Ceritasilat Novel Online

Pendekar Mata Keranjang 11

Eps 11 Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Baca online Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo

Cersil Pendekar Mata Keranjang - Kho Ping Hoo.

Akan tetapi apa maksudnya?

Ketika dia mengangkat muka memandang dengan tajam, dia melihat betapa pemuda itu berkedip kepadanya.

Kiu-bwe Tok-li tidak melihat kedipan ini karena ia berada di punggung nona yang berdiri di belakang pemuda itu.

Dan dia pun bukan orang bodoh.

Pemuda ini sengaja mengalah tentu mempunyai maksud dan merupakan suatu siasat!

Maka, biarpun dia belum dapat menduga dengan tepat apa maksudnya, dia mengambil keputusan untuk ikut bersandiwara!

"Engkau masih belum menyerah kalah?"

Bentaknya ketika melihat pemuda itu maju lagi menyerang.

Kini dia bahkan mengeluarkan lagi ilmu-ilmunya yang paling dahsyat.

Tadi, semua ilmu simpanannya dapat digagalkan oleh pemuda itu, akan tetapi sekarang, begitu dia membalas dan mendesak, pemuda itu segera kelihatan terdesak sekali dan beberapa kali terhuyung, dan main mundur saja!

Kakek itu semakin yakin bahwa lawannya benar-benar bersandiwara, memainkan suatu siasat.

Melihat betapa Hay Hay terdesak hebat, Kui Hong berseru.

"Nek, lihat! Hay Hay terdesak terus. Turunlah, biar aku yang membantunya menghadapi kakek itu!"

Mendengar teriakan gadis itu, mengertilah Hek-hiat-kwi apa maksud permainan sandiwara lawannya.

Tentu untuk mengelabuhi Kiu-bwe Tok-li agar mau membebaskan gadis itu agar dapat membantu mengeroyoknya!

Maka dia pun mendesak semakin hebat dan sebuah tamparan tangan kirinya diterima dengan sengaja namun tidak kentara oleh Hay Hay, membuat tubuh Hay Hay terpelanting, akan tetapi pemuda itu tidak sampai roboh.

Dia menyusulkan tendangannya yang dapat dielakkan oleh Hay Hay.

"Tok-li, lihat, dia makin payah!"

Kata Kui Hong yang benar-benar merasa khawatir.

"Hemm, jangan ribut dan jangan bergerak! Dia belum kalah!"

Kata nenek itu, sepasang matanya dengan tajam dan cerdik mengamati gerakan kedua orang itu.

"Tapi, Nek. Kalau sampai dia benar-benar kalah dan tewas, tentu engkau dan aku akan tewas pula di tangan kakek itu!"

Kui Hong membantah.

"Desss..!"

Pada saat itu, Hay Hay terkena Pukulan pada pundaknya dan sekali ini tubuhnya terguling-guling dan terbanting keras sampai debu mengepul dan pemuda itu memuntahkan darah segar!

Sejak tadi saja Hay Hay menaruh perhatian akan percakapan antara Kui Hong dan nenek itu.

Melihat betapa nenek itu masih belum terpancing, dia sengaja menerima hantaman tadi dengan pundaknya dan dengan tingkat kepandaiannya yang tinggi, dia mampu berlagak seolah-olah dia terluka parah dan muntahkan darah segar.

Sekali ini Kiu-bwe Tok-li terjebak.

Melihat keadaan pemuda itu memang parah, ia lalu berkata.

"Kui Hong, majulah akan tetapi biar aku yang membantu Hay Hay!"

Dengan girang Kui Hong meloncat ke depan dan melihat gerakan yang amat ringan dari gadis itu, diam-diam Hek-hiat -kwi terkejut.

Kiranya puteri Ketua Cin-ling-pai itu pun memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat sekali!

Dia merasa kagum.

Akan tetapi karena gadis itu telah berada di depannya dan isterinya telah menyerangnya dengan cambuk ekor sembilan yang amat berbahaya, dia pun meloncat ke belakang.

Hay Hay bangkit dan mengerling ke arah nenek itu.

Ternyata nenek itu tetap hanya mempergunakan tangan kanan untuk memainkan cambuknya, sedangkan tangan kiri masih mencengkeram tengkuk Kui Hong!

Maka dia pun maju lagi dan membantu nenek itu mengeroyok Hek-hiat-kwi.

Hek-hiat-kwi segera terdesak hebat.

Dengan kagum dia melihat betapa isterinya, walaupun kedua kakinya lumpuh, telah memperoleh kemajuan pesat dengan gerakan cambuknya, dan juga tenaga sin-kang yang terkandung dalam gerakan cambuk itu kuat bukan main.

Biarpun lumpuh, karena digendong seorang gadis yang memiliki gin-kang sedemikian hebat, gerakannya tentu saja menjadi semakin lincah.

Cambuk itu meledak-ledak dari sembilan penjuru karena cambuk sembilan ekor bergerak dengan aneh, masing-masing ekor seperti hidup tersendiri.

Ada yang menotok, ada yang melecut, ada pula yang membabat, dan setiap ekor cambuk menyambar bagian tubuh yang berbahaya!

Hay Hay yang beraksi telah menderita luka itu, membantu dengan kacau sehingga seringkali dia malah menghalangi sambaran cambuk!

Beberapa kali nenek itu memaki dan membentaknya agar minggir.

Hek-hiat-kwi kini melihat kesempatan bagaimana untuk menolong nona itu, tanpa mengorbankan nyawanya walaupun bukan tidak berbahaya.

Dia harus dapat membuat nenek itu melepaskan cengkeramannya pada tengkuk gadis itu, dan satu-satunya jalan adalah membuat cambuk itu tak berdaya agar nenek itu terpaksa menggunakan tangan kirinya.

"Tar-tar-tarrr .!"

Kembali cambuk sembilan ekor itu meledak-ledak dan menari-nari.

Hek-hiat-kwi sudah mengenal ilmu cambuk isterinya ini, maka begitu ujung-ujung cambuk menyambar, dia tidak mengelak, bahkan langsung menerjang ke depan.

Hay Hay menyerang dari samping dengan kedua tangannya gencar memukul, akan tetapi Pukulan-Pukulan ini tidak mengenai tubuh lawan bahkan hawa Pukulannya menangkis sedikitnya enam batang ujung cambuk yang seperti ditiup ke samping!

Dan Hek-hiat-kwi sudah dapat menangkap yang tiga ujung lainnya, kemudian dengan sebelah tangan berhasil pula menangkap enam ujung yang menyeleweng oleh hawa Pukulan Hay Hay tadi.

Nenek itu terkejut.

Tak disangkanya bahwa bekas suaminya kini sedemikian lihainya sehingga cambuknya yang sembilan ekor itu telah dapat ditangkap oleh kedua tangan sehingga cambuk itu tidak berdaya lagi.

Ia melihat betapa kepala bekas suaminya itu demikian dekat, tak terlindung karena kedua tangan suaminya mencengkeram sembilan ujung cambuk.

Melihat ini, sejenak ia lupa diri, lupa bahwa ia harus selalu mengancam Kui Hong dengan cengkeraman tangan kiri pada tengkuk.

Tangan kirinya melepaskan tengkuk Kui Hong dan menyambar ke arah kepala bekas suaminya!

Sejak tengkuknya dicengkeram nenek itu, tak pernah sedetik pun Kui Hong lengah.

Ia selalu menanti datangnya kesempatan untuk membebaskan dirinya.

Oleh karena itu, begitu merasa bahwa cengkeraman tangan nenek itu meninggalkan tengkuknya, ia mengeluarkan lengkingan panjang dan sambil mengerahkan tenaganya, tubuhnya diguncang dan ia pun meloncat ke samping.

Tentu saja tubuh nenek yang hanya nongkrong di atas punggungnya tanpa daya, tanpa adanya kekuatan untuk melekat, dengan mudah terlepas.

Pada saat yang sama, Hay Hay sudah membuat gerakan membalik dan melihat tangan kiri nenek itu menghantam ke arah kepala Hek-hiat-kwi, dia pun cepat menangkis dan tangan yang lain menotok.

Maka robohlah tubuh nenek itu dengan mengeluarkan jeritan marah.

Tubuh itu kini terpelanting dan tak mampu bergerak lagi, di atas tanah.

Hanya sepasang matanya yang tajam itu saja yang masih melotot dengan penuh kebencian.

"Hay Hay, mari kita hajar suaminya yang tadi hampir mencelakaimu!"

Kata Kui Hong! siap untuk menyerang Hek-hiat-kwi Lauw Kin.

"Tahan dulu, Kui Hong!"

Kata Hay Hay.

"Dia tidak pernah mau mencelakaiku. Tadi kami hanya bermain sandiwara untuk mengelabuhi nenek ini. Aku pura-pura terdesalk agar Kiu-bwe Tok-li maju, dan siasat kami berhasil baik."

"Ohhh.?"

Kui Hong terkejut dan merasa malu sendiri.

"Kalau begitu, biar kubunuh saja nenek iblis ini!"

"Nona. jangan..!"

Hek-hiat-kwi Lauw Kin berseru sambil meloncat ke depan, melindungi tubuh isterinya.

"Kalau ia sudah melakukan kesalahan terhadap Nona, biarlah aku sebagai suaminya yang mintakan ampun."

Berkata demikian, kakek itu tanpa segan-segan lalu menjura berkali-kali kepada Kui Hong sebagai penghormatan sehingga gadis itu menjadi kikuk dan menyingkir.

"Kui Hong tidak sepatutnya kita membunuhnya. Biarpun ia telah berbuat jahat terhadap kita, menyanderamu dan memaksa kita membantunya, akan tetapi bagaimanapun juga, ia telah menyelamatkan kita dari pohon itu."

Hay Hay lalu menceritakan apa yang mereka alami sampai dapat bertemu dengan nenek Kiu-bwe Tok-li di guha tebing yang amat curam itu.

Mendengar kisah yang diceritakan Hay Hay, kakek itu merasa kagum bukan main.

"Ji-wi (kalian berdua) masih muda, akan tetapi telah memiliki kepandaian yang tinggi sekali. Ingin aku bicara lebih banyak, mengenai riwayat Ji-wi dan bicara tentang para pendekar, akan tetapi lebih dulu aku harus mencoba untuk mengobati kedua kaki isteriku ini dan juga berusaha mengobati batinnya yang rusak oleh dendam dan derita. Akan tetapi sedikitnya ingin aku mengetahui siapa guru Ji-wi. Nona ini puteri Ketua Cin-ling-pai, kiranya mudah diduga bahwa ilmu silatnya tentulah dari Cin-ling-pai yang sudah terkenal. Akan tetapi kalau boleh aku bertanya., siapakah guru Taihiap (Pendekar Besar) yang perkasa?"

Sebetulnya jarang sekali Hay Hay menyebut nama guru-gurunya, maka menghadapi pertanyaan ini, dia menjadi ragu-ragu.

Melihat keraguan pemuda itu, Hek-hiat-kwi cepat berkata.

"Biarlah kita bicara kelak saja, akan tetapi aku mohon sukalah Ji-wi menjadi tamuku dan makan bersamaku, agar aku mendapat kesempatan mengenal Ji-wi lebih baik dan untuk menunjukkan hormat dan terima kasihku."

"Terima kasih? Untuk apa Locianpwe harus berterima kasih kepada kami?"

Tanya Kui Hong yang telah mendapatkan kembali kelincahannya.

Semenjak ia dan Hay Hay terjatuh ke dalam jurang, gadis ini mengalami peristiwa yang menegangkan, selalu terancam maut dan baru sekarang ia merasa memperoleh kernbali kebebasannya.

"Benar, Locianpwe tidak berhutang budi apa pun kepada kami, sebaliknya Lociapwe telah membantu sehingga Kui Hong dapat terlepas dari cengkeraman Kiu-bwe Tok-li. Kami yang sepatutnya berterima kasih."

Sambung Hay Hay. Akan tetapi kakek itu menggeleng kepala dengan pasti.

"Kalian orang-orang muda yang gagah perkasa telah menolong isteriku keluar dari tempat terasing dan telah berhasil mempertemukan kami suami isteri, dan tanpa bantuan Ji-wi kiranya tidak mudah bagiku untuk menundukkannya. Mari, sobat-sobat muda yang baik, silakan masuk ke dalam guha dan aku mempunyai semua bahan masakan untuk dapat kita masak dan makan bersama."

Kakek itu lalu memondong tubuh isterinya yang masih lemas oleh totokan Hay Hay, dan setelah saling pandang, dua orang muda itu mengikutinya dari belakang.

Tanpa mengeluarkan kata, dalam batin Hay Hay dan Kui Hong terdapat keinginan yang sama, tertarik oleh penawaran kakek itu, ialah ingin mengisi perut mereka yang kini terasa lapar bukan main!

Guha itu lebar dan dalam, juga bersih.

Seperti ruangan dalam rumah saja, ada kamarnya.

"Sobat-sobat muda, di sudut sana terdapat sayur-sayur, daging kering, beras, buah-buahan boleh kalian pilih untuk dimasak. Aku harus lebih dulu memberi pengobatan pertama kepada isteriku. Nah, silakan dan harap jangan sungkan. Nanti setelah aku mengobati isteriku, kita makan sambil bicara dengan leluasa."

Hek-hiat-kwi membawa isterinya ke dalam kamarnya di bagian paling dalam dari guha itu.

Setelah kakek itu membawa isterinya ke dalam kamar guha, Kui Hong dan Hay Hay saling pandang dan Hay Hay tersenyum nakal sambil menuding ke arah sudut dan menepuk perutnya.

Melihat sikap ini, Kui Hong menjadi geli dan tersenyum pula, bahkan menutup mulut agar suara tawanya jangan sampai terlepas.

Keduanya lalu berindap ke sudut tadi dan dapat dibayangkan betapa girang hati mereka menemukan barang-barang yang amat dibutuhkan mereka saat itu.

Daging dendeng ker ing asin dan manis, terbuat dari daging yang segar.

Sayur-sayuran yang juga masih segar, bermacam-macam, ada pula lobak dan sawi kegemaran Kui Hong, juga terdapat buah-buahan yang manis segar itu.

Di situ terdapat pula gandum, beras dan bumbu-bumbu masak yang serba lengkap!

"Heh-heh, makan besar kita sekali ini!"

Hay Hay berbisik.

"Kita masak di luar guha saja, kita harus masak yang cukup banyak untuk kakek itu dan isterinya."

Bisik pula Kui Hong.

Hay Hay merasa setuju dan mereka lalu mengangkut bahan-bahan masakan ke luar guha di mana terdapat batu-batu yang telah dlsusun sedemikian rupa untuk menjadi tempat perapian.

Agaknya Hek-hiat-kwi juga kadang-kadang masak di luar guha.

Hay Hay lalu mencari kayu bakar, Kui Hong memotong daging dan sayur, menanak nasi dan mulutnya tiada hentinya mengunyah buah segar.

Banyak buah apel di situ, juga jeruk yang manis.

Tak lama kemudian, setelah kedua orang muda itu sibuk memasak beberapa macam masakan dan siap untuk mempersilakan tuan dan nyonya rumah untuk makan, tiba-tiba mereka mendengar jerit melengking dari dalam guha.

Dua orang muda itu terkejut bukan main dan bagaikan terbang saja keduanya lari ke dalam guha dan langsung menghampiri kamar guha yang daun pintunya tertutup.

Tanpa ragu lagi Hay Hay mendorong daun pintu itu sehingga terbuka dan penglihatan di dalam kamar membuat mereka berdua terbelalak.

Kakek Hek-hiat-kwi duduk bersila, seperti tidak percaya menunduk dan memandang ke arah dadanya yang terluka parah.

Bajunya robek dan darah merah membasahi seluruh dada, bahkan bercucuran keluar.

Adapun nenek itu, dalam keadaan telanjang bulat dan rebah miring, mukanya menyeringai seperti iblis dan kini nenek itu tertawa, seperti suara tawa yang muncul dari balik kubur.

"Hi-hi-hi-heh-heh! Jahanam Lauw Kin, mampuslah engkau sekarang, mampuslah di tanganku. ha-ha, kita berjumpa lagi dengan dia di neraka.. aughhhhh.!"

Dan tubuh itu terkulait tewas! "Kim Siu...!"

Kakek itu mengeluh, seperti orang meratap.

"Locianpwe, apa yang telah terjadi?"

Hay Hay berseru dan menghampiri, diikuti Kui Hong. Mereka bersiap siaga.

"Kim Siu... ah, tak kusangka... ketika aku sedang mengobatinya dengan pengerahan sin-kang mencoba mengusir hawa dari Pukulan beracun yang melumpuhkan kakinya, ia siuman dan tiba-tiba saja ia menyerangku dengan Pukulan tangannya. Tangannya seperti sebatang golok menusuk dadaku... akan tetapi... sin-kang dari kedua tanganku tanpa terkendali lagi juga menyusup liar ke tubuhnya dan ia... ia terluka parah dan tewas dan... dan."

"Tenanglah, Locianpwe, biar kuperiksa lukamu."

Kata Hay Hay yang cepat menghampiri kakek itu dan merobek bajunya.

Kui Hong memandang ngeri.

Dada itu seperti dibacok golok, robek dan parah.

"Lihat..."

Kakek itu terengah.

"Lihat, darahku merah! Tidak hitam lagi... tanda bahwa aku... aku telah bersih..."

Kakek itu tertawa bergelak, kemudian terkulai dan ketika Hay Hay memeriksanya, dia pun sudah tewas seperti isterinya!

Hay Hay menarik napas panjang.

Memang luka di dada oleh Pukulan Kiu-bwe Tok-li itu hebat, lebih parah daripada kalau nenek itu mempergunakan sebatang golok besar.

"Gila. sungguh gila."

Hay Hay memandang gadis itu, akan tetapi dia diam saja walaupun dia merasa heran mengapa Kui Hong berkata demikian.

"Mari kita keluar dari sini."

Ajaknya.

Kui Hong dan Hay Hay keluar dari dalam kamar maut itu, dan Hay Hay mengangkat daun pintu yang tadi roboh oleh dorongannya,memasangnya kembali.

"Aku akan mengganjalnya dengah batu besar agar tidak mudah dibuka orang."

"Hemm, mengapa kau lakukan itu?"

Tanya Kui Hong.

"Kita biarkan saja mereka di dalam kamar guha, karena tempat itu merupakan kuburan yang cukup baik. Mereka takkan diganggu binatang buas."

Kui Hong membantu Hay Hay mendorong masuk guha itu sebuah batu besar dan batu itu mereka dorong sampai menutupi pintu kamar dengan rapat.

Tak seekor pun binatang buas akan dapat memasuki kamar itu dan mengganggu dua sosok mayat di dalamnya.

Kemudian mereka keluar.

"Mari kita makan dulu sebelum pergi."

Kata pula Hay Hay.

Peristiwa yang terjadi dalam kamar guha itu amat mengerikan dan mengesankan sehingga dua orang muda yang biasanya berwatak gembira itu kini seperti kehilangan kegembiraan mereka.

Bahkan Kui Hong kehilangan nafsu makannya.

Tadinya ia tidak mau makan karena biarpun perutnya amat lapar namun lenyap sama sekali nafsu makannya, akan tetapi Hay Hay membujuknya dan akhirnya mau juga dara itu makan sedikit nasi dengan sayur.

Ia lebih banyak makan buah untuk mengisi perut yang kosong.

Setelah makan Hay Hay dan Kui Hong mengembalikan semua alat masak ke dalam guha dan membersihkan tempat itu, kemudian sebelum pergi, Hay Hay mengajak gadis itu berdiri di depan pintu kamar guha yang sudah tertutup batu besar.

"Locianpwe Lauw Kin, kami berterima kasih atas semua kebaikanmu. Kami hendak pergi dari sini dan semoga Locianpwe memperoleh kedamaian dan ketenteraman bersama isteri Locianpwe."

Kui Hong diam saja, hanya mendengarkan ucapan Hay Hay yang seperti berdoa itu.

Mereka lalu keluar dari dalam guha, menuruni bukit itu tanpa banyak bicara, namun terasa kelegaan menyusup ke dalam hati setelah mereka meninggalkan tempat yang mengerikan itu.

Setelah mereka tiba di kaki bukit, tiba-tiba Kui Hong menghentikan langkahnya dan menjatuhkan diri di atas rumput dan..

menangis!

Tentu saja Hay Hay terkejut bukan main.

Sejenak dia hanya, dapat memandang dengan mata dilebarkan.

Dia kaget dan heran.

Semenjak bertemu dengan Kui Hong, berebutan bangkai kijang, sampai sama-sama menghadapi cengkeraman maut, dia mengenal Kui Hong sebagai seorang gadis yang tinggi ilmunya, gagah berani, tabah, dan galak di samping riang jenaka dan terbuka.

Maka, melihat betapa gadis itu kini tiba-tlba saja menangis sambil menutupi mukanya, tentu saja dia merasa heran sekali.

"Kui Hong mengapa engkau menangis?"

Akhirnya Hay Hay bertanya lembut setelah dia pun duduk di depan gadis itu.

Tempat itu sunyi dan angin senja semilir dari barat.

Dia baru berani bertanya setelah tangis Kui Hong mereda.

Dia tidak tahu bahwa tangis gadis itu merupakan pelampiasan dari semua ketegangan yang menumpuk di dalam batin Kui Hong semenjak mereka terjatuh ke dalam jurang.

Gadis ini seorang pendekar wanita yang tabah, namun selama hidupnya belum pernah mengalami hal-hal hebat secara beruntun seperti yang dialaminya bersama Hay Hay itu.

Kengerian, ketakutan yang ditekan, kemarahan dan kebencian yang ditahan ketika ia merasa amat terhina oleh nenek iblis dan ketidak-berdayaan ketika disandera, semua itu kini terurai dan mengalir melalui air matanya.

Mendengar pertanyaan Hay Hay, Kui Hong mengusap sisa air matanya.

Kemudian ia menurunkan kedua tangannya, mengangkat muka memandang kepada Hay Hay dan pemuda itu hampir terlonjak kaget.

Sepasang mata itu, walau masih kemerahan dan agak membengkak oleh tangis, memandang dengan sinar yang bening mengandung kegembiraan, bibirnya tersenyum dan wajah itu berseri!

Saking herannya, pemuda ini hanya memandang dengan mulut ternganga dan mata terbelalak, tak pernah berkedip menatap wajah gadis yang tersenyum manis itu.

"Ihh, Hay Hay! Kenapa engkau menjadi bengong seperti arca seorang yang tolol!"

Dan Kui Hong tertawa, ketawanya lepas bebas dan tidak malu-malu seperti para gadis pada umumnya.

"Lho! Bagaimana pula ini?"

Kata Hay Hay yang sudah dapat menguasai diri yang tadi dicekam keheranan.

"Sekarang engkau tertawa gembira dengan mata yang masih merah oleh bekas tangis. Engkau tadi menangis tanpa sebab lalu kini tertawa geli. Siapa orangnya yang tidak menjadi bengong keheranan melihat ulahmu, Kui Hong?"

Gadis itu tersenyum geli, lalu menggeleng kepala.

"Entah, Hay Hay, aku sendiri pun tidak mengerti. Ketika tadi aku teringat akan semua peristiwa yang terjadi semenjak kita terjatuh ke dalam jurang itu, mendadak saja aku ingin menangis sepuas hatiku. Kemudian setelah tangisku berhenti, aku merasa demikian lega dan ringan hatiku sehingga aku ingin tertawa, bernyanyi dan bersorak!"

Kini mengertilah Hay Hay dan dia pun mengangguk-angguk.

"Ah, engkau seorang yang beruntung, Kui Hong."

"Beruntung? Apa maksudmu?"

"Orang yang dapat melepaskan semua perasaan dalam batinnya melalui tawa dan tangis secara langsung seperti engkau, adalah orang yang beruntung. Tidak seperti mereka yang menyimpan semua perasaan dalam batin, tidak mampu melampiaskannya keluar sehingga tumpukan perasaan itu akan mendatangkan bermacam penyakit dan melemahkan badan. Semua pengalaman yang bertumpuk di dalam hatimu sejak kita terjatuh ke dalam jurang, tadi dapat mengalir keluar melalui tangismu karena engkau sudah terbebas dari semua itu, kemudian setelah semua himpitan perasaan itu mengalir keluar, tentu saja perasaanmu menjadi lega dan gembira sehingga engkau memperoleh kembali watakmu yang aseli, yaitu gembira dan lincah jenaka, juga galak."

Sepasang mata itu melotot dan sepasang alis yang kecil hitam dengan bentuk indah melengkung itu berkerut.

"Aku? Kau berani mengatakan aku galak?"

Hay Hay tertawa.

"Nah. nah. baru dikatakan galak saja sudah marah. Apalagi sikap itu kalau bukan galak? Sudahlah, aku hanya main-main, kau maafkan aku, Nona manis."

Akan tetapi Kui Hong sudah melupakan lagi hal itu dan kemarahannya sudah lenyap.

Ia nampak termenung karena ia teringat akan peristiwa mengerikan yang terjadi di dalam kamar guha itu dan seperti orang mimpi saja mulutnya berkata lirih.

"Gila, sungguh gila..!"

Hay Hay teringat dan dia menatap wajah gadis itu.

"Ah, sudah dua kali engkau mengatakan itu, Kui Hong!"

"Dua kali?"

Gadis ini pun bertanya heran.

"Iya, ketika kita hendak meninggalkan guha, di depan kamar guha itu engkau pun mengatakan demikian, dan sekarang engkau mengulanginya. Apa dan siapa yang kau katakan gila itu?"

"Mereka, kakek dan nenek itu. Mereka menjadi gila karena cinta."

Kata Kui Hong, termenung dan memandang ke angkasa yang merah oleh sinar matahari senja.

Hay Hay tersenyum memandang wajah yang manis itu.

Manis sekali puteri Ketua Cin-ling-pai ini, pikirnya, mengamati dan memperhatikan bagian muka itu satu demi satu.

Mulut itu manis sekali biarpun ada tarikan keras pada kedua ujungnya.

Dan hidung itu.

Lucu sekali.

Kecil mancung dan ujungnya seperti dapat bergerak-gerak, kelucuan yang menghapus kekerasan pada ujung kedua bibirnya.

"Gila karena cinta? Wah, agaknya engkau ahli dalam soal cinta sehingga tahu bahwa mereka nenjadi gila karena cinta."

Pancing Hay Hay.

Mata itu, biar agak kemerahan oleh bekas tangis dan agak membengkak, harus diakui amat indah, bening kalau mengerling tajam seperti gunting.

Juga dengan bulu mata yang melengkung dan lentik panjang, dengan hiasan sepasang alis yang kecil hitam dengan bentuk indah pula.

Seraut wajah yang amat manis, dengan dagu meruncing dan muka yang bulat telur.

Daun telinganya pun menarik, sedang dan di depannya terhias rambut halus melingkar, juga di dahinya terhias sinom atau anak rambut yang halus dan kacau namun menarik sekali.

"Biarpun bukan ahli dalam soal cinta, mudah diketahui bahwa mereka itu menjadi gila karena cinta. Kakek itu menjadi gila karena cintanya kepada nenek iblis itu. Sudah tahu bahwa nenek itu demikian jahatnya, namun karena cinta, dia masih bersusah payah mau mengobati nenek itu, sehingga akibatnya dia terbunuh oleh nenek yang jahat itu. Bukankah itu suatu kegilaan namanya? Kegilaan yang membuat dia kehilangan kewaspadaan, padahal kakek itu berilmu tinggi, tidak semestinya dia demikian mudah diperdaya oleh Kiu-bwe Tok-li."

Hay Hay mendengarkan tanpa menanggalkan senyum dari bibirnya, matanya mengamati wajah itu dengan penuh perhatian dan kekaguman.

"Menurut pendapatku, cinta kasih kakek itu terhadap isterinya amat murni dan suci. Biarpun isterinya telah melakukan penyelewengan dengan laki-lakl lain, bahkan isterinya itu bersama kekasihnya berusaha membunuhnya kemudian meninggalkannya sampai puluhan tahun, kemudian isterinya muncul lagi dan hendak membunuhnya, tetap saja dia tidak membenci isterinya. Bahkan dia berusaha mengobati isterinya dan mencegah ketika engkau hendak membunuh nenek itu. Nah, itulah cinta kasih yang suci murni dan kiranya di dunia ini sukar dicari seorang pria yang dapat mencinta seperti itu terhadap seorang wanita."

"Itu sebabnya kukatakan gila. Dia menjadi gila oleh cintanya! Cinta semacam itu tidak umum, tidak lumrah, tidak wajar. Cinta seperti itu hanya patut dimiliki seorang ibu atau ayah terhadap anak mereka, bukan seorang suami terhadap isterinya! Dan nenek itu pun sudah gila karena cintanya kepada kekasihnya. Kekasihnya itu telah dibelanya, bahkan diajak membunuh suaminya, akan tetapi kekasihnya kalah oleh Hek-hiat-kwi dan terluka. Nenek itu membelanya dan membawanya pergi ke guha, merawatnya. Akan tetapi kekasihnya itu memukul dan melumpuhkan kedua kakinya karena tidak ingin di tinggalkan. Dan nenek itu masih tetap saja mencintanya, bahkan ingin membalaskan kematiannya kepada Hek-hiat-kwi. Apalagi namanya itu kalau tidak gila?"

"Wah, kalau menurut aku, cinta nenek itu terhadap kekasihnya adalah cinta berahi, cinta nafsu belaka! Mungkin pria yang menjadi kekasihnya itu amat tampan, amat menyenangkan hatinya sehingga ketika ia kehilangan kekasihya itu, ia merasa kecewa dan berduka, dan dendam kepada suaminya yang membuat kekasihnya itu tewas."

"Itulah, bukankah gila keduanya itu? Cinta antara suami isteri, antara pria dan wanita, tidak semestinya begitu!"

Kata pula Kui Hong penuh semangat dan dengan mata berapi-api karena ia teringat akan hubungan antara ayah dan ibunya sendiri.

Senyum di mulut Hay Hay melebar.

Bukan main, pikirnya.

Kalau yang bicara tentang cinta itu seorang wanita seperti Ji Sun Bi misalnya, hamba nafsu berahi yang sudah penuh dengan pengalaman, atau setidaknya Kok Hui Lian, yang sudah dua kali menikah dan gagal, tidak akan aneh terdengarnya.

Akan tetapi keluar dari mulut gadis ini, yang agaknya baru saja melewati masa remaja, paling banyak delapan belas tahun usianya, sungguh terdengar lucu dan ganjil.

