tentu ia akan turun tangan membantu Kui Hong yang memusuhi ayah dan kakek sendiri.

Akan tetapi Kui Hong menang dan ia pun hanya mengintai saja.

Tak disangkanya bahwa kemudian Kui Hong luluh oleh sikap ayahnya dan melihat ini, Hui Lian merasa tiba saatnya untuk keluar.

"Nona datang lagi, secara menggelap, apa kehendakmu, Nona?"

Tanga Cia Hui Song, siap untuk bertindak.

Hui Lian tersenyum mengejek kepada Cia Kong Liang, akan tetapi ia menjura kepada Hui Song sambil berkata.

"Harap Cia Pangcu (Ketua Cia) tidak mencampuri urusanku ini, karena aku hanya berurusan dengan Kakek Cia Kong Liang seorang."

"Tapi dia adalah Ayahku!"

Bantah Hui Song.

"Hui Song, biarkan Nona ini bicara denganku dan jangan mencampuri,"

Kata Cia Kong Liang dan dia sudah bangkit berdiri lalu melangkah maju menghadapi wanita muda yang baru datang ini.

Biarpun usianya sudah enampuluh delapan tahun, namun ketika dia berdiri di depan Hui Lian, tubuhnya masih tegap dan tegak, nampak gagah berwibawa.

Namun, sepasang matanya tidaklah angkuh dan keras lagi seperti dahulu, kini matanya bersinar lembut dan mulutnya yang dulu membayangkan kekerasan hatinya.

Kini membayangkan kesabaran.

"Nona, akulah Cia Kong Liang. Siapakah Nona dan urusan apakah Nona berkeras hendak bertemu denganku?"

Sejenak Hui Lian mengamati kakek itu.

melihat sikap dan ketegakan tubuhnya, masih ada bayangan ketinggian hati kakek itu, pikirnya, akan tetapi sinar matanya lembut dan suaranya halus ramah.

Apalagi kalau diingat bahwa kakek ini adalah ayah dari pendekar Cia Hui Song yang kini telah menjadi ketua Cin-ling-pai, timbul keraguan dalam hatinya untuk menganggap bahwa kakek ini seorang kejam yang telah menyebabkan buntungnya sebelah lengan dari suhengnya, Ciang Su Kiat.

Teringat suhengnya yang buntung, kembali perasaan marah dan penasaran memenuhi hati Hui Lian dan sinar matanya kembali mencorong ketika ia memandang wajah kakek itu.

"Hemm, kiranya engkau Kakek Cia Kong Liang yang berhati kejam itu! Aku adalah adik seperguruan dari Suheng Ciang Su Kiat dan aku datang untuk menegur kelakuanmu yang jahat dan kejam terhadap suheng sehingga dia terpaksa hidup sebagai seorang manusia cacat, kehilangan sebelah lengannya! Sungguh sukar dipercaya bahwa seorang ketua perkumpulan besar Cin-ling-pai, yang mengaku gagah dan pendekar perkasa, dapat bertindak sekejam itu, tanpa perkemanusiaan, membikin buntung lengan muridnya sendiri! Aku datang bukan hanya untuk menegur, akan tetapi juga mewakili Suheng Ciang Su Kiat minta pertanggung jawab atas perbuatan kejam itu!"

Semua orang terkejut mendengar ini dan memandang kepada Kakek Cia Kong Liang.

Kakek ini tidak kelihatan heran, hanya menarik napas panjang karena ia merasa sedih diingatkan tentang peristiwa yang terjadi selama kurang lebih dua puluh tahun itu.

Selama ini, setelah wataknya berubah, tak pernah dia berhenti menyesali perbuatannya yang didasari kekerasan hatinya, terutama buntungnya lengan Ciang Su Kiat.

Setelah dia sadar, barulah dia dapat membayangkan betapa kerasnya sikapnya pada waktu itu.

Ciang Su Kiat adalah seorang murid Cin-ling-pai yang baik dan berbakat.

Pada suatu hari, ayah dari Ciang Su Kiat mencuri perhiasan untuk dijual dan untuk mengobati isteri dan anak bungsunya yang sakit keras.

Dia ditangkap dan disiksa oleh seorang pembesar, Coan Tihu, sehingga orang tua itu menemui ajalnya.

Ciang Su Kiat mengamuk dan menyerbu gedung tihu untuk membunuh Coan Tihu, akan tetapi usahanya tidak berhasil dan dia dikeroyok para pengawal, melarikan diri dan menjadi buronan.

Karena dia dikenal sebagai murid Cin-ling-pai maka tentu saja Coan Tihu lalu menegur pimpinan Cin-ling-pai dan menuntut diserahkannya Ciang Su Kiat.

Ketika itu, sebagai Ketua Cin-ling-pai Cia Kong Liang bersikap keras dan tegas hendak menangkap dan menyerahkan Ciang Su Kiat kepada pembesar itu, tanpa mempedulikan alasan mengapa murid itu mengamuk.

Su Kiat mencela peraturan Cin-ling-pai, dan di depan ketua yang juga menjadi gurunya itu, dia membuntungi lengan kirinya sendiri!

Biarpun sudah demikian, tetap saja Cia Kong Liang hendak menyerahkannya kepada Coan Tihu!

Karena putus asa, hampir saja Su Kiat membunuh diri.

Akan tetapi pada saat itu, muncul Hui Song yang mencegah perbuatannya, bahkan Hui Song mengajak Su Kiat pergi ke gedung Coan Tihu, disana dia meninggalkan buntungan lengannya, kemudian Su Kiat disuruh melarikan diri oleh Hui Song.

Teringat akan semua ini, penyesalan besar muncul di dalam (Lanjut ke

Jilid 28) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 28 hati Kakek Cia Kong Liang.

Setelah menarik napas panjang, Cia Kong Liang memandang wajah gadis itu dan terdengar dia berkata dengan suara halus.

"Nona, tidak kusangkal bahwa kami pernah bersikap terlalu keras terhadap Ciang Su Kiat sehingga ia membuntungi lengannya sendiri. Percayalah bahwa selama ini aku telah merasa tersiksa oleh penyesalan. Akan tetapi, hal itu sudah terjadi dan disesalkan bagaimanapun juga, tidak ada artinya lagi. Kalau Nona merasa penasaran dan datang untuk memberi hukuman sebagai pembalasan atas kesengsaraan yang diderita oleh Ciang Su Kiat, nah, silakan!"

"Nanti dulu!"

Tiba-tiba terdengar Cia Kui Hong membentak marah dan ia pun sudah meloncat ke depan kakeknya, melindungi kakeknya dari Hui Lian dan ia memandang kepada Hui Liandengan alis berkerut dan mata berkliat.

"Enak saja engkau datang menjual lagak dan hendak menghina Kakekku! Engkau tadi bilang bahwa engkau datang untuk membela Suhengmu, nah, sekarang aku berada disini untuk membela Kong-kongku! Engkau yang datang tanpa diundang, seperti maling mencari keributan, sambutlah seranganku ini!"

Kui Hong sudah mencabut pedangnya dan sudah menyerang dengan dahsyatnya!

Hui Lian terkejut melihat serangan ini dan ia pun cepat kebelakang sambil mencabut pedang dari punggungnya.

Sinar berkilat ketika pedang Kiok-hwa-kiam tercabut dan tertimpa sinar lampu dan lentera yang tergantung di ruangan itu.

Kui Hong sudah menerjang lagi dan menyerang dengan pedangnya, gerakannya cepat dan mengandung tenaga yang cukup kuat.

Hui Lian maklim akan kelihaian lawan maka ia pun menangkis.

Terdengar suara berdencing nyaring ketika sepasang pedang bertemu dan nampak api berpijar.

Dengan kaget sekali Kui Hong merasa betapa lengan kanannya tergetar hebat dan kesemutan, maka tahulah ia bahwa lawan ini memang lihai bukan main.

Cia Kong Liang dan Cia Hui Song terkejut melihat betapa Kui Hong menyerang gadis itu, akan tetapi diam-diam mereka pun ingin sekali melihat sampai dimana kelihaian gadis yang mengaku sumoi dari Ciang Su Kiat itu, maka mereka mendiamkannya saja.

Dan mereka pun terkejut.

Terjadilah perkelahian pedang yang amat hebat dan biarpun kini Kui Hong memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi, Namun gadis itu ternyata memiliki gerakan yang aneh dan hebat bukan main.

Hui Song yang diam-diam memperhatikannya, merasa heran sekali karena dia yang sudah banyak pengalaman tetap tidak pernah melihat ilmu pedang seperti yang dimainkan oleh Hui Lian.

Hal ini tidaklah aneh karena ilmu pedang itu adalah In-liong Kiam-sut, ilmu pedang peninggalan dari In Liong Nio Nio, seorang di antara Delapan Dewa!

Yang membuat Kui Hong mulai terdesak dan kewalahan adalah kehebatan ginkang dari Hui Lian.

Gadis ini dapat bergerak demikian ringan dan cepatnya, seperti seekor burung saja sehingga Kui Hong merasa kalah cepat padahal ia sudah menerima gemblengan dalam hal ilmu meringankan tubuh ini dari neneknya, yaitu Toan Kim Hong!

Tiba-tiba terdengar seruan keras.

"Enci Hong, aku membantumu!"

Dan kini Ling Ling juga sudah meloncat ke dalam kalangan pertempuran, dengan pedang di tangan gadis ini pun membantu Kui Hong menghadapi Hui Lian.

Makin hebatlah perkelahian itu dan diam-diam Hui Song dan ayahnya merasa kagum bukan main karena biarpun dikeroyok dua, ternyata gadis itu sama sekali tidak terdesak dan bahkan beberapa kali sinar pedangnya mengancam Ling Ling dan Kui Hong.

Kakek Cia Kong Liang mengerutkan alisnya.

Perkelahian itu demikian seru dan hebat.

Tentu seorang di antara mereka akan terluka parah kalau dilanjutkan.

Kalau sampai terjadi Ling Ling atau Kui Hong terluka, bahkan tewas, dia akan menyesal karena hal itu terjadi gara-gara dia!

membayangkan hal ini Cia Kong Liang cepat meloncat ke depan sambil berseru nyaring.

"Cukup, hentikan perkelahian itu! Kui Hong, Ling Ling, mundurlah kalian!"

Dua orang gadis itu terpaksa berloncatan ke belakang dan kini Cia Kong Liang menghadapi Hui Lian yang masih memegang pedangnya.

Diam-diam gadis ini merasa kagum.

Dua orang gadis muda itu sungguh lihai dan biarpun ia mampu menandingi mereka, akan tetapi agaknya tidak terlalu mudah baginya untuk menundukkan mereka.

Belum lagi maju pendekar Cia Hui Song!

Kalau keluarga itu maju, ia dapat celaka!

"Nona,"

Kata kakek itu kepada Hui Lian.

