Eps 10 Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Baca online Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo
Cersil Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.
"Golongan yang menjadi lawan dari golonganmu, yaitu kaum sesat, kini memperlihatkan gejala untuk memperkuat diri, mereka ingin bangkit kembali seperti ketika dunia hitam dipimpin oleh Raja dan Ratu Iblis yang terkenal itu. Untuk menghadapi para datuk sesat, kami tidak banyak berdaya, Taihiap, dan tentu para pendekar lebih mampu menghadapi mereka. Akan tetapi, pembangkitan para tokoh sesat ini, menurut bukti-bukti yang didapatkan para penyelidik kami, ada hubungannya dengan rencana pemberontakan terhadap pemerintah! Inilah yang berbahaya, Taihiap. Oleh karena itu, tadi telah kami bicarakan dengan Kwan taijin agar kami menghimpun dan minta bantuan para pendekar, demi keselamatan negara dan keamanan kehidupan rakyat. Engkau tentu tahu sendiri betapa menderitanya rakyat kalau sampai terjadi pemberontakan dan perang apalagi kalau di antara para pemberontak itu terdapat golongan sesat yang tentu akan selalu memancing di air keruh."
Hay Hay mengangguk-angguk.
Kalau demikian halnya, tentu saja dia siap untuk menentang kaum sesat yang hendak bersekutu dengan para pemberontak itu.
"Siapakah datuk sesat yang memimpin gerakan gelap itu, Taijin?"
Tanyanya.
"Menurut penyelidikan, pemimpinnya ada beberapa orang di antaranya yang terpenting adalah seorang yang berjuluk Lam-hai Giam-lo. Dia bermarkas di Lembah Yang-ce, sekitar Pegunungan Yunan. Kabarnya dia mempunyai banyak sekali teman dari dunia hitam yang merupakan tokoh-tokoh yang berilmu tinggi, dan lebih berbahaya lagi, kabarnya dia pun bersekutu dengan tokoh Birma. Juga kabarnya gerombolan sesat Kui-kok-pang dari Lembah Iblis di Pegunungan Hong-san, dan entah siapa lagi namanya aku tidak tahu. Hebatnya, mereka itu berhasil menarik Pek-lian-kauw sebagai sekutu dan kini tengah membangun pasukan yang kuat."
Mendengar ini, Hay Hay mengangguk-angguk dan dia melihat betapa berbahaya gerakan seperti itu.
"Dan banyak di antara sekutu mereka yang sudah kau kenal, Taihiap."
Kini Jaksa Kwan berkata.
"Mereka yang pernah mencoba untuk menculik aku di Telaga Tung-ting.."
"Ah, mereka pun terlibat?"
Hay Hay berseru, teringat ada dua pasang suami isteri iblis yang lihai, juga Min-san Mo-ko dan muridnya, Ji Sun Bi, juga pemuda tampan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.
"Kalau begitu, lebih berbahaya lagi. Mereka adalah orang-orang yang amat lihai dan curang! Lalu apakah yang dapat saya lakukan untuk membantu Paduka?"
"Taihiap amat kami harapkan bantuannya untuk melakukan penyelidikan ke sarang mereka, seperti telah kami minta pula kepada beberapa orang pendekar yang mau membantu kami. Dan untuk semua biayanya, kami siap untuk menyediakan bagi Taihiap. Pendeknya, kami menawarkan kerja sama dengan Taihiap. Bagian kami tentu saja mempersiapkan pasukan untuk melawan pasukan pemberontak, dan bagi para pendekar untuk menghadapi para tokoh sesat itu. Bagaimana pendapatmu, Tang-taihiap?"
"Taijin, sudah menjadi tugas seorang yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan untuk selalu menghadapi dan menentang kejahatan, melawan yang jahat dan melindungi yang lemah dari penindasan. Oleh karena itu, tanpa diminta sekalipun, saya akan suka pergi menyelidiki mereka itu. Dan saya pun tidak mengharapkan upah. Saya akan mengusahakan sekuat kemampuan saya, Taijin. Sekali lagi terima kasih atas pemberian batu giok oleh Kwan-taijin, dan atas kepercayaan dan penyambutan yang amat terhormat ini. Sekarang saya mohon diri untuk segera memulai dengan tugas saya."
"Nanti dulu, Tang-taihiap."
Tiba-tiba Menteri Yang Ting Hoo berkata dan dia mengeluarkan sebuah benda bundar dari perak yang diberi tanda nama dan pangkat dari menteri itu.
"Ini sebuah Tek-pai dari perak, merupakan tanda kuasa. Kalau engkau berada dalam kesulitan karena tidak dipercaya oleh petugas pemerintah, maka semua pembesar sipil atau militer akan mengenalnya dan engkau akan dianggap sebagai utusan pribadiku yang mempunyai tanda kuasa. Terimalah ini."
Hay Hay menerima benda itu dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.
"Masih ada satu hal lagi, Taihiap. Di antara beberapa orang gagah yang telah menyanggupi membantu kami, ada satu orang yang keadaannya sungguh masih meragukan sekali. Dia seorang pendekar yang berwatak aneh, Taihiap, dan kami ingin agar engkau lebih dahulu berkenalan dan menyelidikinya. Kalau sampai engkau dapat mengajaknya pergi bersama melakukan penyelidikan ke sarang Lam-hai Giam-lo, sungguh baik sekali karena dia adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, karena dia orang kota Siang-tan ini, agaknya Kwan-tajin akan lebih banyak mengetahui dan dapat memberi penjelasan kepadamu."
Kwan-taijin tersenyum.
"Memang apa yang dikatakan Yang-taijin itu benar sekali, Tang-taihiap. Di kota ini tinggal seorang pemuda yang aneh dan menurut berita, dia memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi. Hanya wataknya amat aneh dan sukar sekali didekati. Bahkan dia tidak mau sama sekali mencampuri urusan pemerintah, ketika diberitahu tentang usaha pemberontakan kaum sesat, dia pun acuh saja. Pernah kami mempergunakan siasat memancing harimau keluar dari sarangnya, membiarkan seorang gadis cantik diganggu orang-orang jahat dan dia memang keluar menolong gadis itu. Agaknya sekarang dia bahkan bersahabat dengan gadis itu, akan tetapi selanjutnya, tetap saja dia acuh dan tidak mempedulikan permintaan yang pernah kami ajukan agar dia membantu kami menghadapi para datuk sesat. Bagaimana kalau engkau berkenalan dengan dia, Taihiap? Siapa tahu, pandanganmu dan perkenalannya denganmu akan mampu mengubah sikapnya itu."
Hay Hay tertarik sekali.
"Siapakah dia, Taijin?"
"Dia sebenarnya keturunan bangsawan tinggi, masih putera pangeran. Kini tinggal menyendiri di istana tua warisan orang tuanya. Namanya Can Sun Hok, mungkin dua tiga tahun lebih tua darimu."
Jaksa Kwan lalu memberitahu di mana tinggalnya pendekar bernama Can Sun Hok itu.
Hay Hay lalu berpamit dan dia berjanji akan menghubungi pendekar itu sebelum berangkat dengan penyelidikannya ke Lembah Yang-ce, di mana Lam-hai Giam-lo bersarang dan menghimpun kekuatan untuk memberontak.
Yang disinggung dalam percakapan antara Hay Hay dan kedua orang pejabat tinggi itu bukan lain adalah Can Sun Hok, pendekar muda yang pernah kita kenal ketika terjadi keributan di telaga Tung-ting.
Dialah pemuda yang suka berperahu seorang diri, memainkan suling dan yang-kim.
Kemudian dia bertemu dengan pendekar wanita Ceng Sui Cin dan puterinya, Cia Kui Hong, bahkan kemudian ibu dan anakini bentrok dengan Nenek Wa Wa Lobo yang menjadi pengasuh dan guru Can Sun Hok sampai Nenek Wa Wa Lobo meninggal dunia.
Dua puluh tahun lebih yang lalu, nama Gui Siang Hwa yang berjuluk Siang-tok Sian-li (Dewi Racun Harum) amat terkenal di dunia sesat karena ia adalah murid tunggal dari Raja dan Ratu Iblis!
Ilmu kepandaiannya amat tinggi dan wataknya juga amat kejam dan jahat walaupun wajahnya cantik jelita dan menarik.
Wanita itu adalah seorang ahli silat dan ahli mempergunakan segala macam racun.
Akan tetapi wataknya cabul dan sudah banyak sekali pria yang terjatuh ke dalam tangannya, dibunuhnya setelah ia puas mempermainkannya.
Di dalam petualangannya itulah, Gui Siang Hwa bertemu dengan Can Koan Ti, seorang pangeran.
Can Koan Ti ini putera seorang pangeran istana bernama Pangeran Can Seng Ong yang menjadi gubernur di Ning-po.
Terjadilah hubungan antara pangeran yang kaya raya dan tinggi kedudukannya ini dengan Gui Siang Hwa.
Dan terlahirlah Can Sun Hok.
Akan tetapi wanita seperti Gui Siang Hwa bukankah wanita yang suka terikat menjadi seorang ibu rumah tangga.
Ia seorang petualang dan akhirnya ia pun berpisah dari Pangeran Can Koan Ti.
Ketika Can Sun Hok masih belum dewasa, ayahnya, Pangeran Can Koan Ti meninggal dunia karena sakit.
Ibunya, Siang-tok Sian-li Gui Siang Hwa tidak suka repot-repot mengurus puteranya, bahkan ia pun melanjutkan petualangannya sampai akhirnya ia tewas.
dalam pertempuran ketika ia membantu gerakan para pemberontak.
Kematian Siang Hwa adalah ketika ia bertanding melawan Ceng Sui Cin, roboh terluka dan tubuhnya hancur oleh pengeroyokan para perajurit.
Puteranya, Can Sun Hok, sudah dititipkannya kepada seorang pelayan, yaitu bekas pelayan Raja dan Ratu Iblis, guru-guru Gui Siang Hwa.
Nenek ini, Wa Wa Lobo, tidak ikut dalam gerakan pemberontakan para majikannya, melainkan pergi menyelamatkan Can Sun Hok yang dirawatnya seperti cucu sendiri dan digemblengnya dengan ilmu-ilmu yang pernah diperolehnya dari Raja dan Ratu Iblis.
Nenek Wa wa Lobo ini lihai bukan main, juga ahli dalam hal racun, walaupun kelihaiannya tidak sampai setingkat dengan kelihaian mendiang Gui Siang Hwa yang langsung menjadi murid terkasih Raja dan Ratu Iblis.
Dan akhirnya, seperti telah diceritakan di bagian depan, Nenek Wa Wa Lobo ini dapat berhadapan muka dengan Ceng Sui Cin, yang dianggap musuh besar dan pembunuh Gui Siang Hwa.
Setelah Wa Wa Lobo tewas karena kalah oleh Ceng Sui Cin kemudian membunuh diri.
Can Sun Hok menangisi mayat nenek itu yang dianggapnya sebagai pengganti ayah ibu, nenek dan juga pengasuh dan gurunya.
Akan tetapi, agaknya darah yang jahat dari Gui Siang Hwa tidak mengalir ke dalam tubuh Can Sun Hok.
Dia menjadi dewasa dengan watak yang gagah, walaupun kadang-kadang dia dapat bersikap keras dan dingin.
Namun, sikap ini sama sekali bukan mencerminkan watak yang kejam dan jahat.
Dia tidak suka mengganggu siapapun juga asalkan dia tidak diganggu.
Dia tidak pernah pula memamerkan kepandaiannya, bahkan suka menyembunyikan kenyataan bahwa dia pandai ilmu silat.
Karena ketika dilarikan oleh Wa Wa Lobo, nenek itu, membawa pula bekal harta benda yang amat banyak berupa emas permata dari ayahnya, maka kini Can Sun Hok menjadi seorang pemuda yang kaya raya dan tinggal di gedung besar di Siang-tan yang pernah menjadi tempat tinggal ayahnya.
Setelah nenek Wa Wa Lobo meninggal, dia tinggal sendirian saja di dalam rumah itu, dengan hanya beberapa orang pelayan.
Dia lebih suka merantau, membawa suling dan yang-kim, dua alat musik yang amat disukanya.
Memang dia berbakat sekali dengan pemainan musik ini.
Can Sun Hok kini telah menjadi seorang pemuda yang usianya kurang lebih dua puluh tiga tahun.
Sudah tiga tahun nenek Wa Wa Lobo tewas membunuh diri ketika kalah bertanding melawan pendekar wanita Ceng Sui Cin dan selama tiga tahun ini, Can Sun Hok juga memperdalam ilmunya dengan tekun berlatih.
Ada dua buah kitab peninggalan Raja dan Ratu Iblis yang disimpan neneknya, dan akhirnya, dengan bantuan seorang kakek ahli sastra kuno, dia pun dapat mengerti arti dari pelajaran itu dan dia berlatih diri dengan tekun.
Maka, dia pun kini memperoleh kemajuan yang amat pesat.
Biarpun dia kaya raya, namun hidupnya sederhana, wajahnya tampan, tubuhnya tegap dan sepasang matanya mencorong, wajahnya cerah akan tetapi ada bayangan dingin dan keras pada mata dan dagunya.
Beberapa bulan yang lalu, Jaksa Kwan yang dulu pernah mengenal ayahnya, datang berkunjung.
Jaksa ini bukan orang asing bagi can Sun Hok, walaupun dia jarang mengadakan hubungan.
Tentu saja kunjungan itu mengejutkan hati Sun Hok, apalagi ketika jaksa jtu dengan terus terang mengharapkan bantuannya untuk ikut bersama para pendekar melakukan penyelidikan tentang gerakan para tokoh sesat yang kabarnya menghimpun tenaga untuk memperkuat diri dan membangun pasukan dengan maksud memberontak terhadap pemerintah.
"Kami tahu bahwa Can Kongcu (Tuan Muda Can) adalah seorang pemuda gagah perkasa yang berkepandaian tinggi. Oleh karena itu, mengingat bahwa mendiang Ayahmu adalah seorang pangeran, bahkan mendiang Kakekmu pernah menjadi seorang gubernur di Ning-po, maka kami mengharapkan bantuan Kongcu untuk berbakti kepada nusa dan bangsa."
Mendengar uluran tangan ini, Can Sun Hok mengerutkan alisnya.
Selama ini dia tidak pernah mencampuri urusan orang lain, apalagi urusan pemerintah.
Tentu saja penduduk Siang-tan, termasuk jaksanya ini, tahu bahwa dia pandai ilmu silat karena sudah sering kali dia menghajar orang-orang jahat yang hendak menjagoi di kota itu dan malang melintang dengan perbuatan mereka yang sewenang-wenang.
Bahkan pernah dia seorang diri menghajar kocar-kacir dan membasmi sebuah perkumpulan orang jahat yang dipimpin oleh seorang perampok yang amat lihai.
Akan tetapi, dia tidak pernah minta.
Diakui sebagai jagoan atau pendekar, bahkan tidak ingin bicara dengan orang lain tentang apa yang telah dilakukannya.
Dan kini, karena sudah mendengar akan kepandaiannya itu Jaksa Kwan ini agaknya datang membujuknya untuk membantu pemerintah dalam menghadapi para tokoh sesat yang hendak memberontak!
"Kwan-taijin."
Katanya dengan sikap hormat karena dia pun sudah mengenal siapa ini Kwan-taijin, seorang jaksa yang amat adil dan bijaksana, dicinta rakyat jelata karena dia berani menentang para penjahat dan melindungi keamanan rakyat dalam kedudukannya sebagai jaksa.
"Tidak saya sangkal bahwa saya pernah belajar ilmu silat. Akan tetapi apakah artinya tenaga seorang seperti saya kalau (Lanjut ke
Jilid 33) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 33 menghadapi para tokoh sesat yang bersekutu dan bergabung hendak melakukan pemberontakan?
Kirim saja pasukan besar di bawah pimpinan panglima yang pandai dan persekutuan itu dapat ditumpas habis."
Kwan-taijin tersenyum.
"Apa yang kau ucapkan itu memang tepat, Can Kongcu. Akan tetapi, ketahuilah bahwa pasukan pemerintah hanya dilatih untuk berjuang dalam pertempuran melawan pasukan lain. Kalau sudah terjadi pemberontakan bersenjata, tentu pasukan pemerintah yang akan menanggulanginya. Akan tetapi keadaannya sekarang lain lagi. Para datuk kaum sesat, yang kabarnya dikepalai oleh seorang manusia iblis berjuluk Lam-hai Giam-lo, mengadakan persekutuan, mengumpulkan para datuk persilatan yang sesat untuk membangun kekuatan. Mereka bersarang di Lembah Yang-ce di Pegunungan Yunan. Dan ini berbahaya sekali. Kami tahu bahwa hanya para pendekar saja yang akan mampu menentang orang-orang seperti itu, maka saya sengaja datang mengharapkan bantuan Kongcu."
Can Sun Hok tersenyum, sebentar saja, senyum sinis.
"Mungkin para pendekar, akan tetapi saya bukan pendekar,Taijin."
"Ah, tidak perlu merendahkan diri, Kongcu. Siapa pun di siang-tan ini tahu belaka siapa adanya Kongcu. Kongcu memiliki ilmu silat yang amat lihai, juga sudah terlalu sering mengulurkan tangan membela kebenaran dan menentang para penjahat yang keji dan berbahaya. Sekali ini, terdapat pekerjaan yang lebih penting dan mulia, saya harap Kongcu dapat mempertimbangkan permintaan kami ini, atas nama pemerintah dan atas nama rakyat."
Jaksa Kwan akhirnya pulang setelah meninggalkan pesan dan permintaannya dan pemuda ini menjawab hendak berpikir-pikir tentang hal itu.
"Harap Taijin suka bersabar dan memberi waktu kepada saya untuk mengambil keputusan. Percayalah, Taijin, pada dasarnya saya suka sekali membantu karena memang sudah menjadi kewajiban saya untuk menentang kejahatan, akan tetapi saya belum pernah bekerja secara berkelompok, dan bekerja sama dengan para pendekar itu sungguh membuat saya berkecil hati dan malu."
Jaksa Kwan adalah seorang yang amat cerdik.
Beberapa hari kemudian, dia menguji sikap dan watak Can Sun Hok, ingin melihat apakah benar pemuda itu berjiwa pendekar seperti yang diduganya.
Didatangkannya seorang gadis cantik manis dari kota raja.
Gadis ini sebenarnya adalah seorang dayang keluarga pangeran.
Karena cantiknya, dia digauli oleh majikannya.
Akan tetapi hal ini tidak disetujui isteri pangeran yang merasa cemburu karena gadis itu terlalu cantik sehingga terpaksa gadis itu dijual keluar.
Karena kepandaiannya bermain musik, menari dan menyanyi, gadis itu lalu terkenal sebagai seorang gadis penari dan penyanyi yang amat disuka oleh para pembesar.
Di dalam pergaulan dan pekerjaan seperti itu, tak dapat dihindarkan lagi bahwa gadis itu kadang-kadang tak dapat menahan diri lagi menjual diri dengan bayaran yang luar biasa tingginya, dari para pembesar yang mata keranjang dan yang uangnya sudah berlebihan.
Dengan bantuan para rekannya yang berada di kota raja, Jaksa Kwan dapat menugaskan gadis ini untuk niatnya "memancing keluar harimau dari sarangnya"
Yaitu menguji sikap dan watak Can Sun Hok sebagai seorang pendekar.
Demikianlah, beberapa pekan semenjak Jaksa Kwan datang berkunjung, pada suatu senja yang cerah, Sun Hok pergi seorang diri ke tepi Sungai Yang-ce yang sunyi.
Dia duduk di atas batu besar di tepi sungai itu, sunyi sepi tempat itu karena jauh dari dusun.
Dia membawa sebatang tangkai pancing karena sore itu dia merasa iseng ingin menangkap ikan dengan pancingnya.
Pada waktu itu sedang musim ikan lee moncong putih yang banyak terdapat di dalam air di sekitar tempat itu dan daging ikan ini lezat bukan main.
Dia duduk memegangi tangkai pancingnya, seperti telah berubah menjadi arca, bersatu dengan batu yang didudukinya dan seluruh perhatiannya berpusat pada tali yang ujungnya dipasangi pancing dan umpannya.
Tali itu terbawa air dan agak bergoyang-goyang, akan tetapi bukan bergoyang karena disambar ikan.
Kalau saatnya tiba, kalau umpannya itu disambar ikan, akan terasa oleh tangannya.
Penantian sambaran ikan yang tidak nampak inilah yang mengasyikkan bagi seorang pengail, di situ terdapat suatu kejutan yang menggembirakan, disusul perjuangan untuk berhasil menaikkan ikan yang sudah berani menyambar umpan di pancingnya.
Akan tetapi Sun Hok bukanlah seorang ahli pengail ikan yang pandai.
Kalau dia ahli tentu bukan di waktu senja itu dia mengail, melainkan malam nanti atau besok pagi-pagi.
Pada waktu senja seperti itu, di waktu sinar matahari senja yang merah menimpa permukaan air menyilaukan mata, agaknya ikan-ikan bersembunyi di sarang masing-masing, atau masih merasa malas untuk mencari makan.
Sudah sejam lebih dia duduk, namun tak seekor pun ikan mencium umpan di pancingnya.
Sun Hok menancapkan gagang tangkai pancingnya di atas tanah, lalu dia mencabut suling yang selalu berada di ikat pinggangnya.
Sekali ini, dia tidak membawa alat musik yang-kim karena terlalu berabe, apalagi memang kepergiannya adalah untuk mengail ikan.
Untuk menghilangkan kekesalan hatinya karena sejak tadi tak pernah berhasil, dia pun kini menempelkan lubang suling pada mulutnya dan tak lama kemudian, terdengarlah bunyi lagu merdu keluar dari sulingnya.
Suara yang merdu itu mengalun naik turun, lirih saja karena dia tidak mau mengejutkan ikan-ikan, bahkan seolah-olah hendak mengundang ikan-ikan agar datang dan makan umpan di pancingnya dengan lagu yang ditiup dengan sulingnya.
"Tolooonggg...!"
Tiba-tiba dia mendengar jerit seorang wanita.
Seketika Sun Hok menghentikan tiupan sulingnya, lalu memandang ke depan.
Sebuah perahu meluncur lewat di tengah, dan ada seorang wanita muda dipegangi kedua tangannya oleh beberapa orang laki-laki secara kasar.
Ada lima orang laki-laki di perahu itu.
Tiba-tiba tali pancingnya bergerak.
Sun Hok menyambar tangkai pancingnya, menarik dengan kejutan dan seekor ikan lee moncong putih sebesar lengannya tergantung di ujung tali pancingnya!
Kalau saja tidak ada perahu di mana dia melihat seorang gadis agaknya ditawan oleh lima orang laki-laki itu, tentu saja Sun Hok akan merasa gembira sekali dengan hasil tangkapannya.
Akan tetapi kini ada gangguan dan dia pun melepaskan pancing dan ikan itu menggelepar di atas tanah, kemudian dia berjalan mengikuti arah perahu sambil memperhatikan keadaan perahu itu.
Ketika dia melihat sebuah perahu nelayan kecil, ditumpangi seorang nelayan tua, dia cepat memanggilnya.
"Paman Tua tukang perahu, boleh aku menyewa perahumu sebentar? Akan kuberi engkau uang ini!"
Katanya sambil mengacungkan.
sepotong perak yang beratnya satu tail.
Tentu sajanelayan tua itu girang sekali.
Uang sekian itu amat besat untuk menyewa perahunya, apalagi hanya sebentar.
Dia pun sedang mengail ikan dan sejak tadi pun hasilnya baru beberapa ekor ikan yang kecil saja.
Dia cepat meminggirkan perahunya.
"Ah, kiranya Can Kongcu!"
Kata tukang perahu girang ketika mengenal pemuda yang kaya raya ini.
"Baiklah, kalau Kongcu hendak memakai perahu saya, marilah!"
Sun Hok menyuruh pemilik perahu turun dan dia pun cepat meloncat ke atas perahu kecil itu, dan mendayung perahu dengan amat cepatnya meluncur dan mengejar perahu besar yang ditumpangi lima orang pria itu.
Perahu itu sudah meluncur agak jauh, akan tetapi masih nampak dan jeritan itu tidak terdengar lagi, agaknya lima orang itu tentu membungkam mulut gadis tadi.
Dengan tenaganya yang luar biasa, tidak lumrah orang biasa, Sun Hok mendayung perahunya, yang lebih kecil.
Perahu meluncur cepat sekali sehingga tak lama kemudian dia pun sudah berhasil menyusul perahu di depan itu.
Kini nampaklah olehnya bahwa gadis itu memang telah diikat kaki tangannya dan diikat saputangan pada mulutnya sehingga tidak mampu berkutik atau berteriak.
Sedangkan lima orang itu agaknya sedang bersukaria sambil minum arak.
Mereka nampak kaget ketika tiba-tiba ada perahu kecil menempel di perahu mereka dan seorang di antara mereka membentak kepada pemilik perahu kecil yang mereka kira seorang nelayan itu.
"Heiii! Apa engkau sudah bosan hidup berani menempel perahu kami?"
Empat orang kawannya juga marah dan mereka berlima menghunus golok dan dengan sikap mengancam mereka hendak menyerang Sun Hok.
Akan tetapi, pemuda itu tidak menjadi takut, bahkan sekali tubuhnya bergerak, dia telah meloncat ke atas kepala perahu, bertolak pinggang dan menghardik mereka dengan suara nyaring.
"Hemm, kalian ini lima orang laki-laki menangkap seorang gadis, ada urusan apakah? Apa kesalahannya dan apa yang hendak kau lakukan dengannya?"
"Hei, orang muda, jangan mencampuri urusan kami! Kami adalah orang-orang yang diutus oleh Bengcu. Pergilah engkau sebelum kami turun tangan membunuhmu di sini juga!"
Sun Hok tertarik.
"Bengcu? Siapakah Bengcu kalian itu?"
Seorang di antara mereka yang bertubuh gendut membelalakkan matanya dan memaki.
"Engkau tikus kecil mana mengenal Bengcu kami? Bengcu adalah Lam-hai Giam-lo.."
"Sudah, hajar saja dia!"
Teriak seorang temannya dan lima orang itu kini menerjang dengan golok mereka.
Melihat gerakan mereka itu, Sun Hok dapat melihat bahwa mereka bukanlah orang sembarangan dan memiliki ilmu golok yang cukup tangguh, maka dia pun cepat mengeluarkan sulingnya.
Tubuhnya bergerak cepat sekali, didahului sulingnya dan terdengarlah suara nyaring berkali-kali disusul tamparan tangan kiri atau tendangan yang membuat lima orang itu satu demi satu terjungkal ke dalam air!
Tanpa banyak cakap lagi, Sun Hok menyambar tubuh gadis itu, dibawanya meloncat ke dalam perahu sewaannya dan ia pun mendayung perahu itu meninggalkan lima orang yang masih gelagapan di air dan mencoba untuk berenang ke perahu mereka kembali.
Dengan sebelah tangannya, Sun Hok membikin putus tali yang mengikat kaki dan tangan gadis itu, juga sekali renggut, saputangan yang menutupi mulut dan sebagian muka gadis itu terlepas.
Senja masih cukup cerah sehingga dia dapat melihait wajah itu dengan jelas.
Dan Sun Hok terpesona.
Tak disangkanya bahwa gadis yang ditolongnya dari tangan lima orang penjahat itu ternyata adalah seorang yang luar biasa cantik manisnya!
Sepasang mata yang lebar dan jeli itu memandang kepadanya, agak basah air mata, dan gadis itu pun segera berlutut di dalam perahu menghadap Sun Hok.
"Sungguh saya telah berhutang budi yang teramat besar kepada Kongcu. Kalau tidak ada Kongcu yang menolongku, entah apa yang akan terjadi dengan diriku, tentu lebih hebat daripada kematian. Aku tak mungkin dapat membalas budi kebaikan itu, maka biarlah setiap malam aku akan bersembahyang kepada Thian agar Kongcu diberi berkah selama hidupnya dan biarlah kelak dalam penjelmaan mendatang saya akan menjadi kuda atau anjing peliharaan Kongcu untuk membalas budi ini."
Ucapan itu dilakukan dengan kata-kata yang merdu dan halus, menggetar bercampur tangis tertahan.
Sun Hok mengerutkan alisnya.
memandang penuh perhatian, lalu berkata dengan halus.
"Nona, tidak perlu bicara seperti itu. Yang penting, ceritakan siapa engkau, di mana rumahmu dan bagaimana engkau tadi terjatuh ke dalam tangan lima orang penjahat itu."
Gadis itu kini menangis dan menutupi muka dengan kedua tangannya, tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
Sun Hok merasa iba sekali, akan tetapi dia membiarkan gadis itu menangis.
Perahu mereka telah tiba kembali di tempat di mana nelayan tua tadi menunggu.
"Kita turun di sini, Nona dan nanti kuantar engkau pulang. Perahu ini harus dikembalikan kepada pemiliknya."
Tukang perahu itu merasa heran melihat penyewa perahunya kembali dengan seorang gadis cantik, akan tetapi dia mengenal Can Sun Hok sebagai seorang pemuda kaya raya yang mendiami istana tua dan yang seringkali mengail di sungai, maka dia pun tidak banyak bertanya melainkan menerima setail perak dengan girang.
Dia menghaturkan terima kasih, lalu meluncurlah perahunya meninggalkan sepasang orang muda itu berada di pantai.
Sun Hok mengajak gadis itu mengambil pancing dan ikan yang tadi ditangkapnya.
Ikan itu sudah mati, akan tetapi masih segar.
"Aih, engkau mendapatkan ikan lee moncong putih yang besar dan segar Kongcu!"
Gadis itu berseru dan agaknya sudah lupa akan kesedihannya.
Melihat ini, Sun Hok menahan senyumnya.
Gadis ini agaknya bukan seorang pemurung dan dia pun ikut bersenang hati.
"Bagaimana kalau kupanggang ikan ini untukmu, Kongcu? Aku pandai memanggang ikan, akan tetapi sayang, tidak ada garam dan bumbu..."
"Aku selalu membawanya."
Kata Sun Hok dan dia pun mengeluarkan bungkusan garam, bawang dan bumbu yang lain.