"Kui Hong, engkau hebat! Kalau menurut pendapatmu, semestinya bagaimanakah cinta antara pria dan wanita itu?"

Hay Hay menyembunyikan senyumnya karena dia khawatir kalau gadis itu menjadi marah.

Pandang mata Kui Hong menyambar dan sejenak gadis itu mengamatinya penuh selidik.

Kemudian, dengan lagak seorang guru besar memberi kuliah kepada para mahasiswanya, ia berkata.

"Cinta kasih antara pria dan wanita adalah cinta kasih yang khas, tentu saja mengandung berahi karena mereka menjadi dekat oleh nafsu yang amat diperlukan untuk perkembangbiakan manusia. Bayangkan saja kalau cinta antara suami isteri itu seperti cinta antara sahabat atau saudara atau orang tua kepada anaknya, tanpa berahi! Tentu takkan terbentuk keluarga dan keturunan! Setelah mengandung nafsu berahi, juga mengandung rasa persahabatan, saling menerima dan memberi, saling terikat dan saling memiliki maka terdapat pula cemburu, terdapat pula pengorbanan. Akan tetapi semua itu dalam batas tertentu sehingga ada keseimbangan antara semua perasaan itu. Jadi bukan sekedar berahi semata, atau persahabatan semata, atau pengorbanan semata, melainkan persatuan yang seimbang dari kesemuanya itu. Nah, barulah kehidupan suami isteri dapat berjalan dengan lancar dan kesetiaan pun dapat mereka pertahankan."

Hay Hay terbelalak. Bagaimana mungkin gadis yang kelihatan masih "hijau"

Ini dapat bicara demikian panjang lebar dan pasti tentang cinta antara suami isteri?

Dia bertepuk tangan memuji.

"Hebat, engkau hebat, Nona! Engkau ternyata seorang guru besar soal cinta mencinta. Tentu sudah banyak pengalaman dalam bidang itu!"

Tiba-tiba Kui Hong meloncat berdiri dan bertolak pinggang.

"Keparat, hayo bangkit dan kita selesaikan penghinaan ini dengan perkelahian!"

Tentu saja Hay Hay terkejut dan tidak mau bangkit berdiri.

"Aduh tobat! Ada apa lagi, Nona manis? Apa kesalahan hamba sekali ini?"

"Masih bertanya lagi dan pura-pura tidak tahu ya? Jelas engkau menghinaku, mengatakan bahwa aku sudah banyak pengalaman dalam bidang cinta! Apa Kau kira aku ini petualang cinta?"

"Aduh, ampunkan hamba ini, yang mulia!"

Hay Hay masih berkelakar, akan tetapi benar-benar dia bersoja (menghormat dengan kedua tangan dikepal depan dada) sambil membungkuk berkali-kali.

"Aku tidak bermaksud menghina, hanya saja, bagaimana engkau tidak banyak pengalaman kalau pandai menguraikan soal cinta demikian jelas dan terperinci? Dari mana engkau memperoleh pengetahuan yang demikian luas tentang cinta?"

"Huh, orang bisa saja memperoleh pengetahuan dengan belajar!"

"Akan tetapi, bagaimana mungkin mengetahui tentang cinta hanya dengan belajar, tanpa mengalaminya sendiri?"

"Hay Hay, engkau ini memang tolol ataukah pura-pura tolol untuk mempermainkan aku?"

Bentak Kui Hong.

"Tentu saja orang dapat memperoleh pengetahuan apa saja dengan belajar, tanpa harus mengalaminya sendiri. Kalau engkau mempelajari kehidupan seekor monyet, anjing atau babi, apakah engkau juga harus lebih dulu mengalami menjadi monyet, anjing atau babi?"

Hay Hay tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha, Kui Hong. Kalau engkau ingin memaki aku, makilah secara langsung saja, mengapa pula harus pakai berputar-putar segala?"

"Memang aku ingin memakimu. Engkau memualkan perutku!"

"Sudah dua kali engkau mengatakan kalimat itu. Mengapa, Kui Hong. Mengapa perutmu menjadi mual karena aku?"

"Habis engkau ini suka main-main, berpura-pura tolol. Pura-pura tidak tahu tentang cinta, padahal engkau ini seorang laki-laki perayu besar, dan aku yakin engkau tentu laki-laki hidung belang, mata keranjang dan kurang ajar! Dan Ibuku selalu memperingatkan aku agar berhati-hati terhadap laki-laki perayu!"

"Wah-wah, banyaknya tuduhan itu! Kau bilang aku hidung belang."

Dia mengelus hidungnya. yang mancung dan sama sekali tidak belang.

"akan tetapi aku yakin hidungku tidak pernah belang, dan mata keranjang? Mataku pun tidak sekeranjang, juga tidak selalu ditujukan ke ranjang saja. Tentang kurang ajar, mungkin aku kurang ajar karena sejakkecil tidak mengenal Ayah Ibu. Dan perayu? Wah, kapan aku pernah merayumu, Kui Hong?"

Kui Hong membanting kaki kanannya, lalu duduk lagi di atas rumput dan mengomel karena merasa kewalahan berdebat.

"Huh, dasar pokrol bambu! Engkau berkali-kali memujiku, yang cantiklah, yang manislah, yang apalah... apakah itu bukan merayu namanya?"

"Tidak, aku tidak pernah merayu! Aku hanya jujur dan apa salahnya orang bicara jujur dan apa adanya? Apakah aku harus menipu dan berbohong mengatakan bahwa wajahmu yang amat manis itu menjadi amat buruk? Coba lihat saja sendiri. Matamu itu! Begitu indah bentuknya, jeli dan tajam, dengan bulu mata lentik dan alis melengkung indah, kerling matamu demikian tajam menyayat!"

Wajah Kui Hong perlahan-lahan berubah kemerahan karena canggung dan malu, akan tetapi ia diam saja, hanya menundukkan mukanya, tidak berani menentang pandang mata pemuda itu.

"Dan hidungmu itu! Sungguh mati, belum pernah selama hidupku aku melihat hidung seindah itu. Kecil mancung dan ujungnya dapat bergerak-gerak lucu dan menarik sekali. Daun telingamu seperti gading terukir ahli yang amat pandai, kulit mukamu begitu halus sampai ke leher, putih mulus tanpa cacat "Kui Hong memejamkan matanya dan merasa betapa hatinya seperti dielus-elus, terasa nikmat dan bahagia sekali.

"Orang tuamu sungguh pandai memilih nama dengan memasukkan Hong karena matamu seperti mata burung Hong. Dan mulutmu! Ah, tidak mudah melukiskan keindahan mulutmu, Kui Hong. Heran aku, bagaimana ada sepasang bibir seperti bibirmu, dalam keadaan bagaimana pun tetap indah menarik. Kalau diam begitu anggun dan manis, kalau tersenyum seperti bunga mawar mekar merekah, kalau tertawa seperti sinar matahari siang yang panas, kalau cemberut juga bertambah manis, seperti bulan redup. Dan rambutmu kacau tak tersisir akan tetapi di dalam kekacauan itu terdapat sesuatu yang amat indah dan sempurna, seolah-olah kalau dibereskan malah berkurang keindahannya. Anak rambut di dahimu itu, di pelipismu, di lehermu, aduhai.!"

Kui Hong menggigit bibirnya.

Belum pernah selama hidupnya ia merasakan kenikmatan dan kebahagiaan batin seperti itu.

Pujian-pujian seperti itu berbeda sama sekali dengan pujian kurang ajar dari beberapa orang pria yang pernah dihajarnya hanya karena mereka memujinya dengan maksud kurang ajar.

Akan tetapi pujian Hay Hay demikian jujur, demikian indah didengar, demikian mengelus hatinya, membuat ia seperti merasa mengantuk dan nyaman sekali.

Ia menggigit bibir dan dengan mengeraskan hati ia berseru.

"Cukup..!"

Bentakannya itu membuyarkan ayunan yang nikmat tadi dan ia menatap wajah Hay Hay dengan sepasang mata bersinar, penuh selidik.

Akan tetapi ia tidak menemukan kekurangajaran di dalam pandang mata pemuda itu.

"Nah, Kui Hong. Demikianlah kira-kira keadaan wajahmu, yang kugambarkan secara canggung sekali karena bagaimana mungkin menggambarkan keindahan seperti itu. Aku bukan seorang seniman yang pandai. Kalau saja aku pandai melukis! Apakah itu namanya rayuan? Aku hanya menggambarkan dengan jujur, bukan sembarang memuji, bukan merayu dengan pamrih. Kalau engkau cantik, mana mungkin aku mengatakan buruk? Laki-laki yang menyembunyikan kecantikan wanita, tidak jujur dan menyimpan saja dalam hati agar dianggap sopan, maka dia adalah seorang munafik!"

Sejenak keduanya diam dan Kui Hong merasa senang sekali walaupun ia merasa malu dan canggung, Akhirnya ia mengangkat muka dan kedua orang itu beradu pandang.

"Hay Hay, benar-benarkah engkau menganggap aku cantik?"

"Tentu saja. Kalau engkau buruk lalu kukatakan cantik, itu baru merayu namanya. Engkau seorang dara yang gagah perkasa, lihai, cantik dan lincah gembira, Kui Hong."

Kui Hong tidak cemberut kali ini, bahkan tersenyum manis, yakin akan kejujuran pemuda yang dianggapnya istimewa ini.

Ia sudah banyak bertemu pria, akan tetapi belum pernah ada yang seperti Hay Hay, demikian pandai memuji dan menyenangkan hati dengan kata-kata yang indah seperti merayu, namun tidak memiliki pandang mata kurang ajar atau tidak sopan seperti pandang mata pria lain.

Hatinya senang sekali.

"Dan engkau pun seorang pemuda yang tampan, sederhana namun memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi, Hay Hay."

Hay Hay tertawa girang. Dia bangkit berdiri dan menjura dengan tubuh membungkuk sampai dalam.

"Terima kasih, Nona manis, terima kasih atas pujianmu. Ternyata engkau mudah sekali belajar menjadi manusia yang jujur!"

Dia lalu memandang ke sekeliling.

"Akan tetapi senja telah larut dan malam hampir tiba. Tidakkah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan mencari dusun agar kita mendapatkan rumah untuk melewatkan malam?"

Kui Hong menggeleng kepalanya.

"Tidak, malam ini bulan muncul dan tempat ini pun cukup menyenangkan. Aku masih lelah dan biar kita melewatkan malam di sini saja. Akan tetapi, kalau engkau ingin mencari rumah penginapan di dusun, silakan pergi dan biarlah aku tinggal di sini sediri!"

Kalimat terakhir mengandung kekerasan.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh seperti sebutir batu mulia, Kui Hong!"

"Hemm? Apa artinya engkau menyamakan aku dengan batu?"

"Batu bukan sembarang batu, Nona, melainkan batu mulia seperti intan dan kemala, indah, bernilai tinggi, akan tetapi keras seperti baja. Baiklah, kalau engkau menghendaki bermalam di sini, aku pun suka sekali. Kita dapat bercakap-cakap agar perkenalan antara kita lebih akrab. Yang kuketahui darimu hanyalah bahwa engkau bernama Cia Kui Hong, puteri Ketua Cin-ling-pai. Tentu saja aku ingin mengetahui lebih banyak."

"Engkau harus bercerita lebih dulu."

Kata Kui Hong sambil menjulurkan kedua kakinya dan duduk bersandar batang pohon yang tumbuh di situ.

Tempat itu memang enak sekali, rumputnya tebal dan bersih, ada pohon yang melindungi mereka dan agaknya tak jauh dari situ terdapat anak sungai karena terdengar suara gemericik air.

(Lanjut ke

Jilid 37) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 37

"Baiklah, akan tetapi karena memang tidak ada apa-apanya yang menarik tentang diriku, kau boleh bertanya apa saja dan aku akan menjawab."

"Hay Hay, tadi ketika engkau bertanding melawan Hek-hiat-kwi, engkau terdesak dan kemudian ternyata engkau bersiasat dan mengalah untuk menjebak nenek iblis. Andaikata engkau tidak mengalah, apakah engkau akan dapat mengalahkan Hek-hiat-kwi?"

"Locianpwe itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, ilmu silatnya aneh dan matang, tenaga saktinya juga amat kuat. Akan tetapi, aku yakin akan mampu mengatasinya kalau kami bertanding dengan sungguh-sungguh."

Jawab Hay Hay sejujurnya.

Gadis itu mengangguk-angguk tanpa melepaskan tatapan matanya kepada wajah pemuda itu dengan sinar mata kagum.

"Aku pun menduga demikian Hay Hay, engkau begini lihai ilmu silatmu, jauh lebih tinggi daripada kepandaianku, bahkan engkau pandai ilmu sihir, dan engkau mengaku masih sute dari Toako (Kakak Besar) Cia Sun."

"Eh? Engkau menyebut Toako kepada Suheng Cia Sun? Apa hubunganmu.."

"Nanti dulu. Ingat, kini giliran cerita tentang dirimu! Nah, siapakah gurumu yang membuat engkau demikian lihai?"

"Wah, Kui Hong, terus terang saja, selama ini aku tidak pernah menceritakan kepada siapa pun tentang guru-guruku. Akan tetapi karena aku sudah berjanji untuk menjawab, biarlah aku memberi pengecualian kepadamu. Engkau seorang gadis yang hebat, pantas mendapatkan keistimewaan itu. Nah, guru-guruku banyak. Yang mengajar ilmu silat adalah dua orang dari Delapan Dewa, yaitu. Ciu-sian Sin-kai, majikan Pulau Hiu di Pohai, dan See-thian Lama atau Go-bi Sian-jin, yaitu guru suheng Cia Sun. Yang mematangkan ilmu-ilmuku adalah suhu Song Lojin (Kakek Song) dan Guruku dalam ilmu sihir adalah mendiang Pek Mau san-jin."

Kui Hong memandang penuh kagum.

"Pantas engkau hebat. Kiranya yang menjadi guru-gurumu dalam ilmu silat adalah dua di antara Delapan Dewa. Aku pernah mendengar dari Kong-kong (Kakek) tentang kehebatan Delapan Dewa. Sekarang aku ingin tahu tentang keluargamu. Engkau tentu sudah beristeri."

"Ah, jangan mengejek, Kui Hong! Siapa sudi kepada orang macam aku? Aku belum menikah, bertunangan pun belum, pacar pun tidak punya!"

"Hemm, benarkah? Engkau sudah begitu berpengalaman dan pandai menyenangkan hati wanita, dan usiamu juga tidak muda lagi."

"Aku baru berusia dua puluh satu, masih terlalu muda untuk memikirkan soal jodoh."

"Begitu pendapatmu? Dan siapa nama Ayah Ibumu? Di mana mereka tinggal?"

Sekali ini, lenyaplah seri wajah Hay Hay.

Untung bahwa malam mulai tiba, sinar senja mulai terganti keremangan menjelang malam sehingga gadis itu tidak melihat perubahan mukanya yang diliputi mendung.

"Ayahku she Tang, aku tidak tahu siapa namanya. Aku tidak tahu siapa nama Ibuku. Aku pun tidak pernah melihat Ayah Ibuku. Ibu meninggal dunia ketika aku masih kecil, dan Ayahku, aku tidak tahu dia berada di mana."

"Ohhhh.!"

Seruan Kui Hong mengandung kekagetan dan juga iba.

"Kasihan engkau, Hay Hay."

Keriangan watak Hay Hay pulih kembali.

"Tidak usah kasihan, Kui Hong, aku sendiri pun tidak kasihan kepada diriku sendiri. Kenapa mesti kasihan kalau memang sudah semestinya begitu keadaan hidupku?"

"Tapi... tapi, bagaimana sampai engkau tidak tahu dan tidak mengenal Ayah Ibumu? Apa yang telah terjadi dengan mereka?"

Hay Hay merasa canggung sekali, akan tetapi karena sudah berjanji, dia terpaksa menceritakan sebagian dari riwayatnya tanpa harus menceritakan keadaan ayah kandungnya seperti yang didengarnya dari keluarga Pek.

"Aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Ketika aku masih kecil sekali, agaknya Ibu mengajak aku bepergian dengan perahu. Perahu itu terguling, Ibu dan aku hanyut. Ibu tewas dan aku tertolong orang. Kemudian aku bertemu dengan kedua orang guruku dan menjadi murid mereka. Hanya begitulah. Nah, tidak ada yang menarik tentang diriku, bukan? Sekarang giliranmu, Kui Hong."

"Nanti dulu."

Bantah Kui Hong.

"Engkau memiliki ilmu sihir, bahkan aku sendiri pun pernah kau permainkan dengan sihirmu ketika kita memperebutkan kijang itu. Akan tetapi kenapa nenek itu tidak dapat kau pengaruhi dengan ilmu sihirmu?"

"Ah, hal itu hanya menunjukkan bahwa nenek itu pernah mempelajari sihir atau memiliki kekuatan batin yang amat kuat untuk melindungi dirinya. Sekarang aku ingin tahu tentang dirimu, Kui Hong. Biarpun aku sudah tahu bahwa Ayahmu adalah Ketua Cin-ling-pai yang terkenal, akan tetapi aku belum tahu siapa nama kedua orang tuamu."

"Ayah bernama Cia Hui Song, keturunan dari para Ketua Cin-ling-pai, adapun Ibuku bernama Ceng Sui Cin, puteri Pendekar Sadis."

"Ahh! Pendekar sadis yang amat terkenal itu adalah Kong-kongmu?"

Kata Hay Hay penuh kagum.

"Dan semua ilmu silatmu tentu kau dapat dari orang tuamu."

"Benar, akan tetapi selama tiga tahun terakhir ini aku tinggal di Pulau Teratai Merah dan menerima petunjuk dari Kakek dan Nenekku."

"Pantas! Ilmu silatmu demikian lihai, Kui Hong. Apalagi dalam hal gin-kang (ilmu meringankan tubuh), sungguh aku kagum dan taluk."

"Sudahlah, jangan terlalu banyak memuji. Buktinya aku tidaklah selihai engkau."

Kata Kui Hong yang tidak ingin bicara lebih banyak tentang orang tuanya karena tidak mungkin baginya untuk menceritakan tentang keretakan rumah tangga orang tuanya.

"Sekarang engkau sedang hendak pergi ke manakah?"

Hay Hay lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Menteri Yang Ting Hoo yang bijaksana di rumah Jaksa Kwan, dan tentang permintaan tolong Menteri Yang Ting Hoo kepadanya agar suka melakukan penyelidikan terhadap persekutuan di Lembah Yangce.

"Menurut keterangan kedua orang pejabat tinggi yang bijaksana dan setia itu, gerakan para pemberontak itu dipimpin oleh para datuk sesat, kabarnya diketuai oleh Lam-hai Giam-lo, bahkan Pek-lian-kauw juga bergabung dengan persekutuan itu. Nah, sekarang aku sedang menuju ke sana ketika perutku terasa lapar dan aku berburu kijang itu dan bertemu denganmu."

Hay Hay tersenyum ketika teringat akan peristiwa itu.

"Dan engkau sendiri, hendak pergi ke manakah?"

"Aku? Aku hanya ingin merantau, meluaskan pengalaman, juga mencari seorang pengkhianat keji, seorang murid murtad yang sudah sepatutnya dihancurkan karena dia dapat menjadi seorang yang amat berbahaya."

Kui Hong mengepal tinju dan nampak marah sekali.

Hay Hay terkejut dan mengerutkan alisya.

Tak nyaman rasa hatinya melihat gadis itu dicengkeram dendam yang demikian penuh kebencian terhadap seseorang.

"Hemm, siapakah orang itu? Seorang murid Cin-ling-pai?"

"Kalau hanya murid Cin-ling-pai, kiranya tidaklah demikian membahayakan, tidak perlu aku bersusah payah mencarinya sendiri. Akan tetapi dia jauh lebih lihai dari hanya seorang murid Cin-ling-pai, karena dia adalah murid gemblengan dari Kakek dan Nenek di Pulau Teratai Merah."

"Ahhh... Maksudmu, dia itu murid dari kakekmu Pendekar Sadis?"

"Benar. Namanya Ciang Ki Liong. Seperti juga engkau, dia seorang korban kecelakaan di laut yang sejak kecil ditolong oleh Kakek dan Nenekku, diambil murid dan digembleng. Aku sendiri ketika tiga tahun yang lalu berkunjung ke pulau itu, sama sekali tidak mampu menandinginya. Tiga tahun yang lalu, dia minggat dari pulau membawa banyak pusaka Pulau Teratai Merah, dan karena itulah Kakek dan Nenek lalu mengajarkan ilmu-ilmu kepadaku agar aku dapat menandinginya."

"Tapi... tapi sebagai murid Pendekar Sadis, tentu dia mempunyai ahlak yang baik. Mengapa dia sampai pergi meninggalkan pulau itu dan membawa banyak pusaka milik Kakekmu?"

"Menurut Kakek dan Nenek, sejak kecil dia memang kelihatan berwatak baik sekali, akan tetapi ketika aku berkunjung ke pulau itu, malam itu dia... dia mempunyai niat kotor dan kurang ajar terhadap diriku. Aku menolak dan menyerangnya, kami berkelahi dan begitulah, pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia minggat membawa barang-barang pusaka, termasuk pedang Kakek yang bernama Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak)."

"Aih, kiranya begitu?"

Hay Hay mengangguk-angguk.

"Terbuktilah sekarang bahwa aku tidak membohong ketika aku memuji-muii kecantikanmu, Kui Hong. Pantas saja Ciang Ki Liong itu tergila-gila kepadamu karena engkau memang cantik menggairahkan, hanya dia tidak mampu melawan nafsu berahinya sendiri sehingga melakukan hal yang buruk. Kecantikan, seperti semua keindahan, menjadi berbahaya sekali kalau ingin dimiliki dan dinikmati sebagai kesenangan."

"Hemm, engkau sendiri seorang laki-laki mata keranjang yang suka akan kecantikan wanita. Tentu engkau pun sering kali tertarik oleh kecantikan wanita, bukan?"

"Tidak kusangkal, Kui Hong. Aku suka sekali dan tertarik akan kecantikan wanita seperti aku suka dan tertarik akan kecantikan bunga-bunga yang beraneka warna dan bentuk. Semuanya indah mengagumkan. Akan tetapi, aku tidak membiarkan diriku dikuasai nafsu untuk memetik bunga-bunga itu, karena hal itu berarti merusak dan merusak adalah perbuatan jahat. Aku hanya menikmati kecantikan wanita melalui pandang mataku, tanpa dipengaruhi berahi yang akan mendorongku ke arah perbuatan yang melanggar susila."

Hening sejenak dan malam pun tiba.

Tanpa bicara keduanya lalu mengumpulkan kayu kering dan membuat api unggun untuk mengusir nyamuk dan hawa dingin.

Api bernyala dengan indahnya karena kayu yang dimakannya sudah kering betul dan malam itu tidak ada angin.

Kehangatan dan penerangan diciptakan api yang bernyala itu.

Mereka duduk berhadapan, terhalang api unggun.

Hay Hay mengagumi wajah yang tertimpa sinar api itu, mewarnai wajah cantik itu dengan warna kemerahan.

Ketika gadis itu mengangkat muka dan menatapnya, dia tidak melepaskan pandang matanya, sehingga sejenak sinar mata mereka bertemu dan bertaut.

"Hay Hay, pernahkah engkau jatuh cinta?"

Hay Hay terkejut.

Pertanyaan itu begitu tiba-tiba dan tak tersangka, seperti sebuah jurus serangan yang aneh dan berbahaya.

Dia melihat betapa sepasang mata jeli dan tajam itu memandang kepadanya penuh selidik.

Hay Hay tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Aku bersukur bahwa aku belum pernah jatuh cinta, Kui Hong."

"Bersukur? Kenapa mesti bersukur?"

"Karena, seperti katamu tadi, cinta merupakan ikatan, seperti burung dalam sangkar. Aku tidak ingin terkurung dalam sangkar atau terikat kakiku, lebih suka terbang bebas di angkasa seperti seekor burung garuda! Bagaimana dengan engkau sendiri, Kui Hong? Seorang gadis selihai dan secantik engkau tentu banyak pengagumnya dan tentu engkau pernah jatuh cinta."

"Huh, engkau yang sudah berusia dua puluh satu tahun saja belum pernah jatuh cinta, apalagi aku yang baru berusia delapan belas tahun. Sudahlah, tak perlu kita bicara tentang cinta. Aku tertarik mendengar ceritamu tadi tentang para datuk yang bersekutu untuk memberontak itu. Siapa pula nama pemimpin mereka tadi, dan di mana mereka bersarang?"

"Menurut keterangan Menteri Yang, pemimpin mereka adalah Lam-hai Giam-lo seorang datuk sesat yang amat sakti, dan banyak tokoh sesat yang lihai bergabung dalam persekutuan itu, juga Pek-lian-kauw yang memiliki banyak tokoh lihai. Mereka sedang menyusun kekuatan di sepanjang Lembah Yangce, di Pegunungan Yunan."

"Hemm, aku tertarik sekali. Sebagai puteri Ketua Cin-ling-pai, sudah selayaknya kalau aku turun tangan menentang mereka. Dan siapa tahu, di sana aku akan dapat bertemu dengan murid murtad itu. Aku pun akan pergi ke sana, Hay Hay."

"Bagus! Kalau begitu kita melakukan perjalanan bersama, Kui Hong. Betapa senangnya melakukan perjalanan bersamamu!"

"Kenapa senang?"

Kui Hong bertanya sambil mengerling, disertai senyum.

Bagaimanapun juga, hati gadis ini senang mendengar pujian-pujian pemuda itu dan menginginkan lebih banyak mendengarnya.

"Kenapa? Tentu saja amat menyenangkan melakukan perjalanan bersama seorang gadis yang cantik manis, lincah jenaka dan lihai pula ilmu silatnya. Biar bertemu setan dan iblis di jalan, aku tidak akan takut kalau melakukan perjalanan bersamamu, Kui Hong."

"Hushh, di malam gelap dan sunyi seperti ini, jangan bicara tentang setan dan iblis, Hay Hay!"

"Ah, sebentar lagi bulan akan muncul. Lihat di timur itu, sudah ada cahaya merah di langit timur, berarti bulan akan segera muncul."

"Apalagi waktu terang bulan, katanya setan dan iblis suka berkeliaran. Hihh, mengerikan!"

Dan Kui Hong benar-benar agak menggigil mengenang tentang setan dan iblis.

"Ha-ha-ha, seorang gadis selihai engkau ini ngeri dan takut soal setan dan iblis? Sesungguhnya, merekalah yang harus merasa ngeri dan takut berhadapan denganmu, Kui Hong, bukan engkau yang takut!"

Hay Hay berkelakar.

"Kalau setan dan iblis yang hanya dipakai penjahat untuk julukan mereka, tentu saja aku tidak takut sama sekali. Akan tetapi kalau setan dan iblis sungguh-sungguh, mahluk-mahluk halus, hiiihh, siapa yang tidak merasa ngeri?"

Kui Hong memandang ke kanan kiri, lalu menoleh ke belakang.

Ketika melakukan perjalanan seorang diri, gadis ini tidak takut menghadapi siapa pun, dan karena tidak pernah bicara atau berpikir tentang setan, maka ia pun tidak pernah takut.

Kini, sekali Hay Hay menyebut tentang setan dan iblis yang suka mengganggu manusia, teringat ia akan dongeng-dongeng mengerikan tentang setan dan iblis yang suka mengganggu manusia.

"Kui Hong, apakah engkau pernah melihat sendiri setan itu?"

Kui Hong menggeleng kepala menyangkal.

"Kalau belum pernah melihat sendiri, bagaimana engkau bisa percaya adanya setan."

"Hay Hay, banyak hal-hal yang gaib di dunia ini, yang tak dapat dilihat, namun toh ada dan harus dipercaya keadaannya. Siapa dapat melihat adanya angin? Siapa dapat melihat adanya nyawa? Siapa dapat melihat adanya Tuhan? Namun, kita toh percaya. Aku percaya akan adanya setan dan iblis seperti yang didongengkan orang."

Hay Hay mengangguk.

"Memang, di dalam ilmu sihir, ada ilmu yang disebut ilmu hitam, yang kekuatannya berpangkal kepada kepercayaan dan pemujaan setan dan iblis. Seperti juga kepercayaan terhadap Tuhan, walaupun tak dapat dilihat, namun kekuasaan Tuhan dapat kita lihat di mana-mana, bahkan di dalam detak jantung kita sendiri, dalam pertumbuhan kuku dan rambut dan dalam seluruh kehidupan diri kita. Kalau Tuhan itu sumber segala kebenaran dan kebaikan, maka sebaliknya, setan itu sumber segala kejahatan. Aku sendiri ingin sekali melihat setan dengan mata kepala, namun tak pernah berhasil.."

"Ihhh... sudahlah, Hay Hay, jangan bicara tentang setan dan iblis di waktu seperti ini. Lihat bulan mulai muncul dan bayangan-bayangan pohon itu sungguh menyeramkan!"

Kembali Kui Hong nampak ketakutan dan diam-diam gadis ini merasa beruntung sekali malam itu ada Hay Hay yang menemaninya.

Ia menambahkan kayu pada api unggun sehingga api membesar.

"Aku mau tidur, tubuhku masih terasa lelah bukan main."

Katanya dan ia pun merebahkan diri miring di bawah pohon itu berbantal tangan.

"Tidulah, biar aku yang berjaga. Tidurlah dengan tenang dan nyenyak dan jangan takut akan diganggu setan.."

Tiba-tiba Kui Hong menahan jeritnya dan meloncat duduk dengan mata terbelalak memandang ke sebelah kirinya.

"Kui Hong! Ada apakah?"

Tanya Hay Hay dan dia pun menoleh.

Dia pun terbelalak karena melihat asap hitam mengepul dan di tengah asap itu muncullah bentuk yang amat menyeramkan, seorang manusia seperti raksasa, tinggi besar, mukanya hitam arang, matanya lebar melotot hidungnya besar dan mulutnya bertaring!

Pendeknya, bukan bentuk manusia umum yang muncul dari dalam asap hitam itu, melainkan ujud yang biasanya dimiliki setan datam dongeng!

Kui Hong yang tadinya terkejut sekali, kini tiba-tiba meloncat ke arah bayangan raksasa itu dan ia menyerang dengan Pukulan dahsyat.

Akan tetapi, gadis itu menahan pekiknya ketika tangannya tembus saja seolah-olah ia memukul bayangan!