"Urusan antara aku dan Ciang Su Kiat yang sekarang kau wakili adalah urusan pribadi, aku tidak ingin keluargaku tersangkut. Karena itu, kalau engkau masih penasaran dan hendak menyelesaikan perkara ini dengan kekerasan, nah, akulah yang harus kau serang, bukan cucu-cucuku. Majulah dan lawanlah aku, Nona!"

Nada suara Cia Kong Liang halus, namun menantang karena memang dia sengaja menantang agar gadis itu menyerang dia saja, walaupun dia maklum bahwa dia tidak akan menang dan tentu dia akan tewas di tangan gadis yang lihai ini.

Dia rela menebus dengan nyawanya sebagai pembayar hutang.

Hui Lian memang sudah marah sekali.

Dendamnya karena penderitaan suhengnya amat besar.

Ia ingin melakukan sesuatu untuk suhengnya itu, ia memegangi pedangnya lebih erat lagi.

"Kakek Cia, keluarkan senjatamu!"

Bentaknya. Cia Kong Liang tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Nona, sudah lama aku membersihkan batinku dari kekrasan, oleh karena itu, sudah pantang bagiku untuk membiarkan tangan ini memegang pendag. Kalau engkau hendak menyerangku, pergunakan pedangmu dan aku akan menghadapimu dengan tangan kosong saja."

Hati yang sedang dikeruhkan amarah membuat orang tidak waspada dan selalu salah terima akan maksud orang lain.

Demikian pula dengan Hui Lian.

Mendengar ucapan itu, ia sudah paham, menganggap bahwa kakek itu memandang rendah kepadanya, menantangnya dengan tangan kosong!

Maka mukanya menjadi semakin merah.

"Bagus! Kakek sombong, jangan salahkan pedangku ini!"

Dania pun menerjang dan menusukkan pedangnya.

Bukan main kaget hati Hui Lian ketika melihat betapa orang yang ditusuknya itu sama sekali tidak mengelak, menerima saja tusukan pedangnyayang meluncur ke arah dada!

Cepat ia hendak menarik tangannya, namun terlambat karena pedang itu sudah meluncur terlalu cepat.

Pada saat itu nampak bayangan orang berkelebat, cepat sekali dan lengan kanan Hui Lian ditangkis orang sehingga tusukannya itu meleset dan tidak mengenai sasaran.

Ketika Hui Lian meloncat ke belakang dan memandang, ia terkejut bukan main melihat suhengnya, Ciang Su Kiat, telah berdiri disitu dan kiranya suhengnya yang tadi menangkis dan menggagalkan serangannya.

"Sumoi, sarungkan kembali pedangmu!"

Kata Su Kiat dengan halus dan melihat sinar mata suhengnya yang mengandung penyesalan, Hui Lian cepat menyarungkan pedangnya kembali.

Su Kiat lalu memegang tangan sumoinya dan ditariknya sumoinya itu diajaknya berlutut di depan kaki Cia Kong Liang!

"Locianpwe, sayalah yang memohonkan maaf bagi kelancangan Sumoi Kok Hui Lian.

Kalau Locianpwe hendak menghukumnya, hukumlah saya sebagai penggantinya.."

Melihat bekas muridnya ini, hati kakek itu diliputi keharuan.

Ternyata muridnya ini telah berubah sama sekali.

Kini telah berusia lima puluh tahun lebih dan sikapnya demikian matang, demikian berwibawa namun suaranya halus dan tenang.

Dia lalu membungkuk dan memegang kedua pundak Ciang Su Kiat sambil berkata.

"Su Kiat, bangkitlah, dan engkau juga, Nona. Su Kiat, sudahlah, jangan membuat aku merasa semakin sedih dan menyesal. Sungguh, aku sudah merasa menyesal sekali karena sikap dan perbuatanku di masa lalu. Bahkan untuk menebus kesalahanku itu, aku tadi rela mati di ujung pedang Sumoimu yang lihai ini."

"Locianpwe, sama sekali tidak ada penyesalan. Yang sudah terjadi adalah peristiwa yang lalu, dan sudah dihendaki Thian. Bahkan saya telah merasakan berkah dan hikmat peristiwa itu. Sumoi terburu nafsu dan karena itu saya mohon maaf dan kami mohon diri. Mari, Sumoi, kita pergi."

Sambil memegang tangan sumoinya, Su Kiat mengajaknya pergi dan sekali meloncat tubuh mereka berkelebat dan lenyap di tengah kegelapan malam!

Semua orang tertegun dan kagum bukan main.

"Bukan main!"

Kakek Cia Kong Liang memuji.

"Su Kiat kini telah menjadi seorang yang luar biasa lihainya.."

Hui Song lalu menepuk pahanya sendiri.

"Aihhh. sekarang aku teringat! Gadis itu tentulah puteri Kok Taijin!"

Kui Hong yang juga kagum terhadap wanita muda yang lihai bukan main itu segera bertanya.

"Ayah, siapakah itu Kok Taijin?"

"Dia adalah bekas gubernur San-hai-koan, seorang pembesar yang setia kepada pemerintah dan menjadi korban pemberontakan."

Hui Song lalu menceritakan peristiwa yang terjadi dua puluh tahun yang lalu.

Ketika itu, terjadi pemberontakan dari persekutuan orang jahat dan San-hai-koan di serbu pemberontak.

Rumah Gubernur Kok diserbu penjahat dan keluarga itu tewas semua, kecuali seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang berhasil di selamatkan Hui Song.

Akan tetapi, ketika dia melarikan anak perempuan itu, ditengah perjalanan dia dihadang oleh tokoh-tokoh sesat yang membantu pemberontakan, karena dikeroyok tiga orang sakti, terpaksa Hui Song melepaskan anak perempuan itu.

Pada saat anak perempuan itu terancam bahaya karena di tangkap seorang di antara para datuk sesat, muncullah Ciang Su Kiat yang menyelamatkan dan membawa lari anak perempuan puteri Gubernur Kok itu.

"Nah, demikianlah. Tadi aku seperti merasa pernah mengenal gadis itu, akan tetapi lupa lagi. Kiranya ia anak perempuan dahulu itu sekarang telah menjadi Sumoi dari Suheng Ciang Su Kiat! Bukan main, memang mereka berdua telah memiliki kepandaian yang amat hebat!"

Kakek Cia Kong Liang kembali ke dalam kamarnya untuk bersamadhi dengan prihatin.

Peristiwa tadi menggugah semua kenangan dan mendatangkan penyesalan yang lebih menekan hatinya.

Sementara itu, Hui Song mengajak puterinya dan Ling Ling untuk bercakap-cakap, terutama sekali Kui Hong diminta untuk menceritakan semua pengalamannya dan keadaan ibunya yang berada di Pulau Teratai Merah.

Juga antara Kui Hong dan Ling Ling segera terjalin hubungan yang akrab dan cocok.

Dalam percakapan ini, Hui Song menyatakan bahwa dia akan segera mengunjungi tempat mertuanya di Pulau Teratai Merah, dan minta maaf kepada kedua orang mertuanya, juga kepada isterinya, dengan harapan mudah-mudahan setelah lewat tiga tahun lebih, kini isterinya itu sudah dingin hatinya, mau memaafkannya dan mau kembali ke Cin-ling-san.

Sementara itu, di malam yang hanya diterangi bintang-bintang di langit itu, Ciang Su Kiat berjalan bersama Kok Hui Lian, menuruni Pegunungan Cin-ling-san.

Mereka tidak bicara sejak meninggalkan perkampungan Cin-ling-pai, dan setelah tiba di kaki gunung, barulah Su Kiat mengajak sumoinya memasuki sebuah kuil tua yang tidak dipergunakan lagi.

Malam tadi pun dia bermalam di kuil itu.

Mereka membuat api unggun dan baru sekarang mereka berkesempatan untuk saling pandang dibawah sinar penerangan api unggun.

Sejenak mereka saling pandang dan akhirnya Su Kiat menarik napas panjang.

Hatinya yang penuh kerinduan terhadap sumoinya itu terobatilah setelah melihat sumoinya dalam keadaan sehat selamat.

"Sumoi, aku girang melihat engkau dalam keadaan sehat dan selamat,"

Katanya, sederhana.

"Suheng, engkau pun kelihatan sehat. Sungguh tak kusangka akan dapat bertemu denganmu di tempat ini, Suheng."

"Sumoi, kenapa engkau menyerbu Cin-ling-pai..?"

Wanita itu menatap wajah suhengnya dengan pandang mata penuh selidik, akan tetapi tidak nampak kemarahan pada wajah suhengnya itu.

"Suheng, harap maafkan aku."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Sumoi, akan tetapi aku sungguh ingin sekali mengetahui mengapa engkau pergi ke Cin-ling-pai dan dengan nekat melakukan penyerangan terhadap bekas Guruku?"

Sejenak mereka saling tatap di bawah sinar api unggun, kemudian Hui Lian menunduk.

"Suheng, salahkah aku? sudah sejak dahulu, setiap kali aku memandang lengan kirimu, hatiku seperti ditusuk rasanya dan terdapat perasaan dendam yang makin menebal terhadap orang yang menyebabkan lenganmu buntung. Karena itu, sejak dahulu aku sudah mempunyai niat untuk pada suatu hari mencari ketua Cin-ling-pai dan membalaskan dendam atas penderitaanmu."

Su Kiat tersenyum.

"Sumoi, kita harus dapat menerima segala peristiwa dengan hati terbuka karena di dalam setiap peristiwa terdapat hikmatnya yang amat besar. Kalau saja tidak terjadi peristiwa di Cin-ling-pai itu, kalau saja lenganku tidak buntung, sekarang aku tentu masih menjadi seorang murid Cin-ling-pai. Aku tidak akan mewarisi ilmu-ilmu yang tinggi, dan yang lebih dari segalanya, aku tentu tidak akan bertemu dengan engkau, Sumoi."

"Dan aku mungkin mati di tangan penjahat itu ketika pendekar Cia Hui Song dikeroyok,"

Sambung Hui Lian.

"Nah, karena itu, tidak ada gunanya kita mendendam, apalagi bekas Guruku nampaknya sudah demikian menyesal dan menderita batin. Akan tetapi, yang membuat aku penasaran, kenapa engkau.. engkau begini nekat dan bersusah payah, menempuh bahaya pula, hendak membelaku, Sumoi?"

Kembali mereka saling pandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian Hui Lian menarik napas panjang.

"Karena... aku merasa berhutang budi kepadamu, Suheng, aku.. aku tidak mampu membalasnya dan aku ingin melakukan sesuatu yang besar untuk sekedar membalas budimu yang bertumpuk."

"Hemm, aku tidak merasa melepas budi, Sumoi. Aku.. sudah girang sekali melihat engkau selamat, aku.. aku selalu ingin melihat engkau dalam keadaan sehat dan berbahagia, Sumoi."

Mereka diam, kehabisan bahan percakapan.

Entah mengapa, sebelum bertemu, mereka saling merasa rindu sekali, akan tetapi begitu bertemu, mereka merasa canggung dan salah tingkah.

Karena keduanya diam, suasana menjadi hening sekali dan keduanya merenung sambil memandangi api unggun yang menari-nari.

