Eps 9 Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.
"Terima kasih, kalian sungguh merupakan kakek dan nenek yang amat lihai dan membuat aku merasa kagum. Siapakah sebenarnya kalian?"
"Namaku Siangkoan Leng dan ini isteriku Ma Kim Li. Kami berdua di dunia kang-ouw di kenal sebagai Lam-hai Siang-mo,"
Kata Siangkoan Leng, diam-diam dia pun kagum karena gadis itu, biarpun masih muda dan berada dalam kekuasaan atau tawanan mereka masih saja bersikap demikian tenangnya dan sedikit pun tidak memperlihatkan kekhawatiran.
"Sekarang katakanlah di mana kakakmu itu!"
Ma Kim Li kembali mendesak.
Sejak tadi Pek Eng sudah memutar otak mencari akal untuk menjawab desakan ini dan ia lalu memandang ke kanan kiri seperti orang yang merasa rikuh untuk bicara.
Ia lalu memandang wajah nenek itu dan berkata dengan suara lirih.
"Sudah tepatkah kalau kita bicara tentang itu di depan banyak orang?"
Suami isteri itu sadar bahwa mereka maish berada di antara Ciok Cun dan anak buahnya.
Ma Kim Li lalu memegang tangan Pek Eng dan berkata kepada suaminya.
"Mari kita berangkat!"
Dengan diantar oleh Ciok Cun sampai ke depan pintu gerbang, suami isteri itu keluar dan ternyata kini beberapa orang anak buah Ciok Cun telah mengeluarkan sebuah kereta berkuda dua yang tadinya di simpan di sebelah rumah, dan Ma Kim Li lalu mengajak Pek Eng masuk ke dalam kereta.
Siangkoan Leng duduk di depan dan menjadi kusir.
Kereta bergerak meninggalkan rumah itu, bahkan segera keluar dari pintu gerbang kota Kui-yang sebelah selatan.
Kereta berhenti di tempat sunyi di luar kota itu dan kembali suami isteri itu mendesak kepada Pek eng.
"Hayo, katakan sekarang dimana adanya kakakmu Pek Han Siong itu!"
Pek Eng tersenyum memandang kepada mereka.
"Kalian ini adalah dua orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga melihat usia kalian tentu telah memiliki banyak pengalaman, akan tetapi bagaimana dapat mengajukan pertanyaan yang demikian bodoh?"
"Apa kau bilang?"
Siangkoan Leng membentak, heran melihat keberanian anak perempuan itu yang dalam keadaan tertawan bahkan berani mengatakan mereka bodoh!
"Hati-hati dengan mulutmu atau jarumku akan menyiksamu!"
Nenek itu pun mengancam.
Akan tetapi Pek Eng yang cerdik itu hanya tersenyum menghadapi kemarahan mereka.
Ia sudah memperhitungkan benar semua sikap dan kata-katanya.
Ia maklum bahwa dua orang ini merupakan orang-orang yang dahulu memperebutkan kakaknya sebagai Sin-tong, seperti yang sering di dengar dari orang tuanya.
Mereka ingin sekali menemukan kakaknya, mereka hanya mengenal kakaknya dari namanya saja dan tidak tahu di mana kakaknya berada.
"Lam-hai Siang-mo,"
Katanya dengan sikap seperti bicara dengan orang-orang yang setingkat saja.
"Aku tidak bermaksud menghina kalian, akan tetapi kalian sendiri melihat bahwa aku datang ke persilatan Macan Terbang itu untuk menanyakan mereka kalau-kalau mereka melihat kakakku Pek Han Siong. Jelas bahwa aku datang untuk mencari Kakakku, dan sekarang kalian memaksa aku mengaku di mana adanya Kakakku itu. Bukankah itu pertanyaan yang amat bodoh? Kalau aku mencari-cari Kakakku, jelas bahwa aku tidak tahu di mana saat ini dia berada."
Kakek dan nenek itu saling pandang sejenak.
"Hemm, ceritakan bagaimana engkau berpisah dari Kakakmu itu agar kami dapat membantumu mencarinya!"
Kata Siangkoan Leng. Pek Eng memang sudah mempersiapkan diri sejak tadi.
"Aku dan Kakakku itu sedang melakukan perjalanan pesiar ke selatan. Ketika kami tiba di luar kota Kui-yang, muncul tiga orang pendeta berkepala gundul yang hendak menangkap Kakakku. Karena tiga orang pendeta itu lihai sekali, Kakakku menyuruh aku menyingkir. Mereka lalu berkelahi dengan seru dan berkejar-kejaran. Ketika aku mengejar, ternyata aku tertinggal jauh dan mereka semua telah menghilang. Aku lalu mencari-cari sampai ke kota Kui-yang dan bertanya di Hui-houw Bu-koan."
Ia berhenti sebentar kemudian bertanya.
"Apakah kalian mengenal Kakakku itu? Apa perlunya kalian hendak bertemu dengan dia?"
Suami isteri itu saling pandang.
"Apakah tiga orang pendeta berkepala gundul itu mengenakan jubah mantel lebar berwarna merah dan kotak-kotak?"
Tanya Siangkoan Leng.
"Benar sekali!"
Jawab Pek Eng yang teringat akan para pendeta Lama yang pernah menyerbu rumah keluarganya.
Kembali suami isteri itu saling pandang.
"Mereka adalah para pendeta Lama dari Tibet!"
Kata Ma Kim Li dengan hati khawatir, takut kalau-kalau ia dan suaminya kalah dulu oleh para pendeta itu.
"Apakah Kakakmu itu kalah lalu ditangkao dan di bawa pergi?"
"Tidak mungkin Kakakku kalah!"
Pek Eng berteriak seperti orang marah.
"Tiga orang pendeta itu yang lari dan dikejar-kejar Kakakku. Sayang ginkang mereka terlampau tinggi sehingga aku tertinggal jauh, dan kehilangan mereka."
Ketika dua orang itu saling pandang, ia melanjutkan.
"Akan tetapi aku yakin bahwa Kakakku tentu akan mengalahkan mereka dan dia akan mencari aku sampai dapat."
"Lihai sekalikah Pek Han Siong itu?"
Ma Kim Li bertanya.
"Kakakku? Wah, ilmu kepandaiannya seperti dewa! Karena itu, kalau kalian mengenalnya, harap jangan mengganggu aku agar dia tidak menjadi marah."
"Kami tidak menggangumu,"
Kata Siangkoan Leng sambil tersenyum mengejek.
"Sudah lama kami ingin bertemu dengan Kakakmu, ada urusan penting yang ingin kami bicarakan dengan dia."
"Wah kalau begitu, biarlah aku yang akan memberitabukan dia kalau kami sudah saling bertemu. Katakan saja kemana dia harus pergi mencari kalian, bukankah itu mudah sekali?"
Berkata demikian Pek Eng tersenyum manis sekali kepada mereka.
Ia sengaja tersenyum untuk membuat dua orang itu lengah karena pada saat itu, ia mendengar derap kaki kuda menuju ke arah kereta yang dihentikan di tepi jalan itu.
Siapa pun adanya para pemunggang kuda itu, ia akan mempergunakan kesempatan ini untuk melarikan diri dengan harapan para penunggang kuda itu akan membantunya kalau melihat seorang gadis diserang dan dikejar kakek dan nenek itu.
Pek Eng sama sekali tidak tahu bahwa sepasang iblis itu bukan tidak mendengar derap kaki kuda, bahkan mereka dapat menduga siapa adanya para penunggang kuda itu tanpa menengok.
Tempat ini memang menjadi tempat yang sudah menjanjikan untuk menanti datangnya dua orang kawan mereka!
Ketika dua orang penunggang kuda sudah tiga dekat dengan kereta itu, dan sepasang suami isteri itu nampaknya masih termenung mendengar perkataan Pek Eng tadi, tiba-tiba gadis itu meloncat ke luar dari dalam kereta!
Ia melihat bahwa dua orang penunggang kuda itu berpakaian hitam-hitam dan ia bermaksud untuk merampas seekor kuda mereka agar ia dapat melarikan diri menunggang kuda.
Dengan beberapa kali lompatan saja ia telah tiba dekat dengan dua orang penunggang kuda iru.
"Tangkap gadis itu!"
Terdengar suara Siangkoan Leng berseru di belakangnya.
Mendengar ini dua orang yang berpakaian serba hitam itu meloncat turun dari kudanya.
Pek Eng melihat bahwa mereka adalah dua orang kakek dan nenek juga, akan tetapi keadaan mereka membuat ia merasa terkejut dan ngeri.
Kakek berpakaian hitam itu tinggi kurus dan biarpun mukanya nampak tampan akan tetapi muka itu seperti kedok mati saja.
Juga nenek berpakaian hitam yang cantik itu mukanya seperti mayat.
Pakaian hitam mereka membuat kepucatan wajah mereka semakin nyata dan Pek Eng merasa bulu tengkuknya meremang.
Akan tetapi, karena ia tahu bahwa melawan dua orang kakek nenek yang berada di kereta ia takkan menang, maka ia lalu nekat dan cepat ia menubruk ke depan dan menerjang nenek pakaian hitam itu.
Kalau ia dapat merampas seekor kuda, ia akan melarikan diri, pikirnya dan diantara kakek dan nenek berpakaian hitam itu, ia memilih Si Nenek.
Serangannya cepat sekali dan ia mengerahkan kedua tangannya ke arah dada nenek itu.
Pek Eng tidak mengenal kedua orang itu dan kalau ia mengenal mereka tentu ia tidak akan nekat menyerang nenek itu.
Kakek dan nenek itu bukan lain adalah suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan!
Dalam hal ilmu kepandaian silat, sepasang iblis ini tidak kalah lihainya dibandingkan Lam-hai Siang-mo!
Melihat serangan gadis itu dan mendengar teriakan Siangkoan Leng, nenek yang bukan lain adalah Tong Ci Ki itu cepat menyambutnya.
Ia pun menangkis dengan dorongan kedua tangannya dengan gerakan memutar dan akibatnya, tubuh Pek Eng terpelanting dan terpaksa ia mundur kembali sambil terhuyung karena ia harus mempertahankan diri agar tidak sampai jatuh!
Kagetlah Pek Eng dan dengan mata terbalalak ia memandang kepada kakek dan nenek yang berdiri di depannya itu, Kwee Siong, kakek berpakaian hitam itu, mengeluarkan suara mendengus akan tetapi wajahnya sama sekali tidak bergerak.
Pek Eng membalikkan tubuhnya dan ia melihat Lam-hai Siang-mo sudah keluar dari kereta dan kini juga berdiri menghadangnya.
Ia telah di kepung dua pasang kakek dan nenek yang amat lihai itu!
Pikirannya bekerja cepat dan ia pun tersenyum menghadapi Siangkoan Leng dan Ma Kim Li.
"Apa lagi perlunya kalian menahan aku? Sudah kuceritakan dengan terus terang bahwa kau tidak tahu di mana adanya Kakakku Pek Han Siong, akan tetapi aku akan mencarinya dan akan kusampaikan kepadanya bahwa kalian mencarinya karena urusan penting. Kenapa kalian masih belum mau melepaskan aku, dan siapa pula kakek dan nenek ini yang juga menghalangi aku pergi?"
Mendengar disebutnya nama Pek Han Siong, suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan itu terkejut, dan juga girang sekali.
"Ah, Nona kecil. Kakakkmu bernama Pek Han Siong, apakah Sin-tong putera Ketua Pek-sim-pang?"
Tanya Kwee Siong.
Diam-diam Pek Eng merasa semakin heran.
Agaknya dua orang yang baru datang ini pun tertarik sekali mendengar nama kakaknya!
Apakah mereka juga trmasuk orang yang dahulu pernah memperebutkan Sin-tong, kakaknya yang dianggap anak ajaib oleh para pendeta Lama di Tibet itu?
Ia membalikkan tubuhnya dan menghadapi Kwee Siong dan Tong Ci Ki.
"Benar."
Katanya.
"Apakah kalian juga ingin bertemu dengan Kakak Pek Han Siong?"
"Orang she Kwee!"
Terdengar Siangkoan Leng berseru.
"Ingat, ia adalah tawanan kami!"
Mendengar ucapan itu, Pek Eng mendapat akal dan ia pun melangkah maju mendekati kakek dan nenek yang baru datang.
"Bohong! Aku bukan tawanannya, buktinya sekarang aku bebas, dan akulah yang menentukan dengan siapa Kakakku dapat bertemu. Kakakku adalah seorang gagah perkasa yang sakti, oleh karena itu tidak dapat bertemu dengan orang sembarangan. Siapa diantara kalian yang lebih lihai, barulah pantas kupertemukan dengan Kakakku!"
Perlu diingat bahwa dua pasang suami isteri ini sejak belasan tahun yang lalu pernah bermusuhan.
Dengan mati-matian mereka memperebutkan Sin-tong yang dianggap akan mendatangkan keuntungan besar.
Biarpun kemudian mereka bersatu dan bekerja sama, namun kini mereka dihadapkan pada perebutan kembali.
"Hemm, Lam-hai Siang-mo selalu tamak!"
Kata Tong Ci Ki marah.
"Kalian mendengar sendiri kata-kata adik dari Sin-tong ini. Kamilah yang lebih pantas bertemu dengan kakaknya!"
"Tong Ci Ki perempuan iblis bermuka mayat! Engkau lebih percaya kepada bocah ini dan berani menghina kami?"
Bentak Ma Kim Li dengan marah.
"Gadis itu kami yang tangkap, ia milik kami dan kalian tidak boleh mencampuri!"
"Enak saja engkau membuka mulut, Ma Kim Li. Perlu diselidiki lebih dulu siapa diantara kita yang lebih patut bertemu dengan Sin-tong, seperti yang diucapkan gadis itu."
"Benar begitu!"
Pek Eng berseru.
"Lam-hai Siang-mo memang pengecut, beraninya hanya kepada aku, seorang yang masih amat muda, sekali berhadapan dengan pasangan yang lebih lihai, nyali mereka mengecil dan mereka hanya berani mengandalkan lebarnya mulut saja!"
Lam-hai Siang-mo marah sekali mendengar ucapan itu.
mereka berdua mengeluarkan gerengan seperti dua ekor binatang buas, kemudian mereka menerjang ke depan untuk menyerang dan membunuh Pek Eng.
Gadis itu cepat meloncat dan menyelinap ke belakang Kwee Siong dan Tong Ci Ki dan suami isteri ini maju menyambut serangan Lam-hai Siang-mo!
"Lam-hai Siang-mo, gadis ini berada dalam lindungan kami!"
Kata Kwee Siong.
"Bagus! Kalian hendak merampas tawanan kami!"
Bentak Siangkoan Leng dan dua pasang suami isteri itu sudah saling terjang dan saling serang dengan hebatnya.
Tingkat kepandaian mereka memang tidak banyak selisihnya, maka segera terjadi perkelahian yang seru sekali, yang membuat debu mengepul tinggi dan empat ekor kuda meringkik ketakutan.
Melihat betapa siasatnya mengadu domba berhasil dengan baik, Pek Eng lalu melompat dan melarikan diri.
Ia tidak berani mempergunakan kuda, karena selain hal ini memakan banyak waktu dan akan lebih mudah mereka lihat, juga di situ masih terdapat tiga ekor kuda lainnya sehingga mereka tetap saja akan dapat mengejarnya dengan berkuda.
Akan tetapi perasaan girang di hati Pek Eng hanya sebentar saja.
Belum ada satu li ia melarikan diri, tiba-tiba empat bayangan orang berkelebat dan tahu-tahu dua pasang suami isteri yang tadinya saling serang itu telah berdiri di depannya!
Hal ini amat mengejutkan hati Pek Eng dan dengan mata terbelalak ia memandang mereka, lalu berkata gagap.
"Eh. lalu bagaimana hasilnya? Siapa diantara kalian yang. menang..?"
Empat orang itu cemberut!
Untuk mereka tadi menyadari bahwa mereka telah diadu domba ketika mereka melihat betapa gadis itu melarikan diri.
Betapa mereka telah dibodohi oleh seorang gadis muda!
"Bocah setan!
Kalau tidak mengingat bahwa engkau adik Sin-tong, sekarang juga engkau sudah kusiksa dan kucabut nyawamu!"
Bentak Ma Kim Li, marah sekali.
Pek Eng adalah seorang gadis yang tidak saja tabah, akan tetapi juga cerdik sekali.
Kini ia yakin bahwa empat orang itu tidak akan membunuhnya, maka ia pun tersenyum dan berkata.
"Kalau kalian hendak membunuh pun, aku tidak menyesal. Mati di tangan empat orang kakek nenek yang amat lihai, tidak menjadi penasaran. Akan tetapi, kalian yang akan menyesal karena tanpa aku, jangan harap dapat bertemu dengan Sin-tong!"
"Sudahlah, Lam-hai Siang-mo, tidak perlu banyak cakap dengan bocah setan ini. Kita bawa saja ia menghadap Lam-hai Giam-lo!"
Kata Tong Ci Ki.
"Menghadap Lam-hai Giam-lo?"
Pek Eng berseru dengan wajah menunjukkan kegembiraan.
"Bagus sekali! Semenjak mendengar namanya, aku sudah ingin sekali bertemu dengan orang tua itu. Agaknya hanya dia seoranglah yang cukup berharga untuk bertemu dengan Kakakku!"
Ia lalu melangkah untuk kembali ke kereta sambil berkata.
"Nah, marilah kita berangkat sekarang juga. Mau tunggu apa lagi?"
Empat orang itu saling pandang, tak tahu harus berbuat apa terhadap gadis ini.
Kalau saja bukan adik Sin-tong, tentu mereka sudah membunuhnya.
Perlu apa susah-susah membawanya menghadap Lam-hai Giam-lo?
Akan tetapi, kalau mereka mempersembahkan gadis ini kepada Lam-hai Giam-lo, tentu pimpinan itu akan girang sekali dan mereka akan mendapat pujian dan dianggap berjasa.
Kini, tidak perlu lagi mempergunakan kekerasan karena kalau gadis ini mengadukan perlakuan yang tidak patut terhadap dirinya kepada Lam-hai Giam-lo, siapa tahu orang tua itu akan marah kepada mereka dan hal ini sungguh mengerikan.
Demikianlah, Pek Eng tertolong dan terbebas dari siksaan dan perlakuan kasar oleh sikapnya yang penuh ketabahan dan kecerdikan itu.
Ia duduk di dalam kereta bersama Ma Kim Li karena Siangkoan Leng mengusiri kereta, sedangkan kakek dan nenek berpakaian hitam itu mengawasi di belakang kereta, di atas kuda mereka.
Sungai Yang-ce merupakan sungai ke dua sesudah Huang-go yang mengalir jauh dari barat ke timur, melalui puluhan ribu li dan makin lama menjadi semakin lebar.
Air sungai Yang-ce membuat lembah Yang-ce, apalagi di bagian timur, menjadi daerah yang subur sekali.
Akan tetapi air sungai itu pula yang kadang-kadang mengamuk dengan hebat, Membanjiri sawah ladang dan perkampungan merenggut banyak nyawa manusia dan menghancurkan banyak pertanian.
Di dataran tinggi Yunan, di antara bukit-bukit yang tak terhitung banyaknya, Sungai Yang-ce mengalir dengan tenang dan indahnya.
Airnya masih belum begitu keruh, juga belum terlalu banyak, melalui celah-celah antara bukit, kadang-kadang melalui jurang-jurang yang amat curam.
Di lereng sebuah bukit di Lembah Yang-ce inilah tinggal Lam-hai Giam-lo yang terkenal sebagai seorang di antara datuk-datuk besar kaum sesat.
Seperti telah kita ketahui di bagian depan kisah ini.
Lam-hai Giam-lo pernah terpaksa harus melarikan diri dan bersembunyi, menyamar sebagai seorang hwesio di dalam kuil Siauw-lim-si karena dia dikejar-kejar dua orang musuhnya yang amat ditakuti, yaitu Ciang Su Kiat Si Pendekar Buntung lengan kirinya dan Kok Hui Lian.
Kedua orang yang pernah nyaris dibunuhnya itu kemudian muncul dengan kepandaian yang mengejutkan dan beberapa kali hampir saja Lam-hai Giam-lo tewas di tangan mereka.
Namun, penyamarannya di kuil itu ketahuan oleh sepasang pendekar Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu sehingga terpaksa dia melarikan diri lagi.
Lam-hai Giam-lo adalah seorang datuk sesat yang banyak pengalamannya di dunia kang-ouw, dan memiliki banyak sahabat di dunia golongan hitam.
Maka dia pun cepat dapat berhubungan bahkan menarik kaum sesat untuk bersekutu dengan dia.
Setelah mengumpulkan banyak harta dari hasi pencurian-pencurian yang dilakukannya sendiri di dalam gedung-gedung para bangsawan di kota raja, Lam-hai Giam-lo lalu tinggal di lembah Yang-ce-kiang ini, di mana dia membangun sebuah rumah besar dan hidup sebagai seorang hartawan dan juga pimpinan golongan hitam.
Banyak sudah orang-orang golongan sesat yang berkepandaian tinggi bergabung dengannya, bahkan menjadi pembantu-pembantunya.
Di antara mereka itu terdapat suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan, suami isteri Lam-hai Siang-mo, bahkan juga Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi yang amat lihai telah menjadi pembantunya pula.
Kemudian bahkan Sim Ki Liong yang pernah menyelundup menjadi murid Pendekar Sadis, dibawa oleh Ji Sun Bi dan menggabungkan diri dengan Lam-hai Giam-lo, menjadi tangan kanannya yang dipercaya!
Belum lagi datuk-datuk lain, termasuk tokoh-tokoh perkumpulan Pek-lian-kauw.
Pengaruh Lam-hai Giam-lo semakin luas bahkan dia mulai mempengaruhi para pembesar di daerah selatan karena setelah menjadi seorang yang menuntut di sebut "bengcu" (pemimpin rakyat), kakek ini bercita-cita untuk menentang kekuasaan kerajaan!
Lam-hai Giam-lo, murid mendiang Lam-kwi-ong, seorang diantara datuk yang terkenal dengan sebutan Empat Setan, kini bercita-cita untuk menjadi pimpinan golongan sesat, membangun dunia hitam kembali seperti yang pernah dilakukan Cap-sha-kwi (Tiga Belas Setan) yang kemudian kekuasaannya di rebut oleh Raja Iblis dan Ratu Iblis (baca Asmara Berdarah).
Dia ingin mengikuti jejak Empat Setan, yaitu empat orang datuk sesat di empat penjuru, dan dengan kekuatan baru dari kaum sesat ini dia bercita-cita untuk bersekutu dengan para pemberontak, menjatuhkan kaisar dan cita-citanya yang paling muluk adalah mengangkat dirinya sebagai kaisar baru untuk memperluas kekuasaan dan pengaruhnya, Lam-hai Giam-lo mengutus para datuk yang menjadi pembantunya untuk membujuk tokoh-tokoh dunia kang-ouw agar suka datang menggabungkan diri atau setidaknya mengakui kepemimpinannya.
Dia tidak sayang menghamburkan uang untuk menarik hati para tokoh itu, seperti yang dilakukan oleh dua pasang suami isteri iblis dari selatan dengan hasil baik.
Para utusan lainnya belum kembali ketika Sepasang Iblis Laut Selatan dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan tiba bersama Pek Eng di tempat tinggal Lam-hai Giam-lo.
Pek Eng diam-diam memperhatikan keadaan rumah besar itu dan sekelilingnya.
Rumah itu berdiri di lereng bukit, di tepi Sungai Yang-ce-kiang dengan aman karena berada jauh di atas sungai itu sehingga tidak khawatir dilanda banjir.
Rumah besar itu berdiri sendiri tanpa tetangga, di tengah hutan dan pemandangan di daerah itu sungguh indah.
Ketika dengan halus namun memerintah para penawannya menyuruh ia turun dan mengikuti mereka memasuki beranda rumah, Pek Eng melihat betapa rumah itu dilengkapi dengan perabot-perabot rumah yang serba mewah, dan ketika mereka memasuki pintu gerbang depan tadi, ia melihat belasan orang penjaga yang nampaknya galak dan kuat, akan tetapi yang segera memberi hormat ketika dua pasang suami isteri iblis itu masuk.
Kini, di beranda depan mereka disambut oleh lima orang gadis pelayan yang muda-muda dan cantik-cantik.
Dian-diam Pek Eng merasa kagum dan heran.
Melihat para penjaga itu, perabot rumah yang mewah, dan para pelayan ini, sepantasnya orang yang berjuluk Lam-hai Giam-lo adalah seorang bangsawan tinggi, seorang pembesar tinggi atau seorang yang kaya raya!
"Ngo-wi, (Anda Berlima) diminta untuk menanti Bengcu di kamar tunggu."
Kata seorang di antara lima gadis pelayan itu.
Lam-hai Giam-lo memang cerdik.
Diam menyuruh semua pelayan dan anak buahnya untuk menyebut bengcu (pemimpin rakyat) kepadanya agar sebutan ini melekat pada dirinya dan siap pun akan menganggap dia seorang pemimpin besar rakyat yang kelak tentu saja pantas kalau menjadi kaisar apabila gerakannya berhasil.
Dua pasang suami isteri iblis itu tidak merasa heran mendengar ucapan gadis pelayan itu, akan tetapi Pek Eng merasa kagum.
Hebat juga orang yang menjadi pimpinan itu, lebih dahulu sudah mengetahui akan kedatangan mereka berlima.
Ia tidak tahu bahwa memang Lam-hai Giam-lo memasang banyak sekali mata-mata dan penyelidik sehingga begitu memasuki daerah itu, mereka berlima telah diketahui orang dan telah dilaporkan kepada Lam-hai Giam-lo bahwa dua pasang suami isteri iblis yang menjadi pembantu-pembantunya itu datang berkunjung bersama seorang gadis yang tidak dikenal.
Ruangan tamu itu luas sekali.
Terdapat banyak kursi di situ, mepet di dinding yang dihiasi lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah.
Di sudut ruangan itu terdapat pot-pot tanaman yang menyegarkan.
Ruangan tamu itu tentu akan dapat menampung ratusan orang tamu.
Dua orang pelayan wanita keluar membawa arak dan air teh, dihidangkan di atas meja depan lima orang tamu yang menunggu itu.
Dari gerakan mereka yang cekatan dan gesit, Pek Eng dapat menduga bahwa para pelayan itu tentu memiliki ilmu silat yang cukup baik.
Mereka menghidangkan minuman tanpa kata, lalu pergi lagi meninggalkan ruangan yang kembali menjadi sunyi.
Tak lama kemudian, muncul seorang pelayan lain di pintu tembusan dan berseru dengan suaranya yang halus.
"Bengcu datang!"
Dan dengan sikap hormat pelayan itu berdiri di samping sambil membungkuk.
Dua pasang suami isteri bengkit berdiri dan melihat ini, tanpa disuruh lagi Pek Eng juga bangkit berdiri.
Bukan sekedar ikut menghormat, akan tetapi terutama sekali untuk dapat melihat dengan jelas bagaimana keadaan orang yang agaknya amat penting dan berkuasa itu.
Ketika Lam-hai Giam-lo muncul di pintu tembusan itu, Pek Eng memandang penuh perhatian dan ia tidak dapat menahan ketawanya karena hatinya merasa geli sekali, seperti digelitik.
Orang yang disebut Malaikat Elmaut Laut Selatan itu, yang demikian ditakuti dan dihormati oleh orang-orang sakti seperti dua pasang suami isteri iblis ini, yang memiliki rumah besar seperti istana pembesar tinggi, ternyata hanyalah seorang kakek yang lucu sekali.
Usianya tentu kurang lebih enam puluh tahun, mukanya lucu seperti muka kuda, dan matanya sipit seperti terpejam telinganya berdaun lebar dan tubuhnya tinggi kurus, ditambah lagi ketika melangkah, kakinya agak terpincang!
Melihat bentuk wajah dan tubuhnya orang ini lebih pantas menjadi seorang pengemis yang cacat tubuhnya.
Akan tetapi pakaiannya mewah sekali, berkembang-kembang, dan kepalanya yang rambut hanya sedikit itu memaki sebuah topi sutera yang berhias bulu burung amat indahnya.
Melihat gadis yang tidak dikenalnya itu tertawa walaupun ditahannya, Lam hai Giam-lo yang sudah berjalan menghampiri itu tiba-tiba menggerakkan tangan kanannya dan.
lengan itu mulur dan sekali jari tangannya bergerak, dia sudah menangkap leher baju Pek Eng di bagian tengkuk dan gadis itu tiba-tiba merasa betapa tubuhnya terangkat ke atas!
Pek Eng yang tadinya tertawa geli itu terkejut bukan main.
Orang yang wajahnya seperti kuda itu dapat menangkapnya semudah itu, hanya ibu jari dan jari telunjuk menjepit leher bajunya di tengkuk dan mengangkatnya, padahal orang itu berdiri dalam jarak dua meter darinya.
Lengan itu dapat mulur panjang!
"Mengapa engkau tertawa?"
Terdengar suara Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng yang sudah terkejut itu menjadi semakin ngeri mendengar suara kakek ini seperti ringkik kuda, pecah dan parau!
Pek Eng memang cerdik.
Walaupun ia terkejut bukan main dan merasa ngeri ketika tubuhnya yang diangkat itu kini didekatkan sehingga ia dapat memandang wajah aneh itu dari jarak dekat, namun ia dapat menekan rasa takutnya dan ia malah tesenyum.
"Kakek yang baik, engkaukah bengcu yang dijuluki Lam-hai Giam-lo? Ketika dua pasang suami isteri iblis itu membawaku ke sini dan mendengar namamu, aku merasa takut setengah mati, mengira bahwa sesuai dengan julukanmu, engkau tentulah seorang kakek yang bertubuh raksasa dan berwajah menakutkan dan kejam sekali. Akan tetapi, apa yang kulihat? Engkau sama sekali tidak menakutkan, tidak kelihatan kejam, bahkan kelihatan berhati baik walaupun berbeda dengan orang-orang biasa, aku tertawa karena hatiku lega."
Mendegar ini Lam-hai Giam-lo tersenyum dan lenyaplah sinar mencorong dari matanya.
Kalau saja Pek Eng keliru bicara sedikit saja, tentu sekali banting gadis itu akan tewas seketika!