"Aih, bagus sekali, Pernahkah engkau makan ikan panggang yang terbungkus tanah liat?"
Gadis itu bertanya.
Sun Hok menggeleng kepalanya dan gadis itu cepat menyingsingkan lengan bajunya sehingga nampak kedua lengannya yang halus dan putih mulus.
"Kongcu, apakah engkau mempunyai pisau? Aku memerlukannya untuk membersihkan ikan ini, membuang isi perutnya.."
Sun Hok tersenyum dan menggeleng kepala.
"Mana kubantu engkau."
Katanya dan dia pun mengambil ikan itu, dengan sepotong batu kecil yang runcing tajam dia membuka perut ikan itu, lalu menyerahkannya kembali kepada gadis itu.
Kemudian, dia memasangkan umpan cacing kepada mata kailnya dan duduk lagi memancing, kini penuh perhatian dan harapan untuk menangkap sedikitnya seekor lagi yang agak besar agar cukup untuk mereka berdua.
Entah mengapa, tiba-tiba saja bagi Sun Hok dunia ini seperti terjadi suatu perubahan luar biasa, dia merasa gembira dan penuh gairah.
Senja yang mulai remang-remang itu nampak indah bukan main, dan tempat yang sunyi itu, di mana hanya ada mereka berdua, kelihatannya sama sekali tidak sepi lagi.
Tak lama kemudian, kembali umpannya disambar ikan, Sun Hok menariknya dan sekali ini dia benar-benar bersorak gembira ketika melihat seekor ikan yang lebih besar dari tadi tergantung di ujung pancingnya.
"Horeee...!"
Dia berseru gembira dan seperti seorang anak kecil dia membawa tangkai pancing dengan ikan yang masih meronta-ronta itu kepada gadis yang sudah selesai membersihkan ikan pertama tadi.
Gadis itu pun kini sama sekali tidak kelihatan murung lagi, ikut pula tertawa dan gembira, sehingga untuk kedua kalinya Sun Hok terpesona.
Gadis ini ketika tertawa, nampak deretan gigi seperti mutiara dan di kedua ujung bibirnya nampak lesung pipit yang manis bukan kepalang "Wah, malam ini kita akan kekenyangan ikan!"
Teriak gadis itu.
Sun Hok lalu mengambil ikan itu, membuka perutnya dan menyerahkannya kepada Si Gadis yang dengan jari-jari tangan cekatan lalu membersihkan isi perutnya.
Sun Hok melihat betapa dengan gerakan tangan seorang ahli, gadis itu menaruhkan bumbu setelah mencuci daging ikan, lalu menutupi ikan itu seluruhnya dengan tanah liat.
Belum pernah selamanya dia melihat orang memanggang ikan seperti itu.
"Kita butuh api unggun!"
Kata gadis itu dan tanpa diperintah lagi, Sun Hok lalu mencari kayu kering, dan membuat api.
Sebentar saja tempat itu menjadi terang dengan api unggun.
Dengan dua tangkai kayu yang dipergunakan sebagai sepasang sumpit besar, gadis itu lalu memanggang dua ekor ikan yang kini sudah berada di dalam tanah liat.
Mereka duduk menghadapi api unggun, saling berhadapan, terhalang api unggun, akan tetapi bahkan dapat saling pandang karena wajah masing-masing tertimpa sinar api kemerahan.
Beberapa kali sinar mata mereka bertaut dan selalu Sun Hok yang menundukkan pandang mata lebih dahulu.
Biarpun usianya sudah dua puluh tiga, selama ini Sun Hok tidak pernah bergaul dengan wanita.
Kesenangannya hanyalah memperdalam ilmu silat, menjelajah ke gunung-gunung dan sungai-sungai, mencari kesibukan dalam kesepian.
Semenjak Wa Wa Lobo meninggal dunia, dia seperti kehilangan pegangan dan kadang-kadang terjadi perang di dalam batinnya.
Apakah dia harus membalaskan kematian ibu kandungnya, juga kematian Wa Wa Lobo, kepada Ceng Sui Cin?
Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Ceng Sui Cin, apalagi kepada puterinya, Cia Kui Hong, dia merasa kagum dan bahkan semua petuah yang pernah didengarnya dari Ceng Sui Cin, tak pernah dapat dilupakannya.
Menurut ajuran Wa Wa Lobo, sebagai seorang anak berbakti dia harus membalaskan kematian ibunya.
Akan tetapi, menurut nasihat Ceng Sui Cin, ibu kandungnya pernah melakukan penyelewengan, menjadi tokoh sesat dan memberontak dan bahwa satu-satunya cara baginya untuk berbakti kepada ibunya adalah dengan perbuatan-perbuatan baik untuk menebus semua dosa ibunya yang lalu!
Kini, dia bertemu dengan seorang wanita lagi yang secara mendadak telah menyita seluruh perhatiannya, membuat dia terpesona, padahal dia sama sekali tidak mengenal siapa wanita ini dan orang macam apa!
Kecantikannya yang khas itukah yang membangkitkan rangsangan dalam hati mudanya?
Ataukah sikap gadis itu demikian gembira?
Juga, biar nampak masih amat muda, namun demikian pandai membawa diri, dapat menguasai diri, tenang dan yakin akan kemampuan diri sendiri?
Tanah liat yang membungkus dua ekor ikan itu sudah mulai kering dan tidak tercium bau gurih seperti kalau Sun Hok memanggang ikan itu tanpa dibungkus tanah liat.
"Kenapa harus dibungkus tanah liat?"
Akhirnya Sun Hok bertanya karena sejak tadi, setiap kali beradu pandang, mereka hanya senyum-senyum saja, seolah-olah merasa canggung dan malu untuk bicara, seolah-olah tidak ada apa-apa lagi untuk dibicarakan karena kalau sampai mereka bicara, suasana yang demikian aneh dan menggembirakan itu akan terganggu.
Gadis itu memandang dan menyembunyikan senyum, lalu menunduk dan menggunakan sumpit besar itu membalikkan ikan dalam tanah liat itu.
"Kalau dipanggang begitu saja, ikannya akan bau asap, juga bisa gosong. Akan tetapi kalau dibungkus tanah liat, tidak berbau asap, tidak gosong dan panasnya lebih meresap, bumbunya akan terasa benar dan biarpun dagingnya masih nampak putih kemerahan seperti mentah, namun sesungguhnya sudah lunak dan matang. Memanggang seperti ini merupakan cara memanggang istimewa yang biasanya dihidangkan kepada para bangsawan di istana."
Sun Hok mengerutkan alisnya.
Gadis ini tahu akan kebiasaan memasak di istana bangsawan?
Apakah ia seorang puteri?
Melihat pakaiannya, walaupun cukup indah, namun tidaklah terlalu mewah.
Juga perhiasan di leher, telinga dan lengannya bukan dari emas murni berhiaskan permata mahal, hanya perhiasan sederhana saja.
Akan tetapi cara bicaranya demikian halus, seperti seorang terpelajar, dan gerak-geriknya pun lembut, suaranya merdu dan mengerti akan cara memasak hidangan para bangsawan!
Makin tertariklah hatinya, seperti menghadapi sebuah rahasia yang harus dipecahkan.
Setelah tanah liat itu nampak kemerahan, gadis itu mengetuk-ngetuknya dengan sepasang sumpit ranting dan berkata girang.
"Sekarang sudah matang, siap untuk dimakan setelah agak dingin."
Ia pun mengambil dua batang ikan itu dengan sumpitnya, dikeluarkannya dari api unggun yang dibiarkan hidup terus untuk menerangi tempat itu, juga untuk mengusir nyamuk.
Malam mulai masuk ldan cuaca mulai menjadi gelap.
Dengan gerakan yang lincah dan cekatan, gadis itu memukul-mukulkan batu sehingga tanah liat yang sudah kering itu menjadi pecah dan nampaklah daging ikan yang putih kemerahan karena sisik-sisik ikan itu melekat pada tanah liat.
Dan terciumlah bau yang sedap dan membuat Sun Hok tiba-tiba merasa lapar!
Dia menggunakan dua batang kayu sebagai sumpit, mengambil daging ikan dan memakannya.
Bukan main enaknya!
Begitu gurih, sedap dan benar saja, sedikit pun tidak ada bau asap atau gosong!
"Wah, lezat sekali!"
Dia memuji dan gadis itu tersenyum girang.
"Sayang bumbunya kurang lengkap, kalau lengkap lebih enak lagi. Biarlah lain kali kalau ada kesempatan, kalau ada bumbu-bumbu lengkap, akan kubuatkan engkau masakan-masakan yang lebih enak lagi, Kongcu"
Tiba-tiba ia menghentikan kata-katanya, seperti teringat akan sesuatu, matanya terbelalak dan ia pun berseru.
"Ah, apa yang kau katakan tadi? Aku telah lupa diri, lupa akan keadaanku dan lupa bahwa baru saja engkau telah menyelamatkan aku, dan... dan aku tidak tahu siapa Kongcu, engkau pun tidak tahu siapa aku.."
Melihat kegugupan gadis itu, Sun Hok tersenyum.
Dia tidak merasa seperti itu.
Dia merasa seolah-olah dia telah mengenal gadis ini selama bertahun-tahun, seolah-olah mereka adalah sepasang sahabat yang akrab dan tidak asing.
"Tenanglah, Nona. Ikan sudah dipanggang matang. Mari kita makan dulu, baru kita bicara tentang hal lain. Belum terlambat, bukan?"
Melihat sikap pemuda itu, gadis tadi dapat menguasai dirinya kembali.
Ia tersenyum, mengangguk dan mulai pula menyumpit daging ikan.
Mereka berdua makan tanpa bicara, hanya kadang-kadang saling pandang melalui sinar api unggun yang selalu ditambah kayu bakarnya oleh Sun Hok.
Bagi kedua orang itu, belum pernah mereka merasakan suasana yang demikian santai, damai dan juga makan demikian enaknya, walaupun tidak ada nasi dan hanya makan daging ikan saja.
Tanpa malu-malu keduanya makan sampai dua ekor ikan itu tinggal tulangnya saja.
Barulah Sun Hok mengeluarkan seguci anggur dari dalam buntalannya.
"Aku... aku tidak suka minum arak, takut mabok...!"
Kata gadis itu. Sun Hok menggeleng kepalanya.
"Bukan arak yang keras, Nona, melainkan anggur yang halus dan enak. Engkau takkan mabok biar habis sepuluh cawan sekalipun. Hanya sayang, aku tidak biasa membawa cawan. Maklum biasa aku minum sendirian, cukup meneguk dari guci. Nah, silakan, Nona. Engkau perlu minum setelah makan daging ikan."
Sun Hok menyerahkan guci anggurnya kepada nona itu sambil membuka sumbatnya.
Tercium bau yang harum dan sama sekali tidak keras seperti bau arak.
Kedua pipi gadis itu menjadi merah sekali.
Biarpun sinar api unggun itu sudah membuat wajahnya nampak merah, akan tetapi kini menjadi semakin merah dan mudah dilihat oleh Sun Hok.
Dengan kedua tangannya nona itu menolak dan berkata.
"Aih, Kongcu. Bagaimana aku berani? Engkau sendiri belum minum, bagaimana aku berani minum lebih dulu dan mengotori mulut guci?"
Sun Hok tertawa.
"Ha-ha, engkau lucu, Nona. Bagaimana mulut guci ini bisa kotor kalau engkau menenggak isinya? Mungkin terbalik, mulut guci inilah yang akan mengotori bibirmu, Nona. Akan tetapi jangan khawatir, guci ini selalu kucuci sampai bersih sebelum diisi anggur. Nah, minumlah, Nona."
Akan tetapi gadis itu tetap menolak.
"Tidak Kongcu. Aku tidak berani. Sepantasnya... engkau yang minum lebih dulu, baru... baru aku akan mencobanya."
"Eh, kenapa begitu?"
"Pertama, karena engkaulah pemilik guci itu, dan ke dua, karena engkaulah tuan rumahnya, dan ke tiga karena... engkau pria dan aku wanita."
Sun Hok melebarkan matanya dan tersenyum lagi.
Heran, belum pernah dia merasa segembira itu, belum pernah dia sebanyak itu tertawa dan tersenyum dalam waktu demikian singkat!
"Baiklah, aku akan minum lebih dulu, baru engkau!"
Dan dia pun meneguk beberapa teguk anggur dari dalam guci.
Enak bukan main, lebih enak daripada yang sudah-sudah.
Setelah merasa cukup, dia menyerahkan guci itu kepada gadis yang sejak tadi memandangnya penuh kagum.
Sekali ini, gadis itu tidak menolak.
Dengan hati-hati ditempelkannya bibir guci ke bibirnya yang merah basah itu dan ia pun meneguk anggur dari dalam guci.
Apa yang dikhawatlrkan tidak terjadi.
Ia tidak tersedak, dan ternyata isi guci itu sama sekali tidak keras.
Anggur yang manis, ada asamnya sedikit, sedap dan harum.
Enak sekali!
"Wah, terima kasih, Kongcu.
Anggur ini memang enak sekali dan segar!"
Katanya memuji. Kini mereka duduk berhadapan, terhalang api unggun.
"Sekarang bagaimana, Nona. Apakah aku harus mengantarmu pulang?"
"Pulang...?"
Dan tiba-tiba gadis itu kelihatan gelisah dan ketakutan.
"Pulang ke mana? Ah, Kongcu, aku... aku tidak mempunyai tempat tinggal lagi.."
"Ehh?"
Sun Hok terkejut dan heran.
"Engkau, seorang gadis seperti engkau ini tidak mempunyai tempat tinggal? Habis bagaimana dengan keluargamu? Orang tuamu atau... suamimu barangkali?"
Gadis itu menggeleng kepalanya.
"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, aku tidak mempunyai orang tua, aku tidak mempunyai suami atau saudara.."
"Tapi... tapi bagaimana mungkin itu? Dan engkau tadi tertangkap oleh lima orang jahat. Apakah yang telah terjadi. Nona?"
Gadis itu menarik napas panjang.
"Cerita tentang diriku amat panjang, Kongcu. Setelah aku berhutang budi dan nyawa, aku tidak ingin membikin susah Kongcu lebih lanjut lagi. Biarlah aku pergi, Kongcu, membawa nasib diriku yang malang. Dan sekali lagi terima kasih, semoga Thian yang membalas semua budi kebaikan Kongcu kepadaku."
Gadis itu lalu bangkit dan melangkah hendak pergi meninggalkan Sun Hok.
Pemuda itu terkejut dan sekali melompat dia telah menghadang di depan gadis itu.
"Nona! Kau mengatakan tidak mempunyai tempat tinggal, akan tetapi engkau akan pergi begitu saja? Lalu ke mana engkau hendak pergi?"
"Ke mana saja. Mungkin masih ada bekas kenalan yang sudi menampung diriku yang tidak berharga ini."
"Ah, Nona. Bukankah kita sudah berkenalan, bahkan... eh, kita sudah makan bersama seperti sahabat? Kalau begitu, marilah menjadi tamu di rumahku, Nona. Jangan khawatir, aku menjamin bahwa Nona akan aman berada di dalam rumahku."
"Aku hanya mengganggu dan menyusahkanniu saja, Kongcu."
"Tidak sama sekali! Marilah, mari, Nona. Aku mengundangmu menjadi tamuku yang terhormat dan di rumah nanti kita bicara."
Gadis itu hanya dapat mengangguk dan pergilah mereka meninggalkan tepi sungai itu setelah Sun Hok memadamkan api unggun.
Untung bahwa langit penuh bintang sehingga perjalanan menuju ke kota Siang-tan itu tidaklah begitu gelap.
Sun Hok terpaksa berjalan seenaknya, santai dan tidak mempergunakan ilmu berlari cepat seperti biasanya karena dia harus mengiringi seorang gadis yang lemah lembut.
Ketika mereka tiba di istana kuno itu, Si Gadis terbelalak dan menahan langkahnya di depan pintu gerbang.
"Aih, kiranya engkau seorang bangsawan besar, mendiami sebuah istana, Kongcu! Mana aku.. berani.. Mengganggumu?"
"Ih, jangan berlebihan, Nona. Aku tinggal seorang diri di sini. Memang istana ini peninggalan mendiang orang tuaku. Aku pun sebatang kara, yatim piatu dan tinggal di sini hanya dengan tiga orang pelayan tua. Mari, masuklah dan jangan khawatir."
Seorang kakek tukang kebun, seorang kakek dan nenek penjaga rumah dan merangkap tukang masak, menyambut kedatangan kongcu mereka.
Biarpun mereka merasa heran melihat majikan mereka pulang bersama seorang gadis muda yang cantik, namun mereka tidak berani bertanya sesuatu.
Sun Hok berkata kepada nenek yang menjadi pengurus rumah tangga di rumahnya.
"Nek, harap antarkan Nona ini ke dalam kamar tamu dan layani ia baik-baik. Kemudian, persiapkan makan malam untuk kami berdua di ruangan makan."
Kepada gadis itu Sun Hok berkata.
"Nona, silakan Nona mengikuti nenek ini ke kamar Nona, dan Nona dapat mandi dan beristirahat sebelum kita makan malam."
Gadis itu berkata.
"Aku akan membantu Nenek masak."
Ketika makan malam telah dihidangkan di ruangan makan, Sun Hok melihat gadis itu sama sekali bukan sebagai tamu, melainkan sebagai pelayan karena nona inilah yang membantu nenek masak dan menghidangkan semua masakan di atas meja.
Nenek itu pun dengan gembira berkata.
"Kongcu, Nona inilah yang memasak semuanya. Ia pandai masak! Dan ia yang memaksa diri untuk membantu mempersiapkan makanan ini."
Sun Hok memandang dengan senang.
Nona itu agaknya telah mandi, akan tetapi pakaiannya lucu, mengenakan pakaian bersih yang biasa dipakai nenek itu, agaknya terlalu besar dan sederhana sekali, pakaian pelayan!
"Ia memaksa meminjam pakaian saya, Kongcu,"
Kata Si Nenek, takut kalau disalahkan.
"Untuk sementara saja, Nek."
Kata gadis itu.
"Pakaianku terbawa orang jahat, biar besok aku akan membeli beberapa potong karena aku masih mempunyai simpanan uang sedikit."
Mereka kini duduk makan nasi dan masakan.
Berdua saja karena para pelayan dengan penuh pengertian meninggalkan mereka.
Para pelayan itu sudah tua, dan biarpun mereka tidak tahu hubungan apa yang terdapat antara dua orang muda itu, namun mereka tidak suka menjadi pengganggu.
Setelah makan malam dan mereka duduk berdua di serambi depan, barulah mereka memperoleh kesempatan untuk berkenalan!
Di bawah sinar lampu yang cukup terang, mereka bercakap-cakap.
"Nona, kiranya sekarang sudah tepat kalau aku mengetahui siapa dirimu dan apa yang telah terjadi denganmu sehingga engkau tertawan lima orang jahat itu. Ketahuilah, aku bernama Can Sun Hok, yatim piatu dan tinggal di sini bersama tiga orang pelayan tadi. Tidak ada apa-apa yang aneh tentang diriku untuk diceritakan dan kuharap engkau menceritakan segala yang telah terjadi denganmu, tentu saja kalau engkau percaya padaku."
Gadis itu menarik napas panjang dan wajahnya yang lembut dan cantik manis itu kini seperti tertutup awan tipis, nampak agak muram.
Akan tetapi ia tidak menangis, bahkan mencoba untuk tersenyum, senyum pahit.
Sun Hok dapat menduga bahwa semua ini, gadis itu tentu telah mengalami banyak penderitaan batin yang tersembunyi di balik wajah yang demikian cantik menariknya.
Gadis yang halus lembut, penuh kewanitaan, bukan seperti Cia Kui Hong dan ibunya, Ceng Sui Cin, yang merupakan wanita-wanita perkasa.
Gadis seperti ini membutuhkan perlindungan dan dia akan merasa senang untuk dapat menjadi pelindungnya.
"Namaku Bhe Siauw Cin, Can-kongcu."
Ia berhenti seperti hendak melihat tanggapan pemuda itu, apakah pernah mendengar nama itu ataukah belum.
"Nama yang bagus."
Kata Sun Hok yang melihat gadis itu menghentikan pembicaraannya.
Kembali gadis itu, Siauw Cin, menghela napas panjang.
"Engkau belum pernah mendengar namaku, hal ini saja menunjukkan bahwa engkau seorang pemuda bangsawan yang lain daripada semua pemuda di Siang-tan ini, Kongcu. Semua pemuda lain, kalau belum pernah melihatku, setidaknya tentu pernah mendengar namaku."
"Begitu terkenalkah engkau, Nona Bhe?"
"Betapa janggalnya. Engkau, seorang pemuda bangsawan tinggi yang kaya raya, menyebut aku Nona Bhe. Padahal, orang lain menyebut namaku Siauw Cin seperti nama boneka saja. Ya, orang lain menganggap aku tidak lain hanya sebagai boneka. Aku memang dikenal di kota ini, Kongcu, terutama oleh para pria yang suka mengejar kesenangan. Aku seorang gadis penyanyi, gadis penghibur."
"Ahhh...!"
Sun Hok benar terkejut karena tidak menyangka sama sekali.
Dia sendiri belum pernah keluyuran ke rumah-rumah hiburan, belum pernah bergaul dengan gadis penyanyi, gadis penghibur atau pelacur, akan tetapi dia tahu sampai betapa rendah dan hinanya martabat seorang gadis penghibur.
Hampir dia tidak dapat percaya bahwa gadis seperti ini adalah seorang gadis penghibur yang boleh menghibur setiap pria yang mampu dan suka membayarnya!
Siauw Cin menundukkan mukanya untuk menyembunyikan kepahitan yang membayang di wajahnya.
"Engkau... engkau mulai kecewa dan menyesal telah mengundangku ke rumah ini, Kongcu?"
Tanyanya sambil menundukkan muka, suaranya lirih sekali.
"Sama sekali tidak! Aku tadi berseru hanya karena terkejut dan tidak percaya sama sekali! Engkau seorang gadis penyanyi, gadis penghibur? Aku tidak percaya, Nona Bhe!"
Siauw Cin mengangkat mukanya dan tersenyum manis sekali.
"Ya Tuhan, baru sekarang inilah ada ucapan yang demikian menggirangkan hatiku, akan tetapi juga mendatangkan duka dan penyesalan. Baiklah, aku akan menceritakan riwayatku kepadamu, Kongcu. Belum pernah aku menceritakan riwayat hidupku kepada siapapun juga dan engkaulah orang pertama dan satu-satunya yang akan mendengar riwayatku."
Siauw Cin lalu bercerita.
Ia sejak kecil telah dijual oleh orang tuanya yang tidak mampu kepada keluarga bangsawan di kota raja.
Karena sejak kecil ia nampak mungil dan cantik, maka Ia pun oleh keluarga itu dididik sehingga pandai baca tulis, pandai melakukan pekerjaan kerajinan, masak dan lain-lain bahkan dilatih pula untuk memainkan alat musik, menari dan menyanyi.
Pendeknya, ia dilatih untuk menjadi seorang dayang yang baik.
Ketika ia berusia enam belas tahun, majikannya sendiri, seorang bangsawan tua di kota raja, tergila-gila kepadanya dan menggaulinya.
Karena sebagai dayang ia tiada bedanya dengan seekor anjing atau kucing peliharaan, atau sebuah benda mahal di rumah itu yang sepenuhnya dikuasai majikannya, Siauw Cin hanya mampu menangis ketika menyerahkan diri.
Hal ini diketahui oleh isteri majikannya dan ia pun dijual!
Ia dijual ke sebuah rumah hiburan yang besar di kota raja, dengan harga cukup tinggi mengingat ia masih muda, belum banyak terjamah pria, pandai bermain musik, menari dan menyanyi.
Sebentar saja nama Siauw Cin terkenal dikalangan para hartawan dan bangsawan yang suka berkeluyuran di rumah-rumah hiburan.
Ia menjadi kembang baru yang mahal harganya.
Dengan kedudukannya yang amat menguntungkan pemilik rumah hiburan.
Siauw Cin dapat menjual mahal.
Ia tidak sudi melayani segala macam orang, tidak mau menyerahkan diri secara sembarangan saja, melainkan ia pun berhak memilih.
Demikianlah gadis penghibur yang menjadi rebutan.
Ia nampak hidup bergelimang kemewahan dan kesenangan, namun sesungguhnya, seringkali kalau ia rebah seorang diri di dalam kamarnya, ia menangis menyesali nasib dirinya dan masa depannya yang suram..
Betapa pedih hatinya kalau ia secara terpaksa harus menyerahkan dirinya dipermainkan sesuka hatinya oleh seorang pria yang sama sekali tidak dicintanya!
Tak mungkin ia menolak mereka semua, karena hal itu tentu akan membuat pemilik rumah hiburan menjadi marah, dan ia bisa disiksa kalau terus-menerus menolak.
Biarpun jarang, ia harus sekali waktu mau menerima langganan yang royal.
Betapa memuakkan membiarkan diri digeluti seorang laki-laki tua botak yang gendut perutnya dan terengah-engah napasnya.
Ingin rasanya mati saja!
"Kemudian, entah mengapa aku sendiri tidak tahu, Kongcu.
Pagi tadi aku dijual kepada lima orang yang datang itu.
Aku dipaksa ikut bersama mereka, naik perahu itu dan katanya aku telah dibeli oleh bengcu mereka yang berjuluk Lam-hai Giam-lo.
Dapat kubayangkan betapa rasa takutku, karena baru mendengar namanya saja aku sudah merasa ngeri.
Apalagi lima orang itu bersikap kasar kepadaku.
Kemudian, muncullah engkau, Kongcu."
Sejak tadi Sun Hok mendengarkan dengan bermacam perasaan mengaduk batinnya.
Tak disangkanya bahwa gadis ini adalah seorang gadis penghibur, bukan seorang dara yang bersih tanpa noda, melainkan seorang wanita yang biarpun masih amat muda, sudah berulang kali terjatuh ke tangan bermacam pria!
Sungguh sukar untuk dapat dipercaya!
Gadis yang begini halus, sopan, lembut!
"Karena itu, ketika engkau bertanya tentang tempat tinggalku, aku menjadi bingung, Kongcu.
Aku telah dijual, berarti telah bebas dari rumah hiburan itu dan sampai mati pun aku tidak sudi kembali ke sana!
Lebih baik aku mati saja!"
Dan baru sekarang Siauw Cin tak dapat menahan lagi airmatanya yang bercucuran membasahi kedua pipinya.
Cepat ia mengusap air mata dengan saputangan sambil menundukkan mukanya.
Tangis yang wajar, bukan tangis buatan, dan Sun Hok dapat merasakan kebingungan hati wanita ini.
"Sungguh engkau seorang gadis yang bernasib malang sekali, Nona. Lalu, sekarang kalau engkau tidak sudi kembali kepada induk semangmu itu, apa rencanamu selanjutnya untuk melanjutkan perjalanan hidupmu yang penuh liku-liku itu?"
Cepat saja Siauw Cin dapat menghentikan tangisnya.
Sudah terlampau banyak ia menangis, sudah pandai ia menekan perasaan duka di hatinya.
Ia menghapus sisa air matanya dan dengan sepasang mata kemerahan ia memandang kepada pemuda itu.
"Kongcu, sudah terlampau lama saya hidup dengan batin tersiksa, bahkan ketika berjumpa denganmu, Kongcu, semakin nampak jelas sekali betapa kotor kehidupanku yang sudah lampau. Aku berjanji dalam hatiku, ketika kita sama-sama makan ikan di tepi sungai itu, Kongcu, bahwa saya akan meninggalkan kehidupan lama. Lebih baik mati daripada aku harus kembali menjadi gadis penghibur! Aku akan mencari pekerjaan, menjadi pelayan, menjadi tukang masak, apa saja, bahkan kalau perlu mengemis, daripada menjadi wanita penghibur. Itulah tekadku, Kongcu. Besok pagi-pagi aku akan pergi dan mencari pekerjaan, dari rumah ke rumah. Mustahil tidak akan ada yang suka menerima aku sebagai tukang cuci atau tukang masak atau pengasuh anak kecil..."
"Kalau begitu, engkau tidak perlu pergi, Nona. Biarlah engkau kuterima bekerja di sini saja, menjadi tukang masak."
Cepat Sun Hok berkata sambil menatap wajah yang cantik halus kemerahan itu.
Siauw Cin mengangkat mukanya dan kembali dua sinar mata bertaut sampai lama.
Akan tetapi sekali ini Siauw Cin menundukkan mukanya dan dengan suara lirih ia berkata.
"Can-kongcu, aku... aku tidak tega untuk menodai namamu yang bersih.."
"Eh, apa maksudmu?"
"Semua orang tahu siapa diriku, dan kalau mereka mendengar bahwa aku sekarang di sini, tentu nama Kongcu akan terseret dan ternoda..."
"Peduli amat dengan pendapat orang lain! Bukankah engkau di sini kuterima sebagai tukang masak?"
"Takkan ada yang mau percaya, Kongcu. Engkau seorang Kongcu yang hidup membujang, belum berkeluarga, tentu mereka akan menyangka yang bukan-bukan, apalagi kalau mendengar bahwa Kongcu yang telah merampasku dari tangan lima orang penjahat itu."
"Nona..."
"Kongcu ingin menerimaku sebagai seorang tukang masak, seorang pelayan, akan tetapi masih menyebutku Nona. Bukankah ini saja sudah janggal sekali?"
"Baiklah, Siauw Cin, aku bermaksud menolongmu. Aku kasihan kepadamu dan aku girang sekali engkau hendak meninggalkan cara hidupmu yang lama. Engkau tinggallah saja di sini, memasak untukku dan takkan ada orang yang berani mengganggu selembar pun rambutmu."
Kembali mereka saling pandang dan perlahan-lahan kedua mata gadis itu kembali menjadi basah tanpa ia ketahui.
Pandang mata pria ini!
Belum pernah ia bertemu dengan pandang mata seperti itu!
Biasanya, ia sudah terbiasa oleh pandang mata pria kalau ditujukan kepadanya.
Pandang mata pria itu tentu akan menjelajahi seluruh tubuhnya, dari rambut turun sampai ke kaki, seperti pandang mata seorang pedagang sapi yang sedang menaksir seekor sapi yang akan dibelinya, atau seperti pandang mata seorang yang sedang memilih sebuah benda indah yang hendak dibelinya.