Kemudian, Hui Lian melirik dan memperhatikan wajah suhengnya dari samping, dan nampak olehnya betapa kurusnya wajah itu, dengan garis-garis muka yang membayangkan penderitaan batin.

Ia merasa kasihan sekali.

"Suheng, engkau. engkau kenapakah?"

Su Kiat menoleh dan mereka berpandangan.

"Mengapa? Tidak apa-apa, Sumoi."

"Tidak sakitkah, sehat sajakah engkau Suheng?"

"Tidak, aku tidak sakit dan sehat-sehat saja."

"Akan tetapi, engkau begini kurus, Suheng. Sungguh baru nampak sekarang olehku betapa kurusnya engkau, dan pandang matamu begitu sayu seperti orang bersedih."

Su Kiat memandang wajah sumoinya dengan alis berkerut, terjadi perang di dalam batinnya antara mengaku atau tidak.

Akhirnya dia menggigit bibirnya dan memberanikan hatinya karena dia tahu bahwa soalnya sekarang adalah sekarang mengaku atau selamanya tidak akan ada kesempatan lagi!

"Sumoi, terus terang saja, memang ada kesedihan di dalam hatiku.

Aku merasa kesepian sekali, Sumoi, sejak engkau pergi.

bukan, bahkan sejak engkau menikah untuk pertama kalinya itu.

Aku kesepian dan kehilangan, akan tetapi semua itu masih dapat kuhibur dengan membayangkan engkau hidup berbahagia bersama suamimu.

Akan tetapi sungguh celaka, kenyataannya tidak demikian.

Engkau menderita, engkau gagal, bahkan dua kali pernikahanmu berakhir dengan kegagalan.

Melihat engkau tidak berbahagia, melihat engkau menderita, aku merasa betapa hancur hatiku, Sumoi.

Aku berduka, aku bersedih, mungkin lebih sedih daripada perasaanmu sendiri.

Aku ingin melihat engkau berbahagia selalu, Sumoi, aku..

aku.."

Sejak tadi, Hui Lian memandang dengan mata terbelalak, kemudian perlahan-lahan ada air menetes turun, dibiarkanny saja, wajahnya menjadi pucat.

"Tapi.. tapi kenapa, Suheng..? Kenapa engkau begitu memprihatinkan keadaanku..? Mengapa...?"

Tanyanya, suaranya menggetar dalam bisikan bercampur isak tertahan.

"Karena.. karena... demi Tuhan, biar aku berterus terang! Karena aku cinta padamu, Sumoi, sejak dahulu, sejak kita berada di dalam jurang.."

"Suheng...!"

Hui Lian menjerit dan menubruk kaki suhengnya menangis dengan mengguguk seperti anak kecil, merangkul kaki suhengnya.

Su Kiat terkejut sekali.

Dirangkulnya Hui Lian, ditariknya supaya jangan berlutut merangkul kakinya, dan gadis itu lalu menubruknya dan menangis di atas dadanya!

Tidak ada kata-kata yang keluar, karena setiap kali membuka mulut, yang keluar hanyalah "Suheng."

Dan isak tangis.

"Sumoi. maafkan aku, ah, aku lancing mulut, tidak sepatutnya aku menyinggung perasaan hatimu, Sumoi."

"Suheng, diam..!"

Tiba-tiba wanita muda itu membentak sehingga mengejutkan suhengnya.

Kini Hui Lian dapat menekan perasaannya dan ia pun kini mengangkat muka, memandang kepada suhengnya melalui genangan air mata.

"Kenapa Suheng begitu rendah hati? Aih, Suheng.. Suheng.. kenapa tidak dari dulu engkau katakan itu? sudah sejak dahulu aku menanti-nanti keluarnya ucapan itu dari mulutmu!"

"Sumoi..?"

Su Kiat berseru, kaget dan heran.

"Suheng, engkaulah satu-satunya orang yang kumiliki. Engkau menjadi pengganti orang tuaku, Guruku, saudaraku, sahabatku.. engkaulah segala-galanya bagiku. Tentu saja aku tidak berani mengharapkan yang lebih daripada semua budi yang telah kau limpahkan kepadaku. Kemudian engkau minta aku menikah. Aku mencoba untuk membantah, akan tetapi engkau mendesak sehingga aku tidak berani lagi menolak. Aku mengira engkau tidak cinta kepadaku, Suheng. Dan aku. ah, aku bodoh. baru-baru ini saja aku tahu benar bahwa di dunia ini tidak mungkin ada orang lain yang akan kucinta lebih daripada perasaan cintaku padamu.."

"Sumoi..!"

Mereka berangkulan dan kembali Hui Lian menangis di dada suhengnya.

"Sumoi, mana aku berani? Aku jauh lebih tua darimu, dan aku seorang laki-laki yang cacat, buntung lenganku. Aku merasa rendah diri, dan baru sekarang. setelah engkau menjadi janda dua kali, setelah aku melihat pembelaanmu di Cin-ling-pai, aku memberanikan diri mengaku cintaku.."

"Suheng. ah, peluklah aku, Suheng, peluklah aku yang kuat, dan jangan kau lepaskan aku lagi. tanpa engkau, aku tidak berani hidup di dunia yang kejam ini.."

"Tidak, Sumoi, demi Tuhan, mulai sekarang aku tidak akan melepaskanmu lagi. Engkau milikku dan aku milikmu, aku akan mempertahankan engkau dengan taruhan nyawaku. Engkau calon isteriku."

"Dan engkau suamiku. sampai aku mati, Suheng."

Sungguh mesra dan mengharukan pertemuan antara dua hati yang sesungguhnya sudah saling cinta sejak dahulu.

Kini segalanya terbuka bagi mereka, dan mereka merasa seolah-olah baru bangkit dari kematian untuk menyongsong sinar matahari pagi yang cerah dan penuh kebahagiaan.

Mereka bercakap-cakap dengan mesra, seperti sepasang pengantin baru, membicarakan masa depan mereka dan rencana mereka.

Mereka akan mencari pendeta dalam kuil yang mau menikahkan mereka, kemudian mereka akan hidup sebagai suami siteri dengan lembaran baru, di tempat yang jauh dari segala pertikaian dunia, membentuk rumah tangga, kalau mungkin melahirkan anak-anak.

Alangkah indahnya semua itu!

Pernikahan Hui Lian dengan suaminya yang pertama, yaitu Tee Sun, terjadi atas anjuran Ciang Su Kiat dan Hui Lian mau menjadi isteri Tee Sun hanya untuk mentaati permintaan suhengnya.

Ternyata kemudian terdapat ketidakcocokan antara suami isteri ini, karena Tee Sun amat pencemburu dan memang tidak ada rasa cinta dalam hati Hui Lian terhadap suami pertama itu.

Kemudian terjadi perceraian dan pernikahannya yang kedua, dengan Su Ta Touw, terjadi karena Hui Lian silau oleh bujuk rayu dari suami ke dua itu yang memang seorang perayu dan penakluk wanita.

Pernikahan kedua hanya terdorong oleh nafsu ini tidak bertahan lama, karena setelah Su Ta Touw merasa bosan, nampaklah belangnya dan kembali terjadi perceraian.

Kemudian Hui Lian merana dan barulah terasa benar olehnya betapa sesungguhnya dia memuja dan mencinta Su Kiat, suhengnya sendiri!

Dan mereka berdua ini, yang sudah hidup bersama mengalami segala macam kesengsaraan berdua, mengalami suka duka berdua bahkan menghadapi maut yang mengerikan, memliki cinta yang didasari persamaan selera dan watak.

Maka ketika dua hati itu bertemu, lengkaplah sudah pertemuan cinta antara mereka dan dengan penuh bahagia mereka menyongsong hari depan yang nampak cerah!

Sudah terlalu lama kita meninggalkan Pek Han Siong, yang ketika kecilnya dianggap sebagai Sin Tong (Anak Ajaib) dan dijadikan perebutan karena oleh para Pendeta Lama di Tibet dia dicalonkan menjadi seorang Dalai Lama!

Seperti kita ketahui, Pek Han Siong yang meninggalkan perguruan, berhasil bertemu dengan keluarga Pek di Kong-goan.

Ketika dia mendengar bahwa adik kandungnya, Pek Eng, meninggalkan rumah karena hendak mencari dia, juga sebagai pernyataan tidak suka karena orang tuanya menerima pinangan keluarga Song dari Kang-jiu-pang.

Setelah melakukan pengelidikan dan mencari-cari, akhirnya Han Siong berhasil menemukan jejak adiknya itu yang menuju ke selatan.

Dia sudah minta keterangan yang selengkapnya tentang adiknya itu dari keluarganya, dan sudah mempunyai gambaran bahwa adiknya itu seorang gadis berusia kurang lebih tujuh belas tahun, bertubuh tinggi ramping dengan kaki panjang.

Wajahnya hitam manis, matanya agak sipit dan hidungnya yang kecil mancung itu agak berjungkat ujungnya, bibirnya merah dan ada lesung pipit di sebelah kiri mulutnya.

Adiknya itu lincah jenaka, manja, pandai bicara, hatinya lembut dan suka mengenakan pakaian suku bangsa Yi, yaitu pakaian adat dan memakai topi sorban yang di hias bulu burung.

Dari cirri-ciri inilah dia mendapatkan jejak adiknya yang menuju ke selatan.

Pada suatu hari tibalah dia di kota Kui-yang, di Propinsi Kui-couw.

Dia mengharapkan untuk dapat memperoleh berita tentang adiknya di kota ini.

Hari telah siang ketika dia memasuki kota itu dan karena sejak kemarin malam dia bekum makan apa-apa dan perutnya terasa lapar, dia lalu masuk ke sebuah rumah makan ketika kebetulan lewat di depannya.

Tidak ada pelayan yang menyambutnya, akan tetapi Han Siong tidak peduli, dan dia pun masuk ke sebuah ruangan rumah makan yang sudah setengahnya diisi tamu.

Tidak kurang dari tiga meja penuh tamu, setiap meja delapan orang dan sikap mereka itu kasar, dengan bercanda mereka makan minum, bicara keras dan tertawa bergelak.

Han Siong memillih meja kosong di sudut dan setelah duduk, barulah seorang pelayan menghampirinya.

Pelayan ini sudah tua, dengan tubuh kurus dan muka membayangkan ketakutan, kain lap di pundak, dia menghampiri Han Siong dan terbongkok-bongkok, berkata dengan suara setengah berbisik.

"Kongcu, rumah makan kami sedang dipakai pesta, kalau Kongcu ingin makan, saya sarankan sebaiknya Kongcu pergi ke rumah makan lain di ujung jalan ini."

Han Siong mengerutkan alisnya memandang pelayan itu.

baginya tidak menjadi persoalan kalau restoran ini tidak menerima tamu, akan tetapi dia melihat betapa wajah itu membayangkan ketakutan dan mata pelayan itu melirik-lirik ke arah tiga buah meja penuh tamu itu.

Dia dapat menduga bahwa tentu pelayan ini tidak berani menerima tamu baru karena takut kepadaorang-orang kasar yang sedang berpesta pora itu.