Dan "raksasa"

Itu tertawa bergelak, giginya yang besar-besar nampak dan lidahnya terjulur panjang!

Kui Hong menjadi pucat dan kini ia tidak meragukan lagi bahwa yang diserangnya itu sudah pasti setan!

Bukan manusia biasa.

"Kui Hong, mundurlah dan biarkan aku menghadapinya."

Terdengar suara Hay Hay di belakangnya dan Kui Hong cepat melompat ke arah Hay Hay dan dengan tubuh gemetar ia ikut duduk di atas rumput dekat Hay Hay karena pemuda itu pun masih duduk seperti tadi.

Saking ngeri dan takutnya, tanpa disadarinya Kui Hong duduk merapat dan merangkul leher pemuda itu, minta perlindungan.

"Aku... aku takut."

Bisiknya dan suaranya juga gemetar.

Api unggun kini padam karena tidak ditambah kayu, akan tetapi bulan sudah muncul sehingga cuaca cukup terang, akan tetapi penerangan redup yang menambah keseraman suasana.

Kini suara ketawa terdengar semakin ramai dan dengan muka pucat dan mata terbelalak Kui Hong melihat bahwa kini, bersama dengan mengepulnya asap hitam, muncul pula empat sosok bayangan lain yang kesemuanya merupakan mahluk-mahluk mengerikan yang mengepung mereka dengan setengah lingkaran dari depan.

Kui Hong merasa semakin takut dan di luar kesadarannya, kedua lengannya merangkul pundak dan leher Hay Hay, seperti seorang anak kecil yang ketakutan dan minta perlindungan dalam dekapan ibunya.

"Tenanglah, Kui Hong, itu hanya permainan kanak-kanak!"

Bisik Hay Hay.

Padahal, di dalam hatinya, pemuda ini juga terkejut karena dia maklum bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kekuatan sihir yang cukup kuat.

Bayangan-bayangan menyeramkan itu adalah jadi-jadian atau ujud yang muncul karena kekuatan sihir ilmu hitam!

Hay Hay mengerahkan kekuatan batinnya, tangannya mengambil tanah di bawah rumput, kemudian menujukan pandang matanya ke arah lima sosok bayangan setan yang menyeramkan itu.

Bayangan-bayangan itu masih mengeluarkan suara ketawa yang tidak seperti suara manusia.

"Kalian datang dari tiada, kembalilah kepada tiada!"

Serunya dan tangannya melontarkan tanah ke arah bayangan-bayangan itu.

Tanah itu melayang berpencar lebar dan mengenai lima sosok bayangan.

Terdengar pekik-pekik mengerikan dan lima sosok bayangan setan itu menghilang, berubah menjadi asap hitam dan kini lima gumpal asap itu menjadi satu, hitam dan tebal bergerak perlahan, membentuk sosok bayangan yang amat panjang dan ternyata berubah menjadi seekor naga hitam yang amat mengerikan!

"Ihhh.!"

Kui Hong menggigil ketakutan.

Gadis ini adalah seorang pendekar wanita yang gagah perkasa, berilmu tinggi dan memiliki keberanian menghadapi lawan yang bagaimanapun juga.

Akan tetapi, karena sebelumnya tadi ia sudah merasa ngeri ketika bicara tentang setan dengan Hay Hay, maka kini begitu muncul apa yang disangkanya setan benar-benar, ia kehilangan ketabahannya dan merasa takut bukan main.

Ia menganggap bahwa semua ilmu silatnya tidak ada artinya sama sekali untuk melawan setan, dan kemunculan bentuk-bentuk yang menyeramkan itu menambah rasa takutnya.

Apalagi tadi sudah dicobanya, ketika ia memukul, tangannya tembus saja tanpa mempengaruhi sedikit pun terhadap bayangan-bayangan itu.

Kini rasa takut membuat wajahnya pucat, kepalanya pening dan tubuhnya lemas seolah-olah semua tenaganya lenyap meninggalkan tubuhnya.

Melihat betapa Kui Hong ketakutan, Hay Hay menjadi mendongkol juga kepada lima orang yang sedang mengganggu mereka dengan ilmu hitam.

Dia mengerahkan semua tenaganya karena kini lima orang itu, dengan mempersatukan kekuatan sihir mereka, telah membentuk bayangan seekor naga hitam.

Seperti yang pernah dipelajarinya dari Pek-mau San-jin, kembali tangannya mencengkeram segenggam tanah, mulutnya membaca mantra yang artinya.

"Ngo-heng (Lima Unsur Inti) menjadi senjataku, Im-yang (Positip Negatip) rnenjadi perisaiku, kekuasaan Tuhan menjadi peganganku, dan hancurlah semua anasir jahat!"

Dia melontarkan tanah itu ke arah bayangan naga yang amat menyeramkan itu, yang kini agaknya hendak menerkam kedua orang muda itu, dengan mata yang bernyala, dengan mulut terbuka nampak gigi dan lidahya yang mengeluarkan asap dan suara geraman dahsyat.

"Darrr..!"

Terdengar bunyi ledakan dan bayangan naga hitam itu pun lenyap berubah menjadi asap hitam dan kini nampaklah lima orang laki-laki berpakaian pendeta dengan gambar bunga teratai di jubah bagian dada mereka.

Lima orang itu nampak marah sekali dan dengan cepat mereka menerjang ke arah Hay Hay dengan gaya masing-masing.

Ada yang menubruk seperti seekor harimau menubruk kambing, ada yang menghantamkan kedua tangan ke arah kepala Hay Hay, ada pula yang melakukan tendangan kilat, dan ada pula yang mempergunakan tenaga dalam untuk menghantamkan kedua telapak tangan ke arah pemuda itu.

Gerakan mereka itu berbareng, dan agaknya memang disengaja agar pemuda itu tidak lagi mampu menghindarkan diri dari pengeroyokan itu.

Akan tetapi mereka itu terlalu memandang rendah kepada pemuda sederhana ini.

Pengalaman mereka tadi saja, ketika mereka menggabungkan kekuatan sihir dan dibikin hancur dengan mudah oleh Hay Hay, mestinya telah memperingatkan mereka bahwa mereka menghadapi seorang pemuda yang amat lihai.

Akan tetapi agaknya mereka memang bandel dan belum mengaku kalah.

Kui Hong masih ketakutan, seperti lemas dan hanya bersandar kepada Hay Hay.

Ia masih bingung dan masih menganggap bahwa lima orang itu adalah setan-setan atau para siluman menyeramkan, yang tidak dapat dilawan dengan ilmu silat.

Maka, melihat betapa mereka kini menerjang Hay Hay, ia pun hanya menonton saja dengan tubuh masih gemetar.

Akan tetapi, melihat serangan mereka, Hay Hay yang waspada sudah dapat mengukur tenaga mereka, maka dia pun masih tetap saja duduk dan untuk menghadapi serangan mereka itu, dia menyambutnya dengan dorongan kedua tangannya, dengan telapak tangan menghadap ke depan.

"Haiiittt..!"

Pemuda itu membentak dan suaranya mengandung khi-kang amat kuat, sedangkan dari kedua telapak tangannya menyambar hawa Pukulan dahsyat menyambut serangan lima orang itu.

Terdengar teriakan-teriakan keras dan tubuh lima orang itu terjengkang dan terbanting roboh!

Mereka baru terkejut bukan main, baru menyadari bahwa mereka berhadapan dengan orang yang memiliki tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada mereka, maka tanpa dikomando lagi, lima orang itu pun lalu berloncatan dan lari menghilang di dalam kegelapan bayangan-bayangan pohon.

Setelah lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu pergi, baru Hay Hay memperhatikan keadaan Kui Hong.

Gadis itu masih merangkulnya dan dengan tubuh lemas bersandar kepadanya, seperti orang kehabisan tenaga, dengan tubuh masih agak dingin gemetar, seperti seekor kelinci ketakutan yang baru saja terhindar dari terkaman harimau.

"Tenanglah, Kui Hong, mereka sudah pergi."

Kata Hay Hay dengan hati iba.

Dia tahu bahwa Kui Hong bukan seorang pengecut atau penakut, akan tetapi pada saat itu gadis ini sedang dilanda rasa takut dan kengerian terhadap setan yang ia merasa takkan mampu melawannya.

Mendengar ucapan Hay Hay itu, Kui Hong rnengeluh tanda lega hatinya, akan tetapi ketegangan hatinya masih belum lenyap dan ia pun masih menyandarkan kepalanya di pundak Hay Hay dan untuk melepaskan ketegangan hatinya, ia memejamkan kedua matanya.

"Aku... aku tadi takut sekali."

Desahnya.

Hay Hay tersenyum dan menunduk.

Dilihatnya wajah yang manis itu masih pucat, bahkan nampak lebih pucat karena sinar bulan yang memang membuat suasana nampak pucat itu.

Rambut itu terurai dan nampak leher yang panjang, kulit leher yang demikian halusnya seperti lilin, putih mulus dan menantang.

Hay Hay terbayang akan semua pengalamannya, pertama dengan Ji Sun Bi, kemudian dengan Kok Hui Lian dan tergeraklah hatinya, bernyalalah api gairah dalam dirinya dan bagaikan orang yang tak sadar, dia pun mendekatkan bibirnya dan di lain saat dengan lembut mulutnya sudah mencium leher Kui Hong.

Leher itu menegang sesaat, akan tetapi lalu lemas kembali.

Kui Hong tetap memejamkan kedua matanya dan napasnya terengah-engah, akan tetapi Hay Hay merasa betapa leher itu menjadi hangat dan lembut.

Dia menjadi semakin lupa diri, tenggelam dalam perasaan mesra yang mendalam.

Bibirnya mengecup kulit leher itu, ujung lidahnya menjilat-jilat dan Kui Hong mengeluarkan keluhan lirih, memanjang dan tubuhnya menggelinjang.

Bibir Hay Hay menciumi leher itu dengan lembut, lalu ke atas, ke bawah dagu dan ke bawah daun telinga.

Kui Hong mendesah tanpa membuka mata, bahkan ketika mulut Hay Hay bergerak lembut ke atas pipinya dan sampai ke ujung mulutnya, ia menengok, menyambut dan dua mulut itu saling bertemu dalam sebuah ciuman yang mesra.

Rintihan halus terdengar dari leher Kui Hong, dan ketika Hay Hay merasa betapa mulut yang panas dan basah itu menyambutnya seperti bunga merekah, dia terkejut dan melepaskan ciuman dan rangkulannya.

Napasnya terengah-engah, berpacu dengan napas Kui Hong yang juga memburu.

Ketika Hay Hay melepaskan dekapannya, Kui Hong seperti baru sadar dan keduanya, seperti tersentak kaget, lalu saling menjauhi, Kui Hong terbelalak, mukanya sebentar pucat sebentar merah, sedangkan Hay Hay merasa menyesal bukan main bahwa dia tadi telah lupa diri.

"Setan kau! Iblis kau! Berani menggodaku!"

Bentak Hay Hay sambil memukul tanah tiga kali.

"Hay Hay. apa. mengapa..?"

Kui Hong berkata gagap karena hatinya masih terguncang hebat oleh peristiwa tadi, sejak munculnya setan-setan itu sampai pengalaman yang amat mengguncang hatinya, ketika kemesraan menenggelamkannya, pengalaman yang selama hidupnya baru sekali ini pernah dirasakannya dan yang membuatnya bingung.

Hay Hay cepat menghadapi gadis itu.

"Ah, Kui Hong, kau maafkanlah aku, kau ampunkanlah aku.. aku... aku telah tergoda setan! Benar-benar setan dan iblis sendiri yang telah menggodaku tadi, menggoda kita sehingga kita... kita lupa diri.."

Kui Hong memandang dengan muka merah karena malu dan canggung, dengan sinar mata bingung tidak mengerti.

"Akan tetapi... apa salahnya... kalau kita... kita saling mencinta... apa salahnya.?"

Hay Hay merasa terharu dan juga terkejut.

Terharu karena gadis ini sungguh polos dan jujur, masih bersih dan suci dan dia yang telah menodai kebersihan batin gadis itu!

Dan dia terkejut mendengar ucapan Kui Hong yang jelas menyatakan gadis itu mencintanya!

Pernyataan bahwa mereka saling mencinta itu saja sudah cukup jelas membuktikan bahwa gadis itu cinta padanya dan mengira bahwa dia pun cinta pada Kui Hong!

Akan tetapi, dia tidak boleh berbohong, tidak boleh menipu gadis yang hebat seperti Kui Hong ini.

Memang, alangkah mudahnya untuk menyatakan cinta kepada seorang gadis sehebat Kui Hong, Akan tetapi pernyataan itu hanya merupakan suatu kebohongan belaka.

Di lubuk hatinya, dia tidak merasakan adanya cinta seperti yang dimaksudkan Kui Hong, cinta yang akan mendorong pria dan wanita untuk menjadi suami isteri dan hidup bersama untuk selamanya.

Tidak, dia tidak menghendaki itu, dia tidak ingin, menjadi suami Kui Hong atau suami wanita manapun juga.

Dia suka kepada Kui Hong, kagum dan mungkin mencintanya, akan tetapi bukan cinta untuk kemudian diikat menjadi suami!

Bukan pula cinta nafsu karena bagaima.napun juga, biarpun dia kagum bukan main akan kecantikan gadis ini, dia masih dapat mengatasi kekuasaan nafsu berahinya.

Tanpa berani memandang kepada Kui Hong, Hay Hay yang masih duduk di atas rumput itu menggeleng kepala dan menarik napas panjang.

"Tidak, Kui Hong, aku menyesal sekali... akan tetapi aku... terus terang saja, aku tidak mencintamu seperti yang Kau maksudkan. Aku kagum padamu, aku suka padamu, bahkan aku cinta padamu, akan tetapi bukan cinta untuk kelak menjadi jodohmu, Kui Hong! Aku tidak ingin mencinta seperti itu, tidak ingin menjadi suami wanita mana pun, aku. aku."

Kui Hong sudah meloncat berdiri.

Mukanya pucat sekali, matanya terbelalak dan kini beberapa butir air mata mengalir keluar membasahi pipinya.

"Kau.. Kau tidak cinta padaku akan tetapi tadi engkau berani menciumku! Aku cinta, padamu dan engkau hanya mempermainkan aku. Ahh... hu-hu-huhhh... aku benci padamu! Aku benci padamu."

Kui Hong menyambar buntalan pakaiannya dan meloncat jauh dari tempat itu, membawa pergi isak tangisnya.

"Kui Hong.."

Hay Hay memanggil sambil berdiri, akan tetapi gadis itu tidak nampak lagi, hanya terdengar isaknya lapat-lapat dari jauh dan Hay Hay tidak mengejarnya.

Dia menjatuhkan diri ke atas rumput, lalu menjambak-jambak rambutnya sendiri.

"Kau goblok! Kau tolol, membiarkan setan menggodamu!"

Dia memaki-maki diri sendiri, maklum bahwa dia telah menyinggung perasaan hati Kui Hong, bahkan telah menghancurkan cintanya, dan menumbuhkan kebencian dalam hati gadis yang dikaguminya itu.

Akhirnya dia tidak peduli lagi dan tak lama kemudian, Hay Hay sudah tidur pulas di tempat itu, tanpa api unggun, di bawah sinar bulan dan di dalam hawa yang semakin dingin.

Jauh dari situ, Kui Hong menjatuhkan diri di bawah pohon dan ia pun menangis sejadi-jadinya.

Hatinya seperti ditusuk-tusuk rasanya, dan kesedihan menyelimuti seluruh dirinya.

Ingin ia membunuh Hay Hay, akan tetapi dua hal tidak memungkinkan hal itu terjadi.

Pertama, ia kalah jauh dan tidak akan mungkin dapat menangkan pertandingan melawan pemuda lihai itu.

Ke dua, ia tidak akan tega membunuhnya, karena selain ia telah berhutang budi dan nyawa, juga ia sadar betul bahwa telah jatuh cinta kepada Hay Hay.

Ia mencinta pemuda itu sepenuh hatinya.

Semua gerak-gerik pemuda itu menyenangkan hatinya dan mendatangkan perasaan kagum.

Betapa pemuda itu dapat menundukkan musuh-musuh yang lihai, bahkan setan yang mengganggu malam itu, secara jantan dan hebat.

Betapa ia akan berbahagia berada di samping pemuda itu selama hidupnya.

Akan tetapi, kenyataan pahit yang tak dapat ditolak lagi, pemuda itu dengan mulutnya sendiri menyatakan bahwa dia tidak cinta padanya!

Padahal, kalau ia membayangkan apa yang baru saja terjadi, betapa mesranya pemuda itu membelainya dan menciumnya, ia hampir tidak mau percaya bahwa Hay Hay tidak cinta padanya.

Akan tetapi kenyataannya, dengan mulutnya sendiri pemuda itu mengatakan bahwa dia tidak cinta padanya atau wanita lain.

Cintanya bukan untuk berjodoh!

Kui Hong menangis dan ingin ia mengamuk, bukan kepada Hay Hay, akan tetapi kepada siapa saja.

Kalau saja pada saat itu ada musuh di depannya, tak peduli manusia atau setan, akan diamuknya.

Biar setan-setan itu muncul kembali, ia tidak akan merasa takut sekarang.

Akan diamuknya sampai membunuh mereka semua atau ia dibunuh mereka!

Lebih baik lagi karena ia tidak akan menderita sakit hati seperti sekarang ini.

Akhirnya, Kui Hong juga dapat tidur di bawah pohon itu, tidak peduli akan keselamatan dirinya lagi.

Akan tetapi, seperti juga Hay Hay, tidurnya gelisah, kadang-kadang tersenyum penuh kebahagiaan kalau ia bermimpi tentang kemesraannya bersama Hay Hay, lalu terganti isak tangis.

Pada keesokan harinya, ketika kicau burung dan kokok ayam hutan membangunkannya, Kui Hong segera meninggalkan tempat itu.

Ia hendak pergi ke Pegunungan Yunan, bukan untuk membantu Hay Hay yang hendak menyelidiki ke sana, melainkan untuk mencari Ciang Ki Liong, murid murtad dari Pulau Teratai Merah itu.

Dan inilah satu-satunya tujuan hidupnya saat ini.

Menyeret Ciang Ki Liong, hidup atau mati, kembali ke Pulau Teratai Merah agar menerima hukuman dari kakek dan neneknya!

Bukan watak Hay Hay untuk membiarkan diri tenggelam dalam duka.

Dia memang merasa menyesal bukan main bahwa dia telah lupa diri dan membiarkan dirinya hanyut dalam kemesraan, bahkan menyeret Kui Hong sehingga gadis itu mengira bahwa dia mencintanya.

Kemudian, karena dia tidak membohong atau menipu, biarpun pahit, Dia berterus terang dan tentu saja gadis itu tersinggung dan menjadi benci kepadanya.

Hanya sehari dua hari saja dia kelihatan muram dan menyesal, akan tetapi beberapa hari kemudian, dia sudah melupakan pengalaman yang tidak enak itu.

Dia sudah pulih kembali, menjadi seorang yang riang jenaka dan memandang dunia ini dari segi yang terang benderang.

Senyumnya kembali lagi, tak pernah meninggalkan sudut bibirnya dan matanya kembali bersinar-sinar, wajahnya kembali berseri-seri.

Biarlah yang lewat berlalu sudah, tak per lu dikenang lagi.

Inilah pendiriannya sehingga Hay Hay tidak pernah mau menyimpan semua pengalaman yang lalu, maklum bahwa mengingat kembali hal-hal lalu hanya akan mendatangkan sesal dan duka, kecewa dan dendam.

Dengan gembira dia melanjutkan perjalanan, menuju ke selatan, Pegunungan Yunan.

Hay Hay tahu bahwa yang mengganggu dia dan Kui Hong semalam adalah lima orang pendeta Pek-lian-kauw (Agama Teratai Putih), yang selain memiliki ilmu silat yang cukup lihai, juga pandai ilmu sihir sehingga membikin takut kepada Kui Hong.

Dia berhasil mengusir mereka tanpa perkelahian, hanya dengan mengalahkan ilmu sihir mereka dan menangkis serangan mereka dengan tenaga saktinya yang jauh lebih kuat daripada tenaga mereka.

Disangkanya bahwa lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu menjadi takut dan melarikan diri.

Dia tidak tahu bahwa peristiwa semalam itu membuat orang-orang Pek-lian-kauw menjadi curiga dan waspada kepadanya sehingga perjalanannya selalu dibayangi dari jauh.

Mereka melihat seorang lawan yang amat berbahaya dalam diri pemuda ini, apalagi ketika melihat bahwa pemuda itu melakukan perjalanan ke selatan!

Kecurigaan mereka semakin besar ketika mereka tahu bahwa di dalam perjalanannya, Ketika melewati sebuah kota pemuda itu mencari keterangan kepada orang-orang di jalan tentang Pegunungan Yunan.

Jelaslah bahwa pemuda itu hendak pergi ke Pegunungan Yunan.

Walaupun pemuda itu tidak pernah mengatakan kepada siapa pun juga apa urusannya di Pegunungan Yunan, namun pihak Pek-lian-kauw sudah dapat menduga bahwa tentu pemuda ini hendak mencari sarang persekutuan mereka!

Karena itulah, maka jauh sebelum Hay Hay tiba di perbatasan Pegunungan Yunan, para pimpinan persekutuan kaum sesat itu telah lebih dulu tahu akan keadaan dirinya.

Dari keterangan yang diperolehnya di perjalanan, Hay Hay mendengar bahwa yang disebut Dataran Tinggi Yunan adalah daerah di bagian utara Propinsi Yunan yang berbatasan dengan Propinsi Secuan dan Kwei-couw.

Di perbatasan itu terdapat Sungai Cin-sa, yang menjadi anak sungai besar Yang-ce-kiang.

Menurut keterangan Menteri Yang Ting Hoo, sarang Lam-hai Giam-lo itu berada di lembah sungai itu, di antara kedua gunung besar atau Pegunungan Heng-tuan-san di barat dan Pegunungan Tatiang-san di timur, dan pegunungan atau dataran tinggi Yunan itu terapit oleh dua pegunungan ini.

Hay Hay mengambil jalan melewati Propinsi Kwei-couw, dan pada suatu hari tibalah dia di kota Wei-ning.

Kota ini terletak di dekat sebuah telaga besar yang disebut Cao-hai (Lautan Cao) atau juga Cao-hu (Telaga Cao).

Sebuah telaga yang amat indah, terletak di lereng bawah Pegunungan Wu-meng-san, di dekat tapal batas sebelah barat dari Propinsi Kwei-couw, tak berapa jauh lagi dari daerah Yunan sebelah timur.

Karena melihat telaga yang demikian indahnya di dekat kota Wei-ning, Hay Hay tidak dapat menahan hatinya untuk tidak berhenti di kota itu dan menikmati keindahan telaga itu selama beberapa hari.

Sudah terlalu lama dia melakukan perjalanan melalui gunung-gunung yang tinggi, bukit-bukit yang luas, melalui dusun dan kota, akan tetapi baru sekali ini dia melihat sebuah telaga besar yang airnya kebiruan dan demikian luasnya.

Pantaslah kalau Telaga Cao itu kadang-kadang disebut Lautan Cao, karena memang airnya biru saking dalamnya, seperti air laut.

Apalagi dilihat dari ketinggian sebelum Hay Hay memasuki kota Wei-ning, telaga itu nampak amat indahnya.

Banyak pohon tumbuh di sekelilingnya, dan di bagian selatan nampak sekelompok pohon cemara yang indah, tumbuh di lereng di tepi telaga.

Rumah-rumah para penduduk kampung berada di sebelah barat dan utara, sedangkan di bagian timur telaga itu adalah daerah kota Wei-ning.

Para penghuni rumah perkampungan di sekitar telaga itu pada umumnya adalah para petani dan nelayan karena telaga itu selain dapat mengairi sawah sehingga para petani dapat menanam bermacam padi-padian sepanjang tahun, juga telaga itu sendiri mengandung ikan yang seakan-akan tiada habisnya biarpun setiap hari dikail dan dijala oleh para nelayan.

Burung camar nampak beterbangan di permukaan air telaga kadang-kadang menyambar turun dan ketika melayang naik lagi, paruh mereka telah menangkap seekor ikan.

Riuh rendah suara mereka seperti sedang bekerja mencari nafkah dengan gembira dan bersendau-gurau di antara teman.

Banyak pula nampak perahu nelayan dan perahu-perahu indah di mana orang-orang kota, baik dari Wei-ning maupun dari kota lain yang sengaja datang berkunjung dan bersenang-senang di telaga.

Perahu para nelayan memilih bagian yang sepi, jauh di barat dan di tepi-tepi yang sunyi, karena akan sia-sia sajalah usaha mereka mencari ikan kalau berdekatan dengan perahu-perahu pelesiran yang selalu gaduh itu.

Memang sebagian besar perahu-perahu pelesiran itu disediakan untuk para pria yang ingin bersenang-senang.

Ada yang bermain kartu sambil minum arak, ada pula yang minum arak saja sampai mabok.

Ada pula yang memanggil gadis-gadis penyanyi dan penari, dan banyak pula yang memanggil gadis panggilan atau pelacur-pelacur untuk menemani mereka minum arak atau menemani mereka tidur di bilik-bilik perahu besar itu.

Ada pula pria-pria tua muda yang lebih suka menyendiri, menyewa perahu-perahu kecil dan mereka itu ada yang mencoba peruntungan mereka mengail ikan, Ada pula yang hanya duduk membaca buku, ada yang bermain musik sendirian, meniup suling atau bermain yangkim, ada yang melukis atau menulis sanjak sambil minum arak.

Tak lama kemudian, perahu yang ditumpangi Hay Hay sudah menyelinap di antara ratusan buah perahu yang lain.

Dia menyewa sebuah perahu kecil yang dicat merah, membawa bekal makanan dan minuman yang dibelinya di pantai tempat menyewa perahu, lalu mendayung perahu itu meluncur ke tengah telaga, bercampur dengan ratusan buah perahu lain.

Hay Hay merasa lapar dan dia memilih tempat yang agak sunyi, jauh di tengah, lalu membuka buntalan daging ayam panggang, saus tomat semacam sayur hijau yang menjadi masakan, beberapa butir buah pir dan apel, juga seguci kecil arak dan seguci kecil air teh.

Mulailah dia makan minum seorang diri dengan hati lapang.

Sungguh lezat makan di atas perahu, di tengah telaga dengan hawa yang sejuk nyaman dan bersih.

Ah, kalau saja ada Kui Hong di dalam perahunya, pikirnya dan ingin Hay Hay menampar kepalanya sendiri.

Kenapa mendadak saja dia merasa kesepian dan teringat kepada Kui Hong?

Gadis itu tentu akan marah-marah dan mungkin akan menyerangnya di atas perahu!

Mengingat akan hal ini, Hay Hay tersenyum lucu.

Tentu mereka keduanya akan tercebur ke dalam air telaga dan akan mengalami hal-hal aneh dan berbahaya lagi bersama-sama!

Tidak, tak boleh dia mengharapkan kehadiran Kui Hong.

Bagaimana kalau Bi Lian?

Setelah pikirannya menolak kehadiran Kui Hong, Hay Hay teringat kepada Bi Lian.

Cu Bi Lian yang berjuluk Tiat-sim Sian-li itu.

Murid dari dua di antara Empat Setan, yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi.

Bukan main gadis itu!

Tidak kalah oleh Kui Hong dalam segala hal.

Cantiknya, lincahnya, galaknya!

Bahkan lebih galak di banding Kui Hong, walaupun belum tentu menang lihai.

Akan tetapi Bi Lian juga lihai bukan main, dengan ilmu yang aneh-aneh.

Tahi lalat di dagunya itu, bukan main manisnya!

Tapi kemunculan Bi Lian tentu juga hanya akan mendatangkan keributan, karena bukankah gadis itu pernah mengancamnya bahwa kalau bertemu lagi, gadis itu tentu akan menyerangnya dan tidak akan memberi ampun?

Dia tersenyum gembira teringat kepada Bi Lian.

Seorang gadis yang hebat dan dia kagum dan suka sekali kepa.da gadis itu.

Akan tetapi tidak, terlalu berbahaya kalau di tempat ini berjumpa dengan Bi Lian.

Kalau sampai Bi Lian menggulingkan perahu!

Memang benar, selama tinggal bersama suhunya yang ke dua, yaitu Ciu Sian Lokai yang menjadi majikan di Pulau Hiu, dia sering kali mandi di laut dan sudah pandai dan menguasai ilmu renang, akan tetapi ilmunya ini tidak cukup tinggi untuk dapat melindungi diri di dalam air kalau sampai dia diserang musuh.

Tidak, lebih baik jauh dari Bi Lian kalau dia ingin bersantai di telaga itu.

Begitu dia mengusir bayangan Bi Lian dengan tahi lalat di dagunya yang manis itu, tiba-tiba saja muncul bayangan Pek Eng!

Hay Hay mengeluh.

Ada apakah dengan dirinya hari ini?

Kenapa perempuan melulu yang memenuhi benaknya?

Bayangan gadis-gadis cantik saja yang teringat olehnya?

Biarpun dia mencela diri sendiri, tetap saja kini nampak wajah Pek Eng yang lucu dan manis menarik itu.

Hitam manis, mata sipit yang indah, hidung yang ujungnya agak menjungkat naik, bibir yang selalu merah membasah, dan lesung pipit di pipi kiri itu.

Aihh, gadis remaja yang segar, dengan tubuh tinggi semampai yang menggairahkan.Lincah jenaka dan manja!

Hay Hay tersenyum ketika teringat betapa Pek Eng pernah mencium pipinya, mengira bahwa dia adalah kakaknya yang bernama Pek Han Siong!

Gadis yang amat menyenangkan, kalau saja berada di dalam perahunya, tentu akan diajaknya bersendau-gurau!

Dan Pek Eng tidak akan membahayakan dirinya.

Pek Eng sudah memaafkannya karena kesalahpahaman itu, ketika gadis itu marah-marah sebab menciumnya, mencium orang yang salah.

Kembali Hay Hay tersenyum dan tanpa disadarinya, tangan kirinya mengusap pipi kiri yang pernah disentuh hidung dan bibir lembut Pek Eng.

Tapi, aku tidak mencinta Pek Eng, juga tidak mencinta Bi Lian atau Kui Hong walaupun terhadap mereka ada rasa suka yang mendalam di lubuk hatinya.

Dia tidak mencinta mereka dan sebaiknya kalau dia tidak dekat dengan mereka.