Pandang mata pria itu lalu penuh dengan kagum yang penuh nafsu berahi.
Akan tetapi, pandang mata Can-kongcu ini sama sekali tidak seperti itu!
Memang ada rasa kagum dalam sinar mata yang kadang mencorong menakutkan itu, akan tetapi, rasa kagum yang membayangkan iba yang mendalam!
"Bagaimana, Siauw Cin?
Maukah engkau menjadi tukang masakku di rumah ini?
Kalau engkau tidak mau, tentu saja aku tidak akan memaksamu."
"Aku? Tidak mau? Aih, Can-kongcu, bagaimana mungkin aku tidak mau menerima dengan tangan dan hati terbuka? Bahkan inilah kesempatan bagiku untuk membalas budi Kongcu, walaupun hanya merupakan setetes air di samudera. Kalau tadi saya meragukan, hanya karena saya hendak menjaga nama baik Kongcu sendiri. Tentu saja saya mau dan mau sekali, Kongcu!"
Sun Hok tersenyum, lega hatinya. Akan tetapi, Siauw Cin lalu bangkit berdiri dan mundur.
"Eh, apalagi ini? Engkau belum selesai bicara denganku."
Siauw Cin membungkuk.
"Kongcu, lupakah Kongcu bahwa mulai saat ini saya menjadi pelayan Kongcu, khususnya tukang masak? Sungguh tidak pantas seorang pelayan bercakap-cakap dengan majikannya. Saya sekarang bukan tamu lagi, hal ini harap Kongcu ingat baik-baik, kalau Kongcu tidak menginginkan orang lain mencemooh Kongcu. Dan saya akan menjaga agar Kongcu tidak dicemooh orang. Selamat malam, Kongcu, saya harus memberitabukan kepada kedua kakek dan nenek. Atau, barangkali Kongcu masih hendak memerintah sesuatu kepada saya?"
Sun Hok tersenyum, meragu, lalu menggeleng kepala.
"Baiklah, selamat tidur, Siauw Cin. Aku... aku sungguh girang sekali engkau menerima permintaanku, tinggal di rumah ini."
Dia mengikuti langkah gadis itu dengan pandang matanya sampai bayangan gadis itu menghilang di balik pintu yang menuju ke ruangan belakang.
Demikianlah keadaan Can Sun Hok yang namanya disinggung oleh Jaksa Kwan kepada Hay Hay, bahkan Jaksa Kwan minta kepada Hay Hay agar suka berkenalan dengan Sun Hok dan membujuknya agar suka pula turun tangan bersama para pendekar menentang gerakan yang dipimpin oleh datuk sesat Lam-hai Giam-lo.
Gadis bernama Siauw Cin itulah gadis penghibur yang dipergunakan Jaksa Kwan untuk memancing keluar Sun Hok.
Dialah yang menyuruh orang-orangnya menyamar sebagai utusan Lam-hai Giam-lo membeli gadis itu dan memaksanya pergi naik perahu, tepat pada saat Sun Hok mengail ikan di sore hari itu.
Memang pancingannya berhasil membuat Sun Hok turun tangan menyelamatkan gadis itu.
Akan tetapi agaknya tidak sampai menggerakkan hati pemuda itu untuk menentang orang yang disebut oleh gadis itu sebagai bengcu yang menyuruh orangnya memaksa ia pergi, yaitu Lam-hai Giam-lo.
Menurut penyelidikan Jaksa Kwan, Sun Hok kini bahkan mengambil gadis itu menjadi pelayan!
Setelah satu bulan tinggal di dalam rumah Can Sun Hok, memasak dan membantu nenek pengurus rumah tangga, setiap hari bertemu dengan pemuda itu, Siauw Cin mengalami dan menghadapi sesuatu yang membuat ia kadang-kadang merasa menjadi orang paling berbahagia di dunia ini, akan tetapi kadang-kadang membuat ia gelisah bukan main, khawatir, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa!
Ia melihat dengan jelas betapa pemuda itu bukan hanya kasihan kepadanya, melainkan jatuh cinta!
Ya, ia tahu benar akan hal itu.
Pemuda yang menjadi majikannya itu, pemuda bangsawan kaya raya yang alim, tampan, gagah dan memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti seorang pendekar perkasa, ternyata telah jatuh cinta padanya!
Belum pernah Sun Hok menyatakan cintanya dengan kata-kata, namun pernyataan cinta kasih itu jelas nampak oleh Siauw Cin melalui sinar matanya, melalui getaran suaranya.
Belum pernah ada pria apalagi seperti Sun Hok, yang mencintanya seperti itu.
Para pria yang pernah menguasai dan menggaulinya hanya mencinta tubuhnya saja, cinta nafsu yang akan musnah setelah terpuaskan, seperti mendung tebal lenyap sehabis hujan lebat.
Tentu saja ia merasa berbahagia bukan main.
Akan tetapi, di dalam kebahagiaannya ini timbul rasa cemas dan gelisah karena ia pun mendapat kenyataan yang meyakinkan bahwa ia sendiri juga jatuh cinta kepada Can Sun Hok!
Hal ini pun selama hidupnya belum pernah dirasakan!
Dan justeru cintanya inilah yang membuat ia merasa gelisah bahwa pemuda itu jatuh cinta padanya.
Can Sun Hok, seorang pemuda bangsawan kaya raya, selama hidupnya belum pernah bergaul dengan wanita, hal ini ia yakin benar, seorang pendekar gagah perkasa, pendeknya, seorang pemuda pilihan.
Dan ia?
Seorang bekas wanita penghibur!
Gadis bukan perawan lagi yang sudah digauli banyak pria!
Seorang bekas pelacur tingkat tinggi atau mahal!
Betapa mungkin ia membiarkan pria yang dicintanya, dipuja dan dikaguminya itu sampai terikat dengan seorang perempuan seperti dirinya.
Kasihan Can Sun Hok!
Tidak, ia tidak boleh membiarkan hal itu terjadi!
Inilah yang membuat ia kadang menangis di tengah malam dan di dalam batinnya terjadi perang hebat.
Sun Hok memang tidak pernah menyatakan cintanya lewat kata-kata.
Akan tetapi sikapnya terhadap Siauw Cin bukan sikap seorang majikan terhadap pelayannya.
Sering ia mengajak Siauw Cin memancing ikan di tepi sungai dan memasak ikan itu di situ juga, untuk dimakan bersama.
Juga, segera setelah ia tahu bahwa Siauw Cin pandai bermain musik, bernyanyi dan menari, ia pun sering bermain suling dan yang-kim bersama gadis itu.
Kadang-kadang dia bermain yang-kim dan Siauw Cin meniup suling atau sebaliknya, atau dia bermain yang-kim mengiringi Siauw Cin menyanyi atau menari.
Hubungan mereka itu, kalau dilihat orang lain, seperti hubungan antara sahabat atau saudara saja, bukan seperti majikan dengan pelayannya.
Tiga orang pelayan tua itu pun bukan orang yang tidak berpengalaman.
Mereka tahu bahwa majikan mereka jatuh cinta kepada pelayan baru itu.
Dan mereka bertiga pun sayang kepada Siauw Cin yang memiliki watak yang halus dan rendah hati.
Bahkan Siauw Cin juga mengaku siapa dirinya kepada mereka, mengaku bahwa dahulunya adalah seorang wanita penghibur yang kini sudah bersumpah meninggalkan cara hidup yang dahulu.
Tiga orang pelayan tua itu maklum pula bahwa majikan mereka terlalu tinggi kedudukannya, dan bahwa Siauw Cin bukan pasangan yang cocok untuk menjadi calon isteri.
Akan tetapi apa salahnya kalau menjadi seorang selirnya?
Tentu saja mereka tidak berani mencampuri dan mereka hanya ikut bergembira melihat betapa terjadi perubahan dalam kehidupan Sun Hok.
Kini, baru sebulan setelah Siauw Cin berada di situ, Sun Hok menjadi periang, wajahnya selalu berseri, makannya banyak, suka bermain musik dan pakaiannya juga menjadi rapi, tubuhnya menjadi agak gemuk!
Bahkan lenyap sudah sifat suka termenung semenjak kematian Wa Wa Lobo.
Pada suatu malam bulan purnama.
Malam belum larut dan bulan purnama baru muncul, menerangi permukaan bumi.
Malam itu dimulai indah sekali.
Udara sejuk, angin hanya bersilir lembut, di musim semi taman penuh bunga semerbak mengharum.
Sun Hok mengajak Siauw Cin bermain suling dan yang-kim di dalam taman mereka, di samping gedung.
Bahkan tiga orang pelayan tua diajak pula menikmati malam bulan purnama indah di situ.
Mereka hanya duduk di atas tikar yang dibentangkan diatas petak rumput yang tebal dan lunak, dekat kolam ikan.
Anggur dan kueh-kueh dihidangkan.
Melihat bulan purnama, Siauw Cin menarik napas panjang.
Hal ini nampak oleh Sun Hok.
"Eh, bulan purnama demikian indah, mengapa engkau malah menghela napas panjang. Siauw Cin?"
Tanyanya.
"Apakah Kongcu tadi melihat seekor burung kecil terbang melayang di sana?"
Siauw Cin menunjuk ke arah bulan, Sun Hok menggeleng kepala akan tetapi nenek pelayan bilang bahwa ia tadi ada melihatnya, seekor burung kecil.
"Saya pernah melihat burung kecil terbang melayang di bawah sinar bulan purnama dan saya mempunyai sebuah lagu untuk itu, Kongcu."
"Bagus! Nyanyikan lagu itu untuk kami, Siauw Cin!"
Kata Sun Hok dengan gembira.
"Ah, nyanyian itu tidak menggembirakan, tentang kisah burung murai yang malang."
"Tidak mengapa, kalau engkau yang menyanyikan tentu indah."
Melihat Siauw Cin meragu, tiga orang pelayan yang terbawa oleh kegembiraan suasana, ikut pula membujuk.
Akhirnya gadis itu pun menurut.
"Biar kumainkan lagunya beberapa kali dengan suling agar Kongcu dapat mengenalnya dan kalau sudah dapat, nanti Kongcu dapat mengiringi saya bernyanyi dengan memainkan yang-kim."
Katanya.
Sun Hok mengangguk gembira dan gadis itu pun mulai meniup suling.
Suara suling mengalun lirih, indah sekali dan ternyata lagunya sederhana saja sehingga baru memainkan tiga empat kali saja, Sun Hok yang memang berbakat sudah dapat menghafalnya.
"Sekarang coba dengarkan aku memainkan lagu itu dengan yang-kim. Kalau sudah benar, baru engkau bernyanyi dan aku mengiringimu dengan yang-kim."
Sun Hok lalu memainkan yang-kimnya dan ternyata memang dia sudah dapat hafal sehingga permainannya indah, dipuji oleh Siauw Cin dan tiga orang pelayannya.
"Nah, sekarang nyanyikanlah lagu itu, tentang murai itu, aku akan mengiringi dengan yang-kim."
Kata Sun Hok gembira.
Kemudian, di antara suara berkencringnya yang-kim yang bening, terdengarlah suara merdu dari mulut Siauw Cin, dengan kata-kata yang indah pula, didengarkan penuh perhatian oleh Sun Hok dan tiga orang pelayannya.
"Burung murai terbang melayang ingin mencapai bulan di awang-awang murai betina bodoh janganlah mimpi sang bulan bagimu terlalu tinggi! Murai melihat bulan terbang di air telaga ia meluncur mengejar dan tenggelam binasa habislah kisah murai dan bulan purnama!"
Tiga orang pelayan itu bertepuk tangan memuji.
Memang indah sekali suara Siauw Cin, dan diiringi yang-kim yang dipetik dengan mahirnya oleh jari tangan Sun Hok, merupakan lagu yang amat indah.
Namun, Sun Hok tidak bertepuk tangan dan memandang kepada Siauw Cin yang menundukkan mukanya.
Gadis itu nampak berduka.
Tiba-tiba terdengar suara orang.
"Hebat, sungguh nyanyian yang amat merdu dan indah, diiringi yang-kim yang hebat pula. Mengagumkan sekali!"
Sun Hok cepat mengangkat muka memandang dan ternyata di pintu gerbang taman itu telah berdiri seorang pemuda.
Seorang pemuda yang usianya sebaya dengannya, wajahnya tampan dan menarik karena wajah itu selalu dihias senyum ramah, dengan sepasang mata yang bersinar sehingga wajah itu nampak berseri selalu.
Kepalanya tertutup sebuah caping lebar .
Murai betina jelita kembalilah ke dunia banyak murai jantan perkasa menantimu dengan hati cinta!
Pemuda bercaping lebar itu bernyanyi, lagunya mirip dengan yang dinyanyikan Siauw Cin tadi, dan memang dia pandai sekali bernyanyi untuk mengimbangi lagu tadi, suaranya pun merdu sehingga tiga orang pelayan tua yang sedang bergembira itu pun bertepuk tangan.
Diam-diam Siauw Cin juga memuji pemuda itu karena sebagai seorang ahli, ia tahu bahwa pemuda yang baru datang ini memiliki bakat yang amat baik untuk membuat sajak dan bernyanyi seketika untuk mengimbangi nyanyiannya tadi.
Bahkan nyanyian itu merupakan hiburan bagi Si Murai betina agar jangan mengharapkan terlalu jauh, melainkan kembali kepada kenyataan bahwa murai betina itu jodohnya murai jantan bukan bulan purnama!
Akan tetapi, Sun Hok mengerutkan alisnya.
Dia tidak mengenal orang ini, dan tahu-tahu orang ini berada di pintu gerbang taman rumahnya, tanpa ijin, masuk begitu saja, bahkan lancang mulut ikut pula bernyanyi!
Dia pun bangkit berdiri dan dengan perlahan dia lalu melangkah maju.
Mereka berhadapan, dalam jarak tiga meter, saling pandang seperti saling menyelidiki.
Pemuda bercaping lebar itu masih tersenyum dan wajahnya berseri, mengajak bersahabat.
Akan tetapi Sun Hok mengerutkan alisnya, penuh kecurigaan.
"Siapakah engkau dan mau apa engkau datang mengganggu kami?"
Tanya Sun Hok sambil memandang tajam.
Pemuda bercaping lebar itu bukan lain adalah Hay Hay.
Selain menerima anjuran Jaksa Kwan untuk berkenalan dengan pemuda yang menurut jaksa itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, dia pun datang berkunjung pada malam hari itu.
Malam belum larut, dan terang bulan.
Ketika dia lewat di depan istana kuno itu, dia mendengar suara nyanyian tadi.
Tentu saja hatinya tertarik bukan main dan dia pun segera melangkah dan mendekati taman, mengintai dan mendengarkan.
Melihat gadis cantik manis itu, dia pun teringat akan cerita Kwan-taijin tentang gadis panggilan dari kota raja yang dipergunakan sebagai umpan agar pemuda yang bernama Can Sun Hok itu keluar dan timbul semangatnya untuk menentang persekutuan kaum sesat yang digerakkan oleh Lam-hai Giam-lo.
Akan tetapi, pemuda itu tetap acuh, demikian kata Jaksa Kwan.
Dan kini, melihat keadaan pemuda itu, dan mendengarkan nyanyian merdu gadis itu, Hay Hay dapat menduga apa yang telah terjadi!
Kiranya gadis itu agaknya jatuh cinta kepada penolongnya, kepada pemuda itu.
Dan begitu dia berhadapan dan saling pandang dengan pemuda itu, dia pun tidak menyalahkan gadis itu.
Memang seorang pemuda yang tampan dan gagah, pantas untuk dicinta seorang gadis cantik yang bagaimanapun juga.
Akan tetapi, dia pun teringat bahwa gadis cantik yang bernyanyi ini hanya seorang gadis penghibur, yang tentu saja, seperti isi nyanyiannya, merasa tidak sepatutnya berjodoh dengan seorang pemuda bangawan seperti Can Sun Hok.
Gadis itu mengumpamakan dirinya seekor murai betina yang merindukan bulan!
Sungguh kasihan.
Mendengar teguran Sun Hok yang kelihatan tidak senang itu, Hay Hay tersenyum dan dia memberi hormat dengan bersoja, yaitu mengangkat kedua tangan ke depan dada dengan tubuh agak dibungkukkan.
"Maaf kalau aku mengganggu. Terus terang saja, aku datang untuk bertemu dan bicara dengan seorang Kongcu yang bernama Can Sun Hok."
Sun Hok mengamati wajah yang agak tersembunyi di bawah caping itu dengan penuh perhatian.
Hay Hay sengaja menurunkan capingnya sehingga tergantung di punggungnya dan wajahnya nampak jelas.
Sun Hok kagum.
Wajah seorang pemuda yang tampan, gagah dan ramah sekali, bukan wajah penjahat.
Akan tetapi hatinya tetap merasa tidak senang karena dia merasa terganggu.
Lenyaplah kegembiraan yang dirasakannya ketika dia hanya bersama Siauw Cin dan tiga orang pelayannya tadi.
Hilanglah suasana meriah dan suasana santai.
"Akulah Can Sun Hok, akan tetapi aku tidak pernah mengenalmu!"
Katanya, tidak ramah untuk memperlihatkan kekesalan hatinya.
"Memang kita tidak pernah saling jumpa, Can-kongcu. Namaku Hay Hay dan karena aku mendengar bahwa engkau adalah seorang pendekar muda yang berilmu tinggi, maka hatiku tertarik sekali dan aku ingin sekali datang berkunjung dan berkenalan denganmu."
Sun Hok mengerutkan alisnya.
Dia tidak mengenal nama Hay Hay, dan pula saat itu dia sama sekali tidak ada keinginan untuk berkenalan dengan orang lain, apalagi dia belum tahu orang macam apa adanya pemuda yang mengaku bernama Hay Hay ini.
"Akan tetapi, aku tidak ingin berkenalan denganmu, dan aku tidak mempunyai waktu. Sobat, harap engkau pergi dan jangan mengganggu kami. Pula, di malam hari seperti ini bukan waktunya orang berkunjung untuk berkenalan."
Suaranya masih halus, namun nada suara itu jelas mengusir!
"Can-kongcu, ketahuilah bahwa aku datang untuk bicara denganmu tentang gerakan persekutuan kaum sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo.
Kukira sudah menjadi kewajiban seorang pendekar seperti Kongcu ini untuk bangkit dan menentang persekutuan jahat yang amat berbahaya bagi keamanan hidup rakyat jelata.
Maukah engkau menerimaku sebagai seorang sahabat dan kita bicara tentang itu?"
"Hemm, apakah. engkau seorang pendekar?"
Tanya Can Sun Hok, suaranya agak memandang rendah dan mengejek.
Hay Hay tertawa dan merasa lucu.
Dia sendiri belum pernah bertanya apakah dia seorang pendekar, maka begitu ada yang bertanya secara demikian langsung, dia merasa lucu.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, Kongcu. Akan tetapi setidaknya aku merasa penasaran dan ingin menentang gerakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo."
Tiba-tiba Siauw Cin yang sejak tadi hanya mendengarkan saja, berkata kepada Sun Hok.
"Can-kongcu, agaknya Kongcu yang datang ini membawa berita amat penting. Lam-hai Giam-lo adalah seorang yang menyuruh anak buahnya untuk menculik aku, apakah Kongcu tidak merasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang dia?"
Mendengar ini, Hay Hay lalu membalikkan tubuhnya menghadapi Siauw Cin dan pandang matanya penuh kagum.
"Sungguh berbahagia sekali mataku dapat melihat seorang gadis secantik bidadari seperti Nona, telingaku mendengar nyanyian sorga seperti yang Nona nyanyikan tadi, dan kini mendengar pula pendapat yang amat bijaksana. Sukarlah di dunia ini mencari seorang gadis kedua sehebat Nona. Harap jangan sebut aku Kongcu, karena aku hanyalah seorang pemuda pengelana biasa saja, Nona yang mulia."
Sepasang mata itu terbelalak dan Siauw Cin memandang kepada Hay Hay, tersenyum lebar, lalu menutup kembali mulutnya, mukanya menjadi kemerahan.
Bukan main pemuda ini.
Kata-katanya demikian penuh madu, manis merayu dan baru sekarang ia merasa dipuji-puji orang sampai ke langit ke tujuh, bukan sekedar rayuan seorang laki-laki yang tergila-gila karena nafsu.
Dan ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu yang membuatnya tiba-tiba menjadi lemah, tunduk dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kalau begitu, engkau tentu seorang Taihiap (Pendekar Besar), dan harap jangan sebut aku Nona yang mulia, Taihiap, karena aku hanyalah seorang pelayan yang hina dan setia dari Can-kongcu."
Katanya merendah dengan suara merdu.
"Nona, engkau bukan seorang pelayan yang setia, akan tetapi juga seorang gadis secantik bidadari yang mencinta majikannya dengan segenap badan dan nyawa.."
"Hei, orang asing! Tutup mulutmu dan lekas pergi dari sini!"
Bentak Sun Hok yang mukanya merah sekali mendengar ucapan Hay Hay itu.
Akan tetapi, anehnya Siauw Cin menengahi dan berkata kepada majikannya.
(Lanjut ke
Jilid 34) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 34
"Kongcu, biarkan dia bicara. Saya kira dia ini seorang yang jujur dan baik, tidak berniat buruk "
"Ha-ha, engkau sungguh seorang gadis yang berpenglihatan tajam, Nona manis. Jangan khawatir, pria mana pun yang kejatuhan cintamu, sudah pasti akan membalasnya, karena pria mana di dunia ini yang tidak akan tergila-gila kepada seorang gadis secantik engkau?"
Sun Hok tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Wuuut!
Dia sudah meloncat dan berdiri berhadapan dengan Hay Hay.
"Keparat! Apakah engkau datang sengaja hendak menantang aku? Hay Hay, kalau itu namamu, tidak perlu engkau merayu Siauw Cin, akan tetapi hadapilah aku sebagai laki-laki kalau memang engkau mencari keributan di sini!"
"Kongcu... jangan. Jangan memusuhinya, aku yakin bahwa dia seorang yang baik hati."
Siauw Cin yang sudah berada dalam kekuasaan Hay Hay yang mempengaruhi dengan sihirnya itu, kini memegang lengan Sun Hok dan berusaha menarik pemuda itu mundur dan jangan menyerang Hay Hay.
Hay Hay tersenyum dan melepaskan kekuatan sihirnya.
Ketika kekuasaan sihir itu lenyap, tiba-tiba Siauw Cin menyadari betapa ia memegangi lengan itu dan melangkah mundur dengan bingung.
"Can-kongcu, agaknya Nona pelayanmu itu lebih pandai menilai orang. Percayalah, aku datang bukan untuk memusuhimu atau membikin ribut. Melainkan untuk bicara denganmu mengenai gerakan kaum sesat yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Kongcu, kapan lagi engkau akan berbakti kepada nusa dan bangsa, akan mempergunakan kepandaianmu demi kepentingan rakyat kalau tidak sekarang?"
Akan tetapi Sun Hok sudah marah sekali.
Pemuda ini perayu besar dan sungguh lancang sekali bicara tentang cinta dalam hati Siauw Cin terhadap dirinya, bahkan menyinggung cintanya terhadap gadis itu.
Bagaimana begitu muncul pemuda ini dapat menduga dengan tepat isi hatinya dan isi hati Siauw Cin?
"Baiklah, akan tetapi aku harus melihat dulu orang macam apa yang hendak bicara dengan aku tentang pembelaan terhadap rakyat.
Apakah engkau benar seorang pendekar ataukah hanya seorang laki-laki yang lancang mulut dan pandai merayu.
Nah, majulah dan mari kita main-main sebentar, ingin aku melihat kelihaian tangan kakimu.
Bukan sekedar mulutmu!"
Setelah berkata demikian, Can Sun Hok sudah menerjang ke depan, mengirim serangan dengan kedua tangan terbuka.
Tangan kirinya mencengkeram ke arah muka Hay Hay sedangkan tangan kanannya, yang juga terbuka, dari bawah menusuk ke arah perut.
Serangan pertama ini untuk menarik perhatian sedangkan tangan kanan yang merupakan serangan inti.
Serangan ini berbahaya sekali dan sekali pandang saja maklumlah Hay Hay bahwa pemuda ini memiliki dasar ilmu silat golongan sesat yang sifatnya curang dan kejam, juga amat berbahaya, tidak memperhatikan segi keindahan, melainkan segi hasilnya walaupun curang dan kejam sekalipun.
"Hemmm, bagus!"
Teriaknya dan dengan lincahnya dia pun mengelak.
Dengan langkah Jiauw-pou-poan-soan, berputar-putaran, dia dapat mengelak dengan mudah dan walaupun lawannya menyusulkan serangan bertubi-tubi sampai tujuh jurus berantai, Tetap saja semua serangan tidak dapat menyentuhnya.
Jiauw-pou-poan-soan adalah langkah ajaib berputaran yang dipelajari Hay Hay dari See-thian Lama, berdasarkan ilmu langkah perbintangan ditambah ketinggian ilmu gin-kang (meringankan tubuh).
Jangankan hanya satu orang, biar ada sepuluh orang mengepung dan mengeroyoknya, dengan senjata sekalipun, tidak akan mudah dapat mengenai tubuh Hay Hay kalau dia memainkan ilmu langkah ajaib ini.
Tentu saja Can Sun Hok menjadi terkejut dan juga penasaran sekali.
Serangannya itu bertubi-tubi dan cepat sekali karena dia ingin cepat merobohkan lawan ini, akan tetapi sedikit pun tidak pernah menyentuh tubuh lawan yang selalu lenyap pada saat serangannya tiba, seperti menyerang bayangan setan saja.
"Pengecut jangan lari saja. Balaslah menyerang kalau engkau mampu!"
Bentak Can Sun Hok dengan marah karena dia merasa penasaran dan merasa dipermainkan.
"Sabarlah, Can-kongcu. Kita bukan bermusuhan, melainkan hanya main-main untuk menguji kepandaian dan saling berkenalan, ingat?"
Sun Hok semakin penasaran karena selain dapat terus mengelakkan semua serangannya, lawan itu masih sempat pula bicara dengan nada berkelakar!
Dia pun teringat akan ilmu Pukulan baru yang sudah dikuasainya selama tiga tahun ini, yaitu yang dipelajarinya dari kitab peninggalan ibu kandungnya.
Tiba-tiba dia menggerakkan kedua tangannya, menggosok kedua telapak tangannya sambil mengerahkan tenaga dan menahan napas dan kini, begitu dia menggerakkan kedua tangannya untuk menyerang lagi, Hay Hay mencium bau harum dari kedua telapak tangan itu, sambaran tangan kiri dapat dielakkan, akan tetapi bau wangi menyambar hidungnya membuat pandang matanya berkunang.
"Ihhh.!"
Hay Hay cepat menguasai dirinya dan menangkis lengan kanan lawan yang menghantam dadanya, sambil mengerahkan tenaganya.
Baru sekali ini dia menangkis karena sudah tidak sempat mengelak ketika bau harum itu membuat matanya berkunang.
"Dukk!"
Akibat benturan kedua lengan ini, tubuh Sun Hok terhuyung ke belakang.
Pemuda ini terbelalak.
Bukan main kuatnya lengan lawan yang menangkisnya tadi dan mulailah dia menyadari bahwa Hay Hay bukan sekedar pemuda yang lihai mulutnya, akan tetapi lihai pula ilmu silatnya dan memiliki tenaga sinkang yang luar biasa kuatnya.
Hal ini selain mendatangkan rasa penasaran, juga menimbulkan kegembiraan hatinya untuk menguji kepandaiannya dengan sungguh-sungguh.
Karena tahu bahwa lawan lihai, dia berani mengerahkan seluruh kepandaiannya dan tenaganya.
Kini dia menghujankan serangan dengan Ilmu Pukulan Siang-tok-ciang (Tangan Racun Wangi) yang amat hebat itu.
Akibat dari ilmu ini, di sekeliling tempat itu, tercium bau wangi, akan tetapi anehnya, Siauw Cin dan tiga orang pelayan yang menonton perkelahian dan mencium bau wangi ini, menjadi pening dan terpaksa mereka menjatuhkan diri duduk di atas rumput!
Demikian hebatnya pengaruh hawa beracun itu.
Apalagi kalau sampai terkena Pukulan tangan yang mengandung hawa beracun itu!
Hay Hay juga terkejut dan makin yakinlah hatinya bahwa biarpun pemuda ini seorang bangsawan dan oleh Jaksa Kwan dianggap sebagai seorang pendekar, namun jelas bahwa pemuda ini menerima pendidikan dari datuk sesat melihat dari ilmu-ilmunya yang sesat dan kejam.
Dia harus mengumpulkan hawa murni untuk melawan hawa beracun berbau wangi itu dan melihat betapa gerakan ilmu silat lawan itu cukup cepat dan berbahaya, Hay Hay lalu mengeluarkan ilmu-ilmunya dari Ciu-sian Sin-kai, yaitu Ciu-sian Cap-pek-ciang (Delapan Belas Jurus Ilmu Silat Dewa Arak).
Begitu dia mainkan ilmu ini, Sun Hok menjadi bingung.
Gerakan Hay Hay indah akan tetapi juga aneh, seperti gerakan orang mabok, akan tetapi setiap tangannya bergerak, ada hawa Pukulan yang amat dahsyat dan biarpun untuk serangan jurus pertama dia masih mampu mengelak dan bertahan, ketika Hay Hay menyerangnya lagi dengan jurus ke dua, biarpun Sun Hok berusaha menangkis dengan kedua lengannya, tetap saja dia terdorong sampai lima langkah, terhuyung dan hampir roboh!
"Cukuplah sudah kita bermain-main, Can-kongcu?"
Hay Hay berkata, tersenyum ramah, sama sekali tidak mengejek.
"Belum!"
Bentak Sun Hok.
"Mari kita mencoba kelihaian dalam hal mempermainkan senjata!"
Berkata demikian, dia lalu memegang suling dengan tangan kiri dan yang-kim dengan tangan kanan!
Melihat ini, Hay Hay terbelalak.
Baru sekarang dia melihat lawan yang menggunakan suling dan yang-kim sebagai senjata.