Lengan itu mulur kembali dan Pek Eng mendapatkan dirinya diturunkan di tempat tadi, diantara dua pasang suami istri yang masih berdiri dengan ikap hormat itu.
"Siapa yang membawa gadis ini ke sini dan siapa ia?"
Suaranya yang parau dan pecah itu pendek-pendek saja namun mengandung wibawa menakutkan.
Kini Siangkoan Leng yang menjawab dan sungguh aneh sekali terdengar oleh Pek Eng karena suara kakek yang amat lihai ini terdengar agak gemetar dan sikapnya seperti orang yang ketakutan.
"Kami berdua yang membawanya ke sini. Harap Bengcu ketahui bahwa gadis ini adalah adik dari Pek Han Siong, dan ia bernama Pek Eng.."
"Aku tidak mengenai dan tidak peduli akan nama-nama itu!"
Lam-hai Giam-lo memotong singkat dan ketus.
Memang, beberapa tahun yang lalu dia adalah seorang laki-laki yang memiliki kelemahan terhadap wania muda dan cantik, akan tetapi sekarang, setelah dia memiliki ambisi yang lebih tinggi dan setiap hari dikelilingi para pelayan wanita yang muda dan cantik dan setiap saat siap untuk melayani dan menyenangkan hatinya, dia tidak tertarik kepada Pek Eng wapaupun gadis ini cukup muda dan cukup cantik manis.
Mendengar ucapan ini dan melihat sikap pemimpin mereka yang nampak kurang senang, Siangkoan Leng menjadi semakin geliasah.
Isterinya, Ma Kim Li lalu menyambung untuk membantu suaminya.
"Bengcu, tadinya kami juga hendak membunuh gadis ini, akan tetapi kami dicegah oleh suami isteri Guha Iblis, dan mereka menganjurkan agar gadis ini kami haturkan kepada Bengcu."
Dengan matanya yang sipit akan tetapi kadang-kadang dari garis yang sempit itu keluar sinar mencorong seperti mata kucing di kegelapan, Lam-hai Giam-lo kini memandang kepada suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan.
Tanpa bertanya pun sikapnya sudah jelas, minta penjelasan dari Mereka.
Tong Ci Ki mewakili suaminya berkata.
"Harap Bengcu tidak mendengarkan ucapan Ma Kim Li yang hendak menimpakan kesalahan kepada kami. Adalah menjadi keinginan kami berempat bahwa gadis ini dihadapkan kepada Bengcu, gadis ini dihadapkan kepada Bengcu, walaupun yang menangkapnya adalah Lam-hai Siang-mo. Kami mengira bahwa Bengcu tentu akan tertarik, mengingat bahwa gadis ini adalah adik dari Pek Han Siong yang terkenal sebagai Sintog yang pernah diperebutkan, bahkan dicari oleh para pendeta Lama di Tibet."
Lam-hai Giam-lo mengerukan alisnya dan sepasang matanya agak melebar sehingga makin nampak biji mata yang mengeluarkan sinar kehijauan itu.
"Kita bukan anak-anak kecil yang mempercayai ketahyulan para pendeta Lama. Kita memiliki cita-cita yang lebih tinggi! Aku tidak peduli dengan segala macam Sin-tong!"
"Bagus sekali!"
Tiba-tiba Pek Eng berseru sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
"Sudah kuduga bahwa Bengcu adalah seorang yang bijaksana, pandai dan tidak tahyul atau bodoh seperti dua pasang suami isteri iblis ini! Kakakku Pek Han Siong adalah orang biasa, bagaimana disebut Sin-tong? Sin-tong atau orang-orang besar lainnya adalah orang-orang yang diciptakan Tuhan untuk menjadi lain daripada orang biasa, maka tentu juga memiliki kelainan dalam bentuknya. Akan tetapi Kakakku orang biasa saja pemuda biasa yang tida bedanya dengan orang lain. Berbeda dengan Bengcu misalnya Bengcu telah diciptakan oleh Tuhan dalam bentuk yang lain dari pada manusia umumnya, oleh karena itu dapat menjadi Bengcu, bahkan pantas untuk menjadi kaisar sekalipun!"
Gadis ini memang asal bicara saja untuk menyenangkan hati pemimpin kaum sesat yang mengerikan itu, juga agar kakek itu tidak tertarik kepada kakaknya.
Ia pun kagum sekali akan kepandaian Lam-hai Giam-lo yang luar biasa.
Walaupun belum melihat seluruh kepandaiannya, baru melihat cara kakek itu tadi menangkapnya saja sudah membuktikan bahwa kakek itu memang sakti bukan main.
Juga sikap empat orang datuk itu membuktikan bahwa Bengcu itu amat ditakuti, maka dapat dibayangkan betapa hebat kepandaiannya.
Mendadak saja timbul suatu keinginan di hati Pek Eng.
Kalau saja ia dapat menjadi murid kakek sakti ini!
Ucapan yang hanya ngawur itu ternyata amat mengena di hati Lam-hai Giam-lo.
Dia amat terkesan ketika mendengar bahwa gadis itu menganggap dia seorang manusia luar biasa, yang secara istimewa diciptakan Tuhan untuk menjadi kaisar!
"Nona kecil, siapakah namamu tadi?"
Tiba-tiba Bengcu itu bertanya, suaranya terdengar ramah sehingga dua pasang suami isteri itu terkejut, heran dan juga merasa lega.
Suara itu menunjukkan bahwa pemimpin mereka itu tidak merah lagi.
"Bengcu, namaku adalah Pek Eng."
"Pek Eng, keberanianmu menyenangkan hatiku. Sekarang engkau telah berada di sini, sebelum engkau kubebaskan dan boleh pergi, engkau dapat mengajukan sebuah permintaan kepadaku, tentu akan kupenuhi."
Mendengar ini, dua pasang suami isteri itu terkejut dan heran.
Mereka memang merasa lega, akan tetapi terheran-heran karena belum pernah mereka melihat Lam-hai Giam-lo begini ramah dan pemurah terhadap seorang yang sama sekali asing, kecuali terhadap para pembantunya.
Pertanyaan yang tidak diduga-duga oleh Pek Eng itu membuat gadis ini merasa terkejut dan heran pula.
Akan tetapi tanpa ragu-ragu lagi ia pun lalu menjawab.
"Bengcu, aku percaya sepenuh hatiku bahwa seorang yang hebat seperti engkau ini, seorang Bengcu yang berkedudukan tinggi.."
"..juga seorang calon kaisar..."
Kata bengcu itu dengan gembira.
Tanpa memperlihatkan keheranannya karena ia kini mengerti bahwa kebaikan sikap bengcu itu adalah karena kata-katanya tadi, maka ia pun melanjutkan.
"...ya, sebagai seorang calon kaisar, tentu engkau akan memegang teguh kata-kata yang sudah dikeluarkan. Bengcu, ada sebuah permintaanku yang kuajaukan kepadamu, yaitu, aku minta agar engkau menerima aku menjadi muridmu!"
Kembali dua pasang suami isteri iblis itu terkejut melihat keberanian anak perempuan itu.
Sudah diberi kebebasan sudah untung sekali anak ini, pikir mereka.
Masa masih minta lagi agar diterima sebagai murid?
Mereka tahu bahwa bengcu itu tidak pernah menerima murid.
Kini sepasang mata yang sipit itu membuka dan mulut yang bentuknya maju ke depan seperti mulut kuda itu pun mengeluarkan suara ketawa yang mirip bunyi ringkik seekor kuda.
"Heih-he-he! Engkau memang anak yang pintar sekali, Eng Eng! Mulai sekarang, engkau adalah muridku dan engkau tidak akan kecewa karena akan kuturunkan ilmu-ilmu pilihan untuk kau pelajari, bahkan engkau kuanggap sebagai puteriku sendiri!"
"Terima kasih atas kebaikan hati Bengcu!"
Kata Pek Eng dan ia pun cepat memberi hormat.
"Ha-ha-ha, peruntungan bagus sekali, Nona!"
Kata Siangkoan Leng, gembira juga karena pemimpin itu tidak jadi marah kepadanya.
"Engkau membuat kami merasa iri, Nona."
Kata pula Kwee Sing.
"Akan tetapi kenapa engkau tidak menyebut Suhu atau Ayah kepada Bengcu?"
Dengan sikap bersungguh-sungguh Pek Eng berkata.
"Bengcu akan merasa lebih senang kalau dipanggil Bengcu, karena memang dia seorang pimimpin besar rakyat yang kelak akan menjadi kaisar. Kalau kupanggil Ayah, aku sendiri masih mempunyai seorang Ayah kandung, jadi seolah-olah membangdingkan dia sederajat dengan orang lain. Kalau Suhu, kiranya tidak patut seorang calon kaisar disebut Suhu! Bukankah begitu, Bengcu?"
Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk dan kembali dia berkata kepada dua pasang suami isteri itu.
"Kalian berempat boleh memberi laporan sekarang. Dan engkau, Eng Eng, engkau duduk di sini di samping Ayah!"
Dua pasang suami isteri iblis itu lalu membari laporan tentang hasil tugas mereka dan Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk gembira ketika mendengar betapa Mereka berhasil membujuk orang-orang kang-ouw untuk mengakuinya sebagai bengcu.
Setelah mereka selesai dengan laporan mereka, dia pun berkata.
"Kalian tunggu di sini. Yang lain-lain belum pulang dari tugas, dan pada pertengahan bulan nanti, di waktu bulan purnama, akan berkunjung orang-orang penting. Buatlah persiapan untuk sebuah pesta besar dan kalau mereka datang semua, sedikitnya akan hadir lima belas orang. Mari, Eng Eng, mari ikut aku ke kebun belakang, aku sudah ingin sekali menguji kepandaianmu agar aku tahu sampai di mana tingkatmu."
Gadis itu mengikuti kakek itu dengan hati girang.
Tak disangkanya bahwa nasibnya berubah demikian baiknya.
Setelah menjadi tawanan Lam-hai Siang-mo yang nyaris membunuhnya dan dibawa kepada datuk besar pemimpin para tokoh sesat yang amat lihai, ia tidak diganggu, tidak dibunuh bahkan diangkat menajadi murid dan anak angkat!
Kebun itu luas sekali, ditanami pohon-pohon buah, sayur-sayuran, dan juga sebagaian dijadikan taman bunga.
Di tengah kebun itu terdapat petak rumput yang luas dan memang enak sekali dipakai untuk berlatih silat.
Setelah tiba di situ, Lam-hai Giam-lo duduk bersila di atas batu hitam yang bentuknya seperti piring, dan berkata.
"Nah, sekarang perlihatkan kepandaianmu!"
"Bengcu, aku hanya mempelajari ilmu silat yang dangkal saja, harap jangan diketawai dan suka memberi petunjuk!"
Kata Pek Eng, sikapnya tetap lincah namun menghormat tidak berlebihan, nampak sikapnya itu akrab seolah-olah memang sudah bertahun-tahun ia menajdi murid dan anak angkat iblis itu.
Pek Eng lalu bersilat dan ia mengeluarkan semua kepandaiannya, mengerahkan tenaganya sehingga tubuhnya berkelabatan cepat sekali, Pukulan dan tendangan kakinya mengeluarkan suara angin menyambar-nyambar.
Setelah ia selesai bersilat tangan kosong, lalu ia mengambil ranting dan mempergunakannya sebagai pedang, bersilat pedang.
Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk.
"Hemm, ilmu silatmu sudah lumayan, akan tetapi masih jauh kalau dibandingkan dengan tingkat para pembantuku. Aku akan menurunkan beberapa ilmu silat pilihanku saja dan kalau engkau sudah menguasai ilmu-ilmu itu, kiranya para pembantuku sendiri akan sukar untuk mengalahkanmu."
"Bengcu, menghadapi seorang diantara dua pasang suami isteri itu saja aku tidak mampu berbuat banyak!"
"Heh-heh, tentu saja dalam keadaanmu sekarang. Akan tetapi, tunggu paling lama setahun saja engkau sudah akan mampu mengalahkan seorang di antara mereka. Eng Eng, sekarang ceritakan, megapa engkau meninggalkan rumah orang tuamu sampai engkau tertawan oleh Lam-hai Siang-mo?"
Ditanya demikian secara tiba-tiba Pek Eng terkejut.
Akan tetapi ia tidak mejadi gugup, bahkan tiba-tiba saja ia mampu memaksa perasaanya sehingga kedua matanya menjadi basah dengan air mata!
Tidak sukar baginya untuk membuat hatinya berduka.
Bagitu ia mengingat akan keputusan orang tuanya bahwa ia dijodohkan dengan Song Bu Hok, hatinya seperti ditusuk dan air mata pun amat mudah keluar membasahai matanya.
"Eh engkau menangis?"
Tanya Lam-hai Giam-lo.
Pertanyaan ini mendorong keluar air mata Pek Eng semakin banyak lagi dan sekali ini ia benar menangis, bukan bersandiwara lagi karena ia teringat betapa usahanya mencari Pek Han Siong dan juga Hay Hay mengalami kegagalan dan ia teringat akan pertunangan yang tidak disetujuinya itu sehingga ia tidak ingin kembali ke rumah orang tuanya.
"Bengcu,"
Katanya setelah ia dapat menahan tangisnya, memandang kepada kakek itu dengan mata agak kemerahan dan kedua pipi basah.
Kini, setelah ia merasa menjadi murid kakek itu, wajah yang bentuknya aneh menakutkan itu tidak lagi kelihatan menyeramkan.
"Sesungguhnya, aku meninggalkan rumah orang tuaku tanpa pamit."
Kakek itu tertawa, agaknya senang mendengar ulah muridnya.
Bagi dia, sikap ugal-ugalan itu malah menarik dan menyenangkan!
"Kenapa engkau minggat?"
"Aku dipaksa untuk dijodohkan dengan seorang pemuda yang tidak kusukai, orang tuaku telah menerima lamaran keluarga Song. Aku lalu lari meninggalkan rumah untuk mencari Kakak kandungku yang bernama Pek Han Siong."
"Di mana adanya Kakakmu itu?"
Pek Eng sudah merasa menyesal menyebut nama kakaknya.
Kalau sampai gurunya ini tertarik pula kepada Singtong, jangan-jangan kakaknya akan terancam bahaya.
"Aku tidak tahu, Bengcu. Aku mencarinya dengan ngawur saja. Akan tetapi.."
Ia teringat akan suatu kesempatan yang baik dan juga untuk mengalihkan percakapan.
"..maukah Bengcu mendatangi keluarga Song itu dan membatalkan perjodohan itu? Sebagai guru dan Ayah angkatku, tentu Bengcu barhak mengurus diriku dan membatalkan ikatan jodoh itu!"
"Di mana tinggalnya keluarga Song itu?"
"Ayah pemuda itu adalah Ketua Kan-jiu-pang di Cin-an, bernama Song Un Tek dan pemuda itu bernama Song Bu Hok. Bengcu, marilah kita ke sana dan kau batalkan ikatan jodoh itu!"
Lan-hai Giam-lo tersenyum menyeringai dan suarau ringgkik kuda itu menunjukkan bahwa dia tertawa.
"Tidak perlu aku sendiri yang ke sana. Cin-an tidak dekat dan kalau aku yang pergi ke sana, akan makan waktu lama dan pekerjaan di sini dapat terbengkelai..."
"Aih, kalau begitu Bengcu hanya pura-pura saja suka kepadaku, mengangkatku sebagai murid dan bahkan anak!"
Pek Eng berkata sambil cemberut dan memperlihatkan muka kecewa.
"Heh-heh, bukan begitu, muridku yang baik! Aku sendiri tidak dapat pergi ke Cin-an, akan tetapi apa sih sukarnya membatalkan ikatan perdojohan yang tidak kau sukai itu? Pembantuku cukup banyak, dan Kang-jiu-pang, kalau mau selamat, harus mentaati perintahku. Jangan khawatir, muridku, anakku, ikatan perjodohan itu batal sudah, heh-heh!"
Ucapan Lam-hai Giam-lo ini bukan sekedar membual belaka, karena pada hari itu juga dia mengutus Lam-hai Siang-mo, suami isteri yang menjadi orang-orang kepercayaanya itu untuk pergi ke Cian-an, berkunjng ke perkumpulan Kang-jiu-pang dan menemui ketuanya untuk membatalkan ikatan jodoh antara Pek Eng dan Song Bu Hok.
Giranglah hati Pek Eng karena ia percaya bahwa suami isteri iblis yang amat lihai itu tentu akan mampu memaksa keluarga Song untuk membatalkan atau memutuskan ikatan jodoh yang tidak dikehendakinya itu.
Ia pun semakin suka kepada gurunya dan mulailah ia melatih diri dengan tekun di bawah bimbingan Lam-hai Giam-lo.
Gadis ini pandai sekali mambawa diri sehingga Lam-hai Giam-lo yang tidak pernah mempunyai isteri atau anak itu menjadi semakin sayang dan menganggap Pek Eng seperti anaknya sendiri.
Pertengahan bulan itu tiba dengan cepatnya dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan yang bertugas jaga di luar, segera melihat munculnya para rekannya yaitu tokoh-tokoh yang membantu gerakan Lam-hai Giam-lo.
Berturut-turut datang Min-son Mo-ko, Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang kini selalu berdua denga Ji Sun Bi, dan beberapa orang tosu Pek-lian-kauw.
Kemudian, bermunculan pula para tamu yang dinanti-nanti oleh Lam-hai Giam-lo.
Karena waktu yang ditentukan masih kurang sehari lagi, maka ramailah keadaan di tempat itu.
Para tamu memperoleh kamar-kamar tamu yang banyak terdapat di rumah besar itu dan dalam hal melayani para tamu itu, Lam-hai Giam-lo bersikap royal sekali.
Bukan hanya hidangan yang lezat dikirimkan kepada mereka di kamar masing-masing, akan tetapi segala kebutuhan para tamu dipenuhi, Dan mereka itu dilayani seperti tamu-tamu agung saja sehingga para tamu itu merasa puas dan gembira.
Malam harinya disediakan hiburan berupa pertunjukan tarian dan nyanyian yang berlangsung sampai jauh malam.
Pek Eng yang kini menjadi murid, bahkan anak angkat Lam-hai Giam-lo, tidak ikut menyambut para tamu, bahkan tidak mencampuri kesibukan para pembantu gurunya itu.
Ia bersumbunyi saja di kamarnya karena merasa tidak suka melihat sikap para pembantu gurunya, dan ketika ia diperkenalkan kepada semua pembantu gurunya, dan ketika diperkenalkan kepada Sim Ki Liong, diam-diam ia terkejut dan merasa heran bagaimana seorang pemuda yang kelihatan demikian tampan, halus dan sama sekali tidak mencerminkan watak jahat, dapat menjadi pembantu gurunya yang mengepalai para tokoh sesat.
Pek Eng tahu bahwa ia hidup di antara para datuk sesat, bahwa gurunya adalah seorang tokoh besar golongan hitam.
Namun ia tidak mempedulikan hal ini.
Ia berada di situ hanya ingin mempelajari ilmu silat tinggi dari Lam-hai Giam-lo dan ia tidak akan mau mencampuri urusan persekutuan yang sedang dikerjakan oleh gurunya dan para pembantunya.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali muncullah Lam-hai Siang-mo, di sambut oleh Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng dan mereka bercakap-cakap di ruangan dalam, berempat saja.
Lam-hai Siang-mo, suami isteri iblis itu lalu menceritakan pelaksanaan tugas mereka pergi berkunjung ke Cin-an, mencari perkumpulan Kang-jiu-pang yang diketuai oleh Song Un Tek untuk membatalkan ikatan tali perjodohan antara Pek Eng dan puteranya, Song Bu Hok.
Kedatangan Lam-hai Siang-mo disambut oleh keluarga itu dengan heran karena mereka belum pernah bertemu dengan suami isteri iblis itu walaupun tentu saja mereka pernah mendengar nama besar mereka.
Song Un Tek, Ketua Kang-jiu-pang keluar bersama adiknya, Song Un Sui dan puteranya Song Bu Hok, diikuti pula oleh dua puluh orang lebih anggota Kang-jiu-pang.
Dengan heran Song Un Tek menyambut suami isteri itu yang tadi memperkenalkan diri kepada penjaga dan minta agar Ketua Kan-jiu-pang keluar untuk bicara dengan mereka.
Biarpun dia seorang ketua perkumpulan yang cukup terkenal, Song Un Tek yang sudah mendengar bahwa yang datang adalah suami isteri yang amat terkenal di dunia kang-ouw, segera memberi hormat kepada mereka.
"Kami merasa terhormat sekali menerima kunjugan Ji-wi (Anda Berdua) yang nama besarnya sudah kami dengar akan tetapi, mari silakan masuk ke dalam dan duduk di ruangan tamu agar kita dapat bicara dengan enak."
Suami isteri itu tidak membalas penghormatan tuan rumah dan dengan sikap dingin dan angkuh Singkoan Leng berkata.
"Tidak usah masuk, di sinipun dapat kita bicara!"
Melihat sikap ini, keluarga Song sudah merasa tidak suka, juga para anggota Kang-jiu-pang menganggap bahwa dua orang tamu ini kasar dan tidak menghargai sopan santun sebagai tamu.
Akan tetapi, Song-pangcu masih bersabar hati.
"Terserah kepada Ji-wi kalau hendak bicara di sini saja. Nah, keperluan apakah yang Ji-wi bawa sehingga memberi kehormatan kepada kami dengan kunjungan ini?"
"Song-pangcu."
Kata pula Songkoan Leng sambil memandang tajam.
"Benarkah engkau mempunyai seorang putera yang bernama Song Bu Hok, kalau benar demikian, man dia?"
Melihat sikap kedua orang tamu ini yang sama sekali tidak menghormati ayahnya, Song Bu Hok berseru galak.
"Akulah Song Bu Hok, kalian mau apa mencariku?"
Siangkoan Leng dan Ma Kim Li menoleh dan kini Siangkoan Leng tersenyum mengejek.
"Ah, kiranya engkau! Song-pangcu, apakah engkau masih sayang kepada puteramu?"
Kembali dia menghadapai Ketua Kang-jiu-pang yang mengerukan alisnya denga heran, akan tetapi juga khawatir karena melihat sikap dua orang tamunya, jelas bahwa mereka datang tidak membawa niat yang baik.
"Sesungguhnya, apakah yang Ji-wi maksudkan? Kami tidak merasa mempunyai urusan dengan Ji-wi. Harap memberitabukan apa keperluan Jiwi datang berkunjung ini."
Kata Song-pangcu, masih bersikap hormat walaupun dia waspada terhadap kedua orang tamunya.
"Song-pangcu tidak merasa mempunyai urusan dengan kami, akan tetapi kami mempunyai urusan dengan keluargamu. Kami datang unuk bicara tentang ikatan perjodohan antara puteramu Song Bu Hok dengan Nona Pek Eng. Benarkah ada ikatan perdojohan itu?"
"Benar, akan tetapi ada apakah?"
Song Un Tek bertanya heran. Singkoan Leng tersenyum.
"Bagus! Kami datang untuk minta kepada keluarga Song agar membatalkan atau memutuskan tali perjodohan itu!"
"Ahhh..!"
Seruan ini keluar dari mulut keluarga Song, juga dari beberapa orang anggauta Kang-jiu-pang yang merasa terkejut sekali.
Wajah Song Un Tek, menjadi merah karena kemarahan membakar hati mereka.
Keraguan memenuhi hati Song-pangcu ketika dia bertanya.
"Apakah Ji-wi menjadi utusan dari keluarga Pek?"
Siangkoan Leng menggeleng kepalanya.
"Kami adalah utusan dari Bengcu kami, yaitu Lam-hai Giam-lo!"
Makin kagetlah Song Un Tek dan Song Un Sui mendengar ini karena mereka sudah mendengar akan nama Lam-hai Giam-lo yang akhir-akhir ini menggemparkan dunia persilatan di bagian selatan.
"Apakah hubungan antara Lam-hai Giam-lo dengan perjodohan putera kami?"
Kini Song Un Sui yang galak bertanya dengan nada suara yang keras.
"Tidak ada hubungannya dengan perjodohan anakmu, akan tetapi Bengcu kami tidak menghendaki Nona Pek Eng berjodoh dengan Song Bu Hok!"
"Akan tetapi, kami sudah menjalin ikatan perjodohan itu dengan keluarga Pek..!"
"Tidak peduli! Sekarang Nona Pek telah menjadi murid dan anak angkat Bengcu, dan Bengcu menghendaki agar pertalian ini batalkan dan diputuskan!"
Marahlah Song Un Sui.
"Hemm, Ji-wi sungguh terlalu. Kalau kami tidak mau membatalkan, bagaimana?"
"Uuhhh! Siapa berani menentang perintah Bengcu akan kuhajar!"
Tiba-tiba Ma Kim Li sudah meloncat dan menerjang Song Un Sui dengan gerakan yang amat cepat.
Song Un Sui yang bertubuh (Lanjut ke
Jilid 30) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 30 gendut itu, menangkis kedua tangan lawan yang mencengkeram ke arah kepala dan dadanya, sambil mengerahkan tenaga sin-kang.
"Dukk!"
Dua pasang lengan bertemu dan akibatnya, tubuh yang bulat seperti bola itu terjengkang dan bergulingan.
Melihat ini, Song Un Tek menjadi marah dan dia pun maju menyerang Siangkoan Leng, sedangkan Song Bu Hok menyerang Ma Kim Li.
Para anggauta Kang Jiu-pang tanpa diperintah lagi juga sudah mencabut senjata mereka dan maju mengeroyok.
Suami isteri itu mengamuk, dikeroyok oleh dua puluh orang lebih, namun mereka sama sekali tidak menjadi gentar.
Dengan tangan kosong suami isteri itu berani menangkis senjata tajam, menampar, dan kedua kaki mereka bergerak cepat menendang, dan akibatnya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua murid Kang-jiu-pang terlmbaprke kanan kiri dan hanya mengaduh-ngaduh, tidak dapat bangkit lagi!
Tinggal Song Un Tek yang melawan Singkoan Leng, sedangkan Ma Kim Li dikeroyok oleh Song Un Sui dan Song Bu Hok.
Sesuai dengan nama perkumpulan yang dipimpinnya, Kang-jiu-pang (Perkumpulan Tangan Baja), tiga orang kelaurga Song ini hanya mengandalkan kekuatan kedua tangan mereka saja untuk menghadapai dua orang suami isteri yang amat lihai itu.
Namun, hanya Ma Kim Li yang dapat ditahan oleh Song Un Sui dan Song Bu Hok, dengan pengeroyokan paman dan keponakan ini, Ma Kim Li bahkan agak terdesak.
Akan tetapi di lain pihak, Song Un Tek tersedak hebat oleh Singkoan Leng karena memang tingkat kepandaiannya kalah jauh.
Tiba-tiba Ma Kim Li mengeluarkan lengking panjang dan sinar hitam kecil meluncur dari tangannya, disusul teriakan Song Bu Hok yang terpelanting roboh.
Kiranya wanita ini, setelah merasa terdesak, lalu mempergunakan senjatanya yang paling diandalkan, yaitu Jarum beracun!
Memang hebat dan berbahaya sekali jarum beracun in dan sekali lepas, sebatang jarum sudah menembus baju pemuda itu dan mengenai pundaknya, membuat dia seketika roboh dan pingsan!
Song Un Sui terkejut dan kesempatan selagi dia menengok ke arah keponakannya yang roboh dipergunakan oleh Ma Kim Li untuk menghantam dadanya dan Si Gendut bulat ini pun terpelanting roboh.
Hampir pada saat itu juga, Song Un Tek juga roboh oleh tendangan kaki Singkoan Leng!
Kini tidak seorang pun dari Kang-jiu-pang dapat melawan lagi.
Song Un Tek dan Song Un Sui hanya dapat bangkit duduk dan mereka berdua memandang dengan mata melotot kapada Lam-hai Siang-mo.
Ma Kim Li mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dan melemparkannya kepada Song Un Tek sambil berkata.
"Hanya obatku ini yang mampu mengembalikan nyawa anakmu, Pangcu. Kami hanya memberi peringatan kalau kalian masih membangkang terhadap perintah Bengcu kami dan tidak memutuskan ikatan perdojohan itu, lain kali aku datang mengambil nyawa kalian sekeluarga!"
Setelah berkata demikian, suami isteri itu lalu pergi meninggalkan tempat itu.
Demikianlah laporan Lam-hai Siang-mo kepada Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng yang mendengarkan dengan hati gembira.
Ia percaya bahwa tentu keluarga Song itu segera membatalkan pertalian jodoh itu.
Kalau saja ia tidak memesan kepada gurunya yang kemudian melanjutkan pesanan itu melalui perintahnya kepada Lam-hai Siang-mo, tentu keluarga Song sudah dibunuh dan dibasmi oleh suami isteri iblis itu!
Ia memang sudah memesan kepada gurunya bahwa ia hanya menginginkan agar pertalian jodoh itu dibatalkan, dan tidak menghendaki terjadi pembunuhan atas diri keluarga Song.
Ruangan yang luas itu telah menampung para tamu yang sudah berdatangan sejak kemarin.
Ada empat belas orang jumlah tamu yang datang memenuhi undangan Lam-hai Giam-lo.
Mereka adalah tokoh-tokoh kang-ouw dan datuk-datuk golonga hitam yang sudah terkenal di dunai persilatan.
Selain empat belas orang tamu ini, Hadir pula di situ para pembantu Lam-hai Giam-lo yang didandalkan, yaitu Lam-hai Song-mo, sepasang suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan, Min-san Mo-ko, Ji Sun Bi dan tidak ketinggalan pula Sim Ki Liong yang kini bahkan dianggap pembantu terpandai oleh Lam-hai Giam-lo.
Tentu saja di antara para tamu itu terdapat tokoh-tokoh Pek-lian-kauw yang sudah lebih dulu bersekutu denga Lam-hai Giam-lo.
Setelah membuka rapat dan mengucapkan selamat datang, Lam-hai Giam lo lebih dahulu minta pendapat para temunya yang dihormati itu apakah mereka setuju kalau dia menjadi bengcu dan memimpin mereka semua dalam suatu kelompok yang kuat.
Sebagaian besar yang sudah mengenai dan tahu akan kelihaian Lam-hai Giam-lo menyatakan setuju, akan tetapi ada beberapa orang yang merasa sangsi.
Seorang di antara mereka bangkit berdiri.