Selalu timbul keributan kalau dia dekat dengan seorang gadis.

Bagaimana kalau Hui Lian?

Jantungnya berdebar kencang karena dia membayangkan apa yang pernah terjadi antara dia dengan Hui Lian, janda muda itu.

Bau tubuhnya yang harum!

Bagaimana dia dapat melupakan wanita itu?

Takkan pernah dia mampu melupakan Hui Lian!

Dengan Hui Lian, hampir saja dia tak dapat menguasai dirinya lagi, hampir saja terjadi pelanggaran antara mereka.

Dan dia tidak pernah menyalahkan dirinya.

Pria mana yang akan mampu bertahan kalau sudah bergaul demikian dekatnya dengan seorang wanita seperti Hui Lian?

Baru keharuman tubuhnya saja sudah membuat pria menjadi mabok.

Ah, kalau ada Hui Lian di situ, di dalam perahu bersamanya, tentu dia akan merasa semakin gembira.

Tidak akan ada bahaya diserang Hui Lian, yang ada hanyalah diserang gairah nafsunya sendiri.

Dan ini bahkan jauh lebih berbahaya daripada kalau dia diserang orang!

Bagaimana dengan keadaan Hui Lian sekarang?

Di mana ia berada dan apa saja yang dilakukannya?

Tiba-tiba ia merasa rindu sekali kepada Hui Lian, apalagi karena dia pun yakin bahwa Hui Lian cinta kepadanya.

Dia tahu bahwa andaikata dia menanggapi cinta itu, sudah pasti mereka berdua takkan pernah saling berpisah lagi.

Ah, betapa akan senangnya kalau kini mereka berdua berperahu di telaga itu, makan bersama dan bersenda gurau bersama.

Dia tidak membayangkan hal-hal yang mesra, hanya ingin dekat dan bercakap-cakap dengan wanita yang luar biasa itu!

"Hay Hay..!"

Hay Hay terlonjak kaget.

Suara Hui Lian!

Gila benar!

Apakah lamunannya tentang wanita itu tadi membuat dia menjadi gila sehingga dia mendengar suaranya?

Biarpun dia tidak percaya bahwa itu adalah suara Hui Lian yang sesungguhnya, namun dia menengok juga ke kanan dan...

tak salah lagi!

Yang memanggilnya tadi bukan lain adalah Kok Hui Lian!

Wanita itu nampak semakin cantik, wajahnya segar berseri tidak seperti dahulu yang agak diliputi mendung kedukaan.

Wanita itu duduk di dalam sebuah perahu yang sedang besarnya dan melambai kepadanya.

Dapat dibayangkan betapa girangnya rasa hati Hay Hay.

Baru saja dirindukan, dilamunkan dan kini benar-benar berada di situ, di atas perahu yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari perahunya, Hui Lian yang cantik jelita, Hui Lian yang manis, Hui Lian yang harum!

Saking gembiranya, Hay Hay bangkit berdiri dan sekali loncat, tubuhya sudah melayang ke arah perahu Hui Lian.

Untung bahwa mereka berada di bagian yang sepi sehingga perbuatan Hay Hay itu tidaklah kelihatan orang lain yang tentu akan menimbulkan kekaguman dan perhatian.

"Enci Hui Lian.!"

Teriaknya.

"Ah, Enci Hui Lian, betapa rindu aku padamu.!"

"Hay Hay, tak kusangka akan berjumpa denganmu di sini!"

Kata Hui Lian, juga dengan suara yang gembira sekali.

Begitu kedua kakinya hinggap di atas perahu Hui Lian, Hay Hay lalu menghampiri dan memegang kedua tangan wanita itu sambil mengamati Hui Lian dari ujung rambut kepala sampai ke kaki.

"Aih, engkau nampak segar dan semakin cantik saja, Enci Hui Lian!"

"Hushhh."

Engkau masih juga belum berubah, pemuda mata keranjang!"

Kata Hui Lian sambil tertawa geli, akan tetapi kedua tangannya juga membalas remasan tangan Hay Hay, tanda bahwa ia girang dan gembira sekali bertemu dengan pemuda itu.

Pada saat itu terdengar suara batuk-batuk dan seorang laki-laki muncul dari dalam bilik perahu itu.

Hay Hay merasa terkejut dan heran, akan tetapi Hui Lian bersikap tenang dan biasa saja, bahkan ia belum melepaskan kedua tangan pemuda itu dari genggamannya, hanya menoleh dan memandang kepada pria yang baru muncul itu sambil tersenyum girang.

"Suheng, inilah pemuda luar biasa yang pernah kuceritakan padamu itu, yang bernama Hay Hay!"

Katanya gembira!"

Hay Hay memandang kepada pria yang disebut suheng (kakak seperguruan) oleh Hui Lian dan diam-diam dia pun kagum.

Seorang pria yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, lengan kirinya buntung sebatas siku, tubuhnya tinggi besar dan wajahnya membayangkan kejujuran, keterbukaan dan wibawa yang besar sehingga dia nampak gagah perkasa biarpun lengan kirinya buntung.

Mengingat akan hebat dan tingginya ilmu kepandaian Hui Lian, dapat dia bayangkan bahwa tingkat suheng wanjta itu sudah tentu lebih hebat lagi.

"Hay Hay, perkenalkanlah. Dia itu adalah Suheng Ciang Su Kiat. Dia Suhengku, juga Guruku, juga suamiku."

"Ahhh.!"

Mendengar kata "suamiku"

Itu, cepat-cepat Hay Hay melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi saling berpegangan dengan kedua tangan Hui Lian, dan mukanya berubah kemerahan, sikapnya menjadi kikuk sekali.

Ciang Su Kiat memandang dengan sikap keren, sepasang alisnya yang tebal berkerut dan matanya mengamati wajah Hay Hay dengan tajam.

"Hemm, kiranya inikah pemuda itu? Pantas! Dia tampan menarik dan pandai merayu, seorang pemuda lihai yang mata keranjang. Sumoi, kau sebut dia pendekar mata keranjang? Hai, orang muda, kenapa engkau melepaskan kedua tanganmu setelah mengetahui bahwa Hui Lian adalah isteriku? Itu adalah suatu sikap pengecut yang sama sekali tidak dapat kuhargai. Bukankah ia nampak segar dan makin cantik katamu tadi? Ataukah itu pun hanya sekedar rayuan belaka?"

"Suheng.!"

Hui Lian terbelalak memandang suaminya, terkejut karena belum pernah suaminya memperlihatkan sikap kurang senang seperti itu dan tahulah ia bahwa suaminya secara tiba-tiba dilanda cemburu!

"Sumoi, aku meragukan ceritamu bahwa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Sikapnya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang perayu yang mata keranjang, dan tidak mampu menguasai perasaan hatinya sendiri.

Orang muda, mari kita bicara di pantai agar tidak nampak orang lain."

"Tapi. baiklah!"

Kata Hay Hay yang tadinya meragu akan tetapi melihat sinar mata demikian jujur dan gagah dari Si Lengan Buntung, juga melihat sikap Hui Lian yang meragu dan agaknya gelisah, dia mengambil keputusan untuk menghadapi persoalan ini sampai tuntas.

Dia harus berani bertanggung jawab, untuk membela diri yang memang tidak mempunyai niat buruk, juga untuk mencuci nama baik Hui Lian dari kecurigaan suaminya.

Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya secara jantan!

Maka, sekali melompat dia pun sudah melayang ke atas perarunya sendiri.

Dia menanti sambil memegang dayung dan untuk sesaat lamanya, kedua orang pria itu saling pandang dari atas perahu masing-masing.

Hay Hay mengangguk kepada Su Kiat, memberi tanda bahwa dia akan mengikutinya dan Su Kiat lalu mendayung perahunya menuju ke pantai yang sepi.

Hay Hay mengikutinya dari belakang, Diam-diam mengagumi suami isteri itu karena selama mendayung perahu ke tepi, keduanya diam saja dan sama sekali tidak kelihatan mereka bertengkar.

Sungguh sikap dua orang yang sudah matang dan tidak hanya menurutkan perasaan hati saja.

Biarpun hatinya merasa tegang, namun diam-diam Hui Lian ingin sekali melihat apa yang akan terjadi antara suaminya dan Hay Hay.

Diam-diam ia pun mendongkol sekali terhadap suaminya.

Tidak tahukah suaminya bahwa cintanya hanya untuk suaminya, dan terhadap Hay Hay ia hanya merasa suka dan kagum, seperti seorang enci terhadap adiknya saja?

Memang, tidak disangkal bahwa ia pernah tergila-gila kepada pemuda ini, terdorong oleh gairah nafsu berahinya, akan tetapi itu terjadi dahulu sebelum ia menjadi isteri suhengnya.

Sekarang, tentu saja tidak ada lagi gairah nafsu terhadap pria lain karena ia telah mendapatkan segala-galanya dari suammya yang amat dicintanya.

Biarlah, dia cemburu dan hendak kulihat apa yang akan dilakukan terhadap Hay Hay, pikirnya.

Ia tidak merasa khawatir karena ia mengenal benar Hay Hay yang sudah pasti tidak akan mencelakakan suaminya dan dia pun tahu bahwa suaminya tidak akan dapat mencelakakan Hay Hay yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.

Pula, suaminya adalah seorang pendekar perkasa, tidak mungkin mau berbuat jahat terhadap orang lain hanya karena cemburu buta yang tidak beralasan sama sekali!

Ketika suami isteri itu meloncat ke darat, Hay Hay juga sudah tiba di darat dan dia pun meloncat dengan sigapnya, menghadapi mereka dengan sikap tenang sekali.

"Toa-ko, aku masih tidak tahu apa maksudmu mengundangku ke tepi. Kalau kau menganggap aku bersalah karena kegembiraanku bertemu dengan Enci Hui Lian yang belum kuketahui bahwa ia sekarang telah menjadi isterimu, maka harap engkau suka memaafkan aku. Sungguh, aku tidak mempunyai maksud buruk, aku hanya demikian gembira dan hanya luapan kegembiraanlah yang membuat aku tadi memegang kedua tangan isterimu."

"Hemm, orang muda. Aku sudah mendengar tentang dirimu dari isteriku dan aku menghargai kejujuranmu. Melihat kemunculanmu dan engkau berpegang tangan dengan Sumoi Hui Lian, aku tidak apa-apa karena aku maklum bahwa tentu engkau bergembira bertemu dengannya, seperti juga isteriku bergembira bertemu denganmu. Akan tetapi, begitu mendengar bahwa aku suaminya, engkau segera melepaskan pegangan tanganmu. Hal ini kuanggap bahwa engkau tidak jujur, bahwa engkau tak lain hanyalah seorang laki-laki mata keranjang yang pandai merayu wanita. Timbul dugaanku bahwa kalau dulu engkau tidak sampai melanjutkan pelanggaran susila terhadap Sumoi, hanya karena engkau tidak berani menghadapi kelihaian Sumoi. Kalau engkau sekarang mampu memperlihatkan bahwa tingkat ilmu yang kau miliki lebih tinggi dari tingkat Sumoi atau tingkatku, barulah aku percaya bahwa engkau memang tidak mau melakukan pelanggaran susila, dan baru aku akan percaya kejujuranmu. Nah, bersiaplah untuk menandingiku, orang muda, dan kalau engkau tidak mampu mengalahkan aku, maka aku akan menghajarmu karena engkau tak lain hanyalah seorang laki-laki mata keranjang perayu wanita yang hina!"

"Suheng!"

Hui Lian berseru.

"Jangan menuduh sedemikian keji terhadap Hay Hay! Dia bukanlah orang yang seperti kau duga itu, dan engkau takkan menang melawan dia, Suheng! Engkau dibikin buta oleh cemburu!"

Ciang Su Kiat mengangguk-angguk akan tetapi tersenyum kepada isterinya, sama sekali dia tidak memperlihatkan sikap marah kepada isterinya yang amat dicintanya itu.

"Memang benar, aku merasa cemburu, Sumoi. Belum pernah aku merasa cemburu seperti sekarang ini! Akan tetapi alasanku untuk merasa cemburu kuat sekali, bukan cemburu karena menyangka engkau tidak setia kepadaku. Sama sekali bukan. Dijauhkan Tuhan aku dari perasaan seperti itu kepadamu, Sumoi. Akan tetapi aku merasa cemburu oleh sikap pemuda ini dan sebelum dia menunjukkan bahwa persangkaanku terhadap dirinya tidak benar, yaitu dengan mengalahkan aku. Sebelum dia mengalahkan aku, hatiku akan selalu digoda cemburu dan prasangka buruk terhadap dirinya."

"Tapi, sudah kuceritakan kepadamu betapa dia seorang yang kuat lahir batin, dan memang aku pernah tergila-gila kepadanya dan andaikata bukan dia yang kuat batinnya sehingga mengingatkan aku, tentu akan terjadi pelanggaran susila. Dialah yang mencegah terjadinya pelanggaran itu, Suheng. Semua itu telah kuceritakan kepadamu."

"Aku percaya padamu, Sumoi. Akan tetapi aku tidak percaya padanya. Dia bukan dewa, dan tidak mungkin dia kuat menolak dirimu! Kalau dia melakukan hal itu, tentu karena dia takut akan akibatnya, takut akan kelihaianmu dan takut menghadapi kemarahanmu kemudian. Nah, orang muda, majulah dan kita akan melihat bukti kejujuranmu."

"Suheng, engkau takkan menang."

Kata pula Hui Lian.

"Kalau begitu, baru hatiku puas dan aku akan minta maaf kepadanya, juga kepadamu, Sumoi. Marilah, orang muda."

"Hay Hay, layani dia. Si Keras Hati ini memang harus diperlihatkan buktinya, kalau tidak, dia akan gelisah terus, tak enak makan tak enak tidur!"

Akhirnya Hui Lian berkata.

Hay Hay menarik napas panjang, lalu melangkah maju menghadapi Su Kiat sambil berkata.

"Ciang-toako, aku tidak menyangkal bahwa aku suka akan keindahan, suka akan kecantikan wanita seperti aku suka akan tamasya alam indah, akan bunga-bunga. Aku suka akan keindahan dan kecantikan wanita merupakan suatu keindahan yang mengagumkan. Enci Hui Lian adalah seorang wanita yang luar biasa cantik jelitanya. Kuakui bahwa aku pernah tergila-gila kepadanya. Akan tetapi bukan berarti aku mencintanya. Demikian pula Enci Hui Lian, ia tidak cinta kepadaku. Kami saling tertarik karena saling mengagumi, karena dorongan gairah berahi yang wajar. Katakanlah aku mata keranjang, akan tetapi jangan mengira bahwa nafsu berahi akan mudah begitu saja mengalahkan aku sehingga aku menjadi mata gelap dan melakukan pelanggaran susila. Dan aku sama sekali bukan takut menghadapi ilmu kepandaian Enci Hui Lian, melainkan takut kalau sampai aku menodainya dan membuat hidupnya sengsara karena merasa ternoda kehormatannya. Sekarang, engkau tidak percaya kepadaku dan hendak mengujiku. Silakan Ciang-toako!"

Ciang Su Kiat mengangguk-angguk.

"Bagus, nah, kau terimalah seranganku ini!"

Dan begitu orang yang buntung lengan kirinya ini menyerang, Hay Hay terkejut dan kagum.

Dia sudah menyangka bahwa Si Lengan Kiri Buntung ini tentulah ahli gin-kang yang hebat, mengingat betapa dalam hal gin-kang, Hui Lian juga hebat bukan main.

Dan dugaannya memang tepat.

Biarpun tadinya Ciang Su Kiat tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri biasa saja, akan tetapi begitu kata-katanya habis, tubuhnya sudah menerjang dengan kecepatan yang akan mengaburkan pandang mata lawan saking cepatnya.

Lengan kanannya bergerak menyambar dengan Pukulan ke arah dada Hay Hay, nampaknya perlahan saja, akan tetapi datangnya cepat sekali dan dari telapak tangannya menyambar hawa Pukulan yang dahsyat.

Pukulan ini menjadi semakin berbahaya karena dibayangi sambaran ujung lengan baju kosong yang menotok ke arah pelipis kanan Hay Hay!

Memang, Su Kiat yang ingin menguji kepandaian pemuda itu, tidak mau membuang banyak waktu dan begitu bergerak, dia telah mainkan Ilmu Silat Sian-eng Sin-kun, Ilmu silat sakti peninggalan kitab dari Sian-eng-cu The Kok, seorang di antara Delapan Dewa.

Tentu saja hebat bukan main serangannya itu.

Akan tetapi, yang diserangnya adalah seorang pemuda yang juga menjadi murid dua orang di antara Delapan Dewa, bahkan pemuda ini digembleng oleh dua orang sakti itu sendiri, tidak seperti Ciang Su Kiat yang hanya mempelajari dari peninggalan kitab.

Oleh karena itu, kalau dibuat perbandingan, tentu saja Su Kiat masih kalah jauh dalam hal ilmu silat dibandingkan Hay Hay.

Akan tetapi, untuk mengurangi jarak kekalahannya dalam pendidikan ilmu silat, si lengan kiri buntung ini telah memiliki tenaga yang luar biasa berkat makan jamur selama sepuluh tahun, jamur aneh yang hanya terdapat dalam sebuah guha di tebing yang terjal, maka kekalahannya itu dapat ditebus oleh kekuatan mujijat itu.

Makan jamur selama sepuluh tahun ini membuat Su Kiat dan Hui Lian memiliki tenaga sin-kang dan gin-kang yang istimewa, dan pada Hui Lian bahkan akibatnya membuat wanita ini memiliki keringat yang harum baunya!

Melihat datangnya serangan, Hay Hay melangkah ke belakang sambil mengibaskan kedua tangannya menangkis.

Akan tetapi, dengan kecepatan yang luar biasa, Su Kiat telah menarik kedua lengannya dan sudah melangkah maju mendesak dan menyerang lagi dengan lebih ganas.

Ujung lengan baju kiri itu kini tiba-tiba saja menegang dan menusuk seperti sebatang pedang ke arah muka Hay Hay, di antara kedua matanya, sedangkan tangan kanan sudah melakukan cengkeraman ke arah perut.

Dua serangan ini datang secara bertubi dan yang berbahaya adalah karena kecepatannya, Dan ujung lengan baju tangan kiri itu juga tak boleh dipandang ringan karena setelah dialiri tenaga sin-kang, menjadi kaku seperti sebatang pedang dan kalau mengenai sasaran antara kedua mata Hay Hay, tentu amat berbahaya.

Namun, dengan tenang dan mudah saja, Hay Hay kembali dapat menghindarkan diri dengan memutar tubuh dan mengibaskan kedua tangan menangkis.

Dia masih belum mau membalas karena belum merasa perlu dan belum terdesak.

Melihat betapa pemuda itu dengan mudahnya dapat menghindarkan diri, Ciang Su Kiat tidak mau memberi hati dan kini dia menyusulkan serangan bertubi-tubi, dengan ujung lengan baju kiri, dengan tangan kanan, bahkan dengan kedua kakinya yang dapat mengirim tendangan istimewa.

Kini Hay Hay didesak terus dengan serangan yang datang bagaikan gelombang samudera, susul-menyusul dan tiada hentinya.

Dibandingkan dengan Kok Hui Lian, tentu saja tingkat Ciang Su Kiat lebih tinggi, karena sebelum keduanya menemukan kitab-kitab peninggalan dua orang di antara Delapan Dewa, yaitu mendiang In Liong Nio-nio dan mendiang Sian-eng-cu The Kok, Su Kiat telah memiliki ilmu silat cukup kuat sebagai murid pilihan Cin-ling-pai sedangkan Hui Lian merupakan gadis cilik yang belum pernah belajar ilmu silat.

Kini Hay Hay terkejut dan ia harus mengakui bahwa lawannya amat tangguh, dan kalau dia hanya main elak dan tangkis saja, akhirnya dia akan terancam bahaya besar.

Maka, setelah membiarkan lawannya mendesaknya sampai belasan jurus, barulah Hay Hay mulai membalas dan karena dia maklum bahwa menghadapi seorang lawan tangguh seperti itu dia tidak boleh main-(Lanjut ke

Jilid 38) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 38 main, begitu membalas dia sudah mengeluarkan ilmu simpanan Ciu-sian Cap-pek-ciang!

Ilmu ini adalah ciptaan Ciu-sian Lo-kai, sudah hebat bukan main walaupun hanya terdiri dari delapan belas jurus.

Akan tetapi setelah Hay Hay digembleng oleh kakek aneh setengah gila Song Lo-jin, semua ilmunya, termasuk Ciu-sian Cap-pek-ciang, menjadi hebat bukan main!

Begitu Hay Hay mengelak dan menangkis lalu membalas dengan jurus ke tiga belas, disertai pengerahan sin-kang, Ciang Su Kiat yang mencoba untuk menangkis, merasa seperti dilanda badai dan betapa pun dia bertahan, tetap saja tubuhnya terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin.

Dia terhuyung dan akhirnya terpaksa merobohkan dirinya dan bergulingan agar jangan sampai terbanting.

Melihat betapa suaminya terlempar dan terhuyung kemudian bergulingan, Hui Lian meloncat ke depan dan menyerang Hay Hay dengan tamparannya.

"Engkau melukai suamiku.!"

Bentaknya marah.

Hay Hay terkejut, akan tetapi tidak mengelak dan menerima tamparan itu dengan pundaknya.

"Plakk!"

Dan tubuh Hay Hay terpelanting! "Sumoi, jangan.!"

Ciang Su Kiat membentak.

"Aih, Suheng, engkau tidak apa-apa?"

Hui Lian membalik dan girang melihat suaminya sudah berada di belakangnya dan tidak kelihatan terluka parah.

"Aku tidak apa-apa. Kenapa engkau menyerang dia, Sumoi?"

"Kukira... kukira dia telah melukaimu, Suheng."

Kata Hui Lian menyesal.

Su Kiat menghampiri Hay Hay yang sudah bangkit berdiri.

Ada sedikit darah di bibir Hay Hay.

Tamparan tadi memang hebat, akan tetapi dia sengaja menerimanya.

Dia tidak terluka, namun guncangan karena tamparan itu membuat dia muntahkan sedikit darah.

"Saudara Hay Hay, engkau tidak apa-apa?"

Tanya Su Kiat, suaranya ramah dan pandang matanya penuh kagum.

"Maafkan isteriku."

Hay Hay tersenyum.

"Tidak mengapa, Toako. Aku tahu bahwa Enci Hui Lian memang galak dan tamparannya hebat sekali. Akan tetapi kini bertambah pengetahuanku bahwa ia amat mencintamu, Toako, dan tadi ia seperti seekor singa betina marah melihat jantannya diganggu!"

"Ah, Hay Hay, kau maafkan aku!"

Kata Hui Lian yang menghampiri dan dengan menyesal ia meletakkan tangannya di atas pundak Hay Hay, untuk memeriksa pundak yang ditamparnya tadi.

Su Kiat tersenyum melihat isterinya merangkul pundak pemuda itu, dan dia pun merangkul Hay Hay.

"Sungguh, engkau seorang pemuda hebat, Hay Hay! Engkau memang patut mendapatkan perhatian dan kasih sayang setiap orang wanita. Engkau begini lihai, akan tetapi tidak mau mempergunakan ketampanan dan kelihaianmu untuk menghina wanita, bahkan engkau mengalah terhadap aku yang mencurigaimu. Maafkan aku."

Hay Hay tertawa gembira dan dia pun merangkul kedua orang itu seperti dua orang sahabat baiknya.

Dia menoleh ke kiri, ke arah Hui Lian.

"Enci, pilihanmu yang terakhir ini sungguh tepat sekali. Engkau telah memperoleh seorang suami yang hebat, berkepandaian tinggi, berwatak jujur dan terbuka, gagah perkasa. Sungguh, dan engkau juga, Ciang-toako, engkau telah memperoleh seorang isteri yang tiada keduanya di dunia ini. Aku harus mengucapkan kionghi (selamat) kepada kalian!"

Dia pun melepaskan rangkulannya dan memberi hormat kepada mereka yang dibalas oleh suami isteri itu yang tersipu-sipu, akan tetapi juga gembira sekali.

"Nah, Hay Hay, mari kita lanjutkan percakapan kita dalam pertemuan yang tadi terganggu."

Kata Hui Lian sambil melirik ke arah suaminya yang juga tersenyum.

"Engkau datang darimana dan hendak ke mana?"

Hay Hay mengangkat tangan dan mengamangkan telunjuknya kepada Hui Lian seperti orang menegur.

"Ih, Enci Hui Lian, sudahlah jangan menyindir suamimu sendiri. Aku dalam perjalanan menuju ke Pegunungan Yunan.."

"Ahhh.. Apa sekiranya ada hubungannya dengan persekutuan orang-orang dunia hitam?"

Hui Lian memotong.

"Benarkah engkau hendak menyelidiki persekutuan yang kabarnya dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo itu?"

Ciang Su Kiat juga bertanya. Kini Hay Hay memandang mereka dengan mata terbelalak.

"Wah, kalian ini bukan saja suami isteri yang lihai ilmu silatnya, akan tetapi agaknya juga pandai meramal dan membaca isi hati orang. Bagaimana kalian bisa menduga bahwa aku hendak menyelidiki persekutuan itu dan kalian tahu pula bahwa persekutuan itu dipimpin Lam-hai Giam-lo?"

"Tentu saja kami dapat menduga karena kami sendiri pun sedang menuju ke sana. Kami sudah mendengar akan persekutuan itu, akan tetapi kami tidak ada urusan dengan itu, yang penting aku harus mencari Lam-hai Giam-lo, musuh besar kami!"

Kata Ciang Su Kiat.

"Musuh besar kalian?"

"Dialah yang membuat kami berdua terjatuh ke dalam jurang sehingga kami berdua terpaksa hidup selama sepuluh tahun di dalam jurang itu sebelum kami berhasil naik ke dunia ramai. Sudah lama kami mencarinya dan beberapa kali kami hampir berhasil membunuhnya, akan tetapi dia selalu dapat menghindarkan diri dan akhirnya selama bertahun-tahun ini kami kehilangan jejak. Entah di mana dia bersembunyi."

Kata Hui Lian.

"Baru beberapa bulan yang lalu kami mendengar bahwa dia kini memimpin sebuah persekutuan antara tokoh-tokoh sesat yang hendak menyusun kekuatan di pegunungan atau dataran tinggi Yunan, kabarnya hendak mengadakan pemberontakan. Kami tidak peduli akan hal itu. Yang penting, kami harus mencari Lam-hai Giam-lo untuk membalas kejahatannya yang dilakukan kepada kami belasan tahun yang lalu,"

Sambung Su Kiat.

"Dan engkau sendiri, apa yang mendorongmu untuk melakukan penyelidikan tentang persekutuan tokoh-tokoh sesat itu, Hay Hay?"

Tanya Hui Lian.

Hay Hay lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Menteri Yang Ting Hoo di rumah Jaksa Kwan.

"Engkau tentu masih ingat, Enci Hui Lian, tentang mustika batu kemala milik Jaksa Kwan itu? Nah, aku pergi ke rumah Jaksa Kwan untuk mengembalikan batu mustika itu, akan tetapi Jaksa Kwan memberikan batu itu kepadaku dan di sana aku bertemu dengan Menteri Yang Ting Hoo. Mereka berdua menceritakan tentang Lam-hai Giam-lo yang memimpin persekutuan para tokoh sesat yang lihai. Di antara mereka terdapat banyak tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti Lam-hai Siang-mo, suami isteri Guha Iblis Pantai Selatan Min-san Mo-ko, Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, bahkan para pendeta Pek-lian-kauw juga bergabung dengan mereka. Menteri Yang minta bantuanku agar membantu para pendekar untuk menghadapi para tokoh sesat, sedangkan pasukan kaum pemberontak akan dihancurkan pasukan pemerintah kalau saatnya tiba. Aku pun lalu berangkat dan sampai di sini, tertarik oleh keindahan telaga, aku lalu berhenti dengan maksud untuk menikmati keindahan telaga selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan."

"Hemm, kalau begitu, kami pun akan membantu para pendekar untuk menentang gerakan persekutuan itu!"

Kata Su Kiat penuh semangat.

"Kebetulan sekali engkau tertarik oleh telaga ini. Demikianpun kami, Hay Hay. Kami melihat telaga ini dari atas ketika akan memasuki kota Wei-ning dan kami juga tertarik dan singgah di sini. Sungguh kebetulan sekali sehingga kita dapat saling jumpa. Kalau begitu, sebaiknya kalau kita pergi bersama ke dataran tinggi Yunan, bersama-sama melakukan penyelidikan terhadap persekutuan itu!"

Kata Hui Lian gembira.

Akan tetapi Hay Hay menggeleng kepalanya dan tersenyum Dia maklum bahwa biarpun Su Kiat kelihatan tersenyum dan sinar matanya tidak lagi membayangkan keraguan dan kemarahan, namun pendekar itu tetap saja merupakan seorang laki-laki biasa dan tentu akan timbul kembali cemburunya kalau dia melakukan perjalanan bersama mereka dan kemudian nampak hubungan yang amat akrab antara dia dan Hui Lian.

Tidak, dia tidak akan mengganggu ketenteraman dan kedamaian hubungan suami isteri yang saling mencinta itu.

"Kurasa sebaiknya kalau kita melakukan tugas kita secara terpisah. Bukankah akan lebih mudah melakukan penyelidikan kalau kita berpencar? Kita tentu akan saling jumpa di sana dan dapat saling membantu."

Katanya. Su Kiat mengangguk-angguk.

"Apa yang dikatakan Hay Hay itu memang benar. Lam-hai Giam-lo sudah lihai, kalau dia dibantu oleh banyak tokoh sesat yang lihai, maka keadaan di sana itu amat berbahaya. Kita harus berhati-hati dan melakukan penyelidikan beramai-ramai tentu akan lebih mudah diketahui pihak musuh."

Hui Lian nampak kecewa akan tetapi ia tidak mendesak karena naluri kewanitaannya yang halus juga memperingatkannya bahwa kebersamaannya dengan Hay Hay memang cukup berbahaya dan dapat menimbulkan salah sangka dan cemburu di pihak suaminya.

"Kami sudah berada di sini tiga hari, hari ini kami harus melanjutkan perjalanan. Kami akan berangkat lebih dulu."

Kata pula Su Kiat.

Mereka lalu berpamit dari Hay Hay yang masih ingin pesiar di telaga itu.