Dia sendiri suka mempergunakan sulingnya sebagai senjata, walaupun hal ini jarang sekali dia lakukan.
Melihat betapa pemuda itu menggunakan alat musik sebagai senjata, Hay Hay juga mencabut sulingnya dan menghadapi Sun Hok sambil tersenyum lebar .
"Wah, kita ini mau main silat ataukah mau main musik?"
Tanyanya.
Sun Hok menjawab dengan serangannya.
Sulingnya meluncur dan terdengarlah suara mengaung ketika suling itu menusuk dada seperti sebatang pedang dan memang dia memainkan ilmu pedang yang baru dipelajarinya dari kitab lama.
Ilmu pedang ini inamakan Kwi-ong-kiam-sut (Ilmu Pedang Raja Iblis), peninggalan dari kakek gurunya, Si Raja Iblis.
Sementara itu, yang-kim di tangan kanannya juga menyambar ke arah kepala lawan.
Hay Hay terkejut lagi.
Ilmu pedang yang dimainkan dengan suling dari pemuda bangsawan itu pun hebat sekali, bukan seperti ilmu pedang biasa.
Dia pun menggerakkan tubuhnya mengelak dan membalas tusukan pedang dari samping ke arah pundak kanan.
Namun yang-kim itu bergerak menangkis suling dan kembali suling di tangan kiri Sun Hok sudah membabat, sekali ini membabat pinggang sambil mengeluarkan suara mengaung yang menyeramkan.
Hay Hay cepat menggeser kakinya dan kembali mengandalkan langkah ajaibnya untuk menghindarkan diri.
Sambil menghindar, jari tangan kirinya menyentil ke arah tali-tali yang-kim sehingga terdengarlah nada-nada yang merdu!
Untuk belasan jurus lamanya, Hay Hay memperhatikan gerakan lawan.
Setelah tahu bahwa dia menang jauh dalam hal kecepatan, dan bahwa langkah-langkah ajaib Jiauw-pou-poan-soan sudah cukup baginya untuk menyelamatkan diri, mulailah Hay Hay meniup sulingnya dengan satu tangan dan dia pun sengaja memainkan lagu yang dinyanyikan oleh Siauw Cin!
Tangan kirinya dia pergunakan untuk kadang-kadang menangkis dan balas menotok atau menampar.
Perkelahian itu terjadi dengan cepat sekali dan Siauw Cin bersama tiga orang pelayap itu memandang bengong.
Bagaimana mereka tidak akan menjadi bengong melihat betapa tubuh kedua orang pemuda itu lenyap menjadi bayangan dua sosok berkelebatan, dan terdengar suara suling ditiup melagukan nyanyian tentang murai dan bulan purnama tadi?
Can Sun Hok bukan seorang yang tidak tahu diri.
Berulang kali dia dikejutkan oleh kehebatan ilmu lawan dan kini lawannya hanya menghadapinya dengan langkah-langkah ajaib itu dengan tangan kiri yang kadang menangkis atau bahkan balas menyerang, dan tangan kanan meniup suling memainkan lagu tadi!
Kalau dia tidak mengalaminya sendiri, tak mungkin dia mau percaya.
Baru sekarang inilah selama hidupnya dia bertemu dengan lawan yang begini sakti, dan diam-diam dia pun takluk!
Sun Hok melompat ke belakang, lalu menjura.
"Sobat, ilmu kepandaianmu sungguh berlipat kali lebih tinggi dariku. Aku mengaku kalah!"
Katanya tanpa malu-malu lagi.
Sikap ini membuat Hay Hay menjadi kagum dan suka sekali kepada pemuda bangsawan ini.
Benar kata Jaksa Kwan, Pemuda ini adalah seorang gagah seorang yang berjiwa pendekar walaupun ilmu silatnya merupakan ilmu kaum sesat.
Dengan wajah sungguh-sungguh dia pun balas memberi hormat.
"Can-kongcu, harap jangan merendahkan diri. Kepandaianmu juga hebat sekali, dan maukah engkau sekarang menerimaku untuk bicara tentang gerakan kaum sesat itu?"
Sun Hok menarik napas panjang.
Dia memang selalu masih ingat akan nasihat pendekar wanita Ceng Sui Cin yang pernah dianggapnya sebagai musuh besar itu.
Satu-satunya jalan untuk berbakti kepada mendiang ibu kandungnya adalah melakukan perbuatan-perbuatan yang baik seperti seorang pendekar sehingga dengan perbuatan-perbuatan itu, dia seolah-olah dapat mencuci noda dan dosa ibunya yang pernah menjadi tokoh wanita sesat!
Dia kagum kepada pemuda di depannya ini, yang teramat lihai.
Ingin dia bersahabat dengan pemuda ini dan tentu dia akan mendapat tambahan pengetahua walaupun pemuda ini lebih muda darinya.
Akan tetapi mengingat betapa pemuda ini pandai merayu, timbul perasaan cemburu di hatinya.
Jangan-jangan pemuda ini bukan hanya berhasil menarik rasa suka dan kagumnya, akan tetapi malah menarik hati dan membuat Siauw Cin tergila-gila kepadanya!
"Tidak perlu lagi banyak bicara."
Katanya.
"Aku pasti akan pergi menyelidiki sarang Lam-hai Giam-lo di Yunan dan untuk itu, aku lebih suka bekerja seorang diri tanpa kawan."
Hay Hay maklum bahwa kehadirannya tidak dikehendaki dan dia pun tahu mengapa.
Dia tersenyum lalu menjura kepada tuan rumah.
"Baiklah, Can-kongcu, aku percaya akan kesanggupanmu dan aku merasa girang sekali bahwa engkau telah berjanji untuk mengulurkan tangan membantu."
Kemudian ia pun menoleh ke arah Siauw Cin yang rnasih memandang dengan terheran-heran, lalu berkata dengan halus.
"Nona, jangan bersedih hati tentang murai dan bulan purnama. Kalau dua hati sudah saling mencinta, apa pun dapat terjadi. Percayalah!"
Setelah berkata demikian, Hay Hay mempergunakan ilmu kepandaiannya, sekali berkelebat dia sudah lenyap dari tempat itu.
Hal ini amat mengejutkan Siauw Cin dan tiga orang pelayan itu, dan amat mengagumkan hati Sun Hok.
Siauw Cin bangkit dan mendekati Sun Hok, takut-takut.
"Kongcu... apakah dia tadi itu. manusia atau setan.?"
Sun Hok memegang tangan gadis itu yang terasa dingin.
"Jangan takut, dia itu setengah manusia setengah setan. Karena itu, jangan mudah terkena rayuannya."
Siauw Cin mengerling tajam.
"Aih, Kongcu. Kau kira aku demikian mudah dirayu orang? Walaupun dia memang luar biasa, akan tetapi, bagi saya tidak ada seorang pun pria yang lebih baik daripada engkau, Kongcu."
Mereka berdua, diikuti oleh tiga orang pelayan, lalu memasuki rumah.
Malam mulai larut dan hawa mulai dingin.
Tiga orang pelayan langsung menuju ke kamar masing-masing di belakang, akan tetapi Siauw Cin masih berada di ruangan dalam bersama Sun Hok.
Wajah keduanya merah dan tanpa kata-kata Sun Hok menggandeng tangan wanita itu.
Jari-jari tangan mereka bergetar, akan tetapi ketika Sun Hok menuntun Siauw Cin menuju ke kamarnya, gadis itu menahan diri dan menghentikan langkahnya.
Mereka berdiri saling pandang berhadapan dekat sekali.
Sun Hok merasa tubuhnya gemetar dan napasnya terengah-engah.
Dari pandang matanya memancar kemesraan dan permintaan, permintaan setiap orang pria yang jatuh cinta dan ingin menumpahkan semua rasa sayangnya kepada wanita yang dicintanya.
Melihat sinar mata yang biasanya hanya mengandung rasa iba dan cinta, kini mengandung berahi, Siauw Cin menundukkan mukanya, kemudian perlahan-lahan ia menggelengkan kepalanya.
"Jangan, Kongcu... jangan... sekarang.."
Katanya lirih. Sun Hok mempererat pegangannya pada tangan yang masih merasa dingin itu.
"Kenapa, Siauw Cin? Aku cinta padamu, dan bukankah engkau pun cinta padaku?"
Bisiknya dengan suara gemetar.
Selama hidupnya, belum pernah dia berdekatan dengan wanita dan kini tiba-tiba saja timbul gairah dan hasratnya untuk tidur bersama gadis yang dicintanya ini!
Siauw Cin mengangkat mukanya dan Sun Hok melihat betapa sepasang mata itu menjadi basah.
"Saya cinta padamu, Kongcu, cinta dengan sepenuh jiwa raga saya. Akan tetapi... saya tahu di mana tempat saya, Kongcu. Engkau adalah seorang perjaka, engkau belum pernah hubungan dengan wanita, sedangkan aku... ah, aku tidak layak. Kelak, kalau Kongcu sudah menikah, sudah mempunyai seorang isteri yang pantas mendampingimu sebagai isteri yang sah, barulah saya akan menyerahkan diri, menjadi selir, atau pelayan, atau apa saja. Tapi jangan sekarang, Kongcu.."
"Apa... apa bedanya? Apa salahnya kalau sekarang?"
"Tidak... sama sekali salah. Apa akan kata orang nanti. Engkaulah yang akan malu... ah, mengertilah, Kongcu. Saya cinta padamu, dan biarlah sementara ini saya menjadi pelayanmu. Kelak saja, kalau Kongcu sudah beristeri, kalau Kongcu masih menghendaki diriku, diriku ini bukan untuk pria lain, sampai saya mati, kecuali hanya untukmu, Kongcu.."
Gadis itu menarik tangannya, lalu berlari sambil terisak menuju ke kamarnya, di bagian belakang.
Sun Hok berdiri termenung seperti patung.
Dia sungguh bingung, tidak mengerti akan sikap gadis itu.
Akan tetapi dia tidak menyesal, bahkan merasa lega bahwa gadis itu menolaknya.
Bukan menolak karena tidak mau atau tidak cinta, melainkan karena gadis itu ingin menjaga nama baiknya, dan gadis itu sungguh tahu diri.
Ah, adakah wanita lain seperti Siauw Cin di dunia ini?
Cjnta memang sesuatu yang aneh.
Cinta dapat melanda hati siapapun juga, pria atau wanita, tua atau muda, kaya atau miskin, pintar atau bodoh, bahkan seorang wanita yang dicap sebagai wanita pengobral cinta, seorang pelacur tidak terluput dari serangan cinta.
Cinta yang lain daripada yang dijualnya untuk ,mencari uang, atau karena terpaksa, atau karena kebutuhan jasmani maupun batin.
Cinta yang satu ini lain lagi.
Cinta yang satu ini meniadakan kepentingan diri pribadi, melainkan mementingkan kepentingan orang yang dicintanya.
Seorang pelacur adalah seorang yang sedang menderita sakit, seperti para penyeleweng dan pelanggar hukum dan susila lainnya, seperti pencuri, penjahat dan sebagainya.
Sedang sakit.
Bukan badannya yang sakit, melainkan batinnya.
Dan orang yang sakit, baik sakit badan maupun sakit batin, dapat sembuh, dapat pula kambuh, tergantung dari pemeliharaan batin itu selanjutnya.
Karena itu, mencemooh dan merendahkan orang yang sedang dilanda sakit, baik badan maupun batinnya, adalah suatu perbuatan yag tidak patut dan tidak terpuji.
Seyogianya mengulurkan tangan, memberi jalan keluar, memberi pengobatan.
Harus selalu diingat bahwa yang sakit, baik sakit badan maupun batin dapat sembuh sama sekali, sebaliknya yang sedang sehat, baik badan maupun batinnya, sekali waktu dapat saja jatuh sakit!
Seperti juga penyakit badan, maka penyakit batin timbul dari berbagai macam sebab dan keadaan.
Mungkin juga seperti badan yang lemah, batin dapat pula lemah sehingga mudah terserang penyakit.
Olahraga menguatkan badan sehingga tak mudah diserang penyakit, juga olah batin menguatkan batin sehingga tidak mudah diserang penyakit pula.
Olah batin adalah perenungan tentang kehidupan, tentang kebenaran, tentang kemanusiaan, tentang Tuhan Maha Kasih!
Berbahagialah orang yang dapat menjaga kesehatan badan dan batinnya, karena keduanya haruslah seimbang.
Kalau sampai sakit salah satu, maka yang lain akan terpengaruh dan kebahagiaan tak mungkin dapat dirasakan lagi.
Hay Hay melakukan perjalanan seorang diri di daerah pegunungan yang sunyi itu.
Enak berjalan di padang rumput itu, dan pemandangan alamnya sungguh menyenangkan hati dan menyedapkan mata.
Serba hijau dan bau rumput dan tanah, juga pohon-pohonan amatlah sedapnya.
Dia menyedot napas sekuatnya sampai seluruh paru-parunya penuh dan hawa murni itu terus turun mendesak ke bawah, terasa nikmat dan penuh, baru dihembuskannya perlahan-lahan.
Bukan main nyamannya.
Hidup adalah bahagia!
Karena bahagia hanyalah suara perasaan, suatu sebutan, seperti juga hidup.
Hidup juga hanya suatu perasaan.
Merasa hidup!
Siapa yang merasa bahagia?
Siapa yang merasa hidup?
Hanya kesadaran pikiran bahwa ada aku yang merasakannya!
Kalau kesadaran tertutup sementara selagi tidur, tidak ada lagi itu yang dinamakan hidup atau kebahagiaan, atau bahkan kedudukan, kesenangan dan sebagainya lagi.
Semua itu kosong!
Sesungguhnya tidak apa-apa, yang ada itu hanyalah permainan pikiran sendiri belaka!
Pagi itu cerah sekali.
Sinar matahari pagi menghidupkan segala yang semalam tadi tertidur, mendatangkan kesegaran, kehangatan, kenyamanan dan keindahan.
Sinar mataharilah yang menghidupkan segala sesuatunya.
Bahkan sinar matahari pagi sempat membawa batin Hay Hay ke alam yang penuh semangat dan gembira, mendorongnya untuk melepaskan riang lewat nyanyian.
Dan ketika dia membuka mulut bernyanyi, tanpa disengaja dia menyanyikan lagu yang pernah didengarnya dari mulut gadis pelayan dari Can Sun Hok itu!
Nyanyi tentang burung murai betina yang bodoh, yang merindukan bulan purnama!
Burung yang tidak mampu mencapai bulan purnama, lalu mengejar bulan di dalam air dan akhirnya tenggelam, tewas!
Setelah nyanyian itu selesai dinyanyikan, baru dia sadar bahwa tanpa disengaja dia menyanyikan lagu baru itu.
Dan Hay Hay tertawa sendiri.
Burung murai bodoh, pikirnya mencela.
Itulah kalau menginginkan sesuatu yang tidak terjangkau!
Akhirnya akan mencelakakan diri sendiri!
Tiba-tiba dia berhenti melangkah.
Kisah burung murai itu, bukankah itu kisah semua manusia?
Bukankah setiap orang manusia itu selalu menginginkan keadaan yang lebih!
Lebih indah, lebih enak, lebih banyak, pendeknya, semua manusia menginginkan yang serba lebih.
Saling berebutan dan bersaing untuk memperoleh yang serba lebih itu, Kalau perlu saling serang, saling menjatuhkan, dengan cara apa saja demi memperoleh yang serba lebih itu!
Seperti si murai bodoh.
Karena pengejaran akan yang serba lebih inilah maka mata menjadi buta dan tidak lagi dapat melihat dan menikmati YANG ADA!
Mata ditujukan jauh ke depan, kepada yang dianggap serba lebih itu, yang dikejarnya dan tak terjangkau olehnya.
Akhirnya hanya ada dua hal yang terjadi sebagai akibat dari pengejaran itu, setelah dalam pengejaran itu menimbulkan banyak pertentangan dan permusuhan.
Kalau yang dikejar terdapat, belum tentu akan terasa seindah sebelum didapat, seindah seperti ketika masih dikejar karena hati ini sudah dipenuhi dengan pengejaran terhadap yang lain lagi, yang lebih lagi daripada yang sudah didapat!
Dan kalau gagal?
Kecewa, menyesal, berduka dan sengsara!
Hay Hay melompat dan tertawa.
"Ha-ha-ha, berbahagialah orang yang tidak mengejar apa-apa, tidak menginginkan apa-apa yang tidak ada padanya! Berbahagialah orang yang membuka mata melihat apa yang ada padanya saja, melihat keindahan dari apa YANG ADA."
Dia menarik napas panjang lagi dan merasakan benar betapa nikmatnya menghirup udara bersih seperti itu!
Dia mengamati semua yang terbentang luas di depahnya.
Rumput-rumput hijau luas, pohon-pohon tinggi besar, bunga-bunga, burung-burung yang beterbangan di angkasa yang terhias awan-awan putih seperti sekelompok domba putih bergerak, sinar matahari pagi menerobos menembus celah-celah daun pohon.
Betapa indah semua itu, indah tak terlukiskan kata-kata!
Dan semua itu tentu takkan nampak oleh mata yang dibutakan oleh keinginan mendapatkan sesuatu yang tidak ada dan tidak dimiliki!
Tiba-tiba perutnya berkeruyuk.
"Hish, tak tahu malu."
Dia menepuk perutnya sendiri dan baru teringat bahwa sejak kemarin siang dia belum makan.
Semalam, setelah mengunjungi istana tua tempat tinggal Sun Hok, dia pun melanjutkan perjalanan keluar dari kota Siang-tan, kemalaman di tengah jalan dan melewatkan malam di sebuah gubuk petani di tengah sawah, tanpa makan.
Pagi tadi, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan melanjutkan perjalanan, mendaki bukit dan kini berjalan di padang rumput.
"Wah, perut lapar di tempat seperti ini. Mana ada makanan?"
Dia lalu menoleh ke kiri.
Di lereng itu terdapat hutan.
Kalau dia bisa menangkap seekor kelinci, atau ayam hutan, atau kijang muda, tentu tuntutan perutnya yang lapar akan dapat dipenuhi.
Dan hutan serimbun itu sudah pasti ada binatangnya.
Dia lalu berlari ke arah hutan itu.
Dengan berindap-indap Hay Hay memasuki hutan, mulai mengintai mencari mangsa, calon pengisi perutnya yang lapar.
Bagaikan seekor harimau kelaparan, dia pun jalan perlahan-lahan, jangan sampai mengeluarkan suara sehingga mengejutkan binatang yang dicarinya, yaitu ayam hutan, kelinci atau kijang.
Hanya daging tiga binatang ini saja yang dia suka.
Dia tidak suka makandaging kera, ular atau binatang lain.
Akan tetapi, yang dilihatnya hanyalah beberapa ekor kera dan dua ekor ular besar saja.
Dia berjalan terus dan akhirnya melihat seekor kijang muda sedang minum di tepi anak sungai.
Ketika angin bertiup, baru dia menyadari bahwa angin dari arahnya.
Benar saja, kijang itu menangkap bau manusia melalui angin itu dan binatang itu pun meloncat berlari cepat sebelum Hay Hay sempat mendekatinya.
Hay Hay juga melompat dan melakukan pengejaran.
Kijang itu berloncatan cepat bukan main, meloncati semak-semak belukar, kadang-kadang menghilang ke dalam semak-semak, lari lagi mendaki bukit.
Hay Hay mengejar terus dan akhirnya dia melihat kijang itu terhalang sebuah jurang yang curam di tebing bukit.
Binatang itu kebingungan, lari ke kanan kiri di tepi jurang.
Kalau ia meloncat, akan lenyaplah binatang itu, akan tetapi tentu akan hancur terbanting ke bawah jurang.
Binatang itu agaknya maklum pula bahwa tak mungkin baginya meloncat turun.
Hay Hay sudah siap sejak tadi, mengambil sepotong batu sebesar kepalan tangannya.
Dia merasa heran mengapa binatang itu tidak lari ke barat di mana terdapat semak-semak belukar, seolah-olah di sana terdapat sesuatu yang menakutkan, melainkan lari ke kanan lalu ke kiri seperti dikepung.
Setelah binatang itu berhenti sejenak melepas lelah sambil terengah-engah, Hay Hay menggerakkan tangannya.
Batu itu melucur cepat mengarah tengkuk binatang itu, bagian yang sekali kena akan mematikan.
Dan dia melihat kijang itu roboh terguling, tak bergerak lagi.
Hay Hay berloncatan dengan girang dan hampir saja dia berteriak-teriak dan bersorak kegirangan ketika tiba-tiba dari balik semak belukar di sebelah barat itu pun melompat keluar seorang gadis yang berlari seperti terbang cepatnya menghampiri bangkai kijang.
Gadis itu memeriksa sebentar, tersenyum girang lalu memegang ekor kijang untuk diseret dan dibawa pergi.
"Heii... Nanti dulu.!"
Hay Hay berteriak dan berlari cepat ke tempat itu.
Gadis itu terkejut sekali, tidak mengira akan ada orang berteriak seperti itu di tempat sunyi itu.
Saking tersentak kaget, pegangannya pada ekor kijang itu terlepas dan ia menoleh menghadapi Hay Hay dengan mata terbelalak.
Dan Hay Hay terpesona!
Dia kini tiba di depan gadis itu, berdiri berhadapan dalam jarak tiga meter.
Hay Hay seperti terpukau, tak bergerak seperti patung, hanya mengamati wajah gadis di depannya itu.
Seorang gadis yang usianya masih muda, takkan lebih dari delapan belas tahun.
Pakaiannya sederhana, bahkan nyentrik, setengah pakaian pemburu, setengah pakaian puteri, agak kedodoran namun tidak menyembunyikan tubuh yang padat dan sempurna lekuk-lengkungnya, tubuh seorang gadis yang bagaikan sekuntum bunga mulai mekar meranum.
Rambutnya awut-awutan, terlepas dari gelungnya, Namun menjadi penambah manis wajah yang sudah amat manis itu.
Anak rambut di pelipis dan sinom di dahi itu bergerak-gerak lembut, wajah yang bulat telur itu berdagu runcing, sepasang matanya tajam seperti mata kucing tapi lebih indah, dan hidung itu kecil mancung dan ujungnya seperti kemerahan dan dapat bergerak lucu, mulutnya memiliki bibir yang penuh dan tipis, seperti kulit buah tomat yang mudah pecah, merah basah.
Mata yang indah itu mengerling seperti gunting saja tajamnya, akan tetapi nampak galak.
Gadis yang tadinya terkejut itu agaknya sudah dapat menenteramkan hatinya yang kaget dan melihat seorang pemuda bercaping lebar berdiri seperti patung memandanginya seperti itu, alisnya berkerut dan matanya menyambar dengan kerling tajam.
Mati aku, pikir Hay Hay, memuji kerling mata setajam itu.
"Hemm, mau apa kau teriak-teriak mengagetkan orang, sekarang berdiri bengong seperti orang kehilangan ingatan? Apakah engkau seorang tolol?"
Gadis itu membentak.
Ketika bicara, bibirnya bergerak-gerak dan nampak kilatan giginya, membuat Hay Hay menjadi semakin terpesona.
"Bukan main... hemmm, bukan main...!"
Katanya berkali-kali, masih saja mengamati wajah itu.
Gadis itu membanting kaki kanannya ke atas tanah.
"Heh, tolol! Apa maksudmu berkata bukan main? Siapa yang main-main?"
"Wah-wah-wah, belum pernah aku melihat yang seperti ini selama hidupku! Melebihi semua yang pernah kujumpai. Begini jelita, begini bebas dan liar, seperti... bunga mawar hutan, atau seekor singa betina, seekor naga betina, hebat bukan main, ya cantik, ya gagah, ya berani!"
"Hei, apakah engkau ini orang gila?"
Gadis itu membentak sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Hay Hay.
"Aku? Tidak, belum gila, Nona, walaupun terpesona. Dan Nona ini, apakah Dewi Penjaga Hutan dan bukit ini?"
Gadis itu kembali membanting kakinya dan mukanya menjadi merah sekali, matanya yang indah melotot seperti hendak membakar wajah Hay Hay.
"Apa kau bilang? Aku penjaga hutan dan gunung? Kau kira aku ini setan? Engkaulah yang iblis, engkau siluman monyet, siluman babi, engkau setan dan arwah gentayangan, engkau setan isi neraka, engkau... engkau.."
Ia kehabisan makian karena tidak tahu lagi nama-nama bangsa setan sehingga gelagapan sendiri.
"Aduh, jangan marah, Nona. Aku bukan memaki, melainkan memujimu karena kusangka engkau Sang Dewi. Kalau engkau manusia biasa, seorang gadis muda, mana mungkin tahu-tahu muncul di tempat sepi ini?"
Gadis ini cemberut dan memandang perut bangkai kijang itu.
"Sialan! Di tempat begini bertemu orang tolol!"
Dan ia pun lalu menyambar kaki depan bangkai itu dan diangkatnya, dipanggulnya.
"Lhoh! Nanti dulu, Nona! Bangkai kijang itu punyaku!"
Hay Hay mencela dan dia pun melangkah maju menghampiri.
Kini nona itu menoleh dan kembali matanya melotot.
Hay Hay seolah-olah dapat merasakan hawa panas keluar dari sepasang lubang hidung itu, demikian marahnya gadis itu.
"Apa kau bilang? Engkau berteriak mengejutkan aku, lalu memandangi orang seperti tolol, kemudian mengatakan orang mahluk penjaga gunung, dan sekarang engkau malah berani mengaku bahwa bangkai kijang ini punyamu? Heh, orang sialan tak tahu diri, engkau ini sebenarnya mau apakah? Jangan membikin Nonamu marah dan sekali tendang engkau akan kulempar ke dalam jurang di bawah tebing!"
"Maafkan aku, Nona, dan bersabarlah, harap jangan marah-marah dulu. Seorang yang suka marah lekas tua, Nona dan sayang kalau engkau yang secantik jelita dan semanis ini cepat menjadi tua. Aku tidak berbohong kalau mengatakan bahwa bangkai kijang ini milikku, karena akulah yang telah membunuhnya tadi."
"Apa? Jangan sembarangan membuka mulut, ya? Akulah yang telah membunuhnya dan menyambitnya dengan sebuah batu!"
"Hemm, aku pun tadi menyambitkan sebuah batu dan batuku itulah yang membunuhnya!"
Hay Hay membantah, penasaran karena betapa pun cantik jelitanya, kalau gadis ini hendak merampas buruannya dan mengaku-aku membunuh kijang itu, dia tidak akan menerimanya begitu saja.
"Bohong! Penipu! Akulah yang telah merobohkannya dengan sambitanku. Orang tolol macam engkau ini mana mungkin dapat merobohkan kijang dengan sambitan batu?"
"Hemm, sebaiknya dilihat dulu buktinya, Nona. Engkau tadi menyambit kijang ini, mengenai apanya?"
"Mengenai kepalanya, tepat di antara matanya! Kau berani mengira aku membohongimu?"
Gadis itu menurunkan kembali kijang tadi dan mengangkat leher kijang itu, diperlihatkan kepada Hay Hay.
"Lihat ini, di antara kedua matanya, bukankah ada luka menghitam karena sambitanku?"
"Aku pun tadi menyambitnya, tepat mengenai tengkuknya, tempat yang mematikan."
Kata Hay Hay dan dia pun kini memeriksa dan memperlihatkan kepada gadis itu.
Gadis itu mengamati dan benar saja, tulang di tengkuk kijang itu patah dan ada tanda menghitam bekas sambitan.
Ia mengerutkan alisnya, akan tetapi lalu mengangkat bangkai kijang itu dan dipanggulnya.
"Tak peduli, yang jelas ada tanda sambitan di antara matanya. Kijang ini punyaku, aku yang membunuhnya dan engkau mau apa?"
"Tidak mau apa-apa, hanya ingin sebagian dagingnya untuk mengisi perutku yang lapar."
"Hemm, kijang ini punyaku, aku yang menentukan harus diberikan kepada siapa!"
"Apakah engkau masih mempunyai kawan lain yang membutuhkan dagingnya, Nona?"
"Tidak, aku hanya seorang diri."
"Kalau begitu, untuk kita berdua juga sudah lebih daripada cukup!"
"Itu urusanku! Aku boleh memberikan kepada siapa dan menolak memberi siapa pun. Dan aku tidak akan memberi padamu yang tolol dan kurang ajar!"
"Ehh? Aku kurang ajar?"
"Semua laki-laki kurang ajar!"
Hay Hay merasa penasaran dan perutnya terasa panas.
Gadis ini keterlaluan galaknya, tidak ketulungan lagi.
"Dan semua perempuan tak tahu diri!"
Gadis itu membanting bangkai kijangnya, kemudian telunjuknya menuding hampir mengenai hidung Hay Hay sehingga pemuda itu melangkah mundur.
"Apa kau bilang? Berani kau mengatakan bahwa semua perempuan tak tahu diri? Apakah Ibumu bukan perempuan? Kalau begitu Ibumu juga tak tahu diri?"
"Dan engkau bilang semua laki-laki kurang ajar! Apakah Ayahmu bukan laki-laki? Kalau begitu Ayahmu juga kurang ajar?"
"Sialan engkau berani memaki Ayahku!"
Bentak gadis itu.
"Engkau juga lebih dulu memaki Ibuku!"
"Apa? Jadi engkau hendak menantang aku berkelahi? Boleh, kalau memang engkau sudah hosan hidup!"
Gadis itu memasang kuda-kuda.
"Siapa mau berkelahi? Aku hanya menuntut hakku, akan tetapi kalau engkau memang sudah begitu kelaparan, kalau dapat menghabiskan semua daging kijang ini, silakan, aku dapat mencari yang lain."
Hay Hay mundur dan menghindarkan perkelahian.
Bagaimanapun juga, dia kagum kepada gadis ini walaupun gadis ini liar, berani, dan galaknya bukan buatan lagi.
"Nah, bilang saja kalau tidak berani!"
Gadis itu mengomel dan memanggul lagi bangkai kijang.
Ketika ia hendak melangkah pergi, Hay Hay mengomel lirih.
"Huh, gembulnya! Apa tidak akan meledak pecah perut kecil itu nanti!"