"Nanti dulu, Lam-hai Giam-lo, sebelum kami dapat menerimamu sebagai Bengcu, lebih dulu aku ingin sekali mengetahui mengapa engkau mempersatukan kita semua dan mengangkat dirimu menjadi pemimpin."
Beberapa orang yang masih sangsi tadi mengangguk-angguk tanda setuju dengan pernyataan ini dan Lam-hai Giam-lo melihat pula hal ini.
Biarpun hatinya merasa tak senang, namun melihat bahwa ada beberapa orang tokoh yang masih sangsi, dia pun bersikap ramah.
Dia memandang kepada orang yang mengajukan pertanyaan tadi.
Orang itu berusia kurang lebih lima puluh tahun dan bertubuh tinggai kurus.
Akan tetapi yang amat mencolok adalah pakaiannya karena pakaian itu putih polos seperti pakaian orang yang sedang berkabung.
Akan tetapi semua orang yang hadir tahu belaka bahwa dia bukanlah orang sembarangan.
Dia bernama Kim San, Ketua dari Kui-kok-pang.
Kui-kok-pang (Perkumpulan Lembah Iblis) adalah perkumpulan golongan hitam amat terkenal yang berada di Kui-san-kok, yaitu Lembah Iblis di Pegunungan Hong-san.
Dia melanjutkan pekerjaan kedua orang gurunya yaitu kakek dan nenek Kui-kok Siang-mo (Sepasang Iblis dari Kui-kok) yang mendirikan Kui-kok-pang.
Seperti diceritakan dalam kisah Asmara Berdarah, kakek dan nenek iblis ini tewas di tangan Ratu Iblis, dan kakek dan nenek itu adalah dua orang tokoh yang dikenal dalam gabungan tokoh Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis).
Seperti juga mendiang kedua orang gurunya, selain berpakaian serba putih, juga Kim San atau Kui-kok-pangcu (Ketua Kui-kok-pang) ini memiliki wajah yang putih pucat seperti wajah mayat.
Namun hal ini bukan menjadi tanda bahwa dia mengidap penyakit, melainkan karena dia telah menguasai ilmu sin-kang yang luar biasa, yang membuat wajahnya menjadi pucat dan putih.
"Keraguan Kui-kok-pangcu dan pertanyaan itu memang panas karena agaknya engkau belum mengerti akan maksud dia. Hendaknya para saudara yang juga masih bersangsi, mendengarkan baik-baik. Keadaan pemerintah kini kuat dan para pendekar menyembunyikan diri. Hal ini hanya menunjukkan bahwa golongan kita kini amatlah lemahnya dan dianggap tidak ada saja oleh para pendekar sombong. Bukankah ini amat merendahkan martabat kita yang terkenal sebagai golongan hitam? Kita pernah mengalami masa jaya ketika Empat Setan memimpin dunia hitam, dibantu oleh Tiga Belas Iblis. Kemudian muncul Raja dan Ratu Iblis yang mengambil alih kekuasaan, akan tetapi malah membawa kita ke dalam kehancuran."
Kui-kok-pangcu mengangguk-angguk. Kedua orang gurunya pun tewas di tangan Ratu Iblis.
"Kalian semua tentu tahu bahwa Empat Setan terdiri dari mendiang Guruku Lam Kwi Ong, mendiang Susiok (Paman Guru) See Kwi Ong dan masih ada lagi dua orang yaitu Susiok Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi. Kedua orang susiok ini sekarang entah berada di mana, kalau belum menginggal dunia tentu juga sudah amat tua sehingga tidak dapat diharapkan lagi. Nah, tinggal aku seorang yang menjadi penerus Empat Setani! Kini, banyak tersebut murid-murid Tiga Belas Iblis, di antaranya bahkan engkau sendiri, Kui-kok-pangcu, adalah murid dari mendiang Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo, dua orang tokoh Cap-sha-kwi (Tiga Belas Iblis), sekarang kalau bukan aku yang memimpin, habis siapa lagi? Dan kalau bukan kita bersama yang bangkit untuk memperoleh kembali kejayaan masa dulu, siapa lagi,?"
Pek Eng juga hadir, sejak tadi hanya duduk saja di belakang kursi Lam-hai Giam-lo dan tidak bicara, hanya mendengarkan saja dan ia merasa kagum kepada gurunya yang demikian berwibawa dan ditakuti para tokoh yang aneh-aneh ini.
Hatinya lega dan girang bukan main mendengar laporan Lam-hai Siang-mo tadi bahwa ikatan jodoh antara ia dan Song Bu Hok telah dibikin putus!
Ia tahu bahwa tentu orang tuanya akan marah sekali, akan tetapi hal itu akan dihadapinya kelak.
Yang penting, pihak keluarga Song sudah menerima pembatalan itu.
Ia telah bebas kini!
Mendengar ucapan Lam-hai Giam-lo, Kui-kok-pangcu Kom San mengangguk-angguk setuju.
Akan tetapi, laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun yang bertubuh cebol, hanya setinggai leher Pek Eng, kepalanya kecil akan tetapi tubuhnya besar dan nampak kokoh kuat, kini bangkit berdiri.
Suaranya juga kecil seperti kepalanya ketika dia berkata lantang seperti tikus menjerit-jerit.
"Akan tetapi, apa maksudnya diadakan persekutuan ini? Apakah semua pekerjaan kita, perampokan, pencurian, pembajakan, penguasaan tempat perjudian dan pelacuran, semua itu harus dilakukan beramai-ramai? Tanpa tujuan yang jelas, tentu saja aku merasa ragu-ragu untuk menggabungkan diri. Harus dilihat dulu apakah penggabungan ini akan menguntungkan kita ataukah sebaliknya."
"Tentu saja menguntungkan!"
Kata Lam-hai Giam-lo sambil memandang orang cebol itu.
Si Cebol ini pun bukan orang sembarangan karena dia terkenal dengan nama julukannya yang menyeramkan, He-hiat Moko (Iblis Berdarah Hitam)!
Belasan tahun yang lalu orang mengenal nama besar Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo, cucu keponakan murid dari iblis betina Hek-hiat Mo-li yang pernah menggemparkan dunia kang-ouw puluhan tahun yang lalu.
Daa kini keturunan terakhir yang mewarisi ilmu kepandaian mereka adalah Hek-hiat Mo-ko inilah.
Akan tetapi jangan menganggap ringan tubuhnya yang cebol, karena orang ini telah mampu menguasai ilmu mujijat sehingga mengakibatkan darahnya benar-benar berwarna hitam, sesuai dengan julukannya.
"Tentu saja menguntungkan, Hek-hiat Mo-ko."
Kemballi Lam-hai Giam-lo mengulang kata-katanya.
"Kita masih masing-masing mengurus pekerjaan sendiri tanpa saling mengganggu, bahkan dengan adanya penggabungan ini, kita dapat saling bantu kalau menghadapi kesulitan. Juga kita dapat menampung dana yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu untuk membantu saudara kita yang sedang dilanda kekurangan. Kalau kita bersatu dan memperlihatkan sikap tegas, memiliki kekuatan besar, tentu pemerintah tidak akan berani menekan kita, dan para pendekar pun tidak akan mampu berbuat seenaknya terhadap kita."
"Heh-heh-heh!"
Hek-hiat Mo-ko terkekeh!
"Semua orang kana selalu mengatakan kekurangan.
Apakah kekayaanmu akan cukup untuk membantu mereka semua, Lam-hai Gian-lo?
Dan yang dibutuhkan akan amat besar untuk membantu saudara-saudara kita yang kekurangan!"
"Jangan khawatir!"
Kata Lam-hai Giam-lo dengan suaranya yang seperti ringkik kuda.
"Sumbangan akan mengalir dari mereka yang merasa diuntungkan oleh persekutuan ini, dan pula, di sini hadir seorang tamu agung yang memiliki kekayaan cukup besar untuk menjadi tulang punggung kita dalam hal memperkuat dana. Perkenalkan, saudara sekalian, inilah Saudara Kulana, tamu agung kita itu!"
Seorang di antara para tamu yang tadi hanya duduk diam saja, kini bangkit berdiri.
Dia seorang laki-laki yang usianya empat puluh tahun lebih, pakaiannya aneh namun indah, dengan kepala dibungkus kain kepala warna-warni, dihias emas permata yang berupa burung merak indah sekali.
Tubuhnya sedang saja, namun sikapnya berwibawa seperti sikap seorang bangsawan tinggi dan wajahnya cukup anggun.
Dia memang seorang bangsawan tinggi dari Birma dan karena kepandaiannya yang tinggi, dia pernah berjasa besar dan berkat kemampuannyalah maka berkali-kali tentara dari Tiongkok dapat dicegah menguasai Birma.
Akan tetapi, akhirnya Kulana yang masih berpangkat pangeran, memiliki ambisi untuk merebut tahta kerajaan.
Dia ketahuan dan terpaksa melarikan diri meninggalkan negerinya membawa harta kekayaan berupa emas permata yang tak ternilai saking banyaknya.
Sejak tadi, Kulana hanya mendengarkan saja, karna tetapi matanya sering kali menyambar ke arah gadis manis yang duduk di belakang Lam-hai Giam-lo pandang mata penuh kagum dan gairah seorang laki-laki mata keranjang.Kini Kulana bangkit dan membungkuk ke kanan kiri, lalu bekata, dengan suara agak asing namun cukup jelas.
"Aku telah mendengar semua dan apa yang dikatakan oleh Bengcu Lam-hai Giam-lo memang benar. dia patut menjadi Bengcu kita dan aku sanggup membantu. Bukan hanya bersekutu untuk menjadikan kedudukan kita kuat. Bahkan lebih dari itu. Kita dapat mendirikan suatu pemerintahan tandingan untuk menentang pemerintah yang selalu menekan kita. Kalau perlu, dahsyatnya udah masak kita rebut tahta kerajaan. Kita, semua anggauta persekutuan kita, yang akan duduk di kursi-kursi pemerintahan, menguasai seluruh negeri dan mengadakan peraturan-peraturan baru! Akan tetapi, aku harus lebih dulu melihat bukti kesetiaan kalian, baru aku mau membantu."
Semua orang terkejut, terbelalak memandang kepada orang asing itu.
Demikian tinggi dan besar cita-citanya!
Merampas tahta kerajaan dan mereka semua menadi pembesar-pembesar tinggi!
Macam-macam bayangan memasuki pikiran mereka.
Ada yang membayangkan dia kelak menjadi menteri pajak, ada yang ingin menjadi menteri keuangan, tentu saja dengan harta yang belimpahan, ada yang ingin menjadi menteri pengadilan agar dia dapat menghukum mereka yang tak disukainya sesuka hati.
Pendeknya ucapan Kulana tadi membuat mereka mengkhayal yang muluk-muluk dan otomatis mereka mengangguk-angguk dan merasa tertarik.
Akan tetapi Kim San, Ketua Kui-kok-pang, masih merasa penasaran dan dia pun bangkit berdiri.
"Saudara Kulana boleh jadi seorang yang berpengetahuan luas dan kaya raya, akan tetapi kami semua hanyalah orang-orang kasar yang mengandalkan kekuatan dan ilmu silat. Bagaimana mungkin dapat terjalin kerja sama antara engkau dan kami?"
Ucapan ini jelas menyatakan keraguan Ketua Kui-kok-pang itu terhadap diri Kulana yang hanya kaya saja akan tetapi kelihatan seperti orang yang lemah.
Mendegar ucapan ini, Lam-hai Giam-lo mengeluarkan suara ketawanya yang menyeramkan, persis suara kuda meringkik.
"Hyeh-heh-heh! Kim-pangcu, engkau belum mengenal siapa adanya Saudara Kulana.."
Tiba-tiba dia menghentikan ucapannya karena terjadi kegaduhan di pintu masuk.
Terdengar seruan-seruan dan nampak dua orang anggauta keamanan yang berjaga di depan pintu terlempar masuk ke kanan kiri dan seorang gadis melangkah masuk dengan tenangnya.
Kiranya dua orang penjaga itu tadi hendak mencegah ia masuk dan sekali mendorong, gadis itu telah membuat mereka terpental dan bangkit dan memandang dengan kaget dan heran.
Lam-hai Giam-lo sendiri mengerutkan alisnya dan memandang marah melihat adanya seorang gadis muda begitu berani untuk mengganggu rapat penting itu.
"Bengcu, lapor.. Ia... ia memaksa untuk masuk biarpun sudah kami cegah dan halangi."
Kata seorang di antara dua penjaga yang didorong roboh tadi.
"Hemm, Nona yang lancang, siapakah engkau?"
Bentak Lam-hai Giam-lo, akan tetapi dia pun masih merasa sungkan untuk turun tangan mengingat bahwa dia seorang bengcu dan pengganggu itu hanya seorang gadis muda yang usianya belum ada dua puluh tahun.
"Bengcu, biar aku yang menghajarnya!"
Pek Eng yang merasa marah juga melihat pengacau itu yang sama sekali tidak menghormati gurunya, sekali bergerak telah meloncat ke depan gadis itu.
Gadis itu hanya melirik saja kepada Pek Eng, akan tetapi agaknya merasa heran menemukan seorang gadis seperti Pek Eng di antara para datuk sesat itu.
"Hemm, anak kecil, siapa engkau? Jangan mencampuri urusan ini dan pergilah."
Kata gadis itu, sikapnya tenang dan memandang rendah.
Pek Eng yang galak itu semakin penasaran karena disebut anak kecil.
"Namaku Pek Eng dan aku adalah murid Bengcu Lam-hai Giam-lo! Engkaulah yang harus minggat dari sini dan jangan membikin kacau. Hayo katakan siap engkau dan apa maksudmu menerobos masuk seperti ini!"
Gadis itu pun masih muda, sebaya Pek Eng, kulitnya putih mulus, rambutnya yang panjang itu digelung menjadi dua, tubuhnya ramping.
Wajahnya cantik sekali; dengan muka bulat telur, mata tajam, hidung kecil mancung, bibirnya merah membasah dan setitik tahi lalat di dagunya menambah kemanisannya.
"Hemm, siapa adanya aku tidak perlu diketahui orang! Adapun kedatanganku ini tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Aku hanya minta agar suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan yang bernama Kwee Siong dan Tong Ci Ki, juga suami Siangkoan Leng dan Ma Kim Li, Cepat maju ke ini!"
Mendengar nama mereka disebut, dua pasang suami isteri iblis itu menjadi marah dan mereka pun bangkit dari tempat duduk mereka.
"Kami adalah Lam-hai Siang-mo!"
Bentak Ma Kim Li.
"Kami sepasang suami iteri Guha Iblis Pantai Selatan, engkau mau apa menyebut nama kami?"
Bentak pula Tong Ci Ki.
Gadis itu bukan lain adalah Siangkoan Bi Lian, atau seperti yang dianggapnya sendiri, Cu Bi Lian karena sejak kecil ia dijadikan anak angkat oleh suami isteri Cu Pak Sin.
Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika terjadi perkelahian antara dua kakek Iblis Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi melawan dua pasang suami isteri itu yang dibantu banyak anak buahnya, dua orang kakek itu mengamuk dan karena orang kampung dapat diajak oleh dua pasang suami isteri itu mengeroyok, maka banyak orang kampung, termasuk pula Cu Pak Sin dan isterinya, tewas di tangan dua orang kakek itu mengatakan bahwa mereka membunuh Cu Pak Sin karena orang itu ikut berpihak kepada dua pasang suami isteri iblis.
Dengan demikian, kematian Cu Pak Sin dan isterinya adalah akibat dari ulah Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Guah Iblis Pantai Selatan.
Inilah sebabnya mengapa Bi Lian mencari dua pasang suami isteri ini untuk membalas kemataian ayah ibunya, yang sesungguhnya bukanlah ayah ibu kandungnya.
Ketika ia bertemu dengan Hay Hay, ia mendengar bahwa dua pasang suami isteri yang dianggapnya musuh besar itu berada di daerah selatan, maka ia pun mencari-cari dan akhirnya mendengar bahwa ia dapat menemukan mereka di tempat ini.
Ketika tadi ia tiba di depan pintu gerbang dan melihat banyak orang berjaga dengan ketat, ia tidak mau menimbulkan keributan dan dengan kepandaiannya yang tinggi, ia dapat melompati pagar tembok tanpa diketahui penjaga.
Akan tetapi ketika ia tiba di depan pintu tempat diadakannya rapat dan hendak masuk, dua orang penjaga menghadangnya dan terpaksa ia mendorong mereka sampai terpelanting ke dalam ruangan itu.
Ketika dua pasang suami isteri itu bangkit memperkenalkan diri, Bi Lian memandang kepada mereka dengan sinar mata tajam.
"Bagus, akhirnya dapat juga kutemukan kalian!"
"Hemm, setelah bertemu, engkau mau apakah?"
Bentak Siangkoan Leng marah karena dia melihat betapa gadis muda itu sama sekali tidak menghormati mereka, bahkan memandang rendah.
"Masih kau tanya lagi mau apa? Mau membunuh kalain berempat tentu saja!"
Jawab Bi Lian.
"Bocah lancang mulut!"
Ma Kim Li membentak dan ia pun meloncat ke depan dan langsung menyerang Bi Lian.
Si Jarum Beracun ini meloncat ke atas dan menerkam dengan kedua tangan membentuk cakar.
Suaminya, dan pasangan suami isteri yang lain hanya menonton saja karena mereka percaya bahwa Ma Kim Li tentu cukup tangguh untuk menghajar gadis muda itu.
Agaknya memalukan kalau mereka harus maju mengeroyok seorang anak yang sepantasnya menjadi anak, bahkan cucu mereka.
Namun Bi Lian menghadapi serangan dahsyat ini dengan tenang saja.
Ia hanya kelihatan mengangkat tangan kirinya dengan jari tangan terbuka, mendorong sambil mengeluarkan bentakan nyaring.
"Haiiik!"
Dan akibatnya, tubuh Ma Kim Li yang masih terapung di udara itu, terdorong ke belakang dan terbanting ke atas lantai!
Tentu saja Siangkoan Leng terkejut bukan main dan tubuhnya sudah melayang ke atas, lalu dia menubruk ke arah kepala Bi Lian dengan serangan dahsyat dan mematikan karena yang diserangya adalah ubun-ubun kepala gadis itu.
Menghadapi serangan dahsyat yang jauh lebih berbahaya daripada serangan Ma Kim Li ini, Bi Lian menggeser kakinya ke kiri, kemudian tubuhnya membalik ke kanan dan kedua tanggannya mendorong.
Dari posisi diserang, ia kini bahkan menjadi penyerang dari samping dan Siangkoan Leng masih mencoba menangkis ke arah kanannya dari mana dorongan itu datang.
Akan tetapi seperti juga apa yang dialami Ma Kim Li tadi, tubuhnya terdorong ke kiri dan terbanting jatuh ke atas lantai!
Melihat ini, Kwee Siong dan Tong Ci Ki yang tadinya sudah siap menyerang, menjadi terkejut dan meragu.
Tak disangka oleh mereka bahwa gadis muda yang muncul dan menyatakan hendak membunuh mereka berempat itu demikian lihainya!
"Biar aku yang menghadapi gadis ini!"
Tiba-tiba terdengar suara Kim San, dan Ketua Kui-kok-pang ini sudah meloncat ke depan Bi Lian.
"Akan tetapi kami yang ia cari, Kim-pangcu!"
Kata Kwee Siong.
"Sudahlah, kalian berempat adalah pihak tuan rumah, tidak enak kalau aku sebagai tamu mendiamkan saja ada orang membikin kacau di sini. Hei, Nona Muda, siapa engkau dan mengapa pula engkau datang-datang hendak membunuh dua pasang suami isteri itu?"
Sebagai Ketua Kui-kok-pang, Kim San sudah mempunyai banyak pengalaman, akan tetapi dia merasa heran melihat gerakan gadis itu tadi ketika merobohkan Lam-hai Siang-mo sedemikian mudahnya walaupun suami isteri itu tidak sampai terluka parah.
Akan tetapi dia pun maklum bahwa di dunia para pendekar banyak bermunculan pendekar-pendekar muda yang tidak dikenalnya.
Bi Lian memandang orang tinggi kurus yang mukanya pucat seperti mayat hidup itu, tersenyum mengejek dan menjawab.
"Mayat hidup, aku tidak mempunyai urusan dengan kamu, oleh karena itu aku tidak mau memperkenalkan namaku. Sebaliknya, siapakah engkau ini yang begini lancang berani mencampuri urusan pribadiku?"
Ketua Kui-kok-pang itu memiliki watak yang tinggi hati dan melihat seorang gadis muda seperti Bi Lian, tentu saja dia memandang rendah.
Biarpun gadis itu tadi telah merobohkan Lam-hai Siang-mo, dia menganggap bahwa hal itu terjadi karena suami isteri itu kurang hati-hati dan terburu nafsu, juga karena tingkat kepandaian Mereka memang belum mencapai tingkat tinggi seperti dia.
Kini, mendengar pertanyaan Bi Lian, dia berkata dengan mulut menyeringai.
"Ha-ha, engkau ini gadis muda agaknya baru saja keluar dari sarang dan belum banyak mengenal tokoh dunia! Aku bernama Kim San dan akulah Ketua Kui-kok-pang! Sebaiknya engkau batalkan saja niatmu itu dan ikut bersamaku ke Hong-san, menjadi anggauta Kui-kok-pang dan engkau akan hidup senang."
"Kui-kok-pangcu, kalau boleh aku menasihatimu, jangan engkau mencampuri urusan pribadiku dengan dua pasang suami isteri iblis itu. Minggirlah dan biarkan mereka berempat maju, atau engkau akan menyesal nanti!"
Kata Bi Lian dengan sinar mata tajam seperti kilat menyambar.
"Ha-ha, engkau memang anak bandel dan sombong. Nah, rasakan tanganku!"
Kim San yang maklum bahwa gadis ini tidak mungkin dapat ditundukkan dengan halus, sudah menerjang ke depan.
Gerakannya aneh, kaku seperti gerakan mayat setiap kali menggerakan kaki tangan, ada hawa panas menyambar.
Melihat lawan menggunakan tangan kanan menyerangnya dengan cengkeraman ke arah leher dan tangan kiri yang sudah siap di atas kepala, Bi Lian menggeser kakinya ke belakang.
Akan tetapi cepat sekali tangan kiri yang tadi mengancam di atas kepala itu menyambar turun, mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Bi Lian.
Gerakan itu cepat sekali dan juga kaki mayat hidup itu sudah bergeser dan juga kaki mayat hidup itu sudah bergeser ke depan mengejarnya.
Melihat keanehan dan kecepatan gerakan lawan tahulah Bi Lian bahwa lawan memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Lam-hai Siang-mo.
Ia pun lalu mengerahkan tenaga sin-kangnya dan mengangkat tangan untuk menangkis ke atas.
Dari telapak tangannya nampak uap mengepul!
"Dukkk..!"
Kedua telapak tangan itu bertemu, keduanya mengandung hawa panas dan mereka berdua terdorong mundur dua langkah.
Ternyata tenaga mereka seimbang dan tentu saja melihat kenyataan ini, Ketua Ku-kok-pang terkejut dan heran bukan main.
Dia memiliki sin-kang yang amat kuat, bagaimana mungkin seorang gadis semuda itu mampu menahan tenaganya itu, bahkan dalam adu tenaga tadi sempat membuat dia terdorong sampai dua langkah?
Dengan hati-hati dia pun kini menerjang lagi, lebih cepat dan lebih dahsyat daripada tadi.
Bi Lian sudah mengukur tenaga lawan, maka kini ia tahu bahwa dengan mengadalkan tenaga, sukar baginya untuk menang.
Ia pun lalu mengerahkan ilmu gin-kang (meringankan tubuh) yang dipelajarinya dari Pak-kwi-ong.
Begitu ia mengelak dan bergerak cepat, lawannya mengeluarkan seruan kaget.
Tentu saja Kim San kaget setengah mati kalau melihat betapa gadis itu tiba-tiba lenyap dari depannya dan hanya nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu telah membalas serangannya dari arah kirinya.
Dia pun menangkis dan berusaha mendesak lawan dengan serangan bertubi-tubi.
Namun, Bi Lian dapat pula mengelak dengan mudahnya, kemudian mempergunakan kegesitannya untuk menyelinap dan membalas dari berbagai jurusan.
Menghadapi kecepatan gerakan gadis itu, Kim San merasa bingung juga.
Dia megeluarkan suara menggereng dan mengamuk, namun serangan-serangannya itu hampir dapat dikatakan ngawur saja karena yang diserang hanyalah tempat kosong.
Memang sukar bagi Ketua Kui-kok-pang itu menghadapi lawan yang memiliki gerakan jauh lebih cepat darinya.
Dia hanya melihat bayangan berkelebatan dan menyerang bayangan itu dengan ngawur.
Sebaliknya, setiap kali Bi Lian menyerang dari sudut yang sama sekali tidak diduganya, Kim San menjadi repot dan terdesak hebat.
Setelah lewat tiga puluh jurus, Ketua Kui-kok-pang itu menjadi pening juga.
Gadis itu bergerak amat lincahnya, berputar-putar sekeliling dirinya, membuat Kim San terpaksa ikut berputaran dan hal ini membuatnya menjadi pusing dan ketika ujung kaki Bi Lian menyentuh sambugan lutunya, disusul tamparan pada pundak, Ketua Kui-kok-pang itu tidak dapat mempertahankan dirinya lagi dan dia pun roboh!
Khawatir kalau lawannya terus menyerang yang akan membahayakan nyawanya, terpaksa Ketua Kui-kok-pang ini mengulingkan tubuhnya, bergulingan terus sampai ke tempat duduk para tamu baru dia meloncat berdiri, akan tetapi roboh lagi karena kaki yang tertendang itu masih setengah lumpuh!
Dan ternyata gadis itu hanya berdiri bertolak pinggang sambil tersenyum mengejek, sama sekali tidak mengejarnya.
"Siangkoan Leng, Ma Kim Li, Kwee Siong dan Tong Ci Ki, kalian berempat majulah untuk menerima kematian, dan tidak perlu melibatkan orang lain yang tidak mempunyai urusan denganku."
Kata Bi Lian menantang empat orang itu.
Lam-hai Siang-mo tadi roboh akan tetapi tidak terluka dan kini mereka berempat itu saling pandang, timbul keberanian karena ditantang berempat maju bersama.
"Siapakah engkau dan mengapa engkau memusuhi kami?"
Bentak Kwee Siong, kemarahan menutupi kegelisahannya.
"Biarlah kalain berempat mendengar agar tidak mati penasaran. Tentu kalian berempat masih ingat ketika kalian bersama anak buah kalian mengeroyok Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Kalian menghasut orang-orang dusun itu untuk ikut mengeroyok sehingga banyak orang dusun tewas, di antaranya adalah Ayah Bundaku! Nah, kini kalian harus menebus kematian Ayah Ibuku itu dengan nyawa kalian!"
Tentu saja empat orang itu masih ingat akan peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu itu, mereka pernah memusuhi dua orang kakek iblis itu yang dahulu meninggalkan mereka memperolah Sing-tong.
Bahkan dalam pengeroyokan itu pun mereka gagal, banyak anak buah mereka tewas di tangan dua orang kakek sakti itu.
Sebelum Mereka membantah atau menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketawa.
Suara itu seperti tikus terjepit, mencicit tinggi.
Hek-hiat Mo-ko itu, telah maju menghadapi Bi Lian.
Sejenak ia berdiri berhadapan dengan Bi Lian, memandang gadis itu dari kepala sampai ke kaki dan berkali-kali mengeluarkan suara memuji.
Hek-hiat Mo-ko ini, biar pun cebol, memang terkenal pula mata keranjang dan cabul.
Sejak tadi dia sudah tertarik sekali dengan kemunculan Bi Lian yang demikian jelita, manis dan gagah perkasa pula.
Dia memandang kagum.
Seorang gadis muda dan cantik mampu mengalahkan Kui-kok-pangcu, sungguh bukan main hebatnya dan pantas untuk menjadi isterinya!
Dia memang belum mempunyai seorang isteri yang sah.
Melihat munculnya Si Cebol yang memandangnya seperti hendak menelannya dengan sinar matanya, Bi Lian mengerutkan alisnya.
"Manusia sepotong siapakah engkau dan mau apa memandangku sambil cengar-cengir seperti tikus?"
Bi Lian sengaja memakainya tikus mengingat suara ketawanya yang seperti bunyi tikus mencicit tadi.
Biarpun dimaki, Hek-hiat Mo-ko tidak marah, bahkan tertawa mencicit lalu menjawab.
"Manis, engkau sungguh cantik jelita dan engakau patut sekali menjadi isteriku! Aku, biarpun begini, masih belum mempunyai isteri dan aku adalah Hek-hiat Mo-ko. Marilah, Nona manis, hentikan kemarahanmu dan kita menyongsong hidup baru penuh kenikmatan dan..."
"Tutup moncongmu yang kotor!
Bi Lian membentak dan tanpa banyak cakap lagi ia sudah menyerang orang cebol itu.
Marahlah gadis ini sehingga serangannya ganas dan juga amat cepat.
Namun, sebelum menghadapi gadis itu, Hek-hiat Mo-ko sudah mempelajari gerakan Bi Lian dan jagoan ini maklum bahwa gadis itu selain memiliki tenaga sin-kang yang dapat menandingi kekuatan Kui-kok-pangcu, juga memiliki gin-kang atau kecepatan gerakan yang luar biasa, seperti seekor burung yang menyambar-nyambar.
Kaena itu, dia sudah bersiap-siap siaga dan begitu gadis itu bergerak cepat, dia pun mengerahkan tenaga sinkangnya dan kini kedua telapak tangannya berubah hitam dan tercium bau amis yang memuakkan!
Bi Lian terkejut dan melangkah mundur menjauhi, akan tetapi Hek-hiat Mo-ko sudah menyerang dengan cepat, kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam dada dan muka.
Bi Lian mengelak dan meloncat ke samping, akan tetapi ada hawa busuk yang memuakkan menyambar sehingga hampir saja ia muntah, Bau itu membuatnya pusing sekali dan tahulah ia bahwa lawan ini tentu memiliki ilmu Pukulan beracun yang amat jahat!
Ia pun lalu mempercepat gerakannya dan kini ia berkelebtan mengelilingi lawan, selalu mengelak dan menjauhi kedua tangan yang hitam itu, dan membalas dengan tamparan-tamparan dan tendangan-tendangan.