"Akan tetapi, Paman, kalau engkau menerima mereka itu sebagai tamu, kenapa hendak menolak kehadiranku?"

"Sama sekali tidak menolak, Kongcu, hanya saran. ah, sudahlah, Kongcu hendak memesan apakah?"

"Nasi, tiga macam masak sayur, tidak pakai daging atau kalau pakai juga, sedikit saja. Aku lebih suka makan sayur daripada daging. Dan air teh."

"Arak?"

Tanya pelayan itu yang memandang heran.

Han Siong menggeleng kepalanya.

Dia lama hidup di dalam kuil dan karena itu, dia tidak doyan arak dan tidak begitu suka makan daging.

Pelayan itu meninggalkan Han Siong sambil menggeleng kepala dan mengomel perlahan.

Sementara itu, munculnya Han Siong di situ menarik perhatian beberapa orang tamu yang berpesta pora.

Mereka adalah jagoan-jagoan dan tukang-tukang pukul kota Kui-yang dan sekitarnya.

Pada siang hari itu, seorang kepala jagoan she Ciok yang bertempat tinggal di Kui-yang, amat terkenal sebagai seorang jagoan yang lihai, sedang mengadakan pesta untuk merayakan ulang tahunnya yang ke empat puluh.

Pesta diadakan di rumah makan itu dan dia mengundang teman-temannya, dari dalam dan luar kota sehingga dua puluh orang lebih tukang pukul dan jagoan berkumpul di situ dan berpesta pora.

Melihat mereka itu, tak seorang pun berani memasuki rumah makan.

Para tamu yang datang begitu melihat mereka, segera keluar lagi dan tidak berani makan di situ.

Hal ini diketahui oleh mereka dan mereka pun menjadi bangga.

Akan tetapi, kemudian muncul seorang pemuda sederhana yang berani masuk ke rumah makan itu bahkan tidak menghiraukan anjuran pelayan agar pergi makan ke lain restoran saja.

Keberanian pemuda ini membuat beberapa orang tamu merasa tidak senang dan menganggap bahwa pemuda itu tidak memandang kepada mereka.

Apalagi ketika mereka mendengar betapa pemuda itu hanya memesan nasi, sayur tanpa daging dan air teh, membuat mereka memandang rendah dan menganggap pemuda ini tentu seorang pendatang dari luar kota yang miskin dan tidak mengenal mereka.

Di antara mereka yang merasa tidak senang dengan kehadiran Han Siong, terdapat dua orang kakak beradik yang bertubuh tinggi besar dan melihat otot-otot melingkar-lingkar pada lengan dan leher mereka, Dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang kuat.

Mereka ini bernama Giam Hok dan Giam Kui, pembantu-pembantu yang dapat di andalkan dari kepala jagoan Ciok.

Setelah kakak beradik ini saling berbisik sambil tersenyum-senyum, mereka lalu menghampiri meja Han Siong.

Pelayan yang datang menghidangkan masakan dan air teh yang dipesan Han Siong, ketika melihat mereka datang, cepat-cepat pergi meninggalkan meja Han Siong dengan muka pucat.

Tentu saja Han Siong tahu akan sikap dua orang yang kini melangkah menghampirinya dengan lagak sombong itu.

Dia pun sudah siap siaga dan mengerahkan tenaga untuk membela diri, namun pada lahirnya, dia bersikap biasa saja, bahkan pura-pura tidak melihat mereka dan mulai makan nasi dengan sayurnya.

Kini kakak beradik itu sudah tiba di meja Han Siong dan dengan sikap congkak sekali mereka mengangkat kaki kanan dan diletakkan kaki itu di atas kursi di dekat meja Han Siong.

Mereka tertawa-tawa dan kini semua tamu yang sedang berpesta pora itu memandang sambil tertawa, mengharapkan pertunjukan yang lucu dan menggembirakan.

Perlakuan kasar dan sewenang-wenang terhadap orang lain bai mereka merupakan makanan sehari-hari dan melihat orang lain menderita oleh perlakuan mereka merupakan suatu kegembiraan.

Melihat ulah kedua orang pembantunya, kepala jagoan Ciok hanya tersenyum saja sambil minum arak lagi yang sudah terlalu banyak memasuki perutnya yang gendut.

"Heii, lihat anak dusun ini! Makanannya seperti makanan kambing! Sayur-sayuran melulu!"

Kata Giam Hok yang hidungnya pesek.

"Ha-ha-ha, lihat minumnya juga air teh. Eh, kambing, engkau tentu suka sekali kalau disiram air dingin seperti kambing kehujanan, ha-ha!"

Kata pula Giam Kui yang pergi ke sudut di mana terdapat seember besar terisi air.

Air ini disediakan di situ untuk mencuci tangan para tamu dan kini Giam Kui mengangkat ember itu.

Melihat ulah adiknya, Giam Hok yang tahu apa maksudnya, sambil tertawa-tawa lalu membantu adiknya mengangkat ember besar berisi air kotor itu.

Han Siong masih makan, akan tetapi kini dia memandang kepada dua orang kakak beradik yang menggotong ember kayu berisi air itu, Sikapnya tetap tenang akan tetapi matanya mengeluarkan sinar yang aneh dan amat berpengaruh dan kuat sekali.

Giam Hok dan Giam Kui mengangkat ember besar itu sambil tertawa-tawa, melangkah maju dan kemudian dengan pengerahan tenaga, mereka menggerakkan ember itu dan semua isinya mengguyur ke arah meja kepala jagoan Ciok!

Tentu saja, orang-orang yang tadinya menonton sambil tertawa-tawa, seketika menjadi geger dan menyumpah-nyumpah.

Air kotor dari bak itu bukan hanya menyiram semua hidangan yang berada di atas meja pertama itu, akan tetapi juga mengguyur muka dan pakaian sebagian dari mereka!

Semua orang berloncatan dibarengi makian-makian dan Ciok sendiri lalu meloncat bangkit dengan pakaian agak basah dan dia pun memaki.

"Apakah kalian sudah menjadi gila?"

Bentak Ciok dengan marah sekali.

Juga para jagoan lain menjadi marah, akan tetapi juga terheran-heran bagaimana dua orang kakak beradik itu berani melakukan kekurangajaran seperti itu terhadap mereka.

Dan dua orang itu pun kini terbelalak dengan muka pucat ketika melihat kenyataan yang tidak masuk akal itu.

Ternyata mereka telah menyiram isi air bak itu ke meja pimpinan mereka, padahal tadi sudah jelas bahwa mereka mengguyurkan air itu kepada bocah dusun yang sedang makan minum seorang diri di meja sudut itu.

Mereka kini memutar tubuh memandang kepada pemuda itu yang masih enak-enak makan, seolah-olah tidak pernah tahu akan terjadinya peristiwa di meja lain itu!

"Tapi.

tapi..

Ciok-toako, tadi kami mengguyur air itu ke meja bocah dusun itu!"

Kata Giam Hok sambil menudingkan telunjuknya ke arah Han Siong.

Juga Giam Kui merasa heran dan juga ngeri membayangkan akibat perbuatan dia dan kakaknya.

Dengan geram dia lalu melangkah menghampiri Han Siong dan melihat ini, Giam Hok juga cepat melangkah lebar menghampiri Han Siong.

"Bocah dusun ini yang membikin gara-gara, kita harus menghajarnya sampai mampus!"

Kata Giam Kui.

"Benar, dia harus mempertanggungjawabkan apa yang telah terjadi!"

Kata pula Giam Hok.

Orang she Ciok yang tadinya marah-marah, kini memandang dengan heran.

Dia pun tidak percaya bahwa dua orang kakak beradik yang menjadi pembantu-pembantunya itu sedemikian nekatnya untuk melakukan penghinaan kepadanya dan kepada teman-teman lain, menyiramkan seember air kotor kepada mereka seperti itu.

Tentu ada apa-apa yang aneh dalam hal ini, pikirnya.

Maka, seperti yang lain, dia pun kini memandang ke arah dua orang kakak beradik yang menghampiri pemuda itu dengan sikap mengancam dan pandang mata beringas sekali.

Tentu pemuda dusun itu akan mereka hajar sampai mati, pikir mereka.

Akan tetapi agaknya pemuda itu tidak peduli, melanjutkan makan, hanya menoleh ke arah mereka berdua sejenak.

Dan terjadilah keanehan ke dua yang oleh para jagoan itu dianggap tidak masuk akal.

Giam Hok dan Giam Kui mulai menerjang dan memukul, akan tetapi sama sekali bukan kepada pemuda itu, melainkan saling menyerang sendiri!

Kakak beradik itu berkelahi mati-matian, saling gebuk dan saling tending.

"Keparat, kuhancurkan kepalamu!"

Bentak Giam Hok dan dia menjotos ke arah kepala Giam Kui yang cepat mengelak, akan tetapi tetap saja menyerempet pipinya.

Dia terpelanting dan pipinya bengkak.

Marahlah Giam Kui.

"Jahanam, kupecahkan dadamu!"

Dan dia pun balas menonjok ke arah dada kakaknya sendiri.

Giam Hok menangkis, akan tetapi sebuah tendangan adiknya mengenai perutnya yang membuat dia terjungkal memegangi perut yang mendadak terasa mulas itu.

Dia marah dan kembali mereka saling serang, saling pukul dan saling tendang.

Tentu saja kepala jagoan dan para tamunya memandang dengan mata terbelalak dan mulut melongo.

Bagaimana mungkin ini?

Pemuda itu masih enak-enak makan dan kakak beradik itu sudah saling hantam mati-matian.

"Giam Hok! Giam Kui! Apakah kalian sudah gila? Hentikan perkelahian itu!"

Bentak Ciok sambil meloncat dekat.

Dua orang kakak beradik itu kini sudah saling cengkeram dan saling jambak.

Tiba-tiba mereka sadar dan masing-masing mengeluarkan seruan heran ketika mendapatkan kenyataan bahwa mereka telah saling serang!

"Kui-te (Adik Kui), kenapa engkau menyerang aku?"

Bentak Giam Hok.

"Tapi. tapi.. bagaimana ini bisa terjadi? Aku tadi memukuli petani busuk itu!"

"Aku juga! Apa yang telah terjadi..?"

Keduanya terbelalak dan kini menoleh kepada Han Siong yang sudah menyelesaikan makannya dan kini dengan sikap tenang bangkit dari duduknya menghadapi mereka.

Kepala jagoan Ciok adalah seorang yang berpengalaman di dunia persilatan.

Kini dia mengerti apa yang telah terjadi.

Pemuda yang tidak makan daging itu tentulah seorang ahli sihir!

Seperti orang-orang Pek-lian-kauw!

"Celaka, kalian telah dipermainkan dengan sihir!"

Teriaknya. Kedua orang kakak beradik itu marah sekali.

"Bunuh tukang sihir!"

Bentak mereka dan dua puluh lebih orang yang terkenal sebagai jagoan-jagoan dan tukang-tukang pukul itu kini serentak maju mengepung dan menyerang Han Siong yang berdiri dengan tenang.