Kaki yang sudah melangkah itu ditahan lagi dan untuk ke dua kalinya bangkai kijang itu dibanting.
"Kau bilang apa tadi? Aku gembul dan perutku akan pecah kalau makan daging kijang ini?"
Hay Hay tersenyum mengejek.
"Aih, engkau memang pemarah, Nona. Siapa bilang engkau yang gembul dan akan pecah perutnya? Aku tidak pernah menyebut siapapun juga!"
Kembali bangkai kijang itu dipanggul dan kini Hay Hay memandang sambil mengerahkan kekuatan sihirnya.
"Sungguh aneh, Nona cantik mengaku menangkap kijang, padahal yang dipanggulnya bangkal anjing!"
Kembali kaki yang baru melangkah lima tindak itu ditahan dan gadis itu kembali menengok, siap untuk memaki, akan tetapi lebih dahulu ia melirik ke arah kepala kijang yang berada di atas pundaknya.
"Ehhhh..??"
Ia berseru kaget dan melempar bangkai itu dari pundaknya karena memang sebenarnyalah kata-kata pemuda itu, yang dipanggulnya bukan bangkai kijang, melainkan bangkai anjing!
Matanya terbelalak menatap bangkai anjing yang menggeletak di atas tanah kemudian ia mencari-cari dengan pandang matanya.
Apakah ia salah pungut tadi?
Di mana bangkai kijang yang diperebutkan tadi?
Sementara itu, sambil tersenyum Hay Hay mengambil bangkai itu dan dipanggulnya sambil berkata.
"Kalau aku memang merobohkan seekor kijang aseli!"
Dengan pandang matanya gadis itu mengikuti semua gerakan Hay Hay dan kini ia terbelalak kaget.
Bangkai "anjing"
Yang dilemparkannya tadi, ketika kini dipanggul oleh pemuda itu, mendadak berubah menjadi bangkai kijang yang tadi lagi!
"Hei, keparat, tunggu!"
Bentak gadis itu sambil meloncat dan mengejar, melampaui Hay Hay dan kini menghadang di depannya.
"Hemm, mau apa lagi? Apakah ingin minta sebagian daging kijangku karena perutmu sudah lapar sekali seperti perutku?"
"Keparat, kembalikan kijangku!"
Gadis itu membentak dan sikapnya siap untuk menyerang! Melihat sikap itu, Hay Hay mengalah.
"Hemm, kijangmu? Baiklah. Aneh, tadi dibuang setelah diambil orang lain, ribut-ribut dan memintanya kembali."
"Habis, tadi kulihat seperti..."
Ia menahan kelanjutan kata-katanya, lalu melanjutkan ketus.
"Biar saja! Mau kubuang, mau kuambil, mau kuapakan juga, sesuka hatiku karena kijang itu memang milikku. Kau mau apa?"
Hay Hay menarik napas panjang akan tetapi tetap tersenyum.
Dilepaskan bangkai itu dari pundaknya dan gadis itu pun menyambar kaki kijang dan dipanggulnya lagi, siap untuk pergi cepat-cepat dari situ.
Akan tetapi Hay Hay cepat berkata, kembali mengerahkan kekuatan sihirnya.
"Sungguh aneh sekali. Gadis yang cantiknya seperti dewi kahyangan, kini memanggul bangkai seekor ular besar! Apakah ia doyan daging ular?"
Gadis itu tadinya tidak mau peduli, akan tetapi begitu ia melihat bangkai di pundaknya, wajahnya berubah agak pucat.
Kini bukan anjing atau kijang yang dilihatnya, melainkan kepala seekor ular yang besar!
Dan tubuh bangkai itu pun tubuh ular yang panjang dan besar, melingkar-lingkar di atas pundaknya, terasa dingin dan licin.
Menjijikkan!
Akan tetapi gadis itu agaknya kini mengeraskan hatinya, bahkan mulutnya menyuarakan isi hatinya.
"Tidak peduli biar bangkai kijang atau bangkai anjing, bangkai ular, gajah atau bangkai setan sekalipun!"
Agaknya ia mengeraskan hatinya untuk mengusir rasa ngeri yang memenuhi hatinya dan ia pun melangkah lagi untuk cepat meninggalkan pemuda itu dan setelah tidak nampak lagi, tentu ia akan cepat membuang jauh-jauh bangkai ular yang menjijikkan itu!
Melihat ini, Hay Hay tersenyum dan kagumlah dia akan kekerasan hati gadis itu.
Seorang gadis yang luar biasa menarik dalam pandangannya, usianya tidak akan lebih dari delapan belas tahun, gagah dan galak namun wajahnya manis bukan main, terutama sekali mulutnya.
Mulut, itu nampak manis selalu, baik sedang cemberut, marah atau sedang terkejut dan ketakutan.
Dan hidung yang kecil mancung itu, cuping hidungnya yang tipis itu seperti bergerak-gerak, lucu bukan main dan kerling matanya dapat meruntuhkan hati laki-laki yang bagaimana pun alimya!
Gadis yang hebat!
Yang memiliki daya tarik yang istimewa dan lain lagi daripada gadis-gadis yang pernah ditemuinya.
Dan melihat betapa gadis itu dengan sekali sambit, mengenai kepala kijang, di antara kedua matanya, dapat dilihat bahwa gadis ini pun tentu memiliki ilmu silat yang cukup lihai.
Cara ia mengangkat dan memanggul kijang itu saja sudah membuktikan pula akan kekuatannya.
"Wah, hati-hati, Nona! Hati-hati, ular itu masih hidup! Dan ular seperti itu gigitannya membahayakan, mengandung racun!"
Tiba-tiba Hay Hay berseru keras.
Sesungguhnya gadis itu sudah merasa jijik dan ngeri sekali dan ia sudah mengerahkan tenaganya untuk berlari cepat.
Selagi ia hendak berhenti dan membuang bangkai ular itu, tiba-tiba saja ia mendengar suara pemuda itu tepat di belakangnya!
Peringatan itu membuat ia terkejut setengah mati dan rasa jijik ngerinya bertambah, apalagi ketika ia mengerling dan melihat betapa kepala ular yang tadinya terkulai mati itu, kini sudah terangkat dan mulutnya ternganga lebar seperti hendak mencaplok kepalanya!
Dan tubuh ular itu pun menggeliat-geliat di atas pundaknya, mengelus lehernya mendatangkan rasa dingin yang menjijikkan.
"Ihhh.!"
Ia menjerit dan tentu saja ia cepat membuang bangkai ular yang tiba-tiba hidup kembali itu ke atas tanah dan ia pun melompat ke belakang dengan muka pucat.
Ketika ia berlari cepat tadi, Hay Hay semakin kagum.
Ternyata gadis itu memiliki ilmu berlari cepat yang cukup hebat sehingga dia sendiri pun payah mengejarnya dan hampir tertinggal.
Maka dia pun cepat tadi meneriakkan kata-kata yang mengandung sihir.
Saking kaget dan jijiknya, gadis itu sampai tidak ingat betapa pemuda yang menjengkelkan itu ternyata mampu mengejarnya.
Dengan mata terbelalak saking jijik dan ngerinya, ia memandang ular besar yang kini bergerak-gerak di atas tanah.
"Kalau engkau tidak menghendakinya, biarlah aku yang akan membawanya pergi karena memang kijang ini hakku, Nona!"
Kata pemuda itu dan kini, tiba-tiba saja gadis itu melihat bahwa "ular hidup"
Itu bukan lain adalah bangkai kijang tadi yang dipanggul oleh pemuda itu di atas punggung dan tengkuknya, kedua tangan pemuda itu masing-masing memegang dua kaki depan dan belakang bangkai kijang.
Pemuda itu melompat dan melarikan diri.
Gadis itu membanting kaki kanannya dan secepat kilat ia pun mengejar.
Ginkangnya (ilmu meringankan tubuh) memang hebat, dan sebentar saja ia sudah dapat menyusul Hay Hay dan melewati tubuh pemuda itu, menghadang sambil berteriak.
"Berhenti dulu kamu!"
Hay Hay masih tersenyum.
"Eh, engkau lagi, Nona? Ada apa lagi? Apakah akhirnya engkau menuntut bagian separuh dari daging kijang ini yang memang menjadi hakmu? Aku suka menyerahkan dengan senang hati dan.."
"Cukup!"
Gadis itu membentak lagi dan kini untuk kesekian kalinya, telunjuk tangan kirinya menuding, hampir menyentuh hidung Hay Hay yang melangkah mundur selangkah.
"Kiranya engkau ini iblis, tukang sihir, dukun lepus, penipu dengan permainan sulap! Manusia iblis seperti engkau ini berbahaya sekali bagi masyarakat kalau dibiarkan hidup dan aku akan membasmi dan membunuhmu!"
Berkata demikian, secepat kilat gadis itu menyerang dengan tangan.
kiri yang menyambar ke arah dada Hay Hay dan sekali ini, benar-benar pemuda itu terkejut bukan main melihat betapa Pukulan itu amat hebatnya.
Bercuitan suara Pukulan itu dan mendatangkan hawa Pukulan yang amat kuat, juga amat cepatnya sehingga hampir saja tiada waktu lagi baginya untuk menangkis.
Terpaksa ia melempar tubuhnya ke belakang, berjungkir balik.
"Crakkk.!"
Dan tubuh bangkai kijang yang berada di punggungnya itu terobek perutnya oleh cengkeraman tangan gadis itu!
Hay Hay semakin kaget dan cepat melepaskan bangkai kijang dan memandang dengan mata terbelalak.
Kiranya Pukulan itu walaupun sudah dapat dia hindarkan, berubah menjadi cengkeraman dan mungkin saja punggung atau tengkuknya akan termakan cengkeraman kalau tidak ada perisai istimewa berupa perut kijang!
Perut itu terobek dan isi perutnya terburai!
Bukan main hebatnya serangan gadis ini, pikirnya dan untuk sesaat dia terpukau.
Tentu saja gadis ini hebat dan lihai, dan Hay Hay tentu akan lebih terkejut lagi kalau mengetahui siapa ia.
Gadis.
ini bukan lain adalah Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai dan cucu Pendekar Sadis!
Cia Kui Hong bukan saja memperoleh pendidikan ilmu silat dari ayah dan ibunya yang merupakan sepasang pendekar terkenal dan pernah menggegerkan dunia persilatan dua puluh tahun yang lalu (bacaAsmara Berdarah ), akan tetapi bahkan selama tiga tahun ia digembleng oleh kakek dan neneknya.
Kalau ayahnya dan ibunya yang bukan lain adalah Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin sudah lihai, kakek dan neneknya lebih lihai dan lebih terkenal pula.
Kakeknya adalah Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, sedangkan neneknya tak kalah lihainya, yaitu nenek Toan Kim Hong yang pernah menjadi "datuk"
Kaum sesat dengan julukan Lam Sin.
Tentu saja, setelah selama tiga tahun digembleng oleh kakek dan neneknya, ilmu kepandaian Kui Hong meningkat dengan pesatnya dan kini ia menjadi seorang gadis berusia delapan belas tahun yang amat lihai, gagah perkasa, galak dan juga manis dan agak ugal-ugalan!
"Wah, wah, tobat, nanti dulu, Nona.!"
Kata Hay Hay ketika melihat gadis itu menerjangnya lagi dengan hantaman yang lebih hebat dari tadi.
Melihat betapa pemuda yang menjengkelkan hatinya itu tadi mampu menghindarkan dirinya dari satu jurus Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun (Silat Sakti Penaluk Iblis) yang dipergunakan, Kini Kui Hong maklum bahwa pemuda itu pun bukan orang sembarangan, maka ia cepat menyerang lagi dan kini ia sengaja mengeluarkan ilmu silat yang paling rumit dan sulit ketika ia pelajari dari kakeknya.
Ilmu silat itu adalah Hok-liong Sin-ciang yang hanya delapan jurus, namun delapan jurus yang teramat hebat, dan sukar dilawan karena merupakan jurus-jurus pilihan yang luar biasa.
Juga di dalam ilmu silat ini dipergunakan sin-kang yang amat kuat.
Sebetulnya, Ilmu Silat Hok-liong Sin-ciang (Silat Sakti Penaluk Naga) ini khusus menjadi ilmu simpanan Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, akan tetapi karena sayangnya kepada cucunya, dia mengajarkannya kepada cucunya walaupun tidak mudah bagi Kui Hong untuk menguasainya.
Namun, biar belum sempurna ia menguasai ilmu silat itu, sudah cukup dahsyat kalau dipergunakan.
"Wuuuutttt.!"
Demikianlah angin menyambar kuat ketika gadis yang tadinya membuat gerakan merendahkan tubuhhya sampai berjongkok itu tiba-tiba menerjang ke arah Hay Hay dengan Pukulan kedua tangan, didorongkan dan mulutnya mengeluarkan bentakan yang melengking.
"Haiiiiittt.!"
Hay Hay melihat dan mengenal Pukulan dahsyat.
Karena dia pun mempunyai watak yang ugal-ugalan, dan suka sekali menguji kepandaian dan tenaga orang lain, maka dia pun sambil tersenyum mendorongkan kedua tangan menyambut Pukulan itu.
!"Dessss..!"
Dua kekuatan yang sama dahsyatnya bertemu di udara dan akibatnya, tubuh Hay Hay terdorong hebat sehingga dia harus melangkah mundur sampai lima langkah, akan tetapi di lain pihak, Kui Hong tak dapat menahan kekuatan dorongan yang amat hebatnya, yang membuat tenaganya membalik dan tubuhnya terdorong ke belakang sampai ia terjengkang dan terpaksa ia harus bergulingan agar tidak terbanting hebat!
Akan tetapi, ia sudah mampu mengerahkan sin-kangnya sehingga tidak sampai terluka oleh tenaganya sendiri yang membalik tadi, dan baru setelah tubuhnya menabrak batang pohon, ia berhenti bergulingan lalu meloncat berdiri dengan muka berubah pucat, lalu berubah pula menjadi merah sekali.
Mukanya merah karena ia menjadi marah dan juga malu!
Menurut kakeknya, Pukulan dengan Ilmu Hok-liong Sin-ciang itu amat hebatnya, jarang ada orang yang mampu menahannya, maka hal itu hanya berarti bahwa lawan itu memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi darinya.
Sementara itu, melihat gadis itu bergulingan sampai menabrak batang pohon, Hay Hay terkejut bukan main dan merasa menyesal.
Dia meloncat dengan gerakan ringan ke depan gadis itu, senyumnya lenyap terganti kekhawatiran.
"Ah, harap engkau suka memaafkan aku, Nona. Sungguh aku tidak sengaja untuk mencelakakan dirimu. Apakah engkau terluka, Nona?"
Sikap baik dari Hay Hay ini membuat Kui Hong menjadi semakin marah.
Ia merasa diejek dan perutnya terasa panas bukan main.
"Manusia iblis, Kau kira aku sudah mengaku kalah?"
Berkata demikian, ia pun menerjang lagi dan sekali ini, walaupun Pukulannya tidak sedahsyat tadi, namun gerakannya jauh lebih cepat daripada tadi.
Memang, Kui Hong maklum bahwa mempergunakan tenaga sakti dan mengandalkan ilmu silat yang keras tidak akan menolongnya karena ternyata lawannya memiliki tenaga yang lebih kuat.
Maka, ia pun menyerang dengan mengandalkan gin-kangnya.
Gadis ini sudah menguasai ilmu meringankan tubuh yang disebut Bu-eng-hui-teng (Lari Terbang Tanpa Bayangan), yang dipelajarinya dari ibunya, disempurnakan oleh gemblengan neneknya yang memiliki gin-kang lebih hebat lagi.
Dan untuk lebih memperhebat gin-kangnya, ia memilih ilmu silat yang paling cepat, yang dipelajarinya dari kakeknya, yaitu Ilmu silat Pat-hong Sin-kun (Silat Sakti Delapan Penjuru Angin).
Gerakannya demikian cepatnya sehingga tubuhnya berkelebatan, lenyap bentuknya berubah menjadi bayangan yang sukar diikuti oleh pandang mata.
"Ih, engkau memang lihai sekali, Nona!"
Kata Hay Hay dan dia pun kini menjadi lega karena jelas bahwa benturan tenaga tadi tidak membuat gadis itu terluka sama sekali!
Dia menjadi semakin kagum.
Gadis ini lihai ilmu silatnya, kuat sin-kangnya dan hebat pula gin-kangnya.
Kiranya hanya Kok Hui Lian sajalah yang akan mampu menandingi gadis hebat ini, pikirnya.
Melihat betapa kini gadis itu menggunakan ilmu silat yang luar biasa cepatnya, dia pun melayaninya dengan gerakan cepat.
Namun, diam-diam dia merasa menyesal dan khawatir karena melihat betapa gadis itu bersungguh-sungguh dalam penyerangannya dan agaknya gadis itu sudah marah bukan main.
Kiranya akan sukarlah menundukkan gadis yang keras hati ini dengan sikap manis, maka dia pun mengalah dan hanya mengelak ke sana-sini sambil berloncatan dan tak pernah membalas.
Akan tetapi, biarpun Hay Hay sengaja mengalah agar gadis itu menyadari sendiri bahwa dia tidak ingin bermusuhan, ternyata diterima dengan keliru pula oleh Kui Hong.
Karena Hay Hay sama sekali tidak membalas, hanya mengelak dengan amat cepatnya, dan kadang-kadang menangkis dengan tenaga lunak, maka ia pun menganggap bahwa hal itu membuktikan bahwa lawannya ini amat memandang rendah kepadanya dan sedang mempermainkannya!
Namun, diam-diam ia pun terkejut bukan main karena baru sekarang ia tahu benar betapa tingginya ilmu kepandaian orang ini.
Benar kata kakeknya.
Dia yang mampu menahan Pukulan dari Ilmu Silat Hok-mo Sin-kun tentu memiliki kepandaian yang lebih tinggi darinya.
Akan tetapi, bukan watak Kui Hong untuk merasa jerih dan mau mengaku kalah!
Ia memperhebat serangannya, mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaganya sehingga ia berhasil mendesak Hay Hay yang sama sekali tidak mau membalas itu.
Menghadapi seorang cucu Pendekar Sadis yang sedang marah, yang menyerangnya bertubi-tubi tanpa membalas sama sekali, biar Hay Hay memiliki ilmu kepandaian yang lebih tinggi lagi, tentu akan berbahaya dan terdesak.
Tidak mungkin mengandalkan pengelakan dan tangkisan belaka untuk membendung serangan yang datang bertubi-tubi seperti gelombang samudera yang sedang mengamuk itu.
Hay Hay mulai merasa bingung.
Ia tidak mau mempergunakan ilmu sihir lagi karena akibatnya tentu akan membuat gadis itu semakin marah dan benci kepadanya.
Amukan gadis ini pun karena tadi ia mempergunakan sihir dan ia dimaki sebagai manusia iblis dan dukun lepus!
"Haiiii, Nona, tahan dulu!
Aku sama sekali tidak ingin bermusuhan denganmu!"
Teriaknya berkali-kali.
Akan tetapi, agaknya Kui Hong sudah menulikan telinga, tidak sudi mendengarkan omongannya lagi, bahkan menyerang terus walaupun kini leher dan dahinya telah berkeringat, dan napasnya sudah agak memburu karena sejak tadi ia menyerang dengan sepenuh tenaga dan telah mengerahkan ginkangnya.
"Nona yang baik, ambillah kijang itu, aku tidak mendapat bagian pun tidak mengapa!"
Teriak pula Hay Hay menjadi semakin bingung.
Kalau dilanjutkan, akhirnya ia akan terpukul dan celaka, atau nona itu akan kehabisan napas dan tenaga dan ini membahayakan pula gadis yang nekat itu.
Maka dia pun melompat lagi lalu melarikan diri ke arah puncak bukit!
Akan tetapi, Kui Hong juga mengerahkan ilmu berlari cepatnya dan melakukan pengejaran dengan amat nekat.
Celaka, pikir Hay Hay.
Gadis itu justeru memiliki ilmu berlari cepat yang amat hebat.
Dia pun mengerahkan tenaganya dengan harapan bahwa kalau dia sudah lebih dulu melewati puncak bukit akan menemukan hutan yang lebat di sebelah sana dan dia akan mampu bersembunyi.
Bagaimanapun juga, gadis ini sudah lelah dan tentu dia akan mampu mendahuluinya sampai ke puncak bukit di atas itu.
Perhitungan Hay Hay memang benar.
Ketika dia mengerahkan tenaga mempercepat larinya, Kui Hong agak tertinggal.
Gadis itu sudah merasa lelah sekali, akan tetapi dengan nekat ia berusaha mengejar dan menyusul.
Hatinya gemas bukan main terhadap pemuda yang telah mempermainkannya seenak perutnya sendiri itu.
Ia harus dapat menghajarnya sampai pemuda itu minta-minta ampun!
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Hay Hay ketika dia tiba di puncak bukit itu.
Ternyata di sebelah sananya bukan terdapat hutan, bahkan tidak terdapat jalan turun karena di sebelah sana yang ada hanya jurang yang amat curam!
Tebing yang tegak lurus, yang memisahkan puncak itu dengan daratan lain bagian bukit itu selebar kurang lebih dua ratus meter.
Tidak mungkin dilompati, kecuali kalau dia pandai terbang.
Dan dia bukan burung!
Sementara itu, Kui Hong sudah dapat menyusulnya dan biarpun kini napas gadis itu sudah terengah-engah, tetap saja Kui Hong menyerangnya lagi dengan dahsyat.
"Cukuplah, Nona, biarlah aku mengaku kalah dan salah!"
Kata Hay Hay yang merasa terjebak dan tidak mampu lari lagi mengelak.
Akan tetapi, tanpa menjawab, dengan napas mendengus-dengus, Kui Hong sudah menyerangnya dengan cengkeraman ke arah kepalanya.
Terpaksa Hay Hay menangkap pergelangan tangan itu dengan maksud untuk menundukkan dengan kepandaiannya.
Akan tetapi, tiba-tiba saja gadis itu menggerakkan kepalanya dan rambutnya terlepas dari gelungnya, rambut yang hitam panjang dan harum itu kini menyambar ke arah muka dan pundak kanan Hay Hay, mengeluarkan suara bersiut seperti serangan cambuk saja.
Bukan main!
Gadis ini pandai mempergunakan rambut sebagai senjata!
Memang benar, Kui Hong telah mempelajari ilmu mempergunakan rambut ini dari neneknya!
Dan jangan dikira rambut itu tidak berbahaya!
Lecutannya seperti sebatang cambuk dan kalau sampai mengenai muka, terutama mata, dapat mencelakai lawan!
Menghadapi lecutan rambut ini, terpaksa Hay Hay melepaskan pegangannya dan meloncat ke belakang, akan tetapi pada saat itu, tangan kiri Kui Hong bergerak dan sinar merah menyambar ke arah tubuh Hay Hay.
Pemuda ini cepat menggerakkan tangan untuk menangkis senjata rahasia itu dengan angin Pukulannya, Dan beberapa batang jarum merah itu pun runtuh.
Hay Hay semakin kaget.
Jarum merah itu tentu mengandung racun.
Memang itulah Ang-tok-ciam (Jarum Racun Merah) yang dipelajari oleh Kui Hong dari neneknya.
Diam-diam gadis itu pun kagum melihat betapa pemuda itu mampu meruntuhkan jarum-jarumnya hanya dengan hawa Pukulan tangannya.
Akan tetapi hal ini bahkan membuat ia merasa penasaran sekali dan kini ia maju lagi sambil mendesak lawan dengan ilmu silat yang nampaknya halus dan lemah.
Melihat Pukulan lemah itu, Hay Hay merasa heran.
Apakah akhirnya gadis ini sudah kehabisan tenaganya setelah menyerangnya dengan rambut dan kemudian jarum merah?
Dia mencoba untuk menangkis Pukulan lemah itu, untuk mengukur apakah benar gadis itu sudah kehabisan tenaga.
"Plakk.!"
Dan Hay Hay terkejut bukan main.
Lengannya bertemu dengan telapak tangan yang halus dan lunak sekali.
Itulah Rian-kun (Silat Tangan Kapas) yang memang nampaknya saja lunak, namun begitu halusnya sehingga tenaga sin-kang dan kekerasan pihak lawan akan luluh seperti batu dilempar pada permukaan telaga saja!
Ketika merasa betapa tenaganya luluh, Hay Hay maklum bahwa gadis ini murid seorang yang amat sakti.
Itulah puncak dari ilmu silat, yang selalu mendasarkan kepada pegangan pokok bahwa dengan kelemahan mengalahkan kekerasan!
Dia cepat meloncat lagi ke belakang, akan tetapi tangan yang halus lunak itu telah memegang lengannya sehingga ketika dengan sepenuh tenaga Hay Hay meloncat ke belakang, tubuh Kui Hong terbawa pula.
Dan, karena Hay Hay terlalu tegang menghadapi serangan-serangan maut tadi, dia sampai lengah, tidak melihat ke mana dia melompat, tidak tahu bahwa lompatannya kali ini membuat tubuhnya dan tubuh Kui Hong melayang melalui tepi tebing dan mereka, tanpa dapat dicegah lagi, terjun melayang ke dalam jurang yang amat curam itu!
"Ihhh.!"
Saking kagetnya, Kui Hong melepaskan lengan Hay Hay dan ia melihat betapa tubuh mereka melayang ke bawah dengan cepatnya.
Matikah aku sekali ini, pikirnya, namun ia seorang gadis gemblengan yang tidak pernah gentar menghadapi kematian, maka karena ia tidak melihat jalan keluar untuk dapat menyelamatkan dirinya, dara ini pun pasrah, menyerahkan jiwa raganya ke tangan Tuhan.
Ia tidak memejamkan mata, bahkan membuka matanya lebar-lebar, seolah-olah ia hendak menyambut datangnya maut dalam keadaan sadar sepenuhnya dan dengan mata terbuka!
Hay Hay terkejut bukan main.
Akan tetapi, seperti Kui Hong, dia pun tidak merasa takut, bahkan dia membuka mata dan siap untuk setiap kemungkinan menyelamatkan dirinya.
Setelah Kui Hong melepaskan pegangan pada pergelangan tangannya, luncuran tubuhnya ke bawah tidaklah begitu cepat lagi seperti ketika dibebani oleh tubuh Kui Hong, akan tetapi bagaimanapun juga, masih lebih cepat daripada Kui Hong karena tentu saja berat tubuhnya lebih banyak dibandingkan gadis itu.
Ketika di sebelah bawahnya dia melihat sebatang pohon yang secara aneh tumbuh di tebing, menonjol keluar atau seperti tumbuh miring, Hay Hay lalu mengayun tubuhnya agar luncuran tubuhnya mendekati tebing.
Hal ini amat berbahaya karena kalau sampai tubuh itu menyerempet batu yang runcing dan tajam, tentu kulitnya akan terobek, Bahkan mungkin terkoyak dan membunuhnya sebelum tubuhnya hancur lebur menimpa dasar jurang di mana sudah menanti batu-batu yang keras dan keras.
Hidup dan mati adalah suatu rangkaian, suatu proses, suatu rahasia besar yang tidak dikuasai dan tidak pula dimengerti manusia.
Kita hanya tinggal menerima saja.
Jangankan mati, hidup pun manusia tidak dapat menguasai diri sendiri.
Berdetaknya jantung, pertumbuhan badan, rambut dan kuku dan seluruh anggauta tubuh, sama sekali terjadi di luar kekuasaan kita!
Kita ini diadakan dan hanya menerima apa adanya saja!
Ketika kita lahir, dijadikan apa pun, laki-laki atau wanita, dilahirkan oleh ibu yang mana pun, keluarga kaya atau miskin, berkedudukan tinggi atau rakyat biasa, kita dilahirkan dengan tubuh dan wajah yang dianggap oleh umum bagus atau tidak, semua itu terjadi di luar kehendak dan kekuasaan kita.
Kita ini diadakan, dan ada yang mengadakan, melalui orang tua kita sebagai proses kelahiran manusia baru.
Kita tidak menguasai diri kita sendiri, baik hidupnya maupun matinya!
Kita diadakan oleh Yang Maha Pencipta, dan kita ditiadakan melalui kematian oleh Dia pula!
Kalau Dia masih menghendaki kita hidup, biar dikelilingi seribu macam ancaman bahaya, dengan satu dan lain cara kita akan terlepas dan selamat.
Sebaliknya, kalau Dia menghendaki mati, biar kita bersembunyi di dalam benteng baja atau ke dalam lubang semut sekalipun, tetap saja maut akan datang menjemput!
Demikian pula dengan Hay Hay.
Jelaslah bahwa Yang Maha Pencipta masih menghendaki dia hidup sehingga biarpun tubuhnya sudah meluncur dari ketinggian yang mengerikan dan menurut perhitungan akal manusia, Sudah wajarlah kalau dia mati di dasar jurang yang curam itu dengan tubuh hancur, namun secara "kebetulan!
sekali, di tengah tebing itu ada sebuah pohon tumbuh menonjol dan "kebetulan"
Pula Hay Hay melihatnya, kemudian "kebetulan!
ke tiga adalah bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi sehingga memungkinkan dia untuk meraih cabang pohon yang mencuat sehingga tubuhnya yang meluncur itu tertahan.
Andaikata tidak ada kebetulan pertama, ke dua atau ke tiga itu, sudah tentu Hay Hay akan tamat riwayatnya!
Begitu tubuhnya tertahan, Hay Hay teringat kepada gadis itu dan melihat betapa tubuh gadis itu pun meluncur ke bawah, tak jauh di atasnya, cepat dia menjulurkan kakinya ke depan, ke arah yang akan dilalui tubuh gadis itu dalam luncurannya.
"Cepat tangkap kakiku!"
Teriak Hay Hay sekuat tenaga.
Agaknya Kui Hong melihat dan mendengar pula semua itu, atau lebih tepat lagi Tuhan agaknya masih menghendaki ia hidup, maka cepat Kui Hong menjulurkan tangannya dan ia pun berhasil memeluk sebatang kaki yang dijulurkan itu.
(Lanjut ke
Jilid 35) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 35 Sentakan ketika tubuh Kui Hong tertahan merupakan sentakan yang amat kuat dan kalau bukan Hay Hay yang memiliki kaki itu, di mana dia sudah mengerahkan sin-kangnya, tentu kaki itu akan copot sambungan tulangnya, atau pegangan tangan Hay Hay pada batang pohon itu akan terlepas!