Hek-hiat Mo-ko memiliki tingkat ilmu kepandaian yang masih lebih tinggi dari Kui-kok-pangcu.
Biarpun gadis itu berkelebatan di sekelilingnya dan mengirim balasan serangan yang mendadak, namun dirinya dengan kedua tangan hitam itu.
Karena Bi Lian tidak berani terlalu dekat, takut kalau menjadi pening dan roboh oleh bau yang busuk, dan karena Hek-hit Mo-ko pandai melindungi dirinya, maka perkelahian itu berlangsung cukup lama.
Bagi Hek-hiat Mo-ko sendiri, tidak mudah untuk dapat merobohkan lawan karena gerakan gadis itu memang terlampau cepat baginya, bagaikan menyerang bayang-bayang saja.
Setelah lewat hampir lima puluh jurus, tiba-tiba Hek-hiat Mo-ko mengeluarkan suara mencicit tinggi dan kini dari mulutnya juga keluar uap menghitam yang baunya lebih busuk lagi.
Bi Lian terkejut ketika disambar oleh hawa busuk yang keluar dari kedua tangan dan dari mulut.
Lawan itu sengaja meniupkan hawa busuk itu, mengarah mukanya sehingga repotlah gadis itu menyelamatkan diri dengan mengandalkan kelincahannya.
Maklum bahwa ia terancam bahaya, tiba-tiba gadis itu mengeluarkan suara melengking yang bukan saja mengejutkan lawan, bahkan mengejutkan seluruh tamu yang hadir karena lengkingan itu mengandung getaran yang mengguncangkan jantung mereka.
Cepat mereka mengerahkan sing-kang untuk melindungi tubuh bagian dalam.
Tidak mengherankan kalau suara ini menggetarkan jantung karena gadis itu telah mengerahkan tenaga khikang yang disebut Pek-houw Ho-kang (Suara Gerengan Harimau Putih) yang dipelajarinya dari Tung-hek-kwi).
Yang paling hebat menderita karena gerengan ini adalah Hek-hiat Mo-ko sendiri yang diserang secara langsung!
Seketika tubuhnya terhuyung dan cepat dia meloncat ke belakang ketika Bi Lian menampar mukanya.
Akan tetapi, kagetlah hati iblis ini ketika dia melihat tangan gadis itu tetap saja mengejarnya dan tak dapat dihindarkan lagi, dalam keadaan terhuyung oleh pengaruh suara, tangan gadis yang terus mengejarnya itu berhasil manampar pipinya.
Lengan tangan itu dapat mulur dan terus mengejar sehingga tamparannya tepat mengenai sasaran.
"Plakk!"
Pipi itu menjadi matang biru karena tamparan yang keras dan Hek-hiat Mo-ko menyumpah-nyumpah sambil meludahkan dua buah gigi yang copot!
Pada saat suara lengkingan gadis itu terhenti, terdengarlah suara melengking yang jauh lengkingan yang dikeluarkan Bil Lian akan tetapi lebih parau.
"Hebat... habat..!"
Tiba-tiba saja Kulana, bangsawan Birma yang tadi hanya menonton sambil tersenyum dan matanya memandang kagum kepada Bi Lian, kini sudah berada di depan gadis itu.
Bi Lian memandang penuh perhatian dan dapat menduga bahwa tentu orang ini adalah seorang asing, dapat dilihat dari pakaiannya dan sorban di kepalanya.
"Pergilah engkau, orang asing! Aku tidak mempunyai urusan denganmu!"
Bil Lian membentak.
Hatinya marah bukan main karena tidak disangkanya, di tempat itu setelah berhasil menemukan empat orang musuh besarnya, ternyata terdapat banyak sekali orang pandai yang membela empat orang musuhnya itu.
Akan tetapi, orang asing yang anggun dan berwibawa itu hanya tersenyum, sepasang matanya yang lebar itu mengeluarkan sinar aneh yang membuat Bi Lian merasa ngeri.
"Nona, tidak baik menurutkan perasaan amarah. Mengapa kita tidak bersahabat saja dan bicara dengan baik-baik? Namaku Kulana, Nona, dan aku pernah menjadi seorang pangeran Kerajaan Birma, seorang bagsawan yang tidak suka akan kekerasan. Nona yang baik, bolehkah aku tahu siapa nama Nona yang terhormat?"
Terjadi keanehan pada diri Bi Lian.
Tiba-tiba saja semua kemarahannya lenyap dan ia menjadi lemas, tertarik oleh sikap manis itu dan seperti di luar ksadarannya sendiri ia pun membalas penghormatan Kulana yang membungkuk kepadanya dan menjawab dengan suara halus.
"Aku bernama Cu Bi Lian."
"Cu Bi Lian, sebuah nama yang indah dan sungguh pantas kalau nama itu dirobah menjadi Nyonya Kulana. Tidakah kau juga berpendapat demikian, Nona Bi Lian?"
Terkejut hari Bi Lian mendenagr ucapan yang halus namun jelas bermaksud tidak sopan itu, akan tetapi lebih terkejut lagi ketika ia mendapatkan dirinya sendiri mengangguk membenarkan!
Seketika ia pun dapat menduga bahwa ada kekuatan aneh yang memaksanya bersikap lunak,maka ia pun cepat mengeluarkan suara melengking, mengerahkan khi-kangnya dan kekuatan sihir yang dilakukan Kulana dan yang sudah mempengaruhi dirinya tadi seketika membuyar!
Kulana adalah seorang yang pandai sihir, terutama dalam hal menguasai segala macam ular.
Kekuatan sihirnya yang tadi membuat Bi Lian menjadi lembut dan lemah, akan tetapi setelah kekuatan itu buyar oleh lengkingan Bi Lian, gadis ini sadar sepenuhnya bahwa ia tadi telah memperlihatkan sikap yang tidak sewajarnya!
Marahlah ia karena sudah yakin bahwa orang Birma di depannya ini tadi mempergunakan sihir.
"Tak perlu banyak cakap, minggirlah!"
Bentaknya dan ia pun menerjang ke depan, mendorong dengan kedua tangannya sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.
Serangan ini hebat sekali dan angin besar menyambar ke arah Kulana.
Akan tetapi, orang ini tenang-tenang saja, merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya sampai hampir berjongkok dan dia pun mendorongkan kedua tangannya ke depan, menyambut serangan Bi Lian.
"Desss..!"
Hebat sekali pertemuan tenaga ini karena Bi Lian mengerahkan sebagian besar tenaganya dan akibatnya, tubuh Kulana bergoyang-goyang akan tetapi Bi Lian terpaksa mundur dua langkah!
Diam-diam gadis ini terkejut sekali.
Tak disangkanya orang asing ini bahkan lebih kuat daripada semua lawannya tadi.
Juga Kim San Ketua Kui-kok-pang yang tadi memandang rendah orang Birma itu, kini terbelalak kagum dan mukanya berubah merah.
Baru dia tahu bahwa orang Birma itu selain kaya raya, juga ternyata memiliki ilmu kepandaian yang agaknya jauh lebih tinggi daripadanya.
Maklum akan kekuatan lawan, Bi Lian kini menerjang maju dan mengerahkan gin-kangnya yang istimewa sekali.
Namun, lawannya bergerak dengan tenang sekali, bahkan gerakannya nampak lambat, namun anehnya, Bi Lian tidak melihat lowongan yang dapat diserang dan setiap kali ia menyerang, selalu dapat dielakkan atau bertemu dengan tangkisan.
Bagaimanpun juga, karena kecepatan gadis itu, Kulana juga tidak berdaya, tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk balas menyerang melainkan hanya melindungi dirinya dengan ilmu silat bertahan yang amat kokoh kuat dan rapat sekali.
Akan tetapi, tiba-tiba Kulana mengeluarkan kata-kata aneh yang tidak dimengerti oleh Bi Lian, lalau disambung ucapan yang amat halus dan berwibawa.
"Nona, tidakkah engkau sudah lelah sekali? Mengasolah dan jangan memaksa diri mengerahkan kekuatan, aku tidak ingin menyusahkanmu.."
Sungguh aneh sekali, tiba-tiba saja Bi Lian merasa betapa tubuhnya lelah bukan main, matanya mengantuk dan ia membayangkan betapa akan nikmatnya kalau ia boleh mengaso!
Akan tetapi, begitu gerakannya melambat, tiba-tiba saja jari tangan Kulana, berhasil menyentuh dadanya.
Ia terkejut dan mengeluarkan suara lengkingan panjang dan buyarlah semua pengaruh yang membuatnya lelah dan mengantuk tadi.
Wajah gadis itu menjadi merah sekali, merah karena malu dan marah.
Orang asing itu secara kurang ajar telah menyentuh buah dadanya!
Tiba-tiba terdengar lengkingan nyaring menyambut lengkingan yang dikeluarkan Bi Lian dan tiba-tiba saja di situ muncul dua orang kakek yang sudah tua sekali.
Seorang kakek yang perutnya gendut sekali sehingga tubuhnya seperti bola saja, kulitnya kuning mulus dan kepalanya botak.
Bajunya di bagian dada terbuka, meperlihatkan dada dan sebagian perutnya yang gendut.
Dia nampak lebih dulu, tersenyum-senyum, memperlihatkan mulut yang sudah tidak bergigi lagi.
Dia sungguh seperti seorang bayi montok yang besar!
Orang ke dua, juga kakek yang usianya sudah delapan puluh tahun lebih, sebaliknya bertubuh tinggi besar menyeramkan, mukanya penuh brewok, kulitnya hitam seperti arang.
Dia tidak tersenyum seperti kakek gendut, melainkan dengan sikap angker memandang ke arah Kulana, Kemudian, tanpa mengeluarkan sepatahpun kata, tangannya mencengkeram ke arah orang Birma itu!
Kulana terkejut dan cepat mengelak, akan tetapi tangan itu terus mulur dan berhasil mencengkeram leher bajunya bagian belakang dan Kulana merasa tubuhnya terangkat naik!
Orang Birma ini cukup lihai, maka dia pun menyerang dengan totokan jari tangannya ke arah siku lengan yang mencengkeram leher bajunya.
Totokan ini kuat sekali.
Hal ini agaknya disadari oleh kakek tinggi besar yang segera mengayun tubuh itu dan melepaskan pegangannya.
Tubuh Kulana melayang ke atas dan tentu akan terbanting jatuh kalau saja dia tidak cepat menggerakkan tubuhnya dan tubuh itu berjungkir balik beberapa kali kemudian meluncur turun dan dia sudah jatuh dengan empuk, duduk kembali di atas kursinya yang tadi.
"Hemmm..!"
Kakek tinggi besar mengangguk-angguk, tanda bahwa di mengagumi kepandaian orang Birma itu.
Sementara itu, melihat munculnya dua orang kakek ini, sebagian besar di antara mereka terkejut bukan main.
Mereka mengenal dua orang kakek itu.
Yang gendut bundar adalah Pak-kwi-ong, datuk sesat dari Utara, sedangkan orang tinggi besar berkulit hitam adalah Tung-hek-kwi, datuk sesat dari Timur.
Mereka inilah Lam-hai Giam-lo sebagai susiok (paman guru) karena Mereka adalah dua orang di antara Empat Setan, adapun dua yang lain, Lam-kwi-ong Datuk Selatan guru Lam-hai Giam-lo, dan See-kwi-ong datuk Barat, keduanya sudah lama meninggal dunia.
Melihat munculnya kedua orang susioknya itu, Lam-hai Giam-lo juga terkejut akan tetapi juga merasa girang.
Cepat dia melangkah maju dan menjatuhkan diri berlutut di depan dua orang kakek itu.
"Susiok Pak-kwi-ong dan Susiok Tung-hek-kwi, teecu (murid) Kin Cung menghaturkan hormat dan selamat datang!"
Suaranya yang seperti tingkik kuda itu terdengar merendah, tidak seperti biasanya yang selalu terdengar angkuh.
Kini semua orang terkejut.
Mereka yang belum pernah bertemu dengan dua orang kakek itu, tentu saja pernah mendengar nama mereka sebagai dua orang di antara Empat Setan, datuk sesat yang tinggi tingkatnya.
Mereka sudah merasa sungkan dan hormat kepada Lam-hai Giam-lo dan kini mereka melihat betapa bengcu itu begitu merendahkan diri terhadap dua orang kakek itu.
Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi memandang kepada oang yang berlutut di depan mereka itu, dan Pak-kwi-ong terkekeh.
"Heh-heh-heh, sungguh lucu. Aku tidak pernah mengenal orang bernama Kin Cung. Engkau bagaimana, Setan Hitam (Hek Kwi), apakah engkau mempunyai seorang keponakan seperti kuda ini?"
Tung-hek-kwi tidak menjawab, hanya menggeleng kepala.
"Susiok, teecu adalah murid mendiang Suhu Lam Kwi Ong."
Kata Lam-hai Giam-lo cepat-cepat.
Kembali dua orang kakek tua renta itu memandang kepadanya, sekali ini lebih memperhatikan.
"Aha, kiranya engkau yang berjuluk Lam-hai Giam-lo itukah? Tanya Pak-kwi-ong.
"Benar, Susiok."
"Dan engkau mengumpulkan orang-orang pandai di sini untuk apakah?"
Tanya pula Pak-kwi-ong sambil memandang kepada orang-orang yang duduk di tempat itu.
"Kebetulan sekali. Susiok. Kami sedang mengadakan rapat untuk membentuk suatu persekutuan antara golongan sendiri, untuk melanjutkan sepak terjang Suhu dan Susiok bertiga, mengangkat kembali derajat golongan kita, dan teecu mereka pilih sebagai Bengcu."
Dua orang kakek itu saling pandang dan bahkan Tung-hek-kwi yang selalu nampak galak itu mengangguk-angguk dan sinar matanya kelihatan senang.
Pak-kwi-ong merasa gembira sekali mendengar itu.
"Bagus sekali! Ah, senang hatiku mendengar ini, Lam-hai Giam-lo! "Harap Ji-wi Susiok sudi mengambil tempat duduk dan.."
"Suhu berdua ini bagaiman sih!"
Tiba-tiba Bi Lian mencela kedua orang gurunya, berdiri di tanah antara mereka dan bertolak pinggang.
"Aku sudah menemukan pembunuh-pembunuh orang tuaku. Lihat merekalah orangnya. Dua pasang suami isteri iblis, Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan! Tadi akan kubunuh, akan tetapi orang-orang di sana membela mereka dan Suhu kini beramah tamah dengan mereka!"
Mendengar teguran murid yang disayangnya itu, Tung-hek-kwi mengerukan alisnya dan matanya terbelalak, mendelik mencari-cari.
"Mana orangnya yang berani mengganggumu, biar kuhancurkan kepalanya!"
Semua orang menjadi gentar melihat sikap raksasa tua hitam itu.
Akan tetapi Pak-kwi-ong tertawa dan suaranya terdengar lantang.
"Ha-ha-heh-heh. Setan Hitam, jangan begitu! Kita berdua di antara orang-orang sendiri! Lihat betapa keponakan kita berusaha membangun kembali kekuasaan golongan kita yang sudah runtuh. Apa yang dialami murid kita hanyalah merupakan kesalahpahaman belaka. Akan tetapi, mengadu ilmu merupakan cara berkenalan yang amat baik!"
"Suhu...!"
Bi Lian merajuk.
"Sssst, Bi Lian. Dengarlah baik-baik."
Kata kakek gendut itu.
"Lam-hai Giam-lo ini adalah murid Lam-kwi-ong, saudara tuaku. Dia masih terhitung Suhengmu sendiri dan kita berada di antara teman-teman sendiri."
"Akan tetapi dua pasang suami isteri itu.."
"Sudahlah. Mereka pun teman-teman dan orang-orang sendiri. Memang pernah mereka itu tidak tahu diri berani menentang kami berdua, akan tetapi mereka pun sudah merasakan pahitnya. Nah, urusan sudah habis sampai di sini saja."
"Tapi orang tuaku..."
"Mereka tewas karena suatu pertepuran di mana mereka berada di tengahnya, anggap saja kecelakaan!"
Kata pula Pak Kwi Ong. Lam-hai Giam-lo lalu menjura kepada Bi Lian.
"Kiranya Nona ini adalah Sumoiku sendiri? Aih, Sumoi. Akulah yang memintakan maaf atas sikap teman-teman kita ini karena belum mengenalmu. Kalau aku tahu bahwa engkau murid kedua Susiokku, mana kami berani bersikap kurang ajar?"
Lam-hai Siang-mo dan suami istri Guha Iblis Pantai Selatan juga merupakan orang-orang yang cerdik.
Mereka tadi sudah ketakutan sekali melihat munculnya dua orang kakek itu, akan tetapi mendengar ucapan Pak Kwi Ong, lalu melihat sikap Lam-hai Giam-lo, mereka berempat segera maju dan menjura kepada Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi.
"Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah) memang benar. kami orang-orang bodoh telah melakukan kesalahan di masa lampau, dan sudah kami tebus dengan kematian banyak teman, harap Ji-wi sudi melupakan hal itu. Dan Nona Cu, kami bersumpah tidak pernah membunuh orang tuamu."
Bi Lian menjadi bingung.
Memang empat orang ini tidak membunuh orang tuanya, yang membunuh adalah Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi yang sudah menjadi gurunya.
Kematian orang tuanya memang terjadi karena adanya perkelahian antara mereka dan orang tuanya tewas di tangan kedua orang gurunya.
Akan tetapi, kedua orang gurunya tidak sengaja membunuh orang tuanya karena urusan pribadi.
Orang tuanya hanya terbawa saja dan menjadi korban.
Ia menjadi bingung dan ketika tangannya ditarik oleh Pak Kwi Ong, ia pun menurut saja.
Lam-hai Giam-lo sibuk memperkenalkan para tamunya kepada dua orang kakek itu yang duduk di tempat kehormatan.
Para tamu itu satu demi satu memberi hormat kepada Pak Kwi Ong dan Tng Hek Kwi sebagai orang dari tingkatan lebih tua, diterimam oleh dua orang kakek itu dengan gembira karena mengingatkan mereka akan masa dahulu ketika mereka masih menjadi datuk yang dihormati dan disegani seluruh tokoh kang-ouw.
Bi Lian yang duduk di sebelah Pak Kwi Ong, diam saja, hanya memperhatikan mereka yang diperkenalkan satu demi satu.
Ketika Kulana yang lihai itu diperkenalkan, ia memandang penuh perhatian, akan tetapi ia menunduk ketika pria itu memandangnya denga sinar mata yang haus.
"Dan ini adalah murid teecu, namanya Pek Eng."
Kata Lam-hai Giam-lo memperkenalkan muridnya sebagai orang terakhir.
Pek Eng berlutut memberi hormat kepada susiok-couwnya, kakek paman guru itu.
Ketika diperkenalkan kepada Bi Lian, dua orang gadis itu saling pandang.
Pek Eng memandang dengan kagum karena tadi ia udah menyaksikan betapa lihainya gadis cantik itu yang mampu menandingi tokoh-tokoh lihai, Sebaliknya Bi Lian memandang Pek Eng denga alis berkerut.
Diam-diam menyayangkan bahwa seorang gadis seperti Pek Eng berada di antara orang-orang seperti itu.
Akan tetapi, pikiran ini ditekannya sendiri ketika ia teringat bahwa ia sendiri pun menjadi murid dua orang datuk sesat!
Kulana minta bicara empat mata dengan Lam-hai Gaim-lo dan mereka berdua masuk ke kamar sebelah sedangkan dua orang kakek tua renta itu dijamu dengan hidangan-hidangan yang lezat dan arak yang harum.
Bi Lian juga ikut makan, akan tetapi hanya makan sedikit, tidak selahap kedua orang gurunya.
Kulana lalu keluar dan dia pun minta diri, pamit hendak pulang lebih dulu.
Kepada Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi yang duduk semeja denga Bi Lian, dia memberi hormat dan berkata.
"Saya mohon sudi kiranya kedua Locianpwe dan juga Nona Cu mengadakan waktu untuk berkunjung ke rumah saya."
Bi Lian cemberut saja sedangkan dua orang gurunya mengangguk-angguk.
Orang Birma itu pun pergi, membuat para tamu lainnya diam-diam merasa bingung.
Pertemuan itu sedang berlangsung, hanya terganggu kemunculan Bi Lian dan dua orang gurunya, pembicaraan mereka belum selesai, akan tetapi mengapa orang Birma yang menjadi orang penting dalam persekutuan ini telah pulang terlebih dahulu?
Setelah mengajak para tamunya makan minum bersama dua orang paman gurunya, Lam-hai Giam-lo melanjutkan pembicaraan mereka yang terputus tadi.
Lebih dulu dia menerangkan kepada dua orang kakek itu tentang apa yang baru saja mereka bicarakan, tentang persekutuan antara golongan yang mereka bentuk.
"Untuk memudahkan mengatur persekutuan ini, kawan-kawan mengangkat teecu menjadi Bengcu."
Demikian Lam-hai Giam-lo menghentikan keterangannya.
"Ilmu kepandaian tinggi seperti dua pasang suami isteri itu, Min-san Mo-ko, Ji-Sun Bi, bahkan Saudara Sim Ki Liong ini yang biarpun masih muda akan tetapi telah memiliki ilmu kepandaian yang paling hebat di antara mereka, menjadi pembantu-pembantu teecu. Juga para tokoh Pek-lian-kauw menjadi pembantu-pembantu luar yang boleh diandalkan karena selain memiliki banyak orang pandai, juga memiliki anak buah yang banyak dan kuat. Para saudara yang hari ini menjadi tamu adalah tokoh-tokoh kang-ouw dari berbagai penjuru, dan mereka sudah menyatakan setuju. Adapun Saudara Kulana tadi, adalah seorang yang amat pandai, baik ilmu silat maupun ilmu perangnya, selain itu juga amat kaya raya, dan dia pun menyatakan persetujuannya. Karena itu, setelah Ji-wi Susiok datang, kami mohon sudilah Ji-wi suka menjadi penasihat kami."
Dua orang kakek itu saling pandang dan mengangguk-angguk.
"Bagus, bagus!"
Kata Pak Kwi Ong sambil tersenyum lebar.
"Tentu saja kami senang mendengar itu karena engkau sebagai murid Lam Kwi Ong telah melanjutkan jejak kami dan membangkitkan kembali kekuatan golongan kita. Akan tetapi kami sudah terlalu tua dan kami ingin bebas tugas, ingin beristirahat. Kami hanya dapat membantu melalui murid kami Cu Bi Lian ini. Ialah yang akan membantu persekutuan ini dan tentang kepandaiannya, kalian sudah melihatnya sendiri tadi."
Semenjak kecil Bi Lian diasuh dan dididik oleh dua orang kakek yang terkenal sebagai datuk-datuk kaum sesat, sudah biasa melihat watak yang aneh dan tidak mempedulikan segala aturan dan sopan santun.
Karena itu, mau tidak mau ia pun terbiasa melihat hal-hal aneh atau kejahatan-kejahatan.
Baiknya, pada dasarnya Bi Lian bukanlah orang yang berwatak jahat dan setelah ia melakukan perantauan dan melihat dunia ramai, ia pun dapat menilai mana baik dan mana buruk.
Hatinya condong untuk menentang kejahatan, karena itu dalam waktu singkat, ia pun terkenal di dunia kang-ouw dengan julukan Tiat-sim Sian-li (Bidadari Berhati Besi) karena ia menentang kejahatan tak mengenal ampun terhadap para penjahat.
Kini melihat betapa orang-orang pandai bersekutu dan oleh gurunya ia ditunjuk untuk membantu persekutuan itu, ia pun tidak peduli, hanya merasa kecewa dan tidak puas karena dendamnya terhadap dua pasang suami isteri itu kini tak terbalas.
Dan ia bahkan menjadi ragu dan bingung, karena agaknya memang tidak adil kalau ia membunuh dua pasang suami isteri itu yang tidak berdosa dalam kematian ayah ibunya.
"Tapi, Suhu, aku pun tidak mau terikat oleh suatu persekutuan!"
Ia membantah. Melihat ini, Lam-hai Giam-lo cepat berkata kepada Bi Lian.
"Sumoi, tentu saja kami tidak mau mengikatmu, cukuplah kalau kami dapat mengharapkan bantuanmu sewaktu-waktu kami membutuhkan."
Lam-Hai Giam-lo memang cerdik.
Dia sudah merasa senang kalau dua orang paman gurunya itu, bersama murid mereka, tidak menghalangi usahanya.
Akhirnya semua tamu setuju mengangkat Lam-hai Giam-lo menjadi Bengcu.
Ketua Kui-kok-pang yang tadinya agak ragu, kini pun menerimanya setelah melihat bahwa Kulana yang ternyata jauh lebih lihai darinya, dan kabarnya amat kaya-raya, juga menjadi seorang pimpinan, bahkan yang siap untuk menunjang persekutuan itu dalam hal biaya.
Mulai hari itu, para tokoh dunia hitam menerima secara bulat bahwa Lam-hai Giam-lo menjadi bengcu dan mereka semua siap untuk melaksanakan perintahnya, siap pula untuk datang sewaktu-waktu dipanggil.
Ketika para tamu bubaran, Lam-hai Giam-lo membagi-bagi hadiah sehingga mereka menjadi semakin percaya dan senang.
Hanya Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi saja yang masih tinggal di situ bersama murid mereka.
Pak kwi Ong dan Tung Hek Kwi sering diajak makan minum oleh Lam-hai Giam-lo, sedangkan Bi Lian jarang menemani mereka.
Bi Lian lebih dekat dengan Pek Eng yang kagum kepadanya.
Pada keesokan harinya, ketika kedua orang kakek itu makan minum bersama Lam-hai Giam-lo, dia memberitabukan mereka tentang Kulana yang kemarin meninggalkan pesan kepadanya sebelum pulang.
Ternyata bahwa Kulana telah tergila-gila kepada Bi Lian, dan melalui Lam-hai Giam-lo, dia melamar Bi Lian untuk menjadi isterinya!
"Dia seorang bangsawan tinggi, memiliki ilmu kepandaian tinggi dan juga amat kaya-raya."
Kata Lam-hai Giam-lo kepada dua orang susioknya setelah memberitahu tentang pesan lamaran itu.
"Sumoi akan hidup berbahagia sebagai isterinya, dan Ji-wi Susiok juga akan terangkat sebagai orang-orang yang berderajat tinggi dan hidup mulia. Dan pula, kalau Sumoi sudah menjadi isterinya, tentu ia mau membantu persekutuan ini secara aktip."
Sebelumnya Lam-hai Giam-lo sudah memberitahu kepada kedua orang kakek itu akan tujuan terakhir persekutuan mereka itu, ialah menyusun kekuatan yang kelak akan dipergunakan untuk merampas tahta kerajaan!
Bujukan Lam-hai Giam-lo menraik hati kedua orang kakek itu.
"Ha-ha, memang aku sendiri pun kagum kepada orang itu. Bagaimana dengan engkau, Setan Hitam?"
Mendengar kata-kata Pak Kwi Ong ini, Tung Hek Kwi hanya mengerutkan alisnya, akan tetapi kemudian mengangguk tanpa menjawab.
"Baiklah, karena dia mengundang kami, kami akan berkunjung kepadanya dan melihat keadaanya, juga membicarakan urusan ini dengan dia sendiri"
Kata Pak Kwi Ong.
Sementara itu, Bi Lian mengajak Pek Eng berjalan-jalan di taman bunga yang luas, kemudian mereka duduk di tepi kolam ikan, di atas bangku panjang.
"En-ci, aku ingin sekali menguasai ilmu silat selihai engkau."
Pek Eng berkata sambil memandang wajah gadis yang duduk di sebelahnya. Bi Lian tersenyum.
"Sebagai murid Suheng Lam-hai Giam-lo, engkau tentu juga telah memiliki kepandaian tinggi."
"Ah, Enci, aku baru saja diterima menjadi murid Suhu, bahkan baru diajarkan dasar-dasar ilmu silat yang akan diajarkan kepadaku."
"Eh? Jadi engkau baru saja menjadi murid Suheng? Lalu sebelum ini, engkau pernah belajar silat?"
Pek Eng mengangguk.
"Aku belajar dari Ayahku sendiri."
Bi Lian memandang tajam, merasa heran.
"Bagaimana engkau dapat datang ke tempat ini"
Eh, maksudku bagaimaan bisa menjadi murid Suheng Lam-hai Giam-lo?"
"Aku". Aku lari dari rumah...."
"Eh? Kenapa, Eng-moi (Adik Eng)?"
"Karena". Karena aku tidak mau dijodohkan dengan seorang pemuda yang tidak kusuka"."
Bi Lian tersenyum, akan tetapi sebelum ia bicara di depan meraka hadir seorang pemuda.
Pemuda itu bukan lain adalah Sim Ki Liong!
Semenjak kedatangan Pek Eng sebagai murid Lam-hai Giam-lo, pemuda ini sudah tertarik sekali.
Karena kesibukan dengan datangnya para tamu, maka dia pun belum sempat melakukan pendekatan.
Pemuda yang sudah dibangkitkan gairahnya oleh Ji Sun Bi itu kini memiliki watak yang mata keranjang, maka begitu melihat Pek Eng, pikirannya sudah penuh dengan bayangan-bayangan yang menggairahkan dan menyenangkan hatinya!
Apalagi ketika muncul Bi Lian, diapun segera jatuh hati kepada gadis ini.
Setelah para tamu pulang dan kini dua orang kakek sakti itu sedang makan minum dengan Lam-hai Giam-lo, Sim Ki Liong lalu mencari dua orang gadis yang membuatnya tertarik sekali itu dan kebetulan dia melihat mereka berdua didalam taman.
Tanpa ragu-ragu lagi, dengan jantung berdebar tegang dan juga gembira, dia lalu memasuki taman dan menemui mereka.
Sejak remaja, Ki Lion dididik di Pulau Teratai Merah, bukan saja digembleng dalam hal ilmu silat tinggi, akan tetapi juga dalam hal ilmu membaca dan menulis dan kebudayaan.
Karena itu, dia pandai sekali membawa diri dan pandai bersikap halus dan sopan.
Walaupun jantungnya berdebar girang dan batinnya penuh berahi melihat dua orang gadis manis itu, namun sikapnya tetap lemah lembut ketika dia memandang kepada mereka lalu menjura dengan gaya seorang yang amat sopan dan peramah.