Hay Hay cepat menghapus ingatannya dari suami isteri itu dan kembali mendayung perahunya setelah suami isteri itu mengembalikan perahu yang mereka sewa.

Akan tetapi sungguh mengherankan hati Hay Hay.

Biarpun dia sudah berhasil mengusir bayangan suami isteri itu, terutama sekali bayangan Hui Lian, tetap saja dia sudah kehilangan kegembiraan dan kehilangan gairah.

Dia merasa seolah-olah kesepian.

Akhirnya dia pun mendayung perahunya ke tepi dan mengembalikan perahu sewaan itu, lalu dia menggendong buntalan pakaiannya dan berjalan-jalan di tepi telaga.

Matahari telah naik tinggi dan sinarnya menyengat kulit.

Hay Hay menjauhkan diri dari tempat ramai, berjalan-jalan di bagian tepi telaga, yang penuh dengan pohon-pohon rindang.

Di situ sunyi dan dia terlindung dari sinar matahari yang terik.

Tidak ada seorang pun di situ, juga perahu-perahu itu berada jauh dari bagian itu, merupakan perahu-perahu yang nampak kecil dan memenuhi permukaan telaga di sebelah sana dan di tengah telaga.

Akan tetapi tidak sebanyak pagi tadi.

Perahu-perahu yang tidak memakai bilik, yaitu perahu-perahu kecil yang terbuka, mulai berkurang.

Tentu mereka yang mempergunakan perahu-perahu terbuka itu kepanasan dan sudah mulai meninggalkan telaga.

Hanya perahu-perahu yang ada biliknya sajalah yang masih berseliweran, agaknya para penumpangnya asyik sendiri terutama mereka yang membawa gadis-gadis penghibur.

Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sejak pertemuannya dengan para pendeta Pek-lian-kauw di malam itu, para pendeta itu tidak pernah melepaskannya dari pengamatan dan pengintaian.

Bahkan ketika dia bertanding melawan Ciang Su Kiat, banyak mata menonton dari jarak aman.

Makin teganglah hati para pendeta Pek-lian-kauw melihat betapa pemuda yang mereka takuti itu, menghadapi lawan Si Lengan Buntung yang demikian lihai pun masih mampu menang!

Sebagian dari mereka sudah lama memberi laporan kepada Lam-hai Giam-lo tentang munculnya pemuda lihai itu.

Dan Lam-hai Giam-lo tentu saja menjadi curiga dan penasaran lalu dia mengutus dua orang pembantunya yang paling dipercaya, yaitu Min-san Mo-ko dan Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, untuk menyelidiki siapa pemuda itu dan kalau perlu membantu lima tokoh Pek-lian-kauw untuk menundukkan pemuda itu.

"Kalau dia benar selihai seperti yang dilaporkan, kalau mungkin bujuklah agar dia dapat bekerja sama dengan kita, membantu gerakan kita."

Lam-hai Giam-lo memesan kepada dua orang pembantunya itu.

"Kukira Tok-sim Mo-li cukup tahu bagaimana untuk menundukkan hati seorang pemuda. Kalau kiranya tidak mungkin, daripada dia menjadi ancaman bagi kita, bunuh saja dia."

Dengan penuh semangat, guru dan murid yang menjadi kekasih itu berangkat bersama pendeta Pek-lian-kauw yang melapor itu.

Akan tetapi, ketika Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi melihat siapa adanya pemuda itu, tentu saja mereka terkejut bukan main.

"Hay Hay..!"

Desis Ji Sun Bi dari tempat ia mengintai.

"Pemuda setan itu!"

Kata pula Min-san Mo-ko dengan hati gentar.

Mereka sudah pernah merasakan kelihaian pemuda itu, bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi bahkan memiliki ilmu sihir yang pernah membuat guru dan murid ini tidak berdaya dan dipermainkan.

Pantas saja lima orang pendeta Pek-lian-kauw yang ahli sihir itu tidak mampu menandinginya!

Bahkan kini guru dan murid itu sendiri saling pandang dengan sikap ragu-ragu dan was-was karena mereka sangsi apakah dengan bantuan mereka yang bergabung dengan lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu mereka akan mampu mengalahkan, Hay Hay.

"Kita harus minta bala bantuan."

Kata Min-san Mo-ko kepada muridnya, tanpa malu-malu lagi. Ji Sun Bi mengangguk.

"Benar, dan kurasa hanya ada dua orang saja di antara perserikatan kita yang akan mampu menandinginya. Pertama tentu saja Lam-hai Giam-lo sendiri, akan tetapi Bengcu kita itu tak mungkin turun tangan sendiri. Dan ke dua adalah Ki Liong. Baiknya aku segera mengundangnya ke sini untuk memperkuat kita."

Min-san Mo-ko yang maklum akan kelihaian Ki Liong yang kini dikenal sebagai Sim Ki liong, pembantu utama dari Lam-hai Giam-lo, mengangguk menyetujui.

Berangkatlah Ji Sun Bi secepatnya, kembali ke dataran tinggi Yunan yang tidak berapa jauh lagi dari situ, sedangkan Min-san Mo-ko dan lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu hanya membayangi Hay Hay dari kejauhan, tidak berani turun tangan.

Dan karena Hay Hay mengambil keputusan untuk tinggal selama tiga hari di kota Wei-ning dan berpesiar di Telaga Cao, maka Ki Liong dapat tiba di situ bersama Ji Sun Bi sebelum Hay Hay meninggalkan tempat itu.

Pada hari terakhir itu pagi-pagi sekali Hay Hay sudah duduk di tepi telaga, di tempat yang paling sepi, sambil memegang setangkai pancing.

Kemarin ketika berperahu, dia melihat bahwa di bagian ini justeru banyak sekali ikannya, dan dia ingin sekali mengail ikan di situ dan kalau mendapatkan ikan lalu dipanggangnya di situ pula.

Untuk keperluan ini dia sudah membawa bumbu dan gatam dari rumah penginapan.

Akan tetapi sial baginya.

Sampai satu jam lebih dia duduk di situ, tak seekorpun ikan mencium umpannya!

Dia menganggap dirinya sial, padahal hari masih terlampau pagi dan agaknya ikan-ikan masih belum waktunya keluar dari sarang mencari makanan.

"Huh, apakah kalian masih tidur? Ataukah belum waktunya sarapan pagi? Atau pergi melancong sekeluarga kalian?"

Hay Hay mengomel panjang pendek akan tetapi dia lalu tertawa geli, mentertawakan diri sendiri.

Mana mungkin ada ikan tidur?

Dan dia termenung.

Bagaimana kalau ikan beristirahat dan tidur?

Apakah juga ada waktu makan seperti manusia, makan pagi, siang dan malam sebanyak tiga kali?

Ataukah asal lapar lalu makan tanpa waktu?

Dan pernahkan keluarga ikan itu bersenang-senang, pelesir bersama anak isterinya?

Gambaran ini demikian menggelitik hatinya sehingga dia pun tertawa dengan bebas karena ditempat itu tidak terdapat orang lain.

"Ha-ha-ha, engkau sudah gila, Hay Hay!"

Demikian dia berkata, lalu mengangkat pancingnya, mengganti dengan umpan yang baru dan mulai memancing lagi.

Memancing adalah suatu pekerjaan yang mengasyikkan.

Kalau dia tidak membiarkan pikirannya melamun, mengingat-ingat hal yang lalu atau membayangkan hal mendatang, maka pikiran menjadi tenang dan hening, dan kalau semua perhatiannya ditujukan kepada tali pancing di permukaan air telaga, keadaannya hampir sama dengan kalau dia bersamadhi.

Tenang dan damai, demikian keadaan seorang yang sedang mengail kalau pikirannya tidak melayang-layang, melainkan tenggelam dalam keheningan.

Dia menjadi lupa waktu, lupa keadaan, tidak menyadari bahwa satu jam telah lewat pula dan kini sinar matahari pagi mulai menciptakan sinar keemasan pada permukaan air telaga.

Dan agaknya sinar matahari pagi itu yang menggugah ikan-ikan karena mulailah dia merasa betapa ujung tali pancingnya bergerak-gerak, tanda bahwa umpannya mulai ada yang menciumnya!

Tentu saja seluruh perhatian Hay Hay dicurahkan ke ujung pancingnya sehingga dia tidak tahu akan datangnya sebuah perahu kecil yang di dayung oleh seorang gadis menuju ke tempat dia mengail.

Hay Hay baru sadar ketika ikan-ikan yang mulai mencium umpannya itu tiba-tiba melepaskan umpan dan permukaan air berombak, lalu terdengar suara dayung memukul air.

"Haiii..!"

Dia mengangkat mukanya dan berteriak marah.

"Apakah engkau tidak tahu bahwa di sini ada orang sedang mengail ikan? Engkau datang mengganggu sehingga ikan-ikan yang sudah mulai mendekati umpan pancingku, kini lari cerai-berai ketakutan karena datangnya perahumu!"

Perahu itu telah datang dekat, dan penumpangnya yang tadi mendayung perahu itu bangkit berdiri.

Karena orang itu tadinya tertutup mukanya oleh sebuah caping lebar pelindung muka itu dari panas matahari, maka setelah orang itu berdiri dan mendorong caping ke belakang, baru nampak oleh Hay Hay bahwa penumpang perahu yang ditegurnya itu ternyata adalah seorang gadis remaja yang tersenyum manis sekali!

Gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun, pakaian dan wajahnya sederhana, namun tubuh yang mulai mekar ranum itu menarik sekali, sedangkan wajah yang sederhana tanpa bedak gincu itu memiliki daya tarik yang amat kuat, mungkin karena kelembutan dan kepolosan yang terpancar pada wajah yang berseri itu.

"Maaf, aku tidak tahu bahwa aku mengganggumu."

Kata gadis itu, dan suaranya juga lunak halus.

"Maaf, maaf! Setelah ikan-ikan itu pergi jauh? Aih, engkau tidak tahu bahwa engkau telah merampas sedikitnya seekor ikan besar untuk sarapanku, padahal perutku sudah lapar dan sejak tadi aku sudah siap untuk memanggang ikan hasil pancinganku!"

Kata Hay Hay, mulai berkurang kemarahannya melihat betapa gadis itu bersikap dan berbicara demikian lunak dan halus.

Gadis itu masih tersenyum ramah dan sinar matanya mengandung penyesalan.

"Ah, kalau begitu aku berhutang seekor ikan padamu, bung! Nah, biar kubayar hutang itu!"

Gadis itu masih berdiri di atas perahunya, dan dayung itu dipegangnya dengan tangan kanan.

Kini matanya mengamati permukaan air telaga yang mulai tenang lagi setelah berhenti meluncur.

Tiba-tiba dayungnya menyambar ke bawah, terdengar air terpukul dan gadis itu berjongkok, lalu tangan kirinya mengambil seekor ikan sebesar betis yang sudah mengambang karena mati terpukul dayungnya.

"Nah, inilah hutangku padamu, bung!"

Katanya sambil melemparkan ikan itu ke darat, di belakang Hay Hay.

Melihat ini Hay Hay terbelalak dan dia semakin tertarik.

Gadis remaja yang lembut dan halus sikap dan tutur sapanya itu ternyata seorang gadis yang memiliki ilmu kepandalan hebat sehingga dengan mudah dapat menangkap seekor ikan yang dipukul dengan dayungnya.

Hay Hay tersenyum lebar, merasa penasaran karena agaknya gadis itu hendak memamerkan kepandaiannya.

"Hemm, aku ingin mengail, bukan menangkap ikan begitu saja. Engkau tidak tahu seninya orang mengail, Nona. Kalau aku mau, tentu akan dapat pula menangkap ikan semudah seperti yang kau lakukan itu!"

Hay Hay bangkit berdiri dan memandang permukaan air.

Air yang jernih itu membuat dia dapat melihat beberapa ekor ikan berenang tak jauh dari situ.

Dia menggerakkan tangkai pancirignya yang terbuat dari bambu itu.

Tangkai itu meluncur ke dalam air dan ketika dia mencabutnya kembali, ujungnya sudah menusuk seekor ikan yang menggelepar-gelepar.

Dia melepaskan ikan itu di atas darat, kemudian dengan cepat tangkai pancingnya masih dua kali lagi meluncur dan dalam waktu yang cepat dia sudah menangkap tiga ekor ikan yang cukup gemuk!

"Ah, kiranya engkau seorang yang amat lihai, yang menyamar sebagai seorang pengail.

Maaf kalau aku bersikap kurang hormat, dan maafkan sekali lagi bahwa tadi aku telah mengganggu tanpa kusengaja."

Gadis itu memberi hormat dari perahunya, kemudian duduk kembali dan dengan perlahan mendayung perahunya ke tengah.

"Heiii, Nona! Nanti dulu!"

Hay Hay berteriak.

"Engkau sudah bersalah padaku dan aku tidak mau memaafkan sebelum menghukummu!"

Gadis itu menahan perahunya, alisnya berkerut karena ia mengira bahwa pemuda di pantai itu akan bersikap kurang ajar.

Akan tetapi dengan suara tetap lembut penuh kegembiraan, ia bertanya.

"Aku memang bersalah, akan tetapi tidak kusengaja dan aku sudah minta maaf. Hukuman apa yang akan kau jatuhkan kepadaku?"

"Lihat!"

Hay Hay menunjuk ke arah empat bangkai ikan tadi.

"Karena ulahmu di sini empat ekor ikan yang tidak berdosa telah mati. Kalau tidak dimakan dagingnya, itu namanya suatu pemborosan dan sia-sia namanya. Karena itu, aku akan menghukummu agar engkau membantuku menghabiskan daging empat ekor ikan ini. Aku sudah siap dengan bumbu-bumbunya dan kalau dipanggang, daging ikan ini lezat sekali!"

Lenyaplah kerut-merut pada alis gadis itu dan ia pun tertawa, lalu mendayung perahu ke tepi.

"Baiklah, aku terima hukuman itu!"

Katanya sambil tersenyum.

"Aku pun lapar sekali!"

Ia meloncat ke darat dan menarik tali perahu itu ke darat.

Demikian mudahnya gadis itu menarik perahu ke darat, padahal pantai itu agak terjal, hal ini menunjukkan bahwa ia memang bukan gadis sembarangan dan memiliki tenaga yang kuat.

Mereka kini berdiri berhadapan, saling pandang dan Hay Hay semakin tertarik.

Gadis ini tidak cantik sekali, akan tetapi pembawaannya demikian polos dan wajar, dan tubuhnya indah, memiliki daya tarik besar.

Memang banyak dia temui wanita cantik yang kurang begitu kuat daya tariknya, seolah-olah setangkai bunga yang tidak begitu harum.

Akan tetapi gadis ini bagaikan setangkai bunga sederhana yang amat harum semerbak, yang memiliki daya tarik besar dan membuat orang suka sekali berdekatan dan bicara dengannya.

Sepasang matanya demikian lembut, keibuan dan penuh kesabaran, mulutnya juga selalu tersenyum ramah, wajahnya yang tanpa bedak itu kemerahan dan segar bagaikan setangkai bunga mawar merah bermandi embun.

Pakaiannya juga sederhana, namun bahkan menonjolkan keindahan tubuhnya yang sedang mekar.

Agaknya masing-masing merasa puas dengan apa yang mereka pandang dan nilai, karena keduanya tersenyum dan gadis itu berkata.

"Mari kubantu engkau memanggang ikan."

Keduanya tidak banyak cakap, melainkan sibuk membersihkan sisik ikan-ikan itu, membuang isi perutnya, mencuci dengan air telaga dan melumurinya dengan bumbu yang sudah dipersiapkan oleh Hay Hay.

Tak lama kemudian masing-masing memegangi dua tusuk bambu, memanggang dua ekor ikan di atas api membara dan terciumlah bau yang sedap.

"Aduh sedapnya. Perutku menjadi semakin lapar saja!"

Kata gadis itu dan cuping hidungnya kembang kempis, lucu sekali.

"Ha-ha-ha, air liurku tak dapat kutahan lagi!"

Hay Hay juga berkata dan dia tertawa, merasa gembira bukan main.

Kehadiran gadis ini sungguh merupakan berkah baginya, membuat hari nampak demikian cerah dan suasana demikian gembira dan indah.

Bukan main!

Tak lama kemudian, keduanya sudah mengganyang ikan-ikan itu dan terasa gurih, manis dan lezat bukan main.

Gadis itu tidak kelihatan malu-malu.

Ia memiliki watak yang terbuka dan polos, namun lembut, tidak liar seperti watak Kui Hong atau Bi Lian.

Sama sekali tidak kelihatan galak, walaupun kadang-kadang sinar matanya mencorong penuh wibawa.

Sebentar saja, daging ikan-ikan itu telah habis, tinggal kepala, ekor dan tulang-tulangnya saja.

"Sayang tidak ada minuman."

"Jangan khawatir, Nona. Aku membawa sebotol anggur."

Hay Hay mengeluarkan botol anggur dari buntalannya.

"Aku kurang begitu suka minum arak."

"Ini bukan arak keras, melainkan anggur yang halus. Rasanya manis dan enak, tidak memabokkan asal tidak terlampau banyak, dan menghangatkan perut. Cobalah!"

Hay Hay menyodorkan botol yang terisi anggur hampir penuh itu sambil membuka tutupnya.

Gadis itu mendekatkan mulut botol ke bawah hidungnya.

"Hemm, baunya memang harum. Akan tetapi mana cawannya? Akan kucoba sedikit, untuk menghilangkan amis ikan tadi dari mulut."

"Aku tidak membawa cawan, Nona. Minumlah saja dari botol, mengapa?"

"Ihh, mulut botol akan berbau amis oleh mulutku yang habis makan panggang ikan."

"Apa salahnya? Mulutku juga."

Kata Hay Hay.

Gadis itu tersenyum, kemudian menuangkan isi botol itu, diterima oleh mulutnya yang terbuka sehingga ia dapat minum anggur itu tanpa menyentuh bibir botol dengan bibirnya.

Melihat mulut gadis itu terbuka, melihat rongga mulut yang merah sehat, gigi yang putih berkilau dan lidah yang merah jambu, bibir yang basah kemerahan pula, Hay Hay menelan ludah.

Seorang gadis yang sehat dan bersih, dan memiliki daya tarik yang amat kuat justeru oleh kesederhanaannya!

"Hemm, engkau terlalu sopan, Nona."

Katanya setelah gadis itu mengembalikan botol anggur. Gadis itu tidak menanggapi, melainkan memuji.

"Anggurmu sungguh enak."

"Dan ini untuk mencuci dan menyegarkan mulut!"

Kata Hay Hay, mengeluarkan empat buah pir dan memberikannya kepada gadis itu dua buah.

Wajah itu nampak berseri.

"Heii! Engkau seperti tahu saja akan buah kesukaanku!"

Teriaknya dan ia pun segera makan buah pir yang banyak airnya itu, segar dan manis rasanya, dan memang merupakan pencuci mulut yang segar untuk menghilangkan amis dan dari daging ikan tadi.

Mereka kini makan buah dan duduk berhadapan di atas rumput.

Tiba-tiba Hay Hay tertawa.

"Sungguh lucu sekali!"

"Apanya yang lucu?"

Gadis itu bertanya heran lalu memandangi tubuhnya, membereskan rambutnya yang agak awut-awutan karena ia mengira dirinya yang nampak lucu.

"Kita sudah menangkap ikan bersama, makan ikan dan minum anggur, kini makan buah bersama, seperti dua orang sahabat karib yang saling mengenal selama bertahun-tahun. Padahal kita baru saja saling jumpa secara kebetulan, bahkan kita belum mengenal nama masing-masing. Apakah Kau kira tidak sepatutnya sudah kalau kita saling memperkenalkan nama? Namaku adalah Hay Hay."

"Dan namaku Ling Ling."

"Heii! Nama kita juga mirip, hanya satu suku kata yang diulang. Ling Ling, nama yang indah dan manis sekali, sesuai dengan orangnya!"

Ling Ling adalah Cia Ling, puteri tunggal dari Cia Sun.

Seperti telah kita ketahui, Cia Ling atau panggilannya Ling Ling ini meninggalkan tempat tinggal ayahnya di dusun Ciangsi-bun di sebelah selatan kota raja, berkunjung ke Cin-ling-pai.

Kemudian ia meninggalkan Cin-ling-pai untuk melanjutkan perjalanannya merantau dan mencari pengalaman sebelum pulang ke rumah orang tuanya.

Dalam perjalanannya inilah ia mendengar akan persekutuan para tokoh dunia hitam yang kabarnya bersarang di dataran tinggi Yunan.

Ia merasa tertarik.

Persekutuan orang jahat itu tentu akan ditentang oleh para pendekar, pikirnya, mengingat akan cerita ayahnya tentang pengalaman ayahnya dahulu ketika masih muda, di mana para pendekar selalu siap untuk menentang gerakan para penjahat di dunia kang-ouw.

Inilah kesempatan baik untuk meluaskan pengetahuan, pikirnya.

Demikianlah, gadis gagah perkasa ini tanpa ragu lagi lalu melakukan perjalanan menuju ke selatan, ke Yunan.

Dan ketika tiba di Telaga Cou, dara perkasa ini tertarik sekali dan menyewa perahu kecil sampai perjumpaannya yang tak disangka-sangka dengan seorang pemuda yang aneh dan menarik hatinya.

Gadis ini mengalami cukup banyak godaan dan halangan di sepanjang perjalanannya, namun berkat ilmu silatnya yang tinggi, ia mampu mengatasi semua halangan, bahkan banyak menghajar orang-orang jahat yang berani mengganggunya, baik untuk merampok perbekalannya atau pun untuk mengganggu dirinya sebagai seorang gadis muda yang cukup menarik dan yang melakukan perjalanan sendirian saja.

Kini, mendengar kata-kata Hay Hay yang mengatakan bahwa namanya indah dan manis sekali sesuai dengan orangnya, gadis ini memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, dan sepasang alisnya berkerut sedikit.

Namun, suaranya masih terdengar lembut dan sabar ketika ia bertanya.

"Apa maksudmu?"

Ia mulai merasa curiga, mengira bahwa Hay Hay tiada bedanya dengan para lelaki yang pernah dijumpainya di dalam perjalanan yaitu pada akhirnya lelaki-lelaki itu hanya ingin merayunya dan menjatuhkannya!

Akan tetapi Hay Hay tersenyum lebar dan memandang dengan polos.

"Apa maksudku? Sudah jelas. Namamu itu, Ling Ling, terdengar merdu seperti nyayian dan indah manis, seperti pemiliknya. Apakah engkau belum tahu bahwa engkau adalah seorang gadis yang amat menarik, sederhana namun manis dan mengandung daya tarik bagaikan besi sembrani, Adik Ling Ling?"

Kalau tadinya Ling Ling sudah siap untuk menegur atau bahkan menghajar pemuda itu andaikata berani kurang ajar, kini gadis itu bimbang.

Pemuda ini memang memujinya, bahkan kata-katanya mirip rayuan akan tetapi pandang matanya dan suaranya sama sekali bukan seperti para pria lain yang hendak berkurang ajar kepadanya.

Mata itu demikian polos, dan suaranya juga datar saja seolah-olah bicara tentang kecantikannya merupakan hal yang lumrah dan sewajarnya, seperti seorang memuji keindahan setangkai bunga saja!

Karena itu, ia pun tidak dapat marah, melainkan mengamati wajah pemuda itu dengan penuh selidik.

"Hemm, baru sekarang ada orang mengatakan bahwa aku manis menarik. Hay-ko (Kakak Hay), katakan, apanya sih yang manis menarik?"

Senang hati Hay Hay disebut Hay-ko setelah tadi dia menyebut Ling-moi (Adik Ling), terdengar demikian akrab dan mesra, seperti kakak beradik, atau seperti...

pacar saja!

"Ha-ha, apamu yang menarik, Ling-moi?

Entahlah, sukar untuk menentukan.

Mungkin matamu yang lembut itu, atau mulutmu yang selalu tersenyum atau juga hidungmu yang cupingnya dapat kembang kempis lucu, atau rambutmu yang hitam panjang awut-awutan itu.

Atau kesemuanya ditambah kesederhanaanmu, kelembutanmu, pakaianmu yang sederhana namun bahkan menonjolkan keindahan bentuk tubuhmu, waah, pendeknya engkau manis menarik!"

Kini Ling Ling tertawa.

Bukan, bukan perayu kurang ajar yang mempunyai niat buruk, pikirnya.

Pemuda ini lain sama sekali daripada para pria lainnya.

Pria lainnya yang dijumpai, selalu memandang kepadanya dengan sinar mata yang jelas membayangkan kebangkitan nafsu berahi, senyum-senyum buatan untuk memikat, kata-kata rayuan yang juga isinya penuh dengan daya pikat, mata dan mulut yang jelas mengandung kekurangajaran.

Akan tetapi pemuda ini lain sama sekali.

Biarpun rayuannya maut, lebih manis dan menyenangkan dibandingkan semua rayuan yang pernah didengarnya, namun sinar mata pemuda ini polos dan bersih dari nafsu, dan tidak ada nampak bayangan keinginan untuk memikat, apalagi kurang ajar.

Maka ia pun tertawa.

"Hi-hik, Hay-ko, engkau sungguh seorang perayu besar! Rayuanmu yang maut itu bisa membuat kepala seorang gadis menjadi tujuh keliling dan membuat ia bertekuk lutut dan takluk kepadamu! Apakah engkau seorang laki-laki mata keranjang yang suka merayu wanita?"

Hay Hay menarik napas panjang.

"Sudah mejadi nasibku barangkali, sudah suratan takdir bahwa selama hidupku, aku akan dicap sebagai seorang laki-laki mata keranjang! Hampir semua wanita menganggap aku mata keranjang dan perayu besar!"

"Tapi engkau memang perayu besar, Hay-ko. Selama hidupku, belum pernah aku dipuji laki-laki seperti yang kau lakukan tadi!"

Ling Ling berkata, akan tetapi sambil tersenyum. Kembali Hay Hay menarik napas panjang.

"Itulah nasibku! Aku sama sekali tidak pernah merayumu, Ling-moi. Aku hanya jujur dan terus terang saja, mengatakan apa adanya. Memang engkau manis menarik, habis aku harus berkata bagaimana?"

"Apakah engkau selalu memuji setiap orang wanita yang kau jumpai?"

"Iya, sebagian besar. Karena bagiku, setiap orang wanita itu seperti juga bunga. Bunga itu bermacam-macam, baik bentuknya maupun warnanya, akan tetapi adakah bunga yang buruk? Semua indah dan semua cantik, dalam coraknya sendiri, memiliki keistimewaan sendiri. Dan aku memandang wanita seperti memandang bunga, aku selalu kagum akan keindahan seorang wanita seperti kagum kepada keindahan bunga. Salahkah kalau aku memuji keindahan itu?"

"Memuji keindahan bunga lalu ingin memetiknya?"

"Ah, tidak! Aku bukan perayu, Ling-moi! Aku suka akan keindahan, bagaimana mungkin aku ingin merusak keindahan itu? Tidak, aku hanya cukup puas dengan memandangnya, mengamati dan mengagumi kecantikannya."

Ling Ling memandang kagum.

"Engkau seorang laki-laki yang aneh, terlalu jujur dan tentu banyak mengalami hal-hal yang menyusahkan karena kejujuranmu itu, Hayko."

Tiba-tiba terdengar suara orang, suara yang parau dan kasar.

"Heh-heh, kiranya engkau sudah berada di sini, Nona manis!"

Hay Hay masih duduk dan hanya memutar tubuh untuk memandang saja.

Akan tetapi Ling Ling sudah meloncat dan bangkit berdiri.

Hay Hay memperhatikan tiga orang yang muncul itu.

Mereka itu adalah tiga orang laki-laki yang usianya antara empat puluh dan lima puluh tahun.

Ketiganya mengenakan pakaian serba putih!

Yang dua orang bertubuh tinggi besar dan nampak kokoh kuat, dengan lengan berotot dan sepasang mata yang liar, muka mereka kehitaman, seorang berjenggot panjang dan seorang lagi tanpa jenggot.

Orang ke tiga, yang pakaiannya juga putih seperti dua orang terdahulu, lebih tua beberapa tahun, akan tetapi orang ke tiga ini bertubuh pendek gendut seperti bola.

Yang membuat Hay Hay terkejut adalah muka orang ini, karena muka ini agak pucat.

Hal ini bukan berarti bahwa orang gendut itu berpenyakitan.

Kepucatan mukanya berbeda dengan pucatnya orang yang tidak sehat.

Hay Hay mengenal orang itu sebagai seorang yang memiliki kepandaian tinggi hanya dengan melihat mukanya.

Dia pernah mendengar dari para gurunya bahwa di dunia kang-ouw banyak terdapat ilmu sesat di antaranya latihan hawa sakti yang dapat membuat wajah orang itu menjadi pucat, akan tetapi semakin pucat wajahnya, semakin kuat sin-kang sesat yang dilatihnya.

Dugaan Hay Hay ini memang tepat.

Tiga orang itu adalah anggauta perkumpulan Kui-kok-pang (Perkumpulan Lembah Iblis), sebuah perkumpulan di Lembah Iblis yang berada di lereng Gunung Hong-san.

Perkumpulan Kui-kok-pang ini dipimpin oleh ketuanya yang bernama Kim San, seorang yang berilmu tinggi dan mukanya sepucat mayat.

Seperti juga ketuanya, semua anggauta Kui-kok-pang mengenakan pakaian serba putih, dan ketinggian tingkat mereka dapat dilihat dari keadaan muka mereka.

Yang lebih pucat berarti lebih tinggi kedudukannya dan ilmu kepandaiannya.

Dua orang tinggi besar yang mukanya kehitaman, dengan kepucatan yang hampir tidak nampak karena kulit muka yang hitam, menunjukkan bahwa mereka berdua adalah anggauta-anggauta biasa saja yang masih rendah tingkatnya, dan mereka lebih mengandalkan tenaga otot daripada tenaga sakti.

Akan tetapi orang ke tiga, yang bertubuh pendek gendut seperti bola, mukanya pucat dan ini menunjukkan bahwa tingkatnya lebih tinggi daripada kedua orang temannya yang bermuka hitam.

Ketika mendengar teguran parau dan kasar tadi, Ling Ling cepat menengok.

Ketika melihat dua orang laki-laki tinggi besar yang mukanya kehitaman, seketika wajah Ling Ling berubah merah dan ia pun meloncat bangun, berdiri sambil bertolak pinggang, sepasang matanya mengeluarkan sinar berapi ketika memandang kepada mereka.