Demikianlah, pemuda dan gadis itu bergantungan di cabang pohon itu, dan di bawah mereka, maut ternganga lebar siap menelan tubuh mereka.
Hay Hay memperhatikan keadaan mereka, memperhatikan pohon yang ternyata cabangnya cukup kuat menahan tubuh mereka berdua.
Akan tetapi, perhatiannya yang sedang melakukan penyelidikan itu terganggu oleh suara omelan Kui Hong yang bergantung pada betis dan pegangan kaki kirinya.."Hemm, nyawamu berada di tanganku."
Kata gadis itu, agaknya kini kemarahannya bangkit kembali setelah melihat bahwa mereka selamat biarpun hanya untuk sementara waktu.
"Sekali aku menggerakkan tangan, engkau akan mampus!"
Hay Hay tersenyum.
Pemuda ini memang luar biasa sekali.
Dalam keadaan seperti itu, dia masih dapat tertawa dan tidak kehilangan kegembiraan dan kejenakaannya.
Betapa bahagianya orang seperti Hay Hay ini yang memandang segala hal dalam segala keadaan dari sudut yang menggembirakan dan cerah selalu.
Apakah sukarnya untuk dapat hidup seperti Hay Hay ini?
Syaratnya, kalau mau disebut syarat, hanyalah satu, yakni pikiran tidak mengada-ada, tidak sarat oleh keinginan-keinginan akan hal yang tidak ada!
Berarti menerima segala sesuatu seperti apa adanya, setiap saat.
Dengan demikian, takkan pernah ada kekecewaan, takkan pernah mengeluh, karena memang tidak mengharapkan hal-hal yang tidak ada.
Hanya orang yang mengharapkan sesuatu yang tidak ada sajalah yang akan kecewa kalau kemudian yang diharapkannya itu tidak terjadi.
"Ha-ha-ha, Nona manis. Engkau agaknya lupa diri. Kalau aku kau bunuh, tentu tanganku akan terlepas dari cabang ini dan Kau kira engkau akan dapat selamat kalau bersama mayatku meluncur ke bawah sana itu?"
Agaknya Kui Hong baru teringat akan hal ini karena tadi kemarahan telah memenuhi hatinya.
Ia marah bukan hanya teringat akan perebutan kijang, Bukan hanya karena berkali-kali ia merasa dipermainkan bahkan setelah bertanding ia tidak mampu mengalahkan pemuda itu, akan tetapi ia marah terutama karena mengingat bahwa kecelakaan ini adalah karena ulah pemuda itu!
Kalau pemuda itu tidak melompat ke jurang, tentu ia pun tidak akan terbawa!
Kini, mendengar ucapan itu, ia tidak mampu menjawab dan otomatis matanya melirik ke bawah.
Ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara jeritan ketika melihat bawah yang demikian jauhnya.
Kalau sampai terjatuh, tentu tubuhnya akan remuk!
Biarpun mulutnya tidak mengatakan sesuatu, namun pelukannya pada kaki kiri Hay Hay itu dipererat dan hal ini terasa oleh Hay Hay yang menjadi semakin lebar senyumnya.
Memang dia nakal dan ugal-ugalan, bukan saja suka sekali melihat keindahan dan kecantikan wanita, suka memuji-muji mereka, akan tetapi dia pun suka menggoda!
"Nona, kalau aku mau, tentu kaki kananku ini dapat menendangmu, menendang kedua tanganmu yang merangkul kaki kiriku dan engkau akan terlepas dan jatuh.
Akan tetapi jangan khawatir, aku tidak sekejam dan seganas engkau yang haus darah ingin membunuh orang.
Sayang kalau seorang gadis secantik engkau sampai mati di bawah sana."
Kui Hong merasa betapa mukanya panas dan ia tahu bahwa wajahnya berubah merah sampai ke telinganya.
Untung bahwa ia berada di bawah dan pemuda di atasnya itu tidak dapat melihat mukanya yang ditundukkan.
"Sudahlah, tutup mulutmu dan kita pikirkan bagaimana agar dapat terlepas dari keadaan berbahaya ini!"
Akhirnya ia berkata, bersungut-sungut.
Sejak tadi Hay Hay sudah mempelajari keadaan mereka.
Pohon itu tumbuh keluar dari celah-celah batu menonjol keluar dan agaknya cukup kuat ter tanam dan terbelit di antara batu-batu bukit itu.
Dia dapat saja merayap ke batang pohon, akan tetapi percuma saja karena permukaan tebing di sekeliling pohon itu rata.
Dan ketika dia memandang ke atas, ternyata mereka tadi terjatuh dari tempat yang amat tinggi.
Mendaki ke atas merupakan hal tidak mungkin sama sekali melihat betapa permukaan tebing itu rata dan licin, tiada sama sekali tempat untuk berpijak dan berpegang.
"Naikkanlah kakimu agar aku dapat meraih cabang itu!"
Kui Hong berkata lagi.
Tentu saja ia dapat merayap naik melalui tubuh pemuda itu, akan tetapi hal ini tidak akan dilakukannya karena ia merasa malu.
Seolah-olah ia meraba-raba seluruh tubuh pemuda itu kalau ia merayap naik melalui tubuhnya!
"Dan setelah engkau duduk di atas cabang ini, engkau langsung menyerangku agar aku terjatuh, begitukah?"
Hay Hay bertanya.
"Berjanjilah dulu bahwa engkau tidak akan menyerangku, baru aku mau menaikkan kakiku."
Kui Hong menjadi semakin gemas.
Akan tetapi ia pun teringat betapa ia telah bersikap terlampau galak.
Ia harus mengakui bahwa memang di tengkuk kepala kijang itu terdapat luka bekas sambitan.
Tak dapat disangkal bahwa agaknya mereka berdua merobohkan kijang itu pada saat yang sama.
Pemuda ini tidak bersalah.
Akan tetapi sikapnya itu.
Seperti mempermainkan, itulah yang membuat ia marah.
Dan pemuda itu tukang sihir pula!
Ia bergidik.
"Baiklah, aku berjanji tidak akan menyerangmu, asal engkau tidak mempergunakan ilmu hitammu itu!"
Hay Hay tertawa.
"Terima kasih, aku pun berjanji tidak akan main-main dengan ilmu sihir. Namaku Hay Hay, dan siapakah engkau, Nona?"
Kui Hong mengerutkan alisnya.
Kurang ajar, pikirnya.
Pemuda itu memerasnya!
Menggunakan kemenangannya karena kakinya dijadikan tempat bergantung, mengajak berkenalan.
Akan tetapi apa salahnya?
Saling mengenal nama lebih baik daripada asing sama sekali padahal mereka ini sedang menghadapi bahaya maut bersama-sama.
Dan pemuda itu telah memperkenalkan namanya.
Hay Hay.
Nama yang aneh, tanpa nama keturunan.
"Namaku Kui Hong."
Katanya, juga hanya memperkenalkan namanya tanpa she (nama keturunan).
"Kui Hong... Kui Hong... nama yang indah dan manis, seperti pemiliknya."
Hay Hay memuji.
Kalau pemuda ini memuji, maka dia memuji dari lubuk hatinya, bukan sekedar memuji untuk merayu atau mengambil hati.
Tidak, Hay Hay tidak pernah ingin mengambil hati atau merayu.
Justeru karena dia menyukai keindahan, maka dia memuji seperti yang dirasakannya, dan karena itu seperti orang merayu!
"Sudahlah, tutup mulutmu dan angkat kakimu agar aku dapat naik ke cabang itu!"
Kui Hong membentak, akan tetapi jantungnya berdebar aneh, seperti merasa girang oleh pujian itu.
Hay Hay lalu mengangkat kaki kirinya naik dan gadis itu lalu meraih cabang pohon di sebelah, lalu melepaskan kaki Hay Hay dan kini ia sudah duduk di atas cabang pohon, berhadapan dengan Hay Hay yang memandangnya sambil tersenyum.
"Untung ada pohon ini yang menyelamatkan nyawa kita, Nona Kui,"
Kata Hay Hay, kini sikapnya hormat karena dia melihat api kemarahan masih bernyala di dalam kedua mata gadis itu.
Mendengar sebutan itu, Kui Hong merasa lucu dan ia pun tersenyum.
Lenyaplah semua kegalakannya dalam senyum itu sehingga Hay Hay terpesona.
"Aih, Nona Kui. Kenapa engkau tidak memperbanyak senyummu itu? Bukan main! Senyummu membuat aku lupa bahwa aku terjebak di mulut maut ini!"
Senyum ini pun lenyap seketika.
"Hemm, sudahlah, engkau sungguh memualkan perutku!"
Hay Hay membelalakkan matanya.
"Memualkan perut? Wah aneh! Akan tetapi biarlah, hanya aku ingin tahu apa yang menyebabkan engkau tersenyum tadi, Nona Kui? Bukankah benar kataku bahwa pohon ini menyelamatkan nyawa kita?"
"Ada beberapa hal yang membuatku geli dan ingin tersenyum."
Kata Kui Hong.
"Pertama, karena engkau menyebutku Nona Kui seolah-olah aku she Kui. Padahal, Kui Hong adalah namaku, dan Kui bukan nama keturunan keluargaku."
"Aih, begitukah? Mengapa engkau memperkenalkan diri hanya nama saja tanpa nama keturunan?"
"Hemm, sungguh tak tahu diri? Kenapa engkau tidak mau bercermin?"
Kui Hong mencela.
Hay Hay memandang wajah yang manis itu, keduanya saling pandang dan Hay Hay mengerutkan alisnya.
"Aih Nona Hong!"
Dia merobah panggilannya, tidak lagi Nona Kui melainkan Nona Hong.
"Jangan engkau main-main!"
"Main-main? Aku...?", Kui Hong bertanya marah. Orang ini sungguh keterlaluan, dia yang main-main kini malah mengatakan ia yang main-main! "Di tempat ini mana ada cermin? Bagaimana mungkin aku bercermin? Aku bukan pesolek dan.."
"Tolol!"
"Memang aku tolol, tapi mengapa."
"Maksudku bercermin diri, bukan bercermin muka. Engkau sendiri mengaku, namamu Hay Hay, tanpa menyebutkan she-mu. Tidak mungkin engkau she Hay bernama Hay. Mana ada she Hay di dunia ini? Kalau engkau tidak mau menyebutkan shemu, apakah aku perlu memperkenalkan sheku?"
Hay Hay tersenyum dan diam-diam Kui Hong harus mengakui bahwa pemuda ini tampan dan menarik sekali, senyumnya tidak dibuat-buat dan sepasang matanya itu kadang-kadang mencorong seperti mata seekor naga dalam dongeng.
Akan tetapi kalau teringat betapa pemuda itu pandai ilmu sihir, ia bergidik dan segera menundukkan mukanya, tidak berani terlalu lama bertemu pandang.
"Ah, kiranya engkau membalas? Baiklah, Nona Hong, biarpun selama ini aku ini tidak pernah mempergunakan sheku, akan tetapi nama keturunanku adalan Tang jadi nama lengkapku adalah Tang Hay. Akan tetapi sungguh mati, aku lebih suka dikenal sebagai Hay Hay saja."
"Aneh kalau ada orang ingin mengingkari nama keturunan ayahnya!"
Kata Kui Hong.
"Aku sendiri she Cia "
"Heiiii.!"
Kui Hong sampai tersentak kaget.
"Gilakah engkau? Teriak-teriak mengejutkan orang! Ada apa sih engkau berteriak mendengar nama keturunanku?"
"She Cia? Aku jadi teringat kepada seorang suhengku. Menurut keterangan seorang di antara guru-guruku, beliau mempunyai seorang murid yang juga she Cia, nama lengkapnya Cia Sun "
"Ihhhh.!"
Kini bagian Hay Hay yang tersentak kaget.
"Wah, wah, hampir aku terjatuh karena kaget. Kenapa sih engkau menjerit mendengar nama Suhengku itu? Apakah engkau mengenalnya?"
"Mengenal? Tentu saja! Dia masih keluarga kami dari Cin-ling-pai."
Hay Hay mengangguk-angguk.
"Aku sudah mendengar akan keluarga Cin-ling-pai. Perkumpulan yang terkenal gagah perkasa. Kiranya engkau ini murid Cin-ling-pai?"
"Aku puteri ketuanya!"
Kata Kui Hong sambil mengangkat dada.
Kembali Hay Hay kagum.
Bentuk dada dan bahu wanita itu sungguh indah, ketika diangkat dada itu, membusung dan nampak lekuk-lengkung yang menarik.
"Wah-wah, kalau begitu aku bersikap kurang hormat. Engkau puteri Ketua Cin-ling-pai, keluarga Cia yang amat terkenal, sedangkan aku hanya seorang perantau tanpa nama, dan tentang kijang itu... maafkanlah aku, Nona. Sebetulnya bukan maksudku untuk berebutan akan tetapi."
"Sudahlah. Mengapa kita mengobrol ke barat dan timur tanpa arah ini? Lebih baik kita bicara tentang keadaan kita. Bagaimana kita dapat keluar dari sini. Apa engkau ingin hidup selamanya di pohon ini?"
Kata Kui Hong, sambil menatap wajah Hay Hay.
Yang ditatap tersenyum lebar, dan Kui Hong juga tersenyum karena merasa betapa lucunya pertanyaan itu.
Tentu tidak akan ada manusia di dunia ini yang suka hidup selamanya di pohon itu!
"Ya, aku ingin dan mau hidup selamanya di pohon ini asal bersamamu, Nona!"
Lenyap senyum Kui Hong dan mukanya kembali menjadi merah, akan tetapi matanya mencorong dan alisnya berkerut.
"Engkau mau mempermainkan aku dan kurang ajar lagi?"
"Tidak, tidak, mana aku berani? Maafkanlah, Nona. Aku memang suka bergurau. Sudahlah, aku tidak akan bicara main-main lagi, mari kita selidiki tempat ini. Lihat, aku tidak mungkin memanjat ke atas, permukaan tebing itu demikian licin dan rata, tidak ada celah-celah atau tempat kaki berpijak dan tangan bergantung. Untuk turun juga tidak mungkin, dinding tebingnya.sama, bahkan lebih jauh daripada kalau naik. Akan tetapi di sana itu terdapat sebuah guha. Lihat!"
Kui Hong memandang ke bawah sebelah kanan dan benar, kurang lebih tiga puluh meter dari tempat mereka duduk di cabang pohon itu, nampak sebuah guha yang cukup besar.
"Akan tetapi guha itu terlalu jauh, bahkan ke situ pun tidak mungkin merayap melalui dinding tebing yang rata dan licin itu."
Kata Kui Hong.
"Aku dapat mencoba dengan mengerahkan sin-kang untuk menggunakan kedua tangan menempel dinding dan merayap ke sana. Akan tetapi apa gunanya? Kalau gagal, aku akan terjatuh ke bawah, sedangkan kalau berhasil, paling-paling hanya bertukar tempat tanpa jalan keluar, dari pohon ini ke guha itu."
"Akan tetapi, kalau kita bisa ke sana, setidaknya kita dapat bergerak lebih leluasa, dapat merebahkan diri untuk tidur, dapat pula berjalan dan berdiri, mungkin bisa mencari makanan di dalam guha itu. Kalau di sini? Kita hanya duduk di batang pohon dan akhirnya kita akan mati kelaparan. Sayang, bangkai kijang itu tidak kita bawa! Gemuk dan muda lagi!"
Diingatkan akan kijang itu, Kui Hong membayangkan betapa lezatnya membakar daging kijang dan tanpa disengajanya, perutnya berkeruyuk.
"Nah, perut siapa yang berkeruyuk?"
Kata Hay Hay untuk mempertahankan suasana agar gembira. Wajah Kui Hong berubah merah sekali.
"Kau berani menghinaku dan mengatakan perutku berkeruyuk?"
Bentaknya marah.
"Aih, siapa yang mengatakan demikian, Nona? Aku hanya mendengar suara perut berkeruyuk dan tidak tahu perut siapa itu yang berkeruyuk."
"Perutku tidak!"
Kui Hong mempertahankan, tentu saja malu untuk mengaku.
"Pula, perut berkeruyuk tidak perlu memalukan, dan bukan suatu penghinaan kalau terdengar orang. Kalau perutmu tidak berkeruyuk, tentu perutku. Nah, dengar, berkeruyuk lagi.!"
Benar saja, terdengar perut Hay Hay berkeruyuk karena memang sejak berburu kijang, dia sudah lapar sekali.
Dan pada saat yang hampir bersamaan, perut Kui Hong berkeruyuk lagi!
"Wah, jagonya yang berkeruyuk ada dua ekor!"
Kata Hay Hay tertawa dan kini Kui Hong tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa.
Ia tidak merasa malu lagi karena jelas perut Hay Hay terdengar lebih dulu berkeruyuk, lebih nyaring lagi!
"Kalau tinggal di sini terus, walau kita kuat bertahan, perut kita ini yang tidak akan kuat bertahan.
Kita harus mencari.."
"Hay Hay, lihat.!"
Tiba-tiba Kui Hong berteriak sambil menuding ke arah guha.
Hay Hay tersenyum mendengar namanya dipanggil dan tentu dia akan menggodanya kalau saja dia tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh gadis itu.
Ketika dia menoleh ke arah guha, dia melihat sebuah kepala nongol keluar dan dia terkejut.
Sebuah muka yang sesungguhnya cantik, akan tetapi kotor sekali.
Rambut yang sudah berwarna dua itu awut-awutan, disanggul sembarangan saja, dan wajah itu adalah wajah seorang nenek-nenek yang sukar ditaksir berapa usianya.
Tentu lebih dari enam puluh tahun melihat keriput pada pipinya.
Namun, wajah itu memang cantik, setidaknya menunjukkan dengan jelas bahwa dahulunya wanita itu tentulah seorang yang cantik sekali.
Akan tetapi matanya!
Mata itu merah dan liar seperti mata serigala, atau mata seekor anjing gila.
"Hi-hi-hik,"
Nenek itu tertawa dan nampaklah bahwa mulutnya sudah tidak bergigi lagi.
Pantas saja nampak kempot dan kisut.
Andaikata nenek itu masih bergigi, tentu kedua pipinya masih halus, melihat betapa dahinya, lehernya, masih kelihatan mulus seperti dahi dan leher orang muda saja.
"Sepasang monyet muda, sasaran bagus sekali untuk latihanku, hi-hi-hik!"
Hay Hay dan Kui Hong mengamati nenek itu yang kini kelihatan lebih banyak dari bagian tubuhnya yang lain, sampai sebatas pinggang.
Pakaiannya hitam dan lapuk pula, kotor sekali, akan tetapi tubuhnya padat dan ramping seperti tubuh wanita muda!
Kini mereka melihat tangan nenek itu memasukkan dua buah kerikil ke mulutnya dan begitu ia meniup, dua buah kerikil yang runcing tajam karena kerikil itu pecahan dari batu keras, menyambar ke arah muka Hay Hay dan Kui Hong dengan kecepatan luar biasa sampai mengeluarkan suara bercuitan!
"Awas.!"
Hay Hay berseru dan cepat tangannya menyambar batu itu yang hendak lewat ketika dia miringkan kepala.
Dia terkejut bukan main karena telapak tangannya merasa nyeri, tanda bahwa sambaran batu kerikil itu kuat bukan main!
Kui Hong juga melihat sinar menyambar itu, dan dengan mudahnya ia miringkan kepala dan batu itu lewat dengan cepatnya di dekat kepalanya.
Hay Hay membuka kepalan tangannya.
Hanya sebuah kerikil tajam dan runcing, akan tetapi bagaimana mungkin orang dapat meniupkan kerikil itu sedemikian kuatnya?
Kalau nenek itu mempergunakan tangannya, dia masih tidak heran.
Akan tetapi mempergunakan mulut meniup?
Kui Hong kagum juga, bukan hanya kagum kepada nenek itu yang dapat melepas kerikil sebagai senjata rahasia dengan tiupan mulutnya, akan tetapi juga kagum kepada Hay Hay yang mampu menangkap batu kecil itu ketika tadi menyambar ke arah mukanya.
Ia sendiri harus mengaku bahwa ia tidak akan mampu melakukannya, kecuali kalau sambaran batu kecil itu tidak secepat dan sekuat tadi.
Sementara itu, nenek yang melepas dua buah kerikil itu nampak terkejut dan penasaran.
"Ehhh? Kaliah mampu menghindarkan tiupanku? Hemm, coba yang ini!"
Nenek itu kembali meniup dan kini ditambah dengan gerakan kedua tangannya.
Kini dua buah kerikil menyambar ke arah muka dan dada Hay Hay, dua buah yang lain lagi menyambar ke arah muka dan dada Kui Hong!
Dengan kecepatan dan kekuatan yang lebih besar daripada tadi!
Kui Hong yang sudah siap siaga, tadi sudah mengerahkan tenaga dan begitu melihat dua sinar menyambar, ia sudah meloncat ke atas sehingga dua buah kerikil itu lewat di bawah tubuhnya.
Akan tetapi Hay Hay masih memperlihatkan kehebatan ilmunya, dia hanya miringkan tubuhnya dan cepat kedua tangannya berhasil menangkap dua buah kerikil itu!
"Nenek iblis jahat!"
Bentak Kui Hong marah.
"Hay Hay, balas iblis itu, serang ia dengan kerikil-kerikil itu!"
Hay Hay menggeleng kepalanya.
"Kalau engkau tidak mau, kesinikan kerikil-kerikil itu, biar aku yang akan menyambitnya!"
Kui Hong marah sekali dan tidak berdaya karena dari jarak sejauh itu, kalau ia menggunakan jarum-jarum merahnya, hasilnya tidak akan memuaskan.
"Jangan, biarkan aku bicara dengannya."
Sementara itu, melihat kembali mereka berdua mampu menghindarkan diri, apalagi melihat betapa dua butir kerikilnya dapat ditangkap oleh pemuda itu, nenek itu berseru.
"Celaka, kalian tentu urusannya untuk datang membunuhku! Baik, akan kulihat kalau aku menghujankan kerikil beracun kepada kalian. Kalian hendak menghindar ke mana?"
Melihat nenek itu sudah siap hendak menyerang lagi, tentu kini lebih hebat, cepat Hay Hay mengerahkan tenaga sihirnya memandang kepada nenek itu lalu berseru nyaring, suaranya mengandung getaran yang penuh wibawa.
"Nenek yang baik, nenek yang cantik, lihatlah baik-baik. Kami bukan musuh-musuhmu, dan aku bahkan suamimu sendiri. Lihatlah, apa engkau sudah lupa kepada suamimu sendiri?"
"Gilakah engkau, Hay Hay?"
Kui Hong berkata, akan tetapi segera gadis ini teringat bahwa pemuda itu memiliki ilmu kepandaian aneh, yaitu ilmu sihir, maka ia pun menutup mulutnya, dapat menduga bahwa tentu pemuda itu kini sedang mempergunakan ilmu sihirnya untuk mempengaruhi nenek itu.
Ia melihat betapa nenek itu terpukau sejenak, lalu matanya memandang kepada Hay-Hay, nampak terkejut, heran, seperti tidak percaya dan mengusap-usap kedua matanya sendiri dengan punggung tangan kanan, memandang lagi, dan...
nenek itu seketika menjadi merah mukanya dan kelihatan marah bukan main.
"Hek-hiat-kwi (Setan Berdarah Hitam) Lauw Kin, kiranya engkau sendiri yang datang untuk membunuh aku? Atau untuk mengejek dan sengaja membawa pacarmu yang baru, gadis muda yang cantik itu? Bagus, jangan kira aku tidak berdaya lagi setelah bertahun-tahun ini, engkaulah yang akan mampus lebih dahulu, setan!"
Dan tiba-tiba saja nenek itu menyerang dengan banyak sekali kerikil yang disambitkan atau ditiupkan, Semua ke arah Hay Hay sehingga pemuda ini menjadi sibuk bukan main karena kini benar-benar dia dihujani batu kerikil yang datang menyerang bertubi-tubi dan semua itu dilepas dengan kekuatan dahsyat, bahkan masing-masing batu kerikil menyerang ke arah bagian berbahaya dari tubuhnya.
Dia terpaksa berloncatan di atas cabang, lalu dari dahan ke dahan sambil memutar-mutar caping yang sudah diambilnya dari punggung untuk menangkis.
Diam-diam Kui Hong merasa geli juga melihat hasil sihir pemuda itu, akan tetapi ia pun kagum bukan main melihat cara pemuda itu menghindarkan diri.
Kalau ia yang diserang seperti itu, sukarlah baginya untuk mampu menyelamatkan diri.
Dan diam-diam ia merasa khawatir sekali, maka ia pun segera mengerahkan khikang dan dengan suara nyaring mengandung kekuatan khi-kang ia pun berteriak.
"Nenek tolol! Lihat baik-baik, dia itu seorang pemuda bernama Hay Hay, sama sekali bukan suamimu yang bernama Lauw Kin!"
Ternyata lengkingan suara ini mampu menembus dan pada saat itu Hay Hay juga menyimpan kekuatan sihirnya.
Nenek itu memandang heran dan segera menghentikan serangannya.
Hay Hay berdiri di atas cabang pohon, mukanya masih agak pucat dan diam-diam dia memaki diri sendiri.
Tolol, kiranya nenek ini agaknya bermusuhan dengan suaminya sendiri!
Setelah melihat bahwa yang diserangnya mati-matian tadi bukan suaminya melainkan seorang pemuda, nenek itu terbelalak dan kelihatan bingung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Hay Hay untuk membujuknya.
"Nenek yang baik, kami tidak mempunyai kesalahan kepadamu, kenapa engkau memusuhi kami? Manusia hidup harus saling tolong-menolong. Kami sedang berada dalam kesulitan, terjatuh dari atas dan tertolong oleh pohon ini, akan tetapi kami tidak dapat naik atau turun dari sini. Tolonglah kami, Nek, siapa tahu, kami juga akan dapat menolongmu kelak."
Nenek itu agaknya berpikir sampai lama, memandang kepada Hay Hay dan Kui Hong, lalu mengangguk-angguk.
"Aku telah salah sangka, kalian jelas bukan musuh, bukan utusan suamiku, akan tetapi kalian lihai. Memang benar, kalian tentu akan dapat menolong aku yang hidup sengsara ini... uhu-hu-huhh... aku yang sengsara, disengsarakan oleh seorang laki-laki yang jahat"
Dan nenek itu menangis sampai sesenggukan.
Tangis itu seperti tiada hentinya, dan kedua orang muda di atas pohon itu saling pandang.
Karena menanti tangis nenek itu sampai lama akan tetapi tangis itu tak pernah berhenti, Kui Hong kehilangan kesabarannya.
"Sudahlah, Nek, hentikan tangismu itu dan kalau memang engkau dapat, tolonglah kami! Baru kita bicara tentang masalahmu dan aku akan menolongmu!"
Kata Kui Hong sebelum dapat dicegah oleh Hay Hay.
Khawatir kalau-kalau nenek itu marah lagi, cepat Hay Hay menyambung sambil mengerahkan ilmu sihirnya untuk menguasai nenek ini.
"Benar, Nek. Percayalah kepada kami. Kami bukan orang jahat dan kalau engkau dapat menolong kami, tentu kami juga akan berusaha menolongmu untuk membalas budimu."
Nenek itu menghentikan tangisnya dan memandang kepada Hay Hay, kemudian ia mengangguk.
"Baik, baik, jangan khawatir. Aku pasti akan menolong katian."
Tiba-tiba tubuh bagian atas dan kepala nenek itu lenyap agaknya ia masuk ke dalam guha.
Dua orang muda di atas pohon itu saling pandang lagi, dan tentu saja keadaan ini amat menegangkan bagi mereka.
Mereka masih meragukan karena bagaimana mungkin nenek itu akan dapat menolong mereka?
"Nona, dengarlah.."
"Hay Hay, kalau engkau menyebut nona lagi kepadaku, selamanya aku takkan sudi bicara denganmu! Namaku Kui Hong, engkau tahu ini, dan tidak ada tuan-tuan atau nona-nonaan!"
Hay Hay tersenyum, dalam hatinya merasa gembira sekali.
Sejak tadi di luar dugaannya gadis ini menyebut namanya ketika melihat nenek dalam guha, dia sudah menduga bahwa gadis itu telah hilang kemarahannya terhadap dirinya dan mulai percaya kepadanya.
"Baiklah, Kui Hong, dan terima kasih. Sekarang dengar baik-baik sebelum ia muncul."
Katanya dengan suara halus dan lirih setengah berbisik.
"Kalau nenek itu nanti benar menolong kita, biar aku yang lebih dahulu ditolongnya, karena aku masih curiga kepadanya. Jangan-jangan ia menolong hanya untuk menjebak kita."
Kui Hong memang kini sudah percaya kepada Hay Hay.
Percaya sepenuhnya, terutama sekali mengenai tingkat kepandaian mereka.
Ia tahu bahwa Hay Hay adalah seorang pemuda yang amat tinggi ilmunya.
Ia sudah melihat sendiri betapa pemuda itu bukan hanya mampu menyambar kerikil itu, bahkan dapat menyelamatkan diri ketika dihujani batu kerikil, hanya dengan bantuan topinya!
Mendengar suara bisikan itu, ia pun mengangguk karena ia sendiri juga belum percaya benar kepada nenek itu dan memang sebaiknya Hay Hay yang lebih dahulu berhadapan dengan nenek itu, yang jelas memiliki ilmu kepandaian silat yang tinggi pula dan akan merupakan lawan yang amat berbahaya.
Pada saat itu, nongollah kembali kepala Si Nenek tadi dan kini ia membawa segulung tali!
Melihat tali itu, mengertilah Hay Hay dan wajahnya berubah gembira.
Tak disangkanya bahwa nenek itu memiliki gulungan tali yang nampaknya panjang dan kuat itu!
Kini dia pun mengerti bagaimana nenek itu akan menolong mereka, yaitu mengajak mereka ke dalam guha itu, akan tetapi bagaimanapun juga, tentu lebih baik daripada di atas pohon yang mencuat keluar dari tebing itu!
Akan tetapi Kui Hong cemberut.