Senyumnya di wajahnya yang tampan itu memikat.
"Selamat pagi, Nona-nona. Maafkan kalau aku mengganggu karena aku tidak tahu bahwa kalian berada di taman ini."
Katanya dengan sikap hormat.
Bi Lian dan Pek Eng memandang pemuda itu.
Mereka pun sudah melihat pemuda itu yang hadir dalam pertemuan kemarin.
Karena pemuda itu tidak bicara di dalam rapat itu, maka mereka tidak tahu orang macam apa adanya pemuda ini.
Mereka hanya mengenalnya karena sudah diperkenalkan, yaitu ketika Lam-hai Giam-lo memperkenalkan mereka kepada para pembantunya.
Bahkan mereka berdua sudah lupa lagi siapa nama pemuda ini.
Melihat keraguan pada wajah dua orang nona itu, dan kerut alis Bi Lian.
Ki Liong cepat menyambung kata-katanya.
"Mungkin Nona berdua sudah lupa lagi kepalaku yang diperkenalkan oleh Bengcu, baiklah kuperkenalkan diri lagi kepada Nona Pek Eng dan Nona Cu Bi Lian. Aku bernama Sim Ki Liong dan mendapat kehormatan menjadi pembantu yang paling dipercaya dari Bengcu."
"Wah, kalau engkau menjadi pembantu yang paling dipercaya dari Suhu, tentu ilmu silatmu sudah tinggi seklai!"
Kata Pek Eng dengan jujur, sambil memandang kagum. Ki Liong terenyum dan merendahkan diri.
"Aih, tidak setinggi ilmu kepandaian Bengcu, Nona, akan tetapi kalau dibandingkan dengan para pembantu Bengcu agaknya aku tidak akan kalah."
"Lebih tinggi dari para pembantu itu? Wah, kalau begitu engkau lihai sekali tentu!"
Seru Pek Eng kagum.
"Tidak lihai sekali, akan tetapi ilmu silatku sungguh tak dapat dibandingkan dengan ilmu silat mereka yang tidak indah, kotor dan banyak kecurangan. Aku beruntung sekali mewarisi ilmu-ilmu dari para pendekar yang sakti."
Jawab Ki Liong sambil melirik ke arah Bi Lian.
"Akan tetapi, sungguh aku kagum sekali kepada Nona Cu Bi Lian. Begini muda dan kelihatan lemah lembut, akan tetapi sungguh memiliki kepandaian yang amat mengagumkan, walaupun hal itu tidak mengherankan setelah kudengar bahwa ia adalah sealiran dan masih Sumoi dari Bengcu sendiri."
Bi Lian adalah seorang gadis yang keras hati.
Ia tertarik sekali mendengar pengakuan pemuda ini bahwa dia mewarisi ilmu silat dari pendekar sakti.
Ia pun pandai bicara dan melihat sikap yang halus dan ramah dari pemuda itu, memang menunjukkan bahwa pemuda ini bukan dari golongan sesat.
Ingin sekali ia melihat sampai di mana kehebatan ilmu silat pemuda ini yang walaupun secara halus telah menyombongkan kepandaiannya yang dikatakan semua pembantu Lam-hai Giam-lo.
Padahal, seperti yang telah dialaminya kemarin, kepandaian tokoh-tokoh yang hadir itu lihai sekali, seperti Hek-hiat Mo-ko itu dan terutama sekali kepandaian Kulana, orang Birma itu.
Masih ngeri ia mengenang kembali perkelahiannya melawan Kulana yang selain lihai ilmu silatnya, juga mahir menggunakan ilmu sihir.
Kalau kedua orang (Lanjut ke
Jilid 31) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 31 gurunya tidak segera muncul, entah bagaimana jadinya dengan dirinya!
Mungkinkah ilmu kepandaian pemuda ini lebih lihai dari tingkat kepandaian Hek-hiat Mo-ko, atau Kulana?
"Hemm, Saudara Sim Ki Liong, kalau dibandingkan dengan kepandaianmu, mana lebih tinggi dengan ilmu silatku?"
Pancingnya.
"Bagaimana kalau kita main-main sebentar untuk melihat siapa yang lebih lihat?"
"Aih, mana aku berani, Nona? Akan tetapi kalau kalian hendak mengenal ilmu silatku, boleh kuperlihatkan beberapa jurus."
Setelah berkata demikian, pemuda itu meloncat ke petak rumput di dekat empang ikan dan mulailah dia bersilat.
Dia sengaja memilih Ilmu Silat San-in Kun-hoat yang indah gayanya dan mengerahkan tenaga Thian-te Sin-cing.
Setiap gerakan tangannya mengeluarkan bunyi bercuitan dan mengandung hawa pukulan amat kuatnya sehingga dua orang gadis itu memandang kagum.
Apalagi Bi Lian, karena ia yang telah memiliki tingkat yang tinggi dapat mengenal ilmu silat indah dan kuat, juga yang mengandung tenaga sin-kang, yang dahsyat!
Setelah memainkan San-in Kun-hoat dengan tenaga Thian-te Sin-ciang selama belasan jurus, tiba-tiba saja Ki Liong mengubah geraknnya dan kini dia memainkan Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin).
Sungguh jauh bedanya dengan ilmu silat San-in Kun-hoat (Silat Awan Gunung) tadi yang lambat dan mantap, kini Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dimainkan dengan pengerahan gin-kang (ilmu meringankan tubuh) sehingga tubuhnya berkelebatan dan berputaran seolah-olah dia menyerang dari delapan penjuru!
Angin pun bertiup dan mengeluarkan suara riuh.
Ketika pemuda itu mengerahkan Ilmu Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) maka dari kedua telapak tangan ketika dia mendorong, keluarlah uap putih menyambar-nyambar.
Bi Lian makin kaget dan kagum.
Bukan main, pikirnya.
Pemuda ini ternyata tidak membual dan menghadapi seorang pemuda yang memiliki tingkat ilmu silat seperti itu, ia sendiri merasa sangsi apakah ia akan mampu menandinginya!
Pek Eng juga kagum sekali dan gadis ini bertepuk tangan memuji.
"Hebat sekali ilmu silatmu, Sim-kongcu!"
Katanya. Ia ikut menyebut "kong-cu"
Karena gurunya, Lam-hai Giam-lo dan juga para pembantunya juga menyebut koncu kepada pemuda itu.
Mendengar sebutan ini, Bi Lian mengerutkan alisnya dan Ki Liong juga merasa betapa sebutan itu terlalu menghormat untuknya.
"Aih, Nona Pek Eng, mengapa menyebut aku kongcu? Namaku Sim Ki Liong, dan aku lebih tua darimu. Bagaimana kalau menyebut aku kakak saja?"
Katanya. Pek Eng tersenyum gembira.
"Engkau sendiri menyebut aku Nona! Kalau aku menyebut Toako kepadamu, engkau pun harus menyebut aku adik!"
Ki Liong tersenyum, merasa bahwa dia telah mendapat kemenangan, dapat membuat Pek Eng bersikap ramah kepadanya.
"Baiklah, Eng-moi (Adik Eng), dan jangan engkau terlalu memujiku, jangan-jangan kepalaku akan kemasukan angin dan mengembung lalu meledak oleh pujianmu!"
Mendengar ucapan ini, Pek Eng tertawa dan Bi Lian juga tersenyum.
Bagaimanapun juga, pemuda ini amat menyenangkan memang, menarik hati sekali.
Sopan, ramah, dan pandai membawa diri, halus dan rendah hati.
"Saudara Sim Ki Liong, engkau adalah murid pendekar sakti yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, akan tetapi kenapa engkau bersekutu dengan orang-orang seperti.. Kita, dari golongan hitam?"
Ditanya demikian, Sim Ki Liong terkejut, akan tetapi hal ini tidak diperlihatkannya dan dengan cerdik dia pun menjawab.
"Nona Cu Bi Lian, agaknya pertanyaan seperti itu dapat juga ditujukan kepadamu atau kepada Eng-Moi, bukan? Kita masing-maisng memiliki alasan pribadi untuk mengambil jalan hidup kita. Dan aku bersekutu dengan Lam-hai Giam-lo Bengcu karena selain aku mengagumi kepandaiannya, juga karena aku bermusuhan dengan seorang di antara para pendekar sehingga tak mungkin bagiku bergabung dengan mereka."
Percakapan sudah mulai akrab, akan tetapi tiba-tiba muncul Ji Sun Bi di tempat itu, melihat betapa Ki Liong bercakap-cakap dengan dua orang gadis cantik itu dengan sikap demikian akrabnya, tentu saja Ji Sun Bi merasa tidak senang dan cemburu.
Ki Liong adalah kekasih barunya yang amat dicintainya karena pemuda itu adalah seorang jantan yang memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi darinya sehingga dapat mendatangkan kepuasan yang tak terbatas padanya.
Kini melihat betapa kekasihnya itu bercakap-cakap dengan dua orang gadis muda yang cantik jelita, dalam suasan demikian akrabnya, tentu saja ia merasa khawatir dan cemburu.
"Sim-kongcu, teman-teman menunggu untuk merundingkan hal yang penting sekali. Marilah!"
Katanya tanpa memandang kepada dua orang gadis itu.
Biarpun ia cemburu dan marah, namun tentu saja ia tidak berani memperlihatkan sikap tidak senang kepada dua orang gadis itu.
Yang seorang adalah murid bengcu, sedangkan yang ke dua adalah sumoi bengcu, bahkan memiliki ilmu kepandaian yang amat hebat!
Melihat munculnya Ji Sun Bi dan mendengar ucapan itu, Ki Liong tidak ingin wanita itu membuat ribut, maka dia pun menjura dengan sikap hormat kepada Pek Eng dan Bi Lian.
"Eng-moi, Nona Cu, maafkan aku. Agaknya mereka itu ingin merundingkan sesuatu yang penting dengan aku. Sampai lain kali!"
Sambil tersenyum manis dia pun pergi meninggalkan dua orang gadis itu, bersama Ji Sun Bi yang menunggunya.
Setelah pemuda itu pergi, Pek Eng menarik napas panjang.
"Aihh, dia seorang pemuda yang hebat.."
Bi Lian menjebi.
"Huh, berhati-hatilah terhadap seorang pria yang begitu halus budi dan manis tutur sapanya. Orang seperti itu pandai merayu dan siapa tahu hatinya palsu."
Pek Eng menarik napas panjang lagi.
"Bagaiamanapun juga, dia sungguh pandai, dan sikapnya rendah hati, hemm, mengingatkan aku kepada Hay-ko."
"Eh? Siapa itu Hay-ko (Kakak Hay)?"
Bi Lian bertanya.
"Hay-ko ya Hay-ko, namanya Hay Hay."
"Hay Hay..?"
Tentu saja Bi Lian terkejut karena pemuda yang bernama Ha Hay itu pernah membuat ia tak dapat tidur karena selalu tekenang kepadanya.
"Ya, namanya Hay dan shenya kalau tidak salah, she Tang. Akan tetapi dia selalu mengaku bernama Hay Hay, tak pernah menyebutkan shenya. Apakah engkau pernah mengenalnya, Enci Lian?"
Bi Lian menggeleng kepala.
"Tidak, mengapa?"
"Ah, sudah lama aku mencarinya. Juga mencari kakakku yang bernama Pek Han Siong, akan tetapi tak berhasil menemukan mereka dan akhirnya malah aku ditawan oleh Lam-hai Siang-mo dan akhirnya malah aku dibawa oleh Lam-hai Siang-mo dan dibawa kesini. Untung Bengcu baik dan mau menerimaku sebagai muridnya, Enci."
Bi Lian mengerutkan alisnya.
Nasib gadis ini mirip dengan nasib dirinya.
Tanpa disengaja terjatuh ke tangan golongan sesat.
Ia sendiri kini menjadi murid dua orang datuk sesat yang paling tinggi kedudukannya!
Padahal dahulu, ia hanya puteri suami isteri dusun dan sudah mempunyai dua orang guru, yaitu sepasang suami isteri yang bertapa di dalam Kuil Siauw-lim-si dan kabarnya merupakan sepasang pendekar sakti.
Ia masih ingat akan nama dua orang gurunya itu, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.
Dan anehnya, ia pernah bertemu dengan Hay Hay, juga gadis ini.
Akan tetapi, pertemuannya itu tidak perlu ia beritabukan Pek Eng.
"Kakakmu itu, ke mana perginya, Adik Eng?"
Pek Eng menarik napas panjang.
Begitu bertemu dengan Bi Lian, ia sudah tertarik, kagum dan suka sekali.
Gadis ini demikian lihainya sehingga mampu mengalahkan hampir semua pembantu gurunya.
Entah berapa kali lipat tingkat kepandaiannya sendiri!
"Aih, Kakakku itu semenjak kecilnya sudah dihebohkan orang, Enci Lian.
Ketika baru terlahir, menurut penuturan orang tuaku, dia telah diperebutkan oleh orang-orang sakti di seluruh dunia.."
"Ehhh...?"
"Benar, Enci Lian. Kakakku itu sejak kecil, bahkan sejak dalam kandungan, sudah diramalkan oleh para pendeta Lama di Tibet sebagai Sing-tong, seorang calon Dalai Lama Agung! Ketika dia terlahir, maka dia diperebutkan!"
"Ahh! Kiranya dia.?"
"Engkau tahu, Enci?"
"Pernah aku mendengar dari kedua orang Guruku. Lalu, sekarang dia berada di mana, Eng-moi?"
"Entahlah. Aku sedang mencarinya. Ketika aku dijodohkan dengan seorang pemuda yang tidak kusuka, aku lalu lari untuk mencari kakakku itu, dan mencari Hay-ko yang amat baik kepadaku."
Bi Lian menarik napas panjang.
"Pengalamanmu sungguh aneh, Adik Eng. Mudah-mudahan engkau akan dapat bertemu dengan Kakakkmu atau dengan orang yang bernama Hay Hay itu. Oya, hubungan apakah antara engkau dan Hay Hay itu?"
Pandang mata Bi Lian penuh selidik, dan ia merasa betapa hatinya tidak enak.
Mengapa ia merasa cemburu?
"Dia pernah datang ke rumah kami, Enci, untuk mempertanyakan dirinya.
Ketahuilah bahwa di waktu masih bayi, pernah Kakakku disembunyikan oleh Kakek Buyut karena tahut dicuri oleh para pendeta Lama dan sebagai gantinya, Hay Hay itulah yang dipelihara orang tuaku.
Akan tetapi ketika masih bayi, dia pun diculik orang!
Nah, setelah dewasa, dia datang untuk bertanya kepada keluarga kami, siapa dirinya yang sebenarnya.
Wah, dia lihai bukan main, Enci.
Ilmunya.
wah, selangit deh!"
Makin tak enak rasa hati Bi Lian mendengar betapa gadis ini memuji-muji Hay Hay.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Dia menghadapi para pendeta Lama yang menyerbu kami dan dia mempermainkan para pendeta Lama itu seperti anak kecil saja. Dan aku, aku telah mencium pipinya."
"Ihh!"
Hampir saja tangan Bi Lian menampar pipi Pek Eng, akan tetapi ditahannya dan sebaliknya ia memandang dengan mata terbelalak dan muka merah.
"Engkau tak tahu malu, mengaku begitu!"
Bentaknya. Pek Eng tersenyum.
"Jangan salah sangka, Enci. Tadinya, karena dia mengaku sebagai Pek Han Siong di depan para pendeta Lama itu, tentu saja aku mengira dia kakak kandungku yang sudah lama kurindukan, maka saking girangnya aku mencium pipinya. Eh, ternyata kemudian dia bukan kakakku. Hati siapa tidak menjadi marah dan jengkel, juga malu?"
Mendengar ini, mau tidak mau Bi Lian tersenyum, akan tetapi tetap saja ia merasa tidak senang.
Pada saat itu muncul Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi.
Kemunculan mereka mengejutkan Pek Eng karena tahu-tahu mereka telah berada di situ dan ia pun baru tahu mereka muncul ketika Bi Lian membalikkan tubuh menegur Mereka.
"Suhu berdua mencari aku?"
Tanya Bi Lian sambil menoleh dan baru Pek Eng melihat mereka.
Bergidik dara ini melihat dua orang aneh itu.
Si Gendut Bulat kepala botak itu menyeringai terus, sedangkan raksasa tinggi besar brewok hitam itu cemberut terus.
Mereka seperti bukan manusia melainkan iblis-iblis jahat.
Gurunya sendiri, Si Muka Kuda, tidaklah begitu menyeramkan seperti dua orang guru dari Bi Lian ini.
"Bi Lian, mari ikut dengan kami. Kita memenuhi undangan Kulana, hendak kita lihat orang macam apa adanya dia."
Kata Pak Kwi Ong.
Bi Lian mengerutkan alisnya.
Ia tadi sudah merasakan kelihaian Kulana dan ia curiga kepada orang itu.
Akan tetapi dua orang gurunya pasti akan mampu menghadapi Mereka, dan ia pun ingin mengenal lebih dekat orang macam apa sebenarnya tokoh Birma yang aneh itu.
Ia mengangguk dan meninggalkan Pek Eng, mengikuti kedua orang kakek itu keluar dari taman.
Sekali berkelebat tiga orang guru dan murid itu pun lenyap dan Pek Eng menjadi bengong, kagum bukan main.
Ia berjanji pada diri sendiri akan belajar dengan giat dari Lam-hai Giam-lo agar memiliki ilmu kepandaian setinggi Bi Lian.
Bukit itu tinggi dan termasuk deretan puncak-puncak pegunungan Yunan yang paling selatan.
Tertutup sebagian oleh awan dan puncaknya penuh hutan sehingga tidak nampak dari jauh adanya sebuah bangunan yang amat indah dengan atapnya meruncing ke atas seperti kuil di Birma.
Atap itu sendiri terbuat dari tembaga yang dihias emas.
Ada kalanya, kalau hari cerah, nampak sinarnya mengkilap menyilaukan mata.
Itulah bangunan yang menyerupai istana, milik dari Kulana, bangsawan Birma yang melarikan diri dari selatan.
Baru tiba di lereng saja dan melihat bangunan istana itu dari jauh, Pak Kwi Oang dan Tung Hek Kwi sudah merasa kagum.
Juga Bi Lian kagum sekali, Bangunan itu megah dan indah.
Apalagi ketika tiba-tiba muncul belasan orang menyambut dengan tiga buah joli, mempersilahkan tiga orang tamu agung itu naik joli dan digotong naik seperti orang-orang bangsawan.
Pak Kwi dan Bi Lian terpaksa juga menerimanya.
Mereka digotong melalui pintu gerbang yang dijaga ketat dengan orang-orang berseragam dan bersenjata tombak.
Kemudian, ketika tiga orang tamu agung itu digotong memasuki serambi depan, terdengarlah bunyi musik menyambut mereka.
Tirai joli disingkap dan tiga orang itu melihat tujuh orang wanita penari yang cantik-cantik menyambut mereka dengan tarian yang lemah gemulai, mengiringkan tuan rumah yang kini mengenakan pakaian amat indahnya, pakaian seorang pangeran serba mewah dan kaki tangan dan kepalanya terhias emas permata!
"Selamat datang di istana kami!"
Kata Kulana dengan sikap yang anggun dan agung ketika mereka bertiga itu keluar dari joli yang sudah diturunkan.
Bi Lian turun dan memandang kagum.
Istana itu memang indah.
Di depannya terdapat sebuah taman yang teratur dan penuh dengan beraneka bunga.
Pot-pot berukir indah memnuhi serambi, dan perabot rumahnya pun ukir-ukiran serba indah.
"Ha-ha-ha, mimpikak aku? Seperti berada di dalam istana saja!"
Kata Pak Kwi Ong ketika mereka bertiga dipersilakan masuk.
Di sebelah dalamnya lebih mewah lagi.
Mereka dipersilakan masuk ke sebuah kamar tamu yang luas, dengan meja kursi berlapis emas.
Suara musik berbunyi terus dan kini bermunculanlah gadis-gadis pemusik, penari dan penyanyi, belasan orang banyaknya, mengambil tempat duduk di lantai sudut dan mulai memainkan musik dengan lembut, diiringi nyanyian dan tarian lembut pula.
Hawa di ruangan itu pun sejuk karena angin yang masuk semilir dari bagian samping yang terbuka menembus ke sebuah taman lain di mana terdapat air mancur.
"Selamat datang di istana kami, dan semoga para dewa melindungi perjalanan San-wi (Anda Bertiga)."
Kata Kulana sambil mengangkat cawan anggur yang sudah penuh dengan anggur harum yang disuguhkan oleh gadis-gadis cantik berpakaian setengah telanjang sehingga nampak perut, paha dan bagian payudaranya.
Pak Kwi Ong, Tung Hek Kwi, dan Bi Lian minum anggur itu dan ternyata di keluarkan oleh para gadis pelayan, banyak macamnya dan masih mengepul panas.
"Sebelum kita bicara, mari kita makan dulu dan kami mengharapkan puas dengan hidanga kami yang seadanya."
Ternyata "yang seadanya"
Itu amat berlebihan.
Lebih dari tiga puluh macam banyaknya!
Akan tetapi dasar tamunya Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, tidak satu pun dari tiga puluh macam masakan itu ada yang mereka lewatkan!
Bi Lian hanya memilih yang menarik seleranya saja dan harus diakuinya bahwa selamanya belum pernah ia makan hidangan yang demikain lezatnya!
Setelah mereka selesai makan, tuan rumah mempersilakan mereka untuk melihat-lihat keadaan di dalam istananya.
Bahkan semua kamar dibuka satu demi satu.
Kamar perpustakaan penuh dengan kitab-kitab kuno, kamar senjata penuh dengan senjata pusaka yang serba aneh dan berharga.
Bahkan kamar harta di mana bertumpuk peti-peti berisi emas permata yang menyilaukan mata.
Dua orang kakek itu terpesona dan mereka tidak meragukan lagi bahwa Kulana adalah seorang pangeran, seorang bangsawan yang amat kaya-raya, hidupnya seperti raja saja dan tidaklah mengherankan kalau dia bercita-cita mendirikan sebuah kerajaan baru untuk menandingi kerajaan yang kini berkuasa.
Kalau Bi Lian dapat menjadi jodohnya dan kelak orang ini menjadi kaisar, Mereka berdua otomatis akan menjadi orang-orang mulia!
Setelah mereka kembali duduk di ruangan tamu, Kulana menghadapi tiga orang tamunya dan bertanyalah dia kepada dua orang kakek itu, sikapnya berwibawa.
"Ji-wi Locianpwe tentu sudah mendapat tahu dari Bengcu akan pinagan kami terhadap Nona Cu Bi Lian. Kami harap, setelah Sam-wi melihat sendiri keadaan kami, dapat memberi jawaban yang pasti."
Terkejutalah Bi Lian mendengar ini.
Wajahnya berubah merah sekali dan ia memandang kepada tuan rumah, lalu kepada dua orang gurunya.
Dua orang kakek itu saling pandang dan Pak Kwi Ong tertawa lebar sampai perutnya bergerak-gerak.
"Ha-ha-ha, sungguh merupakan penghormatan besar sekali bagi kami, Pangeran!"
Dia menyebut pangeran begitu saja tanpa ragu lagi.
"Dan tentu saja pinangan itu kami terima dengan kedua tangan terbuka. Bukankah begitu, Setan Hitam?"
Tung Hek Kwi mengerutkan alisnya dan memandang kepada muridnya.
"Bagiku sih terserah kepada Bi Lian."
"Aih, sebenarnya apakah artinya ini semua, Suhu?"
Tanya Bi Lian penasaran.
"Begini, muridku. Pangeran Kulana ini begitu melihatmu langsung saja tergila-gila dan dia mengajukan pinangan melalui Suhengmu, Lam-hai Giam-lo, untuk mengambilmu sebagai isterinya dan kelak engkau akan menjadi permaisurinya, karena orang seperti dia ini kami yakin kelak akan menjadi seorang raja. Tentu saja kami setuju, dan engkau pun tentu setuju, bukan?"
Bi Lian mengerutkan alisnya dan teringatlah ia kepada Pek Eng.
Celaka, nasibnya sungguh sama seperti Pek Eng, pikirnya.
Akan tetapi ia tidak sudi menjadi boneka.
Ia sama sekali tidak sudi menjadi boneka.
Ia sama sekali tidak mencintai pria yang pongah ini, sedikit pun tidak suka walaupun ia kagum akan keliahaian dan kekayaannya.
Akan tetapi, melihat betapa Pak Kwi Ong agaknya setuju benar, dan Tung Hek Kwi kelihatan masih meragu, ia pun tidak berani menolak begitu saja.
"Suhu, pernikahan adalah suatu urusan besar bagi seorang wanita, yang akan menentukan keadaan hidupnya di masa mendatang. Oleh karena itu, bagaimana mungkin aku mengambil keputusan dalam sesaat saja? Biarlah kupikirkan dulu hal ini dan berilah waktu tiga hari kepadaku untuk mengambil keputusan dan memberi jawaban."
Sikap Bi Lian tegas dan Kulana dapat menerima ini. Dia tersenyum dan memandang kagum.
"Nona Cu memang bijaksana. Segala keputusan memang harus dipikirkan masak-masak agar tidak menyesal di kemudian hari."
Mereka bertiga lalu meninggalkan istana itu atas desakan Bi Lian dan setiba mereka di dalam hutan, sebelum sampai di rumah Lam-hai Giam-lo, Bi Lian menghentikan langkahnya.
"Suhu berdua sungguh terlalu!"
Tiba-tiba ia berkata sambil memandang mereka denga muka merah.
"Wah, apa maksudmu, Bi Lian?"
Tanya Pak Kwi Ong tertawa.
"Terutama Suhu yang belum apa-apa sudah menyetujui pinangan itu. Aku ini bukan boneka, aku seorang manusia yang berhak menentukan pilihanku sendiri. Aku dilamar orang begitu saja dan Suhu menganggap aku ini seekor kucing atau anjing?"
"Bi Lian, apa katamu itu?"
Pak Kwi Ong yang tak pernah marah, sekali ini membentak Bi Lian.
"Engkau muridku, maka engkau harus mentaati aku, dan sekali ini, engkau harus taat, engkau harus menjadi isteri Kulana!"
"Tidak, Suhu. Aku tidak suka menjadi isterinya. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan tentang jodoh, dan aku tidak cinta padanya."
"Tidak, engkau harus mau!"
Bentak Pak Kwi Ong.
"Hemmm, kalau begitu Suhu saja menjadi isterinya!"
Bi Lian berkata nyaring.
"Aku tidak sudi!"
"Aku akan memaksamau."
"Aku akan melawan!"
"Murid murtad!"
Pak Kwi Ong marah sekali dan secepat kilat menyambar dia sudah menyerang muridnya sendiri dengan pukulan maut.
Tangannya mengeluarkan uap tebal.
Akan tetapi Bi Lian sudah siap siaga dan dia pun mengelak.
Ketika Pak Kwi Ong mendesak, tiba-tiga Tung Hek Kwi menggerakkan tangannya menangkis.
"Dukk!"
Keduanya terpental ke belakang. Wajah Pak Kwi Ong berubah merah sekali.
"Setan Hitam, engkau berani membelanya?"
"Tentu saja! Muridku, ingat? Siapa yang mengganggunya berarti mengganggu aku!"
"Ia harus kawin dengan Kulana!"
"Tidak, ia boleh menentukan pilihannya sendiri!"
"Keparat!"
"Bedabah!"
Dua orang kakek yang usianya sudah delapan puluh tiga tahun itu kini saling hantam dan saling serang dengan hebatnya!
Mereka adalah orang-orang yang sudah tua renta, kepandaian mereka sudah mencapai tingkat tertinggi akan tetapi tenaga mereka sudah banyak berkurang dimakan usia tua.
Pukulan-Pukulan mereka merupakan Pukulan maut dan kini mereka sudah dipengaruhi amarah yang membuat mereka keduanya seperti buta.
Bi Lian menjadi bingung, akan tetapi tidak dapat melerai.
Berbahaya untuk menyelinap di antara keduanya dan ia hanya mampu berteriak mengingatkan mereka tanpa hasil.
Belum sampai tiga puluh jurus dua orang datuk sesat seperti iblis ini saling gempur, keduanya sudah kehabisan napas dan dalam pengerahan tenaga terakhir, keduanya mengadu kekuatan melaui kedua telapak tangan.
"Dess.!"
Keduanya terjengkang dan roboh terkulai, tak mampu bangkit kembali dengan napas empas-empis!
"Suhu..!"
Bi Lian berlutut di antara keduanya, mejadi bingung juga melihat betapa kedua orang gurunya itu sam-sama luka parah sekali dan napasnya tinggal satu-satu.
Keduanya telah saling hantam dan tidak mampu bertahan lagi.
Setelah melihat keadan kedua orang tua itu, barulah ia teringat betapa sayangnya mereka itu kepadanya selama ini dan tak terasa lagi Bi Lian menangis!
Pak Kwi Ong mencoba untuk membuka matanya dan dia masih tersenyum menyeringai walaupun sudah mega-megap.
"Kau. kau harus menjadi isteri Kulana. ahhh.."
"Tidak. kau boleh menolak."
Dua orang kakek itu, dalam keadaan sekarat, masih saja mempertahankan pendirian mereka.
Bahkan mereka kini berusaha meloncat bangun untuk melanjutkan perkelahian, namun mereka terkulai lagi dan roboh, kini tak dapat bergerak lagi karena nyawa mereka telah melayang!
"Suhu.!"
Bi Lian menangisi mereka, tubruk sana-sini.
Bi Lian mendengar gerakan banyak orang.
Ia melompat bangun dan berhadapan dengan Kulana yang diikuti oleh belasan orang pasukannya.
Juga di situ sudah berdiri pula Lam-hai Giam-lo dan dua orang suami isteri Lam-hai Siang-mo!
"Nona Cu, sudahlah, tidak ada yang perlu ditangisi lagi.
Marilah ikut bersamaku dan kita rawat dan urus dengan baik-baik jenazah kedua orang Gurumu."
Kata Kulana dengan suara halus dan sikap peramah sekali.
Mendengar kata-kata yang dimikian halus penuh menghibur, Bi Lian kembali menangis.
"Guruku.. Kedua Guruku.. Mereka telah meninggal dunia."
"Hal itu tidak dapat diperbaiki lagi, Nona. Marilah, bangkitlah dan biarkan aku membimbingmu."