Dan kembali terjadi hal yang luar biasa anehnya, dan sekali ini, para pelayan rumah makan yang bersembunyi di balik pintu dan tiang, menjadi penonton yang keheranan melihat betapa para tukang pukul itu kini saling berkelahi dengan mati-matian!

Sedangkan pemuda itu masih tetap berdiri di sudut, sama sekali tidak di ganggu dan nampaknya tenang saja.

Bahkan kini Han Siong menghampiri meja kasir dan melihat semua pelayan bersembunyi, dia tersenyum.

"Mengapa kalian sembunyi? Hayo hitung berapa yang harus kubayar."

Karena kini Han Siong tidak lagi memperhatikan kepada para tukang pukul, dan tidak lagi mengerahkan kekuatan sihirnya, maka Ciok lebih dulu sadar dan dia terkejut melihat semua tamunya saling hantam.

"Tahan. Kita berkelahi antara teman sendiri!"

Bentakan ini menyadarkan mereka dan semua orang kini menghentikan perkelahian, mengusap-usap bagian tubuh yang terpukul dalam perkelahian kacau-balau tadi dan kini mereka semua memandang ke arah Han Siong yang sudah membayar harga makanan yang dipesannya tadi.

Han Siong menghadapi mereka dan melihat sikap Ciok, dia pun dapat menduga bahwa orang yang perutnya gendut dan kepalanya botak inilah agaknya yang menjadi pimpinan gerombolan orang kasar itu.

"Sobat, engkau dan teman-temanmu telah merusak meja kursi dan mangkok piring, maka sudah sepatutnya kalau kalian mengganti kerugian yang diderita oleh pemilik rumah makan ini."

Ciok Cun, kepala jagoan itu, yang sudah menyadari bahwa pemuda ini yang telah mempermainkan mereka semua, kini melangkah maju.

Mukanya merah sekali karena dia marah.

"Bocah setan! Engkau tidak tahu dengan siapa engkau berhadapan. Engkau telah mempermainkan kami, akan tetapi aku tidak takut dan aku harus menghajarmu sendiri!"

Orang yang perutnya gendut dan kepalanya botak ini sudah melangkah maju dan mengayun tangannya untuk menampar ke arah muka Han Siong yang sama sekali tidak mengelak atau menangkis, melainkan hanya memandang dengan matanya yang mencorong.

"Plakkk!"

Pipi itu kena di tampar dan menjadi matang biru.

Pipi Ciok Cun!

Dia mengaduh-aduh dan mengusap pipinya yang ditamparnya tadi.

Semua orang melihat betapa Ciok Cun menampar dengan kuatnya, akan tetapi anehnya, yang ditampar bukan muka pemuda itu, melainkan mukanya sendiri!

Agaknya hal ini masih belum membuat kepala jagoan itu menjadi jera, dia menyerang lagi dengan hantaman ke arah dada lawan.

"Bukkk!"

Ciok Cun terbatuk-batuk saking kerasnya Pukulan tangan kananya menghantam dada sendiri.

Dia masih nekat, beberapa kali masih menyerang akan tetapi selalu yang dipukul adalah tubuhnya sendiri dan ketika dia menyerang ke arah kepala, kepalan kirinya menghantam kepala sendiri dan dia pun roboh!

Dia mencoba bangun, menggoyang-goyangkan kepalanya yang menjadi pening dan sepasang matanya menjadi juling karena segala sesuatu di sekelilingnya nampak berputaran!

Han Siong masih menghadapi mereka dan kini terdengar dia berkata.

"Harap kalian sadar bahwa kalianlah yang mencari penyakit, suka mengganggu orang lain. Aku sekali ini mengampuni kalian asal saja kalian mau memberitabukan kepadaku tentang diri seorang gadis yang mungkin baru-baru ini lewat di kota ini. Dia seorang gadis berusia tujuh belas tahun, hitam manis, tinggi ramping, lesung pipit di sebelah kiri mulutnya, pakaiannya seperti pakaian wanita suku bangsa Yi, memakai topi sorban terhias bulu burung, namanya Pek Eng. Apakah di antara kalian ada yang mengetahuinya?"

Kini Ciok Cun sudah bangkit kembali dan mendengar pertanyaan Han Siong itu, dia tertawa mengejek.

"Ha-ha-ha-ha, kiranya engkau mencari gadis itu? Bocah setan, biar aku tahu sekalipun, takkan kuberitabukan kepadamu! Engkau telah menghina kami dengan ilmu iblismu, dan mengapa tak kau pergunakan ilmu iblismu untuk menemukan gadis itu? ha-ha-ha!"

Karena tidak berdaya membalas kepada pemuda yang memiliki ilmu sihir itu, Ciok Cun mentertawakannya, dan teman-temannya yang juga tadi sudah kebagian, ada yang bengkak-bengkak ada yang babak belur karena saling hantam sendiri, kini membantu kepala jagoan itu mentertawakan Han Siong!

Pemuda itu sudah merasa girang sekali mendengar bahwa orang gendut botak didepannya ini tahu tentang adiknya.

Maka dia pun cepat mengerahkan kekuatan sihirnya.

"Baiklah, kalian tertawalah sepuasnya, kalau sudah puas dan ingin bercerita tentang gadis itu, bilang saja padaku. Aku masih sabar Menunggu."

Dia pun duduk kembali dan terjadilah keanehan lagi.

Ciok Cun dan teman-temannya masih tertawa-tawa, akan tetapi kini suara ketawa mereka itu makin menjadi-jadi, bergelak bahkan berkakakan.

Dan biarpun mulut mereka terbuka mengeluarkan suara ketawa, namun ada sesuatu pada pandang mata mereka.

Mata itu terbelalak dan membayangkan rasa kaget dan ketakutan, namun suara ketawa mereka semakin hebat saja.

Mereka bahkan kini terpingkal-pingkal, memegangi perut mereka dan ada pula yang sudah jatuh bergulingan ke atas lantai sambin masih terus tertawa.

Melihat keadaan ini, seorang pelayan merasa geli dan dia pun tak dapat menahan ketawanya.

Akan tetapi sekali dia tertawa, dia pun hanyut dan terus tertawa terpingkal-pingkla pula, sampi terguling dari atas bangkunya!

Melihat ini, kawan-kawan mereka terkejut dan mereka tidak berani tertawa.

Agakknya telah terjangkit penyakit aneh di tempat itu, penyakit tertawa!

Ciok Cun maklum bahwa ini bukan sewajarnya.

Dia berusaha menahan diri, akan tetapi semakin ditahan, semakin kuatlah dorongan untuk tertawa sehingga akhirnya dia pun terjungkal dan bergulingan.

Keringat dingin membasahi seluruh tubuh dan Ciok Cun merasa betapa napasnya sesak, perutnya sakit dan kepalanya pening, namun dia terus tertwa.

Barulah dia ketakutan, apalagi melihat betapa di antara teman-temannya ada yang sudah jatuh pingsan!

Dia lalu merangkak ke arah Han Siong, dan sambil bertiarap dan terus tertawa, dia berkata.

"Orang.. ha-ha, orang muda.. heh-heh-heh. aku. aku menyerah. ha-ha-ha. aku mau memberi tahu.. Hoah-ha-ha. mengenai gadis itu.. ha-ha-ha!"

Han Siong sudah merasa cukup memberi hajaran kepada gerombolan orang kasar itu dan dia memang membutuhkan keterangan tentang adiknya, maka dia pun segera menyimpan kekuatan sihirnya yang mnggelitik batin mereka sehingga mereka tertawa-tawa tanpa dapat dihentikan itu.

begitu dia menarik kembali kekuatannya semua orang yang tadinya tertawa-tawa sampai ada yang bergulingan di lantai dengan napas hampir putus, tiba-tiba saja berhenti tertawa.

Suasana menjadi aneh dan sunyi setelah tadi terdengar suara ketawa riuh rendah dan mereka hanya saling pandang dengan mata terbelalak, muka pucat dan napas terengah-engah, keringat bercucuran.

Kini Ciok Cun menjadi jerih dan maklumlah dia dan kawan-kawannya takkan mampu menandingi pemuda yang luar biasa ini.

Dia pun bangkit dan memberi hormat kepada Han Siong, diturut oleh kawan-kawannya.

"Harap Kongcu (Tuan Muda) suka memaafkan kami yang tidak mengenal orang pandai dan telah berani main-main."

Katanya.

"Sudahlah, semua yang terjadi adalah akibat ulah kalian sendiri, mudah-mudahan menjadi pelajaran agar lain kali kalian tidak bersikap sewenang-wenang mengganggu orang lain. Nah, yang kuminta sekarang adalah keteranganmu tentang gadis yang kutanyakan tadi. Betulkah engkau pernah melihatnya dan tahu di mana ia berada?"

Melihat sikap Han Siong yang halus walaupun jelas pemuda itu telah mengalahkan mereka.

Ciok Cun menjadi semakin tunduk dan dia tidak lagi berani main-main.

Selain itu, juga dia melihat kesempatan untuk membalas kekalahannya terhadap pemuda itu melalui orang-orang yang jauh lebih lihai.

"Kami memang melihat gadis yang Kongcu maksudkan itu. Bukankah dia seorang gadis suku bangsa Yi, pakai topi sorban terhias bulu burung, berusia kurang lebih tujuh belas tahun, hitam manis, dengan lesung pipit di sebelah kiri mulutnya, jenaka, galak dan berani, juga memiliki ilmu silat yang tinggi, katanya dari Pek-sim-pang?"

"Benar sekali!"

Kata Han Siong gembira karena jelas bahwa yang dimaksudkan orang ini tentulah adik kandungnya itu!

"Kurang lebih dua pekan yang lalu ia berada di kota ini, akan tetapi ia bentrok dengan orang-orangnya Lam-hai giam-lo dan ia ditawan lalu diajak pergi ke selatan!"

Tentu saja berita ini mengejutkan Han Siong.

"Lam-hai Giam-lo?"

Pikirnya dalam hati dan teringatlah dia akan hwesio tua bermuka kuda yang gagu dan tuli di kuil Siauw-lim-pai itu!

Penjahat besar, datuk kaum sesat yang amat lihai sehingga kalau saja tidak ada kedua orang gurunya yang menjadi orang-orang hukuman di kuil itu, tentu semua hwesio di kuil itu akan tewas olehnya!

Lam-hai Giam-lo setelah dikalahkan kedua orang gurunya lalu melarikan diri dan kini adik kandungnya tertawan dan dibawa pergi orang-orangnya yang menjadi anak buah Lam-hai Giam-lo?

Tentu saja dia terkejut dan merasa khawatir sekali.

"Kemana ia dibawa dan di mana tinggalnya Lam-hai Giam-lo?"

Tanyanya dengan suara dan sikap tenang.

Kini Ciok Cun memandang wajah pemuda itu seperti orang yang keheranan.

Pemuda ini memiliki ilmu tinggi dan aneh, akan tetapi tidak tahu di mana tempat tinggalnya Lam-hai Giam-lo!