"Hemm, tali sebegitu, mana cukup untuk dipakai turun ke bawah?"
Katanya.
Mendengar ucapan ini, Si Nenek tertawa, kini suara ketawanya tidak mengejek seperti tadi, walaupun masih kelihatan sama, mulut itu tidak bergigi lagi.
"Mau apa turun ke bawah? Kalau sudah turun ke dasar jurang, tidak ada kemungkinan naik kembali, kecuali menunggang burung rajawali!"
Kata nenek itu dengan suara sungguh-sungguh.
"Akan tetapi sayang tak pernah kulihat selama bertahun-tahun ini seekor pun burung rajawali di daerah ini. Jalan keluar untuk menyelamatkan diri hanyalah melalui guha ini."
"Baiklah, Nenek yang baik. Lekas lontarkan ujung tali itu ke sini!"
Kata Hay Hay.
"Heh-heh, engkau lebih cerdik. Dan engkau pun lihai sekali, orang muda. Aku percaya hanya engkau dan Nona itu yang dapat membantuku menghadapi musuh besarku. Nah, sambutlah tali ini!"
Nenek itu melontarkan ujung tali dan dari perbuatan ini saja sudah dapat dilihat betapa lihainya nenek itu.
Kekuatan lontarannya demikian hebatnya sehingga bagaikan dibawa anak panah saja, ujung tali itu meluncur dengan cepatnya ke arah pohon itu.
Dan ternyata ujung tali itu dengan tepat sekali membelit batang pohon itu, melilit seperti seekor ular melilitkan ekornya!
Hay Hay cepat menghampiri batang pohon itu dan mengikatkan ujung tali dengan kuatnya pada batang pohon yang besarnya sepinggangnya, cukup kuat untuk menahan berat badannya.
Dia memeriksa tali itu dan merasa kagum.
Tali itu adalah tali yang amat kuat, dipintal dengan rapi, agaknya dikerjakan oleh tangan yang tekun dan bahannya semacam rumput yang ulet sekali dan sudah kering.
Dia tidak tahu dari bahan apa tali itu dibuatnya, namun dia dapat menduga tentu dari semacam rumput yang amat kuat.
"Sudah kuikat kuat, Nek. Tariklah biar tegang!"
Kemudian dia berbisik kepada Kui Hong.
"Kui Hong, kalau nanti engkau menyeberang, jangan berjalan di atas tali. Berbahaya kalau ia melepaskan tali di ujung sana. Bergantung saja seperti yang aku lakukan."
Nenek di guha itu sudah menarik talinya dan kini tali itu menegang, merupakan jembatan tali sehelai dari atas ke bawah, akan tetapi tidak terlalu menurun sehingga kalau saja tidak takut dikhianati nenek itu, akan lebih mudah bagi Hay Hay kalau dia berjalan atau berlari saja di atas tali itu.
Akan tetapi kalau dia melakukan hal ini, sekali nenek itu melepaskan talinya, tubuhnya tentu akan terjatuh ke bawah sana.
"Kui Hong, aku menyeberang lebih dulu, perhatikan!"
Bisiknya kepada nona itu dan dia pun berteriak ke arah guha.
"Aku mulai menyeberang, Nek!"
Dan dia pun memegang tali itu dengan kedua tangannya dan meloncat dari atas cabang pohon.
Kini tubuhnya bergantung pada tali itu dan melihat betapa tali itu benar cukup kuat seperti yang diduganya, mulailah dia bergerak maju, menggunakan kedua tangannya merayap maju sambil bergantung.
Dengan cara demikian, andaikata nenek itu berlaku curang dan melepaskan tali, tubuhnya akan terjatuh ke bawah, akan tetapi karena dia berpegang kepada tali tentu pohon itu cukup kuat menahan tubuhnya dan dia akan selamat kembali ke pohon tadi.
Hal ini dimengerti pula oleh Kui Hong dan dia semakin kagum.
Pemuda itu selain lihai, juga cerdik sekali.
Nenek yang mengamati gerakan Hay Hay dari seberang, kini tertawa, nadanya mengejek.
"Orang muda, agaknya engkau tidak percaya kepadaku, maka engkau menyeberang sambil bergantungan. Hemm, kalau aku bermaksud buruk, biarpun engkau bergantungan, apa Kau kira aku tidak mampu membuat engkau melepaskan tali dan terjatuh ke bawah? Ingat, kalau sekarang aku menghujankan kerikil kepadamu, bagaimana engkau akan mampu melindungi dirimu?"
"Aku akan menghindarkan seranganmu begini, nenek yang baik!"
Dan tiba-tiba saja tubuh Hay Hay yang bergantungan itu membuat gerakan berputaran seperti seorang pemain akrobat tali, atau bermain sulap.
Akan tetapi gerakannya ini lebih cepat lagi sehingga lenyaplah bentuk tubuhnya berubah menjadi bayangan yang berputaran mengitari tali itu dengan amat cepatnya sehingga diam-diam nenek itu terkejut dan kagum.
Memang akan sukarlah menyerang pemuda itu karena gerakan pemuda itu amat cepatnya.
Sambil berputaran, kedua tangan Hay Hay terus melangkah dan akhirnya dia tiba di mulut guha dan melompat masuk, berdiri di depan nenek itu.
Dan Hay Hay terkejut bukan main melihat bahwa nenek itu tidak berdiri, melainkan duduk dan melihat keadaan dua kakinya dalam celana hitam yang terkulai lemas itu, dia dapat menduga bahwa kedua kaki nenek itu lumpuh!
Dia menahan perasaannya dan tidak memperlihatkannya pada wajahnya, melainkan tersenyum ramah.
"Aku percaya bahwa engkau tidak akan mencelakakan aku, Nek, karena engkau membutuhkan bantuanku."
Katanya sambil tersenyum.
"Hi-hik, engkau benar, aku butuh bantuanmu karena engkau memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi, gadis itu tidak kubutuhkan bantuannya, karena itu ia lebih baik dienyahkan saja agar tidak menjadi gangguan!"
Berkata demikian, cepat bukan main, tahu-tahu nenek itu sudah memegang sebatang pedang dan karena tali penyeberang itu berada di dekatnya, Hay Hay merasa tidak sempat lagi mencegah dengan perbuatan.
Maka dia pun mengerahkan ilmu sihirnya dan membentak dengan suara nyaring karena dia melihat betapa Kui Hong sudah bergantungan di tali penyeberang itu seperti yang dilakukannya tadi!
"Hei, Nek, engkau memegang ular di tangan kananmu, untuk apakah?"
Pedang itu sudah diangkat, akan tetapi mendengar bentakan itu, gerakannya terhenti di tengah jalan.
Pedang tidak turun menyambar ke arah tali, melainkan tertahan di atas dan nenek itu nampak terkejut dan bingung.
"Ular.?"
Dan ia pun mengangkat mukanya memandang ke arah pedang di tangan kanannya dan ia pun menjerit.
"Ihhh.!"
Dan pedang itu pun terlepas jatuh berkerontangan di atas lantai guha.
Saat itu, Hay Hay sudah meloncat dekat tali dengan sikap melindungi dan dia sudah menarik kembali ilmu sihirnya, membiarkan nenek itu memungut pedangnya sambil mengamati pedang itu dengan sikap terheran-heran.
Sementara itu, karena jarak antara pohon dan guha itu hanya tiga puluh meter, dengan "langkah"
Sebanyak lima puluh kaki saja dengan ke dua tangannya, Kui Hong sudah tiba di mulut guha dan melompat ke dalam dengan selamat.
Nenek itu sudah memungut kembali pedangnya dan kini ia berdiri, atau lebih tepat lagi duduk karena ia tidak mempergunakan kedua kakinya, di depan Hay Hay dan Kui Hong.
Gadis ini pun terkejut, karena seperti juga Hay Hay, ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa nenek itu adalah seorang yang lumpuh kedua kakinya!
Melihat betapa dua orang muda itu memandang ke arah kedua kakinya, nenek itu berkata.
"Kalian tidak mengira bahwa kedua buah kakiku lumpuh? Ya, aku lumpuh, aku tidak berdaya, aku... aku wanita yang menderita hebat penuh kesengsaraan! Dan semua ini gara-gara dia!"
Tiba-tiba nenek itu kelihatan beringas, wajahnya yang cantik itu berubah menjadi kejam dan sepasang matanya seperti mengeluarkan api.
Pedang di tangannya lalu dimainkan, menyambar-nyambar ganas.
"Karena itu, aku harus menghajarnya, akan kuserang dia mati-matian!"
Pedang itu menyambar-nyambar dan kedua orang muda itu terkejut karena mereka mengenal gerakan ilmu pedang yang dahsyat sekali.
Pedang itu berubah menjadi sinar putih bergulung-g.ulung dan mengeluarkan suara berdesing dan mengiang, lalu sinar itu mencuat ke arah sebongkah batu.
"Crakkk!"
Nampak bunga api berpijar dan batu itu pun terbelah menjadi dua!
Beberapa kali pedang itu menyambar ke arah batu.
"Seperti inilah dia akan kucincang..!"
Nenek itu berteriak-teriak dan batu besar itu kini menjadi puluhan potong!
Tiba-tiba seperti permulaannya tadi, ia menghentikan permainan pedangnya, memandang ke arah batu itu, kemudian kepada pedangnya dan ia pun menangis kembali, agaknya merasa menyesal bahwa yang dipotong-potong itu bukan tubuh musuhnya, melainkan hanya sepotong batu besar!
"Uhu-hu-huuu...
aku memang wanita malang, menderita dan sengsara."
Dan tiba-tiba, pedang itu ditekuknya dengan kedua tangannya dan ia sudah memaki marah lagi.
"Keparat, akan kupatahkan tulang lehernya seperti ini!"
"Krekkk!"
Pedang yang ditekuknya itu patah menjadi dua potong.
"Dan kucampakkan tubuhnya ke jurang seperti ini!"
Dilemparkan dua potongan pedang itu keluar guha, dan dua batang benda itu meluncur ke dalam jurang yang amat curam itu.
Dua orang muda itu saling pandang, terkejut dan juga kagum karena mereka melihat betapa pedang itu dengan mudahnya dapat membelah batu, tanda bahwa pedang itu terbuat dari baja yang amat baik.
Akan tetapi dengan amat mudahnya, nenek itu mematahkan pedang tadi dengan kedua tangannya!
Ini pun membuktikan betapa kuat jari-jari tangan nenek itu.
"Nenek yang baik, siapakah orang jahat yang membuatmu hidup sengsara itu? Kami tentu akan suka membantumu, asal saja engkau dapat menunjukkan jalan keluar bagi kami."
Kata Kui Hong agak terharu juga melihat keadaan nenek itu.
Jelas seorang nenek yang memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi karena kedua kakinya lumpuh, tentu saja ia menjadi tak berdaya menghadapi musuhnya.
"Apakah dia yang membuat kakimu menjadi lumpuh? Apakah dia yang membuat engkau hidup merana seorang diri di dalam guha ini?"
Ditanya demikian, kembali nenek itu menangis, sesenggukan dan air matanya bercucuran.
Kui Hong dan Hay Hay mendiamkannya saja, hanya memandang dengan hati iba, akan tetapi tidak berani terlalu dekat dengan nenek yang aneh itu.
Setelah menangis beberapa lamanya, nenek itu menghentikan tangisnya dan berkata, seperti menjawab pertanyaan-pertanyaan Kui Hong tadi.
"Jalan keluar satu-satunya dari jurang ini adalah melalui guha ini, akan tetapi jalan itu merupakan rahasia, yang mengetahuinya hanya aku dan dia saja! Tanpa petunjukku, biar kalian sudah berada di dalam guha ini, sampai mati pun kalian takkan dapat menemukan jalan rahasia itu! Memang setan itulah yang telah melumpuhkan kakiku, dan dia mencampakkan aku ke dalam tempat ini. Sudah dua puluh lima tahun lamanya! Dengar, dua puluh lima tahun lamanya aku hidup di tempat ini, dalam keadaan lumpuh, seorang diri pula. Aihhh... betapa malang nasibku... dan baru hari ini aku bertemu dengan manusia lain, yaitu kalian inilah."
"Tapi, Locianpwe (sebutan orang tua yang gagah perkasa)."
Kata Hay Hay.
"Aku melihat bahwa engkau amat lihai, memiliki ilmu kepandaian tinggi, dan kalau mengenal jalan rahasia itu, kenapa tidak keluar selama ini?"
"Ah, dasar nasibku yang buruk. Apakah engkau lupa bahwa sebelum mencampakkan aku ke dalam tempat ini, setan itu lebih dahulu membuat kedua kakiku lumpuh? Dalam keadaan lumpuh seperti ini, betapa pun tinggi ilmu silatku, mana mungkin aku dapat keluar melalui jalan rahasia itu? Jalan itu menanjak, licin dan amat sukar. Orang yang tidak cacat sekalipun, kalau dia tidak memiliki ilmu kepandaian tinggi, jangan harap dapat keluar. Sudah berkali-kali kucoba, akan tetapi aku terjatuh lagi ke sini."
"Akan tetapi, Nek, siapakah orang itu, dan siapa namanya?"
Tanya Kui Hong penasaran dan ia tidak mau menyebut locianpwe seperti yang dilakukan Hay Hay, mengingat bahwa tadi nenek ini hendak membunuh mereka berdua ketika masih berada di atas pohon.
"Setan itu bernama Lauw Kin, berjuluk Hek-hiat-kwi (Setan Berdarah Hitam) dan dia masih suamiku sendiri."
"Ahhhh!"
Hampir berbareng Hay Hay dan Kui Hong berseru kaget dan heran.
"Suamimu sendiri? Akan tetapi, kenapa seorang suami berbuat seperti ini terhadap isterinya?"
Tanya Kui Hong, semakin penasaran dan sebagai seorang wanita, tentu saja segera ia merasa terpanggil untuk berpihak kepada nenek itu, menentang suami nenek itu yang demikian kejam dan jahatnya.
Nenek itu mengerling ke arah Hay Hay, lalu menarik napas panjang dan dengan sikap sedih ia menundukkan mukanya.
"Laki-laki mana yang dapat dipercaya di dunia ini? Sebelum didapatkannya seorang wanita, dia merayu dengan kata-kata manis, semanis madu. Akan tetapi setelah wanita berhasil dipikatnya dan menjadi isterinya, dia akan merasa bosan dan mencari lain wanita! Dan aku sebagai isterinya, tentu saja merasa sakit hati dan cemburu, lalu aku hendak membunuh wanita itu. Akan tetapi dia membela wanita itu, dan dia amat lihai. Aku kalah, kedua kakiku dilumpuhkan dan dia melempar aku ke tempat ini!"
"Jahanam keparat laki-laki itu!"
Kui Hong berseru sambil mengepal tinju dan hatinya sudah merasa panas sekali.
Akan tetapi Hay Hay tetap tenang-tenang saja dan dia bertanya.
"Locianpwe, tadi engkau mengatakan bahwa sudah dua puluh lima tahun Locianpwe hidup di tempat ini. Akan tetapi, dalam keadaan lumpuh pula... bagaimana Locianpwe dapat bertahan untuk hidup?"
"Guha ini luas sekali, memiliki banyak terowongan, bahkan ada beberapa di antaranya yang menembus ke dinding tebing, menjadi guha kecil lain, di suatu guha kecil-kecil itu terdapat banyak sekali burung-burung walet dan sarang mereka. Aku dapat makan telur dan daging burung walet, juga liur mereka yang ditinggalkan di sarang merupakan makanan lezat dan penguat tubuh. Kadang-kadang ada pula ular memasuki guha-guha kecil itu dan daging ular lezat sekali. Dan di dalam terowongan terdapat banyak akar pohon yang dapat dimakan, bahkan ada tanaman di muka guha kecil yang mengeluarkan buah yang manis. Ada pula air jernih mengucur di tepi terowongan. Aku dapat makan minum setiap hari, tidak khawatir kelaparan. Hanya pakaian aku tidak punya, kecuali beberapa stel yang dahulu oleh iblis itu dilempar pula ke sini. Akan tetapi kini sudah habis, tinggal yang kupakai ini."
"Dan Locianpwe masih punya waktu untuk memintal tali itu dan berlatih menggunakan batu kerikil untuk senjata rahasia dengan meniupnya?"
"Heh-heh, engkau memang cerdik, orang muda. Memang, banyak waktu luang selama ini, dan aku dapat menambah ilmuku untuk melengkapi kekuranganku karena lumpuh, dengan setiap hari belajar melempar dan meniup kerikil yang kupecahkan dari batu-batu besar. Juga beberapa Pukulan. Dan mengenai tali itu, memang kupilih dari semacan rumput yang tumbuh di terowongan. Tadinya aku bermaksud untuk menggunakan tali itu keluar dari sini, akan tetapi selalu gagal."
"Nenek yang malang."
Kata Kui Hong.
"Sudah dua puluh lima tahun hidup seorang diri di tempat sunyi ini, akan tetapi engkau masih lancar bicara."
Gadis ini juga amat cerdik dan perkataannya itu memancing, menyembunyikan kecurigaannya karena memang aneh melihat seseorang yang hidup menyendiri selama dua puluh lima tahun masih mampu bicara sedemikian lancarnya.
Nenek itu tersenyum menyeringai dan kini melihat mulut tanpa gigi itu dari dekat, mendatangkan kesan aneh, seolah-olah melihat seorang bayi yang sudah besar sekali.
"Heh-heh, tidak aneh sama sekali, Nona manis, karena aku selalu mengajak bicara semua benda, baik yang hidup seperti burung atau ular, maupun yang mati seperti batu, jamur dan pohon."
"Jamur dan pohon itu hidup, Nek, bahkan batu pun mungkin hidup, siapa tahu?"
Hay Hay berkelakar.
Setelah terbebas dari ancaman maut di pohon itu, pemuda ini sudah memperoleh kembali kejenakaanya.
"Hemm, maksudku yang tidak bergerak, orang muda. Aku selalu mengajak mereka semua itu bicara, setiap hari sehingga aku tidak lupa akan bahasa kita ini. Nah, sekarang aku menagih janji. Kalian sudah kuselamatkan di tempat ini, bahkan hanya aku yang akan mampu mengantar kalian keluar dari sini. Sekarang aku minta kepada kalian untuk membantuku menghadapi laki-laki jahanam yang telah menyiksaku lahir batin seperti ini."
"Aku siap, Nek! Katakan di mana laki-laki jahanam itu dan aku akan menghajarnya!"
Kata Kui Hong lantang.
"Akan tetapi yang penting bagiku adalah janji pemuda ini. Suamiku itu lihai bukan main dan karena aku tadi sudah menyaksikan kemampuan pemuda ini, kiranya hanya dialah yang akan mampu menghadapi dan mengatasinya."
"Hay Hay, engkau tentu juga sanggup membantu Nenek ini, bukan?"
Kui Hong segera bertanya kepada Hay Hay.
Pemuda itu tersenyum, sejenak memandang kepada gadis itu, kemudian menoleh kepada nenek yang bermata tajam dan agaknya biarpun lumpuh, amat cerdik dan juga lihai ini.
Karena dia sendiri maklum bahwa sekali berjanji, maka janji itu harus ditepatinya, maka Hay Hay mengambil cara lain.
Diam-diam dia mengerahkan kekuatan sihirnya sambil menatap nenek itu di antara kedua matanya, lalu berkata sambil tersenyum namun suaranya berbeda dari biasanya, mengandung getaran yang amat berwibawa.
"Lociapwe percaya penuh kepadaku. Bawalah kami keluar dari sini, dan ke tempat tinggal laki-laki itu sekarang juga."
Nenek itu mengangguk-angguk, mulutnya berkata lirih.
"Baik... aku percaya padamu dan kalian akan kuantar keluar, menemui laki-laki itu.!"
Kemudian ia menundukkan muka dan nampaknya bingung.
Melihat ini, Kui Hong mengerutkan alisnya, menatap tajam wajah Hay Hay.
"Hay Hay, permainan apa vang kau lakukan ini?"
Ia merasa tidak senang karena ia dapat menduga bahwa pemuda itu agaknya telah mempengaruhi nenek yang malang itu dengan sihirnya!
Hay Hay tersenyum.
"Kui Hong, aku tidak main-main."
Lalu dia menoleh kepada nenek itu dan berkata.
"Engkau tahu aku tidak main-main Locianpwe, dan marilah kita berangkat sekarang juga keluar dari sini."
Nenek itu mengangkat mukanya perlahan dan menjawab.
"Aku tahu engkau tidak main-main dan mari kita berangkat sekarang juga keluar dari sini."
Ia seperti seekor burung kakatua yang pandai bicara dan menirukan semua kata-kata yang diucapkan Hay Hay.
Kui Hong tidak mengerti, permainan apa yang sedang dilakukan Hay Hay dengan menyihir nenek yang telah menolong mereka itu.
Namun, ia pun girang mendengar bahwa mereka akan keluar dari tempat itu.
"Marilah kita berangkat!"
Katanya gembira dan menggandeng tangan nenek itu.
"Aku... kakiku... tidak dapat berjalan.."
Kata nenek itu.
Agaknya baru Hay Hay dan Kui Hong sadar akan keadaan nenek itu.
Mereka merasa diri bodoh sekali.
Kalau nenek itu mampu berjalan seperti orang biasa, pasti ia tidak akan sampai dua puluh lima tahun tinggal di dalam guha itu!
Kui Hong tersenyum.
"Aih, betapa bodohku, sampai lupa akan keadaanmu, Nek!"
Katanya. Hay Hay juga tersenyum dan Kui Hong melanjutkan kata-katanya.
"Hay Hay, sebaiknya kalau engkau menggendongnya. Nenek yang baik, biarlah dia menggendongmu!"
Karena sihirnya itu datangnya dari Hay Hay, maka tentu saja nenek itu hanya mentaati kata-kata Hay Hay, dan mendengar ucapan Kui Hong, ia mengerutkan alisnya dan berkata dengan ketus.
"Ihh! Kau kira aku ini wanita macam apa yang mau begitu saja digendong seorang pria? Tidak, sampai mati pun aku tidak sudi! Engkaulah yang harus menggendongku keluar dari tempat ini, Nona."
Kui Hong merasa geli mendengar ini.
Sudah nenek-nenek tua renta masih banyak lagak, malu-malu seperti wanita muda saja.
Akan tetapi ia mengerutkan alisnya.
Nenek itu demikian kotor, dan kedua kakinya nampaknya lemas seperti tak bertulang saja.
Ia merasa jijik.
Lalu timbul gagasan yang dianggapnya amat baik.
"Hay Hay, pergunakan pengaruhmu untuk memaksa ia agar suka kau gendong!"
Akan tetapi Hay Hay tersenyum dan menggeleng kepala.
"Tidak bisa, Kui Hong. Yang bicara itu adalah naluri kewanitaannya dan itu amat kuat. Ia tidak mungkin dapat dipaksa. Gendonglah agar kita cepat dapat keluar dari sini."
Biar ia tahu rasa sedikit, pikir Hay Hay.
Betapapun juga, ia mendongkol mendengar Kui Hong hendak memaksanya untuk menggendong wanita itu.
Pula, di lubuk hatinya, dia masih belum percaya kepada wanita ini.
Kalau dia yang menggendong, lalu wanita itu menyerangnya, akan berbahaya sekali bagi mereka berdua.
Sebaliknya, kalau Kui Hong yang menggendong, dia dapat melindungi gadis itu dari marabahaya.
Seorang nenek yang demikian kejamnya, yang tadi berusaha membunuh dia dan Kui Hong tanpa sebab, tidak boleh dipercaya begitu saja.
Kui Hong bersungut-sungut dan matanya yang jeli indah dan tajam itu menyambar seperti hendak menyerang pemuda itu.
Akan tetapi ia mengalah dan terpaksa lalu berjongkok di depan nenek itu, membelakanginya.
"Baiklah, baiklah, memang aku yang sedang sial hari ini!"
Hay Hay ingin tertawa besar namun hanya ditahannya karena dia tidak mau membuat gadis itu menjadi semakin marah.
Nenek itu meletakkan kedua tangannya merangkul pundak Kui Hong dan mengangkat tubuh bawah yang tidak berdaya itu ke atas punggung dan pinggul Kui Hong.
Gadis ini merasa geli sekali ketika merasa betapa dua batang kaki yang lumpuh itu bergantungan di kedua sisinya.
Terpaksa ia menahan pantat nenek itu dengan tangan kirinya dan membentak Hay Hay.
"Mari kita berangkat!"
Akan tetapi Hay Hay menggeleng kepalanya.
"Aku tidak mengenal jalan itu, bagaimana mungkin dapat menjadi penunjuk jalan? Engkaulah yang berjalan di depan, Kui Hong dan Locianpwe ini yang menjadi penunjuk jalan, aku mengikuti dari belakang. Bukankah begitu, Locianpwe yang baik?"
Nenek itu mengangguk.
"Benar, engkaulah yang berjalan di depan, Nona, aku menjadi penunjuk jalan dan pemuda ini mengikuti dari belakang kita."
Kui Hong merasa semakin mendongkol.
Sambil mengerling ke arah Hay Hay, sambil bersungut-sungut ia berkata.
"Seenak perutya sendiri saja!"
Dan kembali Hay Hay menahan ketawanya dan mengikuti di belakang Kui Hong.
Nenek itu memberi petunjuk ketika mereka berjalan melalui lorong yang berbelak-belok, akan tetapi lorong terakhir berhenti pada jalan buntu.
Di depan mereka terhalang oleh dinding karang.
Lorong itu mati sampai di situ.
"Wah, jalan ini buntu, Nek!"
Kui Hong berteriak penasaran.
"Apakah engkau hendak mempermainkan kami?"
Nenek itu tertawa dan kembali Kui Hong mengkirik.
Karena mulut nenek itu berada di dekat telinganya, maka suara ketawa itu terdengar mengerikan.
"Inilah rahasia jalan tembusan itu, hanya aku dan dialah yang mengetahuinya. Bawa aku ke ujung kiri sana itu!"
Kui Hong melangkah ke sudut kiri dan nenek itu menggerayangi dinding batu karang itu dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba terdengar suara berdetak, lalu diikuti suara bergerit yang nyaring dan terbukalah sebuah lubang di dinding itu, satu meter lebarnya dan dua meter tingginya, tepat untuk masuk satu orang.
Kui Hong merasa berdebar saking girangnya.
Nenek ini tidak berbohong.
Memang ada jalan keluar dan sebentar lagi ia akan bebas di sana!
Kegembiraan ini membuat ia melangkah lebar dan cepat memasuki lorong samping itu.
"Hati-hati, Nona. Jalan ini selain sempit, gelap, juga menanjak dan licin bukan main. Di bagian yang paling berbahaya di mana engkau harus merangkak atau meloncati lubang, akan kuberitabukan. Karena itu, jangan melangkah terlampau cepat, satu-satu saja."
Berkata demikian, nenek itu mengulur tangan ke kanan, meraba dinding, agaknya inilah caranya mengenal jalan itu.
Hay Hay sudah melepaskan pengaruh sihirnya karena dia berada di belakang nenek itu dan setiap saat dia dapat melindugi Kui Hong, dan kini dia dapat berkata dengan nada biasa.
"Locianpwe tadi sudah memperkenalkan nama suami Locianpwe yang bernama Hek-hiat-kwi Lauw Kin, akan tetapi belum memperkenalkan diri kepada kami."
Nenek itu mendengus dan menoleh ke belakang, sikapnya tidak lagi lunak dan menyerah seperti tadi, juga suaranya terdengar ketus.
"Hemm, orang muda. Sepatutnya kalian yang lebih dahulu memperkenalkan nama kalian walaupun aku sudah tahu dari cara kalian saling panggil nama."
Hay Hay tertawa.
"Kalau sudah tahu untuk apa bertanya lagi, Locianpwe? Namaku Hay Hay dan ia bernama Kui Hong."
"Namaku... Ma Kim Siu."
Kata nenek itu singkat dan Hay Hay juga tidak mendesak dengan pertanyaan lain karena nama itu asing baginya.
Tidak mengherankan, pikirnya.
Nenek ini sudah berada di dalam jurang yang berguha itu selama dua puluh lima tahun, sebelum dia terlahir di dunia!
Jalan mulai menanjak dan sudah lima kali nenek memberi peringatan agar Kui Hong merangkak.
Gadis itu menurut karena ia tahu bahwa kalau tidak mentaati perintah nenek itu, akan berbahaya sekali.
Ketika ia merangkak, terasa betapa licinnya lantai yang menanjak.
Tiga kali ia harus meloncati lubang yang lebarnya sekitar dua meter.
Ia sudah merasa lelah dan hal ini menambah kedongkolan hatinya terhadap Hay Hay.
Akhirnya, setelah melakukan pendakian yang sulit selama kurang lebih setengah jam, di tempat yang gelap pekat lagi, tiba-tiba Kui Hong melihat betapa di depan sudah nampak terang.
Jantungnya berdebar tegang dan gembira.
"Di depan terang!"
Teriaknya, dan ia melangkah lebar .
"Tenanglah, Kui Hong."
Kata nenek itu.
"Dan jangan lari. Ada lubang yang cukup lebar di depan, sebelum kita tiba di bagian yang terang itu!"
Benar saja.
Kui Hong kini berhadapan dengan lubang menganga yang lebarnya ada empat meter.
Namun, ia yang memiliki gin-kang yang cukup tinggi tingkatnya, dengan mudah sambil menggendong tubuh yang ringan itu, dapat melompatinya dengan mudah, disusul oleh Hay Hay.
"Nah, kita sudah hampir sampai di permukaan bumi!"
Kata nenek itu, suaranya agak gemetar, tanda bahwa ia pun merasa terharu dan gembira karena akhirnya, setelah dua puluh lima tahun hidup seperti dalam neraka di bawah tanah,ia berhasil pula tertolong dan keluar dari tempat itu!
Kini jalan menanjak seperti orang memanjat anak tangga saja, dan sinar matahari masuk menimpa mereka.
Nenek itu memejamkan matanya dan berseru.
"Aih, terlalu menyilaukan!"
Selama berada di dalam guha, ia hanya melihat matahari setelah senja mendatang karena guha itu menghadap ke barat sehingga tak pernah ia tertimpa sinar matahari siang.