Kata pula Kulana dengan sikap lembut dan Bi Lian merasa betapa sikap lembut dan Bi Lian merasa betapa tangannya digandeng dengan halus oleh tangan pria itu.
Mendadak ia pun teringat bahwa kematian kedua orang gurunya adalah gara-gara pinangan orang ini, maka teringat pulalah ia bahwa orang ini pandai menggunakan sihir.
Ia pun meronta dan melepaskan tangannya, melompat menjauh.
"Tidak, jangan sentuh aku!"
Teriaknya.
Di dalam hatinya, memang Bi Lian tidak pernah dekat atau suka kepada kaum sesat, bahkan sering kali ia menyesal melihat betapa dua orang gurunya adalah datuk-datuk sesat.
Selama ini, biarpun ia bersikap keras dan ganas, namun belum pernah ia melakukan kejahatan, dan julukannya sebagai Tiat-sim Sina-li (Dewi Berhati Besi) bukan karena kejahatannya melainkan karena kekerasan hatinya menghadapi lawan yang biasanya terdiri dari orang-orang jahat.
Kalau ia masih mau diajak bergaul dengan dunia hitam, hanyalah karena terpaksa oleh adanya dua orang gurunya.
Kini, setelah kedua orang gurunya meninggal dunia, ia merasa terlepas sama sekali dari golongan hitam dan begitu ia meloncat, ia kini berdiri dengan sikap menentang semua orang yang kini memandangnya.
"Nona Cu,"
Kata Kulana sambil mengerahkan kekuatan sihirnya, suaranya lemah lembut dan sikapnya ramah.
"Kedua orang Gurumu menerima aku sebagai calon suamimu, karena itu aku bukanlah orang lain bagimu. Akulah yang akan mengurus jenazah kedua orang Gurumu, dan akulah yang akan melindungimu, membahagiakanmu."
"Cukup!"
Bi Lian membentak sambil mengerahkan kekuatan khi-kangnya untuk melawan pengaruh suara halus itu.
"Justeru karena ulahmu itu, justeru karena pinanganmu, kedua Guruku saling serang sampai keduanya tewas. Engkaulah yang telah membunuh Mereka! Untuk itu, engkau harus menebusnya dengan nyawamu!"
Berkata demikian, Bi Lian udah meloncat ke depan dan menyerang Kulana denga hebatnya.
Kedua tangaan gadis itu mengeluarkan uap putih dan karena ia mengerahkan tenaga sin-kang luar biasa, kedua tangan yang amat berbahaya itu menjadi semakin menggiriskan karena dapat mulur panjang.
Hampir saja pelipis kiri Kulana terkena cengkeraman jari tangannya kalau saja orang Birma itu sambil berjungkir balik dan pada saat itu Lam-hai Giam-lo sudah meloncat ke depan menghadapi Bi Lian.
Wajahnya nampak tidak senang dan alisnya berkerut.
"Sumoi, sikapmu ini sungguh tidak patut! Saudara Kulana bermaksud baik, kenapa engkau malah menyerangnya? Apakah engkau ingin membikin aku malu? Ingat, setelah kedua orang Susiok meninggal dunia, akulah yang menjadi pengganti mereka, sebagai pelindungmu dan aku yang berhak mengurusmu. Hentikan sikapmu itu dan berksikaplah yang baik terhadap Saudara Kulana!"
Akan tetapi, sepasang mata Bi Lian mencorong marah karena ia dapat menduga bahwa tentu usul orang inilah yang membuat kedua orang gurunya menerima pinangan Kulana.
Juga, kedua orang gurunya bahkan melarang ia membunuh dua pasang suami isteri yang sejak dahulu dianggap sebagai biang keladi kematian ayah ibunya.
Sambil bertolak pinggang Bi Lian menghadapi Lam-hai Giam-lo dan berkata, suaranya lantang karena ia masih mengerahkan kekuatan khi-kang yang dipelajarinya dari mendiang Tung Hek Kwi untuk menolak pengaruh sihir Kulana.
Suaranya melengking nyaring.
"Lam-hai Giam-lo! Sejak dahulu, tidak ada hubungan apa pun di antara kita! Kalau aku mau menerimamu sebagai Suheng, hal itu adalah karena permintaan kedua orang Guruku. Akan tetapi, mereka kini telah tewas di sini, gara-gara ulah orang bernama Kulana ini, jangan engkau mencampuri, karena aku bukanlah bawahanmu, dan engkau pun bukan pemimpinku!"
"Bocah sombong! Aku adalah Bengcu!"
Bentak Lam-hai Gam-lo, marah sekali karena merasa dipandang rendah.
"Sudahlah, Bengcu, biar aku yang mengurus calon isteriku ini!"
Kata Kulana dan orang ini pun segera meloncat ke depan untuk menangkap Bi Lian.
Gadis ini mengelak dan membalas dengan tendangan yang dapat pula dielakkan Kulana.
Mereka sudah saling serang dengan serunya.
Bi Lian berusaha merobohkan, akan tetapi Kulana berusaha menangkapnya.
Melihat betapa lincah dan gesitnya gerakan Bi Lian, Lam-hai Giam-lo meloncat dan membantu.
"Akan kubantu engkau menangkap calon mempelaimu, Saudara Kulana!"
Katanya.
Dikeroyok oleh dua orang yang amat lihai itu, Bi Lian menjadi repot juga.
Baru tingkat kepandaian Kulana seorang saja, kiranya tidak mudah baginya untuk mengalahkannya karena orang Birma itu memperkuat ilmu silatnya denga kekuatan sihir.
Apalagi tingkat kepandaian Lam-hai Giam-lo sudah amat tinggi, setingkat dengan gurunya, sehingga melawan Lam-hai Giam-lo saja ia takkan menang.
Kini dua orang lihai itu mengeroyoknya, Biarpun tidak bermaksud merobohkannya melainkan hanya ingin menangkapnya, tentu saja Bi Lian menjadi repot dan kewalahan.
Namun, dengan semangat membaja gadis ini pantang mundur dan melawan terus, mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan semua ilmu kepandaiannya.
Para anak buah Lam-hai Giam-lo dan juga suami isteri Lam-hai Siang-mo menonton perkelahian itu dengan penuh kagum.
Mereka hanya melihat tiga bayangan berkelebatan cepat sekali, bagaikan tiga ekor burung raksasa sedang berkelahai dan mereka itu sam sekali tidak dapat mengikuti gerakan mereka, tidak tahu siapa yang mendesak dan siapa terdesak.
Mereka pun tidak berani membantu karena bukankah yang turun tangan sekarang adalah bengcu sendiri yang membantu Kulana?
"Cu Bi Lian, engkau masih belum juga mau menyerah?"
Tiba-tiba Lam-hai Giam-lo membentak dan tubuh kakek ini sekarang berputar seperti gasing.
Memang hebat ilmu kepandaian Lam-hai Giam-lo ini.
Begitu dia membuat gerakan berpusing, Bi Lian merasa seolah-olah tubuhnya tersedot dan terseret oleh arus air berpusing dan ia pun terhuyung, sukar untuk mempertahankan diri lagi.
Pada saat itu, sukar untuk mempertahankan diri lagi.
Pada saat itu, tangan Kulana berhasil menangkap pundaknya.
"Heiiiittt..!"
Bi Lian memekik dan meronta sambil melempar tubuh ke atas tanah terus bergulingan.
Ia berhasil melepaskan diri akan tetapi dua orang itu berloncatan mengejarnya dan tentu ia akan tertawan kalau saja pada saat itu berseru halus.
"Dua orang laki-laki menghina seorang gadis, sungguh tidak tahu malu sekali!"
Dan tiba-tiba saja muncul seorang pemuda yang menghadang dua orang yang mengejar Bi Lian yang bergulingan itu.
Begitu pemuda itu mengembangkan kedua lengannya dan membuat gerakan seperti mencegah dengan mendorong ke depan, gerakan Lam-hai Giam-lo dan Kulana terhenti seperti ada tenaga raksasa yang menghadang mereka!
Mereka terkejut dan cepat memandang penuh perhatian.
Pemuda itu berusia kurang lebih dua puluh satu tahun.
Tubuhnya sedang saja dan pakaiannya amat sederhana, seperti pakaian seorang petani saja.
Mukanya berkulit putih, agak bulat dengan alis yang hitam lebat, matanya agak sipit dan bersinar lembut, sikapnya tenang sekali dan dibawah jubahnya yang panjang seperti jubah pendeta itu nampak ujung sarung sebatang pedang.
Melihat ada seorang pemuda yang asing dan berani membela Bi Lian menghadapi mereka, tentu saja Lam-hai Giam-lo dan Kulana marah bukan main.
Terutama sekali Lam-hai Giam-lo yang merasa betapa kekuasaanya di situ di tentang orang asing, seorang yang masih muda dan tidak terkenal lagi.
"Keparat, apakah matamu buta maka berani engkau mencampuri urusan kami?"
Bentaknya sambil melangkah maju menghampiri pemuda itu.
Pemuda itu bersikap tenang, akan tetapi mata yang lembut itu kini mencorong ketika dia berkata.
"Lam-hai Giam-lo, aku tidak buta dan dapat melihat betapa engkau dan orang ini tanpa malu-malu mengeroyok seorang gadis!"
Kulana juga marah sekali karena ada orang yang berani menghalangi niatnya menangkap calon isterinya.
Diam-diam dia mengerahkan ilmu sihirnya dan sambil memandang wajah pemuda itu, tiba-tiba dia maju dan membentak.
"Orang muda, aku adalah junjunganmu! Berlututlah engkau!"
Seruan ini berwibawa sekali mengandung kekuatan sihir yang amat kuat, bahkan Bi Lian sendiri merasa betapa kedua kakinya gemetar.
Akan tetapi, pemuda ini sama sekali tidak menjatuhkan diri berlutut seperti yang diperintahkan Kulana, sebaliknya dia malah tersenyum dan menghampiri Bi Lian yang kedua kakinya masih gemetar.
"Nona, sebaiknya kalau kita pergi saja dari tempat kotor di antara orang-orang busuk ini."
Suara itu dimikian lembut dan biarpun Bi Lian belum mengenal siapa adanya pemuda ini, ia telah menyerahkan seluruh kepercayaan hatinya.
Ia mengangguk dan menghampiri pemuda ini, ia telah menyerahkan seluruh kepercayaan hatinya.
Ia mengangguk dan menghampiri pemuda itu.
Lalu bersama pemuda itu melangkah pergi meninggalkan tempat itu!
Untuk beberapa detik lamanya, Kulana, Lam-hai Giam-lo, Lam-hai Siang-mo dan belasan orang anak buah itu bengong melihat dua orang muda itu membalikkan tubuh dan pergi, seolah-olah tidak percaya.
Kemudian Kulana dan Lam-hai Giam-lo sadar dan keduanya bergerak hendak mengejar.
"Jangan pergi..!"
Lam-hai Giam-lo berteriak.
"Berhenti!"
Kualana juga membentak.
Pemuda itu membalikkan tubuhnya, diturut oleh Bi Lian yang siap menghadapi serangan mereka.
Akan tetapi sambil membalik, pemuda itu tiba-tiba menghadapkan kedua tangannya ke arah Mereka yang mengejar dan mulutnya mengeluarkan seruan yang menggeledek.
"Diam kaliaan!"
Luar biasa sekali kekuatan yang terkandung dalam bentakan ini.
Dua orang sakti itu seketika terhenti dan diam seperti patung, bahkan terbelalak seperti orang kaget.
Juga Lam-hai Siang-mo dan belasan orang anak buah itu pun diam tak bergerak seperti menjadi patung.
Bi Lian sendiri merasa seolah-olah darah yang mengalir di tubuhnya terhenti dan ia pun tidak mampu bergerak akan tetapi pemuda itu memegang tangannya dan menariknya.
"Nona, mari kita pergi!"
Dan ia pun dapat menggerakkan kaki dan mereka lalu melarikan diri dari tempat itu.
Baru setelah mereka jauh menuruni lereng, terdengar ribut-ribut di belakang mereka, tanda bahwa semua orang itu telah sadar dan agaknya melakukan pengejaran.
Pemuda itu maklum betapa bahayanya kalau sampai mereka dapat dikejar oleh Lam-hai Giam-lo dan kawan-kawannya.
Dia tahu bahwa tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai, maka dia pun lalu mengajak gadis itu melanjutkan pelarian mereka memasuki hutan yang liar dan gelap diatas sebuah bukit.
Setelah tidak lagi terdengar suara orang mengejar, barulah mereka berhenti berlari dan mereka berhenti di bawah sebatang pohon besar.
Karena tadi mereka terus berlarian, apalagi karena Bi Lian baru saja berkelahi melawan dua orang lawan tangguh, gadis itu merasa lelah dan ia pun menjatuhkan diri di atas rumput tebal, lalu duduk bersila mengatur pernapasan dan memulihkan tenaga.
Pemuda itu pun tidak mengganggu, melainkan duduk agak jauh, di atas batu dan hanya memandang dengan kagum.
Latihan pernapasan gadis itu adalah latihan ilmu yang biasa dilakukan golongan hitam, namun diam-diam dia kagum karena dari cara gadis itu berlatih pernapasan, dia tahu bahwa gadis itu telah memiliki tingkat kepandaian yang tinggi.
Akhirnya Bi Lian membuka matanya dan begitu ia sadar akan keadaan dirinya, pandang matanya mencari-cari dan ia pun melihat pemuda itu duduk agak jauh di atas batu dan memperhatikannya.
Ia pun cepat meloncat berdiri dan teringatlah ia betapa pemuda sederhana itu telah menyelamatkannya secara aneh sekali.
Ia masih bingung memikirkan bagaimana pemuda itu dapat membawanya lolos dari tangan orang-orang yang demikian lihainya seperti Lam-hai Giam-lo, Kulana dan anak buah mereka.
Melihat gadis itu menghampirinya, pemuda itu tetap duduk dan tersenyum lembut.
"Engkau siapakah? Dan bagaimana engkau dapat meloloskan aku dari cengkeraman mereka?"
Tanya Bi Lian.
"Duduklah, Nona dan mari kita bicara."
Jawab pemuda itu.
Bi Lian lalu duduk di atas batu di dekat pemuda itu.
Tempat itu terlindung pohon besar dan sekeliling mereka penuh dengan pohon dan semak belukar.
Mereka berada di dalam sebuah hutan yang amat lebat dan liar.
Setelah gadis itu duduk, pemuda itu pun berkata dengan halus.
"Sesungguhnya, hanya kebetulan saja kita bertemu. Aku memang sedang melakukan penyelidikan di tempat tinggal Lam-hai Giam-lo untuk mencari seseorang. Ketika aku melihat engkau dikeroyok oleh dua orang itu, tentu saja aku merasa penasaran dan menegur mereka. Untunglah bahwa kita masih dapat lolos, karena kalau terlambat, entah apa yang akan terjadi. Mereka adalah orang-orang yang amat sakti. Akan tetapi engkau sendiri, seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bagaimana sampai dapat terperangkap di sana, Nona?"
Bi Lian mengerutkan alisnya.
Menurutkan wataknya yang keras, ia dapat marah mendengar pertanyaan ini.
Pemuda ini ia tanya belum menjawab, belum memperkenalkan keadaan dirinya, sudah balas bertanya, seolah-olah tidak percaya kepadanya.
Akan tetapi, ia menahan diri dan menahan kemarahannya karena bagaimanapun juga, harus diakuinya bahwa ia berhutang budi kepada pemuda ini.
"Hemm, agaknya karena engkau telah menolongku, maka akulah yang harus memperkenalkan diri lebih dulu. Begitukah?"
Suaranya jelas mengandung nada ketus dan alisnya berkerut, sepasang matanya yang amat tajam itu seperti sepasang pedang menusuk.
Pemuda itu tersenyum sabar dan menggeleng kepala.
"Maaf, bukan maksudku, Nona. Aku memang sungguh merasa tertarik dan heran sekali melihat seorang gadis seperti Nona berani menentang orang-orang seperti mereka itu, karena itulah aku tadi bertanya. Baiklah kalau Nona ingin mengetahui, namaku adalah Pek Han Siong.."
"Aihhh..!"
Bi Lian terbelalak. Han Siong tersenyum.
"Ada apa lagi Nona? Kenapa namaku mengejutkanmu?"
"Jadi engkau inikah Pek Han Siong. Engkau Sing-tong itu? Kakak kandung Pek Eng?"
Kini pemuda itu yang terbelalak dan bahkan meloncat turun dari atas batu yang dudukinya.
"Engkau tahu semuanya, Nona?"
Pemuda itu memang Pek Han Siong.
Seperti kita ketahui, pemuda ini mencari jejak Pek Eng, adik kandungnya yang melarikan diri, minggat dari rumah keluarga Pek karena tidak suka dijodohkan dengan keluarga Song dari Kang-jiu-oang.
Dia menemukan jejak adiknya itu dan mendengar bahwa adiknya di tawan oleh kaki tangan Lam-hai Giam-lo dan dibawa ke selatan, ke Pegunungan Yunan.
Maka dia pun melakukan perjalanan ke sana dan mencari-cari di Pegunungan Yunan sampai akhirnya pada hari itu dia dapat menemukan tempat tinggal Lam-hai Giam-lo dan melihat Bi Lian dikeroyok dua orang lihai itu.
Bi Lian merasa gembira bukan main mendengar bahwa pemuda ini adalah kakak Pek Eng, gadis yang disukainya, gadis yang menjadi tawanan Lam-hai Giam-lo dan kemudian bahkan diambil menjadi murid dan anak angkat.
Kiranya Pek Eng tidak bohong, kakaknya itu hebat!
"Sungguh kebetulan sekali!"
Katanya gembira.
"Aku mendengar tentang dirimu dari Adik Eng yang baru saja kukenal. Ia juga berada di sana, kini ia menjadi murid bahkan anak angkat Lam-hai Giang-lo."
"Hehh.??"
Tentu saja Han Sion terkejut dan heran bukan main mendengar keterangan itu.
"Bagaimana pula ini? Apa saja yang telah terjadi dan engkau. siapakah engkau ini, Nona?"
"Aku Cu Bi Lian."
Bi Lian berhenti bicara karena ia melihat betapa wajah pemuda itu berubah matanya terbelalak dan muka pemuda itu menjadi agak pucat.
"Kau, kau kenapa kah?"
"Cu"
Bi"
Lian..?"
Perlahan-lahan Han Siong mengulang nama ini matanya menatap wajah gadis itu penuh selidik.
"Benar, memangnya kenapa?"
Bi Lian balas bertanya. Han Siong menelan ludah sebelum menjawab.
"Tidak apa-apa. rasanya aku seperti pernah mengenal nama itu. katanya agak gugup. Tentu saja dia mengenalnya. Cu Bi Lian, atau Singkoan Bi Lian, puteri dari suhu dan subonya! Inilah gadis itu, yang harus dicarinya, bahkan yang oleh suhu dan subonya telah ditunangkan dengan dia, menjadi calon isterinya! Inilah tunangannya. Siapa orangnya tidak menjadi tegang hatinya dihadapkan pada kenyataan yang begini, tiba-tiba dan tidak disangka-sangka? "Ah, tidak mungkin. Baru sekarang kita saling bertemu."
Jawab Bi Lian.
Han Siong masih memandang bengong.
Bertemu dengan gadis itu, berhadapan, sadar sepenuhnya bahwa inilah gadis yang diperuntukkan dirinya, yang oleh ayah ibu kandung gadis ini sendiri ditunangkan kepadanya, membuat jantungnya berdebar.
Dia menatap penuh perhatian dan harus diakuinya bahwa Bi Lian adalah seorang gadis yang amat cantik jelita dan gagah perkasa.
Tubuhnya demikian padat dan ramping, penuh daya kekuatan tersembunyi.
Rambutnya panjang dan hitam, dikuncir tebal dan digelung di atas kepala.
Matanya demikian tajam dan indah, bagaikan sepasang bintang dengan hidung kecil mancung dan mulutnya demikian manis, dengan bibir yang merah basah.
Mukanya bulat telur dan tahi lalat di dagu itu.
Manis bukan main!
Gadis ini puteri suhu dan subonya, akan tetapi diserahkan kepada keluarga Cu sehingga gadis itu tidak tahu bahwa ia sebenarnya She Siangkoan.
Menurut suhu dan subonya gadis ini ketika kecil pernah mendapat latihan ilmu dari suhu dan subonya, kemudian gadis itu lenyap.
Bagaimana kini Bi Lian dapat menjadi seorang yang sedemikian lihainya?
"Heii!
Kenapa engkau memandangku seperti itu??"
Bi Lian menegur.
Ia memang galak dan paling tidak suka kalau melihat pria memandangnya dengan sinar mata yang mengandung kekaguman, karena biasanya hal ini dianggap sebagai kekurangajaran.
"Ah, tidak, aku.. aku teringat kepada Adikku."
"Adik Eng? Ia masi berada di sama. Tentu ia tidak tahu bahwa kakaknya telah muncul, bahkan menjadi lawan dari gurunya sendiri."
"Aku sungguh masih merasa bingung mendengar betapa Adikku menjadi murid dan bahkan anak angkat orang seperti Lam-hai Giam-lo, dan juga heran melihat engkau berada di antara mereka, Nona."
"Menurut cerita Adikmu, ia mencarimu akan tetapi bertemu dengan anak buah Lam-hai Giam-lo lalu di tawan, akan tetapi ia dapat membujuk Giam-lo sehingga ia diterima menjadi murid dan gurunya itu bahkan telah membatalkan ikatan perjodohannya dengan keluarga Kang-jiu-pang. Mengenai diriku, ah, panjang ceritanya dan baru saja kedua orang Guruku tewas di sana karena saling serang sendiri, gara-gara Kulana dan Lam-hai Giam-lo yang berhasil membujuk Guruku agar aku mau menjadi calon isteri Kulana."
Han Siong terkejut.
Dua orang guru gadis ini tewas karena saling serang sendiri?
Orang-orang macam apakah guru-guru gadis ini?
"Siapakah guru-gurumu, Nona?"
Tanyanya, teringat kepada suhu dan subonya.
"Guruku adalah Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi."
Kembali Han Siong terkejut setengah mati.
Dua nama itu adalah nama dua orang datuk sesat yang merupakan iblis-iblis, bahkan mereka adalah dua orang diantara Empat Setan yang tersohor itu.
Pantas gadis ini lihai bukan main.
Ngeri dia membayangkan bahwa puteri suhu dan subonya itu, yang telah dijodohkan dengannya, telah menjadi murid dua orang datuk sesat itu.
Melihat sikap Han Siong terkejut, Bi Lian tersenyum mengejek.
"Memang aku murid mereka. Guru adalah dua orang di antara Empat Setan yang terkenal jahat seperti iblis! Lalu mengapa? Apa Kau kira aku juga lalu menjadi jahat?"
"Ah, sama sekali tidak, Nona. Akan tetapi. kalau aku tidak salah dengar bukankah ada hubungan antara Lam-hai Giam-lo dan kedua orang tua itu?"
"Benar, kedua orang Guruku masih Susiok dari Lam-hai Giam-lo."
"Kalau begitu Nonan masih Sumoi dari Giam-lo."
"Begitu maunya, akan tetapi akau tidak merasa menjadi Sumoinya. Apalagi setelah kedua orang Guruku tewas. Dia yang menjadi gara-gara, dia dan Kulana, si keparat! Aku harus membalas kematian dua orang Guruku kepada Mereka berdua!"
Tiba-tiba Han Siong memberi isarat kepada gadis itu yang agaknya juga sudah melihat berkelebatnya bayangan orang di kejauhan.
Keduanya sudah menyelinap dan lenyap bersembunyi di balik batang pohon besar sambil mengintai bayangan itu bergerak cepat sekali dan tak lama kemudian mereka berdua melihat seorang laki-laki telah berada di situ.
Melihat orang ini, Bi Lian marah sekali dan ia pun sudah melompat keluar dari balik pohon sambil membentak.
"Kulana jahanam, engkau datang mengantar nyawa!"
Bi Lian meloncat keluar dan langsung menyerang dengan tusukan kedua jari tangan kiri ke arah pelipis lawan, sedangkan tangan kananya mencengkeram ke arah lambung.
Serangan ini cepat dan kuat, dahsyat bukan main karena dilakukan dalam keadaan marah dan penuh dendam.
Han Siong terkejut melihat serangan itu dan hampir saja dia turun tangan mencegah kalau saja dia tidak melihat bahwa orang yang diserangnya itu pun bukan orang sembarangan.
Laki-laki itu juga terkejut karena tidak menyangka bahwa di tempat itu dia akan diserang seorang gadis yang demikian laihainya, apalagi serangan itu merupakan serangan maut.
Namun, dia bersikap tengan dan sigap sekali.
Dengan kecepatan seorang ahli, tubuhnya sudah merendah sehingga tusukan ke arah pelipis itu luput, sedangkan cengkeraman tangan kanan Bi Lian ke arah lambungnya ditangkis dengan gerakan memutar.
"Dukk!"
Dua lengan bertemu dan akibatnya, kedua orang itu terdorong mundur dan merasa betapa lengan mereka masing-masing tergetar hebat, tanda bahwa keduanya memiliki tenaga sinkang yang amat kuat berimbang.
Bi Lian semakin marah, ia memang sudah tahu akan kelihaian Kulana, maka ia pun sudah siap untuk menyerang mati-matian.
Akan tetapi pada saat itu terdengat Han Siong berseru kepadanya.
"Nona, tahan dulu, jangan serang dia!"
Bi Lian mengerutkan alisnya.
Ia tidak mengharapkan bantuan Han Siong, akan tetapi ia pun tidak ingin pemuda itu mencegah niatnya.
"Hemm, Pek Han Siong, engkau mau apa sih sebenarnya!"
Ia membentak.
"Nona Cu, lihat baik-baik. Dia ini bukanlah Kulana!"
Barulah Bi Lian terkejut dan ia memandang penuh perhatian.
Hemm, pemuda itu ada apakah?
Jelas orang ini Kulana, mengapa berkata bahwa dia bukan Kulana?
Bi Lian mengamati orang itu.
Wajahnya yang anggun berwibawa, pakaiannya yang seperti pakaian bangsawan, mewah dan indah denga kain kepala warna-warni dihias burung merak emas permata, pandang matanya yang lembut namun mencorong dan sikapnya yang tenang dan halus.
Siapa lagi kalau bukan Kulana?
Mulana tersenyum dan balas menjura.
"Akan tetapi Ji-wi belum mengenal betul siapa aku ini. Mungkin Ji-wi sudah mengenal Kulana. Ketahuilah bahwa aku bernama Mulana dan aku adalah saudara kembarnya dari Kulana. Tadinya kehidupan kami di Birma dapat dikata amat baik, kedudukan kami berdua terhormat sebagai penasehat raja, dan terutama sekali Kulana membuat jasa besar ketika terjadi penyerbuan pasukan Tiongkok dengan mengatur barisan pertahanan yang berhasil memukul mundur musuh. Akan tetapi, dia masih belum puas dan dia melakukan usaha untuk merampas kedudukan raja. Ketika ketahuan, dia melarikan diri dan aku sebagai saudara kembarnya, terpaksa ikut pula menjadi buruan. Karena kami berdua dalam hal pemberontakan itu tidak cocok, maka kami saling berpisah dan tidak lagi saling mencampuri urusan pribadi. Aku lalu hidup di bukit ini bersama isteriku yang akan saya perkenalkan nanti kepada Ji-wi. Nah, sekarang harap Ji-wi suka memperkenalkan diri sebagai tamu-tamu yang kami hormati!."
Bi Lian memperkenalkan diri.
"Namaku Cu Bi Lian dan aku menjadi tamu dari Lam-hai Giam-lo, akan tetapi karena Kulana meminangku untuk mejadi isterinya dan aku menolak, maka terjadi bentrokan."
Ia tidak menceritakan lebih jauh lagi karena ia sendiri tentu saja masih meragukan apakah saudara kembar dari Kulanan ini benar-benar tidak akan membantu saudaranya.
"Aku dikeroyok dan mendapat bantuan Saudara Pek Han Siong ini, dan kami berhasil melarikan diri sampai bertemu denganmu, Saudara Mulana. Kiranya tidak ada lagi yang dapat kuceritakan."
"Apa yang diceritakan Nona Cu memang benar, Saudara Mulana. Aku pun sedang mencari seorang adik kandungku yang jejaknya menuju ke tampat tinggal Lam-hai Giam-lo dan kebetulan aku melihat Nona Cu dikeroyok oleh Kulana dan Lam-hai Giam-lo, maka aku turun tangan membantunya dan kami melarikan diri ke dalam hutan itu."
Mulana mengangguk-angguk.
"Kalian adalah dua orang muda yang luar biasa sekali dan aku senang dapat menjamu kalian sebagai tamu-tamu agung. Dua orang semuda kalian sudah berani bertentangan dengan Kulana dan Lam-hai Giam-lo, sungguh luar biasa sekali! Nah, kita sudah berkenalan, sekarang kita mulai berpesta dan sebaiknya kalau kuperkenalkan kepada isteriku yang tercinta!"
Setelah berkata demikian, Mulana mengambil sebuah benda dari saku jubahnya dan ternyata itu adalah sebuah terompet kecil yang segera ditiupnya.
Berbeda dengan suara tiupan ketika dia memberitabukan akan kedatangannya kepada para pengawalnya, kini benda itu mengeluarkan suara seperti seekor binatang yang mengeluh penuh duka, suaranya berat dan lirih, akan tetapi bergaung sampai jauh.
Semua pelayan yang sedang sibuk diruangan itu, begitu mendengar suara ini, kelihatan kikuk sekali dan Mereka pun banyak yang terdiam.
Tak lama kemudian, nampak ada orang muncul dari pintu dalam, diiringkan oleh lima orang gadis pelayan.
Ketika Bi Lian dan Han Siong mengangkat muka memandang keduanya terpesona, bahkan Bi Lian sampai terbelalak memandang wanita yang demikian cantik jelitanya, yang keluar dari dalam dengan langkah halus seperti seorang bidadari melayang "layang saja, diikuti oleh lima orang pelayan.
Wanita itu berusia kurang lebih tiga puluh lima tahun, akan tetapi memiliki kecantikan yang amat hebat.
Wajahnya demikian halus dengan raut yang demikian sempurna, cantik dan agung walaupun wajah itu terlalu pucat dan coba ditutupi dengan bedak tipis.
Wajah itu pantasnya menjadi wajah seorang puteri agung di istana kaisar.
Pakaiannya, gelung rambutnya, gerak-geriknya, semua menunjukkan dengan jelas bahwa ia bukan seorang wanita biasa, melainkan seorang wanita bangsawan agung yang memiliki gerak-gerik yang serba teratur.
Kedua kaki yang tertutup gaun panjang itu tidak nampak melangkah sehingga kelihatannya ia melayang Ketika menghampiri meja perjamuan itu dengan sikap agung, tidak menengok ke kanan kiri, dengan dada terangkat dan kepala tegak, menuju ke arah kursi di samping Mulana yang kosong.
Diam-diam Han Siong merasakan sesuatu yang aneh.
Wanita itu memang cantik sekali, terlalu cantik di tempat yang seperti itu, akan tetapi ada sesuatu pada pandang mata itu yang tidak wajar, seperti mata seorang yang tidak bersemangat lagi, seperti mata seorang yang berada di bawah pengaruh sihir!
Juga dia melihat sinar duka yang teramat mendalam pada pandang mata itu sehingga diam-diam Han Siong mencurahkan perhatiannya dan timbul keinginan tahunya untuk menylidiki, rahasia aneh apa yang ada pada wanita itu.
Sambutan Mulana kepada isterinya itu pun luar biasa.
Ketika wanita itu tiba dekat, dia pun bangkit dari tempat duduknya dan dengan senyum lebar dia menyongsong kedatangannya, membungkuk sambil berkata dalam bahasa yang dimengerti oleh dua orang tamunya.
"Selamat malam, isteriku yang cantik jelita. Malam ini engkau semakin cantik saja. Silakan duduk dan mari kuperkenalkan kepada dua orang tamu kita yang terhormat."
Sikap Mulana itu seperti dibuat-buat dan Han Siong melihat pancaran yang mencorong aneh dan kejam dari pandang mata tuan rumah itu, yang membuatnya heran sekali.
Wanita itu pun menekuk sebelah kakinya dengan sikap yang manis dan lembut sekali ketika diperkenalkan kepada Bi Lian.
Kemudian ia mengambil tempat duduk di ata kursi sebelah suaminya dan ketika sinar api lampu dan lilin beraneka warna menimpa mukanya, diam-diam Bi Lian menahan napas saking kagumnya.
Wanita ini memang hebat, cantik jelita dan pakaiannya, dari setiap untaian rambut hitam yang dilingkar-lingkar sampai kepada hiasan kuku dari emas, setiap lipatan pakaiannya yang indah, semua memperlihatkan keindahan dan keayuan seorang wanita yang lembut.
Kini para pelayan sibuk mengeluarkan hidangan.
Bagaikan sekelompok kupu-kupu saja, gadis-gadis pelayan yang manis-manis itu seperti menari-nari, pergi datang membawa baki terisi masakan-masakan yang masih mengepulkan uap dan terciumlah bau yang sedap, yang membuat perut Bi Lian dan Han Siong yang memang sudah lapar itu mengeluarkan bunyi!
Wajah itu selain cantik juga agung, dengan bentuk wajah yang bulat telur dan kulit mukanya demikian halus dan biapun nampk pucat, namun kehalusannya sungguh jarang dimiliki wanita lain.
Rambutnya hitam dan panjang tebal, digelung dengan model gelung puteri bangsawan, mengkilap karena bersih dan diminyaki, dengan anak rambut melingkar-lingkar di sekitar dahi dan pelipis.
Alisnya hitam panjang melengkung seperti gambar, melindungi sepasang mata yang bentuknya indah, lebar dan jeli akan tetapi sinarnya redup seperti bulan terhalang awan tipis.
Hidungnya mancung dengan cuping yang tipis dan hidup, mulutnya mengandung tantangan berahi yang panas, kedua pipinya kemerahan oleh bedak dan yanci sedangkan kulit lehernya demikian tipis dan halus mulus.
Setelah hidangan lengkap dikeluarkan di atas meja, tiba-tiba Mulana bertepuk tangan dan berkata halus kepada seorang pengawal.
"Ambilkan cawan kehormatan dari Tuan Puteri!"
Mendengar ucapan ini, sepasang mata itu terbelalak dan Bi Lian, juga Han Siong, melihat betapa wanita cantk itu dengan kaget menoleh kepada suaminya, memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, bibir gemetar dan kedua mata itu tiba-tiba menjadi agak basah, lalu terdengar suaranya.
"Perlukah..?"
Akan tetapi lalu disambung dengan bisikan-bisikan dalam bahasa Birma yang tidak dimengerti oleh dua orang tamu itu.
Akan tetapi, dari sikap dan nada suaranya, Han Siong dapat menduga bahwa Sang Puteri itu mengajukan protes.
Namun anehnya, Mulana sama sekali tidak menghiraukannya, bahkan memperkuat perintahnya dengan gerakan tangan sehingga kepala pengawal yang tadinya nampak ragu-ragu itu lalu melangkah cepat memasuki ruangan lain yang bersambung dengan ruangan itu.
Bi Lian dan Han Siong saling pandang dan mereka merasa betapa jantung mereka berdebar tegang.
Keluarga tuan rumah ini memang aneh dan penuh rahasia yang menegangkan.
Ketika kepala pengawal itu muncul kembali, mereka memandang dan keduanya harus mengerahkan sinkang untuk menekan perasaan mereka ketika kepala pengawal itu membawa sebuah benda yang membuat mereka terbelalak..
kepala pengawal itu meletakkan benda itu di atas meja, di sebelah kiri Sang Puteri yang memandang benda itu dengan mata sayu dan basah.
Benda itu adalah sebuah tengkorak!
Kepala manusia yang tinggal tulangnya saja, akan tetapi terawat baik, bahkan lubang kedua mata dan hidung ditutup denga emas, dan hanya tinggal rongga mulut saja yang terbuka ternganga dan agaknya tengkorak itu kini dipergunakan sebagai sebuah cawan!
Cawan yang mengerikan sekali!
"Isi cawan dengan anggur harum untuk menghormati tamu!"
Tiba-tiba Mulana berkata dan suaranya terkandung nada gembira sekali seolah-olah dia menikmati perintahnya itu.
Para gadis pelayan lalu membawa guci anggur yang terbuat dari perak dan emas, yang dengan gerak tubuh yang lemah gemulai mereka lalu mengisi cawan arak di depan Bi Lian, Han Siong dan Mulana.
Mulana sendiri mengambil guci arak dari tangan pelayannya dan menuangkan anggur ke dalam cawan tengkorak dekat isterinya, melalui mulut tengkorak yang ternganga itu!
Kemudian Mulana mengangkat cawan araknya sampai bangkit berdiri.
"Isteriku, mari kita memberi selamat kepada Tuan Pek Han Siong dan Nona Cu Bi Lian yang menjadi tamu agung kita, dengan minum anggur ini! Ji-wi, selamat datang di rumah kami!"
Bi Lian dan Han Siong melongo, memandang kepada nyonya rumah yang juga bangkit berdiri dan nyonya yang cantik itu mengangkat tengkorak itu dengan kedua tangan, diikuti pandang mata suaminya, ia lalu bersama suaminya, minum anggur dari.
mulut tengkorak.
Bi Lian bergidik ngeri.
Nyonya cantik itu kelihatannya seperti berciuman dengan tengkorak itu, beradu mulut, dan penglihatan ini sungguh amat menegangkan dan mengerikan hatinya.
Juga Han Siong tergetar perasaanya dan jantungnya masih berdebar ketika mereka berempat duduk kembali.
Nyonya itu dengan hati-hati meletakkan tengkorak yang sudah kosong itu ke depannya.
"Mari, mari kita menikmati hidangan, Ji-wi. Isteriku, temanilah dua orang tamu kita makan minum!"
Dengan sikap gembira sekali Mulana lalu mengajak isterinya dan dua orang tamunya makan (Lanjut ke
Jilid 32) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 32 hidangan yang serba mewah itu.
Isterinya, dengan sikap lembut, pandang mata tak pernah ditujukan kepada tamunya ataupun suaminya, seperti seorang dalam mimpi, makan dengan cara yang sopan sekali.
"Ha, makan minum baru enak kalau diselingi cerita menarik. Pek-taihiap dan Cu-lihiap, bagaimana kalau aku menceritakan sebuah dongeng dari negeriku, dongeng yang amat indah dan menarik kepada Ji-wi?"
Bi Lian dan Han Siong saling pandang.
Tuan rumah ini tiba-tiba saja menyebut mereka Taihiap (Pendekar Besar) dan Li-hiap (Pendekar Wanita), dan hendak mendongeng.
Sebagai tamu, tentu saja mereka hanya dapat menyetujui dan mengangguk.
Biarpun tempat itu indah dan hidangan yang disuguhkan serba mewah dan lezat, namun pengalaman melihat nyonya rumah minum anggur dari cawan tengkorak itu membuat mereka ingin cepat-cepat menyelesaikan makan malam itu agar mereka dapat segera mengundurkan diri, bahkan mereka mengambil keputusan di dalam hati masing-masing untuk segera pergi meninggalkan tempat itu pada keesokan harinya.
"Di negara kami, di Birma, terdapat seorang puteri yang teramat cantik."
Mulana mulai dengan dongengnya.
"Demikian cantiknya puteri itu sehingga banyak pria tergila-gila, di antaranya seorang pria bangsawan tergila-gila dan mengorbankan segalanya untuk dapat mempersunting puteri jelita itu. Di antara banyak sekali saingan, pria itu berhasil dan dapat dibayangkan betapa berbahagia rasa hatinya ketika akhirnya di berhasil memperisteri puteri jelita itu."
Mulana berhenti sebentar dan menarik napas panjang.
Lalu menengadah, seolah-olah dia membayangkan peristiwa yang didongengkannya itu.
Bi Lian dan Han Siong mendengarkan dengan penuh perhatian, dan ketika Bi Lian melirik ke arah nyonya rumah, wanita itu seperti acuh saja, masih melanjutkan makan dengan mempergunakan sumpitnya, mengambil potongan daging kecil-kecil dan memasukkannya dengan sopan ke dalam mulutnya yang kecil, mengunyahnya perlahan tenpa membuka bibir.
"Semua pria di negeri Birma merasa iri dan cemburu, bahkan Sang Raja sendiri pun merasa iri hati. Akan tetapi puteri jelita itu memilih pria yang berbahagia itu dan tak perlu diceritakan lagi betapa besar perasaan cinta kasih pria itu kepada isterinya. Dia mau mengorbankan apa saja, dia siap utuk mencium bekas kaki isterinya, menyembah segala benda yang pernah dijamah isterinya itu. Dan melayani sendiri isterinya seperti budak yang paling hina. Dia setiap minum mempergunakan sandal isterinya itu, setiap hari menulis sajak pujian untuknya menghujaninya dengan segala kemesraan, dengan segala pernyataan cinta yang mungkin dilakukan seorang pria terhadap wanita. Pria itu memujanya, mencintanya, bahkan siap mengorbankan nyawa setiap saat kalau dibutuhkan oleh wanita itu."
Kembali Mulana berhenti dan dua orang tamunya kini memandangnya penuh perhatian, mulai tertarik sekali.
Memang Mulana pandai bercerita dan dia memiliki daya tarik yang mempesona.
"Akan tetapi, ah, sungguh kasihan sekali pria itu! Betapa pun besar cintanya, segala pengorbanan yang diberikan, bahkan dia telah mengusir semua selirnya, tak pernah lagi mau melirik wanita lain, menyerahkan seluruh kedudukannya, hartanya, kesehatannya, segala-galanya. Namun. isteri tercinta itu tetap saja dingin terhadapnya."
Bi Lian menundukkan mukanya dan kedua pipinya menjadi agak merah.
Diam-diam ia marah.
Tuan rumah ini sungguh tidak mengenal batas, mengapa menceritakan hal seperti itu kepadanya?
Kalau dilanjutkan cerita yang tidak sepantasnya, tentu ia akan menegurnya!
Agaknya Mulana maklum akan isi hatinya.
"Maafkan aku, Nona Cu. Maaf, bukan masksudku untuk menceritakan hal yang tidak pantas! Akan tetapi, semua ini untuk menyatakan betapa semua cinta dan pengorbanan pria itu sia-sia belaka. Hebatnya, biarpun puteri yang telah menjadi isterinya itu bersikap dingin, pria itu masih tetap memujanya. Dengan pria itu masih tetap memujanya. Dengan sabar dia merayu, dia membujuk, dengan hati-hati, dengan halus untuk membangkitkan perasaan cinta di hati isterinya, walaupun sedikit pun dia sudah akan menerimanya dengan perasaan amat berbahagia. Namun, sia-sia. puteri itu tetap dingin dan selalu memperlihatkan sikap tidak suka berdekatan."
"Hemm, cerita itu semakin tidak menarik."
Kata Bi Lian.
"Dongeng yang menyedihkan."
Kata pula Han Siong sambil tersenyum kepada tuan rumah, untuk menghibur karena dia merasa tidak enak melihat sikap Bi Lian yang demikian jujur mencela dongeng tuan rumah.
Mulana tersenyum dan wajahnya yang tampan nampak berduka, senyumnya pahit sekali.
"Memang menyedihkan, dan mungkin tidak menarik bagi Nona Cu, juga bagi wanita pada umumnya. Akan tetapi amat menyedihkan bagi seorang pria. Cinta kasih seorang pria, mendambakan balasan, walaupun sedikit saja, melalui sentuhan halus, melalui senyum, melalui pandang mata mesra, melalui senyum melalui pandang mata mesra, melalui apa saja, pria yang merindukan kasih sayang isterinya itu, selama bertahun-tahun, hanya mampu berharap, berharap, dan berharap.. Dan pada suatu malam, dunia kiamat baginya!"
Dan tiba-tiba saja Mulana menangis!
Han siong dan Bi Lioan terkejut bukan main.
Mereka saling pandang, dan kemudian memandang kepada tuan rumah yang menutupi muka dengan kedua tangannya dan terisak menangis.
Ketika mereka melirik ke rah nyonya rumah, wanita cantik itu masih terus makan ketika sepasang matanya melirik ke arah suaminya, Bi Lian menangkap sinar mata yang mengandung ejekan dan hinaan!
Ingin sekali Han Siong bertanya, apa yang telah terjadi dengan pria yang mendambakan cinta isterinya itu, akan tetapi dia menahan diri dan bersabar, menanti sampai Mulana menghentikan tangisnya.
Pria itu menurunkan kedua tangannya, menggunakan saputangan sutera untuk menghapus air mata yang membasahi mukanya, lalu tersenyum, senyum paksaan.
"Maafkan aku. setia kali menceritakan hal itu, aku selalu tak dapat menahan keharuan dan kesedihan hatiku. Akan tetapi, seperti kukatakan tadi, malam itu memang terjadi sesuatu yang membuat pria itu merasa dunia kiamat baginya!"
"Apa yang terjadi?"
Pek Han Siong tak dapat menahan lagi keinginan tahuannya.
"Apa yang terjadi?"
Pek-taihiap, tidakkah engkau dapat menduganya?
Puteri yang cantik jelita itu, isteri yang teramat dicinta suaminya itu, yang suka menjilati telapak kakinya untuk menyatakan cintanya, wanita yang secantik bidadari itu, yang kecantikannya tanpa cacat cela, pada suatu malam jahanam itu.
ketika pria yang menjadi suaminya itu terbangun dan tidak melihatnya tidur di pembaringan lalu mencarinya ke belakang, wanita itu, yang selalu dingin terhadap suaminya, yang tak pernah satu kali pun membelai suaminya, bahkan tak pernah menyentuhnya dengan gairah, wanita itu.
di dalam taman, di atas rumput begitu saja, di tempat terbuka, tanpa pakaian sama sekali, tak bermalu sedikitpun juga, bagaikan seekor binatang jalang yang panas dan penuh nafsu berahi, sambil mengerang seperti binatang dan dengan nafsu menggebu seperti kemasukan iblis, perempuan itu bergelut dan bermain cinta dengan tukang kebun!"
"Ahhh.!"
Seruan ini keluar dari mulut Bi Lian dan Han Siong hampir berbareng karena mereka sungguh terkejut bukan main.
"Ha, kalian tentu kaget! Siapa orangnya yang tidak kaget! Dan pria itu, suami itu. dia bukan hanya kaget, akan tetapi dunia seperti kiamat baginya. Wanita yang dipujanya seperti dewi itu, yang didambakan cintanya, menyerahkan diri sebulatnya, lahir batin, kepada seorang laki-laki lain! Bukan pangeran bukan bangsawan, bukan hartawan, melainkan seorang tukang kebun biasa! Seorang hamba yang hina dina dan rendah, dan kotor! Apa yang selalu dijauhkannya dari suaminya yang mencintanya, yang memujanya, pada malam hari itu, mungkin juga malam-malam sebelumnya, telah diberikan sepenuhnya kepada seekor anjing!"setelah berkata demikain, Mulana memandang kepada isterinya, dengan sinar mata mengerikan, penuh penyesalan, penuh duka, penuh kebencian, akan tetapi juga penuh kasih sayang! "Cukup!"
Tiba-tiba wanita cantik jelita yang menjadi isteri Mulana itu berseru, suaranya seperti jerit yang keluar dari lubuk hatinya, dan muka yang amat cantik itu menjadi kemerahan.
"Setelah semua dendam yang kau curahkan, kenapa engkau malam ini melanggar janji dan menceritakan kepada orang lain. Mulana?"
"Aku terpaksa, Yasmina, aku tidak dapat bertahan lagi untuk menyimpannya sendiri. Dan dua orang ini bukan orang sembarangan, mereka adalah pendekar-pendekar yang telah berani menentang Kulana! Mereka patut mendengarkannya!"
"Bagus, engkau melanggar janji, aku pun tak perlu setia terhadap janji. Hai dua orang muda, dengarkan baik-baik. Akulah Yasmina, akulah isteri yang diceritakannya itu, wanita itu. Dialah yang membuat aku seperti itu. Mulana menganggap aku bukan seperti manusia, memujaku seperti benda keramat, seperti boneka kaca, melimpahkan semua cintanya seperti terhadap seorang dewi di kahyangan. Aku seorang perempuan, dari darah daging! Aku ingin diperlakukan sebagai seorang manusia, sebagai seorang perempuan darah daging yang haus akan belaian dan kasih sayang nyata seorang jantan! Dan aku menyerahkan diri, sepenuhnya, sepuas hatiku kepadanya! Dan aku puas. Aku menyesal, akan tetapi aku puas. Dan Mulana, dia memenggal leher tukang kebuh itu, membuat kepalanya menjadi tengkorak ini dan kau harus selalu minum anggur dari dalam tengkoraknya, melalui mulutnya! Aku menerima semua pelampiasan dendam ini, untuk menebus dosaku. Dan dia setiap malam bermain cinta dengan para gadis pelayan yang cantik dan muda, di depan mataku, untuk membalas dendam. Aku hanya mentertawakannya dalam hati. Bagaimanapun juga, dia tak dapat disamakan dengan tukang kebunku itu! Tidak ada seperempatnya! Dan dia berjanji takkan membuka rahasia itu. Akan tetapi malam ini, dia melanggar janjinya.!"
Wanita itu, Yasmina, kini mengangkat tengkorak yang sudah diisi anggur baru, kemudian mencium mulut tengkorak itu.
"Engkau, tukang kebunku yang setia, engkau selama ini menemaniku, engkau kehilangan nyawa karena aku, sekarang tiba saatnya engkau menjemputku. Bawalah aku ke sana."
Dan wanita itu lalu menggigit sebuah di antara gigi tengkorak itu, minum anggur dari dalamnya dan ia pun terkulai di atas meja.
Tengkorak itu terlepas dan jatuh bergulingan di atas lantai, seperti hidup, sampai berhenti di dekat kaki Mulana.
"Yasmina.!"
Mulana menendang tengkorak itu dan meloncat ke dekat isterinya.
Dia mengangkat muka isterinya, mungkin sudah lama dipersiapkan wanita itu menyimpan racun di bawah sepotong gigi tengkorak yang tadi digigitnya, dan minum racun itu bersama anggur!
"Yasmina.!"
Mulana mengguncang-guncang isterinya, didukungnya, dipondongnya dan dia pun menangis sambil kebingungan.
Melihat ini, Bi Liang bangkit dan memandang kepada Pek Han Siong.
Alisnya berkerut dan gadis ini merasa betapa batinnya terguncang hebat oleh peristiwa yang terjadi antara suami isteri aneh itu.
"Mari kita pergi, aku menjadi muak dan mual!"
Katanya.
Pek Han Siong sendiri juga terguncang hebat perasaanya.
Apalagi yang terjadi antara Mulana dan Yasmina itu terlalu hebat, sampai wajahnya menjadi berubah agak pucat.
Ngeri dia membayangkan malapetaka dan kesengsaraan yang menimpa sepasang suami isteri yang seperti mereka itu.
Kaya raya, bangsawan tinggi, keduanya tampan dan cantik!
"Mari!"
Katanya dan keduanya lalu meninggalkan ruangan itu tanpa pamit lagi karena tuan rumah tidak mungkin dapat diajak bicara.
Dia sudah menjadi seperti gila, memondong mayat isterinya itu ke sana-sini, sambil menangis dan menciumi muka yang kebiruan itu.
Pelayan yang berada di situ seperti berubah menjadi patung, terbelalak pucat tidak ada yang berani bergerak.
Bahkan ketika Bi Lian dan Han Siong pergi meninggalkan perkampungan itu, tidak seorang pun penjaga mencoba untuk menghalangi mereka.
Ketika dua orang muda itu tiba diluar perkampungan, tiba-tiba nampak api besar bernyala di belakang mereka dan sayup-sayup terdengarlah tangis-tangis dan teriakan Mulana memanggil-manggil nama isterinya.
Agaknya Mulana telah menjadi gila dan telah membakar istananya sendiri!
Pria itu sesungguhnya amat mencinta isterinya akan tetapi dibikin gila oleh cemburu!
"Kasihan.!"
Pek Han Siong yang berhenti dan memandang ke belakang mengeluh.
"Siapa yang kasihan?"
Barulah Han Siong teringat bahwa Bi Lian berada di situ dan tadi suara hatinya dikeluarkan melalui mulut.
"Kedua-duanya."
Jawab Han Siong. Mereka melanjutkan perjalanan, berjalan perlahan menuruni bukit itu.
"Engkau benar, Saudara Pek. Kasihan keduanya. Keduanya telah bersalah dan keduanya patut dikasihani karena nasib mereka sungguh buruk sekali. Tak sangka orang-orang seperti mereka."
Kata Bi Lian, kemudian disambungnya, lirih.
"Cinta memang aneh."
"Ya, cinta memang aneh."
Han Siong juga menggumam lalu keduanya tenggelam dalam lamunan, kata-kata mereka itu berdengung di telinga mereka.
Kata-kata itu seperti menunjukkan bahwa mereka mengerti atau setidaknya pernah mengalami cinta!
Sampai lama mereka melangkah, termenung, saling menduga, lalu tiba-tiba Bi Lian bertanya.
"Saudara Pek, pernahkah engkau jatuh cinta?"
Han Siong terkejut, memandang gadis itu, menggeleng kepala.
"Belum, dan engkau?"
"Aku juga belum pernah."
"Kalau begitu, bagaiman engkau dapat mengatakan bahwa cinta itu aneh?"
"Dan engkau pun membenarkan begitu saja."
Dan keduanya saling pandang, lalu tertawa geli.
"Lihat saja mereka itu. Mulana dan Yasmina, bukankah mereka itu menjadi seperti orang gila karena cinta? Itulah yang membuat aku mengatakan cinta memang aneh tadi."
Kata Bi Lian membela diri.
"Tapi itu bukan cinta, Nona Cu. Mulana tidak mencinta isterinya dengan sesungguhnya, atau cintanya berlandaskan kebanggaan karena di telah berhasil memenangkan puteri itu dalam perebutan. Dia memperlakukan Yasmina sebagai barang pusaka, dikeramatkan, disanjung, dipuja, dibanggakan dan dipamerkan! Dan cinta Yasmina juga hanya cinta nafsu. Karena itu keduanya lalu menyeleweng, dan baru terasa cinta itu setelah terlambat. Mulana lebih mementingkan kebanggaan dirinya dan Yasmina lebih mementingkan nafsu berahinya, dan keduanya merana."
"Aihh, agaknya engkau seorang yang ahli dalam seni mencinta, Saudara Pek!"
Kata Bi Lian. Wajah Han Siong berubah merah.
"Sama sekali tidak, hanya aku melihat hal-hal yang aneh sekali dalam cinta ini. Ada suatu peristiwa yang tidak kalah anehnya, juga amat mengharukan antara dua orang yang saling mencinta. Akan tetapi biarlah lain kali saja kuceritakan kepadamu, Nona Cu."
"Siapakah mereka?"
Bi Lian tertarik.
"Mereka. adalah kedua orang guruku, Suhu dan Suboku."
"Ih, tentu menarik sekali. Ceritakan, Saudara Pek."
"Lain kali sajalah. Mari kita mencari tempat yang enak untuk melewatkan malam. Nah, di sana ada sungai kecil, bagaimana kalau kita melewatkan malam di tepi sungai itu?"
Mereka lalu mencari tepi sungai yang landai dan di situ terdapat banyak batu kali yang besar dan bersih.
Mereka lalu mengumpulkan kayu kering, lalu membuat api unggun sambil duduk di atas batu kali yang besar, halus dan rata.
Enak memang tempat itu.
Sebelum pergi, mereka tadi sudah memasuki kamar masing-masing untuk membawa perbekalan mereka, tanpa ada yang mengganggu mereka.
"Sekarang mengaso dan tidurlah, Nona. Biar aku yang berjaga di sini."
Kata Pek Han Siong.
"Aku tidak mengantuk, Saudara Pek. Lebih baik kita bercakap-cakap. Pertemuan antara kita sungguh aneh sekali. Engkau muncul begitu saja ketika aku terancam bahaya, dikeroyok oleh Kulana dan Lam-hai Giam-lo yang amat lihai. Kemudian kita bertemu dengan Mulana dan isterinya yang lebih aneh lagi. Apalagi mendengar bahwa engkau adalah kakak kandung Adik Pek Eng yang baru saja kukenal dengan baik, bahwa engkau adalah Sing-tong yang sudah amat lama kukenal namanya sebagai Anak Ajaib. Saudara Pek, ceritakanlah tentang keadaan dirimu, keluargamu. Begitu aku bertemu dengan adikmu, Pek Eng, aku sudah merasa suka sekali padanya."
Han Siong menarik napas panjang.
"Tidak ada sesuatu yang menarik tentang diriku, Nona. Akan tetapi, sesungguhnya adalah suatu hal yang amat penting, amat menarik tentang dirimu, Nona. Ketahuilah, sesungguhnya, ketika engkau memperkenalkan namamu, aku. aku telah menjadi terkejut sekali karena aku mengenal namamu dengan baik sekali, Nona Cu."
Bi Lian memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik.
"Pantas ketika mendengar namaku engkau kelihatan kaget. Di mana engkau pernah mendengar namaku, Saudara Pek Han Siong?"
Han Siong mengambil keputusan untuk berterus terang.
Kalau dia tidak mengaku, kelak tentu gadis ini akan merasa tersinggung dan marah karena dia pura-pura tidak mengenalnya.
Padahal, dialah yang mendapat tugas dari suhu dan subonya untuk mencari puteri Mereka ini.
Akan tetapi, tentu saja tak mungkin dia berani mengaku tentang ikatan jodoh itu, bahkan agaknya tidak bijaksana kalau dia membuka rahasia bahwa gadis ini bukan she Cu melainkan she Siangkoan.
Dengan hati-hati dia lalu menjawab.
"Sebelumnya, ingin aku mendengar pengakuanmu, bukankah dahulu engkau tinggal di sebuah dusun di Ching-hai selatan, di Pegunungan Heng-tuan-san, tak jauh dari sebuah kuil Siauw-lim-si yang terletak di luar kota Yu-shu?"
Bi Lian memandang dengan sinar mata berseri.
"Benar sekali! Bagaimana engkau bisa tahu akan hal itu, Saudara Pek? Ketika itu aku tinggal di sebuah dusun, bersama kedua orang tuaku. Akan tetapi datanglah malapetaka di dusun itu. Terjadi pertempuran antara para tokoh sesat dan banyak orang dusun tewas pula dalam pertempuran itu, termasuk kedua orang tuaku! Ayah Ibuku tewas dan aku terjatuh ke dalam tangan kedua orang Guruku itu, ialah mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi! Ketika itu, aku berusia sebelas tahun dan mulai saat itu, aku menjadi murid mereka dan diajak merantau sampai jauh. Akan tetapi, sekali lagi, bagaimana engkau bisa tahu akan keadaan diriku di dusun itu?"
"Ada satu hal lagi, Nona, harap kau jawab dengan sejujurnya. Sebelum engkau ikut dengan kedua orang Gurumu itu, yaitu mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, sebelum terjadi pertempuran antara tokoh sesat di dusunmu itu, yang mengakibatkan kematian Ayah Bundamu, sebelum itu, pernahkan engkau belajar ilmu silat?"
Bi lian kembali memandang tajam, penuh selidik dan ia mengingat-ingat.
Masih teringat benar olehnya betapa ada dua orang yang selalu datang di malam hari, ketika ia masih kecil dan kedua orang itu secara bergiliran, laki-laki dan wanita, memberi petunjuk kepadanya akan dasar ilmu silat.
Kedua orang itu dianggapnya sebagai guru-gurunya, disebutnya suhu dan subo dan mereka itu demikian sayang kepadanya.
Terutama sekali subonya, kadang-kadang subonya itu mernperlihatkan kasih sayang kepadanya secara mesra.
Ia suka digedongnya dan ditimangnya, dan diciuminya!
Kini terbayanglah wajah mereka itu.
Subonya seorang wanita yang teramat cantik, mukanya agak pucat dan pendiam, namun pandang matanya kepadanya penuh dengan kemesraan dan kasih sayang.
Masih ingat ia betapa subonya itu selalu mengenakan sabuk sutera putih, sikapnya lemah-lembut sekali.
Adapun suhunya seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap, juga pendiam namun ramah dan baik sekali kepadanya, memberi petunjuk dengan tekun dan sabar.