Akan tetapi dia tidak berani mencela atau mentertawakan.

"Lam-hai Giam-lo berada di daerah pegunungan di Propinsi Yunan, di Lembah Yang-ce-kiang. Semua orang di daerah itu mengenal namanya dan tahu di mana tokoh itu tinggal."

Han Siong mengangguk.

"Baik, terima kasih atas petunjukmu. Akan tetapi sekali lagi, kuharap kalian sadar bahwa mengganggu orang lain mengandalkan kekerasan dan kekuasaan hanya akan mencelakakan diri sendiri. Nah, selamat tinggal!"

Dia lalu membayar harga makanan dan keluar dari restoran itu, diikuti pandang mata mereka yang tadi telah merasakan kelihaiannya.

Mari kita ikuti perjalanan Pek Eng yang sedang di cari jejaknya oleh Han Siong.

Seperti kita ketahui, gadis ini meninggalkan rumah orang tuanya tanpa pamit dan hanya meninggalkan surat bahwa ia hendak pergi mencari kakak kandungnya, Pek Han Siong.

Sesungguhnya, bukan untuk mencari kakaknya penyebabb utama dari kepergiannya tanpa minta ijin orang tua itu.

Ia merasa penasaran dan marah karena orang tuanya menerima pinangan keluarga Song.

Ia sama sekali tidak mencita pemuda she Song walaupun harus diakuinya bahwa Song Bu Hok adalah seorang pemuda yang gagah sekali, juga memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, putera Ketua Kang-jiu-pang yang amat terkenal pula.

Ia tidak menganggap bahwa pilihan orang tuanya itu keliru karena memang sudah sepatutnya kalau ia berjodoh dengan Song Bu Hok, Keduanya putera ketua perkumpulan besar dan di antara orang tua mereka terdapat pertalian persahabatan yang erat.

Akan tetapi, ia sama sekali tidak mencinta Song Bu Hok.

Hal ini terutama sekali dirasakannya setelah ia bertemu dengan Hay Hay!

Ia amat tertarik dan jatuh cinta kepada pemuda yang ugal-ugalan itu, bukan karena ia pernah mencium Hay Hay karena ia mengira pemuda itu kakaknya, bukan pula karena tingkat kepandaian pemuda itu sedemikian tingginya sehingga ia merasa kagum.

Atau mungkin juga ada sebagian dari kedua kenyataan itu yang memperkuat perasaan cintanya.

Akan tetapi yang jelas, ia tidak lagi dapat melupakan Ha Hay!

Itulah sebabnya maka ia menjadi nekat untuk pergi tanpa pamit dan ingin mencari kakaknya kepada siapa ia akan membuka semua isi hatinya dan mengharapkan kakak kandungnya itu akan mau membelanya.

Ia membawa bekal uang secukupnya, Beberapa stel pakaian lengkap yang dibuntalnya dalam sebuah bungkusan kain tebal, tidak lupa membawa sebatang pedang dan dengan pakaian sebagai seorang gadis suku bangsa Yi, ia pun melakukan perjalanan menuju ke selatan.

Tidak aneh kalau di sepanjang perjalanannya, Pek Eng menjadi perhatian banyak orang, terutama sekali para pria yang melihatnya melakukan perjalanan seorang diri.

Gadis ini cantik manis dan biarpun kulitnya agak gelap.

Terutama sekali mata yang agak sipit itu bersinar tajam, dan hidungnya dapat mempesona hati seorang pria dengan bentuknya yang mungil, ujungnya agak naik sedikit.

Bibirnya merah basah dan pipi kirinya terdapat sebuah lesung pipit yang nampak jelas kalau tersenyum.

Bentuk tubuhnya yang tinggi ramping dengan kaki panjang juga memiliki daya tarik tersendiri, dengan lekuk-lengkung tubuh gadis yang mulai dewasa.

Dari pandang mata dan bibir yang selalu di hias senyum itu dapat diketahui bahwa gadis ini lincah, jenaka dan gembira, akan tetapi juga memiliki ketabahan besar.

Orang-orang yang melihat betapa gadis ini membawa pedang di punggungnya, agak segan untuk mengganggu dan biarpun ada pula pria yang merasa dirinya kuat dan sudah biasa mengganggu wanita mencoba untuk bersikap kurang ajar, namun Pek Eng dapat mengatasinya bahkan telah merobohkan beberapa orang pengganggu.

Pada suatu hari tibalah ia di kota Kui-yang.

Seperti yang selalu dilakukan semenjak ia meninggalkan rumah, setiap kali ada kesempatan ia bertanya-tanya kepada orang tentang dua orang pemuda, yaitu Pek han Siong dan Hay Hay!

Ia sendiri tidak tahu apa yang ia katakana atau ia lakukan kalau ia berhasil menemukan Hay Hay.

Akan tetapi ia ingin sekali bertemu kembali dengan pemuda itu.

Di kota Kui-yang, Pek Eng juga bertanya-tanya ketika ia berjalan-jalan dan melihat-lihat keadaan kota itu di waktu senja, setelah ia mendapatkan sebuah kamar di rumah penginapan.

Ia hanya meninggalkan buntalan pakaiannya saja di kamar, dan semua uangnya ia bawa, demikian pula pedangnya.

Perhatian Pek Eng tertarik sekali melihat sebuah rumah makan besar yang dikelilingi pagar tembok tebal dan tinggi, dan di depan pintu gerbangnya terdapat papan yang bertuliskan huruf-huruf besar berbunyi "HUI-HOUW BU-KOAN" (Perguruan Silat Macan Terbang).

Apalagi ketika dari pintu gerbang yang terbuka itu ia dapat melihat belasan orang sedang berlatih gerakan silat, dipimpin oleh seorang laki-laki tinggi besar.

Belasan orang itu, seperti pelatihnya, hanya mengenakan celana sampai ke bawah lutut dan tubuh bagian atasnya telanjang, memperlihatkan tubuh yang kokoh kuat penuh otot-otot melingka-lingkar.

Ah, perguruan silat, pikir Pek Eng.

Mungkin di antara mereka itu ada yang mengenal kakaknya atau Hay Hay.

Bukankah kakaknya, seperti yang diharapkan oleh keluarganya, memiliki ilmu silat tinggi dan Hay Hay tidak perlu diragukan lagi adalah seorang yang sakti?

Orang-orang seperti kakaknya atau Hay Hay memang sepatutnya dikenal oleh golongan persilatan.

Dengan pikiran ini, tanpa ragu lagi Pek Eng lalu memasuki pintu gerbang yang terbuka dan tibalah ia dipelataran depan, di mana belasan orang itu sedang melatih gerakan Pukulan sambil mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring.

Ketika belasan orang yang rata-rata masih muda, berusia antara duapuluh sampai tiga puluh tahun itu melihat betapa tiba-tiba muncul seorang dara yang manis dari depan pintu, tentu saja mereka semua memandang dengan kagum dan gerakan mereka kacau, juga bentakan-bentakan itu tergagap dan tidak nyaring lagi, bahkan kini sebagian dari mereka menghentikan gerakan silat mereka dan berdiri bengong memandang ke arah Pek Eng, dengan senyum-senyum ceriwis!

Melihat keadaan para murid itu, pelatihnya terheran dan dia pun menengok.

Pelatih itu sudah lebih tua, kurang lebih empat puluh tahun usianya dan dia pun terkejut ketika melihat seorang gadis berdiri di situ, gadis yang tidak di kenal dan cantik manis "Aih, pantas kalian menjadi kacau.

Kiranya ada seorang bidadari muncul di sini!"

Kata Si Pelatih yang ternyata lebih ceriwis lagi sikapnya dari para murid itu.

Bahkan kini dengan langkah lebar dia menghampiri Pek Eng dan berdiri di depan Pek Eng.

Karena pealtih itu berdiri terlalu dekat sehingga bau apak dan tidak enak dari tubuh setengah telanjang berkeringat itu menyerang hidung Pek Eng, gadis ini mundur dua langkah dan hidungnya yang mungil bergerak-gerak lucu.

"Hai, Nona manis, siapakah engkau dan apa keperluanmu masuk ke tempat latihan kami ini?"

Tegur Si Pelatih, menyeringai lebar seperti merasa lucu melihat pedang yang tergantung di punggung gadis pengunjung itu.

"Hati-hati, Toako. Lihat pedang di punggungnya itu! Jangan-jangan ia seorang pendekar pedang yang lihai sekali!"

Terdengar suara seorang diantara para murid, akan tetapi karena nada suaranya jelas mengandung ejekan, semua orang tertawa dan pekatih yang di sebut Toako (kakak) itu pun tertawa bergelak.

Melihat mereka berlagak dan memandang rendah kepadanya, sepasang alis Pek Eng berkerut dan ia sudah merasa menyesal memasuki tempat ini.

Tak disangkanya bahwa mereka itu bukanlah calon-calon pendekar seperti para murid di Pek-sim-pang, melainkan sekelompok laki-laki yang ugal-ugalan dan bahkan kurang ajar terhadap wanita yang sama sekali belum mereka kenal.

"Ha-ha-ha!"

Pelatih itu tertawa lebar.

"Nona manis, benarkah engkau seorang pendekar pedang seperti kata ia tadi? Apakah kedatanganmu ini hendak memperlihatkan kepandaianmu atau hendak menguji kami?"

Karena sudah terlanjur masuk, Pek Eng yang tidak mau melayani kekurangajaran mereka, langsung saja bertanya.

"Aku tertarik melihat papan nama Hui-houw Bu-koan di luar dan aku masuk untuk bertanya apakah di antara kalian ada yang mengenal dua orang pemuda yang bernama Pek Han Siong dan Hay Hay?"

Pelatih itu dan para anak buahnya sebenarnya tidak pernah mendengar dua buah nama yang disebut Pek Eng itu, akan tetapi pura-pura sudah mengenalnya.

"Aahh, kiranya engkau mencari mereka?"

Bukan main girangnya hati Pek Eng. Tak disangkanya bahwa orang itu mengenal kakaknya dan Hay Hay.

"Benar, tahukah engku di mana mereka?"

Pelatih itu mengangguk-angguk.

"Tentu saja aku tahu, akan tetapi sebelum aku memberitabukan kepadamu, engkau harus memenuhi syarat yang kuajukan."

Pek Eng mengerutkan alisnya dan memandang penuh selidik.

"Syarat? Syarat apa itu?"

Pelatih itu tertawa.

"Ha-ha-ha, syaratnya engkau harus maju dan main-main dengan aku sebentar. Kalau engkau menang, tentu akan segera kuberitabukan di mana mereka, akan tetapi kalau engkau kalah, engkau harus menemani aku pelesir selama tiga hari tiga malam, baru engkau akan aku pertemukan dengan mereka. Bagaimana?"

Semua laki-laki yang berlatih silat, tersenyum-senyum mendengar ini, dan semua mata memandang kepada Pek Eng secara kurang ajar sekali.