Ternyata jalan lorong itu menembus ke sebuah lubang seperti sumur, dan mereka berada di lereng sebuah bukit yang lain daripada bukit di mana Hay Hay dan Kui Hong jatuh ke dalam jurang!
Setelah mereka tiba di atas tanah di udara terbuka, hampir Kui Hong menangis saking gembiranya.
Ia cepat mengusap kedua matanya dan mulutnya tersenyum, dengan penuh perasaan terima kasih ia memandang ke sekeliling.
Demikian indahnya permukaan bumi ini, pikirnya dengan sinar mata berseri.
Akan tetapi ia merasa lelah sekali, melakukan perjalanan seperti itu sambil menggendong tubuh Si Nenek Lumpuh yang bernama Ma Kim Siu itu.
"Kau turunlah dulu, Nek, aku ingin beristirahat."
Katanya kepada nenek itu.
Akan tetapi, tiba-tiba saja nenek itu mengubah sikapnya yang lunak dan dengan hati kaget Kui Hong merasa betapa nenek itu mencengkeram tengkuknya, di bagian yang amat berbahaya.
Sekali saja nenek itu mengerahkan tenaganya, ia akan roboh dan tewas!
"Tidak!
Awas, jangan membuat ulah macam-macam atau sekali cengkeram engkau akan mampus!"
Bentak nenek itu.
"Hayo, Hay Hay, sekarang engkau berjalan di depan, kita menuju ke tempat pertapaan Hek-hiat-kwi Lauw Kin!"
Hay Hay tersenyum dan diam-diam dia mengerahkan kekuatan ilmu sihirnya sambil menatap wajah nenek itu.
"Locianpwe Ma Kim Siu, tenanglah dan engkau sendiri pun merasa lelah. Kita perlu beristirahat dan turunlah dari punggung Kui Hong."
Dia mengerahkan kekuatan sihir untuk menalukkan sikap melawan nenek itu.
Akan tetapi, sekali ini dia dikejutkan oleh sikap nenek itu menghadapi permintaannya yang diucapkan dengan suara menggetar penuh wibawa tadi.
Nenek itu terkekeh-kekeh!
"Simpanlah permainanmu itu untuk menakut-nakuti anak-anak, Hay Hay!
Hihi-hik, jangan harap engkau akan dapat mempengaruhi aku dengan sihirmu.
Nah, cepat engkau berjalan di depan, atau akan kucengkeram tengkuk gadis yang kau cinta ini!"
Hay Hay terkejut, bukan hanya oleh kenyataan bahwa nenek itu tidak terpengaruh oleh sihirnya, akan tetapi terutama sekali nenek itu demikian lancang dan lantang mengatakan bahwa Kui Hong adalah gadis yang dia cinta!
"Kalau begitu...
tadi, di dalam lorong...
engkau hanya pura-pura saja terpengaruh?"
Tanyanya, melongo.
"Tentu saja, setelah kalian berjanji akan membantuku. Akan tetapi mana mungkin aku mempercayai omongan cucu Pendekar Sadis dan sute dari keluarga Cin-ling-pai? Huh, Pendekar Sadis dan keluarga Cin-ling-pai adalah orang-orang sombong! Ketahuilah kalian, namaku memang Ma Kim Siu, dan julukanku adalah Kiu-bwe Tok-li, nama ini tentu dikenal baik oleh Pendekar Sadis dan keluarga Cin-ling-pai, heh-heh-heh!"
"Kiu-bwe Tok-li (Wanita Beracun Berekor Sembilan)?"
Kui Hong berseru heran.
"Pernah aku mendengar julukan Kiu-bwe Coa-li (Wanita Ular Berekor Sembilan...") "Nah, mendiang Kiu-bwe Coa-li adalah Enciku."
"Ia... seorang di antara Cap-sha-kui (Tiga Belas Setan)!"
Kembali Kui Hong berseru, karena ia pernah mendengar penuturan ibunya tentang tokoh-tokoh sesat itu.
"Memang dan aku ini adiknya."
"Tapi, bagaimana engkau bisa tahu.?"
"Kui Hong, tentu ketika kita bicara di pohon itu, ia sudah lama mengintai dan mendengarkan. Pantas saja begitu muncul ia menyerang kita dengan kerikil-kerikilnya. Kemudian, karena kita mampu menghindarkan diri, ia menganggap kita cukup lihai untuk dipaksa membantunya menghadapi suaminya!"
Kata Hay Hay. (Lanjut ke
Jilid 36) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .
Asmaraman S.
Kho Ping Hoo
Jilid 36
"Hi-hi-hik! Engkau memang cerdik sekali, orang muda. Cerdik dan lihai! Karena itulah, sejak dari dalam guha aku memilih digendong oleh Nona ini, padahal tentu saja aku akan merasa lebih hangat dan senang digendong seorang pemuda tampan dan muda macam engkau. Sekarang, kalau engkau memperlihatkan perlawanan sedikit saja, sekali menggerakkan tangan gadis kekasihmu ini akan mampus!"
"Nenek lancang mulut! Aku bukan kekasihnya!"
Kui Hong menjerit marah dan biarpun ia merasa betapa jari-jari tangan di tengkuknya itu mempererat cengkeramannya, ia tidak takut sedikit pun juga.
"Hi-hi-hik, kalian tidak dapat mengelabuhi mataku. Aku ahli dalam soal cinta, heh-heh! Pemuda itu mencintamu dan engkau pun mencintanya, Kui Hong. Dan kalau engkau banyak tingkah, engkau benar-benar akan kubunuh!"
"Sudahlah, Kui Hong. Biarkan saja ia mengoceh dan jangan membunuh diri hanya urusan sekecil ocehannya. Nenek, julukanmu memang tepat. Engkau benar-benar Tok-li (Wanita Beracun), akan tetapi yang beracun adalah hatimu. Nah, katakan, di mana tempat bertapa laki-laki yang kau cari itu?"
"Heh-heh, begitu lebih baik, Hay Hay. Maju saja, menuju ke lereng yang sana. Tidak terlalu jauh dari sini. Mudah-mudahan jahanam itu masih berada di sana dan belum mampus!"
Hay Hay melangkah ke depan, menurut petunjuk nenek itu.
Diam-diam dia pun mengharapkan seperti yang diharapkan nenek itu, agar pria itu masih berada di sana dan masih hidup.
Karena kalau tidak, tentu nyawa Kui Hong benar-benar terancam bahaya maut.
Dia masih heran bagaimana nenek itu tidak terpengaruh oleh kekuatan sihirnya, padahal biasanya amat ampuh.
Dia tidak tahu bahwa seorang yang sudah memiliki sin-kang sedemikian kuatnya seperti nenek itu, apalagi setelah selama puluhan tahun digemblengnya dan dilatihnya di dalam guha, tentu tidak akan mudah terpengaruh kekuatan sihir, dapat dilawannya dengan sin-kangnya.
Memang untuk pertama kalinya, nenek itu terpengaruh karena ia belum tahu akan kepandaian Hay Hay.
Akan tetapi, segera ia dapat merasakan dan menolak dengan tenaga sakti di dalam tubuhnya.
Bahkan ia dapat berpura-pura terpengaruh untuk melaksanakan sandiwaranya sehingga kini ia dapat menguasai mereka berdua dengan menjadikan gadis itu sebagai sandera.
Memang tidak jauh tempat yang dimaksudkan oleh Kiu-bwe Tok-li itu.
Untung bagi Kui Hong yang sudah merasa semakin lelah.
Mereka tiba di depan sebuah guha dan nenek itu memberi isarat agar Hay Hay berhenti, akan tetapi ia tetap menyuruh Kui Hong berada di belakang pemuda itu.
Kemudian dengan suara melengking nyaring, Kiu-bwe Tok-li berteriak ke arah guha yang jaraknya hanya tinggal lima belas meter.
"Hek-hiat-kwi, laki-laki berhati binatang, kejam dan tak berperikemanusiaan, keluarlah! Aku datang untuk membalas dendam!"
Suara melengking itu bergema sampai jauh dan setelah gaungnya tak terdengar lagi, muncullah seorang kakek dari dalam guha.
Usianya tentu sudah enam puluh tahun lebih, bertubuh sedang dan masih tegak, wajahnya pun bersih dan menunjukkan bekas ketampanan, kini dia membiarkan jenggot dan kumisnya yang sudah berwarna kelabu itu tumbuh subur.
Pakaiannya kuning dan longgar seperti pakaian pertapa, dan sinar matanya lembut akan tetapi kini mata itu terbelalak memandang ke arah nenek di, atas punggung seorang gadis cantik, seolah-olah dia tidak percaya akan pandang matanya sendiri.
"Kim Siu. Benar engkaukah ini? Masih"
Masih hidup.?"
"Lauw Kin, buka matamu baik-baik. Ini benar aku, Kiu-bwe Tok-li Ma Kim Siu, biarpun kedua kakiku sudah lumpuh, namun kini aku datang untuk membalas dendam atas segala perbuatanmu yang membuat aku sengsara sampai dua puluh lima tahun!"
Sepasang mata itu bersinar dan wajah itu berseri.
"Ah, sungguh Tuhan masih melindungimu, Kim Siu! Akan tetapi, mengapa engkau pulang dengan dendam kebencian di hatimu? Mengapa engkau mengatakan bahwa perbuatanku yang membuat engkau sengsara sampai dua puluh lima tahun?"
Nenek itu gemetar seluruh tubuhnya, terasa benar oleh Kui Hong, dan ia tahu bahwa nenek itu marah sekali.
Akan tetapi, cengkeraman di tengkuknya, tidak pernah sedikit pun mengendur sehingga ia tidak melihat kesempatan sama sekali untuk membebaskan diri dari penguasaan nenek yang lihai itu.
"Huh, engkau masih belum juga merasa betapa kejam perbuatanmu kepadaku, kepada kami! Engkau melukainya dengan hebat, dan dia tersiksa sampai berbulan-bulan, hampir setahun sebelum akhirnya dia meninggal dunia! Gara-gara engkau! Hay Hay, cepat kau maju dan serang dia, bunuh dia... ah, tidak, lukai dan robohkan saja agar aku sendiri yang akan membunuhnya!"
Nenek itu melotot kepada Hay Hay, pelototan matanya yang mengandung arti bahwa kalau pemuda itu menolak, tentu nenek itu akan membunuh Kui Hong!
Akan tetapi Hay Hay bersikap tenang saja, sambil tersenyum.
Dia adalah seorang pemuda yang amat cerdik, tidak mudah digertak sembarangan saja.
Dia mengerti bahwa nenek itu hendak memaksa dia dan Kui Hong untuk membantunya menghadapi kakek yang tenang ini.
Nenek itu membutuhkan bantuan, tidak mungkin berani membunuh Kui Hong, karena kalau dibunuhnya gadis itu, berarti nenek itu akan menghadapi pengeroyokan kakek itu dan dia!
"Nanti dulu, Kiu-bwe Tok-li!"
Kini dia tidak mau lagi menyebut locianpwe.
"Aku bukanlah seorang pembunuh bayaran begitu saja, yang menyerang orang tanpa tahu sebabnya. Oleh karena itu, ceritakanlah dahulu apa yang telah terjadi antara engkau dan kakek ini, baru aku mau bergerak."
"Tapi kau sudah berjanji!"
"Berjanji membantumu, memang. Akan tetapi setelah aku mendengar apa yang sesungguhnya telah terjadi sehingga engkau mendendam kepada kakek ini. Melihat sikapnya, dia sama sekali tidak memusuhimu!"
"Tak peduli! Kalau Engkau mau tahu, tanya saja kepadanya!"
Hay Hay kini menghadapi kakek itu, lalu berkata.
"Locianpwe, sebenarnya apakah yang telah terjadi maka Kiu-bwe Tok-li mendendam kepadamu dan hari ini datang untuk membalas dendamnya? Locianpwe tahu bahwa kami berdua terpaksa membantunya, akan tetapi aku hanya mau turun tangan setelah mendengar permasalahannya."
Pria tua itu adalah Hek-hiat-kwi Lauw Kin, suami dari Kiu-bwe Tok-Ii Ma Kim Siu.
Dia mengerutkan alisnya memandang kepada Hay Hay, kemudian kepada nenek yang pernah menjadi isterinya itu.
"Kim Siu, haruskah urusan pribadi kita diketahui orang lain?" .
"Ceritakanlah! Ceritakanlah selagi engkau masih mampu dan belum mampus di tanganku!"
Sambut nenek itu dengan ketus sekali. Kakek itu menarik napas panjang dan mengangguk-angguk.
"Baiklah kalau begitu. Orang muda siapa pun adanya engkau, dengarlah baik-baik apa yang telah terjadi di antara kami suami isteri yang malang ini. Dua puluh lima tahun yang lalu, kami masih menjadi suami isteri yang hidup rukun. Karena aku menyadari betapa tidak menguntungkan lahir batin hidup dalam dunia hitam, aku mengajak isteriku bertapa di sini, menjauhi jalan sesat untuk menebus dosa."
Dia berhenti sebentar untuk menghela napas panjang.
"Akan tetapi keputusan yang kuambil itu agaknya membuat ia tidak senang sehingga sejak aku mengajaknya meninggalkan dunia hitam, ia mulai selalu merajuk dan bersikap marah kepadaku."
"Huh, Lauw Kin, bukan hanya marah, melainkan benci!"
Tiba-tiba nenek itu membentak, telunjuknya menuding ke arah suaminya itu seperti orang yang menyalahkan.
"Engkau telah berubah menjadi orang yang lemah, pengecut dan memalukan! Dahulu aku bangga menjadi isterimu. Engkau murid Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo, keturunan Hek-hiat Mo-li yang terkenal sebagai datuk-datuk sesat, dan aku adalah adik Kiu-bwe Coa-li, seorang di antara Tiga Belas Setan. Kita cocok menjadi suami isteri dan ditakuti semua orang. Huh, kemudian engkau pura-pura alim dan mengajak aku menjadi pertapa!"
Nenek itu mengumpat dan kelihatan menyesal bukan main.
Kakek itu tersenyum sedih.
Kui Hong yang mendengarkan umpatan nenek dipunggungnya itu, melihat betapa sedetik pun nenek itu tidak pernah melepaskan ancamannya pada tengkuknya sehingga tidak ada kemungkinan baginya untuk membebaskan diri.
Namun ia terkejut mendengar bahwa kakek di depannya itu adalah murid Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo.
Ia pernah mendengar cerita dari ibunya tentang suami isteri Iblis Berdarah Hitam itu.
Menurut cerita ibunya, suami isteri iblis itu menaruh dendam kepada keluarga Lembah Naga karena Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong yang dahulu membunuh Hek-hiat Mo-li yang menurunkan mereka.
Suami isteri itu menyerbu ke Lembah Naga dan berhasil membunuh banyak murid Pek-liong-pai perkumpulan yang didirikan di Lembah Naga dan diketahui oleh Cia Han Tiong, ayah kandung Cia Sun.
Bukan hanya murid-murid yang terbunuh, bahkan ibu kandung Cia Sun juga terbunuh oleh mereka!
Dan kakek di depannya ini adalah murid suami isteri itu!
Agaknya nenek itu merasa betapa gadis yang menggendongnya terkejut, maka ia membentak.
"Ada apa kau? Kenapa terkejut?"
Dan cengkeramannya pada tengkuk gadis itu makin kuat.
Kui Hong terkejut dan ia tidak membohong ketika berkata.
"Aku terkejut mendengar nama suami isteri Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo. Bukankah mereka itu yang pernah menyerang Lembah Naga, membunuh banyak orang Pek-liong-pai, bahkan membunuh pula ibu dari Cia Sun?"
Nenek itu terkekeh.
"Heh-heh, aku lupa! Sebagai puteri Ketua Cin-ling-pai tentu saja engkau tahu akan hal itu, heh-heh!"
"Ya Tuhan..!"
Kakek itu berseru kaget.
"Nona ini puteri Ketua Cin-ling-pai? Kim Siu, apakah engkau sudah menjadi gila? Bebaskan Nona itu!"
"Huh, sebelum pemuda itu membunuhmu, aku takkan membebaskannya. Hay Hay, hayo cepat serang dia!"
Akan tetapi Hay Hay berkata kepada Hek-hiat-kwi Lauw Kin.
"Locianpwe, harap lanjutkan keteranganmu tadi. Aku harus tahu sebab-sebabnya Locianpwe bermusuhan dengan Kiu-bwe Tok-li."
Kakek itu nampak bingung dan khawatir memandang Kui Hong, lalu menarik napas panjang.
"Baiklah, akan kuceritakan semuanya. Justeru peristiwa yang terjadi di Lembah Naga itulah yang membuat aku mengambil keputusan untuk meninggalkan jalan sesat. Kedua orang guruku itu menyerang keluarga Lembah Naga dan berhasil menewaskan banyak murid, juga menewaskan isteri ketua Pek-liong-pang. Akan tetapi mereka berdua kalah oleh Ketua Pek-liong-pang, pendekar Cia Han Tiong. Mereka berdua sudah tidak berdaya dan pendekar itu hanya tinggal mengangkat tangan saja untuk membunuh mereka. Akan tetapi, pendekar itu tidak melakukannya! Tidak membunuh Suhu dan Subo bahkan mengampuni mereka, dan menasihati mereka tentang buruknya dendam! Ah, Suhu dan Subo menceritakan hal itu sambil menangis kepadaku, dan aku pun merasa terharu sekali dan seketika terbuka kesadaranku betapa selama itu kami semua hidup bergelimang kejahatan. Betapa mulianya pendekar Cia dari Lembah Naga itu. Nah, karena Suhu dan Subo juga merasa menyesal dan bertaubat, lalu kembali ke Sailan untuk menjadi hwesio dan nikouw, aku pun lalu mengajak isteriku untuk menebus dosa dan bertapa di tempat ini."
"Huh, menjemukan! Bilang saja nyali kalian guru dan murid menjadi sempit karena takut menghadapi pendekar Cia dari Lembah Naga itu!"
Teriak Si Nenek penasaran.
"Keputusanku itu agaknya membuat isteriku merasa kesal dan mulailah terjadi kerenggangan antara kami, isteriku bersikap dingin dan marah-marah dan sering kali meninggalkan aku seorang diri."
"Siapa sudi membusuk di dalam guha kotor itu?"
Nenek yang dahulu menjadi isterinya yang cantik dan tercinta itu mencela.
"Pada suatu hari, ia datang bersama seorang laki-laki."
Kakek itu melanjutkan tanpa mempedulikan celaan isterinya.
"Isteriku dan laki-laki tampan itu terang-terangan menyatakan kepadaku bahwa mereka saling mencinta. Aku mencinta isteriku dengan hati yang tulus dan setelah aku menjadi pertapa dan banyak merenungkan kehidupan, aku pun mengenal arti cinta yang sebenarnya. Oleh karena itu, aku merelakan isteriku kalau memang ia hendak meninggalkan aku dan hidup bersama laki-laki itu. Akan tetapi mereka berdua tidak mau pergi begitu saja dan berkeras hendak membunuhku lebih dahulu karena tidak percaya bahwa aku merelakan isteriku dan mereka takut kalau aku kelak akan mengejar dan menyusahkan mereka. Mereka lalu menyerangku dan berusaha membunuhku."
"Ihhh...!"
Kui Hong beerseru dan menurutkan kata hatinya yang menjadi marah sekali, ingin ia melemparkan tubuh nenek itu dari atas punggungnya.
Akan tetapi, cengkeraman nenek itu kuat sekali dan begitu ia bergerak, tengkuknya terasa nyeri sekali sehingga terpaksa ia menghentikan penyaluran tenaganya.
"Heh-heh, dia tolol, bukan? Dan engkau pun akan mati konyol kalau engkau berani melakukan kebodohan!"
Kiu-bwe Tok-li berkata di dekat telinga Kui Hong.
"Locianpwe, sungguh apa yang Locianpwe lakukan itu membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati yang luar biasa."
Kata pula Hay Hay dengan kagum.
"Aih, orang muda. Aku hanya belajar dari pendekar Cia di Lembah Naga itu dengan perbuatannya terhadap kedua orang Guruku. Dibandingkan dia, sikapku ini bukan apa-apa. Aku dikeroyok oleh mereka dan terpaksa aku membela diri. Akhirnya, karena aku terancam maut oleh Pukulan berbahaya dari laki-laki itu yang amat lihai, terpaksa aku pun mengeluarkan jurus simpanan untuk menandinginya. Dalam adu tenaga itulah, dia kalah dan terluka parah. Akan tetapi, aku tidak mau melukai isteriku sehingga aku terkena beberapa Pukulannya yang beracun. Melihat kekasihnya pingsan dan terluka, ia lalu memondongnya pergi dengan cepat. Aku mengobati luka-lukaku dan setelah sembuh, aku mengkhawatirkan keadaan isteriku. Kucari ke mana-mana tanpa hasil, maka akhirnya aku kembali bertapa di sini dengan tekun. Dan ini hari ia muncul dalam keadaan lumpuh dan penuh dendam hendak membunuhku."
Mendengar cerita itu, Hay Hay mengerutkan alisnya dan menghadapi Kiu-bwe Tok-li.
"Tok-li, benarkah apa yang diceritakan suamimu tadi?"
"Benar atau tidak benar, engkau harus menyerangnya. Engkau sudah berjanji dan kalau engkau melanggar janji, gadis ini tentu akan kubunuh lebih dahulu!"
"Akan tetapi, kalau yang dlceritakannya itu benar, bagaimana engkau kini menjadi lumpuh? Padahal, dalam perkelahian itu engkau tidak terluka oleh suamimu!"
Kata Hay Hay.
"Kiu-bwe Tok-li, sebelum aku memenuhi permintaanmu, ceritakanlah dahulu bagaimana engkau menjadi lumpuh dan tinggal puluhan tahun dalam guha itu, dan mana pula adanya laki-laki kekasihmu itu?"
"Pertanyaan itu tepat, Kim Siu, apakah yang telah terjadi? Engkau tahu benar bahwa bukan aku yang membuat engkau menjadi lumpuh begini."
"Sama saja! Engkaulah penyebabnya!"
Bentak nenek itu.
"Engkau telah melukainya secara hebat. Aku membawanya pergi dan dia mengenal tempat rahasia itu, sumur yang mempunyai lorong dan tembus sampai ke dalam guha di tengah tebing itu. Dia menyuruh aku membawanya ke sana. Setelah tiba di dalam guha itu, aku berusaha merawat lukanya. Akan tetapi lukanya terlampau parah. Dia tahu bahwa dia tidak akan dapat sembuh. Dia tidak ingin aku meninggalkannya lagi, ingin agar aku selamanya menemaninya di dalam guha itu, maka tiba-tiba dia lalu menyerangku dengan Pukulan dahsyat yang membuat kedua kakiku lumpuh sehingga aku tidak akan dapat keluar dari dalam guha itu tanpa bantuan orang lain."
"Ih, betapa kejamnya orang itu!"
Kui Hong berseru, jijik.
"Bocah tolol! Dia melakukan itu karena cintanya kepadaku! Dia mengerahkan tenaga terakhir untuk membuat aku lumpuh agar aku tidak meninggalkannya lagi. Dia melumpuhkan kedua kakiku karena terlalu cinta padaku."
Nenek itu lalu menangis!
Hay Hay, Kui Hong dan Lauw Kin suami nenek itu tertegun dan tenggelam dalam perasaan masing-masing.
"Lalu, di mana dia? Ketika kami memasuki guha, kami tidak melihatnya."
Kata Hay Hay.
"Pengerahan tenaga dahsyat yang dipergunakannya untuk melumpuhkan kedua kakiku itu membuat lukanya semakin parah. Akhirnya, dalam waktu beberapa bulan saja dia meninggal dunia dalam pelukanku, dan aku hidup sendirian di sana, penuh dendam kepada keparat ini. Aku menghabiskan waktu puluhan tahun untuk memperdalam ilmu, dalam keadaan lumpuh tak mampu keluar, dan dendamku kepada keparat ini semakin berkobar."
"Semoga Tuhan mengampuni dosa kita semua."
Kakek itu mengeluh.
"Sudahlah, Kim Siu, turunlah engkau dari punggung Nona itu. Bagaimanapun juga, engkau adalah isteriku dan aku tetap cinta kepadamu. Turunlah dan mari kuusahakan untuk mengobati kakimu sampai sembuh."
Kui Hong dan Hay Hay saling pandang dan mereka semakin kagum kepada kakek itu.
Tak dapat disangsikan lagi.
Cinta kasih kakek itu sungguh murni!
Akan tetapi, Kiu-bwe Tok-li Ma Kim Siu membentak.
"Tidak! Engkau harus mampus di tanganku. Engkaulah yang menyebabkan aku kehilangan dia, dan menyebabkan aku selama puluhan tahun menderita sengsara! Hay Hay, cepat maju dan serang dia, tidak perlu banyak cakap lagi. Kalau engkau membantah, gadis ini akan mampus!"
Dan tangannya yang mencengkeram tengkuk Kui Hong diperkuat, membuat gadis itu menyeringai karena nyeri.
Hay Hay tidak melihat jalan lain.
"Baiklah! Locianpwe, terpaksa aku akan menyerangmu!"
Hay Hay lalu maju, menyerang kakek itu yang cepat mengelak ketika melihat betapa cepat dan kuatnya gerakan pemuda yang menyerangnya.
Tahulah dia bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, akan tetapi dia pun maklum bahwa pemuda ini terpaksa menaati perintah Ma Kim Siu karena gadis puteri Ketua Cin-ling-pai itu telah ditawan dan dijadikan sandera.
Perih rasa hatinya.
Dia maklum karena dapat menduga bahwa tentu pemuda dan gadis itu telah menolong Ma Kim Siu keluar dari dalam guha, akan tetapi sebagai balas jasa, nenek itu malah menyandera dan memaksa mereka membantunya.
Bagaimanapun juga, puteri Ketua Cin-ling-pai itu harus diselamatkan, demikian pikir Hek-hiat-kwi Lauw Kin.
Inilah kesempatan baginya untuk menebus dosa suhu dan subonya terhadap keluarga Cia!
Suhu dan subo telah membunuh isteri Cia Han Tiong, dan kalau sekarang dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatka seorang gadis keturunan keluarga Cia, biarpun sedikit berarti dia telah mengurangi dosa suhu dan subonya.
Dia harus berkorban, itulah satu-satunya jalan.
Kalau dia kalah dan roboh terbunuh oleh pemuda ini, tentu gadis puteri Ketua Cin-ling-pai itu akan dibebaskan.
Akan tetapi, dia tahu akan kecerdikan isterinya.
Kalau isterinya mengetahui bahwa dia mengalah dan berkorban, belum tentu gadis itu dibebaskan.
Untung baginya, pemuda itu lihai sekali, melihat dari gerakannya dan tenaganya, sehingga tidak akan terlalu sukar baginya untuk berpura-pura kalah sehingga menerima Pukulan maut yang akan dapat menewaskannya tanpa menimbulkan kecurigaan.
Maka, dia pun kini menangkis dan membalas serangan sehingga seolah-olah terjadi perkelahian sungguh-sungguh dan mati-matian antara Hek-hiat-kwi Lauw Kin dan Hay Hay!
Bagaimanapun juga, Hek-hiat-kwi adalah seorang yang sejak mudanya berkecimpung dalam dunia persilatan, maka seperti para tokoh persilatan pada umumnya, dia pun memiliki satu kelemahan, yaitu ingin sekali melihat atau menguji ilmu silat apabila bertemu lawan yang pandai!
Kini, berhadapan dengan Hay Hay dan melihat gerakan yang amat hebat dari pemuda ini, timbullah kegembiraan dalam hatinya dan biarpun dia sudah mengambil keputusan untuk mengorbankan diri dan menyerahkan nyawanya demi keselamatan puteri Ketua Cin-ling-pai, dia akan memuaskan hatinya lebih dulu dengan menguji kepandaian pemuda ini!
Sebaliknya, penyakit yang serupa juga melanda watak Hay Hay.
Ketika pemuda ini melihat gerakan kakek itu, merasakan kekuatan yang terkandung dalam kedua lengannya, dia pun merasa gembira dan ingin menguji sampai di mana kelihaian kakek itu.
Inilah sebabnya maka kedua orang ini mengeluarkan kepandaian dan mengerahkan tenaga secara sungguh-sungguh dan nampak keduanya seperti terlibat dalam perkelahian yang mati-matian!
Demikian hebat gerakan kedua orang ini sehingga Kui Hong sendiri, juga nenek iblis itu, dapat dikelabuhi!
Setelah bertanding dan merasa puas melihat betapa pemuda itu benar-benar hebat dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian pemuda itu tidak kalah olehnya, Hek-hiat-kwi baru merasa puas dan dia pun kini ingin mengakhiri perkelahian dengan mengorbankan nyawanya.
Hay Hay sedang melancarkan serangan dahsyat, dengan tangan kiri mencengkeram lambung dan tangan kanan menampar ke arah ubun-ubun kepala.
Serangan ini dahsyat sekali, angin Pukulannya menyambar ganas.
Hek-hiat-kwi sengaja memppelambat gerakannya mengelak dan menangkis dan dia merasa yakin bahwa serangan itu tentu akan mengenai dirinya terutama bagian ubun-ubunnya agar dia dapat tewas dengan cepat.
Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa heran rasa hatinya ketika pada saat yang tepat, sama sekali tidak kentara, pemuda itu menyelewengkan serangannya sehingga meleset dan tidak mengenai sasaran, seolah-olah terelak atau tertangkis!
Dan pada saat dia membalas dengan tendangan yang ringan saja, tendangannya itu mengenai pangkal paha pemuda itu yang membuat Hay Hay terhuyung ke belakang!
Hampir saja Hek-hiat-kwi berseru heran.
Ini tidak mungkin, pikirnya!
Tadi dia mengeluarkan ilmu tendangan simpanannya yang amat dahsyat, dan semua tendangan dapat dihindarkan pemuda itu.
Mana mungkin tendangan ringan saja dapat mengenai paha dan membuat pemuda itu terhuyung?
Dan serangan pemuda tadi pun sengaja diselewengkan!
Ini hanya berarti bahwa pemuda itu sengaja mengalah!
Baca Juga: Petualang Asmara 8
Baca Juga: Si Tangan Sakti 7