"Hemm, kiranya kalian anjing-anjing hitam yang kurang ajar itu berani muncul kembali! Apakah kalian masih belum jera dan minta dihajar lagi?"

Kata Ling Ling.

Dua orang laki-laki muka hitam itu saling pandang, kemudian mereka menoleh kepada laki-laki perut gendut sambil berkata.

"Nah, engkau dengar sendiri, Suheng! Ia memang seorang gadis yang sombong dan memandang rendah kepada kita!"

Kata Si Hitam yang berjenggot kambing.

Si Pendek perut gendut melangkah maju menghadapi Ling Ling.

Sejenak dia tidak bicara apa pun, hanya mengamati wajah gadis itu dengan sinar mata mencorong, kemudian dia berkata, suaranya kecil seperti suara tikus terpencet, sehingga terdengar lucu dan berlawanan dengan tubuhnya yang gendut.

"Nona, agaknya engkau tidak tahu, bahwa kami adalah orang-orang Kui-kok-pang! Agaknya Nona baru saja memasuki dunia kang-ouw, seperti burung yang baru belajar terbang sehingga tidak mengenal kami. Oleh karena itu, kalau Nona mau bersikap manis dan minta maaf, kami pun akan menyudahi urusan ini dan menganggap bahwa Nona masih kanak-kanak yang tidak tahu akan kebesaran Kui-kok-pang."

Mendengar disebutnya nama Kui-kok-pang, diam-diam Hay Hay terkejut karena dia sudah mendengar akan nama besar perkumpulan itu.

Akan tetapi dia harus tahu dulu akan duduk perkaranya sebelum berpihak, maka sebelum Ling Ling yang bersikap tenang namun marah itu menjawab, dia sudah mendahului.

"Ling-moi, apakah yang telah terjadi antara engkau dengan dua orang saudara dari Kui-kok-pang ini?"

Ling Ling yang sudah siap menjawab kata-kata Si Gendut pendek itu dengan kata-kata keras, mendengar pertanyaan Hay Hay, lalu menoleh kepada pemuda itu.

"Hay-ko, aku tidak tahu apakah dua orang jahanam ini anggauta Perkumpulan Lembah Iblis, atau perkumpulan apa, akan tetapi kemarin sore, ketika aku memasuki kota, di tengah perjalanan di luar kota itu, mereka menghadangku dan bersikap kurang ajar, hendak mengganggu aku. Tentu saja aku menghajar mereka sampai mereka lari tunggang-langgang seperti dua ekor anjing dipukul. Dan sekarang, mereka muncul lagi bersama seekor anjing gemuk lainnya yang agaknya hendak menggonggong lebih keras daripada mereka."

Hay Hay menahan senyum karena geli hatinya.

Kini dia tahu bahwa dua orang Kui-kok-pang yang bertubuh tinggi besar itu, seperti kebanyakan pria yang kasar dan kurang ajar, kemarin mencoba mengganggu Ling Ling yang dianggapnya seorang gadis cantik yang lemah.

Mereka tertumbuk batu karang dan dihajar,dan kini mereka datang dengan seorang kawan mereka yang mereka sebut suheng, tentu untuk membalas dendam kepada gadis itu.

Hay Hay maklum bahwa kalau dibiarkan saja, tentu Ling Ling akan berkelahi melawan tiga orang Kui-kok-pang itu, maka dia lalu menghadapi laki-laki pendek gendut, menjura dan berkata dengan ramah.

"Sobat, kalau adikku ini telah kesalahan tangan terhadap dua orang saudaramu ini, biarlah aku yang memintakan maaf, harap urusan ini dihabiskan sampai di sini saja."

Si Pendek Gendut itu memandang sejenak kepada Hay Hay, lalu dengan alis berkerut dia pun berkata, nada suaranya penuh ketinggian hati.

"Orang muda, aku tidak tahu siapa engkau dan mengapa pula engkau mencampuri urusan kami. Nona ini yang telah menghina orang-orang kami, maka ialah yang harus minta maaf sendiri dan membuktikan penyesalannya dengan menghibur kami selama sehari semalam. Baru kami mau sudah. Kalau tidak begitu, biar ada seribu orang yang memintakan maaf, kami tidak akan mau menerimanya."

Sikap Si Pendek Gendut itu demikian sombong dan Ling Ling sudah menjadi semakin marah saja.

"Hay-ko, jangan mencampuri urusan ini. Biar kuhajar manusia busuk ini!"

Bentak Ling Ling dan sekali meloncat ia sudah berhadapan dengan Si Pendek Gendut itu.

"He, babi gendut, jangan engkau membuka mulut sembarangan saja kalau tidak ingin aku menghancurkan mulutmu yang busuk!"

Muka yang pucat itu mendadak menjadi merah sekali, akan tetapi segera menjadi pucat kembali, dan sepasang mata yang sipit dari Si Pendek Gendut itu seperti mengeluarkan sinar berapi.

Mendengar makian gadis itu, dia marah sekali.

Tadinya dia mengira bahwa setelah mendengar nama besar Kui-kok-pang, gadis itu akan menjadi ketakutan dan menyerah.

Tak tahunya gadis itu malah memakinya babi gendut!

Padahal dia adalah seorang tokoh Kui-kok-pang, tingkat tiga yang ditakuti orang karena ilmu kepandaiannya sudah tinggi.

Di bawah Ketua Kui-kok-pang, hanya ada tiga orang yang bertingkat dua sebagai pembantu-pembantu utama ketua, dan hanya ada lima orang, termasuk dia, yang menduduki tingkat ketika sebagai orang-orang yang dipercaya ketua dan sering bertindak sebagai utusan atau wakil ketua.

Dan kini, gadis manis ini berani menghinanya setelah dia tertarik dan ingin memiliki gadis ini untuk menghibur hatinya.

"Bocah sombong, berani engkau menghina tuanmu? Agaknya engkau sudah bosan hidup!"

Nafsu berahinya yang tadi timbul setelah dua orang anak buahnya membawanya menemui gadis yang pernah menghajar mereka itu, kini lenyap sama sekali oleh penghinaan yang dilontarkan Ling Ling, berubah menjadi kemarahan dan kebencian yang berbau darah dan maut.

Begitu kata-katanya berhenti, tubuhnya sudah menerjang dengan dahsyatnya ke depan, kedua tangannya membentuk cakar dan menyerang dengan cakaran dan cengkeraman seperti seekor biruang marah.

Dari kerongkongannya juga keluar gerengan seperti binatang buas.

Akan tetapi, dari kedua tangan yang membentuk cakar itu, menyambar hawa yang amat kuat, didahului uap putih dan bau yang amis seperti darah!

Melihat serangan ini, terkejutlah Hay Hay karena dia mengenal serangan ilmu Pukulan yang mengandung racun dan amat jahat, ciri khas Pukulan yang biasa dipergunakan para tokoh golongan hitam.

Hampir dia berteriak memperingatkan Ling Ling, bahkan semua urat syaraf di tubuhnya sudah menegang karena dia pun siap untuk melindungi gadis itu dari serangan dahsyat lawannya, kalau saja dia tidak melihat gerakan Ling Ling yang membuat dia terbelalak.

Dengan amat mudahnya, ringan dan bagaikan bulu tertiup angin, gadis itu menggerakkan kakinya dan terkaman yang dahsyat itu dapat dihindarkan dengan amat mudahnya!

Yang membuat Hay Hay terbelalak heran bukan karena melihat kelihaian Ling Ling.

Sudah banyak dia bertemu gadis yang berilmu tinggi, Maka dia tidak akan heran melihat munculnya gadis-gadis lihai lainnya lagi.

Akan tetapi dia terbelalak heran karena dia mengenal gerak langkah kaki yang dipergunakan Ling Ling untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyat Si Pendek Gendut tadi.

Itulah Ilmu Langkah Ajaib Jiauw-pouw-poan-soan!

Tak salah lagi, walaupun belum sempurna benar, namun mudah dikenal langkah-langkah rahasia itu!

Padahal, ilmu langkah ajaib itu adalah ciptaan gurunya See-thian Lama atau juga yang disebut Go-bi San-jin!

Bagaimana gadis itu mampu memainkan langkah ajaib itu?

Dan kini lenyapnya kekhawatiran dari hati Hay Hay.

Bukan saja gadis itu pandai ilmu Jiauw-pouw-poan-soan yang akan membuat gadis itu pandai menyelamatkan diri dari serangan yang betapa hebat pun, juga gadis itu memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang demikian hebat.

Dan ketika gadis itu membalas dengan tamparan-tamparan kedua tangannya yang mengeluarkan angin keras mencicit tanda bahwa telapak tangan itu mengandung tenaga sakti yang amat kuat, Hay Hay menahan seruan kagum.

Tadi, ketika gadis itu menangkap ikan dengan dayungnya, dia sudah menduga bahwa Ling Ling adalah seorang gadis yang memiliki kepandaian silat.

Akan tetapi, perbuatan menangkap ikan itu mudah saja dan dia tidak mengira bahwa gadis itu ternyata memiliki ilmu silat yang tinggi bahkan dapat memainkan ilmu langkah ajaib Jiauw-pouw-poan-soan!

Kini dia tidak khawatir lagi, bahkan mengkhawatirkan nasib Si Pendek Gendut karena dia pun tahu bahwa Ling Ling jauh lebih lihai dibandingkan lawannya.

Si Pendek Cendut juga terkejut ketika melihat tamparan gadis itu mengandung angin Pukulan bercuitan mengejutkan.

Dia mencoba untuk mengelak, bahkan menangkis untuk kemudian dilanjutkan cengkeraman pada lengan Ling Ling.

Akan tetapi, begitu lengannya tersentuh lengan Ling Ling yang mengandung kekuatan Thian-te Sin-kang, tubuh Si Gendut itu terjengkang ke belakang dan di lain saat tubuh itu sudah menggelundung seperti sebuah bola ditendang!

Akan tetapi, dia sudah meloncat bangun lagi dengan muka merah dan dia sudah mencabut senjatanya, yaitu sebuah pedang pendek yang berwarna hitam, tanda bahwa pedang itu agaknya sudah sering kali dilumuri racun!

Dua orang anggauta Kui-kok-pang yang tinggi besar dan berkulit hitam, ketika melihat betapa suheng mereka dalam beberapa jurus saja sudah terjengkang, segera mencabut golok masing-masing dan mereka pun maju mengepung!

Gadis itu dikepung tiga orang lawan yang kesemuanya bersenjata tajam!

Namun, Ling Ling berdiri tegak sambil bertolak pinggang dengan kedua tangannya, tenang-tenang saja dan tersenyum, seperti seorang guru melihat tingkah tiga orang anak kecil yang bandel dan nakal!

Hay Hay juga memandang dengan tersenyum.

Dia masih percaya penuh bahwa gadis itu akan mampu melindungi dirinya.

Dengan Jiauw-pouw-poan-soan saja, dia percaya gadis itu akan mampu menghindarkan diri dari kepungan tiga batang senjata tajam itu.

Apalagi agaknya gadis itu memiliki lain-lain ilmu yang juga amat hebat.

Dugaan Hay Hay memang tidak meleset.

Tingkat kepandaian Si Pendek Gendut bersama dua orang pembantunya itu masih jauh di bawah tingkat Ling Ling yang sejak kecil menerima gemblengan ayah ibunya.

Ketika Si Pendek Gendut menyerang dengan pedangnya, dan dua orang pembantunya juga, menerjang dengan golok mereka, tiba-tiba saja mereka bertiga itu terkejut karena melihat gadis itu menyelinap dan hanya nampak bayangan berkelebat dan orangnya sudah lenyap.

Ketika Si Gendut membalik, gadis itu sudah berada di belakangnya, berdiri dengan santai dan tersenyurn manis!

Dia membalik, pedangnya membacok lagi dengan golok mereka.

Menghadapi pengeroyokan dengan senjata ini, Ling Ling kembali menyelamatkan diri dengan langkah-langkah anehnya.

Tubuhnya bergeser ke kanan kiri, memutar dan dara itu sudah keluar dari kepungan tiga senjata tajam.

Melihat betapa di antara tiga orang lawannya, yang paling kuat adalah Si Pendek Gendut, maka ia lalu menyerang dengan totokan jari telunjuk.

Cepat sekali jari telunjuknya mencuat dan menotok ke arah pundak Si Gendut Pendek.

Totokan ltu cepat bukan main dan tak mungkin dapat dihindarkan oleh lawan.

Itulah Ilmu Thiam-hiat-hoat (menotok jalan darah) yang amat ampuh, yaitu It-sin-ci (Satu Jari Sakti).

Begitu pundaknya tersentuh telunjuk kiri gadis itu, seketika Si Pendek Gendut merasa betapa tubuhnya lemas kehilangan tenaga.

Pedangnya terlepas dan tubuhnya terkulai jatuh.

Akan tetapi, begitu tubuhnya rebah dia bergulingan dan tak lama kemudian dapat meloncat bangkit kembali sambil menyambar pedangnya yang tadi terlepas.

Hal ini mengejutkan hati Ling Ling, juga mengherankan hati Hay Hay.

Jelaslah bahwa Si Pendek Gendut itu tadi terkena totokan yang lihai dan melihat dia terkulai, hal itu berarti bahwa totokan mengenai sasarannya dengan tepat.

Akan tetapi bagaimana mungkin begitu terkulai jatuh, Si Pendek Gendut itu dapat meloncat bangun kembali setelah bergulingan?

Baik Hay Hay maupun Ling Ling tidak tahu bahwa Kui-kok-pang adalah sebuah perkumpulan golongan sesat yang pernah dipimpin oleh orang-orang berilmu tinggi.

Beberapa macam ilmu aneh diturunkan oleh para pimpinan itu, dan Si Pendek Gendut itu ternyata telah pula mewarisi sebuah di antara ilmu-ilmu aneh, yaitu yang disebut Ilmu Kekebalan Trenggiling Besi.

Ilmu ini adalah semacam ilmu kekebalan terhadap totokan lawan.

Biarpun tadinya tubuh telah terpengaruh totokan lihai, asal tubuh itu dapat rebah di atas tanah, maka akan timbul kekuatan sehingga dia dapat bergulingan dan pengaruh totokan itu pun akan membuyar dengan sendirinya!

Kui-kok-pang didirikan oleh sepasang suami isteri yang memiliki kepandaian tinggi sekali.

Si Suami berjuluk Kui-kok Lo-mo, dan isterinya Kui-kok Lo-bo, yaitu kakek dan nenek Lembah Kui-kok.

Mereka selalu berpakaian putih dan muka kedua orang suami isteri ini pun putih seperti muka mayat, dengan mata mencorong.

Ilmu kepandaian suami isteri ini hebat bukan main, dan nama Kui-kok-pang perkumpulan yang mereka dirikan, amat terkenal di dunia persilatan.

Akan tetapi, suami isteri ini, di dalam kebesarannya, bernasib sial karena bentrok dengan Raja dan Ratu Iblis, dua orang tokoh yang menjadi datuk terbesar di dunia hitam sehingga Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo tewas di tangan Ratu Iblis yang sakti.

Kini yang menjadi Ketua Kui-kok-pang adalah Kim San, seorang murid suami isteri itu yang paling banyak mewarisi ilmu kepandaian mereka.

Kui-kok-pang bangkit kembali dan kini menyusun kekuatan dengan bekerja sama di bawah pimpinan Lam-hai Giam-lo.

Seperti para pembantu lain yang bersekutu di dalam gerornbolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo, para tokoh Kui-kok-pang tidak ketinggalan bekerja keras untuk menggembleng anak buah mereka, juga seperti para pembantu lain, berkeliaran mencari teman baru untuk ditarik menjadi anggauta kelompok mereka untuk memperkuat pasukan yang sedang mereka susun.

Si Gendut Pendek bersama beberapa orang anak buahnya juga sedang bertugas mencari teman ketika mereka berkeliaran sampai ke daerah T elaga Cao.

Dua orang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, bertemu dengan Ling Ling di tengah jalan yang sepi.

Melihat seorang dara muda yang cantik melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja menimbulkan nafsu kedua orang anggauta Kui-kok-pang yang sudah biasa melakukan segala jenis kejahatan itu.

Mereka bermaksud menggoda, akan tetapi mereka kecelik dan akibat dari godaan itu, mereka berdua dihajar oleh Ling Ling sehinnga mereka terpaksa melarikan diri dalam keadaan babak-belur.

Mereka lalu mengadu kepada pimpinan mereka, yaitu Si Pendek Gendut.

Orang ini adalah seorang laki-laki yang lemah terhadap wanita cantik.

Mendengar bahwa dua orang anak buahnya baru saja dihajar oleh seorang gadis cantik, hatinya merasa penasaran dan bersama kedua orang anak buahnya itu, dia pun segera mencari gadis itu dan akhirnya dapat menemukan Ling Ling sedang bercengkerama dengan Hay Hay.

Demikianlah sedikit tentang Kui-kok-pang.

Tidak mengherankan kalau Si Pendek Gendut itu mampu membebaskan pengaruh totokan It-sin-ci dari Ling Ling karena kebetulan dia mewarisi satu di antara ilmu-ilmu yang aneh, Yang ditinggalkan Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo, yaitu Ilmu Kekebalan Trenggiling Besi.

Kini Si Gendut telah meloncat bangun dan menyerang lagi, diikuti oleh dua orang pembantunya yang menjadi besar hati melihat betapa suheng mereka tadi, biarpun sempat roboh, dapat bangkit kembali dengan cepat dan agaknya hal ini mengejutkan gadis i tu yang memandang dengan mata terbelalak.

Memang kebangkitan Si Gendut yang tidak tersangka-sangka itu agak mengejutkan hati Ling Ling, akan tetapi tidak membuatnya menjadi gugup.

Begitu melihat tiga orang itu sudah maju lagi menerjangnya, ia menyelinap di antara bayangan tiga buah senjata tajam itu, menggunakan langkah-langkah ajaibnya, dan setelah membiarkan tiga orang lawannya menyerang sampai empat lima jurus dan ia melihat kesempatan terbuka, Tiba-tiba sambil membuat gerakan memutar dalam langkah-langkahnya, ia menyerang secara bertubi-tubi ke arah tiga orang lawan itu dengan jurus-jurus cepat dari Ilmu silat San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung), satu di antara ilmu silat Cin-ling-pai yang halus dan hebat.

Terdengar teriakan-teriakan ketika tubuh tiga orang itu berturut-turut roboh dan dua batang golok terlepas dari pegangan pemiliknya.

Tubuh Si Pendek Gendut untuk kedua kalinya roboh.

Kembali dia menggunakan ilmunya Trenggiling Besi, bergulingan dan melompat bangun.

Akan tetapi melihat betapa dua orang pembantunya begitu dapat bangun terus melarikan diri dengan terpincang-pincang Si Gendut itu pun agaknya sudah kehabisan nyali dan dia pun tanpa banyak cakap lagi sudah memutar tubuh dan melarikan diri menyusul dua orang anak buahnya!

Hay Hay tertawa dan bertepuk tangan memuji.

Dia merasa kagum sekali, bukan hanya karena kelihaian Ling Ling, akan tetapi terutama sekali dia merasa girang dan kagum karena jelas nampak olehnya betapa di dalam perkelahian itu, Ling Ling telah mengalah dan sama sekali tidak pernah menggunakan tangan besi.

Kalau saja gadis itu menghendaki, dengan mudah ia akan mampu merobohkan mereka bertiga untuk tidak dapat bangun kembali, tewas atau setidaknya terluka parah.

Akan tetapi tidak, gadis itu jelas hanya ingin menundukkan mereka tanpa ingin melukai.

Ini saja sudah membuktikan bahwa Ling Ling adalah seorang gadis yang memiliki watak halus, penyabar dan sama sekali tidak kejam.

Berbeda dengan banyak pendekar wanita yang ringan tangan dan kadang-kadang ganas terhadap penjahat.

Gadis ini seorang pemaaf besar!

"Hebat sekali, Ling-moi!

Engkau membuat aku kagum!"

Kata Hay Hay memuji. Ling Ling tersenyum.

"Apanya sih yang patut dipuji? Biarpun aku belum pernah melihat kepandaianmu, aku berani memastikan bahwa engkau jauh lebih pandai daripada aku, Hay-ko."

"Hemm, darimana engkau dapat memastikan seperti itu, Adikku yang manis?"

"Dari sikapmu, Hay-ko, juga ketika engkau menangkap ikan dengan pancinganmu tadi. Engkau bersikap sederhana hanya untuk menutupi kelihaianmu, Hay-ko."

Hay Hay memandang kagum.

"Ling-moi, engkau memang seorang gadis yang luar biasa sekali. Aku masih terheran-heran, darimana engkau mahir memainkan ilmu langkah ajaib Jiauw-pouw-poan-soan itu.?"

Kini Ling Ling memandang penuh selidik.

"Nah, tidak keliru dugaanku. Baru melihat engkau sudah dapat mengenal gerakanku. Betapa tajamnya pandang matamu, Hay-ko. Menurut Ayah, karena ilmu itu merupakan ilmu simpanan, jarang atau mungkin tidak ada orang yang mengenalnya, dan engkau begitu melihat gerakanku, segera mengenalnya. Aku mempelajarinya dari Ayah, Hay-ko. Dan bagaimana engkau dapat mengenal ilmu kami itu?"

Akan tetapi Hay Hay tidak menjawab, melainkan memandang dengan mata terbelalak, lalu bertanya lagi.

"Apakah nama keluargamu Cia?"

Ling Ling mengangguk heran.

Bagaimana pula pemuda ini tahu atau dapat menduga akan nama keluarganya?

"Dan Ayahmu bernama Cia Sun?"

Gadis itu bengong, lalu tersenyum.

"Wah, ini namanya sudah keterlaluan, Hay-ko. Engkau membuat aku semakin bingung, heran dan penasaran. Engkau dapat mengetahui segalanya tentang diriku. Apakah engkau menguasai ilmu meramal? Jangan membikin aku bingung keheranan, Hay-ko. Bagaimana engkau dapat menduga demikian tepat?"

"Karena ilmu langkah tadilah, Ling-moi. Ketahuilah bahwa Ayahmu yang bernama Cia Sun itu adalah Suhengku."

"Ahhh.? Bagaimana mungkin? Ayah tidak pernah bercerita bahwa dia mempunyai seorang sute seperti engkau!"

"Memang, dia sendiri pun tidak tahu bahwa aku adalah sutenya."

"Tapi... tapi, guru Ayahku ada dua. Yang seorang adalah kakekku sendiri."

"Aku tahu, tentu Kakekmu, pendekar sakti yang tinggal di Lembah Naga itu, bukan? Akan tetapi yang kumaksudkan adalah gurunya yang berjuluk See-thian Lama atau Go-bi San-jin.."

"Jadi kalau begitu engkau adalah murid dari Locianpwe itu? Dari Sukong (kakek Guru) Go-bi San-jin?"

"Benar, Ling-moi. Karena itu aku mengenal ilmu langkahmu tadi. Ayahmu adalah murid Suhu Go-bi San-jin, oleh karena itu dia adalah suhengku."

"Dan engkau adalah paman guruku! Ah, Susiok (Paman Guru) harap maafkan aku yang tadi bersikap kurang hormat karena belum mengenal Susiok."

Kata Ling Ling sambil menjura dengan hormat kepada pemuda itu.

"Eiiit, jangan begitu, Ling-moi!"

Kata Hay Hay. Hay Hay cepat membalas penghormatan gadis itu.

"Aku lebih senang menjadi kakak dan adik denganmu, seperti sekarang ini. Sebut saja aku Hay-ko seperti tadi, Ling-moi."

"Aku tidak berani, Susiok."

Kata Ling Ling, sikapnya hormat.

"Aihh, aku mendadak merasa menjadi tua sekali kalau engkau menyebutku paman guru, Ling-moi. Padahal, usiaku baru dua puluh satu tahun lebih!"

Gadis itu menatap wajahnya dan berkata, sikapnya sungguh-sungguh, namun tetap ramah dan halus.

"Susiok, satu di antara pelajaran yang kuterima dari Ayah adalah agar aku menghormati orang tua, dan agar aku selalu mengingat akan tatasusila dan sopan santun. Biarpun engkau masih muda, pantas menjadi kakakku, akan tetapi kenyataannya, engkau adalah adik seperguruan dari Ayah. Oleh karena itu maka sudah semestinya dan sepatutnya kalau aku menyebut Susiok kepadamu. Dan harap Susiok jangan menyebut adik kepadaku, karena hal itu tentu akan menjadi bahan tertawaan orang lain."

Hay Hay mengerutkan alis.

"Aih, masa bodoh pandangan dan pendapat orang lain. Ling-moi, engkau terlalu memegang peraturan!"

Gadis itu tersenyum, sikapnya tenang dan halus, dan pandang matanya seperti menggurui.

"Susiok, apa akan jadinya dengan manusia kalau tidak memegang peraturan? Hidup tidak mungkin dapat bebas dari peraturan, Susiok. Tanpa peraturan, kehidupan akan menjadi bebas dan liar, tanpa batas-batas lagi sehingga takkan ada bedanya dengan kehidupan binatang. Maaf, Susiok, sejak kecil Ayah mengajarkan kepadaku agar mentaati peraturan, karena itulah aku tidak berani melanggar."

Wajah Hay Hay berubah agak merah dan tiba-tiba dia pun tertawa.

"Baiklah, Ling Ling. Biar aku sebut namamu begitu saja kalau engkau bertekad menyebut aku Susiok. Ada benarnya memang pendapatmu tadi. Tanpa peraturan, hidup akan menjadi liar dan kacau. Akan tetapi, terlalu memegang peraturan, hidup pun akan menjadi kaku. Di dalam segala hal memang dibutuhkan kebijaksanaan, karena hanya kebijaksanaanlah yang akan dapat membuat kita mempertimbangkan, mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Baiklah keponakanku yang manis, sekarang ceritakan kepada Paman Gurumu ini, bagaimana engkau, seorang dara remaja, (Lanjut ke

Jilid 39) Pendekar Mata Keranjang (Seri ke 09 -Serial Pedang Kayu Harum) Karya .

Asmaraman S.

Kho Ping Hoo

Jilid 39 dapat tiba di tempat ini melakukan perjalanan seorang diri.

Dan ceritakan pula keadaan Suheng Cia Sun sekeluarganya yang tidak pernah kutemui itu."

Dengan singkat Ling Ling menceritakan keadaan orang tuanya betapa ayah dan ibunya tinggal di dusun Ciang-sibun di sebelah selatan kota raja, hidup sederhana dan bertani.

"Aku pergi meninggalkan rumah dengan perkenan Ayah dan Ibu, Susiok. Aku ingin meluaskan pengalaman dan juga aku berkunjung ke Cin-ling-pai, karena Ibuku adalah murid ketua yang lama dari Cin-ling-pai dan Ayahku masih keluarga dekat dengan keluarga Cin-ling-pai."

Karena urusan di Cin-ling-pai merupakan urusan keluarga, maka Ling Ling tidak bercerita tentang keributan di Cin-ling-pai karena pemunculan Kui Hong, kemudian Hui Lian.

Kalau ia menyebut nama kedua orang gadis ini, tentu Hay Hay akan terkejut dan girang karena dia sudah mengenal baik kedua orang gadis itu.

"Setelah bertemu keluarga Cin-ling-pai, aku melanjutkan perjalananku dan di tengah perjalanan inilah aku mendengar akan gerakan persekutuan para tokoh kang-ouw yang dipimpin oleh datuk-datuk sesat dan kabarnya yang diangkat menjadi bengcu adalah seorang datuk sesat berjuluk Lam-hai Giam-lo. Kabarnya, persekutuan golongan hitam ini bermaksud hendak mengadakan pemberontakan. Mendengar berita ini, aku merasa yakin bahwa para pendekar tentu akan menentangnya, Susiok. Karena itulah aku akan bermaksud hendak melakukan penyelidikan di sarang mereka, yaitu di Pegunungan Yunan."

Hay Hay mengangguk-angguk gembira.

"Wah, sungguh kebetulan sekali. Aku pun sedang menuju ke sana, Ling Ling. Aku pun mendengar akan gerakan itu, bahkan aku mendengar sendiri langsung dari Menteri Yang Ting Hoo."

Gadis itu terbelalak.

"Kau maksudkan Yang Thai-jin, yang terkenal sebagai seorang menteri yang tiong-sin (setia) itu? Aku mendengar dari Ayah bahwa di kota raja terdapat dua orang menteri setia yang bijaksana, yaitu Menteri Yang Ting Hoo dan Menteri Cang Ku Cing. Jadi Susiok ini.. utusan pribadi Menteri Yang Ting Hoo? Ah, betapa bangga aku mendengarnya!"

Gadis itu memandang dengan wajah berseri, bangga bahwa utusan pribadi seorang yang demikian terkenal bijaksana seperti Menteri Yang ternyata adalah susioknya sendiri!

Hay Hay tersenyum dan menggeleng kepalanya.

"Memang aku telah bertemu dengan Yang Mulia Menteri Yang Ting Hoo, dan beliau menceritakan semua tentang gerakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu, juga beliau minta bantuanku agar aku suka melakukan penyelidikan ke Pegunungan Yunan. Akan tetapi, hal itu bukan berarti bahwa aku menjadi utusan pribadi beliau, Ling Ling. Aku bukan seorang pejabat pemerintah."

"Ah, Susiok terlalu merendahkan diri. Bagaimanapun juga, Susiok pernah bercakap-cakap dengan Yang Mulia Menteri Yang Ting Hoo, bahkan dimintai tolong untuk membantu pemerintah menentang gerakan itu. Hal ini saja sudah luar biasa sekali, dan aku ikut merasa gembira. Susiok, kebetulan sekali kita saling berjumpa di sini dan kita mempunyai tujuan yang sama. Karena itu, dengan gembira aku akan membantu penyelidikanmu, Susiok. Tadinya aku memang meragu dan bingung, apa yang akan kulakukan. Aku belum mengenal tokoh-tokoh pendekar yang mungkin banyak terdapat didaerah Yunan, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Bagus, kita bekerja sama, Ling Ling. Kulihat kepandaianmu sudah cukup untuk dapat kau pergunakan membela diri, akan tetapi hendaknya engkau berhati-hati, karena menurut keterangan yang kuperoleh, persekutuan itu memiliki banyak sekali tokoh sesat yang amat lihai sebagai anggauta. Dapat dipastikan bahwa kita akan bertemu dengan lawan-lawan tangguh."

"Aku tidak takut, apalagi ada Susiok di sampingku!"

Kata gadis itu gembira.