Hati Pek Eng sudah menjadi panas dan kini ia meragukan kebenaran pengakuan pelatih itu bahwa dia tahu di mana adanya dua orang pemuda yang dicarinya.

Tentu hanya untuk mencari alasan agar dapat mempermainkannya, pikirnya dengan hati panas dan marah.

Akan tetapi, ia tetap tersenyum, bahkan menangguk-angguk.

Andaikata ia kalah, ia pun masih mempunyai akal untuk menghindarkan diri dari kekurangajaran orang ini, pikirnya.

Akan tetapi melihat gerakan mereka tadi, ia yakin bahwa ia akan mampu mengalahkan orang tinggi besar ini, bahkan tidak merasa gentar untuk menghadapi pengeroyokan belasan orang yang tingkat kepandaiannya masih rendah dan hanya mengandalkan kekuatan otot belaka.

"Baik, akan tetapi kalau engkau kalah kemudian tidak dapat membawa aku kepada mereka, akan kuhancurkan mulutmu yang lancang itu!"

Katanya, tetap tenang dan mulutnya dihias senyum, sama sekali tidak kelihatan marah.

"Toako, biar aku menangkap gadis ini untukmu!"

Tiba-tiba terdengar seruan seorang di antara anak buah itu dan orang ini, berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, bertubuh kurus dan mukanya pucat seperti orang berpenyakitan, sudah meloncat maju ke depan Pek Eng dan langsung saja dia menubruk untuk merangkul dan menangkap gadis itu.

Kesempatan yang amat baik, pikir pemuda itu.

Dia akan dapat memeluk gadis manis ini, bahkan mungkin dapat mencuri satu dua kali ciuman sebelum menyerahkannya kepada pelatihnya.

Tangan kanannya menyambar hendak memukul leher, sedangkan tangan kirinya secara kurang ajar sekali hendak mencengkeram ke arah dada!

Pek Eng melihat gerakan serangan yang kurang ajar akan tetapi juga amat lambat dan lemah baginya itu.

ia menggerakkan kakinya memutar tubuh setengah lingkaran, membiarkan cengkeraman ke arah dada itu lewat, sedangkan tangan kanannya sendiri bergerak ke atas, menangkap pergelangan tangan kanan lawan yang hendak merangkulnya, kemudian cepat sekali ia menekuk lengan kanannya dan dengan tepat sekali siku kanannya menghantam muka orang itu.

"Crottt!"

Ujung siku tepat menghantam hidung pemuda muka pucat itu dan tulang hidung itu patah, hidungnya menjadi hitam membengkak dan darah pun bercucuran keluar.

Pek Eng mengangkat kakinya ketika pemuda itu tersentak ke belakang dan perutnya maju ke muka, dan lututnya sudah menghantam perut lawan.

"Ngekkkk!"

Dan pemuda itu pun terjengkang, kedua tangannya sibuk memegangi hidung dan perut karena dalam keadaan hampir pingsan dia tidak dapat membandingkan mana yang lebih nyeri hidung remuk dan perut mulas itu.

Dengan suara bindeng dia mengaduh-aduh sambil berlutut membungkuk-bungkuk.

Pelatih itu marah.

Sambil berseru keras dia pun menubruk ke depan.

Namun Pek Eng tidak mau membuang banyak waktu lagi.

Disambutnya serangan lawan itu dengan tamparan dari samping yang tepat mengenai pelipis pelatih tinggi besar itu.

"Plakkk!"

Tubuh yang tinggi besar itu terputar karena dia merasa seolah-olah disambar petir, kepalanya nyeri, pandang matanya berkunang dan dia pun meloncat-loncat seperti monyet menari-nari di atas papan yang panas.

Pek Eng menyusulkan dua kali gerakan kaki, ujung sepatunya menyentuh sambungan lutut dan orang tinggi besar itu pun terpelanting roboh.

Kini, belasan orang murid itu maju mengeroyok Pek Eng, bahkan di antara mereka ada yang membawa senjata golok, pedang dan toya.

Namun, mereka itu tidak ada artinya bagi Pek Eng.

Gadis perkasa ini bergerak cepat seperti seekor burung walet yang menyambar-nyambar di antara sekelompok capung saja.

Belasan orang itu pun satu demi satu roboh terpelanting roboh sambil mengaduh-aduh!

Pada saat itu, dari pintu tengah muncullah seorang kakek dan seorang nenek.

Mereka terkejut sekali melihat betapa ada seorang dara muda merobohkan belasan orang anak murid Hui-houw Bu-koan.

Kakek itu lalu memutar tubuhnya, dan berseru ke arah dalam rumah.

"Ciok Kauwsu (Guru Silat Ciok), keluarlah!"

Kini muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, perutnya gendut dan kepalanya botak, matanya seperti mata burung elang, tajam dan lincah melirik ke sana-sini, dan sinarnya mengandung kelicikan.

Laki-laki ini adalah Ciok Cun, pemilik Hui-houw Bu-koan, juga seorang kepala jagoan yang terkenal di kota Kui-yang dan sekitarnya.

Hampir tidak ada orang berani menentang kepala jagoan ini, karena selain dia lihai, banyak anak buahnya, dan seluruh jagoan dan tukang pukul di daerah itu tunduk belaka kepadanya, juga dia terkenal mempunyai hubungan baik dan erat dengan para pembesar setempat.

Dia pandai mengambil hati dan mendekati para pejabat yang berwenang dengan cara mengirim hadiah-hadiah barang berharga kepada mereka.

Pada waktu peristiwa keributan di pekarangan luar terjadi, Ciok Cun sedang menerima tamu yang agaknya amat penting karena tamu kakek dan nenek itu diterima di ruangan paling dalam dan mereka bertiga bicara dalam ruangan tertutup bahkan tak seorang pun pelayan atau murid boleh masuk tanpa di panggil.

Dan tepat ketika dua orang tamu itu hendak pergi, mereka melihat kesibukan di luar, di mana belasan orang anak buah Hui-houw Bu-koan telah roboh berserakan oleh seorang gadis muda!

Tentu saja Ciok Cun terkejut dan marah bukan main melihat betapa belasan orang muridnya di hajar orang, apalagi pembantunya yang tinggi besar, yang merupakan murid tingkat atas, agaknya sudah tidak mampu bangkit, kedua kakinya seperti lumpuh dan sebelah mukanya matang biru!

"Heii, siapakah engkau anak perempuan yang datang mengacau?

Aku adalah Ciok Cun, Kauwsu (guru silat) dan pemilik bu-koan (tempat belajar silat) ini!

Siapakah engkau dan apa maksudmu membikin ribut di sini?"

Sebagai seorang yang berpengalaman, tentu saja Ciok Cun dapat menduga bahwa gadis ini biarpun masih muda, tentu memiliki kepandaian tinggi, kalau tidak demikian, tak mungkin belasan orang murid itu roboh semua sedangkan gadis itu agaknya kusut pakaiannya pun tidak!

Mendengar pengakuan Ciok Cun, Pek Eng memandang tajam.

Kalau anak buahnya mengenal kakaknya dan Hay hay, tentu gurunya lebih mengenal mereka lagi.

Maka ia pun menjura ke arah laki-laki gendut botak itu.

"Harap suka maafkan aku, Ciok Kauwsu. Aku bernama Pek Eng dan tadinya aku sama sekali tidak pernah mengira akan berkelahi dengan anak buahmu di tempat ini. Aku kebetulan lewat dan tertarik bahwa di sini adalah sebuah perguruan silat, aku lalu masuk dan kepada mereka ini aku menanyakan nama dua orang pemuda, apakah mereka mengenalnya. Kemudian, orang tinggi besar ini memberitahu bahwa dia mengenal mereka dan akan memberitabukan di mana adanya mereka asal aku mampu mengalahkan dia. Kami bertanding dan semua anak buahmu maju mengeroyokku dan. beginilah jadinya."

Pek Eng menggerakkan kedua tangannya ke arah mereka yang masih mengaduh-aduh dan sukar untuk bangkit berdiri.

Ciok Cun sendiri belum pernah mendengar dua nama itu, maka dia pun memandang kepada muridnya yang menjadi pelatih murid-murid tingkat rendahan dan bertanya.

"Benarkah engkau mengenal dua orang yang di cari Nona ini?"

Si Tinggi Kurus terpaksa mengaku.

"Kami tidak mengenal mereka, kami hanya membohongi Nona ini untuk main-main saja.."

Mendengar ini, Pek Eng merasa mendongkol bukan main.

Dengan alis berkerut dia menyapu bekas lawan yang banyak itu dengan pandang matanya, kemudian ia mengomel.

"Kalau kalian tidak tahu, kenapa harus pura-pura tahu? Kalau tadi kalian bilang tidak tahu, tidak perlu terjadi keributan ini. Sudahlah, kalau kalian tidak mengenal mereka, barangkali engkau sendiri mengenal mereka, Ciok Kauwsu dan kalau engkau dapat menunjukkan kepadaku di mana mereka, (Lanjut ke

Jilid 29) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 29 aku sungguh akan berterima kasih sekali."

Ciok Cun sudah merasa mendongkol melihat betapa para muridnya di hajar, akan tetapi karena dia maklum betapa lihainya gadis muda ini, diapun bertanya.

"Siapakah mereka?"

"Yang seorang bernama Pek Han Siong, dan yang kedua dikenal dengan nama Hay Hay."

Ciok Cun mengerutkan alisnya mengingat-ingat, akan tetapi dia sendiri belum pernah bertemu dengan dua orang yang namanya seperti itu, maka dia pun menggeleng kepala.

"Aku tidak mengenal mereka."

Pek Eng kecewa.

"Kalau begitu, biar aku pergi saja dan sekali lagi maafkanlah aku!"

Setelah berkata demikian, Pek Eng membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari pekarangan itu, keluar melalui pintu gerbang.

"Nona, tunggu dulu!"

Tiba-tiba terdengar bentakan orang dan Pek Eng membalikkan tubuhnya dan kini ia berhadapan dengan kakek dan nenek itu.

melihat betapa kakek itu menghampirinya, maklumlah Pek Eng bahwa yang mengeluarkan suara menahannya tadi adalah kakek itu.

Ia memperhatikan mereka sekarang.

Kakek itu usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi besar dan pandang matanya mencorong tajam.

Ada pun nenek itu hanya beberapa tahun lebih muda, kurang lebih enam puluh tahun, namun masih nampak cantik dan pesolek karena pipi dan bibirnya masih memakai pemerah kulit, bahkan mukanya yang bentuknya cantik itu dipulas bedak yang cukup tebal.

Karena mereka adalah orang-orang tua.

Pek Eng menghadapi mereka dengan sikap tenang dan hormat.

"Engkaukah yang menahan aku pergi tadi, Paman Tua? Ada urusan apakah?"

Tanyanya sambil memandang kepada kakek itu.

"Benarkah yang kau cari itu adalah Pek Han Siong dan Hay Hay?"

Tanya kakek itu.

"Benar, apakah engkau mengenal mereka?"