Yang tak mungkin dapat dilupakan dari suhunya itu adalah bahwa lengan kiri suhunya itu buntung sebatas siku.
Lengan baju kirinya itu sebatas siku kosong.
Hanya itulah yang teringat olehnya tentang suhu dan subonya, dan kini ia diingatkan dan ditanya oleh Pek Han Siong tentang kedua orang yang sudah hampir terlupa olehnya itu.
"Ya-ya-ya, aku tentu saja masih ingat kepada mereka. Suhu dan Subo yang demikian baik kepadaku! Ah, mereka suka datang secara bergilir di waktu malam, kata mereka itu, mereka tinggal di sebuah kuil Siauw-lim-si dan mereka membimbingku dengan dasar-dasar ilmu silat."
Girang sekali rasa hati Han Siong mendengar ini dan dia merasa betapa jantungnya berdebar tegang.
"Nona Cu, tahukah engkau siapa nama mereka itu?"
"Suhu dan Subo?"
Gadis itu menggeleng kepala.
"Tahuku hanya Suhu dan Subo. Mereka tak pernah memperkenalkan nama, juga Ayah dan Ibu yang agaknya amat menghormati mereka, tidak pernah menceritakan siapa nama mereka, hanya menyuruh agar aku patuh dan mentaati mereka sebagai Guru-guruku. Eh, Saudara Pek, apakah engkau kenal dengan Suhu dan Subo itu?"
Han Siong mengangguk, sejenak dia termenung memandang ke arah api unggun sedangkan gadis itu mengamati wajahnya penuh perhatian.
Pemuda itu lalu mengalihkan pandang matanya dan dua pasang sinar mata itu saling bertaut sampai beberapa lamanya, kemudian Han Siong berkata dengan sikap tenang.
"Aku mengenal mereka dengan baik, Nona, karena mereka itu adalah juga Guru-guruku! Suhu bernama Siangkoan Ci Kang, dan Subo bernama Toan Hui Cu."
Sepasang mata yang indah itu terbelalak dan diam-diam Han Siong memandang kagum.
Gadis ini demikian mirip subonya!
Akan tetapi jauh lebih cantik karena kalau subonya itu pendiam, gadis ini bermata tajam, sikapnya lincah, manis dan tahi lalat di dagu itu sungguh luar biasa manisnya, juga memiliki pembawaan yang gagah perkasa seperti suhunya!
"Aihhh..., kalau begitu engkau..."
"Aku adalah.. saudara seperguruan denganmu, Sumoi."
"Engkau Suhengku! Ah, akan tetapi, aku baru mempelajari dasar-dasar gerakan ilmu silat saja dari Suhu dan Subo, dan aku selanjutnya digembleng oleh kedua orang Guruku, Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi!"
"Mereka itu merampasmu dari Suhu dan Subo."
"Tapi... tapi ilmu silat kita berbeda jauh, dan engkau... begitu lihai. Kalau begitu, Suhu dan Subo itu lihai bukan main, bahkan melebihi kedua orang Guruku yang sudah tewas!"
Bi Lian kagum bukan main. Han Siong menggeleng kepalanya.
"Belum tentu, Sumoi. Kedua orang Gurumu itu merupakan datuk-datuk persilatan yang sudah amat tinggi ilmunya, walaupun Suhu dan Subo juga merupakan orang-orang sakti. Ilmu silat kita memang berbeda, akan tetapi aku tidak berani mengatakan bahwa aku lebih lihai darimu. Kulihat engkau lihai bukan main, hanya karena engkau dipengaruhi sihir oleh Kulana, maka engkau hampir celaka."
"Dan engkau dapat melenyapkan pengaruh sihir! Kalau begitu, selain ilmu silat, Suhu dan Subo juga mengajarkan ilmu sihir kepadamu, Suheng, sehingga engkau mampu melawan Kulana?"
Han Siong menggeleng kepala.
"Tidak, biarpun Suhu dan Subo lihai, namun bukan rnereka yang mengajarkan ilmu sihir kepadaku. Sumoi, ketahuilah, ketika engkau rnemperkenalkan namamu, aku menjadi demikian gembira sampai merasa takut mengaku kepadamu. Baru sekarang aku mengaku karena sesungguhnya, Suhu dan Subo telah memberi tugas kepadaku untuk mencari engkau sampai dapat kutemukan!"
Bi Lian tersenyum memandang.
Di bawah sinar api unggun, wajah pemuda ini nampak aneh dan menarik sekali, dan ia merasa betapa jantungnya berdebar.
Entah karena senang mendapat kenyataan bahwa pemuda lihai ini suhengnya, atau mengapa ia sendiri tidak dapat mengerti.
Yang jelas, diingatkan keadaannya ketika kecil mendatangkan kenangan yang aneh, ada pahitnya dan ada pula manisnya.
Dan ia sama sekali tidak mengira bahwa suhu dan subonya yang dulu itu, ternyata masih ingat kepadanya, bahkan mengutus muridnya yang lihai ini untuk mencarinya sampai dapat!
"Dan ternyata engkau berhasil Suheng.
Kita telah dapat saling bertemu, lalu apa yang akan kau lakukan terhadap aku, atau...
apakah yang harus kulakukan sekarang?"
Han Siong juga tersenyum. Gadis ini memiiliki pembawaan yang lincah gembira.
"Kita saling bertemu, bahkan bersama telah menghadapi pengeroyokan lawan lihai, dan baru saja tadi mengalami hal yang amat aneh dan mengguncangkan batin. Tentu saja aku ingin menyampaikan pesan Suhu dan Subo bahwa... bahwa... engkau diminta untuk berkunjung kepada mereka, Sumoi. Mereka sangat rindu kepadamu dan merasa khawatir ketika mendengar bahwa engkau lenyap dari dalam dusun itu. Akan tetapi, sebelum itu, aku ingin mencari dulu adikku Pek Eng, untuk kuajak keluar dari tempat berbahaya itu."
"Engkau benar sekali, Suheng. Aku pun tadinya merasa heran dan juga tidak rela melihat seorang gadis seperti Eng-moi itu berada di antara mereka. Apalagi ia menjadi murid bahkan anak angkat seorang sejahat Lam-hai Giam-lo! Ada dua hal yang mendorong Adikmu menjadi muridnya. Pertama, karena tadinya ia tertawan oleh anak buah Lam-hai Giam-lo dan dengan kecerdikannya, Adikmu itu telah dapat menundukkan hati Giam-lo sehingga kakek iblis itu suka kepadanya dan bahkan mengambilnya sebagai murid dan anak angkat. Dan yang ke dua, Adikmu itu memang ingin mempelajari ilmu silat tinggi setelah ia minggat dari rumahnya karena tidak sudi dijodohkan dengan pemuda yang tidak dicintanya. Akan tetapi kalau bertemu denganmu, dan tahu bahwa engkaulah kakak kandungnya yang selama ini dicarinya, aku yakin engkau akan dapat membujuknya keluar dari sana. Aku pun hendak kembali ke sana, Suheng. Ada dua hal yang ingin kulakukan di sana."
"Apakah dua hal itu kalau aku boleh tahu, Sumoi?"
"Pertama, aku harus membalaskan kematian Ayah Ibuku, dan ke dua, akupun tidak akan tinggal diam saja karena kedua orang Guruku sampai tewas di sana. Kulana harus bertanggung jawab karena ulah dia yang melamarku yang menjadi penyebab kematian kedua orang Guruku itu."
"Dan siapakah yang telah menewaskan Ayah Ibumu di dusun?"
"Ayah Ibuku tewas di tangan... mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi.."
"Aih??"
Han Siong berseru kaget.
"Lalu kepada siapa.."
"Begini, Suheng. Pada waktu itu kedua orang Guruku itu dikeroyok oleh Lam-hai Siang-mo dan suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan, dan anak buah mereka. Mereka itu bahkan menghasut orang dusun agar memusuhi Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi. Kedua orang tua ini mengamuk dan membunuh banyak musuh, termasuk banyak orang dusun. Dengan demikian, biarpun orang tuaku tewas di tangan kedua orang Guruku itu, akan tetapi kedua orang Guruku itu tidak mempunyai permusuhan dengan orang tuaku. Yang bersalah adalah dua pasang suami isteri itulah yang menghasut penduduk untuk ikut mengeroyok dua orang tua itu. Nah, kuanggap bahwa merekalah yang telah menjerumuskan Ayah Ibuku sehingga menjadi korban."
Han Siong mengerutkan alisnya, teringat dia akan semua nasihat suhu dan subonya, juga semua wejangan dari gurunya yang ke dua, yaitu Ban Hok Lojin, seorang di antara Delapan Dewa.
Setelah menarik napas panjang, semua nasihat dan petuah yang pernah didengarnya itu pun meluncur lewat mulutnya tanpa dapat ditahan dan bahkan di luar kesadarannya sendiri.
"Sumoi, dendam merupakan suatu penyakit yang amat merugikan diri sendiri dan dari dendam timbullah perbuatan-perbuatan kejam dan bahkan jahat.
Apalagi dendam terhadap kematian.
Semua orang di dunia ini pada saatnya tentu akan mati, Sumoi dan jangan dikira bahwa ada orang lain yang dapat menentukan kematian seseorang, walaupun orang itu bisa saja menjadi sebab daripada kematian orang lain.
Kalau Thian tidak menghendaki, biar ada seribu pasang suami isteri seperti Lam-hai Siang-mo atau seribu orang seperti mendiang guru-gurumu itu, tak mungkin orang tuamu di dusun dapat tewas!
Juga kalau Thian tidak menghendaki, biar ada seribu orang Kulana takkan mungkin dapat menyebabkan kedua orang gurumu saling serang sehingga akhirnya keduanya tewas!
Tidak Sumoi, mendendam sungguh merupakan suatu penyakit yang keliru.
Kematian berada pada tangan tuhan".
"Suheng..!"
Bi Lian berseru kaget dan heran karena baru sekarang ia mendengar pendapat seperti itu.
Han Siong tersenyum.
"Untuk mengambil nyawa orang, Thian mempergunakan banyak macam cara, Sumoi. Ada yang melalui penyakit, melalui kecelakaan, melalui bencana alam dan sebagainya. Apakah kita juga harus mendendam kepada penyakit kalau keluarga kita mati karena penyakit? Mendendam kepada api kalau mati karena api, dan mendendam kepada air kalau seandainya mati tenggelam?"
"Tapi, Suheng! Apakah kita harus berdiam diri saja melihat orang-orang melakukan kejahatan seperti dua pasang suami isteri iblis itu, melihat seorang seperti Kulana yang mengandalkan pengaruh dan kekayaan hendak memaksakan kehendaknya?"
"Wah, itu lain lagi, Sumoi. Bukan persoalan dendam lagi, melainkan sikap seorang pendekar yang harus selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran. Kalau engkau hendak menentang Lam-hai Giam-lo dan kawan-kawannya karena engkau tahu benar bahwa mereka itu adalah sekelompok orang sesat yang hanya hendak mengancam kedamaian hidup orang lain, itulah panggilan jiwa kependekaranmu dan aku akan menemanimu ke sana. Sekarang, kita beristirahat lebih dulu, besok pagi-pagi kita melakukan penyelidikan ke sana. Akan tetapi ingat, bebas dari dendam, Sumoi."
Bi Lian tersenyum dan mengangguk.
"Bebas dari dendam, Suheng."
Ia masih tersenyum ketika akhirnya dapat tidur pulas sedangkan Pek Han Siong duduk Bersila dekat api unggun, mengumpulkan hawa murni dan berjaga karena dia tahu bahwa di tempat itu, dia tidak boleh lengah.
Kita biarkan dulu Pek Han Siong dan Cu Bi Lian yang sedang beristirahat di tepi anak sungai itu, dan mari kita mengikuti perjalanan Hay Hay yang sudah terlalu lama kita tinggalkan.
Seperti kita ketahui, Hay Hay berjumpa dengan Kok Hui Lian, dan dengan janda muda yang selain cantik jelita, tubuhnya mengeluarkan keharuman, dan teramat lihai ilmu silatnya itu, hampir saja terjadi hubungan badan yang terdorong oleh berahi.
Untung bahwa Hay Hay memiliki batin yang amat kuat walaupun dia sudah hampir lupa dan buta oleh gejolaknya nafsu.
Mereka berdua dapat menguasai diri kembali, tidak terjadi suatu pelanggaran walaupun mereka telah bermesraan.
Setelah mereka saling berpisah, Hay Hay tidak pernah dapat melupakan wanita itu, seorang wanita yang memenuhi segala keindahan yang dapat dibayangkan pria mengenai diri seorang wanita.
Kini dia masih mempunyai sebuah tugas, yaitu mengembalikan pusaka batu giok milik Kwan-taijin, yaitu Jaksa Kwan yang terkenal adil dan dimusuhi kaum sesat itu.
Batu giok mustika itu dirampas oleh Min-san Mo-ko dari tangan Jaksa Kwan ketika pembesar ini ditawan, akan tetapi berkat pertolongan Hay Hay dan Kok Hui Lian, para penjahat dapat diusir dani batu giok mustika dapat dirampas kembali.
Bahkan tanpa disengaja, dengan batu giok itu luka-luka beracun mereka berdua dapat disembuhkan.
Ketika berpisah, Hui Lian minta kepada Hay Hay untuk mehgembalikan batu giok mustika itu kepada Jaksa Kwan yang tinggal di kota Siang-tan.
Setelah berpisah dari Hui Lian, ada memang perasaan kehilangan dan kesepian di dalam hati Hay Hay.
Namun, dia menghadapinya dengan senyum, mentertawakan diri sendiri dan perasaan kehilangan dan kesepian itu pun lenyap bagaikan tertiup angin pagi yang sejuk.
Dia tahu benar mengapa ada perasaan kehilangan itu menyelinap di dalam hatinya.
Itulah tuntutan nafsu badani, ikatan batin yang selalu menghendaki adanya kesenangan.
Kalau ada sesuatu yang menye nangkan batin kita, baik yang menyenangkan itu orang lain, atau benda, atau bahkan gagasan saja, maka kita selalu menghendaki agar kesenangan itu tidak terpisah lagi dari diri kita.
Pikiran kita selalu haus akan kesenangan, ingin mengulang kembali segala hal yang menyenangkan dan karena itulah, terjadi ikatan di dalam batin terhadap kesenangan-kesenangan itu.
Dan sekarang.
batin terikat, maka apabila saatnya tiba kesenangan itu harus berpisah dari kita, timbullah rasa kehilangan, kesepian, kecewa dan duka.
Hay Hay sering merenungkan kenyataan hidup ini, membuatnya waspada dan dapat melihat kenyataan dan kepalsuan di dalam kehidupan secara gamblang.
Badan lahiriah memang harus mempunyai, demi kebutuhan badan sendiri, demi kehidupan badan sebagai anggautamasyarakat, memiliki keluarga, sahabat, benda-benda, ilmu pengetahuan, kepandain dan sebagainya lagi.
Namun, batin haruslah bebas tidak memiliki apa-apa.
Sekali batin ikut memlliki apa yang dipunyai badan, Maka timbullah ikatan batin dan ikatan batin inilah penyebab timbulnya duka dan kesengsaraan batin.
Batin harus kosong, bebas dan berdiri sendiri, tidak bersandar atau bergantung, juga tidak disandari atau digantungi.
Pengamatan penuh kewaspadaan ini membuat Hay Hay sudah gembira kembali ketika dia melanjutkan perjalanannya, menuju ke kota Siang-tan karena dia ingin lebih dulu berkunjung ke tempat tinggal Jaksa Kwan untuk mengembalikan batu giok mustika milik pembesar itu.
Kota Siang-tan di Propinsi Hunan merupakan kota yang cukup besar dan ramai.
Di sinilah tinggal Kwan-taijin, jaksa yang terkenal jujur dan keras memegang tegaknya hukum dan pembesar ini tidak pernah mau memaafkan perbuatan jahat, menghukum banyak sekali penjahat besar sehingga dia amat dibenci oleh para penjahat.
Seperti telah diceritakan di bagian depan kisah ini, ketika Kwan-tajjin bersama keluarganya melewatkan waktu libur di Telaga Tung-ting, hampir saja dia tewas di tangan para tokoh sesat yang mendendam kepadanya.
Para penyerang itu adalah datuk-datuk sesat yang amat lihai sehingga Kwan-taijin sampai berhasil ditangkap.
Namun, berkat pertolongan Hay Hay dan Kok Hui Lian, pembesar itu dapat diselamatkan dan diantar pulang bersama keluarganya oleh Hay Hay.
Batu giok mustika terampas penjahat dan akhirnya Hay Hay dan Hui Lian dapat merampasnya kembali.
Kini, setelah Hay Hay berpisah dari Hui Lian, Dia harus kembali lagi ke Siang-tan untuk mengembalikan benda yang amat berharga itu kepada pemiliknya.
Kedatangan Hay Hay disambut dengan gembira dan ramah oleh Kwan-taijin.
Melalui penjagaan yang ketat, akhirnya dia bertemu dengan pembesar itu di kamar tamu.
"Aih, kiranya Taihiap yang datang berkunjung!"
Kata pembesar itu menyongsong kedatangan Hay Hay yang merasa canggung melihat betapa pembesar yang amat terkenal itu menyebutnya Taihiap (Pendekar Besar).
Dia membalas penghormatan tuan rumah dan Kwan-taijin segera menggandengnya, diajaknya masuk ke sebelah dalam dan barulah nampak oleh Hay Hay bahwa di dalam ruang yang besar itu terdapat seorang lain yang sedang duduk.
Dia memperhatikan.
Orang laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, tubuhnya sedang saja dan melihat cara dia berpakaian, mudah diduga bahwa dia tentulah seorang pembesar tinggi.
Wajahnya halus dan ramah, sepasang matanya membayangkan suatu kecerdikan dan mulut yang selalu tersenyum itu penuh kebijaksanaan.
Agaknya, ketika pengawal melaporkan tentang kunjungannya, Jaksa Kwan sedang duduk bercakap-cakap dengan pembesar ini.
"Kebetulan sekali, kami baru menerima kunjungan Yang-taijin dan kami bahkan sedang bicara tentang dirimu, Taihiap. Mari silakan masuk dan kuperkenalkan kepada Yang-taijin!"
Hay Hay melangkah masuk dengan sikap hormat, tahu bahwa tentu orang itu pun seorang bangsawan tinggi walaupun sikapnya ramah dan sederhana.
Ada kewibawaan besar terpancar dari pandang mata orang itu.
Kwan-taijin membungkuk dengan penuh hormat kepada orang itu dan berkata dengan suara gembira.
"Yang-taijin, sungguh seperti dituntun oleh tangan Thian sendiri bahwa saat ini datang pendekar yang baru saja saya ceritakan kepada Paduka. Taihiap, beliau ini adalah seorang menteri yang amat bijaksana, yaitu Menteri Negara Yang Ting Hoo yang berkedudukan di kota raja dan hari ini melimpahkan kehormatan menjadi tamu kami yang terhormat."
Bukan main kagetnya rasa hati Hay Hay mendengar disebutnya nama Yang Ting Hoo ini.
Dalam perantauannya selama ini, dia mendengar berita bahwa kemakmuran negara di bawah pemerintahan Kaisar Cia Ceng pada saat ini adalah berkat jasa dua orang menteri yang amat bijaksana dan pandai mengurus negara.
Yang pertama bernama Menteri Yang Ting Hoo dan yang ke dua adalah Menteri Chang Ku Ceng.
Dan kini, tiba-tiba saja dia berhadapan dengan Menteri Yang Ting Hoo ditempat kediaman Jaksa Kwan itu.
Pertemuan yang sama sekali tak pernah disangkanya dan cepat dia lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap menteri itu.
"Hamba Hay Hay, karena tidak tahu telah bersikap tidak hormat kepada Paduka, mohon Paduka sudi memberi maaf yang sebesarnya."
Menteri Yang Ting Hoo menggerakkan tangannya.
"Aih, Taihiap, bangkitlah dan mari duduk di sini. Kita bercakap-cakap seenaknya. Percayalah, hanya karena kebiasaan saja aku suka disembah orang, padahal di dalam hati aku merasa muak dengan semua kehormatan yang berlebihan itu. Karena itu, kalau benar engkau ingin menyenangkan hatiku dan ingin bicara dari hati ke hati, bangkitlah dan duduklah di sini!"
Dia menunjuk ke arah sebuah kursi didepannya, terhalang meja.
Jaksa Kwan tertawa, hal yang tidak biasa pula dilakukan oleh seorang pembesar bawahan kepada pembesar atasan yang pangkatnya demikian tinggi.
Hal ini juga menunjukkan betapa akrab hubungan antar keduanya.
"Taihiap, jangan heran akan sikap Yang-taijin. Begitulah beliau, lebih mementingkan hubungan antar manusia daripada antar kedudukan. Silakan duduk, Taihiap."
Hay Hay merasa kagum bukan main, juga gembira.
Dia tahu bahwa dia berhadapan dengan seorang pembesar yang lebih patut dinamakan pemimpin rakyat, karena pembesar itu selalu merasa dirinya lebih besar dari orang biasa, sebaliknya seorang pemimpin akan selalu bersikap sebagai seorang ayah, guru atau pemimpin, tidak merasa dirinya lebih besar.
Dia pun menghaturkan terima kasih, bangkit lalu duduk berhadapan dengan kedua orang pejabat yang duduk berdampingan itu.
Jaksa Kwan memberi isarat dengan tangannya memanggil seorang pelayan yang segera meletakkan sebuah cawan arak di depan Hay Hay dan juga mengambilkan tambahan seguci arak harum.
Hidangan sekedarnya juga ditambah, kemudian Kwan-taijin memberi isarat agar semua pelayan dan pengawal meninggalkan ruangan itu hanya berjaga diluar pintu dan tidak ikut mendengarkan percakapan yang akan terjadi di dalam ruangan tamu itu.
"Engkau tadi mengaku bernama Hay Hay, Taihiap? Siapakah nama keluargamu?"
Tanya Menteri Yang Ting Hoo dengan sikap ramah.
Hay Hay tersenyum untuk menyembunyikan perasaan tidak enak di hatinya.
Tak dapat disangkal lagi, menurut keterangan keluarga Pek, dia bernama keluarga Tang, putera dari seorang she Tang yang terkenal sebagai seorang penjahat keji, seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga, pemerkosa wanita) she Tang!
Di dalam hati kecilnya, dia malu dan tidak suka menggunakan nama keluarga itu, akan tetapi kalau kenyataannya memang dia she Tang, mau bagaimana lagi?
"Hamba she Tang, akan tetapi sejak kecil hamba lebih sering disebut Hay Hay dan hamba lebih senang memakai nama itu saja."
Jawabannya sederhana. Menteri itu tertawa dan mengangguk-angguk.
"Taihiap tentu mengetahui bahwa untuk menilai seseorang, bukan tergantung daripada namanya, kedudukannya, kepintarannya maupun kekayaannya, melainkan dari sepak terjangnya di dalam kehidupan setiap harinya. Karena itu, mengapa risau tentang nama? Keluarga yang namanya Tang di dunia ini banyak, yang baik banyak yang jahat pun banyak, tergantung dari pribadi masing-masing."
Hay Hay terkejut dan barulah dia tahu mengapa orang ini terkenal sebagai seorang yang bijaksana.
Pandangannya yang sederhana itu saja seolah-olah sudah berhasil membuka kedoknya!
Dia memang merasa malu mempergunakan she Tang karena ayah kandungnya, orang she Tang itu adalah seorang penjahat.
Bagaimana andaikata ayahnya itu seorang yang baik?
Tentu dia akan bangga menyandang nama keluarga itu!
Betapa palsunya sikap ini!
"Terima kasih atas peringatan Paduka.
Hamba memang bernama Tang Hay,"
Katanya kemudian dan sekali ini menyebut nama keluarga Tang terdengar ringan saja di lidahnya, seolah tidak ada apa-apanya.
Kini Kwan-taijin mempersilakan Hay Hay minum arak.
Mereka bertiga minum arak dan makan hidangan dengan sikap terbuka.
Hay Hay merasagembira dan juga aneh.
Dia duduk berhadapan dengan dua orang pembesar, bahkan yang seorang adalah seorang menteri negara, namun dia sama sekali tidak merasa rikuh atau rendah diri.
Hal ini saja membuktikan betapa kedua orang itu memang merupakan orang-orang yang bijaksana dan dia merasa seperti duduk semeja dengan dua orang sahabat saja!
"Nah, sekarang ceritakan keadaanmu, Tang-taihiap.
Bagaimana keadaanmu semenjak kita saling berpisah, setelah engkau menyelamatkan kami di Telaga Tung-ting, dan apakah kedatanganmu ini hanya untuk berkunjung, ataukah ada keperluan lain?"
Mendengar pertanyaan Jaksa Kwan itu, Hay Hay lalu mengeluarkan batu kemala mustika dari saku bajunya.
Dia membuka bungkusan saputangan, mengambil batu giok itu dan menyerahkannya kepada Jaksa Kwan sambil berkata.
"Saya datang untuk nnenyerahkan batu giok mustika ini kembali kepada Paduka, Kwan-taijin."
Sepasang mata pembesar itu bersinar dan wajahnya berseri gembira.
"Ah! Jadi engkau bahkan berhasil merampas kembali mustika ini?"
Dia menerima batu giok itu dan menyerahkannya kepada Yang-taijin.
"Lihat, Taijin, pendekar perkasa ini bahkan telah berhasil merampas kembali mustika ini!"
Menteri Yang menerima batu giok itu dan memandang kagum kepada Hay Hay."
"Apakah seorang diri saja engkau merampas kembali mustika ini, ataukah dengan pendekar lainnya yang juga lihai itu, eh, siapa lagi namanya? Sayang sekali aku tidak sempat berkenalan dengannya."
"Ia she Kok..."
Kata Hay Hay dan dia teringat, lalu menahan kata-katanya karena bukankah pada waktu itu Hui Lian menyamar sebagai seorang pria?
"She Kok?
Ah, mengingatkan aku akan seorang sahabatku yang baik sekali belasan tahun yang lalu, yaitu Gubernur Kok dari San-hai-koan.
Kasihan sekali, keluarganya terbasmi oleh gerombolan pemberontak.."
Mendengar ucapan Menteri Yang itu, diam-diam Hay Hay terkejut sekali sehingga dia mengeluarkan seruan tertahan.
"Ah, ada apakah, Tang-taihiap? Benarkah masih ada hubungan antara sahabatmu itu dengan mendiang Gubernur Kok di San-hai-koan?"
Tanya menteri itu dan Jaksa Kwan juga memandang kepadanya. Hay Hay mengangguk-angguk.
"Mungkin sekali.. ah, ia memang memiliki banyak keanehan yang dirahasiakan. Mungkin. sekali ia puteri gubernur yang Paduka maksudkan itu "
"Puteri?"
Jaksa Kwan berteriak kaget.
"Kau maksudkan ia... ia seorang wanita?"
Hay Hay mengangguk.
Menghadapi dua orang pembesar yang amat bijaksana dan pandai ini, tidak perlu lagi dia berbohong.
"Memang benar, ia adalah seorang gadis bernama Kok Hui Lian, akan tetapi memiliki ilmu kepandaian yang teramat tinggi."
"Aduh sayang sekali! Kenapa ia tidak ikut bersamamu berkunjung ke sini, Taihiap? Pada saat ini kami membutuhkan orang-orang pandai seperti engkau dan gadis pendekar itu. Makin banyak semakin baik."
Kata Kwan-taijin.
"Akan tetapi, ada apakah, Taijin? Ada urusan penting apakah maka Taijin membutuhkan bantuan para pendekar?"
Hay Hay bertanya, khawatir kalau-kalau para tokoh sesat kembali mengganggu pembesar yang mereka musuhi ini.
Kwan-taijin menoleh kepada Menteri Yang, lalu berkata kepada Hay Hay.
"Sekali ini urusannya lebih gawat dan besar lagi, Tang-taihiap. Sebaiknya kalau engkau mendengar sendiri dari Paduka Menteri Yang, karena beliau inilah yang menangani masalah yang amat penting dan penuh rahasia, Taihiap. Oya, nanti dulu."
Kata pula jaksa itu sambil menyerahkan batu kemala mustika itu kepada Hay Hay sambil berkata.
"Batu giok ini kuberikan kepadamu, Taihiap. Engkau seorang pendekar yang banyak merantau dan banyak bertemu dengan para penjahat, maka kiranya mustika seperti ini amat penting bagimu. Aku berada di kota dan dikelilingi banyak tabib, maka mustika seperti ini tidak begitu penting bagiku. Nah, terimalah, aku berikan kepadamu dengan setulus hatiku."
Tentu saja Hay Hay terkejut dan juga girang.
Mustika itu memang amat berguna, dapat menghadapi penyerangan senjata beracun yang banyak dipergunakan orang-orang golongan hitam.
Dia pun tidak pura-pura lagi dan menerima benda itu, dibungkusnya dengan saputangan dan disimpannya di dalam saku bajunya.
"Terima kasih atas budi kebaikan Taijin."
Katanya singkat, kemudian dia memandang kepada Menteri Yang, siap untuk mendengar tentang masalah yang dihadapi para pejabat tinggi itu.
"Begini, Tang-taihiap, sebetulnya kami menghadapi usaha pemberontakan yang berbahaya sekali dan kami ingin mengajakmu berbincang-bincang tentang hal ini, bahkan mengharapkan bantuan para pendekar seperti Taihiap."
Menteri itu mulai.
Hay Hay mengerutkan alisnya.
Pemberontakan?
Bukankah itu merupakan urusan pemerintah, persoalan negara dan sudah banyak pejabat yang berkewajiban untuk menanganinya?"
Melihat pandang mata ragu dari pendekar itu, Menteri Yang tersenyum maklum.
"Taihiap, kalau pemberontakan itu merupakan pemberontakan dari pasukan, maka kami pun tidak ingin membicarakannya dengan para pendekar yang hanya merupakan sebagian daripada rakyat jelata. Kami tinggal mengerahkan pasukan besar untuk menumpas dan membasmi, seperti yang sudah sering kami lakukan. Akan tetapi, kami menghadapi pemberontakan berselubung, Taihiap."
"Pemberontakan berselubung?"
Hay Hay bertanya, tidak mengerti.
Baca Juga: Suling Emas 3
Baca Juga: Kisah Sepasang Rajawali 18