Hay Hay tersenyum.

Baru sekali ini dia bertemu seorang gadis yang begitu bertemu telah merasa yakin akan kepandaiannya sehingga sukarlah baginya untuk berpura-pura lagi.

Gadis ini memiliki watak yang amat lembut, sabar pemaaf dan sama sekali tidak tinggi hati.

"Ling Ling, bagaimana engkau dapat begitu yakin akan kemampuanku?"

"Mudah saja, Susiok. Caramu menangkap ikan, sikapmu yang ramah dan terbuka. Kemudian, ketika aku bertanding melawan tiga orang Kui-kok-pang, Susiok diam saja tidak membantu, berarti bahwa Susiok telah tahu bahwa aku akan keluar sebagai pemenang. Semua itu diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa Susiok adalah sute dari Ayah. Bagaimana aku tidak akan merasa yakin bahwa Susiok memiliki ilmu kepandaian yang tinggi sekali?"

Hay Hay tertawa.

"Ha-ha, sungguh aku beruntung sekali. Tanpa mimpi lebih dulu, tahu-tahu aku menemukan seorang keponakan yang sudah begini besar, merupakan seorang gadis yang cantik manis, lembut dan lihai ilmu silatnya, di samping cerdik bukan main."

"Wah, Susiok memang pandai sekali memuji orang."

Kata Ling Ling dan mukanya berubah kemerahan, akan tetapi mulutnya tersenyum.

Jelas bahwa ia merasa senang sekali dan tanpa disadarinya, memang sejak pertemuan pertama tadi gadis ini telah tertarik dan jatuh.

"Aku memang suka memuji kepada apa yang memang patut dipuji, Ling Ling. Marilah kita melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan saja orang-orang Kui-kok-pang tadi sudah jera dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Sebaiknya kita masuk ke kota Wei-ning lebih dulu, untuk makan siang dan membeli makanan kering untuk bekal di perjalanan."

Ling Ling setuju dan mereka pun meninggalkan tepi telaga, memasuki kota Wei-ning.

Sama sekali Hay Hay tidak menyangka bahwa yang mengintai dan mengancam mereka bukanlah orang-orang Kui-kok-pang saja, melainkan segerombolan orang yang lebih lihai lagi.

Mereka adalah anak buah Lam-hai Giam-lo yang sudah bergabung dengan orang-orang Kui-kok-pang yang juga merupakan rekan mereka, dan di antara mereka itu terdapat orang-orang Pek-lian-kauw, juga Min-san Mo-ko, Ji Sun Bi, dan Sim Ki Liong!

Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi merasa jerih ketika melihat bahwa pemuda yang mengalahkan orang-orang Pek-lian-kauw itu bukan lain adalah Hay Hay yang mereka tahu amat lihai itu.

Maka, cepat mereka mengundang Sim Ki Liong untuk membantu mereka.

Dan kini, pemuda murid Pendekar Sadis itu sudah muncul dan bersama teman-temannya, sudah melakukan pengintaian ketika Hay Hay berjalan bersama seorang gadis yang telah menghajar para anggauta Kui-kok-pang itu memasuki kota Wei-ning.

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda yang cerdik sekali.

Dari hasil penyelidikan mata-mata yang disebar oleh Lam-hai Giam-lo, Dia tahu bahwa kini di daerah Wei-ning banyak berdatangan orang-orang gagah, pendekar-pendekar yang sikapnya mencurigakan.

Dia sudah menduga bahwa tentang kemunculan para pendekar ini sedikit banyak ada hubungannya dengan gerakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo, sungguhpun belum ada pendekar yag secara berterang memusuhi mereka.

Terutama sekali di kota Wei-ning, dia melihat banyak berkeliaran orang-orang yang dari sikap dan pakaian mereka yang aneh-aneh mudah diduga bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan.

Oleh karena itu, dia tidak setuju ketika kawan-kawannya bermaksud menyerbu pemuda yang oleh Min-san Mo-ko dikatakan bernama Hay Hay dan katanya amat lihai itu.

Apalagi ketika melihat betapa pemuda itu kini bergabung dengan gadis yang menurut laporan para anggauta Kui-kok-pang juga amat lihai.

"Kita tidak boleh turun tangan secara gegabah."

Katanya kepada Ji Sun Bi dan Min-san Mo-ko.

"Bukan aku takut menghadapi mereka berdua. Dengan kekuatan kita sekarang, kiranya kita akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi harus diingat bahwa di Wei-ning kini terdapat banyak orang aneh yang mungkin saja tidak akan membiarkan kita bergerak. Jangan kita membangunkan macan-macan tidur hanya karena urusan kedua bocah itu. Dan bukankah bengcu kita sudah berpesan bahwa sebaiknya membujuk orang-orang pandai untuk bergabung lebih dulu sebelum turun tangan?"

"Lalu apa yang kita lakukan sekarang, Sim-kongcu?"

Sim Ki Liong memang oleh para pembantu Lam-hai Giam-lo disebut kongcu (tuan muda) atau juga Taihiap (pendekar besar) karena pembawaannya yang halus dan berpakaian rapi seperti seorang pelajar, juga karena semua orang tahu betapa pemuda ini memiliki kepandaian yang amat tinggi.

"Kalian harap bersembunyi saja dan bersiap-siap menanti tanda dariku. Aku akan mencoba untuk menghubungi mereka secara baik-baik. Siapa tahu aku akan berhasil membujuk mereka, atau setidaknya memancing mereka agar keluar kota. Kalau sudah berada di luar kota, di tempat sepi, barulah kita boleh turun tangan terhadap mereka, kalau mereka tidak mau kubujuk untuk bekerja sama."

"Akan tetapi hati-hatilah, Kongcu. Pemuda yang bernama Hay Hay itu memiliki ilmu silat yang amat lihai."

Ji Sun Bi memesan.

"Juga hati-hati terhadap ilmu sihirnya. Selain ilmu silat yang lihai, juga kekuatan sihirnya berbahaya sekali."

Sambung Min-san Mo-ko dan para pendeta Pek-lian-kauw yang sudah merasakan kekuatan sihir pemuda itu, mengangguk membenarkan.

"Jangan khawatir, aku mampu menjaga diri,"

Kata Ki Liong dengan bangga terhadap diri sendiri.

Mereka lalu berpencar dan Ki Liong memasuki kota Wei-ning seorang diri, dengan gaya seorang pelajar tinggi yang sedang melancong.

Memang, dilihat dari pakaian, wajah dan sikapnya, takkan ada seorang pun menyangka bahwa pemuda ini adalah tangan kanan dari pimpinan persekutuan kaum sesat.

Dia lebih pantas menjadi seorang tuan muda bangsawan kaya raya dan terpelajar, atau seorang pendekar muda yang halus dan sopan gerak-geriknya.

Akan tetapi, di balik kehalusan ini, dari sepasang matanya berkilat sinar yang membayangkan kecerdikannya ketika Ki Liong dari jarak yang cukup aman dan jauh membayangi pemuda dan gadis yang berjalan seenaknya memasuki kota Wei-ning itu.

Hay Hay dan Ling Ling sama sekali tidak mengira bahwa mereka sedang dibayangi orang dari jauh, bahkan dari jarak yang lebih jauh lagi, dalam keadaan berpencaran, lebih banyak lagi orang membayangi mereka, yaitu Min-san Mo-ko Ji Sun Bi, dan masih banyak lagi orang-orang lihai yang menjadi kaki tangan persekutuan di Pegunungan Yunan itu.

Hay Hay mengajak Ling Ling memasuki rumah makan merangkap penginapan Ban Lok di mana dia pernah makan dan masakan restoran itu cukup lezat.

Mereka masuk dan ternyata rumah makan itu penuh sekali.

Untung masih ada sebuah meja kosong di sudut belakang.

Pelayan lalu mempersilakan mereka duduk menghadapi meja kosong itu dan Hay Hay memesan beberapa macam masakan dan nasi putih, juga anggur dan air teh.

Ki Liong yang cerdik melihat kesempatan baik sekali.

Sekelebatan saja dia pun sudah melihat bahwa restoran itu penuh.

Memang ada beberapa buah meja di mana hanya duduk dua atau tiga orang, akan tetapi dengan sengaja, walaupun nampaknya tidak, dia berjalan di antara meja-meja itu sambil matanya mencari-cari tempat kosong.

Seorang pelayan menyambutnya dan dengan sikap menyesal pelayan itu berkata.

"Maaf, Kongcu. Tempatnya penuh, kalau Kongcu suka menanti sebentar di depan."

Pada saat itu, Ki Liong sudah tiba di dekat meja Hay Hay yang tentu saja melihat dan mendengar ucapan pelayan itu.

Seperti tidak disengaja, Ki Liong menoleh dan memandang ke arah meja Hay Hay.

Di situ masih terdapat dua buah bangku kosong, karena meja kecil itu biasanya diperuntukkan empat orang, berbeda dengan meja besar yang biasa dipakai delapan sampai sepuluh orang.

"Ah, perutku sudah lapar sekali. Sejak kemarin siang aku belum makan, dan sekarang tempat sudah penuh!"

Dia lalu memandang kepada Hay Hay dan Ling Ling, dengan sikap sopan sekali dia lalu melangkah maju dan bersoja sambil membungkuk kepada Hay Hay dan Ling Ling.

"Harap Ji-wi (Kalian) sudi memaafkan kalau saya mengganggu. Kalau sekiranya Ji-wi tidak keberatan, bolehkah saya menumpang di meja ini untuk makan? Kalau Ji-wi keberatan, tidak mengapalah."

Melihat pemuda tampan berpakaian rapi yang bersikap demikian ramah dan sopan, tentu saja Hay Hay dan Ling Ling merasa suka dan mereka pun cepat bangkit membalas penghormatan pemuda itu.

Ling Ling lalu memandang kepada Hay Hay seolah hendak menyerahkan keputusannya kepada susioknya itu.

Hay Hay tersenyum ramah.

"Ah, kita sama-sama merupakan tamu di restoran ini. Kalau Saudara suka, tentu saja boleh duduk bersama kami di meja ini. Silakan!"

"Terima kasih, terima kasih. ah, Ji-wi sungguh baik sekali, tepat seperti apa yang saya duga. Eh, Bung, tolong hidangkan nasi putih semangkok dan buatkan dua tiga macam masakan sayuran. Ingat, tidak memakai daging, ya? Saya sedang Ciak-jai (makan sayur, pantang daging). Dan air teh saja."

Sambungnya kepada pelayan itu yang segera mengangguk dan meninggalkan meja mereka.

Mendengar pemuda yang tampan itu tidak makan daging, Hay Hay dan Ling Ling memandang heran.

Mereka saling pandang sambil tersenyum.

Begitu pandang mata Ki Liong bertemu dengan Ling Ling gadis ini segera menundukkan mukanya dan kedua pipinya menjadi agak kemerahan.

Ia menemukan sesuatu pada pandang mata itu, sesuatu yang membuatnya merasa sungkan dan malu.

Ia melihat betapa pandang mata pemuda itu tadi dengan lembut menuju ke arah dadanya, dan ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu meraba-raba tubuhnya!

"Ah, agaknya Saudara tidak suka makan barang berjiwa?"

Hay Hay bertanya, iseng saja karena tidak tahu apa yang harus dikatakan terhadap orang yang menumpang di mejanya itu.

Ki Liong tersenyum.

"Tidak demikian, Saudara yang baik. Biasanya saya makan apa saja, juga daging, akan tetapi hari ini tidak karena hari ini adalah hari dan tanggal kematian Ayahku, sembilan belas tahun yang lalu."

"Ahh."

Hay Hay diam-diam merasa kagum sekali.

Ayah orang ini sudah sembilan belas tahun meninggal dunia, akan tetapi agaknya setiap tahun masih diperingati oleh pemuda ini sebagai hari berkabung sehingga dia tidak makan barang berjiwa untuk mengenang dan berkabung atas kematian ayahnya.

Sungguh seorang pemuda yang berbakti!

Dan memang kesan inilah yang dikehendaki oleh Ki Liong ketika dia berbohong dan berpura-pura ciak-jai untuk mengenang kematian ayahnya.

"Maaf, bukan maksudku untuk mengetahui keadaan hidupmu, Saudara. Akan tetapi hatiku tertarik sekali. Kalau begitu, agaknya engkau masih kecil sekali ketika Ayahmu meninggal dunia."

Kata Hay Hay. Ki Liong tersenyum dan mengangguk.

"Tidak apalah, Saudara. Keramahan Ji-wi yang sudah menerimaku duduk di sini membuktikan bahwa Ji-wi berhati baik dan berarti bahwa kita telah saling bersahabat, bukan? Memang saya masih kecil sekali ketika Ayah saya meninggal, saya baru berusia satu tahun. Maaf, setelah Ji-wi begitu baik menerima saya di meja ini, maukah Ji-wi menerima saya sebagai kenalan? Saya bernama Sim Ki Liong, dan bolehkah saya mengenal nama Ji-wi yang terhormat?"

Inilah kesalahan Ki Liong.

Dia memperkenalkan namanya tanpa ragu karena dia merasa yakin bahwa kedua orang muda di depannya itu belum pernah mendengar namanya dan tidak mengenalnya.

Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa Hay Hay pernah mendengar nama ini dari Kui Hong!

Maka mendengar nama "Ki Liong"

Diam-diam Hay Hay terkejut walaupun kemudian dia meragu karena Kui Hong memberitahu kepadanya bahwa murid Pendekar Sadis dan isterinya memiliki nama keturunan Ciang, bukan Sim!

Apakah kebetulan namanya saja sama, pikirnya.

"Ah, engkau sungguh baik sekali, Saudara Sim. Ketahuilah bahwa saya Hay Hay, dan ia ini bernama Ling Ling."

Hay Hay memperkenalkan diri dan gadis itu.

Biarpun dengan sikap sopan, Ki Liong tersenyum dan memandang kepada mereka bergantian.

"Maaf, walaupun nama Ji-wi itu indah sekali, akan tetapi agaknya Saudara lupa menyebutkan nama keluarga Ji-wi yang mulia."

Karena pemuda itu pun sudah menyebutkan nama keluarganya, nama keluarga yang membuatnya menduga-duga apakah pemuda ini murid Pendekar Sadis yang dimaksudkan Kui Hong atau bukan, terpaksa Hay Hay memperkenalkan pula nama keluarganya.

"Nama keluarga saya Tang, dan ia ini.. eh, Ling Ling, lupa lagi, siapa nama keluargamu?"

Hay Hay berpura-pura, bermaksud untuk menyerahkan kepada Ling Ling sendiri hendak mengaku nama keluarganya ataukah tidak karena bagaimanapun juga, nama keluarga Cia sudah terkenal di dunia kang-ouw dan dapat segera menimbulkan dugaan orang bahwa ada hubungan antara gadis ini dengan keluarga Cia di Cin-ling-pai.

Ling Ling adalah seorang gadis yang lembut dan jujur, tanpa prasangka, maka biarpun sinar mata pemuda yang baru dikenalnya itu tidak menyamankan hatinya, mendengar pertanyaan Hay Hay ia memandang pemuda itu dengan heran.

"Susiok, sungguh heran sekali. Apakah Susiok sudah lupa lagi nama keluargaku? Aku she (bernama keluarga) Cia!"

"Aih, kiranya Ji-wi adalah seorang Susiok dan murid keponakannya? Kalau begitu, Ji-wi adalah dua orang pendekar!"

Ki Liong berseru. Hay Hay tersenyum.

"Kami adalah orang-orang biasa, dan maaf, saya tadi lupa nama keluarganya karena biarpun kami masih paman dan keponakan, namun baru pagi tadi kami saling bertemu."

Hay Hay tertawa, tidak khawatir lagi karena Ling Ling sudah berterus terang.

"Akan tetapi jangan mengira bahwa kami adalah pendekar!"

Kemudian disambungnya, seperti sambil lalu saja.

"Saudara Sim menyangka kami pendekar, apakah Saudara sendiri juga seorang ahli silat yang lihai?"

Ki Liong tertawa dan nampak wajahnya semakin tampan menarik ketika dia tertawa, dan sepasang matanya yang jernih dan tajam itu menyambar ke arah Ling Ling.

Kembali gadis ini merasa betapa sinar mata itu memandang kepadanya tidak sewajarnya, maka ia pun cepat menundukkan pandang matanya.

"Ha-ha, saya ingin berterus terang saja. Memang pernah saya mempelajari ilmu silat, akan tetapi hanya iseng-iseng saja dan sama sekali tidak dapat dikata bahwa saya lihai."

Pada saat itu, dua orang pelayan datang membawa pesanan makanan dan minuman mereka.

Agaknya karena tiga orang itu duduk semeja, maka pesanan Hay Hay dan Ki Liong dikeluarkan berbareng.

Ki Liong menghadapi nasi dan tiga mangkok masakan sayur tanpa daging, sedangkan Hay Hay dan Ling Ling menghadapi nasi dengan lima macam masakan.

Hay Hay menawarkan anggurnya, akan tetapi Ki Liong menolak dengan halus.

"Hari ini, hanya sayur dan air teh saja untuk saya."

Katanya. Kemudian dia berkata.

"Sebelum kita mulai makan, saya ingin menghaturkan terima kasih dan hormat saya kepada Ji-wi dengan air teh di poci saya. Harap Ji-wi suka menerimanya!"

Tanpa memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk menjawab.

Ki Liong sudah mengambil cawan di depan Hay Hay dan menuangkan poci di tangan kanannya ke dalam cawan yang dipegang di tangan kirinya.

Sambil tersenyum Hay Hay memandang, akan tetapi senyumnya segera menghilang ketika dia melihat betapa cawannya yang dipegang oleh tangan kiri Ki Liong sudah penuh akan tetapi teh dari poci itu masih di tuang terus!

Kini cawan itu terlalu penuh, akan tetapi air tehnya tidak sampai meluber, seolah-olah tertahan oleh sesuatu dan air teh itu berada lebih tinggi daripada bibir cawan, membulat seperti telur yang bergoyang-goyang!

"Silakan, Saudara Tang!"

Kata Ki Liong sambil menyodorkan cawan itu kepada Hay Hay.

Hay Hay tersenyum lagi dan kini makin keras dugaannya bahwa pemuda inilah yang dimaksudkan Kui Hong, yaitu murid dari Pendekar Sadis.

Pemuda ini telah memperlihatkan kepandaiannya, dan menggunakan sin-kangnya (hawa sakti) untuk menahan air teh di atas cawan itu sehingga tidak sampai meluber dan tumpah.

Kalau yang menerimanya tidak memiliki tenaga sin-kang yang cukup kuat, ketika menerima cawan itu, tentu air tehnya yang terlalu penuh melebihi ukuran itu akan tumpah.

"Saudara Sim, engkau sungguh terlalu sungkan!"

Katanya sambil menerima cawan yang penuh air teh itu sambil mengerahkan tenaga sin-kangnya.

"Aih, air tehmu masih panas!"

Katanya tersenyum dan ketika Ki Liong memandang, dia kagum.

Bukan saja air teh itu tidak meluber dan tumpah, bahkan kini air teh itu mengepulkan uap karena panas!

Padahal, biarpun air teh itu masih hangat, ketika dia tuangkan ke dalam cawan.

tidak mengeluarkan uap panas!

Tahulah dia bahwa benar seperti laporan Ji Sun Bi dan Min-san Mo-ko, pemuda ini benar-benar lihai sekali, dan dia harus berhati-hati menghadapinya.

Dia tersenyum kagum melihat Hay Hay minum air teh dalam cawan itu sampai habis.

"Sekarang harap Nona sudi menerima penghormatan saya dengan secawan air teh!"

Kata Ki Liong sambil menuangkan poci air teh itu ke dalam cawan yang diambilnya dari depan gadis itu.

Seperti tadi, juga sekali ini dia menyodorkan cawan yang terisi air teh terlalu penuh.

"Terima kasih!"

Kata Ling Ling dan dengan sikap tenang ia pun menerima cawan itu sambil mengerahkan tenaganya.

Dan ternyata air teh itu sama sekali tidak meluber atau tumpah, bahkan ketika gadis itu mengangkat cawannya dan menuangkan isinya ke mulut, air teh itu tidak dapat turun atau tumpah, tetap melekat pada cawan seolah-olah sudah berubah membeku dan melekat pada cawannya!"

"Aih, air tehmu membeku dan biarlah dikembalikan ke poci agar mencair lebih dulu!"

Kata Ling Ling dan dengan tenang ia membuka tutup poci air teh Ki Liong dan menuangkan isi cawannya ke dalam poci.

Demikianlah, sambil mendemonstrasikan kepandaiannya, gadis itu menolak pemberian air teh oleh pemuda itu secara halus!

Melihat ini Ki Liong yang cerdik lalu bangkit berdiri dan bersoja dengan hormat.

"Aih, sungguh saya bermata akan tetapi seperti buta, tidak melihat bahwa saya berhadapan dengan dua orang yang memiliki kesaktian!"

Pemuda ini bicara dengan lirih sehingga tidak terdengar oleh para tamu lainnya.

"Saudara Sim, kiranya bukan tempat yang tepat bagi kita untuk bersungkan-sungkan!"

Kata Hay Hay. Ki Liong mengangguk.

"Saudara. Tang benar, mari kita makan hidangan kita dan nanti saja kita bicara di tempat yang lebih layak."

Mereka bertiga lalu mulai makan minum dan tidak banyak cakap lagi.

Diam-diam Hay Hay merasa hampir yakin bahwa tentu inilah pemuda murid Pendekar Sadis itu dan dia menduga-duga apa hubunganya pemuda ini dengan gerakan para tokoh sesat.

Dan apa pula maksud pemuda ini menghubungi dia dan Ling Ling, karena dia tidak percaya bahwa pertemuan ini hanya kebetulan saja.

Lebih tepat kalau semua ini telah direncanakan orang!

Akan tetapi apa maksudnya?

Bagaimanapun juga, dia harus bersikap hati-hati karena maklum bahwa pemuda ini bukanlah orang sembarangan.

Bukan hanya ilmu silatnya yang tinggi, namun mungkin sekali juga amat cerdik dan sikapnya ini merupakan satu di antara siasat yang cerdik.

Dia tidak perlu mengisaratkan Ling Ling untuk berhati-hati, karena penolakan suguhan air teh tadi saja sudah menunjukkan bahwa Ling Ling sudah bersikap hati-hati sekali dan tidak mau minum air teh yang disuguhkan berarti bahwa gadis itu tidak begitu percaya kepada pemuda itu.

Tiga orang pemuda itu sama sekali tidak tahu bahwa ada sepasang mata dengan diam-diam mengamati mereka dari sudut lain ruangan rumah makan itu.

Sepasang mata ini milik seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, Seorang laki-laki yang gagah perkasa, dengan tubuh yang sedang namun padat dan tegak, nampak kuat.

Pakaiannya sederhana namun rapi dan wajahnya memiliki wibawa.

Wajah itu gagah, dengan kumis dan jenggot terpelihara baik-baik, wajahnya berkulit segar kemerahan, sepasang matanya bersinar tajam dan lincah membayangkan kecerdikan dan keberanian.

Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum penuh kejantanan dan daya pikat.

Dagunya persegi menambah kegagahannya.

Sejak tadi, diam-diam pria ini mengamati tiga orang muda itu dan ketika Ki Liong menawarkan minuman dari poci, matanya yang tajam itu mengeluarkan sinar dan mulutnya yang dibayangi senyum itu bergerak memperlebar senyumnya, bahkan dia mengangguk-angguk seorang diri sambil minum araknya.

Hay Hay, Ling Ling, dan Ki Liong sudah selesai makan.

"Saya mempunyai urusan penting untuk dibicarakan dengan Ji-wi, akan tetapi tentu saja tidak di tempat ini. Maukah Ji-wi menemui saya di luar pintu gerbang kota sebelah barat? Atau sekarang juga ikut dengan saya ke sana agar kita lebih leluasa bicara?"

"Kalau memang ada keperluan penting, baiklah Saudara Sim, kami akan menemuimu di sana. Berangkatlah dulu, kami masih ada urusan lain dan sebentar lagi kami menyusul."

Kata Hay Hay sebelum Ling Ling yang sudah mengerutkan alisnya itu sempat menolak.

"Terima kasih, Saudara Tang dan Nona Cia."

Kata Ki Liong dan cepat-cepat dia meninggalkan mereka, agaknya khawatir kalau-kalau Hay Hay menarik kembali kesanggupannya.

Setelah Ki Liong pergi, Ling Ling yang berjalan keluar setelah Hay Hay membayar harga makanan mereka, segera menegur Hay Hay.

"Susiok, mengapa kita harus melayani orang itu? Kita baru saja berkenalan dengan dia, kita tidak tahu dia itu orang macam apa. Terus terang saja, ada sesuatu pada pandang matanya yang membuat aku merasa curiga dan tidak suka."

"Justeru itulah, Ling Ling. Aku pun curiga melihat bahwa dia seorang yang berilmu tinggi. Kalau dugaanku benar, kalau dia itu merupakan seorang di antara tokoh sesat yang mengadakan gerakan, kebetulan sekali! Ketika makan tadi, aku telah mendapatkan sesuatu siasat yang baik sekali."

Hilang penasaran yang tadi membayang di wajah gadis itu mendengar ucapan ini.

"Bagaimana siasat itu, Susiok?"

"Agaknya dia ingin menghubungi kita dan kalau benar dia tokoh pergerakan, agaknya dia hendak membujuk kita untuk bersekutu. Nah, kesempatan ini akan kupergunakan sebaiknya. Aku akan pura-puta setuju sehingga dengan demikian aku akan dapat memasuki sarang mereka dengan mudah. Kalau aku diterima sebagai kawan, tentu aku akan dapat dengan mudah menyelidiki keadaan mereka dari dalam."

Gadis itu membelalakkan matanya, memandang penuh kekhawatiran.

Melihat mata itu terbelalak indah, seperti bintang kembar bercahaya, Hay Hay kagum.

"Ah, matamu indah sekali, Ling Ling!"

Katanya.

Ling Ling mengerutkan alisnya dan kedua pipinya berubah merah, akan tetapi ia tidak marah, bahkan tersenyum malu.

"Ihh, Susiok. Orang bicara dengan serius, ditanggapi dengan sendau-gurau!"

"Aku tidak bergurau, Ling Ling. Memang matamu tadi nampak indah bukan main. Jangan engkau khawatir, kalau aku dapat melakukan penyelidikan dari dalam berarti tugasku akan lebih berhasil."

"Tapi... tapi... masuk ke dalam sarang mereka? Sungguh berbahaya sekali, Susiok!"

"Aku dapat membela diri, Ling Ling. Akan tetapi engkau tidak perlu ikut masuk ke sarang mereka. Engkau menyelidiki dari luar saja. Coba engkau mengadakan kontak dengan para pendekar yang aku yakin banyak terdapat di sekitar daerah ini."

"Tapi... tapi, bagaimana kita akan dapat saling bertemu lagi, Susiok? Kalau engkau hendak masuk ke sarang mereka, biar aku ikut. Aku pun tidak takut!"

"Ah, jangan, Ling Ling. Biar aku saja. Begini sajalah, dalam waktu tiga hari, aku pasti akan mencarimu di tepi telaga itu. Tempat itu menjadi tempat pertemuan kita... ssttt"

Hay Hay memberi isarat dan menghentikan kata-katanya ketika seorang laki-laki lewat di dekat mereka.

Laki-laki setengah tua yang ganteng dan gagah, yang tadi memperhatikan mereka di dalam rumah makan.

Akan tetapi orang itu lewat begitu saja, menunduk dan sama sekali tidak melirik ke arah mereka sehingga baik Hay Hay maupun Ling Ling sama sekali tidak menaruh curiga karena didepan restoran itu memang merupakan jalan raya di mana terdapat lalu lintas yang cukup ramai.

"Nah, kiranya cukup pesanku, Ling Ling. Pula, semua itu hanya kalau benar dugaanku bahwa dia mempunyai hubungan dengan persekutuan itu. Kalau tidak, tentu saja akan lain lagi jadinya. Kita lihat saja nanti. Hayo, kita menuju ke pintu gerbang sebelah barat."

Dua orang muda itu lalu berangkat, tidak tahu betapa sepasang mata yang tajam mengikuti mereka.

Laki-laki setengah tua tadi tersenyum dan mengelus jenggotnya, dan dari jauh dia membayangi, menuju ke pintu gerbang sebelah barat.

Hay Hay dan Ling Ling berjalan menuju ke pintu gerbang sebelah barat, berjalan seenaknya.

Tiba-tiba Hay Hay menyentuh tangan Ling Ling dan berbisik sampai menoleh.

"Ling Ling, jangan menengok dan berjalan biasa saja. Di belakang kita terdapat tujuh orang yang mencurigakan, agaknya mereka membayangi kita."

Ling Ling mengangguk dan jantungnya berdebar.

Sebagai seorang gadis yang baru saja meninggalkan tempat tinggal orang tuanya dan merantau, memang sudah beberapa kali ia menghadapi gangguan dan dapat mengatasinya.

Akan tetapi baru sekarang ia menyadari bahwa ia berada di daerah yang berbahaya, di mana terdapat banyak orang pandai yang belum dikenalnya dan tidak diketahuinya apakah mereka itu kawan ataukah lawan.

Keadaan pemuda bernama Sim Ki Liong itu saja sudah menimbulkan banyak kecurigaan dan rahasia, dan sekarang sebelum rahasia itu terpecahkan, muncul lagi tujuh orang membayangi mereka!

Ia ingin sekali melihat siapakah mereka, orang-orang macam apa, akan tetapi ia tidak boleh menengok ke belakang.

Tiba-tiba saputangan yang tadi dipegang oleh tangan kiri gadis itu terlepas dan ia pun dengan gerakan seperti tanpa disengaja membungkuk dan berjongkok mengambil saputangannya.

Kesempatan ini dipergunakannya untuk melirik ke belakang dan sekejap saja cukuplah baginya.

Enam orang yang berpakaian ringkas dipimpin oleh seorang yang berpakaian tosu (Pendeta To!).

Hay Hay tersenyum geli.

Tentu saja dia tahu mengapa saputangan Ling Ling terjatuh.

Cerdik juga gadis ini, pikirnya.

Memang amat tidak enak kalau mengerti bahwa dirinya dibayangi orang akan tetapi tidak boleh melihat siapa orang itu.

Tadi pun dia tidak sengaja menoleh dan melihat mereka.

Ketika mereka keluar dari pintu gerbang, dari tempat itu sudah kelihatan seorang pemuda berdiri di tempat agak jauh, tempat yang sunyi karena keluar dari pintu gerbang barat itu, yang nampak hanya hutan-hutan pegunungan.Hanya sedikit orang yang lewat, dan kalaupun ada, mereka itu adalah orang-orang suku bangsa Hui dan Miao.

Dua suku bangsa ini mudah saja dikenalnya dari pakaian mereka.

Orang suku bangsa Hui, pikirnya, selalu memakai sorban putih yang dibelit-belitkan di kepala.

Mereka adalah orang-orang beragama Islam.

Orang-orang suku bangsa Hui ini terkenal sebagai peternak-peternak, terutama kambing, pejagal dan juga pandai masak sehingga banyak di antara mereka membuka rumah makan di kota-kota.

Orang-orang Hui sesungguhnya adalah orang-orang Han juga, perbedaannya antara mereka adalah bahwa orang Hui beragama Islam sedangkan orang Han memiliki banyak macam agama, terutama sekali mereka adalah penganut Agama Buddha, Tao, dan Khong-hucu, walaupun ada pula orang Han dalam jumlah kecil yang menjadi pengikut Agama Islam atau Kristen.

Adapun suku bangsa Miao sudah dikenal dari pakaian mereka yang serba hitam, orang-orangnya pendiam dan kasar.

Wanitanya mengenakan anting-anting yang khas, seperti gelang yang besar sehingga daun telinga mereka tertarik ke bawah dan memanjang.

Suku bangsa Miao yang terdesak oleh orang-orang Han itu kini banyak hidup di pegunungan bagian selatan, bercocok tanam dan juga berternak, dan mereka pun terkenal sebagai pemburu yang pandai.

Dengan langkah seenaknya tanpa tergesa-gesa, Hay Hay dan Ling Ling berjalan terus keluar dari pintu gerbang menuju ke arah pemuda yang telah berdiri menanti mereka itu.

Diam-diam Hay Hay mengerling ke arah belakang sambil menengok ke kanan seolah-olah bicara dengan Ling Ling dan dia melihat betapa tujuh orang itu telah tiba di pintu gerbang pula, kemudian mereka menyelinap ke kiri dan lenyap di dalam hutan kecil.

Ki Liong menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Terima kasih, ternyata Ji-wi memenuhi janji dengan cepatnya. Marilah, Ji-wi. Kita memasuki hutan ini agar tidak terganggu percakapan kita, karena di jalan ini ada saja orang lewat."

Tanpa menanti jawaban, Ki Liong melangkah memasuki hutan, diikuti oleh Hay Hay dan Ling Ling yang masih mengerutkan alisnya karena bagaimanapun juga, gadis ini sama sekali tidak percaya akan kebaikan iktikad pemuda kenalan baru itu.

Akhirnya Ki Liong berhenti di bawah sebatang pohon besar.

Tempat itu memang enak untuk bercakap-cakap.

Tempatnya teduh, terlindung dari terik matahari siang, dan di atas tanah terhampar permadani hijau dari rumput tebal yang segar.

Akar-akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah menjadi bangku-bangku yang enak diduduki.

Mereka bertiga duduk di atas akar pohon, saling berhadapan.

"Maafkan kalau saya bersikap seperti ini, karena Ji-wi jluga maklum bahwa untuk dapat membicarakan urusan penting, kita harus mencari tempat yang sunyi agar tidak terdengar orang lain."

"Saudara Sim, kami sudah datang memenuhi undanganmu. Nah, katakanlah apa yang ingin kaubicarakan dengan kami?"

Kata Hay Hay sambil memandang tajam penuh selidik ke arah wajah yang tampan dan penuh senyum manis dan kelembutan itu.

Sim Ki Liong memandang Hay Hay dan Ling Ling, dan nampak dia agak gelisah, nampaknya sukar baginya untuk menyatakan kehendak hatinya.

Kemudian, dia pun berkata dengan suara yang lembut.

"Begitu bertemu dengan Ji-wi, hati saya sudah amat tertarik. Apalagi setelah mendapat keyakinan bahwa Ji-wi memiliki ilmu kepandaian tinggi, saya merasa kagum bukan main. Maka timbullah rasa sayang dan alangkah penasaran rasa hati ini melihat Ji-wi tetap menjadi orang biasa saja, padahal, orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian seperti Ji-wi ini sepatutnya menduduki pangkat yang tinggi dan kemuliaan."

"Kami tidak mengerti apa maksudmu, Saudara Sim."

Kata Hay Hay, berpura-pura karena hatinya berdebar tegang melihat betapa tepatnya apa yang diduganya semula.

"Maksudku, Ji-wi pantas sekali untuk menjabat pangkat tinggi di kerajaan, sesuai dengan kepandaian Ji-wi."

Hay Hay dan Ling Ling saling pandang, kemudian Hay Hay tertawa.

"Ha-ha, harap engkau tidak main-main, Saudara Sim! Orang seperti kami ini, mana mungkin menjabat pangkat tinggi?"

"Kenapa tidak mungkin? Memang, pemerintah sekarang hanya memilih orang-orang yang menjadi antek mereka! Kedudukan tinggi diberikan kepada orang-orang yang tidak becus dan jahat! Karena itu, saya mengajak Ji-wi untuk bekerja sama dengan kami yang sedang mempersiapkan perjuangan"

Tiba-tiba Sim Ki Liong berhenti bicara dan menoleh ke kiri.

Hay Hay dan Ling Ling juga sudah mendengar suara jejak kaki dari arah kiri.

Dan tiba-tiba saja, dengan berloncatan, muncullah tujuh orang laki-laki setengah tua, dipimpin oleh seorang di antara mereka, yaitu seorang tosu yang berjubah kuning dan memegang sebatang tongkat setinggi tubuhnya.

Tosu ini berusia lima puluh tahun lebih, wajahnya angker dan berwibawa, sedangkan enam orang lainnya adalah orang-orang berusia antara empat puluh tahun dan di punggung mereka terdapat sebatang pedang bersarung.

Sikap mereka juga keren dan berwibawa.

Tiba -tiba tosu itu menudingkan tongkat panjangnya ke arah Hay Hay sambil membentak.

"Ang-hong-cu! Menyerahlah engkau sebelum pinto terpaksa mempergunakan kekerasan!"

Hay Hay terkejut mendengar seruan itu.

Juga Sim Ki Liong memandang dengan heran dan jelas nampak betapa dia terkejut dan kini memandang kepada Hay Hay dengan mata penuh selidik.

Tak disangkanya bahwa pemuda lihai ini ternyata adalah Ang-hong-cu!

Tentu saja dia sudah mendengar nama Ang-hong-cu ini, nama seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga, pemerkosa wanita) yang amat tersohor, akan tetapi yang belum pernah diketahui bagaimana wajahnya itu!

Gerak-gerik jai-hwa-cat itu penuh rahasia sehingga kabarnya banyak pendekar yang gagal ketika berusaha menangkapnya.

Kabarnya lihai seperti setan dan kiranya pemuda ini orangnya!

Juga Ling Ling memandang kepada Hay Hay dengan alis berkerut.

Susioknya ini Ang-hong-cu?

Ia pun sudah mendengar berita tentang penjahat perherkosa wanita yang amat keji itu, akan tetapi sungguh sukar dapat dipercaya bahwa susioknya ini orangnya!

Hay Hay sendiri bersikap tenang.

"Totiang, harap totiang jangan sembarangan saja menuduh orang. Siapakah Totiang dan apa sebabnya Totiang begitu datang lalu menyebut aku Ang-hong-cu dan minta agar aku menyerah? Apa artinya semua ini?"

"Hemm, engkau masih mencoba untuk berpura-pura alim? Ang-hong-cu, ketahuilah bahwa pinto adalah Tiong Gi Cinjin, wakil Ketua Bu-tong-pai dan mereka adalah Bu-tong Liok-eng, murid-murid keponakan pinto. Nah, setelah kami memperkenalkan diri, tidaklah sepatutnya kalau engkau segera berlutut menyerahkan diri, Ang-hong-cu?"

Tosu itu berkata lagi, agaknya ingin menyelesaikan urusan itu dengan jalan damai.

"Kami akan menghadapkan engkau kepada ketua kami agar beliau dapat mengambil keputusan mengenai hukuman atas dosamu terhadap Bu-tong-pai."

Hay Hay teringat akan pengalamannya kurang lebih setahun yang lalu.

Pernah dia diserang oleh tiga orang pendekar Bu-tong-pai.

Mereka menuduhnya sebagai Ang-hong-cu dan tanpa memberi kesempatan baginya untuk membantahnya, mereka telah menyerangnya kalang kabut sehingga terpaksa dia mempergunakan ilmu sihirnya untuk menghilangkan dari penglihatan mereka.

Kini tahulah dia bahwa wakil ketua Bu-tong-pai ini keluar sendiri untuk menangkapnya.

Wah, gawatlah keadaannya kalau begitu.

Akan tetapi karena dia masih tetap penasaran, dia pun segera bertanya.

"Maaf, Totiang. Sesungguhnya, aku tidak pernah merasa melakukan kesalahan terhadap Bu-tong-pai. Kenapa sekarang Totiang, sebagai wakil ketua, dan enam orang saudara ini ingin menangkapku? Jelaskan dulu apa kesalahanku!"

Sepasang mata pendeta itu mencorong penuh kemarahan.

Sikap yang tidak bertanggung jawab dianggapnya sikap seorang pengecut yang membuat dia marah sekali.

"Ang-hong-cu, lupakah engkau akan peristiwa kurang lebih setahun yang lalu ketika engkau diserang oleh tiga orang murid pinto?"

Menjemukan, pikir Hay Hay.

Dia bukan Ang-hong-cu (Si Tawon Merah), dan julukan Ang-hong cu ini selalu membuat dadanya terasa panas dan kepalanya pening karena itu adalah julukan dari seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat besar yang bukan lain adalah.

ayah kandungnya!

Dia sudah dapat menduga apa yang telan terjadi antara penjahat itu dengan Bu-tong-pai, akan tetapi dia ingin jelas dan yakin.

"Aku tidak lupa, Totiang, akan tetapi sampai sekarang pun aku masih bingung dan tidak mengerti mengapa tiga orang murid Bu-tong-pai itu menyerangku mati-matian."

Tiong Gi Cinjin menoleh kepada enam orang tokoh Bu-tong-pai yang sejak tadi memandang dan mendengarkan saja, dia lalu menyuruh seorang di antara mereka untuk memberi penjelasan.

Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tipis, melangkah maju menghadapi Hay Hay.

"Orang muda, kami bukanlah orang-orang yang suka menuduh membabi-buta saja tanpa bukti. Sepak terjang Ang-hong-cu sudah lama kami kenal, dan pada suatu hari, seorang Sumoi kami menjadi korban! Sebelum tewas, Sumoi telah mengaku bahwa ia menjadi korban Ang-hong-cu. Tentu saja hal ini merupakan penghinaan bagi kami dan kami menyebar murid-murid untuk mencari sampai dapat penjahat yang telah merusak nama dan kehormatan kami. Kurang lebih setahun yang lalu, tiga orang Sute kami telah berhasil menemukanmu dan menyerangmu. Engkaulah jai-hwa-cat Ang-hong-cu jahanam itu!"

"Hemm, apa buktinya?"

Hay Hay membantah.

"Buktinya? Tiga orang Sute kami melihat betapa engkau memegang sebuah tanda perhiasan berbentuk tawon merah, persis seperti yang diterima oleh Sumoi kami! Engkaulah Ang-hong-cu, dan harap engkau cukup jantan untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu!"

"Tapi... tapi... aku bukan Ang-hong-cu."

Bantah Hay Hay.

"Dan perhiasan tawon merah yang ada padamu itu?"

Bentak Tiong Gi Cinjin penasaran.

"Aku... aku hanya kebetulan menemukan benda itu"

Kata Hay Hay agak gagap karena tentu saja dia tidak mau mengaku dari mana dia memperoleh perhiasan itu dan mengaku bahwa Ang-hong-cu adalah ayah kandungnya!

"Susiok, benarkah engkau bukan Ang-hong-cu?"

Tiba-tiba Ling Ling yang sejak tadi memandang dan mendengarkan dengan alis berkerut dan wajah agak pucat, kini tiba-tiba bertanya.

Mendengar ini, Hay Hay memandang gadis itu dan menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Ling Ling, percayalah!"

Kini Ling Ling menghadapi Tiong Gi Cinjin dan berkata.

"Totiang, rasanya ada kekeliruan dalam hal ini. Kalau tidak salah, nama Ang-hong-cu sudah tersohor sejak belasan tahun! Bagaimana mungkin Susiokku ini yang menjadi Ang-hong-cu, padahal usia Susiok ini baru dua puluh lebih?"

Tujuh orang Bu-tong-pai ini saling pandang, akan tetapi Tiong Gi Cinjin segera berkata.

"Kalau dia ini bukan Ang-hong-cu, tentulah keturunannya atau muridnya! Ang-hong-cu tidak pernah memperlihatkan mukanya, hanya meninggalkan perhiasan tawon merah. Dan pemuda ini memiliki perhiasan itu, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa dialah Ang-hong-cu. Gerak-geriknya sudah lama dibayangi oleh para murid Bu-tong-pai dan dia seorang pemuda mata keranjang yang suka menggoda wanita!"

"Ahh..!"

Ling Ling melangkah mundur dan memandang kepada Hay Hay dengan sinar mata penuh keraguan.

"Ling Ling! Engkau... tidak percaya padaku?"

"Aku.. aku tidak tahu."

Gadis itu menjawab dan melangkah mundur lagi sampai lima langkah.

"Sudahlah, orang muda. Menyerahlah saja dan nanti di depan ketua kami, boleh engkau membela diri sesukamu!"

Kata Tiong Gi Cinjin sambil melangkah maju.

"Tidak, Totiang, aku tidak mau menyerah karena aku tidak merasa bersalah terhadap Bu-tong-pai!"

Kata Hay Hay yang menjadi tidak sabar lagi, terutama sekali melihat betapa Ling Ling agaknya juga mulai bercuriga kepadanya, mengira bahwa dia benar-benar Ang-hong-cu!

"Kalau begitu, terpaksa pinto menggunakan kekerasan!"

Kata tosu itu dan enam orang murid keponakannya juga sudah mencabut pedang dari punggung masing-masing.

Cara mereka mencabut pedang saja sudah menunjukkan bahwa mereka telah menguasai Ilmu Pedang Bu-tong-kiam-sut yang terkenal indah dan ampuh.

Tiba-tiba Sim Ki Liong tertawa dan dia pun melangkah maju.

"Nanti dulu, Totiang. Saudara ini adalah tamuku, dan akulah yang mengajak mereka berdua datang ke tempat ini. Oleh karena itu, kalau Totiang dan para murid Bu-tong-pai hendak menyerang Saudara Tang ini, berarti menyerang tamuku. Sebagai seorang tuan rumah, tentu saja saya tidak dapat membiarkan tamu saya diganggu!"

Tiong Gi Cinjin memandang wajah Ki Liong dengan alis berkerut.

Dia bertindak atas nama Bu-tong-pai dan dia tidak mau kalau sampai perkumpulannya terlibat dalam permusuhan dengan golongan lain.

"Orang muda, siapakah engkau? Di antara kita tidak ada persoalan sesuatu, karena itu, harap engkau orang muda jangan mencampuri urusan kami dengan Ang-hong-cu."

"Namaku Sim Ki Liong, Totiang. Dan memang benar di antara kita tidak pernah terjadi bentrokan atau ada persoalan, akan tetapi kalau hari ini pihak Bu-tong-pai hendak mengganggu tamu-tamuku dan tidak dapat kuminta agar tidak melanjutkan kehendaknya itu, berarti bahwa Bu-tong-pai sengaja hendak mencari gara-gara dan urusan dengan aku."

Jawaban ini tenang akan tetapi juga mengandung peringatan dan ancaman.

"Orang she Sim!"

Bentak seorang di antara Bu-tong Liok-eng (Enam Pendekar Bu-tong-pai) yang kurus tadi.

"Ini adalah hutan raya, tempat umum. Bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa Ahg-hong-cu ini tamumu? Kalau engkau hendak melindunginya, berarti bahwa engkau pun bukan manusia baik-baik! Yang melindungi penjahat, berarti dia penjahat pula! Susiok harap jangan melayani bocah ini dan biarlah kami yang akan menghabiskannya!"

Berkata demikian, Si Kurus ini lalu memberi isarat kepada lima orang temannya dan mereka berenam sudah mengepung Ki Liong dengan pedang di tangan!

Akan tetapi, Ki Liong hanya tersenyum dan berdiri tenang.

"Sudah kukatakan bahwa aku tidak ingin bermusuhan, akan tetapi kalau kalian orang-orang Bu-tong-pai mengganggu tamuku dan aku, apa boleh buat, jangan dikira aku takut terhadap kalian!"

Tangan kanannya bergerak dan nampak sinar berkelebat.

Tahu-tahu di tangan kanannya sudah terdapat sebatang pedang putih karena pedang itu terbuat dari perak!

Melihat ini, jantung Hay Hay berdebar tegang.

Kini dia sudah yakin benar.

Sim Ki Liong ini sama dengan Ciang Ki Liong yang pernah didengarnya dari Kui Hong, yaitu murid Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah, murid murtad yang minggat meninggalkan pulau itu tanpa pamit sambil membawa pusaka-pusaka pulau itu, Termasuk sebatang pedang yang dia masih ingat ketika Kui Hong bercerita, yaitu pedang yang namanya Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak).

Melihat pemuda itu mengeluarkan sebatang pedang, enam orang pengepungnya segera menerjang dari berbagai penjuru.

Nampak sinar perak menyilaukan mata dan disusul suara nyaring berdencingan ketika Ki Liong memutar pedangnya menangkis dan enam orang itu berloncatan ke belakang dengan kaget.

Pertemuan ntara pedang itu telah membuat mereka terkejut karena tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa orang muda itu sungguh lihai!

Mereka pun mengepung dengan hati-hati dan maklum bahwa mereka tidak boleh mengadu senjata secara langsung dengan lawan itu.

Sementara itu, Tiong Gi Cinjin sudah melintangkan tongkatnya dan membentak kepada Hay Hay.

"Orang muda, engkau tidak mau menyerah dan memaksakan perkelahian. Baiklah, keluarkan senjatamu dan lawanlah tongkat pinto!"

Hay Hay yang memperhatikan gerakan pedang perak di tangan Ki Liong, kini tersenyum dan menggeleng kepala kepada tosu itu.

"Totiang, aku tidak pernah mempersiapkan senjata untuk berkelahi. Kalau Totiang masih penasaran dan hendak memaksaku untuk menyerah, dan hendak menyerang dengan tongkat itu, silakan!"

Ucapan dan sikap tenang Hay Hay itu dianggap suatu tantangan oleh Tiong Gi Cinjin dan mukanya menjadi merah.

Dia seorang wakil Ketua Bu-tong-pai, kini menghadapi seorang pemuda dengan tongkatnya yang terkenal di tangan, dan pemuda itu sama sekali tidak mau melawannya dengan senjata, melainkan dengan tangan kosong saja!

Maka dia pun cepat menancapkan tongkatnya ke atas tanah sambil mengerahkan tenaganya.

"Cappp!"

Tongkat panjang itu masuk ke dalam tanah sampai sepertiganya, dan dia pun menghadapi Hay Hay dengan tangan kosong!

"Ang-hong-cu, engkau selain jahat juga sombong sekali!

Nah, pinto juga bertangan kosong.

Bersiaplah untuk menerima serangan."

"Haiiiitt!"

Tosu itu sudah menerjang setelah mengeluarkan teriakan itu dan Hay Hay cepat mengelak dari sambaran tangan kakek itu.

Dia merasa betapa ada angin Pukulan yang amat kuat dan diam-diam dia pun maklum bahwa sekali ini dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh.

Dia tidak mau mempergunakan ilmu sihir.

Tentu para murid Bu-tong-pai yang pernah dipermainkannya dengan ilmu sihir itu telah melapor, dan kalau kakek ini berani datang melawannya, tentulah kakek ini sudah yakin bahwa dia akan mampu menghadapi kekuatan sihir, kalau pemuda lawannya itu mempergunakannya.

Bagaimanapun juga, Hay Hay maklum bahwa para tokoh Bu-tong-pai ini hanya salah sangka.

Mereka datang untuk membalas atas kematian murid wanita Bu-tong-pai yang menjadi korban Ang-hong-cu dan karena mereka mengira bahwa dialah Ang-hong-cu, dengan bukti perhiasan tawon merah yang dimilikinya, maka kini mereka rnati-matian berusaha menangkapnya.

Jadi, dalam hal ini orang-orang Bu-tong-pai tidak melakukan kejahatan terhadap dirinya dan kalau diipikir secara mendalam, yang bersalah adalah Ang-hong-cu, sedangkan dia adalah putera kandung Ang-hong-cu!

karena ini maka dia pun selalu mengalah dan biarpun tosu itu menyerang secara bertubi, dengan dahsyat sekali, namun Hay Hay selalu mengelak dan menangkis tanpa pernah membalas.

Dia hanya mengandalkan kelincahan gerakannya untuk menghindarkan diri dari terjangan tosu yang lihai itu.

Betapapun juga, karena tosu yang menjadi wakil perkumpulan Bu-tong-pai itu memang memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi, Hay Hay kelihatan sibuk sekali dan terdesak.

Keadaan Sim Ki Liong masih lebih baik daripada Hay Hay yang terdesak terus.

Pemuda yang memegang Gin-hwa-kiam itu mengerahkan kepandaiannya dan tidak mengalah seperti yang dilakukan Hay Hay.

Pedangnya membentuk gulungan sinar putih yang menyilaukan dan yang dahsyat sekali sehingga enam orang pengeroyoknya bahkan kewalahan untuk menjaga diri dari sinar pedang yang menyambar-nyambar itu.

Kalau mereka itu bukan murid-murid utama dari Bu-tong-pai, tentu sejak tadi mereka sudah roboh terluka.

Bu-tong-pai memang terkenal dengan ilmu pedangnya sehingga enam orang itu dapat memainkan pedang mereka dengan gaya yang bagus dan walaupun menghadapi Ki Liong mereka kalah tingkat, namun permainan pedang mereka dapat dipusatkan untuk pertahanan yang amat ketat.

Selagi ramai-ramainya dua pihak itu berkelahi di tempat sunyi itu, tiba-tiba muncul seorang laki-laki setegah tua yang menggiring puluhan ekor kambing.

Dia seorang suku bangsa Hui, mengenakan sorban putih di kepalanya, dan tangannya memegang sebatang tongkat, penggembala.

Entah bagaimana, Agaknya kambing-kambing yang jumlahnya mendekati seratus ekor itu, berlari-lari kacau menuju ke tempat perkelahian, dan penggembala setengah tua itu mengejar di belakang sambil memaki-maki dalam bahasa Hui, mengayun-ayun tongkatnya, sehingga kambing-kambing itu menjadi semakin ketakutan.

Karena berada dalam keadaan panik, gerombolan binatang itu lari kacau-balau menyerbu tempat perkelahian sehingga mereka yang berkelahi menjadi kacau pula.

Melihat ada segerombolan kambing menyerbu, orang-orang Bu-tong-pai menjadi marah dan para pengeroyok Ki Liong menggunakan kaki mereka menendangi beberapa ekor kambing yang terlempar dan terbanting.

Makin riuh suara kambing-kambing itu mengembik dan suasana menjadi semakin kacau.

Penggembala itu menjadi marah.

Dengan mata melotot dia lalu menghampiri orang-orang Bu-tong-pai itu dan memaki-maki.

"Kalian orang-orang kurang ajar, kenapa menendangi kambing-kambingku?"

Sambil memaki-maki dalam bahasa Hui, Penggembala itu kini mengobat-abitkan tongkat gembalanya, mengamuk dan menyerang enam orang Bu-tong-pai itu dan kalang-kabut!

Orang-orang Bu-tong-pai itu bukanlah orang-orang kejam.

Tentu saja mereka tidak ingin memusuhi seorang penggembala bangsa Hui, maka melihat kemarahan penggembala itu yang menyerang mereka dengan tongkat panjang, mereka itu hanya menangkis dengan pedang mereka.

Terdengar bunyi nyaring enam kali dan enam orang Bu-tong-pai itu terkejut bukan main.

Tongkat Si Penggembala itu bergerak cepat dan secara bertubi-tubi dapat menyambar ke arah mereka walaupun sudah di tangkis, dan bukan i tu saja, juga mereka berenam merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa tongkat itu digerakkan dengan tenaga yang dahsyat!

Dan kakek penggembala berusia sekitar lima puluh tahun itu masih terus menyerang kalang-kabut, nampaknya dengan gerakan kacau, namun ternyata ujung tongkatnya menyambar-nyambar dengan tepat ke arah enam orangBu-tong-pai.

Mereka segera berloncatan mundur.

Kakek bangsa Hui itu kini memutar tongkatnya dan menyerang dengan hantaman ke arah kepala Tiong Gi Cinjin yang masih bertanding dengan serunya, atau lebih tepat, mendesak hebat kepada Hay Hay!

Dan wakil Ketua Bu-tong-pai ini pun terkejut karena tongkat itu menyambar dengan amat kuatnya, didahului oleh angin Pukulan yang ganas!

Tiong Gi Cinjin cepat mengelak dan menggerakkan lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga, dengan maksud mematahkan tongkat penggembala itu.

"Dukk!"

Tongkat itu tidak patah, bahkan Tiong Gi Cinjin dapat merasakan melalui tangannya yang tergetar betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam tongkat itu!

Maklumlah dia bahwa penggembala Hui ini pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi!

Padahal, tadi pun dia sudah merasa bingung melihat kenyataan betapa pemuda yang disangkanya Ang-hong-cu itu sama sekali tidak pemah membalas serangannya dan hanya mempertahankan diri, namun sebegitu jauh dia belum juga dapat merobohkannya!

Bahkan satu kali pun belum ada serangannya yang mengenai sasaran!

Juga dia melihat betapa enam orang anak buahnya sama sekali tidak mampu menandingi kehebatan pemuda yang menggunakan sebatang pedang yang sinarnya seperti perak itu.

"Hayo, siapa yang berani mengganggu kambingku, akan kupukul dengan tongkat ini!"

Penggembala Hui itu berteriak-teriak sambil mengobat-abitkan tongkatnya yang panjang.

Tiong Gi Cinjin segera berkata sambil mencabut tongkatnya sendiri, suaranya lembut.

"Sobat, tidak ada yang mengganggu kambingmu. Karena kambing-kambingmu memasuki tempat perkelahian ini, maka ada yang kena tendangan. Hitung saja berapa yang tewas dan kami akan menggantinya."

Penggembala itu menghitung kambingnya, akan tetapi tidak ada yang tewas karena para murid Bu-tong-pai tadi pun menendang kambing yang hanya untuk mengusir mereka saja, tanpa niat membunuh.

Setelah melihat betapa kambingnya masih utuh, penggembala itu bersungut-sungut dan meneriaki kambing-kambing yang agak menjauh, tanpa mempedulikan lagi mereka yang kini menghentikan perkelahian.

"Ang-hong-cu, biarlah sekali ini pinto melepaskanmu, akan tetapi lain kali pinto akan mencarimu dengan kekuatan yang lebih besar. Bagaimanapun juga, engkau harus mempertanggung-jawabkan perbuatanmu terhadap murid wanita kami!"

Setelah berkata demikian, Tiong Gi Cinjin memberi isarat kepada anak buahnya untuk pergi dari tempat itu.

Penggembala itu dengan sikap acuh, juga menggiring pergi kambing-kambingnya, teriakan-teriakannya terdengar sampai jauh dan bahkan ketika dia dan kambing-kambingnya sudah tidak nampak, masih terdengar teriakannya.

Diam-diam Hay Hay merasa heran.

Dia tahu bahwa penggembala, kambing bangsa Hui tadi bukan orang sembarangan sehingga tosu Bu-tong-pai dan anak buahnya mundur begitu penggembala itu datang mengacau dengan karnbing-kambingnya.

Sim Ki Liong juga merasa heran dan kagum.

Timbul suatu niat di dalam hatinya untuk.

membujuk orang Hui itu agar suka bekerja sama dengan persekutuan di mana dia menjadi pembantu pimpinan.

"Saudara Tang Hay, nanti dulu, aku ingin mengejar dan bicara dengan penggembala Hui itu!"

Setelah berkata demikian, Ki Liong meloncat dan berlari cepat mengejar ke arah menghilahgnya Si Penggembala bersama kambing-kambingnya.

Kini Hay Hay berdiri memandang kepada Ling Ling yang sejak tadi berdiri mematung.

Gadis ini terlalu bingung untuk mencampuri perkelahian tadi.

Mendengar tuduhan tosu Bu-tong-pai dan para muridnya tadi bahwa Hay Hay adalah Ang-hong-cu, hatinya menjadi bimbang sekali.

Ia merasa tertarik kepada Hay Hay yang dianggap susioknya itu, bahkan gadis ini mulai merasa yakin bahwa hatinya bukan hanya tertarik, melainkan ada perasaan cinta terhadap pemuda itu.

Akan tetapi, kini wakil Ketua Bu-tong-pai menuduh pemuda itu sebagai Ang-hong-cu, penjahat pemerkosa wanita yang terkenal kejam dan amat jahat!

Dan dia merasa ragu-ragu.

Hay Hay adalah seorang pemuda yang amat pandai merayu wanita, memuji-muji dan mudah menundukkan hati wanita, jadi tuduhan itu pun bukan tidak masuk akal.

Apalagi para tokoh Bu-tong-pai ter.kenal sebagai perdekar-pendekar gagah, pasti tidak menuduh sembarangan saja, dan bukankah ada buktinya, yaitu Hay Hay mempunyai sebuah benda perhiasan tawon merah yang menjadi tanda khas dari penjahat Ang-hong-cu?

"Ling Ling, jangan engkau memandang padaku seperti itu!"

Hay Hay berkata.

"Percayalah, aku bukanlah Ang-hong-cu, penjahat itu!"

Ling Ling menggeleng kepala, matanya masih terbelalak dan mukanya agak pucat.

"Aku... tidak tahu... aku tidak... tahu..."

Katanya ragu dan bingung, kemudian ia membalikkan tubuhnya.

"Lebih baik aku pergi saja."

Baca Juga: Kisah Si Bangau Putih 11

Baca Juga: Bu Kek Siansu 4

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Parnert