Kakek itu saling pandang dengan Si Nenek dan mereka pun mengangguk, bahkan kakek itu berseru.

"Mengenal mereka? Ah, mengenal baik sekali!"

Pek Eng memandang dengan penuh curiga.

"Sekarang aku tidak akan mudah percaya kalau ada orang mengaku kenal dengan mereka, karena tadi pun aku sudah dibohongi orang,"

Katanya sambil melirik ke arah pelatih silat tadi.

"Akan tetapi aku tidak berbohong!"

Kata pula kakek itu.

"Bukankah yang bernama Hay Hay itu seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun, lincah dan gembira, tubuhnya sedang dan dadanya bidang, matanya bersinar-sinar, mulutnya selalu tersenyum, dia memiliki ilmu silat yang amat lihai dan juga pandai sihir? Dan bukankah yang bernama Pek Han Siong itu adalah putera Ketua Pek-sim-pang, dan dahulu ketika kecil di sebut Sin-tong (Anak Ajaib)?"

Pek Eng hampir bersorak kegirangan.

Wajahnya seketika berubah, berseri-seri dan sinar matanya penuh harapan di tujukan kepada orang tua itu.

"Aih, benar sekali, Paman. Benar sekali, aku adalah adik dari Pek Han Siong!"

"Bagus!"

Tiba-tiba nenek itu yang sejak tadi hanya memandang wajah Pek Eng dengan penuh perhatian, kini membentak.

"Nah, sekarang katakan di mana adanya Pek Han Siong itu!"

Nenek itu bersikap mengancam sehingga diam-diam Pek Eng terkejut, juga merasa heran dan kecewa.

Sialan, pikirnya.

Ia tadi sudah kegirangan karena kakek dan nenek itu mengenal kakaknya dan Hay Hay, akan tetapi siapa kira mereka malah bertanya kepadanya di mana adanya kakaknya!

"Hemm, jadi kalian kakek dan nenek ini mengenal kakakku akan tetapi tidak tahu dimana dia berada?

Kalau begitu, kalian pun tidak ada gunanya bagiku.

Selamat tinggal!"

Setelah berkata demikian, Pek Eng yang tidak mau lebih lama lagi tinggal di tempat itu, bergerak cepat hendak lari keluar dari pintu gerbang.

Akan tetapi tiba-tiba ada bayangan berkelebat di sampingnya dan tahu-tahu nenek itu telah menghadang di ambang pintu gerbang, ke dua tangannya di palangkan seolah-oleh hendak melarang dan mencegah ia keluar!

Diam-diam Pek Eng terkejut.

Dari gerakan itu tadi saja ia sudah tahu bahwa nenek itu memiliki ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat.

Ia menoleh dan kakek itu pun menghampirinya.

Ia telah di kepung depan dan belakang oleh kakek dan nenek itu.

Pek Eng mengambil keputusan cepat.

Ia harus keluar dari situ sebelum di kepung oleh lebih banyak orang lagi.

Maka tiba-tiba, tanpa mengeluarkan suara, tubuhnya sudah meloncat ke depan dan menerjang nenek yang menghadang di ambang pintu.

Kedua tangannya mendorong dengan maksud untuk mendorong nenek itu kesamping agar ia dapat menerobos keluar!

Akan tetapi, nenek itu tidak mengelak, melainka menyambut dorongan kedua tangan gadis itu dengan kedua tangannya sendiri.

Dua tenaga bertemu dan akibatnya, tubuh Pek Eng terdorong mundur kembali ke dalam pekarangan!

Gadis itu terkejut, merasa betapa kuatnya tenaga dorongan nenek itu.

"Engkau tidak boleh pergi sebelum menunjukkan kepada kami di mana adanya Sin-tong!"

Kata kakek itu dan tiba-tiba saja tubuh kakek itu meloncat tinggi dan dari atas dia menubruk dengan kedua tangan membentuk cakar seperti seekor burung garuda yang menyambar kelinci!

Melihat ini, Pek Eng mengelak dengan loncatan ke samping sambil siap untuk membalas, akan tetapi, lengan kakek tinggi besar itu mengejarnya dari atas.

Terpaksa Pek Eng menangkis dengan lengan kirinya dan membarengi dengan Pukulan tangan kanan ke arah leher kakek itu.

"Dukk!"

Pukulan itu mengenai leher yang terasa keras seperti baja, akan tetapi cengkeraman tangan kakek itu sudah dapat menangkap pundak Pek Eng dan gadis itu lalu roboh dengan kaki tangan terasa lemas kehilangan tenaga.

Ternyata jalan darahnya telah dapat dicengkeram dan ia pun tidak mampu bangkit lagi.

Biarpun kaki tangannya sudah tidak dapat digerakkan lagi, namun Pek Eng yang roboh telentang itu memandang kepada kakek itu dengan kedua mata melotot, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut.

Nenek itu sekali loncat sudah di dekat Pek Eng.

"Hayo cepat katakan di mana adanya Pek Han Siong. Kalau engkau tidak mau mengaku, terpaksa aku akan menyiksamu dengan jarum beracun!"

Sementara itu, Ciok Cun yang sejak tadi menjadi penonton bersama anak buahnya, terbelalak kagum melihat betapa kakek dan nenek itu, dalam beberapa gebrakan saja telah mampu menangkap agdis gadis yang amat lihai itu!

"Hebat.

hebat sekali.

kepandaian Ji-wi sungguh seperti dewa!"

Dia memuji.

"Ah, tak dapat aku membayangkan betapa tinggi tingkat kepandaian Locianpwe Lam-hai Giam-lo, melihat betapa utusannya saja seperti Ji-wi memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!"

Nenek itu mendengus tak menjawab dan kakek itu berkata.

"Tingkat kepandaian Lam-hai Giam-lo tak dapat di ukur, karena itu, jangan engkau main-main, Ciok-kauwsu dan engkau harus mentaati semua yang telah diperintahkan."

"Kami taat. tentu saja kami taat, apalagi setelah Locianpwe itu demikian royal memberi pengganti biaya kami melalui kedatangan Ji-wi."

Nenek itu kini mengeluarkan sebatang jarum hitam dari kantung kecil di pinggangnya dan memeprlihatkan kepada Pek Eng.

"Nona, kau lihat jarum ini. Karena benda inilah maka aku dijuluki orang kang-ouw sebagai Tok-ciam (Jarum Beracun). Jarum ini bukan hanya dapat membunuh, akan tetapi juga mampu mendatangkan siksaan yang amat hebat. Kalau engkau tidak mau menunjukkan kepada kami di mana adanya Sin-tong, engkau akan mednerita siksaan yang akan membuat engkau rindu akan kematian yang tak kunjung tiba. Lihat!"

Kebetulan seekor anjing lewat tak jauh dari mereka.

Sekali menggerakkan tangannya, jarum itu meluncur dan terdengar anjing itu berkuik lalu roboh dn selanjutnya anjing itu melolong-lolong berkelojotan.

Jarum itu mengenai kaki depan kanan dan kini jelas nampak betapa kaki yang terkena jarum itu membengkak dan menghitam dan agaknya mendatangkan rasa nyeri yang amat hebat melihat betapa anjing itu melolong-lolong amat menyedihkan.

Diam-diam Pek Eng merasa ngeri juga melihat kekejaman itu dan maklum bahwa ancaman nenek itu bukanlah gertak kosong belaka.

Ia maklim bahwa nenek dan kakek itu lihai bukan main dan ia tidak akan mampu mengalahkan mereka, maka kalau oa nekat melawan pun takkan ada gunanya.

Diam-diam ia menduga-duga siapa adanya kakek dan nenek yang amat lihai ini dan siapa pula pimpinan mereka yang tadi di sebut berjuluk lAm-hai Giam-lo.

Kalau saja Pek Eng mengenal kakek dan nenek itu, tentu ia akan menjadi semakin kaget dan ngeri.

Kakek dan nenek itu adalah suami isteri yang terkenal sebagai Lam-hai Siang-mo (Sepasang Iblis Laut Selatan)!

Kita telah mengenalnya sebagai datuk-datuk sesat yang amat kejam dan lihai.

Kakek itu bernama Siangkoan Leng dan nenek itu adalah isterinya yang bernama Ma Kim Li.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, suami isteri ini menculik bayi dari keluarga Pek dan mengira bahwa bayi yang bukan lain adalah Hay Hay itu sebagai Sin-tong (Anak Ajaib).

Mereka kecelik karena ternya bayi keluarga Pek yang mereka culikitu bukan Sin-tong.

Suami isteri ini sekarang telah bergabung dengan para datuk sesat lainnya, menjadi pembantu-pembantu yang diandalkan oleh Lam-hai Giam-lo, kakek sakti yang ingin menghimpun para datuk sesat dan memperkuat kembali golongan hitam.

Untuk memperkuat kedudukannya dan memperluas pengaruhnya.

Lam-hai Giam-lo mengutus para pembantunya untuk mempengaruhi kaum sesat di daerah selatan, mengajak mereka untuk bergabung di bawah pimpinan Lam-hai Giam-lo dan untuk keperluan itu, Lam-hai Giam-lo tidak sayang untuk menyebarkan uang secara royal sekali.

Suami isteri itu kini berada di Kui-yang juga dalam rangka membujuk Ciok Cun yang dianggap sebagai kepala jagoan di kota itu untuk mengumpulkan kawan-kawannya dan bergabung di bawah pimpinan Lam-hai Giam-lo.

"Nah, bagaimana, Nona?"

Kata Ma Kim Li sambil tersnyum dingin.

"Engkau memilih selamat dan menunjukkan kepada kami di mana adanya kakakmu, atau engkau ingin melolong-lolong seperti anjing itu dalam keadaan hidup tidak mati pun tidak?"

"Hemm, nenek yang berhati kejam! Kau kira aku seorang gila yang tak dapat memilih mana yang menguntungkan? Tentu saja aku memilih yang pertama. Akan tetapi sebelum kita bicara, aku ingin dibebaskan dari totokan ini, dan ingin mengenal siapa adanya kalian berdua."

Girang sekali hati suami isteri itu mendengar kesanggupan ini.

Kalau mereka dapat menguasai Sin-tong dan menyerahkannya kepada Lam-hai Giam-lo, tentu mereka akan berjasa besar.

Pemuda yang dulu diperebutkan itu tentu masih berharga sekali bagi para pendeta Lama di Tibet yang tentu akan suka menukarnya dengan emas permata yang banyak terdapat di negeri penuh rahasia itu.

Siangkoan Leng tentu saja tidak merasa khawatir gadis itu akan melarikan diri.

Di bawah pengamatan dia dan isterinya, gadis itu tidak akan mampu melarikan diri.

Maka dia pun melangkah maju dan dengan beberapa kali totokan pada pundak, dia sudah membebaskan Pek Eng.

Gadis itu bangkit berdiri dan memijit-mijit pundaknya yang terasa nyeri dan kaku, kemudian memandang suami isteri itu sambil tersenyum.

Baca Juga: Petualang Asmara 10

Baca Juga: Pedang Kayu Harum 3

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert